Teori Path Analysis

Sumber: http://www.jonathansarwono.info/aj/analisis_jalur.

htm TEORI ANALISIS JALUR / PATH ANALYSIS

1.1

Sejarah Analisis Jalur

Bagaimana sejarah perkembangan analisis jalur? Teknik analisis jalur, yang dikembangkan oleh Sewal Wright di tahun 1934, sebenarnya merupakan pengembangan korelasi yang diurai menjadi beberapa interpretasi akibat yang ditimbulkannya. Lebih lanjut, analisis jalur mempunyai kedekatan dengan regresi berganda; atau dengan kata lain, regresi berganda merupakan bentuk khusus dari analisis jalur. Teknik ini juga dikenal sebagai model sebab-akibat (causing modeling). Penamaan ini didasarkan pada alasan yang bahwa analisis jalur memungkinkan pengguna dapat menguji proposisi teoritis mengenai hubungan sebab dan akibat tanpa memanipulasi variabel-variabel. Memanipulasi variabel maksudnya ialah memberikan perlakuan (treatment) terhadap variabel-variabel tertentu dalam pengukurannya. Asumsi dasar model ini ialah beberapa variabel sebenarnya mempunyai hubungan yang sangat dekat satu dengan lainnya. Dalam perkembangannya saat ini analisis jalur diperluas dan diperdalam kedalam bentuk analisis “Structural Equation Modeling” atau dikenal dengan singkatan SEM.

1.2

Pengertian

Apa sebenarnya analisis jalur itu? Terdapat beberapa definisi mengenai analisis jalur ini, diantaranya : “Analisis jalur ialah suatu teknik untuk menganalisis hubungan sebab akibat yang tejadi pada regresi berganda jika variabel bebasnya mempengaruhi variabel tergantung tidak hanya secara langsung tetapi juga secara tidak langsung”. (Robert D. Retherford 1993). Sedangkan definisi lain mengatakan: “Analisis jalur merupakan pengembangan langsung bentuk regresi berganda dengan tujuan untuk memberikan estimasi tingkat kepentingan (magnitude) dan signifikansi (significance) hubungan sebab akibat hipotetikal dalam seperangakat variabel.” (Paul Webley 1997). David Garson dari North Carolina State University mendefinisikan analisis jalur sebagai “Model perluasan regresi yang digunakan untuk menguji keselarasan matriks korelasi dengan dua atau lebih model hubungan sebab akibat yang dibandingkan oleh peneliti. Modelnya digambarkan dalam bentuk gambar lingkaran dan panah dimana anak panah tunggal menunjukkan sebagai penyebab. Regresi dikenakan pada masing-masing variabel dalam suatu model sebagai variabel tergantung (pemberi respon) sedang yang lain sebagai penyebab. Pembobotan regresi diprediksikan dalam suatu model yang dibandingkan dengan matriks korelasi yang diobservasi untuk semua variabel dan dilakukan juga penghitungan uji keselarasan statistik. (David Garson, 2003). Dari definisi-definisi di atas dapat dsimpulkan bahwa sebenarnya analisis jalur merupakan kepanjangan dari analisis regresi berganda.

1.3

Prinsip-Prinsip Dasar Prinsip-prinsip dasar yang sebaiknya dipenuhi dalam analisis jalur diantaranya ialah:

korelasi polychoric untuk dua variabel berksala ordinal. Jika dilanggar. Adanya recursivitas. Semua anak panah mempunyai satu arah. maka sebaiknya untuk riset yang sebenarnya gunakan sample minimal 100 untuk memperoleh hasil analisis yang signifikan dan lebih akurat. Semua variabel residual (yang tidak diukur) tidak berkorelasi dengan salah satu variabel-variabel dalam model. Spesifikasi model Kesalahan spesifikasi Semua koefesien jalur diukur dan tidak akan dan tidak langsung. Artinya jika kita menggunakan matriks korelasi sebagai masukan.• • • Adanya linearitas (Linearity). Sebaiknya hanya terdapat multikoliniearitas yang rendah. b. maka akan berakibat hasil regresi menjadi tidak tepat untuk mengestimasikan parameter-parameter jalur. tidak boleh terjadi pemutaran kembali (looping). Semua variabel yang diobservasi mempunyai data berskala interval (scaled values). polyserial untuk satu variabel interval dan lainnya ordinal. terjadi ketika variabel penyebab yang signifikan dikeluarkan dari model. maka korelasi Pearson digunakan untuk dua variabel berskala interval. Hubungan antar variabel bersifat linear Adanya aditivitas (Additivity). Sampel sama dibutuhkan untuk pengitungan regresi dalam model jalur. Istilah gangguan (disturbance terms) atau variabel residual tidak boleh berkorelasi dengan semua variabel endogenous dalam model. Multikolinieritas maksudnya dua atau lebih variabel bebas (penyebab) mempunyai hubungan yang sangat tinggi. Kelayakan ini diketahui jika angka Standard Error of Estimate < Standard Deviation . Jika terjadi hubungan yang tinggi maka kita akan mendapatkan standar error yang besar dari koefesien beta (b) yang digunakan untuk menghilangkan varians biasa dalam melakukan analisis korelasi secara parsial. benar diperlukan untuk menginterpretasi koefesien-koefesien jalur. Kelayakan ini diketahui jika angka signifikansi pada ANOVA sebesar < 0. akan merefleksikan kovarians bersama dengan semua variabel yang tidak dapat diinterpretasi secara tepat dalm kaitannya dengan akibat langsung • • • • • • Terdapat masukan korelasi yang sesuai. yaitu: a. Model regresi harus layak. Tidak ada efek-efek interaksi Data berskala interval. Jika data belum dalam bentuk skala interval. • • • Asumsi analisi jalur mengikuti asumsi umum regresi linear. Terdapat ukuran sampel yang memadai. sebaiknya data diubah dengan menggunakan metode suksesive interval (MSI) terlebih dahulu. Jika dalam contoh ini hanya diberikan 30 sampel. dan biserial untuk satu variabel berskala interval dan lainnya nominal. tetrachoric untuk dua variabel dikotomi (berskala nominal).05 Predictor yang digunakan sebagai variable bebas harus layak.

artinya tidak boleh terjadi korelasi yang sangat tinggi atau sangat rendah antar variable bebas. Tidak boleh terjadi multikolinieritas. Terjadi otokorelasi jika angka Dubin dan Watson sebesar < 1 dan > 3 1.4 Konsep-Konsep dan Istilah Dasar Dalam analisis jalur dikenal beberapa konsep dan istilah dasar.konsep dan istilah dasar tersebut: 1 2 3 4 P21 P31 P41 P32 P43 P42 e2 e3 e4 r21 . Pengujian dilakukan dengan Uji T. Koefesien regresi harus signifikan.c. Koefesien regresi signifikan jika T hitung > T table (nilai kritis) d. e. Dengan gambar model di bawah ini akan diterangkan konsep. Tidak terjadi otokorelasi.

selain pada bagian kesalahan pengukuran. Variabel exogenous. Jika antara variabel exogenous dikorelasikan maka korelasi tersebut ditunjukkan dengan anak panah dengan kepala dua yang menghubungkan variabel-variabel tersebut. Model jalur ialah suatu diagram yang menghubungkan antara variabel bebas.• • • Model jalur. Variabel – variabel exogenous dalam suatu model jalur ialah semua variabel yang tidak ada penyebab-penyebab eskplisitnya atau dalam diagram tidak ada anak-anak panah yang menuju kearahnya. perantara dan tergantung. Anak panah juga menghubungkan kesalahan (variabel residue) dengan semua variabel endogenous masingmasing. . Jalur penyebab untuk suatu variabel yang diberikan meliputi pertama jalur-jalur arah dari anak-anak panah menuju ke variabel tersebut dan kedua jalur-jalur korelasi dari semua variabel endogenous yang dikorelasikan dengan variabel-variabel yang lain yang mempunyai anak panahanak panah menuju ke variabel yang sudah ada tersebut. Pola hubungan ditunjukkan dengan menggunakan anak panah. Anak panah-anak panah tunggal menunjukkan hubungan sebab–akibat antara variabel-variabel exogenous atau perantara dengan satu variabel tergantung atau lebih. Anak panah ganda menunjukkan korelasi antara pasangan variabel-variabel exogenous.

Aturan multiplikasi jalur. kita dapat menggunakan t standar atau pengujian F dari angkaangka keluaran regresi. Dalam analisi jalur tidak digunakan istilah variabel bebas ataupun tergantung. Dalam model ini satu variabel tidak dapat berfungsi sebagai penyebab dan akibat dalam waktu yang bersamaan. Model Recursive. Sedang untuk melakukan pengujian model dengan semua jalurnya. Model penyebab dengan disertai arah yang membalik (feed back loop) atau adanya pengaruh sebab akibat (reciprocal). maka pengaruh penyebab total suatu variabel ‘i’ terhadap variabel ‘j’ adalah jumlah semua nilai jalur dari “i” ke “j”.• • • • • • • • • • • • • Variabel endogenous. Sedang untuk menggambarkan korelasi. Variabel perantara endogenous mempunyai anak panah yang menuju kearahnya dan dari arah variabel tersebut dalam sutau model diagram jalur. maka koefesien-koefesien jalurnya merupakan koefesienkoefesien regresi parsial yang mengukur besarnya pengaruh satu variabel terhadap variabel lain dalam suatu model jalur tertentu yang mengontrol dua variabel lain sebelumnya dengan menggunakan data yang sudah distandarkan atau matriks korelasi sebagai masukan. Jika semua variabel exogenous dikorelasikan. Ada kalanya hubungan sebab akibat menghasilkan angka negatif. Anak panah dengan satu kepala dan dua kepala. Jika suatu model sudah benar. Model Non-recursive. Variabel endogenous ialah variabel yang mempunyai anak-anak panah menuju kearah variabel tersebut. Pengaruh langsung yang dapat dilihat dari koefesien jalur dari satu variable ke variable lainnya. maka jumlah semua koefesien (standar) akan sama dengan koefesien korelasi. maka sebagai penanda hubungannya ialah anak panah dengan dua kepala yang dihubungkan diantara variabel-variabel dengan koefesien korelasinya. Jika ingin menggambarkan penyebab. yaitu untuk data yang sudah distandarisasi dimana koefesien regresi sederhana sama dengan kefesien korelasi. Koefesien jalur adalah koefesien regresi standar atau disebut ‘beta’ yang menunjukkan pengaruh langsung dari suatu variabel bebas terhadap variabel tergantung dalam suatu model jalur tertentu. Variabel-variabel exogenous yang dikorelasikan. Koefesien jalur / pembobotan jalur. maka kita menggunakan anak panah dengan satu kepala. Istilah gangguan. Pola hubungan. Indirect Effect. Sedang variabel tergantung hanya mempunyai anak panah yang menuju kearahnya. kita menggunakan anak panah yang melengkung dengan dua kepala. diantaranya mencakup semua variabel yang sesuai dan mengeluarkan semua variabel yang tidak sesuai. Urutan jalur melalui satu atau lebih variable perantara. Model penyebab yang mempunyai satu arah. Ini didasarkan pada aturan bahwa dalam suatu sistem linear. Oleh karena itu. Nilai dari suatu jalur gabungan adalah hasil semua koefesien jalurnya. Tidak ada arah membalik (feed back loop) dan tidak ada pengaruh sebab akibat (reciprocal). untuk menggambarkan hasil yang negatif digunakan garis putus-putus. kita dapat menggunakan uji keselarasan dari program. Untuk melakukan pengujian koefesien – koefesien jalur secara individual. Sebagai gantinya kita menggunakan istilah variabel exogenous dan endogenous. Istilah kesalahan residual yang secara teknis disebut sebagai ‘gangguan’ atau “residue” mencerminkan adanya varian yang tidak dapat diterangkan atau pengaruh dari semua variabel yang tidak terukur ditambah dengan kesalahan pengukuran. Koefesien-koefesien jalur dapat digunakan untuk mengurai korelasikorelasi dalam suatu model kedalam pengaruh langsung dan tidak langsung yang berhubungan dengan jalur langsung dan tidak langsung yang direfleksikan dengan anak panah – anak panah dalam suatu model tertentu. Signifikansi dan Model keselarasan dalam jalur. jika suatu model mempunyai dua atau lebih variabel-variabel penyebab. Decomposisi pengaruh. Variabel yang termasuk didalamnya ialah mencakup semua variabel perantara dan tergantung. maka jumlah nilai-nila jalur dari I ke j akan sama dengan koefesien regresi untuk j yang diprediksi didasarkan pada I. Direct Effect. .

diantaranya diterangkan di bawah ini : 1.1. .1 Tipe Regresi Berganda Model pertama ini sebenarnya merupakan pengembangan regresi berganda dengan menggunakan dua variabel exogenous. Model digambarkan sebagai berikut : X1 X2 Y Contoh : Dalam kasus pengaruh harga dan promosi terhadap penjualan. variabel harga dan promosi adalah variabel exogenous dan variabel penjualan adalah variabel endogenous. maka X1 adalah variabel harga dan X2 adalah variabel promosi sedangkan Y adalah variabel penjualan.5.5 Tipe Model-model Jalur Ada beberapa model jalur mulai dari yang paling sederhana sampai dengan yang lebih rumit. Dalam terminologi analisis jalur. yaitu X1 dan X2 dengan satu variabel endogenous Y.

Jika diterapkan dalam model kedua ini. Hasilnya penjualan produk terus menurun. Variabel produk mempengaruhi variabel penjualan melalui variabel kualitas produk. . sebuah perusahaan menjual produk dengan harga murah dengan mengabaikan kualitas produk itu sendiri. maka variabel X adalah produk.5.2 Model Mediasi Model kedua adalah model mediasi atau perantara dimana variabel Y memodifikasi pengaruh variabel X terhadap variabel Z. variabel Y adalah variabel kualitas produk dan variabel Z adalah variabel penjualan. Model digambarkan sebagai berikut: X Z Y Contoh : Karena menginginkan suatu produk laku keras.1.

yaitu variabel X berpengaruh terhadap variabel Z secara langsung dan secara tidak langsung mempengaruhi variabel Z melalui variabel Y.3 Model Kombinasi Pertama dan Kedua Model ketiga ini merupakan kombinasi antara model pertama dan kedua.1. Model digambarkan sebagai berikut : X Z Y Contoh : Kualitas layanan yang diberikan suatu perusahaan dipengaruhi oleh kinerja pegawai yang pada akhirnya akan mempengaruhi tingkat kepuasan pelanggan. 1. variabel Y adalah kualitas layanan dan variabel Z adalah kepuasan pelanggan. Kinerja pegawai secara langsung mempengaruhi kepuasan pelanggan demikian pula kinerja pegawai akan mempengaruhi kualitas layanan yang kemudian akan berpengaruh terhadap kepuasan pelanggan.5. Dalam kasus ini variabel X adalah kinerja pegawai.4 Model Kompleks .5.

Selanjutnya patologi anak tahap kedua atau Y2 juga dipengaruhi oleh patologi ibu tahap pertama.Model keempat ini merupakan model yang lebih kompleks. Model digambarkan sebagai berikut : X1 X2 Y1 Y2 Contoh: Contoh kasus ini diambil dari hasil penelitian Sawyer dkk dalam masalah psikologi. yaitu (jalur antara X2 dan Y2 ) . sementara itu variabel Y2 juga dipengaruhi oleh variabel Y1. dan mirip dengan kejadian tersebut patologi tahap pertama anaknya atau variabel Y1 akan mempengaruhi patologi tahap kedua anak tersebut atau variabel Y2. yaitu variabel X 1 secara langsung mempengaruhi Y2 dan melalui variabel X2 secara tidak langsung mempengaruhi Y2. yaitu (jalur antara X1 dan Y2) dan tahap kedua. Kasusnya sebagai berikut: X1 adalah psikopatologi tahap pertama seorang ibu yangakan menjadi penentu terhadap patologi tahap kedua ibu yang bersangkutan dalam hal ini adalah variabel X2 .

Model recursif ialah jika semua anak panah menuju satu arah seperti gambar di bawah ini : 1 2 3 4 P21 P31 P41 P32 P43 P42 e2 e3 e4 r21 .5.1.5 Model Recursif dan Non Recursif Dari sisi pandang arah sebab akibat. ada dua tipe model jalur. yaitu recursif dan non recursif.

.

Pada bagian berikut ini untuk mempermudah pembaca dalam memahami analisis jalur. yaitu 2. dan 4. penulis akan menggunakan model-model jalur sbb: a. Model persamaan dua jalur c. misalnya dari 4 ke 1 Hanya terdapat satu variabel exogenous. manjemen sumber daya manusia dan kewirausahaan.Model tersebut dapat diterangkan sebagai berikut: • • • Anak panah menuju satu arah. 3. Tidak ada arah yang terbalik. Model non recursif terjadi jika arah anak panah tidak searah atau terjadi arah yang terbalik (looping). Model persamaan tiga jalur Ketiga model ini akan diaplikasikan dalam riset pemasaran. misalnya dari 4 ke 3 atau dari 3 ke 1 dan 2.3. Satu variabel endogenous dapat menjadi penyebab variabel endogenous lainnya tetapi bukan ke variabel exogenous. dari 2 ke 3 dan dari 3 menuju ke 4. Masing-masing variabel endogenous diterankan oleh variabel 1 dan error (e2. e3 dan e4). atau bersifat sebab akibat (reciprocal casue). dan 4. . yaitu dari 1 ke 2. Model persamaan satu jalur b. keuangan. yaitu 1 dan tiga variabel endogenous.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful