P. 1
PRILAKU+KONSUMSI+ISLAMI

PRILAKU+KONSUMSI+ISLAMI

|Views: 280|Likes:
Published by scorrpions

More info:

Published by: scorrpions on Aug 17, 2010
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

12/01/2012

pdf

text

original

PRILAKU KONSUMSI ISLAMI1 OLEH : NURUL HUDA2

PENDAHULUAN Keinginan untuk memenuhi kebutuhan hidup merupakan naluri manusia. Sejak kecil, bahkan ketika baru lahir, manusia sudah menyatakan keinginan untuk memenuhi kebutuhannya dengan berbagai cara, misalnya dengan menangis untuk menunjukkan bahwa seorang bayi lapar dan ingin minum susu dari ibunya. Semakin besar dan akhirnya dewasa, keinginan dan kebutuhan seorang manusia akan terus meningkat dan mencapai puncaknya pada usia tertentu untuk seterusnya menurun hingga seseorang meninggal dunia. Teori Perilaku konsumen (consumer behavior) mempelajari bagaimana manusia memilih di antara berbagai pilihan yang dihadapinya dengan memanfaatkan sumberdaya (resources) yang dimilikinya. Teori perilaku konsumen rasional dalam paradigma ekonomi konvensional didasari pada prinsip-prinsip dasar utilitarianisme. Diprakarsai oleh Bentham yang mengatakan bahwa secara umum tidak seorangpun dapat mengetahui apa yang baik untuk kepentingan dirinya kecuali orang itu sendiri. Dengan demikian pembatasan terhadap kebebasan individu, baik oleh individu lain maupun oleh penguasa, adalah kejahatan dan harus ada alasan kuat untuk melakukannya. Oleh pengikutnya, John Stuart Mill dalam buku On Liberty yang terbit pada 1859, paham ini dipertajam dengan mengungkapkan konsep ‘freedom of action’ sebagai pernyataan dari kebebasan-kebebasan dasar manusia. Menurut Mill, campur tangan negara di dalam masyarakat manapun harus diusahakan seminimum mungkin dan campur tangan yang merintangi kemajuan manusia merupakan campir tangan terhadap kebebasan-kebebasan dasar manusia, dan karena itu harus dihentikan. Lebih jauh Mill berpendapat bahwa setiap orang di dalam masyarakat harus bebas untuk mengejar kepentingannya dengan cara yang dipilihnya sendiri, namun kebebasan
1

Makalah disampaikan dalam diskusi bulanan Fakultas Ekonomi Universitas Yarsi tanggal 6 Nopember 2006 2 Dosen Tetap Fakultas Ekonomi Universitas Yarsi

Kelangkaan dan terbatasnya pendapatan. Semakin banyak jumlah barang dikonsumsi.000. Pengalaman tersebut akan menjadi informasi bagi konsumen yang akan mempengaruhi keputusan konsumsinya mengenai kopi di masa yang akan datang. Dasar filosofis tersebut melatarbelakangi analisa mengenai perilaku konsumen dalam teori ekonomi konvensional. Maka jumlah konsumsi yang optimal adalah jumlah di mana MU = P. konsumen akan memilih yang biayanya lebih kecil. 2. Jika untuk setiap tambahan barang diperlukan biaya sebesar harga barang tersebut (P). Setiap barang dapat disubstitusi dengan barang lain. Agar pengeluaran senantiasa berada di anggaran yang sudah ditetapkan.. bila untuk memperoleh dua jenis barang dibutuhkan biaya yang sama. Adanya kelangkaan dan terbatasnya pendapatan memaksa orang menentukan pilihan. . Beberapa prinsip dasar dalam analisa perilaku konsumen adalah: 1. Saat membeli suatu barang. maka konsumen akan memilih barang yang memberi manfaat lebih besar. maka konsumen akan berhenti membeli barang tersebut manakala tambahan manfaat yang diperolehnya (MU) sama besar dengan tambahan biaya yang harus dikeluarkan.seseorang untuk bertindak itu dibatasi oleh kebebasan orang lain.per gelasnya.000. ternyata terlalu pahit untuk harga Rp. 3.per cangkir. Tidak selamanya konsumen dapat memperkirakan manfaat dengan tepat. Jika dua barang memberi manfaat yang sama. misalnya. 3. Di sisi lain. Konsumen mampu membandingkan biaya dengan manfaat. Konsumen tunduk kepada hukum Berkurangnya Tambahan Kepuasan (the Law of Diminishing Marginal Utility).. artinya kebebasan untuk bertindak itu tidak boleh mendatangkan kerugian bagi orang lain. 4. bisa jadi manfaat yang diperoleh tidak sesuai dengan harga yang harus dibayarkan: segelas kopi Starsbuck. Lebih nikmat kopi tubruk di warung kopi yang Rp. semakin kecil tambahan kepuasan yang dihasilkan. 5. meningkatkan konsumsi suatu barang atau jasa harus disertai dengan pengurangan konsumsi pada barang atau jasa yang lain. 40. Dengan demikian konsumen dapat memperoleh kepuasan dengan berbagai cara.

Maka kebun itu menghasilkan buahnya dua kali lipat. (QS.Teori perilaku konsumen yang dibangun berdasarkan syariah Islam. sedangkan konsumsi duniawi adalah present consumption. Kebajikan.265) 265. Keyakinan akan adanya hari kiamat dan kehidupan akhirat. kebenaran dan ketaqwaan kepada Allah merupakan kunci moralitas Islam. Konsep sukses dalam kehidupan seorang muslim diukur dengan moral agama Islam. Maka hujan gerimis (pun memadai). jika diusahakan dan dimanfaatkan dengan benar. 2. seperti sebuah kebun yang terletak di dataran Tinggi yang disiram oleh hujan lebat. PERMASALAHAN Tulisan ini akan membahas lebih jauh tentang bagaimana konsep teori prilaku konsumen dalam pendekatan ekonomi mikro Islam . Perbedaan ini menyagkut nilai dasar yang menjadi fondasi teori. jika hujan lebat tidak menyiraminya.2. dan Allah Maha melihat apa yang kamu perbuat. prinsip ini mengarahkan seorang konsumen untuk mengutamakan konsumsi untuk akhirat daripada dunia. dan bukan dengan jumlah kekayaan yang dimiliki. hingga teknik pilihan dan alokasi anggaran untuk berkonsumsi. Harta merupakan alat untuk mencapai tujuan hidup. Kebajikan dan kebenaran dapat dicapai dengan prilaku yang baik dan bermanfaat bagi kehidupan dan menjauhkan diri dari kejahatan. motif dan tujuan konsumsi. Dan perumpamaan orang-orang yang membelanjakan hartanya Karena mencari keridhaan Allah dan untuk keteguhan jiwa mereka. Mengutamakan konsumsi untuk ibadah daripada konsumsi duniawi. Kedudukan harta merupakan anugrah Allah dan bukan sesuatu yang dengan sendirinya bersifat buruk (sehingga harus dijauhi secara berlebihan). memiliki perbedaan yang mendasar dengan teori konvensional. Ada tiga nilai dasar yang menjadi fondasi bagi perilaku konsumsi masyarakat muslim : 1. 3. Semakin tinggi moralitas semakin tinggi pula kesuksesan yang dicapai. Konsumsi untuk ibadah merupakan future consumption (karena terdapat balasan surga di akherat).

daging babi. dan janganlah berlebih-lebihan[535]. Firman Allah dalam QS : Al-Baqarah : 173 173. dan binatang yang (ketika disembelih) disebut (nama) selain Allah[108]. [108] Haram juga menurut ayat Ini daging yang berasal dari sembelihan yang menyebut nama Allah tetapi disebut pula nama selain Allah. Prinsip Kesederhanaan. Maka tidak ada dosa baginya. Prinsip Keadilan.PEMBAHASAN Prinsip Konsumsi Dalam Islam Menurut Manan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orangorang yang berlebih-lebihan. tidak kotor ataupun menjijikkan sehingga merusak selera. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Prinsip Kebersihan. prinsip ini mengatur perilaku manusia mengenai makan dan minuman yang tidak berlebihan Firman Allah dalam QS : Al-A’raaf :31 31. makanan harus baik dan cocok untuk dimakan. prinsip ini mengandung arti ganda mengenai mencari rizki yang halal dan tidak dilarang hukum. pakailah pakaianmu yang indah di setiap (memasuki) mesjid[534]. Sesungguhnya Allah Hanya mengharamkan bagimu bangkai. 3. [534] Maksudnya: tiap-tiap akan mengerjakan sembahyang atau thawaf keliling ka'bah atau ibadat-ibadat yang lain. makan dan minumlah. terkait dengan moral dan spritual (Mempersekutukan tuhan) 2. darah. Pelarangan dilakukan karena berkaitan dengan hewan yang dimaksud berbahaya bagi tubuh dan tentunya berbahaya bagi jiwa . . tetapi barangsiapa dalam keadaan terpaksa (memakannya) sedang dia tidak menginginkannya dan tidak (pula) melampaui batas. [535] Maksudnya: janganlah melampaui batas yang dibutuhkan oleh tubuh dan jangan pula melampaui batas-batas makanan yang dihalalkan. Hai anak Adam. ada 5 prinsip konsumsi dalam islam : 1.

seorang muslim diajarkan untuk menyebut nama Allah sebelum makan dan menyatakan terima kasih kepadanya setelah makan Konsep Maslahah Dalam Prilaku Konsumen Islami Syariah Islam menginginkan manusia mencapai dan memelihara kesejahteraannya.4. maslahah adalah sifat atau kemampuan barang dan jasa yang mendukung elemen-elemen dan tujuan dasar dari kehidupan manusia di muka bumi ini (Khan dan Ghifari. Firman Allah dalam QS : Al-Maidah : 96 96. termasuk juga dalam pengertian laut disini ialah: sungai. Menurut Imam Shatibi. selama kamu dalam ihram. keyakinan (al-din). danau. properti atau harta benda (al mal). intelektual (alaql). Dihalalkan bagimu binatang buruan laut[442] dan makanan (yang berasal) dari laut[443] sebagai makanan yang lezat bagimu. 5. Ada lima elemen dasar menurut beliau. kolam dan sebagainya. dan bertakwalah kepada Allah yang kepada-Nyalah kamu akan dikumpulkan. Imam Shatibi menggunakan istilah ‘maslahah’. [442] Maksudnya: binatang buruan laut yang diperoleh dengan jalan usaha seperti mengail. dan bagi orang-orang yang dalam perjalanan. Karena Telah mati terapung atau terdampar dipantai dan sebagainya. Prinsip kemurahan hati. dan diharamkan atasmu (menangkap) binatang buruan darat. dan keluarga atau keturunan (al-nasl). memukat dan sebagainya. yang maknanya lebih luas dari sekadar utility atau kepuasan dalam terminologi ekonomi konvensional. yakni: kehidupan atau jiwa (al-nafs). Prinsip moralitas. [443] Maksudnya: ikan atau binatang laut yang diperoleh dengan mudah. Semua barang dan jasa yang mendukung . dengan mentaati perintah Islam tidak ada bahaya maupun dosa ketika kita memakan dan meminum makanan halal yang disediakan Tuhannya. 1992). Maslahah merupakan tujuan hukum syara’ yang paling utama.

yaitu keadaan optimal di mana seseorang tidak dapat meningkatkan tingkat kepuasan atau kesejahteraannya tanpa menyebabkan penurunan kepuasan atau kesejahteraan orang lain. Adapun sifat-sifat maslahah sebagai berikut: Maslahah bersifat subyektif dalam arti bahwa setiap individu menjadi hakim bagi masing-masing dalam menentukan apakah suatu perbuatan merupakan suatu maslahah atau bukan bagi dirinya. yang memiliki maslahah bagi umat manusia. itulah yang disebut maslahah. Maslahah orang per seorang akan konsisten dengan maslahah orang banyak. bila seseorang mempertimbangkan bunga bank memberi maslahah bagi diri dan usahanya. Mencukupi kebutuhan – dan bukan memenuhi kepuasan/keinginan – adalah tujuan dari aktivitas ekonomi Islami. dan usaha pencapaian tujuan itu adalah salah satu kewajiban dalam beragama. disebut ‘needs’ atau kebutuhan. maka penilaian individu tersebut menjadi gugur. . maupun dalam pertukaran dan distribusi. namun syariah telah menetapkan keharaman bunga bank. konsumsi. Konsep maslahah mendasari semua aktivitas ekonomi dalam masyarakat. Misalnya. Tujuannya bukan hanya kepuasan di dunia tapi juga kesejahteraan di akhirat. Kegiatan-kegiatan ekonomi meliputi produksi. Namun. konsumsi dan pertukaran hyang menyangkut maslahah tersebut harus dikerjakan sebagai suatu ‘religious duty‘ atau ibadah.tercapainya dan terpeliharanya kelima elemen tersebut di atas pada setiap individu. baik itu produksi.maslahah dapat dibagi dua jenis: pertama. berbeda dengan konsep utility. Dengan demikian seorang individu Islam akan memiliki dua jenis pilihan: • Berapa bagian pendapatannya yang akan dialokasikan untuk maslahah jenis pertama dan berapa untuk maslahah jenis kedua. Dan semua kebutuhan ini harus dipenuhi. maslahah terhadap elemen-elemen yang menyangkut kehidupan dunia dan akhirat. Berdasarkan kelima elemen di atas. dan kedua: maslahah terhadap elemen-elemen yang menyangkut hanya kehidupan akhirat. Konsep ini sangat berbeda dengan konsep Pareto Optimum. Semua aktivitas tersebut. kriteria maslahah telah ditetapkan oleh syariah dan sifatnya mengikat bagi semua individu.

keturunan dan keluarga serta harta benda. keindahan dan simplifikasi dari daruriyyah dan hajiyyah. kita perlu membandingkan tingkatan-tingkatan tujuan hukum syara’ yakni antara daruriyyah.• Bagaimana memilih di dalam maslahah jenis pertama: berapa bagian pendapatannya yang akan dialokasikan untuk memenuhi kebutuhan kehidupan dunia (dalam rangka mencapai ‘kepuasan’ di akhirat) dan berapa bagian untuk kebutuhan akhirat. . keyakinan atau agama. konsumen Islam. Penjelasan dari masing-masing tingkatan itu sebagai berikut: Daruriyyah : Tujuan daruriyyah merupakan tujuan yang harus ada dan mendasar bagi penciptaan kesejahteraan di dunia dan akhirat. yang timbul adalah kerusakan (fasad) di dunia dan kerugian yang nyata di akhirat. Tahsiniyyah : syariah menghendaki kehidupan yang indah dan nyaman di dalamnya. akan mengkonsumsi barang lebih sedikit daripada nonmuslim. maka tidak akan ada kedamaian. Pada tingkat pendapatan tertentu. Tidak semua barang/jasa yang memberikan kepuasan/utility mengandung maslahah di dalamnya. Misalnya dibolehkannya memakai baju yang nyaman dan indah. Hajiyyah : Syari’ah bertujuan memudahkan kehidupan dan menghilangkan kesempitan. Hal yang membatasinya adalah konsep maslahah tersebut di atas. Jika tujuan daruriyyah diabaikan. karena memiliki alokasi untuk hal-hal yang menyangkut akhirat. sehingga tidak semua barang/jasa dapat dan layak dikonsumsi oleh umat Islam. akal/intelektual. tahsiniyyah dan hajiyyah. Hukum syara’ dalam kategori ini tidak dimaksudkan untuk memelihara lima hal pokok tadi melainkan menghilangkan kesempitan dan berhati-hati terhadap lima hal pokok tersebut. Dalam membandingkan konsep ‘kepuasan’ dengan ‘pemenuhan kebutuhan’ (yang terkandung di dalamnya maslahah). Terdapat beberapa provisi dalam syariah yang dimaksudkan untuk mencapai pemanfaatan yang lebih baik. yaitu mencakup terpeliharanya lima elemen dasar kehidupan yakni jiwa.

kita boleh saja mengabaikannya.” Kalau nasihat itu datang dari seorang yang miskin. lalu bagaimana sesungguhnya aplikasi teori perilaku konsumen Islami? Marilah kita cermati nasihat sahabat Abu Bakar as-Shidiq: “Sesungguhnya aku membenci penghuni rumah tangga yang membelanjakan atau menghabiskan bekal untuk beberapa hari. Islam juga memerintahkan agar harta dikeluarkan untuk tujuan yang baik dan bermanfaat. Banyak barang-barang tertentu yang semestinya belum layak dikonsumsi oleh bangsa ini. kuncinya adalah bagaimana kita mengatur anggaran pendapatan dan belanja rumah tangga. Lain halnya bila nasihat itu datang dari seorang sekaya Abu Bakar. telah diperkenalkan dan kemudian menjadi mode yang ditiru sehingga meningkatkan impor akan barang tersebut. “Pengaturan belanja yang baik itu merupakan setengah usaha.” katanya. Padahal pola hidup seperti ini hanya akan memperburuk neraca transaksi berjalan karena meningkatkan impor barang tersebut sehingga menguras devisa dan pada gilirannya akan menekan nilai tukar mata uang dalam negeri. sebagaimana kita telah mengetahui. dan dia dianggap sebagai setengah mata pencaharian. . menganjurkan umatnya untuk bekerja dan berusaha dengan baik. Lalu bagaimana seorang muslim mengatur anggaran rumah tangganya? Islam.Dari paparan di atas. Islam memperingatkan agen ekonomi agar jangan sampai terlena dalam berlomba-lomba mencari harta (at-takaatsur). sandang dan papan. Disadari atau tidak sesungguhnya pola konsumsi dan gaya hidup kita cenderung merugikan diri sendiri. Islam memberikan arahan yang sangat indah dengan memperkenalkan konsep israf (berlebih-lebih) dalam membelanjakan harta dan tabzir. Ini belum ditambah dengan barangbarang mewah yang beredar mulai dari alat-alat kecantikan sampai kepada mobil-mobil mewah. Bagi sahabat Mu’awiyah. keseluruhannya mengandung bahan-bahan yang harus diimpor dengan mengabaikan sumber-sumber yang sesungguhnya dapat dipenuhi dari dalam negeri. dalam satu hari saja. minum. Pada intinya bila umat Islam dalam mencari harta sampai kemudian membelanjakannya tetap berpedoman bahwa itu semua merupakan bagian dari ibadah. insyaAllah tidak akan terjerumus pada pembelanjaan yang ditujukan untuk keburukan yang bisa membawa keluarga itu pada kemaksiatan. Dimulai dari pemenuhan kebutuhan pokok (primer) seperti makan.

berkaitan dengan lima tujuan syariat. yakni nafkah-nafkah pokok bagi manusia yang dapat mewujudkan lima tujuan syariat (yakni memelihara jiwa. sesuai dengan pendapatan yang diperoleh suaminya. bertaqwa. Maka kami perintahkan kepada orang-orang yang hidup mewah di negeri itu (supaya mentaati Allah) tetapi mereka melakukan kedurhakaan dalam . yakni kebutuhan manusia untuk memudahkan kehidupan. akal. Satu-satunya gaya hidup yang cocok adalah simple living ( hidup sederhana) dalam pengertian yang benar secara syar’i. yaitu kebutuhan yang dapat menciptakan kebaikan dan kesejahteraan dalam kehidupan manusia. Untuk mewujudkan lima tujuan syariat ini. agar terhindar dari kesulitan. Allah berfirman dalam . agama. Kedua. tempat tinggal. Setidaknya terdapat tiga kebutuhan pokok: Pertama adalah kebutuhan primer. ibu rumah tangga yang umumnya merupakan manajer rumah tangga. Kebutuhan ini tidak perlu dipenuhi sebelum kebutuhan primer terpenuhi. Tanpa kebutuhan primer kehidupan manusia tidak akan berlangsung. kebutuhan sekunder. Kebutuhan ini meliputi kebutuhan akan makan. Kebutuhan inipun masih berkaitan dengan lima tujuan syariat itu tadi. kesehatan. Islam tetap tidak menganjurkan.Islam membentuk jiwa dan pribadi yang beriman.” (QS al-Israa ayat 16): 16. Pemenuhan kebutuhan ini tergantung pada bagaimana pemenuhan kebutuhan primer dan sekunder serta. Pola hidup konsumtivme seperti di atas tidak pantas dan tidak selayaknya dilakukan oleh pribadi yang beriman dan bertaqwa. Meski satu rumah tangga sudah mampu memenuhi sampai kebutuhan ketiga atau pelengkap. bahkan mengharamkan pengeluaran yang berlebih-lebihan dan terkesan mewah. karena dapat mendatangkan kerusakan dan kebinasaan. sekali lagi. rasa aman. Ketiga adalah kebutuhan pelengkap. minum. pengetahuan dan pernikahan.keturunan dan kehormatan). bersyukur dan menerima. Islam mengajarkan kepada kita agar pengeluaran rumah tangga muslim lebih mengutamakan kebutuhan pokok sehingga sesuai dengan tujuan syariat. Dan jika kami hendak membinasakan suatu negeri. mesti disiplin dalam menepati skala prioritas kebutuhan tadi.

Sesungguhnya bukan hanya individu yang akan menghadapi pilihan sulit seperti ini. mereka tidak berlebihan. Dan janganlah kamu jadikan tanganmu terbelenggu pada lehermu dan janganlah kamu terlalu mengulurkannya[852] Karena itu kamu menjadi tercela dan menyesal. harta dan masyarakat. kadar dan jenisnya.negeri itu. tidak berlebihan dan tidak pula kikir. Islam mengharamkan segala pembelanjaan yang tidak mendatangkan manfaat. dan barang haram lainnya. Sementara kikir adalah satu sikap hidup yang dapat menahan dan membekukan harta. seperti: minuman alkohol. Sikap berlebihan akan merusak jiwa. Dalam QS al-Furqaan ayat 67. Dan orang-orang yang apabila membelanjakan (harta). dan tidak (pula) kikir. Namun itu semua tidak berarti membuat kita menjadi kikir. Apalagi melakukan pembelanjaan untuk barang-barang yang bukan hanya tidak bermanfaat tetapi juga dibenci Allah. Pemerintah kita misalnya menghadapi pilhan sulit antara membangun infrastruktur untuk merangsang investasi. baik manfaat material maupun spiritual. [852] Maksudnya: jangan kamu terlalu kikir. Allah mengetahui kemampuan seorang hamba di dalam . Untuk mencegah agar kita tidak terlanjur ke gaya hidup mewah. Juga pembelian yang mengarah pada perbuatan bid’ah dan kebiasaan buruk. dan adalah (pembelanjaan itu) di tengah-tengah antara yang demikian. Masyarakat atau negara juga sering harus menghadapi pilihan-pilihan yang tidak mudah. Kemudian kami hancurkan negeri itu sehancurhancurnya. atau membangun pendidikan yang baik demi dihasilkannya SDM yang berkualitas. Untuk itu diperlukan satu pilihan yang sangat bijak agar kedua hal tersebut bisa dicapai secara optimal. Sesungguhnya pembagian Allah atas rizki hambaNya telah ditentukan batasan. Maka sudah sepantasnya berlaku terhadapnya perkataan (ketentuan kami). Islam mengajarkan kepada kita sikap pertengahan dalam mengeluarkan harta. dan jangan pula terlalu Pemurah. Atau dalam QS al-israa ayat 29: 29. narkoba.

Sesungguhnya kehadiran manusia di muka bumi hanyalah sekadar mewujudkan kehendak Tuhan (masyiah Rabbaniyah). 1939 dalam Marthon. 155. seorang manusia akan lebih terdorong untuk memakmurkan kehidupan masyarakat jika menemukan kesulitan dalam kehidupan ekonomi. proses untuk memberdayakan hasil bumi dan wewenang mengolah serta memakmurkan bumi yang telah dititipkan Allah kepada manusia”. Adanya kelangkaan satu barang tidak hanya menghadirkan ujian keimanan dan kesabaran seorang manusia. Begitulah. tak lain merupakan ujian keimanan dan kesabaran seorang hamba. Satu contoh bagaimana manusia mengatasi kelangkaan sumber energi yang dalam beberapa puluh tahun ke depan diperkirakan habis. menjelaskan: “Masyiah Rabbaniyah adalah totalitas keinginan seorang hamba untuk pasrah dan menyerahkan seluruh jiwa dan raga terhadap keinginan dan ketentuan Tuhan dalam segala aspek kehidupan. kekurangan harta. salah satu ujian itu bisa berupa adanya rasa lapar. jiwa dan buah-buahan. Allah mengetahui seberapa jauh kemampuan hambaNya untuk mengelola rizki dan kekayaan yang telah diberikan tanpa melanggar batas-batas yang telah ditentukan (Quthb. Sayyid Qutbh dalam Saad Marthon. dengan sedikit ketakutan. dan kekurangan atas bahan makanan pokok. Allah berfirman dalam (QS Al Baqarah ayat 155). Sebagai dalam ayat di atas. 2004). Kelangkaan barang juga akan menuntut seorang hamba untuk kreatif dalam menghasilkan barang dan jasa guna memenuhi kebutuhan hidup sekaligus mencari jalan keluar bagi kesulitan yang dihadapinya. Banyak penelitian dilakukan untuk menghasilkan sumber energi alternatif. penelitian dan analisis kehidupan sosial. dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar. baik dalam proses pembuatan barang. Kebutuhan Dan Keinginan .membelanjakan dan men-tasaruffkan-kan rizki yang telah diberikan tanpa adanya sikap melampaui batas dan tindak keborosan. kelaparan. Dan sungguh akan kami berikan cobaan kepadamu. Ujian dan cobaan Allah yang sangat beragam itu.

Kelangkaan akan barang dan jasa timbul bila kebutuhan (keinginan) seseorang atau masyarakat ternyata lebih besar daripada tersedianya barang dan jasa tersebut. Pada tahapan ini mungkin tidak bisa dibedakan antara keinginan (syahwat) dan kebutuhan (hajat) dan terjadi persamaan umum antara homo economicus dan homo Islamicus.Sebagaimana kita pahami dalam pengertian ilmu ekonomi konvensional. Dari pemilahan antara keinginan (wants) dan kebutuhan (needs). Ilmu ekonomi konvensional tampaknya tidak membedakan antara kebutuhan dan keinginan. sehingga fisik manusia tetap sehat dan mampu menjalankan fungsinya secara optimal sebagai hamba Allah yang beribadah kepadaNya. Islam selalu mengaitkan kegiatan memenuhi kebutuhan dengan tujuan utama manusia diciptakan. akan sangat terlihat betapa bedanya ilmu ekonomi Islam dengan ilmu ekonomi konvensional. Kita melihat misalnya dalam hal kebutuhan akan makanan dan pakaian. Di sinilah letak perbedaan mendasar antara filosofi yang melandasi teori permintaan Islami dan konvensional. Karena keduanya memberikan efek yang sama bila tidak terpenuhi. maka esensinya pada saat itu tidak berbeda dengan binatang ternak yang makan karena lapar saja. Dalam kaitan ini. Imam al-Ghazali tampaknya telah membedakan dengan jelas antara keinginan (raghbah dan syahwat) dan kebutuhan (hajat). Manakala manusia lupa pada tujuan penciptaannya. yakni kelangkaan. Jadi kelangkaan ini muncul apabila tidak cukup barang dan jasa untuk memenuhi kebutuhan dan keinginan tersebut. . Kebutuhan makanan adalah untuk menolak kelaparan dan melangsungkan kehidupan. sesuatu yang tampaknya agak sepele tetapi memiliki konsekuensi yang amat besar dalam ilmu ekonomi. Menurut Imam al-Ghazali kebutuhan (hajat) adalah keinginan manusia untuk mendapatkan sesuatu yang diperlukan dalam rangka mempertahankan kelangsungan hidupnya dan menjalankan fungsinya. bahwa ilmu ekonomi pada dasarnya mempelajari upaya manusia baik sebagai individu maupun masyarakat dalam rangka melakukan pilihan penggunaan sumber daya yang terbatas guna memenuhi kebutuhan (yang pada dasarnya tidak terbatas) akan barang dan jasa. Namun manusia harus mengetahui bahwa tujuan utama diciptakannya nafsu ingin makan adalah untuk menggerakkannya mencari makanan dalam rangka menutup kelaparan. kebutuhan pakaian untuk menolak panas dan dingin.

ilmu ekonomi konvensional tidak terlalu merisaukan adanya perbedaan ini. Tidak ada perasaan apakah konsumsi sekarang akan berpengaruh kepada masa depan dirinya sendiri (misalnya mengkonsumsi alkohol dan merokok). menebangi hutan. 790 H) dalam al-Muwafaqot dan Ibnu Khaldun (w. al-Izz bin Abdus Salam (w. Di antara mereka ada yang lebih menonjol dari yang lain dan secara khusus membahasanya dalam karya-karya ilmiahnya seperti Imam al-Juwaini (w. Imam as-Syatibi (w. Tidak ada yang dapat menghalangi perilaku homo economicus kecuali kemampuan dananya. menguras minyak bumi. Padahal konsekuensi dari penyamaan ini berakibat pada terkurasnya sumber-sumber daya alam secara membabi buta dan menciptakan ketidakseimbangan ekologi yang gawat. Pembahasan tentang tingkatan-tingkatan pemenuhan kebutuhan manusia (hajaat) telah menarik perhatian para ulama di sepanjang zaman. Imam alGhozali dalam al-Mustasfa dan Ihya. harga barang. proses industri yang menimbulkan polusi udara dan air) apalagi masa depan kelak di akhirat. Mereka tetap berpendirian bahwa kebutuhan adalah keinginan dan sebaliknya. Penyusunan tingkatan konsumsi ini menjadi menarik karena Islam memberikan norma-norma dan batasan-batasan (constraints) pada individu dalam rangka memenuhi kebutuhan hidup mereka. Pandangan konvensional yang materialis melihat bahwa konsumsi merupakan fungsi dari keinginan. 660 H) dalam Qowaid al-Ahkam fi Masolih al-Anam. Pandangan ini tentu sangat berbeda dari dimensi yang melekat pada konsep konsumsi konvensional. masa depan umat manusia ( misalnya. Norma dan batasan ini pada gilirannya akan membentuk gaya hidup ( life style) dan pola perilaku konsumsi ( patterns of consumption behaviour) tertentu yang secara lahiriah akan membedakannya dari gaya hidup yang tidak diilhami oleh ruh ajaran Islami. Lebih jauh Imam al-Ghazali menekankan pentingnya niat dalam melakukan konsumsi sehingga tidak kosong dari makna dan steril.Anehnya. Maka tidak heran jika sekarang terjadi bermacam-macam bencana alam yang mengerikan disebabkan karena doktrin keinginan sama dengan kebutuhan. . pendapatan dan lain-lain tanpa mempedulikan pada dimensi spiritual karena hal itu dianggapnya berada di luar wilayah otoritas ilmu ekonomi. Konsumsi dilakukan dalam rangka beribadah kepada Allah SWT. nafsu. 478 H) dalam kitabnya al-Burhan fi Usul al-Fiqh. 808 H) dalam Muqoddimah. Di sini tampak pula pandangan integral beliau tentang falsafah hidup seorang Muslim.

Menurut al-Ghazali area ini memiliki dua ujung batasan yang berbeda yaitu ujung yang berdekatan dengan perbatasan dharurah dan ini dinilainya tidak mungkin dipertahankan karena akan menimbulkan kelemahan dan kesengsaraan dan ujung yang lain berbatasan dengan tana’um di mana individu yang berada di sini dianjurkan untuk ekstra waspada. Hal ini disebabkan karena ujung perbatasan ini dapat menjerumuskannya ke dalam hal-hal yang membuatnya terlena secara tidak sadar dan akhirnya melalaikan tugasnya dalam beribadah kepada Allah. Barangkali keadaan ini dapat lebih ditegaskan bahwa meninggalkan had tana’um tidak diwajibkan secara keseluruhan begitu juga menikmatinya tidak dilarang semuanya. yaitu ketika individu menikmatinya dalam kerangka menghadapi nasib di akhirat.Dalam bukunya yang berjudul Ihya Ulumiddin Imam al-Ghazali membagi tiga tingkatan konsumsi yaitu sadd ar-Ramq dan ini disebut juga had ad-dhorurah. walaupun untuk itu. Tingkatan tana’um digambarkan bahwa individu pada tahapan ini melakukan konsumsi tidak hanya didorong oleh usaha memenuhi kebutuhannya an sich. Yang dimaksud dengan had ar-ramq atau batasan darurat adalah tingkatan konsumsi yang paling rendah dan bila manusia berada dalam kondisi ini. Kendatipun begitu. ia tetap akan diminta pertanggungjawabannya kelak. Beliau menasihati kita agar sedapat mungkin menetap di had al-hajah dengan sedekat mungkin mendekati had ad-dharurah dalam rangka meneladani para Nabi dan Wali. Antara had ad-dhorurah dengan tana’um terdapat area yang sangat luas disebut had al-hajah di mana keseluruhannya halal dan mubah. had alhajah dan yang tertinggi adalah had at-tana’um. Imam al-Ghazali sendiri menolak gaya hidup seperti ini karena individu tidak akan mampu melaksanakan kewajiban agama dengan baik dan akan meruntuhkan sendi-sendi keduniaan yang pada gilirannya juga akan meruntuhkan agama karena dunia adalah ladang akhirat (ad-Dunya Mazro’ah al-akhirah). . ia hanya mampu bertahan hidup dengan penuh kelemahan dan kesusahan. tetapi juga bertujuan untuk bersenang-senang dan bernikma-nikmat. gaya hidup demikian tidak seluruhnya haram. Sebagian dihalalkan. Menurut Imam al-Ghazali gaya hidup bersenang-senang ini tidak cocok bagi seorang mukmin yang tujuan hidupnya untuk mencapai derajat tertinggi dalam ibadah dan ketaatan.

semakin besar konsumsi akhirat / ibadah semakin besar menuju falah begitu juga sebaliknya . as-Syatibi dan Ibnu Khaldun. Utamakan Akhirat dari pada dunia Pada tataran dasar konsumsi dilakukan bersifat duniawi (CW) dan bersifat Ibadah (Ci) Keduanya bukan subtitusi yang sempurna karena perbedaan ekstrim. F terdapat hubungan positif antara pencapaian tujuan Falah dengankebutuhan konsumsi ibadah. hajah. ziinah. dan fudhul. manfa’ah. Umumnya mereka membagi tiga kategori pemenuhan kebutuhan. belakangan Imam Suyuthi ( w. Preferensi Konsumsi Preferensi konsumsi dan pemenuhannya dapat di dipetakan/ mapping sebagai berikut: 1. Ibadah lebih bernilai tinggi karena orientasinya pada meraih falah yaitu pahala dari Allah swt. hanya ada sedikit perbedaan dalam penggunaan bahasa.911 H ) dalam al-Asybah wan Nazhoir menulis lima tingkatan yaitu dhorurah. hajiyah dan tahsiniyah (kamaliyyah). Sekalipun demikian. Di samping itu kategorisasinya juga banyak persamaannya dengan para ulama sesudahnya seperti al-Izz bin Abdus Salam. Dalam Al-Qur’an & hadits konsumsi duniawi adalah untuk masa sekarang (present consumption) sedangkan untuk konsumsi ibadah untuk masa depan (future consumption). Semakin tinggi ujuan falah semakin di tuntut tinggi Konsumsi kebutuhan ibadah . Para ekonom Muslim lebih menyukai istilah dan kategorisasi yang dikembangkan oleh Imam as-Syatibi dalam al-Muwafaqot yaitu dhoruriyah.Kajian al-Ghazali tentang tingkatan konsumsi ini banyak bersentuhan dengan apa yang telah dikemukakan oleh Imam al-Juwaini dan itu adalah wajar karena Imam alHaromain adalah salah satu gurunya dan al-Ghazali banyak belajar dan mengambil ilmu dari padanya.

maka semakin kufur sehingga semakin besar anggaran konsumsinya untuk duniawi. Semakin rasional (beriman) seorang muslim maka budget line-nya akan semakin condong vertical (inelastis) semestinya anggaran konsumsi ibadahnya harus lebih banyak dibandingkan anggaran konsumsi duniawinya. yang pada akhirnya menjauhkan dari menuju target falah.CI F Terdapat hubungan negatif antara pencapaian Tujuan falah dg kebutuhan konsumsi duniawi. Semakin tinggi tujuan falah yg akan dicapai. . Semakin dituntut untuk kurangi konsumsi ke Butuhan dunia CW Seorang muslim yang rasional yaitu yang beriman dengan maksimumkan falah adalah tujuannya. Hubungan keimanan dengan pola Budget Line Ci (a). Sebaliknya dengan semakin tidak rasional. Karena Cw Ci .

Maslahah mempunyai makna yang lebih luas dari sekadar utility atau kepuasan dalam terminologi ekonomi konvensional. kesederhanaan . halalan toyyiban. Diantaranya: kesederhanaan. keadilan. . keseimbangan dan lain-lain. kebersihan. maka budget line-nya akan semakin condong horizontal (elastis) Cw 2. 3. KESIMPULAN Berdasarkan uraian pada bagian pembahasan maka beberapa hal yang dapat disimpulkan 1. Maslahah merupakan tujuan hukum syara’ yang paling utama. Tahsiniyyah. Ada lima prinsip konsumsi dalam Islam menurut Manan yaitu : prinsip keadilan. yaitu kebutuhan pelengkap/ penunjang atau sekunder c. Semakin tidak rasional ( kufur) seorang muslim. Hajjiyah .(a).kebersihan. menurut Imam alGhazali kebutuhan (hajat) adalah keinginan manusia untuk mendapatkan sesuatu yang diperlukan dalam rangka mempertahankan kelangsungan hidupnya dan menjalankan fungsinya. Konsisten dalam prioritas pemenuhannya Ulama telah membagi prioritas pemenuhan kebutuhan dalam tiga bagian: a. yaitu kebutuhan tingkat dasar atau kebutuhan primer b. Memperhatikan etika dan norma Islam memiliki seperangkat etika dan norma dalam berkonsumsi. yaitu kebutuhan akan kemewahan atau kebutuhan tersier 2. Daruriyyah. kemurahan hati dan moralitas 2. Kebutuhan dan keinginan merupakan sesuatu yang berbeda.

Said. Fahim (1995). Pengantar Ekonomika Mikro Islami. .DAFTAR PUSTAKA Anto.B(2003). Adiwarman (2002). Pemikiran Ekonomi Islam. Jakarta: Kencana Prenada Group. IIITI Khan. Ekonomi Mikro Islami. Muhammad . The Islamic Foundation Marton. Jakarta: LIPPM. Siddiqi. Yogyakarta: BPFEYogyakarta Nasution. Zikrul Hakim. Hendrie. Nurul Huda. dkk (2006). Nejatullah (1986). (2004). Muhammad (2004) . Pengenalan Ekslusif Ilmu ekonomi Islam. Essay in Islamic Economy. Mustafa Edwin. Ekonomi Islam Ditengah Krisis Ekonomi Global. Jakarta Metwally (1995) . Teori dan model ekonomi islam. M. PT bangkit daya insana . Yogyakarta Karim. Saad. Ekonomi Mikro Dalam Perspektif Islam. EKONISIA.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->