P. 1
Laporan Kerja Praktek Teknik Industri ITB

Laporan Kerja Praktek Teknik Industri ITB

4.5

|Views: 15,664|Likes:
Published by Theonanta Pardede
Penerapan Metode Line Balancing pada Lintas Penjahitan Upper Sepatu Levi's Horse Kid PT Prima Inreksa Industries
Penerapan Metode Line Balancing pada Lintas Penjahitan Upper Sepatu Levi's Horse Kid PT Prima Inreksa Industries

More info:

Published by: Theonanta Pardede on Aug 30, 2010
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX or read online from Scribd
See more
See less

08/01/2015

Dalam satu tahun terakhir, industri sepatu di tanah air mulai mengalami kebangkitan setelah

sempat turun dalam kurun waktu antara tahun 2004 sampai 2008. Hal ini ditandai dengan

meningkatnya permintaan ekspor sepatu di pasar dunia. Berdasarkan data dari Badan Pusat

Statistik diketahui bahwa nilai ekspor sepatu nasional pada bulan Oktober 2009 naik 49%

menjadi US$ 133 juta dibandingkan dengan bulan September 2009. Peningkatan permintaan

ekspor ini disinyalir akibat adanya peralihan atau relokasi permintaan produk sepatu oleh

pembeli Amerika Serikat dan Eropa dari Cina ke Indonesia karena faktor ketersediaan bahan

baku serta murahnya biaya buruh dan bahan baku. Dengan meningkatnya permintaan ekspor

sepatu ini maka Indonesia menempatkan dirinya pada posisi ke-5 sebagai pemasok sepatu

terbesar ke Amerika Serikat setelah Brazil, Italia, Vietnam, dan Cina serta menyerap tambahan

tenaga kerja sebanyak 15.000 orang sehingga total tenaga kerja yang terserap oleh industri

sepatu mencapai jumlah 450.000 orang.

PT Prima Inreksa Industries merupakan salah satu perusahaan produsen sepatu yang turut serta

berperan dalam naik turunnya kondisi industri sepatu di Indonesia. Perusahaan yang berlokasi di

kawasan Tangerang ini terkenal sebagai produsen sepatu bagi perusahaan asal Jerman, Adidas,

sejak tahun 1997. Dengan jumlah buruh yang sempat mencapai jumlah 7.000 orang perusahaan

ini mampu memproduksi 500.000 pasang sepatu tiap bulannya. Namun pada pertengahan tahun

2008 PT Prima Inreksa Industries mengalami permasalahan manajemen yang berakibat pada

pemutusan kontrak kerja dengan Adidas pada Desember 2008. Hal ini menyebabkan

pemberhentian hubungan kerja dengan sekitar 6.000 orang tenaga kerjanya.

Dalam mengatasi permasalahan dalam perusahaan, PT Prima Inreksa Industries perlahan-lahann

membenahi manajemen perusahaannya dan kembali mencari pesanan produksi kepada

perusahaan-perusahaan sepatu dari Inggris, Perancis, Jerman, dan Amerika Serikat. Pada awal

tahun 2009, pemegang merk pakaian terkemuka asal Amerika Serikat, Levi¶s, akhirnya

menunjuk PT Prima Inreksa Industries untuk memproduksi sepatu dengan merk yang sama. Pada

kontrak kerja yang disepakati antara kedua perusahaan, pesanan yang diterima PT Prima Inreksa

Industries adalah sebesar 200.000 pasang sepatu per bulan dalam tiga bulan pertama. Evaluasi

akan dilakukan terhadap kemampuan perusahaan dalam memenuhi target dan kualitas sepatu

yang dihasilkan untuk menentukan apakah akan dilakukan perpanjangan kontrak atau tidak.

Dengan jumlah target produksi yang sangat besar ini kelancaran produksi merupakan suatu hal

yang perlu dipertahankan dan ditingkatkan agar perusahaan dapat memenuhi target produksi

dengan tetap memberikan kualitas terbaik bagi buyer nya, dan salah satu faktor yang paling

berpengaruh terhadap kelancaran produksi tersebut adalah keseimbangan lintas produksi.

Keseimbangan lintas produksi memiliki pengaruh yang besar terhadap kelancaran produksi

5

karena berpotensi untuk menimbulkan delay bagi waktu produksi jika mengalami ketidak

seimbangan atau fenomena bottleneck.

Pada pengamatan yang dilakukan terhadap salah satu lintas penjahitan upper sepatu Levi¶s Horse

Kid pada PT Prima Inreksa Industries, Small Group (SG) 5 Cell 9, didapati bahwa pada beberapa

stasiun kerja dalam SG5-C9 terjadi fenomena-fenomena bottleneck yang disebabkan terdapatnya

perbedaan waktu pengerjaan yang sangat besar antar stasiun kerja. Hal ini mengakibatkan

terjadinya penumpukan barang setengah jadi (work-in-process) pada suatu stasiun kerja

sementara stasiun kerja lainnya menganggur.

Untuk memecahkan permasalahan bottleneck ini, penulis menggunakan bantuan dari para

pekerja pada SG5-C9 dan pembimbing dari divisi Industrial Engineering pada PT Prima Inreksa

Industries serta ilmu Line Balancing yang diterima dalam perkuliahan. Dengan dilakukannya

proses Line Balancing pada lintas penjahitan upper sepatu Levi¶s Horse Kid di SG5-C9

diharapkan perusahaan mendapatkan sebuah rancangan lintasan yang lebih baik daripada kondisi

aktual (existing) sehingga dapat mendukung kelancaran produksi demi memenuhi target produksi

dari buyer.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->