Majalah An-Nashihah Vol.

7 (1425/2008)
1
1
Tuntunan Qiyamul Lail Dan Sholat Tarawih

Ustadz Dzulqarnain Bin Muhammad Sunusi Al-Atsary


Definisi Qiyamul Lail dan Sholat Tarwih

Secara umum sholat di malam hari setelah sholat ‘Isya sampai subuh disebut Qiyamul Lail. Di
dalam Al-Qur`an Al-Karim, Allah Subhanahu berfirman :

v · ¸ ,·|· . | ¸`-, « |· · .· | · · :, · , · .¹ , « |· ¸`· , - , · - . , | :, · | - · - ¸ « ·· , | - « = · :, · |
“Hai orang yang berselimut (Muhammad), bangunlah (untuk sembahyang) di malam hari, kecuali
sedikit (daripadanya), (yaitu) seperduanya atau kurangilah dari seperdua itu sedikit, atau lebih
dari seperdua itu. Dan bacalah Al Qur'an itu dengan perlahan-lahan.” (QS. Al-Muzzammil : 1-4)

Dan sholat di malam hari juga disebut sholat Tahajjud. Allah ‘Azza wa Jalla berfirman :

· ., « ¬ - ·-· « - c· c · - , · . | ¸ . - c | - · ·· · - · =¬ . · · ¸ ,·|· ¸ - ,
“Dan pada sebahagian malam hari bertahajudlah kamu sebagai suatu ibadah tambahan bagimu:
mudah-mudahan Tuhan-mu mengangkat kamu ke tempat yang terpuji.”. (QS. Al-Isra` : 79)

Tahajjud secara bahasa adalah bermakna membuang tidur. Berkata Imam Ath-Thobary :
“Tahajjud adalah begadang setelah tidur” kemudian beliau membawakan beberapa nukilan dari
ulama Salaf tentang hal tersebut.

Adapun sholat Tarawih, definisinya adalah Qiyamul Lail secara berjama’ah di malam Ramadhan.
Menurut keterangan Al-Hafizh Ibnu Hajar dan Syaikh Ibnu ‘Utsaimin, dinamakan Tarawih –yang
dia merupakan kata jamak dari tarwihah yang bermakna ditebalkan- dikarenakan pada awal kali
pelaksanaannya orang-orang memperpanjang berdiri, rukuk dan sujud, apabila telah selesai
empat raka’at dengan dua kali salam maka mereka beristirahat kemudian sholat empat raka’at
dengan dua kali salam lalu beristirahat kemudian sholat tiga raka’at sebagaimana dalam hadits
‘Aisyah radhiyallahu ‘anha riwayat Al-Bukhary dan Muslim :

=· . , = .· · · - . = - · ¸ · - · , , - ¸ · v , .· = - ¸ · = · , · .· = , - |¹ ¸ · - , - , · - =· ¸· = · , = - ¸. - . | . · : · · - · | ¸· = · - - ·
- . | . · : · · - · | ¸·= · . · ¸ . | , | , ¸ . · . - · · : · ¸· = · . · ¸ . | , | , ¸ . · . - ¸ .
“Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam tidaklah menambah pada (bulan) Ramadhan
dan tidak pula pada selain Ramadhan lebih dari sebelas raka'at. Beliau sholat empat (raka'at)
jangan kamu tanya tentang baiknya dan panjangnya, kemudian beliau sholat empat (raka'at)
jangan kamu tanya tentang baiknya dan panjangnya kemudian beliau sholat tiga (raka'at)”.

Dan perlu diketahui bahwa penamaan sholat lail di malam Ramadhan dengan nama Tarawih
adalah penamaan yang sudah lama dan di kenal dikalangan para Ulama tanpa ada yang
mengingkari. Perhatikan bagaimana Imam Al-Bukhary (Wafat tahun 256 H) dalam Shohih-nya
menulis kitab khusus dengan judul Kitab Sholat At-Tarawih dan demikian pula Muhammad bin
Nashr Al-Marwazy (Wafat tahun 294 H) dalam Mukhtashor Qiyamul Lail. Demikian pula disebut
oleh para Ulama lainnya, abad demi abad tanpa ada yang mengingkarinya.
Karena itu alangkah sedikit pemahaman agama sebahagian orang di zaman ini yang mengingkari
penamaan sholat lail di malam Ramadhan dengan nama sholat Tarawih, dan lebih menakjubkan
lagi, ada sebahagian orang tanpa rasa malu menganggap bahwa sholat Tarawih adalah bid’ah.
Nas`alullaha As-Salamata Wal ‘Afiyah.

Baca : Fathul Bari 3/3, 4/250, Majmu’ Fatawa wa Maqalat Mutanawwi’ah karya Syaikh
Ibnu Baz 11/317-318, Asy-Syarh Al-Mumti’ 4/12-13 dan Majmu’ Fatawa wa Rasa`il Syaikh
Ibnu ‘Utsaimin 14/210.

Fadhilah dan Keutamaan Qiyamul Lail dan Sholat Tarwih

Secara umum Qiyamul lail adalah perkara yang sangat dianjurkan dalam syari’at Islam. Berikut
ini beberapa dalil selain dari beberapa ayat yang telah disebutkan di atas :

Allah Ta’ala berfirman :


Majalah An-Nashihah Vol. 7 (1425/2008)
2
2
v . · , . .`· = « ¬ · ·, ¬, = , ·=¬ = ·,, - · . · ·, ,· . · . · ¸· =|· · · ···\ · ¸ - ,· · «· · ., - = · - -· = « |· ¸ - . . ·, · - ¸ ·· ¬ · · ., , , ´ · . ·
., « « · · . ·· · | ·« - , ·- « | , ·· , - . .·
“Sesungguhnya orang-orang yang beriman terhadap ayat-ayat Kami, adalah orang-orang yang
apabila diperingatkan dengan ayat-ayat (Kami), mereka menyungkur sujud dan bertasbih serta
memuji Tuhannya, sedang mereka tidak menyombongkan diri. Lambung mereka jauh dari tempat
tidurnya, sedang mereka berdo`a kepada Tuhannya dengan rasa takut dan harap, dan mereka
menafkahkan sebahagian dari rezki yang Kami berikan kepada mereka.” (QS. As-Sajadah : 15-
16)

Dan Allah Jalla Tsana`uhu menjelaskan diantara sifat hamba-Nya :

·-· , | , ·=¬ = . .`· , | ., ·, , · ¸· =|· ,
“Dan orang-orang yang menghabiskan waktu malamnyai dengan bersujud dan berdiri untuk Rabb
mereka.” (QS. Al-Furqan : 64)

Dan Allah berfirman :
, «· « |· . · ¸ · ¸ , , - , =·· - · = -¹ . ¸ ; · . ¬ - c | . ¸ , | ·, ·· · . .· · . .· . ·· ·¹ · - , · | ·, ·· · ., - ¬ . · · - ¸ ,·|· ¸ - : . · · ¬ = | |· · ,
. , , « - · . ·
“Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa berada di dalam taman-taman (surga) dan di mata
air-mata air, sambil mengambil apa yang diberikan kepada mereka oleh Tuhan mereka.
Sesungguhnya mereka sebelum itu di dunia adalah orang-orang yang berbuat baik; Mereka
sedikit sekali tidur di waktu malam; Dan di akhir-akhir malam mereka memohon ampun (kepada
Allah).” (QS. Adz-Dzariyat : 15-17)

Dan dalam hadits Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu riwayat Muslim, Rasulullah shollallahu ‘alaihi
wa ‘ala alihi wa sallam bersabda :

| · = ¸ `=|· , -· · - = - = .· = . , =· |· « ¬ , - , | · = ¸ =|· : · · - = |· « , · = - = : · ·|· , ¸
“Seutama-utama puasa setelah (puasa) Ramadhan adalah (puasa) Bulan Allah Muharram dan
seutama-utama sholat setelah (sholat) fardhu adalah sholat lail.”

Dalam hadits ‘Amr bin ‘Abasah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam
bersabda :

| | , = - · · ´ , . ,|· = - ¸ |· - , = · ¸ - , = ·|· , ¸ |· -\ , · · . =· · = - . | . · ´ , . - « ¸ · = · , =· · ¸ · · c .|· -· - · ´ ¸
“Sedekat-dekat keberadaan Allah terhadap seorang hamba adalah para pertengahan malam
terakhir. Maka kalau engkau mampu termasuk dari orang mengingat Allah pada saat itu maka
hendaknya engkau termasuk (darinya)” (HR. At-Tirmidzy 5/569/3578, An-Nasa`i 1/279, Ibnu
Khuzaimah 1/182/1147, Al-Hakim 1/453, Al-Baihaqy 3/4 dan dishohihkan oleh Syaikh Muqbil
dalam Al-Jami’ Ash-Shohih 2/171)

Dan sholat lail termasuk penyebab seseorang terhindar dari fitnah, sebagaimana dalam hadits
Ummu Salamah riwayat Al-Bukhary :

¸ ,·|· = « , · =· .· = , - |¹ ¸ · - , - , · - =· ¸· = . =· | , · - · « .· = , ¬ .· =· - .· | · · , . ·|· , · - - ¸ |· « · ¸ , - .· · · · ¬ - ¸ |· ¬ , ·· ¸ , | · « = , ·
= , -· , =· |· ¬ ¬ , · , = · =· , - · =|· ¸ · , · - · · - · ¸ |· -\ , ·
“Nabi shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam terbangun pada suatu malam lalu beliau bersabda
: “Subhanallah, apa yang diturunkan malam ini berupa fitnah dan apa yang dibuka dari berbagai
perbendaharaan, bangunkanlah (para perempuan) pemilik kamar karena kadang (perempuan)
berpakaian di dunia tetapi telanjang di akhirat”.”

Dan dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, beliau berkata :

| . · , ¸ =· .· = , - |¹ ¸ · - , - , · - =· ¸· = · .· · « , - - ¸ ·|· , ¸ - · ¸ · · « = , | = - ·· · « |· . - ·· = - | . · = · - · = · · · = , . =· , | = - « ,
=· | c - · · « = - - ¸ . · , c , - · · | - , | .· | · : | - . | . | · , . - , = = · ´ , ·
“Sesungguhnya Nabi shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam melakukan Qiyamul lail sampai
pecah-pecah kedua kaki beliau maka saya bertanya : “Mengapa engkau melakukan ini wahai
Rasulullah padahal Allah telah mengampuni apa telah berlalu dari dosamu dan apa yang akan
datang?” maka beliau menjawab : “Tidakkah saya cinta untuk menjadi hamba yang bersyukur”.”

Majalah An-Nashihah Vol. 7 (1425/2008)
3
3

Dan dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam
bersabda :

- . =· - · | · -· - ¸ ·|· , ¸ · = · , ¸ | · « = -· , | · - · · . | · . · = ¬ · ¸ , - . . |· · « ·· - . =· -· , | · | -· . - ¸ ·|· , ¸ · = · . , | · « = .
, - . · · · . | · · ¸ = ¬ . · ¸ , - . - |· « ··
“Allah merahmati seorang lelaki yang terbangun di malam hari lalu sholat dan membangunkan
istrinya, kalau dia enggan maka ia memercikkan air ke wajahnya. Allah merahmati seorang
perempuan bangun di malam hari lalu sholat dan membangunkan suaminya, kalau dia enggan
maka ia memercikkan air ke wajahnya.” (HR. Abu Daud no. 1308, 1450, An-Nasa`i 3/205, Ibnu
Majah no. 1336, Ibnu Khuzaimah 2/183/1148, Ibnu Hibban 6/306/2567 -Al-Ihsan-, Al-Hakim
1/453 dan Al-Baihaqy 2/501. Dan dishohihkan oleh Syaikh Muqbil dalam Al-Jami’ Ash-Shohih
2/172)

Dan khusus tentang sholat lail di malam Ramadhan, Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa
sallam telah menjelaskan keutamaannya dalam sabdanya :

- ¸ | -· - = .· · · « ·· , · -· · . ·· - · « , | - - · · « = - - ¸ . · , -
“Siapa yang Qiyam Ramadhan (berdiri sholat di malam Ramadhan) dengan keimanan dan
mengharap pahala maka telah diampuni apa yang telah lalu dari dosanya” (HR. Al-Bukhary dan
Muslim dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu.)

Berkata Imam An-Nawawy dalam Syarah Muslim 6/38 : “Yang dimaksud dengan Qiyam
Ramadhan adalah sholat Tarawih”. Bahkan Al-Kirmany menukil kesepakatan bahwa yang
dimaksud dengan Qiyam Ramadhan dalam hadits di atas adalah sholat Tarawih. Namun nukilan
kesepakatan dari Al-Kirmany dianggap aneh oleh Al-Hafizh Ibnu Hajar karena kapan Qiyamul lail
dilakukan di malam Ramadhan dengan berjama’ah (Tarawih) atau tanpa berjama’ah maka telah
tercapai apa yang diinginkan. Demikian makna keterangan beliau dalam Fathul Bari 4/251.

Dan dalam hadits ‘Amr bin Murrah Al-Juhany radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata :

- ·· = , . =· .· = , - |¹ ¸ · - , - , · - =· ¸· = - ¸ - ¸ | = -· - · « .· · · · = , . =· : | | · . · . = . = | = . | · · | - · | =· · , . | · c
= , . =· , . = · , =|· . · , =· |· ¬ « ¸ , . = « . =|· . , , . | « . - = .· , . ·¹ , ,|· . · ·· · · « .· ·|· , ¸ - |¹ ¸ · - , - , · - =· ¸· =
.· = , ,, · - ¸ - =· - · · ¸ = · · .· - ¸ `=|· `= · « , ¸ , =|· . = ·· ..
“Datang kepada Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam seorang lelaki dari Qudho’ah
lalu berkata : “Wahai Rasulullah, bagaimana menurut engkau andaikata saya bersaksi bahwa
tidak ada sesembahan yang haq kecuali Allah dan engkau rasul Allah, saya sholat lima waktu,
saya puasa bulan (Ramadhan), saya melakukan Qiyam Ramadhan dan saya mengeluarkan zakat
?. Maka Nabi shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam bersabda : “Siapa yang meninggal di atas
hal ini maka ia termasuk dari para shiddiqin dan orang-orang yang mati syahid”.” (Berkata
Syaikh Al-Albany dalam Qiyam Ramadhan hal. 18 : “Dikeluarkan oleh Ibnu Khuzaimah dan Ibnu
Hibban dalam Ash-Shohih mereka berdua dan juga diriwayatkan oleh selain keduanya dengan
sanad yang shohih”.)

Dan tentang malam Lailatul Qadri, Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam bersabda :

, - ¸ | -· | , · - |· « = · · « ·· , · -· · . ·· - · « , | - - · · « = - - ¸ . · , -
“Siapa yang berdiri (sholat) malam lailatul qadri dengan keimanan dan mengharap pahala maka
telah diampuni apa yang telah lalu dari dosanya” (HR. Al-Bukhary dan Muslim dari Abu Hurairah
radhiyallahu ‘anhu.)

Syari’at Sholat Tarawih Secara Berjama’ah

Ada beberapa hadits yang menunjukkan akan disyari’atkannya pelaksanaan sholat Tarawih
secara berjama’ah. Di antara hadits-hadits itu adalah sebagai berikut :

Dari Abu Dzar Al-Ghifary radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata :

= « · - · - = , . =· .· = , - |¹ ¸ · - , - , · - =· ¸· = - = .· · · . · « . · · = · , · - · ¸ =|· . , - · · ¸ « ¸ = , ` - · « -· · · - · · . ¸ · . · · . ·|· , ¸
· · « · · ·· . .|· .· = - | . · « . · · · · · « · · ·· . |· ¬ -· . - | -· · · - · · . ¸ · . = = , ·|· , ¸ · « · . · · = , . =· | , · « · · · | · , -· · = · ·|· , · - | .·

Majalah An-Nashihah Vol. 7 (1425/2008)
4
4
· « .· · . ,|· - ¸ · . = · · - ¸ - |· · - -· - · · ¸ · = , = - . . | - | , -· | , · - | .· · · « · · ·· . ,|· ·· - - | . · « . · · « · · ·· . ·|· |· · - - « - | · · -
, · . ·· · , ·|· ¸· · « -· · · - · · - ¸ = , · | · . · « , · · |· · « · -· | .· | · . - |· · « · -· | .· .|· ¬ , · . | . · « . · · · · « , - =|· . ,
“Kami berpuasa Ramadhan bersama Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam dan
beliau tidak berdiri (sholat lail) bersama kami sedikitpun dari bulan itu kecuali setelah tersisa
tujuh hari. Kemudian beliau berdiri (mengimami) kami sampai berlalu sepertiga malam. Dan
ketika malam keenam (dari malam yang tersisa,-pent.) beliau tidak berdiri (mengimami) kami.
Kemudian saat malam kelima (dari malam yang tersisa,-pent.) beliau berdiri (mengimami) kami
sampai berlalu seperdua malam. Maka berkata : “Wahai Rasulullah, andaikata engkau
menjadikan nafilah untuk kami Qiyam malam ini,” maka beliau bersabda : “Sesungguhnya
seorang lelaki apabila ia sholat bersama imam sampai selesai maka terhitung baginya Qiyam satu
malam”. Dan ketika malam keempat (dari malam yang tersisa,-pent.) beliau tidak berdiri
(mengimami) kami. Dan saat malam ketiga (dari malam yang tersisa,-pent.) beliau
mengumpulkan keluarnya, para istrinya dan manusia lalu beliau berdiri (mengimami) kami
sampai kami khawatir ketinggalan Al-Falah. Saya –rawi dari Abu Dzar- bertanya : “Apakah Al-
Falah itu?” (Abu Dzar menjawab : “Waktu sahur”. Kemudian beliau tidak berdiri lagi (mengimami)
kami pada sisa bulan.” (HR. Ahmad, Abu Daud, An-Nasa`i, Ibnu Majah dan lain-lainnya. Dan
dishohihkan oleh Syaikh Al-Albany dalam Irwa`ul Gholil 2/193/447 dan Syaikh Muqbil dalam
Al-Jami’ Ash-Shohih 2/175.)

Dan Abu Tholhah Nu’aim bin Ziyad, beliau berkata : Saya mendengar Nu’man bin Basyir
radhiyallahu ‘anhuma di mimbar Himsh, beliau berkata :

| « · - · - = , . =· .· = , - |¹ ¸ · - , - , · - =· ¸· = · ¸ = . , - = .· | , · - · · =· , - = , · ¸ · | · ¸ · . ·|· , ¸ |· | , . · . | « · - · - - | , · - - « ¸
, - = , · ¸ · | · ¸ = . ·|· , ¸ · . | « · - · - - | , · - = , - , - = , · ¸ - · » ¸ · · | · . | · · = = |· « · -· , · ·· , · · . « , · - .|· ¬ ,
“Kami berdiri (sholat) bersama Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam di bulan
Ramadhan pada malam 23 sampai sepertiga malam pertama, kemudian kami berdiri (sholat)
bersama beliau pada malam 25 sampai seperdua malam, kemudian kami berdiri (sholat) bersama
beliau pada malam 27 sampai kami menyangka tidak mendapati Al-Falah yang mereka namakan
untuk waktu sahur” (HR. Ibnu Abi Syaibah 2/394, Ahmad 4/272, An-Nasa`i 3/203, Ibnu
Khuzaimah 3/336/2204 dan Al-Hakim 1/607. Dan dihasankan oleh Syaikh Muqbil dalam Al-Jami’
Ash-Shohih 2/174.)

Dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, beliau berkata :

| . = , . =· .· = , - |¹ ¸ · - , - , · - =· ¸· = - , - - ¸ - , = ·|· , ¸ · = · · ¸ |· ¸ « . ¬ = · = · ¸ - .· · = · ·· - · | = , ¬ ·|· ¸· · · ¬ = · , .
· = | c · -· · « - | · · , - · . . · ¬ , - = , . =· ¸· = .· = , - |¹ ¸ · - , - , · - =· · ·|· ¸ , · - ·|· ·· , - · = · , · · = · ·· - · | = , ¬ ·|· ¸· · = · , , .
. | c · ´ · , | · ¸ |· « . ¬ = - ¸ ·|· , · - ·|· |· · - · ¬ , - · = · , · · = · ·· - · · « · · ·· . ·|· , · - ,|· · · - - - ¬ , |· « . ¬ = - ¸ | · · - · · . · ¬ , - · | , . .
= , . =· .· = , - |¹ ¸ · - , - , · - =· ¸· = · = « _ - .· - · . . · « , | , . =|· · ·· · · . · ¬ , - · | , . . = , . =· - |¹ ¸ · - , - , · - =· ¸· =
.· = , - · - ¸ , - | = · ·· |· « ¬ , · · « | · = |· ¸ « ¬ , | | , ¸ - · ·|· ¸ ¸· · . · = . = · « .· | - · · - = · · · - | . · ¬ . - · ¸ = | · ´ . ·|· , · - , | ´ `· ¸
- = , . | . · « , ¸ - · , ´ . = · ·· ·|· , ¸ · · - ¬ , , - · · . ·
“Sesungguhnya Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam keluar di kegelapan malam
lalu beliau sholat di masjid maka sekelompok orang sholat mengikuti sholat beliau. Kemudian
manusia di pagi harinya membicarakan tentang hal tersebut maka berkumpullah lebih banyak
dari mereka, maka keluarlah Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam pada malam
kedua lalu merekapun sholat mengikuti sholat beliau. Di waktu paginya manusia membicarakan
hal tersebut sehingga menjadi banyaklah yang hadir di masjid pada malam ketiga, lalu beliau
keluar dan mereka sholat mengikuti sholat beliau. Begitu malam yang keempat masjid tidak
mampu menampung penduduknya. Akan tetapi Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa
sallam tidak keluar kepada mereka sampai sekelompok orang dari mereka berteriak : “Sholat”
namun Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam tidak keluar kepada mereka sampai
beliau keluar untuk sholat subuh. Tatkala beliau menyelesaikan (sholat) subuh, beliau
menghadap kepada manusia kemudian beliau tasyahhud lalu berkata : “Amma Ba’du,
sesungguhnya keadaan kalian malam ini tidak luput dari pemantauanku, akan tetapi aku
khawatir akan diwajibkannya atas kalian sholat lail kemudian kalianpun tidak sanggup
terhadapnya’.” (HR. Al-Bukhary dan Muslim dan lafazh hadits bagi Imam Muslim)

Dari hadits ini diketahui mengapa sholat Tarawih di bulan Ramadhan tidak dilakukan oleh
Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam terus menerus yaitu karena kekhawatiran
beliau sholat tersebut diwajibkan atas umatnya sehingga memberatkan mereka. Namun

Majalah An-Nashihah Vol. 7 (1425/2008)
5
5
kekhawatiran ini telah lenyap setelah wafatnya beliau dan agama telah sempurna. Karena itu
sunnah ini dihidupkan oleh ‘Umar bin Khaththab radhiyallahu ‘anhu.
Diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhary dari ‘Abdurrahman bin ‘Abd Al-Qary, beliau berkata :

- , - . - - - « , · ¸ |· ¬ = =· = ¸ =· - · - | , · - · ¸ - = .· · | |· ¸ « . ¬ = · · . ·|· · ¸· | , ` -· - · « `, | , . · = · ,|· ¸ - ¸ | · « . - , · = · ¸
,|· - ¸ · , = · ¸ · = · ·· - ,|· · = · « .· - « , · `· ¸ | | . , - « - . · , | ·· - · | ¸ · a , -· = | ´ .· | - · ¸ · . - , - · ¬ « - . . - · | ¸ · `¸ · ¸ · - .
· . - , - . - - - | , · - | - , , . ·|· ¸· · = · , . · = · ·· | · · . . | .· - « , · - . |· , = - - · = · , |· · ¸ · · -· , . - · . | · · = ¸ - ¸ |· · ¸ · « , - , . - · , · =
-¹ , ·|· , ¸ - , · .· ·|· ¸· · « , - , . | , | -
“Saya keluar bersama ‘Umar bin Khaththab radhiyallahu ‘anhu menuju ke masjid pada suatu
malam di Ramadhan, ternyata manusia terbagi-bagi berpisah-pisah, seseorang sholat sendirian
dan seseorang sholat dimana sekelompok orang (mengikuti) sholatnya. Maka ‘Umar berkata :
“Saya berpandangan andaikata saya kumpulkan mereka pada satu qori` maka itu lebih tepat.”
Lalu beliau ber’azam lalu beliau kumpulkan mereka pada Ubay bi n Ka’ab. Kemudian saya keluar
bersama beliau pada malam lain dan manusia sedang sholat (mengikuti) sholat qori’ mereka
maka ‘Umar berkata : “Sebaik-baik bid’ah adalah ini dan yang tidur dari nya lebih baik dari yang
menegakkannya” yang beliau inginkan adalah orang yang sholat pada akhir malam sementara
manusia menegakkannya di awal malam”

Ucapan ‘Umar radhiyallahu ‘anhu “Sebaik-baik bid’ah adalah ini”, beliau maksud bid’ah secara
bahasa karena beliau yang pertama kali menghidupkan sunnah ini setelah Nabi shollallahu ‘alaihi
wa ‘ala alihi wa sallam memberikan dasar tuntunannya pada masa hidupnya. Wallahu A’lam.

Berkata Syaikh Al-Albany dalam Qiyamu Ramadhan hal. 21-22 : “Dan disyari’atkan bagi para
perempuan untuk menghadirinya (Jama’ah Tarawih,-pent.) sebagaimana dalam hadits Abu Dzar
yang berlalu, dan telah tsabit (tetap, syah) dari ‘Umar bahwa tatkala beliau mengumpulkan
manusia untuk Qiyam maka beliau menjadikan Ubay bin Ka’ab untuk laki-laki dan Sulaiman bin
Abi Hatsmah untuk para perempuan. Dari ‘Arfajah Ats-Tsaqofy, beliau berkata : “Adalah ‘Ali bin
Abi Tholib memerintah manusia untuk melakukan Qiyam bulan Ramadhan dan beliau menjadikan
untuk laki-laki seorang imam dan untuk perempuan seorang imam. Berkata (‘Arfajah) : “Saya
adalah imam para perempuan”.
Saya berkata : Ini keadaannya menurutku bila masjidnya luas sehingga salah satu dari keduanya
tidak mengganggu yang lainnya.”

Dan perlu diketahui bahwa syari’at sholat Tarawih ini hanya dilakukan di bulan Ramadhan
berdasarkan keterangan ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha dalam hadits riwayat Al-Bukhary dan Muslim
bahwa pelaksanaan Tarawih secara berjama’ah ini dilakukan oleh beliau di bulan Ramadhan.
Bertolak dari sini, nampaklah kesalahan sebahagian orang yang sering melakukan pelaksanaan
Qiyamul Lail secara berjama’ah di luar Ramadhan. Memang Nabi shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi
wa sallam kadang melakukan Qiyamul Lail secara berjama’ah di rumahnya bersama Ibnu ‘Abbas
dan juga pernah bersama Ibnu Mas’ud dan pernah bersama Hudzaifah. Namun beliau tidak
melakukan hal tersebut terus menerus dan tidak pula beliau melakukannya di masjid, karena itu
siapa yang melakukan Qiyamul Lail secara berjama’ah di luar Ramadhan secara terus menerus
atau secara berjama’ah di masjid maka tidak diragukan lagi bahwa hal tersebut tersebut
termasuk dari perkara bid’ah yang tercela. Baca keterangan Syaikh Ibnu ‘Utsaimin dalam Asy-
Syarh Al-Mumti’ 4/82-83.

Hukum Sholat Tarawih

Berkata Imam An-Nawawy dalam Al-Majmu’ 3/526: “Dan sholat Tarawih adalah sunnah
menurut kesepakatan para ‘ulama.” Lihat juga Syarah Muslim 6/38.
Dan berkata Ibnu Rusyd dalam Bidayatul Mujtahid 1/209 : “Dan (para ulama) sepakat bahwa
Qiyam bulan Ramadhan sangat dianjurkan lebih dari seluruh bulan.”
Berkata Ibnu Qudamah dalam Al-Mughny 2/601 : “Ia adalah sunnah muakkadah dan awal kali
yang menyunnahkannya adalah Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam.”
Dan Al-Mardawy dalam Al-Inshof 2/180 juga memberi pernyataan sama dalam madzhab
Hanbaliyah namun beliau menyebutkan bahwa Ibnu ‘Aqil menghikayatkan dari Abu Bakr Al-
Hanbaly akan wajibnya.
Tidaklah diragukan bahwa sholat Tarawih adalah sunnah muakkadah berdasarkan dalil-dalil yang
telah disebut di atas.

Baca juga : Al-Istidzkar 2/63-64, Syarhus Sunnah 4/118-119 dan Fatawa Al-Lajnah Ad-
Da`imah 7/194.


Majalah An-Nashihah Vol. 7 (1425/2008)
6
6
Namun para ulama berselisih pendapat tentang mana yang afdhol dalam pelaksanaan sholat
Tarawih, apakah dilakukan secara berjama’ah di masjid atau sendiriaan di rumah?. Ada dua
pendapat di kalangan para ulama :

1. Yang afdhol adalah secara berjama’ah. Ini adalah pendapat Asy-Syafi’iy dan kebanyakan
pengikutnya, Ahmad, Abu Hanifah, sebahagian orang Malikiyah dan selainnya. Dan Ibnu Abi
Syaibah menukil pelaksanaan secara berjama’ah dari ‘Ali, Ibnu Mas’ud, Ubay bin Ka’ab,
Suwaid bin Ghafalah, Zadzan, Abul Bakhtary dan lain-lainnya. Alasannya karena ini adalah
sunnah Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam yang dihidupkan oleh ‘Umar dan
para shohabat radhiyallahu ‘anhum dan sudah menjadi symbol agama yang nampak seperti
sholat ‘Ied. Bahkan Ath-Thohawy berlebihan sehingga mengatakan bahwa sholat Tarawih
secara berjama’ah adalah wajib kifayah.
2. Sendirianlah yang afdhol. Ini adalah pendapat Imam Malik, Abu Yusuf, sebagian orang-orang
Syafi’iyyah dan selainnya. Alasannya adalah hadits Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi
wa sallam yang berbunyi :

· . | · = ¸ =|· : · = : · |· « , · · ¸ · , · - · v |· « ´ · , · -
“Sesungguhnya sebaik-baik sholat seseorang adalah dirumahnya kecuali sholat wajib.”

Baca : Syarah Muslim 6/38-39, Al-Majmu’ 2/526, 528, Thorhut Tatsrib 3/94-97, Al-Mughny
2/605, Al-Istidzkar 2/71-73, Fathul Bari 4/252 dan Nailul Author 3/54.

Hukum Sholat Witir

Menurut jumhur ulama sholat witir hukumnya adalah sunnah muakkadah. Ini pendapat Imam
Malik, Asy-Syafi’iy, Ahmad, Ishaq dan lain-lainnya.
Di sisi lain Abu Hanifah berpendapat bahwa sholat witir hukumnya wajib. Mereka berdalilkan
dengan beberapa dalil, diantaranya hadits Buraidah radhiyallahu ‘anhu riwayat Abu Daud dan
lain-lainnya, Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam bersabda :

|· , · , - ¯_ · « ¸ | . · , · , · · , ¸ - · · ·· - ¸ , · · , · , · . | ¸ « · ¯_ - , · , |· | ¸ « · ¯_ - , · , |· · · - ¸ , · · , · , · .
“Witir adalah haq, siapa yang tidak witir maka bukanlah dari kami, witir adalah haq, siapa yang
tidak witir maka bukanlah dari kami, witir adalah haq, siapa yang tidak witir maka bukanlah dari
kami.” (Dihasankan oleh Syaikh Muqbil dalam Al-Jami’ Ash-Shohih 2/159)

Tarjih
Yang benar dalam masalah ini bahwa sholat witir tidak wajib. Hal ini berdasarkan hadits Tholhah
bin ‘Ubaidullah radhiyallahu ‘anhu ri wayat Al-Bukhary dan Muslim, ketika Rasulullah shollallahu
‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam menyebutkan kewajiban sholat lima waktu maka beliau di tanya,
“Apakah ada kewajiban lain atasku” beliau menjawab : “Tidak, kecuali hanya sekedar sholat
tathawwu’ (sholat sunnah).”
Dan juga akan diterangkan tentang sholat witirnya Nabi shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam
di atas hewan tunggangannya padahal dimaklumi bahwa sholat wajib tidaklah dilakukan di atas
hewan tunggangan.
Dan masih ada dalil-dalil lain yang menunjukkan tidak wajibnya.

Baca : Al-Istidzkar 2/80, Al-Majmu’ 3/514-517, Al-Mughny 2/591-594, Al-Fatawa 23/88,
Syarah Ibnu Rajab 6/210-212 dan Nailul Author 3/34.

Waktu Sholat Lail dan Sholat Tarawih

Waktu pelaksanaanya adalah :

1. Awal Waktu
Berkata Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dalam Al-Fatawa 23/119-220 : “Sunnah dalam sholat
Tarawih dilaksanakan setelah sholat ‘Isya sebagaimana yang telah disepakati oleh Salaf dan para
Imam … dan tidaklah para Imam melakukan sholat (Tarawih) kecuali setelah ‘Isya di masa Nabi
shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam dan dimasa para Khulafa` Ar-Rasyidin dan di atas hal ini
para Imam kaum muslimin…”
Dan berkata Ibnul Mundzir : “Ahlul ‘Ilmi telah sepakat bahwa (waktu) antara sholat ‘Isya sampai
terbitnya fajar adalah waktu untuk witir.”
Maka ukuran awal waktu pelaksanaan Qiyam adalah setelah sholat ‘Isya, apakah sholat ‘Isyanya
di awal waktu, pertengahan atau akhir waktunya. Demikian pula -menurut keterangan Syaikh
Ibnu ‘Utsaimin dan selainnya- boleh dilaksanakan oleh seorang yang musafir bila ia telah
menjamak taqdim waktu ‘Isya dengan waktu maghrib.

Majalah An-Nashihah Vol. 7 (1425/2008)
7
7
Hal ini berdasarkan hadits Abu Bashrah radhiyallahu ‘anhu riwayat Ahmad dan selainnya,
Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam bersabda :

· . =· .· · . = · : , · ¸ |· , · , · = · , · · · , « · · , ¸ = : · |· - = ·· · | = ¸ : · |· « ¬ ,
“Sesungguhnya Allah telah menambahkan bagi kalian suatu sholat yaitu witir, maka
laksanakanlah sholat itu antara sholat ‘Isya sampai Subuh.” (Dishohihkan oleh Syaikh Al-Albany
dalam Ash-Shohihah no. 108)
Dan dalam hadits Kharijah bin Hudzafah radhiyallahu ‘anhu riwayat Abu Daud, At-Tarmidzy, Ibnu
Majah dan lain-lainnya, Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam bersabda :

· . =· - , , - ¸ | = | - = · . · = : · , · ¸ - , ` , | ´ . - ¸ - « , ·|· - . , · ¸ |· , · , · ¬ - · . | · ´ . · , « · · , ¸ |· - = ·· · | | ¸ · , - |· « ¬ ,
“Sesungguhnya Allah ‘Azza wa Jalla telah menganugerahi kalian suatu sholat yang lebih baik bagi
kalian dari onta merah, yaitu sholat witir. (Allah) telah menjadikannya untuk kalian antara ‘Isya
sampai terbitnya fajar”. (Dishohihkan oleh Syaikh Al-Albany dalam Al-Irwa` no. 423 dengan
seluruh jalan-jalannya. Baca juga Fathul Bari karya Ibnu Rajab 6/235)

Ada satu sisi pendapat lemah dikalangan pengikut madzhab Syafi’iyyah dan juga fatwa
sebahagian dari orang-orang belakangan dari kalangan Hanbaliyah menyatakan bolehnya
melakukan witir sebelum pelaksanaan ‘Isya. Tentunya itu adalah pendapat yang sangat lemah,
bahkan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata : “Siapa yang melakukannya sebelum ‘Isya maka
ia telah menempuh jalan para pengikut bid’ah yang menyelisihi sunnah”.

Namun para ulama berselisih pendapat tentang orang yang sholat witir sebelum Isya dalam
keadaan lupa atau ia menyangka telah melaksanakan sholat ‘Isya, apakah witirnya diulang
kembali atau tidak?.
Ada dua pendapat di kalangan para ulama tentang masalah ini :

1. Pendapat pertama :Diulangi kembali. Ini adalah pendapat jumhur ulama seperti Al-Auza’iy,
Malik, Asy-Syafi’iy, Ahmad, Abu Yusuf, Muhammad dan lain-lainnya.
2. Pendapat kedua : Tidak diulangi. Ini pendapat Sufyan Ats-Tsaury dan Abu Hanifah.

Dan tidak diragukan lagi bahwa yang kuat adalah pendapat pertama berdasarkan dalil-dalil yang
telah disebutkan.

2. Akhir Waktu (Waktu Terakhir) Dari Sholat Lail (Tarawih)
Para ulama sepakat bahwa seluruh malam sampai terbitnya fajar adalah waktu pelaksanaan witir.
Namun ada perselisihan pada batasan akhir waktu witir, ada beberapa pendapat dikalangan para
ulama :

Satu : Akhir waktunya sampai terbit fajar. Ini adalah pendapat Sa’id bin Jubair, Makhul, ‘Atho`,
An-Nakha’iy, Ats-Tsaury, Abu Hanifah dan riwayat yang paling masyhur dari Asy-Syafi’iy dan
Ahmad. Dan diriwayatkan pula dari ‘Umar, Ibnu ‘Umar, Abu Musa dan Abu Darda` radhiyallahu
anhum.

Dua : Akhir waktunya sepanjang belum sholat subuh. Ini adalah pendapat Al-Qosim bin
Muhammad, Malik, Asy-Syafi’iy -dalam madzhabnya yang terdahulu- dan salah satu riwayat dari
Ahmad. Dan juga merupakan pendapat Ishaq bin Rahawaih, Abu Tsaur dan lain-lainnya. Dan
diriwayatkan pula dari ‘Ali, Ibnu Mas’ud, ‘Ubadah bin Shomit, Hudzaifah dan lain-lainnya.

Tarjih
Yang kuat adalah pendapat pertama, karena dua hadits yang telah berlalu penyebutannya di atas
sangatlah tegas menunjukkan bahwa akhir waktunya adalah sampai terbitnya fajar subuh. Dan
juga dalam hadits Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma riwayat Muslim, Rasulullah shollallahu ‘alaihi
wa ‘ala alihi wa sallam ketika ditanya tentang kaifiyat sholat lail beliau bersabda :

- · · - ¸ · · · ¸ · . - · = , . =|· , ¬ · = ¸ · - - , -· - ¸ -¹ , = : · c , · , ·
“(Sholat malam) dua dua, apabila engkau khawatir (masuk) waktu subuh maka sholatlah satu
raka’at dan jadikan akhir sholatmu witir”
Adapun untuk pendapat kedua, Ibnu Rajab menyebutkan beberapa dalil yang menjadi landasan
mereka dan beliau terangkan kelemahannya, kemudian beliau menyatakan : “Berdasarkan
anggapan bahwa hadits-hadits ini shohih (seluruhnya) atau sebahagiannya, maka maknanya
diarahkan kepada (bolehnya) meng-qhodo` witir setelah berlalu waktunya yaitu malam hari,
bukan menunjukkan bahwa setelah fajar (subuh) masih waktunya.” Dan pada halaman
sebelumnya, beliau juga menyebutkan dari Ibnu ‘Abdil Barr bahwa mungkin yang diinginkan oleh
pendapat kedua tentang bolehnya witir setelah terbitnya fajar adalah bagi orang yang lupa

Majalah An-Nashihah Vol. 7 (1425/2008)
8
8
melakukan witir atau kelupaan, bukan untuk orang yang sengaja mengakhirkannya sampai
keluar waktunya.

Dalam masalah meng-qhodo` witir memang ada persilangan pendapat dikalangan para ulama,
namun –secara umum- apa yang disimpulkan oleh Ibnu ‘Abdil Barr dan Ibnu Rajab adalah tepat
dan sejalan dengan hadits Abu Sa’id Al-Khudry radhiyallahu ‘anhu riwayat Ahmad, Abu Daud, At-
Tirmidzy, Ibnu Majah dan lain-lainnya, Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam
bersabda :

- ¸ · -· - ¸ , · , · | , · . , - · · , = · - · . . · · , ·
“Siapa yang tidur dari witirnya atau melupakannya maka hendaknya ia sholat bila ia
mengingatnya” (Dishohihkan oleh Syaikh Muqbil dalam Al-Jami’ Ash-Shohih 2/168)

Adapun orang yang punya udzur sehingga belum melaksanakan witir sampai sholat subuh maka
ia meng-qhodo` witirnya setelah matahari terbit dengan menggenapkan jumlah kebiasaan
witirnya, bila kebisaannya witir 3 raka’at maka digenapkan 4 raka’at, jika kebiasaannya 5 raka’at
maka digenapkan 6 raka’at dan seterusnya. Hal tersebut berdasarkan hadits ‘Aisyah radhiyallahu
‘anha riwayat Muslim, bahwasanya Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam :

, · .· · . · - · , - · , ` - | , , - ` - - ¸ | , -· ·|· , ¸ = · - ¸ ¸ ·|· . · · · · ¸ · , = - · - -
“Bila beliau dikuasai oleh tidurnya atau sakit dari (melakukan) Qiyam lail maka beliau sholat di
waktu siang 12 raka’at”

Baca pembahasan mengenai awal dan akhir waktu Qiyam lail dalam : Al-Istidzkar 2/117-118,
Bidayatul Mujtahid 1/202-203, Al-Majmu’ 3/518, Syarah Muslim 6/30-31, Thorhut Tatsrib
3/79-80, Al-Mughny 2/595-596, Al-Fatawa karya Ibnu Taimiyah 23/119-121, Fathul Bari
karya Ibnu Rajab 6/234-243, Al-Inshof 2/181, Asy-Syarh Al-Mumti’ 4/15-16 dan Nailul
Author 3/45-46.

Dan baca masalah meng-qodho` witir dalam : Al-Fatawa 23/89-91, Fathul Bari karya Ibnu
Rajab 6/243-247, Syarhus Sunnah 4/88-89 dan Nailul Author 3/52-53.

Waktu Yang Afdhol (Paling Utama) Dalam Pelaksanaan Qiyam

Ibnu Rajab menyebutkan bahwa banyak dari shahabat melakukan witir di awal malam, di antara
mereka adalah Abu Bakr, ‘Utsman bin ‘Affan, ‘A`idz bin ‘Amr, Anas, Rafi’ bin Khajid, Abu
Hurairah, Abu Dzar dan Abu Darda` radhiyallahu ‘anhum. Dan pendapat ini merupakan salah satu
sisi pendapat di kalangan orang-orang Syafi’iyyah dan salah satu riwayat dari Imam Ahmad dan
diikuti oleh sebahagian orang Hanbaliyah. Alasan mereka untuk lebih berhati-hati.

Namun Jumhur Ulama menilai bahwa witir akhir malam lebih utama. Ini pendapat kebanyakan
ulama Salaf seperti ‘Umar, ‘Ali, Ibnu Mas’ud, Ibnu ‘Umar, Ibnu ‘Abbas dan selain mereka dari
kalangan shahabat radhiyallahu ‘anhum ajma’in.
Bahka Ibnu Sirin berkata : “Tidaklah mereka (yaitu Para Shohabat dan Tabi`in di zaman beliau,-
pent.) berselisih bahwa witir di akhir malam itu Afdhol (lebih utama).”
Pendapat ini pula yang dipegang oleh An-Nakha’iy, Malik, Ats-Tsaury, Abu Hanifah, Ahmad -
dalam riwayat yang paling masyhur darinya- dan Ishaq.

Tarjih
Insya Allah yang kuat dalam masalah ini adalah pendapat yang menyatakan afdholnya
pelaksanaan Qiyam di akhir malam. Hal ini berdasarkan beberapa dalil, diantaranya adalah hadits
Jabir bin ‘Abdillah radhiyallahu ‘anhuma ri wayat Muslim, Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi
wa sallam bersabda :

- ¸ - =· | . v · « , - - ¸ -¹ , ·|· , ¸ · · , , · , | , | - , - ¸ | « - | . · « , - -¹ , · · · , , · , -¹ , ·|· , ¸ · · . = : · -¹ , ·|· , ¸ - = . , . ·
“Siapa yang khawatir tidak akan Qiyam di akhir malam maka hendaknya ia witir di akhir malam
dan siapa yang semangat untuk witir di akhirnya maka hendaknya ia witir di akhir malam karena
sholat di akhir malam adalah disaksikan
1


Dan dalam hadits Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu ri wayat Al-Bukhary dan Muslim, Nabi
shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam bersabda :

1
Yaitu disaksikan oleh malaikat rahmat. Demikian keterangan Imam An-Nawawy dalam Syarah Muslim 6/34.

Majalah An-Nashihah Vol. 7 (1425/2008)
9
9
· · , . · · · · , · = , · - |· · ¸ ¸ | , · - · | .|· ¸ « ·· =|· · , - · , ¸ · , « · ¸ · . ·|· , ¸ |· -\ , , , · ¸ , ·· - | « . · . · - , ¸ · « = ¸ · · . ·|· , ¸ |· | , . ,
, · ¸ , ·· - | - , | . - · · . - · = = ¸ = , ·|· , ¸ | , · · · ·· . · , « , . - ¸ · = - , · ¸ · | = · ¬ , . | - , - ¸ · . | | · ¸ · | - = , - , - ¸ · . · - « , · ¸ · | - « , | -
“Rabb kita Tabaraka wa Ta’ala turun setiap malam ke langit dunia ketika tersisa sepertiga malam
terakhir (Dalam salah satu riwayat Muslim : “ketika telah berlalu sepertiga malam pertama”, dan
riwayat beliau yang lainnya : “apabila telah berlalu seperdua malam atau dua pertiganya” )
kemudian berfirman : “Siapa yang berdoa kepada-Ku maka Aku kabulkan untuknya, siapa yang
meminta kepada-Ku maka Aku berikan untuknya dan siapa yang memohon anpun kepada-Ku
maka Aku akan mengampuninya”.

Baca : Al-Mughny 2/596-597 dan Fathul Bari karya Ibnu Rajab 6/247-250.

Jumlah Raka’at Sholat Tarawih

Berkata Ibnu ‘Abdil Barr dalam Al-Istidzkar 2/99 : “Dan para Ulama telah sepakat bahwa tidak
ada batasan dan tidak ada ukuran tertentu dalam sholat lail dan ia adalah sholat nafilah
(sunnah). Siapa yang berkehendak maka ia dapat memperpanjang berdiri dan mengurangi
raka’at, dan siapa yang berkehendak maka ia dapat memperbanyak ruku’ dan sujud.”

Terdapat perselisihan pendapat di kalangan para ulama tentang jumlah raka’at sholat Tarawih.
Menurut Abu Hanifah, Ats-Tsaury, Asy-Syafi’iy, Ahmad dan lain-lainnya bahwa jumlah raka’at
sholat Tarawih tanpa witir adalah 20 raka’at. Dan pendapat ini oleh Al-Qhody ‘Iyadh dan
selainnya disandarkan kepada pendapat Jumhur Ulama.
Disisi lain Imam Malik berpendapat bahwa jumlah raka’at sholat Tarawih adalah 36 raka’at.
Dan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dalam Al-Fatawa 23/112-113 menyebutkan bahwa Imam
Ahmad memberi nash bahwa 20, 36 (tanpa witir), 11 dan 13 (dengan witir) semuanya adalah
bagus.

Tarjih
Dalam hadits ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha riwayat Al-Bukhary dan Muslim, beliau berkata :

- · · .· = , . =· .· = , - |¹ ¸ · - , - , · - =· ¸· = · , · = · ¸ - = .· , v · ¸ - , , · - · · ¸ - = . · , = - · - -
“Tidaklah Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam menambah dalam Ramadhan dan
tidak (pula) pada yang lannya melebihi 11 raka’at”

Dan juga dalam hadits 'Aisyah radhiyallahu ‘anha riwayat Muslim, beliau berkata :

· ¸ | · ·· = - |· · : = ¸ - - , « · . | ¸ , · · « , · ¸· = · .· = , - |¹ ¸ · - , - , · - =· ¸· = =· . , = .· · . = - · , ¬ « | · , = - ¸ , · .· . · - - ·
· = -· , · , · , · , ¸ , · - · ¸ ·
“Rasulullah shollallahu 'alaihi wa 'ala alihi wa sallam sholat antara selesainya dari sholat isya`
sampai sholat fajr (sholat subuh) sebelas raka'at, Beliau salam setiap dua raka'at dan witir
dengan satu raka'at”.

Dan juga disebutkan jumlah 13 raka’at dalam hadits Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma riwayat
Al-Bukhary dan Muslim, beliau berkata :

· .· = , . =· .· = , - |¹ ¸ · - , - , · - =· ¸· = · = · ¸ - ¸ ·|· , ¸ · · =· · , = - · - -
“Adalah Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam sholat di malam hari 13 raka’at”

Dan dalam hadits Zaid bin Kholid Al-Juhany radhiyallahu ‘anhu riwayat Muslim, beliau berkata :

¸ « - | | . · ¸ , · · · , | ¸ , · · · , | ¸ , ·· · , | ¸ , · - · ¸· = . · ¸ , · « , « - ¸ , · - · ¸· = · - · ,·|· .· = , - |¹ ¸ · - , - , · - =· ¸· = =· . , = · : =
· · « . · , | ¸ , ··|· . , . · « · , ¸ , · - · ¸· = ¸·. = . · · « . · , | ¸ , ··|· . , . · «· , ¸ , · - · ¸· = . · · « . · , | ¸ , ··|· . , . · « · , ¸ , · - · ¸· = .
= : · c | = · , · , | . · · « . · , | ¸ , ··|· . , . · « · , ¸ , · - · · , = - - - ·
“Sungguh saya akan mengamati sholat Rasulullah shollallahu 'alaihi wa 'ala alihi wa sallam di
malam hari maka beliau sholat dua raka'at ringan kemudian beliau sholat dua raka'at panjang,
panjang, panjang sekali kemudian beliau sholat dua raka'at lebih pendek dari dua raka'at
sebelumnya kemudian beliau sholat dua raka'at dan keduanya lebih pendek dari dua raka'at
sebelumnya kemudian beliau sholat dua raka'at dan keduanya lebih pendek dari dua raka'at
sebelumnya kemudian beliau sholat dua raka'at dan keduanya lebih pendek dari dua raka'at
sebelumnya kemudian beliau berwitir maka itu (jumlahnya) tiga belas raka'at”.

Majalah An-Nashihah Vol. 7 (1425/2008)
10
10

Berkata Ibnu ‘Abdil Barr : “Kebanyakan atsar menunjukkan bahwa sholat beliau adalah 11 raka’at
dan diriwayatkan juga 13 raka’at.”

Namun 11 dan 13 raka’at ini bukanlah pembatasan. Dan siapa yang ingin sholat lebih dari itu
maka tidaklah mengapa berdasarkan hadits ‘Abdullah bin ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma riwayat Al-
Bukhary dan Muslim, Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam bersabda :

= · ·· ·|· , ¸ - · · - ¸ · · · ¸ · . - · = ¸ | - = · . =|· , ¬ = · ¸ · - - , -· = · · , · , | - - | · = = · ¸
“Sholat malam dua-dua, apabila engkau khawatir (masuknya) waktu shubuh maka (hendaknya)
ia sholat witir satu raka'at maka menjadi witirlah sholat yang telah ia lakukan".

Demikian pendapat yang dikuatkan oleh Al-Lajnah Ad-Da`imah yang diketuai oleh Syaikh Ibnu
Baz dan juga merupakan pendapat Syaikh Ibnu ‘Utsaimin, Syaikh Muqbil dan lain-lainnya.
Adapun Syaikh Al-Albany beliau berpendapat akan wajibnya terbatas pada 11 atau 13 raka’at.

Dan Syaikh Al-Albany dalam Sholatut Tarawih hal. 19-21 (Cet. Kedua) menjelaskan dengan
lengkap bahwa hadits yang mengatakan bahwa Nabi shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam
melakukan sholat Tarawih 20 raka’at adalah hadits yang lemah sekali.
Dan di hal. 48-56, Syaikh Al-Albany menegaskan lemahnya penisbatan pelaksanaan 20 raka’at
pada ‘Umar bin Khoththob disertai dengan nukilan pelemahan dari beberapa Imam dan beliau
sebutkan bahwa yang benar dari ‘Umar adalah pelaksanaan 11 raka’at.
Dan di hal. 65-71, beliau menerangkan bahwa tidak ada nukilan yang syah dari seorang
shahabatpun tentang pelaksanaan Tarawih 20 raka’at.
Dan di hal. 72-74, beliau membantah sangkaan sebagian orang yang mengatakan bahwa syari’at
sholat Tarawih 20 raka’at merupakan kesepakatan para ulama.

Baca pembahasan tentang masalah di atas dalam : Al-Istidzkar 2/68-70, 95, Al-Majmu’ 3/527,
Thorhut Tatsrib 3/97-98, Fathul Bari 4/252, Al-Mughny 2/601-604, Al-Inshof 2/180, Nailul
Author 3/57, Fatawa Al-Lajnah Ad-Da`imah 7/194-198, Asy-Syarh Al-Mumti’ 4/65-77,
Majmu’ Fatawa wa Rasa`il Syaikh Ibnu ‘Utsaimin 14/187-189 dan Taudhih Al-Ahkam
2/410-415 (Cet. Kelima).

Jumlah Raka’at Sholat Witir

Ada beberapa hadits yang menjelaskan tentang jumlah raka’at sholat witir Rasulullah shollallahu
‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam, diantaranya adalah :

Dari ‘Abdullah bin Abi Qais radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata :

| · . | - ·· = - = ¸ =· - · . · · ´ . · .· = , . =· =· ¸· = .· = , - |¹ ¸ · - , - , · - · , · , | |· . · .· · , · , · | · - , · : = , = `. , · : =
, · « .· , · : = , - = , , · : = , | . · ´ ¸ · , · , · | · « ¸ - ¸ = , - , v · | · · , - ¸ · : = · , = -
“Saya berkata kepada ‘Aisyah : “Berapa kebiasaan Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa
sallam melakukan witir?,” beliau menjawab : “Adalah beliau melakukan witir dengan empat dan
tiga, dengan enam dan tiga, dengan delapan dan tiga dan dengan sepuluh dan tiga, tidaklah
pernah beliau melakukan witir kurang dari tujuh dan tidak (pula) lebih dari tiga belas”.”
(Diriwayatkan oleh Ahmad, Abu Daud, Ath-Thohawy, Al-Baihaqy dan lain-lainnya. Sanadnya
Jayyid menurut Syaikh Al-Albany dalam Sholatut Tarawih hal. 83-84 (Cet. Kedua) dan
dihasankan oleh Syaikh Muqbil dalam Al-Jami’ Ash-Shohih 2/162-163)

Dan dari Abu Ayyub Al-Anshory radhiyallahu ‘anhu riwayat Abu Daud, An-Nasa`i, Ibnu Majah dan
lain-lainnya, Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam bersabda :

|· , · , - ¯_ - · · ¸ ¸ - . · . · « ¸ | - . | . · , · , · ¬ « ¸ · · , « - ¸ , - ¸ | - . | . · , · , · · : = · · , « - ¸ , - ¸ | - . | . · , · , · , -· = · · · , « - ¸
“Witir adalah haq atas setiap muslim, maka siapa yang suka untuk witir dengan 5 (raka’at) maka
hendaknya ia kerjakan, siapa yang suka untuk witir dengan 3 (raka’at) maka hendaknya ia
kerjakan dan siapa yang suka untuk witir dengan 1 (raka’at) maka hendaknya ia kerjakan.”
(Dishohihkan oleh Syaikh Al-Albany dalam Sholatut Tarawih hal. 84 (Cet. Kedua) dan
dihasankan oleh Syaikh Muqbil dalam Al-Jami’ Ash-Shohih 2/163. Dan Ibnu Rajab dalam
Fathul Bari menyebutkan bahwa Abu Hatim, An-Nasa`i, Al-Atsram dan lain-lainnya menguatkan
riwayat hadits ini secara mauquf.)

Dari dua hadits di atas dan beberapa hadits yang akan datang diketahui bahwa pelaksanaan witir
Nabi shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam tidaklah kurang dari 7 raka’at dan tidak lebih dari

Majalah An-Nashihah Vol. 7 (1425/2008)
11
11
13 raka’at, dan beliau juga memberi tuntunan bolehnya witir dengan 5, 3, dan 1 raka’at. Dan
pelaksanaan witir 1 raka’at adalah boleh menurut jumhur Ulama dari kalangan Shahabat, Tabi’in
dan para Imam yang mengikuti mereka dengan baik.

Adapun bentuk pelaksanaannya adalah sebagai berikut :

Bila witirnya 11 dan 13 raka’at maka dengan cara salam untuk setiap dua raka’at dan
ditambah satu raka’at.

Bila witirnya 9 raka’at maka dengan cara dua kali tasyahhud, yaitu tasyahhud pada raka’at
kedelapan tanpa salam kemudian berdiri ke raka’at sembilan tasyahhud kemudian salam.

Bila witirnya 7 raka’at maka boleh tidak tasyahhud kecuali di akhir kemudian salam, dan juga
boleh tasyahhud pada raka’at keenam tanpa salam lalu melanjutkan raka’at ketujuh
kemudian tasyahhud dan salam.

Bila witirnya 5 raka’at maka tidak tasyahhud kecuali di akhirnya kemudian salam.

Bila witirnya 3 raka’at maka boleh dua cara dengan ketentuan tidak menyerupai sholat
maghrib menurut pendapat yang paling kuat, yaitu :
1. Melakukan 3 raka’at sekaligus dengan sekali tasyahhud dan salam.
2. Melakukan 2 raka’at lalu salam kemudian berdiri lagi 1 raka’at lalu salam.

Bila witirnya dengan 1 raka’at maka tentunya dengan satu kali salam.

Masalah jumlah raka’at witir ini telah diterangkan oleh Ibnu Rajab secara meluas dan mendetail
lengkap dengan uraian perbedaan pendapat para Ulama. Dan kesimpulan ringkas di atas adalah
kesimpulan dari keterangan Syaikh Ibnu ‘Utsaimin dalam masalah ini. Wallahu Ta’ala A’lam.

Baca pembahasan masalah ini dalam : Al-Istidzkar 2/106-107, Fathul Bari karya Ibnu Rajab
6/198-210, Asy-Syarh Al-Mumti’ karya Ibnu ‘Utasimin 4/18-21, Al-Mughny 2/578 dan 588,
Bidayatul Mujtahid 1/200, Thorhut Tatsrib 3/78 dan Nailul Author 3/36-40.

Beberapa Kaifiyat Pelaksanaan Witir Dan Tarawih

Berikut ini beberapa kaifiyat pelaksanaan witir dan Tarawih beserta dalil-dalilnya :

1. Sholat 13 raka’at dibuka dengan 2 raka’at ringan. Hal ini berdasarkan hadits hadits Zaid bin
Kholid Al-Juhany radhiyallahu ‘anhu riwayat Muslim, beliau berkata :

- · ,·|· .· = , - |¹ ¸ · - , - , · - =· ¸· = =· . , = · : = ¸ « - | | ¸ , · · · ,. | ¸ , · · · ,. | ¸ ,. · - · ¸· = . · ¸ , · « , « - ¸ , · - · ¸· = ·
- · ¸· = . · · « . · , | ¸ , ··|· . , . · « · , ¸ , · - · ¸· = . · · « . · , | ¸ , ··|· . , . · « · , ¸ , · - · ¸· = . · ¸ ,· · · , | ¸ ,. ··|· . , . · « · , ¸ , ·
= : · c | = · , · , | . · · « . · , | ¸ , ··|· . , . · « · , ¸ , · - · ¸· = . · · « . · , | · , = - - - ·
“Sungguh saya akan memperhatikan sholat Rasulullah shollallahu 'alaihi wa 'ala alihi wa
sallam di malam hari maka beliau sholat dua raka'at ringan kemudian beliau sholat dua
raka'at panjang, panjang, panjang sekali kemudian beliau sholat dua raka'at lebih pendek dari
dua raka'at sebelumnya kemudian beliau sholat dua raka'at dan keduanya lebih pendek dari
dua raka'at sebelumnya kemudian beliau sholat dua raka'at dan keduanya lebih pendek dari
dua raka'at sebelumnya kemudian beliau sholat dua raka'at dan keduanya lebih pendek dari
dua raka'at sebelumnya kemudian beliau berwitir maka itu (jumlahnya) tiga belas raka'at”.

Dan dalam hadits ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha riwayat Muslim, beliau berkata :

· .· = , . =· .· = , - |¹ ¸ · - , - , · - =· ¸· = · . | · -· - ¸ ·|· , ¸ | , = · ¸ ·· · · ¬ = : · - · , · - · , ¸ - « , « · , ¸
“Adalah Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam apabila beliau berdiri di malam
hari untuk sholat maka beliau membuka sholatnya dengan dua raka’at yang ringan”

2. Sholat 13 raka’at, 8 raka’at diantaranya dilakukan dengan salam pada setiap 2 raka’at
kemudian witir 5 raka’at dengan satu kali tasyahhud dan satu kali salam.
Hal ini berdasarkan hadits ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha Riwayat Muslim :


Majalah An-Nashihah Vol. 7 (1425/2008)
12
12
· .· = , . =· .· = , - |¹ ¸ · - , - , · - =· ¸· = · = · ¸ - ¸ ·|· , ¸ · · =· - = , · · - - · , · , - ¸ . | c · ¬ « ¸ | · · ¬ · ¸ · ¸ = ¸ · · | ·
· ¸ -¹ , · ·
“Adalah Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam sholat di malam hari 13 raka’at,
beliau witir darinya dengan 5 (raka’at) tidaklah beliau duduk pada sesuatupun kecuali hanya
pada akhirnya”

3. Sholat 11 raka’at dengan salam pada setiap 2 raka’at dan witir dengan 1 raka’at.
Hal ini berdasarkan hadits 'Aisyah radhiyallahu ‘anha riwayat Muslim, beliau berkata :

. = - · , ¬ « |· ¸ | · ·· = - |· · : = ¸ - -, « · . | ¸ , · · « , · ¸· = · .· = , - |¹ ¸ · - , - , · - =· ¸· = =· . , = .· · · , = - .· . · - - ·
· = -· , · , · , · , ¸ , · - · ¸ · ¸ , ·
“Rasulullah shollallahu 'alaihi wa 'ala alihi wa sallam sholat antara selesainya dari sholat isya`
sampai sholat fajr (sholat subuh) sebelas raka'at, Beliau salam setiap dua raka'at dan witir
dengan satu raka’at”.

4. Sholat 11 raka’at, tidak duduk kecuali pada raka’at kedelapan kemudian tasyahhud tanpa
salam lalu berdiri untuk raka’at kesembilan kemudian salam, lalu sholat dua raka’at lagi
dalam keadaan duduk.
Hal tersebut diterangkan dalam hadits Sa’ad bin Hisyam bin ‘Amir riwayat Muslim, beliau
bertanya kepada ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha tentang bagaimana sholat witir Rasulullah
shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam, maka beliau menjelaskan :

... · , · . , = , · · , = | , · = · ¸ · . - · - =· v · ¬ · ¸ · , . · · | · · ·|· ¸ -· · - · , = · , =· , · ¬ « = · , · = - , · · . · · . ¸ , v · . · . · . · « , -
· , = · ·|· ¸ =· - - · . · « - = · , = · , =· , · ¬ « = · , · = - , · · . · . · . · . · , « · · . « - · · · . · = · ¸ · - · , ¸ · - = - · · . · . , · , | -· ` = · · · c
· - = - . = , · · - - · · · · ¸ · · « | · = ¸ · , ¸ =· .· = , - |¹ ¸ · - , - , · - =· ¸· = , | - = ·|· ¬ . | , · , · . , - , = · - · ,|· ¸ · - · , ¸ - · ¸
= · , - - |· | , . · · · c · . ` - · · · · ¸
“… Maka beliau bersiwak, berwudhu’ dan sholat 9 raka’at beliau tidak duduk kecuali pada
yang kedelapan kemudian beliau berdzikir kepada Allah, memuji-Nya dan berdoa kepada-Nya
lalu berdiri dan tidak salam. Kemudian beliau berdiri untuk kesembilan lalu duduk kemudian
beliau berdzikir kepada Allah, memuji-Nya dan berdoa kepada-Nya lalu beliau salam sengan
(suara) salam yang beliau perdengarkan kepada kami kemudian beliau sholat dua raka’at
setelah salam dalam keadaan duduk, maka itu 11 raka’at wahai anakku. Ketika Nabi Allah
shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam telah berumur dan beliau bertambah daging (Baca :
bertambah berat) maka beliau witir dengan 7 (raka’at) dan berbuat pada yang dua raka’at
seperti perbuatan beliau yang pertama, maka itu adalah sembilam (raka’at) wahai anakku”

5. Sholat 9 raka’at, tidak duduk kecuali pada raka’at keenam kemudian tasyahhud tanpa salam
lalu berdiri untuk raka’at ketujuh kemudian salam, lalu sholat dua raka’at lagi dalam keadaan
duduk.
Hal ini di terangkan dalam hadits ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha di atas.

Berkata Syaikh Al-Albany : “Ini adalah beberapa kaifiyat yang Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa ‘ala
alihi wa sallam melakukannya pada sholat lail dan witir. Dan mungkin untuk ditambah dengan
bentuk-bentuk yang lain, yaitu dengan mengurangi pada setiap bentuk yang tersebut jumlah
raka’at yang ia kehendaki dan bahkan boleh baginya untuk membatasi dengan satu raka’at saja.”

Ibnu Hazm dalam Al-Muhalla menyebutkan beberapa bentuk lain :

6. Sholat 13 raka’at, yaitu salam pada setiap dua raka’at dan witir satu raka’at.
7. Sholat 8 raka’at dengan salam pada setiap 2 raka’at kemudian ditambah witir 1 raka’at.
8. Sholat 6 raka’at dengan salam pada setiap 2 raka’at kemudian witir 1 raka’at.
9. Sholat 7 raka’at, tidak tasyahhud kecuali pada yang keenam kemudian berdiri sebelum salam
untuk raka’at ketujuh lalu duduk tasyahhud dan salam.
10. Sholat 7 raka’at dan tidak duduk untuk tasyahhud kecuali di akhirnya.
11. Sholat 5 raka’at dan tidak duduk untuk tasyahhud kecuali di akhirnya.
12. Sholat 3 raka’at, duduk tasyahhud pada raka’at kedua dan salam lalu witir 1 raka’at.
13. Sholat 3 raka’at tidak duduk tasyahhud dan salam kecuali pada raka’at terakhir
2
.
14. Sholat witir satu raka’at.


2
Tambahan dari penulis dan tidak tertera dalam Al-Muhalla.

Majalah An-Nashihah Vol. 7 (1425/2008)
13
13
Demikian beberapa kaifiyat yang disebutkan oleh Syaikh Al-Albany dalam Sholatut Tarawih hal.
86-94 (Cet. Kedua) dan Qiyamu Ramadhan hal. 27-30 dan Ibnu Hazm dalam Al-Muhalla 3/42-
48. Dan Syaikh Al-Albany juga menyebutkan kaifiyat lain yaitu sholat 11 raka’at ; 4 raka’at
sekaligus dengan sekali salam kemudian 4 raka’at dengan sekali salam lalu 3 raka’at.
Sebagaimana dalam hadits ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha riwayat Al-Bukhary dan Muslim :

=· . , = .· · · - . = - · ¸ · - · , , - ¸ · v , .· = - ¸ · = · , · .· = , - |¹ ¸ · - , - , · - =· ¸· = · , = - : · · - · | ¸· = · - - · ¸. - . | . ·
· · : · ¸· = · . · ¸ . | , | , ¸ . · . - ¸ - . | . · : · · - · | ¸·= · . · ¸ . | , | , ¸ . · . - .
“Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam tidaklah menambah pada (bulan) Ramadhan
dan tidak pula pada selain Ramadhan lebih dari sebelas raka'at. Beliau sholat empat (raka'at)
jangan kamu tanya tentang baiknya dan panjangnya, kemudian beliau sholat empat (raka'at)
jangan kamu tanya tentang baiknya dan panjangnya kemudian beliau sholat tiga (raka'at)”.

Namun ada perbedaan pendapat di kalangan para Ulama tentang kaifiyat ini.
Pendapat Abu Hanifah, Ats-Tsaury dan Al-Hasan bin Hayy boleh melakukan Qiyamul Lail 2 raka’at
sekaligus, boleh 4 raka’at sekaligus, boleh enam raka’at sekaligus dan boleh 8 raka’at sekaligus,
tidak salam kecuali di akhirnya. Kelihatannya pendapat ini yang dipegang oleh Syaikh Al-Albany
sehingga beliau menetapkan kaifiyat sholat 11 raka’at ; 4 raka’at sekaligus dengan sekali salam
kemudian 4 raka’at dengan sekali salam lalu 3 raka’at dengan sekali salam.
Dan disisi lain, jumhur Ulama seperti Malik, Asy-Syafi’iy, Ahmad, Ishaq, Sufyan Ats-Tsaury, Ibnul
Mubarak, Ibnu Abi Laila, Abu Yusuf, Muhammad bin Hasan, dan Ibnul Mundzir serta yang lainnya
menghikayatkan pendapat ini dari Ibnu ‘Umar, ‘Ammar radhiyallahu ‘anhuma, Al-Hasan, Ibnu
Sirin, Asy-Sya’by, An-Nakha’iy, Sa’id bin Jubair, Hammad dan Al-Auza’iy. Dan Ibnu ‘Abdil Barr
berkata : “Ini adalah pendapat (Ulama) Hijaz dan sebahagian (Ulama) ‘Iraq.”, semuanya
berpendapat bahwa sholat malam itu adalah dua raka’at-dua raka’at yaitu harus salam pada
setiap dua raka’at. Ini pula pendapat yang dkuatkan oleh Syaikh Ibnu Baz beserta para Syaikh
anggota Al-Lajnah Ad-Da`imah, dan juga pendapat Syaikh Ibnu ‘Utsaimin dan lain-lainnya
sehingga mereka semua menyalahkan orang yang memahami hadits ‘Aisyah di atas dengan
kaifiyat sholat 11 raka’at ; 4 raka’at sekaligus dengan sekali salam kemudian 4 raka’at dengan
sekali salam lalu 3 raka’at, dan menurut mereka pemahaman yang benar adalah bahwa 4 raka’at
dalam hadits itu adalah dikerjakan 2 raka’at 2 raka’at .

Tarjih

Yang kuat dalam masalah ini adalah pendapat Jumhur Ulama berdasarkan hadits hadits ‘Abdullah
bin ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma ri wayat Al-Bukhary dan Muslim, Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa
‘ala alihi wa sallam bersabda :

= : · ·|· , ¸ - · · - ¸ · · ¸
“Sholat malam dua (raka’at) dua (raka’at)”
Hadits ini adalah berita namun bermakna perintah yaitu perintah untuk melakukan sholat malam
dua dua raka’at. Demikian keterangan Syaikh Ibnu Baz dalam Majmu’ Fatawa beliau 11/323-
324.

Baca pembahasan tentang masalah di atas dalam : Al-Istidzkar 2/95-98, 104-106, Fathul Bari
4/191-198, Fatawa Al-Lajnah Ad-Da`imah 7/199-200 dan Asy-Syarh Al-Mumti’ 4/18-20.

Dan juga para Ulama berselisih pendapat tentang dua raka’at setelah witir pada kaifiyat no. 4 dan
5, ada tiga pendapat di kalangan ulama :

1. Sunnah dua raka’at setelah witir. Ini pendapat Katsir bin Dhomrah dan Khalid bin Ma’dan.
Dan Al-Hasan dan Abu Mijlaz melakukannya, sedangkan Ibnu Rajab menukil hal tersebut
dari sebahagian orang-orang Hanbaliyah.
2. Ada rukhshoh (keringanan) dalam hal tersebut dan bukan makruh. Ini adalah pendapat Al-
Auza’iy, Ahmad dan Ibnul Mundzir.
3. Hal tersebut Makruh. Ini pendapat Qais bin ‘Ubadah, Malik dan Asy-Syafi’iy.

Tarjih

Tentunya dalil-dalil yang menjelaskan tentang kaifiyat itu adalah hujjah yang harus diterima
tentang disyari’atkannya sholat dua raka’at setelah witir. Berkata Ibnu Taimiyah : “Dan
kebanyakan Ahli Fiqh tidak mendengar tentang hadits ini (yaitu hadits tentang adanya dua
raka’at setelah witir di atas,-pent.), kerena itu mereka mengingkarinya. Dan Ahmad dan
selainnya mendengar (hadits) ini dan mengetahui keshohihannya dan Ahmad memberi
keringanan untuk melakukan dua raka’at ini dan ia dalam keadaan duduk sebagaimana yang

Majalah An-Nashihah Vol. 7 (1425/2008)
14
14
dikerjakan oleh (Nabi) shollallahu ‘alaihi wa sallam. Maka siapa yang melakukan hal tersebut
tidaklah diingkari, akan tetapi bukanlah wajib menurut kesepakatan (para Ulama) dan tidak
dicela orang yang meniggalkannya….”

Baca : Majmu’ Fatawa Ibnu Taimiyah 23/92-94, Fathul Bari Ibnu Rajab 6/260-264 dan Al-
Mughny 2/281.

Bacaan Dalam Sholat Tarawih Dan Witir

Berkata Syaikh Al-Albany dalam Qiyamu Ramadhan hal. 23-25 : “Adapun bacaan dalam sholat
lail pada Qiyam Ramadhan dan selainnya, maka Nabi shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam
tidak menetapkan suatu batasan tertentu yang tidak boleh dilampaui dengan bentuk tambahan
maupun pengurangan. Kadang beliau membaca pada setiap raka’at sekadar “Ya Ayyuhal
Muzzammil” dan ia (sejumlah) dua puluh ayat dan kadang sekadar lima puluh ayat. Dan beliau
bersabda :

- ¸ = · · ¸ ¸ | , · - · « · · - ·¹ - | . - . · ´ · ¸ |· - ·· · , ¸
“Siapa yang sholat dalam semalam dengan seratus ayat maka tidaklah ia terhitung dalam orang-
orang yang lalai”

... · « · · · ¸ ·¹ - · · · - · ´ · . - ¸ |· « ·· · , ¸ |· « ¬ · = , ¸
“… dengan dua ratus ayat maka sungguh ia terhitung dari orang-orang yang Qonit (Khusyu’,
panjang sholatnya,-pent.) lagi Ikhlash”

Dan beliau shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam pada suatu malam dan beliau dalam keadaan
sakit membaca tujuh (surah) yang panjang, yaitu surah Al-Baqarah, Ali ‘Imran, An-Nisa`, Al-
Ma`idah, Al-An’am, Al-A’raf dan At-Taubah.
Dan dalam kisah sholat Hudzaifah bin Al-Yaman di belakang Nabi ‘Alaihish Sholatu was Salam
bahwa beliau shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam membaca dalam satu raka’at Al-Baqarah
kemudian An-Nisa’ kemudian Ali ‘Imran dan beliau membacanya lambat lagi pelan.
Dan telah tsabit (syah, tetap) dengan sanad yang paling shohih bahwa ‘Umar radhiyallahu ‘anhu
tatkala memerintah Ubay bin Ka’ab sholat mengimami manusia dengan sebelas raka’at dalam
Ramadhan, maka Ubay radhiyallahu ‘anhu membaca dua ratus ayat sampai orang-orang yang di
belakangnya bersandar di atas tongkat karena lamanya berdiri dan tidaklah mereka bubar kecuali
pada awal-awal fajar.
Dan juga telah shohih dari ‘Umar bahwa beliau memanggil para pembaca Al-Qur`an di bulan
Ramadhan kemudian beliau memerintah orang yang paling cepat bacaannya untuk membaca 30
ayat, orang yang pertengahan (bacaannya) 25 ayat dan orang yang lambat 20 ayat.
Dibangun di atas hal tersebut, maka kalau seseorang sholat sendirian disilahkan memperpanjang
sholatnya sesuai dengan kehendaknya, dan demikian pula bila ada yang sholat bersamanya dari
kalangan orang yang sepakat dengannya (dalam memperpanjang,-pent.), dan semakin panjang
maka itu lebih utama, akan tetapi jangan ia berlebihan dalam memperpanjang sampai
menghidupkan seluruh malam kecuali kadang-kadang, dalam rangka mengikuti Nabi shollallahu
‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam yang bersabda :

, - , , |· . = . · = . - ¬ « =
“Dan sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad (shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa
sallam)”
Dan apabila ia sholat sebagai imam maka hendaknya ia memperpanjang dengan sesuatu yang
tidak memberatkan orang-orang di belakangnya, berdasarkan sabda beliau shollallahu ‘alaihi wa
‘ala alihi wa sallam :

· . | · -· | - = · . | ·· ¸· · · , ¬ « . =|· : · · . · . · , . . , =|· - , , . , |· ´ , , , , · , . . =|· - , . . , , |· « , · ¸ . . , , . |· · ¬ -· - . , . · . | · -·
, - = · · · , = ¸ = : · - - = · ··
“Apabila salah seorang dari kalian Qiyam mengimami manusia maka hendaknya ia memperingan
sholatnya karena pada mereka ada anak kecil, orang besar, pada mereka orang lemah, orang
sakit dan orang yang mempunyai keperluaan. Dan apabila ia Qiyam sendiri maka hendaknya ia
memperpanjang sholatnya sesuai dengan kehendaknya”.”

Demikian keterangan Syaikh Al-Albany tentang bacaan pada Qiyamul lail, adapun dalam sholat
witir, berikut ini beberapa hadits yang menjelaskannya, diantaranya adalah hadits Ubay bin Ka’ab
riwayat Imam Ahmad dan lain-lainnya, beliau berkata :


Majalah An-Nashihah Vol. 7 (1425/2008)
15
15
· .· = , . =· .· = , - |¹ ¸ · - , - , · - =· ¸· = · « , | · |· ¸ , · , · . = `, ¬ =· . `· c |· | - · , ¸ | ¸ · | · · . |· · ´ ·· , , . , | ¸ · , =· | - ` = · · . ·
= · . | .· = , ¬ .· |· « · c |· « = , ¸ · · =· - , =·
“Adalah Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam membaca pada witir dengan
“Sabbihisma Rabbikal A’la”, “Qul Ya Ayyuhal Kafirun” dan “Qul Huwallahu Ahad”. Apabila beliau
salam, belaiu berkata : “Subhanal Malikil Quddus”
3
tiga kali.” (Dishohihkan oleh Syaikh Muqbil
dalam Al-Jami’Ash-Shohih 2/160-161.)

Dan dalam hadits ‘Abdurrahman bin Abi Abza riwayat Ahmad dan lainnya, beliau berkata :

· · - · .· , , ·· ´ |· · .· | · · ¸ | , ¸ · - | |· c`· . =· ¬`, = . · , · , |· ¸ · | , « · ¸ ,= « |· c · « |· .· ¬ , = .· | .· = · . ·· ` = - | =· , · ¸ | , .
¸ ,= « |· c · « |· .· ¬ , = ¸ ,= « |· c · « |· .· ¬ , = , · - · . = · , · -
“Sesungguhnya beliau membaca pada witir dengan “Sabbihisma Rabbikal A’la”, “Qul Ya Ayyuhal
Kafirun” dan “Qul Huwallahu Ahad”. Apabila beliau salam, belaiu berkata : “Subhanal Malikil
Quddus, Subhanal Malikil Quddus, Subhanal Malikil Quddus.” dan beliau mengangkat suaranya
dengan itu .” (Dishohihkan oleh Syaikh Muqbil dalam Al-Jami’Ash-Shohih 2/161.)

Berdasarkan dua hadits di atas, Ats-Tsaury, Ishaq dan Abu Hanifah menganggap sunnah
membaca tiga surah di atas dalam sholat witir. Imam Malik dan Asy-Syafi’iy juga menganggap
sunnah hal tersebut namun mereka dalam raka’at ketiga selain dari surah Al-Ikhlash juga
menganggap sunnah menambahnya dengan surah Al-Falaq dan surah An-Nas. Namun hadits
mengenai tambahan dua surah tersebut dianggap lemah oleh Imam Ahmad, Ibnu Ma’in dan Al-
‘Uqaily, karena itu seharusnya orang yang sholat witir tiga raka’at hanya terbatas dengan
membaca surah Al-Ikhlash pada raka’at ketiga.

Syaikh Al-Albany dalam Sifat Sholat An-Nabi hal. 122 (Cet. Kedua Maktabah Al-Ma’arif) juga
menshohihkan hadits bahwa membaca dalam raka’at witir dengan seratus ayat dari An-Nisa`.

Baca : Al-Mughny 2/599-600, Al-Majmu’ 2/599 dan Syarhus Sunnah 4/98.

Qunut Witir

Qunut secara etimologi mempunyai makna yang banyak. Ada lebih dari 10 makna sebagaimana
yang dinukil oleh Al-Hafizh Ibnu Hajar dari Al-Iraqy dan Ibnul Araby.
1) Doa, 2) Khusyu’, 3) Ibadah, 4) Taat, 5) Manjalankan ketaatan, 6) Penetapan Ibadah kepada
Allah, 7) Diam, 8) Shalat, 9) Berdiri, 10) Lamanya berdiri, 11) Terus-menerus dalam ketaatan.
Dan juga ada makna-makna lain dapat dilihat dalam Tafsir Al-Qurthuby 2/1022, Mufradat Al-
Qur’an karya Al-Ashbahany hal. 428 dan lain-lainnya.
Adapun secara terminologi, seperti disebutkan Al-Hafizh Ibnu Hajr Al-Asqalani rahimahullah: “Doa
di dalam shalat pada tempat yang khusus dalam keadaan berdiri.” (lihat Fathul Bari 2/490).
Makna secara terminologi ini yang diinginkan oleh para ulama fiqh dan kebanyakan ulama dalam
buku-buku mereka. Lihat Zadul Ma’ad karya Ibnul Qayyim 1/283.

Telah syah dalam hadits Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam akan syari’at Qunut
dalam sholat witir sebagaimana dalam hadits Al-Hasan bin ‘Ali radhiyallahu ‘anhu ri wayat Abu
Daud, At-Tirmidzy, An-Nasa`i, Ibnu Majah dan lain-lainnya, beliau berkata :

- · « · ¸ = , . =· .· = , - |¹ ¸ · - , - , · - =· ¸· = · · « =· | | , | . ¸ · ¸ |· , · , ·|· . . ·· = · ¸ · , « ¸ · = · . , - ·· · ¸ · , « ¸ - ·· , . , · , | · ¸
· , « ¸ · , | , . , · · = | ¸ · , « | · - = , . , | · ¸ = , - | · = , . · · · c · « = ¸ , | · · « = - ¸ · , c , · · - | · · = . - ¸ , |· , . · , · · . · · , · · - |· , .
“Rasulullah mengajarkan kepadaku beberapa kalimat untuk saya ucapkan dalam witir : “Ya
Allah, berilah hidayah kepadaku pada orang-orang yang Engkau beri hidayah, berilah padaku
afiyat pada orang yang Engkau beri afiyat, naungilah aku pada orang-orang yang Engkau naungi,
berkahilah aku pada apa yang Engkau beri dan jagalah aku dari kejelekan keputusan-Mu,
sesungguhnya Engkau memutuskan dan tidak diputuskan terhadap-Mu, sesungguhnya tidaklah
hina orang-orang yang Engkau naungi, dan Maha Berkah Engkau Wahai Rabb kami dan Maha
Tinggi” (Dishohihkan oleh Syaikh Al-Albany dalam banyak buku beliau dan Syaikh Muqbil dalam
Al-Jami’Ash-Shohih 2/161.)

Dibangun di atas hadits ini orang-orang Hanafiyah, Hanbaliyah dan sebahagian orang Syafi’iyah
berpendapat akan disunnahkanya Qunut witir di bulan Ramadhan dan selainnya. Demikian pula
diriwayatkan dari Al-Hasan, Ibrahim An-Nakha’iy dan Ishaq.

3
Artinya : Maha suci Yang Maha berkuasa lagi Yang Maha suci.

Majalah An-Nashihah Vol. 7 (1425/2008)
16
16
Adapun Imam Malik beliau tidak berpendapat adanya Qunut witir.
Dan Imam Asy-Syafi’iy berpendapat bahwa witir adalah disyari’atkan di pertengahan bulan
Ramadhan.

Tarjih

Tentunya tidak diragukan akan sunnahnya Qunut witir berdasarkan hadits Al-Hasan bin ‘Ali
sehingga tidak ada alasan bagi orang yang melarang pelaksanaannya. Adapun pelaksanaan witir
dari pertengahan Ramadhan, hanyalah diriwayatkan dalam hadits yang lemah. Wallahu A’lam.

Baca : Al-Muhgny 2/580, Bidayatul Mujtahid 1/204 dan Nailul Author.

Tempat Pelaksanaan Qunut

Qunut dapat dilaksanakan sebelum ruku’ atau setelah ruku’. Akan tetapi pelaksanaannya setelah
ruku’ lebih banyak dilakukan oleh Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam.
Al-Imam Al-Baihaqi dalam As Sunnan Al Kubra 2/208 berkata : “Rawi-rawi hadits yang
terdapat padanya penjelasan tentang qunut setelah ruku’ lebih banyak dan lebih bisa dipegang
hafalannya. Karena itu riwayat mereka yang lebih pantas untuk dipakai. Demikian pula
pelaksanaan qunut pada zaman Khulafa` Ar-Rasyidin radhiyallahu ‘anhum yang terdapat pada
riwayat-riwayat yang masyhur dari mereka dan riwayat-riwayat ini jumlahnya paling banyak”.

Adapun dalil pelaksanaan qunut sebelum ruku’ diterangkan dalam beberapa hadits, diantaranya
adalah hadits Anas bin Malik riwayat Al-Bukhary, beliau berkata :

¸ ,·|· . - · .· = , - |¹ ¸ · - , - , · - =· ¸· = : - ; - , = .· , · . , ¸ - . , · = ¸ · · ¸ - .·, - .. | ¸ , - · ··, « |· . . | .· « · - -· ¬ |
, · · « · ¸ ,·|· · - = · . · , - |¹ ¸ · - , - , · - =· ¸· = .· = ¸ · · , . = . . , · - : = ,· , - |· = , - .· | . · « · ·· · · - , =, · « |· · = · c | . , ·· = - |· ·
· = · - , | -, ·,|· = - · | =, · « |· ¸ - · . · | ¸ - . | = , v .· | · ·· , « |· ¸ - -· , ¸ - -· , · = · - ¸ · · ·· , « |·
“Nabi shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam mengutus 70 orang untuk suatu keperluan. Mereka
itu disebut sebagai pembaca-pembaca Al-Qur`an. Maka mereka dihadang oleh dua suku Bani
Sulaim, Ri’il dan Dzakwan. Kedua suku ini membunuh mereka. Maka Nabi shollallahu ‘alaihi wa
‘ala alihi wa sallam mendo’akan kejelekan atas mereka selama sebulan pada shalat shubuh. Hal
ini merupakan permulaan adanya qunut dan kami tidak pernah qunut sebelumnya.” Berkata
Abdul Aziz -murid Anas- : “Seorang lelaki bertanya kepada Anas tentang qunut tersebut, apakah
dilakukan setelah ruku’ atau ketika selesai dari bacaan surat (sebelum ruku’). Maka Anas
menjawab: “Bahkan ketika selesai dari bacaan surat.”

Dan dalam hadits Ubay bin Ka’ab radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata :

-, ·,|· ¸ , | . · « · .· · .· = , - , · - -·|· ¸· = ¸ ,·|· . |
“Sesungguhnya Nabi Shalallahu ‘alaihi wa salam melakukan qunut sebelum ruku’”. ( Dikeluarkan
oleh An Nasa’i 1/248, Ibnu Majah no. 1182 dan lainnya dan dishahihkan oleh Syaikh Al-Albany
rahimahullah dalam Al-Irwa`ul Ghalil no. 426).

Dari penjelasan di atas kita mengetahui bahwa ada keleluasaan dalam hal ini. Barang siapa yang
ingin berqunut sebelum ruku’, maka itu adalah perkara yang boleh dan barang siapa yang ingin
berqunut setelah ruku’, tidak ada dosa apapun atasnya.
Pendapat tentang bolehnya memilih salah satu dari dua cara melakukan qunut juga diriwayatkan
oleh Ibnul Mundzir dari Shahabat Anas bin Malik, Imam Ayyub As-Sikhtiyany dan Imam Ahmad.
Pendapat ini dikuatkan oleh Syaikh Al-Albani dalam Qiyamu Ramadhan hal. 31, Syaikh Ibnu
‘Utsaimin dalam Asy-Syarh Al-Mumti’ 4/64-65 dan Syaikh Muqbil bin Hadi Al-Wadi’iy.
Dan berkata Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dalam Majmu’ Fatawa 23/100 : “Adapun ahli fiqh
dari kalangan ahli hadits seperti Ahmad dan selainnya, mereka membolehkan kedua perkara
karena sunnah yang shohih datang menjelaskan keduanya, walaupun mereka memilih qunut
setelah (ruku’) karena lebih banyaknya (dalil tentang hal tersebut,-pent) dan lebih (mendekati)
qiyas …” Lihat juga : Al-Inshaf 2/170.

Untuk pembahasan di atas baca : Al-Majmu’ karya Imam An-Nawawi 2/510, 520 dan Fathul
Bari karya Ibnu Rajab 6/270-277.






Majalah An-Nashihah Vol. 7 (1425/2008)
17
17
Mengangkat Tangan Ketika Qunut

Yang paling kuat dari pendapat para ulama dalam masalah ini adalah tidak disyari’atkannya
mengangkat tangan dalam qunut. Ini merupakan pendapat Yazid bin Abi Maryam, Imam Al-
Auza’iy, Abu Hanifah dan Imam Malik. Lihat Al-Mughni 1/448 dan Al-Majmu’ 3/487.
Pendapat ini dikuatkan karena tidak ada hadits yang shahih yang menunjukkan beliau
mengangkat tangan dalam qunut.
Adapun dalil yang dipakai oleh para Ulama yang berpendapat disyari’atkannya mengangkat
tangan dalam qunut adalah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad 3/137, Abd bin Humaid
dalam Al-Muntakhab hal 380 no. 1276, Ath-Thabarany 4/51/3606, dalam Al-Ausath
4/131/3793 dan dalam Ash-Shaghir 1/323-324/536, Abu Nu’aim dalam Al-Hilyah 1/123-124,
Al-Baihaqy 2/211 dan Al-Khathib dalam Tarikh Baghdad 11/440 dari jalan Sulaiman bin Al-
Mughirah dari Tsabit Al-Bunany dari Anas bin Malik tentang kisah para pembaca Al Qur`an yang
terbunuh. Disebutkan bahwa Anas berkata kepada Tsabit :

· · « = | · . = , . =· .· = , - |¹ ¸ · - , - , · - =· ¸· = · ¸ = : · |· - = ·· · - · = · - · = - - · · , . .
“Sesungguhnya saya melihat Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam setiap kali beliau
shalat shubuh, beliau mengangkat kedua tangannya mendo’akan kejelekan atas mereka
(pembunuh para pembaca Al-Qur’an).”

Namun hadits ini lemah karena di dalamnya terdapat dua cacat :

1. Sulaiman bin Mughirah, walaupun beliau seorang rawi yang tsiqah, akan tetapi ia telah
menyelisihi Hammad bin Salamah yang meriwayatkan hadits ini dari Tsabit dari Anas. Dan
Hammad tidak menyebutkan dalam riwayatnya bahwa Nabi shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa
sallam mengangkat kedua tangannya. Lihat riwayat Hammad dalam Shahih Muslim 3/1511
no. 677, Ahmad 3/270 dan Ibnu Sa’d dalam Ath-Thabaqat 3/515. Hammad bin Salamah ini
adalah orang yang paling kuat riwayat haditsnya dari Tsabit. Maka sebagaimana yang
dikatakan oleh Imam Yahya bin Ma’in, Abu Hatim dan lainnya bahwa: “Siapa saja yang
menyelisihi Hammad dalam periwayatan hadits dari Tsabit, maka yang didahulukan adalah
periwayatan Hammad.” Bahkan Imam Muslim dalam kitab At-Tamyiz menukil kesepakatan
ahli ‘ilalul hadits bahwa Hammad adalah orang yang paling kuat riwayatnya dari Tsabit. Baca
kitab Syarah ‘Ilal At-Tirmidzy 2/790 (Cet. Maktabah Al-Manar) dan lain-lainnya.

2. Murid-murid Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu seperti : Qatadah, Muhammad bin Sirin, ‘Abdul
‘Aziz bin Shuhaib, Abu Qilabah, Ishaq bin ‘Abdillah bin Abi Thalhah, Abu Mijlaz, ‘Ashim, Musa
bin Anas, Humaid At-Thawil, Daud bin Abi Hind, Hanzhalah bin ‘Abdillah, Abu Makhlad,
Marwan Al-Ashfar dan Ibnu Muhajir, semuanya meriwayatkan hadits yang semakna dari Anas
bin Malik tentang pelaksanaan qunut. Akan tetapi tidak seorangpun dari mereka yang
menyebutkan bahwa Nabi mengangkat kedua tangannya dalam qunut. Lihat riwayat-riwayat
mereka di Shahih Bukhari, Shahih Muslim dan Lain-lainnya (sengaja kami tidak
menyebutkan takhrij-nya untuk menyingkat pembahasan). Seluruh hal ini mempertegas akan
salahnya Sulaiman bin Al-Mughirah dalam periwayatannya yang menyebutkan Nabi
mengangkat kedua tangannya dalam qunut. Dan Syaikhuna Muqbil bin Hadi rahimahullah
termasuk Ulama yang melemahkan hadits ini. Wallahu a’lam.

Mengaminkan Doa Qunut Bagi Makmum

Syari’at akan hal ini telah tetap dalam hadits Ibnu ‘Abbas. Hal ini ditegaskan oleh Ibnu Qudamah
dalam Al-Mughny 1/449: “Apabila Imam melakukan qunut hendaknya diaminkan oleh orang
yang dibelakang imam dan kami tidak mengetahui ada perbedaan pendapat dalam masalah ini.”

Akan tetapi perlu diingat bahwa pengaminan hanyalah diucapkan pada lafazh-lafazh doa, bukan
pada lafazh pujian. Ini merupakan pendapat Imam Ahamad dan dibenarkan oleh Imam Al-
Khiroqy dan An-Nawawi. Lihat Su`alat Abi Daud hal.67 dan Al Majmu’ 3/481.

Hendaknya pula imam berdoa dengan lafazh umum (bukan untuk pribadinya), sehingga makmum
ketika mengaminkannya juga mengambil andil dari doa tersebut. Hal ini ditegaskan demikian
karena dua perkara:

Pertama : Allah Subhanahu Wa Ta’ala tatkala berfirman kepada Nabi Musa ‘alaihis salam :

· «, « · =· · · « ´ · , - . . ,, - | = | .· |
“Sesungguhnya do’a kalian berdua telah dikabulkan.” (QS. Yunus: 89).


Majalah An-Nashihah Vol. 7 (1425/2008)
18
18
Dan kalau kita memperhatikan ayat sebelumnya maka kita akan mengetahui bahwa ternyata
yang berdoa hanya Nabi Musa ‘alaihis salam :

| ¸ · - . = =· , . . |· , - | ¸ · - ¸ « |· · ·· c ·, , = ¸ - ·, · = , | · ·· ., | | |· =· = - |· · , , · ¸· - ·, · - , · : · . . ·, ·
“Wahai Rabb kami, musnahkanlah harta mereka dan keraskanlah hati mereka. Tidaklah mereka
beriman sampai mereka melihat adzab yang sangat pedih.” (QS. Yunus: 88)

Bersamaan dengan ini Allah menjadikan doa untuk mereka berdua. Hal ini karena Nabi Musa
berdoa dan Nabi Harun mendengarkan dan mengaminkannya. Lihat Asy-Syarh Al-Mumti’ karya
Syaikh Shalih Al-Utsaimin 3/86 dan Majmu’ Fatawa karya Ibnu Taimiyah 23/116-119.

Kedua : Al-Hafizh Ibnu Hajar rahimahullah berkata : “Yang nampak bagi saya bahwa hikmah
mengapa doa qunut ditempatkan pada i’tidal sebelum sujud, padahal sujud merupakan tempat
dikabulkannya doa sebagaimana yang telah pasti (datangnya dari Rabb-Nya ketika ia sujud), dan
(padahal juga) telah pasti benarnya perintah berdoa dalam sujud, (hikmahnya) adalah bahwa
yang diinginkan dari qunut nazilah ini, makmum berserikat bersama imam dalam doa walaupun
hanya dengan mengaminkan.” Baca : Fathul Bari 2/491.

Mengusap Wajah Setelah Qunut

Imam Abu Daud dalam Masa`il-nya hal. 71 berkata : “Saya mendengar Ahmad ditanya tentang
seseorang mengusap wajahnya dengan kedua tangannya bila selesai, maka beliau menjawab :
“Saya tidak mendengar tentang itu” dan beliau berkata di kesempatan lain : “Saya tidak
mendengar tentangnya suatu (riwayat) apapun”.” Dan (Abu Daud) berkata : “Dan saya tidak
melihat Ahmad mengerjakannya.”

Dan Imam Malik ditanya tentang seseorang yang mengusap wajahnya dengan kedua telapak
tangannya ketika berdoa maka ia mengingkarinya sembari berkata : “Saya tidak
mengetahuinya.” Baca : Mukhtashor Qiyamul Lail karya Muhammad bin Nashr Al-Marwazy hal.
327.

Dan berkata Imam Al-Baihaqy dalam Sunan-nya 2/212 : “Adapun mengusapkan kedua tangan ke
wajah selepas doa, tidaklah saya menghafal (hal tersebut) dari seorangpun dari para Ulama salaf
pada doa qunut.”

Dan demikian pula kesimpulan Syaikh Ibnu ‘Utsaimin dalam Asy-Syarh Al-Mumti’ 4/53-56. Dan
baca : Irwa`ul Gholil 2/178-181.

Beberapa Hukum Dan Masalah Berkaitan Dengan Pembahasan

Telah diketahui tentang keutamaan sholat Tarawih bersama imam sampai selesai walaupun
pelaksanaannya di awal malam dan juga diketahui bahwa dilarang melakukan witir dua kali
dalam satu malam sebagaimana dalam hadits :
v , · , .· · ¸ | , · -
“Tidak ada dua witir dalam satu malam”
Namun bila makmum ingin menambah sholat di akhir malam, apa yang harus ia lakukan ?

Jawab :

Ada dua penyelesaian terhadap masalah ini, yaitu :

Satu : Menggenapkan raka’at. Yaitu ketika imam salam di akhir witirnya maka ia tidak salam
tapi berdiri menambah satu raka’at sehingga sholatnya menjadi genap. Sehingga kalau ia
ingin melakukan sholat di akhir malam ia tetap bisa melakukan witir. Dengan hal ini
seseorang tetap mendapatkan pahala sholat berjama’ah bersama imam dan tetap bisa
melakukan sholat di akhir malam. Cara ini menurut Syaikh Ibnu ‘Utsaimin adalah cara yang
paling baik.

Dua : Ikut sholat witir bersama imam sampai selesai dan salam bersamanya dan kalau ia
ingin bangun di malam hari maka boleh sholat lagi dua raka’at dua raka’at berdasar
keumuman hadits

: = ¸ · · - ¸ · · - ¸ ,·|· ·
“Sholat malam dua (raka’at) dua (raka’at)”

Majalah An-Nashihah Vol. 7 (1425/2008)
19
19
dan tidak boleh witir lagi sehingga tidak terjatuh dalam larangan pelaksanaan dua witir dalam
satu malam.

Baca : Al-Mughny 2/597-598, Asy-Syarh Al-Mumti’ 4/ 88-89 dan Majmu’ Fatawa wa
Rasa`il Syaikh Ibnu ‘Utsaimin 14/123-126.

Sebenarnya ada cara ketiga yang disebut dengan nama Naqdhul Witr yaitu seseorang setelah
sholat witir di awal malam kemudian di akhir malam ia bangun untuk sholat, maka ia sholat
satu raka’at untuk membatalkan witirnya, namun hal tersebut lemah menurut pendapat
Jumhur Ulama.

Silahkan baca pembahasannya dalam : Al-Istidzkar 2/113-114, Fathul Bari karya Ibnu
Rajab 6/250-257, Al-Mughny 2/597-598, Al-Inshof 2/182, Al-Majmu’ 3/521, Thorhut
Tatsrib 3/81 dan Nailul Author 3/49.

Tidak disunnahkan adanya Ta’qib dalam sholat Tarawih yaitu sekelompok orang setelah
mekakukan sholat lail di awal malam secara berjama’ah kembali berjama’ah di akhir malam.
Hal ini adalah perkara yang makruh menurut pendapat Imam Ahmad dalam salah satu
riwayat dan Syaikh Ibnu ‘Utsaimin menguatkan pendapat ini. Namun menurut Syaikh Ibnu
‘Utsaimin kalau Ta’qib mereka lakukan setelah Tarawih dan sebelum witir maka bukanlah
makruh. Sisi kuat kesimpulan ini tentunya bisa dipahami dari uraian-uraian yang telah lalu.

Baca : Al-Mughny 2/607-608, Fathul Bari karya Ibnu Rajab 6/258-259, Al-Inshof 2/183
dan Asy-Syarh Al-Mumti’ karya Ibnu ‘Utasimin 4/91-93.

Adapun masalah melakukan sholat sunnah antara raka’at Tarawih saat istirahat adalah
perkara yang makruh.

Baca : Al-Mughny 2/607, Al-Inshof 2/183 dan Asy-Syarh Al-Mumti’ karya Ibnu
‘Utasimin 4/90-91.

Boleh melakukan witir di atas hewan tunggangan atau di atas kendaraan menurut pendapat
kebanyakan para Ulama berdasarkan hadits ‘Abdullah bin ‘Umar riwayat Al-Bukhary dan
Muslim, beliau berkata :

· . = , . =· .· = , - |¹ ¸ · - , - , · - =· ¸· = · .· · , · , - · |· ¸ , - , ,
“Sesungguhnya Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam melakukan witir di atas
onta.”

Silahkan baca pembahasannya dalam : Al-Istidzkar 2/111, Fathul Bari karya Ibnu Rajab
6/265-267 dan Bidayatul Mujtahid 1/204.

Sholat witir juga tetap disunnahkan walaupun dalam safar/perjalanan karena Nabi shollallahu
‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam melakukan witir dalam keadaan mukim maupun safar. Dan
banyak dalil yang menunjukkan tentang hal tersebut.

Baca : Majmu’ Fatawa Ibnu Taimiyah 23/98, Fathul Bari karya Ibnu Rajab 6/258-259 dan
Al-Majmu’ 2/517.

Tidak disyari’atkan adanya doa ketika istirahat di pelaksanaan Tarawih dan demikian pula
tidak ada doa setelah sholat Tarawih. Baca : Al-Inshof 2/181 dan 182.



Demikian beberapa pembahasan berkaitan dengan tuntunan sholat Tarawih. Dan perlu diketahui
bahwa masih ada sejumlah masalah yang kami belum sebutkan, hal tersebut disebabkan oleh
keterbatasan waktu. Dan kami berharap Allah memberikan kemudahan untuk penulisan
pembahasan lengkap di waktu lain. Mudah-mudahan tulisan ini bermanfaat untuk seluruh kaum
muslimin dan bisa menjadi pedoman dalam menghidupkan malam-malam penuh berkah di bulan
Ramadhan. Amin, Yaa Rabbal ‘Alamin. Wallahu Ta’ala A’lam.

sedang mereka berdo`a kepada Tuhannya de ngan rasa takut dan harap. sambil mengambil apa yang diberikan kepa da mereka oleh Tuhan mereka. Dan di akhir-akhir malam mereka memohon ampun (kepada Allah). At-Tirmidzy 5/569/3578. apa yang diturunkan malam ini berupa fitnah da n apa yang dibuka da ri berbagai perbenda haraan. Mereka sedikit sekali tidur di waktu malam. An-Na sa`i 1/279.” Majalah A n-Nashiha h Vol. mereka menyungkur sujud dan bertasbih serta memuji Tuhannya.” (QS. Sesungguhnya mereka sebelum itu di dunia adalah orang-orang yang berbuat baik. sedang mereka tidak menyombongkan diri. bangunkanlah (para perempua n) pemilik kamar karena kadang (perempuan) berpakaian di dunia tetapi telanjang di akhirat”. A l-Furqan : 64) Dan Allah be rfirma n : “Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa berada di dalam taman-taman (surga) dan di mata air-mata air.2 “Sesungguhnya orang-orang ya ng be riman terhada p ayat-ayat Kami.” (QS. da n mereka menafkahkan sebahagian dari rezki yang Kami berikan kepada mereka.” Dalam hadits ‘Am r bin ‘Abasa h radhiyallahu ‘anhu. Lambung mereka jauh dari tempat tidurnya. sebaga imana da lam hadits Ummu Sa lamah riwa ya t Al-Bukhary : . Na bi shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam be rsabda : “Sedekat-dekat keberadaan Allah terhadap seorang hamba adalah para pertenga han malam terakhir. Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam be rsabda : “Seutama-utama puasa setelah (puasa) Ramadhan adalah (puasa) Bulan Allah Muharram dan seutama-utama sholat setelah (sholat) fardhu adalah sholat lail. adalah orang-orang yang apabila diperingatkan denga n ayat-ayat (Kami). Al-Hakim 1/453.” (QS. 7 (1425/2008) 2 . “Nabi shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam terbangun pada suatu malam lalu beliau bersabda : “Subhanallah. Al-Baihaqy 3/4 da n dishohihka n oleh Syaikh Muqbil da lam Al-Jami’ Ash-Shohih 2/171) Dan shola t la il te rma suk penyebab seseorang te rhinda r da ri fitnah. be liau be rka ta : “Sesungguhnya Nabi shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam melakukan Qiyamul lail sampai pecah-pecah kedua kaki beliau maka saya bertanya : “Mengapa engkau melakukan ini wahai Rasulullah padahal Allah telah mengampuni a pa telah be rlalu dari dosamu da n apa yang akan datang?” maka beliau menjawab : “Tidakkah saya cinta untuk menjadi hamba yang bersyukur”.” Dan da ri ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha. A dz-Dzariyat : 15-17) Dan da lam hadits Abu Hura irah radhiyallahu ‘anhu riwa ya t Muslim . Ibnu Khuza imah 1/182/1147. As-Sajadah : 1516) Dan Allah Jalla Tsana`uhu menje laskan dianta ra sifat hamba -Nya : “Dan orang-orang yang menghabiskan waktu malamnyai dengan bersujud dan berdiri untuk Rabb mereka. Maka kalau engkau mampu termasuk dari orang mengingat Allah pada saat itu maka hendaknya engka u termasuk (darinya)” (HR.

Abu Da ud no. Ibnu Majah no. Dan da lam hadits ‘Am r bin Murrah Al-Juhany radhiyallahu ‘anhu. Dan dishohihkan oleh Sya ikh Muqbil dalam Al-Jami’ Ash-Shohih 2/172) Dan khusus te ntang shola t la il di malam Ramadha n. Dem ikia n makna kete rangan be liau dalam Fathul Bari 4/251.” (Be rka ta Sya ikh Al-Albany da lam Qiyam Ramadhan ha l. R asulullah shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam be rsabda : “Allah merahmati seorang lelaki yang terbangun di malam hari lalu sholat dan membangunkan istrinya. Al-Bukhary dan Muslim da ri Abu Hura irah radhiyallahu ‘anhu. kalau dia enggan maka ia memercikkan air ke wajahnya. 1336. 7 (1425/2008) 3 . saya sholat lima waktu. saya puasa bulan (Ramadhan).3 Dan da ri Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu.) Syari’at Sholat Tarawih Secara Berjama’ah Ada bebe rapa hadits yang menunjukkan akan disya ri’atka nnya pelak sanaan shola t Tarawih se ca ra be rjama’a h. be liau be rka ta : Majalah A n-Nashiha h Vol.) Dan te ntang malam Lailatul Qadri. 18 : “Dike lua rkan ole h Ibnu Khuzaimah dan Ibnu Hibban da lam Ash-Shohih me reka be rdua dan juga diriwa ya tkan oleh se la in keduanya de ngan sa nad ya ng shohih”.) Be rka ta Imam An-Na wa wy da lam Syarah Muslim 6/38 : “Yang dimaksud de ngan Qiyam Ramadhan ada lah shola t Tarawih”. kalau dia enggan maka ia memercikkan air ke wajahnya. Namun nuk ilan kesepaka tan da ri Al-Kirmany dianggap a neh oleh Al-Hafizh Ibnu Ha ja r ka re na kapan Q iyamul lail dilakukan di ma lam Ramadhan denga n be rjama’a h (Tarawih) a ta u tanpa be rjama’a h maka te lah te rca pai apa yang diinginkan. Ra sulullah shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam te lah menje laskan keutamaannya da lam sabda nya : “Siapa yang Qiyam Ramadhan (berdiri sholat di malam Ramadhan) dengan keimanan dan mengharap pahala maka telah diampuni apa yang telah lalu dari dosanya” (HR . Ra sululla h shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam be rsabda : “Siapa yang berdiri (sholat) malam lailatul qadri dengan keimanan dan me nghara p pahala maka telah diampuni apa ya ng telah lalu dari dosanya” (HR . bagaimana menurut engkau andaikata saya bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang haq kecuali Allah dan engkau rasul Allah. Di anta ra ha dits-ha dits itu ada lah sebaga i be rik ut : Da ri Abu Dza r Al-Ghifary radhiyallahu ‘anhu. Ibnu Hibban 6/306/2567 -Al-Ihsan-. Ba hkan Al-Kirma ny menuk il kese pakata n bahwa yang dimaksud dengan Qiyam Ramadhan dalam hadits di a tas ada lah shola t Tarawih. 1450. Allah merahmati seorang perempuan ba ngun di malam hari lalu sholat dan membangunkan suaminya.” (HR . be liau be rka ta : ! : (( )) : “Datang kepada Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam seorang lelaki dari Qudho’ah lalu berkata : “Wahai Rasulullah. Ibnu Khuzaimah 2/183/1148. saya melakukan Qiyam Ramadhan dan saya mengeluarkan zakat ?. Al-Hakim 1/453 dan Al-Ba ihaqy 2/501. Al-Bukhary dan Muslim da ri Abu Hura irah radhiyallahu ‘anhu. An-Nasa`i 3/205. 1308. Maka Nabi shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam bersabda : “Siapa yang meninggal di atas hal ini maka ia termasuk dari para shiddiqin dan orang-orang ya ng mati syahid”.

pa ra istrinya dan manusia lalu beliau berdiri (mengimami) kami sampai kami khawatir ketinggalan Al-Falah. be liau be rka ta : Sa ya mende nga r Nu’man bin Basyir radhiyallahu ‘anhuma di mimba r Himsh. maka keluarlah Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam pada malam kedua lalu merekapun sholat mengikuti sholat beliau. Dan ketika malam keenam (dari malam yang tersisa. lalu beliau keluar dan mereka sholat mengikuti sholat beliau. Maka berkata : “Wahai Rasulullah. kemudian kami berdiri (sholat) bersama beliau pada malam 27 sampai kami menyangka tidak mendapati Al-Falah yang mereka namakan untuk waktu sahur” (HR . 7 (1425/2008) 4 .” maka beliau bersabda : “Sesungguhnya seorang lelaki apabila ia sholat bersama imam sampai selesai maka terhitung baginya Qiyam satu malam”. Kemudian saat malam kelima (dari malam yang tersisa. Ahmad. andaikata engkau menjadikan nafilah untuk kami Qiyam malam ini.4 “Kami berpuasa Ramadhan bersama Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam dan beliau tidak berdiri (sholat lail) bersama kami sedikitpun dari bulan itu kecuali setelah tersisa tujuh hari.” (HR. Tatkala beliau menyelesaikan (sholat) subuh.-pent. An-Nasa `i 3/203.) beliau tidak berdiri (mengimami) kami. Di waktu paginya manusia membicarakan hal tersebut sehingga menjadi banyaklah ya ng ha dir di masjid pada malam ketiga.-pent. beliau be rka ta : “Kami berdiri (sholat) bersama Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam di bulan Ramadhan pada malam 23 sampai sepertiga malam pertama.” (HR.bertanya : “Apakah AlFalah itu?” (Abu Dzar menjawab : “Waktu sahur”. sesungguhnya keadaan kalian malam ini tidak luput dari pemantaua nku. Ibnu Abi Sya iba h 2/394. Abu Daud. Ibnu Majah da n lain-la innya . Da n dihasanka n oleh Sya ikh Muqbil da lam Al-Jami’ Ash-Shohih 2/174. An-Na sa`i. Akan tetapi Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam tidak keluar kepada mereka sampai sekelompok orang dari mereka berteriak : “Sholat” namun Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam tidak keluar kepada mereka sampai beliau keluar untuk sholat subuh. Begitu malam yang keempat masjid tidak mampu menampung penduduknya.) beliau mengumpulkan keluarnya. kemudian kami berdiri (sholat) bersama beliau pada malam 25 sampai seperdua malam.) Da ri ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha. Dan saat malam ketiga (dari malam yang tersisa. beliau menghadap kepada manusia kemudian beliau tasyahhud lalu berkata : “Amma Ba’du. Dan dishohihkan oleh Sya ikh Al-Albany da lam Irwa`ul Gholil 2/193/447 da n Syaik h Muqbil dalam Al-Jami’ Ash-Shohih 2/175. Kemudian beliau berdiri (mengimami) kami sampai berlalu sepertiga malam. Kemudian beliau tidak berdiri lagi (mengimami) kami pada sisa bulan.-pent.) beliau berdiri (mengimami) kami sampai berlalu seperdua malam. Al-Bukhary da n Muslim dan lafazh hadits ba gi Imam Muslim) Da ri hadits ini diketa hui mengapa shola t Tarawih di bula n Ramadhan tidak dilak ukan oleh Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam te rus mene rus ya itu ka rena kekha wa tiran be liau sholat te rsebut diwa jibkan a tas uma tnya se hingga membe ra tka n me reka. Kemudian manusia di pagi harinya membicarakan te ntang hal tersebut maka be rkumpullah lebih banyak dari mereka. akan tetapi aku khawatir akan diwajibkannya atas kalian sholat lail kemudian kalianpun tidak sanggup terhadapnya’. be liau be rka ta : “Sesungguhnya Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam keluar di kegelapan malam lalu beliau sholat di masjid maka sekelompok orang sholat mengikuti sholat beliau. Saya –rawi dari Abu Dzar.) Dan Abu Tholhah Nu’a im bin Ziyad. Ahmad 4/272. Dan ketika malam keempat (dari malam yang tersisa.-pent.) beliau tidak berdiri (mengimami) kami. Ibnu Khuza imah 3/336/2204 da n Al-Hak im 1/607. Namun Majalah A n-Nashiha h Vol.

Majalah A n-Nashiha h Vol. ka rena itu siapa yang me lakukan Qiyamul Lail se ca ra be rjama’a h di lua r Ramadhan se ca ra te rus mene rus a tau se ca ra be rjama’a h di masjid maka tidak dira gukan lagi ba hwa hal te rse but te rsebut te rmasuk da ri pe rka ra bid’ah yang te rcela .” Liha t juga Syarah Muslim 6/38. Be rtolak da ri sini. da n tela h tsabit (te tap. Ba ca ke te ranga n Sya ikh Ibnu ‘Utsa imin da lam AsySyarh Al-Mumti’ 4/82-83. Be rka ta Sya ikh Al-Albany da lam Qiyamu Ramadhan hal. Syarhus Sunnah 4/118-119 dan Fatawa Al-Lajnah AdDa`imah 7/194.5 kekha wa tira n ini te la h lenyap se te lah wafa tnya be liau dan agama te lah sempurna . Da ri ‘Arfa jah Ats-Tsaqofy. Namun be liau tidak melak ukan ha l te rsebut te rus mene rus dan tidak pula be liau melak ukannya di masjid. Tidak lah dira gukan bahwa shola t Tarawih ada la h sunnah muakkadah be rda sa rkan da lil-da lil yang te lah disebut di a tas. Hukum Sholat Tarawih Be rka ta Imam An-Na wa wy dalam Al-Majmu’ 3/526: “Dan shola t Tarawih ada la h sunnah menurut kese paka tan pa ra ‘ulama . ternyata manusia terbagi-bagi berpisah-pisah.” Dan Al-Ma rda wy dalam Al-Inshof 2/180 juga memberi pe rnya taa n sama da lam madzhab Hanba liya h namun beliau menyebutkan bahwa Ibnu ‘Aqil menghikaya tka n da ri Abu Bak r AlHanba ly aka n wa jibnya . Ka re na itu sunna h ini dihidupkan oleh ‘Uma r bin Kha ththab radhiyallahu ‘anhu. belia u be rka ta : “Saya keluar bersama ‘Umar bin Khaththab radhiyallahu ‘anhu menuju ke masjid pada suatu malam di Ramadhan.” Lalu beliau ber’azam lalu beliau kumpulkan mereka pada Ubay bi n Ka’ab.” Be rka ta Ibnu Qudamah da lam Al-Mughny 2/601 : “Ia ada lah sunnah muakkadah dan a wa l kali yang menyunnahkannya a dala h Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam.) sebaga imana da lam ha dits Abu Dza r yang be rla lu. 21-22 : “Dan disya ri’a tkan bagi pa ra pe rempuan untuk menghadirinya (Jama ’ah Tarawih. beliau maksud bid’ah se ca ra ba hasa ka rena beliau ya ng pe rtama ka li menghidupka n sunnah ini se te lah Nabi shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam membe rikan dasa r tuntuna nnya pada masa hidupnya .-pent. syah) da ri ‘Uma r ba hwa ta tka la be liau mengumpulkan manusia untuk Qiyam maka be liau menjadikan Ubay bin Ka’a b untuk lak i-lak i dan Sulaiman bin Abi Ha tsmah untuk pa ra pe rempuan. Diriwa ya tkan oleh Imam Al-Buk hary da ri ‘Abdurrahman bin ‘Abd Al-Qary. Maka ‘Umar berkata : “Saya berpandangan a ndaikata saya kumpulkan mereka pada satu qori` maka itu lebih tepat. seseorang sholat sendirian dan seseorang sholat dimana sekelompok orang (mengikuti) sholatnya. Kemudian saya keluar bersama beliau pada malam lain dan manusia sedang sholat (mengikuti) sholat qori’ mereka maka ‘Umar berkata : “Sebaik-baik bid’ah adalah ini dan ya ng tidur dari nya lebih baik da ri yang menegakkannya” yang beliau inginkan adalah orang yang sholat pada akhir malam sementara manusia menegakkannya di awal malam” Ucapan ‘Uma r radhiyallahu ‘anhu “Sebaik-baik bid’ah adalah ini”. Sa ya be rka ta : Ini keadaannya menurutk u bila masjidnya lua s sehingga sa lah sa tu da ri ke duanya tidak mengganggu ya ng la innya.” Dan pe rlu diketa hui bahwa sya ri’a t shola t Tarawih ini ha nya dilak ukan di bula n Ramadhan be rdasa rkan ke te ranga n ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha da lam hadits riwa ya t Al-Bukhary da n Muslim ba hwa pe laksanaa n Tarawih se ca ra be rjama’a h ini dilak ukan oleh be liau di bulan Ramadha n. nampak lah kesa lahan sebahagian orang ya ng se ring me lakukan pelaksa naan Qiyamul Lail se ca ra be rjama’ah di lua r Ramadha n. Ba ca juga : Al-Istidzkar 2/63-64. Memang Nabi shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam kada ng melak ukan Qiyamul Lail se ca ra be rjama’ah di ruma hnya be rsama Ibnu ‘Abbas da n juga pe rna h be rsama Ibnu Mas’ud dan pe rnah be rsama Hudza ifah. Wallahu A’lam. Be rka ta (‘Arfa jah) : “Sa ya ada lah imam pa ra pe rempua n”. be lia u be rka ta : “Adala h ‘Ali bin Abi Tholib memerinta h manusia untuk me lakukan Q iyam bulan Ramadhan da n be lia u menjadikan untuk laki-laki seorang imam da n untuk pe rempuan seorang imam. 7 (1425/2008) 5 . Dan be rka ta Ibnu Rusyd da lam Bidayatul Mujtahid 1/209 : “Dan (pa ra ulama) sepaka t bahwa Qiyam bulan Ramadha n sa nga t dia njurkan lebih da ri se luruh bulan.

“Apakah ada kewajiban lain atasku” be liau menja wa b : “Tidak. Dan masih ada da lil-da lil lain yang menunjukkan tidak wa jibnya.boleh dilaksanaka n oleh seorang yang musa fir bila ia te lah menjamak taqdim wak tu ‘Isya denga n wak tu maghrib. Ini ada lah pendapa t Asy-Sya fi’iy dan ke banyakan pe ngik utnya . siapa yang tidak witir maka bukanlah dari kami. dianta ranya hadits Bura idah radhiyallahu ‘anhu riwa ya t Abu Da ud dan lain-la innya . Al-Majmu’ 3/514-517. 528. Dan Ibnu Abi Sya ibah menuk il pelaksa naan se ca ra be rjama ’ah da ri ‘Ali. Syarah Ibnu Rajab 6/210-212 dan Nailul Author 3/34. Sendirianla h yang a fdhol. Zadzan. Thorhut Tatsrib 3/94-97. Majalah A n-Nashiha h Vol. Alasannya ka rena ini ada lah sunna h Rasululla h shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam ya ng dihidupka n oleh ‘Uma r dan pa ra shohaba t radhiyallahu ‘anhum dan sudah menja di symbol agama yang nampak sepe rti shola t ‘Ied. witir adalah haq.” (Diha sankan oleh Sya ikh Muqbil da lam Al-Jami’ Ash-Shohih 2/159) Tarjih Yang bena r da lam masa lah ini bahwa shola t witir tidak wa jib. Asy-Syafi’iy. Alasa nnya ada lah hadits Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam yang be rbunyi : “Sesungguhnya sebaik-baik sholat seseorang adalah dirumahnya kecuali sholat wajib. Abu Yusuf. ke tika Ra sululla h shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam menyebutkan ke wa jiba n shola t lima wak tu maka be liau di ta nya. pe rtenga han a ta u akhir wa k tunya. a pakah dilakukan se ca ra be rjama ’ah di masjid a tau sendiriaan di rumah?. Bahkan Ath-Thohawy be rlebiha n se hingga me nga takan bahwa shola t Tarawih se ca ra be rjama’a h a dala h wa jib kifayah.” Ba ca : Syarah Muslim 6/38-39. Uba y bin Ka’a b. Abu Ha nifah. Ishaq dan lain-la innya . Yang a fdhol ada lah se ca ra be rjama ’ah. Al-Mughny 2/605. Hukum Sholat Witir Me nurut jumhur ulama shola t witir hukumnya ada lah sunnah muakkadah.” Maka ukura n a wa l wak tu pelak sanaan Qiyam ada lah se te lah shola t ‘Isya . Ha l ini be rdasa rka n hadits Tholhah bin ‘Ubaidulla h radhiyallahu ‘anhu ri wa ya t Al-Bukhary dan Muslim . siapa yang tidak witir maka bukanlah dari kami. 2. sebahagian ora ng Malikiya h da n sela innya. Ini pe ndapa t Imam Malik. apakah shola t ‘Isyanya di a wa l wa k tu. Ada dua pe ndapa t di ka langa n pa ra ulama : 1. Waktu Sholat Lail dan Sholat Tarawih Wak tu pe laksanaanya ada lah : 1. Fathul Bari 4/252 dan Nailul Author 3/54. Abul Bakhta ry dan la in-la innya . Al-Fatawa 23/88. Di sisi la in Abu Hanifa h be rpe ndapa t bahwa shola t witir hukum nya wa jib. kecuali hanya sekedar sholat tathawwu’ (sholat sunnah).6 Nam un pa ra ulama be rse lisih pendapa t tentang mana yang a fdhol dalam pe laksanaa n shola t Tarawih. Ini ada lah pe ndapa t Imam Malik . seba gia n orang-orang Syafi’iyya h dan se lainnya . A wal Waktu Be rka ta Sya ikhul Islam Ibnu Ta imiyah da lam Al-Fatawa 23/119-220 : “Sunna h da lam shola t Ta ra wih dilaksa nakan se te lah shola t ‘Isya seba gaimana yang tela h disepaka ti oleh Sa laf da n pa ra Imam … dan tidak lah pa ra Imam me lakukan shola t (Ta ra wih) ke cuali se tela h ‘Isya di masa Nabi shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam da n dimasa pa ra Khula fa` Ar-Rasyidin dan di a tas ha l ini pa ra Imam kaum muslim in…” Dan be rka ta Ibnul Mundzir : “Ahlul ‘Ilmi te lah sepaka t bahwa (wak tu) anta ra shola t ‘Isya sampa i te rbitnya fa ja r ada lah wa ktu untuk witir. Al-Mughny 2/591-594. Ibnu Ma s’ud.” Dan juga akan dite rangkan te ntang shola t witirnya Na bi shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam di a tas he wan tungganga nnya padaha l dimaklum i bahwa shola t wa jib tidak lah dilak ukan di a tas he wa n tungga ngan. witir adalah haq. Al-Istidzkar 2/71-73. Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam be rsabda : “Witir adalah haq. Ahmad. Al-Majmu’ 2/526. Dem ikia n pula -menurut ke te rangan Sya ikh Ibnu ‘Utsaim in dan sela innya. 7 (1425/2008) 6 . Me reka be rdalilkan de ngan bebe ra pa dalil. siapa yang tidak witir maka bukanlah dari kami. Ahmad. Ba ca : Al-Istidzkar 2/80. Suwa id bin Gha fa lah.

Ada dua penda pa t di kala ngan pa ra ulama tenta ng masa lah ini : 1. Ibnu Ra ja b menyebutkan bebe rapa da lil yang menjadi landasan me reka dan be lia u te ra ngkan kelemaha nnya . Asy-Syafi’iy. ‘Atho`. Abu Tsaur da n la in-la innya. 2.” Dan pada ha laman sebe lumnya . Ini ada lah pe ndapa t jumhur ulama sepe rti Al-Auza’iy. kemudian be liau menya takan : “Be rda sa rkan anggapan bahwa ha dits-ha dits ini shohih (se luruhnya) a tau sebahagiannya. Nam un ada pe rselisiha n pada ba ta san akhir wak tu witir.7 Hal ini be rdasa rka n hadits Abu Ba shrah radhiyallahu ‘anhu riwa ya t Ahmad da n se la innya. Dan juga da lam hadits Ibnu ‘Uma r radhiyallahu ‘anhuma riwa ya t Muslim. Dan diriwa ya tkan pula da ri ‘Ali. Ba ca juga Fathul Bari ka rya Ibnu Ra ja b 6/235) Ada sa tu sisi pendapa t lemah dika langan pengikut madzha b Syafi’iyyah dan juga fa twa seba hagian da ri ora ng-orang belaka ngan da ri ka langan Ha nba liya h menya taka n bolehnya melak ukan witir sebe lum pe laksanaan ‘Isya .” (Dishohihka n oleh Syaik h Al-Albany da lam Ash-Shohihah no. Abu Hanifah da n riwa yat yang pa ling masyhur da ri Asy-Syafi’iy dan Ahmad. An-Nakha ’iy. Dan juga me rupaka n pendapa t Ishaq bin Raha wa ih. ‘Ubadah bin Shomit. 7 (1425/2008) 7 . Pendapa t pe rtama :Diula ngi kemba li. be liau juga menyebutkan da ri Ibnu ‘Abdil Ba rr ba hwa mungk in yang diinginkan oleh pe ndapa t ke dua te ntang bolehnya witir sete lah te rbitnya fa ja r ada lah bagi orang yang lupa Majalah A n-Nashiha h Vol. 423 de ngan se luruh ja lan-ja lannya. Tarjih Yang k ua t a dala h pendapa t pe rtama . ka rena dua ha dits yang te lah be rla lu pe nyebutannya di a tas sa nga tla h tegas menunjukkan ba hwa akhir wak tunya ada la h sampai te rbitnya fa ja r subuh. 108) Dan da lam hadits Kharijah bin Hudzafah radhiyallahu ‘anhu riwa ya t Abu Daud. Malik. maka laksanakanlah sholat itu antara sholat ‘Isya sampai Subuh. A khir Waktu (Waktu Terakhir) Dari Sholat Lail (Tarawih) Pa ra ulama sepaka t ba hwa seluruh ma lam sampa i te rbitnya fa ja r a dala h wak tu pelaksa naan witir. Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam ke tika dita nya tenta ng ka ifiya t shola t la il be liau be rsa bda : “(Sholat malam) dua dua. bukan menunjukkan bahwa sete lah fa ja r (subuh) masih wa k tunya . Ahmad. a pakah witirnya diulang kemba li a tau tidak?. Asy-Syafi’iy -da lam madzha bnya yang te rda hulu. Makhul. At-Ta rm idzy. Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam be rsabda : “Sesungguhnya Allah telah menambahkan bagi kalian suatu sholat yaitu witir. Malik. Muhammad da n la in-la innya. Tentunya itu ada lah pendapa t yang sa nga t lema h. (Allah) telah menjadikannya untuk kalian antara ‘Isya sampai terbitnya fajar”. Ibnu ‘Uma r. apabila engkau k hawatir (masuk) waktu subuh maka sholatlah satu raka’at dan jadikan akhir sholatmu witir” Adapun untuk pe ndapa t kedua . Dan tidak dira gukan lagi ba hwa yang k ua t ada lah pendapa t pe rtama be rdasa rkan da lil-da lil yang te lah disebutkan. maka maknanya dia ra hkan kepada (bolehnya) me ng-qhodo` witir se te lah be rla lu wak tunya yaitu malam ha ri. Ra sululla h shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam be rsabda : “Sesungguhnya Allah ‘Azza wa Jalla telah menganugerahi kalian suatu sholat yang lebih baik bagi kalian dari onta merah. Ibnu Majah dan lain-la innya . Abu Yusuf. Pendapa t kedua : Tidak diulangi. Ini a dala h penda pat Al-Qosim bin Muhammad. 2. (Dishohihka n oleh Syaik h Al-Albany da lam Al-Irwa` no. Abu Musa da n Abu Da rda` radhiyallahu anhum.dan sala h sa tu riwa ya t da ri Ahmad. Dan diriwa ya tkan pula da ri ‘Uma r. Ibnu Mas’ud. Ini a dala h pe ndapa t Sa ’id bin Jubair. Ats-Tsa ury. Nam un pa ra ulama be rse lisih pendapa t te ntang orang ya ng shola t witir sebe lum Isya dalam keadaan lupa a ta u ia menyangka te lah melaksa nakan shola t ‘Isya . Hudza ifah dan la in-la innya . yaitu sholat witir. ba hkan Sya ikhul Islam Ibnu Ta im iyah be rka ta : “Sia pa yang melak ukannya sebe lum ‘Isya maka ia te lah menempuh ja lan pa ra pengik ut bid’ah yang menyelisihi sunnah”. Dua : Ak hir wa k tunya sepa njang belum shola t subuh. Ini pe ndapa t Sufyan Ats-Tsaury da n Abu Ha nifah. ada bebe rapa pe ndapa t dika langa n pa ra ulama : Satu : Akhir wak tunya sampa i te rbit fa ja r.

Ibnu Mas’ud. Ibnu Maja h dan la in-la innya. Al-Fatawa ka rya Ibnu Ta im iyah 23/119-121. Fathul Bari ka rya Ibnu Ra jab 6/234-243. Nabi shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam be rsabda : 1 Yaitu disaksikan oleh malaikat rahmat. bukan untuk orang yang se nga ja mengak hirkannya sampa i ke lua r wak tunya . 7 (1425/2008) .pe nt. bila kebisaa nnya witir 3 raka ’a t maka dige napkan 4 raka ’a t. Asy-Syarh Al-Mumti’ 4/15-16 dan Nailul Author 3/45-46. Nam un Jumhur Ulama menilai bahwa witir akhir ma lam le bih utama. Fathul Bari ka rya Ibnu Ra ja b 6/243-247. Waktu Yang Afdhol (Paling Utama) Dalam Pelaksanaan Qiyam Ibnu Ra jab menyebutka n bahwa banyak da ri shahaba t me lakukan witir di a wal ma lam. Al-Majmu’ 3/518. Tarjih Insya Allah yang kua t da lam masala h ini ada lah pe ndapa t yang menya takan a fdholnya pe laksanaa n Qiyam di akhir malam . di anta ra me reka ada lah Abu Bak r. Dalam masa lah meng-qhodo` witir memang ada pe rsila ngan pendapa t dika langan pa ra ulama. Abu Hura irah. Al-Inshof 2/181. Ats-Tsaury. Bahka Ibnu Sirin be rka ta : “Tidak lah me reka (ya itu Pa ra Shohaba t dan Tabi`in di zaman be liau. Abu Dza r dan Abu Da rda` radhiyallahu ‘anhum. Bidayatul Mujtahid 1/202-203.8 melak ukan witir a tau ke lupaa n. Anas. namun –se ca ra umum. Rasululla h shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam be rsa bda : “Siapa yang khawatir tidak akan Qiyam di akhir malam maka hendak nya ia witir di ak hir malam dan siapa yang semangat untuk witir di akhirnya maka hendaknya ia witir di akhir malam karena sholat di akhir malam adalah disaksikan1” Dan da lam ha dits Abu Hura irah radhiyallahu ‘anhu ri wa ya t Al-Buk hary dan Muslim. Syarah Muslim 6/30-31. Abu Hanifah. Demikian keterangan Imam An-Nawawy dalam Syarah Muslim 6/34. dia nta ranya ada lah hadits Jabir bin ‘Abdilla h radhiyallahu ‘anhuma ri wa ya t Muslim. Abu Daud. ‘Ali. Ibnu ‘Uma r. ‘Utsman bin ‘Affan. AtTirm idzy. Ini penda pa t kebanyakan ulama Sa laf sepe rti ‘Uma r. Ha l te rsebut be rdasa rkan hadits ‘Aisya h radhiyallahu ‘anha riwa ya t Muslim.) be rse lisih ba hwa witir di akhir malam itu Afdhol (lebih utama). Ala san mereka untuk lebih be rha ti-ha ti. Ahmad da lam riwa ya t yang pa ling masyhur da rinya . Rafi’ bin Kha jid. Al-Mughny 2/595-596. Ibnu ‘Abbas dan sela in me reka da ri ka langa n shahaba t radhiyallahu ‘anhum ajma’in. jika kebia saannya 5 raka’a t maka digenapka n 6 raka ’a t dan se te rusnya . Ha l ini be rdasa rkan bebe rapa dalil.” Pendapa t ini pula yang dipe gang oleh An-Nak ha’iy. Malik. bahwa sanya Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam : “Bila beliau dikuasai oleh tidurnya atau sakit dari (melakukan) Qiyam lail maka beliau sholat di waktu siang 12 raka’at” Ba ca pembahasa n mengena i a wa l da n akhir wak tu Qiyam lail da lam : Al-Istidzkar 2/117-118. 8 Majalah A n-Nashiha h Vol. Dan ba ca masala h meng-qodho` witir da lam : Al-Fatawa 23/89-91. ‘A`idz bin ‘Am r.apa yang disimpulkan oleh Ibnu ‘Abdil Ba rr dan Ibnu Ra jab a dala h tepa t da n se ja lan de ngan ha dits Abu Sa ’id Al-Khudry radhiyallahu ‘anhu riwa ya t Ahmad.dan Ishaq. Syarhus Sunnah 4/88-89 dan Nailul Author 3/52-53. Rasululla h shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam be rsabda : “Siapa yang tidur dari witirnya atau melupaka nnya maka he ndaknya ia sholat bila ia mengingatnya” (Dishohihkan ole h Sya ikh Muqbil da lam Al-Jami’ Ash-Shohih 2/168) Adapun orang ya ng punya udzur sehingga be lum me laksanaka n witir sampa i shola t subuh maka ia me ng-qhodo` witirnya se te lah ma taha ri te rbit denga n menggenapka n jum lah kebiasaan witirnya . Thorhut Tatsrib 3/79-80. Dan penda pa t ini merupakan sa lah sa tu sisi pe ndapa t di kala ngan orang-ora ng Syafi’iyya h da n sa lah sa tu riwa ya t da ri Imam Ahmad dan diikuti oleh seba hagia n orang Ha nba liya h.

” Te rdapa t pe rse lisihan penda pat di ka langan pa ra ulama tentang jumla h raka’a t shola t Tarawih. be lia u be rka ta : “Adalah Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam sholat di malam hari 13 raka’at” Dan da lam hadits Zaid bin Kholid Al-Juhany radhiyallahu ‘anhu riwa ya t Muslim. Disisi lain Imam Ma lik be rpe ndapa t bahwa jumlah raka ’a t shola t Tarawih a dala h 36 raka’a t. 11 dan 13 (denga n witir) semuanya ada lah bagus. panjang.9 . Ba ca : Al-Mughny 2/596-597 dan Fathul Bari ka rya Ibnu Ra ja b 6/247-250. Tarjih Dalam hadits ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha riwa ya t Al-Bukhary dan Muslim . Dan pendapa t ini ole h Al-Qhody ‘Iyadh dan se la innya disanda rkan kepada pendapa t Jumhur Ulama. dan riwayat beliau yang lainnya : “apabila telah berlalu seperdua malam atau dua pe rtiganya” ) kemudian berfirman : “Siapa yang berdoa kepada-Ku maka Aku kabulkan untuknya. Jumlah Raka’at Sholat Tarawih Be rka ta Ibnu ‘Abdil Ba rr da lam Al-Istidzkar 2/99 : “Da n pa ra Ulama tela h sepaka t bahwa tidak ada ba tasan dan tidak ada ukura n te rtentu da lam shola t la il dan ia a dala h shola t nafilah (sunnah). : ) ( : “Rabb kita Tabaraka wa Ta’ala turun setiap malam ke langit dunia ketika tersisa sepertiga malam terakhir (Dalam salah satu riwayat Muslim : “ketika telah berlalu sepertiga malam pertama”. panjang sekali kemudian beliau sholat dua raka'at lebih pendek da ri dua raka'at sebelumnya kemudian beliau sholat dua raka'at dan keduanya lebih pendek dari dua raka'at sebelumnya kemudian beliau sholat dua raka'at dan keduanya lebih pendek dari dua raka'at sebelumnya kemudian beliau sholat dua raka'at dan keduanya lebih pendek dari dua raka'at sebelumnya kemudian beliau berwitir maka itu (jumlahnya) tiga belas raka'at”. Beliau salam setiap dua raka'at dan witir dengan satu raka'at”. da n siapa yang be rkehe ndak maka ia dapa t mempe rbanyak ruku’ dan sujud. Siapa ya ng be rke hendak maka ia dapa t mempe rpa njang be rdiri dan mengurangi raka ’a t. Ats-Tsa ury. be liau be rka ta : “Sungguh saya akan mengamati sholat Rasulullah shollallahu 'alaihi wa 'ala alihi wa sallam di malam hari maka beliau sholat dua raka'at ringan kemudian beliau sholat dua raka'at panjang. Asy-Syafi’iy. be lia u be rk a ta : “Rasulullah shollallahu 'alaihi wa 'ala alihi wa sallam sholat antara selesainya dari sholat isya` sampai sholat fajr (sholat subuh) sebelas raka'at. be liau be rka ta : “Tidaklah Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam menambah dalam Ramadhan dan tidak (pula) pada yang lannya melebihi 11 raka’at” Da n juga da la m ha dits 'Aisya h radhiyallahu ‘anha riwa ya t Muslim . 36 (tanpa witir). siapa yang meminta kepada-Ku maka Aku berikan untuknya dan siapa yang memohon anpun kepada-Ku maka Aku akan mengampuninya”. 7 (1425/2008) 9 . Me nurut Abu Hanifah. Majalah A n-Nashiha h Vol. Dan juga disebutka n jum lah 13 raka ’a t da lam hadits Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma riwa ya t Al-Buk hary da n Muslim. Dan Syaik hul Islam Ibnu Ta imiya h da lam Al-Fatawa 23/112-113 menye butkan bahwa Imam Ahmad membe ri nash bahwa 20. Ahmad dan la in-la innya bahwa jumlah raka’a t shola t Tarawih ta npa witir a da lah 20 raka ’a t.

Ibnu Majah dan lain-la innya . Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam be rsabda : “Sholat malam dua-dua. Sya ikh Al-Albany menega skan lemahnya penisba tan pe laksanaa n 20 raka’a t pada ‘Uma r bin Khoththob dise rtai denga n nukila n pe lemahan da ri bebe rapa Imam da n be liau sebutkan bahwa yang bena r da ri ‘Uma r a dala h pe laksanaan 11 raka’at. 48-56. Kelima). 65-71. Sya ikh Muqbil da n la in-la innya. Kedua ) dan diha sankan ole h Sya ikh Muqbil da lam Al-Jami’ Ash-Shohih 2/162-163) Dan da ri Abu Ayyub Al-Anshory radhiyallahu ‘anhu riwa yat Abu Daud. An-Nasa`i. be liau membantah sangkaan sebagian orang yang menga takan bahwa sya ri’a t shola t Tarawih 20 raka’a t me rupakan kesepaka tan pa ra ulama. dengan enam dan tiga. Fatawa Al-Lajnah Ad-Da`imah 7/194-198. 19-21 (Ce t. 84 (Ce t. Dan di ha l. Al-Ba ihaqy da n la in-lainnya .” (Diriwa ya tkan oleh Ahmad. tidaklah pernah beliau melakukan witir kurang dari tujuh dan tidak (pula) lebih dari tiga belas”. Thorhut Tatsrib 3/97-98. An-Nasa`i. beliau be rka ta : “Saya berkata kepada ‘Aisyah : “Berapa kebiasaan Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam melakukan witir?. Al-Inshof 2/180. Fathul Bari 4/252.” (Dishohihkan ole h Sya ikh Al-Albany da lam Sholatut Tarawih ha l. Jumlah Raka’at Sholat Witir Ada bebe rapa hadits yang menje laskan tentang jum lah raka’a t shola t witir Rasululla h shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam. Ke dua) menje laska n de ngan lengkap bahwa ha dits yang me nga takan bahwa Nabi shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam melak ukan shola t Tarawih 20 raka ’a t ada lah hadits yang lemah seka li. Dan Ibnu Ra ja b dalam Fathul Bari menyebutkan bahwa Abu Hatim . Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam be rsabda : “Witir adalah haq atas setiap muslim. Ba ca pembahasa n te ntang masala h di a tas da lam : Al-Istidzkar 2/68-70. apabila engka u kha watir (masuknya) waktu shubuh maka (hendak nya) ia sholat witir satu raka'at maka menjadi witirlah sholat yang telah ia lakukan". Dan di ha l.” beliau menjawab : “Adalah beliau melakukan witir denga n empat dan tiga. Sa nadnya Jayyid menurut Sya ikh Al-Albany da lam Sholatut Tarawih ha l. Dan siapa yang ingin shola t le bih da ri itu maka tidak lah menga pa be rdasa rka n hadits ‘Abdullah bin ‘Uma r radhiyallahu ‘anhuma riwa ya t AlBukhary da n Muslim. Majmu’ Fatawa wa Rasa`il Syaikh Ibnu ‘Utsaimin 14/187-189 dan Taudhih Al-Ahkam 2/410-415 (Ce t. Al-Majmu’ 3/527. Al-Atsram dan la in-la innya mengua tkan riwa ya t hadits ini se ca ra mauquf. maka siapa yang suka untuk witir dengan 5 (raka’at) maka hendaknya ia kerjakan. Nailul Author 3/57. dianta ra nya ada lah : Da ri ‘Abdullah bin Abi Qa is radhiyallahu ‘anhu. 7 (1425/2008) 10 . Kedua) dan diha sankan oleh Syaik h Muqbil da lam Al-Jami’ Ash-Shohih 2/163. be liau mene rangkan bahwa tidak ada nukilan yang syah da ri seorang shahaba tpun te ntang pe laksanaan Tarawih 20 raka’a t. 72-74. siapa yang suka untuk witir de ngan 3 (raka’at) maka hendaknya ia kerjakan dan siapa yang suka untuk witir dengan 1 (raka’at) maka hendaknya ia kerjakan. 83-84 (Ce t. Asy-Syarh Al-Mumti’ 4/65-77. Adapun Sya ikh Al-Albany beliau be rpendapa t akan wa jibnya te rba ta s pa da 11 a ta u 13 raka’a t.” Nam un 11 dan 13 raka’a t ini bukanlah pemba ta san.10 Be rka ta Ibnu ‘Abdil Ba rr : “Kebanyaka n a tsa r menunjukkan bahwa shola t belia u ada lah 11 raka’a t da n diriwa ya tkan juga 13 raka ’at.) Da ri dua hadits di a tas dan bebe rapa ha dits ya ng akan da tang dike tahui ba hwa pe laksanaan witir Na bi shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam tidak lah kurang da ri 7 raka ’a t dan tidak lebih da ri Majalah A n-Nashiha h Vol. Dan di ha l. Abu Daud. 95. Al-Mughny 2/601-604. Demik ian pe ndapa t yang dik ua tkan oleh Al-Lajnah Ad-Da`imah yang dike tuai oleh Sya ikh Ibnu Baz dan juga me rupakan pendapat Syaik h Ibnu ‘Utsa imin. dengan delapan dan tiga dan dengan sepuluh dan tiga. Ath-Thohawy. Dan Sya ikh Al-Albany dalam Sholatut Tarawih hal.

Bila witirnya 5 raka’a t maka tidak tasya hhud ke cua li di akhirnya kemudian sa lam. Ba ca pembaha san masala h ini da lam : Al-Istidzkar 2/106-107. be liau be rka ta : “Adalah Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam apabila beliau berdiri di malam hari untuk sholat maka beliau membuka sholatnya dengan dua raka’at yang ringan” 2. Wallahu Ta’ala A’lam. Bila witirnya 3 raka ’a t maka boleh dua ca ra denga n kete ntuan tidak menye rupa i shola t maghrib menurut pendapa t yang pa ling kua t. dan 1 raka’a t. ya itu tasyahhud pada raka’a t kede lapan tanpa sa lam kemudian be rdiri ke raka’a t sembila n tasyahhud kemudian sa lam. 8 raka’a t dianta ranya dilak ukan dengan sa lam pada se tiap 2 raka’a t kemudian witir 5 raka ’a t dengan sa tu ka li tasyahhud dan sa tu kali sa lam. dan juga boleh tasyahhud pa da raka’a t keenam tanpa sa lam la lu mela njutka n raka’a t ke tujuh kemudian tasyahhud dan sa lam. Me lakuka n 2 raka ’a t la lu sa lam kemudian be rdiri la gi 1 raka ’a t la lu salam . Ta bi’in da n pa ra Imam ya ng mengik uti me reka de ngan ba ik. Me lakuka n 3 raka ’a t sekaligus de ngan seka li tasyahhud dan sa lam. Bila witirnya 9 raka’a t maka dengan ca ra dua kali tasyahhud. Al-Mughny 2/578 dan 588. 2. Bidayatul Mujtahid 1/200. be liau be rka ta : “Sungguh saya akan memperhatikan sholat Rasulullah shollallahu 'alaihi wa 'ala alihi wa sallam di malam hari maka beliau sholat dua raka'at ringan kemudian beliau sholat dua raka'at panjang. Bila witirnya 7 raka’a t maka boleh tidak ta syahhud ke cua li di ak hir kemudia n salam . 7 (1425/2008) 11 . Fathul Bari ka rya Ibnu Ra jab 6/198-210. Thorhut Tatsrib 3/78 dan Nailul Author 3/36-40. Ma sala h jumla h raka ’a t witir ini te lah dite rangkan oleh Ibnu Ra ja b se ca ra me luas dan me nde tail lengkap dengan ura ian pe rbedaa n pendapa t pa ra Ulama. Beberapa Kaifiyat Pelaksanaan Witir Dan Tarawih Be rikut ini bebe rapa kaifiyat pelak sanaan witir da n Tarawih bese rta da lil-da lilnya : 1. panjang sekali kemudian beliau sholat dua raka'at lebih pendek dari dua raka'at sebelumnya kemudian beliau sholat dua raka'at dan keduanya lebih pendek dari dua raka'at sebelumnya kemudian beliau sholat dua raka'at dan keduanya lebih pendek dari dua raka'at sebelumnya kemudian beliau sholat dua raka'at dan keduanya lebih pendek dari dua raka'at sebelumnya kemudian beliau berwitir maka itu (jumlahnya) tiga belas raka'at”. ya itu : 1. Dan da lam hadits ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha riwa ya t Muslim. 3. Dan kesimpulan ringka s di a tas ada lah kesimpulan da ri ke te rangan Syaik h Ibnu ‘Utsa imin da lam masa lah ini. Dan pe laksanaa n witir 1 raka’a t a dala h boleh menurut jumhur Ulama da ri ka langa n Shaha bat.11 13 raka ’a t. Ha l ini be rda sa rkan hadits hadits Za id bin Kholid Al-Juhany radhiyallahu ‘anhu riwa ya t Muslim. Shola t 13 raka’a t. Bila witirnya denga n 1 raka ’a t maka te ntunya dengan sa tu ka li sa lam . Hal ini be rdasa rka n ha dits ‘Aisya h radhiyallahu ‘anha R iwa ya t Muslim : Majalah A n-Nashiha h Vol. dan be liau juga membe ri tuntunan bolehnya witir de ngan 5. Adapun bentuk pe laksanaannya ada la h seba gai be rikut : Bila witirnya 11 dan 13 raka ’a t maka dengan ca ra salam untuk se tiap dua raka ’a t dan ditambah sa tu raka ’a t. Asy-Syarh Al-Mumti’ ka rya Ibnu ‘Utasimin 4/18-21. Shola t 13 raka ’at dibuka dengan 2 raka’a t ringa n. panjang.

memuji-Nya dan berdoa kepada-Nya lalu beliau salam sengan (suara) salam yang beliau perdengarkan kepada kami kemudian beliau sholat dua raka’at setelah salam dalam keadaan duduk. maka be lia u menjela skan : . Shola t 9 raka ’a t. Shola t 5 raka’a t dan tidak duduk untuk tasyahhud kecua li di akhirnya . la lu shola t dua raka ’at lagi da lam keadaan duduk . tidak duduk ke cua li pada raka ’a t ke delapa n kemudia n tasyahhud tanpa sa lam la lu be rdiri untuk raka ’a t kesembilan kemudian sa lam. berwudhu’ dan sholat 9 raka’at beliau tidak duduk kecuali pada yang kedelapan kemudian beliau berdzikir kepada Allah. Shola t 7 raka ’a t. 9. Shola t 6 raka’a t denga n sa lam pada se tia p 2 raka ’a t kemudia n witir 1 raka’a t. “… Maka beliau bersiwak. 7. Beliau salam setiap dua raka'at dan witir dengan satu raka’at”. Kemudian beliau berdiri untuk kesembilan lalu duduk kemudian beliau berdzikir kepada Allah. be liau be rta nya kepada ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha te nta ng baga imana shola t witir R asulullah shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam. be lia u be rk a ta : “Rasulullah shollallahu 'alaihi wa 'ala alihi wa sallam sholat antara selesainya dari sholat isya` sampai sholat fajr (sholat subuh) sebelas raka'at. la lu shola t dua raka’a t lagi da lam keadaa n duduk .12 “Adalah Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam sholat di malam hari 13 raka’at.” Ibnu Hazm da lam Al-Muhalla menyebutkan bebe rapa bentuk la in : Shola t 13 raka ’at. Shola t 11 raka ’at de ngan sa lam pada se tiap 2 raka’at dan witir de ngan 1 raka’a t. maka itu adalah sembilam (raka’at) wahai anakku” 5. Ketika Nabi Allah shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam telah berumur da n beliau bertamba h daging (Baca : bertambah berat) maka beliau witir denga n 7 (raka’at) dan berbuat pada yang dua raka’at seperti perbuatan beliau yang pertama. Shola t 7 raka’a t dan tidak duduk untuk tasyahhud kecua li di akhirnya . tidak tasya hhud ke cua li pada yang keenam kemudian be rdiri sebelum salam untuk raka’a t ke tujuh la lu duduk ta sya hhud da n sa lam . Hal ini di te rangka n da lam hadits ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha di a tas. 12 Majalah A n-Nashiha h Vol. Shola t 3 raka’a t. 14. yaitu sa lam pada setiap dua raka’a t dan witir sa tu raka ’a t. beliau witir darinya denga n 5 (raka’at) tidaklah beliau duduk pa da sesuatupun kecuali hanya pada akhirnya” 3. Hal te rsebut dite rangkan da lam hadits Sa’a d bin Hisyam bin ‘Amir riwa yat Muslim. Shola t 8 raka’a t denga n sa lam pada se tia p 2 raka ’a t kemudia n ditambah witir 1 raka ’a t. 12. duduk tasyahhud pada raka ’at kedua da n sa lam la lu witir 1 raka ’a t. 11. 2 Tambahan dari penulis dan tidak tertera dalam Al-Muhalla. memuji-Nya dan berdoa kepada-Nya lalu berdiri dan tidak salam. 8. 4. Dan mungkin untuk ditambah de ngan be ntuk-be ntuk yang la in.. 7 (1425/2008) . 13. Shola t 11 raka ’a t. Be rka ta Sya ikh Al-Albany : “Ini ada lah bebe ra pa kaifiyat ya ng Ra sulullah shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam me lakukannya pada sholat la il dan witir. Shola t witir sa tu raka ’a t. tidak duduk ke cuali pada raka ’a t keenam kemudia n tasyahhud tanpa salam lalu be rdiri untuk raka ’a t ketujuh kemudian sa lam. 10. maka itu 11 raka’at wa hai anakku. ya itu de ngan mengurangi pada se tiap be ntuk yang te rsebut jum lah raka ’a t ya ng ia kehendak i dan bahkan boleh baginya untuk memba tasi de ngan sa tu raka ’a t sa ja. 6. Shola t 3 raka’a t tidak duduk tasyahhud dan salam kecua li pa da raka ’a t te rakhir2. Ha l ini be rda sa rk a n ha dits 'Aisya h radhiyallahu ‘anha riwa ya t Muslim ..

Hammad da n Al-Auza ’iy. Abu Yusuf. Dan Al-Hasa n da n Abu Mijla z melak ukannya . Tarjih Tentunya da lil-da lil yang menje laskan tenta ng kaifiyat itu ada lah hujjah yang ha rus dite rima tenta ng disya ri’a tkannya shola t dua raka ’at se te lah witir. ke re na itu me reka mengingka rinya . Dan Sya ikh Al-Albany juga menyebutkan ka ifiya t lain yaitu shola t 11 raka’a t . boleh 4 raka ’a t seka ligus. Sa ’id bin Jubair. 86-94 (Ce t. Hal te rsebut Mak ruh. Ini pendapa t Qais bin ‘Ubada h. Nam un a da pe rbedaan pendapa t di kala ngan pa ra Ulama tenta ng ka ifiya t ini. 4 raka’a t seka ligus de ngan seka li salam kemudian 4 raka’a t dengan seka li salam lalu 3 raka ’a t. Muhammad bin Hasan. 27-30 dan Ibnu Hazm da lam Al-Muhalla 3/4248. Da n Ibnu ‘Abdil Ba rr be rka ta : “Ini ada la h pendapa t (Ulama) Hijaz dan seba hagian (Ulama ) ‘Iraq. dan menurut me reka pemahaman yang bena r adalah bahwa 4 raka’a t da lam hadits itu ada lah dike rjakan 2 raka ’a t 2 raka’a t .13 Demik ian bebe ra pa ka ifiya t yang disebutkan oleh Syaikh Al-Albany da lam Sholatut Tarawih ha l. ada tiga penda pa t di kala ngan ulama : 1. dan Ibnul Mundzir se rta yang la innya menghika ya tkan pe ndapa t ini da ri Ibnu ‘Uma r. 7 (1425/2008) 13 . Ini pula pendapa t yang dkua tkan oleh Sya ikh Ibnu Baz bese rta pa ra Sya ikh anggota Al-Lajnah Ad-Da`imah. An-Nakha ’iy. Pendapa t Abu Hanifah.”.-pent. Ini ada lah penda pa t AlAuza ’iy. Asy-Syafi’iy. 104-106. bole h enam raka ’a t seka ligus dan boleh 8 raka ’a t seka ligus. Al-Hasa n. Sebaga imana da lam hadits ‘Aisya h radhiyallahu ‘anha riwa ya t Al-Bukhary dan Muslim : . Ahmad. 4 dan 5. Sunnah dua raka ’a t se tela h witir. Sufyan Ats-Tsa ury. Fatawa Al-Lajnah Ad-Da`imah 7/199-200 dan Asy-Syarh Al-Mumti’ 4/18-20. 2. Fathul Bari 4/191-198. Demik ian ke te rangan Syaik h Ibnu Baz da lam Majmu’ Fatawa beliau 11/323324. Asy-Sya ’by. Ahmad dan Ibnul Mundzir. Beliau sholat empat (raka'at) jangan kamu tanya tentang baiknya dan panjangnya. Ada rukhshoh (ke ringana n) da lam ha l te rsebut dan buka n mak ruh. Ini pendapa t Ka tsir bin Dhom rah da n Khalid bin Ma ’dan. tidak sa lam ke cua li di akhirnya. Keliha ta nnya pendapa t ini yang dipega ng oleh Syaik h Al-Albany sehingga beliau me ne tapkan ka ifiya t shola t 11 raka’a t . Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam be rsa bda : “Sholat malam dua (raka’at) dua (raka’at)” Hadits ini adala h be rita namun be rmakna pe rintah yaitu pe rinta h untuk melakuka n shola t malam dua dua raka ’a t. Be rka ta Ibnu Taim iyah : “Dan kebanyaka n Ahli Fiqh tidak mendenga r tenta ng hadits ini (ya itu ha dits tenta ng a danya dua raka ’a t se te lah witir di a tas. 4 raka ’a t sekaligus de ngan sekali salam kemudian 4 raka ’at dengan sekali sa lam lalu 3 raka ’a t denga n seka li sa lam. Ibnu Abi La ila. Ats-Tsaury da n Al-Hasa n bin Ha yy boleh me lakukan Qiyamul Lail 2 raka’a t seka ligus. Ishaq. “Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam tidaklah menambah pada (bulan) Ramadhan dan tidak pula pada selain Ramadhan lebih dari sebelas raka'at. Dan juga pa ra Ulama be rse lisih pendapa t tentang dua raka’a t se tela h witir pada kaifiya t no. Da n Ahmad dan se la innya mende nga r (hadits) ini da n menge tahui keshohihannya da n Ahmad memberi ke ringa nan untuk me lakukan dua raka’a t ini dan ia da lam keadaan duduk sebaga imana yang Majalah A n-Nashiha h Vol. Malik dan Asy-Syafi’iy. ‘Ammar radhiyallahu ‘anhuma. Ibnu Sirin. kemudian beliau sholat empat (raka'at) jangan kamu tanya tentang baiknya dan panjangnya kemudian beliau sholat tiga (raka'at)”. 3. Ibnul Mubarak . Kedua) dan Qiyamu Ramadhan hal.). jumhur Ulama sepe rti Malik. 4 raka ’a t sekaligus dengan sekali sa lam kemudia n 4 raka’a t de ngan seka li salam lalu 3 raka ’at. Tarjih Yang kua t dalam masa lah ini a dala h penda pa t Jumhur Ulama be rdasa rka n hadits hadits ‘Abdullah bin ‘Uma r radhiyallahu ‘anhuma ri wa ya t Al-Buk hary da n Muslim . dan juga pendapa t Sya ikh Ibnu ‘Utsa imin dan la in-la innya sehingga me reka semua menya lahkan orang yang memahami hadits ‘Aisyah di a tas de ngan ka ifiya t shola t 11 raka ’a t . Ba ca pembaha san tentang masa lah di a tas da lam : Al-Istidzkar 2/95-98. semuanya be rpendapa t bahwa shola t ma lam itu ada lah dua raka ’a t-dua raka’a t ya itu ha rus sa lam pada se tiap dua raka ’a t. Dan disisi la in. sedangka n Ibnu Ra jab me nuk il ha l te rsebut da ri sebahagia n orang-orang Hanba liyah.

Dan te lah tsabit (sya h. ora ng ya ng pe rtenga han (ba caannya ) 25 a ya t dan ora ng ya ng lamba t 20 a ya t. dan semak in panjang maka itu lebih utama. da lam rangka mengikuti Nabi shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam yang be rsabda : “Dan sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad (shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam)” Dan apa bila ia shola t seba gai imam maka hendaknya ia mempe rpa njang denga n sesua tu yang tidak membe ra tkan ora ng-orang di be lakangnya. Dan juga te lah shohih da ri ‘Uma r bahwa be liau memanggil pa ra pemba ca Al-Qur`an di bulan Ramadhan kemudian beliau meme rinta h ora ng yang pa ling ce pat ba caa nnya untuk memba ca 30 a ya t.) lagi Ikhlash” Dan be lia u shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam pada sua tu ma lam da n beliau da lam keadaan sak it membaca tujuh (surah) yang panja ng.” Ba ca : Majmu’ Fatawa Ibnu Ta imiya h 23/92-94. A l-A n’am. 23-25 : “Adapun ba caan da lam shola t lail pada Qiyam Ramadha n dan sela innya. Dan apabila ia Qiyam sendiri maka hendaknya ia memperpanjang sholatnya sesuai dengan kehendaknya”. panjang sholatnya. Dan be liau be rsabda : “Siapa yang sholat dalam semalam dengan seratus ayat maka tidaklah ia terhitung dalam orangorang yang lalai” . Dibangun di a tas ha l te rsebut. be rik ut ini bebe ra pa hadits ya ng me nje laskannya . Ka dang beliau memba ca pada se tiap raka ’a t sekada r “Ya Ayyuhal Muzzammil” dan ia (se jumlah) dua puluh a ya t da n kada ng sekada r lima puluh a ya t.. Bacaan Dalam Sholat Tarawih Dan Witir Be rka ta Sya ikh Al-Albany dalam Qiyamu Ramadhan ha l. maka Na bi shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam tidak mene tapkan sua tu ba tasan te rtentu ya ng tidak bole h dilampa ui de ngan be ntuk tambahan maupun pe ngurangan. Maka siapa ya ng melakuka n ha l te rsebut tidak lah diingka ri.). A l-A ’raf dan At-Taubah.. maka Uba y radhiyallahu ‘anhu memba ca dua ra tus a ya t sampa i ora ng-orang ya ng di be lakangnya be rsanda r di a tas tongka t ka rena lamanya be rdiri dan tidak lah me reka buba r ke cuali pada a wa l-a wa l fa ja r.-pe nt. akan te tapi bukanlah wa jib menurut kesepaka ta n (pa ra Ulama) dan tidak dice la orang yang menigga lkannya …. An-Nisa`. 7 (1425/2008) 14 . akan te tapi ja ngan ia be rlebihan dalam mempe rpanjang sampa i menghidupkan se luruh ma lam ke cua li kadang-kadang. dianta ra nya ada lah ha dits Uba y bin Ka ’ab riwa ya t Imam Ahmad dan la in-lainnya . dan demik ian pula bila ada yang shola t be rsamanya da ri ka langa n orang yang sepaka t denga nnya (da lam mempe rpanja ng. A li ‘Imran. A lMa`idah. be rdasa rkan sabda belia u shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam : ( ) ( ) ( ) “Apabila salah seorang dari kalian Qiyam mengimami manusia maka hendaknya ia memperingan sholatnya karena pada mereka ada anak kecil. orang sakit dan orang yang mempunyai keperluaan.14 dike rjakan ole h (Na bi) shollallahu ‘alaihi wa sallam. “… dengan dua ratus ayat maka sungguh ia terhitung dari orang-ora ng yang Qonit (Khusyu’. ada pun da lam shola t witir. Dan da lam k isah shola t Hudza ifah bin Al-Yaman di be lakang Nabi ‘Alaihish Sholatu was Salam ba hwa be liau shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam memba ca da lam sa tu raka’a t A l-Baqarah kemudian A n-Nisa’ kemudian A li ‘Imran da n beliau memba canya lamba t la gi pe lan. orang besar. be liau be rka ta : Majalah A n-Nashiha h Vol.” Demik ian ke te rangan Syaik h Al-Albany tentang ba caan pada Qiyamul lail. Fathul Bari Ibnu Ra jab 6/260-264 dan AlMughny 2/281.-pent. pada mereka orang lemah. te tap) de ngan sanad ya ng pa ling shohih bahwa ‘Uma r radhiyallahu ‘anhu ta tka la meme rintah Uba y bin Ka ’ab shola t mengimam i manusia dengan sebela s raka ’a t dalam Ramadhan. ya itu surah A l-Baqarah. maka kala u seseora ng shola t sendiria n disila hkan mempe rpanjang shola tnya sesuai denga n kehendaknya.

berilah padaku afiyat pada orang yang Engkau beri afiyat. be lia u be rkata : “Rasulullah mengajarkan kepadaku beberapa kalimat untuk saya uca pkan dalam witir : “Ya Allah. Apabila beliau salam. Qunut Witir Qunut se ca ra e timologi mempunya i makna yang banyak . berilah hidayah kepadaku pada orang-orang yang Engka u beri hidayah. 3) Ibadah. “Qul Ya Ayyuhal Kafirun” dan “Qul Huwallahu Ahad”. 5) Ma nja lankan ke taa tan. Al-Majmu’ 2/599 dan Syarhus Sunnah 4/98. dan Maha Berkah Engkau Wahai Rabb kami dan Maha Tinggi” (Dishohihkan ole h Syaik h Al-Albany da lam ba nyak buku belia u dan Sya ikh Muqbil dalam Al-Jami’Ash-Shohih 2/161. Kedua Makta bah Al-Ma ’arif) juga menshohihkan hadits bahwa memba ca dalam raka ’at witir dengan se ra tus a ya t da ri An-Nisa`. 4) Taa t. sepe rti disebutkan Al-Hafizh Ibnu Ha jr Al-Asqa lani rahimahullah: “Doa di dalam sha la t pada tempa t yang khusus da lam keadaan be rdiri. “Qul Ya Ayyuhal Kafirun” dan “Qul Huwallahu Ahad”. belaiu berkata : “Subhanal Malikil Quddus. Liha t Zadul Ma’ad ka rya Ibnul Qa yyim 1/283. Ibnu Majah da n la in-la innya . naungilah aku pada orang-orang yang Engkau naungi. 10) Lamanya be rdiri.) Dibangun di a tas hadits ini orang-orang Ha nafiyah. belaiu berkata : “Subhanal Malikil Quddus” 3 tiga kali. 3 Artinya : Maha suci Yang Maha berkuasa lagi Yang Maha suci. 2) Khusyu’. ka rena itu se ha rusnya orang yang shola t witir tiga raka ’a t hanya te rba tas de ngan memba ca sura h Al-Ik hla sh pada raka’a t ke tiga. Te lah syah da lam hadits Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam akan sya ri’a t Qunut da lam shola t witir seba gaimana da lam hadits Al-Ha san bin ‘Ali radhiyallahu ‘anhu ri wa ya t Abu Daud. 11) Te rus-mene rus da lam ke taa tan. berkahilah aku pada apa yang Engkau beri dan jagalah aku dari kejelekan keputusan-Mu. 7) Diam. 8) Sha la t. sesungguhnya Engkau memutuskan dan tidak diput uskan terhadap-Mu. Sya ikh Al-Albany da lam Sifat Sholat An-Nabi ha l. Demik ian pula diriwa ya tkan da ri Al-Hasa n. Ada lebih da ri 10 makna sebaga imana yang dinukil ole h Al-Hafizh Ibnu Ha ja r da ri Al-Iraqy dan Ibnul Araby. 7 (1425/2008) . Apabila beliau salam. 428 dan la in-lainnya .” dan beliau menga ngkat suaranya dengan itu . Ibrahim An-Nakha ’iy da n Ishaq. Namun hadits menge nai tambahan dua surah te rsebut dia nggap lemah oleh Imam Ahmad. Ishaq dan Abu Hanifa h menganggap sunnah memba ca tiga sura h di a ta s dalam shola t witir. 9) Be rdiri.” (liha t Fathul Bari 2/490).” (Dishohihkan oleh Sya ikh Muqbil da lam Al-Jami’Ash-Shohih 2/160-161.” (Dishohihkan ole h Sya ikh Muqbil da lam Al-Jami’Ash-Shohih 2/161. Imam Malik dan Asy-Syafi’iy juga menganggap sunna h ha l te rsebut namun me reka da lam raka ’a t ke tiga se lain da ri surah Al-Ikhlash juga menga nggap sunnah menambahnya denga n surah Al-Fa laq dan sura h An-Nas. be liau be rka ta : “Sesungguhnya beliau membaca pada witir dengan “Sabbihisma Rabbikal A’la”. 122 (Ce t.) Dan da lam hadits ‘Abdurrahman bin Abi Abza riwa ya t Ahmad dan lainnya . An-Nasa`i. Adapun se ca ra te rminologi.15 “Adalah Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam membaca pada witir dengan “Sabbihisma Rabbikal A’la”. Ba ca : Al-Mughny 2/599-600. At-Tirmidzy. Ibnu Ma’in dan Al‘Uqa ily. Subhanal Malikil Quddus. Ats-Tsaury. Subhanal Malikil Quddus. sesungguhnya tidaklah hina orang-orang ya ng Engkau naungi. 6) Pene tapa n Ibadah kepada Alla h. Dan juga ada makna -makna lain dapa t diliha t da lam Tafsir Al-Qurthuby 2/1022. 15 Majalah A n-Nashiha h Vol. Mufradat AlQur’an ka rya Al-Ashbahany ha l. 1) Doa .) Be rda sa rkan dua hadits di a ta s. Mak na se ca ra te rm inologi ini yang diinginkan oleh pa ra ulama fiqh dan kebanyaka n ulama dalam buku-buku me reka. Hanba liyah dan seba hagian orang Syafi’iyah be rpendapa t akan disunna hkanya Qunut witir di bulan Ramadhan da n sela innya.

Imam Ayyub As-Sikhtiyany dan Imam Ahmad. apakah dilakukan setelah ruku’ atau ketika selesai dari bacaan surat (sebelum ruku’). be liau be rka ta : “Sesungguhnya Nabi Shalallahu ‘alaihi wa salam melakukan qunut sebelum ruku’”. Sya ikh Ibnu ‘Utsa imin da lam Asy-Syarh Al-Mumti’ 4/64-65 dan Sya ikh Muqbil bin Hadi Al-Wadi’iy. me reka membole hkan kedua pe rka ra ka rena sunnah ya ng shohih da ta ng menjela skan kedua nya. Mereka itu disebut sebagai pembaca-pembaca Al-Qur`an. Demik ian pula pe laksanaa n qunut pada zaman Khulafa` Ar-Rasyidin radhiyallahu ‘anhum ya ng te rdapa t pada riwa ya t-riwa ya t yang masyhur da ri me reka dan riwa yat-riwa ya t ini jumla hnya pa ling banyak”. Al-Imam Al-Ba ihaqi da lam As Sunnan Al Kubra 2/208 be rka ta : “Ra wi-ra wi hadits yang te rda pa t padanya penje lasan tenta ng qunut se tela h ruku’ lebih banyak da n lebih bisa dipe gang ha fa lannya . 520 da n Fathul Bari ka rya Ibnu Ra jab 6/270-277. beliau be rka ta : “Nabi shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam mengutus 70 orang untuk suatu keperluan. Dan be rka ta Sya ikhul Islam Ibnu Taim iyah da lam Majmu’ Fatawa 23/100 : “Adapun a hli fiqh da ri ka langan ahli hadits se pe rti Ahmad dan se la innya. Tempat Pelaksanaan Qunut Qunut dapa t dilaksa nakan sebe lum ruku’ a tau se te lah ruku’. 7 (1425/2008) 16 .” Dan da lam hadits Uba y bin Ka’ab radhiyallahu ‘anhu. Hal ini merupakan pe rmulaan adanya qunut da n kami tidak perna h qunut sebelumnya. dia nta ranya ada lah hadits Anas bin Malik riwa ya t Al-Bukhary. Pendapa t ini dikua tka n oleh Sya ikh Al-Albani dalam Qiyamu Ramadhan hal.: “Seorang lelaki bertanya kepada Anas tentang qunut tersebut. Untuk pembaha san di a tas ba ca : Al-Majmu’ ka rya Imam An-Na wa wi 2/510. Dan Imam Asy-Syafi’iy be rpenda pa t bahwa witir a da lah disya ri’a tkan di pe rtengahan bulan Ramadha n. Ibnu Majah no. ( Dikelua rkan oleh An Nasa’i 1/248. Maka Nabi shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam mendo’akan kejelekan atas mereka selama sebulan pada shalat shubuh.” Berkata Abdul Aziz -murid Anas. Tarjih Tentunya tidak diragukan akan sunna hnya Qunut witir be rda sa rkan ha dits Al-Hasan bin ‘Ali sehingga tidak a da a lasan bagi ora ng yang me la ra ng pe laksa naannya . Ba rang sia pa yang ingin be rqunut sebe lum ruku’. 426). Kedua suku ini membunuh mereka.16 Adapun Imam Ma lik be liau tidak be rpendapa t adanya Qunut witir. maka itu a dala h pe rkara yang boleh dan ba ra ng siapa yang ingin be rqunut se te lah ruk u’. hanya lah diriwa ya tkan dalam hadits yang lemah. Ri’il dan Dzakwan. Ba ca : Al-Muhgny 2/580. Wallahu A’lam. tidak ada dosa apapun a tasnya. Adapun pelaksa naan witir da ri pe rtengahan Ramadhan.-pent) da n lebih (mendeka ti) qiyas …” Lihat juga : Al-Inshaf 2/170. 1182 da n lainnya dan dishahihka n oleh Syaik h Al-Albany rahimahullah da lam Al-Irwa`ul Ghalil no. 31. Maka mereka dihadang oleh dua suku Bani Sulaim. Pendapa t tentang bole hnya memilih sa lah sa tu da ri dua ca ra melak ukan qunut juga diriwa ya tkan oleh Ibnul Mundzir da ri Sha haba t Ana s bin Ma lik . wa la upun me reka memilih qunut se te lah (ruku’) ka re na lebih ba nyaknya (da lil tentang ha l te rsebut. Akan te tapi pe laksanaa nnya se te lah ruku’ lebih banyak dilakuka n oleh Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam. Bidayatul Mujtahid 1/204 dan Nailul Author. Maka Anas menjawab: “Bahkan ketika selesai dari bacaan surat. Adapun da lil pe laksanaa n qunut sebe lum ruk u’ dite ra ngkan da lam bebe rapa hadits. Majalah A n-Nashiha h Vol. Ka rena itu riwa ya t me reka ya ng lebih pantas untuk dipaka i. Da ri penjela san di a tas kita mengetahui bahwa ada kele lua saan da lam ha l ini.

beliau mengangkat kedua tanga nnya mendo’akan kejelekan atas mereka (pembunuh para pembaca Al-Qur’an). Abu Ha nifah dan Imam Malik . Ba ca k itab Syarah ‘Ilal At-Tirmidzy 2/790 (Ce t. Musa bin Ana s. Daud bin Abi Hind. semua nya me riwa ya tka n hadits yang semakna da ri Anas bin Malik te nta ng pe laksanaan qunut. Abu Qilaba h. Imam AlAuza’iy. maka ya ng dida hulukan ada lah pe riwa ya ta n Hammad.” (QS. 677. Mengaminkan Doa Qunut Bagi Makmum Sya ri’a t aka n ha l ini te lah te tap da lam hadits Ibnu ‘Abbas. Yunus: 89). Shahih Muslim dan La in-la innya (senga ja kam i tidak menyebutka n takhrij-nya untuk menyingka t pembahasan). Ishaq bin ‘Abdillah bin Abi Tha lha h. akan te tapi ia te lah menye lisihi Hammad bin Salamah ya ng me riwa ya tkan hadits ini da ri Tsabit da ri Anas. ‘Ashim. Ini me rupakan pendapa t Yazid bin Abi Ma ryam. Abu Nu’a im da lam Al-Hilyah 1/123-124.17 Mengangkat Tangan Ketika Qunut Yang pa ling kua t da ri pendapat pa ra ulama da lam masa lah ini ada lah tidak disya ri’a tkannya menga ngka t tanga n da lam qunut. Sula iman bin Mughirah. Hal ini ditegaska n ole h Ibnu Qudamah da lam Al-Mughny 1/449: “Apabila Imam melakuka n qunut hendak nya diam inkan oleh orang yang dibe lakang imam dan kami tidak menge tahui ada pe rbe daan penda pat da lam masa lah ini. Maka sebaga imana yang dika takan ole h Imam Ya hya bin Ma ’in. Liha t Su`alat Abi Daud ha l.67 dan Al Majmu’ 3/481. Humaid At-Tha wil. ‘Abdul ‘Aziz bin Shuha ib. se hingga makmum ke tika mengam inka nnya juga mengambil andil da ri doa te rsebut. Ath-Tha ba rany 4/51/3606. Disebutkan bahwa Anas be rka ta kepada Tsabit : “Sesungguhnya saya melihat Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam setiap kali beliau shalat shubuh. bukan pada lafa zh pujia n.” Ba hkan Imam Muslim dalam kitab At-Tamyiz menukil kesepaka tan ahli ‘ilalul hadits bahwa Hammad ada lah orang yang paling kua t riwa ya tnya da ri Tsabit. Wallahu a’lam. Akan te tapi tidak seora ngpun da ri me reka yang menyebutka n ba hwa Nabi mengangka t kedua tanga nnya da lam qunut. 2. Pendapa t ini dikua tkan ka re na tidak ada hadits ya ng shahih yang menunjukkan be liau menga ngka t tangan da lam qunut. Liha t riwa ya t Hammad da lam Shahih Muslim 3/1511 no. He ndaknya pula imam be rdoa denga n la fazh umum (bukan untuk pribadinya ). Abu Hatim dan la innya bahwa : “Siapa sa ja yang menye lisihi Hammad dalam pe riwa ya tan hadits da ri Tsabit. Al-Ba ihaqy 2/211 dan Al-Kha thib dalam Tarikh Baghdad 11/440 da ri jala n Sula iman bin AlMughira h da ri Tsabit Al-Bunany da ri Anas bin Malik tentang kisah pa ra pemba ca Al Qur`an yang te rbunuh.” Nam un hadits ini lemah ka rena di dalamnya te rda pa t dua ca cat : 1. 1276. Ini me rupaka n pendapa t Imam Ahamad da n dibe na rkan oleh Imam AlKhiroqy da n An-Na wa wi. Mak taba h Al-Mana r) dan la in-lainnya . wa laupun beliau seorang ra wi yang tsiqah.” Akan teta pi pe rlu diinga t bahwa pe ngaminan hanya lah diucapka n pa da lafa zh-la fazh doa . Muhammad bin Sirin. Ha l ini ditega skan demik ian ka rena dua pe rka ra: Pertama : Alla h Subhanahu Wa Ta’ala ta tka la be rfirman kepada Nabi Musa ‘alaihis salam : “Sesungguhnya do’a kalian berdua telah dikabulkan. Ha nzha lah bin ‘Abdillah. Adapun da lil ya ng dipaka i ole h pa ra Ulama yang be rpendapa t disya ri’a tkannya mengangka t tangan da lam qunut ada lah hadits yang diriwa ya tkan ole h Imam Ahmad 3/137. dalam Al-Ausath 4/131/3793 dan da lam Ash-Shaghir 1/323-324/536. Se luruh hal ini mempe rtegas akan sa lahnya Sula iman bin Al-Mughirah da lam pe riwa ya ta nnya ya ng menye butkan Nabi menga ngka t kedua tangannya da lam qunut. Abu Mak hla d. 7 (1425/2008) 17 . Ahmad 3/270 dan Ibnu Sa ’d da lam Ath-Thabaqat 3/515. Da n Sya ikhuna Muqbil bin Hadi rahimahullah te rmasuk Ulama yang me lemahkan hadits ini. Liha t riwa ya t-riwa ya t me reka di Shahih Bukhari. Majalah A n-Nashiha h Vol. Murid-murid Anas bin Ma lik radhiyallahu ‘anhu se pe rti : Qa tadah. Dan Hammad tidak menyebutkan da lam riwa ya tnya bahwa Nabi shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam mengangkat kedua tangannya. Ma rwan Al-Ashfa r dan Ibnu Muhajir. Hammad bin Sa lamah ini ada lah ora ng ya ng paling kua t riwa ya t haditsnya da ri Tsabit. Abu Mijlaz. Abd bin Huma id da lam Al-Muntakhab ha l 380 no. Liha t Al-Mughni 1/448 dan Al-Majmu’ 3/487.

” Dan Imam Malik ditanya tenta ng seseora ng yang mengusap wa jahnya de ngan kedua te lapak tangannya ke tika be rdoa maka ia mengingka rinya semba ri be rka ta : “Sa ya tidak menge tahuinya. Dan be rka ta Imam Al-Ba ihaqy da lam Sunan-nya 2/212 : “Adapun mengusa pkan kedua tanga n ke wa ja h se lepas doa . tidakla h sa ya mengha fal (ha l te rsebut) da ri seora ngpun da ri pa ra Ulama sa laf pada doa qunut. ya itu : Satu : Mengge napkan raka’a t. (hikmahnya) ada lah bahwa yang diinginka n da ri qunut nazilah ini. Dengan ha l ini seseorang te tap mendapa tkan paha la shola t be rjama ’ah be rsama imam da n te tap bisa melak ukan shola t di akhir malam .” Dan demik ian pula kesimpulan Sya ikh Ibnu ‘Utsa imin da lam Asy-Syarh Al-Mumti’ 4/53-56. Sehingga kala u ia ingin melak ukan shola t di akhir malam ia te tap bisa melakuka n witir. Ca ra ini menurut Sya ikh Ibnu ‘Utsa im in ada lah ca ra yang pa ling ba ik. Mengusap Wajah Setelah Qunut Imam Abu Daud da lam Masa`il-nya ha l. maka be lia u menja wa b : “Sa ya tidak mendenga r tenta ng itu” da n be liau be rkata di kesempa tan la in : “Sa ya tidak mende nga r tentangnya sua tu (riwa ya t) apapun”. Beberapa Hukum Dan Masalah Berkaitan Dengan Pembahasan Te lah dike tahui te ntang keutamaan shola t Tarawih be rsama imam sampa i se lesa i wa laupun pe laksanaa nnya di a wa l ma lam dan juga dike tahui bahwa dila ra ng melakuka n witir dua kali da lam sa tu ma lam seba gaimana da lam ha dits : “Tidak ada dua witir dalam satu malam” Nam un bila makmum ingin menamba h shola t di akhir malam. 7 (1425/2008) 18 .” Dan (Abu Da ud) be rka ta : “Dan sa ya tidak melihat Ahmad menge rjakannya . 327. musnahkanlah harta mereka dan keraskanlah hati mereka. makmum be rse rika t be rsama imam da lam doa wa laupun ha nya de ngan mengaminkan.” Ba ca : Fathul Bari 2/491. Kedua : Al-Hafizh Ibnu Ha ja r rahimahullah be rka ta : “Yang nampak ba gi sa ya ba hwa hikmah mengapa doa qunut ditempa tkan pada i’tidal sebelum sujud. dan (padaha l juga) tela h pa sti bena rnya pe rintah be rdoa da lam sujud. Dua : Ikut shola t witir be rsama imam sampa i selesa i dan salam be rsamanya dan ka lau ia ingin ba ngun di malam ha ri maka boleh shola t lagi dua raka ’a t dua raka’a t be rdasa r keumuman hadits “Sholat malam dua (raka’at) dua (raka’at)” Majalah A n-Nashiha h Vol. Tidaklah mereka beriman sampai mereka melihat adzab yang sangat pedih. Dan ba ca : Irwa`ul Gholil 2/178-181.18 Dan ka lau kita mempe rha tikan a ya t sebe lumnya maka kita akan menge tahui ba hwa te rnya ta yang be rdoa hanya Nabi Musa ‘alaihis salam : “Wahai Rabb kami. apa ya ng ha rus ia lakuka n ? Ja wab : Ada dua penye lesa ian te rhada p masa lah ini. Ya itu ke tika imam salam di akhir witirnya maka ia tidak salam tapi be rdiri menambah sa tu raka ’a t sehingga shola tnya menja di ge nap. Liha t Asy-Syarh Al-Mumti’ ka rya Sya ikh Shalih Al-Utsa im in 3/86 dan Majmu’ Fatawa ka rya Ibnu Ta imiya h 23/116-119. 71 be rka ta : “Sa ya mendenga r Ahmad ditanya te ntang seseorang mengusap wa jahnya dengan ke dua tanga nnya bila se lesa i.” Ba ca : Mukhtashor Qiyamul Lail ka rya Muhammad bin Nashr Al-Ma rwa zy ha l.” (QS. padaha l sujud me rupakan tempa t dikabulkannya doa sebaga imana yang te lah pasti (data ngnya da ri Rabb-Nya ke tika ia sujud). Yunus: 88) Be rsamaan dengan ini Alla h menjadikan doa untuk me reka be rdua . Ha l ini ka rena Nabi Musa be rdoa dan Na bi Harun mendenga rkan dan mengam inkannya.

Sila hkan ba ca pembahasa nnya da lam : Al-Istidzkar 2/113-114. Al-Inshof ‘Utasimin 4/90-91. Dan pe rlu dike tahui ba hwa masih a da se jumla h masala h yang kami belum sebutka n. maka ia shola t sa tu raka’a t untuk membata lkan witirnya . Yaa Rabbal ‘Alamin. Tidak disunna hkan adanya Ta’qib dalam shola t Tarawih ya itu seke lompok ora ng se te lah mekakukan shola t la il di a wa l ma lam se ca ra be rjama’ah kembali be rjama ’ah di akhir ma lam. Fathul Bari ka rya Ibnu Ra ja b 6/258-259. Sisi kua t ke simpula n ini te ntunya bisa dipaham i da ri ura ian-uraia n yang te lah la lu. Al-Inshof 2/183 da n Asy-Syarh Al-Mumti’ ka rya Ibnu ‘Utasimin 4/91-93. Hal ini ada lah pe rka ra ya ng mak ruh menurut pendapa t Imam Ahmad da lam sa lah sa tu riwa ya t dan Sya ikh Ibnu ‘Utsa imin me ngua tkan penda pa t ini. beliau be rka ta : “Sesungguhnya Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam melakukan witir di atas onta. Ba ca : Al-Mughny 2/607-608. Fathul Bari ka rya Ibnu Ra jab 6/258-259 dan Al-Majmu’ 2/517. Demik ian bebe rapa pembahasa n be rka itan denga n tuntunan shola t Ta ra wih. Fathul Bari ka rya Ibnu Ra ja b 6/250-257. Al-Mughny 2/597-598. Fathul Bari ka rya Ibnu Ra jab 6/265-267 da n Bidayatul Mujtahid 1/204. Dan kami be rha ra p Alla h membe rika n kemuda han untuk penulisan pembaha san le ngkap di wak tu lain. Ba ca : Al-Mughny 2/597-598. Al-Inshof 2/182. Sebena rnya ada ca ra ke tiga yang disebut de ngan nama Naqdhul Witr ya itu seseorang se te lah shola t witir di a wa l malam kemudia n di akhir ma lam ia ba ngun untuk shola t. 7 (1425/2008) 19 . Dan ba nyak da lil yang menunjukka n tenta ng hal te rsebut. Thorhut Tatsrib 3/81 dan Nailul Author 3/49. Namun menurut Sya ikh Ibnu ‘Utsa imin kala u Ta’qib me reka lakuka n se tela h Tarawih da n sebe lum witir maka bukanlah mak ruh. Ba ca : Al-Mughny 2/607.” Sila hkan ba ca pembahasa nnya da lam : Al-Istidzkar 2/111. 2/183 da n Asy-Syarh Al-Mumti’ ka rya Ibnu Boleh melakukan witir di a tas he wa n tungga ngan a tau di a tas kenda raan menurut pe ndapa t kebanyaka n pa ra Ulama be rdasa rka n hadits ‘Abdulla h bin ‘Uma r riwa ya t Al-Buk hary dan Muslim . ha l te rsebut diseba bkan oleh ke te rba tasa n wak tu.19 da n tidak boleh witir lagi se hingga tidak te rja tuh da lam la ra ngan pe laksanaa n dua witir dalam sa tu malam . Shola t witir juga te tap disunna hkan wa laupun da lam sa fa r/pe rja lana n ka rena Nabi shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam me lakukan witir da lam keadaa n mukim maupun safa r. Wallahu Ta’ala A’lam. Amin. Ba ca : Al-Inshof 2/181 da n 182. Adapun masa lah me lakuka n shola t sunnah anta ra raka’a t Tarawih saa t istira hat ada lah pe rka ra yang mak ruh. Tidak disya ri’a tkan adanya doa ke tika istira hat di pe laksanaa n Ta ra wih da n demik ian pula tidak a da doa se te lah shola t Ta ra wih. namun hal te rsebut lemah menurut pe ndapa t Jumhur Ulama. Al-Majmu’ 3/521. Mudah-mudaha n tulisa n ini be rmanfaa t untuk seluruh kaum muslimin dan bisa menjadi pedoman dalam menghidupkan malam-ma lam penuh be rkah di bulan Ramadha n. Majalah A n-Nashiha h Vol. Ba ca : Majmu’ Fatawa Ibnu Taim iyah 23/98. Asy-Syarh Al-Mumti’ 4/ 88-89 da n Majmu’ Fatawa wa Rasa`il Syaikh Ibnu ‘Utsaimin 14/123-126.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful