P. 1
2637

2637

|Views: 268|Likes:
Published by iain-su

More info:

Published by: iain-su on Aug 28, 2010
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

08/28/2010

pdf

text

original

TATA TERTIB SEKOLAH SEBAGAI SARANA PENDIDIKAN MORAL DI SEKOLAH MENENGAH KEJURUAN (SMK) NEGERI 5 SEMARANG

SKRIPSI Untuk memperoleh gelar Sarjana Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan pada Universitas Negeri Semarang

Oleh Giri Harto Wiratomo NIM 3401403057

FAKULTAS ILMU SOSIAL JURUSAN HUKUM DAN KEWARGANEGARAAN 2007

PERSETUJUAN PEMBIMBING

Skripsi ini telah disetujui oleh Pembimbing untuk diajukan ke sidang panitia ujian skripsi pada: Hari Tanggal : Kamis : 19 Juli 2007

Pembimbing I

Pembimbing II

Drs. Makmuri NIP. 130675638

Drs. AT. Sugeng Priyanto, M.Si NIP. 131813668

Mengetahui, Ketua Jurusan Hukum dan Kewarganegaraan

Drs. Slamet Sumarto, M.Pd NIP. 131570070

iii

PENGESAHAN KELULUSAN

Skripsi ini telah dipertahankan di depan Sidang Panitia Ujian Skripsi Fakultas Ilmu Sosial Universitas Negeri Semarang pada: Hari Tanggal : Sabtu : 4 Agustus 2007

Penguji Skripsi

Drs. Suprayogi, M.Pd NIP. 131474095 Anggota I Anggota II

Drs. Makmuri NIP. 130675638

Drs. AT. Sugeng Priyanto, M.Si NIP. 131813668

Mengetahui, Dekan Fakultas Ilmu Sosial

Drs. Sunardi, M.M NIP. 130367998

iv

PERNYATAAN

Saya menyatakan bahwa yang tertulis di dalam skripsi ini benar – benar hasil karya saya sendiri, bukan jiplakan dari karya tulis orang lain, baik sebagian atau seluruhnya. Pendapat atau temuan orang lain yang terdapat dalam skripsi ini dikutip atau dirujuk berdasarkan kode etik ilmiah.

Semarang, 19 Juli 2007 Peneliti

Giri Harto Wiratomo NIM. 3401403057

v

MOTTO DAN PERSEMBAHAN

MOTTO “Jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu. Dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyu” (Al Baqarah:45)

Hidup hanya sekali jadikanlah lebih berarti bagi diri dengan hiasan prestasi (Peneliti)

PERSEMBAHAN Ayah dan Ibu, Kakakku Lilian Maharani, S.Pd dan Anton Sundargo, S.Pd Adikku Kopral Taruna Pramudyo Wardani di Akademi Militer Magelang

vi

PRAKATA

Segala rasa syukur peneliti panjatkan kehadirat Allah SWT Raab semesta alam atas limpahan rahmat, hidayah serta karunia sehingga peneliti dapat menyelesaikan penyusunan skripsi dengan lancar dan tepat pada waktunya dengan judul ”Tata Tertib Sekolah Sebagai Sarana Pendidikan Moral Di Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Negeri 5 Semarang”. Penyusunan skripsi ini dilakukan adalah sebagai salah satu syarat dalam menyelesaikan studi Strata Satu (S1) pada Program Studi Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan Jurusan Hukum dan Kewarganegaraan Fakultas Ilmu Sosial Universitas Negeri Semarang. Peneliti menyadari bahwa dengan tanpa adanya bantuan dari berbagai pihak penulisan skripsi ini tidak dapat terwujud. Oleh karena itu peneliti mengucapkan terima kasih dan penghargaan kepada: 1. Prof. DR. Sudijono Sastroatmodjo, M.Si, Rektor Universitas Negeri Semarang. 2. Drs. Sunardi, M.M, Dekan Fakultas Ilmu Sosial Universitas Negeri Semarang. 3. Drs. Slamet Sumarto, M.Pd, Ketua Jurusan Hukum dan Kewarganegaraan Fakultas Ilmu Sosial Universitas Negeri Semarang yang telah memberikan kesempatan peneliti untuk berkarya dan menyelesaikan studi di Program Studi Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan Jurusan Hukum dan Kewarganegaraan Fakultas Ilmu Sosial Universitas Negeri Semarang.

vii

4. Drs. Makmuri, Pembimbing Skripsi I yang dengan keikhlasan dan ketelitian memberikan bimbingan baik berupa motivasi dan masukan bagi penyusunan skripsi ini. 5. Drs. AT. Sugeng Priyanto, M.Si, Pembimbing Skripsi II yang dengan kesabaran membimbing dan mengarahkan peneliti baik saran dan petunjuk dari awal hingga akhir guna penyusunan skripsi ini. 6. Drs. H. M. Saidi, Kepala Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Negeri 5 Semarang yang telah bersedia memberikan kemudahan dan perizinan dalam penyusunan skripsi ini. 7. Ayah dan Ibu yang selalu memelukku dalam ruang sandaran hati dan kasih sayang yang tiada hentinya dengan segala dorongan motivasinya. 8. Teman – teman seperjuangan ”Almamater Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan Angkatan 2003”. 9. Semua pihak – pihak yang tidak dapat peneliti sebutkan satu persatu atas bantuan yang diberikan baik secara langsung maupun tidak langsung untuk penyelesaian skripsi ini. ”Tak ada gading yang tak retak” serta sebagai insan biasa, peneliti menyadari atas kekurangan dalam penyusunan skripsi ini. Kritik dan saran yang sifatnya membangun selalu peneliti harapkan demi perbaikan di masa depan. Semoga peyusunan skripsi dapat memberikan manfaat khususnya bagi diri peneliti dan pembaca pada umumnya. Amin Semarang, 19 Juli 2007 Peneliti

viii

SARI Giri Harto Wiratomo. 2007. Tata Tertib Sekolah Sebagai Sarana Pendidikan Moral Di Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Negeri 5 Semarang. Jurusan Hukum dan Kewarganegaraan Fakultas Ilmu Sosial Universitas Negeri Semarang. 125h. Kata Kunci: Tata Tertib, Sarana, Pendidikan Moral Kondisi akhir – akhir ini menunjukkan telah terjadi degradasi moral pada kualitas personal bangsa Indonesia terutama generasi muda. Banyak faktor yang mempengaruhi gejala – gejala degradasi moral tersebut. Permasalahan yang dikaji dalam penelitian ini adalah: (1) Apakah benar tertib sekolah berisi muatan sarana pendidikan moral di Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Negeri 5 Semarang?, (2) Bagaimana pelaksanaan tata tertib sekolah sebagai sarana pendidikan moral di Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Negeri 5 Semarang?, (3) Bagaimana kendala – kendala yang dihadapi dalam pelaksanaan tata tertib sekolah sebagai sarana pendidikan moral di Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Negeri 5 Semarang?. Dasar penelitian ini menggunakan kualitatif deskriptif. Ada 2 (dua) variabel yang dikaji dalam penelitian ini, yaitu: (1) Tingkah laku siswa dalam implementasi tata tertib sekolah sebagai sarana pendidikan moral di Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Negeri 5 Semarang, (2) Pelaksanaan tata tertib sekolah sebagai sarana pendidikan moral di Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Negeri 5 Semarang, dan (3) Kendala – kendala yang dihadapi dalam pelaksanaan tata tertib sekolah sebagai sarana pendidikan moral di Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Negeri 5 Semarang. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pelanggaran terhadap tata tertib sekolah sebagai sarana pendidikan moral di Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Negeri 5 Semarang tergolong tinggi. Pelanggaran tata tertib sekolah tersebut meliputi tidak masuk tanpa keterangan (alpa), meninggalkan pelajaran tanpa izin, baju tidak dimasukkan, mencorat – coret seragam sekolah, berkelahi, tidak segera menempuh atau menyelesaikan remidi. Bentuk – bentuk pelanggaran tata tertib sekolah bersifat ringan, sedang, dan berat. Faktor – faktor penyebab siswa melanggar tata tertib sekolah di Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Negeri 5 Semarang adalah faktor internal dan eksternal. Berdasarkan penelitian pendidikan moral selain diajarkan melalui bentuk formal dalam mata pelajaran juga dapat diberikan dalam bentuk informal melalui bentuk – bentuk lain seperti adanya tata tertib sekolah. Pendidikan moral pada intinya adalah mengajarkan dan melatih siswa terhadap kesadaran moral. Implementasi tata tertib sekolah sebagai sarana pendidikan moral adalah pada isi tata tertib sekolah (content), berperan sebagai alat pencegah (preventif) dan sanksi yang mendidik. Perbedaannya hanya terletak pada bentuk dan cara menggunakannya. Pelaksanaan tata tertib sekolah sebagai sarana pendidikan moral di Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Negeri 5 Semarang menggunakan sistem credit poin. Kendala – kendala utama yang dihadapi Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Negeri 5 Semarang adalah kurangnya konsistensi Guru dalam penegakan tata tertib sekolah. Upaya – upaya

ix

sekolah dalam penegakan tata tertib sekolah adalah secara preventif, kuratif atau rehabilitatif dan represif. Hasil penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat bagi sekolah, orang tua dan masyarakat. Kepala Sekolah hendaknya terus berkomitmen dan lebih intensif mengadakan penegakan kedisiplinan siswa serta fasilitas pendukung dalam upaya menekan tingkat pelanggaran siswa terhadap tata tertib sekolah. Guru hendaknya terus melakukan kontrol terhadap pelanggaran tata tertib sekolah terutama membina kedisiplinan siswa. Siswa hendaknya dengan penuh kesadaran diri untuk mematuhi tata tertib sekolah. Orang tua hendaknya ikut serta melakukan pembinaan moral anaknya agar patuh dan taat terhadap tata tertib sekolah.

x

DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL ...................................................................................... i PERSETUJUAN PEMBIMBING .................................................................. ii PENGESAHAN KELULUSAN .................................................................... iii PERNYATAAN ............................................................................................. iv MOTTO DAN PERSEMBAHAN ................................................................. v PRAKATA ..................................................................................................... vi SARI ............................................................................................................... viii DAFTAR ISI .................................................................................................. x DAFTAR TABEL .......................................................................................... xiii DAFTAR GAMBAR ..................................................................................... xiv DAFTAR LAMPIRAN .................................................................................. xv BAB I PENDAHULUAN ......................................................................... 1 A. Latar Belakang Masalah ........................................................... 1 B. Identifikasi dan Pembatasan Masalah ...................................... 7 C. Perumusan Masalah ................................................................. 8 D. Tujuan Penelitian ..................................................................... 9 E. Kegunaan Penelitian ................................................................ 10 F. Sistematika Penulisan Skripsi .................................................. 11 BAB II LANDASAN TEORI ..................................................................... 13 A. Tata Tertib Sekolah .................................................................. 13 B. Pendidikan Moral ..................................................................... 18

xi

C. Hubungan Tata Tertib Sekolah dan Pendidikan Moral ............ 35 D. Sarana Pendidikan Moral ......................................................... 40 E. Kerangka Berpikir.................................................................... 44 BAB III METODE PENELITIAN ............................................................... 46 A. Dasar Penelitian ....................................................................... 46 B. Fokus Penelitian ....................................................................... 47 C. Sumber Data Penelitian ........................................................... 48 D. Alat dan Teknik Pengumpulan Data ........................................ 50 E. Objektivitas dan Keabsahan Data ............................................ 54 F. Metode Analisis Data .............................................................. 57 G. Prosedur Penelitian .................................................................. 60 BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN ............................. 61 A. Hasil Penelitian ........................................................................ 61 1. Gambaran Umum Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Negeri 5 Semarang ............................................................. 61 2. Keadaan Siswa Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Negeri 5 Semarang ............................................................. 64 3. Keadaan Guru Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Negeri 5 Semarang ............................................................. 65 4. Tingkat Kedisiplinan Siswa Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Negeri 5 Semarang ................................................ 67

xii

5. Isi Tata Tertib Sekolah Kaitannya Dengan Pelaksanaan Pendidikan Moral di Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Negeri 5 Semarang ............................................................. 70 B. Pembahasan .............................................................................. 73 1. Pelaksanaan Tata Tertib Sekolah Sebagai Sarana

Pendidikan Moral Di Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Negeri 5 Semarang ............................................................. 73 2. Kendala – Kendala Pelaksanaan Tata Tertib Sekolah Sebagai Sarana Pendidikan Moral Di Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Negeri 5 Semarang.................................. 98 BAB V PENUTUP ...................................................................................... 105 A. Simpulan .................................................................................. 105 B. Saran ......................................................................................... 106 DAFTAR PUSTAKA .................................................................................... LAMPIRAN ...................................................................................................

xiii

DAFTAR TABEL

1. Tabel 1 Jumlah Siswa SMK Negeri 5 Semarang ..................................... 65 2. Tabel 2 Data Guru Normatif/Adaptif SMK Negeri 5 Semarang ............ 66 3. Tabel 3 Data Guru Produktif SMK Negeri 5 Semarang .......................... 67 4. Tabel 4 Jenis Pelanggaran Tata Tertib Sekolah SMK Negeri 5 Semarang .................................................................................................. 69 5. Tabel 5 Perbandingan Penerapan Sistem Credit Poin ............................. 86

xiv

DAFTAR GAMBAR

1. Gambar 1 Bagan components of good character .................................... 34 2. Gambar 2 Hubungan Moral, Etika dan Hukum ....................................... 37 3. Gambar 3 Bagan Kerangka Berpikir ........................................................ 44 4. Gambar 4 Bagan Metode Analisis Data ................................................... 59 5. Gambar 5 Pola Pembinaan Pelaksanaan Tata Tertib Sekolah ................. 81 6. Gambar 6 Faktor – Faktor Mempengaruhi Moral Siswa ......................... 93

xv

DAFTAR LAMPIRAN

1. Instrumen Wawancara 2. Hasil Wawancara 3. Daftar Nama Responden 4. Foto – Foto Wawancara 5. Surat Penelitian 6. Tata Tertib Siswa 7. Jadwal Piket Pembinaan Ketertiban Guru dan Siswa Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Negeri 5 Semarang 8. Analisis Tugas, Wewenang dan Tanggung Jawab Komponen Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Negeri 5 Semarang 9. Struktur Organisasi Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Negeri 5 Semarang 10. Pola Umum Bimbingan dan Konseling Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Negeri 5 Semarang 11. Daftar Nama Guru dan Karyawan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Negeri 5 Semarang

xvi

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah Merebaknya isu – isu moral di kalangan remaja seperti penggunaan obat – obat terlarang (narkoba), tawuran pelajar, pornografi dan lain – lain, sudah menjadi masalah sosial yang sampai saat ini belum dapat diatasi secara tuntas. Akibat yang ditimbulkan cukup serius dan tidak dapat lagi dianggap sebagai suatu persoalan sederhana, karena tindakan – tindakan tersebut sudah menjurus kepada tindakan – tindakan yang bersifat kriminal. Remaja merupakan usia atau tahap seorang siswa mencari jati diri yang dilakukan melalui peniruan diri atau imitasi. Pergaulan remaja yang tanpa arah dan pengawasan terhadap tingkah laku mereka akan mempunyai kecenderungan mengarah pada pergaulan remaja yang negatif. Banyak anggapan dari siswa selama ini bahwa tata tertib sekolah hanya membatasi kebebasan mereka sehingga berakibat pelanggaran terhadap peraturan itu sendiri. Tanpa disadari bahwa kebebasan yang kurang bertanggung jawab akan merugikan diri sendiri, keluarga dan masyarakat. Pendidikan moral kepada anak diawali saat mereka berada pada lingkungan keluarga terutama orang tua melalui proses sosialisasi norma dan aturan moral dalam keluarga sendiri serta lingkungan dekat pergaulan sosial anak. Kemudian saat anak masuk ke sekolah mulai diperkenalkan dan diajarkan sesuatu yang baru yang tidak diajarkan dalam keluarga. Sekolah,

1

2

sebagai tempat sosialisasi kedua setelah keluarga serta tempat anak ditatapkan kepada kebiasaan dan cara hidup bersama yang lebih luas lingkupnya serta ada kemungkinan berbeda dengan kebiasaan dan cara hidup dalam keluarganya, sehingga berperan besar dalam menumbuhkan kesadaran moral diri anak. Penanaman kebiasaan bersikap dan berbuat baik atau sebaliknya bersikap dan berbuat buruk, pada tahap awal pertumbuhannya, anak dapat sangat dipengaruhi oleh lingkungan sekolah tempat ia belajar. Subjek didik tidak begitu saja lahir sebagai pribadi bermoral atau berakhlak mulia. Lingkungan sekolah merupakan lembaga pendidikan yang dapat menunjang terjadinya rekonstruksi sosial ke arah masyarakat yang lebih baik, dan mengemban misi membentuk watak yang baik dari anak bangsa. Pembukaan UUD 1945 alinea keempat tentang tujuan negara Indonesia menyatakan dengan jelas “ Kemudian daripada itu untuk membentuk suatu Pemerintahan Negara Indonesia yang melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia dan untuk memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial ”. Pada aspek tujuan pendidikan nasional yang terdapat dalam pasal 3 Undang – Undang Nomor 20 Tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri dan menjadi warganegara yang demokratis serta bertanggung jawab. Mencerdaskan kehidupan bangsa

3

merupakan lingkup filosofis serta yuridis arti pendidikan yang melandasi pendidikan di Indonesia. Pandangan Ki Hajar Dewantara (Munib, 2004:32) menyatakan bahwa: ”pendidikan umumnya berarti daya upaya untuk memajukan tumbuhnya budi pekerti (kekuatan batin, karakter), pikiran (intelek), dan tubuh anak”. Berkaitan dengan Pendidikan, Tilaar dalam Mulyasa (2002) mengemukakan bahwa Pendidikan Nasional dewasa ini sedikitnya ada tujuh masalah pokok Sistem Pendidikan Nasional: 1. 2. 3. 4. 5. 6. Menurunnya akhlak peserta didik; Pemerataan kesempatan belajar; Masih rendahnya efisiensi internal sistem pendidikan; Terjadinya degradasi moral peserta didik; Status kelembagaan; Manajemen pendidikan yang tidak sejalan dengan pembangunan nasional; 7. Sumber daya yang belum profesional. Pendidikan harus dipahami sebagai bagian dari proses pembudayaan subjek didik sehingga bukan hanya pengalihan dan penguasaan ilmu pengetahuan serta pelatihan serta penguasaan keterampilan – keterampilan teknis tertentu, namun juga perlu dipahami sebagai penumbuhan dan pengembangan subjek didik menjadi pribadi manusia yang berbudaya dan beradab. Tujuan menjadi pribadi manusia yang berbudaya dan beradab adalah mewujudkan personal yang tidak hanya cerdas dalam segi kognitif akan tetapi mampu mengembangkan dan menanamkan kemampuan tertinggi dalam mengaktualisasikan budaya yang dimiliki suatu bangsa agar tidak kehilangan jati diri sebagai suatu bangsa akibat tergerus oleh perubahan zaman.

4

Pada saat remaja inilah masa anak berhadapan dengan cara bertindak dan cara bernalar berbeda dengan apa yang selama ini sudah menjadi kebiasaannya, anak mulai ditantang untuk memilih dan mengambil keputusan sendiri, entah ia akan meneruskan kebiasaan yang selama ini telah ditanamkan dalam keluarganya atau mengambil jarak terhadapnya dan lebih menyesuaikan diri dengan lingkungan barunya di sekolah. Kondisi saat ini adalah ketika anak berada pada masa memulai pilihan dirinya akan pendewasaan diri dari masa anak – anak ke masa dewasa. Meski tugas dan tanggung jawab utama untuk melakukan pendidikan moral terhadap anak terletak di pundak orang tua dalam lingkungan keluarga tempat anak itu lahir dan dibesarkan, namun itu tidak berarti sekolah tidak mempunyai tanggung jawab untuk melakukan pendidikan moral khususnya pada tahap pendidikan dasar dan menengah, tempat remaja masih dalam proses pembiasaan diri mengenal dan mematuhi aturan hidup bersama yang berlaku dalam masyarakatnya, berlatih displin, berbuat baik dan mengalami proses pembentukan identitas diri moral mereka, pendidikan moral perlu secara khusus mendapat perhatian para Guru dan pendidik di sekolah. Di sekolah banyak sekali ditemui komponen yang bisa menjadi sarana dari pendidikan moral. Salah satu komponen sekolah yang menjadi sarana pendidikan moral tersebut adalah tata tertib sekolah. Tata tertib sekolah sebagai bentuk peraturan dalam tingkatan hierarki terendah tata perundang – undangan memuat adanya aspek pendidikan moral dan rule of law. Peraturan

5

yang dibuat tidak hanya legal formal akan tetapi menuntut adanya penerapan moral di dalamnya. Hubungan tersebut erat kaitannya dengan hakikat dan isi dari pembuatan peraturan. Internalisasi nilai – nilai moral kepada subjek didik diperlukan upaya yang optimal dalam rangka menegakkan tata tertib sehingga pelaksanaan tidak hanya bersifat rule of law saja akan tetapi didasari oleh esensi adanya pendidikan moral. Dari hasil pengamatan awal lapangan di Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Negeri 5 Semarang oleh peneliti, diketahui kasus atau pelanggaran terhadap tata tertib sekolah masih sering dilakukan siswa. Pada Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Negeri 5 Semarang khususnya, diketahui pula pada periode tahun pelajaran 2003/2004 terjadi sebanyak 162 kasus atau pelanggaran kemudian tahun pelajaran 2004/2005 meningkat sebanyak 430 kasus atau pelanggaran dan pada tahun pelajaran 2005/2006 sebanyak 209 kasus atau pelanggaran yang meliputi antara lain tidak masuk tanpa keterangan (alpa), meninggalkan pelajaran tanpa izin, baju tidak dimasukkan, mencorat – coret seragam sekolah, berkelahi, tidak segera menempuh atau menyelesaikan remidi dan lain – lain. Hal ini menunjukkan bahwa tingkat kasus atau pelanggaran terhadap tata tertib sekolah yang dilakukan oleh siswa masih cukup tinggi. Pelanggaran terhadap tata tertib sekolah menunjukkan siswa kurang patuh terhadap peraturan sekolah. Berbagai upaya yang telah dilaksanakan di sekolah sering kurang dihargai dan diperhatikan oleh siswa. Sekolah memegang peran yang sangat penting dalam menanamkan dan menumbuhkan

6

aspek pendidikan moral. Kasus atau pelanggaran tata tertib sekolah tersebut terkait dengan karakteristik siswa seperti perbedaan – perbedaan yang dimiliki setiap individu yang dipengaruhi oleh sikap, minat, keinsyafan, pengetahuan dan faktor lain yang mempengaruhinya. Kepatuhan terhadap tata tertib sekolah adalah sebuah kesiapan yang harus ditanamkan kepada siswa di sekolah agar mempunyai sikap dan perbuatan sesuai dengan norma – norma yang berlaku di masyarakat. Seseorang akan patuh atau sadar dalam mematuhi peraturan atau hukum berkaitan pula dengan faktor peraturan atau hukum itu sendiri. Berkaitan dengan hal tersebut diatas peneliti memilih Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Negeri 5 Semarang sebagai objek yang akan diteliti karena: (1) Kasus atau pelanggaran terhadap tata tertib sekolah yang masih tinggi terutama sebagai penerapan konsep pendidikan moral, (2) Aspek pendidikan moral di Sekolah Menengah Kejuruan kurang diperhatikan karena dalam mata pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan digabung dengan Sejarah sehingga kurang optimal, (3) Sekolah Menengah Kejuruan mempersiapkan siswa untuk siap bekerja di masyarakat sehingga diperlukan nilai – nilai moral dalam bekerja dan letak sekolah yang strategis mudah dijangkau peneliti serta dapat memudahkan peneliti untuk memperoleh data – data dalam melakukan penelitian. Berdasarkan uraian tersebut diatas, maka peneliti ingin mengetahui tentang pelaksanaan dan kendala – kendala yang dihadapi Guru serta sekolah dalam menerapkan peraturan sebagai implementasi atau penerapan

7

konseptualisasi pendidikan moral di sekolah maka peneliti mengambil judul penelitian: “ TATA TERTIB SEKOLAH SEBAGAI SARANA

PENDIDIKAN MORAL DI SEKOLAH MENENGAH KEJURUAN (SMK) NEGERI 5 SEMARANG ”.

B. Identifikasi dan Pembatasan Masalah 1. Identifikasi Masalah Pada lingkup tahap siswa merupakan masa yang penuh gejolak. Siswa adalah bagian integral yang tidak dapat dipisahkan dari sekolah. Perubahan sosial yang begitu cepat, kemudahan akses teknologi yang sedemikian maju, perbenturan antara nilai lokal dan nilai global menyebabkan kondisi dan situasi yang sangat rawan terhadap

pembentukan serta perkembangan moral siswa yang baik. Pendidikan adalah upaya untuk mendewasakan manusia yang memiliki identitas sebagai manusia sebenarnya. Penyimpangan tingkah laku siswa mencerminkan adanya kesenjangan antara harapan dan kenyataan. Menemukan pendekatan dan strategi itulah diperlukan suatu penelitian yang memadai sehingga dapat memberikan bahan pertimbangan yang diperlukan seperti masih adanya hal – hal yang berkaitan dengan tata tertib sekolah yang belum tertangani dengan baik, harus ada paparan tentang sistem pengelolaan tata tertib sekolah yang dijadikan rujukan guna penanganan masalah – masalah ketertiban.

8

Ketertiban sekolah sering dijadikan indikasi keberhasilan pembinaan mental dan tingkah laku siswa, latar belakang sosial keluarga dan lingkungan banyak memberikan pengaruh terhadap ketaatan melaksanakan tata tertib sekolah. Ketaatan dalam melaksanakan tata tertib sekolah juga akan menumbuhkan dampak nuansa yang mendukung pembelajaran yang lebih optimal pada diri siswa dan pihak sekolah. 2. Pembatasan Masalah Berkaitan dengan luasnya permasalahan serta agar tidak terjadi kesalahpahaman dalam menanggapi isi atau uraian dalam lingkup pembahasan ini, maka berikut ini akan dijelaskan beberapa fokus utama dan indikator yang disajikan dalam penelitian ini, yaitu sebagai berikut: 1. Hal – hal yang berkaitan dengan pelaksanaan tata tertib sekolah sebagai media dalam maksud atau tujuan mencapai pendidikan moral. 2. Tata tertib sekolah dalam penelitian ini dibatasi pada tata tertib yang berlaku bagi siswa. 3. Tata tertib sekolah yang dimaksud dalam penelitian ini adalah sejumlah aturan yang ditetapkan sekolah yang harus dipatuhi oleh siswa di Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Negeri 5 Semarang.

C. Perumusan Masalah Kenyataan di sekolah masih ditemui banyak kasus atau pelanggaran terhadap tata tertib sekolah. Kenyataan tersebut menimbulkan berbagai

9

persoalan dan permasalahan mengenai pelaksanaan pendidikan moral. Sesuai dengan pembatasan masalah diatas maka penelitian ini mengambil rumusan masalah sebagai berikut: 1. Apakah benar tata tertib sekolah berisi muatan sarana pendidikan moral di Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Negeri 5 Semarang? 2. Bagaimana pelaksanaan tata tertib sekolah sebagai sarana pendidikan moral di Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Negeri 5 Semarang? 3. Bagaimana kendala – kendala yang dihadapi dalam pelaksanaan tata tertib sekolah sebagai sarana pendidikan moral di Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Negeri 5 Semarang?

D. Tujuan Penelitian Berdasarkan mempunyai tujuan yaitu: 1. Untuk mengetahui implementasi konsep tata tertib sekolah sebagai sarana pendidikan moral di Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Negeri 5 Semarang. 2. Untuk mengetahui pelaksanaan tata tertib sekolah sebagai sarana pendidikan moral di Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Negeri 5 Semarang. 3. Untuk mengetahui kendala – kendala yang dihadapi sekolah terutama terhadap tata tertib sekolah sebagai sarana pendidikan moral di Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Negeri 5 Semarang. rumusan masalah diatas maka penelitian ini

10

E. Kegunaan Penelitian 1. Kegunaan Teoritis Penelitian ini dapat dipergunakan untuk menambah khasanah pengembangan pustaka ilmu pengetahuan secara umum dan secara khusus pada kajian lingkup pendidikan moral serta dapat digunakan sebagai referensi bagi yang akan melakukan penelitian sejenis. Oleh karena itu, hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi terhadap kajian – kajian dan teori – teori yang berkaitan dengan persoalan tersebut. 2. Kegunaan Praktis b Bagi Guru, hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan masukan yang berharga dalam upaya meningkatkan pendidikan moral terutama di sekolah. c Bagi Siswa, sebagai motivasi untuk meningkatkan sikap dan tingkah lakunya dalam mematuhi tata tertib yang dibuat oleh sekolah. d Bagi Orang tua, sebagai bahan pertimbangan untuk lebih

meningkatkan kualitas dalam mendidik dan memupuk pendidikan moral khususnya di lingkungan keluarga. e Bagi Sekolah, diharapkan dapat memberikan masukan yang digunakan untuk melaksanakan tata tertib sebagai sarana pendidikan moral di sekolah dan menerapkan kebijakan – kebijakan sekolah dalam rangka meningkatkan pendidikan moral khususnya kepada siswa.

11

F. Sistematika Penelitian Skripsi Sistematika skripsi adalah pokok persoalan yang akan disajikan dalam bab – bab yang terangkum dalam suatu skripsi. Adapun sistematika skripsi yang akan dibahas sebagai berikut: 1. Bagian Pendahuluan skripsi, terdiri atas: (a) Halaman Judul, (b) Abstrak, (c) Halaman Persetujuan, (d) Halaman Pengesahan, (e) Halaman Motto dan Persembahan, (f) Prakata, (g) Daftar Isi, (h) Daftar Gambar / Foto, (i) Daftar Lampiran. 2. Bagian Inti skripsi terdiri atas Bab I Pendahuluan berisi Latar Belakang Masalah, Identifikasi dan Pembatasan Masalah, Perumusan Masalah, Tujuan Penelitian, Kegunaan Penelitian dan Sistematika Penelitian Skripsi. Bab II Landasan Teori berisi bab yang menguraikan tentang Pengertian Tata Tertib Sekolah, Tujuan Tata Tertib Sekolah, Isi Tata Tertib Sekolah, Tipe – Tipe Kepatuhan Siswa Terhadap Tata Tertib Sekolah, Nilai dan Moral, Batasan Moral, Pengertian Pendidikan Moral, Tujuan Pendidikan Moral, Prinsip – Prinsip Pendidikan Moral, Tahap – Tahap

Perkembangan Moral Manusia, Hubungan Antara Tata Tertib Sekolah dan Pendidikan Moral, Sarana Pendidikan Moral. Bab III Metode Penelitian merupakan bab yang berisi Dasar Penelitian, Fokus Penelitian, Sumber Data Penelitian, Alat dan Teknik Pengumpulan Data, Objektivitas dan Keabsahan Data, Metode Analisis Data dan Prosedur Penelitian.

12

Bab IV Hasil Penelitian dan Pembahasan menguraikan tentang Hasil Penelitian dan Pembahasan Hasil Penelitian. Bab V Penutup berisi Simpulan dan Saran. 3. Bagian Akhir skripsi berisi Daftar Pustaka, Lampiran – lampiran.

BAB II LANDASAN TEORI

A. Tata Tertib Sekolah 1. Pengertian Tata Tertib Sekolah (Mulyono, 2000:14) tata tertib adalah kumpulan aturan – aturan yang dibuat secara tertulis dan mengikat anggota masyarakat. (Dekdikbud, 1989:37) tata tertib sekolah adalah aturan atau peraturan yang baik dan merupakan hasil pelaksanaan yang konsisten (tatap azas) dari peraturan yang ada. Aturan – aturan ketertiban dalam keteraturan terhadap tata tertib sekolah, meliputi kewajiban, keharusan dan larangan – larangan. Tata tertib sekolah merupakan patokan atau standar untuk hal – hal tertentu. Sesuai dengan keputusan Direktur Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah Nomor 158/C/Kep/T.81 Tanggal 24 September 1981 (Tim Dosen Jurusan Administrasi Pendidikan FIP IKIP Malang, 1989:145) ketertiban berarti kondisi dinamis yang menimbulkan keserasian, keselarasan dan keseimbangan dalam tata hidup bersama makhluk Tuhan Yang Maha Esa. Ketertiban sekolah tersebut dituangkan dalam sebuah tata tertib sekolah. (Tim Dosen Jurusan Administrasi Pendidikan FIP IKIP Malang, 1989:146) mengartikan tata tertib sekolah: sebagai kesediaan mematuhi ketentuan berupa peraturan – peraturan tentang kehidupan sekolah sehari –

13

14

hari. Tata tertib sekolah disusun secara operasional guna mengatur tingkah laku dan sikap hidup siswa, Guru dan karyawan administrasi. Secara umum tata tertib sekolah dapat diartikan sebagai ikatan atau aturan yang harus dipatuhi setiap warga sekolah tempat berlangsungnya proses belajar mengajar. Pelaksanaan tata tertib sekolah akan dapat berjalan dengan baik jika Guru, aparat sekolah dan siswa telah saling mendukung terhadap tata tertib sekolah itu sendiri, kurangnya dukungan dari siswa akan mengakibatkan kurang berartinya tata tertib sekolah yang diterapkan di sekolah. Peraturan sekolah yang berupa tata tertib sekolah merupakan kumpulan aturan – aturan yang dibuat secara tertulis dan mengikat di lingkungan sekolah. Dari pengertian di atas dapat dipahami bahwa tata tertib sekolah merupakan satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan satu dengan yang lain sebagai aturan yang berlaku di sekolah agar proses pendidikan dapat berlangsung dengan efektif dan efisien. 2. Tujuan Tata Tertib Sekolah Secara umum dibuatnya tata tertib sekolah mempunyai tujuan utama agar semua warga sekolah mengetahui apa tugas, hak dan kewajiban serta melaksanakan dengan baik sehingga kegiatan sekolah dapat berjalan dengan lancar. Prinsip tata tertib sekolah adalah diharuskan, dianjurkan dan ada yang tidak boleh dilakukan dalam pergaulan di lingkungan sekolah.

15

Tata tertib sekolah harus ada sanksi atau hukuman bagi yang melanggarnya. Menjatuhkan hukuman sebagai jalan keluar terakhir, harus dipertimbangkan perkembangan siswa. Sehingga perkembangan jiwa siswa tidak dan jangan sampai dirugikan. Tata tertib sekolah dibuat dengan tujuan sebagai berikut: a b Agar siswa mengetahui tugas, hak dan kewajibannya. Agar siswa mengetahui hal – hal yang diperbolehkan dan kreatifitas meningkat serta terhindar dari masalah – masalah yang dapat menyulitkan dirinya. c Agar siswa mengetahui dan melaksanakan dengan baik dan sungguh – sungguh seluruh kegiatan yang telah diprogramkan oleh sekolah baik intrakurikuler maupun ektrakurikuler. 3. Isi Tata Tertib Sekolah Tata tertib sekolah sebagaimana tercantum di dalam Instruksi Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 14/4/1974 Tanggal 1 Mei 1974 (Nawawi, 1986:161) mencakup aspek – aspek sebagai berikut: a. Tugas dan kewajiban. 1). Dalam kegiatan intra kurikuler. 2). Dalam kegiatam ekstra kurikuler. Larangan – larangan bagi para siswa. Sanksi – sanksi bagi siswa. Tata tertib sekolah termasuk dalam administrasi ko – kurikulum yaitu merupakan kegiatan – kegiatan yang diselenggarakan di sekolah untuk menunjang dan meningkatkan daya dan hasil guna kegiatan

b. c.

16

kurikulum. (Arikunto, 1990:123) berpendapat batasan antara peraturan dan tata tertib sekolah sebagai berikut: a Peraturan menunjuk pada patokan atau standar yang sifatnya umum yang harus dipenuhi oleh siswa. Misalnya peraturan tentang kondisi yang harus dipenuhi oleh siswa di dalam kelas pada waktu pelajaran sedang berlangsung. Tata tertib sekolah menunjuk pada patokan atau standar yang sifatnya khusus yang harus dipenuhi oleh siswa. Tata tertib sekolah menunjuk pada patokan atau standar untuk aktifitas khusus, seperti penggunaan pakaian seragam, penggunaan laboratorium, mengikuti upacara bendera, mengerjakan tugas rumah, pembayaran SPP dan sebagainya. Tata tertib sekolah bukan hanya sekedar kelengkapan dari sekolah, tetapi merupakan kebutuhan yang harus mendapat perhatian dari semua pihak yang terkait, terutama dari pelajar atau siswa itu sendiri. Sehubungan dengan hal tersebut, maka sekolah pada umumnya menyusun pedoman tata tertib sekolah bagi semua pihak yang terkait baik Guru, tenaga administrasi maupun siswa. Isi tata tertib sekolah secara garis besar adalah berupa tugas dan kewajiban siswa yang harus dilaksanakan, larangan dan sanksi. Pada hakikatnya tata tertib sekolah baik yang berlaku umum maupun khusus meliputi tiga unsur (Arikunto, 1990:123 – 124) yaitu: a b c Perbuatan atau tingkah laku yang diharuskan dan yang dilarang; Akibat atau sanksi yang menjadi tanggung jawab pelaku atau pelanggar peraturan; Cara atau prosedur untuk menyampaikan peraturan kepada subjek yang dikenai tata tertib sekolah tersebut.

b

4. Tipe – Tipe Kepatuhan Siswa Terhadap Tata Tertib Sekolah

17

Graham (Sanjaya, 2006:272 – 273) melihat empat faktor yang merupakan dasar kepatuhan seseorang terhadap nilai tertentu, yaitu: a. Normativist. Biasanya kepatuhan pada norma – norma hukum. Selanjutnya dikatakan bahwa kepatuhan ini terdapat dalam tiga bentuk, yaitu, (1) Kepatuhan terhadap nilai atau norma itu sendiri; (2) Kepatuhan pada proses tanpa memedulikan normanya sendiri; (3) Kepatuhan pada hasilnya atau tujuan yang diharapkannya dari peraturan itu. b. Integralist, yaitu kepatuhan yang didasarkan pada kesadaran dengan pertimbangan – pertimbangan yang rasional. c. Fenomenalist, yaitu kepatuhan berdasarkan suara hati atau sekadar basa basi. d. Hedonist, yaitu kepatuhan berdasarkan kepentingan diri sendiri. Dari keempat faktor yang menjadi dasar kepatuhan setiap individu tentu saja yang kita harapkan adalah kepatuhan yang bersifat normativist, sebab kepatuhan semacam ini adalah kepatuhan didasari kesadaran akan nilai, tanpa memedulikan apakah tingkah laku itu menguntungkan untuk dirinya atau tidak. Selanjutnya dalam sumber yang sama dijelaskan, dari empat faktor ini terdapat lima tipe kepatuhan: a. Otoritarian. Suatu kepatuhan tanpa reserve atau kepatuhan yang ikut – ikutan.

18

b. Conformist. Kepatuhan tipe ini mempunyai tiga bentuk, yaitu: (1) conformist directed, yaitu penyesuaian diri terhadap masyarakat atau orang lain; (2) conformist hedonist, yakni kepatuhan yang berorientasi pada “untung – rugi”, dan (3) conformist integral, adalah kepatuhan yang menyesuaikan kepentingan diri sendiri dengan kepentingan masyarakat. c. Compulsive deviant. Kepatuhan yang tidak konsisten. d. Hedonik psikopatik, yaitu kepatuhan pada kekayaan tanpa memperhitungkan kepentingan orang lain. e. Supramoralist. Kepatuhan karena keyakinan yang tinggi terhadap nilai – nilai moral.

B. Pendidikan Moral 1. Nilai dan Moral Nilai merupakan ukuran atau pedoman perbuatan manusia. Karena itu maka nilai diungkapkan dalam bentuk norma dan norma ini mengatur tingkah laku manusia. Pengertian nilai adalah (Daroeso, 1986:20): Nilai adalah suatu penghargaan atau kualitas terhadap sesuatu atau hal, yang dapat dasar penentu tingkah laku seseorang, karena sesuatu atau hal itu menyenangkan (pleasant), memuaskan (satifying), menarik (interest), berguna (usefull), menguntungkan (profitable), atau merupakan suatu sistem keyakinan (belief) Di antara beberapa macam nilai, ada nilai etik. Nilai etik atau nilai yang bersifat susila, memberi kualitas perbuatan manusia yang bersifat susila, sifatnya universal tidak tergantung waktu, ruang dan keadaan. Nilai

19

etik tersebut diwujudkan dalam norma moral. Norma moral merupakan landasan perbuatan manusia, yang sifatnya tergantung pada tempat, waktu dan keadaan. Sehingga norma moral itu dapat berubah – ubah sesuai dengan waktu, tempat dan keadaannya. Pelaksanaan norma moral yang merupakan perwujudan dari nilai etik itu, tergantung pada manusianya. Penilaian moral dari perbuatan manusia ini meliputi semua penghidupan, dalam hal ini hubungan manusia terhadap Tuhan Yang Maha Esa, terhadap diri sendiri, terhadap masyarakat maupun terhadap alam. Perbuatan manusia dinilai secara moral bilamana perbuatan itu didasarkan pada kesadaran moral. Adanya nilai – nilai yang merupakn rangsangan (stimulus) diterima oleh pancaindera, menimbulkan suatu proses dalam diri individu yang dapat berupa suatu kebutuhan, motif, perasaan, perhatian dan pengambilan keputusan. Perbuatan susila adalah merupakan wujud dari norma moral dan norma moral merupakan ungkapan dari nilai etis (Daroeso, 1986:28). Karena itulah nilai etis menjadi pedoman tingkah laku dan perbuatan manusia dalam kehidupan sehari – hari. Nilai etis bersifat normatif dan tingkah laku perbuatan manusia mengarah kepadanya. 2. Batasan Moral Moral berarti kesusilaan, tabiat atau kelakuan: ajaran kesusilaan. Moralitas berarti hal mengenai kesusilaan (Salam, 2000:80). Driyakara mengatakan bahwa “moral atau kesusilaan” adalah nilai yang sebenarnya bagi manusia. Dengan kata lain moral atau kesusilaan adalah

20

kesempurnaan sebagai manusia atau kesusilaan adalah tuntutan kodrat manusia (Daroeso, 1986:22). Huky (Daroeso, 1986:22) mengatakan: kita dapat memahami moral dengan tiga cara: a. Moral sebagai tingkah laku hidup manusia, yang mendasarkan diri pada kesadaraan, bahwa ia terikat oleh keharusan untuk mencapai yang baik sesuai dengan nilai dan norma yang berlaku dalam lingkungannya. b. Moral sebagai perangkat ide – ide tentang tingkah laku hidup, dengan warna dasar tertentu yang dipegang oleh sekelompok manusia di dalam lingkungan tertentu. c. Moral adalah ajaran tentang tingkah laku hidup yang baik berdasarkan pandangan hidup atau agama tertentu. Pengertian lain tentang moral berasal dari P. J. Bouman yang mengatakan bahwa ”moral adalah suatu perbuatan atau tingkah laku manusia yang timbul karena adanya interaksi antara individu – individu di dalam pergaulan”. Dari beberapa pengertian moral, dapat dilihat bahwa moral memegang peran penting dalam kehidupan manusia yang berhubungan dengan baik buruk terhadap tingkah laku manusia. Tingkah laku ini mendasarkan diri pada norma – norma yang berlaku dalam masyarakat. Seseorang dikatakan bermoral, bilamana orang tersebut bertingkah laku sesuai dengan norma – norma yang terdapat dalam masyarakat. Seorang individu yang tingkah lakunya mentaati kaidah – kaidah yang berlaku dalam masyarakatnya disebut baik secara moral, dan jika sebaliknya, ia disebut jelek secara moral (immoral). Dengan demikian moral selalu berhubungan dengan nilai – nilai. Ciri khas yang menandai

21

nilai moral yaitu tindakan manusia yang dilakukan secara sengaja, secara mau dan tahu; dan tindakan itu secara langsung berkenaan dengan nilai pribadi (person) manusia dan masyarakat Indonesia (Salam, 2000:74). Dengan demikian, moral adalah keseluruhan norma yang mengatur tingkah laku manusia di masyarakat untuk melaksanakan perbuatan yang baik dan benar. Objek moral adalah tingkah laku manusia, perbuatan manusia, tindakan manusia, baik secara individual maupun secara kelompok (Daroeso, 1986:26). Dalam melaksanakan perbuatan tersebut manusia didorong oleh tiga unsur, yaitu: a. Kehendak yaitu pendorong pada jiwa manusia yang memberi alasan pada manusia untuk melakukan perbuatan. b. Perwujudan dari kehendak yang berbentuk cara melakukan perbuatan dalam segala situasi dan kondisi. c. Perbuatan tersebut dilakukan dengan sadar dan kesadaran inilah yang memberikan corak dan warna perbuatan tersebut. 3. Pengertian Pendidikan Moral Pendidikan moral adalah upaya dari orang dewasa dalam membentuk tingkah laku yang baik, yaitu tingkah laku yang sesuai dengan harapan masyarakat yang dilakukan secara sadar. (Daryono, 1998:13) mengemukakan bahwa: ”Pendidikan moral adalah merupakan suatu usaha sadar untuk menanamkan nilai – nilai moral pada anak didik sehingga anak bisa bersikap dan bertingkah laku sesuai dengan nilai – nilai moral tersebut”. Dewey (Daroeso, 1986:32) menyatakan pendidikan moral seperti pendidikan intelektual mempunyai basis pada berfikir aktif mengenai masalah – masalah moral dan keputusan – keputusan

22

selanjutnya ia mengatakan tujuan pendidikan adalah pertumbuhan atau perkembangan moral dan intelektual. Sementara itu (Sudarminta, 004:108) menyatakan bahwa pendidikan moral pada umumnya, baik di dalam keluarga maupun di sekolah, sebagai bagian pendidikan nilai, adalah upaya untuk membantu subjek didik mengenal, menyadari pentingnya, dan menghayati nilai – nilai moral yang seharusnya dijadikan panduan bagi sikap dan tingkah lakunya sebagai manusia, baik secara perorangan maupun bersama – sama dalam suatu masyarakat. (Daroeso, 1986:45), berpendapat tentang pendidikan moral bahwa: “pendidikan moral adalah pendidikan yang menyangkut aspek dari pada watak seseorang yang sama pendidikannya, watak itu tidak baru dimulai pada saat ia masuk sekolah”. Pendidikan moral dapat dirumuskan sebagai: suatu proses yang disengaja di mana para warga muda dari masyarakat dibantu supaya berkembang dari orientasi yang berpusat pada diri sendiri mengenai hak – hak dan kewajiban mereka, ke arah pandangan yang lebih luas, yaitu bahwa dirinya berada dalam masyarakat dan ke arah pandangan yang lebih mendalam mengenai diri sendiri (Salam, 2000:76). Kehidupan manusia memang mempunyai otonomi, tetapi manusia tidak bebas sepenuhnya. Kehidupan manusia terkait oleh ketentuan – ketentuan yang ada dalam masyarakat. Ketentuan – ketentuan itu menurut Daroeso (1986:23) sebagai berikut: 1. ketentuan agama yang berdasarkan wahyu.

23

2. ketentuan kodrat yang terutama dalam diri manusia, termasuk didalamya ketentuan moral universal yaitu moral yang seharusnya. 3. ketentuan adat istiadat buatan manusia termasuk didalamnya ketentuan moral yang sedang berlaku pada suatu waktu. 4. ketentuan hukum buatan manusia, baik berbentuk adat istiadat atau hukum negara. Diungkapkan oleh Magnis (Daroeso, 1986:27) bahwa:

berkesadaran moral tidak lain adalah merasa wajib untuk melakukan tindakan yang bermoral. Perasaan wajib atau keharusan untuk melakukan tindakan yang bermoral itu ada dan terjadi di dalam hati sanubari manusia, siapapun, dimanapun dan kapanpun juga. Kohlberg seorang pakar Perkembangan Moral secara Kognitif (Cognitive Moral Development) memandang pendidikan moral adalah pendidikan mengenai prinsip – prinsip umum tentang moralitas dengan menggunakan metode pertimbangan moral atau cara – cara memberi pertimbangan moral. Prinsip – prinsip moralitas adalah prinsip mengenai pilihan. Kohlberg melihat pendidikan moral adalah kegiatan untuk

membantu peserta didik menuju kearah yang sesuai dengan kesiapan mereka, dan tidak memaksakan pola – pola eksternal terhadapnya. Dalam pendidikan moral senantiasa melibatkan stimulasi perkembangan melalui tahap – tahap, dan tidak sekedar mengajarkan kebenaran – kebenaran yang sudah baku. Secara umum pendidikan moral berkenaan dengan aturan – aturan (moral rules), sikap – sikap (behavior), dan tingkah laku (action). Pandangan Wilson tentang esensi dari pendidikan moral adalah menanamkan pilihan – pilihan yang benar dan klarifikasi akan perasaan dan disposisi tersebut. Pendidikan moral umumnya lebih menunjuk kepada

24

pengembangan konsepsi keadilan yang begitu dipengaruhi oleh pemikiran – pemikiran Kant (Haricahyono, 1995:210) moralitas mencakup makna yang begitu luas, antara lain: a b c d e f Tingkah laku membantu orang lain; Tingkah laku yang sesuai dengan norma – norma sosial; Internaliasasi norma – norma sosial; Timbulnya empati atau rasa salah, atau bahkan keduanya; Penalaran tentang keadilan, dan Memperhatikan kepentingan orang lain.

4. Tujuan Pendidikan Moral Sasaran dari moral adalah keselarasan dari perbuatan manusia dengan aturan – aturan yang mengenai perbuatan – perbuatan manusia itu (Salam, 2000:9). Tujuan secara khusus pendidikan moral: untuk berkembangnya siswa dalam penalaran moral (moral reasioning) dan melaksanakan nilai – nilai moral (Salam, 2000:77). Pandangan Salam (2000: 80) tentang tujuan pendidikan moral adalah: membimbing para generasi muda untuk memahami dan menghayati Pancasila secara keseluruhan dan setiap sila. Tujuan akhirnya adalah agar dapat menumbuhkan manusia – manusia pembangunan yang dapat membangun dirinya sendiri serta bersama – bersama bertanggungjawab atas pembangunan Ditambahkan bahwa tujuan pendidikan moral adalah: (1) Meningkatkan ketakwaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa, (2) Meningkatkan kecerdasan dan keterampilan dan mempertinggi budi pekerti, memperkuat kepribadian dan mempertebal semangat kebangsaan. Tujuan utama pendidikan moral adalah untuk meningkatkan kapasitas berpikir secara moral dan mengambil keputusan moral.

25

mengungkapkan bahwa tujuan pendidikan moral ditekankan pada metode pertimbangan moral dan untuk membantu anak – anak untuk mengenal apa yang menjadi dasar untuk menerima suatu nilai. Selain itu tujuan pendidikan moral adalah untuk mengusahakan perkembangan yang optimal bagi setiap individu. Lickona (Koyan, 2000:85) mengemukakan tentang dua tujuan utama pendidikan moral, yaitu kebijakan dan kebaikan. Selain itu sebagai intrakulikuler dalam mata pelajaran

Pendidikan Kewarganegaraan (PKn) tujuan pendidikan moral (Daryono, 1998:31) yaitu: meneruskan dan mengembangkan jiwa semangat dan nilai – nilai yang terkandung dalam Pancasila dan UUD 1945 kepada generasi muda, dengan menekankan ranah sikap dan nilai – nilai yang mendorong semangat, merangsang ilham, dan menyeimbangkan kepribadian peserta didik Tujuan Pendidikan moral perlu diefektifkan, karena adanya kecenderungan remaja bertingkah laku menyimpang. Membangun manusia seutuhnya adalah masalah dan tugas pendidikan di lingkungan keluarga, sekolah, lingkungan manusia seutuhnya adalah tugas untuk membantu manusia dalam perkembangannya menjadi manusia insan kamil/manusia yang sempurna, manusia yang sehat jasmani dan rohani, manusia yang seimbang dalam perkembangannya sebagai insan sosial yang adil (Daroeso, 1986:43). Adapun pendidikan moral memiliki tujuan dan sasaran sebagai berikut: 1. Perkembangan anak seutuhnya; 2. Membina warga negara yang bertanggung jawab; 3. Mengembangkan rasa hormat menghormati martabat individu dan kesucian hak asasi manusia;

26

4. 5. 6. 7. 8. 9.

Menanamkan patriotisme dan integrasi nasional; Mengembangkan cara hidup dan berpikir demokratis; Mengembangkan toleransi, mengerti perbedaan; Mengembangkan persaudaraan; Mendorong tumbuhnya iman; Menanamkan prinsip moral.

5. Prinsip – Prinsip Pendidikan Moral Pendidikan moral memang menanamkan prinsip moral yang lazim disebut sosialisasi moral. Mengenai prinsip – prinsip moral, Durkheim menjelaskan sebagai berikut : (1) Pada dasarnya tidak ada seperangkat prinsip – prinsip moral dalam artian serangkaian pernyataan apriori dapat dianggap universal dan menentukan kehidupan moral semua makhluk manusia. (2) Pernyataan tentang prinsip – prinsip moral tidak berakar dalam naluri individualistik, akan tetapi lebih berakar dalam masyarakat beserta sifat – sifat sosial manusianya, yang sekaligus merupakan prinsip utama yang dibenarkan dalam eksistensi manusia. (3) Moralitas adalah suatu sistem aturan tingkah laku tertentu merefleksikan realitas moral dari masyarakat tertentu dimana aturan – aturan tersebut disertai dengan otoritas dan sanksi berdasarkan kepentingan masyarakat yang bersangkutan (Haricahyono, 1995:96 – 102). Dengan demikian, dalam pendidikan moral, prinsip – prinsip moral itu adalah subjek dan sekaligus konteks yang esensial bagi pendidikan moral. Keller dan Reuss (Haricahyono, 1995:207) menegaskan adanya empat prinsip yang mendasari moral, yang tidak harus berkaitan satu sama lain antara lain;

27

a

Prinsip justifikasi, yang mengimplikasikan adanya kepentingan untuk menjustifikasi perbagai tindakan yang menarik perhatian kita;

b

Prinsip kejujuran, yang menjamin keseimbangan secara adil dalam mendistribusikan perbagai usaha dan pengorbanan;

c

Prinsip konsekuensi, yang mengandung implikasi bahwa setiap orang harus mengatasi konsekuensi dari tindakan atau pun kelalaiannya;

d

Prinsip universalitas, yang berimplikasi adanya konsistensi dalam pertimbangan dan kehendak untuk mengambil peranan dari pribadi – pribadi yang menarik. Dalam pendidikan moral, mengajarkan proses penalaran moral

semata – mata, akan tetapi harus diarahkan kepada pensosialisasian individu secara moral agar bisa bertindak dengan cara – cara tertentu sesuai dengan norma – norma yang berlaku dalam masyarakat. Durkheim (Haricahyono, 1995:337) memandang pendidikan moral berkaitan dengan sosialisasi moral, sementara penalaran dianggap mempunyai peranan yang cukup signifikan dalam proses penting tersebut. Prinsip moral menginginkan agar manusia atau personal individu bertanggungjawab terhadap antara lain: a. Pengembangan personal yang diinginkan; b. Pengembangan atribut – atribut sosial (nilai – nilai yang dijunjung tinggi); c. Memperoleh prinsip moral sebagai bahan membuat pertimbangan dan putusan moral; d. Menemukan hakikat hidup.

28

Supaya menjadi bermoral, maka harus menghargai disiplin, menempatkan diri dalam kelompok masyarakat, dan mengetahui alasan tertentu akan tingkah lakunya secara otonom. Dengan demikian akan tampak, bahwa pribadi yang terdidik secara moral akan bertindak sesuai dengan iklim dan budaya masyarakat. 6. Tahap –Tahap Perkembangan Moral Manusia Tahap – tahap perkembangan moral manusia ditinjau melalui pendekatan kognitif Piaget dalam Haricahyono (1995) adalah terkait dengan aspek mental dan kognitif. Tentang tahap perkembangan moral sendiri, Piaget mengemukakan adanya dua tahap yang harus dilewati setiap individu. Yang pertama disebut tahap Heteronomous atau Realisme Moral. Dalam tahap ini anak cenderung menerima begitu saja aturan – aturan yang diberikan oleh orang – orang yang dianggap kompeten untuk itu; Tahap yang kedua disebut Autonomous Morality atau Independensi Moral. Dalam tahap ini anak sudah mempunyai pemikiran akan perlunya memodifikasi aturan – aturan untuk disesuaikan dengan situasi dan kondisi yang ada. Tahap perkembangan moral Bull (Daroeso, 1986:29 – 30) menyimpulkan empat tahapan perkembangan moral yaitu: a Anomi (without law), adalah anak belum memiliki perasaan moral dan belum ada perasaan untuk menaati peraturan – peraturan yang ada.

29

b

Heternomi (law imposed by others), adalah tahap moralitas terbentuk karena pengaruh luar (external morality). Pada heternomi peraturan dipaksakan oleh orang lain, dengan pengawasan, kekuatan atau paksaan, karena itulah peraturan tersebut di atas.

c

Sosionomi (law driving from society), adalah suatu kenyataan adanya kerjasama antar individu, menjadi individu sadar bahwa dirinya merupakan anggota kelompok.

d

Autonomi (law driving from self), adalah tahapan perkembangan pertimbangan moral yang paling tinggi. Pembentukan moral dari individu bersumber pada diri individu sendiri, termasuk di dalamnya pengawasan tingkah laku moral individu tersebut. Tahap perkembangan lainnya dikemukakan oleh Kohlberg

terdiri dari tiga tingkatan perkembangan moral yang masing – masing tingkat memuat pula dua tahap perkembangan yaitu: a. Tingkat prakonvesional Pada tingkat ini setiap individu memandang moral berdasarkan kepentingannya sendiri. Artinya, pertimbangan moral didasarkan pada pandangannya secara individual tanpa

menghiraukan rumusan dan aturan yang dibuat oleh masyarakat. Pada tingkat prakonvensional ini terdiri dari dua tahap. 1). Orientasi hukuman dan kepatuhan

30

Pada tahap ini tingkah laku anak didasarkan kepada konsekuensi fisik yang akan terjadi. Artinya, anak hanya berpikir bahwa tingkah laku yang benar itu adalah tingkah laku yang tidak mengakibatkan hukuman. Dengan demikian, setiap peraturan harus dipatuhi agar tidak menimbulkan konsekuensi negatif. 2). Orientasi instrumental – relatif Pada tahap ini tingkah laku anak didasarkan kepada rasa ”adil” berdasarkan aturan permainan yang telah disepakati. Dikatakan adil manakala orang membalas tingkah laku kita yang anggap baik. Dengan demikian tingkah laku itu didasarkan kepada saling menolong dan saling memberi. b. Tingkat konvensional Pada tahap ini anak mendekati masalah didasarkan pada hubungan individu – masyarakat. Kesadaran dalam diri anak mulai tumbuh bahwa tingkah laku itu harus sesuai dengan norma – norma dan aturan yang berlaku di masyarakat. Dengan demikian, pemecahan masalah itu sesuai dengan norma masyarakat atau tidak. Pada tingkat konvensional itu mempunyai dua tahap sebagai lanjutan dari tahap yang ada pada tingkat prakonvensional, yaitu tahap keselarasan interpersonal serta tahap sistem sosial dan kata hati.

31

1). Keselarasan interpersonal Pada tahap ini ditandai dengan setiap tingkah laku yang ditampilkan individu didorong oleh keinginan untuk memenuhi harapan orang lain. Kesadaran individu mulai tumbuh bahwa ada orang lain di luar dirinya untuk bertingkah laku sesuai dengan harapannya. Artinya, anak sadar bahwa ada hubungan antara dirinya dengan orang lain. Dan, hubungan itu tidak boleh dirusak. 2). Sistem sosial dan kata hati Pada tahap ini tingkah laku individu bukan didasarkan pada dorongan untuk memenuhi harapan orang lain yang dihormatinya, akan tetapi didasarkan pada tuntutan dan harapan masyarakat. Ini berarti telah terjadi pergeseran dari kesadaran individu kepada kesadaran sosial. Artinya, anak sudah menerima adanya sistem sosial yang mengatur tingkah laku individu. c. Tingkat postkonvensional Pada tingkat ini tingkah laku bukan hanya didasarkan pada kepatuhan terhadap norma – norma masyarakat yang berlaku, akan tetapi didasari oleh adanya kesadaran sesuai dengan nilai – nilai yang dimilikinya secara individu. Seperti pada tingkat sebelumnya, pada tingkat ini juga terdiri dua tahap: 1). Kontrak sosial

32

Pada tahap ini tingkah laku individu didasarkan pada kebenaran – kebenaran yang diakui oleh masyarakat. kesadaran individu untuk bertingkah laku tumbuh karena kesadaran untuk menerapkan prinsip – prinsip sosial. Dengan demikian, kewajiban moral dipandang sebagai kontrak sosial yang harus dipatuhi, bukan sekadar pemenuhan sistem nilai. 2). Prinsip etis yang universal aturan – aturan Pada tahap terakhir, tingkah laku manusia didasarkan pada prinsip – prinsip universal. Segala macam tindakan bukan hanya didasarkan sebagai kontrak sosial yang harus dipatuhi, akan tetapi didasarkan pada suatu kewajiban sebagai manusia. Setiap individu wajib menolong orang lain, apakah orang itu sebagai orang yang kita benci atau tidak, orang yang kita suka atau tidak. Pertolongan yang diberikan bukan didasarkan pada alasan subjektif, akan tetapi didasarkan pada kesadaran yang bersifat universal. 7. Muatan Pendidikan Moral Pendidikan moral pada tiap – tiap negara berbeda satu dengan yang lainnya. Dalam negara yang menjadikan agama sebagai hukum dasarnya maka pendidikan moral bersumber pada agama yang berlaku di negara itu. Bagi masyarakat Indonesia mengenai dasar pendidikan moral

33

sudah jelas, berdasarkan religi, adat istiadat dan kebudayaan Indonesia yaitu Pancasila. Moral sesuatu masyarakat adalah merupakan identitas bagi masyarakat itu (Daroeso, 1986:55). Pandangan Durkheim (Haricahyono, 1995:327) terhadap muatan moralitas pada dasarnya berkaitan dengan isi, tindakan, aturan – aturan, atau tingkah laku – tingkah laku tertentu. ”Morality is not a system of abstract truth which can be derived from some fundamental notion, posited as self – efident”, demikian Durkheim. Lebih lanjut dikemukakan, ”...it belongs to the realm of life, not to speculation. It is a set of rules of conduct, of practical imperatives which have grown up historically under the influence of specific social necessities” (Durkheim, 1961:34). Mengacu pada pandangan di atas Durkheim melihat adanya satu fenomena dalam kehidupan manusia yang menduduki rangking teratas. Fenomena dimaksud adalah serangkaian aturan yang dapat dibatasi secara jelas dan spesifik. Dalam konteks ini pribadi yang bermoral tidak lantas dikaitkan dengan kesediaan yang bersangkutan untuk selalu memenuhi prosedur – prosedur tertentu, akan tetapi pribadi – pribadi semacam ini, paling tidak, mampu bertindak sesuai dengan aturan – aturan atau norma – norma yang berlaku. Di dalam kehidupan bermasyarakat, terdapat norma - norma yang mengatur tingkah laku anggotanya. Dalam hubungan ini, F. Von Magnis membedakan tiga macam norma kelakuan umum, yaitu : (1) peraturan sopan santun atau kebiasaan, (2) norma – norma hukum, dan

34

norma – norma moral. Muatan pendidikan moral dapat dilihat pada gambar 1 sebagai berikut:

MORAL KNOWING 1. Moral awareness 2. Knowing moral values 3. Perspective – taking 4. Moral reasioning 5. Decision making 6. Self knowledge

MORAL FEELING 1. Conscience 2. Self – esteem 3. Empathy 4. Loving the good 5. Self – control 6. Humility

MORAL ACTION 1. Competence 2. Will 3. Habit

Gambar 1. Bagan components of good character Sumber: Lickona (Koyan, 2000:86)

35

C. Hubungan Tata Tertib Sekolah dan Pendidikan Moral Hubungan antara kenyataan hukum atau tata tertib sekolah dan moralitas atau pendidikan moral yang efektif sangat intensif, pada hakikatnya karena hukum itu hanya penglogisan dari nilai – nilai moral. Gerakannya dikekang oleh generalisasi dan penentuan kebutuhannya, hukum itu berubah – ubah secara lebih langsung sebagai suatu fungsi dari perubahan – perubahan moralitas (Johnson, 2006:286). Moral berkaitan dengan disiplin dan kemajuan kualitas perasaan, emosi dan kecenderungan manusia; sedangkan aturan pelaksanaanya merupakan aturan praktis tingkah laku yang tunduk pada sejumlah pertimbangan dan konversi lainnya (Tim Dosen Jurusan Administrasi Pendidikan FIP IKIP Malang, 1989:211). Moralitas adalah keseluruhan norma – norma, nilai – nilai dan sikap moral seseorang atau sebuah masyarakat. Nilai – nilai moral itu berada dalam suatu wadah yang disebut moralitas, karena di dalamnya terdapat unsur – unsur keyakinan dan sikap batin dan bukan hanya sekedar penyesuaian diri dengan aturan dari luar diri manusia. Moralitas dapat bersifat intrinsik dan ekstrinsik. Moralitas yang bersifat intrinsik berasal dari diri manusia itu sendiri, sehingga perbuatan manusia itu baik atau buruk terlepas atau tidak dipengaruhi oleh peraturan hukum yang ada (Tedjosaputro, 2003:6). Moralitas intrinsik ini esensinya terdapat dalam perbuatan diri manusia itu sendiri. Moralitas yang bersifat ekstrinsik penilaiannya didasarkan pada peraturan hukum yang berlaku, baik yang bersifat perintah maupun larangan.

36

Moralitas yang bersifat ekstrinsik ini merupakan realitas bahwa manusia terikat pada nilai – nilai atau norma – norma yang diberlakukan dalam kehidupan bersama (Tedjosaputro, 2003:7). Sudarto (Tedjosaputro, 2003:31) mengatakan bahwa ada hubungan erat antara nilai, norma, sanksi dan peraturan – peraturan. Beliau mengatakan sebagai berikut: Nilai adalah ukuran yang disadari atau tidak disadari oleh suatu masyarakat atau golongan untuk menetapkan apa yang benar, yang baik dan sebagainya. Norma adalah anggapan bagaimana seseorang harus berbuat. Agar normanya dipatuhi, maka masyarakat atau golongan itu mengadakan sanksi dan penguat. Ilmu hukum (pidana) normatif pada hakikatnya bukan semata – mata ilmu tentang norma, justru ilmu tentang nilai. Aspek norma merupakan aspek luar atau aspek lahiriah yang tampak dan terwujud dalam perumusan perundang – undangan atau tata tertib, sedangkan aspek nilai merupakan aspek dalam atau aspek batiniah/kejiwaan yang ada di balik atau di belakang norma. Keduanya bersifat saling menunjang secara terpadu. Nilai selalu menjiwai secara konsisten berbagai norma yang berlaku di dalam masyarakat, baik norma agama, moral (etika), kesopanan maupun hukum. Hubungan tata tertib sekolah dan pendidikan moral lebih jelas pada gambar 2 sebagai berikut:

37

MORAL

ETIKA

HUKUM

Gambar 2. Hubungan Moral, Etika dan Hukum Sumber: Marpaung (1996:3)

Piaget (Salam, 2000: 67) bahwa pikiran manusia menjadi semakin hormat pada peraturan. Manusia mempunyai daya tahu (budi) dan daya memilih karena adanya dua macam daya inilah timbul penilaian etis atau moral terhadap tingkah laku manusia. Dalam masyarakat yang hendak teratur dan tertib, diadakanlah aturan – aturan yang semuanya justru untuk

38

melindungi kemanusiaan, aturan untuk ketertiban hidup manusia dalam masyarakat. Seseorang dikatakan bermoral, bilamana orang tersebut bertingkah laku sesuai dengan norma – norma yang terdapat dalam masyarakat. Dengan demikian moral atau kesusilaan adalah keseluruhan norma yang mengatur tingkah laku manusia di masyarakat untuk melaksanakan perbuatan baik dan benar. Perlu diingat baik dan benar menurut seseorang, tidak pasti baik dan benar bagi orang lain. Karena itulah diperlukan adanya prinsip – prinsip kesusilaan/moral yang dapat berlaku umum, yang telah diakui kebaikan dan kebenarannya oleh semua orang. Moral dipakai untuk memberikan penilaian atau predikat terhadap tingkah laku seseorang. Dengan sendirinya menurut indentitas, ukuran manusia yang baik adalah yang mampu memenuhi ketentuan – ketentuan kodrat yang tertanam dalam dirinya sendiri. Ukuran ini tentunya tidak bertentangan dengan norma yang berlaku dalam masyarakat. Sedangkan syarat untuk menjadi manusia yang bermoral, adalah memenuhi salah satu ketentuan kodrat yaitu adanya kehendak yang baik. Kehendak yang baik ini mensyaratkan adanya bertingkah laku dan tujuan yang baik pula. Jadi predikat moral mensyaratkan adanya kebaikan yang berkesinambungan, mulai munculnya kehendak yang baik sampai dengan tingkah laku dalam mencapai tujuan yang juga baik. Meskipun pada dasarnya manusia itu selalu cenderung berbuat baik, tetapi kesadaran tidak datang dengan sendirinya. Kesusilaan harus diajarkan dengan contoh yang baik, sehingga dengan demikian dapatlah terbentuk

39

manusia susila lahir dan batin. Pokok pembicaraan tata tertib sekolah dan pendidikan moral ini adalah perbuatan manusia dengan tujuan yang hampir sama. Kalau tujuan tata tertib sekolah mengatur adalah mengatur tata – tertib masyarakat dan tingkah laku warga masyarakat dalam bermasyarakat dan bernegara sesuai dengan aturan – aturan hukum yang berlaku. Sedangkan pendidikan moral mempunyai tujuan mengatur tingkah laku manusia sebagai manusia. Lingkungan pendidikan moral lebih luas daripada lingkungan tata tertib sekolah. Tata tertib sekolah berisikan perintah – perintah dan larangan – larangan agar tingkah laku manusia tidak melanggar aturan – aturan tertulis maupun tidak tertulis. Sedangkan pendidikan moral memerintahkan manusia untuk berbuat apa yang berguna dan melarang segala yang tidak baik. Norma moral memberikan memberi kewajiban moral pada manusia agar kepentingan hukum dan kepentingan umum jangan dilanggar. Karakter atau watak warga negara yang bermoral salah satunya bisa dilakukan melalui jalur pendidikan di sekolah. Pendidikan moral bukan sesuatu entitas abstraksi ide semata namun nyata dalam kehidupan sehari – hari yang harus diajarkan pada manusia. Pendidikan moral merupakan suatu wadah bagi sekolah untuk mendidik, mengajar dan melatih siswa agar mempunyai sikap dan berbuat atau bertingkah laku sesuai dengan nilai – nilai moral dan norma – norma yang ada di masyarakat. Tata tertib sekolah mengatur dan memberi petunjuk pedoman aturan atau hukum tingkah laku siswa terhadap moral yang baik. Tata tertib sekolah sebagai aturan hukum di

40

dalamnya terkandung makna implementasi pendidikan moral untuk siswa dalam bertingkah laku.

D. Sarana Pendidikan Moral Pandangan Daryanto (2001:51) tentang sarana pendidikan moral adalah seperti alat langsung untuk mencapai tujuan pendidikan. Sarana pendidikan moral dalam penelitian ini dimaksudkan sebagai alat pendidikan. Alat pendidikan adalah hal yang tidak saja memuat kondisi – kondisi yang memungkinkan terlaksananya pekerjaan mendidik, tetapi alat pendidikan itu telah mewujudkan diri sebagai perbuatan atau situasi mana, dicita – citakan dengan tegas, untuk mencapai tujuan pendidikan. Alat pendidikan ialah suatu tindakan atau perbuatan atau situasi atau benda yang dengan sengaja diadakan untuk mencapai suatu tujuan pendidikan. Suwarno (Daryanto, 2001:141) membedakan alat pendidikan dari bermacam – macam segi salah satunya adalah alat pendidikan preventif dan korektif. Alat pendidikan preventif diartikan sebagai jika maksudnya mencegah anak sebelum ia berbuat sesuatu yang tidak baik, misalnya contoh: pembiasaan perintah, pujian, ganjaran. Kedua adalah alat pendidikan korektif, jika maksudnya memperbaiki karena anak telah melanggar ketertiban atau berbuat sesuatu yang buruk, misalnya: celaan, ancaman, hukuman. Alat pendidikan yang preventif ialah alat – alat pendidikan yang bersifat pencegahan yaitu untuk mencegah masuknya pengaruh – pengaruh buruk dari luar ke dalam diri siswa. Kewajiban pendidik adalah mendidik

41

siswa menjadi anak yang baik dan mencegah/membentengi siswa dari masuknya pengaruh – pengaruh yang buruk ke dalam dirinya. Jenis alat – alat pendidikan preventif yang abstrak seperti tata tertib, anjuran, larangan, perintah, disiplin dan semisalnya. Hal – hal yang diperbaiki (korektif) adalah perbuatan – perbuatan jelek yang sudah menjadi kebiasaan diperbuat siswa, seperti suka berkelahi, suka bertengkar, suka mengambil barang milik orang lain, suka menghina, suka mengejek, suka mengganggu dan sebagainya.

E. Kerangka Berpikir Perkembangan dan perubahan masyarakat yang berlangsung cepat dan pesat dalam bidang ilmu pengetahuan dan teknologi; khususnya kemajuan di bidang teknologi komunikasi dan informasi, di satu sisi dapat berdampak positif namun di sisi lain menimbulkan pengaruh yang berdampak negatif, terutama nilai – nilai budaya asing yang tidak sesuai dengan nilai – nilai luhur budaya bangsa. Gejala – gejala pengaruh negatif itu, kini telah tampak di kalangan generasi muda, terutama di kota – kota besar di Indonesia. Gejala – gejala negatif tersebut merupakan tantangan bagi sekolah untuk lebih memperhatikan siswanya dan lebih menggiatkan pelaksanaan pendidikan moral di lingkungan sekolah secara khusus. Selain melalui komponen kurikulum komponen formal seperti Pendidikan Kewarganegaraan (PKn) dan Pendidikan Agama juga lewat jalur

42

hidden curriculum. Namun harus dipahami salah satu usaha untuk melaksanakan pendidikan moral secara intensif dan komprehensif di sekolah adalah melalui hidden curriculum antara lain seperti penegakkan aturan moral melalui tata tertib sekolah. Menurut konsep pendidikan dewasa ini, bahwa pendidikan berlangsung sepanjang hayat dan pendidikan untuk semua (education for all). Pelaksanaan pendidikan moral harus dimulai dari dalam lingkungan keluarga, karena keluarga merupakan lingkungan pendidikan pertama dan utama di dalam kehidupan manusia. Sekolah memiliki peranan penting dalam pembentukan kepribadian, mentransmisi dan mentransformasi nilai – nilai moral; serta seleksi dan pra aloksi tenaga kerja. Baik dan buruknya moral siswa tergantung pada berhasil atau tidaknya pendidikan moral di sekolah dan penegakan tata tertib sekolah. Tata tertib sekolah memberikan bentuk nyata dari pendidikan moral yang harus diberikan pada siswa yang berisikan nilai – nilai moral. Moral siswa yang baik dapat diketahui dari indikator berupa taat dan patuh pada tata tertib sekolah yang dapat dilihat melalui pengamatan berupa aturan moral, sikap dan tingkah laku atau tingkah laku yang mencerminkan nilai – nilai moral yang sesuai dengan kehidupan masyarakat. Pelaksanaan tata tertib sekolah tersebut tentunya bergantung pada kemampuan sekolah dalam implementasi pendidikan moral yang banyak ditemui kendala – kendala sehingga dirasa belum optimal guna menekan tingkat pelanggaran tata tertib sekolah. Belum optimalnya pelaksanaan tata tertib sekolah tersebut dapat dilihat melalui profil pribadi siswa sehari – hari

43

baik di sekolah, keluarga maupun masyarakat sudah menunjukan tingkah laku yang mencerminkan pribadi – pribadi yang bermoral atau sebaliknya. Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) mendidik siswa agar memiliki keterampilan atau keahlian (skill) tertentu. Pemberian muatan moral terhadap tingkah laku siswa kadang hanya sebatas bersifat temporal tidak bersifat kontiunitas. Kontrol dari pihak sekolah yang lemah mengakibatkan siswa cenderung mengabaikan aturan moral atau tata tertib sekolah. Siswa Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) mempunyai kecenderungan yang besar untuk berbuat penyimpangan. Indikasi ini diakibatkan oleh karakteristik siswa yang berbeda dan stimuli siswa untuk langsung mendapatkan pekerjaan (ready work) sehingga menimbulkan dampak tidak terlalu memedulikan aspek moralitas diri sendiri. Interaksi antar siswa dengan Guru dan lingkungan ikut mempengaruhi dan membentuk tingkah laku siswa. Apabila tingkah laku siswa tanpa kontrol dan penanganan secara tidak serius maka akan dapat menimbulkan tingkah laku yang menyimpang bahkan cenderung menuju tindakan kriminalitas. Tentu saja sebagai lanjutan tingkah laku siswa yang menyimpang akan dapat merugikan tidak hanya baik diri sendiri akan tetapi keluarga serta lingkungan masyarakat. Mengingat kompleksnya kehidupan manusia, maka dalam pelaksanaan pendidikan moral, perlu diciptakan dan ditemukan metode yang tepat sehingga bisa menjangkau seluruh aspek kehidupan manusia. Untuk mempermudah dalam memahami penelitian ini maka disajikan gambar 3 sebagai berikut:

44

Sistem Pendidikan Nasional

Tujuan Pendidikan Nasional

Moral Siswa

SMK NEGERI 5 SEMARANG

Kurikulum

Guru

Siswa

Fasilitas

Pendidikan Moral

Tata Tertib Sekolah

Aturan

Sikap

Tingkah Laku

Baik

Buruk

Keterangan: : Proses distribusi : Proses kontrol

Gambar 3 Bagan Kerangka Berpikir

45

Keterangan: Pendidikan diartikan tidak hanya sebagai formal transfer of knowledge namun bagaimana membentuk pribadi – pribadi manusia yang memiliki nilai moralitas yang tinggi. Oleh karena itu Sistem Pendidikan Nasional yang tercantum pada tujuan pendidikan nasional menghendaki agar siswa tumbuh dan berkembang dari sisi akhlak, moralitas yang baik. Moral siswa yang baik atau buruk tercermin dari tingkah laku siswa baik di rumah, sekolah dan masyarakat. Tentunya sekolah terutama Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Negeri 5 Semarang mempunyai tanggung jawab terhadap pembentukan moral siswa tersebut. Pada komponen sekolah yang berperan dalam mewujudkan cita – cita tersebut salah satunya melalui komponen pendidikan moral dan tata tertib sekolah. Guru mengontrol tingkah laku siswa melalui tata tertib sekolah. Tingkah laku siswa yang baik atau buruk akan mencerminkan dan menentukan pandangan masyarakat terhadap kadar moralitas siswa Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Negeri 5 Semarang.

BAB III METODE PENELITIAN

A. Dasar Penelitian Suatu penelitian untuk mendapatkan hasil yang optimal harus menggunakan metode penelitian yang tepat. Ditinjau dari permasalahan penelitian ini yaitu tentang pelaksanaan dan kendala – kendala tata tertib sekolah sebagai sarana pendidikan moral di Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Negeri 5 Semarang maka penelitian ini bersifat non eksperimen yaitu penelitian kualitatif deskriptif. Karl dan Milles (Moleong, 2002:3), penelitian kualitatif adalah tradisi tertentu dalam ilmu pengetahuan sosial yang secara fundamental bergantung pada pengamatan kepada manusia dalam kawasannya sendiri dan berhubungan dengan orang tersebut. Di samping itu penelitian deskriptif yaitu merupakan metode penelitian yang berusaha menggambarkan dan

menginterprestasikan objek sesuai dengan apa adanya. Dengan metode deskriptif, peneliti memungkinkan untuk melakukan hubungan antara variabel, menguji hipotesis, mengembangkan generalisasi, dan mengembangkan teori yang memiliki validitas universal. Penelitian deskriptif pada umumnya dilakukan dengan tujuan utama, yaitu menggambarkan secara sistematis fakta dan karakteristik objek atau subjek yang diteliti secara tepat. Penelitian ini menggunakan metode penelitian dengan pendekatan kualitatif deskriptif yaitu mengamati, mencatat, dan mendokumentasi

46

47

pelaksanaan dan kendala – kendala tata tertib sekolah sebagai sarana pendidikan moral di Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Negeri 5 Semarang. Peneliti berinteraksi dengan lingkungan sekolah dan berusaha memahaminya. Dimana dalam penelitian tersebut memiliki ciri – ciri sebagai berikut: 1. Sumber data langsung berupa tata situasi alami dan peneliti adalah instrumen kunci. 2. Bersifat deskriptif dimana data yang dikumpulkan umumnya berbentuk kata – kata, gambar – gambar dan bukan angka – angka, kalaupun ada angka – angka sifatnya hanya sebagai penunjang. 3. Lebih menekankan pada makna proses ketimbang hasil. 4. Analisis data bersifat induktif. 5. Makna merupakan perhatian utama dalam pendekatan penelitian (Sudarwan, 2002:6).

B. Fokus Penelitian Di dalam penelitian kualitatif deskriptif menghendaki ditetapkannya batas atas dasar fokus penelitian. Dalam pemikiran fokus terliput di dalamnya perumusan latar belakang, studi permasalahan, fokus juga berarti penentuan keluasan (scope) permasalahan dan batas penelitian. Penentuan fokus memiliki tujuan sebagai berikut: 1. Menentukan keterikatan studi, ketentuan lokasi studi. 2. Menentukan kriteria inklusi dan eksklusi bagi informasi baru. Fokus membantu bagi penelitian kualitatif deskriptif membuat keputusan untuk membuang atau menyimpan informasi yang diperolehnya (Rachman, 1999:121). Fokus penelitian merupakan pokok persoalan apa yang menjadi pusat perhatian dalam penelitian. Fokus dalam penelitian ini adalah tata tertib sekolah sebagai sarana pendidikan moral di Sekolah Menengah Kejuruan

48

(SMK) Negeri 5 Semarang. Sebagai indikator dari fokus tersebut di atas adalah: 1. Tingkah laku siswa dalam implementasi tata tertib sekolah sebagai sarana pendidikan moral di Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Negeri 5 Semarang. 2. Pelaksanaan tata tertib sekolah sebagai sarana pendidikan moral di Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Negeri 5 Semarang. 3. Kendala – kendala yang dihadapi dalam pelaksanaan tata tertib sekolah sebagai sarana pendidikan moral di Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Negeri 5 Semarang.

C. Sumber Data Penelitian Data adalah bentuk jamak dari datum. Data merupakan keterangan – keterangan tentang suatu hal, dapat berupa sesuatu yang diketahui atau yang dianggap. Atau suatu fakta yang digambarkan lewat angka, simbol, kode dan lain – lain. Data perlu dikelompok – kelompokkan terlebih dahulu sebelum dipakai dalam proses analisis. Pengelompokkan data disesuaikan dengan karakteristik yang menyertainya (Hasan, 2002:82). Sumber data penelitian adalah subjek di mana data dapat diperoleh (Arikunto, 2002:107). Berdasarkan sumber pengambilannya, data dibedakan menjadi dua, yaitu sebagai berikut: 1. Data Primer

49

Data primer adalah data yang dikumpulkan atau diperoleh langsung di lapangan oleh orang yang melakukan penelitian atau yang bersangkutan. Sumber data primer yaitu kata – kata atau tindakan orang yang diamati atau diwawancarai (Arikunto, 2002:122). Data primer ini disebut juga data asli atau data baru. Sumber data primer diperoleh peneliti melalui wawancara dengan responden. Responden orang yang diminta keterangan tentang suatu fakta atau pendapat, keterangan dapat disampaikan dalam bentuk tulisan, yaitu ketika mengisi angket, atau lisan ketika menjawab wawancara (Arikunto, 2002:122). Responden dalam penelitian ini adalah Kepala Sekolah, Wakil Kepala Sekolah Bidang Kesiswaan, Guru Pendidikan

Kewarganegaraan (PKn), Guru bidang Bimbingan Konseling (BK) dan siswa Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Negeri 5 Semarang atau yang terkait dengan pelaksanaan tata tertib sekolah sebagai sarana pendidikan moral. Data yang diperoleh peneliti melalui responden, termasuk dalam kategori data sekunder. Sebagaimana data yang diperoleh melalui informan di atas sehingga data sifatnya juga masih asli dan baru. 2. Data sekunder Data sekunder adalah data yang diperoleh atau dikumpulkan oleh orang yang melakukan penelitian dari sumber – sumber yang telah ada. Data ini biasanya diperoleh dari perpustakaan atau dari

50

laporan – laporan penelitian terdahulu. Data sekunder disebut juga data tersedia (Hasan, 2002:82). Dokumen adalah setiap bahan yang tertulis maupun film (Moleong, 2002:113). Dokumen dalam penelitian ini berupa tata tertib siswa, buku – buku, dan literatur lain yang ada hubungan dengan masalah yang akan diteliti. Tujuannya adalah data didapatkan berupa data tambahan yang merupakan data sekunder.

D. Alat dan Teknik Pengumpulan Data 1. Alat Pegumpulan Data Alat pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah observasi, wawancara (interviu) dan dokumentasi. a. Observasi Dalam penelitian ini, observasi diartikan sebagai pengamatan dan pencatatan secara sistemik terhadap gejala yang tampak pada objek penelitian. Pengamatan dan pencatatan yang dilakukan terhadap objek ditempat terjadi atau berlangsungnya peristiwa, sehingga peneliti berada bersama objek yang diselidiki, disebut observasi langsung. Sedangkan observasi tidak langsung adalah pengamatan yang dilakukan tidak pada saat berlangsungnya peristiwa tersebut diamati melalui film, rangkaian slide atau rangkaian foto (Rachman, 1999:77). Berkaitan dengan jenis observasi yang digunakan peneliti dalam penelitian ini adalah menggunakan metode

51

observasi secara langsung dan tidak langsung yaitu di Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Negeri 5 Semarang. b. Wawancara (Interviu) Wawancara adalah percakapan dengan maksud tertentu, percakapan itu dilakukan oleh dua pihak, yaitu wawancara yang mengajak pertanyaan – pertanyaan dan yang diwawancarai memberikan jawaban atas pertanyaan itu (Moleong, 2002:135). Wawancara merupakan data informasi dengan cara mengajukan sejumlah pertanyaan lisan, untuk dijawab secara lisan pula (Rachman, 1999, 83). Penelitian ini menggunakan alat pengumpul data berupa pedoman atau instrumen wawancara yaitu berbentuk pertanyaan yang diajukan kepada subjek penelitian. Sedangkan wawancara yang diterapkan adalah wawancara berstruktur. Wawancara berstruktur, yaitu pedoman wawancara yang disusun secara terperinci sehingga menyerupai check – list (Arikunto, 2002:20). Selain itu wawancara dilakukan melalui wawancara tak berstruktur yaitu wawancara dilakukan secara informal, dimana pertanyaan tentang pandangan sikap, keyakinan subjek atau tentang keterangan lainnya yang berkaitan dengan pelaksanaan tata tertib sekolah sebagai sarana pendidikan moral di Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Negeri 5 Semarang yang diajukan secara bebas kepada subjek penelitian.

52

Di samping itu wawancara ini dapat dikembangkan apabila diperlukan untuk melengkapi data – data yang masih kurang. Kelebihan tersebut wawancara tak berstruktur antara lain: 1). Memungkinkan peneliti untuk mendapatkan keterangan dengan lebih cepat. 2). Ada keyakinan bahwa penafsiran responden terhadap pertanyaan yang diajukan adalah tepat. 3). Sifatnya lebih luas. 4). Pembatasan – pembatasan dapat dilakukan secara langsung, apabila jawaban yang diberikan melewati batas ruang lingkup masalah yang diteliti. 5). Kebenaran jawaban dapat diperiksa secara langsung. (Soekanto, 1984:25) Dari uraian di atas dapatlah disimpulkan bahwa wawancara adalah untuk mendapatkan gambaran yang sejelas – jelasnya dan informasi yang selengkap – lengkapnya. Melalui wawancara ini diharapkan peneliti mendapatkan gambaran mengenai pelaksanaan tata tertib sekolah sebagai sarana pendidikan moral di Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Negeri 5 Semarang. c. Dokumentasi Dokumentasi yaitu metode yang digunakan untuk mencari data mengenai hal – hal atau variabel yang berupa catatan, transkrip, buku, surat kabar, majalah, prasasti, notulen, surat, lengger, agenda dan sebagainya (Arikunto, 2002:206).

2. Teknik Pengumpulan Data Guna mendapatkan informasi yang diharapkan penelitian ini teknik pengumpulan data dilakukan melalui:

53

a. Teknik Observasi Berkaitan dengan teknik observasi (Kartono, 1996:57) mengemukakan, observasi adalah studi yang disengaja dan sistematis tentang fenomena sosial dan gejala – gejala alam dengan jalan pengamatan dan pencatatan. Ditambahkan bahwa observasi ialah pengujian secara internasional atau bertujuan suatu hal, khususnya untuk maksud mengumpulkan data. Teknik observasi yang digunakan dalam penelitian ini adalah teknik observasi yang menerapkan observasi sistematis, yang dilakukan oleh pengamat dengan menggunakan pedoman sebagai intrumen pengamatan. b. Teknik Komunikasi Teknik komunikasi adalah cara mengumpulkan data melalui kontak atau hubungan pribadi antara pengumpul data dengan sumber data (Rachman, 1999:82). Dalam pelaksanaannya peneliti menggunakan teknik komunikasi langsung yaitu teknik pengumpulan data dengan mempergunakan wawancara atau interviu sebagai alatnya. c. Teknik Dokumentasi Berkaitan mengemukakan teknik bahwa dokumentasi (Hasan, adalah 2002:88) teknik

teknik

dokumentasi

pengumpulan data yang tidak langsung ditujukan pada subjek penelitian, namun melalui dokumen, dimana dokumen yang

54

digunakan dapat berupa buku harian, surat pribadi, laporan, notulen rapat, catatan kasus dalam pekerjaan sosial dan dokumen lainnya. Peneliti dalam penelitian ini menggunakan teknik

dokumentasi sebagai metode ketiga disamping observasi dan wawancara, karena teknik dokumentasi dapat memberikan cara yang terbaik untuk memberikan data – data masa lalu yang berkaitan dengan objek yang akan diteliti. Di samping itu untuk subjek penelitian tertentu yang sukar atau tidak mungkin dijangkau, maka studi dokumentasi dapat memberikan jalan untuk melakukan penelitian (Hasan, 2002:88). d. Teknik Studi Pustaka Teknik studi pustaka diperlukan dalam penelitian ini sebagai acuan terhadap permasalahan yang di lapangan dengan buku – buku literatur tentang tata tertib sekolah dan lingkup yang terkait dengan pendidikan moral.

E. Objektivitas dan Keabsahan Data 1. Objektivitas Data Objektivitas terhadap keabsahan data merupakan salah satu bagian yang penting di dalam penelitian kualitatif deskriptif, untuk mengetahui derajat kepercayaan dari hasil penelitian yang dilakukan. Apabila peneliti melaksanakan objektivitas terhadap keabsahaan data

55

secara cermat dengan teknik yang tepat dapat diperoleh hasil penelitian yang benar – benar dapat dipertanggungjawabkan dari berbagai segi. 2. Keabsahan Data Keabsahan data diterapkan dalam rangka membuktikan

kebenaran temuan hasil penelitian dengan kenyataan di lapangan. Lincoln dan Guba (Moleong, 2002:175) untuk memeriksa data pada penelitian kualitatif deskriptif antara lain digunakan taraf kepercayaan data (Credibility). Teknik yang digunakan untuk melacak Credibility dalam penelitian ini yaitu Teknik Triangulasi (Triangulation). Teknik Triangulasi adalah teknik pemeriksaan data yang memanfaatkan sesuatu yang lain di luar data itu untuk keperluan pengecekan atau sebagai pembanding terhadap data itu (Moleong, 2002:178). Teknik Triangulasi yang dilakukan dalam penelitian ini adalah triangulasi sumber dan metode artinya bahwa teknik pemeriksaan dengan membandingkan atau mengecek balik derajat kepercayaan suatu informasi yang diperoleh melalui waktu dan alat yang berbeda (Moleong, 2002:178). Teknik Triangulasi yang digunakan dalam penelitian ini adalah teknik triangulasi yang memanfaatkan penggunaan sumber dan metode yaitu pemeriksaan keabsahaan data dengan membandingkan data hasil pengamatan dengan data hasil wawancara dan dokumentasi serta dengan pengecekan penemuan hasil penelitian. Dari beberapa teknik triangulasi tersebut dapat dijelaskan sebagai berikut Denzin (Moleong, 2002:178):

56

a. Triangulasi dengan memanfaatkan sumber berarti membandingkan dan mengecek bahwa derajat kepercayaan sesuatu informasi yang diperoleh melalui waktu dan alat yang berbeda. Hal ini dicapai dengan jalan: 1). Membandingkan data hasil wawancara. 2). Membandingkan apa yang dikatakan orang di depan umum dengan apa yang dikatakan secara pribadi. 3). Membandingkan apa yang dikatakan orang – orang tentang situasi penelitian dengan yang dikatakan sepanjang waktu. 4). Membandingkan keadaan pada perspektif seseorang dengan berbagai pendapat orang lain. 5). Membandingkan hasil wawancara dengan isi sesuatu dokumen yang berkaitan. b. Triangulasi dengan metode terdapat dua strategi yaitu: 1). Pengecekan derajat kepercayaan penemuan hasil penelitian dengan beberapa teknik pengumpulan data. 2). Pengecekan derajat kepercayaan beberapa sumber data dan metode yang sama. Dengan menggunakan kedua teknik triangulasi di atas akan dapat diperoleh hasil penelitian yang benar – benar sahih, karena kedua teknik triangulasi di atas sangat sesuai dengan penelitian yang bersifat kualitatif deskriptif.

57

F. Metode Analisis Data 1. Tinjauan Metode Analisis Data Patton (Hasan, 2002:97) mengemukakan analisis data adalah proses mengatur urutan data mengorganisasikannya ke dalam suatu pola, kategori dan satuan uraian dasar. Sedangkan Bogdan dan Taylor (Hasan, 2002:97) mendefinisikan analisis data sebagai proses yang merinci usaha formal untuk menemukan tema dan merumusakan hipotesis (ide) seperti yang disarankan oleh data dan sebagai usaha untuk memberikan bantuan pada tema dan hipotesis itu. Moleong (2002) menyatakan bahwa yang dimaksud analisis data adalah proses mengorganisasikan dan menGurutkan data ke dalam pola, kategori satuan uraian dasar sehingga dapat ditemukan tema dan dirumusakan hipotesis kerja seperti yang dirumuskan data. 2. Bentuk dan Cara Melakukan Analisis Data Pada prinsipnya analisis data ada dua cara yaitu analisis statistik dan analisis non statistik, hal ini tergantung pada datanya. Adapun analisis data non statistik, yang disebut juga sebagai analisis kualitatif deskriptif yaitu analisis yang tidak menggunakan model matematik, model statistik dan ekonometrik atau model – model tertentu lainnya. Analisis data dilakukan terbatas pada teknik pengolahan datanya, seperti pada pengecekan data dan tabulasi, dalam hal ini sekedar membaca tabel – tabel, grafik – grafik atau angka – angka yang tersedia kemudian melakukan uraian dan penafsiran (Hasan, 2002:98).

58

Penelitian ini menggunakan metode analisis kualitatif deskriptif non statistik, dimana komponen reduksi data, dan sajian data dilakukan bersamaan dengan proses pengumpulan data setelah data terkumpul maka, tiga komponen analisis (reduksi data, sajian data, penarikan kesimpulan) berinteraksi. Ini untuk menjawab permasalahan pertama dari penelitian. Langkah – langkah analisis kualitatif deskriptif adalah sebagai berikut: a. Pengumpulan data Pengumpulan data ialah mencari, mencatat dan

mengumpulkan semua data secara objektif dan apa adanya sesuai dengan hasil observasi dan wawancara di lapangan yaitu pencatatan data yang diperlukan terhadap berbagai jenis data dan berbagai bentuk data yang ada di lapangan yang diturunkan peneliti serta melakukan pencatatan di lapangan. b. Reduksi data Data yang telah terkumpul dipilih dan dikelompokkan berdasarkan data yang mirip atau sama. Kemudian data ini diorganisasikan untuk mendapatkan kesimpulan data sebagai bahan penyajian data. Penyusunan data dilakukan dengan pertimbangan penyusunan data sebagai berikut: 1). Hanya memasukan data yang penting dan benar – benar dibutuhkan. 2). Hanya memasukan data yang benar – benar objektif. 3). Hanya memasukan data yang autentik. 4). Membedakan antara data informasi dengan pesan pribadi responden (Rachman, 1999:103). c. Penyajian data

59

Setelah diorganisasikan, selanjutnya data disajikan dalam uraian – uraian naratif disertai dengan bagan atau tabel untuk memperjelas penyajian data. d. Penarikan kesimpulan atau verifikasi Setelah kesimpulan data disajikan, maka dilakukan lebih penarikan proses

atau

verifikasi.

Untuk

jelasnya

pengumpulan data, reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan atau verifikasi, serta interaksi dari ketiga komponen dapat dilihat pada gambar 4 sebagai berikut:

Pengumpulan Data Penyajian Data

Reduksi Data Penarikan Kesimpulan/Verifikasi

Gambar 4. Bagan Metode Analisis Data Sumber: Miles dan Huberman (1994:20)

60

G. Prosedur Penelitian Prosedur penelitian yang ditempuh dalam penelitian ini meliputi tiga tahapan yaitu: 1. Tahap pembuatan rancangan Tahap ini merupakan langkah awal dan pertama peneliti mempersiapkan segala macam yang dibutuhkan sebelum memasuki tahap selanjutnya terjun dalam kegiatan penelitian. Pada tahap ini peneliti melaksanakan beberapa alur yaitu memilih masalah, studi pendahuluan, merumuskan masalah, memilih pendekatan, menemukan variabel dan sumber data serta menentukan dan menyusun instrumen. 2. Tahap pelaksanaan penelitian Peneliti melaksanakan penelitian, dengan melaksanakan

pengumpulan data melalui observasi, wawancara dan pencatatan. Kemudian melaksanakan analisis data dengan semua data yang telah diperoleh di lapangan dianalisis dan dicek atau diperiksa kebenarannya menggunakan teknik triangulasi. 3. Tahap penyusunan laporan Kegiatan penelitian menuntut agar hasilnya disusun, ditulis dalam bentuk laporan penelitian agar hasilnya diketahui orang lain, serta prosedurnya pun diketahui orang lain pula sehingga dapat mengecek kebenaran pekerjaan penelitian tersebut. (Arikunto, 2002:20)

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

A. Hasil Penelitian 1. Gambaran Umum Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Negeri 5 Semarang Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) merupakan lembaga pendidikan tingkat lanjut menengah yang memiliki karakteristik berbeda dengan Sekolah Menengah Atas (SMA) karena bertugas mempersiapkan siswa untuk mengutamakan berkembangnya kompetensi vocational skill (kecakapan/kemampuan kejuruan) yaitu kecakapan yang dikaitkan dengan pekerjaan tertentu. Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) dalam

pembelajarannya ditekankan pada bagaimana persiapan siswa menguasai keterampilan atau keahlian praktis yang diterapkan dalam lingkungan pekerjaan. Hal ini berbeda dengan kecakapan yang diprioritaskan pada Sekolah Menengah Atas (SMA) yaitu lebih menekankan pada academic skill (kemampuan akademik). Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Negeri 5 Semarang berdiri atas dukungan Guru – Guru teknik dan direstui oleh Kepala Diktek Propinsi Jawa Tengah, Bapak Dimiyati Prasojo yang pada waktu itu menjabat Kepala STM 2 Semarang, mempelopori dan merintis jalan terwujudnya cita – cita tersebut yaitu terbentuknya sekolah teknologi lagi guna melengkapi STM yang telah sebelumnya. Berdasarkan Surat

61

62

Keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia No. 85/DIRPT/BI/65 Tanggal 5 Agustus 1965 diresmikan oleh Kepala Inspeksi Daerah Pendidikan Teknologi Propinsi Jawa Tengah pada tanggal 17 Agustus 1965 Sekolah Tinggi Menegah 5 Semarang dengan jurusan Bangunan Gedung, Mesin, Listrik yang berada di STM 2 Jalan Sompok 43A Semarang. Pada awal berdirinya Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Negeri 5 Semarang berstatus sekolah negeri yang belum mempunyai gedung sendiri. Untuk melaksanakan proses belajar mengajar terpaksa diselenggarakan siang hari dan menumpang pada sekolah negeri lain yang secara berurutan bertempat di STM 2 Semarang beralamat di Jalan Sompok 43A Kelurahan Peterongan Kecamatan Semarang Timur. Terhitung sejak tanggal 18 Agustus 1965 sampai dengan 30 Juli 1977 yang pada waktu itu karena kekurangan ruang sebagian kelas yang menempati STM 1 – 3 Semarang di Jalan Cinde Raya Semarang (sekarang ditempati SMP 8 Semarang). Kemudian berurutan kembali yaitu berada di STM 1 – 3 Semarang yang beralamat Jalan Dr. Cipto 93 Semarang Kelurahan Karangkojo Kecamatan Semarang Utara terhitung sejak tanggal 1 Juli 1977 sampai dengan 30 Juni 1979. Berdasarkan Surat Keputusan Kanwil Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Propinsi Jawa Tengah Tanggal 22 November 1977 No. 107/Kep/1977 tentang penunjukan tempat bangunan dan Surat Keputusan Kepala Bidang Pendidikan Menengah

63

Kejuruan

Propinsi

Jawa

Tengah

Tanggal

1

Juni

1979

No.

542/I03.5/R.a/1979 terhitung sejak tanggal 1 Juni 1979 STM 5 Semarang secara resmi menempati gedung sendiri. Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Negeri 5 Semarang merupakan salah satu Sekolah Menengah Kejuruan di Kota Semarang mempunyai Nomor Identitas Sekolah (NIS) 400050, Nomor Statistik Sekolah (NSS) 321036308805 beralamat di Jl. Dr. Cipto No. 121 Semarang 50124 Kelurahan Karangturi Kecamatan Semarang Timur dengan nomor telepon (024) 8416335 – 8447476, E – Mail smk05_smg@yahoo.com berstatus sebagai sekolah negeri. Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Negeri 5 Semarang menempati luas tanah sekolah 10.612 m2 yang berdampingan dengan SMK (SMEA) 1 yang dulunya adalah juga lokasi STM 5 Semarang. Kepala Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Negeri 5 Semarang bernama Drs. H. M.Saidi dengan Nomor Induk Pegawai (NIP) 130935750 Nomor SK Pengangkatan 821.2/23/2002 Tanggal 28 Agustus 2002 No. Rekening Sekolah Bank BRI Cabang Semarang Pandanaran 0325 – 01 – 031142 – 50 – 4. Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Negeri 5 Semarang mempunyai visi menjadi pusat pendidikan dan latihan kejuruan yang berstandar nasional. Misi Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Negeri 5 Semarang yang pertama adalah mendidik dan melatih siswa dalam program keahlian teknik gambar bangunan, teknik pemanfaatan tenaga

64

listrik, teknik komputer jaringan, teknik transmisi telkom, teknik pemesinan dan teknik mekanik otomotif. Kedua adalah mendidik dan melatih siswa untuk dipersiapkan menjadi tenaga kerja profesional siap memasuki lapangan kerja di dunia usaha dan industri global, nasional dan regional, melanjutkan studi, berwirausaha maupun memasuki dinas dan militer. 2. Keadaan Siswa Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Negeri 5 Semarang Sumber siswa Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Negeri 5 Semarang berasal dari SMP/MTs Negeri/Swasta Se Kota Semarang dan SMP/MTs Negeri Swasta di sekitar perbatasan Kabupaten Kendal, Kabupaten Semarang, Kabupaten Demak, Kabupaten Grobogan. Data keadaan siswa Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Negeri 5 Semarang dari hasil observasi dan wawancara memiliki jumlah siswa yang dominan laki – laki sebanyak 886 orang sedangkan siswa wanita berjumlah 30 orang terbagi dalam beberapa jurusan. Data jumlah keseluruhan siswa Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Negeri 5 Semarang terbagi menjadi beberapa jurusan pada tabel 1 yaitu:

65

Tabel 1 Jumlah Siswa SMK Negeri 5 Semarang No. 1. 2. 3. 4. 5. 6. Program Keahlian I Teknik Gambar Bangunan Teknik Pemanfaatan Tenaga Listrik Teknik Mesin Perkakas Teknik Mekanik Otomotif Teknik Transmisi Telkom Teknik Komputer Jaringan JUMLAH Sumber: data SMK Negeri 5 Semarang 72 67 71 70 35 37 352 Jumlah II 60 52 55 59 30 34 290 III 34 61 52 66 26 35 274 166 180 178 195 91 106 916 Total

3. Keadaan Guru Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Negeri 5 Semarang Keadaan Guru Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Negeri 5 Semarang terdiri dari dua yaitu Guru Normatif/Adaptif dan Guru produktif. Idealnya berdasarkan aturan seorang Guru Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) adalah sejumlah 110 orang. Dari hasil observasi didapatkan bahwa Guru Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Negeri 5 Semarang mempunyai jam mengajar 50 jam sehari sedang menurut aturan yaitu 20 jam sehari. Guru Normatif/Adaptif yaitu mengajar pada mata pelajaran non kejuruan/umum sedangkan Guru Produktif yaitu mengajar pada mata

66

pelajaran kejuruan/khusus program keahlian pada tabel 2 dan tabel 3 sebagai berikut:

Tabel 2 Data Guru Normatif/Adaptif SMK Negeri 5 Semarang No 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. Guru Bidang Studi Pendidikan Agama Islam Pendidikan Agama Kristen Pendidikan Agama Katolik Bahasa Indonesia PPKN Sejarah Pendidikan Jasmani & Kesehatan 8. 9. 10. 11. 12. 13. 14. Matematika Bahasa Inggris Fisika Kimia Komputer / KKPI Kewirausahaan Bimbingan Konseling 4 3 1 4 2 5 31 3 2 1 1 1 11 7 5 2 5 1 2 5 42 Status Tetap TT 3 4 3 2 2 1 1 1 Jumlah 3 1 1 4 3 2 3

JUMLAH Sumber: data SMK Negeri 5 Semarang

67

Tabel 3 Data Guru Produktif SMK Negeri 5 Semarang
No. 1. 2. 3. 4. 5. 6. Guru Program Keahlian Teknik Gambar Bangunan Teknik Pemanfaatan Listrik Teknik Mesin Perkakas Teknik Mekanik Otomotif Teknik Transmisi Telkom Teknik Komputer Jaringan JUMLAH Sumber: data SMK Negeri 5 Semarang 8 8 4 3 2 25 Status Tetap TT 1 2 2 4 8 8 4 4 2 4 31 Jumlah

4. Tingkat Kedisiplinan Siswa Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Negeri 5 Semarang Pelanggaran tata tertib sekolah paling banyak dilakukan oleh siwa berjenis kelamin laki – laki. Pelanggaran tata tertib sekolah yang sering dilakukan oleh siswa Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Negeri 5 Semarang beragam terdiri dari tidak masuk tanpa keterangan (alpa), meninggalkan pelajaran tanpa izin, baju tidak dimasukkan dan mencorat – coret seragam sekolah, berkelahi, tidak segera menempuh atau menyelesaikan remidi (lihat gambar 7). Dari pelanggaran tata tertib sekolah tersebut tidak masuk tanpa keterangan (alpa) dan keterlambatan datang ke sekolah (lihat gambar 8) menempati urutan teratas pelanggaran terhadap tata tertib sekolah.

68

Observasi secara langsung mendapatkan bahwa kasus atau pelanggaran yang paling tampak adalah ketertiban mengenai baju yang tidak dimasukkan dan tidak memakai atau membawa atribut sekolah seperti bagde sekolah dan sabuk (lihat gambar 9). Alasan siswa mengenai baju yang tidak dimasukkan adalah karena gaya/trend anak remaja masa kini. Guru sering memberikan teguran dan nasehat agar baju dimasukkan tapi siswa kadang tidak memperhatikan dan menyepelekan ajuran Guru tersebut. Siswa kadang hanya memasukkan baju saat bertemu Guru dan ingin masuk ruang Guru, setelah itu siswa mengeluarkan bajunya kembali. Karakteristik siswa Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Negeri 5 Semarang pada umumnya memiliki rasa tanggung jawab kurang karena motivasi belajar yang kurang. Data kedisiplinan tata tertib sekolah dapat dilihat salah satunya melalui jenis – jenis pelanggaran siswa yang berupa hasil obeservasi dan wawancara, diperoleh data sebagaimana pada tabel 4 sebagai berikut:

69

Tabel 4 Jenis Pelanggaran Tata Tertib Sekolah SMK Negeri 5 Semarang No Jenis Pelanggaran 2003 - 2004 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10. Alpa Bolos Merokok Berkelahi Berjudi Remidiasi Keluarga Ekonomi Kesulitan Belajar Pribadi JUMLAH 63 16 9 10 25 16 4 9 12 8 172 Tahun Pelajaran 2004 - 2005 145 85 12 38 19 36 6 12 58 27 438 2005 - 2006 80 49 4 5 14 7 3 15 35 16 228

Sumber: data SMK Negeri 5 Semarang

Dari observasi dan wawancara jenis – jenis pelanggaran tata tertib sekolah dapat diperinci sebagai berikut: 1. Alpa atau tidak masuk tanpa ijin adalah perbuatan pergi meninggalkan sekolah tanpa sepengetahuan orang tua disebabkan oleh aspek luar akibat pergaulan dengan teman sepermainan. 2. Bolos dilakukan siswa dengan sendiri maupun berkelompok tanpa tujuan, dan mudah menimbulkan perbuatan yang iseng negatif. Bolos dari mengikuti pelajaran dilakukan saat jam pelajaran berlangsung

70

disebabkan siswa merasa kurang bisa mengikuti pelajaran yang diberikan oleh Guru. 3. Merokok dilakukan siswa di saat jam istirahat biasanya bertempat di kamar mandi sekolah dengan adanya faktor pengaruh dari teman. 4. Berkelahi di dalamnya termasuk tawuran disebabkan oleh masalah individu dan salah paham antar siswa. 5. Berjudi dilakukan siswa dengan alasan iseng tidak ada kerjaan di sekolah untuk mengisi waktu dan adanya pengaruh dari teman. 6. Remidiasi adalah bagi siswa yang mempunyai nilai mata pelajaran tidak sesuai standar disarankan mengkuti remidiasi pelajaran. Namun siswa sering tidak mengkuti remidiasi dengan berbagai alasan seperti malas untuk mengikutinya bahkan ada yang sampai satu tahun pelajaran tapi belum mengkuti remidiasi. 7. Keluarga, disebabkan hubungan keluarga tidak harmonis yang mengganggu siswa di sekolah. 8. Ekonomi, biasanya yang sering adalah siswa belum membayar SPP sampai beberapa kali hingga menunggak pembayaran. 9. Kesulitan belajar, siswa mengalami kesulitan dalam memahami pelajaran sehingga sering mengganggu situasi pembelajaran di kelas. 10. Pribadi adalah terkait dengan personal individu siswa yaitu interaksi dengan siswa lain. 5. Isi Tata Tertib Sekolah Kaitannya Dengan Pelaksanaan Pendidikan Moral di Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Negeri 5 Semarang

71

Pendidikan moral di sekolah diberikan melalui 2 (dua) program yaitu program intrakulikuler dan program ekstrakulikuler. Pendidikan moral melalui program intrakulikuler terdapat pada mata pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan dan Sejarah, Agama, Kesenian dan Olahraga sedangkan pada mata pelajaran yang lain diterapkan dan disesuaikan dengan kajian pembahasan oleh masing – masing Guru. Program yang bersifat ekstrakulikuler dilakukan melalui kegiatan selain program intrakulikuler antara lain sebagai suatu lembaga pendidikan formal, sekolah berperan dalam penumbuhan keutuhan pribadi siswa melalui situasi budaya di lingkungan sekolah dan penanaman nilai – nilai luhur, etika dan budaya bagi siswa. Program ekstrakulikuler dilaksanakan melalui kegiatan organisasi di sekolah seperti Organisasi Intra Sekolah (OSIS), Pramuka, Pencinta Alam dan olahraga. Dalam kaitannya dengan pengamalan nilai – nilai hidup, maka moral merupakan kontrol dalam bersikap dan bertingkah laku sesuai dengan nilai – nilai hidup yang dimaksud. Nilai moral yang diharapkan oleh sekolah sekurang- kurangnya seperti yang dirumuskan dalam SKL (Standar Kompetensi Lulusan) baik yang terdapat dalam pendidikan agama, PKNS, kesenian dan olahraga. Misalkan mengembangkan nilai religiositas, nilai sosialitas, nilai keadilan, nilai demokrasi, nilai kejujuran, nilai kemandirian, nilai daya juang, nilai tanggung jawab dan nilai penghargaan terhadap lingkungan alam. Salah satu nilai religiositas pada tata tertib sekolah adalah waktu pelajaran pertama akan dimulai dan

72

pelajaran terakhir akan selesai, semua siswa melakukan acara berdoa yang dipimpin ketua kelas. Nilai sosialitas antara lain setiap siswa wajib mengikuti pelajaran dengan baik, sopan dan patuh kepada Guru. Nilai tanggung jawab adalah piket kelas bertanggungjawab atas alat-alat olah raga yang digunakan. Nilai penghargaan terhadap lingkungan alam setiap siswa wajib menjaga kebersihan lingkungan sekolah, setiap siswa wajib menjaga keindahan lingkungan sekolah, setiap siswa wajib menjaga keutuhan barang-barang milik sekolah. Tata tertib sekolah dapat menjadi sarana pendidikan moral dikarenakan juga dalam penyusunannya memperhatikan norma – norma/kaidah – kaidah baik berupa norma agama, norma sosial maupun norma hukum. Peran dari Kepala Sekolah adalah menyusun tata tertib sekolah, menyusun mekanisme kerja petugas tata tertib sekolah dan melakukan kontrol terhadap pelaksanaan tata tertib sekolah. Menyusun petugas tata tertib sekolah, menyusun mekanisme kerja petugas tata tertib sekolah, melakukan pengontrolan terhadap pelaksanaan tata tertib sekolah. Pegawasan terhadap tata tertib sekolah diserahkan pada Bidang Kesiswaan baik mengenai personil, penanganan sanksi dan pendataan pelanggaran – pelanggaran. Tugas BP/BK yaitu mendata file khusus yang berisi siswa yang ditangani, konsultasi, memanggil orang tua, seminggu sekali mengecek ketertiban siswa, BK/BP membuat surat skors. Macam – macam tata tertib sekolah untuk unit-unit kegiatan di sekolah itu, seperti

73

perpustakaan sekolah, laboratorium, fasilitas olah raga, kantin sekolah, dan sebagainya.

B. Pembahasan 1. Pelaksanaan Tata Tertib Sekolah Sebagai Saraan Pendidikan Moral Di Sekolah Menengah kejuruan (SMK) Negeri 5 Semarang Pendidikan adalah usaha sadar untuk membantu siswa di dalam mengembangkan pengetahuan, sikap, keterampilan sekaligus

kepribadiannya secara utuh. Sesuatu prinsip moral barulah menjadi suatu kekuatan yang mengikat (imperatif) jika mampu menumbuhkan kesediaan seseorang untuk menerimanya sebagai pemandu tingkah lakunya. Situasi moral adalah situasi di mana siswa akan memilih dan menentukan tingkah lakunya berdasar serangkaian alternatif tingkah laku. Dalam memilih dan menentukan tingkah laku yang akan diambil, seseorang akan dibimbing oleh serangkaian prinsip – prinsip atau aturan – aturan moral, yang pada hakikatnya preskripsi universal (sekedar menganjurkan atau mensugesti tingkah laku – tingkah laku yang dimaksudkan) dari tingkah laku berjustifikasi, dalam suatu proses yang bercirikan oleh pendayagunaan penalaran. Sekolah dapat membantu perkembangan moral yang tidak hanya eksplisit dalam kurikulum, tetapi juga terletak secara implisit pada situasi di sekolah tersebut. Tata tertib sekolah di samping sebagai aturan hukum yang diterapkan di sekolah, dari hasil penelitian dapat digunakan sebagai salah

74

satu sarana pendidikan moral. Tata tertib sekolah mengatur tingkah laku siswa di sekolah, otomatis tata tertib sekolah adalah sebagai suatu norma. Norma selalu terkait dengan aspek moral jadi merupakan salah satu moral yang harus dimiliki oleh siswa semisal norma agama, norma kesusilaan dan norma kesopanan. Diungkapkan H.M Saidi, Kepala Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Negeri 5 Semarang bahwa ”tata tertib sekolah disusun berdasarkan kaidah – kaidah hukum formal dan norma – norma sosial maupun norma agama” (wawancara: 29 Mei 2007). Sebenarnya hakikat pendidikan moral adalah bagaimana mengajarkan pada siswa tentang moral sendiri. Pemberian moral tersebut substansinya pada penekanan nilai – nilai kehidupan yang dihargai oleh masyarakat yang melembaga melalui norma – norma, baik norma agama, norma hukum maupun norma sosial. Nilai – nilai kehidupan adalah norma – norma yang berlaku dalam masyarakat, misalnya adat kebiasaan dan sopan santun. Dalam moral diatur segala perbuatan yang dinilai baik dan perlu diperlukan, dan suatu perbuatan yang dinilai tidak baik perlu dihindari. Tata tertib sekolah menjadi efektif karena setiap pelanggaran tata tertib sekolah mengandung sanksi. Tata tertib sekolah memiliki sifat memaksa yang di dalamnya memuat tugas dan kewajiban, larangan – larangan serta sanksi. (Djamarah, 2005:199) tujuan pemberian hukuman dalam perspektif pedagogis, sanksi berupa hukuman dilaksanakan dengan tujuan untuk melicinkan jalan tercapainya tujuan pendidikan dan pengajaran. Lebih lanjut dalam rangka

75

pembinaan

siswa,

baik

pendekatan

hukum

maupun

pendekatan

sosioantropologis kurang baik digunakan, yang tepat digunakan adalah pendekatan pedagogis. Tata tertib sekolah yang baik adalah yang mampu dilaksanakan, kriterianya membatasi atau mengikat semua siswa secara keseluruhan, tidak hanya sekedar takut pada aturan tapi membuat siswa sadar, tidak hanya larangan tapi menyadarkan anak terhadap peraturan. Mampu menyadari pentingnya tata tertib sekolah sendiri, siswa mampu melakukan tata tertib sekolah sesuai dengan kesadaran pribadi masing – masing, siswa menjadi butuh atau kebutuhan/kebiasaan dalam diri siswa. Diungkapkan Purwodarminto (Sunarto, 1994:141) moral adalah ajaran tenggang baik buruk, perbuatan kelakuan, akhlak, kewajiban dan sebagainya. Moral berkaitan dengan kemampuan untuk membedakan antara perbuatan yang benar dan yang salah. Dengan demikian moral merupakan kendali dalam bertingkah laku. Sumber acuan moral antara lain dapat berasal dari agama, adat – istiadat, hukum positif dan kodrat manusia. Pendidikan moral juga mengajarkan antara lain disiplin, otonomi diri dan interaksi dengan lingkungan. Pada prinsipnya pendidikan moral merupakan tanggung jawab setiap elemen sekolah. Karena kondisi sekolah yang kondusif akan mendukung terciptanya moral siswa yang baik. Zakiyah (Daroeso, 1986:128) mengatakan sekolah hendaknya diusahakan menjadi lapangan yang baik bagi penumbuhan dan pengembangan mental dan moral anak

76

didik,

di

samping

tempat

pemberian

pengetahuan,

pendidikan

keterampilan dan pengembangan bakat dan kecerdasan. Hendaknya segala sesuatu yang berhubungan dengan pendidikan dan pengajaran (baik Guru, pegawai, buku, peraturan dan alat – alat) dapat membawa siswa kepada pembinaan mental yang sehat, moral yang tinggi dan pengembangan bakat, sehingga siswa dapat lega dan tenang dalam pertumbuhan dan jiwanya tidak goncang. Kegoncangan jiwa dapat meyebabkan mudah terpengaruh oleh tingkah laku yang kurang baik. Tata tertib sekolah adalah ketentuan yang mengikat yang bertujuan untuk menjamin terselenggaranya proses pendidikan yang baik. Tata tertib sekolah menjadi efektif karena setiap pelanggarannya mengandung sanksi yang bersifat memaksa. Pendidikan moral adalah upaya untuk memberi motivasi, memberi keteladanan, memberi nilai – nilai tentang kaidah – kaidah/norma – norma baik norma agama, norma hukum formal, norma sosial yang semuanya ditujukan untuk membangun moral siswa. Tata tertib sekolah disusun berdasarkan kaidah – kaidah hukum formal dan norma – norma sosial maupun agama, seperti dilarang minum minuman keras, berjudi. Impelementasi pendidikan moral tercermin pada pelaksanaan tata tertib sekolah. Nilai – nilai pendidikan moral terdapat pada tingkat ketertiban siswa dalam lingkungan sekolah. Isi pendidikan moral pada tata tertib sekolah terdapat pada setiap poin yang diatur dalam tata tertib sekolah seperti. Di lingkungan sekolah mengalami bertemunya berbagai macam

77

tingkah laku siswa. Masyarakat menginginkan adanya nilai – nilai yang stabil dihargai atau dengan kata lain nilai – nilai yang diharapkan dan sesuai dengan masyarakat. Mengharapkan kestabilan beberapa tingkah laku dan kebiasaan yang telah ada di masyarakat seperti berpakaian rapi, berbicara dengan sopan dan hormat pada Guru. Sehingga diperlukan adanya pedoman dalam bertingkah laku terhadap nilai – nilai masyarkat mengenai apa yang dilarang atau diperbolehkan. Berbicara tentang nilai – nilai yang bisa ditanamkan melalui pendidikan moral, APEID – NIER Regional Project, melalui salah satu publikasinya, Moral Education in Asia (Haricahyono, 1995:403 – 404), menegaskan adanya 4 (empat) macam nilai, yaitu: a. Nilai – nilai sosial, meliputi kerjasama, kebersihan lingkungan, kebajikan, persaudaraan, keadilan sosial, menghormati orang lain, tanggung jawab sosial, persaudaraan yang mondial, menghormati martabat manusia, menghormati hak asasi manusia, dan lain – lain; b. Nilai – nilai personal, meliputi rendah hati, dapat dipercaya, disiplin, toleran, tertib, kebersihan, suka perdamaian (tenang), dan lain – lain; c. Nilai – nilai kenegaraan – mondial, meliputi kesadaran nasional, patriotisme, ketaatan kepada pemerintah, suka damai, persaudaraan, kemanusiaan, kesadaran ketergantungan antar bangsa, dan lain – lain;

78

d. Nilai – nilai prosesual, meliputi pendekatan ilmiah terhadap kenyataan, mencari kebenaran, penangguhan pengadilan, dan lain – lain. Obyek pendidikan moral yang menekankan pada Pancasila pada hakikatnya adalah nilai – nilai yang dijabarkan oleh Pancasila. Nilai – nilai tersebut mencakup nilai – nilai yang dikualifikasikan ke dalam 4 (empat) kelompok nilai di atas, yaitu nilai – nilai sosial, personal, kenegaraan – mondial, dan prosesual. Nilai – nilai itulah sebenarnya yang ingin ditumbuhkembangkan dalam diri pribadi masing – masing siswa. Pendidikan Moral Pancasila pada hakikatnya adalah pendidikan yang secara sadar ingin mengarahkan sikap dan tingkah laku siswa kearah hal – hal yang baik dan positif. Selain itu nilai – nilai kehidupan juga bisa dikembangkan dengan nilai – nilai Pancasila seperti nilai – nilai keagamaan, nilai – nilai kemanusiaan dan nilai perikeadilan, nilai – nilai estetik, nilai – nilai etik dan nilai – nilai intelektual, dalam bentuk – bentuk sesuai dengan perkembangan remaja. Pelanggaran tata tertib sekolah, merupakan pelanggaran norma hukum dan sekaligus norma moral. Tetapi norma moral dapat menjadi norma hukum, sehingga barangsiapa yang melanggarnya dapat dikenakan sanksi hukum. Norma tersebut, setelah mengalami suatu proses pada akhirnya akan menjadi bagian tertentu dari lembaga kemasyarakatan. Proses tersebut dinamakan proses pelembagaan (institutionalization) yang dimaksud ialah sampai norma itu oleh

79

masyarakat dikenal, diakui, dihargai dan kemudian ditaati dalam kehidupan sehari – hari. Sidharta (2006:77) menyatakan sebagai suatu kompleks dari nilai – nilai (sistem nilai) atau kumpulan moral, moralitas pada diri seseorang atau suatu masyarakat digunakan dalam 2 (dua) hal, yakni: a. Sebagai standar normatif evaluatif (normative standards of evaluation), dan; b. Aturan normatif perilaku (normative rules of conduct). Proses pelembagaan sebenarnya tidak berhenti sedemikian saja, akan tetapi dapat berlangsung lebih jauh lagi hingga suatu norma kemasyarakatan tidak hanya menjadi institutionalized dalam masyarakat, tetapi menjadi internalized. Maksudnya adalah suatu taraf perkembangan di mana para anggota masyarakat dengan sendirinya ingin bertingkah laku sejalan dengan tingkah laku yang memang sebenarnya memenuhi kebutuhan masyarakat. Dalam kaitan ini, nilai – nilai moral adalah nilai yang berada dalam lubuk hati serta menyatu dengan raga, yang di dalamnya menjadi suara hati atau mata hati atau hati nurani ”the conscience of man”. Menyebut suara batin itu sebagai suatu panggilan luhur hendak meningkatkan kesadaran manusia setinggi – tingginya. Suara batin ini tidak berkembang secara otomatis, tetapi harus dikembangkan melalui pendidikan sepanjang hayat terutama terhadap sosialiasi moral di lingkungan sekolah.

80

Nilai – nilai terlebih dahulu harus dikenal kemudian dihayati dan didorong oleh moral, baru akan terbentuk sikap tertentu terhadap nilai – nilai tersebut dan pada akhirnya terwujud tingkah laku sesuai dengan nilai – nilai yang dimaksud. Norma moral adalah norma untuk mengukur betul – salahnya tindakan manusia sebagai manusia. Kesadaran moral adalah kesadaran manusia tentang diri sendiri, di dalam mana kita melihat diri kita sendiri dalam berhadapan dengan baik – buruk. Dalam hal ini manusia dapat membedakan antara yang halal dan yang haram, yang boleh dan tidak boleh dilakukan, meskipun dapat dilakukan. Dalam kehidupan bersama memunculkan tata nilai atau aturan – aturan yang dianut atau diberlakukan serta harus dipatuhi oleh para anggota kelompoknya. Tata nilai tersebut tidak lepas dari penilaian baik dan buruk, benar dan salah, adil dan jahat, tertib dan tidak tertib dan sebagainya. Pelaksanaan tata tertib sekolah di Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Negeri 5 Semarang dapat dilihat pada gambar 5 yaitu:

81

Unsur Luar

Kepala Sekolah

Waka Kesiswaan STP2K

Siswa

BK/BP

Penyusunan

Penerapan

Evaluasi

Credit Poin

Tahu Moral

Perasaan Moral Tugas dan Kewajian Tindakan Moral Larangan Larangan Sanksi Tata Tertib Sekolah

Gambar 5. Pola Pembinaan Pelaksanaan Tata Tertib Sekolah

82

Pendidikan moral yang dilakukan di Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Negeri 5 Semarang antara lain disampaikan Warsito, Guru Pendidikan Kewarganegaraan dan Sejarah Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Negeri 5 Semarang ”.....melalui peringatan hari – hari besar keagamaan, sholat jum’at yang rutin dilakukan, peringatan hari – hari besar nasional, bakti sosial, donor darah dan zakat fitrah.....” (wawancara: 25 Mei 2007). Ditambahkan Warsito dalam pembelajaran di kelas dilakukan dengan memberikan contoh – contoh riil nilai – nilai moral yang ada di masyarakat ”.....misalkan pada pembelajaran cinta tanah air siswa diberikan contoh untuk menjaga kebersihan di sekolah.....” (wawancara: 25 Mei 2007). Tata tertib sekolah merupakan salah satu diantara pendidikan moral yang bersifat pencegahan atau preventif diungkapkan oleh Siti Bulqis, Guru koordinator Bimbingan Konseling Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Negeri 5 Semarang”.....tata tertib sekolah bisa dijadikan sarana pendidikan moral sebagai alat pencegahan atau preventif.....” (wawancara: 26 Mei 2007). Sebagai sarana pendidikan moral adalah suatu tindakan atau perbuatan atau situasi atau benda yang dengan sengaja diadakan untuk mencapai suatu tujuan pendidikan. Alat pendidikan yang preventif ialah alat – alat pendidikan yang bersifat pencegahan yaitu untuk mencegah masuknya pengaruh – pengaruh buruk dari luar ke dalam diri siswa. Alat pendidikan preventif diartikan sebagai jika maksudnya mencegah anak sebelum ia berbuat sesuatu yang tidak baik.

83

Tindakan pendidikan yang merupakan alat pendidikan, dapat ditinjau berdasarkan tiga sudut pandang, yaitu (Djamarah, 2005:210 – 211): a. Pengaruh tindakan terhadap tingkah laku siswa. 1). Yang bersifat positif mendorong siswa untuk melakukan serta meneruskan tingkah laku tertentu; 2). Yang bersifat negatif mendorong siswa untuk menjauhi serta menghentikan tingkah laku tertentu. b. Akibat tindakan terhadap perasaan siswa: menyenangkan siswa; tidak menyenangkan atau menyebabkan siswa menderita. c. Bersifat melindungi siswa yaitu mencegah atau mengarahkan dan memperbaiki. Salah satu materi dari tata tertib sekolah adalah mengenai norma kesopanan seperti cara berpakaian, cara masuk saat datang terlambat masuk ke kelas dan saat berkomunikasi antara Guru dan siswa. Segi norma agama dan norma hukum dalam tata tertib sekolah seperti siswa dilarang minum minuman beralkohol, judi dan berkelahi. Sudarminta (2004:114 – 117) mengklasifikasi langkah – langkah pendidikan moral di sekolah yang mau menumbuhkembangkan kecerdasan moral atau sikap dan tingkah laku yang baik dalam diri siswa memperhatikan antara lain: a. Pendidikan moral dilakukan dengan menciptakan suasana dan iklim di sekolah secara keseluruhan yang kondusif bagi sosialisasi

84

terhadap nilai – nilai moral yang mau dikenalkan dan ditumbuhkan kesadaran akan pentingnya serta penghayatannya dalam tingkah laku siswa. b. Tindakan nyata dan penghayatan hidup dari para pendidik atau sikap keteladanan mereka dalam menghayati nilai – nilai moral yang diajarkan akan dapat secara instinktif mengimbas dan efektif berpengaruh pada siswa. c. Semua pendidik di sekolah, terutama Guru, perlu jeli melihat peluang yang ada, baik secara kulikuler maupun non

ekstrakulikuler, untuk menyadarkan pentingnya sikap dan tingkah laku positif dalam hidup bersama dengan orang lain, baik dalam keluarga, sekolah, maupun masyarakat. Tata tertib sekolah dapat meningkatkan pendidikan moral bagi siswa didasarkan pada indikator tata tertib sekolah yang baik harus mampu untuk dipahami dan dilaksanakan oleh siswa. Kriteria tata tertib sekolah yang baik adalah dapat membatasi atau mengikat semua siswa secara keseluruhan, siswa tidak hanya sekedar takut pada tata tertib sekolah namun dapat membuat siswa sadar akan pentingnya bertingkah laku yang baik dan tata tertib sekolah yang baik tidak hanya memuat larangan saja akan tetapi menyadarkan siswa terhadap tata tertib sekolah. Sistem Tata Tertib Sekolah Sebagai Sarana Pendidikan Moral Di Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Negeri 5 Semarang merupakan hasil dari penggalian antara unsur – unsur kebutuhan siswa dan sekolah. Tata

85

tertib sekolah sangat perlu diadakan sebagai aturan yang harus diikuti oleh mereka dengan penuh kesadaran, bukan karena tekanan atau paksaan. Tata tertib sekolah tidak dapat ditentukan oleh kepala sekolah sendiri, atau bahkan oleh dinas pendidikan semata-mata. Tata tertib sekolah pada hakikatnya dibuat dari, oleh, dan untuk warga sekolah. Kalaupun konsep tata tertib sekolah itu telah dibuat oleh kepala sekolah atau dinas pendidikan, maka konsep itu harus mendapatkan persetujuan dari semua pemangku kepentingan di sekolah. Komite Sekolah akan lebih baik jika dimintai pendapatnya tentang tata tertib sekolah tersebut. Guru dan siswa harus dimintai pendapatnya tentang tata tertib tersebut. Orangtua pun harus memperoleh penjelasan secara terbuka tentang tata tertib sekolah itu. Pemberian sanksi pelanggaran tata tertib sekolah berdasarkan poin angka (credit poin) maksudnya setiap pelanggaran tata tertib sekolah akan diberikan poin atau bobot angka yang menunjukan kesalahan yang diperbuat. Poin atau bobot angka ini nantinya akan ditotal menjadi laporan pada tiap akhir tahun pelajaran. Bagi siswa yang telah masuk atau melebihi bobot angka tersebut akan dikenai sanksi sesuai dengan yang telah diatur dalam tata tertib sekolah. Sanksi akan diberikan sesuai dengan derajat kesalahan yang telah ditentukan dalam tata tertib sekolah. Penerapan tata tertib sekolah dengan menggunakan sistem credit poin dapat dilihat dalam 2 (dua) tipe yaitu dari sisi positif dan sisi negatif pada tabel 5 yaitu:

86

Tabel 5 Perbandingan Penerapan Sistem Credit Poin No. 1. Perbandingan Kriteria Bersifat Positif menciptakan Negatif Bersifat top down

suasana ketertiban dan kedisiplinan 2. Aturan Dibuat kesepakatan dengan Adanya sifat yang

antara membatasi dan memaksa

sekolah dan siswa 3. Sanksi Lebih spesifik tegas dan Kurang memberikan

impelementasi pendidikan cenderung ke moral sanksi

yang bersifat fisik 4. Personil Guru mudah setiap siswa penggunaan standarisasi poin akan dapat penggunaan poin yang kurang konsisten dan

mengontrol pelanggaran dengan

tegas oleh Guru dalam pendataan, sanksi akan berdampak siswa akan mengacuhkan pemberian poin tersebut

87

Penyusunan tata tertib sekolah dilakukan oleh Wakil Kepala Sekolah Bidang Kesiswaan dengan staf dipimpin oleh Kepala Sekolah dengan menerima masukan – masukan dari berbagai elemen sekolah seperti Guru Pendidikan Kewarganegaraan dan Sejarah (PKNS), Guru Agama dan Guru Bimbingan dan Penyuluhan/Bimbingan dan Konseling. Tata tertib sekolah yang baik adalah memberikan jaminan menimbulkan suasana yang kondusif sehingga mendukung

penyelenggaraan pendidikan. Mujis (2001:42) mengemukakan bahwa: School effectiveness research has long pointed to the importance of school-wide behavior policies in creating the academically oriented, high-achieving school. It can often be fruitful to involve students in the making of rules in order to encourage a sense of ownership and shared responsibility and shared responsibility over them and to involved (especially older) students in policing rules and procedures as well Seperti diketahui, bahwa tata tertib sekolah dapat menciptakan disiplin dan orientasi akademis warga sekolah pada khususnya, dan meningkatkan capaian sekolah pada umumnya (Mujis, 2001:42). Penggunaan tata tertib sekolah diharapkan dapat mengembangkan pola sikap dan tingkah laku yang lebih disiplin dan produktif dari siswa. Dengan tata tertib sekolah tersebut, siswa memiliki pedoman dan acuan dalam melaksanakan tugas dan kewajibannya dalam melaksanakan kebijakan, program, dan kegiatan sekolah. Tata tertib sekolah sangat penting sebagai aturan yang harus dipatuhi oleh peserta didik. Tata tertib sekolah apa saja yang harus dibuat itu sudah barang tentu amat ditentukan oleh kepentingan sekolah.

88

Penegakan tata tertib sekolah dengan menggunakan langkah – langkah berupa pemasangan di ruang – ruang belajar atau tempat yang strategis sehingga siswa dapat melihat dan membaca, sosialisasi tata tertib sekolah melalui kegiatan Masa Orientasi Siswa (MOS) dan pada saat upacara, pekan tata tertib sekolah, pengontrolan siswa setiap hari, sidak/pemeriksaan mendadak ke kelas – kelas, bekerjasama dengan kepolisian jika terjadi pelanggaran berat. Siswa yang menaati tata tertib sekolah dapat dikatakan mempunyai moral yang baik karena mempunyai kesadaran diri akan arti penting tingkah laku yang diperlihatkan pada pelaksanaan di sekolah. Bentuk – Bentuk Pelanggaran Tata Tertib Sekolah Sebagai Sarana Pendidikan Moral Di Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Negeri 5 Semarang adalah bersifat ringan, sedang dan berat. Kategori ringan yaitu Bentuk penegakan tata tertib sekolah untuk kasus atau pelanggaran tersebut adalah ditegur atau dinasehati dengan pembinaan secara insidental. Bentuk pelanggaran yang bersifat sedang adalah terbukti membuat/menggunakan surat keterangan ijin tidak dari orang tua/wali, sengaja melanggar aturan kebersihan corat – coret tembok dan bangku, terbukti membawa rokok dan merokok, ancaman terhadap

Guru/Karyawan. Bentuk pelanggaran yang bersifat berat antara lain bermain judi di sekolah, melakukan tindakan asusila di lingkungan sekolah, berkelahi dengan teman sekolah, mengambil barang milik sekolah atau orang lain

89

tanpa seijin pemilik, mencemarkan nama baik Guru, Karyawan maupun sekolah, terlibat perkara yang ditangani oleh Kepolisian, berkelahi dengan siswa sekolah lain sehingga melibatkan nama sekolah dan penganiayaan terhadap Guru dan Karyawan. Pemberian sanksi bisa berupa hadiah dan juga bisa berupa hukuman terhadap siswa yang melanggar tata tertib sekolah. Sanksi dilaksanakan sekolah dalam rangka komformitas dan kontrol. Sanksi adalah tanggungan berupa tindakan, hukuman dan sebagainya memaksa orang, untuk menepati janji atau menaati apa – apa yang telah ditentukan. Sanksi digunakan untuk menghukum perbuatan/tingkah laku dianggap tidak sesuai dengan norma. Stern (Djamarah, 2005:204) mengatakan bahwa pemberian hukuman memperhatikan tingkat perkembangan siswa yang menerima hukuman melalui hukuman normatif yaitu hukuman yang memperbaiki moral siswa. Dengan hukuman ini Guru berusaha mempengaruhi kata hati siswa, menginsyafkan siswa terhadap

perbuatannya yang salah, dan memperkuat kemauannya untuk selalu berbuat baik dan menghindari kejahatan. Sanksi – sanksi terhadap pelanggaran tata tertib sekolah menurut sistem credit poin menggunakan bobot sanksi dengan aturan setiap pelanggaran akan dijumlahkan untuk satu tahun pelajaran, bobot tahun sebelumnya akan diteruskan dengan perhitungan 25 % nya, siswa yang melanggar akan dibina dengan tahapan sebagai berikut tahap 1 (satu) jumlah bobot 20 siswa diberi peringatan lisan; tahap 2 (kedua) jumlah

90

bobot 50 panggilan dan pemberitahuan kepada orang tua/wali; tahap 3 (tiga) jumlah bobot 75 panggilan orang tua/wali dengan surat pernyataan; tahap (empat) jumlah bobot 120 siswa dikembalikan pada orang tua/wali. Setiap pelanggaran dengan bobot lebih besar dari 10 (sepuluh) atau melakukan pelanggaran yang sama dengan yang pernah dilakukan di samping mendapat tambahan nilai juga harus mengerjakan tugas cinta lingkungan. Sanksi yang diberikan kepada siswa yang melanggar tata tertib sekolah selain sanksi yang tertulis ada sanksi yang tidak tertulis, namun penggunaanya dengan memperhatikan sifat mendidik bagi siswa antara lain tugas membersihkan kelas, kamar mandi dan taman kelas. Sanksi akademis yaitu teguran lisan, pembinaan, dikeluarkan dari kelas, memanggil orang tua dengan Bimbingan dan Penyuluhan/Bimbingan dan Konseling. Faktor – Faktor Penyebab Pelanggaran Tata Tertib Sekolah Sebagai Sarana Pendidikan Moral Di Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Negeri 5 Semarang adalah karena dua faktor utama yaitu faktor bawaan (internal) siswa dan faktor lingkungan (eksternal) siswa. Yang termasuk dalam lingkungan internal adalah faktor yang berhubungan dengan potensi bawaan siswa itu sendiri, seperti faktor intelegensi, bakat maupun dorongan instrinsiknya atau motif. Sedangkan yang termasuk dalam lingkungan eksternal adalah lingkungan instrumental, paling tidak terdapat faktor pendidik, materi pendidikan, alat dan metode pendidikan, serta

91

sistem komunikasi antara pendidik dan siswa. Lingkungan sosial budaya, paling tidak ada akan terdapat lingkungan tempat tinggal, kondisi status sosial ekonomi keluarga, lingkungan teman sebaya (peer group), keutuhan keluarga, keharmonisan keluarga dan interaksinya dengan lingkungan masyarakat secara umum. Faktor yang bersifat internal pada diri siswa yaitu terjadi karena siswa Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) merupakan tahap fase adolesen yang mempunyai kecenderungan siswa tidak terikat pada aturan dan mencoba – coba untuk melakukan pelanggaran terhadap tata tertib sekolah. Soeparwoto (2006:62 – 63) masa remaja adalah masa umur antara 13/14 sampai 18 tahun dengan ciri – ciri: a. Periode yang penting karena berakibat langsung terhadap sikap dan tingkah laku. b. Periode perubahan sikap dan perilaku yang sejajar dengan perubahan fisik. c. Mencari identitas, pada tahun – tahun awal masa remaja, penyesuaian diri dengan kelompok masih penting, kemudian mereka mendambakan identitas diri. Kesadaran yang tumbuh di kalangan siswa tidak lepas dari bagaimana proses pendidikan siswa, pemahaman terhadap tata tertib sekolah, sikap membimbing dari Guru dan kondisi dukungan keluarga. Masalah moral yang terjadi pada proses remaja ditandai oleh adanya ketidakmampuan remaja membedakan mana yang benar dan mana yang salah. Hal ini disebabkan oleh ketidakkonsistenan dalam konsep benar dan salah yang ditemukan dalam kehidupan sehari – hari (Mugiarso, 2006:98). Terbentuknya kesadaran siswa disebabkan oleh beberapa faktor yang

92

mempengaruhi yaitu Guru, peraturan itu sendiri, keluarga dan lingkugan sekitar. Siswa Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) termasuk tahap perkembangan Autonomous Morality atau Independensi Morality dalam tingkat perkembangan Postkonvensional. Pendidikan moral yang diberikan melalui tata tertib sekolah adalah berupa kontrak sosial dibuat antara kesepakatan sekolah dan siswa dengan mempertimbangkan masukan – masukan dari berbagai pihak. Tujuannya kebijakan tersebut agar dapat diterapkan dan diterima secara umum oleh masyarakat dan siswa. Tentunya sikap dan berperilaku yang baik itu merupakan prinsip etis yang universal terhadap aturan – aturan. Tingkat kesadaran siswa untuk mematuhi tata tertib sekolah yaitu ada 3 (tiga) kategori yaitu baik, cukup dan kurang. Hal tersebut dipengaruhi oleh faktor proses pendidikan, keluarga, kedewasaan siswa, kewibawaaan Guru, kondisi sosial ekonomi keluarga dan faktor tata tertib sekolah. Dengan tata tertib sekolah diharapkan siswa mampu menyadari arti penting tata tertib sekolah, mampu melaksanakan tata tertib sekolah sesuai dengan kesadaran pribadi masing – masing siswa, menjadi suatu kebutuhan atau kebiasaan dalam diri siswa. Faktor yang kedua adalah faktor eksternal artinya bahwa tingkah laku siswa yang tidak sesuai dengan tata tertib sekolah terjadi karena unsur lingkungan di luar diri siswa terbagi lagi menjadi 3 kategori yaitu yang pertama kondisi sosial ekonomi orang tua siswa yaitu secara umum siswa

93

Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Negeri 5 Semarang mempunyai kondisi sosial hubungan dalam keluarga yang kurang nyaman. Seperti yang disampaikan oleh Romadhon siswa kelas 12 (dua belas) melakukan pelanggaran karena “di rumah orang tua kurang memperhatikan sehingga ke sekolah ingin hiburan” (wawancara: 25 Mei 2007). Dari faktor – faktor yang mempengaruhi siswa dalam bertingkah laku sesuai dengan moral pada gambar 6 sebagai berikut:

Kesadaran Diri

Lingkungan Pergaulan Moral Siswa Keluarga

Tata Tertib Sekolah

Gambar 6. Faktor – Faktor Mempengaruhi Moral Siswa

94

Selain itu, dari segi ekonomi termasuk ke dalam kategori menengah ke bawah. Diungkapkan Siti Bulqis bahwa faktor ekonomi termasuk keluarga menengah ke bawah, kemudian latar belakang pendidikan orang tua, rumah yang hanya berukuran 2 X 3 dan 3 X 3, 75 % siswa SMK N 5 Semarang termasuk golongan ekonomi menengah ke bawah. Anak sering bermain di luar, tidak kerasaan di rumah dan banyak yang rumahnya jauh bahkan ada yang dari luar kota prosentasenya 90% (wawancara: 26 Mei 2007). Kondisi ekonomi keluarga dapat diketahui melalui home visit oleh Guru Bimbingan Konseling (BK) didapatkan bahwa siswa yang sering melakukan pelanggaran tata tertib sekolah kecenderungan mempunyai kondisi ekonomi yang lemah. Mugiarso (2006:88) mengungkapkan bahwa Kunjungan Rumah (Home Visit) mempunyai fungsi untuk pemahaman dan pengentasan masalah siswa yang meliputi pengambilan data/keterangan yaitu: a. Kondisi rumah tangga dan orang tua. b. Fasilitas belajar yang ada di rumah. c. Hubungan antara anggota. d. Sikap dan kebiasaan siswa di rumah. e. Berbagai pendapat orang tua dan anggota keluarga lainnya dalam perkembangan anak dan pengentasan masalah siswa. f. Komitmen orang tua dan anggota keluarga lainnya dalam perkembangan siswa dan pengentasan masalah siswa.

95

Kondisi ekonomi keluarga turut mempengaruhi pergaulan siswa, siswa cenderung tidak merasa nyaman di rumah. Hal ini disebabkan oleh kondisi rumah yang tidak nyaman untuk ditempati, sehingga siswa cenderung mencari hiburan di luar rumah. Pergaulan dengan lingkungan luar mempunyai dampak pada sikap dan tingkah laku sehari – hari. Faktor yang lain adalah keadaan keluarga mengenai hubungan antar keluarga, ketidakcocokan dengan keinginan siswa dengan program keahlian yang dipilih. Solusi dari pihak sekolah adalah dengan memberikan beasiswa melalui BAZIS sekolah yang dikumpulkan setiap hari Jum’at. Guru dalam penanganan pelanggaran tata tertib sekolah terhadap siswa berbeda antara siswa kelas 10 (sepuluh), 11 (sebelas) dan 12 (duabelas). Mengingat perbedaan perkembangan siswa yang memiliki kelas yang lebih tinggi diungkapkan oleh Moehadjir (Daroeso, 1986:75) “semakin rendah tingkat/kelas semakin besar aspek moralnya dan semakin tinggi tingkat/kelas semakin besar aspek yuridis konstitusionalnya.....oleh karena itu aspek moral pada jenjang pendidikan yang lebih tinggi, bersifat pemeliharaan dan pemupukan”. Pemeliharaan dan pemupukan aspek moral tersebut pada kelas 12 (duabelas) seperti yang dikatakan oleh Warsito “berbeda penanganan terhadap tiap kelas, misalkan pada kelas 12 memberikan pujian…..lah nang ngono luweh ganteng, luweh bagus nek klambine dilebokna daripada ditakno…..(nah begitu kelihatan lebih bagus, kelihatan lebih baik kalau bajunya dimasukan daripada dikeluarkan)” (wawancara: tanggal 25 Mei 2007).

96

Suatu faktor yang cukup berpengaruh terhadap tingkah laku siswa di sekolah adalah hubungan orang tua dan anak di rumah. Siswa yang berasal dari keluarga yang konsisten dan mempunyai kebiasaan yang teratur memperlihatkan tingkah laku baik di sekolah. Sebaliknya siswa yang berasal dari keluarga yang sulit menanamkan kebiasan teratur di rumah memperlihatkan tingkah laku yang jelek di sekolah. Siswa yang kurang mempunyai bimbingan yang serasi, jarang bertemu dengan orang tua karena sibuk bekerja, menunjukan tingkah laku yang kurang baik. Orang tua yang mengajarkan norma – norma dan di sekolah Guru – Guru juga mengajarkan norma – norma pula maka apabila norma yang diterima siswa di sekolah adalah merupakan kelanjutan dari atau sama dengan yang diperoleh siswa di lingkungan keluarga berdampak pola hubungan keluarga dan sekolah akan selaras dan serasi (contunity). Jika sebaliknya antara di sekolah dan di rumah bertentangan atau tidak sejalan maka akan menimbulkan konflik pada diri siswa (discontunity). Konflik tersebut akan berakibat siswa mempunyai kecenderungan untuk melakukan

penyimpangan atau pelanggaran terhadap tata tertib sekolah. Goffman (Bahar, 1989:65) mengemukakan 4 (empat) macam tindakan siswa yang sering dilakukan terhadap sekolah: pertama situasional withdrawal yaitu siswa tidak menerima sanksi berupa hukuman yang diberikan sekolah pada siswa, dan siswa menentang dan bahkan mengabaikannya seperti tidak mengkuti remidiasi, tujuannya adalah agar membatalkan sanksi yang diberikan sekolah kepadanya; kedua

97

intransigence yaitu merupakan perlawanan (menentang) secara terang – terangan terhadap otorotitas sekolah atau kelas tertentu, siswa menolak untuk menerima dan mematuhi tata tertib sekolah dan melawan dengan beraksi, suatu bahaya dalam hal ini adalah bahwa siswa merasa bebas dari hukuman sekalipun mereka berbuat salah; ketiga colonization yaitu merupakan respon yang dilakukan siswa yang merasa bahwa tidak ada yang dapat mereka kerjakan di sekolah, siswa mengganggap bahwa sekolah tidak banyak membantu dalam pemenuhan keinginan dan harapan mereka, sekolah hanya sebagai tempat bermain, tempat untuk dapat bergaul dengan teman seperti lebih baik pergi ke sekolah daripada main – main di jalanan; keempat conversion yaitu siswa menerima menerima segala tata tertib sekolah seperti sekolah dengan siswanya lebih banyak laki – laki daripada wanitanya tata tertib sekolah sering dilanggar. Faktor sekolah turut serta memberikan penyebab siswa melakukan pelanggaran tata tertib sekolah yaitu ketetapan dari Kepala Sekolah yang menginstruksikan kepada Guru agar penanganan terhadap kasus atau pelanggaran tata tertib sekolah diserahkan pada Wakil Kepala Sekolah Bidang Kesiswaan yang membentuk STP2K (Satuan Tugas Pembinaan dan Penegakan Kedisiplinan) yang dibantu oleh Bimbingan Konseling (BK). Semestinya semua komponen di sekolah tutur bertanggung jawab terhadap pemberian moral yang baik terutama Guru mata pelajaran. Guru baik secara formal maupun informal memberitahu

98

tentang tata tertib sekolah dan sanksi – sanksi yang akan didapatkan siswa bila melanggar tata tertib sekolah. Faktor yang lain adalah adanya stigma dari siswa, bahwa Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Negeri 5 Semarang memiliki citra sebagai salah satu sekolah yang sering tawuran. Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Negeri 5 Semarang mempunyai sejarah negatif berupa image akan tawuran sehingga berdampak sampai sekarang persepsi itu masih melekat. Namun mulai tahun 2007 ke bawah atau sejak 3 (tiga) tahun terakhir tawuran tersebut sudah tidak ada lagi. Tawuran tersebut cenderung untuk berkurang karena disebabkan beberapa hal antara lain sudah berkurangnya aktivitas praktikum yang dilakukan di luar sekolah, adanya sanksi yang tegas dari sekolah bagi yang melakukan tawuran dikeluarkan dari sekolah, kerjasama dengan pihak Kepolisian dalam penanganan kasus atau pelanggaran tersebut. 2. Kendala – Kendala Penegakan Tata Tertib Sekolah Sebagai Sarana Pendidikan Moral Di Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Negeri 5 Semarang Unsur kendala – kendala yang dihadapi dalam penegakan tata tertib sekolah sebagai sarana pendidikan moral di Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Negeri 5 Semarang yaitu Guru dalam penegakan tata tertib sekolah kurang bisa seirama dalam penegakan tata tertib sekolah. Tergantung dari individu Guru masing – masing ada Guru yang konsisten dan ada Guru yang kadang – kadang konsisten dan adapula yang tidak

99

peduli sama sekali terhadap pelanggaran tata tertib sekolah. Kurang konsisten dari Guru menyebabkan siswa tidak menghargai teguran dari Guru. Tidak semua Guru melakukan penegakan tata tertib

sekolah/lemahnya monitoring karena yang bertugas hanya BP/BK dan Wakil Kepala Sekolah Bidang Kesiswaan. Kendala – kendala yang lain adalah adanya beberapa siswa yang memang sudah mempunyai potensi untuk melanggar tata tertib sekolah, faktor kegiatan praktik masih ada yang di luar yaitu bengkel Balai Latihan Pendidikan Teknik) sehingga kurang kontrol namun sejak tahun 2002 sekolah sudah membuat bengkel sendiri mudah dalam pengawasan siswa sehingga sekolah bisa mengawasi. Kendala – kendala yang dihadapi oleh Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Negeri 5 Semarang dalam pelaksanaan tata tertib sekolah sebagai sarana pendidikan moral terdiri dari dua unsur kendala yaitu bersifat internal dan eksternal. Kendala yang bersifat internal adalah kurang konsistennya petugas maupun Guru di dalam melaksanakan kontrol terhadap tingkah laku siswa yang melakukan pelanggaran. Kendala yang bersifat eksternal adalah diakibatkan oleh faktor luar dari sekolah seperti siswa yang dipukul terlebih dahulu oleh siswa sekolah lain. Pelanggaran tata tertib sekolah yang dilakukan oleh siswa dari hasil pengamatan mengalami penurunan dari kuantitas terutama tawuran antara sekolah. Penyebabnya adalah tindakan dari sekolah yang tegas untuk mengeluarkan siswa yang bermasalah dari sekolah. Salah satu sebab

100

frekuensi penurunan pelanggaran tata tertib sekolah disebabkan terjadi pergantian bidang kesiswaan dengan penajaman pembentukan satuan tugas STP2K yang melakukan penanganan terhadap pelanggaran tata tertib sekolah dan tegas dalam pelaksanaan tata tertib sekolah. Penghargaan atau reward dari Guru terhadap siswa yang moralnya baik adalah dengan penilaian terhadap nilai rapor yang berbeda antara siswa yang sering melakukan pelanggaran tata tertib sekolah dengan siswa yang taat pada tata tertib sekolah. Penilaian tersebut lazim sebagai penilaian afektif siswa yang tidak hanya didasarkan pada ranah kognitif saja namun Guru dalam memberikan evaluasi juga memperhatikan tingkah laku siswa. Penghargaan yang lain adalah pemberian beasiswa terhadap siswa yang kurang mampu akan diprioritaskan pada siswa yang memiliki tingkah laku atau moral yang baik dengan indikasi bahwa tidak pernah melakukan pelanggaran tata tertib sekolah. Siti Bulqis dari wawancara mengatakan siswa Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Negeri 5 Semarang yang mendapatkan beasiswa dari GAKI di kelas 10 sebanyak 148 orang, 75 % siswa merupakan dari keluraga tidak mampu (wawancara: 26 Mei 2007). Antara siswa kelas 10, 11 dan 12 dari hasil observasi dan

wawancara didapatkan perbedaan karakteristik siswa. Siswa kelas 10 cenderung untuk taat dan patuh pada tata tertib sekolah karena masih ada rasa takut dan masih mengenal lingkungan sekolahnya. Siswa kelas 11 sudah mengalami perubahan karena sudah mengenal lingkungan sekolah

101

dan tidak memikirkan ujian akhir nasional sehingga unsur coba – coba semakin besar. Berbeda dengan kelas 12 yang semakin dewasa untuk mengurangi pelanggaran tata tertib sekolah. Disebabkan Guru sudah memberikan pemahaman kepada siswa bahwa mereka nantinya akan menghadapi ujian akhir nasional. Kendala – kendala tersebut secara umum akan mencakup dari fasilitas yang dimiliki sekolah, personil yang menangani kebutuhan siswa dan implementasi tujuan pendidikan moral melalui tata tertib sekolah yang kadang kurang tepat disampaikan oleh Guru. Akibat yang ditimbulkan adalah rasa ketidakpercayaan yang dialami oleh siswa dalam melalui tahap – tahap perkembangan moral. Upaya – upaya sekolah dalam mengatasi pelanggaran tata tertib sekolah ada 3 (tiga) tahap yaitu tindakan preventif, tindakan kuratif dan tindakan represif (Soeparwoto, 2006:213). Tahap tindakan preventif yaitu berupa upaya pencegahan sebelum pelanggaran tata tertib sekolah terjadi dibedakan menjadi 2 (dua) bagian yaitu: a. Usaha pencegahan timbulnya pelanggaran tata tertib sekolah secara umum dengan langkah – langkah 1). Berusaha mengenal dan mengetahui ciri umum dan khas siswa. 2). Mengetahui kesulitan – kesulitan yang secara umum dialami oleh siswa. 3). Usaha pembinaan siswa, yang meliputi:

102

a). Menguatkan sikap mental siswa supaya mampu menyelesaikan persoalan yang dihadapinya. b). Memberikan pendidikan bukan hanya dalam

penambahan pengetahuan dan keterampila, namun juga pendidikan mental dan pribadi melalui pengajaran agama, budi pekerti dan etika. c). Menyediakan sarana – sarana dan menciptakan suasana yang optimal demi perkembangan pribadi yang wajar. d). Usaha memperbaiki keadaan lingkungan sekitar. b. Usaha pencegahan timbulnya pelanggaran tata tertib sekolah secara khusus yang dilaksanakan oleh Guru, Guru Pembimbing, atau psikolog sekolah bersama para pendidik lainnya. Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Negeri 5 Semarang dalam tindakan preventif antara lain melalui kegiatan keagamaan, nasehat setiap upacara, penyuluhan psikologi dan hukum yang bekerjasama dengan psikolog dan Polres Semarang Timur. Uapaya sekolah dalam menyadarkan siswa yang melanggar tata tertib sekolah dengan memberikan pembinaan akan tata tertib sekolah kepada siswa. Siswa mempunyai kewajiban membaca dan mematuhi tata tertib sekolah. Tahap kuratif atau rehabilitasi yaitu dilakukan setelah tindakan pencegahan lainnya dilaksanakan dan dianggap perlu mengubah tingkah laku siswa yang melanggar dengan cara membina siswa yang selalu melanggar tata tertib sekolah, baik dari Guru yang bersangkutan dengan

103

bekerjasama Bimbingan dan Penyuluhan/Bimbingan dan Konseling atau wali kelas intensif mengawasi tingkah laku siswa yang dianggap melakukan pelanggaran tata tertib sekolah. Upaya ini ditindaklanjuti dengan pemantauan khusus kepada keseluruhan siswa maupun siswa yang berpotensi untuk melakukan pelanggaran tata tertib sekolah dari unsur – unsur sekolah tersebut. Selain itu perorangan dari Guru bagi yang membolos dikumpulkan diberi pemahaman kesalahan, akibat yang ditimbulkan bila melanggar tata tertib sekolah kemudian diadministrasi atau didata diteruskan membuat surat pernyataan tidak mengulangi perbuatan dan tugas secara fisik yang bersifat mendidik. Tahap tindakan represif berupa pengambilan tindakan bagi pelanggaran yang telah berulang kali atau termasuk kategori pelanggaran berat terhadap tata tertib sekolah. Soeparwoto (2006:215) dalam usaha menindak pelanggaran tata tertib sekolah, tindakan represif dilaksanakan apabila tingkah laku siswa sudah melewati batas toleransi dari norma sosial atau kadar angka poin yang telah ditentukan oleh pihak sekolah. Di sekolah yang yang berwenang memberikan hukuman represif ini adalah Kepala Sekolah. Guru dan staf pembimbing bertugas menyampaikan data mengenai pelanggaran maupun akibatnya. Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Negeri 5 Semarang pada tahun pelajaran 2003/2004 ada 2 siswa yang terpaksa dikeluarkan dari sekolah karena tersangkut kriminal dan tawuran antar sekolah. Langkah – langkah pihak sekolah antara lain

104

memberikan peringatan secara lisan maupun tertulis kemudian memanggil orang tua ke sekolah.

BAB V PENUTUP

A. Simpulan Pendidikan moral pada intinya adalah mengajarkan dan melatih siswa terhadap kesadaran moral. Pendidikan moral selain diajarkan melalui bentuk formal dalam mata pelajaran juga dapat diberikan melalui bentuk – bentuk lain seperti adanya tata tertib sekolah. Pendidikan moral yang diajarkan dan dilatihkan tersebut disesuaikan dengan nilai – nilai identitas masyarakat atau nilai – nilai moral seperti nilai religiositas, nilai sosialitas, nilai gender, nilai keadilan, nilai demokrasi, nilai kejujuran, nilai kemandirian, nilai daya juang, nilai tanggung jawab dan nilai penghargaan terhadap lingkungan alam. Dari hasil penelitian dan pembahasan didapatkan simpulan yaitu: 1. Nilai – nilai moral tersebut harus dilembagakan melalui norma – norma/kaidah – kaidah dalam lingkungan sekolah yang disesuaikan dengan masyarakat. Tata tertib sekolah dapat menjadi sarana pendidikan moral yang mempunyai fungsi pencegahan atau preventif bagi tingkah laku siswa agar tidak melanggar atau menyimpang dari moral masyarakat. Sanksi bagi siswa yang melanggar adalah bersifat mendidik siswa terutama untuk menanamkan pendidikan moral. 2. Pelaksanaan tata tertib sekolah sebagai sarana pendidikan moral di Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Negeri 5 Semarang menggunakan sistem credit poin yaitu setiap pelanggaran tata tertib sekolah

105

106

mendapatkan

poin

tertentu.

Penggunaan

credit

poin

dengan

mempertimbangkan segi tahap – tahap perkembangan siswa dan sanksi yang mendidik. Faktor – faktor penyebab siswa melanggar tata tertib sekolah di Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Negeri 5 Semarang adalah faktor internal dan eksternal. Faktor internal dari diri siswa adalah potensi bawaan siswa itu sendiri, seperti faktor intelegensi, bakat maupun dorongan instrinsiknya atau motif. Faktor eksternal adalah lingkungan sosial budaya, paling tidak ada akan terdapat lingkungan tempat tinggal, kondisi status sosial ekonomi keluarga, lingkungan teman sebaya (peer group), keutuhan keluarga, keharmonisan keluarga dan interaksinya dengan lingkungan masyarakat secara umum. 3. Kendala – kendala utama yang dihadapi sekolah adalah kurang konsistennya Guru dalam menegakan tata tertib sekolah meliputi dari tidak secara komperehensif hanya dilakukan oleh Guru yang masih peduli terhadap moral siswa dan adanya pengaruh dari pergaulan siswa yang kurang baik. Kurangnya pengawasan dari Guru menyebabkan siswa banyak yang melakukan pelanggaran tata tertib sekolah. Upaya – upaya sekolah dalam mengatasi pelanggaran tata tertib sekolah adalah bersifat preventif, kuratif dan represif.

B. Saran Saran yang merupakan masukan yang dapat disampaikan berkaitan penelitian ini adalah:

107

1. Kepala Sekolah hendaknya terus berkomitmen dan lebih intensif mengadakan penegakan kedisiplinan siswa serta fasilitas pendukung dalam upaya menekan tingkat pelanggaran siswa terhadap tata tertib sekolah. 2. Guru hendaknya terus melakukan kontrol terhadap pelanggaran tata tertib sekolah dan meningkatkan kebersamaan guna membina kedisiplinan siswa. 3. Siswa hendaknya dengan penuh kesadaran diri untuk mematuhi tata tertib sekolah. 4. Orang tua hendaknya ikut serta melakukan pembinaan moral anaknya agar patuh dan taat terhadap tata tertib sekolah.

DAFTAR PUSTAKA

Arikunto, Suharsimi. 1990. Manajemen Pengajaran Secara Manusiawi. Jakarta: PT Rineka Cipta Arikunto, Suharsimi. 2002. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek. Jakarta: PT Rineka Cipta Bahar, Aswandi. 1989. Dasar – Dasar Kependidikan. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Daroeso, Bambang. 1986. Dasar dan Konsep Pendidikan Moral Pancasila. Semarang: Aneka Ilmu Daryanto H.M. 2001. Administrasi Pendidikan. Jakarta: PT Rineka Cipta Daryono, dkk. 1998. Pengantar Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan. Jakarta: PT Rineka Cipta Djamarah, Syaiful Bahri. 2005. Guru dan Anak Didik dalam Interaksi Edukatif. Jakarta: PT Rineka Cipta Haricahyono, Cheppy. 1995. Dimensi – Dimensi Pendidikan Moral. Semarang: IKIP Semarang Press Hasan, Iqbal. 2002. Pokok – Pokok Materi Metodologi Penelitian dan Aplikasinya. Jakarta: Ghalian Indonesia Johnson, Alvin S. 2006. Sosiologi Hukum. Jakarta: PT Rineka Cipta Kartono, Kartini. 1996. Pengantar Metodologi Riset Sosial. Jakarta: CV. Mandar Maju Koyan, I Wayan. 2000. Pendidikan Moral Pendekatan Lintas Budaya. Jakarta: Departemen Pendidikan Nasional Magnis, Frans – Suseno. 2001. Etika Politik (Prinsip – Prinsip Moral Dasar Kenegaraan Modern). Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama Marpaung, Leden. 1996. Kejahatan Terhadap Kesusilaan dan Masalah Prevensinya. Jakarta: Sinar Grafika Moleong, Lexy J. 2002. Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung: PT Remaja Rosdakarya

108

109

Mugiarso, Heru dkk. 2006. Bimbingan dan Konseling. Semarang: UNNES Press Muijs, Daniel dan Reynolds, David. 2001. Effective Teaching, Evidence and Practice. London: Paul Chapman Publishing Mulyasa, E. 2002. Kurikulum Berbasis Kompetensi. Bandung: PT Remaja Rosdakarya Mulyono. 1998. Kesadaran Berbangsa. Bandung: Angkasa Munib, Achmad dkk. 2004. Pengantar Ilmu Pendidikan. Semarang: UPT MKK Unnes Nawawi, Hadari dkk. 1986. Administrasi Pendidikan. Jakarta: Ghalia Indonesia Rachman, Maman. 1999. Strategi dan Langkah –Langkah Penelitian. Semarang: IKIP Press Salam, Burhanudin. 2000. Etika Individual Pola Dasar Filsafat Moral. Jakarta: PT Rineka Cipta Sanjaya, Wina. 2006. Strategi Pembelajaran Berorientasi Standar Proses Pendidikan. Jakarta: Kencana Sidharta. 2006. Moralitas Profesi Hukum. Bandung: PT Refika Aditama Soeparwoto, dkk. 2006. Psikologi Perkembangan. Semarang: UNNES Press Sunarto dan Agung Hartono. 1994. Perkembangan Peserta Didik. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Sutopo, H.B. 2002. Metode Penelitian Penelitian Kualitatif Dasar Teori dan Terapannya dalam Penelitian. Surakarta: UNS Press Tedjosaputro, Liliana. 2003. Etika Profesi dan Profesi Hukum. Semarang: CV Aneka Ilmu Tim Depdikbud. 1989. Disiplin Murid SMTA di Lingkungan Formal Pada Beberapa Propinsi di Indonesia. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Tim Dosen Jurusan Administrasi Pendidikan FIP IKIP Malang. 1989. Administrasi Pendidikan. Malang: IKIP Malang Press Widiastono, Tonny D. 2004. Pendidikan Manusia Indonesia (Kumpulan Artikel). Jakarta: Buku Kompas

110

PEDOMAN INSTRUMEN WAWANCARA BAGI KEPALA SEKOLAH

Nama Usia Alamat

: : :

1. Tingkah laku siswa dalam implementasi tata tertib sekolah sebagai sarana pendidikan moral di Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Negeri 5 Semarang. a. Bagaimana tingkat kedisiplinan siswa Sekolah Menengah

Kejuruan (SMK) Negeri 5 Semarang? b. Bagaimana ketertiban siswa Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Negeri 5 Semarang? c. Bagaimana kesopanan siswa terhadap guru saat di kelas maupun di luar kelas? d. Bagaimana interaksi antar sesama siswa dalam lingkungan sekolah serta terhadap masyarakat sekitar? e. Bagaimana respon orang tua terhadap pelanggaran tata tertib sekolah? f. Bagaimana kesopanan siswa dengan lingkungan masyarakat sekitar sekolah? g. Apa saja pelanggaran tata tertib sekolah yang sering dilakukan oleh siswa? 2. Pelaksanaan tata tertib sekolah sebagai sarana pendidikan moral di Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Negeri 5 Semarang. a. b. c. d. Apakah yang anda ketahui tentang tata tertib sekolah? Apakah yang anda ketahui tentang pendidikan moral? Siapakah yang bertugas menyusun tata tertib sekolah? Apakah peran kepala sekolah dalam penegakan tata tertib sekolah?

111

e. f.

Bagaimanakah tata tertib sekolah yang baik tersebut? Apakah tata tertib sekolah Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Negeri 5 Semarang sudah mengandung nilai – nilai moral?

g. h.

Apakah tata tertib sekolah dapat meningkatkan pendidikan moral? Menurut anda, bagaimana moral siswa yang diharapkan oleh Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Negeri 5 Semarang?

i.

Bagaimana sistem tata tertib sekolah yang diterapkan di Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Negeri 5 Semarang?

j.

Bagaimana penyusunan tata tertib sekolah yang dilaksanakan di Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Negeri 5 Semarang?

k. l.

Bagaimana bentuk – bentuk penegakan tata tertib sekolah? Bagaimana upaya – upaya sekolah dalam mengatasi pelanggaran tata tertib sekolah?

m. Apa saja kendala – kendala dalam penegakan tata tertib sekolah di Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Negeri 5 Semarang?

112

PEDOMAN INSTRUMEN WAWANCARA BAGI GURU PENDIDIKAN KEWARGANEGARAAN

Nama Usia Alamat

: : :

1. Tingkah laku siswa dalam implementasi tata tertib sekolah sebagai sarana pendidikan moral di Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Negeri 5 Semarang. a. Bagaimana tingkat kedisiplinan siswa Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Negeri 5 Semarang? b. Bagaimana ketertiban siswa di lingkungan sekolah? c. Apakah siswa sering tidak mengerjakan tugas yang diberikan oleh guru? d. Apakah siswa sering tawuran atau berkelahi di lingkungan sekolah? e. Bagaimana melakukan kontrol terhadap ketertiban yang sesuai dengan moral? f. Apa saja nilai – nilai moral yang diajarkan pada siswa? g. Bagaimana cara yang anda lakukan untuk memberikan nilai – nilai moral tersebut? h. Apakah tata tertib sekolah dapat meningkatkan moral siswa?apa indikatornya? i. Apa saja yang termasuk dalam pelanggaran terhadap tata tertib sekolah? j. Apa saja kategori siswa yang melakukan pelanggaran tata tertib sekolah? k. Bagaimana penegakan tata tertib sekolah pada saat kegiatan belajar mengajar? 2. Pelaksanaan tata tertib sekolah sebagai sarana pendidikan moral di Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Negeri 5 Semarang.

113

a. Apakah yang anda ketahui tentang tata tertib sekolah? b. Apakah yang anda ketahui tentang pendidikan moral? c. Apakah tata tertib sekolah dapat menjadi sarana pendidikan moral Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Negeri 5 Semarang?apa saja indikasinya? d. Apakah tata tertib sekolah Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Negeri 5 Semarang mengandung pendidikan moral? e. Bagaimana peran guru Pendidikan Kewarganegaraan dalam penegakan tata tertib sekolah? f. Apakah siswa memahami tata tertib sekolah yang dibuat oleh sekolah? g. Bagaimana pembelajaran pendidikan moral di kelas? h. Apa sanksi yang diberikan terhadap siswa yang melanggar tata tertib sekolah? i. Apa faktor – faktor pendukung tata tertib sekolah dalam implementasi pendidikan moral? j. Hal apa saja yang perlu diperhatikan dalam penyusunan tata tertib sekolah? k. Apa saja kendala – kendala dalam penegakan tata tertib sekolah? l. Bagaimana upaya mengatasi siswa yang melakukan pelanggaran tata tertib sekolah?

114

PEDOMAN INSTRUMEN WAWANCARA BAGI GURU BIMBINGAN KONSELING

Nama Usia Alamat

: : :

1. Tingkah laku siswa dalam implementasi tata tertib sekolah sebagai sarana pendidikan moral di Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Negeri 5 Semarang. a. Bagaimana tingkat kedisiplinan siswa Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Negeri 5 Semarang? b. Bagaimana ketertiban siswa Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Negeri 5 Semarang? c. Bagaimana kesopanan siswa Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Negeri 5 Semarang? d. Apa saja pelanggaran tata tertib sekolah yang sering dilakukan oleh siswa? e. Bagaimana persepsi masyarakat sekitar terhadap ketertiban siswa Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Negeri 5 Semarang? f. Apakah ada perbedaan karakteristik siswa pada setiap kelas atau jurusan dan angkatan?apa saja perbedaan tersebut? 2. Pelaksanaan tata tertib sekolah sebagai sarana pendidikan moral di Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Negeri 5 Semarang. a. Apakah yang anda ketahui tentang tata tertib sekolah? b. Apakah yang anda ketahui tentang pendidikan moral? c. Apakah tata tertib sekolah dapat menjadi sarana pendidikan moral di Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Negeri 5 Semarang?apa saja indikasinya?

115

d. Apakah tata tertib sekolah Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Negeri 5 Semarang mengandung pendidikan moral? e. Bagaimana sistem tata tertib yang diterapkan di Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Negeri 5 Semarang? f. Apakah tata tertib sekolah dapat meningkatkan pendidikan moral?apa saja indikatornya? g. Bagaimana prosedur pemberian sanksi bagi siswa yang melanggar tata tertib sekolah? h. Apakah penegakan tata tertib sekolah sering dilakukan?apa saja bentuknya? i. Apa saja peran guru bimbingan konseling dalam penegakan tata tertib sekolah sebagai sarana pendidikan moral? j. Apakah sanksi yang diberikan terhadap siswa yang melanggar tata tertib sekolah? k. Apakah pemberian sanksi membuat siswa menjadi jera untuk tidak mengulangi pelanggaran tata tertib sekolah yang sama? l. Apakah kelebihan penggunaan tata tertib sekolah sebagai sarana pendidikan moral? m. Bagaimana mengatasi siswa yang melakukan pelanggaran terhadap tata tertib sekolah? n. Apa saja motif – motif siswa melakukan pelanggaran tata tertib sekolah? o. Apa saja faktor – faktor yang menyebabkan siswa melanggar tata tertib sekolah? p. Bagaimana upaya – upaya bimbingan sekolah dalam mengatasi pelanggaran tata tertib sekolah? q. Bagaimana peran orang tua dalam masalah pelanggaran tata tertib sekolah?

116

PEDOMAN INSTRUMEN WAWANCARA BAGI SISWA

Nama Usia

: :

Kelas/Jurusan : Alamat :

1. Tingkah laku siswa dalam implementasi tata tertib sekolah sebagai sarana pendidikan moral di Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Negeri 5 Semarang a. Mengapa kamu melakukan pelanggaran tata tertib sekolah? b. Apakah kamu pernah diajak teman kamu untuk berbuat immoral? c. Apa saja pelanggaran yang kamu lakukan tersebut?berapa kali? d. Kamu melakukannya karena diri sendiri atau diajak teman? e. Apakah kamu tidak malu dengan guru tentang pelanggaraan tata tertib sekolah yang kamu lakukan? f. Apakah kamu dengan tata tertib sekolah menjadi jera untuk tidak mengulangi pelanggaran tata tertib sekolah? g. Apakah kamu merasa berat jika harus taat terhadap tata tertib sekolah? h. Apakah kamu tidak merasa malu jika orang tua kamu dipanggil ke sekolah dan guru mengatakan bahwa kamu sering melanggar tata tertib sekolah? i. Bagaimana perasaan kamu jika melihat temanmu memakai baju seragam rapi, datang ke sekolah tepat waktu dan taat pada tata tertib sekolah? j. Menurut kamu, bagaimana kedisiplinan siswa di Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Negeri 5 Semarang?

117

2. Pelaksanaan tata tertib sekolah sebagai sarana pendidikan moral di Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Negeri 5 Semarang. a. Apakah yang kamu ketahui tentang tata tertib sekolah? b. Apakah yang kamu ketahui tentang pendidikan moral? c. Apakah kamu tahu tujuan dibuatnya tata tertib sekolah? d. Apakah kamu di sekolah termasuk siswa yang mematuhi tata tertib sekolah? e. Apakah kamu dijelaskan tentang tata tertib sekolah oleh guru? f. Apakah kamu tahu kesalahan yang telah diperbuat dirimu? g. Apakah kamu dijelaskan oleh guru tentang kesalahan yang diperbuat dalam pelanggaran tata tertib sekolah? h. Apa sanksi yang diberikan guru terhadap pelanggaran tata tertib sekolah? i. Apakah penegakan tata tertib sekolah sering dilakukan oleh pihak sekolah? j. Apakah kamu pernah ditegur dan dinasehati oleh guru karena melanggar tata tertib sekolah? k. Apakah orang tua kamu sering memberi nasihat jika kamu melanggar tata tertib sekolah dari guru kamu? l. Apakah jika kamu membolos dan berkelahi tidak dimarahi oleh orang tua kamu? m. Bagaimana perasaan orang tua kamu terhadap pelanggaran tata tertib sekolah tersebut?

118

DAFTAR NAMA RESPONDEN No. 1. Nama Drs. H. M. Saidi Jabatan Kepala Sekolah Usia 53 Tahun Alamat Jl. Kendeng No. 332 2. Drs. Darmawan SB Wakil Kepala Sekolah Bidang Kurikulum 3. Drs. Heru Usadajati Wakil Kepala Sekolah Bidang Kesiswaan 4. Drs. Warsito Guru Pendidikan Kewarganegaraan dan Sejarah 5. 6. Dra. Siti Bulqis Dwi Puji B., S.Pd 7. 8. 9. Wardi Ngadiyono M. Romadhon Koordinator BP/BK Guru Pendidikan Jasmani dan Rekreasi Penjaga Sekolah Penjaga Sekolah Siswa kelas 12 57 Tahun 60 Tahun 19 Tahun Medoho Medoho Kaligawe Kampung Pondok RT 3 RW 9 10. M. Asrul Siswa kelas 11 17 Tahun Jl. Medoho RT 3 RW 4 11. Fangga Siswa kelas 10 16 Tahun Banyumanik 48 Tahun 26 Tahun Kaligarang Dr. Cipto 121 46 Tahun 44 Tahun Karangjati Ungaran Dr. Cipto 52 Tahun Dr. Cipto

119

PEMERINTAH KOTA SEMARANG DINAS PENDIDIKAN SEKOLAH MENENGAH KEJURUAN NEGERI 5 SEMARANG
Jalan Dr.Cipto 121 (024) 8416335 – 8447476 Semarang 50124

TATA TERTIB SISWA SMK NEGERI 5 SEMARANG Bahwa sesungguhnya siswa adalah warga negara yang terdidik. Oleh karena itu sudah seharusnya merupakan warga negara yang baik, loyal, tertib dan pantas dicontoh. Bahwa kehidupan siswa adalah masa yang paling baik dalam pembentukan fisik, mental dan karakter, untuk menjadi manusia pembangunan yang ber Pancasila. Bahwa sesungguhnya tata tertib siswa bukan sekedar kelengkapan sekolah, tetapi merupakan bagian dari kehidupan siswa dan merupakan kebutuhan dari siswa itu sendiri. Untuk menciptakan kedisiplinan siswa dan menekan angka pelanggaran terhadap tata tertib siswa, SMK Negeri 5 Semarang memberlakukan sangsi pelanggaran tata tertib siswa ini dalam bentuk bobot pelanggaran. Bagi siswa yang melanggar tata tertib akan dikenai bobot angka tertentu sesuai dengan ketentuan yang ditetapkan. Apabila bobot sangsi telah melampui jumlah tertentu maka pengambilan tindakan sesuai dengan ketetapan terhadap pelanggaran tata tertib ini. Maka sehubungan dengan hal tersebut di atas disusunlah pedoman tata tertib siswa SMK Negeri 5 Semarang sebagai berikut : I. KEGIATAN INTRA SEKOLAH A. WAKTU PELAJARAN BERLANGSUNG A.1. Setiap siswa wajib datang 10 menit di sekolah sebelum pelajaran dimulai pada jam 07.00 WIB, kecuali jam pelajaran yang ditentukan lain. A.2. Setiap siswa memasuki ruangan dengan teratur dan tertib.

120

A.3. Pada waktu pelajaran pertama akan dimulai dan pelajaran terakhir akan selesai, semua siswa melakukan acara berdoa yang dipimpin ketua kelas. A.4. Sebelum tiap pelajaran dimulai, semua siswa harus sudah siap mengikuti pelajaran selanjutnya. A.5. Setiap siswa wajib mengikuti pelajaran dengan baik, sopan dan patuh kepada guru. A.6. Siswa yang datang terlambat, wajib lapor guru piket.

B. WAKTU TIDAK ADA PELAJARAN B.1. Pada jam istirahat, siswa dianjurkan berada diluar kelas dan tidak diperbolehkan keluar dari halaman sekolah. B.2. Pada jam bebas, siswa tidak boleh meninggalkan halaman sekolah. Dianjurkan untuk memanfaatkan perpustakaan. B.3. Apabila guru yang bersangkutan berhalangan hadir maka ketua kelas melaporkan kepada guru piket dan ketua kelas bertanggungjawab pada ketenangan serta ketertiban kelas.

II. KEGIATAN ESKTRA KURIKULER A. Kegiatan Ekstra Kurikuler A.1. Setiap siswa wajib menjadi anggota OSIS A.2. Setiap siswa dianjurkan mengikuti kegiatan ekstrakurikuler yang diselenggarakan oleh sekolah.

B. Upacara Bendera B.1. Setiap siswa wajib mengikuti upacara bendera di sekolah B.2. Pada saat upacara bendera setiap siswa wajib memakai seragam OSIS lengkap kecuali ditentukan lain. B.3. Setiap siswa wajib menjaga agar pelaksanaan upacara bendera berlangsung tertib, khidmat dan lancar.

121

C. Bimbingan dan Konseling C.1. Setiap siswa yang mempunyai maslaah-masalah pada dirinya dianjurkan untuk berkonsultasi dengan guru pembimbing (bimbingan dan konseling ) C.2. Setiap siswa wajib memberikan keterangan-keterangan yang dipelrukan dengan sebenar-benarnya. C.3. Setiap permasalahan yang dialami oleh siswa akan dipegang teguh kerahasiaannya.

D. Ketertiban dan Kebersihan D.1. Setiap siswa wajib menjaga kebersihan lingkungan sekolah D.2. Setiap siswa wajib menjaga keindahan lingkungan sekolah D.3. Setiap siswa wajib menjaga keutuhan barang-barang milik sekolah

III. TATA TERTIB KHUSUS A. OLAH RAGA A.1. Setiap siswa harus berpakaian seragam olah raga yang telah ditentukan dan bersepatu. Apabila tidak memakai seragam maka tidak boleh mengikuti pelajaran tersebut pada saat itu. A.2. Piket kelas bertanggungjawab atas alat-alat olah raga yang digunakan. A.3. Dilarang menggunakan alat-alat olah raga tanpa izin guru olah raga A.4. Setiap siswa wajib menghormati dan menjunjung tinggi jiwa olah raga A.5. Setiap siswa wajib mentaati peraturan permainan dan petunjuk guru

122

B. LAIN-LAIN B.1. Setiap siswa wajib menjaga nama baik sekolah, baik di lingkungan sekolah maupun diluar sekolah. B.2. Setiap siswa tidak diperkenankan membawa atau merokok di lingkungan sekolah, serta makan/minum di dalam kelas. B.3. Setiap siswa tidak boleh membawa barang-barang terlarang disekolah antara lain : Senjata tajam, ganja, narkotik dan sejenisnya, minuman keras, buku/majalah dan alat-alat yang asusila, serta uang dalam jumlah banyak. C. MENINGGALKAN SEKOLAH / TIDAK MASUK SEKOLAH C.1. Setiap siswa pulang sekolah setelah jam pelajaran usai. C.2. Bila akan meninggalkan sekolah waktu pelajaran belum selesai, wajib minta izin kepada guru pengajar dan guru piket. Yang diizinkan adalah : a. Siswa yang sakit b. Ada suatu keperluan yang tak dapat ditinggalkan yang dibuktikan dengan surat keterangan orang tua/wali c. Untuk keperluan resmi / dispensasi C.3. Siswa yang sakit pada saat mengikuti pelajaran, diberi izin untuk berobat ke UKS, ke puskesmas atau istirahat di rumah. C.4. Siswa yang berhalangan hadir harus minta izin dengan surat keterangan / surat pemberitahuan. D. KEAMANAN DI SEKOLAH D.1. Setiap siswa wajib memiliki alat-alat pelajaran dengan lengkap D.2. Siswa yang membawa kendaraan atau sepeda motor wajib mematikan mesin saat memasuki pintu gerbang/pintu parkir di tempat yang telah disediakan serta dikunci. Apabila terjadi kerusakan/kehilangan sepda motor, helm, maka resiko ditanggung siswa sendiri. D.3. Setiap siswa wajib menjaga keselamatan hak milik sendiri.

123

E. PAKAIAN DAN CARA BERDANDAN E.1. Setiap siswa wajib berpakaian seragam sesuai ketentuan sekolah lengkap dengan badge dan atribut yang terdiri dari : Bagde OSIS, Badge Lokasi Sekolah. E.2. Pada saat praktek mengenakan pakaian praktek yang telah ditentukan. E.3. Wajib bersepatu hitam tidak boleh memakai sepatu sandal dan sejenisnya. Wajib memakai kaos kaki yang panjang minimal di atas mata kaki dan memakai ikat pinggang. E.4. Setiap siswa putrid tidak diperbolehkan memakai perhiasan dan berdandan yang berlebihan. Untuk siswa putra tidak diperbolehkan memakai gelang, kalung, anting dan perhiasan. E.5. Setiap siswa wajib mengatur rambut, kuku dan pakaian dengan rapi dan bersih, baju dimasukkan, siswa putra tidak boleh berambut panjang, sekurang-kurangnya 1,5 cm di atas kerah baju. E.6. Pada saat pelajaran Olah Raga siswa wajib mengenakan pakaian olah raga dengan baik, menjunjung tinggi sportivitas dan menaati peraturan yang berlaku. F. TERTIB ADMINISTRASI F.1. Setiap siswa wajib membayar Uang BP3 dan Iuran lain yang ditentukan sekolah selambat-lambatnya tanggal 10 setiap bulannya. F.2. Buku rapor harus ditandatangani orang tua/wali masing dan segera dikembalikan kepada wali kelas. F.3. Setiap siswa tidak diperbolehkan melakukan kegiatan-kegiatan yang mengganggu ketenangan dan ketertiban sekolah. F.4.Setiap siswa yang tidak naik tingkat dua kali berturut-turut dikeluarkan dari sekolah. F.5. Setiap siswa tidak diperbolehkan menikah selama menjadi siswa.

124

G. P E N U T U P A. Segala sesuatu yang belum tercantum dalam tata tertib ini akan ditentukan kemudian B. Setiap siswa diwajibkan memiliki, memahami, mengingat, menghayati serta melaksanakan Pedoman Tata Tertib ini.

Ditetapkan di : SEMARANG Tanggal : 18 Juli 2005

Kepala Sekolah,

Drs. H.M. Saidi NIP.130935750

125

Pola Umum Bimbingan dan Konseling SMK Negeri 5 Semarang

BK

Bimbingan Pribadi

Bimbingan Sosial

Bimbingan Belajar

Bimbingan Karier

Layanan Orientasi

Layanan Penempatan/ Penyaluran

Layanan Konseling/ Individual

Layanan Konseling Keluarga

Layanan Informasi

Layanan Pembelajaran

Layanan Bimbingan Kelompok

Instrumentasi BP/BK

Konferensi kasus

Alih Tugas Kasus

Himpunan Data

Kunjungan Rumah

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->