P. 1
2 1 BULAN BERKAH

2 1 BULAN BERKAH

|Views: 259|Likes:

More info:

Published by: H Masoed Abidin bin Zainal Abidin Jabbar on Jun 25, 2008
Copyright:Traditional Copyright: All rights reserved

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

08/03/2010

pdf

text

original

Bulan Penuh Berkah

BULAN BERKAH DENGAN BANYAK KELEBIHAN
DIKALA Ramadhan datang menjelang, Rasulullah SAW mengingatkan tentang "keutamaan" bulan ini. Dalam sebuah hadist riwayat Ibnu Khizaimah, Rasulullah SAW bersabda : "Wahai manusia, sungguh anda tengah dinaungi satu bulan yang agung, "Bulan" dengan penuh "Keberkatan. Didalamnya ditemui satu malam dengan "kemuliaan". Malam yang mempunyai kemuliaan melebihi "Seribu bulan". Allah (Subhanahu wa ta'ala) mewajibkan "puasa" disiang harinya. Melaksanakan "Ibadah malam hari" dalam satu "keutamaan". Satu amal kebajikan biasa seumpama mengerjakan amalan fardhu diluar bulan lainnya. Satu "amalan fardhu" mempunyai nilai-nilai tujuh puluh kali dibanding bulan lainnya. Bulan itu adalah bulan Ramadhan. Ramadhan sesungguhnya adalah semamacam arena tempat berlatih "kesabaran". Sedangkan imbalan kesabaran hanyalah "sorga:". Ramadhan adalah bulan yang memberikan kelapangan. Saat terbaik mengulurkan pertolongan. SYAHRUL MUWAASAH

26

Bulan Penuh Berkah

Ibadah shaum dibulan Ramadahan mengajari manusia untuk sanggup berperan dalam "menutup kesenjangan sosial". Dibulan ini dilipat-gandakan "rezeki" orang-orang Mukmin, Bersikap pemurah dan penyantun dibulan ini. Siapa yang berusaha memberikan "makanan berbuka" kepada seseorang yang "berpuasa", maka baginya imbalan "keampunan" dan "kebebasan dari neraka. Orang yang "memberi" makanan berbuka kepada yang berpuasa". Tanpa mengurangi sedikitpun pahala orang yang diberi". (H.R. Ibnu
Khuzaimah).

Sampai disini, Rasulullah SAW menghentikan "amanat" beliau, Dan memberi kesempatan kepada para Shahabat untuk bertanya. Terjadilah dialog yang menarik tentang "aspek sosial" dari bulan Ramadhan ini. Diantara para shahabat bertanya; "Wahai Rasulullah, (ditakdirkan) tidaklah semua kami "memiliki" makanan berbuka, untuk diberikan kepada orang lain yang berpuasa". Rasulullah SAW menjawab; "Allah Subhanahu Wa Ta'ala akan memberikan balasan yang sama kepada orang yeng memerikan perbukaan itu, walau yang diberikannya hanya "sebutir korma". Atau hanya "sehirup susu". Kemudian Rasulullah melanjutkan pesan beliau, dengan Sabdanya; "(Ramadhan) ialah bulan yang diawali "rahmat" ditengahnya berisi "keampunan", dan pada akhirnya "dibebaskan dari bencana neraka". Barang siapa yang memberikan kelonggaran

27

Pernik Pernik Ramadhan

(keringanan) kepada pembantu (karyawan-karyawan), yang berpuasa, niscaya Allah akan mengampuni dosa-dosanya, serta "membebaskannya" dari bencana neraka". (H.R.
Ibnu Khuzaimah).

Pesan Rasulullah SAW ini, merupakan penjelasan yang paling lengkap tentang "nilai" Ramadhan. Sepantasnya kita simak kembali. Ramadhan membawa keutamaan untuk melakukan didalamnya satu "ibadah khusus" berupa "shiyam" atau "puasa". Ibadah ini melahirkan beberapa sikap positif, dalam membentuk manusia "bermartabat". Diantaranya saling mau memberikan kelapangan. Mau mengulurkan pertolongan kepada pihak yang memerlukan. Bersikap "tabah", "jujur", dan "pemurah". "QAD ATAA-KUM UR-RAMADHAN ASSAYYIDUS-SYUHUURI, FA MARHABAN BIHI WA AHLAN", yakni "Telah datang kepadamu bulan Ramadhan, pemimpin segala bulan (karena keagungan yang dikandungnya). " SAMBUTLAH DENGAN UCAPAN SELAMAT DATANG', (penuh kegembiraan)". "JAA-A SYAHR-AS-SHIYYAMI BIL BARAKAA-TI FA-AKRIM BIHI MIN ZAA-IRAN HUWA-ATIN". Ramadhan telah datang sebagai bulan shiyam (puasa). Alangkah mulianya bulan "pengunjung" yang telah tiba ini". IMSAK Imsak artinya menahan atau menjauhkan diri dari sesuatu. Puasa (shiyaam) menurut pengertian bahasa adalah menahan (imsak) dari makan dan

28

Bulan Penuh Berkah

minum serta bergaul (sanggama) suami istri disiang hari. Pengertian yang lebih mendalam menurut syar'i (aturan Islam) adalah menahan diri dari melakukan perbuatan yang membatalkan puasa pada siang hari, mulai terbitnya fajar hingga datangnya masa berbuka (terbenamnya matahari), disertai dengan niat karena Allah. Shaum (puasa) merupakan rukun Islam yang keempat, yang wajib dilaksanakan pada bulan Ramadhan. Firman Allah menyebutkan sebagai berikut, "Bulan Ramadhan adalah bulan di turunkan Alquran, menjadi petunjuk bagi manusia, berisi penjelasanpenjelasan dari petunjuk itu, dan merupakan furqan (atau pembeda antara suruh dan tegah, antara halal dan haram, antara mukmin dan kafir). Maka siapapun yang memasuki bulan Ramadhan itu, wajib mereka pelakukan puasa" (QS.2:185) Nabi Muhammad Rasulullah SAW menyebutkan dalam sabda beliau, “ 'uraal-Islamu wa qawa'idud-diiny tsalatsatun, 'alaihinna ussisalislaamu, man taraka waahidatan minhunna bihaa kaafirun halalud-dami’, syahadatu an laa ilaaha illallaahu, was-salatul-maktuubatu, was-shaumu Ramadhana", Artinya, "ikatan Islam dan kaedah agama itu ada tiga, diatasnya diasaskan Islam. Barangsiapa yang meninggalkan salah satu dari padanya maka ia adalah kafir dan halal darahnya, yaitu bersaksi bahwasanya tiada tuhan yang berhak disembah selain Allah, dan mendirikan salat yang di fardhukan, dan berpuasa di bulan Ramadhan" (HR.Abu Ya'la, Ad Dailami dan disahkan oleh az
Zahabi).

29

Pernik Pernik Ramadhan

Dapatlah dipahami dengan hadist ini bahwa puasa Ramadhan merupakan salah satu asas dari Islam. Sama kedudukannya dengan kewajiban asasi setiap muslim untuk mengerjakan salat yang wajib (lima kali sehari semalam) dan pengakuan (syahadat) bahwa tiada tuhan yang berhak disembah selain Allah. Tentang keutamaan puasa (shaum (puasa)) Ramadhan ini di sebutkan oleh Nabi Muhammad SAW dalam hadist beliau ; "apabila tiba bulan Ramadhan pintu-pintu sorga dibuka, pintu-pintu neraka ditutup, dan syaithan-syaithan dibelenggu"
(HR.Bukhari dan Muslim).

Bermakna bahwa selama Ramadhan setiap diri berkewajiban untuk menahan diri dari perbuatan tercela yang menyebabkan dia bisa masuk neraka atau menjauhi perbuatan penghuni neraka karena pintu neraka itu sudah tertutup. Semestinya yang dikerjakan adalah amalan ahli sorga yaitu amalan yang baik-baik saja. Tidak pantas seseorang melakukan perbuatan tercela sebagaimana perangai syaithan, karena syaithan itu sendiri dibulan Ramadhan sudah terbelenggu. Selanjutnya Rasulullah SAW telah berkata; "Puasa itu adalah perisai”. “Apabila seseorang itu berpuasa maka janganlah dia berkata-kata omongan tidak karuan, seandainya ada orang yang mencela atau hendak memukulnya maka katakanlah "Aku berpuasa, Aku berpuasa".

30

Bulan Penuh Berkah

”Demi diri Muhammad yang berada di dalam kekuasaan Allah, "bau mulut orang yang berpuasa lebih harum dari kasturi". “Bagi orang yang berpuasa itu ada dua kegembiraan, yaitu dikala dia berbuka (saat matahari telah terbenam, masa imsak telah berakhir), ia bergembira dengan makanan berbukanya, dan apabila dia berjumpa dengan tuhannya (kelak di akhirat) ia bergembira dengan ibadah puasanya" (HR.Bukhari Muslim dari Abi Hurairah
RA).

Puasa adalah suatu yang membanggakan di hadapan Allah Subhanahu Wa Ta'ala. Inti dari puasa adalah "imsak"atau menahan diri. Suatu sikap jiwa yang mulia dan amat tinggi nilainya disisi manusia dan dalam pandangan Allah SWT. Seorang yang bijak dan berani bukanlah yang mampu mengganyang lawannya hingga babak belur, tetapi yang mampu menahan diri dalam situasi kritis sekalipun. Sikap menahan diri ini bisa menjadikan seseorang senantiasa menjaga kepentingan umat banyak, tidak melakukan pencolengan dan penipuan. Seorang yang dirinya terjaga dan mampu mengendalikan nafsunya pastilah akan menghindarkan seseorang dari kolusi dan korupsi, dan bisa menahan diri dari menghalalkan setiap cara.

31

Pernik Pernik Ramadhan

Dapat diyakini, walau seseorang telah memasuki bulan Ramadhan, tetapi tidak menumbuhkan sikap dan sifat terpuji sesudahnya, berarti sebuah pertanda dia tidak pernah mengamalkan ajaran shaum (puasa) itu secara benar. Puasanya sama saja dengan orang yang tidak berpuasa, dia hanya melakukan imsak terhadap hal-hal yang ringan-ringan (makan,minum) tapi tidak mampu menahan yang berat, tidak mampu meninggalkan sifat tercela. Puasa sedemikian tidak punya makna apaapa. Mudah-mudahan kita semua terhindar dari puasa yang mubadzir atau puasa yang di tolak sehingga tidak mendapatkan apa-apa dan puasa yang tidak mampu menjadi perisai diri. Na'udzubillahi min dzalik. D O ’A Salah satu firman Allah menyebutkan, “Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang-orang yang berdo’a apabila ia bermohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi segala perintah-Ku dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada pada kebenaran.” (QS.2:186). Secara implisit wahyu ini beriisikan pemberitaan kemuliaan Ramadhan dengan tersedianya kesempatan luas bagi setiap Muslim untuk melakukan suatu ritual yang disebut “do’a”.

32

Bulan Penuh Berkah

Do’a adalah suatu ibadah dalam memenuhi kebutuhan hidup ruhaniyah manusia (spiritual, immateriil), yang tak kalah pentingnya dari kebutuhan-kebutuhan materiil lainnya. Di dalam Alquranul Karim ditampilkan katakata do’a pada 203 ayat dengan arti yang banyak kaitannya, antara lain berarti ibadah, memanggil, memuji dan sebagainya. Dalam ayat ini “do’a” bermakna meminta, memohon dan mengharap kepada Allah Yang Maha Kuasa. Manusia adalah makhluk lemah dengan segala keterbatasan alamiah ataupun ilmiah, secara fisik maupun mental emosional. Kenyataan
dalam hidup, manusia selalu dilingkari serba kekurangan dalam meraih harapan dan keinginankeinginan yang sulit dibatasi.

Bila situasi seperti ini kurang disadari acap kali menyeret manusia kepada akibat sangat fatal serta berpeluang menyisakan derita frustrasi dan hidup hilang pegangan. Lebih jauh ketenteraman bathin dan kebahagian yang didambakan tidak kunjung terwujud. Untuk mengatasi kekurangan daya keterbatasan ini, dilakukan upaya meminta pertolongan kepada yang lebih kuasa di luar diri, mengadukan segala kekurangan, kegelisahan serta kesusuhan yang menghimpit jiwa (soul,ruhani) agar ada yang bisa mengobatnya atau mengatasinya. Upaya dilakukan dengan cara berdo’a kepada Yang Maha Kuasa.

33

Pernik Pernik Ramadhan

Namun, sering dijumpai kerancuan tindakan, yang tampil dikala nikmat telah datang mengganti kesusahan dan keresahan, tanpa sadar manusia melupakan Yang Maha Kuasa tempat do’a di arahkan memohon segala permintaan. Begitulah kebanyakan watak hakiki manusia yang tidak beriman sebagai disebutkan oleh Allah dalam firman-Nya1, Na’udzubillah. “Do’a adalah puncak ibadah,” Begitu Sunnah Rasul menyebutkan. Maka semestinya sebagai ibadah do’a hanya ditujukan kepada Allah, tidak boleh ditujukan kepada benda-benda keramat, juga tidak kepada kekuatan alam selain dari Allah. Semestinya berdo’a langsung di arahkan kepada Allah Yang Maha Kuasa tanpa perantaraan. Do’a bisa diucapkan dengan bahasa apa saja yang dimengerti oleh yang meminta, karena Allah sungguh amat mengerti dengan apa yang tergerak dalam hati seseorang yang mendo’a itu. Beberapa persyaratan do’a perlu dipersiapkan lebih dahulu, antara lain • pembersihan bathin melalui istighfar, • • • • menanamkan keyakinan (iman) bahwa do’a akan berterima disisi Allah memelihara makanan, minuman, pakaian benar-benar halal, tidak meminta hal-hal yang mustahil, tidak berlaku zalim (melanggar aturan-aturan Allah),

1

Lihat QS.41,Fusshilat:51.

34

Bulan Penuh Berkah

• • • •

dilakukan dengan khidmat, khusyu’ dengan tunduk hati kepada Allah, merendahkan suara dalam bahasa sederhana indah dan dimengerti, memuliakan Allah dan mengambil do’a yang utama dari Alquran atau Hadist Rasulullah, tidak bosan dalam bermohon kepada Allah.

Paling utama dilakukan di waktu yang mustajab, antara lain di kala berpuasa, di saat berbuka, di waktu sahur, di malam lailatul qadar, di saat bersujud salat menghadap kiblat, di bulan Ramadhan. Merugi sekali orang yang tidak memanfaatkan kesempatan emas yang hanya sekali dalam setahun. Sangat tidak pantas Ramadhan di isi dengan hiruk pikuk, gelegar bunyi petasan, mondar-mandir diluar rumah ibadah, asmara subuh, kuncar tarawih sementara orang lain khusyuk beribadah, bahkan sangat tidak patut melewatkan masa di “warung-ota”, atau hanya mendatangi masjid bersafari diluar redha Allah. Kalau itu yang terjadi, tak usah ditanyakan, kenapa “do’a tak berjawab??”. IFTHAR Sabda Rasulullah Shallalahu ‘alaihi Wa Sallam, “laa yazaalun-naasu bi-khairin maa ‘ajjaluul-fithra”, artinya “manusia akan selalu berada dalam kebaikan selama mereka

35

Pernik Pernik Ramadhan

menyegerakan ifthar (berbuka puasa)” (HR.Bukhari,
Muslim dan lain-lainnya).

Berbuka puasa (iftharus-shaim) dikala terbenamnya matahari (masuknya waktu maghrib) suatu keharusan (sunnah) dilakukan oleh setiap orang yang berpuasa, sama seperti suruhan mengerjakan sahur sebelum fajar masuk. Puasa seorang muslim dimulai dengan makan sahur dan diakhiri dengan ifthar setiap harinya sebagai dikuatkan oleh Firman Allah.2 Disimpulkan bahwa “berbuka puasa (ifthar)” dan “makan sahur” adalah pembeda antara puasanya orang-orang Muslim dengan kalangan lainnya secara umum. Sejak masa doeloe hingga sekarang tumbuh beragam bentuk ritual-upawasa tanpa bimbingan wahyu Allah, seperti pemahaman kepercayaan-kepercayaan hasil rekayasa pikiran manusia tanpa bimbingan agama samawi. Pentingnya urusan berbuka puasa ini ditemui dalam banyak penjelasan atau sunnah Rasulullah SAW. Antara lain,“idza quddimal-‘isyaa-u fabda-uu bihi qabla salatil-maghribi, wa laa ta’-jaluu ‘an-‘asyaa-ikum”, artinya “Apabila dihidangkan makanan malam hendaklah kamu dahulukan makan sebelum salat maghrib, dan janganlah kamu menagguhkannya” (HR.Bukhari Muslim). Hadist ini merupakan salah satu sunnah qauliyah atau ucapan Rasulullah SAW. Dalam fi’liyah (perbuatan Rasulullah SAW) di temui kesaksian hadist “kaana Rasulullahi
2

Lihat dalam QS.2:187.

36

Bulan Penuh Berkah

shallallahu ‘alaihi wa sallam yafthuru ‘ala ruthabaatin qabla an yushalli, fa-in lam takun fa ‘alaa tamaraatin, fa-in lam takun hasaa haSAWaatin min maa-in,” artinya “Rasulullah SAW berbuka puasa dengan beberapa biji ruthab sebelum salat. Seandainya tidak ada, beliau berbuka dengan beberapa biji tamar dan bila (tamar) itu pun tidak ada, beliau berbuka dengan beberapa teguk air.” (HR.Abu Daud dan Daruquthni). Bimbingan Sunnah Rasulullah ini sangat menganjurkan pelaksanaan berbuka puasa sesederhana mungkin, supaya terhindar dari celaan perangai syaithan. Berbuka puasa tidak mesti dengan persiapan materi “perbukaan” yang jumlahnya berlimpah, jenisnya yang beragam, harga yang mahal dan pada akhirnya terbuang percuma seperti banyak ditemui dalam sebahagian acara-acara “berbuka bersama”. Semestinya melalui ajaran berbuka puasa (iftharus-shaaim) ditanamkan dengan benar sikap sederhana, hemat, tidak mubazir, tidak loba dan tamak terhadap materi, pandai meletakkan sesuatu pada tempatnya sehingga mengerti mana yang berguna dan tidak membuang-buang secara percuma. Melalui ajaran berbuka puasa (ifthar) dipupuk sikap pribadi terpuji dengan moral yang tinggi yang ukurannya tidak lagi semata materi duniawi. Etika akhlak mulia itu terpantau dari kesiapan diri sesorang yang akrab lingkungan dan

37

Pernik Pernik Ramadhan

peduli dengan nasib orang lain yang hidup disekitarnya. Ajaran berbuka puasa secara lebih mendalam dibuktikan pada kesediaan seseorang mengulurkan tangan (iftharus-shaaim) kepada orang lain disekitarnya terutama orang-orang yang belum bernasib baik (fakir dan miskin) sehingga dengan demikian mereka pun berkesempatan menikmati betapa nikmat sedap dan nikmat gembira berbuka puasa bersama (ifthar al-jamaa’i) itu. Di Ranah Minang kebisaaan seperti ini sebenarnya telah lama tumbuh dalam hubungan kekeluargaan Muslim di kampung-kampung dalam suatu persenyawaan adat dan Islam sesuai kaedah yang berlaku secara turun temurun dalam “adat basandi syarak, syarak basandi kitabullah” dengan tata istilah yang sangat tepat ”ma anta pabukoan” yang kemudian dikembangkan dengan buka bersama di masjid-masjid dan di sudahi dengan salat maghrib berjamaah. Kepuasan berbuka puasa sungguh tidak terletak kepada pesta hidangan perbukaan untuk diri sendiri. Secara hakiki tersimpan didalamnya kemampuan membersitkan rasa kepedulian sesama hidup dan lingkungan masyarakat. Setiap diri berupaya mengejar kelebihan yang tersedia. Melipat gandakan pahala puasa melalui kerelaan memberikan perbukaan kepada orang lain manakala waktu berbuka tiba walau hanya berupa sebiji korma, sebuah pisang, bahkan

38

Bulan Penuh Berkah

mungkin hanya seteguk air yang dihadiahkan kepada orang yang ingin berbuka puasa secara ikhlas karena mengharap redha Allah. Disinilah letak makna sebenarnya dari berbuka puasa (ifthar) itu. Sabda Rasulullah SAW, “siapa saja yang memberikan perbukaan kepada orang yang berpuasa, maka dia akan mendapatkan pahala sebesar pahala puasa orang yang diberinya perbukaan, tanpa mengurangi sedikitpun pahala puasa orang yang diberi itu,” (Al
Hadist).

Melalui ifthar (berbuka puasa) kita semua mendapatkan peluang besar dalam meningkatkan pemahaman kualitas serta kuantitas pahala puasa di bulan Ramadhan pintu pahala dan kesempatan merebutnya telah terbuka. Semoga kita mampu meraihnya Insya Allah. ‘I Z Z A H DALAM pergaulan hidup Muslim sehari-hari didapati kewajiban melaksanakan tugas kemasyarakatan yang paling asasi yaitu “memberikan nasehat kepada sesama saudaranya”, yang merupakan pengamalan “amar ma’ruf nahi munkar”. Tugas ini wajib ditunaikan agar masyarakat berkehidupan dalam suasana yang baik dan tidak terperosok kedalam jurang kehinaan, sehingga tercipta tatanan masyarakat utama (khaira ummah). “Amar ma’ruf nahi munkar” adalah kewajiban kembar yang mesti berjalan seiring dan ditunaikan secara tulus dan ikhlas dalam kerangka mardhatillah.

39

Pernik Pernik Ramadhan

Esensinya dalam rumusan “tawashii bil haqqi dan tawashii bis-shabri”, yaitu berwasiat dengan kebenaran (al-haq min rabbika) dan ketabahan (shabar). Sabda Rasulullah SAW; “agama itu adalah nasehat” (ad-diin an-nashihah) yang datang dari Allah SWT menjadi sangat menentukan dalam penciptaan kemashlahatan umat banyak. Bila tugas kembar ini dilalaikan, maka yang akan tampil kepermukaan adalah segala bentuk kekacauan dan kebringasan dengan kemasan fitnah serta berbagai isu yang sulit dibendung. Sebab itu, "amar ma'ruf-nahi munkar" di ketengahkan tanpa kebencian dan dendam, jauh dari perasaan iri dan hasad dengki. Tugas ini tidak mengenal sakit hati, tetapi harus berbingkai asih-asuh berisi cinta sejati sesama hidup, karena “sama-sama ingin masuk surga, sama-sama ingin terhindar dari neraka, dan terbebas dari godaan iblis-syaitan”. Tujuan yang ingin dicapai adalah kehidupan bermartabat kemanusiaan dengan beralaskan mahabbah dan kasih sayang. Sabda Baginda Rasulullah SAW bahwa di bulan Ramadhan ini, “di bukakan pintu syurga, di tutup pintu neraka, dan dirantai syaithan", hakikinya mengandung makna mendalam dengan pembuktian pada amalan-amalan yang mendekatkan kepada pintu sorga, yakni segala "kebaikan" sesuai ajaran Allah dan Rasulullah. Kebaikan yang menjadi warna "fitrah" kemanusiaan. Ramadhan adalah bulan tempat kita berpacu dan berlomba melakukan kebajikan,

40

Bulan Penuh Berkah

sebagai penggambaran kebaikan. Itulah keyakinan mukmin yang utama. Dan yang sudah terbisa melakukan kejahatan, bertaubat adalah tindakan yang paling tepat. Puasa (shaum (puasa)) tidak hanya sekedar menahan haus dan lapar, tetapi adalah kemampuan menahan diri untuk tidak berbuat kejahatan. Ungkapan tentang "di tutup pintu neraka", sebenarnya adalah sebuah peringatan sangat keras untuk tidak melakukan tindakantindakan yang bisa berakibat terbawanya badan kedalam neraka. Selanjutnya supaya tidak berteman dengan syaitan. Jangan di tiru lagak-lagu syaithan, seperti melakukan segala tipu daya yang tidak senonoh. Dakwah ilaa-Allah menjadi kewajiban pribadi (fardhu-‘ain) setiap muslim yang beriman. Dakwah Ramadhan adalah gerakan massal “mempuasakan masyarakat dari segala perangai tidak terpuji", seperti perangai konsumeris, indiviualis, materialis, spekulatip yang berdampak sangat dalam terhadap kemelut moneter yang tengah melanda bangsa, bila kita jujur mengkajinya lebih disebabkan oleh hilangnya kepercayaan diri dan terlampau besarnya kepercayaan kepada milik orang lain. Ramadhan menumbuhkan “izzatun-nafsi”, yakni taqwa yang terlihat dalam percaya diri, hemat, mawas diri, istiqamah (teguh-prinsip) dalam menanam nilai kebersamaan (ukhuwah) ditengah hidup bermasyarakat, dan terjauh dari hanya mementingkan diri sendiri. Sudahkah kini tercipta ?? Jawabnya tersimpan dalam “Gerakan Fastabiqul Khairat”.

41

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->