P. 1
ASPEK Geografi

ASPEK Geografi

|Views: 2,486|Likes:
Published by Oom Saepul Rohman

More info:

Published by: Oom Saepul Rohman on Aug 16, 2010
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

12/12/2012

pdf

text

original

ASPEK-ASPEK GEOGRAFI 1. Oikumene dan Pemukiman yaitu bagian dari bumi yang di huni manusia.

Asal kata oikumene adalah oikos yang artinya banyak, misalnya rumah (tempat tinggal), penghuni rumah (keluarga) sampai rumah tangga (kebutuhan hidup penghuninya). para ahli geografi meneliti mengapa manusia itu bertempat tinggal di daerah tersebut? Ex: di dataran rendah, di dataran tinggi, dekat pantai,dekat hutan, dekat daerah pertanian, dan lain-lain. geografi dalam membahas pemukiman manusia, objeknya di wilayah perkotaan dan pedesaan, Desa diartikan sebagai wilayah tempat tinggal penduduk yang hidup dari proses produksi agraris. adapun kota yang merupakan konsentrasi penduduk non agraris yang memiliki daya pakairuang lebih intensif(sumber : K. Wardiyatnoko.2006. geografi untuk kelas X.jakarta:erlangga) pemukiman yang merupakan tempat hunian manusia termasuk dalam aspekaspek geografi dimana didalamnya terdapat manusia dan aktifitasnya yang terdapat pada ruang desa dan kota. 2.persebaran Penduduk dapat diketahui dengan tiga cara 1. survei 2. registrasi 3. sensus, sehingga pada tahun tertentu di suatu wilayah dapat dipetakan, sehingga seluk beluk kepadatan penduduk yang dapat dilihat oleh pembaca peta, sehingga dapat dilihat manakah wilayah-wilayah yang padat penduduknya, atau biasanya dalam menganalisis hal tersebut dapat menggunakan PJ atau Foto udara. 3. Kepadatan Penduduk dinyatakan dalam angka satuan jiwa untuk tiap luas wilayah (kepadatan Aritmatik. yang dipelajari adalah sejauh mana tanah sebagai sumber daya alam dieksploitasi agar dapat didiami manusia secara tetap. seperti masalah gejala kelebihan penduduk, atau kekurangan penduduk.(sumber : K. Wardiyatnoko.2006. geografi untuk kelas X.jakarta:erlangga. jadi dalam aspekaspek geografi yang dimaksud arahnya adalah mengetahui kelahiran, kematian dan migrasi.

KABUPATEN BOJONEGORO Nilai PDRB (harga konstan) Kabupaten Bojonegoro pada tahun 2005 sebesar Rp 4,4 trilyun rupiah atau naik sebesar 4,91 persen dari tahun sebelumnya. Dari sembilan sektor dalam pembentukan PDRB, sektor pertanian memberikan kontribusi terbesar (38,23%), berikutnya sektor perdagangan, hotel dan restoran (22,50%), dan ketiga sektor jasa-jasa (16,44%). Topografi wilayah menunjukkan bahwa di bagian Utara sepanjang daerah aliran Sungai Bengawan Solo merupakan daerah dataran rendah, sedangkan di bagian Selatan merupakan dataran tinggi di sepanjang kawasan Gunung Pandan, Kramat dan Gajah. Untuk menanggulangi kekurangan air bagi keperluan

pengairan lahan pertanian di musim kemarau dilakukan pompanisasi untuk menaikkan air dari Sungai Bengawan Solo. Pompanisasi ini tersebar di delapan kecamatan yang meliputi 24 desa. Untuk tanaman pangan, daerah ini banyak memproduksi padi, jagung, ubi kayu, kedelai, dan kacang hijau. Klaster padi cocok dikembangkan di Kecamatan Kepohbaru, Sumberejo, dan Balen. Klaster ubi kayu cocok dikembangkan di Kecamatan Ngambon, Ngasem, dan Malo. Klaster kedelai cocok dikembangkan di Kecamatan Ngraho dan Balen. Sementara sentra produksi jagung dan kacang hijau terdapat di Kecamatan Ngasem. Kabupaten Bojonegoro menghasilkan beberapa produk perkebunan, utamanya tembakau, tebu, dan kelapa. Tembakau merupakan tanaman perkebunan andalan bagi masyarakat petani di Kabupaten Bojonegoro. Dua jenis tembakau yang diproduksi adalah jenis Virginia dan Jawa. Pada tahun 2005 areal tanaman tembakau Virginia tercatat seluas 10.365 Ha dan tembakau Jawa seluas 474 Ha. Dengan adanya penambahan luas areal tanam, produksi tembakau Virginia naik 35,77 persen, yaitu menjadi 8.676 ton pada tahun 2005. Sedangkan tembakau Jawa yang areal tanamnya menurun terjadi pula penurunan produksi dengan jumlah menjadi 498 ton pada tahun 2005. Klaster tembakau Virginia (daun rajangan) cocok dikembangkan di Kecamatan Kepohbaru dan Kanor. Sementara klaster tebu (kristal gula) cocok dikembangkan di Kecamatan Margomulyo, Kalitidu, Purwosari, dan Padangan. Dan klaster kelapa (kopra) cocok dikembangkan di Kecamatan Ngraho, Kapas, dan Malo. me Untuk subsektor peternakan, hasil produksi dari subsektor peternakan mencakup daging, telur, dan susu diupayakan terus ningkat sehingga bisa menunjang kebutuhan gizi masyarakat. Produksi daging dari pemotongan ternak besar dan kecil sebanyak 3.024 ton daging, dan produksi daging dari ternak unggas sebesar 7.604 ton daging pada tahun 2005. Pada tahun yang sama produksi telur mencapai 3.183 ton, dan produksi susu sebanyak 36 ton. Klaster peternakan Sapi sangat cocok dikembangkan di Kecamatan Tambakrejo, Kedungadem, dan Ngasem. Klaster peternakan Kambing cocok dikembangkan di Kecamatan Kedungadem dan Kalitidu. Klaster peternakan Domba sesuai untuk dikembangkan di Kecamatan Sugihwaras, Kalitidu, dan Malo. Sementara klaster peternakan Ayam Ras cocok dikembangkan di Kecamatan Kedungadem dan Baureno. Sedangkan klaster Ayam Buras cocok dikembangkan di Kecamatan Sugihwaras, Kedungadem, Baureno, dan Sumberejo. Untuk kegiatan perdagangan, di Kabupaten Bojonegoro terdapat beberapa sentra perdagangan. Daerah yang menjadi sentra perdagangan ini setidaknya terlihat dari jumlah penerbitan Tanda Daftar Usaha Perdagangan (TDUP) dan Wajib Daftar Usaha. Berdasarkan kedua hal itu, sentra perdagangan terdapat di Kecamatan Bojonegoro, Balen, dan Dander.

GEOGRAFIS DAN DEMOKRATIS Nama Daerah : Kabupaten Bojonegoro Status : Kabupaten Luas : 2307.06 Jumlah Kecamatan : 27 Penduduk Laki-Laki : 596492 Penduduk Perempuan : 616953 Jumlah Penduduk : 1213445

Hotel dan Akomodasi Total Kabupaten Produksi Satuan hotel 8,00 0,00 unit kamar 245,00 0,00 unit tempat tidur 485,00 0,00 unit Jumlah Perusahaan Wajib Daftar Usaha Total Kabupaten Produksi Satuan cv 35,00 0,00 komoditi koperasi 1,00 0,00 unit perorangan 334,00 0,00 unit Perdagangan Total Kabupaten Produksi Satuan tanda daftar usaha perdagangan (tdup) 253,00 Kecamatan Bojonegoro 66,00 unit Kecamatan Balen 21,00 Kecamatan Dander 20,00 Perusahaan Total Kabupaten Produksi Satuan wajib daftar usaha 374,00 Kecamatan Kapas 24,00 unit Kecamatan Bojonegoro 99,00 Kecamatan Dander 24,00 Kecamatan Kedungadem 21,00 Kecamatan Kalitidu 23,00 Kecamatan Sumberejo 23,00 Kecamatan Balen 28,00 Perusahaan Wajib Daftar Usaha Total Kabupaten Produksi Satuan pt 4,00 0,00 unit Produksi Ikan Total Kabupaten Produksi Satuan budidaya kolam 257,00 0,00 ton budidaya sawah 188,00 0,00 ton penangkapan perairan umum 1.859,00 0,00 ton Peternakan Total Kabupaten Produksi Satuan ayam buras 3.928.165,00 Kecamatan Malo 175.837,00 ekor Kecamatan Kalitidu 171.955,00 Kecamatan Balen 187.867,00

Kecamatan Kedungadem 198.972,00 Kecamatan Sugihwaras 202.802,00 Kecamatan Kepohbaru 176.855,00 Kecamatan Baureno 195.876,00 Kecamatan Sumberejo 229.207,00 ayam ras 671.190,00 Kecamatan Kanor 45.856,00 ekor Kecamatan Balen 43.235,00 Kecamatan Kedungadem 152.140,00 Kecamatan Baureno 268.955,00 domba 96.721,00 Kecamatan Balen 5.517,00 ekor Kecamatan Kedungadem 5.758,00 Kecamatan Malo 10.395,00 Kecamatan Sugihwaras 5.965,00 Kecamatan Kalitidu 6.753,00 entok 75.842,00 Kecamatan Sugihwaras 4.875,00 ekor Kecamatan Kanor 4.495,00 Kecamatan Kedungadem 5.816,00 Kecamatan Bojonegoro 4.783,00 itik 78.996,00 Kecamatan Kedungadem 7.769,00 ekor Kecamatan Kalitidu 4.559,00 Kecamatan Temayang 4.883,00 kambing 65.591,00 Kecamatan Kalitidu 6.397,00 ekor Kecamatan Kedungadem 4.934,00 Kecamatan Dander 4.699,00 Kecamatan Temayang 4.838,00 kerbau 4.128,00 Kecamatan Kepohbaru 304,00 ekor Kecamatan Sumberejo 313,00 Kecamatan Purwosari 315,00 sapi 93.292,00 Kecamatan Ngasem 6.136,00 ekor Kecamatan Tambakrejo 5.989,00 Kecamatan Kedungadem 8.465,00 Kecamatan Sugihwaras 5.086,00 Produksi Daging, Telur, Susu Total Kabupaten Produksi Satuan daging 10.628,00 0,00 ton pilih Item 36,00 0,00 ton telur 3.000,00 0,00 ton Buah-buahan Total Kabupaten Produksi Satuan belimbing 45.665,00 0,00 kwintal jambu 31.961,00 0,00 kwintal mangga 438.516,00 0,00 kwintal pepaya 22.213,00 0,00 kwintal pisang 783.616,00 0,00 kwintal Total Kabupaten Produksi Satuan jagung 141.268,00 Kecamatan Temayang 14.566,00 ton Kecamatan Sukosewu 12.588,00 Kecamatan Temayang 47.180,00

kacang hijau 13.105,00 Kecamatan Ngasem 4.295,00 ton Kecamatan Sugihwaras 1.443,00 Kecamatan Sugihwaras 1.320,00 kedelai 27.326,00 Kecamatan Temayang 2.179,00 ton Kecamatan Dander 2.473,00 Kecamatan Tambakrejo 2.831,00 Kecamatan Ngasem 3.943,00 Kecamatan Balen 4.902,00 padi 602.765,00 Kecamatan Sumberejo 54.617,00 ton Kecamatan Balen 48.823,00 Kecamatan Kalitidu 43.336,00 Kecamatan Kanor 42.635,00 Kecamatan Dander 42.348,00 Kecamatan Kepohbaru 62.713,00 ubi kayu 43.918,00 Kecamatan Ngambon 6.375,00 ton Kecamatan Ngasem 7.018,00 Kecamatan Ngambon 6.506,00 Sayur-sayuran Produksi Satuan bawang merah 12.635,00 0,00 kwintal kacang panjang 3.819,00 0,00 kwintal terung 6.029,00 0,00 kwintal Perkebunan Total Kabupaten Produksi Satuan kapuk randu (serat kering) 724,00 Kecamatan Kalitidu 56,00 ton Kecamatan Kapas 82,00 Kecamatan Ngasem 60,00 Kecamatan Margomulyo 52,00 Kecamatan Ngraho 51,00 Kecamatan Kanor 51,00 kelapa (setara kopra) 4.638,00 Kecamatan Malo 352,00 ton Kecamatan Ngraho 431,00 Kecamatan Kedungadem 244,00 Kecamatan Tambakrejo 279,00 Kecamatan Kapas 824,00 Kecamatan Margomulyo 227,00 Kecamatan Kasiman 254,00 Kecamatan Ngasem 258,00 tebu (gula kristal) 3.224,00 Kecamatan Kalitidu 403,00 ton Kecamatan Margomulyo 339,00 Kecamatan Padangan 572,00 Kecamatan Malo 346,00 Kecamatan Purwosari 520,00 Kecamatan Margomulyo 401,00

tembakau jawa (daun rajangan) 498,00 Kecamatan Sugihwaras 89,00 ton Kecamatan Temayang 317,00 Kecamatan Kedungadem 25,00 Kecamatan Balen 38,00 tembakau virginia (daun rajangan) 8.676,00 Kecamatan Sugihwaras 1.052,00 ton Kecamatan Kepohbaru 1.677,00 Kecamatan Sumberejo 1.250,00 Kecamatan Baureno 1.102,00 Kecamatan Kanor 1.653,00 http://www.beit.co.id/home/kabupaten/kab/Kabupaten+Bojonegoro

teori grafitasi GAYA TARIK DUA KOTA

Kota suatu sistem jaringan kehidupan manusia yang ditandai dengan kepadatan penduduk yang tinggi dengan strata sosial ekonomi yang heterogen dan coraknya yang meterialistik atau sebagai bentang budaya yang ditimbulkan oleh unsur-unsur alami dan non-alami dengan gejala-gejala pemusatan penduduk yang cukup besar dengan corak kehidupan yang heterogen dan materialistik dibandingkan dengan daerah belakangnya.

Sebagai suatu wadah interaksi masyarakat kota memiliki unsure –unsur pendukung , diantaranya adalah: a) unsur-unsur fisis, yaitu topografi dan kesuburan tanah serta iklim yang cocok untuk tempat tinggal. b) unsur-unsur ekonomi, yaitu fasilitas-fasilitas yang dapat memenuhi kebutuhan primer warga kota. c) unsur-unsur sosial, yang dapat menimbulkan keserasian, ketenangan hidup warga kota. d) unsur-unsur kultural, seni, dan kebudayaan memberikan semangat dan gairah hidup kota. e) Unsur teknologi , Semakin pesat perkembangan teknologi maka semakin pesat pula perkembangan kota. Setiap kota memiliki unsure fisis, ekonomi, sosial, dan cultural yang berbeda. Perbedaan ini dibentuk oleh interaksi masyarakat dan lingkungan tempat tinggal. Sumberdaya alam yang ada menjadi penopang kelangsungan hidup masyarakat setempat. Sama halnya dangan karakteristik yang dimiliki oleh suatu kota. Perbedaan karakteristik antara dua kota atau dua wilayah akan menyebabkan terjadinya keterkaitan di antara kedua kota atau kedua wilayah tersebut. Intensitas keterkaitan yang terjadi akan sangat ditentukan oleh tipe keterkaitan yang berlaku di antara kedua kota atau wilayah tersebut. Intensitas keterkaitan ini salah satunya berdampak interaksi yang terjadi antara dua kota tersebut. Karakteristik kota yang saling bertolak belakang di antara keduanya mengakibatkan tingginya intensitas keterkaitan. Interaksi adalah suatu jenis tindakan atau aksi yang terjadi sewaktu dua atau lebih objek mempengaruhi atau memiliki efek satu sama lain. Ide efek dua arah ini penting dalam konsep interaksi, sebagai lawan dari hubungan satu arah pada sebab

akibat. Kombinasi dari interaksi-interaksi sederhana dapat menuntun pada suatu fenomena baru yang mengejutkan. Dalam berbagai bidang ilmu, interaksi memiliki makna yang berbeda. Interaksi wilayah (Spatial Interaction) adalah hubungan timbal balik yang saling mempengaruhi antara dua wilayah atau lebih, yang dapat melahirkan gejala, kenampakkan dan permasalahan baru, secara langsung maupun tidak langsung. Interaksi ini berupa perilaku dari pihak-pihak yang bersangkutan melalui kontak langsung atau berbagai media. Istilah spatial interaction ini berasal dari Ullman dalam bukunya Geography as spatial interaction (1954). Untuk mengidentifikasikan ketergantungan antar wilayah geografis. Interaksi merupakan pengertian yang dikenal dalam sosiologi, sebagai gejala saling mempengaruhi antara individu. Dalam sosiologi gejala saling mempengaruhi tidak hanya berlaku pada individu melainkan juga pada obyek-obyek dan ruang yang mewadahi obyekobyek itu. Sehubungan dengan itu dikenal tiga kelompok dasar yang saling mempengaruhi. Pertama, antara vegetasi dan iklim, tanah dan kawasan lahan; kedua, antara kegiatan manusia dan sifat politis-ekonomis suatu wilayah; ketiga adalah antar rumah tangga dan pertokoan. Dalam geografi interaksi diartikan sebagai interaksi geografis antar satu wilayah dengan wilayah lain. Begitu juga halnya dengan kota satu dengan kita lainnya. Semakin banyak perbedaan yang ada maka peluang menciptakan interaksi antara ke duanya. Ullman meguraikan tiga unsure interaksi keruangan yang memberi pengaruh pada pola interaksi spatial
Permodelan yang dapat digunakan dalam melakukan analisis terhadap pola interaksi atau keterkaitan antardaerah atau antar bagian wilayah dengan wilayah lainnya, adalah Model Gravitasi. Penerapan model ini ini dalam bidang analisis perencanaan kota adalah dengan anggapan dasar bahwa faktor aglomerasi penduduk, pemusatan kegiatan atau potensi sumber daya alam yang dimiliki, mempunyai daya tarik yang dapat dianalogikan sebagai daya tarik menarik antara 2(dua) kutub magnet. Kelemahan penerapan model ini dalam analisis wilayah, terutama terletak pada variabel yang digunakan sebagai alat ukur, dimana dalam fisika variabel yang digunakan, yaitu molekul suatu zat mempunyai sifat yang homogen, namun tidak demikian halnya dengan unsur pembentuk kota, misalnya penduduk. Namun demikian, hal ini telah dikembangkan, yaitu dengan tidak hanya memasukan variabel massa saja, tetapi juga gejala sosial sebagai faktor pembobot. Persamaan umum model Gravitasi ini adalah : Pi x Pj Tij = --------------P dimana : Tij = pergerakan penduduk sub-wilayah i ke sub-wilayah j Pi = jumlah penduduk sub wilayah i Pj = jumlah penduduk sub wilayah j P = jarak antara sub wilayah i –sub wilayah j Penerapan model grafitasi pada interaksi sosial diperkenalkan oleh Reilly pada tahun 1929 dalam perniagaan. Para geograf pada abad ke-19 telah memakai hukum grafitasi Newton (1687). Adapun bintarto (1983) menerapkan model grafitasi untuk empat kotamadya di jawa tengah dan DI Yogyakarta, Surakarta, Salatiga dan Magelang, yang lokasinya mengelilingi kompleks gunung kembar Merapi-

Merbabu. Dengan sarana model segi empat ini Bintarto mengukur interaksi sosial keempat kota tersebut, hasilnya adalah sebagai berikut: Model grafitasi interaksi antara ke empat kotamadya Jumlah penduduk kota; Yogyakarta (Y) = 398.192 orang Surakarta (S) = 462.825 orang Salatiga (Sa) = 85.740 orang Magelang (M) =123.358 orang Jarak terdekat antara ke empat kota; Yogyakarta (Y) - Surakarta ( Su) = 60 km Surakarta (S) - Salatiga (Sa) = 42 km Salatiga (Sa) - Magelang (M) = 40 km Magelang (M) - Yogyakarta (Y) =41 km Maka diperoleh angka-angka interaksi; I(Y- Su) = 51 I(Su-Sa) = 22 I(Sa-M) = 7 I(M-Y) = 29 Hasil perhitungan diatas menyatakan Surakarta dan Yogya sebagi kota yang memiliki interaksi terbesar (I = 51) artinya frekuensi hubungan sosial, ekonomi dan sebagainya antara kedua tempat tersebut tettinggi jika dibandingkan dengan interaksi antar kodya lainnya. Meski jarak antara keduanya adalah jarak terpanjang dibandingkan jarak MagelangSalatiga, hal ini dikarenakan dua kodya tersebut merupakn kota budaya dan kota pelajar, jalan yang menghubungkan kedua kota memudahkan transferabilitas disamping jumlah penduduk yang besar pula.

2. Simpulan Rumusan diatas secara tidak langsung menggambarkan bahwa gaya tarik dua kota di buktikan dengan adanya mobilitas ataupun bentuk interaksi lain penduduk dari satu wilayah ke wilayah lain. Daya tarik kota yang kuat akan menarik interaksi yang besar ke dalam wilayah kota yang bersangkutan.
Hal ini disebabkan oleh adanya perbedaan potensi yang dimiliki desa maupun kota, dan adanya persamaan kepentingan. Unsure-unsur kota juga berperan penting dalam timbulnya daya tarik antar kota, factor fisiogafis,sosial,ekonomi ,teknologi kota yang berbeda satu samalain akan memunculkan suatu interaksi yang mengakibatakan daya tarik antar keduanya. Adanya komplementaritas antar kota akan semakin memperkuat daya tarik antar kedua kota, hal ini juga didukung oleh transferbilitas yang dapat tercipta antar keduanya. Semakin besar tranferbilitas yang terjadi maka dapat dikatakan daya tarik antar kota tersebut sangat kuat, jarak dalam hal ini dapat diatasi dengan pembnagunan akses jalan yang baik, untuk mendukung kelancaran interaksi keduanya. Daftar pustaka Daldjoni. N. 1998. Geografi kota. Bandung.PT Allumni. Hariyono. Paulus. 2007. Sosiologi kota untuk arsitek. Jakarta. PT Bumi Aksara.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->