P. 1
Hukum Hutang Piutang Terlengkap

Hukum Hutang Piutang Terlengkap

|Views: 4,697|Likes:
Published by Ahmad Afandi

More info:

Published by: Ahmad Afandi on Aug 29, 2010
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

07/04/2013

pdf

text

original

HUKUM HUTANG PIUTANG

PENULIS:

ABU ANAS SAYYID BIN RAJAB

PENERJEMAH:

AHMAD AFANDI
(Mahasiswa Fakultas Syari’ah dan Hukum UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. E-mail: fandi_rrr@yahoo.com, cp: 085743904236/ 085292134678. Penerjemah terbuka untuk berdiskusi seputar Hukum dan Hukum Islam)

Pengantar:

Abu Abdillah bin al-‘adawi

KATA PENGANTAR ‫بسم ا الرحمن الرحيم‬ Segala sanjung puji kepada Allah SWT Tuhan alam semesta, rahmat dan kesejahteraan semoga selalu tercurahkan pada rasulullah SAW. Buku yang berada di tangan saudara ini adalah buku yang sangat penting dalam diskursus hukum hutang-piutang. Buku ini di susun oleh Sayyid bin Rajab, salah seorang yang sangat berkompeten dalam bidang ini. Semoga Allah Awt membalasnya dengan kebaikan. Dalam paparannya, Sayyid bin Rajab membahas menurut pandangan fiqh dan hadits sekaligus, yakni memberikan ketentuan berdasarkan hadits bila dirasa benar dan sesuai, serta mengutip pendapat para fuqaha’ dan menjelaskan dalil (al-Qur’an dan alHadits) yang perlu diberi penjelasan. Saya telah menelaah kembali buku ini, dan saya yakin buku ini akan banyak memberikan manfaat. Hanya bagi Allah SWT segala sanjung puji, hanya kepadanya saya memohon kemanfaatan buku ini, dan semoga Allah SWT menjadikan kita semua termasuk dalam golongan orang-orang saleh. Ya Allah, limpahkanlah rahmat dan kesejahteraan kepada junjungan nabi besar Muhammad SAW, keluarga, dan para sahabatnya. Amin.

Abu Abdillah Musthafa bin al-‘Adawy

PENGANTAR PENULIS

Puji syukur ke hadirat Allah SWT kami persembahkan. Memohon pertolongan dan ampunan kepada-Nya. Kami berlindung kepada Allah dari keburukan diri dan amal kami. Siapa yang diberi petunjuk oleh Allah, maka tiada yang dapat menyesatkannya. Dan siapa yang dipalingkan, maka tiada penolong baginya. Saya bersaksi tiada tuhan selain Allah, dzat Yang Maha Esa, tiada sekutu bagi-Nya. Dan saya bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya, orang terpilih dari segenap makhluk dan kekasih-Nya, penyampai risalah dan pelaksana amanat-Nya dengan paling sempurna, pemberi segala bentuk nasehat dan pejuang sejati di jalan Allah sampai akhir hayatnya. “Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dengan sebenarbenar takwa kepada-Nya; dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam.” (Ali ‘Imran : 102) “Hai sekalian manusia, bertakwalah kepada Tuhan-mu yang telah menciptakan kamu dari seorang diri, dan dari padanya Allah menciptakan isterinya; dan dari pada keduanya Allah memperkembang biakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. dan bertakwalah kepada Allah yang dengan (mempergunakan) namaNya kamu saling meminta satu sama lain, dan (peliharalah) hubungan silaturrahim. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan Mengawasi kamu.” (AnNisa’: 1) “Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kamu kepada Allah dan katakanlah perkataan yang benar, niscaya Allah memperbaiki amalanamalanmu dan mengampuni dosa-dosamu. dan barang siapa mentaati Allah dan Rasul-Nya, maka sesungguhnya ia telah mendapat kemenangan yang besar.” (Al-Ahdzab : 70-71) Eksistensi agama Islam terletak pada tiga unsur. Pertama, ibadah. Firman Allah : “Dan tidaklah aku menciptakan jin dan manusia kecuali agar mereka beribadah kepadaku” (Adz-Dzariyat: 56) Kedua, akhlak. Sabda Nabi SAW : “Sesungguhnya aku diutus untuk

menyempurnakan akhlak yang mulia.”1 Ketiga, muamalat. Firman Allah : “Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu bermu'amalah tidak secara tunai untuk waktu yang ditentukan, hendaklah kamu menuliskannya. dan hendaklah seorang penulis di antara kamu menuliskannya dengan benar” (Al-Baqarah: 282) Harta termasuk salah satu dari lima hal yang wajib dijaga (dlaruratul khamsi). Sebab, harta merupakan penopang bagi kehidupan manusia. Oleh karena itu, Allah SWT melarang perusakan terhadap harta. Allah berfirman : “Dan janganlah kamu memberikan harta yang menjadi penopang hidupmu pada orang-orang yang dungu.” Nabi bersabda : “Seungguhnya Allah membenci perbuatan ghibah, melenyapkan harta, dan banyak bertanya.” Dalam hadits ini, Nabi SAW menyebut bahwa Allah juga membenci perusakan terhadap harta. Allah berfirman : “Dan janganlah kamu memakan harta di antara kamu dengan bathil.” Karena peran harta sangat penting dalam kehidupan manusia, Allah SWT mengatur pengelolaan harta antar setiap individu masyarakat dan memeberikan pahala yang besar bagi orang yang membelanjakan hartanya pada hal-hal yang diperintahkan Allah atau bagi orang yang mengelola hartanya sesuai dengan perintah Allah SWT. Allah SWT mengetahui akan tabi’at dan kecintaan manusia pada harta dan betape mereka sangat ingin memperolehnya. Allah berfirman : “Dan kamu mencintai harta benda dengan kecintaan yang berlebihan.” (Al-Fajr: 20) “Dan sesungguhnya dia sangat bakhil karena kecintaannya kepada harta.” (Al-‘adiyat : 8) Allah telah banyak menegaskan tabiat manusia ini dalam al-Quran. Tetapai terkadang kecintaan manusia terhadap harta melampaui batas kewajaran, sehingga membuatnya menjadi kikir, enggan bersedekah pada fakir miskin, enggan
1 Hasan. HR. Bukhari, al-Adab al-Mufarrad, hal. 273, HR. Ahmad Vol. 2, hal.318. dan HR. Hakim Vol. 2, hal.613.

memberikan pinjaman pada orang yang membutuhkan, dan jauh dari amal kebaikan. Manusia juga terkadang menjadi budak harta, ketamakan membuatnya terjerumus dalam riba dan membuatnya menjadi orang yang merugi di dunia dan akhirat. Salah seorang penafsir al-Quran menemukan bahwa ayat terpanjang dalam al-Quran adalah ayat yang menjelaskan tentang hutang-piutang. Ayat tersebut berbicara tentang tatacara pengelolaan hutang-piutang. Barangkali saudara sepakat dengan saya bahwa hutang-piutang merupakan perkara yang sangat penting, karena ia tidak bisa lepas dari kehidupan manusia. Suatu saat seseorang berhutang dan di saat yang lain dia memberi hutang, bahkan terkadang dua perkara ini tidak dapat dipisah selamanya. Karena sangat pentingnya diskursus ini dan alasan lain, maka sudah sepantasnya pembahasannya dikhususkan. Saya tidak menemukan karangan yang secara khusus membahas hutang-piutang, padahal diskursus ini banyak tersebar dalam kitab-kitab fiqh ternama. Oleh karena itu, dengan senang hati saya menyusun dan mensistematiskan pembahasan dalam sebuah buku, agar dapat memberi kemudahan bagi para penuntut ilmu dan kaum muslimin pada umumnya untuk mengetahui diskursus hutang-piutang secara mendalam. Dalam buku ini, saya mengikuti langkah para ahlul hadits, yakni dengan membubuhkan dalil nash, menganalisis, dan menerapkannya secara benar dan sesuai, kemudian diikuti dengan pendapat sahabat, tabi’in, empat imam dan ulama lain yang dikenal kepandaian dan keutamaannya. Buku ini terlebih dahulu saya serahkan pada Syaikh Abu Abdillah Musthafa bin al-‘adawi untuk ditelaah, dan sebagaimana biasa, beliau sangat loyal memberikan nasehat dan bimbingan. Semoga Allah SWT membalasnya dengan kebaikan, memberkatinya atas waktu yang beliau luangkan dan menjadikannya sebagai timbangan amal kebaikan. Hanya kepada Allah SWT saya memohon agar semua muamalat yng dilakukan kaum muslimin sesuai dengan syariat-Nya dan sunah Nabi SAW. Ya Allah, curahkanlah rahmat, kesejahteraan dan keselamatan kepada junjungan Nabi Muhammad, keluarga dan para sahabatnya. Amin. Mesir-Daqhaliyah-Balqos Abu Anas Sayyid bin Rajab

PENDAHULUAN Definisi Dain Dain adalah harta yang diberikan seseorang kepada orang lain yang berkepentingan memenuhi kebutuhannya dengan kewajiban mengembalikannya sesuai batas waktu yang telah disepakati antara keduanya. Orang yang memberikan hartanya disebut : DAIN (Pemberi Piutang) Orang yang menerima harta disebut : MADIN/MADYUN (Penerima Hutang) Dan harta yang ditransaksikan disebut : DAIN (Hutang) Hutang-piutang adalah transaksi harta benda antara dua orang atau lebih. Salah seorang memberikan harta tertentu kepada yang lain. Dengan harta tersebut orang itu dapat memenuhi kebutuhannya dan mengambil manfaat darinya, dan wajib mengembalikan sesuai batas waktu yang telah disepakati. Etimologi Pernyataan –‫فلنا‬

‫داينت‬

-“Saya memberikan pinjaman hutang pada si anu”, adalah

bermakna: saya bertransaksi dengannya, memberinya hutang, dan mencari hutangan darinya. Hal ini berdasarkan pada perkataan seorang penyair: “Saya memberi hutang pada Arwa, hutang-hutangnya dulu telah dia lunasi. Dengan demikian, dia sedang menanggung sebagian hutang dan telah melunasi sebagian yang lain” Abu Ubaid berkata :

‫دنت الرجل‬

, artinya : saya memberi hutang pada orang itu.

Maka orang itu disebut madin (‫ )مدين‬atau madyun (‫ .)مديون‬Pernyataan lain yang sering digunakan adalah: ‫منه‬

‫( استقرضت‬saya mencari hutangan darinya).

Al-Ahmar berkata : “Kami memberikan hutang pada orang lain, kemudian Allah memenuhi kebutuhan kami. Karena kami pernah melihat kebinasaan suatu kaum sebab mereka tidak menjadikan ladang mereka sebagai barang hutangan.” Menurut mereka, dengan ‫.أقرضت‬

‫ت‬gg‫ دن‬sama

artinya dengan

‫ت‬gg‫ استقرض‬dan ‫ت‬gg‫ أدن‬sama

artinya

Menurut Ibnu Sayyidihi2, sampai batas waktu tertentu. Abu Dzuaib berkata :

‫ت‬gg‫ل وأدن‬gg‫ت الرج‬gg‫ دن‬berarti

memberi hutang kepadanya

“Generasi terdahulu memberi piutang dan memberitahukan bahwa orang yang berhutang adalah orang yang kaya dan berkecukupan.” Ada yang mengatakan bahwa ‫ دنته‬berarti ‫ أقرضته‬dan ‫ أدنته‬adalah ‫منه‬ Menurut Al-Jauhari, orang yang berhutang (‫مديون‬ hutangnya. Disebut

‫.استقرضت‬ ‫أدان‬

‫ )رجل‬adalah orang yang banyak

‫مديان‬

apabila kebiasaannya adalah menarik hutang. Pernyataan

‫ة‬gg‫ فلن ادان‬berarti
Makna dari

Fulan telah menjual barang kepada suatu kaum sampai batas waktu

tertentu, sehingga Fulan memiliki hutang kepada mereka.

‫القرض‬

adalah : pemberian hutang seseorang berupa mata uang emas

atau perak, biji-bijian, kurma, anggur, dan barang-barang lain yang serupa. Terminologi Dain (hutang-piutang) adalah : barang yang menjadi tanggungan seseorang ketika melakukan transaksi. Barang tersebut dapat berupa mata uang3 atau perkakas4, baik ditentukan atau tidak5, tetapi harus sebanding dengan barang yang dihutangkan. Menurut an-Nawawi ra dalam kitab Raudlah at-Thalibin (Hal. 169 dan 172), “Harta yang menjadi hak seseorang ketika berada dalam tanggungan orang lain adalah berupa ‘ain (‫ )عين‬dan dain (‫ .)دين‬Yang dimaksud ‘ain adalah dua hal, yakni amanat dan jaminan. Dan yang dimaksud dain (apabila berada dalam tanggungan seseorang) adalah tiga hal, yakni mutsamman (‫ ,6)مثمن‬tsaman (‫ 7)ثمن‬dan selain keduanya.

2 Lisan al-Arab Vol. 4 hal. 409, 459, 460. 3 Emas dan perak. 4 Seperti pakaian dan perabotan rumah. 5 Rad al-Mukhtar, vol. 5, hal. 152. 6 Barang yang pesan dalam akad salam. 7 Yang dimaksud dengan tsaman adalah mata uang emas dan perak. Lihat Rad al-Mukhtar vol. 5, hal.152.

KEUTAMAAN MEMBERI HUTANG Memberi Hutang Lebih Utama dari pada Bersedekah : Diriwayatkan dari Baridah ra, saya mendengar Rasulullah SAW acapkali bersabda, ”Siapa yang memberi penangguhan hutang bagi orang yang kesulitan, maka dia memperoleh pahala sedekah setiap hari sesuai jangka waktu penangguhannya.” Katanya lagi, “Kemudian saya mendengar Rasulullah SAW acapkali bersabda, “Siapa yang memberi penangguhan hutang bagi orang yang kesulitan, maka dia memperoleh pahala sedekah setiap hari, dua kali lipat dari jangka waktu penangguhannya.” Saya berkata, “Ya Rasulallah, saya mendengar engkau acapkali bersabda, “Siapa yang memberi penangguhan hutang bagi orang yang kesulitan, maka dia memperoleh pahala sedekah setiap hari sesuai jangka waktu penanggguhannya.” Dan saya juga mendengar engkau acapkali bersabda, “Siapa yang memberi penangguhan hutang bagi orang yang kesulitan, maka baginya pahala sedekah setiap hari, dua kali lipat dari jangka waktu penangguhannya.” Kemudian Rasulullah bersabda pada Baridah ra, “Dia memperoleh pahala sedekah setiap hari apabila hutang belum jatuh tempo (belum tiba saatnya pengembalian), dan apabila sudah jatuh tempo (tiba saatnya pengembalian) kemudian dia menangguhkannya, maka baginya pahala sedekah setiap hari dua kali lipat dari jangka waktu penangguhannya.”8 Memberi Hutang Sama Halnya dengan Membebaskan Budak Diriwayatkan dari Al-Barra’ bin ‘Adzib ra, “Saya mendengar Rasulullah SAW acapkali bersabda: Siapa yang memberi hutang berupa mata uang, susu, atau menghadiahkan jalan setapak, maka sama halnya dia telah membebaskan budak.”9 Abu Isa at-Tirmidzi mengatakan (As-Sunnah 4/341), “Hadits ini adalah hadits hasan shahih gharib dari hadits riwayat Abu Ishaq. Dan redaksi hadits yang tertera di atas adalah riwayat an-Nu’man bin Basyir.10 Makna dari hadits yang memberi hutang berupa dirham.”

‫ا‬g‫ من منح منيحة ورق انم‬adalah, “Siapa

8 Shahih. HR. Ahmad, vol. 5, hal.360, dan HR. Ibn Majah, hal. 2418. 9 Shahih. HR. Ahmad, vol. 4, hal.275, dan HR. Tirmidzi, hal. 1957. 10 HR. Ahmad, vol. 4, hal.272.

KEUTAMAAN BERTRANSAKSI DENGAN BENAR DAN PENANGGUHAN HUTANG BAGI ORANG YANG KESULITAN

“Dan jika (orang yang berhutang itu) dalam kesukaran, maka berikanlah penangguhan sampai dia berkelapangan. Dan menyedekahkan (sebagian atau semua utang) itu, lebih baik bagimu, jika kamu Mengetahui.” Ath-Thabari11 mengatakan, “Konteks yang benar dari ayat“ ‫ى‬gg‫رة ال‬gg‫رة فنظ‬gg‫ان ذو عس‬gg‫وان ك‬ ‫ ” ميسرة‬bahwa yang dimaksud dalam ayat ini adalah orang-orang yang berhutang dan telah masuk agama Islam, mereka mempunyai banyak hutang sebab praktik riba yang mereka melakukan pada masa jahiliyyah. Islam lalu datang sebelum mereka sempat menyelesaikan perkara hutang-piutangnya. Allah SWT memerintahkan agar sisa praktik riba yang telah mereka lakukan dulu tetap dalam haknya masing-masing. Orang yang berhutang hanya dituntut untuk mengembalikan pokok harta tanpa menyertakan bunganya bila sudah memiliki kemampuan membayar hutang. Demikianlah ketentuan bagi orang yang pernah melakukan praktik riba sebelum keislamannya. Islam memerintahkan agar pemberi hutang menggugurkan bunga hutang yang berasal dari praktik riba yang terjadi sebelum Islam datang. Jika orang yang berhutang berkelapangan, dia hanya harus mengembalikan pokok harta tanpa bunganya. Jika dia dalam kesulitan maka pemberi hutang harus memberikan penangguhan pembayaran hutang baginya. Mereka adalah orang yang diberi keutamaan oleh Allah sesuai firman-Nya di atas. Ketentuan Allah tentang penangguhan hutang bagi orang yang kesulitan dan keringanan dengan hanya harus membayar pokok hutang tanpa bunga yang berasal dari praktik riba yang mereka lakukan sebelum masuk Islam, adalah ketentuan wajib bila sudah jatuh tempo (tiba saatnya pengembalian hutang). Namun demikian, bila hanya diberi penangguhan sampai berkelapangan, orang yang mempunyai hutang akan tetap merasa kesulitan, karena hutang yang dia tanggung dan harus dia bayarkan akan tergantung pada kondisi pemberi hutang. Oleh karena itu, apabila hartanya habis, pemberi hutang tidak bisa menuntutnya untuk dihukum penjara dan tidak memperbolehkannya melakukan praktik jual-beli lagi. Kesulitan tersebut terjadi karena harta orang yang berhutang tidak akan lepas dari salah satu dari tiga bentuk pemegangan harta, yakni pertama, harta orang yang berhutang
11 Jami’ al-Bayan, vol. 3, hal.112.

dipegang oleh pemberi hutang, kedua, dipegangnya sendiri dan dengan harta tersebut dia membayarkan hutangnya, dan ketiga, harta dia pegang dengan penguasaan penuh. Jika harta dia pegang dengan penguasaan secara penuh, maka hutangnya menjadi gugur apabila hartanya tersebut habis. Inilah pendapat yang seharusnya diambil agar orang yang mempunyai hutang tidak lagi menemui kesulitan, tetapi tidak ada seorang pun yang berpendapat seperti ini. Jika dipegangnya sendiri, maka hutang kepada pemilik harta menjadi gugur apabila harta tersebut habis sekalipun dia terlambat membayar atau sedang dalam proses pencicilan hutangnya. Lagi-lagi tidak ada seorang pun yang berpendapat seperti ini. Titik terang akan muncul bila kita telah mengetahui dua bentuk tanggungan terakhir, yakni yang kedua dan ketiga. Oleh karena itu, untuk bentuk tanggungan yang pertama, yakni bila harta orang yang berhutang dipegang oleh pemberi hutang, maka tidak ada alasan bagi pemberi hutang untuk memegangnya kembali apabila harta tersebut telah habis di tangannya. Karena harta yang seharusnya dipakai untuk melunasi hutang orang yang berhutang telah habis. Karena tidak ada alasan bagi pemberi hutang untuk memegang dan menguasai harta kembali, maka dia tidak berhak untuk menuntut agar orang yang berhutang dipenjarakan, karena tidak terdapat satu alasan pun untuk memenjarakannya, sebab dia tidak membuat-buat alasan untuk menghindari pelunasan hutang. Tetapi jika dia lalai sehingga pelunasan tidak urung dilaksanakan, maka hal ini dapat menjadi alasan menuntutnya untuk dipenjarakan. Dalam menakwilkan ayat

‫ون‬ggg‫م تعلم‬ggg‫م ان كنت‬ggg‫ر لك‬ggg‫دقوا خي‬ggg‫, وأن تص‬

Ath-Thabri ra

mengatakan bahwa yang dimaksud adalah: “Bersedekahlah, karena bersedekah itu merupakan keutamaan dan perbuatan yang mulia. Karena bersedekah dengan hanya menuntut pokok harta dari hutang mereka yang tertimpa kesulitan adalah lebih baik bagimu dari pada menangguhkan pembayaran seluruh hutang (yakni dengan bunganya sekaligus) sampai dia berkelapangan. Agar dia merasa berkelapangan dengan hanya membayar pokok hutang. Hal ini apabila kamu mengetahui letak keutamaan sedekah. Allah akan memberikan banyak pahala bagi orang yang memberi keringanan bagi orang mempunyai hutang padanya.

ORANG YANG MENANGGUHKAN PEMBAYARAN HUTANG PADA ORANG YANG KESULITAN, MAKA ALLAH AKAN MEMBERINYA NAUNGAN PADA HARI YANG TIDAK ADA NAUNGAN KECUALI NAUNGAN-NYA Diriwayatkan dari Ubadah bin al-Walid bin Ubadah bin as-Shamat, “Dalam hidup ini, saya dan ayah saya menuntut ilmu dari orang-orang Anshar sebelum mereka tiada. Orang pertama yang kami temui adalah Abu al-Yasar, salah seorang sahabat Rasulullah SAW. Beliau sedang bersama seorang budaknya yang memegang kumpulan kertas. Abu al-Yasar kelihatan marah penuh emosi, begitu pula budaknya. Lalu ayah saya berkata padanya, “Wahai Paman, saya melihat wajahmu kemerah-merahan sebab emosi.” Abu al-Yasar menanggapi, “Fulan bin Fulan tidak melunasi hutangnya padaku, padahal sudah jatuh tempo (tiba waktunya melunasi hutang).” Mendengar hal itu, saya bergegas mendatangi keluarga si Fulan yang dimaksud, “Di mana Fulan?”, tanyaku pada keluarganya. “Tidak ada”, jawab mereka. Kemudian seorang anak keluar dengan menuntun kambing berumur empat bulan, “Di mana ayahmu?” tanyaku padanya, “Beliau bersembunyi di balik tempat duduk setelah mendengar suaramu.” ”Keluar dan menghadaplah padaku, saya sudah mengetahui keberadaanmu”, kata saya. Kemudian dia keluar. “Apa yang membuat kamu bersembunyi dariku?”, tanyaku. “Demi Allah, saya takut, saya akan menceritakan padamu dan sekali-kali saya tidak akan berbohong. Demi Allah, saya akan ceritakan, saya akan berbohong padamu sampai beberapa kali sampai saya sanggup mengganti hutang itu. Saya adalah sahabat Rasuluulah SAW. Demi Allah, saya sedang tertimpa kesulitan.” “Demi Allah?”, tanyaku. “Demi Allah” “Demi Allah?”, tanyaku lagi. “Demi Allah” “Demi Allah?”, tanyaku lagi. “Demi Allah. Abu al-Yasar datang dengan membawa kertas, lalu dia merobeknya seraya berkata padaku, “Periksalah, jika kamu mendapati bahwa batas waktumu telah habis,

maka lunasilah. Jika kamu tidak dapat melunasi, maka hutangmu akan kuanggap lunas. Kemari, lihatlah kedua mataku ini (seraya menunjuk kedua matanya dengan dua jari, atau kalau tidak salah dia mengatakan, “Lihatlah Dua telingaku ini”), Rasulullah SAW telah menyadarkan hatiku ini (seraya menunjuk bagian tubuh yang menjadi letak hatinya), beliau acapkali bersabda, “Siapa yang menangguhkan hutang bagi orang yang kesulitan atau meringankan nominal pembayarannya, maka Allah akan menempatkan dia dalam naunganNya.12 Diriwayatkan dari Abdullah bin Abi Qatadah, bahwa Abu Qatadah ra mencari-cari orang yang mempunyai hutang padanya. Orang itu lari bersembunyi, tetapi kemudian Abu Qatadah menemukannya. “Saya sedang tertimpa kesulitan”, kata orang itu. “Demi Allah?”, tanya Abu Qatadah. “Demi Allah”, jawabnya. Kemudian Abu Qatadah berkata, “Saya mendengar Rasulullah acapkali bersabda, “Siapa yang ingin berbahagia dengan diselamatkan Allah dari malapetaka hari kiamat, maka hendaklah dia menangguhkan hutang bagi orang yang kesulitan atau meringankan nominal pembayarannya.”13 Hadits ini juga diriwayatkan oleh Imam Ahmad dan ad-Darami. Matan hadits riwayat ad-darami dari Abu Qatadah dari Rasulullah SAW, “Siapa yang memberi keringanan pada orang yang mempunyai hutang padanya atau bahkan menganggapnya lunas sama sekali, maka dia akan berada dalam naungan Arsy pada hari kiamat.”14

12 HR. Muslim, hal. 3006, HR. Ibn Majah, hal. 419 dengan lafadz yang lebih ringkas, “Siapa yang ingin mendapat naungan Allah, maka tangguhkanlah hutang dan ringankanlah nominal pembayaran.” 13 HR. Muslim, hal. 1563. 14 HR. Ahmad dari Yunus dan Affan, vol. 5, hal.300. HR. Ad-Darimi dari Affan bin Muslim, hal.2589.

JAMINAN AMPUNAN DOSA BAGI ORANG YANG MERINGANKAN NOMINAL HUTANGNYA ORANG YANG KESULITAN Diriwayatkan dari Hudzaifah ra, bahwasanya Rasulullah SAW bersada, “Para malaikat telah menyambut ruh seseorang dari generasi terdahulu.” Lalu sahabat bertanya, “Apakah sebab engkau mengerjakan kebaikan?”, “Tidak”, jawab Rasulullah. “Lalu kenapa?”. Rasulullah menjawab, “Saya pernah memberi hutang pada seseorang, lalu saya perintahkan agar pelyan-pelayan saya menangguhkan hutang bagi orang yang kesulitan dan memaafkan orang yang berkelapangan, karena Allah SWT telah berfirman, “Dan ampunilah mereka” Dalam riwayat lain, “Saya pernah menyambut orang yang berkelapangan dan mengampuni orang yang kesulitan”, kemudian Rasulullah SAW bersabda, “Ampunilah hambaku” Dalam riwayat lain, “Saya pernah menangguhkan hutang bagi ornag yang kesulitan dan merasa puas dengan sedikit sikkah (mata uang). Maka jika demikian, Allah akan mengampuni orang itu.” Dalam riwayat lain, “Kebiasaan saya adalah senang memafkan orang. Saya memudahkan orang yang berkelapangan dan menangguhkan hutang bagi orang yang kesulitan. Karena Alllah telah berfirman, “Aku lebih berhak dengan ini dari pada kamu. Maka ampunilah hambaku.”15 Makna lafadz ‫اوز‬gg‫ التج‬dan ‫وز‬gg‫ التج‬adalah : toleran dalam menagih dan melunasi, serta merasa puas dengan sedikit kekurangan. Sebagaimana sabda Nabi, “Saya merasa puas dengan sedikit sikkah (mata uang).” Hadits-hadits menerangkan tentang keutamaan menanngguhkan hutang bagi orang yang kesulitan atau meringankan nominal hutangnya, baik semua hutang maupun sebagiannya, keutamaan bertoleran dalam menagih dan melunasi, baik dari orang yang berkelapangan maupun orang yang kesulitan, dan keutamaan meringankan nominal hutang. Dan sesungguhnya tidak ada satu pun perbuatan baik yang dianggap rendah, karena hal itu merupakan penyebab datangnya kebahagiaan an rahmat.

15 HR. Bukhari, hal. 2077, 2078, HR. Muslim, hal. 3969, 3975, HR. An-Nasa’I vol. 7, hal.317, HR. Tirmidzi, hal. 1307, dan HR. Ibn Majah, hal. 2420.

Lafadz-lafadz yang searti dengan ‫ التجاوز‬antara lain : ‫61.النظار - الوضيعة - حسن التقاضى‬ Dalam hadits di atas disebutkan bahwa memberi kelapangan adalah termasuk perbuatan baik –jika disertai dengan keikhlasan kepada Allah- dan dapat melebur perbuatan jelek. Diriwayatkan dari Jabir bin Abdillah ra, bahwa Rasulullah bersabda, “Allah memberkati orang yang toleran ketika berjual beli dan menagih hutang.”17 Menurut Al-Hafidh ibn Hajar dalam kitab Al-Fath (4/359). Samhan (‫مح‬gg‫ )الس‬berarti mudah/lembut (‫هل‬ggg‫ .)الس‬Dalam ilmu nahwu, ‫هل‬ggg‫ الس‬adalah sifat musyabbihat (sifat yang menyerupai isim fa’il) yang menunjukkna arti terus-menerus. Karena itulah, problematika jual-beli dan hutang harus diulang-ulang. ‫مح‬gggg‫ الس‬juga berarti dermawan (‫واد‬gggg‫ .)الج‬Seseorang dikatakan toleran apabila dia dermawan. Dan sabda Nabi SAW : ‫ى‬gg‫ , اذا اقتض‬artinya : menagih dengan lembut tanpa pemaksaaan. Hadits di atas merupakan anjuran bertoleransi ketika bermu’amalah, menggunakan akhlak yang baik, menghindari persengketaan, tidak menyulitkan ketika menagih, dan memebri keringanan pada orang yang kesulitan.

16 HR. An-Nawawi, Syarh Muslim, vol. 10, hal.468. Semua riwayat ini dikeluarkan oleh Muslim. 17 HR. Bukhari, hal. 2076, HR. Ahmad, vol. 3, hal.340, HR. Tirmidzi dari Zaid bin Atha’ bin Saib dari Ibn Munkadir dari Jabir dengan lafadz, “Allah mengampuni seseorang sebelum kamu yang memberi kemudahan.”. Tirmidzi juga meriwayatkan dari Abu Hurairah berupa hadits gharib dengan lafadz, “Sesungguhnya Allah menyukai toleransi dalam jual beli dan menagih hutang.” HR. An-Nasa’I dari Atha’ bin Farukh dari Utsman ra, Atha’ tidak pernah bertemu Utsman ra, sebagaimana dikatakan Ibn al-Madani dalam kitab al-‘Ilal. Dengan lafadz, “Allah akan memasukkan ke dalam surga orang yang memberi kemudahan baik saat menjadi pembeli, penjual, penagih hutang atau yang yang ditagih. HR. Ahmad, vol. 1, hal.58, 67, 70. dan HR. Ibn Majah, hal. 2202.

ALLAH AKAN MEMBERI KEMUDAHAN DI DUNIA DAN AKHIRAT BAGI ORANG YANG MEMBERI KEMUDAHAN BAGI ORANG LAIN Diriwayatkan dari Abu Hurairah ra, “Rasulullah SAW bersabda : Siapa yang meringankan beban yang menumpa orang mukmin, maka Allah akan meringankannya dari beban-beban pada hari kiamat. Siapa yang memberi kemudahan pada orang yang kesulitan, maka Allah akan memberinya kemudahan di dunia dan akhirat kelak. Dan siapa yang menjaga rahasia orang muslim, maka Allah akan menjaga rahasianya di dunia dan akhirat kelak. Allah akan menaungi hamba-Nya selama dia membantu saudaranya.”18 Menurut An-Nawawi ra (16/351), “Hadits ini menunjukkan keutamaan membantu orang muslim, meringankan bebannya, dan menjaga rahasinya. Termasuk dalam kategori meringankan beban orang muslim adalah orang yang membantu dengan harta dan jabatannya.

18 Shahih. HR. Muslim, hal. 2073, HR. Abu Daud, hal. 4946, HR. Ibn Majah, hal. 225, HR. Tirmidzi, hal. 1425, 1930, 2945, HR. Bukhari, hal. 2442 dari Ibn Umar dengan lafadz, “Semua umat muslim adalah bersaudara, tidak saling menganiaya tetapi saling membantu. Siapa yang memenuhi kebutuhan saudaranya, maka Allah akan memenuhi kebutuhannya. Siapa yang melapangkan saudaranya dari derita kesulitan, maka Allah akan melapangkannya pula dari kesulitan pada hari kiamat kelak. Dan siapa yang dapat menjaga rahasia saudaranya, maka Allah akan menjaga rahasianya pada hari kiamat. Muslim juga meriwayatkan matan hadits ini. Menurut saya, “Bukhari menolak memasukkan hadits dalam bab ini ke dalam Shahih-nya, sebab dia khawatir akan kepalsuan hadits karena diriwayatkan oleh al-A’masy. Al-Hafidh dalam al-Fath vol. 1, hal.67 mengatakan, “Hadits itu diriwayatkan Tirmidzi, menurutnya hadits itu adalah hadits hasan, bukan hadits shahih sebab terdapat kekaburan yang menunjukkan kepalsuan, yakni “diriwayatkan pada saya dari Abu Shalih” (orang yang meriwayatkan tidak disebut). Tetapi hadits ini bukanlah hadits palsu, sebab Imam Muslim juga meriwayatkan hadits ini dari Usamah dari al-A’masy (dari Abu Shalih).

MEMOHON KEPADA ALLAH AGAR DIJAUHKAN DARI BANYAK HUTANG Diriwayatkan dari Anas bin Malik ra, “Rasulullah SAW pernah bersabda kepada Abu Thalhah : Carilah seorang pemuda dari pelayan-pelayanku untuk melayaniku. Kemudian Abu Thalhah membawaku pada Rasulullah, maka aku mengabdi pada beliau. Setiap kali beliau turun, maka saya mendengar beliau banyak berdoa,

‫اللهم اني اعوذ بك من الهم والحزن والكسل والبخل والجبن وضلع الدين وغلبة الرجال‬
“Ya Allah, aku berlindung kepadamu dari kecemasan, kesedihan, ketidakberdayaan, malas, kikir, takut, banyak hutang, dan kungkungan laki-laki”19 Al-Hafidh ibn Hajar berpendapat dalam kitab al-Fath (11/177-178) tentang “‫لع‬gg‫ض‬

‫( الدين”. ضلع‬dengan dla’ dan lam fathah) adalah bermakna kecondongan. ‫( ضلع‬dengan lam
fathah ‫ = يضلع‬yadll’u) adalah bermakna harta. Dan yang dimaksud dengan ‫ ضلع الدين‬di sini adalah hutang yang banyak dan memberatkan. Yakni, orang yang tidak sanggup membayar hutangnya sekelipun telah mencari bantuan ke mana-mana. Ada ulama alaf yang mengatakan, “Kecemasan hati karena memiliki hutang hanya terjadi sebab hilangnya sesuatu yang secara akal tidak akan kembali lagi.”

19 Shahih, HR. Bukhari, hal. 6363.

MEMOHON PERLINDUNGAN KEPADA ALLAH DARI HUTANG Aisyah istri Nabi mengabarkan bahwa ketika Rasulullah SAW shalat, beliau berdo’a: “Ya Allah, aku berlindung kepadamu dari adzab kubur, fitnah dajjal terlaknat, dan dari fitnah hidup dan mati. Ya Allah, aku berlindung kepadamu dari dosa dan hutang” Pernah seseorang bertanya pada Rasulullah, “Kenapa dengan hutang sehingga engkau harus memohon perlindungan?”, Rasulullah menjawab, “Jika seseorang mempunyai hutang, maka dia akan sering berdusta saat berbicara dan ingkar ketika berjanji.”20 Imam an-Nawawi ra berkata dalam kitsb Syarah Muslim (17/32), “Rasulullah memohon perlindungan dari ‘maghram’, artinya dari hutang. Hal ini didasarkan pada penjelasan Rasulullah pada hadits-hadits sebelumnya, “…jika seseorang mempunyai hutang, maka dia akan sering berdusta saat berbicara dan ingkar ketika berjanji.” Karena dia akan menunda-nunda pengembalian hutang dengan dusta dan ingkar janji. Dan terkadang hutang dapat membuatnya gelap mata, sehingga mungkin saja dia mati sebelum dapat melunasi hutangnya, maka dia akan terus menanggung tanggungan hutangnya.”21 Menurut al-Hafidz ibn Hajar dalam kitab al-Fath (2/371), “Lafadz ‘‫رم‬gg‫ ’المغ‬dalam hadits di atas adalah bermakna hutang. Ada yang mengatakan, ‫رم‬gg‫( غ‬gharima, dengan ra’ kasrah) sama artinya dengan ‫( ادان‬memberi hutang). Ulama lain berpendapat, “yang dimaksud dengan lafadz tersebut adalah, berhutang untuk keperluan yang dibolehkan dan yang tidak dibolehkan, kemudian dia tidak dapat mengembalikannya. Mungkin saja yang dimaksud dengan hadits ini lebih umum dari yang saya paparkan, sebab Rasulullah juga memohon perlindungan dari kungkungan hutang.” Al-Qurthubi berpendapat, “‫رم‬gg‫رم = الغ‬gg‫ .المغ‬Dalam hadits tersebut, Rasulullah telah mengingatkan bahaya yang akan terjadi akibat hutang. Wallahu a’alam.

20 Shahih, HR. Bukhari, hal. 832. 21 HR. Muslim beserta penjelasannya, vol. 17, hal.30-31.

RASULULLAH ENGGAN MENSHALATI MAYIT YANG MASIH MEMILIKI TANGGUNGAN HUTANG Diriwayatkan dari Salamah bin al-Akwa’ ra, “Kami sedang duduk di sisi Rasul SAW, tiba-tiba datang iring-iringan jenazah. Mereka lalu berkata pada Rasul, “Shalatilah mayat ini ya Rasulallah.” Rasul bertanya,“Apakah mayat ini masih memiliki tanggungan hutang?”, “Tidak”, jawab mereka. “Apakah dia meninggalkan warisan?”, tanya Rasul. “Tidak”, jawab mereka. Maka Rasul bersedia menshalatinya. Taka berapa lama kemudian, datang iring-irngan jenazah lain, lalu mereka berkata pada Rasul, “Shalatilah mayat ini ya Rasulallah.” “Apakah mayat ini masih mempunyai tanggungan hutang?”, tanya Rasul. “Ya”, jawab mereka. “Apakah dia meninggalkan warisan?”, tanya Rasul lagi. “Tiga dinar. Maka shalatilah mayat ini.” “Kalian saja yang menshalati,” lalu Abu Qatadah berkata, “Shalatilah mayat ini ya Rasulallah, saya yang akan menanggung hutangnya,” maka Rasul bersedia menshalatinya.22 Diriwayatkan dari Abu Hurairah ra, “Apabila mayat seseorang yang masih memiliki tanggungan hutang dihadapkan pada Rasulullah, maka Rasul akan bertanya, “Apakah dia mempunyai peninggalan harta yang dapat melunasi hutangnya?” Jika dijawab ‘iya’, maka rasul bersedia menshalatinya. Dan jika dijawab ‘tidak’, maka beliau akan bersabda pada kaum muslimin yang hadir, “Kalian saja yang menshalatinya.” Tetapi setelah Allah membukakan hati beliau, maka Beliau berkata, “Aku lebih berhak atas jiwa orang-orang mukmin, maka apabila ada dari orang mukmin yang meninggal dan masih mempunyai tanggungan hutang, maka akulah yang akan melunasinya. Dan apabila dia meninggalkan harta warisan, maka harta itu menjadi hak ahli warisnya.”23 Menurut Imam an-nawawi ra dalam kitab Syarah Muslim (11/63), “Hadits yang menerangkan bahwa Nabi SAW pada awalnya enggan menshalati mayit yang masih
22 Shahih, HR. Bukhari, hal. 2289-2295. HR. Ahmad, vol. 3, hal.320, HR. An-Nasai, vol. 4, hal.65, dan sanad at-Thayalusi, hal.1673 dari Jabir dari Abdullah bin Muhammad bin Aqil, Nabi SAW menemuinya pada keesokan hari, “Apa yang terjadi dengan Dinaran?”, “Ya Rasulullah, dia meninggal kemarin.” Lalu pada keesokan harinya, “Ya Rasulullah, saya telah melunasi hutangnya.” Rasul kemudian bersabda, “Sekarang kulitnya telah dingin (tidak mendapat siksa).” 23 Muttafaq ‘alaih. HR. Bukhari, hal. 2298, HR. Muslim, hal. 4133.

memiliki tanggungan hutang dan tidak meninggalkna harta yang dapat melunasi hutangnya, adalah untuk mengingatkan manusia agar mereka segera melunasi hutang semasa hidupnya agar terbebas dari masalah yang ditimbulkannya dan agar Rasul bersedia menshalatinya. Tetapi setelah Allah membukakan hati beliau, maka Rasul kembali bersedia menshalati dan menanggung pelunasan hutang mereka jika mereka tidak meninggalkan warisan yang dapat digunakan untuk melunasi hutangnya.”

BERHATI-HATI TERHADAP KELALAIAN TIDAK MELUNASI HUTANG Diriwayatkan dari Tsaubah ra bahwasanya Nabi SAW bersabda, “Siapa yang meninggal dan terbebas dari tiga perkara, maka dia masuk surga. Tiga perkara itu yakni dosa besar, hutang, dan dendam.”24 Muhammad bin Abdullah bin Jahsy ra meriwayatkan, “Kami duduk-duduk di halaman masjid ketika mayat-mayat diwudlu’kan, sedangkan Rasulullah mendongak dan melihat ke langit, kemudian tiba-tiba beliau menundukkan pandangannya dan meletakkan tangan di dahinya seraya berkata, “Subhanallah, subhanallah (maha suci Allah), suara keras apa yang turun?” Kemudian setelahnya kami hanya berdiam diri sehari- semalam sambil berharapharap cemas sampai fajar menyingsing. Kemudian saya memberanikan diri untuk bertanya pada Rasulullah SAW, “Suara keras apakah yang turun ya Rasulallah?” Beliau menjawab, “Tentang hutang. Demi Dzat yang diriku berada dalam genggamannya, andaikan seseorang gugur di jalan Allah lalu hidup lagi, kemudian dia gugur lagi di jalan Allah lalu hidup lagi, sedngkan dia masih memilki tanggungan hutang, maka dia tidak akan masuk surga sampai dia melunasi hutangnya.”25 Dan diriwayatkan dari Abu Hurarirah ra, “Rasulullah SAW bersabda: Jiwa seorang mukmin terbelenggu selama dia masih memiliki tanggungan hutang.”26

24 Shahih. HR. Ahmad, vol. 5, hal. 276, HR. Tirmidzi, hal. 1573, HR. Ibn Majah, hal. 2412, HR. Baihaqi, vol. 5, hal. 355, HR. Al-Hakim, vol. 2, hal. 26. 25 Shahih beserta semua turunannya. HR. Ahmad, vol. 5, hal. 389, HR. An-Nasai, hal. 31517, HR. Hakim, vol. 2, hal. 24. menurut Hakim, sanad hadits ini shahih, dan menurut ad-Dzahabi hadits ini shahih. Menurut saya: pusat hadits ini berada pada Abu Katsir Maula Muhammad bin Jahsy. Dalam kitab Mujtama’ vol. 4, hal. 127, para Imam menyatakan bahwa hanya perkataan al-Haitsami saja yang yang tidak jelas. Dalam at-Taqrib, al-Hafidh mengatakan, “Dia dapat dipercaya, perawi bagian atas, yakni Bin Abdurrahman.” 26 Shahih beserta semua turunannya. HR. Ahmad, vol. 1, hal. 440, 475, 508, HR. Tirmidzi, hal. 1078, 2140. HR. Hakim, vol. 2, hal.26-27, HR. al-Baihaqi, vol. 6, hal. 49-67. Dalam riwayat dari Saad bin Ibrahim dari Abu Salamah, tanpa menyebut Umar bin Salamah. Menurut para penghafal hadits, sanad yang menyebutkan Umar bin Abu Salamah adalah lebih benar.

SEMUA DOSA SYUHADA’ DIAMPUNI KECUALI HUTANGNYA Abu Qatadah ra pernah membicarakan Rasulullah SAW, bahwa Rasul pernah berdiri di hadapan para sahabat seraya bersabda, “Sesungguhnya berjihad di jalan Allah dan beriman kepada-Nya merupakan amal yang paling utama.” Salah seorang sahabat berdiri lalu bertanya, “Ya Rasulallah, bagaimana menurutmu jika saya gugur di jalan Allah, apakah dosa-dosaku akan terampuni?” Rasulullah menjawab, “Benar, dosa-dosamu akan terampuni jika kamu gugur di jalan Allah, dan kamu sebelumnya juga sabar dan berbuat baik, serta tidak lari dari tanggung jawab.” Lalu Rasulullah balik bertanya, “Coba ulangi apa yang kamu tanyakan.” Sahabat tersebut menjawab, “Bagaimana menurutmu jika saya gugur di jalan Allah, apakah dosa-dosaku akan terampuni?” Rasulullah kembali menjawab, “Iya, jika sebelumnya kamu sabar dan berbuat baik serta tidak lari menghindar dari tanggung jawab, kecuali hutang, karena Jibril as baru saja mengatakan padaku demikian.”27 Abdullah bin Amr bin al-‘ash ra meriwayatkan bahwa Nabi SAW bersabda, “Semua dosa orang yang mati syahid akan diampuni kecuali hutang.”28 Dan dalam riwayat Abdullah bin Amr bin al-‘ash yang lain, “Semua dosa orang yang gugur di jalan Allah akan terampuni kecuali hutang”29 Menurut Imam an-Nawawi ra dalam kitab Syarah Muslim (13/32), lafadz ‫دين‬gg‫ال ال‬ dalam hadits tersebut menunjukkan tanbih (peringatan) atas semua hak-hak adami (yang berkaitan dengan interaksi sesama), dan menunjukkan bahwa jihad, mati syahid dan perbuatan-perbuatan baik yang lain tidak bisa menggungurkan hak adami, tetapi hanya bisa mengguhurkan haqqullah (hak yang berkaitan dengan Tuhan). Menurut saya, hadits ini, sebagaimana hadits yang menerangkan tentang orang yang bangkrut (muflis), menunjukkan bahwa, semua hak-hak adami jika tidak diselesaikan kepada yang bersangkutan ketika masih hidup di dunia dan meminta maaf kepadanya, maka di akhirat nanti, amal kebaikannya diberikan kepada orang yang bersangkutan, atau jika tidak mencukupi, maka amal jelek orang yang bersangkutan akan ditimpakan kepadanya.

27 Shahih. HR. Muslim, hal. 4857, HR. an-Nasai, vol. 6, hal. 33, HR. Tirmidzi, hal.1712. 28 Shahih. HR. Muslim, hal. 4860. 29 HR. Muslim, hal. 4861.

BALASAN DI DUNIA DAN AKHIRAT BAGI ORANG YANG TIDAK MELUNASI HUTANG Abu Hurairah ra meriwayatkan dari Nabi SAW, “Siapa yang mengambil harta seseorang dan dia bermaksud mengembalikannya, maka Allah akan mengembalikan hartanya yang hilang. Sedangkan siapa yang mengambinya dengan maksud melenyapkannya, maka Allah juga akan melenyapkan harta.”30 Dalam kitab al-Fath (5/66), Ibn Hajar mengatakan, “Lafadz ‫ه ا‬gg‫ أتلف‬dalam hadits tersebut secara lahir bermakna pelenyapan yang terjadi di dunia, dalam hal ini, dalam dirinya atau kehidupannya. Hal ini termasuk salah satu dari tanda kenabian, yakni ketika kami melihat beliau menyaksikan orang yang sibuk mengurus salah satu dari dua urusan. Ada ulama yang mengatakan bahwa yang dimaksud dengan ‫ التلف‬adalah adzab akhirat. Diriwayatkan pula dari Abu Hurairah ra bahwa Rasulullah SAW pernah bertanya, “Tahukah kamu siapa orang yang bangkrut itu?” Para sahabat menjawab, “Menurut kami, orang yang bangkrut adalah orang yang tidak memiliki dirham dan harta benda.” Lalu Rasulullah bersabda, “Orang yang bangkrut dari umatku adalah orang yang datang pada hari kiamat dengan membawa amal shalat, puasa, dan zakatnya. Tetapi di dunia dulu dia pernah mencaci-maki orang, menuduh orang bezina, makan harta orang tanpa hak, pernah membunuh dan memukul orang. Maka amal-amal kebaikannya dibagi-bagi untuk diberikan kepada orang yang pernah didhaliminya dulu, maka jika amal kebaikannya telah habis sebelum mencukupi sebagai ganti, maka dosa-dosa mereka ditimpakan kepadanya lalu dia dicampakkan ke dalam neraka.”31 Dalam kitab Syarh Muslim (16/351) Imam an-Nawawi berpendapat bahwa makna hadits di atas adalah: Orang bangkrut yang diterangkan Nabi dalam haditas di atas adalah hakikat orang bangkrut yang sesungguhnya. Sedangkan orang yang mempunyai sedikit harta atau bahkan tidak sama sekali, maka dia disebut juga dengan muflis (orang yang bangkrut), tetapi bukan arti muflis yang sesungguhnya, karena muflis dalam arti demikian akan lepas dan bebas dengan kematiannya. Dan mungkin juga dia terbebas dari kebangkrutan sebab kekayaan yang dia peroleh kemudian dalam hidupnya. Maksud muflis yang diterangkan dalam hadits
30 Shahih. HR. Bukhari, hal. 2387, HR. Ahmad, vol. 2, hadits ke-4143631, baris kedua adalah HR. Ibn Majah, hal. 2411, HR. al-Baihaqi, vol. 5, hal. 354. 31 Shahih: HR. Muslim, hal. 6522, HR. Tirmidzi, hal. 2418.

di atas adalah orang yang celaka secelaka-celakanya dan binasa sebianasa-binasanya sebab amal kebaikannya dibuat untuk melunasi tanggungan hutangnya, dan jika amal kebaikannya telah habis sedangkan hutangnya belum terlunasi, maka dosa-dosa mereka (orang yang ditangguhkan pelunasan hutangnya) dirimpakan kepadanya, lalu dia dicampakkan ke dalam neraka, maka sempurnalah kerugian, kebinasaan, dan kebangkrutannya.

BALASAN BAGI ORANG YANG BERKEMAMPUAN MELUNASI HUTANG TETAPI TIDAK MELAKSANAKANNYA Abu Hurairah ra meriwayatkan dari Nabi SAW, “Penangguhan pembayaran hutang bagi orang yang berkemampuan adalah dhalim. Jika salah seorang dari kamu diberi penangguhan yang lama, maka patuhilah.”32 Dalam kitab Syarh Muslim (10/471), an-Nawawi berpendapat, “Menurut al-Qadli dan ulama lainnya, maksud lafadz ‫ مطل الغني ظلم‬pada hadits di atas adalah: al-Mathal bermakna menangguhkan pembayaran hutang yang telah jatuh tempo (tiba waktunya mengembalikan). Maka penangguhan pembayaran hutang bagi orang yang telah berkemampuan adalah dhalim dan haram. Menurut saya, yang dimaksud dengan ‫ الغني‬di sini adalah orang yang berkemampuan membayar hutang, sekalipun dia dalam keadaan fakir. Asy-Syarid meriwayatkan dari Rasulullah SAW, “Penannguhan pembayaran hutang bagi orang yang berkemampuan dapat membuat harga dirinya jatuh dan dihukum.”33 Imam at-Thahawi dalam kitabnya Musykilul Atsar (2/410) mengatakan, “Suatu komunitas telah menetapkan hukuman yang pantas dia peroleh, yakni haknya dalam hutang tersebut ditahan.” Menurut pendapat yang diambil dari Muhammad bin al-Hasan, hukuman itu adalah dia terus menanggung hutang itu. Kemudian beliau menambahkan, “Menurut kami, yang lebih berhak menahannya dari orang yang berhak adalah hakim. Sebab, jika orang yang mempunyai hutang terus dibebani penannggungan hutang, maka dia akan disibukkan oleh kepentingannya sendiri. Para ulama juga sepakat bahwa apabila hakim meminta penahanan hak atas hutang itu, maka hal itu adalah suatu keputusan yang wajib ditaati. Jika demikian, maka menahan hak atas hutang menjadi lebih utama dari pada menjadikan hutang terusmenerus menjadi tanggungannya. Imam Bukhari dalam kitabnya juga meriwayatkan hadits di atas dari Sufyan. Bahwa
32 Muttafaq alaih: HR. Bukhari, hal. 2288, HR. Muslim, hal. 3978, HR. Abu Daud, hal. 3345, HR. An-Nasai, vol. 7, hal. 317. 33 Hasan: HR. An-Nasai. Vol. 7, hal. 316, 317. HR. Ahmad, vol. 4, hal. 222-388-389, HR. Abu Daud, hal. 3628, HR. Ibn Majah, hal. 3427, Imam Bukhari masih menggantungkan hadits ini, hal. 7515, al-Fath dan atThahawi (Musykil al-Atsar, hadits ke-9500949) HR. Ibn Hubban, hal. 5089, HR. al-Hakim, vol. 4, hal. 102, HR. Al-Baihaqi, vol. 7, hal. 51 Muhammad bin Maimun, “Ibn Hubban termasuk perawi yang tsiqah. Abu Hatim, “Sekelompok orang telah meriwayatkan hadits ini, para perawinya triqah dan baik. Al-Hafidh dalam kitan at-Taqrib, “Riwayat hadits bisa diterima, karena sanadnya hasan (Al-Fath 5/76). Ibn Hubban, al-Hakim dan ad-Dzahabi menganggap shahih sanad hadits ini.

yang dimaksud dengan lafadaz ‫ عرضه‬adalah perkataan kepada orang yang berkemampuan itu : ‫ي‬gg‫( مطلتن‬kamu menangguhkan pembayaran hutangmu pada saya). Dan lafadz ‫وبته‬gg‫عق‬ bermakna : ‫( الحبس‬penahanan hak atas hutang).

ORANG YANG PALING BAIK ADALAH ORANG YANG MELUNASI HUTANGNYA DENGAN CARA YANG BAIK Diriwayatkan dari Abu Hurairah ra, “Nabi pernah mempunyai hutang seekor unta berumur satu tahun pada seseorang. Kemudian orang itu datang menagih hutang pada Rasul. “Bayarlah hutangku padanya”, kata Rasul pada sahabat. Para sahabat lalu mencari unta yang dimaksud, tetapai mereka hanya menemukan unta yang umurnya lebih tua. “Berikan saja unta itu” perintah Rasul pada sahabat. “Engkau telah melunasi hutang padaku, mudah-mudahan Allah menyempurnakan engkau ya Rasul.” Lalu Rasul bersabda, “Seseungguhnya orang yang paling baik di antara kalian adalah orang yang peling baik dalam melunasi hutangnya.”34 Dalam riwayat lain, “Maka sesungguhnya hamba Allah yang paling baik adalah yang paling baik dalam melunasi hutangnya.”35 Riwayat lain, “Bahwa orang yang paling baik adalah orang yang paling baik dalam melunasi hutangnya.” Riwayat lain, “Orang yang paling baik di antara kalian adalah orang yang membayar hutangnya dengan baik.” An-Nawawi ra (11/309) berepndapat, “Dalam hadits-hadits tersebut diterangkan bahwa, sunat bagi orang yang mempunyai hutang seperti pinjam-meminjam misalnya, untuk mengembalikannya dengan cara yang paling baik. Sikap ini merupakan sunah Nabi dan termasuk dalam prilaku yang mulia. Dan sesungguhnya pemanfaatan barang yang dipinjam sampai melebihi batas pemanfaatan yang sewajarnya, maka hal itu dilarang. Menurut al-Baghwi dalam kitab Syarh Sunnah (4/309), “Hadits di atas merupakan bukti/dalil bahwa orang yang meminjam suatu barang lalu mengembalikannya dengan cara yang baik atau melebihkannya (tanpa ada syarat agar dikembalikan lebih sebelumnya), maka dia dianggap orang yang baik dan barang yang dikembalikan tersebut halal bagi orang yang meminjaminya.

34 Muttafaq alaih: HR. Bukhari, hal. 2393, HR. Muslim, hal. 4084. 35 HR. Muslim dan hadits-hadits di bawahnya, hal. 4084-4088. HR. Abu Daud, hal. 3346, Hr. An-Nasaivol. 17, hal. 291, HR. Ahmad, vol. 2, hal. 393, 509, HR. Tirmidzi, hal. 1318, HR. Ibn Majah, hal. 2285, HR. AlBughawi, vol. 4, hal. 343, HR. Al-Baihaqi, vol. 5, hal. 351, HR, Al-Hakim, vol. 2 hal. 130.

RASULULLAH MENGASIHI ORANG YANG MEMILIKI TANGGUNGAN HUTANG Aisyah ra meriwayatkan hadits dari Rasulullah SAW, “Siapa dari umatku yang memilki tanggungan hutang dan dia bekerja keras agar dapat melunasi hutangnya tetapi kemudian mati sebelum dapat melunasi hutangnya, mka sayalah walinya.”36 Diriwayatkan dari Abu Hurairah ra, bahwa seringkali ketika seorang mukmin meninggal pada masa Rasulullah dan dia masih memiliki tanggungan hutang, maka di sisinya Rasul bertanya pada sahabat, “Apakah dia meninggalkan harta yang dapat digunakan untuk melunasi hutangnya?” Jika sahabat mejawab ‘Ya’, maka Rasul bersedia menshalatinya, dan jika dijawab ‘Tidak’, maka Rasul berkata, “Shalatilah sendiri mayat ini.” Tetapi setelah Allah membukakan hati beliau dengan selapang-lapangnya, maka Rasul bersabda, “Aku lebih berhak atas jiwa orang-orang mukmin, maka apabila ada dari orang mukmin yang meninggal dan masih mempunyai tanggungan hutang, maka akulah yang akan melunasinya. Dan apabila dia meninggalkan harta warisan, maka harta itu menjadi hak ahli warisnya.”37

36 Shahih. HR. Ahmad, vol. 7, hal. 22. Al-Haitsami, “Para perawi dalam riwayat Ahmad adalah shahih, Majma’ az-Zawaid, vol. 4, hal. 132. al-Mundziri juga mengatakan hal serupa dalam at-Targhib, vol. 2, hal. 598. Jabir ra secara makna, hal. 2416. HR. Abu Daud, hal. 3343 dari Jabir seperti riwayat Abu Hurairah dari jalur Abdurrazzaq dari Muammar dari az-Zuhri dari Abu Salamah dari Jabir, al-Mushannaf, hal. 1162. 37 Muttafaq alaih: HR. Bukhari, hal. 2298, HR. Muslim, hal. 1618, HR. Tirmidzi, hal. 170, HR. Ibn Majah, hal. 2415.

DOA AGAR DIBERI KEMAMPUAN MELUNASI HUTANG Diriwayatkan dari Abu Hurairah ra, “Rasulullah SAW pernah bersabda pada kami. Apabila kami beranjak tidur, beliau memerintahkan agar kami membaca do’a: “Ya Allah tuhan penguasa langit dan bumi, penguasa Arasy yang agung, Tuhan kami dan Tuhan segala sesuatu. Pemberi biji-bijian dan makanan, yang menurunkan kitab taurat, injil, dan al-Qur’an. Aku berlindung kepadamu dari segala keburukan yang hanya engkau yang dapat mencegahnya. Ya Allah, tiada permulaan bagimu dan tiada sesuatu pun yang mendahuluimu. Tiada akhir bagimu dan tiada pula sesuatu pun setelahmu. Engkaulah yang tampak dan tiada sesuatu pun di atasmu. Engkaulah yang tersembunyi dan tiada sesuatu pun di bawahmu. Berilah kami kemampuan untuk membayar hutang dan hindarkanlah kami dari kefakiran.”38 Dalam kitab Syarh Muslim (17/38) Imam Nawawi menerangkan lafadz ‫اقض عنا الدين‬ dalam hadits di atas. Bahwa kemungkinan yang dimaksud dengan ‫ الدين‬di sini adalah hakhak Allah dan hak-hak semua hamba-Nya. Ibnu Abbas meriwayatkan, “Ketika tertimpa kesulitan, Rasulullah SAW berkata, “ “Tiada Tuhan selain Allah dzat maha agung dan pengasih. Tiada Tuhan selain Allah Dzat penguasa langit dan bumi, Tuhan Arsy yang agung.”39 Al-Hafidz dalam kitabnya al-Fath (11/150) mengatakan, “Yang dimaksud dengan kesulitan pada hadits di atas adalah : sesuatu yang menimpa seseorang secara tiba-tiba dan membuatnya sedih dan berkeluh-kesah. Menurut saya, kesulitan yang disebut pada hadits di atas adalah sesuatu yang lumrah terjadi pada seseorang yang mempunyai hutang dan tidak dapat melunasinya.

38 Shahih: HR. Muslim, hal. 2713. yakni dari jalur Sahil dari ayahnya dari Abu Hurairah. Tidak ada yang berbeda dengan riwayat Sahil. Hadits ini juga diriwayatkan dari jalur al-A’masy dari Abu Shalih dari Abu Hurairah, berbeda dengan riwayat Sahil. Al-A’masy mengatakan, “Fatimah puteri Nabi datang bertanya pada beliau. Hadits Fatimah yang dibuat pegangan adalah hadits lain riwayat Muslim dari jalur Sahil dari ayahnya dari Abu Hurairah. Lalu Nabi SAW bersabda pada Fatimah, “Bertasbihlah sebanyak 33 kali, bertahmidlah sebanyak 33 kali…”. Lih. Al-Ilal-nya ad-Darqathni, vol. 10, hal. 209. HR. Abu Daud, hal. 5051, HR. Tirmidzi, hal. 3400, Ibn Majah, hal. 3831. 39 Muttafaq Alaih: HR. Bukhari, hal. 6345, HR. Muslim, hal. 4730, HR. Tirmidzi, hal. 3435, dan HR. Ibn Majah, hal. 3883.

ORANG YANG BERMAKSUD MEMBAYAR HUTANG MAKA ALLAH AKAN MEMENUHI MAKSUDNYA Diriwayatkan dari Abu Hurairah ra, bahwa Nabi SAW bersabda, “Barang siapa berhutang pada seseorang dengan maksud ingin membayarkannya, maka Allah akan memenuhi maksudnya. Tetapi apabila dia berhutang dengan maksud melenyapkannya, maka Allah juga akan melenyapkan hartanya.”40 Dalam kitab al-Fath (5/66) al-Hafidz ibn Hajar berpendapat, “Jika seseorang bermaksud untuk membayar hutang sesuai perintah-Nya, maka hadits di atas telah menerangkan bahwa Allah akan memenuhi maksudnya tersebut. Baik di dunia maupun kelak di akhirat dengan jaminan keselamatan.” Menurut pendapat Ibn Bathal, “Hadits tersebut menekankan pada manusia agar tidak mengambil harta milik orang lain tanpa hak, anjuran agar santun dalam interaksi hutangpiutang, dan menerangkan bahwa balasan yang akan diperoleh sesuai dengan amal yang diperbuat.” Diriwayatkan dari Ubaidillah bin Abdillah bin ‘Utbah, bahwa Maimunah istri Rasulullah SAW pernah berhutang pada seseorang lalau ditanya, “Wahai Ummul Mukminin, kenapa kamu berhutang padahal kamu tidak berkemampuan untuk membayarnya? Maimunah menjawab, “Saya mendengar Rasulullah acap kali bersabda: siapa yang berhutang dengan maksud ingin mengembalikannya kelak, maka Allah SWT akan memberinya jalan keluar.”41

40 Shahih: HR. Bikhari, hal. 2387, HR. Ibn Majah, hal. 2387 dari jalur Abdul Aziz bin Muhammad dari Tsaur dengan lafadz, “Siapa yang mengambil harta dengan maksud melenyapkannya, maka Allah akan melenyapkan hartanya pula.” HR. Ahmad, vol. 2, hal. 316, 417, HR. Al-Baihaqi, vol. 5, hal. 354, HR. Bughawi dalam asSunnah, hal. 2139. 41 Shahih beserta turunan lafadznya: HR. An-Nasai, vol. 7, hal. 315, HR. Ibn Majah, hal. 2408 dari Hudzaifah dari Imran dari Ummul Mukminin. Hudzifah di sini tidak diketahui.

ALLAH MEMBERKATI HARTA SESEORANG YANG SALEH DAN BERSUNGGUH-SUNGGUH BEKERJA DEMI MEMBAYAR HUTANGNYA Abdullah bin Zubair ra meriwayatkan, “Pada hari berlangsungnya perang jamal, ayahku berdiri tegak seraya memanggilku, saya kemudian mendekat di sisinya. Ia pun berketa padaku, “Wahai anakku, tiada yang terbunuh pada hari ini kecuali orang yang berbuat aniaya dan teraniaya. Saya sungguh yakin bahwa pada hari ini saya akan membunuh seorang yang teraniaya. Menyangkut hutangku, saya berkeinginan kuat untuk menyisakan harta kita untuk melunasinya.” Ayahku kemudian melanjutkan, “Anakku, aku wasiatkan sepertiga harta untuk membayar hutang. Sepertiganya untuk Bani (keluarga besar) Abdillah bin Zubair dan sepertiganya lagi. Jika ada sisa dari harta yang digunakan untuk membayar hutang, maka sepertiganya untuk ayahmu. Hisyam mengisahkan, “Dua anak Abdullah yakni Khabib dan Ubbad juga menjadi bagian dari bani Zubair. Pada waktu itu, dia memilki sembilan anak laki-laki dan sembilan anak perempuan. “Maka dia kemudian mewasiatkan agar saya membayar hutangnya dengan harta yang dia tinggalkan”, kata Abdullah. Kemudian ayahku (Zubair) menambahkan, “Anakku, jika kamu tidak sanggup melaksanakan sesuatu dari yang telah saya wasiatkan, maka minta tolonglah pada tuanku.” Abdullah bertanya, “Demi Allah, sungguh saya tidak tahu apa yang engkau maksudkan dengan tuanmu? “Allah”, jawab Zubair. Abdullah menambahkan, “Demi Allah, setiap kali saya merasa kesulitan dalam mengurusi hutangnya, maka saya berdo’a, “Wahai tuannya Zubair, lunsilah hutang-hutang Zubair, maka semoga Dia mengabulkannya.” Hisyam mengisahkan, “Kemudian terdengar kabar bahwa Zubair terbunuh. Dia tidak meninggalkan emas dan perak, tetapi hanya sepetak tanah berupa hutan, 21 rumah di Madinah, dua rumah di Basrah, sebuah rumah di Kufah, dan sebuahnya lagi di Mesir.” Abdullah, “Kronologi kenapa Zubair sampai mempunyai hutang adalah, dulu pernah seseorang datang menitipkan harta padanya.” Zubair, “Bukan titipan, tapi hutang tanpa bunga. Akan tetapi saya khawatir tidak bisa menjaganya, apalagi tidak ada orang yang dipercaya dapat menjaganya, tidak ada penarikan pajak dan apapun kecuali hanya situasi peperangan bersama Nabi SAW, Abu Bakar, Umar,

dan Utsman.” Abdullah bin Zubair, “Kemudian saya mulai menghitungnya. Ternyata hutangnya berjumlah 1.200.000.” Kemudian Hakim bin Hazm menemui Abdullah bin Zubair, “Wahai putra saudaraku, berapa banyak hutang yang menjadi tanggungan saudaraku?” Abdullah berusaha menutupi hutang yang sebenarnya, “Hanya 100.000.” Hakim bin Hazm, “Demi Allah, harta yang kamu miliki tidak lebih dari sepersembilan dari hutang itu.” Abdullah, “Bagaimana jika saya katakan bahwa hutangnya adalah sebanyak 1.200.000?” Hakim bin Hazm, “Saya yakin kalian tidak cukup berkemampuan melunasinya. Jika ada masalah mengenao hutang kalian, minta tolonglah padaku.” Hisyam mengisahkan, “Dulu Zubair pernah membeli sebidang hutan dengan harga 170.000. tetapi Abdullah kemudian menjualnya dengan harga 1.600.000.” Abdullah kemudian berdiri seraya berkata, “Siapa yang merasa mempunyai hak atas harta Zubair, maka datanglah kemari, saya akan membayarnya dengan sebidang tanah hutan.” Lalu Abdullah bin Ja’far yang memiliki hak atas harta Zubair sebanyak 400.000 datang seraya berkata pada Abdullah bin Zubair, “Jika kamu mau, saya akan tinggalkan sebidang tanah hutan itu untukmu” ‘Tidak perlu,” jawab Abdullah bin Zubair. Abdullah bin Ja’far, “Jika kamu mau, kamu boleh memanfaatkan hutan tersebut sampai batas waktu yang kamu mau.” “Tidak perlu juga,” jawab Abdullah bin Zubair. Abdullah bin Ja’far, “Kalau demikian, bagilah hutan tersebut untukku sebagian” “Baiklah, untukmu dari batas ini sampai ini,” jawab Abdullah bin Zubair. Hisyam mengisahkan, “Kemudian Abdullah bin Zubair menjual hutan yang menjadi bagiannya, membayar hutangnya, dan memberikan bagian yang menjadi milik Abdullah bin Ja’far. Sisa dari tanah hutan tersebut seluas 4.5 depa untuk kemudian ditawarkan kepada Mu’awiyah. Di sisi Mu’awiyah pada waktu itu hadir Amr bin Utsman, Mundzir bin Zubair dan Ibn Zam’ah. Mu’awiyah lalu bertanya pada Abdullah bin Zubair, “Seharga berapa kamu jual hutan

milikmu?” “100.000 per depa”, jawab Abdullah bin Zubair. “Berapa sisanya?”, tanya Mu’awiyah kembali. “4.5 depa.” Jawabnya. Lalu Mundzir bin Zubair berkata, “Saya membeli satu depa dengan harga 100.000” Kemudian Amr bin Utsman, “Saya juga membeli satu depa dengan harga 100.000.” Kemudian Ibnu Zam’ah, “Saya juga membeli satu depa dengan harga 100.000.” Mu’awiyah bertanya lagi, “Lalu berapa sisanya?” “1.5 depa”, jawab Abdullah bin Zubair. “Saya membeli 1.5 depa itu dengan harga 150.000”, kata Mu’awiyah. Hisyam melanjutkan kisahnya, “Kemudian Abdulah bin Ja’far juga menjual bagiannya kepada Mu’awiyah dengan harga 600.000.” Setelah Abdullah bin Zubair selesai membayar hutang, keluarga Zubair berkata, “Bagilah harta warisan untuk masing-masing kami.” Tetapi Abdullah bin Zubair tidak berkenan, “Tidak, demi Allah, saya tidak akan membagi harta warisan itu untuk masing-masing kalian sampai saya mengumumkan pada tiap-tiap musim selama empat puluh tahun, “Perhatikanlah, barang siapa memiliki hak hutang atas harta Zubair, datanglah kepadaku, saya akan membayarnya.” Hisyam melanjutkan, “Maka sepanjang tahun pada awal pergantian musim Abdullah bin Zubair mengumumkan hal yang sama. Setelah lewat masa empat puluh tahun, barulah dia membagi harta warisan tersebut pada masing-masing anggota keluarga Zubair yang ditinggalkan. Zubair memiliki empat anak perempuan, mereka mendapat bagian sepertiga. Setelah dibagi, masing-masing mereka mendapatkan 1.200.000” 42

42 Shahih, HR. Bukhari, hal. 3129.

WAJIB MEMBAYAR HUTANG Firman Allah: “Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya, dan (menyuruh kamu) apabila menetapkan hukum di antara manusia supaya kamu menetapkan dengan adil. Sesungguhnya Allah memberi pengajaran yang sebaik-baiknya kepadamu. Sesungguhnya Allah adalah Maha mendengar lagi Maha Melihat. Al-Qurtubi ra dalam kitab al-Jami’ Li Ahkam al-Qur’an (5/258) mengatakan, “Ibn Abbas berkata: Allah tidak akan memberikan toleransi menyangkut pelaksanaan amanat, baik bagi orang yang sedang tertimpa kesulitan maupun orang yang berkelapangan. 43 Saya (al-Qurtubi) mengaskan: ini adalah ijma’ ulama. Mereka bersepakat bahwa amanat harus disampaikan pada yang berhak menerimanya, baik mereka orang baik maupun sering berbuat dosa.” Dalam kitab Tafsir al-Qur’an al-Adzim, Ibn Katsir mengatakan, “Allah SAW mengabarkan bahwa Dia memerintahkan agar amanat segera disampaikan pada yang berhak menerimanya. Dalam sebuah hadits hasan, Samurah meriwayatkan bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Serahkanlah amanat pada orang yang dapat dipercaya danjanganlah kamu membalas orang yang pernah berkhianat padamu dengan berkhianat pula.” 44 Ayat tersebut di atas mencakup semua amanat yang wajib dilaksanakan oleh manusia. Yakni berupa hak-hak Allah yang dibebankan kepada hambanya seperti shalat, zakat, puasa, kafarat, nadzar dan sebagainya yang memang sudah menjadi tanggungan seorang hamba dan tidak dapat ditolaknya. Juga berupa hak-hak yang terjadi di kalangan manusia, seperti barang-barang titipan yang tidak ada saksi dan sebaginya yang memang sudah menjadi amanat yang harus dia tunaikan. Maka Allah memerintahkan agar menunaikannya.
43 HR. At-Thabari, vol. 5, hal. 146 dengan sanad dlaif dari jalur al-‘aufi dari Ibn Abbas. Al-‘aufi adalah perawi yang lemah, namanya hanya dicantumkan sesekali dalam hadits. 44 HR. Ibn Jarir dalam kitab tafsirnya, vol. 5, hal. 146 dari al-Hasan sebagai hadits mursal, HR. Ahmad, alMusnad, vol. 3, hal. 114 dari salah seorang sahabat Nabi SAW. HR. Abu Daudm hal. 3534, 3535 dari jalur Thalq bin Ghanam dari Syarik Waqis bin Abu ar-Rabi’ dari Hushain dari Abu Shalih dari Abu Hurairah. HR. Tirmidzi, hal. 1264 dari jalur yang sama, “Haits hasan gharib. HR. Ad-Darqathni, hal. 2912 dari Yusuf bin Ya’qub dari seseorang dari Ubay bin Ka’ab, HR. Anas bin Malik, hal. 2914 dari jalur Ayyub bin Suwaid dari Ibn Syaudzab. Mengenai hadits ini, para ahli hadits mengatakan, “Dalam at-Takhlish, hal. 1454 al-Hafidh mengutip pendapat Imam Syafi’I: hadits ini tidak mempunyai ketetapan sanad. Al-Baihaqi juga mengutip pendapat ini dalam as-Sunan, vol. 10, hal. 271. mengutip pendapat Ahmad, al-Hafidh mengatakan, “Hadits ini ditolak, sebab keshahihannya tidak diketahui. Ibn al-Jauzi, al-Ilal al-Mutanahiyah, hal. 972-974-975, setelah meneliti hadits ini, beliau mengatakan, “Hadits ini tidak termasuk hadits shahih dilihat dari semua jalurnya. Sebagaimana keterangan dalam Ilal Ibn Abi Hatim, hal. 114, “Thalq meriwayatkan hadits munkar.”

Siapa yang tidak melaksanakannya di dunia, maka Allah akan menagihnya pada hari kiamat kelak, sebagaimana keterangan yang bersumber pada hadits shahih, bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Sungguh kamu wajib menunaikan hak kepada pemiliknya, meskipun itu berupa tanduk kambing” 45 Andaikan aku memilki emas sebesar gunung Uhud, aku tidak akan merasa bahagia karenanya jika aku masih melewatkan tiga batang emas tanggunganku. Tetapi aku akan merasa bahagia jika memiliki sedikit emas dan dapat aku gunakan untuk melunasi hutang.”46 Menurut Ibn Hajar dalam kitab al-Fath (5/67), “Hadits tersebut menegaskan perintah agar segera melunasi hutang, dan apabila tidak berkemampuan, dia harus bersungguhsungguh berusaha agar kemudian berkemampuan melunasinya.”

45 Shahih: HR. Muslim, hal. 2582 riwayat Abu Hurairah dari Anas, HR. At-Thabrani dengan jalur yang sama dari Anas, as-Shaghir, hal. 475. 46 Muttafaq alaih: HR. Bukhari, hal. 2389, HR. Muslim, hal. 31, HR. Ahmad, vol. 2, hal. 467.

BERSEDEKAH PADA ORANG YANG MEMILIKI HUTANG AGAR DAPAT SEGERA MELUNASINYA Diriwayatkan dari Abu Sa’id al-Khudri ra, “Pernah pada masa Rasulullah seseorang tertimpa musibah, lalu beliau bersabda: bersedekahlah untuknya. Maka orang-orang segera memberinya sedekah, tetapi masih belum mencukupi untuk membayar hutangnya. Lalu Rasulullah SAW berkata pada orang-orang yang mempunai hutang ada beliau, “Berilah padanya apapun yang dapat kamu temui, hutangmu padaku akan lunas dengan itu.”47

47 Shahih: HR. Muslim, hal. 3958, HR. Abu Daud, hal. 3469, Hr. An-Nasai, hal. 4543, HR. Tirmidzi, hal. 655, HR. Ibn Majah, hal. 2356.

MELUNASI HUTANG YANG MENJADI TANGGUNGAN MAYIT SEBELUM MELAKSANAKAN WASIATNYA Ali ra meriwayatkan, “Muhammad SAW melakukan pelunasan hutang sebelum pelaksanaan wasiat, sedangkan kamu membaca wasiat dulu sebelum melakukan pelunasan hutang. Dan sesungguhnya bani Umm saling mewarisi hartanya, tetapi tidak bagi Bani ‘Allat.48 Dalam kitab Shahihnya, al-Bukhari berkata, “Penjelasan dari ayat “…………………………………………………………………..”, disebutkan bahwa Nabi SAW melaksanakan pelunasan hutang sebelum pelaksanaan wasiat. Menurut al-Hafidz dalam kitab al-Fath (5/445) terkait dengan penafsiran di atas, “Matan hadits di atas adalah bagian terakhir dari hadits yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad, Tirmidzi, dan imam lain yang bersumber dari Harits yang dikenal mempunyai cela/cacat, dia meriwayatkan dari Ali ra yang kemudian menyebut matan hadits ini. Menurutnya pula, “Sanad hadits ini dla’if. Tetapi menurut at-Tirmidzi, kalangan ahli ilmu boleh mengamalkan hadits ini. Ini karena seakan-akan al-Bukhari juga bersandar pada hadits ini dengan alasan sudah disepakati. Ijma’ ulama juga menjelaskan hal ini. Al-Hafidz mengatakan, “Ulama telah sepakat bahwa melaksanakan pelunasan hutang lebih didahulukan dari pada melaksanakan wasiat.” Dalam kitab at-Takhlish diterangkan, “Sekalipun Harits dianggap lemah dalam periwayatan hadits, ijmak tetap meyakini dan menerima hadits yang dia riwayatkan.”

48 Dlaif: HR. Ahmad, vol. 1, hal. 79, HR. Tirmidzi, hal. 2094, HR. Ibn Majah, hal. 2715, HR. At-Thayalusi, hal. 179, HR. Al-Baihaqi, vol. 6, hal. 267. semua riwayat ini dari jalur Abu Ishaq al-Hamdani dari al-Harits dari Ali. Maksud Bani Allat adalah: saudara-saudara ayah (paman-bibi).

ORANG YANG DIBERI WASIAT MEMBAYAR HUTANG SI MAYIT TANPA PERSETUJUAN AHLI WARISNYA Jabir bin Abdullah al-Anshari menceritakan bahwa ayahnya gugur sebagai syuhada pada perang Uhud. Dia meninggalkan enam anak perempuan serta banyak hutang pada ahli warisnya. Maka, saat potongan-potongan pohon kurma disodorkan pada Rasulullah, saya lalu mendatangi beliau seraya berkata, “Ya Rasulullah, engkau telah mengetahui bahwa ayahku telah gugur di medan perang Uhud dengan meninggalkan banyak hutang pada kami, saya senang bila orang-orang yang memiliki hutang padamu melihat padamu. Rasulullah SAW lalu bersabda, “Pergi dan tanamlah semua kurma kering dengan sisi sejajar.” Saya pun melaksanakannya. Lalu saya memanggil Rasulullah SAW. Ketika mereka (orang-orang yang memilki hutang pada Rasul) melihat beliau, mereka menyembunyikan hal itu dariku. Melihat kelakuan mereka, Rasulullah berkeliling tiga kali di sekitar mereka sambil menanam kurma. Kemudian beliau duduk seraya berkata, “Panggil teman-temanmu.” Mereka pun lalu menghitungnya, dan mereka tetap melakukan hal itu sampai amanat ayahku terlaksana. Demi Allah saya menerima dengan senang hati ketika Allah meluluskan amanatnya. Saya juga tidak mengembalikan satu kurma pun pada saudara-saudara perempuan saya. Demi Allah, semua kurma yang beliau timbun tetap hidup seolah tidak pernah diambil satu kurmapun darinya.49 Ijma’ juga mengatakan kebolehan akan hal tersebut: Dalam kitab al-Fath (5/485), al-Hafidz mengatakan, “Menurut ad-Dawudi, semua ulama sepakat akan kebolehan orang yang diberi wasiat si mayit untuk membayar hutangnya sekalipun tanpa izin ahli waris.”

49 Shahih: HR. Bukhari, hal. 2781.

HUTANG YANG MENGHASILKAN KEUNTUNGAN ADALAH RIBA Abdullah bin Amr meriwayatkan, “Rasulullah SAW bersabda: pinjaman dengan bunga, jual beli yang berat sebelah, pemberian dua syarat dalam transaksi jual beli, dan mengambil untung tidak diperbolehkan selama belum terjadi saling terima, tidak boleh pula menjual barang yang bukan miliknya.”50 Pendapat al-Khattabi ra dalam kitab Ma’alim as-Sunan (3/771-772) hasyiah dari kitab as-Sunan, “Tidak boleh pinjam-meminjam dengan bunga dan juga jual beli yang tidak ketahui’ yang disebut dalam hadits di atas adalah termasuk bentuk transaksi yang dilarang sebagaimana telah dijelaskan, yakni larangan Nabi SAW tentang dua transaksi jual beli yang dijadikan satu seperti perkataan : saya jual budak ini padamu dengan harga lima puluh dinar dengan syarat kamu harus menyerahkan seribu dirham padaku atas makanan yang saya jual padamu sampai batas waktu tertentu. Atau perkataan: saya jual barang ini padamu dengan harga demikian, tetapi dengan syarat kamu harus meminjamkan uang sebesar seribu dirham kepadaku. Makna dari lafadz ‫ السلف‬adalah hutang dengan bunga, dan hal ini tidak diperbolehkan. Karena terkadang seseorang memberi hutang yang berbunga dengan harga yang disepakati dan berat sebelah, maka penetapan harga tersebut termasuk dalam penetapan zaman jahiliyah. Sebab utama adalah karena setiap hutang yang menghasilkan keuntungan adalah riba. Atsar-atsar (perkataan sahabat) yang menjelaskan tentang hutang yang berbunga: Atsar Abdullah bin Salam ra. Diriwayatkan dari Sa’id bin Abi Bardah dari ayahnya, “Saya pergi ke Madinah dan bertemu Abdullah bin Salam ra, dia mengatakan: “Kenapa kamu tidak datang dan masuk rumahku, saya akan menjamu kamu dengan makanan dari tepung dan kurma?” Dia menambahkan: “Kamu sekarang berdiri di tanah riba yang dengannya orang dapat menjadi sombong dan berbangga diri. Jika kamu mempunyai hak atas seseorang lalu saya memberimu satu ikat jerami, setumpuk tepung atau qat (jenis tumbuh-tumbuhan di arab), maka itu adalah riba.51
50 Hasan: HR. Ahmad, vol. 1, hal. 79. HR. Abu Bakar al-Hanafi dan ad-Dlahak bin Utsman dari Amr dari ayahnya dari kakeknya, HR. Abu Daud, hal. 3504, HR. Tirmidzi, hal. 1234, “Ini adalah hadits hasan shahih.” 51 Shahih: HR. Bukhari, hal. 3814. Menurut al-hafidh, vol. 7, hal. 163, qat: jenis tumbuhan untuk makan ternak. HR. Abdurrazaq, al-Mushannaf, hal. 1463, HR. Al-Baihaqi, vol. 5, hal. 349.

Atsar Ibn Abbas ra. Pernah seseorang datang pada Ibn Abbas seraya berkata, “Saya mempunyai tetangga nelayan, saya memberinya pinjaman sebanyak lima puluh dirham lalu dia membayarnya dengan ikan tangkapannya.” Ibn Abbas berkata padanya, “Hitunglah, jika melebihi dari hutangnya kembalikanlah, dan jika cukup, sampaikanlah padanya.”52 Juga diriwayatkan dari Ibn Abbas ra bahwa dia pernah bercerita tentang seseorang yang memilki hutang sebanyak dua puluh dirham, lalu dia memberi hadiah kepada yang memberinya hutang. Setiap dia (yang berhutang) memberi hadiah, dia (yang memberi hutang) menjualnya sehingga mencapai tiga belas dirham. Lalu kata Ibn Abbas, “Janganlah kamu ambil kecuali hanya tujuh dirham saja.”53 Atsar Ibn Mas’ud ra. Diriwayatkan dari Ibn Sairin, “Seseorang berhutang sebanyak seratus dirham sehingga membuat sakit punggung kudanya. Lalu kata Ibn Abbas, “Yang sampai membuat punggung kudanya sakit itu adalah riba.”54 Atsar Muhammad bin Sairin ra. Diriwayatkan dari Ibn Sairin, “Setiap hutang yang dapat menghasilkan keuntungan adalah makruh”. Mua’ammar berkata, “Qatadah juga mengatakan demikian.”55 Atsar Ibrahin an-Nakha’I. dalam kitab al-Mushannaf (8/144) Abdurrazaq mengatakan: ’alqamah meriwayatkan, “Jika saya berkunjung pada rumah seseorang yang mempunyai hutang padamu lalu saya makan makanannya, maka hitunglah makanan miliknya yang saya makan. Tetapi Ibrahim mengatakan: saya tidak amenghitungnya kecuali kamu berdua sudah sepakat sebelumnya untuk melakukan hal itu. (Shahih). Ijma’. Ijma’ ulama mengutip pendapat Abu Umar bin Abdil Barr dalam kitab alIstidzkar,56 “Ijma’ telah memutuskan bahwa memberikan persyaratan dalam salah satu transaksi di atas adalah termasuk riba.”

52 Shahih: Abdurrazaq, al-Mushannaf, vol. 8, hal. 143. 53 Shahih lighairihi: HR. Baihaqi, vol. 5, hal. 349-350, HR. Andurrazaq, vol. 8, hal. 143. 54 Munqati’: Abdurrazaq, hal. 14518. 55 Dlaif: Abdurrazaq, vol. 5, hal. 145. 56 Al-Istidzkar, vol. 21, hal. 35. Ijma’ memutuskan berdasarkan pendapat an-Nawawi dalam al-Majmu’, Ibn Rusyd dalam Bidayatul Mujtahid, al-Baghawi dalam syarh as-Sunnah. Lih. Ensiklopedi Ijma’ dalam al-Fiqh al-Islami, vol. 1, hal. 170.

PENDAPAT PARA IMAM MENYANGKUT BAB DI ATAS Imam malik ra mengatakan, “Tidak boleh mengambil hadiah dari orang yang mempunyai hutang padanya, kecuali bila sudah diketahui sebelumnya oleh keduanya, dan dia (yang memberi hutang) mengetahui bahwa hadiah tersebut bukan untuk membeyar hutang. Imam Abu Hanifah, Imam Syafi’I, dan para pengikutnya mengatakan, “Jika dalam pengembalian hutang seseorang mensaratkan lebih, maka hal itu menjadi haram. Begitu pula jika orang yang berhutang disyaratkan agar memberi hadiah. Jika pemberian hadiah tersebut tanpa disyaratkan sebelumnya, maka hal itu boleh. Mereka mengatakan, “Setiap hutang yang menghasilkan keuntungan dan tidak mengendung kebaikan sedikitpun adalah haram.” Ibrahim juga meriwayatkan hal yang serupa. At-Thahawi mengatakan, “Menurut ulama, keharaman menyangkut keuntungan yang dihasilkan dari hutang tersebut adalah apabila disyaratkan sebelumnya. Jika pemberian hadiah tidak disyaratkan sebelumnya, maka maka hal itu boleh, begitu pula jika dia makan makanan yang disediakan olehnya (orang yang berhutang). Sedangkan menurut al-Laits bin Saad, menerima hadiah atau makan makanan dari orang yang berhutang padanya adalah perbuatan makruh. Ubaidillah bin al- Hasan mengatakan, “Seseorang dibolehkan menerima hadiah dari orang yang berhutang padanya. Yakni setelah Ibn Abdil Barr mengutip pendapat para imam terdahulu dalam kitab al-Istidzkar,57 “Ijma’ telah memutuskan bahwa memberikan persyaratan dalam salah satu transaksi di atas adalah termasuk riba. Maka transaksi pertama (jika terjadi dua transaksi jual beli yang dijadikan satu) adalah dibolehkan dan mempunyai dalil yang jelas, dan transaksi jual beli yang kedua adalah diharamkan dan mempunyai dalil yang jelas pula. Menurut saya, “Pendapat terakhir Ibn Abdil Barr adalah pendapat yang masih umum dan masih membutuhkan penjelasan yang lebih rinci dan jelas. Jika seseorang berhutang dan bermaksud mengembalikannya lebih dari hutangnya tanpa ada syarat sebelumnya, maka hal ini diperbolehkan dan dalilnya sudah jelas. Tetapi apabila pada waktu memberikan hutang dia mensaratkan agar pengambaliannya dilebihkan, maka hal ini
57 Al-Istidzkar, vol. 21, hal. 50, 53.

diharamkan dan sudah jelas dalilnya. Al-Khirqi mengatakan, “Murtahin (orang yang menerima barang gadaian) tidak boleh memanfaatkan sedikitpun dari barang gadaian kecuali dari hewan yang dapat kendarai dan diambil susunya, maka dia boleh mengendarai dan mengambil air susunya sesuai dengan kadar makanan yang dia (murtahin) berikan pada hewan itu. Dalam kitab asy-Syarh Ibn Qudamah mengatakan, “Pendapat mengenai masalah barang gadaian ini dapat digolongkan menjadi dua kelompok. Salah satunya adalah, barang yang tidak membutuhkan biaya hidup seperti rumah dan perabotan-perabotannya, dan halhal lain yang serupa. Maka murtahin tidak boleh memanfaatkannya tanpa seizin rahin (orang yang menggadaikan), dia boleh memanfaatkannya tetapi harus membayar ganti bila ada kerusakan atau kekurangan. Dan menjadikan barang gadaian sebagai hutang juga tidak diperbolehkan, karena hal itu termasuk dalam hutang yang menghasilkan keuntungan, yang demikian itu adalah haram.58 Dalam kitab Majmu’ al-Fatawa, syaikhul islam Ibn Taimiyah ra mengatakan, “Saya pernah ditanya, bagaimana jika seseorang mempunyai sebidang tanah yang dikerjakan dengan upah empat ratus dirham per liter. Lalu dia menyerahkan tanah itu pada para petani untuk dikerjakan dengan upah dua ratus dirham lebih per liternya, mereka lalu memutuskan menjadi tujuh ratus dirham per liter, apakah itu termasuk riba?” Saya jawab, “Alhamdulillah, setiap hutang yang dimanfaatkan untuk mengambil keuntungan, maka itu adalah riba. Seperti halnya jual beli dan sewa menyewa, yakni berat sebelah dengan adanya pemihakan pada transaksi jual beli dan barang sewaan yang akan dihutangkan.” Maksud dari “Tidak boleh pinjam-meminjam dengan bunga dan juga jual beli yang berat sebelah”59 adalah misalnya seseorang memberi hutang, kemudian orang yang diberi hutang membeli barang dagangan dengan uang tersebut, lalu ia jual seharga 150 dirham, maka kelebihan limapuluh dirham itu adalah riba. Demikian pula jika seseorang memberi hutang, lalu orang diberi hutang menyewakannya pada orang lain dengan harga dua dirham lebih banyak, maka dengan satu dirhamnya dia memperoleh keuntungan sebesar dua dirham. Bahkan termasuk perbuatan yang dilakukan oleh para pengajar, mereka berhutang dan cenderung akan mengambil keuntungan dengan disewakan, itu adalah riba. Demikian
58 Al-Mughni, vol. 6, hal. 509. 59 Hasan: HR. Abu Daud, hal. 3504, HR. Tirmidzi, hal. 1234, “Ini adalah hadits hasan shahih.”, HR. Ahmad, vol. 2, hal. 174, 179. semua riwayat ini dari jalur Amr bin Syuaib dari ayahnya dari kakeknya sebagai hadits marfu’, silsilah ini diambil dari silsilah yang semua haditsnya masuk dalam kategori hasan.

pula jika seseorang menyewakan tanah, rumah, atau toko dengan harga seratus dirham. Lalu orang yang menyewakan dengan sengaja mengakhirkan pembayaran dengan maksud akan mengambil keuntungan lima puluh dirham dari padanya, maka hal itu adalah riba.” Menurut Imam as-Syairazi dalam kitab al-Muhadzdzab60, “Hutang yang digunakan untuk mengambil keuntungan adalah diharamkan. Seperti seseorang yang memberi hutang dengan syarat orang yang akan diberi hutang menjual rumahnya pada yang memberi hutang. Atau pengembaliannya harus lebih baik dan lebih banyak dari hutangnya. Atau dengan mengirim suftaj(wesel)61 dengan maksud akan diambil di tempat lain atau di perjalanan. Dalil yang menjelaskan keharaman hal tersebut adalah hadits riwayat Amr bin Syu’aib dari ayahnya dari kakeknya, bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Haram pinjammeminjam dengan bunga dan juga jual beli yang berat sebelah.” Lafadz ‫لف‬gg‫ الس‬sama artinya dengan ‫رض‬gg‫ , الق‬hanya saja lafadz ‫لف‬gg‫ الس‬berasal dari bahasa Hijaz. Ubai bin Ka’ab meriwayatkan dari Ibn Mas’ud dari Ibn Abbas ra bahwa mereka telah dilarang Rasulullah akan hutang yang dimaksudkan untuk mengambil keuntungan.” Hal di atas adalah termasuk akad yang dimaksudkan untuk memperoleh untung, karena jika demikian, maka hal itu akan keluar dari makna esensialnya. Ringkasan Masalah: Menjadikan hutang sebagai sumber pencarian keuntungan yang disyaratkan atas orang yang berhutang adalah haram. Contohnya adalah seperti ucapan: saya akan memberi hutang padamu dengan syarat kamu harus bekerja untukku dengan upah yang lebih sedikit dari upah umum. Atau seperti ucapan: saya akan memberi hutang padamu dengan syarat kamu harus menjual demikian. Atau: saya akan memberi hutang padamu dengan syarat kamu harus menyewakan rumah atau tokomu padaku. Sehingga dengan pensyaratan itu, pemberi hutang memperoleh harga miring kurang dari harga biasanya. Maka semua hal di atas diharamkan, karena ijma’ ulama mengatakan hal tersebut. Tentang hadits Nabi SAW yang artinya : Tidak boleh pinjam-meminjam dengan bunga dan juga jual beli yang berat sebelah, adalah sebagai berikut:
60 Lih. Al-Majmu’ Syarh Muhadzab, vol. 13, hal. 170. 61 Suftajah: bahasa Persia (oleh pensyarah kitab at-Takmulah), artinya: peminjam mengirim surat kilat pada pemberi pinjaman, bahwa dia akan membayar di tempat lain. Surat ini Pada zaman sekarang disebut dengan telegram.

Jika tidak ada pensyaratan dalam pengembalian atau bahkan orang yang berhutang memang bermaksud mengembalikan lebih dari hutangnya dengan senang hati, maka hal itu tidak menjadi masalah, sebab Rasulullah SAW juga melakukan hal itu, juga sabda beliau, “Yang paling baik di antara kamu adalah orang yang mengembalikan hutang dengan baik.” Sedangkan jika orang yang berhutang bermaksud memberi hadiah atau menjamu makan pada orang yang memberinya hutang, maka sebagian ulama menghukuminya makruh kecuali jika hadiah dan jamuan makan tersebut sudah diketahui oleh keduanya sebelum akad, maka tidak menjadi masalah dan hukumnya tidak makruh.

BOLEH MENGEMBALIKAN LEBIH DARI HUTANG YANG SEBENARNYA JIKA TIDAK ADA PENSYARATAN SEBELUMNYA Diriwayatkan dari Abu Hirarirah ra bahwa seseorang pernah berperkara pada Rasulullah SAW, lalu dia berkata kasar pada beliau, mengetahui hal itu sahabat menjadi gusar, kemudian Rasulullah SAW bersabda, “Panggillah dia, karena dia berhak menerima panggilan. Lalu belilah unta dan berikanlah padanya.” Para sahabat kemudian mengatakan, “Kami tidak menemukan seekor pun unta kecuali lebih tua dari unta yang engaku katakan.” Lalu Rasulullah bersabda, “Beli sajalah dan berikan padanya, karena orang ynag paling baik di antara kamu adalah orang yang paling baik ketika mengembalikan hutang.”62 Jabir bin Abdillah ra meriwayatkan, “Rasulullah pernah mempunyai hutang kepadaku, lalu beliau mengembalikan lebih dari hutangnya.”63 Menurut Imam an-Nawawi ra dalam kitab Syarh Muslim (11/39), “Dianjurkan bagi orang yang memilki hutang baik dari transaksi pinjam-meminjam atau lainnya, untuk mengembalikan dengan lebih baik dari hutangnya. Karena hal ini termasuk sunnah Nabi dan akhlak yang mulia. Hutang yang dimaksudkan untuk mengambil keuntungan adalah diharamkan. Larangan tersebut yakni apabila hal itu disyaratkan sebelumnya dalam akad.” Menurut madzhab kami, bahwa mengembalikan lebih dari hutang yang sebenarnya adalah dianjurkan, dan orang yang memberikan hutang diperbolehkan mengambilnya, baik kelebihan dalam sifat (lebih bagus) maupun dalam jumlah (lebih banyak). Misalnya seseorang memberi hutang sebesar sepuluh, kemudian orang yang berhutang mengembalikan kepadanya sebelas. Imam Malik dalam kitab al-Muwaththa’ (hal. 524) mengatakan, “Hamid bin Qais alMakki meriwayatkan dari Mujahid: Abdullah bin Umar ra pernah berhutang pada seseorang beberapa dirham, kemudian dia mengembalikan hutang dengan barang yang lebih bagus. Kata orang tersebut: Ya Abu Abdurrahaman, dirham yang kamu kembalikan ini lebih bagus kualitasnya dari dirham yang saya pinjamkan padamu dulu. Tapi kata Abdullah bin Umar: Iya benar, tetapi aku mengembalikannya dengan senang hati.”64 Imam Malik melanjutkan, “Diperbolehkan menerima barang kembalian lebih, baik
62 Muttafaq alaih: HR. Bukhari, hal. 2390, HR. Muslim, hal. 1224, 1225, dari Abu Rafi’. 63 Shahih: HR. Bukhari, hal. 2394, HR. Abu Daud, hal. 3347. 64 Hasan: Hamid bin Qais. Dalam at-Taqrib, al-Hafidh mengatakan: hadits ini tidak bermasalah. Menurut saya: hadits ini menjadi marfu’ dilihat dari tingkatannya. Tetapi Bukhari, Ibn Mu’in, Abu Daud, Ibn Saad dan Ahmad mepercayai menganggap tsiqah hadits ini. Menurut riwayat lain, hadits ini adalah dla’if. An-Nasai mengatakan, “Hadits ini ridak bermasalah.”

sifat maupun jumlahnya, baik berupa emas, makanan, atau hewan, selama hal itu tidak disyaratkan atau menjadi kebiasaan. Jika hal itu disyaratkan atau sudah menjadi kebiasaan, maka hal itu dimakruhkan dan tidak termasuk perbuatan baik.”

BOLEH MERINGANKAN NOMINAL HUTANG Ka’ab ra menceritakan bahwa dia pernah berpekara masalah hutang dengan Ibn Abi Hadard di masjid dengan suara tinggi, sampai-sampaa Rasulullah SAW yang sedang berada di rumahnya mendengar pembicaraab itu. Lalu beliau keluar sambil menyingkap korden kamarnya seraya memanggil, “Wahai Ka’ab.” “Baik ya Rasulullah.” Lalu beliau bersabda sambil menunjuk ke suatu arah, “Kurangilah nominal hutangnya padamu.” “Saya sudah menguranginya ra Rasulullah.” Jawab Ka’ab. Lalu Rasulullah bersabda kembali, “Kalau begitu, cepat selesaikan perkara hutangmu.”65 Dalam kitab al-Fath (5/364), al-Hafidh memberikan komentarnya, “Hadits tersebut menunjukkan bahwa orang yang mempunyai hutang boleh meminta keringanan nominal hutangnya.” Tetapi madzhab Malikiyah menganggap hal ini makruh, alasannya karena pemberi hutang akan terpaksa memberikan keringanan ketika itu. Menanggapi hal ini, al-Qurthubi mengatakan, “Yang dimaksud makruh oleh madzhab malikiyah barangkali adalah khilaf al-aula (tidak melaksanakan yang utama). Aisyah ra meriwayatkan, “Suatu saat Rasulullah mendengar suara orang yang sedang bertengkar dengan nada tinggi di pintu. Lalu salah seorang meminta agar diberi keringanan nominal hutang dan menagihnya dengan baik-baik. Lalu orang yang diminta menjawab, “Demi Allah saya tidak akan melakukannya lagi.” Melihat hal itu Rasulullah keluar mendatangi keduanya, “Siapa tadi yang bersumpah atas nama Allah dan tidak melakukan kebaikan?” “Saya ya Rasulullah, dia telah mendapatkan semua belas kasihanku.”66 Menanggapi hadits ini, an-Nawawi dalam kitab Syarh Muslim (10/463) mengatakan, “Yang dimaksud dengan ‘minta diberi keringanan nominal hutang dan meminta agar menagih secara baik-baik’ adalah keringanan dan penagihan hutang. Hadits ini menjadi dalil bahwa hal-hal semacam ini diperbolehkan, selama dilakukan dengan baik-baik, tidak memaksa dan medesaknya serta tidak menghina dan merendahkan martabatnya, kecuali bila dalam keadaan terpaksa. Wallahu a’lam. Al-Hafidh ibn Hajar dalam kitab al-Fath (5/363) mengatakan, “Yang dimaksud ‘telah mendapatkan semua belas kasihanku’adalah memberinya keringanan nominal hutang dan menagihnya secara baik-baik. Dalam hadits lain riwayat Ibn Hubabn, “Orang yang diminta
65 Muttafaq alaih: HR. Bukhari, hal. 2710, HR. Muslim, hal. 396, HR. Ahmad, vol. 6, hal. 39o. HR. Abu Daud, hal. 3590, HR. An-Nasai dalam bab “Adab membayar hutang”, hal. 19. 66 Muttafaq alaih: HR. Bukhari, hal. 2705, HR. Muslim, hal. 3960.

mengatakan: kalau saya mau, saya akan ringankan nominal hutangmu, dan kalau saya mau saya akan meminta keseluruhan hutangmu, orang itu menganggap bahwa yang dimaksud dengan meringankan adalah mengurangi nominal hutang, menagihnya secara baik-baik dan tidak melebih-lebihkannya. Hadits ini menekankan agar menagih hutang secara baik-baik dan berbuat baik pada orang yang mempunyai hutang dengan memberinya keringanan dalam nominal hutangnya. Mengenai lafadz al-mutaalli dalam hadits tersebut, al-Hafidh mengatakan, “Almuta’alli (dengan mim dlammah, lam dan hamzah fathah, dan lam kedua tasydid dan berharkat kasrah) adalah berarti orang yang bersungguh-sungguh dalam bersumpah, almutaalli diambil dari akar kata aliyah yang bermakna hutang. Jabir ra meriwayatkan, “Abdullah tertimpa musibah, dia meninggalkan banyak anak dan hutang. Lalu saya meminta pada orang-orang yang pernah memberikan pinjaman hutang pada Abdullah agar bersedia memberi keringanan nominal hutangnya, tetapi ternyata mereka tidak bersedia. Saya kemudian menemui Rasulullah untuk meminta pertolongan pada beliau, tapi tetap saja mereka tidak bersedia. Lalu Rasulullah SAW bersabda, “Sisihkan dari kurma yang kamu punya sesuai dengan klasifikasinya, anggur, air susu dan makanan juga demikian, mintalah pada orang yang berkemampuan agar bersedia menyisihkannya. Lalu taruhlah di hadapan orang-orang yang tidak bersedia itu sampai aku menemui kamu.” Lalu saya melaksanakan perintah beliau. Beberapa saat kemudian Rasulullah SAW datang lalu duduk seraya menimbang bagian hutang tiap-tiap orang itu dan memberikannya sampai hutang Abdullah terlunasi. Tetapi saya melihat kurmanya masih utuh seakan tidak pernah dijamah.67

67 Muttafaq alaih: HR. Bukhari, hal. 2705, HR. Muslim, hal. 3960.

RIBA
Etimologi Al-Qurthubi ra (Jami’ul Bayan 3/101) : al-irba’= melebihkan sesuatu. Misalnya pernyataan, “Seseorang memberi tambahan lebih pada seseorang.” (arba-yurbi-irba’). Kelebihan/tambahan itulah yang disebut riba. Disebut melebihkan barang ialah apabila dia memberi tambahan pada barang itu sehingga menjadi lebih banyak dari sebelumnya. Orang yang melebihkan barang itu disebut murbin/al-murbi, karena dia melipatgandakan harta yang menajdi tanggungan orang yang berhutang padanya, yakni dengan harus membayar lebih pada saat pengembalian hutang. Semakin akhir dia mengembalian hutangnya dari waktu yang telah disepakati sebelumnya, maka semakin berlipat pula hutang yang harus ia bayarkan. Oleh karena itu, Allah SWT berfirman, “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu memakan riba dengan berlipat ganda dan bertakwalah kamu kepada Allah supaya kamu mendapat keberuntungan.” (Ali Imran: 130) Riba ada dua maca; pertama, riba nasiah, yakni pembayaran lebih yang disyaratkan kepada orang yang berhutang bila dia mengakhirkan pembayaran dari waktu yang telah ditentukan. Riba inilah yang umum terjadi dalam masyarakat Arab zaman jahiliyah. Dalam kitab Jami’ul bayan (3/101) at-Thabari meriwayatkan dari Mujahid, “Praktik riba yang dilarang Allah pada masa jahiliyah ialah seperti seseorang yang memiliki hutang pada seseorang lalu ia mengatakan, “Kamu memiliki hutang padaku sebayak sekian dirham, maka bila kamu tidak membayarnya tepat waktu, maka kamu harus membayar lebih dari hutangmu.” Dalam kitab Nasful Masdar at-Thabari juga meriwayatkan dari Qatadah, “Riba pada masa jahiliyah yakni membeli barang pada seseorang sampai waktu tertentu (pembeli belum menyerahkan uangnya), bila sudah sampai pada waktunya sedangkan pembeli tidak mampu membayarnya, maka dia boleh mengakhirkan pembayaran dengan syarat harus membayar lebih dari harga sebelumnya. Kedua, riba fadhl, yakni menukar salah satu dari enam macam barang yang telah dilarang Rasulullah dengan barang sejenis dengan takaran yang berbeda. Misalnya, menukar satu kilo kurma yang kualitasnya baik dengan dua kilo kurma yang kualitasnya

lebih jelek. Enam macam barang tersebut yakni emas, perak, gandum, kurma, tepung, garam dan barang yang serupa. Hukum transaksi riba: haram dan pelakunya mendapatkan dosa besar. Dalil-dalil yang menunjukkan keharamannya telah termuat dalam al-Kitab, as-Sunnah dan ijma’. Dalil al-Kitab: “ šOrang-orang yang makan (mengambil) riba tidak akan dapat berdiri melainkan seperti berdirinya orang yang kemasukan syaitan karena (tekanan) penyakit gila. Keadaan mereka yang seperti itu, adalah disebabkan perkataan (pendapat) mereka, “Sesungguhnya jual beli itu sama dengan riba”, padahal Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba. Maka bagi orang yang telah sampai padanya larangan Tuhannya, lalu terus berhenti (dari mengambil riba), Maka baginya apa yang Telah diambilnya dahulu (sebelum datang larangan); dan urusannya (terserah) kepada Allah. Orang yang kembali (mengambil riba), Maka orang itu adalah penghuni-penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya.” (Al-Baqarah: 275) “Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan tinggalkan sisa riba (yang belum dipungut) jika kamu orang-orang yang beriman.” (Al-Baqarah:278) “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu memakan riba dengan berlipat ganda dan bertakwalah kamu kepada Allah supaya kamu mendapat keberuntungan. Dan peliharalah dirimu dari api neraka, yang disediakan untuk orang-orang yang kafir.” (Ali Imran: 130-131) Dalil as-Sunnah: Jabir ra meriwayatkan, “Rasulullah melaknat orang yang memakan harta riba, yang melakukan transaksi, pencatat, dan dua saksi di dalamnya. Mereka sama hukumannya.”68 Abu Hurairah meriwayatkan bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Hindarilah jauh-jauh
68 Muttafaq alaih: HR. Bukhari dari hadits Abu Hanifah, HR. Para pemilik kitab as-Sunan dari hadits Ibn mas’ud dan Ahmad, vol. 5, hal. 225, HR. Muslim, hal. 4069, HR. An-Nasai, hal. 2238, HR. Abu Daud, hal. 3333, HR. Tirmidzi, hal. 1206.

tujuh dosa besar.” Para sahabat bertanya, “Apa tujuh dosa besar itu ya Rasul?” Rasulullah menjawab, “Menyekutukan Allah, sihir, membunuh seseorang yang diharamkan membunuhnya kecuali dengan hak, makan harta riba, makan harta anak yatim, lari dari pasukan saat sedang berkecamuk perang, dan menuduh berzina pada perempuan beriman yang lalai dan sudah bersuami.”69 Dalil Ijma’: Ijma’ mengutip pendapat as-Shana’ani dalam kitab Subul as-Salam, tidak ada seorang pun dari para sahabat Rasulullah sampai hari ini yang mengatakan dan menyaksikan akan halanya praktik riba. Imam Nawawi mengatakan dalam kitab Syarh Muslim (11/9), “Secara umum, umat muslim telah menyepakati keharaman praktik riba. Sekalipun masih berbeda pendapat dalam batasan-batasan dan cabang-cabangnya.” Firman Allah: “Allah memusnahkan riba dan menyuburkan sedekah. Allah tidak menyukai setiap orang yang tetap dalam kekafiran dan selalu berbuat dosa.” (Al-Baqarah: 276). Ibn Mas’ud ra meriwayatkan, “Rasulullah SAW bersabda: Sekalipun praktik riba marak dilakukan, tetapi akibatnya tidak dapat disadari.”70 Dalam kitab jami’ul Bayan (3/104) at-Thabari mengatakan, “Maksud lafadz yamhaqullahu ar-riba dalam ayat di atas adalah: Allah meminimalisir riba dan kemudian memusnahkannya. Maksud inilah yang ditunjukkan oleh hadits riwayat Abdullah bin Mas’ud di atas. Siksa Kubur bagi Orang yang Melakukan Praktik Riba: Samurah bin Jundub meriwayatkan, “Rasulullah seringkali bersabda pada para sahabat: “Apakah di antara kamu ada yang mengetahui apa mimpiku semalam?”. Lalu Rasulullah mengisahkan mimpinya. Pada suatu hari di siang yang terik Rasulullah bercerita,
69 Muttafaq alaih: HR. Bukhari, hal. 2766, HR. Muslim, hal. 258. 70 Shahih: HR. Ahmad, vol. 1, hal. 395-424 dari Hajaj dan Abu Kamil dari Syarik pengikut Israil, HR. AlHakim, vol. 2, hal. 37 dari jalur yang sama. dalam riwayat al-hakim ini, ada perawai yang masih diragukan, yakni Ahmad bin Ja’far al-Quthi’I. Masih ada ketidakjelasan di sini, yakni dia meriwayatkan dari gurunya dari Israil sebagai ganti dari Syarik. HR. Ibn Uday dalam al-Kamil, vol. 4, hal. 18, biografi Syarik, HR. Ibn Majah, hal. 2297 dari jalur Israil.

“Pada suatu malam, dua orang utusan mendatangiku seraya berkata: “Mari kita pergi!”, kemudian aku berangkat bersama mereka berdua menuju sebuah sungai.” Kira-kira, saya (Samurah) mendengar beliau mengatakan, “Air sungai tersebut merah menyala bagaikan darah, tiba-tiba saya melihat seseorang berenang dan seseorang lagi di tepi sungai membawa banyak batu yang telah dia kumpulkan. Lalu orang pertama tadi berenang lebih cepat mendatangi orang yang membawa banyak batu, membuka mulutnya lebar-lebar lalu memakan batu-batu itu. Kemudian dia pergi dan sesaat kemudian kembali melakukan hal serupa beberapa kali. Lalu aku bertanya pada dua orang yang bersamaku tadi, “Apa arti semua ini?” “Mari kita pergi”, kata mereka. Kataku lagi, “Sungguh sejak tadi malam saya heran menyaksikan kejadian di hadapanku, apa sebenarnya itu?” Mereka berdua menjawab, “…orang yang berenang di sungai dan memakan batu-batu itu adalah orang yang memakan harta riba.”71 Al-Hafidh ibn Hajar (Al-Fath 12/465) mengatakan, “Ibn Hubairah mengatakan bahwa siksa orang yang memakan harta riba dengan harus berenang di sungai dengan air yang merah dan memakan batu, adalah karena riba terjadi pada emas, sedangkan warna emas adalah merah. Batu yang banyak itu tidak dapat menjadikannya kaya, begitu pula orang yang melakukan praktik riba, dia tidak akan menjadi kaya. Dia selalu berangan-angan hartanya akan bertambah, padahal Allah akan menjungkalkannya dari belakang.” Siksa bagi Orang yang Makan Harta Riba pada Hari Kiamat: “Orang-orang yang makan (mengambil) riba tidak akan dapat berdiri melainkan seperti berdirinya orang yang kemasukan syaitan karena (tekanan) penyakit gila. Keadaan mereka yang seperti itu, adalah disebabkan perkataan (pendapat) mereka, “Sesungguhnya jual beli itu sama dengan riba”, padahal Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba. Maka bagi orang yang telah sampai padanya larangan Tuhannya, lalu terus berhenti (dari mengambil riba), Maka baginya apa yang Telah diambilnya dahulu (sebelum datang larangan); dan urusannya (terserah) kepada Allah. Orang yang kembali (mengambil riba), Maka orang itu adalah penghuni-penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya.” (Al-Baqarah: 275)
71 Shahih: HR. Bukhari, hal. 7047.

Ibn Jarir at-Thabari dalam kitab Jami’ul Bayan (3/101) mengatakan, “Allah berfirman kepada orang-orang yang melakukan praktik riba di dunia, yakni orang-orang yang telah kami sebutkan sifat-sifatnya, bahwa mereka tidak akan dapat berdiri di akhirat ketika sudah bangkit dari kubur melainkan seperti berdirinya orang yang kemasukan syaitan karena tekanan penyakit gila. Maksudnya adalah: syaitan membuanya gila di dunia, orang yang dibuat gila ini bertingkah layaknya orang yang mengidap penyakit ayan (epilepsi) sebab tekanan penyakit gila. Al-Qurthubi ra dalam kitab Ahkamul Qur’an (3/229) mengatakan, “Maksud dari ‘ketika sudah bangkit dari kubur’ menurut Ibn Abbas, Mujahid, Ibn Jubair, Qatadah, arRabi’, ad-Dlahhhak, as-Suda, Ibn Zaid72, adalah syaitan membuat mereka tercekik. Pendapat ini masih diperdebatkan, tetapi mereka sepakat apabila diartikan bahwa mereka dibangkitkan kelak di akhirat seperti halnya orang gila sebagai bentuk siksaan bagi mereka dan pembedaan dari makhluk lain yang berkumpul di padang makhsyar. Ta’wil yang disepakati oleh para sahabat ini dikuatkan oleh bacaan versi Ibn Mas’ud, yakni ayat: la yaqumuna yaumal qiyamati illa kama yaqumu. (mereka tidak dapat berdiri pada hari kiamat melainkan seperti berdirinya…dan seterusnya). Firman Allah: “Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan tinggalkan sisa riba (yang belum dipungut) jika kamu orang-orang yang beriman. Maka jika kamu tidak mengerjakan (meninggalkan sisa riba), Maka ketahuilah, bahwa Allah dan rasul-Nya akan memerangimu. Dan jika kamu bertaubat (dari pengambilan riba), maka pokok hartamu tetap menjadi hakmu; kamu tidak menganiaya dan tidak (pula) dianiaya.” Al-Qurthubi ra dalam kitab Jami’ al-ahkam al-Quran (3/235) mengatakan, “Dengan ayat ini, Allah mengancam akan memerangi orang-orang yang tetap melakukan prktik riba. Ibn Abbas menceritakan bahwa orang yang memakan harta riba akan ditantang pada hari kiamat kelak, “Cepat ambillah senjatamu, mari berperang!”73 Ibn Abbas, “Pemimpin umat muslim harus meminta orang yang tidak mau berhenti
72 Semua atsar ini adalah riwayat at-Thabari, vol. 3, hal. 102 dengan sanad-sanad shahih dan hasan, terkecuali atsar Ibn Jubai yang dlaif, di antara perawinya terdapat at-Thabari ibn Humaid ar-Razi, periwayatannya dianggap lemah. Dalam atsar ar_Rabi’ disebutkan, “Diriwayatkan padaku dari Ammar.” 73 HR. Ibn Jarir dengan sanad hasan, akan tetapi saya tidak menemukan kebaikannya disebut dakam bibliografinya. Jami’ al-Bayan, vol. 3, hal. 102.

melakukan praktik riba agar bertaubat, jika dia tetap melakukannya maka dia harus dipenggal lehernya.” Ibn Qatadah mengatakan, “Allah mengancam akan memerangi orang yang melakukan praktik riba, mereka akan mendapatkan keburukan dari mana pun mereka mendapatkan harta riba itu.” Ibn Khuwaiz Mindad mengatakan, “Seandainya penduduk suatu negeri menyatakan bahwa praktik riba dibolehkan, maka mereka boleh diperangi. Sebab Allah SWT telah membolehkan untuk memerangi mereka dengan berfirman, “Maka ketahuilah, bahwa Allah dan rasul-Nya akan memerangimu.” Al-Qurthubi, “Ayat ini menunjukkan bahwa memakan harta riba dan melakukan praktiknya merupakan perbuatan dosa besar, semua ulama menyepakati hal ini.” Jabir ra meriwayatkan, “Rasulullah melaknat orang yang memakan harta riba, yang melakukan transaksi, pencatat, dan dua saksi di dalamnya. Mereka sama hukumannya.”74 Haram Jual Beli dengan Tenggang Waktu Tertentu Abi Sa’id al-Khudri ra meriwayatkan, “Rasulullah SAW bersaba: Emas dengan emas, perak dengan perak, gandum dengan gandum, tepung dengan tepung, kurma dengan kurma, garam dengan garam, masing-masing harus ditukar dengan yang sejenis dan seimbang. Orang yang melebihkankannya, sengaja atau tidak, maka pemberi dan penerima telah melakukan prektik riba, keduanya dihukumi sama (yakni telah melakukan dosa besar dan akan disiksa).75 Imam Nawawi dalam kitab Syarh Muslim (11/12) mengatakan, “Dengan hadits ini, Rasulullah SAW telah menegaskan keharaman riba dalam enam macam barang, yakni emas, perak, gandum, tepung, kurma, dan garam.” Ulama sepakat bahwa boleh menjual/menukar barang yang tidak sama takarannya dan diberi tenggang waktu tertentu, dengan syarat kedua barang itu tidak sama dalam jenisnya. Seperti emas dengan gandum, perak dengan tepung dan sebagainya. Ulama juga sepakat bahwa tidak boleh menjual/menukar barang yang sama jenisnya bila diberi tenggang waktu tertentu. Tidak boleh pula bila barang yang sejenis itu tidak sama dalam takarannya, misalnya menukar emas dengan emas pada saat akad yang takarannya tidak sama. Apabila barang yang dipertukarkan/diperjualbelikan itu sejenis, atau tidak sejenis tetapi masih dalam satu kelompok seperti emas dengan perak dan gandum
74 Telah disebut sebelumnya. 75 Muttafaq alaih: HR. Bukhari secara terpisah, hal. 2176, HR. Muslim, hal. 4040, HR. Ahmad, hal. 413, HR. Para pemilik kitab as-Sunan.

dengan tepung, maka kedua orang yang melakukan transaksi itu tidak boleh berpisah sebelum saling menerima barang masing-masing yang dipertukarkan. Bila kedua barang tidak sejenis maka takarannya boleh tidak sama, dengan syarat kedua belah pihak harus saling menerima barang yang dipertukarkan itu, misalnya satu karung gandum dengan dua karung tepung. Ulama telah menyepakati hal ini, tidak ada perbedaan di antara mereka. Contoh Model Jual Beli/Tukar Menukar yang Diharamkan Sebab Diberi Tenggang Waktu Tertentu 1. Emas dengan Perak yang diberi tenggang waktu Jual beli model ini tidak diperbolehkan dan hukumnya haram. Meskipun demikian, jual beli model ini banyak dilakukan oleh umat muslim. Imam Nawawi (Syarh Muslim 11/13), “Ulama telah menyepakati keharaman jual beli emas dengan emas dan perak dengan perak yang diberi tenggang waktu. Hal ini berdasarkan hadits Nabi; “Janganlah kamu melakukan jual beli bila tidak duduk dalam suatu tempat.” “Janganlah kamu melakukan tukar menukar emas dengan emas dan mata uang dengan mata uang kecuali bila sama takarannya.” “Menukar mata uang dengan emas adalah riba kecuali bila kedua belah pihak menyetujui.” “Jika barang-barang yang kamu perjual belikan tidak sama dalam jenisnya, maka kalian boleh menjualnya dengan cara apapun, asalkan kedua belah pihak saling menerima barang yang diperjual belikan itu.”76 Imam Nawawi (Syarh Muslim 11/17), “Yang di maksud dengan ‘kedua belah menyetujui’ dalam hadits di atas adalah, salah seorang mengatakan, “Ambillah barang ini”, lalu yang lain juga mengatakan hal yang sama. Dan mengenai saling menerima antara kedua belah pihak, para ulama telah menyepakati bahwa hal itu harus dilakukan, sekalipun jenis barang yang diperjual belikan tidak sama. Menurut saya, “Di antara bencana dan musibah yang umum terjadi di zaman sekarang adalah perempuan menjual perhiasan lamanya untuk diganti dengan perhiasan yang baru. Sebelum perhiasan lamanya terjual dan diterima dengan sempurna, dia lalu membeli perhiasan baru dengan tambahan uang kekurangan dari perhiasan lama. Bila disampaikan
76 Semua hasids ini terdapat dalam Shahih Bukhari dan Shahih Muslim atau salah satunya.

bahwa hal tersebut haram dan tidak diperbolehkan, maka mereka akan mengatakan, “Apa perbedaannya, pada initinya sama.” Maka kami akan menjwab, “Perbedaannya adalah antara berbuat ketaatan dan kemaksiatan kepada Allah.” 2. Menukar sekarung beras dalam negeri dengan dua karung beras impor atau barang lainnnya. Jual beli semacam ini tidak diperbolehkan, baik kontan maupun tempo. Berdasarkan sabda Nabi SAW saat mengutus salah seorang dari Bani Udai al-Anshari untuk dipekerjakan di Khaibar, dia membawa kurma dari selatan. Lalu Rasulullah SAW bertanya padanya, “Apakah semua kurma Khaibar seperti ini?” dia menjawab, “Tidak, demi Allah ya Rasul, kami menukar satu karung kurma Khaibar dengan dua karung kurma keseluruhan.” Rasulullah lalu bersabda, “Jangan melakukannya seperti itu, tetapi harus menukar dengan yang sama takarannya, atau bila tidak, juallah barangmu kemudian hasilnya penjualannya kamu belikan barang yang lain.”77 Dalam suatu riwayat, Rasulullah juga pernah bersabda pada al-Mizan, “Aduh, ini adalah riba. Janganlah kamu lakukan. Apabila kamu ingin membeli kurma, maka maka juallah kurmamu terlebih dahulu dan hasil penjualannya kamu belikan kurma yang ingin kamu beli.” 3. Menukar satu koli beras dengan dua kilo gandum dan diberi tenggang waktu. Jual beli seperti ini ridak diperbolehkan dan hukumnya haram. Berdasarkan hadits Nabi SAW, “Jika barang-barang yang kamu perjual belikan tidak sama dalam jenisnya, maka kalian boleh menjualnya dengan cara apapun, asalkan kedua belah pihak saling menerima barang yang diperjual belikan itu.” Imam Nawawi (Syarh Muslim 11/13), “Semua ulama telah menyepakati keharaman menukar emas dengan emas, perak dengan perak, dan menukar gandum dengan gandum atau tepung yang diberi tenggang waktu, demikian pula setiap dua macam barang yang berada dalam kelompok barang riba.

77 Muttafaq alaih: HR. Bukhari, hal. 222, HR. Muslim, hal. 4058 dan seterusnya.

MEMBAYAR SEBAGIAN HUTANG DAN MEMAJUKAN PEMBAYARAN Apakah orang yang memberi hutang boleh memajukan sebagian pembayaran sebelum tiba waktu pelunasan hutang dengan konsekuensi nominal hutang yang harus dibayar oleh orang yang berhutang menjadi berkurang? Ulama salaf, tabi’in dan para ulama madzhab berbeda pendapat mengenai masalah ini. Ada yang memperbolehkan dan ada yang melarangnya. Ibn Abbas adalah yang termasuk memperbolehkan hal ini (Al-Mushannaf: [8,72] hal. 14361-14362). Abdurrazaq meriwayatkan, “Muammar menceritakan kepada kami dari Ibn Thawus dari ayahnya ari Ibn Abbas ra, bahwa beliau pernah ditanya tentang seorang yang mempunyai hutang dengan tenggang waktu tertentu, orang yang memberi hutang mengatakan, “Percepatlah pembayaran hutangmu, maka saya akan memperingan hutangmu.” Lalu Ibn Abbas menjawab, “Hal seperti ini boleh dilakukan.” Sedangkan menurut riwayat at-Tsauri dari Amr bin Dinar, “Ibn Abbas pernah ditanya tentang masalah ini, tetapi dia menjawab bahwa hal itu tidak boleh dilakukan.” Hal senada juga berasal dari riwayat Ibn Uyainah dari Amr dan Ibn Abbas (Shahih). Tabi’in yang Memperbolehkan; Ibrahim an-Nakhai, “Abdurrahman meriwayatkan ([8,73] hal. 14363-14369), “AtThusi menceritakan kepada kami dari Hammad dan Manshur dari Ibrahim tentang seseorang yang mempunyai hutang dengan tenggang waktu, lalu orang yang memberi hutang mengatakan, “Percepatlah pembayaran hutangmu, maka saya akan memperingan hutangmu.” Ibrahim menjawab bahwa hal itu diperbolehkan. Juga dari Ibrahim an-Nakhai, “Ibn Uyainah menceritakan kepada kami dari Ismail bin Abi Khalid, dia berkata, “Saya mengatakan kepada Syu’ba: ketika Ibrahim ditanya tentang masalah di atas, dia mengatakan bahwa hal itu diperbolehkan. Yang menjadi dalil bagi ulama yang memperbolehkan adalah hadits riwayat addarqathni [3612] dari Abdullah bin Muhammad bin Abdul Aziz bin Mani’ dari Abdullah bin Amr al-Qawariri dari Muslim bin Khalid az-Zunji dari Muhammad bin ali bin yazid bin Rukanah dari daud bin al-Hashin dari Ikrimah dari Ibn Abbas ra, “Bani Nadlir berkata kepada Rasulullah ketika beliau mengusir mereka, “Ya Rasulullah, engkau akan mengusir

kami, sedangkan kami masih memilki banyak tanggungan hutang,” Maka Rasulullah SAW bersabda, “Bayarlah sebagian hutangmu dan majukan pembayarannya!”78 Ahli fiqh yang membolehkan; Abu Tsaur. Ibn Qudamah mengutip pendapat Abu Tsaur dalam kitab al-Mughni (6/109), “Menurut riwayat dari Ibn Abbas, beliau mengatakan bahwa hal tersebut diperbolehkan. Riwayat serupa dari an-Nakhai dan Abu Tsaur, “Karena orang yang memberi hutang telah mengambil sebagian hutang yang menjadi haknya dan membiarkan sisanya, maka dia boleh meringankan hutang yang menjadi tanggungan orang yang berhutang.” Pengikut Abu Hanifah: Ibn Abdil Barr mengutip pendapat mereka dalam kitab alIstidzkar [20/262] dari at-Thahawi, “Diriwayatkan dari Muhammad bin Abbas dari Yahya bin Sulaiman al-Juhfa dari al-hasan bin Ziyad dari Dhafir tentang seseorang yang mempunyai hutang seribu dirham berupa harta atau barang jaminan sampai satu tahun lamanya. Lalu dia diberi keringanan dengan hanya membayar limar ratus dengan kontan. Hal ini diperbolehkan. Ulama yang Melarang; Jumhur Ulama Salaf , Tabi’in dan Empat Imam Madzhab. Ulama Salaf yang tidak memperbolehkan; Umar dan Ibn Umar ra. Abdurrazaq dalam kitab al-Mushannaf [14359] mengatakan, “Ibn Uyainah meriwayatkan kepada kami dari Amr bin Dinar, dia berkata, “Abu al-Minhal Abdurrahman bin Muth’im meriwayatkan kepadaku, “Saya bertanya pada Ibn Umar tentang seseorang yang mempunyai hutang padaku dengan tenggang waktu dan saya lalu mengatakan padanya, “Percepatlah membayar hutang, maka saya akan memperingan hutangmu. Tetapi setelah saya ceritakan, Ibn Umar melarangku berbuat demikian. Beliau mengatkan, “Amirul Mukminin telah melarang kita menukar barang dengan hutang.”79 Abdurrazaq (14354), “Muammar menceritakan pada kami dari az-Zuhri dari Ibn alMushib dari Ibn Umar, “Barang siapa mempunyai hak atas seseorang dengan tenggang waktu tertentu, lalu dia meminta agar pembayarannya dipercepat sebagian, dan supaya
78 Dlaif: HR. Al-hakim dalam al-Mustadrak, vol. 2, hal. 52 dari jalur Muslim bin Khalid bin az-Zanji, dia lemah dlam periwayatan. Ad-Darqathni (as-Sunan vol. 3, hal. 37) mengatakan, “Periwayatan Muslim bin Khalid diragukan, hafalannya buruk dan lemah. Menurut saya: riwayat Daud bin al-Hashin dari Ikrimah adalah diragukan dan dlaif. 79 Shahih: Baihaqi juga meriwayatkan hadits ini, vol. 6, hal. 28.

sisanya dibayar belakangan, maka praktik seperti ini adalah riba. Muammar mengatakan, “Saya melihat bahwa para sahabat dan tabiin membenci prektik demikian.”80 Riwayat Imam Malik (Al-Muwaththa’ 672), “dari Utsman bin Hafsh bin Khaldah dari Ibn Syihab dari Salim bin Abdullah dari Andullah bin Umar bahwa beliau pernah ditanya tentang seseorang yang mempunyai hutang dengan tenggang waktu tertentu lalu orang yang memberikan hutang memperingan agar segera membayar sebagian hutangnya dan sisanya dilunasi belakangan, Ibn Umar menjawab bahwa hal itu tidak diperbolehkan dan harus ditinggalkan.81 Zaid bin Tsabit ra. Riwayat Imam Malik (Al-Muwatha’ 672)82, “Dari Abi Zannad dari basr dari ibn Sa’id dari Ubaid Abi Shalih penguasa as-Sufah: Saya membeli kain pada penduduk kota Nakhli dengan pemberian tenggang waktu. Saat akan menuju kota Kuffah, mereka menawarkan agar saya membayar sebagian harga dulu dan sisanya dibayar nanti. Lalu saya menanyakan hal itu pada Zaib bin Tsabit, beliau menjawab, “Jangan, saya menyuruhmu agar mengambil barang itu dan jangan kamu pisah-pisahkan pembayarannya.” Tabi’in yang tidak memperbolehkan; Sa’id bin al-Musib ra. Abdurrazaq (14357-14358), “Dari at-Tsauri dan Ibn Uyainah dari Daud bin abi Hindi, “Saya pernah bertanya pada Sa’id bin al-Musib tentang hal ini, beliau menjawab, “Itu adalah penukaran dirham yang diberi tenggang waktu, tetapi dibayar dengan dirham yang lebih sedikit dengan mendahulukan pembayaran.”83 Al-Hasan dan Ibn Sirin ra. Abdurrazaq (14356)84, “Dari hisyam dari al-hasan dan Muhammad, bahwa mereka berdua membensi praktik yang demikian, mereka mengatakan, “Kamu boleh menerima tawarannya bila kamu memang ingin membayar lunas sekaligus sebelum waktunya dan tidak memisah-misahkan pembayaran.”85
80 Shahih Ilaih: Hr. Baihaqi dari jalur malik, vol. 6, hal. 28. 81 Shahih lighairihi: Ibn Hubban menganggap tsiqah Utsman bin Hubban, juga Ibn Abdil Barr dalam atramhid. Bukhari menyebut hadits ini dalam at-Tarikh al-Kubra termasuk dalam hadits munkar, Bukhari mengatakan, “Saya tidak tahu, dia apakah Utsman Ibn Abdurrahman. Tetapi ada yang mempersaksikan bahwa ini adalah shahih. 82 Para perawinya tsiqah. Juga diriwayatkan oleh Baihaqi dari jalur malik, vol 6, hal. 28, HR. Abdurrazaq dalam al-Mushannaf, hal. 14355 dari at-Tsauri dari Ibn dzakwan dari Basr bih. 83 Shahih: ini adalah jual beli yang diharamkan, termasuk riba. Karena Nabi SAW telah melarang jual beli emas dengan emas serta perak dengan perak kecuali bila saling menerima barang, saling merelakan dan masing-masing barang sama takarannya. 84 Shahih: Baihaqi juga meriwayatkan ini, vol. 10, hal. 335. 85 Maksudnya dari “Kamu boleh menerima tawarannya bila kamu memang ingin membayar lunas” adalah: dia boleh menerima tawarannya, seperti perabot rumah, baju atau barang bermanfaat lain selain mata uang dirham dan dinar. Transaksi ini termasuk dalam kategori jual beli sebagian dirham dengan dirham lain sebagaimana telah ditegaskan oleh Said Ibn al_Musib. Menerima tawaran diperbolehkan bila dalam

As-Syu’ba dan al-Hikam bin Utaibah ra. Abdurrazaq, “Dari Uyainah dari Ismail bin Abi Khalid, dia mengatakan, “Saya berkata pada Syu’ba, “Tentang seseorang yang mempunyai hutang lalu dia membayar sebagian dan sisanya akan menyusul, Ibrahim mengatakan bahwa hal itu diperbolehkan. Tetapi al-Hikam bin Utaibah membenci hal tersebut. Syu’ba lalu mengatakan, “Al-hikam benar sedangkan Ibrahim salah.”86 Imam Madzhab yang tidak memperbolehkan. Empat Imam Madzhab ra. Ibn Qudamah (Al-Mughni 6/109), “Seseorang mempunyai hak atas hutang yang diberi tenggang waktu, lalu dia mengatakan pada orang yang berhutang padanya, “Bayarlah sebagian hutangmu agar kamu dapat segera melunasinya.” Praktik seperti di atas tidak diperbolehkan. Zaib bin Tsabit, Ibn Umar, al-Miqdad, sa’id bin alMusib, Salim, al-hasan, al-Hummad, al-Hikam, as-Syafi’I, Malik, at-Tsauri, Hasyim, Ibn Ilyah, Ishaq, dan Abu Hanifah juga telah menyepakati ketidakbolehan prektik seperti ini. Imam Malik ra (Al-Muwatha’ 673), “Praktik yang sudah disepakati bahwa hukumnya makruh adalah: seseorang mempunyai hutang sampai waktu tertentu. Dengan membayar hutang dipercepat dari waktu yang sudah disepakati, hutangnya akan lunas hanya dengan membayar sebagian saja. Menurut kami, praktik di atas sama halnya dengan orang yang boleh membayar hutang melebihi dari batas waktu yang ditentukan, tetapi dia harus membayar lebih dari hutangnya.87 Jelas hal ini adalah praktik riba. Imam Syafi’I, : Jika seseorang mempunyai hutang emas sampai batas waktu tertentu, lalu dia berkata pada orang yang memberinya hutang, “Saya akan membayar hutang sebelum waktu yang telah kita sepakati, tetapi nominal hutang saya harus kamu kurangi.” Hal seperti ini tidak ada manfaatnya. Ibn Hazm dalam kitab al-Mahalli [8/83] mengatakan, “Menyegerakan pembayaran sebagian hutang sebelum waktunya dengan konsekuensi sisanya dianggap lunas adalah tidak diperbolehkan. Jika hal ini terlanjur terjadi, maka sebagian hutang yang bayarkan harus dikembalikan lagi. Sebab, pensyaratan seperti ini tidak terdapat dalam al-Kitab. Rasulullah SAW juga telah bersabda, “Semua pensyaratan yang tidak terdapat dalam alpemberian tenggang waktu tidak ada masalah. 86 Shahih: Mushannaf Abdurrazaq, hal. 14369. 87 Menurut saya: inilah yang dinamakan qiyas syibh oleh ulama ushul. Maknanya adalah: pemberi hutang mengambil pengembalian lebih dari penghutang sebab dia telat membayar hutang, yakni melewati batas waktu yang telah disepakati. Ini adalah praktik riba, haram hukumnya. Sebab kembalian lebih itu dianggap sebagai ganti dari waktu keterlambatan. Begitu pula bila pembayaran diawalkan yang berakibat hutangnya dapat berkurang, ini serupa dengan model riba pertama yang hukumnya juga diharamkan.

Kitab tidak diperbolehkan.” Dalil-dalil yang menjadi dasar pijakan bagi ulama yang tidak memperbolehkan: Hadits riwayat al-Baihaqi (6/28) dari Ali bin Ahmad bin ‘abdan dari Ahmad bin Ubaid dari Muhammad bin Yunus dari Ghanim bin al-Hasan bin Shalih as-Saadi dari Yahya bin Ma’la al-Aslami dari Abdullah bin Abbas dari Abi an-Nadlr dari Basr bin Sa’id dari al-Miqdad bin al-Aswad ra, “Saya pernah memberi hutang seratus dinar pada seseorang. Pada waktu itu, Suhma datang dari rombongan yang diutus Rasulullah, lalu saya berkata pada orang yang saya beri hutang, “Percepatlah membayar sembilan puluh dinar dari hutangmu, maka yang sepuluh dinar akan saya anggap lunas.” “Baiklah,” jawabnya. Ketika Suhma mengadukan hal ini pada Rasulullah, beliau lalu bersabda, “Hai Miqdad, kamu telah memakan dan memberi orang itu makan harta riba.”88 Ibn Rusyd (Bidayatul Mujtahid 2/144), “Menurut kami, asal-muasal riba ada lima, yakni; 1. Mundurkan waktu pembayaran hutang saya, maka nanti pada saat mengembalikan hutang, saya akan melebihkannya. 2. Tidak sama dalam takarannya. 3. Perempuan yang menjual perhiasannya. 4. Membayar sebagian hutang dan memajukan pengembaliannya. 5. Menjual makanan yang tidak dia pegang. Untuk asal yang keempat, hal ini diperbolehkan menurut Ibn Abbas dan sebagian kecil ahli fiqh Mesir, dan tidak diperbolehkan menurut jumhur ulama seperti Ibn Umar dari golongan sahabat, Imam Malik, Abu Hanifah, at-Tsauri dan sebagian besar ulama Mesir. Sedangkan menurut madzhab syafi’I masih ada perbedaan. Alasan utama dari ulama yang tidak memperbolehkan ‘pembayaran sebagian hutang dan memajukan pengembalian’ adalah bahwa hal itu sama dengan melebihkan pembayaran hutang bila waktu pembayaran dimundurkan dari waktu yang disepakati (mengenai masalah ini, semua ulama sepakat menghukuminya haram). Segi kesamaannya adalah sama-sama menjadikan waktu sebagai ukuran nominal hutang yang harus dibayarkan. Jika waktu pembayaran dimundurkan dari waktu yang telah disepakati, maka nominal hutang yang dibayar harus dilebihkan. Begitu pula sebaliknya bila pembayaran dimajukan, maka nominal hutang yang dibayar harus
88 Sangat dla’if: Baihaqi mengatakan hal ini dalam as-Sunan, vol 6, hal. 28. sebab ada Yahya bin Ya’la alAslami riwayatnya dianggap munkar.

dikurangi. Dan alasan utama ulama yang memperbolehkan adalah hadits yang diriwayatkan dari Ibn Abbas, “Bahwa Nabi SAW pernah bersabda pada Bani Nadlir: bayarlah sebagian hutangmu dan majukanlah pembayarannya. Sebab terjadinya perbedaan di antara ulama adalah ketika menganalogikan segi kesamaan dalam hadits ini. Identifikasi Masalah Kemungkinan yang benar adalah pendapat yang mengatakan ketidakbolehan masalah ini. Dengan alasan; 1. Hadits Nabi SAW yang berbunyi “Bayarlah sebagian hutangmu dan majukanlah pembayarannya” telah dibuktikan bahwa hadits tersebut dla’if. 2. Analogi kesamaan yang dilakukan Imam Malik menyatakan bahwa masalah ini termasuk riba yang haram dilakukan. 3. Karena terjadi kesamaan dan kerancuan dalam masalah ini, maka kita harus meninggalkan praktik seperti ini, karena Nabi SAW telah menganjurkan agar kita menjauhi hal-hal yang syubhat (terjadi kerancuan dan kesamaan). Ketidakbolehan ini adalah pendapat jumhur ulama dari golongan sahabat, tabi’in dan para imam madzhab, sekalipun Ibn Abbas ra memperbolehkannya. Wallau a’alam.

PENEGASAN HUTANG Yang dimaksud dengan penegasan di sini adalah menegaskan hutang yang menjadi tanggungan madin (orang yang berhutang) dengan bukti yang dapat menjamin hutangnya tetap menjadi hak dain (orang yang memberi hutang) yang harus dia lunasi bila di kemudian hari dia tidak mengakuinya atau lupa bahwa dia pernah mempunyai hutang. Kesempurnaan syariat yang dibawa Nabi Muhammad SAW juga dapat dibuktikan dengan hal ini, yakni apabila manusia mematuhi dan menjalankan urusan-urusan dan hukum-hukum yang ditetapkan syariat, maka agama, harta, dan perilaku mereka akan terjaga dari kehancuran dan kehilangan perlindungan yang menjadi hak mereka. Oleh karena itu, di bawah ini saya sebutkan beberapa langkah yang telah ditetapkan Allah beserta hukumnya tentang bagaimana cara menegaskan hutang; 1. Pencatatan/Dokumentasi Dalil yang mensyariatkan pencatatan; “Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu bermu'amalah tidak secara tunai untuk waktu yang ditentukan, hendaklah kamu menuliskannya. dan hendaklah seorang penulis di antara kamu menuliskannya dengan benar. dan janganlah penulis enggan menuliskannya sebagaimana Allah mengajarkannya, …”(Al-Baqarah : 282). Ibn ‘Arabi (Ahkam al-Qur’an 1/248), “Ayat yang berbunyi “Hendaklah kamu menuliskannya”, maksudnya adalah dokumentasi hutang agar orang yang mempunyai hutang tidak lupa untuk membayarnya ketika sudah sampai waktunya. Hal ini bertujuan agar dia tidak mengelak pada saat ditagih atau lupa bahwa dia mempunyai hutang. Karena lupa adalah tabiat manusia yang tidak bisa dihilangkan. Syaitan juga terkadang tiba-tiba menggoda manusia untuk mengingkarinya dan melupakannya dari kematian. Karena itulah, Allah mensyariatkan pencatatan/dokumentasi dan persaksian. Dari Muhammad bin Basyar dan Sofwan bin Isa dai al-Harits bin Abdurrahman ibn Abi Dzubab dari Said bin Abi Said al-Maqbari dari Abu Hurairah, “Rasulullah SAW bersabda: “Saat Allah menciptakan Adam dan meniupkan ruh pada jasadnya, dia bersin lalu mengucap alhamdulillah (segenap pujian hanya bagi Allah), dengan izin-Nya dia dapat memuji-Nya. Allah berfirman pada Adam, “Wahai Adam, Allah memberkatimu, pergilah pada para malaikat yang sedang duduk di sana.” Adam lalu pergi, “Assalamu’alaikum,”

Adam menyapa para malaikat. “Wa’alaikum salam warahamtullah,” jawab mereka. Adam kembali pada Allah. Allah lalu berfirman, “Salam ini adalah bentuk doa dan penghormatanmu serta anak-cucumu.” Allah kembali berfirman dengan kedua tangan terdekap, “Pilihlah salah satu dari dua tanganku ini.” Adam menjawab, “Saya memilih tangan kanan Tuhanku, kedua tangan Tuhanku ini adalah tangan kanan yang diberkati.” Lalu Adam merentangkan kedua tangan itu, tiba-tiba dia melihat sekumpulan orang. Dengan heran Adam bertanya, “Wahai Tuahnku, pe ketentuanku dan aku telah mencatatnya.” “Ya Tuhanku, tambahlah umurnya enam puluh tahun lagi, ambilkanlah dari umurku.” Allah menjawab, “Baiklah. Kalau begitu, tinggallah di surga seseuai kehendakku, kemudian tutunlah dari sana.” Lalu Adam menghitung-hitung umurnya. Ketika Malaikat Maut mendatangi Adam untuk mencabut nyawanya, Adam protes, “Kamu terlalu cepat mengambil nyawaku, Allah memberiku umur seribu tahun.” “Benar demikian, tetapi kamu telah memberikan enam puluh tahun umurmu kepada Daud,” jawab malaikat maut. Adam tidak mengakuinya, begitu pula anak cucunya, ingkar dan lupa. Lalu Nabi Muhammad SAW bersabda, “Oleh karena itu, Allah memerintahkan agar kita mencatat dan mempersaksikan.”89 Apakah dokumentasi itu wajib? Al-Qurthubi (Al-jami’ Liahkam al-Qur’an 3/381), “Sebagian ulama berpendapat bahwa dokumentasi adalah wajib berdasarkan ayat 282 surat al-Baqarah, baik dokumentasi jual beli atau hutang, tujuannya adalah untuk mengantisipasi bila kelak ingkar atau lupa. Inilah pendapat yang dipilih oleh at-Thabari.”90 Jumhur Ulama. Perintah mengenai dokumentasi/pencatatan adalah perintah sunnah, bukan wajib. Hal ini bertujuan untuk melindungi harta dan menghilangkan keragu-raguan. Jika orang yang berhutang termasuk orang yang saleh dan bertakwa, maka pencataran tidak
89 Hasan dilihat dari semua jalur: HR. Tirmidzi, hal. 3368, HR. At-Thabari dalam Tarikh al-Kubra, vol. 1, hal. 98, HR. An-Nasai dalam al-Kubra, vol. 6 hal. 63, HR. Baihaqi, vol 10, hal. 147. semua riwayat ini dari jalur Shafwan Ibn ‘ais dari al-Harits dari Abu Dzubab dari Sa’id al-Maqbari dari Abu Hurairah. HR. An-Nasai dari jalur Abu Khalid al-Ahmar dari al-Harits, setelah mengeluarkan hadits, an-Nasai mengatakan bahwa hadits ini adalah munkar. Berbeda dengan Ibn ijlan dari Sa’id dari ayahnya dari Abdullah bin Salam sebagai hadits mauquf, al-Kubra, vol. 6, hal. 649 dari Qutaibah dari al-Laits dari Ibn Ijlan. Menurut saya: Shafwan bin Isa dan Abu Khalid al-Ahmar Anas ibn Iyadl mengikuti Ibn Abi Ashim dalam as-Sunnah, vol. 1 hal. 90. Ibn Abi Dzubab Ismail bin Rafi’ juga mengikuti Abu Ya’la, hal. 6580, HR. Tirmidzi, hal. 3076 dari Abu na’im dari Hisyam bin Saad dari Zaid ibn Aslam dari Abu Shalih dari Abu Hurairah. 90 Dia mengatakan ini dalam tafsirnya, vol. 3, hal. 120. demikian pula ulama Madzhab Dhahiriyah seperti Ibn Hazm. At-Thabari meriwayatkan dengan sanad sampai Ibn Jirij dan ad-Dhahak dan ar-Rabi’. Mereka mengatakan bahwa dokumentasi adalah wajib.

perlu dilakukan, tetapi jika sebaliknya maka perlu dilakukan pencatatan untuk menjamin hak atas hutang itu, dan ini adalah kebutuhan orang yang mempunyai hak. Sebagian Ulama. Jika dipersaksikan, maka orang yang berhutang akan merasa terkekang. Tetapi jika dia diberi kepercayaan, maka dia akan merasa lapang dan leluasa. Inilah yang benar, dan hal ini tidak menasakh 91 (menggugurkan) ketentuan ayat sebelumnya. Menurut kesepakatan, Allah menganjurkan agar pencatatan dilakukan bila terdapat tanda-tanda pengingkaran pada orang yang berhutang. Anjuran ini bertujuan untuk meringankan urusan manusia. 2. Persaksian Dalil yang mensyariatkan persaksian; “Dan persaksikanlah dengan dua orang saksi dari laki-laki (di antaramu). Jika tidak ada dua oang laki-laki, maka (boleh) seorang lelaki dan dua orang perempuan dari saksi-saksi yang kamu setujui, supaya jika seorang lupa, maka yang seorang mengingatkannya…” (AlBaqarah: 282) Ayat di atas menunjukkan disyariatkannya persaksian dan anjuran untuk melakukannya. Persaksian diumpamakan sebagai pengikat, yakni untuk melindungi hak dain (orang yang membei hutang) jika madin (orang yang berhutang) ingkar atau lupa pada hutang yang menjadi tanggungannya, agar perkelahian dan perselisihan antara keduanya dapat dihindari. Hukum Mempersaksikan Hutang; Sunnah sebagaimana hukum melakukan pencatatan, sebab dalil yang menjadi dasar hukum adalah sama. Pendapat yang benar adalah pendapat jumhur ulama, yakni: ‘perintah dalam ayat di atas adalah sebagai bimbingan dan anjuran. Di antara dailil yang mengindikasikan bahwa ayat tersebut menunjukkan anjuran adalah perbuatan yang dilakukan nabi SAW saat berhutang pada Jabir ra92. Jabir
91 Yakni ayat “faktubuh” dinasakh dengan “fain amina ba’dlukum ba’dla”, dari as-Syu’ba, Ibn Jarir atThabari meriwayatkan dalam tafsirnya dengan berbagai macam sanad. Menurut saya, yang dimaksud nasakh oleh Syu’ba adalah berpindah, yakni berpindah dari hukum wajib ke sunnah dan irsyad (bimbingan). Hal ini dapat dilihat dari riwayat at-Thabari dengan sanad yang shahih, “Dari Ya’qub dari Ibn ‘alaih dari Daud dari Syu’ba tentang ‘fain amina ba’dlukum ba’dla’: jika dalam keadaan terdesak, maka dokumentasi bersifat mendesak, jika tidak maka seseorang boleh tidak melakukannya. 92 Perwayatannya telah dijelaskan sebelumnya.

mengatakan bahwa Nabi tidak menghadirkan orang untuk mempersaksikan transaksinya. Abu Bakar al-Jashash (Ahkam al-Qur’an 1/657), “Para ahli fiqh Mesir telah menyepakati bahwa pencatatan, persaksian, dan persewaan yang penggadaian yang termuat dalam dalam ayat ini hanya merupakan anjuran dan bimbingan Allah untuk kepentingan, kebaikan dan kehati-hatian kita dalam urusan agama dan dunia, bukan suatu kewajiban yang harus kita lakukan. Ulama kotemporer Mesir telah mengutip pendapat ulama klasik, yakni apabila tidak ditemukan indikasi seseorang akan ingkar, maka tidak diperlukan persaksian dalam urusan hutang-piutang, makanan-minuman, dan jual-beli. Seandainya persaksian itu wajib, maka mereka tidak akan mempedulikan perihal pengingkaran meskipun mereka mengetahui indikasi pengingkaran berada pada diri seseorang. Hal ini menjadi bukti bahwa para ulama sepakat dengan hukum sunnah mengenai hal ini, juga berdasarkan praktik yang berlangsung mulai zaman Nabi SAW sampai sekarang. Seandainya para sahabat dan tabi’in mempersaksikan praktik jual beli dan makanan-minuman mereka, maka pasti terdapat bukti mutawatir dan dapat dipertanggungjawabkan yang menjelaskan hal tersebut dan orang yang tidak melakukan persaksian pasti tidak diperbolehkan. Karena tidak ada bukti mutawair dan jelas tentang perbuatan sahabat yang melakukan persaksian itu, maka pencatatan dan persaksian dalam hutang-piutang dan jual-beli tidak dihukumi wajib. Jumlah Saksi dalam Hutang-Piutang; Firman Allah; “Dan persaksikanlah dengan dua orang saksi dari laki-laki (di antaramu)” (Al-Baqarah: 282) Ayat ini menunjukkan bahwa saksi berjumlah dua orang laki-laki atau seorang lakilaki , dengan syarat harus adil dan beragama Islam. Maka orang non Islam tidak boleh menjadi saksi dalam transaksi orang Islam, begitu pula orang fasik dan orang yang selalu berbuat maksiat. Hal ini berdasarkan firman Allah; “…dan persaksikanlah dengan dua orang saksi yang adil di antara kamu dan hendaklah kamu tegakkan kesaksian itu Karena Allah.” Dengan ayat tersebut, Allah memberi ketentuan bahwa saksi harus adil dan Islam.

Apakah perkara hutang dimenangkan oleh orang yang mempunyai hak atas hutang bila saksinya hanya seorang laki-laki? Imam Muslim ra meriwayatkan hadits dari Abu baker bin Abi Syaibah dan Muhammad bin Abdullah bin Namir dari Zaid ibn Hibban dari Saif bin Sulaiman dari Qais bin Saad dari Amr bin Dinar dari Ibn Abbas, “Bahwasanya Rasulullah memutuskan dengan sumpah dan seorang saksi.93

93 Shahih dilihat dari semua jalurnya: HR. Muslim, hal. 4447. Hadits ini mempunyai banyak jalur, dan setiap jalur tidak lepas dari pendapat ulama dan alasan yang menyertai. Berikut saya sebutkan: Pertama, jalur yang secara sekilas tidak ada cacatnya. Dalam jalur ini hanya ditemukan satu cacat, yakni keterputusan antara Amr dan Ibn abbas. Tirmidzi (al-Ilal al-Kubra, hal. 361) mengayakan, “Saya pernah menanyakan pada Imam Bukhari perihal hadits ini, beliau menjawab: menurut saya, Amr bin Dinar tidak pernah mendengar hadits ini dari Ibn Abbas. Yahya bin Mu’in (kitab Tarikh-nya riwayat ad-Dauri, hal. 1706) mengatakan, “Riwayat Ibn Abbas mengenai hadits ini tidak dapat dibuat pegangan.” Menurut saya, “Dalam riwayat ad-Darqathni, ada yang menengah-nengahi antara Amr dan Ibn Abbas, yakni Thawus (4448), tetapi jalurnya lemah, karena salah satu perawinya dlaif, yakni Abdullah Muhammad bin Rabi’ah dari Muhammad bin Muslim dari Amr. Abdurrazq berbeda dengan periwayatan ini, yakni dari riwayat Abu Daud (3609) dari Muhammad bin Muslim ari Amr dari Ibn Abbas, tetapi masih tetap ada cacat dalam hadits ini. Riwayat baihaqi meriwayatkan hadits ini dari jalur lain dari Ibn Abbas, vol. 10, hal. 168, tetapi riwayat ini dlaif dilihat dari riwayat as-Syafi’I dari Ibrahim bin Muhammad dari Rabi’ah bin Utsman dari Mu’adz bin Abdurrahman dari Ibn Abbas. Menurut saya, “Periwayatan Ibrahim bin Muhamamd di sini ditolak, sedangkan Rabi’ah bun Utsman masih dirsgukan. Ibn Abdil Barr (at-tamhid, vol. 2, hal. 138), “Hadits tentang sumpah dan seorang saksi memilki banyak sanad mutawatir, hasan dan tsabit. Sanad paling shahih adalah dari Ibn Abbas, sebab tidak ada seorang perawi pun yang cacat dalam sanad, para ahli hadits pun telah sepakat akan ke-tsiqah-han para perawinya. Kedua, jalur Abu Hurairah: HR. Abu Daud, hal. 3610 dari Abu Mus’ib az-Zuhri dari ad-Darawardi dari Rabi’ah bin Abu Abdurrahman dari Sahil bin Abu Shalih dari ayahnya dari Abu Hurairah bahwa Nabi SAW……al-Hadits. HR. Tirmidzi, hal. 1343 dari Ya’qub bin Ibrahim dari ad-Darawardi, juga HR. Ibn Majah, hal. 2368, dari jalur Ahmad bin Abdurrahman az-Zuhri dari ad-Darawardi. HR. At-Thahawi dalam Syarh Ma’ani al-Atsar, vol. 4, hal. 144, HR. baihaqi, vol. 10, hal. 168 dari jalur as-Syafi’I dari ad-Darawardi. HR. Abu Daud, hal. 3611, HR. Baihaqi, dari jalur Abu Daud dari Sulaiman bin Bilal dari Rabi’ah dari Sahil, cacat sanad hadits ini hanya terletak pada jalur Sahil, ketika Sahil ditanya, dia menjawab, “Saya tidak mengetahuinya.” Setelah mentakhrij hadits, Abu Daud (4/34) mengatakan, “Ar-Rabi’ bin Sulaiman menambah Al-Muadzin dalam sanad ini.” As-syafi’I dari Abdul Aziz ad-Darawardi, “Saya menyebut hadits ini pada Sahil, dia lalu mengatakan, “Rabi’ah meriwayatkannya padaku, menurut saya, dia percaya kalau saya hanya mengatakan, tidak sampai hafal.” Abdul Aziz, “Sahil pernah tertimpa musibah sampai membuat akalnya terganggu dan sebagian hafalan haditsnya hilang, tetapi hal ini terjadi setelah rabiah dari ayahnya meriwatkan hadits darinya.” Abu Daud (4/34), “Setelah meriwayatkan, Sulaiman bin Bilal mengatakan: Saya pernah menanyakan pada Sahil perihal hadits ini, tetapi dia menjawab tidak tahu, lalu saya mengatakan bahwa Rabiah meriwayatkan padaku dari dia, lalu jawabnya:jika benar demikian, hadits ini memang benar dariku. Ibn Abi Hatim (1/463-1392), “Ayahku pernah ditanya tentang keshahihan hadits Abu Hurairah tentang sumpah dan seorang saksi. Ayahku diam sejenak lalu berkata, “Apa yang telah dikatakan ad-Darawardi?” dia mengatakan bahwa dia telah menanyakan hadits ini tetapi Sahil menjawab tidak tahu. Lalu ad-Dawardi mengatakan bahwa lupanya Sahil tidak menjadi penghalang bagi riwayat Rabiah, karena dia tsiqah, hanya saja yang meriwayatkan padanya terkadang lupa saat setelah meriwayatkan. Ayahku lalu mengatakan, “Benarlah demikian, tetapi tidak ada yang mengikuti periwayatan hadits ini, sekelompok perawi bahkan tidak menyebut hadits ini. Menurut saya (Ibn Abi Hatim), “Beliau memberi pernyataan hanya berdasarkan satu berita, yakni: benarlah demikian, tetapi sama sekali saya tidak tahu riwayat dari Abu Hurairah. Ini adalah asal usul tidak ikutnya Rabi’ah. Setelah ditanya tentang hadits Abu Shalih dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah SAW memutuskan hanya berdasarkan sumpah dan seorang saksi, ad-Darqathni (al-ilal, vol. 10. hal. 138) mengatakan, “Sahil bin Abu Shalih meriwayatkannya dari ayahnya dari Abu Hurairah yang juga diriwayatkan

Perkataan Sahabat dan Tabi’in; Muawiyah; At-Thahawi, “Dari Wahban dari Abu Hamam dari Ibn al-Mubarak dari Ibn Abi Dza’b dari az-Zuhri: bahwa Muawiyah adalah orang pertama yang memutuskan dengan sumpah dan seorang saksi.94 Syarih al-Qadli ra. Imam an-Nasa’I ra dari Muhammad bin Rafi’ dari Abu Bakar Ibn Abi Uwais dari
oleh Sulaiman bin Bilal. Tetapi ada riwayat yang berbeda, yakni al-uqba dan Ismail binAbu Uwais dan Yahya al-Himani dan Ziyad bin Yunus dan Abdulah bin Wahab dari Sulaiman dari Rabiah dariSahil dari ayahnya dari Abu Hurairah, berbeda pula Abu baker bin Abu Uwais dan Imran bin Aban dari Sulaiman bin Bilal dari Sahil tanpa menyebut Rabiah. Sanad yang benar adalah: dari Sulaiman bin Bilal bin Rabiah. Ziyad ibn Yunus telah menjelaskan hal ini dalam riwayatnya dari Sulaiman, “Sulaiman mengatakan: Saya pernah bertemu Sahil, saya tanyakan perihal hadits ini tetapi dia tidak mengetahuinya. Lalu saya katakana bahwa Rabiah meriwayatkan pada saya dari kamu, dia menajwab: hadits yang diriwayatkan Rabiah dari saya dan riwayat seseorang dari Sahil dari Rabiah dari Sahil dari ayahnya dari Abu Hurairah, serta riwayat seseorang dari Sahil dari ayahnya dari Zaid bin Tsabit, adalah tidak shahih. (riwayat at-Thahawi dalam Syarh ma’ani al-Atsar, vol. 4, hal. 144) salah satu perawinya dlaif, yakni Zuhair bin Muhammad (demikian pula riwayat Abu az-Zanad dari dari al-A’raj dari Abu Hurairah) HR. Baihaqi dalam as-Sunan, vol. 10, hal. 168 dari jalur Mughirah bin Abdurrahman dari Abu az-Zanad dari al-A’raj dari Abu Hurairah, Mughirah juga meriwayatkan hadits-hadits gharib, dalam at-Tahdzib, al-Hafidh ibn Hajar mengutip dari Ibn Udai dalam bibliografi al-Mughirah bahwa riwayat ini adalah gharib, dan cacat bila dilihat dari riwayat Ibn Ijlan dan banyak perawi dari Abu az-Zanad dan dari Abu Shafiyyah ari Syarih al-Qadli. HR. Baihaqi, vol. 10, hal. 173. Menurut ad-Darqathni, yang dijadikan pegangan adalah hadits Rabiah dari Sahil. Al-Hafidh ibn Hajar dalam al-Fath, vol. 5, hal. 333 mengatakan keshahihan semua jalur hadits. Di antaranya adalah hadits Abu Hurairah bahwa Nabi SAW memutuskan berdasarkan sumpah dan seorang saksi. Menurut para pemiliki kitab as-Sunan, para perawi hadits Sahil adalah tsiqah, lupanya Sahil bin Abu Shalih setelah meriwayatkan pada Rabiah tidaklah menjadi masalah, karena dengan demikian, dia telah dianggap menjadi perawi, yakni Rabiah dari dia dari ayahnya. Hal ini telah banyak diterangkan dalam Sunan Abu daud dan lainnya. Ketiga, jalur Jabir bin Abdullah: HR. Ahmad, al-Musnad, vol. 3, hal. 305 dari Abdul Wahab ats-Tsaqafi dari Ja’far bin Muhammad dari ayahnya dari Jabir, HR. Tirmidzi, hal. 1344 dari Muhammad bin Baysar dan Muhammad bin Aban dari Abdul Wahab, HR. Ibn Majah, hal. 2369, “Kecatatan jalur ini adalah sebab putusnya sanad, Abdul Wahab at-Tsaqafi berbeda dengan riwayat para perawi tsiqat lainnya, dia meriwayatkan dari Ja’far dari ayahnya. Para perawi tsiqah itu adalah: Malik. Al-Muwatha’, hal. 555, Sufyan ats-Tsauri yang diriwayatkan oleh Ibn Abi Syaibah dalam al-Mushannaf, vol. 5, hal. 360, Ibn Juraij, Ismail bin Ja’far, Umar ibn Muhammad, Yahya bin Ayub dan Ibrahim bin Abu Yahya yang semuanya tedapat dalam Sunan Baihaqi, vol. 10, hal. 169-170. Dalam al-Musnad, vol. 3, hal. 305 Abu Abdurrahman Abdulah bin Ahmad mengatakan, “Ayahku –Ahmad bin Hanbal- menolak hadits ini, beliau mengatakan: tidak satu perawi tsiqah-pun yang sama dengan riwayat Jabir, hal ini berlangssung sampai dia membaca dan menulisnya, bahwa hadits ini adalah shahih. Dalam al-Ilal, hal. 202, Tirmidzi mengatakan, “Saya pernah menanyakan hadits ini pada Muhammad, dia menajwab:riwayat manakah yang paling shahih? Riwayat yang paling shahih adalah riwayat Ja’far dari ayahnya ari Ali (HR. Baihaqi, vol. 10, hal. 170) dari jalan Abbas ad-Dauri dari Syabbabah dari Abdul Aziz bin Abu Salamah dari Ja’far dan yang sejalan dengan jalur ad-Darqathni (44441). Demikian pula dari jalur Syaiban dari Thalhah bin Zaid, Muhammad bin Sami’ dari Abdullah bin Umar, keduanya dari Ja’far dari ayahnya dari Ali, Tirmidzi menggantungkan jalur ini pada Yahya bin Salim dari Ja’far, cacat dari jalur ini karena berbeda dengan riwayat yang mempunyai ketetapan sanad, yakni seperti jalur Jabir sebagaimana pernyataan Bukhari (dan Muhammad bin Ali dari Ali sebagai hadits mursal) dan Ja’far dari ayahnya dari Jabir dan Ja’far dari ayahnya bahwa Nabi SAW, “Hadits yang paling shahih adalah hadits Ja’far bin Muhammad dari ayahnya dari Nabi SAW sebagai hadits mursal. Hadits ini juga diriwayatkan dari jalur lain selain jalur ja’far, yakni riwayat Khalid Ibn Abi Karimah dari Abu Ja’far Muhammad bin Ali bin Husain sebagai hadits mursal. Juga Rabi’ah dari Abu Ja’far yang diriwayatkan oleh Baihaqi, vol. 10, hal. 177, HR. Ibn Abi Syaibah dalam al-Mushannaf, vol. 5, hal. 360 dari Waqi’ ari Ibn Abi karimah. Dalam al-Ilal, hal.

Sulaiman bin Bilal dari Muhammad Ibn ‘Ijlan dari Tsaur dari Abi az-Zanad dari Ibn Abi Shafiyah al-Kufi bahwa pada suatu kesempatan Syarih menghadiri mesjid Kuffah: beliau memutuskan dengan sumpah dan seorang saksi.95 Umar bin Abdul Aziz; Imam Malik ra (Al-Muwatha’), “Dari Abi az-zanad bahwa Umar bin Abdul Aziz pernah menulis surat kepada Abdul Hamid bin Zaid bin al-Khathab seorang pegawai di
1402, Ibn Abi hatim mengatakan, “Saya pernah bertanya pada ayah Abu Hatim dan Abu Zar’ah perihal hadits riwayat Abdul Wahab ats-Tsaqafi dari Ja’far bin Muhammad dari ayahnya dari Jabir bahwa Nabi SAW pernah memutuskan berdasarkan sumpah dan seorang saksi, lalu keduanya menjawab: dalam hadits ini, Abdul Wahab melakukan kesalahan, karena setelah dari ayahnya, jalur dari Jabir langsung pada Nabi. Setelah ditanya mengenai hadits Husain dari Ali dari ayahnya dari Nabi, Ad-Darqathni, al-Ilal, hal. 301, mengatakan, “Ini adalah hadits yang diriwayatkan Ja’far bin Muhammad bin Ali bin Husain bin Ali bin Abu Thalib, dan ada riwayat yang berbeda dengan ini, yakni: kemungkinan Ja’far bin Muhammad memutus sanad hadits ini, tetapi kemungkinan dia juga menyambungnya pada Jabir, karena para perawi tsiqah menghafal hadits ini dari ayahnya dari Jabir, al-Hikam juga telah menegaskan hadits ini, sebab terdapat banyak perawi tsiqah pula, dan ini menunjukkan bahwa hadits ini dapat diterima. Dalam al-Fath, vol. 5, hal. 333, al-Hafidh ibn Hajar mengatakan, “Ada pula yang menyamai jalur Abu Hurairah, yakni jalur Ajbir, HR. Tirmidzi dan Ibn Majah, Ibn Khazimah dan Abu Umanah menganggap shahih hadits ini. Keempat, jalur Saad bin Ubadah ra, HR. Ahmad, vol. 5, hal. 285, HR. Baihaqi, vol. 10, hal. 168, dari jalur Sulaiman bin Bilal dari Rabiah bin Abu Abdurrahman dari Ismail bin Amr bin Qais dari Amr bin Qais bin Saad, “Saya pernah menemukan sebuah tulisan Saad, isinya: Rasulullah SAW memerintah Amr bin Hazm agar memutuskan berdasarkan seorang saksi ditambah dengan sumpah. HR. Ad-Darqathni, hal. 4447 dari jalur yang bersambung pada Ibn Mas’ud dan ad-Dauraqi dari ad-Darawardi dari Rabiah dari Ibn Saad bin Ubadah, dia mengatakan, “Kami menemukan hadits ini dalam kitab Saad.” HR. Baihaqi, vol. 10, hal. 168 dari jalur asSyafi’I dari Abdul Aziz ad-Darawardi dari Rabiah dari Said bin Amr bin Syirhubail dari Syirhubail bin Saad, “Kami menemukannya dalam kitab Saad.” Juga dari jalur Ibn Luhaiah, diikuti pula oleh Ibn Yazid dari Umarah bin Ghaziyah dari Said bin Amr, serta jalur lain yang serupa dengan tambahan al-Mughirah bin Syu’bah bahwa Nabi SAW memerintahkan demikian sesuai yang diperintahkan pada Amr bin Hazm. Menurut saya, “Cacat sanad ini adalah tidak diketahuinya Amr bin Saad, Amr bin Syihubail serta Syirhubail bin Said bin Saad. Dalam Ta’jil al-Manfa’ah, vol. 2, hal. 72 binliograi dari Amr bin Qais, al-Hafidh ibn Hajar mengatakan, “as-Syafi’I telah meriwayatkan dari ad-Darawardi dari Rabiah dari Said bin Amr bin Syirhubail bin Said bin Saad bin Ubadah. Tidak ada kemusykilan dalam sanad ini, begitu pula Amr bin Syirhubail dari pengarang kitab at-Tahdzib. HR. Abu Uwanah dalam Shahih-nya dari jalur al-Humaidi dari ad-Darawardi dari Rabiah dari Ibn Saad ibn Ubadah bahwa dia mendapatinya mengatakan demikian. Dari riwayat Sulaiman bin Bilal, tampak jelaslah bahwa yang tidak jelas dalam riwayat ad-Darawardi adalah putera Ibn Saad, yakni Amr bin Qais. Tetapi saya tidak pernah menemukan penyebutan putera Qais yang bernama Amr dalam kitab tentang nasab Qais bin Saad bin Ubadah, begitu pula dalam nasab tentang, tidak ada yang bernama Ismail. Amr bin Siyrhubail bin Said bin Saad bin ubadah hanya tertera dalam penyebutan saya tadi. Setelah saya menelaah al-Muttafaq karangan al-Khatib, saya menemukan nama Amr bin Qais sebanyak lima kali, tetapi sayangnya nama ini tidk tercantum dalam sanad, jika memang nama ini ada, maka bisa dipastikan dalam kitab ini ada. Terdapat dua jalur dalam riwayat Rabiah dalam matan ini, yakni dengan riwayat dan dengan bertemu langsung. Kelima, jalur Amr bin Syuaib dari ayahnya dari kakeknya: HR. Baihaqi, vol. 10, hal. 44 dari dua jalur: pertama, jalur Ibn Juraij yang diriwayatkan dari jalur as-Syafi’I dari Muslim bin Khalid dan jalur Muthrif bin Mazin dari Ibn Juraij. Jalur yang kedua adalah jalur Muhammad bin Abdullah al-Laitsi dari Amr bin Syuaib dari ayahnya dari kakeknya. Letak cacat dua jalur ini adalah: dalam jalur Ibn Juraij, terdapat perawi yang dlaif, yakni Muslim bin Khalid az-Zunji dan Muthrif bin Mazin, sedangkan jalur Muhammad bin Abdullah alLaitsi ditolak. Menurut ad-Darqathni, ada pula yang meriwayatkan dari Ibn Juraij dari Muhammad bin Abdullah al-Kanani yang tidak diketahui dalam sanad, begitu pula Ya’qub bin Muhammad az-Zuhri. Cacat lainnya dibuktikan oleh para perawi tsiqah bahwa riwayat dari Ibn Juraij dari Ja’far bin Muhammad dari

Kuffah. Isi suratnya : Kamu boleh memutuskan dengan sumpah dan seorang saksi saja.96 Pendapat para ahli fiqh tentang masalah ini; Tanggapan Imam an-Nawawi ra (Syarh Muslim 11/231) mengenai hadits yang memperbolehkan sumpah dan seorang saksi: hadits ini menunjukkan kebolehan seorang saksi dan sumpah, tetapi ulama berbeda pendapat mengenai hal ini. Abu hanifah, Ulama Kuffah, as-Syu’ba, al-Hikam, al-Auza’I, al-Laits, dan ulama Andalusia pengikut Imam Malik mengatakan, “Tidak boleh hanya dengan seorang saksi dan sumpah dalam memutuskan semua hukum.” Menurut jumhur ulama Islam dari kalangan sahabat, tabi’in dan ulama Mesir setelahnya, “Cukup hanya dengan seorang saksi dan sumpah orang yang mendakwa/menuntut dalam urusan harta dan yang serupa dengannya. Yang sejalan dengan pendapat ini adalah Abu Bakar as-Shidiq, Ali, Umar bin Abdul Aziz, Imam Malik, Imam syafi’I, Imam Ahmad, para ahli fiqh Madinah, Ulama Hijaz, dan para Pembesar Ulama Mesir. Argumentasi mereka: kebolehan seorang saksi dan sumpah adalah berdasarkan pada hadits-hadits riwayat Ali, Ibn Abbas, Zaid bin Tsabit, Jabir, Abu Hurairah, Imarah, Ibn Hazm, Saad bin Ubadah, Abdullah bin Amr bin al-Ash dan al-Mughirah bin Syu’bah.
ayahnya adalah terputus. Dalam ad-Dlu’afa’ al-Kubra, hal. 1805 biografi Muthrif bin Mazin, al-‘Uqaili menyebutkan hadits ini. “Muhammad bin Ismail meriwayatkan pada kami dari Hujjaj bin Muhammad alA’war, dia mengatkan: Ibn Juraij berkata: ja’far bin Muhammad meriwayatkan padaku dari ayahnya, Muhammad bin Ali, bahwa Rasulullah SAW memutuskan suatu perkara berdasarkan sumpah dan seorang saksi. Keenam, jalur az-Zabib al-‘Anbari ra, diriwayatkan dari Abu Daud, hal. 3612 dari jalur Ahmad bin Abdah dari Ammar bin Syuaib dri ayahnya, Syuaib bin Abdullah bin az-Zabib dari az-Zabib al-Anbari. Ceritanya, bahwa Sariyah mengadu pada Nabi SAW tentang kaumnya, dia mendatangi Nabi sambil mengucapkan salam, “Kami telah menyerahkan telinga-telinga ternak itu ya rasul.” Rasul bertanya, “Apakah kamu mempunyai bukti bahwa kamu telah menyerahkannya sebelum kamu gunakan pada hari ini?” “Iya”, “Lalu mana bukti itu?”, Tanya Rasul kembali. “Samurah, seorang penduduk dari bani ‘Anbar dan satu orang lagi.” Seorang memberi persaksian, tetapi tidak Samurah. Lalu Rasulullah SAW bersabda, “Samurah enggan memberi persaksian untukmu, maka bersumpahlah.” Lalu dia mengatakan, “Baiklah, saya bersumpah demi Allah, bahwa saya telah menyerahkan telinga-telinga ternak itu pada hari itu.” Rasulullah kemudian menyerahkan sebagian padanya dan disisihkan sebagian (kisah)”. Menurut saya, “Dalam hadits ini, Ammar bin Syuaib dan ayahnya tidak diketahui. Ketujuh, jalur Saraq bin Asad al-Juhni ra: HR. Ibn Majah, hal. 2371 dari jalur Abu Bakar bin Abu Syaibah dari Yazid bin Harun dari Juwairiyah bin Asma’ dari Abdullah bin yazid Maula al-Munba’its dari seorang penduduk Mesir dari Saraq. Cacat sanad ini terletak pada seorang penduduk Mesir yang tidak diketahui identitasnya. Kesimpulannya: dilihat dari semua jalurnya, hadits ini shahih. Wallahu a’lam. Boleh memberlakukan hadits ini menurut jumhur ahli hadits klasik dan para imam sesudahnya. 94 Munqathi’: az-Zuhri tidak pernah bertemu Muawiyah. Syarh ma’ani al-Atsar, vol. 4, hal. 148. 95 Shahih: HR. An-Nasai dalam al-Kubra, vol. 4, hal. 492. 96 Shahih: Abu az-Zanad, seorang sekretaris Abdul Hamid bin Abdurrahman.

Argumentasi Ulama Fiqh yang Mengatakan Ketidakbolehan Seorang Saksi dan Sumpah serta Sebab Dasar Hadits yang Meragukan Pertama, yang menjadi landasan adalah hadits dla’if. At-Thahawi ra (Syarh Ma’ani al-Atsar 4/145) mengatakan, “Para ahli hadits mengatakan bahwa hadits yang memperbolehkan hanya seorang saksi dan sumpah saja adalah dla’if dan tidak bisa dijadikan sebagai landasan hukum. Sedangkan hadits riwayat Rabiah dari Sahil, ad-Darawardi telah mengkonfirmasikannya pada Sahil, tetapi Sahil menjawab tidak mengetahui hadits itu. Seandainya hadits tersebut termasuk dalam hadits-hadits yang masyhur dan tidak terdapat keraguan, maka kenapa Sahil sampai tidak mengetahuinya. Ulama yang memperbolehkan telah menganggap dla’if kepada hadits-hadits yang sebenarnya lebih kuat dari hadits yang mereka jadikan landasan. Sanad hadits dari jalan Zuhair bin Muhammad dari Sahil dari ayahnya dari Zaid adalah munkar, karena sanadnya langsung pada Zaid tidak melewati Abu Shalih terlebih dahulu. 97 Hadits riwayat Ibn Abbas juga hadits munkar, karena tidak diketahui apakah Qais bin Saad telah meriwayatkannya dari Amr bin Dinar. Lalu kenapa mereka masih mendasarkan pendapatnya pada hadits ini? 98 Mereka menyebutkan hadits riwayat Ja’far bin Muhammad dari ayahnya dari Jabir dari Abdul Wahab. Sedangkan para penghafal hadits seperti Imam Malik dan ats-Tsauri meriwayatkan hadits ini dari Ja’far dari ayahnya langsung dari Nabi SAW dengan tidak menyebut Jabir dan Abdul Wahab sebagai perawinya. Kedua, kebolehan yang diambil dari hadits tersebut hanya merupakan perkiraan semata. At-Thahawi (4/146), “Seandainya sanad hadits tidak bertentangan dan matan(bunyi hadits) yang diriwayatkan tidak cacat, maka kebolehan sumpah dan satu saksi bisa diterima. Mereka meriwayatkan bahwa Rasulullah SAW menetapkan hanya dengan sumpah dan seorang saksi, padahal sebab munculnya hadits tersebut tidak diketahui, begitu pula sumpah, siapa orang yang diminta bersumpah oleh Nabi dalam hadits itu? Apabila yang dimaksud dengan sumpah di atas adalah sumpahnya terdakwa, maka bersumpah dan hanya menghadirkan seorang saksi itu diperbolehkan.
97 Zuhair bin Muhammad adalah perawi yang lemah. 98 Menurut saya, “Seandainya dianggap cacat sebab Amr tidak mendengar langsung hadits ini dari Ibn Abbas, sebagaimana yang telah ditegaskan Bukhari, maka hal ini akan lebih baik adanya. Sebab Qais mungkin mendengar langsung hadits ini dari Amr, sebab keduanya masih semasa.

Jika pendakwa yang melakukan tuntutan itu tetapi hanya menghdirkan seorang saksi dan kemudian dia diminta oleh Nabi agar bersumpah, maka pastilah hal ini juga diriwayatkan, agar semua orang tahu bahwa pendakwa juga diwajibkan untuk bersumpah atas terdakwa. Padahal sumpah tidak perlu dilakukan kecuali bila terdakwa mengajukan bukti. Sebagaimana pendapat ulama, “Ketika melakukan tuntutan, pendakwa tidak diwajibkan untuk bersumpah, kecuali apabila terdakwa mengajukan bukti. Karena pada saat terdakwa mengajukan bukti, akan terjadi ketidakjelasan dan kesimpangsiuran. Jadi, bila terdakwa mengajukan bukti, maka pendakwa harus bersumpah, bila tidak maka pendakwa tidak perlu bersumpah. Orang yang meriwayatkan hadits ini ingin menolak pendapat ulama di atas dan mengahruskan sumpah pada saat melakukan tuntutan, sekalipun terdakwa tidak mengajukan bukti. Ini adalah kemungkinan pertama yang melatarbelakangi munculnya hadits di atas. Kemungkinan kedua adalah, diperbolehkan juga apabila yang dimaksud dengan sumpah adalah sumpahnya pendakwa dengan disertai seorang saksi. Karena terkadang seorang saksi tersebut dapat dipercayai kesaksiannya seperti halnya dua orang saksi. Orang tersebut seperti Khazimah bin Tsabit ra, Rasulullah menyamakan persaksiannya seperti persaksian dua orang saksi. Kisahnya telah disebutkan dalam hadits, dan hadits yang menerangkan hal ini adalah hadits masyhur. At-Thahawi mengatakan, “Ketika persaksian seorang saksi diperbolehkan seperti halnya Khazimah bin Tsabit, maka saat memberikan kesaksian, kesaksiannya dianggap benar. Kemudian, terdakwa dituntut agar mengembalikan hak pada pendakwa. Jika terdakwa mengajukan bukti, maka Nabi SAW meminta pendakwa untuk bersumpah, kemudian terdakwa harus mengembalikan hak yang dipersengketakan, sebab pendakwa telah menghadirkan saksi dan melakukan sumpah. Ini adalah kemungkinan yang melatarbelakangi kenapa Nabi memperbolehkan sumpah dan seorang saksi. Ketiga, Hadits yang Dijadikan Dasar Bertentangan dengan Ayat; At-Thahawi ra (4/148), “Allah telah berfirman : “Dan persaksikanlah dengan dua orang saksi dari laki-laki (di antaramu)” serta “Dan persaksikanlah dengan dua orang saksi yang adil di antara kamu”. Sebelum dua ayat ini turun, orang Arab memberi keputusan dengan harus menghadirkan seratus orang saksi, tidak boleh kurang atau lebih, jika kurang atau lebih, maka persaksian tidak dapat diterima. Setelah ayat ini turun, mereka lalu

meninggalkan persaksian model lama, karena hal ini tidak dihitung ibadah kepada Allah. Muhammad bin al-hasan mengatakan, “Jika ada orang yang menambah jumlah saksi, maka dia telah menambah redaksi nash, padahal menambah redaksi nash adalah sama dengan menasakhnya (menghapusnya).” Keempat, Terdapat Hadits yang Bertentangan dengan Hadits yang Menjadi Dasar Pijakan Mereka. Abu Ja’far at-Thahawi (4/147-148), “Terdapat nash hadits yang melarang memberi keputusan hanya berdasarkan sumpah dan seorang saksi.” Hadits yang bersanad pada Mail ibn hajar, “Dua orang yang sedang bersengketa mengenai tanah mendatangi Rasulullah. “Ajukanlah bukti’, sabda Rasul kepada pendakwa. “Saya tidak mempunyai bukti,” jawabnya. Rasul bersabda, “Untuk terdakwa, bersumpahlah,”. “Jika demikian, apakah hak jatuh padanya?” Tanya pendakwa. “Saya hanya dapat memutuskan itu.” Hadits ini menunjukkan bahwa pendakwa tidak akan mendapat hak apapun tanpa mengajukan bukti, dan bahwa tidak boleh memutuskan hanya berdasarkan sumpah dan seorang saksi. Hadits yang serupa, “Bukti harus ditunjukkan oleh pendakwa, dan sumpah oleh terdakwa.”99 Kelima, sumpah bertujuan untuk menolak, bukan untuk menegaskan. Abu Umar bin Abdil Barr (Al-Istidzkar 22/559), “Salah satu pendapat Abu hanifah dan para pengikutnya : ‘Dilakukannya sumpah adalah bertujuan untuk menolak, bukan untuk menegaskan tuntutan. Nabi SAW mengharuskan sumpah untuk terdakwa bukan pendakwa. Keenam, analogi menolak hal itu; At-Thahawi ra (Ma’anil Atsar 4/148), “Analogi dalam hal ini telah menunjukkan banyak keburukan dan kelemahan dari pendapat ulama yang membolehkan sebuah keputusan hanya dengan sumpah dan seorang saksi. Mereka membolehkan hal itu khusus untuk urusan harta, tidak lainnya. Ketika keputusan tentang urusan selain harta tidak hanya cukup dengan sumpah dan seorang saksi, maka analoginya juga sama seperti dalam urusan harta. Ini adalah pendapat Abu Hanifah, Abu Yusuf, dan Muhammad ra.

99 HR. Bukhari, hal. 2514.

BANTAHAN ULAMA PADA KEENAM ALASAN DI ATAS. Bantahan pada pendapat pertama; Al-Hafidh ibn Hajar (Al-Fath 5/333), “Hadits yang menunjukkan kebolehan sumpah dan seorang saksi diriwayatkan dari banyak jalan yang masyhur, bahkan banyak yang shahih. Hadits yang diriwayatkan Imam Muslim dari jalan Ibn Abbas misalnya, adalah hadits shahih yang kapasitasnya tidak diragukan lagi. Begitu pula hadits Abu Hurairah dan Jabir. Ibn Abdil Barr (At-Tamhid 2/138), “Tidak ada seorang perawi pun yang putus dalam sanad hadits Ibn Abbas. Pendapat at-Thahawi yang mengatakan bahwa Qais tidak pernah meriwayatkan hadits dari Amr bin dinar, tidak serta-merta dapat menurunkan kualitas keshahihan hadits, karena keduanya adalah tabi’in yang dapat dipercaya dan tinggal di Makkah. Qais juga telah meriwayatkan hadits dari orang yang mendahului Amr. Haditshadits shahih seperti ini tidak boleh ditolah kehujjahannya. Saya mengatakan, “Ulasan hadits dan hukum tentang hal tersebut telah dijelaskan sebelumnya. Hadits itu shahih dilihat dari semua jalur. Bantahan pada pendapat kedua; Ibn Arabi mengatakan (mengutip pendapat al-Hafidh dalam kitab al-Fath 5/333), “Saya telah mencatat dua alasan penolakan ulama terhadap keputusan yang hanya berdasarkan pada seorang saksi dan sumpah. Salah satu dari dua alasan itu: mereka mengatakan bahwa yang dimaksud dengan hadits tersebut adalah memutuskan dengan sumpah dari terdakwa dan saksi dari pendakwa. Dengan artian, seorang saksi saja tidak cukup menjamin suatu kebenaran, karena itulah terdakwa harus bersumpah. Inilah yang dimaksud dengan redaksi hadits “Memberi keputusan berdasarkan sumpah dan seprang saksi.” Ibn Arabi mengatakan, “Ini adalah kesalahan bahasa. Karena dua perkara yang ditengah-tengahi wau ma’iyyah (wau yang menunjukkan makna bersama-sama) harus berada dalam satu arah, tidak dalam arah yang berlawanan.” Al-Hafidh, “Banyak hadits yang menerangkan hal ini tidak dimaknai dengan takwilan ini.100 Wallahu A’lam.

100 Maksudnya adalah takwilan dengan sumpahnya pendakwa.

Bantahan pada pendapat ketiga; Ibn Qudamah (Al-Mughni 14/131), “Mereka tidak mempunyai dalil dari al-Kitab. Karena ayat 282 surat al-Baqarah menunjukkan disyariatkannya dua orang saksi laki-laki atau seorang laki-laki ditambah dua orang perempuan. Tidak ada perselisihan di antara ulama mengenai hal ini. Mengenai pendapat mereka yang mengatakan bahwa ‘penambahan dalam redaksi nash adalah naskh’ tidak bisa dibenarkan. Karena naskh berarti menghilangkan dan menghapus dan menambah sesuatu berarti menetapkannya, bukan menghapusnya. Hukum seorang saksi ditambah dengan sumpah adalah sama halnya dengan hukum dua orang saksi, bukan menasakh hukumnya. Karena penambahan, baik satu arah maupun berlawanan arah, bukanlah sebuah bentuk penghapusan (naskh) dari hukum sebelumnya. Ibn Abdil Barr (Al-Istidzkar 22/54), “Ini adalah kebodohan dan kontroversi, bagaimana perbedaan dapat terjadi dalam al-Qur’an? Padahal hadits tersebut adalah penambahan yang bertujuan untuk menjelaskan ayat, seperti hadits mengani hukum menikahi perempuan beserta bibinya sekaligus yang tidak diterangkan dalam ayat, “…dan dihalalkan bagi kamu selain yang demikian…” (An-Nisa’: 24) Hadits mengenai hukum mengusap dua sepatu yang oleh al-Quran hanya diterangkan mengusap atau membasuh dua kaki. Juga hadits mengenai keharaman memakan keledai jinak dan binatang buas yang berkuku tajam yang tidak diterangkan dalam ayat, “Katakanlah: "Saya tidak mendapatkan dalam wahyu yang diturunkan padaku, sesuatu yang diharamkan bagi orang yang hendak memakannya…” (Al-An’am: 145) Demikian pula halnya dengan keputusan Rasulullah SAW yang hanya berdasarkan sumpah dan seorang saksi dan tidak diterangkan dalam ayat, “…dan persaksikanlah dengan dua orang saksi dari orang-orang lelaki (di antaramu). Jika tidak ada dua orang laki-laki, Maka (boleh) seorang laki-laki dan dua orang perempuan dari saksi-saksi yang kamu ridhai…” (Al-Baqarah: 282). Bahkan hal ini dapat dengan jelas kita lihat. Karena tidak ada dalil yang menunjukkan bahwa ayat tersebut tidak memperbolehkan keputusan dengan selain yang tertera. Keputusan berdasarkan sumpah dan seorang saksi tidak menghalangi berlakunya kesaksian dua orang laki-laki atau seorang laki-laki ditambah dua orang perempuan. Semuanya adalah hukum dan syariat Allah yang tertera dalam al-Kitab dan as-Sunnah.

Bantahan pada pendapat keempat; Pengikut Ismail (mengutip pendapat al-Hafidh dalam kitab al-Fath) mengatakan, “Andaikan seorang saksi dan sumpah ditolak dalam suatu pengambilan keputusan sebab tidak ada dalil dalam al-Qur’an yang menjelaskannya, maka seorang saksi laki-laki ditambah dua orang perempuan seharusnya juga ditolak sebab tidak ada dalil dalam sunnah yang menjelaskannya. Karena Rasulullah SAW telah bersabda, “Seorang saksi laki-laki darimu atau sumpah dari terdakwa.” Al-Hafidh, “Kesimpulannya adalah, masing-masing nash tidak saling menggugurkan. Keputusannya kemudian, bahwa memberi keputusan tidak boleh hanya berdasarkan pada sumpah dan seorang saksi kecuali jika sudah tidak ada dua orang saksi laki-laki atau yang menyamainya, yakni persaksian seorang laki-laki ditambah dua orang peremppuan. Ini adalah pendapat Madzhab Syafi’iyah dan Hanabilah. Abu Umar bin Abdil Barr (22/60), “Mereka (orang yang menolak) juga beralasan bahwa nabi SAW menetapkan pendakwa harus mengajukan bukti dan terdakwa harus bersumpah. Tidak ada indikasi sedikitpun yang mengarah pada pembalikan hal ini, yakni bukti bagi terdakwa dan sumpah bagi pendakwa. Padahal tidaklah demikian, karena Nabi SAW telah menolak sumpahnya pendakwa saat terjadi persengketaan. Menggunakan nash lebih baik dari pada analogi yang tidak disepakati oleh semua perawinya. Ini adalah analogi bandingan yang diajukan oleh ulama yang membantah pendapat mereka. Bantahan pada pendapat kelima; Ibn Abdil Barr (Al-Istidzkar 22/55), “Bantahan mengenai hal ini: “Pendapat yang kita pegang adalah: pendakwa harus mengajukan bukti dan terdakwa harus bersumpah, ini adalah yang dilakukan Rasulullah, begitu pula dengan sumpah dan seorang saksi yang beliau lakukan dalam pengambilan keputusannya. Ini adalah bentuk uswatun hasanah (suri tauladan yang baik) dari beliau. Ibn Qudamah (Al-Mughni 14/131), “Disyariatkannya sumpah adalah bertujuan untuk menguatkan penolakan terdakwa. Hukum asalnya adalah bahwa terdakwa bebas dari tanggungan (dalam hal ini tanggungan hutang). Oleh karena itu, pendakwa dinyatakan benar dalam kasus ini.

Bantahan pada pendapat keenam; Saya mengatakan, “Analogi dalam hal ini tidak boleh dilakukan, sebab sudah ada nash yang menetapkannya. Pernyataan mereka “ulama yang membolehkan hanya mengkhususkan hal ini pada harta”, itu adalah penjelasan perawi hadits, karena perawi lebih mengetahui mengenai hadits yang diriwayatkannya. Dalam hal ini, Amr bin Dinar adalah sebagai perawinya.101

101 HR. Abu Daud, hal. 2609.

RAHN (GADAI) Keterangan Rahin Murtahin Marhun : Orang yag menggadaikan : Orang yang menerima barang gadaian : Barang yang digadaikan

Pengertian Rahn Menurut Imam Qurthuby dalam kitab al-Jami’ li Ahkam al-Qur’an (3/404), makna Rahn adalah: Menahan barang secara haq sebagai jaminan karena harga atau manfaat barang tersebut dapat menjadi ganti ketika Rahin terhalang untuk mengembalikan hutangnya kepada Murtahin. Demikianlah ketetapan para ulama’. Menurut al-Jasshash R.A. dalam kitabnya Ahkam al-Qur’an (1/714): alasan dari mengapa barang tersebut di jadikan jaminan dari Rahin adalah supaya barang tersebut berada dalam haq Murtahin, maka Murtahin lebih berhak atas barang tersebut dari para Murtahin lainnya ketika Rahin meninggal dunia atau bangkrut. Menurut hemat penulis, yang dimaksudkan adalah agar Rahin memberikan sesuatu yang nilainya sama atau lebih besar dari hutangnya, yang akan menjadi jaminan bagi Murtahin ketika Rahin tidak mampu mengembalikan hutang tersebut, atau Murtahin meninggal dunia. Landasan disyari’atkannya Rahn Pensyariatan Rahn telah termaktub dalam al-Qur’an, Sunnah dan Ijma’ (kesepakatan) para ulama’. 1. Al-Qur’an “Jika kamu dalam perjalanan (dan bermu'amalah tidak secara tunai) sedang kamu tidak memperoleh seorang penulis, Maka hendaklah ada barang tanggungan yang dipegang (oleh yang berpiutang). (al-Baqarah: 283)” 2. Hadist Diantara hadits yang menjelaskan tentang Rahn adalah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari R.A.:

Dari Musaddad, dari Abdul Wahid, dari A’masy: kita berbincang-bincang di sisi Ibrahim tentang Rahn dan al-Qabiil fi al-Salafi dan Ibrahim berkata: Aswad telah menceritakan pada kami dari A’isyah R.A.: “Sesungguhnya Nabi SAW pernah membeli makanan dengan baju zirah sebagai jaminannya.”102 Dalam hadits lain dengan riwayat yang sama disebutkan: Diceritakan oleh Abu Na’im, dari Zakariya dari Amir dari Abu Hurairah R.A. dari Nabi SAW. Bersabda: “Jika binatang tersebut digadaikan, maka binatang tersebut dapat ditunggangi dan susunya yang berlimpah dapat diminum sebab diberi nafkah (makan dan minum).”103 3. Ijma’ Menurut Ibnu Qudamah R.A. dalam kitab al-Mughni (6/443): mayoritas umat Islam sepakat atas pemberlakuan hukum Rahn Hukum Rahn Menurut Ibnu Qudamah R.A. dalam kitab al-Mughni (6/444): Rahn tidak wajib dan kami tidak menemukan perbedaan tentang hal tersebut. Karena ia adalah jaminan hutang, maka ia tidak wajib seperti halnya Dhaman dan Kafalah. Dan ayat 283 surat al-Baqarah diatas menunjukkan pada kita bahwasanya rahn tidak wajib. Sesungguhnya ayat tersebut adalah perintah untuk melakukan Rahn ketika kita kesulitan untuk melakukan pencatatan hutang, dan karena pencatatan hutang tidak wajib di lakukan, maka Rahn menjadi pengganti bagi pencatatan tersebut. Syarat-Syarat Rahn 1. Barang jaminan harus di terima oleh Murtahin. yakni, sempurnanya kepemilikan barang jaminan tersebut bagi Murtahin. Dasar dari hal tersebut adalah firman Allah dalam surat al-Baqarah ayat 283. Menurut Ibnu Qudamah R.A. dalam kitab al-Mughni (6/446): Rahn tidak sah kecuali dengan adanya barang jaminan dari pihak yang berwenang atau layak.
102 Muttafaq ‘Alaihi: Shahih Bukhari (2509), Shahih Muslim (4090) 103 Shahih, Bukhari: 2511

2. Barang jaminan tersebut harus terus menerus berada dalam kekuasaan Murtahin: jika barang tersebut tidak lagi berada dalam kekuasaan Murtahin dengan sepengetahuannya, maka hilanglah keberlangsungan rahn meskipun akadnya tetap berlaku. Seakan barang tersebut tidak pernah berada dalam kekuasaan Murtahin (al-Mughni: 6/448).

Bolehkah Murtahin memanfaatkan barang jaminan Rahin selama barang tersebut masih utuh? Hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari R.A. Telah menceritakan kepada kami Abu Na’im, dari Zakariya dari Amir dari Abu Hurairah R.A. dari Nabi SAW. Bersabda: “Jika binatang tersebut digadaikan, maka binatang tersebut dapat ditunggangi dan dapat susunya yang berlimpah dapat diminum sebab diberi nafkah (makan dan minum).”104 Sedangkan riwayat Muhammad bin Muqatal dari Abdillah dari Zakariya dengan bagian atas sanad yang serupa tetapi dengan redaksi yang berbeda: “Jika binatang tersebut digadaikan, maka punggung binatang tersebut dapat ditunngangi dan susunya yang berlimpah dapat diminum, dan orang yang telah menunggangi dan mengambil air susu wajib memberi nafkah bagi binatang tersebut (makan dan minum).” Menurut Ibnu Qudamah R.A. dalam kitab al-Mughni (6/509-511): Murtahin tidak boleh mengambil manfaat dari barang jaminan Rahin, kecuali jika barang tersebut adalah barang (binatang) yang bisa ditunggangi atau bisa diperah susunya, dengan catatan, binatang tersebut haruslah dirawat dengan baik. Ibnu Qudamah R.A. juga berpendapat bahwasanya barang jaminan yang dimaksud disini terbagi menjadi dua bagian: Pertama: barang yang tidak butuh nafkah (makanan dan minuman) seperti rumah, perabotan dan sejenisnya. Maka, Murtahin tidak boleh mempergunakan atau mengambil manfaat dari barang tersebut tanpa persetujuan Rahin, para ulama’ sepakat dengan pandapat ini dan tidak ada perbedaan tentangnya. Karena barang tersebut masih menjadi milik Rahin, maka tidak ada yang boleh mengambil dan atau mempergunakan barang tersebut tanpa
104 Periwayatannya telah disebutkan pada bab sebelumnya

adanya persetujuan dari Rahin.. Jika Rahin telah memberikan ijin kepada Murtahin untuk menggunakan barang jaminan tanpa mengganti barang yang ia gunakan tetapi dianggap hutang, maka hal ini tidak boleh karena itu adalah hutang yang mendatangkan kemanfaatan yang diharamkan. Kedua: barang yang butuh nafkah (makanan dan minuman) maka ketentuan bagi Murtahin adalah dengan atau tidak mengganti nafkah tersebut seperti contoh yang telah disebutkan sebelumnya. Jika Murtahin telah mendapatkan ijin dari Rahin untuk menggunakan barang (binatang) jaminan tersebut ala kadarnya, maka hal tersebut diperbolehkan karena hal tersebut merupakan salah satu macam dari pertukaran. Apabila penggunaan atau pemanfaatan barang (binatang) jaminan tersebut tanpa seijin Rahin, maka ketentuannya terbagi menjadi tiga: Binatang yang bisa diperah susunya, binatang yang bisa ditunggangi/ dikendarai, dan binatang selain keduanya. Untuk binatang perah dan binatang tunggangan, Murtahin wajib memberikan nafkah (makan dan minum) untuk binatang tersebut. Dan Murtahin dapat menggunakan binatang tersebut ala kadarnya. Untuk memilih mana yang lebih pantas, agar sama, Ahmad menegaskan dengan menukil perkataan dari Ishaq tentang binatang selain keduanya: secara sekilas madzhab tersebut menyatakan tidak boleh. Ahmad juga menegaskan, sebagaimana diceritakan oleh Atsram: saya mendengar Abu Abdillah ditanya tentang seseorang yang menggadaikan budaknya tersebut mengabdi kepadanya, maka beliau menjawab: “barang jaminan tidak boleh dipergunakan kecuali menurut keterangan Abu Hurairah yang dikhususkan bagi binatang tunggangan, binatang perah dan binatang yang diberi makan”. Menurut al-Hafidz dalam kitab al-Fath (5/171) tentang hadits Nabi SAW ( ‫وعلى الذي يركب‬ kemudian budak

‫ :)ويشرب النفقة‬artinya wajib ada (‫ كائنا‬isim fa’il dari kata ‫ ) كان‬dan hadits tersebut menjadi
hujjah (argumen) bagi orang yang memperbolehkan Murtahin untuk mempergunakan barang jaminan meskipun tanpa seijin Rahin jika itu memang berguna untuk kebaikan dirinya. Menurut Ahmad, Ishaq dan kelompok mereka: sesuai dengan hadits, Murtahin boleh menggunakan kedua binatang jaminan dari Rahin dan tidak boleh mempergunakan selain keduanya. Mayoritas ulama’ tidak memperbolehkan Murtahin untuk menggunakan barang jaminan dari Rahin. Perbedaan pendapat tersebut disebabkan oleh berbedanya qiyas (analogi) yang mereka gunakan untuk mentakwil hadits tentang Rahn tersebut. Dan secara

garis besar, perbedaan tersebut ada dua bagian: Pertama, pendapat yang memperbolehkan Murtahin untuk menggunakan atau mengambil manfaat dari barang jaminan (binatang perah atau binatang tunggangan) tanpa seijin Rahin. Kedua, pendapat yang memperbolehkan Murtahin untuk menggunakan atau mengambil manfaat dari barang jaminan (binatang perah atau binatang tunggangan) dengan jaminan Murtahin harus memberi nafkah (makan dan minum) hewan tersebut, bukan dengan harga. Menurut Imam Syafi’I R.A. dalam kitab al-Umm (3/231): sesuai dengan hadits yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah R.A.: “binatang jaminan itu dapat ditunggangi dan diperah susunya.” Murtahin tidak diperbolehkan menggunakan barang jaminan Rahin karena status barang tersebut masih menjadi milik Rahin, bukan milik Murtahin. Kecuali penunggangan dan pemerahan susu itu dilakukan oleh Rahin yang notabene adalah pemiliknya. Karena penunggangan dan pemerahan susu adalah milik dari orang yang berwenang (Rahin), dan kewenangan selain manfaat adalah penunggangan dan pemerahan susu binatang jaminan tersebut. Menurul takwil al-Thahawy dalam kitab Syarah Ma’ani al-Atsar (4/99): dengan alasan apa mereka memperbolehkan hak penunggangan dan pemerahan barang jaminan tersebut bagi Rahin dan tidak bagi Murtahin? Hal ini tidak akan pernah terjadi kecuali berdasarkan alkitab (al-Qur’an), Sunnah dan Ijma’. Sementara itu, Hasyim meriwayatkan hadits dan menjelaskan apa yang tidak dijelaskan oleh Yazid bin Harun:

‫حدثنا أحمد بن داود, حدثنا إسماعيل بن سالم السإغ قال: حدثنا هاشم عن زكريا عن الشعبي عن أبي‬ ‫ى‬gg‫ة فعل‬gg‫ة مرهون‬gg‫انت الدباب‬gg‫هريرة رضي ا عنه ذكر أن الرسول ا صلى ا عليه وسلم قال: إذا ك‬ ‫501المرتهن علفها ولبن الدر يشرب وعلى الذي يشرب نفقتها ويركب‬
Artinya: “diceritakan oleh Ahmad bin Dawud, telah menceritakan kepada kami Ismail bin Salim alSaigh106 berkata: telah menceritakan kepada kami Hasyim dari Zakariya dari al-Syu’ba dari Abu Hurairah R.A. menyebutkan bahwasanya Rasulullah SAW bersabda: jika binatang ternak digadaikan, maka murtahin wajib memberinya makan dan dia dapat meminum air susunya. Dan bagi orang yang menunggangi dan meminum air susu dari binatang gadaian wajib memberinya makan.”
105 Musnad Imam Ahmad (2/228) 106 Ahmad, Al-Musnad: 2/228

Hadits tersebut menegaskan bahwasanya hak menggunakan binatang jaminan (binatang tunggangan dan binatang perah) adalah untuk Murtahin, bukan untuk Rahin dan pemberian nafkah (makanan dan minuman) untuk binatang jaminan tersebut menjadi ganti pemanfaatannya sebagaimana yang telah dipaparkan sebelumnya. Al-Thahawy juga berpendapat: sesungguhnya hadits tersebut dinasakh (terhapus) dengan datangnya pengharaman riba memberi hutang yang mendatangkan kemanfaatan. al-Hafidz juga sependapat dengan al-Thahawy dalam kitab al-Fath (5/171) bahwa kemungkinan nasakh tersebut tidak pernah ada.dan periodeisasi turunnya hadits tersebut tidak dapat dilacak. Ibnu Hazm berpendapat dalam kitab al-Mahally (8/90089): pemilik binatang gadaian tersebut bukan berarti tidak bisa menggunakan binatang yang telah digadaikannya sama sekali, baik menunggangi atau mengambil air susunya. Sebagaimana yang telah kami sebutkan, Pemilik binatang gadaian hanya menyia-nyiakannya. Maka Rahin tidak wajib untuk memberikan makan karena yang wajib memberinya makan adalah Murtahin. Meskipun demikian, pemanfaatan binatang tersebut tidak mengurang atau menambah kadar hutang Rahin, baik pemanfaatan tersebut sering atau jarang dilakukan. Kemudian Ibnu Hazm melanjutkan: Nash telah mengharamkan penggunaan harta yang bukan hak miliknya, begitu juga tentang pengharaman rahn yang didalamnya mengandung unsur penganiayaan terhadap Rahin oleh Murtahin. Jika seseorang menggadaikan harta sebagai jaminan dari hutangnya, kemudian ia tidak mampu mengembalikan hutang tersebut pada saatnya, apakah barang jaminan tersebut akan menjadi milik Murtahin? Imam Malik RA memaparkan hadits yang diriwayatkan oleh ibnu Syihab dari Said bin Musayyab sesungguhnya Rasulullah SAW bersabda:
107

‫ل يغلق الرهن‬

107 Hadits Mursal; Muwattha’: 560, diriwayatkan oleh Abd ar-Razak melalui Mu’ammar; Mushannaf: 15033, Ibn Majah; 2441, ibn Abi Syaibah melalui Mu’ammar; Mushannaf: 5/324, al-Thahawy melalui Malik, Yunus dan Abu Dzab; Syarh Ma’ani al-Atsar: 4/100, al-Baihaqy melalui Syuaib; Sunan al-Baihaqy: 6/44, dan diriwayatkan dari al-Zuhri dari ibn al-Musayyab sebagai hadits Mursal. Dan diriwayatkan oleh al-Zuhry dari ibn al-Musayyab dari abu Hurairah dengan sanad yang tersambung. Dan diriwayatkan oleh ibn Majah; 2441 melalui Muhammad bin Hamid dari Ibrahim bin al-Mukhtar dari Ishaq bin rasyid dari al-Zuhry. Dan diriwayatkan juga oleh ad-Daruquthni; Sunan ad-Daruquthni: 3/26, dan al-Baihaqy; Sunan al-Baihaqy: 6/44, serta al-Hakim: 2/51. dan yang paling shahih adalah riwayat al-Zuhry yang menyatakan bahwasanya hadits ini adalah hadits Mursal.

“(pemanfaatan) barang gadai tidak akan pernah tertutup.” Ats-Tsauri dan ulama lain menambahkan hadits dengan merujuk dari kitab al-Umm milik as-Syafi’I (3/248): dari Ibn Abi Dza’b dari al-Zuhry dari Ibn al-Musayyab dari Rasulullah SAW, bersabda: “(pemanfaatan) gadai tidak akan pernah tertutup bagi orang yang menggadaikannya. Maka kambing (harta) yang digadaikan tetap menjadi milik Rahin dan Murtahin yang wajib memberinya makan.” Makna Hadits: Menurut Imam Malik R.A dalam kitab al-Muwattha’ (560): menurut saya, tafsir dari ayat tersebut (Allahlah yang paling tahu) adalah sebagai berikut: seseorang harus memberikan jaminan bagi orang memberi hutang. Ketika Rahin berkata kepada Murtahin: “saya akan datang (untuk memberikan hak kamu) sesuai dengan waktu yang telah ditentukan, jika tidak (tepat waktu), maka barang jaminan itu menjadi milikmu.” Akad ini tidak layak dan haram untuk diberlakukan karena jika dikemudian hari Rahin mampu mengembalikan hutangnya pada Murtahin, maka Murtahin juga wajib mengembalikan barang yang digadaikan Rahin meskipun pembayaran (hutang) tersebut sudah jatuh tempo, dan menurut saya, syarat ini (pengalihan hak atas barang karena pembayaran yang telah jatuh tempo), syarat ini tidak boleh diberlakukan. Menurut Imam Syafi’I RA. Dalam kitab al-Umm (3/248): berdasarkan hadits tersebut kami berpendapat bahwasanya semua barang gadaian tidak menjadi tanggungan murtahin,
Pendapat para ahli hadits: Ad-Daruquthni berpendapat dalam kitab al-Sunnah (3/26) tentang hadits tersebut melalui riwayat Ziyad bin Said dengan sanad tersambung: Ziyad bin Said adalah seorang Huffadz (kuat ingatannya) serta Tsiqoh (dipercaya), dan sanad hadits tersebut adalah sanad hadits hasan yang tersambung. Mayoritas ulama menyetujui hal tersebut meskipun mereka berbeda dalam pentakwilan hadits tersebut: Ibn Abdilbar dalam kitab al-istidzkar (22/95): mayoritas ahli hadits sepakat bahwasanya hadits tersebut adalah hadits mursal sekalipun hadits tersebut datang dari berbagai sanad. hanya saja sanad tersebut mereka anggap cacat sebagaimana telah kami paparkan sebelumnya. Akan tetapi mereka tidak menolak hadist tersebut, bahkan semua ahli hadits menerimanya sekalipun mereka berbeda dalam memberikan takwil. Menurut az-Zaila’I dalam kitab Nashb ar-Rayah (4/321): imam addaruquthni, ibnu abdilbar dan abdul Haq menganggap hadits ini sebagai hadits yang shahih. dalam kitab al-Marasil Abu daud juga meriwayatkan hadits ini dari imam malik, ibnu abi Dza’b, al-Auza’I dan perawi lainnya dari al-Zuhry dari Said sebagai hadits mursal. Hadits ini juga diriwayatkan oleh sufyan al-Tsaury dan para perawi lain dari ibnu Abi Dza’b sebagai hadits mursal yang terjaga.

Rasulullah SAW bersabda: “jika terjadi sesuatu pada barang yang digadaikan, maka orang yang menggadaikanlah yang menanggungnya, bukan orang lain ”. kemudian beliau menambahkan: “baginyalah faidahnya dan baginya pulalah dendanya”. Kamanfaatan barang tersebut dapat diperoleh selama barang tersebut tidak rusak. Panambahan dan pengurangan denda yang disebabkan oleh rusaknya barang tidak diperbolehkan karena pada hakikatnya, denda tersebut seharusnya ditanggung oleh Rahin, bukan Murtahin. Menurut Abu Ubaid dalam kitab Gharib al-Atsar (1/269-270) tentang hadits (‫ل يغلق‬

‫ن‬gg‫ :)الره‬hadits ini tidak hanya ditafsirkan oleh satu ullama. Hadits yang menceritakan
tentang orang yang menolak barang jaminan dari orang lain dan ia meminta keping dirham, kemudian Rahin berkata: “saya akan mendatangimu pada bla..bla..bla.. jika tidak, maka barang itu milikmu”. Maka rasulullah SAW kemudian bersabda yang isinya adalah hadits tersebut di atas. Kemudian Abu Ubaid melanjutkan penjelasannya: hadits tersebut adalah jawaban dari kasus di atas. hadits tersebut diriwayatkan dari Thawus. Sebagian ulama’ berpendapat bahwa makna hadits ini adalah tentang rusaknya barang gadaian: jika barang gadaian rusak ditangan murtahin, maka barang gadai itu dikembalikan kepada pemiliknya, dan rahin wajib membayar hutangnya. Rudaknya barang gadaian itu tidak berpengaruh terhadap hutang. Ini adalah pendapat dari madzhab yang tidak diakui. Dalam perkataan orang arab, jika barang gadaian itu rusak, maka hutang tidaklah tertutupi. Tapi hutang itu lunas apabila murtahin telah menerima haknya dan barang gadaian dikembalikan kepada rahin. Penjaminan seperti ini adalah praktek yang dilakukan pada masa jahiliyah dan Nabi telah menolak hal ini dengan sabda beliau: “Barang gadaian tidak akan pernah menutupi hutang”. Para penyair juga telah mengatakan tentang hal ini, diantaranya adalah Zuhair saat menyebut seorang perempuan: “saya cerai kamu dengan barang gadaian dan perceraian tidak akan terjadi kecuali kamu telah menerimanya, dengan demikian, perceraian digantungkan pada barang gadaian ”. Artinya adalah hatinya telah tergadaikan kemudian dia menerima konsekuensinya, maka betapa sia-sianya hal ini. Sedangkan sabda Nabi “…………….” Atinya adalah sama dengan makna yang telah disebutkan pertama, dan tidak ada perbedaan. Barang gadaian kembali kepda orang yang menggadaikan, manfaat barang tersebut masih

menjadi miliknya, begitu pula kerusakan barang tersebut menjadi tanggungannya. Maka pemberian syarat yang dilakukan oleh Rahin dan Murtahin menjadi batal dengan sendirinya. hal ini ialah apabila arang gadaian masih ada dan tidak rusak. Apabila barang gadaian tersebut rusak, maka tidak demikianlah hukumnya.108 Jika seseorang (Rahin) menggadaikan barangnya kepada murtahin sebagai jaminan dari hutangnya dan dia juga menerima persyaratan waktu untuk menutupi (melunasi) hutangnya, apakah Murtahin boleh menjual barang tersebut untuk melunasi hutangnya? Ya, murtahin boleh menjual barang tersebut (dan mengambil haknya) jika Rahin tidak mampu melunasi hutangnya. Jika barang tersebut ditakutkan akan rusak dan rahin tidak ada atau tidak mampu melunasi hutangnya, maka barang gadai tersebut boleh dijual sesuai dengan metode dan prosedur yang berlaku, yakni bisa melalui penguasa, hakim. Jadi murtahin tidak boleh mengurusiny sendiri. Hadits tentang masalah tersebut diatas, datang dari sebagian ulama salaf dan dari tabi’in: atsar tersebut diantaranya datang dari Ibnu Sirin dan Iyas bin Mu’awiyah: Diriwayatkan oleh Abd al-Razak: Dari al-Tsaury dari Khalid al-Hidza’ berkata: Muhammad bin Sirin berkata kepadaku: aku punya alat pemintal yang aku gadaikan, karena aku takut barang tersebut rusak, maka aku mendatangi Iyas bin Mu’awiyah (seorang hakim saat itu) dan meminta ijin untuk menjualnya, dan beliau mengijinkannya.109 Diriwayatkan oleh Abd al-Razak: Dari Muamar dari Abu Ayub dari Ibn Sirin, berkata: barang gadaian tidak boleh dijual tanpa sepengetahuan (dan mendapatkan ijin) sulthan (penguasa atau hakim).110 Atsar al-Syu’ba: Diriwayatkan oleh Abd al-Razak dalam kitab al-Mushannaf (15078): muammar telah menceritakan kepada kami dari jabir dari amir tentang seseorang yang menggadaikan
108 Hal ini sama dengan yang dijelaskan oleh Malik dan Abu Ubaid yang dijelaskan oleh az-Zuhri, Thawus, Syarh al-Qadhi dan Ibn Sirin.(Abdurrazak, al-Mushannaf: 8/237). Juga penjelasan ats-Tsauri yang diriwayatkan oleh Abu Ubaid. Semua sanad dari atsar-atsar ini shahih kecuali atsar Ibn Siri. Maka yang benar adalah riwayat Muammar dari Ayyub, dan riwayat Muammar dari al-Bishrin dan Ayyub al-Bishri. 109 Atsar Shahih: al-Mushannif (15.076) 110 Shahih, seperti atsar sebelumnya, ada sanad yang dhaif, yakni dari riwayat Muamar dari Ayub. AlMushannaf (15075)

barangnya dan memasrahkannya pada tangan yang adil (hakim atau pihak yang berwenang): demikianlah tugas baginya, jika ia (hakim) berkehendak (memperbolehkan), maka ia boleh menjualnya, jika ia tidak berkenan (memperbolehkan) untuk menjualnya, maka murtahin tidak boleh menjual barang tersebut.111’112 Dan sebelum diriwayatkan oleh Abd al-Razak, Atsar ini diriwayatkan oleh Amir alSyu’ba dari Syarih al-Qadhy Atsar Sufyan al-Tsaury: Diriwayatkan oleh Abd al-Razak: dari Sufyan al-Tsaury: hakim juga memperhitungkan keadaan barang gadaian yang bisa rusak tersebut meski tanpa kehadiran Rahin. Menurut Sufyan ats-Tsaury: jika pemilik barang gadaian (Rahin) tersebut mengijinkan Murtahin untuk menjualnya, maka Murtahin boleh menjualnya. Jika tidak (sedangkan Murtahin takut terjadi kerusakan pada barang tersebut), maka murtahin bisa meminta persetujuan sulthan (dalam hal ini Hakim). Dan jika ia mengijinkan, maka Murtahin boleh menjual barang tersebut.113 Menurut Ibnu Taymiyah dalam kitab Al-Fatawa (29/538): si A ditanya oleh si B yang mempunyai hutang pada si C. kemudian dibayar dengan barang yang digadaikan kepada si C. sedangkan hutangnya telah jatuh tempo. Sedangkan pemilik hutang membutuhkan uang. Pertanyaannya, apakah dia boleh menjual barang gadaian tersebut? Menurut saya, jika hal (penjualan) tersebut diijinkan oleh Rahin, maka Murtahin diperbolehkan untuk menjualnya, jika tidak, maka menjadi hak hakim untuk memutuskan apakah barang tersebut akan dijual atu tidak, kemudian memberikannya kepada Murtahin sesuai dengan haknya. Dan ulama ulama lain berpendapat: Jika tidak dimungkinkan (untuk menjualnya), maka penjualan barang tersebut diserahkan kepada orang yang dapat dipercaya dan penyerahan tersebut harus disaksikan oleh beberapa saksi, begitujuga hak Murtahin juga diambilkan dari hasil penjualan barang tersebut (wallahu a’lam). Jika barang gadaian tersebut rusak, apakah murtahin wajib menggantinya? Dibawah ini dipaparkan beberapa hadits yang menjelaskan masalah tersebut: Menurut Addaruquthni dalam kitab as-Sunan (2894): diceritakan oleh Muhammad bin
111 Dhaif: salah satu sanad atsar tersebut adalah Jabir. Dia adalah Ibnu Yazid al-Ja’fa (al-Mushannaf: 15075). 112 Seseorang yang adil dalam hal ini adalah orang yang dapat dipercaya, seperti penguasa atau hakim pada saat ini. 113 Shahih: al-Mushannaf (15077)

Mukhallad, dari Ahmad bin Muhammad bin Ghalib dari Abdul Karim bin Rauh dari Hasyim bin Ziyad dari Hamid dari Anas dari Rasulullah SAW: “barang gadaian itu tergantung dari permasalahan yang muncul”114 Makna hadits: jika barang gadaian itu rusak di tangan murtahin, maka hutang rahin kepada murtahin dianggap lunas. Berikut perkataan para sahabat dan tabi’in yang mengatakan bahwa murtahin menanggung kerusakan barang gadaian: Atsar Umar bin Katthab RA: Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah: telah menceritakan kepada kami Abu Ashim dari Imran al-Qatthan dari Mathar dari Atha’ dari Ubaid bin Amir dari Umar RA: jika nilai barang gadai itu lebih besar dari hutangnya, maka murtahin menganggap hutang tersebut telah lunas dan tidak menanggung kerusakan dari kelebihan barang gadaian itu karena dia adalah orang yang terpercaya. Dan jika nilai barang gadaian itu lebih kecil dari hutangnya, maka orang yang berhutang harus menghitung dan membayar kekurangannya. Makna Atsar: Jika harga barang gadaian tersebut lebih besar dari hutangnya, jadi hutang Rahin kepada Murtahin sudah lunas dan lebihnya tidak dianggap hutang karena murtahin adalah orang yang dipercayai. Jika harga barang gadai tersebut lebih kecil dari hutangnya, maka murtahin harus membedakan harga barang tersebut dengan hutang yang ia berikan. Atsar Ibnu Umar RA: Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah dari Waki’: diceritakan oleh Idris al-Awadi dari Ibrahim bin Amir: saya mendengar Ibnu Umar RA berkata tentang Rahn: harus saling
114 Hadits Dhaif: diriwayatkan oleh Addaruquthni dalam kitab as-Sunan (2894), al-Baihaqi dalam kitab asSunan (6/43), dan at-Thahawi dalam kitab Ma’ani al-Atsar (103). Menurut Addaruquthni, kedhaifan hadits ini tidak berada pada Hamid (diriwayatkan oleh Qatadah dari Anas RA didalamnya termasuk Ismail bin Abi Umayyah, dalam kitab as-Sunan: 2895). Menurut saya, hadits ini diriwayatkan oleh atha’ dari Ibn Abi Syaibah (33315) dengan bentuk Mursal. Sedangkan at-Thahawi dalam kitab Syarh ma’ani al-Atsar (4/2) meriwayatkan hadits ini melalui Abdullah bin Mubarak dari Mush’ab Ibn Tsabit dari Atha’ dengan hadits: seseorang menggadaikan kudanya pada orang lain. Kemudian Murtahin menafkahi kuda itu, dan Rasulullah berkata kepadanya “hakmu telah hilang”. Hadits ini adalah hadits mursal dan kedhaifannya terletak pada Mush’ab bin Tsabit. Begitupula dengan hadits “ ……… ” yang juga termasuk hadits mursal melalui Ali bin Sahl ar-Ramli dari al-Walid bin Muslim dari al-‘Auza’I dari Atha’ sebagaimana diriwayatkan oleh Abu Daud dalam kitab al-Marasil (173) Menurut Ibn Qatthan yang kemudian dikutip oleh az-Zaila’I, bahwasanya hadits tersebut adalah hadits mursal yang shahih (Nash bar-Rayah: 4/322). Begitu juga riwayat Abu Daud dalam kitab al-Marasil dari hadits mursalnya Thawus. Salah satu perawinya adalah Mihran bin Umar al-Atthar yang jelek hafalannya dan Zim’ah bin Sholeh yang haif.

mengembalikan lebihnya.115 Makna Atsar: Jika harga barang gadai tersebut lebih besar dari hutang Rahin, maka murtahin harus memberikan lebihnya kepada Rahin. Jika harga barang gadai lebih kecil dari hutang rahin, maka rahin marus membayarkan sisa hutangnya kepada Murtahin. Atsar Ali RA: Diriwayatkan oleh Abd al-Razak: dari Al-Tsaury dari Manshur dari al-Hakam dari Ali RA: Keduanya (Rahin dan Murtahin) saling mengembalikan lebihnya.116 Atsar Syarih al-Qadhy RA dan al-Hakam bin Utaibah: Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah: bercerita kepada kami Syarik dari Abi Hushain: saya mendengar Syarih berkata: “barang gadaian tergantung dengan problrmatika yang muncul” Abi Hushain: telah menceritakan kepada kami Waki’: telah menceritakan kepada kami Syu’bah dari al-Hakam dari Syarih: “barang gadaian tergantung dengan problrmatika yang muncul” Syu’bah: saya berkata kepada hakam: jika lebih besar atau lebih kecil sama? Dia menjawab: ya, diceritakan oleh Ibnu Abi Zaidah dari Hisyam dari Muhammad dari Syarih dengan lafadz seperti itu.117 Atsar Ibnu Sirin RA: Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah: diceritakan oleh Abdul Wahab bin Atha’ dari Ibnu Awn dari Muhammad bin Sirain: “barang gadaian tergantung dengan problrmatika yang muncul”118 Atsar Atha’ bin Abi Rabbah RA:
115 Hasan: dalam kitab al-Mushannaf (15039), salah satu periwayatnya adalah Ibrahim bin Amir yang disebutkan oleh Ibnu Hibban dalam kitab As-Tsiqat: Ibrahim bin Amir meriwayatkan dari Ibnu Umar, begitu juga Idris…? 116 Munqathi’: al-Mushannaf (15039). Atsar yang sama juga diriwayatkan oleh Barqam (15040) lewat Muammar dari Qatadah dari Ali dengan sanad yang terputus. Qatadah tidak mendengar langsung dari Ali RA. Atsar ini juga diriwayatkan oleh oleh Ibnu Syaibah lewat Waki’ dari al-Tsaury dari Manshur daru al-Hakam. 117 Shahih: al-Mushannaf (5/333-334) 118 Hasan: Ibid (5/335)

Diriwayatkan oleh Ibn Abi Syaibah119: diceritakan oleh Ibnu Ulyah: saya bertanya kepada Abi Najih tentang barang gadaian yang rusak, kemudian ia menjawab: Atha’ berkata” emas, perak dan harta benda (yang tidak membutuhkan perawatan; makan dan minum) masing-masing saling dikembalikan, dan hewan tidak dikembalikan karena itu milik Rahin.120 Atsar Ibrahim al-Nakha’I RA dan Sufyan al-Tsaury RA: Diriwayatkan oleh Abd al-Razak dan Ibn Abi Syaibah: dari al-Tsaury dari al-Qa’qa’ dari Ibrahim: “jika harga barang tersebut lebih besar, maka hutang itu telah lunas. Jika lebih sedikit, maka sisanya harus tetap dibayar” . imam al-Tsaury: “kami sepakat dengan Atsar itu”121

Atsar para Ahli Fiqh Madinah: Diriwayatkan oleh Abu Ja’far al-Thahawy RA: diceritakan oleh Abu al-Awam Muhammad bin Abdillah Ibnu Abdil Jabbar al-Marady: diceritakan oleh Khalid Ibn Nazar al-Ayly: Abdurrahman bin Abi Zanad menceritakan kepada saya dari ayahnya: menurut keterangan para fuqaha’ kami (yang pendapatnya dapat dijadikan dasar), diantaranya adalah: Said bin al-Musayyab, Urwah Ibn Zubair, Qasim bin Muhammad, Abu Bakar bin Abdirrahman, Kharijah bin Zaid dan Ubaidillah bin Abdullah karena matangnya pengetahuan mereka tentang fiqh, mereka juga termasuk orang-orang yang berbuat baik dan orang yang memiliki keutamaan (kriteria ini kemudian dimasukkan dalam kitabnya). Mereka berkata: “barang gadaian tergantung dengan problematika yang muncul, Yakni jika barang tersebut rusak atau harganya tidak diketahui. Hal ini berdasarkan hadits nabi”122 Dibawah ini dipaparkan orang-orang (fuqaha’) yang berpendapat bhwa Murtahin tidak wajib mengganti barang gadaian yang rusak milik Rahin. Imam al-Syafi’I RA dalam kitab al-Umm (30/248) berdasarkan hadits:

119 Shahih: al-Mushannaf (5/333-335), diriwayatkan oleh Abd al-Razak dalam kitab Mushannafnya: 15038 120 Yang dimaksud dengan kata “dari awal” adalah rahin. bahwasanya barang (hewan) tersebut milik Rahin. Jika hean itu mati, maka murtahin tidak dikenakan hukuman atau menggantinya 121 Shahih: diriwayatkan oleh Abd al-Razak dalam kitab mushannafnya (15041) dan Ibn Abi Syaibah dalam kitabnya, al-Mushannaf (5/333) 122 Dengan sanad yang diperbolehkan: Syarh Maany al-Atsar (46/102)

“barang gadai tidak akan dapat menutupi hutang pemiliknya. Maka manfaat dan kerusakan tetap menjadi tanggungan pemiliknya.” Kemudian Imam al-Syafi’I melanjutkan: hadits tersebut menjelaskan bahwasanya semua barang gadai itu tidak diganti oleh murtahin. Rasulullah bersabda: “barang gadaian adalah milik orang yang menggadaikannya. Jika terjsdi sesuatu pada barang tersebut, maka itu ditanggung oleh orang yang menggadaikan, bukan orang lain”. Kemudian Rasulullah SAW menambahkan: “Maka manfaat dan kerugian dari harta yang digadaikan tetap menjadi tanggungan Rahin.” Menurut Saya: Banyak ulama yang tidak sepakat kepada takwil hadits imam al-Syafi’I (terutama dari ahli bahasa seperti Abi Ubaid) sebagaimana telah dijelaskan pada bab sebelumnya.

JUAL BELI HUTANG DENGAN HUTANG Madin Daain : orang yang berhutang : orang yang memberikan hutang Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah: diceritakan oleh Ibn Abi Zaidah dari Musa bin Ubaidah dari Abdullah Ibn Dinar dari Ibn Umar RA: “Rasulullah melarang kita berjual beli dengan sistem penangguhan”123 Makna al-Kaly’: Para ahli bahasa sepakat bahwasanya makana dari lafadz ‫بالكالئ‬

‫ الكالئ‬adalah ‫النسيئة‬

‫( بالنسيئة‬penangguhan dengan penangguhan), yakni hutang dengan hutang.
Hukum pemberlakuan sistem jual beli hutang: Sanad hadits ini tidak tetap. Sebagaimana dijelaskan dalam catatan pinggir kitab tentang hadits. Kaum muslimin juga telah menerima dan mengamalkan hadits tersebut. Semua madzhab bersepakat untuk mengamalkan dan mengambil hukum darinya.
123 Sangat Daif: al-Mushanaf (5/250) diriwayatkan oleh Abdurrazak: Al-mushannaf (14440), Addaruquthni (3041-3042), al-Hakim (2/57), al-Baihaqy (5/290), Makna hadits tersebut dari Nysa bin Ubaidah. Maka jika diriwayatkan oleh ad-Daruquthni dan al-Hakim maka sebagai berikut: dari Musa bin Uqbah –pengganti dari Musa bin Ubaidah- Musa adalah anak dari Ubaidah ar-Rabzi. Akan salah jika Abu Abdillah kemudian berkata tentang riwayatnya dari Musa bin Uqbah. Dan yang menutupi Abi Hasan Addaruquthni adalah Syaikh ‘Ishri dalam kitab As-Sunan dari Abu Hasan Ali bin Muhammad al-Mishri dari Musa Ibn Uqbah dan Syaikh Abu Hasan meriwayatkan dari Abu Hasan al-Mishri dalam kitab Sunan al-Mishri Juz 3. dia mengatakan bahwa riwayat Musa tidak termasuk didalamnya. Hal ini disepakati oleh al-Mishri sebagaimana yang diriwayatkan oleh Abu Husain dengan menyebutkan sanadnya. Abu Abdul Aziz ar-Rabzi dari Nafi’ meriwayatkan hadits ini. Abu Abdul Aziz adalah Ibn Ubaidah. Ubaidillah bin Musa, Zaid bin al-Hubbab dan lainnya meriwayatkan dari Musa bin Ubaidah dari Abdullah Ibn Dinar dari Ibn Umar lengkap dengan sanadnya. Syaikh Abu Hasan Addaruquthni meriwayatkan dari Abu Hasan al-Mishri, “hadits ini diriwayatkan dari Musa bin Uqbah dan Syaikh Abu Abdillah, yakni al-Hakim”. Sanad yang lain dari Miqdam bin Daud arRa’ini, “Musa bin Uqbah mengatakan bahwa sanad ini diragukan dan haditsnya adalah hadits masyhur riwayat Musa bin Ubaidah dari Nafi’ dari Ibn Umar dalam satu jalur, dan dari Abdullah bin Dinar dari Ibn Umar dari jalur yang lain”. Menurut saya, yang dapat dijadikan pegangan adalah riwayat Ibn Abi Syaibah yang telah dicantumkan diatas, sebab salah satu perawinya adalah Musa bin Ubaidah ar-Rabzi. Sanad ini bersambung pada Rasulullah yang tidak diragukan lagi. Sedangkan jalur Abdurrazak terdapat al-Aslami sebagai perawinya. Ia adalah Ibrahim bin Abi Yahya al-Aslami dari Abdullah bin Dinar dari Ibn Umar, riwayat al-Aslami diragukan karena dia sering berbohong dan mengutip hadits secara serampangan. Dalam al-Ilal al-Mutanahiyah (988) Ibn al-Jauzi mengatakan, “Ahmad berkata riwayat dri Musa bin Ubaidah tidak terputus, dan saya tidak menemukan hadits ini selain dari periwayatan Musa dsn hadits ini tidak termasuk hadits shahih”. Menurut saya, hadits ini tidak memiliki ketetapan sanad tetapi umat islam telah menerimanya.

Menurut Imam Malik dalam kitab al-Muwattha’ (388): jual beli penangguhan sungguh dilarang. Menurut Imam Syafi’I dalam kitab al-Umm (3/45): seseorang yang mempunyai hutang dirham pada orang lain, sebaliknya, orang tersebut juga memiliki hutang dinar pada orang tersebut, kemudian dianggap lunas. Jika tidak dan kemudian mereka saling tukar hutang, maka tidak diperbolehkan. Menurut Madzhab Hanbaly dalam kitab Syarh Muntaha al-Iradaat (2/200):jual beli penanguhan (hutang) dengan penangguhan yang lain tidak sah dan itu adalah jual beli hutang dngan hutang. Menurut madzhab Hanafy, al-Sarakhsy dalam kitab al-Mabshut (12/143): jika seseorang menyerahkan 1000 dirham untuk membayar hutang makanan seharga 500 dirham, maka hutang telah dianggap lunas dan 500 dirham sisanya adalah miliknya. …? Dari Zfar, sesungguhnya akad penangguhan adalah bathil. Nabi SAW telah melarang jual beli penangguhan dengan penangguhan lain (hutang dengan hutang). Para ulama’ juga yakin bahwasanya hal tersebut (jual beli hutang) dilarang sesuai dengan apa yang disampaikan oleh Ibn al-Mundzir dalam kitab al-Ijma’ (53), Ibn Rusyd dalam kitab Bidayah al-Mujtahid (2/124), dan Ibn Taymiyah dalam kitab Majmu’ al-Fatawa (20/512). Berdasarkan hal tersebut, hukum jual beli hutang merupakan suatu perkara yang haram dan jika terjadi, maka rusak. Menurut al-Shan’any dalam kitab Subulussalam (3/68) setelah menyebutkan hadits: hadits diatas menunjukkan bahwasanya jual beli hutang adalah haram dan jika hal itu terjadi, maka batal. Beberapa contoh kasus jual beli hutang: Jual beli sesuatu yang tidak diterima hingga waktu tertentu dengan pembayaran (yang tertunda) hingga waktu tertentu. Menurut an-Nawawy dalam kitab al-Majmuk (9/400): jual beli dengan penundaan tidak diperbolehkan, misalnya seseorang berkata: “juallah baju yang berada dalam tanggunganku dengan sifat-sifat seperti ini sampai bulan bla bla bla dengan dinar yang juga ditentukan sampai waktu bla bla bla”. Kemudian orang lain menjawab: “saya menerima”. Jual beli seperti ini fasid (rusak) dan tidak ada perbedaan tentangnya. Menurut Ibn Hubairah dalam kitab al-Ifshah (diambil dari kitab Dirasat fi al-Ushul alMudayanat): jual beli penangguhan (hutang) tidak sah seperti ketika seseorang berakad

salam dengan orang lain tentang penjualan sepuluh helai baju yang dishifati dan berada dalam tanggungan si penjual sampai waktu yang ditentukan dengan harga (pembayaran) yang juga ditentukan, meskipun waktu yang ditentukan itu bersamaan atau berbeda. Ini adalah gambaran yang disebut hutang).

‫دين‬gg‫دين بال‬gg‫دأ ال‬gg‫( إبت‬permulaan

jual beli hutang dengan

-

Menjual hutang yang diakhirkan yang didahului oleh ketetapan dalam tanggungan orang yang memberi hutang dengan hutang lain yang diberi jangka waktu dan tidak sama jenisnya. Seperti seseorang yang mempunyai hutang pada orang lain, pada saat pembayaran tiba, dia tidak mempunyai barang yang akan diberikan kepada orang yang memberikan hutang. Kemudian orang yang memberikan hutang menjual hutang orang yang mempunyai hutang sebelumnya kepada orang yang memberikan hutang yang lain dengan barang yang berbeda sampai waktu tertentu.

Menurut Abu Ubaid dalam kitab al-Gharib al-Hadits (1/23): penangguhan (hutang) dengan penangguhan itu banyak bentuknya dalam jual beli. Misalnya seorang yang berakad salam 100 dirham kepada orang lain sampai waktu 6 bulan untuk satu takaran makanan dengan satu takaran. Jika masanya telah habis, maka makanan itu menjadi milik orang tersebut. Orang yang mempunyai makanan itu berkata kepada orang yang membayarnya: saya tidak mempunyai makanan maka juallah takaran ini dengan seratus dirhamku sampai bulan ini, ini adalah penangguhan yang diganti dengan penangguhan dan yang sejenisnya. Menurut Ibn al-Jauzy dalam kitab Gharib al-Hadits (2/298): contoh penangguhan dengan penangguhan yang lain adalah sebagaimana seseorang membeli sesuatu yang pembayarannya ditangguhkan sampai batas tertentu. Jika kemudian masanya telah sampai dan orang itu tidak memiliki barang yang akan diserahkan, kemudian dia berkata: juallah barang itu dengan ketentuan waktu yang lain dengan tambahan. Kemudian ia menjualnya dengan tidak membatalkan akadnya yang pertama. Menurut al-Subky (diambil dari kitab Taklimatul Majmu’: 10/108)jual beli hutang yang pelarangannya telah disepakati seperti seseorang yang mempunyai hutang kepada orang lain dan kemudian ia menjadikan hutang itu hutang yang lain kepada orng lain dengan kdar hutang berbeda dan dengan sifat yang berbeda pula. Karena itulah, para ulama’ sepakat melarang praktek tersebut, karena pada hakikatnya, itu adalah menjual hutang dengan sesuatu (hutang) yang lain.

-

Menjual hutang yang diakhirkan yang didahului oleh ketetapan dalam tanggungan orang yang tidak memberi hutang dengan hutang lain yang diberi jangka waktu. Sepertihalnya ketika seseorang mempunyai hutang 1 ton beras kepada orang lain. Kemudian ia (orang kedua) menjualnya kepada orang lain (orang ketiga) dengan 500 pakaian sutera dengan jangka waktu, ini merupakan salah satu bentuk yang terlarang.

‫الكالئ بالكالئ‬

Menurut Imam Malik dalam kitab al-Muwattha’ (660): jual beli penangguhan adalah seperti seorang laki-laki yang menjual hutang orang lain dengan hutang lain dari orang lain pula. Illat mengapa jual beli hutang dilarang: a. ia merupakan jalan bagi adanya riba nasi’ah yang diharamkan b. terdapat unsur penipuan. Yakni menjual sesuatu yang belum diketahui seperti menjual ikan yang ada dalam air. Menurut Ibn al-Qayyim dalam kitab I’lam al-Mauqi’yn (2/20): pembolehan akad salam berdasarkan atas kesepakatan qiyas dan mashlahat dengan bentuk yang sempurna, dan disini saya akan memaparkannya kembali. Dalam akad salam disyaratkan untuk membayar harga barang terlebih dahulu, karena jika pembayaran tersebut diakhirkan, maka akan mengakibatkan adanya dua tanggungan yang tidak bermanfaat. Karena pembayarannya dilaksanakan dimuka, maka akad ini dinamakan akad salam. Jika pembayarannya diakhirkan, maka akad ini termasuk akad jual beli hutang dengan hutang. Bahkan, hal ini memang tidak termasuk dalam kategori salam, tetapi termasuk dalam jual beli hutang dengan hutang dan transaksi ini termasuk dalam kategori penipuan yang diharamkan. c. Akad ini tidak bermanfaat bagi salah satu dari kedua belah pihak, akad ini hanya akan mengakibatkan kedua orang tersebut termasuk orang yang menggunakan transaksi tersebut. Menurut Ibn al-Qayyim dalam kitab A’lam al-Mauqi’in (912): hal yang menjadikan akad tersebut dicegah adalah karena berkumpulnya dua tanggungan. Dalam akad tersebut salah satu dari kedua orang yang berakad tidak segera menunaikan apa yang menjadi tanggungannya. Akibatnya, seorang lagi akan mengambil keuntungan dari hal tersebut.

Si A mempunyai hutang dirham pada si B, sebaliknya, si B tersebut juga memiliki hutang dinar pada si A dengan nilai yang sama, lebih besar atau lebih kecil, apakah kedua orang tersebut boleh menganggap hutang keduanya lunas tanpa membayar atau tidak? Menurut Imam Syafi’I dalam kitab al-Umm (3/45): seseorang yang mempunyai hutang dirham pada orang lain, sebaliknya, orang tersebut juga memiliki hutang dinar pada orang tersebut, kemudian dianggap lunas. Jika tidak dan kemudian mereka saling tukar hutang, maka tidak diperbolehkan. Ini adalah pendapat imam syafi’I tentang pengharaman Jual-Beli hutang oleh Nabi Muhammad SAW. Sementara itu, pendapat berbeda diutarakan oleh imam malik dan imam abu hanifah RA. Menurut Ibnu Taymiyah RA dalam kitab al-Fatawa (29/473): sesungguhnya nabi SAW melarang transaksi jual beli penangguhan (hutang), nabi memperbolehkan hutang dengan Beliau juga berpendapat dalam kitab nadzriyah al-Aqd (235) yang diambil dari kitab Dirasat fi Ushul al-Mudayanat: seperti halnya ketika seseorang memiliki hutang dinar kepada orang lain dan dia juga memiliki hutang dirham kepada orang lain kemudian mnjualnya. Imam al-Syafi’I dan imam Ahmad melarang praktek jual beli tersebut. Sedangkan Imam Imam Malik dan Abu Hanifah memperbolehkannya. (sanad) Hadits tersebut (tentang larangan jual beli penangguhan -hutang- dengan penangguhan) tidak pernah datang dari nabi SAW dan bukan hadits shahih bukan pula hadits dhaif, hadits ini adalah hadits munqathi’ yang sanadnya terputus pada tingkaran sahabat. Menurut Imam Ahmad: hadits yang menjelaskan hal tersebut memang bukan hadits shahih tetapi diperkuat dengan kesepakatan para ulama’ (ijma’). Seperti seseorang yang membayar sesuatu (hutang) pada orang lain dengan jangka waktu yang ditentukan dengan sesuatu (hutang) yang juga ditentukan. Hal inilah yang tidak diperbolehkan. Dan dalil yang menjelaskan hal ini dan bisa dijadikan dasar adalah ijma’. Maka gambaran ini adalah jual beli sesuatu yang masih berada dalam tanggungan untuk menggugurkan tanggungan itu sendiri. Ketidak bolehan hal ini tidak berdasarkan AlQur’an, Ijma’ dan Qiyas. Sesungguhnya masing-masing memberi sesuatu yang menjadi tanggungannya dan hal itu diterima olehnya. Sebagaimana dua orang yang saling memberikan barang titipan, lalu mereka saling menukar banrang tersebut. Kebolehan

penitipan (wadhi’ah) ini yang utama daripada jual beli hutang. Menurut Ibn al-Qayyim dalam kitab I’lam al-Mauqi’in (9/2): tukar menukar barang yang berada dalam tanggungan dan barang yang tidak berada dalam tanggungan seperti halnya salam. Dalam akad tersebut pembeli telah gugur tanggungannya karena telah membayar uangnya terlebih dahulu ditempat akad dan penjual masih mempunyai tanggungan, yaitu barang yang belum diberikan kepada pembeli, dan hukum dari jual beli tersebut tidak sama dengan jual beli barang yang berada dalam tanggungan dengan barang yang juga masih berada dalam tanggungan pula seperti jual beli hutang Apakah pemilik tempat produksi dan pekerja boleh menyetujui nota kesepakatan pada barang yang mereka produksi untuk selesai pada waktu tertentu dan agar harganya disesuaikan dengan harga barang tersebut pada waktu barang tersebut selesai? ini adalah gambaran seperti yang telah kami contohkan dalam kasus transaksi jual beli penangguhan (hutang) atau yang lazim disebut dengan jual beli hutang dengan hutang baik itu pelarangan sampai rusaknya akad. Tetapi apakah hal tersebut bisa diperlunak karena dibutuhkan manusia? Sebagaimana telah disebutkan dalam kaidah fiqh:

‫( الضرورة تبيح المحظورات‬darurat itu

membolehkan hal-hal yang dilarang).124 selain itu, hukum syariat diberlakukan untuk menghilangkan keulitan dan kesukaran dan memberikan kemudahan kepada manusia. Firman Allah SWT dalam al-Qur’an:

‫)وما جعل عليكم في الدين حرج )الحج‬
Artinya: “dan Dia sekali-kali tidak menjadikan untuk kamu dalam agama suatu kesempitan” (alHajj: 78).

‫)يريد ا بكم اليسر وليريد بكم العسر )البقرة‬
Artinya: “Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu” (AlBaqarah: 185).

124 Kaidah ini mempunyai dua syarat: pertama, kebutuhan itu

“apakah “Dharurat” itu berlaku secara umum ataukah khusus sehingga kita bisa menggunakan hukum ini?” Menurut Doktor Nazih Hammad dalam kitabnya Dirasat fi Ushul al-Mudayanat (271) tentang jual beli penangguhan (hutang) dengan penangguhan yang dalam madzhab malikiyah dikenal dengan sebutan “permulaan hutang dengan hutang” jika dikaitkan dengan persoalan-persoalan yang terjadi saat ini, khususnya yang dihadapi oleh para pedagang dan produk yang dihasilkan dengan nominal yang diketahui sebelum waktunya. Maka barang-barang produksi butuh pada jaminan adanya bahan baku dalam rangka memenuhi kesepakatan yang telah dibuat agar target produksi dapat tercapai. Harus ada perencanaan terlebih dahulu sehingga kekhawatiran akan perubahan bahan baku tidak terjadi. Karena terkadang hal tersebut bisa saja terjadi tanpa dapat diperkirakan sebelumnya tanpa membekukan modal sebelum melampaui waktu perencanaan. Hal ini juga terjadi dalam nota kesepakatan dalam hal pemasaran atau distribusi barang-barang produksi. Yang menyerupai akad borongan tanpa menyengsarakan orang yang memesan dengan membayar terlebih dahulu. Semua ini membuat para pemillik tempat produksi membutuhkan nota kesepakatan. dan ini juga meliputi jual beli hutang dengan hutang. Kebutuhan di atas termasuk kebutuhan yang mendesak. tentang akad borongan, para ulama masih memperdebatkannya sebab hal tersebut diragukan termasuk dalam kebutuhan yang mendesak sebagaimanakesepakatan dalam hal produksi. Berdasarkan hal tersebut, maka tidak ada halangan syar’I bahwa jual beli hutang diperbolehkan tetapi hanya khusus bagi orang yang dituntut untuk segera memenuhi kebutuhannya, selama tidak ada unsur riba.

Jika seseorang mendapatkan hartanya dari seseorang yang telah bangkrut, maka orang tersebut lebih berhak dari siapapun. Menurut Imam Bukhari RA dengan sanad yang berasal dari Abu Hurairah RA: Rasulullah SAW bersabda:

‫521من أدرك ماله بعينه عند رجل أو إنسان قد أفلس فهو أحق يه من غيره‬
125 Muttafaq Alaihi: Bukhari (2.402), Muslim (1.559), Malik (al-Muwattha’: 523), Abdul Razak (15.160), Ahmad (2/228, 285, 474), An-Nasai (7/311), At-Turmudzi (1.262), dan Ibnu Majah (1.556)

Artinya: “barang siapa yang menyusuli hartanya pada seseorang atau manusia yang telah bangkrut, maka sesungguhnya dia (orang yang bangkrut) lebih berhak menggunakan harta tersebut dari pada orang lain” Menurut Imam Malik dalam kitab al-Muwattha’ (523), tentang seseorang yang menjualkan barang orang lain kemudian dia bangkrut. Jika dia (orang yang menjualkan barang) masih memiliki harta, maka orang yang mempunyai harta boleh mengambil hartanya sebagai ganti atas hutangnya. Sekalipun orang yang menjualkan barang itu telah menjual sebagian atau telah memilah-milahnya, orang yang memioliki harta itu tetap berhak atas hartanya. Pemilahan dan penjualan yang telah dilakukan oleh penjual tersebut tidak menghalangi orang yang mempunyai harta itu untuk mengambilnya. Dan jika kemudian barang terebut terjual seluruhnya, maka lebih baik orang tersebut segera meluasi hutangnya. Beliau juga berpendapat: jika seseorang menjual sebuah barang yang berupa sepetak tanah untuk dipergunakan, misalnya digunakan untuk membangun sebuah rumah kemudian dia bangkrut, kemudian orang yang memiliki tanah tersebut berkata: saya lebih berhak atas tanah tersebut beserta seisinya, itu semua bukanlah miliknya. Kalau begitu, berapakah harga sepetak tanah tersebut? Berapa pulakah harga bangunan yang ada didalamnya? Dalam hal ini, kedua orang tersebut berserikat dan mendapatkan bagiannya masing-masing. Kita harus membedakan antara harga tanah dan harga bangunan yang ada di dalamnya. Sebagai contoh, harga keseluruhan adalah 1500 dirham, dengan rincian 1000 dirham untuk harga tanah dan 500 dirham untuk harga bangunan yang ada di dalamnya. Sistem pembagiannya kemudian adalah: orang yang memiliki barang itu mendapatkan bagian 1/3 dan orang yang menjualkan barang itu mendapat bagian 2/3. Jika seseorang mengalami kebangkrutan dan dia memiliki hutang, maka harta miliknya harus dibagi kepada orang yang memberikan hutang sesuai dengan hutang yang ia berikan. Imam Muslimmeriwayatkan hadits126 dengan sanad melalui Abu Said al-Khudri:di masa rasulullah, ada seseorang yang tertompa musibah, buah yang akan dia jual rusak sehingga tidak layak untuk dijual, kemudian dia memiliki banyak hutang, maka Rasulullah SAW
126 Shahih Muslim: 1556

bersabda: “bersedekahlah kepadanya”, kemudian masyarakat berduyun-duyun bersedekah kepadanya. Ketika dihitung, hasil sedekah itu masih tidak cukup untuk melunasi hutanghutangnya, kemudian rasuullah bersabda: “ambillah barang yang masih tersisa karena tidak ada lagi yang bisa kalian ambil selain itu”. Menurut al-Hafidz Ibn Hajar dalam kitab al-Fath (5/80): dalam bab tersebut disebutkan hadits yang diriwayatkan oleh Muslim dari Abi Said al-Khudri, sesungguhnya Rasulullah SAW bersabda: “ambillah barang yang masih tersisa karena tidak ada lagi yang bisa kalian ambil selain itu”. Mayoritas ulama berpendapat bahwasanya sesungguhnya orang yang telah jelas-jelas bangkrut, menyerahkan urusannya kepada hakim untuk menjual dan membagikan hartanya kepada orang yan telah memberi hutang kepadanya sesuai dengan hutang yang mereka berikan. Para ulama Hanafiah tidak sepakat akan hal tersebut berdasarkan kisah Jabir ketika bercerita tentang hutang ayahnya: mereka tidak diberikan kebun, dan tidak membagibagikan kebun itu untuk mereka terlebih dahulu, dengan tujuan akan diberikan kemudian. cerita ini tidak bisa dijadikan dasar. Orang yang hartanya sampai satu nishab dan dia juga memiliki harta lain berupa piutang, apakah dia wajib menzakati keseluruhan hartanya ataukah dia harus menzakati sebagian hartanya yang bukan berupa piutang itu ? Pendapat para sahabat dan tabi’in: Atsar Utsman RA: Sebagaimana diriwayatkan oleh imam Malik: dari az-zuhri dari Saib Ibn Yazid, sesungguhnya Utsman bin Affan RA berkata: “ini adalah bulan dimana kamu menunaikan zakat, jika kalian memiliki hutang, maka lunasilah hutangmu kemudian (jika masih sampai satu nishab) berzakatlah”.127 Atsar Ibn Umar dan Ibn Abbas RA: Diriwayatkan oleh Abu Ubaid dengan sanad dari Ibn Abbas dan Ibn Umar tentang orang yang berhutang dan memberi nafkah keluarganya, kemudian Ibn Umar berkata: “lunasilah hutangmu terlebih dahulu, barulah kemudian berzakat (jika masih sampai satu nishab)”.128
127 Shahih, al-Muwattha’: 216, juga diriwayatkan oleh Ibn Abi Syaibah dalam kitab al-Mushannaf: 3/84, Abdurrazak (7086), dan al-Baihaqi (4/148). 128 Hasan, Abu Ubaid al-Amwal: 1545, al-Baihaqi, as-Sunan: 46/148

Atsar Fadhil bin Amr al-Faqimi: Diriwayatkan oleh Ibn Abi Syaibah: diceritakan oleh Waki’ binSufyan dari Mughiorah dari Fadhil: “janganlah kamu berzakat selama masih ada hak orang lain dalam hartamu”.129 Atsar Thawus RA: Diriwayatkan oleh Ibn Abi Syaibah: diceritakan oleh Abu Bakar dari Muammar dari Laits dari Thawus: “jika kalian memiliki hutang kepada seseoang, kamu harus tetap menunaikan zakat”.130 Atsar Hasan RA: Diriwayatkan oleh Ibn Abi Syaibah: diceritakan oleh Abu Usamah dari Hasyim dar Hasan: “zakat memiliki ketentuan-ketentuan tertentu yang telah diketahui, jika telah sampai satu nishab, harta itu harus dizakati, akan tetapi jika harta itu berupa hutang, maka tidak wajib dizakati”.131 Atsar Ibrahim an-Nakha’i: Diriwayatkan oleh al-Baihaqi: diceritakan oleh Abu Abbas dari Hasan dari Yahya dari Israil dari Mughirah dari Fadhil dari Ibrahim: orang yang memiliki harta berupa piutang, dia wajib menzakatinya (jika telah sampai satu nishab).132 Atsar Sulaiman bin Yassar RA: Diriwayatkan oleh imam Malik: dari Yazid bin Khushaifah ketika dia bertanya kepada sulaiman bin Yassar tentang orang yang memiliki harta mencapai satu nishab akan tetapi dia memiliki hutang, apakah dia wajib menunaikan zakat atau tidak? Kemudian beliau menjawab: “tidak”.133 Menurut Imam Malik RA dalam kitab al-Muwattha; (213) Menurut Abu Ubaid dalam kitab al-Amwal (58) setelah datangnya atsar dari sahabat dan tabiin: jika hutang itu berupa emas atau berupa uang, maka dia melunasi hutang tersebut dengan barang yang serupa dan dia tidak wajib menunaikan zakat. Semua ulama’ sepakat akan hal itu dalam kitab Shamat ad-Dain.

129 Shahih, al-Mushannaf: 3/84 130 Dhaif: di dalamnya terdapat Laits bin Abi Salim, al-Mushannaf: 36/84 131 Dhaif: di dalamnya terdapat Hasyim bin hasan, al-Mushannaf: 3/84 132 Hasan, al-Baihaqi, as-Sunan: 4/148, Ibn Abi Syaibah: 3/84 dari Mughirah dari Ibrahim secara langsung tanpa menyebutkan perantara. Yakni Fadhil bin Amr al-Faqimi 133 Shahih, al-Muwattha’: 216

Jika seseorang memanen tanaman dari ladangnya, dan hasil panen tersebut mencapai satu nishab. Akan tetapi dia memiliki hutang yang sepadan dengan hasil panennya. Apakah dia wajib mengeluarkan zakat pertanian atau tidak? Ada dua pendapat ulama tentang hal itu: Pertama: tidak wajib berzakat dan melunasi hutang Al-Baihaqi dalam kitab as-Sunan (4/148): diceritakan oleh Abu Abdillah al-Hafidz, Abu Bakar bin Hasan dan Abu Said bin Amr: dari Abu Abbas Muhammad bin Ya’qub dari Hasan bin Ali bin Affan dari Yahya dari Abu ‘Uwanah dari Ja’far bin Iyas dari Amr bin Harm dari Jabir bin Zaid dari Ibn Abbas dan Ibn Unar RA: tentang seseorang yang melunasi hutang dengan hasil panen dan menafkahi keluarganya, kemudian Ibn Abbas berkata: “dia membayar hutang dan menafkahi keluarganya dari hasil panen, kemudian dia membayar zakat dengan sisanya”134 Atsar Thawus RA: Diriwayatkan oleh Ibn Abi Syaibah: diceritakan oleh Muhammad bin Bakar dari Ibn Juraij: Abu Zubair berkata kepadaku: “saya mendengar Thawus berkata: dia tidak wajib bersedekah”.135 136 Atsar Atha’ RA: Diriwayatkan oleh Abdurrazak dari Ibn Juraij: saya bertanya kepada Atha’ tentang seseorang yang hutangnya lebih banyak dari hasil panennya, apakah dia wajib melunasi hutangnya pada hari dia memanen tanamannya?, beliau menjawab: menurut saya, orang yang memiliki hutang lebih banyak dari hasil panennya tidak wajib melunasi hutangnya pada hari dimana dia memanen tanamannya.137 Atsar ats-Tasuri RA: HR. Abdurrazaq, ats-Tsauri mengatakan, “Jika kurma atau lahan garapanmu sudah panen, periksalah hutangmu yang lalu dan akan datang. Jika ada, bayarlah terlebih dahulu lalu beyarlah zakat dari sisanya jika mencapai lima shaq (1 shaq 60 gatang).”138 Pendapat kedua: wajib menzakati masing-masing dari buah-buahan dan hasil ladang. Alasannya adalah, dalam keentuannya, buah-buahan dan hasil ladang harus dizakati. Yang sependapat dengan hal ini, seperti Ibn Syihab ra mengatakan, “Diriwayatkan dari Abu
134 Hasan: al-Baihaqi, as-Sunan: 4/148, Abu Ubaid, al-Amwal: 1545 135 Jika hutangnya sama dengan harta yang ia miliki 136 Shahih, al-Mushannaf: 3/86 137 Shahih: Abdurrazak, al-Mushannaf: 7089 138 Shahih: al-Mushannaf, hal. 7088.

Ubaidah, dari Abdullah bin Shalih dari al-Laits dari Yunus dari Ibn Syihab bahwa dia pernah ditanya tentang seseorang yang berhutang dari gudang penyimpanan hasil panen, sehingga hasil panen yang tadinya mencapai nishab wajib zakat menjadi berkurang dan tidak mencapai nishab. Apakh orang yang memiliki gudang itu wajib mengeluarkan zakat? Shihab lalu menjawab, “saya tidak pernah mendapatkan sunah yang menjelaskan hal ini. Tetapi menurut saya, dia tidak wajib membayar zakat, hanya saja dia harus mengeluarkan pajak tanah. Dan jika dia memiliki harta lain atau emas, maka dia tidak harus mengeluarkan apapun dari hartanya sampai dibayarkan hutang padanya.”139 Atsar Ibn Sirin: HR. Abu Ubaid, “Abdullah bin Mubarak meriwayatkan pada kami dari Thalhah bin an-Nadlr, bahwa dia pernah mendenganr Ibn Sirin berkata seperti yang pernah dikatakan Ibn Syihab.140 Abu Ubaid, al-Amwal, hal. 1549, “Yang berlaku dan menjadi pemahaman masyarakat Hijaz dan Iraq pada umumnya sekarang adalah bahwa harta seseorang yang dipinjam sehingga mengurangi pencapaian nishab tidaklah dianggap sebagai pengeluarannya, bahkan dia wajib membayar pajak tanah, sekalipun dia memilki hutang yang sama banyak dengan hasil penen yang dia peroleh. Ini juga merupakan pendapat al-Auza’i. Abu Ubaid, hal. 1551, “Malik, masyarakat Hijaz dan al-Auza’I mengatakan, “Ternak layaknya pajak tanah, harus dibeyar zakatnya sekalipun pemiliknya memiliki hutang. Analisis dua pendapat: Dalam al-Amwal, hal. 1554, Abu Ubaid mengatakan, “Jika hutang itu memang benar adanya dan telah diketahui bahwa pemilik tanah memilki hutang, maka pajak tanah itu tidak harus dibayarkan, karena kewajiban pajak menjadi hilang bila orang yang memilki tanah mempunyai hutang. Sebagaimana pendapat Ibn Umar, Thawus, Atha’ dan Makhul yang sesuai dengan sunnah. Bila kita teliti lebih jauh, Rasulullah SAW telah menetapkan agar harta orang-orang kaya harus diambil zakatnya dan diberikan pada orng miskin agar mereka juga ikut merasakan harta yang dimilki orang kaya.141 Hal ini adalah bagi orang yang memiliki hutang yang sama dengan jumlah kekayaannya. Dia adalah orang yang wajib membayar pajak tanah, lalu bagaimana dia ditarik kewajiban pajak, padahal dia memang yang harus membayarnya? Atau dengan istilah lain, bagaimana
139 Dlaif: terdapat perawi yang dlaif, yakni Abdulah bin Shalih, sekretaris al-Laits. Al-Amwal, hal. 1543. 140 Dlaif: sebab orang yang berkata pada Abu Ubaid tidak diketahui. Al-Amwal, hal. 1544. 141 HR. Bukhari, hal. 1458, HR. Muslim, hal. 121.

orang kaya juga merupakan orang miskin, dalam satu keadaan? Oleh karena itu, orang ini adalah termasuk orang yang bangkrut karena terbelit masalah hutang, dan dia termasuk dalam delapan golongan yang berhak mendapatkan pajak bila ditinjau dari dua hal di atas.
142

Menurut saya, “Ini adalah pendapat yang benar. Wallahu a’lam.” Orang sering memberi hutang, sehingga harta yang dia berikan kepada orang itu

mencapai nishab zakat, apakah dia wajib mengeluarkan zakat sebelum orang yang berhutang padanya membayar? Dalam masalah ini, ulama klasik berbeda pendapat. Pertama, dia wajib mengeluarkan zakat jika jika orang-orang yang berhutang padanya tidak termasuk orang yang suka menangguhkan pembayaran hutang. Berikut secara lengkap kami sebutkan orang yang mengatakan seperti pendapat ini: Aisyah ra: HR. Ibn Abi Syaibah: Hammad bin Khalid meriwayatkan pada kami dari Ibn Abi Dza’b dari Utsman ibn Abu Utsman: saya pernah berkata pada al-Qasim bin Muhammad143 “Kami mempunyai harta berupa hutang yang mencapai nishab zakat, lalu kami bayarkan zakatnya.” Dia menajwab, “Benar apa yang kamu lakukan, sebab Aisyah ra memerintahkan agar kami membayar zakat atas hasil laut yang kami peroleh, saya juga sudah pernah menanyakan hal ini pada Salim144, dia juga mengatakan hal yang serupa.145 Umar ra: HR. Ibn Abi Syaibah: dari Muhammad bin Bakar dari Ibn Juraij dari Yazid ibn Zaid dari Jabir bahwasanya Abdullah bin Abu Bakar pernah bercerita pada Umar ra. Dia berkata pada seseorang, “Jika sudah banyak, maka hutangmu akan saya hitung, dan bila sudah mencapai nishab zakat, maka akan saya keluarkan zakatnya.”146 Jabir bin Abdullah: HR. Ibn Abi Syaibah: dari Muhammad bin Bakar bin Juraij dari Abu Zubair dari Jabir ra
142 Abu Ubaid berpendapat, harus dibayarkan zakatnya, jika ada bukti akan ketetapan hutangnya. Abu Ubaid, hal. 1555 mengatakan, “Hal ini jika sudah benar-benar diketahui bahwa hutangnya akan kembali. Jika tidak diketahui dan tidak ada bukti kecuali hanya pengakuannya saja, maka dia tidak bisa melakukan tuntutan. Hasil lading dan ternak harus diambil sedekahnya. Hal ini sesuai dengan pendapat Ibn Sirin, Ibn Syihab, al-Auza’I, malik dan [enduduk Iraq. 143 Al-Qasim bin Muhammad bin Abu Bakar, salah seorang dari ahli fiqh yang tujuh di kota Madinah. 144 Salim adalah Ibn Abdillah bin Umar, salah seorang dari ahli fiqh yang tujuh. 145 Dlaif: al-Mushannaf, vol. 3, hal. 52. Utsman bin Abu Utsman dalam sanad ini tidak diketahui, ini adalah yang dikatakan oleh Ibn Hubban dalam ats-Tsiqat. 146 Munqathi’: al-Mushannaf, vol. 3, hal. 52. Abdul Malik tidak pernah mendengarnya dari Umar.

tentang masalah yang sama, dia mengatakan, “Dia harus mengeluarkan zakatnya.”147 Ibn Umar ra: Ibn Abi Syaibah berkata, “Waki’ meriwayatkan pada kami dari Musa bin Ubaidah dari Nafi’ dari Ibn Umar ra, “beliau mengatakan: Jika hartamu mencapai satu nishab dan sudah sampai satu tahun, maka bayarkanlah zakatnya, jika harta yang mencapai satu nishab dan satu tahun itu berupa hutang, maka dia harus membayar zakatnya jika hutang tersebut sudah pasti akan dibayarkan, jika masih belum pasti untuk dibayarkan, maka dia tidak wajib mengeluarkan zakatnya.”148 Mujahid bin Jubair ra: Ibn Abi Syaibah mengatakan, “Yahya bin Said meriwayatkan pada kami dari Utsman bin al-Aswad dari Mujahid: Jika kamu yakin bahwa hartamu yang berupa hutang dan masih menajdi tanggungan orang lain itu akan dibayarkan, maka bayarkanlah zakatnya.” 149 Tetapi Hammad bin Salamah dan Rabiah tidak sependapat dengan hal ini, mereka berdua mengatakan bahwa dia hanya wajib mengeluarkan zakat dari harta yang sedang dia pegang. HR. Ibn Abi Syaibah: Ghindzar meriwayatkan pada kami dari Syu’bah, “Saya pernah bertanya pada Hammad tentang seseorang yang memiliki banyak hutang dan dia juga masih memegang harta, apakah dia wajib berzakat? Dia menjawab: benar, dia wajib membayar zakat. Bukankah dia masih memiki hartanya itu? Saya juga telah bertanya pada Rabiah tentang hal ini, dan dia menjawab seperti yang Hammad katakan.150 Pendapat kedua: Dia tidak harus mengeluarkan zakat sampai hutang-hutang dibayarkan kepadanya, baik orang-orang yang berhutang padanya termasuk yang mengulur pembayaran atau tidak. Berikut orang yang pernah mengatakan pendapat seperti ini: Aisyah ra: Ibn Abi Syaibah mengatakan, “Zaid bin Hubbab meriwayatkan pada kami dari Abdullah bin al-Muammil dari Ibn Abi Malikah dari Aisyah ra, “Dia tidak wajib mengeluarkan zakat selama dia belum menerima pembayaran hutang.”151 Ikrimah ra:
147 Dlaif: al-Mushannaf, vol. 3, hal. 52. ‘an’anah Abi Zubair dan Abu Zubair terputus. Tidak jelas apakah keduanya mendengar langsung atau tidak. 148 Dlaif: al-Mushannaf, vol. 3, hal. 52. Musa bin Ubadah dalam sanad ini dlaif. 149 Shahih: al-Mushannaf, vol. 3, hal. 52. 150 Shahih ilaih: al-Mushannaf, vol. 3, hal. 84. 151 Dlaif: al-Mushannaf, vol. 3, hal. 53. Abdullah bin al-Muammil dalam sanad ini adalah lemah. Ibn Abi Syaibah juga meriwayatkan atsar ini dari jalur Abdullah al-Umari, dia juga lemah dalam periwayatan.

HR. Ibn Abi Syaibah, “Ibn Mahdi meriwayatkan pada kami dari Sufyan dari Abu az-Zanad dari Ikrimah: Harta yang berupa hutang tidak wajib dibayarkan zakatnya.”152 Atha’ bin Abu Rabah ra: HR. Ibn Abi Syaibah, “Waki’ meriwayatkan padaku dari Israil dari Jabir dari Abu Ja’far alBaqir: harta yang masih berupa hutang tidak wajib dibayarkan zakatnya sampai dia menerima pembayaran hutang dari orang yang menanggungnya.”153 Abu ja’far al-Baqir ra: HR. Ibnu Abi Syaibah, “Waki’ meriwayatkan pada kami dari Israil dari Jabir dari Abu Ja’far al-Baqir: Dia tidak wajib mengeluarkan zakat selama dia belum menerima pembayaran hutang.154 Al-Hakam bin Utaibah dan an-Nakha’I ra: HR. Ibn Syaibah: Waki’ menceritakan pada kami dari Mus’ir dari al-Hakam, “Ibrahim berbeda pendapat denganku mengenai masalah ini, lalu saya katakana padanya bahwa orang itu tidak wajib membayar zakat, maka dia pun mengikuti pendapatku.”155 Harta seseorang yang berupa hutang dan sudah mencapai nishab zakat, apakah wajib dikeluarkan zakatnya satu kali atau setiap satu tahun sekali? Ulama berbeda pendapat mengenai hal ini. Pertama, dia wajib mengeluarkan zakatnya sekali setiap tahun. Yang mengatakan hal ini antara lain: Ali ra: HR. Ibn Abi Syaibah, “Yazid bin Harun meriwayatkan pada kami dari Hisyam dari Muhammad dari Ubaidah, dia mengatakan: Ali ra pernah ditanya tentang seseorang yang mempunyai harta berupa hutang, tetapi masih belum pasti apakah akan dikembalikan dengan segera atau tidak oleh orang yang berhutang. Lalu Ali menjawab: jika orang yang berhutang dapat dipercaya dan dia sudah menerima pembayaran darinya, maka dia wajib membayar zakatnya dari masa yang telah lewat.”156 Umar ra: Hr. Baihaqi: Abu al-Qasim Abdul Khaliq dari Muadzin dari Abu Bakar Muhammad bin
152 Shahih: al-Mushannaf, vol. 3, hal. 53. 153 Shahih: al-Mushannaf, vol. 3, hal. 54. 154 Dlaif: Jabir bin Yazid al-Ja’fari lemah dalam sanad ini. Al-Mushannaf, vol. 3, hal. 54. 155 Shahih: al-Mushannaf, vol. 3, hal. 54. 156 Shahih ilaih: al-Mushannaf, vol. 3, hal. 52.

Ahmad bin Khanb dari Muhammad bin Ismail dari Ayuh bin Sulaiman dari Abu Bakar bin Abu Uwais dari Abu Sulaiman bin Bilal dari Yunus dari Ibn Syihab dari Humaid bin Abdurrahman dari Abdurrahman nal-Qari. Yang berlaku pada Baitul Mal pada masa Umar: orang-orang mengambil zakat dari harta yang berupa hutang. Jika mereka telah mengeluarkan banyak dari harta mereka, maka mereka enggan membayar hutang. Sebelum mereka membayar hutang, mereka mengeluarkan zakat dari harta yang mereka pegang. Akibatnya, bila berhutang-piutang setelah itu, mereka akan merasa kewalahan dan membuat berat diri mereka. Akibatnya, dari hutang-hutang itu, baitul mal tidak memperoleh pajak apapun kecuali dari yang sudah dibayarkan. Mereka juga mengeluarkan zakatnya harta yang sudah mereka pegang, hasil dari hutang yang dibayarkan pada mereka, yakni sesuai dengan waktu tahun-tahun yang telah dilampaui.157 Kedua: hanya wajib mengeluarkannya sekali. Berikut orang yang mengatakan pendapat ini: Umar bin Abdul Aziz ra: HR. Imam Malik: diriwayatkan dari Ayub bin Abu Tamimah as-Sakhtiyani bahwa Umar bin Abdul Aziz menulis surat pada para pejabat wilayah yang berbuat aniaya perihal harta yang mereka pegang, beliau memerintahkan agar harta itu dikembalikan kepada yang berhak, lalu mereka harus mengeluarkan zakatnya dari masa yang telah mereka lewati. Di akhir surat, beliau menambahkan, zakat yang mereka bayarkan hanya dikeluarkan satu kali saja.158 Hr. Imam Malik, al-Muwatha’, hal. 216-217, “Menurut kami, masalah hutang yang sudah disepakati oleh para ulama adalah: orang yang memilki harta berupa hutang, dia tidak harus membayar zakatnya kecuali bila hutang telah dibayarkan padanya. Andaikan orang-orang yang berhutang padanya baru membayarnya setelah beberapa tahun, maka dia hanya wajib membayarnya sebanyak satu kali. Imam Malik menambahkan: bukti yang menunjukkan bahwa dia hanya wajib mengeluarkan zakat sekali walaupun sudah bertahun-tahun baru dibayarkan adalah: unta yang oleh seseorang digunakan untuk berdagang selama beberapa tahun kemudian dia menjualnya, maka harta yang dia peroleh dari untanya itu tidak wajib dikeluarkan zakatnya kecuali hanya sekali saja. Hal ini kerena orang yang mempunyai hak hutang atau unta tidak akan diambil zakatnya kecuali berdasarkan harta yang berasal dari hutang atau unta itu, tidak dari yang lainnya.
157 Shahih ilaih: as-Sunan, vol. 4, hal. 150. 158 Shahih ilaih: al-Muwatha’, hal. 216.

Orang fakir mempunyai hutang pada orang kaya. Apakah zakat yang dikeluarkan orang kaya itu menunggu pembayaran hutang dari si fakir, atau hutangnya si fakir diangap sebagai zakat yang dikeluarkan oleh si kaya? Dalam al-Mughni, vol. 4, hal. 106, Ibn Qudamah mengatakan, “Mahnan berkata: saya pernah bertanya pada Abu Abdillah tentang seseorang yang menerima barang jaminan atas hutang yang dia berikan, dan di antara orang-orang yang berhutang padanya, tidak ada seorangpun yang sudah melunasi hutangnya pada orang itu. Sedangkan orang itu berkewajiban membayar zakat dan ingin membagi-bagikannya pada orang-orang miskin. Maka dia pun mengembalikan barang jaminan hutang kepada para pemiliknya dan dia katakan pada mereka, “Hutangmu saya angap sebagai zakat saya, maka dengan ini, hutangmu menjadi lunas.” Abu Abdillah menjawab, “Itu tidak mencukupi baginya.” Saya (Mahnan) lalu bertanya, “Apakah dia harus membayar zakat dari hutang yang diberi jaminan barang, dan apabila hutang sudah dibayarkan apakah orang yang berhutang memperoleh jaminan barangnya kembali? ‘Benar,” jawabnya. Dalam kesempatan lain, Mahnan juga bertanya demikian, lalu Abu Abdillah menjawab: jika mereka orang yang berhutang sudah membayar, maka barang jaminan hutang juga harus dikembalikan. Jika ada tipu muslihat, maka hal ini tidak akan membuatku takjub. Abu Abdillah juga pernah ditanya, “Sekalipun orang yang berhutang telah melunasi hutangnya, lalu dikembalikan lagi oleh pemberi hutang dan dia menganggap sebagai zakatnya? Beliau menjawab, “Jika dia bermaksud mengembangkan hartanya, maka tidak boleh.” Kesimpulannya adalah: bahwa diperbolehkan membayar zakat pada orang yang berhutang padanya, baik sebelum atau sesudah orang yang berhutang itu membayar hutangnya. Kecuali jika pemberi hutang bermaksud mengembangkan harta dengan pemberian zakatnya, maka hal ini tidak diperbolehkan. Sebab, zakat adalah hak Allah SWT, tidak boleh mengalihfungsikan zakat itu sesuai kepentingannya. Tidak boleh pula menganggap hutang yang dianggap lunas sebagai zakatnya sebelum orang yang berhutang membayarkannya. Sebab, membayar hutang adalah suatu kewajiban, harus dilaksanakan dan harus dilestarikan. Jika dia menganggapnya sebagai zakat sebelum pembayaran, maka ini menyalahi ketentuan Allah.

Syaikh al-Islam Ibnu Taimiyah (Fatawa, vol. 25, hal. 84) pernah ditanya tentang pengguguran hutang kepada orang yang ditimpa kesulitan, apakah orang yang menggugurkan boleh menganggaonya sebagai zakatnya? Beliau menjawab, “Pengguguran hutang tidak bisa dianggap sebagai zakat. Ini tidak dapat disangkal lagi. Tetapi jika orang yang berhutang padanya adalah termasuk orang yang berhak atas zakat, apakah boleh sebagian hutang yang senilai dengan zakat digugurkan dan dianggap sebagai zakat? Menyikapi masalah ini, ulama berbeda pendapat. Menurut madzhab Ahmad dan lainnya, hal itu diperbolehkan. Sebab tujuan diberlakukannya zakat adalah untuk memberi kemudahan. Tetapi zakat tersebut tidaklah dianggap sebagai zakat yang dikeluarkan dari harta yang dia pegang, berbeda bila zakat dimaksudkan dari harta yang dia miliki selain hutang yang masih dalam tanggungan orang lain. Orang yang mengeluarkan zakat dari harta yang tidak dia pegang atau miliki adalah sama halnya dengan memilih kejelekan dan meninggalkan kebaikan. Sebagaimana firman Allah: “ Ÿ…dan janganlah kamu memilih yang buruk-buruk lalu kamu menafkahkan daripadanya” (Al-Baqarah: 267) Oleh karena itu, orang yang berzakat harus membayarkan zakatnya diambil dari jenis hartanya, tidak boleh mengeluarkan zakat dengan yang lebih jelek kualitasnya dari jenis harta yang dia miliki. Jika dia memiliki buah-buahan atau gandum yang berkualitas baik, maka dia tidak boleh mengeluarkan zakat sepadan, tidak boleh lebih buruk. Dalam al-Mabsuth, vol. 2, hal. 203, as-Sarkhasi mengatakan, “Seseorang yang memiliki harta berupa hutang dan wajib zakat, lalu dia menganggap lunas hutang dan menganggapnya sebagai zakat yang dia keluarkan, maka hal ini tidak diperbolehkan. Kecuali bila orang yang berhutang adalah orang fakir, maka hal ini boleh tetapi hanya sebatas hutang yang sama nilainya dengan zakat yang harus dikeluarkannya. Karena, zakat yang harus dikeluarkan harus sepadan dengan harta yang dimiliki, sedangkan zakat dari hutang yang demikian tidaklah sepadan. Dan tidak boleh mengeluarkan zakat yang kualitasnya lebih buruk dari harta yang dizakati. Jika dengan itu orang yang berzakat bermaksud mencari-cari alasan atau menipu, maka dia wajib bersedekah senilai zakat yang harus dia keluarkan. Demikian pula halnya dengan membayar zakat dari harta yang berupa hutang. Tidak boleh misalnya, seseorang mempunyai hutang padanya sebanyak dua ratus dirham, lalu orang yang fakir juga memiliki hutang padanya sebanyak lima dirham. Maka dia tidak boleh

menggugurkan hutangnya orang fakir yang lima dirham itu dengan maksud menzakati hutang yang dua ratus dirham. Karena hutang akan ditentukan bila bila dia sudah menerima pembayaran hutang. Hutang orang fakir tadi juga tidak bisa gugur, sebab masih belum tertentu dan tidak dimaksudkan pada zakat hutangnya orang fakir itu. Alasan lainnya adalah karena menukar hutang dengan hutang tidak diperbolehkan. Sebab itu adalah hak hamba, begitu pula bila termasuk dalam hak Allah. Yang wajib dari hutang adalah yang menjadi bagian dari hutang itu. Jika semua hutang berada dalam tanggungan orang fakir, lalu dia gugurkan hutang orang fakir itu dengan maksud sebagai zakat dari hartanya yang berupa hutang, maka hal ini tidak menjadi masalah. Karena yang wajib sudah termasuk bagian dari hutang, kemudian dia menyampaikannya kepada orang yang berhak. Hal ini sama halnya dengan memberikan zakat hartanya yang sudah mencapai nishab pada orang fakir.

SALAM Pengertian Salam:159 Akad salam adalah akad jual beli barang yang belum ada barangnya (tanpa akad serah terima). Barang yang akan diperjual belikan hanya ditentukan dengan bentuk dan shifatnya. Barang tersebut ada dalam tanggungan penjual sampai suatu waktu dengan harga tertentu yang diberikan saat akad itu berlangsung. Akad ini disebut akad salam atau salaf. Manurut al-Syafi’I al-Shaghir dalam kitab Nihayah al-Mujtahid (4/182): salaf bisa disebut juga dengan salam, disebut dengan salam karena dalam akad tersebut harta diserahkan terlebih dahulu ditempat akad. Disebut dengan salaf karena harta diserahkan terlebih dahulu. Menurut al-Bahuti dalam kitab Syarah Muntaha al-Iradaat (2/214): salam adalah bahasa penduduk hijaz sedangkan salaf adalah bahasa penduduk irak kedua bahasa tersebut dipakai untuk menjelaskan akad salam bagi transaksi yang dinamakann salam karena dalam akad tersebut pokok harta diserahkan terlebih dahulu di tempat akad. Menuurt Syara’, salam adalah akad jual beli yang diperbolehkan karena barang yang ada pada pihak penjual diberi kriteria tertentu oleh pembeli (tetapi barang tersebut tidak ada di tempat akad), sehingga transaksi tersebut layak untuk dilakukan oleh orang mukallaf, yakni ditangguhkan sampai waktu tertentu dengan harga yang mengikat. Akad salam menjadi sah dengan menggunakan lafadz salam, seperti: saya memesan barang yang terbuat dari gandum dengan harga sekian dinar. Hukum salam: diperbolehkan berdasarkan al-Qur’an, sunnah dan kesepakatan para ulama (ijma’).160

159 Kami memasukkan bab salam ini ke dalam pembahasan karena hal tersebut merupakan bagian dari jual beli……….. 160 Ibnu Qudamah: al-Mughni (2/384), an-Nawawy: Syarh Muslim (11/42). Menurut Sayid Sabiq dalam kitab Fiqh Sunnah (3/276): salam: dinamakan salam atau salaf, jual beli akad jual beli barang yang belum ada barangnya (tanpa akad serah terima). Barang yang akan diperjual belikan hanya ditentukan dengan bentuk dan shifatnya. Barang tersebut ada dalam tanggungan penjual sampai suatu waktu dengan harga tertentu yang diberikan saat akad itu berlangsung. Para fuqaha’ juga menyebutnya dengan jual beli Muhawij: jual beli yang barangnya tidak ada ditempat akad, dan karena pembeli membutuhkan barang itu dan penjual membutuhkan harga atau uang dari pembeli untuk menggunakannya. Dalam konteks ini, pembeli disebut Muslim, penjual disebut Muslim Ilaih, dan berang yang dijual disebut Muslim Fih, sedangkan harta yang digunakan disebut Maalul Muslim.

- al-Qur’an: 282. Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu bermu'amalah tidak secara tunai untuk waktu yang ditentukan, hendaklah kamu menuliskannya. Ibnu Abbas berkata: “saya bersaksi bahwasanya meminjamkan hutang sampai waktu tertentu dengan sebuah jaminan sungguh dihalalkan dan diperbolehkan oleh Allah dalam kitabnya”. Kemudian beliau membaca ayat tersebut.161 Hadits:

Dari Abi al-Minhal: “saya mendengar Ibn Abbas berkata: para ulama sepakat bahwasanya akad salam adalah akad yang diperbolehkan (Ibn al-Mundzir).”162 Ijma’: An-Nawawy berpendapat dalam kitab Syarh muslim (11/42): dan para ulama telah sepakat bahwasanya akad salam diperbolehkan.163 Syarat-syarat salam:164 Pertama: sifat dari barang tersebut telah diketahui. Kedua: kadar atau ukuran barang tersebut telah diketahui. Ketiga: barang diberikan sesuai dengan waktu yang telah ditentukan dan telah disepakati bersama. Keempat: barang yang dipesan harus ditentukan di tempat akad. Kelima: pembayaran dilaksanakan di muka atau ketika akad berlangsung. Ketika waktu pengambilan yang telah disepakati telah tiba dan barang tersebut telah selesai dibuat, bolehkah pembeli mengambil barang lain selain yang telah dipesannya? Para ulama berbeda pendapat dalam menyikapi masalah tersebut: Hal tersebut tidak diperbolehkan berdasarkan hadits Nabi SAW: dari Abi Said alKhudzry, Rasulullah bersabda: “barang siapa telah berakad salam untuk sesuatu, maka ia tidak boleh menukarnya dengan
161 Shahih, as-Syafi’I, al-Umm: 3/135, Abdurrazak: 14064. 162 Muttafaq Alaihi: HR. Bukhari: 2240 dan Muslim: 4094 163 Ibn Qudamag, al-Mughni: 6/385 164 Ibn Qudamah, Al-Mughni: 6/385-414

yang lain.” (Riwayat Abu Daud).165 Para ulama yang melarang hal tersebut diantaranya adalah: - Menurut Ibnu Qudamah (41616): seseorang yang menjual brang kepada orang lain dengan akad salam, kemudian pembeli menukar barang tersebut dengan barang yang lain (selain pesanannya), hal ini hukumnya Haram, baik barang yang ingin ditukar itu ukurannya sama, lebih sedikit, atau lebih banyak dari barang yang dipesan. Ulama yang sepakat dengan pendapat tersebut diantaranya adalah imam Syafi’I, Imam Abu Hanifah, dan imam Ahmad.166 - Menurut Imam Syafi’I dalam kitab al-Umm (197): barang siapa yang berakad salam untuk sesuatu (barang), maka ia tidak boleh menukarnya dengan yang lain (Riwayat Ibnu Umar167 dan Abi Said). Dan para ulama yang memperbolehkan hal tersebut diantaranya adalah: - Ibnu Abbas RA: dari Ibnu Uyaynah dari Amr Ibn Dinar dari Thawuus dari Ibn Abbas RA: jika kamu berakad salam untuk makanan kamudian waktunya telah tiba namun makanan itu tudak ada, maka ambillah yang lain sebagai ganti darinya dan jangan memberinya keuntungan dua kali.168 - Thawuus bin Kaisan: dari Muammar dari Umar bin Salim: kami bertanya kepada Thawuus tentang penukaran barang yang dipesan dengan yang lainnya, kemudian beliau menjawab: kamu boleh mengambil barang lain sesuai dengan harganya, kecuali kamu membatalkan pesanan sebelumnya maka kamu boleh memesan lagi dengan harga sesukamu.169 - Menrut Imam Malik dalam kitab al-Muwattha’ (511): seseorang berakad salam untuk empat helai baju sampai waktu tertentu. Ketika waktunya telah tiba, baju yang dipesan tidak ada. Kemudian ia menemukan baju yang bukan pesanannya dan berkata kepada si penjual: berikanlah (juallah) kepadaku delapan helai baju ini sebagai ganti dari bajuku (baju yang aku pesan). Hal tersebut diperbolehkan. - Menurut Syaikh al-Islam dalam kitab al-Fatawaa (29/518): ketika itu beliau ditanya oleh
165 Dhaif: Abu Daud: 3468, Ibn Majah: 2283, Addaruquthni: 2958, al-Baihaqi: 6/30. kesemuanya berasal dari Athiyah al-Aufi dari Ibn Said. Dhaif karena pada tingkatan tersebut, hadits ini hanya diriwayatkan oleh athiyah al-Aufi. 166 Ibn Taimiyah menganggap hadits yang diriwayatkan oleh Ahmad ini dhaif. 167 Atsar Ibn Umar yang diriwayatkan oleh Abdurrazak dalam kitab al-Mushannaf: 29/502-518. 168 Shahih, al-Mushannaf: 14020. 169 Dhaif. Kedhaifannya terletak pada riwayat Muammar dari Amr bin Salim. Abdurrazak, Al-Mushannaf: 14112

seseorang yang memesan sesuatu dan kemudian dia menukar barang pesanannya dengan barang lain. Misalnya, seseorang memesan biji gandum kemudian dia menukarnya dengan jewawut atau jelai meskipun barang yang dipesan itu ada atau tidak? Kemudian beliau menjawab, ketika seseorang memesan untuk bijih gandum dan kemudian menukarnya dengan jewawut atau jelai dan sejenisnya, ada dua pendapat: Pertama: pendapat yang tidak memperbolehkan menukar barang yang dipesan dengan barang selainnya. Para ulama yang berpendapat demikian diantaranya adalah Madzhab abu Hanifah, Imam Syafi’I, dan Imam Ahmad. Kedua: pendapat yang memperbolehkan menukar barang yang dipesan dengan barang selainnya jika sedang dalam keadaan mendesak. Pendapat ini diriwayatkan oleh Ibn Abbas yang berisi tentang pembolehan seseorang mengambil barang yang lain selain barang yang dia pesan sesuai dengan harganya. Jadi pembeli tidak akan diuntungkan dua kali. Senada dengan pendapat diatas, pendapat dari Ahmad yang berisi tentang pembolehan menukar biji gandum dengan jewawut atau jelai selama harga jewawut atu jelai itu tidak lebih mahal dari harga biji gandum. Ibnu Abbas dan madzhab malikiyah memperbolehkan penukaran makanan dengan makanan, barang dengan barang. Para ulama salaf mengambil dasar dari hadits Nabi Muhammad SAW: “barang siapa berakad salam untuk sesuatu, maka ia tidak boleh menukarnya dengan (barang) lainnya”. Kemudian mereka berargumen berdasarkan hadits diatas yang menunjukkan bahwasanya kita tidak boleh memperjual belikan hutang dari akad salam itu baik itu dari pemilik barang atau orang lain. Pendapat yang lebih benar menurut saya adalah pendapat yang kedua, yaitu pendapat dari Ibnu Abbas, dan para ulama sepakat akan hal itu. Dan karena hutang dalam akad salam adalah hutang yang tetap maka seseorang boleh menukar barang yang dia pesan dengan barang lainnya seperti penukaran dalam kasus riba qardhi, atau seperti halnya harga sebuah barang, yang notabene adalah sebagai ganti dari barang yang diambil seperti penggantian (penukaran) yang lain. Jika hadits diatas memang shahih, maka yang dimaksud oleh hadits tersebut adalah tidal menjadikan hutang dalam akad salam sebagai ganti untuk sesuatu yang lain, dan inilah yang dimaksud dengan “tidak menukarnya dengan yang lain”. Hal ini tidak diperbolehkan karena akan menguntungkan satu pihak dan merugikan yang lainnya. Oleh karena itu, jika ingin mengganti barang yang telah dipesan dengan barang lainnya, maka harga barang

tersebut harus sesuai dengan harga barang yang dipesan, sebagaimana telah dijelaskan dalam hadits yang diriwayatkan oleh Ibnu Umar RA tentang beberapa orang yang bertanya kepada Rasulullah tentang sebuah kasus yang sedang mereka hadapi,kemudian beliau bersabda: “tidak apa-apa jika harga itu sesuai dengan harga yang berlaku pada hari itu jika kalian berdua berpisah dan tidak ada sesuatu diantara kaliam berdua”. Hadits tersebut menunjukkan bahwa menukar barang yang dipesan dengan barang lainnya diperbolehkan sesuai dengan harga yang berlaku saat itu. Hal ini diperbolehkan karena jika barang tersebut belum ada ketika waktu yang telah disepakati telah tiba dan pembeli sudah membayar harga dari barang tersebut, maka yang terjadi kemudian adalah salah satu dari dua belah pihak (dakam kasus ini adalah pembeli) akan dirugikan, dan hal tersebut dilarang. Penjernihan Masalah: Setelah saya mengamati dalil-dalil yang tidak memperbolehkan pemberlakuannya serta penjelasan tentang kedhaifan hadits, ternyata tidak ada bukti atau alasan apapun yang menunjukkan hal itu. Demikian pula dengan atsar Ibn Umar yang dianggap dhaif. Sebenarnya masalah tersebut boleh sebagaimana diungkapkan oleh Imam Malik. Hal ini sesuai dengan universalitas syara’ tentang transaksi dan bebas tanggungan. Begitu pula pernyataan Ibnu Abbas yang memperbolehkan hal tersebut.

HIWALAH Definisi Hiwalah: Secara bahasa, hiwalah bermakna pindah. Kita biasa mengatakan “seseorang berpindah dari tempat yang satu ketempat lainnya”. Menurut Laits: hiwalah adalah “kamu memindahkan hutang kepada orang yang mempunyai hutang kepada kamu” Menurut Abu Manshur: dikatakan “seseorang memindah hartanya (hutang) kepadaku sekian dirham, kemudian aku memindahkannya kepada orang lain sekian dirham”170 Menurut para ulama fiqh: hiwalah berarti memindahkan hutang dari seseorang kepada orang lain,171 Orang yang memindahkan hutang dinamakan Muhil. Orang yang hutangnya dipindahkan dinamakan Muhal atau Muhtal Orang yang wajib membayar hutang kepada Muhal disebut Muhal Alaihi atau Muhtal Alaihi Hutang itu sendiri dinamakan Muhal bih atau Muhtal bih Pensyariatan hiwalah telah diperbolehkan berdasarkan sunnah dan Ijma’. Sunnah: Dari Abdullah bin Yusuf dari Malik dari Abi zanad dari A’raj dari Abu Hurairah RA dari Nabi Muhammad SAW bersabda: “orang yang mampu membayar hutang, haram atasnya melalaikan hutangnya. Maka apabila salah seorang diantara kamu memindahkan hutangnya kepada orang lain, pemindahan itu hendaklah diterima, asal yang lain itu mampu membayar”.172 Dan dalam riwayat lain disebutkan dengan redakasi yang berbeda “……………”173 Ijma’: Menurut Ibnu Qudamah dalam kitab al-Mughni (7/56): para ulama telah sepakat bahwasanya hiwalah diperbolehkan.174
170 Ibn Manshur, Lisanul Arab: 3/403 171 Rad al-Mukhtar: 5/340 172 Shahih Bukhari (2288), Shahih Muslim (3978), Sunan Abu Daud (3345), dan Sunan An-Nasai (7/317) 173 Ahmad (2/463), Ibn Abi Syaibah (5/287). 174 Ibn Qudamah, al-Mughni (2/746)

Syarat sah hiwalah: Pertama: dua hutang itu sama, dan kesamaan ini terdiri dari tiga hal sebsgai berikut: 1. jenis: tidak diperbolehkan menghiwalahkan hutang emas kepada orang yang memiliki hutang perak. 2. Sifat dan kadar (bentuk, ukuran, dan nilai): hiwalah menjadi tidak sah jika salah satu barang yang menjadi hutang lebih baik atau harganya lebih tinggi dari barang lainnya, begitu pula sebaliknya. 3. hulul dan ta’jil (tunai dan tempo). Yang dijadikan patokan adalah kesepakatan untuk menentukan waktu pembayaran.175 Kedua: hutang itu adalah hutang tetap.176 Yang dimaksud dengan hutang tetap adalah hutang yang tidak akan rusak karena sebab rusaknya barang pengganti atau jatuh tempo karena sebab-sebab tertentu, karena yang dimaksud dengan hal tersebut adalah tetapnya hutang muhal alaih kepada muhil. Ketiga:. kedua hutang harus diketahui (jenis, shifat, ukuran dan nilainya). 177 Jika besar nilai dari kedua hutang tersebut berbeda atau kedua hutang itu tidak diketahui, maka akad hiwalah tidak sah. Keempat: kerelaan Muhil (orang yang yang berhutang). Para ulama berbeda pendapat mengenai kerelaan dari Muhtal orang yang memberikan hutang, apakah hal tersebut juga disyaratkan atau tidak. Pendapat pertama: pendapat yang tidak menjadikan kerelaan Muhtal sebagai syarat sahnya akad hiwalah berdasarkan hadits Nabi Muhammad SAW: “ikutilah persetujuan orang tentang harta jika salah seorang dari kamu menyetujuinya” Juga karena seorang Muhil harus menunaikan kewajiban yang dilaksanakan olehnya atau orang yang mewakilinya. Disini, muhal alaih melaksanakan kewajiban tersebut dengan sendirinya dan membayar hutang yang menjadi tanggungannya. Maka tidak ada halangan bagi muhtal untuk melaksanakan hal tersebut.
175 Ibn Qudamah, al-Mughni: 7/57, al-Kafi: 2/146 176 Ibn Qudamah, al-Kafi: 2/146, dan an-Nawawi, al-Majmu’: 10/240. 177 Ibn Qudamah, al-Kaafi: 2/147

Pendapat kedua: pendapat yang menjadikan kerelaan muhil sebagai syarat sahnya akad hiwalah. Kedangkan kerelaan muhal alaih tidak menjadi syarat untuk melaksanakan akad hiwalah. Mayoritas ulama menyetujui akan hal ini kecuali ulama Madzhab Hanafi. Jumhur ulama mengatakan: hal itu disebabkan muhil harus memenuhi kewajiban dengan sendirinya atau dengan perantara wakilnya. Dan dalam hal ini muhal alaihi telah menempati kedudukan muhil. Mereka juga berpendapat bahwasanya yang tidak disebutkan dalam hadits hanyalah Muhal alaih. Sedangkan Muhil dan Muhtal disebutkan. Oleh karena itu, kerelaan Muhal alaih tidak diperlukan.178

178 Ibnu Qudamah, Al-Mughni dan al-Kaafii. Serta al-Majmu’ milik an-Nawawy dan kitab al Muhalla milik Ibnu Hazm

KAFALAH Definisi kafalah: Ketika orang yang berhutang tidak mampu membayar dan hutangnya telah jatuh tempo, seseorang yang dipercaya menjamin orang yang berhutang itu di hadapan orang yang memberi hutang bahwa orang yang berhutang benar-benar akan membayar hutangnya. Menurut para ahli Fiqh,179 Pengumpulan180 tanggungan orang yang menjamin dengan tanggungan orang yang dijamin agar segera meaksanakan kewajiban. Maka hutang kemudian menjadi tanggungan keduanya, dan orang yang memberi hutang boleh menuntut salah satu dari keduanya. Pensyariatan kafalah:181 Al-Qur’an:
72.

Penyeru-penyeru itu berkata: "Kami kehilangan piala raja, dan siapa yang dapat

mengembalikannya akan memperoleh bahan makanan (seberat) beban unta, dan Aku menjamin terhadapnya". Ibnu Jabir at-Thabary berpendapat bahwasanya yang dimaksud dengan lafadz (wa ana bihi zaiimun), adalah para penyeru itu menjamin bahwasanya orang yang menemukan piala raja akan mendapatkan bahan makanan dengan jaminan dirinya Kemudian, beliau juga menyebutkan dengan sanad melalui Ibnu Abbas, Mujahid, Said bin Jabir, Qatadah serta Dhihak.182 Ayat tersebut berkisah tentang seseorang yang diutus oleh nabi yusuf yang menjamin akan memberikan bahan makanan dan kemudian mereka berkata “aku menjammin terhadapnya”.

179 Ibnu Qudamah, al-Mughni (7/71)dan al-Umm milik as-Syafi’I (3/342) ini adalah definisi menurut ulama hanafiyah dan syafiiyah, sedangkan ulama malikiyah memiliki pendapat berbeda tentang definisi tersebut, mereka berkata: orang yang memberi hutang tidak seharusnya menuntut haknya kepada orang yang menjamin, kecuali jika orang yang berhutang berhalangan untuk membayar hutangnya. 180 Dikatakan: Dhamin, Kafil, Jamil, Raghim, dan Shabir mempunyai makna yang sama (al-Mughni: 7/72) 181 Jami’ al-Bayan (8/20) 182 Atsar Ibn Abbas di dalam sanadnya terdapat Ali bin Abi Thalhah dari Ibn Abbas, akan tetapi dia tidak mendengarnya secara langsung. Atsar-atsar yang shahih: atsar Mujahid dilihat dari sejumlah jalur periwayatannya. Atsar Said al-Jabir dari jalur Ibn Basyar dari Ibn Mahdi dari Abdul Wahid bin Ziyad dari Waraqa’. Atsar Qatadah dari Muhammad bin Abdul A’la dari Muhammad bin at-Tsaur dari Muhammar. Sedangkan atsar ad-Dahhak sangan lemah sekali, sebab perawinya adalah Ibn Waki’ dan Jubair. Dalam sanad ini, ada periwayatan yang munqathi’ yakni: “Diriwayatkan padaku dari Husain bin al-Farj.

Sunnah, pertama: Diriwayatkan oleh Imam Bukhari, “Dari Abu Ashim dari Yazid bin Abi Ubaid dari Salamah bin Akwa’ bahwasanya Nabi Muhammad SAW hendak menshalati orang yang meninggal, kemudian beliau bertanya kepada para jamaah: “apakah dia mempunyai hutang?” dan mereka menjawab “tidak”, kemudian nabi menshalatinya. Pada waktu yang lain, nabi hendak menshalati orang yang meninggal kemudian beliau bertanya: “apakah dia mempunyai hutang?”, mereka menjawab “benar” kemudian nabi bersabda: “maka shalatilah sendiri untuk sahabatmu” Abu Qatadah lalu berkata pada Nabi, “Saya yang akan menanggung hutangnya ya Rasul”. Maka kemudian Rasulullah bersedia menshalatinya.183 Diceritakan oleh Ismail bin Iyas dari Sarhabil bin Muslim al-Khaulany dari Abi Umamah al-Bahily: saya mendengar Rasulullah bersabda pada tahun Haji wada’: “pinjaman hendaklah dikembalikan, orang yang meminta-minta hendaklah ditolak, hutang hendaklah dilunasi dan orang yang menanggung hendaklah membayar tanggungannya”184 (HR. Abdurrazaq) Ijma’: Ibn Qudamah, al-Mughni, vol. 7, hal. 72, “Umat muslim telah menyetujui akan kebolehan penanggungan hutang. Hanya saja mereka berbeda pendapat dalam masalah cabangnya.” Kedua: Diceritakan oleh Abdullah bin Musallamah al-Qa’nabi diceritakan oleh Abdul Aziz (Ibnu Muhammad) dari Amr (Abu Amr) dari Akramah dari Ibn Abbas: sesungguhnya seseorang menjamin bahwasanya dia memiliki sepuluh dinar kemudian dia berkata “demi Allah, aku tidak akan meninggalkanmu sampai kamu membayarku atau memberiku bahan makanan. Kemudian nabi memberinya bahan makanan sesuai yang dijanjikan kemudian Rasulullah bertanya kepadanya: dari mana engkau dapat emas ini? Dia menjawab: dari tambang. Kemudian Rasulullah bersabda: kami tidak membutuhkannya, barang itu tidak ada gunanya sama sekali. Kemudian Rasulullah mengembalikannya”.185(hadits riwayat Abu Daud) Menurut al-Khitaby RA dalam kitab syarh maalim as-Sunnah (3/47): hadits ini mengandung tetapnya denda dan tanggungan bagi orang yang menjamin. Mengapa nabi
183 Shahih: HR. Bukhari, hal. 2295, HR. an-Nasai (Bab Jenazah, vol. 4, hal. 65) 184 Hasan: al-Mushannaf, hal. 1630, HR. Ahmad (al-Musnad, vol. 5, hal. 267, 293), HR. Abu Daud, vol. 4, hal. 824-hadits ke 3565, HR. Tirmidzi, hadits ke-1265, menurutnya, hadits ini adalah hasan gharib, HR. AtThabari, vol. 7, hal. 137, hadits ke-7621. 185 Hasan: Abu Daud (3328), Ibn Majah (bab Kafalah: 2406)

mengembalikan emas yang diberikan bukan karena emas tersebut berasal dari tambang, bukan juga karena meragukan kepemilikan orang tersebut, melainkan karena emas tersebut tidak di ketahui peredarannya dan karena yang dijanjikan adalah dinar, bukan emas, maka Rasulullah mengembalikannya. Para ulama lain menafsirkan hadits tersebut dengan tafsiran berbeda. Mereka berpendapat bahwasanya Rasulullah menolak menerima emas itu karena tedapat unsur penipuan didalamnya. Bisa jadi, orang tersebut mengeluarkan 1/10, 1/5 atau 1/3 dari barang tambang tersebut. Ketiga: Dari Laits: diceritakan oleh Jakfar Ibn Rabiah dari Abdurrahman bin Hurmuz dari Abi Hurairah RA dari Rasulullah SAW: seorang bani israil diminta sahabatnya agar memberikan pinjaman 1000 dinar kemudian dia berkata: “datangkanlah beberapa saksi” “cukuplah Allah yang menjadi saksi” “datangkanlah orang yang menjamin” “cukuplah Allah sebagai penjamin” “kamu benar” Kemudian orang itu memberikan harta berupa uang itu sampai pada suatu waktu yang telah ditentukan. Kamudian dia pergi kelaut dan melaksanakan kebutuhannya. Ketika sampai pada waktunya, dia mencari perahu untuk mengembalikan uang itu namun dia tidak menemukannya. Maka dia mengambil kayu dan melubanginya, kemudian dia meletakkan 1000 dinar dan selembar kertas, kemudian dia memperbaiki perahu itu, dan menaikinya pergi ke tengah laut dan berdoa: “Ya Allah, Engkaulah yang Maha mengetahui sesungguhnya saya telah meminjam 1000 dinar kepada seseorang, kemudian dia meminta saya untuk mendatangkan orang yang akan menjamin, dan saya berkata “Cukuplah Allah yang menjadi penjamin”, dan dia menyetujuinya. Dia meminta saya untuk mendatangkan saksi lalu sayapun berkata “Cukuplah Allah yang menjadi saksi”, dan dia menyetujuinya. Saya bersungguh-sungguh memperbaiki perahu itu agar saya bisa sampai pada orang yang memberiku pinjaman akan tetapi saya tidak mampu, maka saya menitipkannya pada-Mu”. Lalu dia melemparkan barangnya ke laut sampai tenggelam. Setelah melemparkan barang tersebut, dia mendapatkan perahu kemudian dia pergi mendatanginya. Sementara itu, orang yang memberikan hutang pergi ke pantai dan melihat-lihat kalau ada perahu yang datang

dan membawa hartanya, tapi ternyata dia hanya menemukan depotong kayu, dan dia mengambilnya untuk dijadikan kayu bakar. Ketika dia menggergaji kayu itu, dia menemukan harta dan sehelai surat. Ketika orang yang berhutang datang, dia berkata: “Demi Allah, saya telah bersungguhsungguh mencari perahu untuk mendatangimu, namun aku tidak mendapatkannya”. Kemudian dia bertanya: “apakah kamu pernah mengirimkan sesuatu kepadaku?”. “saya mengabarimu bahwasanya saya tidak menemukan perahu untuk mendatangimu”. “sesungguhnya Allah telah melunasi hutangmu dengan sepotong kayu yang engkau kirimkan kepadaku, dia pergi membawa 1000 dinar dengan pembimbing”186 Syarat sah kafalah: 1. kerelaan kafil atas makful terhadap akad kafalah. Menurut ibn Qudamah dalam kitab al-Mughni (7/72): kerelaan orang yang menjamin adalah hal yang sangat menentukan. Jika orang yang menjamin (dhamin) tidak menyetujui hal tersebut, maka hal kafalah ini tidak sah dan mayoritas ulama menyetujui hal tersebut. 2. kerelaan makful lahu: para ulama hanafiah mensyaratkan kerelaan makful lahu karena akad yang mengikat dan diharapkan terjadinya serah terima antara kafil dan makful lahu. Sedangkan mayoritas ulama berpendapat bahwasanya kerelaan makful lahu tidak disyaratkan berdasarkan hadits yang diriwayatkan oleh Abi Qatadah yang tidak menjelaskan hal tersebut.187 Jika makful anhu meninggal dunia, apakah kafalah akan putus? Menurut Ibn Qudamah dalam kitab al-Mughni (7/103): jika makful anhu meninggal dunia maka kafalah terputus dengan sendirinya, dan orang yang menjamin tidak dikenakan sesuatu. Para ulama yang sepakat dengan pendaat ini diantaranya adalah as-Syafi’I, Abu Hanifah, Syarih, as-Syu’ba, dan himad bin Abu Sulaiman. Sedangkan menurut Hakam, Laits dan Imam Malik sebagaimana diceritakan oleh Ibn Syarih: orang yang menanggung wajib membayar apa yang menjadi tanggungannya karena orang yang menanggung adalah orang yang telah dipercayai, apabila orang yang
186 Shahih, Al-Bukhari (2291), menurut al-Hafidz al-Mazi dalam kitab al-Athraf: diriwayatkan oleh Abi alWaqt dari Abdullah bin Soleh dari Laits. Al-Hafidz Ibn Hajar berkata dalam kitab al-Fath seperti demikian: diriwayatkan oleh Abu Dzar dari Abdullah bin Soleh ……….. 187 Ibn Qudamah, al-Mughni dan Rad al-Mukhtar (5/283)

berhutang itu tidak mampu membayar hutangnya seperti halnya Rahn. Apabila orang yang berhutang itu tidak ada, maka orang yang menanggungnyalah yang membayarnya. Bagi kami, kehadiran orang yang berhutang menggugurkan apa yang ditanggung oleh orang yang menanggung, dan orang yang menanggung menjadi bebas. sebagaimana dari hutang, jika orang yang berhutang telah membayar hutangnya, maka dia menjadi bebas.

SUFTAJAH (WESEL) Definisi: Kalimat ini sebenarnya kata yang diadopsi dari bahasa Persia yang pada asalnya adalah “suftaj”yang berarti sesuatu yang dihukumi, dan kata jamaknya adalah “safatij”. Menurut para ahli ilmu fiqh, suftajah adalah secarik kertas yang atau cek yang ditulis seseorang untuk wakilnya atau orang yang berhutang kepadanya yang berada di Negara lain yang mengharuskan orang itu membayar dan menyampaikan hutang tersebut kepada seseorang yang telah memberikan pinjaman serupa kepadanya, dan orang tersebut berada satu wilayah (negara) dengannya. Hukum pemberlakuan suftajah: Para ulama berbeda pendapat untuk memperbolehkan atau melarang pemberlakuan hal ini. Sebagian dari mereka berpendapat bahwasanya suftajah tidak diperbolehkan jika mensyaratkan perkara tersebut diperkarakan di negara lain. Para ulama yang sepakat dengan hal tersebut diantaramya adalah ulama Hanafiah188, Maliki dan Syafi’I189, Sedangkan para ulama Hanabilah190 berpandapat bahwasanya suftajah termasuk interaksi yang mengambil keuntungan, dan mereka memasukkan dan menjelaskannya dalam bab hutang yang mendatangkan kemanfaatan.191 Para ulama yang berpendapat bahwasanya suftajah boleh diberlakukan diantaranya sebagai berikut: Ibnu Qudamah dalam kitab al-Mughni (6/436-437): Atha’ berkata: sesungguhnya Ibnu Zubair mengambil dirham di mekkah dari suatu kaum, kemudian dia menulisnya untuk Mas’ab bin Zubair di Irak kemudian mereka mengambilnya. Ketika Ibn Abbas ditanya akan hal ini, dia melihat tidak ada kebolehan didalamnya.192 Diriwayatkan dari Ali RA, dia ditanya oleh seseorang tentang masalah ini dan dia tidak melihat kebolehan didalamnya.193
188 Hasyiah Ibn Abidin atas Rad al-Mukhtar (5/350) 189 Asna al-Muthalib fi al-Fiqh as-Syafi’I (2/142), Ibn Qudamah, al-Mughni (6/436) 190 Riwayat ini dianggap dhaif dan selainnya dianggap shahih oleh Ibn Taimiyah seperti yang diungkapkan dalam kitab al-Fatawa (29/530), Ibn Qudamah, al-Mughni (6/436) 191 Telah dibahas pada bab terdahulu tentang hutang yang mendatangkan kemanfaatan 192 Diriwayatkan oleh al-Baihaqi dalam kitab as-Sunan (5/352) melalui Said bin Manshur dari Hasyim dari Hajjaj bin Artho’ah dari Atha’. Menurut saya, selain Hajjaj bin Athr’ah, semua perawinya terpercaya. 193 Al-Baihaqi, dalam kitab as-Sunan (5/352) berkata: ini diriwayatkan dari Ali. Syaikh Nashiruddin alAlbani berkata dalam kitab al-Irwa’ (5/238): saya tidak menemukan sanadnya.

Al-Qadhi menceritakan: sesungguhnya al-Laushy telah meminjam harta anak yatim di Negara lain dan dijual di Negara sendiri untuk mendapatkan keuntungan. Memperbolehkan suftajah dianggap lebih baik karena merupakan maslahah bagi kedua belah pihak dengan tanpa merugikan salah satu dari mereka. Selain itu, hukum syariat tidak menunjukkan pengharaman atas pemberlakuan suftajah karena memang tidak berdampak buruk, bahkan syariat menganjurtkan pelaksanaannya. Kemudian karena tidak ada nash yang melerangnya, maka suftajah wajib dimasukkan dalam kategori boleh-boleh saja. Menurut Ibnu Taymiyah dalam kitab al-Fatawa (29/530): dia ditanya oleh seseorang “bolehkah jika seseorang meminjamkan dirham (sebagai modal) kepada orang lain untuk digunakan di negara lain?” kemudian beliau menjawab: “jika kamu meminjamkan dirham (sebagai modal) kepada orang lain untuk digunakan di negara lain, semisal orang yang meminjam membawa dirham ke negara lain dan orang yang meminjamkan dirham itu berada di negara yang lain dan pada saat itu dia sedang membutuhkannya, kemudian dia menulis suftajah kepada orang yang memberinya pinjaman, maka ini sah-sah saja. Sebagian ulama (sebagaimana telah disebutkan sebelumnya) berpendapat bahwasanya pemberian modal dilarang karena itu adalah pinjaman yang mendatangkan kemanfaatan dan pinjaman yang mendatangkan kemanfaatan adalah riba. Pendapat yang lebih baik adalah pendapat yang memperbolehkan suftajah karena kemanfaatan yang ada didalamnya lebih besar dari pada kemudharatannya. Dalam perjalanan, mereka lebih aman dan terjaga. Allah juga tidak melarang kita dari sesuatu yang bermanfaat bagi kita, Dia melarang kita dari sesuatu yang berbahaya bagi kita. Seandainya orang yang berhutang menunda untuk membayar hutangnya dari orang yang memberikan pinjaman, apakah dia akan dijatuhi sanksi materi oleh hakim karena hal tersebut? Apakah penggantian kerugian ini termasuk dalam kategori riba Qardhi yang mendatangkan manfaat yang diharamkan ataukah masuk dalam kategori mengembalikan hak seseorang dan qishash??? Saya berpendapat bahwasanya penundaan dalam membayar hutang tidak diperbolehkan. Semisal orang yang berhutang telah mampu membayar hutangnya akan

tetapi dia menunda-nunda waktu pembayaran tersebut. Dan sebab itu, hakim boleh menjatuhkan sanksi berupa denda material kepada orang yang berhutang sesuai dengan yang dibelanjakan oleh orang yang memberikan hutang dan karena mengabaikan pelaksanaan pembayaran hutang. Hal ini tidak masuk dalam bab riba Qardhi yang mendatangkan manfaat tetapi masuk dalam bab hukuman dan denda berdasarkan hadits nabi Muhammad SAW: “orang yang sudah mempunyai harta tapi dia masih menundanunda untuk membayar hutang, maka dia dikenai sanksi dan denda”. Jika kamu berkata: para ulama menafsirkan uqubah dengan penahanan, maka saya akan bertanya: dari penahanan tersebut, keuntungan apakah yang akan didapatkan oleh orang yang memberikan hutang? Siapakah yang akan mengganti hutang yang ditanggungnya? Allah SWT berfirman:
Tidak ada balasan kebaikan kecuali kebaikan (pula).(QS. Ar-Rahman: 60)

Sanksi ini termasuk dalam bab Qishash dan Mu’aqabah. Akan tetapi, sanksi itu telah berbeda dengan tujuannya, yaitu membayar hutang. Yang seharusnya disanksi dengan melunasi hutangnya, malah disanksi dengan sesuatu yang tujuannya berbeda dengan hal itu. Allah SWT berfirman:
Dan balasan suatu kejahatan adalah kejahatan yang serupa, (QS.As-Syuraa: 60)

Saya mencoba memahami fatwa-fatwa syaikh Ibnu Taimiyah dengan contoh seperti apa yang saya sebutkan sebelumnya dan segala pujian dan sanjungan hanyalah bagi Allah: beliau ditanya (fatawa, 30/24) tentang orang yang mempunyai hutang namun dia enggan untuk membayarnya sampai dia diadukan kepada hakim, kemudian dia mau membayar hutangnya. namun, orang yang mengadukan tersebut telah mengalami kerugian berupa ongkos. Apakah kerugian itu ditanggung oleh orang yang berhutang atau tidak? Kemudian beliau menjawab: Alhamdulillah, jika seseorang memiliki kewajiban dan dia mampu melaksanakan atau memunaikan kewajiban itu akan tetapi dia memundanundanya hingga memaksanya untuk mengadukannya kepada hakim, maka sanksi yang seharusnya diberikan adalah sanksi karena dia telah berbuat dzalim dengan menunda-nunda pembayaran hutang yang melampaui batas.

PERMASALAHAN DALAMJUAL BELI MENGGUNAKAN CEK Bolehkah orang yang memberi pinjaman hutang mengambil cek yang dibayarkan orang yang berhutang kemudian menjualnya karena orang yang berhutang menundanunda pembayaran atau karena sebab yang lain? Jawaban secara jelas-wallahu a’lam- bahwa jual beli yang seperti ini dilarang karena beberapa hal. Pertama, jual beli seperti itu sesungguhnya termasuk dalam kategori penipuan (gharar) yang dilarang sebagaimana atsar yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah: sesungguhnya rasulullah SAW melarang jual beli (arab) Dan jual beli yang mengandung penipuan.194 Menurut an-Nawawy RA: larangan bagi jual beli yang mengandung penipuan adalah suatu pokok hal yang utama dalam bab kitab fiqh seperti yang dijelaskan oleh Ibn Qudamah dan Imam Muslim. Disana dijelaskan banyak hal termasuk di dalamnya adalah jual beli Abiq (budak yang melarikan diri dari tuannya), jual beli yang diketahui, yang tidak diketahui, yang tidak diketahui penyerahannya, jual beli yang kepemilikannya masih belum sempurna, sampai jual beli ikan dalam air. Kedua: jual beli ini merupakan bagian dari jual beli yang barangnya bukan miliknya, dan hal ini tidak diperbolehkan. Nabi SAW bersabda: “hutang piutang, jual beli, pensyaratan dalam jual beli dan pengambilan keuntungan tidak boleh, kecuali ada yang menanggungnya. Juga tidak boleh menjual sesuatu yang bukan menjadi milik kamu”195 dalam riwayat lain disebutkan “janganlah kamu menjual sesuatu yang bukan milik kamu”196 Ketiga: hal ini tidak bisa dimasukkan dalam kategori jual beli. Hal ini murni riba, karena harta itu adalah harta yang menjadi imbalan bagi harta yang lain dengan selembar kertas yang disebut dengan cek. Jika harta itu telah diterima, maka lebih dari harta tersebut adalah riba, dan sesungguhnya harta itu menjadi imbalan bagi penundaan orang yang memberikan hutang, dan hal itu termasuk dalam kategori riba nasi’ah yang diharamkan Allah dan Rasulnya sebagaimana disebutkan dalam al-Qur’an:
194 Muslim, Buyu’ (10/396) dan an-Nawawy, Abu Daud (bab Buyu’/3378), at-Turmudzi (bab Buyu’/1230), an-Nasa’I (bab Buyu’ 7/262), Ibn Majah (bab Tijarat/4530), Ahmad (1/116, 302). 195 Diriwayatkan oeh Amr bin Syuaib cari Ayahnya dari Kakeknya. 196 Diriwayatkan oleh Hakim bin Hizam, diriwayatkan oleh Abu Daud (bab Buyu’/ 3503), an-Nasa’I (bab Buyu’/ 789) dan at-Turmudzi (bab Buyu’/ 1232)

Orang-orang yang makan (mengambil) riba tidak dapat berdiri melainkan seperti berdirinya orang yang kemasukan syaitan lantaran (tekanan) penyakit gila. keadaan mereka yang demikian itu, adalah disebabkan mereka Berkata (berpendapat), Sesungguhnya jual beli itu sama dengan riba, padahal Allah Telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba. (al-Baqarah: 275)

Dan orang-orang yang mempraktekkan riba itu telah diancam oleh Allah SWT dalam alQu’an.
“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan tinggalkan sisa riba (yang belum dipungut) jika kamu orang-orang yang beriman. Maka jika kamu tidak mengerjakan (meninggalkan sisa riba), Maka Ketahuilah, bahwa Allah dan rasul-Nya akan memerangimu. dan jika kamu bertaubat (dari pengambilan riba), Maka bagimu pokok hartamu; kamu tidak menganiaya dan tidak (pula) dianiaya.” (al-Baqarah: 278-279)

Bagaimanakah hukumnya membayar hutang jika harga barang itu bertambah mahal atau bertambah murah? Ini adalah problem besar yang sering dihadapi oleh orang yang berhutang ataupun orang yang memberi hutang, bahkan hal ini tak jarang menjadi sebab enggannya orangorang kaya untuk memberikan pinjaman kepada orang yang tidak mampu dan menyurutkan keinginan mereka untuk mendapatkan pahala dan keutamaan dari Allah SWT. Sebagian umat islam juga terseret dalam perkara-perkara yang diharamkan oleh syariat ketika dihadapkan pada permasalahan ini. Masalah ini dapat dibagi dalam dua keadaan: Pertama: Barang itu memiliki harga tersendiri seperti emas dan perak. Sepertihalnya seseorang yang memiliki ukuran atau takan tersendiri untuk menentukan harga emas atau barang lainnya. Penyelesaian dari perermasalahan ini adalah dengan mengembalikan harga barang tersebut sesuai dengan harga pasar.maka sewaktuwaktu, bisa jadi harga barang itu mahal di pasaran atau bisa jadi harga barang itu anjlok. Menurut imam Syafi’I RA dalam kitab al-Umm (3/33): jika seseorang membelanjakan –baik secara tunai atau tidak- uang atau dinarnya untuk sebuah barang, kemudian dia membatalkannya, maka dia akan menerima uangnya yang digunakan untuk memesan atau membeli sebuah barang tersebut. Dan para ulama sepakat akan hal ini.197
197 Dikutip oleh Ibn Abidin dalam kitabnya Tanbih ar-Ruqud ‘ala Mas’alah an-Nuqud (2/64) dari kitab Dirasat fi Ushul al-Mudayanat karya Nazih Hammad. Beliau berkata: mata uang orang Eropa atau emas murni. Jika dua orang bertransaksi atas dua barang itu, kemudian barang tersebut menjadi mahal, atau menjadi lebih murah. Seperti halnya ketika seseorang membeli baju seharga 10 real atau berhutang dengan dua barang

Kedua: barang itu tidak memiliki harga tersendiri seperti mata uang yang sekarang berlaku seperti Riyal Saudi Arabia, Dolar, dan sebagainya. Hal ini terbagi menjadi dua bagiian: 1. jika nilai (kurs) mata uang itu menurun, seperti yang sekarang terjadi kepada beberapa mata uang di dunia, maka bagaimana hukumnya jika seseorang ingin melunasi hutangnya ketika dalam keadaan seperti ini? Menurut Ibnu Qudamah dalam kitab al-Mughni (6/441): jika barang tersebut berupa uang atau sesuatu yang gisa dipecah, maka hakim mengharamkan dan mencegah transaksi itu. Barang menjadi hak pemberi hutang tetapi hal tersebut bukanlah satu ketetapan pasti baik barang tersebut masih berada ditangannya atau telah lenyap. Ahmad telah menegaskan hal ini dalam masalah dirham yang dapat dibagi. Kemudian dia berkata: kapankah hal itu sama ketika hari dimana pengambilan? Kemudian dia memberikannya meski harganya telah naik atau turun secara drastic. Menurut saya, hal ini layak dilakukan sebab universalitas syari;at dan karena telah disebutkan dalam al-Qur’an. Allah SWT telah berfirman:
Tidak ada balasan kebaikan kecuali kebaikan (pula). (ar-Rahman: 60)

dan Nabi Muhammad SAW bersabda: “Tidak ada kemudlaratan dan tidak pula yang membahayakan198

2. adanya mata uang yang menyempurnakan pembayaran dan interaksi meskipun harganya melonjak atau malah menurun. Ada beberapa pendapat ulama dalam menyikapi masalah ini: menurut Ibnu Qudamah dalam kitab al-Mughni (6/442): meski dalam keadaan menurun, hal ini tidak menjadi alasan untuk melunasi hutang, baik banyak –misalnya sepuluh dirham dengan 1/6 dirham menjadi sepuluh dirham dengan 1/6 dirham- atau lebih sedikit karena tidak terjadi apa-apa, lain halnya dengan harga gandum jika murah atau mahal. Menurut as-Suyuthi dalam kitab Risalah Qath’u al-Mujadalah (1/97): sebagaimana telah dijelaskan berulangkali, bahwasanya barang yang akan dikembalikan haruslah sama dengan barang yang dipinjam. Jika seseorang memberi pinjaman barang satu ritl (+- 8 ons), maka
tersebut, maka dia harus mengembalikan barangnya baik itu bertambah mahal atau murah. Dia menambahkan: kita harus tahu bahwasanya perbedaan antara Abu Yusuf itu terdapat pada barang yang bentuk Emas dan perak. Dan harus mengembalikan barang tersebut (‘Ain), bukan cabangnya (Furu’) 198 Hadits riwayat Ahmad (Sunan Ahmad: 5/326), dan Ibn Majah (Sunan Ibn Majah: 2340).

orang yang berhutang wajib mengembalikan/ melunasi hutangnya dari jenis dan ukuran itu juga meskipun harganya naik atau turun. Pendapat para pengikut imam Hanafi: menurut Ibnu Abidin dalam kitab Tanbih ar-Ruqud (2/60): dari fatwa-fatwa Abu Yusuf kepada para pengikut madzhab hanafi: orang yang berhutang wajib membayar/melunasi hutangnya pada hari yang telah ditentukan sesuai dengan harga pasar yang berlaku yang tiba-tiba saja mengalami kenaikan atau penurunan Menurut para pengikut imam Malik dalam kitab hasyiah al-Mudni (5/118): jika perubahan harga itu sangat tajam dan tiba-tiba, maka pembayaran itu harus memenuhi standar pasar yang berlaku, jika tidak, maka diganti dengan yang sama.199

199 Dikutip dari kitab Dirasat fi Ushul al-Mudayanat

HUKUM KADO PERNIKAHAN Definisi: barang (harta) yang diberikan oleh tetangga, sanak famili, dan orang yang dikenal. Seperti halnya seorang pemuda yang akan melangsungkan pesta pernikahan, kemudian orang-orang berduyun-duyun mendatanginya dan memberinya kado (hadiah) seumpama kran yang meneteskan air dan tetesan-tetesan itu kemudian berkumpul. Setelah itu, orangorang itu duduk dan orang yang memberikan kado dicatat namanya pada daftar tamu. Seorang resepsionis menjaga pintu masuk dan mengucapkan selamat datang kepada setiap orang yang hadir dan menunggu kalau-kalau ada orang yang tempat tinggalnya jauh datang terlambat. Seperti yang telah dipaparkan sebelumnya, orang-orang itu datang dan memberikana kado yang dikemudian hari, orang yang telah menerima kado itu akan memberikan kado juga ketika orang yang memberikan kado mengadakan acara.. Kado atau hadiah tidak hanya diberikan ketika seseorang melangsungkan pesta pernikahan, kado juga bisa diberikan ketika seseorang mengalami sesuatu, entah itu ketika seseorang merayakan kelahiran anaknya, ketika sedang melakukan selamatan untuk orang yang akan pergi atau telah datang menunaikan ibadah haji atau ketika sedang sakit, atau beberapa peristiwa lainnya yang berkaitan dengan interaksi sesame manusia. Apakah pemberian kado merupakan pemberian hutang yang wajib dikembalikan, ataukah pemberian kado merupakan hadiah? Masalah ini adalah masalah kontemporer yang belum terjadi pada masa Nabi SAW. Tidak ada nash atau dalil yang menjelaskannya, maka kemudian, kita mengembalikannya kepada adapt kebiasaan yang berlaku, apakah pemberian kado dianggap hutang yang wajib dikembalikan atau kado tersebut dianggap hadiah? Dan apakah Urf (adat) diakui oleh syariat sebagai satu metode menggali hukum? Agama islam adalah agama yang universal dan komprehensif. Jika kemudian ada perbedaan-perbedaan yang terjadi, itu adalah bagian dari kedua aspek diatas. Komprehensipnya hukum islam memudahkan para ulama dalam mengambil sebuah keputusan berkaitan dengan hukum tentang sebuah kejadian yang terjadi dan interaksi masyarakat serta adapt kebiasaan mereka. Urf (adat kebiasaan) adalah salah satu metode pengambilan hukum yang diakui keabsahannya oleh para ulama ushul. Dengan kaidah ini

(urf), Allah SWT membebankan hukum kepada hambanya. Misalnya hukum tentang pembatasan pemberian nafkah oleh suami kepada isteri. Hal ini dibolehkan oleh Allah berdasarkan Urf. Allah SWT berfirman dalam al-Qur’an:
Hendaklah orang yang mampu memberi nafkah menurut kemampuannya. dan orang yang disempitkan rezkinya hendaklah memberi nafkah dari harta yang diberikan Allah kepadanya. Allah tidak memikulkan beban kepada seseorang melainkan sekedar apa yang Allah berikan kepadanya. Allah kelak akan memberikan kelapangan sesudah kesempitan. (QS: ath-Thalaq: 7)

Nabi Muhammad SAW bersabda kepada Hindun binti ‘Utbah: “Ambillah sesuatu secukupnya untukmu dan anakmu”200 Ini adalah satu perkara dari beberapa perkara yang ada dalam bab-bab fiqh. Menurut Ibn Qudamah dalam kitab al-Mughni: segala sesuatu yang tidak dihukumi syariat, maka dikembalikan sesuai adapt yang berlaku. Menurut an-Nawawy dalam kitab Syarh Muslim (12/475) ketika berbicara tentang manfaat hadits diatas: pemberlakuan Urf sebagai metode pengambilan hukum untuk sebuah kasus yang tidak dihukumi syari’at. Menurut al-Hafidz Ibn Hajar dalam kitab al-Fath (4/475): Urf boleh dipakai untuk sesuatu yang tidak dibatasi (dihukumi) oleh syari’at. Al-Bukhari telah memasukkan hal ini dalam bab khusus pada kitab Buyu’: Bab orang yang memberlakukan adapt orang mesir terhadap sekian permasalahan yang mereka ketahui; baik itu dalam transaksi jual beli, sewa menyewa, takaran, dan timbangan. Kebiasaan itu tergantung dari niat dan madzhab mereka. Dan pendapat mereka didasarkan pada hadits Nabi tentang Hindun yang telah disebutkan sebelumnya. Pemberlakuan ‘Urf memiliki beberapa syarat. 1. kebiasaan itu adalah kebiasaan yang lazimnya berlaku pada kalangan umum. Jadi, perkara (kebiasaan) itu dilakukan oleh mayoritas masyarakat dan berlaku secara umum. Dalam masyarakat kita, masalah ini (kado) sebagaimana kita ketahuyi bersama adalah adapt atau kebiasaan yang berlangsung terus menerus. 2. kebiasaan itu adalah kebiasaan umum. Para ulama berbeda pendapat tentang syarat ini, sebagian ulama memberlakukannya dan sebagian lagi tidal memberlakukannya sebagai syarat. Kebiasaan itu harus diketahui oleh mayoritas penduduk disemua negara (bagi
200 Al-Bukhari (7180 dan 2211), Muslim (1714)

yang memberlakukannya), mereka tidak mengakui adanya Urf khass (kebiasaan khusus) pada satu Negara tertentu. Imam Syafi’I termasuk dalam ulama yang membicarakan tentang Urf Khass. menurut beliau dalam kitab al-Umm: isi gudang tidak termasuk pada benteng yang menjaga kurma dan buah-buahan didalamnya karena pada dasarnya kurma dan buah yang ada dalam gudang itu boleh diambil siapapun. Jika ada orang yang mencuri barang yang ada di luar gudang, maka ia tidak dikenai hukum potong tangan. Namun jika barang tersebut telah berada dalam gudang, jelas pemilik barang itu tidak memperbolehkan orang lain untuk mencuri barang tersebut, dan pencuri itu akan dikenai hukuman potong tangan seperti yang kita ketahui bersama. Sesungguhnya gudang itu adalah benteng dan barang yang ada di dalamnya bukanlah benteng. Kemudian beliau melanjutkan: sebagaimana kita ketahui bersama dan pada umumnya bahwasanya gudang adalah benteng tempat penyimpanan barang dan barang yang ada di dalamnya bukanlah benteng. Ini merupakan salah satu contoh dari urf khass yang dipegang teguh di kalangan mereka.201 Menurut Doktor Ahmad bin Ali al-Mubaraki dalam kitab alUrf (95): ketika kita mengamati dan mencermati cabang-cabang dari ilmu fiqh dalam beberapa kitab ulama fiqh, maka kita akan menemukan adanya urf khass yang mereka gunakan untuk menggali dan menentukan sebuah hukum. Ibnu Najim al-Hanafi sependapat akan hal tersebut: para pengikut hanafi menggunakan Urf orang-orang kairo dan tidak menggunakan Urf lainnya, karena rumah-rumah mereka bertingkat-tingkat yang salah satu kegunaannya adalah untuk gudang penyimpanan makanan. Urf yang dipakai oleh orang kairo merupakan urf khusus yang diakui dan dipakai oleh para ulama hanafiyah. Di tempat lain, para ulama malikiyah mengakui adanya urf khusus orangorang madinah yang tidak diketahui orang lain. Maka dengan urf seperti inilah kita akan menyelesaikan masalah kita (tentang pemberian kado). 3. Urf tidak boleh bertentangan dengan nash-nash syariat, baik itu al-Qur’an, Sunnah, Ijma’ dan Qiyas. Syarat ini adalah syarat terpenting. Kemudian dalam masalah pemberian kado tersebut, apakah hal itu bertentangan dengan syariat?
201 Dikutip dari kitab al-Urf karya Doktor Ahmad bin Ali al-Mubaraki (95)

Mengenai hal ini, tidak ada pertentangan dengan syariat, bahkan universalitas syariat mendorong kita untuk melakukannya sebagaimana firman Allah dalam al-Qur’an:

dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa. (al-Maidah: 2)

dan sebagaimana sabda Nabi Muhammad SAW: “Allah akan memberikan pertolongan pada hamba-Nya selama dia membantu saudaranya” 4. urf harus benar-benar ada dan terjadi. Urf itu masih terus berlangsung dan dilaksanakan oleh masyarakat sampai adanya perbedaan tentangnya atau sampai masyarakat membutuhkan hukum baru yang lebih baik. Maka tidak boleh memberlakukan dan atau menggunakan urf yang telah melewati masanya atau telah tiada. Terkait dengan masalah sebelumnya, sebagaimana kita ketahui bersama masyarakat kita saat ini masih melakukan hal itu. Menurut Imam Suyuthi dalam kitab al-Asybah wan-Nadzair (96): urf merupakan indikasi dari masa lalu, bukan masa sekarang. Hal ini diperkuat oleh pendapat Ibnu Najim: Urf bukanlah sesuatu yang baru saja muncul.202 5. tidak adanya perbedaan dengan urf tersebut. Kaidah Urf yang menjadi dasar dalam muamalah adalah: sesuatu yang diketahui sebagai urf seperti disyaratkannya suatu syarat. jika dua orang berakad dan keduanya tidak menyinggung masalah urf yang berlaku dalam muamalah ini dengan tidak adanya pertentangan antara keduanya, baik itu berupa penolakan atau penegasan, maka akad tersebut tetap berlangsung. Jika kemudian menyinggung masalah urf dan kemudian mereka berbeda pandapat, maka akad ini menjadi batal. Menurut Izzu bin Abdussalam: jika syarat yang dibuat oleh orang yang berakad itu membedai urf namun maksudnya sama dengan urf, maka akad tesebut tetap sah misalnya andaikan ada orang yang menyewa pekerja memberi ketentuan bahwasanya dia harus bekerja tanpa diberi makan dan minum, tapi kemudian pekerja itu menyetujui syarat yang diberikan, maka akad tersebut tetap sah. Hubungannya dengan masalah yang kita hadapi saat ini, kabiasaan masyarakat kita saat ini beranggapan bahwasanya kado itu merupakan hutang, akan tetapi andaikan seseorang menjelaskan bahwasanya kado dia itu bukanlah hutang, maka pemberian tersebut menjadi
202 Ibid (100)

hadiah, meskipun bertentangan dengan adapt yang berlaku, dan pada waktu itu, urf tidak berlaku pada ketentuan yang satu ini. Biasanya, apakah masyarakat menganggap pemberian kado termasuk hutang atau tidak? Untuk konteks saat ini, sesuai dengan kebiasaan dan adat yang masih berlaku, pemberian kado dianggap hutang oleh masyarakat. Orang yang menerima kado tersebut di kemudian hari harus memberikan kado serupa kepada orang yang telah memberinya. Hal ini akan terus berlanjut, karena setiap orang yang memberikan kado namanya akan dicatat dan dikemudian hari ia akan diberi kado dan nama yang mengembalikan akan dicatat, kemudian dikembalikan lagi, begitu dan seterusnya. Orang yang telah memberikan kado kepada orang lain, kemudian orang yang memberikan kado itu mengadakan sebuah acara. Jika pada acara yang diadakannya orang yang telah diberi kado olehnya tidak memberinya kado, maka dia boleh mendatangi dan memintanya. Praktek seperti inilah yang kemudian terjadi di masyarakat kita, bahwasanya kado dianggap hutang. Jika demikian, hukum yang berlaku untuk hal tersebut adalah hukum hutang piutang sebagaimana telah disebutkan sebelumnya: 1. wajib mengembalikan kado 2. jika hal tersebut tidak dilaksanakan, maka dia mendapatkan dosa dan sanksi atau denda. 3. orang yang berhak menerima kado boleh mengajukan hal itu kepada hakim untuk menindak lanjutinya. Jika orang yang berhak menerima kado telah meninggal, maka hak tersebut akan menjadi milik walinya. Pada umumnya, orang mengembalikan kado biasanya melebihkan kado tersebut; baik nilai, takaran atau ukuran, maka apakah hukum penambahan tersebut? Ada dua pemaknaan untuk hal tersebut: Pertama: jika ditilik dari sisi hutang (jika dianggap hutang), maka lebihnya adalah kado atau hutang baru yang menjadi tanggungan orang yang menerima kado. Bisa jadi, dikemudian hari jumlah atau nilai kado tersebut akan semakin banyak dan semakin tinggi. Kedua: penambahan tersebut termasuk dalam kategori penambahan yang tidak disyaratkan, dan hal itu boleh-boleh saja dan tidak termasuk dalam kategori riba. ini masuk dalam

kategori membaguskan pembayaran sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya. Hal ini berdasarkan peristiwa dimana nabi Muhammad SAW memberikan seekor unta yang lebih tua kepada seseorang yang telah memberinya pinjaman berupa seekor unta, kemudian beliau bersabda: sebagus-bagusnya kamu sekalian adalah orang yang membaguskan pembayaran (hutang). Jika kita termasuk orang yang masyarakatnya menganggap kado sebagai hutang, dan kita ingin memberikan kado sebagai hadiah, maka hendaknya kita membisikkan dan menegaskannya kepada orang yang kita tuju bahwasanya ini adalah hadiah, sehingga dia terbebas dari tanggungan hutang. Dan kita berusaha merubah tradisi tersebut dengan tradisi lain yang lebih baik.

HUKUM JUAL BELI SECARA ANGSURAN BESERTA PENAMBAHAN DALAM HARGANYA Ada dua pendapat ulama tentang hal ini: Pertama: pendapat yang tidak memperbolehkan hal tersebut, diantaranya adalah: 1. Ibn Mas’ud RA: diriwayatkan oleh Abdurrazak: diceritakan oleh Israil dari Sammak Ibn Harb dari Abdurrahman bin Abdillah dari Abdullah: tidak boleh mengumpulkan dua akad menjadi satu, seperti halnya ketika seseorang berkata: secara tunai dengan ini dan ini, secara angsuran dengan ini203 2. Ibnu Sirin: diceritakan oleh Muammar dari Ayyub dari Ibn Sirin yang benci ketika seseorang berkata: saya menjual kepadamu dengan ini dan ini sampai satu atau dua bulan (diriwayatkan oleh Abdurrazak), dan dalam riwayat lain disebutkan: saya menjual kepadamu sepuluh dinar tunai atau lima belas dinar sampai suatu waktu204 3. Qasim bin Muhammad: menurut Imam Malik dalam kitab al-Muwattha’ (513): Qasim bin Muhammad ditanya tentang seseorang yang membeli barang kemudian dia ditawari apakah dia akan membayar dengan sepuluh dinar secara tunai atau lima belas dinar secara angsuran, dan beliau melarang hal tersebut. 4. Imam Malik berpendapat tentang seseorang yang membeli sebuah barang secara tunai seharga beberapa dinar atau secara angsuran dengan seekor kambing yang telah ditentukan kriterianya, kemudian dia harus memilih salah satunya: sesungguhnya hal itu adalah makruh namun tidak layak, karena Rasulullah SAW melarang mengumpulkan dua akad jual beli menjadi satu akad dan kasus diatas termasuk dalam ketentuan tersebut. Menurut saya: landasan orang yang tidak membolehkan angsuran adalah hadits Nabi SAW yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah: “barang siapa yang mengumpulkan dua akad jual beli menjadi satu, maka dia sendirilah yang menanggung kerugiannya atau dia telah melakukan riba”.205 Dan hadits Ibnu Mas’ud: Rasulullah SAW melarang mengumpulkan dua akad jual beli menjadi satu.206
203 Shahih, al-Mushannaf (14633), diriwayatkan oleh Ibn Abi Syaibah (5/54) 204 Shahih, al-Mushannaf (14268), diriwayatkan oleh Muammar dari Ayyub. Khusus dari riwayat al-Bishrin atsar ini dhaif tetapi disepakati oleh Abdul Majid dari Ibn Abi Syaibah (5/55) 205 Hasan, diriwayatkan oleh Ahmad (2/432), an-Nasai (bab Buyu’/295), Abu Daud (3961), Ibn Abi Syaibah (5/55), at-Turmudzi (1231), al-Baihaqi (5/343), kesemuanya melalui riwayat Muhammad bin Umar dari Abi Salamah dari Abu Hurairah dengan sanad yang hasan. 206 Hasan, diriwayatkan oleh Ahmad (1/398), Ibn Abi Syaibah (5/55) dari perkataan Ibn Mas’ud

Ibnu Mas’ud dan Sammak bin Harb juga menafsirkan hadits diatas: Hadits tersebut menjelaskan tentang seseorang yang menjual sesuatu dan dia berkata: jika membayar tunai, maka harganya sekian, dan jika angsuran, maka harganya sekian. Menurut saya: illat dalam jual beli dengan cara tersebut adalah ketidak jelasan harga barang yang seharusnya disepakati. 5. al-Khatthabi dalam kitab Ma’alim as-Sunan syarah dari kitab Sunan Abi Daud (3/739): pelarangan dari hadits di atas berupa dua bentuk: a. ketika penjual berkata: saya menjual baju ini kepadamu. Sepuluh dinar jika dibayar tunai dan lima belas dinar jika angsuran. Hal ini tidak diperbolehkan karena tidak adanya kejelasan, harga manakah yang akan dipilih. Jika akad itu tetap terjadi sedangkan harga barang itu tidak jelas, maka akad tersebut tidak sah. b. ketika penjual berkata: saya menjual budak ini dengan harga dua puluh dinar jika dibayar tunai, jika dibayar angsuran, maka kamu harus menjual budakmu kepadaku dan kamu harus membayarku sepuluh dinar. Jika akad itu tetap terjadi, maka separuh harga budak pembeli hilang, dan jika demikian, maka akad ini tidak sah. 6. Menurut Thawuus: rusaknya jual beli ini tidak diragukan lagi, dan jika dua pilihan itu belum dipilih sampai esok harinya di tempat akad, maka jual beli itu benar-benar rusak dan tidak ada perbedaan tentangnya. Menurut saya, ulama tidak memperbolehkan akad ini jika antara penjual dan pembeli tidak dicapai kesepakatan dan pembeli tidak memilih salah satu pilihan atau tawaran yang diberikan penjual. Kedua: pendapat yang memperbolehkan hal tersebut –ini adalah pendapat mayoritas ulama-. Mereka adalah: 1. Ibn Abbas: diriwayatkan oleh Ibn Abi Syaibah: seorang penjual boleh berkata ketika akad, jika dibayar tunai, harganya sekian, dan jika diangsur, maka harganya sekian. Akan tetapi, sebelum mereka berpisah, mareka telah mencapai suatu kesepakatan.207 2. Thawus bin Kisan: diceritakan oleh Hafsh bin Ghiyats dari Laits dari Thawus, juga diriwayatkan oleh Waki’dari Laits dari Thawus: boleh-boleh saja, ketika seorang penjual berkata kepada pembeli, jika dibayar tunai, harga baju ini sekian, dan jika diangsur, harganya sekian. Setelah itu, pembelilah yang berhak menentukan harga
207 Shahih, al-Mushannaf (5/45)

manakah yang akan dia pilih. diriwayatkan oleh Abdurrazak: Diceritakan oleh Muammar dari Thawus dari Ayahnya: boleh-boleh saja, ketika penjual berkata: “saya menjual baju ini seharga sepuluh dinar dalam jangka waktu satu bulan, dan dua puluh dinar dalam jangka waktu dua bulan”. Jika pembeli telah menentukan harga mana yang dia pilih sebelum mereka berpisah dari tempat akad, maka akad tersebut diperbolehkan.208 3. Atha’ bin Abi Rabbah: seorang penjual boleh berkata kepada pembeli: “baju ini saya jual sekian jika tunai, jika diangsur, maka harganya sekian” kemudian pembeli menentukan sendiri harga yang akan ia sepakati,209 sebagaimana telah diceritakan oleh Waki’ dari al-Auza’I dari Atha’. Hal ini juga diceritakan oleh Yahya bin Abi Zaidah dari Ibn Juraij dari Atha’.210 4. Hakam bin ‘Utaibah dan Hammad dan Ibrahim an-Nakha’i: dari Ibn Abi Syaibah: diceritakan oleh Hasyim Ibn al-Qasim dari Syu’bah: saya bertanya kepada Hakam dan Hammad tentang seseorang yang membeli sesuatu dari orang lain, dan orang tersebut (penjual) berkata: jika dibayar tunai, maka harganya sekian, dan jika diangsur, maka harganya sekian. Kemudian beliau menjawab: “tidak apa-apa jika si pembeli telah cenderung kepada salah satu harga yang telah ditawarkan”. Syu’bah juga menyebutkan apa yang diriwayatkan oleh Mughirah: Ibrahim an-Nakha’I tidak menemukan adanya kebolehan jika mereka telah berpisah dari tempat akad dan pembeli belum menentukan pilihan.211 5. az-Zuhry dan Qatadah: Muammar berkata: az-Zuhri dan Qatadah tidak menemukan adanya kebolehan jika mereka telah berpisah dari tempat akad dan pembeli belum menentukan pilihan.212 6. ats-Tsauri: jika penjual berkata kepada pembeli “saya menjual barang ini kepadamu. Jika dibayar tunai, maka harganya sekian dan jika diangsur, maka harganya sekian”, kemudian pembeli memilih salah satunya, maka hal tersebut adalah khiyar (pilihan). Jika pembeli tidak menentukan pilihan dan transaksi masih dilanjutkan, maka ini termasuk dalam kategori mengumpulkan dua akad jual beli dalam satu akad yang tidak diperbolehkan.
208 Shahih, Ibn Abi Syaibah (5/55), salah satu periwayatnya adalah Laits bin Abi Salim yang dhaif, Abdurrazak (14626) dengan sanad yang shahih 209 Shahih, al-Mushannaf (5/55) 210 Ibid (5/55) 211 Ibid (5/55) 212 Ibid (14630)

7. Abu Hanifah dan pengikutnya: jika penjual berkata kepada pembeli “jika dibayar tunai, maka harganya sekian dan jika diangsur, maka harganya sekian”, kemudian pembeli memilih salah satu harga yang ditawarkan, maka transaksi itu diperbolehkan.213 8. Imam Malik: beliau berpendapat tentang penjual yang berkata kepada pembeli “saya menjual barang ini kepadamu. Jika dibayar tunai, maka harganya sepuluh dinar dan jika diangsur, maka harganya lima belas dinar”, jika penjual dan pembeli berniat untuk menggagalkan transaksi itu, maka transaksi itu tidak terjadi. 9. al-Auza’i: Walid bin Muslim berkata: saya bertanya kepada al-Auza’I tentang hadits yang tidak membolehkan penawaran yang diberikan oleh penjual, kemudian beliau menjawab: “saya lebih sepakat dengan pendapat Atha’ bin Abi Rabbah yang memperbolehkan penjual memberikan penawaran harga kepada pembeli”.214 10. as-Syafi’i: menurut saya (penulis), as-Syafi’I lebih banyak memberikan toleransi dalam transaksi jual beli jika telah tercapai sebuah kesepakatan antara penjual dan pembeli. Maka dia membolehkan seseorang membeli barang secara angsuran kemudian dia menjual barang tersebut kepada penjual lain dengan harga yang lebih rendah tapi secara tunai berdasarkan firman Allah dalam al-Qur’an:

Padahal Allah Telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba. (al-Baqarah: 275)

Menurut beliau dalam kitab al-Umm: orang yang membeli sebuah barang secara angsuran boleh menjualnya kepada pembeli lain secara tunai dengan harga yang lebih murah dan dia tetap menawarkan pembelian secara angsuran kepada pembelinya. Beliau berbicara tentang hal tersebut berdasarkan pada atsar Aisyah dalam kisah Zaid bin Arqam. Abu Umar: as-Syafi’I memberi contoh tentang pengumpulan dua akad yang dilarang Rasulullah SAW sebagaimana diceritakan oleh al-Muzanni dan Arrabi’ dan az-Za’farani: saya menjual seorang budak kepadamu seharga seribu dinar tunai atau dua ribu jika diangsur sampai setahun. Dalam hal ini, pembeli tidak memilih keduanya. 11. Ibn Taimiyah: beliau ditanya tentang orang yang mempunyai seekor kuda yang ia jual seharga 180 dirham dan ada orang lain yang ingin membeli kuda tersebut 300 dirham yang diangsur selama tiga bulan, apakh hal tersebut boleh atau tidak?
213 Ibn Abdul Jabbar, al-Istidzkar (20/178) 214 Sumber atsar tersebut telah diungkapkan pada bab sebelumnya

Beliau menjawab: Alhamdu Lillah, jika ada orang yang ingin membeli kuda tersebut untuk dimanfaatkan atau akan dijual kembali, maka penjual itu boleh menjualnya secara angsuran (kredit). Abu Umar: penjelasan hal diatas adalah jika pembeli tidak memilih tawaran yang ditawarkan oleh penjual, maka transaksi itu tidak diperbolehkan karena tidak tercapainya kesepakatan di kedua belah pihak. Ringkasan: Menurut saya, mayoritas ulama sepakat bahwasanya jika pihak pembeli telah setuju dan memilih salah satu penawaran, maka transaksi tersebut diperbolehkan. Sebagaimana yang telah diungkapkan oleh Imam al-Khatthabi: jika pembeli telah memilih salah satu dari yang ditawarkan, maka transaksi tersebut diperbolehkan dan tidak ada perbedaan tentangnya. Ibn Mas’ud , dan Ibn Sirin juga sependapat akan hal itu dan mereka juga membolehkan transaksi jual beli secara kredit yang berkaitan dengan harga barang tersebut di pasaran, kesepakatan ini disebabkan oleh universalitas syariat sebagaimana firman Allah SWT:

Padahal Allah Telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba. (al-Baqarah: 275)

kecuali dengan jalan perniagaan yang berlaku dengan suka sama-suka di antara kamu. (an-Nisa’: 29).

Sedangkan hadits Nabi SAW tentang larangan mengumpulkan dua akad, dan hal ini dianalogikan berbeda. Ini adalah pendapat mayoritas ulama fiqh sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya.

PENUTUP Semua yang saya jeklaskan dalam buku ini adalah berkat taufik dan hidayah dari Allah SWT. Masalah yang terjadi antara pemberi hutang dan yang berhutang, cara membayarnya, dan semua masalah yang berkaitan dengan hutang saya paparkan dengan jelas dan rinci menurut metode ahli hadits, pendapat ulama klasik, para Imam dan pengikut-pengikut mereka. Saya hanya mencantumkan hadits yang mempunyai ketetapan sanad dari ahli hadits. Oleh karena itu, jika hadits yang saya cantumkan dhaif (lemah), maka saya juga menjelaskan letak kedhaifannya. Saya menyadari bahwa masalah-masalah yang berkaitan dengan hutang tidak semuanya terdapat dalam buku ini. Tetapi saya yakin bahwa masalah-masalah yang saya angkat dalam buku ini belum pernah terjadi sebelumnya menurut babnya masing-masing, dan saya sangat berharap bahwa masalah-masalah seputar hutang piutang yang saya tulis, dapat membantu tuntutan kebutuhan yang dialami umat islam. Pada akhirnya, mudah-mudahan kesejahteraan dan keselamatan selalu mengalir keharibaan Nabi besar Muhammad, keluarga dan sahabatnya. Segala puji bagi Allah Tuhan semesta alam. Yogyakarta, 23 Maret 2007. 21.35

DAFTAR ISI Kata pengantar Pengantar penulis Pendahuluan Definisi dain Keutamaan memberi hutang Keutamaan bertransaksi dengan benardan penangguhan hutang bagi orang yang kesulitan Orang yang menangguhkan pembayaran hutangbagi orang yang kesulitan, maka allah akanmemberinya naungan pada hari tidak ada naungan kecuali naungan-nya Jaminan ampunan dosa bagi orang yang meringankan nominal hutangnya orang yang kesulitan Allah akan memberi kemudahan di dunia dan akhirat bagi orang yang memberi kemudahan bagi orang lain Memohon kepada allah agar dijauhkan dari banyak hutang Memohon perlindungan kepada allah dari hutang Rasulullah enggan menshalati mayit yang masih memiliki tanggungan hutang Berhati-hati terhadap kelalaian tidak melunasi hutang Semua dosa syuhada’ diampuni kecuali hutangnya Balasan di dunia dan akhirat bagi orang yang tidak melunasi hutang Balasan bagi orang yang berkemampuan melunasi hutang tetapi tidak melaksanakannya Orang yang paling baik adalah orang yang melunasi hutangnya dengan cara yang baik Rasulullah mengasihi orang yang memiliki tanggungan hutang Doa agar diberi kemampuan melunasi hutang Orang yang bermaksud membayar hutang maka allah akan memenuhi maksudnya Allah memberkati harta seseorang yang saleh dan bersungguh-sungguh bekerja demi membayar hutangnya Wajib membayar hutang Bersedekah pada orang yang memiliki hutang agar dapat segera melunasinya Melunasi hutang yang menjadi tanggungan mayit sebelum melaksanakan wasiatnya Orang yang diberi wasiat membayar hutang si mayit tanpa persetujuan ahli warisnya Hutang yang menghasilkan keuntungan adalah riba Atsar-atsar (perkataan sahabat) yang menjelaskan tentang hutang yang berbunga: Pendapat para imam menyangkut bab di atas Boleh mengembalikan lebih dari hutang yang sebenarnya jika tidak ada pensyaratan sebelumnya Boleh meringankan nominal hutang Riba Siksa kubur bagi orang yang melakukan praktik riba: Siksa bagi orang yang makan harta riba pada hari kiamat: Membayar sebagian hutang dan memajukan pembayaran Penegasan hutang Argumentasi ulama fiqh yang mengatakan ketidakbolehan seorang saksi dan sumpah serta sebab dasar hadits yang meragukan Rahn (gadai) Jual beli hutang dengan hutang Salam Hiwalah Kafalah

Suftajah Permasalahan dalamjual beli menggunakan cek Hukum jual beli secara angsuran beserta penambahan dalam harganya Penutup

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->