P. 1
Tipe-Tipe Budaya Politik

Tipe-Tipe Budaya Politik

|Views: 451|Likes:
Published by Adhitya Naufal

More info:

Published by: Adhitya Naufal on Aug 20, 2010
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PPT, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

07/28/2011

pdf

text

original

Assalamualaikum Wr. Wb.

Tipe-Tipe Budaya Politik

Adhitya Naufal Firdaus .

Anna Noor Fadhilah .

Azmi Rizki Fathoni .

Dinda Mentika A .

Nisa Nursya¶bani .

Rizki Muhammad S .

Shella Puspawinaya .

Tipe-tipe budaya politik .

Sikap netral atau kritis terhadap ide orang. berusaha mencari konsensus yang wajar yang mana selalu membuka pintu untuk bekerja sama. tetapi dipandang sebagai usaha jahat dan menantang. Budaya Politik Toleransi Budaya politik dimana pemikiran berpusat pada masalah atau ide yang harus dinilai. Budaya Politik Militan Budaya politik dimana perbedaan tidak dipandang sebagai usaha mencari alternatif yang terbaik. Pada kondisi ini budaya politik memiliki kecenderungan sikap militan atau sifat tolerasi . Jiwa kerja sama dapat diukur dari sikap orang terhadap orang lain. dan masalah yang mempribadi selalu sensitif dan membakar emosi. . b. menuntut kerja sama yang luas untuk memper-padukan modal dan keterampilan. bukan disebabkan oleh peraturan yang salah. a. maka yang dicari adalah kambing hitamnya. tetapi bukan curiga terhadap orang.Berdasarkan Sikap Yang Ditunjukkan Pada negara yang memiliki sistem ekonomi dan teknologi yang kompleks. Bila terjadi kriris.

Budaya politik yang bernada absolut bisa tumbuh dari tradisi. kritis terhadap diri sendiri. . dianggap selalu sempurna dan tak dapat diubah lagi. bukan kebaikan. Budaya Politik Yang memiliki Sikap Mental Absolut Budaya politik yang mempunyai sikap mental yang absolut memiliki nilainilai dan kepercayaan yang. Berdasarkan sikap terhadap tradisi dan perubahan. Pernyataan dengan jiwa tolerasi hampir selalu mengundang kerja sama. Budaya Politik Yang memiliki Sikap Mental Akomodatif Struktur mental yang bersifat akomodatif biasanya terbuka dan sedia menerima apa saja yang dianggap berharga. malah hanya berusaha memelihara kemurnian tradisi. jarang bersifat kritis terhadap tradisi. Pola pikir demikian hanya memberikan perhatian pada apa yang selaras dengan mentalnya dan menolak atau menyerang hal-hal yang baru atau yang berlainan (bertentangan). Kesemuanya itu menutup jalan bagi pertumbuhan kerja sama. Budaya Politik terbagi atas : a. Maka. maka hal itu dapat men-ciptakan ketegangan dan menumbuhkan konflik. Usaha yang diperlukan adalah intensifikasi dari kepercayaan. dan bersedia menilai kembali tradisi berdasarkan perkembangan masa kini. Kesetiaan yang absolut terhadap tradisi tidak memungkinkan pertumbuhan unsur baru. Ia dapat melepaskan ikatan tradisi. b. tradisi selalu dipertahankan dengan segala kebaikan dan keburukan.Jika pernyataan umum dari pimpinan masyarakat bernada sangat militan.

Perubahan mendorong usaha perbaikan dan pemecahan yang lebih sempurna. Tiap perkembangan baru dianggap sebagai suatu tantangan yang berbahaya yang harus dikendalikan.Tipe absolut dari budaya politik sering menganggap perubahan sebagai suatu yang membahayakan. . Perubahan dianggap sebagai penyim-pangan. Tipe akomodatif dari budaya politik melihat perubahan hanya sebagai salah satu masalah untuk dipikirkan.

Dari realitas budaya politik yang berkembang di dalam masyarakat. ternyata memiliki beberapa variasi. Perbedaan ini terwujud dalam tipe-tipe yang ada dalam budaya politik yang setiap tipe memiliki karakteristik yang berbeda-beda. maka setiap sistem politik akan memiliki budaya politik yang berbeda. Gabriel Almond mengklasifikasikan budaya politik sebagai berikut : .Berdasarkan Orientasi Politiknya Realitas yang ditemukan dalam budaya politik. Berdasarkan orientasi politik yang dicirikan dan karakter-karakter dalam budaya politik.

yaitu tingkat partisipasi politiknya sangat rendah. c. tidak menutup kemungkinan bahwa terbentuknya budaya politik merupakan gabungan dari ketiga klasifikasi tersebut di atas. yang disebabkan faktor kognitif (misalnya tingkat pendidikan relatif rendah). Tentang klasifikasi budaya politik di dalam masyarakat lebih lanjut adalah sebagai berikut. Dalam kehidupan masyarakat. Budaya politik kaula (subyek political culture).a. yaitu masyarakat bersangkutan sudah relatif maju (baik sosial maupun ekonominya) tetapi masih bersifat pasif. . Budaya politik parokial (parochial political culture). Budaya politik partisipan (participant political culture). yaitu budaya politik yang ditandai dengan kesadaran politik sangat tinggi. b.

. b. Orientasi parokial menyatakan alpanya harapan-harapan akan perubahan yang komparatif yang diinisiasikan oleh sistem politik. obyek-obyek input. dan pribadi sebagai partisipan aktif mendekati nol. e. obyek-obyek output. Parokialisme murni berlangsung dalam sistem tradisional yang lebih sederhana dimana spesialisasi politik berada pada jenjang sangat minim. f. Budaya Politik Parokial Uraian / Keterangan a. Parokialisme dalam sistem politik yang diferensiatif lebih bersifat afektif dan normatif dari pada kognitif.No 1. d. Kaum parokial tidak mengharapkan apapun dari sistem politik. Frekuensi orientasi terhadap sistem sebagai obyek umum. Tidak terdapat peran-peran politik yang khusus dalam masyarakat. c.

dan terhadap output. Sering wujud di dalam masyarakat di mana tidak terdapat struktur input yang terdiferensiansikan. e. b. Subyek/Ka a. Orientasi subyek lebih bersifat afektif dan normatif daripada kognitif. c. Para subyek menyadari akan otoritas pemerintah Hubungannya terhadap sistem plitik secara umum. dan terhadap pribadi sebagai partisipan yang aktif mendekati nol. d. Terdapat frekuensi orientasi politik ula yang tinggi terhadap sistem politik yang diferensiatif dan aspek output dari sistem itu. administratif secara esensial merupakan hubungan yang pasif. . tetapi frekuensi orientasi terhadap obyek-obyek input secara khusus.2.

Bentuk kultur dimana anggota-anggota masyarakat cenderung diorientasikan secara eksplisit terhadap sistem politik secara komprehensif dan terhadap struktur dan proses politik serta administratif (aspek input dan output sistem politik) Anggota masyarakat partisipatif terhadap obyek politik Masyarakat berperan sebagai aktivis. c. d. obyek-obyek input. output.3. Frekuensi orientasi politik sistem sebagai obyek umum. . dan pribadi sebagai partisipan aktif mendekati satu. Partisipan a. b.

karena mereka merasa memiliki setidaknya kekuatan politik yang ditunjukan oleh warga negara. Mereka memiliki keyakinan bahwa mereka dapat mempengaruhi pengambilan kebijakan publik dalam beberapa tingkatan dan memiliki kemauan untuk mengorganisasikan diri dalam kelompok-kelompok protes bila terdapat praktik-praktik pemerintahan yang tidak fair. dan tingkat efficacy atau keberdayaan. Hal ini dikarenakan terjadinya harmonisasi hubungan warga negara dengan pemerintah. yaitu menyelesaikan sesuatu hal secara politik. Mereka memiliki kebanggaan terhadap sistem politik dan memiliki kemauan untuk mendiskusikan hal tersebut. Oleh karena itu mereka merasa perlu untuk terlibat dalam proses pemilu dan mempercayai perlunya keterlibatan dalam politik. Oleh karena itu dalam konteks politik. tipe budaya ini merupakan kondisi ideal bagi masyarakat secara politik. . yang ditunjukan oleh tingkat kompetensi politik.Kondisi masyarakat dalam budaya politik partisipan mengerti bahwa mereka berstatus warga negara dan memberikan perhatian terhadap sistem politik. karena adanya saling percaya (trust) antar warga negara. Budaya politik partisipan merupakan lahan yang ideal bagi tumbuh suburnya demokrasi. Selain itu warga negara berperan sebagai individu yang aktif dalam masyarakat secara sukarela.

tetapi tidak bangga terhadap sistem politik negaranya dan perasaan komitmen emosionalnya kecil terhadap negara. Demokrasi sulit untuk berkembang dalam masyarakat dengan budaya politik subyek. dan jarang membicarakan masalah-masalah politik. yang didalamnya masyarakat bahkan tidak merasakan bahwa mereka adalah warga negara dari suatu negara. karena masing-masing warga negaranya tidak aktif. Budaya Politik parokial merupakan tipe budaya politik yang paling rendah. Masyarakat dalam tipe budaya ini tetap memiliki pemahaman yang sama sebagai warga negara dan memiliki perhatian terhadap sistem politik.Budaya Politik subyek lebih rendah satu derajat dari budaya politikpartisipan. agar terciptanya mekanisme kontrol terhadap berjalannya sistem politik. Mereka tidak memiliki perhatian terhadap apa yang terjadi dalam sistem politik. pengetahuannya sedikit tentang sistem politik. sehingga sangat sukar untuk mengharapkan artisipasi politik yang tinggi. Tidak terdapat kebanggaan terhadap sistem politik tersebut. Perasaan berpengaruh terhadap proses politik muncul bila mereka telah melakukan kontak dengan pejabat lokal. tetapi keterlibatan mereka dalam cara yang lebih pasif. Selain itu mereka juga memiliki kompetensi politik dan keberdayaan politik yang rendah. . Mereka tetap mengikuti berita-berita politik. mereka lebih mengidentifikasikan dirinya pada perasaan lokalitas. Mereka akan merasa tidak nyaman bila membicarakan masalah-masalah politik.

subject culture) Budaya politik subyek-partisipan (the subject-participant culture) Budaya politik parokial-partisipan (the parochial-participant culture) Berdasarkan penggolongan atau bentuk-bentuk budaya politik di atas. hanya bisa bila terdapat institusi-institusi dan perasaan kewarganegaraan baru. seperti di Afrika. yaitu : Budaya politik subyek-parokial (the parochial. Budaya politik ini bisa dtemukan dalam masyarakat suku-suku di negara-negara belum maju. Perasaan kompetensi politik dan keberdayaan politik otomatis tidak muncul. dapat dibagi dalam tiga model kebudayaan politik sebagai berikut : . ketika berhadapan dengan institusi-institusi politik. Namun dalam kenyataan tidak ada satupun negara yang memiliki budaya politik murni partisipan. Melainkan terdapat variasi campuran di antara ketiga tipe-tipe tersebut. Asia. dan Amerika Latin. Oleh karena itu terdapat kesulitan untuk mencoba membangun demokrasi dalam budaya politik parokial. ketiganya menurut Almond dan Verba tervariasi ke dalam tiga bentuk budaya politik.Budaya politik ini juga mengindikasikan bahwa masyarakatnya tidak memiliki minat maupun kemampuan untuk berpartisipasi dalam politik. pariokal atau subyek.

meskipun sekali parti-sipan dan menjamin adanya terdapat organisasi sedikit pula keterkompetisi partaipolitik dan partisipan libatannya dalam partai poli-tik dan politik seperti peme-rintahan kehadiran pemberian mahasiswa. tetapi sebagian besar jumlah rakyat hanya menjadi subyek yang pasif. kaum insuara yang besar. telektual dengan tindakan persuasif menentang sis-tem yang ada. .Model-Model Kebudayaan Politik Demokratik Sistem Otoriter Demokratis Pra Industrial Industrial Dalam sistem ini Di sini jumlah industrial Dalam sistem ini cukup banyak aktivis dan modernis sebagian hanya terdapat sedikit politik untuk kecil.

biasanya mempunyai budaya politik bersifat agama politik.Pola kepemimpinan sebagai bagian dari budaya politik. ada pula elite yang menyadari inisiatif rakyat yang menentukan tingkat pembangunan. yaitu politik dikembang-kan berdasarkan ciri-ciri agama yang cenderung mengatur secara ketat setiap anggota masyarakat. konformitas menyangkut tuntutan atau harapan akan dukungan dari rakyat. Jika pemimpin itu merasa dirinya penting. Suatu pemerintahan yang kuat dengan disertai kepasifan yang kuat dari rakyat. maka elite itu sedang mengembang-kan pola kepemimpinan inisiatif rakyat dengan tidak mengekang kebebasan. Dari sudut penguasa. menuntut konformitas atau mendorong aktivitas. Budaya politik para elite berdasarkan budaya politik agama tersebut dapat mendorong atau menghambat pembangunan karena massa rakyat harus menyesuaikan diri pada kebijaksanaan para elite politik. Modifikasi atau kompromi tidak diharapkan. David Apter memberi gambaran tentang kondisi politik yang menimbulkan suatu agama politik di suatu masyarakat. . maka dia menuntut rakyat menunjuk-kan kesetiaannya yang tinggi. apalagi kritik. Akan tetapi. Budaya tersebut merupakan usaha percampuran politik dengan ciri-ciri keagamaan yang dominan dalam masyarakat tradisional di negara yang baru berkembang. yaitu kondisi politik yang terlalu sentralistis dengan peranan birokrasi atau militer yang terlalu kuat. Di negara berkembang seperti Indonesia. pemerintah diharapkan makin besar peranannya dalam pembangunan di segala bidang.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->