P. 1
bahan 5

bahan 5

|Views: 245|Likes:
Published by dewi sartika

More info:

Published by: dewi sartika on Aug 18, 2010
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

01/10/2013

pdf

text

original

Berita Kedokteran Masyarakat Vol. 22, No.

2, Juni 2006 halaman 75-81 PENINGKATAN PENANGGULANGAN PENYAKIT DEMAM BERDARAH DENGUE BERBASIS MASYARAKAT DENGAN PENYULUHAN KESEHATAN Paiman Soeparmanto, Setia Pranata Pusat Penelitian dan Pengembangan Sistem dan Kebijakan Kesehatan. Badan Litbang Kesehatan, Departemen Kesehatan RI. Surabaya ABSTRACT Backgrounds: Dengue Disease Fever (DDF) causes of Dengue Virus and contagious mosquito bite Aedes Aegypti Overcoming problem expanding of Dengue Disease Fever have been done through direct health education by health worker and through media printing and electronic, but still obtained more occurrence Dengue disease especially in the big towns. Therefore needed health education development which can was done by selfs community. From this background the objective of research is learning improvement of the prevention to DDF with health education on the community based. Methods' Research design is quasi - experimental design pre and post test use control group. Intervence s^ "Strain the health cadres, Chief Rukun Tetangga (RT) and Chief Rukun Warga-) to implementahon hea, h education of DDF. Every family was given leaflet and sticker as overcoming DDF briefing. Data collecting was conducted with closed questionnaire and data analyses are T-Test and Chi square. This considering obtained data having the character of interval and categories. Results- Result of research that mostly respondent old age than 41 year, most have level education SLTP above and it's most merchant 20% and the other is farmer. PNS/ABRI, and private sector officer. Age group, and education level respondent not significant different between study and control area, and the work s respondent significant different between the study and control area. To get information about Dengue Disease directly, most from neighbor what is obtained by |om to fee and partly, minimize through health worker, and urban leader formal {Kelurahan Pamong), Health Cadre and Chief o RT/RW. Most media which a lot of weared obtaining dengue disease information by respondent through TV 60 /., at the study and control area. While using leaflet relative minimize after health education and also before intervention especially in the study area. . -c

1

The knowledge level in the pre research at the study and the control area not significant different (p>0 05) namely mean value 16 (range 0-100), but in the post research the knowledge level more high in study area than in the control area The pre research the behaviors of prevention of Dengue diseases not significant different between the study and control area (p>0.05). mean value 23 in the study and 24 in control area. At the post research prevention to behavior DDF between study and control area also not significant different p>0,05). Conclusion' The level of knowledge and behavior prevention DDF increasing in the study and control in pre and post intervention. But mean value increasing of knowledge in study area more high was compared with in the control area And mean value the increasing of behavior to overcoming DDF but not significant different beween study and control area pre and post intervention. This situation causes health education on community based not yet were conducted by Health Cadre. Chief RT/RW, Kelurahan Pamong, and leaflet also sticker not yet was learned by family especially in study area. Keywords: dengue disease fever; health education PENDAHULUAN Penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD) disebabkan oleh virus dengue dan ditularkan melalui gigitan nyamuk Aedes Aegypti. Baik virus penyebab maupun nyamuk penularnya tersebar luas di daerah pelosok tanah air. Obat untuk pencegahan virus penyakit demam berdarah belum ada, sehingga satusatunya cara pencegahan dengan memberantas nyamuk Aedes Aegypti sebagai pembawa virusnya. Strategi pemberantasan DBD lebih ditekankan pada upaya preventif yaitu melaksanakan penyemprotan massal sebelum musim penularan penyakit di desa/kalurahan endemis DBD, yang merupakan pusat penyebaran ke wilayah lainnya.' Strategi ini juga diperkuat dengan upaya pemberantasan sarang nyamuk yaitu dengan penguburan barang-barang bekas, penutupan dan pembakaran, pemeriksaan jentik nyamuk dan penyuluhan kepada masyarakat untuk melaksakan kegiatan tersebut. Kegiatan penyuluhan dan pelaksanaan pembasmian jentik nyamuk Aedes Aegypti oleh masyarakat, khususnya oleh keluarga-keluarga belum kontinyu. Salah satu faktor penyebabnya karena keterbatasan petugas-petugas kesehatan untuk melak-

2

sanakan penyuluhan secara berkesinambungan dan Berira Kedokteran Masyarakat, Vol. 22, No. 2, Juni 2006 • 75 Page 2 Raiman Soeparmanlo, dkk.: Peningkatan Penanggulangan Penyakit Demam Berdarah Dengue kepedulian masyarakat terhadap hal ini perlu ditingkatkan, sehingga ada kecenderungan terjadinya wabah penyakit DBD secara tiba-tiba di daerah-daerah. Hasil survei vektor DBD yang dilakukan di sembilan wilayah perkotaan di Indonesia pada 1997 menunjukkan bahwa jentik Aedes Aegypti terdapat satu di antara tiga rumah tangga penduduk. Tempat perindukan nyamuk Aedes Aegypti yang paling potensial adalah tempat-tempat penampungan air, bak mandi, tempayan, dan drum-drum minyak tanah. Dari hasil survei tersebut diketahui bahwa pengetahuan masyarakat tentang DBD masih kurang.2 Hal Ini juga ditemukan penelitian yang dilakukan di Pontianak bahwa pengetahuan oleh responden penelitian tentang: gejala, tempat penyakit DBD perkembangbiakan nyamuk dan cara pemberantasannya dalam tingkatan: kurang 46%, cukup 40%, dan baik 14%.3 Berdasarkan latar belakang tersebut maka dalam penelitian ini dirumuskan masalah penelitian: bagaimana meningkatkan partisipasi masyarakat dalam melakukan pembasmian sarang-sarang nyamuk Aedes Aegypti secara kontinuitas, sebagai usaha mencegah berkembangnya penyakit DBD? Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan upaya pencegahan berkembangnya penyakit DBD berbasis pada masyarakat dengan penyuluhan kesehatan kepada masyarakat. Tujuan khusus dari penelitian ini untuk menganalisis media Informasi yang digunakan dalam memperoleh informasi tentang cara menanggulangi berkembangnya penyakit DBD. Menganalisis perubahan pengetahuan dan kontinuitas perilaku keluarga dalam usaha membasmi berkembangnya nyamuk Aedes Aegypti dalam lingkungan keluarga dan tempat-tempat umum tertentu. BAHAN DAN CARA PENELITIAN Rancangan Penelitian Rancangan penelitian menggunakan rancangan kelompok quasi experimental test awal dan akhir

3

peneltian atau (pre and post test) "non randomized control-group pre-post test design ". " Intervensi dalam penelitian ini adalah penyuluhan dengan tatap muka yang dilaksanaan oleh kader kesehatan desa, ketua RT/RW dan pamong kalurahan yang terlebih dahulu mendapatkan pelatihan, leafleat, dan stiker didasarkan pada pendapat Rogers dan Shoemaker5 bahwa" seseorang dapat berkomunikasi untuk mempelajari sesuatu dengan baik apabila menggunakan lebih dari satu Indera". Jadi masyarakat akan dapat lebih menerima Informasi penyuluhan karena dijelaskan oleh petugas desa, membaca leafleat dan stiker yang diberikan pada setiap keluarga. Tempat Penelitian Daerah penelitian diambil di Kodia Blitar, Provinsi Tingkat I, Jawa Timur. Penelitian dilakukan pada dua kecamatan, dua desa studi, dan dua desa kontrol. Pemilihan kecamatan dan desa diambil secara purposive yaitu kecamatan dan desa yang menunjukkan prevalensi kejadian penyakit DBD cukup tinggi dibandingkan pada kecamatan dan desa-desa lainnya. Sasaran Penelitian Populasi adalah kepala-kepala rumah tangga (KK) dengan mengambil besar responden secara acak untuk 100 KK sebagai responden studi dan 100 KK sebagal kontrol. Besar responden disasarkan pada quota responden yaitu 100 KK. Cara Pengumpulan Data dan Analisis Data Cara pengumpulan data dilaksanakan dengan wawancara berpedoman tertutup kepada kepala keluarga terpilih. Analisis data dilakukan dengan analisa i-fesf untuk menganalisis perbandingan pengetahuan dan perilaku antara daerah studi dengan kontrol awal dan akhir, juga perbandingan antara masing-masing desa studi dan kontrol awal dan akhir. Variabel yang diukur adalah pengetahuan dan perilaku keluarga sebagal responden dalam menanggulangi atau mencegah berkembangnya penyakit DBD. Variabel lain yang diidentifikasi adalah media informasi yang digunakan dalam menerima penjelasan masalah DBD. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN Karakteristik Responden Karakteristik responden yang dimaksud adalah

4

sifat-sifat yang dimiliki oleh responden sehingga dapat dibedakan antara responden yang satu terhadap yang lain. Karakteristik yang diidentifikasi dalam penelitian Ini meliputi: tingkat umur, tingkat pendidikan, dan jenis pekerjaan. 76 • Berita Kedokteran Masyarakat, Vol. 22, No. 2, Juni 2006 Page 3 Berita Kedokteran Masyarakat Vol. 22, No. 2, Juni 2006 halaman 75 - 81 Kelompok umur < 41 tahun di daerah studi 35,6% dan di daerah kontrol 37,0% tidak berbeda bermakna antara kedua kelompok umur tersebut (p>0,05). Dengan demikian responden total responden sebagian besar berumur lebih dari 41 tahun kurang lebih 65%. Tingkat pendidikan responden pada daerah studi dan kontrol tidak tamat SD hanya 8,2% di daerah studi dan 7,2% di daerah kontrol, paling besar persentasenya tamat SD di daerah studi 39,8% dan di daerah kontrol 44,0%, tamat SLTP 22,4% di daerah studi dan 20% di daerah kontrol. Bilamana tingkat pendidikan dikelompokkan paling tinggi tamat SD dengan kelompok tingkat pendidikan tamat SLTP ke atas, maka tingkat pendidikan responden daerah studi dan kontrol tidak berbeda bermakna (p>0,05). Jenis pekerjaan responden baik pada daerah studi dan kontrol berjenis-jenis penyebarannya. Pada daerah studi paling besar persentasenya sebagai pedagang 26,5% dan pada daerah kontrol 28%. Kelompok petani di daerah studi hanya 5,1% dan di daerah kontrol 18%, dan jenis pekerjaan yang lain sebagai pegawai swasta, PNS/Polri, ¡bu rumah tangga dan buruh. Kelompok jenis pekerjaan responden berbeda bermakna (p<0,05) antara daerah studi dengan daerah kontrol. Sumber Informasi tentang DBD yang diperoleh responden pada awal penelitian, paling besar persentasenya melalui tetangga 52% di daerah studi dan 50% di daerah control, sedangkan dari petugas kesehatan yang cukup besar dari doker di daerah studi 13% dan 10% di daerah kontrol. Sumber informasi yang diperoleh melalui komunikasi langsung yang diterima oleh responden tidak berbeda bermakana antara daerah studi dan kontrol (p>0,05), sebagian besar melalui hubungan tetangga,

5

sedangkan pada akhir penelitian sumber informasi yang diterima oleh responden dengan tatap muka mengalami perubahan, tetapi melalui hubungan dengan tetangga merupakan persentase yang besar yaitu 38% baik pada daerah studi dan daerah kontrol serta tidak berbeda bermakna (p>0,05). Komunikasi langsung yang mengalami perubahan yaitu penyuluhan yang dilakukan oleh masyarakat (pamong kalurahan, ketua RT/RW dan kader kesehatan) pada daerah studi 18% dan daerah kontrol 10% yang sebelumnya belum melakukan kegiatan penyuluhan dari identifikasi dalam penelitian Ini. Sumber informasi melalui media merupakan salah satu sumber Informasi tentang DBD. Pada awal penelitian bahwa sumber ¡nfrmasi melalui TV 60,2% di daerah studi dan 69,0% merupakan persentase terbesar pada awal penelitian. Melalui koran dan majalah hanya dilakukan oleh 4% pada daerah studi dan kontrol serta menggunakan tefleat 3,1% di daerah studi. Di daerah kontrol media informasi melalui media TV lebih besar secara bermakna (p<0,05). Sumber informasi melalui TV merupakan persentasi yang paling besar baik di daerah studi 40,2% dan di daerah kontrol 57,7% pada akhir penelitian. Di daerah kontrol persentase melalui TV lebih besar dari pada di daerah studi (p<0,05), termasuk yang menggunakan media cetak yang lain yaitu leafleat walaupun hanya 4% di daerah studi dan tidak dipakai pada daerah kontrol. Melalui media koran dan majalah belum dimanfaatkan oleh responden. Hal ini karena majalah dan koran tidak memuat informasi tentang cara-cara penanggulangan DBD, dan juga karena kemunginan responden kebanyakan tidak berlangganan koran dan membeli majalah yang memuat materi tentang cara-cara penaggulangan DBD. Perubahan Pengetahuan dan Perilaku Penanggulangan DBD Awal dan Akhir Penelitian Dalam menggambarkan peningkatan pengetahuan dan perilaku penanggulangan DBD disajikan dalam Tabel 1. Tabel 1. Rata-rata perbedaan tingkat pengetahuan dan perilaku responden penelitian penanggulangan DBD di daerah studi, kontrol awal dan akhir penelitian di Blitar

6

Jenis karakteristik Penelitian awal Peneli ¡an Akhir Daerah Studi Daerah Kontrol Daerah Studi Daerah Kontrol Mean SD Mean SD Mean SD Mean SD Pengetahuan Perilaku 16,66 2,72 23,25 3,10 16,11 3.42 24.36 2,20 50,34 13,85 34,08 2,97 46,05 33,97 14,75 2,20 Berita Kedokteran Masyarakat, Vol. 22, No. 2, Juni 2006 • 77 Page 4 Palman Soeparmanto, dkk.: Peningkatan Penanggulangan Penyakit Demam Berdarah Dengue Untuk mengukur tingkat pengetahuan dan perilaku responden tentang DBD digunakan sepuluh indikator. Dalam menentukan tingginya pegetahuan digunakan nilai antara 0 sampai dengan 10, 0 tidak tahu dan 10 mengetahui secara benar. Jumlah total pengetahun paling tinggi 100 dan paling rendah 0. Untuk mengukur tingkat perilaku menggunakan jumlah kegiatan atau frekuensi kegiatan. Jumlah indikator kegiatan diukur dengan frekuensi dalam jangka waktu tertentu yaitu antara 0 dan 4 dan ada 11 indikator. 0 tidak melakukan dan 4 melakukan dengan penuh. Jumlah paling tinggi kegiatan 44 dan 0 tidak melakukan. Pada awal penelitian tingkat pengetahuan responden tentang DBD sangat rendah baik pada daerah studi dan kontrol yaitu rata-rata baru mencapai nilai 16 dari nilai 100 yang tertinggi.

7

Sedangkan pada akhir penelitian nilai rata-rata tingkat pengetahuan responden meningkat di daerah studi 50 dan di daerah kontrol 46 berbeda bermakna (p<0,05). Dari informasi ini dapat disimpulkan bahwa tingkat pengetahuan di daerah kontrol juga mengalami peningkatan yang cukup tinggi walaupun peningkatannya masih lebih tinggi dibandingkan pada daerah studi. Selanjutnya perilaku menanggulangi DBD pada awal penelitian di daerah studi mencapai 23 dan pada akhir penelitian mencapai 34 berbeda bermakna (p<0,05). Pada daerah kontrol perilaku menanggulangi DBD juga terdapat peningkatan dari nilai 24 naik menjadi rata-rata nilai 33 berbeda bermakna (p<0,05). Jadi perilaku penanggulangan DBD meningkat tinggi pada daerah studi dan kontrol. Peningkatan perilaku penanggulangan DBD pada daerah studi dan kontrol tidak berbeda bermakna (p>0,05) yaitu rata-rata nilainya naik 10 baik di daerah studi dan kontrol. PEMBAHASAN Dalam rangka peningkatan penanggulangan penyebaran penyakit DBD yang penularannya melalui gigitan nyamuk Aedes Aegyptl, yang dilaksanakan dalam penelitian ini adalah peningkatan penyuluhan yang berbasis masyarakat yaitu oleh pamong kalurahan, ketua RT/RW dan kader kesehatan. Oleh karena itu, pertama kali supaya penyuluhan dapat berjalan lancar dilaksanakan oleh orang-orang kunci setempat yaitu dipilih perwakilan dari masing-masing RW satu orang petugas penyuluh kader DBD, berdasarkan atas usulan dari lurah masing-masing desa penelitian. Pengambilan penyuluh didasarkan pada suatu pernyataan bahwa "berkomunikasi dengan RT/RW memantapkan pengalaman seseorang dalam bertatap muka, sehingga orang itu bisa memutuskan apakah seseorang itu bisa memutuskan memerlma pesanya dan perasaannya".6 Sebelum calon penyuluh yaitu pamong kalurahan, ketua RT/RW dan kader kesehatan atau dalam kegiatan ini disebut kader DBD dari masingmasing RW melaksanakan penyuluhan terlebih dahulu mendapatkan tambahan bekal pengetahuan cara-cara penyuluhan kelompok dan pengetahuan tentang hal-hal yang berhubungan dengan DBD.

8

Dipilih kader-kader dari masing-masing RW bermaksud supaya pelaksanakan penyuluhan dapat dilaksanakan secara mudah baik secara resmi dengan mengumpulkan warga RW atau secara tidak resmi dengan cara-cara anjang sana, sehingga penyuluhan dapat dilaksanakan secara berkesinambungan setelah penelitian ini selesai. DI samping juga dilandasi dasar bahwa dalam pembinaan perilaku penyuluhan dapat menggunakan pendekataan "model pengembangan lokal, perencanaan sosial dan tindakan sosial. Pengembangan lokal yaitu menekankan adanya kepercayaan dan inisiatif masyarakat setempat, pengembangan kepemimpinan setempat dan partisipasi masyarakat.7 Pelaksanaan penyuluhan atau intervensi dalam penelitian ini memang dirasakan sangat singkat yaitu selama dua bulan saja, jadi ada kecenderungan masyalat belum melakukan perencanaan penyuluhan secara bersama-sama antara pengurus RT/RW. Selain penyuluhan dilaksanakan kader DBD untuk meningkatkan pengetahuan keluarga juga diberikan leafleat singkat tentang DBD. Guna menjamin kontlnyultas penanggulangan DBD dilaksanakan oleh keluarga - keluarga di daerah penelitian diberikan juga stiker tentang bahaya DBD yang dapat ditempelkan di rumah-rumah keluarga. Karakteristik responden yaitu kepala keluarga yang diidentifikasi dalam penelitian Ini meliputi: tingkat umur, tingkat pendidikan dan jenis pekerjaannya. Dari hasil penelitian yang telah ditampilkan di muka bahwa nampaknya tidak ada beda tingkat umur responden penelitian di daerah studi dan kontrol, tentang kelompok umur, tingkat pendidikan, sedangkan jenis pekerjaan responden berbeda bermakna antara daerah studi dan kontrol. 78 • Berita Kedokteran Masyarakat, Vol. 22, No. 2, Juni 2006 Page 5 Berita Kedokteran Masyarakat Vol. 22, No. 2, Juni 2006 halaman 75-81 Dalam menerima informasi secara tatap muka, justru paling besar persentasenya melalui hubungan tetangga, baik pada daerah studi dan kontrol kurang lebih 50% pada penelitian awal dan kurang lebih 38% pada penelitian akhir pada daerah studi

9

dan kontrol, sedangkan yang dilaksanakan oleh kader dan pamong kalurahan pada awal penelitian belum berjalan. Sumber informasi melalui media elektronika dan media cetak sebagian besar menyatakan melalui media elektronika TV merupakan persentase terbesar pada daerah kontrol dan studi kurang lebih 60%.Walaupun persentasenya berubah pada penelitian akhir, tetapi persentase terbesar menerima informasi tantang DBD oleh responden melalui TV pada daerah studi dan kontrol yaitu kurang lebih 50%. Tingkat pengetahuan awal penelitian berdasarkan pada setiap indikator nilai paling rendah 0 dan paling tinggi 100, sehingga total nilai seluruh indikator tingkat pengetahuan paling tinggi 100 dan paling rendah 0, maka tingkat pengetahuan ratarata responden penelitian hanya mencapai 25 dengan rentang nilai antara 10 dan tertinggi 50. Antara daerah studi dan daerah kontrol tidak berbeda bermakna tingkat pengetahuan responden penelitian, mencapai nilai rata-rata rendah. Walaupun dari seluruh responden penelitian pada awal penelitian baik pada daerah kontrol dan studi yang menyatakan tidak pernah mendengar DBD relatif kecil kurang lebih 4%, tetapi ternyata tingkat pengetahuan responden relatif rendah. Hal ini karena informasi yang ditayangkan melalui TV atau sumber lain tidak rinci dan hanya sedikit informasi tentang hal-hal yang berhubungan dengan cara penanggulangan DBD. Demikian juga pada penelitian akhir bahwa tingkat pengetahuan tetap masih menunjukkan nilai yang rendah pada daerah kontrol dan srudi, tetapi nilai rata-ratanya di daerah studi mencapai rata-rata 50 dan di daerah kontrol 46 berbeda bermakna. Hal Ini kalau dikaitkan dengan peningkatan pola sumber informasi yang diterima oleh responden belum banyak mengalami perubahan. Dalam penelitian akhir belum nampak adanya peningkatan kesertaan penyuluhan yang dilakukan oleh kader-kader DBD yang telah dilatih melakukan penyuluhan walaupun relatif kecil persentasenya. Di samping itu, juga belum diperoleh gambaran bahwa responden membaca isi lef/eat yang diberikan pada setiap keluarga pada daerah studi, karena bersamaan dengan pelatihan kader DBD mereka telah diberikan

10

leafleat untuk disampaikan kepada seluruh keluarga di dua desa penelitian. Menurut pengakuan kader, hal tersebut telah dibagikan kepada keluarga pada dua kelurahan penelitian, maka terdapat kemungkinan karena waktu pelaksanaan intervensi hanya berlangsung dua bulan. Selanjutnya dalam melakukan penanggulangan berkembangnya nyamuk pada dua daerah penelitian, sebagian kecil masyarakat telah melakukan kegiatan pemberantasan sarang nyamuk, baik yang dilakukan untuk seluruh kalurahan misalnya foging. Foging biasanya dilakukan jika daerah itu ada penderita DBD, dilakukan oleh dinas kesehatan kota atau oleh puskesmas atas dasar laporan dari warga tentang kejadian DBD. Hal ini karena sebagian besar masyarakat Indonesia belum menyadari pentingnya hygiene lingkungan dan diri masyarakat itu sendiri. Rendahnya keasadaran masyarakat akan pentingnya menjaga lingkungan agar tidak ada genangan air di sekeliling rumah merupakan salah satu faktor penghambat yang paling sering dijumpai'.8 Perilaku penaggulangan DBD yang mengalami perubahan pada daerah studi adalah dalam melakukan Menimbun, Membakar dan Membasmi (3 M) dan memelihara ikan, sedangkan pada daerah kontrol terdapat perilaku penanggulangan DBD dengan foging, tetapi persentasenya lebih besar dibandingkan pada daerah studi. Secara keseluruhan bahwa nilai perilaku penanggulangan DBD pada daerah studi dan kontrol pada awal penelitian tidak berbeda bermakna dan rata-rata nilainya rendah yaitu hanya sekitar 23, dari nilai tertinggi 45, sedangkan pada akhir penelitian perilaku penanggulangan DBD pada daerah studi dan kontrol mengalami peningkatan yaitu mencapai nilai ratarata 33 pada daerah studi dan 34 pada daerah kontrol tidak berbeda bermakna. Secara keseluruhan Indikator tentang tidak adanya perbedaan perilaku responden keluarga dalam penanggulangan DBD, nampaknya bahwa penangulangan DBD sudah dilaksanakan oleh keluarga-keluarga baik pada daerah kontrol dan studi, tetapi pada perilaku khusus dalam masalah 3M dan pemeliharaan ikan pembasmi jentik, persentase di daerah studi jauh lebih besar dibandingkan pada daerah kontrol. Memelihara ikan dapat

11

digunakan sebagai bahan penambah gizi keluarga dan dapat juga sebagai bahan perdagangan untuk menambah pendapatan keluarga. Berita Kedokteran Masyarakat, Vol. 22, No. 2, Juni 2006 • 79 Page 6 Palman Soeparmanto, dkk.: Peningkatan Penanggulangan Penyakit Demam Berdarah Dengue Dalam pelaksanaan penyuluhan pada dua bulan terakhir pada daerah studi dan kontrol relatif kecil persentasenya, tetapi pada daerah studi lebih besar persentasenya yang mengikuti penyuluhan. Pelaksana penyuluhan pada daerah studi sebagian besar dilaksanakan oleh pamong kalurahan dan bukan oleh kader DBD yang dilatih. Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa kader-kader DBD belum banyak yang melaksanakan penyuluhan seperti yang diharapkan yaitu menyuluhan pada masing-masing RW. Kalau dilihat pada yang diharapkan melakukan penggerakan DBD seperti didasarkan pada Keputusan Menteri Kesehatan No: 581/Menkes/SK/ VII/19929 bahwa ketua RT/RW dan pengusaha sebagai anggota seksi penggerakan peran serta masyarakat masih belum dapat disosialisasikan kepada keluarga-keluarga secara luas dan berkesinambungan. Hal ini dapat dikatakan bahwa dalam dua bulan terakhir persentase warga yang mengikuti penyuluhan yang diselenggarakan sebagian kecil kader-kader yang diambil dari RW-RW dan pamong kalurahan setempat yang mempunyai peranan besar. KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan Karakteristik responden penelitian pada kelompok-kelompok umurtldak berbeda bermakna, sebagian besar berumur di atas 41 tahun, dengan tingkat pendidikan tamat SD ke bawah lebih kecil persentasenya dibandingkan dengan tamat SLTP ke atas baik pada daerah studi dan kontrol, sedangkan jenis pekerjaan responden daerah studi dan kontrol berbeda bermakna. Dalam memperoleh Informasi tentang DBD sebagian besar secara langsung dari tetangga dan juga melalui media TV baik pada daerah studi dan kontrol, baik pada awal dan akhir penelitian. Pada masa penyuluhuan atau pada masa

12

Intervensi ini dilakukan yaitu dengan penyuluhan langsung oleh kader-kader DBD, ketua RT/RW dan pamong desa yang telah dilatih belum dapat melaksanakan penyuluhan seperti yang diharapkan. Hal ini kemungkinan waktu intervensi relatif pendek. Di samping itu, leafleatyang diberikan kepada setiap keluarga nampaknya juga belum banyak dimanfaatkan oleh keluarga-keluarga daerah penelitian. Tingkat pengetahuan pada awal penelitian rataratanya mencapai nilai 16 dari nilai terendah 0 dan tertinggi 100 baik pada studi dan kontrol. Pada awal akhir penlitian nilai rata-rata 50 di daerah studi dan nilai rata-rata 45 di daerah control berbeda bermakna. Perilaku responden penelitian pada awal penelitian nilai rata-ratanya 23 di daerah studi dan 24 di daerah kontrol tidak berbeda bemakna relatif juga masih rendah dari nilai rata-rata terndah 0 dan tertinggi 44 tertinggi. Pada akhir penelitian ada peningkatan menjadi nilai rata-rata 34 pada daerah studi dan kontrol 33 tidak berbeda bermakna. Hal ini berarti bahwa bahwa telah terjadi peningkatan pengetahuan penaggulangan BDD baik pada daerah studi dan kontrol secara bermakna, juga terjadi peningkatan perilaku cara-cara penanggulangan DBD pada kedua daerah studi dan kontrol, tetapi peningkatan perilaku pada daerah studi dan kontrol tidak berbeda bermakna. Saran Diperlukan peningkatan penyuluhan dalam penanggulangan penyakit DBD, melalui media masa TV secara intensif dan rinci, frekuensi dan kedalaman penyuluhan melalui media tersebut, karena masyarakat nampaknya senang mengikuti iniformasi melalui media TV. Diperlukan peningkatan penyuluhan melalui orang-orang kunci setempat yang dapat mengembangkan penyuluhan secara sambung rasa melalui keluarga-keluarga/tetangga dekat dan perlu dukungan dari swasta dalam penggandaan media cetak dan dukungan Pemda setempat untuk kaderkader melaksanakan penyuluhan secara inteslf. UCAPAN TERIMA KASIH Ucapan terima kasih saya tujukan kepada Kepala Dinas Kesehatan Kota Blitar, Kepala

13

Kalurahan, Ketua RW/RT dan Kader Kesehatan di empat kalurahan tempat penelitian di Kota Blitar, yang telah membantu lancarnya penelitian Ini. KEPUSTAKAAN 1. Sungkar, S. Pemberatasan vektor demam berdarah dengue. Majalah Kedokteran Indonnesia (The Journal of the Indonesia Medical Association), 2005; 55(5) Mei: 408. 80 • Berita Kedokteran Masyarakat. Vol. 22, No. 2, Juni 2006 Page 7 Berita Kedokteran Masyarakat Vol. 22, No. 2, Juni 2006 halaman 75-81 Achmad, H.H. Variabel yang mempengaruhi partisipasi ¡bu rumah tangga dalam pelaksanaan pemberantasan sarang nyamuk. Majalah Cermin Dunia Kedokteran. 1997; 119(September):9. Arief, W. dan Nuswantoro, D.J. Sanitasi lingkungan dan perilaku masyarakat terhadap penyakit demam berdarah di Kalurahan Sidokumpul Kabupaten Sidoarjo. Media IDI. 1994; 19(2): 27. Isaac, St., and Micahael, B.W. Handbook in research and evaluation for Education the Behavioral Sciences, Fourth Printing, Library of Congress in the United states of America. 1984:43. Liliweri, A. Komunikasi antar pribadi. Penerbit Citra Aditya Bakti, Bandung.1991: 70. Liliweri, A. Komunikasi antar pribadi. Penerbit Citra Aditya Bakti, Bandung.1991:72. Ross, H.S. and Mico, PR. Theory and practice in health education. Mayfield Publishing Company. 1980: 90-108. Lestari, C, dan Sungkar, S.S. Upaya mengatasi faktor-faktor penghambat pemberantasan demam berdarah dengue. Majalah Kedokteran Indonesa (The Journal of the Indonesia Medical Association), 2005; 55(11) Nopember: 687. Departemen Kesehatan RI, Direktorat Jenderal Pemberantasan Penyakit Menular dan Penyehatan Lingkungan Pemukiman. Petunjuk teknis penemuan, pertolongan dan pelaporan penderita penyakit demam berdarah dengue. 1992:1. Berita Kedokteran Masyarakat, Vol. 22. No. 2. Juni 2006 »81

14

15

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->