A.

Hakikat Anak Menurut Pandangan Teori Belajar Konstruktivisme Salah satu teori atau pandangan yang sangat terkenal berkaitan dengan teori belajar konstruktivisme adalah teori perkembangan mental Piaget. Teori ini biasa juga disebut teori perkembangan intelektual atau teori perkembangan kognitif. Teori belajar tersebut berkenaan dengan kesiapan anak untuk belajar, yang dikemas dalam tahap perkembangan intelektual dari lahir hingga dewasa. Setiap tahap perkembangan intelektual yang dimaksud dilengkapi de ngan ciri-ciri tertentu dalam mengkonstruksi ilmu pengetahuan. Misalnya, pada tahap sensori motor anak berpikir melalui gerakan atau perbuatan (Ruseffendi, 1988: 132). Selanjutnya, Piaget yang dikenal sebagai konstruktivis pertama (Dahar, 1989: 159) menega skan bahwa pengetahuan tersebut dibangun dalam pikiran anak melalui asimilasi dan akomodasi. Asimilasi adalah penyerapan informasi baru dalam pikiran. Sedangkan, akomodasi adalah menyusun kembali struktur pikiran karena adanya informasi baru, sehingga info rmasi tersebut mempunyai tempat (Ruseffendi 1988: 133). Pengertian tentang akomodasi yang lain adalah proses mental yang meliputi pembentukan skema baru yang cocok dengan ransangan baru atau memodifikasi skema yang sudah ada sehingga cocok dengan rangsanga itu (Suparno, 1996: 7). n Lebih jauh Piaget mengemukakan bahwa pengetahuan tidak diperoleh secara pasif oleh seseorang, melainkan melalui tindakan. Bahkan, perkembangan kognitif anak bergantung pada seberapa jauh mereka aktif memanipulasi dan berinteraksi dengan lingkungannya. Sedangkan, perkembangan kognitif itu sendiri merupakan proses berkesinambungan tentang keadaan ketidak -seimbangan dan keadaan keseimbangan (Poedjiadi, 1999: 61). Dari pandangan Piaget tentang tahap perkembangan kognitif anak dapat dip ahami bahwa pada tahap tertentu cara maupun kemampuan anak mengkonstruksi ilmu berbeda -beda berdasarkan

kematangan intelektual anak. Berkaitan dengan anak dan lingkungan belajarnya menurut pandangan konstruktivisme, Driver dan Bell (dalam Susan, Marilyn dan Tony, 1995: 222) mengajukan karakteristik sebagai berikut: (1) siswa tidak dipandang sebagai sesuatu yang pasif melainkan memiliki tujuan, (2) belajar

mempertimbangkan seoptimal mungkin proses keterlibatan siswa, (3) pengetahuan bukan sesuatu yang datang dari luar melainkan dikonstruksi secara personal, (4) pembelajaran bukanlah transmisi pengetahuan, melainkan melibatkan pengaturan situasi kelas, (5) kurikulum bukanlah sekedar dipelajari, melainkan seperangkat pembelajaran, materi, dan sumber. Pandangan tentang anak dari kalangan konstruktivistik yang lebih mutakhir yang dikembangkan dari teori belajar kognitif Piaget menyatakan bahwa ilmu pengetahuan dibangun dalam pikiran seorang anak dengan kegiatan asimilasi dan akomodasi sesuai dengan skemata yang dimilikinya. Belajar merupakan proses aktif untuk mengembangkan skemata sehingga pengetahuan terkait bagaikan jaring laba-laba dan bukan sekedar tersusun secara hirarkis (Hudoyo, 1998: 5).

latihan memcahkan masalah seringkali dilakukan melalui belajar kelompok dengan menganalisis masalah dalam kehidupan sehari-hari dan (3) peserta didik diharapkan selalu aktif dan dapat menemukan cara belajar yang sesuai bagi dirinya. Maksudnya. Dengan kata lain. sehingga melahirkan perubahan tingkah laku. setiap manusia akan mengalami urutan-urutan tersebut dan dengan urutan yang sama. Hakikat Pembelajaran Menurut Teori Belajar Konstruktivisme Sebagaimana telah dikemukakan bahwa menurut teori belajar konstruktivisme. pengertahuan tidak dapat dipindahkan begitu saja dari pikiran guru ke pikiran siswa. pengekalan. 1999: 63) adalah sebagai berikut: (1) tujuan pendidikan menurut teori belajar konstruktivisme adalah menghasilkan individu atau anak yang memiliki kemampuan berfikir untuk menyelesaikan setiap persoalan yang dihadapi. Adapun implikasi dari teori belajar konstruktivisme dalam pendidikan anak (Poedjiadi. pembuatan hipotesis dan penarikan kesimpulan) yang menunjukkan adanya tingkah laku intelektual dan (3) gerak melalui tahap -tahap tersebut dilengkapi oleh keseimbangan (equilibration). Berbeda dengan kontruktivisme kognitif ala Piaget. Penemuan atau discovery dalam belajar lebih mudah diperoleh dalam konteks sosial budaya seseorang (Poedjiadi. Berikut adalah tiga dalil pokok Piaget dalam kaitannya dengan tahap perkembangan intele ktual atau tahap perkembangan kognitif atau biasa juga disebut tahap perkembagan mental. Ruseffendi (1988: 133) mengemukakan. dan teman yang membuat situasi yang kondusif untuk terjadinya konstruksi pengetahuan pada diri peserta didik. konstruktivisme sosial yang dikembangkan oleh Vigotsky adalah bahwa belajar bagi anak dilakukan dalam interaksi dengan lingkungan sosial maupun fisik. Artinya. dapat dipahami bahwa belajar adalah suatu aktivitas yang berlangsung secara interaktif antara faktor intern pada diri pebelajar dengan faktor ekstern atau lingkungan. Dalam penjelasan lain Tanjung (1998: 7) mengatakan bahwa inti konstruktivis Vigotsky adalah interaksi antara aspek internal dan ekternal yang penekanannya pada lingkungan sosial dalam belajar. Guru hanyalah berfungsi sebagai mediator. fasilitor.Dari pengertian di atas. (2) tahap-tahap tersebut didefinisikan sebagai suatu cluster dari operasi mental (pengurutan. B. proses pengembangan yang menguraikan tentang interaksi antara pengalaman (asimilasi) dan struktur kognitif yang timbul (akomodasi). pengelompokan. (1) perkembangan intelektual terjadi melalui tahap-tahap beruntun yang selalu terjadi dengan urutan yang sama. 1999: 62). bahwa siswa harus aktif secara mental membangun struktur pengetahuannya berdasarkan kematangan kognitif yang dimilikinya. siswa tidak diharapkan sebagai botol-botol kecil yang siap diisi dengan berbagai ilmu pengetahuan sesuai dengan kehendak guru. (2) kurikulum dirancang sedemikian rupa sehingga terjadi situasi yang memungkinkan pengetahuan dan keterampilan dapat dikonstruksi oleh peserta didik. . Selain itu.

pengetahuan tidak dapat diperoleh secara pasif. fungsi kognisi bersifat adaptif dan membantu pengorganisasian melalui pengalaman nyata yang dimiliki anak. Kedua pengertian di atas menekankan bagaimana pentingnya keterlibatan anak secara aktif dalam proses pengaitan sejumlah gagasan dan pengkonstruksian ilmu pengetahuan melalui lingkungannya. (3) memberi kesempatan kepada siswa untuk mencoba gagasan baru. sebagai berikut: (1) memberi kesempatan kepada siswa untuk mengemukakan gagasannya dengan bahasa sendiri. dapat disimpulkan bahwa pembelaj ran yang mengacu kepada a teori belajar konstruktivisme lebih menfokuskan pada kesuksesan siswa dalam mengorganisasikan pengalaman mereka. Oleh karena itu. untuk mempelajari suatu materi yang baru. Dalam upaya mengimplementasikan teori belajar konstruktivisme. (2) pembelajaran menjadi lebih bermakna karena siswa mengerti. Dari beberapa pandangan di atas. Pertama adalah peran aktif siswa dalam me ngkonstruksi pengetahuan secara bermakna. (5) mendorong siswa untuk memikirkan perubahan gagasan mereka. Wheatley (1991: 12) mendukung pendapat di at s dengan mengajukan dua prinsip utama dalam a pembelajaran dengan teori belajar konstrukltivisme. Dengan kata lain. Ketiga adalah mengaitkan antara gagasan dengan informasi baru yang diterima. Tasker (1992: 30) mengemukakan tiga penekanan dalam teori belajar konstruktivisme sebagai berikut. siswa lebih diutamakan untuk mengkonstruksi sendiri pengetahuan mereka melalui asimilasi dan akomodasi.Sehubungan dengan hal di atas. Bahkan secara spesifik Hudoyo (1990: 4) mengatakan bahwa seseorang akan lebih mudah mempelajari sesuatu bila belajar itu didasari kepada apa yang telah diketahui orang lain. Pertama. (3) strategi siswa lebih bernilai. dan (4) siswa mempunyai kesempatan untuk berdiskusi dan saling bertukar pengalaman dan ilmu pengetahuan dengan temannya. pengalaman belajar yang lal dari seseorang akan u mempengaruhi terjadinya proses belajar tersebut. tetapi secara aktif oleh struktur kognitif siswa. dan (6) menciptakan lingkungan belajar yang kondusif. Kedua. Bukan kepatuhan siswa dalam refleksi atas apa yang telah diperintahkan dan dilakukan oleh guru. Hanbury (1996: 3) mengemukakan sejumlah aspek dalam kaitannya dengan pembelajaran. Teori Belajar Konstruktivisme . yaitu (1) siswa mengkonstruksi pengetahuan dengan cara mengintegrasikan ide yang mereka miliki. (4) memberi pengalaman yang berhubungan dengan gagasan yang telah dimiliki siswa. Selain penekanan dan tahap-tahap tertentu yang perlu diperhatikan dalam teori belajar konstruktivisme. (2) memberi kesempatan kepada siswa untuk berfikir tentang pengalamannya sehingga menjadi lebih kreatif dan imajinatif. Tytler (1996: 20) mengajukan beberapa saran yang berkaitan dengan rancangan pembelajaran. Kedua adalah pentingya membuat kaitan antara gagasan dalam pengkonstruksian secara bermakna.

Hal yang sama juga diungkapkan Wood dan Coob. pengetahuan tersebut hanya untuk diingat sementara setelah itu dilupakan. Setiap tahap dari pembelajaran melibatkan suatu proses penelitian terhadap makna dan penyampaian keterampilan hafalan dengan cara yang tidak ada jaminan bahwa siswa akan menggunakan keterampilan inteligennya dalam setting matematika. dan mereka setuju bahwa belajar matematika melibatkan manipulasi aktif dari pemaknaan bukan hanya bilangan dan rumus-rumus saja. Bruner. Pengetahuan yang dikonstruksi oleh anak sebagai subjek. melainkan suatu kegiatan yang memungkinkan siswa membangun sendiri pengetahuan. maka pengetahuan matematika dikontruksi secara aktif. Disebutkan pula bahwa dalam kontruksivisme proses pembelajaran senantiasa ³problem centered approach´. kerja dalam kelompok kecil dan diskusi kelas. pengalaman dan lingkungan mereka. dimana guru dan siswa terikat dalam pembicaraan yang memiliki makna matematika. Beberapa prinsip pembelajaran dengan kontruksivisme diantaranya dikemukakan oleh Steffe dan Kieren yaitu observasi dan mendengar aktifitas dan pembicaraan matematika siswa adalah sumber yang kuat dan petunjuk untuk mengajar. Piaget berpendapat bahwa pada dasarnya setiap individu sejak kecil sudah memiliki kemampuan untuk mengkonstruksi pengetahuannya sendiri. fenomena. Sedangkan mengajar bukanlah memindahkan pengetahuan guru kepada siswa. sedangkan pengetahuan yang hanya diperoleh melalui proses pemberitahuan tidak akan menjadi pengetahuan yang bermakna. para ahli kontruksivisme mengatakan bahwa ketika siswa mencoba menyelesaikan tugas-tugas di kelas. Lebih jauh dikatakan bahwa dalam kontruksivisme aktivitas matematika mungkin diwujudkan melalui tantangan masalah. Dalam hal ini guru berfungsi sebagai fasilitator. maka akan menjadi pengetahuan yang bermakna. Hal ini berarti siswa mengkonstruksi pengetahuannya melalui interaksi dengan objek. dengan menginkuiri suatu permasalahan dan kemudian memecahkan permasalahan. namun mempresesentasikan masalah dan mendorong siswa untuk menemukan cara mereka sendiri dalam menyelesaikan permasalahan. Vygotsky dan lain-lain.Teori konstruktivisme didasari oleh ide-ide Piaget. Dari prinsip di atas terlihat bahwa ide pokok dari teori konstruktivisme adalah siswa aktif membangun pengetahuannya sendiri. Dalam kelas kontruktivis seorang guru tidak mengajarkan kepada anak bagaimana menyelesaikan persoalan. Pembelajaran dengan pendekatan inkuiri merupakan salah satu pendekatan konstruktivisme dapat diterapkan antara lain dalam pembelajaran kooperatif. Belajar menurut paham konstruktivisme adalah mengkontruksi pengetahuan yang dilakukan baik secara individu maupun secara sosial. Mereka menolak paham bahwa matematika dipelajari dalam satu koleksi yang berpola linear. . dimana siswa diberi kesempatan untuk berinteraksi secara sosial dan berkomunikasi dengan sesamanya untuk mencapai tujuan pembelajaran dan guru bertindak sebagai fasilitator dan motivator.

pengalaman. pengetahuan seseorang terbentuk dan selalu berkembang. bahk Kurikulum Berbasis an Kompetensi (KBK) pun tak luput dari pengaruh teori ini. Pengetahuan juga bukan sesuatu yang sudah ada. Jika seseorang tidak aktif membangun pengetahuannya. Proses perkembangan intelek seseorang berjalan dari disequilibrium menuju equilibrium melalui asimilasi dan akomodasi. sedangkan teori pengetahuannya dikenal dengan teori adaptasi kognitif. Untuk itu. dunia pendidikan mendapat sumbangan pemikiran dari teori konstruktivisme sehingga banyak negara mengadakan perubahan-perubahan secara mendasar terhadap sistem dan praktik pendidikan mereka. pengetahuan sebagai konstruksi aktif yang dibuat siswa. Manusia berhadapan dengan tantangan. menjawab dan menginterpretasikan pengalaman-pengalaman tersebut. Apakah itu? Konstruktivisme adalah salah satu filsafat pengetahuan yang menekankan bahwa pengetahuan adalah bentukan (konstruksi) kita sendiri (Von Glaserfeld). meskipun usianya tua tetap tidak akan berkembang pengetahuannya. gejala baru. melainkan suatu proses yang berkembang terus-menerus. Equilibrasi adalah keseimbangan antara asimilasi dan akomodasi sehingga seseorang dapat menyatukan pengalaman luar dengan struktur dalamya (skemata). sekiranya bisa bermanfaat bagi para pendidik dan orangtua. dan skema yang diperlukan untuk membentuk pengetahuan tersebut. Asimilasi adalah proses kognitif perubahan skema yang tetap mempertahankan konsep awalnya. Dalam proses itu keaktivan seseorang sangat menentukan dalam mengembangkan pengetahuannya. hanya menambah atau merinci. Pengetahuan bukan tiruan dari realitas. Pengetahuan tidak bisa ditransfer begitu saja. Jean Piaget adalah psikolog pertama yang menggunakan filsafat konstruktivisme. kategori. Sama halnya dengan setiap organisme harus beradaptasi secara fisik dengan lingkungan untuk dapat bertahan hidup. atau perlu perubahan. Pengetahuan merupakan hasil dari konstruksi kognitif melalui kegiatan seseorang dengan membuat struktur. 2. 3. Proses tersebut meliputi: 1. Paul Suparno dalam ³Filsafat Konstruktivisme dalam Pendidikan´ mencoba mengurai implikasi filsafat konstruktivisme dalam praktik pendidikan. Jika behaviorisme menekankan ketrampilan atau tingkah laku sebagai tujuan pendidikan. Skema juga berfungsi sebagai kategori-kategori utnuk mengidentifikasikan rangsangan yang datang. 4.Pengantar Lebih dua dasa warsa terakhir ini. Skema/skemata adalah struktur kognitif yang dengannya seseorang beradaptasi dan terus mengalami perkembangan mental dalam interaksinya dengan lingkungan. dan persoalan yang harus ditanggapinya secaca kognitif (mental). manusia harus mengembangkan skema pikiran lebih umum atau rinci. sementara konstruktivisme menekankan perkembangan konsep dan pengertian yang mendalam. Berikut ini adalah intisari buku tersebut. . Akomodasi adalah proses pembentukan skema atau karena konsep awal sudah tidak cocok lagi. demikian juga struktur pemikiran manusia. sedangkan maturasionisme menekankan pengetahuan yang berkembang sesuai dengan usia. Suatu pengetahuan dianggap benar bila pengetahuan itu berguna untuk menghadapi dan memecahkan persoalan atau fenomena yang sesuai. bukan juga gambaran dari dunia kenyataan yang ada. konsep. dan terus berkembang. melainkan harus diinterpretasikan sendiri oleh masing-masing orang. Dengan cara itu.

Belajar bermakna berarti informasi baru diasimilasikan dalam struktur pengertian lamanya. Untuk membina siswa dalam menemukan pengetahuan baru. Dengan cara demikian. pengetahuan pembelajar selalu diperbarui dan dikonstruksikan terus-menerus. tetapi siswa sendiri yang harus membangun pengetahuannya (knowledge is constructed by human). tetapi merupakan bagian integral dalam sistem pembelajaran. konsep pembelajaran saat ini pun berubah dari guru mengajar menjadi siswa belajar. Karenanya. Posner dkk lantas mengembangkan teori belajar yang dikenal dengan teori perubahan konsep. dengan terus manusia berani mengubah ide-idenya. ada dua macam proses belajar yakni belajar bermakna dan belajar menghafal. suatu ketika siswa dihadapkan fenomena baru yang tak bisa dipecahkan dengan pengetahuan lamanya. yaitu aktivitas mental yang digunakan siswa sebagai bahan mentah bagi proses perenungan dan pengabstrakan. Tuntutan terhadap pelayanan pembelajaran saat ini. sebenarnya telah mempunyai satu aset ide dan pengalaman yang membentuk struktur kognitif. Berlandaskan teori Piaget dan dipengaruhi filsafat sainsnya Toulmin yang mengatakan bahwa bagian terpenting dari pemahaman manusia adalah perkembangan konsep secara evolutif. Asumsi pergeseran itu. Jelaslah bahwa teori belajar bermakna Ausubel bersifat konstruktif karena menekankan proses asimilasi dan asosiasi fenomena. bahkan bertentangan dengan hakikat pengetahuan dan proses belajar itu sendiri. Tahap pertama dalam perubahan konsep disebut asimilasi. guru tidak lagi hanya mentransfer ilmu pengetahuan. maka ia harus membuat perubahan konsep secara radikal. Pembelajaran sebagai hasil usaha siswa dan pola pembinaan ilmu pengetahuan di sekolah merupakan suatu skema. Praktik pendidikan yang bersifat hafalan seperti yang selama ini berlangsung jelas sudah tidak memadai lagi. Setiap siswa. Mengapa? Karena pengetahuan bukanlah seperangkat fakta. sikap. konsep atau kaidah yang siap . Guru di sekolah bukan lagi satu-satunya sumber pengetahuan.Bermakna dan Menghafal Menurut Ausubel. pengalaman. dan keterampilan berdasarkan kompetensi yang ada pada kurikulum. bertitik tolak pada siswa yang diharapkan mampu meningkatkan kemampuan dirinya dalam memperkaya ilmu pengetahuan. Pada proses belajar mengajar. Namun demikian. Belajar menghafal hanya perlu bila pembelajar mendapatkan fenomena atau informasi yang sama sekali baru dan belum ada hubungannya dalam struktur pengertian lamanya. guru sebaiknya memerhatikan struktur kognitif yang ada pada mereka. banyak disebabkan oleh perkembangan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi. Perubahan Dalam Pembelajaran Lahirnya kurikulum berbasis kompetensi (KBK) telah mengubah paradigma baru dalam proses pembelajaran. yakni siswa menggunakan konsep yang sudah dimilikinya untuk menghadapi fenomena baru. Tugas pendidikan adalah bagaimana dua tahap tersebut bisa terus berlangsung dengan terus memberi tantangan sehingga ada ketidakpuasan terhadap konsep yang telah ada. inilah yang disebut tahap akomodasi. dan fakta baru ke dalam konsep atau pengertian yang sudah dimiliki siswa sebelumnya.

Artinya. pelaksanaan pembelajaran di kelas dapat dilakukan sebagai berikut: Pertama. mengevaluasi proses dan hasil belajar siswa. Masalahnya sekarang. informasi itu menjadi milik mereka sendiri. pembelajaran saat ini setidaknya menggeser paradigma dari pembelajaran yang berdasar kacamata guru menjadi pembelajaran yang berdasarkan kacamata siswa. taksirlah kemajuan belajar siswa melalui perubahan ide atau peningkatan hasil tes. opini dan perhatian siswa melalui wawancara. Siswa perlu dibiasakan untuk memunculkan ide-ide baru. tarik pikiran siswa dengan mendorong kreativitas melalui aktivitas yang mampu mendorong siswa untuk belajar mengambil risiko. dan menemukan sesuatu yang berguna bagi dirinya. Melihat konsep dasar tersebut. tetap semangat!!! Unsur Penting dalam Lingkungan Pembelajaran Konstruktivis Posted on 18 Agustus 2008 by Tentang Pendidikan| 5 Komentar . Hal ini sejalan dengan esensi konstruktivisme bahwa siswa harus menemukan dan mentransformasikan suatu informasi kompleks ke situasi lain. Selamat mencoba. Pengetahuan yang mereka peroleh sebagai hasil interpretasi pengalaman yang disusun dalam pikirannya. menurut konstruktivisme. Secara psikologis. Dalam ide-ide konstruktif. Setelah itu. biarkan siswa mengonstruksi sendiri pengetahuannya. dan catat. Kedua. tugas dan wewenang guru adalah mengetahui karakteristik siswa. saat ini bukan bagaimana guru mengajar. aturlah diskusi kelompok dan berikan kebebasan kepada setiap siswa untuk membahas permasalahan utama. Pengertian belajar. Model itu diharapkan mampu meminimalkan image bahwa siswa belajar hanya duduk.diterima dan diingat siswa. memilih metode belajar. memotivasi belajar. Caranya? Biarkan mereka belajar sebagai proses mengonstruksi pengetahuan dan guru sebagai fasilitator dalam menerapkan kondisi yang kolaboratif. Di sinilah peran guru sebagai fasilitator dan mediator dapat berfungsi. survei. memecahkan masalah. tetapi bagaimana agar siswa dapat belajar. dengar. Berikan pula kesempatan untuk memaparkan hasil belajar kepada siswa lain melalui presentasi. Tugas kita (guru). adalah perubahan proses mengonstruksi pengetahuan berdasarkan pengalaman nyata yang dialami siswa sebagai hasil interaksi dengan lingkungan sekitarnya. Kemudian. Siswa harus mengonstruksi pengetahuannya sendiri dan memberi makna melalui pengalaman nyata. melakukan refleksi atau evaluasi diri. Oleh karena itu. menyajikan bahan ajar. respons terhadap interaksi. dengan pikiran siswa melalui pembentukan jembatan yang dilengkapi tahapan bagi siswa untuk mengkonstruksi ide baru. atau interaktif pertanyaan siswa. tetapkan topik yang akan dibahas. Guru akan banyak dituntut untuk mengubah pembelajaran yang menekankan pada kemampuan siswa berdasarkan pengalaman nyata. Apabila dikehendaki. dan mengatur kelas. Ketiga. Temukan ide. Siswa belajar dalam kelompok dan siswa tidak hanya belajar dari dirinya sendiri. bagaimana penerapan konstruktivisme dalam pembelajaran di kelas. Keempat. tetapi belajar pula dari orang lain.

4. 2. Oleh karena itu pembelajaran harus memperhatikan pengetahuan awal siswa dan memanfaatkan teknik-teknik untuk mendorong agar terjadi perubahan konsepsi pada diri siswa. sikap. (2004) menyimpulkan tentang lima unsur penting dalam lingkungan pembelajaran yang konstruktivis. Selain itu juga ada kesempatan bagi siswa untuk bekerja dalam berbagai konteks sosial. Adanya dorongan agar siswa bisa mandiri . Adanya lingkungan sosial yang kondusif. Siswa diberi kesempatan untuk bisa berinteraksi secara produktif dengan sesama siswa maupun dengan guru. dan kebutuhan belajar siswa benar-benar dijadikan bahan pertimbangan dalam merancang dan melakukan pembelajaran.Berdasarkan hasil analisisnya terhadap sejumlah kriteria dan pendapat sejumlah ahli. Pengalaman belajar yang autentik dan bermakna Segala kegiatan yang dilakukan di dalam pembelajaran dirancang sedemikian rupa sehingga bermakna bagi siswa. Oleh karena itu minat. Memperhatikan dan memanfaatkan pengetahuan awal siswa Kegiatan pembelajaran ditujukan untuk membantu siswa dalam mengkonstruksi pengetahuan. Siswa didorong untuk mengkonstruksi pengetahuan baru dengan memanfaatkan pengetahuan awal yang telah dimilikinya. dan juga penerapan konsep. Widodo. yaitu: 1. Hal ini dapat terlihat dari usaha-usaha untuk mengaitkan pelajaran dengan kehidupan sehari-hari. 3. penggunaan sumber daya dari kehidupan seharihari.

Oleh karena itu siswa dilatih dan diberi kesempatan untuk melakukan refleksi dan mengatur kegiatan belajarnya.Siswa didorong untuk bisa bertanggung jawab terhadap proses belajarnya. yaitu keterampilan individu dalam menggunakan proses berfikirnya yaitu menganalisa argumen dan memberikan interpretasi berdasarkan persepsi yang benar dan rasional. Oleh karena itu pembelajaran sains juga harus bisa melatih dan memperkenalkan siswa tentang ³kehidupan´ ilmuwan. 2. («««: 145) bahwa anak harus dipandang seperti seorang ilmuwan yang sedang mencari jawaban yang melakukan eksperimen terhadap dunia untuk melihat apa yang terjadi (³Seperti apa rasanya menggigit kuping beruang Teddy ini?´. prinsip. menurut Piaget untuk memahami teori itu kita harus paham tentang asumsiasumsi biologi maupun implikasi asumsi-asumsi tersebut dalam mengartikan pengetahuan (http://pusdiklatdepdiknas. analisis asumsi dan bias dari argumen. dan pengambilan keputusan yang terbaik berdasarkan alasan-alasan yang rasional. Titik sentral teori Jean Piaget adalah perkembangan pikiran secara alami dari lahir sampai dewasa. Menurut Preisseisen meta cognition meliputi empat jenis keterampilan. 1985: http://pusdiklatdepdiknas. analisis informasi. Selanjutnya masih menurut Rita L. Keterampilan pengambilan keputusan (decisión making). hasil dari eksperimen miniatur itu menyebabkan anak menyusun ³teori´. yaitu keterampilan individu dalam menggunakan proses berfikirnya untuk memilih suatu keputusan yan terbaik dari beberapa g pilihan yang ada melalui pengumpulan informasi. upaya anak untuk mengasimilasikan peristiwa baru ke dalam skema yang telah ada sebelumnya. 3. . Paradigma konstruktivisme oleh Jean Piaget melandasi timbulnya strategi kognitif. 5. perbandingan kebaikan dan kekurangan dari setiap alternatif. yaitu: 1. maka anak seperti layaknya seorang ilmuwan yang baik memodifikasi skema dan dengan demikian memperluas teori tentang dunia. Santrock. namun juga mencakup proses dan sikap. Piaget menyebutnya skemata (atau tunggal. disebut teori meta cognition. Atkinson («««. Prinsip konstruktivisme adalah inti dari filsafat pendidikan William James dan John Dewey (John W.: 145). Jika skema lama tidak adekuat untuk mengakomodasi peristiwa baru. Keterampilan berpikir kritis (critical thinking). Saat menemukan benda atau peristiwa baru. 2008 : 8). Sains bukan hanya produk (fakta. dan interpretasi logis. Piaget menyebut proses revisi skema ini sebagai akomodasi. teori). analisis informasi. konsep. Konstruktivisme menekankan agar individu secara aktif menyusun dan membangun pengetahuan dan pemahaman. Konstruktivisme dikembang luas o Jean Piaget.net). skema) tentang bagaimana dunia fisik dan sosial beroperasi. Atkinson dkk. yaitu keterampilan individu dalam menggunakan proses berfikirnya untuk memecahkan masalah melalui pengumpulan fakta fakta. ³Apa yang terjadi jika saya mendorong piring ini keluar dari meja?´). Adanya usaha untuk mengenalkan siswa tentang dunia ilmiah. (Preisseisen. menyusun berbagai alternatif pemecahan. Meta cognition merupakan keterampilan yang dimiliki oleh siswa-siswa dalam mengatur dan mengontrol proses berpikirnya. Piaget menyebut hal ini proses asimilasi. Menurut Piaget seperti yang dikutip Rita L.net).. anak berupaya untuk memahaminya berdasarkan skema yang telah dimilikinya. ia leh dikenal sebagai seorang psikolog yang pada akhirnya lebih tertarik pada filsafat konstruktivisme dalam proses belajar. dan memilih pemecahan masalah yang paling efektif. Keterampilan pemecahan masalah (problem solving).

Paradigma konstruktivisme dan teori meta cognition melahirkan prinsip reflection in action (http://pusdiklatdepdiknas. 2001 seperti yang dikutip John W. Santrock (2008 : 8) bahwa dalam pandangan konstruktivis. Proses pembelajaran strategi kognitif merupakan proses reflection in action. Keterampilan-keterampilan di atas saling terkait antara satu dengan yang lainnya. merenung dan berpikir secara kritis. Dewasa ini menurut Gauvain. Berdasarkan teori ini bahwa proses belajar diawali dari pengalaman nyata yang dialami oleh seseorang. Santrock (2008 :8) bahwa konstruktivisme juga menekankan pada kolaborasi anak-anak saling bekerja sama untuk mengetahui dan memahami pelajaran. . 2001 seperti yang dikutip John W. Keterampilan berpikir kreatif (creative thinking). konstruktif berdasarkan konsep-konsep dan prinsip-prinsip yang rasional maupun persepsi. guru bukan sekedar memberi informasi ke pikiran anak. Pengalaman tersebut direfleksi secara individual.4. akan tetapi guru harus mendorong anak untuk mengeksplorasi dunia mereka. karena keterampilan-keterampilan tersebut terintegrasi. menemukan pengetahuan. Proses reflection in action merupakan gambaran tentang proses belajar.net). dan intuisi individu. Menurut Brooks & Brooks. dan sukar untuk membedakannya. yaitu keterampilan individu dalam menggunakan proses berfikirnya untuk menghasilkan gagasan yang baru. Seseorang belajar melalui aktifitas atau pekerjaan sendiri dan kemudian mengkaji ulang dari pekerjaan yang telah dilakukannya.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful