P. 1
Plural is Me

Plural is Me

|Views: 200|Likes:

More info:

Published by: Mohammad Jibriel Avessina on Aug 17, 2010
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

10/12/2014

pdf

text

original

Hasil Notulensi: Diskusi Pluralisme Hukum dalam perspektif Global

Dalam diskusi perdana Insititute Antropologi Indonesia tertanggal 14 Agustus 2010 membahas tentang artikel pluralisme hukum dalam perspektif global yang termaktub di dalam buku hukum yang `bergerak` karya ibu Sulistyawati Irianto. Buku hukum yang bergerak adalah salah satu karya kontemporer di dalam perspektif antropologi hukum.Sebagai salah satu karya yang “relatif baru” para diskusan mengalami kebingungan dalam memahami maksud dalam penulisan artikel ini. Diskusi dihadiri oleh: 1. Jibriel Avessina 2. Reza Elkaf 3. Maisa Yudhoyono 4. Aries 5. Saviara Shania 6. Pepeng 7. Yulizar Syafrie 8. Ruddy Agusyanto 9. Rijo Adapun kebingungan para diskusan termaktub dalam empat kebingungan mendasar tentang artikel ini yakni : 1. Apakah artikel Ini bermaksud membahas perubahan hukum formal dan permasalahan hukum non formal? 2. Apakah artikel ini bertujuan mempermasalahkan keseteraan hukum yang menjadi alternatif pilihan bagi pengguna hukum di era globalisasi? 3. Apakah keterkaitan di antara borderless state, borderless law, globalisasi hukum dan pluralisme hukum yang dibahas dalam artikel ini ?. 4. Mengapa asimilasi atau hibrida hukum di era Globalisasi hukum justru diperlukan?.... Untuk memahami kegelisahan yang dikemukakan oleh para diskusan maka perlu dipahami ringkasan artikel yang pikiran pikiran/ prinsip pokok yang dikemukakan dalam artikel Pluralisme hukum dalam perspektif global, Ringkasan artikel tersebut adalah sebagai berikut: Pluralisme hukum dalam perspektif global Berbicara mengenai pengertian pluralisme hukum pada masa awal sangat berbeda dengan masa sekarang, pada masa pluralisme hukum diartikan sebagai koeksistensi antara berbagai sistem hukum dalam lapangan sosial (social field) tertentu yang dikaji dan sangat menonjolkan dikotomi antara hukum negara disatu sisi dan berbagai macam hukum rakyat disisi lain (Griffith,1986). Ko-eksistensi yang dimaksud adalah antara berbagai sistem hukum dalam lapangan sosial tertentu yang dikaji, dan sangat menonjolkan antara hukum negara di satu sisi, dan berbagai hukum rakyat di sisi lain. Para ahli hanya melakukan pemetaan mapping terhadap keanekaragaman hukum (mapping of legal universe)… dalam lapangan kajiannya, yaitu dengan menggolong-golongkan sistem hukum yang hidup bersama dalam suatu social field.

Namun demikian dalam kekinian berbagai perdebatan dan diskusi telah melahirkan pemikiran – pemikiran baru tentang pluralisme hukum yang lebih tajam dan berarti dalam menganalisis fenomena hukum dalam masyarakat diberbagai belahan dunia, bagaimana globalisasi dalam bidang ekonomi, politik, budaya dalam konteks sejarah dapat menjelaskan globalisasi dalam bidang hukum. Menurut penulis, seiring dengan terjadinya pertukaran ekonomi, terjadi juga pertukaran dalam bidang politik, hampir tidak ada lagi negara yang dapat menjalankan politik tertutup secara absolute. borderless state menjadi salah satu atribut globalisasi. Bagaimana Dengan Globalisasi Hukum ? Menurut penulis, globalisasi tidak lagi dapat diartikan sebagai perjalanan satu arah dari barat ketimur melalui penyebaran nilai dan konsep demokrasi, hak asasi manusia beserta instrumen hukumnya, namun globalisasi adalah juga persebaran nilai, konsep dan hukum dari berbagai penjuru dunia menuju ke segala penjuru dunia. Menurut penulis artikel ini, globalisasi tidak hanya diindikasikan oleh Borderless State, tetapi juga Borderless Law. Hukum (unsur-unsur hukum – yaitu aturan-aturan dalam pasal-pasal hukum) dari wilayah tertentu dapat menembus ke wilayah – wilayah lain yang tanpa batas. Penulis artikel ini menyatakan Hukum internasional dan transnational dapat menembus ke wilayah negara – negara manapun, bahkan wilayah lokal yang manapun di akar rumput atau sebaliknya, bukan hal yang mustahil bila hukum dan prinsip – prinsip lokal diadopsi sebagian atau seluruhnya menjadi hukum berskala internasional misalnya Prinsip dalam Alterrnative Dispute Resolition ( ADR ) dapat ditemukan dalam karakter sengketa yang dipelajari secara antropologis, penyelesaian sengketa bertujuan untuk mencapai WIN – WIN SOLUTION ( COMPROMISE ) dimana semua pihak merasa diuntungkan dan dimenangkan, sekarang ADR banyak dipelajari dan dikembangkan diberbagai masyarakat manapun didunia ini, bisa juga terjadi mekanisme penyelesaian sengketa di nasional dan lokal yang melakukan negosiasi dalam arena multi – sited dan didasarkan pada relasi – relasi kekuasaan sangat penting untuk melihat bagaimana relasi kekuasaan itu menstrukturkan interaksi dan bagaimana interaksi diproduksi, hal diatas sangat berkaitan dengan perspektif baru dalam metodologi antropologi, khususnya etnografi dalam mempelajari globalisasi hukum, dimana pendekatan pluralisme hukum mendapatkan perspektif yang baru. Kondisi ini menyebabkan “Hukum dianggap bergerak” karena memasuki wilayah wilayah lain yang “tanpa batas” maka terjadi persentuhan dan dinamika yang cepat. Menurut penulis Buku ini terdapat aktor aktor yang menyebabkan hukum dianggap bergerak yaitu adalah buruh migran, NGO internasional, korporasi multinasional. Dalam hal ini terjadi interaksi, kontestasi dan Saling adopsi/saling pinjam (sistem hukum internasional, nasional dan local). Implikasi metodologis Multi spatial, Multisited Penulis menyatakan Berbicara mengenai hubungan antara peristiwa pada skala luas ( NASIONAL ) dengan peristiwa pada tingkat mikro ( LOKAL ) adalah berkaitan dengan keberadaan suatu masyarakat yang dipandang tersusun atas berbagai semi – autonomous social field ( SASF ), dalam hal ini dapat dijelaskan bagaimanakah individu menanggapi peristiwa hukum pada tingkat nasional, interenasional dan berdasarkan pengalamannya atau apa yang diketahuinya mengenai bidang hukum pada tingkat yang makro itu, apakah yang ia lakukan, ketika ia sendiri berhadapan dengan masalah hukum. Pengertian Pluralisme Hukum Dalam Perspektif Global Penulis menyatakan bahwa ciri pluralisme hukum dalam perspektif global yang memberi perhatian pada penomena globalisasi hukum barangkali akan memunculkan pertanyaan, apakah maksudnya bahwa sistem hukum yang berbeda itu saling berkontestasi atau sebaliknya beradaptasi satu sama lain sehingga sistem hukum tertentu tidak dapat di pandang sebagai suatu entitas yang jelas batas – batasnya karena sudah berbaur satu sama lain. Dalam perspektif penulis buku ini, pada masa sekarang konsep hukum yang mengacu pada konsepsi normatieve dan cognitive ini digunakan kembali untuk menguraikan kerumitan dalam menjelaskan kerangka pikir pluralisme hukum. Seberapa jauh sistem hukum saling berdifusi dan berkompetisi dan terjadi perubahan sebagai konsekuensinya sangatlah bervariasi, tergantung pada konteks geografi dan ruang lingkup substansi hukum apa. Keragaman itu

akan ditemukan dalam hal institusi dan jenis – jenis aktor yang terlibat dan kekuatannya dalam saling pengaruh itu akan sangat berbeda. cluster atau bagian – bagian dari sistem –sistem hukum itu saling berkaitan menjadi saling bersentuhan, lebur, memberi respon satu sama lain dan berkombinasi sepanjang waktu. Maka menurut Penulis artikel ini argumen yang mengatakan bahwa lapangan pluralisme hukum terdiri dari sistem – sistem hukum yang dapat dibedakan batasnya, tidak laku lagi. terlalu banyak fragmentasi, overlap dan ketidakjelasan. batas antara hukum yang satu dan yang lain menjadi kabur dan hal ini merupakan proses yang dinamis. Pada akhirnya artikel tersebut secara konseptual menjelaskan ada beberapa pokok bahasan penting dalam pemikiran pluralisme hukum mutakhir. PERTAMA, hukum di pandang sangat memainkan peranan penting dalam globalisasi, karena hukum bersentuhan dengan domain sosial, politik, ekonomi. KEDUA, ada aktor – aktor yang menyebabkan hukum bergerak. mereka adalah para individu maupun organisasi yang sangat ” MOBILE ”. para aktor ini penting dalam proses globalisasi dan glokalisasi dan menjadi agen bagi terjadinya perubahan hukum. KETIGA, pemahaman globalisasi dalam konteks sejarah sangatlah penting, globalisasi hukum sudah terjadi sejak dahulu seiring dengan terjadinya penjajahan, penyiaran agama dan perdagangan pada masa silam. Sepanjang sejarah dilihat bagaimana hukum internasional dan traktat dapat menyebabkan hukum yang bergerak namun pada saat ini globalisasi dianggap memiliki karakter yang berbeda. KEEMPAT, perkembangan dari pemikiran di atas tidak hanya menyebabkan perlunya redefinisi terhadap pemikiran mengenai pluralisme hukum, tetapi juga memiliki signifikasi terhadap munculnya metodologi antropologi ” BARU ” ---------------------------------------------------------------------Hasil Diskusi Dari Pemaparan pokok pokok pemikiran artikel tersebut maka diskusan menyimpulkan bahwa telah terjadi kesalahpahaman yang dilakukan oleh penulis buku dalam melihat dan memahami realitas. Untuk dapat memahami hal tersebut maka diskusan menelurkan pembahasan yakni: Ruddy Agusyanto: 1. Kesalah pahaman atas konsep “social field” dan konsekuensinya Diskusan melihat Penulis melihat dan memahami realitas Hukum yang tak berbatas (borderless law) perbedaan dari proses globalisasi saat ini adalah adanya unsur-unsur hukum yang terdiri dari isi dari pasal dalam sistem hukum yang dianggap bergerak dalam menembus batas batas pada sistem hukum maka oleh penulis artikel hal ini dinyatakan sebagai borderless law sebagai salah satu karakter yang membedakan dari sebelumnya. Oleh karena itu, pluralisme hukum sebelumnya dimaknai berdasarkan keberagaman atas unsur2 hukum dari sistem hukum yang ada “ko-eksistensi antara berbagai sistem hukum dalam social field tertentu yang dikaji, dan sangat menonjolkan antara hukum negara di satu sisi, dan berbagai hukum rakyat di sisi lain (Griffiths, 1986) dimana para ahli hanya melakukan mapping terhadap keanekaragaman hukum dalam lapangan kajiannya, yaitu dengan menggolong-golongkan sistem hukum yang hidup bersama dalam suatu social field - hukum internasional, nasional dan internasional” -

Dalam hal ini dianggap sulit dan tidak lagi dapat menggolongkan sistem hukum berdasarkan sistem hukum internasional, nasional dan internasional karena unsur-unsur hukum di dalam masing-masing sistem hukum tersebut sudah saling mempengaruhi, saling pinjam/adopsi – sulit dibedakan lagi dalam lapangan sosial. Diskusan menganggap hal ini adalah sebuah kekeliruan yang berakibat fatal dalam memahami realitas, Penulis keliru dalam memahami realitas dengan mencetuskan konsep pluralisme hukum global. Sistem hukum adalah Sebuah sistem standarisasi norma-norma untuk mengatur tindakan warga masyarakat sebagai suatu kesatuan sosial, yang dibakukan secara formal hanya untuk menjadi alat dan tujuan dari sebuah pengendalian sosial. Penulis mengalami kegamangan dalam berbicara mengenai pluralisme hukum karena terkait dengan pemahamannya mengenai sistem hukum yang dikatikan dengan konsep lapangan sosial (social field) yang salah. Penulis melihat lapangan sosial sebagai kesatuan teritorial bukan sebagai sebagai konteks kehidupan. Sudah sejak dahulu kala beragam sistem hukum berada di dalam social field yang sama. Oleh karena itu, seorang warga dapat menjadi anggota lebih dari satu sistem hukum misalnya adalah sebagai warga sistem hukum local/adat, tetapi juga warga sistem hukum nasional. Dengan demikian definsi lapangan sosial tidak harus manusia untuk tinggal bersama dalam satu teritori tertentu. Melainkan adalah konteks kehidupan warganya (sebagai warga dari sistem hukum). Oleh karena itu pula, tidak menutup kemungkinan bahwa satu kasus hukum dapat diatur oleh (berada dibawa naungan/berada dalam wilayah) lebih dari satu sistem hukum. Hal ini terjadi akibat persinggungan konteks kehidupan ranah dua sistem hukum dalam satu realitas sosial yang sama. Maka, lapangan sosial atau social field bukanlah teritori geografis – tapi sebagai konteks sosial/kehidupan  beberapa sistem hukum yang ada dalam social field yang sama. Social field , bermakna bahwa seorang warga dapat menjadi anggota lebih dari satu sistem hukum misalnya adalah sebagai warga sistem hukum local/adat, tetapi juga warga sistem hukum nasional. Maka pembedaan pengelompokan hukum sudah selayaknya bukanlah berdasarkan isi dari pasal-pasal dari sistem hukum. Sebagai sebuah contoh kasus adalah aturan/norma yang mengatur “hak dan kewajiban orang tua terhadap anak – kewajiban orang tua mengasuh dan membesarkan anaknya minimal sampai sebelum mereka menikah/membentuk keluarga sendiri” - Hal ini sulit untuk dtelusuri berasal dari sistem hukum yang mana nilai nilai tersebut. Oleh karena itu, pluralism di atas memang bisa dibedakan antara hukum internasional, nasional, local/adat karena sistem hukum tsb memang mengatur atau berlaku bagi kesatuan sosial yang berbeda – berdasarkan konteks-konteks kehidupan yang ada dalam masyarakat ybs. Sehingga metodologi multi spatial dan multi sited yang ditawarkan oleh penulis sebenarnya masih tetap dalam pengertian yang “konvensional”. Multi spasial dan Multi sited sebenarnya (tanpa disadari) masih diartikan sebagai ruang sosial yang dibatasi oleh batasan teritori (tidak dipahami berdasarkan konteks-konteks kehidupan para actor yang menjadi warga dari sistem-sistem hukum ybs) seperti pernyataan penulis di bawah ini: “Konteks hukumnya mungkin jelas (hukum negara,hukum agama, hukum adat, atau hukum kebiasaan) tetapi keberadaan sistem hukum secara bersama-sama itu menunjukkan adanya saling difusi, kompetisi, dan tentu saja perubahan sepanjang waktu” 2. Kontradiksi dalam asumsi dasar - Perubahan adalah asumsi dasar dalam globalisasi di era informasi – dan konsekuensinya. Kesadaran bahwa saat ini, “perubahan”yang terjadi sangat cepat dan “terus-menerus” karena mobilitas akibat perkembangan teknologi komunikasi (era informasi – internet)  Mobile people Mobile Law. Artinya, interaksi antar warga dari berbagai sistem hukum juga semakin intens. Maka -

secara tak langsung juga terjadi persinggungan aturan/normanya) dari masing sistem hukum.

konteks-konteks

kehidupan

(bersama

Ada perbedaan antara era informasi dan sebelumnya, yaitu perubahan tak sedahsyat saat ini. Maka, sebuah “keteraturan” apapun juga menjadi “relative singkat” (durasi semakin pendek). Sistem hukum (internasional, nasional dan local) tanpa sadar diasumsikan oleh penulis sebagai “relative stabil” padahal dengan eksplisit penulis telah mengatakan bahwa hal tsb sudah tidak demikian, mereka sudah saling pinjam, saling mempengaruhi (kompetisi kepentingan) dst sehingga yang namanya sistem hukum Indonesia adalah tetap system hukum Indonesia meskipun isi dari pasal-pasal hukumnya terpengaruhi atau ambil/pinjam dari isi pasal-pasal hukum dari sistem hukum adat, internasional dst. Terjadi kontradiksi dari asumsi dasar yang dibangun penulis dalam memahami pluralism hukum dari perspektif globalisasi. Selain itu, sistem hukum sebelum era globalisasi (lebih tepatnya “era informasi”) juga dinamis, dalam arti saling menyesuaikan dengan dinamika masyarakat atau warganya. Konsekuensi selanjutnya - konteks hukum yang dimaksud adalah hukum negara,hukum agama, hukum adat, atau hukum kebiasaan – yang masih “konvensional” akibatnya adalah tersesat sewaktu mendefinisikan ‘batas-batas’ sebuah sistem hukum berdasarkan unsur-unsur hukum yang membentuk sebuah sistem hukum. Selanjiutnya, berbicara tentang “borderless state” dan “borderless law” tentu menjadi sangat ironis, sebab secara paradoksial penulis justru menyadari bahwa “batas-batas asal usul – etnik dan keagamaan masih relevan dibandingkan dengan batas-batas negara atau sistem hukum” di era globalisasi saat ini. Globalisasi adalah “dua arah” yakni dari berbagai sistem hukum menuju berbagai sistem hukum. Penulis masih terjebak melihat proses globalisasi dalam pengertian arus “searah”, yaitu dominasi negara kuat menuju negara-negara yang lebih lemah meskipun penulis sadar bahwa dalam proses globalisasi terjadi glokalisasi juga sehingga memaknai terjadinya ekspansi hegemoni dianggap sebagai proses satu arah, yaitu dari yang kuat menuju ke yang lebih lemah (sebelum era informasi). Terlihat sewaktu menjelaskan ekspansi hegemoni sebagai karakteristik globalisasi sebelum era informasi. Interaksi selayaknya menjadi kerangka yang utama. Dengan memfokuskan diri pada unsur hukum, penulis akhirnya lupa melihat interaksi antar kepentingan dan kekuasaan yang mengakibatkan perubahan. Perubahan terjadi bukan akibat adanya interaksi antar actor yang semakin “mobile” yang membawa unsur hukum, tetapi interaksi para actor yang membawa konteks kehidupannya (kepentingan ekonomi, politik, budaya dsb) sehingga terjadi saling tawar (negosiasi aturan hukum – memanipulasi relasi power) demi tercapainya tujuan-tujuan yang diperjuangkan oleh para aktor tersebut. Hal ini kontradiksi dengan pernyataan akan pentingnya “interaksi antara hukum dengan kepentingan ekonomi, politik, kekuasaan dll seperti yang telah diungkapkan penulis: “Karena Hukum mengadung konsepsi normative dan kognitif yang multi tafsir tergantung pada banyak kepentingan dan relasi kekuasaan …” Mobile People Mobile Law pentingnya melihat mata rantai interaksi yang menghubungkan para actor tranasional, nasional dan local yang melakukan negosiasi dalam arena multi sited, dan didasarkan pada relasi2 kekuasaan. Bgm relasi kekuasaan itu menstrukturkan interaksi, dan bgm interaksi diproduksi dan diubah oleh aktor2 tsb (benda Backmann, 2005) -

Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa penulis masih mengalami “kebingungan” dalam memahami dan menjelaskan realitas yang terjadi di era informasi ini. Globalisasi sudah terjadi sejak sebelum era informasi. Hal ini juga ditegaskan oleh penulis. Konsekuensi secara ilmiah adalah karakteristik dari globalisasi yang disebutkan di era informasi saat ini juga berlaku sebelum era informasi. Permasalahannya terletak pada “kegamangan paradigma” yang digunakan untuk menjelaskan dan memahami globalisasi di era informasi ini, yang mungkin akibat perkembangan teknologi informasi saat ini sehingga “interaksi” tidak lagi terkendala oleh batasan ruang (geografis) dan kendala waktu. Jarak ruang dan waktu semakin “ditiadakan” oleh teknologi informasi sehingga interaksi semakin intens dan konteks kehidupan menjadi semakin kompleks (konteks kehidupan seseorang semakin kompleks; seseorang bisa menjadi berbagai anggota berbagai satuan sosial – berikut dg konsekuensi sistem hukumnya). Di era informasi “perubahan” menjadi semakin cepat dan terus-menerus (durasi keteraturan apapun menjadi relatif singkat) – perubahan menjadi bagian dalam proses kehidupan sosial manusia, tak terkecuali dalam konteks hukum. Dengan demikian, tidak seharusnya penulis melihat pluralism hukum dan perubahan melalui unsur2 hukum yang bergerak; dan tidak perlu membedakan realitas pluralism dari perspektif globalisasi sebab globalisasi yang dimaksud sebenarnya adalah “era informasi”. Maisa Yudhoyono 1. Borderless tidak ada, borderless adalah hanya merupakan strategi-strategi utama negara dunai pertama untuk mendapatkan sumber daya. Borderless adalah konsep yang muncul seiring dengan berakhirnya perang dingin serta dimulainya kampanye globalisasi menuju negara dunia Ketiga. Kampanye Borderless ini dalam ranah antroplogi dikemukakan oleh pakar pakar Globalisasi diantaranya adalah karya karya etnografi dari seorang antropolog yakni Arjun Appadurai. Hal ini Menjadi sangat menarik sebab pikiran pikiran borderless yang dikemukakan dan di dengungdengungkan oleh negara kuat justru digunakan untuk merambah negara yang lemah. Hal ini dapat dilihat misalnya ketika batas batas dipaksakan “cair” diberlakukan pada negara yang lemah ternyata negara kuat tetap memberlakukan batasan batasan tertentu yang diskriminatif ketika orang orang negara yang lemah hendak masuk memasuki negaranya : Contoh utamanya adalah ketika seorang dari Indonesia hendak memasuki Amerika Serikat tentu akan menghadapi pemeriksaan yang sangat ketat oleh pihak yang berwenang, Namun demikian hal sebaliknya tidak berlaku di Indonesia hal ini menunjukan bahwa amerika menerapkan batas batas terhadap Indonesia. 2. Dari uraian diatas fenomena borderless state maupun borderless law dapat dipandang sebagai konsep yang digunakan untuk mendominasi suatu negara yang kuat terhadap negara negara yang lemah. Dengan mendukung konsep konsep semacam borderless state dan borderless law justru semakin menguatkan kita terhadap inferioritas kita. Bapak Yulizar Syafri 1. Faktor utama dari kesalahan penulis adalah dalam melihat aspek boderless terkait dengan masalah masalah hukum yang berjenjang. Dalam konteks saat ini Sistem hukum lokal, hukum nasional dan hukum internasonal merupakan sistem hukum yang pendekatanya sejajar tidak seperti logika penulis yang melihat ini adalah sistem hukum yang berjenjang (lokal, daerah dan nasional) sebagai konsekuensinya ketika arus informasi semakin mengalami percepatan maka penulis mengalami kebingungan

dalam memahami logika hukum yang berjenjang. Pada hakikatnya hukum yang dimaksud penulis adalah hukum yang sejajar sehingga relasinya bukan sebagai dominasi berjenjang tetapi sebuah pilihan dalam menggunakan hukum -tersebut dalam menyelesaikan suatu permasalahan, dengan menggunakan bentuk-bentuk relasinya yang sarat akan kepentingan sehingga relasi yang digunakan dalam hubungan tersebut adalah relasi power. Permisalan adalah sengketa seseorang membunuh maka penyelesaiannya dapat dilakukan melalui hukum agama, hukum daerah atau adat, hukum nasional ataupun hukum internasional. Pemilihanaspek aspek yang digunakan di dalam hukum tersebut berdasarkan negosiasi dan relasi power sehingga batasan batasannya sangat jelas hendak dibawa kemana penyelesaian tersebut diselesaikan melalui keberlakuan hukum yang mana apakah melalui koridor agama,adat,negara ataukah aturan internasional.

2. Penulis secara tersirat melihat Relasi Power ala Foucault dengan menggunakan elemen elemen yang digunakan oleh foucault yakni adalah elemen elemen kultur, elemen struktur.. namun demikian karena bermain dalam kerangka pemikiran hukum sebagai sistem aturan hukum penulis mengalami kebingungan besar sehingga borderless sebagai konsep “akomodatif” digunakan untuk akomodasi kebingungan penulis yang secara tersirat berniat mengkaji fenomena hukum dalam relasi power tersebut. Hal ini dapat dilihat terhadap konsep konsep yang digunakan oleh penulis yang tampaknya ingin menggali mengenai relasi power yang bertuju pada elemen struktur dan kultur, dimana penulis hendak mengangkat relasi kekuasaan dan hukum adalah sesuatu yang sangat berpengaruh dalam mempengaruhi unsur sosial,politik dan ekonomi. Padahal dalam realitasnya justru Hukum adalah alat “aturan” yang digunakan oleh relasi power tersebut dalam mendefinisikan situasi sosial politik dan ekonomi sehingga Bukan hukum yang berpengaruh dalam melakukan definisi situasi tetapi relasi power yang menggunakan Hukum tersebut.

3. Hukum tentu saja tidak bebas nilai serta dalam pemilihan aturannya bersifat powerful Hal yang dimaksud dengan powerful adalah tidak seluruh orang dapat mengakses dan menegosiasikan aturan aturan tersebut hanya orang orang tertentu saja yang dapat mengakses dan melakukan negosiasi terhadap aturan.

4. Globalisasi sudah ada sejak dahulu, proses yang kita alami saat ini hanyalah arus informasi yang dipercepat oleh karena itu penulis kebingungan dalam memahami perkembangan arus informasi karena penulis melihat kajian pluralisme hukum dari aspek teritorial maka sebenarnya hal yang dikaji oleh penulis selayaknya bukanlah pluralisme hukum teteapi suatu kajian hukum sebagai alternatif.

Irfan Nugraha 1. Contoh yang sangat kontradiktif menunjukan kekhilafan dari seorang penulis dalam merefleksikan pikiran di dalam artikel tersebut misalnya mengatakan borderless

padahal penulis masih membuat batasan terhadap pengakuan hukum hukum lokal menjaid bukti ketidak konsistenan penulis . M. Reza Elkaff 1. Pentingnya untuk melihat permasalahan berdasarkan konteks dan konten dalam realitas persoalan maka dari hal itu batasa batasan social field yang dibuat oleh penulis dalam melihat hukum sebenarnya bukanlah batas batas kewilayahan Kesimpulan: Pluralisme hukum dalam perspektif global, suatu Kegamangan memahami realitas? Membahas artikel Pluralisme hukum dalam perspektif global dalam buku Hukumy ang bergerak karya Ibu Sulistyowati Irianto menyisakan tanda tanya besar yang cukup membuat saya penasaran untuk lebih jauh mendalaminya. Secara khusus artikel tersebut menekankan lebih kurang terhadap pandangan keberlanjutan paradigma antropologi Hukum ke depan yang akan bersinggungan dalam arus “globalisasi” demikian kiranya menurut artikel tersebut. Artikel tersebut hendak menegaskan kebaruan dari pandangan Antropologi hukum bahwa kemunculuannya yang pada awalnya mengkritik para ahli hukum yang meninjau hukum secara yuridis-normatif.makapara ahli hukum tersebut melihat hukum hanya dipersepsikan sebatas UndangUndang. Antropologi Hukum lahir dan berkembang dari akarnya untuk mengkritisi Studi hukum yang secara yuridis-normatif ini tidak memberi gambaran mengenai apa yang sesungguhnya terjadi dengan hukum itu dalam kenyataan empiris,dimulai dari situlah Antropologi hukum menarik kajiannya sehingga melahirkan istilah pluralisme hukum. Pluralisme hukum secara umum didefinisikan sebagai situasi dimana terdapat dua atau lebih sistem hukum yang berada dalam suatu lapangan sosial (social field) yang ditafsirkan sebagai kesatuan teritorial bukan konteks kehidupan sosial dalam bermasyarakat. Sehingga ketika arus informasi muncul dengan deras yang oleh penulis dinyatakan oleh penulis sebagai globalisasi munculah kegamangan-kegamangan karena pemetaan yang dilakukan oleh penulis berdasarkan sistem hokum dan kesatuan teritorialnya maka penulis bingung dalam melihat Hukum daerah, hukum nasional dan hukum Internasional . Pemahaman pluralisme ini erat kaitannya dengan pusat perhatian dalam studi antropologi hukum modern yakni adalah para aktor, masalah warga masyarakat yang memiliki kemampuan untuk menciptakan aturan dan mekanisme keadilannya sendiri. Permasalahan yang muncul ketika studi antropologi hukum dalam konteks kekinian justru muncul dan membahas permasalahan pluralisme hukum dalam perspektif global, Dimana terjadi kebimbangan kebimbangan dalam mengkaji bagaimana keadaan ko-eksistensi antara berbagai peraturan di tingkat nasional dan lokal dalam suatu arena sosial tertentu justru dapat bercampur, di sisi lain munculnya anggapan akan keberadaan bagaimana hukum internasional dan transnasional itu semakin memiliki dampak yang kuat serta keberadaan semakin rumitnya konstelasi dan keberagaman sistem hukum yang menjadi kebingungan yang diakibatkan kesalahan penulis dalam memahami social field. Pemahaman mengenai Social field seharusnya dimaknaki sebagai satu kesatuan konteks sosial bukan kesatuan yang terikat pada teritorial, Pemahaman yang salah ini pada gilirannya memicu kemunculan kegamangan paradigma dalam melihat fenomena ini. Asumsi para antropolog pluralisme hukum yang melihat bahwa Perjumpaan dan saling adopsi yang sebenarnya merupakan fenomena biasa, terkadang dianggap juga sebagai kontestasi di antara berbagai system hukum ini menyebabkan hukum terus menerus bergerak dalam mengikuti pergerakan masyarakat menjadi sesuatu yang dipertanyakan, karena semenjak dahulu hukum dihasilkan berdasarkan pergerakan dan kebutuhan masyarakat.

Permasalahan tersebut dapat dipahami ketika para Antropolog Hukum menggunakan cara pandang yang salah yakni adalah sistem hukum sebagai kerangka analisis bukan menggunakan Interaksi yamg terjadi di masyarakat sebagai unit analisa. Sistem Hukum yang sebenarnbya merupakan aturan main yang dihasilkan dari kebutuhan dan berdasarkan kesepakatan bersama sebenarnya bersifat cair dan memang sudah sejak dahulu kala terbiasa berjumpa dan dipengaruhin dengan aturan (hukum) lain, berjalan berbarengan dengan aturan (hukum) yang lain bahkan mempengaruhi aturan lain. Penulis terjebak dengan “globalisasi” suatu proses yang sebetulnya hanyalah percepatan arus informasi belaka bahkan diakui oleh penulis sudah ada semenjak dahulu kala, Maka bukanlah menjadi alasan untuk menyatakan akibat arus informasi kini hukum dikenal sebagai “Borderless law” atau hukum yang tidak terbatas, batasan batasan hukum nasional daerah dan internasional dianggap kabur tentu saja seolah olah benar bilamana dilihat sebagai kerangka sistem hukum (kerangka aturan aturan hukum). Tetapi bilamana dilihat dalam kerangka interaksi yang terjadi dalam proses penentuan aturan atau disebut juga sebagai konteks sosial maka akan menjadi jelas bagaimana pengelompokan hukum tersebut dapat berlaku. Dalam hal ini hukum daerah, hukum nasional dan hukum internasional berdiri sejajar bukan bersifat dominatif berdasarkan sistem sosial dan teritorial seperti logika sistem hukum penulis, namun berdasarkan interaksi dan relasi power akan kesepakatan terhadap jenis jenis hukum yang dipilih dan digunakan maka batasan batasannya jelas apakah hendak melihat dari sisi hukum lokal,nasional ataupun internasional . Contoh kasus: Seseorang melakukan tindak pembunuhan terhadap orang lain, ketiga sistim hukum yakni hukum daerah, hukum nasional dan hukum internasional melarang aktvitas pembunuhan, bilamana dilihat dari segi pendekatan “borderless law” seolah olah akan kabur namun batasan sangat jelas yakni jenis hukum apakah yang dipilih dalam menyelesaikan perkara tersebut, misalnya adalah hukum daerah maka batasan batasan hukum daerah yang akan digunakan dalam menyelesaikan perkara tersebut tentu hukum nasional dan hukum internasional tidak digunakan. Sangat disayangkan karena yang dilihat oleh Antropologi Hukum sebagai subyek analisa adalah Sistem aturannya, bukan posisi Interaksi di dalam masyarakat dalam menghasilkan kebutuhan dan kesepakatan di mana hukum tersebut berlaku. Bilamana yang dilihat adalah dalam hal interaksinya maka niscaya akan jelas bagaimana negosiasi dan relasi power dalam pemberlakuan berlakunya suatu hukum dapat disepakati apakah hal tersebut adalah aturan daerah, aturan nasional atau aturan internasional. Pendekatan memahami lapangan sosial (social field) menjadi tolak ukur kesalahan dari penulis, kerangka borderless state dan borderless law tentu tidak dapat digunakan, menjadi sangat ironis bila hal ini justru diterapkan dalam pembahasan mengenai Hukum yang sentral utamanya membahas mengenai pengaturan dan kesatuan sosial. Pendekatan borderless sudah tidak dapat digunakan lagi, Bahkan Francis Fukuyama saja seorang intelektual politik yang merupakan salah satu pencetus awal ide ide borderless state kini di dalam bukunya yang terbaru nation building: beyond afghanistan and Iraq sudah bertobat dan tidak mempersoalkan borderless lagi dan kembali kepada keteraturan antara batasan batasan atau border. Analisa di atas semakin menjelaskan bahwa ide keterbukaan terhadap batas batas sosial budaya adalah sesuatu yang muskil apalagi diterapkan dalam ranah hukum yang merupakan pembuat aturan dan batasan batasan untuk konteks kehidupan sosial. Dari uraian tersebut maka dapat disimpulkan bahwa: 1. Penulis memiliki kesalahan yang sangat fatal yakni adalah kesalahan dalam menafsirkan boderless, menganggap masalah hukum yang berjenjang antara daerah,nasional dan internasional penulis tidak menggunakan pendekatan yang sejajar (kesetaraan) bukan sebagai dominasi tetapi sebuah pilihan dalam menggunakan hukum dan sudah barang tentu hukum memiliki bentuk relasi yang kuat yakni bentuknya adalah relasi power.Maka pemilihan sistem hukum dalam menyelesaikan sebuah masalah tidak ada relasinya dengan borderless state ataupun borderless law – tapi masalah kepentingan dan power 2. Penulis secara tersirat hendak melihat relasi Power dengan menggunakan analisis Foucault yakni dalam menggunakan kerangka Kultur,struktur namun dalam menggunakannya penulis kebingungan dalam melihat lapangan sosial maka konsepsi borderless digunakan untuk akomodasi kebingungan penulis tersebut.

3. Hukum tentu tidak bebas nilai, pemilihan aturan dan power tentu tidak dapat diaplikasikan oleh sembarang orang hal ini justru membuktikan ada batas batas tertentu dalam pelaksanaan hukum. 4. Konsep Globalisasi ternyata tidak memiliki kaitan dalam ruang lingkup kajian penulis... sehingga yang dimaksud oleh penulis bukan pluralisme hukum tetapi adalah hukum sebagai alternatif.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->