P. 1
HUKUM KEWARISAN

HUKUM KEWARISAN

|Views: 2,146|Likes:
Published by jauharymih

More info:

Published by: jauharymih on Aug 31, 2010
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

07/17/2013

pdf

text

original

Sections

  • A. Pegertian Hukum Kewarisan lslam
  • B. Sumber Hukum Kewarisan Islam dalam Hadits
  • E. Asas Semata Akibat Kematian
  • F. Masalah Kakek Bersama Saudara
  • G. Kewarisan Janin dalam Kandungan
  • H. Kewarisan Orang Hilang
  • J. Kewarisan Orang Mati Bersama
  • K. Kewarisan Akibat Li’an
  • L. Kewarisan Anak Zina

BAB I : PENGERTIAN HUKUM KEWARISAN ISLAM

A. Pegertian Hukum Kewarisan lslam Hukum kewarisan yang berlaku di indonesia pada umumnya belum merupakan satu kesatuan hukum sehingga dalam hal mewaris terdapat banyak hukum yang mengaturnya, salah satunya adalah Hukum Kewarisan Islam. Hukum kewarisan adalah hukum yang mengatur tentang pemindahan hak pemilikan harta peninggalan (tirkah) pewaris, menentukan siapa-siapa yang berhak menjadi ahli waris dan berupa bagiannya masing-masing (Pasal 171 KHI). Berdasarkan Surat Edaran Mahakamah Agung Nomor 2 Tahun 1994, maksud Pasal tersebut ialah; ayah mendapat sepertiga bagian bila pewaris tidak meninggalkan anak, tetapi meninggalkan suami dan ibu, bila ada anak, ayah mendapat seperenam bagian. Menurut M. Idris Ramuyo, SH., hukum kewarisan ialah himpunan aturan-aturan hukum yang mengatur tentang siapa ahli waris yang berhak mewarisi harta peninggalan seorang yang mati meninggalkan harta peninggalan. Hukum kewarisan Islam mengatur peralihan harta dari seorang yang telah meninggal kepada yang masih hidup (Syarifuddin, 2004: : 5). Dalam literatur hukum Islam dijumpai beberapa istilah yang menamai Hukum Kewarisan Islam Seperti Faraid, Fikih Mawaris dan Hukm.

Hal-hal yang berkaitan dengan Hukum Kewarisan Islam dalam KHI Pasal 171 adalah :
1.

Pewaris adalah orang yang pada saat meninggalkannya atau dinyatakan meninggal berdasarkan putusan Pengadilan beragama Islam, meninggalkan ahli waris dan harta peninggalan.

2.

Ahli waris adalah orang yang pada saat meninggal dunia mempunyai hubungan darah atau hubungan perkawinan dengan pewaris, beragama Islam dan tidak terhalang karena hukum menjadi ahli waris.

3.

Harta peninggalan adalah harta bawaan ditambah bagian dari harta bersama setelah digunakan untuk keperluan pewaris selama sakit sampai meninggalnya, biaya pengurusan jenazah (tajhiz) pembayaran utang dan pemberian untuk kerabat.

4.

Wasiat adalah pemberian suatu benda dari pewaris kepada orang lain atau lembaga yang akan berlaku setelah pewaris meninggal dunia.

5.

Hibah adalah pemberian suatu benda secara sukarela dan tanpa imbalan dari seseorang kepada orang lain yang masih hidup untuk dimiliki.

6.

Anak angkat adalah anak yang dalam pemeliharaan untuk hidupnya sehari-hari, biaya pendidikan dan sebagainya beralih tanggung jawab dari orang tua asal kepada orang tua angkat berdasarkan putusan Pengadilan.

7.

Baitul Mal adalah Balai Harta Keagamaan.

B. Pengertian Faraid Secara etimologi kata “Faraid” dalam sebutan jama’ dari “faridhah” dengan makna maf’ul (objek), yang berarti sesuatu yang ditentukan jumlahnya. Menurut istilah disebutkan “hak-hak kewarisan yang dijumlahkannya telah ditentukan secara pasti dalam al-Qur’an dan sunnah Nabi”. Hak-hak ahli waris dalam Hukum Kewarisan Islam pada dasarnya dinyatakan dalam jumlah atau bagian tertentu dengan angka yang pasti, yang dinyatakan dalam al-Qur’an, sebagai sumber utama Hukum Kewarisan Islam. Para ulama menamakan hukum tentang pembagian warisan dengan faraid karena menurut angka yang pasti biasanya disebut dalm kitab-kitab dengan “faridhah” dengan bentuk jama’ “Faraid”. Bila ahli waris tidak termasuk dalam angka tersebut maka jumlah mereka tidaklah banyak.

QS. yang artinya ”Bagi laki-laki ada hak bagian harta peninggalan ibu bapak dan karib kerabat.S. maka berilah mereka dari harta itu (sekedarnya) dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang baik”. Oleh sebab itu.S. sedangkan sumber hukum dalam arti formal diartikan sebagai tempat ditemukannya hukum. anak yatim dan orang miskin. maksudnya adalah dasar hukum yang mengikat dan berlaku. Sumber Hukum Kewarisan Islam dalam Al-Qur’an Sumber hukum diartikan sebagai sebab mengapa berlakunya hukum yang bersangkutan secara mengikat. An-nisa (4):7.BAB II : SUMBER HUKUM KEWARISAN ISLAM A. An-nisa (4):8. yang artinya “Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang seandainya meninggalkan di belakang mereka anak-anak yang lemah. yang biasa disebut sebagai sumber hukum dalam arti materiil. yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan) mereka. sebagai hukum agama (Islam) yang mengatur tentang hukum kewarisan terdapat dalam : 1. Sumber hukum yang utama dari hukum Islam yang terdapat dalan Al-Qur’an. Q. baik sedikit atau banyak menurut bagian yang telah ditetapkan”. 3. dan bagi perempuan ada hak bagian (pula) dari harta peninggalan ibu-bapak dan kerabatnya. 2. An-nisa (4):9. hendaklah mereka bertakwa . Q. yang artinya “Dan apabila sewaktu pembagian itu hadir kerabat.

S. yang artinya “Sesungguhnya orang-orang yang memakan harta anak yatim secara zalim sebenarnya mereka itu menelan api sepenuh perutnya dan mereka akan masuk ke dalam api yang menyala-nyala” 5. maka ibunya mendapat seperenam (pembagianpembagian tersebut di atas) sesudah dipenuhi wasiat yang ia buat atau (dan) sudah dibayar utangnya. 4. bagi masing-masingnya seperenam dari harta yang ditinggalkan jika yang meninggal itu mempunyai anak. yang artinya “Allah mensyari’atkan bagimu tentang (pembagian pusaka untuk) anak-anakmu. Q. maka ia memperoleh separuh harta. jika orang yang meninggal itu tidak ada meninggalkan anak dan ia diwarisi oleh ibu-bapaknya. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui dan Maha Bijaksana”. maka ibunya mendapat sepertiga. Dan untuk dua orang ibu-bapak. .kepada Allah dan hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang benar”. Q. maka bagi mereka dua sepertiga dari harta yang ditinggalkan. An-nisa (4):11. jika anak perempuan itu seorang saja.S. Tentang orang-orang tuamu dan anak-anakmu. jika yang meninggal itu mempunyai beberapa saudara. An-nisa (4):10. dan jika anak itu samuanya perempuan lebih dari dua. yaitu: bagian seorang anak laki-laki sama dengan bagian dua orang anak perempuan. kamu tidak mengetahui siapa di antara mereka yang lebih dekat (banyak manfaatnya bagimu) ini adalah ketetapan dari Allah.

. dan Allah Mengetahui lagi Maha Penyantun”. jika meninggalkan anak. Q.S. barang siapa taat kepada Allah dan rasulnya-Nya. baik laki-laki meupun perempuan yang tidak meninggalkan ayah dan tidak meniggalkan anak.S. maka mereka bersekutu dalam yang sepertiga itu. yang artinya “Dan bagimu (suami-suami) seperdua dari harta yang ditinggalkan istri-istrimu. yang artinya “(Hukum-hukum tersebut) itu adalah ketentuan-ketentuan dari Allah. Jika seorang mati. Jika kamu ada mempunyai anak maka para isteri memperoleh seperdelapan dari harta yang kamu tinggalkan sesudah dipenuhi wasiat yang kamu buat atau (dan) sesudah dibayar utang-utangmu. tetapi meninggalkan seorang saudara laki-laki (seibu saja) atau saudara perempuan (seibu saja). niscaya Allah memasukkannya ke dalam surga yang mengalir di dalamnya sungai-sungai sedangkan mereka kekal di dalamnya dan itulah kemenangan yang besar”. sesudah dipenuhi wasiat yang dibuatnya atau (dan) sesudah dibayar utangnya dengan tidak memberi mudharat (kepada ahliwaris) (Allah menetapkan yang demikian itu sebagai) syariat yang benar-benar dari Allah. maka bagi masing-masing di antara saudara itu saperenam harta. An-nisa (4):12. 7. Para istri memperoleh seperempat harta yang kamu tinggalkan jika kamu tidak mempunyai anak. Tetapi jika saudara-saudara seibu itu lebih dari seorang. An-nisa (4):13. Jika isteri-isterimu mempunyai anak-anak maka kamu mendapat seperempat dari harta yang ditinggalkannya sesudah dipenuhi wasiat yang mereka buat atau (dan) sesudah dibayar utangnya.6. Q.

8. Q. yang artinya “Dan barang siapa yang mendurhakai Allah dan rasul-Nya dan melanggar ketentuanketentuannya. dan saudaranya yang laki-laki mempusakai (seluruh harta saudara perempuan). Allah menerangkan (hukum ini) kepadamu supaya kamu tidak sesat. jika ia tidak mempunyai anak. 9.S. Q. yang artinya “Mereka meminta fatwa kepadamu (tentang kalalah). An-nisa (4):14. An-nisa (4):33. An-nisa (4):176.S. maka bagi saudaranya yang perempuan itu seperdua dari harta yang ditinggalkannya. Dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu”. maka bagi keduanya dua pertiga harta yang ditinggalkan. Q. dan jika ada orang-orang yang kamu telah bersumpah setia dengan mereka. 10.S. siscaya Allah memasukannya ke dalam neraka sedangkan ia kekal di dalamnya. Dan jika mereka (ahli waris itu terdiri dari) saudara laki-laki dan perempuan. yang artinya “Bagi masing-masing kami jadikan mawali terhadap apa yang ditinggalkan oleh ibu-bapak dan karib kerabat. . Tetapi jika saudara perempuan itu dua orang. maka bagian seorang laki-laki sebanyak bagian dua orang saudara perempuan. Sesungguhnya Allah menyaksikan segala sesuatu”. baginya siksa yang menghinakan”. maka berilah kepada mereka bahagiannya. dan ia tidak mempunyai anak dan mempunyai seorang saudara perempuan. Katakanlah: Allah memfatwakan kepadamu tentang kalalah yaitu jika seorang meninggal dunia.

...... Sumber Hukum Kewarisan Islam dalam Hadits Dalam Hadits yang memuat masalah kewarisan antara lain (Syarifuddin.” Kemudian turun ayat-ayat tentang kewarisan.... yang artinya : “ Berikanlah Faraid (bagian-bagian yang ditentukan itu kepada yang berhak dan selebihnya berikanlah untuk laki-laki dari keturunan laki-laki yang terdekat” 2... al-Tirmizi. Paman mereka mengambil harta peninggalan ayah mereka dan tidak memberikan apa-apa untuk mereka.11. Q. al-Anfal (8):75. yang artinya: “Dari Jabir bin Abdullah berkata : Janda Sa’ad datang kepada Rasul Allah SAW.S. Bersama dua orang anak perempuannya. Nabi memanggil si paman dan berkata : “Berikan dua pertiga untuk dua . Hadits Nabi dari Ibnu Abbas menurut riwayat al-Bukhari dalam al- Bukhari.Orang-orang yang mempunyai hubungan kerabat itu sebagiannya lebih berhak terhadap sesamanya (dari yang bukan kerabat) di dalam kitab Allah. yang artinya “. Lalu ia berkata “Ya Rasul Allah. shahih al-Bukhariy IV ..” Nabi berkata: “Allah akan menetapkan hukum dalam kejadian ini. Ibnu Majah dan Ahmad.. 2004 : 11-16) : 1. Hadits Nabi dari Jabir menurut riwayat Abu Dawud. Keduanya tidak dapat kawan tanpa harta. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui segala sesuatu” B. ini dua orang anak perempuan Sa’ad yang telah gugur secara syahid bersamamu di Perang Uhud..

” 5. Hadits dari Surahbil menurut riwayat kelompok Hadits selain Muslim yang artinya: “ Dari Huzail bin Surahbil berkata: Abu Musa ditanya tentang kasus kewarisan seorang anak perempuan dari anak laki-laki dan seorang saudara perempuan.orang anak Sa’ad. sepedelapan untuk isteri Sa’ad dan selebihnya ambil untukmu.” Nabi berkata: “Kamu mendapat seperenam. Abu Musa berkata: “Untuk anak perempuan setengah. Berkata kepadanya Abu Bakar: “saya tidak menemukan suatu untukmu .” Kemudian ditanyakan kepada Ibnu Mas’ud dan dia menjawab: “Saya menetapkan berdasarkan apa yang telah ditetapkan oleh Nabi SAW. yang artinya : “Dari ‘Umran bin Husein bahwa seorang laki-laki mendatangi Nabi sambil berkata: “Bahwa anak dari anak laki-laki saya meninggal dunia. Yaitu untuk anak perempuan setengah.” 4. tertentu dia akan mengatakan seperti itu pula. Datanglah kepada Ibnu Mas’ud.” 3. untuk saudara peremuan satengah. Hadits Nabi dari Qubaishah bin Zueb menurut lima perawi hadits selain al-Nisa. sisanya untuk saudara perempuan. untuk cucu perempuan seperenam. apa yang saya dapat dari harta warisannya. Hadits Nabi dari ‘Umran bin Husein menurut riwayat Ahmad. yang artinya : “Dari Qubaishahbin Zueb yang berkata: seseorang nenek mendatangi Abu Bakar yang meminta warisan dari cucunya. sebagai pelengkap dua pertiga.

Saya berkata kepada nabi: “Ya Rasul Allah.” 6. Hadits Nabi dari Sa’ad bin Abi Waqqash menurut riwayar al- bukhary. Bersabda: “Seorang muslim tidak mewarisi non-muslim dan non-muslim tidak mewarisi seorang muslim. bolehkah saya sedekahkan dua pertiganya. Hadits Nabi dari Abu Hurairah menurut riwayat Abu Dawud dan Ibnu Majah. yang artinya : “Dari Sa’ad bin Abi Waqqash berkata: “Saya pernah sakit di Makkah. Bersabda: “Pembunuh tidak boleh mewarisi. Maka akhirnya Abu Bakar memberikan hak warisan nenek itu. Abu Dawud. tidak ada yang akan mewarisi harta kecuali seorang anak perempuan.” 7.” Saya berkata lagi: “Bagaimana . yang artinya : “Dari Abu Hurairah dari Nabi Muhammad SAW. Saya dikunjungi oleh Nabi SAW. Muslim.dalam Kitab Allah dan saya tidak mengetahui ada hakmu dalam sunnah Nabi. al-Tirmizi san Ibnu Majah.” Jawab Nabi: “Tidak.” 8. yang artinya : “Dari Usamah bin Zaid (semoga Allah Meridhainya) bahwa Nabi SAW.” Berkata Abu Bakar: Apakah ada orang lain selain kamu yang mengetahuinya. Kembalilah dulu. nanti saya akan bertanya kepada orang lain tentang hal ini.: Mugirah bin Syu’bah berkata: “Saya pernah menghadiri Nabi yang memberikan hak nenek sebanyak seperenam. Hadits Nabi dari Usamah bin Zaid menurut riwayat al-Bukhary. sakit yang membawa kematian. saya memiliki harta yang banyak.” Muhammad bin Masalah berdiri dan berkata seperti yang dikatakan Mughirah.

Hadits Nabi dari Ibnu ‘Amir al-Husain menurut riwayat Abu Dawud.” 9. maka harta itu untuk ahli warisnya. teriakan dan bersin. yang artinya : “Dari Jabir bin Abdullah dan Miswar bin Makhramah berkata keduanya berkata Rasul Allah SAW. al-Tirmizi dan Ibnu Majah.” . sampai-sampai meminta kepada orang. dari Nabi Muhammad SAW. Hadits Nabi dari Abu Hurairah menurut riwayat al-Bukhari dan Muslim. dari ‘Aisyah yang berkata: bersabda Rasul Allah: “Saudara laki-laki ibu menjadi ahli waris bagi yang tidak ada ahli warisnya. Siapa-siapa yang meninggal dan mempunyai utang dan tidak meninggalkan harta untuk membayarnya. Gerakannya diketahui dari tangisan. Barang siapa yang meninggalkan harta. Sesungguhnya bila kamu meninggalkan keluargamu berkecukupan lebih baik dari meninggalkannya berkekurangan.” 11. yang artinya : “Dari Amir bin Muslim dari Thawus. Hadits Nabi dari Jabir bi Abdullah menurut riwayat Ibnu Majah. yang berkata: “Saya adalah lebih utama bagi seorang muslim dari diri mereka sendiri.” Saya berkata lagi: Sepertiga?”Nabi berkata lagi: “Sepertiga itu sudah banyak.” 10. maka sayalah yang akan melunasinya.: “Seorang bayi tidak berhak menerima warisan kecuali ia lahir dalam keadaan bergerak dengan jeritan. yang artinya : “Dari Abu Hurairah.kalau separuhnya ya Rasul Allah?” Jawab Nabi: “Tidak.

Sumber-sumber Hukum Kewarisan Islam dalam Ijtihad Ijithad merupakan sumber hukum Islam yang ketiga. yaitu : 1. Kewarisan cucu Kewarisan cucu tidak kita temukan dalam al-Qur’an maupun Hadits sehingga para ulama mujtahid menetapkan ketentan warisannya berdasarkan perluasan pengertian kata walad yang berarti anak dalam Q. dimana yang dimaksud dengan ijtihad adalah berusaha dengan sungguh-sungguh dan sekuat tenaga untuk mencari dan menemukan hukum baru terhadap masalah yang tidak terdapat dalam al-Qur’an dan Hadits. (Hazairin. an-Nisa ayat 11. juga keturunannya.S. 1990 : 28) 2. yaitu bukan hanya anak yang dilahirkan tapi juga termasuk keturunan kebawah (cucu).S.C. 1990 : 36) 3. (Hazairin. kewarisan paman Ketentuan kewarisan paman tidak terdapat dalam al-Qur’an dan Hadits sehingga para mujtahid menetapkan ketentuan warisannya berdasarkan perluasan pengertian kata kakek dan nenek yang terdapat . Kewarisan anak saudara Kewarisan anak saudara (kemenakan) sama sekali tidak terdapat dalam al-Qur’an dan Hadits sehingga para mujtahid menetapkan ketentuan warisannya berdasarkan perluasan pengertian akhun (saudara) yang terdapat dalam Q. yaitu bukan hanya saudara kandung atau seayah. Ketentuanketentuan hukum bidang kewarisan Islam yang bersumber dari Ijtihad. an-Nisa ayat 176.

1990 : 102. (Hazairin. Perluasan kata kakek dan nenek dilakukan dengan memasukkan keturunannya kebawah. Ibnu Majah dan at-Tirmizi. Zainuddin Ali. 1995 : 49) .dalam Hadits Rasulullah dari Qabisah bin Syu’aib yang diriwayatkan oleh Abu Dawud.

(Syarifuddin.BAB III: ASAS – ASAS DALAM HUKUM KEWARISAN ISLAM A. berbeda dengan hukum kewarisan pada BW. yang berarti semua perbuatan yang dilakukan oleh seorang hamba. Begitu pula kata jabari dalam terminologi ilmu kalam yang juga mengandung arti paksaan. berarti bahwa peralihan harta dari seorang yang telah meninggal kepada ahli warisnya berlaku dengan sendirinya menurut kehendak Allah tanpa harus tergantung kepada kehendak pewaris atau permintaan ahli waris. Asas Ijbari Kata Pengertian “Ijbari” “wali secara mujbir” leksibel dalam mengandung terminologi arti paksaan (compulsory). yaitu melakukan sesuatu diluar kehendak sendiri. bahwa wali dapat mengawinkan anak gadisnya di luar kehendak anak gadisnya itu tanpa memerlukan persetujuan dari anak yang akan dikawinkan itu. dimana peralihan hak waris tergantung pada kemauan pewaris serta kehendak dan kerelaan ahli waris yang akan menerima dan tidak berlaku dengan sendirinya. buka atas kehendak dari hamba tersebut tetapi karena kehendak dan kekuasaan Allah. fikih munakahat (perkawinan) mengandung arti. . 2004 : 17) Berlakunya asas ijbari dalam Hukum Kewarisan Islam. Unsur paksaan dari asas ijbari terlihat dari keharusan ahli waris untuk menerima kenyataan perpindahan harta kepada dirnya sesuai dengan bagian yang telah ditentukan. seperti yang berlaku menurut aliran hukum kalam jabariyah.

Ijbari dari segi pewaris mengandung arti bahwa sebelum meninggal ia tidak dapat menolak peralihan harta tersebut, dengan alasan apapun sedangkan kamauan pewaris terhadap harta hanya dibatasi oleh ketentuan Allah. Asas ijbari dalam Hukum Waris Islam tidak akan memberatkan orang yang akan menerima waris, karena menurut ketentuan Hukum Islam ahli waris hanya berhak menerima harta yang ditinggalkan dan tidak berkewajiban memikul hutang yang ditinggalkan oleh pewaris. Keawajibannya hanya sekedar menolong membayarkan utang pewaris dengan harta yang ditinggalkan oleh pewaris dan tidak berkewajiban melunasi utang itu dengan hartanya sendiri, sedangkan dalam BW diberikan kemungkinan untuk tidak menerima hak kewarisan, karena menerima akan menanggung resiko untuk melunasi utang pewaris. Adanya asas ijbari dalam Hukum Kewarisan Islam dapat dilihat dari beberapa segi, yaitu dari segi peralihan harta, dari segi jumlah harta yang beralih, dari segi kepada siapa harta itu beralih. Bentuk ijbari dari penerima peralihan harta itu berarti bahwa mereka yang berhak atas harta peninggalan itu sudang ditentukan secara pasti sehingga tidak ada suatu kekuasaan manusia pun dapat mengubahnya dengan cara memasukkan orang lain atau mengeluarkan orang yang berhak. Adanya unsur ijbari dalam ayat-ayat 11, 12, dan 176 dalam surat an-Nisa.

B. Asas Bilateral Asas ini berarti bahwa ahli waris menerima hak kewarisan dari kedua belah pihak, yaitu dari kerabat keturunan laki-laki dan dari pihak kerabat keturunan perempuan, Asas ini terdapat dalam al-Qur’an surat an-Nisa ayat 7, 11, 12, dan 176. Dalam ayat 7 dijelaskan bahwa seorang anak laki-laki berhak untuk mendapatkan warisan dari pihak ayah dan ibunya, dimana ayat ini merupakan dasar dari kewarisan bilateral. Dalam ayat 11, dinyatakan bahwa anak perempuan berhak menerima warisan dari kedua orang tuanya sebagaimana yang didapat oleh anak laki-laki dengan bandingan seorang anak laki-laki menerima sebanyak yang didapat dua orang anak perempuan, seorang ibu juga berhak mendapatkan warisan dari anaknya, baik laki-laki maupun perempuan. Juga ayah sebagai ahli waris laki-laki berhak menerima warisan dari anak-anaknya, baik laki-laki, maupun perempuan sebesar seperenam bagian, bila pewaris meninggalkan anak. Dalam ayat 12 dinyatakan bahwa apabila seorang laki-laki yang tidak memiliki pewaris langsung (anak/ayah) maka saudara laki-laki dan atau perempuannya berhak menerima bagian dari harta tersebut, juga apabila pewaris seorang perempuan yang tidak memiliki pewaris langsung (anak/ayah), maka saudara laki-laki dan atau perempuan berhak menerima harta tersebut. Dalam pasal 176 menyatakan bahwa terhadap seorang laki-laki yang tidak mempunyai keturunan (ke atas dan ke bawah) sedangkan ia mempunyai saudara laki-laki dan perempuan, maka saudaranya itu berhak menerima warisannya, juga seorang perempuan yang tidak mempunyai keturunan (ke atas dan ke bawah) sedangkan dia

mempunyai saudara laki-laki maupun perempuan, maka saudarasaudaranya berhak mendapatkan warisannya. Kekerabatan bilateral ini berlaku juga untuk kerabat menurut garis ke samping, ke bawah maupun keatas. (Syarifuddin, 2004 : 19 - 21) C. Asas Individual Asas ini berarti bahwa harta warisan dapat dibagi kepada masingmasing ahli waris untuk kemudian dimiliki secara perorangan, asas ini dapat ditemukan dalam al-Qur’an surat an-Nisa ayat 7, 11, 12, dan 176. Pembagian warisan secara individu bersifat mengikat dan wajib dijalankan oleh setiap muslim, dimana pelanggaran atas asas ini akan mendapat sangksi berat dari Allah SWT. yang tertuang dalam surat anNisa ayat 13, dan 14 yang telah dijelaskan sebelumnya. Dengan terlaksananya asas individu dalam Hukum Kewarisan Islam ini, maka setiap ahli waris berhak untuk bertindak atas harta yang diperolehnya, apabila para ahli waris telah mempunyai kemampuan untuk itu, apabila ahli waris belum memiliki belum memiliki kemampuan untuk itu maka diangkat wali untuk mengurus hartanya menurut ketentuan perwalian, dimana wali tersebut bertanggung jawab mengurus harta ahli waris yang belum mampu mengurus harta tersebut, dan akan segera mengembalikan harta itu apabila pemiliknya telah mampu bertindak sepenuhnya terhadap harta miliknya tersebut. Setiap ahli waris berhak atas bagian yang didapatnya tanpa tergantung dan terikat dengan ahli waris yang lain. Hal ini didasarkan kepada ketentuan bahwa setiap insan sebagai pribadi mempunyai

..... 2004 : 21-23). Seperti yang telah dinyatakan oleh Allah SWT..... 2004 : 2123).... Dari uraian tersebut dapat diketahui bahwa pewarisan secara kolektif tidak sesuai dengan ajaran Islam. yang artinya : ......... Asas Keadilan Berimbang Kata adil berasal dari bahasa Indonesia yang berasal dari kata al-‘adlu yang dalam al-Qur’an disebutkan lebih dari 28 kali.... dan dilain sisi terdapat ahli waris yang belum cukup umur untuk menggunakan harta warisannya. dimana warisan ahli waris yang belum dewasa akan dipelihara dan dijaga hartanya hingga ia dewasa dan cakap untuk menggunakannya.. dimana ahli waris yang sudah berhak menggunakan warisannya dapat memberikan warisannya itu kepada siapun yang diingikan termasuk kepada ahli waris yang belum dewasa... maka dapat kita temukan dua sisi dimana sisi pertama ada ahli waris yang berhak secara penuh atas harta yang diwarisinya...Dengan pengertian ini setiap ahli waris berhak menuntut secara sendiri-sendiri harta warisan itu dan berhak pula untuk tidak berbuat demikian (Syarifuddin. namun sifat individu harus tetap dipertahankan dengan mengadakan perhitungan terhadap bagian masing-masing ahli waris......kemampuan untuk menerima hak dan menjalankan kewajiban. karena dikahawatirkan hal tersebut akan memakan hak anak yatim yang terdapat dalam harta tersebut. D.... dalam surat anNisa ayat 2. Apabila diperhatikan dengan seksama. yang di dalam Ushul Fikih disebut “ahliyat al-wujub”....... kata adil ...... (Syarifuddin..

2. sebagaimana yang dinyatakan dalam ayat 11 surat an-Nisa. (Syarifuddin. Dalam kasus yang terpisah duda mendapat dua kali bagian yang diperoleh oleh janda yaitu setengah banding seperempat bila pewaris tidak meninggalkan anak. seperti ibu dan ayah sama-sama mendapat seperenam dalam keadaan pewaris meninggalkan anak kandung. Nisa. Laki-laki memperoleh bagian lebih banyak atau dua kali lipat dari yang didapat oleh perempuan dalam kasus yang sama yaitu anakanak laki-laki dengan anak perempuaan dalam ayat 11 dan saudara laki-laki dan saudara perempuan dalam ayat 176.dalam kaitannya dengan hak yang menyangkut warisan dapat diartikan sebagai keseimbangan antara hak dan kewajiban dan keseimbangan antara yang diperoleh dengan keperluan kegunaannya. Laki-laki mendapat jumlah yang sama banyak dengan perempuan. 2004 : 24) Yang dimaksudkan dengan keseimbangan dalam kewarisan adalah keseimbangan antara hak dan kewajiban dan keseimbangan antara yang diperoleh dengan keperluan dan kegunaan. Begitu pula saudara laki dan saudara perempuan sama-sama mendapat seperenam dalam kasus pewaris adalah seorang yang tidak memiliki ahli waris langsung sebagaimana tersebut dalam ayat 12 surat an-Nisa. dan seperenam banding seperdelapan bila pewaris meninggalkan anak sebagaimana tersebut dalam ayat 12 surat an- . Tentang jumlah yang didapat oleh laki-laki dan perempuan terdapat dua bentuk : 1.

. Al-Baqarah ayat 215. Tanggung jawab pihak laki-laki terhadap kelurganya merupakan kewajiban yang harus dipenuhi.” Dari ayat tersebut di atas maka seorang anak berhak menerima warisan lebih banyak dari apa yang diterima orang tua kepada anaknya.....dan kewajiban ayah memberi makan dan pakaian untuk para ibu dan anak-anak secara yang makruf... Akan tetapi hal tersebut bukan berarti tidak adil karena keadilan dalam pandangan Islam tidak hanya diukur dengan jumlah yang di dapat saat menerima hak waris tetapi juga dikaitkan kepada kegunaan dan kebutuhan...Ditinjau dari segi jumlah bagian yang diperoleh saat menerima hak. Dan apabila kita hubungkan jumlah yang diterima dengan kewajiban dan tanggung jawab laki-laki terhadap keluarganya. memang ada ketidaksamaan.. jawablah : “apa saja harta yang kamu nafkahkan hendaklah diberikan kepada ibu-bapak dan karib kerabat....... yang artinya : “ Mereka bertanya kepadamu tentang apa yang mereka nafkahkan. maka akan bisa dirasakan oleh pihak wanita kalau manfaat yang diterimanya sama dengan manfaat yang dirasa pihak laki-laki... seperti yang disebutkan dalam QS. karena laki-laki mempunyai kewajiban ganda terhadap dirinya dan keluarganya seperti yang tertuang dalam surat an-Nisa ayat 34. yang artinya : “ ..... seperti Baqarah ayat 233... dimana laki-laki membutuhkan materi yang lebih banyak jika dibandingkan dengan wanita.. yang telah dijelaskan sebelumnya..” Begitu pula dengan kewajiban untuk membantu kerabat... hal tersebut merupakan sesuatu yang adil karena merupakan tanggung jawab yang termuat dalam surat al- ..

2004 : 28) Asas semata akibat kematian ini mempunyai kaitan erat dengan asas ijbari yang disebutkan sebelumnya. (Syarifuddin. yang banyak terdapat dalam al-Qur’an. (Syarifuddin. Asas Semata Akibat Kematian Hukum Islam menetapkan bahwa peralihan harta seorang kepada orang lain dengan menggunakan istilah kewarisan hanya berlaku setelah yang mempunyai harta meninggal dunia. Asas semata akibat kematian ini dapat ditemukan penggunaannya dalam kata-kata “waratsa”. maupun terlaksana setelah ia mati.orang tua untuk menyantuni anaknya. Dan keseluruhan pemakaian katakata tersebut dapat diketahui bahwa peralihan harta berlaku setelah yang mempunyai harta itu meninggal dunia. Juga berarti bahwa segala bentuk peralihan harta seorang yang masih hidup baik secara langsung. tidak termasuk ke dalam istilah kewarisan menurut Hukum Islam. (Syarifuddin. 2004 : 24-27) E. 2004 : 28 . terutama dalam ayat-ayat kewarisan. Pada dasarnya seseorang yang memenuhi syarat sebagai subyek hukum dapat menggunakan hartanya secara penuh untuk memenuhi kebutuhan hidupnya secara penuh.29) . Asas ini berarti bahwa harta seseorang tidak dapat beralih kepada orang lain dengan nama waris selama yang mempunyai harta masih hidup. begitu pula ketika orang tua meninggal dunia. tetapi setelah meninggal dunia ia tidak lagi dapat melakukannya.

2. Selain hubungan ibu dengan anaknya dan ayah dengan anaknya. 2004 : 40-41. Zainuddin Ali. sebab terjadinya itu adalah : 1. selain itu juga ada hubungan kekerabatan kesamping yaitu kepada saudara dan keturunannya. ada dua hal yang menyebabkan seseorang dapat menjadi ahli waris. ada pula hubungan kekeluargaan dengan garis keatas. yaitu kakek dan nenek. Hubungan Perkawinan Dalam hukum Islam perkawinan adalah hubungan yang diakibatkan karena perkawinan yang sah menurut hukum perkawinan Islam . dan hal tersebut tidak dapat diingkari oleh siapa pun juga.Syarifuddin. dimana ibu yang melahirkan seorang anak pasti mempunyai hubungan kerabat dengan anak-anak yang dilahirkan. yang dapat dibuktikan dengan perkawinan yang sah menurut ketentuan hukum perkawinan Islam. Hubungan kekerabatan Hubungan kekeluargaan ditentukan oleh adanya hubungan darah. Hubungan kekerabatan juga dapat ditemukan dengan mencari laki-laki yang menyebabkan ibu melahirkan. yang dapat diketahui pada peristiwa kelahiran. Sebab-Sebab Terjadinya Kewarisan Menurut Hukum Kewarisan Islam.BAB IV : HAL-HAL YANG BERHUBUNGAN DENGAN KEWARISAN A.

hal 52) Meninggalnya pewaris menyebabkan harta peninggalannya beralih kepada ahli warisnya dalam bentuk kewarisan yang telah ditentukan. Hal ini didasarkan kepada hadits Nabi yang artinya: “Pembunuh tidak boleh mewarisi”. dimana pewaris harus benar-benar masih hidup ketika pewaris meninggal dunia. Karena pembunuhan itu mencabut hak seseorang atas warisan. dimana juga ditentukan penyelesaian tentang harta peninggalan terhadap utang piutang pewaris kepada pihak lain. 1995 : 93) C. 2.Syarat-syarat Kewarisan Terdapat 3 (tiga) syarat pokok terjadinya kewarisan. yang menjadi penghalang ditetapkan hukumnya. perlu dijelaskan bentuk-bentuk pembunuhan dan cara-cara pembunuhan . yaitu pembunuhan yang dilakukan oleh ahli waris terhadap pewaris dan perbedaan agama antara pewaris dengan ahli waris. Terhalangnya seseorang menerima hak kewarisan disebut “terhalang secara hukum” 1. yaitu : 1. Pewaris telah meninggal dunia (Ibid. Ahli waris masih hidup ketika pewaris meninggal dunia Ahli waris adalah orang yang berhak atas warisan yang ditinggalkan pewaris karena hubungan darah atau hubungan kekerabatan. Penghalang – Penghalang Kewarisan Dalam hubungannya dengan hukum kewarisan.(Zainuddin Ali. Pembunuhan Pembunuhan yang menghalangi seseorang untuk mendapatkan hak waris dari orang yang dibunuhnya.

c. namun ada pembunuhan yeng menyebabkan pelakunya tidak berdosa. Pembunuhan seperti inilah yang disebut suatu kejahatan. Pembunuhan secara hak dan tidak melawan hukum.yang menjadi penghalang itu. begitu pula sebaliknya. Termasuk dalam kategori pembunuhan seperti ini adalah : • • • pembunuhan terhadap musuh dalam medan perang pembunuhan dalam pelaksanaan hukuman mati. yaitu pembunuhan yang pelakunya tidak dinyatakan pelaku kejahatan atau berdosa. Pembunuhan dapat dikelompokkan menjadi dua macam. harta dan kehormatan. yaitu pembunuhan yang dilarang oleh agama dan terhadap pelakunya dikenakan sanksi dunia dan atau akhirat. Berbeda Agama Maksud dari pernyataan ini adalah orang yang berbeda agama tidak saling mewarisi. Pembunuhan secara tidak hak dan melawan hukum. Dasar dari halangan ini adalah Hadits Nabi dari Usamah bin Zaid munurut riwayat al-Bukhari dan Muslim yang maksudnya: “Seseorang yang non muslim tidak mewarisi seseorang muslim dan muslim tidak mewarisi non muslim”. artinya seseorang muslim tidak mewarisi non muslim. Pembunuhan dalam membela jiwa. . yaitu : b. Pembunuhan merupakan kejahatan yang dilarang keras oleh agama. 2. Hal ini menghendaki penjelasan pendahuluan tentang bentuk dan cara pembunuhan secara umum.

. dan dihalalkan mengawini) wanita-wanita yang menjaga kehormatan di antara wanita-wanita yang beriman dan wanita-wanita yang menjaga kehormatan dari wanita-wanita ahli kitab sebelum kamu... Ahli waris masih hidup pada waktu meninggalnya pewaris. Sebelum melaksanakan pembagain warisan harus diselesaikan dahulu beberapa hak yang berkaitan dengan harta peninggalan tersebut........... yaitu : (Hasan..Petunjuk pasti dalam al-Qur’an tentang hak kewarisan antara orang berbeda agama memang tidak ada.. 3. yang artinya : “. namun sebelum mereka dapat menerima warisan mereka harus memenuhi persyaratan sebagai berikut : 1... 2........ hukum untuk menerima warisan....... . tetapi hubungan perkawinan antara laki-laki muslim dengan perempuan non muslim ahli kitab terdapat penjelasannya dalam al-Qur’an yaitu pada QS. Tidak memiliki hal-hal yang dapat menghalanginya secara Tidak tertutup secara penuh oleh ahli waris yang lebih dekat.) D.. maka dikeluarkan untuk itu terlebih dahulu. 1981 : 10-11) 1. Al-Maidah ayat 5. Hak-hak Yang Berhubungan dengan Harta Peninggalan Ahli waris dalam adalah orang yang berhak menerima warisan karena hubungan kekerabatan atau hubungan kewarisan dengan pewaris. bila kamu telah membayar maskawin mereka. Zakat : apabila telah ada waktunya untuk mengeluarkan zakat.

Sesuai dengan firman Allah SWT.S. 4.” Wasiat diperbolehkan oleh agama asal tidak melebihi 1/3 dari harta peninggalan. agar sebagian dari harta peninggalannya diberikan kepada seseorang. sesuai dengan Hadits Nabi yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim. yang artinya : .2. yang artinya : “ Diriwayatkan dari Abu Umamah. yang artinya : “ (Pembagian harta warisan itu dilaksanakan) sesudah dikeluarkan wasiat yang diwasiatkan dan sesudah dibayar hutang” Wasiat tidak dibolehkan kepada ahli waris karena ahli waris akan mendapat bagian warisan dari pewaris. telah menentukan hak tiap-tiap orang yang mempunyai hak (ahli waris). Berdasarkan Hadits Nabi yang diriwayatkan oleh ahli Hadits selain an-Nisa). beliau berkata : saya telah mendengar Nabi SAW. 3. seperti harga kafan. Wasiat. bersabda : “sesungguhnya Allah SWT. kecuali wasiat tersebut disepakati oleh ahli waris yang lain. upah menggali kuburan dan sebagainya. jika mayat meninggalkan pesan (wasiat). dalam Q. an-Nisa ayat 11. Belanja : yaitu biaya yang dikeluarkan untuk menyelenggarakan dan pengurusan mayat. Hutang : jika mayat itu meninggalkan hutang. maka hutangnya itu harus dibayar terlebih dahulu. maka oleh sebab itu tidak dibenarkan lagi berwasiat kepada ahli waris. maka wasiat inipun harus dilaksanakan.

Sesungguhnya Rasulullah SAW. . 3. yang dari segi haknya tidak dalam bentuk benda/harta tetapi karena hubungannya yang kuat dengan harta dinilai sebagai harta. Diantara hak-hak di atas ada yang dapat diwariskan. beliau berkata: Alangkah baiknyam jika manusia itu mengurangi wasiatnya dari sepertiga menjadi seperempat. 4. Hak-hak yang oleh ulama disepakati dapat diwariskan. yaitu hak-hak kebendaan yang dapat dinilai dengan harta seperti hak melewati jalan. Hak kebendaan . 2.” Dalam menetukan bentuk hak yang mungkin dijadikan harta warisan menurut perbedaan pendapat para ulama tersebut Dr. seperti hak khiyar (pilihan untnuk melangsungkan atau membatalkan sebuah transaksi). bersabda : “(wasiat itu) sepertiga . sedangkan sepertiga itupun sudah banyak. antara lain : (Ibid. Op. Yusuf Musa mencoba membagi hak tersebut kepada beberapa bentuk sebagai berikut : (Syarifuddin. seperti hak melewati jalan umum atau hak pengairan. Hak-hak bukan bentuk benda dan menyangkut pribadi seseorang seperti hak ibu untuk menyusui anaknya. Cit hal 209) 1. hal : 210) 1.. Hak-hak kebendaan tetapi menyangkut pribadi si meninggal seperti hak mencabut pemberian kepada seseorang.“Diriwayatkan dari Ibnu Abbas. Hak-hak kebendaan tetapi menyangkut dengan kehendak si mayit.

2. dengan arti bukan kewajiban ahli waris untuk melunasinya dengan hartanya sendiri. karena terdapat ahli waris yang memiliki hubungan kekerabatan yang lebih dekat dengan pewaris. Hijab Nuqshan. . Sedangkan yang menyangkut dengan utang-utang dari yang meninggal menurut Hukum Islam tidak dapat diwarisi. maksudnya adalah dinding yang menjadi pengalang untuk mendapatkan warisan bagi sebagian ahli waris. op. seperti hak pemeliharaan dan hak kewalian atas anaknya. yaitu dinding yang hanya mengurangi bagian ahli waris. yaitu hak-hak yang bersifat pribadi. ahli waris hanya berkewajiban untuk sekedar menolong membayarkan uangnya dari harta peninggalannya. yang artinya dinding yang menjadi penghalang. namun ahli waris tidak berkewajiban untuk menutupi kekurangan dengan hartanya sendiri. seperti hak khiyar dan hak pencabutan pemberian. Hak-hak yang disepakati oleh para ulama tidak dapat diwariskan. Pengelompokan Ahli Waris Dalam hukum kewarisan Islam dikenal istilah hijab. E. sebanyak yang dapat dibayar atau ditutupi oleh hartanya. 3. disebabkan oleh adanya ahli waris yang lain bersama-sama dengannya. cit : 30 ) 1. Ada dua macam hijab : (Hasan. Hak-hak yang diperselisihkan oleh ulama tentang kelegaan pewarisnya adalah hak-hak yang tidak bersifat pribadi dan tidak pula bersifat kebendaan.

disebabkan karena adanya ahli waris yang mempunyai hubungan lebih dekat dengan pewaris. dimana anak laki-laki dan perempuan ini tidak dapat dihalangi / terhijab oleh ahli waris mana pun. Cucu. Ibu Kedudukan ibu dalam kewarisan dijelaskan dalam al-Qur’an ayat 11 surat an-Nisa. Kakek . Ahli Waris dalam hubungan kerabat Anak laki-laki dan anak perempuan Dasar kewarisan anak laki-laki dan dan perempuan adalah firman Allah dalam surat an-Nisa ayat 11.2. baik laki-laki maupun perempuan Kewarisan cucu dalam Qur’an tidak dijelaskan secara spesifik. Ayah sebagai ahli waris tidak dapat dihijab secara penuh oleh siapapun. Ahli waris dapat dikelompokkan : 1. Ayah Ayah dalam kedudukannya sebagai ahli waris dijelaskan Allah dalam al-Qur’an serat an-Nisa ayat 11. karena dalam Qur’an kata cucu merupakan perluasan dari kata walad yang berarti anak yang berlaku juga untuk garis keturunan ke bawah. Hijab Hirman. yaitu dinding yang menghalangi untuk mendapat warisan. yang menyatakan bahwa kedudukan ibu dalam kewarisan juga tidak dapat dihijab secara penuh oleh siapapun.

Anak saudara Anak saudara secara jelas tidak terdapat hak kewarisannya dalam al-Qur’an dan juga tidak terdapat dalam Hadits nabi. karena saudara tidak ada. Saudara Yang dimaksud dengan saudara ialah saudara kandung. Nenek Seperti halnya kakek nenek juga tidak terdapat dalam alQur’an. adanya hak kewarisan tersebut disebabkan karena perluasan pengertian dari saudara yang haknya dijelaskan dalam al-Qur’an.Kewarisan kakek tidak terdapat dalam al-Qur’an. baik laki-laki maupun perempuan diatur dalam ayat 12 dan saudara kandung maupun seayah baik laki-laki maupun perempuan diatur dalam ayat 176. seibu ataupun seayah laki-laki maupun perempuan. hanya terdapat dalam Hadits nabi yang kurang kuat. dimana hak kewarisan mereka sudah dijelaskan secara langsung dalam alQur’an surat an-Nisa ayat 12 dan 176. dimana anak saudara itu belum akan mendapatkan hak selama ayahnya yang menghubungkannya kepada pewaris masih hidup. maka kedudukannya digantikan oleh anaknya. . namun nenek merupakan perluasan dari ibu. pengertian kakek secara tidak langsung disebut dalam al-Qur’an dengan sebutan abun yang artinya ayah yang berarti juga kakek dan seterusnya keatas. Para ahli tafsir menjelaskan bhawa kewarisan saudara seibu.

. Op. Kakek. hak kewarisannya ditetapkan dengan ijtihad ulama dengan menghubungkannya kepada kakek. Ahli waris dalam hubungan perkawinan Ahli waris yang disebabkan oleh hubungan perkawinan ialah suami atau isteri. dimana apabila kakek sudah meninggal lebih dahulu.Paman Kewarisan paman tidak dijelaskan dalam al-Qur’an dan Hadits. Anak. 2. Cucu. Dijelaskan ahli waris berdasarkan jenis kelamin menurut golongan Ahlu Sunnah sebagai berikut : (syarifuddin. hal ini berlaku pula bagi anak tiri suami atau isteri. Cit hal 221-225) 1. Ayah. maka anaknya yaitu paman menempati posisi kakek Anak paman Kewarisan anak paman diperbolehkan dari perluasan pengertian paman. Adanya hubungan perkawinan antara seorang laik-laki dan perempuan tidak menyebabkan hak kewarisan apapun terhadap kerabat isteri atau kerabat suami. b. c. . Suami menjadi ahli waris bagi isterinya dan sebaliknya. d. Ahli waris golongan laki-laki : a.

i. bila ia mewaris bersama dengan ahli waris yang lain diberlakukan ketentuan hijab . l. Anak laki-laki saudara seayah. Ibu dari ibu. Anak paman kandung. Ibu dari ayah. Saudara seibu. i. Paman kandung. Anak laki-laki saudara kandung. Ahli waris golongan perempuan a. e. Suami o. g. f. j. Saudara seibu. c. Jika ahli waris yang diatas hanya seorang diri. Anak. h.e. maka mereka jelas berhak mendapatkan harta warisan. f. j. Paman seayah. Saudara kandung. Saudara seayah. k. Saudara seayah. d. Cucu. Anak paman seayah n. h. g. Namun. Saudara kandung. m. Orang yang memerdekakan dengan hak wala’. b. Ibu. Orang yang memerdekakan dengan hak wala’ 2. Isteri.

kakek. Adapun rincian siapa yang menghijab secara penuh penuh adalah sebagai berikut : 1. d. i. ayah dan Saudara seibu ditutup oleh anak. cucu dan ayah. j. Saudara kandung ditutup oleh anak. Anak saudara seayah ditutup oleh anak saudara kandung dan oleh orang-orang yang menutup anak saudara kandung. Dari kelompok laki-laki a. g. e. ayah dan menghijab atau menutupnya. b. Anak sebagai ahli waris tidak ada yang dapat Cucu ditutup oleh anak. cucu. c. di atas. Anak saudara kandung ditutup oleh saudara seayah dan oleh orang yang menutup saudara seayah. h. Saudara seayah ditutup oleh anak. Paman kandung ditutup oleh anak saudara seayah dan orangorang yang menutup anak saudara seayah.yang prinsipnya hubungan yang lebih dekat dengan pewaris akan menghijab yang jauh hubungan kekerabatannya dengan pewaris. f. Kakek hanya bisa dihijab oleh ayah. seperti tersebut . Ayah tidak seorang pun dapat menghijabnya. cucu. seperti tersebut di atas. seperti tersebut diatas. saudara kandung.

Orang yang memerdekakan ditutup oleh ahli waris hubungan kerabat Ahli waris golongan perempuan a. seperti tersebut di atas. 2. c. Cucu perempuan ditutup oleh anak laki-laki dan oleh dua orang anak perempuan. o. Paman seayah ditutup oleh paman kandung dan oleh orangorang yang menutup paman kandung. Anak perempuan tidak ada seorang pun yang menutupinya. m. Seorang anak perempuan tidak dapat menutup cucu menurut golongan Ahlu Sunah. b. l. Ibu tidak tertutup oleh siapapun. Anak paman seayah ditutup oleh anak paman kandung dan oleh orang-orang yang menutup anak paman kandung. n. dan tidak tertutup oleh ayah. d. . seperti tersebut di atas. seperti tersebut di atas. Paman kandung ditutup oleh anak saudara seayah dan orangorang yang menutup anak saudara seayah. Suami tidak ditutup oleh ahli waris mana pun. Anak paman kandung ditutup oleh paman seayah dan oleh orang-orang yang menutup paman seayah.k. Ibu dari ayah tertutup oleh ibu dan juga oleh ayah. seperti tersebut di atas. p. e. Ibu dari ibu tertutup oleh ibu. sedangkan seorang anak perempuan menutup cucu perempuan manurut ulama Syi’ah.

Saudara perempuan seibu tertutup oleh anak laki-laki. yaitu yang berkedudukan sebagai zawil furudl dan yang berkedudukan sebagai ashabah. i. dimana para ulama telah menyepakati kalau mereka mendapat warisan. Saudara perempuan kandung tertutup oleh anak laki-laki. sedangkan menurut ulama Syi’ah saudara perampuan kandung tertutup oleh anak laki-laki cucu laki-laki dan anak perempuan. Penggolongan Ahli Waris Ahli waris digolongkan menjadi dua golongan. Ashabah akan mendapat semua bagian warisan apabila yang meninggal tidak mempunyai ahli waris bagian . Saudara perempuan seayah tertutup oleh anak laki-laki (juga oleh anak perempuan oleh ulama Syi’ah) cucu laki-laki. Isteri tidak tertutup oleh siapapun j. ayah (juga ibu oleh Syi’ah) saudara laki-laki kandung dan dua orang saudara perempuan kandung. h. cucu. ayah dan ibu. Perempuan yang memerdekakan terutup oleh seluruh ahli waris kerabat F. g. Pengertian ashabah menurut bahasa Arab adalah anak laki-laki dan kaum kerabat dari pihak bapak. cucu laki-laki dan ayah menurut Ahlu Sunnah. tidak tertutup oleh ibu kecuali menurut ulama Syi’ah. ayah dan kakek.f. anak perempuan.

namun apabila ada diantara ahli waris mendapat bagian tertentu.tertentu (zawil furudl). hal 27) Perempuan dapat juga menjadi ‘ashabah dengan ketentuan sebagai berikut : (Ibid. Anak saudara laki-laki kandung. 7. tanpa disebabkan oleh orang lain. Anak laki-laki. 4. Dalam istilah ilmu Faraidl ‘ashabah tersebut diatas disebut ‘ashabah binnafsi. cit. 8. . karena mereka secara otomatis menjadi ‘ashabah.. 9. Op. 3. Anak saudara laki-laki sebapak. Paman yang sekandung dengan bapak. 6. Paman yang sebapak dengan bapak. 5. 11. maka sisanya menjadi bagian ashabah. Kakek dari pihak bapak. 12. hal 28) 1. 2. Anak laki-laki paman yang sekandung dengan bapak. Anak laki-laki dapat menarik saudara perempuannya menjadi ‘ashabah dengan ketentuan. dan terus ke atas dengan syarat pertaliannya belum putus dari pihak bapak.. Bapak. bahwa untuk laki-laki mendapat bagian dua kali lipat perempuan. Saudara laki-laki sekandung. Anak laki-laki paman yang sebapak dengan bapak. Cucu laki-laki dari anak laki-laki dan terus kebawah melalui garis keturunan laki-laki. (Hasan. 10. Saudara laki-laki sebapak. Ashabah-ashabah yang berhak mendapat semua sisa harta adalah : 1.

perempuannya menjadi ‘ashabah. ‘ashabah bilghair. Apabila ahli waris terdiri dari saudara perempuan sebapak yang terdiri dari seorang atau lebih. perempuannya menjadi ‘ashabah. apabila mereka tidak mempunyai . Saudara perempuan sekandung. Syarat saudara perempuan sekandung atau sebapak untuk dapat menjadi ‘ashabah ma’alghair. maka saudara perempuan menjadi ‘ashabah ma’alghair. Saudara perempuan sebapak. ashabah tersebut di atas dinamakan saudara perempuannya menjadi ‘ashabah. yaitu ‘ashabah dengan pengaruh orang lain. 4. Apabila ahli waris terdiri dari saudara peremuan sekandung yang terdiri dari seorang atau lebih dan anak perempuan seorang atau lebih. dimana ‘ashabah ini hanya terdiri dari dua macam. 2. Selain yang terebut di atas ada juga ‘ashabah ma’al-ghair. Cucu laki-laki dari anak laki-laki juga dapat menarik Saudara laki-laki sebapak juga dapat menarik saudara Saudara laki-laki sebapak juga dapat menarik saudara Dalam istilah ilmu Faraidl. atau saudara perempuan sebapak dan cucu perempuan seorang atau lebih. maka saudara perempuan akan menjadi ‘ashabah ma’alghair. yaitu : 1. atau saudara perempuan sekandung dan cucu perempuan seorang atau lebih.2. yaitu ‘ashabah bersama orang lain. 3. dan anak perempuan seorang atau lebih.

Cara pembagian yang demikian adalah apabila seseorang mendapat 1/3 bagian dan seorang lagi mendapat seperdua (1/2) bagian. 3. sepertiga (1/3) dan seperenam (1/6). enam (6). seperempat (1/4).saudara laki-laki. yaitu satu bilangan yang habis dibagi dengan tiga (3) dan dua (2). 6. 5. diantara mereka ada yang mendapat seperdua (1/2). dimana terdapat tujuh asal masalah. KPK dari kedua bilangan itu adalah. seperdelapan (1/8). hal pertama yang harus dilakukan adalah mencari KPK (Kelipatan Persekutuan yang Terkecil) dari bilangan itu. Masalah dua (2) Masalah tiga (3) Masalah empat (4) Masalah enam (6) Masalah delapan (8) Masalah dua belas (12) . 4. BAB V : PERHITUNGAN PEMBAGIAN HARTA WARISAN Cara Pembagian Warisan Bagi para ahli waris telah ditentukan bagian masing-masing dengan tegas. yaitu : (Ibid. Yang dalam ilmu Faraidl lebih dikenal dengan nama asal masalah. hal 37) 1. 2. namun apabila mereka mempunyai saudara lakilaki maka mereka akan menjadi ‘ashabah bilghair.

20.000.000.000. suami dan bapak.000.+ = Rp.000..= Rp.7.-.10.000.= 1/4 x Rp.= 1/4 x Rp. 20.000. 20. 5. 5. 20. ahli warisnya terdiri dari isteri.= Rp. tiga orang anak perempuan dan dua orang anak laki-laki.000.000. Harta peninggalannya sebanyak Rp. ahli warisnya seorang anak perempuan.- b.3 = 1 +(untuk bapak selaku ‘ashabah) Anak perempuan = 1/2 x 4 = 2 Anak perempuan = 1/2 x Rp.000. bagian masing-masing adalah : Anak perempuan = 1/2 (karena tunggal) Suami Bapak Asal masalah Suami Jumlah Sisa Jumlah Suami Bapak Jumlah = 1/4 (karena ada anak) = ‘Ashabah (karena tidak ada anak laki-laki dan cucu laki-laki = 4 = 1/4 x 1 = 1 + = = 3 4 (asal masalah) = 4 . Seorang laki-laki meninggal.000.000. Anak perempuan tunggal (mendapat 1/2 bagian) dan selaku ‘ashabah a. harta .000..000.000. 20. Seorang wanita meninggal. Masalah dua puluh empat (24) Contoh Pelaksanaan Pembagian Warisan 1...= Rp.000.

000. ahli warisnya dua orang ibu bapak dan seorang cucu perempuan. 60.000.- Anak perempuan = 1/7 x 21.000.000 – 3.000.000.000 = Rp. 3.000.000. 24.000.000.000.Cucu perempuan tunggal mendapat seperdua (1/2) dan seperenam Seorang meninggal.000. Harta warisannya sebanyak Rp. bagian masing-masing adalah Cucu Ibu Bapak Asal masalah Cucu Ibu = 1/2 (karena tidak ada anak perempuan) = 1/6 (Karena ada cucu) = ‘Ashabah (karena tidak ada anak laki-laki dan cucu laki-laki) = 6 = 1/2 x 6 = 3 = 1/6 x 6 = 1 Jumlah = 4 . bagian masing-masing adalah : Isteri Anak Asal masalah Isteri Sisa Isteri Anak = = 1/8 (karena ada anak) = ‘Ashabah (sisa) = 8 = 1/8 x 8 = 1 8 -1 = 7 (untuk anak) = Rp. 21.Jumlah Anak laki-laki a.000. 24.000.000.= 2/7 x 21.Jumlah = 8 (asal masalah) = 1/8 x Rp.-. = Rp.000.-.000. 3.= Rp.000.peninggalannya sebesar Rp. 24.000 = Rp.000.000 = Rp.000. 24.000. 6.

000.000 = Rp.000.000.Jumlah = Rp.= 2/6 x Rp.Sisa Jumlah Cucu Ibu Bapak b.000.- . 30.000.000.000.000.000. cucu laki-laki dan bapak) = 12 Anak perempuan = 1/6 x 12 = 6 Cucu perempuan = 1/6 x 12 = 2 Suami Sisa = 1/4 x 12 = 3 Jumlah Jumlah = 11 = 12 = 12 – 11 = 1 (untuk kakek) Anak perempuan = 6/12 x Rp.000 = Rp.000 = Rp.= 1/6 x Rp.000. 36.000. harta warisan sebesar Rp.000. 72.000. ahli warisnya seorang anak perempuan. 20.000. suami dan kakek.Seorang meninggal. 60. seorang cucu perempuan dari anak laki-laki.000. 10.-. 72.4 = 2 (untuk bapak) = 6 = 3/6 x Rp.000. 60. bagian masing-masing adalah Anak perempuan = 1/2 (karena tunggal) Cucu perempuan = 1/6 (karena ada seorang anak perempuan dan untuk mencukupi bagian anak perempuan menjadi dua pertiga (2/3) bagian. = 6 . 60. 60.000 = Rp. Suami Kakek Asal masalah = 1/4 (karena ada anak) = ‘Ashabah (karena tidak ada anak laki-laki.

15. 30. = 1/4 x Rp.000.= 1/12 x Rp. 72.000.000. bagian masing-masing adalah Isteri = 1/4 x 4 = 1 Jumlah Sisa Isteri Sisa = Jumlah =3 4-3 =1 = 4 7.- Sisa uang tersebut diatas akan diserahkan kepada saudara perempuan atas nama Radd.000.000. ahli warisnya suami. ahli warisnya isteri dan saudara perempuan. 72.000. 6.000.000.Saudara perempuan = 1/2 x 4 = 2 = 1/4 x Rp.000 = Rp.000.000.000. 18.000. harta peninggalan sebesar Rp.000. 30. ibu dan bapak.000. = 3/12 x Rp. 30.000 = Rp.= Rp.000 = Rp. 12.Cucu perempuan = 2/12 x Rp. Suami mendapat seperdua (1/2) dan seperempat (1/4) a. 30. 30.000 = Rp.000.-.000.000. harta peninggalannya sebanyak Rp.7.- Saudara perempuan tunggal sekandung mendapat seperdua (1/2) Seorang meninggal dunia.000. Seorang meninggal.000.000. 72.000 = Rp.Jumlah = Rp 72. 4. 36. Jumlah Saudara perempuan = 2/4 x Rp.-.500.Suami Kakek 3.000.000.000. bagian masing-masing sebesar Suami Ibu = 1/2 = 1/3 .000.000 = Rp.000.

Harta peninggalan sebanyak Rp. 12.000.000.000.-.Jumlah = Rp.000.000.000.000.000. 18.000. 72. 36.000.000.000 = Rp.000.000.000.000 = Rp. ahli warisnya dua orang anak laki-laki suami dan bapak.000 = Rp. bagian masing-masing Bapak Suami Anak laki-laki Bapak Suami Sisa Bapak Suami = 1/6 (karena ada anak) = 1/4 = ‘Ashabah (sisa) = 12 = 1/6 x 12 = 2 = 1/4 x 12 = 3 Jumlah Jumlah = 5 = 12 = 12 – 5 = 7 (untuk anak) = 2/12 x Rp. 12.000. 36. 36.000. Seorang meniggal dunia. 36.000.5 Jumlah = 5 = 1 = 6 (untuk bapak) Suami Ibu Bapak = 3/6 x Rp.= 3/12 x Rp.000 = Rp.- b. 72.000. 72.000.= 2/6 x Rp.= 1/6 x Rp.000 = Rp.Asal masalah . 18.Bapak Suami Ibu Sisa = ‘Ashabah Asal masalah =6 = 1/2 x 6 = 3 = 1/3 x 6 = 2 Jumlah = 6 . 6.

32. 96.000. ahli warisnya terdiri dari seorang isteri.000.Isteri = 1/8 .000.000.000.000.-.000 = Rp.000. 96.Anak laki-laki = 7/12 x Rp.000.000.000.000.Seorang meniggal duni ahli warisnya terdiri dari seorang isteri.000.= Rp.= Rp. 42.000.000.000.000.- Masing-masing anak = 1/2 x Rp.000. 40..000. 42.000.000. Harta peninggalannya sebesar Rp. 96.5.000. Harta peninggalannya sebesar Rp. 96.000 = Rp. Isteri mendapat seperempat (1/4) dan seperdelapan (1/8) a.= 4/12 x Rp. 21. 40.Jumlah b. 96. 24. bagian masingmasing adalah Isteri Ibu Asal masalah Isteri Ibu Sisa Jumlah Isteri Ibu = 1/4 = 1/3 = 12 = 1/4 x 12 = 3 = 1/3 x 12 = 4 Jumlah = 12 . Seorang meniggal duni. seorang anak laki-laki dan bapak.000 = Rp. 72.000. Saudara laki-laki = ‘Ashabah = 7 Saudara laki-laki = 5/12 x Rp.000. ibu dan seorang saudara laki-laki sekandung.Jumlah = Rp 72.000 = Rp.000.7 = 5 = 12 (untuk saudara laki-laki) = 3/12 x Rp.

000. maka mereka mendapat yang seperempat (1/4) atau yang seperdelapan (1/8) yang dibagi dua sama rata.000.Bapak Anak laki-laki Isteri Bapak Sisa Isteri Bapak Anak laki-laki = 1/6 = ‘Ashabah = 24 = 1/8 x 24 = 3 = 1/6 x 24 = 4 Jumlah = 7 = 24 .000.000.000. Seorang meninggal.Masing-masing isteri 1/4 x Rp. 40.000.000. 40.000 = Rp.000. 48. c. Jumlah 6. ahli warisnya terdiri dari empat orang isteri dan kakek. 40..- .000.Jumlah = Rp. 30.000.000. 48. 10. 2. Harta peninggalan sejumlah Rp.000.000.000-Rp. 40.000. 48. = 4/24 x Rp.Asal masalah = 17/24 x Rp.000. 34.= Rp. 10.000.000.000.-.7 = 17 Jumlah = 24 = 3/24 x Rp.000.000.= Rp.500.000 = Rp.000.000 = Rp.000 = Rp.000. 48.000. bagian masing-masing adalah Isteri Kakek Isteri Kakek = 1/4 (4 orang isteri) = ‘Ashabah = 1/4 x Rp.= Rp.000.000.000 = Rp. 10.8.- Apabila isteri yang ditinggalkan lebih dari seorang.

= 4/24 x Rp.-.000.000.000.000.000. Jumlah 8.000.000.000. 32.000. Harta peninggalannya sebesar Rp.23 Jumlah = 23 = 1 = 24 = 1/6 = 1/8 = ‘Ashabah = 24 . bagian masing-masing adalah 4 orang anak perempuan = 2/3 Ibu Isteri Bapak Asal masalah 4 orang anak perempuan = 2/3 x 24 = 16 Ibu Isteri Sisa 4 orang anak perempuan Ibu Isteri Bapak Masing-masing anak perempuan = 1/4 x Rp.000. a. 24.= 16/24 x Rp. 192.128.= Rp.= 1/24 x Rp.000 = Rp.000.000.192.000.000.000. 192.6.000.192.000.= 3/24 x Rp.192.000. Dua orang anak perempuan atau lebih mendapat dua Seorang meniggal.= 1/6 x 24 = 4 = 1/8 x 24 = 3 Jumlah = 24 .000 = Rp. 128. ibu dan bapak serta isteri. empat orang anak perempuan.192.000 = Rp. 32.000 = Rp.000. ahli warisnya terdiri dari pertiga (2/3) dan selaku ‘Ashabah.000 = Rp.

Bagian masing-masing adalah Suami Bapak Ibu Anak Asal masalah Suami Bapak Ibu Sisa Suami Bapak Ibu Anak = 1/4 = 1/6 = 1/6 = ‘Ashabah = 12 = 1/4 x 12 = 3 = 1/6 x 12 = 2 = 1/6 x 12 = 2 Jumlah Jumlah = 7 = 12 = 12 .b. ibu.000 = Rp. 24.-.7 = 5 (untuk anak) = 3/12 x Rp.- Anak laki-laki mendapat dua kali lipat bagian anak perempuan. bapak. 24.000 = Rp.000.000.000 = Rp.000. 4.000.= 5/12 x Rp.000.000. 4.000.000.000. Harta peninggalan sebesar Rp.000 = Rp.Jumlah maka sisa harta dibagi empat (4) : Anak laki-laki Masing-masing anak perempuan = 1/4 x Rp.500.000.000. . 24.000. 24. 5.000.000 = Rp.= 2/12 x Rp. 6. 24. Seorang meninggal dunia ahli warisnya terdiri dari suami. 10.000.000 = Rp. 10.000.000.000.000. seorang anak laki-laki dan dua orang anak perempuan.000.= 2/12 x Rp. 10.= 2/4 x Rp. 2.000.= Rp.000. 24.

000 = Rp. 96.Jumlah = Rp. 96.000.000. 96.000.000.000.000.= 1/3 x 12 = 4 = 1/4 x 12 = 3 = 1/6 x 12 = 2 Jumlah = 12 Jumlah = 9 = 12 . 96.000. a. 24.000 = Rp. ahli warisnya terdiri perempuan) mendapat sepertiga (1/3) dari tiga orang saudara laki-laki seibu.000.000.= 2/12 x Rp.= 3/12 x Rp.000. seorang isteri.= 3/12 x Rp.000.000. 24. 96. Harta peninggalan sebesar Rp.000. 32. Dua orang saudara seibu atau lebih (laki-laki atau Seorang meniggal dunia.-. bagian masing-masing adalah 3 orang saudara laki-laki seibu Isteri Ibu Paman Asal masalah 3 orang saudara laki-laki seibu Isteri Ibu Sisa 3 orang saudara laki-laki seibu Isteri Ibu Paman = 4/12 x Rp. 96.000 = Rp. ibu dan paman sekandunga dengan bapak.7.000.16.000 = Rp.000.000.9 = 3 = 1/3 = 1/4 = 1/6 = ‘Ashabah = 12 .

000.000 = Rp.000. seorang saudara perempuan sebapak dan bapak.000.60. Harta peninggalan sebesar Rp.8.= 3/6 x Rp. .000.000.-. 60.000 = Rp.000.= 2/6 x Rp. Saudara perempuan (seorang atau lebih) yang sebapak mendapat seperenam (1/6) Seorang meninggal.=4 = 6 .000.000.30.10.60.000.60.4 =2 Saudara perempuan sebapak diberikan seperenam (1/6) bagian untuk mencukupi bagian saudara perempuan sekandung.000 = Rp.000. bagian masing-masing adalah Saudara perempuan kandung = 1/2 Saudara perempuan sebapak = 1/6 Bapak Asal masalah = ‘Ashabah = 6 Saudara perempuan kandung = 1/2 x 6 = 3 Saudara perempuan sebapak = 1/6 x 6 = 1 Jumlah Bapak Saudara perempuan kandung Saudara perempuan sebapak Bapak = 1/6 x Rp. 60. 20. ahli warisnya terdiri dari seorang saudara perempuan kandung.000.000.Jumlah = Rp.000.

hal 99. Masalah ‘Aul ‘Aul secara harfiah diartikan meninggikan atau menaikkan Masalah ‘aul ini terjadi karena jumlah warisan tidak mencukupi untuk semua ahli waris. Penggunaan teori ini . sehingga hak mereka akan berkurang secara adil Menurut pasal 192 KHI menyatakan bahwa “Apabila dalam pembagian harta warisan di antara ahli waris Dzawil Furud menunjukkan bahwa angka pembilangan lebih kecil dari pada angka penyebut. op. dan baru sesudah itu harta warisannya dibagi secara aul menurut angka pembilang. cit. Suami mendapat 1/2 karena tidak ada anak. 3. untuk mengatasi masalah tersebut jumhur ulama berpendapat bahwa kekurangan kadar harta tersebut dibebankan kepada semua pihak yang berhak berdasarkan kadar perbandingan furudh mereka. maka angka penyebut dinaikkan sesuai dengan angka pembilang.BAB VI : PERMASALAHAN DALAM PENYELESAIAN FARAID A. Masalah’aul dapat disebut sebagai masalah yang sebenarnya karena terdapat benturan dari beberapa sumber yang ada. 2. 2 orang saudara seibu mendapat 1/3 bagian.” Menutur ketentuan umum tentang furudh penyelesaiannya adalah sebagai berikut : (Syarifuddin.100) 1. Ibu mendapat 1/3 karena tidak ada anak dan beberapa orang saudara.

Suami yang mendapat 1/2 atau 3/6 bagian Saudara perempuan 1/2 atau 3/6 bagian Ibu mendapat 1/3 atau 2/6 bagian Jumlahnya: 8/6 menjadi 8/8 Gharra’ : Masalah gharra’ timbul karena ada ahli waris yang karena jumlah furudhnya menyebabkan penyelesaian secara ‘aul dari bagian pecahan perenam menjadi persembilan. contoh : • • • Suami mendapat 1/2 atau 3/6 bagian Saudara perempuan kandung mendapat 1/2 atau 3/6 bagian Saudara perempuan seayah mendapat 1/6 atau 1/6 bagian 3 orang saudara seibu mendapat 1/3 atau 2/6 bagian Jumlahnya: 9/6 3. contoh: • • • 2. contoh: . Mubahalah : Apabila ahli waris terdiri dari mereka yang jumlah furudhnya menghasilkan penyelesaian ‘aul dari bagiannya yang semula perenam menjadi perdelapan. Ummu al-furukh : Masalah ummu al-furukh atau disebut juga syuraihiyah yang terjadi karena ahli waris yang karena jumlah furudhnya menyebabkan penyelesaian secara ‘aul dengan menigkatkan pecahan dari bagian pecahan perenam menjadi persepuluh.akan menyebabkan ahli waris tidak akan mendapat bagian warisan yang seharunya didapat. Beberapa sebutan yang digunakan para ahli untuk masalah ‘aul : 1.

contoh: • • • • 5.• • • 4. Suami mendapat 1/2 atau 3/6 bagian Ibu mendapat 1/6 atau 3/6 bagian 2 orang saudara kandung mendapat 2/3 atau 4/6 bagian Jumlah: 10/6 Ummu al-aramil : Masalah ummu al-aramil terjadi karena ahli waris yang karena jumlah furudhnya menyebabkan penyelesaian secara ‘aul dengan meningkatkan pecahan dari perdua belas menjadi pertujuh belas. contoh: menjadi perdua • • • • Isteri yang mendapat 1/8 atau 3/24 2 anak perempuan mendapatkan 2/3 atau 16/24 Ayah mendapatkan 1/6 atau 4/24 Ibu mendapatkan 1/6 atau 4/24 Jumlah: 27/24 . Isteri yang mendapat 1/4 atau 3/12 bagian 2 saudara perempuan kandung mendapatkan 2/3 atau 8/12 bagian 2 saudara seibu mendapatkan 1/3 atau 4/12 bagian Ibu mendapatkan 1/6 atau 2/12 bagian Jumlah: 17/12 Minbariyah : Masalah minbariyah terjadi karena ahli waris yang karena jumlah furudhnya menyebabkan penyelesaian secara ‘aul dengan meningkatkan pecahan dari perdua puluh empat puluh tujuh.

sedangkan selebihnya berikanlah kepada laki-laki terdekat melalui garis kerabat laki-laki” Berkaitan dengan sisa harta yang tidak terbagi habis oleh ahli waris sedangkan ahli waris ashabah tidak ada. sehingga terdapat beberapa pendapat dikalangan ahli waris. yang artinya : “Berikanlah furudh-furudh itu kepada orang yang berhak menerimanya. namun disebutkan orang-orang yang berhak atas warisan dengan tidak menyebutkan bagiannya secara tertentu seperti ayah bila tidak ada anak. anak laki-laki bila tidak bersama anak perempuan dan saudara laki-laki bila tidak bersama saudara perempuan.B. pendapat pertama dari ulama Syi’ah yang sepakat menyatakan bahwa sisa harta akan diberikan kepada ahli waris kerabat. Masalah Sisa Harta Yang dimaksud dengan sisa harta dalam bahasan ini ada dua hal yaitu kelebihan harta setelah selesai dibagi kepada ahli waris dan dalam hal tidak ada orang yang berhak mendapat sisa harta atau ‘ashabah dalam kelompok ahli waris Dalam al-Qur’an berkaitan dengan kelebihan harta setelah dibagi kepada ahli waris tidak dibicarakan secara detail tentang siapa yang berhak mendapatkan sisa harta tersebut. sedang pendapat kedua dari kalangan ulama Ahlu Sunnah yang menimbulkan perbedaan pendapat kelompk pertama yang terdiri . Pengaturan tentang kelebihan harta disebutkan dalam hadits Nabi.

al-Awza’i dan lainnya berpendapat bahwa kelebihan harta tidak dikembalikan kepada ahli waris. yang artinya : “Orang-orang yang mempunyai hubungan rahim sebagiannya lebih utama dari yang lain dalam kitab Allah” Selain dalil tersebut di atas. al-Tsauri. Mujahid. golongan kedua juga memberikan landasan pendapat mereka berdasarkan Hadits muttafaq alaih.” . Kelompok kedua memperkuat pendapat mereka dengan firman Allah yang terdapat dalam al-Qur’an surat al-Anfal ayat 75. Sedangkan menurut kelompok kedua yang terdiri dari Abu Hanifah. maka pembagian harta warisan tersebut dilakukan secara raad. Masalah Radd Menurut pasal 193 “Apabila dalam pembagian harta warisan di antara para ahli waris Dzawil Furud menunjukkan bahwa angka pembilang lebih kecil dari pada angka penyebut. yang artinya : “Sesiapa yang meninggalkan utang adalah saya pembayarnya dan siapa yang meninggalkan harta warisan adalah untuk ahli warisnya” C. sedangkan sisanya dibagi secara berimbang di antara mereka. namun diserahkan kepada baitul maal yang digunakan untuk kepentingan umum. Syafi’i. sedangkan tidak ada ahli waris ashabah. Atho’ Ahmad dan lainnya berpendapat bahwa kelebihan harta dikembalikan kepada ahli waris.dari Malik. yaitu sesuai dengan hak masing-masing ahli waris.

Para ulama berpendapat bahwa sisa harta diserahkan kepada ahli waris berdasarkan hubungan rahim.Radd timbul karena adanya sisa harta sesudah dibagikan kepada dzaul furudh sedangkan ahli waris yang berhak untuk itu tidak ada.4 =2 Pada awalnya asal masalah adalah 6. maka asal masalah berubah menjadi 4 asal masalah sehingga : Ibu = 1/4 x harta Jumlah = 4/4 harta Anak perempuan = 3/2 x harta . tetapi karena tidak ada ahli waris yang berhak mendapatkan sisa harta. Contoh kasus : Seorang meninggal dunia. meninggalkan ahli waris ibu dan seorang anak perempuan. pembagian warisannya adalah : Ibu Asal masalah Ibu = 1/6 =6 = 1/6 x 6 = 1 Jumlah Sisa Jumlah =4 = 6 (asal masalah) Anak perempuan = 1/2 Anak perempuan = 1/2 x 6 = 3 = 6 . dimana semua sisa harta yang ada dikembalikan kepada ahli waris furudh berdasarkan bagian furudh masing-masing. dengan demikian ahli waris furudh berdasarkan perkawinan tidak berhak mendapatkan pengembalian sisa harta warisan.

D. Masalah ‘Umariyah II Masalah ‘umariyah II pada hakekatnya sama dengan masalah ‘umariyah I diatas. namun merupakan ashabah. Jumlah furudh adalah 1/4 + 1/3 = 3/12 + 4/12 = 7/12. Ibu dan isteri. . menurut al-Qur’an suami mendapat 1/2 bagian karena pewaris tidak meninggalkan anak. ibu menerima 1/3 bagian karena pewaris tidak meniggalkan anak dan beberapa orang saudara. isteri menerima furudh sebanyak 1/4 bagian karena pewaris tidak meniggalkan anak. Masalah ‘Umariyah Masalah ‘Umariyah I Masalah ‘umariyah merupakan salah satu bentuk masalah dalam kewarisan yang pernah diputuskan oleh Umar dan diterima oleh mayoritas sahabat dan diikuti oleh para ulama. (Syarifuddin. Ibu menerima 1/3 bagian karena pewaris tidak meniggalkan anak. sedangkan pada ‘umariyah II yang menjadi ahli waris adalah ayah. Menurut al-Qur’an. . ibu dan ayah. ayah sebagai ashabah akan mendapat 5/12. dimana dalam ‘umariyah I ahli warisnya terdiri dari ayah. masalah ini terjadi pada saat penjumlahan beberapa furudh dalam salah satu kasus kewarisan yang hasinya tidak memuaskan beberapa pihak. Op. ibu dan suami. Dalam kasus ini ayah tidak termasuk dzaul furudh. hal 108) Hal ini terjadi apabila ahli waris terdiri dari suami. namun berbeda pada kasusnya. pendapat ulama tetap memahami .Cit.

F. Masalah Kakek Bersama Saudara Telah dijelaskan sebelumnya bahwa kakek adalah pewaris pengganti ayah. menurut al-Qur’an suami mendapat 1/2 karena pewaris tidak meniggalkan anak tetapi apabila pewaris meninggalkan beberapa orang saudara. (Ibid. hal 110-111) E. yang memperoleh hak warisan baik sebagai furudh maupun ashabah yang dalam kedudukannya sebagai penghijab saudara seibu juga telah disepakati oleh para ulama. seibu dan sekandung). sehingga segolongan ulama yang dipelopori oleh Abu Bakar berpendapat bahwa kakek menghijab hak saudara laki-laki maupun perempuan dalam ketiga hubungan (saudara seayah.furudh ibu sebesar 1/3 yang disebutkan dalam al-Qur’an sebagai 1/3 sisa harta sebagaimana bila ayah dan ibu mewaris bersama suami. misalnya apabila ahli waris terdiri dari suami. Masalah Himariyah Masalah ‘himariyah terjadi karena pertentangan antara prinsip yang satu dengan prinsip yang lainnya. Sedangkan saudara laki-laki kandung yang merupakan ahli waris ashabah tidak mendapat bagian apapun. beberpa orang saudara seibu dan beberapa orang saudara laki-laki kandung. makak saudara seibu mendapatkan 1/2 bagian karena lebih dari satu. Kedudukan kakek dalam kewarisan mendatangkan masalah karena kedudukan kakek sebagai pengganti ayah yang berarti akan menghijab saudara. ibu. landasan dari golongan ini untuk berpendapat demikian adalah: .

Ibnu Mas’ud memilih jalan tengah dengan melakukan pembagian warisan kepada kakek sebagaimana yang dilakukan oleh Ali bila ahli waris hanya kakek bersama saudara dan bila disamping kakek saudara . bahwa mereka memiliki kedudukan yang sama dalam faktor yang menyebabkan mereka mendapatkan hak waris dan oleh karena itu.Hadits Nabi. Bahwa dalam pengertian al-Qur’an kata “kakek” termasuk dalam kata “ayah”. bahwa saudara-saudara itu hak kewarisannya ditetapkan dengan nash yang sharih (jelas dan pasti) dan tidak mungkin terhijab kecuali dinaytakan oleh nash atau ijma’ 2. dimana kakek tidak dapat menghijabnya. Ia hanya akan terhijab oleh ayah yng menghubungkannya kepada pewaris dan tidak terhijab oleh kakek. Ia menutup anak dari ayah sebagaimana yang berlaku untuk ayah. (Ibnu Qudamah. yang artinya : “Berikan furudh itu kepada yang berhak menerima dan selebihnya berikan kepada yang terdekat dari laki-laki dalam segaris laki-laki” 2. ia juga berhak mendapatkannya. 1970 : 307-308) Menurut pendapat golongan kedua yang dipelopori oleh Ali ibn Tsabit dan Ibnu Mas’ud berpendapat bahwa saudara bersama kakek dapat sama-sama mewaris. selain anak laki-laki atau cucu laki-laki. Alasan dari golongan ini adalah : 1. Ia dihubungkan kepada pewaris malalui ayah sebagaimana juga kakek dihubungkan kepada pewaris melalui ayah. sehingga kakek mewarisi dengan menggantikan kedudukan ayah dalam kondisi tidak adanya ayah.

G. . sedangkan saudara perempuan telah terhijab oleh kakek sebagai satu-satunya ahli waris laki-laki mendapat sisanya. Menurut Zaid ibn Tsabit memberikan hak furudh kepada ibu sebanyak 1/3 sedangkan sisa harta dibagikan kepada kakek dan saudara perempuan. dimana masalah kewarisan hanya masalah hak bukan menguasai. ibu sebagai furudh menerima 1/3.memiliki ahli waris furudh lainnya maka hak kakek adalah sebagaimana yang dikemukakan oleh Zaid ibn Tsabit. Menurut Abu bakar hal tersebut tidak menjadi masalah karena semua pihak sudah memiliki bagian yang sudah ditentukan. maka janin dalam kandungan berhak menjadi ahli waris yang sah. dengan pembagian dua banding satu. hingga terjadi perbedaan pendapat antara para ulama mengenai hal itu. selain itu saudara laki-laki tidak mungkin mendapatkan bagian yang lebih sedikit dari saudara perempuan. yaitu 2/3 bagian.(Ibid) Masalah kakek bersama saudara akan semakin rumit apabila terdapat ahli waris furudh lainnya seperti ibu. Kewarisan Janin dalam Kandungan Menurut para ulama bayi kandungan dinyatakan sebagai orang yang pantas menerima warisan. kakek sebagai pengganti ayah mendapat bagian lebih banyak dari ibu. Disamping itu oleh para ulama menetapkan syarat-syarat seseorang untuk dapat menguasai dan mengendalikan harta yang dimiliki yang dimiliki setelah seseorang dinyatakan telah dewasa.

Dalam hal kedudukannya sebagai pewaris. Ditentukan demikian karena pada saat perumusan kitab fikih itu belumada alat yang secara meyakinkan dapat menyatakan ada tidaknya janian. yaitu waktu yang ia tidak mungkin hidup lebih dari masa itu. Faraid menjelaskan salah satu syarat ahli waris adalah jelas hidup pada saat kematian pewaris. yang berarti orang yang terputus beritanya sehingga tidak diketahui kondisinya hidup atau mati.Persyaratan ahli waris yang disepakati oleh para ulama mengenai ahli waris yang berhak menerima warisan bila pada saat kematian pewaris ia telah nyata ada. Kewarisan Orang Hilang Dalan fikih orang hilang disebut mafqud. sehingga ketidak pastian tersebut menimbulkan masalah dalam hal kewarisan. isterinya juga masih berstatus sebagai isteri. Dalam pewarisan mafqud menyangkut dua hal yaitu posisinya sebagai ahli waris dan pewaris. H. dimana pada saat yang dinyatakan bahwa janin itu lahir dalam jarak waktu kurang dari enam bulan dari kematian pewaris. berbeda dengan dengan sekarang yang telah tersedia alat canggih yang secara meyakinkan dapat menyatakan wujudnya janin sehingga kemungkinan batas kelahiran tidak relevan lagi. Waktu kematian bagi mafqud dinyatakan apabila kepergiannya telah melewati jangka waktu yang telah ditentukan. para ulama sepakat menyatakan bahwa orang hilang dianggap masih hidup selama menghilang dan harta warisannya tidak dapat dibagi kepada ahli warisnya. .

yaitu kepada usia rata-rata manusia pada umumya. Khunsa ada dua macam : berdasarkan kesaksian bahwa orang tersebut masih . Kewarisan Khunsa Yang dimaksud dengan khunsa adalah seseorang yang mempunyai dua alat kelamin. Op. Abdul Malik bin Majison menetapkan batas waktu selama 90 tahun karena umumnya tidak ada orang yang dapat hidup selama itu. hidup. Cit. Berdasarkan keterangan dari sekurang-kurangnya dua Dengan menghubungkan dengan hukum orang yang orang saksi yang dapat dipercaya. Untuk menetapkan kematian seseorang dapat dilakukan dengan cara : (Hasan. yang artinya : “Umurku antara 70 dan 60 tahun”. I. hal 91) 1. hidup. masalah khunsa ini memang selalu dipermasalahkan karena pada kenyataannya hal ini sering terjadi sedangkan dalam kehidupan sehari-hari sedangkan hukum dalam keadaan tertentu memisahkan antara laki-laki dan perempuan.. 3. Menurut Abdullah bin Hakam menetapkan batas waktu selama 70 tahun (termasuk tahun menghilangnya orang tersebut). 2. alasannya sepenggal hadits nabi. Sedangkan menurut Hasan bin Ziyad harus menunggu selama 120 tahun.Yang menjadi perdebatan di kalangan ulama adalah masa hilangnya orang tersebut.

Dalam menentukan hukum bagi khunsa ulama menginginkan adanya kejelasan jenis kelamin dari subyek hukum. Khunsa yang telah jelas (wadlih). karena belum jelas tandatandanya. . Kewarisan Orang Mati Bersama Apabila dua orang atau lebih yang mempunyai hubungan kewarisan mengalami kecelakaan. dimana tanda-tandanya dapat diperhatikan pada alat kelamin itu sendiri atau pada sifat-sifatnya. Harta masing-masing diwarisi oleh ahli waris yang ada. maka mereka tidak saling mewaris.1. namun apabila tidak bisa diketahui siapa yang lebih dahulu meninggal atau meninggalnya secara bersamaan. 2.walaupun khunsa memiliki dua kelamin namun harus diberlakukan padanya satu jenis kelamin saja. Khunsa yang belum jelas (musykil). maka yang meninggal berhak untuk mewaris dari orang yang meninggal terlebih dahulu. yaitu khunsa yang belum dapat dihukumkan laki-laki atau perempuan. yaitu khunsa yang dapat dihukumkan laki-laki dan perempuan dengan memperhatikan tandatandanya. laki-laki atau perempuan. dimana masih memungkinkan untuk mengetahui salah seorang dari mereka yang meninggal terlebih dahulu dari yang lainnya. Menurut para ulama untuk ahli waris khunsa itu separuh hak lakilaki dan separuh hak perempuan berbeda pendapat mengenai cara pewarisan mereka. J. apakah mirip kepada perempuan atau kepada laki-laki.

. sedangkan kewarisan antara suami di satu pihak dan anak dengan ibunya di pihak lain menjadi pembicaraan dikalangan ulama. maka hubungan anak dan laki-laki itu tidak putus dan diantar mereka masih memiliki hubungan mewaris. Menurut pendapat di kalangan Hanabilah hubungan kewarisan antara laki-laki yang meli’an dengan anak dari isteri yang dili’annya akan terputus sejak li’an selesai diucapkan dalam hal menafkahi anak tersebut. untuk memperkuat ucapannya. Li’an yang diucapkan suami tersebut berakibat pada putusnya hubungan kewarisan antara suami-isteri. namun apabila dalam li’an tidak disebutkan menafkahi anak yang akan lahir oleh suami. Pendapat para ulama mengenai putusnya hubungan kewarisan antara suami isteri akan terajdi apabila kedua belah pihak sudah menyelesaikan sumpah li’annya. walaupun dalan ucapan li’an tidak disebutkan menafkahi anak.K. Kewarisan Akibat Li’an Li’an adalah sumpah suami yang menuduh isterinya berzina dan tidak mampu mendatangkan empat orang saksi. Li’an akan terjadi apabila tuduhan zina oleh suaminya dibantah oleh isteri. Tuduhan suami termasuk dalam pengingkaran anak yang akan dilahirkan nanti. dan putusnya hubungan antara suami dengan anak yang dilahirkan. Menurut pendapat dikalangan Abu Bakar bahwa anak yang lahir itu akan putus hubungannya dengan laki-laki yang meli’annya sejak perkawinan keduanya dinyatakan putus. artinya apabila keduanya belum menyelesaikan sumpah li’annya maka keduanya masih saling mewarisi.

Kewarisan Anak Zina Anak zina adalah anak yang dilahirkan diluar hubungaan perkawinan yang sah. 2. Syafi’iy. Mengenai pembagian warisan anak zina. bahwa harta warisan anak zina sama dengan ketentuan harta warisan anak bukan zina. Hal 94-95) 1. dimana anak tersebut hanya dihubungkan dengan ibunya dan keluarga ibunya. maka ibunya mendapat 1/3 bagian dan selebihnya diserahkan ke baitul maal. Menurut Zaid bin Tsabit dan ahli hukum aliran Madinah berpendapat. ‘Umar bin Khattab dan Ibnu Mas’ud berpendapat bahwa harta warisan . sedangkan anak tersebut tidak dihubungkan dengan laki-laki yang berzina dengan ibunya. Juga apabila ia mempunyai saudarasaudara seibu. maka semua warisan akan jatuh ke baitul maal. maka mereka juga mendapat 1/3 bagian. Menurut pendapat Malik bin Anas. laki-laki tersebut tidak berhak menerima warisan dari padanya. dengan artian ia tidak berhak mewaris dari laki-laki itu begitu pula sebaliknya. para ulama berpendapat : (Ibid.L. dan Abu Hanifah beserta pengikutnya menyatakan bahwa apabila ibunya masih ada. Apabila semua ahli waris yang disebutkan di atas tidak ada. maka mereka dianggap sebagai saudara seibu saja. 3. Anak zina hanya berhak waris dan mewaris dengan keluarga ibunya saja dan apabila anak zina itu kembar. Menurut pendapat Ali bin Abi Thalib.

Daud dan Ibnu Jaris yang berpendapat bahwa dzaul arham tidak berhak menerima warisan. yang artinya : “Orang-orang yang mempunyai hubungan keturunan. Masruq.S. M. Kewarisan Dzaul Arham Pengertian dzaul arham secara umum adalah orang yang mempunyai hubungan kekerabatan. Kelompok ulama yang terdiri dari Umar. al-Anfal ayat 75. Abu Tsaur. karena menurut kelompok ini semua sisa warisan . Ubaidah bin al-Jarah. yang artinya : “Saudara ibu menjadi ahli waris bagi orang yang tidak mempunyai ahli waris” Kelompk kedua terdiri dari Zaid bin Tsabit dari sahabat yang kemudian diamalkan oleh Malik. Umar bin Abdul Aziz.” Juga berdasarkan Hadits Nabi yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad. Dasar dari pendapat golongan ini adalah Q. al-Awza’i. ‘Alqamah. dan ahli Kufah berpendapat bahwa dzaul arham berhak menjadi ahli waris apabila tidak ada ahli waris furudh dan ashabah. namun dalah hal hak menjadi ahli waris dan cara mendapat warisan masih menjadi perdebatan di kalangan ulama. yaitu setiap orang yang memiliki hak ‘ashabah atas ibunya. Ali. sebagainya lebih utama dibandingkan dengan yang lain dalam kitab Allah. Abdullah.dibagikan kepada ‘ashabah anak zina itu. Ahmad. ‘Atha’. jika ibunya tidak ada. Mu’az ibn Jabal dan Abu Darda dari kalangan sahabat dan ulama sesuidanya seperti Syureih. al-Syafi’i. Thaus.

diserahkan kepada baitul maal. hal 152) Munasakat terjadi apabila terjadi kematian kepada ahli waris yang berhak sebelum warisan dibagikan kepadanya. karena timbulnya kasus kewarisan baru sebelum kewarisan lama diselesaikan pembagiannya. . N. Bentuk kedua akan timbul apabila terjadi perkawinan antara dua orang yang mempunyai hubungan kewarisan. dalam bentuk seorang memiliki dua sebab dalam kewarisan dan mewarisi dari setiap sebab itu. (Syarifuddin. juga mendapat warisan dari pewaris kedua dari harta warisan yang diterimanya dari pewaris pertama. Kewarisan Berganda Kewarisa berganda berarti bahwa seseorang dalam satu kasus mempunyai dua hak kewarisan. Kedua. contohnya perkawinan antar sepupu dan apabila isterinya meninggal maka ia berhak mendapat bagian warisan sebagai suami dan sebagai sepupu (anak paman). Op. Bentuk ini sering disebut dengan al-munasakhaat (atau kewarisan beruntun). selain menerima hak warisan dari pewaris pertama. Kemungkinan pertama. Menurut golongan syafi’i ia hanya menerima dari satu kedudukan terkuat yang bisa menghijab kedudukan yang lainnya. menyebabkan seorang kerabat lainnya yang ditinggalkan. Dari segi bentuknya ada dua macam hak kewarisan berganda yang disebabkan oleh dua kemungkinan. Dasar bagi kelompok ini adalah wahyu yang diturunkan kepada Nabi yang menyatakan bahwa saudara orang tua tidak berhak mewaris.. Cit.

S an-Nisa ayat 7 menyatakan ada 6 garis hukum. Mr. 1984 : 57) Menurut Q. (Ramulyo. yaitu : (Hazairin. SH.BAB VI : SISTEM KEWARISAN BILATERAL Pokok-pokok Hukum Kewarisan Bilateral Hukum kewarisan bilateral merupakan ajaran hasil ijtihad dari prof. Besar kecilnya. Bagi laki-laki ada bagian harta warisan dari harta peniggalan ibu bapaknya.. 2. atau bagi anak laki-laki ada bagian warisan dari harta peninggalan ibu bapaknya. Hazairin... Laki-laki dengan aqrabun (Keluarga dekat). Wanita dengan ibu-bapak. Wanita dengan keluarga dekat (aqrabun).. hal 17) 1. Wajibnya Dapat diuraikan dengan membaca satu pasal saja seperti tersebut diatas orang akan langsung memahaminya : (Ibid. Bagi laki-laki ada bagian harta warisan dari harta peninggalan keluarga dekatnya (aqrabun). . Dr. yaitu suatu ajaran yang serasi dari hukum kewarisan yang dipandang dari suatu seginya.. . : 16) Laki-laki dalam hubungan ibu bapak (walidani)..

4 dan 5 itu adalah pembagian yang wajib dilakukan. Pengertian Harta Peninggalan Harta peninggalan dalam al-Qur’an disebut.Dengan membaca teks ini kita sudah mengetahui maksudnya. taraka artinya peninggalan atau meninggalkan. Mr. 2. Oleh Prof. . Tetapi bisa dijadikan harta bersama dengan jalan syirqah. Bagian warisan itu ada yang banyak dan ada yang sedikit. baik karena usahanya sendiri atau diperoleh sebagai warisan dan sebagainya. yang lebih dikenal dengan nama syarikat. 3. Harta milik pribadi suami atau isteri yang telah dimiliki sebelum pernikahan. 3. maa taraka. Pembagian seperti di atas 1. Dalam kehidupan berkeluarga harta dapat digolongkan 3 menjadi macam : 1. Bagi wanita ada bagian warisan dari harta peninggalan ibu bapaknya atau bagi anak wanita ada bagian warisan dari harta peninggalan bapaknya. Maa artinya harta atau apa-apa. Dr. 5. bagi wanita ada bagian warisan dari harta peninggalan keluarga dekatnya (aqrabun). yaitu terdapat dua garis hukum untuk laki-laki dan anak laki-laki. 4. dimana harta tersebut tetap menjadi milik masing-masing pihak sehingga mereka dapat melaksanakan tindakan hukum atas barang tersebut dengan kekuasaan penuh. Hazairin disebut pembagian yang pasti. 6.

harta bersama dibagi secara berimbang kepada kedua belah pihak. Cerai mati Jika suami yang meninggal dunia. akan berpengaruh pada harta perkawinan juga : 1. Bahasan kali ini kita akan membicarakan tentang harta bersama dalam perkawinan yang terdapat dalam pasal 35 dan pasal 37 Undang- . 3. Harta yang diperoleh suami atau isteri sebagai hadiah atau hibah setelah mereka menikah. Cerai hidup Terhadap cerai hidup. maka semua kekayaan suami dinilai sebagai harta peninggalan. yang menjadi milik bersama mereka. yang menjadi milik bersama mereka. 2. Pada bahasan ini yang kita bicarakan lebih lanjut adalah mengenai harta bersama. yang tetap menjadi milik masing-masing pihak. Harta Bersama dalam Perkawinan Yang dimaksud dengan harta bersama adalah harta yang diperoleh setelah pernikahan dengan usaha sendiri oleh masing-masing secara sendiri-sendiri atau bersama-sama. dilihat dari usaha mereka dalam mendapatkan harta tersebut. Harta yang diperoleh setelah pernikahan dengan usaha sendiri oleh masing-masing secara sendiri-sendiri atau bersama-sama yang disebut dengan harta bersama.2. dimana apabila terjadi perceraian atau putus perkawinan.

........ 3006 : 45)... b.. yang disebut dzul faraid adalah : Anak perempuan dalam hal tidak ada anak laki-laki : a. yang menyatakan bahwa ..... 2/3 bagian. maka dzamul al-faridha atau dzul faraid untuk golongan ahli waris pertama digunakan oleh semua pihak yang mengemukakan ajaran mengenai hukum kewarisan...... Ibu : 1/6 bagian. (Purwadi. apabila ada anak.... apabila bersama-sama dengan anak Duda (suami yang ditinggal mati isteri) : . yang artinya bagian... apabila tidak ada anak.. a. Bapak dalam hal ada anak : a. artinya mempunyai sedangkan al-faraid merupakan kata jamak dari alfaridha.... b..... 1/2 bagian..... 1/3 bagian.. 12. apabila dua orang atau lebih. Dzul atau Dzawul atau dzamu.. Ahli Waris Kelompok Pertama. Dzul Faraid Dzul farid adalah ahli waris yang mendapat bagian harta waisan tertentu dalam keadaan tertentu... Dalam al-Qur’an surat an-Nisa ayat 11.... apabila hanya seorang.undang Nomor 1 Tahun 1974. 176. Menurut Kitab Undang-undang Hukum Dagang percampuran harta dalam perkawinan disamakan dengan percampuran harta dalam Perseroan Terbatas. 1/6 bagian.

untuk dua orang atau lebih. apabila tidak ada bapak dan anak Saudara perempuan dalam hal mati punah (kalalah) : a. 1/6 bagian. apabila hanya seorang. apabila tidak ada anak. untuk dua orang atau lebih. mati suami) : b. apabila ada anak. Ahli Waris Kelompok Kedua. c. tidak ada keluarga yang lain. apabila hanya seorang. ahli waris dzul qarabat adalah ahli waris yang mempunyai hubungan kekerabatan dengan pewaris. 1/4 bagian. apabila tidak ada Saudara laki-laki dan saudara anak dan bapak. 1/4 bagian. 8. apabila ada anak. c. tidak ada keluarga yang lain b. 1/3 bagian. perempuan bergabung dalam hal mati punah (Kalalah) : Bagian seorang saudara laki-laki sama dengan bagian dua orang saudara perempuan. apabila tidak ada anak. 2/3 bagian. 1/8 bagian. c. 5. Dzul Qarabat Dzul qarabat adalah ahli waris yang mendapat bagian harta warisan yang tidak tertentu jumlahnya. baik melalui garis laki-laki Janda (isteri yang ditinggal . 1/2 bagian. 1/2 bagian. disebut juga ahli waris bagian terbuka. Saudara laki-laki dalam hal mati punah (kalalah) : b.b.

Bapak. 4. Saudara laki-laki dalam hal mati punah (kalalah). 2. hal 47 48) Ahli waris yang termasuk dzul qarabat. Ahli Waris Kelompok Ketiga. Mawali Mawali adalah ahli waris pengganti.maupun perempuan secara serentak dan tidak terpisah. 1983 : 80) . (Ibid. maksudnya ahli waris yang menggatikan kedudukan seseorang untuk memproleh bagian harta warisan yang tadinya akan diperoleh oleh kedua orang yang digantikannya. dalam hal mati punah (kalalah). ahli waris yang mendapat bagian harta warisan tidak tertentu jumlahnya. (Thalib. 3. Anak laki-laki Anak perempuan karena ada anak laki-laki. Saudara karena ada saudara laki-laki. 5. yaitu : 1.

Menurut pasal 171 Kompilasi Hukum Islam hibah adalah pemberian suatu benda secara sukarela dan tanpa imbalan dari seseorang kepada orang lain yang masih hidup untuk dimiliki Hal-hal mengenai hibah yang diatur dalam KHI adalah : a. juga kepada seseorang yang berhak menjadi ahli warisnya. diperhitungkan sebagai warisan. keagamaan. Harta Hibah benda dari yang orang tua dihibahkan kepada harus anaknya dapat dapat diperhitungkan sebagai warisan. (Pasal 210) c. ilmiah. berakal sehat dan tanpa adanya paksaan dapat menghibahkan bendanya kepada orang lain atau lembaga di hadapan dua orang saksi untuk dimiliki. Pengertian Hibah Hibah adalah pengeluaran harta semata hidupnya atas dasar kasih sayang untuk kepentingan seseorang atau untuk kepentingan sesuatu badan sosial. b. (Pasal 211) . Orang yang telah berumur sekurang-kurangnya 21 (dua sebanyak-banyaknya 1/3 (sepertiga) harta puluh satu) tahun.BAB VII : BENTUK-BENTUK PENGALIHAN HAK LAINNYA SELAIN KEWARISAN Hibah 1.

e.Dewasa. baik perorangan maupun badan hukum yang menerima hibah. (Pasal 213) f.Cakap melakukan tindakan hukum.Mempunyai barang yang hibahkan. (Daud Ali. Pemberi hibah Pemberi hibah adalah pemilik sah barang yang dihibahkan dan pada waktu pemberian dilakukan berada dalam keadaan sehat. 3. . Warga Negara Indonesia yang berada di negara asing dapat membuat surat hibah di hadapan Konsulat atau Keduataan Republik Indonesia setempat sepanjang isinya tidak bertentangan dengan ketentuan Pasal-pasal ini. Penerima wasiat. keadaan sakit yang dekat dengan kematian. Penerima hibah adalah setiap orang. Dasar hukum hibah :QS. Rukun Hibah. Syarat yang harus dipenuhi oleh penerima hibah adalah harus cakap melakukan perbuatan hukum. Syarat yang harus dipenuhi adalah pemberi hibah : . (Pasal 214).d. . 1988 : 24) b. hibah tidak dapat ditarik kembali kecuali hibah orang tua Hibah yang diberikan pada saat pemberi hibah dalam kepada anaknya. baik jasmana maupun rohaninya. 2. yaitu : a. dan An-Nisa ayat 38. (Pasal 212). Al-Imron ayat 77. maka harus mendapat persetujuan dari ahli warisnya. apabila masih dibawah umur .

“ . Dimana antara ijab dan qabul tersebut saling mengikat. . .Milik pemberi hibah secara sah.Nilainya jelas. 1995 : 148) d. (Zainuddin Ali.Barang itu ada pada saat terjadi hibah. (Ibid) c. ijab-qabul Ijab merupakan lafaz penyerahan barang / benda dari pemberi hibah dan disambut oleh qabu dari penerima hibah yang menyatakan dirinya menerima hibah dari pemberi hibah tersebut. bahkan manfaat barang/ benda dapat dihibahkan. yang artinya adalah : “Orang yang menarik kembali hibahnya diibaratkan dengan orang yang muntah lalu ia memakan muntahnya itu kembali.Barang tersebut dapat dipindah tangankan. (Ibid) Syarat harta/benda yang dihibahkan : . Menurut ajaran Islam hibah tidak dapat dibatalkan atau ditarik kembali berdasarkan hadits Nabi yang diriwayatkan oleh Muslim. . .maka ia diwakili oleh walinya atau orang yang diwasiatkan menerimanya.Barang tersebut memiliki nilai. Harta atau barang yang dihibahkan harta atau barang yang dihibahkan dapat berupa barang bergerak maupun barang tidak bergerak.

Orang yang telah berumur sekurang-kurangnya 21 (dua puluh satu) tahun berakal sehat dan tanpa adanya paksaan dapat mewariskan sebagian bendanya kepada orang lain atau lembaga.Pengecualian hadits tersebut apabila hibah dilakukan oleh orang tua kepada anaknya. Menurut pasal 171 Kompilasi Hukum Islam wasiat adalah pemberian suatu benda dari pewaris kepada orang lain atau lembaga yang akan berlaku setelah pewaris meninggal dunia. maka hibah tersebut dapat ditarik kembali. Perbedaan mendasar antara hibah dan waris adalah terletak pada saat penyerahan harta dimana pada hibah penyerahan hak milik hanya dapat dilakukan pada saat pemberi hibah masih hidup. Wasiat 1. berbeda dengan warisan yang pemindahan hak terjadi apabila pewaris meniggal dunia. . Hal-hal yang berkaitan dengan wasiat yang tertuang dalam KHI adalah : 1. Harta benda yang diwasiatkan harus merupakan hak dari pewasiat. 2. Pengertian Wasiat Wasiat adalah pemberian suatu benda dari pewaris kepada orang lain atau lembaga yang akan berlaku setelah pewaris meninggal dunia dasar hukumnya ditenukan dalam al-Qur’an surat al-Imron ayat 180 dan 240.

Dalam wasiat baik secara tertulis maupun secara lisan harus disebutkan dengan tegas dan jelas siapa atau siapa-siapa atau lembaga apa yang ditunjuk akan menerima harta benda diwasiatkan. atau dihadapan Notaris. Wasiat hanya diperbolehkan sebanyak-banyaknya sepertiga dari harta warisan kecuali apabila semua ahli waris menyetujui. Warisan menjadi batal apabila calon penerima wasiat berdasarkan putusan Hakim yang telah mempunyai kekuatan hukum karena : a. 5. 6. Wasiat dilakukan secara lisan di hadapan dua orang saksi. . Pernyataan persetujuan pada ayat (2) dan (3) Pasal ini dibuat secara lisan di hadapan dua orang saksi atau tertulis di hadapan dua orang saksi atau di hadapan Notaris. (Pasal 196) yang 9. dipersalahkan telah membunuh atau mencoba membunuh atau menganiaya berat kepada pewasiat. Wasiat kepada ahli waris hanya berlaku bila disetujui oleh semua ahli waris. Pemilikan terhadap harta seperti yang dimaksud dalam ayat 411 baru dapat dilaksanakan sesudah pewasiat meninggal dunia. (Pasal 195) 8. 7. b. dipersalahkan secara memfitnah telah mengajukan pengaduan bahwa pewasiat telah melakukan suatu kejahatan yang diancam dengan hukuman lima tahun penjara atau hukuman yang lebih berat.3. atau tertulis di hadapan dua saksi. (Pasal 194) 4.

d. Wasiat menjadi batal apabila yang diwasiatkan musnah. 11. Pewasiat dapat mencabut wasiatnya selama calon penerima wasiat belum menyatakan persetujuannya tetapi kemudian menarik kembali. c. mengetahui adanya wasiat tersebut. 10. dipersalahkan telah menggelapkan atau merusak atau memalsukan surat wasiat dari pewasiat. dipersalahkan dengan kekerasan atau ancamaan mencegah pewasiat untuk membuat atau mencabut atau merubah wasiat untuk kepentingan calon penerima dari wasiat.c. (Pasal 198) 13. mengetahui adanya wasiat itu. tetapi ia menolak untuk menerimanya. . tetapi tidak pernah menyatakan menerima atau menolak sampai ia meninggal sebelum meninggalnya pawasiat. Pencabutan wasit dapat dilakukan secara lisan dengan disaksikan oleh dua orang saksi atau tertulis dengan disaksikan oleh dua orang saksi atau berdasarkan Akta Notarais bila wasiat terdahulu dibuat secara lisan. tidak mengetahui adanya wasiat tersebut sampai ia meninggal dunia sebelum meninggalnya pewasiat. Wasiat yang berupa hasil dari suatu benda ataupun pemanfaatan suatu benda harus diberikan jangka waktu tertentu. (Pasal 197) 12. 14. Wasiat menjadi batal apabila orang yang ditunjuk untuk menerima wasiat itu : b. d.

Apabila wasiat ditujukan untuk berbagai kegiatan kebaikan. 21. maka hanya dapat dicabut dengan tertulis dengan disaksikan oleh dua orang saksi atau berdasarkan akta Notaris. dibuka olehnya di hadapan ahli waris. Harta wasiat yang berupa barang tak bergerak bila karena suatu sebab yang sah mengalami penyusutan atau kerusakan yang terjadi debelum pewasiat meninggal dunia. Jika pewasiat meninggal dunia. maka hanya dapat dicabut berdasarkan akta Notaris.15. Bilamana surat surat wasiat dicabut sesuai dengan Pasal 199. (Pasal 199) 17. Apabila surat wasiat dalam keadaan tertutup. maka surat wasiat yang tertutup dan disimpan pada notaris. (Pasal 203) 22. . maka penerima wasiat hanya akan menerima harta yang tersisa. maka wasit hanya dilaksanakan sampai batas waktu sepertiga harta warisan. termasuk surat-surat yang ada hubungannya. 16. (Pasal 200) 18. Bila wasiat dibuat berdasarkan akta Notaris. (Pasal 201) 19. (Pasal 202) 20. Bila wasiat dapat dilakukan secara tertulis. sedangkan harta wasiat tidak mencukupi. sedangkan ahli waris ada yang tidak menyetujuinya. maka surat wasiat yang telah dicabut itu diserahkan kembali ke pewasiat. Apabila wasiat melebihi sepertiga dari harta warisan. maka penyimpanannya ditempat notaris yang membuatnya atau di tempat lain. maka ahli waris dapat menetukan kegiatan mana yang didahulukan pelaksanaannya.

Wasiat tidak diperbolehkan kepada orang yang melakukan pelayaran perawatan bagi seorang dan kepada orang yang memberikan tuntutan kerohanian sewaktu ia menderita sakit hingga . para anggota tentara dan mereka yang termasuk dalam golongan tentara dan berada dalam daerah pertempuran atau yang berada di suatu tempat yang ada dalam kepunagan musuh. Jika surat wasiat yang tertutup disimpan bukan pada noratis. dibolehkan membuat surat wasiat di hadapan seorang komandan atasannya dengan dihadiri dua orang saksi.disaksikan dua orang saksi dengan membuat berita acara pembukaan surat wasiat itu. maka penyimpan harus menyerahkan kepada Notaris setempat atau Kantor Urusan Agama setempat dan selanjutnya Notaris atau Kantor Urusan Agama tersebut membuka sebagaimana ditentukan dalam ayat (1) Pasal ini. (Pasal 206) 27. dan jika pejabat tersebut tidak ada. maka dibuat dihadapan seorang yang menggantinya dengan dihadiri oleh dua orang saksi. (Pasal 205) 26. Setelah semua isi serta maksud surat wasiat itu diketahui maka oleh Notaris atau Kantor Urusan Agama diserahkan kepada penerima wasiat guna penyelesaian selanjutnya. (Pasal 204) 25. 23. Dalam waktu perang. 24. Mereka yang sedang berada dalam perjalanan melalui laut dibolehkan membuat surat wasiat di hadapan nahkoda atau mualim kapal.

QS. maka sesungguhnya dosanya untuk orangorang yang mengubah. apabila ia mempunyai harta yang banyak. QS. Al-Imron. Harta peninggalan anak angkat dibagi berdasarkan Pasal-pasal 176 sampai dengan 193 tersebut diatas. apabila seseorang di antara kamu kedatangan (tanda-tanda) akan mati. Wasiat tidak berlaku bagi Notaris dan saksi-saksi pembuat akta tersebut. artinya : “ Maka barang siapa yang mengubah wasiat itu setelah ia mendengarnya.Terhadap anak angkatnya yang tidak menerima wasiat diberi wasiat wajib sebanyak-banyaknya 1/3 (sepertiga) dari harta warisan orang tua angkatnya. kecuali ditentukan dengan tegas dan jelas untuk membalas jasanya. Al-Imron.” b.meninggalnya. ayat 182. Dasar Hukum Wasiat a. Al-Imron. lalu ia . sedangkan terhadap orang tua angkat yang tidak menerima wasiat diberi wasiat sebanyakbanyaknya 1/3 (sepertiga) dai harta wasiat anak angkatnya. ” c. berwasiat untuk ibu bapak dan kaum kerabatnya. yang artinya : “ Diwajibkan atas kamu. ayat 181. (Pasal 207) 28. ayat 180. QS. yang artinya : “ Akan tetapi barang siapa khawatir terhadap orang-orang yang berwasiat itu berlaku berat sebelah atau berbuat dosa. (Pasal 208) 29. (Pasal 209) 2.

yang artinya : “ Seseorang yang akan berwasiat. ayat 240. maka tidaklah ada dosa baginya. QS. −Bukan untuk kemaksiatan . maka hendaklah disaksikan oleh dua orang saksi yang adil di antara kamu... Islam. Berakal sehat.. hendaklah berwasiat untuk isteri (isteriisteri). Bebas menyatakan kehendaknya. Orang yang menerima wasiat : −Harus dapat diketahui dengan jelas siapa yang menerima wasiat itu. ” 3. Al-Imron... Rukun Wasiat Ada 4 rukun wasiat. ” d.. Ayat 106.. yang artinya : “ Dan orang-orang yang akan meniggal di antara kamu dan meniggalkan isteri.. nama badan. Orang yang berwasiat : − − − − − − Baligh (dewasa). Merupakan tindakan tabarru’ (derma)..mendamaikan antara mereka. QS. ” e.... diberi nafkah hingga setahun lamanya dengan tidak disuruh pindah dari rumahnya. yaitu : a. Harta tidak berada dalam penjaminan.. −Telah ada ketika atau pada waktu wasiat dinyatakan. organisasi atau masjid tertentu.

Penerima lebih dahulu meniggal dunia dari pewasiat. Pewasiat menarik wasiatnya. Pewasiat kehilangan kecakapannya untuk bertindak.b. Pewasiat meniggalkan hutang yang mengakibatkan hartanya habis. Menurut KUH Perdata pasal 889 menyatakan bahwa wasiat tidak memandang agama Wasiat dapat batal apabila : a. c. Sesuatu yang diwasiatkan tidak menjadi milik pewasiat lagi sebelum meninggal. −Hak milik pewasiat 3. Penerima wasiat menolak wasiat. d. . −Benda ada (berwujud) pada saat diwasiatkan. Suatu yang diwasiatkan. b. Penerima wasiat membunuh pewasiat. f. g. Lapaz wasiat Ijab yang merupakan pernyataan kehendak dari pewasiat dan kabul merupakan pernayaan dari penerima wasiat bahwa ia menerima wasiat tersebut. −Dapat berlaku sebagai harta warisan atau dapat menjadi obyek perjanjian. e.

antara lain hukum adat. dengan tujuan awal berdagang. yang dibawa oleh pedagang asing berasal dari India dan Arab dengan cara mengadakan perkawinan sehingga terjadi percampuran kebudayaan diantara mereka. Agama Islam masuk ke Indonesia melalui Sumatera. begitu pula dengan hukumnya. Bangsa Belanda datang ke Indonesia pada akhir abad XVI. Untuk mempermudah tujuannya . Politik Hukum Pemerintah Kolonial Belanda Indonesia merupakan suatu negara yang majemuk.BAB VIII : PERKEMBANGAN HUKUM KEWARISAN DI INDONESIA A. dalam perkembangannya agama Islam ini menyebar dengan pesat. walaupun hukum adat ini baru dikenal sebagai sistem hukum sekitar abad ke XX. hukum Islam dan huikum barat. sampai pada saat inipun di Indonesia terdapat beberapa hukum yang berlaku dan dipatuhi di masyarakat. Hukum yang tertua berlaku di Indonesia adalah hukum adat yang sudah digunakan oleh masyarakat sekitar abad ke VII sampai awal abad ke XIII.

Belanda mendirikan persekutuan dagang yang lebih kita kenal dengan nama VOC (Vereenigde Oost Indische Compagnie). Dalam masa pendudukannya VOC menerapkan hukum Belanda terhadap semua bidang kehidupan, namun sejalan dengan bertambahnya daerah kekuasaannya, hukum Belanda yang diterapkan oleh VOC tidak efektif lagi, sehingga akhirnya VOC membiarkan hukum setempat untuk tetap berlaku, dengan dikeluarkannya Statuten Batavia, yang menyatakan bahwa bagi perkara kewarisan orang-orang Kristen dan Tionghoa berlaku hukum barat, sedangkan dalam hal kewarisan bagi orang Indonesia yang beragama Islam berlaku hukum Islam. (Soepomo dan Djokosutono, 1955 : 2) Untuk tetap melanjutkan pemikiran tersebut maka D.W. Freijer diberi tugas unutk menyusun suatu Compendium yang memuat hukum perkawinan dan hukum kewarisan Islam dengan bantuan penghulu dan ulama Indonesia, yang kemudian kitab hukum tersebut dikenal dengan nama Compendium Freijer. (Ali, Kedudukan ............: Op. Cit, hal 11) Beralihnya pemerintahan dari VOC ke Pemerintah Hindia Belanda tidak membawa perubahan terhadap perkembangan hukum di Indonesia karena hukum yang berlaku masih sama dimana bagi bangsa Eropa berlaku hukum barat, untuk bangsa Indonesia berlaku hukum adat, kebiasaan atau agama, sementara itu apabila itu jika terjadi perkara yang melibatkan pihak yang berbeda, hukum yang ditetapkan adalah hukum yang berlaku bagi yang dituntut. Pada masa itu hukum hukum adat dipandang sebagai hukum yang tepat untuk diberlkaukan di Indonesia. Sebagai ahli hukum Belanda menganggap, bahawa

hukum adat identik dengan hukum Islam karena mereka memandang bahwa hukum yang dhidup dalam masyarakat Indonesia adalah hukum Islam. Pandangan tersebut melahirkan sebuat teori Receptio in complexu. Teori tersebut dipelopori oleh para ahli hukum Belanda seperti C.F. Winter, Solomon Keyser, dan mencapai puncak ketenarannya melalui L.W.C. van den Berg. (Sayuti Talib, 1985 : 4-8) Pengaruh teori tersebut dapat ditemukan pada politik hukum kolonial Belanda pada waktu itu sekitar tahun 1600-1880, dimana hukum Islam diberlakukan bagi penduduk pribumu yang beragama Islam. Oleh pemerintah kolonial Belanda, hal ini kemudian dituangkan dalam Reglement op de beleid der Regeering van Nederlandsch Indie, yang kemudian dikenal dengan nama R. R atau Regeeringsreglement, dengan Stb. 1854 : 129 dan Stb. 1885 : 2. ( Ismail Suny, 1987 : 5) Dasar politik hukum pemerintah kolonial mengenai teori Receptio in complexu pasa sekitar awal abad XX mendapat kritik tajam dari C. Snouck Hurgronje, dengan menerbitkan kedua bukunya yang berjudul de Atjehers dan het Gajoland, yang menyatakan bahwa di Aceh selain hukum Islam berlaku pula ketentuan lainnya. Dengan pemikiran tersebut C. Snouck Hurgronje mengemukakan suatu jalan pemikiran yang sangat berlawanan dengan ajaran sebelumnya. Pemikiran baru tersebut dikenal dengan nama teori Receptie yang berpendapat bahwa hukum yang berlaku di Indonesia adalah hukum adat asli dimana di dalam hukum adat tersebut telah masuk pengaruh hukum Islam. Hukum Islam hanya mempunyai kekuatan berlaku apabila hukum adat menginginkannya. (Thalip, Op. Cit )

Teori Receptie menjadi dasar dalam menentang isi R. R, yang menyebabkan pemerintah kolonial belanda mengadakan perubahan politik hukum kolonial terhadap pasal-pasal dalam R. R. B. Politik Hukum Pemerintah Indonesia Kemerdekaan Republik Indonesia pada tanggal 17 Agustus 1945 mengukuhkan RI sebagai salah satu negara yang berdaulan dan berhak mengatur urusannya sendiri, begitu pula dengan menentukan hukum yang berlaku di wilayahnya, sebagai negara yang baru merdeka pada waktu itu RI masih menggunakan I. S karena UUD 1945 memperbolahkan hal tersebut dengan pasal II aturan peralihannya. Aturan tersebut secara umum membagi hukum yang berlaku bagi masyarakat Indonesia, dimana untuk golongan Bumuputera berlaku hukum adat dan hukum Islam, untuk golongan Eropa berlaku KUH Perdata, dan untuik golongan Timur Asing berlaku hukumnya masingmasing. Dan hal menyatakan fakta bahwa teori receptie masih berlaku. Menurut Hazairin, bahwa I.S yang merupakan konstitusi pemerintah kolonial Belanda tidak berlaku lagi dengan dikeluarkannya proklamasi pada tanggal 17 Agustus 1945, (Lihat Hazairin, Demokrasi Pancasila, 1990 : 98). Dalam UUD 1945 pasal 29 menyatakan bahwa : 1. 2. Negara berdasarkan atas ketuhanan Yang Maha Esa. Negara Menjamin kemerdekaan tiap-tiap penduduk untuk

memeluk agamanya masing-masing dan beribadat menurut agama dan kepercayaan itu.

hal 33-34) 1. Syari’at yang tidak memerlukan bantuan kekuasaan negara untuk menjalankannya dan karena itu dapat dijalankan sendiri oleh setiap pemeluk agama yang bersangkutan. 3. op. atau bertentangan dengan kesusilaan agama Budha bagi orang-orang Budha. Dalam negara Republik Indonesia tidak boleh terjadi atau berlaku suatu yang bertentangan dengan kaidah-kaidah Islam bagi umat Islam. Ketiga diantaranya yang berhubungan dengan politik hukum adalah : (Hazairin. sekedar menjalankan syari’at tersebut memerlukan perantara kekuasaan negara. menjadi kewajiban pribadi terhadap Allah bagi setiap orang itu. 2. yang dijalankan sendiri menurut agamanya masing-masing.Hazairin berpendapat bahwa negaya yang berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa yang terdapat dalam pasal 29 UUD 1945 tersebut kemungkinan hanya dapat ditafsirkan ke dalam enam kemungkinan. Untuk menentang teori receptie yang banyak ditentang para ahli. dan syari’at Hindu Bali bagi orang Hindu Bali. Dasar dari teori receptio a contrario adalah kenyataan bahwa mayoritas penduduk Indonesia adalah penganut agama Islam . Negara Republik Indonesia wajib menjalankan syari’at Islam bgai orang Islam. syari’at Nasrani bagi orang Nasrani. atau bertentangan dengan kaidah-kaidah agama Hindu Bali bagi orang-orang Hindu Bali. cit. atau yang bertentangan dengan kaidah-kaidah Nasrani bagi umat Nasrani. para murid Hazairin mengembangkan teori receptio a contrario yang merupakan kebalikan dari teori receptie milik Snouck Hurgronje dan kawan-kawan.

Op. yaitu dengan menghapuskan tingkat-tingkat kemasyarakatan. 1982 : 16-17) 1.. dalam bidang hukum keluarga telah dikelaurkannya keputusan dari Badan Perencana Lembaga Pembinaan Hukum Nasional tertanggal 28 Mei 1962. yaitu sistem parental. demikian . yang semua larangan terhadapt perkawinan antara croos-cousin dan parental-cousin dihapuskan. Cit. 75) Dalam pasal 12 keputusan tersebut menyatakan bahwa : Mengenai hukum keluarga ditetapkan asas-asas (Lih Hazairin. Di seluruh Indonesia berlaku satu sistem kekelurgaan. Tanggapaan posirtif terhadap konsep teori receptio dan tafsiran pasal 29 UUD 1945 menyebabkan dikeluarkannya Ketetapan MPRS Nomor II/MPRS/1960. (Purwadi. maka adalah conditio sine qua non. untuk menindak lanjuti ketetapan MPRS tersebut. Hk Kekeluargaan Nasional. Sila kerakyatan dalam pancasila menghendaki pula sistem parental tersebut didemokrasikan. sehingga diantara suami isteri tidak ada lagi perbedaan martabat. mngenai hukum keluarga. Supaya sistem parental itu berlaku secara efisien. Jakarta. Dengan demikian maka dalam pologami suani isteri sama haknya dan kewajibannya. 2. yang diatur dengan Undang-undang. dengan menyesuaikan dengan sistem-sistem lain yang terdapat dalam hukum adat seperti pada sistem parental.yang taat sehingga mereka menghendaki agar hukum Islam diberlakukan pada bidang-bidang tertentu. 3.

dengan sedikit perubahan bagi hukum waris Islam. Dalam setiap perkawinan diakui ada harta bersama anatara suami isteri mengenai harta benda yang diperoleh dalam perkawinan itu atas usaha suami isteri. 5. dengan kemudian adanya variasi dalam sistem bilateral tersebut untuk kepeantingan golongan Islam yang memerlukannya.pula semuaanak-anak sama haknya dan kewajibannya dengan tidak memandang lagi siapa ibu anak itu. Hukum Waris untuk seluruh rakyat diatur secara bilateral individual. Sistem keutamaan dan sistem penggantian dalam hukum waris pada prinsipnya sama untuk seluruh Indonesia. (c) Undang-undang hukum perkawinan untuk rakyat Islam membutuhkan penyempurnaan. dan nafkah istri sesudah perceraian : (menjatuhkan talak di bawah pengawasan yang berwajib). talak. . juga menyempurnakan peraturan mengenai perceraian. 6. Poligami bagi golongan-golongan tertentu hanya dapat dilakukan dalam hal-hal tertentu dan di bawah pengawasan yang berwajib. antara lain (disamping penyempurnaan peraturan mengenai poligami). kemungkinan nafkah sesudah iddah). (a) (b) Dalam prinsipnya perkawinan adalah monogami. 7. dengan pengertian bahwa pilogami itu tidak boleh dipaksakan terhadap isteri yang tidak mau dimadu. 4.

Momentum ditetapkannya Garis-garis Besar Haluan Negara (GBHN) dengan dekeluarkannya TAP MPR Nomor IV/MPR/1973 merupakan tonggak perkembangan politik Indonesia. 1990 :11). Kewarisan Bilateral Menurut Qur’an dan Hadits. (Hazairin. Hukum adat yurisprudensi dalam bidang hukum kekeluargaan diakui sebagai hukum pelengkap disisi hukum perundangundangan. Permasalahan Hukum Kewarisan di Indonesia Hukum kewarisan merupakan bagian dari hukum keluarga yang menggambarkan sistem dan bentuk hukum yang berlaku dalam masyarakat. Dimana penyelesaian hak-hak dan kewajiban sebagai akibat adanya peristiwa hukum karena meniggalnya seseorang yang diatur dalam hukum kewarisan. Hal itu disebabkan oleh karena hukum kewarisan mempunyai hubungan dengan ruang lngkup kehidupan manusia yang dalam kehidupan sehari-hari tidak akan terlepas dari peristiwa hukum yang disebut meninggal dunia. Selain itu juga dikeluarkannya Instruksi Presiden nomor 1 tahun 1991 tentang kompilasi Hukum Islam (KHI). C. (Oemarsalim. Untuk masalah hukum kewarisan telah disahkan Undang-undang Nomor 7 tahun 1999 tentang peradilan Agama. Hk.8. 1987 : 1) . dimana peristiwa ini akan menimbulkan akibat hukum terhadap pengurusan dan kelanjutan hak-hak orang yang meniggal itu.

Hazairin. Bali. dimana suami ikut berdian di rumah isteri dan keluarganya. Ibid. Prodjokoro. Sistem kekeluargaan ini bersifar keibuan. dan Irian Jaya. saudara sepupu dan keluarganya yang lain karena istri akan akan masuk ke dalam keluarga suami secara penuh. Sistem kekerabatan seperti ini dianut oleh Masyarakat di Tanah Gayo. Ibid. Minangkabau. Ambon. Ibid.(Prodjodikoro. Ibid. sistem matrilineal (garis keturunan ibu) Sistem keturunan yang menarik garis keturunan dari ibu dan seterusnya ke atas mengambil garis keturunan perempuan. saudara sekandung. Ibid.Di negara Indonesia sistem kewarisan secara umum dibedakan menjadi empat. Akibat dari pernikahan pada sistem keturunan ini menyebabkan seorang isteri harus melepaskan diri dari hubungan keluarga dengan orang tuanya. Alas. yaitu : 1. hanya keturunannyalah yang masuk ke dalam keluarga ibu. Seikanto dan Taneko.) 2. Koentrjaraningarat. Sistem patrilineal (garis keturunan bapak) Sisten kekeluargaan yang menarik garis keturunan dari garis keturunan ayah atau garis keturunan laki-laki. Ibid) Sistem bilateral atau parental (garis keturuan ibu dan bapak) . namun suami tetap mempunyai hubungan dengan keluarganya dan tidak masuk ke dalam keluarga isteri. (Hazairin. Di Indonesia sistem seperti ini masih dianut oleh masyarakat di daerah 3. Koentjaraningrat. nenek moyangnya. Batak. Ibid.

Ibid. tidak ada perbedaan antara anak laki-laki dan anak perempuan. atau perempuan saja. juga Koentjaraningrat. op. Lih. Seokanto. op. Begitu pula dengan anak dari hasil perkawinan dalam sestem ini akan mempunyai dua keluarga. (Koentjaraningrat. Riau. cit) Seperti yang telah dijelaskan sebelumya bahwa pendududk Indonesi dapat di golongkan menjadi tiga golongan yaitu golongan Bumi Putera. dan Taneko. Jawa. Sulawesi. Dalam BW juga disebutkan bahwa adanya hak mutlak bagi masing-masing ahli waris untuk menuntut pembagian warisannya .Sistem keturunan yang menarik garis keturunan dari pihak ibu dan pihak bapak. golongan Eropa. Madura. Sistem kekerabatan ini dianut oleh masyarakat Aceh dan Sawu. Ibid) Sistem bilineal (garis unilateral) Sistem kekerabatan yang dalam beberapa hal tertentu hanya menarik hubungan kekerabatan laki-laki saja. Ternate. Sumatera Selatan. cit. Kalimantan. Di Indonesia sistem kekeluargaan seperti ini dianut oleh masyarakat Aceh. Akibat pernikahan tersebut suami menjai anggota keluarga isteri demikian sebaliknya sehingga baik suami atau isterimemiliki dua keluarga. dan Lombok. hal 61. yaitu keluarga dari pihak ibu dan keluarga dari pihak bapak. sehingga dalam kekeluargaan seperti ini tidak terdapat perbedaan kedudukan antara pihak ayah dan pihak ibu. dan seterusnya. Ibid. Salman. Hazairin di dalam 4. (Prodjodikoro. dan golongan Timur Asing yang bagi ketiga golongan tersebut berlaku hukum yang berlainan pula.

dimanan harta peninggalan tersebut tidak dapat dibagi-bagikan oleh pemiliknya. Berlaku hukum Islam bagi orang-orang Arab. Bagi orang-orang Tionghoa berlaku BW (KUH Perdata) (Koentjaraningrat. patrilineal di tanah Batak. Sistem kewarisan individual. yaitu : 1. Sistem kewarisan seperti ini seperti sistem . 2. Sistem kewarisan kolektif. adalah sistem kewarisan dimana harta peninggalan diwarisi secara bersama-sama oleh ahli waris. Berlaku hukum adat bagi orang-orang asli Indonesia. Hukum kewarisan yang berlaku bagi warga negara Indonesia adalah : 1. 2. sedangkan menurut hukum adat ada saat dimana warisan tidak dapat diganti.sewaktu-waktu. namun ahli waris dapat memanfaatkan harta warisan tersebut. Ibid) Kewarisan dalam hukum adat selalu dipengaruhi oleh garis keturunan yang berlaku pada masyarakat tersebut. ahli waris secara perorangan seperti yang berlaku pada masyarakat bilateral-jawa. 4. namun bagi masyarakat Indonesia yang sebagian besar memeluk agama Islam tidak bisa mengabaikan hukum kewarisan Islam. adalah sistem kewarisan dimana harta peniggalan oleh pemilihnya dapat dibagi-bagikan kepada para ahli waris. Berlaku hukum Islam bagi penduduk asli Indonesia yang beragama Islam dan telah dipengaruhi oleh hukum kewarisan Islam 3. Dalam huku adat dikenal adanya tiga sistem kewarisan.

Pewaris bersama anak-anaknya serentak sebagai ahli waris . Sistem kewarisan mayorat. Hak mayorat terhadap anak laki-laki tertua berlaku di masyarakat Lampung dan Bali. manurut alQur’an hal tersebut tidak mungkin terjadi karena saudara pewaris tertutup haknya oleh orang tuanya. 3. (Ibid. hal tersebut tidak mungkin terjadi karena hal tersebut bisa terjadi apabila ahli waris meniggal dunia tanpa meninggalkan katurunan (mati punah). sedangkan hak mayoraqt anak perempuan tertua terdapat di tanah Semedo Sumatera selatan. Apabila pewaris meninggal dunia tanpa meniggalkan keturunan. maka kemungkinan bahwa saudara-saudara pewaris bersamasama bertindak sebagai pewaris dengan orang tuanya. Perkembangan Hukum Kewarisan di Indonesia . spesifikasi itu adalah : (Ibid. 2.kewarisan pada masyarakat yang menganut sistem matrilineal. Artinya pihak yang terlama hidup akan menjadi ahli waris dari pihak lainnya. sedangkan dalam sistem hukum kewarisan di luar al-Qur’an. hal 185-186) Terhadap sistem kewarisan individual bilateral Hazairin menemukan hal-hal baru yang merupakan ciri dari sistem hukum kewarisan Islam. seperti pada masyarakat Minangkabau. Suami dan Isteri saling mewaris. 3. hal 17-18) 1. adalah sistem kewarisan dimana anak tertua adalah pewaris tunggal yang berhak mewarisi semua harta warisan. D.

hal 19) Pembuktian hal tersebut dapat dilakukan walaupun seorang muslim tidak taat menjalankan ibadahnyanya. namun dalam perkawinan ia akan tetap meletakkan nilai-nilai Islam terlebih dahulu. namun dalam peristiwa yang berkaitan dengan perkawinan dan kewarisan dapat dipastikan bahwa mereka selalu berpedoman pada hukum Islam. khususnya bidang perdata adalah : a.(Ibid) Tiap muslim akan mengalami peristiwa perkawinan dankewarisan dalam menempuh perjalan hidupnya. demikian pula halnya dengan hukum kewarisan. walaupuan dalam peristiwa tertentu. Penerimaam masyakat yang beragama Islam terhadap berlakunya hukum keluarga (hukum perkawinan. b. jika dihadapkan dengan nilainilai Islam. Faktor-faktor yang mempengaruhi kesadaran terhadap hukum Islam Beberapa faktor yang menimbulkan kesadaran umat Islam terhadap tata nilai adat dan Barat. hukum kewarisan. (Ibid. karena peristiwa tersebut berkaitan dengan nilai hukum yang akan dialami dan dijalani oleh setiap muslim dalam kahidupan hidupnya. .1. dan hukum wakaf) langsung terjadi pasa saat keislaman seseorang harus diterima. walaupun kualitas keislamannya kurang sempurna. Terjadinya transformasi kesadaran masyarakat muslim yang cenderung mengangkat nilai-nilai hukum Islam sebagai salah satu aspek kaidah iman.

2. VOC mengeluarkan Compendium Freijer yang berupa himpunan peraturan hukum Islam mengenai kewarisan. Perjalan Peradilan Agama di Masyarakat muslim Indonesia dapat disebutkan sebagai berikut : a. hal 11) b. Kedudukan. Pemerintah Belanda sudah mengakui kebenaran hukum Islam. nikah dan talak sesuai dengan perintah Statuten van Batavia 1642. Ibid. Tahun 1808 terdapat istruksi dari pemerintah kolonial Belanda kepada para Bupati yang menyatakan bahwa urusan agama orang Jawa tidak akan dilakukan gangguan-gangguan. sedangkan kepala-kepala “pendeta’ mereka dibiarkan untuk . Hukum keluarga (perkawinan dan kewarisan) merupakan bidang hukum Islam yang sempurna berdasarkan al-Qur’an dan Sunnah Rasulullah. Kesadaram masyarakat muslim mendorong mereka untuk menjadikan hukum Islam sebagai aturan dan landasan hidup bermasyarakat. Pada tahun 1769. Hukum kewarisan dan Kekuasaan Peradilan Agama Sejak tahun 1600 hingga 1800-an sebelum terbentuknya Peradilan Agama tahun 1882.c. yang menyatakan bahwa sengketa kewarisan antara orang-orang pribumi yang beragama Islam harus mempergunakan hukum Islam (Ali.

d. Op. ( H. Tahun 1832 berdasarkan Resolusi Gebernus Jenderal tanggal 3 Juni 1823 Nomor 12 diresmikan “Pengadilan Agama” di Palembang. cit hal 5) c. Idris Djakfar dan Taufik Yahya. .memutusperkara-perkara tertentu. Tahun 1835 dengan resolusi tanggal 7 Desember 1835 dinyatakan bahwa apabila terjadi sengketa orang-orang Jawa satu dengan lainnya harus diputus menurut hukum Islam.

yang dalam perkembangannya terdapat pertentangan-pertentangan dengan hukum adat yang telah berlaku sebelumnya. dimana laki-laki mendapat bagian lebih banyak dari perempuan. Isteri. Di Indonesia berlaku hukum kewarisan Islam yang secara patrilineal dikembangkan oleh Ahlussunnah wal Jama’ah madzhab Syafi’i. .12. 33 dan 17. Hadits Nabi dan Ijtihad. Hukum kewarisan menyangkut beberapa hal pokok. 11. asas keadilan berimbang. asas bilateral. anak. Dasar berlakunya hukum kewarisan Islam ini adalah dalam al-Qur’an Surat An-Nisa Ayat 7. Asas-asas dalah hukum kewarisan Islam adalah asas ijbari. yang terdiri dari orang tua.23. saudara dan harta warisan dapat berupa harta bergerak dan tidak bergerak milik dari pewaris. orang tua. asas individual. dan asas semata akibat kematian. suani. yaitu : pewaris. beserta haditshadits Nabi maupun Ijtihad dari para ulama.14. Hukum kewarisan Islam mengatur tentang harta warisan yang ditinggalkan seseorang kepada ahli warisnya baik lakilaki maupun perempuan.BAB IX : PENUTUP Hukum kewarisan Islam adalah hukum yang mengatur tentang pelaksanaan pewarisan menurut hukum Islam yang terkandung dalam alQur’an. kerabat ahli waris lainnya. ahli waris yang terdiri dari anak.

Jakarta. dan Wakaf. Hazairin 1990. Idris. Zakat. Pustaka Kartini. M. Ibnu. M. Ali 1973 Hukum Kewarisan dalam Islam. Ramulyo M. Hazm. Jakarta. 1970. Matba’ah al-Jumhuriyah. Jakarta. Jakarta. al-Muhalla. “Pelaksanaan Hukum Kewarisan Islam di Kabupaten Donggala” Disertasi Doktor Universitas Indonesia. Kompilasi Hukum Kewarisan Islam. Jakarta. Dja’far. ------------------. Ali. H. Tintamas. Hasan.DAFTAR PUSTAKA Al-Qur’an Abdul Aziz al-Halawi. Yahya. Demokrasi Pancasila. Ali Daud Muhammad. kewenangan dan Acara Peradilan Agama: UU No. UI Press. 7 tahun 1989. 1995. Idris. 1988. Perbandingan Ajaran Syafi’i (Patrilineal) Hazairin (Bilateral) dan Praktek di Pengadilan Agama). Muhammad 1999 Fatwa dan Ijatihad Umar Bin Khathab Risalah Guasti : Surabaya. 1995. Harahap. Bulan Bintang : Jakarta. 1990. dan Taufik Yahya. Jakarta. Zainuddin. Hukum Kewarisan Bilateral Menurut Qur’an dan Hadits. al-Arabiyah. Rineka Cipta. Kedudukan. Grafikatama Offset. Pustaka Jaya. Mesir. Sistem Ekonomi Islam. 1990. . 1987 Hukum Kewarisan Islam (Studi Kasus.

Djambatan. Bina Aksara. Kesadaran Hukum Masyarakat terhadap Hukum Waris. Undang-undang Nomor 9 tahun 1991. 1993. Amir 2004 Hukum Kewarisan Islam Jakarta : Kencana. Taneko. Hukum Adat Indonesia. Jakarta.Oemarsalim. Tentang Kompilasi Hukum Islam. Bina Aksara. Cairo. Jakarta. al-Mughniy VI . Maktabah al-Qahiriyah. Jakarta. Seikanto. Jakarta. Receptio Contrario. Bandung. Thalib. 1970. 1955. 1985. Qudamah. 1987. Soerjono dan Soleman B. Alumni. 1981. Soepomo dan Djokosutono. Sejarah Politik Hukum Adat. Ibnu. Otje Salman. Syarifuddin. Imam 2006 Diktat Hukum Kewarisan Islam Fakultas Hukum Universitas Mataram. Undang-undang Nomor 1 Tentang Perkawinan Nasional.  . Sayuti. Purwadi. Dasar-dasar Hukum waris di Indonesia. Rajawali.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->