BAB I PENDAHULUAN A.

Latar Belakang Masalah Pendidikan pada hakekatnya merupakan proses pembangunan bangsa secara keseluruhan, dimana pendidikan berperan dalam mengembangkan aspek-aspek kehidupan terutama dalam masa reformasi yang serba transparan seperti sekarang ini. Pendidikan pada dasarnya berperan dalam mencerdaskan kehidupan bagsa yang sasarannya adalah upaya peningkatan kualitas manusia Indonesia, baik sosial, spiritual dan intelektual serta kemampuan yang professional. Di dalam pembukaan UUD 1945 alenia ke IV, merupakan citacita dari bangsa Indonesia yang salah satunya berbunyi mencerdaskan kehidupan bangsa. Untuk mewujudkan cita-cita tersebut, kemudian diatur lebih lanjut dalam pasal 31 ayat (1) setiap warga negara berhak mendapat pendidikan. Di dalam UU RI no 20 tahun 2003 Bab II pasal 3, ditetapkan fungsi dan tujuan pendidikan nasional yang lebih rinci sebagai berikut: “Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berahklak mulia, sehat berilmu, cakap, kreatif, mandiri dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.” Untuk menjalankan fungsi dan mencapai tujuan pendidikan tersebut kita mengenal adanya pendidikan formal dan pendidikan nonformal. Pendidikan formal dan nonformal diatur lebih lanjut dalam Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 19 tahun 2005, tentang Standar Nasional Pendidikan. Pada Pasal 1 (satu), dalam Peraturan Pemerintah ini yang dimaksud dengan: 1. Pendidikan formal adalah jalur pendidikan yang terstruktur dan berjenjang yang terdiri atas pendidikan dasar, pendidikan menengah, dan pendidikan tinggi.

2

2. Pendidikan nonformal adalah jalur pendidikan di luar pendidikan formal yang dapat dilaksanakan secara terstruktur dan berjenjang. Berdasarkan kutipan di atas untuk mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat, pemerintah mewajibkan mata pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan di dalam kurikulum persekolah dimulai dari pendidikan dasar, pendidikan menengah dan perguruan tinggi. Sebagaimana lazimnya suatu bidang studi yang diajarkan di sekolah, materi keilmuan dari mata pelajaran kewarganegaraan mencakup dimensi pengetahuan (knowledge), keterampilan (skills), dan nilai (values). Secara kusus ide pokok Mata Pelajaran Kewarganegaraan yakni ingin membentuk warga negara yang ideal yaitu warga negara yang memiliki keimanan dan ketakwaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa, pengetahuan, keterampilan, dan nilai-nilai sesuai dengan konsep dan prinsip-prinsip kewarganegaraan. Pada gilirannya, warga negara yang baik tersebut diharapkan dapat membantu terwujudnya masyarakat yang demokratis dan berdasarkan konstitusional. Berbagai negara di dunia memiliki kriteria masing-masing tentang warga negara yang baik, sesuai dengan konstitusinya. Bagi bangsa Indonesia warga negara yang baik tersebut tentu saja adalah warga negara yang dapat menjalankan perannya dalam hubungannya sesama warga negara dan hubungannya dengan negara yang sesuai dengan konstitusi negara (UndangUndang Dasar Negara Kesatuan Republik Indonesia tahun 1945). Sehubungan dengan itu, mata pelajaran kewarganegaraan mencakup dimensi: 1. Pengetahuan Kewarganegaraan (civics knowledge) yang mencakup bidang politik, hukum dan moral. Secara lebih terperinci, materi pengetahuan kewarganegaraan meliputi pengetahuan tentang prinsip-prinsip dan proses demokrasi, lembaga pemerintah dan non pemerintah, indentitas nasional, pemerintah berdasarkan hukum (rule of low) dan peradilan yang bebas dan tidak memihak, konstitusi, sejarah nasional, hak dan kewajiban warga negara, hak asasi manusia, hak sipil, dan hak politik.

3

2. Keterampilan Kewarganegaraan (civics skills) meliputi keterampilan partisipasi dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, misalnya: berperan serta aktif mewujudkan masyarakat madani (civil society), keterampilan mempengaruhi dan monitoring jalannya pemerintahan, dan proses pengambilan keputusan politik, keterampilan memecahkan masalahmasalah sosial, keterampilan mengadakan koalisi, kerja sama, dan mengelola konflik. 3. Nilai-Nilai Kewarganwgaraan (civics values) mencakup antara lain percaya diri, komitmen, penguasaan atas nilai religius, norma dan nilainilai luhur, nilai keadilan, demokratis, toleransi, kebebasan individual, kebebasan Mata berbicara, pelajaran kebebasan pers, kebebasan merupakan berserikat bidang dan kajian berkumpul, dan perlindungan terhadap minoritas. kewarganegaraan multidisipliner, artinya materi keilmuan kewarganegaraan dijabarkan dari beberapa disiplin ilmu antara lain ilmu Politik, Ilmu Tata Negara, Hukum, dan Filsafat. Adapun bidang kajian dari dimensi Politik yakni manusia sebagai zoonpolitikon, dan proses terbentuknya masyarakat politik. Bidang kajian dari ilmu tata negara yakni proses terbentuknya negara, unsur negara, tujuan negara dan bentuk-bentuk negara. Dimensi kajian dari Hukum yakni negara hukum, konstitusi, sumber hukum dan subjek dan objek hukum. Bidang kajian dari filsafat yaitu pancasila sebagai falsafah bangsa. Kewarganegaraan dipandang sebagai mata pelajaran yang memegang peranan penting dalam membentuk warga negara yang baik sesuai dengan falsafah bangsa dan konstitusi negara Republik Indonesia. Pendidikan di Indonesia diharapkan dapat mempersiapkan peserta didik menjadi warga negara yang memiliki komitmen kuat dan konsisten untuk mempertahankan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Ruang lingkup mata pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan meliputi aspek-aspek sebagai berikut: 1. Persatuan dan kesatuan bangsa, meliputi: Hidup rukun dalam perbedaan, cinta lingkungan, kebanggaan sebagai bangsa Indonesia, sumpah pemuda,

4

keutuhan negara kesatuan republik Indonesia, partisipasi dalam pembelaan negara, sikap positif terhadap negara kesatuan republik Indonesia, keterbukaan dan jaminan keadilan. 2. Norma, hukum dan peraturan, meliputi: Tertib dalam kehidupan keluarga, tata tertib di sekolah, norma yang berlaku dimasyarakat, peraturanperaturan daerah, norma-norma dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, sistim hukum dan peradilan nasional, hukum dan peradilan internasional. 3. Hak asasi manusia meliputi: Hak dan kewajiban anak, hak dan kewajiban anggota masyarakat, instrumen nasional dan internasional HAM, pemajuan, penghormatan dan perlindungan HAM. 4. Kebutuhan warga negara, meliputi: Demokratis, hidup gotong royong, harga diri sebagai warga masyarakat, kebebasan berorganisasi, kemerdekaan mengeluarkan pendapat, menghargai keputusan bersama, prestasi diri , persamaan kedudukan warga negara. 5. Konstitusi negara, meliputi: Proklamasi kemerdekaan dan konstitusi yang pertama, konstitusi-konstitusi yang pernah digunakan di Indonesia, hubungan dasar negara dengan konstitusi. 6. Kekuasan dan politik, meliputi: Pemerintahan desa dan kecamatan, pemerintahan daerah dan otonomi, pemerintah pusat, demokrasi dan sistem politik, budaya politik, budaya demokrasi menuju masyarakat madani, sistem pemerintahan, pers dalam masyarakat demokrasi. 7. Pancasila, meliputi: kedudukan pancasila sebagai dasar negara dan ideologi negara, proses perumusan pancasila sebagai dasar negara, pengamalan nilai-nilai pancasila dalam kehidupan sehari-hari, pancasila sebagai ideologi terbuka. 8. Globalisasi, meliputi: Globalisasi di lingkungannya, politik luar negeri Indonesia di era globalisasi, dampak globalisasi, hubungan internasional dan organisasi internasional, dan mengevaluasi globalisasi.

5

Adapun tujuan yang ingin dicapai dari Mata Pelajaran Kewarganegaraan setelah diadakan proses pembelajaran, siswa memiliki kemampuan sebagai berikut: 1. Berfikir kritis, rasional, dan kreatif dalam menanggapi isu-isu kewarganegaraan 2. Berpartisipasi secara aktif dan bertanggung jawab, bertindak secara cerdas dalam kegitan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara, serta anti korupsi. 3. Berkembang secara positif dan demokratis untuk membentuk diri berdasarkan karakter-karakter masyarakat Indonesia agar dapat hidup bersama bangsa-bangsa lain. 4. Berinteraksi dengan bangsa-bangsa lain dalam percaturan dunia secara langsung atau tidak langsung dengan memanfaatkan teknologi informasi dan komunikasi. (Bambang Suteng: 2006). Namun, realita yang terjadi di dalam masyarakat Indonesia betapa banyak orang yang latar belakang pendidikannya tinggi melakukan hal-hal berupa pelanggaran norma, etika, dan moral sebangai manusia bernegara yang baik, seperti: korupsi, penyalah gunaan wewenang, dan itu hanya dilandasi oleh kepentingan individu semata. Sewaktu dibangku pendidikan semua peserta didik dibekali dengan suatu ilmu yang mempelajari tentang kaidahkaidah dan etika kehidupan, baik kehidupan bernegara maupun kehidupan sosial bahkan kehidupan individu. Semua itu diperoleh dari suatu ilmu, ilmu itu adalah ilmu kewarganegaraan yang mempunyai empat tujuan seperti uraian di atas. Dalam diri manusia ada beberapa aspek yang berperan yaitu aspek sosial, aspek kognitif dan aspek motorik. Hal ini dapat dipahami bahwa manusia itu berhubungan dengan orang lain (sosial), berfikir (kognitif), menilai (afektif) dan berbuat (motorik) maka aspek-aspek tersebut perlu dikembangkan dalam diri anak didik sebagai manusia yang tumbuh dan berkembang.

6

Untuk

mencapai

itu

semua

perlu

dilaksanakan

suatu

proses

pembelajaran yang melibatkan dua subjek yakni pendidik (guru) dan peserta didik (siswa). Proses pembelajaran merupakan inti dari kegiatan pendidikan di sekolah, agar pendidikan dan pengajaran berjalan dengan benar dan menarik maka diperlukan suatu model pembelajaran. Model pembelajaran banyak sekali jenisnya, hal ini disebabkan oleh beberapa faktor, antara lain: Tujuan yang berbeda dari setiap mata pelajaran, sesuai dengan jenis, fungsi, sifat, maupun isi dari mata pelajaran itu sendiri. Adapun beberapa model pembelajaran yang dapat dipergunakan dalam pembelajaran kewarganegaraan : 1. Model Pembelajaran Kooperatif (Robert E. Slavin : 2008) 2. Model Pembelajaran Telaah Yurisprudensi (Jurisprudential Inquiry) (Hamzah B. Uno : 2007) 3. Model Pembelajaran Bermain Peran (Hamzah B. Uno : 2007) 4. Model Pembelajaran Simulasi Sosial (Hamzah B. Uno : 2007) Dari beberapa model tersebut sesuai dengan kajian penulis yang memfokuskan 1. pada model kooperatif tipe STAD (student teams achievement divisionts). Model Pembelajaran Kooperatif Model pembelajaran kooperatif merupakan suatu model pembelajaran yang mengutamakan adanya kelompok-kelompok. Setiap siswa yang ada dalam kelompok mempunyai tingkat kemampuan yang berbeda-beda (tinggi, sedang, rendah). Model pembelajaran kooperatif mengutamakan kerja sama dalam menyelesaikan permasalahan untuk menerapkan pengetahuan dan keterampilan dalam rangka mencapai tujuan pembelajaran. (Robert E. Slavin : 2008) 2. Model Pembelajaran Telaah Yurisprudensi (Jurisprudential Inquiry) Model pembelajaran ini membantu siswa untuk belajar berpikir secara sistematis tentang isu-isu kontemporer yang sedang terjadi dalam masyarakat. Dengan memberikan mereka cara-cara menganalisis dan mendiskusikan isu-

7

isu social, model pembelajaran ini membantu siswa untuk berpartisipasi dalam mendefinisi ulang nilai-nilai sosial. (Hamzah B. Uno : 2007) 3. Model Pembelajaran Bermain Peran Model pembelajaran ini bertujuan untuk membantu siswa menemukan makna diri (jati diri) di dunia sosial dan memecahkan dilema dengan bantuan kelompok. Artinya, melalui bermain peran siswa belajar menggunakan konsep peran, menyadari adanya peran-peran yang berbeda dan memikirkan perilaku dirinya dan perilaku orang lain. Proses bermain peran ini dapat memberikan contoh kehidupan perilaku manusia yang berguna sebagai sarana bagi siswa untuk: menggali perasaannya, memperoleh inspirasi dan pemahaman yang berpegaruh terhadap sikap, nilai, dan persepsinya terhadap pemecahan masalah. (Hamzah B. Uno : 2007) 4. Model Pembelajaran Simulasi Sosial Model ini menganggap siswa (pelajar) sebagai suatu sistem yang dapat mengendalikan umpan balik sendiri (self regulated feedback). Sistem tersebut mempunyai fungsi yang sama baik manusia maupun mesin, fungsi tersebut: menghasilkan gerakan untuk mencapai tujuan tertentu yang diinginkan, mendeteksi kesalahan dan memanfaatkan kesalahan untuk diarahkan kembali kejalur yang benar. (Hamzah B. Uno : 2007) Dalam meningkatkan partisipasi siswa untuk berbicara atau mengeluarkan pendapat (ide) dan merespon atau menanggapi permasalahan maka pendidik (guru) menggunakan suatu model pembelajaran yang lebih cenderung membuat siswa berperan aktif, maka dari empat model pembelajaran tersebut yang lebih membuat siswa berperan aktif yakni: Model Pembelajaran Kooperatif dengan tipe STAD (Student Teams Achivement Divisions), dimana kedua subjek berperan aktif dan siswa tidak dijadikan objek oleh guru. Dengan menerapkan model pembelajaran kooperatif dengan tipe STAD (Student Teams Achivement Divisions) dalam proses pembelajaran diharapkan siswa berperan aktif dan guru sebagai pasilitator. Adapun output dari model pembelajaran kooperatif dengan tipe STAD (Student Teams Achivement Divisions) yakni kerja sama, kemampuan

8

mengeluarkan pendapat, kemampuan menanggapi pendapat, dan kemampuan menghargai pendapat orang lain. STAD adalah salah satu metode pembelajaran Tim Siswa yang paling sederhana dan paling banyak diterapkan. Holubec dalam Nurhadi dalam Arini (2009) mengemukakan model pembelajaran kooperatif merupakan pendekatan pembelajaran melalui kelompok kecil siswa untuk bekerja sama dalam memaksimalkan kondisi belajar dalam mencapai tujuan belajar. Adapun karakteristik model pembelajaran kooperatif adalah (http://yusti-arini.blogspot.com): 1. Siswa dalam kelompok secara kooperatif menyelesaikan materi belajar sesuai kompetensi dasar yang akan dicapai. 2. Kelompok dibentuk dari beberapa siswa yang memiliki kemampuan berbeda-beda, baik tingkat kemampuan tinggi, sedang, dan rendah 3. Penghargaan lebih menekankan pada kelompok daripada masing-masing individu. Dalam model pembelajaran kooperatif dikembangkan metode diskusi dan komunikasi dengan tujuan agar siswa saling berbagi kemampuan, saling belajar berpikir kritis, saling menyampaikan pendapat, saling memberi kesempatan menyalurkan kemampuan, saling membantu belajar, saling menilai kemampuan dan peranan diri sendiri maupun teman lain. (http://yustiarini.blogspot.com). Diskusi adalah suatu cara belajar yang dicirikan oleh suatu keterikatan pada suatu topik atau pokok pernyataan atau problem dimana para peserta diskusi dengan jujur berusaha untuk mencapai atau memperoleh suatu keputusan atau pendapat yang disepakati bersama,(Yahya Nursidik: 2008). Metode diskusi menghasilkan keterlibatan murid karena meminta mereka menafsirkan pelajaran. Dengan demikian para murid tidak akan memperoleh pengetahuan tanpa mengambilnya untuk dirinya sendiri, diskusi membantu agar pelajaran dikembangkan terus-menerus atau disusun berangsur-angsur dan merangsang semangat bertanya dan minat perorangan. Dari kutipan di atas diharapkan siswa mampu untuk berpartisipasi dalam hal mengemukakan pendapatnya , kreatif berbicara, menyanggah dan

9

mengkritik. Wazir Ws., et al. dalam Saca Firmansyah (2008) Menyatakan Partisipasi bisa diartikan sebagai keterlibatan seseorang secara sadar ke dalam interaksi sosial dalam situasi tertentu. Dengan pengertian itu, seseorang bisa berpartisipasi bila ia menemukan dirinya dengan atau dalam kelompok, melalui berbagai proses dengan orang lain dalam hal nilai, tradisi, perasaan, kesetiaan, kepatuhan dan tanggungjawab bersama. Istilah partisipasi seringkali digunakan untuk memberi kesan mengambil bagian dalam sebuah aktivitas. Mengambil bagian dalam sebuah aktivitas dapat mengandung pengertian ikut serta, tetapi dapat juga berarti ikut serta dalam menentukan jalannya suatu aktivitas, dalam artian ikut menentukan perencanaan dan pelaksanaan aktivitas tersebut. Jadi berdasarkan dari latar belakang di atas maka penulis tertarik untuk meneliti tentang “Penerapan Model Kooperatif Tipe STAD (student teams achievement divisions) Dalam Meningkatkan Partisipasi Siswa Pada Pembelajaran Kewarganegaraan” B. Batasan Masalah Pembelajaran atau pengajaran adalah upaya untuk membelajarkan siswa. Dalam pengertian ini secara implisit dalam pembelajaran terdapat kegiatan memilih, menetapkan, mengembangkan model yang sesuai dengan konten materi untuk mencapai hasil pembelajaran yang diinginkan. Pengembangan model pembelajaran tidak terlepas dari tahap-tahap sistem pendidikan. Adapun tahap-tahap tersebut adalah: 1. 2. 3. 4. 5. Analisis Rancangan Pengembangan Implementasi Evaluasi Untuk lebih memfokuskan penelitian ini penulis hanya membatasi pada “Tahapan Pembelajaran Yakni Pada Tahap Implementasi”. C. Rumusan Masalah

10

Berpijak dari latar belakang dan batasan masalah di atas maka rumusan masalah dari penulisan ini adalah, sebagai berikut: 1. Apakah dengan menerapkan model kooperatif tipe STAD (Student Teams Achievement Divisions) terjadi peningkatan kemampuan siswa dalam mengemukakan pendapat? 2. Apakah dengan penerapan model kooperatif tipe STAD (Student Teams Achievement Divisions) terjadi peningkatan kemampuan siswa untuk berfikir kritis? 3. Apakah dengan penerapan metode kooperatif tipe STAD (Student Teams Achievement Divisions) terjadi peningkatan kemampuan siswa dalam bekerja sama? 4. Apakah dengan penerapan metode kooperatif tipe STAD (Student Teams Achievement Divisions) terjadi peningkatan kemampuan siswa dalam menilai kemampuan? D. Tujuan Penelitian Adapun tujuan dari penelitian ini dapat dibagi menjadi dua yakni: 1. a. Tujuan secara umum. Untuk menentukan langkah-langkah dari penggunaan model pembelajaran kooperatif tipe STAD (Student Teams Achievement Divisions). b. c. Achievement Divisions). d. 2. a. Untuk mengetahui apakah penerapan model Tujuan secara khusus. Mengidentifikasi tingkat partisipasi siswa pada saat penerapan model pembelajaran kooperatif tipe STAD STAD dapat meningkatkan partisipasi belajar siswa. Untuk mendapatkan gambaran penerapan Untuk menemukan kelemahan / titik lemah model STAD dalam pembelajaran kewarganegaraan. dari model pembelajaran kooperatif tipe STAD (Student Teams

11

(Student Teams Achievement Divisions) dalam hal mengemukakan pendapat. b. c. bekerja sama. E. Manfaat Penelitian Hasil penelitian ini diharapkan bermanfaat bagi pihak dan instansi terkait seperti: 1. 2. 3. Keguruan 4. Dan Sumbangan dan pengembangan ilmu pengetahuan Bahan masukan bagi guru-guru. Bagi penulis unutk tambahan ilmu pengetahuan dan Ilmu Pendidikan, Program Studi Pendidikan bagi pembaca khususnya mahasiswa P-IPS/ PKn. Mengidentivikasi tingkat kemampuan siswa Mengidentivikasi kemampuan siswa dalam memandang suatu masalah.

untuk memperoleh gelar sarjana pendidikan (strata satu) pada Fakultas Kewarganegaraan. Sebagai bahan pertimbangan bagi dosen FKIP-PKn Universitas Bung Hatta. 1. Manfaat secara praktis a. Bagi Siswa 1) Siswa dapat saling bertukar pikiran antara sesama anggota kelompok sehingga setiap siswa dapat memperoleh ilmu pengetahuan yang lebih banyak. 2) Siswa dapat belajar untuk mau mendengarkan dan saling menghargai pendapat orang lain serta belajar bersosialisasi dengan cara memahami perbedaan-perbedaan yang tumbuh dalam kelompok. b. Bagi Pihak Sekolah Dapat digunakan sebagai bahan masukkan untuk mengadakan variasi model pembelajaran guna meningkatkan prestasi belajar siswa. 2. Manfaat secara teoritis a. Pembaca

12

Menambah pengetahuan pembaca terhadap model pembelajaran efektif terutama model STAD (Student Teams Achievement Divisions). b. Penelitian Berikutnya Hasil penelitian dapat menjadi masukan bagi peneliti-peneliti lain untuk mengadakan penelitian serupa di masa yang akan datang. c. Peneliti yang bersangkutan Menambah ilmu pengetahuan yang telah dimiliki peneliti dan merupakan wahana menerapkan ilmu pengetahuan yang telah didapat di bangku kuliah.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Belajar dan Pembelajaran 1. Pengertian Belajar Belajar adalah suatu kegiatan yang tidak terpisahkan dari kehidupan manusia. Dengan belajar manusia mampu mengembangkan potensi-potensi yang dibawanya sejak lahir sehingga nantinya mampu menyesuaikan diri demi pemenuhan kebutuhan. Winkel dalam Gufron Faqih (2010) menyimpulkan bahwa belajar adalah Suatu aktifitas mental / psikis yang berlangsung dalam interaksi aktif dengan lingkungan, yang menghasilkan perubahan-perubahan dalam pengetahuan, pemahaman, ketrampilan dan nilai sikap. Perubahan itu bersifat relatif konstan dan berbekas. Pengertian belajar menurut Bigge dalam Darsono (2000) adalah suatu perubahan yang menetap dalam kehidupan seseorang yang tidak diwariskan secara genetis. Dalam hal ini perubahan yang dimaksud terjadi pada pemahaman, perilaku, persepsi, motivasi atau campuran dari semuanya secara sistematis sebagai akibat pengalaman dalam situasi-situasi tertentu. Sedang menurut Hilgard dan Bower dalam Purwanto (1990) mengatakan bahwa belajar berhubungan dengan perubahan tingkah laku individu terhadap suatu situasi tertentu yang disebabkan oleh pengalaman yang berulang-ulang. Perubahan tingkah laku itu tidak dapat dijelaskan atas dasar kecenderungan respon pembawaan, kematangan, atau keadaan sesaat seseorang (misalnya kelelahan, pengaruh obat, dan sebagainya). Selanjutnya pengertian belajar menurut Hambalik dalam Gufron Faqih (2010) yaitu: Belajar adalah suatu cara untuk memotivasi dan mempertegas kelakuan melalui pengalaman dan merupakan proses perubahan tingkah laku individu melalui interaksi dengan lingkungannya sehingga akan terjadi serangkaian pengalaman-pengalaman belajar. Dari pendapat beberapa ahli di atas dapat disimpulkan bahwa yang disebut belajar adalah suatu proses perubahan tingkah laku seseorang yang

14

disebabkan adanya pengalaman untuk memperoleh pengetahuan, keterampilan dan sikap dari seseorang yang melakukan kegiatan belajar. 2. Pembelajaran Dimyati dan Mudjiono (2006: 297) mengatakan bahwa pembelajaran adalah kegiatan guru secara terprogram dalam desain intruksional, untuk membuat siswa belajar secara aktif yang menekankan pada penyediaan sumber belajar. Dimana desain intruksional yang dimaksud adalah program pengajaran yang dibuat oleh guru secara konvensional, desain intruksional tersebut dikenal sebagai persiapan mengajar guru. Menurut Degeng (2003:14) pembelajaran adalah upaya untuk membelajarkan siswa.Dimana dalam pembelajaran terdapat kegiatan pemilih, menetapkan dan mengembangkan metode atau strategi yang optimal untuk mencapai hasil belajar yang diinginkan. Pembelajaran sendiri terdiri dari empat langkah berikut (Dimyati dan Mudjiono, 2006:14): a. Langkah satu: menentukan topik yang dapat dipelajari oleh anak sendiri. b. Langkah dua: memilih atau mengembangkan aktivitas kelas dengan topik tersebut. c. Langkah tiga: mengetahui adanya kesempatan bagi guru untuk mengemukakan pertanyaan yang menunjang proses pemecahan masalah. d. Langkah empat: menilai pelaksanaan tiap kegiatan, memperhatikan keberhasilan dan melakukan revisi. Dari hal diatas maka dapat disimpulkan bahwa pembelajaran merupakan suatu proses penyampaian berbagai konsep informasi dan aktifitas kepada siswa oleh guru dengan menggunakan metode atau strategi yang sesuai supaya siswa dapat belajar dengan mudah, sehingga tujuan pembelajaran dapat tercapai. B. 1. Model Pembelajaran Kooperatif Pengertian Model Pembelajaran Kooperatif Menurut Zaini dalam Yusti Arini (2009) model pembelajaran adalah pedoman berupa program atau petunjuk strategi mengajar yang dirancang

15

untuk mencapai suatu tujuan pembelajaran. Pedoman itu memuat tanggung jawab guru dalam merencanakan, melaksanakan, dan mengevaluasi kegiatan pembelajaran. Salah satu tujuan dari penggunaan model pembelajaran adalah untuk meningkatkan kemampuan siswa selama belajar. Dengan pemilihan metode, strategi, pendekatan, serta teknik pembelajaran, diharapkan adanya perubahan dari mengingat (memorizing) atau menghafal (rote learning) ke arah berpikir (thinking) dan pemahaman (understanding), dari model ceramah ke pendekatan discovery learning atau inquiry learning, dari belajar individual ke kooperatif, serta dari subject centered ke learner centered atau terkonstruksinya pengetahuan siswa. Apakah model pembelajaran kooperatif itu? Model pembelajaran kooperatif merupakan suatu model pembelajaran yang mengutamakan adanya kelompok-kelompok. Setiap siswa yang ada dalam kelompok mempunyai tingkat kemampuan yang berbeda-beda (tinggi, sedang, rendah). Model pembelajaran kooperatif merupakan suatu model pembelajaran yang mengutamakan adanya kelompok-kelompok. Setiap siswa yang ada dalam kelompok mempunyai tingkat kemampuan yang berbeda-beda (tinggi, sedang, rendah). Model pembelajaran kooperatif mengutamakan kerja sama dalam menyelesaikan permasalahan untuk menerapkan pengetahuan dan keterampilan dalam rangka mencapai tujuan pembelajaran Holubec dalam Nurhadi dalam Yusti Arini (2009) dalam mengemukakan model pembelajaran kooperatif merupakan pendekatan pembelajaran melalui kelompok kecil siswa untuk bekerja sama dalam memaksimalkan kondisi belajar dalam mencapai tujuan belajar. Menurut Nur (2000), semua model pembelajaran ditandai dengan adanya struktur tugas, struktur tujuan, dan struktur penghargaan. Struktur tugas, struktur tujuan, dan struktur penghargaan pada model pembelajaran kooperatif berbeda dengan struktur tugas, struktur tujuan, dan struktur penghargaan pada model pembelajaran yang lain. Dalam proses pembelajaran dengan model pembelajaran kooperatif, siswa didorong untuk bekerja sama pada suatu tugas bersama dan mereka harus mengkoordinasikan usahanya

16

untuk menyelesaikan tugas yang diberikan guru. Tujuan model pembelajaran kooperatif adalah hasil belajar akademik siswa meningkat dan siswa dapat menerima berbagai keragaman dari temannya, serta berkembangnya keterampilan sosial. 2. Prinsip Dasar dan Karakteristik Model Pembelajaran Kooperatif Menurut Johnson & Johnson Yusti Arini (2009), prinsip dasar dalam model pembelajaran kooperatif adalah sebagai berikut: a. b. c. d. e. Setiap anggota kelompok (siswa) bertanggung jawab atas segala Setiap anggota kelompok (siswa) harus mengetahui bahwa semua Setiap anggota kelompok (siswa) harus membagi tugas dan Setiap anggota kelompok (siswa) akan dikenai evaluasi Setiap anggota kelompok (siswa) berbagi kepemimpinan dan sesuatu yang dikerjakan dalam kelompoknya. anggota kelompok mempunyai tujuan yang sama. tanggung jawab yang sama di antara anggota kelompoknya.

membutuhkan keterampilan untuk belajar bersama selama proses belajarnya. f. Setiap anggota kelompok (siswa) akan diminta mempertanggung jawabkan secara individual materi yang ditangani dalam kelompok kooperatif. Adapun karakteristik model pembelajaran kooperatif adalah: a. Siswa dalam kelompok secara kooperatif menyelesaikan materi belajar sesuai kompetensi dasar yang akan dicapai. b. Kelompok dibentuk dari beberapa siswa yang memiliki kemampuan berbeda-beda, baik tingkat kemampuan tinggi, sedang, dan rendah. c. Penghargaan lebih menekankan pada kelompok daripada masing-masing individu. Dalam model pembelajaran kooperatif dikembangkan diskusi dan komunikasi dengan tujuan agar siswa saling berbagi kemampuan, saling belajar berpikir kritis, saling menyampaikan pendapat, saling memberi

17

kesempatan menyalurkan kemampuan, saling membantu belajar, saling menilai kemampuan dan peranan diri sendiri maupun teman lain. Terdapat 6 (enam) langkah model pembelajaran kooperatif: a. Menyampaikan tujuan dan memotivasi siswa. b. Menyajikan informasi. c. Mengorganisasikan siswa ke dalam kelompok-kelompok belajar. d. Membimbing kelompok belajar. e. Evaluasi dan pemberian umpan balik. f. Memberikan penghargaan. Keunggulan dari model pembelajaran kooperatif adalah (1) membantu siswa belajar berpikir berdasarkan sudut pandang suatu subjek bahasan dengan memberikan kebebasan siswa dalam praktik berpikir, (2) membantu siswa mengevaluasi logika dan bukti-bukti bagi posisi dirinya atau posisi yang lain, (3) memberikan kesempatan pada siswa untuk memformulasikan penerapan suatu prinsip, (4) membantu siswa mengenali adanya suatu masalah dan memformulasikannya dengan menggunakan informasi yang diperoleh dari bacaan atau ceramah, (5) menggunakan bahan-bahan dari anggota lain dalam kelompoknya, dan (6) mengembangkan motivasi untuk belajar yang lebih baik. Tabel 1. Menjelaskan Tentang Fase Pembelajaran Kooperatif:
Fase 1 Kegiatan Menyampaikan tujuan dan memotivasi siswa 2 Menyampaikan informasi Tindakan Guru Guru menyampaikan tujuan pembelajaran yang ingin dicapai dan memotivasi siswa untuk belajar Guru menyajikan informasi kepada siswa dengan jalan demonstrasi atau jalan lewat 3 Mengorganisasikan siswa bacaan Guru menjelaskan pada siswa bagaimana membentuk dan 4 Membimbing kelompok bekerja dan belajar kelompok-kelompok kelompok belajar membantu melakukan

transisi secara efisien Guru membimbing kelompok-kelompok belajar pada saat mereka mengerjakan tugas

18

mereka. 5 Evaluasi Guru mengevaluasi hasil belajar tentang materi yang dipelajari atau masing-masing kelompok 6 Pemberian penghargaan mempresentasikan hasil belajarnya Guru mencari cara-cara menghargai baik hasil belajar individu maupun kelompok

Sumber: (Ibrahim, 2000:10) 3. Tipe-tipe Model Pembelajaran Kooperatif Dan Teknik Aplikasinya Beberapa tipe model pembelajaran kooperatif yang dikemukakan oleh beberapa ahli antara lain Slavin adalah sebagai berikut: .a Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Jigsaw Pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw ini pertama kali dikembangkan oleh Aronson dkk. Langkah-langkah mengaplikasikan tipe Jigsaw dalam proses pembelajaran adalah sebagai berikut: 1) Guru membagi suatu kelas menjadi beberapa kelompok, dengan setiap kelompok terdiri dari 4-6 siswa dengan kemampuan yang berbeda-beda baik tingkat kemampuan tinggi, sedang, dan rendah serta jika mungkin anggota berasal dari ras, budaya, suku yang berbeda tetapi tetap mengutamakan kesetaraan jender. Kelompok ini disebut kelompok asal. Jumlah anggota dalam kelompok asal menyesuaikan dengan jumlah bagian materi pelajaran yang akan dipelajari siswa sesuai dengan tujuan pembelajaran yang akan dicapai. Dalam tipe Jigsaw ini, setiap siswa diberi tugas mempelajari salah satu bagian materi pembelajaran tersebut. Semua siswa dengan materi pembelajaran yang sama belajar bersama dalam kelompok yang disebut kelompok ahli (Counterpart Group/CG). Dalam kelompok ahli, siswa mendiskusikan bagian materi pembelajaran yang sama, serta menyusun rencana bagaimana menyampaikan kepada temannya jika kembali ke kelompok asal. Kelompok asal ini oleh Aronson disebut kelompok jigsaw (gigi gergaji). 2) Misal suatu kelas dengan jumlah siswa 40, dan materi pembelajaran yang dicapai sesuai dengan tujuan pembelajarannya terdiri dari dari 5 bagian

19

materi pembelajaran, maka dari 40 siswa akan terdapat 5 kelompok ahli yang beranggotakan 8 siswa dan 8 kelompok asal yang terdiri dari 5 siswa. Setiap anggota kelompok ahli akan kembali ke kelompok asal memberikan informasi yang telah diperoleh dalam diskusi di kelompok ahli dan setiap siswa menyampaikan apa yang telah diperoleh atau dipelajari dalam kelompok ahli. Guru memfasilitasi diskusi kelompok baik yang dilakukan oleh kelompok ahli maupun kelompok asal. 3) Setelah siswa berdiskusi dalam kelompok ahli maupun kelompok asal, selanjutnya dilakukan presentasi masing-masing kelompok atau dilakukan pengundian salah satu kelompok untuk menyajikan hasil diskusi kelompok yang telah dilakukan agar guru dapat menyamakan persepsi pada materi pembelajaran yang telah didiskusikan. 4) Guru memberikan kuis untuk siswa secara individual 5) Guru memberikan penghargaan pada kelompok melalui skor penghargaan berdasarkan perolehan nilai peningkatan hasil belajar individual dari skor dasar ke skor kuis berikutnya (terkini). 6) Materi sebaiknya secara alami dapat dibagi menjadi beberapa bagian materi pembelajaran. 7) Perlu diperhatikan bahwa jika menggunakan tipe Jigsaw untuk belajar materi baru, perlu dipersiapkan suatu tuntunan dan isi materi yang runtut serta cukup sehingga tujuan pembelajaran dapat tercapai. .b Model Pembelajaran Kooperatif Tipe NHT (Number Heads Pembelajaran kooperatif tipe NHT dikembangkan oleh Spencer Kagen (1993). Pada umumnya NHT digunakan untuk melibatkan siswa dalam penguatan pemahaman pembelajaran atau mengecek pemahaman siswa terhadap materi pembelajaran. Langkah-langkah penerapan tipe NHT: 1) Guru menyampaikan materi pembelajaran atau permasalahan kepada siswa sesuai kompetensi dasar yang akan dicapai. Together)

20

2) Guru memberikan kuis secara individual kepada siswa untuk mendapatkan skor dasar atau skor awal. 3) Guru membagi kelas dalam beberapa kelompok, setiap kelompok terdiri dari 4-5 siswa, setiap anggota kelompok diberi nomor atau nama. 4) Guru mengajukan permasalahan untuk dipecahkan bersama dalam kelompok. 5) Guru mengecek pemahaman siswa dengan menyebut salah satu nomor (nama) anggota kelompok untuk menjawab. Jawaban salah satu siswa yang ditunjuk oleh guru merupakan wakil jawaban dari kelompok. 6) Guru memfasilitasi siswa dalam membuat rangkuman, mengarahkan, dan memberikan penegasan pada akhir pembelajaran. 7) Guru memberikan tes/kuis kepada siswa secara individual. 8) Guru memberi penghargaan pada kelompok melalui skor penghargaan berdasarkan perolehan nilai peningkatan hasil belajar individual dari skor dasar ke skor kuis berikutnya (terkini). c. Model Pembelajaran Kooperatif Tipe STAD adalah salah satu model pembelajaran koperatif yang dimulai dari pengarahan, membuat kelompok heterogen (4-5 orang), diskusikan bahan belajar, LKS, modul secara kolaboratif, kemudian dipresentasi oleh kelompok sehingga terjadi diskusi kelas. Kemudian dilakukan kuis individual dengan memberikan skor perkembangan tiap siswa atau kelompok, umumkan rekor tim dan individual dan berikan reward. Tipe STAD merupakan salah satu model dari pembelajaran kooperatif yang paling awal ditemukan dan dikembangkan oleh Robert Slavin dan kawan-kawan di John Hopkins University. Tipe ini sangat popular karena mudah diaplikasikan dalam kelas. Ide dasar tipe STAD adalah bagaimana memotivasi siswa dalam kelompoknya agar mereka dapat saling mendorong dan membantu satu sama lain dalam menguasai materi yang disajikan, serta menumbuhkan suatu kesadaran bahwa belajar itu penting, bermakna dan menyenangkan. STAD (Student Teams Achievement Divisions)

21

Seperti dalam kebanyakan model pembelajaran kooperatif, tipe STAD bekerja berdasarkan prinsip siswa bekerja bersama-sama untuk belajar dan bertanggung jawab terhadap belajar teman-temannya dalam tim dan juga dirinya sendiri (Handayanto, 2003:115). Handayanto (2003:74) juga menyatakan bahwa “model pembelajaran kooperatif tipe STAD menekankan berbagai cirri pembelajaran langsung dan merupakan model pembelajaran yang mudah diterapkan dalam pembelajaran”. Model ini dipandang sebagai model yang paling sederhana dan paling langsung dari pendekatan pembelajaran kooperatif. Para siswa didalam kelas dibagi dalam beberapa kelompok atau tim yang masing-masing terdiri dari empat atau lima anngota kelompok. Setiap kelompok mempunyai anggota yang heterogen baik jenis kelamin, ras, etnik maupun kemampuannya (tinggi, sedang, rendah). (Nurhadi,2004: 65) Komponen utama dalam tipe STAD (Student Teams-Achievement Divisions), yaitu: Slavin (2008) 1) Penyajian kelas (Class Presentation). Guru menyajikan materi didepan kelas secara klasikal yang difokuskan pada konsep-konsep materi yang akan dibahas saja. Selanjutnya siswa disuruh belajar dalam kelompok kecil untuk mengerjakan tugas yang diberikan oleh guru. 2) Pembentukan kelompok belajar (Teams). Siswa disusun dalam kelompok yang anggotannya heterogen (baik kemampuan akademiknya maupun jenis kelaminnya). Caranya dengan merangkingkan siswa berdasarkan nilai rapor atau nilai yang diperoleh oleh siswa sebelum model pembelajaran kooperatif tipe STAD. Adapun fungsi pengelompokan ini adalah untuk mendorong adanya kerjasama kelompok dalam mempelajari materi dan menyelesaikan tugas yang diberikan oleh guru. 3) Pemberian tes atau kuis (Quizzes). Setelah belajar kelompok selesai, diadakan tes atau kuis dengan tujuan utnuk mengetahui atau mengukur kemampuan belajar siswa terhadap materi yang telah dipelajari. Dalam hal ini siswa siswa sama sekali tidak dibenarkan untuk kerjasama dengan temannya. Tujuan tes ini adalah utuk memotivasi siswa agar berusaha dan

22

bertanggung jawab secara individual. Siswa dituntut untuk melakukan yang terbaik sebagai hasil belajar kelompoknya. Selain bertanggung jawab secara individual, siswa juga harus menyadari bahwa usaha dan keberhasilan mereka nantinya akan memberikan sumbangan yang sangat berharga bagi kesuksesan kelompok. Tes ini dilakukan setelah satu sampai dua kali penyajian kelas dan pembelajaran dalam kelompok. 4) Pemberian skor peningkatan individu (Individual Improvement Scores). Hal ini dilakukan untuk memberikan kepada siswa suatu sasaran yang dapat dicapai bila mereka bekerja keras dan memperlihatkan hasil yang baik dibandingkan dengan hasil yang sebelumnya. Pengelola skor hasil kerjasama siswa dilakukan dengan urutan berikut: Skor awal, skor tes, skor peningkatan dan skor kelompok. Langkah-langkah penerapan model pembelajaran kooperatif tipe STAD (Slavin : 2008) : 1) Guru menyampaikan materi pembelajaran atau permasalahan kepada siswa sesuai kompetensi dasar yang akan dicapai. 2) Guru memberikan tes/kuis kepada setiap siswa secara individual sehingga akan diperoleh skor awal. 3) Guru membentuk beberapa kelompok. Setiap kelompok terdiri dari 4-5 siswa dengan kemampuan yang berbeda-beda (tinggi, sedang, dan rendah). Jika mungkin anggota kelompok berasal dari ras, budaya, suku yang berbeda tetapi tetap mementingkan kesetaraan jender. 4) Bahan materi yang telah dipersiapkan didiskusikan dalam kelompok untuk mencapai kompetensi dasar. Pembelajaran kooperatif tipe STAD biasanya digunakan untuk penguatan pemahaman materi. 5) Guru memfasilitasi siswa dalam membuat rangkuman, mengarahkan, dan memberikan penegasan pada materi pembelajaran yang telah dipelajari. 6) Guru memberikan tes/kuis kepada setiap siswa secara individual. 7) Guru memberi penghargaan pada kelompok berdasarkan perolehan nilai peningkatan hasil belajar individual dari skor dasar ke skor kuis berikutnya (terkini).

23

d.

Model Pembelajaran Kooperatif Tipe TAI (Team Model pembelajaran kooperatif tipe TAI ini dikembangkan oleh Slavin.

Assisted Individualization atau Team Accelerated Instruction) Tipe ini mengkombinasikan keunggulan pembelajaran kooperatif dan pembelajaran individual. Tipe ini dirancang untuk mengatasi kesulitan belajar siswa secara individual. Oleh karena itu, kegiatan pembelajarannya lebih banyak digunakan untuk pemecahan masalah, ciri khas pada tipe TAI ini adalah setiap siswa secara individual belajar materi pembelajaran yang sudah dipersiapkan oleh guru. Hasil belajar individual dibawa ke kelompokkelompok untuk didiskusikan dan saling dibahas oleh anggota kelompok, dan semua anggota kelompok bertanggung jawab atas keseluruhan jawaban sebagai tanggung jawab bersama. Langkah-langkah model pembelajaran kooperatif tipe TAI adalah sebagai berikut: 1) Guru memberikan tugas kepada siswa untuk mempelajari materi pembelajaran secara individual yang sudah dipersiapkan oleh guru. 2) Guru memberikan kuis secara individual kepada siswa untuk mendapatkan skor dasar atau skor awal. 3) Guru membentuk beberapa kelompok. Setiap kelompok terdiri dari 4-5 siswa dengan tingkat kemampuan yang berbeda-beda (tinggi, sedang, dan rendah). Jika mungkin, anggota kelompok terdiri dari ras, budaya, suku yang berbeda tetapi tetap mengutamakan kesetaraan jender 4) Hasil belajar siswa secara individual didiskusikan dalam kelompok. Dalam diskusi kelompok, setiap anggota kelompok saling memeriksa jawaban teman satu kelompok. 5) Guru memfasilitasi siswa dalam membuat rangkuman, mengarahkan, dan memberikan penegasan pada materi pembelajaran yang telah dipelajari. 6) Guru memberi penghargaan pada kelompok berdasarkan perolehan nilai peningkatan hasil belajar individual dari skor dasar ke skor kuis berikutnya (terkini).

24

Berpijak dari latar belakang dan teori diatas peneliti ingin melihat implementasi dari model pembelajaran kooperatif tipe STAD (Student Teams Achievement Divisions), yang dikembangkan oleh Slavin dkk. Yang lebih dirumuskan atau ditekankan pada diskusi kelas. C. 1. Pengertian Metode Diskusi dan Langkah-langkah Penerapan Diskusi Pengeretian Metode Diskusi Metode diskusi adalah suatu cara mengajar yang dicirikan oleh suatu keterikatan pada suatu topik atau pokok pernyataan atau problem dimana para peserta diskusi dengan jujur berusaha untuk mencapai atau memperoleh suatu keputusan atau pendapat yang disepakati bersama. (Yahya Nursidik: 2008 ). Selanjutnya definisi diskusi juga di kemukakan oleh Heriyanto Chanra: (2004) Diskusi ialah percakapan ilmiah yang responsif berisikan pertukaran pendapat yang dijalin dengan pertanyaan-pertanyaan problematis permunculan ide-ide dan pengujian ide-ide ataupun pendapat dilakukan oleh beberapa orang yang tergabung dalam kelompok itu yang diarahkan untuk memperoleh pemecahan permasalahannya dan untuk mencari kebenaran. Dari definisi yang dikemukakan oleh para ahli di atas dapat disimpulkan bahwa diskusi merupakan suatu metode untuk pemecahan masalah dengan cara mengusulkan beberapa solusi dengan menarik suatu kesimpulan yang merupakan kesepakatan bersama. Yang lebih mengacu pada pendapat Yahya Nursidik:(2008).”Metode diskusi adalah suatu cara mengajar yang dicirikan oleh suatu keterikatan pada suatu topik atau pokok pernyataan atau problem dimana para peserta diskusi dengan jujur berusaha untuk mencapai atau memperoleh suatu keputusan atau pendapat yang disepakati bersama.” 2. Langkah-langkah Penerapan Metode Diskusi Yahya Nursidik: (2008), menyebutkan langkah-langkah umum pelaksanaan diskusi sebagai berikut ini: Adapun kegiatan guru dalam pelaksanaan metode diskusi sebagai berikut:

25

1) Guru menetapkan suatu pokok atau problem yang akan didiskusikan atau guru meminta kepada siswa untuk mengemukakan suatu pokok atau problem yang akan didiskusikan. 2) Guru menjelaskan tujuan diskusi. 3) 4) Guru memberikan ceramah dengan diselingi tanya jawab mengenai materi pelajaran yang didiskusikan. Guru mengatur giliran pembicara agar tidak semua siswa serentak berbicara mengeluarkan pendapat. 5) Menjaga suasana kelas dan mengatur setiap pembicara agar seluruh kelas dapat mendengarkan apa yang sedang dikemukakan. 6) Mengatur giliran berbicara agar jangan siswa yang berani dan berambisi menonjolkan diri saja yang menggunakan kesempatan untuk mengeluarkan pendapatnya. 7) Mengatur agar sifat dan isi pembicaraan tidak menyimpang dari pokok/problem. 8) Mencatat hal-hal yang menurut pendapat guru harus segera dikoreksi yang memungkinkan siswa tidak menyadari pendapat yang salah. 9) Selalu berusaha agar diskusi berlangsung antara siswa dengan siswa. 10) Bukan lagi menjadi pembicara utama melainkan menjadi pengatur pembicaraan. Kegiatan siswa dalam pelaksanaan metode diskusi sebagai berikut: 1) Menelaah topik/pokok masalah yang diajukan oleh guru atau mengusahakan suatu problem dan topik kepada kelas. 2) Ikut aktif memikirkan sendiri atau mencatat data dari buku-buku sumber atau sumber pengetahuan lainnya, agar dapat mengemukakan jawaban pemecahan problem yang diajukan. 3) Mengemukakan pendapat baik pemikiran sendiri maupun yang diperoleh setelah membicarakan bersama-sama teman sebangku atau sekelompok. 4) Mendengar tanggapan reaksi atau tanggapan kelompok lainnya terhadap pendapat yang baru dikemukakan.

26

5) Mendengarkan dengan teliti dan mencoba memahami pendapat yang dikemukakan oleh siswa atau kelompok lain. 6) Menghormati pendapat teman-teman atau kelompok lainnya walau berbeda pendapat. 7) Mencatat sendiri pokok-pokok pendapat penting yang saling dikemukakan teman baik setuju maupun bertentangan. 8) Menyusun kesimpulan-kesimpulan diskusi dalam bahasa yang baik dan tepat. 9) Ikut menjaga dan memelihara ketertiban diskusi. 10) Tidak bertujuan untuk mencari kemenangan dalam diskusi melainkan berusaha mencari pendapat yang benar yang telah dianalisa dari segala sudut pandang. Budiardjo, dkk, (1994:20-23) membuat langkah penggunaan metode diskusi melalui tahap-tahap berikut ini. 1) Tahap Persiapan a) Merumuskan tujuan pembelajaran b) Merumuskan permasalahan dengan jelas dan ringkas. c) Mempertimbangkan karakteristik anak dengan benar. d) Menyiapkan kerangka diskusi yang meliputi: (1) menentukan dan merumuskan aspek-aspek masalah,(2) menentukan alokasi waktu,(3) menuliskan garis besar bahan diskusi,(3) menentukan format susunan tempat,(4) menetukan aturan main jalannya diskusi. e) Menyiapkan fasilitas diskusi, meliputi: (1) menggandakan bahan diskusi,(2) menentukan dan mendisain tempat,(3) mempersiapkan alat-alat yang dibutuhkan. 2) Tahap inti a) Menyampaikan tujuan pembelajaran. b) Menyampaikan pokok-pokok yang akan didiskusikan. c) Menjelaskan prosedur diskusi. d) Mengatur kelompok-kelompok diskusi e) Melaksanakan diskusi.

27

3) Tahap penutup a) Memberi kesempatan kelompok untuk melaporkan hasil. b) Memberi kesempatan kelompok untuk menanggapi. c) Memberikan umpan balik. d) Menyimpulkan hasil diskusi. Peranan guru sebagai pemimpin diskusi: Untuk mempertahankan kelangsungan, kelancaran dan efektivitas diskusi, guru sebagai pemimpin diskusi memegang peranan menentukan. Mainuddin, Hadisusanto dan Moedjiono, (1980:8-9) menyebutkan sejumlah peranan yang harus dimainkan guru sebagai pemimpin diskusi, adalah berikut ini. a. Initiating, yakni menyarankan gagasan baru, atau cara baru dalam melihat masalah yang sedang didiskusikan. b. Seeking information, yakni meminta fakta yang relavan atau informasi yang otoritarif tentang topik diskusi. c. Giving information, yakni fakta yang relavan atau menghubungkan pokok diskusi dengan pengalaman pribadi peserta. d. Giving opinion, yakni memberi pendapat tentang pokok yang sedang dipertimbangkan kelompok, bisa dalam bentuk menantang konsesus atau sikap "nrimo" kelompok. e. Clarifying, yakni merumuskan kembali pernyataan sesorang; memperjelas pernyataan sesorang anggota. f. Elaborating, yakni mengembangkan pernyataan seseorang atau memberi contoh atau penerapan. g. Controlling, yakni menyakinkan bahwa giliran bicara merata; menyakinkan bahwa anggota yang perlu bicara, memperoleh giliran bicara. h. Encouraging, yakni bersikap resetif dan responsitif terhadap pernyataan serta buah pikiran anggota. i. Setting Standards, yakni memberi atau meminta kelompok menetapkan, kriteria untuk menilai urunan anggota.

28

j.

Harmonizing, yakni menurunkan kadar ketegangan yang terjadi dalam

diskusi. k. Relieving tension, yakni melakukan penyembuhan setelah terjadinya tegangan. l. Coordinating, yakni menyimpulkan gagasan pokok yang timbul dalam diskusi, membantu kelompok mengembangkan gagasan. m. Orientating, yakni menyampaikan posisi yang telah dicapai kelompok dalam diskusi dan mengarahkan perjalanan diskusi selanjutnya. n. Testing, yakni menilai pendapat dan meluruskan pendapat kearah yang seharusnya dicapai. o. Consensus Testing, menialai tingkat kesepakatan yang telah dicapai dan menghindarkan perbedaan pandangan. p. Summarizing, yakni merangkum kesepakatan yang telah dicapai Dari dua langkah diatas maka langkah yang diterapakn adalah langkah Yahya Nursidik:(2008). Yang sesuai dengan pendapatnya tentang Definisi metode Diskusi itu sendiri. Partisipasi Siswa 1. Pengertian Partisipasi Saca Firmansyah (2008) Menyatakan Partisipasi bisa diartikan sebagai keterlibatan seseorang secara sadar ke dalam interaksi sosial dalam situasi tertentu. Dengan pengertian itu, seseorang bisa berpartisipasi bila ia menemukan dirinya dengan atau dalam kelompok, melalui berbagai proses dengan orang lain dalam hal nilai, tradisi, perasaan, kesetiaan, kepatuhan dan tanggungjawab bersama. Sementara itu, Menurut Keit Davis dalam Sastroputro (1989:35) menyatakan bahwa partisipasi adalah keterlibatan mental dan emosi seseorang dalam situasi kelompok yang mendorongnya untuk memberikan sumbangan kepada kelompok dalam usaha mencapai tujuan serta tanggung jawab terhadap usaha yang bersangkutan. George Terry dalam Winardi (2002:149) menyatakan bahwa partisipasi adalah turut sertanya seseorang baik secara mental maupun emosional untuk memberikan sumbangan-sumbangan pada

29

proses

pembuatan

keputusan,

terutama

mengenai

persoalan

dimana

keterlibatan pribadi orang yang bersangkutan melaksanakan tanggung jawabnya untuk melakukan hal tersebut. Partisipasi siswa dalam pembelajaran sering juga diartikan sebagai keterlibatan siswa dalam perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi pembelajaran (Mulyasa, 2004:156). Jadi partisipasi yang peneliti maksud adalah partisipasi siswa yang merupakan wujud tingkah laku siswa secara nyata dalam kegiatan pembelajaran yang merupakan totalitas dari suatu keterlibatan mental dan emosional siswa sehingga mendorong mereka untuk memberikan kontribusi dan bertanggung jawab terhadap pencapaian suatu tujuan yaitu tercapainya prestasi belajar yang memuaskan. 2. Jenis-jenis Partisipasi Untuk meperoleh gambaran yang jelas tentang partisipasi, disini akan dipaparkan mengenai jenis-jenis partisipasi menurut Keit Davis dalam Sastroputro (1989:56). Jenis-jenis partisipasi tersebut adalah: a. Partisipasi berupa pikiran (psychological participation) merupakan jenis keikutsertaan secara aktif dengan mengerahkan pikiran dalam suatu rangkaian kegiatan untuk mencapai tujuan tertentu. b. Partisipasi yang berupa tenaga (physical Participation) adalah partisipasi dari individu atau kelompok dengan tenaga yang dimilikinya, melibatkan diri dalam suatu aktifitas dengan maksud tertentu. c. Partisipasi yang berupa tenaga dan pikiran (physical and psychological participation). Partisipasi ini sifatnya lebih luas lagi disamping terjadi karena orang atau kelompok tidak bisa terjun langsung dari kegiatan tersebut. d. Partisipasi yang berupa keahlian (participation with skill) merupakan bentuk partisipasi dari orang atau kelompok yang mempunyai keahlian khusus, yang biasanya juga berlatar belakang pendidikan baik formal maupun non formal yang menunjang keahliannya.

30

e. Partisipasi yang berupa barang (material participation), partisipasi dari orang atau kelompok dengan memberikan barang yang dimilikinya untuk membantu pelaksanaan kegiatan tersebut. f. Partisipasi yang berupa uang (money participation), partisipasi ini hanya memberikan sumbangan uang kepada kegiatan. 3. Faktor-faktor yang Menyebabkan Partisipasi Menurut Sudjana dalam Hayati (2001:16) partisipasi siswa di dalam pembelajaran merupakan salah satu bentuk keterlibatan mental dan emosional. Disamping itu, partisipasi merupakan salah satu bentuk tingkah laku yang ditentukan oleh lima faktor, antara lain: a. Pengetahuan/kognitif, barupa Pengetahuan tentang tema, fakta, aturan, dan ketrampilan membuat translation. b. Kondisi situasional, seperti lingkungan fisik, lingkungan sosial, psikososial dan faktor-faktor sosial. c. Kebiasaan sosial, seperti kebiasaan menetap dan lingkungan. d. Kebutuhan, meliputi kebutuhan Approach (mendekatkan diri), Avoid (menghindari), kebutuhan individual. e. Sikap, meliputi pandangan/perasaan, kesediaan bereaksi, interaksi sosial, minat dan perhatian. 4. Prasyarat Terjadinya Partisipasi Berdasarkan pendapat Keit Davis dan Newstrom dalam Hayati (2001:18) bahwa ada beberapa prasayarat terjadinya partisipasi , yaitu antara lain: .a Waktu yang cukup untuk berpartisipasi Maksudnya adalah harus ada waktu yang cukup untuk berpartisipasi sebelum diperlukan tindakan, sehingga partisipaisi hampir tidak tepat apabila dalamsituasi darurat. .b Keuntungannya lebih besar dari kerugian. Artinya kemungkinan mendapat keuntungan seyogyanya lebih besar daripada kerugian yang diperoleh. .c Relevan dengan kepentingan siswa. Artinya bidang garapan partisipasi haruslah relevan dan menarik bagi siswa.

31

.d Kemampuan siswa. Artinya siswa hendaknya mempunyai pengetahuan seperti kecerdasan dan pengetahuan untuk berpartisipasi. .e Kemampuan berkomunikasi timbal balik. Maksudnya para siswa haruslah mampu berkomunikasi timbal balik untuk berbicara dengan bahasa yang benar dengan orang lain. .f Tidak timbul perasaan terancam bagi kedua belah pihak Artinya masingmasing pihak seharusnya tidak merasa bahwa posisinya terancam oleh partisipasi. .g Masih dalam bidang keleluasan. Maksudnya partisipasi untuk meneruskan arah tindakan dalam pembelajaran yang hanya boleh berlangsung dalam bidang keleluasaan belajar dengan batasan-batasan tertentu untuk menjaga kesatuan bagi keseluruhan. Pada hakekatnya belajar merupakan interaksi antara siswa dengan lingkungannya. Oleh karena itu, untuk mencapai hasil belajar yang optimal perlu keterlibatan atau partisipasi yang tinggi dari siswa dalam pembelajaran. Keterlibatan siswa merupakan hal yang sangat penting dan menentukan keberhasilan pembelajaran. Dalam kegiatan belajar, siswa dituntut secara aktif untuk ikut berpartisipasi dalam pembelajaran. Karena dengan demikian siswalah yang akan membuat suatu pembelajaran dikatakan sukses, efektif dan efesien. Siswa yang aktif dalam pembelajaran akan terlihat pada baik dan buruknya prestasi yang diperoleh. Sudjana dalam Mulyasa (2004:156) mengemukakan syarat kelas yang efektif adalah adanya keterlibatan, tanggung jawab dan umpan balik dari siswa. Keterlibatan siswa merupakan syarat pertama dalam kegiatan belajar di kelas. Untuk terjadinya keterlibatan itu siswa harus memahami dan memiliki tujuan yang ingin dicapai melalui kegiatan belajar atau pembelajaran. Keterlibatan itupun harus memiliki arti penting sebagai bagian dari dirinya dan perlu diarahkan secara baik oleh sumber belajar. Untuk mendorong partisipasi siswa dapat dilakukan dengan berbagai cara, antara lain memberikan pertanyaan dan menanggapi respon siswa secara

32

positif, menggunakan pengalaman berstruktur, dan menggunakan metode yang bevariasi yang lebih melibatkan siswa. Siswa sebagai subjek sekaligus objek dalam pembelajaran. Sebagai subjek siswa adalah individu yang melakukan proses belajar mengajar. Sebagai objek karena kegiatan pembelajaran diharapkaan dapat mencapai perubahan perilaku pada diri subjek belajar. Untuk itu, dari pihak siswa diperlukan partisipasi aktif dalam kegiatan pembelajaran. Partisipasi aktif subjek belajar dalam proses pembelajaran antara lain dipengaruhi faktor kemampuan yang dimiliki hubungannya dengan materi yang akan dipelajari. 5. a. b. c. d. Indikator Partisipasi Siswa Dalam Pembelajaran Berapa banyak kelompok yang bisa: Bertanya Merespon Menyimpulkan pembelajaran Mengerjakan tugas

Dari berbagai pendapat para ahli di atas tentang pengertian partisipasi, jenis-jenis partisipasi dan sarat terjadinya partisipasi, maka yang menjadi indikator dalam penelitian ini yaitu kemampuan memberikan pendapat, saran, tenaga, dan tanggung jawab terhadap tugas serta komunikasi timbal balik. Maka ciri-ciri dalam kegiatan pembelajaran partisipatif adalah: a. b. c. d. e. f. Pendidik menempatkan diri pada kedudukan tidak serba mengetahui terhadap semua bahan ajar. Pendidik memainkan peran untuk membantu peserta didik dalam Pendidik melakukan motivasi terhadap peserta didik untuk Pendidik menempatkan dirinya sebagai peserta didik. Pendidik bersama peserta didik saling belajar. Pendidik membantu peserta didik untuk menciptakan situasi melakukan kegiatan pembelajaran. berpartisipasi dalam pembelajaran.

belajar yang kondusif.

33

g. h. i.

Pendidik mengembangkan kegiatan pembelajaran kelompok. Pendidik mendorong peserta didik untuk meningkatkan semangat Pendidik mendorong peserta didik untuk berupaya memecahkan

berprestasi. permasalahan yang dihadapi dalam kehidupannya.

BAB III METODOLOGI PENELITIAN A. Jenis Penelitian, Tempat dan Waktu Penelitian 1. Jenis Penelitian Penelitian ini digolongkan kedalam penelitian Eksprimen. Bertujuan mengumpulkan data yang berkaitan dengan status atau kondisi objek yang diteliti pada saat dilakukan penelitian. Kemudian data tersebut akan ditampilkan dalam bentuk narasi dan tabel. Diinterpresentasikan sesuai dengan tujuan dari penelitian ini. 2. Tempat dan Waktu Penelitian Penelitian ini dilakukan di SMA semen Padang dengan subyek penelitian Guru dan siswa sebagai pelaku proses belajar mengajar (PBM) dikelas XI (IPS1 dan IPS4) jumlah siswa 57 orang siswa, dengan perincian kelas XI IPS1 sebanyak 31 orang dan kelas XI IPS4 sebanyak 26 orang siswa. Waktu penelitian dimulai dari tanggal 25 mei sampai dengan 20 juli 2010. B. 1. Variabel Penelitian ini menggunakan dua (2) variabel, yaitu variabel Independen dan variabel Dependen. Adapun variabel independennya yaitu model pembelajaran kooperatif tipe STAD (Student Teams Achievement Divisions) dan variabel dependennya yaitu Partisipasi Siswa. 2. Indikator Variabel Adapun indikator dari variabel independen: a. 1) 2) 3) b. 1) 2) Peran Analisis Komitmen Tanggung jawab Guru Siswa Komunikasi (bertanya dan merespon/mengeluarkan ide) Variabel dan Indikator Variabel

35

3) 4) 5) 6)

RancanganPelaksanaa Pembelajaran (RPP) Pengembangan Implementasi Evaluasi

Adapun indikator dari variabel dependen: Berapa banyak kelompok yang bisa: a. Bertanya b. Merespon c. Menyimpulkan pembelajaran d. Mengerjakan tugas C. 1. Populasi dan Sampel Populasi Dalam penelitian ini populasinya adalah seluruh siswa kelas XI SMA Semen Padang. Dengan rincian sebagai berikut : Tabel 2. Rincian Populasi Kelas No Kelas XI 1 IPA.1 2 IPA.2 3 IPA.3 4 IPS.1 5 IPS.2 6 IPS.3 7 IPS.4 Sumber : Tata Usaha (TU) 2. Sampel Sebagai sampel dari keseluruhan yang ada, yaitu kelas XI IPS 1 dan IPS4 di SMA Semen Padang tahun ajaran 2010/2011. D. Jenis dan Sumber Data 1. Jenis Data Data yang diperlukan dalam penelitian ini adalah data: a. Data primer, data yang langsung diperoleh dari guru dan siswa, berupa informasi yang diberikan dalam menjawab pertayaan yang akan dimuat dalam angket penelitian. Jumlah Siswa 38 orang 38 orang 39 orang 38 orang 32 orang 33 orang 33 orang

36

b. Data sekunder, data yang diperoleh dari dokumen-dokumen yang diperlukan untuk kepentingan penelitian. Seperti: absensi siswa, dan RPP. 2. Sumber Data Sumber data adalah sesuatu yang didalamnya data dapat diperoleh. Apabila peneliti menggunakan kuisioner atau wawancara dalam pengumpulan data, maka sumber data disebut responden, yaitu orang yang merespon atau menjawab pertanyaan-pertanyaan peneliti baik pertanyaan tertulis maupun pertanyaan lisan (Arikunto, 2006: 129). Yang dijadikan sumber data dalam penelitian ini adalah siswa, guru kewarganegaraan dan tata usaha (TU). E. Instrument Penelitian Yang di maksud istrumen adalah sarana untuk memperoleh data, maka istrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah: 1. Panduan Wawancara Bertujuan untuk mendapatkan masukan dari siswa mengenai pembelajaran kooperatif yang telah dilakukan dengan menggunakan lembar pedoman wawancara yang dilakukan terhadap siswa. 2. Observasi Digunakan untuk mengetahui data tentang aktifitas yang menunjukkan adanya data yang mempengaruhi aktifitas kooperatif siswa dan guru. Yang menjadi observer peneliti dan yang diobservasi pelaksanaan proses belajar mengajar yang dilakukan guru dan siswa. 3. Daftar angket Angket merupakan teknik pengumpulan data yang dilakukan dengan cara memberi seperangkat pertanyaan atau peryataan tertulis kepada responden untuk dijawabnya. Dalam mengumpulkan data alat yang digunakan dalam penelitian ini adalah wawancara, angket dan observasi, dengan langkah-langkah: .1 .2 .3 Tentukan indikator dan sub indikator yang dijadikan Membuat kisi-kisi observasi dan kisi-kisi angket. Membuat draf pertayaan pedoman dalam penentuan butir-butir instrument.

37

Pengumpulan atau penyusunan data unutk angket ini dilakukan dengan menggunakan skala likert, dengan lima kategori yaitu: Selalu (SL), Sering (SR), Kadang-kadang (KK), Tidak Pernah (TP), Sangat Tidak Pernah (STP). Dan pengumpulan data observasi untuk melihat partisipasi siswa dipergunakan skala guttman dengan kategori Ada atau Tidak, setiap munculnya deskriptor Ada mendapat skor 2 dan tidak muncalnya deskriptor mendapat skor 0. F. Tekhnik Analisa Data Setelah semua data terkumpul dengan lengkap, maka data-data tersebut dipriksa serta di teliti kebenarannya dan disajikan melalui teknik deskriptif kualitatif dengan proses sebaagi berikut: 1. Mengumpulakan data-data yang sudah diproleh dari hasil penelitian. 2. Mencek keabsahan data yang sudah di tentukan. 3. Mengklafikasi data yang diperlukan sesuai dengan pertanyaan penelitian. 4. Mendeskripsikan data-data sudah diklafikasikan yang sesuai indikator. 5. Memaparkan dalam bab hasil dan pembahasan. 6. Membahas dan menganalisis termasuk menginterpretasi dari data-data yang telah diolah. 7. menghitung frekuensi dengan menggunakan rumus f P= N x 100 Sudjana (1989:129) ket: P= jumlah persentase f= frekuensi N= jumlah sampel Setelah data diolah dengan menggunakan rumus persentase, kemudian ditetapkan kriteria penilaian masing-masing data yang diperoleh dengan mengacu pada batasan Sudjana (1989:57) sebagai berikut : 0% - 20% 21% - 40% 41% - 60% 61% - 80% =kurang baik = kurang = cukup = baik

81% - 100%= sangat baik

38

8. Mengeneralisasi. Tabel 3. Teknik Pengumpulan Data
No 1 2 3 Data Data hasil observasi pada saat proses pembelajaran berlangsung. Tingkat pemahaman dan tanggapan siswa tentang model kooperatif tipe STAD . Hasil angket untuk mengetahui tingkat keberhasilan proses pembelajaran STAD Sumber Instrumen Siswa dan Observassi guru Siswa Siswa Wawancara Angket

Sumber: (data diolah)

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. Hasil Penelitian 1. Tingkat Partisipasi Siswa Dalam Mengemukakan Pendapat Partisipasi adalah turut sertanya seseorang baik secara mental maupun emosianal untuk memberikan sumbangan berupa pikiran, tenaga, keahlian,

39

dan materi dalam proses pembuatan suatu keputusan. Adapun yang dimaksud dengan partisipasi siswa merupakan wujud tingkah laku siswa secara nyata dalam kegiatan pembelajaran yang merupakan totalitas dari suatu keterlibatan mental dan emosional siswa sehingga mendorang mereka untuk memberikan konstribusi dan bertanggung jawab terhadap pencapaian tujuan dari pembelajaran itu sendiri. Partisipasi dalam mengemukakan pendapat bisa dilihat dari dua aspek yaitu bertanya dan merespon. a) Kelas sampel XI IPS1 Berikut hasil partisipasi siswa dalam mengemukakan pendapat di kelas XI IPS1, pada tanggal 03 juni 2010 jam pertama (07:15 wib). Adapun langkah-langkah pelaksanaan diskusi kelas : 1) 2) 3) 4) Siswa dibagi menjadi tujuh kelompok. Membahas tentang topik yang sama yaitu latar belakang terjadinya konflik Israel-Palestina, sikap kita seharusnya dan solusinya. Kemudian satu kelompok mempresentasikannya di depan kelas. Diskusi kelas. Kelompok I (satu) yang mempersentasikan di depan kelas. Hasil diskusi kelompok I yang disampaikan oleh Amalia tizzany M.: “Yang melatar belakangi konflik Israel-Palestina adalah tindakan saparatis Israel yang ingin memperluas wilayah negaranya dengan menguasai wilayah Palestina. Tindakan yang harus dilakukan dewan keamanan PBB mesti lebih tegas dalam menyelesaikan masalah tersebut, mengusahakan penegakkan HAM yang tertindah oleh Israel, ikut serta dalam perdamaian dunia. Solusinya menurut pendapat kelompok kami yaitu melakukan embargo baik senjata dan ekonomi terhadap negara Israel karena negara itulah yang memicu konflik pertama”.  Kelompok yang bertanya : 1) Kelompok lima (V), Yokie rahmatugafur “Dalam konflik internasional banyak berdampak pada negara-negara lain, seperti demo yang dilakukan oleh bebrapa pihak. Bagaimana pengaruh dan apakah itu berupa solusi dari konflik?”

40

2) Kelompok dua (II), Yulia fransiska “Bagaimana menurut kelompok I, tentang peran PBB dalam hal perdamaian dunia?” 3) Kelompok enam (VI), Budi zikril hakim “Apa sikap negara Indonesia saat ini, sudah sesuai dengan ketentuannya yang dalam cita-citanya ikut serta dalam perdamaian dunia?” 4) Kelompok empat (IV), Widia nurindah fitri “Menurut kelompok anda penyebab utama konflik Israel-Palestina itu apa?”  Kelompok yang merespon : 1) Kelompok satu (I), Egi jordian “Orang-orang demo itu tidak hanya sekedar demo-demo saja, tetapi itu merupakan bentuk solidaritas sesama manusia. Dengan aksi itu pemerintah akan mempercepat tindakannya, dalam hal aparat negara untuk mewujudkan perdamaian dunia”. 2) Kelompok tujuh (VII), Audra tanthy ohana “Demo merupakan hak, asalkan masih sesuai dengan kode etik demo. Menurut saya sah-sah saja, setidaknya berdampak dalam bentuk kemanusiaan”. 3) Kelompok lima (V), Yokie rahmatugafur “Kalau begitu bagus berarti aksi demo, dengan catatan demo yang tidak anarkis. Saran saya jangan demo kecil-kecilan buat aksi yang lebih besar lagi, agar bisa didengar oleh PBB selaku penanggung jawab keamanan dunia”. 4) Kelompok satu (I), Rahmi febrianty putri “Menurut kelompok kami peran PBB, belum optimal dalam memecahkan solusi agar tidak terjadi konflik, karena PBB masih diperankan oleh Amerika yang secara tidak langsung mendukung salah satu pihak yang berkonflik”. Uraian di atas memperlihatkan tingkat partisipasi siswa dalam hal mengemukakan pendapat dikategorikan sangat baik pada saat diskusi kelas karena dari tujuh kelompok (I, II, III, IV, V, VI, VII) ada enam kelompok (I, II, IV, V, VI, VII) ikut berpartisipasi dalam diskusi kelas tersebut. b) Kelas sampel XI IPS4 Berikut hasil partisipasi siswa dalam mengemukakan pendapat di kelas XI IPS1, pada tanggal 03 juni 2010 jam kedua (09:15 wib). Adapun langkah-langkah pelaksanaan diskusi kelas :

41

1) Siswa dibagi menjadi lima kelompok. 2) Membahas tentang topik yang sama yaitu latar belakang terjadinya konflik Israel-Palestina, sikap kita seharusnya dan solusinya. 3) Kemudian satu kelompok mempresentasikannya di depan kelas. 4) Diskusi kelas. Kelompok satu (I) yang mempersentasikan hasil diskusi kelompoknya di depan kelas, yang disampaikan oleh Niki kurniawan : “Yang melatar belakangi perang Israel-Palestina bisa dilihat dari dua sudut pandang yakni politik dan sosial budaya. Politik : Israel menyerang Palestina karena ingin memperluaskan wilayah negaranya. Sosial budaya : Israel yang beragama yahudi sangat membenci agama islam, oleh karena itu Israel ingin menghapuskan agama islam di Palestina untuk dijadikan negara yahudi. Tindakan kita seharusnya mmperjunagkan HAM, karena setiap negara memiliki hak setiap bangsa, dan sampai saat ini tindakan Israel semakin menjadi. Solusinya : Sebaiknya PBB harus turun tangan dalam masalah ini, karena masalah ini adalah tugas PBB, sampai saat ini PBB belum optimal dalam bertindak.  Kelompok yang bertanya : 1) Kelompok tiga (III), Chintia yuliantari “Apa pendapat anda tentang penyerangan tentara Israel terhadap kapal relawan?” 2) Kelompok empat (IV), Chintia wulandari “Konflik tersebut, nampaknya merupakan kanflik budayacoba kita perhatikan dari dulu sampai sekarang masih saja berlanjut. Pendekatan apa sebaiknya kita gunakan untuk meredam konflik tersebut?” 3) Kelompok dua (II), Ayogi sugama “Menurut kelompok anda, apa faktor utama penyebab konflik internasional?”  Kelompok yang merespon 1) Kelompok satu (I), Ikmanda noveman “Kalau menurut saya, bagusnya kedua pemimpin negara tersebut diajak duduk berunding dengan didampingi oleh mediasi”.

42

2) Kelompok lima (V), Roni “Melakukan embargo kepada negara yang melakukan aksi kekerasan yang pertama”. 3) Kelompok satu (I), Rizo nakamiko “Menurut kami faktor utama penyebab konflik internasional adalah masalah ekonomi, seperti perebutan wilayah”. Uraian di atas memperlihatkan tingkat partisipasi siswa dalam hal mengemukakan pendapat dikategorikan sangat baik pada saat diskusi kelas karena setiap kelompok ikut berpartisipasi. 2. Tingkat Kemampuan Siswa Dalam Berfikir Kritis gggggggggggggggggggggggggggggggggggg 3. Tingkat Kerja Sama Siswa aaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa 4. Tingkat Kemampuan Siswa Dalam Menilai kemampuan Sendiri

5.

Hasil Observasi Analisis data hasil observasi menggunakan analisis persentase, adapun setiap munculnya deskriptor (penilaian “Ada”) mendapat skor 2, sedangkan untuk penilaian “Tidak” (tidak munculnya deskriptor) mendapat skor 0, skor yang terdapat dari masing-masing indikator dijumlahkan dan hasilnya disebut jumlah skor, kemudian dihitung nilai rata-rata dengan rumus sebagai berikut: Persentase Nilai Rata-rata = Skor perolehan ×100 Hasil observasi aktivitas guru dan siswa menurut pengamatan peneliti, guru dan siswa terlihat dalam skala di bawah ini. Hasil observasi terhadap guru dan siswa dianalisis menggunakan analisis persentase dan kriteria keberhasilan tindakan. Lembar observasi terhadap aktivitas guru dan siswa dapat dilihat dalam tabel-tabel di bawah ini. Observasi terhadap aktivitas guru dan siswa dapat dilihat :
Tabel 4. Lembar Observasi terhadap Guru dengan Model Kooperatif tipe STAD pada kelas XI IPS1 No Tahap Indikator Obsserver Skor maksimal

43

Ada 1 Awal 1) Melakukan aktifitas rutin di awal tatap muka 2) Menjelaskan tujuan pembelajaran 3) Melakukan apersepsi untuk menyegarkan ingatan siswa 4) Memberikan motivasi kepada siswa
√ √ √

Tidak

√ √ √ √

5) Melakukan pre-test 6) Mengembangkan pengetahuan awal
2 Inti 1) Menjelaskan metode pembelajaran tipe STAD 2) Membagi siswa menjadi beberapa kelompok 3) Membagikan tugas belajar kepada masing masing kelompok

√ √ √

4) Mengawasi jalannya proses belajar
masing-masing kelompok 5) Memberikan penilaian dan penghargaan terhadap kelompok yang mempunyai skor 3 Akhir tinggi 1) Memberikan post test 2) Melakukan refleksi dan menyimpulkan materi 3) Melakukan aktifitas rutin pada akhir tatap muka

√ √ √

Sumber: Data Diolah Keterangan item table : 1. Tahap awal : 1) Guru mengucapkan salam, berdo’a, melakukan absensi terhadap siswa. 2) Memberikan gambaran tentang tujuan yang ingin dicapai dari materi pelajaran. Seperti : “setelah kita melakukan proses belajar mengajar ini kalian harus sudah mengetahui tentang penyebab timbulnya sengketa internasional, tahap-tahap penyelesaian sengketa tersebut”.

44

3) Pada tahap ini guru mencoba mengasah serta menekankan kembali ingatan siswa terhadap materi , dengan memberikan pertanyaanpertayaan kepada siswa. “Sindy. Coba anda sebutkan Negara-negara yang sedang mengalami konflik internasional sekarang?” 4) Menanamkan di dalam diri siswa tentang kesadaran berbangsa dan bernegara. “Siswa-Siswi sekalian kalianlah besok yang menjadi pemimpin negeri ini, kalianlah yang meneruskan estapet perjuangan pemimpin-pemimpin yang dulu-dulu, jadi kalian harus mempunyai jiwa Nasionalisme, cinta terhadap bangsa dan karya bangsa sendiri.” 5) Tidak dilakukan oleh guru. 6) Guru menjelaskan sedikit tentang materi “ Sengketa internasional dan cara penyelesaiannya”. 2. Tahap Inti : 1) Kalian nanti dibagi menjadi beberapa kelompok. Metode ini ditegaskan kepada kalian untuk saling memiliki tanggung jawab terhadap kelompok dan anggota kelompok. 2) Guru membagi siswa menjadi beberapa kelompok : Kelompok I : 1. Amalia tizzany M. 2. Egi jordian 3. Rahmi febrianty putrid 4.Regina novira Kelompok II : 1. Divia areska H. 2. Tari nofiarman 3. Yulia fransiska 4. Mutitia suci ramadhani Kelompok III : 1. Sindy abelia 2. Gita yulinda putrid 3. Vebby selviandini 4. Khairani chalid Kelompok IV 1. Widia nurindah fitri 2. Fyerda azhani putrid

45

3. Febria reza 4. Muthia nabila 5. Sonia alviolita Kelompok V : 1. Abdo ariyanto 2. Rudi saputra 3. Yokie rahmatugafur 4. Dhani afrian yusuf 5. Sundari eka putri Kelompok VI 1. Budi zikril Hakim 2. Sefky hervira 3. Wanda Fernando 4. Yona melida Kelompok VII 1. Audra thanty ohana 2. Afri dona 3. Mimi siska 4. Restu sari 3) Setiap kelompok diberikan tugas, tentang : Apa latar belakang perang Israel dengan Palestina, tindakan kita seharusnya dan langkah penyelesaiannya. 4) Pada saat siswa mengerjakan tugas kelompoknya, guru memandu dengan seksama. Apa yang dikerjakan siswa? Dengan cara berjalan ke masing-masing kelompok dan memandu siswa pada saat menampilkan atau mempersentasikan tugas kelompoknya. 5) Tidak dilakukan oleh guru. 3. Tahap akhir : 1) Tidak dilakukan oleh guru. 2) Setelah terjadi diskusi kelas guru menarik kesimpulan dari topik yang diperdebatkan tentang konflik Israel-Palestina. “ada 3 faktor yang melatar belakangi konflik tersebut 1. Politik, bahwa Israel ingin diakui dikancah dunia internasional, sebab berdasarkan sejarahnya bangsa yahudi dahulu hanya menumpang tempat tingal diwilah tersebut dan

46

dengan dukungan negara Amerika yahudi membentuk negara Israel. 2. Sosial budaya, disebabkan oleh keyakinan dan akidah yang berbeda dalam mentafsirkan Al-kitab. 3. Ekonomi, Israel ingin menguasai wilayah Palestina. 3) Menanyakan kepada siswa, apakah sudah memahami tentang konsep yang telah kita bahas pada pertemuan ini, dan apakah masih ada yang mau bertanya? Jika tidak ada, guru menutup pelajaran dengan salam. Penyelesaian : Diketahui : item ADA = 10 x 2 = 20 : item TIDAK = 4 x 0 = 0 : skor maksimum = 14 x 2 = 28
Skor perolehan ×100 Persentase Nilai Rata-rata = Skor maksimal

20 = 28 = 71,43% Kesimpulan 71,43% hal ini dapat diartikan berdasarkan hasil observasi pengamat taraf keberhasilan kegiatan guru termasuk dalam kategori ”Baik”.
Tabel 5. Lembar Observasi terhadap Siswa dengan Model Kooperatif tipe STAD pada kelas XI IPS1 No 1 Tahap Awal Indikator Obsserver Ada Tidak √ √ √ √ √

x 100

1) Menjawab aktifitas rutin diawal tatap
muka 2) Memperhatikan tujuan pembelajaran yang disampaikan guru 3) Menyimak apersepsi dari guru 4) Memperhatikan motivasi yang disampaikan guru

5) Mengerjakan pre-test

47

6) Memperhatikan pengembangan 2 Inti pengetahuan awal 1) Memperhatikan penjelasan metode pembelajaran tipe STAD oleh guru 2) Membentuk beberapa kelompok 3) Mengerjakan tugas belajar kepada masingmasing kelompok 4) Melakukan aktifitas kerjasama kelompok

√ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √

5) Adakah kelompok yang bertanya ?
6) Adakah kelompok yang merespon ? 7) Kesiapan kelompok dalam menyimpulkan pembelajaran 8) Mengumpulkan tugas yang telah 3 Akhir diselesaikan bersama Mengerjakan post test Mendengarkan refleksi dan penyimpulan materi Menjawab aktifitas rutin pada akhir tatap muka

Sumber: Data Diolah Keterangan item : 1. Tahap awal : 1) Menjawab salam guru, kemudian berdo’a (asmaul huzna) dan menjawab absensi guru. 2) Ada beberapa siswa (dari 31 orang, 21 orang siswa) masih sibuk dengan aktivitasnya masing-masing seperti mengeluarkan buku dari dalam tas. 3) Memperhatikan apa yang dipertanyakan oleh guru. 4) Memperhatikan apa yang dipertanyakan oleh guru. 5) Tidak dilakukan oleh siswa. 6) Memperhatikan penjelesan yang disampaikan guru. 2. Tahap Inti :

48

1) Ada beberapa siswa (dari 31 orang 14 orang) yang memperhatikan dengan seksama yang disampaikan oleh guru tentang metode kooperatif tipe STAD (student teams achievement divisions). 2) Siswa membentuk kelompok sesuai dengan intruksi guru. 3) Siswa mengerjakan tugas kelompoknya, dengan berdiskusi dalam kelompok masing-masing. 4) Setiap kelompok berdiskusi dengan anggota kelompok masingmasing. Setelah mendapat kata sepakat tentang tiga topik yang dibahas kemudian satu kelompok (kelompok I) mempersentasikan tugas kelompoknya. 5) Ada, kelopok V (Yokie rahmatugafur) “ dalam konflik internasional, banyak berdampak pada Negara-negara lain. Seperti demo yang dilakukan oleh beberapa pihak. Bagaiman pengaruh dan apakah itu berupa solusi dari konflik?” 6) Ada : a) Kelompok I (Egi jordian) “Orang-oarang demo itu tidak hanya sekedar demo-demo saja, tetapi tiu merupakan bentuk solidaritas sesama manusia. Dengan aksi itu pemerintah akan mempercepat tindankannya, dalam hal aparat Negara untuk mewujudkan perdamaian dunia”. b) Kelompok VII (Audra tanthy ohana) “Demo merupakan hak, asalkan masih sesuai dengan kode etik demo. Menurut saya sahsah saja, setidaknya berdampak dalam bentuk kemanusiaan. c) Kelompok V (Yokie rahmatugafur) “kalau begitu bagus berarti aksi demo, dengan catatan demo yang tidak anarkis. Saran saya jangan demo kecil-kecilan buat aksi yang lebih besar lagi, agar bisa didengar oleh PBB selaku penanggung jawab keamanan dunia. 7) Dari 7 kelompok diambil 1 kelompok yang menyampaikan kesimpulan dari topik yang dibahas. Kelompok III “latar belakang perang Israel-palestina: penguasaan wilayah, ekonomi, budaya, dan

49

nasionalisme. Solusinya : PBB harus turun tangan dalam penyelesaian konflik tersebut, Negara-negara lain harus melakukan embargo pada negara Israel. 8) Setiap kelompok mengumpulkan tugas sesuai dengan jadwal yang telah ditetapkan, yakni sebelum habis jam belajar. 3. Tahap akhir : 1) Tidak dilakukan oleh siswa. 2) Siswa mendengarkan kesimpulan dari guru. 3) Menjawab aktivitas dari guru. Penyelesaian : Diketahui : item ADA = 12 x 2 = 24 : item tidak = 5 x 0 =0 : skor maksimum = 17 x 2 = 34
Skor perolehan

Persentase Nilai Rata-rata = Skor maksimal 24 = 34 = 70,59% x 100

×100

Kesimpulan 70,59% hal ini dapat diartikan berdasarkan hasil observasi pengamat taraf keberhasilan kegiatan siswa termasuk dalam kategori ”Baik”.
Tabel 6. Lembar Observasi terhadap Guru dengan Model Kooperatif tipe STAD pada kelas XI IPS4 No 1 Tahap Awal Indikator 1) Melakukan aktifitas rutin di awal tatap muka 2) Menjelaskan tujuan pembelajaran 3) Melakukan apersepsi untuk menyegarkan ingatan siswa 4) Memberikan motivasi kepada siswa
√ √ √

Obsserver Ada Tidak

50

5) Melakukan pre-test
2 Inti 6) Mengembangkan pengetahuan awal 1) Menjelaskan metode pembelajaran tipe STAD 2) Membagi siswa menjadi beberapa kelompok 3) Membagikan tugas belajar kepada masing masing kelompok

√ √ √

√ √ √

4) Mengawasi jalannya proses belajar
masing-masing kelompok 5) Memberikan penilaian dan penghargaan terhadap kelompok yang mempunyai skor 3 Akhir tinggi 1) Memberikan post test 2) Melakukan refleksi dan menyimpulkan materi

√ √ √

3) Melakukan aktifitas rutin pada akhir tatap
muka

(Sumber: Data Diolah) Keterangan item table : 1. Tahap awal : 1) Guru mengucapkan salam, berdo’a, melakukan absensi terhadap siswa. 2) Memberikan gambaran tentang tujuan yang ingin dicapai dari materi pelajaran. Seperti : “Setelah kita melakukan proses belajar mengajar ini kalian harus sudah mengetahui tentang penyebab timbulnya sengketa internasional, tahap-tahap penyelesaian sengketa tersebut”. 3) Pada tahap ini guru mencoba mengasah serta menekankan kembali ingatan siswa terhadap materi , dengan memberikan pertanyaanpertayaan kepada siswa. “Faisal. Coba anda sebutkan negaranegara yang sedang mengalami konflik internasional sekarang?”

51

4) Menanamkan di dalam diri siswa tentang kesadaran berbangsa dan bernegara. “Siswa-Siswi sekalian kalianlah besok yang menjadi pemimpin negeri ini, kalianlah yang meneruskan estapet perjuangan pemimpin-pemimpin yang dulu-dulu, jadi kalian harus mempunyai jiwa Nasionalisme, cinta terhapap bangsa dam karya bangsa sendiri.” 5) Tidak dilakukan oleh guru. 6) Guru menjelaskan sedikit tentang materi “ Sengketa internasional dan cara penyelesaiannya”. 2. Tahap Inti : 1) Kalian nanti dibagi menjadi beberapa kelompok. Metode ini ditegaskan kepada kalian untuk saling memiliki tanggung jawab terhadap kelompok dan anggota kelompok. 2) Guru membagi siswa menjadi beberapa kelompok : Kelompok I : 1. Nikki kurniawan 2. Ikmanda noveman 3. Reza pebradi putra 4. Rizo nakamiko 5. Dilan pramana rahaja Kelompok II : 1. Dedi agustarial 2. Bray meshans A. 3. Ridho ramadona 4. Faisal triandi 5. Ayogi sugama Kelompok III : 1. Chintia yuliantari 2. Shinta valentine 3. Nadia angera 4. Lussi 5. Anggi alga prima amril Kelompok IV 1. Chintia wulandari 2. Indah rahmayanti

52

3. Dwi indah pratiwi 4. Feby widya 5. Andika putra Kelompok V : 1. Roni pepratama 2. Yogi fernando 3. Tomi tarigan 4. Nanda april 5. Ridhatul jannah 3) Setiap kelompok diberikan tugas, tentang : Apa latar belakang perang Israel dengan Palestina, tindakan kita seharusnya dan langkah penyelesaiannya. 4) Pada saat siswa mengerjakan tugas kelompoknya, guru memandu dengan seksama. Apa yang dikerjakan siswa? Dengan cara berjalan ke masing-masing kelompok dan memandu siswa pada saat menampilkan atau mempersentasikan tugas kelompoknya. 5) Tidak dilakukan oleh guru. 3. Tahap akhir : 1) Tidak dilakukan oleh guru. 2) Setelah terjadi diskusi kelas guru menarik kesimpulan dari topi yang diperdebatkan. Tentang konflik Israel-Palestina. “ada 3 faktor yang melatar belakangi konflik tersebut 1. Politik, bahwa Israel ingin diakui dikancah dunia internasional, sebab berdasarkan sejarahnya bangsa yahudi dahulu hanya menumpang tempat tingal diwilah tersebut dan dengan dukungan negara Amerika yahudi membentuk negara Israel. 2. Sosial budaya, disebabkan oleh keyakinan dan akidah yang berbeda dalam mentafsirkan Al-kitab. 3. Ekonomi, Israel ingin menguasai wilayah Palestina. 3) Menanyakan kepada siswa, apakah sudah memahami tentang konsep yang telah kita bahas pada pertemuan ini, dan apakah

53

masih ada yang mau bertanya? Jika tidak ada, guru menutup pelajaran dengan salam. Penyelesaian : Diketahui : item ADA = 9 x 2 = 18 : item TIDAK = 5 x 0 = 0 : skor maksimum = 14 x 2 = 28 Persentase Nilai Rata-rata = Skor maksimal ×100 18 = 28 = 64,27% Kesimpulan 64,27% hal ini dapat diartikan berdasarkan hasil observasi pengamat taraf keberhasilan kegiatan guru termasuk dalam kategori ”Baik”.
Tabel. 7 Lembar Observasi terhadap Siswa dengan Model Kooperatif tipe STAD pada kelas XI IPS4 No 1 Tahap Awal Indikator 1) Menjawab aktifitas rutin diawal tatap muka 2) Memperhatikan tujuan pembelajaran yang disampaikan guru 3) Menyimak apersepsi dari guru √ √ √ √ √ √ √ Obsserver Ada Tidak √ Skor perolehan

x 100

4) Memperhatikan motivasi yang
disampaikan guru

5) Mengerjakan pre-test
6) Memperhatikan pengembangan 2 Inti pengetahuan awal 1) Memperhatikan penjelasan metode pembelajaran tipe STAD oleh guru 2) Membentuk beberapa kelompok

3) Mengerjakan tugas belajar kepada masing-

54

masing kelompok 4) Melakukan aktifitas kerjasama kelompok 5) Adakah kelompok yang bertanya ? 6) Adakah kelompok yang merespon ? 7) Kesiapan kelompok dalam menyimpulkan pembelajaran 8) Mengumpulkan tugas yang telah 3 Akhir diselesaikan bersama 1) Mengerjakan post test 2) Mendengarkan refleksi dan penyimpulan materi 3) Menjawab aktifitas rutin pada akhir tatap muka

√ √ √ √ √ √ √ √ √

(Sumber: Data Diolah) Keterangan item : 1. Tahap awal : 1) Menjawab salam guru, kemudian berdo’a (asmaul huzna) dan menjawab absensi guru. 2) Ada beberapa siswa (dari 26 orang, 17 orang siswa) masih sibuk dengan aktivitasnya masing-masing seperti mengeluarkan buku dari dalam tas. 3) Memperhatikan apa yang dipertanyakan oleh guru. 4) Memperhatikan apa yang dipertanyakan oleh guru. 5) Tidak dilakukan siswa. 6) Memperhatikan penjelesan yang disampaikan guru. 3. Tahap Inti : 1) Ada beberapa siswa (dari 26 orang 14 orang) yang memperhatikan dengan seksama yang disampaikan oleh guru tentang metode kooperatif tipe STAD (student teams achievement divisions). 2) Siswa membentuk kelompok sesuai dengan intruksi guru. 3) Siswa mengerjakan tugas kelompoknya, dengan berdiskusi dalam kelompok masing-masing.

55

4) Setiap kelompok berdiskusi dengan anggota kelompok masingmasing. Setelah mendapat kata sepakat tentang tiga topik yang dibahas kemudian satu kelompok (kelompok I) mempersentasikan tugas kelompoknya. 5) Ada, kelopok IV (Chintia wulandari) “ konflik Israel-Palestina, nampaknya merupakan konflik Budaya coba kita perhatikan dai dulu hingga sekarang masih saja berlanjut. Pendekatan apa sebaiknya kita gunakan untuk meredam konflik tersebut?” 6) Ada : a) Kelompok I (Ikmanda noveman) “Kalau menurut saya, bagusnya kedua pemimpin Negara tersebut diajak duduk berunding dengan didampingi oleh mediasi”. b) Kelompok V (Roni) “Melakukan Embargo kepada Negara yang melakukan aksi kekerasan yang pertama”. 7) Dari V kelompok diambil 3 kelompok yang menyampaikan kesimpulan dari topik yang dibahas. Kelompok IV “latar belakang perang Israel-palestina: politik, ekonomi, dan budaya. Solusinya : Negara timur bersatu untuk mendukung aksi perdamaian dengan membuat perjanjian damai. 8) Setiap kelompok mengumpulkan tugas sesuai dengan jadwal yang telah ditetapkan, yakni sebelum habis jam belajar. 3. Tahap akhir : 1) Tidak dilakukan siswa. 2) Siswa mendengarkan kesimpulan dari guru. 3) Menjawab aktivitas dari guru. Penyelesaian : Diketahui : item ADA = 11 x 2 = 22 : item tidak = 6 x 0 =0 : skor maksimum = 17 x 2 = 34
Skor perolehan ×100 Persentase Nilai Rata-rata = Skor maksimal

56

22 = 34 = 64,71% Kesimpulan 64,71% hal ini dapat diartikan berdasarkan hasil observasi pengamat taraf keberhasilan kegiatan siswa termasuk dalam kategori ”Baik”. 6. Angket .a Tingkat partisipasi siswa dalam hal mengemukakan pendapat Tingkat partisipasi siswa dalam hal mengemukakan pendapat pada proses belajar mengajar dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe STAD (Student Teams Achievement Divisions) di SMA semen Padang yang diambil dari dua kelas sampel yakni kelas XI IPS1 dan kelas XI IPS4, dapat dilihat dari tabel berikut.  Pada Kelas Sampel XI IPS1 Deskripsi data berdasarkan angket yang disebarkan kepada siswa untuk masing-masing sub variabel tersebut dapat dilihat pada bagian berikut. Tingkat partisipasi siswa dalam proses belajar mengajar dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe STAD (Student Teams Achievement Divisions) dalam hal bertanya dan merespon, di SMA semen Padang. Kelas sampel XI IPS1. Terlihat pada tabel berikut : Tabel. 8 skor partisipasi siswa variabel bertanya dan merespon.
N O Pernyataan S (4) F % 10 32,26 Alternative jawaban RG (3) TS (2) F % F % 18 58,08 3 9,68 Ket ST(1) F % 0 0,00 N=31

x 100

1 Rasa percaya diri siswa meningkat, siswa merasa lebih terkontrol untuk keberhasilan akademisnya. 2 Meningkatkan kesediaan menggunakan ide orang lain yang dirasakan lebih baik 3 Meningkatkan kemampuan memandang masalah dan situasi dari berbagai perspektif 4 Metode kooperatif

12 11

38,71 35,48

16 12

51,61 38,71

3 9,68 7 22,58

0 0,00 1 3,23

10

32,26

17

54,84

3 9,68

1 3,23

57

5

6

7

8

membantu siswa dalam menguasai materi Pembelajaran kooperatif menjadikan siswa mampu belajar berdebat, mendengarkan pendapat orang lain, dan mencatat hal-hal yang bermanfaat Hadiah atau penghargaan yang diberikan mendorong siswa untuk mencapai hasil yang lebih tinggi Model kooperatif tipe STAD dapat meningkatkan keterampilan komunikasi siswa Pembelajaran kooperatif menjadikan siswa mampu memecahkan masalah dan menarik kesimpulan dari permasalahan tersebut ∑

15

48,39

13

41,94

3 9,68

0 0,00

8

25,81

15

48,39

6 19,35

2 6,45

15

48,39

13

41,94

3 9,68

0 0,00

16

51,61

14

45,16

0 0,00

0 0,00

97

312,9

118

380,7

2 90,33 8

4 12,91

Berdasarkan data diatas hasil partisipasi dilihat dari komunikasi siswa variabel bertanya dan merespon, dapat dihitung dengan rumus sebagai berikut : % variabel = = = = = 80,85% Hasil partisipasi dalam hal komunikasi dari variabel bertanya atau merespon/mengemukakan ide dalam mata pelajaran kewarganegaraan dengan model kooperatif tipe STAD di SMA semen Padang pada kelas XI IPS 1 adalah ‘BAIK’ dengan persentase 80,85%. Jadi tingkat partisipasi siswa : bertanya, dan merespon/mengemukakan ide dalam mata pelajaran kewarganegaraan di SMA semen Padang adalah BAIK.  Pada Kelas Sampel XI IPS4 Deskripsi data berdasarkan angket yang disebarkan kepada siswa untuk masing-masing sub variabel tersebut dapat dilihat pada bagian berikut.

58

Tabel 9. Skor partisipasi siswa variabel bertanya atau merespon.
N O Pernyataan S (4) F % 17 65,38 Alternative jawaban RG (3) TS (2) F % F % 5 19,23 4 15,38 Ket ST(1) F % 0 0,00 N=26

1 Rasa percaya diri siswa meningkat, siswa merasa lebih terkontrol untuk keberhasilan akademisnya. 2 Meningkatkan kesediaan menggunakan ide orang lain yang dirasakan lebih baik 3 Meningkatkan kemampuan memandang masalah dan situasi dari berbagai perspektif 4 Metode kooperatif membantu siswa dalam menguasai materi 5 Pembelajaran kooperatif menjadikan siswa mampu belajar berdebat, mendengarkan pendapat orang lain, dan mencatat hal-hal yang bermanfaat 6 Hadiah atau penghargaan yang diberikan mendorong siswa untuk mencapai hasil yang lebih tinggi 7 Model kooperatif tipe STAD dapat meningkatkan keterampilan komunikasi siswa 8 Pembelajaran kooperatif menjadikan siswa mampu memecahkan masalah dan menarik kesimpulan dari permasalahan tersebut ∑

15 12

57,69 46,15

8 8

30,77 30,77

3 11,54 5 19,23

0 0,00 1 3,85

11 15

42,31 57,69

13 9

50 34,62

2 7,69 2 7,69

0 0,00 0 0,00

9

34,62

14

53,85

3 11,54

0 0,00

10

38,46

14

53,85

2 7,69

0 0,00

11

42,31

13

50

1 3,85

1 3,85

100

384,6

84

323,1

2 84,61 2

2 7,7

Berdasarkan data diatas hasil partisipasi siswa variabel bertanya atau mengeluarkan pendapat, dapat dihitung dengan rumus sebagai berikut : % variabel = = = = = 83,89% Hasil partisipasi dari variabel bertanya atau merespon dalam mata pelajaran kewarganegaraan dengan model kooperatif tipe STAD di SMA

59

semen Padang pada kelas XI IPS4 adalah ‘SANGAT BAIK’ dengan persentase 83,89%. Jadi tingkat partisipasi siswa : bertanya, dan merespon dalam mata pelajaran kewarganegaraan di SMA semen Padang adalah SANGAT BAIK. .b Tingkat partisipasi siswa dalam bekerja sama.  Kelas Sampel XI IPS1 Partisipasi dalam hal bekerja sama kepada masing-masing kelompok dapat dilihat dengan ketuntasan tugas, seperti telihat pada tabel berikut:(Tugas dalam lampiran) Tabel. 10 ketuntasan tugas. No 1 2 3 4 5 6 7 Kelompok Kelompok I Kelompok II Kelompok III Kelompok IV Kelompok V Kelompok VI Kelompok VII Keterangan Tuntas Tidak tuntas √ √ √ √ √ √ √

Tingkat partisipasi berdasarkan penyebaran angket terhadap siswa, dilihat dari persentase komitmen siswa dalam proses belajar mengajar dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe STAD (Student Teams Achievement Divisions) dalam hal pemberian tugas di SMA semen Padang. Kelas sampel XI IPS1. Terlihat pada tabel berikut : Tabel. 11 skor partisipasi siswa variabel Komitmen dalam hal pemberian tugas. Pada kelas XI IPS1
N O 1 Pernyataan S (4) F % 15 48,39 Alternative jawaban RG (3) TS (2) F % F % 12 38,71 3 9,68 Ket ST(1) F % 1 3,23 N=31

Dapat mengembangkan prestasi siswa baik hasil tes yang dibuat guru maupun tes baku 2 Strategi kooperatif memberikan perkembangan yang berkesan pada hubungan interpersonal diantara

12

38,71

17

54,84

2 6,45

0 0,00

60

anggota kelompok 3 Meningkatkan kepekaan dan kesetiakawanan sosial 4 Memungkinkan para siswa saling belajar mengenai sikap,keterampilan,infor masi, perilaku sosial. 5 Memudahkan siswa melakukan penyesuaian 6 Memungkinkan terbentuk dan berkembangnya nilainilai sosial dan komitmen 7 Menghilangkan sifat mementingkan diri sendiri dan egois 8 Berbagai keterampilan sosial yang diperlukan untuk memelihara hubungan yang saling membutuhkan dapat diajar dan dipraktekkan 9 Meningkatkan rasa saling percaya kepada sesame kelompok 10 Pembelajaran kooperatif menghasilkan pencapaian belajar siswa yang tinggi menambah harga diri siswa dan memperbaiki hubungan dengan teman sebaya,dikarenakan system kelompok 11 Siswa yang lambat berfikir dapat dibantu untuk menambah ilmu pengetahuan melalui anggota yang lain 12 Pembentukan kelompok kecil memudahkan guru untuk memonitor siswa dalam bekerja sama ∑

9 11

29,03 35,48

15 15

48,39 48,39

5 16,13 5 16,13

2 6,25 0 0,00

9 10

29,03 32,26

16 15

51,61 48,39

6 19,35 6 19,35

0 0,00 0 0,00

12 13

38,71 41,94

17 18

54,84 58,06

2 6,45 0 0,00

0 0,00 0 0,00

18 7

58,06 22,58

11 18

35,48 58,06

2 6,45 3 9,68

0 0,00 3 9,68

14

45,16

13

41,94

4 12,90

0 0,00

10

32,26

15

48,39

5 16,13

1 3,23

140

451,6

182

587,1

4 138,7 3

7 22,39

Berdasarkan data diatas hasil partisipasi siswa variabel komitmen dalam hal pemberian tugas, dapat dihitung dengan rumus sebagai berikut : % variabel = =

61

= = = 80,56% Hasil partisipasi dalam hal kerjasama terhadap tugas yang diberikan dalam mata pelajaran kewarganegaraan dengan model kooperatif tipe STAD di SMA semen Padang pada kelas XI IPS1 adalah ‘BAIK’ dengan persentase 80,56%. Jadi tingkat partisipasi komitmen siswa : dalam hal kerja sama pada mata pelajaran kewarganegaraan di SMA semen Padang adalah BAIK.  Kelas Sampel XI IPS4 Partisipasi dalam hal kerjasama dengan tugas yang diberikan kepada masing-masing kelompok dapat dilihat dengan ketuntasan tugas, seperti telihat pada tabel berikut:(Tugas dalam lampiran) Tabel. 12 ketuntasan tugas. keterangan Tuntas Tidak tuntas 1 Kelompok I √ 2 Kelompok II √ 3 Kelompok III √ 4 Kelompok IV √ 5 Kelompok V √ Tingkat partisipasi berdasarkan penyebaran angket terhadap siswa, dilihat dari persentase komitmen siswa dalam proses belajar mengajar dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe STAD (Student Teams Achievement Divisions) dalam hal kerja sama pada tugas di SMA semen Padang. Kelas sampel XI IPS1. Terlihat pada tabel berikut : Tabel . 13 skor partisipasi siswa dalam bekerja sama Pada kelas XI IPS4.
N O 1 Pernyataan S (4) F % 14 53,85 Alternative jawaban RG (3) TS (2) F % F % 5 19,23 4 15,38 Ket ST(1) F % 3 11,54 N=26

No

Kelompok

Dapat mengembangkan prestasi siswa baik hasil tes yang dibuat guru maupun tes baku 2 Strategi kooperatif memberikan perkembangan yang berkesan pada hubungan

10

38,46

13

50

3 11,54

0 0,00

62

3 4

5 6

7 8

9 10

11

12

interpersonal diantara anggota kelompok Meningkatkan kepekaan dan kesetiakawanan sosial Memungkinkan para siswa saling belajar mengenai sikap,keterampilan,infor masi, perilaku sosial. Memudahkan siswa melakukan penyesuaian Memungkinkan terbentuk dan berkembangnya nilainilai sosial dan komitmen Menghilangkan sifat mementingkan diri sendiri dan egois Berbagai keterampilan sosial yang diperlukan untuk memelihara hubungan yang saling membutuhkan dapat diajar dan dipraktekkan Meningkatkan rasa saling percaya kepada sesame kelompok Pembelajaran kooperatif menghasilkan pencapaian belajar siswa yang tinggi menambah harga diri siswa dan memperbaiki hubungan dengan teman sebaya,dikarenakan system kelompok Siswa yang lambat berfikir dapat dibantu untuk menambah ilmu pengetahuan melalui anggota yang lain Pembentukan kelompok kecil memudahkan guru untuk memonitor siswa dalam bekerja sama ∑

9 20

34,62 76,92

16 6

61,54 23,08

1 3,85 0 0,00

0 0,00 0 0,00

10 12

38,46 46,15

13 10

50 38,46

3 11,54 4 15,38

0 0,00 0 0,00

15 20

57,69 76,92

8 6

30,77 23,08

3 11,54 0 0,00

0 0,00 0 0,00

19 10

73,08 38,46

5 12

19,23 46,15

2 7,69 3 11,54

0 0,00 1 3,85

8

30,77

14

53,85

3 11,54

1 3,85

13

50

10

38,46

3 11,54

0 0,00

160

615,4

118

453,9

2 111,5 9

5 19,24

Berdasarkan data diatas hasil partisipasi siswa variabel kerja sama pada tugas, dapat dihitung dengan rumus sebagai berikut : % variabel =

63

= = = = 84,70% Hasil partisipasi dalam hal kerja sama kelompok siswa pada tugas dalam mata pelajaran kewarganegaraan dengan model kooperatif tipe STAD di SMA semen Padang pada kelas XI IPS4 adalah ‘SANGAT BAIK’ dengan persentase 84,70%. Jadi tingkat partisipasi kerja sama siswa : pemberian tugas dalam mata pelajaran kewarganegaraan di SMA semen Padang adalah SANGAT BAIK. 7. Hasil Wawancara Pertanyaan wawancara yang diajukan kepada kelompok siswa: 1. Bagaimana menurut pendapat kelompok anda tentang model pembelajaran kooperatif tipe STAD? 2. Apakah anda senang mengikuti kegiatan pembelajaran mata pelajaran kewarganegaraan yang dilakukan dengan pendekatan kooperatif? 3. Metode pembelajaran yang seperti apa yang selama ini digunakan oleh guru mata pelajaran kewarganegaraan? 4. Apakah anda termotivasi untuk mengikuti pembelajaran tersebut? 5. Apakah metode pembelajaran model kooperatif tipe STAD sudah sesuai untuk mata pelajaran kewarganegaraan? Mengapa? 6. Bila dibandingkan dengan penggunaan metode lain. Apakah anda lebih mengerti materi dengan model kooperatif tipe STAD ?.  Kelas sampel XI IPS1 : Kelompok tiga (III), Gita yulinda : 1. Sangat menyenangkan karena dengan adanya diskusidiskusi/kelompok bisa menambah wawasan kita, bertukar pikiran dengan teman kelompok serta melatih kita untuk berani berbicara dan mengeluarkan ide-ide di forum diskusi. 2. Senang,

64

3. Bermacam-macam tergantung dari topik yang dibahas, ada ceramah, diskusi. Tapi lebih cenderung dengan ceramah sambil tanya jawab. 4. Iya, sebab dengan berkelompok bisa menanbah kita untuk lebih bersemangat lagi dan saling mensuport. 5. Saya rasa tergantung dari isi materi yang diajarkan, kalau materi yang kita bahas barusan tentang sengketa internasional saya rasa cocok. Karena materi itu selalu terjadi dan banyak permasalahan yang perlu dibahas. 6. Lebih mengerti, sebab dengan antusias kita akan menambah pengetahuan kita. Kelas sampel XI IPS4 Kelompok dua (II), Dedi agustarial : 1. Menurut kami pembelajaran STAD sangat bagus, sebab siswa bisa lebih kreatif dalam melakukan kegiatan diskusi. 2. Senang, karena pelajaran kewarganegaraan merupakan pelajaran dalam kehidupan sehari-hari dan metode kooperati itu pelaksanaannya/prakteknya, jadi sangat serasi kalau pelajaran topik, dengan motivasi untuk bisa lebih unggul dari kelompok lain itu akan

kewarganegaraan diajarkan dengan model ini. 3. Bermacam-macam, tapi lebih cenderung menggunakan ceramah dengan tanya jawab. 4. Iya, karena berkelompok kita bisa saling mengisi satu sama lain dan memotivasi kita untuk berani mengemukakan pendapat. 5. Sudah sesuai, karena kita dituntut untuk saling bekerja sama. 6. Iya, karena model ini lebih memfokuskan kita untuk saling mengerti dan memberi tanggung jawab kepada kita dalam kelompok untuk saling berbagi pengetahuan. Pertanyaan wawancara yang diajukan kepada guru kewarganegaraan: (Drs.Dasril) 1. Model apa yang cenderung bapak gunakan dalam pembelajaran? 2. Apakah bapak pernah menggunakan model kooperatif?

65

3. Bagaimana tingkat antusias siswa pada saat bapak melakukan model pembelajaran selain kooperatif dan pada saat bapak menerapkan model kooperatif barusan? Jawaban pertanyaan (Drs.Dasril): 1. Biasanya, dalam hal menetapkan suatu model pembelajaran kita harus menyesuaikan dengan tujuan yang ingin dicapai dari materi tersebut, kita harus mengkaji terlebih dahulu SKKD-nya, model yang biasanya saya gunakan yakni: Tanya jawab, diskusi ringan, dan ceramah bervariasi. Tapi yang lebih sering saya gunakan adalah ceramah bervariasi. 2. Belum pernah secara utuh, kalau model kooperatif tipe STAD identik dengan diskusi kelas yang lebih ditekankan kepada kerja team dan tanggung jawab individu yang satu juga menjadi tanggung individu yang lain, belum pernah saya lakukan sedemikian rupa. 3. Kalau kita melihat antusias siswa pada saat PBM, itu tergantung dari kelas yang kita ajarkan. Biasanya kelas-kelas (XI IPS1,2) unggul itu lebih berminat disbanding kelas yang tidak unggul (XI IPS3,4). Namun anehnya pada saat kita tadi menerapkan model kooperatif, pada dua kelas yakni kelas XI IPS1,IPS4, berdasarkan pengamatan saya tadi kedua-duanya antusias mengikuti pelajaran tapi kelas IPS4, mengalami peningkatan bahkan melebihi IPS1. 8. Hasil Catatan Lapangan Catatan lapangan dibuat untuk melengkapi data-data yang tidak ada dalam lembar observasi peneliti sehingga diharapkan tidak ada data penting yang terlewatkan dalam pelaksanaan tindakan pembelajaran, hasil catatan lapangan yang diperoleh adalah sebagai berikut : 1) Topik yang dibahas tentang Konflik internasional dan penyelesaiannya (Israel – Palestina). 2) Siswa dibagi menjadi kelompok-kelompok kecil, dan diberikan tugas tentang: Latar belakang konflik, sikap kita, dan langkah penyelesaiannya.

66

3) Setelah kelompok-kelompok tadi menyelesaikan tugas tersebut, salah satu kelompok mempersentasikan tugas kelompoknya di depan kelas. Kelompok yang lain menanggapi. 4) Pada saat kerjasama kelompok, ada beberapa (XI IPS1 17 dari 31 orang dan XI IPS4 13 dari 26) siswa yang ramai atau tidak menghargai kelompok yang lain. Hal ini terlihat kurangnya respon untuk menanggapi atau bertanya pada kelompok penyaji. 5) Pada langkah awal, ketika guru menjelaskan tentang kompetensi dasar dan indikator yang ingin dicapai pada pembelajaran ini ada siswa (XI IPS1 14 dari 31 orang dan XI IPS4 9 dari 26)yang kurang memperhatikan, ada siswa yang masih mengobrol sendiri dengan teman sebelahnya setelah satu kali diperingatkan siswa mulai memperhatikan. 6) Masih ada siswa dalam kelompoknya yang masih mendominasi contohnya pada kelas XI IPS1 dari 7 kelompok yang ada hanya 3 kelompok (kelompok I, III, IV) yang bekerja sama dengan kompak, pada kelas XI IPS4 dari 5 kelompok 4 kelompok (kelompok I, II, IV, V) yang nampak kompak dalam mengerjakan tugas kelompoknya. B. PEMBAHASAN Dari data-data hasil penelitian yang telah diuraikan di atas yang

berhubungan dengan penerapan model kooperatif tipe STAD dalam meningkatkan partisipasi siswa pada pembelajaran kewarganegaraan di SMA semen Padang yang akan dibahas lebih lanjut berikut ini : 1) Observasi proses pembelajaran baik yang dilakukan terhadap guru maupun siswa. Dimyati dan Mudjiono dalam Gufron (2010: 15) mengatakan bahwa pembelajaran adalah kegiatan guru secara terprogram dalam desain intruksional, untuk membuat siswa belajar secara aktif yang menekankan pada penyediaan sumber belajar. Dimana desain intruksional yang dimaksud adalah program pengajaran yang dibuat oleh guru secara konvensional, desain intruksional tersebut dikenal sebagai persiapan mengajar guru.

67

Berdasarkan kutipan di atas jelas bahwa guru atau pendidik dituntut untuk mampu membuat siswa berperan aktif dalam proses belajar mengajar, dan keberhasilan guru dalam mengaktifkan siswa menjadi tolak ukur dari keberhasil penerapan model pembelajaran kooperatif tipe STAD. Adapun persentase hasil observasi dari proses belajar mengajar yang dilakukan terhadap guru dan siswa di SMA semen Padang, tanggal 03 mei 2010 adalah sebagai berikut : Pada kelas XI IPS1 71,43% yang menjadi objek observer adalah guru, hal ini dapat diartikan berdasarkan hasil observasi pengamat taraf keberhasilan kegiatan guru termasuk dalam kategori ”Baik”, 70,59% yang menjadi objek observer adalah siswa hal ini dapat diartikan berdasarkan hasil observasi pengamat taraf keberhasilan kegiatan siswa termasuk dalam kategori ”Baik”. Pada kelas XI IPS4 64,27% yang menjadi objek observer adalah guru, hal ini dapat diartikan berdasarkan hasil observasi pengamat taraf keberhasilan kegiatan guru termasuk dalam kategori ”Baik”, 64,71% yang menjadi objek observer adalah siswa hal ini dapat diartikan berdasarkan hasil observasi pengamat taraf keberhasilan kegiatan siswa termasuk dalam kategori ”Baik” Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa tingkat keberhasilan guru dan siswa dalam proses belajar mengajar dengan menciptakan pembelajaran aktif melalui model pembelajaran kooperatif tipe STAD dapat digolongkan dengan kategori BAIK. 2) Tingkat Partisipasi Siswa Dalam Hal Komunikasi George Terry dalam Winardi (2002:149) menyatakan bahwa partisipasi adalah turut sertanya seseorang baik secara mental maupun emosional untuk memberikan sumbangan-sumbangan pada proses pembuatan keputusan, terutama mengenai persoalan dimana keterlibatan pribadi orang yang bersangkutan melaksanakan tanggung jawabnya untuk melakukan hal tersebut. Berdasarkan analisis data tentang varibel partisipasi diukur dari dua indikator yakni a). Tingkat partisipas dalam hal komunikasi siswa dengan variabel bertanya dan merespon /mengemukakan ide. b). Tingkat partisipasi dalam hal komitmen dengan variabel pemberian tugas. Yang diambil dari dua kelas sampel yakni kelas XI IPS1 dan XI IPS4, dengan hasil sebagai berikut :

68

a) Tingkat partisipas dalam hal komunikasi siswa dengan variabel bertanya dan merespon /mengemukakan ide. Hasil partisipasi dari variabel bertanya dan merespon/mengemukakan ide dalam mata pelajaran kewarganegaraan dengan model kooperatif tipe STAD di SMA semen Padang pada kelas XI IPS1 adalah ‘BAIK’ dengan persentase 80,85%. Jadi tingkat partisipasi siswa : bertanya, dan merespon/mengemukakan ide dalam mata pelajaran kewarganegaraan di SMA semen Padang adalah BAIK. Hasil partisipasi dari variabel bertanya atau mengemukakan pendapat dalam mata pelajaran kewarganegaraan dengan model kooperatif tipe STAD di SMA semen Padang pada kelas XI IPS4 adalah ‘SANGAT BAIK’ dengan persentase 83,89%. Jadi tingkat partisipasi siswa : bertanya, dan mengemukakan pendapat dalam mata pelajaran kewarganegaraan di SMA semen Padang adalah SANGAT BAIK. b) Tingkat partisipasi dalam hal komitmen dengan variabel pemberian tugas. Hasil partisipasi dalam hal komitmen dari variabel pemberian tugas dalam mata pelajaran kewarganegaraan dengan model kooperatif tipe STAD di SMA semen Padang pada kelas XI IPS1 adalah ‘BAIK’ dengan persentase 80,56%. Jadi tingkat partisipasi siswa : pemberian tugas dalam mata pelajaran kewarganegaraan di SMA semen Padang adalah BAIK. Hasil partisipasi dalam hal komitmen dari variabel pemberian tugas dalam mata pelajaran kewarganegaraan dengan model kooperatif tipe STAD di SMA semen Padang pada kelas XI IPS4 adalah ‘SANGAT BAIK’ dengan persentase 84,70%. Jadi tingkat partisipasi siswa : pemberian tugas dan kerja sama dalam mata pelajaran kewarganegaraan di SMA semen Padang adalah SANGAT BAIK. Berdasarkan pengamatan peneliti selama penelitian, proses belajar mengajar dengan menggunakan model kooperatif tipe STAD, cenderung baik. Hal ini dapat dilihat dari jumlah persentase tingkat partisipasi siswa pada saat proses pembelajaran, siswa tidak lagi hanya duduk mendengar, mencatat dan mengerjakan latihan tetapi mereka aktif dalam kegiatan kelompok. Ini terlihat dari

69

aktivitas siswa dalam berdiskusi, karena mereka ingin memberikan sumbangan terbaik bagi kelompoknya untuk persiapan mempersentasikannya di depan kelas. Siswa lebih berani untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan dengan mengemukakan ide-ide dari kelompoknya dalam berdiskusi, walaupun selama diskusi siswa sedikit ribut, hal ini mebuktikan adanya interaksi diantara siswa dalam suatu kelompok unutk mendiskusikan topik permasalahan. Selain itu siswa juga terlihat antusias dalam mengikuti pembelajaran. Dari uraian data di atas dapat ditarik suatu kesimpulan bahwa model kooperatif tipe STAD dapat meningkatkan partisipasi siswa dalam proses belajar mengajar. Jadi hipotesis H1 terbukti.

BAB V PENUTUP A. Kesimpulan Setelah dilakukan penelitian, berdasarkan hasil analisis terhadap berbagai data yang telah diolah dan temuan selama penelitian maka dapat disimpulkan bahwa Pembelajaran dengan menerapkan model kooperatif tipe STAD pada mata

70

pelajaran kewarganegaraan dapat meningkatkan partisipasi belajar siswa dikelas XI IPS1 dan XI IPS4 SMA Semen Padang. Pada tingkat : 1. 2. 3. B. Saran Berdasarkan kesimpulan yang dijabarkan sebelumnya, beberapa saran yang dapat diberikan untuk menerapkan model kooperatif tipe STAD, adalah : 1. Diharapkan kepada guru untuk membiasakan menerapkan model kooperatif tipe STAD, dalam proses belajar mengajar sehingga membuat siswa lebih bisa berperan aktif. 2. Diharapkan kepada guru untuk memikirkan metode yang paling baik unutk menyampaikan dan mengajarkan suatu materi pelajaran kepada siswa, sehingga dapat membuat suasana pembelajaran menjadi aktif, kreatif, efektif, dan menyenangkan. 3. Menerapkan model kooperatif tipe STAD dalam proses belajar mengajar mampu meningkatkan partisipasi aktif siswa, kerja sama tim, dan individu menjadi tanggung jawab tim. Untuk itu diharapkan output dari penerapan model kooperatif tipe STAD, meningkatkan hasil belajar siswa. Komunikasi. Komitmen. Tanggung jawab. (Bertanya dan merespon/mengemukakan ide)

71

DAFTAR PUSTAKA Arikunto, Suharsimi. (1997) Manajemen Penelitian.Jakarta: Bumi Angkasa …………………… (1998). Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktis. Jakarta: Rineka Cipta. Departemen Pendidikan Nasianal (2003) Kurikulum 2004. SMA, Pedoman Khusus Jakarta. Fajar, Arini. (2005). Potopolio Dalam Pembelajaran IPS. Bandung: PT Remaja Rosdakarya. Firmansyah, Saca . (2008). Partisipasi Masyarakat: www. Saca Firmansyah.com Hayati, Nor. (2001). Analisis Faktor-faktor yang Menyebabkan Kurangnya Partisipasi Mahasiswa Malaysia dalam Kegiatan Kokurikuler dan Ekstrakurikuler di Universitas Negeri Semarang. UNNES: Skripsi. Mulyasa, E. (2003). Kurikilulum Berbasis Kompetensi. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya. Nursidik, Yahya. (2008). Metode Diskusi Pembelajaran: www. Yahya Nursidik.com Sastropoetro, Santoso. (1989). Partisipasi, Komunikasi, Persuasi dan Disiplin dalam Pembangunan Nasional. Alumni. Bandung. Slavin, E. Robert (2010) Cooperatife Learning. Bandung: Nusa Media Sudjana, Nana. (2003). Teknik Analisis Regresi dan Korelasi (bagi para peneliti). Bandung:Tarsito. Sugiyono. (2007). Metode Penelitian Pendidikan Pendekatan Kuantitatif, Kualitatif, dan R&D. Uno, Hamzah. B. (2007). Model Pembelajaran Menciptakan Proses Belajar Mengajar Yang Kreatif dan Efektif. Jakarta: PT. Bumi Aksara. Winardi, (2002). Motivasi dan Pemotivasian dalam Manajeman. Jakarta: PT. Grafindo Persada. Winkel, (1989) dalam Faqih Gufron (2010). Penerapan Model Student TeamsAchievement Division (STAD) Sebagai Upaya Peningkatan Motivasi dan Prestasi Siswa Pada Mata Pelajaran Manajemen Perkantoran Pengembangan Silabus dan Penelian: Mata Pelajaran PKN.

72

Kelas X Ap SMK Wisnuwardhana Malang. Universitas Negeri Malang: Skripsi. www.yusti-arini.blogspot.com

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful