P. 1
model kooperatif

model kooperatif

|Views: 3,509|Likes:
Published by satrial

More info:

Published by: satrial on Aug 22, 2010
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

07/03/2013

pdf

text

original

Sections

BAB I
PENDAHULUAN

A.Latar Belakang Masalah

Pendidikan pada hakekatnya merupakan proses pembangunan bangsa
secara keseluruhan, dimana pendidikan berperan dalam mengembangkan
aspek-aspek kehidupan terutama dalam masa reformasi yang serba transparan
seperti sekarang ini. Pendidikan pada dasarnya berperan dalam mencerdaskan
kehidupan bagsa yang sasarannya adalah upaya peningkatan kualitas manusia
Indonesia, baik sosial, spiritual dan intelektual serta kemampuan yang
professional. Di dalam pembukaan UUD 1945 alenia ke IV, merupakan cita-
cita dari bangsa Indonesia yang salah satunya berbunyi mencerdaskan
kehidupan bangsa. Untuk mewujudkan cita-cita tersebut, kemudian diatur
lebih lanjut dalam pasal 31 ayat (1) setiap warga negara berhak mendapat
pendidikan.

Di dalam UU RI no 20 tahun 2003 Bab II pasal 3, ditetapkan fungsi dan
tujuan pendidikan nasional yang lebih rinci sebagai berikut:
“Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan
membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam
rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk
berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang
beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berahklak
mulia, sehat berilmu, cakap, kreatif, mandiri dan menjadi warga
negara yang demokratis serta bertanggung jawab.”
Untuk menjalankan fungsi dan mencapai tujuan pendidikan tersebut kita
mengenal adanya pendidikan formal dan pendidikan nonformal. Pendidikan
formal dan nonformal diatur lebih lanjut dalam Peraturan Pemerintah
Republik Indonesia Nomor 19 tahun 2005, tentang Standar Nasional
Pendidikan. Pada Pasal 1 (satu), dalam Peraturan Pemerintah ini yang
dimaksud dengan:
1.Pendidikan formal adalah jalur pendidikan yang terstruktur dan berjenjang
yang terdiri atas pendidikan dasar, pendidikan menengah, dan pendidikan
tinggi.

2.Pendidikan nonformal adalah jalur pendidikan di luar pendidikan formal
yang dapat dilaksanakan secara terstruktur dan berjenjang.
Berdasarkan kutipan di atas untuk mengembangkan kemampuan dan
membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat, pemerintah
mewajibkan mata pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan di dalam kurikulum
persekolah dimulai dari pendidikan dasar, pendidikan menengah dan
perguruan tinggi. Sebagaimana lazimnya suatu bidang studi yang diajarkan di
sekolah, materi keilmuan dari mata pelajaran kewarganegaraan mencakup
dimensi pengetahuan (knowledge), keterampilan (skills), dan nilai (values).
Secara kusus ide pokok Mata Pelajaran Kewarganegaraan yakni ingin
membentuk warga negara yang ideal yaitu warga negara yang memiliki
keimanan dan ketakwaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa, pengetahuan,
keterampilan, dan nilai-nilai sesuai dengan konsep dan prinsip-prinsip
kewarganegaraan. Pada gilirannya, warga negara yang baik tersebut
diharapkan dapat membantu terwujudnya masyarakat yang demokratis dan
berdasarkan konstitusional.
Berbagai negara di dunia memiliki kriteria masing-masing tentang
warga negara yang baik, sesuai dengan konstitusinya. Bagi bangsa Indonesia
warga negara yang baik tersebut tentu saja adalah warga negara yang dapat
menjalankan perannya dalam hubungannya sesama warga negara dan
hubungannya dengan negara yang sesuai dengan konstitusi negara (Undang-
Undang Dasar Negara Kesatuan Republik Indonesia tahun 1945).
Sehubungan dengan itu, mata pelajaran kewarganegaraan mencakup

dimensi:
1.Pengetahuan Kewarganegaraan (civics knowledge) yang mencakup bidang
politik, hukum dan moral. Secara lebih terperinci, materi pengetahuan
kewarganegaraan meliputi pengetahuan tentang prinsip-prinsip dan proses
demokrasi, lembaga pemerintah dan non pemerintah, indentitas nasional,
pemerintah berdasarkan hukum (rule of low) dan peradilan yang bebas dan
tidak memihak, konstitusi, sejarah nasional, hak dan kewajiban warga
negara, hak asasi manusia, hak sipil, dan hak politik.

2

2.Keterampilan Kewarganegaraan (civics skills) meliputi keterampilan
partisipasi dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, misalnya: berperan
serta aktif mewujudkan masyarakat madani (civil society), keterampilan
mempengaruhi dan monitoring jalannya pemerintahan, dan proses
pengambilan keputusan politik, keterampilan memecahkan masalah-
masalah sosial, keterampilan mengadakan koalisi, kerja sama, dan
mengelola konflik.
3.Nilai-Nilai Kewarganwgaraan (civics values) mencakup antara lain
percaya diri, komitmen, penguasaan atas nilai religius, norma dan nilai-
nilai luhur, nilai keadilan, demokratis, toleransi, kebebasan individual,
kebebasan berbicara, kebebasan pers, kebebasan berserikat dan
berkumpul, dan perlindungan terhadap minoritas.
Mata pelajaran kewarganegaraan merupakan bidang kajian
multidisipliner, artinya materi keilmuan kewarganegaraan dijabarkan dari
beberapa disiplin ilmu antara lain ilmu Politik, Ilmu Tata Negara, Hukum, dan
Filsafat. Adapun bidang kajian dari dimensi Politik yakni manusia sebagai
zoonpolitikon, dan proses terbentuknya masyarakat politik. Bidang kajian dari
ilmu tata negara yakni proses terbentuknya negara, unsur negara, tujuan
negara dan bentuk-bentuk negara. Dimensi kajian dari Hukum yakni negara
hukum, konstitusi, sumber hukum dan subjek dan objek hukum. Bidang kajian
dari filsafat yaitu pancasila sebagai falsafah bangsa.
Kewarganegaraan dipandang sebagai mata pelajaran yang memegang
peranan penting dalam membentuk warga negara yang baik sesuai dengan
falsafah bangsa dan konstitusi negara Republik Indonesia. Pendidikan di
Indonesia diharapkan dapat mempersiapkan peserta didik menjadi warga
negara yang memiliki komitmen kuat dan konsisten untuk mempertahankan
Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Ruang lingkup mata pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan meliputi
aspek-aspek sebagai berikut:
1.Persatuan dan kesatuan bangsa, meliputi: Hidup rukun dalam perbedaan,
cinta lingkungan, kebanggaan sebagai bangsa Indonesia, sumpah pemuda,

3

keutuhan negara kesatuan republik Indonesia, partisipasi dalam pembelaan
negara, sikap positif terhadap negara kesatuan republik Indonesia,
keterbukaan dan jaminan keadilan.
2.Norma, hukum dan peraturan, meliputi: Tertib dalam kehidupan keluarga,
tata tertib di sekolah, norma yang berlaku dimasyarakat, peraturan-
peraturan daerah, norma-norma dalam kehidupan berbangsa dan
bernegara, sistim hukum dan peradilan nasional, hukum dan peradilan
internasional.
3.Hak asasi manusia meliputi: Hak dan kewajiban anak, hak dan kewajiban
anggota masyarakat, instrumen nasional dan internasional HAM,
pemajuan, penghormatan dan perlindungan HAM.
4.Kebutuhan warga negara, meliputi: Demokratis, hidup gotong royong,
harga diri sebagai warga masyarakat, kebebasan berorganisasi,
kemerdekaan mengeluarkan pendapat, menghargai keputusan bersama,
prestasi diri , persamaan kedudukan warga negara.
5.Konstitusi negara, meliputi: Proklamasi kemerdekaan dan konstitusi yang
pertama, konstitusi-konstitusi yang pernah digunakan di Indonesia,
hubungan dasar negara dengan konstitusi.
6.Kekuasan dan politik, meliputi: Pemerintahan desa dan kecamatan,
pemerintahan daerah dan otonomi, pemerintah pusat, demokrasi dan
sistem politik, budaya politik, budaya demokrasi menuju masyarakat
madani, sistem pemerintahan, pers dalam masyarakat demokrasi.
7.Pancasila, meliputi: kedudukan pancasila sebagai dasar negara dan
ideologi negara, proses perumusan pancasila sebagai dasar negara,
pengamalan nilai-nilai pancasila dalam kehidupan sehari-hari, pancasila
sebagai ideologi terbuka.
8.Globalisasi, meliputi: Globalisasi di lingkungannya, politik luar negeri
Indonesia di era globalisasi, dampak globalisasi, hubungan internasional
dan organisasi internasional, dan mengevaluasi globalisasi.

4

Adapun tujuan yang ingin dicapai dari Mata Pelajaran Kewarganegaraan
setelah diadakan proses pembelajaran, siswa memiliki kemampuan sebagai
berikut:
1.Berfikir kritis, rasional, dan kreatif dalam menanggapi isu-isu
kewarganegaraan
2.Berpartisipasi secara aktif dan bertanggung jawab, bertindak secara cerdas
dalam kegitan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara, serta anti
korupsi.
3.Berkembang secara positif dan demokratis untuk membentuk diri
berdasarkan karakter-karakter masyarakat Indonesia agar dapat hidup
bersama bangsa-bangsa lain.
4.Berinteraksi dengan bangsa-bangsa lain dalam percaturan dunia secara
langsung atau tidak langsung dengan memanfaatkan teknologi informasi
dan komunikasi. (Bambang Suteng: 2006).
Namun, realita yang terjadi di dalam masyarakat Indonesia betapa
banyak orang yang latar belakang pendidikannya tinggi melakukan hal-hal
berupa pelanggaran norma, etika, dan moral sebangai manusia bernegara yang
baik, seperti: korupsi, penyalah gunaan wewenang, dan itu hanya dilandasi
oleh kepentingan individu semata. Sewaktu dibangku pendidikan semua
peserta didik dibekali dengan suatu ilmu yang mempelajari tentang kaidah-
kaidah dan etika kehidupan, baik kehidupan bernegara maupun kehidupan
sosial bahkan kehidupan individu. Semua itu diperoleh dari suatu ilmu, ilmu
itu adalah ilmu kewarganegaraan yang mempunyai empat tujuan seperti
uraian di atas.

Dalam diri manusia ada beberapa aspek yang berperan yaitu aspek
sosial, aspek kognitif dan aspek motorik. Hal ini dapat dipahami bahwa
manusia itu berhubungan dengan orang lain (sosial), berfikir (kognitif),
menilai (afektif) dan berbuat (motorik) maka aspek-aspek tersebut perlu
dikembangkan dalam diri anak didik sebagai manusia yang tumbuh dan
berkembang.

5

Untuk mencapai itu semua perlu dilaksanakan suatu proses
pembelajaran yang melibatkan dua subjek yakni pendidik (guru) dan peserta
didik (siswa). Proses pembelajaran merupakan inti dari kegiatan pendidikan di
sekolah, agar pendidikan dan pengajaran berjalan dengan benar dan menarik
maka diperlukan suatu model pembelajaran. Model pembelajaran banyak
sekali jenisnya, hal ini disebabkan oleh beberapa faktor, antara lain: Tujuan
yang berbeda dari setiap mata pelajaran, sesuai dengan jenis, fungsi, sifat,
maupun isi dari mata pelajaran itu sendiri.
Adapun beberapa model pembelajaran yang dapat dipergunakan dalam
pembelajaran kewarganegaraan :
1.Model Pembelajaran Kooperatif (Robert E. Slavin : 2008)
2.Model Pembelajaran Telaah Yurisprudensi (Jurisprudential Inquiry)
(Hamzah B. Uno : 2007)
3.Model Pembelajaran Bermain Peran (Hamzah B. Uno : 2007)
4.Model Pembelajaran Simulasi Sosial (Hamzah B. Uno : 2007)
Dari beberapa model tersebut sesuai dengan kajian penulis yang
memfokuskan pada model kooperatif tipe STAD (student teams
achievement divisionts)
.
1.

Model Pembelajaran Kooperatif
Model pembelajaran kooperatif merupakan suatu model pembelajaran
yang mengutamakan adanya kelompok-kelompok. Setiap siswa yang ada
dalam kelompok mempunyai tingkat kemampuan yang berbeda-beda (tinggi,
sedang, rendah). Model pembelajaran kooperatif mengutamakan kerja sama
dalam menyelesaikan permasalahan untuk menerapkan pengetahuan dan
keterampilan dalam rangka mencapai tujuan pembelajaran. (Robert E. Slavin :
2008)
2.

Model Pembelajaran Telaah Yurisprudensi (Jurisprudential Inquiry)
Model pembelajaran ini membantu siswa untuk belajar berpikir secara
sistematis tentang isu-isu kontemporer yang sedang terjadi dalam masyarakat.
Dengan memberikan mereka cara-cara menganalisis dan mendiskusikan isu-

6

isu social, model pembelajaran ini membantu siswa untuk berpartisipasi dalam
mendefinisi ulang nilai-nilai sosial. (Hamzah B. Uno : 2007)
3.

Model Pembelajaran Bermain Peran
Model pembelajaran ini bertujuan untuk membantu siswa menemukan
makna diri (jati diri) di dunia sosial dan memecahkan dilema dengan bantuan
kelompok. Artinya, melalui bermain peran siswa belajar menggunakan konsep
peran, menyadari adanya peran-peran yang berbeda dan memikirkan perilaku
dirinya dan perilaku orang lain. Proses bermain peran ini dapat memberikan
contoh kehidupan perilaku manusia yang berguna sebagai sarana bagi siswa
untuk: menggali perasaannya, memperoleh inspirasi dan pemahaman yang
berpegaruh terhadap sikap, nilai, dan persepsinya terhadap pemecahan
masalah. (Hamzah B. Uno : 2007)
4.

Model Pembelajaran Simulasi Sosial
Model ini menganggap siswa (pelajar) sebagai suatu sistem yang dapat
mengendalikan umpan balik sendiri (self regulated feedback). Sistem tersebut
mempunyai fungsi yang sama baik manusia maupun mesin, fungsi tersebut:
menghasilkan gerakan untuk mencapai tujuan tertentu yang diinginkan,
mendeteksi kesalahan dan memanfaatkan kesalahan untuk diarahkan kembali
kejalur yang benar. (Hamzah B. Uno : 2007)
Dalam meningkatkan partisipasi siswa untuk berbicara atau
mengeluarkan pendapat (ide) dan merespon atau menanggapi permasalahan
maka pendidik (guru) menggunakan suatu model pembelajaran yang lebih
cenderung membuat siswa berperan aktif, maka dari empat model
pembelajaran tersebut yang lebih membuat siswa berperan aktif yakni: Model
Pembelajaran Kooperatif dengan tipe STAD (Student Teams Achivement
Divisions
)
, dimana kedua subjek berperan aktif dan siswa tidak dijadikan
objek oleh guru. Dengan menerapkan model pembelajaran kooperatif dengan
tipe STAD (Student Teams Achivement Divisions) dalam proses pembelajaran
diharapkan siswa berperan aktif dan guru sebagai pasilitator.
Adapun output dari model pembelajaran kooperatif dengan tipe STAD
(Student Teams Achivement Divisions) yakni kerja sama, kemampuan

7

mengeluarkan pendapat, kemampuan menanggapi pendapat, dan kemampuan
menghargai pendapat orang lain. STAD adalah salah satu metode
pembelajaran Tim Siswa yang paling sederhana dan paling banyak diterapkan.
Holubec dalam Nurhadi dalam Arini (2009) mengemukakan model
pembelajaran kooperatif merupakan pendekatan pembelajaran melalui
kelompok kecil siswa untuk bekerja sama dalam memaksimalkan kondisi
belajar dalam mencapai tujuan belajar. Adapun karakteristik model
pembelajaran kooperatif adalah (http://yusti-arini.blogspot.com):
1.Siswa dalam kelompok secara kooperatif menyelesaikan materi belajar
sesuai kompetensi dasar yang akan dicapai.
2.Kelompok dibentuk dari beberapa siswa yang memiliki kemampuan
berbeda-beda, baik tingkat kemampuan tinggi, sedang, dan rendah
3.Penghargaan lebih menekankan pada kelompok daripada masing-masing
individu.

Dalam model pembelajaran kooperatif dikembangkan metode diskusi
dan komunikasi dengan tujuan agar siswa saling berbagi kemampuan, saling
belajar berpikir kritis, saling menyampaikan pendapat, saling memberi
kesempatan menyalurkan kemampuan, saling membantu belajar, saling
menilai kemampuan dan peranan diri sendiri maupun teman lain. (http://yusti-
arini.blogspot.com).

Diskusi adalah suatu cara belajar yang dicirikan oleh suatu keterikatan
pada suatu topik atau pokok pernyataan atau problem dimana para peserta
diskusi dengan jujur berusaha untuk mencapai atau memperoleh suatu
keputusan atau pendapat yang disepakati bersama,(Yahya Nursidik: 2008).
Metode diskusi menghasilkan keterlibatan murid karena meminta mereka
menafsirkan pelajaran. Dengan demikian para murid tidak akan memperoleh
pengetahuan tanpa mengambilnya untuk dirinya sendiri, diskusi membantu
agar pelajaran dikembangkan terus-menerus atau disusun berangsur-angsur
dan merangsang semangat bertanya dan minat perorangan.
Dari kutipan di atas diharapkan siswa mampu untuk berpartisipasi dalam
hal mengemukakan pendapatnya , kreatif berbicara, menyanggah dan

8

mengkritik. Wazir Ws., et al. dalam Saca Firmansyah (2008) Menyatakan
Partisipasi bisa diartikan sebagai keterlibatan seseorang secara sadar ke dalam
interaksi sosial dalam situasi tertentu. Dengan pengertian itu, seseorang bisa
berpartisipasi bila ia menemukan dirinya dengan atau dalam kelompok,
melalui berbagai proses dengan orang lain dalam hal nilai, tradisi, perasaan,
kesetiaan, kepatuhan dan tanggungjawab bersama.
Istilah partisipasi seringkali digunakan untuk memberi kesan mengambil
bagian dalam sebuah aktivitas. Mengambil bagian dalam sebuah aktivitas
dapat mengandung pengertian ikut serta, tetapi dapat juga berarti ikut serta
dalam menentukan jalannya suatu aktivitas, dalam artian ikut menentukan
perencanaan dan pelaksanaan aktivitas tersebut.
Jadi berdasarkan dari latar belakang di atas maka penulis tertarik untuk
meneliti tentang “Penerapan Model Kooperatif Tipe STAD (student teams
achievement divisions)
Dalam Meningkatkan Partisipasi Siswa Pada
Pembelajaran Kewarganegaraan”
B.Batasan Masalah

Pembelajaran atau pengajaran adalah upaya untuk membelajarkan siswa.
Dalam pengertian ini secara implisit dalam pembelajaran terdapat kegiatan
memilih, menetapkan, mengembangkan model yang sesuai dengan konten
materi untuk mencapai hasil pembelajaran yang diinginkan. Pengembangan
model pembelajaran tidak terlepas dari tahap-tahap sistem pendidikan.
Adapun tahap-tahap tersebut adalah:
1.

Analisis

2.

Rancangan

3.

Pengembangan

4.

Implementasi

5.

Evaluasi
Untuk lebih memfokuskan penelitian ini penulis hanya membatasi pada
Tahapan Pembelajaran Yakni Pada Tahap Implementasi”.

C.Rumusan Masalah

9

Berpijak dari latar belakang dan batasan masalah di atas maka rumusan
masalah dari penulisan ini adalah, sebagai berikut:

1.

Apakah dengan menerapkan model kooperatif tipe
STAD (Student Teams Achievement Divisions) terjadi peningkatan
kemampuan siswa dalam mengemukakan pendapat?
2.

Apakah dengan penerapan model kooperatif tipe
STAD (Student Teams Achievement Divisions) terjadi peningkatan
kemampuan siswa untuk berfikir kritis?
3.

Apakah dengan penerapan metode kooperatif tipe
STAD (Student Teams Achievement Divisions) terjadi peningkatan
kemampuan siswa dalam bekerja sama?
4.

Apakah dengan penerapan metode kooperatif tipe
STAD (Student Teams Achievement Divisions) terjadi peningkatan
kemampuan siswa dalam menilai kemampuan?

D.Tujuan Penelitian

Adapun tujuan dari penelitian ini dapat dibagi menjadi dua yakni:

1.

Tujuan secara umum.

a.

Untuk menentukan langkah-langkah dari
penggunaan model pembelajaran kooperatif tipe STAD (Student
Teams Achievement Divisions
).
b.

Untuk mendapatkan gambaran penerapan

model STAD dalam pembelajaran kewarganegaraan.
c.

Untuk menemukan kelemahan / titik lemah
dari model pembelajaran kooperatif tipe STAD (Student Teams
Achievement Divisions
).
d.

Untuk mengetahui apakah penerapan model

STAD dapat meningkatkan partisipasi belajar siswa.

2.

Tujuan secara khusus.

a.

Mengidentifikasi tingkat partisipasi siswa
pada saat penerapan model pembelajaran kooperatif tipe STAD

10

(Student Teams Achievement Divisions) dalam hal mengemukakan
pendapat.
b.

Mengidentivikasi tingkat kemampuan siswa

memandang suatu masalah.
c.

Mengidentivikasi kemampuan siswa dalam

bekerja sama.

E.Manfaat Penelitian

Hasil penelitian ini diharapkan bermanfaat bagi pihak dan instansi

terkait seperti:
1.

Sumbangan dan pengembangan ilmu pengetahuan

bagi pembaca khususnya mahasiswa P-IPS/ PKn.
2.

Bahan masukan bagi guru-guru.

3.

Bagi penulis unutk tambahan ilmu pengetahuan dan
untuk memperoleh gelar sarjana pendidikan (strata satu) pada Fakultas
Keguruan Dan Ilmu Pendidikan, Program Studi Pendidikan
Kewarganegaraan.
4.

Sebagai bahan pertimbangan bagi dosen FKIP-PKn

Universitas Bung Hatta.
1.Manfaat secara praktis
a.Bagi Siswa
1)Siswa dapat saling bertukar pikiran antara sesama anggota kelompok
sehingga setiap siswa dapat memperoleh ilmu pengetahuan yang lebih
banyak.
2)Siswa dapat belajar untuk mau mendengarkan dan saling menghargai
pendapat orang lain serta belajar bersosialisasi dengan cara memahami
perbedaan-perbedaan yang tumbuh dalam kelompok.
b.Bagi Pihak Sekolah
Dapat digunakan sebagai bahan masukkan untuk mengadakan variasi
model pembelajaran guna meningkatkan prestasi belajar siswa.

2.Manfaat secara teoritis

a.

Pembaca

11

Menambah pengetahuan pembaca terhadap model pembelajaran
efektif terutama model STAD (Student Teams Achievement Divisions).

b.

Penelitian Berikutnya

Hasil penelitian dapat menjadi masukan bagi peneliti-peneliti lain
untuk mengadakan penelitian serupa di masa yang akan datang.

c.

Peneliti yang bersangkutan
Menambah ilmu pengetahuan yang telah dimiliki peneliti dan
merupakan wahana menerapkan ilmu pengetahuan yang telah didapat
di bangku kuliah.

12

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

A.Belajar dan Pembelajaran
1.

Pengertian Belajar

Belajar adalah suatu kegiatan yang tidak terpisahkan dari kehidupan
manusia. Dengan belajar manusia mampu mengembangkan potensi-potensi
yang dibawanya sejak lahir sehingga nantinya mampu menyesuaikan diri
demi pemenuhan kebutuhan. Winkel dalam Gufron Faqih (2010)
menyimpulkan bahwa belajar adalah Suatu aktifitas mental / psikis yang
berlangsung dalam interaksi aktif dengan lingkungan, yang menghasilkan
perubahan-perubahan dalam pengetahuan, pemahaman, ketrampilan dan nilai
sikap. Perubahan itu bersifat relatif konstan dan berbekas.
Pengertian belajar menurut Bigge dalam Darsono (2000) adalah suatu
perubahan yang menetap dalam kehidupan seseorang yang tidak diwariskan
secara genetis. Dalam hal ini perubahan yang dimaksud terjadi pada
pemahaman, perilaku, persepsi, motivasi atau campuran dari semuanya secara
sistematis sebagai akibat pengalaman dalam situasi-situasi tertentu.
Sedang menurut Hilgard dan Bower dalam Purwanto (1990)
mengatakan bahwa belajar berhubungan dengan perubahan tingkah laku
individu terhadap suatu situasi tertentu yang disebabkan oleh pengalaman
yang berulang-ulang. Perubahan tingkah laku itu tidak dapat dijelaskan atas
dasar kecenderungan respon pembawaan, kematangan, atau keadaan sesaat
seseorang (misalnya kelelahan, pengaruh obat, dan sebagainya).
Selanjutnya pengertian belajar menurut Hambalik dalam Gufron Faqih
(2010) yaitu: Belajar adalah suatu cara untuk memotivasi dan mempertegas
kelakuan melalui pengalaman dan merupakan proses perubahan tingkah laku
individu melalui interaksi dengan lingkungannya sehingga akan terjadi
serangkaian pengalaman-pengalaman belajar.
Dari pendapat beberapa ahli di atas dapat disimpulkan bahwa yang
disebut belajar adalah suatu proses perubahan tingkah laku seseorang yang

disebabkan adanya pengalaman untuk memperoleh pengetahuan, keterampilan
dan sikap dari seseorang yang melakukan kegiatan belajar.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->