P. 1
Sejarah Dan Peranan NU

Sejarah Dan Peranan NU

|Views: 9,728|Likes:
Published by Hendri Wijaya

More info:

Published by: Hendri Wijaya on Aug 18, 2010
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

09/24/2013

pdf

text

original

Kongres umat Islam se-Indonesia pada tanggal 7-8 November 1945

yang berlangsung di gedung Mu’allimin Muhammadiyah Yogyakarta telah

melahirkan berdirinya partai Islam Masyumi. Pembentukan partai ini

mendapat dukungan besar dari para ulama dan tokoh kelompok

tradisionalis dan modernis. Dukungan yang terbesar diberikan oleh

Muhammadiyah, NU, dan PSII. Dalam kongres itu menghasilkan dua

keputusan penting, selain menyepakati pendirian Masyumi, juga

memposisikan Masyumi sebagai satu-satunya partai politik bagi umat

Islam di Indonesia. Posisi dan keinginan Masyumi menjadi satu-satunya

partai politik Islam di Indonesia tidak bertahan lama, karena di dalam

tubuh partai itu terjadi perpecahan, yang ditandai dengan keluarnya PSII

42

pada tahun 1947. Pertentangan juga terjadi antara NU dengan

Muhammadiyah yang menjadi salah satu penyebab NU dari Masyumi.

Keluarnya NU dari Masyumi disebabkan oleh: (1) keinginan NU

sendiri untuk mandiri dalam berpolitik; (2) Masyumi didominasi oleh

kelompok modernis; dan (3) perbedaan visi karena tradisi berpolitik yang

dikembangkan kelompok tradisonalis dengan modernis; (4) NU dalam

Masyumi tidak pernah menduduki posisi strategis (Shobron, 2003 : 88).

Dalam politik terdapat istilah “tidak ada kawan atau teman dan

musuh yang abadi, yang abadi adalah kepentingan politik itu sendiri”.

Kalau kepentingannya terakomodasi akan terus memberikan dukungan,

tetapi kalau kepentingannya ternyata tidak terakomodasi dukungannya

akan dicabut. Karena sering terjadi konflik kepentingan dalam tubuh

partai, maka NU keluar dari Masyumi pada 8 April 1952 dan mendirikan

partai sendiri yang diberi nama sesuai dengan nama jam’iyahnya, yaitu

Partai Nahdlatul Ulama (Wawancara dengan Bapak KH Zaenal Abidin

Noory, 20 April 2007).

Kiprah politik NU di dalam Masyumi tidak bertahan lama, konflik

antara Muhammadiyah dan NU merupakan salah satu bentuk konflik

antara dua aliran, yakni tradisonalis dan modernis. Ibarat sebuah sayap,

tradisionalis sayap kanan, modernis sayap kiri. Untuk mencapai tujuan

yang diharapkan yaitu Masyumi dapat dijadikan sebagai satu-satunya

Partai yang mewakili umat islam, kedua sayap tersebut harus berkibar

sesuai dengan irama dan fungsinya masing-masing, kalau salah satu

43

sayapnya patah, maka terbangnya akan miring dan membutuhkan waktu

yang lama untuk mencapai tujuan itu.

3. NU Sebagai Partai Independen

Dengan bermodal jumlah massa yang cukup besar, NU berusaha

untuk memperoleh suara yang sebanyak-banyaknya dalam pemilihan

umum. Pemilihan umum pertama tahun 1955 sebagai wujud konkret bagi

kekuatan NU dan dapat dikatakan sebagai pukulan yang besar bagi

Masyumi. Pada pemilu tahun 1955, NU menempatkan diri pada urutan

ketiga perolehan suara dari 29 partai yang memperoleh kursi di DPR. Di

Pemalang pada pemilu yang pertama ini juga mampu menempatkan NU

pada tiga besar kekuatan politik. Yaitu dengan mendapatkan 10 kursi di

tingkat kabupaten, hal ini terjadi karena NU dan PSII akur, sehingga

banyak suara PSII yang memilih partai NU (Wawancara dengan Bapak

KH Zaenal Abidin Noory, 20 April 2007).

Keberhasilan NU menjadi empat besar dipengaruhi oleh dukungan

basis massa pesantren dan kyai. Selain itu juga didukung oleh tema-tema

kampanye, misalnya; siapa yang memilih NU akan masuk syurga, NU

partainya santri dan kyai, Masyumi terlibat dalam pemberontakan DI/TII.

Tema-tema ini memberikan andil perolehan suara NU pada waktu itu,

karena disampaikan oleh juru kampanye yang sebagian besar adalah

kalangan ulama atau kyai, sementara ucapan kyai adalah “kebenaran”,

sehingga masyarakat pedesaan dan kalangan pesantren mengikuti apa kata

kyainya.

44

Keberhasilan NU dalam menempatkan diri dalam empat kelompok

besar, mengantarkan NU masuk ke lingkaran eksekutif dalam bentuk

koalisi pemerintahan baru. NU memperoleh empat jabatan kementrian,

yaitu Mr. Sunarjo (Menteri Dalam Negeri), Mr. Burhanudin (Menteri

Perekonomian), KH. Fatah Yasin (Menteri Sosial), KH. M. Ilyas (Menteri

Agama)sedangkan KH. Idham Chalid menduduki jabatan Wakil Perdana

Menteri II (Shobron, 2003 : 91).

Pada Pemilihan Umum yang kedua diselenggarakan tahun 1971. NU

masih menunjukkan sebagai partai besar dengan menduduki peringkat

kedua setelah Golkar dan diatas Parmusi di tingkat nasional. Golkar

memperoleh suara 62,8 %, NU mendapatkan 18,6 %, dan Parmusi 7,37 %.

Sedangkan partai Islam dan partai lainnya memperoleh suara tidak lebih

dari 7 % dari keseluruhan jumlah pemilih. Sebagai contoh PNI hanya

memperoleh 3.793.266 atau sekitar 6,94 % suara, PSII memperoleh

1.308.237 atau sekitar 2,39 %, Parkindo 745.359 suara atau 1,34 %, dan

Perti 381.309 yaitu 0,70 % saja (Shobron, 2003 : 93).

Dari keterangan diatas dapat dilihat bahwa walaupun NU menempati

urutan kedua, namun terpaut cukup besar dibandingkan dengan Golkar,

selisih 169 kursi. Kondisi semacam ini sangat menguntungkan bagi Golkar

yang nantinya dijadikan sebagai alat kekuasaan bagi Orde Baru untuk

menerapkan kebijaksanaannya politiknya yang berorientasi kepada

pembangunan ekonomi dan dapat dengan mudah untuk mempertahankan

kekuasaannya.

45

Sedangkan di tingkat lokal terutama di Pemalang perolehan suara

NU di tingkat kabupaten (DPRD II) juga menempatkan NU sebagai

kekuatan politik terbesar kedua setelah Golkar. Yaitu dengan memperoleh

12 kursi, sedangkan Golkar mendapat 13 kursi (Badan Arsip daerah

Pemalang tahun 1991).

4. NU Berfusi ke dalam PPP

Upaya restrukturisasi politik yang dilakukan oleh pemerintah Orde

Baru pada awal kelahirannya menjadi faktor pendorong utama

pembentukan PPP. Hal ini dianggap sebagai perubahan politik di tingkat

nasional. Pengalaman traumatik dengan kehidupan kepartaian pada sistem-

sistem politik sebelumnya, dan obsesi terhadap suatu sistem politik yang

dapat menjamin perbaikan ekonomi adalah bagian dari tuntutan perubahan

itu. Untuk merealisasikan tujuan itu, pemerintah Orde Baru berupaya

menerapkan kebijaksanaan ganda. Pertama, melakukan stabilisasi dan

pembangunan ekonomi yang berorientasi pada pertumbuhan. Kedua,

sekaligus mendukung yang pertama lalu melakukan penataan politik

dengan harapan terbentuknya suatu sistem politik yang kondusif bagi

pilihan kebijakan ekonomi (Haris, 1991 : 34).

Selama diberlakukannya sistem politik Demokrasi Parlementer,

kehidupan politik di tanah air yang didominasi oleh partai-partai dengan

ideologi yang berbeda-beda menghasilkan konflik dan ketidakstabilan

politik yang berkepanjangan. Hal ini yang mendasari langkah pemerintah

Orde Baru dalam menjalankan pemerintahannya. Penataan politik yang

46

dilakukan oleh Presiden Soeharto pada pemerintahannya adalah

menyederhanakan struktur kepartaian, baik dari segi jumlah, pola

dukungan, basis massa, maupun aliran serta ideologi yang dianut oleh

partai-partai. Sehingga pemerintah Orde baru dituntut untuk menciptakan

suatu sistem politik yang relatif bebas dari pengaruh partai, berikut

ideologi yang dibawanya. Menurut pemerintah Orde Baru tampaknya

berlaku pandangan bahwa jumlah partai dan jumlah ideologi yang

dibawanya identik dengan jumlah konflik dan ketidakstabilan politik yang

dihasilkannya. Sedangkan kestabilan ekonomi bergantung pada kestabilan

perpolitikan nasional. Pertumbuhan ekonomi dianggap dapat dicapai

dengan mengeliminasikan kemungkinan konflik yang muncul dan

kestabilan politik itu sendiri.

Dalam hal mencapai maksud tersebut pemerintah Orde Baru

setidaknya melakukan empat upaya. Pertama, menciptakan

pengelompokan politik yang baru di DPR. Hal itu yang akan mengatasi

dominasi partai-partai, dan dapat menjadi “perpanjangan tangan”

pemerintah. Oleh karena itu, pemerintah Orde Baru memperkuat

organisasi Sekretariat Bersama Golongan Karya (Sekber Golkar), yang

semula dibentuk atas prakarsa Angkatan Darat untuk menampung aspirasi

golongan fungsional dan kekaryaan. Kedua, membangun suatu birokrasi

yang bebas dari pengaruh partai politik (parpol) sehingga program

pembangunan yang yang dicanangkan pemerintah dapat terlaksana dengan

baik. Dalam upaya mewujudkan cita-cita itu, lalu pemerintah menciptakan

47

“jarak” antara partai dengan birokrasi. Selain itu, juga membiarkan

kerjasama yang erat antara birokrasi dengan Golkar. Ketiga, mendorong

pembentukan kelompok kepentingan korporatis yang bertujuan ganda.

Upaya ini untuk mengeliminasikan konflik-konflik sosial yang muncul

dari perbedaan kepentingan. Kecuali itu, sebagai upaya dimaksudkan

untuk mengambil alih peran artikulatif dari partai-partai politik. Keempat,

menyederhanakan jumlah partai dan ideologi yang dianut sehingga konflik

dan ketidakstabilan diharapkan akan berkurang (Haris, 1991 : 35).

Makna yang tersurat dari uraian di atas adalah feomena partai dan

ideologi yang dibawa serta mencerminkan “fenomena kepolitikan lama”,

yang akan menjadi arus pinggir dari tatanan politik yang baru. Selain itu,

menurut pemerintah Orde Baru partai dengan basis ideologis hanya

menghasilkan pertentangan-pertentangan sehingga cenderung dianggap

sebagai “masa lalu yang buruk”. Oleh karena itu, partai-partai dengan

basis ideologis perlu “dikuburkan” karena dianggap tidak sesuai lagi

dengan kecenderungan Orde Baru yang berorientasi kepada program. Ini

terlihat pada penolakan terhadap upaya rehabilitasi Masyumi yang

dilakukan oleh kalangan reformis Islam, dan hanya mengizinkan

pembentukan Parmusi dengan susunan kepemimpinan yang sebagian

ditentukan oleh pemerintah. Penggarapan dan pelumpuhan atas partai-

partai juga tampak ketika pada 1969 Mendagri Amirmachmud

mengeluarkan Peraturan Menteri Nomor 12 tahun 1969, yang populer

dengan sebutan “Permen 12”. Ketentuan itu dimaksudkan untuk

48

memurnikan Golkar di DPRD Tingkat I dan II. Selanjutnya, menyusul

Peratuan Pemerintah (PP) Nomor 6 Tahun 1970 yang mewajibkan atas

pegawai negeri hanya memiliki loyalitas tunggal kepada pemerintah.

Dalam upaya pelumpuhan terhadap partai-partai ideologis pemerintah

Orde Baru juga membentuk wadah tunggal Korps Pegawai Negeri

(Korpri) bagi seluruh negeri. Tujuan pembetukan Korpri untuk menggiring

pegawai negeri dan keluarganya agar memberikan suara bagi Golkar

(Haris, 1991 : 35).

Di kalangan partai-partai Islam, “pembersihan” terhadap para politisi

yang berhaluan keras berlangsung di dalam tubuh Parmusi dan PSII.

Pemerintah menolak kehadiran kembali tokoh-tokoh Masyumi di dalam

kepemimpinan Parmusi, yaitu Muhammad Roem yang terpilih dalam

Muktamar I Parmusi di Malang. Pemerintah hanya merestui Parmusi di

bawah H.M.S. Mintareja, yang dianggap lebih moderat. Setelah Pemilu

1971, “pembersihan” dialami pula oleh PSII yang menyelenggarakan

muktamar di Majalaya, Jawa Barat, dan memilih pemimpin seperti Ch.

Ibrahim, presiden Lajnah Tanfidziah, H. Wartomo Dwidjojuwono, Sekjen,

dan H. Bustaman SH, ketua Dewan Pusat. Akan tetapi mereka dianggap

berhaluan keras dan bersikap kritis terhadap pemerintah. Ini menjadi

alasan bagi pemerintah untuk melakukan “pembersihan” bagi politisi-

politisi yang berhaluan pada ideologis. Partai-partai yang mengalami

“pembersihan” semacam inilah yang pada awal 1973 bergabung kepada

PPP (Haris, 1991 : 36).

49

Hasil Pemilu 1971 secara mutlak dimenangkan oleh Golkar.

Kemenangan dengan perolehan suara 62,8 persen bukan saja mempertebal

keyakinan pemerintah terhadap upaya restrukturisasi politik yang

dilakukannya, tetapi juga kian menipisnya kepercayaan diri di kalangan

partai terhadap kemampuan mereka untuk lebih lama

mempertahankannya. Oleh karena itu, tidak mengherankan bila gagasan

penyederhanaan partai yang mejadi komitmen pemerintah Orde baru tidak

dapat ditolak oleh kalangan partai, termasuk partai-partai Islam, seperti

NU, Parmusi, PSII, dan Perti. Pada Pemilu 1971 mereka secara total hanya

memperoleh 27,1 persen, dan pada akhirnya menandatangani deklarasi

pembentukan PPP pada tanggal 5 Januari 1973. Deklarasi itu dilakukan

oleh tokoh-tokoh dari beberapa partai Islam antara lain; K.H. Dr. Idham

Chalid (NU), H.M.S. Mintaredja S.H.(Parmusi), H. Anwar Tjokro

Aminoto (PSII), Rusli Khalil (Perti), dan K.H. Masykur (Ketua Kelompok

Pembangunan di Fraksi DPR).

Proses pendeklarasian PPP juga menyebar ke beberapa daerah di

Indonesia terutama bagi daerah yang memiliki basis massa NU. Pemalang

sebagai salah satu daerah yang berbasis massa NU juga tidak terkecuali.

Para ulama NU dan tokoh-tokoh Islam lainnya yang berasal dari organisasi

sosial politik lainnya seperti Muhammadiyah, PSII, Perti juga

mendeklarasikan PPP di Pemalang sehari setelah pendeklarsian PPP di

tingkat pusat. Pada awal pembentukannya DPC PPP Pemalang dibawah

pimpinan H Solikhin Kohar yang berasal dari NU, kepemimpinannya

50

berlangsung sampai pada tahun 1982. Pada tahun 1982 sampai 1992 DPC

PPP juga dipimpin oleh tokoh dari NU yaitu KH Asrori Saleh, BA (yang

mengalami dua masa periode kepemimpinan).

Penyatuan partai-partai Islam ke dalam PPP sebetulnya merupakan

upaya dari pemerintah atau Golkar yang merugikan partai-partai Islam

sendiri. Sebab sejarah keberadaan partai-partai Islam, sejak semula hanya

bersifat organisasi sosial keagamaan seperti halnya NU, Muhammadiyah,

Syarekat Islam, Perti selalu diwarnai dengan ketegangan diantara tokoh-

tokohnya. Ini artinya usaha pemerintah dalam menyatukan partai dibalik

obsesinya untuk menyederhanakan pembinaan, sebenarnya sudah

mengabaikan latar belakang sejarah organisasi dengan latar belakang

“ideologi gerakan” yang berbeda. Memang organisasi Islam itu pernah

bersatu, seperti halnya pada masa penjajahan Belanda dengan didirikannya

MIAI, Masyumi pada zaman Jepang. Namun stabilitas organisasi itu

hanya bersifat sementara, pada saat mereka sama-sama merasakan

tantangan dari luar yang harus dihadapi dengan kesatuan islam. Namun

setelah berjalan beberapa lama, benih-benih konflik lama kembali muncul

menjadi pemicu konflik. Salah satu penyebab timbulnya konflik itu adalah

mempertahankan ideologi gerakan (defensif), dan perebutan status dan

kekuasaan di dalam organisasi pemersatu. Dengan demikian, yang semula

diharapkan menjadi pemersatu, kemudian menjadi wadah dimana tokoh-

tokohnya memperuncing konflik. Sebagai jawaban dari munculnya

berbagai konflik yang terjadi di dalam tubuh PPP, beberapa unsur

51

melpaskan diri dari ikata politik yang ada seperti yang terjadi pada NU

yang keluar dari keanggotaan fusi pada tahun 1984. Dapat dikatakan

bahwa penyatuan partai-partai Islam ke dalam satu partai (PPP)

merupakan strategi pemerintah dan Golkar untuk melanggengkan konflik

internal, yang secara politis tidak menguntungkan untuk merebut simpati

dari luar (massa pendukung), sehingga pada saat yang bersamaan simpati

massa akan lari ke Golkar dengan kepemimpinan yang matang dan kondisi

internal organisasi yang stabil (Wawancara dengan Bapak KH Slamet

Zaeny, 20 April 2007).

BAB III

STRATEGI NAHDLATUL ULAMA DALAM UPAYA MEMENANGKAN

PARTAI PERSATUAN PEMBANGUNAN DI PEMALANG

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->