Daniel Goleman (1999), salah seorang yang mempopulerkan jenis kecerdasan manusia lainnya yang dianggap sebagai faktor

penting yang dapat mempengaruhi terhadap prestasi seseorang, yakni Kecerdasan Emosional, yang kemudian kita mengenalnya dengan sebutan Emotional Quotient (EQ). Goleman mengemukakan bahwa kecerdasan emosi merujuk pada kemampuan mengenali perasaan kita sendiri dan perasaan orang lain, kemampuan memotivasi diri sendiri dan kemampuan mengelola emosi dengan baik pada diri sendiri dan dalam hubungan dengan orang lain. Menurut hemat penulis sesungguhnya penggunaan istilah EQ ini tidaklah sepenuhnya tepat dan terkesan sterotype (latah) mengikuti popularitas IQ yang lebih dulu dikenal orang. Penggunaan konsep Quotient dalam EQ belum begitu jelas perumusannya. Berbeda dengan IQ, pengertian Quotient disana sangat jelas menunjuk kepada hasil bagi antara usia mental (mental age) yang dihasilkan melalui pengukuran psikologis yang ketat dengan usia kalender (chronological age). Terlepas dari kesalahkaprahan penggunaan istilah tersebut, ada satu hal yang perlu digarisbawahi dari para penggagas beserta pengikut kelompok kecerdasan emosional , bahwasanya potensi individu dalam aspek-aspek non-intelektual yang berkaitan dengan sikap, motivasi, sosiabilitas, serta aspek aspek emosional lainnya, merupakan faktor-faktor yang amat penting bagi pencapaian kesuksesan seseorang. Berbeda dengan kecerdasan intelektual (IQ) yang cenderung bersifat permanen, kecakapan emosional (EQ) justru lebih mungkin untuk dipelajari dan dimodifikasi kapan saja dan oleh siapa saja yang berkeinginan untuk meraih sukses atau prestasi hidup. Pekembangan berikutnya dalam usaha untuk menguak rahasia kecerdasan manusia adalah berkaitan dengan fitrah manusia sebagai makhluk Tuhan. Kecerdasan intelelektual (IQ) dan kecerdasan emosional (EQ) dipandang masih berdimensi horisontal-materialistik belaka (manusia sebagai makhluk individu dan makhluk sosial) dan belum menyentuh persoalan inti kehidupan yang menyangkut fitrah manusia sebagai makhluk Tuhan (dimensi vertikalspiritual). Berangkat dari pandangan bahwa sehebat apapun manusia dengan kecerdasan intelektual maupun kecerdasan emosionalnya. pada saat-saat tertentu, melalui pertimbangan fungsi afektif, kognitif, dan konatifnya manusia akan meyakini dan menerima tanpa keraguan bahwa di luar dirinya ada sesuatu kekuatan yang maha Agung yang melebihi apa pun, termasuk dirinya. Penghayatan seperti itu menurut Zakiah Darajat (1970) disebut sebagai pengalaman keagamaan (religious experience). Brightman (1956) menjelaskan bahwa penghayatan keagamaan tidak hanya sampai kepada pengakuan atas kebaradaan Nya, namun juga mengakui-Nya sebagai sumber nilai-nilai luhur yang abadi yang mengatur tata kehidupan alam semesta raya ini. Oleh karena itu, manusia akan tunduk dan berupaya untuk mematuhinya dengan penuh kesadaran dan disertai penyerahan diri dalam bentuk

bagan dan pengertian. pendapat. maka penulis mer sa perlu untuk a menegaskan istilah-istilah pokok yang terdapat dalam judul tersebut.[1] Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia berarti pengertian. mengungkapkan.ritual tertentu. mengendalikan amarah. dan perlawanan orang lain. kemandirian. maupun gagasan Daniel Goleman tentang kecerdasan emosi dan pendapat Zakiah Daradjat tentang kesehatan mental. kemampuan mengendalikan diri. kecerdasan emosi [ adalah kemampuan untuk merasakan. baik secara individual maupun kolektif. cita-cita yang telah dipikirkan. mengarahkan emosi.4] Jadi. memahami. secara simbolik maupun dalam bentuk nyata kehidupan sehari-hari (Abin Syamsuddin Makmun. pengertian. BAB I PENDAHULUAN Penegasan Judul Dalam penelitian ini penulis memberi judul ³KONSEP KECERDASAN EMOSI DANIEL GOLEMAN DAN RELEVANSINYA DENGAN KESEHATAN MENTAL ZAKIAH DARADJAT´ Untuk menghindari kesalahan dan demi terarahnya pembahasan. memahami perasaan. ³Kecerdasan Emosi´ Istilah ini dipopulerkan oleh Daniel Goleman pada tahun 1995[3] dan untuk pertama kalinya dilontarkan pada tahun 1990 oleh psikolog Petersolovey dari Horvard University dan Jhon Mayer dari University of Newhampshire untuk menerangkan kualitas-kualitas emosional yang tampaknya penting bagi keberhasilan hidup manusia. ³Relevansi´ . antara lain empati. sehingga dapat dimenej secara proposional ketika berhadapan dengan tantangan hidup. 2003). musibah. pendapat. rancangan.[2] Konsep yang dimaksud dalam penelitian ini adalah gambaran ide. Adapun judul yang perlu dijelaskan adalah: ³Konsep´ Diambil dari kata ³concept´ (Inggris) yang mempunyai arti konsep.

kedokteran. Jadi menurut teori ini. sosial bukan hanya dari penyakit cacat dan kelemahan.[9] Jadi. Konsep kecerdasan manusia. pandangan.[12] ternyata tes inteligensi memiliki kekurangan atau kelemahan. tes inteligensi yang muncul pada awal abad ke -20 yang dipelopori oleh Alferd Binet (1980). jika dilihat dari sejarah perkembangannya pada mulanya lahir akibat adanya berbagai tes mental yang dilakukan oleh berbagai psikolog untuk menilai manusia ke dalam berbagai tingkat kecerdasan.[11] Seiring dengan perkembangannya. yaitu tentang konsep kecerdasan manusia. mentis) artinya jiwa. semakin tinggi IQ seseorang maka semakin tinggi pula kecerdasannya.Relevansi berarti hubungan. kaitan. Diistilahkan atau lebih dikenal dengan kecerdasan intelektual (ntelligence I Quotient). kesehatan mental adalah terwujudnya keharmonisan yang sungguh-sungguh antara fungsi jiwa. perasaan.[14] . dan bahkan lebih.[8] ³Mental´ adalah kepribadian yang merupakan kebulatan yang dinamik dari seseorang yang tercermin dalam cita-cita. ternyata emosilah parameter yang paling menentukan dalam kehidupan manusia. Menurut Daniel Goleman.[7] Mental (dari kata Latin mens. serta mempunyai kesanggupan untuk menghadapi problem-problem yang biasa terjadi dan merasakan secara positif kebahagiaan.[13] Terlebih dengan adanya hasil riset terbaru yang menyata kan bahwa kecerdasan kognitif (IQ) bukanlah ukuran kecerdasan (Intelligence) yang sebenarnya. sikap. Tes IQ adalah cara yang digunakan untuk menyatakan tinggi rendahnya angka yang dapat menjadi petunjuk mengenai kedudukan tingkat kecerdasan seseorang . sikap. akan tetapi juga di bidang psikologi.[6] Dalam Undang-Undang RI bahwa sehat adalah keadaan yang meliputi kesehatan badan. ³Kesehatan Mental´ Yaitu kesehatan berasal dari kata ³sehat´ yang berarti dalam keadaan fisik yang baik. Menurut Daniel Goleman (IQ) hanya mengembangkan 20 % terhadap kemungkinan kesuksesan hidup. EQ sama ampuhnya dengan IQ. pertanian. dan semangat. nyawa.[10] Latar Belakang Masalah Ilmu pengetahuan dan teknologi selalu berkembang dengan pesatnya. roh. dan keyakinan hidup. bebas dari sakit. dan kepribadian.[5] Dan yang dimaksud relevansi dalam studi ini yaitu keterkaitan konsep kecerdasan emosi Daniel Goleman dengan kesehatan mental Zakiah Daradjat. kemampuan dan fungsi jiwanya yang berupa fikiran. mental. bukan hanya di bidang teknologi. Kekurangan itulah yang melatarbelakangi munculnya teori baru dan sebagai alat untuk menyerang teori tersebut. sementara 80 % lainnya diisi oleh kekuatan-kekuatan lain. informasi. Teori baru ini dipopulerkan oleh Daniel Goleman yang dikenal dengan istilah Kecerdasan Emosi (Emotional Intelligence).

dan mudah larut dalam kesedihan apabila mengalami kegagalan. artinya. Cerdas tidaknya emosi seseorang tergantung pada proses pembelajaran. Ia biasanya tabah dalam menghadapi kesulitan. Lantas apakah yang menentukan sukses dalam kehidupan ini? Bukan kecerdasan intelektual akan tetapi kecerdasan emosional. maka tidak mengherankan bila merugikan bagi orang lain yang berada di sekitarnya. Kecerdasan emosional diukur dari kemamapuan mengendalikan emosi dan menahan diri. Jarang sekali orang yang cerdas secara intelektual sukses dalam kehidupan. Melainkan orang-orang yang biasalah yang sukses dalam kehidupanya karena kecerdasan emosinya.[16] Survey telah membuktikan terhadap orang tua dan guru-guru adanya kecenderungan yang sama diseluruh dunia. Dalam kesehatan mental kemampuan mengendalikan emosi dan menahan diri disebut sabar. seseorang yang dilahirkan dari orang tua ber-IQ tinggi kemungkinan besar akan µmengikuti jejak¶ orang tuanya dengan ber-IQ tinggi juga. tidak mudah putus asa. Adapun kecerdasan emosi dapat tumbuh dan berkembang seumur hidup dengan belajar. egois. Oleh karena itu. dan pelatihan yang dilakukan sepanjang hayat. lebih impulsif dan agresif. ketika orang cerdas jadi bodoh . Orang yang paling sabar adalah orang yang paling tinggi dalam kecerdasan emosionalnya. di mana ada orang-orang yang diketahui ber-IQ tinggi ternyata tidak mampu mencapai prestasi yang lebih baik dari sesama yang ber-IQ lebih rendah. pengasahan. Apabila muncul perilaku-perilaku negatif yang disebabkan oleh kurangnya kecerdasan emosi. karena dengan kecerdasan emosi orang akan memiliki rasa introspeksi yang tinggi. orang yang cerdas umumnya bekerja kepada orang yang lebih bodoh darinya. Selama ini telah diketahui bahwa seseorang yang terlahir dengan IQ rendah tidak dapat direkayasa untuk menjadi seorang jenius. Daniel Goleman menemukan bahwa orang Amerika yang memiliki kecerdasan atau IQ diatas 125 umumnya bekerja kepada orang yang memiliki kecerdasan rata -rata 100. Begitu pula sebaliknya. lebih brangasan dan kurang menghargai sopan santun. atau paling tidak kurang dapat mengendalikan emosinya. lebih gugup dan mudah cemas.Ungkapan Goleman ini seolah menjadi jawaban bagi situasi µaneh¶ yang se ring terjadi di tengah masyarakat. ketika belajar tekun dapat . kecerdasan emosi sangat diperlukan bagi setiap orang. dan selalu memiliki rasa lapang dada dalam menghadapi berbagai persoalan hidup. Kelebihan lain dari kecerdasan emosi ini adalah kenyataan bahwa kecerdasan emosi bukanlah kecerdasan statis yang diperoleh karena µwarisan¶ orang tua seperti IQ. yaitu generasi sekarang.[17] Dan dari hasil penelitanya Daniel Goleman menemukan situasi yang disebut dengan when smart is damb. sehingga manusia tidak akan mudah marah. lebih banyak mengalami kesulitan emosional daripada generasi sebelumnya: lebih kesepian dan pemurung.[15] Seseorang yang belum memiliki kecerdasan emosi biasanya akan muda mengalami gangguan h kejiwaan.

Dua jam kemudian anak itu meninggal dunia. Kesehatan yang bukan menyangkut badan saja. Suatu kenyataan menunjukkan bahwa peradaban manusia yang semakin maju berakibat pada semakin kompleksnya gaya hidup manusia. Dan faktor-faktor ini pula yang menjadikan manusia sehat mentalnya. Pada suatu saat ada seorang anak meminta izin kepada orang tuanya untuk menginap dirumah kawanya. manusia menyangka dengan . duka. Karena seluruh keputusan manusia memiliki warna emosional. Ditembaklah orang yang berteriak itu sampai lehernya putus. tiba-tiba terdengar teriakan dari toilet itu. tetapi juga kesehatan mental. Taklama dari itu. [18] Manusia secara alamiah merindukan kehidupan yang tenang dan sehat baik jasmani maupun rohani. seharusnya mereka menganalisis dulu mereka lihat siapa orang itu. Ia akan diam di teile dan jika orangtuanya datang. ternyata keputusannya lebih banyak ditentukan oleh emosi daripada akal sehat. Bisa dibayangkan betapa menyesalnya kedua orangtua itu. Daniel Goleman menceritakan dalam kisah nyata betapa fatalnya orang yang tidak memiliki kecerdasan emosional. Tidak ada sama sekali keputusan yang diambil manusia murni dari pemikiran rasionalnya. Mereka masuk kerumah perlahan-lahan sambil membuka pintu untuk segera mengambil pistol lalu mengendap naik ke atas loteng tempat toilet itu berada. orangtuanyapun pergi untuk menonton opera. Bukan kepada rasio.menyesuaikan diri. manusia juga harus memmperhatikan kecerdasan emosi. Karena itulah Goleman mengusulkan selain memperhatikan kecerdasan otak. Emosi yang begitu penting itu sudah lama ditinggalkan oleh para peneliti padahal tergantung kepada emosilah bergantung suka. mereka bertindak terlalu cepat. dapat mengembangkan potensi. ia akan meloncat dari toilet itu sambil berteria Beberapa saat kemudian. orangtuanya masih menonton opera. k.sengsara dan bahagianya manusia. Pada saat itu. tidak jarang suatu keputusan diambil melalui emosinya. Kisah diatas menunjukkan akibat kecerdasan emosi yang tidak terlatih atau kategori kecerdasan emosi rendah mereka memperturutkan emosinya dalam bertindak. ia ingin membuat kejutan untuk orangtuanya ketika pulang kerumah pada waktu malam. orangtuanya pulang dari opera menjelang tengah malam. anak tersebut kembali kerumah karena tidak betah tinggal di rumah temanya. dan berhasil dal m mengatasi berbagai gangguan a dan dapat mengendalikan emosinya. Banyak orang terpukau dengan modernisasi. Anak nakal itu mempunyai rencana. Emosi sangat mempengaruhi kehidupan manusia ketika dalam mengambil keputusan. Jika seseorang memperhatikan keputusan-keputusan dalam kehidupan manusia. Ketika sampai di atas. Sementara anak itu pergi. Mereka mengikuti emosi takut dan kehawatiranya sehingga panca indranya belum sempat menyampaikan informasi yang lengkap tentang orang yang meloncat dan berteriak itu. Ketika melihat lampu toilet di rumahnya masih menyala mereka menyangka ada pencuri di rumahnya.

frustasi. serampangan. akan tetapi lebih tergantung pada cara dan sikap dalam menghadapi faktor-faktor tersebut. dan kehidupan masyarakat di sekitar. sering kali sembrono. serta menerima kegagalan itu sebagai suatu pelajaran yang akan membawa sukses nantinya. kecemasan. pesimis. dan stres. Orang yang sehat mentalnya tidak akan lekas merasa putus asa. yaitu cara seseo rang menanggapi suatu persoalan dan kemampuannya untuk menyesuaikan diri. lantah dan menyimpulkan atau melontarkan pernyataan yang sebenarnya belum final pengkajiannya pada waktu sedang emosi. Kesehatan mental dan kecerdasan emosi pula yang menentukan orang mempunyai kegairahan hidup atau bersikap pasif.[20] Tidak seorang pun yang tidak menginginkan ketenangan dan kebahagiaan dalam hidupnya. atau kecerdasan emosi tidak banyak tergantung oleh faktor-faktor luar seperti keadaan sosial. dan apatis karena dia dapat menghadapi semua rintangan atau kegagalan dalam hidup dengan tenang dan wajar. pendidikan anak.[22] Karena adanya fenomena diatas. ketentraman jiwa. sehingga banyak orang yang mengalami kegelisahan. Persaingan. yang menyebabkan manusia berkembang maju. perlombaan. buruknya kesehatan jasma hambatan ni. Ini semua dilakukan karena belum . Banyak orang yang lupa bahwa di balik modernisasi yang serba gemerlap dan memukau itu ada gejala yang dinamakan ketidaksehatan mental. meskipun tidak semua dapat mencapai yang diinginkannya itu. Dapat dikatakan. hingga ketidaksuksesan karir. sebagaian orang lantas menyelesaikannya dengan cara emosiona dan l.[19] Kebahagian manusia tidak tergantung pada fisik melainkan pada faktor pertumbuhan emosinya. dan pertentangan akibat kebutuhan dan keinginan yang harus tetap dipenuhi menjadikan orang sulit untuk memperoleh mental yang sehat.modernisasi itu serta merta akan membawa kepada kesejahteraan. dan mundur ke belakang. setiap orang akan berusaha mencarinya. Bermacam sebab dan rintangan yang mun gkin terjadi. perkembangan intelektual.. Adapun yang menentukan ketenangan dan kebahagiaan hidup di antaranya adalah kesehatan mental dan kecerdasan emosi. Sesungguhnya kesehatan mental. semakin banyak pula komplikasi hidup yang dialaminya. Dalam keadaan demikian. semakin maju orang atau masyarakat. ketidakpuasan dan emosi yang berlebih lebihan. bahwa kehidupan manusia tidak lepas dari konflik-konflik maupun problem-problem yang tidak jarang manusia mengalami keteganganketegangan.21] Begitu pula yang [ diungkapkan Daniel Goleman bahwa kerugian pribadi akibat rendahnya kecerdasan emosional dapat berkisar mulai dari kesulitan perkawinan. ekonomi. Karena emosi sebagai tenaga-tenaga penggerak dalam hidup. politik. pesimis.

. Hal ini pula yang melemahkan kecerdasan emosi. malasuai. ketidakjujuran. dan kejenuhan hidup sehingga munculnya penyakit penyakit kejiwaan yang berdampak negatif pula pada tata kehidupan pribadi dan sosial yang mengakibatkan ketidaksehatan mental atau tidak adanya kesehatan mental. muncul patologi sosial yang ada dalam berbagai bentuk penyakit kejiwaan. jadi perasaan yang ditempatkan pada tempatnya akan memperoleh mental yang sehat. Pa dahal dari generasi ke generasi manusia semakin cerdas akan tetapi ketrampilan emosional dan sosialnya merosot tajam. kebosanan. Bagaimana konsep kecerdasan emosi menurut Daniel Goleman? 2. maka sangat krusial konsep Daniel Goleman diangkat sebagai solusi karena pada dasarnya konsep-konsep Daniel Goleman mencoba melihat aspek afeksi manusia khususnya pada perasaan atau emosi manusia. dan menjadikan mental tidak sehat. Bagaimana konsep kesehatan mental menurut Zakiah Daradjat? 3. Untuk mendeskripsikan konsep kesehatan mental menurut Zakiah Daradjat. Pada persoalan ini. Seperti krisis kepercayaan.adanya kecerdasan emosi. Adapun tujuan yang hendak dicapai adalah: Untuk mendeskripsikan konsep kecerdasan emosi menurut Daniel Goleman. Bagaimana relevansi kecerdasan emosi Daniel Goleman dengan kesehatan mental Zakiah Daradjat? Tujuan dan Kegunaan Penelitian Berangkat dari rumusan masalah. Akibatnya. maka dapat dibuat rumusan masalah sebagai berikut : 1. Dan konsep-konsep yang ditawarkan Daniel Goleman akan mengantarkan manusia untuk memperoleh mental yang sehat (kesehatan mental) karena perasaan dapat mempengaruhi kesehatan mental. maka penulis mengharapkan adanya tujuan yang hendak dicapai dalam penulisan skripsi ini. Untuk mengetahui relevansi kecerdasan emosi Daniel Goleman dengan kesehatan mental Zakiah Daradjat. konsep Zakiahpun merupakan konsep yang cocok diterapkan pada zaman sekarangsss ini Rumusan Masalah Bertolak dari latar belakang yag telah diungkapkan di atas.

Adapun kegunaan penelitian ini adalah: 1.[24] . mengabaikan serangkaian penting kemampuan yang sangat besar pengaruhnya dalam menentukan keberhasilan manusia dalam kehidupan. Emotional Spiritual Quotient (ESQ). serta kepustakaan. Telaah Pustaka Telaah pustaka sangat berguna dan merupakan bagian integral dalam sebuah penelitian ilmiah. Emotional Intelligence (EQ). Paradigma kecerdasan yang berkembang sampai saat ini sungguh sangat kompleks. Secara praktis penelitian ini diharapkan dapat menjadi pertimbangan dan masukan bagi masyarakat pada umumnya dalam memahami kecerdasan emosi Daniel Goleman dan kesehatan mental Zakiah Daradjat.[23] Dalam buku ³Kecerdasan Emosional´ diterangkan bahwa pandangan manusia tentang kecerdasan manusia itu terlalu sempit. sampai pada Transendental Intelligence (TQ) yang dikatakan sebagai puncak kecerdasan manusia. Adversity Quotiens (AQ). yaitu suatu cara yang disebutnya kecerdasan emosional. Secara teoritik penelitian ini diharapkan dapat menambah khazanah ilmu pengetahuan. Ini merupakan ciri-ciri yang menandai orang yang menonjol dalam kehidupan nyata. dalam skripsi Kurniawati yang berjudul Unsur-Unsur Kecerdasan Emosi Daniel Goleman dalam perspektif Alqur¶an. Begitupula dengan kesehatan mental. mulai dari Intelligence Quotient (IQ). 2. Adapun penulis hanya memusatkan atau terfokus pada temuan baru Daniel Goleman yaitu kecerdasan emosi. Dengan memanfaatkan penelitian yang menggemparkan tentang otak dan perilaku. terutama yang berhubungan dengan kesehatan mental dan kecerdasan emosi. Faktor-faktor ini mengacu pada satu cara lain untuk menjadi cerdas. dalam skripsi ini digunakan buku-buku yang membahas persoalan Daniel Goleman tentang kecerdasan emosi. 3. Goleman memperlihatkan faktor-faktor yang terkait mengapa orang yang ber-IQ tinggi gagal dan mengapa orang yang ber-IQ sedang saja sukses. ternyata banyak sekali buku buku Zakiah Daradjat yang membahas tentang persoalan kesehatan mental baik secara langsung maupun tidak langsung Pembahasan tentang kecerdasan emosi ini telah diteliti oleh beberapa peneliti antara lain. Menawarkan dan memberikan langkah alternatif dalam proses pembentukan pribadi yang cerdas emosi dan sehat mentalnya. wawasan.

Menurut Howard kecerdasan emosi merupakan serangkaian kecakapan yang memungkinkan manusia melapangkan jalan di dunia yang rumit. pendidikan tinggi. dan kesehatan mental pula yang menentukan tanggapan seseorang terhadap persoalan dan kemampuannya dalam menyesuaikan diri. yang menentukan ketenangan dan kebahagiaan hidup adalah kesehatan mental. Dan Daniel memberikan petunjuk yang spesifik dan ilmiah untuk menumbuhkan kemampuan ini dengan menjelaskan unsur -unsur kecerdasan emosi. .000 responden di 36 negara. akal sehat yang penuh misteri dan kepekaan yang penting.Dalam buku ³ Kecerdasan Emosi untuk Mencapai Puncak Prestasi´ Goleman mendapatkan gambaran mengenai ketrampilan yang dimiliki oleh para kinerja di segala bidang dari pekerja tingkat bawah sampai posisi eksekutif. EQ mengingatkan pada ukuran standar kecerdasan otak dan wilayah EQ adalah hubungan pribadi dan antar pribadi. dan kemampuan adaptasi sosial.[29] Kecerdasan (Intelligence) adalah daya reaksi penyesuaian yang cepat dan tepat baik secara fisik atau mental terhadap pengalaman-pengalaman baru. Stern.[25] Steven J. Satu-satunya faktor yang paling penting bukanya IQ. atau apatis. atau ketrampilan teknis melainkan kecerdasan emosi. dan pertahanan dari seluruh kecerdasan. bertanggung jawab atas harga diri.[28] Landasan Teori Tinjauan Mengenai Kecerdasan Emosi Inteligensi (kecerdasan) berasal dari bahasa latin ³intelligere´ yang berarti menghubungkan atau menyatukan satu sama lain.[30] Menurut W. karena orang tersebut dapat menerima rintangan atau kegagalan dalam hidupnya dengan tenang dan wajar. kepekaan sosial. sosial. Menurutnya. Stein dan Howard dalam buku ³Ledakan EQ´ menyebutkan bahwa kecerdasan emosi dapat meningkatkan kinerja penjualan perusahaan-perusahaan terkemuka di dunia dan menghadirkan bukti ekstensif hubungan kecerdasan emosi dengan kesuksesan dan mengungkapkan hasil pen elitian terhadap 42. Bila EQ ses eorang tinggi mereka mampu memahami berbagai perasaan secara mendalam manakala perasaan-perasan muncul dan benar-benar dapat mengenali diri sendiri. aspek pribadi. kesadaran diri. Orang yang sehat mentalnya tidak akan lekas merasa putus asa. membuat pengalaman dan pengetahuan yang telah dimiliki siap untuk dipakai apabila dihadapkan pada fakta -fakta atau kondisi baru. pesimis.[27] Zakiah Daradjat dalam buku ³Kesehatan Mental´ menjelaskan arti kesehatan mental.[26] Jeanne Segal dalam buku ³Melejitkan Kepekaan Emosional´ menjelaskan bahwa emosi dan akal adalah dua bagian dari satu keseluruhan.

[34] Menurut Oxford English Dictionary.[36] Tipe-tipe emosi meliputi kegembiraan. beradaptasi. kesedihan. pembentukan. emosi adalah setiap kegiatan atau pergolakan fikiran. Adapun menurut Alfred Binet. ketakutan. benci. mengantuk. dan menyesuaikan jiwa. dan kebebasan. emosi adalah setiap keadaan pada diri seseorang yang disertai dengan warna afektif. marah. tindakan.[37] . Kemampuan untuk mengarahkan fikiran. batas perbedaan antara emosi dan perasaan terletak pada sifat kontak yang terjadi. menurut Stern Berg intelligence (kecerdasan) adalah kemampuan yang memiliki lima karakeristik umum yaitu kemampuan untuk belajar. Sebenarnya dalam bidang psikologi. Menurut Ahmad Fauzi.[35] Untuk lebih memperjelas tujuan pembahasan dalam penulisan ini. dan sebagainya. penulis ingin mengutip pengertian emosi menurut beberapa ahli.kecerdasan adalah kesanggupan jiwa untuk dapat menyesuaikan diri dengan cepat dan tepat. Dan masing-masing dapat dialami dalam taraf yang berbeda-beda sejak dari yang ringan hingga yang ekstrim. Di antara faktor-faktor yang mempengaruhi inteligensi. Menurut M. Alisuf Sabri. dan memotivasi diri sendiri dalam menyelesaikan masalah secara tepat. dapat diketahui bahwa intelligence (kecerdasan) merupakan suatu kemampuan untuk mengarahkan. serta menyelesaikan masalah yang dihadapi secara tepat. baik pada tingkat yang lemah (dangkal) maupun pada tingkat yang kuat (mendalam). kematangan. cinta.[31] Sementara itu. mendefinisikan inteligensi sebagai tindakan yang terdiri atas tiga komponen yaitu : a. c. b. Kemampuan untuk mengubah arah tindakan bila tindakan tersebut telah dilaksanakan. Kemampuan untuk mengkritik diri sendiri. antara lain pembawaan. Dalam perasaan ditemukan kesediaan kontak dengan situasi (baik positif maupun negatif). Adapun dalam emosi kontak itu seolah-olah menjadi retak atau terputus misalnya pada saat kita sangat terkejut. takut. fikiran.[33] Secara etimologis. Dan para psikolog telah berusaha memberi pengertian emosi namun pernyataan mereka masih terbentur dengan tidak adanya pemisahan secara jelas antara definisi dari perasaan dan emosi sehingga masih ambiguitas. dan sebagainya. mengambil manfaat dari pengalaman. perasaan. seorang tokoh utama perintis pengukuran intelligence yang hidup antara tahun 1857-1911.[32] Dari uraian di atas. minat. atau keadaan mental yang hebat. hal ini dapat dilihat dari tidak adanya pernyataan yang jelas tentang definisi emosi itu sendiri. berfikir secara abstrak. nafsu. memahami. kata emosi berasal dari bahasa latin e (x) yang berarti keluar dan movere yang berarti bergerak. masalah emosi merupakan masalah yang belum terpecahkan.

tantangan hidup. menerapkan daya dan kepekaan emosi sebagai sumber energi.Adapun J. informasi. pengendalian amarah.42] Kecerdasan emosi dalam perspektif [ sufi adalah kemampuan untuk tetap mengikuti tuntutan agama. takut. dan sikap hormat. Daniel mendapatka gambaran ketrampilan yang dimiliki n para bintang kinerja di segala bidang.[39] Istilah kecerdasan emosi pertama kali dilontarkan oleh psikolog Petersolovey dari Harvard University dan John Mayer dari University of New Hampshire pada tahun 1990.[41] Kecerdasan emosi adalah kemampuan memahami perasaan diri sendiri dan kemampuan memahami perasaan orang lain. kemampuan memecahkan masalah antar pribadi. terkejut. ketekunan dan kesetiakawanan. mengungkapkan dan memahami perasaan. keramahan. memperlihatkan mengapa orang yang ber-IQ tinggi justru gagal sementara orang yang ber-IQ sedang menjadi sukses. dan juga kemiskinan. ketika berhadapan dengan musibah. memahami secara efektif. kemandirian. cinta. jengkel.[38] Sementara Daniel Goleman merumuskan emosi sebagai perasaan dan fikiran-fikiran yang khas. melainkan kecerdasan emosi. yang membuat mereka berbeda dengan yang lainnya. kesedihan. Hasil risetnya yang menggemparkan dengan mendefinisikan apa arti cerdas. Dari pekerjaan tingkat bawah sampai posisi eksekutif. koneksi. kecerdasan emosi adalah kemampuan untuk merasakan. dengan menyebutkan kualifikasikualifikasi emosi manusia yang meliputi empati. suatu keadaan biologis dan psikologis serta serangkaian kecenderungan untuk bertindak. kemampuan menyesuaikan diri. emosi adalah proses perubahan jasmani karena perasaan yang meluap. Pertama secara fisiologis. dan dengan adanya temuan baru tentang otak dan manusia. kelebihan kekayaan. dan pengaruh yang manusiawi. Kedua secara psik ologis. Istilah ini populer pada tahun 1995 dan dipopulerkan oleh Daniel Goleman. faktor yang terpenting bukan kecerdasan intelektual. emosi merupakan reaksi yang menyenangkan atau tidak menyenangkan. dan kemampuan mengelola emosi yang baik pada diri sendiri dan dalam hubungannya dengan orang lain. Faktor inilah menurut Daniel yang dapat memacu seseorang pada suatu cara lain untuk menjadi cerdas yang disebutnya kecerdasan emosi.[40] Menurut Robert K. kenikmatan. dan malu. Dalam risetnya Daniel Goleman memiliki kurang lebih lima ribu perusahaan yang tersebar di seluruh dunia. seorang psikolog dari Harvard University dalam karya monumentalnya berjudul Emotional Intelligence. Emosi dapat dikelompokkan pada rasa amarah. pendidikan tinggi atau ketrampilan teknis. kemampuan memotivasi diri sendiri. Karyanya ini menjadikan beliau terkenal khususnya di bidang psikologi. keberuntungan. Bruno mendefinisikan emosi dari dua sudut pandang. Cooper. perlawanan orang lain.[43] .

Menurut Saparinah Sadli. dan merasakan secara positif kebahagiaan dan kemampuan dirinya. rendah diri. seseorang dianggap sehat secara psikologis apabila ia mampu mengembangkan dirinya sesuai dengan tuntutan orang lain dan lingkungan sekitarnya. cemas. Orientasi klasik ini banyak dianut di dunia kedokteran.Adapun menurut John Gottman. bebas dari sakit.[47] Mengenai keanekaragaman konsep kesehatan jiwa (mental). dan perbuatan. b.[45] Adapun ³mental´ adalah kepribadian yang merupakan kebulatan dinamik dari seseorang yang tercermin dalam cita-cita. Orientasi penyesuaian diri. atau perasaan tak berguna. terdapat tiga orientasi dalam kesehatan jiwa (mental) yang dapat dijadikan ukuran. c. Orientasi klasik. beberapa ahli mengemukakan orientasi umum dan pola-pola wawasan kesehatan jiwa (mental). emosi. yaitu: a. seseorang dianggap mencapai taraf kesehatan mental.48] [ Jadi. n cara menghadapi suatu hal yang menekan perasaan. dan perasaan yang dalam keseluruhan atau kebulatannya aka menentukan tingkah laku. serta mempunyai kesanggupan untuk menghadapi problem -problem yang biasa terjadi. seseorang dikatakan sehat apabila tidak mempunyai keluhan tertentu.[46] Mental adalah semua unsur-unsur jiwa termasuk pikiran. mengecewakan. kesehatan mental adalah terwujudnya keharmonisan yang sungguh-sungguh antara fungsi-fungsi jiwa. dan menangani naik turunnya kehidupan. rasa lelah. memberi motivasi diri. seperti ketegangan. sikap. bila seseorang mendapat kesempatan untuk mengembangkan potensialitasnya menuju kedewasaan sehingga seseorang dapat dihargai oleh orang lain dan dirinya sendiri. sikap. . Dalam penelitian ini akan diuraikan pandangan pakar kesehatan jiwa (mental). atau yang menggembirakan dan menyenangkan. kecerdasan emosi ini mencakup kemampuan untu mengendalikan k dengan hati. membaca isyarat sosial orang lain. menunda perasaan. Orientasi pengembangan potensi.[44] Tinjauan Mengenai Kesehatan Mental Kesehatan mental mempunyai beberapa pengertian menurut sudut pandang masing -masing orang dan sistem yang digunakan. yang semuanya menimbulkan perasaan ³sakit´ atau ³rasa tak sehat´ serta mengganggu efisiensi kegiatan sehari hari. Kesehatan berasal dari kata ³sehat´ yang berarti dalam keadaan fisik yang baik.

karena metode merupakan cara bertindak dalam upaya. serta terhindar dari kegelisahan dan pertentangan (konflik). sikap jiwa. perasaan. Pada keadaan tertentu terganggunya kesehatan mental dapat menyebabkan orang tidak mampu menggunakan kecerdasannya.Fungsi-fungsi jiwa seperti fikiran. Penyesuaian diri yang pasif dalam bentuk serba menarik diri atau serba menuruti tuntutan lingkungan adalah penyesuaian diri yang tidak sehat. karena biasanya akan berakhir dengan isolasi diri atau menjadi mudah terbawa situasi yang melingkupinya. yang menjauhkan orang dari perasaan ragu dan bimbang. kebebasan bersikap dikembangkan secara optimal sehingga mendatangkan manfaat bagi diri sendiri dan lingkungannya. sehingga dapat dikatakan adanya keharmonisan. rasa humor. Menurut pandangan ini.50] Jenis [ penelitian dalam rangka penulisan skripsi ini adalah penelitian pustaka ( library research). penyesuaian diri diartikan secara luas yakni secara aktif berupaya memenuhi tuntutan lingkungan tanpa kehilangan harga diri. Kesehatan yang penulis maksud di sini adalah terwujudnya keserasian antara fungsi kejiwaan serta terciptanya penyesuaian diri antara manusia dengan dirinya sendiri dan lingkungan yang didasarkan pada keimanan dan ketakwaan kepada Allah SWT serta diarahkan untuk mencapai kehidupan yang bermakna. kesehatan mental terjadi bila potensi-potensi kreatifitas. agar kegiatan penelitian dapat terlaksana atau tercapai hasil yang maksimal. yaitu sumber . perubahan-perubahan tidak akan menyebabkan kegelisahan dan kegoncangan jiwa. berdasarkan konsep ini pendekatan yang digunakan adalah pendekatan literer. bahagia dunia dan akhirat. Pola wawasan yang berorientasi pengembangan potensi pribadi. Dalam hal ini. Dengan demikian. rasa tanggung jawab. harus dapat saling membantu dan bekerja sama satu sama lain. yaitu mengambil bahan-bahan penelitian dari beberapa buku atau majalah yang mendukung penelitian ini.[51] Maka. Keabnormalan emosi dan tindakan juga dapat disebabkan oleh terganggunya kesehatan mental. pandangan dan keyakinan hidup.[49] Metode Penelitian Jenis Penelitian Setiap penulisan karya ilmiah tidak dapat lepas dari metode. kecerdasan. atau memenuhi kebutuhan -kebutuhan pribadi tanpa melanggar hak-hak orang lain. Pola wawasan yang berorientasi penyesuaian diri berpandangan bahwa kemampuan seseorang untuk menyesuaikan diri merupakan unsur pertama dari kondisi mental yang sehat. Zakiah Daradjat mengatakan bahwa apabila kesehatan mental terganggu dapat menyebabkan orang tidak mampu menggunakan kecerdasannya.

dan dianalisis. Ary Ginanjar Agustian dalam Rahasia Sukses Membangun Kecerdasan Emosi dan Spiritual (ESQ). Latipun dalam Kesehatan Mental Konsep dan Penerapan. Jeanne Segal dalam Melejitkan Kepekaan Emosional. kemudian data yang sudah terkumpul disusun. berupa karya Daniel Goleman Kecerdasan Emosi (Emotional Intelligence) dan Kecerdasan Emosi untuk Mencapai Puncak Prestasi (Working With Emotional Intelligence). selanjutnya penulis mengelola dan meng klasifikasikan sesuai dengan pokok-pokok bahasan dalam skripsi ini. b. seperti Jurnal Dakwah edisi Januari-Juni 2001. Hasan Langgulung dalam Teori-Teori Kesehatan Mental. Rudy Hariyono dalam Tehnik Mencapai Ketenangan Jiwa. Selain itu sumber diambil dari jurnal. Usman Najati dalam Belajar EQ dan SQ dari Sunah Nabi. Analisis data Setelah data-data yang diperlukan terkumpul. Tahap operasional penelitian pustaka ini adalah memilih dan mengkaji karya -karya Daniel Goleman dan Zakiah Daradjat dengan mengfokuskan pada batasan ko nsep kecerdasan emosi dan kesehatan mental. Sumber Data Sekunder Yaitu sumber data yang diperoleh dari pihak lain maupun karya -karya lain seperti Steven J. Stein dan Howard E. Book dalam Ledakan EQ. a.[52] .. serta Peranan Agama dalam Kesehatan Mental. Sumber Data Primer Yaitu data yang diperoleh langsung dari pihak subyek penelitian sebagai informasi yang dicari.datanya atau obyek utamanya adalah bahan-bahan pustaka yang ada kaitannya dengan persoalan yang diteliti. dan majalah Ummi edisi spesial tahun 2002 tentang Anak Cerdas Dunia Akhirat. Untuk menganalisis data yang telah terkumpulkan digunakan metode berfikir induktif yang bersifat deskriptif analisis yaitu memusatkan diri pada masalah-masalah yang ada. Sumber Data Data-data dalam penelitian ini diperoleh melalui penelusuran karya -karya pemikiran Daniel Goleman yang berkaitan dengan kecerdasan emosi dan Zakiah Daradjat yang berkaitan dengan kesehatan mental. yang telah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia. Adapun mengenai kesehatan mental digunakan buku -buku karya Zakiah Daradjat yang berjudul Kesehatan Mental. Islam dan Kesehatan Mental. dijelaskan.

Sistematika Pembahasan Untuk lebih memudahkan dalam pembahasan skripsi ini. membahas konsep kecerdasan emosi dalam pandangan Daniel Goleman.yang terdiri dari: penegasan judul. tandapenghargaan atau penghormatan. dan dibuat suatu kesimpulan yang bersifat umum yang selaras dengan rumusan masalah. tujuan dan kegunaan penelitian. 1994). khususnya tentang kecerdasan emosi dan kesehatan mental. Ledakan EQ. aktivitas dalam lembaga atau organisasi. Book. syarat-syarat yang diperlukan dalam pembangunan mental. perjalanan kariernya. Echols dan Hasan Shadily. latar belakang pendidikannya. Bab ketiga. metode penelitian. pengaruh kesehatan mental dalam hidup. dan unsur-unsur kecerdasan emosi menurut Daniel Goleman. landasan teori. kemudian mempelajari berbagai pemikiran atau pandangan Daniel dan Zakiah.serta karya-karyanya. hlm. 1996). maka disusunlah sistematika pembahasan sebagai berikut: Bab pertama adalah pendahuluan. Bab kedua membahas biografi Daniel Goleman dan Zakiah Da radjat. [1] John M. Bab kelima merupakan bab terakhir yang memuat tentang kesimpulan. yang berisi mengenal Daniel Goleman: boografinya. latar belakang masalah. Stein dan Howard E. hlm. Bab keempat. Kemudian mengenal Zakiah daradjat: biografinya. (Jakarta: Gramedia. hlm. dan sistematika pembahasan. hasilkaryanya. yang berisi: pengertian kecerdasan emosi. ciri ciri manusia yang sehat mentalnya.Dalam hal ini penulis akan berusaha mendeskripsiksn terlebih dahulu pemikiran Dan tentang iel kecerdasan emosi dan Zakiah Daradjat mengenai kesehatan mental. rumusan masalah. serta relevansi konsep kecerdasan emosi daniel Goleman dengan kesehatn mental Zakiah Daradjat. (Bandung: Kaifa. saran dan penutup. latar belakang pendidikannya. Dari data yang didapat itu diadakan proses analisis secara kritis. Indonesia.terdiri dari pengertian kesehatan mental. membahas tentang konsepsi kesehatan mental menurut Zakiah Daradjat. 313 [2] Pusat Pembinaan Bahasa Depertemen Pendidikan dan Kebudayaan RI Kamus Besar Bahasa . telaah pustaka. 520 [3] Steven J. 2002). Kamus Inggris Indonesia. (Jakarta: Balai Pustaka. 17 .

Cara-Cara Efektif Mengasuh Anak dengan EQ. 15 [12] Saifuddin Azwar. ³Arti Penting Kecerdasan Emosi dalam Dakwah´. 2000). Pengantar Psikologi Inteligensi.. 1991). Mengajarkan Emosional Inteligensi pada Anak. hlm. (Jakarta: Paramadina. 99 [17] Mailto: Secapramana @Yahoo. 1988). hlm. Shapiro. 2000 [14] Maurice J. Elias. Kamus Bahasa Indonesia Kontemporer. Hygiene Mental. 1995). Kamus Ilmu Jiwa dan Pendidikan. (Surabaya: Putra Al-Ma¶arif.net [19] Ahmad Mubarok. Kamus Ilmu Jiwa dan Pendidikan. Solusi Krisis Kerohanian Manusia Modern. hlm. (Yogyakarta: Pustaka Pelajar. (Bandung: PT. (Jakarta: Gramedia Pustaka Utama. 1314 . 1966). Syafi¶i Mufid. 86 [10]Jalaluddin dan Ali Ahmad Zen. 15 Desember. hlm. hlm. ³Anak Cerdas Dunia Akhirat´. 30 [8] Kartini Kartono. 1984). 5 [5] Departemen Pendidikan dan Kebudayaan (Depdikbud). 2000). (Jakarta: Modern English Press. (Jakarta: Balai Pustaka. hlm. 1999). Jurnal Dakwah. dkk. hlm. 4 th 2002.[4] Laurence E. hlm. hlm. ³Kecerdasan Spiritual´ Harian Kompas. hlm. Dzikir sebagai Pembina Kesehatan Jiwa. 11 Januari-Juni 2001. 1979). (Yogyakarta: Lembaga Penelitian Universitas Cokroaminoto. (Bandung: Kaifa. 51 [13] Lihat Sukidi. 3 [9] Mushal dkk. hlm.. 1984). (Bandung: Mandar Maju. 1350 [7] A. 738 [6] Peter Salim dan Yenny Salim.Com [18] Ferysyifa @Netscape. Kamus Besar Bahasa Indonesia. hlm. Al-Ma¶arif. 1997). 11 [15] Majalah Ummi. 19 [16] Casmini. Sejarah Perkembangan Tes Inteligensi Suatu Sarana Pengungkap Psikologis. 98-99 [11] Sukamto. (Surabaya: Bina Ilmu. hlm. Edisi Spesial No.

(Bandung: Kaifa. hlm. Hermaya. Kesehatan«. Hermaya. hlm. Emotional Intellegence.78 [31] Saifuddin Azwar. (Yogyakarta: Pustaka Pelajar. 1993). 129 [33] Ngalim Purwanto.. Atkinson dkk. hlm. Psikologi Pendidikan. Pengantar Psikologi Umum dan Pengembangan. T. hlm. sampul depan [23] Kurniawati. Ledakan EQ. (Yogyakarta: IAIN Suka. (Jakarta: Gramedia Pustaka Utama. skripsi: ³Unsur-unsur Kecerdasan Emosi Menurut Daniel Goleman dalam Perspektif Alqur¶an´. 2002) [27] Jeanne Segal. (Jakarta: Erlangga. Pengantar Psikologi Intelligensi. Melejitkan Kepekaan Emosional. Meraih Cinta Ilahi Pencerahan Sufistik. Emotional Intelligence. 90 [29] A. 2001) [26] Steven J. 74 . (Jakarta: Gramedia Pustaka Utama. 2000). 2001) [28] Zakiah Daradjat.[20] Jalaluddin Rakhmat. (Jakarta: Balai Pustaka. 1999). 55-56 [34] Al-Atapunang. Kamus Psikologi. Kesehatan«. 234 [21] Zakiah Daradjat. 1991) [25] Daniel Goleman. 1987). Pengantar Psikologi. 211 [30] Depdikbud. Alex Tri Kantjono. Budiarjo dkk. Kamus Besar Bahasa Indnesia. (Bandung: Kaifa. hlm. 6 [32] Rita L. 2000) tidak di terbitkan [24] Daniel Goleman. 2001). hlm. hlm. hlm. Stein dan Howard E. (Bandung: Remaja Rosdakarya. 47 [35] M. Manusia dan Emosi (Maumere: Sekolah Tinggi Filsafat Katolik Ledalero. hlm. 16 [22] Daniel Goleman. terj. terj. (Jakarta: Gramedia Pustaka Utama. (Bandung: Rosdakarya. terj. Book. 1996). 1991). Alisuf Sabri. T. (Jakarta: Pedoman Ilmu Jaya. 1994). Kecerdasan Emosi untuk Mencapai Puncak Prestasi. hlm. 1996). (Semarang: Dhara Prize.

Pengantar Umum Psikologi. hlm. 2002).. (Jakarta: Bulan Bintang. (Yogyakarta: Kanisius 1996). hlm. 1975). Kamus. hlm. (Yogyakarta: Pustaka Pelajar. 1350 [46] Mursal. Warna afektif adalah perasaan senang atau tidak senang yang selalu menyertai perbuatan manusia sehari-hari.. 59... Rahasia Sukses Membangun Kecerdasan Emosi dan Spiritual ESQ . 55 [39] Majalah Ummi. hlm.. hlm. Psikologi Umum (Bandung: Pustaka Setia). 1997). hlm. ³Anak Cerdas Dunia Akhirat´. Pendidikan Agama dalam Pembinaan Mental. Menyinari Relung-Relung Ruhani. Metodologi Penelitian Filsafat. 1982). 512 [43] Komarudin Hidayat. hlm.. hlm.. hlm. 10 [51] Ibid.. hlm. (Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.[36] Sarlito Wirawan Sarwono. hlm. 59 [38] Ahmad Fauzi. hlm. hlm. Kamus. (Jakarta: Bulan Bintang. Pengantar Psikologi. Jon De Claire. 65 [52] Winarno Surachmand. Integrasi Psikologi dengan Islam Menuju Psikologi Islami. 173 [44] John Gottman. 140 . 44 [42] Daniel Goleman. 2 [45] Peter Salim. 1990). 1988). [50] Anton Bakker dan Achmad Charris Zubair. [41] Ary Ginanjar Agustian.. hlm 14.. Dasar dan Tehnik Research. 132 [49] Zakiah Daradjat. Kesehatan. Emotional«. (Bandung: Tarsito. 33 [48] Hanna Djumhana Bastaman. Steveheyes. [37] Marcolm Hardy.. 2002). 21 [40] Daniel Goleman. (Jakarta: Arga. hlm. 86 [47] Zakiah Daradjat. 1982). Kiat-kiat Membesarkan Anak yang Memiliki Kecerdasan Emosional. Emotional«. sampul belakang. (Jakarta: Erlangga. (Bandung: Hikmah. hlm.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful