P. 1
104

104

|Views: 110|Likes:
Published by iain-su

More info:

Published by: iain-su on Aug 28, 2010
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

09/02/2015

pdf

text

original

HUBUNGAN ANTARA STATUS GIZI DAN MOTIVASI BELAJAR DENGAN HASIL BELAJAR SISWA SD KAJAR 02 KECAMATAN TRANGKIL KABUPATEN

PATI TAHUN AJARAN 2004/2005

Diajukan dalam Rangka Penyelesaian Studi Strata 1 untuk Mencapai Gelar Sarjana Kesehatan Masyarakat

Disusun Oleh: Nama NIM Jurusan Fakultas : Tina Mulyanti : 6450401080 : Ilmu Kesehatan Masyarakat : Ilmu Keolahragaan

UNIVERSITAS NEGERI SEMARANG 2005

PENGESAHAN

Telah dipertahankan di hadapan sidang Panitia Ujian Skripsi Fakultas ilmu Keolahragaan Pada hari : Senin Tanggal : 15 Agustus 2005

Panitia Ujian Ketua Panitia, Sekretaris,

Drs Sutardji, MS NIP.130523506

dr Oktia Woro KH, M.kes. NIP.131695159

Dewan Penguji, 1.

Dra ER Rustiana, M.Si. NIP.131472346 2.

(Ketua)

Drs Sugiharto, M.Kes. NIP.131571557 3.

(Anggota)

dr Mahalul Azam NIP.132297151

(Anggota)

iv

iv

SARI

Penelitian ini berjudul “Hubungan Status Gizi dan Motivasi dengan Hasil Belajar Siswa SD Kajar 02 Kecamatan Trangkil Kabupaten Pati Tahun Ajaran 2004/2005”, dengan latar belakang dalam upaya mencapai hasil belajar yang optimal, siswa selalu dihadapkan pada berbagai masalah dan kendala, status gizi dan motivasi harus terus diupayakan untuk meningkatkan hasil belajar, hingga pengembangan kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) menjadi lebih maksimal. Permasalahan dalam penelitian ini yaitu adakah hubungan status gizi dengan hasil belajar siswa SD Kajar 02 Kecamatan Trangkil Kabupaten Pati Tahun Ajaran 2004/2005, adakah hubungan motivasi dengan hasil belajar siswa SD Kajar 02 Kecamatan Trangkil Kabupaten Pati Tahun Ajaran 2004/2005 Tujuan dari penelitian ini, untuk mengetahui hubungan status gizi dengan hasil belajar siswa SD Kajar 02 Kecamatan Trangkil Kabupaten Pati Tahun Ajaran 2004/2005, untuk mengetahui hubungan motivasi dengan hasil belajar siswa SD Kajar 02 Kecamatan Trangkil Kabupaten Pati Tahun Ajaran 2004/2005. Hipotesis yang ingin diuji kebenarannya yaitu, ada hubungan antara status gizi dengan hasil belajar siswa SD Kajar 02 Kecamatan Trangkil Kabupaten Pati Tahun Ajaran 2004/2005, ada hubungan motivasi dengan hasil belajar siswa SD Kajar 02 Kecamatan Trangkil Kabupaten Pati Tahun Ajaran 2004/2005. Metode penelitian yang digunakan dengan populasi seluruh siswa kelas 1 sampai kelas 6 sejumlah 122 siswa. Berdasarkan kriteria inklusi dan eksklusi, sampel yang diambil adalah kelas 3 sampai kelas 6 dengan rangking 1 sampai 10 sejumlah 40 siswa. Jenis penelitian adalah explanatory research dengan pendekatan cross sectional study. Teknik pengambilan data status gizi melalui pengukuran antoprometri yaitu BB/U dan BB/TB, pengambilan data motivasi melalui pengisian kuesioner, pengambilan data hasil belajar melalui nilai hasil semester 1. Teknik analisis data untuk dua variabel yang terdiri dari satu variabel bebas dan satu variabel terikat masing-masing digunakan chi square. Berdasarkan analisis chi square untuk hubungan status gizi dengan hasil belajar menghasilkan chi square hitung = 305,806 dan chi square tabel 305,041 sehingga chi square hitung > chi square tabel. Analisis chi square untuk hubungan motivasi dengan hasil belajar diperoleh chi square hitung = 98,889 dan chi square tabel = 75,624. Disimpulkan bahwa ada hubungan yang berarti antara status gizi dengan hasil belajar siswa SD Kajar 02 Kecamatan Trangkil Kabupaten Pati Tahun Ajaran 2004/2005 dan ada hubungan yang berarti antara motivasi dengan hasil belajar siswa SD Kajar 02 Kecamatan Trangkil Kabupaten Pati Tahun Ajaran 2004/2005. Saran yang dapat diberikan yaitu hendaknya semua orang tua untuk memperhatikan kansumsi makan anak, karena kebutuhan gizi yang cukup dan terpenuhi dapat menunjang hasil belajarnya. Diharapkan pula kerjasama guru dengan orang tua terhadap pemberian bimbingan, pengarahan, dan motivasi siswa untuk mendukung hasil belajarnya.

ii

KATA PENGANTAR

Puji syukur ke hadirat Allah SWT atas berkat rahmat-Nya, telah terselesaikannya skripsi ini dengan judul: “HUBUNGAN STATUS GIZI DAN MOTIVASI DENGAN HASIL BELAJAR SISWA SD KAJAR 02 KECAMATAN TRANGKIL KABUPATEN PATI TAHUN AJARAN 2004/2005”. Skripsi ini disusun sebagai tugas dan syarat terselesaikannya tugas akhir pada Universitas Negeri Semarang guna meraih gelar Sarjana Kesehatan Masyarakat. Bantuan dan dorongan berbagai pihak memacu semangat penulis untuk berusaha terselesaikannya skripsi ini. Oleh karena itu dengan segenap ketulusan hati, penulis ucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada: 1. Dekan Fakultas Ilmu Keolahragaan Universitas Negeri Semarang, Drs Sutardji, M. S. atas diberikannya bimbingan dan dukungannya. 2. Ketua Jurusan Ilmu Kesehatan Masyarakat Universitas Negeri Semarang, dr. Oktia Woro KH, M. Kes. atas dukungannya. 3. Pembimbing I Jurusan Ilmu Kesehatan Masyarakat Universitas Negeri Semarang, Drs Sugiharto, M. Kes. atas dukungan di sela-sela kesibukannya dari awal hingga akhir penulisan skripsi ini. 4. Pembimbing II Jurusan Ilmu Kesehatan Masyarakat Universitas Negeri Semarang, dr. Mahalul Azam atas diberikannya bimbingan yang sangat berarti.

v

5. Bapak dan Ibu Dosen Jurusan Ilmu Kesehatan Masyarakat Universitas Negeri Semarang atas segala dukungan dan bimbingannya di jurusan Ilmu Kesehatan Masyarakat Universitas Negeri Semarang. 6. Kepala Sekolah beserta guru SD Kajar 02 Kecamatan Trangkil Kabupaten Pati, atas kesedian siswanya sebagai sampel penelitian. 7. Rekan-rekan angkatan 2001 Jurusan Ilmu Kesehatan Masyarakat Universitas Negeri Semarang, :Titin, Deni, Wati, Atik dan masih banyak lagi lainnya yang tidak dapat disebutkan satu persatu. 8. Adik-adik kos Nusa Indah, terima kasih atas dukungan beserta doa kalian. Disadari dalam penyusunan skripsi ini banyak kekurangannya, semoga amal baik dari semua pihak senantiasa mendapat pahala yang berlipat ganda dari Allah SWT. Segala kritik dan saran yang bersifat membangun sangat diharapkan.

Semarang,

Agustus 2005

vi

DAFTAR ISI

Halaman JUDUL ................................................................................................... SARI ....................................................................................................... PENGESAHAN ...................................................................................... MOTO DAN PERSEMBAHAN ............................................................. KATA PENGANTAR ............................................................................ DAFTAR ISI .......................................................................................... DAFTAR TABEL.................................................................................... DAFTAR GAMBAR .............................................................................. DAFTAR LAMPIRAN ........................................................................... BAB I PENDAHULUAN ....................................................................... 1.1 Latar Belakang Masalah .................................................................... 1.2 Permasalahan .................................................................................... 1.3 Tujuan Penelitian ............................................................................. 1.4 Batasan Operasional .......................................................................... 1.5 Kegunaan Hasil Penelitian ................................................................ BAB II LANDASAN TEORI .................................................................. 2.1 Status Gizi ......................................................................................... 2.1.1 Pengertian Gizi ............................................................................... 2.1.2 Pengertian Status Gizi .................................................................... 2.1.3 Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Status Gizi .............................. 2.1.4 Penilaian Status Gizi ...................................................................... 2.2 Motivasi ......................................................................................... i ii iv v vi viii xi xii xiii 1 1 4 5 5 6 8 8 8 11 11 14 14 14 15 18 19 21

2.2.1 Pengertian Motivasi ........................................................................ 2.2.2 Macam Motivasi ............................................................................ 2.2.3 Ciri-Ciri Motivasi ........................................................................... 2.2.4 Fungsi Motivasi .............................................................................. 2.3 Hasil Belajar ..................................................................................

viii

2.3.1 Pengertian Hasil Belajar ................................................................. 2.3.2 Prinsip-Prinsip Belajar ................................................................... 2.3.3 Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Hasil Belajar ........................... 2.4 2.5 2.6 2.7 2.8 2.9 Hubungan Status Gizi dengan Hasil Belajar ................................... Hubungan Motivasi dengan Hasil Belajar ....................................... Hubungan Status Gizi dan Motivasi dengan Hasil Belajar .............. Kerangka Teori .............................................................................. Kerangka Konsep ........................................................................... Hipotesis ........................................................................................

23 23 24 37 38 40 41 42 42 44 44 44 45 45 46 47 48 48 49 49 51 51 65 68 68 68 70

BAB III METODE PENELITIAN .......................................................... 3.1 Populasi Penelitian ............................................................................ 3.2 Sampel Penelitian .............................................................................. 3.3 Variabel Penelitian ............................................................................ 3.4 Rancangan Penelitian ........................................................................ 3.5 Teknik Pengambilan Data ................................................................. 3.6 Prosedur Penelitian ............................................................................ 3.7 Instrumen Penelitian .......................................................................... 3.8 Validitas dan Reliabilitas ................................................................... 3.9 Faktor-Faktor yang Memepengaruhi Penelitian .................................. 3.10 Analisis Data ................................................................................... BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN ......................... 4.1 Hasil Penelitian ................................................................................. 4.2 Pembahasan ...................................................................................... BAB V SIMPULAN DAN SARAN ........................................................ 5.1 Simpulan ........................................................................................... 5.2 Saran ................................................................................................. DAFTAR PUSTAKA ............................................................................. LAMPIRAN

ix

x

DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran 1. Kuesioner Penelitian Motivasi Belajar ............................................... 2. Validitas dan Reliabilitas.................................................................... 3. Tabel Product Moment ...................................................................... 4. Tabel Status Gizi ............................................................................... 5. Tabel Chi Square ............................................................................... 6. Hasil Kuesioner Motivasi Belajar ...................................................... 7. Dokumentasi .................................................................................... 8. Siswa Kelas III – 6 SD Kajar 02 Kecamatan Trangkil Kabupaten Pati ................................................ 9. Analisis Chi Square untuk Hubungan Status Gizi dengan Hasil Belajar ...................................................................................... 10. Analisis Chi Square untuk Hubungan Motivasi dengan Hasil Belajar ...................................................................................... 11. Surat Ijin Penelitian ............................................................................

Halaman 72 76 78 79 81 82 84

88

89

91 92

xi

DAFTAR TABEL

Tabel 1. Distribusi Frekuensi Jenis Kelamin Responden ................................. 2. Distribusi Ferkuensi Umur Responden ............................................... 3. Distribusi Frekuensi Motivasi Instrinsik ............................................. 4. Distribusi Frekuensi Motivasi Ekstrinsik ............................................ 5. Distribusi Motivasi Belajar................................................................. 6. Status Gizi Responden ....................................................................... 7. Motivasi Belajar Responden ............................................................... 8. Hasil Belajar Responden .................................................................... 9. Data Status Gizi dan Hasil Belajar Responden.................................... 10. Data Motivasi dan Hasil Belajar Responden .......................................

Halaman 51 52 52 53 53 54 56 57 59 60

ix

1

BAB I PENDAHULUAN

1.1

Latar Belakang Masalah Pada masa arus globalisasi yang melanda semua negara, masyarakat Indonesia

akan menghadapi adanya keterbukaan informasi, komunikasi, dan liberalisasi perdagangan. Kemajuan teknologi menyebabkan interaksi budaya akan berjalan semakin intensif. Akibatnya terjadi pergeseran pola dan gaya hidup, bahkan penilaian dan tatanan kehidupan manusia di dunia, tak terkecuali di Indonesia. Sejak tahun 1997, masyarakat Indonesia mengalami berbagai rangkaian krisis yang berkepanjangan. Untuk dapat bertahan dalam persaingan tingkat dunia, sangat diperlukan sumber daya manusia yang berkualitas. Sumber daya manusia merupakan aset nasional yang mendasar dan faktor penentu bagi keberhasilan pembangunan. Kualitas sumber daya manusia harus ditingkatkan terus menerus sesuai dengan kemajuan ilmu pengetahuan, teknologi, dan derap perkembangan pembangunan nasional. Kaum muda sebagai potensi andalan produktivitas nasional, mestinya mendapat suasana yang kondusif demi terwujudnya segala potensi yang dimilikinya. Sarana paling strategis bagi peningkatan kualitas sumber daya manusia adalah pendidikan. Dalam konsep pendidikan dijelaskan bahwa belajar adalah tugas wajib dalam kehidupan, artinya pada diri seseorang tetap melekat tuntutan untuk selalu belajar hingga melahirkan produk yang berguna, dan di dalam pendidikan dapat diraih melalui pencapaian hasil belajar (Martensi KDJ dan Mungin Edy Wibowo, 1980:54).

2

Hasil belajar adalah produk atau keluaran yang dicapai setelah melakukan kegiatan belajar sebagai upaya untuk mendapat sesuatu kepandaian. Hasil belajar dapat diukur dengan nilai yang dicapai melalui berbagai bentuk tes (Woodworth, 1978:57). Hasil belajar merupakan hasil dari proses pendidikan yang dipandang sebagai investasi modal berupa sumber daya manusia. Upaya untuk membangun sumber daya manusia yang berdaya saing tinggi melalui peningkatan hasil belajar bukanlah suatu pekerjaan yang ringan. Rendahnya mutu pada jenjang pendidikan dasar teramat penting untuk segera diatasi. Ada beberapa faktor yang dapat menentukan hasil belajar, baik berasal dari dirinya (internal) maupun dari luar dirinya (eksternal). Pencapaian hasil belajar merupakan hasil interaksi antara berbagai faktor tersebut. Dari sudut internal diantaranya meliputi lingkungan sosial, budaya, dan lingkungan fisik, misalnya fasilitas rumah dan fasilitas belajar. Kematangan fisik dan psikis dalam bentuk jasmani yang sehat dan kecerdasan yang dapat mempengaruhi hasil belajar itu diantaranya berhubungan erat dengan pola makan dan status gizi. Konsep sehat menurut WHO merupakan keadaan dan kualitas dari organ tubuh yang berfungsi secara wajar dengan segala faktor keturunan dan lingkungan yang dipunyainya. Kondisi tubuh yang sehat pada seseorang akan mempengaruhi pola pikir dalam aktivitas belajar berupa pencapaian hasil belajar yang optimal. Untuk mencapai keadaan ini diperlukan cukup gizi yang diperoleh dengan pola makan sehat dan seimbang. Status gizi ditentukan melalui konsumsinya karena melalui makanan, akan

3

diperoleh zat gizi yang merupakan kebutuhan dasar manusia untuk hidup, tumbuh, dan berkembang. Status gizi tercermin melalui pola pemberian makanan. Hal tersebut dapat dijadikan media untuk mendidik anak agar menerima, menyukai dan memilih makanan yang bermutu, serta dalam jumlah yang cukup. Anak merupakan golongan yang rentan terhadap masalah gizi, padahal anak masih mengalami proses pertumbuhan dan perkembangan. Maka gizi dalam makanan sangat diperlukan bagi tumbuh kembang anak. Status gizi yang baik merupakan salah satu faktor yang menyebabkan peningkatan kualitas pendidikan diantaranya tingginya motivasi dikalangan anak-anak. Motivasi merupakan dorongan yang dibentuk oleh pengalaman yang mengarahkan seseorang untuk berbuat dan bertindak kemudian menjadi motivasi yang diwujudkan melalui sikap, perhatian, dan aktivitas. Motivasi adalah kekuatan-kekuatan dari dalam diri individu untuk berbuat (Vembriarto, 1984:23). Motivasi merupakan sub komponen dari faktor psikologis yang dapat mempengaruhi keberhasilan belajar. Keberhasilan belajar dapat meningkatkan kualitas pendidikan sehingga mampu memenuhi tuntutan kebutuhan pembangunan. Dalam upaya peningkatan hasil belajar dimungkinkan banyak tergantung dari motivasi peserta didik itu sendiri. Tingkatan motivasi yang berbeda diantara peserta didik akan membawa perubahan dan semangat belajar yang berbeda pula. SD Kajar 02 Kecamatan Trangkil Kabupaten Pati merupakan salah satu bentuk dari pendidikan dasar. Berdasarkan hasil belajar tahun ajaran 2002/2003 dengan tahun

4

ajaran 2003/2004 SD Kajar 02 mengalami penurunan yang terdiri dari rangking nilai Ujian Akhir Sekolah (UAS) tingkat kecamatan : dari peringkat 10 menjadi 12, nilai ratarata rapot : dari 6,9 menjadi 6,7. Menurut hasil survei, 62,3 % para orang tua yang mempunyai anak di SD tersebut belum memahami arti pentingnya pendidikan dan kebutuhan gizi, terutama bagi anak-anaknya. Padahal Pendidikan dasar dan kebutuhan gizi tersebut merupakan tahap kritis dalam membentuk otak, watak, dan kepribadian. Setiap proses pendidikan dan kesehatan selalu diharapkan adanya keberhasilan dalam pembelajaran. Dalam upaya peningkatan hasil belajar, dipilih status gizi dan motivasi sebagai alternatifnya. Status gizi yang baik berhubungan dengan kesehatan fisik, psikis yang dapat menciptakan motivasi sehingga dapat membawa perubahan-perubahan, baik dalam hal semangat kehadiran, kemauan belajar maupun hasil belajar. Berdasarkan uraian tersebut diatas, perlu dilakukan penelitian untuk mengetahui hubungan status gizi dan motivasi dengan hasil belajar siswa SD Kajar 02 Kecamatan Trangkil Kabupaten Pati Tahun Ajaran 2004/ 2005.

1.2 Permasalahan Berdasarkan uraian latar belakang di atas, maka yang menjadi permasalahan dalam penelitian ini adalah : 1) Adakah hubungan antara status gizi dengan hasil belajar siswa SD Kajar 02 Kecamatan Trangkil Kabupaten Pati ? 2) Adakah hubungan antara motivasi dengan hasil belajar siswa SD Kajar 02 Kecamatan Trangkil Kabupaten Pati ?

5

1.3 Tujuan Penelitian 1.3.1 Tujuan Umum Untuk mengetahui hubungan status gizi dan motivasi dengan hasil belajar siswa SD Kajar 02 Kecamatan Trangkil Kabupaten Pati. 1.3.2 Tujuan Khusus 1) Untuk mengetahui hubungan status gizi dengan hasil belajar siswa SD Kajar 02 Kecamatan Trangkil Kabupaten Pati. 2) Untuk mengetahui hubungan motivasi dengan hasil belajar siswa SD Kajar 02 Kecamatan Trangkil Kabupaten Pati.

1.4 Batasan Operasional 1.4.1 Status Gizi Gambaran keseimbangan antara kebutuhan zat gizi dan masukan gizi yang diukur dengan indeks Antropometri berupa pengukuran Berat Badan (Kg) menurut Umur (BB/U) dan Berat Badan Menurut Tinggi Badan (BB/TB). Ukuran Skala : Gizi buruk, gizi kurang, gizi baik, gizi lebih : ordinal

1.4.2 Motivasi Belajar Motivasi adalah dorongan mental yang menggerakkan dan mengarahkan perilaku manusia, kekuatan atau dorongan mental itu berupa keinginan, perhatian, kemajuan, cita-cita (Dimyati dan Mudjiono, 1994:75).

6

Belajar adalah setiap perubahan yang relatif menetap dalam tingkah laku yang terjadi sebagai suatu hasil dari latihan atau pengalaman. Pada diri siswa terdapat kekuatan yang menjadi penggerak belajar dan siswa belajar karena dorongan kekuatan mental tersebut. Jadi motivasi belajar siswa diartikan sebagai dorongan mental yang menggerakkan dan mengarahkan siswa untuk belajar.berasal dari dalam atau luar individu untuk melakukan aktivitas belajar yang diukur melalui kuesioner yang meliputi 24 pertanyaan dengan kriteria sebagai berikut: Motivasi kurang bila x ± SD Motivasi sedang bila x ± SD Motivasi baik bila Ukuran Skala
x ± SD (Agus Irianto, 2004:44)

: Motivasi kurang, motivasi sedang, motivasi baik : ordinal

1.4.3 Hasil Belajar Hasil belajar adalah hasil dari proses belajar yang berupa rata-rata nilai semester 1 tahun pelajaran 2004/2005. Ukuran Skala : Peringkat 1 sampai 10 : Ordinal

1.5 Kegunaan Hasil Penelitian 1.5.1 Bagi Sekolah Sebagai sumbangan pemikiran untuk pengambilan keputusan dalam upaya peningkatan hasil belajar siswa.

7

1.5.2 Bagi Orang tua Siswa Sebagai sumbangan pemikiran untuk dalam upaya pemenuhan status gizi dan pemberian motivasi anak. 1.5.3 Bagi Pihak Lain Sebagai salah satu sumber acuan bagi pihak lain yang memerlukannya untuk kepentingan penelitian lanjutan di masa yang akan datang.

1

BAB II LANDASAN TEORI

2.1

Landasan Teori

2.1.1 Status Gizi 2.1.1.1 Pengertian gizi Gizi adalah zat-zat yang diperoleh dari makanan yang dikonsumsi seseorang dan merupakan bahan dasar penyusun bahan makanan (Achmad Djaeni, 2000:56). Menurut I Dewa Nyoman, Bachyar Bakri, dan Ibnu Fajar (2002:17) definisi gizi adalah sebagai berikut: Gizi adalah suatu proses organisme menggunakan makanan yang dikonsumsi secara normal melalui proses digesti, absorpsi, transportasi, penyimpanan, metabolisme, dan pengeluaran zat-zat yang tidak digunakan untuk mempertahankan kehidupan, pertumbuhan dan fungsi normal dari organ-organ, serta menghasilkan energi. Berdasarkan pengertian diatas terkandung maksud bahwa gizi adalah suatu proses mencapai, memperbaiki, dan mempertahankan kesehatan tubuh melalui konsumsi makanan. 2.1.1.2 Fungsi Gizi Terdapat empat fungsi zat gizi bagi tubuh: 1) Sebagai sumber energi atau tenaga. Jika fungsi ini terganggu, seseorang menjadi berkurang geraknya dan merasa cepat lelah. 2) Memelihara proses tubuh dalam pertumbuhan dan perkembangan, terutama bagi mereka yang masih dalam pertumbuhan. 3) Memelihara jaringan tubuh, mengganti sel-sel yang rusak

8

9

4) Berperan dalam mekanisme pertahanan tubuh terhadap berbagai penyakit sebagai antioksidan. 2.1.1.3 Akibat Gangguan Gizi terhadap Fungsi Tubuh Konsumsi makanan berpengaruh terhadap status gizi seseorang. Status gizi baik atau status gizi optimal terjadi bila tubuh memperoleh cukup zat-zat gizi yang digunakan secara efisien, sehingga memungkinkan pertumbuhan fisik, perkembangan otak, kemampuan kerja dan kesehatan secara umum seoptimal mungkin. Status gizi kurang terjadi bila tubuh mengalami kekurangan satu atau lebih zat-zat gizi esensial. Status gizi lebih terjadi bila tubuh memperoleh zat-zat gizi dalam jumlah berlebihan, sehingga menimbulkan efek toksis atau membahayakan. 2.1.1.3.1 Akibat Gizi kurang pada Proses Tubuh Akibat kurang gizi terhadap proses tubuh bergantung pada zat-zat gizi esensial. Kekurangan gizi secara umum (makanan kurang dalam kuantitas dan kualitas) menyebabkan gangguan pada proses: 1) Pertumbuhan Anak-anak membutuhkan zat gizi untuk menunjang pertumbuhan tubuhnya. Protein sebagai salah satu unsur zat gizi berguna dalam pemeliharaan proses tubuh terutama untuk pertumbuhan dan perkembangan, utamanya bagi mereka yang masih dalam pertumbuhan. Kekurangan protein mengakibatkan rambut rontok dan lembeknya jaringan otot.

10

2) Produksi Tenaga Kekurangan energi berasal dari makanan, menyebabkan seseorang kekurangan tenaga untuk bergerak, bekerja, dan melakukan aktivitas. Orang menjadi malas, merasa lemah, dan produktivitas kerja menurun. 3) Pertahanan Tubuh Daya tahan terhadap tekanan atau stres menurun. Sistem imunitas dan antibodi berkurang, sehingga orang mudah terserang infeksi seperti batuk, pilek, dan diare. Pada anak-anak hal ini dapat mengakibatkan kematian. 4) Struktur dan Fungsi Otak Kurang gizi pada usia muda dapat berpengaruh terhadap perkembangan mental., termasuk kemampuan berpikirnya. Otak mencapai bentuk maksimal pada usia dua tahun. Kekurangan gizi dapat berakibat terganggunya fungsi otak secara permanen. 5) Perilaku Baik anak-anak maupun orang dewasa yang kurang gizi menunjukkan perilaku yang tidak tenang. Mereka mudah tersinggung, cengeng, dan apatis. Berdasarkan keterangan diatas, terkandung unsur bahwa gizi yang baik merupakan modal bagi pengembangan sumber daya manusia. 2.1.1.3.2 Akibat Gizi Lebih pada Proses Tubuh Gizi lebih menyebabkan kegemukan atau obesitas. Kelebihan energi yang dikonsumsi disimpan di dalam jaringan dalam bentuk lemak. Kegemukan merupakan salah satu faktor risiko dalam terjadinya berbagai penyakit degeneratif, seperti hipertensi atau tekanan darah tinggi, diabetes mellitus, jantung koroner, hati, dan kandung empedu.

11

2.1.1.4 Pengertian Status Gizi Status gizi pada dasarnya merupakan ekspresi dari keadaan keseimbangan dalam bentuk variabel tertentu, atau perwujudan dari nutriture dalam bentuk variabel tertentu. Contoh : Gondok endemik merupakan keadaan tidak seimbangnya pemasukan dan pengeluaran yodium dalam tubuh. (I Dewa Nyoman Supariasa, Bachyar Bakri, dan Ibnu Fajar, 2002 : 18) 2.1.1.5 Faktor-faktor yang menentukan status gizi yaitu 2.1.1.5.1 Konsumsi makanan Pola konsumsi makanan yang bergizi pada kebanyakan penduduk dapat dikatakan masih kurang mencukupi yang dibutuhkan oleh tubuh masing-masing anggota tiap keluarga. Padahal keseimbangan antara makanan yang masuk kedalam tubuh dengan kebutuhan tubuh akan zat gizi merupakan penentu status gizi seseorang. Faktor-faktor yang mempengaruhi konsumsi makanan adalah: 2.1.1.5.1.1 Pendapatan keluarga Penduduk kota dan penduduk pedesaan yang mempunyai penghasilan rendah, selain memanfaatkan penghasilannya untuk keperluan makan keluarga, juga harus membagikannya untuk berbagai keperluan lain (pendidikan, transportasi ,dll). Sehingga tidak jarang persentase penghasilan untuk keperluan penyediaan makanan hanya kecil saja. Berbeda dengan keluarga yang mempunyai penghasilan cukup namun anaknya mengalami kekurangan gizi. Terjadinya hal ini karena cara pengaturan belanja keluarga yang kurang baik.

12

2.1.1.5.1.2 Kurangnya pengetahuan akan bahan makanan yang bergizi Rendahnya pendapatan didukung dengan kurangnya pengetahuan akan bahan makanan yang bergizi, maka pemberian makan untuk keluarga biasanya dipilih bahanbahan makanan yang hanya akan mengenyangkan perut saja tanpa memikirkan apakah makanan itu bergizi atau kurang bergizi. 2.1.1.5.1.3 Pantangan-pantangan yang secara tradisional masih diberlakukan Survei konsumsi pangan yang dilakukan oleh Suharjo tentang adanya pantangan-pantangan mengemukakan sehubungan dengan pangan yang biasanya dipandang pantas untuk dimakan, dijumpai banyak pola pantangan, takhayul dan larangan pada beragam kebudayaan dan daerah yang berlainan didunia, khususnya di Indonesia. Bila pola pantangan makanan berlaku pada seluruh penduduk sepanjang hidupnya maka akan terjadi kecenderungan kekurangan zat gizi karena adanya keterbatasan dalam pola konsumsi mereka. 2.1.1.5.2 Kesehatan Keadaan kesehatan seseorang mencerminkan status gizinya. Adapun faktorfaktor yang mempengaruhi kesehatan antara lain: 2.1.1.5.2.1 Kebiasaan makan Koentjaraningrat (1980:59) Kebiasaan makan individu, keluarga, dan

masyarakat dipengaruhi oleh: 1) Faktor perilaku, seperti cara berpikir dinyatakan dalam bentuk tindakan makan dan memilih makanan. Kejadian ini berulang kali dilakukan sehingga menjadi kebiasaan makan.

13

2) Faktor lingkungan sosial, seperti segi kependudukan dengan susunan dan sifatsifatnya. 3) Faktor lingkungan ekonomi, seperti daya beli masyarakat. 4) Faktor lingkungan ekologi, seperti kondisi tanah. 5) Faktor ketersediaan bahan makanan, seperti sarana dan prasarana kehidupan. Berdasarkan uraian diatas bahwa pada dasarnya, pola makan masyarakat atau kelompok dimana anak tersebut berada, akan sangat mempengaruhi kebiasaan makan, selera, dan daya terima anak akan suatu makanan. Oleh karena itu, di lingkungan anak hidup terutama keluarga perlu pembiasaan makan anak yang memperhatikan kesehatan dan gizi. 2.1.1.5.2.2 Pemeliharaan kesehatan Salah satu pemeliharaan kesehatan dapat ditempuh melalui pendidikan gizi yang mengarah keperbaikan konsumsi makanan. Zat-zat gizi yang diperoleh dari konsumsi bahan makanan tersebut, harus mempunyai nilai yang sangat penting untuk: 1) Memelihara proses tubuh dalam pertumbuhan dan perkembangan, terutama bagi mereka yang masih dalam pertumbuhan. 2) Memperoleh energi guna melakukan kegiatan fisik sehari-hari. 3) Termasuk dalam memelihara proses tubuh dalam pertumbuhan dan perkembangan yaitu penggantian sel-sel yang rusak dan sebagai zat pelindung dalam tubuh. Proses tubuh dalam pertumbuhan dan perkembangan yang terpelihara dengan baik akan menunjukkan baiknya kesehatan yang dimiliki seseorang, sehingga memiliki daya pikir dan daya kegiatan sehari-hari yang maksimal.

14

Maka dengan adanya pendidikan gizi yang merupakan salah satu unsur penting dalam meningkatkan status gizi sebagai upaya pemeliharaan kesehatan masyarakat untuk jangka panjang. Berdasarkan keterangan diatas faktor konsumsi makanan dan kesehatan yang dapat berpengaruh terhadap status gizi seseorang berdampak pada pencapaian hasil belajar yang optimal. 2.1.1.6 Penilaian Status Gizi Berdasarkan atas tujuan penelitian status gizi yang dilakukan, maka beberapa metodologi penelitian dapat diterapkan untuk menilai status gizi. Meliputi penilaian secara langsung berupa antropometri. Antropometri digunakan untuk mengukur status gizi dari berbagai ketidakseimbangan antara asupan protein dan energi. Antropometri gizi berhubungan dengan berbagai macam pengukuran dimensi tubuh dan komposisi tubuh dari berbagai tingkat umur dan tingkat gizi. Indeks antropometri yang sering digunakan yaitu Berat Badan menurut Umur (BB/U) dan Berat Badan Menurut Tinggi Badan (BB/TB). Pembanding dalam penilaian status gizi dan pertumbuhan perorangan maupun masyarakat digunakan baku rujukan WHO-NCHS atau National Center for Health (Jelliffe DB dan Jelliffe EF Parice, 1989:115). 2.1.2 Motivasi 2.1.2.1 Pengertian Motivasi Motivasi adalah daya penggerak yang menjadi aktif pada saat tertentu bila kebutuhan untuk mencapai tujuan sangat dirasakan atau dihayati (W. S. Winkel, 1996: 27).

15

Motivasi adalah dorongan dari dalam yang digambarkan sebagai harapan, keinginan, dan sebagainya yang bersifat menggiatkan atau menggerakkan individu. Tanpa motivasi tidak akan ada tujuan suatu tingkah laku yang terorganisasi” (Siti Partini Suardiman, 1998: 96). Maslow (1970: 115) sangat percaya bahwa tingkah laku manusia dibangkitkan dan diarahkan oleh kebutuhan-kebutuhan tertentu seperti kebutuhan fisiologis, rasa aman, rasa cinta, penghargaan aktualisasi diri, mengetahui dan mengerti, dan kebutuhan estetik. Kebutuhan-kebutuhan inilah menurut Maslow yang mampu memotivasi tingkah laku individu. Berdasarkan uraian tersebut diatas terkandung maksud bahwa motivasi adalah dorongan atau kekuatan yang berasal dari dalam atau luar individu yang mempengaruhi individu untuk bertindak, berbuat, atau bertingkah laku untuk mencapai tujuan. Tujuan yang dimaksud adalah belajar, sehingga motivasi belajar dapat diartikan sebagai perubahan energi dalam diri seseorang berbentuk suatu aktivitas nyata dalam rangka meraih tujuan untuk mencapai hasil belajar dengan segala upaya yang dapat dilakukannya. 2.1.2.2 Macam Motivasi 2.1.2.2.1 Motivasi Primer dan Motivasi Sekunder 2.1.2.2.3.1 Motivasi Primer Motivasi primer dilatarbelakangi oleh keadaan organ tubuh manusia (Alex Sobur, 2003: 294). Termasuk dalam golongan ini adalah haus, lapar, istirahat, bernafas. Motivasi primer bersifat tidak dipelajari, dan tidak ada pengalaman yang mendahuluinya.

16

Misalnya Seorang anak yang baru saja dilahirkan, dia merasa haus kemudian menangis. Maka keadaan haus yang sebelumnya belum pernah dipelajari dan tidak ada pengalaman bagi bayi, sehingga hal tersebut membuatnya menangis. 2.1.2.2.3.2 Motivasi Sekunder Motivasi sekunder bersifat tergantung pada pengalaman seseorang dan tidak tergantung pada proses fisiologis tubuh manusia, misalnya motivasi takut (Alex Sobur, 2003: 295). Bayi yang baru saja dilahirkan tidak memiliki motivasi sekunder, karena belum mempunyai pengalaman apapun. Makin bertambah usia seseorang, makin bertambah pengalamannya, sehingga makin bertambah pula hal-hal yang dia pelajari, berarti makin banyak dia mempunyai motivasi sekunder (Alex Sobur, 2003: 295). 2.1.2.2.2 Motivasi Intrinsik dan Motivasi Ekstrinsik 2.1.2.2.3.1 Motivasi Intrinsik Motivasi intrinsik adalah motif-motif yang menjadi aktif atau berfungsinya tidak perlu dirangsang dari luar, karena dalam setiap diri individu sudah ada dorongan untuk melakukan sesuatu (Syaiful Bahri Djamarah, 2002:115). Tujuannya adalah anak didik termotivasi untuk belajar semata-mata menguasai nilai-nilai yang terkandung dalam bahan pelajaran, bukan karena ingin mendapat pujian, nilai yang tinggi, atau hadiah dan sebagainya. Bila seseorang telah memiliki motivasi intrinsik dalam dirinya, maka ia secara sadar akan melakukan suatu kegiatan yang tidak memerlukan motivasi dari luar dirinya. Seseorang yang tidak memiliki motivasi intrinsik sulit sekali melakukan aktivitas belajar terus-menerus. Seseorang yang memiliki motivasi intrinsik selalu ingin maju dalam belajar. Keinginan itu dilatar belakangi oleh pemikiran yang positif, bahwa

17

semua mata pelajaran yang dipelajari sekarang akan dibutuhkan dan sangat berguna kini dan di masa yang akan datang. Dorongan untuk belajar bersumber pada kebutuhan, yang berisikan keharusan untuk menjadi orang yang terdidik dan berpengetahuan. Jadi, motivasi intrinsik muncul berdasarkan kesadaran dengan tujuan esensial. 2.1.2.2.3.2 Motivasi Ekstrinsik Motivasi ekstrinsik adalah motif-motif yang aktif dan berfungsi karena adanya perangsang dari luar (Syaiful Bahri Djamarah, 2002:117). Motivasi ekstrinsik bukan berarti motivasi yang tidak diperlukan dan tidak baik dalam pendidikan. Motivasi ekstrinsik diperlukan agar anak didik mau belajar. Misalnya seorang guru didalam mengajar berusaha membangkitkan minat anak didik dalam belajar, dengan memanfaatkan motivasi ekstrinsik berupa pemberian hadiah yang akan diterimanya bila ia berusaha dan berhasil dalam belajar. Berdasarkan hal tersebut anak menjadi termotivasi dan saling bersaing didalam belajar untuk meraih hasil belajar yang optimal. 2.1.2.2.3 Motivasi Tunggal dan Motivasi Bergabung 2.1.2.2.3.1 Motivasi Tunggal Motivasi tunggal bersifat dorongan pada satu tujuan tertentu (Alex Sobur, 2003: 296). 2.1.2.2.3.2 Motivasi bergabung Motivasi bergabung bersifat motivasi kompleks (Alex Sobur, 2003: 296). Misalnya, bila seseorang menjadi anggota suatu organisasi dan ia memiliki dorongan untuk mengenal lebih dekat anggota kelompok organisasinya yang lain.

18

2.1.2.2.4 Motivasi Sadar dan Motivasi Tidak Sadar 2.1.2.2.4.1 Motivasi Sadar Motivasi sadar adalah apabila seseorang melakukan tingkah laku tertentu, dan orang tersebut dapat mengerti alasannya berbuat demikian (Alex Sobur :2003:297). Tingkah laku yang banyak melibatkan aktivitas berpikir, pada umumnya digerakkan oleh motif-motif sadar (Alex Sobur :2003:297). (Alex Sobur :2003:297). 2.1.2.2.4.2 Motivasi Tidak Sadar Motivasi tidak sadar adalah apabila seseorang melakukan tingkah laku tertentu, namun orang tersebut tidak dapat mengatakan alasannya berbuat demikian (Alex Sobur :2003:297). Motivasi tidak sadar dilatarbelakangi oleh tingkah laku kebiasaan-kebiasaan, adat tradisi, sehingga tingkah laku yang dilakukan tidak disadari (Alex Sobur :2003:297). 2.1.2.3 Ciri-Ciri Motivasi Menurut Joko Raharjo (2002: 4), ada beberapa ciri motivasi pada diri setiap orang, yaitu: 1) Tekun dalam menghadapi tugas (belajar secara terus-menerus dalam waktu yang lama, tidak pernah berhenti sebelum selesai). 2) Ulet menghadapi kesulitan (tidak lekas putus asa) dan tidak cepat puas dengan hasil yang telah dicapainya. 3) Menunjukkan minat terhadap bermacam-macam masalah untuk orang dewasa (misal masalah agama, pembangunan, keadilan).

19

4) Lebih senang bekerja mandiri. 5) Dapat mempertahankan pendapatnya (bila sudah yakin akan sesuatu). 6) Tidak mudah melepaskan hal yang diyakini itu. 7) S enang mencari dan memecahkan masalah dalam soal. Apabila seseorang memiliki ciri-ciri seperti diatas, berarti seseorang itu selalu memiliki motivasi yang cukup kuat. Dalam upaya pencapaian hasil belajar, siswa harus mampu mempertahankan pendapatnya, bila ia telah yakin dan dipandangnya cukup rasional. Bahkan lebih lanjut siswa harus juga peka dan responsif terhadap berbagai masalah yang dihadapi. 2.1.2.4 Fungsi Motivasi Ketiadaan minat terhadap suatu mata pelajaran menjadi pangkal penyebab mengapa anak didik tidak merespon untuk mencatat apa-apa yang disampaikan oleh guru. Itulah sebagai pertanda bahwa anak didik tidak mempunyai motivasi untuk belajar. Kemiskinan motivasi intrinsik ini merupakan masalah yang harus segera ditanggulangi karena akan menyebabkan hasil belajar anak menjadi semakin terbelakang. Motivasi ekstrinsikpun dapat membantu anak didik keluar dari lingkaran masalah kesulitan belajar, maka motivasi ini hendaknya dapat diperankan dengan baik oleh guru. Peranan yang dimainkan oleh guru dengan mengandalkan fungsi-fungsi motivasi merupakan langkah-langkah yang akurat untuk menciptakan iklim belajar yang kondusif bagi anak didik. Menurut Syaiful Bahri Djamarah (2002:123) Motivasi dalam belajar mempunyai 3 fungsi yaitu sebagai berikut:

20

2.1.2.4.1 Sebagai pendorong perbuatan Pada mulanya anak didik tidak ada hasrat untuk belajar, tetapi karena ada sesuatu yang dicari muncullah minatnya untuk belajar. Sesuatu yang akan dicari itu dalam rangka untuk memuaskan rasa ingin tahunya dari sesuatu yang akan dipelajari. Sesuatu yang belum diketahui itu akhirnya mendorong anak didik untuk belajar dalam rangka mencari tahu. Anak didikpun mengambil sikap seiring dengan minat terhadap suatu objek. Sehingga anak didik mempunyai keyakinan dan pendirian tentang apa yang seharusnya dilakukan untuk mencari tahu tentang sesuatu. Sikap itulah yang mendasari dan mendorong kearah sejumlah perbuatan dalam belajar. Jadi, motivasi belajar yang berfungsi sebagai pendorong ini mempengaruhi sikap apa yang seharusnya anak didik ambil dalam rangka belajar. 2.1.2.4.2 Motivasi sebagai penggerak perbuatan Dorongan psikologis yang melahirkan sikap terhadap anak didik itu merupakan suatu kekuatan yang tak terbendung, yang kemudian terjelma dalam bentuk gerakan psikofisik. Disini anak didik sudah melakukan aktivitas belajar dengan segenap jiwa dan raga. Akal pikiran berproses dengan sikap raga yang cenderung tunduk dengan kehendak perbuatan belajar. Sikap berada dalam kepastian perbuatan dan akal pikiran mencoba membedah nilai yang terpatri dalam wacana, prinsip, dalil, dan hukum, sehingga mengerti benar isi yang dikandungnya. 2.1.2.4.3 Motivasi sebagai pengarah perbuatan Anak didik yang mempunyai motivasi dapat menyeleksi mana perbuatan yang harus dilakukan dan mana perbuatan yang diabaikan. Seorang anak didik yang ingin

21

mendapatkan sesuatu dari suatu mata pelajaran tertentu, tidak mungkin dipaksakan untuk mempelajari mata pelajaran yang lain. Pasti anak didik akan mempelajari mata pelajaran dimana tersimpan sesuatu yang akan dicari itu. Sesuatu yang akan dicari anak didik merupakan tujuan belajar yang akan dicapainya. Tujuan belajar itulah sebagai pengarah yang memberikan motivasi kepada anak didik dalam belajar. Secara tekun dan penuh konsentrasi anak didik belajar agar tujuannya mencari sesuatu yang ingin diketahui atau dimengerti itu cepat tercapai. Itulah peranan motivasi yang dapat mengarahkan perbuatan anak didik dalam belajar. 2.1.3 Hasil Belajar 2.1.3.1 Pengertian Hasil Pengertian hasil menurut Bahtiar Rifai, “Hasil berarti produk atau keluaran setelah melakukan kerja secara maksimal” (Suhito, 1991:4). Oemar Hamalik berpendapat bahwa, “Hasil adalah interaksi antara beberapa faktor yang mempengaruhi, baik dari dalam individu maupun dari luar individu yang bersangkutan” (Suhito, 1991:4). Sedangkan Woodworth memberikan pengertian “Achievement is actual ability and can be measured directly use of test”, yang berarti hasil adalah kecakapan nyata dan dapat diukur dengan menggunakan test-test (Woodworth, 1978:57). Jadi hasil adalah suatu produk atau keluaran yang dicapai secara maksimal yang dipengaruhi oleh faktor-faktor dari dalam maupun dari luar dan dapat diukur dengan menggunakan test.

22

2.1.3.2 Pengertian Belajar Belajar adalah suatu perbuatan yang sangat komplek sehingga pengertian belajar tidak dapat didefinisikan secara pasti. Banyak para ahli memberikan definisi belajar dengan rumusan yang berbeda-beda. Perbedaan itu disebabkan karena teori yang dianutnya berbeda pula. Untuk mendapatkan gambaran yang jelas tentang pengertian belajar, berikut ini dikemukakan beberapa pendapat para ahli : 1) Hilgart dan Bower, dalam buku Theories of Learning mengemukakan : Belajar berhubungan dengan perubahan tingkah laku seseorang terhadap suatu situasi tertentu yang disebabkan oleh pengalamannya yang berulang-ulang dalam situasi itu, dimana perubahan tingkah laku itu tidak dapat dijelaskan atas dasar kecenderungan respon pembawaan, kematangan atau keadaan-keadaan sesaat seseorang (misalnya kelelahan, pengaruh obat, dan sebagainya). (M. Ngalim Purwanto, 1991:84). 2) Witherington, dalam bukunya Educational Psychology mengemukakan : Belajar adalah suatu perubahan di dalam kepribadian yang menyatakan diri sebagai suatu pola baru daripada reaksi yang berupa kecakapan, sikap, kebiasaan, kepandaian atau suatu pengertian. (M. Ngalim Purwanto, 1991:84). 3) Menurut Winarno Surachmad disebutkan bahwa : Belajar merupakan perubahan dalam diri manusia dari yang tidak mengetahui menjadi mengetahui. (Martensi KDJ dan Mungin Eddy Wibowo, 1990:88). Dari definisi-definisi tersebut dapat dikemukakan adanya beberapa unsur yang penting tentang pengertian belajar. Unsur-unsur itu adalah :

23

1) Belajar merupakan perubahan tingkah laku. 2) Didalam belajar perbahan tingkah laku terjadi didebatkan oleh pengalaman yang berulang-ulang. 3) Perubahan itu relatif permanen. 4) Perubahan tingkah laku menyangkut berbagai macam aspek kepribadian, baik fisik maupun psikis. Dari keempat fungsi diatas terkandung unsur bahwa belajar adalah suatu proses perubahan tingkah laku yang menyangkut berbagai macam aspek kepribadian yang dikarenakan adanya pengalaman yang berulang-ulang dan perubahan itu berlangsung relatif permanen sehingga yang tadinya tidak mengetahui menjadi mengetahui. 2.1.3.3 Pengertian Hasil Belajar Pada umumnya orang melakukan tindakan karena mempunyai tujuan. Untuk memperoleh hasil yang lebih baik, maka harus melakukan tindakan itu dengan sungguhsungguh. Demikian pula dalam hal belajar, seseorang belajar karena ada tujuan yang hendak dicapai, yaitu hasil belajar yang baik. 2.1.3.4 Prinsip-Prinsip Belajar Proses belajar adalah sangat kompleks, tetapi dapat juga dianalisa dan diperinci dalam bentuk prinsip-prinsip belajar atau asas-asas belajar. Hal itu dapat diketahui agar kita memiliki pedoman dan teknik belajar yang baik (Abu Ahmadi, 1999:282). Prinsip-prinsip itu adalah: 1) Belajar harus bertujuan dan terarah. Tujuan akan menuntutnya dalam belajar untuk mencapai harapan-harapannya. 2) Belajar memerlukan bimbingan. Baik bimbingan dari guru atau buku pelajaran itu sendiri.

24

3) Belajar memerlukan pemahaman atas hal-hal yang dipelajari sehingga diperoleh pengertian-pengertian. 4) Belajar memerlukan latihan dan ulangan agar apa-apa yang telah dipelajari dapat dikuasainya. 5) Belajar adalah suatu proses aktif dimana terjadi saling pengaruh secara dinamis antara murid dengan lingkungannya. 6) Belajar harus disertai keinginan dan kemauan yang kuat untuk mencapai tujuan. 7) Belajar dianggap berhasil apabila telah sanggup menerapkan kedalam bidang praktek sehari-hari. Berdasarkan pengertian hasil dan pengertian belajar tersebut, maka hasil belajar dapat diartikan sebagai produk atau hasil yang telah dicapai setelah yang bersangkutan melakukan kegiatan belajar. Hasil belajar biasanya diwujudkan dalam bentuk angka atau nilai. 2.1.3.5 Faktor-faktor yang Mempengaruhi Hasil Belajar Banyak hal-hal yang dapat menghambat dan mengganggu kemauan belajar, bahkan sering juga menyebabkan suatu kegagalan, sehingga faktor-faktor yang dapat mempengaruhi hasil belajar adalah sebagai berikut (Syaiful Bahri Djamarah, 2002:142) : 2.1.3.5.1 Faktor lingkungan Lingkungan merupakan bagian dari kehidupan anak didik. Dalam lingkunganlah anak didik hidup dan berinteraksi dalam mata rantai kehidupan yang disebut ekosistem. Saling ketergantungan antara lingkungan biotik dan abiotik tidak dapat dihindari. Itulah hukum alam yang harus dihadapi oleh anak didik sebagai makhluk hidup yang tergolong kelompok biotik. 2.1.3.5.1.1 Lingkungan Alami atau Lingkungan Hidup

25

Lingkungan hidup adalah lingkungan tempat tinggal anak didik, hidup dan berusaha didalamnya. Udara yang tercemar merupakan polusi yang dapat mengganggu pernapasan. Udara yang terlalu dingin menyebabkan anak didik kedinginan. Suhu udara yang terlalu panas menyebabkan anak didik kepanasan, pengap, dan tidak betah tinggal di dalamnya. Daya konsentrasi menurun akibat suhu udara yang panas. Oleh karena itu, keadaan suhu dan kelembaban udara berpengaruh terhadap belajar anak didik di sekolah. Belajar dengan keadaan udara yang segar akan lebih baik hasilnya daripada belajar dalam keadaan udara yang panas dan pengap. Berdasarkan kenyataan yang demikian, belajar di pagi hari akan lebih baik hasilnya daripada belajar di sore hari. Kesejukan udara dan ketenangan suasana kelas dapat memberikan kondisi lingkungan kelas yang kondusif untuk terlaksananya kegiatan belajar mengajar yang

menyenangkan. 2.1.3.5.1.2 Lingkungan sosial budaya Manusia tidak dapat hidup sendiri, mereka cenderung hidup bersama satu sama lainnya. Hidup dalam kebersamaan dan saling membutuhkan akan melahirkan interaksi sosial. Saling memberi dan menerima merupakan kegiatan yang selalu ada dalam kehidupan sosial. Sebagai anggota masyarakat, anak didik tidak dapat melepaskan diri dari ikatan sosial. 2.1.3.5.2 Faktor Instrumen Dalam mewujudkan tujuan yang ingin dicapai masing-masing sekolah diperlukan seperangkat kelengkapan dalam berbagai bentuk dan jenisnya. Semuanya dapat diberdayakan menurut fungsi masing-masing kelengkapan sekolah. Kurikulum dapat dipakai oleh guru dalam merencanakan program pengajaran. Program sekolah

26

dapat dijadikan acuan untuk meningkatkan kualitas belajar mengajar. Sarana dan fasilitas yang tersedia harus dimanfaatkan sebaik-baiknya agar berdaya dan berhasil guna bagi kemauan belajar anak didik di sekolah dalam mencapai hasil belajarnya. 2.1.3.5.2.1 Kurikulum Kurikulum adalah a plan for learning yang merupakan unsur substansial dalam pendidikan. Tanpa kurikulum kegiatan belajar mengajar tidak dapat berlangsung, sebab materi apa yang harus guru sampaikan dalam suatau pertemuan kelas, belum guru programkan sebelumnya. Itulah sebabnya, untuk semua mata pelajaran setiap guru memiliki kurikulum untuk mata pelajaran yang dipegang dan diajarkan kepada anak didik. Setiap guru harus mempelajari dan menjabarkan isi kurikulum ke dalam program yang lebih rinci dan jelas sasarannya. Sehingga dapat diketahui dan diukur dengan pasti tingkat keberhasilan belajar mengajar yang telah dilaksanakan. Muatan kurikulum akan mempengaruhi intensitas dan frekuensi belajar anak didik. Seorang guru terpaksa menjejalkan sejumlah bahan pelajaran kepada anak didik dalam waktu yang masih sedikit tersisa, karena ingin mencapai target kurikulum, akan memaksa anak didik belajar dengan keras tanpa mengenal lelah. Tentu saja hasil belajar yang demikian kurang memuaskan dan cenderung mengecewakan. Guru akan mendapatkan hasil belajar anak didik di bawah standar minimum. Hal ini disebabkan telah terjadi proses belajar yang kurang wajar pada diri setiap anak didik. Pemadatan kurikulum dengan alokasi waktu yang disediakan relatif sedikit secara psikologis disadari atau tidak dapat menggiring guru pada pilihan untuk melaksanakan percepatan belajar anak didik untuk mencapai target kurikulum.

27

Berdasarkan keterangan di atas, kurikulum dapat mempengaruhi proses dan hasil belajar anak didik. 2.1.3.5.2.2 Program Setiap sekolah mempunyai program pendidikan untuk menunjang adanya kemajuan pendidikan. Keberhasilan pendidikan di sekolah tergantung dari baik tidaknya program pendidikan yang dirancang, yang disusun berdasarkan potensi sekolah yang tersedia, baik tenaga, finansial, dan sarana prasarana. Bervariasinya potensi yang tersedia melahirkan program pendidikan yang berlainan untuk setiap sekolah. Untuk program pendidikan yang bersifat umum masih terdapat persamaan, tetapi untuk penjabaran program pendidikan menjadi bagian-bagian program kecil terdapat perbedaan tenaga, finansial, dan sarana prasarana. 2.1.3.5.2.3 Sarana dan Fasilitas Sarana mempunyai arti penting dalam pendidikan. Gedung sekolah misalnya sebagai tempat yang strategis bagi berlangsungnya kegiatan belajar mengajar di sekolah. Salah satu persyaratan untuk membuat sekolah adalah pemilikan gedung sekolah yang di dalamnya terdapat ruang kelas, ruang kepala sekolah, ruang dewan guru, ruang perpustakaan, ruang BP, ruang tata usaha, auditorium, dan halaman sekolah yang memadai. Semua itu bertujuan untuk memberikan kemudahan pelayanan anak didik. Suatu sekolah yang kekurangan ruang kelas, sementara jumlah anak didik yang dimiliki dalam jumlah yang banyak melebihi daya tampung kelas, akan dapat menemukan masalah. Kegiatan belajar mengajar kurang kondusif, pengelolaan kelas

28

kurang efektif. Sehingga hal ini harus dihindari bila ingin bersaing dalam peningkatan mutu pendidikan. Selain masalah sarana, fasilitas dan kelengkapan sekolah juga tidak dapat diabaikan. Lengkap tidaknya buku-buku di perpustakaan ikut menentukan kualitas suatu sekolah. Perpustakaan sekolah adalah laboratorium ilmu. Demikian pula dengan buku pegangan anak didik harus lengkap sebagai penunjang kegiatan belajar. Pihak sekolah dapat membantu anak didik dengan meminjami anak sejumlah buku sesuai dengan kurikulum. Dengan pemberian fasilitas belajar tersebut diharapkan kegiatan belajar anak didik lebih bergairah untuk meraih hasil belajar yang optimal. Fasilitas mengajar merupakan kelengkapan mengajar guru yang harus dimiliki oleh sekolah. Guru harus memiliki buku pegangan dan buku penunjang agar wawasan guru tidak sempit. Buku pendidikan atau keguruan perlu dibaca atau dimiliki oleh guru dalam rangka peningkatan kompetensi keguruan. Lengkap tidaknya fasilitas sekolah membuka peluang bagi guru untuk lebih kreatif mengajar dan dapat menunjang guru dalam menunaikan tugasnya mengajar di sekolah. Berdasarkan uraian tersebut diatas dapat diketahui, bahwa sarana dan fasilitas dapat mempengaruhi kegiatan belajar mengajar di sekolah. Anak didik tentu dapat belajar lebih baik dan menyenangkan bila suatu sekolah dapat memenuhi segala kebutuhan belajarnya, sehingga pencapaian hasil belajarpun dapat lebih optimal. 2.1.3.5.2.4 Guru Guru merupakan unsur manusiawi dalam pendidikan dan kehadirannya mutlak diperlukan didalamnya. Jika hanya ada anak didik, tetapi guru tidak ada, maka tidak akan terjadi kegiatan belajar mengajar di sekolah. Jangankan ketiadaan guru,

29

kekurangan guru saja sudah merupakan suatu masalah. Mata pelajaran tertentu kosong akibat kekurangan guru, itu berarti mata pelajaran tersebut tidak dapat diterima anak didik karena ketiadaan guru yang memberikan mata pelajaran tersebut. Kondisi kekurangan guru seperti ini sering ditemukan di lembaga pendidikan yang ada di suatu daerah. Sehingga tidak jarang ditemukan seorang guru memegang lebih dari satu mata pelajaran. Guru yang profesional lebih mengedepankan kualitas pengajaran, sehingga hal itu lebih diutamakan daripada mengambil mata pelajaran yang bukan bidangnya. Menurut M.I Soelaeman (1985:45) “untuk menjadi guru yang baik itu tidak dapat diandalkan kepada bakat ataupun hasrat, namun harus disertai kegiatan studi dan latihan serta praktek ataupun pengalaman yang memadai agar muncul sikap guru yang diinginkan sehingga melahirkan kegairahan kerja yang menyenangkan.” Memang yang mempengaruhi prestasi belajar anak didik tidak hanya latar belakang pendidikan atau pengalaman mengajar, tetapi juga dipengaruhi oleh sikap mental guru dalam memandang tugas mengajar yang diembannya. Seorang guru yang memandang profesi keguruan sebagai panggilan jiwa akan melahirkan perbuatan untuk melayani kebutuhan anak didik dengan segenap jiwa raga. 2.1.3.5.3 Faktor Fisiologis Kondisi fisiologis pada umumnya sangat berpengaruh terhadap kemampuan belajar seseorang. 2.1.3.5.3.1 Keadaan Fisiologis atau status gizi Orang yang dalam keadaan segar jasmaninya akan berlainan belajarnya daripada orang yang dalam keadaan kelelahan. Anak-anak yang kekurangan gizi ternyata

30

kemampuan belajarnya dibawah anak-anak yang tidak kekurangan gizi, mereka lekas lelah, mudah mengantuk, dan sukar menerima pelajaran (Noehl Nasution dkk, 1993:6). Kesehatan adalah faktor penting di dalam belajar. Seorang pelajar atau anak yang tidak sehat badannya tentu tidak dapat belajar dengan baik. Jika kesehatan seorang anak terganggu maka konsentrasi belajarnyapun akan terganggu pula dan mata pelajaran akan sukar untuk masuk ke pikiran. Begitu juga dengan anak yang badannya lemah, sering pusing dan sebagainya tidak akan tahan lama dalam belajar dan cepat merasakan capai sehingga dapat mengakibatkan makin terbelakangnya anak dalam usaha belajarnya. Akibatnya hasil belajar anak semakin mengalami penurunan. 2.1.3.5.3.2 Kondisi Panca Indra Hal yang tidak kalah pentingnya adalah kondisi panca indra (mata, hidung, pengecap, telinga, dan tubuh), terutama mata sebagai alat untuk melihat dan telinga sebagai alat untuk mendengar (Noehl Nasution dkk, 1993:6). Sebagian besar yang dipelajari manusia (anak) berlangsung dengan membaca, melihat contoh atau model, melakukan observasi, mengamati hasil-hasil eksperimen, mendengarkan keterangan guru, mendengarkan orang lain dalam diskusi dan sebagainya. Berdasarkan keterangan di atas, keadaan fisiologis maupun kondisi panca indra seseorang besar pengaruhnya terhadap keoptimalan pencapaian hasil belajar yang akan diraih seseorang.

31

2.1.3.5.3.3 Kondisi psikologis Belajar pada hakekatnya adalah proses psikologis. Oleh karena itu, semua keadaan dan fungsi psikologis tentu saja mempengaruhi belajar seseorang. Itu berarti belajar bukanlah berdiri sendiri, melainkan juga didukung dari faktor luar (faktor lingkungan dan instrumental) maupun faktor dalam diri seseorang itu sendiri (faktor fisiologis dan psikologis). Faktor psikologis sebagai faktor dari dalam tentu saja merupakan hal yang utama dalam menentukan intensitas belajar seorang anak. Meski faktor luar mendukung, tetapi faktor psikologis tidak mendukung, maka faktor luar itu kurang signifikan. Oleh karena itu, minat, kecerdasan, bakat, motivasi, dan kemampuankemampuan kognitif adalah faktor-faktor psikologis yang utama mempengaruhi proses dan hasil belajar anak didik. 2.1.3.5.3.3.1 Minat Minat, menurut Slameto (1991:182), adalah “suatu rasa lebih suka dan rasa keterikatan pada suatu hal atau aktivitas, tanpa ada yang menyuruh.” Minat pada

dasarnya adalah penerimaan akan suatu hubungan antara diri sendiri dengan sesuatu di luar diri. Semakin kuat atau dekat hubungan tersebut, semakin besar minat. Anak didik memiliki minat terhadap subjek tertentu cenderung untuk memberikan perhatian yang lebih besar terhadap subjek tersebut (Slameto, 1991:182). Minat yang besar terhadap sesuatu merupakan modal yang besar artinya untuk mencapai atau memperoleh benda atau tujuan yang diminati itu. Timbulnya minat belajar disebabkan berbagai hal, antara lain karena keinginan yang kuat untuk menaikkan martabat atau memperoleh pekerjaan yang baik serta ingin hidup senang dan

32

bahagia. Minat belajar yang besar cenderung menghasilkan hasil belajar yang tinggi, sebaliknya minat belajar kurang akan menghasilkan hasil belajar yang rendah (Dalyono, 1997:56). Dalam konteks itulah diyakini bahwa minat mempengaruhi proses dan hasil belajar anak didik. Tidak banyak yang dapat diharapkan untuk menghasilkan hasil belajar yang baik dari seorang anak yang tidak berminat untuk mempelajari sesuatu. 2.1.3.5.3.3.2 Kecerdasan Inteligensi mempunyai peran untuk menentukan keberhasilan belajar seseorang. Seorang yang memiliki inteligensi baik (IQ-nya tinggi) umumnya mudah belajar dan hasilnyapun cenderung baik. Sebaliknya, orang yang inteligensinya rendah, cenderung mengalami kesukaran dalam belajar, lambat berpikir, sehingga hasil belajarnyapun rendah (M Dalyono, 1997:56). Kecerdasan mempunyai peranan yang besar dalam ikut menentukan berhasil dan tidaknya seseorang mempelajari sesuatu atau mengikuti suatu program pendidikan dan pengajaran. Orang yang lebih cerdas pada umumnya akan lebih mampu belajar daripada orang yang kurang cerdas (Noehl Nasution, 1993:7). Berdasarkan keterangan diatas, kecerdasan merupakan salah satu faktor dari sekian banyak faktor yang mempengaruhi keberhasilan seseorang dalam belajar di sekolah. 2.1.3.5.3.3.3 Bakat Disamping inteligensi (kecerdasan), bakat merupakan faktor yang besar pengaruhnya terhadap proses dan hasil belajar seseorang. Bakat sebagai kemampuan

33

bawaan yang merupakan potensi yang masih perlu dikembangkan atau diadakan suatu latihan. Dalam kenyataannya tidak jarang ditemukan seorang individu dapat menumbuhkan dan mengembangkan bakat bawaannya dalam lingkungan yang kreatif. (Sunarto dan Hartono, 1999:119). Bakat bawaan kemungkinan terkait dengan garis keturunan dari ayah atau ibu. Besarnya minat seorang anak untuk mengikuti jejak langkah orang tuanya, akhirnya menumbuhkan bakat terpendamnya menjadi kenyataan. Bakat bawaan atau terpendam dapat ditumbuhkan asalkan diberikan kesempatan sebaik-baiknya. Hal ini diperlukan pemahaman terhadap bakat apa yang dimiliki oleh seseorang. Menurut Sunarto dan Agung Hartono (1999: 121) bakat memungkinkan seseorang untuk mencapai dalam bidang tertentu, akan tetapi diperlukan latihan, pengetahuan, pengalaman, dan dorongan atau motivasi agar bakat itu dapat terwujud. Misalnya seseorang mempunyai bakat menggambar, jika ia tidak pernah diberi kesempatan untuk mengembangkan, maka bakat tersebut tidak akan tampak. Jika orang tuanya menyadari bahwa ia mempunyai bakat menggambar dan mengusahakan agar ia mendapatkan pengalaman yang sebaik-baiknya untuk mengembangkan bakatnya, dan anak itu menunjukkan minat yang besar untuk mengikuti pendidikan menggambar, maka ia akan dapat mencapai prestasi yang unggul dan bahkan dapat menjadi pelukis terkenal. Sebaliknya, seorang anak yang mendapatkan pendidikan menggambar dengan baik, namun tidak memiliki bakat menggambar, maka tidak akan pernah mencapai prestasi untuk bidang tersebut. Adapula anak yang mempunyai bakat akademik. Mereka cenderung menguasai mata pelajaran tertentu dan kurang menguasai mata pelajaran yang lain. Seorang anak

34

yang menguasai mata pelajaran IPS, belum tentu pula dapat menguasai mata pelajaran IPA. Bakat bukanlah permasalahan yang dapat berdiri sendiri. Melainkan ada dua faktor yang ikut mempengaruhi perkembangannya, yaitu 2.1.3.5.3.3.3.1 Faktor diri sendiri Berdasarkan faktor dari anak itu sendiri misalnya tidak atau kurang berminat untuk mengembangkan bakat-bakat yang ia miliki, atau mungkin pula mempunyai kesulitan atau masalah pribadi sehingga ia memiliki hambatan dalam pengembangan diri dan berprestasi sesuai dengan bakatnya. Berdasarkan faktor dari anak itu sendiri misalnya tidak atau kurang berminat untuk mengembangkan bakat-bakat yang ia miliki, atau mungkin pula mempunyai kesulitan atau masalah pribadi sehingga ia memiliki hambatan dalam pengembangan diri dan berprestasi sesuai dengan bakatnya. 2.1.3.5.3.3.3.2 Faktor lingkungan Faktor yang kedua adalah lingkungan sebagai faktor dari luar diri anak, dapat menjadi penghalang perkembangan bakat. Misalnya orang tuanya kurang mampu untuk menyediakan kesempatan dan sarana pendidikan yang ia butuhkan, atau ekonominya cukup tinggi tetapi kurang memberikan perhatian pendidikan anak. Jadi, kedua faktor anak didik dan lingkungan anak didik harus mendorong ke arah perkembangan bakat yang optimal. 2.1.3.5.3.3.4 Motivasi Motivasi adalah kondisi psikologis yang mendorong seseorang untuk melakukan sesuatu (Noehl Nasution, 1993:8). Jadi motivasi untuk belajar adalah kondisi psikologis yang mendorong seseorang untuk belajar.

35

Banyak bakat anak tidak berkembang karena tidak diperolehnya motivasi yang tepat (Ngalim Purwanto, 1995:61). Jika seseorang mendapatkan motivasi yang tepat, maka lepaslah tenaga yang luar biasa, tercapailah hasil-hasil yang luar biasa, sehingga tercapai pulalah hasil-hasil yang semula tidak terduga. Seringkali anak didik yang tergolong cerdas tampak bodoh karena tidak memiliki motivasi untuk mencapai hasil belajar sebaik mungkin (Slameto, 1991:136). Berbagai faktor dapat membuatnya bersikap apatis. Misalnya, karena adanya perasaan takut diasingkan oleh kelompok bila anak didik berhasil atau karena kebutuhan untuk berprestasi pada diri anak didik sendiri kurang atau mungkin tidak ada. Ada tidaknya motivasi belajar seseorang turut mempengaruhi keberhasilan belajar. Karena itu, motivasi belajar perlu diusahakan, terutama yang berasal dari diri (motivasi intrinsik) meskipun juga perlu didukung motivasi dari luar diri (motivasi ekstrinsik) dan dengan cara senantiasa memikirkan masa depan yang penuh tantangan dan harus dihadapi untuk mencapai cita-cita serta senantiasa memasang tekad bulat dan selalu optimis bahwa citacita dapat dicapai dengan belajar (M Dalyono, 1997:57). Mengingat motivasi merupakan motor penggerak dalam perbuatan, maka bila ada anak didik yang kurang memiliki motivasi intrinsik, diperlukan dorongan dari luar, yaitu motivasi ekstrinsik agar anak didik termotivasi untuk belajar, misalnya dengan pemberian hadiah jika mereka telah memperoleh hasil yang optimal dalam belajar. 2.1.3.5.3.3.5 Kemampuan kognitif Dalam dunia pendidikan ada tiga tujuan pendidikan yaitu kognitif, afektif dan psikomotor. Kognitif merupakan kemampuan yang selalu dituntut kepada anak didik

36

untuk dikuasai, karena penguasaan kemampuan pada tingkatan ini menjadi dasar bagi penguasaan pengetahuan. Tiga kemampuan yang harus dikuasai sebagai jembatan untuk sampai pada penguasaan kemampuan kognitif, yaitu persepsi, mengingat, dan berpikir. Persepsi adalah proses yang menyangkut masuknya pesan atau informasi ke dalam otak manusia. Melalui persepsi manusia terus menerus mengadakan hubungan dengan lingkungannya. Hubungan ini dilakukan melalui indranya, yaitu indra penglihatan, pendengar, peraba, dan pencium. Saat seorang guru dalam memberikan pengajaran harus menanamkan pengertian dengan cara menjelaskan materi pelajaran sejelasjelasnya, bukan bertele-tele kepada anak didik, sehingga tidak terjadi kesalahan persepsi anak didik (Slameto, 1991:104). Kemungkinan kecilnya kesalahan persepsi anak bila penjelasan yang diberikan itu mendekati objek yang sebenarnya. Semakin dekat penjelasan guru dengan realita kehidupan semakin mudah anak didik menerima dan mencerna materi pelajaran yang disajikan. Seorang anak yang telah memiliki kemampuan persepsi ini berarti telah mampu menggunakan bentuk-bentuk representasi yang mewakili objek-objek yang dihadapi, entah objek itu orang, benda, kejadian atau peristiwa. Objek- objek itu dipresentasikan atau dihadirkan dalam diri seseorang melalui tanggapan, gagasan, atau lambang, yang semuanya merupakan sesuatu yang bersifat mental. Gagasan atau tanggapan itu dituangkan dalam kata-kata yang disampaikan kepada orang yang mendengarkan ceritanya atau dalam bentuk tulisan maupun orasi ilmiah. Adanya kemampuan kognitif ini, orang dapat menghadirkan realita dunia di dalam dirinya sendiri, dari hal-hal yang bersifat material dan berperaga seperti perabot rumah tangga, kendaraan, bangunan, dan orang, sampai hal-hal yang bersifat material

37

dan berperaga seperti ide “keadilan, kejujuran” , dan lain sebagainya. Jadi, semakin banyak pikiran dan gagasan yang dimiliki seseorang, semakin kaya dan luaslah alam pikiran kognitif orang tersebut. Kemampuan kognitif ini harus dikembangkan melalui belajar. Perkembangan berpikir seorang anak bergerak dari kegiatan berpikir konkret menuju berpikir abstrak. Perubahan berpikir ini bergerak sesuai dengan meningkatnya usia seorang anak. Seorang guru perlu memahami kemampuan berpikir anak sehingga tidak memaksakan materi-materi pelajaran yang tingkat kesukarannya tidak sesuai dengan usia anak untuk diterima dan dicerna oleh anak. Bila hal ini terjadi, maka anak mengalami kesukaran untuk mencerna gagasan-gagasan dari materi pelajaran yang diberikan. Materi pelajaran jelas tidak dapat dikuasai anak didik dengan baik, maka gagallah usaha guru untuk membelajarkan anak didik yang pada akhirnya prestasi belajar anak didik akan semakin menurun. Dalam penelitian ini motivasi diukur dengan kuesioner yang mengacu pada faktor psikologis, dengan aspek-aspek motivasi belajar yaitu motivasi intrinsik, motivasi ekstrinsik, dan motivasi belajar anak. 2.1.4 Hubungan Status Gizi dengan Hasil Belajar Makanan merupakan kebutuhan mendasar bagi kehidupan manusia. Setelah dikonsumsi di dalam alat pencernaan, makanan diurai menjadi berbagai zat makanan atau zat gizi. Zat makanan inilah yang diserap melalui dinding usus dan masuk kedalam cairan tubuh. Di dalam jaringan, zat-zat makanan memenuhi fungsinya masing-masing yaitu: 1) Sebagai sumber energi atau tenaga.

38

2) Menyokong pertumbuhan badan. 3) Memelihara jaringan tubuh, mengganti sel-sel yang rusak atau aus. 4) Mengatur metabolisme dan berbagai keseimbangan, misalnya keseimbangan mineral didalam cairan tubuh. 5) Berperan didalam mekanisme pertahanan tubuh terhadap berbagai penyakit, misalnya sebagai zat antitoksin dan antibodi. Bila tubuh tidak cukup mendapat zat-zat gizi, maka fungsi-fungsi itu akan menderita gangguan dan hambatan yang akan memberikan dampak negatif bagi status gizi seseorang. Adanya perbaikan konsumsi pangan dan peningkatan status gizi seimbang dengan yang diperlukan tubuh merupakan unsur penting yang berdampak positif bagi kecerdasan anak dalam upaya pencapaian hasil belajar dan peningkatan kualitas hidup manusia agar lebih kreatif serta produktif. 2.1.5 Hubungan Motivasi dengan Hasil Belajar Baik motivasi intrinsik maupun motivasi ekstrinsik sama-sama berfungsi sebagai pendorong, penggerak, dan penyeleksi perbuatan. Ketiganya menyatu dalam sikap yang terimplikasi dalam perbuatan. Dorongan adalah fenomena psikologis dari dalam yang melahirkan hasrat untuk bergerak dalam menyeleksi perbuatan yang akan dilakukan. Karena itulah baik dorongan atau penggerak maupun penyeleksi merupakan kata kunci dari motivasi dalam setiap perbuatan dalam belajar untuk melahirkan sebuah hasil belajar yang optimal.

39

Ngalim Purwanto (1995:61) mengatakan bahwa ” banyak bakat anak tidak berkembang karena tidak diperolehnya motivasi yang tepat. Jika seseorang mendapat motivasi yang tepat, maka lepaslahlah tenaga yang luar biasa sehingga tercapai pulalah hasil-hasil yang semula tidak terduga.“ Slameto (1991:136) juga mengatakan bahwa ”seringkali anak didik yang tergolong cerdas tampak bodoh karena tidak memiliki motivasi untuk mencapai hasil belajar sebaik mungkin.” Ada tidaknya motivasi untuk berprestasi pada diri anak didik cukup mempengaruhi kemampuan intelektual anak didik agar dapat berfungsi secara optimal. Kuat lemahnya motivasi belajar seseorang turut mempengaruhi keberhasilan belajar. Sehingga motivasi belajar perlu diusahakan terutama yang berasal dari dalam diri (motivasi intrinsik) disamping juga dari luar diri (motivasi ekstrinsik) dengan cara senantiasa memikirkan masa depan yang penuh tantangan dan harus dihadapi untuk mencapai cita-cita dengan belajar (M. Dalyono, 1997:57). Tinggi rendahnya motivasi selalu dijadikan indikator baik buruknya hasil belajar seseorang. Anak didik menyenangi mata pelajaran tertentu sehingga dengan senang hati pula mempelajari mata pelajaran tersebut. Selain memiliki buku, ringkasannya juga rapi dan lengkap. Setiap ada kesempatan selalu mata pelajaran yang disenangi tersebut yang dibaca. Wajarlah bila isi mata pelajaran itu dikuasai dalam waktu yang relatif singkat. Ujian pun dapat dilewati secara lancar dengan hasil belajar yang gemilang.

40

2.1.6

Hubungan Status Gizi dan Motivasi dengan Hasil Belajar Kesehatan seseorang tercermin melalui status gizinya, Seseorang yang

mempunyai status gizi baik akan terbebas dari semua rasa sakit. Sebaliknya seseorang yang mempunyai status gizi buruk maka kesehatannyapun akan terganggu, yang dapat mengakibatkan seluruh aktivitasnya terhambat. Kesehatan adalah cerminan dari status gizi seseorang dan hal ini merupakan faktor penting didalam belajar. Pelajar yang badannya tidak sehat, tentu tidak dapat belajar dengan baik. Konsentrasinya akan terganggu, dan pelajaran sukar untuk masuk ke pikiran. Begitu juga anak yang badannya lemah, sering pusing dan sebagainya tidak akan tahan lama dalam belajar dan lekas capai. Akibatnya anak menjadi malas dan dia tidak mempunyai motivasi belajar yang pada akhirnya hal ini dapat menimbulkan dampak berupa penurunan hasil belajar yang semakin merosot. Berdasarkan uraian tersebut diatas terkandung unsur bahwa, penerapan pola konsumsi makanan yang seimbang pada suatu keluarga akan berpengaruh pada status gizi. Pencapaian status gizi yang baik akan berdampak pada aktivitas psikis dan fisik untuk dapat melakukan suatu kegiatan belajar. Sedangkan motivasi yang berupa dorongan atau kekuatan, baik dari dalam maupun luar individu akan berpengaruh terhadap individu itu untuk bertindak dan berbuat sesuai dengan tujuan. Sehingga dengan status gizi yang baik dan adanya motivasi dapat memberikan hasil belajar sesuai yang diharapkan.

41

2.1.7

Kerangka Teori

(Syaiful Bahri Djamarah, 2002:143)

Alami Sosial budaya Kurikulum Program

Lingkungan Luar

Instrumen Sarana dan fasilitas
(Syaiful Bahri Djamarah, 2002:143)

Hasil Belajar

Guru
(Syaiful Bahri Djamarah, 2002:143)

I Dewa,Bachyar,2002:6)

Fisiologi

Kondisi Fisiologis (Status Gizi) Kondisi Panca Indra

-

Konsumsi Makanan Kesehatan

Dalam Minat Kecerdasan Psikologis Bakat Motivasi Kemampuan kognitif
- Instrinsik - Ekstrinsik

(Syaiful Bahri Djamarah, 2002:143)

Gambar 1 : Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Hasil Belajar Sumber : Syaiful Bahri Djamarah, 2002:143

42

2.1.8

Kerangka Konsep Secara sistematis, kerangka konsep dalam penelitian ini dapat digambarkan

sebagai berikut:

Status Gizi: - Kesehatan - Konsumsi makanan Hasil Belajar

Motivasi: - Motivasi intrinsik - Motivasi ekstrinsik

Gambar 2: Kerangka Konsep Variabel penelitian pada gambar kerangka konsep adalah: 1) Variabel bebas yaitu variabel yang mempengaruhi variabel lainnya. Dalam penelitian ini yang yang menjadi variabel bebas adalah status gizi dan motivasi. 2) Variabel terikat yaitu variabel yang dipengaruhi oleh variabel lain, dalam hal ini adalah hasil belajar.

2.2

Hipotesis Hipotesis merupakan jawaban sementara terhadap pernyataan yang

dikemukakan dalam perumusan masalah, hipotesis baru dibuktikan kebenaran dan

43

ketidakbenarannya melalui pengumpulan dan penganalisaan data (Winarno Surachmad, 1994:13). Dalam penelitian hipotesis yang dikemukakan adalah: 1) Ada hubungan antara status gizi dengan hasil belajar siswa SD Kajar 02 kecamatan Trangkil Kabupaten Pati atau semakin baik status gizi siswa SD Kajar 02 Kecamatan Trangkil Kabupaten Pati, semakin tinggi hasil belajarnya. 2) Ada hubungan antara motivasi belajar dengan hasil belajar siswa SD Kajar 02 Kecamatan Trangkil Kabupaten Pati atau semakin tinggi motivasi siswa SD Kajar 02 Kecamatan Trangkil Kabupaten Pati, semakin tinggi hasil belajarnya.

44

BAB III METODE PENELITIAN

3.1 Populasi Penelitian Populasi adalah keseluruhan obyek penelitian atau objek yang diteliti (Soekidjo Notoatmodjo, 2002:79). Populasi dalam penelitian ini adalah siswa kelas I - VI SD Kajar 02 Kecamatan Trangkil Kabupaten Pati tahun pelajaran 2004 / 2005 sebanyak 122 siswa.

3.2 Sampel Penelitian Sampel penelitian adalah sebagian yang diambil dari keseluruhan obyek yang diteliti dan dianggap mewakili seluruh populasi (Soekidjo Notoadmodjo, 2002:79). Cara pemilihan sampel penelitian ini diambil secara purposive sampling didasarkan pada suatu pertimbangan yaitu kriteria inklusi dan eksklusi. Kriteria inklusi adalah karakteristik umum obyek penelitian pada populasi target dan populasi terjangkau (Sudigdo Sastroasmoro, Sofyan Ismael, 1995:22), dengan kriteria 3 yaitu sebagai berikut: 1) Kemampuan siswa dalam menjawab materi kuesioner. 2) Hasil prestasi belajar yang lebih terukur berdasarkan tingkat kematangan siswa. 3) Amat realistik, ingin tahu, dan ingin belajar. Kriteria eksklusi adalah sebagian objek yang memenuhi kriteria inklusi harus dikeluarkan dari studi karena berbagai sebab, antara lain:

45

1) Homogenitas siswa yaitu kelas III hingga VI SD. 2) Homogenitas siswa SD yang mempunyai rangking 1 sampai 10.

3.3 Variabel Penelitian Variabel penelitian adalah sesuatu yang digunakan sebagai ciri, sifat, atau ukuran yang dimiliki, atau didapatkan oleh satuan penelitian tentang sesuatu konsep pengertian tertentu (Soekidjo Notoatmodjo, 2002:70). Dalam penelitian ini digunakan 2 variabel bebas (variabel independen) dan 1 variabel terikat( variabel dependen). 3.3.1 Variabel Bebas Variabel bebas adalah variabel yang mempengaruhi atau variabel yang menjadi sebab timbulnya atau berubahnya variabel terikat atau variabel dependen (Soekidjo Notoatmodjo, 2002:70). Variabel bebas dalam penelitian ini adalah status gizi dan motivasi 3.3.2 Variabel Terikat Variabel terikat adalah variabel yang dipengaruhi oleh variabel bebas (Suharsimi Arikunto, 2002:70). Variabel terikat dalam penelitian ini adalah hasil belajar

3.4 Rancangan Penelitian 3.4.1 Jenis Penelitian Jenis penelitian yang dilakukan adalah penelitian Explanatory Research yang menjelaskan hubungan antara variabel bebas dengan variabel terikat melalui pengujian

46

hipotesis (Soekidjo Notoatmodjo, 2002:26). Menggunakan pendekatan cross sectional study yaitu variabel bebas dan variabel terikat diamati pada saat yang sama. Variabel bebas Status Gizi (X1) Hasil Belajar (Y) Motivasi (X2) Variabel terikat

Variabel bebas

Gambar 3 Rancangan Penelitian

3.5 Teknik Pengambilan Data 1) Data mengenai identitas responden diperoleh dengan cara melakukan pengamatan dan wawancara. 2) Data mengenai status gizi diperoleh berdasarkan pengukuran antropometri yaitu Berat Badan Menurut Umur (BB/U) dan Berat Badan Menurut Tinggi Badan (BB/TB). 3) Data Berat Badan Menurut Umur (BB/U) diperoleh dengan teknik pengamatan terlibat (observasi partisipatif), yaitu: a) Timbangan diletakkan pada tempat yang datar.

47

b) Jarum timbangan tepat menunjukkan angka nol. c) Tanpa menggunakan alas kaki, responden ditimbang dengan posisi berdiri. d) Berat Badan responden dicatat pada lembar yang telah disediakan. 4) Data Berat Badan Menurut Tinggi Badan (BB/TB) diperoleh dengan teknik pengamatan terlibat (observasi partisipatif), yaitu: a) Microtoise dipasang pada dinding dengan angka 2,00 tepat menunjuk pada garis merah. b) Responden berdiri lurus dibawah microtoise dan menempel ke dinding tanpa menggunakan alas kaki. c) Ujung microtoise ditarik sampai batas ujung kepala responden. d) Tinggi badan responden dicatat pada lembar yang telah disediakan. 5) Data tentang motivasi diperoleh dengan jalan memberikan kuesioner kepada siswa mengacu pada faktor psikologis, dengan aspek-aspek motivasi belajar yaitu motivasi intrinsik, motivasi ekstrinsik, dan motivasi belajar anak. 6) Data hasil belajar siswa yang berupa rata-rata nilai semester I diperoleh dengan teknik pengamatan. 3.5 Prosedur Penelitian Prosedur penelitian dilakukan melalui tahapan sebagai berikut: 1) Menentukan teknik dan alat pengumpulan data yang akan digunakan 2) Melakukan atau pengumpulan data untuk menguji hipotesis 3) Melakukan pengolahan analisis data atau menguji hipotesis 4) Menarik kesimpulan atau generalisasi 5) Menyusun laporan penelitian

48

3.6 Instrumen penelitian Alat pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini berupa: 1) Microtoise, yaitu alat ukur tinggi badan yang mempunyai ketelitian 0,1 cm. 2) Timbangan injak, yaitu alat ukur berat badan yang mempunyai ketelitian 0,1 kg. 3) Kuesioner. 4) Mesin hitung atau kalkulator.

3.7 Validitas dan Reliabilitas Instrumen yang valid dan reliabel merupakan syarat untuk mendapatkan hasil penelitian yang valid dan reliabel (Sugiyono,2002:267). 3.8.1 Validitas Validitas adalah suatu ukuran yang menunjukkan tingkat-tingkat kevalidan atau kesahihan suatu instrumen (Suharsimi Arikunto,1997:144). Berdasarkan hasil uji validitas kuesioner dengan menggunakan program komputer pada lampiran menunjukkan bahwa dari 24 butir motivasi yang diujicobakan dengan nilai korelasi dibandingkan dengan tabel korelasi product moment untuk dk = n – 1 = 20 – 1 = 19 untuk alpha 5 % adalah 0,456. Sehingga diperoleh semua soal valid. 3.8.2 Reliabilitas Reliabilitas adalah suatu instrumen yang dapat dipercaya untuk digunakan sebagai alat pengumpul data karena instrumen tersebut sudah baik untuk tidak mengarahkan responden memilih jawaban-jawaban tertentu (Suharsimi

Arikunto,1997:154). Berdasarkan hasil uji reliabilitas kuesioner dengan menggunakan program komputer pada lampiran menunjukkan bahwa dari 24 butir motivasi yang diujicobakan

49

dengan nilai alpha 0,9639 dibandingkan dengan tabel korelasi product moment untuk dk = n – 1 = 20 – 1 = 19 untuk alpha 5 % adalah 0,456. Sehingga diperoleh alpha lebih besar dari r tabel artinya signifikan atau reliabel. 3.9 Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Penelitian Faktor-faktor yang mempengaruhi jalannya penelitian ini adalah jadwal penelitian yang tidak mengganggu kegiatan belajar mengajar.

3.10 Analisis Data Data yang diperoleh dalam penelitian diolah, meliputi: 1) Editing: untuk memeriksa kelengkapan data yang diperoleh melalui pengamatan dan wawancara. 2) Coding: Memberikan kode pada semua variabel untuk mempermudah pengolahan data. 3) Entri data: yaitu kegiatan memasukkan data dengan menggunakan komputer program. 4) Tabulasi: yaitu mengelompokkan data sesuai dengan variabel yang akan diteliti guna memudahkan dalam analisa data. 5) Penyajian data dalam bentuk tabel distribusi frekuensi dan deskriptif.

50

Setelah data diolah dan dianalisis menggunakan program komputer dengan analisis chi square hal itu berguna untuk menjelaskan hubungan antara variabel bebas dengan variabel terikat. Rumus Chi Square: C=

χ2 N + χ2

(Sugiyono, 2002:224)

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

4.1 Hasil Penelitian 4.1.1 Jenis Kelamin Jenis kelamin responden laki-laki sebanyak 21 orang (52,5%) dan jenis kelamin responden wanita sebanyak 19 orang (47,5%) Adapun distribusi frekuensi jenis kelamin responden dapat dilihat pada tabel 1 Tabel 1 DISTRIBUSI FREKUENSI JENIS KELAMIN RESPONDEN No 1. 2. Jenis Kelamin Pria Wanita Jumlah 4.1.1 Umur Umur responden terbanyak 10 tahun yaitu 12 orang (30 %) dan yang paling sedikit 7 tahun sebanyak 2 orang (5 %). Adapun distribusi frekuensi umur responden dapat dilihat pada tabel 2 Responden n Presentase (%) 21 52,5 19 47,5 40 100

51

Tabel 2 DISTRIBUSI FREKUENSI UMUR RESPONDEN No 1. 2. 3. 4. 5. Umur (Tahun) 7 8 9 6 12 Jumlah n 2 9 6 12 11 40 Responden Presentase (%) 5 22,5 15 30 27,5 100

4.1.3 Motivasi Intrinsik Hasil pengolahan data menunjukkan bahwa 55 % responden mempunyai motivasi intrinsic kurang, 2,5 % responden mempunyai motivasi intrinsik sedang dan 42,5 % responden mempunyai motivasi intrinsik yang baik. Distribusi frekuensi motivasi intrinsik dapat dilihat dapat dilihat pada tabel 3 Tabel 3 DISTRIBUSI FREKUENSI MOTIVASI INTRINSIK RESPONDEN No 1. 2. 3. Motivasi Intrinsik Kurang Sedang Baik Jumlah n 22 1 17 40 Responden Presentase (%) 55 2,5 42,5 100

52

4.1.4 Motivasi Ekstrinsik Hasil pengolahan data menunjukkan bahwa 42,5 % responden mempunyai motivasi ekstrinsik kurang, 12,5 % responden mempunyai motivasi ekstrinsik sedang dan 45 % responden mempunyai motivasi ekstrinsik yang baik. Distribusi frekuensi motivasi intrinsic dapat dilihat dapat dilihat pada tabel 4 Tabel 4 DISTRIBUSI FREKUENSI MOTIVASI EKSTRINSIK RESPONDEN No 1. 2. 3. Motivasi Ekstrinsik Kurang Sedang Baik Jumlah n 17 5 18 40 Responden Presentase (%) 42,5 12,5 45 100

4.1.5 Motivasi Belajar Hasil pengolahan data menunjukkan bahwa 40 % responden mempunyai motivasi belajar kurang, 17,5 % responden mempunyai motivasi belajar sedang dan 42,5 % responden mempunyai motivasi belajar yang baik. Distribusi frekuensi motivasi belajar dapat dilihat dapat dilihat pada tabel 5 Tabel 5 DISTRIBUSI FREKUENSI MOTIVASI BELAJAR RESPONDEN No 1. 2. 3. Motivasi Belajar Kurang Sedang Baik Jumlah n 16 7 17 40 Responden Presentase (%) 40 17,5 42,5 100

53

Hasil Penelitian yang dilakukan di SD Kajar 02 Kecamatan Trangkil Kabupaten Pati diperoleh data tentang status gizi, motivasi, dan hasil belajar. Metode pengambilan data status gizi meliputi data BB/U (Berat Badan Terhadap Umur) dan BB/TB (Berat Badan Terhadap Tinggi Badan). Peneliti telah melakukan pengukuran TB dan penimbangan BB. Data BB disesuaikan dengan umur responden, kemudian untuk menentukan Z skore, data BB/U dan BB/TB disesuaikan pula dengan baku rujukan WHO NCHS untuk mengetahui status gizi siswa. Rumus Status Gizi dengan Cara Z skore Bila BB riel hasil pengukuran ≥ nilai median, maka:
BB Riel - Nilai Median Baku Rujukan BB_U SD Upper (I Dewa Nyoman Supariasa, 2002:71)

Bila BB riel hasil pengukuran ≤ nilai median, maka:

BB Riel - Nilai Median Baku Rujukan BB_U SD Lower
(I Dewa Nyoman Supariasa, 2002:71)

Tabel 6 DATA STATUS GIZI RESPONDEN
No Responden (1) 1 2 3 Jenis Kelamin (2) Wanita Wanita Wanita Umur (tahun) (3) 9 9 9 Berat Badan (Kg) (4) 30 29 31 Tinggi Badan (cm) (5) 129,5 128,0 134,0 Z Skore BB/U BB/TB (6) 0,22 0.03 0,32 (7) 0,90 0,90 0,35 Status Gizi

(8) Gizi Baik Gizi Baik Gizi Baik

54

Lanjutan tabel 6

(1)
4 5 6 7 8 9

(2)
Wanita Pria Pria Wanita Pria Wanita

(3)
9 9 9 9 9 9

(4)
32 31 33 36 34 36

(5)
131,5 133,0 135,0 136,5 136,0 136,5

(6)
0,70 0,32 0,39 0,68 0,41 0,68

(7)
0,90 0,47 0,83 0,83 0,90 0,83

(8)
Gizi Baik Gizi Baik Gizi Baik Gizi Baik Gizi Baik Gizi Baik

10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 38 39 40

Wanita Pria Wanita Pria Wanita Pria Wanita Wanita Pria Pria Wanita Pria Pria Pria Pria Pria Pria Wanita Pria Pria Wanita Wanita Wanita Pria Wanita Pria Wanita Pria Pria Wanita Pria

9 10 9 10 9 10 9 8 9 10 8 9 9 9 10 9 10 8 11 9 9 9 9 9 8 10 9 10 11 9 9

36 40 35 40 32 38 32 33 36 40 33 32 32 36 39 36 40 33 40 32 36 32 36 32 33 40 32 40 40 32 32

136,5 143,0 136,0 138,0 131,5 141,0 131,5 135,0 136,5 138,0 133,0 135,0 135,0 136,5 142,5 138,5 138,0 133,0 143,0 135,5 134,0 131,5 134,0 132,0 129,0 138,0 131,5 138,0 138,0 131,5 135,0

0,68 0,88 0,60 0,73 0,70 0,68 0,70 0,73 0,68 0,73 0,79 0,70 0,70 0,68 0,61 0,68 0,73 0,79 0,79 0,70 0,73 0,70 0,73 0,70 0,79 0,73 0,70 0,73 0,79 0,70 0,70

0,90 0,82 0,74 1,72 1,34 0,80 1,34 0,56 1,72 1,72 0,90 0,58 0,83 0,83 0,75 0,83 1,34 0,90 0,83 1,34 1,34 1,32 1,34 1,08 1,72 1,72 1,34 1,72 1,72 1,34 1,72

Gizi Baik Gizi Baik Gizi Baik Gizi Baik Gizi Baik Gizi Baik Gizi Baik Gizi Baik Gizi Baik Gizi Baik Gizi Baik Gizi Baik Gizi Baik Gizi Baik Gizi Baik Gizi Baik Gizi Baik Gizi Baik Gizi Baik Gizi Baik Gizi Baik Gizi Baik Gizi Baik Gizi Baik Gizi Baik Gizi Baik Gizi Baik Gizi Baik Gizi Baik Gizi Baik Gizi Baik

55

Metode pengambilan data motivasi melalui penyebaran kuesioner. Pengukuran kuesioner tersebut menggunakan skala Likert, dengan ketentuan: 1) 2) 3) 4) Jawaban a, diberi skor 1 Jawaban b, diberi skor 2 Jawaban c, diberi skor 3 Jawaban d, diberi skor 4

Peneliti telah menyebar kuesioner untuk 40 responden dengan hasil sebagai berikut:

Tabel 7 MOTIVASI BELAJAR RESPONDEN No Responden (1) 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 Motivasi (2) 58 58 58 58 58 57 57 58 56 54 58 58 58 57 57 58 57 58 57 58 58 58 58

56

Lanjutan Tabel 7 (1) 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 38 39 40

(2) 58 58 58 57 57 57 57 58 58 58 58 58 58 58 58 57 57

Metode pengambilan data hasil belajar diperoleh melalui data sekunder, yaitu data yang diperoleh dari hasil belajar nilai semester 1

Tabel 8 DATA HASIL BELAJAR RESPONDEN No Responden (1) 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 Kelas (2) Kelas 3 Kelas 3 Kelas 3 Kelas 3 Kelas 3 Kelas 3 Kelas 3 Kelas 3 Kelas 3 Kelas 3 Kelas 4 Kelas 4 Jumlah Nilai (3) 74 73 72 70 69 67 66 65 64 62 77 76

57

Lanjutan Tabel 8 (1) 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 38 39 40

(2) Kelas 4 Kelas 4 Kelas 4 Kelas 4 Kelas 4 Kelas 4 Kelas 4 Kelas 4 Kelas 5 Kelas 5 Kelas 5 Kelas 5 Kelas 5 Kelas 5 Kelas 5 Kelas 5 Kelas 5 Kelas 5 Kelas 6 Kelas 6 Kelas 6 Kelas 6 Kelas 6 Kelas 6 Kelas 6 Kelas 6 Kelas 6 Kelas 6

(3) 73 73 72 71 70 66 66 63 78 76 75 73 72 66 73 70 66 66 82 80 79 73 76 73 73 72 70 68

Sedangkan analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah chi square test digunakan untuk mengetahui hubungan masing-masing variabel bebas (status gizi, motivasi) dengan variabel terikat (hasil belajar). Persiapan Analisis Chi Square Melalui skor status gizi yang diperoleh dari data BB/U dan BB/TB. Skor motivasi melalui penyebaran kuesioner, dan skor hasil belajar berdasarkan nilai

58

semester satu. Langkah selanjutnya adalah persiapan analisis chi square seperti pada tabel sebagai berikut:

Tabel 9 DATA STATUS GIZI DAN HASIL BELAJAR RESPONDEN No Responden (1) 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 Status Gizi (X1) BB/U BB/TB (2) (3) 0,22 0,90 0,03 0,90 0,32 0,35 0,70 0,90 0,32 0,47 0,39 0,83 0,68 0,83 0,41 0,90 0,68 0,83 0,68 0,90 0,88 0,82 0,60 0,74 0,73 1,72 0,70 1,34 0,68 0,80 0,70 1,34 0,73 0,56 0,68 1,72 0,73 1,72 0,79 0,90 0,70 0,58 0,70 0,83 0,68 0,83 0,61 0,75 0,68 0,83 0,73 1,34 0,79 0,90 0,79 0,83 0,70 1,34 0,73 1,34 0,70 1,32 Hasil Belajar (Y) (4) 74 73 72 70 69 67 66 65 64 62 77 76 73 73 72 71 70 66 66 63 78 76 75 73 72 66 73 70 66 66 82

59

Lanjutan Tabel 9 (1) 32 33 34 35 36 37 38 39 40

(2) 0,73 0,70 0,79 0,73 0,70 0,73 0,79 0,70 0,70

(3) 1,34 1,08 1,72 1,72 1,34 1,72 1,72 1,34 1,72

(4) 80 79 73 76 73 73 72 70 68

Tabel 10 DATA MOTIVASI DAN HASIL BELAJAR RESPONDEN No Responden (1) 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 Motivasi (X1) (2) 58 58 58 58 58 57 57 58 56 54 58 58 58 57 57 58 57 58 57 58 58 58 58 58 58 Hasil Belajar (Y) (3) 74 73 72 70 69 67 66 65 64 62 77 76 73 73 72 71 70 66 66 63 78 76 75 73 72

60

Lanjutan Tabel 10

(1) 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 38 39 40

(2) 58 57 57 57 57 58 58 58 58 58 58 58 58 57 57

(3) 66 73 70 66 66 82 80 79 73 76 73 73 72 70 68

Analisis Chi Square Analisis chi square digunakan untuk mengetahui: 1) Ada tidaknya hubungan variabel bebas (status gizi) dengan variabel terikat (hasil belajar) 2) Ada tidaknya hubungan variabel bebas (motivasi) dengan variabel terikat (hasil belajar) 4.2.4.1.2 Chi Square untuk mengetahui ada tidaknya hubungan variabel bebas (status gizi) yaitu BB/U dengan variabel terikat (hasil belajar) Langkah-langkah pengujian: 1) Komposisi hipotesis

61

Ho = Tidak ada hubungan antara status gizi dengan hasil belajar, atau semakin buruk status gizi semakin buruk hasil belajarnya Ha = ada hubungan antara status gizi dengan hasil belajar, atau semakin baik status gizi semakin tinggi hasil belajarnya 2)

Level of significance α = 0,05
Melalui output pengolahan komputer derajat kebebasan (df) = 209 Atau dapat pula meggunakan rumus : = (Jumlah baris – 1) × (Jumlah kolom – 1) (Suharsimi Arikunto, 1996:260) = (20 – 1) × (15 – 1) = 19 × 14 = 209 Sehingga nilai chi square tabel = 0,05; 209 = 243,727

3)

Nilai chi square hitung (1) Berdasarkan output pengolahan komputer nilai chi square hitung = 254,371

Chi square untuk mengetahui ada tidaknya hubungan variabel bebas (status gizi) yaitu
BB/TB dengan variabel terikat (hasil belajar) Langkah-langkah pengujian: 1) Komposisi hipotesis Ho = Tidak ada hubungan antara status gizi dengan hasil belajar, atau semakin buruk status gizi semakin buruk hasil belajarnya

62

Ha = ada hubungan antara status gizi dengan hasil belajar, atau semakin baik status gizi semakin tinggi hasil belajarnya 2) Level of significance α = 0,05 Melalui output pengolahan komputer derajat kebebasan (df) = 247 Atau dapat pula menggunakan rumus : = (Jumlah baris – 1) × (Jumlah kolom – 1) (Suharsimi Arikunto, 1996:260) = (20 – 1) × (15 – 1) = 19 × 14 = 247 Sehingga nilai chi square tabel = 0,05; 247 = 284,660 3) Nilai chi square hitung (2) Berdasarkan output pengolahan komputer nilai chi square hitung = 296,458 4) Simpulan Berdasarkan kedua perhitungan metode pengambilan data status gizi (BB/U dan BB/TB) diperoleh chi square hitung (1) = 254,371 > chi square tabel = 243,727, maka Ho ditolak dan chi square hitung (2) = 296,458 > chi square tabel = 284,660, maka Ho ditolak. Sehingga dapat disimpulkan bahwa chi square hitung (1) dan (2) > chi square tabel, yang berarti ada hubungan yang berarti antara status gizi dengan hasil belajar atau semakin tinggi status gizi maka semakin tinggi hasil belajarnya.

Chi square untuk mengetahui ada tidaknya hubungan variabel bebas (motivasi) dengan
variabel terikat (hasil belajar)

63

Langkah-langkah pengujian: 1) Komposisi hipotesis Ho = Tidak ada hubungan antara motivasi dengan hasil belajar, atau semakin buruk motivasi semakin buruk hasil belajarnya Ha = ada hubungan antara motivasi dengan hasil belajar, atau semakin tinggi motivasi semakin tinggi hasil belajarnya 2) Level of significance α = 0,05 Melalui output pengolahan komputer derajat kebebasan (df) = 57 Atau dapat pula menggunakan rumus : = (Jumlah baris – 1) × (Jumlah kolom – 1) (Suharsimi Arikunto, 1996:260) = (20 – 1) × (4 – 1) = 19 × 3 = 57 Sehingga nilai chi square tabel = 0,05; 57 = 75,624 3) Nilai chi square hitung (2) Berdasarkan output pengolahan komputer nilai chi square hitung = 98,889 4) Simpulan Berdasarkan perhitungan di atas dapat diperoleh chi square hitung = 98,889 >

chi square tabel = 75,624, maka Ho ditolak, yang berarti ada hubungan antara
motivasi dengan hasil belajar atau semakin tinggi motivasi, semakin tinggi hasil belajarnya

64

Berdasarkan analisis tersebut, ternyata hipotesis yang menyatakan bahwa: 1) Diduga ada hubungan yang berarti antara status gizi dengan hasil belajar atau semakin baik status gizi, semakin tinggi hasil belajarnya, telah terbukti kebenarannya. 2) Diduga ada hubungan yang berarti antara motivasi dengan hasil belajar atau semakin tinggi motivasi, semakin tinggi hasil belajarnya, telah terbukti kebenarannya.

4.2 Pembahasan
Responden dalam penelitian ini adalah siswa SD Kajar 02 kelas 3, 4, 5, 6 yang berusia 9 hingga 12 tahun yang mempunyai rangking 1 hingga 10. Penilaian status gizi untuk anak yang berusia 2 hingga 18 tahun menggunakan indeks antropometri berupa pengukuran BB/U dan BB/TB untuk nantinya diperoleh standar deviasi atau Z skore dan kemudian disesuaikan dengan tabel WHO NCHS. Status gizi untuk anak menurut tabel WHO NCHS dikategorikan menjadi gizi baik (-1 SD hingga +1 SD), gizi lebih (+1 SD hingga +2 SD), obesitas (+2 SD hingga +3 SD), gizi kurang (-1SD hingga –2 SD), gizi buruk (-2 SD hingga –3 SD). Berdasarkan hasil penelitian didapatkan nilai BB/U terendah 0,03 tergolong gizi buruk dan BB/U tertinggi 0,88 tergolong gizi baik. Nilai BB/TB terendah 0,35 tergolong gizi baik dan BB/TB tertinggi 1,72 tergolong gizi lebih. Pada penelitian dihasilkan nilai motivasi terendah adalah 54 (2,5 %) dan nilai motivasi tertinggi 58 (60%). Hal ini menunjukkan tingginya motivasi belajar untuk mencapai hasil yang maksimal. Hal ini sesuai dengan pendapat Syaiful Bahri Djamarah

65

(2002:119), motivasi sebagai dasar penggerak yang mendorong seseorang untuk belajar. Hasil belajar sebagai variabel terikat dengan nilai minimum 62 (2,5 %) dan nilai maksimum 82 (2,5%), dengan nilai rata-rata 71,25. 4.2.2 Hubungan Status Gizi dengan Hasil Belajar Berdasarkan metode pengambilan data status gizi yang meliputi BB/U dan BB/TB hasil uji chi square menunjukkan ada hubungan yang berarti antara status gizi (BB/U dan BB/TB) dengan hasil belajar dengan chi square hitung (BB/U) = 254,371 >

chi square tabel = 243,727 dan chi square hitung (BB/TB) = 296,458 > chi square tabel
= 284,660. Korelasi positif berarti semakin baik status gizi (BB/U dan BB/TB), semakin tinggi pula hasil belajarnya. Hal ini sesuai dengan pendapat G Kartasapoetra (2002: 122) bahwa zat gizi dalam makanan berfungsi memelihara proses tubuh dalam pertumbuhan dan perkembangan yaitu pergantian sel-sel yang rusak dan sebagai zat pelindung bagi tubuh. Apalagi anak merupakan kelompok yang rentan gizi, sedangkan pada saat ini mereka sedang mengalami proses pertumbuhan yang relatif pesat, sehingga proses tubuh dalam pertumbuhan dan perkembangan yang terpelihara dengan baik akan menunjukkan baiknya kesehatan yang dimiliki seseorang. Seseorang yang sehat akan memiliki daya fikir dan daya kegiatan fisik sehari-hari yang cukup tinggi, sehingga hal ini akan menunjang prestasi di dalam belajarnya. 4.2.3 Hubungan motivasi dengan hasil belajar Hasil uji chi square menunjukkan ada hubungan yang berarti antara motivasi dengan hasil belajar dengan chi square hitung = 98,889 > chi square tabel = 75,624.

66

Korelasi bernilai positif berarti semakin tinggi motivasi maka semakin tinggi hasil belajarnya. Hal ini sesuai dengan pendapat Syaiful Bahri Djamarah (2002:167) bahwa kuat lemahnya motivasi belajar seseorang mempengaruhi keberhasilan belajar. Karena itu, motivasi belajar perlu diusahakan terutama yang berasal dari dalam diri (motivasi intrinsik) dengan cara senantiasa memikirkan masa depan yang penuh tantangan dan harus dihadapi untuk mencapai cita-cita senantiasa memasang tekad bulat dan selalu optimis bahwa cita-cita dapat dicapai dengan belajar. 4.2.4 Hambatan dan Kelemahan Penelitian Keterbatasan penelitian ini adalah tidak mengontrol faktor minat, kecerdasan, bakat, dan kemampuan kognitif dikarenakan adanya keterbatasan waktu penelitian.

67

68

69

BAB V SIMPULAN SARAN

5.1 Simpulan Berdasarkan hasil analisis pada BAB IV dapat diambil simpulan sebagai berikut: 5.1.1 Diduga ada hubungan yang berarti antara status gizi dengan hasil belajar siswa SD Kajar 02 atau semakin tinggi status gizi siswa SD Kajar 02 semakin tinggi hasil belajarnya, terbukti kebenarannya. 5.1.2 Diduga ada hubungan yang berarti antara motivasi dengan hasil belajar siswa SD Kajar 02 atau semakin tinggi motivasi belajar siswa SD Kajar 02 semakin tinggi hasil belajarnya, terbukti kebenarannya.

5.2 Saran Berdasarkan simpulan tersebut di atas, maka peneliti memberikan saran yang dapat bermanfaat. Adapun saran tersebut adalah sebagai berikut: 5.2.1 Diharapkan semua orang tua untuk memperhatikan konsumsi makanan anak, karena kebutuhan gizi yang cukup dan terpenuhi, dapat menunjang hasil belajarnya. 5.2.2 Diharapkan kerjasama antara guru dan orang tua terhadap pemberian bimbingan, pengarahan, dan motivasi siswa untuk mendukung hasil belajarnya.

69

5.2.3

Bagi peneliti lain perlu dilakukan penelitian lebih lanjut untuk mengetahui variabel-variabel lain di luar satus gizi dan motivasi yang dapat mempengaruhi hasil belajar.

HSL_BLJR * BB_TB

Cases Valid N 40

Case Processing Summary Percent 100.0% Missing N 0 Percent .0% Total N 40 Percent 100.0%

HSL_BLJR 62 63 64 65 66 67 68 69 70 71 72 73 74 75 76 77 78 79 80 82 Total

BB_TB .35

HSL_BLJR * BB_TB Crosstabulation Count .47 .56 .58 .74 .75 .80 .82 .83 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 .90 1 1 1 1.08 1.32 1.34 1.72

Total 1 1 1 1 6 1 1 1 4 1 4 8 1 1 3 1 1 1 1 1 40

3

2 1

1 2 1

1

1 1 2

1 3 1

1

1 1 1 1 1 7 7 1 1 1

1 8 8

1

1

1

1

Chi-Square Tests Value Pearson Chi-Square 296.458 N of Valid Cases 40

df 247

90

HSL_BLJR * BB_U

Cases Valid N 40

Case Processing Summary Percent 100.0% Missing N 0 Percent .0% Total N 40 Percent 100.0%

HSL_BLJR

Total

62.00 63.00 64.00 65.00 66.00 67.00 68.00 69.00 70.00 71.00 72.00 73.00 74.00 75.00 76.00 77.00 78.00 79.00 80.00 82.00

BB_U .03 .22

HSL_BLJR * BB_U Crosstabulation Count .32 .39 .41 .60 .61 .68 1 1 2 1 1 2 1 2 1 1 1 1 2 1 1 1 2 3 .70 .73 .79 1 .88

Total 1 1 1 1 6 1 1 1 4 1 4 8 1 1 3 1 1 1 1 1 40

1 1 1 1 1 1

1

1

2 1

1

1

1

2

1

1

1

1

7

1 11

1 8 5 1

Pearson ChiSquare N of Valid Cases

Value 254.371 40

df 209

Chi-Square Tests

89

77

R E L I A B I L I T Y

A N A L Y S I S Mean

-

S C A L E Std Dev .2236 .2236 .3078 .2236 .2236 .3078 .3078 .2236 .2236 .2236 .2236 .2236 .2236 .2236 .2236 .2236 .2236 .2236 .2236 .2236 .2236 .2236 .2236 .2236

(A L P H A) Cases 20.0 20.0 20.0 20.0 20.0 20.0 20.0 20.0 20.0 20.0 20.0 20.0 20.0 20.0 20.0 20.0 20.0 20.0 20.0 20.0 20.0 20.0 20.0 20.0 N of Variables 24

1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10. 11. 12. 13. 14. 15. 16. 17. 18. 19. 20. 21. 22. 23. 24.

SOAL_1 SOAL_2 SOAL_3 SOAL_4 SOAL_5 SOAL_6 SOAL_7 SOAL_8 SOAL_9 SOAL_10 SOAL_11 SOAL_12 SOAL_13 SOAL_14 SOAL_15 SOAL_16 SOAL_17 SOAL_18 SOAL_19 SOAL_20 SOAL_21 SOAL_22 SOAL_23 SOAL_24

3.9500 3.9500 3.9000 3.9500 3.9500 3.9000 3.9000 3.9500 3.9500 3.9500 3.9500 3.9500 3.9500 3.9500 3.9500 3.9500 3.9500 3.9500 3.9500 3.9500 3.9500 3.9500 3.9500 3.9500

Statistics for SCALE

Mean 94.6500

Variance 17.5026

Std Dev 4.1836

R E L I A B I L I T Y

A N A L Y S I S

-

S C A L E

(A L P H A)

Item-total Statistics Scale Mean if Item Deleted SOAL_1 SOAL_2 SOAL_3 SOAL_4 SOAL_5 SOAL_6 SOAL_7 SOAL_8 90.7000 90.7000 90.7500 90.7000 90.7000 90.7500 90.7500 90.7000 Scale Variance if Item Deleted 16.1158 16.1158 15.0395 16.1158 16.1158 15.0395 15.0395 16.4316 Corrected ItemTotal Correlation .7446 .7446 .9921 .7446 .7446 .9921 .9921 .5632

Alpha if Item Deleted .9621 .9621 .9593 .9621 .9621 .9593 .9593 .9637

77

SOAL_9 SOAL_10 SOAL_11 SOAL_12 SOAL_13 SOAL_14 SOAL_15 SOAL_16 SOAL_17 SOAL_18 SOAL_19 SOAL_20 SOAL_21 SOAL_22 SOAL_23 SOAL_24

90.7000 90.7000 90.7000 90.7000 90.7000 90.7000 90.7000 90.7000 90.7000 90.7000 90.7000 90.7000 90.7000 90.7000 90.7000 90.7000

16.1158 16.4316 16.1158 16.4316 16.1158 16.1158 16.4316 16.1158 16.4316 16.1158 16.4316 16.4316 16.1158 16.4316 16.4316 16.1158

.7446 .5632 .7446 .5632 .7446 .7446 .5632 .7446 .5632 .7446 .5632 .5632 .7446 .5632 .5632 .7446

.9621 .9637 .9621 .9637 .9621 .9621 .9637 .9621 .9637 .9621 .9637 .9637 .9621 .9637 .9637 .9621

Reliability Coefficients N of Cases = Alpha = .9639 20.0 N of Items = 24

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->