MAKALAH PENYIMPANGAN UNDANG-UNDANG NOMOR 31 TAHUN 1999 JO UNDANG-UNDANG NOMOR 20 TAHUN 2001 TENTANG PEMBERANTASAN TINDAK

PIDANA KORUPSI TERHADAP KITAB UNDANG-UNDANG HUKUM PIDANA

A. Pendahuluan Salah satu persoalan yang seringkali menjadi momok khususnya di negaranegara berkembang adalah persoalan korupsi, bahkan tidak sedikit pemerintahan yang jatuh akibat digerogoti oleh persoalan ini. Sebut saja runtuhnya kekuasaan Marcos di Philipina dan Causesscue di Rumania atau jatuh bangunnya rezim diktator dibeberapa negara Amerika Latin dan pengalaman di Indonesia juga membuktikan itu. Salahsatu penyebab ambruknya rezim Soeharto yang telah berkuasa selama tigapuluh dua tahun adalah parahnya persoalan korupsi. Bahkan hasil survey sebuah media asing Salah satu fungsi hukum pidana adalah untuk memberikan dasar legitimasi bagi tindakan-tindakan represif negara terhadap perbuatan seseorang yang mengancam, membahayakan dan merugikan kepentingan umum. Perbuatan seperti membunuh, memperkosa, mencuri dan sebagainya merupakan perbuatan yang merugikan kepentingan publik, sehingga sah bagi negara untuk melakukan tindakan represif terhadap pelakunya. Dalam konteks ini hukum pidana merupakan perangkat normatif untuk melindungi masyarakat

1

Dari konsideran tersebut terlihat sifat khusus tindak pidana korupsi terletak pada adanya unsur kerugian keuangan negara. 20 tahun 2001. sehingga tindak pidana korupsi digolongkan sebagai kejahatan yang pemberantasannya harus dilakukan secara luar biasa. Salah satu agenda reformasi di bidang pemerintahan adalah penyelenggaraan pemerintahan yang bersih dan bebas dari unsur korupsi. 31 tahun 1999 dan UU No.dari tindakan-tindakan yang mengancam dan membahayakan jiwa serta harta bendanya. Sebagaimana undang-undang lain yang mengatur hukum pidana khusus. menempatkan Indonesia sebagai salah satu negara paling korup di dunia. ketentuan khusus dalam kedua undang-undang tersebut 2 . XI/MPR/1998. tetapi juga merupakan pelanggaran terhadap hak sosial ekonomi masyarakat secara luas. yang bahkan dianggap sebagai pelanggaran terhadap hak sosial ekonomi masyarakat. 20 tahun 2001 mengandung beberapa ketentuan yang menyimpang dari ketentuan hukum pidana umum yang terdapat dalam KUHP. kolusi dan nepotisme (KKN) sebagaimana tertuang dalam TAP MPRRI No. Sesuai adagium lex specialist derogat legi generali. Dalam konteks mewujudkan good government dan clean governance ini TAP MPR tersebut kemudian diimplementasikan ke dalam beberapa peraturan perundang-undangan yang salah satunya adalah Undangundang No. UU No. 31 tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi yang kemudian dilakukan perubahan melalui UU No. Dalam konsideran menimbang Undang-undang Nomor 20 tahun 2001 disebutkan bahwa tindak pidana korupsi yang selama ini terjadi secara meluas tidak hanya merugikan keuangan negara.

Bagaimanakah penyimpangan pengaturan antara Undang-Undang Nomor 31 tahun 1999 jo Undang-Undang Nomor 20 tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi dengan Kitab Undang-Undang Hukum Pidana ? 3 . Dengan adanya permaslahan yang jelas maka proses pemecahannya pun akan terarah dan terfokus pada permasalahan tersebut. 31 tahun 1999 dan UU No. Berdasarkan latar belakang masalah tersebut diatas maka perumusan permasalahan dapat dirinci sebagai berikut : 1.mengesampingkan ketentuan dalam peraturan perundang-undangan lain yang bersifat umum. Permasalahan Perumusan masalah atau sering diistilahkan problematika merupakan bagian penting yang harus ada dalam penulisan suatu makalah. 20 tahun 2001 adalah lex specialist dan KUHP adalah legi generali-nya. B. Dalam konteks ini UU No.

yaitu penyimpangan secara tegas tersurat dalam undang-undang yang bersangkutan secara expressisverbis dan penyimpangan secara diam-diam. 31 tahun 1999 dan UU No. Kekhususan dan penyimpangan antara lain seperti terdapat dalam beberapa pasal UU No. Pemidanaan badan hukum atau korporasi dimungkinkan dalam perkara korupsi sebagaimana diatur dalam pasal 1 ayat (3) UU No. b. Adanya perluasan pengertian pegawai negeri yang diatur dalam pasal 1 ayat 1 UU No. Hampir semua perumusan delik dalam KUHP dimulai dengan katakata “barang siapa” atau dalam pasal 341 dan 342 KUHP yang dimulai dengan katakata “seorang ibu” yang menunjuk manusia sebagai subyek hukum.PEMBAHASAN Menurut Nolte dalam Het Strafrecht en de Afzonderlijke Wetten. 31 tahun 1999. yaitu: a. 31 tahun 1999. 4 . 20 tahun 2001. Hal ini menyimpang dari ketentuan pidana umum yang selalu menunjuk orang sebagai subyek hukum. yaitu selain seperti yang dimaksud oleh Undangundang tentang Kepegawaian dan KUHP. juga termasuk orang yang menerima gaji atau upah dari keuangan negara atau daerah atau dari suatu korporasi yang menerima bantuan dari keuangan negara atau daerah dan orang yang menerima gaji dari korporasi lain yang mempergunakan modal atau fasilitas dari negara atau masyarakat. penyimpangan dalam hukum pidana khusus terdiri dari dua macam.

Hal ini menyimpang dari ketentuan dalam pasal 53 ayat (2) dan pasal 57 ayat (1) KUHP yang menentukan hukuman maksimal bagi percobaan dan pembantuan tindak pidana. e. Terdapat beberapa perbuatan yang sudah terjaring dalam perumusan delik lain dalam KUHP maupun Undangundang Tindak Pidana Ekonomi dapat tercakup di dalam perumusan delik dalam Undang-undang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi. Perumusan tindak pidana korupsi bersifat serba meluas dan serba meliputi (all embracing and multy purpose act). Menurut ketentuan dalam pasal 2 KUHP. Dalam Pasal 15 UU No.c. hukum pidana Indonesia berlaku bagi setiap orang yang melakukan tindak pidana diseluruh wilayah Indonesia Dengan pengecualian berlaku bagi setiap orang di luar wilayah Indonesia yang berada dalam kapal 5 . d. Dalam pasal 16 UU No. juga memungkinkan untuk diberlakukannya hukum pidana Indonesia di luar wilayah Indonesia. Ketentuan dalam pasal tersebut selain menyimpang dari ketentuan dalam KUHP menyangkut hukuman terhadap turut serta dalam tindak pidana (medepleger). 31 tahun 1999 disebutkan bahwa percobaan. 31 tahun 1999 disebutkan setiap orang yang berada di luar wilayah Republik Indonesia yang memberikan bantuan. yaitu hukuman maksimal tindak pidana yang bersangkutan dikurangi sepertiganya. sarana atau keterangan untuk terjadinya tindak pidana korupsi dipidana dengan pidana yang sama sebagai pelaku tindak pidana korupsi. pembantuan (medepleger) maupun permufakatan jahat dipidana sama dengan pidana terhadap tindak pidana korupsi. kesempatan.

f. Menurut ketentuan dalam pasal ini setiap gratifikasi kepada pegawai negeri atau penyelenggara negara dianggap pemberian suap. sebagaimana diatur dalam pasal 4 KUHP. Ancaman pidana terhadap pegawai negeri yang terbukti menerima suap tersebut adalah mulai dari pidana sementara minimal empat tahun dan maksimal 20 tahun penjara sampai dengan pidana seumur hidup. Selain itu ditentukan mengenai pidana tambahan yang berupa pembayaran uang pengganti. Dalam pasal 18 UU No. dan berlaku bagi setiap orang di luar wilayah Indonesia yang melakukan tindak pidana kejahatan terhadap keamanan negara. Hal yang menarik adalah ketentuan dalam pasal tersebut tidak berlaku apabila 6 .berbendera Indonesia. 31 tahun 1999 diatur mengenai pidana tambahan selain pidana tambahan yang sudah ditentukan dalam pasal 10 KUHP. penutupan sebagian atau seluruh perusahaan. yaitu perampasan barang bergerak yang berwujud atau tidak berwujud dan barang tidak bergerak yang digunakan atau diperoleh dari tindak pidana korupsi. kejahatan menyangkut mata uang Indonesia dan kejahatan pelayaran. termasuk perusahaan dan barang yang menggantikan barang-barang tersebut. dan pencabutan seluruh atau sebagian hak tertentu dan keuntungan yang diberikan oleh pemerintah. Salah satu hal baru yang diatur dalam UU No. Pidana tambahan tersebut. 20 tahun 2001 adalah mengenai gratifikasi yang diatur dalam pasal 12 B undang-undang tersebut. apabila berhubungan dengan jabatannya dan berlawanan dengan kewajiban atau tugasnya. g. sebagaimana diatur dalam pasal 3 KUHP.

rabat (discount). fasilitas penginapan. komisi. pinjaman tanpa bunga. perjalanan wisata. barang. pengobatan cuma-cuma. dan fasilitas lainnya yang diterima di dalam maupun di luar negeri dengan menggunakan maupun tanpa sarana elektronik. Sementara itu pengertian gratifikasi menurut penjelasan pasal 12 B adalah pemberian dalam arti luas yang meliputi pemberian uang. 7 . tiket perjalanan.pegawai negeri penerima gratifikasi melaporkannya kepada Komisi Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi dalam waktu maksimal tigapuluh hari sebagaimana diatur dalam pasal 12 C Undang-undang ini.

KESIMPULAN Kekhususan dan penyimpangan antara lain seperti terdapat dalam beberapa pasal UU No. Dalam Pasal 15 UU No. e. 8 . d. Dalam pasal 16 UU No. 31 tahun 1999 dan UU No. c. yaitu: a. kesempatan. 31 tahun 1999. 31 tahun 1999 diatur mengenai pidana tambahan selain pidana tambahan yang sudah ditentukan dalam pasal 10 KUHP. f. pembantuan (medepleger) maupun permufakatan jahat dipidana sama dengan pidana terhadap tindak pidana korupsi. sarana atau keterangan untuk terjadinya tindak pidana korupsi dipidana dengan pidana yang sama sebagai pelaku tindak pidana korupsi. 31 tahun 1999. Adanya perluasan pengertian pegawai negeri yang diatur dalam pasal 1 ayat 1 UU No. 31 tahun 1999 disebutkan bahwa percobaan. b. 20 tahun 2001 adalah mengenai gratifikasi yang diatur dalam pasal 12 B undang-undang tersebut. Salah satu hal baru yang diatur dalam UU No. 20 tahun 2001. Dalam pasal 18 UU No. Pemidanaan badan hukum atau korporasi dimungkinkan dalam perkara korupsi sebagaimana diatur dalam pasal 1 ayat (3) UU No. Perumusan tindak pidana korupsi bersifat serba meluas dan serba meliputi (all embracing and multy purpose act). g. 31 tahun 1999 disebutkan setiap orang yang berada di luar wilayah Republik Indonesia yang memberikan bantuan.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful