P. 1
Bab 2 Skripsi H.mfauzul Bener R

Bab 2 Skripsi H.mfauzul Bener R

|Views: 1,650|Likes:

More info:

Published by: fauzul-hakim-alqudsi-aljafari-6602 on Aug 21, 2010
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

11/05/2012

pdf

text

original

BAB II LANDASAN TEORI DAN PENGAJUAN HIPOTESIS A. Deskripsi Teori 1.

Ilmu Nahwu Shorof Pengertian Penguasaan Ilmu Nahwu Shorof Penguasaan Ilmu Nahwu Shorof diartikan “kemampuan atau kesanggupan untuk mempelajari suatu cabang ilmu bahasa Arab yang mempelajari kaidah-kaidah yang berhubungan dengan susunan kata-kata dalam kalimat bahasa Arab.1 Tujuan Pengusaan Ilmu Nahwu Shorof Tujuan utama penguasaan ilmu Nahwu Shorof adalah untuk memberikan pengetahuan tentang membaca Al-Qur’an hadis dengan benar. Di samping itu, bertujuan untuk memberikan kaidah-kaidah tata bahasa Arab yang benar.2 Manfaat Penguasaan Ilmu Nahwu Shorof Manfaat menguasai Ilmu Nahwu Shorof yaitu : (1) memahami susunan kata-kata Arab yang terdapat dalam Al-Qur’an dan hadis, yang merupakan sumber utama umat Islam, dengan ilmu Nahwu Shorof ini seseorang dapat memahami agama yang ditulis dalam bahasa Arab. (2) untuk dapat menyusun kata-kata Arab dalam susunan yang benar dan sesuai dengan kaidah-kaidah ilmu Nahwu. (4) untuk menentukan kedudukankedudukan kata dan memahami pengertian suatu kalimat dengan benar.3
1

2

3
3

Ghaziadin Djupri, Ilmu Nahwu Praktis, (Surabaya : Apollo, 2006), hlm. 2 Hafizh Dasuki, Ensiklopedi Islam Jilid 4 ( Jakarta : Ichtiar Baru Van Hoeve, 1998), hlm. Ibid, hlm. 3 19

20

Ruang lingkup Penguasaan Ilmu Nahwu Shorof Ruang lingkup yang dipelajari dalam ilmu Nahwu mencakup kalam, I’rab, Fi’il, Isim-isim dan harf. Kalam mencakup pembagian kalam, tanda Isim, tanda Fi’il, dan tanda harf. I’rab meliputi : pembagian I’rab, I’rab Isim, I’rab Fi’il. Tanda-tanda I’rab Rafa’, I’rab Nasbah, tanda I’rab, Khafadl. Fi’il terdiri dari Fi’il madli, Fi’il Amar, dan Fi’il Mudlari, Isim terdiri dari Isim yang dirafa’kan meliputi : fa’il, Maf’ul, Mubtada’ dan khabar, Na’at, ‘Athaf, Taukid, Badal dan Isim-isim yang dinasabkan yang meliputi : Maf’ul bih, Masdar, Dharaf Makan, Haal, Tamyiz, Istitsna’ Laa, Munada, Maf’ul min Ajlih, Maf’ul Ma’ah, dan Isim-isim yang dikhafadkan.4 Berdasarkan uraian tersebut di atas, bahwa pembelajaran Nahwu cukup luas sekali. Adapun masing-masing dari raung lingkup pembelajaran Nahwu adalah sebagai berikut: 1) Isim ‫( السم‬Kata benda) Isim secara bahasa adalah nama, yaitu sebutan yang menunjukkan suatu yang dinamakan, apakah sebutan itu pada jenis atau pada unsurnya. Manusia

‫ناس‬

atau

‫رجل‬ َُ

adalah nama untuk suatu jenis yang dinamakan

manusia atau laki-laki, dan Ahmad

‫ أحمد‬adalah nama untuk individu yang ْ

dinamakan Ahmad. Semua kata ini adalah Isim. Dalam pengertian yang paling sederhana merujuk padanan dalam bahasa Indonesia, maka Isim adalah nominal. Sedangkan dalam istilah Nahwu, Isim adalah suatu kata yang menunjukkan makna tersendiri dan tidak terikat dengan waktu.5

4 5

Ghaziadin Djupri, Op. Cit., hlm. 4 Lulu Fikar, Dasar-dasar Ilmu Nahwu, (Jakarta : Gramedia, 2006), hlm 10

21

Isim memiliki beberapa tanda yang terletak pada suatu kata yang menunjukkan bahwa jenis kata tersebut adalah Isim. Tanda-tanda Isim tersebut adalah: a) Tanda dari segi artinya Untuk mengetahui apakah kata tersebut termasuk Isim, dapat dilihat dari maknanya, atau kata tersebut bisa disandarkan kepada kata yang lain baik dia itu subjek (fail) atau pemulaan kalimat (mubtada). Contohnya

‫ المسافرون عاد‬isim

di dini bersandar pada fiíl (kata kerja)

yang menunjukkan ia adalah fail, contoh mubtada ‫خالد‬ b) Tanda dari segi Lafadznya
(1)

‫6.مسافر‬

Tanwin

‫التنوين‬

yaitu bunyi nun sukun pada akhir kalimat yang

ditandai dengan harakat double

‫.ـــ ـــ ـــ ـ‬ ٌ ٍ ً

Contohnya,

ٌ ‫ خالـد‬atau

ٍ ‫,زيد‬dan ‫ .قانتات‬Maka kata-kata dalam semua contoh ini adalah Isim ٍ
karena boleh dimasuki oleh tanwin. Tanwin secara garis besarnya terbagi menjadi, Pertama: Tanwin tamkin diikutkan kepada isim mu’rab, contoh

‫ تمكين‬yaitu tanwin yang

ٌ ‫ .محمد‬Kedua: Tanwin Tankir

‫تنكير‬

yang mengikuti isim ma’rifah (yang pasti) menjadikannya

nakirah (belum pasti) contoh, Tanwin Muqabalah

ِ ‫سيبويه‬

(nama ahli nahwu). Ketiga:

‫ المقابلة‬yang diikutkan kepada Jamak muannas

salim (jamak untuk perempuan) contohnya, ‫ قانتات‬disamakan dengan ٍ Nun yang ada pada Jamak Muzakkar Salim (jamak untuk laki-laki)

6

Ghaziadin Djupri, Op. Cit., hlm. 5

22

‫.قــانتون‬

Keempat: Tanwin Ta’wid

‫( العــوض‬pengganti) َ ِ

yang

diikutkan pada sebagian kata sebagai pengganti terhadap apa yang dihapus dan dihilangkan, baik sebagai pengganti dari huruf yang dihilangkan, contohnya

‫ راع جــاء‬kata ٍ

ra’in ditanwinkan sebagai

pengganti huruf ya’ yang dihilangkan, aslinya adalah

‫.راعــي‬

Ataukah pengganti dari kata yang dihapus, misalnya kata-kata yang terletak setelak Kullu dan Ba’dhu yang terhapus kata yang disandarkan padanya

ّ ‫ منهــم ك ـل‬asalnya

adalah

‫.منهــم واحــد كــل‬

Ataupun sebagai pengganti dari kalimat yang dihilangkan, contoh

‫( الجامعة في أعمل حينئذ وكنت قبل ســنتين زرتنــي‬dua ٍ

tahun lalu,

engkau menziarahiku dan pada saat itu saya bekerja universitas), kata Hinaizin ditanwinkan karena menggantin kalimat yang hilang, asalnya adalah ‫زرتني‬

‫7.حينئذ‬ ‫ألـ‬
pada

(2) Dapat dimasuki dan dihubungkan dengan Alif dan Lam,

awal kata. Setiap kata yang didahului oleh AL atau boleh menerima AL, maka kata tersebut adalah Isim. Contohnya, penulis,

‫الكاتب‬

= seorang

‫المؤمن‬

= orang mukmin,

‫المسافر‬

= orang yang bepergian.

Semua kata ini adalah Isim ditandai dengan adanya AL di awal kata. (3) Dapat dimasuki oleh Jarr

‫ .الجر‬Baik jarr disebabkan oleh adanya ‫الحراس على‬

huruf jarr maupun karena Idhafah. Contohnya, ‫السطح‬ ِ

‫ ,على‬kata Sathi dibaca kasrah karena dimasuki oleh huruf jarr yaitu
Ála. Contoh Idhafah
7

‫الطالب كتاب‬ ِ

kata At Thalibi dibaca kasrah

Lulu Fikar, Op. Cit., hlm. 11

23

(jarr) karena bersandar kepada Kitab. Huruf-huruf Jarr adalah ‫= من‬ ِ dari (permulaan), meninggalkan),

‫= إلـــي‬
atas,

ke, kepada,

‫= عـــن‬ َ

dari (lepas, barangkali,

‫= علي‬ ‫= اللم‬

‫في‬

= di, di dalam,

ّ ُ ‫= رب‬

kadang-kadang [;sedikit atau banyak], [penyerupaan], sumpah

‫ = الباء‬dengan, ‫ = لكافا‬seperti

untuk. Dan termasuk juga huruf-huruf

‫ ,حروف القسم‬yaitu; ‫ والوا‬hanya untuk Isim Zhahir,[2] ‫الباء‬ ‫التاء‬
khusus dengan kata

untuk Isim Zhahir dan Dhamir, dan Contohnya; ‫للهتا‬ ِ

‫.ال‬

‫ ,وال, بال‬semuanya bermakna Demi Allah. ِ ِ ُ ‫( زيد‬Hai Zaid)

(4) Boleh dimasuki oleh Harf Nida (panggilan) contoh, ‫يا‬ dimasuki oleh Ya harf nida, contoh lain, ‫عبداللهيا‬ ِ َ

(5) Kata tersebut dapat dirubah bentuknya menjadi bentuk Tashgir

‫( التصــــغير‬mengecilkan)

contoh,

‫جبﻝ‬

(gunung)

menjadi

‫(جبيل‬gunung kecil), contoh lain, ‫ عصفور‬menjadi ‫.عصيفير‬ َِْ ُ
(6) Kata tersebut dapat dijadikan Musanna (yang menunjukan atas dua) dan jamak. Contoh, ‫طالبات‬ 2) Fi’il ‫الفعل‬ ِ Fi’il secara bahasa berarti kejadian atau pekerjaan. Dan padanannya dalam bahasa Indonesia adalah kata kerja atau verbal. Sedangkan dalam istilah Nahwu, Fi’il adalah kata yang menunjukkan suatu makna tersendiri dan terikat dengan salah satu dari tiga bentuk waktu; masa lampau, masa sekarang, dan masa yang akan datang.

،‫8طالبان، طلب، طالبون‬

8

Ibid, hlm. 12

24

Contohnya

َ ََ ‫كتب‬

adalah kata yang menunjukkan makna penulisan

dan terikat dengan masa yang telah lalu,

ُ ُْ َ ‫ يكتــب‬adalah

kata yang

memnunjukkan makna penulisan dan terikat dengan masa sekarang, dan

ْ ُ ‫أكتب‬

juga adalah kata yang menunjukkan makna penulisan dan terikat

dengan masa yang akan datang. Demikian juga contoh-contoh lain seperti

‫ = نصر ينصر انصر‬menolong, ‫ = علم يعلم اعلم‬mengetahui, ‫جلس يجلس‬ ُ ُ ََ َ ْ َْ َ َِ ِ َ ْ ِ ‫= اجلـس‬
duduk,

ْ ِ ‫= ضـرب يضـرب اضـرب‬ ِ َ

memukul,

‫= فهـم يفهـم افهـم‬ َ ‫َـ‬ ِ

mengerti, memahami. Perubahan bentuk dari setiap kata-kata dalam Bahasa Arab merupakan pembahasan Ilmu Sharaf atau dalam istilah yang lebih luas; Morphologi. Sedangkan dalam Ilmu Nahwu, unsur utama yang diperhatikan adalah kedudukan kata tersebut dalam struktur kalimat. Meskipun setiap kata dasar dalam bahasa Arab banyak mempunyai varian bentuk kata sesuai dengan kegunaan dan maknanya masing-masing, yang paling penting dalam Ilmu Nahwu adalah jenis-jenis semua kata tersebut dikelompokkan dalam tiga jenis saja, yaitu; Isim, Fi’il, dan Huruf.9 Fi’il dalam Ilmu Nahwu terbatas pada tiga macam saja, yaitu kata kerja yang menunjukkan kejadian di masa lalu, kata kerja masa sekarang, dan kata kerja perintah. Fi’il terdiri dari beberapa jenis,10 antara lain:
a)

Fi’il Madhi ‫ الفعععل الماضععي‬yaitu kata kerja yang menunjukkan suatu pekerjaan atau kejadian yang berlangsung pada masa sebelum waktu penuturan. Contoh,

َ َ ْ َ ََ ْ ‫. خطب , سمع , انطل ـق , اس ـتعمل‬Tanda-tandanya ِ

dari segi arti yaitu menunjukkan suatu pekerjaan atau kejadian yang
9 10

Ghaziadin Djupri, Op. Cit., hlm 25 Lulu Fikar, Op. Cit., hlm. 15

25

berlangsung pada masa sebelum waktu penuturan. Adapun tandatandanya secara Lafdzi yaitu: Pertama: dapat dimasuki oleh Lam ‫. لــ‬ Kedua: Dapat dimasuki oleh Ta Al Faíl, contoh

ِ ‫سافرت سافرت سافرت‬ َ ُ ْ ‫اســتمعت‬

. Ketiga: dapat dimasuki oleh Ta ta’nis sakinah, contoh,

ْ ‫.سافرت جلست عادت‬ ْ ْ
b)

Hukum Fiíl Madhi dalm I’rab adalah Mabni

(tidak berubah harakah akhir hurufnya). Fi’il Mudhari’ ‫ الفعـــل المضـــارع‬yaitu kata kerja yang menunjukkan pekerjaan atau peristiwa yang terjadi pada saat dituturkan (sekarang) atau sesudahnya (akan datang). Misalnya

ُُ َ ‫ . يصلح‬Dinamakan Mudhari’

karena menyerupai isim. Tanda-tanda Mudhari’ adalah dapat dimasuki oleh sin

‫السين‬

dan saufa

‫ . سوف‬Juga dapat dimasuki oleh huruf jazm
Dan kadang

dan Nashb

ْ َ َْ ْ ‫.لــم, ل الناهيــة, لم المــر , إن , أن, لــن‬

bentuknya Mudhari’ namun berarti Madhi, apabila dimasuki oleh Lam, misalnya,

‫( لم يحضر‬belum/tidak datang).

Hukum I’rab fiíl Mudhari’

adalah Mu’rab (berubah harakah ahir hurufnya) selama tidak dimasuki oleh Nun Taukid ‫التوكيد‬
c)

‫ نون‬dan Nun Niswah ‫.نون النسوة‬

Fi’il Amar ‫ فعل المر‬yaitu kata yang menunjukkan tuntutan tercapainya pekerjaan tersebut setelah masa pengungkapan. Contohnya, seorang ayah atau kawan dan lain-lain memerintahkan kepada seseorang untuk belajar, dia mengatakan = ‫ تعلم‬Belajarlah, atau ‫ اقرأ‬bacalah, atau ‫انطلق‬ ّْ ْ َِ ْ pergilah. Atau ‫ استغفر‬bertobatlah. Tanda-tanda fiíl amar adalah dapat dimasuki oleh Nun Taukid ‫ نون التوكيد‬adalah huruf Nun pada akhir kata ّ َ ُ yang berfungsi untuk menunjukkan kesungguhan dan ketegasan

26

tuntutan. Nun Taukid ada dua macam yaitu Khafifah (ringan) dan Tsaqilah (berat). Perbedaan keduanya dari segi bentuk adalah Nun Taukid Khafifah berbaris sukun ‫ ,ـن‬sedangkan Nun Taukid Tsaqilah ْ bertasydid dan berharakat fathah ‫ . ـ ـن‬atau Ya Al Mukhatabah ‫يــاء‬ ّ

‫ المخاطبة‬adalah huruf Ya sukun di akhir kalimat sebagai kata ganti orang
kedua perempuan; yang berfungsi untuk menunjukkan bahwa tuntutan ditujukan kepada perempuan. Contohnya, ‫( = قومي‬Kamu perempuan), ُْ Bangunlah!, dari asal katanya untuk laki-laki ‫ ,قم‬dan ‫( = اكتبي‬Kamu ُْ ُْ ُ perempuan), Menulislah!, dari asal kata perintahnya untuk laki-laki

‫ .اكتــب‬Kedua kata aslinya yang untuk laki-laki adalah Fi’il karena
menunjukkan tuntutan dan bisa menerima Ya Mukhathabah. Dan dua kata yang untuk perempuan adalah Fi’il dengan ditandai dengan masuknya Ya Mukhathabah dan menunjukkan makna tuntutan. Hukum fiíl amar dalam I’rab adalah Mabni.11 Dari semua penjelasan di atas tadi, dapat disimpulkan Tanda-tanda Fi’il yang paling utama, baik Fiíl Madhi, Mudhari’dan Amar secara umum ketika berada dalam struktur kalimat adalah:
(1) (2)

Kata tersebut didahului oleh ‫. قد‬ Tanda Fi’il yang kedua adalah suatu kata itu didahului Huruf Sin ‫السين‬ ُ atau Huruf Saufa ‫.سوف‬ َ

(3)

Tanda Fi’il ketiga adalah Ta Ta’nis Sakinah ‫ تاء التأنيث الساكنة‬yaitu huruf َ ّ ّ ُ Ta sukun yang masuk pada akhir kata. Tanda ini hanya untuk Fi’il Madhi saja dan fungsinya adalah untuk menunjukkan bahwa Isim yang terpaut dengan Predikat ini berbentuk feminin (muannas).

11

Ibid, hlm. 16

27

(4)

Tanda Fi’il keempat adalah suatu kata yang menunjukkan makna tuntutan dan kata tersebut bisa menerima Ya Mukhathabah ‫ياء المخاطبة‬ atau Nun Taukid ‫.نون التوكيد‬ ّ َ ُ

3) Huruf ‫الحرف‬ Huruf adalah jenis kata yang berfungsi sebagai kata bantu, yaitu kata yang mengandung makna yang tidak berdiri sendiri. Maknanya hanya bisa diketahui dengan bersandingan dengan kata lain, baik Isim atau Fi’il Tanda Huruf adalah tidak menerima tanda-tanda Isim atau tanda-tanda Fi’il, atau dengan ungkapan lain, Huruf adalah tanpa tanda pengenal. Kalau kita mengenal Jim dengan titik di bawah dan Kha dengan titik di atas, kita mengenal Ha tanpa titik. Demikian juga, kita mengenal jenis kata Isim dan Fi’il dengan tanda-tanda yang telah disebutkan di atas, maka kita mengenal jenis kata Huruf tanpa tanda dan tidak menerima tanda-tanda Isim atau Fi’il. Kata yang termasuk dalam jenis Huruf ini terbagi bermacam-macam sesuai dengan fungsinya yang mempengaruhi status kata yang dimasukinya, sesuai dengan fungsi maknanya, dan terbagi menjadi tiga macam, yaitu: a) Huruf yang dapat masuk ke Isim maupun Fiíl, dan huruf tersebut tidak mempunyai kedudukan apa apa dalam I’rab. Contoh, kata Hal ‫ هل‬dalam ‫هل‬ َْ

‫اتاك حديث الغاشية‬
b) Huruf yang dikhususkan pada isim, dan huruf tersebut mempunyai fungsi serta kedudukannya dalam I’rab. Contoh, huruf Inna ‫ إن‬dan Fi ‫ ,في‬dalam Al ّ Quran : ّ ‫الذين يقاتلون في سبيله يحب ال إن‬

c) Huruf yang dikhususkan tehadap Fiíl dimana huruf-huruf tersebut mempunyai kedudukan dan fungsi dalam I’rab. Contoh, huruf Nashab dan Jazam.12
12

28

4) I’RAB ‫ العراب‬dan BINA ‫البناء‬ a) Al BINA ‫البناء‬ Bina adalah suatu keharusan dimana harakah (baris) akhir dari suatu kata tidak akan mengalami perubahan yang disebabkan oleh factorfaktor yang merubah harakah dan kedudukan kata, atau simpelnya, Bina adalah kata yang tidak berubah harakah akhir hurufnya. Contohnya, kata aina ‫( أيــن‬dimana) dan amsi ‫( أمــس‬kemarin), dimana baris (harakah) َ ِ ْ akhirnya tidak akan pernah berubah. Macam-macam Bina ‫البناء‬ Tanda-tanda bina suatu kata dalam I’rab terbagi menjadi empat, yaitu:
(1)

Sukun ‫ السكون‬yaitu tidak adanya harakah, yang mana terdapat pada ُ ّ huruf, fiíl serta isim, contoh mabni dengan sukun dari huruf ‫ , هل‬dan ْ dari fiíl, ‫ , قم‬dan dari isim, ‫. كم‬ ْ ْ

(2)

Fatha ‫ , الفتح‬berbaris atas dengan fatha, hal ini pun terdapat pada Isim, ُ َْ contohnya ‫ , أيـــن‬dan Huruf, contohnya ‫ , ســـوف‬juga pada Fi’il, َ َ contohnya, ‫. قام‬ َ

(3)

Kasrah ‫ الكسر‬berbaris bawah dengan kasrah, terdapat pada Isim, ُْ َ contohnya ‫ أمس‬dan huruf, contohnya huruf Lam Al Jarr ‫لم الجر‬ ِ ْ ِ misalnya dalam kalimat ‫. الماﻝ لزيد‬ ٍ َْ ِ ُ

(4)

Dhamma ‫ الضم‬berbaris atas dengan Dhamma, terdapat pada huruf, ّّ contohnya ‫ منذ‬dan isim yang menunjukkan arah misalnya ‫ تحت‬dengan ُْ ُ syarat harus Idhafah secara makna tanpa Lafadz. Bentuk-bentuk Mabni, setelah mengetahui macam-macam tanda

bina, seyogyanyalah untuk mengetahui apa-apa saja dari Isim, Fi’il dan

Muhamad Latif Kurniawan, Cara mudah Mempelajari Tata Bahasa Arab ( Nahwu dan Shorof, (Jakarta : Gema Insani, 2008) hlm. 17

29

Huruf yang Mabni agar tidak salah dalam menempatkan letak serta hukumnya dalam suatu kalimat.13 6) Huruf ‫الحروف‬ ُ ُُ Semua huruf adalah Mabni, baik dengan Fatha seperti ‫و، ك، ف، ثم‬ ّ َ َ ,maupun Sukun, seperti ْ‫ , من، في، إلى، هل‬dan Kasrah seperti ‫لـ )الماﻝ لزيد(، بـ )كتبت‬ ْ ِ ٍ َْ ِ ُ ِ ‫ , )بالقلم‬dan juga Dhamma sperti ‫.منذ‬ ُ 7) Af’al ‫الفعال‬ Semua Fi’il adalah Mabni kecuali Fi’il Mudhari’ yang tidak dimasuki oleh salah satu dari Nun Niswah ‫ نون النسوة‬maupun Nun Taukid ‫نون‬ َ ُ ‫. التوكيد‬ ّ a) Bentuk-bentuk Bina Fi’il Madhi (1) Fatha: Jika tidak berhubungan dengan kata apa pun, contohnya ‫سمع , تكلم‬ َ َ atau Fi’il tersebut bergandengan dengan Ta Ta’nis ‫ تاء التأنيث‬contohnya ْ ‫ فهمت , جلست‬atau Fi’il tersebut berhubungan dengan Al Alif Al Itsnain ْ َ ‫ ألف الثنين‬yang menunjukan dua orang, contohnya ‫.ذهبا، قاما، سعيا‬ (2) Sukun: Apabila fi’il tersebut bergandengan dengan Dhamir yang kedudukannya adalah marfu’ sebagai subjek misalnya Ta mutakallim dan sebagainya, atau fi’il tersebut bergandengan dengan Nun Niswah, contohnya ,‫سمعت، سمعنا، ســمعت، ســمعت , ســمعتما، ســمعتن، ســمعن. ســعيت، ســعينا‬ ْ ْ َْ ّ ُْ ْ ِ ْ َ ْ ْ ُ ْ َ ُْ ‫.سعيتما، سعيتن‬ ْ (3) Dhamma: Apabila Fi’il tersebut berhubungan dan bergandengan dengan Wau Al Jama’ah (yang menunjukkan jamak muzakkar salim=laki-laki), contohnya ‫41.سمعوا، فهموا‬ ُ ُ b) Bentuk-bentuk Bina Fi’il Mudhari’ Fi’il Mudhari’ Mabni apabila dimasuki oleh salah satu dari Nun Taukid dan Nun Niswah, dan tanda binanya adalah, Sukun: Apabila
13 14

Ibid, hlm. 17 Lulu Fikar, Op. Cit., hlm. 20

30

berhubungan dengan Nun Niswah, contohnya ‫. يســمعن، يقــرأن، يمشـين، يــدعون‬ َْ َْ َْ َْ Fatha: Apabila berhubungan langsung dengan Nun Taukid yang disandarkan kepada Mufrad Muzakkar, contohnya, ‫.لتسمعن، لتدعون‬ َّ َْ ِ c) Bentuk-bentuk Bina Fi’il Amar Adapun Binanya Fiíl Amar yaitu, Sukun: Apabila huruf terakhirnya bukan huruf Illat (Alif, Wau dan Ya) dan tidak berhubungan dengan kata apa pun, contoh ‫ , افهم، اسمع‬atau berhubungan dengan Nun Niswah, contoh ْ ْ َْ ‫ .أطعــن، ادنــون، اســعين‬Fatha: Apabila berhubungan dengan Nun Taukid, َْ َ ْ contohnya ‫ .افهم ـن، اســمعن، ادع ـون وادع ـون‬Khazfu Nun (dihilangkan huruf َّ َْ َّ ْ َ Nunnya): Apabila berhubungan dengan Alif Itsnain yang menunjukkan Mutsanna, atau Wau Jamaáh yang menunjukkan Jamak Muzakkar Salim atau Ya Al Mukhathabah, contohnya, ‫ .ارعيا، اقنعوا، اقنعي‬Khazfu harfu illah (meniadakan huruf Illatnya): Apabila huruf akhir dari fiíl adalah huruf illah, contohnya, ‫.ارع، ادع، امش‬ ِ ُ َ 8) Al Asma ‫السماء‬ ُ Dhamair ‫( الضمائر‬Pronauns) atau kata ganti baik orang pertama tunggal ُِ ّ dan sebagainya yang terbagi menjadi Munfashil (terpisah) yang terbagi menjadi Rafa’dan Nasab (kedudukannya dalam I’rab) contoh Rafa’ ،‫أنا، نحن، أنت، أنتما، أنتم‬ َ ّ ‫ أنت، أنتما، أنتن , هو، هما، هم، , هي, هما، هن‬Contoh Nashab : ،‫إياي، إيانا، إياك، إياكما، إيــاكم‬ َ ْ َ ّ ِ ّ ّ ّ ‫. ،إيــاك، إياكمــا، إيــاكن‬dan Muttashil (berhubungan) juga terbagi menjadi Rafa’, ِ ِ Nashab, dan Jarr .Contoh Rafa’(‫ .تاء(, )نا( قرأت, قرأنا‬Contoh Nashab, ‫ يــاء‬orang ُ yang berbicara, ‫( سمعني. كاف‬lawan berbicara) misalnya ‫ .حدثك‬Atau ‫( هاء‬terhadap orang ketiga tunggal) misalnya, ‫ .أعطيته‬Contoh Jarr, Ya (‫( )ياء‬orang yang berbicara) misalnya ‫ , بيتي‬Ha ‫( هاء‬orang ketiga tunggal) misalnya ‫ .بيته‬Kaf ُ ‫( كاف‬lawan berbicara) misalnya ‫بيتك‬

31

a)

Kata Sambung ‫ أسماء الموصععول‬seperti ‫( الـذي‬berarti yang untuk sesuatu atau ِ ُ َْ ُ ْ seorang yang menunjukkan Muzakkar = laki-laki), ‫( التي‬untuk Muannats atau perempuan), ‫( الذين‬jamak Muzakkar) ‫( اللتي، اللت، اللواتي‬jamak muannas). َ ِ

b)

Kata Tanya tempat).

‫ استفهام‬seperti Man=siapa ‫( من‬untuk yang berakal), Ma=apa ‫ما‬ َْ

(yang tidak berakal) Mata=kapan ‫( متى‬untuk waktu) Aina=di mana ‫( أين‬untuk َ
c)

Isim yang menunjukkan pada bunyi-bunyian dan suara, seperti suara bayi dan juga suara binatang, contoh ‫( إس وهس، وهج‬suara kambing/mengembik), ْ ّ ِ ّ ‫( هل‬suara kuda), ‫( كخ‬suara tangisan bayi). Dan sebagainya. ِْ

d)

Isim (kata benda) yang mengandung arti fi’íl (kata kerja), contohnya, ‫صه، مه‬ ْ ْ (cukup!), ‫( حي‬terimalah), ‫( أف‬makian), ‫( وي‬makian), ‫( هيهات‬jauh). Dan lainّ ّ ْ َ lain yang mengandung makna fiíl.

e) Sebagian dari keterangan waktu dan tempat, contoh ‫.إذ، إذا، الن، حيث، أمس‬ ِ ْ ُ َْ َ ْ
f)

Isim yang menunjukkan syarat ‫ , أسماء الشرط‬contoh ,‫من, مهما, متى, حيثما, كيفما‬ ّْ ُ ْ َْ ‫51.أي, أيان‬ ّ ْ

9) AL I’RAB ‫العراب‬ I,rab adalah kebalikan dan lawan dari Bina, dimana harakah (baris) akhir dari suatu kata akan mengalami perubahan yang disebabkan oleh factor-faktor yang merubah harakah dan kedudukan kata dalam kalimat. Yang mana tanda-tanda I’rab itu terbagi menjadi dua, ada tanda yang asli dan farí (bukan asli). Tanda Asli dari I’rab adalah Dhamma ‫ الضمة‬untuk Rafa’, Fatha ‫ الفتحة‬untuk ُ ُ Nashab, Kasrah ‫ الكسرة‬untuk Jarr, dan Sukun ‫ السكون‬untuk Jazam. Tanda-tanda ini ada yang dikhususkan untuk Isim dan Fiíl saja yaitu Rafa’dan Nashab, contohnya dalam kalimat ‫ المؤمن يتقن عمله‬Rafa’ (dibaca dhamma pada ahir harakatnya) kata ُ ُ Mu’min dan yutqinu dengan Dhamma, contoh lain dari yang Nashab, ‫إن القطار لن‬ َ ّ
15

Muhamad Latif Kurniawan, Op. Cit., hlm. 22

32

‫ يغادر قبل المساء‬Nashab Isim Qitara karena dimasuki Inna (huruf Nashab isim dan َ rafa’khabarnya) dan Fiíl Yughadir dengan Fatha karena dimasuki oleh huruf nashab yaitu Lan. Dan dari tanda-tanda I’rab tersebut ada juga yang dikhususkan terhadap isim yaitu Jarr, contohnya ‫ في مسجد المدينة عالم‬Kata masjidi dibaca kasrah ِ ِ karena di dahului huruf Jarr dan kata Madinah di baca kasrah karena Idhafaf. Adapun tanda Jazam dikhususkannya kepada Fiíl, contohnya ‫ لم يفز بالنجاح كسوﻝ‬kata ْ yafuz disukunkan karena dimasuki oleh huruf jazam. Tanda-tanda Farí dari I’rab yaitu suatu harakat mengganti kedudukan harakat lainnya seperti kasrah mengganti fatha pada Jamak Muzakkar Salim dan fatha menggantikan kasrah pada Mamnu’min As sharf. Atau kedudukan harakah digantikan oleh huruf, misalnya Wau menggantikan dhamma pada jamak muzakkar salim. Menurut Lulu Fikar16 kesemuanya itu dapat diperincikan secara garis besarnya (baik harakah yang menggantikan posisi harakah lainnya maupun huruf yang menggantikan kedudukan dari harakah) di bawah ini: a) Harakah yang menggantikan kedudukan harakah lainnya
(1)

Jamak Muannas Salaim (perempuan) ‫ جمععععع المععععؤنث السععععالم‬yaitu yang menunjukkan lebih dari dua (muannats) dengan menambahkan Alif ‫ ألف‬dan Ta ‫ تــاء‬pada akhir katanya. Untuk menjadikan suatu isim mufrad menjadi jamak muannats salim, maka isim tersebut Pertama: haruslah menunjukkan kepada nama-nama perempuan, mislanya jamak dari Zainab ‫ ,تالزينبا‬jamak dari Hindun ‫ , الهندات‬jamak dari Maryam ‫ .المريمات‬Kedua: Isim yang diakhiri dengan tanda-tanda Ta’nits (feminis) baik Ta , Alif Maqsur dan Mamdud , contohnya ‫ فاطمة‬jamaknya adalah ‫ الفاطمات, حمزة‬jamaknya adalah ‫الحمزات , سماء‬ jamaknya ‫ سماوات , كبرى‬jamaknya ‫ . كبريات‬Ketiga: Isim dalam bentuk Tashgir, contohnya kata Dirham yang telah diTashgir menjadi Duraihim maka jamaknya adalah ‫ . دريهمات‬Keempat: Isim yang terdiri dari lima huruf yang ُ

16

Lulu Fikar, Op. Cit., hlm. 23

33

belum pernah didengar Jamak Taksirnya (tidak beraturan), misalnya kata ‫( إسطبل‬kandang kuda) jamaknya ‫ ,إسطبلت‬dan kata ‫( حمام‬Wc) jamaknya adalah ّ ‫ . حمامات‬Jamak Muannats Salim ini, apabila kedudukannya Manshub dalam kalimat maka alamat I’rabnya adalah kasrah menggantikan fatha.
(2)

Mamnu’Min As Sharf ‫ الممنععوع مععن الصععرف‬Isim yang tidak diikutkan dengan Tanwin atau kasrah, olehnya itu apabila ia Majrur karena dimasuki oleh salah satu huruf Jarr maka I’rabnya adalah Majrur dengan Fatha pengganti kasrah. Adapun yang termasuk dalam Mamnu’Min As Sharf ini adalah, Pertama: nama-nama Ajami seperti ‫ , إسماعيل، إبراهيم، إسحاق‬Kedua: Nama-nama ajam yang terdiri dari dua kata, misalnya ‫ ,حضرموت، بعلبك‬Ketiga: Isim yang ditambahkan Alif dan Nun pada akhirnya, misalnya ‫ ,رضوان، سلمان‬Keempat: Isim yang timbangannya menyerupai timbangan Fiíl, contohnya ،‫أحمد، يزيد‬ ‫ ,يشــكر‬Kelima: Adl dalam timbangan Fu’al seperti, ‫,عمــر، زحــل، هبــل، عصــم‬ َ ُ ُ َُ َُ Keenam: Isim yang bertimbangan Fa’laan ‫ فعلن‬misalnya ‫غضــبان، عطشــان‬ َْ ,Ketujuh: Isim yang bertimbangan Afála ‫ أفعل‬misalnya ‫, أحمر، أصغر‬Kedelapan: Isim yang di akhir katanya adalah Alif Mamdudah atau Maqshurah, contohnya ‫, حســناء، أصــدقاء، أطبــاء، حبلـى، مصــطفى‬Kesembilan: Bentuk Muntaha Jumuk, misalnya ‫ .مساجد، عمائر، دوائر، قناديل‬Kata-kata yang termasuk Mamnu’ Min As Sharf ini apabila dimasuki oleh salah satu huruf Jarr maka hukumnya majrur dengan Fatha pengganti kasrah, namun apabila ia dimasuki oleh AL atau ia Idhafah (bersandar pada kalimat lain) maka hukumnya tetap majrur dengan Kasrah, contohnya: AL.17

‫ ,المساجد في‬karena kata masajid dimasuki oleh ِ

b) Harakah digantikan oleh Huruf
(1)

Mutsanna ‫ المثنى‬yaitu yang menunjukkan kepada dua (bernyawa atau tidak bernyawa), antara tunggal dan jamak. Yang ditambahkan Alif ‫ ألف‬dan Nun ‫ نــون‬pada akhir katanya untuk menunjukkan hukumnya sebagai Marfu’,

17

Taufiqul Hakim, Amsilati (Jepara : Darul Falah, 2008), hlm. 28

34

contohnya ‫ , رجلن‬dan menambahkan Ya ‫ ياء‬dan Nun ‫ نون‬pada akhir katanya yang menunjukkan Jarr atau Nashab, contohnya ‫ .رجليــن‬Adapun untuk mengetahui bentuk-bentuknya adalah pembahasan dalam Ilmu Sharf.
(2)

Jamak Muzakkar Salim ‫ جمــع مــذكر ســالم‬yang menunjukkan tiga atau lebih dengan menambahkan Wau ‫ واو‬dan Nun ‫ نون‬pada kondisi Marfu’ contohnya ‫ , مسلمون‬dan menambahkan Ya ‫ ياء‬dan Nun ‫ نـون‬pada kondisi Majrur dan Manshub, contohnya ‫.مسلمين‬

(3)

Asma Sittah ‫ السماء الستة‬yaitu ‫( أب‬bapak), ‫( أخ‬saudara lk), ‫( حم‬panan), ‫( ذو‬yg mempunyai), ‫( فو‬mulut), ‫( هن‬sesuatu). Tanda Marfu’nya dengan Wau ‫الواو‬ contohnya ‫ , حضر أبو علي‬Manshub dengan Alif ‫ ,اللف‬contoh ‫ , ورأيت أبا علي‬dan ُ Majrur dengan Ya ‫ الياء‬contohnya ‫ .مررت بــأبي علــي‬Syarat-syaratnya adalah ُ haruslah tunggal (mufrad) tidak boleh mutsanna (dua) dan Jamak. Syarat lainnya adalah harus Idhafah, contohnya ‫ .حضر أبـوه‬Dan tidak boleh jika bentuknya tashgir, contohnya ‫.أخيه صغير‬ ّ ّ

c) I’rabnya dengan menghapus atau menghilangkan hurufnya
(1)

Al Af’al Al Khmasa ‫ الفعال الخمسة‬yaitu setiap Fi’il yang berhubungan dengan Alif Itsnain (mutsanna), atau Ya Al Mukhatabah, atau Wau Jama’ah. Dinamakan Af’al Khamsa karena bentuknya ada lima yaitu, ،‫تفعلن، يفعلن‬ ‫ .تفعلين, يفعلون، تفعلون‬Hukum I’rab Fi’il yang lima ini adalah menghilangkan huruf Nunnya apabila Ia Mnshub atau Majzum, contohnya ‫يريد التاجران ان‬

‫ يشــترياهذه الــدار‬dihilangkan Nun pada kata Yasytariyani karena manshub dengan huruf nashb. Atau majzum karena dimasuki oleh huruf jazm seperti contoh di bawah ini ‫ل تشتريا هذه الدار‬
(2)

Mudhari’ Mu’tal Akhir, yaitu fi’il mudhari’ yang huruf akhirnya adalah huruf Illat (alif, wau dan ya). Apabila ia berada pada posisi Majzum maka hukumnya adalah majzum dengan menghapus huruf illatnya, contohnya ‫يدعو‬

35

dan ‫ يخشى‬apabila dimasuki oleh huruf jazm ‫ لــم يــدع أحــدا‬dihilangkan huruf ُ wannya ‫ .خالد لم يخش أعداءه‬Dihilangkan huruf yanya. َ I’rab terbagi menjadi tiga macam, yaitu I’rab Dhahir (nampak) ‫إعراب‬ ‫ ,ظاهر‬I’rab Muqaddar (tersembunyi) ‫ إعراب مقدر‬dan I’rab Mahalli ‫إعراب محلي‬ (berdasarkan tempat dan kedudukan dalam kalimat). I’rab Dhahir ‫إعراب ظاهر‬ adalah nampak dan terlihatnya tanda-tanda I’rab seperti kasrah, dhamma dan fatha pada akhir suatu kata, contohnya ‫ في المساجد‬dimana terlihat dengan jelas kasrah pada kata masajidi. I’rab Muqaddar yaitu tidak nampaknya tanda-tanda I’rab dengan jelas pada akhir kata disebabkan oleh beratnya lidah untuk menyebutkannya atau terdapat uzur dalam penyebutan atau karena maksud menempatkannya pada suatu posisi dengan harakat yang sesuai ataupun karena dimasuki oleh huruf jarr tambahan (zaid). Dan semua itu terdapat pada:
(1)

Isim Manquush ‫ السم المنقوص‬yaitu isim yang diakhiri dengan huruf Ya dan huruf sebelumnya kasrah, contoh ‫ القاضــي‬muqaddar atas dhamma dan kasrah karena berat penyebutannya.

(2)

Isim Maqshur ‫ السم المقصور‬yaitu isim yang diakhiri dengan Alif dan huruf sebelumnya adalah fatha, contohnya ‫ الفتــى‬dalam kalimat ‫ حضــر الفــتى‬atau َ ً ‫ ومــررت بفــتى‬I’rabnya adalah dengan menyembunyikan semua harakatnya ُ karena ada uzur.

(3)

Isim yang disandarkan kepadanya Ya Mutakallim, contohnya ‫ كتابي‬semua harakatnya disembunyikan karena kedudukannya dengan harakat yang sesuai.

(4) (5)

Isim yang dijarr dengan huruf jarr tambahan, contohnya ‫.ما حضر من أحد‬ ٍ Fi’il Mudhari’ yang huruf akhirnya adalah huruf illat, baik huruf akhirnya adalah Ya dan sebelumnya kasrah misalnya ‫ , يمشــي، يبنــي‬ataukah huruf akhirnya adalah Wau sebelumnya dhamma, contohnya ‫ ,يدعو، يغزو‬maupun

36

huruf akhirnya Alif dan fatha sebelumnya, misalnya ‫ ,يرعــى، يخشــى‬maka tanda I’rabnya adalah muqaddar karena ada uzur yang menghalangnya. I’rab Mahalli ‫ إعراب محلي‬yang berdasarkan tempat dan kedudukan suatu isim dalam kalimat, dan kebanyakan terdapat pada semua isim yang mabni, contoh dari kata penunjuk ‫ , هذا كريم‬contoh dari kata penghubung ‫أكرمت‬ ‫81.الذي نجح‬ (1) Nakirah (‫ )النكرة‬dan Ma’rifat (‫)المعرفة‬ Nakirah (‫ )النكرة‬adalah yang tidak dimaksudkan kepada sesuatu yang tertentu atau dengan kata lain nakirah adalah sesuatu yang belum tentu dan pasti, contohnya kata manusia (‫ )إنسان‬dan laki-laki (‫ )رجل‬apabila kedua kata tersebut belum jelas ketentuannya, manusia yang manakah atau lelaki yang mana. Sedangkan Ma’rifat (‫ )المعرفة‬adalah susatu yang pasti dan dimaksudkan kepada susuatu yang tertentu, yang terbagi menjadi tujuh bagian yaitu Dhamir, álam, kata penunjuk, kata penghubung, kata yang ber alif lam (‫ ,)أﻝ‬bersandar pada ma’rifah , munada (panggilan=dimasuki oleh huruf nida). Dhamir (‫ )ضــمائر‬adalah kata yang menunjukkan kepada mutakallim (orang pertama tunggal) atau mukhatab (lawan berbicara) dan ghaib (orang ketiga). Yang terbagi menjadi dhamir Munfashil (terpisah) yaitu dhamir yang boleh dimulai dengannya pada awal kalimat atau terletak setalh Illa (kecuali). Dan dhamir muttashil (bersambung) yaitu dhamir yang bersambungan dengan kata lain, contoh dhamir munfashil, saya (‫ ,)أنا‬kamu laki-laki (‫ ,)أنت‬kami/kita ( َ ‫ ,)نحن‬dia laki-laki (‫ ,)هو‬dia perempuan (‫ ,)هي‬mereka (‫ )هم‬kesemuanya adalah dhamir muttashil yang menempati kedudukan rafa’/marfu’dalam kalimat, adapaun yang menempati nashab yaitu saya (‫ ,)إياي‬kamu (‫ ,)إياك‬mereka (‫)إياهم‬ ّ ّ

18

Lulu Fikar, Op. Cit., hlm. 30

37

dst. Contoh dhamir muttashil, Ta yang menunjukkan saya (‫ ,)تــاء= قــرأت‬Na ُ menunjukkan kita (‫ )نا =قرأنا‬dan seterusnya.19 Al ‘alam (‫ )العلعم‬adalah kata yang menunjukkan sesuatu pada zatnya yang meliputi Kunyah (gelar) yaitu kata yang dimulai dengan ibn, abu atau umm, contohnya (‫ .)أبـــو بكـــر(, )ابـــن الـــوردي(, )أم المـــؤمنين‬Laqab (gelar) yang menunjukkan kebaikan atau memuji dan keburukan atau penghinaan, contohnya (‫= الفاروق‬yang dapat membdakan baik dan buruk) dan (‫= العشى‬yang cacat matanya). Ataupun nama-nama orang selain kuniyah dan laqab, baik yang tunggal maupun yang tersusun dari dua kata, contohnya (,(‫أحمـد(, )هنــد‬ ‫ ,))مكة‬dan (‫.)عبدال‬ Kata penunjuk (‫ )اسم الشارة‬yaitu kata yang menunjukkan pada sesuatu yang tertentu baik dekat ataupun jauh, contoh (‫= هذا‬ini lk), (‫= هذ ه‬ini pr), (‫ذلك‬ =itu lk) dan (‫= تلك‬itu pr). Kata penyambung (‫ )السم الموصول‬yaitu kata yang menunjukkan pada susuatu yang tertentu yang berhubungan, contohnya (‫= الذي‬yang lk) dan (‫التي‬ =yang pr). Alif Lam (‫ )أل‬yaitu isim nakirah yang dimasuki oleh alif dan lam, dan menjadikan sesuatu itu menjadi tertentu (ma’rifat), contohnya kata buku (‫)كتاب‬ yang belum diketahui buku yang mana maka ditambahkan alif dan lam guna menunjukkan buku tertentu menjadi (‫.)الكتاب‬ Isim yang disandarkan pada isim ma’rifah yaitu isim nakirah diidhafahkan (disandarkan) pada isim ma’rifat yang menyebabkan isim tersebut menjadi ma’rifat, contohnya (‫= هذا كتاب علي‬ini bukunya Ali), kata kitab ّ dalam contoh ini adalah nakirah namun karena diidafahkan pada isim ma’rifat yaitu Al maka kata kitab dengan sendirinya menjadi ma’rifat.

19

Taufiqul Hakim, Op. Cit., hlm 32

38

Munada (‫ )لمنادى عا‬yaitu memanggil dengan maksud menentukannya sehingga ia menjadi ma’rifat, contohnya (‫ )يا بائع‬dan (‫02.)يا عبدال‬ ُ ِ َ 11) I’rab Fi’il Mudhari’ I’rab Fi’il Mudhari’ ada tiga yaitu Nashab, Jazam dan Rafa’. Dinashabkan Mudhari’ apabila dimasuki oleh salah satu dari huruf Nashab yaitu, An ‫ أن‬contohnya َ ‫ , وما كان لنفس أن تمو‬Lan ‫ ,لن‬contohnya ‫قل لن يصيبنا إل ما‬ ْ ‫َ َ َ َ َِ ْ ٍ َ ْ َ ُ ت‬ َ ّ ِ ََ ِ ُ ّ ُ ّ َ ََ ‫ , كتب ال‬Izan ‫ إذن‬contohnya ‫ , أريد أن أزورك. إذن أكرمك‬Kay ‫ ,كي‬contohnya َ ُ

‫ تعلمــت كــي اكــون عالمــا‬Fi’il Mudhari’ juga dinashabkan dengan An yang
tersembunyi setelah Lam ‫ ,لتغفر لهم‬atau Hatta ‫ ,حتى تتبع ملتهم‬atau Fa sababiah ‫لم‬ ْ ُ َ َ ِ ْ َِ ْ ُ َ ِّ َ ِ ّ َ َّ َ ‫ ,تعمل فتكسب‬atau Athaf kepada isim sebelumnya. ْ Fi’il Mudhari’ itu Majzum apabila didahului oleh salah satu dari pada huruf jazam, yaitu Lam ‫ لم‬dan Lamma ‫,لما‬contohnya ‫.لم يسافر زيد، لما يعد علي‬ ّ ّ ُْ ْ Lam Amr ‫ لم المر‬yang menunjukan perintah, contoh ‫ .لتحكم بيـن النـاس بالعــدﻝ‬La ِ ْ Nahy ‫ ل الناهيــة‬yang menunjukkan larangan, contohnya ‫ول تبطلــوا صــدقاتكم بــالمن‬ ‫ .والذى‬Dan Fi’il Mudhari’ juga majzum apabila di masuki oleh salah satu dari huruh Syarth. Apabila Fi’il Mudhari’ kosong dari huruf Nashab dan Jazam maka I’rabnya tetaplah Rafa’/ marfu’.21

2. Kemampuan Membaca Al-Qur’an Dan Hadits a. Pengertian Kemampuan Membaca Al-Qur’an Dan Hadits Pengertian kemampuan dan membaca, banyak para ahli memberikan definisi yang berbeda-beda, sehingga akan lebih jelas nilai kemampuan membaca jika dijelaskan masing-masing pengertiannya terlebih dahulu.

20 21

Ibid, hlm. 33 Ibid, hlm. 32

39

Secara etimologi kemampuan diartikan sebagai kesanggupan, kecakapan dan kekuatan.22 Sedangkan secara istilah kemampuan adalah sesuatu yang benar-benar dapat dilakukan oleh seseorang, artinya pada tatanan realistis hal itu dapat dilakukan karena latihan-latihan dan usahausaha juga belajar.23 Sumadi Suryabrata mengutip dari Woodworth dan Marquis mendefinisikan ablility (kemampuan) pada tiga arti, yaitu :
1)

Achievment, yang merupakan potensial ability, yang dapat diukur langsung dengan alat atau test tertentu.

2)

Capacity, yang merupakan potensial ability, yang dapat diukur secara tidak langsung dengan melalui pengukuran terhadap kecakapan individu, di mana kecakapan ini berkembang dengan perpaduan antara dasar dengan training yang intensif dan pengalaman.

3)

Aptitute, yaitu kualitas yang hanya dapat diungkapkan atau diukur dengan tes khusus yang sengaja dibuat untuk itu.24 Dari penghayatan di atas dapat diambil pengertian bahwa kemampuan

adalah potensi yang dimiliki daya kecakapan untuk melaksanakan suatu perbuatan, baik fisik maupun mental dan dalam prosesnya diperlukan latihan yang intensif di samping dasar dan pengalaman yang ada. Adapun pengertian membaca telah banyak para ahli yang

mengemukakan pendapatnya diantaranya adalah sebagai berikut :
22 23

Depdikbud, Kamus Besar Bahasa Indonesia, Edisi IV, Jakarta, 2005, hlm. 623. Najib Kholid Al-Amir, Mendidik Cara Nabi SAW, Pustaka Hidayah,, Bandung, 2002, hlm.166. Sumadi Suryabrata, Psikologi Pendidikan, Raja Grafindo Persada, Jakarta, 1998, hlm.

24

161.

40

1)

Menurut Rahayu S. Hidayat dalam bukunya “Pengetesan Kemampuan Membaca Secara Komunikatif” membaca adalah melihat dan

memahami tulisan dengan melisankan atau hanya dalam hati. Definisi tersebut menyangkut tiga unsur dalam kegiatan membaca, yaitu pembaca (yang melihat, memahami dan melisankan dalam hati), bacaan (yang dilihat) dan pemahaman (oleh pembaca).25
2)

Menurut Abdurrahman dalam bukunya “Membina Minat Baca di Jawa Timur”, mengatakan bahwa membaca adalah suatu ajaran yang lahirnya komunikasi antara seseorang dan bahan bacaan sebagai bentuk upaya pemenuhan kebutuhan dan tujuan tertentu.26

3)

Membaca Menurut Yus Rusyana dalam bukunya “Bahasa dan Sastra dalam Gambitan Pendidikan”, mengatakan bahwa membaca atau kegiatan membaca adalah perbuatan yang dilakukan dengan sadar dan bertujuan. Demikian juga yang dimaksud membaca, membaca itu adalah proses pengenalan simbol-simbol yang berlaku sebagai perangsang untuk memunculkan dan penyusunan makna, serta dengan menggunakan makna yang dihasilkan itu pada tujuan.27 Oleh karena itu membaca dipandang sebagai sarana memenuhi

kebutuhan dan sarana untuk mencapai tujuan lewat bahan bacaan atau dapat dikataan membaca suatu proses yang dilakukan serta dipergunakan untuk memperoleh kesan yang hendak disampaikan melalui kata-kata atau bahasa
25

Rahayu S. Hidayat, Pengetesan Kemampuan Membaca Secara Komunikatif, Cet. I, Intermasa, Jakarta, 1990, hlm. 27. 26 Abdurrahman, Membina Minat Baca di Jawa Timur, Pusat Pembinaan Bahasa Depdikbud, Jakarta, 1985, hlm. 17.
27

Yus Rusyana, Bahasa dan Sastra dalam Gambitan Pendidikan, Diponegoro, Bandung, 1998,hlm.23.

41

tulis.28 Sehingga membaca bukan sekedar mengenal dan mengeja kata-kata, tetapi jauh lebih dalam lagi yaitu dapat memahami gagasan yang dapat disampaikan kata-kata yang tampak itu dengan kemampuan melihat hurufhuruf dengan jelas, mampu menggerakkan mata secara lincah, mengingat simbol-simbol bahasa yang tepat dan memiliki penalaran yang cukup untuk memahami bacaan. Dari ketiga pengertian di atas dapat diambil kesimpulan, bahwa membaca adalah proses berfikir disertai dengan efektifitas yang komplek yang melibatkan berbagai faktor baik dari luar maupun dari dalam diri pembaca dengan maksud untuk menerima informasi dari sumber tertulis.29 Adapun pengertian Al-Qur’an ditinjau dari segi kebahasaan, AlQur’an berasal dari bahasa Arab yang berarti "bacaan" atau "sesuatu yang dibaca berulang-ulang". Kata Al-Qur’an adalah bentuk kata benda (masdar) dari kata kerja qara'a yang artinya membaca. Sedangkan pengertian Hadits menurut bahasa berarti baru30. Adapun Muhammad Ali ash-Shabuni mendefinisikan Al-Qur'an sebagai berikut: "Al-Qur'an adalah firman Allah yang tiada tandingannya, diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW penutup para Nabi dan Rasul, dengan perantaraan Malaikat Jibril a.s. dan ditulis pada mushaf-mushaf yang kemudian disampaikan kepada kita secara mutawatir, serta membaca dan

Henry Guntur Tarigan, Membaca Sebagai Suatu Ketrampilan Berbahasa, Aksara, Bandung,1987.hlm 8. 29 Ibid, hlm. 9.
28 30

Wikepedia Indonesia

42

mempelajarinya merupakan ibadah, yang dimulai dengan surat Al-Fatihah dan ditutup dengan surat An-Nas"31 Hadits secara harfiah berarti perkataan atau percakapan. Dalam terminologi Islam istilah hadits berarti melaporkan/ mencatat sebuah pernyataan dan tingkah laku dari Nabi Muhammad. Namun pada saat ini kata hadits mengalami perluasan makna, sehingga disinonimkan dengan sunnah, maka bisa berarti segala perkataan (sabda), perbuatan, ketetapan maupun persetujuan dari Nabi Muhammad SAW yang dijadikan ketetapan ataupun hukum32 Setelah diketengahkan beberapa pendapat dan pengertian baik pengertian kemampuan membaca maupun pengertian Al-Qur’an, penulis dapat ambil kesimpulan bahwa kemampuan membaca Al-Qur’an adalah suatu daya yang ada pada diri manusia untuk melaksanakan suatu perbuatan atau aktifitas yang disertai dengan proses berfikir dengan maksud memahami yang tersirat dalam hal yang tersurat, melihat pikiran yang terkandung di dalam kata-kata yang tertulis dalam Al-Qur’an.33 Berpijak pada pengertian di atas, dapat dirumuskan pengertian dari kemampuan membaca Al-Qur’an dan Hadits yaitu kesanggupan, kecakapan dan kekuatan seseorang dalam membaca Al-Qur’an dan Hadits secara tartil dan memahami maksud serta mengerti makna yang terkandung dalam bacaan dan yang membaca Al-Qur'an adalah ibadah sesuai dengan firman Allah SWT :

31 32

Ibid Ibid 33 Ibid, hlm. 3.

43

(4 : ‫ورتل القران ترتيل )المزمل‬
Artinya : “…. dan bacalah Al-Qur’an dengan tartil” (QS. Al-Muzamil : 4).34 b. Dasar Membaca Al-Qur’an dan Hadits Yang menjadi dasar membaca Al-Qur’an yang pertama adalah surat Al-Balad ayat 8-10, yang berbunyi :

(10-8 : ‫الم نجعل له عينين ولسانا وشفتين وهد ينه النجد ين )البلد‬ ّ
Artinya : “Bukanlah kami telah memberikan kepadanya dua buah mata, lidah dan dua buah bibir. Dan Kami telah menunjukkan kepadanya dua jalan”.35

Dasar membaca yang terdapat dalam ayat tersebut adalah mata untuk melihat teks atau tulisan, lidah dan dua buah bibir untuk melafalkan dan mengucapkan bacaan, seperti apa yang dikehendaki, untuk dapat memperoleh informasi baru yang dapat menambah pengetahuan manusia agar tidak menjadi manusia yang asing akan informasi-informasi baru yang berkembang dengan pesat seiring dengan perkembangan zaman dan ilmu pengetahuan.36 Dan dasar yang kedua adalah surat Al-Alaq ayat 1-5, yang berbunyi :

‫اقرأ باسم ربك الذي خلق. خلق النسان من علــق. اقــرأ وربــك الكــرم. الــذي‬ (5-1 : ‫علم باالقلم. علم النسان مالم يعلم )العلق‬
34

Al-Qur’an, Surat Muzammil Ayat 4, Mujamma’ Al Malik Fahd Li Thiba’at Al Mush-haf Asy-syarif, Al-Qur’an dan Terjemahnya, Kerajaan Arab Saudi.2008 hlm. 988.

35 Al-Qur’an, Surat Al-Balad Ayat 8-10, Mujamma’ Al Malik Fahd Li Thiba’at Al Mush-haf Asy-syarif, Al-Qur’an dan Terjemahnya, Kerajaan Arab Saudi, 2008. hlm. 1061. 36 Rahayu S. Hidayat, Op.cit, hlm. 31.

44

Artinya :

“Bacalah dengan menyebut nama Tuhanmu yang menciptakan, Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah, bacalah dan Tuhanmulah yang paling pemurah, yang mengajar (manusia) dengan perantaraan kalam. Dia mengajarkan kepada manusia apa yang tidak diketahuinya.” (QS. Al-Alaq : 1-5).37

Dengan mempelajari makna atau arti ayat di atas, amat jelaslah bahwa Allah SWT mewahyukan Al-Qur’an pertama kalinya kepada Nabi Muhammad SAW dengan perintah membaca. c. Standar Kemampuan Membaca Al-Qur’an dan Hadits Membaca itu adalah proses yang kompleks dan rumit karena memerlukan suatu proses, maka tidak mungkin dapat terlepas dari aktivitas dan seseorang yang mejalankan aktifitas pasti mempunyai tujuan.38 Tujuan membaca dianggap sebagai modal dalam membaca, sedangkan tujuan membaca dalam menelusuri baris-baris bacaan dapat mempengaruhi hasil membacanya. Sebagai ilustrasi misalnya bila melihat seseorang berjalan tanpa tujuan, arah geraknya, kecepatan, lama dan cara berjalannya tentu berbeda dengan orang yang berjalan dengan tujuan yang jelas.39 Standar kemampuan membaca yaitu kecepatan membaca dan pemahaman isi bacaan secara keseluruhan, dimaksudkan kecepatan membaca (reading speed) seseorang adalah 180 kata permenit.40
37 Al-Qur’an, Surat Al-Alaq Ayat 1-5, Mujamma’ Al Malik Fahd Li Thiba’at Al Mush-haf Asy- syarif, Al-Qur’an dan Terjemahnya, Kerajaan Arab Saudi, 2008. hlm. 1079. 38 39 40

Rahayu S. Hidayat, Op.cit, hlm. 25. Ibid, hlm. 29. DP. Tampubolon, Kemampuan Membaca, Angkasa, Bandung, 1980, hlm. 71.

45

Gleen Doman memberikan alasan mengapa anak-anak harus belajar membaca ketika usia mereka masih sangat muda adalah sebagai berikut : 1) Kemampuan anak untuk menyerap informasi pada usia tiga tahun

sampai sepuluh tahun pada puncaknya dan tidak akan pernah terulang lagi. 2) Jauh lebih mudah mengajarkan anak membaca pada usia dini daripada dalam usia lain-lainnya. 3) Anak yang diajar membaca pada usia yang sangat dini dapat menyerap informasi daripada anak-anak ketika belajar sudah mengalami frustasi. 4) Anak-anak yang belajar membaca ketika masih sangat muda cenderung lebih mudah mengerti dari pada anak yang tidak membaca seperti itu.
5)

Anak-anak yang belajar membaca ketika usianya sangat muda cenderung membaca lebih cepat dan penuh pemahaman dibadingkan dengan anak-anak yang lain.41

3. Hubungan Antara Penguasaan Pelajaran Nahwu dan Sharaf dengan Kemampuan Membaca Al-Qur’an Kemampuan membaca merupakan dasar untuk menguasai berbagai bidang studi, membaca bukan mengucapkan bahasa tulisan atau lambang bunyi bahasa saja, melainkan juga menanggapi dan memahami isi bahasa tulisan.42

41

94.
42

Gleen Doman, Mengajar Bayi Anda Membaca, Gaya Favorit Press, Jakarta, 1998, hlm.

Mulyono Abdurrahman, Pendidikan Bagi Anak Berkesulitan Belajar, Rineka Cipta, Jakarta, 1998, hlm. 207.

46

Kemampuan membaca Al-Qur’an dan Hadits merupakan salah satu faktor yang sangat penting dalam diri individu yang sangat berpengaruh dalam belajar nahwu dan sharaf, sebab jika seseorang itu mampu menguasai pelajaran nahwu dan Sharaf dengan baik maka akan lebih mudah dalam memahami Al-Qur'an dan Hadits ataupun ilmu-ilmu pengetahuan agama lainnya yang menggunakan bahasa Arab. Sedangkan apabila seseorang itu kurang mampu menguasai pelajaran nahwu dan sharaf, maka dalam memahami Al-Qur'an dan Hadits dan ilmu-ilmu pengetahuan agama lainnya akan merasa kesulitan dan kemampuan dalam memahami dan membaca Al-Qur'an menjadi kurang baik.43 Syeh Az-Zarnuji mengemukakan syarat-syarat keberhasilan dalam belajar sebagai berikut :

‫ول بد من الجد والمواظبة والمل زمة لطا لب العلم ول بـد لطـا لــب العلــم‬ ‫ّ ـ‬ ّ ّ .‫من المواظبة على الد رس, ول بد لطا لب العلم من الهمة العالية فى العلم‬ ّ ّ ّ
44

Artinya :

“Bagi pelajar harus mempunyai kemauan yang keras, bagi pelajar harus kontinyu dalam belajar, bagi pelajar harus mempunyai citacita yang tinggi dalam mencari ilmu”.

Bagi siswa atau anak didik yang mempelajari nahwu dan sharaf akan lebih mendorong membaca Al-Qur'an dan Hadits dengan penuh perhatian, usaha yang sungguh-sungguh dan aktif dalam belajar, maka ia akan memperoleh kemampuan pemahaman yang baik. Sebaliknya apabila siswa itu

43 44

Ibid, hlm. 209. Syeh Az-Zarnuji, Al-Ta’limul Muta’alim, Surabaya, Al-Ma’arif, t.th, hlm. 20-23.

47

kurang perhatian, kurang usaha dan kurang aktif dalam belajar, maka penguasaannya akan kurang baik juga. Maka pelajaran Nahwu dan Sharaf juga merupakan mata pelajaran yang masuk dalam pelajaran pendidikan agama Islam yang memiliki tujuan mendorong, membimbing dan membina kemampuan berbahasa Arab baik dalam memahami bahasa Arab secara lisan maupun secara tulisan, sehingga diharapkan akan dapat memahami ajaran Islam yang bersumber dari Al-Qur’an dan Al-Hadits. 45 Mempelajari nahwu dan sharaf adalah syarat wajib untuk menguasai isi Al-Qur’an dan Hadits. Mempelajari bahasa Al-Qur’an berarti mempelajari nahwu dan sharaf.46 Dengan demikian penguasaan pelajaran nahwu dan sharaf dengan kemampuan membaca Al-Qur’an merupakan satu kesatuan dalam pelajaran pendidikan agama Islam yang memiliki tujuan yang sama yaitu mendorong, membimbing dan membina akhlak dan perilaku siswa yang akhirnya siswa diharapkan mampu memahami Al-Qur’an dan Haditst sebagai ajaran agama Islam. B. Rumusan Hipotesis Berdasarkan Rumusan masalah dan kajian pustaka yang telah diuraikan, maka dalam penelitian ini diajukan hipotesis sebagai berikut : 1. Hipotesis Alternatif (Ha)

45

23.
46

Depag RI, GBPP Baca Tulis Al-Qur’an, Dirjen Kelembagaan Islam, Jakarta, 2000, hlm. Ibid, hlm. 188.

48

“Ada pengaruh yang signifikan antara Penguasaan Ilmu Nahwu Sharaf terhadap Kemampuan membaca Al qur’an dan Hadits Siswa kelas VIII MTs.Qudsiyyah Kudus Tahun Pelajaran 2008/2009”. 2. Hipotesis Nihil (Ho) “Tidak ada pengaruh yang signifikan antara Penguasaan Ilmu Nahwu Sharaf terhadap Kemampuan membaca Al qur’an dan Hadits Siswa kelas VIII MTs.Qudsiyyah Kudus Tahun Pelajaran 2008/2009.”

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->