P. 1
anak sholeh

anak sholeh

|Views: 1,241|Likes:
Published by Imaduddin ismail

More info:

Categories:Types, Speeches
Published by: Imaduddin ismail on Aug 14, 2010
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as RTF, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

11/24/2012

pdf

text

original

“Kapan Ruh Ditiupkan Ke Manusia?” ketegori Muslim.

Assalamualaikum warahmatullahi wabarokatuh, Ustad yth, singkat saja, kapankah Allah SWT meniupkan ruh ke manusia, bila masih dalam kandungan pada bulan kehamilan keberapakah? Apakah benar setelah ruh ditiupkan bayi bisa merespon sesuatu, seperti didengarkan musik, ayat-ayat Al-Quran, dan sebagainya? Wassalam, Aditya Jawaban Para ulama umumnya mengatakan bahwa ruh ditiupkan pada janin ketika berusia 120 hari, sejak dari terbentuknya. Dalil-dalil yang dikemukakan cukup banyak, di antaranya adalah: Dari Abdullah bin Mas’ud ra berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda, Sesungguhnya setiap kamu dibentuk di perut ibunya selama 40 hari, kemudian berbentuk ‘alaqah seperti itu juga, kemudian menjadi mudhghah seperti itu juga. Kemudian Allah mengutus malaikat untuk meniupkan ruh dan menetapkan 4 masalah…. {HR. Bukhari, Ibnu Majah, At-Tirmizy} Para ulama kemudian menghitung ketiga masa itu menjadi 40 hari tambah 40 hari tambah 40 hari, sehingga masa peniupan ruh itu menjadi 120 hari sejak pertama kali janin terbentuk. Inilah pendapat yang paling umum dipegang oleh para ulama selama ini. Namun sebagian kecil lainnya melihat ada dalil lain yang tidak sama. Misalnya hadits berikut ini. Dari Hudzaifah bin Usaid raberkata, Aku mendengar Rasulullah SAW bersabda, Apabila nutfah telah berusia empat puluh dua malam, maka Allah mengutus malaikat, lalu dibuatkan bentuknya, diciptakan pendengarannya, penglihatannya, kulitnya, dagingnya, dan tulangnya. Kemudian malaikat bertanya, ra Rabbi, laki-laki ataukah perempuan?` Lalu Rabb-mu menentukan sesuai dengan kehendak-Nya, dan malaikat menulisnya, kemudian dia bertanya, Ya Rabbi, bagaimana ajalnya?` Lalu Rabb-mu menetapkan sesuai dengan yang dikehendaki-Nya, dan malaikat menulisnya. Kemudian ia bertanya, `Ya Rabbi, bagaimana rezekinya?` Lalu Rabb-mu menentukan sesuai dengan yang dikehendaki-Nya, dan malaikat menulisnya. Kemudian malaikat itu keluar dengan membawa lembaran catatannya, maka ia tidak menambah dan tidak mengurangi apa yang diperintahkan itu. Hadits ini menjelaskan diutusnya malaikat dan dibuatnya bentuk bagi nutfah setelah berusia enam minggu , bukan setelah berusia 120 hari sebagaimana disebutkan dalam hadits di atas. Sehingga sebagian ulama berpendapat bahwa peniupan ruh itu dilakukan pada usia janin 42 hari berdasarkan hadits ini. Namun sebagian ulama lainnya mengkompromikan kedua hadits tersebut dengan mengatakan bahwa malaikat itu diutus beberapa kali, pertama pada waktu nutfah berusia empat puluh hari, dan kali lain pada waktu berusia empat puluh kali tiga hari untuk meniupkan ruh. Secara nalar bila disebutkan bahwa ruh ditiupkan, maka wajar bila janin itu kemudian bisa merespon suara. Akan tetapi apakah respon itu hanya akan terjadi manakala ruh sudah ditiupkan, tentu perlu

diselidiki lebih lanjut. Sebab respon itu ada yang berasal dari makhluq bernyawa, tetapi ada juga dari makhluq yang belum bernyawa. Wallahu a’lam bishshawab wassalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh Ahmad Sarwat, Lc. 120 hari: Janin dan Ruh PDF Print E-mail Written by Intan Risna Wednesday, 09 December 2009 17:58 embryo1Abu Abdurrahman Abdullah bin Mas'ud ra. berkata, Rasulullah shalallahu'alaihi wassalam yang jujur dan terpercaya bersabda kepada kami, "Sesungguhnya penciptaan kalian dikumpulkan dalam rahim ibu, selama 40 hari berupa nutfah (sperma), lalu menjadi alaqah (segumpal darah) selama itu pula, lalu menjadi mudhghah (segumpal daging) selama itu pula. Kemudian Allah mengutus malaikat untuk meniupkan ruh dan mencatat 4 perkara yang telah ditentukan, yaitu: rezeki, ajal, amal dan sengsara atau bahagianya...." (HR Bukhari dan Muslim)

TAHAPAN PERKEMBANGAN JANIN Hadits ini menjelaskan bahwa selama seratus dua puluh hari janin mengalami 3 kali perkembangan. Perkembangan tersebut terjadi setiap 40 hari. morula * Empat puluh hari pertama, janin masih berbentuk nuthfah. * Empat puluh hari kedua berbentuk gumpalan darah * Empat puluh hari berikutnya menjadi segumpal daging Setelah 120 hari, malaikat meniupkan ruh kedalamnya dan ditetapkan bagi janin tersebut empat ketentuan diatas. Perkembangan janin juga disebutkan dalam Al-Qur'an. Allah subhanahu wa ta'ala berfirman, "Wahai sekalian manusia jika kalian ragu-ragu terhadap hari kebangkitan, maka (ingatlah) sesungguhnya Aku telah menciptakanmu dari tanah, lalu dari setetes air, kemudian menjadi segumpal darah, kemudian menjadi segumpal daging" (Al-Hajj: 5)embryo2 "Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari satu sari pati (berasal) dari tanah. Kemudian Kami jadikan saripati itu air mani (yang disimpan) dalam tempat yang kokoh (rahim). Kemudian air mani itu Kami jadikan segumpal darah, lalu segumpal darah itu kami jadikan segumpal daging dan segumpal daging itu kami jadikan tulang belulang lalu tulang belulang itu Kami bungkus dengan daging, kemudian kami jadikan dia makhluq yang (berbentuk) lain. Mahasuci Allah, Pencipta yang Paling Baik" (Al-Mukminuun: 12-14) embryo3 Dalam ayat ini Allah menyebutkan 4 tahapan penciptaan manusia yang ada dalam hadits di atas dan menambah 4 tahapan yang lain. Sehingga menjadi 7 tahapan. Ibnu Abbas ra. berkata, "Anak Adam diciptakan melalui 7 tahapan". Lalu ia membaca ayat di atas. Hikmah diciptakannya manusia secara bertahap, padahal Allah sebenarnya mampu untuk menciptakan secara langsung dan dalam waktu yang singkat, adalah untuk menyesuaikan dengan sunatullah yang berlaku di alam semesta. Semuanya berjalan sesuai hukum sebab akibat. Semua ini justru menandakan kekuasaan Allah yang sangat besar. Hikmah lainnya, agar manusia berhati-hati dalam melakukan segala urusannya, tidak terburu-

buru. Juga mengajarkan kepada manusia bahwa untuk mendapatkan hasil yang maksimal dan sempurna baik dalam masalah2 batin maupun lahir, adalah dengan melakukannya dengan penuh hati-hati dan bertahap. bayiPENIUPAN RUH Para ulama sepakat bahwa ruh ditiupkan pada janin ketika janin berusia seratus duapuluh hari terhitung sejak bertemunya sel sperma dengan ovum. Artinya, peniupan tersebut ketika janin berusia 4 bulan penuh, masuk bulan ke 5. Pada masa inilah segala hukum mulai berlaku padanya. Karena itu wanita yang ditinggal mati suaminya menjalani masa iddah selama 4 bulan 10 hari untuk memastikan bahwa ia tidak hamil dari suaminya yang meninggal, agar tidak menimbulkan keraguan ketika ia menikah lagi lalu hamil. bayi_besar Ruh adalah sesuatu yang membuat manusia hidup. Ini sepenuhnya urusan Allah swt. sebagaimana yang dinyatakan dalam firmanNya: "Dan mereka bertanya tentang ruh. Katakanlah, hai Muhammad, 'Bahwa ruh adalah urusan Tuhanku, dan tidaklah ia diberi ilmu kecuali sangat sedikit" (Al-Israa': 85)

embryo_stages ? Abduh Zulfidar Akaha Prolog Kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi, mau tidak mau juga membawa dampak kemajuan bagi dunia kedokteran. Dan, seiring dengan perkembangan yang sangat pesat di bidang medis, penyakit manusia pun menjadi semakin kompleks dan variatif. Meskipun bisa jadi, penyakit-penyakit semacam lever, kanker, tumor, jantung koroner, ginjal, paru-paru basah, stroke, dan lain-lain, sudah ada sejak dulu, namun setidaknya, jenis penyakitnya baru dapat dideteksi dan ditemukan obatnya akhir-akhir ini. Mungkin hanya AIDS saja yang belum ditemukan obatnya. Sekiranya memang AIDS adalah suatu penyakit, bukan laknat Tuhan. Tidak semua yang berurusan dengan dokter adalah orang sakit. Orang sehat pun bisa saja punya urusan dengan dokter. Karena, memang yang dibahas dan dipelajari dalam dunia kedokteran bukan hanya penyakit. Namun segala hal yang berkaitan dengan penyakit. Termasuk orang sehat yang lalu ‘menjadi sakit’ karena dilakukan tindakan medis terhadap dirinya. Misalnya, perempuan yang aborsi, orang yang mendonorkan sebagian anggota badannya, atau orang yang ingin operasi plastik untuk mempercantik diri. Sebetulnya, pada dasarnya orang tersebut tidak sakit. Tetapi karena dilakukan tindakan medis terhadap dirinya, maka urusannya pun menjadi berkaitan dengan kedokteran dan para dokter.

Fikih Kedokteran dan Urgensinya Fikih kedokteran adalah suatu tinjauan komprehensif dari sudut pandang fikih Islam dalam masalah-masalah kedokteran, dengan disertai dalil-dalil yang bisa dipertanggungjawabkan yang bersumber dari Al-Qur`an dan sunnah, serta pendapat para ulama yang berkompeten. Kemudian, karena sudut pandangnya adalah fikih Islam, maka yang paling dominan dalam hal ini adalah dalil-dalil yang Islami. Sehingga para ulama dan ahli fikihlah yang banyak berperan menentukan hukum boleh tidaknya suatu tindakan medis. Adapun peran para dokter

dan praktisi kesehatan, adalah memberikan penjelasan serta pertimbangan tentang masalahmasalah yang dibahas. Urgensitas fikih kedokteran ini, tentu saja untuk mengetahui hukum halal dan haram dalam berbagai tindakan medis yang berhubungan dengan dunia kedokteran. Dengan demikian, seorang dokter atau siapa pun, tidak akan terjebak untuk menghalalkan perbuatan yang haram ataupun mengharamkan perbuatan yang halal. Duhai, alangkah idealnya jika seorang dokter memiliki wawasan keislaman yang memadai. Sehingga dia dapat menghindarkan dirinya dari suatu tindakan medis yang – sebetulnya– diharamkan, dan sanggup menentukan hukum dalam tindakan medis yang dihadapinya. Selain itu, dia juga akan dapat menegakkan kebenaran yang diyakininya sebagai suatu kebenaran dalam dunia kedokteran yang digelutinya. Sebaliknya, sungguh suatu hal yang membanggakan jika para ulama menguasai ilmu kedokteran. Dan, ini bukan mungkin. Karena sejarah telah mencatat dengan tinta emas, bahwa sebagian dari ulama kaum muslimin masa lalu, adalah pakar di bidang kedokteran. Sebutlah misalnya; Ibnu Sina, Ibnu Rusyd, Al-Farabi, Ibnul Qayyim, dan lain-lain. Kepakaran mereka dalam ilmu kedokteran tidak diragukan lagi.

Awal Kehidupan Manusia Berdasarkan dalil-dalil syariat, para ulama mengatakan bahwa awal kehidupan seorang manusia dimulai setelah janin berusia empat bulan di dalam kandungan ibunya. Adapun sebelum itu tidak dapat disebut sebagai kehidupan, meskipun ada tanda-tanda kehidupan; seperti perkembangan pembentukan, dan gerakan-gerakan janin. Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, ُ َ ُ َ ٍ َ َِ ِ َ ْ َِ ُ َ ْ ُ َ ً ََ ّ ُ َ ْ َ ّ ُ َ َِ َ ْ ِ ً َ ْ ُ ُ ُ َ ّ ُ َ َِ َ ْ ِ ً َ ََ ُ ُ َ ّ ُ ً ْ َ َ ِ َ ْ َ ِ ّ ُ ِ ْ َ ِ ُ ُ ْ َ ُ َ ْ ُ ْ ُ َ َ َ ّ ِ ‫إن أحدكم يجمع خلقه في بطن أمه أربعين يوما ثم يكون علقة مثل ذلك ثم يكون مضغة مثل ذلك ثم يبعث ال ملكا فيؤمر بأربع كلمات ويقال‬ ُ ‫)له اكتب عمله ورزقه وأجله وشقي أو سعيد . )متفق عليه‬ ٌ ِ َ ْ َ ّ ِ َ َ ُ ََ ََ ُ َ ْ ِ َ ُ ََ َ ْ ُ ْ ُ َ “Sesungguhnyan kejadian seseorang itu dikumpulkan di dalam perut ibunya selama empat puluh hari. Setelah genap empat puluh hari kedua, terbentuklah segumpal darah beku. Manakala genap empat puluh hari ketiga, berubahlah menjadi segumpal daging. Kemudian Allah mengutus seorang malaikat untuk meniupkan roh, lalu malaikat itu diperintahkan untuk menuliskan empat perkara. Dikatakan kepadanya; Tulislah amalnya, rezekinya, ajalnya, dan (nasibnya) celaka atau bahagia.” (Muttafaq Alaih) Jadi, kehidupan seorang manusia baru dimulai setelah ditiupkan roh kepadanya, yakni pada empat puluh hari yang ketiga (120 hari/empat bulan) saat dia masih berada dalam rahim ibunya. Bukan pada saat seorang perempuan dinyatakan hamil, atau bukan pula ketika jabang bayi dilahirkan ke dunia. Itulah makanya, Adam baru ‘resmi’ menjadi manusia setelah Allah meniupkan roh kepadanya. Meskipun sebelumnya, jasad Adam sudah ada terlebih dahulu, dan para malaikat serta iblis sudah mengetahui bahwa Allah akan menciptakan seorang manusia yang akan dijadikan sebagai khalifah di muka bumi.

Akhir Kehidupan Manusia Kebalikan dari awal kehidupan manusia, maka akhir kehidupan seorang manusia adalah berpisahnya roh dari jasadnya. Sebab, manakala seseorang sudah ditinggalkan rohnya atau rohnya sudah diambil kembali oleh Yang Punya –via Malaikat Izrail, maka habis sudah masa

hidupnya di dunia ini. Tidak ada aktivitas apa pun yang dapat dia lakukan lagi. Sekalipun mungkin, sebagian dari anggota tubuhnya masih bisa dimanfaatkan sekiranya memang akan dimanfaatkan. Karena, ketika seseorang dinyatakan meninggal, sebagian organ tubuhnya – seperti; otak, mata, jantung, dsb.– masih dapat berfungsi dengan baik, jika difungsikan. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman, ٍ َ َ َ َِ ِ ّ ِ ّ َ ُ ٍ َ َ َِ َ ْ ُْ ُ ِ ْ ُ َ َ ْ َ ْ َ ْ ََ َ َ ِ ّ ُ ِ ْ ُ َ َ ِ َ َ ِ ْ ُ َ ْ َ ِ ّ َ َ ِ ْ َ َ ِ َ ُ َْ ّ َ َ َ ّ ‫ال يتوفى النفس حين موتها والتي لم تمت في منامها فيمسك التي قضى عليها الموت ويرسل الخرى إلى أجل مسمى إن في ذلك ليات‬ ُ 42 : ‫)لقوم يتفكرون . )الزمر‬ َ ُ ّ َ ََ ٍ ْ َّ “Allah memegang jiwa (orang) ketika matinya dan (memegang) jiwa orang yang belum mati di waktu tidurnya. Dia menahan jiwa yang telah Dia tetapkan kematiannya dan Dia lepaskan jiwa yang lain sampai waktu yang ditentukan. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda kekuasaan Allah bagi kaum yang berfikir.” (Az-Zumar: 42) Memegang jiwa orang ketika matinya, maksudnya yaitu memegang jiwa orang yang mati ketika ajalnya tiba. Dan yang dimaksud dengan jiwa dalam ayat di atas, adalah roh (baca: nyawa). Masalahnya, untuk menentukan apakah seseorang sudah meninggal atau belum, tidak dapat dilakukan oleh sembarang orang. Harus diakui, bahwa dalam hal ini, peran dokter sangatlah penting. Sekiranya seorang dokter sudah menyatakan seseorang meninggal dunia dengan berdasarkan teori keilmuan yang dimilikinya, maka itu artinya orang tersebut telah dicabut nyawanya, atau ditinggalkan rohnya. Yang jelas, dalam kondisi tertentu, berhentinya fungsi (detak) jantung, atau tidak beroperasinya otak, atau nafas yang sudah tidak berhembus; bukan berarti menjadi jaminan bahwa seseorang telah meninggal.

Korelasi Antara Pembahasan roh dan Kehidupan Manusia Seorang manusia disebut sebagai manusia jika terdiri dari dua unsur, yaitu roh dan jasad.

Perlakuan medis ataupun non-medis terhadap manusia hidup dan manusia mati ada perbedaan hukumnya. Yang membuat manusia hidup adalah keberadaan roh dalam jasadnya.

Yang membuat manusia mati adalah berpisahnya roh dari jasadnya, bukan karena berhentinya detak jantung. Yang menggerakkan segala aktivitas manusia secara sadar dan sengaja adalah roh, bukan otak. Yang menggerakkan anggota badan secara tidak sadar dan tidak sengaja (gerakan refleks) adalah bukan roh, juga bukan otak. Ia adalah suatu kehidupan lain yang menyertai manusia. Jasad hanyalah alat dan tempat, roh adalah rajanya. Jasad hanya menjalankan perintah dari roh. Dengan demikian, kaki orang pertama yang meninggal dan dicangkokkan pada orang kedua yang masih hidup, lalu kaki tersebut dipakai untuk melakukan maksiat, maka yang disiksa adalah (roh) orang yang kedua.

Perbedaan Persepsi Antara Ulama Syariat dan Dokter

Sebagian dokter menganggap bahwa janin telah hidup sejak dia bisa bergerak-gerak dan tampak perkembangannya. Sedangkan ulama mengatakan, bahwa kehidupan baru ada setelah janin berusia empat bulan, yakni setelah ditiupkan roh kepadanya. Menurut dokter, tanda orang mati adalah tidak berfungsinya otak atau berhentinya detak jantung. Adapun para ulama mengatakan, bahwa kematian terjadi karena berpisahnya roh dari jasadnya. Menurut dokter, gerakan refleks digerakkan oleh alam bawah sadar atau disebut juga gerakan non-motorik. Sedangkan menurut ulama, gerakan refleks atau gerakan-gerakan di luar kehendak digerakkan oleh alam kehidupan lain yang menyertai manusia. Menurut dokter, gerakan janin di bawah empat bulan adalah murni gerakan janin. Menurut ulama, hal itu adalah gerakan di luar janin, karena ia belum hidup.

Pemanfaatan Janin untuk Eksperimentasi Ilmiah Janin, berasal dari bahasa Arab, jamaknya adalah ajinnah dan ajnan. Diambil dari kata janna, yang artinya menutupi diri. Janin manusia adalah makhluk yang tercipta di dalam rahim seorang wanita dari hasil pertemuan antara sel telur dengan sel sperma seorang laki-laki. Atau dengan kata lain, janin yaitu jabang bayi yang berada di dalam perut ibunya. Dinamakan janin, karena ia tertutupi oleh perut ibunya. Itulah makanya, bayi yang telah lahir tidak bisa disebut sebagai janin. Dan, ia tetap disebut sebagai janin selama masih berada dalam perut ibunya, sejak fase perkembangan pertama hingga waktu dilahirkan. Tentang hukum pemanfaatan janin ini untuk eksperimentasi ilmiah atau pencangkokan, terdapat sedikit perbedaan di kalangan ulama syariat jika janin tersebut belum berusia empat bulan. Mayoritas ulama membolehkan pemanfaatan janin sebelum usia empat bulan ini. Karena sebelum empat bulan, janin belum mempunyai roh, atau belum ditiupkan roh kepadanya. Artinya, dia belum menjadi manusia. Dia bukanlah makhluk yang memiliki roh. Menurut para ulama yang membolehkannya, hal ini bukan berarti pembunuhan. Sebab, tidak dapat dikatakan sebagai pembunuhan kecuali jika yang dibunuh mempunyai roh. Dan, bayi yang belum berusia empat bulan belum mempunyai roh. Adapun sebagian kecil ulama yang melarang, mengatakan bahwa hal ini meskipun tidak bisa disebut sebagai pembunuhan, namun ini adalah penganiayaan terhadap janin. Selain itu, tindakan ini juga bisa bermakna pembunuhan, dalam arti membunuh perkembangan janin hidup yang dapat diharapkan pertumbuhannya. Dan, bagaimanapun juga janin tersebut adalah calon manusia yang akan menjadi manusia sebagaimana manusia lain. Namun demikian, mereka mengatakan bahwa jika hal ini harus dilakukan untuk suatu keperluan yang darurat dan lebih banyak manfaatnya daripada mudharatnya, apalagi untuk menolong jiwa manusia lain yang sudah jelas kehidupannya, mereka masih bisa menerima. Selanjutnya, jika janin telah berusia lebih dari seratus dua puluh hari (empat bulan), maka para ulama bersepakat bahwa hukumnya adalah haram. Karena ini berarti pembunuhan terhadap manusia. Sebab janin yang sudah berusia empat bulan, dia sudah mempunyai roh. Dan, makhluk yang mempunyai roh adalah makhluk hidup. Dan (lagi), suatu tindak pembunuhan dinamakan sebagai pembunuhan, jika yang dibunuh adalah makhluk hidup. Akan tetapi, sekalipun janin tersebut telah berusia lebih dari empat bulan, namun oleh dokter diputuskan sudah mati

Tahapan pertumbuhan janin yang dijelaskan dalam hadits ini , belum terdeteksi oleh ilmu kedokteran kecuali pada masa-masa akhir. Hal ini adalah bukti kemu'jizatan Al-Qur'an dan AsSunnah yang sangat nyata.

Sekarang, mari kita tengok sedikit fakta yang telah diungkap oleh ilmu kedokteran: * Seluruh struktur utama (internal dan eksternal) janin berkembang pesat selama pekan keempat sampai kedelapan. Pada akhir periode ini, sistem organ utama telah berkembang, namun fungsinya masih minimal kecuali pada sistem kardiovaskular. * Selama pembentukan jaringan dan organ, janin (embrio) mengalami perubahan bentuk, dan saat akhir pekan ke 8, sudah nampak seperti bayi. * Memasuki pekan ke 9, embrio berganti nama menjadi fetus. Perubahan nama ini berarti sebagai tanda bahwa embrio telah berkembang menjadi makhluk yang dapat dikenali serta seluruh sistem organ utama telah terbentuk. * Sistem organ yang pertama kali berfungsi adalah Sistem kardiovaskuler. Masih ingat kapan pertama kali jantung berdegup di dalam rahim?? Yap, saat awal pekan keempat. Kalau kita kaitkan hadits diatas dengan penelitian para ahli kedokteran: Waktu pertama kali jantung berdetak: Awal pekan keempat (sekitar hari ke 22) Waktu ditiupkannya ruh: Setelah hari ke 120. Jadi, detak jantung tidak menandakan bahwa ruh telah ada. Allahu'alam bishshawwab. :) Mohon tanggapannya......

Sumber: - Al-Wafi Syarah Kitab Arba'in An-Nawawiyah. Fiqhul Hadits Keempat: Tahapan Penciptaan Manusia dan Amalan Terakhirnya. - Moore & Persaud. The Developing Human. 7th Ed: Elsevier; 2005 ? Abduh Zulfidar Akaha Prolog Kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi, mau tidak mau juga membawa dampak kemajuan bagi dunia kedokteran. Dan, seiring dengan perkembangan yang sangat pesat di bidang medis, penyakit manusia pun menjadi semakin kompleks dan variatif. Meskipun bisa jadi,

penyakit-penyakit semacam lever, kanker, tumor, jantung koroner, ginjal, paru-paru basah, stroke, dan lain-lain, sudah ada sejak dulu, namun setidaknya, jenis penyakitnya baru dapat dideteksi dan ditemukan obatnya akhir-akhir ini. Mungkin hanya AIDS saja yang belum ditemukan obatnya. Sekiranya memang AIDS adalah suatu penyakit, bukan laknat Tuhan. Tidak semua yang berurusan dengan dokter adalah orang sakit. Orang sehat pun bisa saja punya urusan dengan dokter. Karena, memang yang dibahas dan dipelajari dalam dunia kedokteran bukan hanya penyakit. Namun segala hal yang berkaitan dengan penyakit. Termasuk orang sehat yang lalu ‘menjadi sakit’ karena dilakukan tindakan medis terhadap dirinya. Misalnya, perempuan yang aborsi, orang yang mendonorkan sebagian anggota badannya, atau orang yang ingin operasi plastik untuk mempercantik diri. Sebetulnya, pada dasarnya orang tersebut tidak sakit. Tetapi karena dilakukan tindakan medis terhadap dirinya, maka urusannya pun menjadi berkaitan dengan kedokteran dan para dokter.

Fikih Kedokteran dan Urgensinya Fikih kedokteran adalah suatu tinjauan komprehensif dari sudut pandang fikih Islam dalam masalah-masalah kedokteran, dengan disertai dalil-dalil yang bisa dipertanggungjawabkan yang bersumber dari Al-Qur`an dan sunnah, serta pendapat para ulama yang berkompeten. Kemudian, karena sudut pandangnya adalah fikih Islam, maka yang paling dominan dalam hal ini adalah dalil-dalil yang Islami. Sehingga para ulama dan ahli fikihlah yang banyak berperan menentukan hukum boleh tidaknya suatu tindakan medis. Adapun peran para dokter dan praktisi kesehatan, adalah memberikan penjelasan serta pertimbangan tentang masalahmasalah yang dibahas. Urgensitas fikih kedokteran ini, tentu saja untuk mengetahui hukum halal dan haram dalam berbagai tindakan medis yang berhubungan dengan dunia kedokteran. Dengan demikian, seorang dokter atau siapa pun, tidak akan terjebak untuk menghalalkan perbuatan yang haram ataupun mengharamkan perbuatan yang halal. Duhai, alangkah idealnya jika seorang dokter memiliki wawasan keislaman yang memadai. Sehingga dia dapat menghindarkan dirinya dari suatu tindakan medis yang – sebetulnya– diharamkan, dan sanggup menentukan hukum dalam tindakan medis yang dihadapinya. Selain itu, dia juga akan dapat menegakkan kebenaran yang diyakininya sebagai suatu kebenaran dalam dunia kedokteran yang digelutinya. Sebaliknya, sungguh suatu hal yang membanggakan jika para ulama menguasai ilmu kedokteran. Dan, ini bukan mungkin. Karena sejarah telah mencatat dengan tinta emas, bahwa sebagian dari ulama kaum muslimin masa lalu, adalah pakar di bidang kedokteran. Sebutlah misalnya; Ibnu Sina, Ibnu Rusyd, Al-Farabi, Ibnul Qayyim, dan lain-lain. Kepakaran mereka dalam ilmu kedokteran tidak diragukan lagi.

Awal Kehidupan Manusia Berdasarkan dalil-dalil syariat, para ulama mengatakan bahwa awal kehidupan seorang manusia dimulai setelah janin berusia empat bulan di dalam kandungan ibunya. Adapun sebelum itu tidak dapat disebut sebagai kehidupan, meskipun ada tanda-tanda kehidupan; seperti perkembangan pembentukan, dan gerakan-gerakan janin. Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda,

ُ َ ُ َ ٍ َ َِ ِ َ ْ َِ ُ َ ْ ُ َ ً ََ ّ ُ َ ْ َ ّ ُ َ َِ َ ْ ِ ً َ ْ ُ ُ ُ َ ّ ُ َ َِ َ ْ ِ ً َ ََ ُ ُ َ ّ ُ ً ْ َ َ ِ َ ْ َ ِ ّ ُ ِ ْ َ ِ ُ ُ ْ َ ُ َ ْ ُ ْ ُ َ َ َ ّ ِ ‫إن أحدكم يجمع خلقه في بطن أمه أربعين يوما ثم يكون علقة مثل ذلك ثم يكون مضغة مثل ذلك ثم يبعث ال ملكا فيؤمر بأربع كلمات ويقال‬ ُ ‫)له اكتب عمله ورزقه وأجله وشقي أو سعيد . )متفق عليه‬ ٌ ِ َ ْ َ ّ ِ َ َ ُ ََ ََ ُ َ ْ ِ َ ُ ََ َ ْ ُ ْ ُ َ “Sesungguhnyan kejadian seseorang itu dikumpulkan di dalam perut ibunya selama empat puluh hari. Setelah genap empat puluh hari kedua, terbentuklah segumpal darah beku. Manakala genap empat puluh hari ketiga, berubahlah menjadi segumpal daging. Kemudian Allah mengutus seorang malaikat untuk meniupkan roh, lalu malaikat itu diperintahkan untuk menuliskan empat perkara. Dikatakan kepadanya; Tulislah amalnya, rezekinya, ajalnya, dan (nasibnya) celaka atau bahagia.” (Muttafaq Alaih) Jadi, kehidupan seorang manusia baru dimulai setelah ditiupkan roh kepadanya, yakni pada empat puluh hari yang ketiga (120 hari/empat bulan) saat dia masih berada dalam rahim ibunya. Bukan pada saat seorang perempuan dinyatakan hamil, atau bukan pula ketika jabang bayi dilahirkan ke dunia. Itulah makanya, Adam baru ‘resmi’ menjadi manusia setelah Allah meniupkan roh kepadanya. Meskipun sebelumnya, jasad Adam sudah ada terlebih dahulu, dan para malaikat serta iblis sudah mengetahui bahwa Allah akan menciptakan seorang manusia yang akan dijadikan sebagai khalifah di muka bumi.

Akhir Kehidupan Manusia Kebalikan dari awal kehidupan manusia, maka akhir kehidupan seorang manusia adalah berpisahnya roh dari jasadnya. Sebab, manakala seseorang sudah ditinggalkan rohnya atau rohnya sudah diambil kembali oleh Yang Punya –via Malaikat Izrail, maka habis sudah masa hidupnya di dunia ini. Tidak ada aktivitas apa pun yang dapat dia lakukan lagi. Sekalipun mungkin, sebagian dari anggota tubuhnya masih bisa dimanfaatkan sekiranya memang akan dimanfaatkan. Karena, ketika seseorang dinyatakan meninggal, sebagian organ tubuhnya – seperti; otak, mata, jantung, dsb.– masih dapat berfungsi dengan baik, jika difungsikan. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman, ٍ َ َ َ َِ ِ ّ ِ ّ َ ُ ٍ َ َ َِ َ ْ ُْ ُ ِ ْ ُ َ َ ْ َ ْ َ ْ ََ َ َ ِ ّ ُ ِ ْ ُ َ َ ِ َ َ ِ ْ ُ َ ْ َ ِ ّ َ َ ِ ْ َ َ ِ َ ُ َْ ّ َ َ َ ّ ‫ال يتوفى النفس حين موتها والتي لم تمت في منامها فيمسك التي قضى عليها الموت ويرسل الخرى إلى أجل مسمى إن في ذلك ليات‬ ُ 42 : ‫)لقوم يتفكرون . )الزمر‬ َ ُ ّ َ ََ ٍ ْ َّ “Allah memegang jiwa (orang) ketika matinya dan (memegang) jiwa orang yang belum mati di waktu tidurnya. Dia menahan jiwa yang telah Dia tetapkan kematiannya dan Dia lepaskan jiwa yang lain sampai waktu yang ditentukan. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda kekuasaan Allah bagi kaum yang berfikir.” (Az-Zumar: 42) Memegang jiwa orang ketika matinya, maksudnya yaitu memegang jiwa orang yang mati ketika ajalnya tiba. Dan yang dimaksud dengan jiwa dalam ayat di atas, adalah roh (baca: nyawa). Masalahnya, untuk menentukan apakah seseorang sudah meninggal atau belum, tidak dapat dilakukan oleh sembarang orang. Harus diakui, bahwa dalam hal ini, peran dokter sangatlah penting. Sekiranya seorang dokter sudah menyatakan seseorang meninggal dunia dengan berdasarkan teori keilmuan yang dimilikinya, maka itu artinya orang tersebut telah dicabut nyawanya, atau ditinggalkan rohnya. Yang jelas, dalam kondisi tertentu, berhentinya fungsi (detak) jantung, atau tidak beroperasinya otak, atau nafas yang sudah tidak berhembus; bukan berarti menjadi jaminan bahwa seseorang telah meninggal.

Korelasi Antara Pembahasan roh dan Kehidupan Manusia

-

Seorang manusia disebut sebagai manusia jika terdiri dari dua unsur, yaitu roh dan jasad.

Perlakuan medis ataupun non-medis terhadap manusia hidup dan manusia mati ada perbedaan hukumnya. Yang membuat manusia hidup adalah keberadaan roh dalam jasadnya.

Yang membuat manusia mati adalah berpisahnya roh dari jasadnya, bukan karena berhentinya detak jantung. Yang menggerakkan segala aktivitas manusia secara sadar dan sengaja adalah roh, bukan otak. Yang menggerakkan anggota badan secara tidak sadar dan tidak sengaja (gerakan refleks) adalah bukan roh, juga bukan otak. Ia adalah suatu kehidupan lain yang menyertai manusia. Jasad hanyalah alat dan tempat, roh adalah rajanya. Jasad hanya menjalankan perintah dari roh. Dengan demikian, kaki orang pertama yang meninggal dan dicangkokkan pada orang kedua yang masih hidup, lalu kaki tersebut dipakai untuk melakukan maksiat, maka yang disiksa adalah (roh) orang yang kedua.

Perbedaan Persepsi Antara Ulama Syariat dan Dokter Sebagian dokter menganggap bahwa janin telah hidup sejak dia bisa bergerak-gerak dan tampak perkembangannya. Sedangkan ulama mengatakan, bahwa kehidupan baru ada setelah janin berusia empat bulan, yakni setelah ditiupkan roh kepadanya. Menurut dokter, tanda orang mati adalah tidak berfungsinya otak atau berhentinya detak jantung. Adapun para ulama mengatakan, bahwa kematian terjadi karena berpisahnya roh dari jasadnya. Menurut dokter, gerakan refleks digerakkan oleh alam bawah sadar atau disebut juga gerakan non-motorik. Sedangkan menurut ulama, gerakan refleks atau gerakan-gerakan di luar kehendak digerakkan oleh alam kehidupan lain yang menyertai manusia. Menurut dokter, gerakan janin di bawah empat bulan adalah murni gerakan janin. Menurut ulama, hal itu adalah gerakan di luar janin, karena ia belum hidup.

Pemanfaatan Janin untuk Eksperimentasi Ilmiah Janin, berasal dari bahasa Arab, jamaknya adalah ajinnah dan ajnan. Diambil dari kata janna, yang artinya menutupi diri. Janin manusia adalah makhluk yang tercipta di dalam rahim seorang wanita dari hasil pertemuan antara sel telur dengan sel sperma seorang laki-laki. Atau dengan kata lain, janin yaitu jabang bayi yang berada di dalam perut ibunya. Dinamakan janin, karena ia tertutupi oleh perut ibunya. Itulah makanya, bayi yang telah lahir tidak bisa disebut sebagai janin. Dan, ia tetap disebut sebagai janin selama masih berada dalam perut ibunya, sejak fase perkembangan pertama hingga waktu dilahirkan. Tentang hukum pemanfaatan janin ini untuk eksperimentasi ilmiah atau pencangkokan, terdapat sedikit perbedaan di kalangan ulama syariat jika janin tersebut belum berusia empat bulan. Mayoritas ulama membolehkan pemanfaatan janin sebelum usia empat bulan ini. Karena sebelum empat bulan, janin belum mempunyai roh, atau belum ditiupkan roh kepadanya. Artinya,

dia belum menjadi manusia. Dia bukanlah makhluk yang memiliki roh. Menurut para ulama yang membolehkannya, hal ini bukan berarti pembunuhan. Sebab, tidak dapat dikatakan sebagai pembunuhan kecuali jika yang dibunuh mempunyai roh. Dan, bayi yang belum berusia empat bulan belum mempunyai roh. Adapun sebagian kecil ulama yang melarang, mengatakan bahwa hal ini meskipun tidak bisa disebut sebagai pembunuhan, namun ini adalah penganiayaan terhadap janin. Selain itu, tindakan ini juga bisa bermakna pembunuhan, dalam arti membunuh perkembangan janin hidup yang dapat diharapkan pertumbuhannya. Dan, bagaimanapun juga janin tersebut adalah calon manusia yang akan menjadi manusia sebagaimana manusia lain. Namun demikian, mereka mengatakan bahwa jika hal ini harus dilakukan untuk suatu keperluan yang darurat dan lebih banyak manfaatnya daripada mudharatnya, apalagi untuk menolong jiwa manusia lain yang sudah jelas kehidupannya, mereka masih bisa menerima. Selanjutnya, jika janin telah berusia lebih dari seratus dua puluh hari (empat bulan), maka para ulama bersepakat bahwa hukumnya adalah haram. Karena ini berarti pembunuhan terhadap manusia. Sebab janin yang sudah berusia empat bulan, dia sudah mempunyai roh. Dan, makhluk yang mempunyai roh adalah makhluk hidup. Dan (lagi), suatu tindak pembunuhan dinamakan sebagai pembunuhan, jika yang dibunuh adalah makhluk hidup. Akan tetapi, sekalipun janin tersebut telah berusia lebih dari empat bulan, namun oleh dokter diputuskan sudah mati –baik di dalam ataupun di luar perut ibunya , maka semua sepakat bahwa hukumnya adalah boleh. Karena, dalam hal ini tidak ada makna pembunuhan, melainkan pemanfaatan. Tetapi, itu pun masih dengan beberapa catatan.

Pemanfaatan Janin yang Sudah Mati Memanfaatkan jasad janin yang telah meninggal, menurut para ulama hukumnya boleh, namun dengan syarat-syarat tertentu, yaitu: Benar-benar dalam keadaan terpaksa dan mendesak. Dalam arti kata, demi untuk menyelamatkan seseorang dari kematian atau untuk menyelamatkan sebagian dari anggota badannya. Tidak ditemukan jalan atau cara lain untuk mengobatinya selain dengan menggunakan sebagian dari anggota badan dari jasad janin yang sudah meninggal tersebut. Harus ada suatu kepastian positif bahwa tindakan medis dengan memanfaatkan janin yang sudah mati tersebut benar-benar dapat menyelamatkan atau menyembuhkan si sakit. Memanfaatkan bagian tubuh janin selain biji alat vital dan indung telurnya. Sebab, tidak diperbolehkan mengambil biji alat vital dan indung telur untuk ditanamkan kepada orang lain. Karena sel telur terbentuk dari sel buah pelir atau sel indung telur itu sendiri. Harus dengan seizin kedua orangtuanya. Jika salah satu dari kedua orangtua si janin yang sudah mati itu tidak mengizinkan, maka hukumnya tidak boleh.

Sisi-sisi Negatif dan Positif dalam Tindakan Medis Terhadap Janin Sisi-sisi Negatif: 1. Adanya perusakan terhadap janin, yang berarti menghalangi janin untuk

berkembang menjadi sempurna. 2. Adanya tekanan batin pada diri si ibu atas pengguguran kandungannya. (Meskipun si ibu mengizinkan janin yang gugur dari rahimnya dimanfaatkan, tetapi tidak menutup kemungkinan hati si ibu tetap tertekan atau sedih) 3. Memberi kesempatan kepada wanita-wanita murahan amoral atau para penjaja sex komersial untuk memperjual-belikan janinnya untuk tujuan yang tidak baik dan tidak selayaknya. 4. Melecehkan kehormatan manusia, karena menjadikan materi jasadnya untuk obyek penelitian dan eksperimen. Sisi-sisi Positif: 1. Untuk mengobati beberapa jenis penyakit syaraf yang berbahaya, untuk kekebalan tubuh, untuk mengobati penyakit gula, impotensi, dan beberapa penyakit urat. 2. Mencegah dari kelahiran prematur dan beberapa aib, serta penyakit keturunan.

3. Menghasilkan berbagai macam obat dan ramuan yang bermanfaat untuk pengobatan dan pencegahan. 4. Manfaat-manfaat lain yang banyak disebutkan oleh para pakar dalam buku-buku dan kajian-kajian mereka.

Bayi Tabung Tentang bayi tabung ini, secara ringkas kami sampaikan bahwa, Praktik pembuatan bayi tabung yang menyebabkan pertukaran nasab, tidak diperbolehkan. Pembuatan bayi tabung dari sel sperma laki-laki ke dalam rahim perempuan yang bukan istrinya, hukumnya haram. Sebaliknya, jika sel sperma itu dari suami si perempuan, diperbolehkan dengan syaratsyarat tertentu. Memperjual-belikan sel sperma demi tujuan materi, tidak diperbolehkan. Karena berarti merendahkan kehormatan manusia dan martabatnya. Selain itu, juga bertentangan dengan tujuan syariat.

Donor Anggota Badan Pada hakekatnya, pendonoran anggota badan adalah pemindahan hak seseorang kepada orang lain tanpa ada timbal balik apa pun. Selanjutnya, hak si pendonor atas anggota badannya yang didonorkan otomatis menjadi gugur dan berganti menjadi hak orang yang didonori. Untuk itu, masalah ini harus dikaji secara mendalam dari berbagai segi menurut syariat Islam.

Hal-hal yang Perlu Diperhatikan dalam Donor Anggota Badan Hukum asal dari pendonoran anggota badan ini adalah haram. Karena pada diri seorang manusia, yang mempunyai hak bukan hanya manusia yang bersangkutan. Melainkan di sana juga ada hak Allah Ta’ala. Disamping itu, manusia dengan segala anggota badannya adalah terhormat. Seorang manusia tidak boleh memindahkan ataupun menyerahkan sebagian anggota badannya kepada orang lain tanpa ada alasan yang mendesak dan benar-benar sangat darurat. Harus dilihat keadaan si pendonor, baik dari segi fisik maupun psikis.

Harus dilihat keadaan orang yang akan didonori. Apakah dia layak menerima donor tersebut atau tidak. Sekiranya dengan didonori dia dipastikan tetap akan meninggal dikarenakan penyakit itu, anggota badan yang didonorkan jauh lebih bermanfaat jika tetap berada pada pemilik aslinya. Harus diperhatikan kondisi keterpaksaan yang mengharuskan adanya donor.

Perbedaan tingkat bahaya yang mungkin timbul, baik dari pihak pendonor maupun yang didonori dengan adanya pendonoran ini. Anggota badan mana yang akan didonorkan. Sebab, ada anggota badan yang tidak boleh didonorkan karena berbahaya bagi keselamatan si pendonor, seperti jantung dan ginjal bagi orang yang hanya punya satu ginjal. Dan ada juga anggota badan yang tidak boleh didonorkan karena dapat mempengaruhi atau mengaburkan keturunan, seperti indung telur dan buah pelir.

Syarat-syarat Umum Bolehnya Mendonorkan Anggota Badan 1. Kemampuan para ahli kedokteran dalam memprediksi dampak negatif (mudharat) bagi si pendonor berdasarkan pertimbangan ilmiah yang tepat. 2. Kemampuan para ahli kedokteran dalam memprediksi dampak negatif (mudharat) orang yang didonori dengan melihat keadaan sakitnya berdasarkan ukuran ilmiah yang tepat. 3. Kemampuan para ahli kedokteran dalam memprediksi dampak positif (kemaslahatan) yang akan terjadi pada si pendonor setelah anggota badannya didonorkan. Tiga hal ini penting diketahui sebagai perbandingan dampak positif dan negatif dengan dilakukannya pemotongan dan pemindahan anggota badan. 4. Hendaknya pendonoran adalah satu-satunya jalan untuk menyelamatkan orang yang didonori. Apabila ada jalan lain, maka pendonoran tidak dianjurkan. Dengan demikian, tidak diperbolehkan mendonorkan anggota badan orang hidup, jika ada kemungkinan mengambil donor dari orang mati. 5. Tidak boleh mendonorkan anggota badan yang menghilangkan hak Allah. Seperti jika pendonoran itu mengakibatkan rusaknya masyarakat atau rusaknya akhlak yang bertentangan dengan tujuan syariat. Misalnya; mendonorkan air mani, buah pelir, dan indung telur. 6. Orang yang didonor harus orang yang terjaga darahnya, yaitu orang Islam dan atau kafir dzimmi. Tidak diperbolehkan mendonorkan angota badan pada orang kafir dalam perang, orang murtad, dan pezina muhshan. 7. Tidak boleh ada unsur pelecehan kehormatan manusia dalam pendonoran. Misalnya, si pendonor menganggap bahwa anggota badannya dapat dijual untuk mencari keuntungan materi.

8. Si pendonor harus mengetahui hakekat pendonoran dan sadar sepenuhnya dengan apa yang dia lakukan, tanpa ada paksaan atau pengaruh dari siapa pun. 9. Untuk menghindari penyelewengan yang disengaja ataupun tidak, pendonoran anggota badan harus dilakukan di bawah pengawasan badan atau lembaga resmi yang diakui secara moral dan keilmuan.

Aborsi Aborsi adalah pengguguran kandungan yang dilakukan oleh seorang wanita yang melahirkan anaknya secara paksa dalam keadaan belum sempurna penciptaannya. Dalam artian, pengguguran tersebut dilakukan atas kehendak ibunya sendiri atau orang lain tetapi atas permintaan dan kerelaan ibunya. Sedangkan janin yang keguguran atau pengguguran yang dipaksakan oleh orang lain, tidak masuk dalam pembahasan ini. Para ulama sepakat, bahwa aborsi yang dilakukan sesudah peniupan roh (setelah empat bulan), hukumnya haram. Adapun sebelum roh ditiupkan, terdapat banyak perbedaan pendapat di kalangan ulama. Sebagian di antara mereka membolehkan, dan sebagian lagi mengharamkannya. Mereka yang membolehkan mengatakan bahwa, Sebelum peniupan roh, belum terjadi penciptaan apa pun pada janin. Baik sebagian ataupun keseluruhan. Janin yang belum ada rohnya belum bisa disebut sebagai manusia, sehingga menggugurkan janin dalam usia ini tidak dapat dikatakan sebagai membunuh manusia. Sedangkan alasan mereka yang tidak membolehkannya, yaitu, Karena janin adalah bakal manusia yang akan menjadi manusia dengan seizin Allah. Hal ini sama halnya dengan tidak bolehnya orang yang sedang ihram memecahkan telur binatang buruan. Karena sejak air mani (nuthfah, sperma) ditumpahkan ke dalam rahim seorang perempuan, ia adalah (calon) makhluk Allah yang siap menerima kehidupan. Merusak wujud yang sudah jelas ada ini (hanya belum ada ruhnya) merupakan suatu tindak kejahatan. Imam Al-Ghazali menganalogikan hal ini dengan ijab qabul dalam akad jual beli. Bahwa jika seorang laki-laki yang sudah menumpahkan air maninya ke dalam rahim perempuan, maka sama halnya dengan sudah meneken kontrak akad jual beli, dan dia tidak boleh membatalkannya atau merusak akad tersebut.

Syarat-syarat Bagi yang Membolehkan Aborsi 1. 2. 3. 4. Untuk menutupi aib seorang wanita muslimah baik-baik yang diperkosa. Si calon ibu tidak dikenal sebagai perempuan nakal/biasa praktik aborsi. Jika nyawa atau keselamatan si ibu terancam. Atas persetujuan orangtua si janin yang akan digugurkan.

5. Dilaksanakan di rumah sakit atau di bawah pengawasan lembaga resmi,dilakukan oleh tim dokter muslim yang terpercaya yang bekerja sama dengan para ulama berkompeten yang dapat menentukan layak tidaknya udzur aborsi dari sisi kesehatan maupun syariat. Intinya, harus ada sebab dan kepentingan dengan alasan yang rasional, dapat diterima, dan syar’i.

Operasi Selaput Dara Operasi selaput dara, adalah tindakan medis dalam rangka memperbaiki keperawanan seorang wanita yang sobek menjadi seperti seperti semula. Atau mengembalikan keperawanan yang sobek ke tempat asalnya atau yang dekat dengannya. Dan, ini adalah pekerjaan para dokter spesialis. Melihat tindakan ini dari segi pengaruhnya, dengan mempertimbangkan adat dan kebiasaan yang memberikan reaksi jika diketahui sobeknya keperawanan, terdapat beberapa manfaat yang sesuai syariat. Di antaranya, 1. Untuk menutupi aib seorang gadis. Menutup aib bukan hanya dengan tidak menyebarkannya kepada orang lain, karena ini adalah perbuatan pasif. Bagi dokter, jika ia membantu mengembalikan keperawanan tersebut, maka ini adalah tindakan aktif. Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, ِ َ َِ ْ َ ْ َ ّ ُ َ ََ ّ ِ َْ ّ ِ ً ْ َ ٌ ْ َ ُ ُْ َ َ ‫. ل يستر عبد عبدا في الدنيا إل ستره ال يوم القيامة‬ ُ “Tidaklah seorang hamba menutupi aib orang lain di dunia, melainkan Allah akan menutupi aibnya pada Hari Kiamat.” (HR. Muslim dari Abu Hurairah) 2. Melindungi keutuhan keluarga atau rumah tangga si gadis. Sebab, jika suatu saat sang suami mengetahui dan mempermasalahkan istrinya yang sudah tidak perawan lagi ketika menikah, maka bukan tidak mungkin akan terjadi kehancuran rumah tangga yang tidak diinginkan. Padahal, mewujudkan rumah tangga berlandaskan rasa saling percaya adalah salah satu tujuan syariat. 3. Mencegah prasangka buruk dalam masyarakat terhadap diri si gadis. Sebab, terkadang hal ini bisa menzhalimi gadis-gadis yang tidak bersalah atau wanita yang sudah benar-benar taubat taubatan nashuha. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman, ‫. يا أيها الذين آمنوا اجتنبوا كثيرا من الظن إن بعض الظن إثم ول تجسسوا ول يغتب بعضكم بعضا‬ ً ْ َ ُ ُ ْ ّ َ ْ َ َ َ ُ ّ َ َ َ َ ٌ ْ ِ ّ ّ َ ْ َ ّ ِ ّ ّ َ ّ ً ِ َ ُِ َ ْ َُ َ ِ ّ َ َّ َ “Hai orang-orang beriman, jauhilah perbuatan banyak berburuk sangka. Karena sesungguhnya sebagian prasangka itu adalah dosa. Dan janganlah kalian mencari-cari kesalahan orang lain, dan jangan pula sebagian kamu menggunjing sebagian yang lain.” (Al-Hujurat: 12) 4. Mewujudkan keadilan antara pria dan wanita. Sebab, bagaimanapun juga akan sulit membuktikan seorang lelaki sebagai tidak perjaka lagi, sekalipun ia dikenal sebagai laki-laki yang buruk akhlaknya dan senang main perempuan. Karena tidak ada pengaruh fisik pada tubuhnya. Lain halnya dengan perempuan. Meskipun dia melakukannya hanya sekali dan itu pun ‘kecelakaan,’ misalnya, dia akan tetap disalahkan secara sosial dan adat atas hilangnya kegadisannya. Padahal, tidak ada satu bukti pun yang dapat diakui syariat atas perbuatan kejinya

tersebut. Mewujudkan keadilan di antara manusia di hadapan hukum Islam adalah salah satu tujuan syariat. Itulah makanya, dalam kasus ini, para fuqaha berpendapat, bahwa perbuatan zina tidak dapat ditetapkan oleh sekadar hilangnya keperawanan seorang gadis. Ketetapan zina baru dapat diterima jika dikuatkan dengan adanya pengakuan, kesaksian empat orang dewasa, dan disertai dengan kronologi peristiwa. Sebab, hilangnya keperawanan tidak hanya dikarenakan zina. Keperawanan juga bisa hilang karena hal-hal lain. Disamping adanya sisi-sisi positif di atas, ada juga sisi-sisi negatif atau mudharat dari operasi selaput dara ini. Di antaranya yaitu, 1. Adanya penipuan dari pihak perempuan kepada calon suami. Sekiranya si perempuan dulunya adalah termasuk yang berakhlak buruk dan sudah tidak perawan lagi, bisa saja dia melakukan operasi selaput dara untuk mengelabuhi calon suaminya. Padahal, seorang laki-laki yang baik, seyogyanya menikah dengan perempuan yang baik-baik juga.[1] Dan seorang pezina juga tidak menikah, melainkan dengan sesama pezina pula.[2] Dalam hadits Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam disebutkan, ‫)من غشنا فليس منا . )رواه مسلم وأحمد‬ ِّ َ ْ ََ َ ّ َ ْ َ “Barangsiapa yang menipu kami, maka dia bukan golongan kami.” (HR.Muslim dan Ahmad) 2. Mendorong para wanita nakal yang pada dasarnya senang melakukan perbuatan zina untuk terus melakukan perbuatan keji tersebut. Sebab, dia tahu, jika suatu saat keperawanannya dibutuhkan, entah untuk menampik tuduhan masyarakat bahwa dia telah berzina, atau untuk menghindarkan diri dari hukuman cambuk, atau untuk membuktikan pada suaminya bahwa dia masih perawan; dia bisa melakukan operasi pengembalian selaput dara. 3. Tersingkapnya aurat yang paling vital milik perempuan di hadapan dokter. Pada dasarnya, selain suami dan istri, tidak ada yang boleh melihat kemaluan orang lain. Baik itu sama jenisnya, ataupun (apalagi) yang berbeda jenis kelamin. Di lain pihak, dalam ilmu kedokteran tidak ditemukan adanya manfaat keperawanan dari sisi kesehatan. Maka, hanya alasan yang sangat darurat dan mendesaklah yang dapat membolehkan operasi selaput dara ini.

Menimbang Sisi Positif dan Negatif dari Segi Sebab-sebabnya i. Diperbolehkan bagi para dokter untuk melakukan tindakan operasi selaput dara pada perempuan jika penyebab hilangnya keperawanan bukan dikarenakan perbuatan maksiat. Misalnya; karena kecelakaan, jatuh, mengeluarkan darah haid terlalu banyak, diperkosa, atau musibah lain yang dapat mengakibatkan keperawanan hilang. Semua ini terjadi tentu bukan atas kehendak si gadis. ii. Selanjutnya, apabila selaput dara itu sobek karena perbuatan zina: Tidak boleh, jika si wanita sudah terkenal dengan perbuatan kejinya. Boleh, jika si wanita baru sekali melakukan dan telah bertaubat.

Boleh, meskipun si wanita sebelumnya telah sering berzina, namun terbukti dan disaksikan oleh banyak orang bahwa dia telah benar-benar bertaubat taubatan nashuha. iii. Tidak diperbolehkan jika sobeknya keperawanan dikarenakan hubungan suami istri yang sah dalam ikatan pernikahan. Sebab, pengembalian keperawanan seperti ini tidak ada

manfaatnya.

Epilog Sejumlah permasalahan kontemporer dalam dunia kedokteran di atas, hanyalah sebagian dari berbagai masalah yang sangat banyak yang sedang dihadapi oleh para dokter pada saat ini. Masalah kloning yang beberapa waktu lalu sempat hangat dibicarakan oleh media massa pun, tidak kami bahas. Khusus soal kloning, kami hanya dapat mengatakan bahwa para ulama sepakat mengharamkannya. Tentu saja dengan sejumlah alasan yang syar’i dan argumentatif. Terakhir, sebagai seorang yang tidak banyak tahu dalam hal kedokteran, tentu apa yang kami sampaikan di atas rawan dari kesalahan. Untuk itu, kami sangat terbuka jika ada kritik dan koreksi. <

Disarikan dari buku "Abhats Fiqhiyyah fi Qadhaya Thibbiyyah Mu'ashirah," karya DR. Muhammad Nu'aim Yasin. * Disampaikan dalam acara “Pertemuan Nasional Kesehatan Jiwa Islam Indonesia,” yang dihadiri oleh para dokter dan praktisi kesehatan di Indonesia, pada Senin 3 Maret 2003, di Hotel Patrajasa, Jakarta Pusat. [1] Lihat QS. An-Nur: 26. [2] Lihat QS. AN-Nur: 3. Bayi Belajar Sejak Dalam Kandungan Bayi Belajar Sejak Dalam Kandungan APAKAH anak dalam kandungan benar-benar dapat belajar atau mempelajari kata-kata yang diucapkan oleh sang pendidik atau orang tuanya? Seperti yang dikatakan oleh F. Rene Van de Carr, M.D. Jawabannya ?ya?, tetapi tidak dengan cara seperti orang dewasa. Jika ia mempelajari sebuah kata-kata, maka ia dapat mengulanginya, mengenalinya dalam tulisan, memodifikasinya agar ia dapat berbicara dengan baik dan benar, dan menggunakannya dalam kalimat. Proses pemikiran ini menunjukkan bahwa ia memahami kata-kata tersebut. Lain halnya dengan anak dalam kandungan, cara belajarnya jauh lebih mendasar. Ketika orang tuanya (khususnya sang Ibu) mengajarkan kata-kata kepada bayi dalam kandungannya, ia hanya mendengarkan bunyinya sambil mengalami sensasi tertentu. Misalnya, tatkala si Ibu mengatakan ?tepuk?, anak dalam kandungan mendengar bunyi ?t-e-p-u- dan k?, karena pada saat yang bersamaan si ibu menepuk perutnya. Kombinasi bunyi dan pengalaman ini memberi kesempatan bagi anak dalam kandungan untuk belajar memahami hubungan tentang bunyi dan sensasi pada tingkat pengenalan praverbal. Beberapa penelitian yang dilakukan oleh para ilmuwan dalam bidang perkembangan pralahir menunjukan bahwa selama berada dalam rahim, anak dapat belajar, merasa, dan mengetahui perbedaan antara gelap dan terang. Pada saat kandungan itu telah berusia lima bulan?setara dengan 20 minggu, kemampuan anak dalam kandungan untuk merasakan stimulus telah berkembang dengan cukup baik sehingga proses pendidikan dan belajar dapat dimulai atau dilakukan. Kemudian, para ilmuwan bidang pendidikan anak dalam kandungan juga telah banyak melakukan riset baru dan riset ulang secara kontinu dengan membuat langkah-langkah dan

metode baru mengenai praktek pendidikan pralahir. Mereka telah menemukan banyak hal, mengenai keistimewaan pendidikan pralahir ini, diantaranya adalah: peningkatan kecerdasan otak bayi, keyakinan lestari pada diri anak saat tumbuh dan berkembang dewasa nanti, keseimbangan komunikasi lebih baik antara anak (yang telah mengikuti program pendidikan pralahir) dengan orang tuanya, anggota keluarganya dan atau dengan lingkungannya dibanding dengan teman-temanya yang tidak mengikuti program pendidikan pralahir. Berikut ini beberapa laporan yang sangat menggembirakan?bagi dunia pendidikan anak khususnya?dari F. Rene Van de Carr, M.D. dan Marc Lehrer, Ph.D. bahwa The American Association of The Advancement of Science pada tahun 1996 telah merangkum hasil penelitian sejumlah ilmuwan dalam bidang stimulasi pralahir dan bayi, antara lain sebagai berikut. 1. Dr. Craig dari University of Al-abama menunjukkan bahwa program-program stimulasi dini meningkatkan nilai tes kecerdasan dalam pelajaran utama pada semua anak yang diteliti dari masa bayi hingga usia 15 tahun. Anak-anak tersebut mencapai kecerdasan 15 hingga 30 persen lebih tinggi. 2. Dr. Marion Cleves Diamond dari University of California, Berkley, AS melakukan eksperimen bertahun-tahun dan mendapatkan hasil yang sama berulang-ulang bahwa tikus yang diberi stimulasi tidak hanya mengembangkan pencabangan sel otak lebih banyak dan daerah kortikal otak yang tebal, tetapi juga lebih cerdas dan lebih terampil bersosialisasi dengan tikus-tikus lain. Selain itu, menurut F. Rene Van de Carr, dkk.. bahwa The Prenatal Enrichment Unit di Hua Chiew General Hospital, di Bangkok Thailand, yang dipimpin Dr. C. Panthuraamphorn, telah melakukan penelitian yang sama terhadap bayi pralahir, dan hasilnya disimpulkan bahwa bayi yang diberi stimulasi pralahir cepat mahir bicara, menirukan suara, menyebutkan kata pertama, tersenyum secara spontan, mampu menoleh ke arah suara orang tuanya, lebih tanggap terhadap musik, dan juga mengembangkan pola sosial lebih baik saat ia dewasa. F. Rene Van de Carr, M.D., dkk.. telah lama melakukan penelitian ini, kurang lebih sejak 22 tahun yang lalu. Menurut pandangannya, penelitian tersebut menunjukkan beberapa hal berikut ini pada bayi-bayi yang mendapatkan stimulasi pralahir. 1. Tampaknya ada suatu masa kritis dalam perkembangan bayi yang dimulai pada sekitar usia lima bulan sebelum dilahirkan dan berlanjut hingga dua tahun ketika stimulasi otak dan latihanlatihan intelektual dapat meningkatkan kemampuan bayi. 2. Stimulasi pralahir dapat membantu mengembangkan orientasi dan keefektifan bayi dalam mengatasi dunia luar setelah ia dilahirkan. 3. Bayi-bayi yang mendapatkan stimulasi pralahir dapat lebih mampu mengontrol gerakangerakan mereka. Selain itu, mereka juga lebih siap menjelajahi dan mempelajari lingkungan setelah dilahirkan. 4. Para orang tua yang telah berpartisipasi dalam program pendidikan pralahir menggambarkan anak mereka lebih tenang, waspada, dan bahagia. Sebenarnya, keistimewaan-keistimewaan pendidikan anak dalam kandungan (anak pralahir) merupakan hasil dari sebuah proses yang sistematis dengan merangkaikan langkah, metode dan materi yang dipakai oleh orang tuanya dalam melakukan pendidikan (stimulasi edukatif) dan orientasi serta tujuan ke mana keduanya mengarah dan mendidik. Bahkan dalam Islam, pendidikan pralahir ini hendaklah dimulai sejak awal pembuahan (proses nuthfah). Artinya, seorang yang menginginkan seorang anak yang pintar, cerdas, terampil dan berkepribadian baik (saleh/salehah), ia harus mempersiapkan perangkat utama dan pendukungnya terlebih dahulu. Adapun persiapan yang perlu dilakukan adalah memulai dan melakukan hubungan biologis secara sah dan baik, serta berdoa kepada Allah swt. agar perbuatannya tidak diganggu setan dan sia-sia. Selain itu, menggantungkan permohonan hanya kepada Allah semata agar dikaruniai

seorang anak yang shaleh. Kemudian setelah adanya proses nuthfah, atas kehendak Allah proses tersebut berlanjut menjadi mudhghah. Pada fase inilah tampak jelas adanya kehidupan seorang anak dalam rahim. Oleh karena itu, orang tuanya?khususnya sang ibu?harus memperlakukannya dengan baik. Perlakuan yang baik itu di antaranya memberikan pelayanan yang tepat terhadap anaknya yang masih dalam kandungan, tidak melakukan tindakan-tindakan kekerasan yang menimbulkan dampak negatif (baik fisik maupun psikis) terhadap anak dalam kandungan, karena hal tersebut sangat berbahaya, seperti yang diisyaratkan oleh Nabi Muhammad saw. dalam sabdanya, ?Anak yang celaka adalah anak yang telah mendapatkan kesempitan di masa dalam perut ibunya.? (HR Imam Muslim dari Abdullah Ibn Mas?ud) Pelayanan yang sangat baik untuk masa anak dalam kandungan adalah memberikan stimulus pendidikan, yang akan bermanfaat tidak saja pada perkembangan fisik, pertumbuhan mental (psikis) tetapi juga meningkatkan kecerdasan otak dan sensitifikasi emosional positif sang anak yang berada di dalam kandungan. Praktek memberikan stimulus pendidikan anak dalam kandungan telah dilakukan jauh sebelum teori dan praktek di atas dikembangkan. Konon, Nabi Zakaria telah memberikan stimulasi pendidikan pada anak pralahir yaitu anak yang dikandung oleh istrinya, sebagaimana diisyaratkan dalam Al-Qur`an al-Karim surah Maryam (19) ayat 10?11. Di dalamnya dijelaskan bahwa pelayanan stimulasi pendidikan yang dilakukan oleh Nabi Zakaria telah membuahkan hasil yang yang bagus, yakni anak yang memiliki kecerdasan tinggi dalam memahami hukumhukum Allah. Selain itu digambarkan pula bahwa anak yang dikaruniai itu adalah sosok yang terampil dalam melaksanakan titah Allah, memiliki fisik yang kuat, sekaligus seorang anak yang sangat berbakti kepada orang tuanya, sebagaimana diisyaratkan pada kelanjutan ayat 12?15 masih dalam surah yang sama. Bahkan, kemudian anak tersebut dipercaya dijadikan pewaris tunggal orang tuanya yakni tugas kenabian. Subhanallah. Begitu juga dengan Nabi Adam a.s. tatkala istrinya Hawa, mengandung anak pertamanya dan pada tahapan kandungan yang masih ringan, ia merasa biasa saja berjalan seperti sedia kala, merasa tidak ada beban. Namun, tatkala usia kandungan itu bertambah yang ditandai dengan perut yang terus membesar di situlah ia merasakan kepayahan dan keberatan. Saat itulah, Siti Hawa dengan sedih mengadu kepada suaminya, Nabi Adam a.s. tentang keadaan perutnya yang kian hari kian besar yang membuatnya dari hari ke hari merasa makin payah. Kondisi ini membuat Adam a.s. beserta istrinya bersama-sama memohon kepada Allah dengan sebuah doa yang sangat filosofis yaitu,?... Sesungguhnya jika Engkau memberi kami anak yang sempurna, tentulah kami termasuk orang-orang yang bersyukur.? (al-A?raaf: 189) Ini adalah suatu praktek pendidikan anak dalam kandungan yang dilakukan secara bersama antara suami dan istri dengan kesamaan visi dan misi yaitu orientasi pendidikan yang bersumber pada motivasi untuk memurnikan keesaan Allah semata. Sebuah kondisi yang membuahkan keridhaan Allah sehingga dengan curahan rahmat-Nya keberkahan pun mengalir mengiringi laju bahtera rumah tangga tersebut. ?Dialah Yang menciptakan kamu dari diri yang satu dan daripadanya Dia menciptakan istrinya, agar dia merasa senang kepadanya. Maka, setelah dicampurinya, istrinya itu mengandung kandungan yang ringan, dan teruslah dia merasa ringan (beberapa waktu). Kemudian tatkala dia merasa berat, keduanya (suami-istri) bermohon kepada Allah, Tuhannya seraya berkata, ? Sesungguhnya jika Engkau memberi kami anak yang saleh, tentulah kami termasuk orang-orang yang bersyukur.?? (al-A?raaf : 189) Sumber: namaislami.com Pembelajaran Al-Qur'an Sejak Dalam Kandungan Posted by laalaa on Dec 17, '07 12:08 AM for everyone

Category: Other Pembelajaran Al-Qur'an Sejak Dalam Kandungan Oleh: Drs. Mustofa AY "Apabila anak Adam meninggal dunia putuslah amalnya kecuali tiga perkara: shodaqoh jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan anak sholeh yang mendoakan kepadanya." (HR. Muslim). Setiap pasangan suami istri beriman pasti merindukan anak sholeh. Untuk memiliki anak yang sholeh, pasangan suami istri wajib berusaha menjadi sholeh terlebih dahulu. Dalam hal ini perlu dipahami bahwa segala perilaku ibu dan bapak akan dicontoh putra-putrinya. Untuk itu, semua ibu bapak harus menjadi teladan bagi anak-anaknya. Setiap pasangan suami istri yang merindukan anak sholeh wajib memperbanyak amal mulia, makan dan minum hanya yang halal saja, menjaga sholatnya, indah akhlaqnya, lembut hatinya, semangat bekerja, berlaku taqwa dan terus-menerus berdzikir, wirid, memperbanyak membaca do'a. Islam mengajarkan barangsiapa menginginkan lahirnya generasi unggulan ia hendaknya menyiapkan sejak memilih pasangan. Ini artinya dari pasangan suami istri yang sholeh-sholehah akan lahir generasi yang sholeh-sholehah pula. Anak sholeh bukan hasil kerja instan! Jelasnya, anak sholeh tidak bisa dilahorkan kecuali atas izin Allah ddengangigih kita mengusahakan. Anak sholeh tidak dilahirkan tapi diciptakan. Berbicara tentang anak, Anda sah-sah saja mengharapkan ia kelak menjadi dokter, jendral, ataupun presiden sekalipun. Tetapi menjadikannya sholeh-sholehah tetap prioritas utama! Mengapa\/ Pertama, karena anak sholeh yang mendoakan ibu bapaknya adalah salah satu di antara tiga amal yang pahalanya mengalir tiada habis-habisnya. Kedua, karenapermohonan ampun anak sholeh, dapat mengangkat derajat orang tuanya dapat masuk surga. Keempat, karena anak sholeh adalah peredam amarah Allah. Segala sesuatu tergantung pada pendidikan yang sebenarnya. Ibu dan bapak adalah guru pertamadan utama. Keluarga adalah pusat pendidikan yang sebenarnya. Al-Qur'an adalah materi pendidikan utama yang harus diberikan sebelum lainnya. Jangan menunggu umur enam tahun, jangan menunggu umur empat tahun. Mulailah sedini mungkin. Mulailah segera. Mulailah sejak dalam kandungan. Ingat umur empat tahun sudah sangat terlambat! Salah satu terobosan dalam melahirkan anak sholeh adalah dengan mengajar bayi anda membaca Al-Qur'an sejak dalam kandungan. Apakah bisa? Insya Allah bisa! Anda hanya membutuhkan kemauan, ketekunan, dan kesabaran. Sebagai bagian dari rasa syukur, inilah berita gembira untuk Anda. Anak-anak kami hasil eksperimen program sekolah Al-Qur'an sejak dalamkandungan menunjukkan hasil yang sangat menggembirakan. Maryam Arrosikha, empat tahun dapat membaca Al-Qur'an. empat bulan kemudian, dia dapat membaca cerita, buku, dan majalah berhuruf latin, bahkan di TK, ia khatam Al-Qur'an 30 juz. Aisyah Mujahida, adiknya, khatam membaca Al-Qur'an dan lancar membaca tulisan latin ketika di TK. Faqih Abdullah, anak kami yang ketiga sejak berusia 13 bulan, Alhamdulillah menunjukkan kesenangan membaca yang sangat tinggi. Dari pengalaman itu, kami menginginkan agar setiap bayi mendapatkan pelajaran Al-Qur'an sejak dalam kandungan. Insya Allah sangat bermanfaat. Bagaimana caranya? Inilah pertanyaan yang paling sering disampaikan. Jawabannya: Rahasia sukses mengajar Al-Qur'an sejak dalam kandungan adalah R-U-M-U-S-A-B-C-D Apa maksudnya? R = Rumah. Maksudnya rumah adalah pusat pendidikan sejati.

U = Usaha. Maksudnya ilmu itu dipelajari. M = Metodis. Maksudnya metodenya cocok dan meyenangkan U = Upah. Maksudnya setiap prestasi anak hendaknya dihargai (dicium, peluk yang hangat, dan dipuji). S = Sabar. Maksudnya ibu dan bapak harus betul-betul sabar. Ibu dan Bapak tidak boleh mengatakan jangan nakal sambil berlaku nakal (misalnya mencubit, memukul, menjewer, atau marah-marah) . A = Ajeg. Maksudnya pemberian stimulasi hendaknya diberikan secara ajeg, walaupun sangat sebentar. B = Bermain. Maksudnya stimulasi diberikan sambil bermain. Dengan demikian, anak senang, orangtuapun senang. C = Contoh. Maksudnya orang tua hendaknya ,emjadi contoh atau mentor. D = Do'a. Maksudnya orang tua berdo'a untuk kesusesan anak. Di samping segala sesuatu diawali dan diakhiri dengan do'a. Siapapun yang ingin memberikan pendidikan kepada anak-anaknya sejak dini ia tidak boleh melewatkan masa emas belajar anaknya. Masa emas belajar itu adalah saat bayi di kandungan, dan ketika bayi berusia nol sampai 4 tahun. Singkatnya, pendidikan empat tahun pertama sangat menentukan. Pendidikan anak usia dini (0-6 tahn) lebih penting dibanding pendidikan dua puluh tahun yang diberikan kemudian. Sayang sekali, banyak yang mengabaikan pentingnya pendidikan usia dini. Sudah saatnya semua ibu bapak memperhatikan nasihat Buckminster Fuller berikut ini. "Setiapanak terlahir jenius, tetapi kita memupus kejeniusan meeka dalam enam bulan pertama." Tugas seorang bayi bukanlah sekadar mami tipis (makan, minum, tidur, dan pipis (ngompol). Ajaklah anak Anda bermain. Janganlah biarkan ia kesepian, nganggur, dan bengong. Ajaklah ia belajar membaca sambil mengenal Tuhannya. Ikutilah metode penddiikan turunnya Al-Qur'an wahyu pertama. Ajarilah anak Anda membaca Al-Qur'an sejak dalam kandungan. Do’a Agar Anak Menjadi Sholeh Januari 9, 2009 at 5:00 am | In Anak Sholeh | 13 Comments Tags: Anak, anak sholeh, Do'a, Keluarga, Sholeh Disusun oleh Muhammad Abduh Tuasikal, ST berdoaPada posting sebelumnya, kita telah mengetahui bahwa hidayah dan taufik semata-mata dari Allah dan kita hanya bisa berusaha dan berusaha, namun namanya hidayah tetap kita serahkan pada-Nya. Tidak usah jauh-jauh, cobalah kita perhatikan nabi kita, Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, penghulu para nabi. Lihatlah bagaimana kehidupan beliau. Perhatikanlah bahwa di waktu kecil saja, beliau dalam keadaan yatim, sudah ditinggalkan ibu bapaknya. Beliau tumbuh dalam keadaan fakir, lalu siapakah yang selalu menjaganya? Siapakah yang menumbuhkan keimanannya? Siapakah yang mewahyukan kitab suci Al Qur’an padanya? Dialah Allah subhanahu wa ta’ala, segala kenikmatan adalah dari-Nya, segala kemuliaan dan sanjungan berhak ditujukan pada-Nya. Jika kita telah mengetahui hal ini, yakin bahwa yang memberi hidayah adalah Allah dan yakin pula bahwa setiap penjagaan adalah dari-Nya, maka hendaklah kita memanjatkan do’a pada-Nya agar anak dan keturunan kita menjadi sholeh dan baik. Mintalah pada-Nya agar keturunan kita senantiasa mendapat berkah, juga selamat dari berbagai bahaya dan kejelekan. Mintalah pada Allah, semoga mereka senantiasa mendapatkan perlindungan dari gangguan setan, manusia jahat, dan jin. Inilah kebiasaan orang sholih yang sebaiknya kita tiru. Do’a Untuk Memperbaiki Keturunan

Do’a Pertama ‫ربنا هب لنا من أزواجنا وذرياتنا قرة أعين واجعلنا للمتقين إماما‬ ً َ ِ َ ِ ُّ ِْ َ ْ َ ْ َ ٍ ُْ َ َ ّ ُ َ ِ ّّ ُ َ َ ِ َ ْ َ ْ ِ َ َ ْ َ َ َّ “ROBBANA HAB LANA MIN AZWAJINA WA DZURRIYATINA QURROTA A’YUN, WAJ’ALNA LILMUTTAQINA IMAMAA.” (Wahai Robb kami, karuniakanlah pada kami dan keturunan kami serta istri-istri kami penyejuk mata kami. Jadikanlah pula kami sebagai imam bagi orang-orang yang bertakwa) (QS. Al Furqon:74) Do’a Kedua ‫رب أوزعني أن أشكر نعمتك التي أنعمت علي وعلى والدي وأن أعمل صالحا ترضاه وأصلح لي في ذريتي‬ ِ ّّ ُ ِ ِ ْ ِْ ََ ُ َ ْ َ ً ِ َ َ َ ْ َ ْ ََ ّ َ ِ َ ََ َ ّ ََ َ ْ َ ْ َ ِ ّ َ َ َ ْ ِ َ ُ ْ َ ْ َ ِ ْ ِ ْ َ ّ َ “ROBBI AWZI’NI AN ASYKURO NI’MATAKALLATI AN ‘AMTA ‘ALAYYA. WA ‘ALA WAALIDAYYA WA AN A’MALA SHOLIHAN TARDHOH, WA ASHLIH LII FI DZURRIYATIY” (Wahai Robbku, ilhamkanlah padaku untuk bersyukur atas nikmatmu yang telah Engkau karuniakan padaku juga pada orang tuaku. Dan ilhamkanlah padaku untuk melakukan amal sholeh yang Engkau ridhoi dan perbaikilah keturunanku) (QS. Al Ahqof:15) Semoga kita bisa mengamalkan do’a yang mudah dihafalkan ini. Semoga kita tidak jemu untuk selalu memanjatkan do’a kepada-Nya. Allah tidak mungkin membiarkan hamba-Nya yang menengadahkan tangan kepada-Nya, lalu dia pulang dengan tangan hampa. Disusun di gunung kidul, 3 dzulqo’dah 1429 Yang selalu mengharapkan ampunan dan rahmat Rabbnya Muhammad Abduh Tuasikal, ST Jumat, 05 Februari 2010 Tirakat untuk anak agar menjadi anak yang sholeh Ada pepatah yang mengatakan " Ajarlah anakmu sebaik-baiknya....dan berikanlah bekal yang secukupnya untuk menghadapi masa depan...Karena masa yang dihadapi anakmu kelak...akan sangat jauh beda dengan masa mu sekarang ini..." Kurang lebih begitulah bunyi pepatah itu. Apakah artinya ya...??? Memang pendidikan anak melalui jalur formal saja tidak cukup. Bahkan kalau menurut Om Bob Sadino.....sekolah itu hanya membuat anak semakin bodoh...karena hanya mengajarkan barang basi berupa informasi. Tapi bagaimana kita bisa lepas dari sekolah. Semua orang tua berlombalomba menyekolahkan anaknya ke sekolah yang tinggi...dengan harapan suatu saat menjadi orang yang sukses. Tentu saja salah satu ukuran orang sukses adalah kaya secara materi ...dan dihormati di masyarakat. Apakah itu saja ukuran sukses....? Ya ...memang saat ini hampir semua orang mengejar materi dalam hidupnya adalah satusatunya tujuan hidup. Akibatnya mereka melupakan hal paling mendasar yang sebenarnya dicari oleh manusia...yaitu kebahagiaan. Akibatnya apa...? Banyak penyakit kejiwaan yang menghinggapi manusia. Rasa kehampaan yang luar biasa....rasa keterasingan...dan rasa stress yang berat..Akibatnya banyak diantara mereka yang lari ke narkoba...seks bebas....dan gaya hidup hedonisme...hura-hura dan semau gue. Sekarang aja gejala seperti itu sudah sangat terasa dan terlihat terang. Apalagi 10 sampai 20 tahun mendatang...? Untuk itu anak kita harus mendapat bekal yang lebih baik lagi. Perlu diajarkan caranya berlaku sabar, santun, percaya diri, hormat dan patuh...dan tawakal kepada Allah swt. Dan yang nggak kalah pentingnya yaitu ...kita perlu melakukan tirakat untuk anak-anak

kita. Gimana caranya ya....? Salah satu caranya adalah dengan melakukan puasa senin kamis dan sholat malam. Sambil terus berdoa kepada Allah agar anak kita menjadi anak yang sholeh dan berguna bagi banyak orang. Nah gimana pendapat anda...? KIAT MENDIDIK AGAR ANAK SOLEH Mempunyai anak soleh pasti menjadi dambaan setiap orang tua.Apapun strata sosial ekonominya atau pendidikan, tidak ada yang menginginkan anaknya manjadi anak nakal, durhaka, brandal, dan predikat negatif lainnya. Orang tua akan menjadi resah manakala melihat anaknya suka berbohong, suka mencuri, suka mabuk, atau perilaku jahat lainnya. Sebaliknya, orang tua akan gembira manakala anaknya tekun belajar, sopan.Bahkan ada orang tuanya suka mennyuruh anaknya belajar ke TPA/TPQ untuk mengaji, meskipun orang tua tersebut tidak pernah melaksanakan solat. Ketika masih dalam kandungan setiap orang tua mengadakan upacara selamatan, seperti tingkeban. Waktu anak lahir diadakan upacara sepasaran, marhabanan, aqiqah. Diberilah si buah hati nama-nama terbaik menurutnya. Untuk sebuah nama itu ada orang tua yang sampai bertanya, minta saran dan pendapat orang yang dianggapnya ahli. Semua aktifitas tersebut dilakukan demi sang buah hati dengan satu tujuan agar anak ini nantinya tumbuh menjadi anak yang baik, anak yang beruntung, anak yang berbakti kepada orang tua dan nerguna bagi nusa bangsa dan agamnya. Hanya saja, ternyata menjadikan anak baik, atau dalam istilah agamnya disebut sholeh,tidak semudah membalik telapak tangan. Ada anak suka mencuri meskipun bernama soleh. Ada anak suka mengganggu orang meskipun namanya Ahmad, ada anak suka berbohong walau namnya Amin. Melihat realitas yang demikian, lantas bagaimana lagi upaya kita sebagai orang tua. Berikut dikemukakan beberapa kiat sebagai ikhtiar kita agar anak kita soleh. Cara mendidik anak Syeikh Muhammad Soleh Uthaimin Apabila telah tampak tanda-tanda tamyiz pada seorang anak, maka selayaknya dia mendapatkan perhatian sesrius dan pengawasan yang cukup. Sesungguhnya hatinya bagaikan bening mutiara yang siap menerima segala sesuatu yang mewarnainya. Jika dibiasakan dengan hal- hal yang baik, maka ia akan berkembang dengan kebaikan, sehingga orang tua dan pendidiknya ikut serta memperoleh pahala. Sebaliknya, jika ia dibiasakan dengan hal-hal buruk, maka ia akan tumbuh dengan keburukan itu. Maka orang tua dan pedidiknya juga ikut memikul dosa karenanya. Oleh karena itu, tidak selayaknya orang tua dan pendidik melalaikan tanggung jawab yang besar ini dengan melalaikan pendidikan yang baik dan penanaman adab yang baik terhadapnya sebagai bagian dari haknya. Di antara adab-adab dan kiat dalam mendidik anak adalah sebagai berikut: 1. Hendaknya anak dididik agar makan dengan tangan kanan, membaca basmalah, memulai dengan yang paling dekat dengannya dan tidak mendahului makan sebelum yang lainnya (yang lebih tua, red). Kemudian cegahlah ia dari memandangi makanan dan orang yang sedang makan. 2. Perintahkan ia agar tidak tergesa-gesa dalam makan. Hendaknya mengunyahnya dengan baik dan jangan memasukkan makanan ke dalam mulut sebelum habis yang di mulut. Suruh ia agar berhati-hati dan jangan sampai mengotori pakaian. 3. Hendaknya dilatih untuk tidak bermewah-mewah dalam makan (harus pakai lauk ikan, daging dan lain-lain) supaya tidak menimbulkan kesan bahwa makan harus dengannya. Juga diajari agar tidak terlalu banyak makan dan memberi pujian kepada anak yang demikian. Hal ini untuk mencegah dari kebiasaan buruk, yaitu hanya memen-tingkan perut saja. 4. Ditanamkan kepadanya agar mendahulukan orang lain dalam hal makanan dan dilatih dengan makanan sederhana, sehingga tidak terlalu cinta dengan yang enak-enak yang pada akhirnya akan sulit bagi dia melepaskannya. 5. Sangat disukai jika ia memakai pakaian berwarna putih, bukan warna-warni dan bukan dari sutera. Dan ditegaskan bahwa sutera itu hanya untuk kaum wanita. 6. Jika ada anak laki-laki lain memakai sutera, maka hendaknya mengingkarinya. Demikian juga jika dia isbal (menjulurkan pakaiannya hingga melebihi mata kaki). Jangan sampai mereka

terbiasa dengan hal- hal ini. 7. Selayaknya anak dijaga dari bergaul dengan anak-anak yang biasa bermegah-megahan dan bersikap angkuh. Jika hal ini dibiarkan maka bisa jadi ketika dewasa ia akan berakhlak demikian. Pergaulan yang jelek akan berpengaruh bagi anak. Bisa jadi setelah dewasa ia memiliki akhlak buruk, seperti: Suka berdusta, mengadu domba, keras kepala, merasa hebat dan lain-lain, sebagai akibat pergaulan yang salah di masa kecilnya. Yang demikian ini, dapat dicegah dengan memberikan pendidikan adab yang baik sedini mungkin kepada mereka. 8. Harus ditanamkan rasa cinta untuk membaca al Qur'an dan buku- buku, terutama di perpustakaan. Membaca al Qur'an dengan tafsirnya, hadits-hadits Nabi n dan juga pelajaran fikih dan lain-lain. Dia juga harus dibiasakan menghafal nasihat-nasihat yang baik, sejarah orangorang shalih dan kaum zuhud, mengasah jiwanya agar senantiasa mencintai dan menela-dani mereka. Dia juga harus diberitahu tentang buku dan faham Asy'ariyah, Mu'tazilah, Rafidhah dan juga kelompok-kelompok bid'ah lainnya agar tidak terjerumus ke dalamnya. Demikian pula aliranaliran sesat yang banyak ber-kembang di daerah sekitar, sesuai dengan tingkat kemampuan anak. 9. Dia harus dijauhkan dari syair-syair cinta gombal dan hanya sekedar menuruti hawa nafsu, karena hal ini dapat merusak hati dan jiwa. 10. Biasakan ia untuk menulis indah (khath) dan mengahafal syair- syair tentang kezuhudan dan akhlak mulia. Itu semua menunjukkan kesempurnaan sifat dan merupakan hiasan yang indah. 11. Jika anak melakukan perbuatan terpuji dan akhlak mulia jangan segan-segan memujinya atau memberi penghargaan yang dapat membahagia- kannya. Jika suatu kali melakukan kesalahan, hendaknya jangan disebar-kan di hadapan orang lain sambil dinasihati bahwa apa yang dilakukannya tidak baik. 12. Jika ia mengulangi perbuatan buruk itu, maka hendaknya dimarahi di tempat yang terpisah dan tunjukkan tingkat kesalahannya. Katakan kepadanya jika terus melakukan itu, maka orangorang akan membenci dan meremehkannya. Namun jangan terlalu sering atau mudah memarahi, sebab yang demikian akan menjadikannya kebal dan tidak terpengaruh lagi dengan kemarahan. 13. Seorang ayah hendaknya menjaga kewibawaan dalam ber-komunikasi dengan anak. Jangan menjelek-jelekkan atau bicara kasar, kecuali pada saat tertentu. Sedangkan seorang ibu hendaknya menciptakan perasaan hormat dan segan terhadap ayah dan memperingatkan anakanak bahwa jika berbuat buruk maka akan mendapat ancaman dan kemarahan dari ayah. 14. Hendaknya dicegah dari tidur di siang hari karena menyebabkan rasa malas (kecuali benarbenar perlu). Sebaliknya, di malam hari jika sudah ingin tidur, maka biarkan ia tidur (jangan paksakan dengan aktivitas tertentu, red) sebab dapat menimbulkan kebosanan dan melemahnya kondisi badan. 15. Jangan sediakan untuknya tempat tidur yang mewah dan empuk karena mengakibatkan badan menjadi terlena dan hanyut dalam kenikmatan. Ini dapat mengakibatkan sendi-sendi menjadi kaku karena terlalu lama tidur dan kurang gerak. 16. Jangan dibiasakan melakukan sesuatu dengan sembunyi-sembunyi, sebab ketika ia melakukannya, tidak lain karena adanya keyakinan bahwa itu tidak baik. 17. Biasakan agar anak melakukan olah raga atau gerak badan di waktu pagi agar tidak timbul rasa malas. Jika memiliki ketrampilan memanah (atau menembak, red), menunggang kuda, berenang, maka tidak mengapa menyi-bukkan diri dengan kegiatan itu. 18. Jangan biarkan anak terbiasa melotot, tergesa-gesa dan bertolak (berkacak) pinggang seperti perbuatan orang yang membangggakan diri. 19. Melarangnya dari membangga-kan apa yang dimiliki orang tuanya, pakaian atau makanannya di hadapan teman sepermainan. Biasakan ia ber-sikap tawadhu', lemah lembut dan menghormati temannya. 20. Tumbuhkan pada anak (terutama laki-laki) agar tidak terlalu mencintai emas dan perak serta tamak terhadap keduanya. Tanamkan rasa takut akan bahaya mencintai emas dan perak secara berlebihan, melebihi rasa takut terhadap ular atau kalajengking. 21. Cegahlah ia dari mengambil sesuatu milik temannya, baik dari keluarga terpandang (kaya), sebab itu merupakan cela, kehinaan dan menurunkan wibawa, maupun dari yang fakir, sebab itu adalah sikap tamak atau rakus. Sebaliknya, ajarkan ia untuk memberi karena itu adalah perbuatan mulia dan terhormat. 22. Jauhkan dia dari kebiasaan meludah di tengah majlis atau tempat umum, membuang ingus

ketika ada orang lain, membelakangi sesama muslim dan banyak menguap. 23. Ajari ia duduk di lantai dengan bertekuk lutut atau dengan menegakkan kaki kanan dan menghamparkan yang kiri atau duduk dengan memeluk kedua punggung kaki dengan posisi kedua lutut tegak. Demikian cara-cara duduk yang dicontohkan oleh Rasulullah Shallallaahu alaihi wa sallam. 24. Mencegahnya dari banyak berbicara, kecuali yang bermanfaat atau dzikir kepada Allah. 25. Cegahlah anak dari banyak bersumpah, baik sumpahnya benar atau dusta agar hal tersebut tidak menjadi kebiasaan. 26. Dia juga harus dicegah dari perkataan keji dan sia-sia seperti melaknat atau mencaci maki. Juga dicegah dari bergaul dengan orang- orang yang suka melakukan hal itu. 27. Anjurkanlah ia untuk memiliki jiwa pemberani dan sabar dalam kondisi sulit. Pujilah ia jika bersikap demikian, sebab pujian akan mendorongnya untuk membiasakan hal tersebut. 28. Sebaiknya anak diberi mainan atau hiburan yang positif untuk melepaskan kepenatan atau refreshing, setelah selesai belajar, membaca di perpustakaan atau melakukan kegiatan lain. 29. Jika anak telah mencapai usia tujuh tahun maka harus diperintahkan untuk shalat dan jangan sampai dibiarkan meninggalkan bersuci (wudhu) sebelumnya. Cegahlah ia dari berdusta dan berkhianat. Dan jika telah baligh, maka bebankan kepadanya perintah- perintah. 30. Biasakan anak-anak untuk bersikap taat kepada orang tua, guru, pengajar (ustadz) dan secara umum kepada yang usianya lebih tua. Ajarkan agar memandang mereka dengan penuh hormat. Dan sebisa mungkin dicegah dari bermain-main di sisi mereka (mengganggu mereka). 31. Demikian adab-adab yang berkaitan dengan pendidikan anak di masa tamyiz hingga masamasa menjelang baligh. Uraian di atas adalah ditujukan bagi pendidikan anak laki-laki. Walau demikian, banyak di antara beberapa hal di atas, yang juga dapat diterapkan bagi pendidikan anak perempuan. Wallahu a'lam. Dari mathwiyat Darul Qasim "tsalasun wasilah li ta'dib al abna''" asy Syaikh Muhammad bin shalih al Utsaimin rahimahullah . Diterjemahkan oleh, Ubaidillah Masyhadi http://mifty-away.tripod.com/id44.html Diposkan oleh Asmu'i Syarkowi di 17:13 Label: PENDIDIKAN

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->