P. 1
Daniel Goleman

Daniel Goleman

|Views: 3,580|Likes:
Published by Alan Wong 感触

More info:

Published by: Alan Wong 感触 on Aug 24, 2010
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

06/04/2013

pdf

text

original

Daniel Goleman (1999), salah seorang yang mempopulerkan jenis kecerdasan manusia lainnya yang dianggap sebagai faktor

penting yang dapat mempengaruhi terhadap prestasi seseorang, yakni Kecerdasan Emosional, yang kemudian kita mengenalnya dengan sebutan Emotional Quotient (EQ). Goleman mengemukakan bahwa kecerdasan emosi merujuk pada kemampuan mengenali perasaan kita sendiri dan perasaan orang lain, kemampuan memotivasi diri sendiri dan kemampuan mengelola emosi dengan baik pada diri sendiri dan dalam hubungan dengan orang lain. Menurut hemat penulis sesungguhnya penggunaan istilah EQ ini tidaklah sepenuhnya tepat dan terkesan sterotype (latah) mengikuti popularitas IQ yang lebih dulu dikenal orang. Penggunaan konsep Quotient dalam EQ belum begitu jelas perumusannya. Berbeda dengan IQ, pengertian Quotient disana sangat jelas menunjuk kepada hasil bagi antara usia mental (mental age) yang dihasilkan melalui pengukuran psikologis yang ketat dengan usia kalender (chronological age). Terlepas dari kesalahkaprahan penggunaan istilah tersebut, ada satu hal yang perlu digarisbawahi dari para penggagas beserta pengikut kelompok kecerdasan emosional , bahwasanya potensi individu dalam aspek-aspek non-intelektual yang berkaitan dengan sikap, motivasi, sosiabilitas, serta aspek aspek emosional lainnya, merupakan faktor-faktor yang amat penting bagi pencapaian kesuksesan seseorang. Berbeda dengan kecerdasan intelektual (IQ) yang cenderung bersifat permanen, kecakapan emosional (EQ) justru lebih mungkin untuk dipelajari dan dimodifikasi kapan saja dan oleh siapa saja yang berkeinginan untuk meraih sukses atau prestasi hidup. Pekembangan berikutnya dalam usaha untuk menguak rahasia kecerdasan manusia adalah berkaitan dengan fitrah manusia sebagai makhluk Tuhan. Kecerdasan intelelektual (IQ) dan kecerdasan emosional (EQ) dipandang masih berdimensi horisontal-materialistik belaka (manusia sebagai makhluk individu dan makhluk sosial) dan belum menyentuh persoalan inti kehidupan yang menyangkut fitrah manusia sebagai makhluk Tuhan (dimensi vertikalspiritual). Berangkat dari pandangan bahwa sehebat apapun manusia dengan kecerdasan intelektual maupun kecerdasan emosionalnya. pada saat-saat tertentu, melalui pertimbangan fungsi afektif, kognitif, dan konatifnya manusia akan meyakini dan menerima tanpa keraguan bahwa di luar dirinya ada sesuatu kekuatan yang maha Agung yang melebihi apa pun, termasuk dirinya. Penghayatan seperti itu menurut Zakiah Darajat (1970) disebut sebagai pengalaman keagamaan (religious experience). Brightman (1956) menjelaskan bahwa penghayatan keagamaan tidak hanya sampai kepada pengakuan atas kebaradaan Nya, namun juga mengakui-Nya sebagai sumber nilai-nilai luhur yang abadi yang mengatur tata kehidupan alam semesta raya ini. Oleh karena itu, manusia akan tunduk dan berupaya untuk mematuhinya dengan penuh kesadaran dan disertai penyerahan diri dalam bentuk

[1] Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia berarti pengertian. rancangan. memahami. kemampuan mengendalikan diri. memahami perasaan. ³Relevansi´ . kemandirian. maka penulis mer sa perlu untuk a menegaskan istilah-istilah pokok yang terdapat dalam judul tersebut. cita-cita yang telah dipikirkan. baik secara individual maupun kolektif. secara simbolik maupun dalam bentuk nyata kehidupan sehari-hari (Abin Syamsuddin Makmun. dan perlawanan orang lain. bagan dan pengertian. pendapat.ritual tertentu. maupun gagasan Daniel Goleman tentang kecerdasan emosi dan pendapat Zakiah Daradjat tentang kesehatan mental. mengendalikan amarah. 2003). pendapat. Adapun judul yang perlu dijelaskan adalah: ³Konsep´ Diambil dari kata ³concept´ (Inggris) yang mempunyai arti konsep. antara lain empati. BAB I PENDAHULUAN Penegasan Judul Dalam penelitian ini penulis memberi judul ³KONSEP KECERDASAN EMOSI DANIEL GOLEMAN DAN RELEVANSINYA DENGAN KESEHATAN MENTAL ZAKIAH DARADJAT´ Untuk menghindari kesalahan dan demi terarahnya pembahasan. sehingga dapat dimenej secara proposional ketika berhadapan dengan tantangan hidup.4] Jadi. mengungkapkan. ³Kecerdasan Emosi´ Istilah ini dipopulerkan oleh Daniel Goleman pada tahun 1995[3] dan untuk pertama kalinya dilontarkan pada tahun 1990 oleh psikolog Petersolovey dari Horvard University dan Jhon Mayer dari University of Newhampshire untuk menerangkan kualitas-kualitas emosional yang tampaknya penting bagi keberhasilan hidup manusia. musibah. kecerdasan emosi [ adalah kemampuan untuk merasakan. mengarahkan emosi. pengertian.[2] Konsep yang dimaksud dalam penelitian ini adalah gambaran ide.

yaitu tentang konsep kecerdasan manusia. pertanian. tes inteligensi yang muncul pada awal abad ke -20 yang dipelopori oleh Alferd Binet (1980). informasi. Diistilahkan atau lebih dikenal dengan kecerdasan intelektual (ntelligence I Quotient). Kekurangan itulah yang melatarbelakangi munculnya teori baru dan sebagai alat untuk menyerang teori tersebut. akan tetapi juga di bidang psikologi. sosial bukan hanya dari penyakit cacat dan kelemahan.[9] Jadi. kesehatan mental adalah terwujudnya keharmonisan yang sungguh-sungguh antara fungsi jiwa. ³Kesehatan Mental´ Yaitu kesehatan berasal dari kata ³sehat´ yang berarti dalam keadaan fisik yang baik.[8] ³Mental´ adalah kepribadian yang merupakan kebulatan yang dinamik dari seseorang yang tercermin dalam cita-cita. roh. mentis) artinya jiwa. Menurut Daniel Goleman (IQ) hanya mengembangkan 20 % terhadap kemungkinan kesuksesan hidup. Teori baru ini dipopulerkan oleh Daniel Goleman yang dikenal dengan istilah Kecerdasan Emosi (Emotional Intelligence). dan kepribadian.[14] . bukan hanya di bidang teknologi. perasaan.[10] Latar Belakang Masalah Ilmu pengetahuan dan teknologi selalu berkembang dengan pesatnya. sikap. nyawa. pandangan. kemampuan dan fungsi jiwanya yang berupa fikiran. jika dilihat dari sejarah perkembangannya pada mulanya lahir akibat adanya berbagai tes mental yang dilakukan oleh berbagai psikolog untuk menilai manusia ke dalam berbagai tingkat kecerdasan. mental. semakin tinggi IQ seseorang maka semakin tinggi pula kecerdasannya.[7] Mental (dari kata Latin mens.[13] Terlebih dengan adanya hasil riset terbaru yang menyata kan bahwa kecerdasan kognitif (IQ) bukanlah ukuran kecerdasan (Intelligence) yang sebenarnya. Konsep kecerdasan manusia.[5] Dan yang dimaksud relevansi dalam studi ini yaitu keterkaitan konsep kecerdasan emosi Daniel Goleman dengan kesehatan mental Zakiah Daradjat. sikap. kaitan. kedokteran. dan keyakinan hidup. bebas dari sakit. Tes IQ adalah cara yang digunakan untuk menyatakan tinggi rendahnya angka yang dapat menjadi petunjuk mengenai kedudukan tingkat kecerdasan seseorang . EQ sama ampuhnya dengan IQ.[12] ternyata tes inteligensi memiliki kekurangan atau kelemahan.[11] Seiring dengan perkembangannya. Menurut Daniel Goleman. ternyata emosilah parameter yang paling menentukan dalam kehidupan manusia. serta mempunyai kesanggupan untuk menghadapi problem-problem yang biasa terjadi dan merasakan secara positif kebahagiaan. sementara 80 % lainnya diisi oleh kekuatan-kekuatan lain. dan semangat.[6] Dalam Undang-Undang RI bahwa sehat adalah keadaan yang meliputi kesehatan badan. Jadi menurut teori ini. dan bahkan lebih.Relevansi berarti hubungan.

Dalam kesehatan mental kemampuan mengendalikan emosi dan menahan diri disebut sabar. Kecerdasan emosional diukur dari kemamapuan mengendalikan emosi dan menahan diri. atau paling tidak kurang dapat mengendalikan emosinya. lebih impulsif dan agresif. egois. lebih banyak mengalami kesulitan emosional daripada generasi sebelumnya: lebih kesepian dan pemurung. Oleh karena itu. karena dengan kecerdasan emosi orang akan memiliki rasa introspeksi yang tinggi. ketika belajar tekun dapat .Ungkapan Goleman ini seolah menjadi jawaban bagi situasi µaneh¶ yang se ring terjadi di tengah masyarakat. Ia biasanya tabah dalam menghadapi kesulitan. pengasahan. Jarang sekali orang yang cerdas secara intelektual sukses dalam kehidupan.[16] Survey telah membuktikan terhadap orang tua dan guru-guru adanya kecenderungan yang sama diseluruh dunia. Orang yang paling sabar adalah orang yang paling tinggi dalam kecerdasan emosionalnya. di mana ada orang-orang yang diketahui ber-IQ tinggi ternyata tidak mampu mencapai prestasi yang lebih baik dari sesama yang ber-IQ lebih rendah. ketika orang cerdas jadi bodoh . artinya. dan pelatihan yang dilakukan sepanjang hayat. sehingga manusia tidak akan mudah marah. yaitu generasi sekarang. maka tidak mengherankan bila merugikan bagi orang lain yang berada di sekitarnya. Cerdas tidaknya emosi seseorang tergantung pada proses pembelajaran. Apabila muncul perilaku-perilaku negatif yang disebabkan oleh kurangnya kecerdasan emosi. orang yang cerdas umumnya bekerja kepada orang yang lebih bodoh darinya. Adapun kecerdasan emosi dapat tumbuh dan berkembang seumur hidup dengan belajar. lebih gugup dan mudah cemas. seseorang yang dilahirkan dari orang tua ber-IQ tinggi kemungkinan besar akan µmengikuti jejak¶ orang tuanya dengan ber-IQ tinggi juga. Lantas apakah yang menentukan sukses dalam kehidupan ini? Bukan kecerdasan intelektual akan tetapi kecerdasan emosional. Daniel Goleman menemukan bahwa orang Amerika yang memiliki kecerdasan atau IQ diatas 125 umumnya bekerja kepada orang yang memiliki kecerdasan rata -rata 100. lebih brangasan dan kurang menghargai sopan santun.[17] Dan dari hasil penelitanya Daniel Goleman menemukan situasi yang disebut dengan when smart is damb. Kelebihan lain dari kecerdasan emosi ini adalah kenyataan bahwa kecerdasan emosi bukanlah kecerdasan statis yang diperoleh karena µwarisan¶ orang tua seperti IQ. tidak mudah putus asa. Selama ini telah diketahui bahwa seseorang yang terlahir dengan IQ rendah tidak dapat direkayasa untuk menjadi seorang jenius. Melainkan orang-orang yang biasalah yang sukses dalam kehidupanya karena kecerdasan emosinya.[15] Seseorang yang belum memiliki kecerdasan emosi biasanya akan muda mengalami gangguan h kejiwaan. Begitu pula sebaliknya. dan mudah larut dalam kesedihan apabila mengalami kegagalan. dan selalu memiliki rasa lapang dada dalam menghadapi berbagai persoalan hidup. kecerdasan emosi sangat diperlukan bagi setiap orang.

Jika seseorang memperhatikan keputusan-keputusan dalam kehidupan manusia. Banyak orang terpukau dengan modernisasi. Karena seluruh keputusan manusia memiliki warna emosional. Pada suatu saat ada seorang anak meminta izin kepada orang tuanya untuk menginap dirumah kawanya. tetapi juga kesehatan mental. Sementara anak itu pergi. dan berhasil dal m mengatasi berbagai gangguan a dan dapat mengendalikan emosinya. tidak jarang suatu keputusan diambil melalui emosinya. Mereka masuk kerumah perlahan-lahan sambil membuka pintu untuk segera mengambil pistol lalu mengendap naik ke atas loteng tempat toilet itu berada.sengsara dan bahagianya manusia. Ketika melihat lampu toilet di rumahnya masih menyala mereka menyangka ada pencuri di rumahnya. Pada saat itu. Karena itulah Goleman mengusulkan selain memperhatikan kecerdasan otak. Anak nakal itu mempunyai rencana. ia ingin membuat kejutan untuk orangtuanya ketika pulang kerumah pada waktu malam. Dua jam kemudian anak itu meninggal dunia. Bisa dibayangkan betapa menyesalnya kedua orangtua itu. dapat mengembangkan potensi. Ia akan diam di teile dan jika orangtuanya datang. Bukan kepada rasio. k. seharusnya mereka menganalisis dulu mereka lihat siapa orang itu. Dan faktor-faktor ini pula yang menjadikan manusia sehat mentalnya. Ketika sampai di atas. manusia menyangka dengan . Ditembaklah orang yang berteriak itu sampai lehernya putus. mereka bertindak terlalu cepat. Daniel Goleman menceritakan dalam kisah nyata betapa fatalnya orang yang tidak memiliki kecerdasan emosional. Suatu kenyataan menunjukkan bahwa peradaban manusia yang semakin maju berakibat pada semakin kompleksnya gaya hidup manusia. anak tersebut kembali kerumah karena tidak betah tinggal di rumah temanya. Emosi yang begitu penting itu sudah lama ditinggalkan oleh para peneliti padahal tergantung kepada emosilah bergantung suka. Emosi sangat mempengaruhi kehidupan manusia ketika dalam mengambil keputusan. ia akan meloncat dari toilet itu sambil berteria Beberapa saat kemudian. orangtuanyapun pergi untuk menonton opera. [18] Manusia secara alamiah merindukan kehidupan yang tenang dan sehat baik jasmani maupun rohani. ternyata keputusannya lebih banyak ditentukan oleh emosi daripada akal sehat. orangtuanya masih menonton opera. Tidak ada sama sekali keputusan yang diambil manusia murni dari pemikiran rasionalnya. Mereka mengikuti emosi takut dan kehawatiranya sehingga panca indranya belum sempat menyampaikan informasi yang lengkap tentang orang yang meloncat dan berteriak itu. Kisah diatas menunjukkan akibat kecerdasan emosi yang tidak terlatih atau kategori kecerdasan emosi rendah mereka memperturutkan emosinya dalam bertindak. manusia juga harus memmperhatikan kecerdasan emosi. Kesehatan yang bukan menyangkut badan saja. duka. tiba-tiba terdengar teriakan dari toilet itu.menyesuaikan diri. Taklama dari itu. orangtuanya pulang dari opera menjelang tengah malam.

Dapat dikatakan. serta menerima kegagalan itu sebagai suatu pelajaran yang akan membawa sukses nantinya. dan stres.[22] Karena adanya fenomena diatas. Dalam keadaan demikian. Karena emosi sebagai tenaga-tenaga penggerak dalam hidup. atau kecerdasan emosi tidak banyak tergantung oleh faktor-faktor luar seperti keadaan sosial. sehingga banyak orang yang mengalami kegelisahan. semakin maju orang atau masyarakat. meskipun tidak semua dapat mencapai yang diinginkannya itu. pesimis.modernisasi itu serta merta akan membawa kepada kesejahteraan. sering kali sembrono. semakin banyak pula komplikasi hidup yang dialaminya..21] Begitu pula yang [ diungkapkan Daniel Goleman bahwa kerugian pribadi akibat rendahnya kecerdasan emosional dapat berkisar mulai dari kesulitan perkawinan. pendidikan anak. hingga ketidaksuksesan karir. Banyak orang yang lupa bahwa di balik modernisasi yang serba gemerlap dan memukau itu ada gejala yang dinamakan ketidaksehatan mental. dan pertentangan akibat kebutuhan dan keinginan yang harus tetap dipenuhi menjadikan orang sulit untuk memperoleh mental yang sehat. akan tetapi lebih tergantung pada cara dan sikap dalam menghadapi faktor-faktor tersebut. kecemasan. serampangan. yang menyebabkan manusia berkembang maju. perlombaan. Adapun yang menentukan ketenangan dan kebahagiaan hidup di antaranya adalah kesehatan mental dan kecerdasan emosi. bahwa kehidupan manusia tidak lepas dari konflik-konflik maupun problem-problem yang tidak jarang manusia mengalami keteganganketegangan. lantah dan menyimpulkan atau melontarkan pernyataan yang sebenarnya belum final pengkajiannya pada waktu sedang emosi.[20] Tidak seorang pun yang tidak menginginkan ketenangan dan kebahagiaan dalam hidupnya.[19] Kebahagian manusia tidak tergantung pada fisik melainkan pada faktor pertumbuhan emosinya. Sesungguhnya kesehatan mental. frustasi. pesimis. yaitu cara seseo rang menanggapi suatu persoalan dan kemampuannya untuk menyesuaikan diri. buruknya kesehatan jasma hambatan ni. setiap orang akan berusaha mencarinya. Bermacam sebab dan rintangan yang mun gkin terjadi. politik. Ini semua dilakukan karena belum . dan kehidupan masyarakat di sekitar. ketidakpuasan dan emosi yang berlebih lebihan. perkembangan intelektual. dan mundur ke belakang. ekonomi. sebagaian orang lantas menyelesaikannya dengan cara emosiona dan l. Orang yang sehat mentalnya tidak akan lekas merasa putus asa. Persaingan. ketentraman jiwa. dan apatis karena dia dapat menghadapi semua rintangan atau kegagalan dalam hidup dengan tenang dan wajar. Kesehatan mental dan kecerdasan emosi pula yang menentukan orang mempunyai kegairahan hidup atau bersikap pasif.

muncul patologi sosial yang ada dalam berbagai bentuk penyakit kejiwaan. Bagaimana relevansi kecerdasan emosi Daniel Goleman dengan kesehatan mental Zakiah Daradjat? Tujuan dan Kegunaan Penelitian Berangkat dari rumusan masalah. ketidakjujuran. Untuk mengetahui relevansi kecerdasan emosi Daniel Goleman dengan kesehatan mental Zakiah Daradjat. kebosanan. Bagaimana konsep kecerdasan emosi menurut Daniel Goleman? 2. Akibatnya. malasuai. maka penulis mengharapkan adanya tujuan yang hendak dicapai dalam penulisan skripsi ini. maka sangat krusial konsep Daniel Goleman diangkat sebagai solusi karena pada dasarnya konsep-konsep Daniel Goleman mencoba melihat aspek afeksi manusia khususnya pada perasaan atau emosi manusia. jadi perasaan yang ditempatkan pada tempatnya akan memperoleh mental yang sehat. konsep Zakiahpun merupakan konsep yang cocok diterapkan pada zaman sekarangsss ini Rumusan Masalah Bertolak dari latar belakang yag telah diungkapkan di atas. dan menjadikan mental tidak sehat. Dan konsep-konsep yang ditawarkan Daniel Goleman akan mengantarkan manusia untuk memperoleh mental yang sehat (kesehatan mental) karena perasaan dapat mempengaruhi kesehatan mental. Untuk mendeskripsikan konsep kesehatan mental menurut Zakiah Daradjat. . Bagaimana konsep kesehatan mental menurut Zakiah Daradjat? 3. Seperti krisis kepercayaan. Pa dahal dari generasi ke generasi manusia semakin cerdas akan tetapi ketrampilan emosional dan sosialnya merosot tajam. Hal ini pula yang melemahkan kecerdasan emosi. Pada persoalan ini. dan kejenuhan hidup sehingga munculnya penyakit penyakit kejiwaan yang berdampak negatif pula pada tata kehidupan pribadi dan sosial yang mengakibatkan ketidaksehatan mental atau tidak adanya kesehatan mental. Adapun tujuan yang hendak dicapai adalah: Untuk mendeskripsikan konsep kecerdasan emosi menurut Daniel Goleman.adanya kecerdasan emosi. maka dapat dibuat rumusan masalah sebagai berikut : 1.

Adapun penulis hanya memusatkan atau terfokus pada temuan baru Daniel Goleman yaitu kecerdasan emosi. Telaah Pustaka Telaah pustaka sangat berguna dan merupakan bagian integral dalam sebuah penelitian ilmiah. serta kepustakaan. Emotional Intelligence (EQ). 3. Dengan memanfaatkan penelitian yang menggemparkan tentang otak dan perilaku. Begitupula dengan kesehatan mental.[23] Dalam buku ³Kecerdasan Emosional´ diterangkan bahwa pandangan manusia tentang kecerdasan manusia itu terlalu sempit. Secara praktis penelitian ini diharapkan dapat menjadi pertimbangan dan masukan bagi masyarakat pada umumnya dalam memahami kecerdasan emosi Daniel Goleman dan kesehatan mental Zakiah Daradjat. dalam skripsi Kurniawati yang berjudul Unsur-Unsur Kecerdasan Emosi Daniel Goleman dalam perspektif Alqur¶an. Adversity Quotiens (AQ). dalam skripsi ini digunakan buku-buku yang membahas persoalan Daniel Goleman tentang kecerdasan emosi. Secara teoritik penelitian ini diharapkan dapat menambah khazanah ilmu pengetahuan. Paradigma kecerdasan yang berkembang sampai saat ini sungguh sangat kompleks.[24] .Adapun kegunaan penelitian ini adalah: 1. 2. wawasan. yaitu suatu cara yang disebutnya kecerdasan emosional. terutama yang berhubungan dengan kesehatan mental dan kecerdasan emosi. sampai pada Transendental Intelligence (TQ) yang dikatakan sebagai puncak kecerdasan manusia. mengabaikan serangkaian penting kemampuan yang sangat besar pengaruhnya dalam menentukan keberhasilan manusia dalam kehidupan. mulai dari Intelligence Quotient (IQ). Goleman memperlihatkan faktor-faktor yang terkait mengapa orang yang ber-IQ tinggi gagal dan mengapa orang yang ber-IQ sedang saja sukses. Emotional Spiritual Quotient (ESQ). Faktor-faktor ini mengacu pada satu cara lain untuk menjadi cerdas. Menawarkan dan memberikan langkah alternatif dalam proses pembentukan pribadi yang cerdas emosi dan sehat mentalnya. Ini merupakan ciri-ciri yang menandai orang yang menonjol dalam kehidupan nyata. ternyata banyak sekali buku buku Zakiah Daradjat yang membahas tentang persoalan kesehatan mental baik secara langsung maupun tidak langsung Pembahasan tentang kecerdasan emosi ini telah diteliti oleh beberapa peneliti antara lain.

karena orang tersebut dapat menerima rintangan atau kegagalan dalam hidupnya dengan tenang dan wajar. Orang yang sehat mentalnya tidak akan lekas merasa putus asa. Menurutnya. dan kemampuan adaptasi sosial. sosial.[30] Menurut W. Stern. Stein dan Howard dalam buku ³Ledakan EQ´ menyebutkan bahwa kecerdasan emosi dapat meningkatkan kinerja penjualan perusahaan-perusahaan terkemuka di dunia dan menghadirkan bukti ekstensif hubungan kecerdasan emosi dengan kesuksesan dan mengungkapkan hasil pen elitian terhadap 42. pesimis. dan pertahanan dari seluruh kecerdasan. atau ketrampilan teknis melainkan kecerdasan emosi. akal sehat yang penuh misteri dan kepekaan yang penting.[26] Jeanne Segal dalam buku ³Melejitkan Kepekaan Emosional´ menjelaskan bahwa emosi dan akal adalah dua bagian dari satu keseluruhan. aspek pribadi. Satu-satunya faktor yang paling penting bukanya IQ. Bila EQ ses eorang tinggi mereka mampu memahami berbagai perasaan secara mendalam manakala perasaan-perasan muncul dan benar-benar dapat mengenali diri sendiri. yang menentukan ketenangan dan kebahagiaan hidup adalah kesehatan mental. Dan Daniel memberikan petunjuk yang spesifik dan ilmiah untuk menumbuhkan kemampuan ini dengan menjelaskan unsur -unsur kecerdasan emosi. kepekaan sosial.[27] Zakiah Daradjat dalam buku ³Kesehatan Mental´ menjelaskan arti kesehatan mental.000 responden di 36 negara. Menurut Howard kecerdasan emosi merupakan serangkaian kecakapan yang memungkinkan manusia melapangkan jalan di dunia yang rumit. pendidikan tinggi.[28] Landasan Teori Tinjauan Mengenai Kecerdasan Emosi Inteligensi (kecerdasan) berasal dari bahasa latin ³intelligere´ yang berarti menghubungkan atau menyatukan satu sama lain.Dalam buku ³ Kecerdasan Emosi untuk Mencapai Puncak Prestasi´ Goleman mendapatkan gambaran mengenai ketrampilan yang dimiliki oleh para kinerja di segala bidang dari pekerja tingkat bawah sampai posisi eksekutif. dan kesehatan mental pula yang menentukan tanggapan seseorang terhadap persoalan dan kemampuannya dalam menyesuaikan diri.[29] Kecerdasan (Intelligence) adalah daya reaksi penyesuaian yang cepat dan tepat baik secara fisik atau mental terhadap pengalaman-pengalaman baru. . EQ mengingatkan pada ukuran standar kecerdasan otak dan wilayah EQ adalah hubungan pribadi dan antar pribadi. membuat pengalaman dan pengetahuan yang telah dimiliki siap untuk dipakai apabila dihadapkan pada fakta -fakta atau kondisi baru.[25] Steven J. kesadaran diri. bertanggung jawab atas harga diri. atau apatis.

Menurut M. Kemampuan untuk mengubah arah tindakan bila tindakan tersebut telah dilaksanakan.[33] Secara etimologis. Alisuf Sabri. dan memotivasi diri sendiri dalam menyelesaikan masalah secara tepat. Kemampuan untuk mengarahkan fikiran. mendefinisikan inteligensi sebagai tindakan yang terdiri atas tiga komponen yaitu : a. Dan masing-masing dapat dialami dalam taraf yang berbeda-beda sejak dari yang ringan hingga yang ekstrim. menurut Stern Berg intelligence (kecerdasan) adalah kemampuan yang memiliki lima karakeristik umum yaitu kemampuan untuk belajar. minat. dan kebebasan. seorang tokoh utama perintis pengukuran intelligence yang hidup antara tahun 1857-1911.[37] . tindakan. masalah emosi merupakan masalah yang belum terpecahkan. berfikir secara abstrak. Adapun dalam emosi kontak itu seolah-olah menjadi retak atau terputus misalnya pada saat kita sangat terkejut. kata emosi berasal dari bahasa latin e (x) yang berarti keluar dan movere yang berarti bergerak. Dan para psikolog telah berusaha memberi pengertian emosi namun pernyataan mereka masih terbentur dengan tidak adanya pemisahan secara jelas antara definisi dari perasaan dan emosi sehingga masih ambiguitas. beradaptasi. antara lain pembawaan. hal ini dapat dilihat dari tidak adanya pernyataan yang jelas tentang definisi emosi itu sendiri. ketakutan. kesedihan.kecerdasan adalah kesanggupan jiwa untuk dapat menyesuaikan diri dengan cepat dan tepat. nafsu.[31] Sementara itu.[32] Dari uraian di atas. Menurut Ahmad Fauzi. b. dan sebagainya. Dalam perasaan ditemukan kesediaan kontak dengan situasi (baik positif maupun negatif). kematangan. Di antara faktor-faktor yang mempengaruhi inteligensi. emosi adalah setiap keadaan pada diri seseorang yang disertai dengan warna afektif. benci. dan menyesuaikan jiwa. batas perbedaan antara emosi dan perasaan terletak pada sifat kontak yang terjadi. baik pada tingkat yang lemah (dangkal) maupun pada tingkat yang kuat (mendalam).[36] Tipe-tipe emosi meliputi kegembiraan. marah. pembentukan. Adapun menurut Alfred Binet. fikiran. dan sebagainya. perasaan. serta menyelesaikan masalah yang dihadapi secara tepat. mengambil manfaat dari pengalaman. takut.[35] Untuk lebih memperjelas tujuan pembahasan dalam penulisan ini. memahami. atau keadaan mental yang hebat. c. penulis ingin mengutip pengertian emosi menurut beberapa ahli.[34] Menurut Oxford English Dictionary. dapat diketahui bahwa intelligence (kecerdasan) merupakan suatu kemampuan untuk mengarahkan. Kemampuan untuk mengkritik diri sendiri. Sebenarnya dalam bidang psikologi. emosi adalah setiap kegiatan atau pergolakan fikiran. mengantuk. cinta.

Adapun J. faktor yang terpenting bukan kecerdasan intelektual. seorang psikolog dari Harvard University dalam karya monumentalnya berjudul Emotional Intelligence. pendidikan tinggi atau ketrampilan teknis. kecerdasan emosi adalah kemampuan untuk merasakan. emosi adalah proses perubahan jasmani karena perasaan yang meluap. koneksi.[39] Istilah kecerdasan emosi pertama kali dilontarkan oleh psikolog Petersolovey dari Harvard University dan John Mayer dari University of New Hampshire pada tahun 1990. dengan menyebutkan kualifikasikualifikasi emosi manusia yang meliputi empati.[40] Menurut Robert K. kemampuan menyesuaikan diri. ketekunan dan kesetiakawanan.[38] Sementara Daniel Goleman merumuskan emosi sebagai perasaan dan fikiran-fikiran yang khas. Bruno mendefinisikan emosi dari dua sudut pandang. dan malu. perlawanan orang lain. dan pengaruh yang manusiawi. Cooper. dan kemampuan mengelola emosi yang baik pada diri sendiri dan dalam hubungannya dengan orang lain. kelebihan kekayaan. keberuntungan. ketika berhadapan dengan musibah. memahami secara efektif. mengungkapkan dan memahami perasaan. terkejut. yang membuat mereka berbeda dengan yang lainnya. kemampuan memotivasi diri sendiri. jengkel. keramahan. menerapkan daya dan kepekaan emosi sebagai sumber energi. Kedua secara psik ologis. pengendalian amarah.[43] . tantangan hidup. Faktor inilah menurut Daniel yang dapat memacu seseorang pada suatu cara lain untuk menjadi cerdas yang disebutnya kecerdasan emosi. suatu keadaan biologis dan psikologis serta serangkaian kecenderungan untuk bertindak.[41] Kecerdasan emosi adalah kemampuan memahami perasaan diri sendiri dan kemampuan memahami perasaan orang lain. Emosi dapat dikelompokkan pada rasa amarah. informasi. Pertama secara fisiologis.42] Kecerdasan emosi dalam perspektif [ sufi adalah kemampuan untuk tetap mengikuti tuntutan agama. dan dengan adanya temuan baru tentang otak dan manusia. Karyanya ini menjadikan beliau terkenal khususnya di bidang psikologi. cinta. Dalam risetnya Daniel Goleman memiliki kurang lebih lima ribu perusahaan yang tersebar di seluruh dunia. Istilah ini populer pada tahun 1995 dan dipopulerkan oleh Daniel Goleman. Dari pekerjaan tingkat bawah sampai posisi eksekutif. kesedihan. Hasil risetnya yang menggemparkan dengan mendefinisikan apa arti cerdas. kemandirian. melainkan kecerdasan emosi. kenikmatan. Daniel mendapatka gambaran ketrampilan yang dimiliki n para bintang kinerja di segala bidang. dan juga kemiskinan. dan sikap hormat. kemampuan memecahkan masalah antar pribadi. memperlihatkan mengapa orang yang ber-IQ tinggi justru gagal sementara orang yang ber-IQ sedang menjadi sukses. takut. emosi merupakan reaksi yang menyenangkan atau tidak menyenangkan.

[47] Mengenai keanekaragaman konsep kesehatan jiwa (mental). kecerdasan emosi ini mencakup kemampuan untu mengendalikan k dengan hati. Menurut Saparinah Sadli. sikap. atau perasaan tak berguna. serta mempunyai kesanggupan untuk menghadapi problem -problem yang biasa terjadi. b. bebas dari sakit. sikap. kesehatan mental adalah terwujudnya keharmonisan yang sungguh-sungguh antara fungsi-fungsi jiwa. seseorang dikatakan sehat apabila tidak mempunyai keluhan tertentu. yaitu: a. dan perasaan yang dalam keseluruhan atau kebulatannya aka menentukan tingkah laku. dan perbuatan. Kesehatan berasal dari kata ³sehat´ yang berarti dalam keadaan fisik yang baik. Orientasi penyesuaian diri. seperti ketegangan. cemas.48] [ Jadi.[46] Mental adalah semua unsur-unsur jiwa termasuk pikiran. membaca isyarat sosial orang lain. n cara menghadapi suatu hal yang menekan perasaan. dan menangani naik turunnya kehidupan. yang semuanya menimbulkan perasaan ³sakit´ atau ³rasa tak sehat´ serta mengganggu efisiensi kegiatan sehari hari. bila seseorang mendapat kesempatan untuk mengembangkan potensialitasnya menuju kedewasaan sehingga seseorang dapat dihargai oleh orang lain dan dirinya sendiri. rasa lelah. c. memberi motivasi diri. . Orientasi pengembangan potensi. menunda perasaan. terdapat tiga orientasi dalam kesehatan jiwa (mental) yang dapat dijadikan ukuran. Dalam penelitian ini akan diuraikan pandangan pakar kesehatan jiwa (mental).[45] Adapun ³mental´ adalah kepribadian yang merupakan kebulatan dinamik dari seseorang yang tercermin dalam cita-cita. rendah diri. emosi.[44] Tinjauan Mengenai Kesehatan Mental Kesehatan mental mempunyai beberapa pengertian menurut sudut pandang masing -masing orang dan sistem yang digunakan. seseorang dianggap sehat secara psikologis apabila ia mampu mengembangkan dirinya sesuai dengan tuntutan orang lain dan lingkungan sekitarnya.Adapun menurut John Gottman. Orientasi klasik ini banyak dianut di dunia kedokteran. dan merasakan secara positif kebahagiaan dan kemampuan dirinya. beberapa ahli mengemukakan orientasi umum dan pola-pola wawasan kesehatan jiwa (mental). mengecewakan. seseorang dianggap mencapai taraf kesehatan mental. atau yang menggembirakan dan menyenangkan. Orientasi klasik.

50] Jenis [ penelitian dalam rangka penulisan skripsi ini adalah penelitian pustaka ( library research). serta terhindar dari kegelisahan dan pertentangan (konflik). kebebasan bersikap dikembangkan secara optimal sehingga mendatangkan manfaat bagi diri sendiri dan lingkungannya. Menurut pandangan ini.Fungsi-fungsi jiwa seperti fikiran. agar kegiatan penelitian dapat terlaksana atau tercapai hasil yang maksimal. Pada keadaan tertentu terganggunya kesehatan mental dapat menyebabkan orang tidak mampu menggunakan kecerdasannya. yang menjauhkan orang dari perasaan ragu dan bimbang. Kesehatan yang penulis maksud di sini adalah terwujudnya keserasian antara fungsi kejiwaan serta terciptanya penyesuaian diri antara manusia dengan dirinya sendiri dan lingkungan yang didasarkan pada keimanan dan ketakwaan kepada Allah SWT serta diarahkan untuk mencapai kehidupan yang bermakna. karena biasanya akan berakhir dengan isolasi diri atau menjadi mudah terbawa situasi yang melingkupinya. perasaan.[51] Maka. Dalam hal ini. karena metode merupakan cara bertindak dalam upaya. atau memenuhi kebutuhan -kebutuhan pribadi tanpa melanggar hak-hak orang lain. rasa tanggung jawab. Pola wawasan yang berorientasi penyesuaian diri berpandangan bahwa kemampuan seseorang untuk menyesuaikan diri merupakan unsur pertama dari kondisi mental yang sehat. bahagia dunia dan akhirat. kecerdasan. harus dapat saling membantu dan bekerja sama satu sama lain. sikap jiwa. sehingga dapat dikatakan adanya keharmonisan. berdasarkan konsep ini pendekatan yang digunakan adalah pendekatan literer.[49] Metode Penelitian Jenis Penelitian Setiap penulisan karya ilmiah tidak dapat lepas dari metode. penyesuaian diri diartikan secara luas yakni secara aktif berupaya memenuhi tuntutan lingkungan tanpa kehilangan harga diri. perubahan-perubahan tidak akan menyebabkan kegelisahan dan kegoncangan jiwa. Keabnormalan emosi dan tindakan juga dapat disebabkan oleh terganggunya kesehatan mental. kesehatan mental terjadi bila potensi-potensi kreatifitas. Dengan demikian. yaitu mengambil bahan-bahan penelitian dari beberapa buku atau majalah yang mendukung penelitian ini. rasa humor. yaitu sumber . Penyesuaian diri yang pasif dalam bentuk serba menarik diri atau serba menuruti tuntutan lingkungan adalah penyesuaian diri yang tidak sehat. pandangan dan keyakinan hidup. Pola wawasan yang berorientasi pengembangan potensi pribadi. Zakiah Daradjat mengatakan bahwa apabila kesehatan mental terganggu dapat menyebabkan orang tidak mampu menggunakan kecerdasannya.

Stein dan Howard E. Analisis data Setelah data-data yang diperlukan terkumpul. b. Sumber Data Sekunder Yaitu sumber data yang diperoleh dari pihak lain maupun karya -karya lain seperti Steven J. yang telah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia. Ary Ginanjar Agustian dalam Rahasia Sukses Membangun Kecerdasan Emosi dan Spiritual (ESQ). Islam dan Kesehatan Mental. dan majalah Ummi edisi spesial tahun 2002 tentang Anak Cerdas Dunia Akhirat. serta Peranan Agama dalam Kesehatan Mental.. Adapun mengenai kesehatan mental digunakan buku -buku karya Zakiah Daradjat yang berjudul Kesehatan Mental. Selain itu sumber diambil dari jurnal. Usman Najati dalam Belajar EQ dan SQ dari Sunah Nabi. seperti Jurnal Dakwah edisi Januari-Juni 2001. selanjutnya penulis mengelola dan meng klasifikasikan sesuai dengan pokok-pokok bahasan dalam skripsi ini. Book dalam Ledakan EQ. Sumber Data Primer Yaitu data yang diperoleh langsung dari pihak subyek penelitian sebagai informasi yang dicari. Rudy Hariyono dalam Tehnik Mencapai Ketenangan Jiwa. a. Tahap operasional penelitian pustaka ini adalah memilih dan mengkaji karya -karya Daniel Goleman dan Zakiah Daradjat dengan mengfokuskan pada batasan ko nsep kecerdasan emosi dan kesehatan mental.[52] . Untuk menganalisis data yang telah terkumpulkan digunakan metode berfikir induktif yang bersifat deskriptif analisis yaitu memusatkan diri pada masalah-masalah yang ada. Latipun dalam Kesehatan Mental Konsep dan Penerapan. kemudian data yang sudah terkumpul disusun. Sumber Data Data-data dalam penelitian ini diperoleh melalui penelusuran karya -karya pemikiran Daniel Goleman yang berkaitan dengan kecerdasan emosi dan Zakiah Daradjat yang berkaitan dengan kesehatan mental. Jeanne Segal dalam Melejitkan Kepekaan Emosional. dijelaskan.datanya atau obyek utamanya adalah bahan-bahan pustaka yang ada kaitannya dengan persoalan yang diteliti. dan dianalisis. berupa karya Daniel Goleman Kecerdasan Emosi (Emotional Intelligence) dan Kecerdasan Emosi untuk Mencapai Puncak Prestasi (Working With Emotional Intelligence). Hasan Langgulung dalam Teori-Teori Kesehatan Mental.

rumusan masalah. metode penelitian. Sistematika Pembahasan Untuk lebih memudahkan dalam pembahasan skripsi ini. membahas konsep kecerdasan emosi dalam pandangan Daniel Goleman. khususnya tentang kecerdasan emosi dan kesehatan mental. latar belakang masalah. Stein dan Howard E.serta karya-karyanya. perjalanan kariernya. Ledakan EQ. maka disusunlah sistematika pembahasan sebagai berikut: Bab pertama adalah pendahuluan. (Bandung: Kaifa. hlm. latar belakang pendidikannya. yang berisi mengenal Daniel Goleman: boografinya. 2002). tandapenghargaan atau penghormatan. hasilkaryanya. aktivitas dalam lembaga atau organisasi. kemudian mempelajari berbagai pemikiran atau pandangan Daniel dan Zakiah. Bab kedua membahas biografi Daniel Goleman dan Zakiah Da radjat. dan dibuat suatu kesimpulan yang bersifat umum yang selaras dengan rumusan masalah. hlm. latar belakang pendidikannya. yang berisi: pengertian kecerdasan emosi. Indonesia. 1996). landasan teori.Dalam hal ini penulis akan berusaha mendeskripsiksn terlebih dahulu pemikiran Dan tentang iel kecerdasan emosi dan Zakiah Daradjat mengenai kesehatan mental. pengaruh kesehatan mental dalam hidup. Book. (Jakarta: Balai Pustaka.terdiri dari pengertian kesehatan mental. Bab keempat. dan sistematika pembahasan. ciri ciri manusia yang sehat mentalnya. 1994). 520 [3] Steven J. 17 . (Jakarta: Gramedia. Kamus Inggris Indonesia.yang terdiri dari: penegasan judul. 313 [2] Pusat Pembinaan Bahasa Depertemen Pendidikan dan Kebudayaan RI Kamus Besar Bahasa . hlm. dan unsur-unsur kecerdasan emosi menurut Daniel Goleman. tujuan dan kegunaan penelitian. Kemudian mengenal Zakiah daradjat: biografinya. Bab ketiga. telaah pustaka. Bab kelima merupakan bab terakhir yang memuat tentang kesimpulan. membahas tentang konsepsi kesehatan mental menurut Zakiah Daradjat. serta relevansi konsep kecerdasan emosi daniel Goleman dengan kesehatn mental Zakiah Daradjat. Dari data yang didapat itu diadakan proses analisis secara kritis. saran dan penutup. [1] John M. syarat-syarat yang diperlukan dalam pembangunan mental. Echols dan Hasan Shadily.

(Jakarta: Paramadina. 1314 . Kamus Ilmu Jiwa dan Pendidikan. (Yogyakarta: Pustaka Pelajar. dkk. 4 th 2002. (Jakarta: Modern English Press. hlm.[4] Laurence E. 1988). 5 [5] Departemen Pendidikan dan Kebudayaan (Depdikbud). hlm. hlm. (Yogyakarta: Lembaga Penelitian Universitas Cokroaminoto. Cara-Cara Efektif Mengasuh Anak dengan EQ. 1995). 1999). hlm. Kamus Ilmu Jiwa dan Pendidikan. ³Kecerdasan Spiritual´ Harian Kompas. Edisi Spesial No. hlm. (Jakarta: Balai Pustaka. 1979). Hygiene Mental. hlm. hlm. 1984). 98-99 [11] Sukamto. 1350 [7] A. Solusi Krisis Kerohanian Manusia Modern. Syafi¶i Mufid. Elias. 2000). 99 [17] Mailto: Secapramana @Yahoo. 15 [12] Saifuddin Azwar. 738 [6] Peter Salim dan Yenny Salim. 1997). hlm. hlm. hlm. 30 [8] Kartini Kartono. 1984). 2000 [14] Maurice J.net [19] Ahmad Mubarok. Dzikir sebagai Pembina Kesehatan Jiwa. 51 [13] Lihat Sukidi. Sejarah Perkembangan Tes Inteligensi Suatu Sarana Pengungkap Psikologis. 2000). Mengajarkan Emosional Inteligensi pada Anak. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jurnal Dakwah. 3 [9] Mushal dkk. Shapiro. hlm. 15 Desember. (Jakarta: Gramedia Pustaka Utama. 1991). 11 Januari-Juni 2001. 86 [10]Jalaluddin dan Ali Ahmad Zen. hlm. (Bandung: Mandar Maju. ³Arti Penting Kecerdasan Emosi dalam Dakwah´... hlm. Kamus Bahasa Indonesia Kontemporer. (Surabaya: Bina Ilmu. 19 [16] Casmini. Al-Ma¶arif. ³Anak Cerdas Dunia Akhirat´. Pengantar Psikologi Inteligensi. 11 [15] Majalah Ummi. (Surabaya: Putra Al-Ma¶arif. (Bandung: Kaifa. (Bandung: PT. 1966).Com [18] Ferysyifa @Netscape.

hlm. Alisuf Sabri. (Bandung: Remaja Rosdakarya. Emotional Intellegence. Hermaya. Ledakan EQ. T. (Bandung: Kaifa. 2002) [27] Jeanne Segal. Psikologi Pendidikan. Pengantar Psikologi. (Semarang: Dhara Prize. 1991) [25] Daniel Goleman. 1996). (Yogyakarta: Pustaka Pelajar. 55-56 [34] Al-Atapunang. Meraih Cinta Ilahi Pencerahan Sufistik.. 1991). (Yogyakarta: IAIN Suka. 234 [21] Zakiah Daradjat. hlm. Melejitkan Kepekaan Emosional. hlm. 2001) [26] Steven J. 6 [32] Rita L. sampul depan [23] Kurniawati. Hermaya. hlm. hlm.78 [31] Saifuddin Azwar. (Jakarta: Balai Pustaka. hlm. skripsi: ³Unsur-unsur Kecerdasan Emosi Menurut Daniel Goleman dalam Perspektif Alqur¶an´. terj. hlm. hlm. Pengantar Psikologi Umum dan Pengembangan. 211 [30] Depdikbud. 1999). Emotional Intelligence. Kesehatan«. Book. hlm. 90 [29] A. 47 [35] M. 2001) [28] Zakiah Daradjat.[20] Jalaluddin Rakhmat. (Jakarta: Gramedia Pustaka Utama. Kesehatan«. Kamus Besar Bahasa Indnesia. terj. 1993). Kamus Psikologi. Manusia dan Emosi (Maumere: Sekolah Tinggi Filsafat Katolik Ledalero. 1994). Kecerdasan Emosi untuk Mencapai Puncak Prestasi. (Jakarta: Gramedia Pustaka Utama. 1996). 129 [33] Ngalim Purwanto. (Bandung: Rosdakarya. (Bandung: Kaifa. T. Budiarjo dkk. (Jakarta: Pedoman Ilmu Jaya. 1987). Pengantar Psikologi Intelligensi. (Jakarta: Erlangga. Stein dan Howard E. 16 [22] Daniel Goleman. Atkinson dkk. Alex Tri Kantjono. (Jakarta: Gramedia Pustaka Utama. 74 . 2000). hlm. 2001). 2000) tidak di terbitkan [24] Daniel Goleman. terj.

. (Jakarta: Erlangga. Psikologi Umum (Bandung: Pustaka Setia). Kamus. 44 [42] Daniel Goleman. 2002). Dasar dan Tehnik Research. hlm. Rahasia Sukses Membangun Kecerdasan Emosi dan Spiritual ESQ .. [50] Anton Bakker dan Achmad Charris Zubair. 1997).. 512 [43] Komarudin Hidayat... (Jakarta: Bulan Bintang. hlm. Kiat-kiat Membesarkan Anak yang Memiliki Kecerdasan Emosional. 140 . 1975). 1982). 86 [47] Zakiah Daradjat. Metodologi Penelitian Filsafat. 10 [51] Ibid. 1988). ³Anak Cerdas Dunia Akhirat´. (Bandung: Hikmah. 173 [44] John Gottman. Kesehatan. (Bandung: Tarsito. (Jakarta: Arga. (Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.. hlm. hlm. [37] Marcolm Hardy.. (Yogyakarta: Kanisius 1996). Jon De Claire. 1350 [46] Mursal. Pengantar Umum Psikologi. Warna afektif adalah perasaan senang atau tidak senang yang selalu menyertai perbuatan manusia sehari-hari. hlm 14. (Jakarta: Bulan Bintang. hlm. hlm. hlm. 59... hlm. 1990). hlm. Steveheyes. Pendidikan Agama dalam Pembinaan Mental. 2 [45] Peter Salim. hlm. 65 [52] Winarno Surachmand. 1982).[36] Sarlito Wirawan Sarwono. Menyinari Relung-Relung Ruhani. Kamus. 55 [39] Majalah Ummi. Emotional«.. 132 [49] Zakiah Daradjat. 33 [48] Hanna Djumhana Bastaman. 59 [38] Ahmad Fauzi. Pengantar Psikologi. Emotional«. hlm. hlm. 2002). hlm. sampul belakang. hlm. hlm. (Yogyakarta: Pustaka Pelajar. 21 [40] Daniel Goleman. Integrasi Psikologi dengan Islam Menuju Psikologi Islami. [41] Ary Ginanjar Agustian..

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->