P. 1
Kesehatan Fisik Dan Mental Di Ramadhan

Kesehatan Fisik Dan Mental Di Ramadhan

|Views: 29|Likes:
Published by supardi_siho1704
Pepatah lama menyatakan: “Mens sana in corpore sano” di dalam tubuh yang sehat terdapat jiwa yang sehat (a healthy mind in a healthy body)”. Memang dalam kehidupan kita, individu, keluarga, kelompok atau bangsa diperlukan keseiramaan, karena bagaimanapun kehidupan ini lebih banyak adanya saling ketergantungan. Ketergantungan apa? Yaitu ketergantungan antara pikiran dan tubuh (fisik). Kita semua tentu tidak akan memiliki tubuh yang sehat tanpa kita memiliki pikiran (jiwa/mental) yang sehat. Misal orang yang sedang stress, atau memiliki rasa cemas (kawatir) yang berlebihan, dipastikan akan membuat tubuh kita terdapat gangguan kesehatan (sakit atau tidak sehat). Begitu sebaliknya, manakala tubuh kita tidak sehat (sedang sakit), tentu pikiran kita juga terganggu atau tidak sehat. Orang sedang kelelahan atau sakit, maka sangat sulit untuk memikirkan apapun secara baik, jernih atau cemerlang.
Kehidupan kita selalu demikian, yaitu membangun keseimbangan antara kebutuhan pikiran (jiwa) dan kebutuhan tubuh (fisik). Hal ini juga didukung adanya sebuah kenyataan bahwa kehidupan itu tidak statis, akan tetapi selalu berubah dan berubah. Kita memang tidak terasa atau merasa bahwa kehidupan itu terus berubah seperti gelombang air laut. Pernahkah kita merasakan bahwa kita telah melakukan upaya kesimbangan dalam kehidupan yang memiliki ritme yang menyerupai gelombang di lautan. Kita bekerja dibarengi dengan permainan, kita selalu belajar dan berfikir dibarengi dengan kegiatan olah fisik, kita melakukan sesuatu yang serius bersamaan kita melakukan sesuatu yang humoris dan seterusnya. Kita sering terjebak rutinitas yang jauh melakukan keseimbangan, sehingga dengan tidak adanya keseimbangan kita mengalami gangungan-gangguan kesehatan baik kesehatan pikiran atau mental dan/atau kesehatan tubuh atau fisik kita.
Kita akan menjadi manusia-manusia yang produktive atau super produktive, manakala kita bisa melakukan sesuatu dengan tingkat keseimbangan yang memadai dalam mencapai kebugaran. Dr. Irving Dardik dan Denis Waitley (dalam Samuel A Cypert) menunjukkan kebugaran yang sejati lebih dari hanya sekedar bekerja, makan, atau merasa senang terhadap diri sendiri. Kebugaran adalah kombinasi antara kesehatan fisik, gizi dan kesehatan mental. Selanjutnya juga membagi pendekatan menyeluruh terhadap kebugaran menjadi empat; (1) unsur kekuatan pikiran; (2) unsur gizi; (3) unsur latihan fisik; (4) unsur lompatan (memerintahkan potensi batin yang tersembunyi).
Berpuasa terutama di bulan ramadhon ini bagi umat Islam merupakan latihan yang secara langsung praktek (mengerjakan) dengan memiliki nilai-nilai kebugaran. Puasa dalam bulan ramadhan memiliki suasana membangun sikap mental (jiwa) yang lebih nyata. Kita kiranya semua tahu bahwa untuk membangun dan mengembangkan kesehatan mental yang terpenting adalah sikap mental yang positif. Dalam berpuasa ini kita memang ditempa jiwa kita agar tidak berperilaku dan bersikap negative. Kita tidak boleh bicara yang negative, kita tidak akan melakukan perbuatan yang buruk, kita tidak diperkenankan membicarakan perilaku orang lain yang bersifat negative, kita tidak boleh “ngrasani”(=Jawa) sikap dan perbuatan orang lain, kita tidak boleh berbohong, kita tidak boleh marah. Kita memang diseyogyakan agar tidur, sehingga kita terhindar dari perbuatan dan sikap yang negative tersebut. Ini semua benar-benar wujud latihan membangun sikap mental yang positif.
Larangan utama bagi yang berpuasa di bulan ramadhan secara fisik adalah tidak makan-minum di waktu siang hari. Ini bentuk latihan bagi tubuh dan fisik kita menjadi tubuh dan fisik yang kuat untuk menahan lapar dan dahaga. Kita lihat orang yang berpuasa tidak ada yang kemudian menjadi atau memiliki sakit kekurangan gizi. Mereka yang berpuasa tetap sehat bisa menjalankan kegiatan sebagaimana di hari-hari biasa. Tubuh kita menjadi lebih terlatih untuk lapar dan dahaga. Kita akan memiliki pengalaman dan kekuatan pada suatu ketika harus menghadapi situasi yang sangat sulit
Pepatah lama menyatakan: “Mens sana in corpore sano” di dalam tubuh yang sehat terdapat jiwa yang sehat (a healthy mind in a healthy body)”. Memang dalam kehidupan kita, individu, keluarga, kelompok atau bangsa diperlukan keseiramaan, karena bagaimanapun kehidupan ini lebih banyak adanya saling ketergantungan. Ketergantungan apa? Yaitu ketergantungan antara pikiran dan tubuh (fisik). Kita semua tentu tidak akan memiliki tubuh yang sehat tanpa kita memiliki pikiran (jiwa/mental) yang sehat. Misal orang yang sedang stress, atau memiliki rasa cemas (kawatir) yang berlebihan, dipastikan akan membuat tubuh kita terdapat gangguan kesehatan (sakit atau tidak sehat). Begitu sebaliknya, manakala tubuh kita tidak sehat (sedang sakit), tentu pikiran kita juga terganggu atau tidak sehat. Orang sedang kelelahan atau sakit, maka sangat sulit untuk memikirkan apapun secara baik, jernih atau cemerlang.
Kehidupan kita selalu demikian, yaitu membangun keseimbangan antara kebutuhan pikiran (jiwa) dan kebutuhan tubuh (fisik). Hal ini juga didukung adanya sebuah kenyataan bahwa kehidupan itu tidak statis, akan tetapi selalu berubah dan berubah. Kita memang tidak terasa atau merasa bahwa kehidupan itu terus berubah seperti gelombang air laut. Pernahkah kita merasakan bahwa kita telah melakukan upaya kesimbangan dalam kehidupan yang memiliki ritme yang menyerupai gelombang di lautan. Kita bekerja dibarengi dengan permainan, kita selalu belajar dan berfikir dibarengi dengan kegiatan olah fisik, kita melakukan sesuatu yang serius bersamaan kita melakukan sesuatu yang humoris dan seterusnya. Kita sering terjebak rutinitas yang jauh melakukan keseimbangan, sehingga dengan tidak adanya keseimbangan kita mengalami gangungan-gangguan kesehatan baik kesehatan pikiran atau mental dan/atau kesehatan tubuh atau fisik kita.
Kita akan menjadi manusia-manusia yang produktive atau super produktive, manakala kita bisa melakukan sesuatu dengan tingkat keseimbangan yang memadai dalam mencapai kebugaran. Dr. Irving Dardik dan Denis Waitley (dalam Samuel A Cypert) menunjukkan kebugaran yang sejati lebih dari hanya sekedar bekerja, makan, atau merasa senang terhadap diri sendiri. Kebugaran adalah kombinasi antara kesehatan fisik, gizi dan kesehatan mental. Selanjutnya juga membagi pendekatan menyeluruh terhadap kebugaran menjadi empat; (1) unsur kekuatan pikiran; (2) unsur gizi; (3) unsur latihan fisik; (4) unsur lompatan (memerintahkan potensi batin yang tersembunyi).
Berpuasa terutama di bulan ramadhon ini bagi umat Islam merupakan latihan yang secara langsung praktek (mengerjakan) dengan memiliki nilai-nilai kebugaran. Puasa dalam bulan ramadhan memiliki suasana membangun sikap mental (jiwa) yang lebih nyata. Kita kiranya semua tahu bahwa untuk membangun dan mengembangkan kesehatan mental yang terpenting adalah sikap mental yang positif. Dalam berpuasa ini kita memang ditempa jiwa kita agar tidak berperilaku dan bersikap negative. Kita tidak boleh bicara yang negative, kita tidak akan melakukan perbuatan yang buruk, kita tidak diperkenankan membicarakan perilaku orang lain yang bersifat negative, kita tidak boleh “ngrasani”(=Jawa) sikap dan perbuatan orang lain, kita tidak boleh berbohong, kita tidak boleh marah. Kita memang diseyogyakan agar tidur, sehingga kita terhindar dari perbuatan dan sikap yang negative tersebut. Ini semua benar-benar wujud latihan membangun sikap mental yang positif.
Larangan utama bagi yang berpuasa di bulan ramadhan secara fisik adalah tidak makan-minum di waktu siang hari. Ini bentuk latihan bagi tubuh dan fisik kita menjadi tubuh dan fisik yang kuat untuk menahan lapar dan dahaga. Kita lihat orang yang berpuasa tidak ada yang kemudian menjadi atau memiliki sakit kekurangan gizi. Mereka yang berpuasa tetap sehat bisa menjalankan kegiatan sebagaimana di hari-hari biasa. Tubuh kita menjadi lebih terlatih untuk lapar dan dahaga. Kita akan memiliki pengalaman dan kekuatan pada suatu ketika harus menghadapi situasi yang sangat sulit

More info:

Categories:Topics, Art & Design
Published by: supardi_siho1704 on Aug 25, 2010
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

08/25/2010

pdf

text

original

KESEHATAN FISIK & MENTAL

Oleh: H. Supardi Pepatah lama menyatakan: “Mens sana in corpore sano” di dalam tubuh yang sehat terdapat jiwa yang sehat (a healthy mind in a healthy body)”. Memang dalam kehidupan kita, individu, keluarga, kelompok atau bangsa diperlukan keseiramaan, karena bagaimanapun kehidupan ini lebih banyak adanya saling ketergantungan. Ketergantungan apa? Yaitu ketergantungan antara pikiran dan tubuh (fisik). Kita semua tentu tidak akan memiliki tubuh yang sehat tanpa kita memiliki pikiran (jiwa/mental) yang sehat. Misal orang yang sedang stress, atau memiliki rasa cemas (kawatir) yang berlebihan, dipastikan akan membuat tubuh kita terdapat gangguan kesehatan (sakit atau tidak sehat). Begitu sebaliknya, manakala tubuh kita tidak sehat (sedang sakit), tentu pikiran kita juga terganggu atau tidak sehat. Orang sedang kelelahan atau sakit, maka sangat sulit untuk memikirkan apapun secara baik, jernih atau cemerlang. Kehidupan kita selalu demikian, yaitu membangun keseimbangan antara kebutuhan pikiran (jiwa) dan kebutuhan tubuh (fisik). Hal ini juga didukung adanya sebuah kenyataan bahwa kehidupan itu tidak statis, akan tetapi selalu berubah dan berubah. Kita memang tidak terasa atau merasa bahwa kehidupan itu terus berubah seperti gelombang air laut. Pernahkah kita merasakan bahwa kita telah melakukan upaya kesimbangan dalam kehidupan yang memiliki ritme yang menyerupai gelombang di lautan. Kita bekerja dibarengi dengan permainan, kita selalu belajar dan berfikir dibarengi dengan kegiatan olah fisik, kita melakukan sesuatu yang serius bersamaan kita melakukan sesuatu yang humoris dan seterusnya. Kita sering terjebak rutinitas yang jauh melakukan keseimbangan, sehingga dengan tidak adanya keseimbangan kita mengalami gangungan-gangguan kesehatan baik kesehatan pikiran atau mental dan/atau kesehatan tubuh atau fisik kita. Kita akan menjadi manusia-manusia yang produktive atau super produktive, manakala kita bisa melakukan sesuatu dengan tingkat keseimbangan yang memadai dalam mencapai kebugaran. Dr. Irving Dardik dan Denis Waitley (dalam Samuel A Cypert) menunjukkan kebugaran yang sejati lebih dari hanya sekedar bekerja, makan, atau merasa senang terhadap diri sendiri. Kebugaran adalah kombinasi antara kesehatan fisik, gizi dan kesehatan mental. Selanjutnya juga membagi pendekatan menyeluruh terhadap kebugaran menjadi empat; (1) unsur kekuatan pikiran; (2) unsur gizi; (3) unsur latihan fisik; (4) unsur lompatan (memerintahkan potensi batin yang tersembunyi). Berpuasa terutama di bulan ramadhon ini bagi umat Islam merupakan latihan yang secara langsung praktek (mengerjakan) dengan memiliki nilai-nilai kebugaran. Puasa dalam bulan ramadhan memiliki suasana membangun sikap mental (jiwa) yang lebih nyata. Kita kiranya semua tahu bahwa untuk membangun dan mengembangkan kesehatan mental yang terpenting adalah sikap mental yang positif. Dalam berpuasa ini kita memang ditempa jiwa kita agar tidak berperilaku dan bersikap negative. Kita tidak boleh bicara yang negative, kita tidak akan melakukan perbuatan yang buruk, kita tidak diperkenankan membicarakan perilaku orang lain yang bersifat negative, kita tidak boleh “ngrasani”(=Jawa) sikap dan perbuatan orang lain, kita tidak boleh berbohong, kita tidak boleh marah. Kita memang diseyogyakan agar tidur, sehingga kita terhindar dari perbuatan dan sikap yang negative tersebut. Ini semua benar-benar wujud latihan membangun sikap mental yang positif. Larangan utama bagi yang berpuasa di bulan ramadhan secara fisik adalah tidak makanminum di waktu siang hari. Ini bentuk latihan bagi tubuh dan fisik kita menjadi tubuh dan fisik yang kuat untuk menahan lapar dan dahaga. Kita lihat orang yang berpuasa tidak ada yang

kemudian menjadi atau memiliki sakit kekurangan gizi. Mereka yang berpuasa tetap sehat bisa menjalankan kegiatan sebagaimana di hari-hari biasa. Tubuh kita menjadi lebih terlatih untuk lapar dan dahaga. Kita akan memiliki pengalaman dan kekuatan pada suatu ketika harus menghadapi situasi yang sangat sulit sekalipun, kita bisa tahan uji. Orang yang sering terganggu kesehatannya pada saat atau waktu kekuarang istirahat (tidur) selama sehari-semalam, ternyata selama puasa bulan ramadhan kekurangan jam tidurpun tidak membuat gangguan kesehatan. Ini menunjukkan bahwa kita memiliki potensi yang sering tidak nampak dan akhirnya menjadi kekuatan untuk melawan kebiasaan-kebiasaan yang memanjakan tubuh atau fisik yang berlebihan. Kita masih bisa menggunakan waktu dan bekerja secara produktive walaupun sedang lapar dan dahaga. Ada memang kekuatan yang lebih besar yang membuat semua bisa menjalani dan menjadi nyata bahwa latihan mental, fisik, kesehatan, potensi diri terjadi di bulan ramadhan ini, yaitu kekuatan Iman. Kepercayaan (keImanan) menjadi kekuatan yang dahsat untuk membuat manusia bisa melakukan semua aktivitas dan latihan jiwa, fisik dan kebugaran secara lebih ringan menjalankan dan mewujudkannya. Oleh sebab itu puasa bulan ramadhan merupakan tempat atau arena latihan menempa dan meningkatkan keImanan melalui latihan mental dan fisik serta sekaligus menciptakan keseimbangan pemenuhan kebutuhan jiwa dan tubuh kita. Proses demikian secara terus menerus merupakan wujud juga menjadi orang-orang yang produktive. Semoga.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->