Pd T-05-2005-A

i
Daftar
Rsni 2006
BACK
Prakata



Pedoman penyelidikan geoteknik untuk fondasi bangunan air ini dibahas dalam Gugus
Kerja Bidang Geoteknik, Bendungan dan Waduk pada Sub Panitia Teknik Sumber Daya Air
yang berada di bawah Panitia Teknik Konstruksi dan Bangunan Sipil, Departemen Pekerjaan
Umum.

Penulisan pedoman ini mengacu pada Pedoman BSN No. 8 Tahun 2000 dan ketentuan
terkait lainnya yang berlaku serta telah mendapat masukan dan koreksi dari ahli bahasa.

Perumusan pedoman ini dilakukan melalui proses pembahasan pada Gugus Kerja,
Prakonsensus dan Konsensus yang melibatkan para narasumber dan pakar dari berbagai
instansi terkait sesuai dengan Pedoman BSN No.9 Tahun 2000. Konsensus pedoman ini
dilaksanakan oleh Panitia Teknik Konstruksi dan Bangunan Sipil, Departemen Pekerjaan
Umum pada tanggal 7 Oktober 2004 di Puslitbang Sumber Daya Air.

Pedoman penyelidikan geoteknik untuk fondasi bangunan air terdiri atas 3 volume, yaitu
Volume I Penyelidikan pendahuluan, metode pengeboran dan deskripsi log bor.
Volume II Pengujian lapangan dan laboratorium.
Volume III Interpretasi hasil uji dan penyusunan laporan penyelidikan geoteknik.

Pedoman ini merupakan volume III dari judul utama Pedoman penyelidikan geoteknik untuk
fondasi bangunan air yang menguraikan secara lengkap prinsip-prinsip interpretasi hasil uji
tanah yang meliputi komposisi dan klasifikasi, kepadatan, riwayat kekuatan dan tegangan,
parameter kekakuan dan deformasi, sifat-sifat aliran dan material lain; interpretasi hasil uji
batuan yang meliputi sifat fisik, kuat geser lapangan, klasifikasi, tegangan, modulus massa
batuan dan parameter lainnya, dan daya dukung fondasi; teknik penyusunan laporan hasil
penyelidikan geoteknik yang meliputi jenis laporan, penyajian data dan persyaratan; serta
pertimbangan penyusunan kontrak penyelidikan geoteknik yang meliputi spesifikasi
pengeboran dan pengujian.

Pedoman ini mengacu pada guidelines “Manual on Subsurface Investigations” (FHWA NHI-
01-031) dan standar serta pedoman terkait lainnya yang berlaku, seperti dijelaskan dalam
Pasal 2 Acuan normatif.

Pedoman ini dimaksudkan untuk mengetahui kondisi geoteknik di sekitar lokasi proyek yang
akan dibangun mencakup karakteristik perlapisan tanah dan batuan serta ketersediaan
bahan bangunan secara terperinci, yang akan digunakan untuk keperluan analisis
stabilitas, penurunan, dan daya dukung fondasi bangunan air dalam mendesain
bangunan air dan fondasinya. Oleg karena iru pedoman ini diharapkan dapat bermanfaat
bagi tenaga ahli geologi, tenaga ahli geoteknik dalam pekerjaan desain dan pelaksanaan,
dan semua pihak (instansi) yang terkait dalam pembangunan bangunan air.


Pd T-05-2005-A
ii
Daftar
Rsni 2006
BACK
Pendahuluan



Dalam membangun infra struktur bangunan air biasanya perlu dilakukan beberapa tahapan
kegiatan, yaitu mulai dari survei dan investigasi, desain, land aquisition dan konstruksi
bangunan, serta dilanjutkan dengan operasi dan pemeliharaan, yang dikenal dengan istilah
SIDLACOM. Salah satu tahapan penting yang perlu dilakukan adalah survei dan investigasi
untuk mendesain bangunan dan fondasinya, agar konstruksi bangunan dapat memikul
beban-beban secara aman tanpa mengalami deformasi yang berlebihan, sehingga
bangunan berada dalam keadaan aman dan stabil selama umur layannya.

Pada umumnya sistem bangunan air dibangun di atas permukaan tanah dan batuan, dan
kadang-kadang juga menggunakan bahan tanah dan batuan sebagai bahan konstruksi.
Sehubungan dengan keberhasilan konstruksi sistem bangunan air tersebut, tidak terlepas
dari dukungan kondisi geoteknik di sekitar lokasi proyek yang akan dibangun. Karakteristik
perlapisan tanah dan batuan serta ketersediaan bahan bangunan perlu diselidiki secara
terperinci.

Sampai sekarang suatu pedoman cara-cara penyelidikan geoteknik yang berlaku umum
untuk fondasi bangunan air belum ada di Indonesia, sehingga perlu disusun pedoman
dengan judul utama “Pedoman penyelidikan geoteknik untuk fondasi bangunan air”,
yang terdiri atas 3 volume, yaitu
Volume I Penyelidikan pendahuluan, metode pengeboran dan deskripsi log bor.
Volume II Pengujian lapangan dan laboratorium.
Volume III Interpretasi hasil uji dan penyusunan laporan penyelidikan geoteknik.

Pedoman ini merupakan volume III dari judul utama Pedoman penyelidikan geoteknik untuk
fondasi bangunan air yang menguraikan secara lengkap prinsip-prinsip interpretasi hasil uji
tanah yang meliputi komposisi dan klasifikasi, kepadatan, riwayat kekuatan dan tegangan,
parameter kekakuan dan deformasi, sifat-sifat aliran dan material lain; interpretasi hasil uji
batuan yang meliputi sifat fisik, kuat geser lapangan, klasifikasi, tegangan, modulus massa
batuan dan parameter lainnya, dan daya dukung fondasi; teknik penyusunan laporan hasil
penyelidikan geoteknik yang meliputi jenis laporan, penyajian data dan persyaratan; serta
pertimbangan penyusunan kontrak penyelidikan geoteknik yang meliputi spesifikasi
pengeboran dan pengujian.

Pedoman ini mengacu pada guidelines “Manual on Subsurface Investigations” (FHWA NHI-
01-031) dan standar serta pedoman terkait lainnya yang berlaku, sehingga pedoman ini
diharapkan sebagai acuan yang lengkap dan komprehensif. Namun dalam implementasinya
di lapangan perlu disesuaikan dengan kebutuhan, misalnya pelaksanaan penyelidikan perlu
disesuaikan dengan kondisi lapangan, tahapan pekerjaan apakah melingkupi studi
pendahuluan, pradesain, desain atau review desain, serta harus memenuhi standar
minimum penyelidikan geoteknik.
Pd T-05-2005-A
1 dari 112
Daftar
Rsni 2006
BACK
Pedoman penyelidikan geoteknik untuk fondasi bangunan air
Volume III : Interpretasi hasil uji dan penyusunan laporan penyelidikan geoteknik



1 Ruang lingkup
Pedoman ini menetapkan interpretasi hasil uji dan penyusunan laporan penyelidikan geoteknik
untuk keperluan penyelidikan geoteknik untuk fondasi bangunan air. Dalam pedoman ini diuraikan
prinsip-prinsip sebagai berikut.
a) Interpretasi hasil uji tanah yang meliputi komposisi dan klasifikasi, kepadatan, riwayat kekuatan
dan tegangan, parameter kekakuan dan deformasi, sifat-sifat aliran dan material lainnya.
b) Interpretasi hasil uji batuan yang meliputi sifat fisik, kuat geser lapangan, klasifikasi, tegangan,
modulus massa batuan dan parameter lainnya, serta daya dukung fondasi.
c) Teknik penyusunan laporan hasil penyelidikan geoteknik yang meliputi jenis laporan, penyajian
data, dan persyaratan.
d) Pertimbangan penyusunan kontrak penyelidikan geoteknik yang meliputi spesifikasi pengeboran
dan pengujian.

2 Acuan normatif
SNI 03-1742, Cara uji kepadatan ringan untuk tanah.
SNI 03-1743, Cara uji kepadatan berat untuk tanah.
SNI 03-1964, Cara uji berat jenis tanah.
SNI 03-1965, Cara uji kadar air tanah.
SNI 03-1966, Cara uji batas plastis.
SNI 03-1967, Cara uji batas cair dengan alat Casagrande.
SNI 03-2393, Tata cara pelaksanaan injeksi semen pada batuan.
SNI 03-2411, Cara uji lapangan tentang kelulusan air bertekanan.
SNI 03-2417, Cara uji keausan agregat dengan mesin abrasi Los Angeles.
SNI 03-2435, Cara uji laboratorium tentang kelulusan air untuk contoh tanah.
SNI 03-2436, Tata cara pencatatan dan interpretasi hasil pemboran inti .
SNI 03-2437, Cara uji laboratorium untuk menentukan parameter sifat fisika pada contoh batu.
SNI 03-2455, Cara uji triaksial A.
SNI 03-2486, Cara uji laboratorium kuat tarik benda uji batu dengan cara tidak langsung.
SNI 03-2812, Cara uji konsolidasi tanah satu dimensi.
SNI 03-2813, Cara uji geser langsung tanah terkonsolidasi dengan drainase.
SNI 03-2814, Cara uji indek kekuatan batuan dengan beban titik.
SNI 03-2824, Cara uji geser langsung batu.
SNI 03-2825, Cara uji kuat tekan uniaxial batu.
SNI 03-2826, Cara uji modulus elastisitas batu pada tekanan sumbu tunggal.
SNI 03-2827, Cara uji lapangan dengan alat sondir.
Pd T-05-2005-A
2 dari 112
Daftar
Rsni 2006
BACK
SNI 03-2849, Tata cara pemetaan geologi teknik lapangan.
SNI 03-3405, Cara uji sifat dispersif tanah dengan alat pinhole.
SNI 03-3420, Cara uji geser langsung tanah tidak terkonsolidasi tanpa drainase.
SNI 03-3422, Cara uji batas susut tanah.
SNI 03-3423, Cara uji analisis ukuran butir dengan alat hydrometer.
SNI 03-3637, Cara uji berat isi tanah berbutir halus dengan cetakan benda uji.
SNI 03-3638, Cara uji kuat tekan bebas tanah kohesif.
SNI 03-3405, Cara uji sifat dispersif tanah dengan alat pinhole.
SNI 03-3406, Cara uji sifat tahan lekang batu.
SNI 03-3407, Cara uji sifat kekekalan bentuk agregat terhadap larutan natrium sulfat dan
magnesium sulfat.
SNI 03-3422, Cara uji analisis ukuran butir tanah dengan alat hydrometer.
SNI 03-4813, Cara uji triaksial untuk tanah kohesif dalam keadaan tanpa konsolidasi dan drainase.
SNI 03-4148, Cara uji penetrasi dengan SPT.
SNI 13-6424, Cara uji potensi pengembangan atau penurunan satu dimensi tanah kohesif.
FHWA NHI-01-031, Manual on subsurface investigations.
ASTM D 422-63, Test method for particle size analysis of soils.
ASTM D 512, Test method for chloride content.
ASTM D 698-78, Test methods for moisture-density relations and soil aggregate mixtures using 5.5-
lb (2.49-kg) rammer and 12-in (305-mm) drop.
ASTM D 854-83, Test method for specific gravity of soils.
ASTM D 1125, Test method for resistivity.
ASTM D 1140-54, Test method for amount of material in soils finer than the no. 200 (75µm).
ASTM D 1557-78, Test methods for moisture-density relations and soil aggregate mixtures using 10-
lb (4.54-kg) rammer and 18-in (457-mm) drop.
ASTM D 1586-84, Standard method for penetration test and split barrel sampling of soils.
ASTM D 1883-87, Test method for CBR (California Bearing Ratio) of laboratory-compacted soils.
ASTM D 2166-85, Test method for unconfined compressive strength of cohesive soil.
ASTM D 2434, Test method for permeability of granular soils (constant head).
ASTM D 2435-90, Test method for one dimensional consolidation properties of soils.
ASTM D 2487-90, Test method for classification of soils for engineering purposes.
ASTM D 2488-90, Practice for description and identification of soils (visual-manual procedure).
ASTM D 2573-72, Test method for field vane shear test in cohesive soil.
ASTM D 2664-86, Test method for triaxial compressive strength of undrained rock core specimens
without pore pressure measurements.
ASTM D 2845-90, Test method for laboratory determination of pulse velocities and ultrasonic elastic
constants of rock.
ASTM D 2850-87, Test method for unconsolidated, undrained compressive strength of cohesive
Pd T-05-2005-A
3 dari 112
Daftar
Rsni 2006
BACK
soils in triaxial compression.
ASTM D 2938-86, Test method for unconfined compressive strength of intact core specimens.
ASTM D 2974-87, Test methods for moisture, ash, and organic matter of peat and other organic
soils.
ASTM D 2976-71, Test method for pH of peat materials.
ASTM D 3080-90, Test method for direct shear test of soils under consolidated drained conditions.
ASTM D 3148-86, Test method for elastic moduli of intact rock core specimens in uniaxial
compression.
ASTM D 3385-88, Infiltration rate of soils in field using double ring infiltrometers.
ASTM D 3550-84, Practice for ring-lined barrel sampling of soils.
ASTM D 3936, Test method for direct tensile strength of intact rock core specimens.
ASTM D 3967-86, Test method for splitting tensile strength of intact core specimens.
ASTM D 4015-87, Test methods for modulus and damping of soils by the resonant column method.
ASTM D 4043, Various field methods for permeability testing.
ASTM D 4044, Slug tests.
ASTM D 4050, Pumping tests.
ASTM D 4220-89, Practices for preserving and transporting soil samples.
ASTM D 4230, Test method for sulfate content.
ASTM D 4341-84, Test method for creep of cylindrical hard rock core specimens in uniaxial
compression.
ASTM D 4318-84, Test method for liquid limit, plastic limit and plasticity index if soils.
ASTM D 4405-84, Test method for creep of cylindrical soft rock core specimens in uniaxial
compression.
ASTM D 4428-84, Test method for crosshole seismic test.
ASTM D 4429-84, Test method for bearing ratio of soils in place.
ASTM D 4525-90, Test method for permeability of rocks by flowing air.
ASTM D 4543-85, Standard practice for preparing rock specimens and determining. dimensional
and shape tolerances.
ASTM D 4544-86, Practice for estimating peat deposit thickness.
ASTM D 4546-90, Test methods for one-dimensional swell or settlement potential of cohesive soils.
ASTM D 4645-87, Test method for determination of the in-situ stress in rock using the hydraulic
fracturing method.
ASTM D 4630-86, Test method for determining transmissivity and storativity of low-permeability
rocks by in situ measurements using the constant head injection test.
ASTM D 4631-86, Test method for determining transmissivity and storativity of low-permeability
rocks by in situ measurements using the pressure pulse technique.
ASTM D 4644-87, Test method for slake durability of shales and similar weak rocks.
ASTM D 4648-87, Test method for laboratory miniature vane shear test for saturated fine-grained
clayey soil.
Pd T-05-2005-A
4 dari 112
Daftar
Rsni 2006
BACK
ASTM D 4700, General methods of augering, drilling, & site investigation.
ASTM D 4719-87, Test method for pressurmeter testing in soils.
ASTM D 4750-87, Test method for determining subsurface liquid levels in borehole or monitoring
well (observation well).
ASTM D 4767-88, Test method for consolidated-undrained triaxial compression test on cohesive
soils.
ASTM D 4959-89, Test method for determination of water (moisture) content of soil by direct heating
method.
ASTM D 4972-89, Test method for pH of soils.
ASTM D 5079-90, Practices for preserving and transporting rock core samples.
ASTM D 5084, Test method for measurement of hydraulic conductivity of saturated porous materials
using a flexible wall permeameter.
ASTM D 5092-90, Design and installation of ground monitoring wells in aquifers.
ASTM D 5093, Field measurement of infiltration rate using double-ring infiltrometer with a sealed-
inner ring.
ASTM D 5126-90, Comparison of field methods for determining hydraulic conductivity in the vadose
zone.
ASTM D 5333, Test method for measurement of collapse potenstial of soils.
ASTM D 5407, Test method for elastic moduli of intact rock core in triaxial compression.
ASTM D 5607, Laboratory direct shear strength test for rock specimens under constant normal
stress.
ASTM D 5731, Test method for determining point load index (I
s
).
ASTM D 5777, Guide for seismic refraction method for subsurface investigation.
ASTM D 5778, Test method for electronic cone penetration testing of soils.
ASTM D 6635, Procedures for flat dilatometer testing in soils.
ASTM G 51, Test method for pH of soil for use in corrosion testing.
ASTM G 57-78, Method for field measurement of soil resistivity using Wenner Four- Electrode
method.

3 Istilah dan definisi

3.1 Bahan injeksi adalah bahan yang diinjeksikan, berupa campuran semen (PC) dan air serta
bahan tambahan dengan perbandingan tertentu.

3.1.1 Bahan pembanding adalah beton dengan proporsi campuran yang sama tanpa
menggunakan bahan tambahan.

3.1.2 Bahan tambahan adalah suatu bahan berupa bubukan atau cairan yang dibubuhkan ke
dalam campuran beton selama pengadukan dalam jumlah tertentu untuk mengubah sifat beton.
3.1.3 Injeksi (grouting) adalah suatu proses pemasukan cairan dengan/tanpa tekanan ke dalam
rongga, rekahan dan kekar pada batuan, yang dalam waktu tertentu cairan tersebut akan menjadi
padat dan keras secara fisika maupun kimiawi.

Pd T-05-2005-A
5 dari 112
Daftar
Rsni 2006
BACK
3.1.4 Injeksi semen khusus (grouting khusus) adalah suatu teknik penginjeksian semen dengan
menggunakan campuran khusus, yang dilakukan di luar rencana untuk mengatasi masalah tertentu
pada waktu pelaksanaan.

3.2 Bangunan air (utama) adalah semua bangunan yang dibangun di sungai dan di sepanjang
sungai atau aliran air termasuk bendung, untuk membelokkan air ke dalam jaringan saluran irigasi
agar dapat digunakan untuk keperluan irigasi; biasanya dilengkapi dengan kantong sedimen agar
bisa mengurangi kandungan sedimen berlebihan serta memungkinkan untuk mengukur debit air
yang masuk.

3.2.1 Bangunan sungai adalah bangunan air di sungai yang berfungsi untuk berbagai keperluan.

3.2.2 Jenis-jenis bangunan air (utama) adalah bangunan pengambilan, bangunan pembilas
(penguras), kantong sedimen, bangunan sungai, dan bangunan-bangunan pelengkap lainnya.

3.2.3 Bendungan adalah bangunan air yang berfungsi sebagai penahan air, jenis urugan atau jenis
lainnya, yang dapat menampung air baik secara alamiah maupun buatan, termasuk fondasi,
ebatmen, bangunan pelengkap dan peralatannya yang mercunya tidak dilimpasi aliran air.

3.2.4 Tubuh bendungan adalah bagian bendungan yang menahan, menampung dan meninggikan
air yang berdiri di atas fondasi bendungan, selanjutnya dalam buku ini disebut bendungan.
Bendungan dibagi atas :
Bendungan tinggi, bila tinggi tubuh bendungan H > 60m,
Bendungan dengan risiko besar
H>15 m dan volume tampungan waduk >100.000 m
3

H<15 m, bila
a) volume tampungan waduk >500.000m
3
, atau
b) debit desain Q
d
>2000 m
3
/s, atau
c) fondasi tanah lunak.

3.2.5 Bendung tetap adalah bangunan air yang dibangun melintang sungai atau sudetan sungai
untuk meninggikan elevasi muka air sehingga air sungai dapat disadap dan dialirkan secara
gravitasi ke daerah yang membutuhkannya.

3.2.6 Bendung gerak adalah bangunan air yang dibangun di sungai, antara lain terdiri atas ambang
bergerak sehingga muka air banjir dapat diatur elevasinya. Bangunan ini berfungsi untuk
meninggikan elevasi muka air sungai agar air sungai dapat disadap untuk berbagai keperluan dan
atau untuk kepentingan lain.

3.2.7 Bangunan pelengkap adalah bangunan-bangunan yang akan ditambahkan pada bangunan
utama untuk keperluan pengukuran debit dan muka air sungai, pengoperasian pintu, peralatan
komunikasi, jembatan di atas bendung, atau instalasi tenaga air mikro/mini.

3.2.8 Bangunan pembilas (penguras) adalah bangunan kelengkapan bendung yang terletak di
dekat bendung dan menjadi satu kesatuan dengan bangunan Pengambilan; dapat dengan
undersluice atau tanpa undersluice serta berfungsi untuk mencegah masuknya angkutan sedimen
dasar ke saluran irigasi.

3.2.9 Bangunan pengambilan adalah bangunan kelengkapan bendung yang berfungsi sebagai
penyadap aliran sungai, mengatur pemasukan air dan sedimen serta menghindarkan sedimen
dasar dan sampah masuk ke bangunan pengambilan.

Pd T-05-2005-A
6 dari 112
Daftar
Rsni 2006
BACK
3.2.10 Kantong sedimen adalah bangunan yang biasanya ditempatkan di hilir pengambilan, untuk
mengendapkan fraksi-fraksi sedimen yang lebih besar dari fraksi lanau dan lempung (0,06 – 0,07
mm).

3.3 Batuan (rock) adalah gabungan atau kumpulan mineral alamiah padat yang terbentuk
sebagai massa yang besar atau pecahannya, atau agregat bentukan alamiah dari mineral berupa
massa yang besar atau pecahan-pecahannya.

3.3.1 Batuan beku (igneous rock) adalah batuan yang terbentuk oleh kristalisasi massa lelehan
batu yang berasal dari gunung berapi.

3.3.2 Batuan malihan (metamorphic rock) adalah batuan yang terbentuk sebagai akibat tegangan
geser yang amat besar yang terjadi pada proses orogenik yang dipengaruhi panas dan air. Hal ini
menyebabkan aliran plastis atau akibat panas batuan leleh yang masuk ke batuan kekar dan
perubahan-perubahan secara kimiawi serta menghasilkan mineral-mineral baru.

3.3.3 Batuan sedimen (sedimentary rock) adalah batuan yang terbentuk dari proses
pengendapan yang diangkut dan diendapkan. Material ini kadang-kadang sebagai hujan kimia atau
sisa-sisa tanaman dan binatang yang telah membeku akibat panas dan tekanan yang amat besar
atau reaksi kimia.

3.3.4 Batuan utuh adalah batuan atau blok batuan atau potongan batuan yang tidak mengalami
kerusakan. Sifat-sifat hidraulik dan mekaniknya dapat dikontrol dengan uji karakteristik petrografi
material yang dapat menunjukkan batuan segar atau batuan terurai. Klasifikasinya dinyatakan
dengan uji kekuatan tekan aksial tunggal dan uji kekerasan.

3.4 Data geologi adalah kondisi umum permukaan tanah daerah yang bersangkutan, dengan
keadaan geologi lapangan, kedalaman lapisan keras, sesar, kelulusan tanah, bahaya gempa bumi,
dan parameter yang harus digunakan.

3.4.1 Pemetaan geologi adalah Pekerjaan pengumpulan data geologi terperinci setempat (insitu)
secara sistematik, yang digunakan untuk memberikan data karakteristik dan dokumentasi kondisi
massa batuan atau singkapan (yang diperlukan untuk desain lereng galian atau stabilisasi lereng
yang ada.

3.4.2 Diskontinuitas adalah bidang pemisah yang menyebabkan batuan bersifat tidak menerus,
antara lain berupa perlapisan, kekar dan sesar.

3.4.3 Jarak diskontinuitas adalah jarak tegak lurus antara diskontinuitas yang berdekatan dan
diukur dengan satuan sentimeter atau millimeter serta tegak lurus pada bidang-bidang perlapisan.

3.4.4 Bidang perlapisan adalah diskontinuitas yang terjadi karena proses sedimentasi.

3.4.5 Kekar adalah diskontinuitas yang terjadi karena gaya tektonik pada batuan, pengerasan
magma menjadi batuan, namun tidak menunjukkan gejala pergeseran.

3.4.6 Retak-pecah (fracture) adalah istilah umum untuk segala jenis ketidak-sinambungan mekanis
pada batuan, atau suatu kondisi diam pada kesinambungan mekanis badan batuan akibat tegangan
yang melampaui kekuatan batuan, contohnya sesar (faults), kekar (joints), retakan (cracks), dan
lain-lain.

3.4.7 Sesar adalah diskontinuitas yang terjadi karena gaya tektonik pada batuan dan menunjukkan
gejala pergeseran.

Pd T-05-2005-A
7 dari 112
Daftar
Rsni 2006
BACK
3.5 Data geoteknik/mekanika tanah adalah kondisi bahan fondasi, bahan konstruksi, sumber
bahan timbunan, batu untuk pasangan batu kosong, agregat untuk beton, batu belah untuk
pasangan batu, dan parameter tanah yang harus digunakan.

3.6 Data topografi adalah peta yang meliputi seluruh daerah aliran sungai, peta situasi letak
bangunan utama, gambar-gambar potongan memanjang dan melintang sungai baik di sebelah hulu
maupun di hilir dari kedudukan bangunan utama.

3.7 Deskripsi tanah adalah pemberian nama contoh tanah secara sistematik, tepat dan lengkap,
baik dalam bentuk tertulis maupun lisan.

3.8 Gelombang dasar adalah bentuk gelombang yang terjadi di dalam ruang semi elastis tidak
terbatas yaitu gelombang kompressi (P-waves), gelombang geser (S-waves), gelombang
permukaan atau Rayleigh (R-waves), dan gelombang Loves (L-waves).

3.8.1 Gelombang P dan S adalah gelombang badan dan paling umum digunakan dalam
menentukan karakteristik kondisi geoteknik di lapangan (Woods, 1978). Dua jenis lainnya adalah
jenis khusus gelombang tekan/geser hibrid yang terjadi pada batas bebas dari permukaan tanah (R)
dan gabungan lapisan tanah (L).

3.8.2 Indeks kekuatan geologi (GSI= Geological strength Index) adalah sistem RMR dan Q yang
dikembangkan untuk aplikasi penambangan dan terowongan sedangkan indeks kelogi (GSI)
menghasilkan uji mutu massa batuan untuk perkiraan langsung kekuatan dan kakuan batuan utuh
dan rekahan. Perkiraan cepat dengan GSI dapat dilakukan dengan menggunakan bagan grafik
(lihat gambar 60) untuk membantu prosedur penggunaan lapangan.

3.8.3 Kecepatan gelombang geser (V
s
) adalah kecepatan gelombang yang memberikan
pengukuran dasar kekakuan dengan regangan kecil, sesuai dengan modulus geser dan amplituda
rendah (G
0
= ρ
T
V
s
2
), dengan ρ
T
adalah kepadatan massa tanah total. Kecepatan gelombang ini
dapat merambat seperti bidang silinder yang mempunyai gerakan lokal tegak lurus pada arah
gerakan dan dapat dipolarisasikan dengan arah vertikal (atas/bawah) atau horisontal (samping ke
samping).

3.8.4 Kecepatan rambat gelombang kompresi (V
p
) adalah gelombang tercepat dan bergerak
seperti perambatan bidang berbentuk bola yang keluar dari sumbernya.

3.8.5 Uji geofisik adalah cara uji yang terdiri atas baik pengukuran gelombang mekanik (misalnya
survei dengan uji seismik refraksi, uji crosshole, uji downhole, dan analisis spektral dengan
mengukur gelombang permukaan) maupun teknik elektromagnetik (misalnya resistivitas, EM,
magnetometer, dan radar).

3.8.6 Uji geofisik gelombang elektromagnetik (GPR, EM, ER, MS) adalah uji yang dapat
dilakukan tanpa mengganggu dan merusak perlapisan tanah/batuan. Dengan uji ini dapat dibuat
pemetaan seluruh daerah penyelidikan untuk menggambarkan kondisi geoteknik secara umum dan
memantau pemanfaatan, bangunan/ utilitas yang tertanam, bongkah, dan keganjilan lain.

3.8.7 Uji geofisik gelombang mekanik (CHT, DHT, SASW, SR) adalah metode uji yang dapat
membantu pengukuran kecepatan gelombang tekanan (P), geser (S), dan Rayleigh (R), untuk
mengetahui perlapisan tanah dasar dan sifat-sifat tanah dan batuan dengan regangan kecil. SR
menghasilkan kecepatan gelombang P, dan SASW menghasilkan profil gelombang S, dan
keduanya dilakukan di permukaan tanah, sehingga tidak mengganggu dan tidak merusak perlapisan
tanah. CHT dan DHT perlu dilengkapi pipa lindung lubang bor, tetapi penetrometer gempa (SCPT)
saat ini masih dilakukan untuk menghasilkan DHT secara cepat dan ekonomis untuk aplikasi rutin.

Pd T-05-2005-A
8 dari 112
Daftar
Rsni 2006
BACK
3.8.8 Uji refraksi seismik (SR) adalah uji lapangan yang pada umumnya digunakan untuk
menentukan kedalaman tanah sampai lapisan sangat keras seperti batuan dasar (sesuai dengan
prosedur ASTM D 5777).

3.8.9 Uji resistivitas (ρ
R
) adalah metode pengukuran Ketahanan/potensi korosi tanah atau sifat
elektrik tanah dasar (ρ
R
) yang diukur dalam ohm-meter dan berbanding terbalik dengan
konduktivitas elektrik (k
E
= 1/ρ
R
), dan konduktivitas dinyatakan dalam siemen per meter (S/m),
dengan S adalah amps/volts. Pada umumnya nilai resistivitas meningkat sesuai dengan ukuran butir
tanah. Metode ini digunakan untuk memetakan patahan, bentuk atau ciri-ciri lapisan karst,
perlapisan, pencemaran di bawah permukaan dan utilitas yang tertanam, dan penggunaan lainnya
untuk memantau rongga dan lubang langga.

3.8.10 Uji ultrasonik adalah uji yang dilakukan untuk mengukur kecepatan pulsa gelombang tekan
dan geser dalam batuan utuh dan konstanta elastis ultrasonik dari batuan isotropic (ASTM D 2845).

3.9 Klasifikasi batuan adalah pengelompokan batuan untuk menggolongkan batuan utuh padat
dan massa batuan berdasarkan perilaku atau komposisi dan tekstur; berdasarkan tegangan tekan
dan rasio modulus; atau berdasarkan akibat pembebanan yang diperkirakan dari pola
diskontinuitas, rekahan, kekar, celah-celah, retakan dan bidang perlemahan.

3.9.1 Modulus elastisitas (E
R50
) adalah nilai tangen yang diambil pada 50% tegangan batas.

3.9.2 Modulus elastisitas ekivalen (E
M
) massa batuan adalah kemiringan kurva σ-ε yang
diperkirakan baik sebagai nilai tangen (E = ∆σ / ∆ε ) atau nilai sekan (E = σ/ε ) dari pembebanan
awal. Modulus ini biasanya digunakan dalam analisis dan simulasi numerik terowongan, lereng dan
fondasi untuk memperkirakan besarnya pergerakan dan defleksi akibat pembebanan baru.

3.9.3 Modulus Young (E
R
) batuan utuh adalah modulus yang diperoleh dari hasil uji pembebanan
tekan uniaksial atau tekan triaksial.

3.9.4 Rasio modulus (= E
t
/ σ
a(ult)
) adalah modulus tangen pada 50% tegangan batas (E
t
) dibagi
tegangan tekan uniaksial (σ
a(ult)
).

3.9.5 Rating batuan NGI-Q adalah sistem klasifikasi batuan yang dikembangkan untuk
memperkirakan karakteristik massa batuan dengan menggunakan enam parameter, yaitu RQD, J
n
,
J
r
, J
a
, J
w
dan SRF.

3.9.6 Rating massa batuan (RMR) adalah sistem klasifikasi batuan yang menggunakan enam
parameter dasar untuk klasifikasi dan evaluasi hasil uji. Keenam parameter tersebut adalah kuat
tekan uniaksial, RQD, jarak diskontinuitas, kondisi diskontinuitas, kondisi muka air tanah, orientasi
diskontinuitas. Nilai RMR dapat diperkirakan dari indeks beban titik (I
s
).
3.9.7 Uji indeks beban titik adalah uji yang dilakukan untuk menentukan klasifikasi kekuatan
batuan dengan uji indeks (SNI 03-2814 atau ASTM D 5731).

3.9.8 Uji keawetan riprap (soundness) adalah uji yang dilakukan untuk menentukan keawetan
batuan yang mengalami erosi (ASTM D 5240).

3.9.9 Uji kuat geser langsung batuan (direct shear strength) adalah uji yang dilakukan untuk
mengetahui karakteristik kuat geser batuan sepanjang bidang perlemahan (SNI 06-2486 atau ASTM
D 3967).

Pd T-05-2005-A
9 dari 112
Daftar
Rsni 2006
BACK
3.9.10 Uji modulus elastistas adalah uji yang dilakukan untuk mengetahui karakteristik deformasi
batuan utuh dengan regangan antara dan perbandingan yang memadai dengan jenis batuan utuh
lainnya (ASTM D 3148).

3.9.11 Uji tahan lekang batuan (slake durability tests) adalah uji yang dilakukan untuk
mengetahui ketahanan serpih atau batuan lunak lainnya yang mengalami siklus pembasahan dan
pengeringan (SNI 03-3406 atau ASTM D 4644).

3.9.12 Uji tarik belah batuan utuh tidak langsung (Splitting tensile test = Brazilian test) adalah
untuk mengevaluasi geser tarik inti batuan utuh secara tidak langsung, σ
T
(SNI 06-2486 atau ASTM
D 3967).

3.9.13 Uji tekan uniaksial (Uniaxial Compression Strength = UCS) adalah uji yang dilakukan
untuk mengukur kuat tekan uniaksial batuan (q
u
= σ
u
= σ
c
) (SNI 03-2825 atau ASTM D 2938).

3.10 Klasifikasi tanah adalah pengelompokan tanah dalam kategori yang berdasarkan atas hasil-
hasil uji indeks propertis (sifat fisik) misalnya nama kelompok dan simbol.

3.10.1 Uji dilatometer datar (DMT = Dilatometer Test) adalah suatu metode uji yang
menggunakan alat baca tekanan melalui pelat daun runcing yang didorong masuk ke dalam tanah,
untuk membantu memperkirakan stratigrafi tanah dan tegangan lateral dalam keadaan diam (at rest
lateral stresses), modulus elastisitas dan kuat geser pasir, lanau dan lempung.

3.10.2 Uji geoteknik insitu adalah uji lapangan yang terdiri atas metode jenis penetrasi (SPT,
CPT, CPTu, DMT, CPMT, VST) dan jenis probing (PMT, SBP), untuk mendapatkan langsung
respon tanah dasar di bawah pengaruh berbagai pembebanan dan kondisi drainase. Uji-uji tersebut
saling melengkapi dan dapat digunakan bersama-sama dengan uji geofisik untuk mengembangkan
pemahaman sifat perlapisan tanah dan batuan di daerah lokasi proyek.

3.10.3 Uji geser baling (VST = Vane Shear Test) atau uji baling lapangan (FV = Field Vane)
adalah uji lapangan yang dapat digunakan untuk mengevaluasi kuat geser tidak terdrainase
setempat dari lempung lunak-kaku dan lanau pada interval kedalaman 1 m (3,28 ft) atau lebih.

3.10.4 Uji penetrasi konus (CPT = Cone Penetration Test) atau uji sondir adalah uji lapangan
yang paling terkenal di Indonesia, karena dapat dilakukan dengan cepat, ekonomis, dan
memberikan gambaran profil lapisan tanah yang kontinu untuk digunakan dalam evaluasi
karakteristik tanah. Uji CPT dapat digunakan dalam tanah lempung sangat lunak sampai pasir
padat, tetapi tidak memadai untuk kerikil atau batuan.

3.10.5 Uji penetrasi pisokonus gempa (SCPT
u
) adalah cara uji yang ekonomis dan dapat
digunakan untuk menentukan karakteristik geoteknik lapangan, dan menghasilkan empat jenis
bacaan yang bebas versus kedalaman dari sebuah pendugaan tunggal.

3.10.6 Uji penetrasi standar (SPT = Standard penetration test) adalah uji yang dilaksanakan
bersamaan dengan pengeboran untuk mengetahui baik perlawanan dinamik tanah maupun
pengambilan contoh terganggu dengan teknik penumbukan. Uji SPT terdiri atas uji pemukulan
tabung belah dinding tebal ke dalam tanah dan disertai pengukuran jumlah pukulan untuk
memasukkan tabung belah sedalam 300 mm (1 ft) vertikal.

3.10.7 Uji pinhole adalah uji yang dilakukan untuk mengidentifikasi tanah lempungan apakah
bersifat mudah tergerus atau tidak (SNI-03-3405). Tanah lempung yang mudah tergerus disebabkan
karena proses pelarutan dan dikategorikan sebagai lempung bersifat khusus yang disebut sebagai
tanah dispersif (dispersive clays).
Pd T-05-2005-A
10 dari 112
Daftar
Rsni 2006
BACK

3.10.8 Uji pisokonus adalah uji penetrometer konus dengan tambahan transduser untuk mengukur
tekanan air pori selama pemasukan probe.

3.11 Koefisien kelulusan air (k) adalah angka yang menunjukkan kemampuan tanah/batuan
untuk mengalirkan air, dan dinyatakan dalam satuan panjang dibagi satuan waktu (cm/det).

3.11.1 Sifat kelulusan air tanah/batuan adalah kemampuan tanah/batuan untuk mengalirkan air
melalui rongga antarbutiran dan atau diskontinuitas.
3.11.2 Nilai Lugeon (Lu) adalah angka yang menunjukkan kemampuan batu atau tanah
mengalirkan air, dinyatakan dalam liter per menit per meter kedalaman pada tekanan 10 bar (1bar =
1,0197 kg/cm
2
).

3.11.3 Uji kelulusan air bertekanan adalah pengujian langsung di lapangan untuk mengetahui
sifat lulus air dari batuan, dengan cara memasukkan air bertekanan ke dalam lubang bor batuan
yang diuji.

3.12 Konsolidasi adalah suatu proses perubahan volume tanah akibat keluarnya air pori yang
disebabkan oleh peningkatan tekanan air pori dalam lapisan tanah jenuh air yang diberi beban
sampai terjadi kondisi seimbang.

3.12.1 Terkonsolidasi adalah suatu proses dengan memberikan tekanan samping sesuai dengan
kebutuhan dan dibiarkan hingga tekanan air porinya kembali pada tekanan semula sebelum
pengujian.

3.12.2 Uji konsolidasi adalah uji yang dilakukan untuk mengetahui karakteristik suatu tanah
selama proses konsolidasi berlangsung dan merupakan suatu metode uji untuk menentukan
koefisien pemampatan dan kelulusan air tanah.

3.13 Lubang uji adalah lubang bor dimana digunakan untuk melakukan uji.

3.13.1 Sumur observasi adalah sumur atau lubang bor yang digunakan untuk studi tekanan dan
elevasi muka air akuifer jangka panjang dengan perantaraan pisometer, yang merupakan alat dasar
pengukuran tinggi tekan air dalam akuifer dan untuk evaluasi kinerja sistem dewatering.

3.13.2 Uji crosshole (CHT) adalah uji yang terdiri atas penggunaan palu downhole dan satu atau
lebih geofon vertikal downhole dalam susunan horisontal dari tiga lubang bor yang ditempatkan
secara terpisah kira-kira 3 - 6 m untuk menentukan waktu gerakan dari lapisan yang berbeda (Hoar
& Stokoe, 1978). Uji crosshole digunakan untuk menentukan profil-profil V
p
dan V
s
sebagai fungsi
dari kedalaman sesuai dengan ASTM D 4428.

3.13.3 Uji downhole (DHT) adalah uji yang dilakukan dengan menggunakan hanya satu lubang bor
yang diberi pipa lindung. Gelombang S dirambatkan ke bawah pada geofon dari titik tetap di
permukaan. Survei inklinometer tidak diperlukan, karena jarak vertikal (R) dihitung langsung pada
kedalaman. Dalam uji ini, papan horisontal di permukaan dibebani secara statik dengan kendaraan
beroda (untuk menambah tegangan normal) dan ditarik searah panjangnya untuk menimbulkan
sumber gelombang geser yang baik/tepat.

3.13.4 Uji pemompaan menerus adalah uji pompa yang digunakan untuk menentukan produksi air
(water yield) dari masing-masing sumur dan kelulusan air tanah dan batuan di lapangan. Data hasil
uji digunakan untuk menentukan potensi bocoran melalui fondasi bangunan penahan air dan
pemilihan sistem konstruksi dewatering untuk penggalian. Uji ini terdiri atas pemompaan air dari
sumur atau lubang bor dan pengamatan terhadap pengaruh elevasi muka air, dengan mengukur
Pd T-05-2005-A
11 dari 112
Daftar
Rsni 2006
BACK
elevasi muka air dalam lubang yang sedang dipompa dan pengaruhnya terhadap sumur-sumur uji
yang terpasang di sekitarnya.

3.13.5 Uji pressuremeter (Pressuremeter test= PMT) adalah uji lapangan yang terdiri atas probe
silinder panjang yang dikembangkan secara radial di dalam tanah sekelilingnya, dengan
menggunakan sejumlah cairan bertekanan pada waktu pemompaan probe. Data dapat diinterpretasi
sebagai kurva hubungan tegangan-regangan-kekuatan secara lengkap. Alat pressuremeter
diperkenalkan oleh seorang ahli Perancis Louis Menard pada tahun 1955. Pengujian dapat
dilakukan dalam zona massa tanah yang lebih luas daripada uji lapangan lainnya.
3.13.6 Uji slug mekanik adalah uji yang digunakan untuk mengukur kelulusan air dengan meng
digunakan benda masif (solid) yang berfungsi untuk memindahkan air dan menimbulkan perubahan
tinggi tekan yang tiba-tiba (ASTM 4044). Uji ini dilakukan dalam lubang bor yang dipasang pipa
bercelah (screened/slotted).

3.14 Pencatatan hasil pengeboran adalah data dasar penyelidikan yang memberikan data
terperinci hasil penyelidikan dan merupakan deskripsi prosedur penyelidikan dan kondisi geoteknik
yang terjadi selama pengeboran, pengambilan contoh dan pengeboran inti.

3.15 Pengeboran adalah suatu proses pembuatan lubang vertikal/miring/horisontal pada
tanah/batuan dengan atau tanpa menggunakan alat/mesin untuk keperluan deskripsi tanah/batuan,
biasanya dapat dilakukan bersama-sama dengan uji lapangan dan pengambilan contoh
tanah/batuan.

3.15.1 Pengeboran auger tangga putar adalah bor auger yang berfungsi sebagai sekrup
pembawa potongan tanah ke bagian atas lubang. Batang auger harus ditambah secara bertahap
sampai mencapai kedalaman tanah yang diinginkan.

3.15.2 Pengeboran auger tangga putar batang berlubang (hollow) menerus adalah bor auger
yang hampir sama dengan jenis tangga putar batang menerus namun mempunyai lubang besar di
tengah.

3.15.3 Pengeboran putar dengan penyemprotan (rotary wash borings) adalah bor auger yang
paling memadai digunakan untuk lapisan tanah yang berada di bawah muka air tanah; tepi lubang
didukung pipa lindung (casing) dan dibantu dengan air pembilas sehingga pengeboran dapat
dilanjutkan secara bertahap.

3.15.4 Pengeboran auger ember (bucket auger borings) adalah bor auger yang biasanya
digunakan untuk keperluan mengambil contoh tanah dalam jumlah besar, dilengkapi dengan
rekoaman video yang efektif sampai ke bawah lubang.

3.15.5 Pengeboran tangan adalah alat bor untuk mendapatkan informasi geoteknik dangkal di
lapangan yang sulit dimasuki kendaran beroda empat, dengan standar umum lubang tipe bor auger.
Untuk tanah kohesif yang stabil, bor tangan dapat dilanjutkan untuk membantu pemeriksaan secara
terperinci kondisi tanah dan batuan dangkal dengan biaya relatif rendah.

3.15.6 Pengeboran tanpa inti (non-coring/destructive) adalah cara yang relatif cepat dan murah
dalam melanjutkan pengeboran bila tidak diperlukan contoh batuan inti, biasanya digunakan untuk
membantu menentukan bagian atas batuan dan Mengidentifikasi rongga pelarutan di daerah karst.

3.15.7 Pipa lindung (casing) adalah pipa yang ditempatkan di lubang bor untuk melindungi tepi
lubang bor agar pengeboran dapat dilanjutkan secara bertahap.

Pd T-05-2005-A
12 dari 112
Daftar
Rsni 2006
BACK
3.15.8 Perolehan contoh (sample recovery) adalah proses pengeboran material tanah kedua
dengan menggunakan tabung belah atau jenis lainnya pada kedalaman yang sama dengan
pengeboran pertama yang kurang memadai.

3.15.9 Perolehan inti (core recovery) adalah panjang inti batuan yang diambil dari bor inti.

3.15.10 Rasio perolehan inti adalah rasio panjang perolehan inti terhadap panjang total inti bor
yang tersedia, yang dinyatakan dengan fraksi atau persentase.

3.15.11 Matabor (bit) adalah bagian ujung bor auger yang disambungkan dengan batang bor yang
berfungsi untung memotong tanah (contohnya matabor berbentuk jari (finger) dan matabor
berbentuk ekor ikan (fish tail)).

3.15.11.1 Mata bor inti (coring bits) adalah komponen paling dasar dari pemasangan laras inti
yang merupakan kegiatan menggerinda dan memotong massa batuan. Jenis-jenis matabor inti
terdiri atas intan, karbit dan gerigi.

3.15.11.2 Matabor berbentuk jari (finger) adalah matabor dari karbit yang biasanya digunakan
pada Formasi lempung keras atau batuan perselingan atau lapisan tersementasi.

3.15.11.3 Matabor berbentuk ekor ikan (fish tail) adalah matabor yang biasanya digunakan pada
Formasi lempung kaku.

3.15.12 Penamaan mutu batuan (Rock Quality Designation= RQD) adalah persentase
termodifikasi dari perolehan inti dengan jumlah panjang potongan inti utuh yang melebihi 100 mm (4
in) dibagi panjang inti totoal untuk 1 run, untuk mengklasifikasi mutu batuan.

3.16 Tanah adalah campuran butiran mineral tanah berbentuk tidak teratur dari berbagai ukuran
yang mengandung pori-pori di antaranya. Pori-pori ini dapat berisi air jika tanah jenuh, air dan udara
jika jenuh sebagian, dan udara saja jika keadaan kering. Butiran itu merupakan hasil pelapukan
batuan secara mekanik dan kimiawi, yang dikenal sebagai kerikil, pasir, lanau, dan lempung.
3.16.1 Tanah kohesif adalah material berbutir halus yang terdiri atas lanau, lempung, yang
mengandung atau tidak material organik. Kuat geser tanah ini berkisar dari rendah sampai tinggi jika
dalam kondisi tidak terkekang. Pada umumnya tanah kohesif relatif lebih kedap dibandingkan tanah
nonkohesif. Bahan lanau kadang-kadang mempunyai unsur pengikat antara butiran, seperti garam
pelarut atau agregat lempung, yang dapat menyebabkan penurunan jika terjadi pembasahan zat
pelarut.

3.16.2 Tanah nonkohesif adalah material butiran atau berbutir kasar dengan ukuran butiran terlihat
secara visual dan mempunyai kohesi atau adhesi antara butiran. Tanah ini mempunyai kuat geser
kecil atau tidak ada sama sekali jika keadaan kering dan tanah tidak terkekang, dan kohesinya kecil
atau tidak ada sama sekali jika keadaan terendam. Adhesi semu (apparent) antara butiran dalam
tanah nonkohesif dapat terjadi akibat gaya tarik kapiler dalam air pori. Tanah nonkohesif biasanya
relatif bebas berdrainase dibandingkan dengan tanah kohesif.

3.16.3 Tabung contoh tanah (soil sampler) adalah tabung yang digunakan untuk mengambil
contoh tanah yang terdiri atas jenis standar dan jenis lainnya yang digunakan sesuai dengan
persyaratan daerah dan kondisi lapangan (insitu). Jenis-jeinis tabung contoh antara lain tabung
dinding tipis (thin wall sampler), piston, pitcher, Denison, modifikasi California, menerus, tanah
bongkahan (bulk), contoh blok.

3.16.4 Contoh tanah terganggu (disturbed samples) adalah contoh tanah yang sebagian atau
seluruh struktur asli tanah terganggu, sementara kadar airnya tetap dijaga.
Pd T-05-2005-A
13 dari 112
Daftar
Rsni 2006
BACK

3.16.5 Contoh tanah tidak terganggu (undisturbed samples) adalah contoh tanah yang struktur
asli tanah dan sifat/karakteristiknya dijaga tetap seperti di lapangan tanpa gangguan; contoh ini
paling cocok untuk pengujian di laboratorium terutama uji kekuatan geser tanah.

3.16.6 Kuat geser tanah adalah sifat struktur tanah anisotropis yang meliputi kuat geser tanah
kohesif tidak terdrainase dan sudut geser tanah nonkohesif yang dipengaruhi oleh arah tegangan
utama relatif terhadap arah pengendapan.

4 Interpretasi hasil uji tanah
4.1 Pendahuluan
Hasil-hasil uji lapangan dan laboratorium harus dikompilasi ke dalam penyajian data kondisi
geoteknik yang sederhana yang mencakup perlapisan tanah dan interpretasi parameter teknik.
Karakteristik perlapisan tanah dan batuan alami khususnya sulit dikuantifikasi secara teliti, sebab
perilakunya sangat kompleks dan adanya aksi dan interaksi butiran dalam jumlah tidak terhingga di
dalam massa tanah dan atau batuan. Sementara itu, material bangunan yang dibuat akan
dipengaruhi oleh keadaan tegangan awal, arah pembebanan, komposisi, kondisi drainase dan laju
pembebanan.
Sifat material yang dibuat manusia (misal batu bata, beton, baja) dapat bervariasi sesuai dengan
kebutuhan, sedangkan lapisan tanah dan batuan asli yang terbentuk secara alamiah beberapa ribu
tahun lalu sangat kompleks. Oleh karena itu, data uji lapangan dan laboratorium harus dievaluasi
untuk memperoleh hasil interpretasi yang baik. Sifat tanah dapat diubah dengan menggunakan
teknik perbaikan tanah. Pada kondisi tertentu tanah harus tetap dibiarkan pada kondisi aslinya,
karena adanya alasan kelayakan ekonomi untuk mengetahui massa tanah dalam jumlah yang
besar. Oleh karena itu, perlu dilakukan pengujian dengan menggunakan metode geofisik,
pengeboran, pengambilan contoh, uji lapangan dan uji laboratorium untuk mengetahui karakteristik
material tanah dan batuan.
Hal-hal yang perlu dipertimbangkan adalah sebagai berikut.
a) Semua interpretasi data geoteknik mempunyai tingkat ketelitian yang berbeda-beda bergantung
pada asal usul bahan, perubahan setempat, dan kompleksitas material alami yang terjadi.
Interpretasi parameter tanah dan sifat-sifat tanah bergantung pada kombinasi perkiraan
langsung uji laboratorium contoh tidak terganggu yang terambil dan data lapangan setempat
yang dievaluasi dengan menggunakan rumus-rumus secara teoritis, analitis, statistik, dan
empiris.
b) Hasil uji laboratorium biasanya agak berbeda dibandingkan dengan hasil uji lapangan.
Pelaksanaan uji laboratorium memerlukan waktu yang lama dan biaya mahal, serta mengalami
kesulitan untuk memperoleh contoh perlapisan tanah tidak terganggu yang representatif. Oleh
karena itu, data gabungan dari hasil uji lapangan dan uji laboratorium akan lebih handal (dapat
dipercaya) untuk mengevaluasi dan menginterpretasi parameter tanah.
c) Penggunaan hubungan korelasi empiris dan teoritis harus dilakukan secara hati-hati, dengan
berdasarkan kalibrasi dan verifikasi uji laboratorium terkait sesuai dengan lokasinya. Hubungan
timbal balik antara sifat teknik dan hasil uji lapangan masing-masing telah dikembangkan
berdasarkan atas perbedaan asumsi, dasar referensi, dan latar belakang khusus untuk jenis
tanah tertentu.
d) Interpretasi sifat-sifat tanah dari hasil uji tanah di lapangan (insitu) akan digunakan dalam
analisis untuk keperluan desain fondasi, timbunan, lereng, dan bangunan penahan tanah.
Korelasi antara hasil-hasil uji indeks laboratorium dan rentang nilai-nilai tipikalnya diperlukan
untuk mengetahui keandalan hasil-hasil uji lapangan dan laboratorium. Hasilnya akan
digunakan untuk evaluasi karakteristik perlapisan tanah, kepadatan, kekuatan, kekakuan, dan
Pd T-05-2005-A
14 dari 112
Daftar
Rsni 2006
BACK
alirannya. Pada umumnya hubungan tersebut tidak bersifat khusus karena adanya perbedaan
besar material tanah, tetapi dapat memberikan acuan pemilihan parameter geoteknik yang
diperlukan dalam analisis stabilitas dan deformasi.

4.2 Komposisi dan klasifikasi
Komposisi tanah mencakup distribusi ukuran relatif partikel butiran, karakteristik utama (mineralogi,
angularitas, bentuk), dan porositas (kepadatan dan angka pori). Hal ini dapat diperkirakan dengan
cara pendekatan penyelidikan tanah secara konvensional dengan menggunakan program
pengeboran dan pengambilan contoh serta uji laboratorium. Selain itu, dapat dilengkapi dengan uji
tekan langsung untuk memperoleh klasifikasi dan karakteristik perlapisan tanah, antara lain uji
penetrasi konus (CPT), uji dilatometer (DMT), dan uji lainnya. Walaupun tidak diperoleh contoh dari
kedua cara tersebut, namun dari pembacaan uji langsung dapat menunjukkan perilaku tanah
terhadap kondisi pembebanan, laju regangan, dan atau aliran untuk membantu pemilihan parameter
teknik yang lebih memadai.
Perilaku perlapisan tanah tidak hanya dikontrol oleh karakteristik utama (constituents), tetapi juga
oleh faktor-faktor yang kurang nyata (tangible) dan tidak terukur (quantifiable), seperti umur,
sementasi, serat (pengaturan pemadatan, sifat bangunan), keadaan tegangan anisotropik, dan
kepekaan. Uji lapangan memberikan kesempatan untuk mengamati semua karakteristik material
tanah yang terkait akibat pengaruh kondisi pembebanan.

Pd T-05-2005-A
15 dari 112
Daftar
Rsni 2006
BACK
4.2.1 Klasifikasi tanah dan perlapisan tanah
Cara pendekatan klasifikasi tanah dan gambaran perlapisan tanah ada tiga jenis, yaitu pengeboran
dan pengambilan contoh, penetrasi konus, dan pendugaan dilatometer. Contoh tanah biasanya
telah mengalami gangguan, sehingga akan cocok digunakan cara klasifikasi berdasarkan USCS
yang memerlukan deskripsi keseluruhan.
Uji penetrasi konus dan uji dilatometer dapat digunakan untuk mengetahui perilaku tanah langsung
di lapangan dalam kondisi lingkungan yang tidak terganggu, sehingga menunjukkan klasifikasi jenis
perilaku tanah pada waktu pengujian. Uji lapangan dengan pendugaan vertikal dapat digunakan
untuk memperkirakan jenis dan konsistensi tanah, tebal, dan perubahan lapisan tanah, kedalaman
batuan dasar, muka air tanah, dan adanya lensa, lapisan tipis (seams), dan atau pori.
Penyelidikan lapangan secara konvensional dilaksanakan dengan menggunakan metode
pengeboran putar/inti dan pengambilan contoh, seperti dijelaskan dalam Gambar 1. Namun saat ini
penetrometer konus dan dilatometer yang telah dikenal sebagai alat penyelidikan deposit tanah
yang bermanfaat dan ekonomis, dapat dilakukan sebagai pelengkap terhadap metode lainnya.


Gambar 1 Gambaran perlapisan, jenis tanah dan batuan
berdasarkan metode pengeboran dan pengambilan contoh (FHWA NHI-01-031)

4.2.2 Klasifikasi tanah berdasarkan gradasi butiran
Pengambilan contoh dapat dilakukan dengan bor tangan, pemukulan, dan pendorongan tabung
dalam lubang bor putar (ASTM D 4700). Pengeboran dapat dilakukan dengan menggunakan bor
auger tangga putar batang menerus (solid flight augers, z<10 m), batang berlubang (z<30 m), bor
putar dengan penyemprotan (z<90 m), dan pipa kawat (wire line) yang dapat digunakan sampai 200
m atau lebih.

Beberapa hal yang perlu dipertimbangkan adalah sebagai berikut.
a) Pengambilan contoh dapat dilakukan pada kedalaman tertentu dengan menggunakan tabung
belah sesuai dengan ASTM D 1586. Klasifikasi visual-manual jenis tanah yang terambil
Pd T-05-2005-A
16 dari 112
Daftar
Rsni 2006
BACK
dilakukan dengan menggunakan ASTM D 2488. Namun, contoh tanah yang terambil dengan
cara pemukulan untuk panjang 0,3 m hanya dapat dikumpulkan pada interval 1,5 m dan
menggambarkan sebagian dari perlapisan tanah dan batuan. Selain itu, contoh tanah tersebut
pada umumnya bersifat terganggu karena sangat sulit untuk memperoleh contoh tanah tidak
terganggu (lihat ASTM D 1587).

b) Yang lebih mutakhir adalah pengambilan contoh dengan kombinasi gaya-gaya dorong langsung
dan pengetukan (percussive, misalnya dengan geoprobe, pengeboran sonik), dengan
memasukkan tabung tanah plastik menerus yang berdiameter 25 mm. Walaupun terganggu,
profil perlapisan dapat diperiksa untuk mengetahui jenis tanah, perlapisan, lensa-lensa,
perubahan warna, dan rincian lainnya.

c) Persentase kadar kehalusan (PF=percent fines) jenis tanah merupakan penentuan ukuran
butiran yang amat penting. Bila tanah yang tertinggal pada saringan No. 200 sebanding dengan
partikel yang lebih besar dari diameter 0,075 mm, disebut tanah berbutir kasar. Misalnya pasir
dan kerikil yang diperoleh dari hasil uji mekanik akibat gaya-gaya normal dan geser. Tanah
yang melewati saringan No. 200 (lebih kecil dari 0,075 mm) disebut tanah berbutir halus.
Misalnya lanau, lempung, dan koloidal yang selain dapat menerima tegangan normal dan
geser, juga mempunyai sifat yang secara signifikan dipengaruhi oleh gejala tingkat mikro,
termasuk reaksi kimiawi, gaya-gaya elektrik, hidraulik kapiler, dan pengikatan (bonding).

d) Kesulitan penggunaan sistem USCS (Unified soil classification system) adalah tingkat
keandalan contoh terhadap pengaruh disagregasi dan tidak meratanya pembuatan benda uji
(batas plastisitas). Perlapisan tanah alami pada umumnya terbentuk dari butiran khusus dan
bentuk yang berbeda; kadang-kadang dipengaruhi partikel yang berdekatan, perlapisan, bidang
perlapisan, rekahan, sensitivitas, dan umur. Perilaku tegangan-regangan-kekuatan-waktu tanah
terhadap pembebanan sebagian bergantung pada bentuk (ciri-ciri) khusus dan hal lain yang
terkait (inherent). Cara klasifikasi berdasarkan USCS tidak memberikan kuantifikasi struktur
setempat aspek khusus, tetapi hanya berpangkal pada perhitungan kumulatif ukuran butir dari
bahan yang dicetak ulang (remolded). Oleh karena itu, untuk beberapa jenis tanah (misal
endapan laut, lempung khusus, dan pasir tersementasi) yang dilakukan dengan sistem USCS
tidak dapat memberikan gambaran respon perilaku atau kesulitan yang akan terjadi pada waktu
konstruksi.

e) Sistem USCS dapat mengklasifikasi tanah pasiran yang secara predominan mengandung lebih
dari 50% ukuran butiran yang tertinggal pada saringan No. 200 (misal pasir lempungan, SC).
Tanah berbutir halus yang berkisar antara 16 sampai 49 % kehalusan, dan dengan uji
plastisitas pada tanah butiran yang melewati saringan No.40 akan berada di atas garis-A.

f) Komposisi butiran pasir dapat berupa kuarsa atau feldspar atau kalsium karbonat atau lainnya
atau kombinasi dari beberapa jenis mineral. Butiran pasir dapat berbentuk sudut/angular,
bundar, subangular, atau membundar. Persentase tanah berbutir halus dapat terdiri atas lanau
dan atau lempung dari mineralogi yang berbeda (misal illit, kaolin, montmorillonit, smectit,
diatoms atau lainnya). Kombinasi dari tanah berbutir halus dan kasar tersebut dapat terjadi
bersamaan pada masa sekarang (misal tanah Holocene < 10.000 tahun lalu) atau terjadi pada
waktu lampau akibat pelapukan pada ratusan juta tahun yang lalu (misal tanah Cretaceous <
120 juta tahun lalu).

g) Pasir lempungan dapat mengalami konsolidasi normal seperti material utuh atau mungkin
mengalami konsolidasi berlebih dengan retakan sangat kompleks (pervasive) dalam lapisan
tanah. Seiring dengan waktu, tanah dapat dipengaruhi faktor-faktor pembekuan-pencairan,
desikasi, kekeringan, banjir, air tanah limbah industri kimia, dan lain-lain. Tanpa
mempertimbangkan (despite) kejadian tersebut, penggunaan sistem USCS dapat
mengklasifikasi tanah pasir lempungan sebagai SC.
Pd T-05-2005-A
17 dari 112
Daftar
Rsni 2006
BACK


Gambar 2 Faktor-faktor berdasarkan hasil uji penetrometer konus
pada tanah (Hegazy, 1998)

4.2.3 Klasifikasi tanah berdasarkan nilai konus
Penetrometer konus digunakan untuk memperkirakan klasifikasi jenis tanah secara tidak langsung
dengan cara mengukur respons waktu pergerakan konus. Selama uji penetrasi konus (CPT) atau
sondir, dilakukan pengukuran dengan pencatatan menerus untuk tahanan ujung (q
c
), geseran
selimut (f
s
), dan tekanan air pori (u
b
) yang sangat dipengaruhi oleh faktor-faktor ukuran butiran
tanah, mineralogi, lapisan tanah, umur, keadaan tegangan, dan lainnya seperti dijelaskan dalam
Gambar 2 (Hegazy, 1998). Sebaliknya, metode uji laboratorium hanya mengklasifikasi jenis tanah
berdasarkan ukuran butir dan kadar butiran halus dari benda uji yang dicetak ulang. Dalam uji CPT
(dan DMT) dapat digambarkan perilaku tanah alami, sehingga kemungkinan dapat memberikan
pandangan yang berbeda dan perubahan klasifikasi.

Pd T-05-2005-A
18 dari 112
Daftar
Rsni 2006
BACK
Hal-hal yang perlu dipertimbangkan adalah sebagai berikut.
a) Klasifikasi tanah dengan penetrometer konus mencakup penggunaan grafik empiris dengan
batasan antara kelompok data dari jenis yang sama. Biasanya pemeriksaan visual data
keluaran (output) dapat digunakan untuk membedakan antara tanah berbutir halus (lanau dan
lempung) dan tanah berbutir kasar (pasir). Uji penetrasi konus (CPT) tidak dapat digunakan
secara ekstensif pada tanah kerikilan. Pada lanau dan lempung utuh lunak sampai kaku, secara
keseluruhan tahanan ujung (q
c
) harus dikoreksi menjadi q
T
(Lunne dkk, 1997) yang telah
dibahas sebelumnya dalam buku pedoman volume II. Tetapi pada pasir dan lempung bercelah
biasanya tidak begitu signifikan.
b) Secara praktis interpretasi pasir mempunyai tahanan konus q
T
> 40 atm (Catatan: 1 atm ≈ 1
kg/cm
2
≈1 tsf ≈ 100 kPa), sedangkan lanau dan lempung lunak sampai kaku q
T
< 20 atm.
Tekanan air pori penetrasi dalam pasir murni mendekati nilai hidrostatik (u
2
≈ u
0
= γ
w
z) karena
kelulusan airnya tinggi, sementara dalam lempung utuh lunak sampai kaku u
2
yang teruji
biasanya 3 – 10 kali u
0
. Pembacaan tekanan air pori selimut pada lanau dan lempung bercelah
dapat bernilai nol atau negatif (sampai -1 atm atau –100 kPa). Dengan pembacaan geseran
selimut (f
s
), nilai yang diproses disebut rasio geseran (FR) yang diperoleh dengan rumus
Rasio geseran CPT, FR = R
f
= f
s
/ q
t
.............................................. (1)


Gambar 3 Bagan klasifikasi perilaku tanah berdasarkan hasil uji penetrasi konus (CPT)
(Robertson dkk, 1986)

c) Dari data CPT, klasifikasi tanah dapat dilengkapi dengan menggunakan kombinasi dari dua
hasil pembacaan (baik q
T
dan f
s
atau q
T
dan u
b
) atau dengan ketiga hasil pembacaan. Oleh
karena itu, lebih baik parameter tekanan air pori normal Bq ditentukan dengan rumus

Parameter tekanan air pori, B
q
= (u
2
– u
0
) / (q
T
- σ
vo
) .................. (2)

d) Grafik yang menggunakan q
T
, FR, dan B
q
seperti disajikan dalam Gambar 3, menunjukkan 12
daerah klasifikasi.

4.2.4 Klasifikasi tanah berdasarkan indeks dilatometer
Pd T-05-2005-A
19 dari 112
Daftar
Rsni 2006
BACK
Klasifikasi tanah berdasarkan uji dilatometer (DMT) mencakup pula respon perilaku tanah. Uji ini
dapat dilakukan pada lempung, lanau dan pasir (tidak tersementasi), tetapi tidak berlaku untuk
kerikil. Indeks dilatometer material nondimensi (I
D
) digunakan untuk evaluasi jenis tanah secara
empiris (Marchetti, 1980) yaitu

Indeks material DMT: I
D
= (p
1
– p
0
) / (p
0
– u
0
) ............................... (3)

dengan p
0
adalah tekanan kontak terkoreksi dan p
1
adalah tekanan pengembangan terkoreksi yang
telah dibahas dalam buku pedoman volume II. Dalam uji dilatometer (DMT) jenis tanah dibedakan
dengan rentang sebagai berikut, untuk lempung I
D
< 0,60, lanau 0,60 < I
D
< 1,80, dan pasir 1,80 >
I
D
. Nilai-nilai indeks dilatometer material yang berada di luar rentang 0,1 < I
D
< 6 harus diperiksa dan
diverifikasi.

4.3 Kepadatan
4.3.1 Berat volume
Untuk menghitung tegangan overburden di dalam massa tanah, diperlukan data berat volume dari
berbagai lapisan tanah. Berat volume dapat didefinisikan sebagai berat tanah per satuan volume
(dalam satuan kN/m
3
) dan dinyatakan dengan simbol γ. Namun, untuk kepadatan massa tanah
diukur sebagai massa per volume (dalam satuan gr/cc atau kg/m
3
) dan dinyatakan dengan simbol ρ.

Beberapa hal yang perlu dipertimbangkan adalah sebagai berikut.

a) Secara umum penggunaan istilah berat volume dan kepadatan sering mengalami hubungan
timbal balik, seperti dinyatakan dengan persamaan

γ = ρ g ..................................................................................... (4)

dengan g adalah konstanta gravitasi = 9,8 m/det
2
. Nilai acuan untuk air murni adalah ρ
w
= 1 g/cc
sesuai dengan γ
w
= 9,8 kN/m
3
.

b) Di laboratorium berat volume tanah diuji dari contoh tabung tanah asli yang bergantung pada
berat jenis padat (G
s
), kadar air (w
n
) dan angka pori (e
0
) maupun derajat kejenuhan (S).
Parameter ini saling berhubungan secara timbal balik dengan persamaan

G
s
w
n
= S e
0
.................................................................................... (5)

dengan S = 1 (100%) untuk tanah jenuh (umumnya diasumsi untuk lapisan tanah di bawah
muka air tanah) dan S = 0 (diasumsi untuk tanah butiran di atas muka air tanah). Untuk
lempung dan lanau yang berada di atas muka air tanah, derajat kejenuhannya antara 0 sampai
100%. Kejenuhan penuh dapat terjadi akibat pengaruh kapilaritas dan bervariasi karena
pengaruh kondisi cuaca/atmosfir.
Persamaan hubungan berat volume total adalah

γ
T
= G
s
γ
w
(1 + w
n
) / (1 + e
0
) ............................................................ (6)

c) Pengujian kepadatan massa tanah timbunan di lapangan dapat dilakukan dengan tabung yang
dipancang (ASTM D 2937), metode konus pasir (ASTM D 1556), atau alat ukur nuklir (ASTM D
2922). Untuk mendapatkan berat volume perlapisan tanah, dilakukan dengan teknik
pengambilan contoh tabung berdinding tipis mutu tinggi (ASTM D 1587) atau teknik geofisik
cara gamma logging (ASTM D 5195). Pengambilan contoh pasir murni dengan tabung
berdinding tipis biasanya tidak dapat dilakukan. Selain itu, pengambilan contoh yang sangat
dalam memerlukan waktu lama dan kadang-kadang mengalami kesulitan. Sebagai alternatif,
Pd T-05-2005-A
20 dari 112
Daftar
Rsni 2006
BACK
nilai-nilai γ dan ρ dapat diperkirakan berdasarkan hubungan empiris. Sebagai contoh, nilai G
s
=
2,7 t 0,1 untuk beberapa jenis tanah dan berat volume jenuh dapat dihubungkan dengan kadar
air dengan menggabungkan persamaan (5) dan (6) untuk S = 1, seperti diperlihatkan dalam
Gambar 4. Nilai berat volume juga dipengaruhi oleh sementasi, perubahan kimiawi tanah,
sensitivitas, proses pencampuran dengan garam (leaching) dan atau adanya oksida logam atau
mineral lainnya.


Gambar 4 Hubungan antara berat volume jenuh dan kadar air
material tanah dan batuan setempat (FHWA NHI-01-031)


Gambar 5 Hubungan antara berat volume dengan kecepatan rambat gelombang geser dan
kedalaman material tanah dan batuan jenuh (FHWA NHI-01-031)

d) Uji kadar air insitu tidak selalu dilakukan pada waktu uji di lapangan. Oleh karena itu, sebagai
pengganti untuk mengetahui kadar air insitu (atau angka pori) dapat digunakan hasil uji
kecepatan rambat gelombang geser (V
s
). Metode penentuan V
s
di lapangan telah diuraikan
secara rinci pada buku pedoman volume II. Gambar 5 menunjukkan hubungan hasil
pengamatan antara berat volume total tanah jenuh (γ
T
) dengan V
s
dan kedalaman z. Untuk
batuan dan material sekitarnya, kemungkinan hasilnya berbeda dengan material tanah yang
khusus. Perkiraan berat volume tanah kering sampai jenuh sebagian bergantung pada derajat
kejenuhan, seperti ditentukan dengan persamaan (5) dan (6).
e) Tegangan overburden total (σ
vo
) dihitung dengan persamaan (lihat buku volume II)

Pd T-05-2005-A
21 dari 112
Daftar
Rsni 2006
BACK
σ
vo
= Σ γ
T
∆z ............................................................................. (7)

yang dapat digunakan untuk mendapatkan tegangan overburden vertikal efektif

σ
vo
’ = σ
vo
- u
0
.............................................................................. (8)

dengan tekanan air pori hidrostatik (u
0
) dihitung dari muka air tanah.


4.3.2 Korelasi kepadatan relatif
Kepadatan relatif (D
R
) digunakan untuk menunjukkan derajat kepadatan butiran pasir dan hanya
berlaku untuk tanah berbutir kasar dengan kadar butiran halus kurang dari 15%. Kepadatan relatif
dihitung dengan rumus

D
R
= (e
max
– e
0
) / (e
max
– e
min
) ....................................................... (9)

dengan e
max
adalah angka pori pada keadaan paling lepas (ASTM D 4254), dan e
min
adalah angka
pori pada keadaan paling padat (ASTM D 4253). Namun perkiraan langsung D
R
tersebut kurang
praktis, sebab sangat sulit memperoleh contoh tanah tidak terganggu untuk menghitung ke tiga
parameter (e
0
, e
max
, dan e
min
) tersebut di laboratorium.

Hal-hal yang perlu dipertimbangkan adalah sebagai berikut.

a) Untuk beberapa jenis tanah tertentu, keadaan pori minimum dan maksimum sebenarnya saling
berhubungan (Poulos, 1988). Basisdata yang dikompilasi memperlihatkan (n= 304; r
2
= 0,851;
S.E. = 0,044) persamaan

e
min
= 0,571 e
max
......................................................................... (10)

b) Untuk keadaan kering (w = 0), kepadatan kering dihitung dengan persamaan γ
d
= G
s
γ
w
/ (1 + e)
dan hubungan antara kepadatan minimum dan maksimum untuk berbagai pasir diperlihatkan
dalam Gambar 6. Nilai rata-rata diberikan dengan persamaan garis regresi

γ
d (min)
= 0,808 γ
d (max)
.................................................................... (11)

c) Studi laboratorium yang dilakukan oleh Youd (1973) menunjukkan bahwa kedua nilai e
max
dan
e
min
bergantung pada koefisien keseragaman (UC=uniformity coefficient = D
60
/D
10
) maupun
angularitas butiran. Untuk sejumlah jenis pasir (total n = 574), kecenderungan tersebut seperti
diperlihatkan dalam Gambar 7 adalah untuk keadaan paling padat sesuai dengan e
min
dan γ
d
(max)
. Korelasi kepadatan kering maksimum (γ
d (max)
) yang terkait dengan UC untuk berbagai jenis
pasir diperlihatkan dalam Gambar 7, dan dinyatakan dengan (n = 574; r
2
= 0,730) persamaan

γ
d (max)
= 9,8 [1,65 + 0,52 log (UC)] .............................................. (12)

Pd T-05-2005-A
22 dari 112
Daftar
Rsni 2006
BACK

Gambar 6 Hubungan antara kepadatan kering minimum dan maksimum pasir kuarsa
(FHWA NHI-01-031)
(CATATAN : Konversi sesuai dengan kepadatan massa dan berat volume 1g/cc = 9,8
kN/m
3
= 62,4 pcf)


Gambar 7 Hubungan antara kepadatan kering maksimum dengan koefisien keseragaman
pasir (UC = D
60
/D
10
) (FHWA NHI-01-031)
(CATATAN : Konversi sesuai dengan kepadatan massa dan berat volume 1g/cc = 9,8
kN/m
3
= 62,4 pcf)
Pd T-05-2005-A
23 dari 112
Daftar
Rsni 2006
BACK

d) Secara praktis data uji penetrasi in-situ digunakan untuk mengevaluasi kepadatan relatif pasir
setempat (insitu). Hubungan D
R
asli dengan SPT yang diusulkan oleh Terzaghi & Peck (1967)
telah diuji ulang oleh Skempton (1986) untuk berbagai jenis pasir kuarsa. Evaluasi kepadatan
relatif diberikan sesuai dengan nilai tahanan terkoreksi [(N
1
)
60
], seperti diperlihatkan dalam
Gambar 8 dengan persamaan

D
R
= 100. √ [(N
1
)
60
/60] ............................................................... (13)

dengan (N
1
)
60
= N
60
/ (σ
vo
’)
0,5
adalah nilai N dari hasil uji yang dikoreksi dengan efisiensi tenaga
60% dan dinormalisir ke tingkat tegangan 1 atmosfir.

Tegangan overburden efektif dinyatakan dalam atmosfir. Secara umum nilai tahanan terkoreksi
SPT dapat dihitung dengan (N
1
)
60
= N
60
/ (σ
vo
’/ p
a
)
0,5
untuk setiap satuan tegangan overburden
efektif, dengan p
a
adalah tegangan acuan = 1 bar ≈ 1 kg/cm
2
≈ 1 tsf ≈ 100 kPa. Rentang nilai
tahanan terkoreksi SPT harus dibatasi sampai (N
1
)
60
< 60, karena di atas nilai ini akan terjadi
pemecahan butiran asli akibat gaya-gaya tekan dinamik yang tinggi. Selain itu, korelasi tersebut
juga dapat diperhitungkan terhadap pengaruh terjadinya konsolidasi berlebih pada ukuran
butiran dan umur tanah (Skempton, 1986; Kulhawy & Mayne, 1990).


Gambar 8 Kepadatan relatif pasir murni dari data uji penetrasi standar
(FHWA NHI-01-031)
(CATATAN : nilai tahanan terkoreksi (N
1
)
60
= N
60
/(σ
vo
’)
0,5
dengan σ
vo
’ dalam satuan bar atau tsf)

e) Pendekatan yang sama dapat dilakukan pada uji CPT berdasarkan kalibrasi dalam bilik uji (test
chamber) di laboratorium pada pasir kuarsa murni (Gambar 9). Kecenderungan kepadatan
relatif (dalam %) pasir tidak tersementasi yang masih baru dinyatakan dengan persamaan
berikut.
Untuk pasir terkonsolidasi normal: D
R
= 100 √ q
T1
/ 300 ...................... (14a)
Untuk pasir terkonsolidasi berlebih: D
R
= 100 √ [ q
T1
/ (300 OCR
0,2
) ........ (14b)
Pd T-05-2005-A
24 dari 112
Daftar
Rsni 2006
BACK

dengan q
T1
= q
c
/ (σ
vo
’)
0,5
adalah tahanan konus terkoreksi dengan q
c
dan tegangan overburden
efektif terukur dalam satuan atmosfir. Hubungan tersebut tidak berlaku untuk q
T1
<300, sebab
adanya kemungkinan pengaruh penghancuran butiran. Untuk setiap satuan tegangan
overburden efektif dan tahanan ujung konus, nilai tahanan konus terkoreksi dapat dihitung
dengan persamaan q
T1
= (q
t
/ p
a
) / (σ
vo
’/ p
a
)
0,5
, dengan p
a
adalah tegangan acuan = 1 bar ≈ 1
kg/cm
2
≈ 1 tsf ≈ 100 kPa (periksa Gambar 9).


Gambar 9 Evaluasi kepadatan relatif pasir kuarsa murni NC dan OC dari data CPT
(FHWA NHI-01-031)
(CATATAN : tahanan ujung penormal qt1 = qc/(σvo’)
0,5
dengan tegangan dalam atmosfir, 1atm ≈1 tsf ≈100 kPa)


Gambar 10 Kepadatan relatif pasir murni vs indeks tegangan
horisontal DMT, K
d
= (p
0
– u
0
) / /σ
vo
’) (FHWA NHI-01-031)

f) Pengaruh lainnya yaitu karena rasio overkonsolidasi (OCR), ukuran butiran rata-rata,
kompresibilitas tanah, dan umur juga dapat diperhitungkan (Kulhawy dan Mayne, 1991). Namun
faktor-faktor ini biasanya tidak digunakan pada waktu penyelidikan lapangan secara rutin.
Pd T-05-2005-A
25 dari 112
Daftar
Rsni 2006
BACK
Peningkatan OCR dalam pasir akan menurunkan kepadatan relatif asli yang diberikan dalam
persamaan (13).
g) Berdasarkan uji dilatometer (DMT) di lapangan dan uji kalibrasi di laboratorium, dapat diperoleh
kurva hubungan antara perkiraan nilai D
R
dan indeks tegangan lateral dilatometer DMT, seperti
diperlihatkan dalam Gambar 10.

4.4 Riwayat kekuatan dan tegangan
Hasil-hasil uji lapangan banyak digunakan untuk mengevaluasi kuat geser dan perubahan relatif
perlapisan tanah di sekitar lokasi proyek, dengan penjelasan sebagai berikut.
a) Kuat geser pasir terdrainase yang sesuai dengan sudut geser tegangan efektif (φ’) dapat
diinterpretasikan dari hasil uji SPT, CPT, DMT, dan PMT.
b) Untuk pembebanan jangka pendek pada lempung dan lanau, kuat geser tidak terdrainase (s
u
)
paling cocok ditentukan dari grafik hubungan terkoreksi dengan derajat terkonsolidasi berlebih.
Dengan cara ini, data hasil uji lempung di lapangan insitu dapat digunakan untuk mengevaluasi
tegangan prakonsolidasi efektif (σ
p
’) dari CPT, CPTu, DMT, dan V
s
, sehingga dapat diperoleh
rasio overkonsolidasi (terkonsolidasi berlebih) terkait (OCR = σ
p
’/σ
vo
’).
c) Kuat geser lanau dan lempung utuh jangka panjang dinyatakan dengan parameter kuat geser
efektif (φ’ dan c’ = 0), dan diperoleh dari uji triaksial terkonsolidasi tidak terdrainase (CU)
dengan pengukuran tekanan air pori, uji triaksial terkonsolidasi terdrainase, atau uji geser
langsung secara lambat di laboratorium.
d) Untuk lempung yang mengandung rekahan (fissures), parameter kuat geser residual (φ
r
’ ≠ 0
dan c
r
’ = 0) akan memadai untuk lereng dan galian. Parameter ini diperoleh dari hasil uji geser
cincin di laboratorium atau serangkaian uji geser langsung bolak balik.

4.4.1 Sudut geser pasir terdrainase
Sudut geser puncak pasir (φ’) bergantung pada mineralogi butiran, tingkat tegangan keliling efektif
dan pengaturan kepadatan (Bolton, 1986). Pasir menghasilkan nilai nominal φ’ hanya berdasarkan
pertimbangan mineralogi yang sesuai dengan keadaan kritis (φ
cs
’) yang ditentukan. Keadaan kritis
menggambarkan kondisi keseimbangan untuk butiran-butiran pada angka pori dan tingkat tegangan
keliling efektif. Uraian penjelasannya sebagai berikut.
a) Gambar 11 menunjukkan hubungan tiga komponen γ, D
R
, dan φ’ sesuai dengan berat volume
tanah nonkohesif. Dari gambar tersebut parameter φ’ dapat langsung diketahui, misalnya untuk
pasir kuarsa murni γ = 1,7 t/m
3
, D
R
= 50 %, dan φ
cs
’ ≈ 33
0
, pasir feldspathic γ = 1,8 t/m
3
, D
R
= 25
%, dan φ
cs
’ ≈ 30
0
dan tanah pasiran micaceous γ = 1,6 t/m
3
, D
R
= 0 %, dan φ
cs
’ ≈ 27
0
. Dalam
kondisi alami, pasir yang lebih padat dibandingkan dengan yang paling lepas dan pengaruh
pengembangan (dilatansi) menghasilkan φ’ puncak lebih besar dari φ
cs
’.
b) Sudut geser pasir efektif (φ’) biasanya diperoleh dari hasil uji lapangan. Sementara itu, untuk
mendapatkan φ’ puncak dapat diperoleh dari uji triaksial di laboratorium terhadap contoh pasir
tidak terganggu dengan teknik pembekuan (freezing) dalam lubang bor.
c) Nilai-nilai tersebut dikorelasi secara berurutan dengan nilai N yang diperoleh dari lubang bor
yang sama dan lubang bor yang berdekatan, dengan menggunakan koreksi tenaga dan
prosedur koreksi yang diuraikan sebelumnya (subpasal 4.3.2). Sudut geser puncak (φ’) yang
sesuai dengan tahanan (N
1
)
60
disajikan dalam Gambar 12.
Pd T-05-2005-A
26 dari 112
Daftar
Rsni 2006
BACK
d) Penetrometer konus dapat diperhitungkan sebagai model mini fondasi tiang dan tahanan ujung
terkoreksi (q
T
), yang menggambarkan tahanan dukung ujung asli (q
b
). Dalam perhitungan daya
dukung batas, tekanan dukung ujung tiang yang diperoleh dari teori batas plastisitas
memberikan q
b
= N
q
σ
vo
’, dengan N
q
adalah faktor daya dukung untuk beban tambahan yang
bergantung pada sudut geser. Oleh karena itu, salah satu metode interpretasi CPT dalam pasir
yang banyak dikenal adalah menginversikan rumus (N
q
= q
t

vo
’ = f
c
tan φ’) untuk mendapatkan
nilai φ’ (Robertson & Campanella, 1983). Metode evaluasi nilai φ’ puncak pasir kuarsa murni
dari tahanan ujung terkoreksi CPT, diperlihatkan dalam Gambar 13.


Gambar 11 Hubungan antara berat volume kering, sudut geser dalam, kepadatan relatif dan
jenis tanah (NAVFAC DM 7.1, 1982)


Gambar 12 Sudut geser puncak pasir dari nilai SPT terkoreksi /penormalan
(Hatanaka & Uchida, 1996)
CATATAN : Tahanan terkoreksi (N
1
)
60
= N
60
/(σ
vo
’ /p
a
)
0,5
dengan p
a
= 1 bar ≈ 1 tsf ≈ 100 kPa

Pd T-05-2005-A
27 dari 112
Daftar
Rsni 2006
BACK

Gambar 13 Sudut geser pasir kuarsa berdasarkan tahanan ujung terkoreksi CPT
(Robertson & Campanella, 1983)

e) Solusi dengan cara Wedge- plasticity telah dikembangkan untuk menentukan nilai φ’ pasir murni
dengan menggunakan uji dilatometer (DMT), seperti dirangkum oleh Marchetti (1997) dan telah
dikalibrasi dengan data dari jenis pasir yang berbeda pada lokasi uji yang didokumentasi (lihat
Gambar 14). Secara teoritis kurva yang diberikan untuk kondisi-kondisi tekanan tanah aktif (K
A
),
diam (K
0
), dan pasif (K
P
), dengan nilai-nilai φ’ terkait dibandingkan dengan data hasil uji.



Gambar 14 Evaluasi sudut geser pasir dari hasil DMT berdasarkan
solusi berat-plastisitas (Marchetti, 1997) dan data hasil uji (Mayne, 2001)

f) Hasil-hasil uji pressuremeter (PMT) dapat digunakan untuk evaluasi kuat geser pasir
berdasarkan teori dilatansi/pengembangan (Wroth, 1984). Gambar 15a dan 15b
memperlihatkan prosesing kurva tekanan pengembangan teruji vs regangan rongga teruji.
Berhubung regangan rongga (ε
c
= ∆r/r
0
) diperoleh dari uji langsung tekanan pengeboran (buku
pedoman volume II), konversi terhadap regangan volumetrik (ε
vol
= ∆V/V) pada pengeboran
awal diberikan sebagai berikut.

ε
c
= (1 - ε
vol
)
-0,5
- 1 ............................................................. (15)
Pd T-05-2005-A
28 dari 112
Daftar
Rsni 2006
BACK


(a) (b)
Gambar 15 Prosesing data PMT pasir untuk menentukan φ’ puncak (Wroth, 1984)
CATATAN : p
a
adalah tegangan acuan = 1 atm = 1 bar ≈ 100 kPa

g) Pada grafik log-log tekanan efektif (p
e
– u
0
) vs regangan rongga (ε
c
), parameter s diperoleh
sebagai kemiringan (Gambar 15b) sehingga s = ∆log (p
e
– u
0
) / ∆(ε
c
). Pada keadaan kritis yang
berkaitan dengan nilai φ
cv
’ pasir (biasanya diambil 33
0
), nilai φ’ puncak untuk ragam tekanan
triaksial diperoleh dari Gambar 16.


Gambar 16 Hubungan antara φ’ puncak pasir murni dan parameter kemiringan
dari data uji pressuremeter (PMT)


4.4.2 Tegangan prakonsolidasi lempung
Tegangan prakonsolidasi efektif (σ
p
’) adalah parameter penting yang akan mempengaruhi kekuatan,
kekakuan, keadaan tegangan lateral geostatic dan respon tekanan air pori tanah. Parameter ini
diperoleh melalui uji oedometer 1-dimensi (uji konsolidasi) pada contoh tanah bermutu tinggi.
Pd T-05-2005-A
29 dari 112
Daftar
Rsni 2006
BACK
Pengaruh terhadap gangguan pada waktu pengambilan, pengeluaran, dan penanganan akan
cenderung mengurangi besaran σ
p
’ dari nilai tegangan setempat (insitu).

Beberapa hal yang perlu dipertimbangkan adalah sebagai berikut.
a) Bentuk tegangan yang terkoreksi disebut rasio overkonsolidasi (OCR) dan ditentukan dengan
persamaan

OCR = σ
p
’ / σ
vo
’ ................................................................. (16)

Tanah sering kali terkonsolidasi berlebih sampai suatu tingkat tertentu seiring dengan skala
waktu geologi dan telah mengalami banyak perubahan. Faktor-faktor yang menyebabkan
terkonsolidasi berlebih mencakup erosi, desikasi, fluktuasi muka air tanah, umur, siklus
pembekuan-pencairan, siklus pembasahan-pengeringan, pemrosesan salju/es, dan sementasi
(cementation).

b) Kurva e-log (σ
v
’) diperoleh dari uji konsolidasi 1-dimensi pada lempung laut (marine),
diperlihatkan dalam Gambar 17. Tegangan prakonsolidasi yang diamati dapat digunakan untuk
memisahkan tahap tekanan ulang (regangan elastis) dari bagian tekanan asli (virgin
compression) suatu respon.


Gambar 17 Hasil uji konsolidasi pada lempung terkonsolidasi berlebih

c) Pemeriksaan tingkat ketelitian indeks kompresi dapat dilakukan berdasarkan hubungan empiris
dengan sifat plastisitas lempung. Rumus indeks kompresi (C
c
) sesuai dengan batas cair (LL)
diberikan oleh Terzaghi dkk (1996) sebagai berikut

C
c
= 0,009 (LL – 10) ................................................................. (17)

Karena adanya pengaruh serat, struktur, dan kepekaan di daerah deposit alami, nilai C
c
dari hasil
uji lebih besar daripada nilai yang diberikan dalam rumus (17). Sebagai contoh pada Gambar 17
dengan LL = 47, rumus (17) menghasilkan C
c
terhitung = 0,33 dibandingkan C
c
teruji = 0,38 dari
uji oedometer.

d) Secara statistik rumus indeks kompresi (C
c
) dan indeks pengembangan (C
s
) dari siklus unload-
reload dalam Gambar 18 berkaitan dengan indeks plastisitas (PI). Akan tetapi, PI diperoleh
pada tanah yang dicetak ulang, sedangkan hasil uji konsolidasi dilakukan pada lanau dan
Pd T-05-2005-A
30 dari 112
Daftar
Rsni 2006
BACK
lempung alami. Jadi tanah terstruktur dengan kepekaan sedang sampai tinggi dan tersementasi
akan cenderung mulai diteliti, sehingga diperlukan tambahan uji dan kehati-hatian dalam
penggunaannya.


Gambar 18 Tanda-tanda kecenderungan terjadi tekanan dan penyembulan berkaitan
dengan indeks plastisitas (FHWA NHI-01-031)

e) Profil tegangan prakonsolidasi tanah lanau dan lempung dapat dievaluasi berdasarkan data
hasil uji insitu. Hubungan antara σ
p
’, indeks plastisitas (PI) dan kuat geser baling teruji tanah
asli (s
uv
) diperlihatkan dalam Gambar 19, yang memberikan perkiraan cepat derajat konsolidasi
berlebih deposit tanah alami.


Gambar 19 Rasio hasil uji kuat geser baling dengan tegangan prakonsolidasi
(s
uv
/ σ
p
’) vs indeks plastisitas (I
p
) (Leroueil dan Jamiolkowski, 1991)

Pd T-05-2005-A
31 dari 112
Daftar
Rsni 2006
BACK
f) Untuk uji penetrometer konus elektrik pada deposit lempung utuh, Gambar 20 memperlihatkan
hubungan σ
p
’ sesuai dengan tahanan konus netto (q
t
- σ
vo
). Lempung yang mengandung
rekahan (fissured) diperkirakan terletak di atas keadaan tersebut. Untuk uji pisokonus pada
lempung dapat dievaluasi dari tekanan air pori berlebih (u
1
– u
0
), seperti diperlihatkan dalam
Gambar 21.



Gambar 20 Hubungan antara tegangan prakonsolidasi dengan tahanan konus konus netto
berdasarkan hasil CPT elektrik (FHWA NHI-01-031)



Gambar 21 Hubungan antara tegangan prakonsolidasi dan tekanan air pori berlebih berdasarkan
hasil uji pisokonus pada lempung (FHWA NHI-01-031)

g) Korelasi langsung antara tegangan prakonsolidasi efektif dan tekanan kontak netto (p
0
-u
0
) dari
hasil uji dilatometer, diperlihatkan dalam Gambar 22. Namun, respons untuk lempung utuh dan
Pd T-05-2005-A
32 dari 112
Daftar
Rsni 2006
BACK
lempung dengan rekahan berbeda. Kecepatan gelombang geser (V
s
) dapat juga memberikan
perkiraan σ
p
’ (lihat Gambar 23). Pada umumnya, profil σ
p
’ yang diperoleh dari hasil uji insitu
diperkirakan dengan hasil-hasil uji oedometer.




Gambar 22 Hubungan antara tegangan prakonsolidasi dan tegangan kontak netto berdasarkan
hasil uji DMT pada lempung (FHWA NHI-01-031)


Gambar 23 Hubungan antara tegangan prakonsolidasi dan kecepatan gelombang
geser lempung (Mayne, Robertson & Lunne, 1998)

h) Sejarah tegangan dapat juga diperlihatkan sesuai dengan parameter tanpa dimensi, sehingga
rasio overkonsolidasi OCR = σ
p
’ / σ
vo
’. Dari uji dilatometer (DMT) secara teoritis OCR dapat
dihubungkan dengan indeks tegangan horisontal [K
D
= (p
0
-u
0
)/ σ
vo
’] dengan menggunakan
Pd T-05-2005-A
33 dari 112
Daftar
Rsni 2006
BACK
formulasi hibrid berdasarkan keadaan kritis dan regangan rongga tanah, yang diperlihatkan
dalam Gambar 24a (Mayne, 2001). Hubungan tersebut tidak merupakan rumus tunggal antara
OCR dan K
D
seperti telah dibahas sebelumnya (misal Marchetti, 1980; Schmertmann, 1986).
Namun, hal itu bergantung pula pada sifat lempung dan parameter lainnya, termasuk sudut
geser efektif (φ’), rasio regangan volumetrik plastis (Λ), dan indeks kekakuan tanpa drainase I
R

= G/s
u
dengan G adalah modulus geser dan s
u
adalah kuat geser tanpa drainase. Parameter Λ
≈ 1 – C
s
/C
c
dengan C
s
adalah indeks pengembangan (swelling) dan C
c
adalah indeks tekanan
asli, diperoleh dari hasil uji konsolidasi 1-dimensi. Parameter M
c
digunakan untuk memberikan
karakteristik geseran M
c
= 6 sin φ’ / (3-sin φ’). Hubungan antara OCR dan K
D
bergantung juga
pada variabel lain yang belum dihubungkan dalam persamaan, termasuk umur deposit, serat,
struktur dan mineralogi.

i) Faktor penting yang perlu diketahui adalah kondisi lempung utuh atau mengandung celah.
Celah-celah dapat disebabkan oleh keadaan tanpa pembebanan berlebih (erosi) sampai terjadi
kondisi tekanan tanah pasif atau oleh desikasi yang luas dan mekanisme lain. Tingkat
pemrosesan celah secara efektif dapat mengurangi kekuatan kerja lempung. Jika pembatasan
OCR telah tercapai (lihat subpasal 5.4), kuat geser kerja (s
u
) yang dihitung dengan persamaan
di atas dalam Gambar 24a akan berkurang menjadi ½ dari nilai OCR untuk lempung utuh.

j) Data kompilasi dari hasil uji lempung di seluruh dunia dalam Gambar 24b memperlihatkan
kecenderungan umum antara OCR dan K
D
. Batasan dari evaluasi the Cavity Expansion-
Modified Cam Clay (CE-MCC) dikombinasi untuk menghasilkan data agar masuk dalam rentang
tersebut. Selain itu dengan menggunakan nilai rata-rata parameter tanah yang diharapkan (φ’ =
30
0
, Λ = 0,8, I
R
= 100), hasil-hasil dari persamaan OCR = (0,63 K
D
)
1,25
hampir sama dengan
hasil dari persamaan asli yang diusulkan oleh Marchetti (1980) yaitu OCR = (0,50 K
D
)
1,56
.


Gambar 24 Hubungan antara rasio overkonsolidasi dan indeks tegangan horisontal
DMT Kd berdasarkan (a) teori regangan rongga – keadaan kritis, dan
(b) basisdata lempung di seluruh dunia (FHWA NHI-01-031)

k) Pendekatan yang sama untuk mendapatkan OCR pada lempung dari hasil uji pisokonus
diperlihatkan dalam Gambar 25 dengan menggunakan formulasi yang berdasarkan konsep CE-
MCC (Mayne, 1991). Dalam hal ini dua hasil uji yang terpisah digunakan dari data pisokonus
(q
T
dan u
2
) sehingga mengurangi jumlah input parameter yang diperlukan dalam persamaan.
Pd T-05-2005-A
34 dari 112
Daftar
Rsni 2006
BACK
Dengan demikian, rasio overkonsolidasi sesuai dengan parameter pisokonus yang dinormalisir
(q
T
– u
2
)/ σ
vo
’ maupun parameter M
c
= 6 sin φ’ / (3-sin φ’) dan Λ ≈ 1 – C
s
/C
c
.

Gambar 25 Rangkuman evaluasi kalibrasi OCR menggunakan hasil uji pisokonus
pada lempung dengan gabungan kurva-kurva dari model analisis (FHWA NHI-01-031)

4.4.3 Kuat geser lempung dan lanau tidak terdrainase
Kuat geser tidak terdrainase (s
u
atau c
u
) bukan suatu sifat tanah yang khusus, tetapi suatu perilaku
tanah akibat pembebanan yang bergantung pada faktor-faktor arah tegangan kerja, syarat-syarat
batas, laju regangan, konsolidasi berlebih, derajat pemrosesan celah, dan lain-lain. Oleh karena itu,
biasanya sulit untuk membandingkan langsung kuat geser tidak terdrainase yang teruji dengan
perbedaan hasil uji lapangan dan laboratorium. Kecuali jika faktor-faktor penting telah
diperhitungkan sesuai dengan pertimbangan dan penentuan yang memadai.

Sebagai contoh, kuat geser tidak terdrainase yang menggambarkan kondisi keruntuhan sesuai
dengan tegangan geser puncak dengan kurva regangan geser. Waktu untuk mencapai tegangan
puncak dipengaruhi oleh kecepatan pembebanan. Oleh karena itu, uji triaksial terkonsolidasi tidak
terdrainase biasanya dilakukan dengan waktu keruntuhan dalam beberapa jam, sedangkan uji
geser baling dapat terjadi dalam beberapa menit, bahkan dalam detik jika dilakukan dengan
penetrometer konus.

Beberapa hal yang perlu dipertimbangkan adalah sebagai berikut.
a) Arah pembebanan berpengaruh pada uji kuat geser tidak terdrainase (Jamiolkowski dkk, 1985)
yang dikenal sebagai kuat geser anisotropik. Kuat geser lempung tidak terdrainase akibat
pengaruh pembebanan horisontal (disebut pembebanan tipe pengembangan atau ragam pasif)
lebih kecil daripada pengaruh pembebanan vertikal (ragam tekanan atau aktif). Ragam kuat
geser sederhana adalah nilai kuat geser tidak terdrainase rata-rata yang representatif untuk
keperluan analisis desain secara rutin (Ladd, 1991).
Pd T-05-2005-A
35 dari 112
Daftar
Rsni 2006
BACK

b) Kebanyakan laboratorium tidak dilengkapi dengan peralatan yang cukup untuk uji tekan triaksial
(TC) secara berurutan. Oleh karena itu, dapat dilakukan uji geser langsung sederhana (DSS)
dan uji pengembangan triaksial (TE), baik hubungan empiris ataupun konstitutif. Untuk lanau
dan lempung terkonsolidasi normal pada Gambar 26 diperlihatkan tingkatan relatif ragam-
ragam tersebut dan arah dengan indeks plastisitas (I
p
). Dalam hal ini, kuat geser tidak
terdrainase telah terkoreksi oleh tingkat tegangan overburden efektif, seperti dinyatakan dengan
rasio (s
u

vo
’ atau c
u

vo
’) yang mengacu pada rasio c/p’ semula.


Gambar 26 Ragam rasio kuat geser lempung tidak terdrainase terkonsolidasi normal (s
u
/
σ
vo
’)
NC
dari berbagai cara uji dengan indeks plastisitas (Jamiolkowski dkk, 1985)


Gambar 27 Kuat geser lempung tidak terdrainase normal NC akibat
ragam pembebanan berbeda dengan model pengganti (Ohta dkk, 1985)
Pd T-05-2005-A
36 dari 112
Daftar
Rsni 2006
BACK

c) Secara teoritis hubungan timbal balik ragam pembebanan tidak terdrainase untuk lempung
terkonsolidasi normal diperlihatkan dalam Gambar 27 dengan menggunakan model pengganti
(Ohta dkk, 1985). Rasio penormalan lempung terkonsolidasi normal (s
u

vo
’)
NC
yang meningkat
dengan nilai φ’ untuk setiap ragam geser mencakup uji triaksial tekan isotropik terkonsolidasi
tidak terdrainase (CIUC=consolidated isotropic undrained compression), uji geser tekan plane
strain (PSC), uji triaksial tekan anisotropik terkonsolidasi tidak terdrainase (CK
0
UC), uji geser
langsung dengan kotak geser (SBT), uji geser simple shear (DSS), uji pressuremeter (PMT), uji
geser baling (VST), uji plane strain extension (PSE), dan uji pengembangan triaksial
terkonsolidasi secara anisotropik (CK
0
UE). Berdasarkan hubungan tersebut (Kulhawy & Mayne,
1990) dapat dihasilkan gambaran sifat umum dari data hasil uji laboratorium sebanyak 206 jenis
tanah lempung.

d) Berdasarkan data hasil pengujian secara luas (Ladd, 1991) dan teori critical state (Wroth,
1984), rasio penormalan (s
u

vo
’) akan meningkat sesuai dengan rasio overkonsolidasi (OCR)
menurut persamaan

(s
u

vo
’)
OC
= (s
u

vo
’)
NC
OCR
Λ
................................................. (18)

dengan Λ ≈ 1 – C
s
/C
c
dan umumnya diambil kira-kira 0,8 untuk tanah tidak terstruktur dan tidak
tersementasi. Jika diperlukan koreksi untuk suatu ragam uji kuat geser tertentu, nilai NC dapat
diperkirakan dengan menggunakan Gambar 26 atau Gambar 27, dan dengan persamaan (18)
dapat dihitung kuat geser tidak terdrainase pada keadaan terkonsolidasi berlebih.

Dalam analisis stabilitas timbunan atau bendungan dan perhitungan daya dukung batas, ragam
geser sederhana dapat diperhitungkan dari nilai karakteristik kuat geser tidak terdrainase rata-
rata yang representatif, seperti diperlihatkan dalam Gambar 28 dan diberikan dengan rumus

(s
u

vo
’)
NC
= ½ sin φ’ OCR
Λ
....................................................... (19)


Gambar 28 Hubungan antara rasio kuat geser tidak terdrainase dengan
OCR dan φ’ untuk ragam geser sederhana (FHWA NHI-01-031)

Pd T-05-2005-A
37 dari 112
Daftar
Rsni 2006
BACK
e) Untuk lanau dan lempung lunak utuh dengan nilai OCR
S
yang rendah (< 2), persamaan (18)
dapat diturunkan menjadi bentuk sederhana (φ’ = 30
0
)

s
u
(DSS) ≈ 0,22 .............................................................. (20)

yang konsisten dengan kuat geser yang dihitung balik dari keruntuhan urugan, fondasi dan
galian maupun koreksi kuat geser baling dari hasil uji lapangan (Terzaghi dkk, 1996). Untuk
analisis desain bangunan di atas tanah lunak, harus digunakan persamaan (19) dalam evaluasi
kuat geser efektif tidak terdrainase (Jamiolkowski dkk, 1985; Ladd, 1991).

4.4.4 Keadaan tegangan lateral
Tegangan dalam keadaan geostatik lateral (K
0
) adalah salah satu hasil uji yang paling penting
dalam geoteknik. Hal ini sering kali dinyatakan sebagai koefisien tegangan horisontal K
0
= σ
ho
’ /σ
vo

dengan σ
ho
’ adalah tegangan lateral efektif dan σ
vo
’ adalah tegangan vertikal efektif. Banyak alat
inovatif telah dilengkapi untuk uji tegangan horisontal total insitu (σ
ho
) yang meliputi sel tegangan
total, alat uji pressuremeter tipe selfboring, alat hydraulic fracturing dalam pisometer, dan alat-alat
lainnya. Upaya penelitian mutakhir telah mencoba menggunakan rangkaian uji gelombang geser
yang diarahkan ke dalam lapisan tanah dengan memperhitungkan (decipher) K
0
insitu.

Secara praktis biasanya K
0
diperoleh dari korelasi empiris dengan derajat overkonsolidasi sebagai
berikut

K
0
= (1 – sin φ’ ) OCR
sin φ’
..................................................... (21)

yang dikembangkan berdasarkan uji laboratorium yang mencakup alat uji oedometer, sel triaksial,
dan cincin belah (Mayne & Kulhawy, 1982). Gambar 29a dan 29b memperlihatkan penggunaan
umum persamaan (20) yang dibandingkan dengan data K
0
untuk lempung dan pasir dari hasil uji
lapangan secara langsung.


Gambar 29 Hubungan antara K
0
lapangan dan OCR untuk (FHWA NHI-01-031)
(a) lempung alami dan (b) pasir alami

Hal-hal lain yang perlu diperhatikan adalah sebagai berikut.
Pd T-05-2005-A
38 dari 112
Daftar
Rsni 2006
BACK
a) Pada umumnya, nilai K
0
mempunyai batas atas yang dibatasi oleh koefisien tekanan pasif K
p
.
Nilai K
p
dari Rankine yang paling sederhana dihitung dengan persamaan

K
p
= tan
2
(45
0
+ ½ φ’ ) = (1 + sin φ’ )/(1 – sin φ’ ) ........................... (22)

b) Bila K
0
di lapangan mencapai nilai tekanan tanah pasif K
p
, perekahan dan peretakan massa
tanah dapat meluas. Hal ini akan berpengaruh pada massa tanah yang posisinya miring karena
adanya rekakan yang meluas sesuai dengan kuat geser terdrainase yang hampir sama dengan
parameter kuat geser residual (φ
r
’ ≠ 0 dan c
r
’ = 0). Pada lempung yang mengalami proses
pengeringan, rekahan dapat terjadi sebelum tercapai tekanan tanah pasif. Untuk material
tersementasi, persamaan (22) akan menghasilkan nilai K
p
berlebihan, sehingga perhitungan
lebih tepat dilakukan dengan persamaan K
p
= N
φ
+ 2c’ /σ
vo
’ √N
φ
dan N
φ
= (1 + sin φ’) / (1 – sin
φ’).

c) Nilai batas OCR dapat dihitung bila persamaan (21) sama dengan persamaan (22):

OCR
batas
= [ (1 + sin φ’ )/(1 – sin φ’ )
2
]
(1/sinφ’)
............................. (23)

Jaringan rekahan pada tanah endapan dapat mengurangi kuat geser kerja lempung tidak
terdrainase secara efektif. Jadi, OCR
batas
dapat digunakan untuk menentukan batas atas nilai s
u

yang dihitung dengan persamaan (18) dan (19) maupun rangkaian batas atas K
0
yang diberikan
oleh persamaan (21).

d) Untuk evaluasi K
0
lempung, disarankan menggunakan persamaan (21) sesuai dengan profil
OCR yang dihasilkan dari uji oedometer dan dilengkapi dengan korelasi di lapangan yang
diuraikan dalam sub pasal 5.4. Uji triaksial atau uji geser langsung dapat digunakan untuk
mendapatkan hubungan φ’ tanah. Uji dilatometer (DMT) juga dapat digunakan untuk perkiraan
K
0
lempung, lanau dan pasir insitu secara langsung, serta kajian lengkap dari hubungan yang
diberikan oleh Mayne & Martin (1998).

e) Untuk memperkirakan K
0
pasir kuarsa murni dengan CPT, basisdata kalibrasi bilikkotak
(chamber) harus dikompilasi dan dianalisis terlebih dahulu (Lunne dkk, 1997). Hasil analisis
didasarkan atas studi statistik regresi ganda terhadap 26 jenis pasir berbeda, dengan
memperhitungkan pengaruh batasan ukuran bilikkotak (Kulhawy & Mayne, 1990). Setiap
bilikkotak kalibrasi berdinding fleksibel dan berdiameter antara 0,9 m sampai 1,5 m dengan
tinggi sama. Persiapan deposit pasir dalam bilikkotak besar ini berlangsung kira-kira 1 minggu
dengan metode pluviation atau metode slari. Kepadatan relatif berkisar dari 10% sampai 100%.

Setelah pemasangan, contoh diatur pada salah satu variasi kondisi tegangan dengan
menggunakan tegangan-tegangan kerja horisontal dan vertikal dan keadaan terkonsolidasi
normal sampai terkonsolidasi berlebih (1 ≤ OCRs ≤ 15). Pengujian biasanya dalam keadaan
kering atau jenuh, dan dengan atau tanpa tekanan balik. Tahap akhir adalah uji CPT melalui
pusat spesimen silindris. Hasil rangkuman dari basisdata hasil uji bilikkotak yang diberikan
dalam Gambar 30 memperlihatkan hubungan antara tegangan lateral kerja dan tahanan ujung
konus teruji.

f) Dengan menggabungkan penyajian Gambar 30 dengan persamaan (21), dapat diperkirakan
rasio overkonsolidasi pasir (Mayne, 1995, 2001) sebagai berikut

OCR = [1,33 q
T
0,22
/ K
0NC

vo
’)
0,31
]
1/( α- 0,27)
......................... (24)

dengan K
0NC
= 1-sin φ’ dan α = sin φ’.

Pd T-05-2005-A
39 dari 112
Daftar
Rsni 2006
BACK

Gambar 30 Hubungan antara perkiraan kondisi tegangan lateral pasir dengan tahanan ujung
terkoreksi berdasarkan hasil uji CPT (FHWA NHI-01-031)

4.5 Parameter kekakuan dan deformasi
Kekakuan tanah dinyatakan dengan beberapa parameter yang meliputi indeks konsolidasi (C
c
, C
r
,
C
s
), modulus terdrainase (E’, G’, K’, D’), modulus tidak terdrainase (E
u
, G
u
), dan atau koefisien
reaksi subgrade (k
s
). Konstanta elastis diperkirakan seperti pada Gambar 31. Untuk beban tidak
terdrainase tidak terjadi perubahan volume (∆V/V = 0), sementara untuk beban terdrainase
perubahan volumetrik dapat terjadi kontraktif (menurun) atau dilatif (meningkat).

Menurut teori elastisitas umumnya semua parameter deformasi berhubungan secara timbal balik.
Sebagai contoh, indeks rekompresi (C
r
) yang biasanya diambil sama dengan indeks pengembangan
(C
s
), dapat dihubungkan dengan modulus konstrain (D’ = ∆σ
v
’ / ∆ε
v
) yang diperoleh dari uji
konsolidasi sebagai berikut.

D’ = [ (1+e
0
) / C
r
] ln (10) σ
vo
’ ................................................. (25)

yang berlaku hanya untuk bagian yang mengalami konsolidasi berlebih. Jika beban pengurugan
melebihi tegangan prakonsolidasi lapisan lempung alami di bawahnya sehingga tanah menjadi
terkonsolidasi normal, perkiraan D’ yang terkait harus menggunakan C
c
dalam persamaan (25).

Hal-hal lainnya yang perlu dipertimbangkan adalah sebagai berikut.
a) Secara statistik modulus elastis terdrainase berhubungan timbal balik dengan persamaan
berikut (Lambe & Whitman, 1979)

E’ = 2 G’ (1 + ν’ ) ......................................................................... (26)
Pd T-05-2005-A
40 dari 112
Daftar
Rsni 2006
BACK

D’ = E’ (1 - ν’) / [ (1 + ν’)(1 – 2 ν’) ] ............................................ (27)

K’ = E’ / [ 3 (1 – 2 ν’) ] ............................................................... (28)

dengan ν’ ≈ 0,2 adalah angka Poisson terdrainase untuk semua jenis tanah (Tatsuoka &
Shibuya, 1992). Untuk beban tidak terdrainase, angka Poisson ekivalen adalah ν
u
≈ 0,5. Oleh
karena itu, hubungan antara modulus Young dan modulus geser menjadi

E
u
= 3 G
u
.............................................................................. (29)

Modulus konstrain (D) dan modulus bulk (K) tidak berlaku untuk kondisi tidak terdrainase.


Gambar 31 Perkiraan modulus elastis sesuai dengan syarat pembebanan dan syarat batas yang
digunakan (FHWA NHI-01-031)

b) Uji lapangan yang digunakan untuk memperoleh karakteristik deformasi tanah secara langsung
mencakup uji pressuremeter, dilatometer, beban pelat, dan pelat ulir. Teori elastisitas biasanya
digunakan untuk memperkirakan modulus elastis ekivalen (E). Kesulitan terbesar pada waktu
memperkirakan besaran modulus biasanya terjadi karena adanya gangguan yang disebabkan
selama pemasangan, tingkat drainase, dan tingkat regangan. Hal tersebut terjadi terutama bila
perilaku kekuatan-tegangan-regangan tanah tidak linier, anisotropik, dan bergantung pada laju
regangan.
c) Modulus adalah nilai non-singular yang bervariasi sesuai dengan tingkat tegangan, regangan
dan laju pembebanan. Pada umumnya dari penyelidikan geoteknik hanya dihasilkan nilai-nilai
SPT dan atau CPT, tetapi untuk analisis penurunan dan perhitungan defleksi diperlukan
perkiraan parameter deformasi. Data penetrasi dari hasil uji setelah respon tegangan-regangan
sesuai dengan kekuatan material tanah diperlihatkan dalam Gambar 32.

Pd T-05-2005-A
41 dari 112
Daftar
Rsni 2006
BACK
d) Data awal berupa kurva tegangan-regangan dari hasil uji pressuremeter (PMT) dan uji
dilatometer (DMT) kemungkinan tidak signifikan, kecuali jika dilakukan pengujian tanpa beban
dan dibebani ulang untuk menentukan daerah elastis ekivalen yang lebih baik. Faktor
keamanan (FK) yang sesuai dengan keadaan tegangan awal (K
0
) sampai runtuh (τ
max
) dapat
digabungkan dengan modulus, seperti diperlihatkan dalam Gambar 32. Kekakuan awal yang
dinyatakan oleh nilai dukung diperoleh dari kecepatan gelombang geser dan memberikan nilai
batas (benchmark) yang jelas.


Gambar 32 Kurva tegangan-regangan ideal dan kekakuan tanah pada regangan kecil
dan besar (FHWA NHI-01-031)

4.5.1 Modulus pada regangan kecil
Berdasarkan penelitian mutakhir telah ditemukan kekakuan tanah pada regangan kecil dari hasil uji
kecepatan rambat gelombang geser (V
s
) yang berlaku untuk pembebanan monotonik statik awal
maupun dinamik (Burland, 1989; Tatsuoka & Shibuya, 1992; LoPresti dkk, 1993).
Oleh karena itu, modulus geser dinamik asli (G
din
) didefinisikan sebagai modulus geser maksimum
(sekarang disebut G
max
atau G
0
), yang menggambarkan kekakuan batas atas. Parameter ini
dinyatakan dengan persamaan G
0
= ρ
T
(V
s
)
2
, dengan ρ
T
= γ
T
/g adalah kepadatan massa tanah total,
γ
T
adalah berat volume total (berat volume jenuh yang dihitung dari persamaan (5) dan g = 9,8
m/det
2
adalah konstanta gravitasi.

Pd T-05-2005-A
42 dari 112
Daftar
Rsni 2006
BACK
Hal-hal lain yang perlu diperhatikan ialah sebagai berikut.
a) Nilai G
0
adalah kekakuan dasar dari semua bahan padat (dalam teknik sipil) dan dapat diuji
untuk semua jenis tanah mulai dari koloida, lempung, lanau, pasir, kerikil, kerakal, sampai
batuan retakan dan batuan utuh.

b) Modulus elastis ekivalen dihitung dari E
max
= E
0
= 2 G
0
(1 + ν) dengan ν = 0,2 adalah nilai angka
Poisson yang representatif untuk tanah pada regangan kecil. Gelombang geser dapat
diperkirakan dengan kedua cara uji lapangan dan uji laboratorium (lihat buku pedoman volume
II).

c) Untuk tanah dan batuan tertentu, telah dikembangkan korelasi yang dikalibrasi antara jenis-
jenis uji khusus (misal PMT, DMT) dan kinerja data yang dipantau dari fondasi dan bendungan
skala penuh. Jenis-jenis uji ini menghasilkan modulus antara sepanjang kurva tegangan-
regangan-kekuatan (Gambar 33). Secara khusus modulus regangan kecil dari hasil uji
kecepatan gelombang geser memberikan nilai acuan yang sangat baik, karena merupakan
kekakuan maksimum tanah pada angka pori dan keadaan tekanan keliling efektif tertentu.
Pendekatan umum didasarkan atas kekakuan regangan kecil dari pengukuran gelombang
geser dengan modulus awal (E
0
) yang dikurangi hingga tingkat tegangan yang memadai untuk
mendapatkan FK yang diinginkan.


Gambar 33 Variasi konseptual modulus geser dengan tingkat regangan akibat
pembebanan monotonik statik dan hubungannya dengan uji lapangan
( FHWA NHI-01-031)

4.5.2 Reduksi modulus
Reduksi modulus geser dengan perubahan regangan geser sering kali diperlihatkan dalam bentuk
terkoreksi dengan membagi nilai G dengan G
max
atau G
0
. Hubungan antara G/G
0
dan logaritma
regangan geser dikenal untuk kondisi beban dinamik (Vucetic dan Dobry, 1991). Akan tetapi, pada
beban statik monotonik memperlihatkan disipasi (decay) regangan yang sangat besar, seperti
diperlihatkan dalam Gambar 34.
Pd T-05-2005-A
43 dari 112
Daftar
Rsni 2006
BACK

Kurva dinamik (siklik) merupakan hasil uji resonant column yang representatif, sedangkan respon
monotonik hanya diamati dengan pengukuran regangan lokal dan internal dalam uji triaksial dan
torsi (Tatsuoka & Shibuya, 1992; Jamiolkowski dkk, 1994).

Hal-hal yang perlu diperhatikan ialah sebagai berikut.
a) Cara-cara perubahan penyajian reduksi modulus disesuaikan dengan tingkat tegangan geser.
Gambar 35 memperlihatkan pemilihan modulus sekan terkoreksi (E/E
0
) dengan perubahan
tingkat tegangan (q/q
ult
) yang diperoleh dari uji laboratorium pada pasir tidak tersementasi, tidak
terstruktur dan lempung. Tingkat tegangan dinyatakan sebagai τ / τ
max
atau q/q
ult
dengan τ = q =
½ ( σ
1
- σ
3
) adalah tegangan geser dan τ
max
= q
ult
adalah kuat geser. Uji laboratorium geser
monotonik telah dilaksanakan dalam kondisi geser triaksial dan torsi dengan pemasangan
instrumen yang dapat mengukur regangan kecil. (LoPresti dkk, 1993, 1995; Tatsuoka &
Shibuya, 1992).


Gambar 34 Reduksi modulus dengan log regangan geser untuk kondisi
pembebanan monotonik awal (statik) dan dinamik (siklik) (FHWA NHI-01-031)


Gambar 35 Modulus degradasi dari hasil uji laboratorium tanah dan batuan
tidak tersementasi dan tidak terstruktur (FHWA NHI-01-031)
Pd T-05-2005-A
44 dari 112
Daftar
Rsni 2006
BACK


Gambar 36 Kurva-kurva modifikasi hiperbola untuk menggambarkan modulus degradasi
(untuk f =1) (FHWA NHI-01-031)
CATATAN : Tegangan geser yang bekerja, q/q
u
= 1/FK dengan FK = faktor keamanan.

b) Persamaan hiperbola yang dimodifikasi dapat digunakan untuk memperoleh hubungan antara
E/E
0
dengan q/q
ult
secara sederhana. Gambar 36 memperlihatkan kecenderungan untuk
lempung tidak terstruktur dan pasir tidak tersementasi. Bentuk umum diberikan sebagai berikut
(Fahey & Carter, 1993)

E/E
0
= 1 – f (q/q
ult
)
g
............................................................ (30)

dengan f dan g adalah parameter penyesuaian (fitting). Nilai-nilai f = 1 dan g = 0,3 memberikan
perkiraan orde pertama untuk tanah tidak terstruktur dan tidak tersementasi (Mayne dkk,
1999a), dan penyesuaian data uji yang terbaik seperti diperlihatkan dalam Gambar 35. Tingkat
tegangan kerja dapat diperhitungkan sebagai kebalikan faktor keamanan atau (q/q
ult
) = 1/FK.
Oleh karena itu, untuk (q/q
ult
) = 0,5 berarti FK yang terkait = 2.

c) Secara numerik untuk degradasi modulus (Duncan & Chang, 1970; Hardin & Drnevich, 1972;
Tatsuoka & Shibuya, 1992) dan beberapa di antaranya mempunyai prinsip dasar atau
penyesuaian lebih baik yang melingkupi seluruh rentang regangan dari yang kecil sampai
sedang dan besar (Puzrin & Burland, 1998). Hal tersebut dimaksudkan untuk mengasumsi
pendekatan sederhana dalam penggunaan data kekakuan regangan kecil pada konstruksi di
lapangan.

4.5.3 Perkiraan G
0
langsung dan tidak langsung
Cara pengukuran profil kecepatan rambat gelombang geser adalah cara yang paling sederhana dan
ekonomis dalam perkiraan kekakuan tanah pada regangan kecil, E
0
= 2 G
0
(1 + ν’), dengan
mengambil ν’ = 0,2 dan G
0
= ρ
T
(V
s
)
2
. Beberapa metode yang diuraikan dalam buku pedoman
volume II mencakup uji crosshole (CHT), uji downhole (DHT), uji gelombang permukaan (SASW)
maupun uji laboratorium resonant column (RCT). Metode uji penetrasi konus seismik (Gambar 37)
dan dilatometer seismik mempunyai keuntungan dalam pengumpulan data penetrasi dan pengujian
geofisik karena dapat dilakukan secara bersamaan.

Pd T-05-2005-A
45 dari 112
Daftar
Rsni 2006
BACK

Gambar 37 Contoh hasil uji pisokonus seismik (SCPTu) dalam profil tanah berlapis
(FHWA NHI-01-031)

Uraian penjelasannya adalah sebagai berikut.
a) Dalam Gambar 37 diperlihatkan hasil optimisasi pengumpulan data dari empat hasil
pembacaan, yang terdiri atas tahanan ujung (q
T
), geseran selimut (f
s
), tekanan air pori (u
2
), dan
kecepatan rambat gelombang geser (V
s
). Selain metode lapangan untuk penyusunan profil V
s
,
telah dikembangkan metode uji downhole suspension logging, seismic refraction dan seismic
reflection. Untuk memperkirakan V
s
dengan metode uji laboratorium, alat-alat geser torsi dan
triaksial dilengkapi dengan instrumen khusus.

b) Pada umumnya, pengukuran langsung G
0
tidak dapat dilakukan dan diperlukan estimasi. Oleh
karena itu perlu dibuat rangkaian hubungan korelatif CPT dan DMT yang berurutan, yang dapat
digunakan untuk memeriksa keandalan data yang diperlukan.

c) Modulus geser pasir kuarsa pada regangan kecil dapat diperkirakan dari tahanan ujung konus
dan tegangan overburden efektif, seperti diperlihatkan dalam Gambar 38. Dengan cara yang
sama diperoleh pula hubungan untuk mendapatkan G
0
pasir kuarsa dari uji dilatometer (DMT),
seperti diperlihatkan dalam Gambar 39.

d) Hubungan antara G
0
dan tahunan ujung lempung terkoreksi (Gambar 40) juga bergantung pada
angka pori insitu (e
0
). Dengan cara yang sama untuk uji dilatometer (DMT) pada lempung,
kecenderungan terjadi antara G
0
dan modulus dilatometer E
D
(Gambar 41).

e) Faktor keamanan relatif (FK) telah dipertimbangkan untuk masing-masing kondisi dari nilai
modulus geser awal (G
0
) baik diukur langsung atau diperkirakan, dan dikurangi sampai tingkat
regangan atau tegangan yang memadai. Perubahan lempung yang signifikan akan langsung
berhubungan dengan modulus tertahan hingga modulus dasar G
0
, seperti diperlihatkan dalam
Gambar 42. Dalam hal ini, semua nilai G
0
diperoleh dari pengukuran lapangan dengan
menggunakan metode downhole (DHT atau SCPTu) atau uji crosshole (CHT) atau dengan
analisis spektral gelombang permukaan (SASW).



Pd T-05-2005-A
46 dari 112
Daftar
Rsni 2006
BACK

Gambar 38 Rasio G
0
/q
c
dengan tahanan ujung terkoreksi CPT untuk pasir tidak tersementasi
(Baldi dkk, 1989)



Gambar 39 Rasio G
0
/E
D
dengan hasil pembacaan penormalan DMT untuk pasir kuarsa bersih
(Baldi dkk, 1989)

G0 )
qc ) dal am kPa
σ’v0 )

Pd T-05-2005-A
47 dari 112
Daftar
Rsni 2006
BACK

Gambar 40 Kecenderungan antara G
0
dan tahunan ujung CPT, q
T
dalam tanah lempung (Mayne &
Rix, 1993)


Gambar 41 Kecenderungan antara G
0
dan modulus DMT E
D
dalam tanah lempung
(Tanaka & Tanaka, 1998)

Pd T-05-2005-A
48 dari 112
Daftar
Rsni 2006
BACK


Gambar 42 Modulus (D’) vs modulus geser (G
0
) lempung (Burns & Mayne, 1998)

4.6 Sifat-sifat aliran
Sifat-sifat aliran dalam tanah berfungsi mengontrol kelulusan air (k), laju konsolidasi, perilaku waktu
konstruksi, dan karakteristik drainase dalam tanah dasar. Dalam buku pedoman volume II telah
diuraikan uji lapangan kelulusan air tanah termasuk uji pemompaan dengan uji tinggi tekan turun
(falling head test), uji slug, dan metode packer, dan uji laboratorium yang meliputi uji tinggi tekan
turun dan uji tinggi tekan konstan (constant head test) dalam permeameter, serta perkiraan
kelulusan air tidak langsung dari uji konsolidasi.

Nilai-nilai kelulusan air tipikal untuk suatu rentang perbedaan jenis tanah diberikan dalam Tabel 1.
Hasil-hasil pembacaan disipasi tekanan dari pisokonus dan dilatometer serta uji penahanan
(holding) selama uji pressuremeter dapat digunakan untuk memperkirakan kelulusan air dan
koefisien konsolidasi (Jamiolkowski dkk, 1985). Berikut ini diuraikan pendekatan dengan cara
pisokonus.

Pd T-05-2005-A
49 dari 112
Daftar
Rsni 2006
BACK
Tabel 1 Nilai kelulusan air tanah yang representatif (Carter dan Bentley, 1991)


* CATATAN : Tanda bintang memperlihatkan bahwa nilai kelulusan air bisa lebih besar daripada nilai
tipikal.

Kelulusan air (k) dapat diperkirakan dari data hasil uji disipasi, baik dengan menggunakan
hubungan korelatif langsung yang telah diuraikan sebelumnya atau secara alternatif dengan
evaluasi koefisien konsolidasi c
h
. Dengan asumsi aliran radial, kelulusan air horisontal (k
h
) dapat
dihitung dari persamaan :

k
h
= c
h
γ
w
/ D’ .................................................................... (31)

dengan D’ adalah modulus konstrain yang diperoleh dari hasil uji oedometer.

4.6.1 Disipasi monotonik
Tekanan air pori berlebih (∆u) dihasilkan pada waktu penetrasi suatu probe dalam tanah berbutir
halus (tiang, konus, pisau). Sebagai contoh, pembacaan u
2
yang besar dari lapisan lempung pada
kedalaman 11-19 m. Jika penetrasi dihentikan, ∆u akan berkurang dan menjadi nol (transduser
tekanan air pori akan membaca nilai hidrostatik u
0
). Laju disipasi bergantung pada koefisien
konsolidasi horisontal (c
h
) dan kelulusan air (k
h
) media tanah.
Pd T-05-2005-A
50 dari 112
Daftar
Rsni 2006
BACK

Contoh hasil disipasi pisokonus untuk kedua jenis elemen filter 1 dan 2 dapat dilihat dalam Gambar
43a dan 43b. Hal ini disebut sebagai nilai disipasi tekanan air pori monotonik yang disebabkan
pembacaan selalu berkurang sesuai dengan waktu untuk lanau dan lempung lunak sampai teguh.
Metode lintasan regangan (Teh & Houlsby, 1991) dapat digunakan untuk menghitung c
h
dari
persamaan

c
h
= (T*.a
2
√I
R
) / t
50
............................................................. (32)

dengan T* adalah faktor waktu yang dimodifikasi dari teori konsolidasi, a adalah jari-jari probe, I
R
=
G/s
u
adalah indeks kekakuan tanah dan t adalah waktu terukur pada data disipasi (biasanya diambil
pada keseimbangan 50%).

Beberapa solusi yang diberikan untuk faktor waktu yang dimodifikasi T* berdasarkan teori yang
berbeda, meliputi pengembangan rongga, lintasan regangan, dan peralihan titik (Burns & Mayne,
1998). Untuk respon disipasi monotonik, solusi lintasan regangan (Teh & Houlsby, 1991)
diperlihatkan dalam Gambar 43a dan 43b untuk kedua elemen tipe bidang tengah dan tepi/selimut
masing-masing.


Gambar 43a Modifikasi faktor waktu untuk disipasi tekanan air pori monotonik u
1



Gambar 43b Modifikasi faktor waktu untuk disipasi tekanan air pori monotonik u
2

Pd T-05-2005-A
51 dari 112
Daftar
Rsni 2006
BACK



Gambar 44 Koefisien konsolidasi pada 50% disipasi dari hasil pembacaan tekanan air pori
bagian tepi (FHWA NHI-01-031)

Penentuan t
50
dari disipasi tekanan air pori selimut dengan contoh diperlihatkan pada Gambar 44.
Untuk keadaan khusus 50% konsolidasi, faktor waktu masing-masing adalah T* = 0,118 untuk tipe
1 (elemen bidang tengah) dan T* = 0,245 untuk tipe 2 (elemen selimut).

Indeks kekakuan (I
R
) lempung adalah rasio modulus (G) terhadap kuat geser (s
u
) lempung yang
diperoleh dari beberapa cara yang berbeda, yaitu (a) kurva tegangan-regangan uji triaksial, (b) hasil
uji pressuremeter, dan (c) korelasi empiris. Salah satu korelasi yang berdasarkan data hasil uji tekan
triaksial terkonsolidasi anisotropik, yang dinyatakan dengan I
R
sesuai dengan OCR dan indeks
plastisitas (PI), diperlihatkan dalam Gambar 45. Untuk penggunaan secara luas, rumus empiris
didekati dengan

I
R
≈ exp [ (137-PI) / 23 ] / [1+ln {1+ (OCR-1)
3,2
/26} ]
0,8
.......................... (33)

Pendekatan tambahan untuk memperkirakan nilai I
R
telah dikaji dalam referensi lain (Mayne, 2001).
Untuk memberikan interpretasi c
h
sesuai dengan pembacaan t
50
digunakan penetrometer, lihat
Gambar 45 yang memperlihatkan grafik untuk berbagai nilai I
R
.


Pd T-05-2005-A
52 dari 112
Daftar
Rsni 2006
BACK

Gambar 45 Perkiraan indeks kekakuan dari OCR dan indeks plastisitas
(Keaveny & Mitchell, 1986)

4.6.2 Disipasi berlebih (dilatory dissipations)
Pada beberapa jenis material tanah berekah dan terkonsolidasi berlebih, uji disipasi awal dapat
menunjukkan peningkatan ∆u dengan waktu, mencapai nilai puncak, dan penurunan ∆u dengan
waktu (Lunne dkk, 1997). Jenis respon ini disebut disipasi berlebih (dilatory), yang mengacu pada
kelambanan waktu dan penyebab gejala pengembangan (dilation). Respon pengembangan diamati
baik selama uji pisokonus tipe 2 maupun selama pemasangan tiang pancang dalam tanah berbutir
halus. Perkiraan solusi 50% agak meragukan sehingga pendekatan pendahuluan tidak dapat
diaplikasikan.

Beberapa hal yang perlu dipertimbangkan adalah sebagai berikut.
a) Secara matematik dapat dihasilkan solusi keadaan kritis baik untuk disipasi monotonik maupun
disipasi berlebih (dilatory) untuk menentukan hubungan tekanan air pori berlebih dengan waktu
(Burns & Mayne, 1998). Secara praktis dapat diberikan bentuk persamaan yang mendekati
perkiraan. Dalam salah satu titik yang sesuai dengan kurva disipasi (misal t
50
), seluruh kurva
akan memberikan nilai-nilai c
h
yang terbaik. Tekanan air pori berlebih ∆u
t
pada waktu t dapat
dibandingkan dengan nilai awal selama penetrasi (∆u
i
).

b) Tekanan air pori berlebih ∆u
t
pada suatu waktu t dapat dibandingkan dengan nilai awal selama
penetrasi (∆u
i
).

c) Tekanan air pori berlebih awal dari hasil uji (∆u
i
= u
2
– u
0
) dapat dihitung dengan persamaan

∆u
i
= (∆u
oct
)
i
+ (∆u
geser
)
i
.......................................................... (34)

dengan (∆u
oct
)
i
= σ
vo
’ (2M/3)(OCR/2)
Λ
ln (I
R
) adalah komponen oktahedral selama penetrasi, dan
(∆u
geser
)
i
= σ
vo
’ [1 – (OCR/2)
Λ
] adalah komponen pengaruh geser selama penetrasi.

Pd T-05-2005-A
53 dari 112
Daftar
Rsni 2006
BACK
d) Tekanan air pori pada suatu waktu (t) diperoleh sesuai dengan faktor waktu yang dimodifikasi
T* dari persamaan

∆u
t
= (∆u
oct
)
i
[ 1+ 50 T’ ]
-1
+ (∆u
geser
)
i
[1+5000T’]
-1
.............. (35)

dan perbedaan faktor waktu yang dimodifikasi dihitung dengan T‘ = (c
h
t)/(a
2
I
R

0,75
). Pada
lembaran terpisah kolom nilai asumsi T’ (logaritmik) digunakan untuk menurunkan waktu (t)
terkait pada indeks kekakuan (I
R
) tertentu dan jari-jari probe (a). Kemudian uji coba digunakan
untuk mendapatkan c
h
yang paling tepat dengan data disipasi hasil uji.

Rangkaian kurva disipasi dapat dikembangkan untuk serangkaian hasil uji tanah. Salah satu
contoh susunan kurva yang diberikan dalam Gambar 46 untuk berbagai OCR dan parameter Λ
= 0,8, I
R
= 50, dan φ’ = 25
0
, dimaksudkan untuk mendapatkan faktor waktu secara konvensional
T = (c
h
t ) / a
2
.


Gambar 46 Solusi yang representatif untuk kurva disipasi berlebih tipe 2
pada berbagai nilai OCR (Burns & Mayne, 1998)

4.7 Tanah bersifat khusus
Dalam desain bangunan air sering ditemukan jenis-jenis tanah atau batuan alami yang bersifat
khusus. Jenis-jenis tanah bersifat khusus yang akan diuraikan dalam pedoman ini adalah (1) tanah
kolapsibel dan loess; (2) tanah ekspansif; (3) tanah organik dan gambut (peat); (4) tanah koluvium
dan talus; (5) serpih dan material yang mudah mengalami degradasi; (6) pasir tersementasi ; (7)
lempung sensitif; (8) tanah tidak jenuh.
Ikhtisar cara identifikasi, kesulitan pengambilan contoh, cara uji dan karakteristik teknis dari jenis-
jenis tanah tersebut diuraikan pada Tabel 2.

Pd T-05-2005-A
54 dari 112
Daftar
Rsni 2006
BACK
Tabel 2 Ikhtisar cara identifikasi, kesulitan pengambilan contoh, cara uji
dan karakteristik teknis
Deskripsi
tanah
Identifikasi tanah Kesulitan pemgambilan
contoh dan cara uji
Karakteristik teknis
Loess dan
tanah
kolapsibel
• Pasir, lanau dan
lempung dengan ikatan
lemah hasil
pengendapan karena
proses peniupan angin
(loess)
• Lempung lanauan
dengan tanda struktur
yang lepas dan ikatan
antara partikel yang
lemah (tanah
kolapsibel)
• Mempunyai kadar air dan berat
volume rendah, nilai NSPT
rendah.
• Struktur sensitif yang akan
mengalami keruntuhan pada
waktu pengambilan contoh tidak
terganggu.
• Uji lapangan dengan CPT dan
DMT sangat baik untuk
menentukan parameter lapangan
• Mudah tererosi
• Jika mengalami keruntuhan, tidak bisa
kembali (irrecoverable) pada waktu
pembasahan
• Untuk mengetahui karakteristik teknisnya,
pengujian harus dilakukan pada kadar air
desain yang ditentukan.
Tanah
ekspansif
(expansive)
• Tanah dengan kadar
lempung tinggi.
• Terutama di daerah
kering dan semi kering
yang mengalami siklus
pembasahan dan
pengeringan, sehingga
menghasilkan retak
desikasi (pengeringan)
yang dalam.
• Mempunyai kadar air rendah di
musim kering
• Penuh dengan rekahan
• Sulit memperoleh contoh tanah
tidak terganggu
• Dapat mengalami perubahan volume
cukup besar yang bisa kembali, bila
terjadi perubahan kadar air.
• Untuk mengetahui karakteristik teknisnya,
pengujian harus dilakukan dengan
beberapa variasi kadar air pada
kedalaman yang terpengaruh oleh
perubahan musim.
Tanah organik
dan gambut
(peat)
• Kadar air tinggi (>120%)
relatif terhadap
plastisitas.
• Bertekstur serat /
serabut (fibrous)
• Kehilangan berat/massa
waktu pemanasan
• Contoh sangat lunak, berserat
dan bila terganggu tidak bisa
kembali ke kondisi awalnya.
• Uji lapangan memberi hasil yang
terlalu tinggi, karena pengaruh
serat
• Sangat kompresibel dan mengalami
penurunan sekunder yang sangat tinggi.
• Potensi korosi sangat tinggi.
Kolovium dan
talus
• Material lapuk yang
bermigrasi dan
tertumpuk di sisi atau di
kaki lereng.
• Bahan yang tertumpuk
bila berupa campuran
tanah berbutir halus
dengan fragmen batu
disebut sebagai
koluvium dan campuran
tanah berbutir kasar
dengan bongkah-
bongkah disebut
sebagai talus.
• Koluvium: lensa-lensa material
berbutir halus dengan fragmen
batu sangat mempersulit
pengambilan contoh tidak
terganggu. Pembuatan sumur
atau parit uji sangat membantu.
• Talus: bongkah-bongkah sangat
mempersulit penyelidikan
geoteknik. Cara geofisik dapat
digunakan untuk menentukan
tebal talus
• Koluvium: dapat terbentuk perlapisan tipis
lemah yang akan mempengaruhi
kestabilan lereng; air dapat tertumpuk
pada bidang batas antara koluvium dan
fragmen batuan
• Talus: material setempat berada pada
kondisi dengan kemiringan lereng sama
dengan sudut geser dalam (FK=1).
Serpih (shale)
dan material
lain yang
berpotensi
mudah
terdegradasi
(turun kualitas)
• Serpih yang sulit
mengeras.
• Batulempung dan
batulumpur yang bersifat
mudah terdegradasi dari
sifat asli batuan
dasarnya bila
berhubungan dengan
air.
• Material di lapangan bersifat
seperti batuan, pengambilan
contoh sulit dilakukan.
• Pengeboran dengan teknik
penyemprotan air sulit dilakukan.
Harus dengan pengeboran
kering.
• Penggunaan sebagai bahan urugan tidak
dianjurkan, karena sangat berbahaya bila
mengalami degradasi dan sifatnya
berubah bila berhubungan dengan air.
• Kestabilan lereng dapat menurun secara
drastis
• Penentuan karakteristik teknis harus
dilakukan pada kadar air desain yang
ditentukan (jenuh)
Pasir
tersementasi
• Tanah pasiran
tersementasi dengan
ikatan antara butir
dengan butir dengan
garam atau kapur.
• Bahan sementasi dapat
larut atau tidak larut
• Nilai SPT tinggi, sehingga
tampak seperti pasir padat.
• Uji penetrasi tidak dapat
menembus.
• Pengambilan inti sangat
dibutuhkan, namun air dapat
merusak ikatan.
• Tanah bersifat mudah rapuh tetapi sangat
kuat.
• Mudah runtuh bila bahan pengikat larut
• Kuat geser jangka panjang dapat berubah
sama dengan kondisi tidak tersementasi
Lempung
sensitif
* Endapan laut, berupa
lempung lanauan dengan
plastisitas rendah yang
telah mengalami proses
pelarutan (leaching)
garam, sehingga terbentuk
struktur tidak stabil
(metastable)
* Struktur yang tidak stabil
(metastable) mempersulit
pengambilan contoh tidak
terganggu, harus dilakukan
dengan teknik khusus yaitu foil
sampler
* Tanah di lapangan dapat runtuh tanpa ada
sedikit atau sama sekali tidak ada tanda-
tanda awal, karena pengaruh struktur tidak
stabil yang melekat.
Pd T-05-2005-A
55 dari 112
Daftar
Rsni 2006
BACK
Lanjutan Tabel 2
Deskripsi
tanah
Identifikasi tanah Kesulitan pemgambilan
contoh dan cara uji
Karakteristik teknis
Tanah tidak
jenuh
(unsaturated
soils)
* Hampir semua jenis
tanah yang ditemukan
berada di atas muka air
tanah
• Tanah tidak jenuh mempunyai
kuat geser lebih tinggi
dibandingkan tanah jenuh.
• Tidak dibutuhkan teknik
pengambilan contoh secara
khusus, kadang-kadang tanah
bersifat rapuh pada kadar air
aslinya
• Uji lapangan cukup bermanfaat
untuk memperkirakan parameter
teknis, tetapi kondisi tidak
terdrainase mempersulit untuk
melakukan analisis.
• Jenis-jenis tanah alami ini ditemukan
secara luas, namun kuat gesernya di
lapangan sangat berbeda dengan
hasil uji di laboratorium, karena
pengujian di laboratorium pada
umumnya dilakukan pada kondisi
jenuh.
• Hasil uji lapangan tidak dapat
digunakan untuk kondisi desain.

5 Interpretasi hasil uji batuan
5.1 Pendahuluan
Pada umumnya sifat teknik massa batuan akibat pembebanan dapat diperkirakan pertama-tama
oleh diskontinuitas, rekahan, kekar, celah-celah, retakan dan bidang perlemahan. Blok batuan utuh
antara diskontinuitas biasanya cukup kuat, kecuali dalam batuan lunak dan porus serta yang mudah
lapuk.
Sistem klasifikasi untuk menggolongkan tanah dan batuan terdiri atas dua macam, yaitu batuan
utuh yang padat dan massa batuan. Jaringan rekahan membagi massa batuan ke dalam blok-blok
prismatik yang berlainan yang mempengaruhi respon dan kinerjanya. Kecuali uji ketahanan, hasil uji
laboratorium secara tidak langsung dapat digunakan untuk desain bangunan yang dibangun di
dalam atau di atas massa batuan.
Dari ketiga jenis batuan utama (beku, malihan dan sedimen), batuan sedimen mencapai 75% dari
batuan terbuka di permukaan tanah. Batuan serpih (serpih lempung, batulanau, batulumpur dan
batulempung) yang menonjol, meliputi 50% lebih dari batuan sedimen terbuka (Foster, 1975).
Distribusi jenis batuan di Indonesia diperoleh dari peta geologi yang dikeluarkan oleh Direktorat
Geologi. Langkah awal selama peninjauan lapangan dan penyelidikan jenis batuan utama
digolongkan sebagai jenis batuan dasar, lihat Tabel 3. Rincian klasifikasi geologi jenis batuan dan
pengujian petrografi di laboratorium akan diperlukan untuk proyek-proyek besar termasuk konstruksi
di atas batuan. Pemetaan lapangan oleh tenaga ahli geologi diperlukan untuk deskripsi pola kekar,
rangkaian diskontinuitas utama, zona geser, dan patahan, khususnya di daerah yang meliputi lereng
batuan, jurang, terowongan, dan ebatmen bendungan. Pembahasan secara terperinci aspek-aspek
ini dapat dilihat pada literatur (Goodman, 1989; Pough, 1988). Bidang longsoran utama dan kekar
harus dirinci pada peta dengan nilai yang sesuai dengan sudut dip dan arah dip (atau strike).
Kelompok besar diskontinuitas yang paling baik diberikan dalam rangkuman statistik pada diagram
jaringan stereo dan polar. Zona geser dan patahan yang penting dapat juga digambarkan pada
diagram tersebut.

Tabel 3 Klasifikasi jenis batuan utama berdasarkan sumber geologi
Jenis batuan sedimen Jenis batuan malihan
(metamorfik)
Jenis batuan beku
(igneous)
Aspek
butiran
Klastik Karbonat Foliated Masif Intrusif Ekstrusif
kasar konglomerat
breksi
batugamping
konglomerat
gneiss marmer pegmatit
granit
vulkanik
breksi
sedang batupasir
batulanau
batugamping
kapur
schist
phyllit
kuarsa diorit
diabas
tufa
halus Serpih
batulumpur
calcareous
batulumpur
slate amphibolite rhyolit Basal
obsidian

Pd T-05-2005-A
56 dari 112
Daftar
Rsni 2006
BACK
Alternatif sistem klasifikasi dapat berdasarkan aspek-aspek perilaku (Goodman, 1989) atau
komposisi dan tekstur (Wyllie, 1999). Rincian mineral batuan khusus dan limpahan relatif diperlukan
dalam perkiraan petrografik jenis batuan, tetapi di luar lingkup bahasan disini. Dalam hasil
pemetaan lapangan dan operasi inti batuan, sering kali dicatat nama dan umur satuan batuan
khusus, untuk membantu pemilihan perlapisan stratigrafi dan perkiraan profil geoteknik.
Tabel 4 memberikan skala waktu geologi umum dan perioda yang terkait. Pada umumnya, batuan
tua mempunyai porositas lebih rendah dan kekuatannya lebih tinggi daripada batuan muda
(Goodman, 1989).

Beberapa jenis batuan dapat digunakan untuk menduga masalah yang mungkin terjadi dalam
konstruksi. Masalah-masalah khusus biasanya terjadi dalam batugamping (lubang amblesan,
rongga), serpentin (keadaan licin), serpih bentonit (pengembangan, stabilitas lereng), dan diabas
(bongkah). Kemerosotan kelompok batuan serpih dan batupasir tersementasi dengan lemah dapat
menimbulkan banyak masalah pemeliharaan dalam sistem jalan raya nasional, galian, konstruksi
timbunan (bendungan), dan fondasi.

Tabel 4 Skala waktu geologi
Zaman Periode Masa
Batas waktu
(bbrp thn lalu)
Holocene-Recent 10.000
Pleistocene 2 juta
Pliocene 5 juta
Quaternary
Miocene 26 juta
Oligocene 38 juta
Eocene 54 juta
Cenozoic
Tertiary
Paleocene 65 juta
Cretaceous 130 juta
Jurassic 185 juta
Mesozoic
Triassic

230 juta
Permian 265 juta
Pennsylvanian 310 juta Carboniferous
Missisippian 355 juta
Devonian 413 juta
Silurian 425 juta
Ordovician 475 juta
Paleozoic
Cambrian

570 juta
Precambrian (batuan paling tua) 3,9 milyar
Mulai pembentukan bumi 4,7 milyar

Sebagai contoh kemerosotan lereng galian serpih dapat menyebabkan lereng lebih landai dan atau
ketidakstabilan. Jika serpih yang digunakan dalam timbunan dipadatkan, akan hancur dan
menghasilkan material yang kurang lulus air dibandingkan dengan urugan batuan. Pemeliharaan
lereng dapat dilakukan dengan membuat lereng lebih landai, pemasangan drainase horisontal,
menggunakan beton semprot (gunite) dan jala, atau dibangun perletakan struktural yang disusun
dengan teliti (blok batuan, tembok penahan, angker, tiang bor/turap).

Jika dilakukan penggalian fondasi bangunan, permukaan bidang dukung harus dilindungi terhadap
slaking dan atau penyembulan. Hal ini dapat dikerjakan dengan penyemprotan lapisan pelindung
pada permukaan batuan segar yang terbuka, seperti beton semprot (gunite atau shotcrete). Rincian
dan pertimbangan lainnya dibahas dalam Wyllie (1999) seperti penjelasan pada Gambar 47.

Pd T-05-2005-A
57 dari 112
Daftar
Rsni 2006
BACK
Seperti dalam evaluasi hasil uji tanah, sejumlah korelasi telah dikembangkan untuk interpretasi hasil
uji batuan. Oleh karena itu, korelasi hasil uji batuan yang dilaporkan dalam literatur teknik seringkali
mempunyai basisdata yang terbatas, sehingga harus digunakan dengan hati-hati. Untuk itu, harus
dilakukan suatu percobaan pengembangan korelasi yang dapat diterapkan pada lapisan batuan
khusus, untuk menghemat waktu dan upaya sesuai dengan aspek keamanan dan ekonomi secara
keseluruhan.

Dalam penyajian uraian umum hasil uji batuan utuh dan massa batuan dengan kekar, khususnya
digunakan skema klasifikasi massa batuan dan sesuai dengan desain struktur batuan. Oleh karena
itu, disarankan mengacu pada referensi asli untuk memahami dasar korelasi dan sistem klasifikasi
yang diberikan dan untuk informasi tambahan.



Gambar 47 Faktor dan parameter yang mempengaruhi pemetaan geologi dari
ciri-ciri massa batuan (Wyllie, 1999)

5.2 Hasil uji batuan utuh (intact)
Pd T-05-2005-A
58 dari 112
Daftar
Rsni 2006
BACK
Informasi tanda-tanda dan sifat-sifat batuan utuh alami diperoleh dari hasil uji laboratorium pada
spesimen batuan yang kecil, sehingga harus disesuaikan dengan kondisi skala penuh untuk
mewakili kondisi massa batuan secara keseluruhan.

5.2.1 Berat jenis (spesifik graviti)
Berat jenis (Gs) batuan padat yang berbeda bergantung pada mineral dan persentase relatif
komposisinya. Nilai G
s
mineral tertentu diberikan dalam Gambar 48. Mineral yang sangat umum
terdiri atas kelompok kuarsa dan feldpars maupun kalsit, klorida, mika dan kelompok mineral
lempung (illit, kaolinit, smektit). Nilai berat jenis bulk dari kelompok tersebut memberikan nilai rata-
rata yang representatif G
s
≈ 2,7 t 0,1 untuk beberapa jenis batuan.


Gambar 48 Berat jenis padat mineral batuan yang terpilih

5.2.2 Berat volume
Berat volume batuan diperlukan dalam perhitungan profil tegangan overburden sesuai dengan
desain lereng batuan dan sistem penopang terowongan. Selain itu, karena berat jenis mineral-
mineral dasar pembentukan batuan menunjukkan rentang kecil, berat volume merupakan suatu
indikator tingkat satuan batuan jangka pendek dan menjadi indikator kuat tekan batuan secara tidak
langsung.

Kuat tekan batuan utuh cenderung meningkat sebanding dengan meningkatnya berat volume. Berat
volume kering jenis batuan berbeda yang representatif diperlihatkan dalam Tabel 5.
Berat volume kering (γ
dry
) dihitung dari berat jenis bongkah padat dan porositas (n) batuan menurut
persamaan
γ
dry
= γ
air
G
s
(1 – n) ................................................ (36)
dengan berat volume air adalah γ
air
= 9,81 kN/m
3
= 62,43 pcf. Berat volume jenuh (γ
sat
) batuan dapat
dinyatakan dengan persamaan
Pd T-05-2005-A
59 dari 112
Daftar
Rsni 2006
BACK

γ
sat
= γ
air
[G
s
(1 – n) + n] ................................................. (37)

Rumus-rumus tersebut berlaku untuk tanah dengan menggunakan angka pori yang lebih umum.
Hubungan timbal balik antara porositas dan angka pori (e) cukup sederhana, yaitu n = e / (1+e).
Berkurangnya berat volume jenuh dengan meningkatnya porositas disajikan dalam Gambar 49
untuk berbagai batuan dan rentang tertentu nilai-nilai berat jenis.
Tabel 5 Rentang berat volume kering batuan yang mewakili
Jenis batuan Rentang berat volume (kN/m
3
)
serpih
batupasir
batugamping
schist
gneiss
granit
basal
20 – 25
18 – 27
19 – 27
23 – 28
23 – 29
25 – 29
20 – 30
1. Berat volume kering batuan adalah berat volume batuan lapuk sedang sampai tidak lapuk.
Catatan: 9,81 kN/m
3
= 62,4 pcf.
2. Perbedaan berat volume yang besar untuk serpih, batupasir dan batugamping
memperlihatkan adanya pengaruh perbedaan (variasi) porositas, sementasi, ukuran butir,
kedalaman dan umur.
3. Kemungkinan adanya berat volume spesimen yang berada di luar rentang tersebut.


Gambar 49 Berat volume batuan jenuh sesuai dengan porositas dan berat jenis
(FHWA NHI-01-031)

5.2.3 Kecepatan ultrasonik
Kecepatan rambat gelombang tekan dan geser dari benda uji batuan dapat diuji di laboratorium
dengan menggunakan teknik ultrasonik. Nilai-nilai gelombang ini dapat digunakan sebagai indikator
tingkat pengaruh cuaca dan kekerasan batuan maupun dibandingkan dengan uji lapangan setempat
sesuai dengan pengembangan celah-celah dan diskontinuitas massa batuan besar. Rangkuman
data dalam Gambar 50 memperlihatkan rentang umum gelombang tekan (V
p
) antara 3000 sampai
7000 m/det, dan rentang gelombang geser (V
s
) antara 2000 sampai 3500 m/det untuk batuan utuh.

Pd T-05-2005-A
60 dari 112
Daftar
Rsni 2006
BACK

Gambar 50 Kecepatan rambat gelombang P dan S yang representatif
pada material batuan utuh (FHWA NHI-01-031)

5.2.4 Kuat tekan
Perilaku tegangan-regangan-kekuatan dari benda uji batuan utuh dapat diukur selama uji tekan
uniaksial (tekan tidak terkekang), atau uji triaksial yang lebih canggih (lihat rinciannya dalam
Gambar 51 dan 52). Tegangan puncak dari kurva σ - ε pada waktu pembebanan tidak terkekang
adalah kuat tekan uniaksial (q
u
atau σ
u
yang ditentukan). Nilai q
u
dapat diperkirakan dari indeks
beban titik (I
s
) yang mudah dilakukan di lapangan.

Tabel 6 Parameter benda uji batuan utuh dari basisdata di USA (Goodman, 1989),
sebagai bahan pembanding batuan utuh di Indonesia
Qu T0 ER ν Rasio Rasio Material batuan utuh
(Mpa) (Mpa) (Mpa) (-) Qu/T0 ER/qu
Kuarsa Baraboo 320,0 11,0 88320 0,11 29,1 276
Batugamping Bedford 51,0 1,6 28509 0,29 32,3 559
Batupasir Berea 73,8 1,2 19262 0,38 63,0 261
Tonalit Cedar City 101,5 6,4 19184 0,17 15,9 189
Marmer Cherokee 66,9 1,8 55795 0,25 37,4 834
Gneiss Dworshak dam 162,0 6,9 53622 0,34 23,5 331
Serpih Flaming Gorge 35,2 0,2 5526 0,25 167,6 157
Batulanau Hackensack 122,7 3,0 29571 0,22 41,5 241
Basal John Day 355,0 14,5 83780 0,29 24,5 236
Dolomit Lockport 90,3 3,0 51020 0,34 29,8 565
Serpih micaceous 75,2 2,1 11130 0,29 36,3 148
Batupasir Navajo 214,0 8,1 39162 0,46 26,3 183
Basal Nevada 148,0 13,1 34928 0,32 11,3 236
Granit Nevada 141,1 11,7 73795 0,22 12,1 523
Tufa Nevada 11,3 1,1 36499 0,29 10,0 323
Dolomit Oneota 86,9 4,4 43885 0,34 19,7 505
Diabase Palisades 241,0 11,4 81699 0,28 21,1 339
Granit Pikes Peak 226,0 11,9 70512 0,18 19,0 312
Schist mika kuarsa 55,2 0,5 20700 0,31 100,4 375
Batugamping Solenhofen 245,0 4,0 63700 0,29 61,3 260
Marmer Taconic 62,0 1,2 47926 0,40 53,0 773
Batugamping Tavernalle 97,9 3,9 55803 0,30 25,0 570
Hasil statistik: Rata-rata = 135,5 5,6 44613 0,29 39,1 372,5
Standar deviasi = 93,7 4,7 25716 0,08 35,6 193,8
Catatan: 1 Mpa = 10,45 tsf = 145,1 psi
Pd T-05-2005-A
61 dari 112
Daftar
Rsni 2006
BACK
Nilai-nilai kuat tekan dari berbagai spesimen batuan utuh yang representatif diberikan dalam Tabel
6 (Goodman, 1989). Basisdata ini, kuat tekannya berkisar antara 11 sampai 355 Mpa (1,6 – 51,5
ksi), dengan nilai rata-rata q
u
= 135 Mpa (19,7 ksi). Kuat tekan dengan rentang besar dapat terjadi
pada jenis batuan geologi khusus, bergantung pada porositas, sementasi, derajat pelapukan,
lapisan heterogen, sudut ukuran butir, dan derajat penyumbatan timbal balik butiran mineral. Kuat
tekan juga bergantung pada orientasi penggunaan beban sesuai dengan mikrostruktur (misal foliasi
dalam batuan malihan dan bidang perlapisan dalam batuan sedimen).




Gambar 51 Klasifikasi kuat tekan material batuan utuh segar
(Kulhawy, Trautmann, dan O’Rourke, 1991)

Kuat tekan digunakan sebagai indeks awal kemampuan batuan utuh. Gambar 51 menunjukkan
perbandingan dari beberapa skema klasifikasi. Hal ini khususnya digunakan untuk menentukan
perbedaan antara lempung keras sampai serpih, karena batasan transisi dari tanah ke batuan tidak
begitu nyata dalam material sedimen ini. Dengan cara yang sama berlaku juga untuk profil residu
dengan transisi dari tanah ke batuan saprolit dan batuan lapuk serta batuan yang diperlukan.

Hal itu penting sekali dalam kontrak pekerjaan sesuai dengan hasil penggalian batuan vs tanah,
karena hasil yang pertama lebih mahal daripada yang kedua selama penyusunan gradasi lapangan,
penggalian dalam, dan konstruksi fondasi.

5.2.5 Kuat tarik tidak langsung
Batuan relatif lemah dalam tarikan sehingga kuat tarik (T
0
) batuan utuh lebih kecil daripada nilai kuat
tekannya (q
u
). Hubungan timbal balik sesuai dengan kriteria Mohr kuat tekan dan kuat tarik,
diperlihatkan dalam Gambar 52. Oleh karena itu, biasanya dilakukan evaluasi kuat tarik
berdasarkan metode tidak langsung yang meliputi uji tarik belah (uji Brazilian, lihat Gambar 53),
atau sebagai alternatif uji lengkung untuk mendapatkan modulus keruntuhan.

Pd T-05-2005-A
62 dari 112
Daftar
Rsni 2006
BACK
Daftar nilai kuat tarik yang representatif untuk berbagai batuan diberikan dalam Tabel 5 dengan
kisaran nilai antara 0,2 sampai 14 Mpa (30-2100 psi) dan nilai rata-rata T
0
= 5,6 Mpa (812 psi).
Untuk data tersebut (lihat Gambar 53) kuat tarik hanya berkisar kira-kira 4% dari kuat tekan batuan
yang sama.


Gambar 52 Hubungan antara kuat tekan uniaksial, triaksial, dan
kuat tarik batuan utuh dalam diagram Mohr-Coulomb


Gambar 53 Perbandingan kuat tarik vs kuat tekan spesimen batuan utuh
(FHWA NHI-01-031)

5.2.6 Modulus elastisitas batuan utuh
Modulus Young (E
R
) batuan utuh diuji pada waktu pembebanan tekan uniaksial atau tekan triaksial
(lihat Gambar 54a, 54b dan 54c). Modulus elastisitas ekivalen adalah kemiringan kurva σ-ε yang
diperkirakan baik sebagai nilai tangen (E = ∆σ / ∆ε ) atau nilai sekan (E = σ/ε) dari pembebanan
awal. Selain itu, dapat dievaluasi dari siklus tanpa beban – dibebani ulang yang dilakukan dari jalur
pembebanan awal. Dalam praktek, nilai tangen yang diambil pada 50% tegangan batas dinyatakan
sebagai sifat modulus elastisitas (E
R50
).
Pd T-05-2005-A
63 dari 112
Daftar
Rsni 2006
BACK

Hal-hal yang perlu dipertimbangkan adalah sebagai berikut.
a) Spesimen batuan utuh dapat menunjukkan rentang modulus elastisitas yang besar, seperti
dijelaskan pada Tabel 6. Untuk data tersebut nilai-nilai uji bervariasi dari 3,6 sampai 88,3 GPa
(530-12815 ksi), dengan nilai rata-rata E
R
= 44,6 Gpa (6500 ksi). Pada khususnya modulus
dapat dibandingkan dengan tegangan normal dan tinggi beton yang diproduksi sebagai bahan
konstruksi. Untuk batuan sedimen dan malihan terfoliasi, modulus elastisitas umumnya lebih
sejajar dengan bidang-bidang perlapisan atau foliasi daripada tegak lurus, akibat penutupan
bidang-bidang perlemahan sejajar.

b) Sistem klasifikasi batuan utuh yang didasarkan pada rasio modulus dan tegangan (E/σ
u
)
diberikan dalam Tabel 7. Kelompok modulus elastisitas yang sesuai (E
t
) vs kuat tekan uniaksial

u
) untuk setiap jenis batuan dasar (beku, sedimen, dan malihan) diperlihatkan dalam Gambar
54a, 54b dan 54c. Modulus ini adalah modulus tangen pada 50% dari tegangan batas.
Besarnya rentang tegangan dan modulus yang diperlihatkan dalam tiga gambar akan bersifat
informatif. Sistem ini hanya memperhitungkan spesimen batuan utuh, namun tidak untuk
patahan atau retakan alami (diskontinuitas) dalam massa batuan.

c) Dalam uji laboratorium spesimen batuan utuh, modulus elastisitas pada regangan sangat kecil
diperoleh dari uji ultrasonik yang nilainya lebih tinggi daripada modulus dari uji pada regangan
antara sampai tinggi, seperti E
t50
. Gambar 55 memperlihatkan basisdata global E
max
dari uji
regangan kecil (ultrasonik, pelipatan elemen atau bender, resonant column) vs kuat tekan (q
max

= q
u
) untuk perbedaan yang signifikan material tanah sampai batuan maupun beton dan baja
(Tatsuoka & Shibuya, 1992).

Tabel 7 Klasifikasi kuat tekan batuan utuh
(Deere dan Miller, 1966; Stagg dan Zienkiewicz, 1968)
I. Berdasarkan tegangan tekan, σ
u

Kelas Deskripsi Teg. tekan uniaksial (Mpa)
a
A
B
C
D
E
sangat tinggi
tinggi
sedang
rendah
sangat rendah
> 200
110-220
55-110
28-55
<28
II. Berdasarkan rasio modulus, E
t
/ σ
u

Kelas Deskripsi Rasio modulus
b
H
M
L
rasio modulus tinggi
rasio modulus rata-rata(sedang)
rasio modulus rendah
> 500
200-500
<200
a. Batuan diklasifikasi oleh tegangan tekan dan rasio modulus seperti AM, BL, BH, CM, dan lain-
lain.
b. Rasio modulus = E
t
/ σ
a(ult)
dengan E
t
adalah modulus tangen pada 50% tegangan batas dan
σ
a(ult)
adalah tegangan tekan uniaksial.

Pd T-05-2005-A
64 dari 112
Daftar
Rsni 2006
BACK

Gambar 54a Kelompok modulus elastisitas vs kuat tekan batuan beku utuh
(Deere & Miller, 1966)


Gambar 54b Kelompok modulus elastisitas vs kuat tekan batuan sedimen utuh
(Deere & Miller, 1966)
Pd T-05-2005-A
65 dari 112
Daftar
Rsni 2006
BACK


Gambar 54c Kelompok modulus elastisitas vs kuat tekan batuan malihan utuh
(Deere & Miller, 1966)


Gambar 55 Modulus elastisitas dengan regangan kecil (E
max
) vs kuat tekan (q
u
)
semua jenis material (Tatsuoka & Shibuya, 1992)

Pd T-05-2005-A
66 dari 112
Daftar
Rsni 2006
BACK

Gambar 56 Gambaran keadaan untuk perkiraan kuat geser batuan galian
terdiri atas (a) kuat tekan batuan utuh, (b) kuat tekan utuh melintang kekar,
(c) kuat geser sepanjang bidang pekekar, dan (d) massa batuan yang terlipat

5.3 Penggunaan kuat geser
Kuat geser batuan biasanya digunakan untuk mengontrol evaluasi geoteknik lereng, terowongan,
galian, dan fondasi. Oleh karena itu, kuat geser batuan setempat perlu diperkirakan pada tiga
tingkatan yang berbeda, yaitu (a) batuan utuh, (b) sepanjang bidang kekar batuan atau
diskontinuitas, dan (c) mewakili seluruh massa batuan yang patah/retak. Gambar 56a, 56b, 56c dan
56d memperlihatkan gambaran contoh dari galian jalan raya pada batuan.

Pada umumnya kuat geser dihitung sesuai dengan kriteria Mohr-Coulomb (Gambar 52) berikut ini

τ = c’ + σ’ tan φ’ ............................................................. (38)

dengan τ adalah kuat geser yang bekerja, σ’ adalah tegangan normal efektif pada bidang geser, c’
adalah tahanan kohesi efektif, dan φ’ adalah sudut geser efektif. Nilai-nilai parameter Mohr-Coulomb
yang memadai c’ dan φ’ akan sangat bergantung pada keadaan khusus dan tingkat keruntuhan
yang mungkin terjadi.

Hal-hal yang harus dipertimbangkan adalah sebagai berikut.
a) Rangkaian uji kuat tekan triaksial pada batuan utuh dapat dilakukan pada peningkatan
tegangan keliling untuk menentukan selubung (envelop) Mohr-Coulomb dan parameter c’ dan φ’
terkait (lihat buku pedoman volume II). Sebagai alternatif, metode empiris berdasarkan jenis
material batuan dan hasil uji kuat tekan uniaksial (q
u
= σ
u
) yang memadai untuk evaluasi
parameter kuat geser batuan utuh (Hoek dkk, 1995), diuraikan dalam sub pasal 5.4 berikut.
Pendekatan ini diasumsi karena kuat tekan mengalami reduksi dan diperlukan untuk
memperkirakan tingkat retakan dan pelapukan, serta menunjukkan dan memperkirakan kuat
geser massa batuan.

b) Uji geser langsung di laboratorium dapat digunakan untuk memperkirakan kuat geser material
diskontinuitas dan atau urugan yang ditemukan di dalam kekar. Kotak belah diorientasikan
dengan sumbu sepanjang bidang yang terkait (Gambar 65). Kuat geser permukaan
diskontinuitas mempunyai nilai puncak yang representatif atau nilai residu komponen geser dari
kuat geser. Kuat geser puncak akan terjadi selama galian tanggul jalan raya dan penggalian
batuan belum mengalami pergerakan. Kuat geser residu akan cocok digunakan untuk analisis
perbaikan dan peningkatan pekerjaan yang meliputi longsoran batuan dan longsoran bentuk
baji atau blok batuan.

Pd T-05-2005-A
67 dari 112
Daftar
Rsni 2006
BACK
c) Penurunan yang relatif kecil dapat mengurangi kuat geser puncak sampai residu. Nilai puncak
dapat diperkirakan sebagai komposit kuat geser residu dan komponen geometrik yang
bergantung pada kekasaran sesuai dengan sifat (asperities) dan kekasaran bidang pekekar.
Nilai-nilai sudut geser puncak dari berbagai jenis permukaan batuan, mineral batuan (yang
dapat menutup kekar) dan material urugan (seperti lempung dan pasir) diberikan dalam Tabel
8. Jika kekar cukup terbuka, urugan lempung/tanah dapat mendominasi perilaku kuat geser
keadaan yang terjadi.

d) Penurunan yang terjadi akan mengurangi pengaruh sifat (asperities) dan menurunkan kuat
geser. Jika terjadi penurunan yang cukup besar, akan menimbulkan kuat geser residual. Tabel
9 memperlihatkan pemilihan nilai-nilai sudut geser residu (φ
r
’, dengan anggapan c
r
’ = 0) untuk
berbagai jenis permukaan batuan dan mineral yang ditemukan dalam kekar batuan dan
diskontinuitas. Nilai-nilai ini dapat memberikan petunjuk perkiraan pemilihan kuat geser dalam
permukaan dan kekar.

e) Pedoman lain untuk pemilihan parameter Mohr-Coulomb diberikan oleh Hoek dkk (1995) dan
Wyllie (1999).

Tabel 8 Sudut geser pekekar batuan, mineral, dan urugan
(Franklin & Dusseault, 1989, dan Jaeger & Cook, 1977)
Kondisi / kasus Sudut geser φ’ (derajat)
(c’=0)
Isian kekar yang tebal (thick joint filling):
lempung smectit dan montmorillonit
kaolinit
illit
khlorit
pasir kuarsa
pasir feldspathik
5 – 10
12 – 15
16 – 22
20 – 30
33 – 40
28 – 35
Mineral:
kapur (talc)
serpentin
biotit (mika)
muskovit (mika)
kalcit
feldspar
kuarsa
9
16
7
13
8
24
33
Kekar (joint) pada batuan:
batugamping kristalin
batugamping porus
kapur
batupasir
batu kuarsa
serpih lempung
serpih bentonit
granit
dolerit
schist
marmer
gabro
gneiss
42 – 49
32 – 48
30 – 41
24 – 35
23 – 44
22 – 37
9 – 27
31 – 33
33 – 43
32 – 40
31 – 37
33
31 - 35


Pd T-05-2005-A
68 dari 112
Daftar
Rsni 2006
BACK

Tabel 9 Sudut geser residu (Barton, 1973 dan Hoek & Bray, 1977)
Jenis batuan Sudut geser residu φ
r
(der), dgn c’ = 0
amphibolit
basal
konglomerat
kapur
dolomit
gneiss (schistose)
granit (butiran halus)
batugamping
porfiri
batupasir
serpih
batulanau
slate
32
31-38
35
30
27-31
23-29
29-35
33-40
31
25-35
27
27-31
25-30
CATATAN : Nilai rendah biasanya dihasilkan dari uji permukaan batuan basah.

5.4 Klasifikasi massa batuan
Komposisi mineral, umur, dan porositas dapat digunakan untuk memperkirakan sifat-sifat batuan
utuh, sedangkan jaringan patahan, retakan, dan kekar untuk memperkirakan perilaku massa batuan
sesuai dengan kekuatan, kekakuan, kelulusan air dan kinerja yang ada. Pola diskontinuitas massa
batuan akan jelas terlihat dalam potongan inti yang diperoleh pada waktu penyelidikan lapangan
dan permukaan batuan terbuka dan singkapan batuan di daerah topografi. Pemilihan jenis batuan
terbuka diperlihatkan dalam Gambar 57 untuk menunjukkan perbedaan kinerja yang terjadi akibat
sifat pola patahan dan kekar.

Pengujian jumlah tingkat, pengembangan dan sifat diskontinuitas merupakan hal penting dalam
memperkirakan mutu dan kondisi massa batuan. Perkiraan mutu batuan (RQD, yang diperlihatkan
dalam Gambar 59) adalah perkiraan orde pertama jumlah kekar dan celah alami dalam massa
batuan.

RQD digunakan untuk mengukur perkiraan perilaku massa batuan, tetapi baru dikembangkan dalam
empat dekade yang lalu (Deere & Deere, 1989). Sejak itu metode yang lebih rinci dan kuantitatif
untuk perkiraan kondisi massa batuan keseluruhan telah dikembangkan meliputi sistem geomekanik
RMR (Bieniawski, 1989), berdasarkan pengalaman penambangan di Afrika Selatan, dan sistem
NGI-Q (Barton, 1988), berdasarkan pengalaman pekerjaan terowongan di Norwegia. Sistem yang
sangat terkait dengan RMR adalah indeks kekuatan geologi (GSI) yang berguna dalam
memperkirakan tegangan /kekuatan massa batuan.

Hal tersebut beserta sistem klasifikasi massa batuan lainnya diuraikan secara terperinci dan
dirangkum dalam ASTM D 5878 (sistem klasifikasi massa batuan). Faktor-faktor pengaruh yang
meliputi tingkat kekuatan massa batuan diuraikan secara ringkas dan diberikan sesuai dengan
interpretasi hasil uji massa batuan untuk keperluan desain dan analisis lereng, terowongan, dan
fondasi dalam satuan /formasi batuan.


Pd T-05-2005-A
69 dari 112
Daftar
Rsni 2006
BACK


Gambar 57 Contoh beberapa massa batuan dengan asal usul geologi yang berbeda

5.4.1 Sistem rating massa batuan (RMR = Rock Mass Rating)
Sistem klasifikasi batuan dengan rating massa batuan (RMR) menggunakan enam parameter dasar
untuk klasifikasi dan evaluasi hasil uji. Keenam parameter akan membantu perkiraan lebih lanjut
dari hasil analisis stabilitas sampai masalah khusus. Pada tahap awal dimaksudkan untuk aplikasi
pekerjaan terowongan dan penambangan, namun kini telah dikembangkan untuk desain galian
lereng dan fondasi. Uraian penjelasannya adalah sebagai berikut.
a) Keenam parameter yang digunakan untuk menentukan nilai RMR adalah
1) kuat tekan uniaksial (q
u
atau σ
u
)*,
2) penentuan mutu batuan (RQD),
3) jarak diskontinuitas,
4) kondisi diskontinuitas,
5) kondisi muka air tanah,
6) orientasi diskontinuitas.
Nilai RMR dapat diperkirakan dari indeks beban titik (I
s
).
Pd T-05-2005-A
70 dari 112
Daftar
Rsni 2006
BACK

Gambar 58 Sistem klasifikasi geomekanik untuk rating massa batuan (RMR)
(Bieniawski, 1984, 1989)

b) Komponen dasar sistem RMR diperlihatkan dalam Gambar 58. Rating RMR diperoleh dengan
menjumlahkan nilai-nilai RMR yang ditentukan untuk kelima komponen pertama. Kemudian
dibuat rating keseluruhan dengan ketentuan akhir dan pertimbangan keenam komponen yang
bergantung pada jenis tujuan proyek (terowongan, lereng, atau fondasi). Namun, hal tersebut
umumnya tidak dapat digunakan dalam aplikasi rutin. Untuk itu RMR ditentukan sebagai berikut
RMR =

·
5
1
) (
i
i
R ....................................................................... (39)
c) Rating RMR menentukan nilai massa batuan antara 0 (sangat jelek) sampai 100 (paling bagus).
Sistem RMR telah dimodifikasi sepanjang tahun dengan tambahan rincian dan varian (misal
Bieniawski, 1989; Wyllie, 1999). Berdasarkan dip dan arah dip (atau strike) dari diskontinuitas
alami sesuai dengan denah dan orientasi konstruksi yang diusulkan, dapat ditambahkan suatu
faktor untuk menentukan RMR, yang berkisar dari yang baik (R
6
=0) sampai yang tidak baik (-12
untuk terowongan, -25 untuk fondasi, dan - 60 untuk lereng). Selain itu, perlu
mempertimbangkan arah bidang geser.
Pd T-05-2005-A
71 dari 112
Daftar
Rsni 2006
BACK
5.4.2 Rating NGI – Q
Rating Q dikembangkan untuk memperkirakan karakteristik massa batuan dalam aplikasi
terowongan oleh Institut Geoteknik Norwegia (Barton dkk, 1974) dengan menggunakan keenam
parameter untuk evaluasi berikut ini.
a) Rock Quality Designation (RQD),
b) J
n
adalah jumlah rangkaian atau stelan diskontinuitas dalam massa batuan (rangkaian kekar),
c) J
r
memperlihatkan kekasaran antarbidang permukaan dalam diskontinuitas, patahan, dan
kekar,
d) J
a
menggambarkan kondisi, perubahan, dan material urugan dengan kekar dan retakan,
e) J
w
memperlihatkan perkiraan kondisi air setempat,
f) SRF adalah faktor reduksi tegangan sesuai dengan keadaan tegangan awal dan kepadatan.

Gambar 59 Sistem rating Q untuk klasifikasi massa batuan
(Barton, Lien, dan Lunde, 1974)

Pd T-05-2005-A
72 dari 112
Daftar
Rsni 2006
BACK
Masing-masing parameter adalah nilai-nilai yang ditentukan menurut kriteria yang diberikan dalam
Gambar 59, kemudian rating Q selengkapnya diperoleh sebagai berikut
Q =

,
`

.
|
n
J
RQD

,
`

.
|
a
r
J
J

,
`

.
|
SRF
J
w
................................................... (40)
Kedua sistem RMR dan rating Q dapat digunakan untuk evaluasi waktu yang diperlukan selama
konstruksi dalam penambangan dan dinding terowongan tanpa perletakan. Selain itu, juga
digunakan untuk memperkirakan jenis dan tingkat sistem perletakan terowongan untuk keperluan
stabilitas jangka panjang, termasuk penggunaan beton semprot (shotcrete), jaringan, perlapisan
(lining) dan jarak angker batuan. Rincian aspek-aspek tersebut diberikan dalam literatur lain (Hoek
dkk, 1995).

5.4.3 Indeks kekuatan geologi (GSI=Geological Strength Index)
Pada dasarnya sistem RMR dan Q dikembangkan untuk aplikasi penambangan dan terowongan,
sedangkan indeks kekuatan geologi (GSI) menghasilkan uji mutu massa batuan untuk perkiraan
langsung kekuatan dan kekakuan batuan utuh dan rekahan. Perkiraan cepat dengan GSI dapat
dilakukan dengan menggunakan bagan grafik yang diberikan dalam Gambar 60 dan membantu
prosedur penggunaan di lapangan.


Gambar 60 Grafik untuk memperkirakan indeks kekuatan geologi (GSI)
(Hoek & Brown, 1997)
Pd T-05-2005-A
73 dari 112
Daftar
Rsni 2006
BACK

Secara khusus GSI dapat dihitung dari komponen-komponen sistem Q sebagai berikut.
GSI = 9 log
]
]
]

,
`

.
|

,
`

.
|
a
r
n
J
J
J
RQD
+ 44 ............................................ (41)

Untuk sistem klasifikasi geomekanik umum, GSI tidak boleh digunakan untuk nilai RMR yang
melebihi 25.
Untuk RMR > 25, GSI =

·
4
1
) (
i
i
R + 10 ...................................................... (42)

5.5 Kekuatan massa batuan
Kekuatan seluruh kumpulan patahan dan blok batuan besar dapat diperkirakan dengan uji geser
langsung di lapangan, perhitungan balik longsoran batuan dan lereng runtuhan, atau secara
alternatif diperkirakan berdasarkan skema klasifikasi massa batuan. Untuk yang kedua, pendekatan
secara terperinci evaluasi tegangan massa batuan dihasilkan dengan menggunakan rating GSI
(Hoek dkk, 1995).

Dalam metode ini, tegangan utama maksimum (σ
1
’) sesuai dengan tegangan utama minimum (σ
3
’)
pada keadaan runtuh melalui rumus empiris yang bergantung pada faktor-faktor:

a) kuat tekan uniaksial batuan (σ
u
),
b) konstanta material jenis batuan (m
I
),
c) tiga buah parameter empiris yang menggambarkan tingkat patahan massa batuan (m
b
, s,
dan a).

Hal-hal yang perlu diperhatikan adalah sebagai berikut.
a) Hubungan antara kurva tegangan selubung (envelop) Mohr-Coulomb dan tegangan utama
maksimum diberikan dengan rumus sebagai berikut.
σ
1
’ = σ
3
’ + σ
u

a
u
b
s m
]
]
]

+
σ
σ
'
3
........................................................ (43)
b) Parameter material m
I
bergantung pada jenis batuan (beku, malihan, atau sedimen) yang
ditentukan dari bagan grafik pada Gambar 61. Nilai-nilai tersebut berkisar minimal 4 untuk
batulumpur sampai maksimal 33 untuk gneiss dan granit.
c) Untuk GSI > 25, parameter kekuatan yang tertinggal untuk massa batuan tidak terganggu
adalah
m
b
= m
i
exp [(GSI – 100) / 28] ....................................................... (44)
s = exp [(GSI – 100) / 9 ........................................................... (45)
a = 0,5 ................................................................................. (46)
d) Untuk GSI < 25, pemilihan parameter diberikan dengan
s = 0 ........................................................................... (47)
a = 0,65 – (GSI / 200) ................................................................. (48)
e) Evaluasi lebih mudah dilakukan dengan menggunakan lembaran terpisah dengan nilai-nilai
tegangan keliling efektif (σ
3
’) yang meliputi rentang tegangan overburden lapangan yang
mungkin terjadi, untuk menghitung nilai-nilai terkait dengan tegangan utama maksimum efektif

1
’) dalam persamaan (43). Kemudian nilai-nilai σ
1
’ dan σ
3
’ yang berpasangan diplot
(menggunakan lingkaran Mohr atau grafik q-p), untuk mendapatkan parameter kuat geser
ekivalen c’ dan φ’. Metode ini dapat juga digunakan untuk evaluasi kekuatan batuan utuh (GSI =
Pd T-05-2005-A
74 dari 112
Daftar
Rsni 2006
BACK
100) maupun batuan patahan. Untuk perkiraan secara cepat, nilai rata-rata σ
3
’ yang
representatif telah digunakan untuk menghasilkan solusi grafik perkiraan untuk pemilihan c’/σ
u

normal dan sudut geser φ’ secara langsung dari GSI dan konstanta material m
i
, seperti
diperlihatkan dalam Gambar 62a dan 62b.
f) Untuk kuat geser asli sepanjang kekar (joint) dan bidang longsor, sudut geser puncak dapat
dievaluasi dari parameter rating Q (c’ = 0), yaitu

φ
p
’ ≈ (J
r
/ J
a
) .......................................................................... (49)

dengan rentang 7
0
< φ
p
’ < 75
0
untuk batasan nilai parameter kekasaran kekar (J
r
) dan
perubahan (J
a
).


CATATAN : nilai dibawah tekstur batuan adalah m
1

Gambar 61 Konstanta material m
1
untuk evaluasi GSI kekuatan massa batuan
(Hoek dkk, 1995)

Pd T-05-2005-A
75 dari 112
Daftar
Rsni 2006
BACK

Gambar 62 Grafik hubungan m
1
dengan GSI untuk mendapatkan rasio c’/σ
u
(a), dan
hubungan GSI dengan m
1
untuk mendapatkan sudut geser φ’ (b)
(Hoek & Brown, 1997)

5.6 Modulus massa batuan
Modulus elastis ekivalen (E
M
) massa batuan digunakan dalam analisis dan simulasi numerik
terowongan, lereng dan fondasi untuk memperkirakan besarnya pergerakan dan defleksi akibat
pembebanan baru. Metode uji lapangan karakteristik kerusakan massa batuan meliputi baik
dongkrak Goodman dan dilatometer batuan maupun perhitungan balik dari uji beban fondasi skala
penuh (Littlechild dkk, 2000).

Tabel 10 Metode empiris untuk evaluasi modulus elastis (E
m
) massa batuan
Formula Keterangan Referensi
Untuk RQD<70: EM =ER (RQD/350)
Untuk RQD>70: EM =ER [0,2+(RQD-70)37,5]
Faktor reduksi pada modulus
batuan utuh
Bieniawski (1978)
EM ≈ ER [0,1+RMR/(1150-11,4 RMR)] Faktor reduksi Kulhawy (1978)
EM (Gpa) = 2 RMR – 100 45<RMR<90 Bieniawski (1984)
EM (Gpa) = 25 Log10 Q 1 < Q < 400 Hoek dkk. (1995)
EM (Gpa) = 10
[RMR-100]/40
0 < RMR < 90 Serafim & Pereira
(1983)
EM (Gpa) = (0,01) 10
[GSI-100]/40
Penyesuaian untuk batuan
dengan σu < 100 Mpa
Hoek (1999)
CATATAN: E
R
adalah modulus batuan utuh, E
m
adalah modulus massa batuan ekivalen, RQD
adalah penentuan mutu batuan, RMR adalah rating massa batuan, Q adalah rating NGI massa
batuan, GSI adalah indeks tegangan geologi, σ
u
adalah kuat tekan uniaksial.

Untuk perhitungan rutin E
M
telah disesuaikan dengan sifat-sifat batuan utuh (kuat tekan uniaksial σ
u

dan modulus elastis batuan utuh E
R
), mutu batuan (RQD), dan rating massa batuan (RMR, Q, dan
GSI), seperti diberikan dengan rumus yang disajikan dalam Tabel 10. Pada konstruksi bangunan
yang kritis, kekakuan satuan batuan asli dapat diperkirakan dengan menggunakan uji beban skala
penuh. Secara praktis akhir-akhir ini telah dilakukan dengan adanya sel beban Osterberg yang
dapat menerima gaya-gaya yang amat besar dengan menggunakan sistem hidraulik tertanam.

Pd T-05-2005-A
76 dari 112
Daftar
Rsni 2006
BACK
5.7 Daya dukung fondasi
Dalam beberapa proyek bangunan, fondasi bisa terletak pada permukaan batuan atau tertanam
dalam lapisan batuan untuk memikul beban aksial yang besar. Untuk bangunan air atau jembatan,
fondasi lajur melebar yang dangkal yang tidak mengalami gerusan dapat dipikul langsung pada
batuan. Selain itu, fondasi dalam dapat terdiri atas tiang bor besar atau turap yang dipancang ke
dalam batuan dengan menggunakan metode bor inti, yang didesain untuk tekanan aksial dan atau
uplift. Dalam subpasal berikut akan diuraikan metode perkiraan daya dukung dan tahanan samping
dalam batuan.


Gambar 63 Daya dukung izin batuan segar (Wyllie, 1999) dari basisdata USA sebagai bahan
pembanding batuan segar di Indonesia.

5.7.1 Daya dukung fondasi yang diizinkan
Perhitungan terperinci dapat dilakukan sesuai dengan daya dukung fondasi yang terletak di atas
batuan patahan (Goodman, 1989). Selain itu, hasil-hasil program uji laboratorium dan lapangan
pada massa batuan dapat digunakan untuk memperkirakan nilai dukung izin secara langsung.
Dalam pendekatan yang paling sederhana, nilai perkiraan diperoleh dari pengalaman setempat,
peraturan gedung, dan pedoman terkait lainnya yang berlaku. Rangkuman tegangan dukung izin
dari peraturan telah dikompilasi oleh Wyllie (1999) dan diperlihatkan dalam Gambar 63.
Jika RQD < 90%, nilai yang diberikan dalam gambar itu harus dikurangi oleh faktor reduksi yang
berkisar dari 0,1 sampai 0,7. Selain itu, dengan pendekatan Peck dkk (1974) yang menggunakan
RQD secara langsung untuk memperkirakan tegangan dukung izin (q
izin
), akan menghasilkan
tegangan kerja tidak melebihi kuat tekan uniaksial batuan utuh (q
izin
< σ
u
). Hubungan RQD
ditunjukkan dalam Gambar 64. Untuk perhitungan yang lebih khusus dan evaluasi terperinci, hasil
parameter Mohr-Coulomb ekivalen dengan pendekatan GSI dapat digunakan dalam persamaan
daya dukung konvensional, seperti dibahas oleh Wyllie (1999).

Pd T-05-2005-A
77 dari 112
Daftar
Rsni 2006
BACK

Gambar 64 Tegangan dukung izin pada batuan retak dengan RQD (Peck dkk, 1974)

5.7.2 Tahanan samping di sekitar fondasi
Fondasi dalam dapat dibuat dalam lapisan batuan untuk mencegah gerusan dan memikul tekanan
aksial dan beban uplift. Fondasi tiang bor/turap dapat dibor melalui lapisan tanah dan diperdalam
dengan bor inti ke dalam lapisan batuan dasar. Pada umumnya, diameter tiang bor/turap dikurangi
bila menembus batuan, dengan menggunakan kotak dalam dinding (socket). Gambar 65
memperlihatkan hubungan antara tahanan samping tiang bor (f
s
) dan ½ kuat tekan (q
u
/2) untuk
batuan sedimen, sedangkan Gambar 66 memperlihatkan diagram yang sama antara f
s
dan q
u
untuk
semua jenis batuan.


Gambar 65 Kecenderungan satuan tahanan tepi dengan kuat tekan batuan sedimen
(Kulhawy & Phoon, 1993)

Pd T-05-2005-A
78 dari 112
Daftar
Rsni 2006
BACK


Gambar 66 Satuan tahanan tepi tiang bor dengan berbagai jenis batuan
(Ng dkk, 2001)

5.8 Parameter massa batuan lainnya
Bila proyek bangunan semakin komplek, perlu dilakukan pengukuran dan interpretasi tambahan
hasil uji geomekanik batuan utuh dan massa batuan. Beberapa upaya mutakhir mencakup perkiraan
gerusan dan kemampuan erosi sesuai dengan tanda-tanda massa batuan (Van Schalkwyk dkk,
1995). Metodologi serupa yang telah dikembangkan untuk perkiraan kemampuan penggarukan
batuan (rippability) dengan mesin dimaksudkan untuk mengurangi penggunaan peledakan (Wyllie,
1999). Untuk keperluan selanjutnya dilakukan dengan pendekatan sederhana menggunakan
kecepatan gelombang tekan (V
p
) batuan setempat secara langsung, seperti diperlihatkan dalam
Gambar 67.

Gambar 67 Ripebilitas (penggarukan) batuan setempat dengan Caterpillar dozer
yang dievaluasi dengan kecepatan gelombang P (Franklin & Dusseault, 1989)
Pd T-05-2005-A
79 dari 112
Daftar
Rsni 2006
BACK
6 Teknik penyusunan laporan hasil penyelidikan geoteknik
6.1 Jenis-jenis laporan
Dalam rangka penyelesaian program penyelidikan lapangan dan pengujian laboratorium, tenaga
ahli geoteknik harus mengkompilasi, mengevaluasi dan menginterpretasi data dan melakukan
analisis untuk desain fondasi, galian, bendungan (urugan), dan bangunan lain yang diperlukan.
Selain itu, tenaga ahli geoteknik bertanggung jawab dalam pembuatan laporan penyelidikan
geoteknik dan rekomendasi teknik khusus.

Evaluasi dan interpretasi data hasil penyelidikan geoteknik telah diuraikan dalam pasal 4 dan 5 di
atas. Analisis geoteknik dan prosedur desain yang harus dilaksanakan untuk berbagai jenis
bangunan air, jalan raya dan lain-lain telah disajikan dalam berbagai publikasi. Uraian tersebut akan
memberikan pedoman dan rekomendasi untuk pengembangan penyusunan laporan penyelidikan
geoteknik yang diperlukan.

Pada umumnya harus disiapkan satu atau lebih dari tiga jenis laporan, yaitu laporan penyelidikan
geoteknik (buku data), laporan desain geoteknik, atau laporan lingkungan tanah. Pemilihan jenis
laporan bergantung pada ketentuan perwakilan (pemilik) proyek dan kesepakatan antara tenaga ahli
geoteknik dan perencana bangunan. Kebutuhan berbagai jenis laporan pada proyek utama
bergantung pada ukuran proyek, tahapan dan kompleksitasnya.

6.1.1 Laporan penyelidikan geoteknik
Laporan penyelidikan geoteknik menyajikan data khusus lapangan dan mencakup tiga komponen
utama sebagai berikut.
a) Latar belakang informasi
Bagian laporan pendahuluan merangkum penjelasan tenaga ahli geoteknik, fasilitas pelaporan
yang akan disiapkan dan tujuan penyelidikan geoteknik. Bagian ini mencakup informasi
persyaratan beban, deformasi dan tambahan kinerja, deskripsi umum kondisi lapangan, bentuk
(ciri-ciri) dan sifat geologi, drainase, lapisan penutup tanah dasar dan kemampuan jalan masuk,
serta setiap keganjilan di lapangan yang dapat mempengaruhi pekerjaan desain.

b) Lingkup pekerjaan
Bagian kedua dari laporan penyelidikan memuat dokumentasi yang melingkupi program
penyelidikan dan prosedur khusus yang digunakan untuk melaksanakan penyelidikan. Bagian
ini menguraikan identifikasi jenis-jenis metode penyelidikan, jumlah, lokasi dan kedalaman
pengeboran, sumuran uji dan uji setempat, jenis dan frekuensi pengambilan contoh, tanggal
penyelidikan lapangan, sub kontraktor pelaksana pekerjaan, jenis dan jumlah uji laboratorium,
standar uji, dan setiap perubahan dari prosedur konvensional.

c) Presentasi data
Bagian laporan ini umumnya memuat lampiran-lampiran, penyajian data yang diperoleh dari
program penyelidikan lapangan dan uji laboratorium, yang mencakup log bor akhir, sumuran uji,
dan pemasangan pisometer atau sumuran, pembacaan elevasi muka air, plotting data dari
setiap lubang uji setempat, tabel rangkuman dan formulir masing-masing data uji laboratorium,
foto bor inti, lembaran data pemetaan geologi dan plot rangkuman, profil geoteknik yang
dikembangkan dari data uji lapangan dan uji laboratorium maupun rangkuman, serta
interpretasi dan rekomendasi data geoteknik secara statistik. Biasanya laporan penyelidikan
akan mencakup salinan (copy) informasi yang ada, seperti data log bor atau data uji
laboratorium dari penyelidikan pendahuluan di lokasi proyek.

Pd T-05-2005-A
80 dari 112
Daftar
Rsni 2006
BACK
Laporan penyelidikan geoteknik dimaksudkan sebagai dokumentasi penyelidikan yang dilakukan
dan penyajian data yang terdiri atas rangkuman data geoteknik lapangan dan laboratorium, serta
interpretasi dan rekomendasi parameter geoteknik tanah dan batuan.
Laporan penyelidikan geoteknik kadang-kadang digunakan jika pekerjaan penyelidikan lapangan
dibuat secara sub kontrak kepada konsultan geoteknik, tetapi interpretasi data dan pekerjaan desain
dilaksanakan oleh pemilik atau konsultan dengan staf geotekniknya sendiri. Contoh isi laporan
penyelidikan geoteknik diperlihatkan dalam Tabel 11.

6.1.2 Laporan desain geoteknik
Laporan desain geoteknik khususnya memberikan penilaian/penaksiran kondisi geoteknik yang ada
di lokasi proyek, penyajian, pembahasan dan rangkuman prosedur dan penyelidikan dari hasil
analisis geoteknik yang dilakukan, dan pembahasan desain dan konstruksi fondasi, bangunan
penahan tanah, urugan atau bendungan, galian dan bangunan lain yang diperlukan. Jika laporan
penyelidikan (buku data) telah dibuat secara terpisah, laporan desain geoteknik akan mencakup
dokumentasi dari setiap penyelidikan geoteknik yang dilakukan dan penyajian data hasil
penyelidikan, seperti laporan dalam sub pasal 6.1. Contoh isi laporan utama geoteknik diperlihatkan
dalam Tabel 12.

Tabel 11 Contoh isi laporan penyelidikan geoteknik (buku data)
1. Summary
2. Pendahuluan
3. Lingkup pekerjaan
4. Deskripsi lapangan
5. Program penyelidikan lapangan dan pengujian setempat
6. Uji kelulusan air lapangan
7. Pembahasan uji laboratorium yang dilakukan
8. Informasi kondisi lapangan, susunan geologi dan topografi
9. Rangkuman kondisi geoteknik dan profil tanah
10. Pembahasan interpretasi dan rekomendasi
10.1 Umum
10.1.1 Jenis tanah/batuan lapisan dasar dan fondasi
10.1.2 Sifat-sifat tanah/batuan
10.2 Kondisi/pengamatan air tanah
10.3 Topik khusus (misal sifat-sifat dinamik, kegempaan, lingkungan)
10.4 Analisis kimiawi
11. Kesimpulan dan saran-saran
Daftar pustaka
Daftar Lampiran
Lampiran A Rencana lokasi bor dan profil geoteknik
Lampiran B Log bor uji dan log inti dengan foto-foto inti
Lampiran C Pendugaan uji penetrasi konus
Lampiran D Hasil-hasil uji dilatometer, alat ukur tekanan, geser baling
Lampiran E Data survei geofisik
Lampiran F Hasil-hasil uji kelulusan air lapangan dan uji pemompaan
Lampiran G Hasil-hasil uji laboratorium
Lampiran H Informasi yang tersedia
Daftar gambar
Daftar tabel

Tabel 12 Contoh isi laporan utama geoteknik
1. Summary
2. Pendahuluan
Pd T-05-2005-A
81 dari 112
Daftar
Rsni 2006
BACK
3. Geologi
4. Informasi geoteknik yang tersedia
5. Program penyelidikan geoteknik
6. Kondisi geoteknik/bawah permukaan
7. Interpretasi dan rekomendasi data geoteknik
8. Pembahasan fondasi jembatan
9. Pembahasan bangunan penahan tanah
10. Pembahasan jalan inspeksi
11. Pembahasan kegempaan
12. Pembahasan konstruksi
Daftar pustaka
Daftar gambar
Lampiran-lampiran
Lampiran A Log bor
Lampiran B Data uji laboratorium
Lampiran C Informasi geoteknik yang ada


Hal-hal yang perlu diperhatikan adalah sebagai berikut.
a) Karena ruang lingkup, kondisi lapangan dan persyaratan desain/konstruksi dari setiap proyek
bersifat khusus, laporan utama geoteknik juga harus disusun masing-masing untuk setiap
proyek. Untuk mengembangkan laporan ini, penyusun harus mempunyai pengetahuan
bangunan yang luas. Pada umumnya, laporan utama geoteknik harus menunjukkan semua
hasil penyelidikan geoteknik yang mungkin terjadi pada suatu proyek.

b) Laporan harus mengidentifikasi setiap satuan tanah dan batuan yang signifikan, dan harus
memberikan parameter desain satuan tanah yang dianjurkan. Oleh karena itu, diperlukan
rangkuman dan analisis dari semua data asli untuk menentukan parameter indeks dan
parameter geoteknik yang disarankan. Kondisi air tanah khususnya diperlukan untuk desain
dan konstruksi, sehingga diperlukan penilaian dan pembahasan secara hati-hati. Untuk setiap
proyek, kondisi geoteknik yang tercakup dalam penyelidikan lapangan harus dibandingkan
dengan susunan geologi agar dapat dipahami lebih dalam sifat-sifat deposit dan diperkirakan
tingkat perubahan antara pengeboran.

c) Setiap hasil desain geoteknik harus diperlihatkan sesuai dengan metodologi yang diuraikan
dalam modul pelatihan secara berurutan, dan hasil-hasil studi juga diuraikan dengan singkat
dan jelas dalam laporan. Oleh karena itu, penaksiran dampak dari kondisi geoteknik yang ada
pada pengoperasian konstruksi, tahapan dan jadwal waktu merupakan bagian yang penting.
Penunjukan butir-butir tersebut secara jelas dan baik dalam laporan akan memberikan masukan
sebagai bahan pertimbangan perubahan persyaratan/ketentuan desain.

d) Aspek-aspek yang perlu ditinjau.
1) batas-batas vertikal dan lateral penggalian dan pemindahan yang disarankan dari setiap
deposit permukaan dangkal yang tidak cocok (gambut, muck, top soil dan lain-lain);
2) persyaratan penggalian dan pemotongan (misal lereng yang aman untuk galian terbuka
atau keperluan sheeting atau shoring);
3) fluktuasi muka air tanah yang mungkin terjadi sesuai dengan risiko muka air tanah tinggi
pada galian;
4) pengaruh bongkah pada pemancangan tiang atau pengeboran fondasi dalam; dan
5) kekerasan batuan pada kemampuan perlengkapan.
Pembahasan yang harus disajikan dimaksudkan sebagai bahan pertimbangan untuk
pemecahan masalah yang mungkin terjadi.

Pd T-05-2005-A
82 dari 112
Daftar
Rsni 2006
BACK
e) Hasil-hasil di atas perlu diperlihatkan dalam laporan utama geoteknik. Untuk membantu tenaga
ahli dalam pengkajian laporan geoteknik, telah disiapkan daftar pemeriksaan kajian dan
pedoman teknik. Salah satu tujuan utama dokumentasi adalah menyusun standar/kriteria
geoteknik minimum untuk memperlihatkan kepada institusi transportasi dan konsultan
mengenai informasi geoteknik dasar yang harus disediakan dalam laporan geoteknik maupun
laporan perencanaan dan spesifikasi (FHWA, 1995).

f) Kedua pedoman laporan teknik tersebut harus disediakan sebagai informasi umum
penyelidikan lapangan pada laporan penyelidikan geoteknik serta informasi dasar dan
pembahasan desain geoteknik khusus. Daftar pemeriksaan disajikan dalam bentuk format
pertanyaan dan jawaban.

g) Ciri-ciri geoteknik khusus terdiri atas:
1) sumbu galian dan timbunan,
2) urugan di atas tanah dasar lunak,
3) koreksi longsoran,
4) tembok penahan,
5) fondasi bangunan (fondasi dengan kaki menyebar, tiang pancang dan tiang bor/turap),
6) lokasi material borow.

6.1.3 Laporan pengaruh lingkungan pada tanah
Jika hasil penyelidikan geoteknik menunjukkan adanya pencemaran di lokasi proyek, tenaga ahli
geoteknik diminta menyiapkan laporan mengenai pengaruh lingkungan pada tanah dengan
meringkas hasil penemuan penyelidikan dan saran-saran perbaikan lokasi lapangan.

Dalam persiapan laporan biasanya tenaga ahli geoteknik harus bekerja sama dengan tim ahli,
karena banyaknya aspek pencemaran atau perbaikan di luar bidang keakhliannya. Tim yang
representatif yang menyiapkan laporan pengaruh lingkungan pada tanah biasanya terdiri atas
tenaga-tenaga ahli kimia, geologi, hidrogeologi, ilmu lingkungan, toksikologi, kualitas udara dan
pengatur alat (regulatory) maupun satu atau lebih tenaga ahli geoteknik.

Laporan harus berisi semua komponen laporan penyelidikan geoteknik, seperti yang diuraikan di
atas. Selain itu, juga berisi pembahasan yang jelas dan singkat mengenai sifat dan perluasan
pencemaran, faktor-faktor risiko yang digunakan, model transportasi pencemaran dan jika diketahui
sumber pencemaran (misal urugan tanah, batas air limbah industri, buangan limbah rumah tangga,
tangki penyimpanan di atas atau di bawah tanah, truk terbalik atau kereta api yang keluar jalur, dan
lain-lain).

Kemungkinan diperlukan pula tim pemecahan masalah untuk perbaikan kondisi lapangan (misalnya
penggantian material tercemar, pemompaan dan perbaikan air tanah, pemasangan dindinghalang
slari, atau membiarkan bagian tersebut, pencampuran tanah dalam, perbaikan kehidupan,
elektrokinetik). Laporan lingkungan tanah harus pula menggambarkan hasil-hasil pengaturan
mengenai pencemaran yang ditemukan dan metode perbaikan lapangan yang disarankan.

6.2 Presentasi atau penyajian data
6.2.1 Log bor
Log bor, inti batuan, pendugaan dan logging penyelidikan harus disiapkan sesuai dengan prosedur
dan format yang dibahas dalam buku pedoman volume I. Data log bor uji dan sumuran uji dapat
disiapkan dengan menggunakan perangkat lunak yang mampu untuk menyimpan, mengumpulkan
dan menyajikan data geoteknik dalam profil satu dimensi sederhana, atau secara alternatif dengan
grafik dua dimensi (profil geoteknik), atau penyajian tiga dimensi. Perangkat lunak ini dan yang
Pd T-05-2005-A
83 dari 112
Daftar
Rsni 2006
BACK
sejenisnya digunakan dengan penyimpanan data proyek secara berurutan untuk referensi yang
akan datang.

Terdapat banyak program perangkat lunak baru menawarkan daftar rencana program yang
didasarkan pada log bor, format log bor yang dapat mencakup log grafik, pemantauan sumur
dengan rinci, dan plot data. Biasanya legenda dibuat untuk menggambarkan simbol-simbol grafik
dan catatan yang ditambahkan pada log bor untuk memberikan informasi yang lebih luas. Hal
tersebut mencakup referensi jenis-jenis tanah, tabung contoh dan simbol-simbol sumur maupun
nomenklatur lain yang digunakan pada log bor. Profil geologi dapat diuraikan dari program dan
dilengkapi dengan paparan dan gambar-gambar.

Dengan cara yang sama, hasil-hasil uji penetrasi konus (CPT) dapat disajikan dengan
menggunakan perangkat lunak (misal CONEPLOT yang dapat ditemukan pada
http://www.civl.ubc.ca/home/in-situ/software.htm) atau dari uji dilatometer (misal perangkat lunak
DMT DILLY yang dapat ditemukan pada http://www.gpe.org). Paket lain yang tersedia digunakan
untuk mereduksi data uji kuat tekan, uji geser baling, uji konus gempa dan pisokonus
(http://www.ggsd.com). Program perangkat lunak geoteknik dapat ditemukan pada
http://www.usucger.org.

Sebagai alternatif, sebaiknya data uji in-situ langsung direduksi dan menggunakan format lembaran
secara terpisah (spreadsheet) yang sederhana (misal EXCEL, QUATTRO PRO, LOTUS 1-2-3).
Cara yang terbaik adalah jika tenaga ahli geoteknik menggabungkan masing-masing interpretasi
dengan mempertimbangkan susunan geologi khusus dan satuan setempat dalam lembaran
terpisah. Spreadsheet juga memberikan kreativitas dan penyajian hasil yang khusus dengan grafik,
sehingga dapat memperluas kemampuan dan sumber informasi yang tersedia untuk personil
geoteknik. Karena tanah dan batuan merupakan material yang kompleks dengan berbagai varian
dan tampilan fisik, penggabungan profil yang diinterpretasi dan sifat-sifat khusus di lapangan harus
dilakukan dengan hati-hati.


6.2.2 Rencana lokasi uji
Rencana lokasi uji harus disiapkan sebagai acuan pada skala regional atau lokal, dengan
menggunakan peta-peta daerah atau jalan kota atau peta topografi USGS. Informasi topografi dapat
diperoleh dari Bakorsurtanal atau instansi terkait.

Lokasi uji lapangan, pengambilan contoh, dan penyelidikan harus diperlihatkan dengan jelas pada
peta berskala rencana penyelidikan lapangan khusus. Sebaiknya rencana itu harus berupa peta
topografi dengan kontur-kontur elevasi yang digambarkan jelas dan baik dengan benchmark dan
arah utara (magnetik atau sebenarnya) yang telah ditentukan. Contoh yang representatif dari tata
letak bendungan, bangunan pelimpah dan pengeluaran Tilong diperlihatkan dalam Gambar 68, dan
rencana lokasi bor inti diperlihatkan dalam Gambar 69.

Pd T-05-2005-A
84 dari 112
Daftar
Rsni 2006
BACK

Gambar 68 Contoh tata letak bendungan, bangunan pelimpah dan pengeluaran Tilong


Gambar 69 Rencana lokasi uji pada lokasi bor inti

(CATATAN: skala horisontal: 1 cm = 10 m)

Pd T-05-2005-A
85 dari 112
Daftar
Rsni 2006
BACK
Sistem informasi geografi (GIS) dapat digunakan pada proyek untuk dokumentasi lokasi-lokasi uji
sebagai acuan bangunan-bangunan yang ada, termasuk semua bangunan bawah tanah dan di atas
tanah maupun jalan lalu lintas, gorong-gorong, gedung atau bangunan lain. Kini telah
dikembangkan alat ukur portable yang menggunakan sistem positioning global (GPS) untuk
menentukan dengan cepat dan mendekati koordinat lokasi uji dan pemasangan alat.

Jika digunakan beberapa jenis metode penyelidikan, legenda pada rencana lokasi uji lapangan
harus menunjukkan dengan jelas perbedaan jenis pendugaan, dan skala horisontal. Gambar 70
memperlihatkan denah lokasi uji yang diusulkan untuk gabungan bor uji tanah dengan SPT,
pendugaan uji penetrasi konus (CPT), dan uji dilatometer (DMT).



Gambar 70 Rencana lokasi-lokasi pengeboran dan uji in-situ

6.2.3 Profil geoteknik
Laporan geoteknik biasanya dilengkapi dengan penyajian profil geoteknik yang dikembangkan dari
data hasil uji lapangan dan laboratorium. Profil memanjang secara khusus dikembangkan
sepanjang alinyemen bangunan, jalan lalu lintas atau jembatan, dan sejumlah profil bangunan yang
merupakan acuan lokasi-lokasi seperti fondasi bangunan jembatan utama, lereng galian atau
timbunan yang tinggi. Profil ini akan memberikan rangkuman informasi geoteknik yang efektif dan
menggambarkan hubungan dari berbagai lokasi penyelidikan. Profil geoteknik, yang
dipertimbangkan berdasarkan keputusan teknik dan pemahaman susunan geologi, akan membantu
tenaga ahli geoteknik dalam memberikan interpretasi kondisi geoteknik antarlokasi penyelidikan.

Profil geoteknik harus disajikan dengan skala yang cocok dari kedalaman bor, frekuensi pengeboran
dan pendugaan, dan seluruh panjang penampang melintang. Pada umumnya digunakan skala yang
lebih besar dari 1(V):10(H) atau 1(V):20(H). Contoh profil geologi, kekuatan batuan dan kelulusan
air pada poros bendungan Tilong diperlihatkan dalam Gambar 71. Contoh profil geoteknik yang
representatif berdasarkan hasil interpretasi dapat dilihat dalam Gambar 72.

Pd T-05-2005-A
86 dari 112
Daftar
Rsni 2006
BACK
Profil geoteknik dapat disajikan dengan ketelitian dan keterbatasan sesuai dengan lokasi-lokasi
pengeboran. Pada umumnya pemilik dan perencana mengharapkan tenaga ahli geoteknik dapat
menyajikan profil geoteknik yang kontinu dan menunjukkan interpretasi lokasi, pengembangan dan
sifat satuan tanah dan batuan atau deposit antarlubang bor. Di lokasi yang profil tanah atau
batuannya sangat berbeda antarlokasi bor, hasil penyajiannya akan meragukan. Oleh karena itu,
tenaga ahli geoteknik harus benar-benar mengawasi penyajian data tersebut. Penyajian tersebut
harus memberi peringatan sederhana dan menggambarkan profil yang kurang lengkap namun
dapat dipercaya. Karena diperlukan adanya profil geoteknik menerus yang dapat diandalkan,
tenaga ahli geoteknik harus meningkatkan frekuensi pengeboran dan atau penggunaan metode
geofisik untuk menentukan kontinuitas atau kekosongan kondisi geoteknik.


Gambar 71 Profil geologi, kekuatan batuan dan kelulusan air
pada poros bendungan Tilong



Pd T-05-2005-A
87 dari 112
Daftar
Rsni 2006
BACK


Gambar 72 Profil geoteknik berdasarkan data pengeboran yang menunjukkan
gambaran penampang melintang

6.3 Persyaratan
Penyelidikan dan pengujian tanah dan batuan tidak terlepas dari faktor tidak terduga. Jadi pengguna
data yang tidak memahami perubahan sifat deposit dan kesalahan manusia sebaiknya
diinformasikan dalam laporan terbatas sesuai dengan ekstrapolasi informasi geoteknik yang
diperoleh dari penyelidikan lapangan. Paparan khusus dalam laporan geoteknik yang dipersiapkan
oleh konsultan ditunjukkan seperti berikut ini.
a) Keputusan teknik dan saran-saran profesional yang disiapkan dalam laporan ini, didasarkan
atas evaluasi gabungan informasi teknik, laporan sejarah dan pengalaman umum mengenai
kondisi geoteknik di lokasi proyek. Kinerja proyek tidak dapat dijamin hanya dengan pekerjaan
teknik dan keputusan yang memenuhi standar dan pertimbangan profesinya. Pengeboran tidak
dapat memperlihatkan kondisi geoteknik antarlubang bor yang tidak baik.

b) Jika selama konstruksi kondisi tanah yang diperoleh berbeda dari yang dibahas dalam laporan
atau laporan sejarah atau jika beban desain dan atau konfigurasi berubah, harus diperhatikan
evaluasi pengaruh-pengaruh yang ada pada kinerja fondasi. Pembahasan yang diuraikan
dalam laporan hanya digunakan untuk lokasi khusus, dan dapat digunakan untuk tujuan lain.


7 Pertimbangan penyusunan kontrak penyelidikan geoteknik
7.1 Umum

Pada umumnya lebih praktis berhubungan dengan beberapa institusi di luar proyek atau membuat
kontrak pekerjaan program pengeboran, pengujian lapangan, dan pengujian laboratorium.
Walaupun pekerjaan penyelidikan geoteknik dilakukan oleh institusinya sendiri atau pihak lain,
namun tenaga ahli geoteknik tetap bertanggung jawab untuk memastikan keandalan prosedur
penyelidikan dan pengujian. Oleh karena itu, perlu dilakukan pemeriksaan dengan teliti prosedur-
prosedur kualifikasi, uji mutu dan jaminan mutu, peralatan dan personil, reputasi profesi, dan
catatan baik dari kontraktor, konsultan atau institusi pengujian.

Pada beberapa proyek, seorang pengawas lapangan yang bekerja penuh dari pemilik proyek yang
berpengalaman harus hadir dan memahami benar selama pengeboran, pengambilan contoh, dan
Pd T-05-2005-A
88 dari 112
Daftar
Rsni 2006
BACK
pengujian lapangan untuk menetapkan dan membuat dokumen kegiatan dan hasil-hasilnya. Pada
proyek yang kecil, kunjungan secara berkala untuk mengamati tanggung jawab dan operasi
kegiatan harus dilakukan oleh tenaga ahli geoteknik. Kunjungan ke laboratorium uji (yang mungkin
terpisah dari kontrak pekerjaan pengeboran atau pelayanan) juga harus dilakukan untuk memeriksa
prosedur penanganan dan penyimpanan contoh, dan penyusunan rangkaian peralatan triaksial,
geser langsung, konsolidasi, permeameter, resonant column, dan alat lainnya.

Kondisi operasi kegiatan umum dari komponen-komponen secara mekanik, elektrik, hidraulik, dan
atau pneumatik serta kurva-kurva kalibrasi mutakhir untuk verifikasi harus diinspeksi dan
dilaksanakan oleh laboratorium uji. Program (QC/QA) minimum sebaiknya dilakukan dan untuk
pengembangannya, lingkup dan mutu program biasanya berbeda-beda.


7.2 Spesifikasi pengeboran dan pengujian
Spesifikasi pengujian dan pengeboran harus disiapkan oleh tenaga ahli geoteknik dan geologi.
Mereka harus membuat paparan dan deskripsi ringkas yang jelas yang berisi butir-butir berikut.

Untuk pengeboran / bor inti terdiri atas :

a) jenis proyek (misal bendungan, jembatan, tembok, lereng galian),
b) lokasi proyek,
c) informasi lokasi jalan masuk,
d) masalah jalan masuk jika diketahui,
e) informasi survei pengeboran lapangan dan lokasi lubang bor,
f) pencemaran, jika terjadi,
g) persyaratan khusus keamanan dan keselamatan,
h) peta lapangan dan data topografi,
i) rencana pendahuluan, jika tersedia,
j) jenis contoh yang harus diambil,
k) standar-standar yang harus diikuti (ASTM, setempat, lainnya),
l) jenis alat yang akan digunakan,
m) batasan/kendala lingkungan,
n) ukuran minimum pengeboran/bor inti,
o) kualifikasi supervisi lapangan (misal tenaga ahli geologi dan geoteknik lapangan),
p) identifikasi personil supervisi operasi pengeboran/bor inti,
q) prosedur transportasi contoh yang harus diikuti,
r) tempat contoh,
s) frekuensi pengapalan contoh,
t) nama, nomor telpon dan alamat tenaga ahli geoteknik atau geologi yang terlibat pekerjaan,
u) sifat dan jumlah uji lapangan yang harus dilakukan.

Jika kontrak dibuat untuk pengeboran, bor inti, pengambilan contoh dan pengujian, informasi yang
diberikan kepada kontraktor harus mencakup butir-butir berikut.

a) jenis-jenis metode pengeboran yang harus digunakan,
b) metode uji lapangan dan uji setempat yang harus dilakukan,
c) jenis dan kuantitas uji yang harus dilakukan,
d) standar-standar uji yang harus diikuti (SNI, ASTM, AASTHO, setempat),
e) prosedur laboratorium QA/QC atau persyaratan,
f) format laporan dan penyajian data,
g) isi laporan geoteknik.

Pd T-05-2005-A
89 dari 112
Daftar
Rsni 2006
BACK
Setiap usulan/proposal penyelidikan geoteknik biasanya berisi jadwal nyata dan flesibel untuk dikaji
dan disetujui oleh kontraktor. Kontraktor pengeboran biasanya diminta menyediakan dokumen resmi
rencana program keamanan dan keselamatan, memberikan informasi jumlah kecelakaan akibat
kehilangan secara harian maupun tingkat jaminannya.

Syarat-syarat kontrak yang meliputi pembayaran untuk pelayanan, pertanggung-jawaban, ganti rugi,
kegagalan penyelesaian pekerjaan, dan lain-lain biasanya tercakup dalam setiap usulan perwakilan
atau kantor kontraktor. Perwakilan harus selalu mempersiapkan tugas pengkajian kemajuan
pekerjaan dan memberikan supervisi lapangan untuk pengeboran, uji lapangan atau uji
laboratorium. Sebelum menerima kontrak pekerjaan proyek, tenaga ahli geoteknik dan atau geologi
harus melakukan suatu kajian lapangan serta perihal kemampuan kontraktor secara tertulis.

Secara praktis biasanya sebagai bagian integral dari pemberitahuan tradisional dan pemilihan
proses kontraktor, adalah pengkajian bangunan, peralatan dan pengalaman dari dua atau tiga
kontraktor terpilih yang berkualitas sebelum memberikan persetujuan kontrak secara khusus.




























Pd T-05-2005-A
90 dari 112
Daftar
Rsni 2006
BACK
Lampiran A
(normatif)
Bagan alir penyelidikan geoteknik untuk fondasi bangunan air
























































Ya
Mul ai
Penyelidi kan Geot ekni k untuk desain dan konstruksi fondasi Bangunan Ai r

1. Kumpul kan dan peri ksa / pel ajari data-data yang tersedi a.
a) Nota desain dan penyelidikan geoteknik awal pada ptoyek atau yang dapat terkumpul dekat lokasi Proyek.
b) Permasalahan konstruksi dan metode konstruksi di lokasi Proyek atau yang berdekatan
c) Peta topografi dan geologi, publikasi dari Direktorat Geologi, data kegempaan, peta zona gempa, peta patahan
dan informasi lainnya.
d) Foto udara dan pemetaan jarak jauh dan lain-lain

2. Tentukan permasalahan Geotekni k yang di hadapi (periksa tabel 1 dalam Volume I).
a) Fondasi dangkal, tiang pancang, tiang bor, tubuh dan fondasi urugan, galian dan pemotongan lereng,
dinding isi dan perkuatan tanah
b) Informasi tentang parameter geoteknik yang dibutuhkan untuk analisis geoteknik sesuai permasalahan
pada a).
3. Susun program penyeli di kan geotekni k dan l akukan peninjauan lapangan.
a) Tentukan pemetaan geologi permukaan rinci pada bangunan air .
b) Tentukan jenis-jenis penyelidikan lapangan dan laboratorium sesuai dengan permasalahan geoteknik yang dihadapi.
(Tabel I Vol I, kolom uji lapangan dan laboratorium)
c) Tentukan tata letak dan kedalaman pengeboran sesuai Tabel 2 sebagai pertimbangan awal
d) Lakukan peninjauan lapangan bersama-sama dengan pendesain untuk mengevaluasi program penyelidikan yang telah
disusun dan lakukan perubahan bila ditemukana adanya deviasi dari perkiraan sebelumnya.

5. Pengeboran, uji lapangan dan l ubang bor
dan pengambil an contoh t idak t erganggu
a) Lakukan pencatatan lubang bor untuk deskripi
perlapisan tanah dan batu sesuai dengan Vol. I.
b) Lakukan uji lapangan dalam lubang bor seperti SPT,
PMT , VST, uji geofisik dan kelulusan air sesuai dengan
cara yang tercantum dalam Vol. II pada interval yang
telah ditentukan.
c) Lakukan pengambilan contoh tanah / batuan tidak
terganggu pada interval tertentu dan kirim semua
contoh ke laboratorium sesuai dengan persyaratan
yang ditentukan pada Vol. I.
6. Uji l apangan
a) Uji CPT
b) Uji DMT
c) Uji geofisik
Vol. II

4. Pemetaan geol ogi
permukaan secara rinci
Vol. I

Apkah hasil
sesuai perkiraan
awal ?
Tidak
7. Lakukan evaluasi ul ang terhadap obj ektif desai n dan penyeli dikan awal
Apakah di butuhkan
data tambahan ?
3
Ya
Hal. 91
Ti dak
Pd T-05-2005-A
91 dari 112
Daftar
Rsni 2006
BACK



























































Tidak
Hal . 90
8. Pi li h contoh tanah/ batuan yang representatif untuk uji l aboratori um
a) Untuk tanah uji kadar air, berat volume, spesifik graviti, kadar organik , batas-batas Atterberg, analisis pembagian butir,
konsolidasi, kuat geser triaksial UU dan CU, kuat geser langsung CD, konsolidasi dan pengembangan, kelulusan air,
kolapsibel dan lain-lain sesuai kebutuhan
b) Untuk batuan utuh uji kadar air, berat volume, spesifik gravity, indeks beban titik, tekan uniaksial , tarik belah (Brazilian),
geser langsung UU, slake durabilii, soundness, kelulusan air ,modulus elastisitas dan ultrasonic dan lain-lain sesuai
kebutuhan.
c) Dalam pengujian tanah dan batuan harus mengikuti ketentuan yang dipersyaratkan dalam uji mutu dalam
laboratorium.
Vol. II dari pedoman.
9. Lakukan uji l aboratorium
10. Lakukan pemeriksaan terhadap kualitas uji l aboratorium dan buatkan ikhti sar hasi l
penyel idi kan.
Apakah hasil uji
memenuhi syarat
mutu ?
Ti dak
Apakah
penyelidi kan fase
ke 2 dibutuhkan ?
Ya
3
Ya
11. Lakukan i nterpretasi terhadap hasi l penyelidi kan lapangan dan laboratorium
a) Plot hubungan kedalaman dengan kadar air, batas plastis, batas cair dan indeks plastisitas
b) Plot hubungan antara kedalaman dengan hasil uji CPT, SPT, DMT, PMT, VST dan geofisik
c) Plot hubungan antara kedalaman dengan hasil uji konsolidasi (Cr, Cc, σ’p).
d) Plot hubungan antara kedalaman dengan kuat geser UU dan CU ( φUU, φ’CU, cUU , c

CU)
e) Plot hubungan antara kedalaman dengan kelulusan air
f) Plot hubungan antara kedalaman dengan kuat geser tidak terkekang
g) Plot hubungan antara kedalaman dengan modulus elastisitas.
h) Buatkan persamaan-persamaan empiris hubungan antara hasil uji lapangan dengan hasil uji laboratorim
dan bandingkan dengan persamaan empirik yang dapat diperoleh di dalam literatur (Vol. III)
i) Buatkan profil perlapisan tanah melewati titik-titik pengeboran dan tentukan parameter desain dari
masing-masing lapisan dengan mencantumkan nilai rata-rata dan deviasi standar dari masing-masing
parameter geoteknik yang diperoleh dari a) sampai dengan g)
j) Tentukan parameter untuk setiap perlapisan untuk permasalahan yang dihadapi.

12. Pelaporan hasil penyelidi kan yang beri si : sesuai yang dibahas dal am Vol. III
13. Selesai kan desain dan konstruksi bangunan air
Selesai
Pd T-05-2005-A
92 dari 112
Daftar
Rsni 2006
BACK

Lampiran B
(informatif)

Daftar Gambar, Tabel, Simbol dan Singkatan

B.1 Daftar gambar

Gambar 1 Gambaran perlapisan, jenis tanah dan batuan berdasarkan metode
pengeboran dan pengambilan contoh
Gambar 2 Faktor-faktor berdasarkan hasil uji penetrometer konus pada tanah (Hegazy,
1998)
Gambar 3 Bagan klasifikasi perilaku tanah berdasarkan hasil uji penetrasi konus (CPT)
(Robertson dkk, 1986)
Gambar 4 Hubungan antara berat volume jenuh dan kadar air material tanah dan
batuan setempat (FHWA NHI-01-031)
Gambar 5 Hubungan antara berat volume dengan kecepatan rambat gelombang geser
dan kedalaman material tanah dan batuan jenuh (FHWA NHI-01-031)
Gambar 6 Hubungan antara kepadatan kering minimum dan maksimum pasir kuarsa
(Catatan: Konversi sesuai dengan kepadatan massa dan berat volume 1g/cc
= 9,8 kN/m
3
= 62,4 pcf) (FHWA NHI-01-031)
Gambar 7 Hubungan antara kepadatan kering maksimum dengan koefisien
keseragaman pasir (UC = D
60
/D
10
) (FHWA NHI-01-031)
Gambar 8 Kepadatan relatif pasir murni dari data uji penetrasi standar (FHWA NHI-01-
031) (Catatan: nilai tahanan terkoreksi (N
1
)
60
= N
60
/(σ
vo
’)
0,5
dengan σ
vo
’ dalam
satuan bar atau tsf)
Gambar 9 Evaluasi kepadatan relatif pasir kuarsa murni NC dan OC dari data CPT
(FHWA NHI-01-031) (Catatan: tahanan ujung penormal q
t1
= q
c
/(σ
vo
’)
0,5
dengan tegangan dalam atmosfir, 1atm ≈1 tsf ≈100 kPa)
Gambar 10 Kepadatan relatif pasir murni vs indeks tegangan horisontal DMT, K
d
= (p
0

u
0
) / /σ
vo
’) (FHWA NHI-01-031)
Gambar 11 Hubungan antara berat volume kering, sudut geser dalam, kepadatan relatif
dan jenis tanah (NAVFAC DM 7.1, 1982)
Gambar 12 Sudut geser puncak pasir dari nilai SPT terkoreksi /penormalan (Hatanaka &
Uchida, 1996). Catatan: Tahanan terkoreksi (N
1
)
60
= N
60
/(σ
vo
’ /p
a
)
0,5
dengan p
a

= 1 bar ≈ 1 tsf ≈ 100 kPa
Gambar 13 Sudut geser pasir kuarsa berdasarkan tahanan ujung terkoreksi CPT
(Robertson & Campanella, 1983)
Gambar 14 Evaluasi sudut geser pasir dari hasil DMT berdasarkan solusi berat-
plastisitas (Marchetti, 1997) dan data hasil uji (Mayne, 2001)
Gambar 15 Prosesing data PMT pasir untuk menentukan φ’ puncak (Wroth, 1984).
Catatan: p
a
adalah tegangan acuan = 1 atm = 1 bar ≈ 100 kPa
Gambar 16 Hubungan antara φ’ puncak pasir murni dan parameter kemiringan dari data
uji pressuremeter (PMT)
Pd T-05-2005-A
93 dari 112
Daftar
Rsni 2006
BACK
Gambar 17 Hasil uji konsolidasi pada lempung terkonsolidasi berlebih
Gambar 18 Tanda-tanda kecenderungan terjadi tekanan dan penyembulan berkaitan
dengan indeks plastisitas (FHWA NHI-01-031)
Gambar 19 Rasio hasil uji kuat geser baling dengan tegangan prakonsolidasi (s
uv
/ σ
p
’) vs
indeks plastisitas (I
p
) (Leroueil dan Jamiolkowski, 1991)
Gambar 20 Hubungan antara tegangan prakonsolidasi dengan tahan konus konus netto
berdasarkan hasil CPT elektrik (FHWA NHI-01-031)
Gambar 21 Hubungan antara tegangan prakonsolidasi dan tekanan air pori berlebih
berdasarkan hasil uji pisokonus pada lempung (FHWA NHI-01-031)
Gambar 22 Hubungan antara tegangan prakonsolidasi dan tegangan kontak netto
berdasarkan hasil uji DMT pada lempung (FHWA NHI-01-031)
Gambar 23 Hubungan antara tegangan prakonsolidasi dan kecepatan gelombang geser
lempung (Mayne, Robertson & Lunne, 1998)
Gambar 24 Hubungan antara rasio overkonsolidasi dan indeks tegangan horisontal DMT
Kd berdasarkan (a) teori regangan rongga – keadaan kritis, dan (b) basisdata
lempung di seluruh dunia (FHWA NHI-01-031)
Gambar 25 Rangkuman evaluasi kalibrasi OCR menggunakan hasil uji pisokonus pada
lempung dengan gabungan kurva-kurva dari model analisis (FHWA NHI-01-
031)
Gambar 26 Ragam rasio kuat geser lempung tidak terdrainase terkonsolidasi normal (s
u
/
σ
vo
’)
NC
dari berbagai cara uji dengan indeks plastisitas (Jamiolkowski dkk,
1985)
Gambar 27 Kuat geser lempung tidak terdrainase normal NC akibat ragam pembebanan
berbeda dengan model pengganti (Ohta dkk, 1985)
Gambar 28 Hubungan antara rasio kuat geser tidak terdrainase dengan OCR dan φ’
untuk ragam geser sederhana (FHWA NHI-01-031)
Gambar 29 Hubungan antara K
0
lapangan dan OCR untuk (a) lempung alami dan (b)
pasir alami (FHWA NHI-01-031)
Gambar 30 Hubungan antara perkiraan kondisi tegangan lateral pasir dengan tahunan
ujung terkoreksi berdasarkan hasil uji CPT (FHWA NHI-01-031)
Gambar 31 Perkiraan modulus elastis sesuai dengan syarat pembebanan dan syarat
batas yang digunakan (FHWA NHI-01-031)
Gambar 32 Kurva tegangan-regangan ideal dan kekakuan tanah pada regangan kecil
dan besar (FHWA NHI-01-031)
Gambar 33 Variasi konseptual modulus geser dengan tingkat regangan akibat
pembebanan monotonik statik dan hubungannya dengan uji lapangan
(FHWA NHI-01-031)
Gambar 34 Reduksi modulus dengan log regangan geser untuk kondisi pembebanan
monotonik awal (statik) dan dinamik (siklik). (FHWA NHI-01-031)
Gambar 35 Modulus degradasi dari hasil uji laboratorium tanah dan batuan tidak
tersementasi dan tidak terstruktur. (FHWA NHI-01-031)
Gambar 36 Kurva-kurva modifikasi hiperbola untuk menggambarkan modulus degradasi
(untuk f =1). Catatan: Tegangan geser yang bekerja, q/q
u
= 1/FK dengan FK
= faktor keamanan. (FHWA NHI-01-031)
Pd T-05-2005-A
94 dari 112
Daftar
Rsni 2006
BACK
Gambar 37 Contoh hasil uji pisokonus seismik (SCPTu) dalam profil tanah berlapis
(FHWA NHI-01-031)
Gambar 38 Rasio G
0
/q
c
dengan tahanan ujung terkoreksi CPT untuk pasir tidak
tersementasi (Baldi dkk, 1989).
Gambar 39 Rasio G
0
/E
D
dengan hasil pembacaan penormalan DMT untuk pasir kuarsa
bersih (Baldi dkk, 1989).
Gambar 40 Kecenderungan antara G
0
dan tegangan ujung CPT, q
T
dalam tanah
lempung (Mayne & Rix, 1993).
Gambar 41 Kecenderungan antara G
0
dan modulus DMT E
D
dalam tanah lempung
(Tanaka & Tanaka, 1998).
Gambar 42 Modulus (D’) vs modulus geser (G
0
) lempung (Burns & Mayne, 1998)
Gambar 43a Modifikasi faktor waktu untuk disipasi tekanan air pori monotonik u
1

Gambar 43b Modifikasi faktor waktu untuk disipasi tekanan air pori monotonik u
2

Gambar 44 Koefisien konsolidasi pada 50% disipasi dari hasil pembacaan tekanan air
pori bagian tepi. (FHWA NHI-01-031)
Gambar 45 Perkiraan indeks kekakuan dari OCR dan indeks plastisitas (Keaveny &
Mitchell, 1986).
Gambar 46 Solusi yang representatif untuk kurva disipasi berlebih tipe 2 pada berbagai
nilai OCR (Burns & Mayne, 1998).
Gambar 47 Faktor dan parameter yang mempengaruhi pemetaan geologi dari ciri-ciri
massa batuan (Wyllie, 1999).
Gambar 48 Berat jenis padat mineral batuan yang terpilih.
Gambar 49 Berat volume batuan jenuh sesuai dengan porositas dan berat jenis. (FHWA
NHI-01-031)
Gambar 50 Kecepatan rambat gelombang P dan S yang representatif pada material
batuan utuh. (FHWA NHI-01-031)
Gambar 51 Klasifikasi kuat tekan material batuan utuh segar (Kulhawy, Trautmann, dan
O’Rourke, 1991).
Gambar 52 Hubungan antara kuat tekan uniaksial, triaksial, dan kuat tarik batuan utuh
dalam diagram Mohr-Coulomb.
Gambar 53 Perbandingan kuat tarik vs kuat tekan spesimen batuan utuh (FHWA NHI-01-
031)
Gambar 54a Kelompok modulus elastisitas vs kuat tekan batuan beku utuh (Deere &
Miller, 1966)
Gambar 54b Kelompok modulus elastisitas vs kuat tekan batuan sedimen utuh (Deere &
Miller, 1966)
Gambar 54c Kelompok modulus elastisitas vs kuat tekan batuan malihan utuh (Deere &
Miller, 1966)
Gambar 55 Modulus elastisitas dengan regangan kecil (E
max
) vs kuat tekan (q
u
) semua
jenis material (Tatsuoka & Shibuya, 1992)
Gambar 56 Gambaran keadaan untuk perkiraan kuat geser batuan galian terdiri atas (a)
kuat tekan batuan utuh, (b) kuat tekan utuh melintang kekar, (c) kuat geser
sepanjang bidang pekekar, dan (d) massa batuan yang terlipat
Pd T-05-2005-A
95 dari 112
Daftar
Rsni 2006
BACK
Gambar 57 Contoh beberapa massa batuan dengan asal usul geologi yang berbeda.

Gambar 58 Sistem klasifikasi geomekanik untuk rating massa batuan (RMR) (Bieniawski,
1984, 1989)
Gambar 59 Sistem rating Q untuk klasifikasi massa batuan (Barton, Lien, dan Lunde,
1974)
Gambar 60 Grafik untuk memperkirakan indeks kekuatan geologi (GSI) (Hoek & Brown,
1997)

Gambar 61 Konstanta material m
1
untuk evaluasi GSI kekuatan massa batuan (Hoek
dkk, 1995)
Gambar 62 Grafik hubungan m
1
dengan GSI untuk mendapatkan rasio c’/σ
u
(a), dan
hubungan GSI dengan m
1
untuk mendapatkan sudut geser φ’ (b) (Hoek &
Brown, 1997)
Gambar 63 Daya dukung izin batuan segar (Wyllie, 1999) dari basisdata USA sebagai
bahan pembanding batuan segar di Indonesia.
Gambar 64 Tegangan dukung izin pada batuan retak dengan RQD (Peck dkk, 1974)
Gambar 65 Kecenderungan satuan tahanan tepi dengan kuat tekan batuan sedimen
(Kulhawy & Phoon, 1993)
Gambar 66 Satuan tahanan tepi tiang bor dengan berbagai jenis batuan (Ng dkk, 2001)
Gambar 67 Ripebilitas (Penggarukan) batuan setempat dengan Caterpillar dozer yang
dievaluasi dengan kecepatan gelombang P (Franklin & Dusseault, 1989)
Gambar 68 Contoh tata letak bendungan, bangunan pelimpah dan pengeluaran Tilong
Gambar 69 Rencana lokasi uji pada lokasi bor tanah (Catatan: skala horisontal: 1 cm =
10 m)
Gambar 70 Rencana lokasi-lokasi pengeboran dan uji in-situ
Gambar 71 Profil geologi, kekuatan batuan dan kelulusan air pada poros bendungan
Tilong.
Gambar 72 Profil geoteknik berdasarkan data pengeboran yang menunjukkan gambaran
penampang melintang

B.2 Daftar tabel

Tabel 1 Tabel 1 Nilai kelulusan air tanah yang representatif (Carter dan Bentley,
1991)
Tabel 2 Ikhtisar cara identifikasi, kesulitan pengambilan contoh, cara uji dan
karakteristik teknis
Tabel 3 Klasifikasi jenis batuan utama berdasarkan sumber geologi
Tabel 4 Skala waktu geologi
Tabel 5 Rentang berat volume kering batuan yang mewakili
Tabel 6 Parameter benda uji batuan utuh dari basisdata di USA (Goodman, 1989),
sebagai bahan pembanding batuan utuh di Indonesia.
Pd T-05-2005-A
96 dari 112
Daftar
Rsni 2006
BACK
Tabel 7 Klasifikasi kuat tekan batuan utuh (Deere dan Miller, 1966; Stagg dan
Zienkiewicz, 1968)
Tabel 8 Sudut geser pekekar batuan, mineral, dan urugan (Franklin & Dusseault,
1989, dan Jaeger & Cook, 1977)
Tabel 9 Sudut geser residu (Barton, 1973 dan Hoek & Bray, 1977)
Tabel 10 Metode empiris untuk evaluasi modulus elastis (E
m
) massa batuan
Tabel 11 Contoh isi laporan penyelidikan geoteknik (buku data)
Tabel 12 Contoh isi laporan utama geoteknik

B.3 Simbol dan singkatan

Simbol Keterangan
α
j
Arah dip dari kekar (Joint dip direction)
α
s
Arah kemiringan kekar (Slope dip direction)
β Sudut rata-rata dari dip bidang perlapisan batuan (Average dip angle of rock bedding)
β
j
Dip dari kekar (Joint dip)
β
s
Kemiringan dip (Slope dip)
γ’ Berat volume terendam dari material geoteknik
γ Berat volume tanah
γ
d
, γ
dry
Berat volume kering tanah
γ
dmax
Berat volume tanah dalam kondisi sangat padat
γ
dmin
Berat volume tanah dalam kondisi sangat lepas
γ
sat
Berat volume jenuh air
γ
t
Berat volume total sama dengan γ
t

γ
w
Berat volume air (= 9,81 kN/m
3
)
δ Pergerakan horisontal dari massa tanah dalam uji geser langsung (direct shear)
∆ε
a
Perubahan dalam regangan aksial
∆σ Perubahan dalam pemberian tegangan aksial
∆D Perubahan diameter pada benda uji batuan
∆e Perubahan angka pori terhadap ∆p
∆H Pergerakan vertikal dari massa tanah dalam uji geser langsung (uji direct shear)
∆H Perubahan tinggi benda uji
∆p Penambahan beban akibat konstruksi fondasi atau penimbunan.
∆t Waktu jatuh tinggi air dalam pipa tegak
ε
a
, ε
axial
Regangan aksial dalam tanah atau batuan (∆H/H)
ε
radial
Regangan radial pada benda uji batuan (∆D/D)
µ Viskositas dari permeant
µ
FV
Faktor koreksi terhadap kuat geser baling (VST) untuk mencapai kekuatan termobilisasi.
υ rasio Poisson
ρ Resistivitas ; = 2 πdV/I
σ’ Tegangan efektif
σ Tegangan normal
σ
1
, σ
2
, σ
3
Tegangan utama total maksimum, menenggah dan minimum berurutan
(Major, intermediate and minor total principal stresses)
Pd T-05-2005-A
97 dari 112
Daftar
Rsni 2006
BACK
Simbol Keterangan
σ
1
’, σ
2
’ , σ
3
’ Tegangan utama efektif maksimum, menenggah dan minimum (Major, intermediate and
minor effective principal stresses)
σ
a(ult)
Kuat tekan uniaksial dari batuan
σ
CIR
Kuat tekan uniaksial dari batuan utuh
σ
a
Tegangan normal pada kekar (joint)
σ
u
Tegangan aksial yang diberikan
σ
v
Tekanan total overburden
σ
vo
Tegangan (vertikal) total overburden
σ
vo
’ Tegangan efektif overburden (vertikal)
τ Tegangan geser

u
)
corr
Kuat geser baling (vane) terkoreksi

u
)
field
Kuat geser baling terukur di lapangan (belum terkoreksi)
φ’ Sudut geser dalam terdrainase atau efektif dari tanah atau batuan
φ Sudut geser dalam
φ
d
Sudut geser dalam terdrainase
φ
r
Sudut geser dalam residual (sisa)
A Tekanan tidak terkoreksi yang dibutuhkan sehingga membran atau diafragma dari
dilatometer datar terdorong balik.
A Area yang terbebani; luas potongan melintang dari benda uji
A Kode contoh Auger yang tercatat pada kolom uji lainnya pada pencatatan hasil pengeboran
(log bor)
AASHTO American Association of Slate Highway and Transportation Officials
ADSC Association of Drilled Shaft Contractors
AQ Wireline Petunjuk untuk matabor batuan
ASTM American Society for Testing and Materials
B Bedding (untuk menjelaskan tipe diskontinuitas dalam log bor batuan)
B Tekanan tidak terkoreksi untuk menyebabkan defleksi membran dilatometer 1,1 mm.
B
f
Lebar fondasi
BHS Kode untuk uji borehole shear yang dicantumkan pada kolom uji lainnya dalam bor log
BQ Dimensi ukuran inti batuan
BX Penginti batuan dengan matabor inti BX untuk memperoleh diameter inti 41 mm.
C Kode untuk contoh inti Denison atau tipe pitcher
C Kode untuk uji konsolidasi pada kolom uji lainnya pada bor log
C Tertutup (Close) (digunakan untuk penjelasan jarak diskontinuitas dalam log bor)
C Tekanan tidak terkoreksi pengempesan membran dilatometer datar.
c Faktor bentuk
c’ Kohesi terdrainase atau efektif dari tanah atau batuan hasil uji geser terdrainase di
laboratorium
C
α
Koefisien konsolidasi sekunder
C
αε
Koefisien kompresibilitas sekunder dalam terminologi regangan
C
αe
Koefisien kompresibilitas sekunder dalam terminologi angka pori (void ratio)
C
l
Koefisien Hazen
Ca Calcite (digunakan untuk menjelasakan tipe isian pada log bor batuan)
CBR California Bearing Ratio
C
c
Koefisien kelengkungan (curvature) = (D
30
)
2
/ (D
10
xD
60
)
C
c
Indeks kompresibilitas (Virgin)
Pd T-05-2005-A
98 dari 112
Daftar
Rsni 2006
BACK
Simbol Keterangan
CD Terkonsolidasi dan terdrainase
CDS Kondisi Completely Decomposed
CH Lempung anorganik dengan plastisitas tinggi
Ch Chlorite (digunakan untuk menjelasakan tipe isian pada log bor batuan)
c
h
Koefisien konsolidasi horisontal
CL Lempung anorganik dengan plastisitas rendah sampai sedang
CI Lempung (digunakan untuk menjelasakan tipe isian pada log bor batuan)
c
o
Kohesi dari tanah yang dikompaksi l
CP Petunjuk untuk matabor inti.
CPT Uji penetrasi konus (Cone Penetration Test) atau sondir
CR Rasio kompresibilitas = C
c
/(1+e)
C
r
Indeks rekompresi
C
U
Koefisien keseragaman = D
60
/D
10

CU Uji geser triaksial terkonsolidasi dan tidak terdrainase
c
u
Kuat geser tidak terdrainase
c
v
Koefisien konsolidasi vertikal
D Diameter asli dari contoh batuan.
D Diameter semu (apparent) dari butiran tanah
d Konsolidasi primer pada tingkat pembebanan tertentu
d Kedalaman
d Jarak antara elektrode dalam survai resistivitas
D
10
Ukuran butir dari pada 10% contoh yang lebih kecil (Grain size than which 60% of the
sample is smaller)
D
30
Ukuran butir dari pada 30% contoh yang lebih kecil
D
50
Ukuran butir rata-rata ; dari pada 50% contoh yang lebih halus
D
60
Ukuran butir dari pada 60% contoh yang lebih kecil.
D
max
Ukuran butir terbesar dalam contoh tanah
D
min
Ukuran butir terkecil dalam contoh tanah
DMT Uji flat dilatometer
D
r
Kepadatan relatif dari tanah
DS Kode uji direct shear yang dicantumkan dalam kolom uji lainnya pada log bor
D
s
Diameter efektif
DSS Uji Direct Simple Shear
E Modulus Elastisitas atau Young
e Angka pori
E
AV
Modulus Young rata-rata
E
D
Modulus elastisitas ekivalen diperoleh dari uji flat dilatometer.
e
f
angka pori final
E
M
Modulus Menard dari uji pressuremeter standar dengan (prapengeboran).
E
m
Modulus deformasi di lapangan (in-situ)
e
max
Angka pori dalam kondisi paling lepas dari tanah.
e
min
Angka pori dalam kondisi paling padat dari tanah.
e
0
Angka pori awal (initial) dari tanah. Void ratio at beginning of rebound
e
r
Angka pori pada permulaan dari pembalikan (rebound)
EROS Earth Resources Observations Systems
E
s
Modulus sekan Young.
Pd T-05-2005-A
99 dari 112
Daftar
Rsni 2006
BACK
Simbol Keterangan
E
t
Modulus tangen Young.
EW Petunjuk untuk casing flush joint
EX Petunjuk untuk matabor inti batuan
F Rapuh (friable) (terminologi untuk menjelaskan kekerasan batuan).
F Sesar (Fault) (untuk menjelaskan jenis diskontinuitas dalam bor log batuan)
F Kadar halus (Fines); berhubungan dengan persentase tanah yang lewat saringan no. 200
f Frekuensi gelombang geser (Shear wave)
Fe Fe, Oksida besi (digunakan untuk menjelaskan tipe isian pada log bor batuan)
Fi Terisi (Filled) (digunakan untuk menjelaskan jumlah isian dalam log bor batuan)
Fo Foliasi (Foliation) (untuk menjelaskan jenis diskontinuitas dalam bor log batuan)
f Tahanan gesek atau friksi yang terukur pada uji CPT
FV Uji geser baling di lapangan (Field Vane or Vane Shear Test)
GC Kerikil lempungan, campuran kerikil pasir dan lempung bergradasi buruk
GM Kerikil lanauan, campuran kerikil-pasir-lanau bergradasi buruk.
GP Kerikil bersih bergradasi buruk, campuran kerikil dan pasir.
GPR Ground Penetrating Radar
G
s
Specifik graviti butiran padat dar tanah
GW Kerikil bergradasi baik, campuran kerikil dan pasir.
Gy Gipsum /Talc (digunakan untuk menjelaskan tipe isian pada log bor batuan)
H Rasio modulus tinggi
H Healed (digunakan untuk menjelaskan tipe isian pada log bor batuan)
H Beda tinggi tekanan air pada potongan pengujian
H Keras (Hard) (terminologi untuk menjelaskan kekerasan batuan)
H Setengah tinggi dari contoh konsolidasi (Lintasan drainase terpanjang)
H Tinggi asli contoh batuan.
h
1
, h
2
Tinggi tekanan air pada waktu t
1
, dan t
2
secara berurutan
HQ Dimensi ukuran inti batuan.
HW Petunjuk untuk batang bor
i Sudut ketidak sama rataan terhadap garis dip rata-rata.
I
a(50)
Indeks kekuatan beban titik anisotropik dari benda uji batuan.
I
D
Indeks material untuk menentukan tipe tanah dari uji dilatometer datar.
I
d2
Indeks ketahanan lekang (Slake durability index)
I
p
, PI Indeks plastisitas = LL - PL
Ir Tidak beraturan (Irregular) (digunakan menjelaskan permukaan kekar pada log bor batuan)
I
s
Indeks beban titik
I
s(50)
Indeks kekuatan beban titik benda uji batuan dengan diameter = 50 mm
ISRM International Society for Rock Mechanics
J Kekar (Joint) (digunakan menjelaskan tipe diskontinuitas pada log bor batuan )
J
a
Angka alterasi kekar (Joint alteration number) dalam cara Q-System
JCS Kuat tekan dinding kekar (Joint wall Compressive Strength)
J
r
Koefisien kekasaran kekar dalam cara Q System
JRS Koefisien kekasaran kekar (Joint Roughness Coefficient)
J
v
Jumlah kekar-kekar dalam satuan volume dari batuan.
k Koefisien kelulusan air
K
D
Indeks tegangan lateral atau horisontal dari uji dilatometer datar.
K
0
Koefisien tegangan lateral atau horisontal pada kondisi geostatik
Pd T-05-2005-A
100 dari 112
Daftar
Rsni 2006
BACK
Simbol Keterangan
L Panjang contoh tanah
L Rasio modulus rendah
L
f
Panjang fondasi
LFC Panjang sepenuhnya potongan inti batuan silindris (Length of fully cylindrical rock core
piece)
LH Kekerasan rendah (Lows hardness) (terminologi menjelaskan kekerasan batuan ))
LI Indeks likuiditas (Liquidity Index)
LL Batas cair (Liquid Limit)
LPS Latent Planes of Separation
LT Panjang potongan inti batuan dari ujung ke ujung
M Sedang (Moderate) (untuk menjelaskan jarak diskontinuitas dalam bor log batuan)
M Rasio modulus rata-rata
M Analisis mekanis (saringan atau hydrometer)
MFS Kondisi micro fresh
MH Lanau lempungan anorganik, lanau elastik
MH Moderately hard (term to describe rock hardness)
ML Lanau anorganik atau pasir halus, serbuk batuan pasir lanauan atau lempungan (Grup
simbol dalam Unified Soil Classification System)
ML-CL Campuran lanau anorganik dan pasir.
MW Lebar sedang (Moderately wide) (menjelaskan lebar diskontinuitas dalam log bor batuan)
N
M
, N Nilai N (atau jumlah pukulan) tidak terkoreksi uji penetrasi standar (SPT)
n Porositas
N
1
Nilai N yang dinormalisir terhadap tegangan efektif overburden (pada 1 Atmosfir=1 kg/cm
2
)
N
60
Nilai N-SPT terkoreksi terhadap 60% rata-rata dari enersi standar
(N
1
)
60
Nilai N-SPT N terkoreksi terhadap 60% efisiensi enersi dan tegangan yang dinormalisir.
NC Terkonsolidasi normal (Normally Consolidated)
N
corr
Nilai N terkoreksi terhadap tekanan air pori untuk pasir halus dan pasir lanauan
N
field
Nilai N terukur di lapangan
NGI Norwegian Geotechnical Institute
No Tidak terisi (None) (menjelaskan jumlah atau tipe pengisian dalam log bor batuan)
NQ Dimensi ukuran inti batuan.
NR Tidak ada perolehan contoh (No recovery of sample)
NV Petunjuk mata bor inti.
NW Petunjuk batang bor
NX Penginti batuan dengan matabor NX untuk memperoleh inti dengan diameter 53 mm
OC Terkonsolidasi lebih (Overconsolidated)
OCR Rasio terkonsolidasi lebih (Overconsolidation Ratio)
OH Lempung organik dengan plastisitas sedang sampai tinggi (Grup simbol dalam Unified Soil
Classifications System)
OL Lanau organik, lempung lanauan organik dengan plastisitas rendah (Grup simbol dalam
Unified Soil Classifications Systems)
OMC Kadar air optimum (Optimum Moisture Content)
P Pisometer
P Kode contoh tabung dinding tipis (thin-wall tube) dalam kolom tipe contoh pada log bor
p
1
Tekanan B terkoreksi akibat kekakuan membran dari uji dilatometer datar
Pa Terisi sebagian (Partially filled) (menjelaskan jumlah pengisian bor log batuan)
Pd T-05-2005-A
101 dari 112
Daftar
Rsni 2006
BACK
Simbol Keterangan
p
c
Tegangan prakonsolidasi
PDS Kondisi terurai sebagian (Partly Decomposed State)
p
f
Tekanan creep pada uji pressuremeter tipe Menard
PI Indeks plastisitas = LL – PL
PL Batas plastis
p
l
Tekanan batas (limit pressure) pada uji pressuremeter tipe Menard
PLT Uji beban titik (Point Load Test)
PMT Uji pressuremeter
P
0
Tekanan sehubungan dengan volume V
0
pada uji pressuremeter type Menard
p
0
Tekanan A terkoreksi akibat kekakuan membran dari uji dilatometer datar
PQ Dimensi ukuran inti batuan
Ps Kode contoh tabung piston dalam kolom tipe contoh pada log bor.
Pt Gambut dan tanah dengan kadar organic tinggi
PVC Poly-vinyl chloride
PW Petunjuk tipe casing flush-joint
Py Pyrite (untuk menjelaskan tipe pengisian dalam log bor batuan.
Q Kecepatan aliran konstan kedalam lubang; debit volume total.
q
c
Tahanan konus tidak terkoreksi diukur dari uji CPT
q
t
Tahanan konus terkoreksi diukur dari uji CPT.
q
u
Kuat geser tidak terkekang (Unconfined); kuat tekan uniaksial dari batuan.
Qz Quartz (menjelaskan tipe pengisian pada bor log batuan.
R Kasar (Rough) (menjelaskan kekasaran permukaan pada bor log batuan
R Pembobotan (rating) dari Shale
r Radius dari lubang pengeboran untuk pengujian
R-value Nilai tahanan tanah terhadap deformasi lateral bila diberi beban diatasnya.
RMR Bobot massa batuan (Rock Mass Rating)
RQD Rock Quality Designation
R Rasio rekompressi = C
r
/ (1+ e)
RW Petunjuk untuk batang bor
RW Petunjuk untuk casing tipe flush-joint
S
r
Derajat kejenuhan tanah (Degree of saturation)
S Permukaan lembut (Smooth) (menjelaskan kekasaran dari permukaan pada bor log batuan)
SC Pasir lempungan, campuran pasir lempung bergradasi buruk
Sd Pasir (Sand) (menjelaskan tipe pengisian pada bor log batuan).
SDI Indeks ketahanan lekang (Slake Durability Index)
Sh Pengeseran (Shear) (menjelaskan tipe diskontinuitas pada bor log batuan
SL Batas susut (Shrinkage limit)
Slk Cermin sesar (Slickensided) (menjelaskan kekasaran dari permukaan pada log bor batuan.
SM Pasir lanauan, campuran pasir – lanau bergradasi buruk.
SM-SC Campuran pasir-lanau -lempung dengan butiran halus yang agak plastis.
SMR Bobot kemiringan massa batuan (Slope rock Mass Rating)
SP Pasir bersih bergradasi buruk, campuran pasir-kerikil.
Sp Bintik-bintik (Spotty) (menjelaskan jumlah pengisian pada bor log batuan)
SPB Pecahan yang disukai (Preferred Breakage)
SPT Uji penetrasi standar (Standard Penetration Test)
SR Agak kasar (Slightly rough) (menjelaskan kekasaran permukaan pada bor log batuan)
Pd T-05-2005-A
102 dari 112
Daftar
Rsni 2006
BACK
Simbol Keterangan
SRB Pecahan random (Random Breakage)
SRS Sistim pembobotan shale (Shale Rating System)
SS Kode contoh standard spoon pada kolom tipe contoh pada bor log
St Bertangga (Stepped) (menjelaskan bentuk permukaan kekar pada bor log batuan)
STS Kondisi luntur (Stained State)
Su Permukaan luntur (Surface stain) (menjelaskan jumlah pengisian pada log bor batuan.
s
u
Kuat geser tidak terdrainase
s
uv
Kuat geser baling tidak terkoreksi (Vane shear strength)
s
u
/ σ
v0
’ Rasio kuat geser tidak terdrainase penormalan terhadap tegangan efektif overburden
SW Pasir bergradasi baik, pasir kerikilan dengan sedikit atau tanpa butiran halus.
T Kode uji triaksial terkompressi pada kolom uji lainnya dari log bor.
T Keruntuhan Topping; Rapat (Tight) (menjelaskan lebar diskontinuitas pada log bor batuan)
T Gaya geser pada tanah dalam uji geser langsung (direct shear)
t Waktu
t
100
Waktu yang dibutuhkan untuk 100% konsolidasi pada tingkat beban tertentu.
t
50
Waktu yang dibutuhkan untuk 50% konsolidasi pada tingkat beban tertentu.
TV Kode untuk uji indeks torvane pada kolom uji lainnya pada log bor.
U Kode uji tekan tidak terkekang (Unconfined) pada kolom uji lainnya dari bor log.
u Tekanan air pori
u
1
Tekanan air pori uji piezocone tipe I (elemen tengah )
u
2
Tekanan air pori uji piezocone tipe 2 (elemen bahu)
u
0
Tekanan air pori hidrostatik di lapangan atau in-situ.
USCS Unified Soil Classification System
UU Tidak terkonsolidasi dan tidak terdrainase.
UW Petunjuk casing tipe flush-joint
V Penurunan potensial dalam survai resistivitas.
V Urat (Vein) (menjelaskan tipe diskontinuitas dalam log bor batuan)
VC Sangat rapat (Very close) (menjelaskan jarak diskontinuitas pada log bor batuan)
V
c
Volume awal probe pada uji pressuremeter tipe Menard.
V
f
Volume yang berhubungan dengan tekanan creep p, pada uji pressuremeter tipe Menard.
VH Sangat keras (Very hard) (terminologi untuk menjelaskan kekerasan batuan).
V
m
(V
c
+ V
f
) pada uji pressuremeter tipe Menard
VN Sangat sempit (Very narrow) (menjelaskan lebar diskontinuitas pada log bor batuan)
v
0
Perbedaan antara volume lubang dan v
c

VR Sangat kasar (Very rough) (menjelaskan kekasaran permukaan pada bor log batuan).
V
s
Kecepatan rambat gelombang geser
W Lebar (Wide) (menjelaskan lebar diskontinuitas dalam bor log).
W Kode berat volume dan kadar air dalam kolom uji lainnya pada bor log.
w
n
Kadar air alami
Wa Bergelombang (Wavy) (menjelaskan bentuk permukaan kekar dalam bor log batuan.
W
n
Kadar air alami.
X Jarak
X Kode uji khusus pada kolom uji lainnya pada bor log.
ZW Petunjuk casing tipe flush-joint
z Kedalaman (dibawah permukaan tanah)

Pd T-05-2005-A
103 dari 112
Daftar
Rsni 2006
BACK

Lampiran C
(informatif)

Daftar nama dan lembaga



1) Pemrakarsa

Pusat Penelitian dan Pengembangan Sumber Daya Air, Badan Penelitian dan Pengembangan,
Departemen Pekerjaan Umum.

2) Penyusun
N a m a L e m b a g a
Ir. Theo F. Najoan, M.Eng.
Ir. Carlina Soetjiono, Dipl. HE.
Pusat Litbang Sumber Daya Air
Pusat Litbang Sumber Daya Air

































Pd T-05-2005-A
104 dari 112
Daftar
Rsni 2006
BACK
Bibliografi



Acker, W. L., III (1974), ”Basic Procedures for Soil Sampling and Core Drilling”, Acker Drill Co. Inc.,
P.O. Box 830, Scranton, PA., 18501.
Baguelin, F., Jezequel, J. F., and Shields, D. H. (1978) “The Pressuremeter and Foundation
Engineering”, Trans Tech Publication, Switzerland.
Baldi, G., Bellotti, R., Ghionnna; V., Jamiolkowski, M. and LoPresti, D.C. (1989), "Modulus of sands
from CPTs and DMTs”, Proceedings. 12
th
International Conference on Soil Mechanics & Foundation
Engineering, Vol. 1, Rio de Janeiro, 165-170.
Barton, N.R. (1973), "Review of a new shear strength criterion for rock joints", Engineering Geology,
Elsevier, Vol. 7, 287-332.
Barton, N.R, Lien, R., and Lunde, J. (1974), "Engineering classification of rock masses for the
design of tunnel support”, Rock Mechanics, Vol. 6 (4), 189-239.
Barton, N.R. (1988), "Rock mass classification and tunnel reinforcement using tle Q-system", Rock
Classification Systems for Engineering Purposes, STP Na. 984, ASTM, West Conshohocken, PA,
3944.
Bieniawski, Z.T. (1984), “Rock Mechanics Design in Mining and Tunneling”, Balkema, Rotterdam,
272 p.
Bieniawski, Z.T. (1989), “Engineering Rock Mass Classifications”, John Wiley & Sons, Inc., New
York.
Bieniawski, Z. T. (1972), "Propagation of brittle fracture in rock", Proceedings., 10th U.S Symposium
On Rock Mechanics, Johannesburg, South Africa.
Bishop, A. W., and Henkel, D. J. (1962), “The Measurement of Soil Properties in the Triaxial Test”,
Second Edition, Edward Arnold Publishers, Ltd., London, U.K., 227 p.
Bishop, A. W., and Bjerrum, L. (1960), "The relevance of the triaxial test to the solution of stability
problems", Proceedings. Research Conference on Shear Strength of Cohesive Soils, Boulder CO ,
ASCE, 437-501.
Bishop, A. W., Alpan , I., Blight, G.E., and Donald, I.B. (1960), “Factors controlling the strength of
partially saturated cohesive soils", Proceedings, Research Conference on Shear Strength of
Cohesive Soils, Boulder/CO, ASCE, 503-532.
Bjerrum, L. (1972), "Embankments on soft ground", Proceedings. Performance of Earth and Earth-
Supported Structures Vol. II, (Purdue Univ. Cont). ASCE, Reston/VA, 1-54.
Bolton, M.D. (1986), "The strength and dilatancv of sands", Geotechnique , Vol. 36 (1), 65-78.
Briaud, J. L. (1989), "The pressuremeter test for highway applications", Report FHWA -IP- 89-005,
Federal Highway Administration, Washington, D.C., 148.
Bruce, D. A., Xanthakos, P. P., and Abramson, L. W. (1994), "Jet grouting", Ground Control and
Improvement, Chapter 8, 580-683.
Burland, J.B. (1989), "Small is beautiful: The stiffness of soils at small strains", Canadian
Geotechnical Journal. Vol. 26 (4), 499-516.
Burmister, D. M. (1970), "Suggested methods for identification of soils, Special Procedures for
Testing Soil and Rock for Engineering Purposes”, Special Technical Publication 479, ASTM, West
Conshohocken, PA. 311-13.

Pd T-05-2005-A
105 dari 112
Daftar
Rsni 2006
BACK
Burns, S.E. and Mayne ,P.W. (1996), "Small and high-strain measurement of in-situ soil properties
using the seismic cone", Transportation Research Road 1548, Natl. Acad Press, Wash.. D.C. 81-38.
Burns, S.E. and Mayne, P.W. (1998), "Monotonic and dilatory pore pressure decay during piezocone
tests", Canadian Geotechnical Journal, Vol. 35(6), 1063-1073.
Cambefort, H. (1964), "Injection des sols: tome I Principes et Methodes”, Paris, France (in French).
Campanella,R.G.(1994), "Field methods for dynamic geotechnical testing", Dynamic Geotechnical
Testing II (STP 1214). ASTM, Philadelphia 3-23.
Campanella, R. G., and Robertson. P. K. (1981), "Applied cone research", Cone Penetration Testing
and Experience, ASCE Reston/VA, 343-362.
Carter, M., and Bentley. S. P. (1991), “Correlation of Soil Properties”, Pentech Press Limited
London, U.K.
Casagrande, A.. and Fadum, R.E (1940), "Notes on soil testing for engineering purposes”,
Publication 268, Graduate School of Engineering, Harvard University, Cambridge, Ma.
Chandler, R.J. (1983), "The in-situ measurement of the undrained shear strength of clays using the
field vane", Vane Shear Strength Testing in Soils : Field and Laboratory Studies. ASTM STP 1014,
American Society for Testing & Materials, West Conshohocken/PA, 13-44.
Chen, B.S-Y. and Mayne, P.W. (1996), "Statistical relationships between piezocone measurements
and stress history of clays", Canadian Geotechnical Journal, Vol. 33 (3), 488-498.
Cheney, R. 5., and Chassie. It G. (1993), "Soils and foundations workshop manual", Circular FHWA
: HI-88-009, Federal Highway Administration, Washington D.C., 399.
Clarke, B.G.(1995), “Pressuremeters in Geotechnical design”, International Thomson Publishing
/UK, and BiTech Publishers, Vancouver.
Das, B. M. (1987), “Advanced Soil Mechanics”, McGraw-Hill Company, New York.
Das, B. M. (1990), “Principles of Geotechnical Engineering”, PWS-Kent Publishing Company.
Boston, MA, 665 p.
Deere, D. U., and Deere, D. W. (1989), “Report Manual: Rock quality designation (RQD) after 20
years”, Contract DACW 39-86-M-1273. Department of the Army, U.S. Army Corps of Engineers,
Washington, D.C.
Deere, D.U. and Miller, R. P. (1966), “Engineering classification and index properties intact rock”,
Tech. Report. No. AFWL-TR-65-116, USAF Weapons Lab., Kirtland Air Force Base. NM.
Deere. D. U. (1963), ”Technical description of rock cores for engineering purposes", Felmechanik
und Ingenieur Geologis. 1 (1), 16-22.
Driscoll, F. G. (1936), “Groundwater and Wells”, 2nd Edition, Johnson Filtration Systems, Inc.. Si
Paul MN, 1089 p.
Duncan, J.M. and Chang, C.Y. (1970), "Nonlinear analysis of stress and strain in soils”, Journal of
the Soil Mechanics & Foundation Division (ASCE) 96 (SM5), 1629-1653.
Dunnicliff, J. (1988), “Geotechnical Instrumentation for Monitoring Field Performance”, John Wiley &
Sons, Inc., New York.
Fahey, M. and Carter, J.P. (1993), “A finite element study of the pressuremeter in sand using a
nonlinear elastic plastic model”, Canadian Geotechnical Journal. Vol. 30 (2), 348-362.
Pd T-05-2005-A
106 dari 112
Daftar
Rsni 2006
BACK
Federal Highway Administration (FHWA). (1985), "Checklist and guidelines for review of
geotechnical reports and preliminary plans and specifications”, Report FHWA-ED-88-053,
Washington D.C.
Federal Highway Administration (FHWA)(1989), "Rock slopes: design, excavation, stabilization",
Circular No. FHWA : TS-89-045, Washington D.C.
Finn, P. S., Nisbet, R.M., and Hawkins, P. G. (1984), “Guidance on pressuremeter, flat dilatometer
and cone penetration tests in sand”, Geotechnique , Vol. 34 (1), 81-97.
Ford, P.J., Turina, P.J., and Seely, D.E. (1934), “Characterization of hazardous waste sites- a
methods manual : vol. II, available sampling methods”, 2nd Edition, EPA 600/4-84-076 (NTIS
PB521596). Environmental Monitoring Systems Laboratory , Las Vegas, NV.
Foster, R.S. (1975), “Physical Geology”, Merrill Publishing. Columbus, OH.
Franklin. L A., and Dusseault, M.B. (1989), “Rock Engineering”, McGraw-Hill Company, New York.
Franklin. J. A. (1981), “A shale rating system and tentative applications to shale performance”,
Shales and Swelling Solis, Transportation Research Record 790, Transportation Research Board ,
Washington D.C.
Gibson. R. E (1953), "Experimental determination of the true cohesion antrue angle of internal
friction in clays", Proceedings, 3
rd
International Conference on Soil Mechanics and Foundation
Engineering, Zurich, Switzerland. 126-130.
glNT - gEotechnical INTegratot Software 3.2. (1991), "gINT geotechnical Integralor Software 3.2”,
Documentation, Geotechnical Computer Applications, Inc., Santa Rosy California.
Goodman, R.E. (1989), “Introduction to Rock Mechanics”, Second Edition. John Wiley & Sons, Inc.,
New York, 562 p.
Greenhouse, J.P., Shaine, D.D., and Gudjurgis, P. (1998), “Application of Geophysics in
Environmental Investigations”, Matrix Multimedia Publishing. Toronto.
Hardin, B.O. and Drnevich, V.P. (1972), "Shear modulus and damping in soils", Journal of the Soil
Mechanics & Foundation Division (ASCE). Vol. 98 (SM7). 667-692.
Hassani, B.P., and Scoble, M.J.(1985), "Frictional mechanism and properties of rock discontinuities",
Proceedings, International Symposium on Fundamental of Rock Joints Bjorkliden. Sweden,185-196.
Hatanaka, M. and Uchida. A. (1996), "Empirical correlation between penetration resistance and
effective friction of sandy soil”, Soils & Foundations. Vol. 36 (4), Japanese Geotechnical Society, 1-
9.
Hegazy, V.A. (1998), “Delineating geostratigrapby by duster analysis of piezocone data. PhD
Thesis”, School of Civil and Environmental Engineering, Georgia Institute of Technology, Atlanta.
464 p.
Hilf, J. W. (1975), “Compacted fill”, Foundation Engineering Handbook, H. F. Winterkorn and H. Y.
Fang, eds., Van Nostrand Reinhold, New York, 244-311.
Hoar, R.J. and Stokoe, K.B. (1978), "Generation and measurement of shear waves in-situ”, Dynamic
Geotechnical Testing (STP 654), ASTM, Philadelphia, 3-29.
Hoek, E., and Bray,J.W.(1977), “Rock Slope Engineerhng”, Institution of Mining and Metallurgy,
London, U.K.
Hoek, E., Kaiser, P.K., and Bawden, W.F. (1995), “Support of Underground Excavations in Hard
Rock”, A.A. Balkema, Rotterdam, Netherlands.
Hoek, E. and Brown, E.T. (1998), "Practical estimates of rock mass strength", International Journal
of Rock Mechanics & Min. Sciences, Vol. 34 (8), 1165-1186.
Pd T-05-2005-A
107 dari 112
Daftar
Rsni 2006
BACK
Holtz W. G.. and Gibbs, H. J. (1979), “Discussion of SPT and relative density in coarse sand",
Journal of Geotechnical Engineering, ASCE. Vol. 105 (3), 439-611.
Holtz, R.D., and Kovacs. W. D. (1981), “An Introduction to Geotechnical Engineering”, Prentice -Hall,
Inc. Englewood Cliffs. NJ.
Hough, B. K. (1969), “Basic Soils Engineering”, Ronald Press. New York.
Houlsby, GT. and Teh, C.I. (1988), "Analysis of the piezocone ind clay", Penetration Testing 1988,
Vol. 2, Balkema, Rotterdam, 777-783.
Hunt, R. E. (1984), “Geotednical Engineerng Investigation Manual”, McGraw-Hill Inc., 983 p.
Hvorslev, M.J. (1948), “Subsurface Exploration and Sampling of Soils for Civil Engineering
Purposes”, U.S. Army Corps of Engineers , Waterways Experiment Station, Vicksburg, MS.
International Society for Rock Mechanics Commission (1979), "Suggested Methods for Determining
Mud Content, Porosity, Density, Absorption and Related Properties", International Journal Rock
Mechanics Mining Sci. and Geomechanics Abstr., Vol. 16. Great Britian, 111-156.
Jaeger, J.C. and Cook. N.G.W. (1977), “Fundamentals of Rock Mechanics”, 2nd Edition. Science
Paperbacks, Chapman & Hall. London, 585 p.
Jamiolkowski, M., Ladd. C. C., Gemaine, J. T. and Lancellota, R. (1985), "New developments in field
and laboratory testing of soils", Proceedings,11
th
International Conference on Soil Mechanics &
Foundation Engineering, Vol.1, San Francisco, 37-153.
Jamiolkowski, M., Lancellotta, R., LoPresti, D.C.F., and Pallara, O. (1994), "Stiffness of Toyoura
sand at small and intermediate strains", Proceedings, 13
th
International Conference on Soil
Mechanics & Geotechnical Engineering (1), New Delhi, 169-172.
Keaveny, J. and Mitchel, J.K. (1986), "Strength of fine grained soils using the piezocone", Use of In-
Situ Tests In Geotechnical Engineering, GSP 6, ASCE, Reston/VA, 668-685.
Kovacs, W.D., Salomone, L.A., and Yokel. F.Y. (1983), "Energy Measurements in the Standard
Penetration Test”, Building Science Series 135, National Bureau of Standards, Washington, 73.
Krebs, R.D., and Walker, E.D. (1971), "Highway materials," Publication 272, Department of Civil
Engrg. Massachusetts Institute of Technology, McGraw-Hill Company, New York, 107.
Kulhawy, F.H. (1973), "Stress-deformation properties of rock and rock discontinuities”, Engineering
Geology. Vol. 9, 327-330.
Kulhawy, F.H. and Mayne, P.W. (1990), “Manual on Estimating Soil Properties for Foundation
Design”, Report EPRI-EL-6800, Electric Power Research Institute, Palo Alto, 306 p.
Kulhawy, F.H. and Mayne, P.W. (1991), “Relative density, SPT, and CPT interrelationships.
Calibration Chamber Testing”, (Proceedings, ISOCCT, Potsdam). Elsevier, New York, 197-211.
Kulhawy, F.H., Trautmann, C.H., and O'Rourke, T.D. (1991), “The soil-rock boundary: What is it and
where is it?", Detection of and Construction at the Solt/Rock Inrerfare, GSP No. 28. ASCE, Reslon /
VA, 1-15.
Kulhawy, F.H. and Phoon, K.K. (1993), "Drilled shaft side resistance in clay soil to rock'', Design and
Performance of Deep Foundations: Plies & Pliers in Soil & Soft Rock, GSP No. 38, ASCE, Reston /
VA, 172-183.
Ladd, C.C., and Foott, R. (1974), “A new design procedure for stability of soft clay”, Journal of
Geotechnical Engineering , ASCE. Vol. I00 (3), 763-786.
Pd T-05-2005-A
108 dari 112
Daftar
Rsni 2006
BACK
Ladd, C.C. (1991), “Stability evaluation during staged construction”, ASCE Journal of Geotechnical
Engineering 117 (4), 540-615.
Lambe, T.W. (1967), "The Stress Path Method", Journal of the Soil Mechanics and Foundation
Division, ASCE, Vol.93 (6). Proc. Paper 5613, 309-33 I.
Lambe, T.W. and Mar, A.M. (1979), "Stress Path Method: Second Edition", Journal of Geotechnical
Engineering, ASCE, Vol. 105 (6), 727-738.
Lambe, T. W. and Whitman, R.V. (1979), “Soil Mechanics : SI Version”, John Wiley & Sons. Inc..
New York, 333 p.
Leroueil, S. and Jamiolkowski, M. (1991), "Exploration of soft soil and determination of design
parameters”, Proceedings GeoCoast '91, Vol. 2, Port & Harbor Res. Inst., Yokohama, 969-998.
Liltlechild, B.D., Hill , S.J., Statham, I., Plumbridge, G.D. and Lee. S.C. (2000), “Determination of
rock modulus for foundation design”, Innovations & Applications in Geotechnical Site
Characterization (GSP 97), ASCE, Reston, Virginia 213-228.
LoPresti, D.C.F., Pallara, O., Lancellotta , R., Armandi, M., and Maniscalco, R. (1993), "Monotonic
and cyclic loading behavior of two sands at small strains”, ASTM Geotechnical Testing Journal ,
Vol. 16 (4).409-424.
LoPresti, D.C.F., Pallara, O. and Poci, I. (1995), "A modified commercial triaxial testing system for
smtall strain measurements", ASTM Geotechnical esting Journal, Vol. 18 (1), 15-31.
Lowe III, J., and Zaccheo. P.F. (1991), "Subsurface explorations and sampling", Foundation
Engineering Handbook, H. Y. Fang, ed., Van Nostrand Reinhold, New York, 1-71.
Lunne, T.,Powell, J.J.M., Hauge, E.A.,Mokkelbost, K.H., and Uglow, I.M. (1990), "Correlation for
dilatometer readings with lateral stress in clays”, Transportation Research Record 1278, National
Academy Press, Washington, D.C., 183-193.
Lunne, T., Lacasse, S., and Rad, N.S. (1994), "General report : SPT,CPT, PMT, and recent
developments in in-situ testing", Proceedings, 12
th
International Conference on Soil Mechanics &
Foundation Engineering, Vol. 4., Rio de Janeiro, 2339-2403.
Lunne,T., Robertson, P.K., and Powell, J.J.M.(1997), “Cone Penetration Testing in Geotechnical
Practice”, Blackie-Academic Publishing/London, EF SPON Publishing, U.K., 317 p.
Lupini, J.F., Skinner, A.E., and Vaughan, P.R. (1981), “The drained residual shear strength of
cohesive soils”, Geotechnique, Vol. 31 (2), 181-213.
Lutenegger, A. J., DeGroot, D.J., Mirza, C., and Bozozuk, M. (1995), "Recommended guidelines for
sealing geotechnical exploratory holes", FHWA Report 378, Federal Highway Administration
Washington, D.C.
Mair, R. J, and Wood, D. M. (1987), “Pressuremeter testing methods and interpretation", Ground
Engineering Report: ln-Situ Testing (CIRlA), Butterworths, London, U.K.
Marchetti, S. (1980), "In-situ tests by flat dilatometer", Journal of the Geotechnical Engineering
Division (ASCE), Vol. 107 (3), 832-837.
Marchetti, S. (1997), "The flat dilatometer design applications”, Proceedings, Third International
Geotechnical Conference, Cairo University, Egypt, 1-25.
Marcusson, W.F. and Bieganousky, W.A. (1977), “SPT and relative density in coarse sands”,
Journal of the Geotechnical Engineering Division (ASCE), Vol. 103 (GT11), 1295-1309.
Mayne, P.W. and Kulhawy, F.H. (1982), "K
0
- OCR relationships in soil“, Journal of Geotechnical
Engineering Division, Vol. 108 (GT6), 851-872.
Mayne, P. W, and Mitchell, J. K. (1988), “Profiling of overconsolidation ratio in days by field vane",
Canadian Geotechnical Journal, Vol. 25 (1), 150-158.
Pd T-05-2005-A
109 dari 112
Daftar
Rsni 2006
BACK
Mayne, P. W., Kulhawy, F.H., and Kay, J.N. (1990), "Observations on the development of pore
water pressures during piezocone tests in clays”, Canadian Geotechnical Journal, Vol. 27 (1) , 418-
428.
Mayne, P.W. and Kulhawy, F.H. (1990), "Direct & indirect determinations of in-situ K
0
in clays",
Transportation Research Record 1278, National Academy Press. Washington, DC., 141-149.
Mayne, P.W. (1991), "Determination of OCR in clays by piezocone tests using cavity expansion and
critical stale concepts", Soils and Foundation, Vol. 31 (2), 65-76.
Mayne, P.W. and Rix, GJ. (1993), "G
max
-q
c
relationships for clays", ASTM Geotechnical Testing
Journal, Vol. 16(1), 54-60.
Mayne, P.W., Mitchell, J.K., Auxt, J., and Yilmaz, R. (1995), "U.S. national report on the CPT",
Proceedings, International Symposium on Cone Penetration Testing (CPT '95), Vol. 1, Swedish
Geotechnical Society, Linkoping, 263-276.
Mayne, P.W. (1995), "Profiling yield stresses in clays by in-situ test", Transportation Research
Record 1479, National Academy Press, Washington, D.C., 43-50.
Mayne, P.W. (1995), "CPT determination of OCR and K
0
in clean guartz sands”, Proceedings,
CPT'95, Vol. 2, Swedish Geotechnical Society, Linkoping, 215-220.
Mayne, P.V., Robertson, P.K., and Lunne, T. (1998), "Clay stress history evaluated from seismic
piezocone tests", Geotechnical Site Characterization , Vol. 2, Balkema, Rotterdam, 1113-1118.
Mayne, P.W. and Martin, G.K. (1998), "Commentary on Marcheti flat dilatometer correlations in
soils", ASTM Geotechnical Testing Journal, Vol. 21 (3), 222-239.
Mayne, P.W., Schneider, LA., and Martin, G.K. (1999), “Small- and large-strain soil properties from
seismic flat dilatometer tests", Pre-Failure Deformation Characteristics of Geomaterials , Vol. 1
(Torino), Balkema , Roterdam, 419-426.
Mayne, R.W. (2001), "Stress-strain-strength-flow parameters from enhanced in-situ tests”,
Proceedings, International Conference on In-Situ Measurement of Soil Properties &i Case Histories
(In-Situ 2001), Bali, Indonesia, 47-69.
Mesri, G. and Abdel-Ghaffar, M.E.M. (1993), "Cohesion intercept in effective stress stability
analysis", Journal of Geotechnical Engineering 119 (8), 1229-1119.
Mitchell, J.K.(1993), “Fundamentals of Soil Behavior”, Second Edition, John Wiley& Sons, New
York, 437 P.
NAVFAC, P-418 (1983), “Dewatering and groundwater control", Naval Facilities Engineering
Command, Department of the Navy; Publication TM 5-818-5.
NAVFAC, DM-7.1. (1982), "Soil Mechanics", Naval Facilities Engineering Command, Department of
the Navy, Alexandria, VA.
Ng, C.W.W., Yau, T.L.Y., Li, J.H.M. and Tang. W.H. (2001), "Side resistance of large diameter bored
piles socketed into decomposed rock“, Journal Geotechnical & Geoenvironmental Engineering, Vol.
127 (8), 642-657.
Obert. L., and Duvall, W. I. (1967), “Rock Mechanics and the Design of Structures in Rock”, John
Wiley & Sons, Inc, New York.
Ohta, R., Nishihara. A., and Morita, Y. (1985), "Undrained stability of K
0
- consolidated clays",
Proceedings, 11
th
International Conference on Soil Mechanics & Foundation Engineering , Vol. 2,
San Fransisco, 613-616.
Patton, F. D. (1966), “Multiple modes of shear failure in rock", Proc., 1
st
International Congress on
Rock Mechanics, Lisbon, Portugal, 509-13.
Peck, R. B., Hansen, W. E. and Thornburn, T. H. (1974), “Foundation Engineering”, John Wiley &
Pd T-05-2005-A
110 dari 112
Daftar
Rsni 2006
BACK
Sons, Inc.. New York, 511 p.
Pough, F.H. (1988), “Rocks & Minerals”, The Peterson Field Guide Series, Houghton Mifflin
Company, Boston. 317 p.
Poulos, SJ. (1988), "Compaction control and the index unit weight”, ASTM Geotechnical Testing
Journal, Vol. 11, No. 2, 100-108.
Powers, J. P. (1992), “Construction Dewatering”, John Wiley & Sons. Inc., New York.
Puzrin, A.M. and Burland, J.B. (1996), "A logarithmic stress-strain function for rocks and soils",
Geotechnique, Vol. 46 (1), 157-164.
Rehm, B.W., Stolzenberg, T.R., and Nichols, D. G. (1985), "Field measurement methods for
hydrogeologic investigations: a critical review of the literature", EPRI Report No. EA-4301, Electric
Power Research Institute, Palo Alto, CA.
Richart, F. N. Jr. (1977), "Dynamic stress-strain relations for soils - State of the art report",
Proceedings., 9
th
International Conference on Soil Mechanics and Foundation Engineering, Tokyo,
605-612.
Robertson, P.K. and Campanella, R.G. (L983), "lnterpretation of cone penetration tests: Part I –
sands; Part II – clay”, Canadian Geotechnical Journal, Vol. 20 (4), 719-745.
Robertson, P.K., Campanella, R.G., and Wightman, A. (1983), "SPT-CPT correlations", Journal of
the Geotechnical Engineering Division (ASCE), Vol. 109 (11), 1449-1459.
Robertson, P.K. (1986), "In-situ testing and its application to foundation engineering", Canadian
Geotechnical Journal, Vol. 23 (4), 573-38.1.
Robertson, P.K., Campanella, R.G., Gillespie, D., and Rice, A. (1986), "Use of piezometer cone
data", Use of In-Situ Tests in Geotechnical Engineering, GSP No. 6. ASCE, New York, 1263-1280.
Robertson, P.K., Campanella, R.G., Gillespie, D., and Rice, A. (1986), "Seismic CPT to measure in-
situ shear wave velocity", Journal of Geotechnical Engineering 112 (8), 71-803.
Robertson, P.K., Campanella. R.G., Gillespie, D., and By, T. (1988), "Excess pore pressures and
the flat dilatometer”, Penetration Testing 1988, Vol. I. Balkema , Rotterdam, 567-576.
Robertson, P.K. (1990), "Soil classification using the cone penetration test", Canadian Geotechnical
Journal, Vol. 27 (1), 131-158.
Santamarina, J.C., Klein, K. and Fam, M.A. (2001), “Soils and Waves”, Particulate Materials
Behavior, Characterization, & Process Monitoring,John Wiley & Sons, Ltd.,New York,488 p.
Shmertmann, J.H. (1986), "Suggested method for performing the flat dilatometer test", ASTM
Geotechnical Testing Journal, Vol. 9 (2), 93-101
Serafim, J. L. and Pereira. J. P. (1983), "Considerations of the geomechanics classification of
Bieniawski”, Proceedings, International Symposium on Engineering Geology and Underground
Construction, Lisbon, 1133-44.
Sheorey, P.R. (1997), “Empirical Rock Failure Criteria”, A.A. Balkema, Rotterdam, 176 p.
Singh, B. and Goel, R.K. (1999), “Rock Mass Classification: A practical approach in civil
engineering”, Elsevier Science Ltd., Oxford. U.K.. 267 p.
Skempton, A. W. (1957), “Discussion on The planning and design of new Hong Kong airport",
Proceedings, Institution of Civil Engineers, Vol. 7 (3), London, 305-307.
Pd T-05-2005-A
111 dari 112
Daftar
Rsni 2006
BACK
Skempton, A.W. (1986), "SPT procedures and the effects in sands of overburden pressure, relative
density, particle size, aging, and overconsolidation”, Geotechnique, Vol. 36. No. 3, 425-147.
Soil Conservation Service (SCS). (1983), “National soils handbook”, Information Division,
Washington , D.C.
Sowers, G.P. (1979), “Introduction Soil Mechanics and Foundations, Geotechnical Engineering”,
Fourth Edition. Macmillan, New York.
Stagg, K. G., and Zienkiewicz,O.C. (1963), “Rock Mechanics in Engineering Practice”, John Wiley &
Sons. Inc., New York.
Stokoe, K.H., and Woods, R. D. (1972), "In-situ shear wave velocity by cross-hole method", Journal
of the. Soil Mechanics & Foundations Division, ASCE, 98 (5), 443-460.
Stokoe, K.H. and Hoar, R.J. (1978), “Variables affecting in-situ seismic measurement",
Proceedings, Earthquake Engineering and Soil Dynamics, ASCE, Pasadena, Ca. 919-938.
Tanaka, H. and Tanaka, M. (1998), “Characterization of sandy soils using CPT and DMT”, Soils and
Foundations, Vol. 38 (3), 55-67.
Tatsuoka, F. and Shibuya, S. (1992), "Deformation characteristics of soils & rocks from field & lab
tests", Report of the Institute of Industrial Science 37 (1), Serial No. 235, University of Tokyo, 136 p.
Tatsuoka, F., Jardine, R.J., LoPresti, D.C.F., DiBenedetto, H. and Kodaka, T. (1997), "Theme
Lecture: Characterizing the pre-failure deformation properties of geamaterials", Proceedings, 14
th

International Conference on Soil Mechanics & Foundation Engineering Vol.4, Hamburg, 2129-2167.
Tavenas, F., LeBlond. P., Jean, P., and Leroueil, S. (1983), "The permeability of natural soft clays:
Parts I and lI “, Canadian Geotechnical Journal, Vol. 20 (4), 629-660.
Taylor, D. W. (1948), “Fundamentals of Soil Mechanics”, John Wiley & Sons. Inc., New York
Teh, C.I. and Houlsbv, G.T. (1991), "An analytical study of the cone penetration test in clay",
Geotechnique , Vol. 41 (1), 17-34.
Terzaghi, K. and Peck, R. B. (1967), “Soil Mechanics in Engineering Practice”, John Wiley & Sons.
Inc., New Yak. 729 p.
Terzaghi, K., Peck, R.B., and Mesri, G. (1996), “Soil Mechanics In Engineering Practice”, Second
Edition, Wiley and Sons, Inc., New York, 549 p.
U.S. Environmental Protection Agency (EPA). (1991), “Description and sampling of contaminated
soils”, (EPA/625/12-9/002; November), Washington, D.C.
US. Department of the Interior, Bureau of Reclamation (1973), “Design of small dams", United
States Government Printing Office , Washington, D.C.
U.S. Army Corps of Engineers (1951), "Time lag and soil permeability in groundwater observations",
Waterways Experiment Station, Bulletin No. 36, Vicksburg, MS.
U.S. Department of the Interior, Bureau or Reclamation (1960), “Earth manual”, United States
Government Printing Office, Washington. D.C.
U.S. Department of the Interior, Bureau of Reclamation (1986), "Soil classification handbook on
Unified soil classification system", Training Manual No.6 ; January, Geotechnical Branch,
Washington, D.C.
Van Schalkwyk, A., Dooge, N., and Pitsiou, S. (1995), "Rock mass characterization for evaluation of
erodibility”, Proceedings , 11
th
European Conference on Soil Mechanics and Foundation
Engineering, Vol. 3, Copenhagen, Danish Geotechnical Society Bulletin 11, 281-287.
Vucetic, M. and Dobry, R.(1991), "Effect of soil plasticity on cyclic response", Journal of
Geotechnical Engineering, Vol. 117 (1), 89-107.
Pd T-05-2005-A
112 dari 112
Daftar
Rsni 2006
BACK
Way, D.S. (1973), “Terrain Analysis”, Dowden , Hutchingson & Ross, Inc., Stroudsburg, Pa.
Williamson, D.A. (1984), "Unified rock classifications system", Bulletin of the Association of
Engineering Geologists, Vol. XXI (3), 345-354.
Windle, D., and Wroth, C. P. (1977), "In-situ measurement of the properties of stiff cloys",
Proceedings, 9
th
International Conference on Soil Mechanics and Foundation Engineering, Vol. 1,
Tokyo, Japan, 347-352.
Witczak, M. W. (1972), "Relationships between physiographic units and highway design factors",
National Cooperative Highway Research Program: Report 132, Washington D.C.
Wittke, W. (1990), “Rock Mechanics: Theory and Applications with Case Histories”, Springer-Verlag,
New York.
Woods, R. D. (1978), "Measurement of soil properties -state of the art report", Proceedings
Earthquake Engineering and Soil Dynamics, Vol. I, ASCE, Pasadena, CA, 91-178.
Woods, R.D. (1994), "Laboratory measurement of dynamic soil properties", Dynamic Geotechnical
Testing II (STP 1213), ASTM, West Conshohocken, PA, 165-19U.
Wroth, C. P., and Wood, D. M. (1978), "The correlation of index properties with some basic
engineering properties of soils", Canadian Geotechnical Journal, Vol. 15 (2), 137-145.
Wroth, C. P. (1984), "The interpretation of in-situ soil test", 24
th
Rankine Lecture, Geotechnique, Vol.
34(4), 449-489.
Wyllie, D. C. (1992), “Foundations on Rock”, First Edition, E&F Spon Publishers, Chapman and Hall,
London, 333 p.
Youd, T.L. (1973), “Factors controlling maximum and minimum densities of sands", Evaluation of
Relative Density, STP 523, ASTM, West Conshohocken/PA, 98-112.

Pd T-05-2005-A

Pendahuluan

Dalam membangun infra struktur bangunan air biasanya perlu dilakukan beberapa tahapan kegiatan, yaitu mulai dari survei dan investigasi, desain, land aquisition dan konstruksi bangunan, serta dilanjutkan dengan operasi dan pemeliharaan, yang dikenal dengan istilah SIDLACOM. Salah satu tahapan penting yang perlu dilakukan adalah survei dan investigasi untuk mendesain bangunan dan fondasinya, agar konstruksi bangunan dapat memikul beban-beban secara aman tanpa mengalami deformasi yang berlebihan, sehingga bangunan berada dalam keadaan aman dan stabil selama umur layannya. Pada umumnya sistem bangunan air dibangun di atas permukaan tanah dan batuan, dan kadang-kadang juga menggunakan bahan tanah dan batuan sebagai bahan konstruksi. Sehubungan dengan keberhasilan konstruksi sistem bangunan air tersebut, tidak terlepas dari dukungan kondisi geoteknik di sekitar lokasi proyek yang akan dibangun. Karakteristik perlapisan tanah dan batuan serta ketersediaan bahan bangunan perlu diselidiki secara terperinci. Sampai sekarang suatu pedoman cara-cara penyelidikan geoteknik yang berlaku umum untuk fondasi bangunan air belum ada di Indonesia, sehingga perlu disusun pedoman dengan judul utama “Pedoman penyelidikan geoteknik untuk fondasi bangunan air”, yang terdiri atas 3 volume, yaitu Volume I Volume II Volume III Penyelidikan pendahuluan, metode pengeboran dan deskripsi log bor. Pengujian lapangan dan laboratorium. Interpretasi hasil uji dan penyusunan laporan penyelidikan geoteknik.

Pedoman ini merupakan volume III dari judul utama Pedoman penyelidikan geoteknik untuk fondasi bangunan air yang menguraikan secara lengkap prinsip-prinsip interpretasi hasil uji tanah yang meliputi komposisi dan klasifikasi, kepadatan, riwayat kekuatan dan tegangan, parameter kekakuan dan deformasi, sifat-sifat aliran dan material lain; interpretasi hasil uji batuan yang meliputi sifat fisik, kuat geser lapangan, klasifikasi, tegangan, modulus massa batuan dan parameter lainnya, dan daya dukung fondasi; teknik penyusunan laporan hasil penyelidikan geoteknik yang meliputi jenis laporan, penyajian data dan persyaratan; serta pertimbangan penyusunan kontrak penyelidikan geoteknik yang meliputi spesifikasi pengeboran dan pengujian. Pedoman ini mengacu pada guidelines “Manual on Subsurface Investigations” (FHWA NHI01-031) dan standar serta pedoman terkait lainnya yang berlaku, sehingga pedoman ini diharapkan sebagai acuan yang lengkap dan komprehensif. Namun dalam implementasinya di lapangan perlu disesuaikan dengan kebutuhan, misalnya pelaksanaan penyelidikan perlu disesuaikan dengan kondisi lapangan, tahapan pekerjaan apakah melingkupi studi pendahuluan, pradesain, desain atau review desain, serta harus memenuhi standar minimum penyelidikan geoteknik.

ii
BACK

Daftar Rsni 2006

Pd T-05-2005-A

Pedoman penyelidikan geoteknik untuk fondasi bangunan air Volume III : Interpretasi hasil uji dan penyusunan laporan penyelidikan geoteknik

1

Ruang lingkup

Pedoman ini menetapkan interpretasi hasil uji dan penyusunan laporan penyelidikan geoteknik untuk keperluan penyelidikan geoteknik untuk fondasi bangunan air. Dalam pedoman ini diuraikan prinsip-prinsip sebagai berikut. a) Interpretasi hasil uji tanah yang meliputi komposisi dan klasifikasi, kepadatan, riwayat kekuatan dan tegangan, parameter kekakuan dan deformasi, sifat-sifat aliran dan material lainnya. b) Interpretasi hasil uji batuan yang meliputi sifat fisik, kuat geser lapangan, klasifikasi, tegangan, modulus massa batuan dan parameter lainnya, serta daya dukung fondasi. c) Teknik penyusunan laporan hasil penyelidikan geoteknik yang meliputi jenis laporan, penyajian data, dan persyaratan. d) Pertimbangan penyusunan kontrak penyelidikan geoteknik yang meliputi spesifikasi pengeboran dan pengujian.

2

Acuan normatif

SNI 03-1742, Cara uji kepadatan ringan untuk tanah. SNI 03-1743, Cara uji kepadatan berat untuk tanah. SNI 03-1964, Cara uji berat jenis tanah. SNI 03-1965, Cara uji kadar air tanah. SNI 03-1966, Cara uji batas plastis. SNI 03-1967, Cara uji batas cair dengan alat Casagrande. SNI 03-2393, Tata cara pelaksanaan injeksi semen pada batuan. SNI 03-2411, Cara uji lapangan tentang kelulusan air bertekanan. SNI 03-2417, Cara uji keausan agregat dengan mesin abrasi Los Angeles. SNI 03-2435, Cara uji laboratorium tentang kelulusan air untuk contoh tanah. SNI 03-2436, Tata cara pencatatan dan interpretasi hasil pemboran inti . SNI 03-2437, Cara uji laboratorium untuk menentukan parameter sifat fisika pada contoh batu. SNI 03-2455, Cara uji triaksial A. SNI 03-2486, Cara uji laboratorium kuat tarik benda uji batu dengan cara tidak langsung. SNI 03-2812, Cara uji konsolidasi tanah satu dimensi. SNI 03-2813, Cara uji geser langsung tanah terkonsolidasi dengan drainase. SNI 03-2814, Cara uji indek kekuatan batuan dengan beban titik. SNI 03-2824, Cara uji geser langsung batu. SNI 03-2825, Cara uji kuat tekan uniaxial batu. SNI 03-2826, Cara uji modulus elastisitas batu pada tekanan sumbu tunggal. SNI 03-2827, Cara uji lapangan dengan alat sondir.
1 dari 112
BACK Daftar Rsni 2006

Test method for unconsolidated. ASTM D 1586-84. Cara uji geser langsung tanah tidak terkonsolidasi tanpa drainase. SNI 03-4148. Cara uji berat isi tanah berbutir halus dengan cetakan benda uji. ASTM D 698-78. ASTM D 2166-85. SNI 03-3406. SNI 03-3405. SNI 03-3423. ASTM D 1883-87. ASTM D 1557-78. ASTM D 2487-90. ASTM D 2435-90. Cara uji penetrasi dengan SPT. ASTM D 854-83. SNI 13-6424. Test methods for moisture-density relations and soil aggregate mixtures using 10lb (4. Practice for description and identification of soils (visual-manual procedure). SNI 03-3422. Cara uji sifat dispersif tanah dengan alat pinhole. Test method for one dimensional consolidation properties of soils. ASTM D 1140-54.54-kg) rammer and 18-in (457-mm) drop. Tata cara pemetaan geologi teknik lapangan. SNI 03-3407. ASTM D 2845-90. ASTM D 2850-87. SNI 03-3637. Cara uji sifat kekekalan bentuk agregat terhadap larutan magnesium sulfat. Test method for specific gravity of soils. Test method for classification of soils for engineering purposes. Test method for resistivity. FHWA NHI-01-031. SNI 03-4813. Test method for amount of material in soils finer than the no. Cara uji batas susut tanah. 200 (75µm). SNI 03-3420. Cara uji kuat tekan bebas tanah kohesif. ASTM D 1125. ASTM D 2573-72. SNI 03-3422. Cara uji potensi pengembangan atau penurunan satu dimensi tanah kohesif. Test method for chloride content. Cara uji sifat dispersif tanah dengan alat pinhole. Test method for particle size analysis of soils. undrained compressive strength of cohesive 2 dari 112 BACK Daftar Rsni 2006 natrium sulfat dan .Pd T-05-2005-A SNI 03-2849. ASTM D 422-63. Test method for field vane shear test in cohesive soil. Test method for laboratory determination of pulse velocities and ultrasonic elastic constants of rock. Standard method for penetration test and split barrel sampling of soils. Test method for CBR (California Bearing Ratio) of laboratory-compacted soils. Cara uji sifat tahan lekang batu. ASTM D 2434. Test method for unconfined compressive strength of cohesive soil. Cara uji analisis ukuran butir tanah dengan alat hydrometer. SNI 03-3638. SNI 03-3405. Manual on subsurface investigations. ASTM D 2488-90.49-kg) rammer and 12-in (305-mm) drop. ASTM D 512. Test method for permeability of granular soils (constant head). Test methods for moisture-density relations and soil aggregate mixtures using 5. Cara uji triaksial untuk tanah kohesif dalam keadaan tanpa konsolidasi dan drainase. ASTM D 2664-86. Test method for triaxial compressive strength of undrained rock core specimens without pore pressure measurements. Cara uji analisis ukuran butir dengan alat hydrometer.5lb (2.

ASTM D 4318-84. ASTM D 2976-71. ASTM D 4645-87. Test method for unconfined compressive strength of intact core specimens. ash. and organic matter of peat and other organic soils. ASTM D 4630-86. Test methods for modulus and damping of soils by the resonant column method. ASTM D 4648-87. ASTM D 4544-86. ASTM D 4428-84. Test method for direct tensile strength of intact rock core specimens. Test method for liquid limit. Pumping tests. ASTM D 4043. Test method for creep of cylindrical soft rock core specimens in uniaxial compression. ASTM D 4546-90. ASTM D 3148-86. Test method for elastic moduli of intact rock core specimens in uniaxial compression. ASTM D 3385-88. Test method for laboratory miniature vane shear test for saturated fine-grained clayey soil. Practice for estimating peat deposit thickness. ASTM D 4631-86. Slug tests. ASTM D 4543-85. ASTM D 3080-90. ASTM D 4044. ASTM D 2974-87. ASTM D 3936. Test methods for one-dimensional swell or settlement potential of cohesive soils.Pd T-05-2005-A soils in triaxial compression. Standard practice for preparing rock specimens and determining. Test method for determining transmissivity and storativity of low-permeability rocks by in situ measurements using the pressure pulse technique. Test method for determining transmissivity and storativity of low-permeability rocks by in situ measurements using the constant head injection test. ASTM D 4429-84. Various field methods for permeability testing. Test method for pH of peat materials. Test method for permeability of rocks by flowing air. ASTM D 4525-90. Practices for preserving and transporting soil samples. ASTM D 4050. ASTM D 4015-87. ASTM D 3967-86. Test method for creep of cylindrical hard rock core specimens in uniaxial compression. ASTM D 4405-84. Test method for direct shear test of soils under consolidated drained conditions. Test method for splitting tensile strength of intact core specimens. Test method for crosshole seismic test. ASTM D 2938-86. ASTM D 4341-84. Test method for slake durability of shales and similar weak rocks. Test method for bearing ratio of soils in place. Test method for determination of the in-situ stress in rock using the hydraulic fracturing method. Test methods for moisture. Infiltration rate of soils in field using double ring infiltrometers. Practice for ring-lined barrel sampling of soils. ASTM D 4230. 3 dari 112 BACK Daftar Rsni 2006 . plastic limit and plasticity index if soils. ASTM D 3550-84. Test method for sulfate content. ASTM D 4644-87. dimensional and shape tolerances. ASTM D 4220-89.

ASTM D 5607.1.3 Injeksi (grouting) adalah suatu proses pemasukan cairan dengan/tanpa tekanan ke dalam rongga. Test method for determining subsurface liquid levels in borehole or monitoring well (observation well).1. ASTM D 4719-87. Test method for electronic cone penetration testing of soils. Test method for consolidated-undrained triaxial compression test on cohesive soils. yang dalam waktu tertentu cairan tersebut akan menjadi padat dan keras secara fisika maupun kimiawi. Procedures for flat dilatometer testing in soils. ASTM D 5092-90. Test method for pH of soil for use in corrosion testing. berupa campuran semen (PC) dan air serta bahan tambahan dengan perbandingan tertentu. 3. 3 Istilah dan definisi 3. ASTM D 5079-90.1 Bahan injeksi adalah bahan yang diinjeksikan. ASTM G 57-78. ASTM D 4767-88. beton dengan proporsi campuran yang sama tanpa 3. ASTM D 5777. ASTM D 4750-87. Laboratory direct shear strength test for rock specimens under constant normal stress. Test method for elastic moduli of intact rock core in triaxial compression. Test method for pH of soils. 4 dari 112 BACK Daftar Rsni 2006 .1 Bahan pembanding adalah menggunakan bahan tambahan. drilling. Test method for determining point load index (I s). 3. ASTM D 5333.2 Bahan tambahan adalah suatu bahan berupa bubukan atau cairan yang dibubuhkan ke dalam campuran beton selama pengadukan dalam jumlah tertentu untuk mengubah sifat beton. Test method for determination of water (moisture) content of soil by direct heating method. & site investigation. ASTM D 5407. Method for field measurement of soil resistivity using Wenner Four. rekahan dan kekar pada batuan. Field measurement of infiltration rate using double-ring infiltrometer with a sealedinner ring. ASTM D 4959-89. Comparison of field methods for determining hydraulic conductivity in the vadose zone. Test method for measurement of collapse potenstial of soils. Practices for preserving and transporting rock core samples. Design and installation of ground monitoring wells in aquifers. Test method for pressurmeter testing in soils. Guide for seismic refraction method for subsurface investigation.1.Pd T-05-2005-A ASTM D 4700.Electrode method. Test method for measurement of hydraulic conductivity of saturated porous materials using a flexible wall permeameter. ASTM D 5778. ASTM D 5126-90. ASTM D 5093. ASTM D 5084. ASTM D 6635. ASTM D 5731. General methods of augering. ASTM D 4972-89. ASTM G 51.

9 Bangunan pengambilan adalah bangunan kelengkapan bendung yang berfungsi sebagai penyadap aliran sungai. dan bangunan-bangunan pelengkap lainnya. 3.5 Bendung tetap adalah bangunan air yang dibangun melintang sungai atau sudetan sungai untuk meninggikan elevasi muka air sehingga air sungai dapat disadap dan dialirkan secara gravitasi ke daerah yang membutuhkannya. pengoperasian pintu.8 Bangunan pembilas (penguras) adalah bangunan kelengkapan bendung yang terletak di dekat bendung dan menjadi satu kesatuan dengan bangunan Pengambilan. 3.2. Bangunan ini berfungsi untuk meninggikan elevasi muka air sungai agar air sungai dapat disadap untuk berbagai keperluan dan atau untuk kepentingan lain.000m3. jembatan di atas bendung. untuk membelokkan air ke dalam jaringan saluran irigasi agar dapat digunakan untuk keperluan irigasi. 3.3 Bendungan adalah bangunan air yang berfungsi sebagai penahan air.2 Bangunan air (utama) adalah semua bangunan yang dibangun di sungai dan di sepanjang sungai atau aliran air termasuk bendung. antara lain terdiri atas ambang bergerak sehingga muka air banjir dapat diatur elevasinya. 3. 3.2.2. 3. bila a) volume tampungan waduk >500. bangunan pelengkap dan peralatannya yang mercunya tidak dilimpasi aliran air.2. peralatan komunikasi. Bendungan dibagi atas : Bendungan tinggi.2. jenis urugan atau jenis lainnya.7 Bangunan pelengkap adalah bangunan-bangunan yang akan ditambahkan pada bangunan utama untuk keperluan pengukuran debit dan muka air sungai.6 Bendung gerak adalah bangunan air yang dibangun di sungai.2. menampung dan meninggikan air yang berdiri di atas fondasi bendungan. atau b) debit desain Qd >2000 m3/s.2. yang dilakukan di luar rencana untuk mengatasi masalah tertentu pada waktu pelaksanaan. 3. 3.000 m3 H<15 m. selanjutnya dalam buku ini disebut bendungan.1. yang dapat menampung air baik secara alamiah maupun buatan. 3.2 Jenis-jenis bangunan air (utama) adalah bangunan pengambilan. atau instalasi tenaga air mikro/mini. mengatur pemasukan air dan sedimen serta menghindarkan sedimen dasar dan sampah masuk ke bangunan pengambilan. 3. Bendungan dengan risiko besar H>15 m dan volume tampungan waduk >100. dapat dengan undersluice atau tanpa undersluice serta berfungsi untuk mencegah masuknya angkutan sedimen dasar ke saluran irigasi. kantong sedimen. atau c) fondasi tanah lunak. biasanya dilengkapi dengan kantong sedimen agar bisa mengurangi kandungan sedimen berlebihan serta memungkinkan untuk mengukur debit air yang masuk. bila tinggi tubuh bendungan H > 60m. bangunan sungai.2.2. 5 dari 112 BACK Daftar Rsni 2006 . termasuk fondasi.1 Bangunan sungai adalah bangunan air di sungai yang berfungsi untuk berbagai keperluan. ebatmen. bangunan pembilas (penguras).Pd T-05-2005-A 3.4 Tubuh bendungan adalah bagian bendungan yang menahan.4 Injeksi semen khusus (grouting khusus) adalah suatu teknik penginjeksian semen dengan menggunakan campuran khusus.

4.4.4.4 Batuan utuh adalah batuan atau blok batuan atau potongan batuan yang tidak mengalami kerusakan. dan parameter yang harus digunakan.06 – 0.4.1 Batuan beku (igneous rock) adalah batuan yang terbentuk oleh kristalisasi massa lelehan batu yang berasal dari gunung berapi.7 Sesar adalah diskontinuitas yang terjadi karena gaya tektonik pada batuan dan menunjukkan gejala pergeseran. 6 dari 112 BACK Daftar Rsni 2006 .6 Retak-pecah (fracture) adalah istilah umum untuk segala jenis ketidak-sinambungan mekanis pada batuan. dan lain-lain.2. 3. namun tidak menunjukkan gejala pergeseran. Klasifikasinya dinyatakan dengan uji kekuatan tekan aksial tunggal dan uji kekerasan.3.2 Batuan malihan (metamorphic rock) adalah batuan yang terbentuk sebagai akibat tegangan geser yang amat besar yang terjadi pada proses orogenik yang dipengaruhi panas dan air. Sifat-sifat hidraulik dan mekaniknya dapat dikontrol dengan uji karakteristik petrografi material yang dapat menunjukkan batuan segar atau batuan terurai. contohnya sesar (faults). untuk mengendapkan fraksi-fraksi sedimen yang lebih besar dari fraksi lanau dan lempung (0. 3. retakan (cracks).3.3.3 Batuan sedimen (sedimentary rock) adalah batuan yang terbentuk dari proses pengendapan yang diangkut dan diendapkan. yang digunakan untuk memberikan data karakteristik dan dokumentasi kondisi massa batuan atau singkapan (yang diperlukan untuk desain lereng galian atau stabilisasi lereng yang ada.2 Diskontinuitas adalah bidang pemisah yang menyebabkan batuan bersifat tidak menerus.4 Bidang perlapisan adalah diskontinuitas yang terjadi karena proses sedimentasi. dengan keadaan geologi lapangan.1 Pemetaan geologi adalah Pekerjaan pengumpulan data geologi terperinci setempat (insitu) secara sistematik.4. 3. kekar (joints).4.4 Data geologi adalah kondisi umum permukaan tanah daerah yang bersangkutan. 3. kelulusan tanah. 3.Pd T-05-2005-A 3. kekar dan sesar.3.3 Batuan (rock) adalah gabungan atau kumpulan mineral alamiah padat yang terbentuk sebagai massa yang besar atau pecahannya. pengerasan magma menjadi batuan. 3. 3. atau agregat bentukan alamiah dari mineral berupa massa yang besar atau pecahan-pecahannya. antara lain berupa perlapisan. 3. 3. atau suatu kondisi diam pada kesinambungan mekanis badan batuan akibat tegangan yang melampaui kekuatan batuan. 3. bahaya gempa bumi. 3. sesar. Material ini kadang-kadang sebagai hujan kimia atau sisa-sisa tanaman dan binatang yang telah membeku akibat panas dan tekanan yang amat besar atau reaksi kimia.07 mm).4. Hal ini menyebabkan aliran plastis atau akibat panas batuan leleh yang masuk ke batuan kekar dan perubahan-perubahan secara kimiawi serta menghasilkan mineral-mineral baru. 3. 3.10 Kantong sedimen adalah bangunan yang biasanya ditempatkan di hilir pengambilan.3 Jarak diskontinuitas adalah jarak tegak lurus antara diskontinuitas yang berdekatan dan diukur dengan satuan sentimeter atau millimeter serta tegak lurus pada bidang-bidang perlapisan.5 Kekar adalah diskontinuitas yang terjadi karena gaya tektonik pada batuan. kedalaman lapisan keras.

dan gelombang Loves (L-waves). dan radar). 3. dengan ρT adalah kepadatan massa tanah total. bongkah. geser (S). baik dalam bentuk tertulis maupun lisan.8. dan Rayleigh (R). EM. sehingga tidak mengganggu dan tidak merusak perlapisan tanah. 3. Dua jenis lainnya adalah jenis khusus gelombang tekan/geser hibrid yang terjadi pada batas bebas dari permukaan tanah (R) dan gabungan lapisan tanah (L). ER.4 Kecepatan rambat gelombang kompresi (Vp) adalah gelombang tercepat dan bergerak seperti perambatan bidang berbentuk bola yang keluar dari sumbernya.5 Uji geofisik adalah cara uji yang terdiri atas baik pengukuran gelombang mekanik (misalnya survei dengan uji seismik refraksi. uji downhole. DHT. SR menghasilkan kecepatan gelombang P. untuk mengetahui perlapisan tanah dasar dan sifat-sifat tanah dan batuan dengan regangan kecil. 3. 7 dari 112 BACK Daftar Rsni 2006 . 3. Kecepatan gelombang ini dapat merambat seperti bidang silinder yang mempunyai gerakan lokal tegak lurus pada arah gerakan dan dapat dipolarisasikan dengan arah vertikal (atas/bawah) atau horisontal (samping ke samping). sumber bahan timbunan. EM.2 Indeks kekuatan geologi (GSI= Geological strength Index) adalah sistem RMR dan Q yang dikembangkan untuk aplikasi penambangan dan terowongan sedangkan indeks kelogi (GSI) menghasilkan uji mutu massa batuan untuk perkiraan langsung kekuatan dan kakuan batuan utuh dan rekahan. dan parameter tanah yang harus digunakan.8.8. bangunan/ utilitas yang tertanam. batu belah untuk pasangan batu.7 Deskripsi tanah adalah pemberian nama contoh tanah secara sistematik. 3. 3. gelombang geser (S-waves). batu untuk pasangan batu kosong.5 Data geoteknik/mekanika tanah adalah kondisi bahan fondasi. peta situasi letak bangunan utama. SR) adalah metode uji yang dapat membantu pengukuran kecepatan gelombang tekanan (P).8. uji crosshole. Dengan uji ini dapat dibuat pemetaan seluruh daerah penyelidikan untuk menggambarkan kondisi geoteknik secara umum dan memantau pemanfaatan.1 Gelombang P dan S adalah gelombang badan dan paling umum digunakan dalam menentukan karakteristik kondisi geoteknik di lapangan (Woods. tetapi penetrometer gempa (SCPT) saat ini masih dilakukan untuk menghasilkan DHT secara cepat dan ekonomis untuk aplikasi rutin. tepat dan lengkap. magnetometer. CHT dan DHT perlu dilengkapi pipa lindung lubang bor.8.8.8. Perkiraan cepat dengan GSI dapat dilakukan dengan menggunakan bagan grafik (lihat gambar 60) untuk membantu prosedur penggunaan lapangan. 3. dan SASW menghasilkan profil gelombang S. gambar-gambar potongan memanjang dan melintang sungai baik di sebelah hulu maupun di hilir dari kedudukan bangunan utama.8 Gelombang dasar adalah bentuk gelombang yang terjadi di dalam ruang semi elastis tidak terbatas yaitu gelombang kompressi (P-waves). agregat untuk beton. sesuai dengan modulus geser dan amplituda rendah (G0 = ρT Vs2).Pd T-05-2005-A 3. dan keduanya dilakukan di permukaan tanah. 3.3 Kecepatan gelombang geser (Vs) adalah kecepatan gelombang yang memberikan pengukuran dasar kekakuan dengan regangan kecil. dan analisis spektral dengan mengukur gelombang permukaan) maupun teknik elektromagnetik (misalnya resistivitas.6 Data topografi adalah peta yang meliputi seluruh daerah aliran sungai. 3.7 Uji geofisik gelombang mekanik (CHT.6 Uji geofisik gelombang elektromagnetik (GPR. 3. bahan konstruksi. 1978). MS) adalah uji yang dapat dilakukan tanpa mengganggu dan merusak perlapisan tanah/batuan. dan keganjilan lain. gelombang permukaan atau Rayleigh (R-waves). SASW.

2 Modulus elastisitas ekivalen (E M) massa batuan adalah kemiringan kurva σ-ε yang diperkirakan baik sebagai nilai tangen (E = ∆σ / ∆ε ) atau nilai sekan (E = σ/ε ) dari pembebanan awal.9.9 Uji kuat geser langsung batuan (direct shear strength) adalah uji yang dilakukan untuk mengetahui karakteristik kuat geser batuan sepanjang bidang perlemahan (SNI 06-2486 atau ASTM D 3967). Jn.9. Keenam parameter tersebut adalah kuat tekan uniaksial.7 Uji indeks beban titik adalah uji yang dilakukan untuk menentukan klasifikasi kekuatan batuan dengan uji indeks (SNI 03-2814 atau ASTM D 5731). Nilai RMR dapat diperkirakan dari indeks beban titik (Is ). Jr.8.9. 3. kondisi muka air tanah.9.9. perlapisan.8 Uji keawetan riprap (soundness) adalah uji yang dilakukan untuk menentukan keawetan batuan yang mengalami erosi (ASTM D 5240). celah-celah.8. yaitu RQD. 3. 3. pencemaran di bawah permukaan dan utilitas yang tertanam. Ja. dan konduktivitas dinyatakan dalam siemen per meter (S/m). kondisi diskontinuitas.8. 3. jarak diskontinuitas. 3.4 Rasio modulus (= Et / σa(ult) ) adalah modulus tangen pada 50% tegangan batas (Et) dibagi tegangan tekan uniaksial (σa(ult)). Metode ini digunakan untuk memetakan patahan. atau berdasarkan akibat pembebanan yang diperkirakan dari pola diskontinuitas. Modulus ini biasanya digunakan dalam analisis dan simulasi numerik terowongan.6 Rating massa batuan (RMR) adalah sistem klasifikasi batuan yang menggunakan enam parameter dasar untuk klasifikasi dan evaluasi hasil uji. 3.10 Uji ultrasonik adalah uji yang dilakukan untuk mengukur kecepatan pulsa gelombang tekan dan geser dalam batuan utuh dan konstanta elastis ultrasonik dari batuan isotropic (ASTM D 2845). lereng dan fondasi untuk memperkirakan besarnya pergerakan dan defleksi akibat pembebanan baru. 3. 8 dari 112 BACK Daftar Rsni 2006 . 3. dan penggunaan lainnya untuk memantau rongga dan lubang langga. 3.9 Klasifikasi batuan adalah pengelompokan batuan untuk menggolongkan batuan utuh padat dan massa batuan berdasarkan perilaku atau komposisi dan tekstur.9. RQD.9.Pd T-05-2005-A 3. berdasarkan tegangan tekan dan rasio modulus.9. Pada umumnya nilai resistivitas meningkat sesuai dengan ukuran butir tanah. orientasi diskontinuitas. retakan dan bidang perlemahan.9 Uji resistivitas (ρR) adalah metode pengukuran Ketahanan/potensi korosi tanah atau sifat elektrik tanah dasar (ρR) yang diukur dalam ohm-meter dan berbanding terbalik dengan konduktivitas elektrik (kE = 1/ρR). 3. dengan S adalah amps/volts.1 Modulus elastisitas (ER50) adalah nilai tangen yang diambil pada 50% tegangan batas. rekahan.5 Rating batuan NGI-Q adalah sistem klasifikasi batuan yang dikembangkan untuk memperkirakan karakteristik massa batuan dengan menggunakan enam parameter. bentuk atau ciri-ciri lapisan karst. kekar.3 Modulus Young (ER) batuan utuh adalah modulus yang diperoleh dari hasil uji pembebanan tekan uniaksial atau tekan triaksial. Jw dan SRF. 3.8 Uji refraksi seismik (SR) adalah uji lapangan yang pada umumnya digunakan untuk menentukan kedalaman tanah sampai lapisan sangat keras seperti batuan dasar (sesuai dengan prosedur ASTM D 5777). 3.9.

CPTu. 3.10. karena dapat dilakukan dengan cepat.10.10 Klasifikasi tanah adalah pengelompokan tanah dalam kategori yang berdasarkan atas hasilhasil uji indeks propertis (sifat fisik) misalnya nama kelompok dan simbol. CPT.10. Uji SPT terdiri atas uji pemukulan tabung belah dinding tebal ke dalam tanah dan disertai pengukuran jumlah pukulan untuk memasukkan tabung belah sedalam 300 mm (1 ft) vertikal.10.2 Uji geoteknik insitu adalah uji lapangan yang terdiri atas metode jenis penetrasi (SPT. 3. σT (SNI 06-2486 atau ASTM D 3967).12 Uji tarik belah batuan utuh tidak langsung (Splitting tensile test = Brazilian test) adalah untuk mengevaluasi geser tarik inti batuan utuh secara tidak langsung.9. untuk mendapatkan langsung respon tanah dasar di bawah pengaruh berbagai pembebanan dan kondisi drainase.10. modulus elastisitas dan kuat geser pasir.7 Uji pinhole adalah uji yang dilakukan untuk mengidentifikasi tanah lempungan apakah bersifat mudah tergerus atau tidak (SNI-03-3405).9. 9 dari 112 BACK Daftar Rsni 2006 . untuk membantu memperkirakan stratigrafi tanah dan tegangan lateral dalam keadaan diam (at rest lateral stresses). Uji-uji tersebut saling melengkapi dan dapat digunakan bersama-sama dengan uji geofisik untuk mengembangkan pemahaman sifat perlapisan tanah dan batuan di daerah lokasi proyek.1 Uji dilatometer datar (DMT = Dilatometer Test) adalah suatu metode uji yang menggunakan alat baca tekanan melalui pelat daun runcing yang didorong masuk ke dalam tanah. DMT. Tanah lempung yang mudah tergerus disebabkan karena proses pelarutan dan dikategorikan sebagai lempung bersifat khusus yang disebut sebagai tanah dispersif (dispersive clays).10. CPMT. ekonomis.Pd T-05-2005-A 3. 3.6 Uji penetrasi standar (SPT = Standard penetration test) adalah uji yang dilaksanakan bersamaan dengan pengeboran untuk mengetahui baik perlawanan dinamik tanah maupun pengambilan contoh terganggu dengan teknik penumbukan. tetapi tidak memadai untuk kerikil atau batuan. 3. VST) dan jenis probing (PMT. 3.9. 3. dan memberikan gambaran profil lapisan tanah yang kontinu untuk digunakan dalam evaluasi karakteristik tanah. dan menghasilkan empat jenis bacaan yang bebas versus kedalaman dari sebuah pendugaan tunggal.13 Uji tekan uniaksial (Uniaxial Compression Strength = UCS) adalah uji yang dilakukan untuk mengukur kuat tekan uniaksial batuan (qu = σu = σc) (SNI 03-2825 atau ASTM D 2938). Uji CPT dapat digunakan dalam tanah lempung sangat lunak sampai pasir padat.5 Uji penetrasi pisokonus gempa (SCPTu) adalah cara uji yang ekonomis dan dapat digunakan untuk menentukan karakteristik geoteknik lapangan. 3. 3.9.10 Uji modulus elastistas adalah uji yang dilakukan untuk mengetahui karakteristik deformasi batuan utuh dengan regangan antara dan perbandingan yang memadai dengan jenis batuan utuh lainnya (ASTM D 3148). lanau dan lempung.4 Uji penetrasi konus (CPT = Cone Penetration Test) atau uji sondir adalah uji lapangan yang paling terkenal di Indonesia. 3.28 ft) atau lebih. 3.11 Uji tahan lekang batuan (slake durability tests) adalah uji yang dilakukan untuk mengetahui ketahanan serpih atau batuan lunak lainnya yang mengalami siklus pembasahan dan pengeringan (SNI 03-3406 atau ASTM D 4644).3 Uji geser baling (VST = Vane Shear Test) atau uji baling lapangan (FV = Field Vane) adalah uji lapangan yang dapat digunakan untuk mengevaluasi kuat geser tidak terdrainase setempat dari lempung lunak-kaku dan lanau pada interval kedalaman 1 m (3. SBP).10. 3.

13.1 Terkonsolidasi adalah suatu proses dengan memberikan tekanan samping sesuai dengan kebutuhan dan dibiarkan hingga tekanan air porinya kembali pada tekanan semula sebelum pengujian. 3.13. dan dinyatakan dalam satuan panjang dibagi satuan waktu (cm/det). 3. 3. 3. dengan mengukur 10 dari 112 BACK Daftar Rsni 2006 . 3. dengan cara memasukkan air bertekanan ke dalam lubang bor batuan yang diuji. 3.3 Uji kelulusan air bertekanan adalah pengujian langsung di lapangan untuk mengetahui sifat lulus air dari batuan.11. Uji crosshole digunakan untuk menentukan profil-profil Vp dan Vs sebagai fungsi dari kedalaman sesuai dengan ASTM D 4428.2 Nilai Lugeon (Lu) adalah angka yang menunjukkan kemampuan batu atau tanah mengalirkan air. yang merupakan alat dasar pengukuran tinggi tekan air dalam akuifer dan untuk evaluasi kinerja sistem dewatering.11.0197 kg/cm2). Uji ini terdiri atas pemompaan air dari sumur atau lubang bor dan pengamatan terhadap pengaruh elevasi muka air. 3.11. Survei inklinometer tidak diperlukan.13 Lubang uji adalah lubang bor dimana digunakan untuk melakukan uji.4 Uji pemompaan menerus adalah uji pompa yang digunakan untuk menentukan produksi air (water yield) dari masing-masing sumur dan kelulusan air tanah dan batuan di lapangan.13.2 Uji konsolidasi adalah uji yang dilakukan untuk mengetahui karakteristik suatu tanah selama proses konsolidasi berlangsung dan merupakan suatu metode uji untuk menentukan koefisien pemampatan dan kelulusan air tanah. papan horisontal di permukaan dibebani secara statik dengan kendaraan beroda (untuk menambah tegangan normal) dan ditarik searah panjangnya untuk menimbulkan sumber gelombang geser yang baik/tepat. 3.Pd T-05-2005-A 3.13. Dalam uji ini. Data hasil uji digunakan untuk menentukan potensi bocoran melalui fondasi bangunan penahan air dan pemilihan sistem konstruksi dewatering untuk penggalian. karena jarak vertikal (R) dihitung langsung pada kedalaman.8 Uji pisokonus adalah uji penetrometer konus dengan tambahan transduser untuk mengukur tekanan air pori selama pemasukan probe. 3.1 Sifat kelulusan air tanah/batuan adalah kemampuan tanah/batuan untuk mengalirkan air melalui rongga antarbutiran dan atau diskontinuitas.12 Konsolidasi adalah suatu proses perubahan volume tanah akibat keluarnya air pori yang disebabkan oleh peningkatan tekanan air pori dalam lapisan tanah jenuh air yang diberi beban sampai terjadi kondisi seimbang.1 Sumur observasi adalah sumur atau lubang bor yang digunakan untuk studi tekanan dan elevasi muka air akuifer jangka panjang dengan perantaraan pisometer. Gelombang S dirambatkan ke bawah pada geofon dari titik tetap di permukaan.6 m untuk menentukan waktu gerakan dari lapisan yang berbeda (Hoar & Stokoe.11 Koefisien kelulusan air (k) adalah angka yang menunjukkan kemampuan tanah/batuan untuk mengalirkan air.10. 3.3 Uji downhole (DHT) adalah uji yang dilakukan dengan menggunakan hanya satu lubang bor yang diberi pipa lindung. 1978). 3.12. 3. dinyatakan dalam liter per menit per meter kedalaman pada tekanan 10 bar (1bar = 1.2 Uji crosshole (CHT) adalah uji yang terdiri atas penggunaan palu downhole dan satu atau lebih geofon vertikal downhole dalam susunan horisontal dari tiga lubang bor yang ditempatkan secara terpisah kira-kira 3 .12.

15. Batang auger harus ditambah secara bertahap sampai mencapai kedalaman tanah yang diinginkan. 3.15. Pengujian dapat dilakukan dalam zona massa tanah yang lebih luas daripada uji lapangan lainnya.15 Pengeboran adalah suatu proses pembuatan lubang vertikal/miring/horisontal pada tanah/batuan dengan atau tanpa menggunakan alat/mesin untuk keperluan deskripsi tanah/batuan. Alat pressuremeter diperkenalkan oleh seorang ahli Perancis Louis Menard pada tahun 1955.6 Uji slug mekanik adalah uji yang digunakan untuk mengukur kelulusan air dengan meng digunakan benda masif (solid) yang berfungsi untuk memindahkan air dan menimbulkan perubahan tinggi tekan yang tiba-tiba (ASTM 4044). 3. 3.2 Pengeboran auger tangga putar batang berlubang (hollow) menerus adalah bor auger yang hampir sama dengan jenis tangga putar batang menerus namun mempunyai lubang besar di tengah. 3. 3. biasanya dapat dilakukan bersama-sama dengan uji lapangan dan pengambilan contoh tanah/batuan. 3. dilengkapi dengan rekoaman video yang efektif sampai ke bawah lubang.6 Pengeboran tanpa inti (non-coring/destructive) adalah cara yang relatif cepat dan murah dalam melanjutkan pengeboran bila tidak diperlukan contoh batuan inti.14 Pencatatan hasil pengeboran adalah data dasar penyelidikan yang memberikan data terperinci hasil penyelidikan dan merupakan deskripsi prosedur penyelidikan dan kondisi geoteknik yang terjadi selama pengeboran.1 Pengeboran auger tangga putar adalah bor auger yang berfungsi sebagai sekrup pembawa potongan tanah ke bagian atas lubang.15.15.3 Pengeboran putar dengan penyemprotan (rotary wash borings) adalah bor auger yang paling memadai digunakan untuk lapisan tanah yang berada di bawah muka air tanah. 3. pengambilan contoh dan pengeboran inti. dengan standar umum lubang tipe bor auger.7 Pipa lindung (casing) adalah pipa yang ditempatkan di lubang bor untuk melindungi tepi lubang bor agar pengeboran dapat dilanjutkan secara bertahap. Data dapat diinterpretasi sebagai kurva hubungan tegangan-regangan-kekuatan secara lengkap. 11 dari 112 BACK Daftar Rsni 2006 .4 Pengeboran auger ember (bucket auger borings) adalah bor auger yang biasanya digunakan untuk keperluan mengambil contoh tanah dalam jumlah besar.15. 3. 3.5 Uji pressuremeter (Pressuremeter test= PMT) adalah uji lapangan yang terdiri atas probe silinder panjang yang dikembangkan secara radial di dalam tanah sekelilingnya.15.13. biasanya digunakan untuk membantu menentukan bagian atas batuan dan Mengidentifikasi rongga pelarutan di daerah karst.15. tepi lubang didukung pipa lindung (casing) dan dibantu dengan air pembilas sehingga pengeboran dapat dilanjutkan secara bertahap. 3. 3. Uji ini dilakukan dalam lubang bor yang dipasang pipa bercelah (screened/slotted).Pd T-05-2005-A elevasi muka air dalam lubang yang sedang dipompa dan pengaruhnya terhadap sumur-sumur uji yang terpasang di sekitarnya.5 Pengeboran tangan adalah alat bor untuk mendapatkan informasi geoteknik dangkal di lapangan yang sulit dimasuki kendaran beroda empat. Untuk tanah kohesif yang stabil. bor tangan dapat dilanjutkan untuk membantu pemeriksaan secara terperinci kondisi tanah dan batuan dangkal dengan biaya relatif rendah. dengan menggunakan sejumlah cairan bertekanan pada waktu pemompaan probe.13.

10 Rasio perolehan inti adalah rasio panjang perolehan inti terhadap panjang total inti bor yang tersedia. tanah bongkahan (bulk). 12 dari 112 BACK Daftar Rsni 2006 . 3.15.2 Tanah nonkohesif adalah material butiran atau berbutir kasar dengan ukuran butiran terlihat secara visual dan mempunyai kohesi atau adhesi antara butiran. seperti garam pelarut atau agregat lempung.15. Jenis-jenis matabor inti terdiri atas intan.16.2 Matabor berbentuk jari (finger) adalah matabor dari karbit yang biasanya digunakan pada Formasi lempung keras atau batuan perselingan atau lapisan tersementasi. 3. yang mengandung atau tidak material organik. 3. yang dikenal sebagai kerikil.16. piston. pitcher.16. dan udara saja jika keadaan kering. Jenis-jeinis tabung contoh antara lain tabung dinding tipis (thin wall sampler).11.9 Perolehan inti (core recovery) adalah panjang inti batuan yang diambil dari bor inti. dan lempung.15. Kuat geser tanah ini berkisar dari rendah sampai tinggi jika dalam kondisi tidak terkekang.16 Tanah adalah campuran butiran mineral tanah berbentuk tidak teratur dari berbagai ukuran yang mengandung pori-pori di antaranya. Pada umumnya tanah kohesif relatif lebih kedap dibandingkan tanah nonkohesif. 3. sementara kadar airnya tetap dijaga. lanau. Denison.Pd T-05-2005-A 3.12 Penamaan mutu batuan (Rock Quality Designation= RQD) adalah persentase termodifikasi dari perolehan inti dengan jumlah panjang potongan inti utuh yang melebihi 100 mm (4 in) dibagi panjang inti totoal untuk 1 run.15.1 Mata bor inti (coring bits) adalah komponen paling dasar dari pemasangan laras inti yang merupakan kegiatan menggerinda dan memotong massa batuan. 3. modifikasi California.1 Tanah kohesif adalah material berbutir halus yang terdiri atas lanau. Tanah ini mempunyai kuat geser kecil atau tidak ada sama sekali jika keadaan kering dan tanah tidak terkekang. 3.15. 3. 3. menerus.11 Matabor (bit) adalah bagian ujung bor auger yang disambungkan dengan batang bor yang berfungsi untung memotong tanah (contohnya matabor berbentuk jari (finger) dan matabor berbentuk ekor ikan (fish tail)). Butiran itu merupakan hasil pelapukan batuan secara mekanik dan kimiawi. 3.4 Contoh tanah terganggu (disturbed samples) adalah contoh tanah yang sebagian atau seluruh struktur asli tanah terganggu. lempung.8 Perolehan contoh (sample recovery) adalah proses pengeboran material tanah kedua dengan menggunakan tabung belah atau jenis lainnya pada kedalaman yang sama dengan pengeboran pertama yang kurang memadai. Adhesi semu (apparent) antara butiran dalam tanah nonkohesif dapat terjadi akibat gaya tarik kapiler dalam air pori.15.15. 3.11.3 Tabung contoh tanah (soil sampler) adalah tabung yang digunakan untuk mengambil contoh tanah yang terdiri atas jenis standar dan jenis lainnya yang digunakan sesuai dengan persyaratan daerah dan kondisi lapangan (insitu). air dan udara jika jenuh sebagian.16. untuk mengklasifikasi mutu batuan.3 Matabor berbentuk ekor ikan (fish tail) adalah matabor yang biasanya digunakan pada Formasi lempung kaku. 3. pasir. Pori-pori ini dapat berisi air jika tanah jenuh. contoh blok. karbit dan gerigi. Tanah nonkohesif biasanya relatif bebas berdrainase dibandingkan dengan tanah kohesif. yang dapat menyebabkan penurunan jika terjadi pembasahan zat pelarut. 3. yang dinyatakan dengan fraksi atau persentase.15. Bahan lanau kadang-kadang mempunyai unsur pengikat antara butiran.11. dan kohesinya kecil atau tidak ada sama sekali jika keadaan terendam.

Interpretasi sifat-sifat tanah dari hasil uji tanah di lapangan (insitu) akan digunakan dalam analisis untuk keperluan desain fondasi. 3. Hasil uji laboratorium biasanya agak berbeda dibandingkan dengan hasil uji lapangan. dasar referensi. Sementara itu. dan bangunan penahan tanah. dengan berdasarkan kalibrasi dan verifikasi uji laboratorium terkait sesuai dengan lokasinya. pengeboran. Interpretasi parameter tanah dan sifat-sifat tanah bergantung pada kombinasi perkiraan langsung uji laboratorium contoh tidak terganggu yang terambil dan data lapangan setempat yang dievaluasi dengan menggunakan rumus-rumus secara teoritis. analitis.16. Pelaksanaan uji laboratorium memerlukan waktu yang lama dan biaya mahal. contoh ini paling cocok untuk pengujian di laboratorium terutama uji kekuatan geser tanah. Oleh karena itu. Oleh karena itu.Pd T-05-2005-A 3. kekuatan. perlu dilakukan pengujian dengan menggunakan metode geofisik.5 Contoh tanah tidak terganggu (undisturbed samples) adalah contoh tanah yang struktur asli tanah dan sifat/karakteristiknya dijaga tetap seperti di lapangan tanpa gangguan. dan latar belakang khusus untuk jenis tanah tertentu. sebab perilakunya sangat kompleks dan adanya aksi dan interaksi butiran dalam jumlah tidak terhingga di dalam massa tanah dan atau batuan. kekakuan. timbunan. kondisi drainase dan laju pembebanan. Oleh karena itu. beton. dan 13 dari 112 BACK Daftar Rsni 2006 b) c) d) . Karakteristik perlapisan tanah dan batuan alami khususnya sulit dikuantifikasi secara teliti. 4 4. statistik.16. sedangkan lapisan tanah dan batuan asli yang terbentuk secara alamiah beberapa ribu tahun lalu sangat kompleks. data gabungan dari hasil uji lapangan dan uji laboratorium akan lebih handal (dapat dipercaya) untuk mengevaluasi dan menginterpretasi parameter tanah. serta mengalami kesulitan untuk memperoleh contoh perlapisan tanah tidak terganggu yang representatif. komposisi. Korelasi antara hasil-hasil uji indeks laboratorium dan rentang nilai-nilai tipikalnya diperlukan untuk mengetahui keandalan hasil-hasil uji lapangan dan laboratorium. baja) dapat bervariasi sesuai dengan kebutuhan. uji lapangan dan uji laboratorium untuk mengetahui karakteristik material tanah dan batuan. kepadatan. data uji lapangan dan laboratorium harus dievaluasi untuk memperoleh hasil interpretasi yang baik. arah pembebanan. pengambilan contoh. Hubungan timbal balik antara sifat teknik dan hasil uji lapangan masing-masing telah dikembangkan berdasarkan atas perbedaan asumsi. lereng. Pada kondisi tertentu tanah harus tetap dibiarkan pada kondisi aslinya. perubahan setempat. dan empiris. Sifat tanah dapat diubah dengan menggunakan teknik perbaikan tanah. Sifat material yang dibuat manusia (misal batu bata. Hal-hal yang perlu dipertimbangkan adalah sebagai berikut.1 Interpretasi hasil uji tanah Pendahuluan Hasil-hasil uji lapangan dan laboratorium harus dikompilasi ke dalam penyajian data kondisi geoteknik yang sederhana yang mencakup perlapisan tanah dan interpretasi parameter teknik. a) Semua interpretasi data geoteknik mempunyai tingkat ketelitian yang berbeda-beda bergantung pada asal usul bahan. Hasilnya akan digunakan untuk evaluasi karakteristik perlapisan tanah. Penggunaan hubungan korelasi empiris dan teoritis harus dilakukan secara hati-hati. karena adanya alasan kelayakan ekonomi untuk mengetahui massa tanah dalam jumlah yang besar. material bangunan yang dibuat akan dipengaruhi oleh keadaan tegangan awal. dan kompleksitas material alami yang terjadi.6 Kuat geser tanah adalah sifat struktur tanah anisotropis yang meliputi kuat geser tanah kohesif tidak terdrainase dan sudut geser tanah nonkohesif yang dipengaruhi oleh arah tegangan utama relatif terhadap arah pengendapan.

tetapi dapat memberikan acuan pemilihan parameter geoteknik yang diperlukan dalam analisis stabilitas dan deformasi. karakteristik utama (mineralogi. sifat bangunan). seperti umur. Hal ini dapat diperkirakan dengan cara pendekatan penyelidikan tanah secara konvensional dengan menggunakan program pengeboran dan pengambilan contoh serta uji laboratorium. tetapi juga oleh faktor-faktor yang kurang nyata (tangible) dan tidak terukur (quantifiable). dan uji lainnya. uji dilatometer (DMT). namun dari pembacaan uji langsung dapat menunjukkan perilaku tanah terhadap kondisi pembebanan.2 Komposisi dan klasifikasi Komposisi tanah mencakup distribusi ukuran relatif partikel butiran. antara lain uji penetrasi konus (CPT). dan kepekaan. dan porositas (kepadatan dan angka pori). bentuk). Pada umumnya hubungan tersebut tidak bersifat khusus karena adanya perbedaan besar material tanah. dan atau aliran untuk membantu pemilihan parameter teknik yang lebih memadai. sementasi. Selain itu. laju regangan. dapat dilengkapi dengan uji tekan langsung untuk memperoleh klasifikasi dan karakteristik perlapisan tanah.Pd T-05-2005-A alirannya. keadaan tegangan anisotropik. Perilaku perlapisan tanah tidak hanya dikontrol oleh karakteristik utama (constituents). 14 dari 112 BACK Daftar Rsni 2006 . angularitas. Walaupun tidak diperoleh contoh dari kedua cara tersebut. Uji lapangan memberikan kesempatan untuk mengamati semua karakteristik material tanah yang terkait akibat pengaruh kondisi pembebanan. serat (pengaturan pemadatan. 4.

seperti dijelaskan dalam Gambar 1. Klasifikasi visual-manual jenis tanah yang terambil 15 dari 112 BACK Daftar Rsni 2006 . yaitu pengeboran dan pengambilan contoh. dan pendugaan dilatometer. batang berlubang (z<30 m). bor putar dengan penyemprotan (z<90 m). Gambar 1 Gambaran perlapisan. muka air tanah. dapat dilakukan sebagai pelengkap terhadap metode lainnya. dan adanya lensa. pemukulan. Penyelidikan lapangan secara konvensional dilaksanakan dengan menggunakan metode pengeboran putar/inti dan pengambilan contoh. dan pendorongan tabung dalam lubang bor putar (ASTM D 4700). Beberapa hal yang perlu dipertimbangkan adalah sebagai berikut. dan perubahan lapisan tanah. Uji penetrasi konus dan uji dilatometer dapat digunakan untuk mengetahui perilaku tanah langsung di lapangan dalam kondisi lingkungan yang tidak terganggu.2 Klasifikasi tanah berdasarkan gradasi butiran Pengambilan contoh dapat dilakukan dengan bor tangan.Pd T-05-2005-A 4. sehingga menunjukkan klasifikasi jenis perilaku tanah pada waktu pengujian. a) Pengambilan contoh dapat dilakukan pada kedalaman tertentu dengan menggunakan tabung belah sesuai dengan ASTM D 1586. jenis tanah dan batuan berdasarkan metode pengeboran dan pengambilan contoh (FHWA NHI-01-031) 4. kedalaman batuan dasar. Uji lapangan dengan pendugaan vertikal dapat digunakan untuk memperkirakan jenis dan konsistensi tanah. dan pipa kawat (wire line) yang dapat digunakan sampai 200 m atau lebih. z<10 m). tebal. Namun saat ini penetrometer konus dan dilatometer yang telah dikenal sebagai alat penyelidikan deposit tanah yang bermanfaat dan ekonomis.1 Klasifikasi tanah dan perlapisan tanah Cara pendekatan klasifikasi tanah dan gambaran perlapisan tanah ada tiga jenis. sehingga akan cocok digunakan cara klasifikasi berdasarkan USCS yang memerlukan deskripsi keseluruhan. penetrasi konus. Pengeboran dapat dilakukan dengan menggunakan bor auger tangga putar batang menerus (solid flight augers.2. Contoh tanah biasanya telah mengalami gangguan.2. dan atau pori. lapisan tipis (seams).

Perilaku tegangan-regangan-kekuatan-waktu tanah terhadap pembebanan sebagian bergantung pada bentuk (ciri-ciri) khusus dan hal lain yang terkait (inherent). Tanah berbutir halus yang berkisar antara 16 sampai 49 % kehalusan. Misalnya lanau. profil perlapisan dapat diperiksa untuk mengetahui jenis tanah. diatoms atau lainnya). Bila tanah yang tertinggal pada saringan No.000 tahun lalu) atau terjadi pada waktu lampau akibat pelapukan pada ratusan juta tahun yang lalu (misal tanah Cretaceous < 120 juta tahun lalu).40 akan berada di atas garis-A.Pd T-05-2005-A dilakukan dengan menggunakan ASTM D 2488. rekahan. termasuk reaksi kimiawi. perubahan warna. bidang perlapisan. Persentase tanah berbutir halus dapat terdiri atas lanau dan atau lempung dari mineralogi yang berbeda (misal illit. Pasir lempungan dapat mengalami konsolidasi normal seperti material utuh atau mungkin mengalami konsolidasi berlebih dengan retakan sangat kompleks (pervasive) dalam lapisan tanah. Komposisi butiran pasir dapat berupa kuarsa atau feldspar atau kalsium karbonat atau lainnya atau kombinasi dari beberapa jenis mineral. desikasi.075 mm) disebut tanah berbutir halus. banjir. contoh tanah tersebut pada umumnya bersifat terganggu karena sangat sulit untuk memperoleh contoh tanah tidak terganggu (lihat ASTM D 1587). dan koloidal yang selain dapat menerima tegangan normal dan geser. Butiran pasir dapat berbentuk sudut/angular. air tanah limbah industri kimia. lensa-lensa. montmorillonit. dengan memasukkan tabung tanah plastik menerus yang berdiameter 25 mm. Cara klasifikasi berdasarkan USCS tidak memberikan kuantifikasi struktur setempat aspek khusus.3 m hanya dapat dikumpulkan pada interval 1. perlapisan. b) Yang lebih mutakhir adalah pengambilan contoh dengan kombinasi gaya-gaya dorong langsung dan pengetukan (percussive. 16 dari 112 BACK Daftar Rsni 2006 c) d) e) f) g) . SC). Perlapisan tanah alami pada umumnya terbentuk dari butiran khusus dan bentuk yang berbeda. Kesulitan penggunaan sistem USCS (Unified soil classification system) adalah tingkat keandalan contoh terhadap pengaruh disagregasi dan tidak meratanya pembuatan benda uji (batas plastisitas). dan pasir tersementasi) yang dilakukan dengan sistem USCS tidak dapat memberikan gambaran respon perilaku atau kesulitan yang akan terjadi pada waktu konstruksi. Tanpa mempertimbangkan (despite) kejadian tersebut. Misalnya pasir dan kerikil yang diperoleh dari hasil uji mekanik akibat gaya-gaya normal dan geser. bundar. juga mempunyai sifat yang secara signifikan dipengaruhi oleh gejala tingkat mikro. contoh tanah yang terambil dengan cara pemukulan untuk panjang 0. Seiring dengan waktu. 200 (lebih kecil dari 0. Namun. dan pengikatan (bonding). tanah dapat dipengaruhi faktor-faktor pembekuan-pencairan. 200 (misal pasir lempungan.5 m dan menggambarkan sebagian dari perlapisan tanah dan batuan. misalnya dengan geoprobe. dan dengan uji plastisitas pada tanah butiran yang melewati saringan No.075 mm. atau membundar. Kombinasi dari tanah berbutir halus dan kasar tersebut dapat terjadi bersamaan pada masa sekarang (misal tanah Holocene < 10. Oleh karena itu. kaolin. tetapi hanya berpangkal pada perhitungan kumulatif ukuran butir dari bahan yang dicetak ulang (remolded). lempung khusus. Persentase kadar kehalusan (PF=percent fines) jenis tanah merupakan penentuan ukuran butiran yang amat penting. pengeboran sonik). perlapisan. sensitivitas. 200 sebanding dengan partikel yang lebih besar dari diameter 0. lempung. kadang-kadang dipengaruhi partikel yang berdekatan. subangular. smectit. dan rincian lainnya. disebut tanah berbutir kasar. dan umur. penggunaan sistem USCS dapat mengklasifikasi tanah pasir lempungan sebagai SC. Walaupun terganggu. kekeringan. gaya-gaya elektrik. untuk beberapa jenis tanah (misal endapan laut. Selain itu. Tanah yang melewati saringan No. hidraulik kapiler. dan lain-lain. Sistem USCS dapat mengklasifikasi tanah pasiran yang secara predominan mengandung lebih dari 50% ukuran butiran yang tertinggal pada saringan No.

Pd T-05-2005-A Gambar 2 Faktor-faktor berdasarkan hasil uji penetrometer konus pada tanah (Hegazy. sehingga kemungkinan dapat memberikan pandangan yang berbeda dan perubahan klasifikasi. metode uji laboratorium hanya mengklasifikasi jenis tanah berdasarkan ukuran butir dan kadar butiran halus dari benda uji yang dicetak ulang. mineralogi. dan tekanan air pori (ub) yang sangat dipengaruhi oleh faktor-faktor ukuran butiran tanah. 17 dari 112 BACK Daftar Rsni 2006 . umur. lapisan tanah. Dalam uji CPT (dan DMT) dapat digambarkan perilaku tanah alami. dilakukan pengukuran dengan pencatatan menerus untuk tahanan ujung (qc). geseran selimut (fs ).2. 1998) 4. keadaan tegangan. 1998). dan lainnya seperti dijelaskan dalam Gambar 2 (Hegazy. Selama uji penetrasi konus (CPT) atau sondir. Sebaliknya.3 Klasifikasi tanah berdasarkan nilai konus Penetrometer konus digunakan untuk memperkirakan klasifikasi jenis tanah secara tidak langsung dengan cara mengukur respons waktu pergerakan konus.

..... klasifikasi tanah dapat dilengkapi dengan menggunakan kombinasi dari dua hasil pembacaan (baik qT dan fs atau qT dan ub) atau dengan ketiga hasil pembacaan.. sementara dalam lempung utuh lunak sampai kaku u2 yang teruji biasanya 3 – 10 kali u0... 1986) c) Dari data CPT.. Uji penetrasi konus (CPT) tidak dapat digunakan secara ekstensif pada tanah kerikilan. FR.4 BACK Daftar Rsni 2006 ............ (1) b) Gambar 3 Bagan klasifikasi perilaku tanah berdasarkan hasil uji penetrasi konus (CPT) (Robertson dkk.σvo ) .. Klasifikasi tanah berdasarkan indeks dilatometer 18 dari 112 4........ Oleh karena itu.2.. secara keseluruhan tahanan ujung (qc) harus dikoreksi menjadi qT (Lunne dkk.. Secara praktis interpretasi pasir mempunyai tahanan konus qT > 40 atm (Catatan: 1 atm ≈ 1 kg/cm2 ≈1 tsf ≈ 100 kPa)...Pd T-05-2005-A Hal-hal yang perlu dipertimbangkan adalah sebagai berikut..... Tetapi pada pasir dan lempung bercelah biasanya tidak begitu signifikan. a) Klasifikasi tanah dengan penetrometer konus mencakup penggunaan grafik empiris dengan batasan antara kelompok data dari jenis yang sama... (2) d) Grafik yang menggunakan qT. Biasanya pemeriksaan visual data keluaran (output) dapat digunakan untuk membedakan antara tanah berbutir halus (lanau dan lempung) dan tanah berbutir kasar (pasir)..... Pada lanau dan lempung utuh lunak sampai kaku. Pembacaan tekanan air pori selimut pada lanau dan lempung bercelah dapat bernilai nol atau negatif (sampai -1 atm atau –100 kPa)...... sedangkan lanau dan lempung lunak sampai kaku qT < 20 atm. FR = Rf = fs / qt .. menunjukkan 12 daerah klasifikasi...... Bq = (u2 – u0) / (qT . Tekanan air pori penetrasi dalam pasir murni mendekati nilai hidrostatik (u2 ≈ u0 = γw z) karena kelulusan airnya tinggi. Dengan pembacaan geseran selimut (fs).... nilai yang diproses disebut rasio geseran (FR) yang diperoleh dengan rumus Rasio geseran CPT.. lebih baik parameter tekanan air pori normal Bq ditentukan dengan rumus Parameter tekanan air pori... 1997) yang telah dibahas sebelumnya dalam buku pedoman volume II.... dan Bq seperti disajikan dalam Gambar 3.

..... dan pasir 1....80. seperti dinyatakan dengan persamaan γ = ρg .... derajat kejenuhannya antara 0 sampai 100%............... diperlukan data berat volume dari berbagai lapisan tanah. c) (6) Pengujian kepadatan massa tanah timbunan di lapangan dapat dilakukan dengan tabung yang dipancang (ASTM D 2937). 1980) yaitu Indeks material DMT: ID = (p1 – p0) / (p0 – u0) .... Indeks dilatometer material nondimensi (ID) digunakan untuk evaluasi jenis tanah secara empiris (Marchetti. Berat volume dapat didefinisikan sebagai berat tanah per satuan volume (dalam satuan kN/m3) dan dinyatakan dengan simbol γ.. Parameter ini saling berhubungan secara timbal balik dengan persamaan Gs wn = S e0 .60 < ID < 1......... pengambilan contoh yang sangat dalam memerlukan waktu lama dan kadang-kadang mengalami kesulitan.. tetapi tidak berlaku untuk kerikil.. Beberapa hal yang perlu dipertimbangkan adalah sebagai berikut..... Kejenuhan penuh dapat terjadi akibat pengaruh kapilaritas dan bervariasi karena pengaruh kondisi cuaca/atmosfir.. 19 dari 112 Daftar Rsni 2006 BACK ....... (5) dengan S = 1 (100%) untuk tanah jenuh (umumnya diasumsi untuk lapisan tanah di bawah muka air tanah) dan S = 0 (diasumsi untuk tanah butiran di atas muka air tanah)........... lanau 0. (3) dengan p0 adalah tekanan kontak terkoreksi dan p1 adalah tekanan pengembangan terkoreksi yang telah dibahas dalam buku pedoman volume II........ lanau dan pasir (tidak tersementasi).... metode konus pasir (ASTM D 1556)............. 4... a) Secara umum penggunaan istilah berat volume dan kepadatan sering mengalami hubungan timbal balik......3....... atau alat ukur nuklir (ASTM D 2922).......80 > ID....8 kN/m3... b) Di laboratorium berat volume tanah diuji dari contoh tabung tanah asli yang bergantung pada berat jenis padat (Gs ).60.... untuk kepadatan massa tanah diukur sebagai massa per volume (dalam satuan gr/cc atau kg/m3) dan dinyatakan dengan simbol ρ... Uji ini dapat dilakukan pada lempung..............Pd T-05-2005-A Klasifikasi tanah berdasarkan uji dilatometer (DMT) mencakup pula respon perilaku tanah.. Untuk mendapatkan berat volume perlapisan tanah............. (4) dengan g adalah konstanta gravitasi = 9.......... Nilai acuan untuk air murni adalah ρw = 1 g/cc sesuai dengan γw = 9. Pengambilan contoh pasir murni dengan tabung berdinding tipis biasanya tidak dapat dilakukan.................... Persamaan hubungan berat volume total adalah γT = Gs γw (1 + wn ) / (1 + e0 ) ...... Untuk lempung dan lanau yang berada di atas muka air tanah..... kadar air (wn) dan angka pori (e0) maupun derajat kejenuhan (S)....... Namun... Nilai-nilai indeks dilatometer material yang berada di luar rentang 0... untuk lempung ID < 0.......... dilakukan dengan teknik pengambilan contoh tabung berdinding tipis mutu tinggi (ASTM D 1587) atau teknik geofisik cara gamma logging (ASTM D 5195).. Selain itu.8 m/det2........................... Sebagai alternatif........1 Berat volume Untuk menghitung tegangan overburden di dalam massa tanah...1 < I D < 6 harus diperiksa dan diverifikasi...3 Kepadatan 4............. Dalam uji dilatometer (DMT) jenis tanah dibedakan dengan rentang sebagai berikut..............

Sebagai contoh. Oleh karena itu. sensitivitas. proses pencampuran dengan garam (leaching) dan atau adanya oksida logam atau mineral lainnya. nilai Gs = 2. sebagai pengganti untuk mengetahui kadar air insitu (atau angka pori) dapat digunakan hasil uji kecepatan rambat gelombang geser (Vs). kemungkinan hasilnya berbeda dengan material tanah yang khusus. seperti diperlihatkan dalam Gambar 4. Untuk batuan dan material sekitarnya. Nilai berat volume juga dipengaruhi oleh sementasi. Gambar 4 Hubungan antara berat volume jenuh dan kadar air material tanah dan batuan setempat (FHWA NHI-01-031) Gambar 5 Hubungan antara berat volume dengan kecepatan rambat gelombang geser dan kedalaman material tanah dan batuan jenuh (FHWA NHI-01-031) d) e) Uji kadar air insitu tidak selalu dilakukan pada waktu uji di lapangan. seperti ditentukan dengan persamaan (5) dan (6).7 ± 0. Perkiraan berat volume tanah kering sampai jenuh sebagian bergantung pada derajat kejenuhan. perubahan kimiawi tanah. Tegangan overburden total (σvo) dihitung dengan persamaan (lihat buku volume II) 20 dari 112 BACK Daftar Rsni 2006 .Pd T-05-2005-A nilai-nilai γ dan ρ dapat diperkirakan berdasarkan hubungan empiris. Metode penentuan V s di lapangan telah diuraikan secara rinci pada buku pedoman volume II.1 untuk beberapa jenis tanah dan berat volume jenuh dapat dihubungkan dengan kadar air dengan menggabungkan persamaan (5) dan (6) untuk S = 1. Gambar 5 menunjukkan hubungan hasil pengamatan antara berat volume total tanah jenuh (γT) dengan Vs dan kedalaman z.

Pd T-05-2005-A

σvo = Σ γT ∆z

.............................................................................

(7)

yang dapat digunakan untuk mendapatkan tegangan overburden vertikal efektif σvo’ = σvo - u0 .............................................................................. (8)

dengan tekanan air pori hidrostatik (u0 ) dihitung dari muka air tanah.

4.3.2 Korelasi kepadatan relatif Kepadatan relatif (DR) digunakan untuk menunjukkan derajat kepadatan butiran pasir dan hanya berlaku untuk tanah berbutir kasar dengan kadar butiran halus kurang dari 15%. Kepadatan relatif dihitung dengan rumus DR = (emax – e0) / (emax – emin) ....................................................... (9)

dengan emax adalah angka pori pada keadaan paling lepas (ASTM D 4254), dan emin adalah angka pori pada keadaan paling padat (ASTM D 4253). Namun perkiraan langsung DR tersebut kurang praktis, sebab sangat sulit memperoleh contoh tanah tidak terganggu untuk menghitung ke tiga parameter (e0, emax, dan emin) tersebut di laboratorium. Hal-hal yang perlu dipertimbangkan adalah sebagai berikut. a) Untuk beberapa jenis tanah tertentu, keadaan pori minimum dan maksimum sebenarnya saling berhubungan (Poulos, 1988). Basisdata yang dikompilasi memperlihatkan (n= 304; r2 = 0,851; S.E. = 0,044) persamaan emin = 0,571 emax b) ......................................................................... (10)

Untuk keadaan kering (w = 0), kepadatan kering dihitung dengan persamaan γd = Gs γw / (1 + e) dan hubungan antara kepadatan minimum dan maksimum untuk berbagai pasir diperlihatkan dalam Gambar 6. Nilai rata-rata diberikan dengan persamaan garis regresi γd (min) = 0,808 γd (max) .................................................................... (11)

c)

Studi laboratorium yang dilakukan oleh Youd (1973) menunjukkan bahwa kedua nilai emax dan emin bergantung pada koefisien keseragaman (UC=uniformity coefficient = D60/D10) maupun angularitas butiran. Untuk sejumlah jenis pasir (total n = 574), kecenderungan tersebut seperti diperlihatkan dalam Gambar 7 adalah untuk keadaan paling padat sesuai dengan emin dan γd (max). Korelasi kepadatan kering maksimum (γd (max) ) yang terkait dengan UC untuk berbagai jenis pasir diperlihatkan dalam Gambar 7, dan dinyatakan dengan (n = 574; r2 = 0,730) persamaan γd (max) = 9,8 [1,65 + 0,52 log (UC)] .............................................. (12)

21 dari 112
BACK Daftar Rsni 2006

Pd T-05-2005-A

Gambar 6

Hubungan antara kepadatan kering minimum dan maksimum pasir kuarsa (FHWA NHI-01-031)

(CATATAN : Konversi sesuai dengan kepadatan massa dan berat volume 1g/cc = 9,8 kN/m3 = 62,4 pcf)

Gambar 7

Hubungan antara kepadatan kering maksimum dengan koefisien keseragaman pasir (UC = D60/D10) (FHWA NHI-01-031)

(CATATAN : Konversi sesuai dengan kepadatan massa dan berat volume 1g/cc = 9,8 kN/m3 = 62,4 pcf) 22 dari 112
BACK Daftar Rsni 2006

Pd T-05-2005-A

d)

Secara praktis data uji penetrasi in-situ digunakan untuk mengevaluasi kepadatan relatif pasir setempat (insitu). Hubungan DR asli dengan SPT yang diusulkan oleh Terzaghi & Peck (1967) telah diuji ulang oleh Skempton (1986) untuk berbagai jenis pasir kuarsa. Evaluasi kepadatan relatif diberikan sesuai dengan nilai tahanan terkoreksi [(N1)60], seperti diperlihatkan dalam Gambar 8 dengan persamaan DR = 100. √ [(N1)60/60] ............................................................... (13)

dengan (N1)60 = N60 / (σvo’)0,5 adalah nilai N dari hasil uji yang dikoreksi dengan efisiensi tenaga 60% dan dinormalisir ke tingkat tegangan 1 atmosfir. Tegangan overburden efektif dinyatakan dalam atmosfir. Secara umum nilai tahanan terkoreksi SPT dapat dihitung dengan (N1)60 = N60 / (σvo’/ pa)0,5 untuk setiap satuan tegangan overburden efektif, dengan pa adalah tegangan acuan = 1 bar ≈ 1 kg/cm2 ≈ 1 tsf ≈ 100 kPa. Rentang nilai tahanan terkoreksi SPT harus dibatasi sampai (N1)60 < 60, karena di atas nilai ini akan terjadi pemecahan butiran asli akibat gaya-gaya tekan dinamik yang tinggi. Selain itu, korelasi tersebut juga dapat diperhitungkan terhadap pengaruh terjadinya konsolidasi berlebih pada ukuran butiran dan umur tanah (Skempton, 1986; Kulhawy & Mayne, 1990).

Gambar 8

Kepadatan relatif pasir murni dari data uji penetrasi standar (FHWA NHI-01-031)

(CATATAN : nilai tahanan terkoreksi (N1)60 = N60/(σvo’)0,5 dengan σvo’ dalam satuan bar atau tsf)

e)

Pendekatan yang sama dapat dilakukan pada uji CPT berdasarkan kalibrasi dalam bilik uji (test chamber) di laboratorium pada pasir kuarsa murni (Gambar 9). Kecenderungan kepadatan relatif (dalam %) pasir tidak tersementasi yang masih baru dinyatakan dengan persamaan berikut. Untuk pasir terkonsolidasi normal: Untuk pasir terkonsolidasi berlebih: DR = 100 √ qT1 / 300 ...................... (14a) (14b)
Daftar Rsni 2006

DR = 100 √ [ qT1 / (300 OCR 0,2) ........
23 dari 112

BACK

Untuk setiap satuan tegangan overburden efektif dan tahanan ujung konus. ukuran butiran rata-rata.5 adalah tahanan konus terkoreksi dengan qc dan tegangan overburden efektif terukur dalam satuan atmosfir. Gambar 9 Evaluasi kepadatan relatif pasir kuarsa murni NC dan OC dari data CPT (FHWA NHI-01-031) 0. sebab adanya kemungkinan pengaruh penghancuran butiran. dan umur juga dapat diperhitungkan (Kulhawy dan Mayne. Kd = (p 0 – u 0) / /σvo’) (FHWA NHI-01-031) f) Pengaruh lainnya yaitu karena rasio overkonsolidasi (OCR).5. dengan pa adalah tegangan acuan = 1 bar ≈ 1 kg/cm2 ≈ 1 tsf ≈ 100 kPa (periksa Gambar 9).Pd T-05-2005-A dengan qT1 = qc / (σvo’)0. 1atm ≈1 tsf ≈100 kPa) Gambar 10 Kepadatan relatif pasir murni vs indeks tegangan horisontal DMT. kompresibilitas tanah. 24 dari 112 BACK Daftar Rsni 2006 . Hubungan tersebut tidak berlaku untuk qT1<300.5 (CATATAN : tahanan ujung penormal qt1 = qc/(σvo’) dengan tegangan dalam atmosfir. Namun faktor-faktor ini biasanya tidak digunakan pada waktu penyelidikan lapangan secara rutin. nilai tahanan konus terkoreksi dapat dihitung dengan persamaan qT1 = (qt / pa) / (σvo’/ pa)0. 1991).

Keadaan kritis menggambarkan kondisi keseimbangan untuk butiran-butiran pada angka pori dan tingkat tegangan keliling efektif. Pasir menghasilkan nilai nominal φ’ hanya berdasarkan pertimbangan mineralogi yang sesuai dengan keadaan kritis (φcs’) yang ditentukan. DMT. Untuk lempung yang mengandung rekahan (fissures).6 t/m3. dapat diperoleh kurva hubungan antara perkiraan nilai DR dan indeks tegangan lateral dilatometer DMT. dan diperoleh dari uji triaksial terkonsolidasi tidak terdrainase (CU) dengan pengukuran tekanan air pori. parameter kuat geser residual (φr’ ≠ 0 dan cr’ = 0) akan memadai untuk lereng dan galian. Sudut geser pasir terdrainase c) d) 4. DR. pasir yang lebih padat dibandingkan dengan yang paling lepas dan pengaruh pengembangan (dilatansi) menghasilkan φ’ puncak lebih besar dari φcs’. dan Vs. untuk mendapatkan φ’ puncak dapat diperoleh dari uji triaksial di laboratorium terhadap contoh pasir tidak terganggu dengan teknik pembekuan (freezing) dalam lubang bor. CPT. dan φcs’ ≈ 330. DR = 50 %. a) Gambar 11 menunjukkan hubungan tiga komponen γ. a) b) Kuat geser pasir terdrainase yang sesuai dengan sudut geser tegangan efektif (φ’) dapat diinterpretasikan dari hasil uji SPT. Dengan cara ini. uji triaksial terkonsolidasi terdrainase. Sudut geser pasir efektif (φ’) biasanya diperoleh dari hasil uji lapangan. Dari gambar tersebut parameter φ’ dapat langsung diketahui. Uraian penjelasannya sebagai berikut. Sudut geser puncak (φ’) yang sesuai dengan tahanan (N1)60 disajikan dalam Gambar 12. sehingga dapat diperoleh rasio overkonsolidasi (terkonsolidasi berlebih) terkait (OCR = σp’/σvo’). dengan penjelasan sebagai berikut. DMT. Dalam kondisi alami. pasir feldspathic γ = 1. dengan menggunakan koreksi tenaga dan prosedur koreksi yang diuraikan sebelumnya (subpasal 4. DR = 0 %. 1986). data hasil uji lempung di lapangan insitu dapat digunakan untuk mengevaluasi tegangan prakonsolidasi efektif (σp’) dari CPT. Riwayat kekuatan dan tegangan 4. dan φ’ sesuai dengan berat volume tanah nonkohesif. seperti diperlihatkan dalam Gambar 10. Sementara itu. dan PMT.3.4. Kuat geser lanau dan lempung utuh jangka panjang dinyatakan dengan parameter kuat geser efektif (φ’ dan c’ = 0). kuat geser tidak terdrainase (su) paling cocok ditentukan dari grafik hubungan terkoreksi dengan derajat terkonsolidasi berlebih. atau uji geser langsung secara lambat di laboratorium. Parameter ini diperoleh dari hasil uji geser cincin di laboratorium atau serangkaian uji geser langsung bolak balik. misalnya untuk pasir kuarsa murni γ = 1. g) Berdasarkan uji dilatometer (DMT) di lapangan dan uji kalibrasi di laboratorium. dan φcs’ ≈ 300 dan tanah pasiran micaceous γ = 1.Pd T-05-2005-A Peningkatan OCR dalam pasir akan menurunkan kepadatan relatif asli yang diberikan dalam persamaan (13).1 Sudut geser puncak pasir (φ’) bergantung pada mineralogi butiran. Untuk pembebanan jangka pendek pada lempung dan lanau. tingkat tegangan keliling efektif dan pengaturan kepadatan (Bolton.2). CPTu. Nilai-nilai tersebut dikorelasi secara berurutan dengan nilai N yang diperoleh dari lubang bor yang sama dan lubang bor yang berdekatan.8 t/m3. b) c) 25 dari 112 BACK Daftar Rsni 2006 .4 Hasil-hasil uji lapangan banyak digunakan untuk mengevaluasi kuat geser dan perubahan relatif perlapisan tanah di sekitar lokasi proyek. DR = 25 %. dan φcs’ ≈ 270.7 t/m3.

tekanan dukung ujung tiang yang diperoleh dari teori batas plastisitas memberikan qb = Nq σvo’. yang menggambarkan tahanan dukung ujung asli (qb). kepadatan relatif dan jenis tanah (NAVFAC DM 7. diperlihatkan dalam Gambar 13. Metode evaluasi nilai φ’ puncak pasir kuarsa murni dari tahanan ujung terkoreksi CPT. salah satu metode interpretasi CPT dalam pasir yang banyak dikenal adalah menginversikan rumus (Nq = qt /σvo’ = fc tan φ’) untuk mendapatkan nilai φ’ (Robertson & Campanella. Dalam perhitungan daya dukung batas.1. 1982) Gambar 12 Sudut geser puncak pasir dari nilai SPT terkoreksi /penormalan (Hatanaka & Uchida. Oleh karena itu. 1996) 0.Pd T-05-2005-A d) Penetrometer konus dapat diperhitungkan sebagai model mini fondasi tiang dan tahanan ujung terkoreksi (qT). 1983). sudut geser dalam. Gambar 11 Hubungan antara berat volume kering. dengan Nq adalah faktor daya dukung untuk beban tambahan yang bergantung pada sudut geser.5 CATATAN : Tahanan terkoreksi (N1)60 = N60/(σvo’ /pa) dengan pa = 1 bar ≈ 1 tsf ≈ 100 kPa 26 dari 112 BACK Daftar Rsni 2006 .

εc = (1 .....5 . 1984). diam (K0)......... dan pasif (KP).1 BACK .... 1997) dan data hasil uji (Mayne...... 1983) e) Solusi dengan cara Wedge.. Secara teoritis kurva yang diberikan untuk kondisi-kondisi tekanan tanah aktif (KA)...... 27 dari 112 (15) Daftar Rsni 2006 ...Pd T-05-2005-A Gambar 13 Sudut geser pasir kuarsa berdasarkan tahanan ujung terkoreksi CPT (Robertson & Campanella... Berhubung regangan rongga (εc = ∆r/r0) diperoleh dari uji langsung tekanan pengeboran (buku pedoman volume II)..... konversi terhadap regangan volumetrik (εvol = ∆V/V) pada pengeboran awal diberikan sebagai berikut....... Gambar 15a dan 15b memperlihatkan prosesing kurva tekanan pengembangan teruji vs regangan rongga teruji. Gambar 14 Evaluasi sudut geser pasir dari hasil DMT berdasarkan solusi berat-plastisitas (Marchetti..... 2001) f) Hasil-hasil uji pressuremeter (PMT) dapat digunakan untuk evaluasi kuat geser pasir berdasarkan teori dilatansi/pengembangan (Wroth...... seperti dirangkum oleh Marchetti (1997) dan telah dikalibrasi dengan data dari jenis pasir yang berbeda pada lokasi uji yang didokumentasi (lihat Gambar 14).εvol) -0..plasticity telah dikembangkan untuk menentukan nilai φ’ pasir murni dengan menggunakan uji dilatometer (DMT)... dengan nilai-nilai φ’ terkait dibandingkan dengan data hasil uji.........

Parameter ini diperoleh melalui uji oedometer 1-dimensi (uji konsolidasi) pada contoh tanah bermutu tinggi. kekakuan.Pd T-05-2005-A (a) CATATAN : pa adalah tegangan acuan = 1 atm = 1 bar ≈ 100 kPa (b) Gambar 15 Prosesing data PMT pasir untuk menentukan φ’ puncak (Wroth. keadaan tegangan lateral geostatic dan respon tekanan air pori tanah. 1984) g) Pada grafik log-log tekanan efektif (pe – u0) vs regangan rongga (εc). nilai φ’ puncak untuk ragam tekanan triaksial diperoleh dari Gambar 16. Gambar 16 Hubungan antara φ’ puncak pasir murni dan parameter kemiringan dari data uji pressuremeter (PMT) 4. 28 dari 112 BACK Daftar Rsni 2006 . parameter s diperoleh sebagai kemiringan (Gambar 15b) sehingga s = ∆log (pe – u0) / ∆(εc).4.2 Tegangan prakonsolidasi lempung Tegangan prakonsolidasi efektif (σp’) adalah parameter penting yang akan mempengaruhi kekuatan. Pada keadaan kritis yang berkaitan dengan nilai φcv’ pasir (biasanya diambil 330).

.................. Akan tetapi.. siklus pembasahan-pengeringan. Tegangan prakonsolidasi yang diamati dapat digunakan untuk memisahkan tahap tekanan ulang (regangan elastis) dari bagian tekanan asli (virgin compression) suatu respon......... sedangkan hasil uji konsolidasi dilakukan pada lanau dan 29 dari 112 BACK Daftar Rsni 2006 .Pd T-05-2005-A Pengaruh terhadap gangguan pada waktu pengambilan....... (16) Tanah sering kali terkonsolidasi berlebih sampai suatu tingkat tertentu seiring dengan skala waktu geologi dan telah mengalami banyak perubahan.38 dari uji oedometer.... desikasi........... d) Secara statistik rumus indeks kompresi (Cc) dan indeks pengembangan (Cs) dari siklus unloadreload dalam Gambar 18 berkaitan dengan indeks plastisitas (PI). rumus (17) menghasilkan Cc terhitung = 0. Gambar 17 Hasil uji konsolidasi pada lempung terkonsolidasi berlebih c) Pemeriksaan tingkat ketelitian indeks kompresi dapat dilakukan berdasarkan hubungan empiris dengan sifat plastisitas lempung.... (17) Karena adanya pengaruh serat.......33 dibandingkan Cc teruji = 0.... pemrosesan salju/es. dan penanganan akan cenderung mengurangi besaran σp’ dari nilai tegangan setempat (insitu).... dan kepekaan di daerah deposit alami... umur... Faktor-faktor yang menyebabkan terkonsolidasi berlebih mencakup erosi.. a) Bentuk tegangan yang terkoreksi disebut rasio overkonsolidasi (OCR) dan ditentukan dengan persamaan OCR = σp’ / σvo’ ....... pengeluaran.. diperlihatkan dalam Gambar 17... PI diperoleh pada tanah yang dicetak ulang....................... fluktuasi muka air tanah............009 (LL – 10) .... Sebagai contoh pada Gambar 17 dengan LL = 47... struktur. Beberapa hal yang perlu dipertimbangkan adalah sebagai berikut. nilai Cc dari hasil uji lebih besar daripada nilai yang diberikan dalam rumus (17).. b) Kurva e-log (σv’) diperoleh dari uji konsolidasi 1-dimensi pada lempung laut (marine).. Rumus indeks kompresi (Cc) sesuai dengan batas cair (LL) diberikan oleh Terzaghi dkk (1996) sebagai berikut Cc = 0............. siklus pembekuan-pencairan. dan sementasi (cementation)..

Gambar 18 Tanda-tanda kecenderungan terjadi tekanan dan penyembulan berkaitan dengan indeks plastisitas (FHWA NHI-01-031) e) Profil tegangan prakonsolidasi tanah lanau dan lempung dapat dievaluasi berdasarkan data hasil uji insitu. indeks plastisitas (PI) dan kuat geser baling teruji tanah asli (suv) diperlihatkan dalam Gambar 19. yang memberikan perkiraan cepat derajat konsolidasi berlebih deposit tanah alami. sehingga diperlukan tambahan uji dan kehati-hatian dalam penggunaannya. Gambar 19 Rasio hasil uji kuat geser baling dengan tegangan prakonsolidasi (suv/ σp’) vs indeks plastisitas (Ip) (Leroueil dan Jamiolkowski. 1991) 30 dari 112 BACK Daftar Rsni 2006 .Pd T-05-2005-A lempung alami. Jadi tanah terstruktur dengan kepekaan sedang sampai tinggi dan tersementasi akan cenderung mulai diteliti. Hubungan antara σp’.

Pd T-05-2005-A f) Untuk uji penetrometer konus elektrik pada deposit lempung utuh. seperti diperlihatkan dalam Gambar 21. respons untuk lempung utuh dan 31 dari 112 Daftar Rsni 2006 BACK . Gambar 20 Hubungan antara tegangan prakonsolidasi dengan tahanan konus konus netto berdasarkan hasil CPT elektrik (FHWA NHI-01-031) Gambar 21 Hubungan antara tegangan prakonsolidasi dan tekanan air pori berlebih berdasarkan hasil uji pisokonus pada lempung (FHWA NHI-01-031) g) Korelasi langsung antara tegangan prakonsolidasi efektif dan tekanan kontak netto (p0-u0) dari hasil uji dilatometer. Lempung yang mengandung rekahan (fissured) diperkirakan terletak di atas keadaan tersebut. Untuk uji pisokonus pada lempung dapat dievaluasi dari tekanan air pori berlebih (u1 – u0). diperlihatkan dalam Gambar 22. Gambar 20 memperlihatkan hubungan σp’ sesuai dengan tahanan konus netto (qt . Namun.σvo).

profil σp’ yang diperoleh dari hasil uji insitu diperkirakan dengan hasil-hasil uji oedometer. sehingga rasio overkonsolidasi OCR = σp’ / σvo’. Robertson & Lunne. 1998) h) Sejarah tegangan dapat juga diperlihatkan sesuai dengan parameter tanpa dimensi. Dari uji dilatometer (DMT) secara teoritis OCR dapat dihubungkan dengan indeks tegangan horisontal [KD = (p0-u0)/ σvo’] dengan menggunakan 32 dari 112 Daftar Rsni 2006 BACK . Pada umumnya. Kecepatan gelombang geser (Vs) dapat juga memberikan perkiraan σp’ (lihat Gambar 23).Pd T-05-2005-A lempung dengan rekahan berbeda. Gambar 22 Hubungan antara tegangan prakonsolidasi dan tegangan kontak netto berdasarkan hasil uji DMT pada lempung (FHWA NHI-01-031) Gambar 23 Hubungan antara tegangan prakonsolidasi dan kecepatan gelombang geser lempung (Mayne.

33 dari 112 Daftar Rsni 2006 BACK . 1986). kuat geser kerja (su) yang dihitung dengan persamaan di atas dalam Gambar 24a akan berkurang menjadi ½ dari nilai OCR untuk lempung utuh. 2001). Hubungan antara OCR dan KD bergantung juga pada variabel lain yang belum dihubungkan dalam persamaan. j) Gambar 24 Hubungan antara rasio overkonsolidasi dan indeks tegangan horisontal DMT Kd berdasarkan (a) teori regangan rongga – keadaan kritis.Pd T-05-2005-A formulasi hibrid berdasarkan keadaan kritis dan regangan rongga tanah. Batasan dari evaluasi the Cavity ExpansionModified Cam Clay (CE-MCC) dikombinasi untuk menghasilkan data agar masuk dalam rentang tersebut.50 KD )1. Jika pembatasan OCR telah tercapai (lihat subpasal 5. Celah-celah dapat disebabkan oleh keadaan tanpa pembebanan berlebih (erosi) sampai terjadi kondisi tekanan tanah pasif atau oleh desikasi yang luas dan mekanisme lain. struktur dan mineralogi.25 hampir sama dengan hasil dari persamaan asli yang diusulkan oleh Marchetti (1980) yaitu OCR = (0. Schmertmann. dan indeks kekakuan tanpa drainase IR = G/su dengan G adalah modulus geser dan su adalah kuat geser tanpa drainase. Hubungan tersebut tidak merupakan rumus tunggal antara OCR dan KD seperti telah dibahas sebelumnya (misal Marchetti. serat. diperoleh dari hasil uji konsolidasi 1-dimensi. Data kompilasi dari hasil uji lempung di seluruh dunia dalam Gambar 24b memperlihatkan kecenderungan umum antara OCR dan KD.63 KD)1. termasuk umur deposit. Parameter Mc digunakan untuk memberikan karakteristik geseran Mc = 6 sin φ’ / (3-sin φ’). yang diperlihatkan dalam Gambar 24a (Mayne. Tingkat pemrosesan celah secara efektif dapat mengurangi kekuatan kerja lempung. dan (b) basisdata lempung di seluruh dunia (FHWA NHI-01-031) k) Pendekatan yang sama untuk mendapatkan OCR pada lempung dari hasil uji pisokonus diperlihatkan dalam Gambar 25 dengan menggunakan formulasi yang berdasarkan konsep CEMCC (Mayne.4). Parameter Λ ≈ 1 – Cs /Cc dengan Cs adalah indeks pengembangan (swelling) dan Cc adalah indeks tekanan asli. 1980. rasio regangan volumetrik plastis (Λ). termasuk sudut geser efektif (φ’). IR = 100). i) Faktor penting yang perlu diketahui adalah kondisi lempung utuh atau mengandung celah.8.56. hal itu bergantung pula pada sifat lempung dan parameter lainnya. hasil-hasil dari persamaan OCR = (0. Namun. Selain itu dengan menggunakan nilai rata-rata parameter tanah yang diharapkan (φ’ = 300. Λ = 0. Dalam hal ini dua hasil uji yang terpisah digunakan dari data pisokonus (qT dan u2) sehingga mengurangi jumlah input parameter yang diperlukan dalam persamaan. 1991).

bahkan dalam detik jika dilakukan dengan penetrometer konus. kuat geser tidak terdrainase yang menggambarkan kondisi keruntuhan sesuai dengan tegangan geser puncak dengan kurva regangan geser. Sebagai contoh. Ragam kuat geser sederhana adalah nilai kuat geser tidak terdrainase rata-rata yang representatif untuk keperluan analisis desain secara rutin (Ladd. 1985) yang dikenal sebagai kuat geser anisotropik.4. uji triaksial terkonsolidasi tidak terdrainase biasanya dilakukan dengan waktu keruntuhan dalam beberapa jam. Kuat geser lempung tidak terdrainase akibat pengaruh pembebanan horisontal (disebut pembebanan tipe pengembangan atau ragam pasif) lebih kecil daripada pengaruh pembebanan vertikal (ragam tekanan atau aktif). konsolidasi berlebih. 34 dari 112 BACK Daftar Rsni 2006 . rasio overkonsolidasi sesuai dengan parameter pisokonus yang dinormalisir (qT – u2)/ σvo’ maupun parameter Mc = 6 sin φ’ / (3-sin φ’) dan Λ ≈ 1 – Cs/Cc . Beberapa hal yang perlu dipertimbangkan adalah sebagai berikut. Oleh karena itu.Pd T-05-2005-A Dengan demikian. dan lain-lain. a) Arah pembebanan berpengaruh pada uji kuat geser tidak terdrainase (Jamiolkowski dkk. sedangkan uji geser baling dapat terjadi dalam beberapa menit. syarat-syarat batas. laju regangan. biasanya sulit untuk membandingkan langsung kuat geser tidak terdrainase yang teruji dengan perbedaan hasil uji lapangan dan laboratorium.3 Kuat geser lempung dan lanau tidak terdrainase Kuat geser tidak terdrainase (su atau cu) bukan suatu sifat tanah yang khusus. 1991). derajat pemrosesan celah. Oleh karena itu. Waktu untuk mencapai tegangan puncak dipengaruhi oleh kecepatan pembebanan. Gambar 25 Rangkuman evaluasi kalibrasi OCR menggunakan hasil uji pisokonus pada lempung dengan gabungan kurva-kurva dari model analisis (FHWA NHI-01-031) 4. tetapi suatu perilaku tanah akibat pembebanan yang bergantung pada faktor-faktor arah tegangan kerja. Kecuali jika faktor-faktor penting telah diperhitungkan sesuai dengan pertimbangan dan penentuan yang memadai.

seperti dinyatakan dengan rasio (su/σvo’ atau cu/σvo’) yang mengacu pada rasio c/p’ semula.Pd T-05-2005-A b) Kebanyakan laboratorium tidak dilengkapi dengan peralatan yang cukup untuk uji tekan triaksial (TC) secara berurutan. baik hubungan empiris ataupun konstitutif. dapat dilakukan uji geser langsung sederhana (DSS) dan uji pengembangan triaksial (TE). 1985) 35 dari 112 BACK Daftar Rsni 2006 . Dalam hal ini. 1985) (su/ Gambar 27 Kuat geser lempung tidak terdrainase normal NC akibat ragam pembebanan berbeda dengan model pengganti (Ohta dkk. Untuk lanau dan lempung terkonsolidasi normal pada Gambar 26 diperlihatkan tingkatan relatif ragamragam tersebut dan arah dengan indeks plastisitas (Ip). Oleh karena itu. kuat geser tidak terdrainase telah terkoreksi oleh tingkat tegangan overburden efektif. Gambar 26 Ragam rasio kuat geser lempung tidak terdrainase terkonsolidasi normal σvo’)NC dari berbagai cara uji dengan indeks plastisitas (Jamiolkowski dkk.

... 1991) dan teori critical state (Wroth...... Jika diperlukan koreksi untuk suatu ragam uji kuat geser tertentu. ragam geser sederhana dapat diperhitungkan dari nilai karakteristik kuat geser tidak terdrainase ratarata yang representatif........ Rasio penormalan lempung terkonsolidasi normal (su/σvo’)NC yang meningkat dengan nilai φ’ untuk setiap ragam geser mencakup uji triaksial tekan isotropik terkonsolidasi tidak terdrainase (CIUC=consolidated isotropic undrained compression).. uji geser langsung dengan kotak geser (SBT)..... Dalam analisis stabilitas timbunan atau bendungan dan perhitungan daya dukung batas. Berdasarkan hubungan tersebut (Kulhawy & Mayne... 1984).............. (18) d) dengan Λ ≈ 1 – Cs/Cc dan umumnya diambil kira-kira 0........ nilai NC dapat diperkirakan dengan menggunakan Gambar 26 atau Gambar 27.. uji triaksial tekan anisotropik terkonsolidasi tidak terdrainase (CK0UC). 1985)....8 untuk tanah tidak terstruktur dan tidak tersementasi.............. uji pressuremeter (PMT).. 1990) dapat dihasilkan gambaran sifat umum dari data hasil uji laboratorium sebanyak 206 jenis tanah lempung.... seperti diperlihatkan dalam Gambar 28 dan diberikan dengan rumus (su/σvo’)NC = ½ sin φ’ OCRΛ ......Pd T-05-2005-A c) Secara teoritis hubungan timbal balik ragam pembebanan tidak terdrainase untuk lempung terkonsolidasi normal diperlihatkan dalam Gambar 27 dengan menggunakan model pengganti (Ohta dkk... uji geser tekan plane strain (PSC).. dan uji pengembangan triaksial terkonsolidasi secara anisotropik (CK0UE)..... rasio penormalan (su/σvo’) akan meningkat sesuai dengan rasio overkonsolidasi (OCR) menurut persamaan (su/σvo’)OC = (su/σvo’)NC OCRΛ ....... (19) Gambar 28 Hubungan antara rasio kuat geser tidak terdrainase dengan OCR dan φ’ untuk ragam geser sederhana (FHWA NHI-01-031) 36 dari 112 BACK Daftar Rsni 2006 ....... dan dengan persamaan (18) dapat dihitung kuat geser tidak terdrainase pada keadaan terkonsolidasi berlebih..... Berdasarkan data hasil pengujian secara luas (Ladd..... uji geser baling (VST).. uji geser simple shear (DSS)... uji plane strain extension (PSE).....

. 1991)..... dan cincin belah (Mayne & Kulhawy... 1996).... 4............. Ladd.4 Keadaan tegangan lateral Tegangan dalam keadaan geostatik lateral (K 0) adalah salah satu hasil uji yang paling penting dalam geoteknik....Pd T-05-2005-A e) Untuk lanau dan lempung lunak utuh dengan nilai OCRS yang rendah (< 2)..... 37 dari 112 BACK Daftar Rsni 2006 .... sel triaksial. Banyak alat inovatif telah dilengkapi untuk uji tegangan horisontal total insitu (σho) yang meliputi sel tegangan total.. alat hydraulic fracturing dalam pisometer....... Hal ini sering kali dinyatakan sebagai koefisien tegangan horisontal K0 = σho’ /σvo’ dengan σho’ adalah tegangan lateral efektif dan σvo’ adalah tegangan vertikal efektif......... Secara praktis biasanya K0 diperoleh dari korelasi empiris dengan derajat overkonsolidasi sebagai berikut K0 = (1 – sin φ’ ) OCR sin φ’ . harus digunakan persamaan (19) dalam evaluasi kuat geser efektif tidak terdrainase (Jamiolkowski dkk... alat uji pressuremeter tipe selfboring..22 ... fondasi dan galian maupun koreksi kuat geser baling dari hasil uji lapangan (Terzaghi dkk.............. persamaan (18) dapat diturunkan menjadi bentuk sederhana (φ’ = 300) su (DSS) ≈ 0............... (21) yang dikembangkan berdasarkan uji laboratorium yang mencakup alat uji oedometer.. 1985.... dan alat-alat lainnya... Gambar 29a dan 29b memperlihatkan penggunaan umum persamaan (20) yang dibandingkan dengan data K0 untuk lempung dan pasir dari hasil uji lapangan secara langsung...... (20) yang konsisten dengan kuat geser yang dihitung balik dari keruntuhan urugan..... 1982)....... Untuk analisis desain bangunan di atas tanah lunak.... Gambar 29 Hubungan antara K0 lapangan dan OCR untuk (FHWA NHI-01-031) (a) lempung alami dan (b) pasir alami Hal-hal lain yang perlu diperhatikan adalah sebagai berikut......... Upaya penelitian mutakhir telah mencoba menggunakan rangkaian uji gelombang geser yang diarahkan ke dalam lapisan tanah dengan memperhitungkan (decipher) K0 insitu..4..

.... Pada lempung yang mengalami proses pengeringan..............31 ] 1/( α. Untuk memperkirakan K0 pasir kuarsa murni dengan CPT... serta kajian lengkap dari hubungan yang diberikan oleh Mayne & Martin (1998). persamaan (22) akan menghasilkan nilai Kp berlebihan.5 m dengan tinggi sama.... 1990).. Persiapan deposit pasir dalam bilikkotak besar ini berlangsung kira-kira 1 minggu dengan metode pluviation atau metode slari...... Hasil rangkuman dari basisdata hasil uji bilikkotak yang diberikan dalam Gambar 30 memperlihatkan hubungan antara tegangan lateral kerja dan tahanan ujung konus teruji.33 qT 0... Untuk material tersementasi..0.. Hal ini akan berpengaruh pada massa tanah yang posisinya miring karena adanya rekakan yang meluas sesuai dengan kuat geser terdrainase yang hampir sama dengan parameter kuat geser residual (φr’ ≠ 0 dan cr’ = 0)......... dengan memperhitungkan pengaruh batasan ukuran bilikkotak (Kulhawy & Mayne. 2001) sebagai berikut e) OCR = [1. rekahan dapat terjadi sebelum tercapai tekanan tanah pasif.. 0. (23) c) Jaringan rekahan pada tanah endapan dapat mengurangi kuat geser kerja lempung tidak terdrainase secara efektif. Nilai Kp dari Rankine yang paling sederhana dihitung dengan persamaan Kp = tan2 (450 + ½ φ’ ) = (1 + sin φ’ )/(1 – sin φ’ ) ... Setiap bilikkotak kalibrasi berdinding fleksibel dan berdiameter antara 0.. contoh diatur pada salah satu variasi kondisi tegangan dengan menggunakan tegangan-tegangan kerja horisontal dan vertikal dan keadaan terkonsolidasi normal sampai terkonsolidasi berlebih (1 ≤ OCRs ≤ 15)..22 / K0NC (σvo’) dengan K0NC = 1-sin φ’ dan α = sin φ’. sehingga perhitungan lebih tepat dilakukan dengan persamaan Kp = Nφ + 2c’ /σvo’ √Nφ dan Nφ = (1 + sin φ’) / (1 – sin φ’). 1995..... OCRbatas dapat digunakan untuk menentukan batas atas nilai su yang dihitung dengan persamaan (18) dan (19) maupun rangkaian batas atas K 0 yang diberikan oleh persamaan (21). Jadi. d) Untuk evaluasi K0 lempung..27) .. (24) 38 dari 112 BACK Daftar Rsni 2006 . 1997).... dapat diperkirakan rasio overkonsolidasi pasir (Mayne..... Hasil analisis didasarkan atas studi statistik regresi ganda terhadap 26 jenis pasir berbeda.Pd T-05-2005-A a) Pada umumnya.. Kepadatan relatif berkisar dari 10% sampai 100%.....4. basisdata kalibrasi bilikkotak (chamber) harus dikompilasi dan dianalisis terlebih dahulu (Lunne dkk. nilai K0 mempunyai batas atas yang dibatasi oleh koefisien tekanan pasif K p.. Setelah pemasangan. Pengujian biasanya dalam keadaan kering atau jenuh..... lanau dan pasir insitu secara langsung. (22) b) Bila K0 di lapangan mencapai nilai tekanan tanah pasif Kp. Tahap akhir adalah uji CPT melalui pusat spesimen silindris... disarankan menggunakan persamaan (21) sesuai dengan profil OCR yang dihasilkan dari uji oedometer dan dilengkapi dengan korelasi di lapangan yang diuraikan dalam sub pasal 5. Uji dilatometer (DMT) juga dapat digunakan untuk perkiraan K0 lempung...9 m sampai 1.. perekahan dan peretakan massa tanah dapat meluas...... dan dengan atau tanpa tekanan balik. Uji triaksial atau uji geser langsung dapat digunakan untuk mendapatkan hubungan φ’ tanah. Nilai batas OCR dapat dihitung bila persamaan (21) sama dengan persamaan (22): OCRbatas = [ (1 + sin φ’ )/(1 – sin φ’ )2 ] (1/sinφ’) . f) Dengan menggabungkan penyajian Gambar 30 dengan persamaan (21).

. Gu). 1979) E’ = 2 G’ (1 + ν’ ) .Pd T-05-2005-A Gambar 30 Hubungan antara perkiraan kondisi tegangan lateral pasir dengan tahanan ujung terkoreksi berdasarkan hasil uji CPT (FHWA NHI-01-031) 4.... Untuk beban tidak terdrainase tidak terjadi perubahan volume (∆V/V = 0).................... G’. Cr....... indeks rekompresi (Cr) yang biasanya diambil sama dengan indeks pengembangan (Cs).... D’ = [ (1+e0) / Cr ] ln (10) σvo’ . Cs)............... dan atau koefisien reaksi subgrade (ks). K’............ perkiraan D’ yang terkait harus menggunakan Cc dalam persamaan (25)........ modulus tidak terdrainase (Eu... dapat dihubungkan dengan modulus konstrain (D’ = ∆σv’ / ∆εv) yang diperoleh dari uji konsolidasi sebagai berikut... sementara untuk beban terdrainase perubahan volumetrik dapat terjadi kontraktif (menurun) atau dilatif (meningkat)....... modulus terdrainase (E’. a) Secara statistik modulus elastis terdrainase berhubungan timbal balik dengan persamaan berikut (Lambe & Whitman.... Menurut teori elastisitas umumnya semua parameter deformasi berhubungan secara timbal balik... Hal-hal lainnya yang perlu dipertimbangkan adalah sebagai berikut.... Konstanta elastis diperkirakan seperti pada Gambar 31..5 Parameter kekakuan dan deformasi Kekakuan tanah dinyatakan dengan beberapa parameter yang meliputi indeks konsolidasi (Cc.. (25) yang berlaku hanya untuk bagian yang mengalami konsolidasi berlebih. D’)................... Sebagai contoh........ Jika beban pengurugan melebihi tegangan prakonsolidasi lapisan lempung alami di bawahnya sehingga tanah menjadi terkonsolidasi normal......... 39 dari 112 BACK Daftar Rsni 2006 (26) ....

........ dan bergantung pada laju regangan.. anisotropik....... hubungan antara modulus Young dan modulus geser menjadi Eu = 3 Gu ......... (27) (28) .2 adalah angka Poisson terdrainase untuk semua jenis tanah (Tatsuoka & Shibuya. tetapi untuk analisis penurunan dan perhitungan defleksi diperlukan perkiraan parameter deformasi........ Untuk beban tidak terdrainase......... (29) Modulus konstrain (D) dan modulus bulk (K) tidak berlaku untuk kondisi tidak terdrainase................. Kesulitan terbesar pada waktu memperkirakan besaran modulus biasanya terjadi karena adanya gangguan yang disebabkan selama pemasangan.. 40 dari 112 BACK Daftar Rsni 2006 ...................ν’) / [ (1 + ν’)(1 – 2 ν’) ] K’ = E’ / [ 3 (1 – 2 ν’) ] ... tingkat drainase.. Hal tersebut terjadi terutama bila perilaku kekuatan-tegangan-regangan tanah tidak linier. Modulus adalah nilai non-singular yang bervariasi sesuai dengan tingkat tegangan................ Data penetrasi dari hasil uji setelah respon tegangan-regangan sesuai dengan kekuatan material tanah diperlihatkan dalam Gambar 32. 1992). dan tingkat regangan....... Pada umumnya dari penyelidikan geoteknik hanya dihasilkan nilai-nilai SPT dan atau CPT....... Oleh karena itu......... angka Poisson ekivalen adalah νu ≈ 0...... dan pelat ulir........ dilatometer..............Pd T-05-2005-A D’ = E’ (1 ...................... beban pelat... Teori elastisitas biasanya digunakan untuk memperkirakan modulus elastis ekivalen (E)....... regangan dan laju pembebanan.... dengan ν’ ≈ 0....5...... Gambar 31 Perkiraan modulus elastis sesuai dengan syarat pembebanan dan syarat batas yang digunakan (FHWA NHI-01-031) b) c) Uji lapangan yang digunakan untuk memperoleh karakteristik deformasi tanah secara langsung mencakup uji pressuremeter.......

seperti diperlihatkan dalam Gambar 32. Faktor keamanan (FK) yang sesuai dengan keadaan tegangan awal (K0) sampai runtuh (τmax) dapat digabungkan dengan modulus.1 Modulus pada regangan kecil Berdasarkan penelitian mutakhir telah ditemukan kekakuan tanah pada regangan kecil dari hasil uji kecepatan rambat gelombang geser (Vs) yang berlaku untuk pembebanan monotonik statik awal maupun dinamik (Burland. yang menggambarkan kekakuan batas atas. Gambar 32 Kurva tegangan-regangan ideal dan kekakuan tanah pada regangan kecil dan besar (FHWA NHI-01-031) 4. Oleh karena itu. γT adalah berat volume total (berat volume jenuh yang dihitung dari persamaan (5) dan g = 9. LoPresti dkk. modulus geser dinamik asli (Gdin) didefinisikan sebagai modulus geser maksimum (sekarang disebut Gmax atau G0). 1993). 1989.Pd T-05-2005-A d) Data awal berupa kurva tegangan-regangan dari hasil uji pressuremeter (PMT) dan uji dilatometer (DMT) kemungkinan tidak signifikan. Parameter ini dinyatakan dengan persamaan G0 = ρT (Vs)2. dengan ρT = γT /g adalah kepadatan massa tanah total. kecuali jika dilakukan pengujian tanpa beban dan dibebani ulang untuk menentukan daerah elastis ekivalen yang lebih baik. Kekakuan awal yang dinyatakan oleh nilai dukung diperoleh dari kecepatan gelombang geser dan memberikan nilai batas (benchmark) yang jelas. 41 dari 112 BACK Daftar Rsni 2006 . Tatsuoka & Shibuya. 1992.5.8 m/det2 adalah konstanta gravitasi.

Hubungan antara G/G0 dan logaritma regangan geser dikenal untuk kondisi beban dinamik (Vucetic dan Dobry. Jenis-jenis uji ini menghasilkan modulus antara sepanjang kurva teganganregangan-kekuatan (Gambar 33).2 adalah nilai angka Poisson yang representatif untuk tanah pada regangan kecil. pada beban statik monotonik memperlihatkan disipasi (decay) regangan yang sangat besar.2 Reduksi modulus Reduksi modulus geser dengan perubahan regangan geser sering kali diperlihatkan dalam bentuk terkoreksi dengan membagi nilai G dengan Gmax atau G0. Gelombang geser dapat diperkirakan dengan kedua cara uji lapangan dan uji laboratorium (lihat buku pedoman volume II). lanau. seperti diperlihatkan dalam Gambar 34. kerikil. kerakal. Secara khusus modulus regangan kecil dari hasil uji kecepatan gelombang geser memberikan nilai acuan yang sangat baik. telah dikembangkan korelasi yang dikalibrasi antara jenisjenis uji khusus (misal PMT. b) c) Gambar 33 Variasi konseptual modulus geser dengan tingkat regangan akibat pembebanan monotonik statik dan hubungannya dengan uji lapangan ( FHWA NHI-01-031) 4. Modulus elastis ekivalen dihitung dari E max = E0 = 2 G0 (1 + ν) dengan ν = 0. pasir. 42 dari 112 BACK Daftar Rsni 2006 . 1991). Akan tetapi. karena merupakan kekakuan maksimum tanah pada angka pori dan keadaan tekanan keliling efektif tertentu. a) Nilai G0 adalah kekakuan dasar dari semua bahan padat (dalam teknik sipil) dan dapat diuji untuk semua jenis tanah mulai dari koloida.5. sampai batuan retakan dan batuan utuh. Pendekatan umum didasarkan atas kekakuan regangan kecil dari pengukuran gelombang geser dengan modulus awal (E0) yang dikurangi hingga tingkat tegangan yang memadai untuk mendapatkan FK yang diinginkan.Pd T-05-2005-A Hal-hal lain yang perlu diperhatikan ialah sebagai berikut. lempung. DMT) dan kinerja data yang dipantau dari fondasi dan bendungan skala penuh. Untuk tanah dan batuan tertentu.

σ3 ) adalah tegangan geser dan τmax = qult adalah kuat geser. a) Cara-cara perubahan penyajian reduksi modulus disesuaikan dengan tingkat tegangan geser. tidak terstruktur dan lempung. 1992). 1992. Jamiolkowski dkk. 1993. Hal-hal yang perlu diperhatikan ialah sebagai berikut.Pd T-05-2005-A Kurva dinamik (siklik) merupakan hasil uji resonant column yang representatif. Gambar 34 Reduksi modulus dengan log regangan geser untuk kondisi pembebanan monotonik awal (statik) dan dinamik (siklik) (FHWA NHI-01-031) Gambar 35 Modulus degradasi dari hasil uji laboratorium tanah dan batuan tidak tersementasi dan tidak terstruktur (FHWA NHI-01-031) 43 dari 112 BACK Daftar Rsni 2006 . sedangkan respon monotonik hanya diamati dengan pengukuran regangan lokal dan internal dalam uji triaksial dan torsi (Tatsuoka & Shibuya. (LoPresti dkk. 1995. Gambar 35 memperlihatkan pemilihan modulus sekan terkoreksi (E/E0) dengan perubahan tingkat tegangan (q/qult) yang diperoleh dari uji laboratorium pada pasir tidak tersementasi. 1994). Tatsuoka & Shibuya. Uji laboratorium geser monotonik telah dilaksanakan dalam kondisi geser triaksial dan torsi dengan pemasangan instrumen yang dapat mengukur regangan kecil. Tingkat tegangan dinyatakan sebagai τ / τmax atau q/qult dengan τ = q = ½ ( σ1 .

.... 1972. untuk (q/qult ) = 0... b) Persamaan hiperbola yang dimodifikasi dapat digunakan untuk memperoleh hubungan antara E/E0 dengan q/qult secara sederhana..... Hal tersebut dimaksudkan untuk mengasumsi pendekatan sederhana dalam penggunaan data kekakuan regangan kecil pada konstruksi di lapangan..Pd T-05-2005-A Gambar 36 Kurva-kurva modifikasi hiperbola untuk menggambarkan modulus degradasi (untuk f =1) (FHWA NHI-01-031) CATATAN : Tegangan geser yang bekerja..... Gambar 36 memperlihatkan kecenderungan untuk lempung tidak terstruktur dan pasir tidak tersementasi....5.... (30) dengan f dan g adalah parameter penyesuaian (fitting)..... q/qu = 1/FK dengan FK = faktor keamanan... Oleh karena itu......... 1998). 1999a)....5 berarti FK yang terkait = 2. 1993) E/E0 = 1 – f (q/qult )g ... 1970. Metode uji penetrasi konus seismik (Gambar 37) dan dilatometer seismik mempunyai keuntungan dalam pengumpulan data penetrasi dan pengujian geofisik karena dapat dilakukan secara bersamaan. E0 = 2 G0 (1 + ν’).. Perkiraan G0 langsung dan tidak langsung 4.. Hardin & Drnevich.2 dan G0 = ρT (Vs)2. uji downhole (DHT)...... Tatsuoka & Shibuya..3 memberikan perkiraan orde pertama untuk tanah tidak terstruktur dan tidak tersementasi (Mayne dkk....... dengan mengambil ν’ = 0. Bentuk umum diberikan sebagai berikut (Fahey & Carter. Tingkat tegangan kerja dapat diperhitungkan sebagai kebalikan faktor keamanan atau (q/q ult) = 1/FK... 1992) dan beberapa di antaranya mempunyai prinsip dasar atau penyesuaian lebih baik yang melingkupi seluruh rentang regangan dari yang kecil sampai sedang dan besar (Puzrin & Burland. c) Secara numerik untuk degradasi modulus (Duncan & Chang. dan penyesuaian data uji yang terbaik seperti diperlihatkan dalam Gambar 35.. 44 dari 112 BACK Daftar Rsni 2006 .3 Cara pengukuran profil kecepatan rambat gelombang geser adalah cara yang paling sederhana dan ekonomis dalam perkiraan kekakuan tanah pada regangan kecil.. uji gelombang permukaan (SASW) maupun uji laboratorium resonant column (RCT).. Beberapa metode yang diuraikan dalam buku pedoman volume II mencakup uji crosshole (CHT). Nilai-nilai f = 1 dan g = 0.

Selain metode lapangan untuk penyusunan profil Vs. a) Dalam Gambar 37 diperlihatkan hasil optimisasi pengumpulan data dari empat hasil pembacaan. seismic refraction dan seismic reflection. semua nilai G0 diperoleh dari pengukuran lapangan dengan menggunakan metode downhole (DHT atau SCPTu) atau uji crosshole (CHT) atau dengan analisis spektral gelombang permukaan (SASW). pengukuran langsung G0 tidak dapat dilakukan dan diperlukan estimasi. kecenderungan terjadi antara G0 dan modulus dilatometer ED (Gambar 41). dan dikurangi sampai tingkat regangan atau tegangan yang memadai. Pada umumnya. seperti diperlihatkan dalam Gambar 39. Dalam hal ini. seperti diperlihatkan dalam Gambar 38. Faktor keamanan relatif (FK) telah dipertimbangkan untuk masing-masing kondisi dari nilai modulus geser awal (G0) baik diukur langsung atau diperkirakan. dan kecepatan rambat gelombang geser (Vs ). b) c) d) e) 45 dari 112 BACK Daftar Rsni 2006 . Untuk memperkirakan Vs dengan metode uji laboratorium. tekanan air pori (u2). geseran selimut (fs). alat-alat geser torsi dan triaksial dilengkapi dengan instrumen khusus. telah dikembangkan metode uji downhole suspension logging. yang terdiri atas tahanan ujung (qT). Perubahan lempung yang signifikan akan langsung berhubungan dengan modulus tertahan hingga modulus dasar G0. Hubungan antara G0 dan tahunan ujung lempung terkoreksi (Gambar 40) juga bergantung pada angka pori insitu (e0). Modulus geser pasir kuarsa pada regangan kecil dapat diperkirakan dari tahanan ujung konus dan tegangan overburden efektif. Oleh karena itu perlu dibuat rangkaian hubungan korelatif CPT dan DMT yang berurutan. yang dapat digunakan untuk memeriksa keandalan data yang diperlukan.Pd T-05-2005-A Gambar 37 Contoh hasil uji pisokonus seismik (SCPTu) dalam profil tanah berlapis (FHWA NHI-01-031) Uraian penjelasannya adalah sebagai berikut. seperti diperlihatkan dalam Gambar 42. Dengan cara yang sama diperoleh pula hubungan untuk mendapatkan G0 pasir kuarsa dari uji dilatometer (DMT). Dengan cara yang sama untuk uji dilatometer (DMT) pada lempung.

Pd T-05-2005-A G0 ) qc ) dalam kPa σ’v0 ) Gambar 38 Rasio G0/q c dengan tahanan ujung terkoreksi CPT untuk pasir tidak tersementasi (Baldi dkk. 1989) 46 dari 112 BACK Daftar Rsni 2006 . 1989) Gambar 39 Rasio G0/ED dengan hasil pembacaan penormalan DMT untuk pasir kuarsa bersih (Baldi dkk.

1993) Gambar 41 Kecenderungan antara G0 dan modulus DMT ED dalam tanah lempung (Tanaka & Tanaka. 1998) 47 dari 112 BACK Daftar Rsni 2006 . qT dalam tanah lempung (Mayne & Rix.Pd T-05-2005-A Gambar 40 Kecenderungan antara G0 dan tahunan ujung CPT.

Nilai-nilai kelulusan air tipikal untuk suatu rentang perbedaan jenis tanah diberikan dalam Tabel 1. 1985). Dalam buku pedoman volume II telah diuraikan uji lapangan kelulusan air tanah termasuk uji pemompaan dengan uji tinggi tekan turun (falling head test). dan uji laboratorium yang meliputi uji tinggi tekan turun dan uji tinggi tekan konstan (constant head test) dalam permeameter.Pd T-05-2005-A Gambar 42 Modulus (D’) vs modulus geser (G0) lempung (Burns & Mayne. Hasil-hasil pembacaan disipasi tekanan dari pisokonus dan dilatometer serta uji penahanan (holding) selama uji pressuremeter dapat digunakan untuk memperkirakan kelulusan air dan koefisien konsolidasi (Jamiolkowski dkk. serta perkiraan kelulusan air tidak langsung dari uji konsolidasi.6 Sifat-sifat aliran Sifat-sifat aliran dalam tanah berfungsi mengontrol kelulusan air (k). dan metode packer. 1998) 4. perilaku waktu konstruksi. laju konsolidasi. dan karakteristik drainase dalam tanah dasar. Berikut ini diuraikan pendekatan dengan cara pisokonus. 48 dari 112 BACK Daftar Rsni 2006 . uji slug.

. pembacaan u2 yang besar dari lapisan lempung pada kedalaman 11-19 m....... kelulusan air horisontal (kh) dapat dihitung dari persamaan : kh = ch γw / D’ ......... Kelulusan air (k) dapat diperkirakan dari data hasil uji disipasi. 4... 49 dari 112 BACK Daftar Rsni 2006 ............. Jika penetrasi dihentikan.............. (31) dengan D’ adalah modulus konstrain yang diperoleh dari hasil uji oedometer.Pd T-05-2005-A Tabel 1 Nilai kelulusan air tanah yang representatif (Carter dan Bentley.1 Disipasi monotonik Tekanan air pori berlebih (∆u) dihasilkan pada waktu penetrasi suatu probe dalam tanah berbutir halus (tiang........... Laju disipasi bergantung pada koefisien konsolidasi horisontal (ch) dan kelulusan air (kh) media tanah......... ∆u akan berkurang dan menjadi nol (transduser tekanan air pori akan membaca nilai hidrostatik u0). Dengan asumsi aliran radial..... baik dengan menggunakan hubungan korelatif langsung yang telah diuraikan sebelumnya atau secara alternatif dengan evaluasi koefisien konsolidasi ch... konus.. Sebagai contoh.6. 1991) * CATATAN : Tanda bintang memperlihatkan bahwa nilai kelulusan air bisa lebih besar daripada nilai tipikal. pisau).

Pd T-05-2005-A Contoh hasil disipasi pisokonus untuk kedua jenis elemen filter 1 dan 2 dapat dilihat dalam Gambar 43a dan 43b... Metode lintasan regangan (Teh & Houlsby..... solusi lintasan regangan (Teh & Houlsby... Untuk respon disipasi monotonik. (32) dengan T* adalah faktor waktu yang dimodifikasi dari teori konsolidasi.. Beberapa solusi yang diberikan untuk faktor waktu yang dimodifikasi T* berdasarkan teori yang berbeda... meliputi pengembangan rongga...... IR = G/su adalah indeks kekakuan tanah dan t adalah waktu terukur pada data disipasi (biasanya diambil pada keseimbangan 50%)..a2 √IR) / t50 ............. a adalah jari-jari probe.... 1991) dapat digunakan untuk menghitung ch dari persamaan ch = (T*. Hal ini disebut sebagai nilai disipasi tekanan air pori monotonik yang disebabkan pembacaan selalu berkurang sesuai dengan waktu untuk lanau dan lempung lunak sampai teguh..... lintasan regangan.. 1991) diperlihatkan dalam Gambar 43a dan 43b untuk kedua elemen tipe bidang tengah dan tepi/selimut masing-masing....... 1998)... dan peralihan titik (Burns & Mayne................ Gambar 43a Modifikasi faktor waktu untuk disipasi tekanan air pori monotonik u 1 Gambar 43b BACK Modifikasi faktor waktu untuk disipasi tekanan air pori monotonik u 2 50 dari 112 Daftar Rsni 2006 .

... dan (c) korelasi empiris.. Untuk memberikan interpretasi ch sesuai dengan pembacaan t50 digunakan penetrometer.. Untuk keadaan khusus 50% konsolidasi..8 . (b) hasil uji pressuremeter. yang dinyatakan dengan IR sesuai dengan OCR dan indeks plastisitas (PI).2 /26} ] 0. yaitu (a) kurva tegangan-regangan uji triaksial.......245 untuk tipe 2 (elemen selimut)..... lihat Gambar 45 yang memperlihatkan grafik untuk berbagai nilai I R.. 2001). diperlihatkan dalam Gambar 45.Pd T-05-2005-A Gambar 44 Koefisien konsolidasi pada 50% disipasi dari hasil pembacaan tekanan air pori bagian tepi (FHWA NHI-01-031) Penentuan t50 dari disipasi tekanan air pori selimut dengan contoh diperlihatkan pada Gambar 44. faktor waktu masing-masing adalah T* = 0... Salah satu korelasi yang berdasarkan data hasil uji tekan triaksial terkonsolidasi anisotropik..... Untuk penggunaan secara luas. rumus empiris didekati dengan IR ≈ exp [ (137-PI) / 23 ] / [1+ln {1+ (OCR-1)3. Indeks kekakuan (IR) lempung adalah rasio modulus (G) terhadap kuat geser (su) lempung yang diperoleh dari beberapa cara yang berbeda. 51 dari 112 BACK Daftar Rsni 2006 .118 untuk tipe 1 (elemen bidang tengah) dan T* = 0.. (33) Pendekatan tambahan untuk memperkirakan nilai IR telah dikaji dalam referensi lain (Mayne..

mencapai nilai puncak........... Perkiraan solusi 50% agak meragukan sehingga pendekatan pendahuluan tidak dapat diaplikasikan. dan (∆ugeser)i = σvo’ [1 – (OCR/2) Λ ] adalah komponen pengaruh geser selama penetrasi..... Tekanan air pori berlebih awal dari hasil uji (∆ui = u2 – u0) dapat dihitung dengan persamaan ∆ui = (∆uoct )i + (∆ugeser)i .... Beberapa hal yang perlu dipertimbangkan adalah sebagai berikut... 52 dari 112 BACK Daftar Rsni 2006 . dan penurunan ∆u dengan waktu (Lunne dkk.... (34) b) c) dengan (∆uoct)i = σvo’ (2M/3)(OCR/2)Λ ln (IR) adalah komponen oktahedral selama penetrasi....... Respon pengembangan diamati baik selama uji pisokonus tipe 2 maupun selama pemasangan tiang pancang dalam tanah berbutir halus. yang mengacu pada kelambanan waktu dan penyebab gejala pengembangan (dilation).. Tekanan air pori berlebih ∆ut pada suatu waktu t dapat dibandingkan dengan nilai awal selama penetrasi (∆ui)... 1998)...... a) Secara matematik dapat dihasilkan solusi keadaan kritis baik untuk disipasi monotonik maupun disipasi berlebih (dilatory) untuk menentukan hubungan tekanan air pori berlebih dengan waktu (Burns & Mayne.2 Disipasi berlebih (dilatory dissipations) Pada beberapa jenis material tanah berekah dan terkonsolidasi berlebih.6. Jenis respon ini disebut disipasi berlebih (dilatory).......... Tekanan air pori berlebih ∆ut pada waktu t dapat dibandingkan dengan nilai awal selama penetrasi (∆ui).. seluruh kurva akan memberikan nilai-nilai ch yang terbaik.. Secara praktis dapat diberikan bentuk persamaan yang mendekati perkiraan.Pd T-05-2005-A Gambar 45 Perkiraan indeks kekakuan dari OCR dan indeks plastisitas (Keaveny & Mitchell. uji disipasi awal dapat menunjukkan peningkatan ∆u dengan waktu. 1986) 4. 1997)... Dalam salah satu titik yang sesuai dengan kurva disipasi (misal t50).........

Pd T-05-2005-A d) Tekanan air pori pada suatu waktu (t) diperoleh sesuai dengan faktor waktu yang dimodifikasi T* dari persamaan ∆ut = (∆uoct )i [ 1+ 50 T’ ] -1 + (∆ugeser)i [1+5000T’] -1 . Kemudian uji coba digunakan untuk mendapatkan ch yang paling tepat dengan data disipasi hasil uji. (5) serpih dan material yang mudah mengalami degradasi. dan φ’ = 250. (6) pasir tersementasi .7 Tanah bersifat khusus Dalam desain bangunan air sering ditemukan jenis-jenis tanah atau batuan alami yang bersifat khusus. Salah satu contoh susunan kurva yang diberikan dalam Gambar 46 untuk berbagai OCR dan parameter Λ = 0. Jenis-jenis tanah bersifat khusus yang akan diuraikan dalam pedoman ini adalah (1) tanah kolapsibel dan loess. dimaksudkan untuk mendapatkan faktor waktu secara konvensional T = (ch t ) / a 2 ..75).. Gambar 46 Solusi yang representatif untuk kurva disipasi berlebih tipe 2 pada berbagai nilai OCR (Burns & Mayne. cara uji dan karakteristik teknis dari jenisjenis tanah tersebut diuraikan pada Tabel 2. Ikhtisar cara identifikasi.. (2) tanah ekspansif.... 1998) 4... Rangkaian kurva disipasi dapat dikembangkan untuk serangkaian hasil uji tanah. (35) dan perbedaan faktor waktu yang dimodifikasi dihitung dengan T‘ = (ch t)/(a2 IR 0. 53 dari 112 BACK Daftar Rsni 2006 .... (4) tanah koluvium dan talus. (8) tanah tidak jenuh. (3) tanah organik dan gambut (peat)...8. (7) lempung sensitif. IR = 50. kesulitan pengambilan contoh. Pada lembaran terpisah kolom nilai asumsi T’ (logaritmik) digunakan untuk menurunkan waktu (t) terkait pada indeks kekakuan (IR) tertentu dan jari-jari probe (a).

berserat dan bila terganggu tidak bisa kembali ke kondisi awalnya. Tanah organik dan gambut (peat) • Contoh sangat lunak. air dapat tertumpuk pada bidang batas antara koluvium dan fragm en batuan • Talus: material setempat berada pada kondisi dengan kemiringan lereng sama dengan sudut geser dalam (FK=1).Pd T-05-2005-A Tabel 2 Deskripsi tanah Loess dan tanah kolapsibel Ikhtisar cara identifikasi. Cara geofisik dapat digunakan untuk menentukan tebal talus Kolovium dan talus • Koluvium: dapat terbentuk perlapisan tipis lemah yang akan mempengaruhi kestabilan lereng. tidak bisa kembali (irrecoverable) pada waktu pembasahan • Untuk mengetahui karakteristik teknisnya. pengujian harus dilakukan dengan beberapa variasi kadar air pada kedalam an yang terpengaruh oleh perubahan musim. lanau dan lempung dengan ikatan lemah hasil pengendapan karena proses peniupan angin (loess) • Lempung lanauan dengan tanda struktur yang lepas dan ikatan antara partikel yang lemah (tanah kolapsibel) • Tanah dengan kadar lempung tinggi. • Serpih yang sulit mengeras. karena pengaruh serat • Koluvium: lensa-lensa material berbutir halus dengan fragmen batu sangat mempersulit pengambilan contoh tidak terganggu. pengambilan contoh sulit dilakukan. • Batulempung dan batulumpur yang bersifat mudah terdegradasi dari sifat asli batuan dasarnya bila berhubungan dengan air. • Potensi korosi sangat tinggi. • Terutama di daerah kering dan semi kering yang mengalami siklus pembasahan dan pengeringan. • Untuk mengetahui karakteristik teknisnya. • Bahan yang tertumpuk bila berupa campuran tanah berbutir halus dengan fragmen batu disebut sebagai koluvium dan campuran tanah berbutir kasar dengan bongkahbongkah disebut sebagai talus. namun air dapat merusak ikatan. nilai NSPT rendah. Serpih (shale) dan material lain yang berpotensi mudah terdegradasi (turun kualitas) • Material di lapangan bersifat seperti batuan. berupa lempung lanauan dengan plastisitas rendah yang telah mengalami proses pelarutan (leaching) garam. sehingga tampak seperti pasir padat. • Uji penetrasi tidak dapat menembus. • Kestabilan lereng dapat menurun secara drastis • Penentuan karakteristik teknis harus dilakukan pada kadar air desain yang ditentukan (jenuh) • Tanah bersifat mudah rapuh tetapi sangat kuat. bila terjadi perubahan kadar air. • Tanah pasiran tersementasi dengan ikatan antara butir dengan butir dengan garam atau kapur. Tanah ekspansif (expansive) • Dapat mengalami perubahan volum e cukup besar yang bisa kembali. Pembuatan sumur atau parit uji sangat membantu. pengujian harus dilakukan pada kadar air desain yang ditentukan. karena pengaruh struktur tidak stabil yang melekat. sehingga menghasilkan retak desikasi (pengeringan) yang dalam. karena sangat berbahaya bila mengalami degradasi dan sifatnya berubah bila berhubungan dengan air. • Uji lapangan memberi hasil yang terlalu tinggi. cara uji dan karakteristik teknis Kesulitan pemgambilan contoh dan cara uji • Mempunyai kadar air dan berat volume rendah. • Uji lapangan dengan CPT dan DMT sangat baik untuk menentukan parameter lapangan • Mempunyai kadar air rendah di musim kering • Penuh dengan rekahan • Sulit memperoleh contoh tanah tidak terganggu Identifikasi tanah • Pasir. • Sangat kompresibel dan mengalami penurunan sekunder yang sangat tinggi. • Bahan sementasi dapat larut atau tidak larut * Endapan laut. • Talus: bongkah-bongkah sangat mempersulit penyelidikan geoteknik. • Struktur sensitif yang akan mengalami keruntuhan pada waktu pengambilan contoh tidak terganggu. • Pengeboran dengan teknik penyemprotan air sulit dilakukan. 54 dari 112 BACK Daftar Rsni 2006 . sehingga terbentuk struktur tidak stabil (metastable) Karakteristik teknis • Mudah tererosi • Jika mengalami keruntuhan. • Mudah runtuh bila bahan pengikat larut • Kuat geser jangka panjang dapat berubah sama dengan kondisi tidak tersementasi Lempung sensitif * Tanah di lapangan dapat runtuh tanpa ada sedikit atau sama sekali tidak ada tandatanda awal. * Struktur yang tidak stabil (metastable) mempersulit pengambilan contoh tidak terganggu. • Bertekstur serat / serabut (fibrous) • Kehilangan berat/massa waktu pemanasan • Material lapuk yang bermigrasi dan tertumpuk di sisi atau di kaki lereng. harus dilakukan dengan teknik khusus yaitu foil sampler Pasir tersementasi • Penggunaan sebagai bahan urugan tidak dianjurkan. Harus dengan pengeboran kering. kesulitan pengambilan contoh. • Pengambilan inti sangat dibutuhkan. • Kadar air tinggi (>120%) relatif terhadap plastisitas. • Nilai SPT tinggi.

Pembahasan secara terperinci aspek-aspek ini dapat dilihat pada literatur (Goodman. Dari ketiga jenis batuan utama (beku. khususnya di daerah yang meliputi lereng batuan. Zona geser dan patahan yang penting dapat juga digambarkan pada diagram tersebut. lihat Tabel 3. Bidang longsoran utama dan kekar harus dirinci pada peta dengan nilai yang sesuai dengan sudut dip dan arah dip (atau strike). zona geser. yaitu batuan utuh yang padat dan massa batuan. Batuan serpih (serpih lempung. malihan dan sedimen). 1989. batuan sedimen mencapai 75% dari batuan terbuka di permukaan tanah. Kecuali uji ketahanan. rangkaian diskontinuitas utama. hasil uji laboratorium secara tidak langsung dapat digunakan untuk desain bangunan yang dibangun di dalam atau di atas massa batuan. Pough. dan ebatmen bendungan. batulumpur dan batulempung) yang menonjol. retakan dan bidang perlemahan. Rincian klasifikasi geologi jenis batuan dan pengujian petrografi di laboratorium akan diperlukan untuk proyek-proyek besar termasuk konstruksi di atas batuan. Langkah awal selama peninjauan lapangan dan penyelidikan jenis batuan utama digolongkan sebagai jenis batuan dasar. namun kuat gesernya di lapangan sangat berbeda dengan hasil uji di laboratorium. karena pengujian di laboratorium pada umumnya dilakukan pada kondisi jenuh. terowongan. Kelompok besar diskontinuitas yang paling baik diberikan dalam rangkuman statistik pada diagram jaringan stereo dan polar. dan patahan. rekahan. 5 5. Pemetaan lapangan oleh tenaga ahli geologi diperlukan untuk deskripsi pola kekar. • Hasil uji lapangan tidak dapat digunakan untuk kondisi desain.Pd T-05-2005-A Lanjutan Tabel 2 Deskripsi Identifikasi tanah tanah Tanah tidak jenuh (unsaturated soils) * Hampir semua jenis tanah yang ditemukan berada di atas muka air tanah Kesulitan pemgambilan contoh dan cara uji • Tanah tidak jenuh mempunyai kuat geser lebih tinggi dibandingkan tanah jenuh. kadang-kadang tanah bersifat rapuh pada kadar air aslinya Karakteristik teknis • Jenis-jenis tanah alami ini ditemukan secara luas. kecuali dalam batuan lunak dan porus serta yang mudah lapuk. tetapi kondisi tidak terdrainase mempersulit untuk melakukan analisis. Jaringan rekahan membagi massa batuan ke dalam blok-blok prismatik yang berlainan yang mempengaruhi respon dan kinerjanya.1 Interpretasi hasil uji batuan Pendahuluan Pada umumnya sifat teknik massa batuan akibat pembebanan dapat diperkirakan pertama-tama oleh diskontinuitas. jurang. Tabel 3 Aspek butiran kasar sedang halus Klasifikasi jenis batuan utama berdasarkan sumber geologi Jenis batuan malihan (metamorfik) Foliated Masif gneiss marmer schist phyllit slate kuarsa amphibolite Jenis batuan beku (igneous) Intrusif Ekstrusif pegmatit vulkanik granit breksi diorit tufa diabas rhyolit Basal obsidian Jenis batuan sedimen Klastik konglomerat breksi batupasir batulanau Serpih batulumpur Karbonat batugamping konglomerat batugamping kapur calcareous batulumpur 55 dari 112 BACK Daftar Rsni 2006 . celah-celah. Blok batuan utuh antara diskontinuitas biasanya cukup kuat. • Uji lapangan cukup bermanfaat untuk memperkirakan parameter teknis. meliputi 50% lebih dari batuan sedimen terbuka (Foster. 1975). batulanau. Distribusi jenis batuan di Indonesia diperoleh dari peta geologi yang dikeluarkan oleh Direktorat Geologi. kekar. Sistem klasifikasi untuk menggolongkan tanah dan batuan terdiri atas dua macam. • Tidak dibutuhkan teknik pengambilan contoh secara khusus. 1988).

Rincian dan pertimbangan lainnya dibahas dalam Wyllie (1999) seperti penjelasan pada Gambar 47. 1989). Hal ini dapat dikerjakan dengan penyemprotan lapisan pelindung pada permukaan batuan segar yang terbuka.Pd T-05-2005-A Alternatif sistem klasifikasi dapat berdasarkan aspek-aspek perilaku (Goodman. Tabel 4 memberikan skala waktu geologi umum dan perioda yang terkait. stabilitas lereng). Beberapa jenis batuan dapat digunakan untuk menduga masalah yang mungkin terjadi dalam konstruksi. galian. akan hancur dan menghasilkan material yang kurang lulus air dibandingkan dengan urugan batuan. untuk membantu pemilihan perlapisan stratigrafi dan perkiraan profil geoteknik. menggunakan beton semprot (gunite) dan jala. rongga). Jika serpih yang digunakan dalam timbunan dipadatkan. 1999). pemasangan drainase horisontal. batuan tua mempunyai porositas lebih rendah dan kekuatannya lebih tinggi daripada batuan muda (Goodman. dan diabas (bongkah).000 2 juta 5 juta 26 juta 38 juta 54 juta 65 juta 130 juta 185 juta 230 juta 265 juta 310 juta 355 juta 413 juta 425 juta 475 juta 570 juta 3. Masalah-masalah khusus biasanya terjadi dalam batugamping (lubang amblesan. atau dibangun perletakan struktural yang disusun dengan teliti (blok batuan. Jika dilakukan penggalian fondasi bangunan. tiang bor/turap). sering kali dicatat nama dan umur satuan batuan khusus. Dalam hasil pemetaan lapangan dan operasi inti batuan. permukaan bidang dukung harus dilindungi terhadap slaking dan atau penyembulan. serpentin (keadaan licin). Rincian mineral batuan khusus dan limpahan relatif diperlukan dalam perkiraan petrografik jenis batuan. Kemerosotan kelompok batuan serpih dan batupasir tersementasi dengan lemah dapat menimbulkan banyak masalah pemeliharaan dalam sistem jalan raya nasional. tembok penahan.9 milyar 4. angker. dan fondasi. serpih bentonit (pengembangan. Pada umumnya. Pemeliharaan lereng dapat dilakukan dengan membuat lereng lebih landai. 1989) atau komposisi dan tekstur (Wyllie. 56 dari 112 BACK Daftar Rsni 2006 .7 milyar Tertiary Mesozoic Paleozoic Cretaceous Jurassic Triassic Permian Carboniferous Pennsylvanian Missisippian Devonian Silurian Ordovician Cambrian Precambrian (batuan paling tua) Mulai pembentukan bumi Sebagai contoh kemerosotan lereng galian serpih dapat menyebabkan lereng lebih landai dan atau ketidakstabilan. Tabel 4 Zaman Cenozoic Periode Quaternary Skala waktu geologi Masa Holocene-Recent Pleistocene Pliocene Miocene Oligocene Eocene Paleocene Batas waktu (bbrp thn lalu) 10. konstruksi timbunan (bendungan). seperti beton semprot (gunite atau shotcrete). tetapi di luar lingkup bahasan disini.

Gambar 47 Faktor dan parameter yang mempengaruhi pemetaan geologi dari ciri-ciri massa batuan (Wyllie. harus dilakukan suatu percobaan pengembangan korelasi yang dapat diterapkan pada lapisan batuan khusus.2 Hasil uji batuan utuh (intact) 57 dari 112 BACK Daftar Rsni 2006 . disarankan mengacu pada referensi asli untuk memahami dasar korelasi dan sistem klasifikasi yang diberikan dan untuk informasi tambahan. Oleh karena itu. untuk menghemat waktu dan upaya sesuai dengan aspek keamanan dan ekonomi secara keseluruhan. khususnya digunakan skema klasifikasi massa batuan dan sesuai dengan desain struktur batuan.Pd T-05-2005-A Seperti dalam evaluasi hasil uji tanah. Untuk itu. 1999) 5. korelasi hasil uji batuan yang dilaporkan dalam literatur teknik seringkali mempunyai basisdata yang terbatas. Oleh karena itu. Dalam penyajian uraian umum hasil uji batuan utuh dan massa batuan dengan kekar. sehingga harus digunakan dengan hati-hati. sejumlah korelasi telah dikembangkan untuk interpretasi hasil uji batuan.

..... kaolinit. mika dan kelompok mineral lempung (illit... Berat volume jenuh (γsat ) batuan dapat dinyatakan dengan persamaan 58 dari 112 BACK Daftar Rsni 2006 .... Nilai berat jenis bulk dari kelompok tersebut memberikan nilai ratarata yang representatif Gs ≈ 2..1 untuk beberapa jenis batuan... karena berat jenis mineralmineral dasar pembentukan batuan menunjukkan rentang kecil..43 pcf.81 kN/m = 62. Nilai Gs mineral tertentu diberikan dalam Gambar 48. smektit).. sehingga harus disesuaikan dengan kondisi skala penuh untuk mewakili kondisi massa batuan secara keseluruhan....7 ± 0...Pd T-05-2005-A Informasi tanda-tanda dan sifat-sifat batuan utuh alami diperoleh dari hasil uji laboratorium pada spesimen batuan yang kecil.......2...... Kuat tekan batuan utuh cenderung meningkat sebanding dengan meningkatnya berat volume.2.2 Berat volume Berat volume batuan diperlukan dalam perhitungan profil tegangan overburden sesuai dengan desain lereng batuan dan sistem penopang terowongan.. (36) 3 dengan berat volume air adalah γair = 9.... berat volume merupakan suatu indikator tingkat satuan batuan jangka pendek dan menjadi indikator kuat tekan batuan secara tidak langsung.. Berat volume kering jenis batuan berbeda yang representatif diperlihatkan dalam Tabel 5.. klorida.1 Berat jenis (spesifik graviti) Berat jenis (Gs) batuan padat yang berbeda bergantung pada mineral dan persentase relatif komposisinya. Mineral yang sangat umum terdiri atas kelompok kuarsa dan feldpars maupun kalsit....... Berat volume kering (γdry) dihitung dari berat jenis bongkah padat dan porositas (n) batuan menurut persamaan γdry = γair Gs (1 – n) .. Selain itu.. Gambar 48 Berat jenis padat mineral batuan yang terpilih 5... 5.

.3 Kecepatan ultrasonik Kecepatan rambat gelombang tekan dan geser dari benda uji batuan dapat diuji di laboratorium dengan menggunakan teknik ultrasonik........ batupasir dan batugamping memperlihatkan adanya pengaruh perbedaan (variasi) porositas... (37) Rumus-rumus tersebut berlaku untuk tanah dengan menggunakan angka pori yang lebih umum.. Perbedaan berat volume yang besar untuk serpih. 3 Catatan: 9.Pd T-05-2005-A γsat = γair [Gs (1 – n) + n] ........ 3.. Hubungan timbal balik antara porositas dan angka pori (e) cukup sederhana. Berat volume kering batuan adalah berat volume batuan lapuk sedang sampai tidak lapuk. Kemungkinan adanya berat volume spesimen yang berada di luar rentang tersebut..... kedalaman dan umur.....2... Nilai-nilai gelombang ini dapat digunakan sebagai indikator tingkat pengaruh cuaca dan kekerasan batuan maupun dibandingkan dengan uji lapangan setempat sesuai dengan pengembangan celah-celah dan diskontinuitas massa batuan besar.4 pcf... 59 dari 112 BACK Daftar Rsni 2006 ... dan rentang gelombang geser (Vs) antara 2000 sampai 3500 m/det untuk batuan utuh.. 2.81 kN/m = 62...... Tabel 5 Rentang berat volume kering batuan yang mewakili 3 Jenis batuan Rentang berat volume (kN/m ) 20 – 25 serpih 18 – 27 batupasir 19 – 27 batugamping 23 – 28 schist 23 – 29 gneiss 25 – 29 granit 20 – 30 basal 1. Rangkuman data dalam Gambar 50 memperlihatkan rentang umum gelombang tekan (V p) antara 3000 sampai 7000 m/det. Berkurangnya berat volume jenuh dengan meningkatnya porositas disajikan dalam Gambar 49 untuk berbagai batuan dan rentang tertentu nilai-nilai berat jenis...... Gambar 49 Berat volume batuan jenuh sesuai dengan porositas dan berat jenis (FHWA NHI-01-031) 5. sementasi... ukuran butir.. yaitu n = e / (1+e)..

30 0.2 Batupasir Navajo 214.0 39. Tabel 6 Parameter benda uji batuan utuh dari basisdata di USA (Goodman.25 0.9 Hasil statistik: Rata-rata = 135.22 0.1 32.6 41.0 15. atau uji triaksial yang lebih canggih (lihat rinciannya dalam Gambar 51 dan 52).5 3.1 4.0 2.0 Granit Nevada 141.3 Dolomit Oneota 86.3 26.34 0.25 0.8 Qu (Mpa) Kuarsa Baraboo 320.18 0.5 Marmer Cherokee 66.0 Schist mika kuarsa 55.4 11.1 13.9 Diabase Palisades 241.ε pada waktu pembebanan tidak terkekang adalah kuat tekan uniaksial (qu atau σu yang ditentukan).4 Kuat tekan Perilaku tegangan-regangan-kekuatan dari benda uji batuan utuh dapat diukur selama uji tekan uniaksial (tekan tidak terkekang).2.9 0.5 193.5 29.32 0.8 6.29 0.8 36.38 0.1 10.9 Gneiss Dworshak dam 162.0 Batugamping Tavernalle 97.7 21.0 14.2 3.0 1.5 24.0 Serpih Flaming Gorge 35.29 0.22 0.7 Catatan: 1 Mpa = 10.7 1.2 Batulanau Hackensack 122.0 100.1 11.40 0.08 Rasio Qu/T0 29.4 11.1 8.6 1.11 0.0 Basal Nevada 148.29 0.34 0.1 Tufa Nevada 11.0 Batugamping Bedford 51.5 167.28 0.5 Standar deviasi = 93. sebagai bahan pembanding batuan utuh di Indonesia T0 (Mpa) 11.0 19.7 Basal John Day 355.3 63.7 ER (Mpa) 88320 28509 19262 19184 55795 53622 5526 29571 83780 51020 11130 39162 34928 73795 36499 43885 81699 70512 20700 63700 47926 55803 44613 25716 ν (-) 0.3 53.0 Granit Pikes Peak 226.17 0.Pd T-05-2005-A Gambar 50 Kecepatan rambat gelombang P dan S yang representatif pada material batuan utuh (FHWA NHI-01-031) 5.1 35. 1989).2 6.2 3.46 0.29 0.29 0.0 1.8 Tonalit Cedar City 101.0 Batupasir Berea 73. Tegangan puncak dari kurva σ .4 23.29 0.3 11.0 Marmer Taconic 62.1 19.3 12.0 Dolomit Lockport 90.5 4.3 Serpih micaceous 75.0 25.6 4.4 1. Nilai qu dapat diperkirakan dari indeks beban titik (Is) yang mudah dilakukan di lapangan.1 psi Material batuan utuh 60 dari 112 BACK Daftar Rsni 2006 .9 0.31 0.34 0.45 tsf = 145.9 5.6 Rasio ER/qu 276 559 261 189 834 331 157 241 236 565 148 183 236 523 323 505 339 312 375 260 773 570 372.4 61.2 Batugamping Solenhofen 245.9 37.

Dengan cara yang sama berlaku juga untuk profil residu dengan transisi dari tanah ke batuan saprolit dan batuan lapuk serta batuan yang diperlukan.5 ksi). Kuat tekan dengan rentang besar dapat terjadi pada jenis batuan geologi khusus. lapisan heterogen. sudut ukuran butir. 1989). Oleh karena itu. 1991) Kuat tekan digunakan sebagai indeks awal kemampuan batuan utuh. 5. dan konstruksi fondasi. Kuat tekan juga bergantung pada orientasi penggunaan beban sesuai dengan mikrostruktur (misal foliasi dalam batuan malihan dan bidang perlapisan dalam batuan sedimen). kuat tekannya berkisar antara 11 sampai 355 Mpa (1. diperlihatkan dalam Gambar 52. Gambar 51 menunjukkan perbandingan dari beberapa skema klasifikasi.2. 61 dari 112 BACK Daftar Rsni 2006 . Hal ini khususnya digunakan untuk menentukan perbedaan antara lempung keras sampai serpih. karena batasan transisi dari tanah ke batuan tidak begitu nyata dalam material sedimen ini. dengan nilai rata-rata qu = 135 Mpa (19. Basisdata ini. Hal itu penting sekali dalam kontrak pekerjaan sesuai dengan hasil penggalian batuan vs tanah. biasanya dilakukan evaluasi kuat tarik berdasarkan metode tidak langsung yang meliputi uji tarik belah (uji Brazilian. lihat Gambar 53). karena hasil yang pertama lebih mahal daripada yang kedua selama penyusunan gradasi lapangan. Gambar 51 Klasifikasi kuat tekan material batuan utuh segar (Kulhawy. sementasi. bergantung pada porositas. dan O’Rourke. derajat pelapukan. Trautmann. atau sebagai alternatif uji lengkung untuk mendapatkan modulus keruntuhan. penggalian dalam. Hubungan timbal balik sesuai dengan kriteria Mohr kuat tekan dan kuat tarik.6 – 51.7 ksi).Pd T-05-2005-A Nilai-nilai kuat tekan dari berbagai spesimen batuan utuh yang representatif diberikan dalam Tabel 6 (Goodman.5 Kuat tarik tidak langsung Batuan relatif lemah dalam tarikan sehingga kuat tarik (T0) batuan utuh lebih kecil daripada nilai kuat tekannya (qu). dan derajat penyumbatan timbal balik butiran mineral.

6 Modulus elastisitas batuan utuh Modulus Young (ER) batuan utuh diuji pada waktu pembebanan tekan uniaksial atau tekan triaksial (lihat Gambar 54a. 54b dan 54c). triaksial.2.2 sampai 14 Mpa (30-2100 psi) dan nilai rata-rata T0 = 5. Gambar 52 Hubungan antara kuat tekan uniaksial. dapat dievaluasi dari siklus tanpa beban – dibebani ulang yang dilakukan dari jalur pembebanan awal. 62 dari 112 BACK Daftar Rsni 2006 .Pd T-05-2005-A Daftar nilai kuat tarik yang representatif untuk berbagai batuan diberikan dalam Tabel 5 dengan kisaran nilai antara 0. dan kuat tarik batuan utuh dalam diagram Mohr-Coulomb Gambar 53 Perbandingan kuat tarik vs kuat tekan spesimen batuan utuh (FHWA NHI-01-031) 5. Untuk data tersebut (lihat Gambar 53) kuat tarik hanya berkisar kira-kira 4% dari kuat tekan batuan yang sama. Modulus elastisitas ekivalen adalah kemiringan kurva σ-ε yang diperkirakan baik sebagai nilai tangen (E = ∆σ / ∆ε ) atau nilai sekan (E = σ/ε) dari pembebanan awal. Selain itu. Dalam praktek.6 Mpa (812 psi). nilai tangen yang diambil pada 50% tegangan batas dinyatakan sebagai sifat modulus elastisitas (ER50).

tekan uniaksial (Mpa) A sangat tinggi > 200 B tinggi 110-220 C sedang 55-110 D rendah 28-55 E sangat rendah <28 II. Sistem ini hanya memperhitungkan spesimen batuan utuh. 54b dan 54c.Pd T-05-2005-A Hal-hal yang perlu dipertimbangkan adalah sebagai berikut. Pada khususnya modulus dapat dibandingkan dengan tegangan normal dan tinggi beton yang diproduksi sebagai bahan konstruksi. resonant column) vs kuat tekan (qmax = qu) untuk perbedaan yang signifikan material tanah sampai batuan maupun beton dan baja (Tatsuoka & Shibuya. b. pelipatan elemen atau bender. b) c) 63 dari 112 BACK Daftar Rsni 2006 . dengan nilai rata-rata ER = 44. dan lainlain. Untuk batuan sedimen dan malihan terfoliasi. Untuk data tersebut nilai-nilai uji bervariasi dari 3. akibat penutupan bidang-bidang perlemahan sejajar. sedimen. Gambar 55 memperlihatkan basisdata global Emax dari uji regangan kecil (ultrasonik. Berdasarkan rasio modulus. CM. a) Spesimen batuan utuh dapat menunjukkan rentang modulus elastisitas yang besar. modulus elastisitas pada regangan sangat kecil diperoleh dari uji ultrasonik yang nilainya lebih tinggi daripada modulus dari uji pada regangan antara sampai tinggi. BL. Batuan diklasifikasi oleh tegangan tekan dan rasio modulus seperti AM. namun tidak untuk patahan atau retakan alami (diskontinuitas) dalam massa batuan. Tabel 7 Klasifikasi kuat tekan batuan utuh (Deere dan Miller. seperti Et50. 1968) I. 1966.6 Gpa (6500 ksi). Modulus ini adalah modulus tangen pada 50% dari tegangan batas. σu a Kelas Deskripsi Teg. Besarnya rentang tegangan dan modulus yang diperlihatkan dalam tiga gambar akan bersifat informatif. Rasio modulus = Et / σa(ult) dengan Et adalah modulus tangen pada 50% tegangan batas dan σa(ult) adalah tegangan tekan uniaksial. 1992). BH.3 GPa (530-12815 ksi). seperti dijelaskan pada Tabel 6. Berdasarkan tegangan tekan.6 sampai 88. dan malihan) diperlihatkan dalam Gambar 54a. Stagg dan Zienkiewicz. modulus elastisitas umumnya lebih sejajar dengan bidang-bidang perlapisan atau foliasi daripada tegak lurus. Kelompok modulus elastisitas yang sesuai (Et ) vs kuat tekan uniaksial (σu) untuk setiap jenis batuan dasar (beku. Dalam uji laboratorium spesimen batuan utuh. Et / σu Kelas Deskripsi Rasio modulus b > 500 rasio modulus tinggi H 200-500 rasio modulus rata-rata(sedang) M <200 rasio modulus rendah L a. Sistem klasifikasi batuan utuh yang didasarkan pada rasio modulus dan tegangan (E/σu) diberikan dalam Tabel 7.

1966) 64 dari 112 Daftar Rsni 2006 BACK . 1966) Gambar 54b Kelompok modulus elastisitas vs kuat tekan batuan sedimen utuh (Deere & Miller.Pd T-05-2005-A Gambar 54a Kelompok modulus elastisitas vs kuat tekan batuan beku utuh (Deere & Miller.

Pd T-05-2005-A Gambar 54c Kelompok modulus elastisitas vs kuat tekan batuan malihan utuh (Deere & Miller. 1992) 65 dari 112 BACK Daftar Rsni 2006 . 1966) Gambar 55 Modulus elastisitas dengan regangan kecil (E max) vs kuat tekan (q u) semua jenis material (Tatsuoka & Shibuya.

. dan φ’ adalah sudut geser efektif.... (c) kuat geser sepanjang bidang pekekar. (38) dengan τ adalah kuat geser yang bekerja... terowongan. Kotak belah diorientasikan dengan sumbu sepanjang bidang yang terkait (Gambar 65). c’ adalah tahanan kohesi efektif.............3 Penggunaan kuat geser Kuat geser batuan biasanya digunakan untuk mengontrol evaluasi geoteknik lereng..... galian. 1995).. Nilai-nilai parameter Mohr-Coulomb yang memadai c’ dan φ’ akan sangat bergantung pada keadaan khusus dan tingkat keruntuhan yang mungkin terjadi.... Oleh karena itu.. σ’ adalah tegangan normal efektif pada bidang geser... serta menunjukkan dan memperkirakan kuat geser massa batuan.. 56c dan 56d memperlihatkan gambaran contoh dari galian jalan raya pada batuan. yaitu (a) batuan utuh.. (b) kuat tekan utuh melintang kekar... Kuat geser puncak akan terjadi selama galian tanggul jalan raya dan penggalian batuan belum mengalami pergerakan. Hal-hal yang harus dipertimbangkan adalah sebagai berikut. Kuat geser residu akan cocok digunakan untuk analisis perbaikan dan peningkatan pekerjaan yang meliputi longsoran batuan dan longsoran bentuk baji atau blok batuan.... Sebagai alternatif... Pada umumnya kuat geser dihitung sesuai dengan kriteria Mohr-Coulomb (Gambar 52) berikut ini τ = c’ + σ’ tan φ’ . dan fondasi.... 56b.. Kuat geser permukaan diskontinuitas mempunyai nilai puncak yang representatif atau nilai residu komponen geser dari kuat geser.......... dan (d) massa batuan yang terlipat 5.. b) 66 dari 112 BACK Daftar Rsni 2006 .. Pendekatan ini diasumsi karena kuat tekan mengalami reduksi dan diperlukan untuk memperkirakan tingkat retakan dan pelapukan.... a) Rangkaian uji kuat tekan triaksial pada batuan utuh dapat dilakukan pada peningkatan tegangan keliling untuk menentukan selubung (envelop) Mohr-Coulomb dan parameter c’ dan φ’ terkait (lihat buku pedoman volume II). Uji geser langsung di laboratorium dapat digunakan untuk memperkirakan kuat geser material diskontinuitas dan atau urugan yang ditemukan di dalam kekar.. Gambar 56a. diuraikan dalam sub pasal 5.4 berikut.. (b) sepanjang bidang kekar batuan atau diskontinuitas. kuat geser batuan setempat perlu diperkirakan pada tiga tingkatan yang berbeda.Pd T-05-2005-A Gambar 56 Gambaran keadaan untuk perkiraan kuat geser batuan galian terdiri atas (a) kuat tekan batuan utuh... metode empiris berdasarkan jenis material batuan dan hasil uji kuat tekan uniaksial (qu = σu) yang memadai untuk evaluasi parameter kuat geser batuan utuh (Hoek dkk. dan (c) mewakili seluruh massa batuan yang patah/retak.

1977) Kondisi / kasus Sudut geser φ’ (derajat) (c’=0) d) e) Isian kekar yang tebal (thick joint filling): lempung smectit dan montmorillonit kaolinit illit khlorit pasir kuarsa pasir feldspathik Mineral: kapur (talc) serpentin biotit (mika) muskovit (mika) kalcit feldspar kuarsa Kekar (joint) pada batuan: batugamping kristalin batugamping porus kapur batupasir batu kuarsa serpih lempung serpih bentonit granit dolerit schist marmer gabro gneiss 42 – 49 32 – 48 30 – 41 24 – 35 23 – 44 22 – 37 9 – 27 31 – 33 33 – 43 32 – 40 31 – 37 33 31 . 1989. Nilai-nilai ini dapat memberikan petunjuk perkiraan pemilihan kuat geser dalam permukaan dan kekar. mineral.Pd T-05-2005-A c) Penurunan yang relatif kecil dapat mengurangi kuat geser puncak sampai residu. Tabel 8 Sudut geser pekekar batuan. akan menimbulkan kuat geser residual. Pedoman lain untuk pemilihan parameter Mohr-Coulomb diberikan oleh Hoek dkk (1995) dan Wyllie (1999). Tabel 9 memperlihatkan pemilihan nilai-nilai sudut geser residu (φr’. dan urugan (Franklin & Dusseault. mineral batuan (yang dapat menutup kekar) dan material urugan (seperti lempung dan pasir) diberikan dalam Tabel 8.35 9 16 7 13 8 24 33 5 – 10 12 – 15 16 – 22 20 – 30 33 – 40 28 – 35 67 dari 112 BACK Daftar Rsni 2006 . dengan anggapan cr’ = 0) untuk berbagai jenis permukaan batuan dan mineral yang ditemukan dalam kekar batuan dan diskontinuitas. Jika terjadi penurunan yang cukup besar. Nilai-nilai sudut geser puncak dari berbagai jenis permukaan batuan. urugan lempung/tanah dapat mendominasi perilaku kuat geser keadaan yang terjadi. Nilai puncak dapat diperkirakan sebagai komposit kuat geser residu dan komponen geometrik yang bergantung pada kekasaran sesuai dengan sifat (asperities) dan kekasaran bidang pekekar. Jika kekar cukup terbuka. Penurunan yang terjadi akan mengurangi pengaruh sifat (asperities) dan menurunkan kuat geser. dan Jaeger & Cook.

Pola diskontinuitas massa batuan akan jelas terlihat dalam potongan inti yang diperoleh pada waktu penyelidikan lapangan dan permukaan batuan terbuka dan singkapan batuan di daerah topografi. 68 dari 112 BACK Daftar Rsni 2006 . yang diperlihatkan dalam Gambar 59) adalah perkiraan orde pertama jumlah kekar dan celah alami dalam massa batuan. retakan. Faktor-faktor pengaruh yang meliputi tingkat kekuatan massa batuan diuraikan secara ringkas dan diberikan sesuai dengan interpretasi hasil uji massa batuan untuk keperluan desain dan analisis lereng. 1989). dan porositas dapat digunakan untuk memperkirakan sifat-sifat batuan utuh. 1988). Sistem yang sangat terkait dengan RMR adalah indeks kekuatan geologi (GSI) yang berguna dalam memperkirakan tegangan /kekuatan massa batuan. 1973 dan Hoek & Bray. umur. tetapi baru dikembangkan dalam empat dekade yang lalu (Deere & Deere. 5. dgn c’ = 0 32 amphibolit 31-38 basal 35 konglomerat 30 kapur 27-31 dolomit 23-29 gneiss (schistose) 29-35 granit (butiran halus) 33-40 batugamping 31 porfiri 25-35 batupasir 27 serpih 27-31 batulanau 25-30 slate CATATAN : Nilai rendah biasanya dihasilkan dari uji permukaan batuan basah. Sejak itu metode yang lebih rinci dan kuantitatif untuk perkiraan kondisi massa batuan keseluruhan telah dikembangkan meliputi sistem geomekanik RMR (Bieniawski. kelulusan air dan kinerja yang ada. berdasarkan pengalaman penambangan di Afrika Selatan. kekakuan. dan sistem NGI-Q (Barton.Pd T-05-2005-A Tabel 9 Sudut geser residu (Barton. terowongan. RQD digunakan untuk mengukur perkiraan perilaku massa batuan. Perkiraan mutu batuan (RQD. Pengujian jumlah tingkat.4 Klasifikasi massa batuan Komposisi mineral. pengembangan dan sifat diskontinuitas merupakan hal penting dalam memperkirakan mutu dan kondisi massa batuan. berdasarkan pengalaman pekerjaan terowongan di Norwegia. Pemilihan jenis batuan terbuka diperlihatkan dalam Gambar 57 untuk menunjukkan perbedaan kinerja yang terjadi akibat sifat pola patahan dan kekar. 1977) Jenis batuan Sudut geser residu φr (der). 1989). sedangkan jaringan patahan. dan fondasi dalam satuan /formasi batuan. dan kekar untuk memperkirakan perilaku massa batuan sesuai dengan kekuatan. Hal tersebut beserta sistem klasifikasi massa batuan lainnya diuraikan secara terperinci dan dirangkum dalam ASTM D 5878 (sistem klasifikasi massa batuan).

Nilai RMR dapat diperkirakan dari indeks beban titik (Is). penentuan mutu batuan (RQD). Pada tahap awal dimaksudkan untuk aplikasi pekerjaan terowongan dan penambangan. jarak diskontinuitas. Keenam parameter akan membantu perkiraan lebih lanjut dari hasil analisis stabilitas sampai masalah khusus.1 Sistem rating massa batuan (RMR = Rock Mass Rating) Sistem klasifikasi batuan dengan rating massa batuan (RMR) menggunakan enam parameter dasar untuk klasifikasi dan evaluasi hasil uji. kondisi muka air tanah.Pd T-05-2005-A Gambar 57 Contoh beberapa massa batuan dengan asal usul geologi yang berbeda 5. a) Keenam parameter yang digunakan untuk menentukan nilai RMR adalah 1) 2) 3) 4) 5) 6) kuat tekan uniaksial (qu atau σu )*. namun kini telah dikembangkan untuk desain galian lereng dan fondasi. 69 dari 112 BACK Daftar Rsni 2006 .4. kondisi diskontinuitas. orientasi diskontinuitas. Uraian penjelasannya adalah sebagai berikut.

... Selain itu.... (39) c) Rating RMR menentukan nilai massa batuan antara 0 (sangat jelek) sampai 100 (paling bagus)............ 70 dari 112 Daftar Rsni 2006 BACK ..... Berdasarkan dip dan arah dip (atau strike) dari diskontinuitas alami sesuai dengan denah dan orientasi konstruksi yang diusulkan.. 1999). Namun. Sistem RMR telah dimodifikasi sepanjang tahun dengan tambahan rincian dan varian (misal Bieniawski...... yang berkisar dari yang baik (R6=0) sampai yang tidak baik (-12 untuk terowongan.. Kemudian dibuat rating keseluruhan dengan ketentuan akhir dan pertimbangan keenam komponen yang bergantung pada jenis tujuan proyek (terowongan...... Wyllie..Pd T-05-2005-A Gambar 58 Sistem klasifikasi geomekanik untuk rating massa batuan (RMR) (Bieniawski.... 1984.60 untuk lereng)....... 1989... -25 untuk fondasi. Untuk itu RMR ditentukan sebagai berikut RMR = ∑ (R ) i =1 i 5 . perlu mempertimbangkan arah bidang geser.. 1989) b) Komponen dasar sistem RMR diperlihatkan dalam Gambar 58... dan ............. Rating RMR diperoleh dengan menjumlahkan nilai-nilai RMR yang ditentukan untuk kelima komponen pertama... dapat ditambahkan suatu faktor untuk menentukan RMR.... lereng..... hal tersebut umumnya tidak dapat digunakan dalam aplikasi rutin. atau fondasi)..

patahan.4. SRF adalah faktor reduksi tegangan sesuai dengan keadaan tegangan awal dan kepadatan. 1974) 71 dari 112 BACK Daftar Rsni 2006 . Lien.2 Rating NGI – Q Rating Q dikembangkan untuk memperkirakan karakteristik massa batuan dalam aplikasi terowongan oleh Institut Geoteknik Norwegia (Barton dkk. perubahan. Ja menggambarkan kondisi. dan Lunde. 1974) dengan menggunakan keenam parameter untuk evaluasi berikut ini. Gambar 59 Sistem rating Q untuk klasifikasi massa batuan (Barton. dan kekar. a) b) c) d) e) f) Rock Quality Designation (RQD). dan material urugan dengan kekar dan retakan. Jw memperlihatkan perkiraan kondisi air setempat.Pd T-05-2005-A 5. Jr memperlihatkan kekasaran antarbidang permukaan dalam diskontinuitas. Jn adalah jumlah rangkaian atau stelan diskontinuitas dalam massa batuan (rangkaian kekar).

kemudian rating Q selengkapnya diperoleh sebagai berikut w r .... Rincian aspek-aspek tersebut diberikan dalam literatur lain (Hoek dkk... 1997) 72 dari 112 Daftar Rsni 2006 BACK ....... 1995). termasuk penggunaan beton semprot (shotcrete). jaringan.... perlapisan (lining) dan jarak angker batuan....4. Perkiraan cepat dengan GSI dapat dilakukan dengan menggunakan bagan grafik yang diberikan dalam Gambar 60 dan membantu prosedur penggunaan di lapangan.....  RQD   J   J  5.... juga digunakan untuk memperkirakan jenis dan tingkat sistem perletakan terowongan untuk keperluan stabilitas jangka panjang........ Gambar 60 Grafik untuk memperkirakan indeks kekuatan geologi (GSI) (Hoek & Brown........Pd T-05-2005-A Masing-masing parameter adalah nilai-nilai yang ditentukan menurut kriteria yang diberikan dalam Gambar 59...... Selain itu. sedangkan indeks kekuatan geologi (GSI) menghasilkan uji mutu massa batuan untuk perkiraan langsung kekuatan dan kekakuan batuan utuh dan rekahan......3 Indeks kekuatan geologi (GSI=Geological Strength Index) Pada dasarnya sistem RMR dan Q dikembangkan untuk aplikasi penambangan dan terowongan.. (40) Q =   J   J   SRF       n   a  Kedua sistem RMR dan rating Q dapat digunakan untuk evaluasi waktu yang diperlukan selama konstruksi dalam penambangan dan dinding terowongan tanpa perletakan..

.. a = 0.... (45) a = 0.... perhitungan balik longsoran batuan dan lereng runtuhan.. parameter kekuatan yang tertinggal untuk massa batuan tidak terganggu adalah mb = mi exp [(GSI – 100) / 28] ........... GSI = 5.. pendekatan secara terperinci evaluasi tegangan massa batuan dihasilkan dengan menggunakan rating GSI (Hoek dkk..... Untuk GSI > 25.................... atau secara alternatif diperkirakan berdasarkan skema klasifikasi massa batuan. tegangan utama maksimum (σ1’) sesuai dengan tegangan utama minimum (σ3’) pada keadaan runtuh melalui rumus empiris yang bergantung pada faktor-faktor: a) b) c) kuat tekan uniaksial batuan (σu)....  σ'  σ1’ = σ3’ + σu mb 3 + s   σu  b) a . (41) Untuk sistem klasifikasi geomekanik umum....... pemilihan parameter diberikan dengan s = 0 ................ untuk mendapatkan parameter kuat geser ekivalen c’ dan φ’....5 ........... s............................................. GSI = 9 log    RQD  J r    J n  J a   + 44   ...... (44) s = exp [(GSI – 100) / 9 ........................................................ Nilai-nilai tersebut berkisar minimal 4 untuk batulumpur sampai maksimal 33 untuk gneiss dan granit....65 – (GSI / 200) ...................... a) Hubungan antara kurva tegangan selubung (envelop) Mohr-Coulomb dan tegangan utama maksimum diberikan dengan rumus sebagai berikut.. Untuk RMR > 25.... Metode ini dapat juga digunakan untuk evaluasi kekuatan batuan utuh (GSI = 73 dari 112 Daftar Rsni 2006 BACK .................. (47) (48) c) d) e) Evaluasi lebih mudah dilakukan dengan menggunakan lembaran terpisah dengan nilai-nilai tegangan keliling efektif (σ3’) yang meliputi rentang tegangan overburden lapangan yang mungkin terjadi.................. Kemudian nilai-nilai σ1’ dan σ3’ yang berpasangan diplot (menggunakan lingkaran Mohr atau grafik q-p)............. GSI tidak boleh digunakan untuk nilai RMR yang melebihi 25........... (46) Untuk GSI < 25..... malihan.................. Untuk yang kedua.. Dalam metode ini............... (mb.... konstanta material jenis batuan (mI)................... Hal-hal yang perlu diperhatikan adalah sebagai berikut.................... atau sedimen) yang ditentukan dari bagan grafik pada Gambar 61........... (43) Parameter material mI bergantung pada jenis batuan (beku... (42) Kekuatan seluruh kumpulan patahan dan blok batuan besar dapat diperkirakan dengan uji geser langsung di lapangan....................................... 1995)...................................................... untuk menghitung nilai-nilai terkait dengan tegangan utama maksimum efektif (σ1’) dalam persamaan (43)..................Pd T-05-2005-A Secara khusus GSI dapat dihitung dari komponen-komponen sistem Q sebagai berikut...... tiga buah parameter empiris yang menggambarkan tingkat patahan massa batuan dan a)......5 Kekuatan massa batuan ∑ ( R ) + 10 i =1 i 4 ........

........ 1995) 74 dari 112 BACK Daftar Rsni 2006 ......... sudut geser puncak dapat dievaluasi dari parameter rating Q (c’ = 0)........ seperti diperlihatkan dalam Gambar 62a dan 62b.. Untuk perkiraan secara cepat................... CATATAN : nilai dibawah tekstur batuan adalah m1 Gambar 61 Konstanta material m1 untuk evaluasi GSI kekuatan massa batuan (Hoek dkk. yaitu φp’ ≈ (Jr / Ja ) ......Pd T-05-2005-A 100) maupun batuan patahan. (49) dengan rentang 70 < φp’ < 750 untuk batasan nilai parameter kekasaran kekar (Jr) dan perubahan (Ja)................... f) Untuk kuat geser asli sepanjang kekar (joint) dan bidang longsor......... nilai rata-rata σ3’ yang representatif telah digunakan untuk menghasilkan solusi grafik perkiraan untuk pemilihan c’/σu normal dan sudut geser φ’ secara langsung dari GSI dan konstanta material mi.

Em adalah modulus massa batuan ekivalen. seperti diberikan dengan rumus yang disajikan dalam Tabel 10.2+(RQD-70)37. Untuk perhitungan rutin EM telah disesuaikan dengan sifat-sifat batuan utuh (kuat tekan uniaksial σu dan modulus elastis batuan utuh ER). mutu batuan (RQD). 1997) 5. dan GSI).6 Modulus massa batuan Modulus elastis ekivalen (EM) massa batuan digunakan dalam analisis dan simulasi numerik terowongan.01) 10 [GSI-100]/40 Keterangan Faktor reduksi pada modulus batuan utuh Faktor reduksi 45<RMR<90 1 < Q < 400 0 < RMR < 90 Penyesuaian untuk batuan dengan σu < 100 Mpa Referensi Bieniawski (1978) Kulhawy (1978) Bieniawski (1984) Hoek dkk.Pd T-05-2005-A Gambar 62 Grafik hubungan m1 dengan GSI untuk mendapatkan rasio c’/σu (a). Q adalah rating NGI massa batuan. Tabel 10 Metode empiris untuk evaluasi modulus elastis (Em) massa batuan Formula Untuk RQD<70: EM =ER (RQD/350) Untuk RQD>70: EM =ER [0. Q. σu adalah kuat tekan uniaksial.5] EM ≈ ER [0. kekakuan satuan batuan asli dapat diperkirakan dengan menggunakan uji beban skala penuh. RQD adalah penentuan mutu batuan.4 RMR)] EM (Gpa) = 2 RMR – 100 EM (Gpa) = 25 Log10 Q [RMR-100]/40 EM (Gpa) = 10 EM (Gpa) = (0. 75 dari 112 BACK Daftar Rsni 2006 . Secara praktis akhir-akhir ini telah dilakukan dengan adanya sel beban Osterberg yang dapat menerima gaya-gaya yang amat besar dengan menggunakan sistem hidraulik tertanam. (1995) Serafim & Pereira (1983) Hoek (1999) CATATAN: ER adalah modulus batuan utuh. Metode uji lapangan karakteristik kerusakan massa batuan meliputi baik dongkrak Goodman dan dilatometer batuan maupun perhitungan balik dari uji beban fondasi skala penuh (Littlechild dkk. dan rating massa batuan (RMR. GSI adalah indeks tegangan geologi. 2000). Pada konstruksi bangunan yang kritis. dan hubungan GSI dengan m1 untuk mendapatkan sudut geser φ’ (b) (Hoek & Brown.1+RMR/(1150-11. lereng dan fondasi untuk memperkirakan besarnya pergerakan dan defleksi akibat pembebanan baru. RMR adalah rating massa batuan.

Pd T-05-2005-A

5.7

Daya dukung fondasi

Dalam beberapa proyek bangunan, fondasi bisa terletak pada permukaan batuan atau tertanam dalam lapisan batuan untuk memikul beban aksial yang besar. Untuk bangunan air atau jembatan, fondasi lajur melebar yang dangkal yang tidak mengalami gerusan dapat dipikul langsung pada batuan. Selain itu, fondasi dalam dapat terdiri atas tiang bor besar atau turap yang dipancang ke dalam batuan dengan menggunakan metode bor inti, yang didesain untuk tekanan aksial dan atau uplift. Dalam subpasal berikut akan diuraikan metode perkiraan daya dukung dan tahanan samping dalam batuan.

Gambar 63

Daya dukung izin batuan segar (Wyllie, 1999) dari basisdata USA sebagai bahan pembanding batuan segar di Indonesia.

5.7.1

Daya dukung fondasi yang diizinkan

Perhitungan terperinci dapat dilakukan sesuai dengan daya dukung fondasi yang terletak di atas batuan patahan (Goodman, 1989). Selain itu, hasil-hasil program uji laboratorium dan lapangan pada massa batuan dapat digunakan untuk memperkirakan nilai dukung izin secara langsung. Dalam pendekatan yang paling sederhana, nilai perkiraan diperoleh dari pengalaman setempat, peraturan gedung, dan pedoman terkait lainnya yang berlaku. Rangkuman tegangan dukung izin dari peraturan telah dikompilasi oleh Wyllie (1999) dan diperlihatkan dalam Gambar 63. Jika RQD < 90%, nilai yang diberikan dalam gambar itu harus dikurangi oleh faktor reduksi yang berkisar dari 0,1 sampai 0,7. Selain itu, dengan pendekatan Peck dkk (1974) yang menggunakan RQD secara langsung untuk memperkirakan tegangan dukung izin (qizin), akan menghasilkan tegangan kerja tidak melebihi kuat tekan uniaksial batuan utuh (qizin < σu). Hubungan RQD ditunjukkan dalam Gambar 64. Untuk perhitungan yang lebih khusus dan evaluasi terperinci, hasil parameter Mohr-Coulomb ekivalen dengan pendekatan GSI dapat digunakan dalam persamaan daya dukung konvensional, seperti dibahas oleh Wyllie (1999).
76 dari 112
BACK Daftar Rsni 2006

Pd T-05-2005-A

Gambar 64

Tegangan dukung izin pada batuan retak dengan RQD (Peck dkk, 1974)

5.7.2

Tahanan samping di sekitar fondasi

Fondasi dalam dapat dibuat dalam lapisan batuan untuk mencegah gerusan dan memikul tekanan aksial dan beban uplift. Fondasi tiang bor/turap dapat dibor melalui lapisan tanah dan diperdalam dengan bor inti ke dalam lapisan batuan dasar. Pada umumnya, diameter tiang bor/turap dikurangi bila menembus batuan, dengan menggunakan kotak dalam dinding (socket). Gambar 65 memperlihatkan hubungan antara tahanan samping tiang bor (fs) dan ½ kuat tekan (qu /2) untuk batuan sedimen, sedangkan Gambar 66 memperlihatkan diagram yang sama antara fs dan qu untuk semua jenis batuan.

Gambar 65

Kecenderungan satuan tahanan tepi dengan kuat tekan batuan sedimen (Kulhawy & Phoon, 1993) 77 dari 112

BACK

Daftar Rsni 2006

Pd T-05-2005-A

Gambar 66

Satuan tahanan tepi tiang bor dengan berbagai jenis batuan (Ng dkk, 2001)

5.8

Parameter massa batuan lainnya

Bila proyek bangunan semakin komplek, perlu dilakukan pengukuran dan interpretasi tambahan hasil uji geomekanik batuan utuh dan massa batuan. Beberapa upaya mutakhir mencakup perkiraan gerusan dan kemampuan erosi sesuai dengan tanda-tanda massa batuan (Van Schalkwyk dkk, 1995). Metodologi serupa yang telah dikembangkan untuk perkiraan kemampuan penggarukan batuan (rippability) dengan mesin dimaksudkan untuk mengurangi penggunaan peledakan (Wyllie, 1999). Untuk keperluan selanjutnya dilakukan dengan pendekatan sederhana menggunakan kecepatan gelombang tekan (Vp) batuan setempat secara langsung, seperti diperlihatkan dalam Gambar 67.

Gambar 67 Ripebilitas (penggarukan) batuan setempat dengan Caterpillar dozer yang dievaluasi dengan kecepatan gelombang P (Franklin & Dusseault, 1989) 78 dari 112
BACK Daftar Rsni 2006

serta setiap keganjilan di lapangan yang dapat mempengaruhi pekerjaan desain. jenis dan jumlah uji laboratorium. mengevaluasi dan menginterpretasi data dan melakukan analisis untuk desain fondasi. pembacaan elevasi muka air. tahapan dan kompleksitasnya. tanggal penyelidikan lapangan. tabel rangkuman dan formulir masing-masing data uji laboratorium. laporan desain geoteknik. 6. dan bangunan lain yang diperlukan. lembaran data pemetaan geologi dan plot rangkuman. Bagian ini menguraikan identifikasi jenis-jenis metode penyelidikan. Presentasi data Bagian laporan ini umumnya memuat lampiran-lampiran. deformasi dan tambahan kinerja. drainase. bendungan (urugan). Selain itu. lokasi dan kedalaman pengeboran. foto bor inti. a) Latar belakang informasi Bagian laporan pendahuluan merangkum penjelasan tenaga ahli geoteknik.1. tenaga ahli geoteknik bertanggung jawab dalam pembuatan laporan penyelidikan geoteknik dan rekomendasi teknik khusus. Biasanya laporan penyelidikan akan mencakup salinan (copy) informasi yang ada.1 Laporan penyelidikan geoteknik Laporan penyelidikan geoteknik menyajikan data khusus lapangan dan mencakup tiga komponen utama sebagai berikut. sub kontraktor pelaksana pekerjaan. fasilitas pelaporan yang akan disiapkan dan tujuan penyelidikan geoteknik. standar uji. Pemilihan jenis laporan bergantung pada ketentuan perwakilan (pemilik) proyek dan kesepakatan antara tenaga ahli geoteknik dan perencana bangunan.Pd T-05-2005-A 6 6. jumlah. jalan raya dan lain-lain telah disajikan dalam berbagai publikasi. Evaluasi dan interpretasi data hasil penyelidikan geoteknik telah diuraikan dalam pasal 4 dan 5 di atas. seperti data log bor atau data uji laboratorium dari penyelidikan pendahuluan di lokasi proyek. penyajian data yang diperoleh dari program penyelidikan lapangan dan uji laboratorium. Uraian tersebut akan memberikan pedoman dan rekomendasi untuk pengembangan penyusunan laporan penyelidikan geoteknik yang diperlukan. dan pemasangan pisometer atau sumuran. serta interpretasi dan rekomendasi data geoteknik secara statistik. b) c) 79 dari 112 BACK Daftar Rsni 2006 . deskripsi umum kondisi lapangan. profil geoteknik yang dikembangkan dari data uji lapangan dan uji laboratorium maupun rangkuman. jenis dan frekuensi pengambilan contoh. atau laporan lingkungan tanah.1 Teknik penyusunan laporan hasil penyelidikan geoteknik Jenis-jenis laporan Dalam rangka penyelesaian program penyelidikan lapangan dan pengujian laboratorium. dan setiap perubahan dari prosedur konvensional. bentuk (ciri-ciri) dan sifat geologi. yaitu laporan penyelidikan geoteknik (buku data). Analisis geoteknik dan prosedur desain yang harus dilaksanakan untuk berbagai jenis bangunan air. plotting data dari setiap lubang uji setempat. Bagian ini mencakup informasi persyaratan beban. sumuran uji. tenaga ahli geoteknik harus mengkompilasi. galian. yang mencakup log bor akhir. Pada umumnya harus disiapkan satu atau lebih dari tiga jenis laporan. sumuran uji dan uji setempat. Lingkup pekerjaan Bagian kedua dari laporan penyelidikan memuat dokumentasi yang melingkupi program penyelidikan dan prosedur khusus yang digunakan untuk melaksanakan penyelidikan. Kebutuhan berbagai jenis laporan pada proyek utama bergantung pada ukuran proyek. lapisan penutup tanah dasar dan kemampuan jalan masuk.

2 Sifat-sifat tanah/batuan 10. bangunan penahan tanah. kegempaan. 3. Laporan penyelidikan geoteknik kadang-kadang digunakan jika pekerjaan penyelidikan lapangan dibuat secara sub kontrak kepada konsultan geoteknik. 8. lingkungan) 10. laporan desain geoteknik akan mencakup dokumentasi dari setiap penyelidikan geoteknik yang dilakukan dan penyajian data hasil penyelidikan. alat ukur tekanan.1.2 Laporan desain geoteknik Laporan desain geoteknik khususnya memberikan penilaian/penaksiran kondisi geoteknik yang ada di lokasi proyek. serta interpretasi dan rekomendasi parameter geoteknik tanah dan batuan. seperti laporan dalam sub pasal 6. 9. 5. penyajian. 4.3 Topik khusus (misal sifat-sifat dinamik. 6. Contoh isi laporan penyelidikan geoteknik (buku data) Summary Pendahuluan Lingkup pekerjaan Deskripsi lapangan Program penyelidikan lapangan dan pengujian setempat Uji kelulusan air lapangan Pembahasan uji laboratorium yang dilakukan Informasi kondisi lapangan. geser baling Lampiran E Data survei geofisik Lampiran F Hasil-hasil uji kelulusan air lapangan dan uji pemompaan Lampiran G Hasil-hasil uji laboratorium Lampiran H Informasi yang tersedia Daftar gambar Daftar tabel Tabel 12 1.2 Kondisi/pengamatan air tanah 10. Jika laporan penyelidikan (buku data) telah dibuat secara terpisah. 10.1. 6. 2.1.Pd T-05-2005-A Laporan penyelidikan geoteknik dimaksudkan sebagai dokumentasi penyelidikan yang dilakukan dan penyajian data yang terdiri atas rangkuman data geoteknik lapangan dan laboratorium. Pendahuluan 80 dari 112 BACK Daftar Rsni 2006 Contoh isi laporan utama geoteknik . susunan geologi dan topografi Rangkuman kondisi geoteknik dan profil tanah Pembahasan interpretasi dan rekomendasi 10.1 Umum 10. galian dan bangunan lain yang diperlukan.1 Jenis tanah/batuan lapisan dasar dan fondasi 10. urugan atau bendungan. Kesimpulan dan saran-saran Daftar pustaka Daftar Lampiran Lampiran A Rencana lokasi bor dan profil geoteknik Lampiran B Log bor uji dan log inti dengan foto-foto inti Lampiran C Pendugaan uji penetrasi konus Lampiran D Hasil-hasil uji dilatometer. 7. dan pembahasan desain dan konstruksi fondasi.1. Contoh isi laporan utama geoteknik diperlihatkan dalam Tabel 12.4 Analisis kimiawi 11. Contoh isi laporan penyelidikan geoteknik diperlihatkan dalam Tabel 11. pembahasan dan rangkuman prosedur dan penyelidikan dari hasil analisis geoteknik yang dilakukan. Tabel 11 1. Summary 2. tetapi interpretasi data dan pekerjaan desain dilaksanakan oleh pemilik atau konsultan dengan staf geotekniknya sendiri.

dan harus memberikan parameter desain satuan tanah yang dianjurkan. Pembahasan yang harus disajikan dimaksudkan sebagai bahan pertimbangan untuk pemecahan masalah yang mungkin terjadi. dan 5) kekerasan batuan pada kemampuan perlengkapan. Geologi 4. diperlukan rangkuman dan analisis dari semua data asli untuk menentukan parameter indeks dan parameter geoteknik yang disarankan. Oleh karena itu. Informasi geoteknik yang tersedia 5. a) Karena ruang lingkup. 2) persyaratan penggalian dan pemotongan (misal lereng yang aman untuk galian terbuka atau keperluan sheeting atau shoring). Penunjukan butir-butir tersebut secara jelas dan baik dalam laporan akan memberikan masukan sebagai bahan pertimbangan perubahan persyaratan/ketentuan desain. 4) pengaruh bongkah pada pemancangan tiang atau pengeboran fondasi dalam. Program penyelidikan geoteknik 6. laporan utama geoteknik juga harus disusun masing-masing untuk setiap proyek. Pembahasan bangunan penahan tanah 10. Kondisi geoteknik/bawah permukaan 7. 3) fluktuasi muka air tanah yang mungkin terjadi sesuai dengan risiko muka air tanah tinggi pada galian.Pd T-05-2005-A 3. 81 dari 112 BACK Daftar Rsni 2006 b) c) d) . tahapan dan jadwal waktu merupakan bagian yang penting. Laporan harus mengidentifikasi setiap satuan tanah dan batuan yang signifikan. Pembahasan jalan inspeksi 11. top soil dan lain-lain). dan hasil-hasil studi juga diuraikan dengan singkat dan jelas dalam laporan. kondisi geoteknik yang tercakup dalam penyelidikan lapangan harus dibandingkan dengan susunan geologi agar dapat dipahami lebih dalam sifat-sifat deposit dan diperkirakan tingkat perubahan antara pengeboran. laporan utama geoteknik harus menunjukkan semua hasil penyelidikan geoteknik yang mungkin terjadi pada suatu proyek. Untuk mengembangkan laporan ini. penyusun harus mempunyai pengetahuan bangunan yang luas. Pada umumnya. muck. Untuk setiap proyek. kondisi lapangan dan persyaratan desain/konstruksi dari setiap proyek bersifat khusus. Oleh karena itu. Interpretasi dan rekomendasi data geoteknik 8. Pembahasan kegempaan 12. Setiap hasil desain geoteknik harus diperlihatkan sesuai dengan metodologi yang diuraikan dalam modul pelatihan secara berurutan. Pembahasan konstruksi Daftar pustaka Daftar gambar Lampiran-lampiran Lampiran A Log bor Lampiran B Data uji laboratorium Lampiran C Informasi geoteknik yang ada Hal-hal yang perlu diperhatikan adalah sebagai berikut. 1) batas-batas vertikal dan lateral penggalian dan pemindahan yang disarankan dari setiap deposit permukaan dangkal yang tidak cocok (gambut. Kondisi air tanah khususnya diperlukan untuk desain dan konstruksi. sehingga diperlukan penilaian dan pembahasan secara hati-hati. Pembahasan fondasi jembatan 9. Aspek-aspek yang perlu ditinjau. penaksiran dampak dari kondisi geoteknik yang ada pada pengoperasian konstruksi.

Salah satu tujuan utama dokumentasi adalah menyusun standar/kriteria geoteknik minimum untuk memperlihatkan kepada institusi transportasi dan konsultan mengenai informasi geoteknik dasar yang harus disediakan dalam laporan geoteknik maupun laporan perencanaan dan spesifikasi (FHWA.1 Presentasi atau penyajian data Log bor Log bor. Perangkat lunak ini dan yang 82 dari 112 BACK Daftar Rsni 2006 . pencampuran tanah dalam. Laporan harus berisi semua komponen laporan penyelidikan geoteknik. atau membiarkan bagian tersebut. Ciri-ciri geoteknik khusus terdiri atas: 1) sumbu galian dan timbunan. seperti yang diuraikan di atas. dan lain-lain). batas air limbah industri. mengumpulkan dan menyajikan data geoteknik dalam profil satu dimensi sederhana. atau penyajian tiga dimensi. ilmu lingkungan. kualitas udara dan pengatur alat (regulatory) maupun satu atau lebih tenaga ahli geoteknik.1. Daftar pemeriksaan disajikan dalam bentuk format pertanyaan dan jawaban. hidrogeologi.3 Laporan pengaruh lingkungan pada tanah Jika hasil penyelidikan geoteknik menunjukkan adanya pencemaran di lokasi proyek. 5) fondasi bangunan (fondasi dengan kaki menyebar. pemasangan dindinghalang slari.Pd T-05-2005-A e) Hasil-hasil di atas perlu diperlihatkan dalam laporan utama geoteknik. 3) koreksi longsoran. truk terbalik atau kereta api yang keluar jalur. 1995). f) g) 6. Selain itu. 6. tenaga ahli geoteknik diminta menyiapkan laporan mengenai pengaruh lingkungan pada tanah dengan meringkas hasil penemuan penyelidikan dan saran-saran perbaikan lokasi lapangan. buangan limbah rumah tangga. 2) urugan di atas tanah dasar lunak. Dalam persiapan laporan biasanya tenaga ahli geoteknik harus bekerja sama dengan tim ahli. atau secara alternatif dengan grafik dua dimensi (profil geoteknik). inti batuan. pemompaan dan perbaikan air tanah. perbaikan kehidupan. tangki penyimpanan di atas atau di bawah tanah. toksikologi. Kedua pedoman laporan teknik tersebut harus disediakan sebagai informasi umum penyelidikan lapangan pada laporan penyelidikan geoteknik serta informasi dasar dan pembahasan desain geoteknik khusus. tiang pancang dan tiang bor/turap). Kemungkinan diperlukan pula tim pemecahan masalah untuk perbaikan kondisi lapangan (misalnya penggantian material tercemar. 4) tembok penahan. Data log bor uji dan sumuran uji dapat disiapkan dengan menggunakan perangkat lunak yang mampu untuk menyimpan. faktor-faktor risiko yang digunakan. model transportasi pencemaran dan jika diketahui sumber pencemaran (misal urugan tanah. Tim yang representatif yang menyiapkan laporan pengaruh lingkungan pada tanah biasanya terdiri atas tenaga-tenaga ahli kimia.2. Laporan lingkungan tanah harus pula menggambarkan hasil-hasil pengaturan mengenai pencemaran yang ditemukan dan metode perbaikan lapangan yang disarankan. 6) lokasi material borow. Untuk membantu tenaga ahli dalam pengkajian laporan geoteknik. telah disiapkan daftar pemeriksaan kajian dan pedoman teknik. juga berisi pembahasan yang jelas dan singkat mengenai sifat dan perluasan pencemaran. elektrokinetik). pendugaan dan logging penyelidikan harus disiapkan sesuai dengan prosedur dan format yang dibahas dalam buku pedoman volume I.2 6. geologi. karena banyaknya aspek pencemaran atau perbaikan di luar bidang keakhliannya.

ca/home/in-situ/software. penggabungan profil yang diinterpretasi dan sifat-sifat khusus di lapangan harus dilakukan dengan hati-hati.org. sehingga dapat memperluas kemampuan dan sumber informasi yang tersedia untuk personil geoteknik. Profil geologi dapat diuraikan dari program dan dilengkapi dengan paparan dan gambar-gambar. Contoh yang representatif dari tata letak bendungan. 6. dan penyelidikan harus diperlihatkan dengan jelas pada peta berskala rencana penyelidikan lapangan khusus. Paket lain yang tersedia digunakan untuk mereduksi data uji kuat tekan.2. uji konus gempa dan pisokonus (http://www. Informasi topografi dapat diperoleh dari Bakorsurtanal atau instansi terkait. tabung contoh dan simbol-simbol sumur maupun nomenklatur lain yang digunakan pada log bor. dan plot data. 83 dari 112 BACK Daftar Rsni 2006 .com). LOTUS 1-2-3). Terdapat banyak program perangkat lunak baru menawarkan daftar rencana program yang didasarkan pada log bor.ggsd. format log bor yang dapat mencakup log grafik. hasil-hasil uji penetrasi konus (CPT) dapat disajikan dengan menggunakan perangkat lunak (misal CONEPLOT yang dapat ditemukan pada http://www. Dengan cara yang sama. QUATTRO PRO.ubc. dengan menggunakan peta-peta daerah atau jalan kota atau peta topografi USGS.htm) atau dari uji dilatometer (misal perangkat lunak DMT DILLY yang dapat ditemukan pada http://www. Karena tanah dan batuan merupakan material yang kompleks dengan berbagai varian dan tampilan fisik.org). Sebaiknya rencana itu harus berupa peta topografi dengan kontur-kontur elevasi yang digambarkan jelas dan baik dengan benchmark dan arah utara (magnetik atau sebenarnya) yang telah ditentukan.Pd T-05-2005-A sejenisnya digunakan dengan penyimpanan data proyek secara berurutan untuk referensi yang akan datang.civl. pemantauan sumur dengan rinci. Program perangkat lunak geoteknik dapat ditemukan pada http://www. Hal tersebut mencakup referensi jenis-jenis tanah.usucger. Biasanya legenda dibuat untuk menggambarkan simbol-simbol grafik dan catatan yang ditambahkan pada log bor untuk memberikan informasi yang lebih luas. pengambilan contoh. bangunan pelimpah dan pengeluaran Tilong diperlihatkan dalam Gambar 68. Cara yang terbaik adalah jika tenaga ahli geoteknik menggabungkan masing-masing interpretasi dengan mempertimbangkan susunan geologi khusus dan satuan setempat dalam lembaran terpisah. sebaiknya data uji in-situ langsung direduksi dan menggunakan format lembaran secara terpisah (spreadsheet) yang sederhana (misal EXCEL. dan rencana lokasi bor inti diperlihatkan dalam Gambar 69. uji geser baling. Sebagai alternatif. Spreadsheet juga memberikan kreativitas dan penyajian hasil yang khusus dengan grafik.2 Rencana lokasi uji Rencana lokasi uji harus disiapkan sebagai acuan pada skala regional atau lokal.gpe. Lokasi uji lapangan.

Pd T-05-2005-A Gambar 68 Contoh tata letak bendungan. bangunan pelimpah dan pengeluaran Tilong Gambar 69 Rencana lokasi uji pada lokasi bor inti (CATATAN: skala horisontal: 1 cm = 10 m) 84 dari 112 BACK Daftar Rsni 2006 .

Gambar 70 Rencana lokasi-lokasi pengeboran dan uji in-situ 6. gorong-gorong. gedung atau bangunan lain. Jika digunakan beberapa jenis metode penyelidikan. dan skala horisontal. legenda pada rencana lokasi uji lapangan harus menunjukkan dengan jelas perbedaan jenis pendugaan. Contoh profil geologi. dan uji dilatometer (DMT). Profil memanjang secara khusus dikembangkan sepanjang alinyemen bangunan. termasuk semua bangunan bawah tanah dan di atas tanah maupun jalan lalu lintas. lereng galian atau timbunan yang tinggi. Gambar 70 memperlihatkan denah lokasi uji yang diusulkan untuk gabungan bor uji tanah dengan SPT. jalan lalu lintas atau jembatan. Kini telah dikembangkan alat ukur portable yang menggunakan sistem positioning global (GPS) untuk menentukan dengan cepat dan mendekati koordinat lokasi uji dan pemasangan alat.3 Profil geoteknik Laporan geoteknik biasanya dilengkapi dengan penyajian profil geoteknik yang dikembangkan dari data hasil uji lapangan dan laboratorium. Profil geoteknik harus disajikan dengan skala yang cocok dari kedalaman bor.2. Contoh profil geoteknik yang representatif berdasarkan hasil interpretasi dapat dilihat dalam Gambar 72. akan membantu tenaga ahli geoteknik dalam memberikan interpretasi kondisi geoteknik antarlokasi penyelidikan. 85 dari 112 BACK Daftar Rsni 2006 . kekuatan batuan dan kelulusan air pada poros bendungan Tilong diperlihatkan dalam Gambar 71. dan sejumlah profil bangunan yang merupakan acuan lokasi-lokasi seperti fondasi bangunan jembatan utama. dan seluruh panjang penampang melintang. Profil ini akan memberikan rangkuman informasi geoteknik yang efektif dan menggambarkan hubungan dari berbagai lokasi penyelidikan. pendugaan uji penetrasi konus (CPT). Profil geoteknik. frekuensi pengeboran dan pendugaan.Pd T-05-2005-A Sistem informasi geografi (GIS) dapat digunakan pada proyek untuk dokumentasi lokasi-lokasi uji sebagai acuan bangunan-bangunan yang ada. Pada umumnya digunakan skala yang lebih besar dari 1(V):10(H) atau 1(V):20(H). yang dipertimbangkan berdasarkan keputusan teknik dan pemahaman susunan geologi.

Di lokasi yang profil tanah atau batuannya sangat berbeda antarlokasi bor. Penyajian tersebut harus memberi peringatan sederhana dan menggambarkan profil yang kurang lengkap namun dapat dipercaya. tenaga ahli geoteknik harus benar-benar mengawasi penyajian data tersebut. Pada umumnya pemilik dan perencana mengharapkan tenaga ahli geoteknik dapat menyajikan profil geoteknik yang kontinu dan menunjukkan interpretasi lokasi. hasil penyajiannya akan meragukan. Oleh karena itu. Gambar 71 Profil geologi. Karena diperlukan adanya profil geoteknik menerus yang dapat diandalkan.Pd T-05-2005-A Profil geoteknik dapat disajikan dengan ketelitian dan keterbatasan sesuai dengan lokasi-lokasi pengeboran. tenaga ahli geoteknik harus meningkatkan frekuensi pengeboran dan atau penggunaan metode geofisik untuk menentukan kontinuitas atau kekosongan kondisi geoteknik. kekuatan batuan dan kelulusan air pada poros bendungan Tilong 86 dari 112 BACK Daftar Rsni 2006 . pengembangan dan sifat satuan tanah dan batuan atau deposit antarlubang bor.

namun tenaga ahli geoteknik tetap bertanggung jawab untuk memastikan keandalan prosedur penyelidikan dan pengujian. dan pengujian laboratorium. harus diperhatikan evaluasi pengaruh-pengaruh yang ada pada kinerja fondasi. peralatan dan personil. laporan sejarah dan pengalaman umum mengenai kondisi geoteknik di lokasi proyek.Pd T-05-2005-A Gambar 72 Profil geoteknik berdasarkan data pengeboran yang menunjukkan gambaran penampang melintang 6. Pembahasan yang diuraikan dalam laporan hanya digunakan untuk lokasi khusus. pengambilan contoh. a) Keputusan teknik dan saran-saran profesional yang disiapkan dalam laporan ini.3 Persyaratan Penyelidikan dan pengujian tanah dan batuan tidak terlepas dari faktor tidak terduga. Jadi pengguna data yang tidak memahami perubahan sifat deposit dan kesalahan manusia sebaiknya diinformasikan dalam laporan terbatas sesuai dengan ekstrapolasi informasi geoteknik yang diperoleh dari penyelidikan lapangan. didasarkan atas evaluasi gabungan informasi teknik. b) 7 7.1 Pertimbangan penyusunan kontrak penyelidikan geoteknik Umum Pada umumnya lebih praktis berhubungan dengan beberapa institusi di luar proyek atau membuat kontrak pekerjaan program pengeboran. dan dapat digunakan untuk tujuan lain. uji mutu dan jaminan mutu. Oleh karena itu. Jika selama konstruksi kondisi tanah yang diperoleh berbeda dari yang dibahas dalam laporan atau laporan sejarah atau jika beban desain dan atau konfigurasi berubah. dan catatan baik dari kontraktor. reputasi profesi. Walaupun pekerjaan penyelidikan geoteknik dilakukan oleh institusinya sendiri atau pihak lain. pengujian lapangan. seorang pengawas lapangan yang bekerja penuh dari pemilik proyek yang berpengalaman harus hadir dan memahami benar selama pengeboran. Pengeboran tidak dapat memperlihatkan kondisi geoteknik antarlubang bor yang tidak baik. Pada beberapa proyek. dan 87 dari 112 BACK Daftar Rsni 2006 . Kinerja proyek tidak dapat dijamin hanya dengan pekerjaan teknik dan keputusan yang memenuhi standar dan pertimbangan profesinya. Paparan khusus dalam laporan geoteknik yang dipersiapkan oleh konsultan ditunjukkan seperti berikut ini. konsultan atau institusi pengujian. perlu dilakukan pemeriksaan dengan teliti prosedurprosedur kualifikasi.

standar-standar yang harus diikuti (ASTM. lainnya). jika tersedia. nama. Jika kontrak dibuat untuk pengeboran. dan atau pneumatik serta kurva-kurva kalibrasi mutakhir untuk verifikasi harus diinspeksi dan dilaksanakan oleh laboratorium uji. geser langsung. Mereka harus membuat paparan dan deskripsi ringkas yang jelas yang berisi butir-butir berikut. 7. masalah jalan masuk jika diketahui. nomor telpon dan alamat tenaga ahli geoteknik atau geologi yang terlibat pekerjaan. ukuran minimum pengeboran/bor inti. lokasi proyek.2 Spesifikasi pengeboran dan pengujian Spesifikasi pengujian dan pengeboran harus disiapkan oleh tenaga ahli geoteknik dan geologi. setempat). prosedur laboratorium QA/QC atau persyaratan. informasi survei pengeboran lapangan dan lokasi lubang bor. informasi lokasi jalan masuk. sifat dan jumlah uji lapangan yang harus dilakukan. prosedur transportasi contoh yang harus diikuti. metode uji lapangan dan uji setempat yang harus dilakukan. isi laporan geoteknik. permeameter. kualifikasi supervisi lapangan (misal tenaga ahli geologi dan geoteknik lapangan). lereng galian). Untuk pengeboran / bor inti terdiri atas : a) b) c) d) e) f) g) h) i) j) k) l) m) n) o) p) q) r) s) t) u) jenis proyek (misal bendungan.Pd T-05-2005-A pengujian lapangan untuk menetapkan dan membuat dokumen kegiatan dan hasil-hasilnya. informasi yang diberikan kepada kontraktor harus mencakup butir-butir berikut. Program (QC/QA) minimum sebaiknya dilakukan dan untuk pengembangannya. tempat contoh. a) b) c) d) e) f) g) jenis-jenis metode pengeboran yang harus digunakan. jenis dan kuantitas uji yang harus dilakukan. jika terjadi. dan penyusunan rangkaian peralatan triaksial. konsolidasi. jenis alat yang akan digunakan. 88 dari 112 BACK Daftar Rsni 2006 . setempat. identifikasi personil supervisi operasi pengeboran/bor inti. elektrik. hidraulik. peta lapangan dan data topografi. lingkup dan mutu program biasanya berbeda-beda. frekuensi pengapalan contoh. ASTM. dan alat lainnya. Kondisi operasi kegiatan umum dari komponen-komponen secara mekanik. jembatan. resonant column. batasan/kendala lingkungan. AASTHO. persyaratan khusus keamanan dan keselamatan. kunjungan secara berkala untuk mengamati tanggung jawab dan operasi kegiatan harus dilakukan oleh tenaga ahli geoteknik. pencemaran. Kunjungan ke laboratorium uji (yang mungkin terpisah dari kontrak pekerjaan pengeboran atau pelayanan) juga harus dilakukan untuk memeriksa prosedur penanganan dan penyimpanan contoh. tembok. Pada proyek yang kecil. standar-standar uji yang harus diikuti (SNI. rencana pendahuluan. jenis contoh yang harus diambil. format laporan dan penyajian data. pengambilan contoh dan pengujian. bor inti.

Kontraktor pengeboran biasanya diminta menyediakan dokumen resmi rencana program keamanan dan keselamatan. pertanggung-jawaban. ganti rugi. 89 dari 112 BACK Daftar Rsni 2006 . Perwakilan harus selalu mempersiapkan tugas pengkajian kemajuan pekerjaan dan memberikan supervisi lapangan untuk pengeboran. memberikan informasi jumlah kecelakaan akibat kehilangan secara harian maupun tingkat jaminannya. adalah pengkajian bangunan. Sebelum menerima kontrak pekerjaan proyek.Pd T-05-2005-A Setiap usulan/proposal penyelidikan geoteknik biasanya berisi jadwal nyata dan flesibel untuk dikaji dan disetujui oleh kontraktor. kegagalan penyelesaian pekerjaan. dan lain-lain biasanya tercakup dalam setiap usulan perwakilan atau kantor kontraktor. Secara praktis biasanya sebagai bagian integral dari pemberitahuan tradisional dan pemilihan proses kontraktor. Syarat-syarat kontrak yang meliputi pembayaran untuk pelayanan. peralatan dan pengalaman dari dua atau tiga kontraktor terpilih yang berkualitas sebelum memberikan persetujuan kontrak secara khusus. tenaga ahli geoteknik dan atau geologi harus melakukan suatu kajian lapangan serta perihal kemampuan kontraktor secara tertulis. uji lapangan atau uji laboratorium.

c) Lakukan pengambilan contoh tanah / batuan tidak terganggu pada interval tertentu dan kirim semua contoh ke laboratorium sesuai dengan persyaratan 6. Lakukan evaluasi ulang terhadap objektif desain dan penyelidikan awal Hal. I. 91 Tidak Apakah dibutuhkan data tambahan ? Ya 3 90 dari 112 BACK Daftar Rsni 2006 . a) Fondasi dangkal. Tentukan permasalahan Geoteknik yang dihadapi (periksa tabel 1 dalam Volume I). b) Lakukan uji lapangan dalam lubang bor seperti SPT. a) Nota desain dan penyelidikan geoteknik awal pada ptoyek atau yang dapat terkumpul dekat lokasi Proyek. Uji lapangan a) Uji CPT b) Uji DMT c) Uji geofisik Vol. tiang pancang. Pemetaan geologi permukaan secara rinci Vol.Pd T-05-2005-A Lampiran A (normatif) Bagan alir penyelidikan geoteknik untuk fondasi bangunan air Mulai Penyelidikan Geoteknik untuk desain dan konstruksi fondasi Bangunan Air 1. tiang bor. PMT . uji geofisik dan kelulusan air sesuai dengan cara yang tercantum dalam Vol. kolom uji lapangan dan laboratorium) c) Tentukan tata letak dan kedalaman pengeboran sesuai Tabel 2 sebagai pertimbangan awal d) Lakukan peninjauan lapangan bersama-sama dengan pendesain untuk mengevaluasi program penyelidikan yang telah disusun dan lakukan perubahan bila ditemukana adanya deviasi dari perkiraan sebelumnya. II pada interval yang telah ditentukan. I 5. d) Foto udara dan pemetaan jarak jauh dan lain-lain 2. data kegempaan. II yang ditentukan pada Vol. Kumpulkan dan periksa / pelajari data-data yang tersedia. uji lapangan dan lubang bor dan pengambilan contoh tidak terganggu a) Lakukan pencatatan lubang bor untuk deskripi perlapisan tanah dan batu sesuai dengan Vol. b) Tentukan jenis-jenis penyelidikan lapangan dan laboratorium sesuai dengan permasalahan geoteknik yang dihadapi. publikasi dari Direktorat Geologi. tubuh dan fondasi urugan. Tidak Apkah hasil sesuai perkiraan awal ? Ya 7. 4. peta patahan dan informasi lainnya. Susun program penyelidikan geoteknik dan lakukan peninjauan lapangan. a) Tentukan pemetaan geologi permukaan rinci pada bangunan air . Pengeboran. dinding isi dan perkuatan tanah b) Informasi tentang parameter geoteknik yang dibutuhkan untuk analisis geoteknik sesuai permasalahan pada a). (Tabel I Vol I. b) Permasalahan konstruksi dan metode konstruksi di lokasi Proyek atau yang berdekatan c) Peta topografi dan geologi. peta zona gempa. galian dan pemotongan lereng. VST. 3. I.

Selesaikan desain dan konstruksi bangunan air Selesai 91 dari 112 BACK Daftar Rsni 2006 . II dari pedoman. III 13. Buatkan persamaan-persamaan empiris hubungan antara hasil uji lapangan dengan hasil uji laboratorim dan bandingkan dengan persamaan empirik yang dapat diperoleh di dalam literatur (Vol. VST dan geofisik Plot hubungan antara kedalaman dengan hasil uji konsolidasi (Cr. Lakukan uji laboratorium 10. konsolidasi. kadar organik . 9. Plot hubungan antara kedalaman dengan kuat geser UU dan CU ( φUU. cUU . Lakukan interpretasi terhadap hasil penyelidikan lapangan dan laboratorium Plot hubungan kedalaman dengan kadar air. 12. c’CU) Plot hubungan antara kedalaman dengan kelulusan air Plot hubungan antara kedalaman dengan kuat geser tidak terkekang Plot hubungan antara kedalaman dengan modulus elastisitas. Lakukan pemeriksaan terhadap kualitas uji laboratorium dan buatkan ikhtisar hasil penyelidikan. geser langsung UU.modulus elastisitas dan ultrasonic dan lain-lain sesuai kebutuhan. tekan uniaksial . σ’p). 90 8. Vol. tarik belah (Brazilian). kelulusan air. DMT. c) Dalam pengujian tanah dan batuan harus mengikuti ketentuan yang dipersyaratkan dalam uji mutu dalam laboratorium. soundness. Pilih contoh tanah/ batuan yang representatif untuk uji laboratorium a) Untuk tanah uji kadar air.Pd T-05-2005-A Hal. kuat geser triaksial UU dan CU. Pelaporan hasil penyelidikan yang berisi : sesuai yang dibahas dalam Vol. batas cair dan indeks plastisitas Plot hubungan antara kedalaman dengan hasil uji CPT. φ’CU. analisis pembagian butir. konsolidasi dan pengembangan. Tidak Apakah hasil uji memenuhi syarat mutu ? Ya Apakah penyelidikan fase ke 2 dibutuhkan ? Ya 3 Tidak a) b) c) d) e) f) g) h) 11. SPT. spesifik graviti. spesifik gravity. batas plastis. berat volume. PMT. batas-batas Atterberg. kelulusan air . indeks beban titik. Cc . kuat geser langsung CD. berat volume. kolapsibel dan lain-lain sesuai kebutuhan b) Untuk batuan utuh uji kadar air. slake durabilii. III) i) Buatkan profil perlapisan tanah melewati titik-titik pengeboran dan tentukan parameter desain dari masing-masing lapisan dengan mencantumkan nilai rata-rata dan deviasi standar dari masing-masing parameter geoteknik yang diperoleh dari a) sampai dengan g) j) Tentukan parameter untuk setiap perlapisan untuk permasalahan yang dihadapi.

5 dengan σvo’ dalam satuan bar atau tsf) Evaluasi kepadatan relatif pasir kuarsa murni NC dan OC dari data CPT (FHWA NHI-01-031) (Catatan: tahanan ujung penormal qt1 = qc/(σvo’)0. Kd = (p0 – u0) / /σvo’) (FHWA NHI-01-031) Hubungan antara berat volume kering.1 Daftar gambar Gambaran perlapisan. 1982) Sudut geser puncak pasir dari nilai SPT terkoreksi /penormalan (Hatanaka & Uchida. 1997) dan data hasil uji (Mayne. 1986) Gambar 4 Gambar 5 Gambar 6 Hubungan antara berat volume jenuh dan kadar air material tanah dan batuan setempat (FHWA NHI-01-031) Hubungan antara berat volume dengan kecepatan rambat gelombang geser dan kedalaman material tanah dan batuan jenuh (FHWA NHI-01-031) Hubungan antara kepadatan kering minimum dan maksimum pasir kuarsa (Catatan: Konversi sesuai dengan kepadatan massa dan berat volume 1g/cc = 9. 1998) Bagan klasifikasi perilaku tanah berdasarkan hasil uji penetrasi konus (CPT) (Robertson dkk. jenis tanah dan batuan berdasarkan metode pengeboran dan pengambilan contoh Faktor-faktor berdasarkan hasil uji penetrometer konus pada tanah (Hegazy.4 pcf) (FHWA NHI-01-031) Hubungan antara kepadatan kering maksimum keseragaman pasir (UC = D60/D10) (FHWA NHI-01-031) dengan koefisien Gambar 1 Gambar 2 Gambar 3 Gambar 7 Gambar 8 Kepadatan relatif pasir murni dari data uji penetrasi standar (FHWA NHI-01031) (Catatan: nilai tahanan terkoreksi (N1)60 = N60/(σvo’)0. sudut geser dalam. Simbol dan Singkatan B. 1983) Evaluasi sudut geser pasir dari hasil DMT berdasarkan solusi beratplastisitas (Marchetti. 1atm ≈1 tsf ≈100 kPa) Kepadatan relatif pasir murni vs indeks tegangan horisontal DMT. Catatan: Tahanan terkoreksi (N1)60 = N60/(σvo’ /pa)0. 1984). kepadatan relatif dan jenis tanah (NAVFAC DM 7. 2001) Prosesing data PMT pasir untuk menentukan φ’ puncak (Wroth. Catatan: pa adalah tegangan acuan = 1 atm = 1 bar ≈ 100 kPa Hubungan antara φ’ puncak pasir murni dan parameter kemiringan dari data uji pressuremeter (PMT) 92 dari 112 Gambar 9 Gambar 10 Gambar 11 Gambar 12 Gambar 13 Gambar 14 Gambar 15 Gambar 16 BACK Daftar Rsni 2006 .5 dengan pa = 1 bar ≈ 1 tsf ≈ 100 kPa Sudut geser pasir kuarsa berdasarkan tahanan ujung terkoreksi CPT (Robertson & Campanella.Pd T-05-2005-A Lampiran B (informatif) Daftar Gambar.1. Tabel.5 dengan tegangan dalam atmosfir.8 kN/m3 = 62. 1996).

(FHWA NHI-01-031) 93 dari 112 Daftar Rsni 2006 Gambar 25 Gambar 26 Gambar 27 Gambar 28 Gambar 29 Gambar 30 Gambar 31 Gambar 32 Gambar 33 Gambar 34 Gambar 35 Gambar 36 BACK . (FHWA NHI-01-031) Modulus degradasi dari hasil uji laboratorium tanah dan batuan tidak tersementasi dan tidak terstruktur. Catatan: Tegangan geser yang bekerja.Pd T-05-2005-A Gambar 17 Gambar 18 Gambar 19 Gambar 20 Gambar 21 Gambar 22 Gambar 23 Gambar 24 Hasil uji konsolidasi pada lempung terkonsolidasi berlebih Tanda-tanda kecenderungan terjadi tekanan dan penyembulan berkaitan dengan indeks plastisitas (FHWA NHI-01-031) Rasio hasil uji kuat geser baling dengan tegangan prakonsolidasi (suv/ σp’) vs indeks plastisitas (Ip) (Leroueil dan Jamiolkowski. dan (b) basisdata lempung di seluruh dunia (FHWA NHI-01-031) Rangkuman evaluasi kalibrasi OCR menggunakan hasil uji pisokonus pada lempung dengan gabungan kurva-kurva dari model analisis (FHWA NHI-01031) Ragam rasio kuat geser lempung tidak terdrainase terkonsolidasi normal (su/ σvo’)NC dari berbagai cara uji dengan indeks plastisitas (Jamiolkowski dkk. 1985) Hubungan antara rasio kuat geser tidak terdrainase dengan OCR dan φ’ untuk ragam geser sederhana (FHWA NHI-01-031) Hubungan antara K0 lapangan dan OCR untuk (a) lempung alami dan (b) pasir alami (FHWA NHI-01-031) Hubungan antara perkiraan kondisi tegangan lateral pasir dengan tahunan ujung terkoreksi berdasarkan hasil uji CPT (FHWA NHI-01-031) Perkiraan modulus elastis sesuai dengan syarat pembebanan dan syarat batas yang digunakan (FHWA NHI-01-031) Kurva tegangan-regangan ideal dan kekakuan tanah pada regangan kecil dan besar (FHWA NHI-01-031) Variasi konseptual modulus geser dengan tingkat regangan akibat pembebanan monotonik statik dan hubungannya dengan uji lapangan (FHWA NHI-01-031) Reduksi modulus dengan log regangan geser untuk kondisi pembebanan monotonik awal (statik) dan dinamik (siklik). (FHWA NHI-01-031) Kurva-kurva modifikasi hiperbola untuk menggambarkan modulus degradasi (untuk f =1). q/qu = 1/FK dengan FK = faktor keamanan. 1985) Kuat geser lempung tidak terdrainase normal NC akibat ragam pembebanan berbeda dengan model pengganti (Ohta dkk. Robertson & Lunne. 1998) Hubungan antara rasio overkonsolidasi dan indeks tegangan horisontal DMT Kd berdasarkan (a) teori regangan rongga – keadaan kritis. 1991) Hubungan antara tegangan prakonsolidasi dengan tahan konus konus netto berdasarkan hasil CPT elektrik (FHWA NHI-01-031) Hubungan antara tegangan prakonsolidasi dan tekanan air pori berlebih berdasarkan hasil uji pisokonus pada lempung (FHWA NHI-01-031) Hubungan antara tegangan prakonsolidasi dan tegangan kontak netto berdasarkan hasil uji DMT pada lempung (FHWA NHI-01-031) Hubungan antara tegangan prakonsolidasi dan kecepatan gelombang geser lempung (Mayne.

1992) Gambaran keadaan untuk perkiraan kuat geser batuan galian terdiri atas (a) kuat tekan batuan utuh. (FHWA NHI-01-031) Kecepatan rambat gelombang P dan S yang representatif pada material batuan utuh. dan (d) massa batuan yang terlipat 94 dari 112 Daftar Rsni 2006 BACK . 1991). 1986). (b) kuat tekan utuh melintang kekar. 1989). Kecenderungan antara G0 dan modulus DMT ED dalam tanah lempung (Tanaka & Tanaka. Berat volume batuan jenuh sesuai dengan porositas dan berat jenis. 1966) Kelompok modulus elastisitas vs kuat tekan batuan sedimen utuh (Deere & Miller. 1998) Modifikasi faktor waktu untuk disipasi tekanan air pori monotonik u1 Modifikasi faktor waktu untuk disipasi tekanan air pori monotonik u2 Koefisien konsolidasi pada 50% disipasi dari hasil pembacaan tekanan air pori bagian tepi. Faktor dan parameter yang mempengaruhi pemetaan geologi dari ciri-ciri massa batuan (Wyllie. 1966) Kelompok modulus elastisitas vs kuat tekan batuan malihan utuh (Deere & Miller. (FHWA NHI-01-031) Perkiraan indeks kekakuan dari OCR dan indeks plastisitas (Keaveny & Mitchell. qT dalam tanah lempung (Mayne & Rix. Hubungan antara kuat tekan uniaksial. Berat jenis padat mineral batuan yang terpilih. Modulus (D’) vs modulus geser (G0) lempung (Burns & Mayne. dan O’Rourke. Rasio G0/ED dengan hasil pembacaan penormalan DMT untuk pasir kuarsa bersih (Baldi dkk. 1998). 1966) Modulus elastisitas dengan regangan kecil (Emax) vs kuat tekan (qu) semua jenis material (Tatsuoka & Shibuya. Perbandingan kuat tarik vs kuat tekan spesimen batuan utuh (FHWA NHI-01031) Kelompok modulus elastisitas vs kuat tekan batuan beku utuh (Deere & Miller. (c) kuat geser sepanjang bidang pekekar. dan kuat tarik batuan utuh dalam diagram Mohr-Coulomb. Trautmann. 1998).Pd T-05-2005-A Gambar 37 Gambar 38 Gambar 39 Gambar 40 Gambar 41 Gambar 42 Gambar 43a Gambar 43b Gambar 44 Gambar 45 Gambar 46 Gambar 47 Gambar 48 Gambar 49 Gambar 50 Gambar 51 Gambar 52 Gambar 53 Gambar 54a Gambar 54b Gambar 54c Gambar 55 Gambar 56 Contoh hasil uji pisokonus seismik (SCPTu) dalam profil tanah berlapis (FHWA NHI-01-031) Rasio G0/qc dengan tahanan ujung terkoreksi CPT untuk pasir tidak tersementasi (Baldi dkk. Solusi yang representatif untuk kurva disipasi berlebih tipe 2 pada berbagai nilai OCR (Burns & Mayne. 1999). (FHWA NHI-01-031) Klasifikasi kuat tekan material batuan utuh segar (Kulhawy. 1989). triaksial. 1993). Kecenderungan antara G0 dan tegangan ujung CPT.

1989). 1974) Kecenderungan satuan tahanan tepi dengan kuat tekan batuan sedimen (Kulhawy & Phoon.2 Daftar tabel Tabel 1 Nilai kelulusan air tanah yang representatif (Carter dan Bentley.Pd T-05-2005-A Gambar 57 Contoh beberapa massa batuan dengan asal usul geologi yang berbeda. 1974) Grafik untuk memperkirakan indeks kekuatan geologi (GSI) (Hoek & Brown. 95 dari 112 Tabel 1 Tabel 2 Tabel 3 Tabel 4 Tabel 5 Tabel 6 BACK Daftar Rsni 2006 . 1997) Konstanta material m1 untuk evaluasi GSI kekuatan massa batuan (Hoek dkk. bangunan pelimpah dan pengeluaran Tilong Rencana lokasi uji pada lokasi bor tanah (Catatan: skala horisontal: 1 cm = 10 m) Rencana lokasi-lokasi pengeboran dan uji in-situ Profil geologi. sebagai bahan pembanding batuan utuh di Indonesia. dan Lunde. 1997) Daya dukung izin batuan segar (Wyllie. cara uji dan karakteristik teknis Klasifikasi jenis batuan utama berdasarkan sumber geologi Skala waktu geologi Rentang berat volume kering batuan yang mewakili Parameter benda uji batuan utuh dari basisdata di USA (Goodman. kekuatan batuan dan kelulusan air pada poros bendungan Tilong. 1989) Sistem rating Q untuk klasifikasi massa batuan (Barton. dan hubungan GSI dengan m1 untuk mendapatkan sudut geser φ’ (b) (Hoek & Brown. kesulitan pengambilan contoh. 1989) Contoh tata letak bendungan. Tegangan dukung izin pada batuan retak dengan RQD (Peck dkk. 1984. 2001) Ripebilitas (Penggarukan) batuan setempat dengan Caterpillar dozer yang dievaluasi dengan kecepatan gelombang P (Franklin & Dusseault. 1995) Grafik hubungan m1 dengan GSI untuk mendapatkan rasio c’/σu (a). Profil geoteknik berdasarkan data pengeboran yang menunjukkan gambaran penampang melintang Gambar 61 Gambar 62 Gambar 63 Gambar 64 Gambar 65 Gambar 66 Gambar 67 Gambar 68 Gambar 69 Gambar 70 Gambar 71 Gambar 72 B. 1999) dari basisdata USA sebagai bahan pembanding batuan segar di Indonesia. Gambar 58 Gambar 59 Gambar 60 Sistem klasifikasi geomekanik untuk rating massa batuan (RMR) (Bieniawski. 1993) Satuan tahanan tepi tiang bor dengan berbagai jenis batuan (Ng dkk. Lien. 1991) Ikhtisar cara identifikasi.

Stagg dan Zienkiewicz. γdry γdmax γdmin γsat γt γw δ ∆εa ∆σ ∆D ∆e ∆H ∆H ∆p ∆t εa. Waktu jatuh tinggi air dalam pipa tegak Regangan aksial dalam tanah atau batuan (∆H/H) Regangan radial pada benda uji batuan (∆D/D) Viskositas dari permeant Faktor koreksi terhadap kuat geser baling (VST) untuk mencapai kekuatan termobilisasi. mineral.3 Klasifikasi kuat tekan batuan utuh (Deere dan Miller.81 kN/m3) Pergerakan horisontal dari massa tanah dalam uji geser langsung (direct shear) Perubahan dalam regangan aksial Perubahan dalam pemberian tegangan aksial Perubahan diameter pada benda uji batuan Perubahan angka pori terhadap ∆p Pergerakan vertikal dari massa tanah dalam uji geser langsung (uji direct shear) Perubahan tinggi benda uji Penambahan beban akibat konstruksi fondasi atau penimbunan. 1989. 1977) Metode empiris untuk evaluasi modulus elastis (Em) massa batuan Contoh isi laporan penyelidikan geoteknik (buku data) Contoh isi laporan utama geoteknik Simbol dan singkatan Keterangan Arah dip dari kekar (Joint dip direction) Arah kemiringan kekar (Slope dip direction) Sudut rata-rata dari dip bidang perlapisan batuan (Average dip angle of rock bedding) Dip dari kekar (Joint dip) Kemiringan dip (Slope dip) Berat volume terendam dari material geoteknik Berat volume tanah Berat volume kering tanah Berat volume tanah dalam kondisi sangat padat Berat volume tanah dalam kondisi sangat lepas Berat volume jenuh air Berat volume total sama dengan γt Berat volume air (= 9. = 2 πdV/I Tegangan efektif Tegangan normal Tegangan utama total maksimum. 1966. 1968) Sudut geser pekekar batuan. dan urugan (Franklin & Dusseault. rasio Poisson Resistivitas . dan Jaeger & Cook. σ3 BACK . εaxial εradial µ µFV υ ρ σ’ σ σ1. 1977) Sudut geser residu (Barton. 1973 dan Hoek & Bray. σ2 .Pd T-05-2005-A Tabel 7 Tabel 8 Tabel 9 Tabel 10 Tabel 11 Tabel 12 B. intermediate and minor total principal stresses) 96 dari 112 Daftar Rsni 2006 Simbol αj αs β βj βs γ’ γ γd . menenggah dan minimum berurutan (Major.

menenggah dan minimum (Major. Kode untuk contoh inti Denison atau tipe pitcher Kode untuk uji konsolidasi pada kolom uji lainnya pada bor log Tertutup (Close) (digunakan untuk penjelasan jarak diskontinuitas dalam log bor) Tekanan tidak terkoreksi pengempesan membran dilatometer datar. Faktor bentuk Kohesi terdrainase atau efektif dari tanah atau batuan hasil uji geser terdrainase di laboratorium Koefisien konsolidasi sekunder Koefisien kompresibilitas sekunder dalam terminologi regangan Koefisien kompresibilitas sekunder dalam terminologi angka pori (void ratio) Koefisien Hazen Calcite (digunakan untuk menjelasakan tipe isian pada log bor batuan) California Bearing Ratio Koefisien kelengkungan (curvature) = (D30)2 / (D10xD60) Indeks kompresibilitas (Virgin) 97 dari 112 Daftar Rsni 2006 . σ3’ σa(ult) σCIR σa σu σv σvo σvo’ τ (τu)corr (τu)field φ’ φ φd φr A A A AASHTO ADSC AQ Wireline ASTM B B Bf BHS BQ BX C C C C c c’ Cα Cαε Cαe Cl Ca CBR Cc Cc BACK Keterangan Tegangan utama efektif maksimum. Area yang terbebani.Pd T-05-2005-A Simbol σ1’. intermediate and minor effective principal stresses) Kuat tekan uniaksial dari batuan Kuat tekan uniaksial dari batuan utuh Tegangan normal pada kekar (joint) Tegangan aksial yang diberikan Tekanan total overburden Tegangan (vertikal) total overburden Tegangan efektif overburden (vertikal) Tegangan geser Kuat geser baling (vane) terkoreksi Kuat geser baling terukur di lapangan (belum terkoreksi) Sudut geser dalam terdrainase atau efektif dari tanah atau batuan Sudut geser dalam Sudut geser dalam terdrainase Sudut geser dalam residual (sisa) Tekanan tidak terkoreksi yang dibutuhkan sehingga membran atau diafragma dari dilatometer datar terdorong balik.1 mm. luas potongan melintang dari benda uji Kode contoh Auger yang tercatat pada kolom uji lainnya pada pencatatan hasil pengeboran (log bor) American Association of Slate Highway and Transportation Officials Association of Drilled Shaft Contractors Petunjuk untuk matabor batuan American Society for Testing and Materials Bedding (untuk menjelaskan tipe diskontinuitas dalam log bor batuan) Tekanan tidak terkoreksi untuk menyebabkan defleksi membran dilatometer 1. σ2’ . Lebar fondasi Kode untuk uji borehole shear yang dicantumkan pada kolom uji lainnya dalam bor log Dimensi ukuran inti batuan Penginti batuan dengan matabor inti BX untuk memperoleh diameter inti 41 mm.

angka pori final Modulus Menard dari uji pressuremeter standar dengan (prapengeboran). Modulus deformasi di lapangan (in-situ) Angka pori dalam kondisi paling lepas dari tanah. Angka pori awal (initial) dari tanah. Diameter semu (apparent) dari butiran tanah Konsolidasi primer pada tingkat pembebanan tertentu Kedalaman Jarak antara elektrode dalam survai resistivitas Ukuran butir dari pada 10% contoh yang lebih kecil (Grain size than which 60% of the sample is smaller) Ukuran butir dari pada 30% contoh yang lebih kecil Ukuran butir rata-rata .Pd T-05-2005-A Simbol CD CDS CH Ch ch CL CI co CP CPT CR Cr CU CU cu cv D D d d d D10 D30 D50 D60 Dmax Dmin DMT Dr DS Ds DSS E e EAV ED ef EM Em emax emin e0 er EROS Es BACK Keterangan Terkonsolidasi dan terdrainase Kondisi Completely Decomposed Lempung anorganik dengan plastisitas tinggi Chlorite (digunakan untuk menjelasakan tipe isian pada log bor batuan) Koefisien konsolidasi horisontal Lempung anorganik dengan plastisitas rendah sampai sedang Lempung (digunakan untuk menjelasakan tipe isian pada log bor batuan) Kohesi dari tanah yang dikompaksi l Petunjuk untuk matabor inti. 98 dari 112 Daftar Rsni 2006 . Angka pori dalam kondisi paling padat dari tanah. Void ratio at beginning of rebound Angka pori pada permulaan dari pembalikan (rebound) Earth Resources Observations Systems Modulus sekan Young. Ukuran butir terbesar dalam contoh tanah Ukuran butir terkecil dalam contoh tanah Uji flat dilatometer Kepadatan relatif dari tanah Kode uji direct shear yang dicantumkan dalam kolom uji lainnya pada log bor Diameter efektif Uji Direct Simple Shear Modulus Elastisitas atau Young Angka pori Modulus Young rata-rata Modulus elastisitas ekivalen diperoleh dari uji flat dilatometer. Uji penetrasi konus (Cone Penetration Test) atau sondir Rasio kompresibilitas = Cc /(1+e) Indeks rekompresi Koefisien keseragaman = D60/D10 Uji geser triaksial terkonsolidasi dan tidak terdrainase Kuat geser tidak terdrainase Koefisien konsolidasi vertikal Diameter asli dari contoh batuan. dari pada 50% contoh yang lebih halus Ukuran butir dari pada 60% contoh yang lebih kecil.

Kerikil bersih bergradasi buruk. campuran kerikil pasir dan lempung bergradasi buruk Kerikil lanauan. Petunjuk untuk casing flush joint Petunjuk untuk matabor inti batuan Rapuh (friable) (terminologi untuk menjelaskan kekerasan batuan). h2 HQ HW i Ia(50) ID Id2 Ip . Petunjuk untuk batang bor Sudut ketidak sama rataan terhadap garis dip rata-rata. dan t2 secara berurutan Dimensi ukuran inti batuan. Indeks ketahanan lekang (Slake durability index) Indeks plastisitas = LL .Pd T-05-2005-A Simbol Et EW EX F F F f Fe Fi Fo f FV GC GM GP GPR Gs GW Gy H H H H H H h1 . 200 Frekuensi gelombang geser (Shear wave) Fe. Indeks kekuatan beban titik anisotropik dari benda uji batuan. Tinggi tekanan air pada waktu t1 . Indeks material untuk menentukan tipe tanah dari uji dilatometer datar. PI Ir Is Is(50) ISRM J Ja JCS Jr JRS Jv k KD K0 BACK Keterangan Modulus tangen Young. Oksida besi (digunakan untuk menjelaskan tipe isian pada log bor batuan) Terisi (Filled) (digunakan untuk menjelaskan jumlah isian dalam log bor batuan) Foliasi (Foliation) (untuk menjelaskan jenis diskontinuitas dalam bor log batuan) Tahanan gesek atau friksi yang terukur pada uji CPT Uji geser baling di lapangan (Field Vane or Vane Shear Test) Kerikil lempungan. campuran kerikil dan pasir. Sesar (Fault) (untuk menjelaskan jenis diskontinuitas dalam bor log batuan) Kadar halus (Fines). Koefisien tegangan lateral atau horisontal pada kondisi geostatik 99 dari 112 Daftar Rsni 2006 . campuran kerikil dan pasir.PL Tidak beraturan (Irregular) (digunakan menjelaskan permukaan kekar pada log bor batuan) Indeks beban titik Indeks kekuatan beban titik benda uji batuan dengan diameter = 50 mm International Society for Rock Mechanics Kekar (Joint) (digunakan menjelaskan tipe diskontinuitas pada log bor batuan ) Angka alterasi kekar (Joint alteration number) dalam cara Q-System Kuat tekan dinding kekar (Joint wall Compressive Strength) Koefisien kekasaran kekar dalam cara Q System Koefisien kekasaran kekar (Joint Roughness Coefficient) Jumlah kekar-kekar dalam satuan volume dari batuan. berhubungan dengan persentase tanah yang lewat saringan no. Ground Penetrating Radar Specifik graviti butiran padat dar tanah Kerikil bergradasi baik. Gipsum /Talc (digunakan untuk menjelaskan tipe isian pada log bor batuan) Rasio modulus tinggi Healed (digunakan untuk menjelaskan tipe isian pada log bor batuan) Beda tinggi tekanan air pada potongan pengujian Keras (Hard) (terminologi untuk menjelaskan kekerasan batuan) Setengah tinggi dari contoh konsolidasi (Lintasan drainase terpanjang) Tinggi asli contoh batuan. Koefisien kelulusan air Indeks tegangan lateral atau horisontal dari uji dilatometer datar. campuran kerikil-pasir-lanau bergradasi buruk.

Pd T-05-2005-A Simbol L L Lf LFC LH LI LL LPS LT M M M MFS MH MH ML ML-CL MW NM . Tidak ada perolehan contoh (No recovery of sample) Petunjuk mata bor inti. N n N1 N60 (N1)60 NC Ncorr Nfield NGI No NQ NR NV NW NX OC OCR OH OL OMC P P p1 Pa Keterangan Panjang contoh tanah Rasio modulus rendah Panjang fondasi Panjang sepenuhnya potongan inti batuan silindris (Length of fully cylindrical rock core piece) Kekerasan rendah (Lows hardness) (terminologi menjelaskan kekerasan batuan )) Indeks likuiditas (Liquidity Index) Batas cair (Liquid Limit) Latent Planes of Separation Panjang potongan inti batuan dari ujung ke ujung Sedang (Moderate) (untuk menjelaskan jarak diskontinuitas dalam bor log batuan) Rasio modulus rata-rata Analisis mekanis (saringan atau hydrometer) Kondisi micro fresh Lanau lempungan anorganik. Terkonsolidasi normal (Normally Consolidated) Nilai N terkoreksi terhadap tekanan air pori untuk pasir halus dan pasir lanauan Nilai N terukur di lapangan Norwegian Geotechnical Institute Tidak terisi (None) (menjelaskan jumlah atau tipe pengisian dalam log bor batuan) Dimensi ukuran inti batuan. Petunjuk batang bor Penginti batuan dengan matabor NX untuk memperoleh inti dengan diameter 53 mm Terkonsolidasi lebih (Overconsolidated) Rasio terkonsolidasi lebih (Overconsolidation Ratio) Lempung organik dengan plastisitas sedang sampai tinggi (Grup simbol dalam Unified Soil Classifications System) Lanau organik. lanau elastik Moderately hard (term to describe rock hardness) Lanau anorganik atau pasir halus. serbuk batuan pasir lanauan atau lempungan (Grup simbol dalam Unified Soil Classification System) Campuran lanau anorganik dan pasir. Lebar sedang (Moderately wide) (menjelaskan lebar diskontinuitas dalam log bor batuan) Nilai N (atau jumlah pukulan) tidak terkoreksi uji penetrasi standar (SPT) Porositas 2 Nilai N yang dinormalisir terhadap tegangan efektif overburden (pada 1 Atmosfir=1 kg/cm ) Nilai N-SPT terkoreksi terhadap 60% rata-rata dari enersi standar Nilai N-SPT N terkoreksi terhadap 60% efisiensi enersi dan tegangan yang dinormalisir. lempung lanauan organik dengan plastisitas rendah (Grup simbol dalam Unified Soil Classifications Systems) Kadar air optimum (Optimum Moisture Content) Pisometer Kode contoh tabung dinding tipis (thin-wall tube) dalam kolom tipe contoh pada log bor Tekanan B terkoreksi akibat kekakuan membran dari uji dilatometer datar Terisi sebagian (Partially filled) (menjelaskan jumlah pengisian bor log batuan) 100 dari 112 BACK Daftar Rsni 2006 .

Gambut dan tanah dengan kadar organic tinggi Poly-vinyl chloride Petunjuk tipe casing flush-joint Pyrite (untuk menjelaskan tipe pengisian dalam log bor batuan. Indeks ketahanan lekang (Slake Durability Index) Pengeseran (Shear) (menjelaskan tipe diskontinuitas pada bor log batuan Batas susut (Shrinkage limit) Cermin sesar (Slickensided) (menjelaskan kekasaran dari permukaan pada log bor batuan. Kecepatan aliran konstan kedalam lubang. Quartz (menjelaskan tipe pengisian pada bor log batuan. Kuat geser tidak terkekang (Unconfined). campuran pasir-kerikil. Bintik-bintik (Spotty) (menjelaskan jumlah pengisian pada bor log batuan) Pecahan yang disukai (Preferred Breakage) Uji penetrasi standar (Standard Penetration Test) Agak kasar (Slightly rough) (menjelaskan kekasaran permukaan pada bor log batuan) 101 dari 112 Daftar Rsni 2006 . Bobot massa batuan (Rock Mass Rating) Rock Quality Designation Rasio rekompressi = Cr / (1+ e) Petunjuk untuk batang bor Petunjuk untuk casing tipe flush-joint Derajat kejenuhan tanah (Degree of saturation) Permukaan lembut (Smooth) (menjelaskan kekasaran dari permukaan pada bor log batuan) Pasir lempungan. campuran pasir – lanau bergradasi buruk. Kasar (Rough) (menjelaskan kekasaran permukaan pada bor log batuan Pembobotan (rating) dari Shale Radius dari lubang pengeboran untuk pengujian Nilai tahanan tanah terhadap deformasi lateral bila diberi beban diatasnya. campuran pasir lempung bergradasi buruk Pasir (Sand) (menjelaskan tipe pengisian pada bor log batuan). Pasir lanauan. Campuran pasir-lanau -lempung dengan butiran halus yang agak plastis. Bobot kemiringan massa batuan (Slope rock Mass Rating) Pasir bersih bergradasi buruk. debit volume total. Tahanan konus tidak terkoreksi diukur dari uji CPT Tahanan konus terkoreksi diukur dari uji CPT.Pd T-05-2005-A Simbol pc PDS pf PI PL pl PLT PMT P0 p0 PQ Ps Pt PVC PW Py Q qc qt qu Qz R R r R-value RMR RQD R RW RW Sr S SC Sd SDI Sh SL Slk SM SM-SC SMR SP Sp SPB SPT SR BACK Keterangan Tegangan prakonsolidasi Kondisi terurai sebagian (Partly Decomposed State) Tekanan creep pada uji pressuremeter tipe Menard Indeks plastisitas = LL – PL Batas plastis Tekanan batas (limit pressure) pada uji pressuremeter tipe Menard Uji beban titik (Point Load Test) Uji pressuremeter Tekanan sehubungan dengan volume V0 pada uji pressuremeter type Menard Tekanan A terkoreksi akibat kekakuan membran dari uji dilatometer datar Dimensi ukuran inti batuan Kode contoh tabung piston dalam kolom tipe contoh pada log bor. kuat tekan uniaksial dari batuan.

Sangat keras (Very hard) (terminologi untuk menjelaskan kekerasan batuan). Urat (Vein) (menjelaskan tipe diskontinuitas dalam log bor batuan) Sangat rapat (Very close) (menjelaskan jarak diskontinuitas pada log bor batuan) Volume awal probe pada uji pressuremeter tipe Menard. Volume yang berhubungan dengan tekanan creep p.Pd T-05-2005-A Simbol SRB SRS SS St STS Su su suv su/ σv0’ SW T T T t t100 t50 TV U u u1 u2 u0 USCS UU UW V V VC Vc Vf VH Vm VN v0 VR Vs W W wn Wa Wn X X ZW z Keterangan Pecahan random (Random Breakage) Sistim pembobotan shale (Shale Rating System) Kode contoh standard spoon pada kolom tipe contoh pada bor log Bertangga (Stepped) (menjelaskan bentuk permukaan kekar pada bor log batuan) Kondisi luntur (Stained State) Permukaan luntur (Surface stain) (menjelaskan jumlah pengisian pada log bor batuan. Kuat geser tidak terdrainase Kuat geser baling tidak terkoreksi (Vane shear strength) Rasio kuat geser tidak terdrainase penormalan terhadap tegangan efektif overburden Pasir bergradasi baik. (Vc + Vf) pada uji pressuremeter tipe Menard Sangat sempit (Very narrow) (menjelaskan lebar diskontinuitas pada log bor batuan) Perbedaan antara volume lubang dan vc Sangat kasar (Very rough) (menjelaskan kekasaran permukaan pada bor log batuan). Kadar air alami Bergelombang (Wavy) (menjelaskan bentuk permukaan kekar dalam bor log batuan. Petunjuk casing tipe flush-joint Kedalaman (dibawah permukaan tanah) 102 dari 112 BACK Daftar Rsni 2006 . Jarak Kode uji khusus pada kolom uji lainnya pada bor log. Kode berat volume dan kadar air dalam kolom uji lainnya pada bor log. Waktu yang dibutuhkan untuk 50% konsolidasi pada tingkat beban tertentu. Kecepatan rambat gelombang geser Lebar (Wide) (menjelaskan lebar diskontinuitas dalam bor log). Keruntuhan Topping. pasir kerikilan dengan sedikit atau tanpa butiran halus. Petunjuk casing tipe flush-joint Penurunan potensial dalam survai resistivitas. Tekanan air pori Tekanan air pori uji piezocone tipe I (elemen tengah ) Tekanan air pori uji piezocone tipe 2 (elemen bahu) Tekanan air pori hidrostatik di lapangan atau in-situ. Kode uji triaksial terkompressi pada kolom uji lainnya dari log bor. Kode uji tekan tidak terkekang (Unconfined) pada kolom uji lainnya dari bor log. Kode untuk uji indeks torvane pada kolom uji lainnya pada log bor. Rapat (Tight) (menjelaskan lebar diskontinuitas pada log bor batuan) Gaya geser pada tanah dalam uji geser langsung (direct shear) Waktu Waktu yang dibutuhkan untuk 100% konsolidasi pada tingkat beban tertentu. Kadar air alami. Unified Soil Classification System Tidak terkonsolidasi dan tidak terdrainase. pada uji pressuremeter tipe Menard.

Eng. Dipl. M. Carlina Soetjiono. Ir. Badan Penelitian dan Pengembangan. Lembaga Pusat Litbang Sumber Daya Air Pusat Litbang Sumber Daya Air 103 dari 112 BACK Daftar Rsni 2006 .Pd T-05-2005-A Lampiran C (informatif) Daftar nama dan lembaga 1) Pemrakarsa Pusat Penelitian dan Pengembangan Sumber Daya Air. Departemen Pekerjaan Umum. Najoan. HE. Theo F. 2) Penyusun Nama Ir.

South Africa. West Conshohocken. (1994). 36 (1). Research Conference on Shear Strength of Cohesive Soils. D. 227 p. Barton. "Rock mass classification and tunnel reinforcement using tle Q-system". "Jet grouting". Trans Tech Publication.K. 189-239. "Small is beautiful: The stiffness of soils at small strains". I. Second Edition. Special Procedures for Testing Soil and Rock for Engineering Purposes”.T. (1960). Chapter 8.. Bieniawski. U. A. L. London. Vol.S Symposium On Rock Mechanics. A.. D. G.. W. Johannesburg. 3944.. J. Bruce. "Suggested methods for identification of soils. Acker Drill Co. I. Bjerrum. F.. “The Measurement of Soil Properties in the Triaxial Test”. Bieniawski. 7. M. Ground Control and Improvement. W. L. Alpan . ”Basic Procedures for Soil Sampling and Core Drilling”. Z. Barton. Proceedings. Boulder CO . PA. L. 1-54.Pd T-05-2005-A Bibliografi Acker. N. R. III (1974). Proceedings... ASTM. and Bjerrum. 104 dari 112 BACK Daftar Rsni 2006 . Inc. and Lunde. 12th International Conference on Soil Mechanics & Foundation Engineering. Jezequel. ASTM. (Purdue Univ. (1986). W. 26 (4). Proceedings. "Propagation of brittle fracture in rock". and LoPresti. N. STP Na.. 1. 6 (4). D. (1972). ASCE. and Henkel. Elsevier. Boulder/CO. John Wiley & Sons. V. Engineering Geology. 165-170. J.B. (1989). "The relevance of the triaxial test to the solution of stability problems". and Shields. "Modulus of sands from CPTs and DMTs”. Bishop. (1972). Vol. II. Special Technical Publication 479. Xanthakos.T.E. Switzerland. Z.. 984. Rotterdam.C. Proceedings. L. Bolton. Scranton. 18501. Rock Mechanics. 311-13. Proceedings. J. "Review of a new shear strength criterion for rock joints". Barton. (1970).D. (1974). Baldi. PA. Jamiolkowski. ASCE. (1989). Reston/VA.R. G. A. H. Burmister. “Factors controlling the strength of partially saturated cohesive soils". (1962). West Conshohocken. P. New York. P..O. “Rock Mechanics Design in Mining and Tunneling”. "The strength and dilatancv of sands". Performance of Earth and EarthSupported Structures Vol. J. (1984).. and Abramson.. Ghionnna. and Donald. (1988). "Embankments on soft ground".. D. (1978) “The Pressuremeter and Foundation Engineering”. Report FHWA -IP. Cont). Briaud. (1989). Rock Classification Systems for Engineering Purposes. Bishop. P. Edward Arnold Publishers. 499-516. W. Box 830. Washington. L. Research Conference on Shear Strength of Cohesive Soils.. Rio de Janeiro. J.R. W. 148. (1960). 65-78.. M. Baguelin. N. Bieniawski.. 287-332. 580-683. Vol. Z. 10th U. Bishop. PA. Bellotti. Ltd.. "The pressuremeter test for highway applications". M. R.C. 503-532. D. D.. Burland.. Vol. 437-501.89-005. F. Federal Highway Administration. Vol.. 272 p. Canadian Geotechnical Journal. Geotechnique . Inc. A.B.. Blight. T. "Engineering classification of rock masses for the design of tunnel support”. ASCE. “Engineering Rock Mass Classifications”. Lien. (1989).R. Balkema. (1973).

Tech. M. S. West Conshohocken/PA. Department of the Army. 5. (1989). and Fadum. P. PWS-Kent Publishing Company. Deere. (1998). USAF Weapons Lab. B. Wash.C. Inc. MA. F. U. 16-22. Si Paul MN. “Groundwater and Wells”. Das. "Injection des sols: tome I Principes et Methodes”.P. 665 p.U. 35(6).. C. (1993). ASCE Reston/VA. (1966).M. Cambefort.S. Vancouver. “A finite element study of the pressuremeter in sand using a nonlinear elastic plastic model”. NM. Johnson Filtration Systems.C.E (1940). R. Cheney. Campanella. Canadian Geotechnical Journal... “Engineering classification and index properties intact rock”. S. U. S.W. 488-498. W. and BiTech Publishers. Paris. D. and Carter. Clarke. P.R. and Robertson. 1629-1653.. France (in French). Casagrande. Carter..G. G. J. (1970). 343-362. Vane Shear Strength Testing in Soils : Field and Laboratory Studies. Driscoll. “Geotechnical Instrumentation for Monitoring Field Performance”. K. A. American Society for Testing & Materials. D.K. Campanella.E. D.Pd T-05-2005-A Burns. Boston.. Natl. 1063-1073. Publication 268. New York. “Pressuremeters in Geotechnical design”. ”Technical description of rock cores for engineering purposes". (1981). Chandler.W. 2nd Edition. P. (1988). "Soils and foundations workshop manual". H. Washington. J. U. Washington D. Cambridge. (1987). International Thomson Publishing /UK. McGraw-Hill Company. Army Corps of Engineers. No. Graduate School of Engineering. (1991). (1963). 1 (1). Inc. Federal Highway Administration. J. Acad Press. "Notes on soil testing for engineering purposes”. (1990). and Bentley. “Correlation of Soil Properties”. "Field methods for dynamic geotechnical testing". Philadelphia 3-23. D. Harvard University. Dunnicliff. “Report Manual: Rock quality designation (RQD) after 20 years”. "The in-situ measurement of the undrained shear strength of clays using the field vane". 81-38. Contract DACW 39-86-M-1273. Pentech Press Limited London. 348-362. (1983). 399. 13-44.(1994). Fahey. (1993). Transportation Research Road 1548. Deere. (1996). M. Burns. G.G. AFWL-TR-65-116. Duncan. R. Felmechanik und Ingenieur Geologis. Chen. and Mayne. and Chassie. D. 33 (3).J. John Wiley & Sons. "Nonlinear analysis of stress and strain in soils”. 1089 p. It G. and Mayne . Report. Canadian Geotechnical Journal. Circular FHWA : HI-88-009. "Small and high-strain measurement of in-situ soil properties using the seismic cone". Dynamic Geotechnical Testing II (STP 1214). Das. Canadian Geotechnical Journal. Vol. ASTM. 105 dari 112 BACK Daftar Rsni 2006 . and Deere. Ma.W.. Vol. R. P..Y. "Statistical relationships between piezocone measurements and stress history of clays". Kirtland Air Force Base.E. M.. ASTM STP 1014. B.. and Miller. P. R.S-Y. Cone Penetration Testing and Experience.(1995).C. Vol. (1964). "Monotonic and dilatory pore pressure decay during piezocone tests".P. D. “Advanced Soil Mechanics”. R. and Mayne. “Principles of Geotechnical Engineering”. and Chang. "Applied cone research". B. (1996). Deere. B. (1936). New York. 30 (2). Journal of the Soil Mechanics & Foundation Division (ASCE) 96 (SM5). U. M.

3rd International Conference on Soil Mechanics and Foundation Engineering.F. “Compacted fill”. V.. Georgia Institute of Technology. excavation. Zurich. (1975). B. Transportation Research Board . Franklin. "gINT geotechnical Integralor Software 3.. P. D.C. Vol. Merrill Publishing. P.gEotechnical INTegratot Software 3. Greenhouse.a methods manual : vol. Sweden. and Scoble. (1998). and Brown..P. "Generation and measurement of shear waves in-situ”. Geotechnique . Nisbet. F. 81-97. Hardin. Columbus.M. Washington D. Winterkorn and H. “Introduction to Rock Mechanics”. and Bawden. Van Nostrand Reinhold.A. A. “Application of Geophysics in Environmental Investigations”.K.J. Ford. New York. NV. 98 (SM7).A.E. Y. Gibson. Proceedings. and Uchida. New York. P.E.O.. Hoar. Documentation. and Stokoe. Kaiser. V. Franklin. (1998). Journal of the Soil Mechanics & Foundation Division (ASCE). A. Dynamic Geotechnical Testing (STP 654). M. and Gudjurgis. “A shale rating system and tentative applications to shale performance”. E. School of Civil and Environmental Engineering. Hoek. 2nd Edition. EPA 600/4-84-076 (NTIS PB521596).. “Characterization of hazardous waste sites. Balkema. Las Vegas. P. G. Philadelphia. 34 (1). II. M. 667-692.B. Finn. E. 244-311. New York. 464 p. (1989).. "Checklist and guidelines for review of geotechnical reports and preliminary plans and specifications”. 34 (8). Soils & Foundations. 19.. (1984). (1998).2”. J. (1989).J. eds. Switzerland. S. 3-29.C. stabilization".B. 126-130. Washington D. E (1953). John Wiley & Sons. Inc. P.. (1981). D. Vol.. Hilf. Shales and Swelling Solis. International Symposium on Fundamental of Rock Joints Bjorkliden. PhD Thesis”. "Frictional mechanism and properties of rock discontinuities". A.P.. L A. “Rock Slope Engineerhng”. H. Transportation Research Record 790. R. J. 36 (4). McGraw-Hill Company. "Practical estimates of rock mass strength".. OH. and Bray. (1934).D. Vol. Atlanta. (1995). 106 dari 112 BACK Daftar Rsni 2006 . Rotterdam. Inc. flat dilatometer and cone penetration tests in sand”.185-196. Washington D. FHWA : TS-89-045. Hoek.C. Toronto. (1972). E. and Drnevich.. available sampling methods”. Santa Rosy California. Proceedings. International Journal of Rock Mechanics & Min. (1991). Report FHWA-ED-88-053. “Guidance on pressuremeter. Matrix Multimedia Publishing. (1996).. Second Edition. Hegazy. “Support of Underground Excavations in Hard Rock”. Environmental Monitoring Systems Laboratory . Foster. Shaine. ASTM. R. and Seely. P.P. R. M. Hatanaka. “Rock Engineering”. K. glNT . R. and Hawkins. Goodman.S.K. Japanese Geotechnical Society. Institution of Mining and Metallurgy. London. Foundation Engineering Handbook. W. Federal Highway Administration (FHWA)(1989).J. Hoek. Geotechnical Computer Applications.Pd T-05-2005-A Federal Highway Administration (FHWA).T. Hassani. (1985). "Experimental determination of the true cohesion antrue angle of internal friction in clays". J. Netherlands.W.(1985). (1975). 1165-1186. Circular No. U. "Empirical correlation between penetration resistance and effective friction of sandy soil”..J. "Shear modulus and damping in soils". (1978). and Dusseault. R. "Rock slopes: design. E. “Physical Geology”. Vol. 562 p. “Delineating geostratigrapby by duster analysis of piezocone data.J. Sciences. B.(1977). Turina. Fang.2. W.

Rotterdam.. New York. R. (Proceedings. (1985). Houlsby. ASCE.F. “Fundamentals of Rock Mechanics”. Vol. ASCE. "Analysis of the piezocone ind clay". "New developments in field and laboratory testing of soils". (1983). 111-156. (1993). 13th International Conference on Soil Mechanics & Geotechnical Engineering (1). Trautmann. 777-783. “Geotednical Engineerng Investigation Manual”. Englewood Cliffs. 105 (3). 439-611. E. McGraw-Hill Company. ASCE. Lancellotta. Hvorslev. (1979).Pd T-05-2005-A Holtz W.H. 28. Vol. C. 107. SPT. 9. 107 dari 112 BACK Daftar Rsni 2006 . B. K. (1974). T.K. 327-330. and Cook. W. (1994). Palo Alto. 2nd Edition. E. Engineering Geology. Massachusetts Institute of Technology. 306 p. J. Great Britian. 668-685.A. Elsevier. Design and Performance of Deep Foundations: Plies & Pliers in Soil & Soft Rock. “An Introduction to Geotechnical Engineering”. R. Reslon / VA. and Kovacs. (1973). (1948). C. San Francisco.G.11th International Conference on Soil Mechanics & Foundation Engineering. F. Ladd. 73. New Delhi. and Gibbs. D.S. “Basic Soils Engineering”. 197-211. “The soil-rock boundary: What is it and where is it?". 38.. (1988). Jaeger. International Journal Rock Mechanics Mining Sci. (1984). Kulhawy. N. New York.W.H.C.Y. (1977).H.D. Jamiolkowski. 1-15. and Phoon.. Vol. Kulhawy. Holtz. and Teh. Waterways Experiment Station. Proceedings. J. Prentice -Hall. Potsdam). McGraw-Hill Inc. 172-183. "Stiffness of Toyoura sand at small and intermediate strains". Proceedings. and Mayne. J. J. O. (1969). Calibration Chamber Testing”. 169-172. 16. "Stress-deformation properties of rock and rock discontinuities”. MS.. Science Paperbacks. Vicksburg.. New York. Vol. and Mayne. London. (1971).. F. Porosity. and Foott. and O'Rourke. 585 p. Department of Civil Engrg. W. 2. P. Density. Army Corps of Engineers . F. Kulhawy. "Suggested Methods for Determining Mud Content. and Geomechanics Abstr.D.. U. Vol. Chapman & Hall. Balkema. R. P.K. Keaveny. ISOCCT. GSP No. C. Reston/VA. NJ. (1991). and Pallara. ASCE. LoPresti.C. (1991). Journal of Geotechnical Engineering . F. Building Science Series 135. M. and Mitchel. “Relative density. 37-153.1. GSP No. F. Electric Power Research Institute. and CPT interrelationships. and Yokel. Reston / VA.. Jamiolkowski. Salomone.H. Kovacs. Report EPRI-EL-6800. Detection of and Construction at the Solt/Rock Inrerfare.. “Subsurface Exploration and Sampling of Soils for Civil Engineering Purposes”. "Highway materials. C. GSP 6. Use of InSitu Tests In Geotechnical Engineering. L.W. T.I. C. and Lancellota. R. “A new design procedure for stability of soft clay”. “Discussion of SPT and relative density in coarse sand". ASCE. “Manual on Estimating Soil Properties for Foundation Design”.H. M. "Drilled shaft side resistance in clay soil to rock''.D..J. 983 p. Hough. R. Inc.. Kulhawy.D. (1981). "Strength of fine grained soils using the piezocone". Ladd. 763-786. R. Hunt. K. Kulhawy. Gemaine. International Society for Rock Mechanics Commission (1979).. and Walker. GT. Absorption and Related Properties". National Bureau of Standards.. (1986).C. F. I00 (3).H. "Energy Measurements in the Standard Penetration Test”. (1990). Washington. Ronald Press.D. Vol.. M. Penetration Testing 1988. Journal of Geotechnical Engineering. G. J. D.." Publication 272. H.W. Krebs.

P. I. I. H. Proc. M. Fang.CPT. "Monotonic and cyclic loading behavior of two sands at small strains”.. DeGroot. and Mar. W. U. ASCE. "In-situ tests by flat dilatometer". 4. K. "The Stress Path Method". 727-738. Vol. John Wiley & Sons.. Butterworths.409-424. Journal of Geotechnical Engineering Division. (1991). S. 105 (6).. Lambe. U. T. Mayne. Rio de Janeiro.. ASCE Journal of Geotechnical Engineering 117 (4).W. “Stability evaluation during staged construction”.. "Stress Path Method: Second Edition". Washington.. 969-998. Lunne. 25 (1).93 (6). (1981). and Zaccheo. Proceedings. D. Proceedings GeoCoast '91.A.V. and Wood.J. D. 309-33 I. S. Lacasse. J. M. F. Journal of the Geotechnical Engineering Division (ASCE).F. (1991).K. (1995). M. Vol. Innovations & Applications in Geotechnical Site Characterization (GSP 97). (1979). Lancellotta . and Bozozuk. (1991).C.. 317 p. R. Lambe. “Cone Penetration Testing in Geotechnical Practice”.. P. B. Plumbridge..Pd T-05-2005-A Ladd. "The flat dilatometer design applications”. N. “Determination of rock modulus for foundation design”. (1979). D. "General report : SPT.C. PMT. 108 dari 112 BACK Daftar Rsni 2006 . 1-71.J. Mayne. ASTM Geotechnical esting Journal.. T. R.. D.M.R. Y. Vol. Statham. LoPresti. "Correlation for dilatometer readings with lateral stress in clays”. Journal of the Geotechnical Engineering Division (ASCE).. (1967). Robertson. Journal of the Soil Mechanics and Foundation Division. and Whitman. London. Blackie-Academic Publishing/London. W.H. 16 (4). Vol. Virginia 213-228. "K0 . C. T.F. E. 150-158. W. R. M. and Mitchell. Lunne. ASCE. R.A. Lambe. Pallara. ASTM Geotechnical Testing Journal . D.. Vol.. T. (1990). J. ed. and Kulhawy. O.J. Journal of Geotechnical Engineering. Egypt.. “Soil Mechanics : SI Version”.. and Uglow. Vol..W. "Exploration of soft soil and determination of design parameters”.W. (1977).. 851-872. 15-31. and Vaughan. 2339-2403.. 31 (2). O.. A. Vol. 12th International Conference on Soil Mechanics & Foundation Engineering. (1993). Inst. Pallara. and Poci. P. (1987). 108 (GT6).. J..C. (1980). G. Leroueil. Skinner. J. and recent developments in in-situ testing". Vol. P. New York.C. “Profiling of overconsolidation ratio in days by field vane". Vol. (2000). D. S.T. (1994).Powell. and Bieganousky. Lowe III. (1995). Inc. S. (1997).D. Armandi.Mokkelbost. Marchetti. 1-25.. ASCE. K. Ground Engineering Report: ln-Situ Testing (CIRlA).M. and Maniscalco. J. Lupini.. and Rad. 103 (GT11). (1982). A.F. Geotechnique. New York. Federal Highway Administration Washington.. “Pressuremeter testing methods and interpretation".J. 540-615.M.H. C.F.C. Vol. A. S. Marcusson. Reston. W. Vol. Third International Geotechnical Conference. Hauge.C.S.D. and Jamiolkowski. Mirza. "A modified commercial triaxial testing system for smtall strain measurements". Mair. “The drained residual shear strength of cohesive soils”. Port & Harbor Res. (1988). 1295-1309. LoPresti. “SPT and relative density in coarse sands”.(1997)..F. 107 (3). P. Yokohama. 18 (1).. 2. "Subsurface explorations and sampling". Hill . Foundation Engineering Handbook.M. Lutenegger. and Lee..OCR relationships in soil“. "Recommended guidelines for sealing geotechnical exploratory holes". T. Liltlechild. Marchetti. 183-193. Van Nostrand Reinhold. Proceedings. I. and Powell. National Academy Press. 832-837.K. J. S. Canadian Geotechnical Journal. 333 p. Transportation Research Record 1278. EF SPON Publishing. Lunne. 181-213. Paper 5613.E. J.K. FHWA Report 378. Cairo University.

. Pre-Failure Deformation Characteristics of Geomaterials . Ng. Auxt. 1113-1118.. "U. "Observations on the development of pore water pressures during piezocone tests in clays”.W. and Lunne.W. Vol. “Rock Mechanics and the Design of Structures in Rock”. "Cohesion intercept in effective stress stability analysis". Mayne... 141-149. R. (1966). Mayne. 65-76. Mayne. and Duvall. J. and Kay.M. CPT'95. Nishihara. T.K.(1993). 54-60. 43-50. "Direct & indirect determinations of in-situ K 0 in clays".W. Roterdam.L.. Robertson. Ohta. (1991). Inc. "Determination of OCR in clays by piezocone tests using cavity expansion and critical stale concepts". (1995).. Geotechnical Site Characterization .H.H. 2.. 1229-1119. Li.. Journal of Geotechnical Engineering 119 (8). Obert. (1967). 215-220. 1 (Torino). Rotterdam.S. national report on the CPT".K. and Morita.V. Journal Geotechnical & Geoenvironmental Engineering. and Kulhawy. Publication TM 5-818-5. J. P. F. D. Lisbon.. Peck. 263-276. R.. "Gmax-qc relationships for clays". 1. John Wiley& Sons.H. 2. Hansen. P. H. 2. I. National Academy Press. R. Vol. DM-7. Mayne. International Conference on In-Situ Measurement of Soil Properties &i Case Histories (In-Situ 2001). Schneider. Mayne. Mayne. P.. “Dewatering and groundwater control". Kulhawy.W. ASTM Geotechnical Testing Journal. J. 11th International Conference on Soil Mechanics & Foundation Engineering . P. Vol.W. Second Edition.W. Proc. Soils and Foundation. “Multiple modes of shear failure in rock".W. (1998). Proceedings. A. National Academy Press. P. "Commentary on Marcheti flat dilatometer correlations in soils". Indonesia. and Tang. Washington. Vol.K. F. Bali. P. NAVFAC. Vol.N. W. E. Naval Facilities Engineering Command. 509-13. 613-616. and Yilmaz. B. Washington. Department of the Navy.M.K. Vol. Alexandria. New York. Vol.. Proceedings. W. "CPT determination of OCR and K0 in clean guartz sands”. "Stress-strain-strength-flow parameters from enhanced in-situ tests”. “Foundation Engineering”.W. (1985). W. “Fundamentals of Soil Behavior”. 1st International Congress on Rock Mechanics. Swedish Geotechnical Society.W.. LA. P. 31 (2)..W. Proceedings. R. 21 (3). VA. "Soil Mechanics". (1995). 418428. "Clay stress history evaluated from seismic piezocone tests". Mayne. Vol. P. 27 (1) . W. Mayne. Y. C.Y. T. J. “Small. Mitchell. P. "Undrained stability of K0 . International Symposium on Cone Penetration Testing (CPT '95). Vol. Balkema . Linkoping. John Wiley & Sons. and Martin. (1990). Mayne. San Fransisco. G.. L. Swedish Geotechnical Society. Balkema. P-418 (1983). G.K. F. (2001). John Wiley & 109 dari 112 BACK Daftar Rsni 2006 . ASTM Geotechnical Testing Journal. Linkoping. (1982).1. GJ. "Side resistance of large diameter bored piles socketed into decomposed rock“. G.C. 16(1). Yau.H. (1993). 127 (8). (2001). M.and large-strain soil properties from seismic flat dilatometer tests".. 642-657. P. T. J. and Rix. 222-239. (1998). Transportation Research Record 1278. Proceedings. and Martin. 437 P. Mesri.consolidated clays". Naval Facilities Engineering Command. Canadian Geotechnical Journal. Transportation Research Record 1479.Pd T-05-2005-A Mayne. (1995). Mitchell. 47-69. 419-426. DC. (1974). Department of the Navy..W.. Mayne. New York. (1999). Patton. Portugal. "Profiling yield stresses in clays by in-situ test". and Abdel-Ghaffar. Vol.E. (1993). (1990). P. NAVFAC. and Thornburn. D.

R. B. R. 100-108.G. Ltd. 131-158. Boston.K. P.. 1449-1459. Sheorey. 317 p.. Robertson. Stolzenberg.M..G. F. 20 (4). Vol. "Seismic CPT to measure insitu shear wave velocity". "Considerations of the geomechanics classification of Bieniawski”.K. Vol. Inc.W. 176 p. P. R. Vol. Rotterdam.. 46 (1).G. R. M. J. “Rocks & Minerals”. (1985). Klein. Rotterdam. 110 dari 112 BACK Daftar Rsni 2006 . A. CA. Tokyo. P. “Empirical Rock Failure Criteria”. "Dynamic stress-strain relations for soils . 71-803. and Wightman. G. 109 (11). 9 (2). Palo Alto.K. Gillespie. and Burland. and Pereira. P. Campanella.A. and Nichols. L. A. R.G. Robertson.K. Gillespie.. and By. (1986). and Campanella. (1986).. Canadian Geotechnical Journal. ASTM Geotechnical Testing Journal. Robertson. (1986).John Wiley & Sons. A.Pd T-05-2005-A Sons. Houghton Mifflin Company. I. "SPT-CPT correlations". GSP No.C. John Wiley & Sons. EA-4301. 305-307. (1990).G. F. "Compaction control and the index unit weight”.B. Robertson. "Suggested method for performing the flat dilatometer test". Institution of Civil Engineers.. & Process Monitoring. Vol. Elsevier Science Ltd. Inc. New York.. "Excess pore pressures and the flat dilatometer”. Canadian Geotechnical Journal. Use of In-Situ Tests in Geotechnical Engineering. Santamarina... Gillespie. Proceedings. P. W. Oxford. Puzrin. New York. 573-38. Pough. “Soils and Waves”. P. J. New York. Singh. "lnterpretation of cone penetration tests: Part I – sands. Vol.. (1988). (1992). 511 p..A. J.New York. J. Penetration Testing 1988. Vol. Characterization. 23 (4). “Rock Mass Classification: A practical approach in civil engineering”.. "A logarithmic stress-strain function for rocks and soils". 11. (1986). P. (L983).. "Field measurement methods for hydrogeologic investigations: a critical review of the literature". London. Journal of Geotechnical Engineering 112 (8). Proceedings. 567-576. Jr. “Discussion on The planning and design of new Hong Kong airport". 157-164. K.R. 605-612. T. P. 9th International Conference on Soil Mechanics and Foundation Engineering. (1999). A. (1977).. Vol. 719-745. 7 (3). T. J. Journal of the Geotechnical Engineering Division (ASCE).1. 2. and Rice. Lisbon. J. P. (1983). (1997). "Soil classification using the cone penetration test". N.H. ASCE. “Construction Dewatering”. (1996). Vol..488 p. D. Vol. 6. and Goel. and Rice. Balkema. P.K. B. A.K. (1983). ASTM Geotechnical Testing Journal.. D. Campanella. U. Canadian Geotechnical Journal. Electric Power Research Institute. Geotechnique. 27 (1). R. "Use of piezometer cone data". Powers. (1988).. 267 p. R. Rehm. Shmertmann. Campanella. Robertson. Robertson. EPRI Report No. 1263-1280. (1988). Skempton.State of the art report". Balkema .K. D... Part II – clay”. Campanella. and Fam. "In-situ testing and its application to foundation engineering". Particulate Materials Behavior.K. SJ. The Peterson Field Guide Series. Poulos. Richart. D. A. (2001). Robertson.H. (1957). International Symposium on Engineering Geology and Underground Construction. Proceedings. No. 1133-44. 93-101 Serafim.K.

R. and Shibuya. Terzaghi. New Yak. Vicksburg.C. Vol. Geotechnical Engineering”. 55-67. 919-938. DiBenedetto. "Deformation characteristics of soils & rocks from field & lab tests". “National soils handbook”. H. Soil Conservation Service (SCS). Training Manual No.. Bureau of Reclamation (1973). Washington. F. Proceedings. Vol. Bureau of Reclamation (1986). R. B. particle size.I. D.C. University of Tokyo. R..F. and Hoar. ASCE. (1983). and Tanaka. MS. D. (1991). 549 p.C. Stagg.4. New York. Geotechnical Branch.W.. and Woods. Army Corps of Engineers (1951). (1983).6 .. “Fundamentals of Soil Mechanics”. (1948). Journal of Geotechnical Engineering. 14th International Conference on Soil Mechanics & Foundation Engineering Vol. "Soil classification handbook on Unified soil classification system". Pasadena. Information Division. (1963). US. 38 (3).. A.T. Terzaghi. Danish Geotechnical Society Bulletin 11. (1991). Waterways Experiment Station.(1991). Department of the Interior. G. “Earth manual”. "Effect of soil plasticity on cyclic response". and overconsolidation”. Bulletin No. 2129-2167. Journal of the. aging. Peck.C. LeBlond. United States Government Printing Office. 443-460. C. New York. 98 (5). F. Jean. Vol. Tatsuoka.S. Taylor. “Design of small dams".S. Van Schalkwyk. 11th European Conference on Soil Mechanics and Foundation Engineering. P. “Rock Mechanics in Engineering Practice”. G. (1972). D. S. Environmental Protection Agency (EPA). (1979). 117 (1). Washington . Vol.. R. “Introduction Soil Mechanics and Foundations. and Pitsiou. "Time lag and soil permeability in groundwater observations". S. Stokoe. 36. John Wiley & Sons. New York Teh. U. Jardine. John Wiley & Sons. G. and Leroueil. “Variables affecting in-situ seismic measurement". Geotechnique . Proceedings.C. Second Edition. M.Pd T-05-2005-A Skempton. Dooge. Tatsuoka. U. Earthquake Engineering and Soil Dynamics.. T. "An analytical study of the cone penetration test in clay". U. D. 89-107. 3. John Wiley & Sons.P. and Mesri. M. D. 281-287. 41 (1). 3. and Peck.S. 235. Hamburg.J.. ASCE. January. Department of the Interior. Soils and Foundations.C. (1996). Fourth Edition. (1967). Inc. H.. “Soil Mechanics in Engineering Practice”. and Dobry. (1995). K. No.H. Stokoe. (1978).. G. Tanaka.J. K. Macmillan. 729 p. "In-situ shear wave velocity by cross-hole method". (1992). New York. Geotechnique. Inc. 136 p. Department of the Interior. Report of the Institute of Industrial Science 37 (1). Proceedings . Washington. D. Ca. R. Vol.S. (1997). K. Serial No. Soil Mechanics & Foundations Division.O.C. (1986). “Characterization of sandy soils using CPT and DMT”. N. "SPT procedures and the effects in sands of overburden pressure.. “Description and sampling of contaminated soils”. Washington. Washington. K. K. Vucetic. "The permeability of natural soft clays: Parts I and lI “. W.B. “Soil Mechanics In Engineering Practice”. S... F. and Kodaka. United States Government Printing Office .. 425-147. Vol. relative density. Copenhagen. U. R. Wiley and Sons. D. and Houlsbv. Inc. 111 dari 112 BACK Daftar Rsni 2006 . "Theme Lecture: Characterizing the pre-failure deformation properties of geamaterials". "Rock mass characterization for evaluation of erodibility”. Tavenas. (EPA/625/12-9/002.. (1998). 36. 17-34. LoPresti. Inc. and Zienkiewicz. A. November). 20 (4). Sowers.H. P. D. Bureau or Reclamation (1960). Canadian Geotechnical Journal. 629-660..

A. West Conshohocken. (1984). and Wood. "Measurement of soil properties -state of the art report". Japan. Springer-Verlag. D. 9th International Conference on Soil Mechanics and Foundation Engineering. Wroth. Inc. 24th Rankine Lecture.C. Proceedings. 347-352.S. ASTM. (1990). “Terrain Analysis”. 137-145. "In-situ measurement of the properties of stiff cloys". Wroth. Wittke. Hutchingson & Ross. “Rock Mechanics: Theory and Applications with Case Histories”. Dowden . "Unified rock classifications system". W. "Laboratory measurement of dynamic soil properties". Vol. ASCE. D. Vol. (1992). 165-19U.L. (1977). West Conshohocken/PA. C. Tokyo.. 333 p. T. Geotechnique. National Cooperative Highway Research Program: Report 132. P. Vol. 345-354. XXI (3). (1972). Canadian Geotechnical Journal. "The correlation of index properties with some basic engineering properties of soils". D. Washington D. Witczak. "Relationships between physiographic units and highway design factors". M. 15 (2). D. 34(4). P. STP 523. C. (1978). 1. M.. New York. Evaluation of Relative Density. D. Dynamic Geotechnical Testing II (STP 1213). Vol. Proceedings Earthquake Engineering and Soil Dynamics. C. 449-489. W. (1973). (1978). (1994). “Foundations on Rock”. ASTM. PA. C. "The interpretation of in-situ soil test". R.Pd T-05-2005-A Way. London. CA. I. “Factors controlling maximum and minimum densities of sands". Stroudsburg. Windle.D. and Wroth. Wyllie. P. Woods.. Pa. (1973). Youd. R. 91-178. D. Woods. 98-112. First Edition. Williamson. (1984). Bulletin of the Association of Engineering Geologists. Vol. E&F Spon Publishers. Pasadena. Chapman and Hall. 112 dari 112 BACK Daftar Rsni 2006 .