P. 1
Kelas XII SMK Teknik-struktur-bangunan Dian

Kelas XII SMK Teknik-struktur-bangunan Dian

5.0

|Views: 955|Likes:
Published by tuduk

More info:

Published by: tuduk on Aug 18, 2010
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

04/17/2013

pdf

text

original

Beton adalah suatu komposit dari beberapa bahan batu-batuan yang
direkatkan oleh bahan-ikat. Beton dibentuk dari agregat campuran (halus
dan kasar) dan ditambah dengan pasta semen. Pada prinsipnya pasta
semen mengikat pasir dan bahan-bahan agregat lain (batu kerikil, basalt dan
sebagainya). Rongga di antara bahan-bahan kasar diisi oleh bahan-bahan
halus. Hal ini memberi gambaran bahwa harus ada perbandingan optimal
antara agregat campuran yang bentuknya berbeda-beda agar pembentukan
beton dapat dimanfaatkan oleh seluruh material.

Material penyusun beton secara umum dibedakan atas:
− semen: bahan pengikat hidrolik,
− agregat campuran: bahan batu-batuan yang netral (tidak bereaksi)
dan merupakan bentuk sebagian besar beton (misalnya: pasir,
kerikil, batu-pecah, basalt);

− air
− bahan tambahan (admixtures) bahan kimia tambahan yang
ditambahkan ke dalam spesi-beton dan/atau beton untuk mengubah
sifat beton yang dihasilkan (misalnya; 'accelerator', 'retarder' dan
sebagainya

Sedangkan produk campuran tersebut dibedakan atas:
− batuan-semen: campuran antara semen dan air (pasta semen) yang
mengeras
− spesi-mortar: campuran antara semen, agregat halus dan air yang
belum mengeras;
− mortar: campuran antara semen, agregat halus dan air yang telah
mengeras;
− spesi-beton: campuran antara semen, agregat campuran (halus dan
kasar) dan air yang belum mengeras;
− beton: campuran antara semen, agregat campuran dan air yang
telah mengeras;

7.2.1. Semen

Semen dipakai sebagai pengikat sekelompok bahan-ikat hidrolik
untuk pembuatan beton. Hidrolik berarti bahwa semen bereaksi dengan air
dan membentuk suatu batuan massa, suatu produksi keras (batuan-semen)
yang kedap air.

Semen adalah suatu hasil produksi yang dibuat di pabrik-semen.
Pabrik-pabrik semen memproduksi bermacam-macam jenis semen dengan
sifat-sifat dan karaktefistik yang berlainan.

1. lingkup pekerjaan dan peraturan bangunan

340

Semen dibedakan dalam dua kelompok utama yakni:
− semen dari bahan klinker-semen-Portland
o semen Portland,
o semen Portland abu terbang,
o semen Portland berkadar besi,
o semen tanur-tinggi ('Hoogovencement'),
o semen Portland tras/puzzolan,
o semen Portland putih.

− semen-semen lain
o aluminium semen,
o semen bersulfat

Perbedaan di atas berdasarkan karakter dari reaksi pengerasan
kimiawi. Semen-semen dari kelompok-1, diantara yang satu dan yang lain
tidak saling bereaksi (membentuk persenyawaan lain). Semen kelompok-2
bila saling dicampur atau bercampur dengan kelompok-1 akan membentuk
suatu persenyawaan baru. Hal ini berarti semen dari kelompok-2 tidak boleh
dicampur. Semen portland dan semen portland abu-terbang adalah semen
yang umum dipakai di Indonesia.
Semen dan air saling bereaksi, persenyawaan ini dinamakan
hidratasi sedangkan hasil yang terbentuk disebut hidrasi-semen. Proses
reaksi berlangsung sangat cepat. Kecepatan yang mempengaruhi waktu
pengikatan adalah:
− kehalusan semen
− faktor air-semen
− temperatur.

Kehalusan penggilingan semen mempengaruhi kecepatan
pengikatan. Kehalusan penggilingan dinamakan penampang spesifik
(adalah total diameter penampang semen). Jika seluruh permukaan
penampang lebih besar, maka semen akan memperluas bidang kontak
(persinggungan) dengan air yang semakin besar. Lebih besar bidang
persinggungannya semakin cepat kecepatan bereaksinya, Karena itu
kekuatan awal dari semen-semen yang lebih halus (penampang spesifik
besar) akan lebih tinggi, sehingga pengaruh kekuatan-akhir berkurang.
Ketika semen dan air bereaksi timbul panas, panas ini dinamakan
panas-hidratasi. Jumlah panas yang dibentuk antara lain tergantung dari
jenis semen yang dipakai dan kehalusan penggilingan. Dalam pelaksanaan,
perkembangan panas ini dapat membentuk suatu masalah yakni retakan
yang teijadi ketika pendinginan. Pada beberapa struktur beton retakan ini
tidak diinginkan. Terutama pada struktur beton mutu tinggi pembentukan
panas ini sangat besar. Panas hidratasi pada suatu struktur beton dapat
ditentukan dan untuk beberapa pemakaian semen yang lain, dalam masa
pelaksanaannya harus dilakukan dengan pendinginan. Aspek lain yang
besar pengaruhnya terhadap pembentukan panas hidratasi adalah faktor
air-semen.

1. lingkup pekerjaan dan peraturan bangunan

341

Faktor air semen (FAS) adalah perbandingan antara berat air dan

berat semen:

berat air
F.A.S = ------------------
berat semen

Misalkan:

F.A.S = 0,5; bila digunakan semen 350 [kg/m3

],

Maka banyaknya air = 350 x 0,5 = 175 [l/ m3
]

Faktor air-semen yang rendah (kadar air sedikit) menyebabkan air di
antara bagian- bagian semen sedikit, sehingga jarak antara butiran butiran
semen pendek. Akibatnya massa semen menunjukkan lebih berkaitan,
karenanya kekuatan awal lebih dipengaruh dan batuan-semen mencapai
kepadatan tinggi.

Semen dapat mengikat air sekitar 40% dari beratnya; dengan kata
lain air sebanyak 0,4 kali berat semen telah cukup untuk membentuk seluruh
semen berhidrasi. Air yang berlebih tinggal dalam pori-pori. Beton normal
selalu bervolume pori-pori halus rata yang saling berhubungan, karena itu
disebut pori-pori kapiler. Bila spesi-beton ditambah ekstra air, maka
sebenanya hanya pori-porinya yang bertambah banyak. Akibatnya beton
lebih berpori-pori dan kekuatan serta masa pakainya berkurang.

7.2.2. Agregat

Agregat adalah bahan-bahan campuran-beton yang saling diikat oleh
perekat semen. Agregat yang umum dipakai adalah pasir, kerikil dan batu-
batu pecah. Pemilihan agregat tergantung dari:
− syarat-syarat yang ditentukan beton
− persediaan di lokasi pembuatan beton
− perbandingan yang telah ditentukan antara biaya dan mutu

Dari pemakaian agregat spesifik, sifat-sifat beton dapat dipengaruhi.
Suatu pembagian yang sepintas lalu (kasar) dapat dilakukan sebagai
berikut:

− agregat normal (kuarsit, pasir, kerikil, basalt)
− agregat halus (puing-batu, terak-lahar, serbuk-batu/bims).
− agregat kasar (bariet, bijib-besi magnetiet dan limoniet).
Kecuali agregat alam dapat juga digunakan produk-aIami sinter atau
terbakar, beton gilas atau puing tembok batu-bata.

Umumnya pasir yang digali dari dasar sungai cocok digunakan untuk
pembuatan beton. Produksi penggalian pasir dan kerikil akan dipisah-
pisahkan dengan ayakan dalam 3 kelompok yaitu:
− kerikil kasar (lebih besar dari 30 mm)
− kerikil beton (dari 5 mm sampai 30 mm)
− pasir beton (lebih kecil dari 5 mm).

1. lingkup pekerjaan dan peraturan bangunan

342

Dua kelompok terakhir adalah yang cocok (atau dengan mencampurkannya
hingga cocok) untuk pembuatan beton. Dari kelompok pertama dapat
dipecahkan agar dapat digunakan.
Di samping bahan agregat diperoleh dari galian alami (hampir
langsung dapat digunakan untuk beton), dapat juga didapatkan dengan
pemecahan formasi batuan tertentu dengan mesin pecah batu (stone
crusher) sampai berbentuk batu-pecah dengan kasar yang berbeda-beda.
Pemecahan ini dilakukan dalam tingkatan yang berbeda-beda. Dari jenis
bongkah-bongkah yang cocok seperti basalt, granit dan kuarsit akan
diledakkan dahulu sampai berupa batu-batu gumpalan. Kemudian gumpalan
ini dimasukkan ke dalam mesin pecah batu secara mekanis atau dengan
tangan dan dipecahkan sampai mendapat bentuk yang diinginkan.
Umumnya bentuk-bentuk yang didapatkan berupa butir-butir ukuran 7 mm
sampai 50 mm yang nantinya ditambah dengan bahan-bahan antara 5 mm
sampai 10 mm.

7.2.3. Air

Karena pengerasan beton berdasarkan reaksi antara semen dan air,
maka sangat perlu diperiksa apakah air yang akan digunakan memenuhi
syarat-syarat tertentu. Air tawar yang dapat diminum, tanpa diragukan boleh
dipakai. Bila tidak terdapat air minum disarankan untuk mengamati apakah
air yang digunakan tersebut tidak mengandung bahan-bahan yang merusak
beton/baja.

Pertama-tama yang harus diperhatikan adalah kejernihan air tawar,
apabila ada berberapa kotoran yang terapung, maka air tidak boleh dipakai.
Di samping pemeriksaan visual, harus juga diamati apakah air itu tidak
mengandung bahan-bahan perusak, contohnya: fosfat, minyak, asam, alkali,
bahan-bahan organis atau garam-garam. Penelitian semacam ini harus
dilakukan di laboratorium kimia. Selain air dibutuhkan untuk reaksi
pengikatan, dipakai pula sebagai perawatan-sesudah beton dituang. Suatu
metode perawatan selanjutnya dengan cara membasahi terus-menerus atau
beton yang baru direndam air.
Air ini pun harus mernenuhi syarat-syarat yang lebih tinggi daripada
air untuk pembuatan beton. Misalkan air untuk perawatan selanjutnya
keasaman tidak boleh memilik kadar pHnya > 6, juga tidak dibolehkan terlalu
sedikit mengandung kapur.

7.2.4. Bahan kimia tambahan

Bahan kimia tambahan (admixtures) suatu bahan produksi di
samping bahan semen, agregat campuran dan air, yang juga dicampurkan
dalam campuran spesi-beton. Tujuan dari penambahan bahan kirma ini
adalah untuk memperbaiki sifat-sifat tertentu dari campuran beton lunak dan
keras. Takaran bahan kimia tambahan ini sangat sedikit dibandingkan
dengan bahan utarna hingga takaran bahan ini dapat diabaikan. Bahan
kimia tambahan tidak dapat mengoreksi komposisi spesi-beton yang buruk.

1. lingkup pekerjaan dan peraturan bangunan

343

Karenanya harus diusahakan komposisi beton seoptimal mungkin dengan
bahan-bahan dasar yang cocok.
Dari macam-macarn bahan kimia tambahan yang ada harus
diadakan percobaan awal terlebih dahulu derni kepentingan apakah
takarannya memenuhi sifat-sifat yang dituju. Beberapa bahan tambahan
mungkin mempunyai garis-garis besar atau norma yang menentukan
pemakaiannya. Suatu pemakaian dari bahan kimia tambahan yang penting
adalah untuk menghambat pengikatan serta meninggikan konsistensinya
tanpa pertambahan air. Oleh karena itu, spesi mudah diangkut serta
mempertinggi kelecakan agar pada bentuk-bentuk bekisting yang sulit pun
dapat terisi pula dengan baik.
Bahan kimia tambahan yang umum dipakai adalah:
− super-plasticizer, untuk mempertinggi kelecakan (zona konsistensi
dipertinggi), mengurangi jumlah air pencampur;
− pembentuk gelembung udara meninggikan sifat kedap air,
meninggikan kelecakannya;
− 'retarder', memperlambat awal pengikatan atau pengerasan,
memperpanjang waktu pengerjaan; digunakan pada siar ccr,
membatasi panas hidratasi (struktur tingkat berat);
− bahan warna, untuk memberi warna permukaan.

7.2.5. Tulangan

Beton tidak dapat menahan gaya tarik melebihi nilai tertentu tanpa
mengalami keretakan. Oleh karena itu, agar beton dapat bekerja dengan
baik dalam sistem struktur, beton perlu dibantu dengan memberinya
perkuatan penulangan yang berfungsi menahan gaya tarik. Penulangan
beton menggunakan bahan baja yang memiliki sifat teknis yang kuat
menahan gaya tarik. Baja beton yang digunakan dapat berupa batang baja
lonjoran atau kawat rangkai las (wire mesh) yang berupa batang-batang
baja yang dianyam dengan teknik pengelasan.

Baja beton dikodekan berurutan dengan: huruf BJ, TP dan TD,

− BJ berarti Baja
− TP berarti Tulangan Polos
− TD berarti Tulangan Deformasi (Ulir)

Angka yang terdapat pada kode tulangan menyatakan batas leleh
karakteristik yang dijamin. Baja beton BJTP 24 dipasok sebagai baja beton
polos, dan bentuk dari baja beton BJTD 40 adalah deform atau dipuntir
(Gambar 7.4).

Baja beton yang dipakai dalam bangunan harus memenuhi norma
persyaratan terhadap metode pengujian dan perneriksaan untuk bermacam-
macam mutu baja beton menurut Tabel 7.1.

1. lingkup pekerjaan dan peraturan bangunan

344

Gambar 7.4. Jenis baja tulangan

Sumber: Sagel dkk, 1994

Tabel 7. 1. Karakteristik baja tulangan

Sumber: Sagel dkk, 1994

Jenis

Mutu baja

Batas luluh
Mpa
(kg/cm2)

Kuat tarik
Mpa
(kg/cm2)

Regangan
pada beban
maksimum

Polos

Bj.Tp 24

240
(2400)

390
(3900)

3 %

Deform Bj.Td 40

400
(4000)

500
(5000)

5 %

Secara umum berdasarkan SNI 03-2847-2002 tentang Tata cara
perhitungan struktur beton untuk bangunan gedung,
baja tulangan yang
digunakan harus tulangan ulir. Baja polos diperkenankan untuk tulangan
spiral atau tendon. Baja tulangan umumnya harus memenuhi persyaratan
yang berorientasi pada ASTM (American Society for Testing Materials)
yang diantaranya memenuhi salah satu ketentuan berikut:

− “Spesifikasi untuk batang baja billet ulir dan polos untuk penulangan
beton” (ASTM A615M).
− “Spesifikasi untuk batang baja axle ulir dan polos untuk penulangan
beton” (ASTM A617M).
− “Spesifikasi untuk baja ulir dan polos low-alloy untuk penulangan
beton” (ASTM A706M).
Sedangkan di Indonesia, produksi baja tulangan dan baja struktur telah
diatur sesuai dengan Standar Industri Indonesia (SII), antara lain adalah
SII 0136-80 dan SII 318-80.

Di samping mutu baja beton BJTP 24 dan BJTD 40 seperti yang
ditabelkan itu, mutu baja yang lain dapat juga spesial dipesan (misalnya
BJTP 30). Tetapi perlu juga diingat, bahwa waktu didapatnya lebih lama dan
harganya jauh lebih mahal. Guna menghindari kesalahan pada saat
pemasangan, lokasi penyimpanan baja yang spesial dipesan itu perlu
dipisahkan dari baja Bj.Tp 24 dan Bj.Td 40 yang umum dipakai.

Sifat-sifat fisik baja beton dapat ditentukan melalui pengujian tarik,
dengan diagram seperti pada gambar 10.4. Sifat fisik tersebut adalah:
− kuat tarik; (fy)

1. lingkup pekerjaan dan peraturan bangunan

345

− batas luluh/leleh;
− regangan pada beban maksimal;
− modulus elastisitas (konstanta material), (Es)

Produk tulangan baja beton sangat bervariasi, untuk itu dalam
pelaksanaan di lapangan diberlakukan beberapa toleransi terhadap
penyimpangan-penyimpangan yang terjadi. Beberapa toleransi terhadap
penyimpangan pada kondisi baja yang ada di lapangan disebutkan dalam
tabel 7.2 hingga tabel 7.5.

Tabel 7.2. Penyimpangan yang diizinkan untuk panjang batang

Sumber: Sagel dkk, 1994

Panjang

Toleransi

Di bawah 12 meter

Minus 0 mm
Plus 40 mm

Mulai 12 meter ke atas

Minus 0 mm
Plus 50 mm

Tabel 7.3. Penyimpangan atau toleransi yang diijinkan
untuk massa teoretis per panjang

Sumber: Sagel dkk, 1994

Diameter (mm)

Toleransi (%)

Kurang dari 10 mm

10 mm – 16 mm

16 mm – 28 mm

Lebih dari 28 mm

± 7 %

± 6 %

± 5 %

± 4 %

Tabel 7.4. Penyimpangan yang diizinkan untuk berat teoretis

Sumber: Sagel dkk, 1994

Diameter (mm)

Toleransi (%)

Kurang dari 10 mm

10 mm – 16 mm

16 mm – 28 mm

Lebih dari 28 mm

± 6 %

± 5 %

± 4 %

± 3 %

Tabel 7.5. penyimpangan yang diizinkan dari diameter nominal

Sumber: Sagel dkk, 1994

Diameter (mm)

Toleransi (%)

Penyimpangan
kebundaran

Sampai dengan 14 mm

16 mm – 25 mm

28 mm – 34 mm

36 mm – 50 mm

± 0,4 mm

± 0,5 mm

± 0,6 mm

± 0,8 mm

Maksimum 70 % dari
batas normal

1. lingkup pekerjaan dan peraturan bangunan

346

Gambar 7.5. Diagram tegangan-regangan

Sumber: Sagel dkk, 1994

0 – 1
1 – 2

2 – 3

3 – 4

4 – 5

Daerah elastis
Daerah di mana – (besar tegangan hampir tak berubah) – terjadi plastis
deformasi yang besar (meleleh)
Daerah, untuk memperbesar regangan dibutuhkan pertambahan
tegangan (daerah penguatan)
Daerah dimana regangan membesar sampai 15-20% tanpa memberi
pertambahan tegangan yang berarti
Terjadi penyempitan (konstraksi) – perubahan bentuk setempat yang
besar – dimana suatu penampang batang mengecil sedemikian sehingga
batang akan patah di tempat ini

1. lingkup pekerjaan dan peraturan bangunan

347

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->