P. 1
Materi Tarbiyah 1427 H - Aqidah (1)

Materi Tarbiyah 1427 H - Aqidah (1)

5.0

|Views: 7,711|Likes:
Published by Nailul
Materi Tarbiyah Serial Aqidah, Edisi Lengkap
Materi Tarbiyah Serial Aqidah, Edisi Lengkap

More info:

Published by: Nailul on Aug 27, 2010
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF or read online from Scribd
See more
See less

06/17/2013

pdf

Aqidah

Serial Manhaj Tarbawi

AQIDAH AQIDAH AQIDAH AQIDAH




















MATERI TARBIYAH


Aqidah
DAFTAR ISI


Urgensi Syahadat Urgensi Syahadat Urgensi Syahadat Urgensi Syahadat ( (( (Ahammiyatus Ahammiyatus Ahammiyatus Ahammiyatus Syahadatain Syahadatain Syahadatain Syahadatain) )) )
Kandungan Kalimat Syahadat (Madludlu Syahadatain) Kandungan Kalimat Syahadat (Madludlu Syahadatain) Kandungan Kalimat Syahadat (Madludlu Syahadatain) Kandungan Kalimat Syahadat (Madludlu Syahadatain)
Syarat Diterimanya Syahadatain (Syurut Q Syarat Diterimanya Syahadatain (Syurut Q Syarat Diterimanya Syahadatain (Syurut Q Syarat Diterimanya Syahadatain (Syurut Qo oo obulu Syahadatain) bulu Syahadatain) bulu Syahadatain) bulu Syahadatain)
Hal Hal Hal Hal- -- -Hal yang Membatalkan Hal yang Membatalkan Hal yang Membatalkan Hal yang Membatalkan Syahadat Syahadat Syahadat Syahadat
Makna Laa Ilaaha Illalloh Makna Laa Ilaaha Illalloh Makna Laa Ilaaha Illalloh Makna Laa Ilaaha Illalloh
Larangan Berhubungan dengan Jin Larangan Berhubungan dengan Jin Larangan Berhubungan dengan Jin Larangan Berhubungan dengan Jin
Mengenal Allah (Ma’rifatullah) Mengenal Allah (Ma’rifatullah) Mengenal Allah (Ma’rifatullah) Mengenal Allah (Ma’rifatullah)
Ilmu Allah Ilmu Allah Ilmu Allah Ilmu Allah
Mengenal Agama Islam (Ma’rifatu Dinil Islam) Mengenal Agama Islam (Ma’rifatu Dinil Islam) Mengenal Agama Islam (Ma’rifatu Dinil Islam) Mengenal Agama Islam (Ma’rifatu Dinil Islam)
Kesempurnaan Islam (Syumuliyatul Islam) Kesempurnaan Islam (Syumuliyatul Islam) Kesempurnaan Islam (Syumuliyatul Islam) Kesempurnaan Islam (Syumuliyatul Islam)
Mengenal Rasul (Ta’rifur Rasul) Mengenal Rasul (Ta’rifur Rasul) Mengenal Rasul (Ta’rifur Rasul) Mengenal Rasul (Ta’rifur Rasul)
Setiap Umat Diutus Rasul Setiap Umat Diutus Rasul Setiap Umat Diutus Rasul Setiap Umat Diutus Rasul
Kewa Kewa Kewa Kewajiban Beriman Kepada Semua Rasul jiban Beriman Kepada Semua Rasul jiban Beriman Kepada Semua Rasul jiban Beriman Kepada Semua Rasul
Kebutuhan Manusia Terhadap Rasul (Hajatul Insan Ila Rasul) Kebutuhan Manusia Terhadap Rasul (Hajatul Insan Ila Rasul) Kebutuhan Manusia Terhadap Rasul (Hajatul Insan Ila Rasul) Kebutuhan Manusia Terhadap Rasul (Hajatul Insan Ila Rasul)
Kedudukan Rasul (Makanatur Rasul) Kedudukan Rasul (Makanatur Rasul) Kedudukan Rasul (Makanatur Rasul) Kedudukan Rasul (Makanatur Rasul)
Sifat Sifat Sifat Sifat- -- -Sifat Rasul (Shifatur Rasul) Sifat Rasul (Shifatur Rasul) Sifat Rasul (Shifatur Rasul) Sifat Rasul (Shifatur Rasul)
Tugas Tugas Tugas Tugas- -- -Tugas Rasul (Wazhifatur Rasul) Tugas Rasul (Wazhifatur Rasul) Tugas Rasul (Wazhifatur Rasul) Tugas Rasul (Wazhifatur Rasul)
Kewajiban Kita Terhadap Rasul (Wajibatul Muslim Nahwar Ras Kewajiban Kita Terhadap Rasul (Wajibatul Muslim Nahwar Ras Kewajiban Kita Terhadap Rasul (Wajibatul Muslim Nahwar Ras Kewajiban Kita Terhadap Rasul (Wajibatul Muslim Nahwar Rasul) ul) ul) ul)
Kekhususan Risalah Nabi Muhammad SAW (Khashais Risalah Na Kekhususan Risalah Nabi Muhammad SAW (Khashais Risalah Na Kekhususan Risalah Nabi Muhammad SAW (Khashais Risalah Na Kekhususan Risalah Nabi Muhammad SAW (Khashais Risalah Nabi Muhammad bi Muhammad bi Muhammad bi Muhammad
SAW) SAW) SAW) SAW)
Keumuman Risalah Nabi Muhammad SAW Keumuman Risalah Nabi Muhammad SAW Keumuman Risalah Nabi Muhammad SAW Keumuman Risalah Nabi Muhammad SAW
Makna Muhammad SAW Sebagai Penutup Para Nabi Makna Muhammad SAW Sebagai Penutup Para Nabi Makna Muhammad SAW Sebagai Penutup Para Nabi Makna Muhammad SAW Sebagai Penutup Para Nabi
Buah dan Manfaat dari Mengikuti Rasulullah SAW (Nataiju Buah dan Manfaat dari Mengikuti Rasulullah SAW (Nataiju Buah dan Manfaat dari Mengikuti Rasulullah SAW (Nataiju Buah dan Manfaat dari Mengikuti Rasulullah SAW (Nataiju Ittiba’ Rasul SAW) Ittiba’ Rasul SAW) Ittiba’ Rasul SAW) Ittiba’ Rasul SAW)
Hikmah Diutusnya Para R Hikmah Diutusnya Para R Hikmah Diutusnya Para R Hikmah Diutusnya Para Rasul asul asul asul
Beriman Kepada Malaikat Beriman Kepada Malaikat Beriman Kepada Malaikat Beriman Kepada Malaikat
Beriman Kepada Hari Akhir Beriman Kepada Hari Akhir Beriman Kepada Hari Akhir Beriman Kepada Hari Akhir
Beriman Kepada Qadha dan Qadar Beriman Kepada Qadha dan Qadar Beriman Kepada Qadha dan Qadar Beriman Kepada Qadha dan Qadar
Ihsan Ihsan Ihsan Ihsan

Aqidah
URGENSI SYAHADAT
(AHAMMIYATUS SYAHADATAIN)


Kalimat syahadatain adalah kalimat yang tidak asing lagi bagi umat Islam. Kita senantiasa
menyebutnya setiap hari, misalnya ketika shalat dan azan. Kalimat syahadatain sering
diucapkan oleh umat Islam dalam pelbagai keadaan. Kita menghafal kalimat syahadah dan
dapat menyebutnya dengan fasih. Namun, demikian sejauh manakah makna kalimat ini
dipahami dan diamalkan dalam kehidupan sehari-hari kaum Islam?
Pertanyaan tersebut perlu dijawab dengan realitas yang ada. Tingkah laku umat Islam
yang terpengaruh dengan budaya jahiliyah atau cara hidup Barat, memberi gambaran
bahwa syahadah tidak cukup memberi pengaruh. Terbukti tidak sedikit dari umat Islam
yang masih melakukan perkara-perkara yang dilarang Allah dan meninggalkan perintah-
Nya, memberi kesetiaan bukan kepada kaum muslimin, atau tidak mensyukuri sesuatu
yang diberikan kepada mereka. Itu adalah contoh dari wujud seseorang yang tidak

Aqidah
memahami syahadah yang dibacanya dan tidak mengerti makna yang sebenarnya dari
syahadah.
Kalimat syahadah merupakan asas utama dan landasan penting bagi rukun Islam. Tanpa
syahadah, rukun Islam lainnya akan runtuh. Begitu juga dengan rukun iman. Tegaknya
syahadah dalam kehidupan individu akan menegakkan ibadah dan dien dalam hidup kita.
Dengan syahadatain terwujudlah sikap ruhani yang akan memberikan motivasi kepada
tingkah laku jasmaniah dan akal pikiran, serta memotivasi kita untuk melaksanakan rukun
Islam lainnya.
Tegaknya Islam mesti didahului oleh tegaknya rukun Islam; dan tegaknya rukun Islam
mesti didahului oleh tegaknya syahadah. Rasulullah saw. mengisyaratkan bahwa Islam itu
bagaikan sebuah bangunan. Untuk berdirinya bangunan Islam itu harus ditopang oleh 5
(lima) tiang pokok, yaitu syahadatain, shalat, saum, zakat, dan haji ke Baitulllah.
Di zaman Nabi saw., kalangan masyarakat Arab memahami betul makna syahadatain ini.
Terbukti dalam suatu peristiwa dimana Nabi saw. mengumpulkan para pemimpin Quraisy
dari kalangan Bani Hasyim, Nabi saw. bersabda, “Wahai saudara-saudara, maukah kalian
aku beri satu kalimat, dimana dengan kalimat itu kalian akan dapat menguasai seluruh
jazirah Arab?” Kemudian Abu Jahal menjawab, “Jangankan satu kalimat, sepuluh kalimat
berikan kepadaku.” Kemudian Nabi saw. bersabda, “Ucapkanlah laa ilaha illa Allah dan
Muhammad Rasulullah.” Abu Jahal pun menjawab, “Kalau itu yang engkau minta, berarti
engkau mengumandangkan peperangan dengan semua orang Arab dan bukan Arab.”
Penolakan Abu Jahal kepada kalimat ini bukan karena dia tidak paham akan makna dari
kalimat itu. Justru sebaliknya. Dia tidak mau menerima sikap yang mesti tunduk, taat, dan
patuh kepada Allah swt. saja Dia sadar betul jika ia bersikap seperti itu, maka semua orang
akan tidak tunduk lagi kepadanya. Abu Jahal ingin mendapatkan loyalitas dari kaum dan
bangsanya. Penerimaan syahadah bermakna menerima semua aturan dan segala akibatnya.
Penerimaan inilah yang sulit bagi kaum jahiliyah untuk mengaplikasikan syahadah.
Sebenarnya, apabila mereka memahami bahwa loyalitas kepada Allah itu juga akan
menambah kekuatan bagi diri mereka. Mereka yang beriman semakin dihormati dan
semakin dihargai. Mereka yang memiliki kemampuan dan ilmu akan mendapatkan
kedudukan yang sama apabila ia sebagai muslim (Abu Jahal adalah tokoh di kalangan
Arab jahiliyah dan ia memiliki banyak potensi, diantaranya ia sebagai Abu Amr (ahli
hukum). Setiap individu yang bersyahadah, maka ia menjadi khalifatullah fil Ardhi.
Kalimat syahadah mesti dipahami dengan benar karena di dalamnya terdapat makna yang
sangat tinggi. Dengan syahadah, kehidupan kita akan dijamin bahagia di dunia ataupun di
akhirat. Syahadah sebagai kunci kehidupan dan tiang dien (agama Islam). Oleh karena itu,
marilah kita bersama memahami syahadatain ini.


Aqidah
Syahadat adalah Pintu Masuk ke dalam Islam (Al-Madkhal ila Al-Islam)
Sahnya iman seseorang adalah dengan menyebutkan syahadatain. Kesempurnaan iman
seseorang bergantung kepada pemahaman dan pengamalan syahadatain. Syahadatain
membedakan manusia kepada muslim dan kafir. Pada dasarnya setiap manusia telah
bersyahadah Rububiyah di alam arwah, tetapi ini saja belum cukup. Untuk menjadi
muslim, mereka harus bersyahadah Uluhiyah dan syahadah Risalah di dunia.
. · ..` . · ¸ ` · · · - ¸ - ¸` · ·` . ·` , · ` · ¸
` .` . ' ¸ ` .` .` ·` · · ` .` . · - · ,· . ¯ ¸` · ' ·` . · ¸ ' :` ¸ ,
` .` · . , · · ..` ` -` · . ' ` · · . ' : : .` · ~ '
. , · · ` , ·` . ¸ ¯ ¸ · . . . ¸` - ` . .` , · ¸ · ` · · . ' ` .` ·` ` - ' ·
-` .` · · . ` . .` , · ¸ · ` · · . ' ` .` ·` ` - ' · : : .` · ~ ' ` .` ·
' · ` · ` . . , · ' ` ¸ · . ¯ ·` , · : : .` · ~ ' ` .` · . , · ` . . · ¸ ·
` . - - · ¸` , ` · ` , ¸` , ` ·` , · ·. = · .` · · ,` ` . . .` · '
Rasulullah bersabda kepada Muadz bin Jabal saat mengutusnya ke penduduk Yaman,
“Kamu akan datang kepada kaum ahli kitab. Jika kamu telah sampai kepada mereka,
ajaklah mereka agar bersaksi bahwa tiada tuhan selain Allah dan Muhammad utusan
Allah. Jika mereka mentaatimu dalam hal itu, beritakan kepada mereka bahwa Allah telah
mewajibkan kepada mereka lima shalat setiap siang dan malam. Jika mereka mentaatimu
dalam hal itu beritakan kepada mereka bahwa Allah telah mewajibkan sedekah (zakat)
yang diambil dari orang-orang kaya di antara mereka dan dikembalikan kepada orang-
orang miskin. Jika mereka mentaatimu dalam hal itu, hati-hatilah kamu terhadap
kemuliaan harta mereka dan waspadalah terhadap doanya orang yang dizalimi, sebab
antaranya dan Allah tidak ada dinding pembatas.” (HR. Bukhari dan Muslim).
Berikut ini pernyataan Rasulullah saw. tentang misi Laa ilaha illallah dan kewajiban
manusia untuk menerimanya.
Dari Abdullah bin Umar bahwa Rasulullah saw. bersabda:

Aqidah
..` ` -` · . ' ` · · . ' ` .` ¸` - ¸` ¸ · ' . ' ` .` · '
` .` · . · · ¸` · .` . · . · · · , · · ¯` .` ` .` · ` . .` , ` ·
· ` .` .` - . - ` .` . .` · ' · ¸
“Aku diperintahkan untuk memerangi manusia sampai mereka bersaksi bahwa tiada
tuhan selain Allah dan Muhammad utusan Allah, mendirikan shalat, dan menunaikan
zakat. Jika mereka telah melakukan hal itu, terperiharalah darah dan harta benda mereka
kecuali dengan haknya, sedangkan hisab mereka kepada Allah.” (HR. Bukhari dan
Muslim).
Pentingnya mengerti, memahami, dan melaksanakan syahadatain. Manusia berdosa akibat
melalaikan pemahaman dan pelaksanaan syahadatain.
. · . ` · ' ` . ` · · ` · . ·` .` ·` .` : ` ` ` · ` ` ·
` . ¯ . · · ` . ´ ` · ` . ` ·
“Maka ketahuilah bahwa sesungguhnya tidak ada Ilah (sesembahan, Tuhan) selain Allah
dan mohonlah ampunan bagi dosamu dan bagi (dosa) orang-orang mukmin, laki-laki dan
perempuan. Dan Allah mengetahui tempat kamu berusaha dan tempat kamu tinggal.”
[QS. Muhammad (47): 19].
Kalimat “dan mohonlah ampunan bagi dosamu dan bagi (dosa) orang-orang mukmin,
laki-laki dan perempuan” menunjukan bahwa ketidakkonsistenan sikap seseorang dengan
pernyataan tauhidnya (Laa ilaaha illallah) adalah perbuatan dosa. Karena pernyataan
tersebut pada hakikatnya adalah pernyataan ikrar kecintaan, ketaatan, dan rasa takut hanya
kepada Allah semata. Maka, bila seseorang muslim tidak menunaikan shalat, tidak
menutup aurat, dan atau terlibat dalam pergaulan bebas antar lawan jenis, hal itu
merupakan sikap tidak konsisten dengan pernyataan Laa ilaaha illallah. Karena dengan
sikap seperti itu, cinta, taat, dan rasa takutnya tidak diarahkan kepada Allah, tetapi kepada
hawa nafsunya sendiri.
Manusia menjadi kafir karena menyombongkan diri terhadap Laa ilaha illallah dan tidak
mau mengesakan Allah.
.` ´ ` ` · . · . ` .` . ¸, · · .` ¯ ` .` .

Aqidah
“Sesungguhnya mereka dahulu apabila dikatakan kepada mereka: “Laa ilaaha illallah”
(tiada Tuhan yang berhak disembah melainkan Allah), mereka menyombongkan diri.”
[QS. As-Shaffat (37): 35].
Yang dimaksud menyombongkan diri ketika diperdengarkan kalimat ”Laa ilaaha illallah”
tidak semata-mata karena tidak mau mengucapkan atau mendengarkannya, tetapi yang
yang dimaksud adalah substansinya, yaitu hanya taat, takut dan cinta kepada Allah.
Karena itu kesombongan diri dalam ayat ini maksudnya adalah sikap tidak mau taat dan
tunduk kepada perintah Allah, seperti tidak mau mengerjakan shalat, tidak menutup aurat,
tidak menjauhi pergaulan bebas, berkhalwat dengan yang bukan mahramnya, dan
sebagainya.
Yang dapat bersyahadat dalam arti sebenarnya adalah hanya Allah, para malaikat, dan
orang-orang yang berilmu, yaitu para nabi dan orang yang beriman kepada mereka.
· . · . ' · ´ · .` · . · . ` · ' ` · . · . `
` ., ´ - ` · .` · .
“Allah menyatakan bahwasanya tidak ada Tuhan melainkan Dia (yang berhak disembah),
yang menegakkan keadilan; para malaikat dan orang-orang yang berilmu (juga
menyatakan yang demikian itu): tak ada Tuhan melainkan Dia (yang berhak disembah),
yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” [QS. Ali Imran (3): 18].
Manusia bersyahadah di alam arwah sehingga fitrah manusia mengakui keesaan Allah. Ini
perlu disempurnakan dengan syahadatain sesuai ajaran Islam.
Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi
mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman),
¸ · ` .` · .` ' ` .` . · ` . · .` . ~ ` ¸ · · ·¯ ¸ ` ¸ · : ` - ' ·
¯ · · , ·` . . . . ' ` . ¸ . · ` . ´ ` .` ' ` . . ` '
· · · ` ¸ ·
“Bukankah Aku ini Tuhanmu?” Mereka menjawab, “Betul (Engkau Tuhan kami), kami
menjadi saksi.” (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak
mengatakan, “Sesungguhnya kami (Bani Adam) adalah orang-orang yang lengah
terhadap ini (keesaan Tuhan).” [QS. Al-A’raf (7): 172].

Aqidah
Syahadat adalah Ringkasan Ajaran Islam (Khulaashah Ta’alim Al-Islam)
Pemahaman muslim terhadap Islam bergantung kepada pemahamannya terhadap
syahadatain. Sebab, seluruh ajaran Islam terdapat dalam dua kalimat yang sederhana ini.
Ada 3 hal prinsip syahadatain :
A. Pernyataan Laa ilaha illallah merupakan penerimaan penghambaan atau ibadah kepada
Allah saja. Melaksanakan minhajillah (way of life yang ditetapkan Allah) merupakan
ibadah kepada-Nya.
B. Menyebut Muhammad Rasulullah merupakan dasar penerimaan cara penghambaan itu
dari Muhammad saw. Dan Rasulullah adalah tauladan dalam mengikuti Manhaj Allah.
C. Penghambaan kepada Allah meliputi seluruh aspek kehidupan. Ia mengatur hubungan
manusia dengan Allah, dengan dirinya sendiri, dan dengan masyarakatnya.
Makna Laa ilaha illa Allah adalah penghambaan kepada Allah [QS. Al-Anbiya' (21): 25],
dan Rasul diutus dengan membawa ajaran tauhid.
` . ´ · ` . ´ ` · ` ¸ · ¸ ` . ´ - . ` . ´ ` ` ` · ` ¸ . ` '
..
“Hai manusia, sembahlah Tuhanmu yang telah menciptakanmu dan orang-orang yang
sebelummu, agar kamu bertakwa.” [QS. Al-Baqarah (2): 21].
Manusia diciptakan untuk menghambakan dirinya kepada Allah semata.
.` ` ` · , . ¸` . ¸ - ` . - ·
“Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi
kepada-Ku.” [QS. Az-Dzariyat (51): 56].
' . · . ` · ' ·` , ¸ -.` . ..` ` ¸ · : ` · ` ¸ · ` ' ·
.` ` ` · ·

Aqidah
Dan kami tidak mengutus seorang rasul pun sebelum kamu melainkan kami wahyukan
kepadanya, “Bahwasanya tidak ada Tuhan (yang hak) melainkan Aku, maka sembahlah
olehmu sekalian akan Aku.” [QS. Al-Anbiya’ (21): 25].
Muhammad saw. adalah tauladan dalam setiap aspek kehidupan [QS. Ali Imran (3): 31],
dan aktifitas hidup orang yang beriman kepada Allah, hendaknya mengikuti ajaran
Muhammad saw.
·` . , · .` -` . ¯ ` ¸ · - · .` ' · ..` ¸ · ` . ´ . ¯ `
· ¯ · ¯ · -.
“Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu)
bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak
menyebut Allah.” [QS. Al-Ahzab (33): 21].
Meneladani Rasulullah menjadi parameter keimanan dan kecintaan seseorang kepada
Allah. Bukti cinta kepada Allah adalah dengan mengikuti ajaran Rasulullah saw.
Katakanlah,
` · ` . ´ .` · ` . ´ ` ` · ` · ` . ´` ` -` ¸ .` · · · .. ` -` ` .` ` ¯ . ¸ ·
` ., - ` . ·
“Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan
mengampuni dosa-dosamu.” Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” [QS. Ali
Imran (3): 31].
Seluruh aktivitas hidup manusia secara individu, masyarakat dan negara mesti ditujukan
kepada mengabdi Allah swt. saja.
· . · ¸ · . ,` - · ¸ ´`` ¸ · . . ¸ ·
“Katakanlah: Sesungguhnya sembahyangku, ibadatku, hidupku dan matiku hanyalah
untuk Allah, Tuhan semesta alam.” (Al-An’am: 162).
Islam adalah satu-satunya syariat yang diridhai Allah dan tidak dapat dicampur dengan
syariat lainnya.

Aqidah
· ` · ¸ . ` · ` ¸ · . . ´ .` ' ¸ . ` - · ` ··` .
` · · . , · · .¯ ` ´ ` ¸ · ` .` . ` , ,` · ` . · ` .` · . - ·
. -
“Sesungguhnya agama (yang diridhai) disisi Allah hanyalah Islam. Tiada berselisih
orang-orang yang telah diberi Al-Kitab kecuali sesudah datang pengetahuan kepada
mereka, karena kedengkian (yang ada) di antara mereka. Barangsiapa yang kafir
terhadap ayat-ayat Allah, maka sesungguhnya Allah sangat cepat hisab-Nya.” [QS. Ali
Imran (3): 19].
¸ - ¸ · · -. ¸ · .` · ` ·` · ¸ ` ` ¸ · · ··` . ` , · · ` ` ¸ ·
“Barangsiapa mencari agama selain agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan
diterima (agama itu) daripadanya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi.”
[QS. Ali Imran (3): 85].
. ¸ . .` · ' ` · . .` · · ` ·. ¸ · · · ¸ · · · - .
..` ` ·
“Kemudian kami jadikan kamu berada di atas suatu syariat (peraturan) dari urusan
(agama itu), maka ikutilah syariat itu dan janganlah kamu ikuti hawa nafsu orang-orang
yang tidak mengetahui.” [QS. Al-Jatsiyah (45): 18].
` ¸ · ` . ´ · · ¸` ` .` · . `·.` · · , ` ` · ¸ ~ . · . '
´ · · ` . ¯ . ` . ´ · · , .. ` .
“Dan bahwa (yang kami perintahkan ini) adalah jalan-Ku yang lurus, maka ikutilah Dia,
dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain), karena jalan-jalan itu mencerai-
beraikan kamu dari jalannya. Yang demikian itu diperintahkan Allah agar kamu
bertakwa.” [QS. Al-An’am (6): 153].


Aqidah
Syahadat adalah Dasar Sebuah Perubahan (Asasul Inqilab)
Syahadatain mampu mengubah manusia dalam aspek keyakinan, pemikiran, maupun jalan
hidupnya. Perubahan itu juga meliputi berbagai aspek kehidupan manusia secara individu
atau masyarakat.
Ada perbedaan penerimaan syahadatain pada generasi pertama umat Muhammad dengan
generasi sekarang. Perbedaan tersebut disebabkan perbedaan derajat kepahaman terhadap
makna syahadatain secara bahasa dan pengertian, dan sikap konsisten terhadap syahadah
tersebut dalam pelaksanaan ketika menerima maupun menolak.
Umat terdahulu langsung berubah ketika menerima syahadatain. Sehingga mereka yang
tadinya bodoh menjadi pandai, yang kufur menjadi beriman, yang bergelimang dalam
maksiat menjadi takwa dan abid, yang sesat mendapat hidayah. Masyarakat yang tadinya
bermusuhan menjadi bersaudara di jalan Allah.
Syahadatain dapat merubah masyarakat dahulu, maka syahadatain pun dapat mengubah
umat sekarang menjadi baik.
Penggambaran Allah tentang perubahan yang terjadi pada para sahabat Nabi, yang
dahulunya berada dalam kegelapan jahiliyah kemudian berada dalam cahaya Islam yang
gemilang.
` · · · ` ¸ ¯ ¸ ¸ · · ¸ ` .` ` · · - ` · ` , ,` - ' · ` , · . ¯ ` ¸ · '
¸ · .. ` · .` ¯ · ¸ · ´ ¸ ` : ¯ .` · - - ¸` , . =
“Dan apakah orang yang sudah mati (maksudnya ialah orang yang telah mati hatinya
yakni orang-orang kafir) kemudian dia kami hidupkan dan kami berikan kepadanya
cahaya yang terang, yang dengan cahaya itu dia dapat berjalan di tengah-tengah
masyarakat manusia, serupa dengan orang yang keadaannya berada dalam gelap gulita
yang sekali-kali tidak dapat keluar daripadanya? Demikianlah kami jadikan orang yang
kafir itu memandang baik apa yang telah mereka kerjakan.” [QS. Al-An’am (6): 122].
Perubahan individu contohnya terjadi pada Mush’ab bin Umair yang sebelum mengikuti
dakwah Rasul merupakan pemuda yang paling terkenal dengan kehidupan yang glamour
di kota Mekkah. Tetapi setelah menerima Islam, ia menjadi pemuda sederhana yang dai,
duta Rasul untuk kota Madinah, kemudian menjadi syuhada Uhud. Saat syahidnya,
Rasulullah membacakan ayat ini.

Aqidah
· ` .` .` · ·` , · · ` · · · . · . . - ·` .` ¸ · ` · ` - ¸ . · ` ¸
· ` . · ` = ` ` ¸ · ` .` .` ·
“Di antara orang-orang mukmin itu ada orang-orang yang menepati apa yang telah
mereka janjikan kepada Allah; maka di antara mereka ada yang gugur. Dan di antara
mereka ada (pula) yang menunggu-nunggu dan mereka tidak mengubah (janjinya).” [QS.
Al-Ahzab (33): 23].
Reaksi masyarakat Quraisy terhadap kalimat tauhid [QS. Al-Buruuj (85): 6-10], reaksi
musuh terhadap keimanan kaum mukminin kepada Allah [QS. Al-Kahfi (18): 2], musuh
memerangi mereka yang konsisten dengan pernyataan Tauhid [QS. Al-Anfal (8): 20].
Sesungguhnya mereka dahulu apabila dikatakan kepada mereka: Laa ilaaha illallah
(Tiada Tuhan yang berhak disembah melainkan Allah), mereka menyombongkan diri. Dan
mereka berkata,
.` ´ ` ` · . · . ` .` . ¸, · · .` ¯ ` .` . , . ¯ ' .. .
..` ` - · · . ¯ , ` ` · . , - . - ¸
“Apakah kami harus meninggalkan sembahan-sembahan kami karena seorang penyair
gila?” Sebenarnya dia (Muhammad) telah datang membawa kebenaran dan
membenarkan rasul-rasul (sebelumnya). [QS. As-Shaffat (37): 35-37].
“Ketika mereka duduk di sekitarnya. Sedang mereka menyaksikan apa yang mereka
perbuat terhadap orang-orang yang beriman. Dan mereka tidak menyiksa orang-orang
mukmin itu melainkan karena orang-orang mukmin itu beriman kepada Allah Yang Maha
Perkasa lagi Maha Terpuji, Yang mempunyai kerajaan langit dan bumi; dan Allah Maha
Menyaksikan segala sesuatu. Sesungguhnya orang-orang yang mendatangkan cobaan
kepada orang-orang yang mukmin laki-laki dan perempuan kemudian mereka tidak
bertaubat, maka bagi mereka azab Jahannam dan bagi mereka azab (neraka) yang
membakar.” [QS. Al-Buruj (85): 6-10].
' ` ` , , · .. ` · ¸ ·` .` ` ` ·` ` ` ¸ ·
- ` - ' ` .` . . ' . - .

Aqidah
“Sebagai bimbingan yang lurus, untuk memperingatkan siksaan yang sangat pedih dari
sisi Allah dan memberi berita gembira kepada orang-orang yang beriman, yang
mengerjakan amal shalih, bahwa mereka akan mendapat pembalasan yang baik.” [QS.
Al-Kahfi (18): 2].
.` ´` ·.` - ` -` ` ' ·. ` ` ' ·.` ·` , ` ¯ ¸ : ` ´` ·
` ` , - ` · ` · ` ´` ¸ ¯
“Dan (ingatlah), ketika orang-orang kafir (Quraisy) memikirkan daya upaya terhadapmu
untuk menangkap dan memenjarakanmu atau membunuhmu, atau mengusirmu. Mereka
memikirkan tipu daya dan Allah menggagalkan tipu daya itu. Dan Allah sebaik-baik
pembalas tipu daya.” [QS. Al-Anfal (8): 30].
Syahadat adalah Hakikat Dakwah Para Rasul (Haqiqatu Da’watir Rasul)
Setiap rasul, semenjak Nabi Adam a.s. hingga Nabi Muhammad saw., membawa misi
dakwah yang satu, yaitu syahadah. Apa yang diwahyukan kepada Rasulullah sama dengan
apa yang diwahyukan kepada nabi-nabi sebelumnya. Allah berfirman,
¸ ` , -` ' · ` · ` ¸ · , -.` ¸ ` , -` ' ¯ :` , ` , -` '
.. ` ' ¸ , · ` . .. ` · · -` ¸, · ` ., · `
.` ·` · ` , ¯ . ` , ` .` · ¸` .`
“Sesungguhnya kami telah memberikan wahyu kepadamu sebagaimana kami telah
memberikan wahyu kepada Nuh dan nabi-nabi yang kemudiannya, dan kami telah
memberikan wahyu (pula) kepada Ibrahim, Isma’il, Ishak, Ya’qub dan anak cucunya, Isa,
Ayyub, Yunus, Harun dan Sulaiman. Dan kami berikan Zabur kepada Daud.” [QS. An-
Nisa’(4): 163].
Mereka semua mengajak manusia untuk mentauhidkan Allah semata dan hanya
menyembah kepada-Nya. Seperti yang diserukan Nuh a.s. kepada kaumnya.
` ·` ` , · · ` ¸ · ` . ´ · · ` ` ` · ·` . · . · · ·` . · ¸ -.` ` ' `
., = · ·` . . · ` . ´` , · ` - ' ¸

Aqidah
Sesungguhnya kami telah mengutus Nuh kepada kaumnya lalu ia berkata, “Wahai
kaumku, sembahlah Allah. Sekali-kali tak ada Tuhan bagimu selain-Nya. Sesungguhnya
(kalau kamu tidak menyembah Allah), Aku takut kamu akan ditimpa azab hari yang besar
(kiamat).” [QS. Al-A’raf (7): 59].
Nabi Ibrahim berdakwah kepada masyarakat untuk membawa mereka menuju kepada
pengabdian Allah saja serta membebasakan diri dari kesyirikan.
` . . ·` . . · · ` · · · ¸ ., · ` ¸ · · - · .` ' ` . ´ ` . ¯ ` ·
` . ´ ` , ` , ` . ´ ` ¯ · .` · ` ¸ · .` ` ` · · ` . ´` · .¯ `
` ¸ - ' . .` · · · ·, . ., · ` .` . · . ` · ` - · .` ·` .
¯ . :` , · .` ¸ ` ¸ · · ¸ · : ` : ` · ' · : . ` · ` .
` . :` , ` ' :` ,
Sesungguhnya telah ada suri teladan yang baik bagimu pada Ibrahim dan orang-orang
yang bersama dengannya; ketika mereka berkata kepada kaum mereka, “Sesungguhnya
kami berlepas diri dari kamu dan dari apa yang kamu sembah selain Allah, kami ingkari
(kekafiran)mu dan telah nyata antara kami dan kamu permusuhan dan kebencian buat
selama-lamanya sampai kamu beriman kepada Allah saja. Kecuali perkataan Ibrahim
kepada bapaknya, “Sesungguhnya Aku akan memohonkan ampunan bagi kamu dan Aku
tiada dapat menolak sesuatupun dari kamu (siksaan) Allah”. (Ibrahim berkata), “Ya
Tuhan kami, hanya kepada Engkaulah kami bertawakal dan hanya kepada Engkaulah
kami bertaubat, dan hanya kepada Engkaulah kami kembali.” [QS. Al-Mumtahanah (60):
4].
(Catatan: Nabi Ibrahim pernah memintakan ampunan bagi bapaknya yang musyrik kepada
Allah: Ini tidak boleh ditiru, karena Allah tidak membenarkan orang mukmin memintakan
ampunan untuk orang-orang kafir. Lihat surat An-Nisa ayat 48).
Para nabi membawa dakwah bahwa ilah yang satu yaitu Allah saja.
. ¯ ` ¸ · ` - ` · ` . ´` . ' ¸ ¸ -.` ` . ´ · · ` ' ¸ ·
- ' · · · · ` · ` ` . - . · · ¸ ` · , · · . .` -`

Aqidah
Katakanlah, “Sesungguhnya aku ini manusia biasa seperti kamu, yang diwahyukan
kepadaku bahwa sesungguhnya Tuhan kamu itu adalah Tuhan yang Esa.” Barangsiapa
mengharap perjumpaan dengan Tuhannya, maka hendaklah ia mengerjakan amal yang
shalih dan janganlah ia mempersekutukan seorang pun dalam beribadah kepada
Tuhannya.” [QS. Al-Kahfi (18): 110].
Syahadat adalah Kalimat dengan Ganjaran Yang Besar (Fadhailu ‘Azhimah)
Banyak ganjaran yang diberikan oleh Allah dan dijanjikan oleh Nabi Muhammad saw. Di
antaranya seseorang akan dimasukkan ke dalam surga dan dikeluarkan dari neraka seperti
sabda Rasulullah saw.
. ` ¸ · . · . ·` , · ` · ¸ . ` ¸` ` ¸ · ` ·` · ` · ¸ . · · ` · ` ¸ ·
. ' ` · .` ` ·` ` · ` -` · . ' ` · : ` · ` - ` · · . '
¸ , · ¯ , - ·` - ` ·` · ` -` .` · ¸ · ' ` ·` ¯ ` · .` · ` ` ·
¸ · ` ¸ · . ¯ · ¸ · ·` - ` · ` · -` · ' ¯ , - ` `
Ubadah bin Shamit meriwayatkan dari Nabi saw., beliau bersabda, “Barangsiapa
mengatakan tiada ilah selain Allah, tiada sekutu bagi-Nya, dan bahwa Muhammad adalah
utusan-Nya dan Rasul-Nya, bahwa Isa adalah hamba dan utusan-Nya, kalimat-Nya yang
dicampakkan kepada Maryam dan ruh dari-Nya, dan bahwa surga adalah hak serta
neraka itu hak. Allah akan memasukkannya ke surga, apapun amal perbuatannya.”
(Bukhari).
. · ` ¸ · ` ` ¸ · ` -` ` - . · . ·` , · ` · ¸ . ` ¸ ` ` ¸ · ¸ ' ` ¸ ·
· . · ` ¸ · ` ` ¸ · ` -` ` - ` , - ` ¸ · · · .` · · ¸ · ` · ·
.` · · ¸ · ` · · . · ` ¸ · ` ` ¸ · ` -` ` - ` , - ` ¸ · ·` `
` , - ` ¸ · ·` · .` · · ¸ · ` ·
Dari Anas, Nabi saw. bersabda, “Keluar dari neraka orang yang mengucapkan la ilaha
illallah dan di hatinya ada seberat rambut kebaikan. Keluar dari neraka orang yang
mengucapkan la ilaha illallah sedang di hatinya ada seberat gandum kebaikan. Dan

Aqidah
keluar dari neraka orang yang mengatakan la ilaha illallah sedang di hatinya ada seberat
zarrah kebaikan.” (Bukhari).
Orang yang mengikrarkan syahadat akan mendapatkan syafaat Rasulullah di hari Kiamat.
Seperti sabda beliau,
·` . : · ¸` ` ·` ' ` ¸ · · ..` ¸, · . · ` ·` ' · ` ` · ¸ ' ` ¸ ·
. ' · ` ` · ' ` .` ~ ` . ·` , · ` · ¸ . · ..` . · · · ,
' . - · ` ¸ · ¸ '` ¸ · : .` - ` ¸ · ` .` ' :` · .` ' ` -
. - ` · · . · ` ¸ · · ·, ·` . ¸ · ¸` ` ·` ' . -
· ` ' · · ` ¸ ·
Abu Hurairah berkata, Rasulullah saw. ditanya, “Siapakah orang yang paling berbahagia
dengan syafaatmu di hari Kiamat?” Rasulullah saw. bersabda, “Aku telah mengira, ya
Abu Hurairah, bahwa tidak ada seorang pun yang tanya tentang hadits ini yang lebih
dahulu daripada kamu, karena aku melihatmu sangat antusias terhadap hadits. Orang
yang paling bahagia dengan syafaatku di hari Kiamat adalah yang mengatakan la ilaha
illallah secara ikhlas dari hatinya atau jiwanya.” (Bukhari).
---oo0oo---

Sumber: dakwatuna.com
















Aqidah
KANDUNGAN KALIMAT SYAHADAT
(MADLUDLU SYAHADATAIN)



Di suatu ruangan kantor, Anda menemukan uang seribu perak. Karena bukan milik Anda,
tentu Anda akan memberitahukan kepada para karyawan kantor itu siapa pemiliknya.
Ketika ada yang mengaku sebagai pemiliknya, dengan riang hati Anda segera
memberikannya, tanpa terlebih dahulu meminta kesaksian yang serius bahwa uang itu
benar-benar miliknya.

Ini berbeda dengan jika Anda menemukan cincn emas murni seberat 50 gram. Anda tentu
tidak serta merta memberikan kepada orang yang mengaku sebagai pemiliknya. Dengan
sungguh-sungguh, Anda akan mencari bukti bahwa barang itu benar-benar miliknya.
Mungkin mencari-cari bukti materiil berupa kuitansi pembelian –misalnya, mencari saksi,
mengangkat sumpah dengan nama Allah, dan hal-hal lain untuk meyakinkan Anda.
Setelah itu, baru Anda mengembalikan barang itu dengan tenang.

Tentu saja mudah dipahami, mengapa untuk uang seribu rupiah tidak perlu adanya
pernyataan kepemilikan yang serius, sedangkan untuk emas murni 50 gram
memerlukannya? Intinya hanya ada pada satu hal, yakni nilai materinya.

Sadarkah kita akan syahadat yang kita baca? Substansi apakah yang kita syahadatkan?
Sesungguhnya, berapakah kadar dan nilai substansi itu? Jawabannya tentu saja mudah,
bahwa yang kita syahadatkan adalah ihwal pengakuan sebuah hakikat yang mahaprinsip;
tiada tuhan selain Allah, Muhammad adalah utusan Allah.

Sebuah prinsip dasar yang akan mengubah haluan hidup seseorang. Sebuah prinsip yang
membedakan secara diametral antara orang yang mengucapkan secara tulus dengan
mereka yang mengingkarinya, atau antara yang mengucapkan secara tulus dengan mereka
yang mengucapkan secara main-main.

Aqidah

Sesungguhnya, pernyataan syahdat itu erat kaitannya dengan iman, sesuatu yang
mendasari semua sikap kita dalam beragama. Hal ini dimaksudkan agar kita tidak keliru
dalam menjalankan prinsip akidah ini, sehingga kita perlu memahami arti syahadat itu
sesungguhnya dan bagaimana korelasinya dengan iman.
MAKNA SYAHADAT
Syahadat atau syahadah berasal dari kata syahida, yang berarti "memberi tahu dengan
berita yang pasti" atau "mengakui apa yang diketahui" (Al-Mu'jam Al-Wasith). Dari
makna bahasa ini, kita mendapati beberapa makna yang diisyaratkan Al-Qur'an tentang
kata ini.
Pernyataan (Al-Iqrar) atau Pemberitahuan (Al-I'lan)
Allah SWT berfirman,
` · . · . ` · . · . ' · ´ · .` · . · . ` · '
` ., ´ - ` · .` · .
“Allah menyatakan bahwasanya tidak ada tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia,
Yang menegakkan keadilan. Para malaikat dan orang-orang yang beriman (juga
menyatakan yang demikian itu)...” (QS. Ali Imran : 18)
Sumpah (Al-Qasam atau Al-Half)
Allah SWT berfirman,
., = · : .` ` - · , ·.` - ` · · . ` . · ' · · , ` . ` . ` ·
` ., = · ..` ` ·
“Maka bertasbihlah dengan (menyebut) nama Tuhanmu Yang Mahabesar. Maka Aku
bersumpah dengan tempat beredarnya bintang-bintang. Sesungguhnya sumpah itu adalah
sumpah yang besar kalau kamu mengetahui.” (QS. Al-Waqi'ah : 74-76)



Aqidah
Janji (Al-Mitsaq atau Al-Wa'd)
Allah SWT berfirman,
` . ¸ . · ` . ´ ` .` ' ` . . ` ' ¸ · ` .` · .` '
“…Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa manusia (seraya berfirman), "Bukankah
Aku ini Tuhanmu?" Mereka menjawab, "betul (Engkau Tuhan kami), kami menjadi
saksi..." (QS. Al-A'raf : 172)
Bagaimana hubungan antara syahadat dengan iman? Di samping memiliki makna secara
bahasa (etimologi), kata "iman" juga memiliki makna secara syar'i (terminologi).
Secara bahasa, kata "iman" berasal dari kata kerja "amina" yang berarti aman, tenang, dan
tidak merasa takut. Dari sini muncul kata "aamana" yang berarti "menjadikan tenang",
"percaya", dan "membenarkan". Kata "aamana" inilah yang kemudian melahirkan istilah
"iman" (Al-Mu'jam Al-Wasith).
Dari makna tersebut muncullah makna terminologinya –sebagaimana disebutkan oleh para
ulama- yakni: tashdiq bi al-janan (pembenaran dalam hati), iqrar bi al-lisan (pernyataan
dengan lisan), dan 'amal bi al-arkan (tindakan dengan anggota badan).
Tashdiq bi Al-Janan
Iman adalah pembenaran. Pembenaran yang dimaksud bukan saja pembenaran logika
(tashdiq 'aqliy), akan tetapi pembenaran hati (tashdiq qalbiy). Inilah pembenaran yang
lahir dari nurani seseorang karena fitrah dan dampak ketenangan yang dirasakan. Oleh
karenannya, Abu Bakar RA ketika berbicara tentang adanya tuhan, beliau tidak berbicara
dengan dalil yang muluk-muluk. Beliau hanya mengatakan, "Saya mengenal tuhanku
karena tuhanku. Jika bukan karena tuhanku, maka aku tidak mengenal tuhanku." Dengan
itulah beliau menjadi pengikut Rasul yang sangat setia, hingga mendapatkan julukan Ash-
Shidiq, yangs etia dan membenarkan tanpa pertimbangan.
Logika memang bisa meneguhkan pembenaran, namun hati yang jernih berbicara lebih
dari itu. Oleh karenanya, para sahabat yang secara intelektual boleh dikatakan jauh dengan
manusia sekarang yang ternyata bisa memiliki iman setegar gunung. Bilal bin Rabah,
Khabab bin Ats, Ammar bin Yasir –radhiyallaahu anhum- bukanlah manusia-manusia
intelek dan berpengalaman luas. Namun mereka memiliki hati yang bening dan penuh
fitrah. Itu sudah cukup untuk mencetak iman yang kuat dan tahan uji. Bahkan betapa
banyak orang-orang Quraisy yang membenarkan dalam hatinya karena mendengar
lantunan ayat-ayat Al-Qur'an dibacakan, namun keimanan itu dikalahkan oleh
kesombongan dan rasa gengsi.

Aqidah
Iqrar bi Al-Lisan
Lebih dari sekadar kewajiban iman, ikrar bahkan telah menjadi tuntutan iman. Pengikraran
bisa saja hanya berujud pernyataan yang tulus kepada Allah SWT, itu pun sudah cukup.
Namun bagi sementara orang, bahkan ia ingin keimanannya diketahui khalayak. Lebih
dari itu, mereka ingin merasakan "buah pahit" keimanan itu dengan pernyataan.

Seandainya Utsman bin Mazh'un tutup mulut, ia tentu tidak harus menanggung kesakitan
yang sangat. Namun inilah iman.
Ia menyaksikan para sahabat yang lain begitu menderita dan tidak bebas bergerak,
sementara dirinya berada dalam jaminan keamanan Wlid bin Mughirah (seorang musyrik).
Ia lalu bergumam, "Demi Allah, ke mana saja aku pergi dalam keadaan aman di bawah
perlindungan seorang musyrik. Sementara para sahabatku dan pemeluk agamaku
mendapatkan cobaab dan penderitaan yang tidak menyentuh tubuhku. Sungguh, ini cacat
besar dalam jiwaku."
Ia pun bergegas menemui Walid dan berkata, "Wahai Abu Abd Syams, tanggunganmu
telah selesai dan saya ingin mengembalikan jaminanku kepadamu." "Mengapa?" tanya
Walid keheranan. "Karena kau disakiti oleh seseorang dari kaumku?" "Bukan, tetapi
karena saya ingin di bawah perlindungan Allah saja, tidak ingin perlindungan yang lain,"
jawab Utsman bin Mazh'un tegas. Selanjutnya, Utsman berkata kepada Walid, "Pergilah
kamu ke masjid (Kakbah) dan sampaikan pengembalian perlindunganku secara terbuka
sebagaimana kau dulu menjaminku terbuka."
Di masjid, Walid bin Mughirah berkata lantang, "Utsman ini datang kepadaku untuk
mengembalikan perlindungannya." "Benar," jawab Utsman segera. "Ia telah menjadi
pelindung yang baik. Akan tetapi, saya lebih suka tidak meminta perlindungan kepada
selain Allah. Oleh karena itu, saya kembalikan perlindungan ini kepadanya."
Ketika hendak pergi, Utsman mendengar Labid bin Rabi'ah bin Malik bin Kilab Al-Qisiy
di majelis yang dipenuhi orang-orang musyrik Quraisy itu, melantunkan syair berikut ini.
Ingatlah bahwa segala sesuatu selain tuhan adalah sia-sia belaka
"Engkau benar," jawab Utsman
Labid pun meneruskannya.
Dan semua kenikmatan, niscaya binasa akhirnya
"Engkau dusta. Nikmatnya ahli surga tidak binasa," teriak Utsman tidak sabar.
Ketika itu Labid marah dan berkata, "Wahai Quraisy, dia tidak pernah menyakiti majelis
kalian. Sejak kapan ia berubah?"

Aqidah
Seseorang menjawab, "Ia adalah manusia dungu diantara para dungu yang memecah
agama kita. Kata-kata itu tidak akan kau dapatkan dalam jiwamu."
Utsman pun dengan berani membantah omongannya, hingga bersitegang dengan keras.
Akhirnya, orang ini begitu emosi dan menampar pipi Utsman hingga matanya menghitam
karena kerasnya. Sementara Walid bin Mughirah masih ada di situ dan melihat apa yang
terjadi. Ia pun mendekat dan berkata kepada Utsman, "Wahai kemenakanku, matamu
mestinya tidak harus menerima musibah serupa itu jika aku masih menjadi pelindungmu."
Dengan tegar Utsman menyahut, "Oh, bukan begitu. Demi Allah, bahkan mataku yang
satu menginginkan musibah yang menimpa saudaranya di jalan Allah. Saya telah nyaman
dalam perlindungan Dzat Yang lebih mulia darimu dan lebih melindungi, wahai Abu
Abdu Syams."
'Amal bi Al-Arkan
Iman juga menuntut tindakan fisik, karena fisik itulah media untuk mengeksresikan atau
mengaktualisasikan kehendak hati. Apa yang akan terjadi, jika kemauan kita berdesakan,
sementara fisik tidak mampu mewujudkan?
Sesungguhnya, keimanan yang tidak mencorong fisik untuk berbuat merupakan keimanan
yang rapuh, bahkan mungkin dusta.
Apa yang mendorong para sahabat meninggalkan Makkah –kampung halaman dan tanah
airnya tercinta- menuju Yatsrib, sebuah tempat yang jauh dan asing dengan nasib yang
belum menentu?
Peristiwa hijrah total itu, yang memisahkan mereka dari orang tuanya, suami atau istrinya,
harta bendanya, semata menuju Allah SWT. Logika apa yang bisa menjelaskannya selain
"iman", sesuatu yang telah menancap kuat dalam dada dan memenuhi kalbu setiap
mereka.
Adanya spektrum makna iman yang luas itulah, hingga semua wilayah perasaan, kata-
kata, dan tindakan terwarnai olehnya.
Oleh karena itu, tidak mungkin keimanan bisa dinyatakan oleh seorang muslim jika ia
belum mau berikrar, bersumpah, dan berjanji setia. Mengingat bahwa substansi syahadat
merupakan hakikat yang besar, yang tidak mungkin sekadar dinyatakan oleh lisan tanpa
keyakinan kuat dari hatinya.Rasulullah SAW bersabda,
` ' ..` ·` ` ·` . . · . ` · . · . .` . · . . · ' · · ` ·` ..' ` ·` .
, = ¸ · . · . · ~ · · ` · '

Aqidah
”Cabang iman itu antara tujuh puluh atau enam puluh cabang. Yang paling utama adalah
ucapan laa ilaaha ilallah, sedangkan yang paling rendah adalah menyingkirkan halangan
di jalan.” (HR. Muslim)
Apabila iman hanya menghasilkan keyakinan dan kepercayaan saja, tanpa dipraktikkan
dalam kehidupan nyata dan tanpa dinyatakan dengan kata-kata, itu juga bukan iman yang
dikehendaki Rasulullah SAW.
Beliau bersabda,
··. . . · · · ¸´ . ¸ . ¸- .·. ¸,
.·.
”Tidaklah disebut iman bila hanya dengan angan-angan dan hiasan. Akan tetapi, iman
adalah sesuatu yang tertanam dalam hati dan dibuktikan dengan amal.” (HR. Al-Baihaqi
dan Ad-Dailami)
Berikut ini Allah SWT telah membuat perumpamaan beberapa kaum yang cacat
keimanannya, sehingga tertolak seluruh amalnya.
Abu Thalib
Ia telah mengerahkan seluruh tenaga dan pikirannya untuk membela kemenakannya,
Muhammad SAW, hingga berkata kepada beliau, "Kemenakananku, pergilah dan katakan
apa saja yang kamu sukai. Demi Allah, kamu tidak akan kuserahkan kepada siapapun juga
selamanya."
Tetapi ketika sakaratul maut menghampiri dirinya dan Rasulullah SAW berusaha
menuntun lisannya dengan ucapan, "Paman, ucapkan laa ilaaha illallah, satu kalimat yang
dapat aku jadikan sebagai hujah untuk membela Anda di sisi Allah." Akan tetapi, Abu
Thalib bersikukuh menolak untuk mengucapkannya, hingga maut menghampirinya.

Rasulullah SAW masih melakukan upaya, beliau berkata, "Aku akan memohonkan
ampunan untukmu selama tidak dilarang." Allah SWT kemudian menurunkan ayat-Nya,
¸ ' .` ¯ ` . ¯ ` ` ` ` · ` . ' .` ·¯ ¸ ¸ . ¯ ·
., - - ` . -` . ' ` .` . ' ` .` . ¸ , · ` · ` ¸ · ¸ ` ·

Aqidah
”Tidak sepatutnya bagi nabi dan orang-orang yang beriman memintakan ampun (kepada
Allah) bagi orang-orang musyrik walaupun orang-orang musyrik itu adalah kaum
kerabat(-nya) sesudah jelas bagi mereka bahwa orang-orang musyrik itu adalah penghuni
neraka Jahanam.” (QS. At-taubah : 113)
Dengan turunnya ayat di atas, jelaslah bahwa seseorang yang tidak bersedia mengucapkan
kalimat syahadat dengan lisannya akan tertolak amalannya, sebaik apapun kelakuannya.
Iblis
Ia termasuk makhluk ghaib, dari bangsa jin. Karena sifat penciptaannya itu, ia pun bisa
berkomunikasi dengan Allah SWT, bertemu dengan para malaikat, dan bahkan
mengetahui berbagai rahasia alam yang manusia tidak mengetahui. Dengan begitu, ia
menyaksikan makhluk Allah lebih banyak daripada manusia. Akan tetapi, hal itu tidak
membuat iblis beriman. Ia jelas meyakini adanya Allah, malaikat, dan tahu persis bahwa
Muhammad adalah Rasulullah, karena iblis mengetahui betul bagaimana Jibril
menyampaikan wahyu kepada beliau. Akan tetapi, ketika Allah memerintahkan,
¸, ` ` - · · · ¯ ` ` -` · ´ · ·
”...sujudlah kamu kepada Adam, maka sujudlah merka semua kecuali iblis...” (QS. Al-
Kahfi : 50)
Akhirnya, iblis pun bersumpah di hadapan Allah SWT untuk menggoda nabi Adam serta
anak keturunannya.
., ` ` : ~ . ` .` . . ` · ·. ¸ ` . · ' · . ·
”Iblis berkata, "Karena Engkau telah menghukum aku tersesat, saya benar-benar akan
(menghalang-halangi) mereka dari jalan-Mu yang lurus." (QS. Al-A'raf : 16)

Keyakinan iblis tentang keberadaan Allah, malaikat, dan Rasul tidak diikuti dengan sikap
yang benar dan lurus. Keyakinan semacam itu sama sekali tidak ada gunanya di sisi Allah
SWT. Jadilah iblis penghuni neraka yang kekal selama-lamanya. Allah SWT mengusir
iblis dari surga dan akan memasukkannya ke Neraka Jahanam.
` . ´` · . . - .·` ·. ` .` .` · : · ` ¸ .` -` · · . · .` · ` -` ` - . ·
· ` - '

Aqidah
”Keluarlah kamu dari surga itu dalam keadaan terhina lagi terusir. Sesungguhnya
barangsiapa diantara mereka yang mengikuti kamu, benar-benar Aku akan mengisi
Neraka Jahanam dengan kamu semua.” (QS. Al-A'raf : 18)
Abdullah bin Ubai
Ia adalah seseorang yang sangat dengki dengan Islam, rasulullah SAW, dan kaum
Muslimin. Salah satu pemicu kedengkiannya adalah gagalnya dia menjadi pemimpin
Madinah karena kedatangan Rasulullah SAW di kota tersebut. Pemicu lainnya adalah
penyakit munafik yang melekat dalam hatinya. Ia berpura-pura saleh dalam tindakan dan
ucapan, tetapi busuk hatinya.
Abdullah bin Ubai-lah yang pertama kali menawari Rasulullah SAW untuk tinggal di
rumahnya selama berada di kota Madinah. Tawaran yang sangat baik dan sopan, tetapi
Abdullah bin Ubai mempunyai rencana jahat untuk membunuh Rasulullah SAW jika
tinggal di rumahnya itu. Lisan dan amalannya kelihatan baik, ettapi hatinya ingkar. Ketika
Abdullah bin Ubai meninggal, maka Allah SWT berfirman,
· ` ¯ ` .` . · ` · ¸ · ` . . ' . · ` .` .` · - ' ¸ · ¸ .` .
.. · ` .` · .` · · .`
”Dan janganlah kamu sekali-kali menshalati (jenazah) seorang yang mati diantara
mereka dan janganlah kamu berdiri (mendoakan) di kuburnya. Sesungguhnya mereka
telah kafir kepada Allah dan rasul-Nya dan mereka mati dalam keadaan fasik.” (At-
Taubah : 84)
ISTIQAMAH
Keimanan yang kuat suatu saat bukanlah awal dan akhir sekaligus. Mengapa? Karena
hidup manusia terus berlangsung melalui berbagai dinamikanya. Cobaan, godaan,
kesenangan, penderitaan, kesulitan, dan berbagai nuansa kehidupan terus silih berganti
menimpa manusia. Oleh karena itu, ada kalanya orang mengawali hari denganiman, tetapi
iman itu luntur di kala siang. Di pagi hari hatinya mantap dengan syariat Allah, namun di
waktu asar hatinya telah menyeleweng jauh dari syariat Islamj tersebut. Karenanya, ada
tantangan setelah iman telah menancap, yaitu sikap istiqamah. Ia adalah "Luzum ath-
tha'ah (konsistensinya ketaatan)," kata Umar bin Khattab.
Suatu ketika Muadz bin Jabal menghadap Rasulullah SAW dan berkata, "Wahai
Rasulullah, katakan kepadaku tentang Islam yang saya tidak mendapatkannya dari yang
lain."
Beliau menjawab,

Aqidah
` . ` ` . · ` .` ·¯ ¸ ·
"Katakan, aku beriman kepada Allah, lalu istiqamahlah."
Dengan kata lain, yang dituntut bukan hanya sekali menyatakan persaksian iman, akan
tetapi harus diikuti dengan sikap konsisten dalam keimanan untuk selama-lamanya.
Konsistensi dalam iman, atau sering disebut sebagai sikap istiqamah, merupakan
keharusan untuk menunjukkan bahwa keimanan kita telah masuk ke jiwa secara sempurna,
bukan hanya ungkapan lisan semata. Rasulullah menolak masyarakat badui yang
menyatakan telah beriman, sedangkan mereka belum konsisten dalam menegakkan
konsekuensi keimanan tersebut.
¸` -` ` ` ' . . · ` ¸ ´ .` ·` .` ` . ¸ · ·¯ ` . ` ·. . ·
·` , ` . ´ ` · ' ` ¸ · ` . ´` . ` · .` · .` ·, =` . ` . ´ . · ¸ · . ·.
` ., - ` . · · .
”Orang-orang Arab badui itu berkata, "Kami telah beriman." Katakanlah (kepada
mereka), "kamu belum beriman, tetapi katakanlah kami telah tunduk," karena iman itu
belum masuk ke dalam hatimu" (QS. Al-Hujurat : 14)
Ayat di atas menunjukkan celaan dan teguran Allah terhadap orang-orang badui yang
terlalu mudah mengucapkan kata-kata iman. Pada kenyataannya, Allah tidak akan
membiarkan setiap manusia mengatakan dirinya telah beriman, tetapi akan ada ujian yang
diberikan kepada setiap pernyataan iman itu.
Allah SWT berfirman,
· , ..` ` . ` .` · ·¯ . . . ' . ¯ `` . ' ` ¸ . - ' , · `
· ´ ¸ ` · , . · . ¸ ` · ¸ ` · , · ` . . ` · ` ¸ · ¸
”Alif lam mim, apakah manusia mengira bahwa mereka dibiarkan saja mengatakan,
"Kami telah beriman," sedangkan mereka tidak diuji lagi? Dan sesungguhnya Kami telah
menguji orang-orang sebelum mereka, maka sesungguhnya Allah mengetahui orang-
orang yang benar (keimanannya) dan Dia mengetahui orang-orang yang dusta.” (QS. Al-
Ankabut : 1-3)

Aqidah
Sikap istiqamah dalam keimanan telah ditampakkan oleh Rasulullah SAW dan para
sahabat beliau tatkala mereka menjalani kehidupan yang penuh tantangan sejak dari di
Makkah hingga Madinah. Pembelaan yang prima terhadap nilai keimanan telah mereka
tunjukkan dalam ketegaran sikap menghadapi berbagai cobaan, tanpa ada keraguan sedikit
pun. Tidak goyah oleh rayuan, tidak mundur oleh tekanan, tidak gamang oleh cercaan,
tidak luntur oleh godaan. Inilah konsistensi iman yang telah diukir dalam sejarah
perjuangan generasi keemasan Islam.
` · - .` ` ` . . · .` · .` ·¯ ¸ ..` ·` .`
.. · · . ` .` · : · ' · ¸, ¸ · ` .. ` ' ` . . .` · '
”Sesungguhnya orang-orang yang beriman hanyalah orang-orang yang beriman kepada
Allah dan rasul-Nya, kemudian mereka tidak ragu-ragu dan mereka berjihad dengan
harta dan jiwa mereka pada jalan Allah, mereka itulah orang-orang yang benar.” (QS.
Al-Hujurat : 15)
Allah SWT memberikan penghargaan yang amat tinggi kepada orang-orang beriman yang
istiqamah mempertahankan keimanannya. Hal ini karena dalam kenyataan keseharian,
tidak mudah untuk bersikap istiqamah. Lebih banyak orang terjebak dalam penyimpangan
atau inkonsistensi keimanan, dibandingkan mereka yang menunjukkan kesungguhan
menjaga iman.
Kondisi kehidupan kita saat ini, berbagai bentuk penyimpangan telah melanda masyarakat
di semua bidang. Dalam bidang sosial, ekonomi, politik, pemerintahan, hukum, seni dan
budaya, tampaklah kenyataan yang tidak menujukkan konsekuensi dari keimanan. Di
masjid masyarakat berkumpul untuk menampakkan sisi keimanan kepada Allah, akan
tetapi begitu kembali ke kantor, ke pasar, ke masyarakat, seakan-akan keimanan telah
tanggal dan tiada bekas yang tampak pada kegiatan hidup mereka.
Sedemikian beratnya untuk bersikap istiqamah demi mempertahankan iman, hingga Allah
pun memberikan janji kepada siapa pun yang beriman dan konsistensi dalam keimanan.

- . ' · ´ · ` . .` , · . .` · ` . ` · ` . · ¸ . . ·
.` ·.` ` .` ` ¯ ¸ · - ` ` ' .` ` - . , ¸ · ` . ¯` , ` ' ` ¸` -

Aqidah
· ., · ` . ´ ` . ´` ` ' ¸ . ` · ., · ` . ´ · -. ¸ · ,` ` · , -
..` ·
”Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan, "tuhan kami adalah Allah" kemudian
mereka meneguhkan pendirian (istiqamah) maka para malaikat akan turun kepada
mereka (dengan mengatakan), "Janganlah kamu merasa takut, dan janganlah kamu
merasa sedih, dan bergembiralah kamu dengan (memperoleh) surga yang telah dijanjikan
Allah kepadamu. Kamilah pelindung-pelindungmu dalam kehidupan dunia dan akhirat; di
dalamnya kamu memperoleh apa yang kamu inginkan dan memperoleh (pula) apa yang
kamu minta." (QS. Fushilat : 30-31)
Ayat di atas telah menujukkan perhatian, kasih sayang, dan penghargaan Allah kepada
orang-orang beriman yang meneguhkan pendirian, sekaligus janji yang pasti dipenuhi.
Paling tidak ada tiga hasil (natijah) sikap istiqamah dalam keimanan yang ditunjukkan
Allah dalam ayat di atas.
Keberanian (Asy-Syaja'ah)
Orang-orang yang beriman dan istiqamah dalam iman, akan muncul sikap berani
menghadapi berbagai tantangan kehidupan. Terhapuslah sifat kepengecutan dalam setiap
orang yang konsisten mempertahankan iman, karena Allah menurunkan malaikat yang
menjaga dan membisikkan "janganlah kamu merasa takut." Mereka tidak takut
hidupdengan segala resiko kehidupan, sebagaimana mereka tidak takut kematian.
Pada salah satu episode dari Perang Uhud, Imam Muslim meriwayatkan bahwa Rasulullah
SAW bersabda, "bangkitlah kalian menuju surga yang luasnya seluas langit dan bumi!"
Ibnu Hamman Al-Anshari bertanya, "Wahai Rasulullah, selauas langit dan bumi?"
"Benar!" jawab Rasulullah.
Umair Ibnu Hamman berkata, "Sungguh beruntung, sungguh beruntung!"
"Apakah yang mendorongmu berkata demikian?" tanya Rasulullah.
"Aku berharap semoga akau dapat memasukinya,"
"Engkau termasuk orang yang memasukinya," kata Rasulullah.
Selanjutnya, ia mengeluarkan beberapa biji kurma dari skunya untuk dimakan. Setelah itu,
ia berkata, "Untuk menunggu sampai habisnya kurma ini, sungguh hidup yang amat
panjang."

Aqidah

Serta merta ia pun melemparkan buah kurma itu, lalu berangkat ke medan pertempuran
hingga terbunuh.
Dalam kisah yang lain, Abu Bakar bin Abu Musa Al-Asy'ari berkata, "Sewaktu kami
sedang berhadapan dengan musuh, aku dengar ayahku berkata bahwa Rasulullah telah
bersabda, "Sesungguhnya pintu surga itu ada di bawah naungan pedang."
Waktu itu seorang pemuda yang tampak tidak tertarik, bergegas bangkit dan bertanya,
"Hai Abu Musa Al-Asy'ari, apakah engkau benar-benar mendengar Rasulullah bersabda
demikian?"

"ya, benar!" jawab Abu Musa. Kemudian pemuda itu balik menuju kawan-kawannya dan
berkata, "Aku kemari hanya untuk mengucapkan selamat tinggal saja kepada kalian."

Setelah itu, ia patahkan sarung pedangnya dan segera maju ke barisan musuh dengan
pedang, kemudian ia dijumpai telah wafat sebagai syahid."
Tampaklah jiwa perwira, hingga dengan gagah perkasa menjumpai kematian yang mulia
sebagai syuhada'.
Ketenangan (Ath-Thuma'ninah)
Orang-orang yang konsisten dalam keimanan akan memperoleh rasa tenang dan gembira
dalam hidup, baik di dunia maupun di akhirat. Mereka tidak diliputi oleh perasaan sedih,
cemas, gelisah, dan ketidakpastian, sebab malaikat menjaga mereka dengan membisikkan,
"jangalah kamu merasa sedih." Hilanglah kesusahan dan muncullah kegembiraan
menghadapi realitas kehidupan.
Betapa banyak masyarakat yang dilanda kecemasan dan ketidaktenangan dalam
menghadapi kehidupan. Penyebabnya adalah tekanan ekonomi, harga-harga bahan pokok
yang semakin tinggi, hingga berdampak kepada perasaan cemas dan khawatir secara
berlebihan. Bahkan mereka yang telah memiliki kekayaan melimpah, ternyata justru
semakin banyak kecemasan mereka simpan. Takut hartanya hilang atau berkurang,
khawatir rumahnya dirampok orang, atau cermat menghadapi persaingan kemewahan.

Hanya orang beriman dan istiqamah dalam imanlah yang akan mampu menjalani hidup
dengan penuh ketenangan diri. Karena orientasi ukhrawi inilah, yang tidak menjadikan
materi sebagai tujuan kehidupan, sehingga mereka bisa menikmati hidup secara lebih
bijaksana. Sebagian masyarakat menganggap masa sekarang sebagai zaman edan, yang
mengharuskan semua orang mengikuti selera kegilaan zaman agar bisa bertahan dan
sukses dalam hidup. Sesungguhnya, prinsip seperti itu hanyalah menunjukkan kegelisahan
diri menghadapi persoalan kehidupan.

Aqidah
Mereka tidak memiliki pegangan yang pasti, sehingga cenderung labil jika dihadapkan
realitas tantangan. Umat beriman memiliki pegangan yang amat kukuh, yakni keyakinan
kepada Allah yang akan memberikan balasan berupa kebahagiaan tiada batas di akhirat
kelak, sebagaimana ungkapan malaikat "Dan bergembiralah kamu dengan (memperoleh)
surga yang telah dijanjikan Allah kepadamu."
Optimisme (At-Tafa'ul)
Orang-orang yang istiqamah dalam keimanan akan memiliki pandangan hidup yang
optimis, terjauhkan dari kecil hati dan pesimisme. Allah telah menjanjikan sebuah
penghargaan besar, "Kamilah pelindung-pelindungmu dalam kehidupan dunia dan akhirat;
di dalamnya kamu memperoleh apa yang kamu inginkan dan memperoleh (pula) apa yang
kamu minta."
Banyak orang yang bekerja dalam kehidupan dunia untuk tujuan-tujuan praktis keduniaan,
sehingga mereka memiliki optimisme hidup, padahal itu sama sekali tidak ada jaminan
tentang kehidupan akhirat. Sementara orang-orang yang istiqamah dalam iman, telah
dijanjikan kehidupan yang penuh perlindungan, baik di dunia maupun akhirat. Tentu
optimisme menghadapi kehidupan harus tumbuh secara optimal, dibandingkan dengan
orang-orang yang berpaham serba materi.
Allah memberikan sebuah visi makro dalam membangkitkan semangat manusia beriman,
bahwa mereka telah menggenggam jaminan yang akan membuat kehidupan menjadi
sedemikian membahagiakan. Adakah bank, asuransi, yang berani memberikan garansi
kebahagiaan di dunia hingga akhirat? Hanya Allah yang bisa memberikan jaminan
kebaikan hidup, baik di dunia maupun akhirat.
Di sinilah orang-orang yang istiqamah dalam iman mendapatkan optimisme, karena
jaminan kebaikan hidup datangnya langsung dari Allah SWT. Optimisme yang terbangun
bersifat hakiki, bukan sesuatu yang semu dan menipu. Bukan candu atau opium yang
memabukkan atau meninabobokan, sebab setiap keteguhan pasti akan berujung kepastian.
Pada ideologi materialisme, yang terbangun adalah harapan-harapan yang bersifat nisbi,
serba tidak pasti, sebagaimana nilai materi itu sendiri.
Akhirnya, kebahagiaan benar-benar akan didapatkan oleh orang-orang yang beriman dan
istiqamah dalam keimanan. Mereka mendapatkan jaminan kebaikan hidup di dunia
maupun di akhirat sebagai balasan dari konsistensinya dalam mempertahankan keimanan.

Ibnu Katsir dalam menjelaskan surat Fushilat di atas menyebutkan, "Kami, kata malaikat
selanjutnya, adalah teman-teman dan pelindung-pelindungmu dalam kehidupan dunia
menjaga dan melindungimu dengan seizin Allah, tetap menjadi temanmu dalam kehidupan
akhirat, menghiburmu dalam kesepian kubur, pada waktu sangkakala ditiup, dan saat
kebangkitan. Selain itu, juga akan membawamu melalui sirath menuju gerbang surga."


Aqidah
Adakah kebahagiaan yang lebih dari kondisi tersebut?
---oo0oo---

Sumber: Buku Seri Materi Tarbiyah; Syahadat dan Makrifatullah : Ust. Cahyadi
Takariawan, Ust. Wahid Ahmadi, dan Ust. Abdullah Sunono (muchlisin.blogspot.com)








































Aqidah
SYARAT DITERIMANYA SYAHADATAIN
(Syurut Qobulu Syahadatain)


Syahadah yang diikrarkan seorang muslim tidak hanya sebagai ibadah lisan yang hanya
diucapkan. Ia juga mencakup sikap dan perbuatan. Di mana syahadah menuntut seseorang
untuk melakukan dan bersikap sesuai dengan tuntutan syahadah tersebut. Dan agar
Syahadah diterima serta seseorang mendapatkan apa yang dijanjikan Allah kepadanya
dengan syahadahnya itu, maka ada beberapa syarat yang mesti dimiliki oleh seseorang
yang telah mengikrarkan syahadahnya. Di antaranya adalah:
1. Ilmu yang menolak kebodohan
Seseorang yang bersyahadah mesti memiliki ilmu tentang syahadatnya. Ia wajib
memahami arti dua kalimat ini (Laa Ilaha Illa Allah, Muhammadur rasulullah) serta
bersedia menerima hasil ucapannya. Dari kalimat syahadatain tersebut, maka seorang
muslim juga harus memiliki ilmu tentang Allah, ma’rifatullah (mengenal Allah), dan ilmu
tentang Rasulullah. Mengenal secara baik terhadap Allah dan Rasul-Nya menjadikan
seseorang dapat memberikan ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya. Sebaliknya tidak
mengenal (bodoh) terhadap Allah dan Rasul-Nya menyebabkan seseorang tidak mampu

Aqidah
menunaikan hak-hak Allah dan Rasul-Nya . Allah SWT berfirman dalam surat
Muhammad:
·` .` ·` .` : ` ` ` · ` ` · · ` ·` ' ` . ` · · ` · .
` . ¯ . · · ` . ´ ` · ` . ` ·
”Maka ketahuilah, bahwa sesungguhnya tidak ada Ilah (sesembahan, Tuhan) selain Allah
dan mohonlah ampunan bagi dosamu dan bagi (dosa) orang-orang mukmin, laki-laki dan
perempuan. dan Allah mengetahui tempat kamu berusaha dan tempat kamu tinggal.” (QS.
Muhammad: 19).
Orang yang jahil atau bodoh tentang makna syahadatain tidak mungkin dapat
mengamalkan dua kalimat syahadat tersebut.
2. Keyakinan yang menolak keraguan
Syahadah yang diikrarkan juga harus dibarengi dengan keyakinan terhadap Allah dan
Rasul-Nya. Yakin bahwa Allah sebagai Pencipta, Pemberi Rezki, Ma’bud (Yang layak
disembah), dan lain sebagainya, serta yakin bahwa Rasulullah adalah nabi terakhir yang
diutus Allah. Seseorang yang bersyahadat mesti meyakini ucapannya sebagai suatu yang
diimaninya dengan sepenuh hati tanpa keraguan. Keyakinan membawa seseorang pada
istiqamah dan mendorong seseorang melakukan konsekuensinya, sedangkan ragu-ragu
menimbulkan kemunafikan.
Iman yang benar adalah yang tidak bercampur dengan keraguan sedikit pun tentang
ketauhidan Allah, sebagaimana dalam firman-Nya:
` · - .` ` ` . ` . · .` · .` · . ¸ ..` ·` .` `
.. · ·` . ` .` · : · ' · ¸, ¸ · ` . . ` ' ` . . .` · '
”Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu hanyalah orang-orang yang percaya
(beriman) kepada Allah dan Rasul-Nya, kemudian mereka tidak ragu-ragu dan mereka
berjuang (berjihad) dengan harta dan jiwa mereka pada jalan Allah. mereka Itulah
orang-orang yang benar.” (QS. Al-Hujurat: 15).
Selain itu, keyakinan kepada Allah SWT menjadikan seseorang terpimpin dalam hidayah.
Allah SWT berfirman:

Aqidah
..` ·.` ¯ .` ¯ ` . ` ` · ' .` ` . ·` ' ` .` .` · · -
“Dan kami jadikan di antara mereka itu pemimpin-pemimpin yang memberi petunjuk
dengan perintah kami ketika mereka sabar. Dan adalah mereka meyakini ayat-ayat
kami.” (QS. As-Sajadah: 24).
Keyakinan kepada Allah menuntut keyakinan kepada firman-Nya yang tertulis pada kitab-
kitab yang diturunkan kepada para nabi dan rasul. Allah SWT menurunkan kitab-kitab itu
sebagai petunjuk hidup. Dan di antara ciri mukmin adalah tidak ragu terhadap kebenaran
Kitabullah dan yakin terhadap hari Akhir. Sebagaimana dalam firman-Nya:
· , ` . ` · ·, · .` . ` . ´ : · , .` , · ..` ·` .` ¸
.. ` ` ` .` · · · ·· . ..` ,` , :` , . ` ' ..` ·` .` ¸
` ·.` ` .` · · -. : ` · ` ¸ · . ` ' · .. , ` . . ` ¸ · . ` · ¸ · : · '
..` - ` ` .` · : · '
”Alif laam miin. Kitab (Al-Qur’an) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka
yang bertaqwa, (yaitu) mereka yang beriman kepada yang ghaib, yang mendirikan shalat,
dan menafkahkan sebahagian rezki yang kami anugerahkan kepada mereka. Dan mereka
yang beriman kepada Kitab (Al-Qur’an) yang telah diturunkan kepadamu dan kitab-kitab
yang telah diturunkan sebelummu, serta mereka yakin akan adanya (kehidupan) akhirat.
Mereka itulah yang tetap mendapat petunjuk dari Tuhan mereka, dan merekalah orang-
orang yang beruntung.” (QS. Al-Baqarah: 1-5).
3. Keikhlasan Yang Menolak Kesyirikan
Ucapan syahadat mesti diiringi dengan niat yang ikhlas lillahi ta’ala. Ucapan syahadat
yang bercampur dengan riya’ atau ada niat lain yang bukan untuk Allah SWT, maka ia
akan tertolak. Terlebih lagi ketika nilai tauhid terkotori oleh kesyirikan. Ikhlas dalam
bersyahadat merupakan dasar yang paling penting dalam pelaksanaan syahadat.
Syahadat merupakan ibadah, karenanya harus dilakukan dengan ikhlas. Allah SWT
berfirman,

Aqidah
· ` . .` , ` . ` - ¸` ` · .` -` · · ` ` ` · , ` · ' ·
· ` , ` ¸ · : · · ¯` .` ` .`
“Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan
ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus, dan supaya mereka
mendirikan shalat dan menunaikan zakat; dan yang demikian Itulah agama yang lurus.”
(QS. Al-Bayyinah: 5)
Selain itu, kesyirikan menghapus amal-amal seseorang, betapapun banyaknya amal itu.
¸ - ' ` : · ` ¸ = ` - , . ¯ ` ' ` ¸ · : ` · `¸ · ¸ ¸ :` ,
¸ - ¸ · ` ¸ . ´
”Dan sesungguhnya telah diwahyukan kepadamu dan kepada (nabi-nabi) yang
sebelummu. “Jika kamu mempersekutukan (Tuhan), niscaya akan hapuslah amalmu dan
tentulah kamu termasuk orang-orang yang merugi.” (QS. Az-Zumar: 65).
Dan ibadah yang tidak diniatkan dengan ikhlas tidak diterima oleh Allah Ta’ala.
` ¸ · ` - ` · ` . ´` . ` ' ` ¸ ¸ -.` ` . ´ · · ` ' ` ¸ · . ¯
- ' ·` · · · ` · ` ` - . · ¸ ` · , · ·` . .` -`
”Katakanlah: Sesungguhnya Aku ini manusia biasa seperti kamu, yang diwahyukan
kepadaku: “Bahwa sesungguhnya Tuhan kamu itu adalah Tuhan yang Esa”. barangsiapa
mengharap perjumpaan dengan Tuhannya, maka hendaklah ia mengerjakan amal yang
saleh dan janganlah ia mempersekutukan seorang pun dalam beribadah kepada
Tuhannya“. (QS. Al-Kahfi: 110).
4. As-Shidqu (Benar) Yang Menolak Kebohongan (Dusta)
Dalam pernyataan syahadat muslim wajib membenarkannya tanpa dicampuri sedikit pun
dusta (bohong). Ash-Shidqu ma’allah mutlak diperlukan demi menjaga kemurnian tauhid
seseorang. Benar adalah landasan iman, sedangkan dusta landasan kufur. Sikap shiddiq
akan menimbulkan ketaatan dan amanah. Sedangkan dusta menimbulkan kemaksiatan dan

Aqidah
pengkhianatan. Dusta dan berbohong bertentangan dengan nilai kejujuran, membuat
keimanan seseorang ditolak oleh Allah.
Ciri-ciri taqwa adalah sikap shiddiq (jujur). Sebagaimana firman Allah SWT,
.. ` ` ` .` · : · ' · ·` . ·` ` . . - .
“Dan orang yang membawa kebenaran (Muhammad) dan membenarkannya, mereka
Itulah orang-orang yang bertaqwa.” (QS. Az-Zumar: 33).
Orang yang benar dan jujur syahadahnya akan terbukti dalam medan jihad dan Allah
membalas mereka, sedangkan orang-orang munafik akan mendapat siksa.
` · ` - ¸ . · ` ¸ · ` .` .` · ·` , · · ` · · · . · . . - ·` .` ¸ ·
· ` . · ` = ` ` ¸ · ` .` .` · , . ` - , ` . . ·` . · · . ` ·
, - . · . ¯ · . ` . .` , · ..` ` ' . . · ` . ·`
“Di antara orang-orang mukmin itu ada orang-orang yang menepati apa yang telah
mereka janjikan kepada Allah; maka di antara mereka ada yang gugur. dan di antara
mereka ada (pula) yang menunggu-nunggu dan mereka tidak merubah (janjinya). Supaya
Allah memberikan balasan kepada orang-orang yang benar itu karena kebenarannya, dan
menyiksa orang munafik jika dikehendaki-Nya, atau menerima taubat mereka.
Sesungguhnya Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Al-Ahzab:
23-24).
Sedangkan ciri kemunafikan adalah dusta. Sebagaimana dalam firman-Nya,
·` .` ` .` · · -. ·` . , · ·¯ .. ` ¸ · ¸ ¸ · ,
.` ` ·` · ` .` . ` ' . ..` · ` - · .` ·¯ ¸ · ..` · · -` , ¸ ·
· ` .` . . · ` · ` .` · · · ` ¸ · `. . . · ..` ´ .` ¯ ` ., ' ` .
“Di antara manusia ada yang mengatakan: “Kami beriman kepada Allah dan hari
kemudian,” pada hal mereka itu sesungguhnya bukan orang-orang yang beriman. Mereka
hendak menipu Allah dan orang-orang yang beriman, padahal mereka hanya menipu

Aqidah
dirinya sendiri sedang mereka tidak sadar. Dalam hati mereka ada penyakit, lalu
ditambah Allah penyakitnya; dan bagi mereka siksa yang pedih, disebabkan mereka
berdusta.” (QS. Al-Baqarah: 8-10).
Kebenaran dan kemunafikan diuji melalui cobaan. Untuk dilihat siapa sesungguhnya yang
jujur dengan keimanannya.
..` ` . ` .` · ·¯ . . . ' . ¯ `` . ' ` ¸ . - ' , · `
· ´ ¸ ` · , . · . ¸ ` · ¸ ` · , · ` . . ` · ` ¸ · ¸
“Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: “Kami telah
beriman”, sedang mereka tidak diuji lagi? dan sesungguhnya kami telah menguji orang-
orang yang sebelum mereka, maka sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang
benar dan sesungguhnya dia mengetahui orang-orang yang dusta.” (QS. Al-Ankabut: 2-
3).
Sikap benar mengajak kepada kebaikan dan kebaikan membawa ke surga. Sifat dusta
mengajak kepada keburukan dan keburukan membawa ke neraka. Rasulullah bersabda,
¸` -` . ·` - ¸ . ` . ` . ` ¸ . ` . ·` ` . .
. .` - ¸ . ` . . ´ . ` . . ´` ¸` - ` ·` ` . ,
¸` - ` . ´ , ¸` -` . ` ¸ . ` . .` - ¯ . ´`
“Sesungguhnya kejujuran menunjukkan kepada kebajikan dan kebajikan menunjukkan
kepada surga. Seseorang berlaku jujur sehingga ia dicatat sebagai orang jujur.
Sesungguhnya dusta menunjukkan kepada kejahatan dan kejahatan menunjukkan kepada
neraka. Seseorang berlaku dusta hingga ia ditulis sebagai pendusta.” (HR. Bukhari
Muslim).
Oleh karena itu, hendaknya seorang muslim melakukan hal-hal yang sejalan dengan
keyakinannya dan meninggalkan yang meragukannya, sesungguhnya benar itu
menenangkan (hati) sedangkan dusta itu meragu-ragukan.



Aqidah
Rasulullah bersabda,
:` ` . · ¸ :` ` · ` - ·
“Tinggalkan apa yang meragukanmu kepada apa yang tidak meragukanmu.”
5. Mahabbah (Kecintaan) Yang Menolak Kebencian.
Dalam menyatakan syahadat ia mendasarkan pernyataannya dengan cinta. Cinta ialah rasa
suka yang melapangkan dada. Ia merupakan ruh dari ibadah, sedangkan syahadatain
merupakan ibadah yang paling utama. Dengan rasa cinta ini segala beban akan terasa
ringan, tuntutan syahadatain akan dapat dilaksanakan dengan mudah.
Cinta kepada Allah yang teramat sangat merupakan sifat utama orang beriman. Allah
berfirman,
¸ · ` .` - ¯ ` .` . .' -` · ` ' · .` · ` ¸ · -` ` ¸ · ¸` ¸ ·
· ·` . . ' . · .` · .` ~ ¸ . ` . · ' ` - ' ' .` · .
· ` · . ' ·, - .
”Dan di antara manusia ada orang-orang yang menyembah tandingan-tandingan selain
Allah; mereka mencintainya sebagaimana mereka mencintai Allah. adapun orang-orang
yang beriman amat sangat cintanya kepada Allah. dan jika seandainya orang-orang yang
berbuat zhalim itu mengetahui ketika mereka melihat siksa (pada hari kiamat), bahwa
kekuatan itu kepunyaan Allah semuanya, dan bahwa Allah amat berat siksaan-Nya
(niscaya mereka menyesal).” (QS. Al Baqarah: 165)
Cinta kepada Allah dan Rasul-Nya menyebabkan datangnya rasa manis keimanan, sabda
Rasulullah saw.,
` . - ' ` · .` ` · .. ´ . ' . · , · - - ·, · ` ¸ ¯ ` ¸ · . . ·
¸ · ·.` · . ' · ´ . ' · ` ·' -` .` ` . -` . ' ` · . ` · ·` ,
· ` . ' ` · ´ ¯ ´ ` ¸

Aqidah
”Ada tiga perkara yang barangsiapa pada dirinya terdapat perkara itu akan
mendapatkan manisnya iman; agar Allah dan Rasul-Nya lebih dicintainya daripada
selainnya. Agar mencintai seseorang atau membencinya karena Allah. Dan agar benci
kembali kepada kekafiran sebagaimana ia benci jika dilemparkan ke neraka.” (Muttafaq
Alaihi).
Seorang mukmin mendahulukan kecintaan kepada Allah, Rasul dan jihad dari kecintaan
terhadap yang lain.
` ' ` . ´` .` - ` . ¯` ` ' ` . ¯` . . ¯ . ¸ · ` . ´` · ` . ´` -
` . - ' . ` . .` ` ¸ ¯ · · · ¯ .` . ` - · - ·.` ` · · . .` · '
· ` · ' ` · ¸ ' ¸` - .` .` · · , ¸ · · . - · .` · ¸ · ` . ´` ,
. ` . ` · ·` .
”Katakanlah: “Jika bapak-bapak, anak-anak, saudara-saudara, istri-istri, kaum
keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri
kerugiannya, dan tempat tinggal yang kamu sukai, adalah lebih kamu cintai dari Allah
dan Rasul-Nya dan dari berjihad di jalan nya, maka tunggulah sampai Allah
mendatangkan keputusan-Nya”. dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang
yang fasik.” (QS. At-Taubah: 24),
6. Menerima Yang Jauh Dari Penolakan.
Muslim secara mutlak menerima nilai-nilai serta kandungan isi syahadatain. Tidak ada
keberatan dan tanpa rasa terpaksa sedikit pun. Baginya tidak ada pilihan lain kecuali
Kitabullah dan sunnah Rasul. Ia senantiasa siap untuk mendengar, tunduk, patuh dan taat
terhadap perintah Allah dan Rasul-Nya.
Mukmin adalah mereka yang bertahkim (berhukum) kepada Rasul Allah dalam seluruh
persoalannya kemudian ia menerima secara total keputusan Rasul, tanpa ragu-ragu dan
kebenaran sedikit pun.
` ´ -` ¸` - ..` ·` .` :` · ¸ · ` - ` . ` .` . ` , - , · ·.
, ` .` ` .` , . · ` · - - ` . . ` '

Aqidah
“Maka demi Tuhanmu, mereka (pada hakikatnya) tidak beriman hingga mereka
menjadikan kamu hakim terhadap perkara yang mereka perselisihkan, Kemudian mereka
tidak merasa dalam hati mereka sesuatu keberatan terhadap putusan yang kamu berikan,
dan mereka menerima dengan sepenuhnya.” (QS. An-Nisa’: 65).
Ciri orang beriman ialah menerima ketentuan dan perintah Allah tanpa keberatan dan
pilihan lain.
` .` . .. ´ . ' ` · ' ` · .` ` · ¸ . · · · ·` .` · ¸ ·` .` . ¯ ·
, ` · . ¸ . ` · ` · .` · ¸` · ` ¸ · ` . · ` · ' ` ¸ · · , -
“Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mukmin dan tidak (pula) bagi perempuan yang
mukmin, apabila Allah dan rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi
mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka. dan barangsiapa mendurhakai Allah
dan rasul-Nya Maka sungguhlah dia telah sesat, sesat yang nyata.” (QS. Al-Ahzab: 36).
¸ · · . -` ` · , - ` .` . . ¯ · ` ` - . · ` , ` - :'
.. ¯ ` ` ` ·
“Dan Tuhanmu menciptakan apa yang dia kehendaki dan memilihnya. sekali-kali tidak
ada pilihan bagi mereka. Maha Suci Allah dan Maha Tinggi dari apa yang mereka
persekutukan (dengan Dia).” (QS. Al-Qashash: 68).
Ciri mukmin ialah mendengar dan taat terhadap Allah dan Rasul dalam seluruh masalah
hidup mereka.
´` - , · .` · ¸ .` ·` · · ·` .` .` . · . ¯ ` . ' ` .` . ` , .
..` - ` ` .` · : · ' ` · ~ ' ` · . .
“Sesungguhnya jawaban orang-orang mukmin, bila mereka dipanggil kepada Allah dan
rasul-Nya agar Rasul menghukum (mengadili) di antara mereka ialah ucapan. “Kami
mendengar, dan kami patuh“. dan mereka itulah orang-orang yang beruntung.” (QS. An-
Nur: 51).


Aqidah
7. Pelaksanaan Yang Jauh Dari Sikap Statis atau Diam.
Syahadatain hanya dapat dilaksanakan apabila diwujudkan dalam amal yang nyata. Maka
muslim yang bersyahadat selalu siap melaksanakan ajaran Islam yang menjadi aplikasi
syahadatain. Ia menentukan agar hukum dan undang-undang Allah berlaku pada diri,
keluarga maupun masyarakatnya.
Perintah Allah untuk bekerja di jalan-Nya dengan perhitungan nilai kerja itu di sisi Allah.
¸ .' · ` ..` ·` .` ` · .` `. ´ · ` · . , · . ` · ¸ ·
.. ` · ` .` ` ¯ ` . ´ ·` ` , · · · .` .` , · . ·
“Dan katakanlah: “Bekerjalah kamu, maka Allah dan rasul-Nya serta orang-orang
mukmin akan melihat pekerjaanmu itu, dan kamu akan dikembalikan kepada (Allah) yang
mengetahui akan yang ghaib dan yang nyata, lalu diberitakan-Nya kepada kamu apa yang
telah kamu kerjakan.” (QS. At-Taubah: 105).
Orang yang beramal shalih karena Allah, baik-laki-laki maupun perempuan akan
mendapat kehidupan yang baik dan surga Allah.
· ` , ~ · , - ` ·` , ,` -` · ` ¸ ·` .` · .` · ¸ ·` ' ` ' ¯ · ` ¸ · - . ¸ · ` ¸ ·
.. ` · .` ¯ · ¸ ` - ' ` .` · ` - ' ` .` .` ` -
“Barangsiapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam
keadaan beriman, maka sesungguhnya akan kami berikan kepadanya kehidupan yang
baik dan sesungguhnya akan kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih
baik dari apa yang telah mereka kerjakan.” (QS. An-Nahl: 97)
Syarat-syarat di atas saling terkait dan menjadikan seseorang ridha (menerima) Allah
sebagai Tuhannya, Rasul sebagai suri teladannya, dan Islam sebagai jalan hidupnya.
Rasulullah SAW bersabda,
.¯ , -· · ··. ' = .,. ¸· - .· ¸·
·,. .' = ¸· -

Aqidah
“Barangsiapa ketika pagi dan sore mengatakan, "Saya ridha Allah sebagai Tuhan, Islam
sebagai agama, dan Muhammad sebagai Rasul dan Nabi," maka adalah wajib bagi Allah
untuk meridhainya.” (HR. Abu Daud, Tirmidzi, Nasa'i, dan Hakim).
---oo0oo---

Sumber: Tim Kajian Manhaj Tarbiyah (dakwatuna.com)






































Aqidah
HAL-HAL YANG MEMBATALKAN SYAHADAT

Dengan mengucapkan dua kalimat syahadat seseorang berarti telah mempersaksikan diri
sebagai hamba Allah semata. Kalimat Lailaaha illallahu dan Muhammadur rasulullah
selalu membekas dalam jiwanya dan menggerakkan anggota tubuhnya agar tidak
menyembah selain Allah. Baginya hanya Allah sebagai Tuhan yang harus ditaati, diikuti
ajaranNya, dipatuhi perintahnya, dan dijauhi laranganNya. Caranya bagaimana, lihatlah
pribadi Rasulullah saw. sebab dialah contoh hamba Allah sejati.
Dalam pembukaan surat Al-Israa’, Allah telah mendeklarasikan bahwa Rasulullah saw.
adalah hambaNya.
-` ¸ · - -` ¸ · ·` , · ` · . ` ' . . -` `
` . ` ·, .` · · ¯ ` ¸ · ` · ` ` · ` . - ¯ . ¸ . ·.
Maha Suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari
Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami
perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia
Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. [QS. Al Israa' (17): 1]
Begitu juga dalam pembukaan surat Al-Kahfi, Allah menegaskan bahwa Rasulullah
adalah hambaNya yang mendapat bimbingan Al-Qur’an.
- . · ` · ¸ ·` - ` . . ´ · ` · ¸ · . ` ' . · ` ` -
Segala puji bagi Allah yang telah menurunkan kepada hamba-Nya Al-Kitab (Al-Qur’an)
dan dia tidak mengadakan kebengkokan di dalamnya. [QS. Al-Kahfi (18): 1]
Kedua ayat di atas menunjukkan bahwa makna dua kalimat syahadat –yang intinya adalah
tauhid—harus benar-benar tercermin dalam jiwa dan perbuatan orang yang
mengikrarkannya. Dan bagi orang yang mengikrarkan syahadatain itu bentuk pengakuan
dirinya sebagai hamba Allah. Sebagai hamba Allah, orang yang berikrar tadi tidak ada
pilihan kecuali mencontoh pribadi Rasulullah saw. dalam segala sisi kehidupannya, baik
dari sisi akidah dan ibadah, maupun sisi-sisi lainnya seperti sikapnya terhadap istri dan
pelayannya di rumah, pergaulannya bersama-sahabatnya, akhlaknya dalam melakukan
tansaksi bisnis dan kepemimpinannya sebagai kepala Negara. Kenapa? Karena Rasulullah
adalah seorang hamba Allah sejati yang memang dibentuk sebagai figur ideal yang wajib
dicontoh akhlaknya.

Aqidah
Untuk menjaga kemurnian tauhid, seperti yang dicontohkan Rasulullah saw., seorang
hamba hendaknya menghindar jauh-jauh dari hal-hal yang merusak kemurnian tauhid
sebagai cerminan dua kalimat syahadat tersebut. Setidaknya ada tiga hal yang bisa
membatalkan syahadatnya, yaitu asy-syirku (menyekutukan Allah), al-ilhaadu
(menyimpang dari kebenaran), dan an-nifaaku (berwajah dua, menampakkan diri sebagai
muslim, sementara hatinya kafir).
Syirik (menyekutukan Allah)
Definisi syirik adalah lawan kata dari tauhid, yaitu sikap menyekutukan Allah secara dzat,
sifat, perbuatan, dan ibadah. Adapun syirik secara dzat adalah dengan meyakini bahwa
dzat Allah seperti dzat makhlukNya. Akidah ini dianut oleh kelompok mujassimah. Syirik
secara sifat artinya seseorang meyakini bahwa sifat-sifat makhluk sama dengan sifat-sifat
Allah. Dengan kata lain, mahluk mempunyai sifat-sifat seperti sifat-sifat Allah. Tidak ada
bedanya sama sekali.
Sedangkan syirik secara perbuatan artinya seseorang meyakini bahwa makhluk mengatur
alam semesta dan rezeki manusia seperti yang telah diperbuat Allah selama ini. Sedangkan
syirik secara ibadah artinya seseorang menyembah selain Allah dan mengagungkannya
seperti mengagungkan Allah serta mencintainya seperti mencintai Allah. Syrik-syirik
dalam pengertian tersebut, secara eksplisit maupun implisit, telah ditolak oleh Islam.
Karenanya, seorang muslim harus benar-benar berhat-hati dan menghindar jauh-jauh dari
syirik-syirik seperti yang telah diterangkan di atas.
Contoh bentuk-bentuk syirik ada banyak. Di antaranya, pertama, menyembah patung atau
berhala (al-ashnaam). Allah swt. menyebutnya dalam ayat berikut ini.
` · ·` . ` . ´ ` . - ' · ` · ` · ` ` , - .` . · · . ·` ` - ` . = ·` ` ¸ · : ·
` .` . · .` ` - . ` . ¸ · ¸` - .` ` - · ` . ´` , · ¸ ` ` · .
Demikianlah (perintah Allah). Dan barangsiapa mengagungkan apa-apa yang terhormat
di sisi Allah, maka itu adalah lebih baik baginya di sisi Tuhannya. Dan telah dihalalkan
bagi kamu semua binatang ternak, terkecuali yang diterangkan kepadamu keharamannya,
maka jauhilah olehmu berhala-berhala yang najis itu dan jauhilah perkataan-perkataan
dusta. [QS. Al Hajj (22): 30]
·` , :` · ¸ ` ·` . ` .` ` . ` · ` . · ` ` ` · . . ' ·, . . · ·

Aqidah
Ingatlah ketika ia berkata kepada bapaknya, “Wahai Bapakku, mengapa kamu
menyembah sesuatu yang tidak mendengar, tidak melihat, dan tidak dapat menolong kamu
sedikitpun?” [QS. Maryam (19): 42]
Menyembah matahari adalah bentuk syirik yang kedua. Allah menolak orang-orang yang
menyebah matahari, bulan, dan atau bintang.
. · ' · ¸ · ¸` . . , - . ` · ` . ´ . . . `
·.` - ` ¸` ·, · - ` ·` = . ¸` , ¸ ` ·` ¸` · ¸ ·
· ` . ` · · ` ` ·. ` , - ` · . ' · ` · ' . - ` ·
Sesungguhnya Tuhan kamu ialah Allah yang telah menciptakan langit dan bumi dalam
enam masa, lalu Dia bersemayam di atas ‘Arsy. Dia menutupkan malam kepada siang
yang mengikutinya dengan cepat, dan (diciptakan-Nya pula) matahari, bulan dan
bintang-bintang (masing-masing) tunduk kepada perintah-Nya. Ingatlah, menciptakan
dan memerintah hanyalah hak Allah. Maha Suci Allah, Tuhan semesta alam. [QS. Al
A'raaf (7): 54]
. ¸` ` ` -` . ` ` ¸` ` . ¸` , · ¯ ` ¸ ·
.` ` ` · ` · ` .` ` ¯ . ¸` . - . · ` ` -`
“Dan sebagian dari tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah malam, siang, matahari, dan
bulan. Janganlah bersujud kepada matahari dan janganlah (pula) kepada bulan, tetapi
bersujudlah kepada Allah Yang menciptakannya, jika kamu hanya kepada-Nya saja
menyembah”. [QS. Fushshilat (41): 37]
Bentuk syirik yang ketiga adalah menyembah malaikat dan jin.
. · ` , · . ` · . · - `.` . - ¸ - . ¯ ` · . · -
.. . · ¸ · ` · -` `
Dan mereka (orang-orang musyrik) menjadikan jin itu sekutu bagi Allah, padahal Allah-
lah yang menciptakan jin-jin itu, dan mereka membohong (dengan mengatakan)
bahwasanya Allah mempunyai anak laki-laki dan perempuan, tanpa (berdasar) ilmu

Aqidah
pengetahuan. Maha Suci Allah dan Maha Tinggi dari sifat-sifat yang mereka berikan.
[QS. Al An'aam (6): 100]
- ` .` ·` ` ` - ·` . .` ` ` · .` ¯ ` . ¯ ..` . · ' · ´ · .. . ·, ,
` .` ·` · ¯ ' ¸ - .` ` ` · .` ¯ ¸ ` .. ` · ` ¸ · ` , .` ' : -` ` . ·
..` ·` .` · ` . .
“Dan (ingatlah) hari (yang di waktu itu) Allah mengumpulkan mereka semuanya
kemudian Allah berfirman kepada malaikat, “Apakah mereka ini dahulu menyembah
kamu?” Malaikat-malaikat itu menjawab, “Maha Suci Engkau. Engkaulah pelindung
kami, bukan mereka. Bahkan mereka telah menyembah jin; kebanyakan mereka beriman
kepada jin itu.”. [QS. Saba' (34): 40-41]
Bentuk syirik keempat adalah menyembah para nabi, seperti Nabi Isa a.s. yang disembah
kaum Nasrani dan Uzair yang disembah kaum Yahudi. Keduanya sama-sama dianggap
anak Allah.
: · · ` ¸` ` -, . . . · · ` ¸` ` ` ` · ` ·.` . , . ·
¸ ' ` · ` .` . · ¸` · ` ¸ · ` ¯ ¸ .` . · .. · · .` ` . . · . · ' ` .` . `. ·
.. ´ ·` .`
Orang-orang Yahudi berkata, “Uzair itu putera Allah,” dan orang-orang Nasrani
berkata, “Al masih itu putera Allah.” Demikianlah itu ucapan mereka dengan mulut
mereka, mereka meniru perkataan orang-orang kafir yang terdahulu. Dilaknati Allah
mereka, bagaimana mereka sampai berpaling?” [QS. At-Taubah (9): 30]
¸ ` -, . · .` · ` ¸` ` -, .` · · . . · ¸ ¯ `
·` , · ` · · - ` · · ` · ` ` ` ¸ · ` · ` . ´ ¸ · ` ` ` · ¸, `
· ` ` · ' · · - .` ' ` ¸ · =

Aqidah
Sesungguhnya telah kafirlah orang-orang yang berkata, “Sesungguhnya Allah ialah Al-
Masih putera Maryam.” Padahal Al-Masih (sendiri) berkata, “Hai Bani Israil, sembahlah
Allah Tuhanku dan Tuhanmu.” Sesungguhnya orang yang mempersekutukan (sesuatu
dengan) Allah, maka pasti Allah mengharamkan kepadanya surga dan tempatnya ialah
neraka, tidaklah ada bagi orang-orang zalim itu seorang penolongpun. [QS. Al-Maidah
(5): 72]
Bentuk syirik yang kelima adalah menyembah rahib atau pendeta. Allah berfirman,
“Mereka menjadikan orang-orang alimnya, dan rahib-rahib mereka sebagai tuhan selain
Allah, dan (juga mereka mempertuhankan) Al-Masih putera Maryam; padahal mereka
hanya disuruh menyembah Tuhan Yang Maha Esa; tidak ada Tuhan (yang berhak
disembah) selain Dia. Maha Suci Allah dari apa yang mereka persekutukan.”
Adi bin Hatim r.a. pernah bertanya kepada Rasulullah mengenai hal tersebut, seraya
berkata, “Sebenarnya mereka tidak menyembah pendeta atau rahib mereka.” Rasululah
saw. menjawab, “Benar, tetapi para rahib atau pendeta itu telah mengharamkan yang halal
dan menghalalkan yang haram, sementara mereka mengikutinya. Bukankah itu tindak
penyembahan terhadap mereka?”
Bentuk syirik yang keenam, menyembah Thaghuut. Istilah thaghuut diambil dari kata
thughyaan artinya melampaui batas. Maksudnya, segala sesuatu yang disembah selain
Allah. Setiap seruan para rasul intinya adalah mengajak kepada tauhid dan menjauhi
thaghuut. Allah berfirman,
` ` · . ' ..` · · ' ¸ ¯ ¸ · · · ` ` .` .` · .. · = .` ` - · `
¸` . ¸ · ` · · · . ·` , · ` . - ` ¸· ` .` .` · ` · . · ` ¸ ·
´` · · · . ¯ .` , ¯ ` =` ·
“Dan sesungguhnya Kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan):
Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah Thaghut itu. Maka di antara umat itu ada orang-
orang yang diberi petunjuk oleh Allah dan ada pula di antaranya orang-orang yang telah
pasti kesesatan baginya. Maka berjalanlah kamu di muka bumi dan perhatikanlah
bagaimana kesudahan orang-orang yang mendustakan (rasul-rasul).” [QS. An-Nahl (16):
36].
Dan tauhid yang murni tidak akan bisa dicapai tanpa menghindar dari menyembah
thaghuut. Allah berfirman,

Aqidah
.. · = ` ´ ` ¸ · ¸ · ¸ · ` ` ` ¸ , ` · ¸ ¸ · · ¯ .
` ·, ` · . · . ` . ¸ ` . ·` ` · : ` ` · · ` ¸ ·` .`
` ., ·
“Tidak ada paksaan untuk (memasuki) agama (Islam); sesungguhnya telah jelas jalan
yang benar dari jalan yang sesat. Karena itu, barangsiapa yang ingkar kepada thaghuut
dan beriman kepada Allah, maka sesungguhnya ia telah berpegang kepada buhul tali
yang amat kuat yang tidak akan putus. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha
Mengetahui.” [QS. Al-Baqarah (2): 256]
` · . ` ` ` .` . · ¸ .` ' ·` ` ` · . ' .. · = .` ` - ¸
. · ·
Allah bangga dengan orang-orang beriman yang menjauhi thaghuut. “Dan orang-orang
yang menjauhi thaghut (yaitu) tidak menyembahnya dan kembali kepada Allah, bagi
mereka berita gembira; sebab itu sampaikanlah berita itu kepada hamba-hamba-Ku.”
[QS. Az-Zumar (39): 17]
Bentuk syirik yang ketujuh adalah menyembah hawa nafsu. Hawa nafsu adalah
kecendrungan untuk melakukan keburukan. Seseorang yang menuhankan hawa nafsu,
mengutamakan keinginan nafsunya di atas cintanya kepada Allah. Dengan demikian ia
telah mentaati hawa nafsunya dan menyembahnya. Allah berfirman,
·, ¯ ·` , · .. ´ .` ' · ' ` · . · ` · . - ¸ · .` ' '
“Terangkanlah kepadaku tentang orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai
tuhannya. Maka apakah kamu dapat menjadi pemelihara atasnya?” [QS. Al-Furqaan
(25): 43]
· .` ' · ' · ·` ¸ · . - . · ¸ · ` · ` · . ' ` · . · ` · . - ¸
.` ¯ · · ' · ` · ` ¸ · · ` . ` ¸ · · · · . ¸ · ¸ · - · ·

Aqidah
“Maka pernahkah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai
tuhannya, dan Allah membiarkannya sesat berdasarkan ilmu-Nya dan Allah telah
mengunci mati pendengaran dan hatinya, dan meletakkan tutupan atas penglihatannya?
Maka siapakah yang akan memberinya petunjuk sesudah Allah (membiarkannya sesat).
Maka mengapa kamu tidak mengambil pelajaran?” [QS. Al-Jatsiyah (45): 23]
Macam-macam Syirik
Ada dua macam syirik, yaitu syirik besar dan syirik kecil. Masing-masing dari kedua
macam ini mempunyai dua dimesi: zhahir (tampak) dan khafiy (tersembunyi).
Syirik besar (asy-syirkul akbar) adalah tindakan menyekutukan Allah dengan
makhlukNya. Dikatakan syirik besar karena pelakunya tidak akan diampuni dosanya dan
tidak akan masuk surga. Allah berfirman,
: · .` · · ` ` · · · ` ` . ' ` `· . · . ` · ` ` ` ¸ · . ` ¸
, · .· . ¸ . ` · ·
“Sesungguhnya Allah tidak mengampuni dosa mempersekutukan (sesuatu) dengan Dia;
dan Dia mengampuni dosa yang selain dari syirik itu bagi siapa yang dikehendaki-Nya.
Barangsiapa yang mempersekutukan (sesuatu) dengan Allah, maka sesungguhnya ia telah
tersesat sejauh-jauhnya.” [QS. An-Nisaa' (4): 116]
Syirik besar ini dibagi dua dimensi: zhahir dan kafiy. Contoh syirik besat yang zhahir
adalah seperti menyembah bintang, matahari, bulan, patung-patung, batu-batu, pohon-
pohon besar, dan manusia (seperti menyembah Fir’un, raja-raja, Budha, Isa bin Maryam,
malaikat, jin dan Setan). Sementara yang khafiy bisa dicontohkan seperti meminta kepada
orang-orang yang sudah mati dengan keyakinan bahwa mereka bisa memenuhi apa yang
mereka yakini, atau menjadikan seseorang sebagai pembuat hukum, menghalalkan dan
mengharamkan seperti yang seharusnya menjadi hak Allah swt.
Adapun syirik kecil (asy-syirkul ashghar) adalah suatu tindakan yang mengarah kepada
syirik, tetapi belum sampai ke tingkat keluar dari tauhid, hanya saja mengurangi
kemurniannya. Syirik kecil juga dua dimensi: dzahir dan khafiy. Yang zhahir bisa berupa
lafal (pernyataan) dan perbuatan.
Contoh yang berupa lafal adalah bersumpah dengan nama selain Allah dan mengarah ke
syirik seperti “demi Nabi, demi Ka’bah, demi kakek dan nenek.” Dalam sebuah hadits
Rasulullah saw. bersabda, “Man halafa bighairillahi faqad kafara wa asyraka (siapa yang
bersumpah dengan selain Allah, maka ia kafir dan musyrik).” (HR. Turmidzi nomor
1535). Termasuk lafal yang mengarah ke syirik pernyataan, “Kalau tidak karena Allah dan

Aqidah
si fulan niscaya ini tidak akan terjadi.” Contoh yang lain adalah memberikan nama anak
dengan Abdul Ka’bah dan lain sebagainya.
Adapun contoh syirik kecil zhahir yang berupa perbuatan seperti mengalungkan jimat
dengan keyakinan bahwa itu bisa menyelamatkan dari mara bahaya.
Syirik kecil yang khafiy biasanya berupa niat atau keinginan, seperti riya’ dan sum’ah.
Yaitu melakukan tindak ketaatan kepada Allah dengan niat ingin dipuji orang. Seperti
menegakkan shalat dengan tampak khusyu’ karena sedang di samping calon mertua.
Seseorang berbuat seperti itu dengan harapan supaya dipuji sebagai orang shalih. Padahal
di saat sendirian, shalatnya tidak demikian. Riya’ adalah termasuk dosa hati yang sangat
berbahaya. Karena itu, Islam sangat memperhatikan sebab perbuatan hati adalah faktor
yang menentukan bagi baik tidaknya perbuatan zhahir.
Allah berfirman,
· . . =` ` . .` ·¯ ¸ . ` ' ` · · ` , ` ` . ¯ . ·. ¸ ` . ´
` . ` ·` , · . . . ¸ · ¯ ` · · · -. ·` . , · ` ¸ ·` .` . ¸ .
. ` · .` ¯ · .` ¸ ¸ · .` . . ` · ¯ · ¸ ` · . ' ·
¸ · ´ ·` . . ` .
“Hai orang-orang beriman, janganlah kamu menghilangkan (pahala) sedekahmu dengan
menyebut-nyebutnya dan menyakiti (perasaan si penerima), seperti orang yang
menafkahkan hartanya karena riya’ kepada manusia dan dia tidak beriman kepada Allah
dan hari kemudian. Maka perumpamaan orang itu seperti batu licin yang di atasnya ada
tanah, kemudian batu itu ditimpa hujan lebat, lalu menjadilah dia bersih (tidak bertanah).
Mereka tidak menguasai sesuatupun dari apa yang mereka usahakan; dan Allah tidak
memberi petunjuk kepada orang-orang yang kafir.” [QS. Al-Baqarah (2): 264]
Dalam sebuah hadits Rasulullah saw. bersabda, “Man samma’a sammallahu bihii, waman
yaraa’ii yaraaillahu bihii (siapa yang menampakkan amalnya dengan maksud riya’ Allah
akan menyingkapnya di hari Kiamat, dan siapa yang menunjukkan amal shalihnya dengan
maksud ingin dipuji orang, Allah mengeluarkan rahasia tersebut di hari Kiamat).” (HR.
Bukhari 11/288 dan Muslim nomor 2987)



Aqidah
Bahaya-bahaya Syirik
Perbuatan syirik sangat berbahaya. Berikut ini beberapa bahaya yang akan menimpa
orang-orang pelaku syirik.
Pertama, syirik adalah kezhaliman yang nyata. Allah berfirman, “Innasy syirka ladzlumun
adziim (sesungguhnya mempersekutukan Allah adalah benar-benar kezaliman yang
besar).” [QS. Luqman (31): 13]. Mengapa disebut kezhaliman yang besar? Sebab dengan
berbuat syirik seseorang telah menjadikan dirinya sebagai hamba makhluk yang sama
dengan dirinya yang tidak berdaya apa-apa.
Kedua, syirik merupakan sumber khurafat. Sebab, orang-orang yang meyakini bahwa
selain Allah –seperti bintang, matahari, kayu besar dan lain sebagainya– bisa memberikan
manfaat atau bahaya, berarti ia telah siap melakukan segala khurafat dengan mendatangi
para dukun, kuburan-kuburan angker, dan mengalungkan jimat di lehernya.
Ketiga, syirik adalah sumber ketakutan dan kesengsaraan. Allah berfirman,
· . ` ` . · · . ¯ ` ' .` · ` ` ¯ ¸ .. · ¸ · ¸ `
= . . · · ¸ · ` ` .` · ' · = `
“Akan Kami masukkan ke dalam hati orang-orang kafir rasa takut disebabkan mereka
mempersekutukan Allah dengan sesuatu yang Allah sendiri tidak menurunkan keterangan
tentang itu. Tempat kembali mereka ialah neraka; dan itulah seburuk-buruk tempat
tinggal orang-orang yang zhalim.” [QS. Ali Imran (3): 151]
Keempat, syirik merendahkan derajat kemanusiaan si pelakunya. Allah berfirman,
. ¸ · - ' ´ · · ` · ` ` ` ¸ · · ¯ ` ` · ` , · · . ` -
` · =` - · ,, - . ´ · ¸ · ` - · . .` . ` ' ` ` , =
“Barangsiapa mempersekutukan sesuatu dengan Allah, maka adalah ia seolah-olah jatuh
dari langit lalu disambar oleh burung, atau diterbangkan angin ke tempat yang jauh.”
[QS. Al-Hajj (22): 31]



Aqidah
Kelima, syirik menghancurkan kecerdasan manusia. Allah berfirman,
..` . · .. . ` .` .` · ` . ` .` · ` ` . . · · .` · ` ¸ · .` ` ` ·
¸ · . . ¸ · ` . ` · . · .. · ` ' ¸ · · ` · ` · `
. .. ¯ ` ` · ¸ · ` · -` ` ¸`
“Dan mereka menyembah selain daripada Allah apa yang tidak dapat mendatangkan
kemudharatan kepada mereka dan tidak (pula) kemanfaatan. Dan mereka berkata,
‘Mereka itu adalah pemberi syafa`at kepada kami di sisi Allah.’ Katakanlah, ‘Apakah
kamu mengabarkan kepada Allah apa yang tidak diketahui-Nya baik di langit dan tidak
(pula) di bumi?’ Maha Suci Allah dan Maha Tinggi dari apa yang mereka
mempersekutukan (itu).” [QS. Yunus (10): 18]
Keenam, di akhirat nanti orang-orang musyrik tidak akan mendapatkan ampunan Allah
dan akan masuk neraka selama-lamanya. Allah berfirman,
` · ` ` ` ¸ · . ` ¸ : · .` · · ` ` · · · ` ` . ' ` ` · . · .
, · .· . ¸ . ` · ·
“Sesungguhnya Allah tidak mengampuni dosa mempersekutukan (sesuatu) dengan Dia,
dan Dia mengampuni dosa yang selain dari syirik itu bagi siapa yang dikehendaki-Nya.
Barangsiapa yang mempersekutukan (sesuatu) dengan Allah, maka sesungguhnya ia telah
tersesat sejauh-jauhnya.” [QS. An-Nisaa' (4): 116]
Allah juga berfirman,
· . . · ¸ ¯ ` ¸ ` -, . · .` · ` ¸` ` -, .` ·
·` , · ` · · - ` · · ` · ` ` ` ¸ · ` · ` . ´ ¸ · ` ` ` · ¸, `
.` ' ` ¸ · = · ` ` · ' · · -
“Sesungguhnya telah kafirlah orang-orang yang berkata: "Sesungguhnya Allah adalah Al
Masih putra Maryam", padahal Al Masih (sendiri) berkata: "Hai Bani Israel, sembahlah

Aqidah
Allah Tuhanku dan Tuhanmu". Sesungguhnya orang yang mempersekutukan (sesuatu
dengan) Allah, maka pasti Allah mengharamkan kepadanya surga, dan tempatnya ialah
neraka. Tidaklah ada bagi orang-orang zalim itu seorang penolong pun.” [QS. Al-
Maidah (5): 72]
Sebab-sebab Syirik
Ada tiga sebab fundamental munculnya prilaku syirik, yaitu al-jahlu (kebodohan), dha’ful
iiman (lemahnya iman), dan taqliid (ikut-ikutan secara membabi-buta).
Al-jahlu sebab pertama perbuatan syirik. Karenanya masyarakat sebelum datangnya Islam
disebut dengan masyarakat jahiliyah. Sebab, mereka tidak tahu mana yang benar dan mana
yang salah. Dalam kondisi yang penuh dengan kebodohan itu, orang-orang cendrung
berbuat syirik. Karenanya semakin jahiliyah suatu kaum, bisa dipastikan kecendrungan
berbuat syirik semakin kuat. Dan biasanya di tengah masyarakat jahiliyah para dukun
selalu menjadi rujukan utama. Mengapa? Sebab mereka bodoh, dan dengan kobodohannya
mereka tidak tahu bagaimana seharusnya mengatasi berbagai persoalan yang mereka
hadapi. Ujung-ujungnya para dukun sebagai narasumber yang sangat mereka agungkan.
Penyebab kedua perbuatan syirik adalah dha’ful iimaan (lemahnya iman). Seorang yang
imannya lemah cendrung berbuat maksiat. Sebab, rasa takut kepada Allah tidak kuat.
Lemahnya rasa takut kepada Allah ini akan dimanfaatkan oleh hawa nafsu untuk
menguasai diri seseorang. Ketika seseorang dibimbing oleh hawa nafsunya, maka tidak
mustahil ia akan jatuh ke dalam perbuatan-perbuatan syirik seperti memohon kepada
pohonan besar karena ingin segera kaya, datang ke kuburan para wali untuk minta
pertolongan agar ia dipilih jadi presiden, atau selalu merujuk kepada para dukun untuk
suapaya penampilannya tetap memikat hati orang banyak.
Taqliid sebab yang ketiga. Al-Qur’an selalu menggambarkan bahwa orang-orang yang
menyekutukan Allah selalu memberi alasan mereka melakukan itu karena mengikuti jejak
nenek moyang mereka. Allah berfirman,
. · . ¸ · . · ' ` · . ¯ .` , · ` - . · · - · . · · ·
..` ` · . · · ¸ · .. . ' . ` - ` ` · '
“Dan apabila mereka melakukan perbuatan keji, mereka berkata, ‘Kami mendapati nenek
moyang kami mengerjakan yang demikian itu, dan Allah menyuruh kami
mengerjakannya.’ Katakanlah, ‘Sesungguhnya Allah tidak menyuruh (mengerjakan)
perbuatan yang keji.’ Mengapa kamu mengada-adakan terhadap Allah apa yang tidak
kamu ketahui?” [QS. Al-A'raf (7): 28]

Aqidah
` . ' . ¯ ·` , · ` , ' · ` · ¸ . · ` · . ` ' · .` · ` .` . ¸, · ·
.` ` . . ·` , .. ` · . ` .` ·` ¯ . ¯
Dan apabila dikatakan kepada mereka, “Ikutilah apa yang telah diturunkan Allah.”
Mereka menjawab, “(Tidak), tetapi kami hanya mengikuti apa yang telah kami dapati
dari (perbuatan) nenek moyang kami.” “(Apakah mereka akan mengikuti juga), walaupun
nenek moyang mereka itu tidak mengetahui suatu apapun, dan tidak mendapat petunjuk?”
[QS. Al-Baqarah (2): 170]
· ` ` - . · ..` ¸ ` · . ` ' · ¸ ` . · ` .` . ¸, · ·
.` ` . . ·` , ..` ` · . ` .` ·` ¯ . ¯ ` . ' . ¯ ·` , · ` -
Apabila dikatakan kepada mereka, “Marilah mengikuti apa yang diturunkan Allah dan
mengikuti Rasul.” Mereka menjawab, “Cukuplah untuk kami apa yang kami dapati
bapak-bapak kami mengerjakannya.” Dan apakah mereka akan mengikuti juga nenek
moyang mereka walaupun nenek moyang mereka itu tidak mengetahui apa-apa dan tidak
(pula) mendapat petunjuk?” [QS. Al-Maidah (5): 104]
Al-Ilhaadu (Menyimpang Dari Kebenaran)
Istilah Al-Ilhaadu digunakan Al-Qur’an di banyak tempat. Kadang berbentuk kata
yulhiduun seperti di surat Al-A’raf (7): 180, An-Nahl (16): 103, dan Fushshilat (41): 40.
· ` ' ¸ · .` - ` ¸ ` · . ` ·.` ·` · · ¸ ` ` - . ` ' ·
.. ` · .` ¯ · .` ` -` ,
Hanya milik Allah asma-ul husna, maka bermohonlah kepada-Nya dengan menyebut
asmaa-ul husna itu dan tinggalkanlah orang-orang yang menyimpang dari kebenaran
dalam (menyebut) nama-nama-Nya. Nanti mereka akan mendapat balasan terhadap apa
yang telah mereka kerjakan. [QS. Al-A'raf (7): 180]

Aqidah
. . ` ` ·` ·` ` .. . ` .` .` ' ` . ` · ` ·` , .` - `
` ` · ¯ ¸ · . · ¯ ¸ -` · '
Dan sesungguhnya Kami mengetahui bahwa mereka berkata, “Sesungguhnya Al-Qur’an
itu diajarkan oleh seorang manusia kepadanya (Muhammad).” Padahal bahasa orang
yang mereka tuduhkan (bahwa) Muhammad belajar kepadanya bahasa `ajam, sedang Al-
Qur’an adalah dalam bahasa Arab yang terang. [QS. An-Nahl (16): 103]
` · ' ` ` , - ` ¸ · ¸ ` ` ¸ · ' ` , · .` . ` - . ¸ · .` - ` ¸ .
` . · . ¸ ' ` ¸ · ` . .. ` · ` ·` ` .` · · . ` · · · , ·
“Sesungguhnya orang-orang yang mengingkari ayat-ayat Kami, mereka tidaktersembunyi
dari Kami. Maka apakah orang-orang yang dilemparkan ke dalam neraka lebih baik
ataukah orang-orang yang datang dengan aman sentosa pada hari kiamat? Perbuatlah
apa yang kamu kehendaki; sesungguhnya Dia Maha Melihat apa yang kamu kerjakan.”
[QS. Fushshilat (41): 40]
Kadang munucul dalam berbentuk kata ilhaad seperti dalam surat Al-Hajj (22): 25 ini.
. ` · · - . · - -` · ¸, ` ¸ · .' ` . ` ¯ ¸
` ¸ · ` · · ` . = · - , ·, · ` · ` ` ¸ · · ·, · ` . ¯ · . . ¸`
., ' . ·
“Sesungguhnya orang-orang yang kafir dan menghalangi manusia dari jalan Allah dan
Masjidil Haram yang telah Kami jadikan untuk semua manusia, baik yang bermukim di
situ maupun di padang pasir dan siapa yang bermaksud di dalamnya melakukan
kejahatan secara zalim, niscaya akan Kami rasakan kepadanya sebahagian siksa yang
pedih.”
Dan kadang berbentuk kata multahadaa seperti di surat Al-Kahfi (18): 27 dan Al-Jin (72):
22.

Aqidah
` ¸ · - ` ¸ · ´ .` ` · :` . ¯ ` ¸ · :` , ¸ - ' · ¸`
- ` · · ` ·
“Dan bacakanlah apa yang diwahyukan kepadamu, yaitu kitab Tuhan-mu (Al-Qur’an).
Tidak ada (seorangpun) yang dapat mengubah kalimat-kalimat-Nya. Dan kamu tidak
akan dapat menemukan tempat berlindung selain daripada-Nya.” [QS. Al-Kahfi (18): 27]
- ` · · ` · ` ¸ · - ' ` ¸ ` - ' · ¸ · ¸ -` ` ¸ ¸` ¸ ·
Katakanlah, “Sesungguhnya sekali-kali tiada seorangpun yang dapat melindungiku dari
(azab) Allah dan sekali-kali tiada akan memperoleh tempat berlindung selain daripada-
Nya.” [QS. Al-Jin (72): 22]
Arti al-ilhaad menurut para ulama
Al-Farra' mengatakan bahwa kata yulhiduun atau yalhaduun artinya condong kepadanya.
Imam Al-Harrani dari Ibn Sikkit mengatakan, al-mulhid artinya orang yang menyimpang
dari kebenaran, dan memasukkan sesuatu yang lain kepadanya.
Dalam Lisanul Arab dikatakan, al-ilhaad artinya menyimpang dari maksud yang
sebenarnya. Meragukan Allah juga termasuk ilhaad. Dikatakan juga bahwa setiap tindak
kedzaliman dalam bahasa Arab disebut ilhaad. Karenanya, dalam sebuah riwayat
dikatakan bahwa monopoli makanan di Tanah Haram itu termasul ilhad. Ketika dikatakan
laa tulhid fil hayaati itu artinya jangan kau menyimpang dari kebenaran selama hidupmu.
Imam Ashfahani dalam bukunya Mufradaat Alfazhil Qur'an mengatakan bahwa kata al-
ilhaad artinya menyimpang dari kebenaran. Dalam hal ini –kata Al Ashfahani-- ada dua
makna: pertama, ilhad yang identik dengan syirik, bila ini dilakukan maka otomatis
seseorang menjadi kafir. Kedua, ilhad yang mendekati syirik, ini tidak membuat seseorang
menjadi kafir, tetapi setidaknya telah mengurangi kemurnian tauhidnya. Termasuk sikap
ini apa yang diganbarkan dalam firman Allah berikut ini.
., ' . · ` ¸ · ` · · ` . = · - , ·, · ` · ` ` ¸ ·
"Siapa yang bermaksud di dalamnya melakukan kejahatan secara zhalim, niscaya akan
Kami rasakan kepadanya sebahagian siksa yang pedih." [QS. Al-Hajj (22): 25]

Aqidah
Dalam menafsirkan ayat · · ` ' ¸ · .` - ` ¸ ` (dan tinggalkanlah orang-orang yang
menyimpang dari kebenaran dalam menyebut nama-nama-Nya), Imam Al-Ashfahani
menyebutkan bahwa ada dua macam dalam ilhaad kepada nama-nama Allah: pertama,
mensifati Allah dengan sifat-sifat yang tidak pantas disebut sebagai sifat Allah, dan kedua,
menafsirkan nama-nama Allah dengan makna yang tidak sesuai dengan keagunganNya
(lihat Mufradat Alfaazhul Qur’an halaman 737).
Hakikat Ilhad
Berdasarkan keterangan di atas, baik ditinjau dari segi bahasa maupun definisi yang
disampaikan para ulama, tampak bahwa istilah ilhad digunakan untuk segala tindakan
yang menyimpang dari kebenaran. Jadi, setiap penyimpangan dari kebenaran disebut
ilhad. Tetapi secara definitif istilah ini khusus digunakan untuk sikap yang menafikan
sifat-sifat, nama-nama, dan perbuatan Allah. Dengan kata lain, para mulhidun adalah
mereka yang tidak percaya adanya sifat-sifat, nama-nama, dan perbuatan Allah.
Berbeda dengan kafir yang di dalamnya bisa berupa pengingkaran kepada Allah,
menyekutukannya, dan pengingkaran terhadap nikmat-nikmatNya, ilhad lebih kepada
pengingkaran sifat-sifat, nama-nama, dan perbuatan Allah saja. Dari sini tampak bahwa
tidak setiap kafir itu ilhad. Karenanya –seperti dikatakan dalam buku Al-Furuuq Al-
Lughawiyah– orang-orang Yahudi dan Nasrani sekalipun mereka tergolong kafir, tetapi
mereka tidak termasuk mulhiduun. Tetapi setiap tindakan ilhad itu termasuk kafir.
Bahaya-bahaya ilhaad
Pertama, bahwa para ulama sepakat bahwa tauhid mempunyai tiga dimensi, yaitu tauhid
uluhiyah, tauhid rububiyah, dan tauhid asma’ wa sifat. Karena ilhad adalah tindakan
menafikan sifa-sifat, nama-nama, dan perbuatan Allah, maka dengan melakukan ilhad
seseorang telah menghapus satu dimensi dari dimensi tauhid yang sudah baku. Para ulama
sepakat bahwa mengingkari salah satu dari dimensi-dimensi tauhid adalah kafir. Karena
itu orang-orang mulhid tergolong orang kafir.
Kedua, bahwa dengan menafikan sifat-sfat dan nama-nama Allah berarti seseorang telah
mengingkari ayat-ayat Al-Qur’an yang menegaskan adanya nama-nama dan sifat-sifat
Allah. Para ulama sepakat bahwa mengingkari satu ayat dari ayat-ayat Al-Qur’an adalah
kafir.
Ketiga, bahwa mengingkari perbuatan Allah berarti mengingkari segala wujud di alam ini
sebagai ciptaanNya. Bila ini yang diyakini berarti telah mengingkari kekuasaan Allah
sebagai Pencipta. Mengingkari kekuasaan Allah adalah kafir.



Aqidah
An-Nifaaqu (Wajahnya Islam, Hatinya Kafir)
Imam Al-Ashfahani menerangkan bahwa an-nifaaq diambil dari kata an-nafaq artinya
jalan tembus. Dalam Al-Qur’an dikatakan:
¸` ' ¸ · ¸ · ` . ' .` · = ` . , · ` .` .` . ` · :` , · ` ¯ . ¯ .
· . ` . ¸ · ` .` . · - ` · . ` . ·¯ ` .` . , ' · . ` ¸ · ` ` '
· - ¸ · ` ¸ . ´
“Dan jika perpalingan mereka (darimu) terasa amat berat bagimu, maka jika kamu dapat
membuat lobang di bumi atau tangga ke langit lalu kamu dapat mendatangkan mu`jizat
kepada mereka, (maka buatlah). Kalau Allah menghendaki tentu saja Allah menjadikan
mereka semua dalam petunjuk, sebab itu janganlah kamu sekali-kali termasuk orang-
orang yang jahil.” [QS. Al-An'aam (6): 35]
Orang Arab berkata, naafaqal yarbu ‘binatang yarbu’ telah melakukan nifak, karena ia
masuk ke satu lubang lalu keluar dari lubang yang lain. Dalam pengertian ini kata an-
nifaaq digunakan. Sebab orang-orang munafik ketika bertemu dengan orang-orang Islam,
mereka suka menampakkan dirinya sebagai seorang muslim. Sementara ketika bertemu
dengan kawan-kawan mereka sesama kafir, mereka kembali lagi ke wajah mereka yang
asli sebagai orang-orang kafir. Karenanya Allah berfirman, “Sesungguhnya orang-orang
munafik itulah orang-orang yang fasik.” [QS. At-Taubah (9): 67]
Ciri-ciri orang munafik
Di pembukaan surat Al-Baqarah, setelah menceritakan ciri-ciri orang-orang beriman dan
ciri-ciri orang-orang kafir, Allah lalu menceritakan ciri-ciri orang-orang munafik secara
panjang lebar. Ringkasnya sebagai berikut: (a) di mulut mereka mengatakan beriman
kepada Allah dan hari Kiamat, sementara hati mereka kafir [lihat QS. Al-Baqarah (2): 8-
10]. (b) Ketika dikatakan kepada mereka agar jangan berbuat kerusakan, mereka mengaku
berbuat baik [lihat QS. Al-Baqarah (2): 11-12]. (c) Ketika bertemu dengan orang-orang
beriman, mereka menampakan keimanan. Tetapi ketika kembali ke kawan-kawan mereka
sesama setan, mereka kembali kafir. (d) Ibarat orang berbisnis, mereka sedang membeli
kekafiran dengan keimanan. Sebab setiap saat wajah mereka berganti-ganti tergantung
dengan siapa mereka pada saat itu sedang bersama. (e) Ibarat pejalan dalam kegelapan,
setiap kali mereka menyalakan obor, seketika obor itu padam kembali. (d) Ibarat orang-
orang yang ketakutan mendengarkan petir saat hujan turun, mereka selalu menutup telinga
karena takut kebenaran yang disampaikan Rasulullah saw. masuk ke hati mereka.

Aqidah
Demikianlah hal-hal yang merusak kemurnian tauhid (baca: menghancurkan makna dua
kalimat syahadat), yang secara singkat setidaknya ada tiga: asy-syriku, al-ilhaadu, dan an-
nifaqu. Masing-masing dari komponen tersebut mempunyai tujuan sendiri, hanya saja
syirik lebih mengarah kepada sikap menyekutukan Allah, sementara ilhad lebih mengarah
kepada sikap menafikan sifat, asma, dan perbuatan Allah. Adapun nifaq lebih mengarah
kepada penampilan dengan wajah dua. Tetapi ujung-ujungnya sama: kekafiran.
---oo0oo---

Sumber: dakwatuna.com



































Aqidah

MAKNA LAA ILAAHA ILLALLOH

Dalam ucapan syahadah yang kita ungkapkan terkandung beberapa pasal yang sering
dibincangkan.Antaranya ialah kalimah (Laa) yang menafikan langsung ketuhanan dan ciri-
ciri ketuhanan segala sesuatu yang wujud di atas alam ini dalam apa juga rupa melainkan
ketuhanan Allah SWT dengan segala kesempurnaannya. Penafian yang melibatkan segala
sifat-sifat ini adalah sebagai membersihkan tapak kesempurnaannya. Penafian yang
melibatkan segala sifat-sifat ini adalah sebagai membersihkan tapak akidah dari segala
syubhat ketuhanan selain dari Allah. Tujuannya ialah menta’kidkan bahawa segala-gala
arti dan hakikat ketuhanan itu hanyalah ada pada Allah.Dari sini binaan akidah menjadi
jelas kepada mukmin.
1. Tiada Ilah selain Allah.
Menafikan seluruh ketuhanan pada yang lain selain Allah. Menafikan kesempurnaan
mereka dan menafikan hak pengabdian kepada selain Allah. Mengitsbatkan keesaan dan
kesempurnaan semata-mata hanya kepada Allah.
¸ ¯ ¸ · .` · ` ·` ` ` · · .` ¸ ¸ ¯ ` , - .` · . · . ` . ´ ` ` · ` . ´ ·
¸, ¯ .` ¸
(yang memiliki sifat-sifat yang) demikian itu ialah Allah Tuhan kamu; tidak ada Tuhan
selain dia; Pencipta segala sesuatu, Maka sembahlah dia; dan Dia adalah pemelihara
segala sesuatu. (6:102).
2. Tiada Khalik selain Allah.
` : ` · ` ¸ ´ ` . - ` . ¸` . . ` : ` · ` · .
` · · .` ¸ ¸ ¯ , - : ` ¸ ·
Tuhan yang menguasai pemerintahan langit dan bumi dan yang tidak mempunyai anak,
serta tidak mempunyai sembarang sekutu dalam pemerintahanNya, dan Dia lah yang
menciptakan tiap-tiap sesuatu lalu menentukan keadaan mahluk-mahluk itu dengan
ketentuan takdir yang sempurna. (QS.25:2)


Aqidah
3. Tiada Pemberi Rizki selain Allah.
..` · =` . ' ` ' · ·` ` ¸ · ` .` .` · ` ' · , · ` · .` · · .
` · .
Aku tidak sekali-kali menghendaki sembarang rizki pemberian dari mereka, dan Aku tidak
menghendaki supaya mereka memberi makan kepadaKu. Sesungguhnya Allah Dia lah
sahaja Yang Memberi Rizki (kepada sekalian mahlukNya, dan Dia lah sahaja) Yang
Mempunyai Kekuasaan yang tidak terhingga, lagi Yang Maha Kuat Kukuh
kekuasaanNya.( QS.51:57-58)
4. Tiada Pemilik selain Allah.
¸ · · · . ´ .` ' ¸ ` , . ` ¸` . ¸ · · .
. ¸ · · · . , · ` ´ . · . . ' ` . ¯ ` . ´ ` · ` ¸ ·
, - , · ` · . ¯ ¸` . ¸ · · , · · · ¸ · · . ¸
·, ¯ · ¸ ¯ ¸` .
Dan bagi Allah jualah segala yang ada di langit dan yang ada di bumi, dan demi
sesungguhnya, Kami telah perintahkan orang-orang yang diberi Kitab dahulu daripada
kamu, dan juga (perintahkan) kamu, iaitu hendaklah bertakwa kepada Allah, dan jika
kamu kufur ingkar, maka (ketahuilah) sesungguhnya Allah jualah yang memiliki segala
yang ada di langit dan yang ada di bumi, dan (ingatlah) adalah Allah Maha Kaya, lagi
Maha Terpuji. Dan bagi Allah jualah apa yang ada di langit dan yang ada di bumi, dan
cukuplah Allah sebagai Pengawal (yang mentadbirkan dan menguasai segala-galanya).
(QS.4:131-132)
5. Tiada Raja/Tiada Kerajaan selain untuk Allah.
· ¸ ` : ¸` . ¸ · · . ¸ · · · ` - `
., ´ -

Aqidah
Segala yang ada di langit dan yang ada di bumi senantiasa mengucap tasbih kepada
Allah Yang Menguasai (sekalian alam), Yang Maha Suci, Yang Maha Kuasa, lagi Maha
Bijaksana.( QS.62:1)
..` · -` ` ·` , .` ¸ ¸ ¯ ` .. ´ · · , . . -` ` ·
Oleh itu akuilah kesucian Allah (dengan mengucap subhaanallah), Tuhan yang memiliki
dan menguasai tiap-tiap sesuatu, dan kepadaNyalah kamu semua dikembalikan.(
QS.36:83)
` · .` ¸ ¸ ¯ ¸ · .` · ` : ` · , . ·
Maha Berkat (serta Maha Tinggilah kelebihan) Tuhan yang menguasai pemerintahan
(dunia dan akhirat), dan memanglah Ia Maha Kuasa atas tiap-tiap sesuatu.( QS.67:1)
` · .` ¸ ¸ ¯ ¸ · ` · ¸` . . ` : ` · ·
Dan bagi Allah jualah kuasa pemerintah langit dan bumi, dan Allah Maha Kuasa atas
tiap-tiap sesuatu. (QS.3:189)
6. Tiada Pembuat Hukum selain Allah.
. · ` · ` ¸ · .` ` ` · · . ` · . ` ' · ` . ¯` ¯ ` .` ` ' ·.` ` ` , . ` '
` . , ` ¸ : · ` · . ` ` ` · . ' · ' · . ` . ´` - . . = ` ` ¸·
..` ` · . ¸ · ¯ ' ¸ ´
Apa yang kamu sembah, yang selain dari Allah, hanyalah nama-nama yang kamu
menamakannya, kamu dan datuk nenek kamu, Allah tidak pernah menurunkan sembarang
bukti yang membenarkannya. Sebenarnya hukum (yang menentukan amal ibadat)
hanyalah bagi Allah. Ia memerintahkan supaya kamu jangan menyembah melainkan Dia.
Yang demikian itulah agama yang betul, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.
(QS.12:40)

Aqidah
¸ · . ` · . ´ ` . ´` , . ` ' . .` · ´ - ¸ · ` ' · ` , · · '
¸ · ¸ . ´ · · , - : ` ¸ · . ` · ` · ' ..` ` · . ´ ` .` · ` , ¯
¸ ` `
(Katakanlah wahai Muhammad) : “Patutkah aku (terpedaya dengan kata-kata dusta
syaitan-syaitan itu sehingga aku) hendak mencari hakim selain dari Allah, padahal Dia
lah yang menurunkan kepada kamu kitab Al-Qur’an yang jelas nyata kandungannya satu-
persatu (tentang yang benar dan yang salah) ?”. Dan orang-orang yang Kami berikan
kitab, mengetahui bahawa Al-Qur’an itu adalah diturunkan dari Tuhanmu dengan
sebenar-benarnya. Oleh itu, janganlah sekali-kali engkau menjadi (salah seorang) dari
golongan yang ragu-ragu. (QS.6:114)
` .` . .. ´ . ' ` · ' ` · .` ` · ¸ .· · · ·` .` · . ¸ ·` .` . ¯ ·
, ` · .· . ¸ . ` · ` · .` · ¸` · ` ¸ · ` . · ` · ' ` ¸ · · , -
Dan tidaklah harus bagi orang-orang yang beriman, lelaki dan perempuan, apabila Allah
dan RasulNya menetapkan keputusan mengenai sesuatu perkara (tidaklah harus mereka)
mempunyai hak memilih ketetapan sendiri mengenai urusan mereka. Dan sesiapa yang
tidak taat kepada hukum Allah dan RasulNya maka sesungguhnya ia telah sesat dengan
kesesatan yang jelas nyata. (QS.33:36)
¸ · · . -` ` · , - ` .` . . ¯ · ` ` - . · ` , ` - : `
.. ¯ ` ` ·
Dan Tuhanmu menciptakan apa yang dirancangkan berlakunya,dan Dia lah juga yang
memilih (satu-satu dari mahlukNya untuk sesuatu tugas atau keutamaan dan kemuliaan),
tidaklah layak dan tidaklah berhak bagi sesiapapun memilih (selain dari pilihan Allah).
Maha Suci Allah dan Maha Tinggilah keadaanNya dari apa yang mereka sekutukan
denganNya. (QS.28:68)

Aqidah
¸ · · · ¸ · · · - . . ¸ . .` · ' ` · . .` · · ` ·.
..` ` ·
Kesudahannya Kami jadikan engkau (wahai Muhammad dan utuskan engkau)
menjalankan satu Syariat (yang cukup lengkap) dari hukum-hukum agama, maka turutlah
Syariat itu, dan janganlah engkau menurut hawa nafsu orang-orang yang tidak
mengetahui (perkara yang benar). (QS.45:18)
.` - ` ` . ¯ ` ¸ · · ` - ¸ · ` · ` · · -. .` - ` ` . ¯ ` ¸ ·
., . ` ¸ · · -. ¸ · ` · · .` · · ` .` ,` `
Sesiapa yang menghendaki (dengan amal usahanya) mendapat faedah di akhirat, Kami
akan memberinya mendapat tambahan pada faedah yang dikehendakinya, dan sesiapa
yang menghendaki (dengan amal usahanya) kebaikan di dunia semata-mata, Kami beri
kepadanya dari kebaikan dunia itu (sekedar yang Kami tentukan), dan ia tidak akan
beroleh sesuatu bahagianpun di akhirat kelak. (QS.42:20)
` .` ·` ·` ` , ` .` ·` ¯ ` ` . · ·.` ' ¸` · ¯ ` ` ¸ · · ´ ¸ : ¯
.` · ` .` ·` · ` ·. · · · ` · . ` . ` .` . · ` . .` , · .` ,
Dan demikianlah juga (jahatnya) ketua-ketua yang orang-orang musyrik itu jadikan
sekutu bagi Allah, menghasut kebanyakan dari mereka dengan kata-kata indah yang
memperlihatkan eloknya perbuatan membunuh anak-anak mereka, untuk membinasakan
mereka, dan untuk mengelirukan mereka mengenai agama mereka. Dan kalau Allah
kehendaki, niscaya mereka tidak melakukannya. Oleh itu biarkanlah mereka dan apa
yang mereka ada-adakan itu. (QS.6:137)





Aqidah

7. Tiada Pemerintah selain Allah.
. . ` . · ' · ¸ · ¸` . . , - . ` · ` . ´ .
·.` - ` ¸` ·, · - ` ·` = . ¸` , ¸ ` ·` ¸` · ¸ ·
` ` ·. ` , - ` · . ' · ` · ' . -` · · ` . ` · ·
Sesungguhnya Tuhan kamu ialah Allah yang menciptakan langit dan bumi dalam enam
masa lalu. Ia bersemayam di atas Arasy, Ia melindungi malam dengan siang yang
mengiringinya dengan deras (silih berganti) dan (Ia pula yang menciptakan) matahari
dan bulan serta bintang-bintang, (semuanya) tunduk kepada perintahNya. Ingatlah,
kepada Allah jualah tertentu urusan menciptakan (sekalian mahluk) dan urusan
pemerintahan. Maha Suci Allah yang mencipta dan mentadbirkan sekalian alam.
(QS.7:54)
8. Tiada Pemimpin selain Allah.
` ¯ ¸ . ` ¸ . = ¸ · ` .` .` - ` -` .` ·¯ ¸ ` ¸ ` ·
` . -` . ' : · ' . = ¸ . ` ¸· ` .` . .` - ` -` ` .. · = ` .` ·` , ` '
.` - ., · ` .` ·
Allah pelindung (yang mengawal dan menolong) orang-orang yang beriman. Ia
mengeluarkan mereka dari kegelapan (kufur) kepada cahaya (iman). Dan orang-orang
yang kafir, penolong-penolong mereka ialah thagut yang mengeluarkan mereka dari
cahaya (iman) kepada kegelapan (kufur). Mereka itulah ahli neraka, mereka kekal di
dalamnya. (QS.2:257)





Aqidah
9. Tiada Yang Dicintai selain Allah.
¸ · .` - ¯ ` .` . . ` -` · ` ' · .` · ` ¸ · - ` ¸ · ¸ ¸ ·
· · . . ' . · .` · .` ~ ¸ . ` . · ` - ` ' .` ·¯
· ` · . ' ·, - .
(Walaupun demikian), dan juga diantara manusia yang mengambil selain dari Allah
(untuk menjadi) sekutu-sekutu (Allah), mereka mencintainya, (memuja dan mentaatinya)
sebagaimana mereka mencintai Allah, sedang orang-orang yang beriman itu lebih cinta
(taat) kepada Allah. Dan kalaulah orang-orang yang melakukan kezaliman (syirik) itu
mengetahui ketika mereka melihat azab pada hari akhirat kelak, bahawa sesungguhnya
kekuatan dan kekuasaan itu semuanya tertentu bagi Allah, dan bahawa sesungguhnya
Allah Maha berat azab siksaNya, (niscaya mereka tidak melakukan kezaliman itu).
(QS.2:165)
10. Tiada Yang Ditakuti selain Allah.
' . ` . · . ·` ' ` . ´` , · ` .` ·` ' ¸ ¸ ` · ` ¯ · ¸, ` ¸
..` ·` · . ` . ¯ ` . ·
Wahai Bani Israil. Kenangkanlah kamu akan segala nikmat yang telah Kuberikan kepada
kamu, dan sempurnakanlah perjanjian (kamu) denganKu, supaya Aku sempurnakan
perjanjianKu dengan kamu, dan kepada Akulah sahaja hendaklah kamu merasa gerun
takut (bukan kepada sesuatu yang lain). (QS.2:40)
· ' -. ·` . , · ¸ ·¯ ` ¸ · · - · ` ` ` · ¸ ¯ ·· . ·
¸ ` .` ¸ · .` . ´ . ' : · ' ¸ · · · . ¸` - ` . · ¯
Hanyasanya yang layak memakmurkan (menghidupkan) masjid-masjid Allah itu ialah
orang-orang yang beriman kepada Allah dan Hari Akhirat serta mendirikan sembahyang
dan menunaikan zakat dan tidak takut melainkan kepada Allah, (dengan adanya sifat-sifat
yang tersebut) maka adalah diharapkan mereka menjadi dari golongan yang mendapat
petunjuk. (QS.9:18)

Aqidah
11. Tiada Yang Diharapkan selain Allah.
¸ ` . ·` · :
Dan kepada Tuhanmu sahaja hendaklah engkau memohon (apa yang engkau gemar dan
ingini). (QS.94:8)
. ¯ ` ¸ · ` - ` · ` . ´` . ' ¸ ¸ -.` ` . ´ · · ` ' ¸ ·
· · ¸ ` · , · · . .` -` - ' · · · · ` · ` ` . - .
Katakanlah: "Sesungguhnya aku ini hanya seorang manusia seperti kamu, yang
diwahyukan kepadaku: "Bahwa sesungguhnya Tuhan kamu itu adalah Tuhan Yang Esa".
Barang siapa mengharap perjumpaan dengan Tuhannya maka hendaklah ia mengerjakan
amal yang saleh dan janganlah ia mempersekutukan seorang pun dalam beribadah
kepada Tuhannya". (QS.18:110)
12. Tiada Yang Memberi Manfaat atau Mudhorat selain Allah.
. ` · . ¯ · · ` . ` · :` ` . .` . · ` , - :` ` . .` ·
` · .` ¸ ¸ ¯ ¸ ·
Dan jika Allah mengenakan (menimpakan) engkau dengan bahaya bencana, maka tidak
ada sesiapapun yang dapat menghapuskannya melainkan Dia sendiri, dan jika Ia
mengenakan (melimpahkan) engkau dengan kebaikan, maka Ia adalah Maha Kuasa atas
tiap-tiap sesuatu. (QS.6:17)
13. Tiada Yang Menghidupkan atau Mematikan selain Allah.
. · · : ` ` · ` · ¯ . ' · ¸· ., · ` - - . ¸ ` . '
¸ ` ., · ` . , · ` ., · ` . · ` ., · ' ¸ ,` - ' ' . · ` ., ` ¸ ,` -` .

Aqidah
¯ . . .` · . ` · ¸ · . .' · · ` ¸ · ¸` ¸ ' ·
= ·` . . ` . . ` ·
Tidakkah engkau (pelik) memikirkan (wahai Muhammad) tentang orang yang berhujah
membantah Nabi Ibrahim (dengan sombongnya) mengenai Tuhannya, karena Allah
memberikan orang itu kuasa pemerintahan ? Ketika Nabi Ibrahim berkata : “Tuhanku
ialah Yang menghidupkan dan Yang mematikan”. Ia menjawab : “Aku juga boleh
menghidupkan dan mematikan”. Nabi Ibrahim berkata lagi : “Sesungguhnya Allah
menerbitkan matahari dari timur, oleh itu terbitkanlah dia dari barat ?”. Maka
tercenganglah orang kafir itu (lalu diam membisu). Dan (ingatlah), Allah tidak akan
memberikan petunjuk kepada kaum yang zalim. (QS.2:258)
14. Tiada Yang Mengabulkan Permohonan selain Allah.
. · · · - · .` · · ` ., - ' ` . · ¸ , · ¸ · . · · : ' ·
· ¸ .` ·` .` , ¸ .` , - ` , · .` ` ` ` .` .
Dan apabila hamba-hambaKu bertanya kepadamu mengenai Aku maka (beritahu kepada
mereka), sesungguhnya Aku (Allah) senantiasa hampir (kepada mereka). Aku
perkenankan permohonan orang yang berdoa apabila ia berdoa kepadaKu. Maka
hendaklah mereka menyahut seruanku (dengan mematuhi perintahKu), dan hendaklah
mereka beriman kepadaKu supaya mereka menjadi baik serta betul. (QS.2:186.)
¸ · · ` ¸ · .` ´ ` ¸ . ` . ´ ` . - ` ' ¸ .` ·` · ` . ´ ` . ·
.. ` -` , ¸ - · . . -
Dan Tuhan kamu berfirman : “Berdoalah kamu kepadaKu niscaya Aku perkenankan doa
permohonan kamu. Sesungguhnya orang-orang yang sombong takabur dari pada
beribadat dan berdoa kepadaKu, akan masuk neraka jahannam dalam keadaan hina.
(QS.40:60)
15. Tiada Yang Melindungi selain Allah.
., - . =` , ¸ · · · ` · .¯` . ' · · , ·

Aqidah
Oleh itu apabila engkau membaca Al-Qur’an, maka hendaklah engkau terlebih dahulu
memohon perlindungan kepada Allah dari hasutan Syaitan yang kena rejam. (QS.16:98)
· ` .` ·` · · ¸ - ¸ · . - . ·.` · ¸` . ¸ · . - . ¯ ` · '
Dan bahawa sesungguhnya adalah (amat salah perbuatan) beberapa orang dari manusia,
menjaga dan melindungi dirinya dengan meminta pertolongan kepada ketua-ketua
golongan jin, karena dengan permintaan itu mereka menjadikan golongan jin bertambah
sombong dan jahat. (QS.72:6)
16. Tiada Yang Wakil selain Allah.
, · = · .` ¯ ` . ` .` . .` · ¸ · · ` - · ` ¸ · . ` . ` . .
.` · · · , · ` ·. ¸ · ` .` ·` ` .` . ` ` · ` ` .` .` · ` .` · · : ` . -
¯ . ` ` . -` · . · ¸ · ¸ ¯ . ·
Maka dengan sebab rahmat (yang melimpah-limpah) dari Allah (kepadamu wahai
Muhammad), engkau telah bersikap lemah lembut kepada mereka (sahabat-sahabat dan
pengikutmu), dan kalaulah engkau bersikap kasar lagi keras hati, tentulah mereka lari
dari kelilingmu. Oleh itu maafkanlah mereka (mengenai kesalahan yang mereka lakukan
terhadap mu), dan mohonkanlah ampun bagi mereka, dan juga bermusyawarahlah
dengan mereka dalam urusan (peperangan dan hal-hal keduniaan) itu, kemudian apabila
engkau telah berazam (sesudah bermusyawarat untuk membuat sesuatu) maka
bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Mengasihi orang-orang yang bertawakal
kepadaNya. (QS.3:159)
. ' ` . ´ ` ¸ ` ¸` - ¸` , , ` ` - .` - . ..` . ¸ · ¸ ·
· .` . · ` ' ` ' · ` · ` ¸ · . · ` · ` . ´ , .` ..` . ` · ` . ´ ·
Katakanlah : “(Sebenarnya) tidak ada yang kamu tunggu-tunggu untuk kami melainkan
salah satu dari dua perkara yang sebaik-baiknya (iaitu kemenangan atau mati syahid),
dan kami menunggu-nunggu pula untuk kamu bahawa Allah akan menimpakan kamu
dengan azab dari sisiNya, atau dengan perantaraan tangan kami. Oleh itu tunggulah,
sesungguhnya kami juga menunggu-nunggu bersama-sama kamu”. (QS.9:52)

Aqidah

17. Tiada Daya dan Kekuatan selain Allah.
` · . ¯ · · ` . ` · :` ` . .` . · ` , - :` ` . .` · .
` · .` ¸ ¸ ¯ ¸ ·
Jika Allah menimpakan suatu kemudaratan kepadamu, maka tidak ada yang
menghilangkannya melainkan Dia sendiri. Dan jika Dia mendatangkan kebaikan
kepadamu, maka Dia Maha Kuasa atas tiap-tiap sesuatu. (QS.6:17)
18. Tiada Yang Agung selain Allah.
¸ · · ` · ` ·` . . · ` · ` - ' . ` ·. ` , ` ¸ - .` · . · . ` ·
· ` . ` · · · , . ` · ` · ` · ` . · ` ¸ · ¸` . ¸ · · .
¸` , · . . · · ` ¸ · .` ¸ .. =, -` . ` .` . - · ` . . ` '
` ., = · ` ¸ · .` · ` . = - ` ·` ·. · . ¸` . . ` · ` , ` ¯
Allah, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia yang hidup kekal lagi
terus menerus mengurus (makhluk-Nya); tidak mengantuk dan tidak tidur. Kepunyaan-
Nya apa yang di langit dan di bumi. tiada yang dapat memberi syafa'at di sisi Allah tanpa
izin-Nya? Allah mengetahui apa-apa yang di hadapan mereka dan di belakang mereka,
dan mereka tidak mengetahui apa-apa dari ilmu Allah melainkan apa yang dikehendaki-
Nya. Kursi[161] Allah meliputi langit dan bumi. dan Allah tidak merasa berat
memelihara keduanya, dan Allah Maha Tinggi lagi Maha besar. ( QS.2: 255).
19. Tiada Yang Dimohonkan Pertolongannya selain Allah.
` · ` · ` ` ` · ·
Engkaulah sahaja (ya Allah) yang kami sembah, dan kepada Engkaulah sahaja kami
memohon pertolongan. (QS.1:5)

Aqidah
Dengan memahami laa ilaaha illallah,keyakinanan seorang mutarobbi meyakini dengan
seyakin-yakinnya tidak ada yang berhak disembah selain Allah,dan menjadikan seluruh
kehidupannya hanya untuk beribadah kepaada Nya,sehingga tidak ada sisi kehidupannya
yang sia-sia.
---oo0oo---

Sumber: tarbiyahklatenutara.blogspot.com






































Aqidah
LARANGAN BERHUBUNGAN DENGAN JIN

Jin adalah salah satu makhluk ghaib yang telah diciptakan Allah swt untuk beribadah
kepada-Nya.
.` ` ` · , . ¸` . ¸ - ` . - ·
Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-
Ku. (Adz-dzariyat: 56).
Sebagaimana malaikat, kita tidak dapat mengetahui informasi tentang jin serta alam ghaib
lainnya kecuali melalui khabar shadiq (riwayat & informasi yang shahih) dari Rasulullah
saw baik melalui Al-Quran maupun Hadits beliau yang shahih. Alasan nya adalah karena
kita tidak dapat berhubungan secara fisik dengan alam ghaib dengan hubungan yang
melahirkan informasi yang meyakinkan atau pasti.
. ' .` ` ·` · ` · . .` , · ¸` . . ¸ · ` ¸ · ` . ` · . ¸ ·
.. · ·` `
Katakanlah: “tidak ada seorang pun di langit dan di bumi yang mengetahui perkara yang
ghaib, kecuali Allah”, dan mereka tidak mengetahui bila (kapan) mereka akan
dibangkitkan. (An-Naml: 65)
- ' · ` , · ¸ · ` . =` · · .` , · ` . · , ` · , · ..` ` ¸ · ¸ . ` ¸ · .
. · - ` ¸ · ·` ¸` , ` ¸ · ` : ` , .. .` · ` ' ` · . ' . ` · ,
- ' ` . . · · .` ¸ ¸ ¯ ¸ .` - ' ` . .`
Dia adalah Tuhan yang mengetahui yang ghaib, maka Dia tidak memperlihatkan kepada
seorang pun tentang yang ghaib itu. Kecuali kepada Rasul yang diridhai-Nya, maka
sesungguhnya Dia mengadakan penjaga-penjaga (malaikat) di muka dan di belakangnya.
Supaya Dia mengetahui, bahwa sesungguhnya rasul-rasul itu telah menyampaikan
risalah-risalah Tuhannya, sedang (sebenarnya) ilmu-Nya meliputi apa yang ada pada
mereka, dan Dia menghitung segala sesuatu satu persatu. (Al-Jin: 26-28).

Aqidah
Manusia diperintahkan oleh Allah swt untuk melakukan muamalah (pergaulan) dengan
sesama manusia, karena tujuan hubungan sosial adalah untuk melahirkan ketenangan hati,
kerja sama yang baik, saling percaya, saling menyayangi dan saling memberi. Semua itu
dapat berlangsung dan terwujud dengan baik, karena seorang manusia dapat
mendengarkan pembicaraan saudaranya, dapat melihat sosok tubuhnya, berjabatan tangan
dengannya, melihatnya gembira sehingga dapat merasakan kegembiraan nya, dan
melihatnya bersedih sehingga bisa merasakan kesedihannya.
Allah swt mengetahui fitrah manusia yang cenderung dan merasa tenteram bila bergaul
dengan sesama manusia, oleh karena itu, Dia tidak pernah menganjurkan manusia untuk
menjalin hubungan dengan makhluk ghaib yang asing bagi manusia. Bahkan Allah swt
tidak memerintahkan kita untuk berkomunikasi dengan malaikat sekalipun, padahal semua
malaikat adalah makhluk Allah yang taat kepada-Nya. Para nabi dan rasul alahimussalam
pun hanya berhubungan dengan malaikat karena perintah Allah swt dalam rangka
menerima wahyu, dan amat berat bagi mereka jika malaikat menampakkan wujudnya yang
asli di hadapan mereka. Oleh karena itu tidak jarang para malaikat menemui Rasulullah
saw dalam wujud manusia sempurna agar lebih mudah bagi Rasulullah saw untuk
menerima wahyu.
Tentang ketenteraman hati manusia berhubungan dengan sesama manusia Allah swt
berfirman:
¸ · - .` , .` ´` - ` ' ` . ´ ` ' ` ¸ · ` . ´ , - . ' · ¯ ` ¸ ·
` - · · . · ` . ´ ` , .` ´ ·` . .. : · ¸ · . ·
Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu istri-istri dari
jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-
Nya di antaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-
benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir. (Ar-Rum: 21).
Makna “dari jenismu sendiri’ adalah dari sesama manusia, bukan jin atau malaikat, atau
makhluk lain yang bukan manusia. Karena hubungan dengan makhluk lain, apalagi dalam
bentuk pernikahan, tidak akan melahirkan ketenteraman, padahal ketenteraman adalah
tujuan utama menjalin hubungan.





Aqidah
Beberapa Informasi tentang Jin dari Al-Quran & Hadits
a. Jin diciptakan dari api dan diciptakan sebelum manusia
..` ` · , - ` ¸ · . . . ` ¸ · . ` . - ` , ` ¸ · ` · - . -
·.` ` ¸ · ¸` ·
Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia (Adam) dari tanah liat kering (yang
berasal) dari lumpur hitam yang diberi bentuk. Dan Kami telah menciptakan jin
sebelumnya dari api yang sangat panas. (Al-Hijr: 26-27).
` · ·¯ , ` - . ` ¸ · - · ` ¸ · . - , ` - . .` ` ¸ · · ´ · . ` -
` . ´ . .` ` · . .· ·
Malaikat telah diciptakan dari cahaya, jin diciptakan dari nyala api, dan Adam
diciptakan dari tanah (yang telah dijelaskan kepada kalian). (Muslim)
Perbedaan asal penciptaan ini menyebabkan manusia tidak dapat berhubungan dengan jin,
sebagaimana manusia tidak bisa berhubungan dengan malaikat kecuali jika jin atau
malaikat menghendakinya. Apabila manusia meminta jin agar bersedia berhubungan
dengannya, maka pasti jin tersebut akan mengajukan syarat-syarat tertentu yang
berpotensi menyesatkan manusia dari jalan Allah swt.
b. Jin adalah makhluk yang berkembang biak dan berketurunan
¸ - ¸ · . ¯ ¸, ` . ` - · · ·. ` ` -` · ´ · · ·
` ` · ` . ´ ` .` · ¸ ` · ` ¸ · . , ` ' ` · · ` · - · ' · ` · ' ` ¸ · , ·
¸ · . =
Dan (Ingatlah) ketika Kami berfirman kepada para malaikat: “Sujudlah kamu kepada
Adam, maka sujudlah mereka kecuali Iblis. Dia adalah dari golongan jin, maka ia
mendurhakai perintah Tuhannya. Patutkah kamu mengambil dia dan turunan-turunannya
sebagai pemimpin selain daripada-Ku, sedang mereka adalah musuhmu? Amat buruklah
Iblis itu sebagai pengganti (dari Allah) bagi orang-orang yang zhalim. (Al-Kahfi: 50).

Aqidah
Al-Quran juga menyebutkan bahwa di antara bangsa jin ada kaum laki-laki nya (rijal)
sehingga para ulama menyimpulkan berarti ada kaum perempuannya (karena tidak dapat
dikatakan laki-laki kalau tidak ada perempuan). Dengan demikian berarti mereka
berkembang biak.
· ` .` ·` · · ¸ - ¸ · . - . ·.` · ¸` . ¸ · . - . ¯ ` · '
Dan bahwasanya ada beberapa orang laki-laki di antara manusia meminta perlindungan
kepada beberapa laki-laki di antara jin, maka jin-jin itu menambah bagi mereka dosa dan
kesalahan. (Al-Jin: 6).
c. Jin dapat melihat manusia sedangkan manusia tidak dapat melihat jin
` - ` · - ¸ · ` . ´` . ' - ` - ' ¯ . =` , ` . ´ . · ·¯ ¸
. ¯` . ` . ` , ` . ` .` · . .` , - ` ¸ · ` · , · .` · ` . ¯ ` ·
..` ·` .` . ¸ . , ` ' ~ , · - ` .` . `
Hai anak Adam, janganlah sekali-kali kamu dapat ditipu oleh syaitan sebagaimana ia
telah mengeluarkan kedua ibu bapamu dari surga, ia menanggalkan dari keduanya
pakaiannya untuk memperlihatkan kepada keduanya ‘auratnya. Sesungguhnya ia dan
pengikut-pengikutnya melihat kamu dan suatu tempat yang kamu tidak bisa melihat
mereka. Sesungguhnya Kami telah menjadikan syaitan-syaitan itu pemimpin-pemimpin
bagi orang-orang yang tidak beriman. (Al-A’raf: 27).
Hal ini membuat kita tidak dapat berhubungan dengan mereka secara wajar sebagaimana
hubungan sesama manusia. Kalau pun terjadi hubungan, maka kita berada pada posisi
yang lemah, karena kita tidak dapat melihat mereka dan mereka bisa melihat kita.
d. Bahwa di antara bangsa jin ada yang beriman dan ada pula yang kafir, karena mereka
diberikan iradah (kehendak) dan hak memilih seperti manusia.
· ..` ` ` · ' ` - : · ' · . ` ' ` ¸ · ..= ,
= - . . - .` ´ · .. = · '

Aqidah
Dan sesungguhnya di antara kami ada jin yang taat dan ada (pula) jin yang menyimpang
dari kebenaran. Barangsiapa yang taat, maka mereka itu benar-benar telah memilih jalan
yang lurus. Adapun jin yang menyimpang dari kebenaran, maka mereka menjadi kayu api
bagi neraka Jahanam. (Al-Jin (72): 14-15).
Meskipun ada yang muslim, tapi karena jin makhluk ghaib, maka tidak mungkin muncul
ketenteraman hati dan kepercayaan penuh bagi kita terhadap keislaman mereka, apakah
benar jin yang mengaku muslim jujur dengan pengakuannya atau dusta?! Kalau benar,
apakah mereka muslim yang baik atau bukan?! Bahkan kita harus waspada dengan tipu
daya mereka.
Berhubungan dengan jin adalah salah satu pintu kerusakan dan berpotensi mendatangkan
bahaya besar bagi pelakunya. Potensi bahaya ini dapat kita pahami dari hadits Qudsi di
mana Rasulullah saw menyampaikan pesan Allah swt:
.` .` . ¯ . ` - . · · ` . - ¸` ` ¸ · ` .` .` ` - · ` ~ ,` ` .` .` ' ` .` .`
` . · ¸ . ¯ ` ` . ' ` .` .` · ' .` .` . ` . ` - ' · ` . .` , · ` . ·` - .` . . ·
= ` · . ` ' . .· ·
Dan sesungguhnya Aku telah menciptakan hamba-hamba-Ku semua dalam keadaan hanif
(lurus), dan sungguh mereka lalu didatangi oleh setan-setan yang menjauhkan mereka
dari agama mereka, mengharamkan apa yang telah Aku halalkan, dan memerintahkan
mereka untuk menyekutukan-Ku dengan hal-hal yang tidak pernah Aku wahyukan kepada
mereka sedikit pun. (Muslim)
Dalil lain tentang larangan berhubungan dengan jin adalah:
· ` .` ·` · · ¸ - ¸ · . - . ·.` · ¸` . ¸ · . - . ¯ ` · '
Dan bahwasanya ada beberapa orang laki-laki di antara manusia meminta perlindungan
kepada beberapa laki-laki di antara jin, maka jin-jin itu menambah bagi mereka dosa dan
kesalahan. (Al-Jin: 6).
Imam At-Thabari dalam tafsirnya menyebutkan: “Ada penduduk kampung dari bangsa
Arab yang menuruni lembah dan menambah dosa mereka dengan meminta perlindungan
kepada jin penghuni lembah tersebut, lalu jin itu bertambah berani mengganggu mereka.
Tujuan seorang muslim melakukan hubungan sosial adalah dalam rangka beribadah
kepada Allah swt dan berusaha meningkatkannya atau untuk menghindarkan dirinya dari

Aqidah
segala hal yang dapat merusak ibadahnya kepada Allah. Melakukan hubungan dengan jin
berpotensi merusak penghambaan kita kepada Allah yaitu terjatuh kepada perbuatan syirik
seperti yang dijelaskan oleh ayat tersebut. Ketidakmampuan kita melihat mereka dan
kemampuan mereka melihat kita berpotensi menjadikan kita berada pada posisi yang lebih
lemah, sehingga jin yang kafir atau pendosa sangat mungkin memperdaya kita agar
bermaksiat kepada Allah swt.
Bagaimana berhubungan dengan jin yang mengaku muslim? Kita tetap tidak dapat
memastikan kebenaran pengakuannya karena kita tidak dapat melihat apalagi menyelidiki
nya. Bila jin tersebut muslim sekalipun, bukan menjadi jaminan bahwa ia adalah jin
muslim yang baik dan taat kepada Allah.
Di samping itu, tidak ada manusia yang dapat menundukkan jin sepenuhnya (taat
sepenuhnya tanpa syarat) selain Nabi Sulaiman as dengan doanya:
.` ' : . ` · ` ¸ · -. ¸ · ` . ´ `· ¸ ` . · ¸ ` · . . ·
` . · .
Sulaiman berkata: “Ya Tuhanku, ampunilah aku dan anugerahkanlah kepadaku kerajaan
yang tidak dimiliki oleh seorang juapun sesudahku, sesungguhnya Engkaulah yang Maha
Pemberi”. (Shad (38): 35).
Maka berhubungan dengan jin tidak mungkin dilakukan kecuali apabila jin itu
menghendakinya, dan sering kali ia baru bersedia apabila manusia memenuhi syarat-syarat
tertentu. Syarat-syarat ini dapat dipastikan secara bertahap akan menggiring manusia jatuh
kepada kemaksiatan, bahkan mungkin kemusyrikan dan kekufuran yang mengeluarkannya
dari ajaran Islam. Na’udzu billah.
Wallahu a’lam.
Referensi:
1. Silsilah Aqidah oleh Umar Sulaiman Al Asyqar
2. Al ‘Aqaid Al-Islamiyah oleh Abdurrahman Hasan Habannakah
3. Tafsir At-Thabari.
---oo0oo---

Sumber: Tim Kajian Manhaj Tarbiyah (dakwatuna.com)



Aqidah

MENGENAL ALLAH
(MA’RIFATULLAH)



Mungkin ada di kalangan kaum muslimin yang bertanya kenapa pada saat ini kita masih
perlu berbicara tentang Allah padahal kita sudah sering mendengar dan menyebut
namaNya, dan kita tahu bahwa Allah itu Tuhan kita. Tidakkah itu sudah cukup untuk kita?
Tidak. Jangan sekali-kali kita merasa cukup dengan pemahaman dan pengenalan kita
terhadap Allah. Karena, semakin memahami dan mengenaliNya kita merasa semakin
dekat denganNya. Selain itu, dengan pengenalan yang lebih dalam lagi, kita bisa terhindar
dari pemahaman-pemahaman yang keliru tentang Allah dan kita terhindar dari sikap-sikap
yang salah terhadap Allah.

Aqidah
Ketika kita membicarakan makrifatullah, maknanya kita berbicara tentang Rabb, Malik,
dan Ilah kita. Rabb yang kita pahami dari istilah Al-Qur’an adalah sebagai Pencipta,
Pemilik, Pemelihara dan Penguasa. Kata Ilah mengandung arti yang dicintai, yang
ditakuti, dan juga sebagai sumber pengharapan. Makna seperti ini ada di dalam surat An-
Naas (114): 1-3.
Dengan demikian jelaslah bahwa usaha kita untuk lebih jauh memahami dan mengenal
Allah adalah bagian terpenting di dalam hidup ini. Lantas, bagaimana metoda yang harus
kita tempuh untuk bisa mengenal Allah? Apa saja halangan yang senantiasa menghantui
manusia dari mengenalNya? Benarkan kalimat yang mengatakan, “Kenalilah dirimu
niscaya engkau akan mengenali Tuhanmu.” Dari pengenalan diri sendiri, maka ia akan
membawa kepada pengenalan (makrifah) yang menciptakan diri, yaitu Allah. Ini adalah
karena pada hakikatnya makrifah kepada Allah adalah sebenar-benar makrifah dan
merupakan asas segala kehidupan rohani.
Setelah makrifah kepada Allah, akan membawa kita kepada makrifah kepada Nabi dan
Rasul, makrifah kepada alam nyata dan alam ghaib dan makrifah kepada alam akhirat.
Keyakinan terhadap Allah swt. menjadi mantap apabila kita mempunyai dalil-dalil dan
bukti yang jelas tentang kewujudan (eksistensi) Allah lantas melahirkan pengesaan dalam
mentauhidkan Allah secara mutlak. Pengabdian diri kita hanya semata-mata kepada Allah
saja. Ini memberi arti kita menolak dan berusaha menghindarkan diri dari bahaya-bahaya
disebabkan oleh syirik kepadaNya.
Kita harus berusaha menempatkan kehidupan kita di bawah bayangan tauhid dengan cara
kita memahami ruang perbahasan dalam tauhid dengan benar tanpa penyelewengan sesuai
dengan manhaj salafush shalih. Kita juga harus memahami empat bentuk tauhidullah yang
menjadi misi ajaran Islam di dalam Al-Qur’an maupun sunnah, yaitu tauhid asma wa sifat,
tauhid rububiah, tauhid mulkiyah, dan tauhid uluhiyah. Dengan pemahaman ini kita akan
termotivasi untuk melaksanakan sikap-sikap yang menjadi tuntutan utama dari setiap
empat tauhid tersebut.
Kehidupan paling tenang adalah kehidupan yang bersandar terus kecintaannya kepada
Yang Maha Pengasih. Oleh karena itu kita harus mampu membedakan di antara cinta
kepada Allah dengan cinta kepada selainNya serta menjadikan cinta kepada Allah
mengatasi segala-galanya. Apa yang menjadi tuntutan kepada kita ialah kita menyadari
pentingnya melandasi seluruh aktivitas hidup dengan kecintaan kepada Allah, Rasul, dan
jihad secara minhaji.
Di dalam memahami dan mengenal Allah ini, kita seharusnya memahami bahwa Allah
sebagai sumber ilmu dan pengetahuan. Ilmu-ilmu yang Allah berikan itu menerusi dua
jalan yang membentuk dua fungsi yaitu sebagai pedoman hidup dan juga sebagai sarana
hidup. Kita juga sepatutnya menyadari kepentingan kedua bentuk ilmu Allah dalam
pengabdian kepada Allah untuk mencapai tahap takwa yang lebih cemerlang.

Aqidah
Ayat-ayat Allah ada dalam bentuk ayat-ayat qauliyah dan kauniyah. Kedua jenis ayat-ayat
Allah ini terbuka bagi siapa saja yang ingin membaca dan menelitinya. Namun terdapat
berbagai halangan akan muncul di hadapan kita dalam mengenali Allah. Halangan-
halangan ini muncul dalam bentuk sifat-sifat pribadi kita yang bersumberdari syahwat –
seperti nifaq, takabbur, zhalim, dan dusta– dan sifat-sifat yang bersumber dari syubhat –
seperti jahil, ragu-ragu, dan menyimpang. Kesemua sifat-sifat fujur itu akan menghasilkan
kekufuran terhadap Allah swt.
Ahammiyah Ma’rifatullah (Urgensi mempelajari Makrifatullah)
Riwayat ada menyatakan bahwa perkara pertama yang mesti dilaksanakan dalam agama
adalah mengenal Allah (awwaluddin ma’rifatullah). Bermula dengan mengenal Allah,
maka kita akan mengenali diri kita sendiri. Siapakah kita, di manakah kedudukan kita
berbanding makhluk-makhluk yang lain? Apakah sama misi hidup kita dengan binatang-
binatang yang ada di bumi ini? Apakah tanggung jawab kita dan ke manakah kesudahan
hidup kita? Semua persoalan itu akan terjawab secara tepat setelah kita mengenali betul
Allah sebagai Rabb dan Ilah, Yang Mencipta, Yang Menghidupkan dan Yang Mematikan.
Dalil-dalil:
QS. Muhammad (47): 19
Maka ketahuilah, bahwa sesungguhnya tidak ada Ilah (sesembahan, Tuhan) selain Allah
dan mohonlah ampunan bagi dosamu dan bagi (dosa) orang-orang mukmin, laki-laki dan
perempuan. Dan Allah mengetahui tempat kamu berusaha dan tempat kamu tinggal.
Ayat ini mengarahkan kepada kita dengan kalimat “ketahuilah olehmu” bahwasanya tidak
ada ilah selain Allah dan minta ampunlah untuk dosamu dan untuk mukminin dan
mukminat. Apabila Al-Qur’an menggunakan sibghah amar (perintah), maka menjadi
wajib menyambut perintah tersebut. Dalam konteks ini, mengetahui atau mengenali Allah
(ma’rifatullah) adalah wajib.

QS. Ali Imran (3): 18
Allah menyatakan bahwa tidak ada Tuhan melainkan Dia (yang berhak disembah), yang
menegakkan keadilan. Para malaikat dan orang-orang yang berilmu (juga menyatakan
yang demikian itu). Tak ada Tuhan melainkan Dia (yang berhak disembah), yang Maha
Perkasa lagi Maha Bijaksana.
Allah menyatakan bahwa tidak ada tuhan melainkan Dia, dan telah mengakui pula para
malaikat dan orang-orang yang berilmu sedang Allah berdiri dengan keadilan. Tidak ada
tuhan melainkan Dia Yang Maha Perkasa dan Maha Bijaksana.

Aqidah
QS. Al-Hajj (22): 72-73
Dan apabila dibacakan di hadapan mereka ayat-ayat Kami yang terang, niscaya kamu
melihat tanda-tanda keingkaran pada muka orang-orang yang kafir itu. Hampir-hampir
mereka menyerang orang-orang yang membacakan ayat-ayat Kami di hadapan mereka.
Katakanlah, “Apakah akan aku kabarkan kepadamu yang lebih buruk daripada itu, yaitu
neraka?” Allah telah mengancamkannya kepada orang-orang yang kafir. Dan neraka itu
adalah seburuk-buruknya tempat kembali.
Hai manusia, telah dibuat perumpamaan, maka dengarkanlah olehmu perumpamaan itu.
Sesungguhnya segala yang kamu seru selain Allah sekali-kali tidak dapat menciptakan
seekor lalat pun, walaupun mereka bersatu menciptakannya. Dan jika lalat itu merampas
sesuatu dari mereka, tiadalah mereka dapat merebutnya kembali dari lalat itu. Amat
lemahlah yang menyembah dan amat lemah (pulalah) yang disembah.

QS. Az-Zumar (39): 67
Mereka tidak mentaqdirkan Allah dengan ukuran yang sebenarnya sedangkan keseluruhan
bumi berada di dalam genggamanNya pada Hari Kiamat dan langit-langit dilipatkan
dengan kananNya. Maha Suci Dia dan Maha Tinggi Dia dari apa yang mereka sekutukan.
Tema Perbicaraan Makrifatullah – Allah Rabbul Alamin.
Ketika membicarakan ma’rifatullah, artinya kita sedang membicarakan tentang Rabb,
Malik, dan Ilah kita. Rabb yang kita pahami dari istilah Al-Qur’an adalah sebagai
Pencipta, Pemilik, Pemelihara, dan Penguasa. Sedangkan kata Ilah mengandungi arti yang
dicintai, yang ditakuti, dan juga sebagai sumber pengharapan. Hal ini termaktub dalam
surat An-Naas (114): 1-3. Inilah tema yang dibahas dalam ma’rifatullah. Jika kita
menguasai dan menghayati keseluruhan tema ini, bermakna kita telah mampu menghayati
makna ketuhanan yang sebenarnya.
Dalil-dalil:
QS. Ar-Ra’du (13): 16
Katakanlah, “Siapakah Rabb segala langit dan bumi?” Katakanlah, “Allah.” Katakanlah,
“Adakah kamu mengambil wali selain dariNya yang tiada manfaat kepada dirinya dan
tidak pula dapat memberikan mudarat?” Katakanlah, “Apakah sama orang buta dengan
orang yang melihat? Apakah sama gelap dan nur (cahaya)?” Bahkan adakah mereka
mengadakan bagi Allah sekutu-sekutu yang menjadikan sebagaimana Allah menjadikan,
lalu serupa makhluk atas mereka? Katakanlah, “Allah. Allah yang menciptakan tiap tiap
sesuatu dan Dia Esa lagi Maha Kuasa.”
QS. Al-An’am (6): 12

Aqidah
Katakanlah, “Bagi siapakah apa-apa yang di langit dan bumi?” Katakanlah, “Bagi Allah.”
Dia telah menetapkan ke atas diriNya akan memberikan rahmat. Sesungguhnya Dia akan
menghimpun kamu pada Hari Kiamat, yang tidak ada keraguan padanya. Orang-orang
yang merugikan diri mereka, maka mereka tidak beriman.”

QS. Al-An’am (6): 19
Katakanlah, “Apakah saksi yang paling besar?” Katakanlah, “Allah lah saksi di antara aku
dan kamu. Diwahyukan kepadaku Al-Qur’an ini untuk aku memberikan amaran kepada
engkau dan sesiapa yang sampai kepadanya Al-Qur’an. Adakah engkau menyaksikan
bahawa bersama Allah ada tuhan-tuhan yang lain?” Katakanlah, “Aku tidak menyaksikan
demikian.” Katakanlah, “Hanya Dia-lah Tuhan yang satu dan aku bersih dari apa yang
kamu sekutukan.”
QS. An-Naml (27): 59
Katakanlah, “Segala puji-pujian itu adalah hanya untuk Allah dan salam sejahtera ke atas
hamba-hambanya yang dipilih. Adakah Allah yang paling baik ataukah apa yang mereka
sekutukan?”

QS. An-Nur (24): 35
“Allah memberi cahaya kepada seluruh langit dan bumi.”
QS. Al-Baqarah (2): 255
“Allah. Tidak ada tuhan melainkan Dia. Dia hidup dan berdiri menguasai seluruh isi bumi
dan langit.”
Didukung Dengan Dalil Yang Kuat
QS. Al-Qiyamah (75): 14-15
Bahkan manusia itu menjadi saksi atas dirinya sendiri. Meskipun dia mengemukakan
alasan-alasannya.
Makrifatullah yang sahih dan tepat itu mestilah bersandarkan dalil-dalil dan bukti-bukti
kuat yang telah siap disediakan oleh Allah untuk manusia dalam berbagai bentuk agar
manusia berpikir dan membuat penilaian. Oleh karena itu banyak fenomena alam yang
dibahas oleh Al-Qur‘an dan diakhiri dengan kalimat pertanyaan: tidakkah kamu berpikir,
tidakkah kamu mendengar. Pertanyaan-pertanyaan itu mendudukkan kita pada satu
pandangan yang konkrit betapa semua fenomena alam adalah di bawah milik dan aturan
Allah swt.

Aqidah
Dalil-dalil:
Naqli [QS. Al-An'am (6): 19]
Katakanlah, “Siapakah yang lebih kuat persaksiannya?” Katakanlah, “Allah.” Dia menjadi
saksi antara aku dan kamu. Dan Al-Qu’ran ini diwahyukan kepadaku supaya dengan dia
aku memberi peringatan kepadamu dan kepada orang-orang yang sampai Al-Qur’an
(kepadanya). Apakah sesungguhnya kamu mengakui bahwa ada tuhan-tuhan lain di
samping Allah?” Katakanlah, “Aku tidak mengakui.” Katakanlah, “Sesungguhnya dia
adalah Tuhan yang Maha Esa dan Sesungguhnya aku berlepas diri dari apa yang kamu
persekutukan (dengan Allah).”
Aqli, [QS. Ali Imran (3): 190]
Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang
terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal.
Fitri, [QS. Al-A'raf (7): 172]
Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi
mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman),
“Bukankah Aku ini Tuhanmu?” Mereka menjawab, “Betul (Engkau Tuhan kami), kami
menjadi saksi.” (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak
mengatakan, “Sesungguhnya kami (Bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap
Ini (keesaan Tuhan).”
Dapat Menghasilkan: peningkatan iman dan taqwa.
Apabila kita betul-betul mengenal Allah mentadaburi dalil-dalil yang dalam, hubungan
kita dengan Allah menjadi lebih akrab. Apabila kita dekat dengan Allah, Allah lebih dekat
lagi kepada kita. Setiap ayat Allah baik ayat qauliyah maupun kauniyah tetap akan
menjadi bahan berpikir kepada kita dan penambah keimanan serta ketakwaan. Dari sini
akan menghasilkan pribadi muslim yang merdeka, tenang, penuh keberkatan, dan
kehidupan yang baik. Tentunya tempat abadi baginya adalah surga yang telah dijanjikan
oleh Allah kepada hamba-hamba yang telah diridhaiNya.

Kemerdekaan [QS. Al-An'am (6): 82]
Orang-orang yang beriman dan tidak mencampuradukkan iman mereka dengan kezaliman
(syirik), mereka itulah yang mendapat keamanan; dan mereka itu adalah orang-orang yang
mendapat petunjuk.
Ketenangan [QS. Al-Ra'du (13): 28]

Aqidah
(Yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka manjadi tenteram dengan mengingat
Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram.
Barakah [QS. Al-A'raf (7): 96]
Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah kami akan
melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan
(ayat-ayat kami) itu, maka kami siksa mereka disebabkan perbuatannya.
Kehidupan Yang Baik [QS. Al-Nahl (16): 97]
Barangsiapa yang mengerjakan amal shalih, baik laki-laki maupun perempuan dalam
keadaan beriman, maka sesungguhnya akan kami berikan kepadanya kehidupan yang baik
dan sesungguhnya akan kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik
dari apa yang telah mereka kerjakan.
Surga [QS. Yunus (10): 25-26]
Allah menyeru (manusia) ke Darussalam (surga), dan menunjuki orang yang dikehendaki-
Nya kepada jalan yang lurus (Islam). Bagi orang-orang yang berbuat baik, ada pahala
yang terbaik (surga) dan tambahannya. Dan muka mereka tidak ditutupi debu hitam dan
tidak (pula) kehinaan. Mereka itulah penghuni surga, mereka kekal di dalamnya.
Mardhotillah [QS. Al-Bayinah (98): 8]
Balasan mereka di sisi Tuhan mereka ialah surga ‘Adn yang mengalir di bawahnya
sungai-sungai; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Allah ridha terhadap mereka
dan merekapun ridha kepadanya. yang demikian itu adalah (balasan) bagi orang yang
takut kepada Tuhannya.
---oo0oo---

Sumber: Tim Kajian Manhaj Tarbiyah (dakwatuna.com)













Aqidah

ILMU ALLAH


Mukadimah

Allah swt telah menciptakan dan menjadikan alam ini seluruhnya lengkap dengan sistem
yang menyeluruh. Antara satu sama lain ada perakitan dan manfaatnya sendiri. Allah swt
yang menjadikan semua isi alam ini dari yang sekecil-kecilnya hingga yang paling besar,
yang nyata dan yang ghaib. Dari sifat pengetahuan Allah swt yang Maha Mengetahui
inilah, sehingga Allah swt menjadi sumber ilmu.

Dengan ilmu Allah swt tersebut, kemudian Dia mengajar manusia terhadap apa-apa yang
tidak diketahui menjadi diketahuinya. Ada ilmu Allah swt yang diturunkan secara resmi
kepada Rasul-Nya dan ini kemudian menjadi pedoman hidup (minhajul hayah).
Ada ilmu Allah swt yang diturunkan secara tidak resmi dan ini menjadi sarana hidup
(wasailul hayah).

Kedua ilmu tersebut sangat bermanfaat untuk memperoleh kebahagiaan di dunia dan di
akhirat. Islam mendorong kaumnya untuk menguasai ilmu dunia dan ilmu akhirat. Imam
Syafi’i berkata, "Barang siapa menginginkan dunia maka ada ilmunya. Barang siapa
menginginkan akhirat maka ada ilmunya. Barang siapa menginginkan keduanya, maka
diperlukan ilmu keduanya" (Al-Majmu’, Imam An-Nawawi).

Pembahasan

Dalam asmaul husna Allah swt disebut sebagai Al ‘Alim (Yang Maha Mengetahui).
Bahwasanya ilmu Allah swt tidak terbatas. Dia mengetahui apa saja yang ada di langit dan
di bumi, yang terdahulu, sekarang ataupun yang akan datang, baik yang ghaib maupun
yang nyata: "Apakah kamu tidak mengetahui bahwa sesungguhnya Allah mengetahui apa
saja yang ada di langit dan di bumi. . " (Al Hajj:70)
"Dialah Allah, Yang tiada Tuhan selain Dia. Yang mengetahui yang ghaib dan yang
nyata. Dialah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang" (Al Hasyr:22)
Tak ada satupun yang tersembunyi bagi Allah swt. Sebutir biji di dalam gelap gulita bumi
yang berlapis tetap diketahui Allah swt: "Di sisi-Nya segala anak kunci yang ghaib,
tiadalah yang mengetahui kecuali Dia sendiri. Dia mengetahui apa-apa yang ada di
daratan dan di lautan. Tiada gugur sehelai daun kayu pun, melainkan Dia
mengetahuinya, dan tiada sebuah biji dalam gelap gulita bumi dan tiada pula benda yang
basah dan yang kering, melainkan semuanya dalam Kitab yang terang" (Al An'am:59)

Ilmu Allah swt Maha luas, tak terjangkau dan tak terbayangkan oleh akal pikiran, tiada
terbatas. Dia mengetahui apa yang sudah, dan akan terjadi serta yang mengaturnya.

Aqidah
Manusia, malaikat dan makhluq manapun tak akan bisa menyelami lautan ilmu Allah swt.
Bahkan untuk mengetahui ciptaan Allah saja manusia tidak akan mampu. Dalam tubuh
manusia tak semuanya terjangkau oleh kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi.
Semakin didalami semakin jauh pula yang harus dijangkau, semakin banyak misteri yang
harus dipecahkan, seperti jaringan kerja otak manusia masih merupakan hal yang teramat
rumit untuk dikaji. Belum lagi tentang astronomi, berapa banyak bintang, galaksi di langit,
berapa jauhnya, bagaimana cara mencapainya, proses terjadinya, apakah ada penghuninya,
dsb. Jika kita menatap ke luar angkasa betapa kecil bumi ini bagaikan debu bahkan lebih
kecil dari itu. Andaikan saja ada manusia yang menguasai planet bumi sebagai miliknya
pribadi, maka di hadapan alam di ruang angkasa ini dia hanyalah memiliki debu tak
berarti. Jika saja ada manusia menguasai bumi, dia hanya menguasai debu. Sementara
kekuasaan, kerajaan Allah swt tak akan tertandingi sedikitpun jua.

Allah swt menggambarkan betapa kecil dan tak berdayanya manusia bila dibandingkan
dengan ilmu Allah swt, dengan perumpamaan air laut bahkan tujuh lautan dijadikan tinta
untuk menulis kalimat Allah swt, niscaya tidak akan habis-habisnya kalimat Allah tersebut
dituliskan:

"Katakanlah, kalau sekiranya lautan menjadi tinta untuk menulis kalimat-kalimat
Tuhanku, sungguh habislah lautan itu sebelum habis ditulis kalimat-kalimat Tuhanku,
meskipun kami datangkan tambahan sebanyak itu pula" (Al Kahfi:109)

"Dan seandainya pohon-pohon di muka bumi menjadi pena dan laut (menjadi tinta),
ditambahkan kepadanya tujuh lautan lagi, niscaya tidak akan habis-habisnya (dituliskan)
kalimat Allah. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Melihat" (Luqman:27).

Allah swt telah menciptakan langit dan bumi dengan segala isi dan peristiwa yang
terkandung di dalamnya merupakan fenomena yang sangat mengesankan dan
menakjubkan akal serta hati sanubari manusia. Itulah alam semesta atau al kaun
(universum). Simaklah firman Allah swt berikut ini:

"Dia lah Allah Yang menciptakan, Yang mengadakan, Yang Membentuk rupa, Yang
Mempunyai Nama-nama Yang Paling Baik. Bertasbih kepada-Nya apa yang ada di langit
dan di bumi . Dan Dia lah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana" (Al Hasyr: 24).

Hendaknya manusia senantiasa men-taddaburi ayat-ayat-Nya, baik yang qauliyah maupun
kauniyah. Karena di sana terdapat lautan ilmu-Nya,serta dorongan/ motivasi untuk
mengkaji maupun mengimplementasikannya. "Hai jama'ah jin dan manusia jika kamu
sanggup menembus (melintasi) penjuru langit dan bumi, maka lintasilah, kamu tidak
dapat menembusnya melainkan dengan kekuatan" (Ar Rahman :33). Dengan ayat ini
manusia akan mengerti jika ingin menembus langit diperlukan energi yang besar.

Maka dengan segala bahan-bahan yang ada di alam ini manusia harus mampu

Aqidah
mengkonversi energi tersebut. Masih banyak ayat-ayat Al Qur'an yang berkaitan dengan
ilmu pengetahuan dan cabang-cabangnya. Allah swt telah menciptakan alam beserta isi
dan sistemnya dan juga telah mengajarkannya kepada manusia. Dengan mencermati Al
Qur'an, akan melahirkan kajian-kajian yang lebih detail tentang keberadaan ciptaan-Nya.

Timbulnya ilmu pengetahuan, disebabkan kebutuhan-kebutuhan manusia yang
berkemauan hidup bahagia. Dalam mencapai dan memenuhi kebutuhan hidupnya itu,
manusia menggunakan akal pikirannya. Mereka menengadah ke langit, memandang alam
sekitarnya dan melihat dirinya sendiri. Dalam hal ini memang telah menjadi qudrat dan
iradat Nya, bahwa manusia dapat memikirkan sesuatu kebutuhan hidupnya. Telah
tercantum dalam Al Qur'an perintah Allah swt : "Katakanlah, perhatikanlah apa yang ada
di langit dan di bumi. Tidaklah bermanfaat tanda kekuasaan Allah dan Rasul-Rasul yang
memberi peringatan bagi orang-orang yang tidak beriman" (Yunus: 101)

Hasil dari pemikiran manusia itu melahirkan ilmu pengetahuan dengan berbagai
cabangnya. Maka ilmu pengetahuan bukanlah musuh atau lawan dari iman, melainkan
sebagai wasailul hayah (sarana kehidupan) dan juga nantinya yang akan membimbing ke
arah iman. Sebagaimana kita ketahui, banyak ahli ilmu pengetahuan yang berpikir dalam,
telah dipimpin oleh pengetahuannya kepada suatu pandangan, bahwa di balik alam yang
nyata ini ada kekuatan yang lebih tinggi, yang mengatur dan menyusunnya, memelihara
segala sesuatu dengan ukuran dan perhitungan.

Herbert Spencer dalam tulisannya tentang pendidikan, menerangkan sebagai berikut:
"Pengetahuan itu berlawanan dengan khurafat, tetapi tidak berlawanan dengan agama.
Dalam kebanyakan ilmu alam kedapatan paham tidak bertuhan (atheisme), tetapi
pengetahuan yang sehat dan mendalami kenyataan, bebas dari paham yang demikian itu.
Ilmu alam tidak bertentangan dengan agama. Mempelajari ilmu itu merupakan ibadah
secara diam, dan pengakuan yang membisu tentang keindahan sesuatu yang kita selidiki
dan kita pelajari, dan selanjutnya pengakuan tentang kekuasaany Penciptanya.
Mempelajari ilmu alam itu tasbih (memuji Tuhan) tapi bukan berupa ucapan, melainkan
tasbih berupa amal dan menolong bekerja. Pengetahuan ini bukan mengatakan mustahil
akan memperoleh sebab yang pertama, yaitu Allah".

"Seorang ahli pengetahuan yang melihat setitik air, lalu dia mengetahuinya bahwa air itu
tersusun dari oksigen dan hidrogen, dengan perbandingan tertentu, dan kalau sekiranya
perbandingan itu berubah, niscaya air itu akan berubah pula menjadi sesuatu yang bukan
air. Maka dengan itu ia akan meyakini kebesaran Pencipta, kekuasaan dan
kebijaksanaan-Nya. Sebaliknya orang yang bukan ahli dalam ilmu alam, akan melihatnya
idak lebih dari setitik air".

Manusia sejak zaman dahulu telah mengerahkan daya akal untuk menyelidiki rahasia serta
mencari hubungannya dengan kebutuhan dan tujuan hidupnya di atas bumi ini. Maka
lahirlah para ahli ilmu alam seperti astronom, meteorolog, geolog, fisikawan, dsb beserta
para ahli filsafatnya di bidang tersebut.

Aqidah

Penemuan di bidang astronomi menyebabkan kosmologi terbagi dalam dua kelompok,
yaitu kelompok yang beranggapan bahwa alam semesta ini statis, dari permulaan
diciptakannya sampai sekarang ini tak berubah dan kelompok yang beranggapan bahwa
alam semesta ini dinamis, bergerak atau berubah.

Kelompok yang beranggapan bahwa alam semesta ini dinamis ditunjang oleh ilmu
pengetahuan modern. Menurut teori evolusi, pengembangan seperti dibuktikan oleh
adanya red shift, ditafsirkan bahwa alam semesta ini dimulai dengan satu ledakan dahsyat.
Materi yang terdapat dalam alam semesta itu mula-mula berdesakan satu sama lain dalam
suhu dan kepadatan yang sangat tinggi, sehingga hanya berupa proton, neutron, dan
elektron, tidak mampu membentuk susunan yang lebih berat. Karena mengembang, maka
suhu menurun sehingga proton dan neutron berkumpul membentuk inti atom. Kecepatan
mengembang ini menentukan macam atom yang terbentuk.

Para ahli ilmu alam telah menghitung bahwa masa mendidih itu tidak lebih dari 30 menit.
Bila kurang artinya mengembung lebih cepat, alam semesta ini akan didominir oleh unsur
hidrogen. Apabila lebih dari 30 menit, berarti mengembung lambat, unsur berat akan
dominan. Selama 250 juta tahun sesudah ledakan dahsyat, energi sinar dominan terhadap
materi, transformasi di antara keduanya bisa terjadi sesuai dengan rumus Einstein, E =
mc2. Dalam proses pengembungan inienergi sinar banyak terpakai dan meteri semakin
dominan. Setelah 250 juta tahun maka masa dari meteri dan sinar menjadi sama. Sebelum
itu, tidak dibayangkan behwa materi larut dalam panas radiasi, seperti garam larut di air.
Pada masa itu, setelah lewat 250 juta tahun, matei dan gravitasi dominan, terdapat
differensiasi yang tadinya homogen. Bola-bola gas masa galaxi terbentuk dengan garis
tengah kurang lebih 40.000 tahun cahaya dan masanya 200 juta kali massa matahari kita.
Awan gas gelap itu kemudian berdifferensiasi atau berkondensasi menjadi bola-bola gas
bintang yang berkontraksi sangat cepat. Akibat kontraksi sangat cepat. Akibat kontraksi
atau pemadatan itu maka suhu naik sampai 20.000.000 derajat, yaitu threshold reaksi inti,
dan bintang itupun mulai bercahaya. Karena sebagian dari materi terhisap ke pusat
bintang, maka planet dibentuk dari sisa-sisanya. Yaitu butir-butir debu berbenturan satu
sama lain dan membentuk massa yang lebih besar, berseliweran di ruang angkasa dan
makin lama makin besar.

Proses kondensasi bintang pembentukan planet membutuhkan waktu beberapa ratus juta
tahun. Kita mengetahui bahwa bulan bergerak menjauhi bumi, hal ini berarti bahwa
beberapa milyar tahun yang lalu bumi dan bulan itu satu, dan bulan merupakan pecahan
dari bumi yang memisahkan diri. Firman Allah swt:

"Dan apakah orang-orang yang kafir tidak mengetahui bahwasanya langit dan bumi itu
keduanya dahulu adalah suatu yang padu, kemudian Kami pisahkan antara keduanya.
Dan daripada air Kami jadikan segala sesuatu yang hidup. Maka mengapakah mereka
tiada juga beriman" (Al Anbiya: 30)

Aqidah

Konsep ini jelas menunjang teori kedinamisan alam semesta. Orang Rusia berdasarkan
umur batu bulan, telah menetapkan bahwa bulan berumur 4,5 milyar tahun.

Dalam mempelajari red shift, jarak diukur dengan tahun cahaya, bukan dengan kilometer.
Kecepatan cahaya adalah 300.000 km per detik, sedangkan beberapa galaxi beberapa juta
tahun cahaya jauhnya. Pada waktu kita memandang galaxi yang sangat jauh itu,
sebetulnya kita sedang meneropong jauh ke masa yang silam. Dalam mempelajari galaxi
yang jauhnya satu milyar tahun cahaya, sebetulnya membuktikan bahwa satu milyar tahun
yang lalu alam semesta ini mengembung dengan kecepatan yang lebih tinggi dari
sekarang. Hal ini berarti pula bahwa kita berada di alam semesta yang dinamis, bukan
statis.

Lain daripada itu penurunan kecepatan mengembung meramalkan bahwa pada suatu
waktu pengembungan itu akan berhenti, kemudian berkontraksi, pada akhirnya kembali
kepada situasi kepadatan seperti asalnya lebih kurang lima milyar tahun yang lalu.

Dari uraian di atas bisa ditarik kesimpulan bahwa alam semesta ini mengembung dan
mengempis. Untuk lebih lanjut perhatikan uraian George Gemov dalam bukunya The
Creation of the Universe, hal. 36: ". . . bahwa tekanan raksasa yang terjadi pada
permulaan sejarah alam semesta adalah akibat dari suatu kehancuran yang terjadi
sebelumnya, dan bahwa pengembungan yang sekarang ini sebenarnya hanyalah suatu
gerak kembali yang elastis yang terjadi segera setelah tercapai kepadatan maximun yang
diizinkan. "

Kita tidak mengetahui secara pasti bagaimana besarnya tekanan yang tercapai pada
kepadatan yang maksimum itu, tetapi menurut semua petunjuk tekanan itu sungguh-
sungguh amat tinggi. Besar kemungkinan seluruh massa alam semesta yang mempunyai
kemungkinan bentuk yang bagaimanapun dalam masa pra kehancuran telah dimusnahkan
secara sempurna, dan bahwa atom-atom dan intinya telah dipecahkan menjadi proton,
neutron, dan elektron serta partikel dasar lainnya, jadi tak ada satupun yang bisa
dituturkan tentang masa alam sebelum pemadatan alam semesta itu. Segera setelah
kepadatan massa alam semesta itu mencapai titik maksimum, kepadatan yang sangat
tinggi itu hanya bertahan dalam waktu sebentar saja.

Segala sesuatu yang berada dalam alam semesta adalah ciptaan (makhluq) Allah swt
sebegai refleksi dan manifestasi dari wujud Allah swt dengan segala sifat kesempurnaan-
Nya. Karena itu manusia tidak habis-habisnya mengagumi isi al kaun ini terus mengambil
pelajaran dan ibroh yang bermanfaat dari padanya.

"Yang telah menciptakan tujuh langit berlapis-lapis. Kamu sekali-kali tidak melihat pada
ciptaan Tuhan Yang Maha Pemurah sesuatu yang tidak seimbang. Maka lihatlah
berulang-ulang, adakah kamu lihat sesuatu yang tidak seimbang? Kemudian pandanglah

Aqidah
sekali lagi niscaya penglihatanmu akan kembali kepadamu dengan tidak menemukan
sesuatu cacat dan penglihatanmu itupun dalam keadaan payah" (Al Mulk: 3,4)

Tegaknya langit, keseimbangan benda-benda langit sesuai dengan ciptaan dan
pengaturan dari Penciptanya. "Dan Allah telah meninggikan langit dan Dia meletakkan
neraca (keadilan)" (Ar Rahman:7)

"Sesungguhnya Allah menahan langit dan bumi supaya jangan lenyap; dan sungguh jika
keduanya akan lenyap tidak tidak ada seorang pun yang dapat menahan keduanya selain
Allah. Sesungguhnya Dia adalah Maha Penyantun lagi Maha Pengampun" (Faathir:41)

Ayat di atas menyatakan adanya semacam penahan yang membawa kepada ketenangan
benda-benda langit, meskipun benda-benda langit itu saling bergerak. Hal ini
menunjukkan kenyataan kebenarannya terhadap ummat manusia.

Para ahli fisika sudah cukup lama mengenal gaya gravitasi antara benda-benda bermassa
yang bekerja secara luas dalam alam ini. setelah Issac Newton pada tahun 1686
merumuskan hukum gravitasi, maka orang dapat dengan mudah memahami dan
menerangkan berbagai peristiwa dalam jagad raya ini. Hukum-hukum Kepler yang sudah
ada sebelum Newton, ternyata dapat dipahamkan sebagai akibat saja dari hukum gravitasi
Newton tersebut.

Dari keterangan tersebut dapat disimpulkan bahwa universum itu berjalan dengan eksak,
kokoh, teratur, rapi dan harmonis, yang tidak akan ada habis-habisnya menjadi tantangan
yang menakjubkan bagi manusia. Setelah beriman kepada Allah, maka menjadi mudah
bagi kita untuk menerima, bahwa hukum-hukum itu adalah sunatullah atau aturan-aturan
yang telah ditetapkan Allah bagi makhluq-Nya yang tidak berubah-ubah.

"Karena kesombongan (mereka) di muka bumi dan karena rencana (mereka) yang jahat.
Rencana jahat itu tidak akan menimpa selain orang yang merencanakannya sendiri.
Tiadalah yang mereka nati-nantikan melainkan (berlakunya) sunnah (Allah yang telah
berlaku) kepada orang-orang yang terdahulu. Maka sekali-kali kamu tidak akan menemui
perubahan bagi sunnah Allah, dan sekali-kali tidak (pula) akan menemui penyimpangan
bagi sunnah Allah itu. " (Faathir: 43)

Demikianlah, Allah swt telah menciptakan segala sesuatu dengan sempurna, seimbang,
beraturan, sistemik. Maka Dia jualah yang paling tahu hakikat dan tujuan penciptaan-Nya,
dan telah dikabarkannya ciptaan Allah swt itu kepada manusia. Manusia telah
diperintahkan untuk bertafakur atas ciptaan-Nya, sehingga mampu memanfaatkannya. Dan
agar manusia mampu mengenal pencipta-Nya serta mengagungkan-Nya; Dia lah Allah swt
tiada Tuhan selain-Nya. Dengan ilmu-Nya Allah mengajarkan kepada hamba-Nya apa-apa
yang telah diciptakan dengan proses terjadinya, sehingga manusia akan menjadi tahu dan
berilmu. Setelah itu akan lahir cabang-cabang ilmu pengetahuan yang menyebar ke setiap

Aqidah
penjuru ufuk kehidupan manusia. Dengan ilmunya manusia diharapkan menemukan
kebenaran dan menjadikannya sebagai landasan kehidupan.

"Kami akan memperlihatkan kapada mereka tanda-tanda (kekuasaan) Kami di segenap
ufuk pada diri mereka sendiri sehingga jelaslah bagi mereka bahwa Al Qur'an itu adalah
benar. Dan apakah Tuhanmu tidak cukup (bagi kamu) bahwa sesungguhnya Dia
menyaksikan segala sesuatu?" (Fushshilat: 53).

Ayat-Ayat Qauliyah dan Ayat-Ayat Kauniyah.

Allah swt menuangkan sebagian kecil dari ilmu-Nya kepada umat manusia dengan dua
jalan. Pertama, dengan ath thariqah ar rasmiyah (jalan resmi) yaitu dalam jalur wahyu
melalui perantaraan malaikat Jibril kepada Rasul-Nya, yang disebut juga dengan ayat-ayat
qauliyah.

Kedua, dengan ath thariqah ghairu rasmiyah (jalan tidak resmi) yaitu melalui ilham
kepada makhluq-Nya di alam semesta ini (baik makhluq hidup maupun yang mati), tanpa
melalui perantaraan malaikat Jibril. Kerena tak melalui perantaraan malaikat Jibril maka
bisa disebut jalan langsung (mubasyaratan). Kemudian jalan ini disebut juga dengan ayat-
ayat kauniyah.

Wahyu dalam pengertian ishtilahi adalah: "kalamullah yang diturunkan kepada Nabi-Nabi
dan Rasul-Rasul yang menjadi hudan (petunjuk) bagi umat manusia", baik yang
diturunkan langsung, dari belakang tabir (min wara' hijab) maupun yang diturunkan
melalui malaikat Jibril, seperti firman Allah swt:

"Tidak ada bagi seorang manusia pun bahwa Allah berkata-kata dengan dia kecuali
dengan perantaraan wahyu atau di belakang tabir atau dengan mengutus seseorang
(malaikat) lalu diwahyukan kepadanya apa yang Dia kehendaki. Sesungguhnya Dia Maha
Tinggi lagi Maha Bijaksana" (Asy Syura:51)

Pengertian wahyu secara ishtilahi perlu dipertegas karena ma'na wahyu secara lughawi
memiliki pengertian yang bermacam-macam, antara lain:

1. Ilham Fithri, seperti wahyu yang diberikan kepada ibu Nabi Musa untuk menyusukan
Musa yang masih bayi. "Dan Kami ilhamkan kepada ibu Musa; susuilah dia, dan apabila
kamu khawatir terhadapnya maka jatuhkanlah dia ke sungai (Nil). . . " (Al Qashash:7).

2. Insting Hayawan, seperti wahyu yang diberikan kepada lebah untuk bersarang di
bukit-bukit, pohon-pohon, dan dimana saja dia bersarang. "Dan Tuhanmu mewahyukan
kepada lebah: buatlah sarang-sarang di bukit-bukit, di pohon-pohon kayu, dan di tempat-
tempat yang dibikin manusia" (An Nahl:68).

Aqidah

3. Isyarat, seperti yang diwahyukan oleh Nabi Zakaria kepada kaumnya untuk bertasbih
pagi dan sore. "Maka ia keluar dari mihrab menuju kaumnya, lalu ia memberi isyarat
kepada mereka; hendaklah kamu bertasbih di waktu pagi dan petang" (Maryam:11).

4. Perintah Allah kepada malaikat, untuk mengerjakan sesuatu seperti perintah Allah
kepada malaikat untuk membantu kaum muslimin dalam perang Badr. "(Ingatlah), ketika
Tuhanmu mewahyukan kepada para malaikat; Sesungguhnya Aku bersama kamu, maka
teguhkanlah (pendirian) orang-orang yang telah beriman. . . " (Al Anfal:12).

5. Bisikan syaithan
". . . Sesungguhnya syaithan itu membisikkan kepada kawan-kawannya agar mereka
membantah kamu; dan jika kamu menuruti mereka, sesungguhnya kamu tentulah menjadi
orang-orang yang musyrik" (Al An'am :121).

Dalam ayat tersebut ada kata layuhuna (mewahyukan) yang berarti membisikkan. Hadits
Qudsi juga termasuk dalam wahyu (hadits yang maknanya dari Allah swt, sedangkan
redaksinya dari Rasulullah saw), dan hadits Nabawi, (makna dan redaksinya dari
Rasulullah saw) karena pada hakekatnya apa saja yang berasal dari Rasulullah saw
mempunyai nilai wahyu, firman Allah swt:

"Apa yang diberikan Rasul kepadamu maka terimalah dia. Dan apa yang dilarangnya
bagimu maka tinggalkanlah dia; dan bertaqwa-lah kepada Allah. Sesungguhnya Allah
sangat keras hukumannya" (Al Hasyr:7)

Ayat-ayat qauliyah mengisyaratkan kepada manusia untuk mencari ilmu alam semesta
(ayat-ayat kauniyah), oleh sebab itu manusia harus berusaha membacanya, mempelajari,
menyelidiki dan merenungkannya, untuk kemudian mengambil kesimpulan. Allah swt
berfirman: "Bacalah (ya Muhammad) dengan nama Tuhanmu Yang Menciptakan, Dia
telah menciptakan manusia dari ‘alaq. Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Maha Pemurah.
Yang Mengajar (manusia) dengan perantaraan alam. Dia mengajarkan kepada manusia
apa yang tidak diketahuinya" (Al ‘Alaq:1-5).

"Dialah Tuhan yang membentangkan bumi dan menjadikan padanya semua buah-buahan
berpasang-pasangan. Allah menutupkan malam kepada siang. Sesungguhnya pada yang
demikian itu terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi kaum yang memikirkan" (Ar
Ra'du:3)

"Dan di bumi ini terdapat bagian-bagian tanah yang berdampingan, dan kebun-kebun
anggur, tanam-tanaman dan pohon kurma yang bercabang dan yang tidak bercabang,
disirami dengan air yang sama. Kami melebihkan sebahagian tanam-tanaman itu atas

Aqidah
sebahagian yang lain tentang rasanya. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat
tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi kaum yang berpikir" (Ar Ra'du:4)

"Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan
siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal. Yaitu orang-orang yang
mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka
memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata):Ya Tuhan kami, tiadalah
Engkau menciptakan ini dengan sia-sia. Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari
siksa neraka. " (Ali Imran:190-191).

Dengan mempelajari, mengamati, menyelidiki dan merenungkan alam semesta (al kaun)
dengan segala isinya, manusia dapat melahirkan berbagai disiplin ilmu seperti:
Kosmologi, Astronomi, Botani, Meteorologi, Geografi, Zoologi, Antropologi, Psikologi
dsb. Sedangkan dari mempelajari wahyu manusia melahirkan berbagai disiplin ilmu
seperti: Tafsir, Ilmu Tafsir, Hadits, Ilmu Hadits, Fiqih, Ushul Fiqih dsb.
Dengan memahami bahwa semua ilmu itu adalah dari Allah swt maka dalam mendalami
dari berbagai disiplin ilmu pengetahuan pun (al kaun) harus mengacu firman Allah swt
sebagai referensi, sehingga akan semakin meneguhkan keimanan. Selain itu penerapan
ilmu pengetahuan dan teknologi akan terkendali serta mengenal adab. Sebagai misal
dalam dunia teknologi kedokteran, pengalihan sperma ke sebuah rahim seorang wanita
(dalam proses bayi tabung) maka harus memperhatikan sperma itu diambil dari siapa dan
diletakkan ke rahim siapa. Proses kesepakatan, perizinan juga harus jelas. Jangan sampai
bayi lahir menjadi tidak jelas nasabnya. Di bidang astronomi tidak boleh diselewengkan
untuk meramal nasib, padahal antara keduanya tak ada hubungan sama sekali. Dalam hal
menikmati keindahan alam, akan menjadi suatu kedurhakaan jika dalam menikmatinya
dengan membangun vila-vila untuk berbuat maksiat. Namun seorang mu'min menjadikan
alam semesta untuk tafakur agar dekat dengan-Nya.

Konsep Kebenaran Ilmu

Wahyu (al Qur'an dan as Sunnah) memiliki nilai kebenaran yang mutlak (al haqiqah al
muthlaqah) karena langsung berasal dari Allah swt dan Rasul-Nya. Tetapi pemahaman
terhadap wahyu yang memungkinkan beberapa alternatif pemahaman tidaklah bersifat
mutlak. Sedangkan ilmu yang didapat dari alam semesta memiliki nilai kebenaran yang
nisbi (realtif) dan tajribi (eksprimentatif) atau dengan istilah al haqiqah at tajribiyah.
Kebenaran yang mutlak harus dijadikan burhan atau alat untuk mengukur kebenaran yang
nisbi, jangan sampai terbalik, justru kebenaran yang mutlak diragukan karena
bertentangan dengan kebenaran yang nisbi (relatif dan eksprimentatif). Sejarah ilmu
pengetahuan sudah membuktikan bahwa suatu penemuan atau teori yang dianggap benar
pada satu masa digugurkan kebenarannya pada masa yang akan datang. Hal itu disebabkan
keterbatasan manusia. Dalam mengamati, menyelidiki dan menyimpulkan segala
fenomena yang ada di alam semesta. Oleh sebab itu jika terjadi pertentangan antara
kesimpulan yang didapat oleh manusia dari al kaun dengan wahyu, maka yang harus
dilakukan adalah menguji kembali kesimpulan tersebut, atau menguji kembali pemahaman

Aqidah
manusia terhadap wahyu. Logikanya, wahyu dan alam semesta semuanya berasal dari
Allah swt yang Maha Benar, mustahil terjadi pertentangan satu sama lain.

Hikmah Mengimani Ilmu Allah Swt

Pertama, membuat manusia sadar bahwa betapa tidak berarti dirinya dihadapan Allah swt,
sebab seluruh ilmu yang dimiliki manusia adalah ibarat setitik air laut dibandingkan
dengan air laut secara keseluruhan. Oleh karena itu manusia tidak ada alasan untuk
sombong dan menjadikan ilmu menjadi penyebab kekufuran dan kedurhakaan kepada
Yang Maha Mengetahui segalanya. Seharusnya manusia menjadikan ilmu untuk alat ber-
taqarub kepada-Nya, sebagaimana perilaku para ulil albab.

Kedua, dengan menyadari bahwa ilmu Allah swt sangat luas, tidak ada satupun (betapa
pun kecil dan halusnya) yang luput dari ilmu-Nya, maka manusia akan dapat mengontrol
tingkah laku, ucapan dan amalan batinnya sehingga selalu sesuai dengan yang diridhai
Allah swt.

Ketiga, keyakinan terhadap ilmu Allah swt akan menjadi terapi yang ampuh untuk segala
penyelewengan, penipuan dan kemaksiatan lainnya. Maka dalam pemahamannya adalah
dengan mengaplikasikan sifat Allah swt tsb dalam kehidupan nyata sehari hari, berusaha
melaksanakan perintah dan larangan-Nya baik di tempat ramai maupun sunyi. Kita tidak
lagi terpengaruh dengan "diketahui" atau "tidak diketahui" oleh orang lain untuk
melakukan atau meninggalkan sesuatu. Karena kita menyadari betapa Allah swt Maha
Mengetahui yang pasti selalu melihat, mendengar, memperhatikan apa yang kita lakukan
di mana dan kapan saja.

Di zaman salafus shalih, kita masih ingat kisah seorang gadis shalihah dengan ibunya
yang menjual susu. Suatu saat ibunya menyuruh dagangannya untuk dicampur dengan air,
agar mendapatkan untung yang lebih. Namun puterinya menolak. "Bukankah Khalifah
Umar tidak melihat?" kata sang ibu. "Tapi Tuhannya Umar mengetahui, Bu!" kata
putrinya. Tak disangka percakapan itu didengar Umar bin Khaththab. Maka gadis shalihah
tsb dipinang untuk putera Umar sang Khalifah. Dan kitapun tahu persis bahwa dari
seorang wanita shalihah tersebut, akhirnya menurunkan (cucu) tokoh, Umar Bin Abdul
‘Aziz yang legendaris.

Juga kisah seorang anak gembala dengan sekian banyak gembalaan milik tuannya. Suatu
saat Umar bin Khathab menguji kekuatan muraqabatullah-nya. Dikatakan kepada anak tsb,
bahwa kambingnya akan dibeli dengan harga yang lebih. Namun anak itu menolak.
"Kamu bisa mengatakan kepada tuanmu kambingnya dimakan binatang buas!" kata Umar
ra. "Lantas dimana Allah?" tanya anak tersebut. Subhanallah. . .

Sebenarnya bagi seorang muslim yang sudah ber-iltizam akan selalu merasa tenang,
bahagia karena segala amal kebaikannya tidak akan dirugikan sedikitpun baik diketahui

Aqidah
ataupun tidak oleh orang lain, kerena dia yakin bahwa Allah swt telah mengawasinya.
Sehingga seorang al akh ash shadiq akan senantiasa beramal dengan ikhlas karena Allah
swt semata, bukan karena murabbinya, apalagi karena calon istri atau pun mertuanya.
Tidak bangga karena pujian, tidak merasa lemah karena celaan. Tetap semangat walau tak
diketahui orang, tak takabur ketika dilihat banyak orang. Juga tak takut dengan
kegagalannya, atau tak bangga diri dengan keberhasilannya. Apapun yang terjadi tak akan
mengoncangkan jiwanya, atau merusak muamalah dengan saudaranya (karena mungkin
saudara kita telah menilai salah terhadap diri kita), atau bahkan membahayakan
aqidahnya.

"Dan katakanlah; bekerjalah kamu maka Allah dan Rasul-Nya serta orang-orang mu'min
akan melihat pekerjaanmu itu, dan kamu akan dikembalikan kepada (Allah) Yang
Mengetahui akan yang ghaib dan yang nyata, lalu diberitakan-Nya kepada kamu apa
yang telah kamu kerjakan" (At Taubah:105)





Aqidah
PENJELASAN RASMUL BAYAN

1. Allah.

1.1. Yang Maha Pencipta.

Dalil :
• Q. 25:2, Tuhan yang menguasai pemerintahan langit dan bumi, dan yang tidak
mempunyai anak serta tidak mempunyai sembarang sekutu dalam pemerintahan-Nya, dan
Dialah yang menciptakan tiap-tiap sesuatu lalu menentukan keadaan makhluk-makhluk
itu dengan ketentuan takdir yang sempurna.

1.2. Yang Maha Bijaksana.

Dalil :
• Q. 67:14, Tidakkah Allah yang menciptakan sekalian makhluk itu mengetahui (segala-
galanya)? Sedang Ia Maha Halus urusan pentadbiran-Nya lagi Maha Mendalam
Pengetahuan-Nya.

2. Jalan Formal.

2.1. Dengan Wahyu.

Penjelasan :
• Secara resminya ilmu Allah kepada makhluk adalah memberikan wahyu kepada para
Rasul alaihissalam.

Dalil :
• Q. 3:38, Ketika itu Nabi Zakaria berdoa kepada Tuhannya, katanya : “Wahai Tuhanku.
Kurniakanlah kepadaku dari sisi-Mu anakt keturunan yang baik, sesungguhnya Engkau
senantiasa Mendengar (menerima) doa permohonan”.

2.2. Memerlukan Rasul.

Penjelasan :
Penurunan wahyu ini bukanlah kepada sembarang orang, bahkan kepada mereka yang
dipilih oleh Allah untuk melaksanakan tujuan demikian. Para Rasul adalah mereka yang
terpilih untuk menerima wahyu-wahyu yang telah diturunkan itu.

Aqidah

Dalil :
• Q. 42:53, Yaitu jalan Allah yang memiliki dan menguasai segala yang ada di langit dan
yang ada di bumi. Ingatlah ! Kepada Allah jualah kembali segala urusan.

2.3. Ayat Qauliyah.

Penjelasan :
Wahyu yang diturunkan itu merupakan kitab langsung dari Allah berkenaan dengan suatu
perkara yang kita namakan sebagai ayat qauliyah.

Dalil :
• Q. 55:1-2, (Tuhan) Yang Maha Pemurah serta melimpah-limpah rahmat-Nya. Dialah
yang telah mengajarkan Al Qur’an.
• Q. 96:1, Bacalah (wahai Muhammad) dengan nama Tuhanmu yang menciptakan
(sekalian makhluk).

2.4. Berfungsi sebagai Pedoman Hidup.

Penjelasan :
Ilmu-ilmu dari wahyu ini berfungsi sebagai pedoman hidup bagi manusia atau minhajul
hayat.

Dalil :
• Q. 3:19, Sesungguhnya agama (yang benar dan diridhai) di sisi Allah ialah Islam. Dan
orang-orang (Yahudi dan Nasrani) yang diberikan Kitab itu tidak berselisih (mengenai
agama Islam dan enggan menerimanya) melainkan setelah sampai kepada mereka
pengetahuan yang sah tentang kebenarannya, perselisihan itu pula) semata-mata karena
hasad dengki yang ada dalam kalangan mereka. Dan (ingatlah), siapa yang kufur ingkar
akan ayat-ayat keterangan Allah, maka sesungguhnya Allah amat segera hitungan
hisabNya.
• Q. 3:85, Dan siapa yang mencari agama selain agama Islam, maka tidak akan diterima
daripadanya dan ia pada hari akhirat kelak dari orang-orang yang rugi.

2.5. Kebenarannya Mutlak.

Dalil :
• Q. 2:147, Kebenaran (yang datangnya kepadamu dan disembunyikan oleh kaum Yahudi
dan Nasrani) itu (wahai Muhammad) adalah datangnya dari Tuhanmu, oleh karena itu
jangan sekali-kali engkau termasuk dalam golongan orang-orang yang ragu-ragu.

Aqidah
• Q. 41:53, Kami akan memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda (kekuasaan) Kami di
segala wilayah bumi dan pada diri mereka sendiri, hingga jelas bagi mereka bahwa Al
Quran itu adalah benar. Tiadakah cukup bahwa Sesungguhnya Tuhanmu menjadi saksi
atas segala sesuatu?

3. Jalan Non Formal.

3.1. Dengan Ilham.

Dalil :
• Q. 90:5, Apakah manusia itu menyangka bahwa sekali-kali tiada seorangpun yang
berkuasa atasnya?

3.2. Langsung.

Dalil :
• Q. 2:31, Dan ia telah mengajarkan Nabi Adam akan segala nama benda-benda dan
gunanya, kemudian ditunjukkannya kepada malaikat lalu Ia berfirman : “Terangkanlah
kepada-Ku nama benda-benda ini semuanya jika kamu golongan yang benar”.
• Q. 55:4, Dialah yang telah membolehkan manusia (bertutur) memberi dan menerima
kenyataan.

3.3. Ayat Kauniyah.

Dalil :
• Q. 3:190, Sesungguhnya pada kejadian langit dan bumi, dan pada pertukaran malam
dan siang, ada tanda-tanda (kekuasaan, kebijaksanaan dan keluasan rahmat Allah) bagi
orang-orang yang berakal.
• Q. 41:53, Kami akan memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda (kekuasaan) Kami di
segala wilayah bumi dan pada diri mereka sendiri, hingga jelas bagi mereka bahwa Al
Quran itu adalah benar. Tiadakah cukup bahwa Sesungguhnya Tuhanmu menjadi saksi
atas segala sesuatu?

3.4. Berfungsi sebagai Sarana Hidup.

Dalil :
• Q. 11:61, 61. Dan kepada Tsamud (kami utus) saudara mereka shalih. Shalih berkata:
"Hai kaumku, sembahlah Allah, sekali-kali tidak ada bagimu Tuhan selain Dia. Dia telah
menciptakan kamu dari bumi (tanah) dan menjadikan kamu pemakmurnya[726], karena

Aqidah
itu mohonlah ampunan-Nya, kemudian bertaubatlah kepada-Nya, Sesungguhnya Tuhanku
Amat dekat (rahmat-Nya) lagi memperkenankan (doa hamba-Nya)."

[726] Maksudnya: manusia dijadikan penghuni dunia untuk menguasai dan memakmurkan
dunia.

3.5. Kebenaran Eksperimen.

Dalil :
• Q. 10:36, Dan kebanyakan mereka, tidak menurut melainkan sesuatu sangkaan saja,
(padahal) sesungguhnya sangkaan itu tidak dapat memenuhi kehendak menentukan
sesuatu dari kebenaran (i’tiqad). Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui akan apa yang
mereka lakukan.

3.6. Untuk Manusia agar Beribadah.

Dalil :
• Q. 51:56, Dan (ingatlah) Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan untuk
mereka menyembah dan beribadah kepada-Ku.

---oo0oo---

Sumber: tarbiyahklatenutara.blogspot.com




















Aqidah
MENGENAL AGAMA ISLAM
(MA’RIFATU DINIL ISLAM)

I. MAKNA AD-DIIN

Penjelasan Rasmul Bayan
Pengertian Ad-Din ternyata lebih luas dari apa yang kita kenal selama ini, secara etimologi
mencakup beberapa hal, antara lain:

• As-Sulthah wal Al-Qahru yang artinya kekuasaan atau memaksa. Dintu al-qauma artinya
aku paksa kaum itu atau aku kuasai.
• Tunduk kepada kekuasaan itu.
• Undang-udang yang bersumber dari kekuasaan tersebut.
• Balasan bagi orang yang taat kepada undang-undang tersebut dan siksa bagi yang tidak
taat.

Narasi

Ternyata pengertian Ad-Diin tidak sesederhana yang kita pahami selama ini dan yang
beredar di antara masyarakat. Yang sering diartikan sebagai agama yang mengatur
hubungan antara seorang hamba dengan Penciptanya. Bahkan secara bahasa saja, ad-Din
memiliki cakupan arti yang sangat luas, sesuai dengan substansinya. Yang di antaranya:

Aqidah

• As-Sulthah wal Al-Qahru (Kekuasaan atau Memaksa).

Seperti kata orang Arab, Dintu al-Qauma artinya aku paksa kaum itu atau aku kuasai.
Maksudnya ketika seseorang memeluk dan mengikuti suatu ad-Diin, ia telah menyerahkan
dirinya untuk dikuasai olehnya dan pada gilirannya bersedia dipaksa untuk menjalankan
aturan-aturan. Tentu saja hal itu dilandasi oleh keyakinan terhadap kebenaran yang ada
padanya dan keyakinan bahwa ia akan mendapatkan apa yang diinginkannya yang berupa
kebahagiaan.

Allah berfirman kepada orang-orang kafir, jika mereka mampu mengembalikan ruh ke
jasad setelah dicabut dan dipisahkan darinya. Kenyataannya mereka tidak mampu, karena
mereka tidak memiliki kekuasaan untuk itu. Allah yang memiliki kekuasaan. Firman
Allah,
.` .` ` . ` ¸ ´ ` . ´` · ·` , ` . · ' ` ¸`- , · ` , · ` .` ` ¯ . .` . ·

“Maka Mengapa jika kamu tidak dikuasai (oleh Allah)? Kamu tidak mengembalikan
nyawa itu (kepada tempatnya) jika kamu adalah orang-orang yang benar?” (Al-Waqi’ah:
85-86).

• Tunduk kepada Kekuasaan itu.

Konsekuensi dari mengikuti sebuah ad-Diin adalah ketundukan terhadap semua ajaran dan
aturannya. Dan seseorang dikatakan tidak menjadi pemeluk agama dengan baik manakala
tidak tunduk dan taat menjalankan aturannya. Ini berlaku bagi semua ad-Din atau yang
dianggap sebagai ad-Din yang mencakup semua ideologi, aliran, dan kepercayaan.
Kenyataannya bahwa semua orang yang mengikuti sebuah ideolog atau kepercayaan,
mereka akan tunduk kepada kepercayaannya itu, kendatipun ia –menurut banyak orang-
sebagai aliran dan ideologi sesat. Itulah yang terjadi di beberapa aliran, bahkan
pengikutnya rela mati selama mereka yakin bahwa hal itu adalah implementasi dair
ketundukan.

• Undang-udang yang Bersumber dari Kekuasaan tersebut.

Ad-Diin juga indentik dengan semua aturan dan undang-undang dari Sulthah (kekuasaan).
Karena setiap kekuasaan pasti mempunyai undang yang berlaku bagi yang dikuasainya
demi tercapainya keinginan dari kekuasaan itu.

Allah menceritakan kisah nabi Yusuf bersama saudara-saudaranya. Yusuf membuat
skenerio seolah-olah saudaranya mencuri piala miliknya agar bisa bertemu dengan
saudaranya itu. Dan tidak sepatutnya baginya untuk menghukum saudanya itu dengan
undang-undang kerjaaan. Allah berfirman,

Aqidah

· : ¯ ·, - ' . · ` ¸ · . - ` - ` . ·, - ' . · ¸` · ` . . , ·` ' '
` · ·` ` · . . ' . : ¸ · ¸ · ` · - ' ` - ' , . ¯ · .` .` , ` ¯
` ., · . · . · ¸ ¯ ·` . · . ` ¸ · .- ·

“Maka mulailah Yusuf (memeriksa) karung-karung mereka sebelum (memeriksa) karung
saudaranya sendiri, kemudian dia mengeluarkan piala raja itu dari karung saudaranya.
Demikianlah kami atur untuk (mencapai maksud) Yusuf. Tiadalah patut Yusuf menghukum
saudaranya menurut undang-undang raja, kecuali Allah menghendaki-Nya. kami
tinggikan derajat orang yang kami kehendaki; dan di atas tiap-tiap orang yang
berpengetahuan itu ada lagi yang Maha Mengetahui.” (Yusuf: 76).

Allah berfirman,

¸ · ¸ ` . ´` · ` . ´

“Untukmu agamamu, dan untukkulah, agamaku." (Al-Kafirun: 6)

Kalau dilihat dari sebab turunnya ayat tersebut, yang dikehendaki orang-orang kafir
Qurasy bukanlah agar Nabi memeluk agama mereka dan mereka memeluk agama Islam.
Akan tetapi cukup dengan menjalankan aturan dan ibadah selama satu tahun secara
bergantian.

• Balasan bagi Orang yang Taat kepada Undang-undang tersebut dan Siksa bagi
yang Tidak Taat.

Ad-Diin juga bermakna balasan bagi siapa yang taat menjalankan aturan itu serata siksa
bagi siapa yang tidak taat. Allah berfirman di surat Al-Fatihah, di mana Yaum Ad-Diin
artinya hari kiamat dan hari pembalasan. Allah menisbatkan kekusaan kepada hari
Pembalasan karena pada hari itu tidak ada lagi klaim kekuasan selain klaim Allah. Karena
tidak seorang makhluk pun yang dari melakukan sesuatu tanpa izin Allah.

¸ ·` . : ·

“Yang menguasai di hari Pembalasan .” (Al-Fatihah: 4).



Aqidah
II. MAKNA ISLAM
Secara etimologis, kata Islam berasal dari salima, kata ini memiliki banyak pengertian, di
antaranya:

1. Aslama, artinya menundukkan wajah.
2. Istaslama, artinya berserah diri.
3. Saliim, artinya bersih, sehat, dan suci.
4. Salaam, artinya selamat dan sejahtera.
5. Silmun, artinya perdamaian.

Sedangkan sebagai terminologI, Islam sebagai agama bermakna:

1. Wahyu Allah
2. Agama para nabi dan rasul
3. Minhajul hayah, pedoman hidup.
4. Undang-undang Allah yang ada di Kitab-Nya dan Sunnah Rasul-Nya.
5. Jalan yang lurus
6. Keselamatan di dunia dan akhirat

Dengan pengertian ini, yakni baik secara etimologi dan terminologi, maka Islam adalah:

1. Agama Kebenaran
2. Agama Allah
3. Agama Islam

Sebagai agama yang datang dari Allah yang diperuntukkan sebagai pedoman hidup
manusia. Maka Islam adalah agama serta tinggi dan tidak ada yang menandingi
ketinggiannya.

Narasi

Islam secara etimologis memiliki makna salima. Kata ini sendiri mempunyai banyak
pengertian. Di antaranya adalah:

1. Menundukkan Diri (Aslama)

Aslama yang artinya menundukkan diri dan wajah. Islam berarti menundukkan diri dan
wajah kepada Allah. Wajah merupakan simbul kebanggaan seseorang. Allah berfirman,

· ` - ` . ´ ` ` . ¯` · ` ` · ` . · ` . · ` ¸ · ` . ¯.` ' . ` ` . . ¸
· . ` · · ´ · ¸ · .¯

Aqidah

“Dan siapakah yang lebih baik agamanya dari pada orang yang ikhlas menyerahkan
dirinya kepada Allah, sedang diapun mengerjakan kebaikan, dan ia mengikuti agama
Ibrahim yang lurus? dan Allah mengambil Ibrahim menjadi kesayangan-Nya.” (Ali
Imran: 125).

2. Berserah Diri (Istaslama)

Istaslama berarti berserah diri kepada Allah secara tulus dan taat, karena tidak ada
kekuatan dan daya yang dimiliki kecuali kekuatan dan daya itu milik Allah. Dan pada
dasarnya semua makhluk berserah diri kepada Allah. Langit dan bumi berserah diri
kepada Allah. Allah berfirman,

` - ¸` . · . .` ` `· . ¸, ` ¸ · ·, · - ' ·
·· . .` , · ' ` ` - ¸ . . · ¯ ¸ · , ¸ ` . ·
· ¯ .` ¯ ..` . ` ·` · ` .` ` ' ` . ´` · ·, · . ` .` ` , . .

“Maka apakah mereka mencari agama yang lain dari agama Allah, padahal kepada-Nya-
lah menyerahkan diri segala apa yang di langit dan di bumi, baik dengan suka maupun
terpaksa dan Hanya kepada Allahlah mereka dikembalikan.” (Al-Baqarah: 83).

Ayat tersebut menunjukan bahwa agama Islamlah yang patut menjadi pilihan, sebagimana
ditegaskan oleh Rasulullah SAW dalam hadits riwayat Bukhari :

¸ ` ·` . . ` · ` · ·` .

“Islam itu tinggi tidak ada yang melampui ketinggiannya.”

3. Suci, bersih (Saliimun)

Saliim artinya bersih dan suci. Baik yang berkaitan dengan kebersihan lahir maupun batin.
Allah berfirman tentang kondisi hari Kiamat. Di mana manusia tidak akan mendapatkan
manfaat dari apa yang dimilikinya di dunia, kecuali yang hatinya bersih dari kesyirikan
dan kemunafikan.

., . · ¸ ' ` ¸ · .


Aqidah
”Kecuali orang-orang yang menghadap Allah dengan hati yang bersih.” (As-Syu’ara:
89).

4. Selamat, sejahtera (Salaamun)

Salaamun artinya keselamatan atau kesejahteraan. Ini bisa dipahami bahwa Islam
menjanjikan keselamatan dan kesejahteraan bagi pemeluknya, baik di dunia maupun di
akhirat. Keselamatan dan kesejahteraan menjadi ucapan yang disampaikan seseorang
kepada saudaranya ketika bertemu.

` , · ` ·· ¸ · ¯ ..` ·` .` ¸ · . - · ¸ · ` . ´ ` . ¯ ` . ´
· ` · ` ¸ · . . · . - ..` ` . ´` · ¸ · ` ¸ · ` · ' · ` - ·
` ., - ` . · ` · ' · - ` . '

“Apabila orang-orang yang beriman kepada ayat-ayat kami itu datang kepadamu, Maka
katakanlah: "Salaamun alaikum. Tuhanmu telah menetapkan atas Diri-Nya kasih sayang,
(yaitu) bahwasanya barang siapa yang berbuat kejahatan di antara kamu lantaran
kejahilan, kemudian ia bertaubat setelah mengerjakannya dan mengadakan perbaikan,
maka sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (Al-An’am: 54).

5. Perdamaian (Salmun)

` . ¯ ` ¸ ` . ´ · · ` · .` . ` ·. ` .`` ' . ¸ .` ·` .` . · ·
` . ´ ` · '

“Janganlah kamu lemah dan minta damai padahal kamulah yang di atas dan Allah pun
bersamamu dan dia sekali-kali tidak akan mengurangi pahala amal-amalmu.”
(Muhammad: 35).

Dengan pengertian secara etimologis ini dapat disimpulkan bahwa Islam memiliki sifat
yang dibawanya yaitu berserah diri dan mewujudkan perdamaian yang menjadi misi
Islam. Hidup dengan damai dalam naungan rahmat Allah

• Wahyu Ilahi

Dari pengertian etimologis ini, maka Islam merupakan suatu manhaj, sistem, dan aturan
hidup yang menyeluruh dan lengkap. Yang paling layak untuk memberi jaminan

Aqidah
keselamatan dan kesejahteraan bagi pemeluknya. Panduan hidup itu bersumber dari
firman Allah dan sunnah Rasulullah. Ucapan Rasul sebagai pedoman hidup sejatinya
adalah wahyu ilahi. Firman Allah,

¸ -.` ` ¸` - . .` · .

”Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya).” (An-Najm:
4).

. : ` · ` ' · . ` .` ` ¯ . ¯ ¸` · ' . '` · ` . .`, ¸ -.` . -
..` ` ·

”Kami tiada mengutus Rasul Rasul sebelum kamu (Muhammad), melainkan beberapa
orang-laki-laki yang kami beri wahyu kepada mereka, Maka tanyakanlah olehmu kepada
orang-orang yang berilmu, jika kamu tiada Mengetahui.” (Al-Anbiya”: 7).

• Agama para Nabi dan Rasul

Wahyu yang disampaikan kepada nabi dan rasul itu bersumber dari Allah yang satu, maka
esensi dari risalah yang mereka bawa pun satu. Yaitu mengesakan Allah. Maka semua
nabi dan rasul yang diutus untuk menyampaikan risalah kepada manusia itu pun memiliki
misi yang sama. Bahwa semua nabi mengemban risalah Islam. Dan akhir dari para rasul
itu adalah Muhammad saw.

Allah menjelaskan misi semua rasul itu,

` .` .` · .. · = .` ` - · ` `` · . ' ..` · · ' ¸ ¯ ¸ · · · `
¸` . ¸ · ` · · · . ·` , · ` . - ` ¸· ` .` .` · ` · . · ` ¸ ·
´` · · · . ¯ .` , ¯ ` =` ·

”Dan sungguhnya kami telah mengutus Rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan):
"Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah Thaghut itu", maka di antara umat itu ada orang-
orang yang diberi petunjuk oleh Allah dan ada pula di antaranya orang-orang yang telah
pasti kesesatan baginya. Maka berjalanlah kamu dimuka bumi dan perhatikanlah
bagaimana kesudahan orang-orang yang mendustakan (rasul-rasul).” (An-Nahl: 36)

Aqidah

Bahkan nabi Isa pun tidak penah menyuruh kaumnya untuk mengangkat diri dan ibunya
menjadi tuhan selain Allah.

Allah berfirman,

¸` , . ¸ · ' ¸ - ¸ . · .` ' ' .` · ¸` ¸ , · ` · . · ·
. , - ¸ ¸` , · .. · ' . ' ¸ .. ´ · : -` ` . · · .` · ` ¸ ·
` · ` · ` · ` · ` ·` · ` .` ¯ : : ¸ · · ` . ` · ' . ¸ ¸ · · ` .
..` ,` · ` ·· · .` ' , ¸ · ` ` ` · . ' · ¸ ` · ' · . ` .` . ` . · ·
.` ' .` ¯ ¸ ` , · . · ` . ., · ` .` ·` · · , . ` . .` , · ` .` ¯ ` . ´
` , . .` ¸ ¸ ¯ ¸ · .` ' ` . .` , · ., ·

”Dan (Ingatlah) ketika Allah berfirman: "Hai Isa putera Maryam, adakah kamu
mengatakan kepada manusia: "Jadikanlah Aku dan ibuku dua orang Tuhan selain
Allah?". Isa menjawab: "Maha Suci Engkau, tidaklah patut bagiku mengatakan apa yang
bukan hakku (mengatakannya). jika Aku pernah mengatakan Maka tentulah Engkau
mengetahui apa yang ada pada diriku dan Aku tidak mengetahui apa yang ada pada diri
Engkau. Sesungguhnya Engkau Maha mengetahui perkara yang ghaib-ghaib." Aku tidak
pernah mengatakan kepada mereka kecuali apa yang Engkau perintahkan kepadaku
(mengatakan)nya yaitu: "Sembahlah Allah, Tuhanku dan Tuhanmu", dan adalah Aku
menjadi saksi terhadap mereka, selama Aku berada di antara mereka. Maka setelah
Engkau wafatkan aku, Engkau-lah yang Mengawasi mereka. dan Engkau adalah Maha
menyaksikan atas segala sesuatu.” (Al-Maidah: 116-117)

• Pedoman Hidup (Minhajul Hayah)

Ad-Diin berfungsi sebagai minhajul hayah atau pedoman hidup. Di mana, manusia akan
dapat menjalani kehidupan ini dengan benar apabila menjadikannya sebagai panduan
hidupnya. Sebaliknya, ia akan tersesat dari kebenaran manakala jauh darinya dan mencari
pedoman lain selain pedoman Islam. Sebab Islam datang dari Allah yang Mahatahu akan
kebaikan dan keburukan bagi hamba-Nya. Allah telah ridha Islam sebagai panduan hidup
kita. Firman Allah,

Aqidah

` . ´ ` ., . ¸ ` · ` . ´` , · ` .` ` ' `. ´ · ` . ´ ` . ¯ ' ·` . ,
· ··` .

“Pada hari ini telah Ku-sempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan
kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu.” (Al-Maidah: 3).

• Undang-udang Allah yang Ada di Kitab-Nya dan Sunnah Rasul-Nya

Karena fungsinya sebagai pedoman hidup, maka ia harus bersumber dari Pembuat hidup
itu sendiri. Allah telah menurunkan panduan itu dalam bentuk kitab-kitab suci yang
diturunkan kepada para nabi-Nya. Di sini kitab suci menjadi acuan bagi manusia untuk
mengarungi hidup. Dalam konteks Al-Qur’an, maka kitab suci terakhir ini pun menjadi
pedoman bagi manusia. Termasuk sunnah Rasulullah yang sesunggunnya wahyu juga,
namun ia disampaikan melalui redaksi Nabi. Kita meyakini bahwa seluruh amal perbuatan
Nabi tidak bersumber dari nafsu beliau, namun mendapat bimbingan ilahi.

.` · . ¸ -.` ` ¸` - .

”Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya).” (An-Najm:
4).

` , .` · . ´ ¸ · ·` ¸` , · .` · , - . ´ :` , ` '
` ' ` .` . ` , ` . ´` - · ·` , · , - ¸ · · . - · ` .` · . .` · ' ` · . ` · .
· - · · ' ` . ´ · - ` · . ` . - .` · · ·` ` . ´` · · - ¸ ´
` · · ¸ . ` , - . ` · ` . ¯¯ · ¸ · ` . ¯ . ` , ` ¸ ´ ` . ´` · -
.. ` - ·, · ` .` ` ¯ ` . ´ · ` , · ·, - , ` · . ` ' ` .` . ` , ` . ´` - . '
. , · :` , ` · . ` ' · ¸` · ` ¸ · ·.` . ' ` .` ·` ` - ` .` · . .` · ' ` · .
' ` . ` · · ` . . ¸ · · ¯ . ` . . .` · ¸` · ` .` . ,.` . ' ` · ` `

Aqidah
.. ¸ , ´` - · ¸ · ` ¸ ` - ' ` ¸ · ..` ·` · , · - . ´` - · '
..` ·.` ·` .

“Dan kami telah turunkan kepadamu Al-Qur’an dengan membawa kebenaran,
membenarkan apa yang sebelumnya, yaitu kitab-kitab (yang diturunkan sebelumnya) dan
batu ujian terhadap kitab-kitab yang lain itu; maka putuskanlah perkara mereka menurut
apa yang Allah turunkan dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka dengan
meninggalkan kebenaran yang telah datang kepadamu. untuk tiap-tiap umat di antara
kamu, kami berikan aturan dan jalan yang terang. Sekiranya Allah menghendaki, niscaya
kamu dijadikan-Nya satu umat (saja), tetapi Allah hendak menguji kamu terhadap
pemberian-Nya kepadamu, maka berlomba-lombalah berbuat kebajikan. Hanya kepada
Allah-lah kembali kamu semuanya, lalu diberitahukan-Nya kepadamu apa yang telah
kamu perselisihkan itu. Dan hendaklah kamu memutuskan perkara di antara mereka
menurut apa yang diturunkan Allah, dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka.
dan berhati-hatilah kamu terhadap mereka, supaya mereka tidak memalingkan kamu dari
sebahagian apa yang telah diturunkan Allah kepadamu. jika mereka berpaling (dari
hukum yang telah diturunkan Allah), maka ketahuilah bahwa sesungguhnya Allah
menghendaki akan menimpakan mushibah kepada mereka disebabkan sebahagian dosa-
dosa mereka. Dan sesungguhnya kebanyakan manusia adalah orang-orang yang fasik.
Apakah hukum Jahiliyah yang mereka kehendaki, dan (hukum) siapakah yang lebih baik
daripada (hukum) Allah bagi orang-orang yang yakin?” (Al-Maidah: 48-50).

• Jalan yang Lurus

Agama Islam menuntun ummatnya ke jalan yang lurus, selain Islam adalah jalan yang
bengkok dan menuju kepada kesesatan. Jalan tersebut pernah ditempuh para nabi dan
Rasul Allah. Termasuk Rasulullah saw.

` ¸ · ` . ´ · · ¸` ` .` · . `·.` · · , ` ` · ¸ ~ . · . '
.. ` . ´ · · ` . ¯ . ` . ´ · · ,

”Dan bahwa (yang kami perintahkan ini) adalah jalan-Ku yang lurus, maka ikutilah Dia,
dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain), karena jalan-jalan itu mencerai
beraikan kamu dari jalannya. yang demikian itu diperintahkan Allah agar kamu
bertakwa.” (Al-An’am: 153).

Oleh karena itu jangan sampai kita mengikuti jalan selain jalan Islam, di zaman sekarang
ini fitnah di mana-mana hingga umat Isalm sendiri mulai ikut-ikutan terhadap jalan yang
bukan jalan diinnya (Islam), hal ini merupakan dampak kerasnya ghazwul fikri dan

Aqidah
melemahnya akidah umat Isalm, sebagaimana yang telah diperingatkan oleh Rasulullah
SAW dalam haditsnya 15 abad yang lampau :

¸ ` ¸` · ` . · . ·` , · ` · ¸ . ` ¸ ` ` ¸ · ` . ` ` - , · ¸ ' ` ¸ ·
` . ´ ` · . ¯ ` ¸ · ´ . . ` -` - . - · ` . ¸` - - · · ` `
` ¸ · . · . .` ` ·.` . , · ..` · ` .` ·.` ` ` · , .- · .

Dari Abu Said Al-Khudry, dari Nabi saw. bersabda : Sungguh kalian akan mengikuti
sunnah (ajaran/jalan)hidup orang-orang sebelum kalian sejengkal demi sejengkal,
sehasta demi sehasta, sehingga meskipun mereka masuk ke lubang landang kalian akan
tetap mengikutinya. Kami (sahabat) bertanya: Wahai Rasulullah apakah yang kau maksud
(mereka yang diikuti) Yahudi dan Nasrani? Nabi menjawab : ya, siapa lagi!”

• Keselamatan di Dunia dan Akhirat

Ad-Diin berarti keselamatan dunia-akhirat. Hanya melalui jalan Islam-lah seseorang akan
mendapatkan keselamatan di dunia dan akhirat. Ini jaminan dari Allah dan Rasul-Nya.
Barangsiapa konsisten terhadap ajaran agama dengan melaksanakan amal shalih, Allah
akan memberi kehidupan yang baik.

“Barangsiapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam
keadaan beriman, maka sesungguhnya akan kami berikan kepadanya kehidupan yang baik
dan sesungguhnya akan kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik
dari apa yang telah mereka kerjakan.”

Kesimpulan dari beberapa pengertian tentang Islam di atas, bahwa Islam adalah panduan
hidup yang lengkap bagi manusia, dengan berserah diri dan tunduk maka ia akan
mendapatkan kebahagiaan dan kedamaian dunia dan akhirat. Ia adalah agama yang benar
(diinul haq) karena memang ia agama Allah (dinullah). Seabagi agama dari Yang
Mahabenara dan Mahatinggi, maka Islam adalah agama yang tinggi dan tidak ada
kerendahan di dalamnya. Islam itu tinggi dan akan dimenangkan ke atas semua agama,
kepercayaan dan ideologi (QS. 48 : 28, 9 : 33).

· ¯ ¸ ¸ · ` · . =` , , - ¸ · . ` . ` · .` ¸ ` ' . .` ·
, . · ¸ ¯

Aqidah
”Dia-lah yang mengutus rasul-Nya dengan membawa petunjuk dan agama yang hak agar
dimenangkan-Nya terhadap semua agama. dan cukuplah Allah sebagai saksi.” (Al-Fath:
28).

` . · ¯ ¸ ¸ · ` · . =` , , - ¸ · . ` . ` · .` ¸ ` ' . .` ·
.. ¯ ` ` · ¯

”Dialah yang Telah mengutus RasulNya (dengan membawa) petunjuk (Al-Quran) dan
agama yang benar untuk dimenangkanNya atas segala agama, walaupun orang-orang
musyrikin tidak menyukai.” (At-Taubah: 33).


---oo0oo---

Sumber: tarbiyahklatenutara.blogspot.com




























Aqidah
KESEMPURNAAN ISLAM
(SYUMULIYATUL ISLAM)





Syumuliyatul Islam (Universalitas Islam) meliputi tiga dimensi:

• Syumuliyatuz-zaman (Kemenyuluruhan masa), di mana Islam berlaku sepanjang masa
hingga hari Kiamat. Karena Islam dibawa Rasulullah Muhammad saw sebagai akhir dan
pamungkas para nabi. Tiada nabi setelah Rasulullah Muhammad saw.

• Syumuliyatul-Minhaj (Kesempurnaan Pedoman Hidup). Hal ini dikarenakan Islam
didukung oleh kewajiban jihad dan dakwah. Sehingga ajarannya senantiasa tersebar dan
terpelihara dari upaya-upaya penghancuran yang dilakukan musuh-musuhnya. Islam juga
dikuatkan oleh bangunan akhlak dan ibadah. Sedangkan pondasinya akidah, rukum iman
yang enam.

• Syumuliyatul Makan (Universalitas Tempat). Yang ajarannya berlaku bagi manusia di
semua tempat, di barat dan timur. Tidak ada di bagian bumi ini ini yang tidak layak
dengan ajaran Islam karena ia datang dari Sang Pencipta timur dan barat.

Aqidah
NARASI

Islam merupakan agama yang syamil (sempurna) yang berarti lengkap, menyeluruh dan
mencakup segala hal yang diperlukan bagi panduan hidup manusia. Kesempurnaan Islam
ini ditandai dengan syumuliyatuz zamaan (sepanjang masa), syumuliyatul minhaj
(mencakup semuanya), dan syumuliyatul makan (semua tempat).
Islam sebagai syumuliyatuz zamaan (sepanjang masa) dibuktikan dengan ciri risalah nabi
Muhammad saw. sebagai kesatuan risalah dan nabi pentutup. Islam yang dibawa nabi
Muhammad saw. dilaksanakan sepanjang masa hingga hari Kiamat.

Islam sebagai syumuliyatul minhaj (mencakup semuanya) melingkupi beberapa aspek
lengkap yang terdapat dalam Islam itu sendiri, misalnya jihad dan da’wah (sebagai
penyokong Islam), akhlaq dan ibadah (sebagai bangunan Islam) dan aqidah (sebagai asas
Islam). Aspek-aspek ini menggambarkan kelengkapan Islam sebagai agama.

Islam sebagai syumuliyatul makan (semua tempat) karena Allah menciptakan manusia dan
alam semesta ini sebagai satu kesatuan. Pencipta alam ini hanya Allah saja. Karena berasal
dari satu pencipta, maka semua dapat dikenakan aturan dan ketentuan kepada-Nya.

Allah tidak menerima keislaman seseorang kecuali jika seseorang masuk Islam secara
total. Mengakui universalitas Islam dan berupaya mengamalkannya secara total. Tidak
mengakui sebagaian ajarannya dan menerima sebagian yang lain yang sesesui dengan
hawa nafsunya. Allah berfirman,

. =` , . . =` - .` · . · · ¯ . ¸ · . ` -` · .` ·¯ ¸ . ` '
` ` · ` ` · ` . ´ ` ·

“Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam keseluruhan, dan
janganlah kamu turut langkah-langkah syetan. Sesungguhnya syetan itu musuh yang
nyata bagimu.” (Al-Baqarah: 208).

Syumuliyatul Zaman

Rasulullah diutus Allah untuk semua manusia, tidak hanya kepada bangsa Arab saja, tapi
seluruh manusia di Barat dan Timur. Seluruh bangsa, Arab dan non Arab. Risalahnya
berlaku sepanjang masa hingga hari Kiamat. Semua orang yang memeluk agama Islam
adalah umat Muhammad, di manapun adanya. Allah berfirman,

..` ` · . ¸ · ¯ ' ¸ ´ ¸ · · ¯ . · ` ' ·


Aqidah
“Dan kami tidak mengutus kamu, melainkan kepada umat manusia seluruhnya sebagai
pembawa berita gembira dan sebagai pemberi peringatan, tetapi kebanyakan manusia
tiada Mengetahui.” (Saba’: 28).

Ayat tersebut juga menjelaskan bahwa diutusnya Rasul adalah untuk membuat orang
mendekat bukan membuat orang menjauh, membuat orang merasa senang bukan merasa
takut, karena itu yang diutamakan adalah memberi berita gembira terlebih dahulu,
kemudian setelah akidahnya kokoh dan kuat, baru diberikan peringatan, sebagaimana yang
beliau anjurkan dalam sabdanya,

` ` ·` ` ` ` ` ` ` , .· · .

“Berilah berita gembira jangan membuat orang lari (menghindar), mudahkanlah dan
jangan persulit”

· · ` - . · ` ' ·

”Dan tiadalah kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta
alam.” (Al-Anbyaa’: 107).

Juga dalam hadits dijelaskan :

· ` - ` . · ·` ` ` · . ·` ' ` . ¸` , .· · .

“Sesungguhnya aku tidak diutus sebagai tukang kutuk, tapi sebagai pembawa rahmat”

· -` ·` , , - ` . ` ' ¸` , ~' · .
“Sesungguhnya aku diutus dengan jiwa yang lapang dan toleran”

Syumuliyatul Minhaj

Asas akidah Islam adalah Syahadat persaksian tentang keesaan Allah. Akidah tauhid
dalam Islam menjadi landasan hidup manusia. Penjabaran dari akidah tauhid itu adalah
rukun iman yang enam. Lalu aplikasinya dilandasi oleh rukun Islam yang lima, yang
mencakup interaksi seorang hamba dengan Allah dan dengan sesama hamba. Akidah yang
kuat ini menjadi landasan seorang hamba dalam memperjuangkan agamanya. Perjuangan
yang dilandasi akidah dan keimanan akan melahirkan daya tahan bagi seorang hamba. Di
samping karena keuntungan besar yang akan diraih seorang hamba di sisi Allah,

Aqidah
perjuangan juga membawa keuntungan bagi diri seorang hamba sendiri

· ¸ · ` ¸ · · . · ` · -` , · · - ` ¸ ·

“Dan barangsiapa yang berjihad, maka sesungguhnya jihadnya itu adalah untuk dirinya
sendiri. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Kaya (tidak memerlukan sesuatu) dari
semesta alam.” (Al-’Ankabut:6).

` . ¯ ` - ' . ` ¸ . ` . ´` · ¸ · -` . ` · ¸ - ` . ´ . `

”Dan Sesungguhnya kami benar-benar akan menguji kamu agar kami mengetahui orang-
orang yang berjihad dan bersabar di antara kamu, dan agar kami menyatakan (baik
buruknya) hal ihwalmu.” (Muhammad: 31)

Kewajiban lain yang mesti ditegakkan selain jihad di jalan Allah adalah amar ma’ruf nahi
mungkar. Allah berfirman,

¸ ..` ·` · · ' ` . ´` · ` ¸ ´ ¸ · .` . .` ` ` · .` ` · ' `, -
..` - ` ` .` · : · ' ´` `

”Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan,
menyuruh kepada yang ma'ruf dan mencegah dari yang munkar; merekalah orang-orang
yang beruntung.” (Ali Imran: 104)

Para Mufassir mengatakan bahwa kalimat pada ayat tersebut bukanlah menunjukan
“sebagian” atau ¸` , ·` tetapi untuk memberikan sebuah penekanan atau ` ` , ¯ '`

Karena itu amar ma’ruf nahi munkar adalah kewajiban individu, adalah fardu ’ain bukan
fardu kifayah, tentunya sebatas kemampuan dan wewenang yang dimiliki oleh seseorang.
Bila tidak dapat dilakukan sendiri-sendiri, maka wajib saling menyokong dan membantu
satu sama lain untuk mensukseskan amar ma’ruf nahi munkar tersebut, baik skala kecil
maupun skala besar, sebab bila tidak Allah akan menurunkan adzabnya, sebagiamana
sabda Nabi :

¸ . . · . ·` , · ` · ¸ . ` ¸ ` ` ¸ · . , ¸` · ` ` - ` ¸ ·

Aqidah
. ·` . ' ` · ` ¸ ´ .` , ` ' ´` ` ` ¸ · .` . .` ` ` · .` ` · ' · ,
` ·` ` . ` ·` · · ` . ´` , · ` . ´ ` . - ` ` · ` · . , .· · .

Dari Khudzaifah Ibnul Yaman, dari Nabi saw. Bersabda, ”Demi yang jiwaku berada di
tangan-Nya sungguh kalian harus melakukan amar ma’ruf nahi munkar, atau
dikhawatirkan kalian akan mendapatkan balasan (sanksi) dari Allah swt., lalu meskipun
kalian terus berdo’a kepada-Nya maka do’a kalian tidak dikabulkan” (Tirmidzi).

Jika Allah telah menurunkan azab-Nya, tidak seorang pun dapat menghalaunya. Semua
orang akan terkena azab tersebut. Allah berfirman,

.` · ' · ' .` - ` ·` . . · ´ · ` ¸ · ' · · · ´ ·
”Maka apakah mereka merasa aman dari azab Allah (yang tidak terduga-duga)? tiada
yang merasa aman dan azab Allah kecuali orang-orang yang merugi.” (Al-A’raf: 99).

Orang-orang yang melaksanakan amar ma’ruf nahi mungkar mendapaatkan pujian dari
Allah. Mereka adalah orang-orang yang beriman dan berhak mendapatkan janji baik Allah
di dunia dan akhirat.

.` - ..` · ¯ ..` - .` · - .` · ..` .` ·.
· ·` ` - .. = · - ´` ` ¸ · ..` · ` ` ·
·` .`

”Mereka itu adalah orang-orang yang bertaubat, yang beribadat, yang memuji, yang
melawat, yang ruku', yang sujud, yang menyuruh berbuat ma'ruf dan mencegah berbuat
munkar dan yang memelihara hukum-hukum Allah. dan gembirakanlah orang-orang
mukmin itu.” (At-Taubah: 112).

Di antara bentuk amar ma’ruf nahi mungkar adalah dakwah, mengajak manusia kepada
kebenaran dan mencegah mereka melakkan perbuatan yang dilarang Allah. Dakwah harus
dilakukan dengan hikmah. Jangan sampai ajakan kepada kebaikan dilakukan dengan cara
yang tidak baik, agar tidak terjadi kontraproduktif dalam dakwah. Allah berfirman,


Aqidah
¸ · ¸ ` .` . · - · - · = ·` . · ´ - : ¸, ¸ ` -` ·
¸ ` .` ` . ` · ' .` · · , ` ¸ · ¸ . ` ¸ ` . ` · ' .` · : . ` ¸ ` - '

”Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan
bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu dialah yang lebih
mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan dialah yang lebih mengetahui
orang-orang yang mendapat petunjuk.” (An-Nahl: 125).

` - ' ` ¸ · ¸ · ¸ . · - . ¸ · · ¸ · · ` ¸ · .` . · ` ¸
` `

”Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah,
mengerjakan amal yang saleh, dan berkata: "Sesungguhnya Aku termasuk orang-orang
yang menyerah diri?" (Fushshilat: 33).

Berdakwah adalah sebaik-baiknya perkataan, karena dengan berdakwah akan bertambah
panjang barisan orang-orang yang shaleh dan bertaqwa, oleh karena itu Rasulullah dalam
sabdanya sangat memotivasi dan menganjurkan umatnya untuk ikut aktif di jalan dakwah,
dan menyampaikan berita gembira dengan balasan yang sangat tinggi nilainya,
sebagaimana tertuang dalam haditsnya :

. ' · . · . ·` , · ` · ¸ . ` ¸ ` ` ¸ · ` · ¸` ¸ ` · ¸` . ` ¸ ·
. ·` ` ` - ` ¸ · : ` ` , - - ` - · ` . ` · . ` . , ·· . · .

Dari Sahal bin Sa’ad, dari Nabi SAW bersabda : ”Demi Allah bahwa satu orang telah
mendapat hidayah dari Allah berkat arahan dan bimbinganmu, itu lebih baik dari seekor
unta merah” (Abu Dawud).

· · · ` - ' ¸ · · ` · · ` , - ¸ · . · ` ¸ · , .· · .

“Barang siapa yang menunjukkan kebaikan maka baginya pahala seperti orang yang
mengerjakannya” (Muslim).



Aqidah
Syumuliyatul Makan

Karena seluruh manusia, di manapun tempat mereka, disatukan oleh Pencipta yang satu,
Allah Pencipta semua manusia. Jika ada perbedaan di antara mereka dari sisi bahasa,
warna kulit, budaya, dan lain sebagainya. Sesungguhnya mereka memiliki kesamaan,
yautu kesamaan Sang Pencipta.
` · · · .` . ` · ` . . . ' . , - ` , · ` . · · ` ¸ · .` - ` - ' ¸
` - · ` . . . ` · , ` · · . . ` . · ` . ¸` · ` .` . .` · ¸ ·
. ` .` , · ¯ · ` .` ., · ` ¯ ` ` · ` . . · . ` ·` ` .` ` ¸ · ` ·

“(Yaitu) orang-orang yang telah diusir dari kampung halaman mereka tanpa alasan yang
benar, kecuali karena mereka berkata: "Tuhan kami hanyalah Allah". dan sekiranya Allah
tiada menolak (keganasan) sebagian manusia dengan sebagian yang lain, tentulah telah
dirobohkan biara-biara Nasrani, gereja-gereja, rumah-rumah ibadat orang Yahudi dan
masjid- masjid, yang di dalamnya banyak disebut nama Allah. Sesungguhnya Allah pasti
menolong orang yang menolong (agama)-Nya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha
Kuat lagi Maha Perkasa.” (Al-Hajj: 40).

Keberadaan alam semesta dengan segala keteraturannya ini menunjukkan adanya kesatuan
Pencipta. Banyak sekali ayat Al-Qur’an yang menjelaskan kesaan Allah sebagai Pencipta.

` ., - ` ¸ ` - .` · . · . ` - ` · ` . ´` . , , - ¸ · .
¸ · . ` - ¸ : . ¸` , · ` - ¸` . .
. ¸ · ` · . ` ' · ¸ ` · ` ` - ¸` . · ,` - ' · . · ` ¸ ·
- ` . - - . ` . · · ¸ ¯ ` ¸ · ., · . . ` . · ` ·
.. ` · ·` . .. ¸` . . ¸`,

“Dan Tuhanmu adalah Tuhan yang Maha Esa; tidak ada Tuhan melainkan dia yang
Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi,
silih bergantinya malam dan siang, bahtera yang berlayar di laut membawa apa yang
berguna bagi manusia, dan apa yang Allah turunkan dari langit berupa air, lalu dengan
air itu dia hidupkan bumi sesudah mati (kering)-nya dan dia sebarkan di bumi itu segala

Aqidah
jenis hewan, dan pengisaran angin dan awan yang dikendalikan antara langit dan bumi;
sungguh (terdapat) tanda-tanda (keesaan dan kebesaran Allah) bagi kaum yang
memikirkan.” (Al-Baqarah: 163-164).
Allah yang menciptakan semua manusia dan yang tinggal di Arasy

. ¸ . . ` . ·, - ¸` . ¸ · · ` . ´ , - . .` ·
` ., · .` ¸ ¸ ´ .` · . ·` ¸` · . ·

“Dia-lah Allah, yang menjadikan segala yang ada di bumi untuk kamu dan dia
berkehendak (menciptakan) langit, lalu dijadikan-Nya tujuh langit. dan dia Maha
mengetahui segala sesuatu.” (Al-Baqarah: 29).

Kesempurnaan dimensi-dimensi tersebut menunjukkan bahwa Islam adalah sebuah system
dan pedoman hidup (minhajul hayah) yang sempurna yang menjamin kebahagiaan seluruh
umat manusia di dunia dan akhirat.

---oo0oo---

Sumber: tarbiyahklatenutara.blogspot.com
























Aqidah
MENGENAL RASUL
(TA’RIFUR RASUL)




Rasul adalah seorang lelaki yang terpilih dan yang diutus oleh Allah dengan risalah
kepada manusia. Definisi Rasul ini menggambarkan kepada kita bagaimana manusia
sebagai Rasul yang terbaik di antara manusia lainnya. Sehingga apa yang dibawa,
dikatakan dan dilakukan adalah sesuatu yang terpilih dan mulia dibandingkan dengan
manusia lainnya. Rasul sebagai pembawa risalah yang Allah berikan kepadanya dan juga
Rasul sebagai contoh dan teladan bagi aplikasi Islam di dalam kehidupan seharian. Untuk
lebih jelasnya bagaimana mengenal Rasul yang menjalankan peranan pembawa risalah
dan sebagai model, maka kita perlu mengenal apakah ciri-ciri Rasul tersebut. Ciri-ciri
Rasul adalah mempunyai sifat-sifat yang asas, mempunyai mukjizat, sebagai pembawa
berita gembira, ada berita kenabian dan memiliki ciri kenabian, juga nampak hasil
perbuatannya.

Penjelasan Rasmul Bayan

1. Ar Rasul.

Penjelasan:
• Rasul adalah lelaki yang dipilih dan diutus Allah dengan risalah Islam kepada manusia.
Rasul adalah manusia pilihan yang kehidupannya semenjak kecil termasuk ibu bapaknya
sudah dipersiapkan untuk menghasilkan ciri-ciri kerasulannya yang terpilih dan mulia.

Aqidah
Mengenal Rasul harus mengetahui apakah peranan dan fungsi Rasul yang dibawanya.
Terdapat dua peranan Rasul yaitu membawa risalah dan sebagai model.
• Rasul sebagai manusia biasa yang diberikan amanah untuk menyampaikan risalah
kepada manusia.

Dalil:
• Q.18:110, Rasul sebagai manusia biasa seperti kamu.

. ¯ ` ¸ · ` - ` · ` . ´` . ' ¸ ¸ -.` ` . ´ · · ` ' ¸ ·
- ' · · · · ` · ` ` . - . · · ¸ ` · , · · . .` -`

Katakanlah: Sesungguhnya aku Ini manusia biasa seperti kamu, yang diwahyukan
kepadaku: "Bahwa sesungguhnya Tuhan kamu itu adalah Tuhan yang Esa". Barang siapa
mengharap perjumpaan dengan Tuhannya, maka hendaklah ia mengerjakan amal yang
saleh dan janganlah ia mempersekutukan seorangpun dalam beribadah kepada
Tuhannya".

• Q.6:9, Rasul dalam bentuk Rajul bukan Malaikat.

..` · ` . .` , · ` ·` - ` · · - ´ · ` · · - ` .

Dan kalau kami jadikan Rasul itu malaikat, tentulah kami jadikan dia seorang laki-laki
dan (kalau kami jadikan ia seorang laki-laki), tentulah kami meragu-ragukan atas mereka
apa yang mereka ragu-ragukan atas diri mereka sendiri[461].

[461] Maksudnya: kalau Allah mengutus seorang malaikat sebagai Rasul, tentu Allah
mengutusnya dalam bentuk seorang manusia, karena manusia tidak dapat melihat
malaikat, dan tentu juga mereka akan berkata: Ini bukan malaikat, hanya manusia seperti
kami juga, jadi mereka akan tetap ragu-ragu.

• Q.33:40, Muhammad saw sebagai Rasul Allah.

, . - · ..` ` ¸ ´ ` .´ - ` ¸ · - ' ' ` -` · . ¯ ·
, · .` ¸ ¸ ´ ` · . ¯


Aqidah
Muhammad itu sekali-kali bukanlah bapak dari seorang laki-laki di antara kamu, tetapi
dia adalah Rasulullah dan penutup Nabi-Nabi. dan adalah Allah Maha mengetahui
segala sesuatu.

2. Hammilu Risalah.

Penjelasan:
• Rasul membawa risalah kepada manusia, banyak disampaikan di dalam ayat Al-Qur’an.
Tugas menyampaikan wahyu dan risalah ini adalah tugas dan amanah wajib bagi setiap
Rasul. Apa saja yang Rasul terima dari Allah maka disampaikan wahyu tadi kepada
manusia.
• Rasul dan orang yang menyampaikan risalah Islam tidak akan takut dengan segala
bentuk ancaman karena ia yakin bahwa yang dibawa dan disampaikannya adalah milik
Allah yang memiliki alam semesta dan seisinya. Dengan demikian apabila kita
menyampaikan pesan sang pencipta maka pencipta (Allah) akan melindungi dan
menolongnya.

Dalil:
• Q.5:67, Rasul menyampaikan apa-apa yang diterimanya dari Allah.

. ` ' .` · · ¸ · ` . . : ` ¸ · :` , . ` ' · · ..`
¸ · ´ ·` . . ` . . · . ¸ ¸ · :` .` · ` · ` ·

Hai Rasul, sampaikanlah apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu. dan jika tidak
kamu kerjakan (apa yang diperintahkan itu, berarti) kamu tidak menyampaikan amanat-
Nya. Allah memelihara kamu dari (gangguan) manusiaSesungguhnya Allah tidak
memberi petunjuk kepada orang-orang yang kafir.

• Q.33:39, orang yang menyampaikan risalah Allah, mereka tidak takut kepada siapapun
kecuali hanya kepada Allah saja.

¸ ¯ · . - ' .` . ` - . ` · ` .` - · .. ..` · ` ¸
, - ·

(yaitu) orang-orang yang menyampaikan risalah-risalah Allah, mereka takut kepada-Nya
dan mereka tiada merasa takut kepada seorang(pun) selain kepada Allah. Dan cukuplah
Allah sebagai pembuat perhitungan.



Aqidah
3. Qudwatu fi Tatbiq Risalah.

Penjelasan:
Dalam menjalankan dan mengamalkan Islam, tidak akan mungkin seorang manusia dapat
memahami langsung apa-apa yang ada di dalam Al-Qur’an kecuali apabila dapat petunjuk
dan contoh dari Nabi. Muhammad dan para Rasul lainnya mempunyai peranan dalam
menjembatani pesan-pesan Allah agar dapat diaplikasikan kepada manusia. Nabi Ibrahim
AS sebagai contoh dalam menghindarkan diri dari menyembah sembahan berhala.
Walaupun demikian sebagai umat Muhammad yang wajib diikuti hanya kepada Nabi
Muhammad sebagai penutup para Nabi dan yang sesuai dengan pendekatan bagi manusia
sekarang.

Dalil:
• Q.33:21, Muhammad (Rasul) sebagai qudwah yang baik.

´ . ¯ ` ·` . , · .` -` . ¯ ` ¸ · - · .` ' · ..` ¸ · ` .
· ¯ · ¯ · -.

Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu)
bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak
menyebut Allah.

• Q.60:4, Ibrahim AS sebagai ikutan dalam melaksanakan Aqidah.

` . . ·` . . · · ` · · · ¸ ., · ` ¸ · · - · .` ' ` . ´ ` . ¯ ` ·
` ` ` · · ` . ´` · .¯ ` ` . ´ ` , ` , ` . ´ ` ¯ · .` · ` ¸ · .
·, . ., · ` .` . · . ` · ` - · .` ·` .` ¸ - ' . .` · · ·
· .` ¸ ` ¸ · · ¸ · : ` : ` ·' · : . ` · ` . ¯ . :` ,
` . :` , ` ' :` ,

Sesungguhnya telah ada suri tauladan yang baik bagimu pada Ibrahim dan orang-orang
yang bersama dengan Dia; ketika mereka berkata kepada kaum mereka: "Sesungguhnya
kami berlepas diri daripada kamu dari daripada apa yang kamu sembah selain Allah,
kami ingkari (kekafiran)mu dan telah nyata antara kami dan kamu permusuhan dan

Aqidah
kebencian buat selama-lamanya sampai kamu beriman kepada Allah saja. Kecuali
perkataan Ibrahim kepada bapaknya: "Sesungguhnya Aku akan memohonkan ampunan
bagi kamu dan Aku tiada dapat menolak sesuatupun dari kamu (siksaan) Allah". (Ibrahim
berkata): "Ya Tuhan kami hanya kepada Engkaulah kami bertawakal dan hanya kepada
Engkaulah kami bertaubat dan hanya kepada Engkaulah kami kembali."

4. ‘Alamatu Risalah.

Penjelasan:
Agar memahami peranan Rasul lebih mendalam maka kita perlu mengetahui apakah ciri-
ciri Rasul sebenarnya. Rasul yang membawa peranan dan amanah yang cukup berat dalam
menjalankan tugasnya mempunyai beberapa keistimewaan yang dijelaskan dalam ciri-ciri
Rasul itu sendiri, sifat asas, mukjizat, basyirah, nubuwah dan tsamarah.

5. Sifatul Asasiyah.

Penjelasan:
Sifat asas Rasul adalah akhlaq mulia yang terdiri dari shiddiq, tabligh, amanah dan
fathanah. Sifat asas dan utama ini harus dipunyai oleh setiap Rasul dan orang yang
beriman. Tanpa sifat ini maka seorang mukmin kurang mengikuti Islam yang sebenarnya
bahkan dapat menggugurkan keislamannya. Misalnya sifat dasar shiddiq, Rasulullah
menekankan bahwa kejujuran sebagai akhlaq yang utama, tanpa shiddiq maka akan gugur
keislamannya. Dengan kejujuran yang dimiliki walaupun ia berbuat dosa seperti mencuri,
masih dapat dimaafkan apabila ia masih mempunyai sifat shiddiq. Dengan sifat asas ini
maka manusia dijamin hidupnya di dunia dan di akhirat akan bahagia. Sifat asas juga
bersifat universal ini sangat strategis bagi setiap mukmin dalam menjalankan Islam dan
memelihara dirinya dari segala cobaan.


Dalil:
• Q.68:4, Rasul mempunyai akhlaq yang mulia.

, ` - ¸ · : ., = ·

Dan sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang agung.

6. Mukjizat.

Penjelasan:
• Banyak mukjizat yang dibawa oleh para Rasul. Setiap Rasul membawa mukjizat yang
diberi Allah berbeda-beda seperti Nabi Ibrahim yang tidak terbakar, Nabi Musa yang
membelah lautan, Nabi Sulaiman dapat bercakap dengan segala makhluk, Nabi Daud yang
mempunyai kekuasaan dan lainnya. Nabi Muhammad sendiri banyak mukjizat yang Allah
swt berikan misalnya membelah bulan ketika disiksa oleh orang kafir, Al-Qur’an

Aqidah
pemberitahuan awal terhadap segala peristiwa yang berlaku dan sebagainya.
• Dengan mukjizat ini maka manusia semakin yakin dengan apa yang diberikan oleh para
Rasul kepada manusia.

Dalil:
• Q.54:1, Rasul membelah bulan

` , ` · · . ·

Telah dekat datangnya saat itu dan telah terbelah bulan.

• Q.15:9, Al-Qur’an yang dipelihara oleh Allah.

.. = · - ` · ¯ ` ¸`-

Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Al Qur'an, dan sesungguhnya Kami benar-
benar memeliharanya.

7. Al Mubasyarat.

Penjelasan:
Ciri kerasulan adalah sudah diberitakan oleh manusia-manusia sebelumnya mengenai
kedatangannya. Nabi Muhammad saw sudah diberitakan ketika zaman Nabi Isa as, bahwa
akan datang seorang Rasul yang bernama Ahmad (terpuji).

Dalil:
• Q.61:6, berita gembira yang memaklumkan kedatangan Nabi Muhammad saw.

· .` · ` . ´` , · ..` ¸ ¸, ` ¸ .` · ` ¸` ¸ , · . · ·
` ` - ' ` ·` ` . ` · ` ¸ · ¸ ' ..` ` · · ` . ¸ · . ¸` ,
` - · . · . , ` .` · . - · ` ` · `

Dan (Ingatlah) ketika Isa ibnu Maryam berkata: "Hai Bani Israil, Sesungguhnya Aku
adalah utusan Allah kepadamu, membenarkan Kitab sebelumku, yaitu Taurat, dan
memberi kabar gembira dengan (datangnya) seorang Rasul yang akan datang sesudahku,
yang namanya Ahmad (Muhammad)." Maka tatkala Rasul itu datang kepada mereka
dengan membawa bukti-bukti yang nyata, mereka berkata: "Ini adalah sihir yang nyata."

Aqidah

8. An Nubuwah.

Penjelasan:
Ciri-ciri Rasul lainnya adalah adanya berita kenabian seperti membawa perintah dari Allah
untuk manusia keseluruhan seperti perintah haji (pada zaman Nabi Ibrahim) dan perintah-
perintah Allah di dalam Al-Qur’an (pada zaman Nabi Muhammad).

Dalil:
• Q.22:26-27, Nabi Ibrahim disuruh oleh Allah untuk memberitahukan kepada manusia
agar berhaji.

¸ ` , ` . ~ ·` , ¸ ` · ` ` . . ' .` , . ´ · ., · ` . ' . ·
·.` - ` · ¯ ` = , ·.` ' - - ¸ ¸ · . · '
' · . ¸ ¯ ¸ · . - ,, · - · ¸ ¯ ` ¸ ·

Dan (ingatlah), ketika kami memberikan tempat kepada Ibrahim di tempat Baitullah
(dengan mengatakan): "Janganlah kamu memperserikatkan sesuatupun dengan Aku dan
sucikanlah rumah-Ku Ini bagi orang-orang yang thawaf, orang-orang yang beribadah
dan orang-orang yang ruku' dan sujud. Dan berserulah kepada manusia untuk
mengerjakan haji, niscaya mereka akan datang kepadamu dengan berjalan kaki, dan
mengendarai unta yang kurusyang datang dari segenap penjuru yang jauh.

• Q.6:19, Al-Qur’an adalah wahyu kepada Rasul dan sebagai berita kenabiannya.

· ¸ ¸ - ' ` . ´ ` , ¸ ` , ` , . `· ¸ · · · . ` ¯ ' .` ¸ ` . ' ¸ ·
¸ · . ` - ' · . ¯ · · · . ' .` .` ` . ´ ' · ` ¸ · · ` . ¯ ` . .¯`
` - ` · .` · ¸ · ` .` ' . .. ¯ ` ` · .. ¸

Katakanlah: "Siapakah yang lebih kuat persaksiannya?" Katakanlah: "Allah". dia
menjadi saksi antara Aku dan kamu. Dan Al Qur’an ini diwahyukan kepadaku supaya
dengan dia Aku memberi peringatan kepadamu dan kepada orang-orang yang sampai Al-
Qur’an (kepadanya). Apakah sesungguhnya kamu mengakui bahwa ada Tuhan-Tuhan
lain di samping Allah?" Katakanlah: "Aku tidak mengakui." Katakanlah: "Sesungguhnya
Dia adalah Tuhan yang Maha Esa dan sesungguhnya Aku berlepas diri dari apa yang
kamu persekutukan (dengan Allah)".

Aqidah

• Q.25:30, Rasul mengajak umatnya kepada Al-Qur’an tetapi mereka meninggalkannya.

.` -` . · .¯` · - ¸ ·` . · . . ..` . ·

Berkatalah Rasul: "Ya Tuhanku, sesungguhnya kaumku menjadikan Al Qur’an itu sesuatu
yang tidak diacuhkan".

9. Ats-tsamarat.

Penjelasan:
• Kader Nabi yaitu para sahabat adalah bukti nyata yang menjadikan perubahan-perubahan
di jazirah Arab dan seluruh dunia.


Dalil:
• Q.48:29, hasil tarbiyah dan dakwah Rasul adalah kader-kader yang tangguh.

. -` ´ ¸ · . ' ` · · · ¸ · ..` ` -` · ` .` · ` .` . ` ,
` ¸ · ` . . ·.` -` ¸ · ` .` · , .` . · ¸ · ·` . · ..` · ` -` · ¯`
- ` - ' -` ¯ ¸, -` . ¸ · ` .` . · · · `. ¸ · ` .` . · · : · ·.` - ` '
` · ` · ` · ` · ¯ · ` · ' = ` . . , · , - ` ` . -` ·` · ·.` ¸ · . .
` - ' · ` · · ` .` .` · . - . . · .` ·¯ ¸ ` · · ´
, = ·

Muhammad itu adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama dengan dia, adalah
keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka. Kamu lihat
mereka ruku' dan sujud mencari karunia Allah dan keridhaan-Nya, tanda-tanda mereka
tampak pada muka mereka dari bekas sujud. Demikianlah sifat-sifat mereka dalam Taurat
dan sifat-sifat mereka dalam Injil, yaitu seperti tanaman yang mengeluarkan tunasnya.
Maka tunas itu menjadikan tanaman itu kuat lalu menjadi besarlah dia dan tegak lurus di
atas pokoknya; tanaman itu menyenangkan hati penanam-penanamnya karena Allah

Aqidah
hendak menjengkelkan hati orang-orang kafir (dengan kekuatan orang-orang mukmin).
Allah menjanjikan kepada orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal yang saleh
di antara mereka ampunan dan pahala yang besar.

---oo0oo---

Sumber: tarbiyahklatenutara.blogspot.com


































Aqidah
SETIAP UMAT DI UTUS RASUL

Di antara bukti keadilan Allah adalah Dia tidak akan mengazab siapa pun sebelum diutus
rasul kepada mereka yang menjelaskan kebenaran yang harus mereka ikuti dan kebatilan
yang mesti mereka hindari. Oleh karenanya untuk setiap umat telah diutus pemberi
peringatan kepada mereka yang menjelaskan ajaran tauhid dan syariat yang diturunkan
untuk mereka.
. ` .` · ` ` .` . ` , ¸ . · ` .` . .` . - · , · ..` · · ' ¸ ´
..` =`
Tiap-tiap umat mempunyai rasul; maka apabila telah datang rasul mereka, diberikanlah
keputusan antara mereka dengan adil dan mereka (sedikit pun) tidak dianiaya. (Yunus:
47)
Dari ayat ini dapat dipahami bahwa kepada setiap umat telah diutus pemberi peringatan
oleh Allah swt. Namun bukan berarti rasul yang diutus harus berada di tengah-tengah
mereka selalu, cukup lah informasi kebenaran yang dibawa oleh rasul tersebut sampai
kepada mereka dengan benar dan jelas. Hal ini seperti keadaan kita yang hidup di zaman
sekarang, di mana Nabi Muhammad saw yang telah wafat 14 abad yang lalu telah diutus
kepada seluruh umat manusia sampai hari kiamat dan tidak ada nabi setelah beliau.
Meskipun beliau tidak ada bersama kita, namun ajarannya yang sangat jelas serta
terpelihara telah sampai kepada kita. Demikianlah makna ayat tersebut. (Lihat Tafsir
Mafatihul Ghaib, Fakhruddin Ar-Razi ketika membahas surat Yunus ayat 47)
` . .` , · ¸ . , · ¸ . ` ¸ · · . ` . , · . ` · ¸ ·
..` . ·` ¸ - ·` · ¯ · . `- ' ` ·
Barangsiapa yang berbuat sesuai dengan hidayah (Allah), maka sesungguhnya dia
berbuat itu untuk (keselamatan) dirinya sendiri; dan barangsiapa yang sesat maka
sesungguhnya dia tersesat bagi (kerugian) dirinya sendiri. Dan seorang yang berdosa
tidak dapat memikul dosa orang lain, dan Kami tidak akan mengazab sebelum Kami
mengutus seorang rasul. (Al-Isra: 15)
Di dalam syariat Islam, dasar pertanggungjawaban seseorang di hadapan Allah swt adalah
pengetahuan atau pemahaman tentang kebenaran. Oleh karena itu, orang-orang yang tidak

Aqidah
mengetahui kebenaran karena dakwah tidak sampai kepada mereka, maka tidak ada azab
Allah bagi mereka.
` . ´ ' ` . ' .` - ` .` . ' ` -` . · ., · ¸ ' ¯ ` , · ¸ · ` , ` · ´
` , . .` ¸ ` ¸ · ` · . · · ` ´ · ` . - ` · ¸ . ·
` ' ¯ .· . ¸ · . ` .` , ¸ · ¯ · ¸ ` · ` ' ` · ` ¯ ` . . ·
· . -` . '
Hampir-hampir (neraka) itu terpecah-pecah lantaran marah. Setiap kali dilemparkan ke
dalamnya sekumpulan (orang-orang kafir), penjaga-penjaga (neraka itu) bertanya kepada
mereka: “Apakah belum pernah datang kepada kamu (di dunia) seorang pemberi
peringatan?” Mereka menjawab: “Benar ada”, Sesungguhnya telah datang kepada kami
seorang pemberi peringatan, maka kami mendustakan(nya) dan kami katakan: “Allah
tidak menurunkan sesuatupun; kamu tidak lain hanyalah di dalam kesesatan yang besar”.
Dan mereka berkata: “Sekiranya Kami mendengarkan atau memikirkan (peringatan itu)
niscaya tidaklah kami termasuk penghuni-penghuni neraka yang menyala-nyala”. (Al-
Mulk: 8-10)
Ayat di atas menegaskan bahwa penduduk neraka diazab oleh Allah setelah dipastikan
bahwa telah datang kepada mereka pemberi peringatan namun mereka mendustakannya.
Hal ini lebih menegaskan kembali bahwa tersampaikannya peringatan oleh para Rasul
alaihimussalam dan para da’i kepada seseorang atau suatu umat adalah syarat
pertanggungjawaban dan hisab di sisi Allah swt. Oleh karena itu ada dua hal penting yang
harus menjadi perhatian kita bersama:
Pertama, menjadi kewajiban para da’i untuk menyampaikan dakwah seluas-luasnya
kepada seluruh lapisan masyarakat sehingga tidak ada lagi komponen masyarakat yang
tidak mendapat informasi yang benar tentang Islam. Apabila jumlah da’i belum memenuhi
kebutuhan penyebaran dakwah di masyarakat, maka kewajiban dakwah meluas kepada
yang lain yang belum terlibat dalam dakwah. Oleh karena itu dapat kita pahami betapa
besar pahala dan kebaikan yang dijanjikan Allah dan Rasul-Nya kepada siapa saja yang
menjelaskan dakwah islamiyah ini kepada orang lain sebagaimana sabda Rasulullah saw:

Aqidah
· ` -` - ¸ · · ` ` ¸` - . ' . . ` ¸` · ' ` · ´ · · .
` , - ¸` . ·` · ¸ · .. .` , ..` - ¸` - , ¸ ' ` ¸ · .· ·
` ¸ · · · · ' .
Sesungguhnya Allah swt para malaikat-Nya, para penghuni langit dan bumi hingga
semut-semut di sarangnya juga ikan di lautan pasti mendoakan para pengajar kebaikan
untuk orang lain. (Tirmidzi dari Abu Umamah Al-Bahili)
Sebaliknya, kita juga memahami betapa besar dosa dan murka Allah bagi siapa saja yang
menyembunyikan atau menyelewengkan informasi kebenaran yang sangat dibutuhkan
oleh manusia yang telah dibawa oleh para nabi dan rasul alaihimussalam:
¸ ` · , · ` · ` ¸ · . ` . . , ¸ · ` ' · ..` ` ´ ¸ .
..` ·· ` .` .` · ` · ` .` .` · : · ' . ´ ¸ · , .` ¸ .
· ` ..` ' : · ' · .` , .` - ` . ' ` ., - ` . . ' ` . .` ,
Sesungguhnya orang-orang yang menyembunyikan apa yang telah Kami turunkan berupa
keterangan-keterangan (yang jelas) dan petunjuk, setelah Kami menerangkannya kepada
manusia dalam Al Kitab, mereka itu dilaknati Allah dan dilaknati (pula) oleh semua
(makhluk) yang dapat mela’nati. Kecuali mereka yang telah taubat dan mengadakan
perbaikan dan menerangkan (kebenaran), maka terhadap mereka itulah Aku menerima
taubatnya dan Akulah yang Maha menerima taubat lagi Maha Penyayang. (Al-Baqarah:
159-160)
Kedua, menjadi kewajiban setiap orang untuk berusaha semaksimal kemampuannya dalam
mencari informasi serta pengetahuan tentang kebenaran Islam yang dibawa oleh Nabi
Muhammad saw. Orang yang memiliki kesempatan untuk belajar dan mengetahui
kebenaran tetapi ia tidak mau menggunakan kesempatan nya itu, maka tidak akan diterima
alasan ketidaktahuan nya itu dan ia tetap akan dihisab oleh Allah swt. Alasan tidak tahu
kebenaran baru diterima jika ia telah berusaha sebaik mungkin namun ia tidak berhasil
mendapatkannya. Akan tetapi janji Allah kepada mereka yang berusaha sungguh-sungguh
adalah hasil yang manis:
` -` · · . ` ` ` .` . ` . , · ` · - ¸

Aqidah
Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridhaan) Kami, benar-benar akan
Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. dan Sesungguhnya Allah benar-benar
beserta orang-orang yang berbuat baik. (Al-’Ankabut: 69)
: · ' ¸ ¯ · . . ·` . ` . · · : ¸` , · ` . .
.. ·` · ` ·` · . ¯
Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan
tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan
diminta pertanggungan jawabnya. (Al-Isra: 36)
Benar, karena pendengaran dan penglihatan adalah sarana yang telah Allah berikan kepada
manusia untuk belajar, sedangkan hati dan akal adalah tempat memutuskan apakah kita
mau menerima kebenaran yang telah kita ketahui atau tidak. Apapun pilihan kita, ada
tanggung jawab yang harus kita persiapkan di hadapan keadilan Allah swt kelak di hari
akhir. Wallahu a’lam.
---oo0oo---

Sumber: Tim Kajian Manhaj Tarbiyah (dakwatuna.com)






















Aqidah

KEWAJIBAN BERIMAN KEPADA SEMUA RASUL

Mengingkari Seorang Rasul Berarti Mengingkari Semua Rasul
Iman kepada semua rasul yang diutus oleh Allah swt adalah kewajiban yang tidak dapat
ditawar-tawar. Artinya bahwa mengingkari seorang rasul saja merupakan pengingkaran
kepada semua rasul. Allah swt berfirman:
` ` -.` ` ·` . · ` . ¯
“Kaum Nuh telah mendustakan para rasul.” (As-Syu’ara (26): 105)
` ` ` · · ` . ¯
“Kaum ‘Aad telah mendustakan para rasul.” (As-Syu’ara (26): 123).
` ` . ` ·` . · ` . ¯
“Kaum Luth telah mendustakan rasul-rasul.” (As-Syu’ara (26): 160).
Sudah sama-sama kita ketahui bahwa ummat Nabi Nuh as hanya memiliki seorang Nabi
yaitu Nabi Nuh as, namun pembangkangan mereka kepada Nabi Nuh as dianggap oleh
Allah swt sebagai pendustaan terhadap semua rasul alaihimussalam. Begitu pula kaum
‘Aad yang mendustakan Nabi Hud as dianggap mendustakan semua rasul as, dan ummat
Nabi Luth hanya mendustakan Nabi Luth tapi dinyatakan oleh Allah bahwa mereka telah
mendustakan seluruh rasul alaihimussalam.
Mengapa?
1. Karena semua rasul adalah pembawa risalah dan ajaran yang satu yaitu risalah
tauhid (pengesaan terhadap Allah swt dan larangan menyekutukan-Nya dengan
apapun atau siapapun).
2. Juga karena rasul yang diutus lebih awal memberikan kabar gembira akan
datangnya rasul sesudahnya, sedangkan rasul yang diutus belakangan selalu
membenarkan apa yang disampaikan rasul sebelumnya.
Sehingga pengingkaran kepada seorang rasul saja berarti pengingkaran kepada semua
rasul alaihimussalam.

Aqidah
Kekafiran Orang Yang Mengingkari Seorang Rasul dan Ancaman Azab Baginya
Dengan demikian maka orang yang mengaku beriman kepada rasul namun mengingkari
atau mendustakan rasul yang lain berarti:
1. Mendustakan Allah swt yang telah mengutus rasul yang diingkarinya.
2. Mendustakan rasul yang ia imani sendiri, karena rasul tersebut membawa misi
yang sama dengan rasul yang didustakan, dan karena rasul tersebut membenarkan
rasul yang didustakan atau memberi kabar gembira akan kedatangannya.
Allah swt berfirman tentang Nabi Isa as:
· .` · ` . ´` , · ..` ¸ ¸, ` ¸ .` · ` ¸` ¸ , · . · ·
` ` - ' ` ·` ` . ` · ` ¸ · ¸ ' ..` ` · · ` . ¸ · . ¸` ,
` - · . · . , ` .` · . - · ` ` · `
Dan (ingatlah) ketika Isa Ibnu Maryam berkata: “Hai Bani Israil, sesungguhnya aku
adalah utusan Allah kepadamu, membenarkan kitab sebelumku, yaitu Taurat, dan
memberi khabar gembira dengan (datangnya) seorang Rasul yang akan datang
sesudahku, yang namanya Ahmad (Muhammad).” Maka tatkala Rasul itu (Muhammad)
datang kepada mereka dengan membawa bukti-bukti yang nyata, mereka berkata: “Ini
adalah sihir yang nyata.” (As-Shaf (61): 6).
Nabi Isa alaihissalam sendiri menolak apa yang diyakini oleh orang-orang Nasrani yang
menuhankan dirinya:
¸` , . ¸ · ' ¸ - ¸ . · .` ' ' .` · ¸` ¸ , · ` · . · ·
. , - ¸ ¸` , · .. · ' . ' ¸ .. ´ · : -` ` . · · .` · ` ¸ ·
¸ · · ` . ` · ` · ` · ` · ` ·` · ` .` ¯ : : ¸ · · ` . ` · ' . ¸
..` ,` · ` ·· · .` ' , ¸ · ` ` ` · . ' · ¸ ` · ' · . ` .` . ` . · ·

Aqidah
.` ' .` ¯ ¸ ` , · . · ` . ., · ` .` ·`· · , . ` . .` , · ` .` ¯ ` . ´
· ., · ` , . .` ¸ ¸ ¯ ¸ · .` ' ` . .` ,
Dan (ingatlah) ketika Allah berfirman: “Hai Isa putera Maryam, adakah kamu
mengatakan kepada manusia: “Jadikanlah aku dan ibuku dua Tuhan selain Allah?”. Isa
menjawab: “Maha suci Engkau, tidaklah patut bagiku mengatakan apa yang bukan hakku
(mengatakannya). Jika aku pernah mengatakan maka tentulah Engkau mengetahui apa
yang ada pada diriku dan aku tidak mengetahui apa yang ada pada diri Engkau.
Sesungguhnya Engkau Maha mengetahui perkara yang ghaib-ghaib”. Aku tidak pernah
mengatakan kepada mereka kecuali apa yang Engkau perintahkan kepadaku
(mengatakan)nya yaitu: “Sembahlah Allah, Tuhanku dan Tuhanmu”, dan adalah aku
menjadi saksi terhadap mereka, selama aku berada di antara mereka. Maka setelah
Engkau wafatkan Aku, Engkau-lah yang mengawasi mereka. dan Engkau adalah Maha
Menyaksikan atas segala sesuatu. (Al-Maidah (5): 116-117).
Tentang vonis kafir terhadap mereka yang mengaku beriman kepada sebagian rasul saja
Allah swt berfirman:
.` ´ ¸ . · ` ` · ¸` , . · ` . ' .` ` · ` ` ·
: · ¸` , - . ' .` ` ¸` · ` ´ ¸` · ` ¸ ·` .` .. .
·, , , .` · · ¸ · ´ ` ` · ' - .` · ´ ` .` · : · '
Sesungguhnya orang-orang yang kafir kepada Allah dan rasul-rasul-Nya, dan bermaksud
memperbedakan antara (keimanan kepada) Allah dan rasul-rasul-Nya, dengan
mengatakan: “Kami beriman kepada yang sebahagian dan kami kafir terhadap
sebahagian (yang lain)”, serta bermaksud (dengan perkataan itu) mengambil jalan
(tengah) di antara yang demikian (iman atau kafir), merekalah orang-orang yang kafir
sebenar-benarnya. Kami telah menyediakan untuk orang-orang yang kafir itu siksaan
yang menghinakan. (An-Nisa (4): 150-151).
Ada tiga kelompok manusia terkait iman kepada para rasul:
Pertama, mereka yang beriman kepada Allah swt dan semua rasul yang diutus oleh-Nya.
Merekalah orang-orang yang diakui keimanannya oleh Allah swt.

Aqidah
Kedua, mereka yang mengingkari Allah dan semua rasul utusan Allah. Mereka adalah
orang-orang kafir yang atheis yang hanya mempercayai materi dan kehidupan di dunia
saja.
Ketiga, mereka yang mengaku beriman kepada Allah dan mengaku beriman kepada
sebagian rasul-rasul Allah swt namun mengingkari rasul tertentu yang diutus oleh Allah
swt, seperti orang-orang Yahudi yang mengingkari kerasulan Isa dan Muhammad
alaihimassalam dan orang-orang Nasrani yang mengingkari kerasulan Muhammad saw.
Mereka merasa dengan bersikap demikian telah mengambil jalan tengah antara iman dan
kafir dan jalan tengah ini dapat menyelamatkan mereka dari azab Allah swt. Padahal
harapan mereka hanyalah angan-angan belaka, karena Allah dengan tegas memvonis
mereka dengan kekafiran yang sebenar-benarnya.
Perintah Allah kepada Umat Islam untuk Mengumumkan Keimanan Mereka yang
Menyeluruh Kepada Semua Nabi dan Rasul
Umat Islam adalah satu-satunya umat yang diakui keimanan mereka oleh Allah swt karena
umat Rasulullah saw ini beriman kepada semua Nabi dan Rasul alaihimussalam.
Keimanan mereka yang benar dan lurus ini diperintahkan oleh Allah swt untuk
dideklarasikan kepada seluruh umat manusia dalam bentuk dakwah islamiyah yang
menjadi rahmat bagi alam semesta.
` ¸ . ` ' · ` , . ` ' · · ·¯ . . · · -` ¸, · ` ., ·
` ¸ · .. ` , ¸ ' · ¸ , · ¸ .` · ¸ ' · ` . .. ` ·
..` ` ` · ` · ` ¸` - ` .` .` · - ' ¸` , ` · ` . ` . .
Katakanlah (hai orang-orang mukmin): “Kami beriman kepada Allah dan apa yang
diturunkan kepada kami, dan apa yang diturunkan kepada Ibrahim, Isma’il, Ishaq, Ya’qub
dan anak cucunya, dan apa yang diberikan kepada Musa dan Isa serta apa yang
diberikan kepada nabi-nabi dari Tuhannya. Kami tidak membeda-bedakan seorang pun di
antara mereka dan kami hanya tunduk patuh kepada-Nya”. (Al-Baqarah: 136)
Dan Allah menegaskan bahwa orang yang mendapat petunjuk adalah orang yang beriman
seperti keimanan umat Islam yakni beriman kepada Nabi Muhammad dan seluruh nabi
dan rasul yang diutus oleh Allah swt :
` ` · · · ` .` ` ·¯ · ¸ · .` ·¯ . , ·

Aqidah
Maka jika mereka beriman kepada apa yang kamu (ummat Islam) telah beriman
kepadanya, sungguh mereka telah mendapat petunjuk. (Al-Baqarah: 137)
Sebaliknya, jika ada orang yang berpaling dari iman seperti keimanan umat Islam maka ia
telah menyimpang dari jalan yang lurus.
` ., · ` ·, .` · ` · ` .` . ´, ´ , · · ¸ · ` .` · , · ` . . .
Dan jika mereka berpaling, sesungguhnya mereka berada dalam permusuhan (dengan
kamu). Maka Allah akan memelihara kamu dari mereka. Dan Dialah yang Maha
Mendengar lagi Maha Mengetahui. (Al-Baqarah: 137)
Pujian Allah swt kepada Nabi Muhammad dan Umatnya Karena Beriman dengan
Seluruh Nabi dan Rasul
Keimanan umat Islam kepada seluruh Nabi dan Rasul dipuji oleh Allah swt dengan
firman-Nya:
· ´ · · · ¸ ·¯ ¸ ¯ ..` ·` .` · ` ¸ · ·` , . ` ' ..` ¸ ·¯
: · ` · ~ ' ` · . · · ` ` ` ¸ · - ' ¸` , ` · ` . · ` ` · ` ¯
` . :` ,
Rasul telah beriman kepada Al Quran yang diturunkan kepadanya dari Tuhannya,
demikian pula orang-orang yang beriman. Semuanya beriman kepada Allah, malaikat-
malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya dan rasul-rasul-Nya. (Mereka mengatakan): “Kami tidak
membeda-bedakan antara seseorang pun (dengan yang lain) dari rasul-rasul-Nya”, dan
mereka mengatakan: “Kami dengar dan kami taat.” (Mereka berdoa): “Ampunilah Kami
Ya Tuhan kami dan kepada Engkaulah tempat kembali.” (Al-Baqarah: 285)
Balasan yang Besar dan Ampunan Allah bagi Orang yang Beriman dengan Seluruh
Nabi dan Rasul
` . : · ' ` .` .` · - ' ¸` , . ·` ` ` . · ` ` · .` ·¯ ¸
, - . · ` · . ¯ ` .` · .` - ' ` . .,` .`

Aqidah
Orang-orang yang beriman kepada Allah dan para rasul-Nya dan tidak membeda-
bedakan seorang pun di antara mereka, kelak Allah akan memberikan kepada mereka
pahalanya. Dan adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.
---oo0oo---

Sumber: Tim Kajian Manhaj Tarbiyah (dakwatuna.com)







































Aqidah
KEBUTUHAN MANUSIA TERHADAP RASUL
(HAJATUL INSAN ILA RASUL)





Mengenal Rasul adalah suatu kewajiban bagi setiap muslim untuk mengamalkan Islam
secara sempurna. Tanpa Rasul maka kita tidak dapat melaksanakan Islam dengan baik.
Kehadiran Rasul memberikan panduan dan bimbingan kepada kita bagaimana cara
mengamalkan Islam. Dengan demikian Rasul adalah penting bagi muslim sebagai metod
atau tariqali untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT.

Mengenal Rasul tidak sahaja dalam bentuk fisikal atau penampilannya tetapi segala aspek
syar’I berupa sunnah yang didedahkan Nabi kepada kita samada tingkah laku, perkataan
ataupun sikap. Pengenalan kepada Rasul dapat dilihat melalui sirah nabi yang
menggambarkan kehidupan Nabi serta latar belakangnya seperti nasab. Kemudian melalui
sunnah dan dakwah Nabi pun dapat memberikan penjelasan siapa Nabi sebenarnya.

Paket Ma’rifatur Rasul ini membincangkan bagaimana mengenal Rasul, apa sahaja yang
perlu dikenal dari Rasul dan bagaimana pula kita mengamalkan Islam melalui petunjuk
Rasul. Yang penting dari paket ini adalah kita mengetahui, memahami dan dapat
mengamalkan Sunnah Nabi dan menjalankan Ibadah dengan baik.

Dengan mengenal Rasul diharapkan kita dapat mencintai Rasul dan mengikutinya, perkara
ini sebagai cara bagaimana kita taat dan mencintai Allah SWT. Oleh itu mengenal Rasul
tidak sahaja dari segi jasad, nasab dan latar belakangnya, tetapi bagaimana beliau
beribadah dan beramal soleh. Setengah masyarakat mengetahui dan mengamalkan sunnah
Nabi dari segi ibadah sahaja bahkan dari segi penampilan sahaja. Sangat jarang muslim
yang mengambil contoh kehidupan Nabi secara keseluruhannya sebagai contoh, misalnya
peranan Nabi dari segi politik, pemimpin, peniaga dan juga Nabi sebagai suami, ayah dan

Aqidah
ahli di masyarakat. Semua peranan Nabi ini perlu dicontoh dan diikuti sehingga kita dapat
mengamalkan Islam secara sempurna dan menyeluruh. Walaupun demikian, ummat Islam
masih menjadikan Nabi sebagai Rasul adalah dari segi lafazh atau kebiasaan ummat Islam
bersalawat ke atas Nabi. Bagaimanapun ummat Islam yang sholat akan selalu bersalawat
ke atas Nabi dan selalu menyebutnya.

Pengenalan kepada Rasul juga pengenalan kepada Allah dan Islam. Memahami Rasul
secara komprehensif adalah cara yang tepat dalam mengenal Islam yang juga
komprehensif. Rasul dikenal sebagai pribadi teladan dan ikutan yang unggul dan lelaki
terpilih di antara manusia yang sangat layak dijadikan model bagi setiap muslim. Berarti
Nabi adalah ikutan bagi setiap tingkah laku, perkataan dan sikap yang disunnahkannya.

Mencintai Nabi sebagai hasil dari mengenal Rasul tidak sahaja dalam menyebut namanya
setelah sholat, mengadakan acara barzanji, merayakan hari Maulid Nabi dan bentuk acara-
acara lainnya. Kemudian mereka tidak mengamalkan sunnah ataupun tingkah laku asas
yang dimilikinya seperti sidiq, tabligh, amanah dan fatanah. Keadaan demikian sangat
merugi bagi setiap muslim. Atau sebahagian sangat taasub dengan pakaian Nabi, sorban,
songkok dan sebagainya, sebahagian lagi sekedar mengutip hadits Nabu untuk
ceramahnya tetapi tidak diamalkan, bahkan ada yang menolak beberapa sunnah atau
tingkah laku Nabi. Keadaan demikian, berlaku di tengah masyarakat awam sebagai akibat
dari tidak fahamnya mereka kepada Rasul secara benar dan utuh.

Bagi ummat Islam yang terlibat dengan dakwah Islam, ramai yang tidak merujuk kepada
metod atau minhaj Nabi dalam berdakwah sehingga tidak mendapatkan hasil yang optima.
Kegagalan dakwah senantiasa dihadapi oleh para da’I, ketidak berkesanan dakwah dan
kurang hasil atau bekas dakwah sebagai bahagian penilaian dakwah. Dengan mengenal
Rasul, kita dapat menyimpulkan bahawa dakwah yang dibawa oleh Rasul adalah dakwah
yang berkesan dan sudah menghasilkan perubahan-perubahan masyarakat ke arah yang
positif. Bahkan Rasul telah membuktikan bahawa Islam menyebar ke seluruh dunia dan
Islam dipegang oleh berbagai suku atau bangsa di dunia ini. Kemudian kegagalan pada
saat ini disebabkan karena tidak merujuk kembali bagaimana kejayaan dan kegemilangan
yang telah dicapai Nabi dulu.

Metode Rabbani yang dibawa oleh Rasul perlu dipahami dan diamalkan dengan baik.
Obyektif ini dicapai apabila kita mengenal Rasul. Paket ini mencoba untuk
membentangkan apa saja keperluan kita mengenal Rasul, supaya kita mempunyai motivasi
dan sadar tentang keperluan kita memahami Rasul. Kemudian definisi Rasul, peranan
Rasul, sifat-sifat Rasul, tugas Rasul ciri-ciri risalah Muhammad, kewajiban kita terhadap
Rasul, dan akhirnya hasil yang kita dapati dengan mengikuti risalah Rasul.

HAJATUL INSAN ILA RASUL

Setiap manusia diciptakan oleh Allah SWT dengan fitrah, dimana manusia bersih, suci dan
mempunyai kecenderungan yang baik dan ke arah positif iaitu ke arah Islam. Fitrah
manusia diantaranya adalah mengakui kewujudan Allah sebagai pencipta, keinginan untuk

Aqidah
beribadah dan menghendaki kehidupan yang teratur. Fitrah demikian perlu diaplikasikan
ke dalam kehidupan sehari-hari melalui petunjuk Al-Qur’an (Firman-firman dan panduan
dari Allah SWT) dan panduan sunnah (sabda Nabi dan perbuatannya). Semua panduan ini
memerlukan petunjuk dari Rasul khususnya dalam mengenal pencipta dan sebagai
panduan kehidupan manusia. Dengan cara mengikuti panduan Rasul kita akan mendapati
ibadah yang sohih.

1. Al Insan.

• Al Insan (manusia) adalah ciptaan Allah SWT yang diberikan banyak kelebihan dan
keutamaan dibandingkan dengan makhluk Allah lainnya.
• Di antara kelebihan manusia adalah fitrah. Agama Allah yang dijadikanNya kepada
manusia sesuai dengan fitrahnya.

Dalil :
• Q.30:30, Manusia diciptakan sesuai dengan fitrahnya.

: .` - ` . · ' · ¸ ` . .` , · ¸ = · ¸ · · = · , - ¸
..` ` · . ¸ · ¯ ' ¸ ´ ` . , ` ¸ : · · , -

Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama Allah; (tetaplah atas) fitrah
Allah yang Telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. tidak ada peubahan pada
fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.

2. Fitrah.

Penjelasan :
• Fitrah yang ada pada manusia dapat menilai baik buruk tingkah laku masyarakat ataupun
dirinya. Ini disebabkan karena fitrah dimiliki oleh manusia semenjak ia lahir, samada
dilahirkan oleh ibu bapa kafir ataupun jahiliyah. Kecenderungan yang baik senantiasa
membawa manusia ke arah Islam seperti pengakuannya kepada Allah sebagai pencipta
(Rab). Perubahan fungsi dan peranan fitrah ini terjadi karena pengaruh persekitaran
termasuk pengaruh ibu bapa ataupun lingkungan sosial. Yang menjadikan manusia
berubah dari fitrah kepada nasrani, yahudi dan majusi juga disebabkan oleh pengaruh ibu
bapaknya.
• Fitrah dapat dijadikan sebagai saksi bagi segala perbuatannya. Fitrah manusia sudah
dibekali oleh Allah SWT dengan nilai-nilai semula jadi yang dapat menilai suatu tingkah
laku. Beberapa fitrah manusia adalah keinginan manusia untuk mengabdi kepada Kholiq,
mengakui keberadaan Allah SWT sebagai Kholiq dan keinginan manusia untuk hidup
teratur.



Aqidah
Dalil :
• Q.30:30,
• Hadits : “Setiap anak dilahirkan atas fitrahnya, kemudian ibu bapanya yang menjadikan
anak yahudi, majusi dan nasrani, seperti hewan yang berasal dari hewan, apakah engkau
lihat padanya kelainan?’ (HR. Bukhary)

¸ ¯ . ·` , · ` · ¸ . ' ¸ ` . · . · ` ·` · ` · ¸ . · ` ` · ¸ ' ¸·
¸ · ¯ · ` - ` ` ' · ` . ` ` ' · ·` . .` ` · . ' · · = ¸ · ` .` ·. ` . ·
¸ · · , . ` - ` ` · , . . ·` - ., · . , .- · .

• Q.75:14, manusia menjadi saksi ke atas dirinya sendiri.

· . · ¸ · . ` . ¸

Bahkan manusia itu menjadi saksi atas dirinya sendiri

• Q.27:14, hati mereka meyakini walaupun mengingkari.

- · · · . ¯ .` , ¯ ` =` · . ` · ~ ` .` .` ` ' .` ` , ` . ` -
¸ `

Dan mereka mengingkarinya Karena kezaliman dan kesombongan (mereka) padahal hati
mereka meyakini (kebenaran)nya. Maka perhatikanlah betapa kesudahan orang-orang
yang berbuat kebinasaan.

3. Wujudul Kholiq.

Penjelasan :
Kewujudan pencipta merupakan sesuatu yang tak dapat diingkari. Manusia pada dasarnya
mengakui perkara ini. Allah sebagai pencipta (Rab) di dalam Al-Qur’an diakui oleh orang
kafir sekalipun. Perjanjian manusia ketika di dalam rahim ibunya juga menyatakan
bahawa “alastu birobbikum, qolu bala syahidna”. Manusia menerima Allah sebagai Rab.
Begitupun ketika Qurays ditanya berkaitan dengan pencipta langit, bulan, bintang dan
sebagainya, maka dijawab Allah. Hal ini menunjukkan bahawa Allah sebagai Rab diakui
dan diiktiraf oleh manusia tetapi tidak semuanya yang mengakui Allah sebagai Ilah.

Aqidah

Dalil :
• Q 7:172

.` ' ` .` . · ` . · .` . ~ ` ¸ · · ·¯ ¸ ` ¸ · : ` - ' · ¸ · ` .` ·
¯ · · , ·` . . . . ' ` . ¸ . · ` . ´ ` .` ' ` . . ` '
· · · ` ¸ ·

Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi
mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman):
"Bukankah Aku Ini Tuhanmu?" mereka menjawab: "Betul (Engkau Tuban kami), kami
menjadi saksi". (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak
mengatakan: "Sesungguhnya kami (Bani Adam) adalah orang-orang yang lengah
terhadap Ini (keesaan Tuhan)",

• Q.23:83-90, apabila ditanya kepada orang kafir jahiliyah siapakah yang mempunyai
bumi dan orang yang diatasnya, siapakah yang mempunyai tujuh langit ? maka
jawabannya adalah Allah.

83. Sesungguhnya kami dan bapak-bapak kami Telah diberi ancaman (dengan) ini[1017]
dahulu, Ini tidak lain hanyalah dongengan orang-orang dahulu kala!".
84. Katakanlah: "Kepunyaan siapakah bumi ini, dan semua yang ada padanya, jika kamu
mengetahui?"
85. Mereka akan menjawab: "Kepunyaan Allah." Katakanlah: "Maka apakah kamu tidak
ingat?"
86. Katakanlah: "Siapakah yang Empunya langit yang tujuh dan yang Empunya 'Arsy
yang besar?"
87. Mereka akan menjawab: "Kepunyaan Allah." Katakanlah: "Maka apakah kamu tidak
bertakwa?"
88. Katakanlah: "Siapakah yang di tangan-Nya berada kekuasaan atas segala sesuatu
sedang dia melindungi, tetapi tidak ada yang dapat dilindungi dari (azab)-Nya, jika kamu
mengetahui?"
89. Mereka akan menjawab: "Kepunyaan Allah." Katakanlah: "(Kalau demikian), Maka
dari jalan manakah kamu ditipu?"
90. Sebenarnya kami Telah membawa kebenaran[1018] kepada mereka, dan
Sesungguhnya mereka benar-benar orang-orang yang berdusta.





Aqidah
4. Ibadatul Kholiq.

Penjelasan :
Manusia secara umum mendapat arahan dari Allah SWT untuk mengabdi kepadaNya.
Pengabdian kepada Allah adalah sebagai hasil dan akibat dari pengakuan kita kepada
Allah sebagai pencipta. Mengakui Pencipta berarti mengakui apa yang disampaikanNya,
menerima arahanNya, menjalankan Undang-undangNya dan sebagainya. Usaha-usaha ini
adalah bahagian dari bentuk pengabdian kita kepada Allah SWT.

Dalil :
• Q.2:21, Wahai manusia, sembahlah Tuhanmu yang menciptakan kamu dan orang-orang
yang sebelum kamu.

` . ´ · ` . ´ ` · ` ¸ · ¸ ` . ´ - . ` . ´ ` ` ` · ` ¸ . ` '
..

Hai manusia, sembahlah Tuhanmu yang Telah menciptakanmu dan orang-orang yang
sebelummu, agar kamu bertakwa,

5. Hayatul Munadhomah.

Penjelasan :
Petunjuk dari Allah adalah untuk memandu manusia ke arah yang baik. Semua arahan dan
bimbingan dari Allah SWT adalah baik bagi manusia yang diciptakanNya karena sesuai
dengan fitrah manusia. Allah sebagai pencipta tahu mengenai ciptaannya secara pasti
sehingga Allah dapat memberikan panduan yang juga tepat bagi manusia. Tanpa petunjuk
berarti hidup manusia menjadi tidak teratur dan tanpa arah tujuan, ia mengikuti hawa
nafsunya sahaja yang tidak jelas kemana pergi. Mereka akan tersesat di jalan yang tidak
benar.

Dalil :
• Q.28:50, mengikuti panduan Allah menjadi hidup teratur, manakala tidak mengikuti
Allah berarti mengikuti hawa nafsu dan menjadi sesat (tidak teratur hidupnya).

` .` · . .` · ' ..` · ' ` . ` · · : .` , - ` ` . . , · · ¸ · ¸ . ' ` ¸ ·
= ·` . . ` . . · . · ¸ · . ` · ` , · ` · . ·

Maka jika mereka tidak menjawab (tantanganmu) Ketahuilah bahwa Sesung- guhnya
mereka hanyalah mengikuti hawa nafsu mereka (belaka). dan siapakah yang lebih sesat

Aqidah
daripada orang yang mengikuti hawa nafsunya dengan tidak mendapat petunjuk dari
Allah sedikitpun. Sesung- guhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang
zalim.

6. Hidayatur Rasul.

Jika kita hendak mengikuti perintah Allah maka kita mesti mengikuti perintah Rasul.
Apabila kita ingin mengasihi Allah maka kita perlu petunjuk Rasul. Kaedah ini adalah
kaedah yang Rabbani dibawa oleh Islam. Oleh karena itu syahadatain pun terdiri dari
pengakuan kepada dua iaitu Allah dan RasulNya. Mengikuti petunjuk Rasul berarti kita
mengikuti jalan agama Allah yang mempunyai langit dan apa-apa yang dibumi.

Dalil :
• Q.3:31, jika mencintai Allah maka ikuti Rasul.

` · ` . ´` ` -` ¸ .` · · · .. ` -` ` .` ` ¯ . ¸ · ` · ` . ´ .` · ` . ´ ` ` ·
` ., - ` . ·

Katakanlah: "Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah
mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu." Allah Maha Pengampun lagi Maha
Penyayang.

• Q.43:53, mengembalikan semua urusan kepada Allah.

` · · ´ · ` · · · . - ` ' . · · `¸ · · .` ' ·` , · ¸ ' .` . ·

Mengapa tidak dipakaikan kepadanya gelang dari emas[1361] atau malaikat datang
bersama-sama dia untuk mengiringkannya?"

[1361] Maksudnya: Kenapa Tuhan tidak memakaikan gelang mas kepada Musa, sebab
menurut kebiasaan mereka apabila seseorang akan diangkat menjadi pemimpin mereka
mengenakan gelang dan kalung emas kepadanya sebagai tanda kebesaran.

• Q.36:1-2, Al-Qur’an yang berhikmah.

¸ , ., ´ - .¯`

Yaa siin. Demi Al Quran yang penuh hikmah.


Aqidah
7. Ma’rifatul Kholiq.

Penjelasan :
Petunjuk Rasul digunakan untuk mengenal Allah. Mengenal Allah juga dapat dilakukan
dengan cara memperhatikan dan memikirkan alam sebagai penciptaanNya. Melihat
gunung-gunung, hewan dan sebagainya merupakan cara untuk mengenal Allah secara ayat
Kauniyah.

Dalil :
• Q.31:10, Allah menciptakan langit, gunung, hewan dan sebagainya.

' ¸ ¸` . ¸ · ¸ ' . ` · ` , · . , - , .
¸ ¯ ` ¸ · ., · ` ` ' · . · . ¸ · ` ' · · ¸ ¯ ` ¸ · ., · . ` . ´
< ¯ -`

Dia menciptakan langit tanpa tiang yang kamu melihatnya dan dia meletakkan gunung-
gunung (di permukaan) bumi supaya bumi itu tidak menggoyangkan kamu; dan
memperkembang biakkan padanya segala macam jenis binatang. dan kami turunkan air
hujan dari langit, lalu kami tumbuhkan padanya segala macam tumbuh-tumbuhan yang
baik.

• Q.43:53, mengembalikan semua urusan kepada Allah.

` · · ´ · ` · · · . - ` ' . · · `¸ · · .` ' ·` , · ¸ ' .` . ·

Mengapa tidak dipakaikan kepadanya gelang dari emas[1361] atau malaikat datang
bersama-sama dia untuk mengiringkannya?"

[1361] Maksudnya: Kenapa Tuhan tidak memakaikan gelang mas kepada Musa, sebab
menurut kebiasaan mereka apabila seseorang akan diangkat menjadi pemimpin mereka
mengenakan gelang dan kalung emas kepadanya sebagai tanda kebesaran.

8. Minhajul Hayah.

Penjelasan :
• Petunjuk Rasul juga digunakan untuk mengamalkan Islam yang benar dan yang diredhai
oleh Allah SWT. Rasul sebagai ikutan dan teladan yang baik untuk diikuti dalam
mengamalkan Islam secara benar.
• Panduan hidup melalui Islam mesti diamalkan mengikuti teladan kita kepada Rasul.

Aqidah

Dalil :
• Q.33:21, Rasul sebagai teladan yang baik.

·` . , · .` -` . ¯ ` ¸ · - · .` ' · ..` ¸ · ` . ´ . ¯ `
· ¯ · ¯ · -.

Sesungguhnya Telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu)
bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak
menyebut Allah.

• Q.3:19, Islam sebagai dien yang Allah redhai.

` ¸ · . . ´ .` ' ¸ . ` - · ` ··` . · ` · ¸ . ` ·
` · · . , · · .¯ ` ´ ` ¸ · ` .` . ` , ,` · ` . · ` .` · . - ·
. -

Sesungguhnya agama (yang diridhai) disisi Allah hanyalah Islam. tiada berselisih orang-
orang yang Telah diberi Al Kitab kecuali sesudah datang pengetahuan kepada mereka,
Karena kedengkian (yang ada) di antara mereka. barangsiapa yang kafir terhadap ayat-
ayat Allah Maka Sesungguhnya Allah sangat cepat hisab-Nya.

• Q.3:85, orang yang merugi apabila tidak mengamalkan Islam.

· ` ` ¸ · ¸ - ¸ · · -. ¸ · .` · ` ·` · ¸ ` ` ¸ · · ··` . ` , ·

Barangsiapa mencari agama selain agama islam, Maka sekali-kali tidaklah akan diterima
(agama itu)daripadanya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi.

9. Ibadatul Shohih.

Penjelasan :
Ibadah sohih adalah ibadah yang menyembah Allah dengan panduan mengikuti Rasul.
Rasul sebagai penerima wahyu dari Allah perlu diikuti dan sebagai keperluan bagi kita
untuk menjadikannya sebagai model dan petunjuk dalam menjalankan ibadah yang benar.

Aqidah

Rasul sebagai manusia yang mendapat lesen dari Allah SWT untuk mengembangkan dan
menyebarkan nilai-nilai Islam secara sah dan tepat. Allah telah menyebutkan pada banyak
ayat yang menyatakan bahawa Rasul diberi wahyu dan diberi tugas untuk
menyampaikannya kepada manusia.

Dalil :
• Q.21:25, Rasul diberi wahyu yang menyebutkan bahawa tiada tuhan selain Allah oleh itu
sembahlah Allah
' . · . ` · ' ·` , ¸ -.` . ..` ` ¸ · : ` · ` ¸ · ` ' ·
` ` ` · · .

Dan kami tidak mengutus seorang rasulpun sebelum kamu melainkan kami wahyukan
kepadanya: "Bahwasanya tidak ada Tuhan (yang hak) melainkan aku, Maka sembahlah
olehmu sekalian akan aku".

---oo0oo---

Sumber: tarbiyahklatenutara.blogspot.com























Aqidah
KEDUDUKAN RASUL
(MAKANATUR RASUL)





Muhammad Rasulullah SAW adalah sebagai hamba di antara hamba-hamba Allah
lainnya. Sebagai hamba maka Rasul mempunyai ciri yang juga sama dengan manusia
lainnya seperti beliau sebagai manusia, mempunyai nasab dan jasadnya. Sebagai hamba
ini menunjukkan bahawa Nabi adalah manusia biasa yang Allah berikan kemuliaan berupa
wahyu dari Allah. Untuk mengetahui Nabi sebagai hamba dapat kita ketahui secara pasti
dari perjalanan sirah Nabi, khususnya di dalam fiqh sirah. Selain itu Nabi Muhammad
SAW juga sebagai rasul diantara para rasul. Sebagai rasul, Nabi bersifat menyampaikan
risalah, menjalankan amanah dari Allah, dan sebagai pemimpin ummat. Perjalanan Nabi
sebagai Rasul dalam menyampaikan dakwah dan misi dapat dilihat dari dakwah-dakwah
Nabi seperti di dalam fiqh dakwah. Selain itu Nabi Muhammad SAW juga membawa
sunnah yang dijadikan sebagai fiqhul Ahkam. Kedudukan Rasul dapat digambarkan di
dalam sirah nabi, sunnahnya dan dakwahnya sehingga dari kedudukan ini banyak yang
kita ambil sebagai fiqh sirah, fiqh ahkam dan fiqh dakwah.






Aqidah
Penjelasan rasmul Bayan

1. Abdun min Ibadillah.

• Rasul Muhammad SAW adalah sebagai hamba dan manusia biasa yang juga makan,
minum, pergi ke pasar, beristeri, berniaga dan segala aktiviti manusia dikerjakan dan
ditunaikan dengan baik. Rasul melaksanakan keperluan dan keperluan sebagaimana
manusia lainnya melaksanakan keperluannya. Dari keadaan ini dapat disimpulkan bahawa
Rasul sebagai manusia dan kitapun sebagai manusia sehingga apa yang dikerjakan oleh
Nabi juga dapat dilaksanakan oleh kita secara baik. Tidak ada alasan untuk tidak
mengerjakan perintah Rasul karena Allah telah mengutus Rasul dari kalangan manusia
juga.
• Yang membedakan rasul dengan manusia yang lain ialah Rasul mendapat wahyu iaitu
menyuruh kita mengilahkan Allah sahaja.

Dalil :
• Q.18:110, Rasul adalah manusia biasa seumpamamu.

. ¯ ` ¸ · ` - ` · ` . ´` . ' ¸ ¸ -.` ` . ´ · · ` ' ¸ ·
- ' · · · · ` · ` ` . - . · · ¸ ` · , · · . .` -`

Katakanlah: Sesungguhnya Aku Ini manusia biasa seperti kamu, yang diwahyukan
kepadaku: "Bahwa Sesungguhnya Tuhan kamu itu adalah Tuhan yang Esa". barangsiapa
mengharap perjumpaan dengan Tuhannya, Maka hendaklah ia mengerjakan amal yang
saleh dan janganlah ia mempersekutukan seorangpun dalam beribadat kepada
Tuhannya".

• Q.17:1, Rasul disebut oleh Allah sebagai hambanya.

-` ¸ · - -` ¸ · ·` , · ` · . ` ' . . -` `
` . ` ·, .` · · ¯ ` ¸ · ` · ` ` · ` . - ¯ . ¸ . ·.

Maha Suci Allah, yang Telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Al
Masjidil Haram ke Al Masjidil Aqsha yang Telah kami berkahi sekelilingnya agar kami
perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) kami. Sesungguhnya dia
adalah Maha mendengar lagi Maha Mengetahui.




Aqidah
1.1. Insan.

• Rasul sebagai manusia digambarkan makan, ke pasar dan sebagainya. Perilaku ini
menggambarkan suatu aktiviti sehari-hari manusia. Apabila Rasul sebagai manusia maka
dakwah mudah dilaksanakan dan mudah diterima, tidak ada alasan bagi manusia untuk
menolaknya. Apabila malaikat sebagai Nabi maka banyak alasan untuk tidak
melaksanakan perintah Allah. Kaum Yahudi senantiasa menyoal kehadiran Rasul yang
berasal dari manusia. Sebetulnya mereka mengada-adakan soalan yang didasari
kekufurannya kepada Allah.
• Rasul sebagai manusia juga dijelaskan dengan peranan Rasul sebagai suami dan bapa
dari anak-anaknya. Dengan peranan ini menjadikan manusia lebih sempurna dan dapat
mengikutinya dengan baik setiap amalan dan arahannya.

Dalil :
• Q.25:7, Rasul sebagai manusia yang juga makan, berjalan ke pasar.

. ` ' .` . · .` . ¸ · ¸ ` · · = ¸ ¯ ' ..` · . · . ·
` · · · .. ´ , · ` : · ·` ,

Dan mereka berkata: "Mengapa Rasul itu memakan makanan dan berjalan di pasar-
pasar? Mengapa tidak diturunkan kepadanya seorang malaikat agar malaikat itu
memberikan peringatan bersama- sama dengan dia?,

• Q.13:38, Rasul mempunyai isteri, anak.

. ¯ · · · - ` ' ` .` . · - : ` · ` ¸ · ·` ` ` ' `
. ' ..` ` . ¯ ¸ - ' ¸ ´ · . · , . ·¯ ¸ '

Dan Sesungguhnya kami Telah mengutus beberapa Rasul sebelum kamu dan kami
memberikan kepada mereka isteri-isteri dan keturunan. dan tidak ada hak bagi seorang
Rasul mendatangkan sesuatu ayat (mukjizat) melainkan dengan izin Allah. bagi tiap-tiap
masa ada Kitab (yang tertentu).

1.2. Nasab.

Rasul berasal dari kaum Qurasy. Bapaknya yang bernama Abdullah dan ibunya bernama
Aminah. Beliau mempunyai keluarga dan keturunan yang jelas. Begitupun tentang sejarah
kelahiran dan asal usulnya. Sejarah yang menjelaskan bagaimana nabi dibesarkan
sehingga menjadi Rasul juga banyak terdapat di berbagai buku sirah Nabi.

Aqidah

Dalil :
• Hadits dan Sirah Nabi.

1.3. Jism.

Jism nabi Muhammad SAW digambarkan banyak oleh hadits seperti rambutnya yang rapi
dan selalu disikat kemas, badannya yang kuat, tingginya sederhana dan sebagainya. Dari
gambaran jasad ini Nabi adalah manusia yang juga sebagai manusia biasa lainnya.

Dalil :
• Hadits dan Sirah Nabi.

1.4. Sirah Nabawiyah.

Penjelasan :
Penggambaran Nabi sebagai hamba Allah terdapat di dalam sirah nabawiyah.
Penggambaran ini dijadikan sebagai pengajaran, menerangkan sesuatu dan juga dapat
sebagai petunjuk bagi kita yang membacanya. Dari sirah nabawiyah dapat disimpulkan
bahawa Nabi sebagai hamba Allah dan menjalankan aktiviti-aktivitinya sebagai manusia
biasa.

Dalil :
• Q.12:111, Kisah di dalam sirah dijadikan sebagai pelajaran.

` ¸ ´ . ` · - . ¯ · . . ¸ . · ` · ` . . . . · ¸ · . ¯ `
..` ·` .` ·` . · ` - . ` · .` ¸ ¸ ¯ ¸, . ·` ¸` , . , ` .

Sesungguhnya pada kisah-kisah mereka itu terdapat pengajaran bagi orang-orang yang
mempunyai akal. Al Quran itu bukanlah cerita yang dibuat-buat, akan tetapi
membenarkan (kitab-kitab) yang sebelumnya dan menjelaskan segala sesuatu, dan
sebagai petunjuk dan rahmat bagi kaum yang beriman.

2. Rasul minal Mursalin.

Muhammad SAW selain sebagai hamba biasa juga sebagai Rasul yang mempunyai
keutamaan dan ciri-ciri kerasulan. Muhammad seperti Rasul lainnya juga mempunyai
mukjizat dan tugas-tugas mulia. Walau bagaimanapun Rasul juga seperti manusia yang
akan meninggal pada saatnya.




Aqidah
Dalil :
• Q.3:144, Muhammad itu sebagai Rasul yang sesungguhnya telah terdahulu beberapa
Rasul sebelumnya.

¸ · ` ' . · . , · ' ¸` ` · ` · ` ¸ · ` . - ` · ..` . ` -` · ·
·` , · ` . ` ¸ · ·` , · ¸ · ` . ` ` ¸ · ` . ´ ` · ' ¸ · ` .` ` `
¸ ¯ ` · . ` - ,

Muhammad itu tidak lain hanyalah seorang rasul, sungguh Telah berlalu sebelumnya
beberapa orang rasul[234]. apakah jika dia wafat atau dibunuh kamu berbalik ke belakang
(murtad)? barangsiapa yang berbalik ke belakang, Maka ia tidak dapat mendatangkan
mudharat kepada Allah sedikitpun, dan Allah akan memberi balasan kepada orang-orang
yang bersyukur.

2.1. Tabligh Risalah.

Penjelasan :
Peranan Rasul yang utama adalah menyampaikan risalah Tuhan karena inilai yang
membedakannya dengan manusia biasa. Rasul membawa manusia untuk mengabdi kepada
Ilah yang satu iaitu Allah SWT. Menyampaikan misi Islam dan memberikan contoh
adalah aktiviti utama para Rasul.

Dalil :
• Q.72:28, Rasul-rasul itu telah menyampaikan risalat Tuhannya.

. .` · ` ' ` · . ' . ` · , .` ¸ ¸ ¯ ¸ .` - ' ` . .` - ' `. . .
· ·

Supaya dia mengetahui, bahwa Sesungguhnya rasul-rasul itu Telah menyampaikan
risalah-risalah Tuhannya, sedang (sebenarnya) ilmu-Nya meliputi apa yang ada pada
mereka, dan dia menghitung segala sesuatu satu persatu.

• Q.33:39, Rasul yang menyampaikan risalah Agama Allah.


Aqidah
¸ ¯ · . - ' .` . ` - . ` · ` .` - · .. ..` · ` ¸
, - ·

(yaitu) orang-orang yang menyapaikan risalah-risalah Allah[1222], mereka takut kepada-
Nya dan mereka tiada merasa takut kepada seorang(pun) selain kepada Allah. dan
cukuplah Allah sebagai pembuat perhitungan.

2.2. Adaul Amanah.

Rasul telah menunaikan amanahnya sebagai rasul iaitu menyampaikan risalah kepada
manusia. Menunaikan amanah dan tugas menyampaikan misi ini merupakan peranan
Rasul. Bukti bahawa Rasul telah menunaikan amanah ini adalah pengikut-pengikutnya
yang setia dan menyebarkan dakwah kepada manusia.

Dalil :
• Q.72:28, Rasul telah menyampaikan risalat Tuhannya.
• Q.5:67, Rasul diperintahkan untuk menyampaikan apa-apa yang diterimanya dari Allah.

.` · · ¸ · ` . . : ` ¸ · :` , . ` ' · · ..` . ` '
¸ · :` .` · ` · ` · ¸ · ´ ·` . . ` . . · . ¸
Hai rasul, sampaikanlah apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu. dan jika tidak
kamu kerjakan (apa yang diperintahkan itu, berarti) kamu tidak menyampaikan amanat-
Nya. Allah memelihara kamu dari (gangguan) manusia[430]. Sesungguhnya Allah tidak
memberi petunjuk kepada orang-orang yang kafir.

2.3. Imamatul Ummat.

Penjelasan :
Nabi Muhammad SAW sebagai Rasul juga sebagai Imam yang bertanggung jawab ke atas
ummatnya. Pada hari kiamat Nabi berperanan sebagai Ummat. Hal ini menunjukkan
bahawa Nabi juga bertanggung jawab terhadap apa-apa yang sudah disampaikan kepada
ummatnya. Ketika di hari penghitungan di hari kiamat Nabi mempertanggung-jawabkan
ummatnya.

Dalil :
• Q.4:41, Nabi Muhammad sebagai saksi bagi ummatnya


Aqidah
, . ..` . · ¸ · : · - , . · · ' ¸ ¯ ` ¸ · · - · .` , ´ ·

Maka bagaimanakah (halnya orang kafir nanti), apabila kami mendatangkan seseorang
saksi (rasul) dari tiap-tiap umat dan kami mendatangkan kamu (Muhammad) sebagai
saksi atas mereka itu (sebagai umatmu).

• Q.17:71, setiap manusia dengan imamnya di hari kiamat.

. . : · ' · · , , ` · ¯ ¸ ' ` ¸ · ` . . · · , ¸ ' ¸ ¯ .` ·` ·` .
·, · ..` =` . ` .` . ¯

(Ingatlah) suatu hari (yang di hari itu) kami panggil tiap umat dengan pemimpinnya; dan
barangsiapa yang diberikan Kitab amalannya di tangan kanannya Maka mereka Ini akan
membaca kitabnya itu, dan mereka tidak dianiaya sedikitpun.

2.4. Dakwah Nabawiyah.

Penjelasan :
Al-Qur’an dan juga Sirah banyak menjelaskan dakwah nabi. Dari kedua ini muncul fiqh
dakwah yang sesuai dengan realiti, tuntutan, dan keadaan. Misalnya Allah menceritakan
perjalanan hijrah Nabi bersama Abu Bakar yang berada di gua Tsur, didapati banyak ular
dan berbagai hewan yang berbahaya, kemudian nabi berkata janganlah takut
sesungguhnya Allah bersama kami. Ayat yang menggambarkan dakwah ini menjadi fiqh
dakwah bagi para da’I saat ini khususnya memotivasikan kita agar senantiasa berdakwah
walaupun menghadapi banyak cabaran dan rintangan.

Dalil :
• Q.9:40, Rasul menasehati Abu Bakar, janganlah berduka cita sesungguhnya Allah
bersama kami.

` · · ¸` , ¸ ` ¯ ¸ ` ·- ` - ' · ` · ` · . ` · ` ·` ` .` .
·` , · ` · , ´ ` · . ` ' · · · · . . ` - . · - . .. · · ¸ ·
·` ` . ·.` ` - ` · ' · · ¯ ¸ ` ` ¯ ¸ · ¯ ¸ · -
` ., ´ - ` · ` · , ` · ¸ ·

Aqidah

Jikalau kamu tidak menolongnya (Muhammad) Maka Sesungguhnya Allah Telah
menolongnya (yaitu) ketika orang-orang kafir (musyrikin Mekah) mengeluarkannya (dari
Mekah) sedang dia salah seorang dari dua orang ketika keduanya berada dalam gua, di
waktu dia Berkata kepada temannya: "Janganlah kamu berduka cita, Sesungguhnya Allah
beserta kita." Maka Allah menurunkan keterangan-Nya kepada (Muhammad) dan
membantunya dengan tentara yang kamu tidak melihatnya, dan Al-Quran menjadikan
orang-orang kafir Itulah yang rendah. dan kalimat Allah Itulah yang Tinggi. Allah Maha
Perkasa lagi Maha Bijaksana.

3. Sunnah.

Penjelasan :
Dari segi bahasa Sunnah berarti jalan. Maksud Sunnah Nabi adalah segala sesuatu yang
disebutkan, diakurkan dan diamalkan. Sunnah Nabi bernilai syar’I dan perlu untuk
mengikutinya. Sunnah yang demikian dijadikan sebagai teladan dan ikutan. Sesuatu di
luar itu boleh dilaksanakan boleh juga tidak, ia merupakan sesuatu yang tidak wajib
seperti Nabi biasa menunggang unta, memakai pakaian budaya Arab, perang dengan
pedang dan sebagainya. Perkara ini adalah wasailul hayah yang boleh berubah dan tidak
mesti mengikutinya. Yang perlu diikuti dan bernilai sunnah adalah yang bersifat minhajul
hayah. Sunnah ini dijadikan sebagai fiqh ahkam untuk rujukan beramal atau mengambil
keputusan.

Dalil :
• Hadits dan Sirah Nabi.

3.1. Fiqhul Ahkam.

Penjelasan :
Bagi muslim dalam menjalankan hidup dan dakwah tentunya menghadapi banyak cabaran
selain dari bagaimana mesti menjalani hidup ini dengan sempurna. Peranan hukum atau
aturan sebagai panduan membawa kita ke arah yang sempurna sangatlah diperlukan. Rasul
dijadikan sebagai tempat ketaatan dan ikutan, dan juga sebagai rujukan hukum. Fiqh
ahkam yang digunakan sebagai dalil juga memerlukan pandangan sunnah.

Dalil :
• Q.4:64, 65, Rasul sebagai rujukan hukum dalam mengurus perselisihan.

· ` .` . ' ` . · . · , - =` , . ..` ` ¸ · ` ' · ` .` . ` ' .` ~
, - . · ` - . ..` ` .` . ` · ` · ` ` · ` · · . - ,

Aqidah
¸ · ` - . . ` .` . ` , - , · ·.` ´ -` ¸ - ..` ·` .` . : · ·
. · · - - ` . . ` ' , ` .` ` .` ,

Dan kami tidak mengutus seseorang Rasul melainkan untuk ditaati dengan seizin Allah.
Sesungguhnya Jikalau mereka ketika menganiaya dirinya datang kepadamu, lalu
memohon ampun kepada Allah, dan rasulpun memohonkan ampun untuk mereka, tentulah
mereka mendapati Allah Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang. Maka demi
Tuhanmu, mereka (pada hakekatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu
hakim terhadap perkara yang mereka perselisihkan, Kemudian mereka tidak merasa
dalam hati mereka sesuatu keberatan terhadap putusan yang kamu berikan, dan mereka
menerima dengan sepenuhnya.

---oo0oo---

Sumber: tarbiyahklatenutara.blogspot.com























Aqidah
SIFAT-SIFAT RASUL
(SHIFATUR RASUL)



Setelah kita memahami makna syahadat = · yang mengandung konsekuensi
keikhlasan dalam beribadah hanya kepada Allah maka kita bahas pada edisi kali ini
tentang syahadat yang kedua yaitu = .` .` ` -` ·. Di dalam riwayat lain disebutkan
dengan kalimat yang lebih lengkap :

` · ` .` ` ·` ` · ` -` · . '

“Bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya” (HR. Bukhari dan Muslim dari
Ubadah bin As-Shamit)

Yakni persaksian yang diberikan kepada Nabi Muhammad bin Abdullah bin Abdul
Muthalib yang berasal dari Bani Hasyim dari Quraisy dari kalangan Arab dengan dua sifat
besar dan mulia yaitu Al-Ubudiyah (kehambaan khusus) dan Ar-Risalah (kerasulan).

Sifat kehambaan ialah meyakini bahwa beliau adalah seorang hamba Allah yang
diciptakan–Nya, milik Allah; yang berarti tidak memiliki sifat ketuhanan, rububiyah atau
uluhiyah. Tidak pula memiliki sifat yang menyerupai sifat-sifat Allah. Di mana beliau
tidak bisa menolak takdir, mengabulkan doa, atau menentukan siapa yang mendapatkan
hidayah dan siapa yang tidak, demikian seterusnya.

Aqidah

Mengenal Rasul perlu mengenal sifat-sifatnya. Bagian tingkah laku, kepribadian, dan
penampilan diwarnai oleh sifat seseorang. Begitupun Nabi Muhammad saw dapat
digambarkan melalui sifat-sifatnya. Mengetahui sifat-sifat ini diharapkan kita menyadari
siapa sebenarnya Rasul dan kemudian kita dapat mengikutinya. Sifat Nabi seperti manusia
biasa yang sempurna dapat diikuti oleh kita, karena tingkah laku atau perbuatannya seperti
yang dilaksanakan manusia maka kitapun pasti dapat mengikutinya.

Kemudian kita semakin percaya kepada apa-apa yang dibicarakan atau disampaikan Rasul
adalah yang benar karena sifat beliau yang ‘ismah (terpelihara dari kesalahan), selain itu
beliau adalah orang yang cerdas, berarti apa yang dibawanya adalah hasil dari pemikiran
dan analisa yang mendalam, tepat dan baik.

Sifat amanah adalah juga sifat asas yang setiap manusia pasti menyenangi berkawan
dengan mereka yang amanah, kita sebagai muslim perlu mengikuti sifat ini dengan
sempurna begitupun dengan sifat lainnya seperti tabligh dan iltizam. Sifat-sifat ini
menggambarkan akhlaq mulia yang diwarnai oleh akhlaq Al-Qur’an dan sangatlah sesuai
dijadikan sebagai contoh yang baik bagi kita.
Kesempurnaan Jiwa dan Kemuliaan Akhlaq Rasulullah saw.

Nabi saw lain daripada yang lain karena kefasihan bicaranya, kejelasan ucapannya, yang
selalu disampaikan pada kesempatan yang paling tepat dan di tempat yang tidak sulit
diketahui, lancar, jernih kata-katanya, jelas pengucapan dan maknanya, sedikit ditahan,
disisipi kata-kata yang luas maknanya, mengkhususkan pada penekanan-penekanan
hukum, mengetahui logat-logat bangsa Arab, berbicara dengan setiap kabilah Arab
menurut logat masing-masing, berdialog dengan mereka menurut bahasa masing-masing,
ada kekuatan pola bahasa Badui yang cadas berhimpun pada dirinya, begitu pula
kejernihan dan kejelasan cara bicara orang yang sudah beradab, berkat kekuatan yang
datang dari Ilahi dan dilantarkan lewat wahyu.

Beliau adalah orang yang lembut, murah hati, mampu menguasai diri, suka memaafkan
saat memegang kekuasaan dan sabar saat ditekan. Ini semua merupakan sifat-sifat yang
diajarkan Allah.

Orang yang murah hati bisa saja tergelincir dan terperosok. Tapi sekian banyak gangguan
yang tertuju kepada beliau justru menambahkan kesabaran beliau. Tingkah polah orang-
orang bodoh yang berlebih-lebihan justru menambah kemurahan hati beliau. Aisyah
berkata, “Jika Rasulullah saw harus memilih di antara dua perkara, tentu beliau memilih
yang paling mudah di antara keduanya, selagi itu bukan suatu dosa. Jika suatu dosa, maka
beliau adalah orang yang paling menjauh darinya. Beliau tidak membalas untuk dirinya
sendiri kecuali jika ada pelanggaran terhadap kehormatan Allah, lalu dia membalas karena
Allah. Beliau adalah orang yang paling tidak mudah marah dan paling cepat ridha.”

Di antara sifat kemurahan hati dan kedermawanan beliau yang sulit digambarkan, bahwa
beliau memberikan apapun dan tidak takut menjadi miskin. Ibnu Abbas berkata, “Nabi

Aqidah
saw adalah orang yang paling murah hati. Kemurahan hati beliau yang paling menonjol
adalah pada bulan Ramadhan saat dihampiri Jibril. Jibril menghampiri beliau setiap malam
pada bulan Ramadhan, untuk mengajarkan Al Qur’an pada beliau. Beliau benar-benar
orang yang lebih murah hati untuk hal-hal yang baik daripada angin yang berhembus.”

Jabir berkata, “Tidak pernah beliau dimintai sesuatu, lalu menjawab, ‘Tidak’.”
Keterangan-keterangan ini disebutkan di dalam Shahih Al-Bukhary, 1/502-503
Rasulullah saw memiliki keberanian, patriotisme, dan kekuatan yang sulit diukur. Beliau
adalah orang yang paling pemberani, mendatangi tempat-tempat yang sulit. Berapa banyak
para pemberani dan patriot yang justru lari dari hadapan beliau. Beliau adalah orang yang
tegar dan tidak bisa diusik, terus maju dan tidak mundur serta tidak gentar. Siapa pun
orang pemberani tentu akan lari menghindar dari hadapan beliau. Ali berkata, “Jika kami
sedang dikepung kekuatan dan bahaya, maka kami berlindung kepada Rasulullah saw.
Tak seorang pun yang lebih dekat jaraknya dengan musuh selain beliau.” Asy-Syifa’, Al-
Qadhy Iyadh, 1/89

Anas berkata, “Suatu malam penduduk Madinah dikejutkan oleh sebuah suara. Lalu
orang-orang semburat menuju ke sumber suara tersebut. Mereka bertemu Rasulullah saw
yang sudah kembali dari sumber suara itu. Beliau lebih dahulu datang ke sana daripada
mereka. Saat itu beliau menunggang kuda milik Abu Thalhah dan di leher beliau ada
pedang. Belia bersabda, Kalian tidak usah gentar. Kalian tidak usah gentar!'’

Nabi saw adalah orang yang paling malu dan suka menundukkan mata. Abu Sa’id Al-
Khudry berkata, “Beliau adalah orang yang lebih pemalu daripada gadis di tempat
pingitannya. Jika tidak menyukai sesuatu, maka bisa diketahui dari raut mukanya.”
Shahih Al-Bukhary, 1/504

Beliau tidak pernah lama memandang ke wajah seseorang, menundukkan pandangan,
lebih banyak memandang ke arah tanah daripada memandang ke langit, pandangannya
jeli, tidak berbicara langsung di hadapan seseorang yang membuatnya malu, tidak
menyebut nama seseorang secara jelas jika beliau mendengar sesuatu yang kurang
disenanginya, tetapi beliau bertanya “Mengapa orang-orang itu berbuat begitu?”
Nabi saw adalah orang yang paling adil, paling mampu menahan diri, paling jujur
perkataannya dan paling besar amanatnya. Orang yang mendebat dan bahkan musuh
beliau pun mengakui hal ini. Sebelum nubuwah beliau sudah dijukuki Al-Amin (orang
yang terpercaya). Sebelum Islam dan pada masa Jahiliyah beliau juga ditunjuk sebagai
hakim. At-Tirmidzy meriwayatkan dari Ali, bahwa Abu Jahal pernah berkata kepada
beliau, “Kami tidak mendustakan dirimu, tetapi kami mendustakan apa yang engkau
bawa.” Karena itu kemudian Allah menurunkan ayat tentang orang-orang yang
mendustakan itu,

“Mereka sebenarnya bukan mendustakan kamu, tetapi orang-orang zhalim itu
mengingkari ayat-ayat Allah.” (Al-An’am: 33).

Heraklius (kaisar Romawi) mengajukan pertanyaan kepada Abu Sufyan yang ketika itu

Aqidah
masih dalam kekafiran, “Apakah kalian menuduhnya dusta sebelum dia mengatakan apa
yang dia katakan?” Abu Sufyan menjawab, “Tidak.”

Nabi saw adalah orang yang paling tawadhu’ dan paling jauh dari sifat sombong. Beliau
tidak menginginkan orang-orang berdiri saat menyambut kedatangannya seperti yang
dilakukan terhadap para raja. Beliau biasa menjenguk orang sakit, duduk-duduk bersama
orang miskin, memenuhi undangan hamba sahaya, duduk di tengah para sahabat, sama
seperti keadaan mereka. Aisyah berkata, “Beliau biasa menambal terompahnya, menjahit
bajunya, melaksanakan pekerjaan dengan tangannya sendiri, seperti yang dilakukan
salah seorang di antara kalian di rumahnya. Beliau sama dengan orang lain, mencuci
pakaiannya, memerah air susu dombanya dan membereskan urusannya sendiri.”
Misykatul-Mashabih, 2/520

Dalam sebuah perjalanan beliau memerintahkan untuk menyembelih seekor domba.
Seseorang berkata, “Akulah yang akan menyembelihnya.”

Yang lain berkata, “Akulah yang akan mengulitinya.”

Yang lain lagi berkata, “Akulah yang akan memasaknya.”

Lalu beliau bersabda, “Akulah yang akan mengumpulkan kayu bakarnya.”

Mereka berkata, “Kami akan mencukupkan bagi engkau.”

Beliau bersabda, “Aku sudah tahu kalian akan mencukupkan bagiku. Tapi aku tidak suka
berbeda dari kalian. Sesungguhnya Allah tidak menyukai hamba-Nya yang berbeda di
tengah rekan-rekannya.” Setelah itu beliau bangkit lalu mengumpulkan kayu bakar.
Khulashatus-Sair, 22
Kita berikan kesempatan kepada Hindun bin Abu Halah untuk menggambarkan sifat-sifat
Rasulullah saw. Dia berkata, “Rasulullah saw seperti tampak berduka, terus-menerus
berpikir, tidak punya waktu untuk istirahat, tidak bicara jika tidak perlu, lebih banyak
diam, memulai dan mengakhiri perkataan dengan seluruh bagian mulutnya dan tidak
dengan ujung-ujungnya saja, berbicara dengan menggunakan kata-kata yang luas
maknanya, terinci tidak terlalu banyak dan tidak terlalu sedikit, dengan nada yang
sedang-sedang, mengagungkan nikmat sekalipun kecil, tidak mencela sesuatu, tidak
pernah mencela rasa makanan dan tidak terlalu memujinya, tidak terpancing untuk cepat-
cepat marah jika ada sesuatu yang bertentangan dengan kebenaran, tidak marah untuk
kepentingan dirinya, lapang dada, jika memberi isyarat beliau memberi isyarat dengan
seluruh telapak tangannya, jika sedang marah beliau berpaling dan tampak semakin tua,
jika sedang gembira beliau menundukkan padangan matanya. Tawanya cukup dengan
senyuman, yang senyumannya mirip dengan butir-butir salju. Beliau senantiasa gembira,
murah hati, lemah lembut, tidak kaku dan keras, tidak suka mengutuk, tidak berkata keji,
tidak suka mencela, tidak obral memuji, pura-pura lalai terhadap sesuatu yang tidak
menarik dan tidak tunduk kepadanya, meninggalkan tiga perkara dari dirinya: Riya’,
banyak bicara dan membicarakan sesuatu yang tidak perlu. Beliau meninggalkan

Aqidah
manusia dari tiga perkara: Tidak mencela seseorang, tidak menghinanya, dan tidak
mencari-cari kesalahannya.” Asy-Syifa’, Al-Qadhy Iyadh, 1/121-126

Kharijah bin Zaid berkata, “Nabi saw adalah orang yang paling mulia di dalam
majelisnya, hampir tak ada yang keluar dari pinggir bibirnya. Beliau lebih banyak diam,
tidak berbicara yang tidak diperlukan, berpaling dari orang yang berbicara dengan cara
yang tidak baik. Tawanya berupa senyuman, perkataannya rinci, tidak terlalu banyak dan
tidak terlalu sedikit. Para sahabat tertawa jika beliau tersenyum, karena mereka hormat
dan mengikuti beliau.”

Rasulullah saw adalah gudangnya sifat-sifat kesempurnaan yang sulit dicari
bandingannya. Allah membimbing dan membaguskan bimbingan-Nya, sampai-sampai
Allah berfirman terhadap beliau seraya memuji beliau,
“Dan sesungguhnya kamu (Muhammad) benar-benar berbudi pekerti yang agung.” (Al-
Qalam: 4)

Sifat-sifat yang sudah disebutkan di sini hanya sebagian kecil dari gambaran
kesempurnaan dan keagungan sifat-sifat beliau. Hakikat sebenarnya yang menggambarkan
sifat dan ciri-ciri beliau adalah sesuatu yang tidak bisa diketahui secara persis hingga
sedetail-detailnya. Adakah orang yang mengaku bisa mengetahui hakikat diri manusia
yang paling sempurna dan mendapat cahaya Rabb-nya, hingga akhlaqnya pun adalah Al-
Qur’an?

Sifat kerasulan menunjukan bahwa beliau benar-benar seorang rasul; utusan Allah yang
dipilih dari hamba-hamba-Nya. Beliau adalah manusia terbaik, manusia pilihan, seseorang
yang tepercaya dan menjadi kepercayaan Allah. Dengan penetapan sifat kerasulan bagi
beliau ini, mengandung konsekuensi-konsekuensi sebagai berikut:

1. Kita harus memuliakan dan mengutamakan beliau di atas seluruh manusia.

Menghormati beliau beserta segenap syariat yang dibawanya di atas seluruh syariat
lainnya. Hal itu semua tidak akan terwujud kecuali dengan mengamalkan syariatnya dan
mencintainya di atas kecintaan terhadap diri sendiri. Allah berfirman:

` · · · ` ' , ` ·` ·` · .` · .` ·` .`
·, . ' · ´` ` ·.` - ` ` ·` · .`

Sesungguhnya Kami mengutusmu sebagai saksi, pembawa berita gembira dan pemberi
peringatan, supaya kamu sekalian beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, mengagungkan
dan memuliakannya serta menghormatinya… (al-Fath: 8-9)



Aqidah
2. Mendahulukan ucapannya di atas seluruh ucapan manusia tanpa terkecuali dan
beramal dengan sunnah-sunnahnya.

Allah ta’ala berfirman:

· . · . · .` · . ¸` , .` · ` . .` ·¯ ¸ . ` '
` ., · ` ·,

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mendahului Allah dan Rasul-Nya dan
bertaqwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha
Mengetahui. (al-Hujurat: 1)

3. Mentaati perintahnya dan menjauhi larangannya.

Allah ta’ala berfirman:

..` .` ·, ~ ' · .` ·, ~ ' .` ·¯ ¸ . ` '

Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul-Nya. (an-Nisa’: 59)

Dan dalam ayat lain Allah berfirman:

.` . ` · ` ·` · ` . ¯ . · ` · ` - · ..` ` . ¯ ¯ ·

Apa yang ditetapkan Rasul kepadamu, maka terimalah dia. Dan apa yang dilarang
bagimu, maka tinggalkanlah. (al-Hasyr: 7)

4. Menjadikannya sebagai suri tauladan dalam semua sisi kehidupan kita.

Yaitu dengan menjadikan sunnahnya sebagai sumber hukum yang tidak dapat dipisahkan
dengan Al Qur’an. Allah ta’ala berfirman:

"Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri tauladan yang baik bagimu; bagi
orang yang mengharap (rahmat) dan hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.” (al-
Ahzab: 21)

Maka demi Rabbmu, mereka (pada hakekatnya) tidak beriman hingga mereka
menjadikanmu sebagai hakim dalam perkara yang mereka perselisihkan, kemudian

Aqidah
mereka tidak merasa keberatan dalam hati mereka terhadap putusan yang kamu berikan,
dan mereka menerima dengan sepenuhnya. (an-Nisa’: 65)

Dengan dua sifat Rasulullah yakni sebagai Rasul dan hamba Allah swt ini tertutuplah dua
pintu kesesatan dan penyimpangan dari golongan yang berlebih-lebihan (al ifrath) dan
golongan yang bermudah-mudahan (at-tafrith).

Golongan al ifrath adalah mereka yang melampaui batas dalam memuji dan mengangkat
Rasulullah sehingga menyamakan derajatnya dengan Allah atau memberikan sifat-sifat
yang sesungguhnya hanya layak bagi Allah semata atau mendudukkannya seperti
kedudukan Allah.

Mereka yang berlebih-lebihan dalam memuji Rasulullah telah menyerupai Nasrani ketika
menuhankan nabi Isa ‘alaihis salam, Rasulullah pun memperingatkan umatnya agar jangan
seperti mereka. Rasulullah bersabda:

= ` ` · ` . ` . · ` ` · ' ` .` · ¸` . .` . ~ ' ¯ ¸ ` ` =` .
` · ` .` , . ·,· ,· .

Janganlah kalian memuji aku secara berlebihan sebagaimana Nasrani memuji Isa bin
Maryam, aku hanyalah seorang hamba maka katakanlah: “Hamba Allah dan Rasul-
Nya”. (HR. Bukhari Muslim)

Rasulullah tidak berkenan dipuji secara berlebihan dan melampaui batas sebagaimana
umat Nasrani melakukannya kepada Isa bin Maryam. Sedemikian berlebihannya mereka
dalam memuji Nabi Isa hingga mereka memberikan derajat ketuhanan kepadanya.
Rasulullah tidak menghendaki hal itu terjadi pada dirinya dan dilakukan oleh umatnya.

Dalam suatu riwayat disebutkan: “Ketika sekelompok orang datang kepada Rasulullah
sambil mengatakan: “Engkau adalah Yang paling Agung dan Mulia yang tiada
tandingannya”. Maka beliau berkata: “Berkatalah kalian tapi jangan dirasuki setan”.
(HR Abu Daud)

Sebagian lagi ada yang berkata: “Ya Rasulullah engkau yang paling baik, anak orang
yang paling baik dan Sayyid kami, anak dari Sayyid kami”. Beliau menjawab: “As-Sayyid
adalah Allah”, dan bersabda:

Aqidah
` ` · ` ` -` · ' . . =` ,` ` . ´` .` . ` . ` . ´ ` . ` . ` . · ` ¸` .' '
` · = ¸ ` ' ` ¸ ` ¸ ` · ·` . · ¸ `.` · ·` . ' ' . - ' · .` · ` .` =
¸ - , . ¸ ~' · .

Wahai segenap manusia berkatalah kalian dengan perkataanmu dan janganlah kalian
dikuasai hawa nafsu setan, aku adalah Muhammad hamba Allah dan Rasul-Nya. Aku
tidak suka jika kalian meninggikan kedudukanku di atas kedudukan yang telah Allah
tempatkan bagiku. (HR. Ahmad dan Nasa’i)

Perbedaan mereka dengan kaum Nasrani adalah bahwa jika kaum Nasrani menyatakan
dengan tegas Isa adalah Tuhan-Nya, titisan Tuhan, atau anak Tuhan sesuai dengan
perselisihan yang ada pada mereka. Adapun mereka yang ghuluw (berlebih-lebihan)
terhadap Rasulullah tidak mengucapkan lafadz-lafadz seperti Nasrani, tetapi mereka
mengungkapkannya dalam bentuk perbuatan yaitu: berdoa kepadanya, menganggapnya
ikut menakdirkan sesuatu bersama Allah, dapat menentukan manfaat dan madharat,
menentukan kebahagiaan dan kesengsaraan dan lain-lain.

Bahkan mereka memberikan sifat-sifat yang sesungguhnya hanya layak bagi Allah seperti:
.` , · ` . · (mengetahui yang ghaib), pemberi jalan keluar dari kesulitan-kesulitan,
penolong hamba yang berada dalam kesusahan di manapun ia berada, ruhnya diyakini
hadir di tengah-tengah mereka ketika membaca syi’ir pujian kepadanya, padahal beliau
telah wafat.

Lebih dari itu julukan-julukan yang berlebihan acap disandarkan kepada beliau seperti:

` .` ·` . · ` ` .` .` '

Engkau (Muhammad) adalah cahaya di atas cahaya,

.` ` . ,` ' · ·` .` - ` ¸ ·

Dan dari kedermawananmu (adanya) dunia dan pasangannya,

. -` . ` . · : · ` ¸ ·

Aqidah

Dan termasuk dari ilmumu adalah ilmu Lauhul mahfudz dan pena.

Dan ucapan-ucapan ghuluw lainnya. Beliau tidak ridha dengan semua yang mereka
ucapkan dan sangkakan kepadanya. Karena Allah ta’ala telah memerintahkan beliau untuk
menyatakan:

.` , · ` . ` · ' ` .` ¯ ` . ` · . · . . . · ¸ ` : ` · ' . ¸ ·
·` . ` ` . ' . .. ` ¸ · · ` , - ¸ · ` .` · ´ ` .
..` ·` .`

Katakanlah: “Aku tidak berkuasa memberikan kemanfaatan bagi diriku dan tidak pula
mampu menolak kemudharatan kecuali yang dikehendaki Allah. Dan sekiranya aku
mengetahui yang ghaib, tentulah aku akan berbuat kebajikan sebanyak-banyaknya dan
aku tidak akan ditimpa kemudharatan. Aku tidak lain hanyalah pemberi peringatan dan
pembawa berita gembira bagi orang-orang yang beriman”. (al-A’raaf: 188)

Keyakinan dan prinsip batil itu masih hidup di tengah-tengah umat. Inilah yang kita
katakan dengan golongan ahlul ifrath atau ahlul ghuluw (golongan yang melampaui batas).
Sebaliknya bagi golongan ahlut tafrith, mereka menjatuhkan martabat beliau dan
merendahkannya dengan menolak sunnah-sunnahnya secara total seperti yang terjadi pada
para pengingkar sunnah yang dikenal dengan istilah aliran ingkarus sunnah atau
qur’aniyun. Mereka ini dikafirkan oleh para ulama dan dihukumi sebagai murtad (keluar
dari agama Islam) dikarenakan kalimat syahadat yang diyakininya hanya sebatas · .
= sehingga membatalkan persaksiannya terhadap kalimat = .` .` ` -` · dengan
pengingkarannya terhadap sunnah-sunnah Nabinya.

Mereka para pengingkar sunnah itu diancam oleh Allah dengan ancaman yang berat. Allah
ancam mereka dengan Jahannam dan kekal di dalamnya selama-lamanya. Allah ta’ala
berfirman:

. . - ` · . , · ` · .` · ¸` · ` ¸ · · . · ¸ · ·· .
' ., · ¸ -

…Dan barang siapa yang bermaksiat kepada Allah dan Rasul-Nya, maka sesungguhnya
baginyalah neraka Jahannam, mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. (al-Jin: 23)

Aqidah

Allah ancam mereka dengan kesesatan di dunia dan azab neraka di akhirat, Allah ta’ala
berfirman:

. ` . ` · ¸ , · ` · ` ¸ · ..` , · ` ` ¸ · ¸, ` , · ` ·
. · ` . . . . - · ` .` ¸ . · · .` ·` .`

… Dan barang siapa yang menentang Rasul setelah jelas kebenaran baginya dan
mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang mukmin, Kami biarkan ia leluasa terhadap
kesesatan yang telah dikuasainya itu dan Kami masukkan ia ke dalam Jahannam, dan
Jahannam itu seburuk-buruk tempat kembali. (an-Nisa’: 115)

Serta diancam dengan fitnah kesesatan dan kekufuran. Sebagaimana firman Allah:

` ¸ ` - , · ` ., ' ` . · ` .` . , .` ` ' · ` · ` .` . , .` . ' · ` · ' ` ¸ · .. -

Maka hendaklah orang-orang yang menyelisihi perintah Rasul takut akan ditimpa cobaan
atau ditimpa azab yang pedih. (An Nuur: 63)

Demikian pula bagi mereka yang menolak sebagiannya seperti yang terjadi pada ahlul
bid’ah dari kalangan Mu’tazilah, kaum rasionalis, Islam liberal dan sejenisnya. Mereka
adalah golongan sesat yang diancam oleh Rasulullah dengan neraka. Inilah yang dikatakan
dengan ahlut tafrith wal jafa’. Mereka merendahkan Rasulullah dan menganggapnya
hanya sebagai seorang pengantar surat yang mana mereka menerima suratnya yaitu Al
Qur’an, menurut mereka dan tidak ada kaitannya dengan pengantarnya.

Dua golongan tersebut di atas terbantah dengan makna yang terkandung dalam kalimat
syahadat · ` .` ` ·` ` · ` -` ·. Dan golongan tersebut bertentangan dengan syahadat ` -` ·
· ` .` ` ·` ` ·. Ahlul ifrath menentang kehambaan beliau yang terkandung dalam ·` ` · ` -` ·
dan ahlut tafrith menentang kerasulan beliau yang terkandung dalam kalimat .` .` ` -` ·
=.

Kesimpulan dari pembahasan kali ini adalah bahwa syahadat ` · ` .` ` ·` ` · ` -` ·
memberikan konsekuensi kepada kita yaitu keharusan bagi kita untuk mentaati segala apa
yang diperintahkan-Nya, membenarkan segenap apa yang dikabarkannya, meninggalkan
segala yang dilarang dan dicelanya dan kita tidaklah beribadah kepada Allah kecuali

Aqidah
dengan syariat yang telah disampaikan oleh Rasulullah kepada kita serta mendahulukan
sunnah beliau di atas segenap ucapan manusia tanpa terkecuali siapapun ia orangnya.

Ya Allah, rahmatilah Muhammad dan keluarga Muhammad, sebagaimana Engkau
merahmati Ibrahim dan keluarga Ibrahim. Sesungguhnya Engkau Maha Terpuji lagi Maha
Mulia. Ya Allah, berkahilah Muhammad dan keluarganya, sebagaimana Engkau
memberkahi Ibrahim dan keluarganya. Sesungguhnya Engkau Maha Terpuji lagi Maha
Mulia.


Penjelasan Rasmul Bayan:

1. Basyariyah (manusia).

Penjelasan:
Rasul sebagai manusia biasa seperti kita semua. Perbedaannya adalah Allah memberikan
wahyu untuk disampaikan kepada orang lain. Kenapa Allah swt perlu menegaskan bahwa
Rasul itu manusia biasa. Dengan penegasan ini maka dapat disimpulkan bahwa Rasul dari
golongan kita juga, dari manusia yang seperti kita juga misalnya makan, minum, tidur,
beristeri, bekerja, belajar, penat, dan sifat-sifat kemanusiaan lainnya. Perbedaannya
hanyalah terletak kepada amanah yang Allah berikan kepada Rasul yaitu wahyu. Meyakini
betul bahwa Rasul seperti kita maka tidak ada alasan bagi kita untuk menolak perintah
Rasul, tidak ada alasan tidak mampu, tidak boleh dan sebagainya. Juga tidak boleh beri
alasan anak, isteri, sibuk bekerja dan sebagainya karena Rasul juga mempunyai tanggung
jawab demikian juga terhadap anak, isteri dan sebagainya.

Dalil:
• Q. 14:11, Rasul sebagai manusia biasa.
` ¸ · ¸ · ` ¸` · ¸ ´ ` . ´ · · ` . ` ¸` - . ` .` . ` ` ` .` . ` . ·
· · . · , . . = ` ` . ´ , ' . ' . ¯ · · · · ` ¸ · . · ¸
..` ·` .` ¸ ¯ . , ·

Rasul-Rasul mereka berkata kepada mereka: "Kami tidak lain hanyalah manusia seperti
kamu, akan tetapi Allah memberi karunia kepada siapa yang Dia kehendaki di antara
hamba-hamba-Nya. dan tidak patut bagi kami mendatangkan suatu bukti kepada kamu
melainkan dengan izin Allah. Dan Hanya kepada Allah sajalah hendaknya orang-orang
mukmin bertawakkal.




Aqidah
2. ‘Ismah (terpelihara dari kesalahan).

Penjelasan:
Manusia biasa yang tidak mendapatkan wahyu mungkin melakukan kekhilafan dan
kesalahan. Tetapi bagi para Rasul yang diberi amanah untuk menyampaikan dakwah harus
terpelihara dari kesalahan karena yang disampaikan adalah sesuatu yang berasal dari Allah
swt. Allah swt perlu memelihara aturan dan firman-Nya dari kesalahan. Dengan sifat
Rasul demikian yaitu dijaga oleh Allah swt maka apa yang dikeluarkan Nabi adalah benar
dan kita perlu meyakininya.

Dalil:
• Q. 5:67, Allah memelihara Rasul dari kejahatan manusia.

` ¸ · :` , . ` ' · · ..` . ` ' .` · · ¸ · ` . . :
¸ · ´ ·` . . ` . . · . ¸ ¸ · :` .` · ` · ` ·

Hai Rasul, sampaikanlah apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu. dan jika tidak
kamu kerjakan (apa yang diperintahkan itu, berarti) kamu tidak menyampaikan amanat-
Nya. Allah memelihara kamu dari (gangguan) manusia. Sesungguhnya Allah tidak
memberi petunjuk kepada orang-orang yang kafir.

• Q. 66:1, Allah pengampun lagi penyayang.

` . ` ¸ . ` ' ` · : - ` ' · .` · ¸ · ` : ` · ¸ - ' · ` · -
` ., - ` . ·

Hai Nabi, Mengapa kamu mengharamkan apa yang Allah halalkan bagimu; kamu
mencari kesenangan hati isteri-isterimu? dan Allah Maha Pengampun lagi Maha
Penyayang

3. Shidq (benar).

Penjelasan:
Rasul-Rasul dan Muhammad saw mempunyai sifat shiddiq yang membawa kebenaran.
Orang yang membawa kebenaran tentunya ia sendiri bersifat shiddiq sehingga apa yang
disampaikan dapat diterima. Oleh karena itu, dengan sifat ini banyak masyarakat jahiliyah
menerima Islam. Sifat shidq berarti mengikuti Islam sebagai sumber kebenaran. Tidak
mengikuti Islam berarti mengikuti hawa nafsunya sehingga menjauhkan diri dari
kebenaran.

Aqidah

Dalil:
• Q. 39:33, Muhammad saw membawa kebenaran.

.. ` ` .` · : · ' · · . ·` . . - .

Dan orang yang membawa kebenaran (Muhammad) dan membenarkannya, mereka Itulah
orang-orang yang bertaqwa.

• Q. 53:3-4, Tiadalah ia berbicara menurut hawa nafsunya.

· ` , =` · . . . ¸ , ¸ -.` ` ¸` - . .` · .

Dan tiadalah yang diucapkannya itu (Al-Qur’an) menurut kemauan hawa nafsunya.
Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya).

4. Fathanah (cerdas).

Penjelasan:
Kecerdasan Rasulullah dapat dilihat bagaimana Rasul menyusun dakwah dan strategi-
strategi seperti berperang, berdakwah ke tempat lain dan sebagainya. Di antara kecerdasan
Rasul adalah mempunyai pandangan bahwa Islam akan menaklukkan Makkah dan
menaklukkan Khaibar. Rasul menggambarkan pada saat tersebut umat Islam masuk ke
Masjidil Haram dengan aman sentosa, serta bercukur dan menggunting rambut kepala
tanpa sedikitpun. Kecerdasan Rasul dalam memperkirakan kekuatan Umat Islam dan
kelemahan pihak lawan juga dibuktikan di dalam peperangan lainnya.

Dalil:
• Hadits.
• Q. 48:27, pandangan Nabi terhadap kemenangan Islam.

. . · - -` ¸ ` -` , - ` ` ` · .` ` · · . `
. · - . ¸ . ` · ` . ´ .` -` · ·¯ ` · .` ` · ` . · . · · .
· -` · : · .` · ` ¸ · ¸ · - ·

Sesungguhnya Allah akan membuktikan kepada Rasul-Nya tentang kebenaran mimpinya
dengan sebenarnya (yaitu) bahwa sesungguhnya kamu pasti akan memasuki

Aqidah
Masjidilharam, insya Allah dalam keadaan aman, dengan mencukur rambut kepala dan
mengguntingnya, sedang kamu tidak merasa takut. Maka Allah mengetahui apa yang
tiada kamu ketahui dan Dia memberikan sebelum itu kemenangan yang dekat.

5. Amanah.

Penjelasan:
Sifat lainnya adalah Amanah. Amanah secara umum berarti bertanggung jawab terhadap
apa yang dibawanya, menepati janji, melaksanakan perintah, menunaikan keadilan,
memberikan hukum yang sesuai dan dapat menjalankan sesuatu yang disepakatinya. Sifat
demikian dimiliki oleh para Rasul dan kita harus mengikutinya. Sifat ini sangatlah
diperlukan dalam kehidupan kita, tidak hanya dalam segi ibadah khusus tetapi secara
umum seperti bekerja, belajar dan berhubungan dengan orang lain. Bos di tempat kita
bekerja akan menyenangi kita yang mempunyai sifat amanah ini bahkan dengan sifat ini
kita akan berjaya dan berprestasi.

Dalil:
• Q. 4:58, Allah menyuruhmu supaya menunaikan amanah.

. ' ¸ ¸` , ` .` ` ´ - · . ` · ' ¸ . ·. ` · .` . ' ` . ¯` ` · ' · .
. ·, . ¯ · . · ` . ´ = · · · . .` · .` ´` -

Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak
menerimanya, dan (menyuruh kamu) apabila menetapkan hukum di antara manusia
supaya kamu menetapkan dengan adil. Sesungguhnya Allah memberi pengajaran yang
sebaik-baiknya kepadamu. Sesungguhnya Allah adalah Maha mendengar lagi Maha
Melihat.

6. Tabligh (menyampaikan).

Penjelasan:
Sebuah rahasia kenapa Islam tersebar dengan cepat ke seluruh pelosok tempat dan
bagaimana pula dengan cepatnya perubahan-perubahan di tengah masyarakat. Kenapa
jumlah bilangan pengikut Islam semakin hari semakin banyak dan semakin banyak yang
menyokongnya. Jawabannya adalah sifat tabligh dimiliki oleh Rasul dan pengikutnya.
Setiap muslim merasakan bahwa dakwah atau menyampaikan Islam sebagai suatu
kewajiban yang perlu dilaksanakan dimana saja dan bila masa saja. Artinya dalam
keadaan bagaimanapun, umat Islam senantiasa menyampaikan risalah ini kepada siapa
saja yang menerimanya.

Dalil:
• Q. 5:67, Sampaikanlah apa yang diturunkan kepadanya.

Aqidah

7. Iltizam (komitmen).

Penjelasan:
Rasulullah saw beserta Rasul-Nya sangatlah dikenal dengan komitmennya dengan Islam
dan apa yang dibawanya. Beliau tahan dan tidak merasa takut sedikitpun menghadapi
cobaan dan tantangan dari orang-orang jahiliyah. Rasul selalu komitmen dan dapat
menghadapi cobaan dengan baik. Sifat iltizam ini perlu dipupuk pada diri kita karena
dengan sifat inilah, nilai-nilai Islam pada diri kita menjadi terpelihara dengan baik. Tanpa
iltizam maka godaan syaitan dan gangguan orang kafir menjadi terasa pada kita dan
perubahan berlaku bahkan menjadi futur dan sesat. Naudzubillah. Kemenangan bersama-
sama dengan sifat iltizam ini.

Dalil:
• Q. 17:74, kalau sekiranya tiadalah kami tetapkan komitmen engkau, sesungguhnya
hampir engkau condong sedikit kepada mereka itu.
` · ` . ' .` . ·, · ·` , ` . .` , ` ¸ ¯` .` ¯

Dan kalau kami tidak memperkuat (hati) mu, niscaya kamu hampir-hampir condong
sedikit kepada mereka,

• Q. 68:1-8, menggambarkan bagaimana Muhammad saw disebut gila karena ia tetap
komitmen dengan Islam, tahan dari cobaan kesesatan dan tidak mengikuti orang yang
mendustakan agama Allah.

.` =` · . . , ..` ` - : · ` · .` ' · , ` -. : .
..` ` · ` , · , ., = · , ` - ¸ · : , .` .` ` ` .` ` · , ' ` . ´
..` , ¸ ` .` ` . ` · ' .` · · , ` ¸ · ¸ . ` ¸ ` . ` · ' .` · : . ,
´` · =` · ·

1. Nun demi kalam dan apa yang mereka tulis,
2. Berkat nikmat Tuhanmu kamu (Muhammad) sekali-kali bukan orang gila.
3. Dan Sesungguhnya bagi kamu benar-benar pahala yang besar yang tidak putus-
putusnya.
4. Dan Sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang agung.
5. Maka kelak kamu akan melihat dan mereka (orang-orang kafir) pun akan melihat,
6. Siapa di antara kamu yang gila.

Aqidah
7. Sesungguhnya Tuhanmu, Dia-lah yang paling mengetahui siapa yang sesat dari jalan-
Nya; dan Dia-lah yang paling mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk.
8. Maka janganlah kamu ikuti orang-orang yang mendustakan (ayat-ayat Allah).

8. Khuluqun Azim (akhlaq yang mulia).

Penjelasan:
Sifat-sifat yang dimiliki oleh para Rasul menggambarkan akhlaq yang mulia. Akhlaq
mulia berarti akhlaq yang tinggi kemudian untuk mencapainya perlu proses dan latihan.
Tidak semua manusia bisa mencapai akhlaq ini kecuali mereka yang mengikuti tarbiyah
Islamiyah. Seseorang yang memiliki akhlaq mulia akan disenangi oleh masyarakat
disekitarnya, mereka menerima dan menyambut individu yang berakhlaq mulia. Sunnah
dakwah memperlihatkan bahwa kebencian pihak Jahiliyah karena aqidah yang dibawa
umat Islam bukan karena akhlaqnya. Mereka menerima akhlaq Islam karena tidak
merugikannya bahkan menguntungkannya.

Dalil:
• Q. 68:4, Sesungguhnya engkau (ya Muhammad) mempunyai akhlaq yang mulia.

` - ¸ · : ., = · ,

Dan sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang agung.

9. Akhlaq Qur’an.

Penjelasan:
Akhlaq mulia adalah juga akhlaq Al-Qur’an. Berarti akhlaq Rasul adalah amalan dan
tingkah laku yang sesuai dengan Al-Qur’an atau yang diarahkan oleh Al-Qur’an. Jadi
untuk mendapati akhlaq mulia seperti yang dimiliki Rasul maka harus mengamalkan Al-
Qur’an dalam kehidupan sehari-harinya. Al-Qur’an berjalan adalah akhlaq Rasul.

Dalil:
• Hadits, bertanya kepada Aisyah RA, “Bagaimanakah akhlaq Rasulullah ?

• Jawabannya adalah khuluquhu Al-Qur’an”. نا-¹ا ·-¹= ن'آ

10. Uswatun Hasanah (teladan yang baik).

Penjelasan:
Pada diri Rasul Muhammad saw terdapat contoh yang baik yaitu akhlaq yang mulia yang
digambarkan oleh Allah swt. Sebagai contoh yang nyata bagaimana menjadi muslim yang
berakhlaq mulia dan bagaimana Al-Qur’an tertanam dalam diri kita maka ikutilah Nabi

Aqidah
Muhammad saw. Mereka yang mengikuti Nabi ini adalah mereka yang mengharapkan
rahmat Allah dan hari kemudian, serta ia banyak mengingat Allah.

Dalil:
• Q. 33:21, Sesungguhnya pada Rasul Allah (Muhammad) ada ikutan yang baik bagimu.

·` . , · .` -` . ¯ ` ¸ · - · .` ' · ..` ¸ · ` . ´ . ¯ `
· ¯ · ¯ · -.

Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu)
bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak
menyebut Allah.


---oo0oo---

Sumber: tarbiyahklatenutara.blogspot.com

























Aqidah
TUGAS-TUGAS RASUL
(WAZHIFATUR RASUL)




Tugas Rasul dapat dibagi kepada dua yaitu menyampaikan risalah dan menegakkan
dienullah. Kedua tugas ini adalah intisari dari perintah Allah SWT dan amalan dakwah
Nabi Muhammad SAW. Risalatud dakwah yang dibawa oleh Nabi adalah
memperkenalkan masyarakat Jahiliyah kepada penciptanya, perkara ini tidaklah begitu
sukar karena setiap manusia mempunyai fitrah untuk menerima kholiq. Setelah itu
menjadikan mereka sebagai muslim. Sebagai muslim, perlu untuk mengetahui bagaimana
cara beribadah dan mengikuti Islam. Tugas Rasul diantaranya adalah menjelaskan cara
pengabdian kepada Allah, menjelaskan Islam sebagai panduan hidup. Usaha
menyampaikan risalah secara berkesan dengan melaksanakan tarbiyah Islamiyah iaitu
dengan menekankan kepada arahan dan nasihat.
Tugas kedua adalah menegakkan dienullah. Tugas ini tidak semua muslim memahaminya
atau tidak mengetahui bagaimana untuk merealisasikannya. Rasul sebagai pembawa
risalah adalah suatu pengetahuan umum bagi kita tetapi tidak demikian dengan peranan
untuk menegakkan agama Allah. Beberapa aktivitas untuk menegakkan dien Allah ini

Aqidah
adalah menegakkan khilafah, membangun rijal, minhajud dakwah dan merealisasikan
risalah.

Wazifatur Rasul (tugas Rasul).

Allah SWT memerintahkan Rasul untuk mengemban misi da'wah dan menyampaikan
wahyu , hasil dari penyebaran wahyu ini terbentuknya dienullah. Oleh karena itu tugas
utama menyampaikan dakwah ini juga perlu diiringi dengan menegakkan dien Allah.
Kedua tugas ini saling berkaitan oleh sebab itu, kita perlu memahaminya secara mendalam
agar dapat menjalankan dakwah dengan baik. Menyampaikan risalah adalah pekerjaan
Nabi yang utama dan kitapun sudah mengikuti tugas ini sebagai kewajiban dari seorang
muslim. Namun demikian, tidak semua muslim mengetahui dan bagaimana menyusun
dakwah hingga tegaknya dien Allah.

1. Hamilu risalati ad-da'wah (mengemban amanah risalah da'wah) tablighud da'wah

.` · · ¸ · ` . . : ` ¸ · :` , . ` ' · · ..` . ` '
¸ · ´ ·` . . ` . . · . ¸ ¸ · :` .` · ` · ` ·

Hai rasul, sampaikanlah apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu. dan jika tidak
kamu kerjakan (apa yang diperintahkan itu, berarti) kamu tidak menyampaikan amanat-
Nya. Allah memelihara kamu dari (gangguan) manusia Sesungguhnya Allah tidak
memberi petunjuk kepada orang-orang yang kafir.(Qs,5:67)

` , . · :` , ` , -` ' . -.` · ¸ . · ¸ ¸ · ` . ´ -
¸ · ` ¯ ·, · . · . ¸ .` , · ' . ' ¸ , · ¸ .` · ., · ` ·
¸ ` - ` · ·` , ` .` ·.` ·` · ¯ ` ` ` ¸ · ·` , . ` . . ` ¸ · ·` ,
` ., ` , · ¯ .` . ` .` . ` , ,` · ` . · ` .` · . - · ` · ` ¸ · . . · ·
. ' ¸ . ` .` . ` , ¸ . ¸ ` · ¸ - ' ¸ : ` ¸ · ` .
` ¸ · . ´ . ` · ` ·` · : ¸ ` . · ` · , ¯ ` . ` ` -` · · : ·
` .` · ' . ¯ ` ¸ · ` · . ` ' ` .` ·¯ ¸ · ` .` · . .` · ' ` · . .` · '

Aqidah
' ` . ´ ` · ' ` . ´ ` ` `· ` . ´ ` , . ` ·. ` , · -` - . ` . ´ ` ·
` . ·` , ` , ` · ` - ` · ` .´ ` ,

Dia Telah mensyari'atkan bagi kamu tentang agama apa yang Telah diwasiatkan-Nya
kepada Nuh dan apa yang Telah kami wahyukan kepadamu dan apa yang Telah kami
wasiatkan kepada Ibrahim, Musa dan Isa yaitu: Tegakkanlah agama dan janganlah kamu
berpecah belah tentangnya. amat berat bagi orang-orang musyrik agama yang kamu seru
mereka kepadanya. Allah menarik kepada agama itu orang yang dikehendaki-Nya dan
memberi petunjuk kepada (agama)-Nya orang yang kembali (kepada-Nya).
Dan mereka (ahli Kitab) tidak berpecah belah, kecuali setelah datang pada mereka ilmu
pengetahuan, Karena kedengkian di antara mereka kalau tidaklah Karena sesuatu
ketetapan yang Telah ada dari Tuhanmu dahulunya (untuk menangguhkan azab) sampai
kepada waktu yang ditentukan, Pastilah mereka Telah dibinasakan. dan Sesungguhnya
orang-orang yang diwariskan kepada mereka Al-Kitab (Taurat dan Injil sesudah mereka,
benar-benar berada dalam keraguan yang menggoncangkan tentang Kitab itu.
Maka Karena itu Serulah (mereka kepada agama ini) dan tetaplah[1343] sebagai mana
diperintahkan kepadamu dan janganlah mengikuti hawa nafsu mereka dan Katakanlah:
"Aku beriman kepada semua Kitab yang diturunkan Allah dan Aku diperintahkan supaya
berlaku adil diantara kamu. Allah-lah Tuhan kami dan Tuhan kamu. bagi kami amal-amal
kami dan bagi kamu amal-amal kamu. tidak ada pertengkaran antara kami dan kamu,
Allah mengumpulkan antara kita dan kepada-Nyalah kembali (kita)".(Qs, 42:13-15)

¸ ¯ · . - ' .` . ` - . ` · ` .` - · .. ..` · ` ¸
, - ·

(yaitu) orang-orang yang menyapaikan risalah-risalah Allah, mereka takut kepada-Nya
dan mereka tiada merasa takut kepada seorang(pun) selain kepada Allah. dan cukuplah
Allah sebagai pembuat perhitungan.(Qs, 33: 39).

1.1. Ma'rifatul Kholiq (mengenal pencipta).

• Mengenalkan Allah sebagai kholiq kepada makhluqnya. Mengenal Allah adalah suatu
yang mudah bagi fitrah manusia. Mengenal Kholiq melalui mahluk yaitu alam semesta
dan manusia, seperti kejadian alam, proses pembentukan manusia, pergantian


Aqidah
` · . ·` .` ·` .` : ` ` ` · ` ` · . · . ` · ' ` .` · ·
` . ¯ . · · ` . ´ ` · ` . ` ·

Maka ketahuilah, bahwa Sesungguhnya tidak ada Ilah (sesembahan, Tuhan) selain Allah
dan mohonlah ampunan bagi dosamu dan bagi (dosa) orang-orang mukmin, laki-laki dan
perempuan. dan Allah mengetahui tempat kamu berusaha dan tempat kamu tinggal. (Qs,
47:19.)

1.2. Kaifiyatul 'ibadah (Mengajarkan cara ibadah)

Diantara tugas yang diemban oleh para Rasul Allah adalah mengajarkan kepada umatnya
bagaimana cara beriabadah yang benar. Sebagaimana firman Allah;

. ¯ ` ¸ · ` - ` · ` . ´` . ' ¸ ¸ -.` ` . ´ · · ` ' ¸ ·
- ' · · · · ` · ` ` . - . · · ¸ ` · , · · . .` -`

Katakanlah: Sesungguhnya aku ini manusia biasa seperti kamu, yang diwahyukan
kepadaku: "Bahwa Sesungguhnya Tuhan kamu itu adalah Tuhan yang Esa". Barangsiapa
mengharap perjumpaan dengan Tuhannya, Maka hendaklah ia mengerjakan amal yang
saleh dan janganlah ia mempersekutukan seorangpun dalam beribadat kepada
Tuhannya". (QS,18:110.)

·· . .` , ` . ` - ¸ ` · .` -` · · ` ` ` · , . ` · ' ·
· , ` ¸ · : · · ¯ .` ` .`

Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan
ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus dan supaya mereka
mendirikan shalat dan menunaikan zakat; dan yang demikian Itulah agama yang lurus.
(Qs,98:5).







Aqidah
1.3. Minhajul hayah (menyampaikan minhajul hayah)

-.` · ¸ . · ¸ ¸ · ` . ´ - ` , . · :` , ` , -` ' .
¸ · ` ¯ ·, · . · . ¸ .` , · ' . ' ¸ , · ¸ .` · ., · ` ·
` ¸ · ·` , . ` . . ` ¸ · ·` , ¸ ` - ` · ·` , ` .` ·.` ·` · ¯ ` `
` ., `

Dia telah mensyari'atkan bagi kamu tentang agama apa yang telah diwasiatkan-Nya
kepada Nuh dan apa yang telah Kami wahyukan kepadamu dan apa yang telah Kami
wasiatkan kepada Ibrahim, Musa dan Isa Yaitu: Tegakkanlah agama dan janganlah kamu
berpecah belah tentangnya. Amat berat bagi orang-orang musyrik agama yang kamu seru
mereka kepadanya. Allah menarik kepada agama itu orang yang dikehendaki-Nya dan
memberi petunjuk kepada (agama)-Nya orang yang kembali (kepada-Nya). (Qs, 42: 13).

·` , ·` ` · . ¯ . ` .` ´` · . . ` ¸ ¸` ` · ' ` . ´, · ` . ¯

"Aku telah wariskan kepada kamu dua pusaka yang kamu tidak akan tersesat apabila
kamu berpegang teguh dengannya,yaitu kitab Allah dan sunnahku" (HR.Malik)

1.4. Tarbiah,taujih dan nasihat

` . ´` ·` ` . ´, ¯ ` ¯ ` . ´` , · . ` ` . ´` · ..` ` . ´, · ` ' ¯
..` ` · .` . ´ ` . · ` . ´` ·` · ´ - . ´

Sebagaimana (kami telah menyempurnakan nikmat Kami kepadamu) Kami telah
mengutus kepadamu Rasul diantara kamu yang membacakan ayat-ayat Kami kepada
kamu dan mensucikan kamu dan mengajarkan kepadamu Al kitab dan Al-Hikmah, serta
mengajarkan kepada kamu apa yang belum kamu ketahui. (Qs, 2:151)

.` · ` . ., ¯ ` · ¯ ` . .` , · . ` ` .` .` · ..` , ·. ¸ · . · .
` · .· . ¸ ¸` · ` ¸ · .` ¯ . · ´- . ´ ` .` .` ·`

Aqidah

Dia-lah yang mengutus kepada kaum yang buta huruf seorang Rasul di antara mereka,
yang membacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka, mensucikan mereka dan mengajarkan
mereka kitab dan Hikmah (As Sunnah). dan Sesungguhnya mereka sebelumnya benar-
benar dalam kesesatan yang nyata, (Qs, 62:2.)

2. Iqomatu dienillah (menegakkan agama Allah)

` , . · :` , ` , -` ' . -.` · ¸ . · ¸ ¸ · ` . ´ -
¸ · ` ¯ ·, · . · . ¸ .` , · ' . ' ¸ , · ¸ .` · ., · ` ·
¸ ` - ` · ·` , ` .` ·.` ·` · ¯ ` ` ` ¸ · ·` , . ` . . ` ¸ · ·` ,
` ., `

Dia telah mensyari'atkan bagi kamu tentang agama apa yang telah diwasiatkan-Nya
kepada Nuh dan apa yang telah Kami wahyukan kepadamu dan apa yang telah Kami
wasiatkan kepada Ibrahim, Musa dan Isa Yaitu: Tegakkanlah agama dan janganlah kamu
berpecah belah tentangnya. Amat berat bagi orang-orang musyrik agama yang kamu seru
mereka kepadanya. Allah menarik kepada agama itu orang yang dikehendaki-Nya dan
memberi petunjuk kepada (agama)-Nya orang yang kembali (kepada-Nya). (Qs, 42: 13).

2.1. Iqomatil khilafah (mendirikan khilafah)

` · ' · ¯ ` . ¯ ·· . .` · · ' ¸` . ¸ · ` .` · ´ · . ¸
.` ·. · · · · ´` ` ¸ · ` . . ` ` ·

(yaitu) orang-orang yang jika Kami teguhkan kedudukan mereka di muka bumi niscaya
mereka mendirikan sembahyang, menunaikan zakat, menyuruh berbuat ma'ruf dan
mencegah dari perbuatan yang mungkar; dan kepada Allah-lah kembali segala urusan.
(Qs, 22: 41).

.. ´ ¸ ¸ · . .` .` . ´ = · · ' ` . ¯ · - : ¯
` ¸ · . ` · . .` , · .` ¯ ¸ · ` · - · , . ` . ´` , · ..`

Aqidah
¸ ¸ · . · ´ ` . ¯ . ·` , · ¸ · ` . ` ` ¸ · ..` ` ·
· ·, .` , ` · . ¯ · ` · . · ` ., - ` . ¸ · . ` . ´

Dan demikian (pula) Kami telah menjadikan kamu (umat Islam), umat yang adil dan
pilihan agar kamu menjadi saksi atas (perbuatan) manusia dan agar Rasul (Muhammad)
menjadi saksi atas (perbuatan) kamu. dan Kami tidak menetapkan kiblat yang menjadi
kiblatmu (sekarang) melainkan agar Kami mengetahui (supaya nyata) siapa yang
mengikuti Rasul dan siapa yang membelot. dan sungguh (pemindahan kiblat) itu terasa
Amat berat, kecuali bagi orang-orang yang telah diberi petunjuk oleh Allah; dan Allah
tidak akan menyia-nyiakan imanmu. Sesungguhnya Allah Maha Pengasih lagi Maha
Penyayang kepada manusia. (Qs, 2:143)

¸` . ¸ · ` .` . ` - ` , . - . . · ` . ´` · .` ·¯ ¸ ` · ·
` .` . ¸ . ` . ` .` . · ` .` . ¸ ´ `, ` . . ` · ` ¸ · ¸ . ` - ` ¯
` · ' ` . . ·` . - ` · ` ¸ · ` .` . ` , ¯ ` ¸ · ·` , ¸ .. ¯ ` ` . ¸ ` ` ` ·
.. ` .` · : · ' · : · ` ·

Dan Allah Telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan
mengerjakan amal-amal yang saleh bahwa dia sungguh- sungguh akan menjadikan
mereka berkuasa dimuka bumi, sebagaimana dia Telah menjadikan orang-orang sebelum
mereka berkuasa, dan sungguh dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang Telah
diridhai-Nya untuk mereka, dan dia benar-benar akan menukar (keadaan) mereka,
sesudah mereka dalam ketakutan menjadi aman sentausa. mereka tetap menyembahku-Ku
dengan tiada mempersekutukan sesuatu apapun dengan Aku. dan barangsiapa yang
(tetap) kafir sesudah (janji) itu, Maka mereka Itulah orang-orang yang fasik. (Qs, 24 :55.)

2.2.Bina ar-rijal (mencetak generasi)

Menegakkan dien tidak mungkin dikerjakan sendirian sahaja. Usaha ini perlu dilakukan
secara berjamaah. Mereka yang bersamapun perlu memiliki kekuatan, kefahaman yang
jelas, aqidah yang bersih dan memegang minhaj yang betul. Kebersamaan dari kader-
kader diperolehi melalui pembangunan rijal. Tarbiyah adalah usaha untuk membangun
rijal yang dipersiapkan sebagai tonggak dakwah. Cara bagaimana bina rijal ini kita
merujuk kembali bagaimana Rasul melaksanakan pembinaan kepada para sahabat.


Aqidah
¸ · .` . .` ` ` · .` ` · ' `, - ¸ ..` ·` · · ' ` . ´` · ` ¸ ´
..` - ` ` .` · : · ' ´` `

Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan,
menyuruh kepada yang ma'ruf dan mencegah dari yang munkar merekalah orang-orang
yang beruntung. (Qs, 3 :104)

` · ` - ¸ . · ` ¸ · ` .` .` · ·` , · · ` · · · . · . . - ·` .` ¸ ·
· ` . · ` = ` ` ¸ · ` .` .` ·

Di antara orang-orang mukmin itu ada orang-orang yang menepati apa yang telah
mereka janjikan kepada Allah; Maka di antara mereka ada yang gugur. dan di antara
mereka ada (pula) yang menunggu- nunggu dan mereka tidak merobah (janjinya), (Qs,
33: 23).

2.3. Minhajud Dakwah (panduan dakwah).

Al-Qur’an dan Sunnah adalah minhaj dakwah yang penuh dengan petunjuk-petunjuk
bagaimana menjalankan dakwah.

· . -` ` ¸ · ¸ · ' · . ¸ · · ¸ .` ·` · ' ¸ , · · ¸ ·
¯ ` ` ¸ · ' ·

Katakanlah: "Inilah jalan (agama) ku, aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak
(kamu) kepada Allah dengan hujjah yang nyata, Maha suci Allah, dan aku tiada Termasuk
orang-orang yang musyrik". (Qs, 12:108).

2.3. Tathbiqur Risalah (menerapkan risalah).

. =` , . . =` - .` · . · · ¯ . ¸ · . ` -` · .` ·¯ ¸ . ` '
` . ´ ` · ` ` · ` ` ·


Aqidah
Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam secara keseluruhannya,
dan janganlah kamu turut langkah-langkah setan. Sesungguhnya setan itu musuh yang
nyata bagimu. (Qs, 2:208).

· . ,` - · ¸ ´` ` ¸ · . . ¸ · · . · ¸

Katakanlah: "Sesungguhnya salat, ibadah, hidup dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan
semesta alam, (Qs, 6:162).


Da'wah dengan hikmah,

` .` . · - · - · = ·` . · ´ - : ¸, ¸ ` -` · ¸ · ¸
¸ ` .` ` . ` · ' .` · · , ` ¸ · ¸ . ` ¸ ` . ` · ' .` · : . ` ¸ ` - '

Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan
bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih
mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui
orang-orang yang mendapat petunjuk. (Qs, 16:125).

Pendekatan dakwah yang lembut dan ramah dapat mengelakkan mad’u dari bercerai berai.
Elakkan berbuat jahat, berhati kasar dalam pendekatan dakwah. Q.3:159

` ¸ · . ` . ` . . , · = · .` ¯ ` . ` .` . .` · ¸ · · ` - ·
.` · · · , · ` ·. ¸ · ` .` ·` ` .` . ` ` · ` ` .` .` · ` .` · · : ` . -
¯ . ` ` . -` · . · ¸ · ¸ ¯ . ·

Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah Lembut terhadap mereka.
sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari
sekelilingmu. Karena itu ma'afkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka, dan
bermusyawaratlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian apabila kamu Telah
membulatkan tekad, Maka bertawakkallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai
orang-orang yang bertawakkal kepada-Nya. (Qs,3:159)


Aqidah
. . · - -` ¸ ` -` , - ` ` ` · .` ` · · . `
.` ` · ` . · . · · .. · - . ¸ . ` · ` . ´ .` -` · ·¯ ` ·
· -` · : · .` · ` ¸ · ¸ · - ·

Sesungguhnya Allah akan membuktikan kepada Rasul-Nya, tentang kebenaran mimpinya
dengan Sebenarnya (yaitu) bahwa Sesungguhnya kamu pasti akan memasuki Masjidil
Haram, insya Allah dalam keadaan aman, dengan mencukur rambut kepala dan
mengguntingnya, sedang kamu tidak merasa takut. Maka Allah mengetahui apa yang
tiada kamu ketahui dan dia memberikan sebelum itu kemenangan yang dekat. (Qs, 48:27)

Selang beberapa lama sebelum terjadi Perdamaian Hudaibiyah nabi Muhammad s.a.w.
bermimpi bahwa beliau bersama para sahabatnya memasuki kota Mekah dan Masjidil
Haram dalam keadaan sebahagian mereka bercukur rambut dan sebahagian lagi
bergunting. nabi mengatakan bahwa mimpi beliau itu akan terjadi nanti. Kemudian berita
Ini tersiar di kalangan kaum muslim, orang-orang munafik, orang-orang Yahudi dan
Nasrani. setelah terjadi perdamaian Hudaibiyah dan kaum muslimin waktu itu tidak
sampai memasuki Mekah Maka orang-orang munafik memperolok-olokkan nabi dan
menyatakan bahwa mimpi nabi yang dikatakan beliau pasti akan terjadi itu adalah bohong
belaka. Maka turunlah ayat Ini yang menyatakan bahwa mimpi nabi itu pasti akan menjadi
kenyataan di tahun yang akan datang. dan sebelum itu dalam waktu yang dekat nabi akan
menaklukkan kota Khaibar. Andaikata pada tahun terjadinya perdamaian Hudaibiyah itu
kaum muslim memasuki kota Mekah, Maka dikhawatirkan keselamatan orang-orang yang
menyembunyikan imannya yang berada dalam kota Mekah waktu itu.


---oo0oo---

Sumber: tarbiyahklatenutara.blogspot.com












Aqidah
KEWAJIBAN KITA TERHADAP RASUL
(WAJIBATUL MUSLIM NAHWAR RASUL)





1. Muhammad Rasulullah.

Penjelasan:
• Muhammad saw adalah Nabi dan Rasul terakhir yang dijadikan sebagai Nabi dan Rasul
penutup. Beliau sebagai model terbaik dan melengkapi Nabi dan Rasul sebelumnya.
Risalah yang dibawanya sangatlah sesuai dengan keadaan saat ini dan diperuntukkan bagi
semua manusia.
• Berbagai kelebihan dan keutamaan pada diri Nabi sangatlah banyak, sehingga kita perlu
menyimpulkan bahwa beliaulah yang paling sesuai untuk diikuti. Kemudian
bagaimanakah kewajiban kita kepadanya ?

Dalil:
• Q.33:40, Muhammad saw sebagai Nabi penutup.
• Q.34:28, diperuntukkan kepada semua manusia.

Aqidah
2. Membenarkan apa yang dikabarkannya.

Penjelasan:
Nabi Muhammad saw adalah Rasul yang membawa kebenaran. Setiap yang
disampaikannya adalah benar dan berasal dari Allah swt. Beliau mengajak kita untuk
beriman dan taat kepada Allah dan Rasul-Nya. Usaha pertama sebelum kita beriman, kita
harus menerima dan membenarkan apa yang akan kita yakini. Selama kita tidak menerima
maka selama itu kita tidak dapat membenarkan risalah Nabi dan juga tidak akan kita
beriman kepadaNya. Orang yang membenarkan risalah-Nya adalah orang yang bertaqwa.

Dalil:
• Hadits.
• Q.39:33, orang yang membawa kebenaran (Muhammad saw) dan orang-orang yang
membenarkannya adalah mereka itu orang yang taqwa.

( Ayat sama dengan di atas)

3. Mentaati semua perintahnya.

Penjelasan:
Orang yang beriman adalah tentara yang siap dan sedia mendapat arahan dan perintah dari
atasan. Atasan kita adalah Allah swt dan Nabi saw. Dialah yang berhak sebagai atasan kita
karena Dialah pencipta, pemberi rezki, pengatur dan pemilik kita. Sedangkan Nabi adalah
orang yang ditunjuk langsung oleh Allah sebagai pembimbing kita. Sikap kita yang
terbaik adalah dengar dan taat perintah-Nya. Karena setiap perintah itu adalah untuk
kebaikan kita juga.

Dalil:
• Q.24:51, sesungguhnya perkataan orang beriman apabila dipanggil kepada Allah dan
Rasul Nya, supaya dihukum antara mereka, bahwa mereka berkata: kami dengar dan kami
taat. Mereka itulah orang yang menang.

. ' ` .` . ` , . ´` - , · .` · ¸ .` ·` · · ·` .` .` . · . ¯
..` - ` ` .` · : · ' ` · ~ ' ` · . .

Sesungguhnya jawaban orang-orang mukmin, bila mereka dipanggil kepada Allah dan
Rasul-Nya agar Rasul menghukum (mengadili) di antara mereka[1045] ialah ucapan.
"Kami mendengar, dan kami patuh". dan mereka itulah orang-orang yang beruntung.

[1045] Maksudnya: di antara kaum muslimin dengan kaum muslimin dan antara kaum
muslimin dengan yang bukan muslimin.


Aqidah
• Q.5:7, kami dengar, kami taat dan takutlah kamu kepada Allah.

` · ` .` · · · ` . ´ . ` · · ·, · ` . ´` , · · · ` · ` ¯ ·
` ` . . ` ., · · . · . ` · ~ '

Dan ingatlah karunia Allah kepadamu dan perjanjian-Nya[405] yang telah diikat-Nya
dengan kamu, ketika kamu mengatakan: "Kami dengar dan kami taati". dan bertaqwalah
kepada Allah, sesungguhnya Allah mengetahui isi hati(mu).

[405] Perjanjian itu ialah: perjanjian akan mendengar dan mengikuti Nabi dalam segala
keadaan yang diikrarkan waktu baiat.

4. Menjauhi apa yang dilarangnya.

Penjelasan:
Muhammad saw sebagai Rasul yang mendapat mandat dari Allah swt untuk
menyampaikan wahyu-Nya, maka kita harus mengakui keberadaan beliau dan menjadikan
diri Nabi sebagai bagian di dalam kehidupan kita. Beliau berhak mengatur kehidupan kita
karena ini untuk kebaikan kita sendiri. Oleh karena itu, apabila beliau melarang sesuatu
maka ikuti larangan nya. Inilah jalan terbaik.

Dalil:
• Q.59:7, ….. apa-apa yang diberikan Rasul kepadamu, hendaklah kamu ambil dan apa-
apa yang dilarang-Nya, hendaklah kamu hentikan dan takutlah kepada Allah.

¸ ` . ..` · · . ¸` · ' ` ¸ · · .` ¸ · ` · . · ' ·
` . ´` · . , ·. ¸` , · ` · .. ´ . ` ¸ ¯ ¸, ¸` ¯ ¸ · ,
· ` . ¯ . · ` · ` - · ..` ` . ¯ ¯ · · . · . .` . ` · ` ·`
. · `

Apa saja harta rampasan (fa’i) yang diberikan Allah kepada Rasul-Nya (dari harta
benda) yang berasal dari penduduk kota-kota maka adalah untuk Allah, untuk Rasul,
kaum kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin dan orang-orang yang dalam
perjalanan, supaya harta itu jangan beredar di antara orang-orang kaya saja di antara
kamu. Apa yang diberikan Rasul kepadamu, maka terimalah dan apa yang dilarangnya

Aqidah
bagimu, maka tinggalkanlah. dan bertaqwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah amat
keras hukumannya.

5. Tidak beribadah kecuali dengan syari’atnya..

Penjelasan:
Mentaati Allah harus melalui ketaatan kepada Rasul. Yang ditaati adalah syari’at yang
dibawanya baik yang disampaikan di dalam Al-Qur’an ataupun Sunnah Nabi. Kita tidak
akan dapat beribadah kecuali mengikuti Rasul dan syari’atNya.

Dalil:
• Hadits.

“Tidak beriman di antara kamu sehingga hawa nafsunya tunduk kepada apa yang
kubawa” (HR Tirmidzi)

• Q.4:80, barang siapa mentaati Rasul, sesungguhnya ia telah mentaati Allah.

=, - ` . .` , · · ` ' · ¸ . ` ¸ · · - ~ ' ` · ..` · =` ` ¸ ·

Barang siapa yang mentaati Rasul itu, sesungguhnya ia telah mentaati Allah. dan barang
siapa yang berpaling (dari ketaatan itu), Maka kami tidak mengutusmu untuk menjadi
pemelihara bagi mereka[321].

[321] Rasul tidak bertanggung jawab terhadap perbuatan-perbuatan mereka dan tidak
menjamin agar mereka tidak berbuat kesalahan.

6. Kewajiban kita kepada Rasulullah SAW..

6.1. Mengimani.

Penjelasan:
• Kewajiban kita terhadap Nabi adalah mengimaninya. Dengan cara ini kita akan terhindar
dari api neraka dan azab yang pedih.

Dalil:
• Hadits.
• Q.61:10-11, suatu perniagaan yang akan melepaskan kita dari azab yang pedih adalah
beriman kepada Allah dan Rasul-Nya dan berjuang di jalan Allah dan Rasul-Nya.


Aqidah
., ' . · ` ¸ · ` . ´, -` ` · - ¸ · ` . ´ ` · ' ¸ · .` ·¯ ¸ . ` ' ,
` . ´ ` ' ` . ´ .` · ' · ¸, ¸ · .` · -` · .` · ..` ·` .`
` ` , - ` . ´ · ..` ` · ` .` ` ¯ . ` . ´

Hai orang-orang yang beriman, sukakah kamu Aku tunjukkan suatu perniagaan yang
dapat menyelamatkanmu dari azab yang pedih? (yaitu) kamu beriman kepada Allah dan
Rasul-Nya dan berjihad di jalan Allah dengan harta dan jiwamu. Itulah yang lebih baik
bagimu, jika kamu Mengetahui.

6.2. Mencintai.

Dalil:
• Hadits.

6.3. Mengagungkan.

Dalil:
• Q.48:7

, ´ - · ` · . ¯ ¸` . . ` ·.` ` - ·
Dan kepunyaan Allah-lah tentara langit dan bumi[1395]. Dan adalah Allah Maha
Perkasa lagi Maha Bijaksana.

[1395] yang dimaksud dengan tentara langit dan bumi ialah penolong yang dijadikan
Allah untuk orang-orang mukmin seperti malaikat-malaikat, binatang-binatang, angin
taufan dan sebagainya,

6.4. Membelanya.

Dalil:
• Q.9:40, 61:14

` · · ¸` , ¸ ` ¯ ¸ ` ·- ` - ' · ` · ` · . ` · ` ·` ` .` .
·` , · ` · , ´ ` · . ` ' · · · · . . ` - . · - . .. · · ¸ ·

Aqidah
·` ` . ·.` ` - ` · ' · · ¯ ¸ ` ` ¯ ¸ · ¯ ¸ · -
` ., ´ - ` · ` · , ` · ¸ ·

Jikalau kamu tidak menolongnya (Muhammad) maka sesungguhnya Allah telah
menolongnya (yaitu) ketika orang-orang kafir (musyrikin Makkah) mengeluarkannya
(dari Makkah) sedang dia salah seorang dari dua orang ketika keduanya berada dalam
gua, di waktu dia berkata kepada temannya: "Janganlah kamu berduka cita,
Sesungguhnya Allah beserta kita." Maka Allah menurunkan keterangan-Nya kepada
(Muhammad) dan membantunya dengan tentara yang kamu tidak melihatnya, dan Al-
Qur’an menjadikan orang-orang kafir Itulah yang rendah. dan kalimat Allah itulah yang
Tinggi. Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana[643].

[643] Maksudnya: orang-orang kafir telah sepakat hendak membunuh Nabi saw, maka
Allah swt memberitahukan maksud jahat orang-orang kafir itu kepada Nabi saw. Karena
itu maka beliau keluar dengan ditemani oleh Abu bakar dari Makkah dalam perjalanannya
ke Madinah beliau bersembunyi di suatu gua di bukit Tsur.

.` · ` ¸` ¸ , · . · ¯ · .` ' .` . ¯ .` ·¯ ¸ . ` '
` . ·¯ · · ` .` ' ` ¸` - .. ` . - . · · ¸ . .` ' ` ¸ · . -
` ' · · ~ ` . ¯ ¸, ` ¸ ` ¸ · · ~ ` . · ` · ¸ · .` ·¯ ¸
¸ · ~ .` - ` . ' ·

Hai orang-orang yang beriman, jadilah kamu penolong (agama) Allah sebagaimana Isa
ibnu Maryam telah berkata kepada pengikut-pengikutnya yang setia: "Siapakah yang
akan menjadi penolong-penolongku (untuk menegakkan agama) Allah?" pengikut-
pengikut yang setia itu berkata: "Kamilah penolong-penolong agama Allah", lalu
segolongan dari Bani Israil beriman dan segolongan lain kafir; Maka kami berikan
kekuatan kepada orang-orang yang beriman terhadap musuh-musuh mereka, lalu mereka
menjadi orang-orang yang menang.

6.5. Mencintai para pencintanya.

Dalil:
• Q.48:29


Aqidah
` .` · ` .` . ` , . -` ´ ¸ · . ' ` · · · ¸ · ..` ` -`·
` ¸ · ` . . ·.` -` ¸ · ` .` · , .` . · ¸ · ·` . · ..` · ` -` · ¯`
· · ` . ¸ · ` .` . · · : · ·.` - ` ' - ` - ' -` ¯ ¸, -` . ¸ · ` .` . ·
` . . , · , - ` ` . -` ·` · ·.` ¸ · . . ` · ` · ` · ` · ¯ · ` · ' =
` - ' · ` · · ` .` .` · . - . . · .` ·¯ ¸ ` · · ´
, = ·

Muhammad itu adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama dengan dia adalah
keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka. Kamu lihat
mereka ruku' dan sujud mencari karunia Allah dan keridhaan-Nya, tanda-tanda mereka
tampak pada muka mereka dari bekas sujud[1406]. Demikianlah sifat-sifat mereka dalam
Taurat dan sifat-sifat mereka dalam Injil, yaitu seperti tanaman yang mengeluarkan
tunasnya Maka tunas itu menjadikan tanaman itu kuat lalu menjadi besarlah dia dan
tegak lurus di atas pokoknya; tanaman itu menyenangkan hati penanam-penanamnya
karena Allah hendak menjengkelkan hati orang-orang kafir (dengan kekuatan orang-
orang mukmin). Allah menjanjikan kepada orang-orang yang beriman dan mengerjakan
amal yang saleh di antara mereka ampunan dan pahala yang besar.

[1406] Maksudnya: pada air muka mereka kelihatan keimanan dan kesucian hati mereka.

6.6. Menghidupkan sunnahnya.

Dalil:
• Hadits.
• Q.3:130

` . ´ · · . · · .` · · ·` . ' . ¯ ' . .` ·¯ ¸ . ` '
..` - `

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu memakan riba dengan berlipat
ganda[228] dan bertaqwalah kamu kepada Allah supaya kamu mendapat keberuntungan.


Aqidah
[228] yang dimaksud riba di sini ialah riba nasi'ah. menurut sebagian besar ulama bahwa
riba nasi'ah itu selamanya Haram, walaupun tidak berlipat ganda. Riba itu ada dua macam:
nasiah dan fadhl. Riba nasiah ialah pembayaran lebih yang disyaratkan oleh orang yang
meminjamkan. riba fadhl ialah penukaran suatu barang dengan barang yang sejenis, tetapi
lebih banyak jumlahnya karena orang yang menukarkan mensyaratkan demikian, seperti
penukaran emas dengan emas, padi dengan padi, dan sebagainya. riba yang dimaksud
dalam ayat ini riba nasiah yang berlipat ganda yang umum terjadi dalam masyarakat Arab
zaman Jahiliyah.

6.7. Memperbanyak shalawat.

Dalil:
• Q.33:56

¸ . ` ' ¸ ¸ · .. .` `· ´ · · · . ·` , · . . .` ·¯
, ` .`

Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi[1229]. Hai
orang-orang yang beriman, bershalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam
penghormatan kepadanya[1230].

[1229] Bershalawat artinya: kalau dari Allah berarti memberi rahmat: dari malaikat berarti
memintakan ampunan dan kalau dari orang-orang mukmin berarti berdo’a supaya diberi
rahmat seperti dengan perkataan: Allahuma shalli ala Muhammad.
[1230] dengan mengucapkan perkataan seperti: Assalamu'alaika ayyuhan Nabi artinya:
semoga keselamatan tercurah kepadamu Hai Nabi.

6.8. Mengikutinya.

Dalil:
• Q.3:31

` · ` . ´ .` · ` . ´ ` ` · ` · ` . ´` ` -` ¸ .` · · · .. ` -` ` .` ` ¯ . ¸ ·
` ., - ` . ·

Katakanlah: "Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah
mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu." Allah Maha Pengampun lagi Maha
Penyayang.

Aqidah

6.9. Mewarisi risalahnya.

Dalil:
• Q.48:28

· ¯ ¸ ¸ · ` · . =` , , - ¸ · . ` . ` · .` ¸ ` ' . .` ·
, . · ¸ ¯

Dia-lah yang mengutus Rasul-Nya dengan membawa petunjuk dan agama yang hak agar
dimenangkan-Nya terhadap semua agama. dan cukuplah Allah sebagai saksi.

Itulah kewajiban yang dapat dilakukan terhadap para rasul, khususnya Rasulullah saw. dan
spesifikasi ajaran yang dibawa beliau. Sebagai bukti konsekuensi ikrar syahadah kepada
Rasulullah saw.. Kita berupaya semaksimal mungkin untuk dapat melaksanakannya.
Semoga Allah memberikan kemudahan.


---oo0oo---

Sumber: tarbiyahklatenutara.blogspot.com






















Aqidah
KEKHUSUSAN RISALAH NABI MUHAMMAD SAW
(KHASHAIS RISALAH NABI MUHAMMAD SAW)


Risalah yang dibawa Nabi Muhammad saw. mempunyai ciri-ciri yang khusus
dibandingkan dengan para rasul sebelumnya. Ciri-ciri khusus itu adalah sebagai nabi
penutup, penghapus risalah sebelumnya, membenarkan nabi sebelumnya,
menyempurnakan risalah nabi sebelumnya, diperuntukkan untuk seluruh manusia, dan
sebagai rahmat bagi semesta alam. Ciri-ciri ini dimiliki oleh Nabi Muhammad saw. dan
tidak dimiliki oleh para rasul sebelumnya.
Rasulullah SAW tampil sebagai pembawa risalah Islam yang mencakupi huda (petunjuk)
dan dienul haq (agama yang benar). Selain itu hadirnya Rasulullah saw. di tengah umat
akhir zaman adalah sebagai saksi, pembawa berita gembira dan peringatan, menyeru ke
jalan Allah, dan sebagai pelita yang menerangi.
Khatamul Anbiya (Penutup Para Nabi)
Allah swt. telah mengutus nabi dan rasul pada setiap kaum. Namun yang disebutkan di
dalam Al-Qur’an hanya sebanyak 25 orang. Perhatikan Al-Qur’an surat Al-Mu’min: 78,
An-Nisa’: 163-164, dan Al-An’am: 84-86. Sedangkan penutup bagi semua rasul dan nabi
itu adalah Nabi Muhammad saw.
Dan sesungguhnya telah Kami utus beberapa orang rasul sebelum kamu, di antara
mereka ada yang Kami ceritakan kepadamu dan di antara mereka ada (pula) yang tidak
Kami ceritakan kepadamu. Tidak dapat bagi seorang rasul membawa suatu mukjizat,

Aqidah
melainkan dengan seizin Allah; Maka apabila telah datang perintah Allah, diputuskan
(semua perkara) dengan adil. Dan ketika itu rugilah orang-orang yang berpegang kepada
yang batil. (Al-Mu’min: 78)
Sesungguhnya Kami telah memberikan wahyu kepadamu sebagaimana Kami telah
memberikan wahyu kepada Nuh dan nabi-nabi yang kemudiannya, dan Kami telah
memberikan wahyu (pula) kepada Ibrahim, Isma’il, Ishaq, Ya’qub dan anak cucunya, Isa,
Ayyub, Yunus, Harun, dan Sulaiman. Dan Kami berikan Zabur kepada Daud.
Dan (Kami telah mengutus) rasul-rasul yang sungguh telah Kami kisahkan tentang
mereka kepadamu dahulu, dan rasul-rasul yang tidak Kami kisahkan tentang mereka
kepadamu. Dan Allah telah berbicara kepada Musa dengan langsung. (An-Nisa’: 163-
164)
Muhammad itu bukan bapak salah seorang lelaki di antara kamu, tetapi dia adalah Rasul
Allah dan penutup nabi-nabi. Dan adalah Allah Maha Mengetahui segala sesuatu. (Al-
Ahzab: 40)
Dan Kami telah menganugerahkan Ishak dan Yaqub kepadanya. Kepada keduanya
masing-masing telah kami beri petunjuk; dan kepada Nuh sebelum itu (juga) telah kami
beri petunjuk, dan kepada sebagian dari keturunannya (Nuh), yaitu Daud, Sulaiman,
Ayyub, Yusuf, Musa, dan Harun. Demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-
orang yang berbuat baik.
Dan Zakaria, Yahya, Isa, dan Ilyas; semuanya termasuk orang-orang yang shalih.
Dan Ismail, Alyasa’, Yunus, dan Luth; masing-masing kami lebihkan derajatnya di atas
umat (di masanya). (Al-An’am: 84-86)
· ~' ··. . .· . :· ¸ ¸' .- ¸ · = .. .· ·
¸ ` . ` · .` .` · ` . · = ` ` · ·` .' · ` . ”
Diriwayatkan oleh Imam Ahmad, dari Anas bin Malik r.a., Rasulullah bersabda,
“Sesungguhnnya risalah dan kenabian sudah terputus, maka tidak ada rasul dan nabi
setelah aku.”
Nasikhur Risalah (Penghapus Risalah)
Risalah nabi-nabi terdahulu hanya untuk kaum tertentu saja, sehingga hanya sesuai untuk
kaum tersebut. Selain itu risalah terdahulu mengikuti keadaan dan situasi serta keperluan
semasa waktu itu sehingga hanya sesuai pada saat tersebut saja.

Aqidah
Sementara, risalah Nabi Muhammad saw. adalah untuk umat manusia dan berlaku hingga
hari kiamat.
Dan kami tidak mengutus kamu, melainkan kepada umat manusia seluruhnya sebagai
pembawa berita gembira dan sebagai pemberi peringatan, tetapi kebanyakan manusia
tiada mengetahui. (Saba’: 28)
Allah swt. juga menegaskan bahwa Nabi Muhammad saw. adalah penutup para nabi.
Sehingga tidak ada nabi setelahnya.
Muhammad itu bukan bapak salah seorang lelaki di antara kamu, tetapi dia adalah Rasul
Allah dan penutup nabi-nabi. Dan adalah Allah Maha Mengetahui segala sesuatu. (Al-
Ahzab: 40)
Sebagai penutup para nabi, maka risalah yang dibawa Nabi Muhamamd saw. menjadi
penghapus risalah para rasul sebelumnya. Hal ini pernah ditegaskan oleh Nabi Muhammad
saw. saat Umar bin Khattab membaca Taurat. Beliau berkata kepada Umar bahwa jika
Nabi Musa a.s. ada di antara mereka, pasti Nabi Musa akan mengikuti risalah yang dibawa
Nabi Muhammad saw.
Mushaddiqul Anbiya (Membenarkan Para Nabi).
Risalah yang dibawa Nabi Muhammad saw. melengkapi risalah yang dibawa para rasul
sebelumnya dan sekaligus memansukhkan risalah sebelumnya. Risalah Nabi Muhammad
saw. sesuai dan dapat digunakan oleh semua manusia dan dapat diamalkan hingga hari
kiamat.
Dan kami tidak mengutus kamu, melainkan kepada umat manusia seluruhnya sebagai
pembawa berita gembira dan sebagai pemberi peringatan, tetapi kebanyakan manusia
tiada Mengetahui. (Saba’: 28)
Nabi Isa a.s. sebagai nabi setelah Nabi Musa, membenarkan kenabian Nabi Musa. Bahkan,
Nabi Isa a.s. mengabarkan kepada umatnya akan datang seorang rasul setelahnya yang
bernama Ahmad (Nabi Muhammad saw.).
Dan (ingatlah) ketika Isa Ibnu Maryam berkata, “Hai Bani Israil, sesungguhnya aku
adalah utusan Allah kepadamu, membenarkan kitab sebelumku, yaitu Taurat, dan
memberi kabar gembira dengan (datangnya) seorang rasul yang akan datang sesudahku,
yang namanya Ahmad (Muhammad).” Maka tatkala rasul itu datang kepada mereka
dengan membawa bukti-bukti yang nyata, mereka berkata, “Ini adalah sihir yang nyata.”
(Ash-Shaff: 6)
Meski kedatangan Nabi Muhammad saw. sudah dikabarkan oleh para nabi dan rasul
sebelumnya, tetap saja ada usaha untuk mendustakannya. Banyak tantangan dan usaha
yang dicoba untuk menghapuskan agama Allah, namun demikian Allah swt. senantiasa

Aqidah
menjaga dan memeliharanya dari serangan kaum kafir. Di antaranya dengan
memenangkan Islam atas agama lainnya atau dengan menurunkan para Rasul dan Nabi
untuk kembali meluruskan penyimpangan dan kejahiliyahan umat. Nabi Muhammad saw.
sebagai nabi akhir melengkapi risalah nabi-nabi sebelumnya dan dijadikan sebagai rujukan
utama bagi umat Islam.
Mereka hendak memadamkan cahaya (agama) Allah dengan mulut (ucapan-ucapan)
mereka, dan Allah tetap menyempurnakan cahaya-Nya meskipun orang-orang kafir benci.
Dialah yang mengutus Rasul-Nya dengan membawa petunjuk dan agama yang benar agar
Dia memenangkannya di atas segala agama-agama meskipun orang-orang musyrik benci.
(Ash-Shaff: 8-9)
Mukammilur Risalah (Penyempurna Risalah)
Selain membenarkan para rasul dan nabi sebelumnya yang membawa risalah Islam,
kehadiran Nabi Muhammad saw. juga diperuntukkan guna menyempurnakan risalah
sebelumnya. Risalah sebelumnya cenderung diperuntukkan bagi suatu kaum tertentu saja
dan untuk saat tertentu. Berbeda dengan Nabi Muhammad saw. yang diutus untuk semua
manusia dan berlaku hingga kiamat.
.· ·' = .. ¸· .· .· .- . · “ ` ¸ · ·
. . ` - ' . ¯ ' · · ¸ ¸` - ¸ · ¯ . , ` ' ¸ · · . · · .` . ·
.· .` , = · . - · ` ¸ · .´ · · ' · · · · · .` . · . . ` - ' ·
` · ·` · · . ` . ., · . , ` ' ¸ . ` - · ` · .` . · “
Diriwayatkan oleh Imam Bukhari, Muslim, dan Tirmidzi dari Rasulullah saw., Beliau
bersabda, “Perumpamaan aku dan para nabi yang lain seperti seorang laki-laki yang
membangun rumah, ia sempurnakan dan memperindahnya kecuali satu sisi dari
bangunan itu, maka setiap orang yang masuk ke dalamnya setelah ia melihatnya ia
berkata: alangkah indahnya rumah ini kecuali sisi ini, maka aku menyempurnakan sisi itu
, dengan itu aku penutup para nabi.”
Kaafatan Lin Naas (Untuk Seluruh Manusia)
Rasul Muhammad saw. berbeda dengan para rasul dan nabi sebelumnya, dimana Nabi
Muhammad saw. diutus bagi kepentingan umat manusia secara keseluruhan dengan tidak
membedakan suku, bangsa, warna kulit, bahasa, dan sebagainya. Sehingga dapat dilihat

Aqidah
perkembangan Islam pada masa ini di mana kaum muslimin tersebar di seluruh pelosok
dunia.
Dan Kami tidak mengutus engkau, melainkan kepada umat manusia seluruhnya sebagai
pembawa berita gembira dan sebagai pemberi peringatan, tetapi kebanyakan manusia
tiada mengetahui. (Saba’: 28)
Rahmatan Lil Alamin (Rahmat Bagi Alam Semesta)
Dan tiadalah kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam.
(Al-Anbiya’: 107)
Kehadiran Nabi Muhammad saw. di muka bumi ini adalah sebagai rahmat bagi seluruh
alam yang tidak saja manusia, tetapi juga alam, hewan, pohon, dan sebagainya. Manusia,
dengan kehadiran Nabi Muhammad, mendapatkan rahmat dan kebaikan. Begitu juga
manusia kafir dan jahiliyah, mendapatkan rahmat dari kedatangan Islam. Dengan
demikian Islam dan Nabi Muhammad tidak hanya untuk umat Islam, tetapi kebaikannya
juga dirasakan oleh manusia lainnya. Islam adalah membawa agama fitrah yang sesuai
dengan penciptaan manusia. Jadi, ketika Islam disampaikan, akan dirasakan sesuai oleh
manusia.
Alam, hewan, dan tumbuhan pun dilindungi dan dipelihara dengan kedatangan Islam.
Umat Islam sebagai khalifah di muka bumi melaksanakan pemeliharaan dan penjagaan
alam. Dengan demikian kestabilan terwujud, dan alam serta isinya menjadi damai.
Risalatul Islam
Risalah Nabi Muhammad saw. adalah risalah Islam, yang dibawanya adalah sesuatu yang
benar. Hal ini tercermin dari akhlak, kepribadian, dan sifat-sifat Nabi yang mulia.
Inti dari risalah Nabi Muhammad saw. adalah huda (petunjuk) dan dienul haq (agama
yang benar). Risalah membawa huda karena Islam itu sendiri sebagai panduan bagi
manusia.
Dialah yang mengutus Rasul-Nya dengan membawa petunjuk dan agama yang hak
(benar) dan agar dimenangkan-Nya terhadap semua agama. Dan cukuplah Allah sebagai
saksi. (Al-Fath: 28)
Ad-Dakwah
Rasul menggunakan Islam sebagai petunjuk dan juga Allah menangkan Islam sebagai
dienul haq atas agama-agama lainnya. Usaha ini tidak akan tercapai apabila tidak
dilaksanakan dakwah.

Aqidah
Rasul dalam menjalankan dakwahnya mempunyai peranan sebagai saksi atas umatnya,
memberi penyampaian nilai-nilai Islam yang bersifat kabar gembira ataupun kabar
peringatan.
Allah swt. sekali lagi menegaskan bahwa Rasul berdakwah dengan menyeru manusia agar
kembali kepada Allah dan kemudian Rasul sebagai pelita yang menerangi.
Peranan Nabi yang digambarkan di dalam surat Al-Ahzab ayat 45-46 adalah sebagai dai.
Nabi berdakwah dengan mengajak manusia dan bersifat sebagai pelita yang senantiasa
dijadikan rujukan bagi manusia.
Hai Nabi, sesungguhnya Kami mengutusmu untuk menjadi, dan pembawa kabar gembira
dan pemberi peringatan, dan untuk jadi penyeru kepada agama Allah dengan izin-Nya
dan untuk jadi cahaya yang menerangi. (Al-Ahzab: 45-46)
Nabi Muhammad saw. telah berhasil menegakkan Islam dengan dakwahnya selama 23
tahun. Kini risalah yang diajarkannya telah menyingkirkan kegelapan jahiliyah yang
membelenggu dunia, dan menempatkan kita ke dalam cahaya hidayah yang terang
benderang. Dengan begitu kita tahu mana jalan yang menyesatkan dan mana jalan yang
benar menuju pintu keridhaan Allah swt.

---oo0oo---

Sumber: dakwatuna.com





















Aqidah
KEUMUMAN RISALAH NABI MUHAMMAD SAW


Risalah Muhammad untuk seluruh manusia [ ··¯ ¸ · ]

Risalah Muhammad tidak hanya untuk umat tertentu, suku tertentu, bangsa tertentu, tetapi
untuk seluruh manusia yang hidup dimuka bumi. Hal ini dijelaskan oleh Allah azza
wajalla:

¸ · · ¯ . · ` ' · ..` ` · . ¸ · ¯ ' ¸ ´

Dan kami tidak mengutus kamu, melainkan kepada umat manusia seluruhnya sebagai
pembawa berita gembira dan sebagai pemberi peringatan, tetapi kebanyakan manusia
tiada Mengetahui. [QS. Saba, 34: 28]

Sebagai sebuah risalah yang diperuntukkan bagi seluruh umat manusia, maka risalah
Muhammad saw memiliki karakteristik kemanusiaan [insaniyah]. Karakter insaniyah yang
ditunjukkan oleh risalah ini adalah prinsip persamaan antar sesama manusia. Menurut
pandangan Islam, manusia tidak dibedakan oleh warna kulit, suku, bahasa, dan atau
perbedaan-perbedaan lainnya. Sebagaimana firman-Nya:

¸ · .` ·` ` . ¯ · - ¸ ·` ' ¯ · ` ¸ · ` . ¯ - ` ¸ . ` '
` - ` ., · · . ` . ¯ ` ' · ` · ` . ´ · ¯ ' . . · ·

Hai manusia, Sesungguhnya kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang
perempuan dan menjadikan kamu berbangsa - bangsa dan bersuku-suku supaya kamu
saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi
Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha
mengetahui lagi Maha Mengenal. [QS. Al-Hujurat, 49: 13]

Bentuk nyata dari prinsip persamaan ini adalah Islam mengikis habis diskriminasi ras
[rasialisme] dalam kehidupan, tidak ditemukan bangsa kulit putih lebih unggul ketimbang
kulit hitam, sehingga bangsa kulit putih harus menjadi tuan bagi bangsa kulit hitam, dan
bangsa kulit hitam menjadi budaknya. Islampun mengikis habis diskriminasi keturunan
[kasta-kasta] dalam kehidupan, tidak ada kasta atas atau kasta bawah, tidak ada keturunan
berdarah biru [ningrat] atau jelata. Islampun mengikis habis pembedaan berdasarkan status
ekonomi, pangkat, profesi, dan atau hal-hal lain yang melekat pada diri seseorang. Jadi,
tidak menjadi pembeda kekayaan dan kemiskinan, tidak menjadi pembeda jenderal dan
kopral, tidak menjadi pembeda pemerintah dan rakyat biasa, tidak menjadi pembeda

Aqidah
dokter dan petugas cleaning service. Seorang dokter adalah manusia, seorang petugas
cleaning service pun manusia. Seorang jenderal adalah manusia, seorang kopralpun
manusia. Seorang yang kaya adalah manusia, seorang yang miskinpun manusia. Pendek
kata, semua orang sama atas kemanusiaannya. Dan yang akan menjadi penentu prestasi
manusia di hadapan Allah adalah tingkat ketaqwaannya. Dan ketaqwaan merupakan
sesuatu yang setiap orang memiliki kesempatan yang sama untuk memperolehnya. Seperti
seorang ningrat berpeluang untuk menjadi orang bertaqwa sebagaimana peluang yang
sama juga dimiliki oleh orang biasa.

Bilal bin Rabbah tadinya adalah seorang budak yang berkulit hitam legam—merupakan
perawakan orang Habasyah [Etiopia]—kemudian menjadi orang yang mendapatkan posisi
berarti di hadapan Allah yang sampai-sampai terompahnya sudah terdengar di syurga
disaat Bilal masih mengembara di dunia.

Contoh lain bisa dilihat dari kisah Hablah bin Al-Aiham—seorang Amir Ghassan—
dengan seorang Arab Badui yang mengadukan kepada Umar Amiril Mukminin bagaimana
Hablah telah menamparnya tanpa alasan yang benar, maka Umar tidak dapat berbuat
apapun lagi kecuali menghadirkan Hablah dan menuntutnya supaya membolehkan bagi
orang Arab Badui itu agar dapat membalasnya [qishash], satu tamparan untuk satu
tamparan, kecuali dia mau memaafkan dan mengampuninya, namun Amir Ghassan itu
merasa keberatan untuk melakukan hal itu seraya mengatakan secara terus terang kepada
Umar:

“Bagaimana ia melaksanakan qishash pada diriku padahal saya adalah seorang raja dan
dia hanya seorang rakyat biasa?”

Lalu Umar mengatakan: “Sesungguhnya Islam telah menyamakan antara kamu berdua.”

Amir tersebut tidak menyadari nilai agung ini dan ia keluar kabur dari Madinah dengan
murtad [keluar] dari Islam yang mewajibkan persamaan antara seorang raja dan rakyat
jelata.

Selain tumbuh prinsip persamaan juga akan tumbuh pula prinsip persaudaraan.
Persaudaraan antara sesama manusia apapun suku, bangsa, kedudukan sosial, strata
ekonomi yang diikat oleh tali aqidah, sebagaimana firman Allah swt:

..` -` ` ` . ´ · · . ` . ´` .- ' ¸` , .` - ` . ' · · .` - ..` ·` .`

Orang-orang beriman itu Sesungguhnya bersaudara. sebab itu damaikanlah (perbaikilah
hubungan) antara kedua saudaramu itu dan takutlah terhadap Allah, supaya kamu
mendapat rahmat. [QS. Al-Hujurat, 49: 10]

Aqidah

.' -' .'

Orang muslim yang satu merupakan saudara dari muslim yang lain

Persaudaraan yang menjadi penyebab beberapa orang kafir memeluk Islam. Persaudaraan
yang membuat iri para Malaikat. Persaudaraan yang membuat kuat setelah kelemahan.
Persaudaraan yang membuat potret masyarakat Islam berbeda, khas.

Risalah Muhammad merupakan risalah terakhir [ ·- · ]

Risalah Muhammad saw merupakan risalah terakhir, tidak akan datang risalah setelahnya.
Kalau pun ada yang mencoba mendatangkannya—tentu buatan manusia—tidak akan
sanggup menandingi terangnya Islam, ibarat cahaya bulan di siang hari, tak akan sanggup
menunjukkan cahayanya, dia akan tenggelam oleh terangnya sinar matahari. Sehingga,
yang datang kemudian baik yang mengatasnamakan agama atau bukan, yang lama
maupun yang baru, yang lokal maupun yang global, didukung dengan teknologi ataupun
tidak, tidak akan menggantikan Risalah Muhammad saw.
Lihat saja yang mutakhir, ilmu pengetahuan, akan dan telah dijadikan agama oleh
sebagian manusia di dunia. Padahal ilmu pengetahuan tidak akan bisa menggantikan
agama sampai kapanpun, seperti yang dikatakan oleh Dr. Yusuf Qardhawi:
Ilmu pengetahuan sama sekali bukanlah alternative pengganti agama dan keimanan,
karena ruang lingkup ilmu pengetahuan bukan ruang lingkup agama. Yang saya maksud
dengan “Ilmu Pengetahuan” di sini adalah ilmu pengetahuan menurut versi Barat yang
terbatas, bukan menurut persepsi Islam yang konfrehensif—yang mencakup ilmu
pengetahuan tentang objek fisik partikel alam dan ilmu pengetahuan tentang hakekat
eksistensi kehidupan yang besar—yaitu ilmu pengetahuan yang mencakup ilmu dunia dan
ilmu agama, bukan sekedar ilmu pengetahuan tentang materi dan karakter partikelnya saja,
melainkan ilmu pengetahuan yang berkaitan dengan alam, kehidupan, manusia dan
Penciptanya Yang Maha Suci.


Ilmu pengetahuan dengan persepsi Barat tidak pantas menjadi pengganti agama, karena
fungsi ilmu pengetahuan ini adalah memudahkan fasilitas hidup bagi manusia, bukan
untuk menginterpretasikan [menafsirkan] kepada manusia rahasia kehidupan.
Oleh karena itu kita melihat negeri-negeri kontemporer yang paling besar kemajuannya
dalam ilmu pengetahuan dan pencapaian teknologinya, justru warganya banyak
mengeluhkan kekosongan rohani, stress kejiwaan, kekalutan pikiran, dan perasaan minder,
perasaan sengsara. Dan kita saksikan para generasi mudanya terjerumus dalam berbagai
kontroversi ekstrimitas pemikiran dan perilaku, dengan berontak kepada mekanisme
kehidupa dan materialisme peradaban, meskipun mereka tidak sampai menemukan
petunjuk konsep kehidupan yang benar dan jalan hidup yang lurus.

Aqidah
Sebagai risalah terakhir, risalah Muhammad saw memiliki karakteristik kesempurnaan
[takamuliyah] sebagaimana yang Allah tegaskan dalam firman-Nya:

` . ´ ` ., . ¸ ` · ` . ´` , · ` .` ` ' `. ´ · ` . ´ ` . ¯ ' ·` . ,
· ··` .

...pada hari Ini Telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan Telah Ku-cukupkan
kepadamu nikmat-Ku, dan Telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu... [QS. Al-
Maidah, 5: 3]

Kesempurnaan menjamin bahwa Risalah Muhammad saw akan bisa menjawab dan
bahkan mengantisipasi permasalahan dan perkembangan kehidupan manusia hingga akhir
zaman. Dengan kesempurnaannya, Risalah Muhammad saw dapat menjawab permasalah
dan perkembangan perekonomian khususnya perbankan, seperti dalam “FATAWA
QARDHAWI” ketika mengatasi masalah KEUNTUNGAN YANG DIPEROLEH DARI
BANK, jawabannya ada empat kemungkinan adalah:

1. Membiarkan uang itu untuk kepentingan si penyimpan, hal ini tidak mungkin, karena
sudah jelas uang itu haram.
2. Uang tersebut dibakar atau dibuang, akan tetapi dilarang karena bukan miliknya dan
bersifat mubazir.
3. Uang tersebut dibiarkan di bank yang mempraktekkan riba atau bank non-Islam, ini
juga akan memperkuat bank tersebut.
4. Mengambil uang tersebut dari bank untuk diinfakkan di bidang-bidang social atau
diamalkan untuk kepentigan kaum Muslimin umumnya.

Bagian keempat inilah satu-satunya jalan keluar dengan dasar pemikiran yang sehat, dapat
diterima oleh akal yang sehat, tidak menyimpang dari jiwa agama yang sehat pula.
Dan solusi menyeluruh dari permasalahan ini adalah sudah adanya bank-bank yang
menerapkan system bagi hasil [syari’ah].

Kesempurnaan Risalah Muhammad saw diperkuat oleh masih authenticnya sumber utama
risalah ini, yaitu al-Quran dan as-Sunnah yang telah sempurna pula turunnya, tidak ada
yang belum turun dan tidak yang disembunyikan. Keduanya ini telah selamat dari tangan-
tangan jahil yang akan merubahnya, dengan masih terdapat—dari masa ke masa—ulama-
ulama ahli dalam bidang keduanya, sehingga deteksi atas kesalahan-kesalahan sampai
kekeliruan dapat dilakukan dengan akurat.
Kedua sumber utama Risalah Muhammad saw telah memuat hal-hal pokok tentang
bagaimana menyelesaikan dan mengantisipasi masalah manusia, yang telah memberikan
prinsip-prinsip yang tetap tidak berubah [tsawabith] sampai akhir zaman, untuk dijadikan
rujukan dan pijakan atas sesuatu yang berubah [mutaghayyirat], yaitu menyangkut
metodelogi dan sarana-sarananya.

Aqidah
Risalah Rahmatan lil ‘alamin [ '· ·~ · ]

Nabi Muhammad diturunkan sebagai rahmat untuk seluruh alam, sebagaimana firman
Allah swt:

` ' · · · ` - . ·

Dan tiadalah kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam.
[QS. Al-Anbiya, 21: 107]

Sehingga risalahnya adalah risalah yang membawa rahmat bagi seru sekalian alam.
Sebagai sebuah risalah rahmat, maka Islam memiliki karakter wasathiyah [pertengahan]
atau yang lebih dikenal tawazun [seimbang]. Wasathiyah atau tawazun itu adalah karakter
Islam yang pertengahan dan seimbang antara dua kutub yang berlawanan dan
bertentangan, yang salah satunya tidak berpengaruh sendirian sementara kutub lawannya
dibuang, dan yang salah satu dari kedua kutub itu tidak diambil lebih dari yang semestinya
[haknya] dan melanggar serta menzhalimi kutub lawannya.
Karakter Islam itu juga tidak tasyadud [ketat, menyusahkan] dan tidak tasahul [longgar,
menggampangkan]. Kalau Islam bersifat tasyadud akan hilang rasanya sebagai rahmat,
karena orang yang melaksanakan Islam akan memiliki kesulitan, padahal Rasulullah
sebagai pembawanya memerintahkan untuk mempermudah jangan mempersulit. Dan
tasahul juga akan membuat rasa dari rahmat juga hilang, karena aturan Islam menjadi
tidak jelas batasannya. Hidup tanpa aturan akan membuat hidup carut marut. Lalu, seperti
apa rasanya hidup yang carut marut, akan banyak orang yang terzhalimi, karena
hakekatnya tanpa aturan akan mengambil hak orang lain.
Wasathiyah dalam ibadah dan praktek ritual

Wasathiyah dalam ibadah terlihat dalam firman Allah swt, yaitu:

·` · · ·` ` - ·` . ` ¸ · ·· . . ·.` · .` ·¯ ¸ . ` ' ¯ · ¸ ` .
..` ` · ` .` ` ¯ . ` . ´ ` ` , - ` . ´ · ·` , ` · · , ·· . . , . · · , ·
` . ´ · · ¯ · ` ¯ · · ¸`. · ` ¸ · .` · ` ¸` . ¸ · ` ` ·
..` - `

Hai orang-orang beriman, apabila diseru untuk menunaikan shalat Jum'at, Maka
bersegeralah kamu kepada mengingat Allah dan tinggalkanlah jual beli[1475]. yang

Aqidah
demikian itu lebih baik bagimu jika kamu Mengetahui. Apabila Telah ditunaikan shalat,
Maka bertebaranlah kamu di muka bumi; dan carilah karunia Allah dan ingatlah Allah
banyak-banyak supaya kamu beruntung. [QS. Al-Jumuah, 62: 9-10]
Terlihat betul pertengahan dalam ibadah dan rahmatnya Islam pada ayat-ayat di atas ini.
Islam tidak mengharuskan umatnya untuk memutuskan sama sekali aspek duniawi [dalam
hal ini aktivitas jual beli] atas ibadah. Sebelum solat Jum’at, umat Islam melakukan
perdagangan. Setelah itu solat Jum’at. Setelah solat Jum’at, umat Islam melakukan
perdagangan kembali, dengan selalu berzikir kepada Allah, yang berarti kehidupan
berdangangnya pun tidak lepas dari aktivitas ibadah dan praktek ritual lainnya.

Wasathiyah dalam moral

Islam bersikap moderat antara kaum idealis ekstrim yang membayangkan manusia sebagai
malaikat atau menyerupai malaikat, maka mereka meletakkan untuknya nilai-nilai dan
adab susila yang tidak mungkin baginya untuk dapat melaksanakannya dan antara kaum
pragmatis [realis] ekstrim yang menyangka manusia adalah bagaikan hewan, maka mereka
menginginkan tata perilaku yang tidak pantas bagi manusia.
Manusia menurut pandangan Islam, tentu sebagaimana yang Allah sampaikan lewat
firman-Nya:

· . · ¸ , · . · .` - · . . ' · , · ¯ ` ¸ · - · ' ` · , ` ·
· · ` ¸ · . -

Dan jiwa serta penyempurnaannya (ciptaannya), Maka Allah mengilhamkan kepada jiwa
itu (jalan) kefasikan dan ketakwaannya, Sesungguhnya beruntunglah orang yang
mensucikan jiwa itu, Dan Sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya. [QS. Asy-
Syams: 7-10]

---oo0oo---

Sumber: dakwatuna.com











Aqidah
MAKNA MUHAMMAD SEBAGAI PENUTUP PARA NABI


Muqadimah

Ketika kita beriman kepada Nabi Muhammad SAW maka kita akan mengetahui bahwa
Risalah beliau SAW adalah risalah yang paling lengkap dan paling sempurna yang pernah
diturunkan oleh Sang Pencipta kepada hamba-NYA. Aqidah semua nabi adalah satu yakni
Tauhid, tetapi syariah mereka berbeda-beda, maka Muhammad SAW adalah Nabi
penutup, risalahnya adalah risalah yang terakhir dan syariatnya akan berlaku hingga akhir
zaman, tiada agama yang diridhoi disisi ALLAH SWT kecuali Islam dan tidak ada Nabi
yang membawa syariat lain setelah Muhammad SAW.

· , . - · ..` ` ¸ ´ ` .´ - ` ¸ · - ' ' ` -` · . ¯
, · .` ¸ ¸ ´ ` · . ¯

“Dan Muhammad SAW itu bukanlah bapak dari salah seorang lelaki diantara kalian, tetapi
ia adalah Rasul ALLAH dan Nabi yang terakhir dan adalah ALLAH Maha Mengetahui
terhadap segala sesuatu.” (Al-Ahzab, 33:40)

Imam At-Thabari saat menafsirkan ayat ini berkata: "Muhammad SAW itu bukanlah ayah
dari salah seorang lelaki diantara kalian (Zaid bin Haritsah ra, yaitu anak angkat Nabi
SAW) melainkan beliau adalah Nabi terakhir, maka tiada lagi Nabi setelah beliau SAW
sampai Hari Kiamat dan adalah ALLAH SWT terhadap segala perbuatan dan perkataan
kalian Maha Mengetahui. "

Imam Al-Qurthubi berkata ayat ini mengandung 3 hukum Fiqh : "Pertama, saat Nabi
SAW menikah dengan Zainab (mantan istri Zaid bin Haritsah ra) orang-orang munafik
berkata : Dia (Muhammad) menikahi mantan istri anaknya sendiri, maka ayat ini turun
untuk membantah hal tsb. Kedua, bahwa Muhammad SAW adalah Nabi terakhir tiada
Nabi sesudahnya yang membawa syariat baru. Ketiga, syariat beliau menyempurnakan
syariat sebelumnya sebagaimana sabdanya : Aku diutus untuk "menyempurnakan" akhlak
yang mulia, atau sabdanya yang lain : Perumpamaanku dengan nabi sebelumku seperti
perumpamaan seorang yang membuat bangunan yang amat indah, tinggal sebuah lubang
batu bata yang belum dipasang, maka akulah batu bata tsb dan akulah nabi yang terakhir. "

Berkata Sayyid Quthb rahimahuLLAH dalam tafsirnya : "Bahwa setelah menjelaskan
tentang bahwa beliau SAW bukanlah ayah dari Zaid bin Haritsah ra, sehingga halal beliau
SAW menikahi Zainab ra, ayat ini juga menggariskan tentang pemenuhan hukum syariat
yang masih tersisa yang harus diketahui dan disampaikan kepada ummat manusia, sebagai
realisasi dari penutup risalah langit untuk di bumi ini, tidak boleh ada pengurangan dan
tidak boleh ada perubahan, semuanya harus disampaikan."

Aqidah

Lebih lanjut beliau -rahimahuLLAH- menambahkan saat menafsirkan akhir ayat tsb (Dan
adalah ALLAH Maha Mengetahui atas segala sesuatu): "Sungguh DIA-lah yang paling
mengetahui apa yang paling baik dan paling tepat bagi para hamba-NYA, maka IA
memfardhukan kepada Nabi-NYA apa yang seharusnya dan memilihkan bagi beliau apa
yang terbaik... IA menetapkan hukum-NYA ini sesuai dengan pengetahuan-NYA yang
meliputi segala sesuatu dan ilmu-NYA tentang mana yang terbaik tentang hukum, aturan
dan undang-undang serta sesuai dengan kasih-sayang-NYA kepada semua hamba-NYA
beriman."

Demikianlah telah ijma' (konsensus) diantara para ulama bahwa Nabi Muhammad SAW
adalah nabi terakhir, sehingga jika ada orang yang datang setelah beliau SAW menyatakan
ada nabi setelah beliau SAW, maka perkataan tsb bathil dan tertolak berdasarkan ijma' dan
pelakunya harus bertobat kepada ALLAH SWT.

MUHAMMAD SAW SEBAGAI NABI TERAKHIR

Definisi Nabi terakhir mengandung unsur-unsur yang harus diimani yaitu:

1. (ِ ^َ -'َ ~ ;-ا ُ *ِ ~َ '-) Menghapus Risalah sebelumnya.

Risalah sebelumnya adalah semua kitab dan hukum yang pernah diturunkan oleh Allah
SWT kepada para nabi as dan dikabarkan oleh Allah SWT di dalam al-Qur’an maupun di
dalam as-Sunnah yang shahih yaitu :
1. Shuhuf (lembaran) yang diturunkan kepada Ibrahim as (QS 87/14-19, 53/36-42).
2. Shuhuf yang diturunkan kepada Musa as (QS 87/14-19, 53/36-42).
3. Taurat yang diturunkan kepada Musa as (QS 2/53, 3/3, 5/44, 6/91).
4. Zabur yang diturunkan kepada Daud as (QS 4/164, 18/55, 21/105).
5. Injil yang diturunkan kepada Isa as (QS 3/3, 5/46).

Bahwa semua kitab-kitab tersebut hukumnya telah di-nasakh (dihapuskan) oleh al-Qur’an,
kecuali beberapa hukum dan kisahnya dan semua yang belum di-nasakh tersebut
disebutkan secara jelas dalam al-Qur’an ataupun al-hadits

2. (ِ ء'َ -ِ -ْ-َ Vْا ُ ق -َ ~ُ -) Membenarkan Para Nabi Sebelumnya. (QS 2/101)

Membenarkan para nabi sebelumnya, maksudnya bahwa Islam melalui kitabnya yaitu Al-
Qur'an membenarkan keberadaan para Nabi as yang ada sebelum Nabi Muhammad SAW,
meyakini bahwa Allah SWT menurunkan kitab-kitab kepada para Nabi tersebut, kitapun
membenarkan seluruh berita yang ada dalam semua Kitab-kitab tersebut adalah dari Allah

Aqidah
SWT, selain yang telah diselewengkan dan diubah oleh para ahli kitab, serta mengerjakan
semua hukumnya kalau ada yang belum di-nasakh (dihapuskan) oleh al-Qur’an (QS 2/97,
5/48).

3. (ِ ^َ -'َ ~ ;-ا ُ J -َ -ُ -) Penyempurna Risalah Sebelumnya. (QS 5/3)

Bahwa Islam adalah agama terakhir, maka nabinyapun adalah nabi penutup, sehingga
kitabnya yaitu Al-Qur'an ini diturunkan oleh Allah SWT untuk menyempurnakan semua
risalah sebelumnya, oleh karena semua risalah sebelum Nabi Muhammad SAW tersebut
telah mengalami perubahan & penyimpangan dari masa ke masa yang dilakukan oleh
generasi setelahnya, berbagai penyimpangan itu diantaranya :
1) Mengubah arti dari lafazh (kata-kata) yang ada (QS 3/75,181,182; 4/160,161; 5/64).
2) Mengubah atau menambah baik kata, kisah maupun hukum (QS 2/79; 3/79,80; 5/116-
117).
3) Menyembunyikan dan menghilangkan berita-berita tentang Nabi Muhammad SAW dan
kebenaran lainnya (QS 2/89,90,109,146; 3/71-72; 61/6).

4. (ِ س' --ِ - ٌ^ -َ 'آ) Berlaku untuk Semua Manusia. (QS 34/28)

Perbedaan syariat Nabi Muhammad SAW dibandingkan para nabi sebelumnya adalah
bahwa syariat beliau SAW adalah berlaku untuk seluruh ummat manusia sampai akhir
zaman. Hal ini berbeda dengan syariat para nabi as yang lainnya yang hanya terbatas
untuk ummatnya saja.

Hal ini mengandung 2 pelajaran bagi kita, yaitu: 1) Mengetahui hikmah Allah SWT dalam
penetapan hukum bagi setiap ummat, sehingga Allah SWT selalu menetapkan hukum
yang sesuai bagi setiap ummat. 2) Oleh sebab itu maka hal ini meyakinkan kita bahwa
Islam merupakan syari’at yang paling sempurna, paling lengkap dan paling baik karena
merupakan penutup dan penyempurna dari risalah semua nabi dan Rasul.

5. (َ .ْ-ِ َ --َ '·ْ-ِ - ٌ^َ -ْ=َ ر) Menjadi Rahmat bagi Seluruh Alam. (QS 21/107)

Hal lain yang juga memperkuat kebenaran risalah yang dibawa oleh Muhammad SAW
adalah dampak dari dakwahnya. Dakwahnya yang telah dapat mengubah sebuah
peradaban yang terbelakang, buta aksara dan kejam menjadi memimpin dan menguasai
peradaban dunia serta mengisinya dengan gabungan antara ketinggian ilmu pengetahuan
dan akhlaq yang belum dapat ditandingi oleh peradaban modern saat ini sekalipun.
Diantara hasil karya besar Nabi SAW sebagai rahmat bagi alam semesta ini adalah sbb;

1. Memusnahkan segala jenis syirik baik yang besar (menyembah berhala, sihir, ramal,

Aqidah
dan sebagainya) maupun kecil (sumpah bukan dengan nama Allah, riya’, dan sebagainya)
dan menggantinya dengan keimanan yang total kepada Allah SWT.
2. Memusnahkan segala adat tradisi jahiliyyah yang menyimpang, seperti membuka aurat,
ber-khalwat dengan lawan jenis, campur baur lelaki dan wanita (ikhtilath), dan sebagainya
dan menggantinya dengan akhlaq yang mulia dan tuntunan moral yang luhur.
3. Menegakkan sebuah sistem kehidupan yang seluruhnya berdiri diatas tauhid, baik
ekonomi, politik, sosial, kemasyarakatan, seni, olahraga, dan lain lain.
4. Melakukan sebuah revolusi total terhadap hati sanubari, pemikiran, peraturan hidup
ummat manusia.
5. Mempersatukan semua ras, semua suku, semua golongan manusia dibawah sebuah
sistem yang berlandaskan tauhid, berhukumkan al-Qur’an dan as-Sunnah dan
bertujuankan kebaikan dunia dan akhirat

Kesemuanya ini semoga dapat membangunkan kita dari kelalaian kepada Allah SWT dan
maksiat kepada-Nya, karena menyadari betapa besar nikmat-Nya kepada kita dan betapa
berat pengorbanan dari para pembawa risalah ini dan menyadari bahwa tugas kitalah untuk
meneruskannya.

X. Referensi
1. Manhaj Tarbiyah Alami
2. Fi Zhilalil Qur’an, Sayyid Quthb
3. Ar-Rasul, Said Hawwa

---oo0oo---

Sumber: tarbiyahklatenutara.blogspot.com
















Aqidah
BUAH DAN MANFAAT MENGIKUTI RASULULLAH SAW
(NATAIJU ITTIBA’ RASUL SAW)

Salah satu rukun iman yang harus diyakini oleh setiap muslim adalah iman kepada para
rasul, terutama Rasulullah saw. Bukti utama beriman kepada Rasulullah saw. adalah ittiba’
(mengikuti Rasulullah saw.). Orang-orang yang melakukan ittiba’ kepada Rasulullah saw.
akan meraih banyak nata-ij[1] (manfaat dan buah positif), di antaranya: mahabbatullah
(cinta dari Allah), rahmatullah (kasih sayang-Nya), hidayatullah (petunjuk dari-Nya),
mushahabatul akhyar fil jannah (bersama orang-orang pilihan di surga), asy-syafa’ah
(mendapatkan syafaat dari Rasulullah saw.), nadharatul wajhi (muka yang bersinar dan
berseri di surga), mujawaratu ar-rasul (menjadi tetangga Rasulullah saw. di surga),
‘izzatun-nafsi (meperoleh kemuliaan jiwa di dunia dan akhirat), al-falah (kemenangan dan
keberuntungan). Semua itu jelas merupakan as-sa’adah (kebahagiaan) hakiki di dunia
maupun di akhirat.
Pada pembahasan-pembahasan sebelumnya telah ditegaskan bahwa beriman kepada para
rasul – alihimus salam – adalah salah satu rukun iman dari rangkaian kesatuan 6 rukun
iman. Mengingkari salah satu rukun iman berarti mengingkari semuanya, begitu pula
dengan iman kepada rasul.
Ittiba’ adalah bukti keimanan
Bukti keimanan kepada Rasulullah saw. yang paling utama adalah mengikuti beliau dalam
segala sisi kehidupannya, selalu mentaati beliau dalam setiap perintah dan larangan yang
beliau sampaikan. Sebab, mengikuti dan mentaati Rasulullah saw. adalah bukti ketaatan
kita kepada Allah swt., dan mengikuti sunnah Rasulullah saw. adalah bukti kongkret
mengikuti Al-Qur’an.
“Barangsiapa yang mentaati Rasul itu, sesungguhnya ia telah mentaati Allah. Dan
barangsiapa yang berpaling (dari ketaatan itu), maka Kami tidak mengutusmu untuk
menjadi pemelihara bagi mereka.” (An-Nisa: 80)
Barangsiapa mengaku mentaati Allah swt. namun tidak mau ittiba’ Rasulullah saw., maka
ketaatannya itu tidak sah menurut Al-Qur’an; dan Rasulullah saw. berlepas diri dari orang
tersebut. Dan siapapun yang mengaku melaksanakan Al-Qur’an namun tidak ittiba’
dengan sunnah Rasulullah saw., maka pengakuannya hanyalah pengakuan palsu belaka.
Sebagai contoh, untuk dapat melaksanakan shalat dengan sempurna kita memerlukan
hadits Rasulullah saw. karena Al-Qur’an hanya memerintahkan kita mendirikan shalat
tanpa menjelaskan rincian tata cara shalat. Bahwa shalat diawali dengan takbiratul ihram
dan diakhiri dengan salam merupakan penjelasan yang kita temukan dalam hadits
Rasulullah saw., tidak dalam Al-Qur’an. Begitu pula dengan rincian pelaksanaan zakat,
shaum (puasa), haji, dan ibadah-ibadah lain. Intinya, fungsi hadits Rasulullah saw. adalah

Aqidah
menjelaskan ayat-ayat Al-Qur’an atau dengan bahasa lain kita tidak akan bisa
mengamalkan Al-Qur’an tanpa mengikuti sunnah Rasulullah saw.
“Dan Kami turunkan kepadamu Al-Qur’an agar kamu menerangkan pada umat manusia
apa yang telah diturunkan kepada mereka dan supaya mereka memikirkan.” (An-Nahl:
44)
Salah seorang ulama besar, Fudhail bin ‘Iyadh, ketika menjelaskan makna “Ahsanu
‘amala” dalam surat Al-Mulk ayat 2 berkata,
· · ` ¸ ` - ' · ` ·` .` . ' ` ·` . ` - ' . . · · ` . . - . ¯ · ¸ · . , ·
¸` - . ¸ ` ` . . - ` ¸ ´ ` . .. . ¯ · . ¸ ` ` . . . ` ¸ ´
. · .` . ´ . ' ` ¸ - . . . . - .` . ´ .` . ´ . ' ` . .` .
·` ' ¸ · .
“Yang dimaksud dengan ahsanu’ amala (amal yang terbaik) adalah yang paling ikhlas
dan paling benar. Karena sebuah amal jika dilakukan dengan ikhlas tapi tidak benar,
maka amal itu tidak diterima oleh Allah. Begitu pula sebaliknya, jika amal itu benar tapi
tidak ikhlas, juga ditolak oleh Allah swt. Baru diterima jika memenuhi kedua syarat
tersebut (ikhlas dan benar). Yang dimaksud dengan ikhlas adalah semata karena Allah,
sedangkan yang dimaksud dengan benar adalah mengikuti sunnah Rasulullah.” (Dikutip
oleh Ibnu Taimiyah dalam Majmu’ Fatawa vol 18/hlm 250).
. · ¸ .` · ¸ ' ` ¸ · · . ·` , · ` · ¸ . · ..` . · ,, · ¸ · ·
` ¸ ` , · ¸` , - ` .` ' . · ·` . · ¸ ' ¸` - ¸ · ¯ ` · ¸ · · · ¸ · ·
' · . -` -` · .` ` · ` ` ' ¸` ¸ · .` - ` · ' · · ~ ` ·` · ~
` .` . - ` - · ` ¸` , - ` .` . -` . · · ~ ` ·` ¯ ` . - · ` . . . · , ... ·
.- ..
Dari Abu Musa r.a. berkata, Rasulullah saw telah bersabda, “Perumpamaanku dan
perumpamaan risalah yang diberikan Allah kepadaku seperti seorang laki-laki yang

Aqidah
mendatangi suatu kaum lalu ia berkata, ‘Aku telah melihat pasukan tentara dengan kedua
mataku, kuperingatkan kalian dengan sungguh-sungguh! Segeralah cari selamat (dari
keganasan mereka)!’ Lalu sebagian mereka mentaatinya sehingga mereka segera
menghindar dari pasukan kejam itu hingga selamat, sedangkan yang lain
mendustakannya hingga pasukan itu menemui mereka dan meluluhlantakkan mereka.”
(Bukhari)
Kita dapat merasakan dari hadits shahih di atas betapa Rasulullah saw. amat ingin
menyelamatkan kita dari bencana dunia dan akhirat dengan syariat dan dakwah yang ia
bawa, karena syariat Islam adalah penyelamat bagi kita dari kehinaan dunia dan
penderitaan di akhirat.
Buah Ittiba’
Berikut ini adalah buah ittiba’ kepada Rasulullah saw.:
1. Mahabbatullah
Natijah (buah) dari ittiba’ kita kepada Rasulullah saw. jika kita lakukan dengan benar
adalah mahabbatullah (cinta dari Allah swt) sekaligus maghfirah (ampunan)Nya.
Katakanlah (hai Muhammad), “Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku,
niscaya Allah mencintaimu dan mengampuni dosa-dosamu.” (Ali Imran: 31)
Cinta kepada Allah swt. yang dibuktikan dengan ittiba’ kepada Rasulullah saw. akan
melahirkan buah manis berupa cinta Allah swt. Allah swt. memerintahkan kita mengikuti
Rasulullah saw., dan setiap perintah Allah swt. apabila kita laksanakan dengan ikhlas dan
benar pasti akan mendatangkan cinta dari-Nya. Ketika Allah telah mencintai hamba-Nya,
maka segala kekurangan dan dosa yang terjadi akan mudah diampuni oleh Allah swt.
2. Rahmatullah
Orang-orang yang mentaati Rasulullah saw. dengan mengikuti sunnah beliau akan
memperolah rahmat dari Allah swt. Karena orang-orang yang mencontoh Rasulullah saw.
pastilah orang-orang yang berbuat baik atau ihsan (ingat makna ahsanu ‘amala menurut
Fudhail bin ‘Iyadh di atas), dan orang-orang yang berbuat ihsan amat dekat dengan rahmat
Allah swt.
“Dan orang-orang yang beriman, lelaki dan perempuan, sebahagian mereka (adalah)
menjadi penolong bagi sebahagian yang lain, mereka menyuruh (mengerjakan) yang
ma’ruf, mencegah dari yang munkar, mendirikan shalat, menunaikan zakat dan mereka
taat pada Allah dan Rasul-Nya. Mereka itu akan diberi rahmat oleh Allah; sesungguhnya
Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (At-Taubah: 71)

Aqidah
“Sesungguhnya rahmat Allah amat dekat kepada orang-orang yang berbuat baik.” (Al-
A’raf: 56).
3. Hidayatullah
· ` ¸ ` ` ¸ ` ·` ` · ` . ¯ ` ¸ · . ·` · ·` ¸ ´ . ·` ¸ · ¸ ´ .
: · ` · : · ` , · ¸ ` ·` ` · ` . ¯ ` ¸ · .. ` ·
Rasulullah saw. bersabda, “Sesungguhnya setiap amal itu mempunyai puncak semangat,
dan setiap semangat memiliki titik jemu (lesu). Maka barangsiapa kelesuannya tetap
dalam sunnahku berarti ia telah mendapat petunjuk (dari Allah), dan barangsiapa
kelesuannya tidak dalam sunnahku berarti ia celaka. (HR. Ibnu Khuzaimah dalam
Shahihnya, Ahmad dalam Musnadnya, Al-Baihaqi dalam Syu’abul Iman, At-Thabarani
dan Abu Nu’aim).
Hadits di atas menegaskan bahwa tetap berada dalam sunnah Rasulullah saw. dalam
segala keadaan akan mendatangkan tambahan petunjuk dari Allah swt. Oleh karenanya,
orang-orang yang beriman selalu berusaha mengikuti sunnah Rasulullah saw. ketika
sedang bersemangat atau sedang lesu (kurang semangat). Ia tidak membiarkan dirinya
hanyut dan terbawa bisikan setan sehingga membuatnya jauh dari hidayah Allah swt.
4. Mushahabatul Akhyar fil Jannah
“Dan barangsiapa yang mentaati Allah dan Rasul(Nya), mereka itu akan bersama-sama
dengan orang-orang yang dianugerahi nikmat oleh Allah, yaitu nabi-nabi, para
shiddiiqiin, orang-orang yang mati syahid, dan orang-orang saleh. Dan mereka Itulah
teman yang sebaik-baiknya.” (An-Nisa: 69).
Orang yang ittiba’ kepada Rasulullah saw. akan dikumpulkan bersama orang-orang
pilihan di surga nanti, yaitu para nabi, orang-orang yang shiddiq, syuhada, dan shalihin.
As-Syafaah
·,· = ¸. = .. .· . · » . ` ` · ` - . · ` ¸ · ·
“ · , . ` -` · .¯ · · ·` . ·` ·` · .` ·` · · ` . ` .` .

Aqidah
` · ` · . ·.` ` - · · · ` · · ·` · , . ” ·` . ¸ · ` · ` . - .
· , · « , .- · ..
Rasulullah saw. bersabda, “Barangsiapa berdoa ketika mendengar panggilan adzan: ‘Ya
Allah Rabb seruan yang sempurna ini, dan shalat yang ditegakkan, berikanlah kepada
Nabi Muhammad wasilah dan keutamaan, bangkitkan dia dengan kedudukan mulia yang
telah Engkau janjikan kepadanya’, maka akan mendapat syafaatku di hari kiamat.”
(Bukhari).
Hadits di atas menunjukkan keutamaan doa setelah adzan. Ia juga mengisyaratkan bahwa
mengikuti perintah dan arahan Rasulullah saw. adalah sesuatu yang membuat kita berhak
mendapatkan syafaat dari beliau. Logikanya, jika mentaati satu perintah Rasulullah saw.
saja yakni membaca doa setelah adzan, akan membuat pembacanya berhak mendapatkan
syafaat beliau, apalagi dengan mengikuti dan mentaati sunnah beliau secara keseluruhan,
maka orang itu lebih berhak untuk mendapatkan syafaat beliau.
5. Nadharatul Wajhi
Salah satu bentuk ittiba’ Rasulullah saw. adalah mendengarkan, mempelajari, menghafal,
dan memahami hadits Rasulullah saw., kemudian menyampaikannya kepada orang lain.
Orang yang mempelajari hadits Rasulullah saw., menghafal kemudian menyampaikannya
apa adanya tanpa menambah atau mengurangi, maka Allah akan membuat wajahnya
berseri dan bersinar.
· · ¸ · - ` .` · ` · ` , · ` · · ` ¸` - ` ·= - · · - ` · · ' ` · ` · ` .
·, ¸` , · · ¸ · - ` .` ` ·` · ` · · ' .` · ` ¸ · ¸
Rasulullah saw. bersabda, “Semoga Allah menyinari (wajah) seseorang yang mendengar
hadits dari kami, lalu ia hafal sehingga ia menyampaikannya kepada orang lain. Boleh
jadi seorang pembawa fiqih menyampaikan (ilmunya) kepada orang yang lebih paham.
Dan boleh jadi pembawa fiqih bukanlah seorang yang faqih.” (Tirmidzi).
Hadits di atas mendorong kita untuk selalu bersemangat mempelajari, memahami, dan
menghapal hadits Rasulullah saw, kemudian menyampaikan teks hadits itu apa adanya
dengan penuh amanah tanpa menambah atau mengurangi sedikitpun. Jika kita itu kita
lakukan kita berhak mendapatkan wajah yang bersinar di hari kiamat nanti. Hadits di atas
juga menyatakan bahwa mungkin saja orang yang disampaikan kepadanya suatu ilmu
kemudian ia lebih paham daripada yang menyampaikan. Atau bahkan bisa jadi yang

Aqidah
menyampaikan sebuah riwayat tidak memahami riwayat tersebut, sedangkan yang
disampaikan justru memahaminya dengan baik.
6. Mujawaratur Rasul
Orang yang mencintai Rasulullah saw., maka ia akan berusaha sekuat tenaga untuk ittiba’
kepada Rasulullah saw. dengan mengikuti sunnah beliau. Maka orang ini akan bersama
Rasulullah saw di surga, seperti sabda beliau:
·` - ¸ · ¸ · · . ¯ ¸ ` - ' ` ¸ · ¸ ` - ' ` · ¸ ` ` ,` - ' ` ¸ ·
“Barangsiapa menghidupkan sunnahku, berarti ia mencintaiku; dan barangsiapa
mencintaiku, maka ia bersamaku di surga.” (Tirmidzi dan Thabarani di Al-Mu’jam Al-
Awsath).
7. Izzatun Nafsi
Orang yang mengikuti Rasulullah saw. dengan ikhlas semata-mata karena mencintai Allah
dan Rasul-Nya, akan meraih kemuliaan dan kekuatan jiwa dihadapan Allah swt. Betapa
tidak? Ia telah mendapatkan kecintaan, ampunan, rahmat, hidayah, dan berbagai anugrah
lain dari Allah swt. Dengan itu semua terangkatlah dirinya menuju tempat yang tinggi dan
mulia, ia tidak lagi peduli dengan kemuliaan di mata manusia selama ia mulia di sisi
Allah.
Ingatlah, kemuliaan itu terletak pada mengikuti Allah Al-‘Aziz (yang memiliki Izzah atau
keperkasaan) dan mengikuti Rasul-Nya. “Padahal ‘izzah itu hanyalah bagi Allah, bagi
Rasul-Nya dan bagi orang-orang mukmin, tetapi orang-orang munafik itu tiada
mengetahui.” (Al-Munafiqun: 8).
8. Al-Falah
“Maka orang-orang yang beriman kepadanya (Muhammad saw), memuliakannya,
menolongnya, dan mengikuti cahaya yang terang yang diturunkan kepadanya (Al-
Qur’an), mereka itulah orang-orang yang beruntung.” (Al-A’raf: 157)
Keberuntungan pasti akan diperoleh oleh mereka yang selalu ittiba’ kepada Rasulullah
saw. dengan beriman kepadanya, memuliakannya, menolong (ajaran)nya, dan selalu
mengikuti cahaya Al-Qur’an.



Aqidah
9. Kebahagiaan hakiki di dunia dan akhirat
Tak dapat diragukan lagi bahwa orang yang mendapatkan semua nataij dari mengikuti
Rasulullah saw. di atas adalah orang-orang yang pasti berbahagia hidupnya dengan
kebahagiaan hakiki di dunia maupun di akhirat.
“Barangsiapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam
keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik
dan sesungguhnya akan Kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik
dari apa yang telah mereka kerjakan.” (An-Nahl: 97)
Kalau sudah begitu, siapa yang gak mau. Makanya, buruan deh ittiba’ kepada Rasulullah
saw.!

Catatan Kaki:
[1] Kata Nata-ij adalah bentuk jamak (plural) dari natijah yang artinya hasil (buah) dari
sebuah proses yang diusahakan.
---oo0oo---

Sumber: dakwatuna.com











Aqidah
HIKMAH DIUTUSNYA PARA RASUL

Mengapa Allah SWT mengutus para rasul alaihimus salam? Apa hikmah diutusnya para
Rasul tersebut? Jawabannya adalah sebagai berikut:
1. Allah swt mengutus para rasul as untuk mengenalkan manusia tentang Rabb dan
Pencipta mereka serta mendakwahkan mereka untuk beribadah hanya kepada-Nya.
' . · . ` · ' ·` , ¸ -.` . ..` ` ¸ · : ` · ` ¸ · ` ' ·
.` ` ` · ·
Dan Kami tidak mengutus seorang rasul pun sebelum kamu melainkan Kami wahyukan
kepadanya: “Bahwasanya tidak ada Tuhan (yang hak) melainkan Aku, maka sembahlah
olehmu sekalian akan Aku”. (Al-anbiya (21): 25).
2. Kita mengetahui bahwa semua bagian tubuh kita telah diciptakan untuk tujuan dan
manfaat tertentu (memiliki hikmah). Mata kita diciptakan dengan tujuan dan tidak
diciptakan sia-sia, demikian pula hidung kita, telinga kita, bahkan bagian tubuh paling
kecil pun diciptakan dengan manfaat tertentu dan tidak ada yang sia-sia. Maka tidak dapat
diragukan lagi bahwa Kita secara keseluruhan pasti telah diciptakan untuk sebuah hikmah
(tujuan) yang jelas dan tidak mungkin diciptakan sia-sia.
..` · -` ` . ` , ` . ´ ' · · ` . ¯ - ' ` .` ` - · ' , ` : ` · ¸ · ·
< ´ ¸` · ` . .` · . · . ` , -
Maka apakah kamu mengira, bahwa sesungguhnya Kami menciptakan kamu secara main-
main (saja), dan bahwa kamu tidak akan dikembalikan kepada Kami? Maka Maha Tinggi
Allah, Raja yang sebenarnya; tidak ada Tuhan selain Dia, Tuhan (yang mempunyai) ‘arsy
yang mulia. (Al-Mu’minun [23]: 115-116).
Namun Kita tidak mungkin mengetahui hikmah tersebut kecuali dengan pengajaran Allah
swt melalui para rasul alaihimussalam.
Penduduk bumi hari ini, 100 tahun yang lalu berada di alam ghaib kemudian lahir ke
dunia, dan setelah maksimal 100 tahun lagi pasti mereka meninggalkan dunia ini. Manusia
tidak akan pernah tahu mengapa ia datang ke dunia atau mengapa ia keluar setelah datang
kecuali dengan informasi dari Allah yang telah menciptakannya setelah sebelumnya ia

Aqidah
tidak ada sama sekali. Kemudian ia datang ke dunia dalam keadaan hidup kemudian
dimatikan untuk keluar dari dunia. Allah swt mengutus para rasul as untuk mengajarkan
kepada kita permasalahan ini dan ia adalah perkara yang paling krusial dan terpenting
yang tidak dapat kita ketahui tanpa mereka.
Allah swt Rabb yang telah menciptakan kita, Dia lebih mengetahui tentang apa saja yang
dapat memperbaiki diri dan keadaan kita, apa saja yang menyucikan jiwa kita,
membersihkan akhlaq kita dan Dia telah memberi petunjuk kepada kita melalui para rasul
as tentang semua hal yang mengandung hakikat kebahagiaan dunia dan akhirat. Allah swt
berfirman:
` . ´` ·` ` . ´, ¯ ` ¯ ` . ´` , · . ` ` . ´` · ..` ` . ´, · ` ' ¯
..` ` · .` . ´ ` . · ` . ´` ·` · ´ - . ´
Sebagaimana (Kami Telah menyempurnakan nikmat Kami kepadamu) Kami telah
mengutus kepadamu Rasul di antara kamu yang membacakan ayat-ayat Kami kepada
kamu dan mensucikan kamu dan mengajarkan kepadamu Al Kitab dan Al-Hikmah, serta
mengajarkan kepada kamu apa yang belum kamu ketahui. (Al-Baqarah [2]: 151).
3. Allah swt mengutus para rasul untuk menyelamatkan manusia dari perselisihan tentang
prinsip-prinsip hidup mereka dan menunjuki mereka kepada kebenaran yang diinginkan
Sang Pencipta. Dia berfirman:
· ` - . ` · ·, · . ` - . ` .` . ¸ , ` . . ´ :` , · ` ' ·
..` ·` .` ·` .
Dan Kami tidak menurunkan kepadamu Al-Kitab (Al Quran) ini, melainkan agar kamu
dapat menjelaskan kepada mereka apa yang mereka perselisihkan itu dan menjadi
petunjuk dan rahmat bagi kaum yang beriman. (An-Nahl [16]: 64).
4. Allah swt mengutus para rasul as untuk iqamatuddin (menegakkan agama-Nya),
menjaganya (dari pemalsuan dan upaya penyimpangan), untuk melarang manusia
berpecah belah (berbeda) tentangnya, dan agar manusia berhukum dengan hukum yang
diturunkan-Nya. Allah swt berfirman:

Aqidah
` , . · :` , ` , -` ' . -.` · ¸ . · ¸ ¸ · ` . ´ -
¸ · ` ¯ ·, · . · . ¸ .` , · ' . ' ¸ , · ¸ .` · ., · ` ·
¸ ` - ` · ·` , ` .` ·.` ·` · ¯ ` ` ` ¸ · ·` , . ` . . ` ¸ · ·` ,
` ., `
Dia telah mensyariatkan bagi kamu tentang agama apa yang telah diwasiatkan-Nya
kepada Nuh dan apa yang telah Kami wahyukan kepadamu dan apa yang telah Kami
wasiatkan kepada Ibrahim, Musa dan Isa yaitu: Tegakkanlah agama dan janganlah kamu
berpecah belah tentangnya. Amat berat bagi orang-orang musyrik agama yang kamu seru
mereka kepadanya. Allah menarik kepada agama itu orang yang dikehendaki-Nya dan
memberi petunjuk kepada (agama)-Nya orang yang kembali (kepada-Nya). (Asy-Syura
[42]: 13).
` ¸ ´ . ` · · ' ¸ ¸` , .´` - , - . ´ :` , ` '
, . - -
Sesungguhnya Kami telah menurunkan Kitab kepadamu dengan membawa kebenaran,
supaya kamu mengadili antara manusia dengan apa yang telah Allah wahyukan
kepadamu, dan janganlah kamu menjadi penantang (orang yang tidak bersalah), karena
(membela) orang-orang yang khianat. (An-Nisa [4]: 105).
5. Allah swt mengutus para rasul as untuk memberi kabar gembira kepada orang-orang
yang beriman tentang janji-janji kebaikan berupa nikmat abadi sebagai balasan ketaatan
mereka; memperingatkan orang-orang kafir dengan akibat buruk kekafiran mereka, juga
untuk membatalkan alasan kekafiran mereka di akhirat karena rasul telah menyampaikan
kebenaran kepada mereka (sehingga tidak ada alasan bagi mereka untuk tidak tahu
kebenaran). Dia berfirman:
¸` ` ` · · -` - · ¸ · ¸ .. ´ · · ¸ ` ` · ¸ ` · ·` `
, ´ - · ` · . ¯

Aqidah
(Mereka Kami utus) selaku rasul-rasul pembawa berita gembira dan pemberi peringatan
agar supaya tidak ada alasan bagi manusia membantah Allah sesudah diutusnya rasul-
rasul itu. dan adalah Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. (An-Nisa [4]: 165).
6. Para rasul as diutus untuk memberikan uswah hasanah (keteladanan yang baik) bagi
manusia dalam perilaku yang lurus, akhlaq yang utama, ibadah yang shahih dan istiqamah
di atas petunjuk Allah swt. Firman Allah swt:
·` . , · .` -` . ¯ ` ¸ · - · .` ' · ..` ¸ · ` . ´ . ¯ `
· ¯ · ¯ · -.
Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu)
bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak
menyebut Allah. (Al-Ahzab [33]: 21).
Semua arahan dan petunjuk Ilahiyah yang mulia ini sekali lagi tidak mungkin dipahami
dan dijangkau oleh manusia dengan semata menggunakan akal mereka yang sangat
terbatas dan lemah. Mereka hanya dapat mempelajarinya melalui wahyu Allah swt kepada
para rasul-Nya.
Fakta dan bukti-bukti kebenaran risalah para Rasul
Tanya: Apa saja adillah (bukti-bukti) yang dibekali Allah untuk para rasul-Nya agar
mereka tidak didustakan oleh manusia?
Jawab: Bukti-bukti ini oleh Al-Quran dinamakan ayat artinya fakta, indikator dan bukti-
bukti yang membenarkan ucapan dan pengakuan para rasul as, adalah mukjizat.
Tanya: Apakah mukjizat itu sebenarnya?
Jawab:
· -` ·` , ·` ` . · , ·. . . . ¸ · · ¸ · ` ` -` · . ` ` · .
·` . ¸ · ¸` , ` · .` , ` , ¸ ` ` · ¸ ¸ · = ·` ` -` . · · . ,` .
· . · ` .` ` .

Aqidah
Mukjizat (bayyinah, burhan, atau ayat) adalah sesuatu yang manusia tidak mampu
mendatangkannya yang diberikan Allah swt kepada nabi yang diutus untuk membuktikan
kebenaran kenabiannya dan ketetapan risalahnya.
Seolah-seolah seorang rasul berkata: “Wahai manusia, Allah telah mengutusku kepada
kalian dan telah memberikan untukku tanda-tanda kekuasaan-Nya sebagai bukti pembenar
ucapanku. Tanda-tanda atau bukti-bukti ini tidak akan mampu didatangkan kecuali oleh
Allah swt, tak ada seorang pun manusia yang mampu menandinginya sehingga kalian
tidak dapat menyangka bahwa aku berdusta atas nama Allah.”
Allah swt berfirman:
` ¸ ·. , . , . ´ ` .` . ·· ` ' . , ` ` ` ' `
¸ ` · · · ` ` ¸ ' ·, · - ` ' ` ` ¸ · ` · . ` · ,
` · ` . . · · . .` , · ` · ` ` ` ·` ` .`
Sesungguhnya Kami telah mengutus rasul-rasul Kami dengan membawa bukti-bukti yang
nyata dan telah Kami turunkan bersama mereka Al Kitab dan neraca (keadilan) supaya
manusia dapat melaksanakan keadilan. Dan Kami ciptakan besi yang padanya terdapat
kekuatan yang hebat dan berbagai manfaat bagi manusia, (supaya mereka
mempergunakan besi itu) dan supaya Allah mengetahui siapa yang menolong
(agama)Nya dan rasul-rasul-Nya padahal Allah tidak dilihatnya. Sesungguhnya Allah
Maha Kuat lagi Maha Perkasa. (Al-hadid (57): 25).
Tanya: Apa saja contoh-contoh mukjizat yang menjadi pendukung para rasul as?
Jawab: Di antara yang disebutkan Allah swt dalam Al-Quran adalah apa yang terjadi pada
Nabi Ibrahim as bersama kaumnya. Allah swt berfirman:
· · ` .` ` ¯ . ` . ´ . ¯ ` ` .` ` ·.· - . · , ·` ¸ . ¯ ` ·
., · ` ¸ · ··
Mereka berkata: “Bakarlah dia dan bantulah Tuhan-Tuhan kamu, jika kamu benar-benar
hendak bertindak”. Kami berfirman: “Hai api menjadi dinginlah, dan menjadi
keselamatanlah bagi Ibrahim.” (Al-Anbiya (21): 68-69).
Juga apa yang dikisahkan Allah kepada kita tentang kisah Nabi Musa as:

Aqidah
` -` ` - : ` , - ¸ · · ¸ -` · ' ¸ .¯ ·` ¸ · ..` ` , · ` ¸ · . .` ,
· ·` . · .` ¯ ` .` . · ·` . · .` . ·` ·
Dan masukkanlah tanganmu ke leher bajumu,[1] niscaya ia akan ke luar putih (bersinar)
bukan karena penyakit. (Kedua mukjizat ini) termasuk sembilan buah mukjizat (yang akan
dikemukakan) kepada Firaun dan kaumnya. Sesungguhnya mereka adalah kaum yang
fasik”. (An-Naml (27): 12).
Yang termasuk sembilan mukjizat tersebut di antaranya adalah bentuk-bentuk azab yang
terjadi atas Firaun dan kaumnya sebagai balasan kesombongan dan kekafiran mereka.
Allah swt berfirman:
.¯ · - · . ¸ · - . ·. = ` . .` , · ` ' ·
· ` -` · ·` . · .` ¯ ` ´ ` · .· .` ·
Maka Kami kirimkan kepada mereka taufan, belalang, kutu, katak dan darah[2] sebagai
bukti yang jelas, tetapi mereka tetap menyombongkan diri dan mereka adalah kaum yang
berdosa. (Al-A’raf (7): 133).
Contoh lain adalah yang Allah kisahkan kepada kita tentang mukjizat Nabi Isa as:
· : ¸ · :` , · ¸ ` · ` ¯ · .` · ¸` ¸ , · ` · . · ·
. ´ :` ` · · ·` . ¯ ` . ¸ · ¸ ` . ´` ¸` -` :` ` '
` , ` - · ¸, -` . · ` . · ´- ¸ · , ` , = · ·` , . ¯ = ¸ ·
· ¸ · , ¸ ` . · ¯. ` . ` ` ¸ · , ` , ~ .. ´ · ., · ` - ` ·
. , ` .` . · - · :` · ¸, ` ¸ ` . ¯ · ¸ · , ¸ ` . ` - ` -`
. · ` ` · ` ` - . · . ` .` .` · ` ¯ ¸

Aqidah
(Ingatlah), ketika Allah mengatakan: “Hai Isa putra Maryam, ingatlah nikmat-Ku
kepadamu dan kepada ibumu di waktu Aku menguatkan kamu dengan Ruhul Qudus. kamu
dapat berbicara dengan manusia di waktu masih dalam buaian dan sesudah dewasa; dan
(ingatlah) di waktu Aku mengajar kamu menulis, hikmah, Taurat dan Injil, dan (ingatlah
pula) di waktu kamu membentuk dari tanah (suatu bentuk) yang berupa burung dengan
izin-Ku, kemudian kamu meniup kepadanya, lalu bentuk itu menjadi burung (yang
sebenarnya) dengan seizin-Ku. dan (ingatlah) di waktu kamu menyembuhkan orang yang
buta sejak dalam kandungan ibu dan orang yang berpenyakit sopak dengan seizin-Ku,
dan (ingatlah) di waktu kamu mengeluarkan orang mati dari kubur (menjadi hidup)
dengan seizin-Ku, dan (ingatlah) di waktu Aku menghalangi Bani Israil (dari keinginan
mereka membunuh kamu) di kala kamu mengemukakan kepada mereka keterangan-
keterangan yang nyata, lalu orang-orang kafir di antara mereka berkata: “Ini tidak lain
melainkan sihir yang nyata”. (Al-Maidah (5): 110).
Karena terjadi tahrif (penyelewengan sengaja) yang dilakukan terhadap agama Nabi Isa
as, orang-orang awam menganggap mukjizat Isa as tersebut terjadi karena Isa adalah
Tuhan atau dia adalah anak Tuhan, Maha Suci Allah dari persangkaan mereka.
Kesimpulan
Allah swt mengutus para rasul as untuk mengenalkan kepada manusia tentang Allah –
Rabb mereka – dan agar manusia mengetahui tujuan penciptaan mereka yakni beribadah
kepada Allah, menyelamatkan mereka dari kecelakaan berupa perbedaan pendapat dalam
masalah prinsip kehidupan (aqidah), agar para rasul dan para penerusnya menegakkan
agama Allah dan berhukum dengan hukum Allah, juga untuk memberi kabar gembira
kepada orang-orang beriman dengan janji kenikmatan surga yang telah disiapkan untuk
mereka dan memperingatkan orang-orang kafir dari hukuman kekafiran mereka, agar hal
tersebut menjadi hujjah atas mereka, dan agar para rasul as menjadi suri teladan bagi
manusia.
Allah swt menguatkan para rasul-Nya dengan berbagai bukti yang oleh Al-Quran disebut
ayat atau bayyinat sedangkan manusia menyebutnya mukjizat, fungsinya sebagai saksi
kebenaran kenabian dan risalah mereka, bahwa mereka benar-benar penyampai dari Tuhan
mereka.
Kita sebagai mukmin yakin 100prosen bahwa para rasul adalah manusia pilihan yang
selamat dari segala bentuk kesalahan dan kekeliruan, bahwa mereka diutus untuk diikuti,
ditaati dan diteladani
Tidak ada cara dan metode yang benar untuk memahami syariat Allah kecuali melalui
Rasul
Tidak ada sistem, pedoman dan tuntunan hidup yang dapat menyelamatkan dan
membahagiakan manusia di dunia dan di akhirat kecuali ajaran yang disampaikan oleh
para Rasul Allah.

Aqidah

Catatan Kaki:
[1] Maksudnya: meletakkan tangan ke dada melalui leher baju.
[2] Maksudnya: air minum mereka beubah menjadi darah.

---oo0oo---

Sumber: dakwatuna.com

















Aqidah
BERIMAN KEPADA MALAIKAT

Siapakah Malaikat itu? Malaikat adalah makhluk (ciptaan Allah swt.) cahaya, tidak
makan, tidak minum, tidak tidur, dan tidak berjenis kelamin. Mereka adalah alam lain
yang berdiri sendiri dan berbeda fisik dan jasadnya.
Allah swt telah menciptakan malaikat dari cahaya. Ini berdasarkan sabda Rasulullah saw.,
` .` ` ¸ · · ´ · . ` - , .· · ..
“Malaikat telah diciptakan dari cahaya.” (Muslim).
Lantas apa tugas (pekerjaan) mereka? Mereka mengurus alam semesta ini sesuai iradah
dan masyi’ah (kehendak) Allah swt. Dia mendayagunakan malaikat untuk melaksanakan
perintah-Nya, dan mereka, para malaikat, tidak akan melakukan sesuatu kecuali dengan
perintah Allah swt. Allah swt. mengatakan dengan gamblang tentang hal ini.
Dan mereka berkata, “Tuhan yang Maha Pemurah telah mengambil (mempunyai) anak.”
Maha Suci Allah. Sebenarnya (malaikat-malaikat itu) adalah hamba-hamba yang
dimuliakan. Mereka itu tidak mendahului-Nya dengan perkataan dan mereka
mengerjakan perintah-perintahNya. (Al-Anbiya: 26-27)
Diantara amal mereka adalah bertasbih dan tunduk secara total dan sempurna kepada
Allah swt., turun membawa wahyu, dan mencatat semua amal. Allah swt. menerangkan
tentang hal ini kepada kita sebagai mana ayat berikut.
Padahal sesungguhnya bagi kamu ada (malaikat-malaikat) yang mengawasi
(pekerjaanmu), yang mulia (di sisi Allah) dan mencatat (pekerjaan-pekerjaanmu itu),
mereka mengetahui apa yang kamu kerjakan. (Al-Infithar: 10-12)
Ada juga malaikat yang bertugas mewafatkan dan mencabut nyawa.
Apakah beriman kepada malaikat adalah kewajiban bagi kita? Jawabnya tentu saja ya.
Allah swt. telah mengabarkan kepada kita tentang mereka dalam Kitab-Nya. Jadi, iman
kepada malaikat itu wajib dan menjadi salah satu rukun iman. Perhatikan firman Allah
swt. berikut ini.
Rasul telah beriman kepada Al-Quran yang diturunkan kepadanya dari Tuhannya,
demikian pula orang-orang yang beriman. Semuanya beriman kepada Allah, malaikat-
malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, dan rasul-rasul-Nya. (Mereka mengatakan), “Kami tidak
membeda-bedakan antara seseorangpun (dengan yang lain) dari rasul-rasul-Nya”, dan

Aqidah
mereka mengatakan, “Kami dengar dan kami taat.” (Mereka berdoa), “Ampunilah kami,
Ya Tuhan kami, dan kepada Engkaulah tempat kembali.” (Al-Baqarah: 285)
Ar-Razi dalam At-Tafsiirul Al-Kabiir juz 2 halaman 160 menulis tentang definisi malaikat
menurut Islam, nasrani, dan penyembah berhala. Menurut mayoritas ulama Islam,
malaikat adalah makhluk halus yang diciptakan dari cahaya dan mampu berubah-ubah
bentuk yang berbeda. Sedangkan menurut sekte nasrani, malaikat adalah roh yang telah
terpisah dari tubuhnya, dapat berbicara, dan memiliki sifat bersih dan baik. Lain lagi
menurut golongan penyembah berhala. Mereka berpendapat bahwa malaikat adalah
bintang yang bertugas memberi kebahagiaan atau kesengsaraan. Malaikat pemberi
kebahagiaan disebut malaikat rahmah, dan malaikat yang memberi kesengsaraan disebut
malaikat azab. Dengan demikian bintang, menurut mereka, adalah makhluk hidup yang
dapat berbicara.
Dalil Iman Kepada Malaikat
Sebagaimana telah kita pahami bahwa jalan menuju iman kepada malaikat adalah melalui
periwayatan yang shahih dari dalil-dalil Al-Qur’an dan sunnah. Akal dalam hal ini tidak
memiliki peran, kecuali tunduk kepada apa yang telah dijelaskan oleh wahyu, sedangkan
wahyu itu sendiri tidak bertentangan dengan akal.
Hukum Beriman Kepada Malaikat
Keberadaan malaikat diperkuat dengan dalil Al-Qur’an, Sunnah dan ijma, maka iman
kepada malaikat hukumnya wajib. Dan barangsiapa yang mengingkari keberadaan
mereka, maka ia telah kafir.
Berikut ini dalil Al-Qur’an dan Hadits bertalian dengan iman kepada malaikat.
Rasul telah beriman kepada Al-Quran yang diturunkan kepadanya dari Tuhannya,
demikian pula orang-orang yang beriman. Semuanya beriman kepada Allah, malaikat-
malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, dan rasul-rasul-Nya. (Mereka mengatakan), “Kami tidak
membeda-bedakan antara seseorangpun (dengan yang lain) dari rasul-rasul-Nya”, dan
mereka mengatakan, “Kami dengar dan kami taat.” (Mereka berdoa), “Ampunilah kami,
ya Tuhan kami, dan kepada Engkaulah tempat kembali.” (Al-Baqarah: 285)
Di Al-Qur’an juga terdapat surat yang diberi nama surat Malaikat, yaitu surat Faathir.
Sedangkan di antara hadits yang paling populer berkaitan dengan tema ini adalah Hadits
Jibril yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Imam Muslim dari Abu Hurairah r.a.
(teks lengkapnya bisa dilihat di hadits kedua Arbain Nawani).
Rasulullah saw. pada suatu hari bersama para sahabat, lalu seorang laki-laki datang
padanya kemudian berkata; “Ya Rasulullah, apakah iman itu?” Rasul menjawab, “Iman

Aqidah
adalah kamu beriman pada Allah, malaikat, kitabNya, bertemu denganNya, para Rasul,
dan beriman kepada hari kebangkitan.”
Jadi, jelaslah bahwa iman kepada malaikat adalah salah satu rukun akidah Islam. Tidak
akan diterima iman seorang muslim, tanpa mengimani rukun ini. Jika masih terlintas di
pikiran Anda sebuah pertanyaan, kenapa iman kepada malaikat menjadi salah satu rukun
iman? Pertanyaan Anda itu dijawab oleh Imam Muhammad Abduh dalam Tafsir Al-
Manar juz 2 halaman 110, “Bahwa iman kepada malaikat adalah pokok iman kepada
wahyu. Karena, malaikat penyampai wahyu adalah roh yang berakal yang memiliki ilmu
yang luas dengan izin Allah. Malaikat menyampaikan wahyu kepada roh Nabi sebagai
pokok agama. Karenanya, penyebutan iman kepada malaikat didahulukan atas penyebutan
iman kepada kitab dan para nabi. Sebab, merekalah yang datang kepada para nabi
membawa kitab. Jadi, mengingkari malaikat berarti mengingkari wahyu, kenabian, dan
ruh. Dan itu berarti mengingkari hari akhir. Orang yang mengingkari hari akhir tujuan
utama hidupnya adalah kenikmatan dunia, syahwat, dan segala tuntutannya. Hal ini adalah
sumber kesengsaraan di dunia sebelum di akhirat.”
Sifat-sifat Malaikat
Kita telah paham bahwa pengetahuan kita tentang malaikat hanyalah berdasar pada dalil
wahyu. Maka, wahyu juga yang menjelaskan kepada kita dari apa malaikat diciptakan dan
seperti apa tabiat mereka. Allah swt. telah menciptakan malaikat dari cahaya berbeda
dengan Adam diciptakan dari tanah, dan jin diciptakan dari api.
Imam Muslim meriwayatkan dari Aisyah r.a. bahwa Rasulullah saw. bersabda, “Malaikat
diciptkan dari cahaya, jin diciptakan dari api, dan Adam diciptakan dari apa yang telah
diceritakan pada kamu (tanah).”
Para ulama mengatakan bahwa para malaikat adalah jawahir basithah yang diberi akal,
tidak memerlukan tempat, ada yang berhubungan dengan benda konkret seperti otak, ada
pula yang berhubungan dengan yang abstrak seperti jiwa. Malaikat memiliki kemampuan
logika akal yang tidak sempurna. Mereka tidak terhalang dari cahaya Allah. Dan tidak
dilarang berada bersamanya pada suatu waktu, pada suatu keadaan dengan tidur, lalai atau
syahwat. Bahkan mereka menikmati dengan apa yang mereka saksikan. Ketaatan mereka
adalah karakter dan kemaksiatan mereka adalah tugas. Ini berbeda dengan manusia yang
ketaatannya adalah tugas dan mengikuti hawa nafsu adalah karakter (lihat Al-Kulliyat
karya Abul Baqa’, halaman 854, penerbit Ar-Risalaat).
Simak beberapa firman Allah swt. berikut ini:
Mereka takut kepada Tuhan mereka yang di atas mereka dan melaksanakan apa yang
diperintahkan (kepada mereka). (An-Nahl: 50)
Mereka itu tidak mendahului-Nya dengan perkataan dan mereka mengerjakan perintah-
perintahNya. (Al-Anbiya: 27)

Aqidah
Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang
bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar,
keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka
dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan. (At-Tahriim: 6)
Kedudukan dan Keutamaan Malaikat
Para ulama berbeda pendapat dalam hal menjadikan manusia lebih utama daripada
malaikat. Ada yang berpendapat bahwa para rasul dari golongan manusia lebih utama dari
para rasul dari golongan malaikat dan para wali dari golongan manusia lebih utama dari
para wali golongan malaikat. Sementara yang lain berpendapat bahwa malaikat lebih
utama dari manusia selain para rasul.
Malaikat Bukan Lelaki dan Bukan Perempuan
Orang-orang musyrikin Arab Jahiliyah beranggapan bahwa malaikat adalah anak-anak
perempuan Allah. Mereka telah melakukan kebodohan besar ketika mengatakan bahwa
Allah memiliki anak dan anak-anaknya adalah para wanita (malaikat). Sementara di sisi
lain mereka tidak senang dengan anak-anak perempuan. Lihat gambaran ini di surat An-
Nahl ayat 58.
Dan apabila seseorang dari mereka diberi kabar dengan (kelahiran) anak perempuan,
hitamlah (merah padamlah) mukanya, dan dia sangat marah.
Tentang kebohongan mereka, Allah menjelaskan di dalam surat Az-Zukhruf ayat 19.
Dan mereka menjadikan malaikat-malaikat yang mereka itu adalah hamba-hamba Allah
yang Maha Pemurah sebagai orang-orang perempuan. Apakah mereka menyaksikan
penciptaan malaika-malaikat itu? Kelak akan dituliskan persaksian mereka dan mereka
akan dimintai pertanggung-jawaban.
Perhatikan juga surat Al-Isra ayat 40 di bawah ini.
Maka apakah patut Tuhan memilihkan bagimu anak-anak laki-laki sedang dia sendiri
mengambil anak-anak perempuan di antara para malaikat? Sesungguhnya kamu benar-
benar mengucapkan kata-kata yang besar (dosanya).
Bukan sesuatu yang aneh keyakinan yang salah ini masih mempengaruhi akal dan hati
banyak orang. Contoh yang paling jelas adalah menyerupakan malaikat dengan
perempuan-perempuan berkostum putih dan membuat patung atau gambar malaikat pada
bentuk anak-anak perempuan dan wanita-wanita cantik yang memiliki sayap. Gambar-
gambar itu dijual di pasar-pasar dalam bentuk ucapan selamat pada hari bahagia dan hari
raya. Bahkan ada yang membuat boneka malaikat dengan wujud anak perempuan atau
wanita cantik. Tentu hal ini adalah kekufuran yang jelas. Barangsiapa yang meyakini

Aqidah
bahwa suara perempuan adalah suara malaikat atau para perempuan merupakan potret
malaikat rahmah, ia adalah kafir. Begitu pendapat Al-Bani dalam buku Arkanul Iman.
Ada juga ulama berpendapat tidak sekeras Al-Bani. Mereka berpendapat, menggambar
bentuk malaikat adalah bid’ah yang sangat berbahaya dan dapat mengeluarkan seorang
muslim dari iman. Namun, dalam percakapan sehari-hari, orang banyak kadang
mengasosiasikan sesuatu yang sempurna dalam penglihatan dengan malaikat. Misalnya
para wanita bangsawan yang terkesima dengan ketampanan Nabi Yusuf. Mereka
mengasosiasikan Nabi Yusuf dengan malaikat (lihat surat Yusuf: 31). Tapi, mereka tidak
menyakini bahwa Nabi Yusuf itu malaikat.
Malaikat Tidak Makan, Tidak Minum
Dalil bahwa malaikat tidak makan dan tidak minum adalah Al-Qur’an yang menceritakan
tentang para tamu Nabi Ibrahim dari golongan malaikat yang diutus oleh Allah untuk
menghancurkan perkampungan kaum Luth. Lihat surat Adz-Dzaariyaat ayat 24-28.
24. Sudahkah sampai kepadamu (Muhammad) cerita tentang tamu Ibrahim (yaitu
malaikat-malaikat) yang dimuliakan?
25. (Ingatlah) ketika mereka masuk ke tempatnya lalu mengucapkan, “Salaamun.”
Ibrahim menjawab, “Salaamun (kamu) adalah orang-orang yang tidak dikenal.”
26. Maka dia pergi dengan diam-diam menemui keluarganya, kemudian dibawanya
daging anak sapi gemuk.
27. Lalu dihidangkannya kepada mereka. Ibrahim lalu berkata, “Silakan Anda makan.”
28. (Tetapi mereka tidak mau makan), karena itu Ibrahim merasa takut terhadap mereka.
Mereka berkata, “Janganlah kamu takut.” Dan mereka memberi kabar gembira
kepadanya dengan (kelahiran) seorang anak yang alim (Ishak).
Malaikat Tidak Dapat Dilihat Dalam Bentuk Aslinya
Pada kisah tamu Ibrahim di atas, malaikat dapat dilihat di saat berbentuk pada wujud
selain aslinya. Sedangkan pendapat yang shahih bahwa malaikat tidak dapat dilihat oleh
manusia biasa, dalilnya adalah firman Allah swt. di surat Furqan ayat 21-22.
21. Berkatalah orang-orang yang tidak menanti-nanti pertemuan(nya) dengan Kami,
“Mengapakah tidak diturunkan kepada kita malaikat atau (mengapa) kita (tidak) melihat
Tuhan kita?” Sesungguhnya mereka memandang besar tentang diri mereka dan mereka
benar-benar telah melampaui batas (dalam melakukan) kezaliman.”
22. Pada hari mereka melihat malaikat di hari itu tidak ada kabar gembira bagi orang-
orang yang berdosa mereka berkata, “Hijraan mahjuuraa”.

Aqidah
Ibnu Hazm di Al-Fashl juz 4 halaman 57, mengomentari ayat ini dengan kalimat, “Allah
telah menjadikan permintaan manusia akan diturunkannya malaikat sebagai suatu masalah
besar, yang dianggap sebagai kesombongan dan melampaui batas; dan Allah menjelaskan
kepada kita bahwa kita sebagai manusia tidak akan pernah dapat melihat malaikat sampai
hari kiamat.”
Jika manusia biasa tidak dapat melihat malaikat, tapi ada kekhususan bagi Rasulullah saw.
Rasulullah saw sebagai seorang nabi bisa melihat malaikat jibril dalam bentuk aslinya
ketika di malam Isra Mi’raj. Hal ini diriwayatkan oleh Imam Ahmad dalam musnadnya
dari Masruq, dia berkata: aku pernah bersama A’isyah, beliau berkata, Bukankah Allah
telah berfirman di surat At-Takwiir ayat 23, Dan sesungguhnya Muhammad itu melihat
Jibril di ufuk yang terang. Dan surat An-Najm ayat 13, Dan sesungguhnya Muhammad
telah melihat Jibril itu (dalam rupanya yang asli) pada waktu yang lain. Lalu A’isyah
berkata, “Aku orang pertama dari umat ini yang bertanya kepada Rasulullah tentang ayat
di atas, maka Rasulullah saw. menjawab, ‘Sesungguhnya dia adalah malaikat Jibril.’ Rasul
tidak melihatnya dalam bentuk aslinya, kecuali dua kali. Rasul melihatnya pertama kali di
saat Malaikat Jibril turun ke bumi dan sayapnya menutupi antara langit dan bumi.” (lihat
Tafsir Ibnu Katsir, juz 4 halaman 251-252).
Walaupun kita, manusia, tidak dapat melihat malaikat, namun ada sebagian makhluk yang
diberi kelebihan khusus sehingga dapat melihat malaikat. Bukhari dan Muslim dalam
shahihnya meriwayatkan dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah saw. bersabda, “Jika kamu
mendengar suara ayam jago, maka mintalah kepada Allah sebagian dari karunianya,
karena ayam jago itu dapat melihat malaikat; dan bila kamu mendengar suara ringkik
keledai, maka berlindunglah kepada Allah dari setan karena ia melihat setan.”
Sebagian orang menganggap hadits seperti ini aneh, bagaimana mungkin burung-burung
dan binatang dapat menyaksikan apa-apa yang tidak dapat kita saksikan. Jawabnya
sederhana. Benda mati saja dapat memperlihatkan kepada kita sesuatu yang kita tidak
dapat melihatnya dalam kondisi biasa. Contohnya televisi. Benda ini dapat
memperlihatkan gambar-gambar yang entah di mana adanya ke hadapan kita yang sedang
duduk di dalam kamar. Padahal kita tahu isi televisi itu adalah rangkaian komponen
elektronik saja.
Malaikat Mampu Berubah-ubah Bentuk
Dalam kisah tamu Nabi Ibrahim, para malaikat datang dengan menjelma sebagai laki-laki
dewasa. Karena itu, Nabi Ibrahim langsung menjamu mereka dengan makanan. Contoh
lain adalah ketika malaikat datang kepada Maryam ibu Nabi Isa a.s. Perhatikan surat
Maryam ayat 16-17 ini.
16. Dan ceritakanlah (kisah) Maryam di dalam Al-Quran, yaitu ketika ia menjauhkan diri
dari keluarganya ke suatu tempat di sebelah timur,

Aqidah
17. Maka ia mengadakan tabir (yang melindunginya) dari mereka; lalu kami mengutus
roh Kami (Jibril a.s.) kepadanya, maka ia menjelma di hadapannya (dalam bentuk)
manusia yang sempurna.
Malaikat Jibril datang menjumpai Rasulullah dalam bentuk manusia yang berbeda-beda
bentuknya. Kadangkala menyerupai seorang shahabat yang bernama Dahyah bin Khalifah
Al-Kalbi karena Dahyah seorang pemuda tampan dan memiliki postur yang ideal. Imam
Bukhari dan Muslim telah meriwayatkan di dalam shahihnya dari Umar bin Khaththab, ia
berkata, “Ketika kami sedang duduk di sisi Rasulullah tiba-tiba muncul seorang laki-laki
dengan mengenakan pakaian yang sangat putih dan rambut yang sangat hitam, lalu
menyandarkan kedua lututnya pada kedua lutut Rasulullah dan meletakkan kedua telapak
tangannya di atas paha Rasul, dan ia berkata, ‘Wahai Muhamad, beritahu saya tentang
Islam.” Kemudian bertanya lagi tentang iman, ihsan, dan hari kiamat. Kemuian
meninggalkan tempat itu. Lalu Rasulullah saw. bertanya kepada Umar, “Wahai Umar,
apakah kamu tahu siapa yang bertanya tadi?” Umar menjawab, “Allah dan RasulNya
lebih tahu.” Kemudian Rasulullah saw. menjelaskan, “Dia adalah Malaikat Jibril yang
telah datang kepadamu mengajarkan kami tentang agamamu.”
Malaikat Memiliki Kemampuan Yang Luar Biasa
Malaikat memiliki kemampuan yang luar biasa yang tidak dapat dibayangkan. Misalnya, 8
malaikat pemikul Arsy.
“Dan malaikat-malaikat berada di penjuru-penjuru langit. Dan pada hari itu delapan
malaikat menjunjung ‘Arsy Tuhanmu di atas (kepala) mereka.” (Al-Haaqqah: 17)
Jika kursi Allah swt. luasnya seluas tujuh lapis langit dan bumi, coba bayangkan sebesar
apa ‘Arsy dan bayangkan betapa dahsyatnya kekuatan yang dimiliki para malaikat
pemikul ‘Arsy. Coba bayangkan bagaimana kekuatan malaikat peniup sangkakala dimana
saat sangkakala ditiupkan seluruh makhluk yang ada di langit dan bumi mati seketika.
“Dan ditiuplah sangkakala, maka matilah siapa yang di langit dan di bumi kecuali siapa
yang dikehendaki Allah. Kemudian ditiup sangkakala itu sekali lagi, maka tiba-tiba
mereka berdiri menunggu (putusannya masing-masing).” (Az-Zumar: 68)
Bisakah kita bayangkan apa yang dilakukan malaikat terhadap kaum Nabi Luth seperti
yang digambarkan Allah swt. dalam firman-Nya di surat Hud ayat 82 ini?
“Maka tatkala datang azab Kami, Kami jadikan negeri kaum Luth itu yang di atas ke
bawah (Kami balikkan, red.), dan Kami hujani mereka dengan batu dari tanah yang
terbakar dengan bertubi-tubi.
Itulah gambaran yang menakutkan tentang kekuatan malaikat.

Aqidah
Adapun kecepatan malaikat lebih cepat dari apa yang dibayangkan manusia. Allah
berfirman di dalam surat Al-Ma’arij ayat 4.
“Malaikat-malaikat dan Jibril naik (menghadap) kepada Tuhan dalam sehari yang
kadarnya lima puluh ribu tahun.”
Cukup untuk diketahui bahwa malaikat Jibril memi’rajkan Rasulullah saw. ke langit
tertinggi kemudian kembali lagi ke bumi, hanya dalam satu malam, bahkan sebagian dari
malam. Kita tahu bahwa langit yang paling dekat ke bumi memerlukan jutaan tahun
kecepatan cahaya. Artinya, kita perlu hidup jutaan tahun untuk sampai ke sana bila kita
jalan dengan kecepatan cahaya yang 300 km per detik. Pertanyaannya, siapa yang dapat
melakukannya? Dari mana kita mendapat umur yang panjang untuk perjalanan itu?
Malaikat Diciptakan Untuk Taat Dan Bertasbih
Ketaatan dan ibadah bagi malaikat adalah sifat asli mereka (jibillah) sebagaimana Allah
mensifati mereka di surat At-Tahrim ayat 6.
“Tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan
selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.”
“Mereka itu tidak mendahului-Nya dengan perkataan dan mereka mengerjakan perintah-
perintahNya.” (Al-Anbiya: 27) ayat
“Mereka selalu bertasbih malam dan siang tiada henti-hentinya.” (Al-Anbiya: 20)
“Dan kepunyaan-Nyalah segala yang di langit dan di bumi. Dan malaikat-malaikat yang
di sisi-Nya, mereka tiada mempunyai rasa angkuh untuk menyembah-Nya dan tiada (pula)
merasa letih.” (Al-Anbiya: 19)
Para ulama berbeda pendapat tentang cara bertasbihnya malaikat. Ibnu Mas’ud dan Ibnu
Abbas berkata, tasbih mereka adalah shalat. Ini berdasarkan firman Allah
-' ¸· .¯ · ..·
“seandainya ia bukan orang yang selalu bertasbih”, yang dimaksud dengan bertasbih di
sini adalah shalat.
Qotadah berkata, tasbih malaikat adalah ن'=-·······~ -ا sebagaimana dipahami dari
bahasa. Al-Qurthubi mendukung pendapat ini. Dalilnya adalah hadits riwayat Abu Dzar
r.a. bahwa Rasulullah saw. pernah ditanya, “Ucapan apa yang paling afdlal?” Rasulullah
saw. menjawab, “Ucapan yang paling afdlal adalah kata-kata yang telah dipilihkan oleh
Allah untuk malaikat, yaitu ن'=-·······~ -ا -~····~=ﺏو ” (Muslim)

Aqidah
Dan Abdurrahman bin Qarth bahwa Rasulullah saw. pada malam Isra’ dan Mi’raj
mendengar suara tasbih di langit yang paling atas:“ · ·- ¸·. ¸· .- “. (Al-
Baihaqi, Tafsir Al-Qurthubi juz 1/267).
Dan shalatnya malaikat adalah berdiri dan sujud. Dari Hakim bin Hizam, ia berkata, ketika
Rasulullah saw. bersama para sahabat, beliau bersabda, “Apakah kalian mendengar apa
yang saya dengar?” Mereka menjawab, “Kami tidak mendengar sesuatu.” Rasulullah
saw. berkata, “Sesungguhnya aku mendengar hentakan langit. Tidak ada satu jengkal pun
bagian langit yang terhentak melainkan di atasnya malaikat sedaang sujud atau sedang
berdiri.” (At-Tabrani, Mu’jam Al-Kabir, Al-Asyqar ‘Alamul Malaikah Al-Abrar,
halaman.31,1989)
Keadaan malaikat diciptakan untuk beribadah sehingga sebagian ulama meyakini bahwa
malaikat bukan makhluk mukallaf. Yang sahih bahwa taklif mereka tidak sama dengan
taklif kita. Adapun pendapat yang mengatakan bahwa mereka bukan makhluk mukallaf
adalah pendapat yang salah karena mereka diperintahkan untuk beribadah dan taat. Allah
swt. berfirman:
“Mereka takut kepada Tuhan mereka yang di atas mereka dan melaksanakan apa yang
diperintahkan (kepada mereka).” (An-Nahl: 50)
Khauf adalah di antara tingkatan ubudiyah dan ketaatan yang paling tinggi. (Al-Asyqar
halaman 29,1989).
Dalil yang paling kuat bahwa malaikat makhluk mukallaf adalah kisah tentang perintah
Allah kepada mereka untuk susjud kepada Adam. Allah swt. berfirman di dalam surat Al-
Baqarah ayat 34:
Dan (ingatlah) ketika Kami berfirman kepada para malaikat, “Sujudlah kamu kepada
Adam.” Maka sujudlah mereka, kecuali Iblis; ia enggan dan takabur, dan adalah ia
termasuk golongan orang-orang yang kafir.
Malaikat Terjaga Dari Salah
Dari paparan di atas kita dapat menyimpulkan bahwa malaikat terhindar dari kesalahan
dan perbuatan dosa. Namun, jumhur ulama berpendapat, malaikat tidak ma’shum. Dalil-
dalil sebagai berikut.
“Jika mereka menyombongkan diri, maka mereka (malaikat) yang di sisi Tuhanmu
bertasbih kepada-Nya di malam dan siang hari, sedang mereka tidak jemu-jemu.”
(Fushilat: 38)
Di ayat 30 surat Al-Baqarah, malaikat berkata, “Mengapa Engkau hendak menjadikan
(khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan

Aqidah
darah. Malaikat mencela terjadinya maksiat yang dilakukan Adam dan keturunannya, dan
ini berarti menunjukkan bahwa mereka (malaikat) bebas dari dosa. Sikap mereka itu
diperkuat dengan kata-kata, “Padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau
dan mensucikan Engkau.” Yang berarti mereka senantiasa bertasbih dan mensucikan
Allah tanpa henti.
Sedangkan dalil yang mengatakan bahwa malaikat tidak ma’shum adalah seperti yang
dikemukakan Imam Ar-Razi dalam tafsirnya yang juga bantahan atas pendapat malaikat
terbebas dari salah.
Menurut Ar-Razi, firman Allah swt., “Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang
khalifah di muka bumi.” Mereka berkata, “Mengapa Engkau hendak menjadikan
(khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan
darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan
Engkau?” adalah dalil yang mencela para malaikat bukannya sebagai dalil tentang
bebasnya malaikat dari kesalahan. Hal itu ditinjau dari beberapa sisi:
Bahwa perkataan malaikat, “Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di
muka bumi.” Mereka berkata, “Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi
itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah” adalah
bantahan mereka terhadap Allah dan sikap ini di antara dosa yang paling besar.
Bahwa para malaikat telah melakukan ghibah Adam dan keturunannya dengan
mempertanyakan tentang mereka, sementara ghibah adalah salah satu dosa besar.
Bahwa malaikat telah memuji diri mereka sendiri setelah mempertanyakan keturunan
Adam dengan perkataan, “Padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan
mensucikan Engkau.” Bukankah memuji diri sendiri adalah tercela dan dapat
mengakibatkan ujub atau bangga terhadap diri sendiri, dan ini adalah sikap tercela
sebagaimana Allah berfirman dalam surat An Najm ayat 32?
Bahwa perkataan mereka, “Maha Suci Engkau, tidak ada yang kami ketahui selain dari
apa yang Telah Engkau ajarkan kepada Kami; Sesungguhnya Engkaulah yang Maha
mengetahui lagi Maha Bijaksana.” adalah sikap minta permakluman dan itu tidak terjadi
kecuali karena telah melakukan kesalahan.
Bahwa firman Allah swt., “Sebutkanlah kepada-Ku nama benda-benda itu jika kamu
memang benar orang-orang yang benar! Dapat dipahami bahwa mereka telah berdusta
pada apa yang mereka katakan.
Bahwa firman Allah dalam surat Al-Baqarah ayat 33, “Bukankah sudah Ku katakan
kepadamu, bahwa sesungguhnya Aku mengetahui rahasia langit dan bumi, dan
mengetahui apa yang kamu lahirkan dan apa yang kamu sembunyikan?” Dapat dipahami
bahwa mereka meragukan bahwa Allah mengetahui segala hal.

Aqidah
Bahwa tuduhan mereka terhadap manusia hanya berdasar dugaan (dzhan) dan ini tidak
dibenarkan sebagaimana firman Allah dalam surat Al-Israa ayat 36.
“Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan
tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan
diminta pertanggungan jawabnya.“
---oo0oo---

Sumber: dakwatuna.com


















Aqidah
BERIMAN KEPADA HARI AKHIR

Tanya : Terbagi berapakah kehidupan manusia itu?
Jawab : Kehidupan manusia terbagi dua: kehidupan pendek di Darul ‘Amal dan
kehidupan abadi di Darul Jaza.

Darul Amal
Tanya : Apakah Darul ‘Amal itu?
Jawab : Darul Amal (tempat beramal) adalah bumi atau dunia yang kita tempati sekarang
ini sampai batas waktu tertentu yang amat singkat, tempat dan waktu yang diberikan
kepada kita untuk melakukan amal yang kita kehendaki seperti orang-orang sebelum kita
yang juga telah mengalaminya. Allah swt berfirman:
` . . ` · ` ¸ · ¸ · · · . ¯ .` , ¯ ` =` , · ¸` . ¸ · ` ` . '
. ¸ · .` ¸ ` ¸ · ` · -` ·` , ` · . ¯ · · . · ` .` .` · ' .` ¯
· , · . ¯ ` · ¸` . ¸ · . , - .` ` . .` ¯ ¸ ` ·
. - · , · ¸ ` · ¸ - ' ¸ ` .` ·` - .` ` ¸ ´ · · ` ¸ · · ` . ~ ¸ · · ·
. · · · . ¯ · . , · ` .` . -'
"Dan apakah mereka tidak berjalan di muka bumi, lalu melihat bagaimana kesudahan
orang-orang yang sebelum mereka, sedangkan orang-orang itu adalah lebih besar
kekuatannya dari mereka? Dan tiada sesuatupun yang dapat melemahkan Allah baik di
langit maupun di bumi. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Kuasa. Dan
kalau sekiranya Allah menyiksa manusia disebabkan usahanya, niscaya Dia tidak akan
meninggalkan di atas permukaan bumi suatu mahluk yang melatapun akan tetapi Allah
menangguhkan (penyiksaan) mereka, sampai waktu yang tertentu; maka apabila datang
ajal mereka, maka sesungguhnya Allah adalah Maha melihat (keadaan) hamba-hamba-
Nya." (Fathir (35): 44-45).

Setiap lewat sehari, kesempatan hidup pun berkurang dan kita semakin dekat dengan

Aqidah
Darul Jaza (negeri balasan). Dan bila kesempatan itu benar-benar habis, hidup di dunia ini
terasa kurang dari sesaat. Allah swt berfirman:
` · ` .` . ` , .. · · . ¸ · ·· . . · ` . . ' ¯ ` .` ·` ` ` - ·` .
¸ ` .` · .` ¯ · · . .` ¯ ¸ -
"Dan (ingatlah) akan hari (yang di waktu itu) Allah mengumpulkan mereka, (mereka
merasa di hari itu) seakan-akan mereka tidak pernah berdiam (di dunia) kecuali hanya
sesaat di siang hari, (di waktu itu) mereka saling berkenalan. Sesungguhnya rugilah orang-
orang yang mendustakan pertemuan mereka dengan Allah dan mereka tidak mendapat
petunjuk." (Yunus (10): 45).
Darul Jaza
Tanya : Lalu apa yang dimaksud dengan Darul Jaza?
Jawab : Darul Jaza adalah negeri akhirat tempat manusia mendapatkan balasan semua
perbuatannya di Darul Amal. Sedangkan maut adalah titik perpindahan dari Darul Amal
ke Darul Jaza. Generasi yang hidup saat ini termasuk Anda maksimal 100 tahun lagi akan
mendapatkan balasan perbuatan mereka, Allah swt berfirman:
..` · -` ` ` . ´ ¸ . ` . ´ ¸ ¯` . .` . ` : · ` . ¯ · . ¸ · , ` .
· . ` · ` .` ' ` . . ` · ` . . .` .` ¯ ..` · ` -`
..` ·.` · - . ¸ ` · ` · -` ·
"Katakanlah: "Malaikat maut yang diserahi untuk (mencabut nyawa) mu akan
mematikanmu, kemudian hanya kepada Tuhanmulah kamu akan dikembalikan.” Dan, jika
sekiranya kamu melihat mereka ketika orang-orang yang berdosa itu menundukkan
kepalanya di hadapan Tuhannya, (mereka berkata): "Ya Tuhan kami, kami telah melihat
dan mendengar, maka kembalikanlah kami (ke dunia), kami akan mengerjakan amal
shalih, sesungguhnya kami adalah orang-orang yang yakin." (As-Sajadah (32): 11-12).


Aqidah
.. · ` . ` · ' .` · ` . · · ¸ ¸ ¯ ` . , ·` , ` ¯ ¸ ,,
` . ' .` - ` .` . . · .` .` ' ` .- · · . - · ¸ - ·` . . - ¸
.¯ ` . ´` , · .. ` ` . ´` · ¸` ` ` . ´ ' ` . ´ ·` . . ` . ´ ` ` ` ` . ´
¸ · ´ ¸ · . · · ¯ ` . - ` ¸ ´ ¸ . · · , . ` -` · ¸, ·
¸ ´ ` . . · · ¸ · · ., · ¸ - . . - . .` ' , ` . ¸ ,,
` .` . ` .` . . · .` .` ' ` . - · · . - · ¸ - ·` · - ¸
¸ - ·. ` -` · · ` .` ` ~ ` . ´` , · ` ·· .` - , . · ` ` - . ·
· - ¸ · ' . ¸` . ` ' `· ` · · . ` ` - ' .` · · . .` , -
· · , ` . . ` - ..` - ` ¸` · .` . - `¸ · · - · ´ · .
· . · ` ` - ¸, · , - ` .` . ` , ¸ . ·
"Dan disempurnakan bagi tiap-tiap jiwa (balasan) apa yang telah dikerjakannya dan Dia
lebih mengetahui apa yang mereka kerjakan. Orang-orang kafir dibawa ke neraka
Jahannam berombong-rombongan. Sehingga apabila mereka sampai ke neraka itu
dibukakanlah pintu-pintunya dan berkatalah kepada mereka penjaga-penjaganya:
"Apakah belum pernah datang kepadamu Rasul-Rasul di antaramu yang membacakan
kepadamu ayat-ayat Tuhanmu dan memperingatkan kepadamu akan pertemuan dengan
hari ini?" Mereka menjawab: "Benar (telah datang)". Tetapi telah pasti berlaku ketetapan
azab terhadap orang-orang yang kafir. Dikatakan (kepada mereka): "Masukilah pintu-
pintu neraka Jahannam itu, sedang kamu kekal di dalamnya" Maka neraka Jahannam
itulah seburuk-buruk tempat bagi orang-orang yang menyombongkan diri. Dan orang-
orang yang bertaqwa kepada Tuhan dibawa ke dalam syurga berombong-rombongan
(pula). sehingga apabila mereka sampai ke syurga itu sedang pintu-pintunya telah
terbuka dan berkatalah kepada mereka penjaga-penjaganya: "Kesejahteraan
(dilimpahkan) atasmu. Berbahagialah kamu! Maka masukilah syurga ini, sedang kamu
kekal di dalamnya". Dan mereka mengucapkan: "Segala puji bagi Allah yang telah
memenuhi janji-Nya kepada kami dan telah (memberi) kepada kami tempat ini sedang
kami (diperkenankan) menempati tempat dalam syurga di mana saja yang kami
kehendaki; maka syurga itulah sebaik-baik balasan bagi orang-orang yang beramal".

Aqidah
Dan kamu (Muhammad) akan melihat malaikat-malaikat berlingkar di sekeliling 'Arsy
bertasbih sambil memuji Tuhannya; dan diberi putusan di antara hamba-hamba Allah
dengan adil dan diucapkan: "Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam". (Az-Zumar
(39): 70-75).
Hari Akhir adalah Bukti Keadilan Ilahi
Tanya : Apakah dalil seorang mu’min terkait imannya kepada hari akhir?
Jawab : Dalil terpenting adalah informasi semua Rasul tanpa kecuali tentang hakikat hari
akhir yang mereka terima dari Allah swt, dan mereka adalah orang-orang yang telah
menunjukkan kepada manusia bukti-bukti kebenaran risalah mereka. Di samping itu ada
juga dalil-dalil aqli (logika).
Tanya : Apa saja dalil aqli itu?
Jawab : Banyak sekali, diantaranya adalah dalil logika keadilan Ilahi.
Tanya : Apa maksud dalil logika keadilan Ilahi?
Jawab : Dalam diri manusia ada perasaan cinta kepada keadilan, perasaan yang
membuatnya membenci kezaliman. Pencipta perasaan cinta keadilan dalam diri manusia
ini adalah Allah swt Pencipta manusia, dan merupakan aksioma bahwa Sang Pencipta
lebih agung dan lebih sempurna dari ciptaan-Nya, dan bagi Allah segala perumpamaan
yang sempurna.
Jadi, keadilan Allah swt jelas Maha Sempurna sedangkan makhluknya tidak. Jika rasa
keadilan dalam diri manusia menolak perlakuan sama antara orang zalim dan yang
terzalimi, antara pembunuh dengan korban terbunuh, orang yang taat dengan yang
membangkang, maka keadilan Ilahi yang sempurna tentunya lebih menolak penyamaan
antara si zalim dengan yang dizalimi, antara pembunuh dan terbunuh, antara yang taat dan
yang melakukan maksiat, antara mu’min dengan kafir, dan antara orang baik dan orang
jahat. Allah swt berfirman:
` ¯ ¸ ` ¸ ~ : · · ~ ` . ` , · ¸` . . - ·
¸ · ` ¯ ¸ ¸` . · , . - . . · .` ·¯ ¸ ¸ ·` - ` · '
¯ ` ¸ ·` - ` · ' ¸` . ¸ · ¸ ` ¯ -
"Dan Kami tidak menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada antara keduanya tanpa
hikmah. Yang demikian itu adalah anggapan orang-orang kafir, maka celakalah orang-

Aqidah
orang kafir itu karena mereka akan masuk neraka. Patutkah Kami menganggap orang-
orang yang beriman dan mengerjakan amal yang shalih sama dengan orang-orang yang
berbuat kerusakan di muka bumi? Patutkah (pula) Kami menganggap orang-orang yang
bertaqwa sama dengan orang-orang yang berbuat ma'siat?" (Shad (38): 27-28).
Namun kita tidak mendapati keadilan sempurna di dunia, belum ada balasan yang setimpal
atas semua perbuatan manusia yang baik maupun buruk. Dengan logika keadilan Ilahi
yang tak mungkin diragukan, kita beriman bahwa penghitungan dan balasan amal yang
seadil-adilnya itu akan kita temui di hari akhir sebagaimana diinformasikan oleh semua
Rasul alaihimussalam.
Kesimpulan

• Kehidupan manusia terbagi dua: kehidupan singkat di Darul Amal dan kehidupan abadi
di Darul Jaza, sedangkan kematian adalah titik perpindahan antara keduanya.
• Siapa yang beramal shalih di dunia, Allah swt akan membalasnya dengan ganjaran
pahala. Barang siapa berbuat buruk, Allah swt mengancamnya dengan hukuman setimpal.
Allah swt juga mengutus para Rasul kepada manusia, dan mereka telah membuktikan
kebenaran pengakuan kerasulan mereka lalu menyampaikan wahyu Allah yang
diantaranya berisi keimanan kepada hari akhir dan apa yang terjadi di sana.
• Keadilan Allah swt Maha Sempurna dan konsekuensinya adalah perlakuan yang tidak
sama antara yang jahat dan yang baik. Di dunia ini ganjaran untuk orang yang baik belum
sempurna, begitu pula hukuman bagi orang jahat. Oleh karenanya Allah swt menjadikan
hari akhir untuk menyempurnakan penghargaan kepada orang-orang yang telah berbuat
baik dan mengadili serta menghukum orang-orang yang ingkar kepada-Nya.

Beberapa Keadaan di Hari Akhir
Kehidupan di Alam Barzakh
Tanya : Apa makna Barzakh?
Jawab : Al-Barzakh (secara etimologis – pen) artinya al-hajiz (pembatas antara dua hal).
Tanya : Sedangkan Kehidupan Barzakh?
Jawab : Kehidupan Barzakh adalah yang akan kita alami (sejak kematian) sampai qiyamat
datang saat Allah swt membangkitkan semua manusia untuk memenuhi perhitungan amal.
Firman Allah swt:

Aqidah
..` · -` . . · ` .` . ` .` · - ' . - · ¸ - , - . ¸ ` · ' ¸ ·
·` . ¸ ` - ` ` . . ` ¸ · . · .` · · ¯ . · ¯ ` . ¯ , ·
.. · ·` `
"(Demikianlah keadaan orang-orang kafir itu), hingga apabila datang kematian kepada
seseorang dari mereka, dia berkata: "Ya Tuhanku kembalikanlah aku (ke dunia) agar Aku
berbuat amal yang shalih terhadap yang telah aku tinggalkan. Sekali-kali tidak.
Sesungguhnya itu adalah perkataan yang diucapkannya saja dan di hadapan mereka ada
Barzakh (dinding) sampal hari mereka dibangkitkan." ( Qs, 23: : 99-100)
Tanya : Adakah ganjaran kebaikan atau hukuman kejahatan di Barzakh?
Jawab : Ya, pembalasan amal dimulai di dalam di awal kehidupan Barzakh, diantaranya
berupa azab kubur. Firman Allah swt:
.` . ·` · .¯ . -` · ' · · ` ·. ·` . , · ` · .` , · ..` . ` ·` `
. · '

"Kepada mereka dinampakkan neraka pada pagi dan petang , dan pada hari terjadinya
kiamat (dikatakan kepada malaikat): "Masukkanlah Fir'aun dan kaumnya ke dalam azab
yang sangat keras". (Ghafir (40): 46).

Allah swt mengisahkan kehidupan para syuhada di alam Barzakh sebelum hari kiamat:

¸ .` · ' · ¸, ¸ · . · ¸ ¸ ` - . ` . . ` · . ,` - '
.. · ` ` , . - ` . ¸ .` ` ` · ` . · ` ¸ · ` · ` .` · ¯ - ·
..` ` - ` .` · . ` . .` , · ` ` . - . ' ` . . - ` ¸ · ` . .

"Janganlah kamu mengira bahwa orang-orang yang gugur di jalan Allah itu mati; bahkan
mereka itu hidup di sisi Tuhannya dengan mendapat rezki. Mereka dalam keadaan
gembira disebabkan karunia Allah yang diberikan-Nya kepada mereka, dan mereka
bergirang hati terhadap orang-orang yang masih tinggal di belakang yang belum

Aqidah
menyusul mereka, bahwa tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula)
mereka bersedih hati." (Ali Imran (3): 169-170).

Kehidupan Alam Akhirat

Al-Ba’ats wa An-Nusyur (Hari Kebangkitan dan Hidup Setelah Mati)

Tanya : Setelah kehidupan Barzakh?

Jawab : Allah swt membangkitkan manusia di hari kiamat untuk menyempurnakan
perhitungan amal. Dia berfirman:

, · . ¯ ¸` . ·` . . , - . · ' ..` ' · . ` . ¸ · ` - ` ` ·` .

"Sesungguhnya hari keputusan adalah suatu waktu yang ditetapkan, yaitu hari (yang pada
waktu itu) ditiup sangkakala lalu kamu datang berkelompok-kelompok." (An-Naba (78):
17-18).

‘Ardhul A’mal (Diperlihatkannya Amal)

Tanya : Apa yang terjadi setelah berkumpulnya manusia di Mahsyar pada hari akhir?
Jawab : Kemudian setelah itu diperlihatkan semua amal dalam Al-Kitab (buku catatan
amal). Firman Allah swt:

. · ` .. . ·, · · ` ` · · ` -` . · ` . ´ · .`
. · · ` - · .` - ' . · ¯ . · · . ` · ·` . . ´ ·
- ' : ` ` . = . . -

"Dan diletakkanlah kitab, lalu kamu akan melihat orang-orang bersalah ketakutan
terhadap apa yang (tertulis) di dalamnya, dan mereka berkata: "Aduhai celaka kami,
kitab apakah ini yang tidak meninggalkan yang kecil dan tidak (pula) yang besar,
melainkan ia mencatat semuanya; dan mereka dapati apa yang telah mereka kerjakan ada
(tertulis). dan Tuhanmu tidak menganiaya seorang juapun". (Al-Kahfi (18): 49).

Juga lidah, tangan, kaki, dan kulit akan menjadi saksi atas perbuatan manusia. Firman
Allah swt:


Aqidah
` .` ·` ·. ` - ` .` ·` .` ' ` .` .` ·` ` ..` , · . · . - · · ¸ -
.. ` · .` ¯ , . ` · =` ' . · ` , · ` .` ` . . ` . · ·. ` - . ·
· · . ' ` . ´ - .` · .` ¸ ¸ ¯ ,=` ' ..` · -` ` ·` ,

"Sehingga apabila mereka sampai ke neraka, pendengaran, penglihatan dan kulit mereka
menjadi saksi terhadap mereka tentang apa yang telah mereka kerjakan. Dan mereka
berkata kepada kulit mereka: "Mengapa kamu menjadi saksi terhadap kami?" Kulit
mereka menjawab: "Allah yang menjadikan segala sesuatu pandai berkata telah
menjadikan kami pandai (pula) berkata, dan Dia-lah yang menciptakan kamu pada kali
pertama dan hanya kepada-Nya lah kamu dikembalikan". (Fushilat (41): 20-21).

·` . .. ` · .` ¯ ` .` . ` -` ' ` . . `' ` .` .` ' ` . .` , · ` .`

"Pada hari (ketika), lidah, tangan dan kaki mereka menjadi saksi atas mereka terhadap
apa yang dahulu mereka kerjakan." (An-Nur (24): 24).

Al-Mizan (Timbangan)

Tanya : Apa yang dimaksud dengan Mizan (timbangan) di hari kiamat?

Jawab : Allah swt meletakkan mizan-mizan yang adil di hari kiamat untuk mengukur
kebaikan dan keburukan. Firman Allah swt:

=` · · · · , ·` . , ` ¸ . ` · . . ¯ . ·` , ` ¸ ` .
- ¸ ¯ . ` , ' . ·` - ` ¸· · - . · ·

"Kami akan memasang timbangan yang tepat pada hari kiamat, maka tiadalah dirugikan
seseorang barang sedikitpun. dan jika (amalan itu) hanya seberat biji sawipun pasti Kami
mendatangkan (pahala)nya. dan cukuplah Kami sebagai pembuat perhitungan." (Al-
Anbiya (21): 47).

Aqidah

..` - ` ` .` · : · ' · ` ·` . · ` . ` ¸ · , : · ' · ` ·` . · ` . - ` ¸ ·
¸ · ` .` . ` ' ` - ¸ .` - . . -

"Barang siapa yang berat timbangan (kebaikan)nya, maka mereka itulah orang-orang
yang dapat keberuntungan. Dan barang siapa yang ringan timbangannya, maka mereka
itulah orang-orang yang merugikan dirinya sendiri, mereka kekal di dalam neraka
jahannam." (Al-Mu’minun (23): 102-103).

Al-Haudh

Tanya : Apakah Al-Haudh itu?

Jawab : Al-Haudh adalah telaga yang dimiliki oleh setiap Nabi di mana ia dan umatnya
minum airnya setelah berdiri dan berkumpul di Mahsyar dan sebelum masuk surga. Nabi
kita Muhammad saw memiliki haudh yang airnya lebih putih dari susu, lebih manis dari
madu, dan lebih harum dari misik (kesturi). Siapa yang telah meminumnya seteguk saja
tidak akan merasa haus selama-lamanya.

Ash-Shirath

Tanya : Apakah Shirath itu?

Jawab : Shirath adalah jalan yang diletakkan di atas jahannam yang akan dilalui oleh
semua manusia setelah mereka berdiri di Mahsyar. Penduduk surga akan melaluinya untuk
menuju surga, sedangkan penduduk neraka akan terjatuh ke neraka. Allah swt berfriman:

, . · ` - : ¸ · . ¯ ·` · . ` . ´` · . , ¸ ¸ - ` .
, · - ., · = ` ` .

"Dan tidak ada seorangpun dari padamu, melainkan mendatangi neraka itu (dengan
melalui shirath). Hal itu bagi Tuhanmu adalah suatu kemestian yang sudah ditetapkan.
Kemudian Kami akan menyelamatkan orang-orang yang bertaqwa dan membiarkan
orang-orang yang zalim di dalam neraka dalam keadaan berlutut." (Maryam (19): 71-72).





Aqidah
Al-Jannah

Tanya : Apakah Jannah itu?

Jawab : Jannah (surga) adalah tempat tinggal terakhir bagi orang-orang yang beriman
yang merupakan cita-cita setiap mu’min di mana ia menemukan balasan keimanannya
yang benar dan amal-amalnya yang shalih. Firman Allah swt:

. ` - ` ¸ · . ` - . - ` .` . . ' . - . . · .` ·¯ ¸
¸` · ` ¸ · · ` . · . · ·` · ` ¸ · .` · . · ` ¯ ` .` .
` · ` - ` ' ., · ` .` . . ` · · .` ' .` - ., · ` .` · · . =

"Dan sampaikanlah berita gembira kepada mereka yang beriman dan berbuat baik,
bahwa bagi mereka disediakan surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya.
setiap mereka diberi rezki buah-buahan dalam surga-surga itu, mereka mengatakan:
"Inilah yang pernah diberikan kepada kami dahulu." mereka diberi buah-buahan yang
serupa dan untuk mereka di dalamnya ada isteri-isteri yang suci dan mereka kekal di
dalamnya." (Al-Baqarah (2): 25).

An-Nar

Tanya : Apakah Nar itu?

Jawab : Kebaikan akan dibalas oleh Allah swt dengan kenikmatan surga, sedangkan
kejahatan dibalas dengan nar (neraka) sesuai besarnya dosa yang telah mereka lakukan.
Firman Allah swt:

` ·` . · ` . - ` ¸ · · ' , · · ` · ` · ' · , ` · , · · · ` · ' · , · , · - `

"Dan adapun orang-orang yang ringan timbangan (kebaikan)nya, maka tempat
kembalinya adalah neraka Hawiyah. Tahukah kamu apakah neraka Hawiyah itu? (Yaitu)
api yang sangat panas." (Al-Qari’ah (105): 8-11).

Kesimpulan

• Setelah kematian manusia berpindah ke kehidupan Barzakh, di dalamnya mereka
menemukan sejumlah balasan amal mereka.

Aqidah
• Allah swt akan membangkitkan semua manusia sesudah hidup di dunia menuju hari
perhitungan, kemudian amal mereka diperlihatkan.
• Amal manusia akan ditimbang, siapa yang ringan amal kebaikannya, maka tempat
tinggalnya di neraka jahannam.
• Setiap Nabi memiliki telaga dimana ia dan umatnya meminumnya sesudah manusia
berkumpul di padang mahsyar. Nabi kita Muhammad saw memiliki telaga yang airnya
lebih putih dari susu, lebih manis dari madu, dan lebih wangi dari kesturi.
• Surga adalah tempat tinggal penuh kenikmatan bagi orang-orang yang beriman.
• Neraka adalah tempat tinggal penuh azab bagi orang-orang munafik dan orang-orang
kafir.

---oo0oo---

Sumber: tarbiyahklatenutara.blogspot.com






























Aqidah
BERIMAN KEPADA QADHA DAN QADAR


I. MUKADIMAH

Apa pun yang terjadi di dunia dan yang menimpa diri manusia pasti telah digariskan oleh
Allah Yang Mahakuasa dan Yang Mahabijaksana. Semua telah tercatat secara rapi dalam
sebuah Kitab pada zaman azali. Kematian, kelahiran, rizki, nasib, jodoh, bahagia, dan
celaka telah ditetapkan sesuai ketentuan-ketentuan ilahiah yang tidak pernah diketahui
oleh manusia. Dengan tidak adanya pengetahuan manusia tentang ketetapan dan ketentuan
Allah ini, maka ia memiliki peluang atau kesempatan untuk berlomba-lomba menjadi
hamba yang saleh-muslih, berusaha keras untuk mencapai yang dicita-citakan tanpa
berpangku tangan menunggu takdir, dan berupaya memperbaiki citra diri.

Dengan bekal keyakinan terhadap takdir yang telah ditentukan oleh Allah SWT, seorang
mukmin tidak pernah mengenal kata frustrasi dalam kehidupannya, dan tidak berbangga
diri dengan apa-apa yang telah diberikan Allah SWT. Ia akan berubah menjadi batu
karang yang tegar menghadapi segala gelombang kehidupan dan senantiasa sabar dalam
menyongsong badai ujian yang silih berganti. Ia juga selalu bersyukur apabila kenikmatan
demi kenikmatan berada dalam genggamannya. Perhatikan beberapa ayat Allah dan hadits
Rasul berikut ini.

“Tiada suatu bencana pun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri
melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauhul-Mahfuzh) sebelum Kami menciptakannya.
Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah. (Kami jelaskan yang demikian
itu) supaya kamu jangan berduka cita terhadap apa yang luput dari kamu, dan supaya
kamu jangan terlalu gembira terhadap apa yang diberikan-Nya kepadamu. Dan Allah
tidak menyukai setiap orang yang sombong lagi membanggakan diri,” (al-Hadiid: 22-23)

“Dan pada sisi Allah-lah kunci-kunci semua yang ghaib; tidak ada yang mengetahuinya
kecuali Dia sendiri, dan Dia mengetahui apa yang di daratan dan di lautan, dan tiada
sehelai daun pun yang gugur melainkan Dia mengetahuinya (pula), dan tidak jatuh
sebutir biji pun dalam kegelapan bumi, dan tidak sesuatu yang basah atau yang kering,
melainkan tertulis dalam kitab yang nyata (Lauh Mahfudz).”
(al-An’aam: 59)

“Tiada seorangpun dari kalian kecuali telah ditulis tempatnya di neraka atau di surga.
Salah seorang dari mereka berkata, ‘Bolehkah kami bertawakal saja, ya, Rasulullah?’
Beliau menjawab, ‘Tidak, (akan tetapi) beramallah …karena setiap orang dimudahkan
(dalam beramal).’ Kemudian, beliau membaca ayat ini, ‘Adapun orang yang memberikan
(hartanya di jalan Allah), bertakwa dan membenarkan adanya pahala yang terbaik
(surga), maka kami kelak akan menyiapkan baginya jalan yang mudah. Dan adapun
orang-orang yang bakhil, merasa dirinya cukup dan mendustakan pahala yang terbaik,
maka kami kelak akan menyiapkan baginya (jalan) yang sukar (al-Lail: 5-10).’” (HR
Bukhari dan Muslim, dari Ali bin Abi Thalib)

Aqidah

“Sangat mengherankan seorang mukmin itu, karena semua urusannya mengandung
kebaikan. Dan yang demikian itu tidak pernah dimiliki seseorang kecuali orang mukmin;
apabila ia diuji dengan kenikmatan (kebahagiaan), ia bersyukur. Maka, inilah kebaikan
baginya. Dan apabila ia diuji dengan kemelaratan (kepayahan), ia bersabar. Maka, inilah
kebaikan baginya.” (HR Muslim dari, Abu Yahya Shuhaib bin Shinan)

II. DEFINISI DAN DALIL-DALILNYA

Secara etimologi, qadha memiliki banyak pengertian sebagaimana berikut.

-Pemutusan, hukuman. Kita bisa temukan pada ayat berikut ini. “(Dia) yang
mengadakan langit dan bumi dengan indahnya, dan memutuskan sesuatu perkara, hanya
Dia mengatakan: Jdilah, lalu jadi.” ( Al-Baqarah: 117)

-Perintah, kita bisa temukan pengertian ini pada firman Allah di bawah ini.
“Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan
hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah
seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam
pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya
perkataan "ah" dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka
perkataan yang mulia.” (al-Israa`:23)

-Pemberitaan, bisa kita temukan dalam ayat berikut ini.
“Dan telah Kami wahyukan kepadanya (Luth) perkara itu, yaitu bahwa mereka akan
ditumpas habis di waktu subuh.” (al-Hijr: 66)

Imam az-Zuhri berkata, “Qadha secara etimologi memiliki arti yang banyak. Dan semua
pengertian yang berkaitan dengan qadha kembali kepada makna kesempurnaan….” (An-
Nihayat fii Ghariib al-Hadits, Ibnu al-Atsir 4/78)

Adapun qadar secara etimologi berasal dari kata qaddara yuqaddiru taqdiiran yang berarti
penentuan. Pengertian ini bisa kita lihat dalam ayat Allah berikut ini.

“Dan dia menciptakan di bumi itu gunung-gunung yang kokoh di atasnya. Dia
memberkahinya dan Dia menentukan padanya kadar makanan-makanan (penghuni)nya
dalam empat masa. (Penjelasan itu sebagai jawaban) bagi orang-orang yang bertanya.”
(Fushshilat: 10)

Dari sudut terminologi, qadha adalah pengetahuan yang lampau, yang telah ditetapkan
oleh Allah pada zaman azali. Adapun qadar adalah terjadinya suatu ciptaan yang sesuai
dengan penetapan (qadha).

Ibnu Hajar berkata, “Para ulama berpendapat bahwa qadha adalah hukum kulli

Aqidah
(universal) ijmali (secara global) pada zaman azali, sedangkan qadar adalah bagian-
bagian kecil dan perincian-perincian hukum tersebut.” (Fathul-Baari 11/477)

Ada juga dari kalangan ulama yang berpendapat sebaliknya, yaitu qadar merupakan
hukum kulli ijmali pada zaman azali, sedangkan qadha adalah penciptaan yang terperinci.

Sebenarnya, qadha dan qadar ini merupakan dua masalah yang saling berkaitan, tidak
mungkin satu sama lain terpisahkan oleh karena salah satu di antara keduanya merupakan
asas atau pondasi dari bangunan yang lain. Maka, barangsiapa yang ingin memisahkan di
antara keduanya, ia sungguh merobohkan bangunan tersebut (An-Nihayat fii Ghariib al-
Hadits, Ibnu Atsir 4/78, Jami’ al-Ushuul 10/104).

Dalil-dalil Qadha dan Qadar

Beriman kepada qadha dan qadar merupakan salah satu rukun iman, yang mana iman
seseorang tidaklah sempurna dan sah kecuali beriman kepadanya. Ibnu Abbas pernah
berkata, “Qadar adalah nidzam (aturan) tauhid. Barangsiapa yang mentauhidkan Allah
dan beriman kepada qadar, maka tauhidnya sempurna. Dan barangsiapa yang
mentauhidkan Allah dan mendustakan qadar, maka dustanya merusakkan tauhidnya”
(Majmu’ Fataawa Syeikh al-Islam, 8/258).

Oleh karena itu, iman kepada qadha dan qadar ini merupakan faridhah dan kewajiban yang
harus dilakukan setiap muslim dan mukmin. Hal ini berdasarkan beberapa hadits berikut
ini.

-Hadits Jibril yang diriwayatkan Umar bin Khaththab r.a., di saat Rasulullah saw. ditanya
oleh Jibril tentang iman. Beliau menjawab, “Kamu beriman kepada Allah, Malaikat,
Kitab-kitab, Rasul-rasul, Hari Akhir, dan kamu beriman kepada qadar baik maupun
buruk.” (HR Muslim)

-“Sekiranya Allah SWT menyiksa penduduk langit dan bumi, maka Dia sungguh
melakukannya tanpa menzalimi mereka. Dan sekiranya Dia mengasihi mereka, maka
rahmat-Nya lebih baik daripada amal mereka. Dan sekiranya kamu memiliki emas seperti
Gunung Uhud atau semisalnya, lalu kamu infakkan di jalan Allah, maka Dia tidak akan
menerimanya sehingga kamu beriman terhadap qadar dan kamu mengetahui bahwa apa
yang ditakdirkan menimpamu tidak akan meleset darimu dan apa yang ditakdirkan bukan
bagianmu tidak akan mengenaimu, dan sesungguhnya jika kamu mati atas (aqidah) selain
ini, maka niscaya kamu masuk neraka.” (HR Ahmad, dari Zaid bin Tsabit)

Perhatikan beberapa ayat Allah dan hadits Nabi yang berkaitan dengan qadha dan qadar-
Nya berikut ini.

“Tiada suatu bencana pun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri
melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauhul-Mahfuzh) sebelum Kami menciptakannya.
Sesungguhnya, yang demikian itu adalah mudah bagi Allah. (Kami jelaskan yang

Aqidah
demikian itu) supaya kamu jangan berduka cita terhadap apa yang luput dari kamu, dan
supaya kamu jangan terlalu gembira terhadap apa yang diberikan-Nya kepadamu. Dan
Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong lagi membanggakan diri.” (al-Hadiid:
22-23)

“Sesungguhnya Kami menciptakan segala sesuatu menurut ukuran.”
(al-Qamar: 49)

“(Yaitu di hari) ketika kamu berada di pinggir lembah yang dekat dan mereka berada di
pinggir lembah yang jauh, sedangkan kafilah itu berada di bawah kamu. Sekiranya kamu
mengadakan persetujuan (untuk menentukan hari pertempuran), pastilah kamu tidak
sependapat dalam menentukan hari pertempuran itu, akan tetapi (Allah mempertemukan
dua pasukan itu) agar Dia melakukan suatu urusan yang mesti dilaksanakan, yaitu agar
orang yang binasa itu binasanya dengan keterangan yang nyata dan agar orang yang
hidup itu hidupnya dengan keterangan yang nyata (pula). Sesungguhnya Allah Maha
Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (al-Anfaal: 42)

Tidak ada suatu keberatan pun atas Nabi tentang apa yang telah ditetapkan Allah
baginya. (Allah telah menetapkan yang demikian) sebagai sunnah-Nya pada nabi-nabi
yang telah berlalu dahulu. Dan adalah ketetapan Allah itu suatu ketetapan yang pasti
berlaku.” (al-Ahzab: 38)

“Yang pertama kali diciptakan Allah Yang Mahaberkah lagi Mahaluhur adalah pena (al-
qalam). Kemudian Dia berfirman kepadanya, ‘Tulislah…,’ Ia bertanya, ‘Apa yang saya
tulis?’ Dia berfirman, ‘Maka ia pun menulis apa yang ada dan yang bakal ada sampai
hari kiamat.” (HR Ahmad)

“Tiada seorang pun dari kalian kecuali telah ditulis tempatnya di neraka atau di surga.
Salah seorang dari mereka berkata, ‘Bolehkah kami bertawakal saja, ya, Rasulullah?’
Beliau menjawab, ‘Tidak, (akan tetapi) beramallah…karena setiap orang dimudahkan
(dalam beramal),’ kemudian beliau membaca ayat ini, ‘Adapun orang yang memberikan
(hartanya di jalan Allah), bertakwa dan membenarkan adanya pahala yang terbaik
(surga), maka kami kelak akan menyiapkan baginya jalan yang mudah. Dan adapun
orang-orang yang bakhil, merasa dirinya cukup dan mendustakan pahala yang terbaik,
maka kami kelak akan menyiapkan baginya (jalan) yang sukar.’” (HR Bukhari dan
Muslim, dari Ali bin Abi Thalib)

“Adapun orang yang memberikan (hartanya di jalan Allah) dan bertakwa, dan
membenarkan adanya pahala yang terbaik (surga), maka Kami kelak akan menyiapkan
baginya jalan yang mudah. Dan adapun orang-orang yang bakhil dan merasa dirinya
cukup serta mendustakan pahala terbaik, maka kelak Kami akan menyiapkan baginya
(jalan) yang sukar.” (al-Lail: 5-10)




Aqidah
III. RUKUN-RUKUN IMAN KEPADA QADHA DAN QADAR

Beriman kepada qadha dan qadar berarti mengimani rukun-rukunnya. Rukun-rukun ini
ibarat satuan-satuan anak tangga yang harus dinaiki oleh setiap mukmin. Dan tidak akan
pernah seorang mukmin mencapai tangga kesempurnaan iman terhadap qadar kecuali
harus meniti satuan anak tangga tersebut.

Iman terhadap qadha dan qadar memiliki empat rukun sebagai berikut.

Pertama, Ilmu Allah SWT. Beriman kepada qadha dan qadar berarti harus beriman kepda
Ilmu Allah yang merupakan deretan sifat-sifat-Nya sejak azali. Dia mengetahui segala
sesuatu. Tidak ada makhluk sekecil apa pun di langit dan di bumi ini yang tidak Dia
ketahui. Dia mengetahui seluruh makhluk-Nya sebelum mereka diciptakan. Dia juga
mengetahui kondisi dan hal-ihwal mereka yang sudah terjadi dan yang akan terjadi di
masa yang akan datang oleh karena ilmu-Nya benar-benar meliputi segala sesuatu. Dialah
Tuhan Yang Mengetahui yang gaib dan yang nyata.

Hal ini bisa kita temukan dalam beberapa ayat quraniah dan hadits nabawiah berikut ini.

“Allah-lah yang menciptakan tujuh langit dan seperti itu pula bumi. Perintah Allah
berlaku padanya, agar kamu mengetahui bahwasanya Allah Mahakuasa atas segala
sesuatu, dan sesungguhnya Allah ilmu-Nya benar-benar meliputi segala sesuatu.” (ath-
Thalaaq: 12)

“Dialah Allah Yang tiada Tuhan selain Dia, Yang Mengetahui yang ghaib dan yang
nyata, Dia-lah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang.” (al-Hasyr: 22)

“Dan pada sisi Allah-lah kunci-kunci semua yang ghaib; tidak ada yang mengetahuinya
kecuali Dia sendiri, dan Dia mengetahui apa yang di daratan dan di lautan, dan tiada
sehelai daun pun yang gugur melainkan Dia mengetahuinya (pula), dan tidak jatuh
sebutir biji pun dalam kegelapan bumi, dan tidak sesuatu yang basah atau yang kering,
melainkan tertulis dalam kitab yang nyata (Lauh Mahfudz).”
(al-An’aam: 59)
“Allah lebih mengetahui apa yang mereka kerjakan ketika menciptakan mereka.” (HR
Muslim)

Kedua, Penulisan Takdir. Di sini mukmin harus beriman bahwa Allah SWT menulis dan
mencatat takdir atau ketentuan-ketentuan yang berkaitan dengan kehidupan manusia dan
sunnah kauniah yang terjadi di bumi di Lauh Mahfuzh—“buku catatan amal” yang dijaga.
Tidak ada suatu apa pun yang terlupakan oleh-Nya. Perhatikan beberapa ayat di bawah ini.

“Tiada suatu bencana pun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri
melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauhul-Mahfuzh) sebelum Kami menciptakannya.
Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah. (Kami jelaskan yang demikian
itu) supaya kamu jangan berduka cita terhadap apa yang luput dari kamu, dan supaya

Aqidah
kamu jangan terlalu gembira terhadap apa yang diberikan-Nya kepadamu. Dan Allah
tidak menyukai setiap orang yang sombong lagi membanggakan diri,” (al-Hadiid: 22-23)

“Apakah kamu tidak mengetahui bahwa sesungguhnya Allah mengetahui apa saja yang
ada di langit dan di bumi; bahwasanya yang demikian itu terdapat dalam sebuah kitab
(Lauh Mahfuzh). Sesungguhnya yang demikian itu amat mudah bagi Allah.” (al-Hajj: 70)

“Dan tiadalah binatang-binatang yang ada di bumi dan burung-burung yang terbang
dengan kedua sayapnya, melainkan umat (juga) seperti kamu. Tiadalah Kami alpakan
sesuatu pun dalam Al-Kitab, kemudian kepada Tuhanlah mereka dihimpunkan.” (al-
An’aam: 38)

“Yang pertama kali diciptakan Allah Yang Mahaberkah lagi Mahaluhur adalah pena (al-
qalam). Kemudian Dia berfirman kepadanya, ‘Tulislah….” Ia bertanya, ‘Apa yang aku
tulis?’ Dia berfirman, maka ia pun menulis apa yang ada dan yang bakal ada sampai hari
kiamat.” (HR Ahmad)

Ketiga, Masyi`atullah (Kehendak Allah) dan Qudrat (Kekuasaan Allah). Seorang mukmin
yang telah mengimani qadha dan qadar harus mengimani masyi`ah (kehendak) Allah dan
kekuasaan-Nya yang menyeluruh. Apa pun yang Dia kehendaki pasti terjadi meskipun
manusia tidak menginginkannya. Begitu pula sebaliknya, apa pun yang tidak dikehendaki
pasti tidak akan terjadi meskipun manusia memohon dan menghendakinya. Hal ini bukan
dikarenakan Dia tidak mampu melainkan karena Dia tidak menghendakinya. Allah
berfirman,

“Dan tiada sesuatu pun yang dapat melemahkan Allah baik di langit maupun di bumi.
Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Kuasa.” (Faathir: 44)
Adapun dalil-dalil tentang masyi`atullah sangat banyak kita temukan dalam Al-Qur`an, di
antaranya sebagai berikut.

“Dan kamu tidak dapat menghendaki (menempuh jalan itu) kecuali apabila dikehendaki
Allah, Tuhan semesta alam.” (at-Takwiir: 29)

“Dan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami adalah pekak, bisu dan berada
dalam gelap gulita. Barangsiapa yang dikehendaki Allah (kesesatannya), niscaya
disesatkan-Nya. Dan barangsiapa yang dikehendaki Allah (untuk diberi-Nya petunjuk),
niscaya Dia menjadikan-Nya berada di atas jalan yang lurus.” (al-An’aam: 39)

“Sesungguhnya keadaan-Nya apabila Dia menghendaki sesuatu hanyalah berkata
kepadanya, ‘Jadilah!’ maka terjadilah ia.” (Yaasiin: 82)

“Siapa yang dikehendaki Allah menjadi orang baik, maka Dia akan menjadikannya faqih
(memahami) agama ini.” (HR Bukhari)

Simaklah apa jawaban Imam Syafi’i ketika ditanya tentang qadar berikut ini.

Aqidah
“Maka, apa-apa yang Engkau kehendaki pasti terjadi meskipun aku tidak berkehendak
Dan apapun yang aku kehendaki—apabila Engkau tidak berkehendak—tidak akan pernah
ada

Engkau menciptakan hamba-hamba ini sesuai yang Engkau ketahui
Maka dalam (bingkai) ilmu ini, lahirlah pemuda dan orang tua renta

Kepada (hamba) ini, Engkau telah memberikan karunia dan kepada yang ini Engkau
hinakan
Yang ini Engkau tolong dan yang ini Engkau biarkan (tanpa pertolongan)

Maka, dari mereka ada yang celaka dan sebagian mereka ada yang beruntung
Dari mereka ada yang jahat dan sebagian mereka ada yang baik

Keempat, Penciptaan-Nya. Ketika beriman terhadap qadha dan qodar, seorang mukmin
harus mengimani bahwa Allah-lah pencipta segala sesuatu, tidak ada Khaliq selain-Nya
dan tidak ada Rabb semesta alam ini selain Dia. Hal ini berdasarkan dalil-dalil berikut ini.

“Allah menciptakan segala sesuatu dan Dia memelihara segala sesuatu.”(az-Zumar: 62)

“Yang kepunyaan-Nya-lah kerajaan langit dan bumi, dan Dia tidak mempunyai anak, dan
tidak ada sekutu bagi-Nya dalam kekuasaan(Nya), dan dia telah menciptakan segala
sesuatu, dan Dia menetapkan ukuran-ukuranya dengan serapi-rapinya.” (al-Furqaan: 2)

“Padahal Allah-lah yang menciptakan kamu dan apa yang kamu perbuat Itu.“ (ash-
Shaaffat: 96)

“Sesungguhnya, Allah adalah Pencipta semua pekerja dan pekerjaannya.”
(HR Hakim)

Inilah empat rukun beriman kepada qadha dan qadar yang harus diyakini setiap muslim.
Maka, apabila salah satu di antara empat ini diabaikan atau didustakan, niscaya ia tidak
akan pernah sampai gerbang keimanan yang sesungguhnya. Sebab, mendustakan satu di
antara empat rukun tersebut berarti merusak bangunan iman terhadap qadha dan qadar,
dan ketika bangunan iman terhadap qadar rusak, maka juga akan menimbulkan kerusakan
pada bangunan tauhid itu sendiri.

IV. MACAM-MACAM TAKDIR

Takdir ada empat macam. Namun, semuanya kembali kepada takdir yang ditentukan pada
zaman azali dan kembali kepada Ilmu Allah yang meliputi segala sesuatu. Keempat
macam takdir tersebut adalah sebagai berikut.

Pertama, Takdir Umum (Takdir Azali). Takdir yang meliputi segala sesuatu dalam lima
puluh ribu tahun sebelum diciptakannya langit dan bumi. Di saat Allah SWT

Aqidah
memerintahkan al-Qalam (pena) untuk menuliskan segala sesuatu yang terjadi dan yang
belum terjadi sampai hari kiamat. Hal ini berdasarkan dalil-dalil berikut ini.
“Tiada suatu bencana pun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri
melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauhul-Mahfuzh) sebelum Kami menciptakannya.
Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah.”(al-Hadiid: 22)
“Allah-lah yang telah menuliskan takdir segala makhluk sejak lima puluh ribu tahun
sebelum diciptakan langit dan bumi. Beliau bersabda, ‘Dan ‘Arsy-Nya berada di atas
air.” (HR Muslim)

Kedua, Takdir Umuri. Yaitu takdir yang diberlakukan atas manusia pada awal
penciptaannya ketika pembentukan air sperma (usia empat bulan) dan bersifat umum.
Takdir ini mencakup rizki, ajal, kebahagiaan, dan kesengsaraan. Hal ini didasarkan sabda
Rasulullah saw. berikut ini.

“…Kemudian Allah mengutus seorang malaikat yang diperintahkan untuk meniupkan
ruhnya dan mencatat empat perkara: rizki, ajal, sengsara, atau bahagia... .” (HR
Bukhari)

Ketiga, Takdir Samawi. Yaitu takdir yang dicatat pada malam Lailatul Qadar setiap tahun.
Perhatikan firman Allah berikut ini.

“Pada malam itu dijelaskan segala urusan yang penuh hikmah.”(ad-Dukhaan: 4-5)

Ahli tafsir menyebutkan bahwa pada malam itu dicatat dan ditulis semua yang akan terjadi
dalam setahun, mulai dari kebaikan, keburukan, rizki, ajal, dan lain-lain yang berkaitan
dengan peristiwa dan kejadian dalam setahun. Hal ini sebelumnya telah dicatat pada Lauh
Mahfudz.

Keempat, Takdir Yaumi. Yaitu takdir yang dikhususkan untuk semua peristiwa yang akan
terjadi dalam satu hari; mulai dari penciptaan, rizki, menghidupkan, mematikan,
mengampuni dosa, menghilangkan kesusahan, dan lain sebagainya. Hal ini sesuai dengan
firman Allah,

“Semua yang ada di langit dan bumi selalu meminta kepada-Nya. Setiap waktu Dia dalam
kesibukan.” (ar-Rahmaan: 29)

Ketiga takdir yang terakhir tersebut, kembali kepada takdir azali: takdir yang telah
ditentukan dan ditetapkan dalam Lauh Mahfudz.

V. BERDALIH DENGAN QADAR DALAM KEMAKSIATAN DAN MUSIBAH

Semua yang ditakdirkan oleh Allah SWT selalu tersirat hikmah dan maslahat bagi
manusia. Hikmah dan maslahat yang telah diketahui oleh-Nya. Maka, Dia tidak pernah
menciptakan kejelekan dan keburukan murni yang tidak pernah melahirkan suatu
kemaslahatan. Kejelekan dan keburukan ini tidak boleh dinisbatkan kepada Allah SWT,

Aqidah
melainkan dinisbatkan kepada amal perbuatan manusia. Sesungguhnya, segala sesuatu
yang dinisbatkan kepada Allah mengandung keadilan, hikmah, dan rahmat

Hal ini berdasarkan firman Allah SWT.

“Apa saja nikmat yang kamu peroleh adalah dari Allah, dan apa saja bencana yang
menimpamu, maka dari (kesalahan) dirimu sendiri. Kami mengutusmu menjadi Rasul
kepada segenap manusia. Dan cukuplah Allah menjadi saksi.” (an-Nisaa`: 79)

Maksudnya, segala kenikmatan dan kebaikan yang dialami manusia berasal dari Allah
SWT, sedangkan keburukan yang menimpanya diakibatkan karena dosa dan
kemaksiatannya.

Allah membenci kekufuran dan kemaksiatan yang dilakukan hamba-hamba-Nya.
Sebaliknya, Dia mencintai dan meridhai ketakwaan dan kesalehan. Dia juga menunjukkan
dua jalan untuk hamba-hamba-Nya, sedangkan manusia diberikan akal untuk memilih
salah satu jalan tersebut sesuai pilihan dan kehendaknya. Maka, barangsiapa yang memilih
jalan kebaikan ia berhak mendapat ganjaran dan yang memilih jalan keburukan atau
kebatilan maka ia berhak mendapat siksa oleh karena hal ini dilakukan secara sadar dan
atas pilihannya sendiri tanpa ada unsur paksaan. Meskipun sebab-sebab dan factor-faktor
pendorong amal perbuatannya tidak lepas dari kehendak Allah SWT.

Maka, tidak ada alasan dan hujjah lagi bagi manusia bahwa setiap kekufuran dan
kemaksiantan yang dilakukannya karena takdir Allah SWT. Oleh karena itu, Allah
mencela orang-orang musyrik yang berdalih dengan masyi-at Allah atas kekufuran mereka
seperti dalam firmanNya;

“Orang-orang yang mempersekutukan Tuhan, akan mengatakan, ‘Jika Allah
menghendaki, niscaya kami dan bapak-bapak kami tidak mempersekutukan-Nya dan tidak
(pula) kami mengharamkan barang sesuatu apa pun.’ Demikian pulalah orang-orang
sebelum mereka telah mendustakan (para rasul) sampai mereka merasakan siksaan Kami.
Katakanlah, ‘Adakah kamu mempunyai sesuatu pengetahuan sehingga dapat kamu
mengemukakannya kepada Kami?" Kamu tidak mengikuti kecuali persangkaan belaka,
dan kamu tidak lain hanyalah berdusta. Katakanlah, ‘Allah mempunyai hujjah yang jelas
lagi kuat; maka jika Dia menghendaki, pasti Dia memberi petunjuk kepada kamu
semuanya.” (al-An’aam: 148-149)

“Dan berkatalah orang-orang musyrik, ‘Jika Allah menghendaki, niscaya kami tidak akan
menyembah sesuatu apa pun selain Dia, baik kami maupun bapak-bapak kami, dan tidak
pula kami mengharamkan sesuatu pun tanpa (izin)-Nya.’ Demikianlah yang diperbuat
orang-orang sebelum mereka, maka tidak ada kewajiban atas para rasul, selain dari
menyampaikan (amanat Allah) dengan terang. Tiap-tiap umat mempunyai rasul yang
diutus untuk menerangkan kebenaran.” (an-Nahl: 35)

Adapun berhujjah dengan takdir atas musibah yang menimpa manusia dapat dibenarkan

Aqidah
Islam. Sebagaimana dialog yang terjadi antara Nabi Adam dan Nabi Musa tentang
musibah dikeluarkannya Bani Adam dari surga.

“Adam dan Musa berbantah-bantahan. Musa berkata, ‘Wahai, Adam, Anda adalah bapak
kami yang telah mengecewakan dan mengeluarkan kami dari surga. Lalu Adam
menjawab, ‘Kamu, wahai Musa yang telah dipilih Allah dengan Kalam-Nya dan
menuliskan untkmu dengan Tangan-Nya, apakah kamu mencela kepadamu atas suatu
perkara yang mana Allah telah menakdirkan kepadaku sebelum aku diciptakan empat
puluh tahun?’ Maka Nabi bersabda, ‘Maka, Adam telah membantah Musa, Adam telah
membantah Musa.’” (HR Muslim)

VI. BUAH IMAN KEPADA QADAR

Muslim yang meyakini akan qadha dan qadar Allah SWT secara benar akan melahirkan
buah-buah positif dalam kehidupannya. Ia tidak akan pernah frustrasi atas kegagalan atau
harapan-harapan yang lari darinya, dan ia tidak terlalu berbangga diri atas kenikmatan dan
karunia yang ada di genggamannya. Sabar dan syukur adalah dua senjata dalam
menghadapi setiap permasalahan hidup.

DR. Umar Sulaiman al-Asyqar dalam kitab “Al-Qadha wa Al-Qadar” menyimpulkan buah
beriman terhadap qadar sebagai berikut.

Pertama, jalan yang membebaskan kesyirikan.
Kedua, tetap istiqamah. “Sesungguhnya, manusia diciptakan bersifat keluh kesah lagi
kikir. Apabila ia ditimpa kesusahan ia berkeluh kesah, dan apabila ia mendapat kebaikan
ia amat kikir, kecuali orang-orang yang mengerjakan shalat.” (al-Ma’arij: 19-22)
Ketiga, selalu berhati-hati. “Maka apakah mereka merasa aman dari azab Allah (yang
tidak terduga-duga)? Tiada yang merasa aman dan azab Allah kecuali orang-orang yang
merugi.” (al-A’raaf: 99)
Keempat, sabar dalam menghadapi segala problematika kehidupan.


---oo0oo---

Sumber: dakwatuna.com









Aqidah
IHSAN



Ihsan adalah puncak ibadah dan akhlak yang senantiasa menjadi target seluruh hambah
Allah SWT. Sebab, ihsan menjadikan kita sosok yang mendapatkan kemuliaan dari-Nya.
Sebaliknya, seorang hamba yang tidak mampu mencapai target ini akan kehilangan
kesempatan yang sangat mahal untuk menduduki posisi terhormat dimata Allah SWT.
Rasulullah saw. pun sangat menaruh perhatian akan hal ini, sehingga seluruh ajaran-
ajarannya mengarah kepada satu hal, yaitu mencapai ibadah yang sempurna dan akhlak
yang mulia.
Oleh karenanya, seorang muslim hendaknya tidak memandang ihsan itu hanya sebatas
akhlak yang utama saja, melainkan harus dipandang sebagai bagian dari aqidah dan bagian
terbesar dari keislamannya. Karena, Islam dibangun di atas tiga landasan utama, yaitu
iman, Islam, dan ihsan, seperti yang telah diterangkan oleh Rasulullah saw dalam
haditsnya yang shahih. Hadist ini menceritakan saat Raulullah saw. menjawab pertanyaan
Malaikat Jibril—yang menyamar sebagai seorang manusia—mengenai Islam, iman, dan
ihsan. Setelah Jibril pergi, Rasulullah saw. bersabda kepada para sahabatnya :
` . ´ ` · ` . ´` ·` ` . ¯ ' ¸` ` - ` ·` ,· . , .· · .
“Inilah Jibril yang datang mengajarkan kepada kalian urusan agama kalian.” Beliau
menyebut ketiga hal di atas sebagai agama, dan bahkan Allah SWT memerintahkan untuk
berbuat ihsan pada banyak tempat dalam Al-Qur`an.

Aqidah
“Dan belanjakanlah (harta bendamu) di jalan Allah, dan janganlah kamu menjatuhkan
dirimu sendiri ke dalam kebinasaan, dan berbuat baiklah, Karena Sesungguhnya Allah
menyukai orang-orang yang berbuat baik.” (al-Baqarah: 195)
“Sesungguhnya Allah memerintahkanmu untuk berbuat adil dan kebaikan….”(an-Nahl:
90)
Pengertian Ihsan
Ihsan berasal dari kata َ .ُ ~َ ﺡ yang artinya adalah berbuat baik, sedangkan bentuk
masdarnya adalah ْن'َ ~ْﺡِ ا, yang artinya kebaikan. Allah SWT berfirman dalam Al-Qur`an
mengenai hal ini.
Jika kamu berbuat baik, (berarti) kamu berbuat baik bagi dirimu sendiri…” (al-Isra’: 7)
“…Dan berbuat baiklah (kepada oraang lain) seperti halnya Allah berbuat baik
terhadapmu….” (al-Qashash:77)
Ibnu Katsir mengomentari ayat di atas dengan mengatakan bahwa kebaikan yang
dimaksud dalam ayat tersebut adalah kebaikan kepada seluruh makhluk Allah SWT.
Landasan Syar’i Ihsan.
Pertama, Al-Qur`an
Dalam Al-Qur`an, terdapat seratus enam puluh enam ayat yang berbicara tentang ihsan
dan implementasinya. Dari sini kita dapat menarik satu makna, betapa mulia dan
agungnya perilaku dan sifat ini, hingga mendapat porsi yang sangat istimewa dalam Al-
Qur`an. Berikut ini beberapa ayat yang menjadi landasan akan hal ini.
“…Dan berbuat baiklah kalian karena sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang
berbuat baik.” (al-Baqarah:195)

“Sesungguhnya Allah memerintahkanmu untuk berbuat adil dan kebaikan….” (an-Nahl:
90)
“…serta ucapkanlah kata-kata yang baik kepada manusia….” (al-Baqarah: 83)
“…Dan berbuat baiklah terhadap dua orang ibu bapak, kerabat, anak-anak yatim, orang-
orang miskin, tetangga dekat maupun yang jauh, teman sejawat, ibnu sabil dan para
hamba sahayamu….” (an-Nisaa`: 36)
Kedua; As-Sunnah.

Aqidah
Rasulullah saw. pun sangat memberi perhatian terhadap masalah ihsan ini. Sebab, ia
merupakan puncak harapan dan perjuangan seorang hamba. Bahkan, diantara hadist-hadist
mengenai ihsan tersebut, ada beberapa yang menjadi landasan utama dalam memahami
agama ini. Rasulullah saw. menerangkan mengenai ihsan—ketika ia menjawab pertanyaan
Malaikat Jibril tentang ihsan dimana jawaban tersebut dibenarkan oleh Jibril, dengan
mengatakan :
· ` ·` , · ` · ` ¸ ´ ` . . , · ` · :` ' ¯ = ` ` · . ' .
“Engkau menyembah Allah seakan-akan engkau melihat-Nya, dan apabila engkau tidak
dapat melihat-Nya, maka sesungguhnya Dia melihatmu.” (HR. Muslim)
Di kesempatan yang lain, Rasulullah bersabda:
.` ¸ ¸ ¯ ¸ · . ` - ` . ´` , · . ¯ = . , · ` ` .` ` - · ` .` · · ·
· -` ` .` ` - · ` .` ` - · ·
“Sesungguhnya Allah telah mewajibkan kebaikan pada segala sesuatu, maka jika kamu
membunuh, bunuhlah dengan baik, dan jika kamu menyembelih, sembelihlah dengan
baik…” (HR. Muslim)
Tiga Aspek Pokok Dalam Ihsan
Ihsan meliputi tiga aspek yang fundamental. Ketiga hal tersebut adalah ibadah,
muamalah, dan akhlak. Ketiga hal ini lah yang menjadi pokok bahasan kita kali ini.
A. Ibadah
Kita berkewajiban ihsan dalam beribadah, yaitu dengan menunaikan semua jenis ibadah,
seperti shalat, puasa, haji, dan sebagainya dengan cara yang benar, yaitu menyempurnakan
syarat, rukun, sunnah, dan adab-adabnya. Hal ini tidak akan mungkin dapat ditunaikan
oleh seorang hamba, kecuali jika saat pelaksanaan ibadah-ibadah tersebut ia dipenuhi
dengan cita rasa yang sangat kuat (menikmatinya), juga dengan kesadaran penuh bahwa
Allah senantiasa memantaunya hingga ia merasa bahwa ia sedang dilihat dan diperhatikan
oleh-Nya. Minimal seorang hamba merasakan bahwa Allah senantiasa memantaunya,
karena dengan ini lah ia dapat menunaikan ibadah-ibadah tersebut dengan baik dan
sempurna, sehingga hasil dari ibadah tersebut akan seperti yang diharapkan. Inilah maksud
dari perkataan Rasulullah saw yang berbunyi, “Hendaklah kamu menyembah Allah
seakan-akan engkau melihat-Nya, dan jika engkau tak dapat melihat-Nya, maka
sesungguhnya Dia melihatmu.”

Aqidah

Kini jelaslah bagi kita bahwa sesungguhnya arti dari ibadah itu sendiri sangatlah luas.
Maka, selain jenis ibadah yang kita sebutkan tadi, yang tidak kalah pentingnya adalah juga
jenis ibadah lainnya seperti jihad, hormat terhadap mukmin, mendidik anak,
menyenangkan isteri, meniatkan setiap yang mubah untuk mendapat ridha Allah, dan
masih banyak lagi. Oleh karena itulah, Rasulullah saw. menghendaki umatnya senantiasa
dalam keadaan seperti itu, yaitu senantiasa sadar jika ia ingin mewujudkan ihsan dalam
ibadahnya.
Tingkatan Ibadah dan Derajatnya.
Berdasarkan nash-nash Al-Qur`an dan Sunnah, maka ibadah mempunyai tiga tingkatan,
yang pada setiap tingkatan derajatnya masing-masing seorang hamba tidak dapat
mengukurnya. Karena itulah, kita berlomba untuk meraihnya. Pada setiap derajat, ada
tingkatan tersendiri dalam surga. Yang tertinggi adalah derajat muhsinin, ia menempati
jannatul firdaus, derajat tertinggi di dalam surga. Kelak, para penghuni surga tingkat
bawah akan saling memandang dengan penghuni surga tingkat tertinggi, laksana
penduduk bumi memandang bintang-bintang di langit yang menandakan jauhnya jarak
antara mereka.
Adapun tiga tingkatan tersebut adalah sebagai berikut.
1.Tingkat at-Takwa, yaitu tingkatan paling bawah dengan derajat yang berbeda-beda.
2. Tingkat al-Bir, yaitu tingkatan menengah dengan derajat yang berbeda-beda.
3.Tingkat al-Ihsan, yaitu tingkatan tertinggi dengan derajat yang berbeda-beda pula.

Pertama,Tingkat Takwa.
Tingkat taqwa adalah tingkatan dimana seluruh derajatnya dihuni oleh mereka yang
masuk katagori al-Muttaqun, sesuai dengan derajat ketaqwaan masing-masing.
Takwa akan menjadi sempurna dengan menunaikan seluruh perintah Allah dan
meninggalkan seluruh larangan-Nya. Hal ini berarti meninggalkan salah satu perintah
Allah dapat mengakibatkan sangsi dan melakukan salah satu larangannya adalah dosa.
Dengan demikian, puncak takwa adalah melakukan seluruh perintah Allah dan
meninggalkansemualarangan-Nya.
Namun, ada satu hal yang harus kita fahami dengan baik, yaitu bahwa Allah SWT Maha
Mengetahui keadaan hamba-hamba-Nya yang memiliki berbagai kelemahan, yang dengan
kelemahannya itu seorang hamba melakukan dosa. Oleh karena itu, Allah membuat satu
cara penghapusan dosa, yaitu dengan cara tobat dan pengampunan. Melalui hal tersebut,
Allah SWT akan mengampuni hamba-Nya yang berdosa karena kelalaiannya dari
menunaikan hak-hak takwa. Sementara itu, ketika seorang hamba naik pada peringkat

Aqidah
puncak takwa, boleh jadi ia akan naik pada peringkat bir atau ihsan.
Peringkat ini disebut martabat takwa, karena amalan-amalan yang ada pada derajat ini
membebaskannya dari siksaan atas kesalahan yang dilakukannya. Adapun derajat yang
paling rendah dari peringkat ini adalah derajat dimana seseorang menjaga dirinya dari
kekalnya dalam neraka, yaitu dengan iman yang benar yang diterima oleh Allah SWT.
Kedua,Tingkatal-Bir.
Peringkat ini akan dihuni oleh mereka yang masuk kategori al-Abrar. Hal ini sesuai
dengan amalan-amalan kebaikan yang mereka lakukan dari ibadah-ibadah sunnah serta
segala sesuatu yang dicintai dan diridhai oleh Allah SWT. hal ini dilakukan setelah
mereka menunaikan segala yang wajib, atau yang ada pada peringkat sebelumnya, yaitu
peringkat takwa.
Peringkat ini disebut martabat al-Bir (kebaikan), karena derajat ini merupakan perluasan
pada hal-hal yang sifatnya sunnah, sesuatu sifatnya semata-mata untuk mendekatkan diri
kepada Allah dan merupakan tambahan dari batasan-batasan yang wajib serta yang
diharamkan-Nya. Amalan-amalan ini tidak diwajibkan Allah kepada hamba-hamba-Nya,
tetapi perintah itu bersifat anjuran, sekaligus terdapat janji pahala didalamnya.
Akan tetapi, mereka yang melakukan amalan tambahan ini tidak akan masuk kedalam
kelompok al-bir, kecuali telah menunaikan peringkat yang pertama, yaitu peringkat takwa.
Karena, melakukan hal pertama merupakan syarat mutlak untuk naik pada peringkat
selanjutnya.
Dengan demikian, barangsiapa yang mengklaim dirinya telah melakukan kebaikan sedang
dia tidak mengimani unsur-unsur qaidah iman dalam Islam, serta tidak terhidar dari
siksaan neraka, maka ia tidak dapat masuk dalam peringkat ini (al-bir). Mengenai hal ini,
Allah SWT berfirman dalam kitab-Nya.
“…Bukanlah kebaikan dengan memasuki rumah-rumah dari belakangnya, akan tetapi
kebaikan itu adalah takwa, dan datangilah rumah-rumah itu dari pintu-pintunya dan
bertakwalah kepada Allah agar kalian beruntung.” (al-Baqarah: 189)
”Ya Tuhan kami, sesungguhnya kami mendengar seruan orang yang menyeru kepada
iman, yaitu: Berimanlah kamu kepada Tuhanmu, maka kamipun beriman. Ya Tuhan kami
ampunilah bagi kami dosa-dosa kami dan hapuskanlah dari kami kesahan-kesalahan
kami dan wafatkanlah kami bersama orang-orang yang banyak berbuat baik.” (Ali
‘Imran: 193)
Ketiga, Tingkatan Ihsan
Tingkatan ini akan dicapai oleh mereka yang masuk dalam kategori Muhsinun. Mereka
adalah orang-orang yang telah melalui peringkat pertama dan yang kedua (peringkat
takwa dan al-bir).

Aqidah
Ketika kita mencermati pengertian ihsan dengan sempurna—seperti yang telah kita
sebutkan sebelumnya, maka kita akan mendapatkan suatu kesimpulan bahwa ihsan
memiliki dua sisi: Pertama, ihsan adalah kesempurnaan dalam beramal sambil menjaga
keikhlasan dan jujur pada saat beramal. Ini adalah ihsan dalam tata cara (metode). Kedua,
ihsan adalah senantiasa memaksimalkan amalan-amalan sunnah yang dapat mendekatkan
diri kepada Allah, selama hal itu adalah sesuatu yang diridhai-Nya dan dianjurkan untuk
melakukannya.
Untuk dapat naik ke martabat ihsan dalam segala amal, hanya bisa dicapai melalui
amalan-amalan wajib dan amalan-amalan sunnah yang dicintai oleh Allah, serta dilakukan
atas dasar mencari ridha Allah.
B. Muamalah
Dalam bab muamalah, ihsan dijelaskan Allah SWT pada surah an Nisaa’ ayat 36, yang
berbunyi sebagai berikut : “Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya
dengan sesuatu pun dan berbuat baiklah kepada dua orang ibu bapak, karib kerabat,
anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga yang dekat maupun yang jauh, teman
sejawat, ibnu sabil dan hamba sahayamu…”
Kita sebelumnya telah membahas bahwa ihsan adalah beribadah kepada Allah dengan
sikap seakan-akan kita melihat-Nya, dan jika kita tidak dapat melihat-Nya, maka Allah
melihat kita. Kini, kita akan membahas ihsan dari muamalah dan siapa saja yang masuk
dalam bahasannya. Berikut ini adalah mereka yang berhak mendapatkan ihsan tersebut:
Pertama, Ihsan kepada kedua orang tua.
Allah SWT menjelaskan hal ini dalam kitab-Nya.
“Dan tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu tidak menyembah selain Dia dan
hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah
seorang diantara keduanya atau kedua-duanya berumr lanjut dalam pemeliharaanmu,
maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan “ah” dan
janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang
mulia. Dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kesayangan dan
ucapkanlah: “Wahai Tuhanku, kasihilah mereka keduanya, sebagaimana mereka berdua
mendidik aku diwaktu kecil.” (al-Israa’: 23-24)
Ayat di atas mengatakan kepada kita bahwa ihsan kepada ibu-bapak adalah sejajar dengan
ibadah kepada Allah.
Dalam sebuah hadist riwayat Turmuzdi, dari Ibnu Amru bin Ash, Rasulullah saw.
Bersabda :

Aqidah
¸` . ` -` ¸ · = ` -` ¸` . ¸ . ¸ · = ¸ .
“Keridhaan Allah berada pada keridhaan orang tua, dan kemurkaan Allah berada pada
kemurkaan orang tua.”
Dalil di atas menjelaskan bahwa ibadah kita kepada Allah tidak akan diterima, jika tidak
disertai dengan berbuat baik kepada kedua orang tua. Apabila kita tidak memiliki
kebaikan ini, maka bersamaan dengannya akan hilang ketakwaan, keimanan, dan
keislaman. Dan Akhlak kepada sesama manusia yang paling utama kepada kedua orang
tua, berakhlak kepada mereka adalah dengan berbakti kepada keduanya, baik ketika hidup
aupun setelah wafatnya, sebagimana hadits Nabi :
· ..` ` · ` ¸` - ` , . · ` . ·` · ·, ¸` : · ` , ' ¸ ' ` ¸ ·
· ..` . · · ¸ ` ¸ · ¸`- ` · . - · . ·` , · ` · ¸ .
` ·' ' .` ¸ ` . . ' ` ` ¸ · ¸ ¸ · · ` . ` . · . · . ` . · ` · ·
¸ . -` · . · ` · ` ¸ · · ` . · · ` ` . ` ` · ` .` , ·
. . ` · ¯ . ¸ ..` , ·· . · .
Dari Abu Usaid Malik bin Rabi’ah As-Sa’idy berkata : “Tatkala kami sedngan bersama
Rasulullah SAW, tiba-tiba datang seseorang dari Bani Salamah seraya bertanya : “Ya
Rasulallah apakah masih ada kesempatan untuk saya berbakti kepada Ibu Bapak saya
setekah keduanya wafat?” Nabi menjawab : “Ya, dengan mendoakan keduanya,
memohon ampun unyuknya, melaksanakan janjinya dan menyambung silaturrahmi dari
sanak saudarnya serta memuliakan teman-temannya
Kedua, Ihsan kepada kerabat karib.
Ihsan kepada kerabat adalah dengan jalan membangun hubungan yang baik dengan
mereka, bahkan Allah SWT menyamakan seseorang yang memutuskan hubungan
silatuhrahmi dengan perusak dimuka bumi. Allah berfirman :
”Maka apakah kiranya jika kamu berkuasa kamu akan membuat kerusakan dimuka bumi
dan memutuskan hubungan kekeluargaan.?” (Muhammad: 22)
Silaturahmi adalah kunci untuk mendapatkan keridhaan Allah. Hal ini dikarenakan sebab

Aqidah
paling utama terputusnya hubungan seorang hamba dengan Tuhannya adalah karena
terputusnya hubungan silaturahmi. Dalam sebuah hadits qudsi, Allah berfirman:
. . ` ¸ · ¸ ` ` ¸ · . ` . . -` ` . - ` ¸ ` -` ' ` · '
` ·' . · = · ` ¸ · ` ·` .
“Aku adalah Allah, Aku adalah Rahman, dan Aku telah menciptakan rahim yang Kuberi
nama bagian dari nama-Ku. Maka, barangsiapa yang menyambungnya, akan Ku
sambungkan pula baginya dan barangsiapa yang memutuskannya, akan Ku putuskan
hubunganku dengannya.” (HR. Turmuzdi)
Dalam hadits lain, Rasulullah bersabda, “Tidak akan masuk surga, orang yang
memutuskan tali silaturahmi.” (HR. Syaikahni dan Abu Dawud)
Ketiga, Ihsan kepada anak yatim dan fakir miskin.
Diriwayatkan oleh Bukhari, Abu Dawud, dan Turmuzdi, bahwa Rasulullah saw bersabda,
“Aku dan orang yang memelihara anak yatim di surga kelak akan seperti ini…(seraya
menunjukkan jari telunjuk jari tengahnya).”
Diriwayatkan oleh Turmuzdi, Nabi saw. Bersabda :

` ¸ · , ¸ · ` ¸ · . · . ·` , · ` · ¸ . ` ¸ ` . ' ¸` · ¸` ` ¸ ·
` · -` · ' · · · · ~ ¸ ` ` ¸` , ` · ¸ ` · . ' ·` - ` ·
` · ` ` ·`
Dari Ibnu Abbas bahwasanya Nabi SAW bersabda : “Barangsiapa—dari Kaum
Muslimin—yang memelihara anak yatim dengan memberi makan dan minumnya, maka
Allah akan memasukkannya ke dalam surga selamanya, selama ia tidak melakukan dosa
yang tidak terampuni.”
Keempat, Ihsan kepada tetangga dekat, tetangga jauh, serta teman sejawat.

Aqidah
Ihsan kepada tetangga dekat meliputi tetangga dekat dari kerabat atau tetangga yang
berada di dekat rumah, serta tetangga jauh, baik jauh karena nasab maupun yang berada
jauh dari rumah.
Adapun yang dimaksud teman sejawat adalah yang berkumpul dengan kita atas dasar
pekerjaan, pertemanan, teman sekolah atau kampus, perjalanan, ma’had, dan sebagainya.
Mereka semua masuk ke dalam katagori tetangga. Seorang tetangga kafir mempunyai hak
sebagai tetangga saja, tetapi tetangga muslim mempunyai dua hak, yaitu sebagai tetangga
dan sebagai muslim, sedang tetangga muslim dan kerabat mempunyai tiga hak, yaitu
sebagai tetangga, sebagai muslim dan sebagai kerabat. Rasulullah saw. menjelaskan hal ini
dalam sabdanya :
. ·` , · ` · ¸ . · ..` .· . · ·.` ·` · ¸` · ` · ` ¸ ·
¸` - ` ¸ ·` .` ` ·` ` ·` · . ` ¸` - ` ` · ` . ` ` · , ¸ .
` · . ` ·` - ¸ · '
Dari Abdullah bin Mas’ud RA berkata, bersabda Rasulullah SAW : Demi Yang jiwaku
berada di tangan-NYA tidaklah selamat seorang hamba sampai hati dan lisannya selamat
(tidak berbuat dosa) dan tidaklah beriman (sempurna keimanannya) seorang hamba
sehingga tetangganya merasa aman dari gangguannya. (HR.Ahmad)
Pada hadits yang lain, Rasulullah bersabda :
` · · ` · .` · ` · - ` ·` - ·` . ` ¸ · ¸ ` ¸ ·` .` .
“Tidak beriman kepadaku barangsiapa yang kenyang pada suatu malam, sedangkan
tetangganya kelaparan, padahal ia megetahuinya.”(HR. ath-Thabrani)

Kelima, Ihsan kepada ibnu sabil dan hamba sahaya.
Rasulullah saw. bersabda mengenai hal ini :
` · ` , . ` · ´` , · -¯ ·` . , · ` ¸ ·` .` . ¯ ` ¸ ·
“Barangsiapa beriman kepada Allah dan Hari Akhir, hendaklah memuliakan tamunya.”
(HR. Jama’ah, kecuali Nasa’i)

Aqidah
Selain itu, ihsan terhadap ibnu sabil adalah dengan cara memenuhi kebutuhannya,
menjaga hartanya, memelihara kehormatannya, menunjukinya jalan jika ia meminta, dan
memberinya pelayanan.
` . · . ·` , · ` · ¸ . ` ¸ ` ¸ ¸` - . - . ` · ' ` . ¯ · ..
. · ` . . ·` , · ` · ¸ . · ..` ` ·` · . . · · · - ` ¸ ·
·` · ·` ·` . ¸ ¯ . · · · - ` ¸· . ` · ' ` . ¯ · ..`
Pada riwayat yang lain, dikatakan bahwa seorang laki-laki datang kepada Rasulullah
saw. dan berkata, “Ya, Rasulullah, berapa kali saya harus memaafkan hamba
sahayaku?” Rasulullah diam tidak menjawab. Orang itu berkata lagi, “Berapa kali ya,
Rasulullah?” Rasul menjawab, “Maafkanlah ia tujuh puluh kali dalam sehari.” (HR. Abu
Daud dan at-Turmuzdi)
` · -` · ` ·` - ¸ ` · · ` · . - ` . ` · · · ~ ` ·` · · - ` . ¯ - ' · . ·
` ·` · · ¸ · ` · . , · , · ·. ` · ` · · = . ¯ . , · ¸ ¯ ' , · ` · · · ` ·` · ` , ·
¸` , ¯ ' ` ' · ¯ '
Dalam riwayat yang lain, Rasulullah saw bersabda, “Jika seorang hamba sahaya
membuat makanan untuk salah seorang diantara kamu, kemudian ia datang membawa
makanan itu dan telah merasakan panas dan asapnya, maka hendaklah kamu
mempersilahkannya duduk dan makan bersamamu. Jika ia hanya makan sedikit, maka
hendaklah kamu mememberinya satu atau dua suapan.” (HR. Bukhari, Turmuzdi, dan
Abi Daud)
Adapun muamalah terhadap pembantu atau karyawan dilakukan dengan membayar
gajinya sebelum keringatnya kering, tidak membebaninya dengan sesuatu yang ia tidak
sanggup melakukannya, menjaga kehormatannya, dan menghargai pridainya. Jika ia
pembantu rumah tangga, maka hendaklah ia diberi makan dari apa yang kita makan, dan
diberi pakaian dari apa yang kita pakai.
Pada akhir pembahasan mnegenai bab muamalah ini, Allah SWT menutupnya firman-
Nya yang berbunyi :

Aqidah
”Sesungguhnya Allah tidak menyukai tiap-tiap orang yang berkhianat lagi mengingkari
nikmat.” (al-Hajj: 38)
Ayat di atas merupakan isyarat yang sangat jelas kepada siapa saja yang tidak berlaku
ihsan. Bahkan, hal itu adalah pertanda bahwa dalam dirinya ada kecongkakan dan
kesombongan, dua sifat yang sangat dibenci oleh Allah SWT.
Keenam, Ihsan dengan perlakuan dan ucapan yang baik kepada manusia.
-¯ ·` . , · ` ¸ ·` .` . ¯ ` ¸ · ` .` ` . , ` ` , - ¸ , ·
Rasulullah saw. bersabda, “Barangsiapa beriman kepada Allah dan Hari Kiamat,
hendaklah ia berkata yang baik atau diam.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Masih riwayat dari Bukhari dan Muslim, Rasulullah bersabda :
' .` . · · · . ` ` ` ·
“Ucapan yang baik adalah sedekah.”
Bagi manusia secara umum, hendaklah kita melembutkan ucapan, saling menghargai
dalam pergaulan, menyuruh kepada yang makruf dan mencegahnya dari kemungkaran,
menunjukinya jalan jika ia tersesat, mengajari mereka yang bodoh, mengakui hak-hak
mereka, dan tidak mengganggu mereka dengan tidak melakukan hal-hal dapat mengusik
serta melukai mereka.Ketujuh, Ihsan dengan berlaku baik kepada binatang.
Berbuat ihsan terhadap binatang adalah dengan memberinya makan jika ia lapar,
mengobatinya jika ia sakit, tidak membebaninya diluar kemampuannya, tidak
menyiksanya jika ia bekerja, dan mengistirahatkannya jika ia lelah. Bahkan, pada saat
menyembelih, hendaklah dengan menyembelihnya dengan cara yang baik, tidak
menyiksanya, serta menggunakan pisau yang tajam.
Inilah sisi-sisi ihsan yang datang dari nash Al-Quran dan Sunnah Rasulullah saw.
· Beberapa contoh ihsan dalam hal muamalah
Pada Perang Uhud, orang-orang Quraisy membunuh paman Rasulullah saw, yaitu
Hamzah. Mereka mencincang tubuhnya, membelah dadanya, serta memecahkan giginya,
kemudian seorang sahabat meminta Rasulullah saw. berdoa agar mereka diazab oleh
Allah. Akan tetapi, Rasulullah malah berkata :

Aqidah
.` .` ` · ` .` .` · ` ¸ · ` . · ` · ` .` .
“Ya Allah, ampunilah mereka, karena mereka adalah kaum yang bodoh.”
Contoh kedua, suatu hari, Umar bin Abdul Aziz berkata kepada hamba sahaya
perempuannya, “Kipasilah aku sampai aku tertidur.” Lalu, hambanya pun mengipasinya
sampai ia tertidur. Karena sangat mengantuk, sang hamba pun tertidur. Ketika Umar
bangun, beliau mengambil kipas tadi dan mengipasi hamba sahayanya. Ketika hamba
sahaya itu terbangun, maka ia pun berteriak menyaksikan tuannya melakukan hal
tersebut. Umar kemudian berkata, “Engkau adalah manusia biasa seperti diriku dan
mendapatkan kebaikan seperti halnya aku, maka aku pun melakukan hal ini kepadamu,
sebagaimana engkau melakukannya padaku”.
C. Akhlak
Ihsan dalam akhlak sesungguhnya merupakan buah dari ibadah dan muamalah. Seseorang
akan mencapai tingkat ihsan dalam akhlaknya apabila ia telah melakukan ibadah seperti
yang menjadi harapan Rasulullah dalam hadits yang telah dikemukakan di awal tulisan ini,
yaitu menyembah Allah seakan-akan melihat-Nya, dan jika kita tidak dapat melihat-Nya,
maka sesungguhnya Allah senantiasa melihat kita. Jika hal ini telah dicapai oleh seorang
hamba, maka sesungguhnya itulah puncak ihsan dalam ibadah. Pada akhirnya, ia akan
berbuah menjadi akhlak atau perilaku, sehingga mereka yang sampai pada tahap ihsan
dalam ibadahnya akan terlihat jelas dalam perilaku dan karakternya. Jika kita ingin
melihat nilai ihsan pada diri seseorang—yang diperoleh dari hasil maksimal ibadahnya,
maka kita akan menemukannya dalam muamalah kehidupannya. Bagaimana ia
bermuamalah dengan sesama manusia, lingkungannya, pekerjaannya, keluarganya, dan
bahkan terhadap dirinya sendiri. Berdasarkan ini semua, maka Rasulullah saw.
mengatakan dalam sebuah hadits :
· ` - . · ´ · .` ' ` . · ·` `
“Aku diutus hanyalah demi menyempurnakan akhlak yang mulia.”
Ihsan adalah puncak prestasi dalam ibadah, muamalah, dan akhlak. Oleh karena itu, semua
orang yang menyadari akan hal ini tentu akan berusaha dengan seluruh potensi diri yang
dimilikinya agar sampai pada tingkat tersebut. Siapa pun kita, apa pun profesi kita, dimata
Allah tidak ada yang lebih mulia dari yang lain, kecuali mereka yang telah naik ketingkat
ihsan dalam seluruh sisi dan nilai hidupnya. Semoga kita semua dapat mencapai hal ini,
sebelum Allah SWT mengambil ruh ini dari kita. Wallahu a’lam bish-shawwab.


Aqidah
Penjelasan Rasmul bayan

1. Pengawasan Allah.

Dalil:
• Q. 50: 16-18, Dan demi sesungguhnya, Kami telah mencipta manusia dan Kami sedia
mengetahui apa yang dibisikkan oleh hatinya, sedang (pengetahuan) Kami lebih dekat
kepadanya daripada urat lehernya. Semasa dua malaikat (yang mengawal dan
menjaganya) menerima dan menulis segala perkataan dan perbuatannya, yang satu duduk
di sebelah kanannya, dan yang satu lagi di sebelah kirinya. Tidak ada sembarang
perkataan yang dilafazkannya (atau perbuatan yang dilakukannya) melainkan ada di
sisinya malaikat pengawas yang senantiasa sedia (menerima dan menulisnya).
• Q. 80: 14, Yang tinggi derajatnya lagi suci (dari segala gangguan).
• Q. 2: 284, Segala yang ada di langit dan yang ada di bumi adalah kepunyaan Allah. Dan
jika kamu melahirkan apa yang ada di dalam hati kamu atau kamu menyembunyikannya,
niscaya Allah akan menghitung dan menyatakannya kepada kamu. Kemudian Ia
mengampuni bagi siapa yang dikehendaki-Nya dan menyiksa siapa yang dikehendaki-Nya
(menurut undang-undang peraturan-Nya). Dan (ingatlah), Allah Maha Kuasa atas tiap-tiap
sesuatu.

2. Kebaikan Allah.

Dalil:
• Q. 28: 77, Dan tuntutlah dengan harta kekayaan yang telah dikaruniakan Allah
kepadamu akan pahala dan kebahagiaan hari akhirat dan janganlah engkau melupakan
bahagianmu (keperluan dan bekalanmu) dari dunia dan berbuat baiklah (kepada hamba-
hamba Allah) sebagaimana Allah berbuat baik kepadamu (dengan pemberian nikmat-Nya
yang melimpah-limpah) dan janganlah engkau melakukan kerusakan di muka bumi,
sesungguhnya Allah tidak suka kepada orang-orang yang berbuat kerusakan.
• Q. 1: 3, Yang Maha Pemurah lagi Maha Mengasihani.
• Q. 2: 29, Dialah (Allah) yang menjadikan untuk kamu segala yang ada di bumi,
kemudian Ia menuju dengan kehendak-Nya ke arah (bahan-bahan) langit, lalu
dijadikannya tujuh langit dengan sempurna dan Ia Maha Mengetahui akan tiap-tiap
sesuatu.
• Q. 31: 20, Tidakkah kamu memperhatikan bahwa Allah telah memudahkan untuk
kegunaan kamu apa yang ada di langit dan yang ada di bumi, dan telah melimpahkan
kepada kami nikmat-nikmat-Nya yang zahir dan yang bathin. Dalam pada itu ada diantara
manusia orang yang membantah mengenai (sifat-sifat) Allah dengan tidak berdasarkan
sembarang pengetahuan atau sembarang petunjuk dan tidak juga berdasarkan nama-nama
Kitab Allah yang menerangi kebenaran.


Aqidah
3. Niat Yang Ihsan.

Dalil:
• Q. 2: 207, Dan di antara manusia ada yang mengorbankan dirinya karena mencari
keridhaan Allah semata-mata dan Allah pula amat belas kasihan akan hamba-hambanya.

4. Niat Yang Ikhlas.

Dalil:
• Q. 98: 5, Padahal mereka tidak diperintahkan melainkan supaya menyembah Allah
dengan mengikhlaskan ibadah kepadanya, lagi tetap teguh di atas tauhid dan supaya
mereka mendirikan shalat serta memberi zakat. Dan demikian itulah agama yang benar.

5. Pekerjaan Yang Tertib dan Penyelesaian Yang Baik.

· . ·· .¯- ¸· · .- = .
Sesungguhnya Allah mencinai amalan seorang diantara kamu yang dilakukan dengan
itqon (professional, optimal dan tuntas)

6. Amal Yang Ihsan.

:, = ¸- ¯ ¸-

dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik,
kepadamu, (Al Qoshosh : 77)

7. Kecintaan Dari Allah.

Dalil:
• Q. 2: 195, Dan belanjakanlah (apa yang ada pada kamu) karena (menegakkan) agama
Allah, dan janganlah kamu sengaja mencampakkan diri kamu ke dalam bahaya kebinasaan
(dengan bersikap bakhil), dan baikilah (dengan sebaik-baiknya segala usaha dan)
perbuatan kamu, karena sesungguhnya Allah mengasihi orang-orang yang berusaha
memperbaiki amalannya.
• Q. 3: 134, Yaitu orang-orang yang mendermakan hartanya pada masa senang dan susah,
dan orang-orang yang menahan kemarahannya dan orang-orang yang memaafkan
kesalahan orang. Dan (ingatlah) Allah mengasihi orang-orang yang berbuat perkara-
perkara yang baik.

Aqidah
• Q. 3: 148, Oleh karena itu, Allah memberikan mereka pahala dunia (kemenangan dan
nama yang harum) dan pahala akhirat yang sebaik-baiknya (nikmat Surga yang tidak ada
bandingannya). Dan (ingatlah) Allah senantiasa mengasihi orang-orang yang berbuat
kebaikan.

8. Pahala Dari Allah.

Dalil:
• Q. 3: 148, Oleh karena itu Allah memberikan mereka pahala dunia (kemenangan dan
nama yang harum) dan pahala akhirat yang sebaik-baiknya (nikmat surga yang tidak ada
bandingannya). Dan (ingatlah) Allah senantiasa mengasihi orang-orang yang berbuat
kebaikan.
• Q. 16: 97, Siapa yang beramal shalih dari lelaki atau perempuan sedang ia beriman,
maka sesungguhnya Kami akan menghidupkan dia dengan kehidupan yang baik, dan
sesungguhnya Kami akan membalas mereka, dengan memberikan pahala yang lebih dari
apa yang mereka telah kerjakan.

9. Pertolongan Allah.

Dalil:
• Q. 16: 128, Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang bertaqwa, dan orang-orang
yang berusaha memperbaiki amalannya.
• Q. 29: 69, Dan orang-orang yang berusaha dengan bersungguh-sungguh karena
memenuhi kehendak agama Kami, sesungguhnya Kami akan memimpin mereka ke jalan-
jalan Kami (yang menjadikan mereka bergembira serta beroleh keridhaan), dan
sesungguhnya (pertolongan dan bantuan) Allah adalah beserta orang-orang yang berusaha
memperbaiki amalannya.

---oo0oo---

Sumber: dakwatuna.com, tarbiyahklatenutara.blogspot.com

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->