P. 1
Belajar Dan Pembelajaran

Belajar Dan Pembelajaran

|Views: 300|Likes:
Published by dilichubby

More info:

Published by: dilichubby on Aug 20, 2010
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

11/14/2012

pdf

text

original

A.

Hakikat Anak Menurut Pandangan Teori Belajar Konstruktivisme Salah satu teori atau pandangan yang sangat terkenal berkaitan dengan teori belajar konstruktivisme adalah teori perkembangan mental Piaget. Teori ini biasa juga disebut teori perkembangan intelektual atau teori perkembangan kognitif. Teori belajar tersebut berkenaan dengan kesiapan anak untuk belajar, yang dikemas dalam tahap perkembangan intelektual dari lahir hingga dewasa. Setiap tahap perkembangan intelektual yang dimaksud dilengkapi de ngan ciri-ciri tertentu dalam mengkonstruksi ilmu pengetahuan. Misalnya, pada tahap sensori motor anak berpikir melalui gerakan atau perbuatan (Ruseffendi, 1988: 132). Selanjutnya, Piaget yang dikenal sebagai konstruktivis pertama (Dahar, 1989: 159) menega skan bahwa pengetahuan tersebut dibangun dalam pikiran anak melalui asimilasi dan akomodasi. Asimilasi adalah penyerapan informasi baru dalam pikiran. Sedangkan, akomodasi adalah menyusun kembali struktur pikiran karena adanya informasi baru, sehingga info rmasi tersebut mempunyai tempat (Ruseffendi 1988: 133). Pengertian tentang akomodasi yang lain adalah proses mental yang meliputi pembentukan skema baru yang cocok dengan ransangan baru atau memodifikasi skema yang sudah ada sehingga cocok dengan rangsanga itu (Suparno, 1996: 7). n Lebih jauh Piaget mengemukakan bahwa pengetahuan tidak diperoleh secara pasif oleh seseorang, melainkan melalui tindakan. Bahkan, perkembangan kognitif anak bergantung pada seberapa jauh mereka aktif memanipulasi dan berinteraksi dengan lingkungannya. Sedangkan, perkembangan kognitif itu sendiri merupakan proses berkesinambungan tentang keadaan ketidak -seimbangan dan keadaan keseimbangan (Poedjiadi, 1999: 61). Dari pandangan Piaget tentang tahap perkembangan kognitif anak dapat dip ahami bahwa pada tahap tertentu cara maupun kemampuan anak mengkonstruksi ilmu berbeda -beda berdasarkan

kematangan intelektual anak. Berkaitan dengan anak dan lingkungan belajarnya menurut pandangan konstruktivisme, Driver dan Bell (dalam Susan, Marilyn dan Tony, 1995: 222) mengajukan karakteristik sebagai berikut: (1) siswa tidak dipandang sebagai sesuatu yang pasif melainkan memiliki tujuan, (2) belajar

mempertimbangkan seoptimal mungkin proses keterlibatan siswa, (3) pengetahuan bukan sesuatu yang datang dari luar melainkan dikonstruksi secara personal, (4) pembelajaran bukanlah transmisi pengetahuan, melainkan melibatkan pengaturan situasi kelas, (5) kurikulum bukanlah sekedar dipelajari, melainkan seperangkat pembelajaran, materi, dan sumber. Pandangan tentang anak dari kalangan konstruktivistik yang lebih mutakhir yang dikembangkan dari teori belajar kognitif Piaget menyatakan bahwa ilmu pengetahuan dibangun dalam pikiran seorang anak dengan kegiatan asimilasi dan akomodasi sesuai dengan skemata yang dimilikinya. Belajar merupakan proses aktif untuk mengembangkan skemata sehingga pengetahuan terkait bagaikan jaring laba-laba dan bukan sekedar tersusun secara hirarkis (Hudoyo, 1998: 5).

Berikut adalah tiga dalil pokok Piaget dalam kaitannya dengan tahap perkembangan intele ktual atau tahap perkembangan kognitif atau biasa juga disebut tahap perkembagan mental. pengelompokan. Berbeda dengan kontruktivisme kognitif ala Piaget. Hakikat Pembelajaran Menurut Teori Belajar Konstruktivisme Sebagaimana telah dikemukakan bahwa menurut teori belajar konstruktivisme. B. siswa tidak diharapkan sebagai botol-botol kecil yang siap diisi dengan berbagai ilmu pengetahuan sesuai dengan kehendak guru. dan teman yang membuat situasi yang kondusif untuk terjadinya konstruksi pengetahuan pada diri peserta didik. (2) kurikulum dirancang sedemikian rupa sehingga terjadi situasi yang memungkinkan pengetahuan dan keterampilan dapat dikonstruksi oleh peserta didik. pengekalan. 1999: 62). Guru hanyalah berfungsi sebagai mediator. dapat dipahami bahwa belajar adalah suatu aktivitas yang berlangsung secara interaktif antara faktor intern pada diri pebelajar dengan faktor ekstern atau lingkungan. Dengan kata lain. Adapun implikasi dari teori belajar konstruktivisme dalam pendidikan anak (Poedjiadi. Ruseffendi (1988: 133) mengemukakan. (2) tahap-tahap tersebut didefinisikan sebagai suatu cluster dari operasi mental (pengurutan. Maksudnya.Dari pengertian di atas. Penemuan atau discovery dalam belajar lebih mudah diperoleh dalam konteks sosial budaya seseorang (Poedjiadi. latihan memcahkan masalah seringkali dilakukan melalui belajar kelompok dengan menganalisis masalah dalam kehidupan sehari-hari dan (3) peserta didik diharapkan selalu aktif dan dapat menemukan cara belajar yang sesuai bagi dirinya. sehingga melahirkan perubahan tingkah laku. bahwa siswa harus aktif secara mental membangun struktur pengetahuannya berdasarkan kematangan kognitif yang dimilikinya. setiap manusia akan mengalami urutan-urutan tersebut dan dengan urutan yang sama. pengertahuan tidak dapat dipindahkan begitu saja dari pikiran guru ke pikiran siswa. fasilitor. Selain itu. pembuatan hipotesis dan penarikan kesimpulan) yang menunjukkan adanya tingkah laku intelektual dan (3) gerak melalui tahap -tahap tersebut dilengkapi oleh keseimbangan (equilibration). (1) perkembangan intelektual terjadi melalui tahap-tahap beruntun yang selalu terjadi dengan urutan yang sama. konstruktivisme sosial yang dikembangkan oleh Vigotsky adalah bahwa belajar bagi anak dilakukan dalam interaksi dengan lingkungan sosial maupun fisik. . Artinya. proses pengembangan yang menguraikan tentang interaksi antara pengalaman (asimilasi) dan struktur kognitif yang timbul (akomodasi). 1999: 63) adalah sebagai berikut: (1) tujuan pendidikan menurut teori belajar konstruktivisme adalah menghasilkan individu atau anak yang memiliki kemampuan berfikir untuk menyelesaikan setiap persoalan yang dihadapi. Dalam penjelasan lain Tanjung (1998: 7) mengatakan bahwa inti konstruktivis Vigotsky adalah interaksi antara aspek internal dan ekternal yang penekanannya pada lingkungan sosial dalam belajar.

Bukan kepatuhan siswa dalam refleksi atas apa yang telah diperintahkan dan dilakukan oleh guru. pengetahuan tidak dapat diperoleh secara pasif. dan (4) siswa mempunyai kesempatan untuk berdiskusi dan saling bertukar pengalaman dan ilmu pengetahuan dengan temannya. Selain penekanan dan tahap-tahap tertentu yang perlu diperhatikan dalam teori belajar konstruktivisme. (4) memberi pengalaman yang berhubungan dengan gagasan yang telah dimiliki siswa. Kedua. (2) memberi kesempatan kepada siswa untuk berfikir tentang pengalamannya sehingga menjadi lebih kreatif dan imajinatif. Pertama adalah peran aktif siswa dalam me ngkonstruksi pengetahuan secara bermakna. Ketiga adalah mengaitkan antara gagasan dengan informasi baru yang diterima. Dari beberapa pandangan di atas. (3) memberi kesempatan kepada siswa untuk mencoba gagasan baru. Kedua adalah pentingya membuat kaitan antara gagasan dalam pengkonstruksian secara bermakna. Wheatley (1991: 12) mendukung pendapat di at s dengan mengajukan dua prinsip utama dalam a pembelajaran dengan teori belajar konstrukltivisme. dapat disimpulkan bahwa pembelaj ran yang mengacu kepada a teori belajar konstruktivisme lebih menfokuskan pada kesuksesan siswa dalam mengorganisasikan pengalaman mereka.Sehubungan dengan hal di atas. siswa lebih diutamakan untuk mengkonstruksi sendiri pengetahuan mereka melalui asimilasi dan akomodasi. Tasker (1992: 30) mengemukakan tiga penekanan dalam teori belajar konstruktivisme sebagai berikut. Kedua pengertian di atas menekankan bagaimana pentingnya keterlibatan anak secara aktif dalam proses pengaitan sejumlah gagasan dan pengkonstruksian ilmu pengetahuan melalui lingkungannya. (5) mendorong siswa untuk memikirkan perubahan gagasan mereka. Hanbury (1996: 3) mengemukakan sejumlah aspek dalam kaitannya dengan pembelajaran. yaitu (1) siswa mengkonstruksi pengetahuan dengan cara mengintegrasikan ide yang mereka miliki. untuk mempelajari suatu materi yang baru. sebagai berikut: (1) memberi kesempatan kepada siswa untuk mengemukakan gagasannya dengan bahasa sendiri. Teori Belajar Konstruktivisme . Dalam upaya mengimplementasikan teori belajar konstruktivisme. (3) strategi siswa lebih bernilai. Pertama. pengalaman belajar yang lal dari seseorang akan u mempengaruhi terjadinya proses belajar tersebut. tetapi secara aktif oleh struktur kognitif siswa. dan (6) menciptakan lingkungan belajar yang kondusif. (2) pembelajaran menjadi lebih bermakna karena siswa mengerti. Oleh karena itu. Tytler (1996: 20) mengajukan beberapa saran yang berkaitan dengan rancangan pembelajaran. fungsi kognisi bersifat adaptif dan membantu pengorganisasian melalui pengalaman nyata yang dimiliki anak. Dengan kata lain. Bahkan secara spesifik Hudoyo (1990: 4) mengatakan bahwa seseorang akan lebih mudah mempelajari sesuatu bila belajar itu didasari kepada apa yang telah diketahui orang lain.

Teori konstruktivisme didasari oleh ide-ide Piaget. Pembelajaran dengan pendekatan inkuiri merupakan salah satu pendekatan konstruktivisme dapat diterapkan antara lain dalam pembelajaran kooperatif. melainkan suatu kegiatan yang memungkinkan siswa membangun sendiri pengetahuan. Pengetahuan yang dikonstruksi oleh anak sebagai subjek. kerja dalam kelompok kecil dan diskusi kelas. Hal ini berarti siswa mengkonstruksi pengetahuannya melalui interaksi dengan objek. pengetahuan tersebut hanya untuk diingat sementara setelah itu dilupakan. Mereka menolak paham bahwa matematika dipelajari dalam satu koleksi yang berpola linear. Setiap tahap dari pembelajaran melibatkan suatu proses penelitian terhadap makna dan penyampaian keterampilan hafalan dengan cara yang tidak ada jaminan bahwa siswa akan menggunakan keterampilan inteligennya dalam setting matematika. dan mereka setuju bahwa belajar matematika melibatkan manipulasi aktif dari pemaknaan bukan hanya bilangan dan rumus-rumus saja. Lebih jauh dikatakan bahwa dalam kontruksivisme aktivitas matematika mungkin diwujudkan melalui tantangan masalah. fenomena. Sedangkan mengajar bukanlah memindahkan pengetahuan guru kepada siswa. Beberapa prinsip pembelajaran dengan kontruksivisme diantaranya dikemukakan oleh Steffe dan Kieren yaitu observasi dan mendengar aktifitas dan pembicaraan matematika siswa adalah sumber yang kuat dan petunjuk untuk mengajar. dimana guru dan siswa terikat dalam pembicaraan yang memiliki makna matematika. maka akan menjadi pengetahuan yang bermakna. Dalam kelas kontruktivis seorang guru tidak mengajarkan kepada anak bagaimana menyelesaikan persoalan. Dari prinsip di atas terlihat bahwa ide pokok dari teori konstruktivisme adalah siswa aktif membangun pengetahuannya sendiri. Dalam hal ini guru berfungsi sebagai fasilitator. Belajar menurut paham konstruktivisme adalah mengkontruksi pengetahuan yang dilakukan baik secara individu maupun secara sosial. . sedangkan pengetahuan yang hanya diperoleh melalui proses pemberitahuan tidak akan menjadi pengetahuan yang bermakna. pengalaman dan lingkungan mereka. Disebutkan pula bahwa dalam kontruksivisme proses pembelajaran senantiasa ³problem centered approach´. maka pengetahuan matematika dikontruksi secara aktif. dengan menginkuiri suatu permasalahan dan kemudian memecahkan permasalahan. dimana siswa diberi kesempatan untuk berinteraksi secara sosial dan berkomunikasi dengan sesamanya untuk mencapai tujuan pembelajaran dan guru bertindak sebagai fasilitator dan motivator. Piaget berpendapat bahwa pada dasarnya setiap individu sejak kecil sudah memiliki kemampuan untuk mengkonstruksi pengetahuannya sendiri. Bruner. para ahli kontruksivisme mengatakan bahwa ketika siswa mencoba menyelesaikan tugas-tugas di kelas. namun mempresesentasikan masalah dan mendorong siswa untuk menemukan cara mereka sendiri dalam menyelesaikan permasalahan. Hal yang sama juga diungkapkan Wood dan Coob. Vygotsky dan lain-lain.

4. . manusia harus mengembangkan skema pikiran lebih umum atau rinci. Jika seseorang tidak aktif membangun pengetahuannya. Pengetahuan juga bukan sesuatu yang sudah ada. Asimilasi adalah proses kognitif perubahan skema yang tetap mempertahankan konsep awalnya.Pengantar Lebih dua dasa warsa terakhir ini. Paul Suparno dalam ³Filsafat Konstruktivisme dalam Pendidikan´ mencoba mengurai implikasi filsafat konstruktivisme dalam praktik pendidikan. meskipun usianya tua tetap tidak akan berkembang pengetahuannya. dan terus berkembang. kategori. Manusia berhadapan dengan tantangan. Skema/skemata adalah struktur kognitif yang dengannya seseorang beradaptasi dan terus mengalami perkembangan mental dalam interaksinya dengan lingkungan. Sama halnya dengan setiap organisme harus beradaptasi secara fisik dengan lingkungan untuk dapat bertahan hidup. Dalam proses itu keaktivan seseorang sangat menentukan dalam mengembangkan pengetahuannya. bukan juga gambaran dari dunia kenyataan yang ada. 3. Pengetahuan tidak bisa ditransfer begitu saja. menjawab dan menginterpretasikan pengalaman-pengalaman tersebut. melainkan suatu proses yang berkembang terus-menerus. atau perlu perubahan. bahk Kurikulum Berbasis an Kompetensi (KBK) pun tak luput dari pengaruh teori ini. pengetahuan sebagai konstruksi aktif yang dibuat siswa. Proses tersebut meliputi: 1. Pengetahuan merupakan hasil dari konstruksi kognitif melalui kegiatan seseorang dengan membuat struktur. gejala baru. dan skema yang diperlukan untuk membentuk pengetahuan tersebut. Untuk itu. Berikut ini adalah intisari buku tersebut. Suatu pengetahuan dianggap benar bila pengetahuan itu berguna untuk menghadapi dan memecahkan persoalan atau fenomena yang sesuai. Jika behaviorisme menekankan ketrampilan atau tingkah laku sebagai tujuan pendidikan. melainkan harus diinterpretasikan sendiri oleh masing-masing orang. 2. Skema juga berfungsi sebagai kategori-kategori utnuk mengidentifikasikan rangsangan yang datang. sedangkan teori pengetahuannya dikenal dengan teori adaptasi kognitif. pengalaman. sedangkan maturasionisme menekankan pengetahuan yang berkembang sesuai dengan usia. dunia pendidikan mendapat sumbangan pemikiran dari teori konstruktivisme sehingga banyak negara mengadakan perubahan-perubahan secara mendasar terhadap sistem dan praktik pendidikan mereka. demikian juga struktur pemikiran manusia. dan persoalan yang harus ditanggapinya secaca kognitif (mental). Pengetahuan bukan tiruan dari realitas. sekiranya bisa bermanfaat bagi para pendidik dan orangtua. Jean Piaget adalah psikolog pertama yang menggunakan filsafat konstruktivisme. Akomodasi adalah proses pembentukan skema atau karena konsep awal sudah tidak cocok lagi. Proses perkembangan intelek seseorang berjalan dari disequilibrium menuju equilibrium melalui asimilasi dan akomodasi. konsep. Apakah itu? Konstruktivisme adalah salah satu filsafat pengetahuan yang menekankan bahwa pengetahuan adalah bentukan (konstruksi) kita sendiri (Von Glaserfeld). Dengan cara itu. hanya menambah atau merinci. sementara konstruktivisme menekankan perkembangan konsep dan pengertian yang mendalam. Equilibrasi adalah keseimbangan antara asimilasi dan akomodasi sehingga seseorang dapat menyatukan pengalaman luar dengan struktur dalamya (skemata). pengetahuan seseorang terbentuk dan selalu berkembang.

Tugas pendidikan adalah bagaimana dua tahap tersebut bisa terus berlangsung dengan terus memberi tantangan sehingga ada ketidakpuasan terhadap konsep yang telah ada. Praktik pendidikan yang bersifat hafalan seperti yang selama ini berlangsung jelas sudah tidak memadai lagi. yaitu aktivitas mental yang digunakan siswa sebagai bahan mentah bagi proses perenungan dan pengabstrakan. inilah yang disebut tahap akomodasi. Jelaslah bahwa teori belajar bermakna Ausubel bersifat konstruktif karena menekankan proses asimilasi dan asosiasi fenomena. Mengapa? Karena pengetahuan bukanlah seperangkat fakta. pengalaman. bahkan bertentangan dengan hakikat pengetahuan dan proses belajar itu sendiri. dan fakta baru ke dalam konsep atau pengertian yang sudah dimiliki siswa sebelumnya. Dengan cara demikian. Karenanya. pengetahuan pembelajar selalu diperbarui dan dikonstruksikan terus-menerus. maka ia harus membuat perubahan konsep secara radikal. sikap. bertitik tolak pada siswa yang diharapkan mampu meningkatkan kemampuan dirinya dalam memperkaya ilmu pengetahuan. Namun demikian.Bermakna dan Menghafal Menurut Ausubel. banyak disebabkan oleh perkembangan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi. sebenarnya telah mempunyai satu aset ide dan pengalaman yang membentuk struktur kognitif. guru tidak lagi hanya mentransfer ilmu pengetahuan. Belajar menghafal hanya perlu bila pembelajar mendapatkan fenomena atau informasi yang sama sekali baru dan belum ada hubungannya dalam struktur pengertian lamanya. suatu ketika siswa dihadapkan fenomena baru yang tak bisa dipecahkan dengan pengetahuan lamanya. Setiap siswa. Posner dkk lantas mengembangkan teori belajar yang dikenal dengan teori perubahan konsep. Perubahan Dalam Pembelajaran Lahirnya kurikulum berbasis kompetensi (KBK) telah mengubah paradigma baru dalam proses pembelajaran. Untuk membina siswa dalam menemukan pengetahuan baru. tetapi siswa sendiri yang harus membangun pengetahuannya (knowledge is constructed by human). yakni siswa menggunakan konsep yang sudah dimilikinya untuk menghadapi fenomena baru. guru sebaiknya memerhatikan struktur kognitif yang ada pada mereka. dengan terus manusia berani mengubah ide-idenya. Pembelajaran sebagai hasil usaha siswa dan pola pembinaan ilmu pengetahuan di sekolah merupakan suatu skema. Tahap pertama dalam perubahan konsep disebut asimilasi. konsep pembelajaran saat ini pun berubah dari guru mengajar menjadi siswa belajar. Tuntutan terhadap pelayanan pembelajaran saat ini. Berlandaskan teori Piaget dan dipengaruhi filsafat sainsnya Toulmin yang mengatakan bahwa bagian terpenting dari pemahaman manusia adalah perkembangan konsep secara evolutif. Pada proses belajar mengajar. Belajar bermakna berarti informasi baru diasimilasikan dalam struktur pengertian lamanya. konsep atau kaidah yang siap . ada dua macam proses belajar yakni belajar bermakna dan belajar menghafal. Guru di sekolah bukan lagi satu-satunya sumber pengetahuan. dan keterampilan berdasarkan kompetensi yang ada pada kurikulum. tetapi merupakan bagian integral dalam sistem pembelajaran. Asumsi pergeseran itu.

dengar. tugas dan wewenang guru adalah mengetahui karakteristik siswa. Apabila dikehendaki. Dalam ide-ide konstruktif. tetapi belajar pula dari orang lain. Hal ini sejalan dengan esensi konstruktivisme bahwa siswa harus menemukan dan mentransformasikan suatu informasi kompleks ke situasi lain. tetapi bagaimana agar siswa dapat belajar. dan catat. dengan pikiran siswa melalui pembentukan jembatan yang dilengkapi tahapan bagi siswa untuk mengkonstruksi ide baru. melakukan refleksi atau evaluasi diri. tetapkan topik yang akan dibahas. Tugas kita (guru). respons terhadap interaksi. Berikan pula kesempatan untuk memaparkan hasil belajar kepada siswa lain melalui presentasi. mengevaluasi proses dan hasil belajar siswa. saat ini bukan bagaimana guru mengajar. Keempat. atau interaktif pertanyaan siswa. Pengetahuan yang mereka peroleh sebagai hasil interpretasi pengalaman yang disusun dalam pikirannya. Siswa perlu dibiasakan untuk memunculkan ide-ide baru. Guru akan banyak dituntut untuk mengubah pembelajaran yang menekankan pada kemampuan siswa berdasarkan pengalaman nyata. menurut konstruktivisme. Kedua. Pengertian belajar. memotivasi belajar. Siswa harus mengonstruksi pengetahuannya sendiri dan memberi makna melalui pengalaman nyata. Masalahnya sekarang. biarkan siswa mengonstruksi sendiri pengetahuannya. aturlah diskusi kelompok dan berikan kebebasan kepada setiap siswa untuk membahas permasalahan utama. Temukan ide. Ketiga. menyajikan bahan ajar. Setelah itu. tarik pikiran siswa dengan mendorong kreativitas melalui aktivitas yang mampu mendorong siswa untuk belajar mengambil risiko. Kemudian. taksirlah kemajuan belajar siswa melalui perubahan ide atau peningkatan hasil tes. tetap semangat!!! Unsur Penting dalam Lingkungan Pembelajaran Konstruktivis Posted on 18 Agustus 2008 by Tentang Pendidikan| 5 Komentar . pembelajaran saat ini setidaknya menggeser paradigma dari pembelajaran yang berdasar kacamata guru menjadi pembelajaran yang berdasarkan kacamata siswa. Caranya? Biarkan mereka belajar sebagai proses mengonstruksi pengetahuan dan guru sebagai fasilitator dalam menerapkan kondisi yang kolaboratif. Siswa belajar dalam kelompok dan siswa tidak hanya belajar dari dirinya sendiri. memilih metode belajar. Selamat mencoba. adalah perubahan proses mengonstruksi pengetahuan berdasarkan pengalaman nyata yang dialami siswa sebagai hasil interaksi dengan lingkungan sekitarnya. bagaimana penerapan konstruktivisme dalam pembelajaran di kelas.diterima dan diingat siswa. informasi itu menjadi milik mereka sendiri. pelaksanaan pembelajaran di kelas dapat dilakukan sebagai berikut: Pertama. memecahkan masalah. Model itu diharapkan mampu meminimalkan image bahwa siswa belajar hanya duduk. survei. opini dan perhatian siswa melalui wawancara. Melihat konsep dasar tersebut. Di sinilah peran guru sebagai fasilitator dan mediator dapat berfungsi. dan menemukan sesuatu yang berguna bagi dirinya. dan mengatur kelas. Artinya. Secara psikologis. Oleh karena itu.

Widodo. Oleh karena itu minat. 2. 3. Hal ini dapat terlihat dari usaha-usaha untuk mengaitkan pelajaran dengan kehidupan sehari-hari. Siswa didorong untuk mengkonstruksi pengetahuan baru dengan memanfaatkan pengetahuan awal yang telah dimilikinya. sikap. Adanya lingkungan sosial yang kondusif. yaitu: 1. Siswa diberi kesempatan untuk bisa berinteraksi secara produktif dengan sesama siswa maupun dengan guru. Pengalaman belajar yang autentik dan bermakna Segala kegiatan yang dilakukan di dalam pembelajaran dirancang sedemikian rupa sehingga bermakna bagi siswa. dan kebutuhan belajar siswa benar-benar dijadikan bahan pertimbangan dalam merancang dan melakukan pembelajaran. dan juga penerapan konsep. Oleh karena itu pembelajaran harus memperhatikan pengetahuan awal siswa dan memanfaatkan teknik-teknik untuk mendorong agar terjadi perubahan konsepsi pada diri siswa. Selain itu juga ada kesempatan bagi siswa untuk bekerja dalam berbagai konteks sosial.Berdasarkan hasil analisisnya terhadap sejumlah kriteria dan pendapat sejumlah ahli. Memperhatikan dan memanfaatkan pengetahuan awal siswa Kegiatan pembelajaran ditujukan untuk membantu siswa dalam mengkonstruksi pengetahuan. (2004) menyimpulkan tentang lima unsur penting dalam lingkungan pembelajaran yang konstruktivis. penggunaan sumber daya dari kehidupan seharihari. 4. Adanya dorongan agar siswa bisa mandiri .

Atkinson dkk. ia leh dikenal sebagai seorang psikolog yang pada akhirnya lebih tertarik pada filsafat konstruktivisme dalam proses belajar. analisis asumsi dan bias dari argumen.. Saat menemukan benda atau peristiwa baru. konsep. Oleh karena itu siswa dilatih dan diberi kesempatan untuk melakukan refleksi dan mengatur kegiatan belajarnya. yaitu keterampilan individu dalam menggunakan proses berfikirnya yaitu menganalisa argumen dan memberikan interpretasi berdasarkan persepsi yang benar dan rasional. (Preisseisen. analisis informasi. menurut Piaget untuk memahami teori itu kita harus paham tentang asumsiasumsi biologi maupun implikasi asumsi-asumsi tersebut dalam mengartikan pengetahuan (http://pusdiklatdepdiknas. teori). . analisis informasi. maka anak seperti layaknya seorang ilmuwan yang baik memodifikasi skema dan dengan demikian memperluas teori tentang dunia. Atkinson («««. upaya anak untuk mengasimilasikan peristiwa baru ke dalam skema yang telah ada sebelumnya. Prinsip konstruktivisme adalah inti dari filsafat pendidikan William James dan John Dewey (John W. Piaget menyebutnya skemata (atau tunggal. Santrock. Adanya usaha untuk mengenalkan siswa tentang dunia ilmiah.net). 1985: http://pusdiklatdepdiknas. Keterampilan pengambilan keputusan (decisión making). 2008 : 8).net). Konstruktivisme menekankan agar individu secara aktif menyusun dan membangun pengetahuan dan pemahaman. hasil dari eksperimen miniatur itu menyebabkan anak menyusun ³teori´. 3. namun juga mencakup proses dan sikap. disebut teori meta cognition. perbandingan kebaikan dan kekurangan dari setiap alternatif. Keterampilan pemecahan masalah (problem solving). yaitu keterampilan individu dalam menggunakan proses berfikirnya untuk memecahkan masalah melalui pengumpulan fakta fakta. 5. Keterampilan berpikir kritis (critical thinking). Konstruktivisme dikembang luas o Jean Piaget. Jika skema lama tidak adekuat untuk mengakomodasi peristiwa baru. Oleh karena itu pembelajaran sains juga harus bisa melatih dan memperkenalkan siswa tentang ³kehidupan´ ilmuwan. dan interpretasi logis. Piaget menyebut hal ini proses asimilasi. skema) tentang bagaimana dunia fisik dan sosial beroperasi. Selanjutnya masih menurut Rita L. dan pengambilan keputusan yang terbaik berdasarkan alasan-alasan yang rasional. Paradigma konstruktivisme oleh Jean Piaget melandasi timbulnya strategi kognitif. Menurut Piaget seperti yang dikutip Rita L. menyusun berbagai alternatif pemecahan. Meta cognition merupakan keterampilan yang dimiliki oleh siswa-siswa dalam mengatur dan mengontrol proses berpikirnya.Siswa didorong untuk bisa bertanggung jawab terhadap proses belajarnya. anak berupaya untuk memahaminya berdasarkan skema yang telah dimilikinya. Menurut Preisseisen meta cognition meliputi empat jenis keterampilan. Sains bukan hanya produk (fakta. yaitu keterampilan individu dalam menggunakan proses berfikirnya untuk memilih suatu keputusan yan terbaik dari beberapa g pilihan yang ada melalui pengumpulan informasi. dan memilih pemecahan masalah yang paling efektif. 2. prinsip. Piaget menyebut proses revisi skema ini sebagai akomodasi. ³Apa yang terjadi jika saya mendorong piring ini keluar dari meja?´). («««: 145) bahwa anak harus dipandang seperti seorang ilmuwan yang sedang mencari jawaban yang melakukan eksperimen terhadap dunia untuk melihat apa yang terjadi (³Seperti apa rasanya menggigit kuping beruang Teddy ini?´. yaitu: 1. Titik sentral teori Jean Piaget adalah perkembangan pikiran secara alami dari lahir sampai dewasa.: 145).

Berdasarkan teori ini bahwa proses belajar diawali dari pengalaman nyata yang dialami oleh seseorang. Keterampilan berpikir kreatif (creative thinking). Santrock (2008 : 8) bahwa dalam pandangan konstruktivis. Proses pembelajaran strategi kognitif merupakan proses reflection in action.4. Santrock (2008 :8) bahwa konstruktivisme juga menekankan pada kolaborasi anak-anak saling bekerja sama untuk mengetahui dan memahami pelajaran. 2001 seperti yang dikutip John W. yaitu keterampilan individu dalam menggunakan proses berfikirnya untuk menghasilkan gagasan yang baru.net). guru bukan sekedar memberi informasi ke pikiran anak. akan tetapi guru harus mendorong anak untuk mengeksplorasi dunia mereka. . 2001 seperti yang dikutip John W. dan intuisi individu. Seseorang belajar melalui aktifitas atau pekerjaan sendiri dan kemudian mengkaji ulang dari pekerjaan yang telah dilakukannya. merenung dan berpikir secara kritis. menemukan pengetahuan. Menurut Brooks & Brooks. Keterampilan-keterampilan di atas saling terkait antara satu dengan yang lainnya. Proses reflection in action merupakan gambaran tentang proses belajar. karena keterampilan-keterampilan tersebut terintegrasi. dan sukar untuk membedakannya. Dewasa ini menurut Gauvain. Paradigma konstruktivisme dan teori meta cognition melahirkan prinsip reflection in action (http://pusdiklatdepdiknas. konstruktif berdasarkan konsep-konsep dan prinsip-prinsip yang rasional maupun persepsi. Pengalaman tersebut direfleksi secara individual.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->