P. 1
SKRIPSI BAB I - BAB V

SKRIPSI BAB I - BAB V

|Views: 7,217|Likes:
Published by Hartotok Prayoga
PENGARUH PENERAPAN GOOD CORPORATE
GOVERNANCE TERHADAP KINERJA KEUANGAN
PERUSAHAAN YANG TERDAFTAR PADA CORPORATE GOVERNANCE PERCEPTION INDEX
PENGARUH PENERAPAN GOOD CORPORATE
GOVERNANCE TERHADAP KINERJA KEUANGAN
PERUSAHAAN YANG TERDAFTAR PADA CORPORATE GOVERNANCE PERCEPTION INDEX

More info:

Published by: Hartotok Prayoga on Aug 14, 2010
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

01/03/2016

pdf

text

original

Upaya dalam membangun good corporate governance memang tidak

semudah membalikkan telapak tangan, tetapi memerlukan komitmen, konsistensi,

dan kesungguhan dari berbagai pihak yang terkait, yaitu manajemen perusahaan,

karyawan, komisaris, pemegang saham serta pihak regulator (pemerintah)

Penerapan prinsip kewajaran (fairness), keterbukaan (transparency),

akuntanbilitas (accountanbility), dan responsibilitas (responsibility) didalam

perusahaan seharusnya dijadikan sebagai pedoman ataupun acuan para pelaku

usaha (bisnis) dalam menjalankan kegiatan usahanya (Effendi, 2009). Penerapan

good corporate governance diperlukan untuk mendorong terciptanya pasar yang

efisien, transparan dan konsisten dengan peraturan perundang-undangan.

Penerapan good corporate governance (GCG) perlu di dukung oleh tiga pilar

yang saling berhubungan yaitu negara dan perangkatnya sebagai regulator, dunia

17

usaha sebagai pelaku pasar dan masyarakat sebagai pengguna jasa dan produk.

Perusahaan yang telah menerapkan prinsip-prinsip good corporate

governance dengan baik akan mampu memiliki tingkat sensitivitas yang tinggi

terhadap segala aktivitas bisnis yang dijalankan dalam menghadapi persaingan

usaha. Penerapan prinsip good corporate governance di perusahaan diharapkan

dapat membantu terwujudnya persaingan yang sehat dan kondusif. Dengan

dimulai menerapkan prinsip good corporate governance ini setidaknya dapat

dihindarkan adanya praktik monopoli serta persaingan usaha yang tidak sehat.

Implementasi good corporate governance merupakan peluang yang cukup besar

bagi perusahaan untuk meraih berbagai manfaat termasuk kepercayaan investor

terhadap perusahaannya sehingga dapat meningkatkan kinerja perusahaan.

Perusahaan yang tidak mengimplementasikan GCG pada akhirnya dapat

ditinggalkan oleh para investor, kurang dihargai oleh masyarakat (publik), dan

dapat dikenakan sanksi apabila berdasarkan hasil penilaian, perusahaan tersebut

terbukti melanggar hukum (Effendi, 2009). Perusahaan seperti ini akan

kehilangan peluang untuk dapat melanjutkan kegiatan usahanya (going concern)

dengan lancar. Namun sebaliknya, perusahaan yang telah menerapkan prinsip

good corporate governance dapat menciptakan nilai tambah bagi masyarakat

(publik), pemasok (supplier), distributor, pemerintah, kreditur dan ternyata lebih

diminati para investor sehingga berdampak secara langsung bagi kelangsungan

usaha perusahaan tersebut.

2.1.6. Faktor-faktor Penerapan Good Corporate Governance (GCG)

18

Keberhasilan penerapan good corporate governance juga mempunyai

prasyarat tersendiri. Menurut Daniri ( 2005 ), ada dua faktor yang memegang

peranan, faktor ekternal dan internal yaitu :

1. Faktor eksternal adalah beberapa faktor yang berasal dari luar perusahaan yang

sangat mempengaruhi keberhasilan penerapan good corporate governance

(GCG), diantaranya:

a.

Terdapatnya sistem hukum yang baik sehingga mampu menjamin

berlakunya supremasi hukum yang konsisten dan efektif.

b.Dukungan pelaksanaan GCG dari sektor publik / lembaga pemerintahan

yang diharapkan dapat pula melaksanakan Good Governance dan Clean

Government menuju Good Government Governance yang sebenarnya.

c.Terdapatnya contoh pelaksanaan GCG yang tepat (best practices) yang

dapat menjadi standart pelaksanaan GCG yang efektif dan profesional.

Dengan kata lain, semacam benchmark (acuan).

d.Terbangunnya sistem tata nilai sosial yang mendukung penerapan GCG di

masyarakat. Ini penting karena lewat sistem ini diharapkan timbul

partisipasi aktif berbagai kalangan masyarakat untuk mendukung aplikasi

serta sosialisasi GCG secara sukarela.

e.Hal lain yang tidak kalah pentingnya sebagai prasyarat keberhasilan

implementasi GCG terutama di Indonesia adalah adanya semangat anti

korupsi yang berkembang di lingkungan publik di mana perusahaan

beroperasi disertai perbaikan masalah kualitas pendidikan dan perluasan

peluang kerja. Bahkan dapat dikatakan bahwa perbaikan lingkungan

19

publik sangat mempengaruhi kualitas dan skor perusahaan dalam

implementasi GCG.

2. Faktor internal adalah pendorong keberhasilan pelaksanaan praktik good

corporate governance (GCG) yang berasal dari dalam perusahaan. Beberapa

faktor yang dimaksud antara lain :

a.Terdapatnya budaya perusahaan (corporate culture) yang mendukung

penerapan GCG dalam mekanisme serta sistem kerja manajemen di

perusahaan.

b.Berbagai peraturan dan kebijakan yang dilakukan perusahaan mengacu

pada penerapan nilai–nilai GCG.

c.Manajemen pengendalian risiko perusahaan juga didasarkan pada kaidah

-kaidah standar GCG.

d.Terdapatnya sistem audit (pemeriksaan) yang efektif dalam perusahaan

untuk menghindari setiap penyimpangan yang mungkin akan terjadi.

e.Adanya keterbukaan informasi bagi publik untuk mampu memahami

setiap gerak dan langkah manajemen dalam perusahaan sehingga kalangan

publik dapat memahami dan mengikuti setiap derap langkah

perkembangan dan dinamika perusahaan dari waktu ke waktu.

2.1.7. Sistem Tahapan Riset dan Pemeringkatan Corporate Governance

Perception Index (CGPI)

Corporate Governance Perception Index (CGPI) adalah program riset dan

pemeringkatan penerapan good corporate governance (GCG) pada perusahaan-

perusahaan di Indonesia. CGPI diikuti oleh perusahaan publik (emiten), BUMN,

20

perbankan dan perusahaan swasta lainnya. Program CGPI secara konsisten telah

diselenggarakan pada setiap tahunnya sejak tahun 2001.

CGPI diselenggarakan oleh Indonesian Institute for Corporate

Governance (IICG) sebagai lembaga swadaya masyarakat independen

bekerjasama dengan majalah SWA sebagai mitra media publikasi. Program ini

dirancang untuk memicu perusahaan dalam meningkatkan kualitas penerapan

konsep corporate governance melalui perbaikan yang berkesinambungan

(continuous improvement) dengan melaksanakan evaluasi dan melakukan studi

banding (benchmarking). Program CGPI akan memberikan apresiasi dan

pengakuan kepada perusahaan-perusahaan yang telah menerapkan good corporate

governance melalui CGPI Awards dan penobatan sebagai perusahaan terpercaya.

IICG melalui program CGPI membantu perusahaan meninjau ulang pelaksanaan

good corporate governance yang telah dilakukannya dan membandingkan

pelaksanaannya terhadap perusahaan-perusahaan lain pada sektor yang sama.

1. Tahapan Riset dan Pemeringkatan CGPI

a. Self-assessment

Pada tahap ini perusahaan diminta mengisi kuisioner self-assessment yang

terkait dengan penyelarasan sistem GCG dalam proses bisnis di perusahaannya.

Pada tahapan self-assesment dilakukan pengisian kuisioner oleh responden

yaitu pihak stakeholder perusahaan.

b. Pengumpulan Dokumen Perusahaan

Pada tahap ini perusahaan diminta untuk mengumpulkan dokumen dan bukti

yang mendukung penerapan good corporate governance di perusahaannya,

21

serta yang terkait dengan penyelarasan sistem GCG dalam proses bisnis

perusahaan. Bagi perusahaan yang telah mengirimkan dokumen terkait pada

penyelenggaraan CGPI tahun sebelumnya, cukup memberikan pernyataan

konfirmasi pada dokumen sebelumnya yang masih berlaku, dan jika terjadi

perubahan, dokumen yang direvisi harus dilampirkan. Secara keseluruhan pada

tahap ini dipersyaratkan sekurang-kurangnya 32 dokumen untuk perusahaan

publik (emiten), 29 dokumen untuk perusahaan BUMN dan 23 dokumen untuk

perusahaan swasta.

c. Pembuatan Makalah dan Presentasi

Pada tahap ini perusahaan diminta untuk membuat penjelasan kegiatan

perusahaan dalam menyelaraskan sistem GCG pada proses bisnis dalam bentuk

makalah dengan sistematika penyusunan yang telah ditentukan.

d. Observasi ke Perusahaan

Pada tahap ini tim peneliti CGPI akan berkunjung ke lokasi perusahaan peserta

untuk menelaah kepastian dari penyelarasan sistem GCG dalam proses bisnis.

2. Pembobotan

Data hasil penilaian dari masing-masing tahapan diberi bobot berdasarkan

konfirmasi dari 30 investor dan analis sesuai dengan tingkat kepentingannya.

Perangkat yang digunakan dalam perhitungan angka bobot menggunakan metode

Analytical Hierarchy Process (AHP). Pembobotan yang dilakukan untuk masing-

masing tahapan memperoleh hasil sebagai berikut:

a. 20% untuk penilaian self-assessment

b. 20% untuk penilaian kelengkapan dokumen

22

c. 20% untuk penilaian penyusunan makalah

d. 40% untuk penilaian observasi

3. Hasil Riset dan Pemeringkatan

Hasil riset dan pemeringkatan CGPI adalah penilaian dan pemeringkatan

penerapan konsep corporate governance pada perusahaan peserta dengan

memberikan skor sesuai dengan hasil pembobotan nilai berdasarkan penilaian

investor. Pemeringkatan CGPI didesain menjadi tiga kategori berdasarkan tingkat

kepercayaan yang dapat dijelaskan menurut skor penerapan konsep corporate

governace seperti tertera pada tabel 2.1 di bawah ini:

TABEL 2.1

KATEGORI PEMERINGKATAN CGPI

Skor

Tingkat Kepercayaan

55-69

Cukup Terpercaya

70-84

Terpercaya

85-100

Sangat Terpercaya

Sumber Laporan CGPI 2008

2.1.8. Kinerja Keuangan Perusahaan

Menurut Mulyadi (1997 : 419), kinerja adalah penentuan secara periodik

efektifitas operasional suatu organisasi, bagian organisasi dan karyawannya

berdasarkan sasaran, standart dan kiteria yang telah ditetapkan. Sedangkan kinerja

keuangan adalah penentuan ukuran-ukuran tertentu yang dapat mengukur

keberhasilan suatu perusahaan dalam menghasilkan laba.

Kinerja keuangan perusahaan merupakan suatu gambaran mengenai

23

kondisi perusahaan yang meliputi posisi keuangan serta hal-hal yang telah

dicapai oleh perusahaan yang tercermin dalam laporan keuangan. Laporan

keuangan yang bermutu merupakan sarana dasar untuk mengungkapkan kondisi

operasi bisnis perusahaan serta merupakan informasi yang penting dalam

pengambilan keputusan ekonomi bagi investor, kreditor, para calon investor dan

pengguna lainnya.

Transparansi (keterbukaan) laporan keuangan perlu dilakukan agar para

pemegang saham dan stakeholder lainnya memiliki hak untuk mendapatkan

informasi yang relevan secara tepat waktu, akurat, seimbang dan kontinu

mengenai kondisi keuangan dan kinerja perusahaan. Transparansi sebagai salah

satu aspek dari good corporate governance diharapkan dapat menjadi dasar untuk

melihat baik atau tidaknya kinerja perusahaan. Untuk mengetahui kinerja

keuangan dilakukan analisa laporan keuangan dengan menggunakan rasio

keuangan. Dalam penelitian ini kinerja keuangan diukur berdasarkan rasio return

on asset (ROA) dan net profit margin (NPM).

1.Return on Asset (ROA)

Merupakan rasio yang digunakan untuk mengukur kemampuan

perusahaan dalam menggunakan aktivanya untuk menghasilkan

keuntungan (laba). Formula yang digunakan untuk menghitung

besarnya nilai ROA menurut Sugiono dan Untung (2008) adalah

sebagai berikut :

ROA = Laba Bersih
Total Aktiva

24

2.Net Profit Margin (NPM)

Merupakan rasio yang digunakan untuk mengukur kemampuan sales

atau penjualan perusahaan untuk memperoleh laba. Rasio ini

memberikan gambaran tentang laba untuk para pemegang saham

sebagai persentase dari penjualan. Formula yang digunakan untuk

menghitung besarnya nilai NPM menurut Sugiono dan Untung (2008)

adalah sebagai berikut:

NPM = Laba bersih
Penjualan Bersih

Rasio ROA dan NPM merupakan bagian dari rasio rentabilitas atau

profitabilitas yaitu rasio yang digunakan untuk mengukur kemampuan perusahaan

dalam menghasilkan laba bagi perusahaan. Informasi kinerja perusahaan terutama

profitabilitas diperlukan untuk menilai perubahan potensial sumberdaya ekonomi

yang mungkin dikendalikan di masa depan, sehingga dapat memprediksi kapasitas

perusahaan dalam menghasilkan kas (dan setara kas) serta merumuskan

efektivitas perusahaan dalam memanfaatkan tambahan sumberdaya. Penghasilan

bersih (laba), sering digunakan sebagai ukuran kinerja (Prastowo & Juliaty, 2008).

2.1.9. Tujuan Penilaian Kinerja

Penilaian perusahaan khususnya kinerja sering dilakukan untuk tujuan-

tujuan tersebut di bawah ini Darmawati (2004) dalam Putri (2006):

25

1.Untuk keperluan merger dan akuisisi.

Perusahaan akan melakukan merger (penggabungan usaha) atau

mengakuisisi perusahaan lain, jelas memerlukan kegiatan penilaian

untuk mengetahui berapa nilai perusahaan dan nilai ekuitas dari

masing-masing perusahaan.

2.Untuk kepentingan rekstrukturasi dan kepentingan usaha.

Perusahaan yang bermasalah seringkali memerlukan penilaian untuk

mengimplementasikan program pemulihan usaha atau rekstrukturasi

untuk mengetahui nilai perusahaan dan nilai likuiditasnya.

3.Untuk keperluan divestasi sebagai saham perusahaan dari mitra

strategis (beberapa saham harus dilepas kepada mitra baru).

4.Untuk Initial Public Offering (IPO)

Perusahaan yang akan menjual sahamnya pada umum atau bursa,

harus dinilai dengan menggunakan penilaian yang wajar untuk

ditawarkan kepada masyarakat atau publik.

5.Untuk memperoleh pendapat wajar atas penyertaan dalam suatu

perusahaan atau menunjukkan bahwa perusahaan bernilai lebih dari

apa yang ada dalam neraca.

6.Untuk memperoleh pembelanjaan penetapan besarnya pinjaman atau

tambahan modal.

2.1.10. Pengaruh Penerapan Good Corporate Governance (GCG) Terhadap

Kinerja Keuangan Perusahaan.

26

Pelaksanaan GCG dapat meningkatkan nilai perusahaan dengan

meningkakan kinerja keuangan, mengurangi risiko yang mungkin dilakukan oleh

dewan komisaris dengan keputusan yang menguntungkan diri sendiri dan

umumnya GCG dapat meningkatkan kepercayaan investor (Tjager, et al., 2003)

Xiaonian, et al., (2000) dalam Setyawan (2006) mengungkapkan bahwa

pemegang saham saat ini sangat aktif dalam meninjau kinerja perusahaan karena

mereka mengganggap bahwa good corporate governance yang lebih baik akan

memberikan imbalan hasil yang lebih tinggi bagi mereka.

Perusahaan yang terdaftar dalam skor The Indonesian Institute for

Corporate Governance (IICG) yang telah menerapkan good corporate

governance dengan baik maka secara tidak langsung akan menaikkan nilai

sahamnya. Penerapan good corporate governance yang baik dan konsisten pada

perusahaan melalui pengendalian internal yang efektif akan meningkatkan kinerja

perusahaan dan citra perusahaan sehingga perusahaan dapat bertahan dan bersaing

secara sehat serta mencapai tujuan yang telah ditetapkan.

2.2. Penelitian Terdahulu

Beberapa penelitian terdahulu yang berhubungan dengan penelitian

sekarang adalah penelitian yang pernah dilakukan antara lain oleh:

1.Yudha Pranata 2007, tentang Pengaruh Penerapan Corporate

Governance Terhadap Kinerja Keuangan Perusahaan. Penelitian ini

bertujuan untuk meneliti pengaruh penerapan GCG terhadap kinerja

keuangan yang diproxykan dengan menggunakan ROE, NPM dan Tobins

Q. Penelitian ini menggunakan purposive sampling perusahaan yang go

27

public yang terdaftar di BEJ selama tahun 2002-2005 dan masuk dalam

kelompok 10 besar. Hasil dari penelitian ini menyatakan bahwa

penerapan GCG berpengaruh positif terhadap ROE, NPM dan Tobins Q.

2.Diah Kusuma Wardani 2008, tentang Pengaruh Corporate

Governance Terhadap Kinerja Perusahaan. Penelitian ini bertujuan

untuk meneliti pengaruh GCG terhadap kinerja perusahaan yang diukur

dengan ROE sebagai kinerja operasional dan Tobins Q sebagai ukuran

kinerja pasar perusahaan dan variabel kontrolnya menggunakan asset,

growth opportunity dan size. Penelitian ini menggunakan purposive

sampling perusahaan yang go public yang terdaftar di BEJ selama tahun

2001-2005 dan masuk dalam pemeringkatan penerapan corporate

governance yang dilakukan oleh IICG. Hasil dari penelitian ini

menyatakan bahwa GCG tidak berpengaruh positif terhadap ROE sebagai

kinerja operasional perusahaan tetapi GCG berpengaruh positif terhadap

Tobins Q sebagai nilai kinerja pasar perusahaan.

3.Connett, et al., 2005, melakukan penelitian terhadap perusahaan-

perusahaan yang termasuk ke dalam kelompok S&P 100. Penelitian ini

bertujuan untuk mengetahui pengaruh penerapan good corporate

governance terhadap kinerja keuangan perusahaan. Hasil penelitian ini

menunjukkan bahwa penerapan good corporate governance berpengaruh

positif terhadap kinerja keuangan (yang diproxy dengan ROA)

Berdasarkan dari penelitian terdahulu terdapat kesamaan dengan penelitian

sekarang yaitu tentang penerapan GCG dan pengaruhnya terhadap kinerja

28

perusahaan, perbedaan dengan penelitian sekarang adalah terlihat dari data yang

dibutuhkan dalam penelitian ini yaitu tahun 2006 sampai 2008 perusahaan yang

memperoleh skor penerapan good corporate governance yang terdaftar dalam

laporan Corporate Governance Perception Index (CGPI) yang dilakukan oleh The

Indonesian Institute for Corporate Governance (IICG) dan dalam penelitian ini

kinerja keuangan diukur dengan rasio ROA dan NPM.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->