LAPORAN PENDAHULUAN DM Gangrene Disusun untuk Memenuhi Tugas Pendidikan Profesi di Ruang 29 RSSA Malang

Wahyu Prasetyo 0610720052

JURUSAN ILMU KEPERAWATAN FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS BRAWIJAYA MALANG 2010

2000). disertai dengan atau tidak adanya gejala klinik akut ataupun kronik. Klasifikasi 1. DM Tipe II (NIDDM) Jenis DM ini dipengaruhi baik oleh keturunan maupun factor lingkungan. sebagai akibat dari kuranganya insulin efektif di dalam tubuh. Seseorang mempunyai risiko yang besar untuk menderita NIDDM jika orang tuanya adalah penderita DM dan menganut gaya hidup yang salah. gangguan primer terletak pada metabolisme karbohidrat yang biasanya disertai juga gangguan metabolisme lemak dan protein. c. (Askandar. DM Gestasional DM jenis ini cenderung terjadi pada wanita hamil dan dalam keluarganya terdapat anggota yang juga menderita DM. : Gangren seluruh kaki atau sebagian tungkai. 2. : Ulkus dalam menembus tendon dan tulang. 2001). B. : Ulkus superfisial terbatas pada kulit. IDDM merupakan jenis DM yang diturunkan (inherited). . Gangren Kaki Diabetik Wagner ( 1983 ) membagi gangren kaki diabetik menjadi enam tingkatan . Definisi Diabetes Mellitus (DM) adalah penyakit metabolik yang kebanyakan herediter.callus “. Gangren adalah proses atau keadaan yang ditandai dengan adanya jaringan mati atau nekrosis. dan obat-obatan). DM Tipe I (IDDM) Penderita sangat bergantung terhadap insulin karena terjadi proses autoimun yang menyerang insulinnya. kulit masih utuh dengan kemungkinan disertai kelainan bentuk kaki seperti “ claw. b. Diabetes Mellitus a. (Askandar. kelainan hormonal. : Abses dalam. DM Sekunder Merupakan DM yang berkaitan dengan keadaan atau sindrom lain (pancreatitis. demham tanda-tanda hiperglikemia dan glukosuria. : Gangren jari kaki atau bagian distal kaki dengan atau tanpa selulitis. namun secara mikrobiologis adalah proses nekrosis yang disebabkan oleh infeksi. yaitu : Derajat 0 Derajat I Derajat II Derajat III Derajat IV Derajat V : Tidak ada lesi terbuka. Faktor risikonya adalah kegemukan atau obesitas.A. dengan atau tanpa osteomielitis. d.

. Faktor-faktor lingkungan yang mengubah fungsi sel beta.Didapatkan ulkus sampai gangren. . antara lain agen yang dapat menimbulkan infeksi. hangat. 2. tetapi determinan genetik biasanya memegang peranan penting pada mayoritas DM. Kaki Diabetik akibat Iskemia ( KDI ) Disebabkan penurunan aliran darah ke tungkai akibat adanya makroangiopati ( arterosklerosis ) dari pembuluh darah besar ditungkai. Sistem ini dapat dilakukan oleh autoimunitas yang disertai pembentukan sel-sel antibodi antipankreatik dan mengakibatkan kerusakan sel . C. . oedem kaki. terutama di daerah betis. mati rasa. 2.Penderita mengeluh nyeri waktu istirahat.Pulsasi pembuluh darah kurang kuat. Faktor lain yang dianggap sebagai kemungkinan etiologi DM yaitu : 1. dimana berbagai lesi dapat menyebabkan insufisiensi insulin. Pada pasien obesitas. Gambaran klinis KDI : . obesitas dan kehamilan. Kaki Diabetik akibat Neuropati ( KDN ) Terjadi kerusakan syaraf somatik dan otonomik. Diabetes Melitus DM mempunyai etiologi yang heterogen. diet dimana pemasukan karbohidrat dan gula yang diproses secara berlebihan. 4. Kelainan sel beta pankreas. Kelainan insulin.sel penyekresi insulin. 3. terjadi gangguan kepekaan jaringan terhadap insulin akibat kurangnya reseptor insulin yang terdapat pada membran sel yang responsir terhadap insulin. berkisar dari hilangnya sel beta sampai kegagalan sel beta melepas insulin.Sedangkan Brand (1986) dan Ward (1987) membagi gangren kaki menjadi dua golongan : 1. Gangguan sistem imunitas.Pada perabaan terasa dingin. . Etiologi 1. dengan pulsasi pembuluh darah kaki teraba baik. kemudian peningkatan kepekaan sel beta oleh virus. kesemutan. Klinis di jumpai kaki yang kering. tidak ada gangguan dari sirkulasi.

Pada hiperglikemia yng parah yang melebihi ambang ginjal normal (konsentrasi glukosa darah sebesar 160 – 180 mg/100 ml). Patofisiologis 1.2. penebalan membran basalis dan perubahan pada saraf perifer. metabolik b. klorida. Akibat yang lain adalah astenia atau kekurangan energi sehingga pasien menjadi cepat lelah dan mengantuk yang disebabkan oleh berkurangnya atau hilangnya protein tubuh dan juga berkurangnya penggunaan karbohidrat untuk energi. Neuropati diabetik Faktor eksogen : a. potasium. Faktor endogen : a. akan timbul glikosuria karena tubulus-tubulus renalis tidak dapat menyerap kembali semua glukosa. Glukosuria ini akan mengakibatkan diuresis osmotik yang menyebabkan poliuri disertai kehilangan sodium. Peningkatan mobilisasi lemak dari daerah penyimpanan lemak yang menyebabkan terjadinya metabolisme lemak yang abnormal disertai dengan endapan kolestrol pada dinding pembuluh darah. 3. 2. Genetik. Obat D. Gangren Kaki Diabetik Faktor-faktor yang berpengaruh atas terjadinya gangren kaki diabetik dibagi menjadi endogen dan faktor eksogen. Ini akan memudahkan terjadinya gangren. Trauma b. Berkurangnya pemakaian glukosa oleh sel – sel tubuh yang mengakibatkan naiknya konsentrasi glukosa darah setinggi 300 – 1200 mg/dl. Angiopati diabetik c. dan pospat. Hiperglikemia yang lama akan menyebabkan arterosklerosis. Akibat glukosa yang keluar bersama urine maka pasien akan mengalami keseimbangan protein negatif dan berat badan menurun serta cenderung terjadi polifagi. Infeksi c. Pasien-pasien yang mengalami defisiensi insulin tidak dapat mempertahankan kadar glukosa plasma puasa yang normal atau toleransi sesudah makan. Diabetes Melitus Sebagian besar gambaran patologik dari DM dapat dihubungkan dengan salah satu efek utama akibat kurangnya insulin berikut: 1. Adanya poliuri menyebabkan dehidrasi dan timbul polidipsi. . Berkurangnya protein dalam jaringan tubuh.

oksigen ( zat asam ) serta antibiotika sehingga menyebabkan luka sulit sembuh ( Levin. Teori Glikosilasi Akibat hiperglikemia akan menyebabkan terjadinya glikosilasi pada semua protein. Angiopati akan menyebabkan terganggunya aliran darah ke kaki. Neuropati merupakan faktor penting untuk terjadinya KD.1993). Gangren Kaki Diabetik Ada dua teori utama mengenai terjadinya komplikasi kronik DM akibat hiperglikemia. Terjadinya proses glikosilasi pada protein membran basal dapat menjelaskan semua komplikasi baik makro maupun mikro vaskular. tetapi sebagian dengan perantaraan enzim aldose reduktase akan diubah menjadi sorbitol. denyut arteri hilang. yaitu teori sorbitol dan teori glikosilasi. . terutama yang mengandung senyawa lisin.b. neuropati dan infeksi. 2. Faktor utama yang berperan timbulnya KD adalah angiopati. Apabila sumbatan darah terjadi pada pembuluh darah yang lebih besar maka penderita akan merasa sakit tungkainya sesudah ia berjalan pada jarak tertentu. Adanya neuropati perifer akan menyebabkan terjadinya gangguan sensorik maupun motorik. Sorbitol akan tertumpuk dalam sel / jaringan tersebut dan menyebabkan kerusakan dan perubahan fungsi. Terjadinya Kaki Diabetik (KD) sendiri disebabkan oleh faktor – faktor disebutkan dalam etiologi. nyeri kaki di malam hari. Teori Sorbitol Hiperglikemia akan menyebabkan penumpukan kadar glukosa pada sel dan jaringan tertentu dan dapat mentransport glukosa tanpa insulin. kaki menjadi pucat bila dinaikkan. Glukosa yang berlebihan ini tidak akan termetabolisasi habis secara normal melalui glikolisis. Manifestasi gangguan pembuluh darah yang lain dapat berupa : ujung kaki terasa dingin. Infeksi sering merupakan komplikasi yang menyertai KD akibat berkurangnya aliran darah atau neuropati. sehingga faktor angiopati dan infeksi berpengaruh terhdap penyembuhan atau pengobatan dari KD. sehingga akan mengalami trauma tanpa terasa yang mengakibatkan terjadinya ulkus pada kaki gangguan motorik juga akan mengakibatkan terjadinya atrofi otot kaki. sehingga merubah titik tumpu yang menyebabkan ulsetrasi pada kaki pasien. 1. Gangguan sensorik akan menyebabkan hilang atau menurunnya sensasi nyeri pada kaki. Adanya angiopati tersebut akan menyebabkan terjadinya penurunan asupan nutrisi.

diet tinggi KH. obesitas dan kehamilan) Pe↓ ambilan glukosa Defisiensi insulin Pe↑ metabolisme protein Pe↑ asam amino dan glukoheogenesis HIPERGLIKEMI (DM) Pe↓ berat badan Pe↑ lipolisis Pe↑ gliserol Gangguan pemenuhan nutrisi Terbentuk benda keton Pe↑ katabolisme gliserol Risiko tinggi cidera Pe↓ tingkat kesadaran Ketoasidosis Kehilangan kalori Glukosuria Pe↓ resbsorbsi gukosa Rangsang haus Tubulus renal Kelemahan Diuresis osmotik Polidipsi Gangguan keseimbangan cairan dan elektrolit Cairan keluar >> Poliuri Gangguan pemenuhan ADL Rangsang lapar Kehilangan Na. P Polifagi .Kelainan sel B pankreas Gangguan sistem imunitas (auto-imun) Kelainan insulin (penurunan res-pon insulin) Faktor ling-kungan (infeksi. Cl. K.

Risti gangguan eliminasi urine Nefropati Pe↑ viskositas darah Retinopati Risti gangguan Sensori persepsi Diare Penumpukan glukosa sel & jaringan Katarak Intestinal Pe↓ peristaltic intestin Pe↓ absorbsi cairan Feses cair Gangguan sensorik Sensasi nyeri pada kaki me↓ Neuropati Glikosilasi Protein Gangguan aliran darah ke kaki Pe↓ nutrisi dan O2 sel & jaringan Sorbitol Glukosa reduktase Gangguan motorik Angiopati Trauma tidak terasa Atrofi otot kaki Luka sulit sembuh Kerusakan & perubahan fungsi sel & jaringan Ulkus Perubahan titik tumpu Infeksi Kematian jaringan Ulserasi GANGREN Risiko Tinggi Penyebaran Infeksi Kerusakan Neurovaskuler Gangguan Perfusi Jaringan .

fosfor 2. Diet . Chronic Heart Disease Sedangkan komplikasi akibat gangrene yakni: 1. 5 >27/<20 >160/95 GD Puasa (mg/dL) GD 2 jam PP (mg/dL) Koleseterol Total (mg/dL) Kolesterol LDL (mg/dL) non PJK Dengan PJK Kolesterol HDL (mg/dL) Trigliserida (mg/dL) tanpa PJK Dengan PJK BMI: Wanita Pria Tekanan Darah (mmHg) F.E. K. Nephrophaty 5. Neurophaty 3. Pemeriksaan Diagnostik • • • • Glukosa darah meningkat Asam lemak bebas meningkat Osmolalitas serum meningkat Gas darah arteri : PH menurun. Retinophaty 4.9 <140/90 Sedang 110-139 160-199 200-239 130-159 100-129 35-45 200-149 150-199 23-25 25-27 140-160/ 90-95 Buruk ≥140 ≥200 >240 >160 >130 <35 >250 >200 >25/<18. Pemeriksaan Penunjang 1. Ktiteria Pengendalian DM Baik 80-109 110-159 <200 <130 <100 >45 <200 <150 18. Sepsis 3. Osteomyelitis 2. HCO3 menurun • Ureum/kreatinin meningkat/normal • Urine : gula + aseton positip • Elektrolit : Na. kematian G.9 20-24. Komplikasi Komplikasi yang bias timbul oleh DM antara lain: 1.5-22. Gangren Kaki Diabetik 2. Penatalaksanaan 1.

maka sebaiknya makan camilan dahulu Rekomendasi latihan bagi penderita dengan komplikasi disesuaikan dengan kondisinya Latihan dilakukan 2 jam setelah makan Pada klien dengan gangrene kaki diabetic.9 kg/m2 BMI normal pria = 20 – 24.9 kg/m2 c. Mencegah fluktuasi kadar glukosa darah setiap harinya dengan mengupayakan kadar glukosa darah mendekati normal melalui cara-cara yang aman dan praktis e. insulin atau obat antidiabetik o Debridement Namun sebaiknya dalam berolahraga juga memperhatikan hal-hal sebagai berikut - - . Memenuhi kebutuhan energy d. insulin atau obat antidiabetik o Tindakan amputasi untuk mencegah meluasnya gangrene. tapi dengan indikasi yang sangat jelas o Memperbaiki sirkulasi guna mengatasi angiopati dengan obat-obat anti platelet agregasi (aspirin. atau pentoxyvilin) Basah o Istirahat di tempat tidur o Kontrol gula darah dengan diet. Menurunkan kadar lemak darah jika kadar ini meningkat 2.Penatalaksanaan nutrisi pada penderita DM diarahkan untuk mencapai tujuan berikut: a. Mencukupi semua unsure makanan essensial (misalnya vitamin dan mineral) b. Pengobatan untuk gangren Kering o Istirahat di tempat tidur o Kontrol gula darah dengan diet. Oalahraga Olahraga atau latihan fisik dilakukan sebagai berikut: 5 – 10’ pemanasan 20 – 30’ latihan aerobic (75 – 80% denyut jantung maksimal) 15 – 20’ pendinginan Jangan lakukan latihan fisik jika glukosa darah >250 mg/dL Jika glukosa darah <100 mg/dLsebelum latihan. diprydamol. Penghitungan BMI=BB (kg)/(TB (m))2 BMI normal wanita = 18.5 – 22. Mencapai dan mempertahankan berat badan (BMI) yang sesuai. tidak dianjurkan untuk melakukan latihan fisik yang terlalu berat 3.

o Kompres dengan air hangat. gangguan tidur dan istirahat. Disorentasi. setelah tenang maka tindakan yang dapat diambil adalah amputasi atau skin/arterial graft 4. tonus otot menurun. koma. Pengkajian Fokus Pengkajian Data bergantung pada berat dan lamanya ketidakseimbangan metabolik dan pengaruh pada fungsi organ : 1. Kram otot. koma hiperosmolar. diprydamol. dll) DM gestasional DM tipe I Kegagalan pemakaian OHD H. kering & kemerahan. • Kulit panas. • • • 2. dan asidosis laktat DM dengan berat badan menurun secara cepat DM yang mengalami stress berat (infeksi sistemik. Obat Hipoglikemik Oral (OHD) b. 3. Peka terhadap rangsangan. Obat a. operasi berat. Sirkulasi • Ada riwayat hipertensi. sulit bergerak/berjalan. dengan indikasi: Ketoasidosis. bola mata cekung. jangan dengan air panas atau dingin o Beri “topical antibiotic” o Beri antibiotic yang sesuai kultur atau dengan antibiotic spectrum luas o Untuk neuropati berikan pyridoxine (vit B6) atau neurotropik lain o Memperbaiki sirkulasi guna mengatasi angiopati dengan obat-obat anti platelet agregasi (aspirin. Eliminasi • Poliuria. letih. • Kebas pada kaki. tergantung orang lain. nokturia • Rasa nyeri/terbakar. • • Integritas ego Stress. atau pentoxyvilin) Pembedahan o Amputasi segera o Debridement dan drainase. • Takikardia/nadi yang menurun/tak ada. kesulitan berkemih (infeksi) . Aktifitas/Istirahat Lemah. IMA. Insulin. • Kebas & kesemutan pada extrimitas. 4.

bernapas bau keton Keamanan • Kulit kering. 8. sakit kepala. Gangguan rasa nyaman ( nyeri ) berhubungan dengan iskemik jaringan. Makanan/cairan Hilang nafsu makan. ulkus kulit. haus. 7. palpitasi. Cemas berhubungan dengan kurangnya pengetahuan tentang penyakitnya. Kurangnya pengetahuan tentang proses penyakit. kebas kelemahan pada otot. Nyeri tekan abdomen Diare. perawatan dan pengobatan berhubungan dengan kurangnya informasi. J. letargia. • • • • 7. Neurosensori Pusing/pening. Intervensi . Diagnosa keperawatan 1. Ganguan pola tidur berhubungan dengan rasa nyeri pada luka di kaki. 2. Keterbatasan mobilitas fisik berhubungan dengan rasa nyeri pada luka. BB menurun. Gangguan gambaran diri berhubungan dengan perubahan bentuk salah satu anggota tubuh. I. Gangguan integritas jaringan berhubungan dengan adanya gangren pada ekstrimitas. 4. 9. Pernapasan • Batuk. Distensi abdomen. diaforesis • Menurunnya kekuatan/rentang gerak. Gangguan penglihatan.• • 5. mual/muntah. bising usus lemah/menurun. Parestesia. Gangguan perfusi jaringan berhubungan dengan melemahnya / menurunnya aliran darah ke daerah gangren akibat adanya obstruksi pembuluh darah. gatal. 10. Kulit kering/bersisik. 3. kesemutan. Potensial terjadinya penyebaran infeksi ( sepsis ) berhubungan dengan tingginya kadar gula darah. stupor/koma. Gangguan pemenuhan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan intake makanan yang kurang. Nyeri/kenyamanan • Abdomen tegang/nyeri • Wajah meringis. 5. • Demam. 9. 8. diet. turgor jelek. Disorentasi : mengantuk. 6. • • • • 6.

menyebabkan pembuluh merokok terjadinya darah. . 2. faktor resiko berupa: Hindari diet terjadinya relaksasi. waktu istirahat ). Tindakan Ajarkan pasien untuk melakukan Rasional Mobilisasi meningkatkan sirkulasi darah melancarkan sehingga tidak aliran terjadi mobilisasi Ajarkan tentang faktor-faktor yang Meningkatkan dapat meningkatkan aliran darah: darah dari jantung ( posisi elevasi pada balik Tinggikan kaki sedikit lebih rendah oedema.Berkurangnya oedema sekitar luka. Tujuan: Kriteria hasil : Tercapainya proses penyembuhan luka. hindari penggunaan bantal. 1. dapat menghentikan kebiasaan merokok. relaksasi untuk mengurangi efek dari vasodilator perfusi jaringan rutin HBO akan dapat dapat dan untuk daerah stress. gula mengetahui keadaan memperbaiki ulkus/gangren vasodilator. 3. hindari balutan ketat. oksigenasi 2. Tujuan: Kriteria Hasil: Mempertahankan sirkulasi perifer tetap normal. Ganguan integritas jaringan berhubungan dengan adanya gangren pada ekstrimitas. hindari penyilangkan kaki.Oedema tidak terjadi dan luka tidak bertambah parah.Kulit sekitar luka teraba hangat.Warna kulit sekitar luka tidak pucat/sianosis .Sensorik dan motorik membaik No.Denyut nadi perifer teraba kuat dan reguler . . Adanya jaringan granulasi. 2. Kolaborasi dengan tim kesehatan lain Pemberian dalam pemberian pemeriksaan gula darah secara rutin sehingga dan terapi oksigen ( HBO ). Pus dan jaringan nekrosis berkurang 3. vasokontriksi dan penggunaan obat vasokontriksi 4.1. Gangguan perfusi berhubungan dengan melemahnya/menurunnya aliran darah ke daerah gangren akibat adanya obstruksi pembuluh darah. meningkatkan dilatasi pembuluh darah sedangkan secara pemeriksaan darah perkembangan pasien.Kolestrol tinggi dapat mempercepat arterosklerosis. modifikasi teknik faktor. di belakang lutut dan sebagainya Ajarkan tentang tinggi kolestrol. . diperbaiki. . 1.

angkat larutan sisa yang balutan tidak larutan yang iritatif akan nekrosis merusak dapat yang jaringan granulasi tyang timbul. 1. Bau khas gangren berkurang.50 C. tanda vital dalam batas normal. 1. pemeriksaan kultur pus untuk yang tepat untuk pengobatan. membersihkan luka secara abseptik dapat menjaga kontaminasi luka dan menggunakan iritatif. Tindakan Rasional Kaji luas dan keadaan luka serta Pengkajian yang tepat terhadap luka proses penyembuhan dan proses penyembuhan akan membantu dalam menentukan tindakan 2. sisa jaringan menghambat proses granulasi untuk Insulin akan menurunkan kadar gula menempel pada luka dan nekrotomi balutan 3. selanjutnya Rawat luka dengan baik dan benar : merawat luka dengan teknik aseptik. 4. Tujuan: Rasa nyeri hilang/berkurang 2. No. pemeriksaan gula darah mengetahui jenis kuman dan anti biotik pemeriksaan kadar gula darahuntuk mengetahui perkembangan penyakit pemberian anti biotik 3. N: 60 – 80 x /menit. Ciptakan lingkungan yang tenang melakukan tindakan Rangasangan yang berlebihan dari Kriteria hasil : 1. dokter pemeriksaan darah. 3. No. RR : 18 – 20 x /menit).Penderita secara verbal mengatakan nyeri berkurang/hilang . dan reaksi Untuk mengetahui berapa berat nyeri nyeri yang dialami pasien yang dialami pasien Jelaskan pada pasien tentang sebab.4. 2. Ajarkan teknik distraksi dan relaksasi nyeri Teknik distraksi dan relaksasi dapat . lingkungan akan memperberat rasa 4. frekuensi.(S: 36 – 37. Ganguan rasa nyaman ( nyeri ) berhubungan dengan iskemik jaringan. Tindakan Rasional Kaji tingkat. Penderita dapat melakukan metode atau tindakan untuk mengatasi atau mengurangi nyeri . jaringan yang mati Kolaborasi dengan pemberian kultur pus insulin. Pergerakan penderita bertambah luas. Tidak ada keringat dingin.pemahaman pasien tentang penyebab sebab timbulnya nyeri nyeri yang terjadi akan mengurangi ketegangan pasien dan memudahkan pasien untuk diajak bekerjasama dalam 3. T : 100 – 130 mmHg.

Pergerakan paien bertambah luas otot pada kaki pasien otot-otot kaki pasien Beri penjelasan tentang pentingnya Pasien mengerti pentingnya aktivitas melakukan aktivitas untuk menjaga sehingga normal Anjurkan dapat kooperatif dalam kadar gula darah dalam keadaan tindakan keperawatan 3. Pasien dapat melaksanakan aktivitas sesuai dengan kemampuan (duduk. Tindakan Rasional Kaji dan identifikasi tingkat kekuatan Untuk mengetahui derajat kekuatan Kriteria Hasil: 1. 2. pasien untuk Untuk melatih otot – otot kaki sehingg berfungsi dengan baik menggerakkan/mengangkat 4. harus diberikan bantuan Kerja sama dengan tim kesehatan Analgesik dapat membantu mengurangi lain: dokter ( pemberian analgesik ) rasa nyeri. berjalan). ekstrimitas bawah sesui kemampuan Bantu pasien dalam memenuhi Keterbatasan mobilitas fisik cenderung kebutuhannya membuat memnuhi klien kesulitan dalam sehingga kebutuhannya 5. 2. 3. Pasien dapat memenuhi kebutuhan sendiri secara bertahap sesuai dengan kemampuan. berdiri. pasien Atur posisi pasien senyaman mungkin Posisi yang nyaman akan membantu sesuai keinginan pasien 6. No. Kolaborasi dengan dokter yang dapat memberikan rasa nyaman untuk Obat –obat analgesik dapat membantu mengurangi nyeri pasien pemberian analgesik 4. Rasa nyeri berkurang. Tujuan: Pasien dapat mencapai tingkat kemampuan aktivitas yang optimal. Keterbatasan mobilitas fisik berhubungan dengan rasa nyeri pada luka di kaki. Daftar Pustaka . 4. fisioterapi untuk melatih dan tenaga fisioterapi pasien melakukan aktivitas secara bertahap dan benar K. memberikan kesempatan pada otot untuk relaksasi seoptimal mungkin Lakukan massage dan kompres luka Massage dapat meningkatkan dengan BWC saat rawat luka vaskulerisasi dan pengeluaran pus sedangkan BWC sebagai desinfektan 7.mengurangi rasa nyeri yang dirasakan 5. 1.

1997. Kapita Selekta Kedokteran. 8. L. Jakarta: EGC Doengoes. Ed... Patofisiologi. Ed. Fakultas Kedokteran UI: Media Aescullapius. 1999. Perencanaan Asuhan Keperawatan. Jakarata: EGC . Anderson Sylvia. Diagnosa Keperawatan. Rencana Asuhan & Dokumentasi Keperawatan. Arif. 1999. et all. Ed. 1999. 2 Jakarta: EGC 2000. Price. Jakarta: EGC Mansjoer. I.Carpenito.J.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful