P. 1
Sejarah P3SKK Surabaya ISI

Sejarah P3SKK Surabaya ISI

|Views: 340|Likes:
Berikut adalah Sejarah P3SKK Surabaya (Bagian Isi). TL kepada Temans P3SKK dan Salam SEHAT.
Berikut adalah Sejarah P3SKK Surabaya (Bagian Isi). TL kepada Temans P3SKK dan Salam SEHAT.

More info:

Published by: Nagiot Cansalony Tambunan on Aug 31, 2010
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

12/05/2012

pdf

text

original

1.

INDRAPURA 17 SURABAYA CIKAL BAKAL SEJARAH

Sebidang tanah membentang di tepi jalan Indrapura Surabaya, di sebelah barat berbatas dengan tanggul rel kereta api yang menuju ke pelabuhan Tanjung Perak, sebelah utara dengan perkampungan Krembangan, sebelah selatan sebuah kompleks perbengkelan Kotamadya, dan sebelah timur jalan besar yang becek. Di area itu merupakan sebuah padang ilalang, yang di sana-sini diselingi oleh rawa-rawa. “ Daratan-Kemayoran ”, demikianlah bagian wilayah ini disebut. Dulunya memang laut, yang lambatlaun terurug oleh endapan lumpur, yang umurnya masih 1
Sejarah dan Profil Puslitbang Sisjakkes

grelatif muda. Rawa-rawa itu merupakan kantong sisa-sisa air laut, karena itu asin rasanya. Rongsokan besi tua bekas mobil, truk, tank, panser sisa-sisa dari jaman Jepang dan permulaan revolusi kemerdekaan bangsa Indonesia, masih tertumpuk berserakan di bawah tempaan terik matahari atau curah hujan, yang membawa ingatan kita kembali kepada peperangan yang sudah lampau. Tetapi lambat laun besibesi tua itupun lenyap dari pandangan bagaikan menguap layaknya. Sebagai gantinya bermunculan gubug-gubug liar terbuat dari lembaran-lembaran kardus, plastik, potonganpotongan kayu bekas, seng bekas, atau apapun saja yang dapat memberikan tempat berteduh bagi penghuninya. Di malam hari, daerah itu gelap-gulita, di sana-sini tampak berkelip-kelip cahaya cublik atau unggun api berpencaran memberikan pemandangan yang romantis. Suasanapun menjadi lebih romantis lagi, karena penghuni daerah itu adalah kelompok masyarakat tuna-wisma yang jumlahnya semakin meningkat, dan pada malam hari, kaum hawanya menjelma jadi bidadari yang genit-genit dan cantik-cantik di bawah sorotan cahaya remang-remang taram-temaram. Daerah Kemayoran waktu itu terkenal menjadi ”taman firdausi” bagi kaum adam hidung belang. Di balik itu suasana kondisi ini ternyata merupakan sumber utama penularan dan penyebaran penyakit yang bahaya. 2
Sejarah dan Profil Puslitbang Sisjakkes

Tanggal 10 Nopember 1951 terjadilah suatu peristiwa penting yang merupakan titik awal sejarah parkembangan daerah Kemayoran tersebut ke arah yang berlawanan. Dari pusat pelanyahan yang menuju ke jurang kehancuran dan kenistaan, berbalik menjadi pusat kegiatan yang memberikan harapan kecerahan hari depan bangsa dan masyarakat. Pada hari yang bersejarah, tanggal 10 Nopember, dengan mengenang pengorbanan patriotik para pahlawan bangsa, arek-arek Suroboyo, pada Tahun 1945, maka pada peringatan hari pahlawan 10 Nopember 1951 diletakkan bata pertama pembangunan gedung Lembaga Pusat Penyelidikan dan Pemberantasan Penyakit Kelamin (LP4K) tepat di tangah-tengah taman firdausi kemaksiatan 3
Sejarah dan Profil Puslitbang Sisjakkes

sumber penyebaran penyakit kelamin tersebut. Entah bagaimana perasaan berkecamuk dalam hati para bidadari penghuni firdausi itu ketika tonggak-tonggak beton pertama dipancangkan, kita tidak mampu menerka. Tetapi

kenyataanya, bahwa sampai pada saat diresmikannya bangunan-bangunan pertama, yaitu gedung poliklinik dan laboratorium, dua tahun kemudian (Oktober 1953), gubuggubug liar itu masih merajalela di sekitar, seolah-olah menantang. Berkata Prof. Dr. Soetopo direktur pertama sekaligus pencipta dan pendiri lembaga tersebut kepada tamu-tamu yang menghadiri saat peresmian itu : “ . . . kami persilahkan saudara untuk menengok gubug-gubug kecil yang semuanya merupakan salah satu sarang sumber infeksi yang sedang berkembang biak di kota ini.

4
Sejarah dan Profil Puslitbang Sisjakkes

Angka penderita penyakit kelamin di Indonesia sebelum perang dunia ke II sudah tinggi diketahui berdasarkan catatan di Rumah Sakit Umum Pusat (Centraal Burgelijke Ziekenhuis atau CBZ dulu). Di Surabaya tahun 1938-1940, di antara 3810 penderita sipilis terdapat 1261 orang yang berada dalam stadium masih sangat menular, ini berarti 30% atau lebih kurang 1,5
o

/oo dari seluruh

penduduk Surabaya pada waktu itu. Diantara ibu-ibu yang hamil, menurut Dr. Loe Ping Kian, di antara bangsa Cina terdapat 7,6%, bangsa Indonesia 6.1% , sedangkan menurut laporan Dr. de Jong Martis, pada tahun 1936, bangsa Cina 9,28% bangsa Indonesia 9,50% menderita penyakit kelamin. Prevalens dalam kalangan masyarakat sebagaimana dilaporkan Dr. Thio Biauw Sing di Bandung terdapat 34% (= 1 dari 3) di tempat pusat lalu-lintas, sedang di desa-desa diluarnya 14% (=1 dari 7). Di kalangan tentara Hindia Belanda tahun 1918-1936 tercatat di antara marinir Eropa 4.84% penderita, marinir bangsa Indonesia 1.78% , tentara bangsa Eropa 3,84 % , tentara Indonesia 1,78% pederita. Melihat angka tersebut, lebih-lebih berdasarkan pengalaman-pengalaman yang didapatkan di negara-negara lain, yang membuktikan bahwa angka-angka penderita penyakit kelamin senantiasa meningkat sesudah sesuatu negara mengalami peperangan. Hal ini cukup beralasan 5
Sejarah dan Profil Puslitbang Sisjakkes

kalau kita mengkawatirkan keadaan di negara kita setelah terlibat langsung dalam kancah peperangan Asia Timur Raya (perang dunia II di Asia) dan revolusi kemerdekaan bangsa kita. Maka pada Tahun 1950 oleh Menteri Kesehatan RI, waktu itu Dr. J. Leimena, telah dikeluarkan sebuah surat keputusan tertanggal 20 Desember 1950 No. 27352/81, yang menugaskan Prot. Dr. Soetopo, seorang dokter ahli penyakit kulit dan kelamin, untuk menangani suatu penelitian dan pemberantasan penyakit kelamin. Dari empat kota, (Jakarta, Bandung, Surakarta dan Surabaya), yang dipertimbangkan untuk dijadikan tempat pusat penelitian, maka Surabaya akhirnya yang terpilih, berdasarkan 4 pemikiran : PERTAMA : sudah diketahuinya angka-angka penderita penyakit kelamin di Surabaya sejak sebelum perang dunia ke II, yang nantinya akan digunakan sebagai indikator. KEDUA : Surabaya merupakan kota pelabuhan besar yang penting sebagai tempat perdagangan internasional,

sedangkan aspek internasional penyakit kelamin lebih penting dipikirkan karena tidak mengenal batas negara. KETIGA: masyarakat Surabaya merupakan masyarakat yang homogen, dimana pada waktu sebelum perang dunia ke II sudah mempunyai organisasi sosial yang kuat di kampungkampung yang dinamakan "sinoman". 6
Sejarah dan Profil Puslitbang Sisjakkes

KEEMPAT : Prof. Dr. Soetopo, yang dibebani tugas, adalah kebetulan "arek Surabaya", dengan demikian beliau cukup mengenal masyarakat Surabaya. Dimulai dengan tangan kosong yang merupakan "one man department", dengan menempati meja-meja yang kebetulan nganggur di kantor Inspeksi Kesehatan Surabaya (yang waktu itu dikepalai oleh Dr. Syaiful Anwar), maka sejak tahun 195l setahap demi setahap dirintislah

pembangunan gedung di jalan Indrapura 17 Surabaya.

7
Sejarah dan Profil Puslitbang Sisjakkes

Selaras dengan tuntutan jaman dari masa ke masa, maka terjadilah alur sejarah sebagai berikut :

1. INDRAPURA 17 SURABAYA CIKAL BAKAL SEJARAH 1.1. Lembaga Pusat Penyelidikan dan Pemberantasan Penyakit Kelamin – Surabaya. Sering disingkat : LP4K ( 1951 – 1965 ). 1.2. Lembaga Kesehatan Nasional - Surabaya. Sering disingkat : LKN ( 1965-1968 ). 1.3. Lembaga Riset Kesehatan Nasional - Jakarta Sering disingkat LRKN ( 1968 – 1974 ) dan berubah menjadi Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Sering disingkat Badanlitbangkes ( 1974 – sekarang )

2. TONGGAK SEJARAH INDRAPURA 17 SURABAYA 2.1. Pusat Penelitian dan Pengembangan Pelayanan Kesehatan (Puslitbang Yankes / P4K Surabaya.Th.1968/74-2000) 2.2. Pusat Penelitian dan Pengembangan Pelayanan dan Teknologi Kesehatan (Puslitbangyantekkes / P4TK Surabaya Th.2000 - 2005) 2.3. Pusat Penelitian dan Pengembangan Sistem dan Kebijakan Kesehatan (Puslitbang Sisjakkes/P3SSK Surabaya 2005–sekarang) 8
Sejarah dan Profil Puslitbang Sisjakkes

1.1. SEJARAH LEMBAGA PUSAT PENYELIDIKAN DAN PEMBERANTASAN PENYAKIT KELAMIN ( TAHUN 1951 – 1965 )

Dengan tekat untuk memberantas napsu jahat pada diri manusia, dengan tujuan menggapai gerbang bahagia dalam bingkai kemanusiaan. Itulah semboyan etos kerja saat itu. Selanjutnya dituangkan dalam sastra Surya Sangkala : "MASESA YAKSA WIWARA JANMA" ( = 1951 ) Inilah semboyan etos kerja yang digunakan Prof. Dr. Soetopo, ketika beliau memulai dengan tugasnya untuk menyelidiki dan memberantas penyakit kelamin. 9
Sejarah dan Profil Puslitbang Sisjakkes

Pada hakikatnya penyebaran penyakit kelamin bukan karena masalah hygiene ataupun gizi sebagaimana halnya dengan penyakit-penyakit lainnya, tetapi penyakit kelamin adalah masalah moral yang dikendalikan oleh napsu manusia. Karena itu jelajah penyakit kelamin tidak terbatas kepada satu dua kelompok masyarakat tertentu, melainkan merata dan meluas kepada setiap lapisan masyarakat : miskin, kaya, bodoh, cendekia, laki-laki, permepuan, tua dan muda. Karena itulah jangkauan dan lingkup pekerjaannya luas sekali. karya Dibalik itu semboyan di atas merupakan sebuah sastra kronogram atau surya sangkala yang

menunjukkan angka tahun 1951, peringatan titik awal pelaksanaan tugas lembaga. Dalam piagam peresmian LP4K disebutkan bahwa tugas lembaga adalah: mempelajari dan menyelidiki segala yang berkenaan dengan penyakit kelamin di Indonesia dan pemberantasannya. Selanjutnya perkembangan lembaga ini berlaku menurut garis-garis besar yang telah dibentangkan dengan tegas oleh Menteri Kesehatan, yang mengharap hendaknya lembaga tidak hanya merupakan suatu pusat pengobatan saja, melainkan juga suatu pusat penyelidikan dan pengembangan pengetahuan yang bermanfaat untuk meningkatkan upaya-upaya 10
Sejarah dan Profil Puslitbang Sisjakkes

pemberantasan

penyakit

kelamin diseluruh Indonesia.

Tugas lembaga menjadi lebih luas daripada sekedar sebuah Venerisch Hospitaal (Rumah sakit Penyakit

Kelamin). Tujuan lembaga adalah menjadi sebuah pusat penyelidikan yang berharga baik bagi ilmu pengetahuan maupun bagi penyelenggaraan dan perbaikan kontrol program di Indonesia. Selama periode tahun 1951-1965, lembaga telah melaksanakan tugasnya menurut garis-garis yang telah ditetapkan dalam "nota program pemberantasan penyakit kelamin", yang pernah diajukan pada Pemerintah RI di Yogyakarta pada tahun 1949. Dalam bentuk lain, yang lebih terperinci diajukan lagi sebagai "Program jangka pendek dan jangka panjang" pada rapat dinas Kementerian Kesehatan pada awal tahun 1956. Dalam hal ini lembaga berpegang teguh pada ”tiga prinsip utama” yang senantiasa menjadi pedoman dalam semua tindakan :

SATU : segala usaha dan tindakan lembaga tidak boleh menyimpang dari “overall program" Kementrian Kesehatan. Semuanya harus dapat dikembalikan pada program tersebut dan harus dapat dipergunakan sebagai "bonwsteen", bahanbahan dalam membangun suatu "National Health Program”. DUA : dalam tindakannya lembaga menggunakan fasilitasfasilitas yang ada dengan bekerja sama dengan bagianbagian kesehatan atau jawatan-jawatan lain. 11
Sejarah dan Profil Puslitbang Sisjakkes

TIGA : bila sesuatu fasilitas yang diperlukan belum ada, maka lembaga bersedia menyokong pelaksanaannya, bila perlu mencari cara untu bertindak mandiri. Mengingat pentingnya bahaya akibat penyakit kelamin terhadap masyarakat, maka butir-butir pokok program pemberantasan penyakit kelamin, khususnya Sipilis, ditetapkan empat program pokok, yaitu : 1. DIAGNOSTIK DAN PENGOBATAN 1.1. menyelanggarakan laboratorium 1.2. tempat pengobatan yang cukup 1.3. penyelidikan epidemiologis 2. PREVENSI 2.1. menyelidiki dan melindungi kelompok masarakat tertentu terhadap infeksi penyakit kelamin. 2.2. usaha mengurangi kebiasaan masyarakat yang menyebabkan tambahnya penderita penyakit kelamin. 3. PENYULUHAN DAN PENDIDIKAN 3.1. untuk umum melalui radio, pers, poster, dan lain2 3.2. untuk masyarakat tertentu, dengan cara yang sesuai. 4. PENYELIDIKAN 4.1. Penyelidikan dalam masyarakat 4.1.1.mengadakan “screning 12
Sejarah dan Profil Puslitbang Sisjakkes

investi-gations"

di

kalangan kelompok masyarakat tertentu (ABRI,

Mahasiawa, Pelajar, Buruh Industri, BKIA, penduduk kampung tertentu) 4.1.2 menyelidiki hubungan antara pelacuran dan penyakit kelamin. 4.1.3 rnengumpulkan angka-angka penderita penyakit kelamin dari seluruh Indonesia.

4.2. Penyelidikan dalam lembaga 4.2.1. penyelidikan dalam lapangan diagnostic secara laboratoris 4.2.2. penyelidikan akibat-akibat penyakit kelamin pada penderita. 4.2.3. penyelidikan dalam lapangan pengobatan.

4.3. Campaign trials : 4.3.1. cara pengobatan yang seragam 4.3.2. usaha mengurangi sumber-sumber penularan penyakit, kelamin 4.3.3. proyek pelacuran Surabaya, dengan maksud untuk melokalisasi penularan penyakit kelamin lewat pelacuran dengan penyuntikan secara teratur pada wanita-wanita pelacur di berbagai pusat pelacuran di kota Surabaya. 13
Sejarah dan Profil Puslitbang Sisjakkes

4.4. Konsultasi 4.4.1. rnengenai penyakit kelamin dan kemandulan dalam kehidupan suami-isteri 4.4.2. pemeriksaan penyakit kelamin sebelum kawin terhadap calon-calon suami-isteri.

14
Sejarah dan Profil Puslitbang Sisjakkes

Keempat masalah pokok program pemberantasan penyakit kelamin tersebut di atas telah dilaksanakan secara intensif dan menyeluruh. Menjelang akhir tahun 1958, pelaksanaan program pemberantasan penyakit kelamin ini diperluas sampai di daerah-daerah di luar kota Surabaya dan luar jawa. Kota Blitar di Jawa-timur menjadi pilot proyek yang pertama, kemudian secara bertahap menyusul kota-kota lain. Sampai akhir 1969 sudah dua puluh dua kota di jawa dan dua di Bali, dan dalam tahun 1960 bertambah dengan Makasar, Mataram (Lombok) Banjarmasin, dan enam kotalagi di jawa. Kota-kota tersebut melaksanakan pemberantasan menurut program dan petunjuk yang digariskan oleh LP4K dengan menggunakan tenaga-tenaga dari dinas kesehatan setempat, setelah mendapatkan pendidikan dan latihan secukupnya. Selain itu lembaga juga mensupply

obat penisilin yang diperlukan di daerah-daerah. Telah dikemukakan, bahwa segala usaha dan tindakan lembaga mengikuti ketentuan-ketentuan yang telah digariskan dalam ,,overall program" Kementrian Kesehatan dalam membangun suatu “National Health Program". Opset, perlengkapan maupun tenaga yang ada pada lembaga memungkinkan penyelidikan lain yang dianggap bermanfaat bagi kesehatan rakyat kita seluruhnya. Maka di samping pekerjaan dalam lapangan pemberantasan penyakit kelamin, 15
Sejarah dan Profil Puslitbang Sisjakkes

lembaga juga mengadakan kerjasama yang erat dengan Lembaga Penyelidikan dan Pemberantasan Penyakit Rakyat (LP3R) di Yogyakarta di bawah pimpinan Dr. R. Kodyat dalam pemberantasan Penyakit Frambosia atau PATEK. Demikian juga di bidang "public health" lainnya telah dijalin kerjasama dengan : Inspeksi Kesehatan Jawa Timur, Dinas Pemberantasan Malaria di Jawa Timur, dan Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga Surabaya. Khusus di bidang pemberantasan penyakit patek telah mencapai sukses yang gemilang dengan ditemukan dan dilakukannya cara pemberantasan baru yang tepat , yaitu yang disebut TCPS = Program "Treponematoses Control

Simplified". TCPS adalah suatu tindakan TCP

yang disederhanakan. Dalam pemberantasan penyakit patek, oleh Dr. Kodyat telah diciptakan suatu cara yang disebut "Treponematoses Control Program" atau TCP dengan menggunakan team-team jururawat sebagai pelaksana program. Dengan semakin luasnya daerah pemberantasan, ternyata cara demikian kurang praktis karena sulit sekali mengerahkan sekian banyak jururawat, lagi pula sangat mahal. Maka di Jawa-Timur dicari suatu sistim yang lebih praktis dan murah tanpa menghilangkan hakekat sistem TCP, yakni dengan cara TCPS tersebut. Maka dari itu diintrodusirlah ”JURU-PATEK" sebagai pengganti para 16
Sejarah dan Profil Puslitbang Sisjakkes

jururawat untuk pelaksanaan pemberantasan Penyakit Patek. Sistem baru dengan menggunakan tenaga juru patek inilah yang disebut TCPS atau TCP yang disederhanakan di atas.

Pada prinsipnya juru patek diangkat dari orang-orang desa yang berpendidikan paling rendah Sekolah Dasar, kemudian diberikan pendidikan dan latihan tentang hal ihwal penyakit patek dan usaha pemberantasannya. Karena mereka sudah mempunyai profesi sendiri di desanya masing-masing, misalnya sebagai Guru, Petani, Buruh ataupun Pamong Desa dan sebagainya, maka jabatan Juru Patek adalah jabatan sampingan yang merupakan suatu darma bakti 17
Sejarah dan Profil Puslitbang Sisjakkes

terhadap sesama dilingkungannya. Dengan demikian biaya tidak mahal, dan merupakan pekerjaan mulia, sekaligus membangkitkan setempat. Daerah "pilot-projecks" penyelidikan dan pemberantasan penyakit patek : Kabupaten Surabaya di Kecamatan Driyorejo,Wringiranom,Cerme,dan Kedamean; Kabupaten Nganjuk di Kecamatan Condang dan Loceret; Kabupaten Bojonagara di Kecamatan Dander; Madura di pulau Kabupaten Sumerep otoaktivitas daerah pemberantasan

Giloreja, Giligenteng, dan Sabunten.

Proyek yang di pulau-pulau kecil Madura tersebut akhirnya tidak hanya meliputi pemberantasan penyakit patek saja melainkan juga penyakit-penyakit rakyat lainnya, yaitu: penyakit cacing,mata,kurang gizi, dan sebagainya. Proyek pulau-pulau kecil Madura atau "Small Islands Project" dengan bantuan pemerintah Propinsi Jawa-Timur menjadi makin berkembang. Disamping peningkatan kesehatan, maka di bidang ekonomipun diperhatikan, yaitu : pertanian, peternakan, dan pengairan. Sehingga pada akhirnya Projek Pulau Kecil ini berkembang menjadi Pembangunan

Masarakat Desa atau yang biasa disebut P M D. Khusus untuk pemberantasan Penyakit Kusta atau LEPRA di Driyorejo dan Wringinanom dilakukan dengan tenaga juru-patek sebagai pencari diagrosa sementara. 18
Sejarah dan Profil Puslitbang Sisjakkes

Mereka sebelum melakukan pekerjaan tambahan diberikan tambahan pendidikan pengetahuan tentang penyakit Kusta. Dengan demikian juru patek tersebut memiliki jabatan rangkap sebagai juru kusta ( Juru Patek dan Kusta ).

19
Sejarah dan Profil Puslitbang Sisjakkes

1.2. SEJARAH LEMBAGA KESEHATAN NASIONAL ( TAHUN 1965 – 1974 )

Ketika mendirikan Lembaga Pusat Penyelidikan dan Pemberantasan Penyakit Kelamin pada tahun 1951, Prof. Dr. Soetopo telah menyatakan, bahwa pada suatu ketika akan tiba saatnya lembaga ini tidak hanya diperlukan khusus untuk pemberantasan penyakit kelamin saja, melainkan dapat digunakan untuk yang lebih luas lagi, menanggulangi masalah-masalah yang menyangkut penyakit rakyat pada umumnya. Ini memang telah di jalankan oleh LP4K dengan 20
Sejarah dan Profil Puslitbang Sisjakkes

aktifitasnya dalam bidang penyakit lain sebagaimana telah diuraikan didepan. Pada bulan Agustus 1953 Prof. Soetopo meletakkan jabatan sebagai pemimpin LP4K karena pensiun, dan digantikan oleh Dr. R. Wasito, yang sejak awal mendirikan LP4K sudah menjadi tangan kanan Prof. Soetopo. Waktu berjalan terus. Sementara itu LP4K berkembang dengan ditumbuhkannya secara berturut-turut Bagian

Keluarga Berencana, Bagian Gizi, Bagian Pediatri dan Bagian Produksi Vaksin. Melihat daerah lingkup kerja

lembaga yang sudah demikian luas itu, maka pada tanggal 14 Pebruari 1965 diresmikan transformasi LP4K menjadi lembaga baru yang sesuai dengan kegiatannya, yakni : LEMBAGA KESEHATAN NASIONAL SURABAYA, yang resminya disingkat LEMKESNAS, tetapi dalam komunikasi sehari-hari lebih dikenal dengan LKN. Sejak, semula, seperti halnya dengan LP4K, LKN berstatus, langsung di bawah Mentri Kesehatan sebagai lernbaga berdiri serdiri. Pada waktu itu, di samping LKN, bagian-bagian lain di Departemen Kesehatan dapat

menjalankan penelitian-penelitian sendiri menurut ketentuan bagian masing-masing seperti LP4K dulu. Sesungguhnya telah ada pemikiran untuk mengkoornir proyek-proyek penelitian di Departemen Kesehatan sejak tahun 1957. 21
Sejarah dan Profil Puslitbang Sisjakkes

Pada konperensi para inspektur kesehatan propinsi-propinsi se Indonesia di Yogyakarta tahun 1957 telah dibentuk sebuah panitia yang diketuai oleh Prof. Soetopo dan

beranggotakan Dr. Wasito dan Dr. Dradjat Democrat Prawiranegara untuk merealisasikannya. Berhubung dengan situasi yang belum "favourable" pada saat itu dan tahuntahun berikutnya, maka panitia hanya sampai pada suatu rumusan status, struktur dan cara kerja dari badan koordinasi yang akan dibentuk. Pelaksanaan

pembentukannya bertahun-tahun terkatung-katung, sampai tahun 1966. Atas prakarsa Departemen Kesehatan, yaitu Dr. Soeparmo dan Dr. Tarekat, LKN diminta untuk membuat konsep perumusan koordinasi penelitian di Departemen Kesehatan sesuai dengan perkembangan baru. Dengan rnemperhatikan rumusan panitia Soetopo Wasito - Dradjat dan tambaban pertimbangen-pertimbangan dari beberapa tokoh kesehatan masyarakat di Surabaya, maka oleh LKN dapat diajukan konsep perumusan baru. Di Departemen Kesehatan dibentuk sebuah panitia ad hoc, diketuai oleh Dr. Tarekat, dan panitia ini berhasil merumuskan kembali badan koordinasi yang disesuaikan dengan perkembangan-perkembangan baru. Hasil rumusan ini akhirnya dapat dituangkan dalam suatu surat keputusan penetapan pembentukan : 22
Sejarah dan Profil Puslitbang Sisjakkes

LEMBAGA

RESEARCH

KESEHATAN NASIONAL ( LRKN ), yang langsung berada di bawah Menteri Kesehatan dan berkedudukan sederajat dengan Direktorat Jendral. Pada saat pembentukan itu, tabun 1967, baru

mempunyai satu-satunya badan pelaksana penelitian, ialah LKN di Surabaya. Tugas kewajiban LKN adalah

mengadakan penelitian dalam bidang kesehatan rnasyarakat dalam arti yang seluas-luasnya. Parlu dijelaskan di sini, bahwa sifat penelitian yang dimaksud yalah "penelitian terapan" (applied research). Dalam perkernbangan lebih lanjut, tepat dua tahun kemudian sejak transfomasi LP4K LKN, pada tanggal 14 Pebruari 1967 diresmikan kerjasama antara fakultas Kedokteran Universitas Airlangga, Dinas Kesehatan Propinsi Jawa -Timur dan LKN, dalam bidang pediatri sosial. Bidang lain yang ditempuh yalah penelitian hygiene perusahaan. Dengan peresmian berdirinya LKN Surabaya, maka bersamaan dengan itu sebagian tugas dari LP4K yang menyangkut bidang penyelidikan dan penelitian penyakit kelamin menjadi kewajiban LKN, sedang tugas lainnya yang menyangkut pelaksanaan pemberantasan penyakit kelamin dimasukkan dalam tugas Inspeksi Pemberantasan Penyakit Kelamin, yang untuk sementara waktu masih menjadi bagian dari LKN. Dalam pada itu dipersiapkan 23
Sejarah dan Profil Puslitbang Sisjakkes

pemisahan Inspeksi Pemberantasan Penyakit Kelamin untuk menjadi sebuah organisasi sendiri sehingga dapat

berkembang lebih pesat dalam menuaikan tugasnya. Untuk menyesuaikan dengan tugasnya yang baru, sudah barang tentu LKN mengalami perubahan struktur organisarinya ke dalam bidang medisnya. Demikianlah bagian PENELITIAN BIDANG-BIDANG KEDOKTERAN BIOLOGIS meliputi : keluarga berencana kusta penyakit kelamin gizi pediatri sosial produksi vaksin kesehatan buruh industri,

sedang LABORATORIUM SUPPORT mencakup : laboratorium umum laboratorium VD (penyakit kelamin) laboratorium mikologi laboratorium kimia farmasi media dan hewan percobaan,

di samping bagian-bagian lain yang memberikan bantuan dalam tugas-tugas penelitian yang sejak awal berdirinya LP4K sudah ada, yaitu bagian perawatan, kamar 24
Sejarah dan Profil Puslitbang Sisjakkes

bedah / poliklinik, sinar Rontgen, alat-alat phisiologi, apotik / obat / peralatan, perpustakaan, statistik dan audio visual. Penelitian oleh LKN dikerjakan sebagai proyekproyek yang telah ditetapkan untuk lembaga oleh direktur terbagi atas : 1. PROYEK PENELITAN LEMBAGA KESEHTAN

SENDIRI, dikerjakan oleh LKN, meliputi persiapan, perencanaan, penyelenggaraan, pengolahan dan

pelaporannya. Masalah yang diteliti dapat diajukan oleh LKN sendiri, atau Departemen Kesehatan, atau oleh pihak lain (industri, pertanian, masyarakat dan lain-lain) dengan/tanpa bantuan pembiayaan dari yang

bersangkutan. Hasil penelitian adalah penelitian LKN. 2. PROYEK PENELITIAN BERSAMA dilakukan oleh LKN bersama dengan piHak lain, hasilnyapun merupakan penelitian bersama (joint research). Masalah Yang

diteliti dari LKN, Departemen Kesehatan atau pihak lain, dangan/tanpa bantuan pembiayaan dari yang bersangkulan. 3. PROYEK PENELITIAN BANTUAN yaitu suatu

kesempatan Yang diberikan kepada pihak, lain dengan menggunalan fasilitas-fasilitas yang ada pada LKN. Pembiayaan maupun hasil 25
Sejarah dan Profil Puslitbang Sisjakkes

penelitian

menjadi

tanggungan pihak yang bersangkutan dengan proyek penelitian tsb. Salah satu penelitian penting yang dilakukan LKN yalah apa yang kita sebut "penelitian operasional" pada beberapa Pusat Kesehatan Masarakat (Puskesmas) di daerah kabupaten Pasuruan yang dirintis oleh Kolonel Dr. Sarnanto pada tahun 1969, (waktu itu beliau sudah menjabat direktur LKN menggantikan Dr. Wasito yang sedang bertugas di luar negeri. Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui sampai sejauh mana pendekatan timbal-balik antara Pusat-pusat Kesehatan Masyarakat, sebagai alat pelayanan kesehatan, dan masarakat yang menjadi sasarannya. Target, yang hendak dicapai untuk meningkatkan derajat kesehatan rakyat yalah pada tiap-tiap kecamatan yang berpenduduk kurang lebih 30.000 didirikan sebuah Puskesmas sebagai sebuah unit fungsional yang

bertanggung jawab atas pelayanan pangobatan, pelayanan kesejahteraan ibu dan anak, keluarqa berencana, gizi pemberantasan penyakit menular, sanitasi lingkungan, pendidikan kesehatan, dan lain2 untuk suatu daerah tertentu. Menarik adalah adanya suatu kenyataan, bahwa Puskesmas di palosok-pelosok daerah belum dimanfaatkan sepenuhnya oleh rakyat. Ini disebabkan oleh berbagai 26
Sejarah dan Profil Puslitbang Sisjakkes

faktor yang sangat kompleks tetapi menarik sekali bagi para

peneliti dan merupakan tantangan baginya untuk mencari jalan keluar demi suksesnya peningkatan derajat kesehatan. Dari hasil penelitian operasional Dr. Sarnanto di kabupaten Pasuruan pada tahun 1969 tersebut dapat diketahui, bahwa jumlah kunjungan pada Balai Pengobatan dan BKIA adalah rata-rata 235 per 1000 penduduk tiap tahun. Dari hasil wawancara dengan penduduk diketahui, bahwa hanya 36% dari orang-orang yang merasa sakit (dalam waktu satu minggu sebelum wawancara) mencari pertolongan pengobatan. Dari angka ini 19% datang pada Dinas Kesehatan Pemerintah, sedang yang 17% datang pada praktek swasta, baik legal maupun ilegal. Alasan mereka datang ke praktek swasta karena tidak puas dengan pelayanan kesehatan pemerintah. Di samping faktor "tidak puas" tersebut, faktor-faktor penting lainnya ikut berbicara: ekonomi, kepercayaan penduduk jarak yang jauh,

transportasi dan lain-lain sebagainya. Sebagai ilustrasi di bawah ini kita rnuatkan sebuah cukilan kehidupan kesehatan rakyat yang kita rekam dari hasil peninjauan LKN mengikuti rombongan Puskesmas di sebuah kecamatan dalam wilayah kabupaten Pasuruan. Sebuah desa pegunungan. Jalan "raya" yang

menghubungkan desa itu dengan desa-desa lainnya tidaklah begitu lebar, cukup untuk dua kendaraan jeep atau mobil 27
Sejarah dan Profil Puslitbang Sisjakkes

sedang berpapasan, itupun harus hati-hati benar untuk tidak saling berserempetan atau salah satu terperosot, dalam parit. jalan itu tidak dikeraskan dengan batu. Mobil yang kami tumpangi meluncur dengan guncangan-guncangan karena jalannya tidak rata, meninggalkan gumpalan kabut debu di belakang, tebal dan kotor menyesakkan napas. Waktu itu musim kemarau.Di pinggir jalan berderetan rumah-rumah penduduk. Dindingnya kebanyakan terbuat dari gedeg,

tidak dikapur dan tanpa jendela. Ketika mobil kami melewati sebuah jembatan kayu menyeberangi sebuah anak sungai, pandangan kami menangkap seorang perempuan yang sedang mengambil air dengan menggunakan sebuah dandang. wajahnya pucat, badanya kurus, secarik anduk kecil diikatkan pada kepalanya. Dengan sekilas pandang tahulah kami bahwa ia sakit. Mobil kami berhenti. Dokter Puskesmas yang memimpin perjalanan kami turun, terus memasuki halaman rumah di pinggir anak sungai tempat perempuan itu mengambil air. Kami mengikuti di belakang mendengarkan percakapan antara dokter dan perempuan itu. "Sedang mengerjakan apa, Buk?" "Mengambil air untuk minum dan menanak nasi" "Tidak ada sumur di sini?" "Air kali di sini bening, den" "lbu sakit rupanya?" 28
Sejarah dan Profil Puslitbang Sisjakkes

"Iya sakit agak panas badan, den.." “Rumah ibuk di mana?" "Itu", seraya menuding rumah kecil berdidinding bambu. "Boleh kami ikut masuk ke rumah, sesudah ibuk mengambil air itu?" " Ya, mari , Saya sudah selesai mengambil air.", dan dengan agak manggigil iapun berdiri dan berjalan menuju rumah dengan mengindit / menggendong dandangnya yang sudah dipenuhi air itu. Kami mengikuti. Di depan hanya sebuah pintu masuk. Kami masuki pintu itu, tetapi tertegun sejenak, karena peralihan dari kecerahan matahari di luar kepada kegelapan di dalam rumah, membuat mata kami seolah-olah buta. Tapi lambat laun mata kamipun biasa pula dalam kegelapan dan mulai tampak segala apa yang berada di dalam. Ada sebuah bale-bale, sebuah meja dan dua kursi. Di atas meja beherapa benda seperti kendi, piring, mangkok dan lain sebagainya. Di atas bale-bale berbaring seorang laki-laki tua. Ketika kami masuk, ia tetap tiduran. Terdapat dua buah bilik, satu kosong, artinya tidak ada orangnya, sedang satunya ada seorang anak diatas bale-bale pula. "Itu kakek", ujar perempuan yang empunya rumah

memperkenalkan. "Dalam bilik itu anak saya. Kakaknya ikut bapaknya ke ladang". Ternyata rumah kecil itu dihuni oleh mereka berlima. 29
Sejarah dan Profil Puslitbang Sisjakkes

"Kakek inipun sakit, Buk", kata dokter ketika memegang badan laki-laki tua yang berbaring itu. "Ya, sakit panar". Diam sebentar. "Dan anak saya itupun juga" sambungnya kemudian. "Sudah diobati?" “Sudah, oleh Pak Dukun sini" "Coba kimi periksa sebentar. Ibu juga". perawat yang ikut rombongan pemeriksaan. “Tidak, Den. Suami saya akan melarang. Pesan Pak Dukun tidak boleh orang lain mengobati kami" “Tetapi kalau sakit ini tidak segera diobati dokter, bisa berbahaya" "Tidak, Pak Dukun melarang. kami sudah diobati" Masih beberapa saat dialog itu berlangsung, tetepi akhirnya kami tinggalkan rumah itu tanpa mengobati mereka. Kami yakin mereka terkena malaria. Mereka menggigil karena demam. Di dalarn mobil kami tanyakan kepada dokter, sudah mulai mempersiapkan peralatan

rnengapa mereka tidak dipaksa saja untuk diperiksa dan diobati. mereka jelas memerlukan pertolongan medis. “Penduduk sini masih banyak yang percaya kepada dukundukun, dan fanatik sekali. Kalau kita paksa mereka, kita dimusuhi. . . dan besar resikonya". Kami memaklumi apa yang dimaksudkan dengan kata-katanya terakhir itu. 30
Sejarah dan Profil Puslitbang Sisjakkes

Sementara mobil kami meneruskan perjalanan. Jalan semakin sempit dan sulit dilalui mobil karena banyak tanjakan-tanjakan dan belokan-belokan yang tajam.

Sebenarnya jalan itu memang diperuntukkan bagi pejalan kaki. Di dusun ini tidak ada orang memelihara mobil. Satusatunya kendaraan bagi orang yang tergolong punya, yalah kuda, itupun bukan untuk tunggangan, tetapi sebagai kuda beban. Akhirnya mobil kami berhenti, dan kami meneruskan dengan berjalan kaki. Sebelah kiri jalan yang kami lalui dinding bukit yang terjal dan berbatu-batu. Sebelah kanan sebuah sungai besar juga berbatu-batu. Airnya mengalir gemersakan di sela-selanya. Orang-orang penduduk sekitar sini mandi, mencuci dan buang hajat besar di sungai itu. Kira-kira satu kilometer kami berjalan, ujung jalan membelok kekanan melintasi sungai melalui sebuah jembatan lori yang rupanya sudah tidak terpakai lagi. Kami beristirahat di tepi jalan di bawah pohon rindang. Sebuah kedai sayur-mayur dan lauk-pauk menempati tempat yang strategis di pangkal kelokan jalan. Beberapa orang penduduk berkumpul mengobrol. Kebanyakan juga bakulbakul Kami mengadakan sekedar wawancara dengan beberapa diantara mereka tentang berbagai masalah kehidupan mareka. Tiba-tiba mata kami memandang kepada suatu iring-iringan dengan membawa usungan di seberang 31
Sejarah dan Profil Puslitbang Sisjakkes

sungai dan bergerak akan melintasi jembatan lori menuju ke arah tempat kami beristirahat. Lambat mereka berjalan, tetapi akhirnya setelah dekat ternyata sebuah tandu yang dipikul oleh empat orang penduduk diatas tenda, (yang tidak lain adalah sebuah kursi yang diikatkan pada dua batang pikulan bambu), duduk seseorang yang agaknya sakit keras. Beberapa orang mengiringkan. Setelah diadakan tanyajawab, kami mendapatkan bahwa si sakit hendak dibawa berobat ke Puskesmas yang terdekat. Terdekat disini berarti masih sejauh lebih kurang 4 atau 6 kilometer. Dokter kami menyarankan agar si sakit dibawa saja ke kelurahan yang letaknya tidak jauh dari tempat mobil kami berhenti. Di sana si sakit akan diperiksa. Kemudian kamipun kembali

berjalan di belakang iring-iringan tandu tersebut. Demikianlah, sebungkal cukilan kesaksian

kehidupan di desa tersebut sudah barang tentu belum dapat melukiskan seribu satu macam masalah hidup yang kompleks yang merupakan, tantangan yang harus mereka hadapi, rakyat kecil di pelosok desa pegunungan terpencil yang dari hari ke hari berjuang untuk memperebutkan kesejahteraan hidupnya. Tetapi dari cukilan tersebut dapatlah kita bayangkan betapa besar dan berat pekerjaan yang harus dihadapi oleh pemerintah, cq. dinas kesehatan rakyat. Masih banyak yang harus dilakukan dan dipikirkan 32
Sejarah dan Profil Puslitbang Sisjakkes

untuk meningkatkan pelayanan kesehatan masyarakat semaksimal mungkin guna mencapai tingkat derajat kesehatan rakyat yang dicita citakan Jalan masih jauh, berbagai rintangan dan kesulitan masih bersilang menghambat perjalanan kita. Ekonomi yang lemah, jarak yang jauh dengan transformasi yang primitif, tahayul yang membelenggu pikiran penduduk, semua itu tantangan-tantangan yang rasanya tak pernah kunjung habis. Tetapi mau tidak mau tantangan itu harus kita jawab, Kita harus berjalan terus.

33
Sejarah dan Profil Puslitbang Sisjakkes

1.3. SEJARAH LEMBAGA RISET KESEHATAN NASIONAL menjadi BADAN PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN KESEHATAN

MASA PERALIHAN Pada tahun 1968 terjadi perubahan lagi, Lembaga Kesehatan Nasional dari Surabaya diboyong ke Jakarta dengan nama baru yakni : Lembaga Riset Kesehatan Nasional , yang sering disingkat LRKN. Hal ini dilakukan merupakan salah satu upaya strategis yang mendukung program kegiatan Departemen Kesehatan. Kegiatannya adalah kegiatan riset berdasarkan kaidah ilmiah dengan tujuan utama untuk membantu memecahkan masalah kesehatan baik yang dihadapi oleh pengelola program kesehatan maupun masyarakat secara langsung. Di samping itu kegiatan Litbangkes juga mengembangkan ilmu pengetahuan melalui penerbitan makalah dalam jurnal ilmiah, buku pedoman terapan operasional, serta teknologi kesehatan tepat guna. Setelah LKN berubah menjadi LRKN, pada Th 1974 terjadi perubahan lagi dimana Lembaga Research Kesehatan Nasional (LRKN) mengalami perubahan menjadi BADAN PENELITIAN DAN PENGEM-BANGAN KESEHATAN (disingkat Badan Litbang Kesehatan), yang secara vertikal 34
Sejarah dan Profil Puslitbang Sisjakkes

membawahi enam pusat pelaksana penelitian, satu di antaranya Puslitbang Pelayanan Kesehatan berlokasi di Surabaya. Yang lima lainnya itu adalah : - Pusat Penelitian Bio Medis di Jakarta - Pusat Penelitian Farmasi di Jakarta - Pusat Penelitian Ekologi Kesehatan di Jakarta - Pusat Peneiitian Kanker dan Pengembangan Radiologi di Jakarta - Pusat Penelitian dan Pengembangan Gizi di Bogor. Dalam surat leputusan Menteri Kesehatan nomor 114 / Men.Kes / III / 75 tentang susunan organisasi dan tata kerja Badan Litbang Kesehatan bagian III pasal 28 ditetapkan, bahwa Puslitbang Pelayanan Kesehatan mempunyai tugas menyelenggarakan pembinaan dan pelaksanaan penelitian dan pengembangan pelayanan kesehatan, berdasarkan kebijaksanaan tehnis yang ditetapkan oleh Kepala Badan Litbang Kesehatan dalam melaksanakan tugasnya,

Puslitbang Pelayanan Kesehatan dapat memilih daerah kerja penelitiannya di seluruh wilayah Indonesia. Sebenarnya sejak masih berstatus LKN, dalam rangka mengisi PELITA I (1 April 1969 - 31 Maret 1974) kegiatan sudah mengarah kepada penelitian dan pengembangan pelayanan kesehatan, misalnya dengan : 35
Sejarah dan Profil Puslitbang Sisjakkes

-

Project Operational Studies (kabupaten Pasuruan) Penelitian Keluarga Berencana Kursus Perencanaan Kesehatan (Health Planning Cource atau HPC) I, II dan III

-

Kursus Operasional Research and Systems Analysis (atau ORSA) I

-

Penerbitan hasil-hasil penelitian

Dalam rangka PELITA II (periode tahun 1974-1976) meningkatkan apa yang telah dirintis dalam PELITA I. Keberadaan Litbangkes sampai saat ini sebenarnya merupakan rangkaian sejarah panjang perjuangan kesehatan yang terukir sudah cukup lama diupayakan oleh para pejuang kesehatan anak bangsa ini. Sebagai awal perjuangan bermula dari tahun 1950 berdirinya suatu lembaga yang melakukan penelitian, yakni Lembaga Makanan Rakyat di Bogor. Lembaga ini melakukan kajian-kajian masalah gizi dan pangan. Kemudian pada tahun 1951 di Jl. Indrapura 17 Surabaya sebagai cikal bakal sejarah, didirikan gedung besar yang cukup megah pada saat itu. Gedung tersebut diberi nama : Lembaga Pusat Penelitian dan Pemberantasan Penyakit Kelamin atau LP4K , dilengkapi dengan Rumah Sakit Kelamin, dan Pusat ini 36
Sejarah dan Profil Puslitbang Sisjakkes

Laboratorium selanjutnya

Kesehatan berkembang dengan

Masyarakat. melakukan

Lembaga penelitian

kesehatan

masyarakat

berbagai kegiatan pemeriksaan spesimen yang berkaitan dengan penyakit menular. Kegiatan tersebut dilakukan secara integratif bekerja sama dengan berbagai lembaga lain. Beberapa lembaga tersebut kemudian pada tahun 1965 digabung menjadi satu lembaga yang kemudian disebut sebagai Lembaga Kesehatan Nasional atau LKN. Dalam perkembangan sejarah selanjutnya sesuai dengan kebutuhan jaman lembaga tersebut pada tahun 1968 berubah menjadi Lembaga Riset Kesehatan Nasional atau LRKN, dimana lokasinya dipindahkan dari Surabaya ke Jakarta di Jl. Percetakan Negara 29 Jakarta Pusat. Hal ini merupakan langkah tepat, sebagai instansi pusat selayaknya berada di ibukota Negara. Adapun di Indrapura 17 Surabaya tetap digunakan kegiatan penelitian bernama Pusat Penelitian dan Pengembangan Pelayanan Kesehatan atau P4K sebagai kepanjangan tangan LRKN. Pada tahun 1974 LRKN diperbaharui lagi dengan diterbitkannya Surat Keputusan Presiden No. 44 / 1974 yang meresmikan lembaga tersebut dengan nama baru, yaitu Badan Penelitian dan

Pengembangan Kesehatan yang biasa disebut dengan nama Badan Litbangkes. Selanjutnya tugas pokok dan fungsi Badan ini ditetapkan dengan Surat Keputusan Menteri Kesehatan No. 114 tahun 1975. 37
Sejarah dan Profil Puslitbang Sisjakkes

Dengan berdirinya Badan Litbangkes, kegiatan kerja sama terus dikembangkan dengan institusi lain yang terkait, antara lain dijalin hubungan mitra kerja dengan kalangan universitas, fakultas kedokteran, fakultas kedokteran gigi, fakultas farmasi, fakultas keperawatan, fakultas kesehatan masyarakat; lembaga non departemen ; lembaga swadaya masyarakat ; organisasi industri dan sebagainya. Sesuai dengan tugas pokoknya sebagai intitusi penelitian dan pengembangan dalam bidang kesehatan, maka Badan Litbangkes membentuk berbagai Pusat Penelitian dan Pengembangan ( Puslitbang ) yang secara struktural berada di bawahnya. Tetapi selain itu Badan Litbangkes juga bertanggung jawab dalam koordinasi pelaksanaan Litbangkes, terutama di lingkungan

Departemen Kesehatan, serta menjadi lembaga nasional Litbangkes dalam kaitannya dengan penelitian kesehatan yang diusulkan pembiayaannya kepada lembaga asing. Dari waktu kewaktu Badan Litbangkes mengalami dinamika perubahan untuk pembaharuan sesuai dengan tuntutan jaman, perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi kesehatan itu sendiri.

38
Sejarah dan Profil Puslitbang Sisjakkes

KELEMBAGAAN BADANLITBANGKES Badan Litbangkes dipimpin oleh seorang Kepala Badan yang bertanggung jawab langsung kepada Menteri

Kesehatan. Dalam menjalankan tugasnya, Kepala Badan Litbangkes dibantu secara teknis oleh para Kepala Pusat Penelitian ( Ka Puslit ), Kepala Pusat Penelitian dan Pengembangan ( Ka Puslitbang ), serta seorang Sekretaris Badan. Pada awalnya terdapat 6 Puslit /Puslitbang yang dibentuk sesuai dengan bidang yang diteliti , yakni : Puslit Ekologi , Puslit Biomedis, Puslit Kanker dan Radiologi, Puslitbang Farmasi ( 4 Puslit ini berlokasi di Jakarta) ; Puslitbang Gizi (berlokasi di Bogor), dan Puslitbang Pelayanan Kesehatan (berlokasi di Surabaya, menempati gedung cikal bakal di Jl Indrapura 17 Surabaya). Selain itu mempunyai Unit Pelaksana Teknis , yaitu Balai Penelitian Tanaman Obat di Tawangmangu dan Stasiun Penelitian Vektor Penyakit di Salatiga. Perkembangan selanjutnya struktur organisasi Badan Litbangkes berubah di mana semua pusat penelitian menjadi pusat penelitian dan pengembangan. Stasiun Penelitian Vektor Penyakit juga ditingkatkan statusnya menjadi Balai Penelitian Vektor dan Reservoar Penyakit. Disamping itu juga didirikan Balai Penelitian 39
Sejarah dan Profil Puslitbang Sisjakkes

Gangguan

Akibat

Kekurangan Iodium di Magelang.

Melalui Keputusan Menteri Kesehatan No. 1277 tahun 2001, struktur organisasi Badan Litbangkes berubah, di mana jumlah Puslitbang yang semula 6 buah dikurangi menjadi 5 buah, yang diberi nama : Puslitbang Ekologi Kesehatan, Puslitbang Pemberantasan Penyakit, Puslitbang Farmasi dan Obat Tradisional, ( 3 Puslit tersebut berlokasi di Jakarta ), Puslitbang Gizi dan Makanan ( di Bogor), dan Puslitbang Pelayanan dan Teknologi Kesehatan ( di Surabaya). Kemudian sebagai pelengkap didirikan pula Loka Penelitian dan Pengembangan Pemberantasan

Penyakit Bersumber Binatang di Ciamis-Jawa Barat ; Banjarnegara- Jawa Tengah ; Baturaja - Sumatera Selatan ; Tanah Bumbu - Kalimantan Selatan ; Way Kabubak - Nusa Tenggara Timur ; dan Donggala- Sulawesi Tengah. Kepemimpinan Badan Litbangkes telah dijabat berganti-ganti oleh 8 orang, baik yang berlatar belakang program maupun pendidikan. Kepala Badan Litbangkes yang pertama adalah Prof. Dr. Sulianti Saroso yang menjabat sampai dengan tahun 1978. Kepala Badan Litbangkes yang kedua adalah Prof. Dr. A.A. Loedin, yang menjabat dari tahun 1978 sampai dengan tahun 1988. Kepala Badan Litbangkes yang ketiga adalah Dr. Hapsara, MPH, menjabat dari tahun 1988 sampai dengan 1989 yang kemudian digantikan oleh Kepala Badan Litbangkes yang 40
Sejarah dan Profil Puslitbang Sisjakkes

keempat, yaitu Prof. Dr. Sumarmo Poorwo Soedarmo. Beliau menjabat sebagai Kepala Badan Litbangkes dari tahun 1989 sampai dengan tahun 1994. Kepala Badan Litbangkes yang kelima Dr. Brahim menjadi Kepala Badan Litbangkes dari tahun 1994 sampai dengan tahun 1997 dan Kepala Badan Litbangkes yang keenam adalah Prof. Dr. Umar Fahmi Achmadi yang menjabat sampai dengan tahun 2000. Dari tahun 2000 sampai dengan tahun 2003 yang menjabat sebagai Kepala Badan Litbangkes yang ketujuh adalah Dr. Sri Astuti S. Suparmanto, MSc. PH. Kepala Badan Litbangkes yang kedelapan Tahun 2003 sampai 2004 dijabat oleh Dr. Sumarjati Arjoso. Kepala Badan Litbangkes yang kesembilan adalah Dr. Dini Latief, MSc.yang menjabat Tahun 2004 sampai Tahun 2006. Kepala Badan Litbangkes yang kesepuluh adalah Dr. Triono Sundoro, PhD menjabat pada Tahun 2006 sampai sekarang ( 2008 ) yang

HASIL KARYA BADANLITBANGKES. Kegiatan utama Badan Litbangkes adalah melaksanakan dan mengkoordinasikan penelitian kesehatan terutama di bidang ekologi kesehatan, penyakit menular, penyakit tidak menular, farmasi dan obat tradisional, gizi dan makanan serta pelayanan dan teknologi kesehatan. Penelitian41
Sejarah dan Profil Puslitbang Sisjakkes

penelitian

yang

berdampak

besar

bagi

kebijakan

pembangunan adalah: 1. Survei Kesehatan Rumah Tangga Survei tersebut dilaksanakan secara berkala mulai tahun 1972, kemudian 1980, 1986, 1992, 1995. Selanjutnya survei tersebut mulai tahun 2001 diintegrasikan dengan Survei Sosial dan Ekonomi Nasional serta Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia menjadi Survei Kesehatan Nasional secara berkala 3 tahunan. Tahun 2004 Badan Litbangkes melaksanakan Surkesnas ke 2. 2. Survei Pemetaan Masalah GAKI Nasional dari Puslitbang Gizi ) 3. Penelitian Sistem Informasi Binkesmas Penelitian tersebut dilaksanakan oleh Badan Litbangkes pada tahun 1991 bekerjasama dengan Ditjen Binkesmas yang bertujuan untuk mereview berbagai penelitian bidang Binkesmas yang telah dilakukan di Indonesia oleh berbagai lembaga baik pemerintah maupun swasta. Selain itu, penelitian tersebut juga melihat pemanfaatan hasil-hasil penelitian oleh penentu kebijakan, terutama di Departemen Kesehatan. Hasilnya menyatakan bahwa selama 5 tahun (dari 1985 – 1990) telah dilakukan lebih kurang 1500 penelitian bidang Binkesmas. 4. Dukungan legal Litbangkes 42
Sejarah dan Profil Puslitbang Sisjakkes

(masukan

Agar kegiatan Litbangkes dapat terlaksana secara efektif dan efisien diperlukan dukungan legal yang jelas yang mengatur pelaksanaan Litbangkes baik di dalam lingkungan Departemen Kesehatan maupun di luar Departemen Kesehatan. Dukungan legal tersebut

terwujud dengan keluarnya Peraturan Pemerintah (PP) No. 39 tahun 1995 tentang Litbangkes. Dalam PP tersebut secara tegas dinyatakan bahwa Menteri Kesehatan bertanggung jawab dalam pembinaan dan pengawasan Litbangkes secara nasional di mana tanggung jawab tersebut dilaksanakan secara

operasional oleh Kepala Badan Litbangkes melalui kerjasama jaringan kemitraan. 5. Jaringan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan

Nasional. Sebagai tindak lanjut Keputusan Menteri Kesehatan No. 1179a/1999 tentang Jaknas Litbangkes, Badan Litbangkes mengembangkan Jaringan Penelitian dan Pengembangan adalah Kesehatan Nasional antar (JPPKN). lembaga

JPPKN

jaringan

kemitraan

Litbangkes maupun lembaga pengguna hasil Litbangkes nasional sebagai media komunikasi dan pemanfaatan bersama sumber daya sekaligus pembinaan dan

pengawasan pelaksanaan program Litbangkes nasional. JPPKN juga merupakan salah satu upaya dalam 43
Sejarah dan Profil Puslitbang Sisjakkes

penyebarluasan informasi Litbangkes,melalui koordinasi dan konsolidasi kegiatan penyebarluasan informasi Litbangkes di tingkat nasional, tepat sasaran, tepat waktu. 6. Kebijakan Nasional tentang Penelitian Pengembangan Kesehatan. Untuk memperjelas arah program Litbangkes secara nasional dalam mendukung pencapaian program kesehatan nasional, melalui Keputusan Menteri

Kesehatan No. 1179a tahun 1999. Dalam kebijakan tersebut tersurat visi, misi, strategi serta kebijakan teknis dalam pelaksanaan Litbangkes. 7. Prioritas dan Agenda Litbangkes Nasional Menyadari bahwa sumber daya Litbangkes yang tersedia terbatas sehingga diperlukan prioritas dan agenda nasional yang jelas, maka Badan Litbangkes bersama anggota JPPKN menyusun prioritas dan agenda nasional Litbangkes. Metoda yang digunakan adalah Tools for Health Research Priority Setting yang dikeluarkan oleh Cohred (Council of Health Research for Development). 8. Program Riset Pembinaan dan Riset Operasional. Program Pembinaan riset yang telah dilaksanakan ada 4 jenis yaitu Riset pembinaan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi edokteran (Rinsbin Iptekdok) mulai sejak tahun 1996; Riset pembinaan Tenaga Kesehatan (Risbinakes) mulai sejak tahun 1997; Riset pembinaan 44
Sejarah dan Profil Puslitbang Sisjakkes

Kesehatan (Risbinkes) mulai tahun 1997 dan Riset operasional-Intensifikasi Pemberantasan Penyakit

Menular (RO-IPPM) mulai sejak tahun 1998. Prinsip pembinaan program ini adalah : Selektif kompetitif dan ilmiah,pemerataan dan efisiensi, menggunakan kaidah ethic penelitian kesehatan, pendampingan, workshop, pelatihan dan supervisi serta peningkatan kapasitas kualitas peneliti dan institusi. Ruang lingkup, tujuan, sasaran masing-masing program risbin yaitu: a. Risbin Iptekdok mempunyai 3 ruang lingkup yaitu biologi molekuler dan genetic; penyakit infeksi, imunologi dan reproduksi ; dan keganasan penyakit degeneratif. Tujuannya untuk pengembangan SDM dan program penelitian bidang kedokteran b. Ruang lingkup Risbinkes yaitu ilmu

kedokteran dan keperawatan; ilmu kesehatan masyarakat; ilmu gizi dan makanan; ilmu farmasi dan toksikologi; dan ilmu kesehatan lingkungan dan biologi lingkungan. Tujuan risbinkes yaitu untuk meningkatkan SDM dan program penelitian kesehatan. c. Ruang lingkup Risbinakes yaitu bidang ilmu gizi,farmasi,keperawatan, kebidanan, fisiologi, 45
Sejarah dan Profil Puslitbang Sisjakkes

gigi, perilaku bersih dan sehat dengan sasaran khusus untuk tenaga kesehatan di berbagai Akademi Kesehatan Propinsi dan Kabupaten. Tujuannya yaitu untuk peningkatan SDM dan program penelitian kesehatan d. Ruang lingkup RO-IPPM yaitu penelitian kesehatan yang berkaitan dengan penyakit malaria, ISPA/Pnemonia, TB Paru dan PD3I. Sasaran program ini adalah pelaksana program di tingkat Propinsi dan Kabupaten. Tujuannya untuk peningkatan para SDM pengambil based. dan untuk

mendorong berdasarkan

keputusan RO-IPPM

evidence

dilaksanakan hanya di 6 propinsi : Sumatera Selatan, Jawa Barat, Jawa Tengah, NTT, Kalimantan Selatan dan Sulawesi Tengah. 9. Penelitian yang berkaitan dengan eradikasi polio. a. Imunisasi anak balita dengan oral polio vaksin (OPV) baik secara rutin maupu dengan program PIN (Pekan Imunisasi Nasional)dan BIAS (bulan imunisasi anak sekolah SD) b. Surveilans AFP ( Acute Flaccid Paralysis = Lumpuh layuh 46
Sejarah dan Profil Puslitbang Sisjakkes

acut

)

Indonesia

telah

melakukan PIN selama IV kali dan sekali program BIAS. Kegiatan untuk membantu program eradikasi polio : a. Surveilans virus polio liar : melakukan pemeriksaan tinja dari kasus-kasus AFP yang diambil oleh petugas surveilans, di

laboratorium Polio, Puslitbang P2. b. Melakukan penelitian serologis untuk

mengetahui status antibodi anak setelah PIN I,II,IV,danBIAS, di beberapa kota (Jaya Pura, Waringin Timur, Medan, Bali, Makaasar, Ambon, Palu, Kebumen). Hasil penelitian dan surveilan virus polio adalah : a. Tidak ditemukan lagi virus polio liar di Indonesia tahun 1996-2004. Hasil ini sangat dibutuhkan oleh program untuk mengevaluasi kinerja program, sudah berhasil atau belum. b. Status antibodi anak setelah kegiatan PIN dan BIAS sudah cukup tinggi sehingga dapat memutus rantai penularan virus polio liar di masyarakat.. Hasil ini juga sangat diharapkan oleh program untuk menilai keberhasilan imunisasi pada anak yang dilakukan program. 47
Sejarah dan Profil Puslitbang Sisjakkes

2. TONGGAK SEJARAH INDRAPURA 17 SURABAYA

2.1. SEJARAH PUSAT PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN PELAYANAN KESEHATAN ( TH 1968/74 – 2000 ) Penyempurnaan dalam bidang usaha apapun baru dirasakan efektif, bilamana dihadapkan kepada masalah yang nyata. Demikian juga halnya dalam pengembangan pelayanan kesehatan masyarakat. Seperti yang telah

diketahui bersama, masalahnya cukup banyak dan bahkan merupakan tantangan yang tidak pernah kunjung usai. Orang lantas tidak habis berpikir, bagaimana menjawab tantangan-tantangan yang bertubi-tubi itu. Berbagai usaha ditempuh, penelitian demi penelitian dilakukan, sistem demi sistem dicobakan, struktur organisasi sering diubah-ubah, kesemuanya itu tidak lain adalah untuk, mencari jawab yang tepatguna mengatasi segala kesulitan yang dihadapi. Untuk tujuan itulah pula, perubahan-perubahan dilakukan untuk mengatasi masalah dan bukan berarti gagal dalam melaksanakan tugas yang telah diembannya.

Pengalaman-pengalaman di masa-masa yang lalu cukup 48
Sejarah dan Profil Puslitbang Sisjakkes

berharga untuk membuat kesadaran kita peka terhadap kekurangan-kekurangan dan dengan demikian terbuka hati kita untuk menerima perombakan-perombakan demi

kesempurnaan. Berdasarkan keputusan Presiden nomor 44 dan 45 tahun 1974, diresmikan Pusat Penelitian dan Pengembangan Pelayanan Kesehatan, terkait dengan perubahan LRKN ke Badanlitbangkes. Selanjutnya instansi ini sering disebut dengan singkatan Puslitbang Pelayanan Kesehatan, atau P4K Surabaya . Sementara itu sejak 1968 sudah terjadi proses

tranformasi LKN ke Puslitbang Pelayanan Kesehatan, kegiatan-kegiatan yang dilakukan : Penelitian peningkatan pelayanan kesehat an kepada masyarakat tingkat kabupaten di kabupaten

Karanganyar (jawa-tengah). Penelitian lanjutan Keluarga Berencana. Kursus HPC ke IV Kursus dan Lokakarya pelayanan pengembangan kesehatan dengan sistem cara

tatalaksana

pendekatan ORSA. Di samping itu penelitian dan pengembangan penerapan KIA, dengan mengembangkan buku pedoman untuk : Perawatan Anak di Puskesmas ( bantuan WHO ). 49
Sejarah dan Profil Puslitbang Sisjakkes

-

Perawatan Ibu di Puskesmas ( kerjasama Fakultas Kedokteran UNAIR, PuslitbangPelayanan Kesehatan, Direktorat Medis Keluarga Berencana, Dinas

Kesehatan Propinsi dan Sekolah Guru Keperawatan dan Pemeliharaan Kesehat an Masyarakat). Sampai saat ini ±400 judul buku telah diterbikan berupa manual, penelitian lain dalam bidang pelayanan kesehatan masyarakat. Dengan adanya pengertian tugas, pokok : Puslitbang Pelayanan Kesehatan, sudah barang tentu diperlukan adanya panyesuaian dalam hal jumlah dan jenis personil. Maka terjadilah beberapa mutasi kepegawaian yang agak meluas dengan melimpahkan tenaga-tenaga yang di Puslitbang Pelayanan Kesehatan tidak fungsional lagi kepada instansi-instansi lain yang lebih memerlukanya, misalnya tenaga-tenaga analis, perawat, bidan dan juru kesehatan. Dalam hal ini didatangkan konsultan dari badan internasional (WHO, Ford Foundation Pemerintah Belanda, dan lain-lain), khususnya untuk bidang-bidang yang dalam waktu dekat tidak atau belum dapat diisi oleh tenaga Indonesia. Disamping itu peningkatan pengetahuan dan keahlian tenaga peneliti untuk menjadi counterpart dari

konsultan yang didatangkan, dan mengirim mereka ke luar negeri (post graduate courses) dengan fellowships, serta penambahan tenaga ahli “care group" (kelompok inti). 50
Sejarah dan Profil Puslitbang Sisjakkes

Pengertian tugas pokok mempengaruhi pula fasilitas ruangan dan peralatan. Puslitbang Pelayanan Kesehatan

cukup menggunakan separo dari seluruh kompleks, dan separo lebihnya dimanfaatkan oleh instansi-instansi lain yang ada hubungannya dengan masalah kesehatan dan kesejahteraan masarakat, seperti : Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional Propinsi Jawa-Timur (BKKBN), Akademi Penilik Kesehatan Surabaya (APK), Sekolah Guru Keperawatan / Kebidanan dan Pemeli haraan Kesehatan Masyarakat ( SGKK & PKM ), Akademi Analis Medis (AAM).

Dengan diubahnya bangsal-bangsal perawatan orang sakit menjadi ruang kantor maupun kuliah, maka perabot-perabot seperti tempat tidur dan lain-lain sebagainya dilimpahkan kepada Dinas Kesehatan Propinsi Jawa-Timur untuk dimanfaatkan, demikian juga peralatan perawatan

kedokteran (gigi), Kamar Bedah, Foto Rontgen yang tidak diperlukan lagi bagi Puslitbang Pelayanan Kesehatan. Peralatan dapur yang modern yang dapat melayani ±300 orang diserahkan kepada SGKK & PKM untuk melayani para siswanya yang diasramakan dalam kompleks.

51
Sejarah dan Profil Puslitbang Sisjakkes

2.2. SEJARAH PUSAT PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN PELAYANAN DAN TEKNOLOGI KESEHATAN ( TAHUN 2000 – 2005 )

Pada tahun 2000 Pusat Penelitian dan Pengembangan Pelayanan Kesehatan berubah menjadi Pusat Penelitian dan Pengembangan Pelayanan dan Teknologi Kesehatan , yang biasa disingkat dengan nama Puslitbang Yantekkes atau P4TK. Sebagai salah satu lembaga eselon II dibawah Badanlitbangkes, Puslitbang Yantekkes mempunyai tugas pokok dan fungsi utama yang dituangkan pada Surat Keputusan Menkes nomor 130/Menkes/SK/1/2000 tanggal 26 Januari 2000. Tugas Pokok Puslitbang Yantekkes yaitu : 1. Menyusun rancangan kebijakan umum, menyiapkan rumusan kebijakan kebijakan teknis. 2. Mengkoordinasikan pelaksanaan, bimbingan, serta pengendalian penelitian dan pengembangan di bidang pelaya dan teknologi kesehatan berdasarkan kebijakan teknis Kepala Badan dan peraturan perundang-undangan yang berlaku. 52
Sejarah dan Profil Puslitbang Sisjakkes

pelaksanaan dan merumuskan

Untuk mencapai tugas pokok tersebut Puslitbang Yantekkes melaksanakan fungsinya sebagai berikut : 1. Penyusunan rancangan kebijakan umum, penyiapan rumusan kebijakan pelaksanaan, dan perumusan

kebijakan teknis, serta koordinasi pelaksanaan penelitian dan pengembangan di bidang pelayanan dan teknologi. 2. Pelaksanaan tata operasional di lingkungan Puslitbang yantekkes. Oleh karena itu sebagai unit operasional Badan Litbang Kesehatan, Puslitbang Yantekkes turut berperan dalam meningkatkan wawasan Health System Research dengan melaksanakan proyek Litbang dan mengadakan training / promosi dibidang penelitian pelayanan kesehatan,

memantapkan dan mengem- bangkan kemampuan institusi, serta meningkatkan sistem informasi kesehatan. Upaya penelitian dan pengembangan kesehatan merupakan bagian integral dari pembangunan ilmu pengetahuan dan teknologi serta pembangunan kesehtan. Tujuan program penelitian dan pengembangan kesehatan adalah untuk memberikan masukan ilmu pengetahuan dan teknologi guna menunjang pembangunan kesehatan dalam upaya memperluas

jangkauan serta meningkatkan mutu pelayanan kesehatan dan pengembang-an ilmu kedokteran untuk memecahkan masalah-masalah kesehatan masyarakat sebagai salah satu 53
Sejarah dan Profil Puslitbang Sisjakkes

upaya peningkatan kualitas hidup. Agar tujuan penelitian dan pengembangan kesehatan dapat terealisir ditetapkan sasaran yang ingin dicapai yaitu : 1). Tersedianya ilmu pengetahuan dan teknologi kesehatan serta pengetahuan lain yang diperlukan. 2). Penguasaan industri teknologi kesehatan. peneli-tian untuk 3). dan

mendukung Terwujutnya

pengembangan sistem

informasi

pengembangan kesehatan yang dapat memenuhi kebutuhan manajemen kesehatan disemua tingkat upaya teknis kesehatan. 4). Tersedia tenaga, perangkat lunak dan keras yang memadai untuk mendukung kegiatan penelitian dan pengembangan kesehatan. Laboratorium merupakan sarana penting dalam penelitian dan pengembangan. Untuk itu Puslitbang Yantekkes mempunyai 4 Laboratorium, yaitu : 1. Laboratorium Penelitian dan Pengembangan Pelayanan Pengobatan Obat Tradisional ( LP4OT ). 2. Laboratorium Kesehatan Reproduksi. 3. Laboratorium Penelitian dan Pengembangan Pelayanan Penyembuhan Tenaga Dalam ( LP4TD ). 4. Laboratorium Penelitian dan Pengembangan Pelayanan Akupunktur ( LP3A ).

54
Sejarah dan Profil Puslitbang Sisjakkes

2.3. SEJARAH PUSAT PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN SISTEM DAN KEBIJAKAN KESEHATAN ( TAHUN 2005 – sekarang )

Pada tahun 2005 Puslitbang Yantekkes berubah menjadi Pusat Penelitian dan Pengembangan Sistem dan Kebijakan Kesehatan, yang biasa disingkat Puslitbang Sisjakkes atau P3SKK. Berdasarkan Permenkes No. 1575 Tahun 2005 tentang Organisasi dan Tata Kerja Depkes, disebutkan bahwa Badan Litbangkes membawahi 4 Puslitbang, yaitu : 1. Puslitbang Sisten dan Kebijakan Kesehatan 2. Puslitbang Biomedis dan Farmasi 3. Puslitbang Ekologi dan Status Kesehatan 4. Puslitbang Gizi dan Makanan. Berdasarkan Permenkes No. 1575 Tahun 2005 tersebut, disebutkan bahwa Tugas Puslitbang Sistem dan Kebijakan Kesehatan adalah melakukan penelitian dan pengembangan di bidang sistem dan kebijakan keseahatan. Dalam prakteknya Puslitbang Sistem dan Kebijakan Kesehatan adalah institusi riset terapan dibidang sistem kesehatan yang diarahkan untuk perbaikan kebijakan pengelolaan

pembangunan kesehatan guna mencapai peningkatan mutu , efisiensi dan ekuiti pelayanan kesehatan. Hal ini selaras dengan definisi WHO , bahwa riset sistem kesehatan adalah 55
Sejarah dan Profil Puslitbang Sisjakkes

”riset

yang

diarahkan

untuk

peningkatan

kesehatan

masyarakat, dengan meningkatkan efisiensi dan efektifitas sistem kesehatan sebagai bagian integral dari pembangunan sosial ekonomi suatu bangsa, dengan melibatkan semua stakeholder ”. Disebutkan pula dalam Permenkes tersebut bahwa Puslitbang Sisjakkes mempunyai 8 fungsi , yakni : 1. Penyiapan bahan perumusan kebijakan pelaksanaan serta teknis penelitian dan pengembngan di bidang sistem dan kebijakan kesehatan. 2. Perencanaan program penelitian dan pengembangan serta evaluasi di bidang sistem dan kebijakan kesehatan. 3. Pelaksanaan penelitian dan pengembangan di bidang sistem dan kebijakan kesehatan. 4. Pelaksanaan koordinasi, pembinaan dan fasilitas teknis penelitian dan pengembngan di bidang sistem dan kebijakan kesehatan. 5. Pelaksanaan pengkajian dan penapisan teknologi di bidang sistem dan kebijakan kesehatan. 6. Penyebar luasan hasil penelitian dan pengembngan di bidang sistem dan kebijakan kesehatan. 7. Evaluasi pelaksanan penelitian dan pengembangan. 8. Pelaksanaan tata usaha dan rumah tangga.

56
Sejarah dan Profil Puslitbang Sisjakkes

3. PROFIL PUSAT PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN SYSTEM DAN KEBIJAKAN KESEHATAN ( TAHUN 2008 )

3.1. VISI DAN MISI Telah ditetapkan Visi Departemen Kesehatan dalam tahun 2005 – 2009 adalah : “Masyarakat yang mandiri untuk hidup sehat”. Untuk itu ditetapkan 4 Strategi Utama (Grand Strategy) : 1. Menggerakkan dan memberdayakan masyarakat untuk hidup sehat. 57
Sejarah dan Profil Puslitbang Sisjakkes

2. Meningkatkan akses masyarakat terhadap pelayanan kesehatan yang berkualitas. 3. Meningkatkan sistem , survailans, monitoring dan informasi kesehatan. 4. Peningkatan pembiayaan kesehatan.

Dari 4 Grand Strategy tersebut dijabarkan kedalam sasaran – sasaran secara berurutan, sebagai berikut : Grand Strategy 1 memiliki 3 sasaran, yaitu : 1. Seluruh desa menjadi desa-siaga 2. Seluruh masyarakat berperilaku hidup bersih dan sehat 3. Seluruh keluarga sadar gizi Grand Strategy 2 memiliki 6 sasaran, yaitu : 4. Setiap orang miskin mendapat pelayanan kesehatan bermutu 5. Setiap bayi,anak,ibu hamildan kelompok masyarakat risiko tinggi terlindungi dari penyakit 6. Di setiap desa tersedia sumberdaya manusia ( SDM ) kesehatan yang kompeten, 7. Di setiap desa tersedia cukup obat esensial dan alat kesehatan dasar 8. Setiap Puskesmas dan jaringannya dapat dijangkau dan menjangkau seluruh masyarakat diwilayah kerjanya. 9. Pelayanan kesehatan di rumah sakit, puskesmas, dan jaringannya memenuhi standar mutu. 58
Sejarah dan Profil Puslitbang Sisjakkes

Grand Strategy 3 memiliki 5 sasaran, yaitu : 10. Setiap kejadian penyakit terlaporkan secara cepat kepada Lurah / Kades untuk diteruskan ke instansi kesehatan terdekat. 11. Setiap kejadian luar biasa ( KLB ) dan wabah penyakit dapat tertanggulangi secara cepat dan tepat sehingga tidak menimbulkan dampak kesehatan. 12. Semua sediaan farmasi, makanan, dan perbekalan kesehatan memenuhi syarat. 13. Terkendalinya pencemaran lingkungan sesuai standar kesehatan 14. Berfungsinya sistem informasi kesehatan yang evidence based di seluruh Indonesia. Grand Strategy 4 memiliki 3 sasaran, yaitu : 15. Pembangunan kesehatan memperoleh prioritas penganggaran di pusat dan daerah. 16. Anggaran kesehatan pemerintah diutamakan untuk pencegahan dan promosi kesehatan. 17. Terciptanya sistem jaminan pembiayaan kesehtan terutama bagi rakyat miskin.

Sejalan dengan hal tersebut, maka Puslitbang Sisjakkes sebagai organisasi fungsional di bidang penelitian dan pengembangan kesehatan menetapkan Visi dan Misi : 59
Sejarah dan Profil Puslitbang Sisjakkes

VISI Puslitbang Sisjakkes tahun 2005-2009 adalah : ” Memperkuat Sistem Kesehatan untuk menjamin Rakyat Sehat ”. MISI Puslitbang Sisjakkes tahun 2005-2009 adalah : ”Menghasilkan Informasi sesuai Kebutuhan Klien”

Untuk menghasilkan visi dan misi yang berpihak kepada rakyat, maka ditetapkan pula Nilai dan Strategi sebagai berikut : NILAI Puslitbang Sisjakkes tahun 2005-2009 adalah : 1. Berpihak pada rakyat 2. Bertindak cepat dan tepat 3. Kerjasama tim 4. Integritas yang tinggi 5. Transparan dan akuntabel

STRATEGI Puslitbang Sisjakkes 2005-2009 adalah : 1. Meningkatkan sinergisme dengan klien dalam manajemen Litbangkes 2. Meningkatkan kompetensi, profesionalisme,dan integritas 3. Meningkatkan sarana dan prasarana Litbangkes 4. Membangun jejaring dan promosi serta advokasi hasil Litbangkes 60
Sejarah dan Profil Puslitbang Sisjakkes

5. Mengembangkan Puslitbang Sistem dan Kebijakan Kesehatan sebagai Center of Excellence pengobatan Akupunktur dan WHO Collaborating Center For Health Systems Research.

TUJUAN Puslitbang Sisjakkes tahun 2005-2009 adalah :

Terselenggaranya litbang di bidang sistem dan kebijakan kesehatan untuk memperkuat sistem kesehatan, demi tercapainya peningkatan mutu, efisiensi dan keadilan.

SASARAN Puslitbang Sisjakkes 2005-2009 adalah : 1. Dihasilkannya Policy Option, Rekomendasi, Prototype, Produk dan Teknologi baru hasil Litbangkes. 2. Tersedianya tenaga Peneliti yang kompetensi dan memiliki integritas yang tinggi untuk melaksanakan litbangkes, tersedianya Sarana dan Prasarana penelitian dan pengembangan kesehatan yang terakreditasi. 3. Tersedianya informasi dan publikasi hasil litbangkes. 4. Terlaksananya diseminasi, promosi, advokasi, dan aplikasi hasil litbangkes 5. Terbentuk dan berfungsinya Jejaring, Forum Komunikasi dan Kemitraan Litbangkes. 61
Sejarah dan Profil Puslitbang Sisjakkes

3.2. TATA ORGANISASI

STRUKTURAL Untuk melaksanakan tugas dan fungsinya Puslitbang Sistem dan Kebijakan Kesehatan memiliki Struktur Organisasi : 1. Bagian Tata Usaha - Sub Bagian Umum - Sub Bagian Keuangan 2. Bidang Program dan Kerjasama - Sub Bidang Kerjasama - Sub Bidang Program dan Evaluasi 3. Bidang Pelayanan Penelitian - Sub Bidang Jaringan Informasi dan Perpustakaan - Sub Bidang Administrasi dan Sarana 4. Kelompok Jabatan Fungsional

FUNGSIONAL Kelompok Jabatan Fungsional Peneliti ada 4 kelompok : 1. Kelompok Program Penelitian (KPP) 2. Panitia Pembina Ilmiah (PPI) 3. Dewan Redaksi (DR ) 4. Panita Penilai jabatan peneliti ( P2JP )

62
Sejarah dan Profil Puslitbang Sisjakkes

Keempat wadah tersebut merupakan media/ wahana utama yang menjiwai dinamika tugas pokok P3SKK dalam bidang Litbang

Merupakan salah satu aktualisasi diri para peneliti

TUGAS POKOK Sesuai dengan Pasal 682 Kelompok Jabatan Fungsional Peneliti mempunyai tugas pokok membantu Kapuslitbang : 1. Penyiapan bahan perumusan kebijakan pelaksanaan dan teknis penelitian dan pengembangan di bidang sistem dan kebijakan kesehatan 2. Perencanaan program penelitian dan pengembangan serta evaluasi di bidang sistem dan kebijakan kesehatan 3. Pelaksanaan penelitian dan pengembangan di bidang sistem dan kebijakan kesehatan 4. Pelaksanaan koordinasi, pembinaan dan fasilitasi teknis penelitian dan pengembangan di bidang sistem dan Kebijakan Kesehatan 5. Pelaksanaan pengkajian dan penapisan teknologi di bidang sistem dan kebijakan kesehatan Selanjutnya sesuai dengan Pasal 169 , dalam menjalankan tugas dan fungsinya, Kelompok Fungsional Peneliti, Bagian 63
Sejarah dan Profil Puslitbang Sisjakkes

Tata Usaha, Bidang Program dan Kerjasama, dan Bidang Pelayanan Penelitian perlu melakukan koordinasi yang sebaik-baiknya dan bekerja secara team work. Adapun sesuai dengan Pasal 170 untuk operasionalisasi koordinasi dan team work, Kepala Puslitbang bersama-sama Bagian Tata Usaha, Bidang Program Bidang dan Kerjasama,

Pelayanan Penelitan, dan Kelompok Fungsional

Peneliti menyusun kebijakan operasional.

URAIAN TUGAS FUNGSIONAL 1. KELOMPOK PROGRAM PENELITIAN ( KPP ) : KPP di Surabaya (Head Office) 1. Pelayanan Kesehatan (9 Peneliti) 2. SDM Kesehatan (9 Peneliti) 3. Manajemen Kesehatan (10 Peneliti) 4. Teknologi Kesehatan (8 Peneliti) 5. Pemberdayaan Masyarakat (10 Peneliti) KPP di Jakarta (Branch Office) 1. KPP Pembiayaan Kesehatan (12 Peneliti) 2. KPP Kebijakan Kesehatan (11 Peneliti) 3. KPP Kebijakan dan Manajemen Farmasi (13 Peneliti) 4. KPP Asuhan Kefarmasian (6 Peneliti) 64
Sejarah dan Profil Puslitbang Sisjakkes

Setiap KPP dipimpin oleh Ketua KPP yang dipilih oleh anggota KPP. Tugas Pokok Ketua Kelompok Program Penelitian membantu Kepala Puslitbang dalam hal : 1) Mengarahkan, membimbing dan memfasilitasi anggotanya dalam melaksanakan kegiatan litbang, dan menjadi pembicara dalam pertemuan ilmiah 2) Mendorong dan membantu anggota Kelompok Peneliti meniti karier dan meningkatkan kapasitas sebagai Peneliti sesuai dengan tugas pokok jenjang fungsional. 3) Mengkoordinir anggota kelompok menyusun policy paper, policy brief, policy option dan rekomendasi. 4) Bersama anggota melakukan sosialisasi, advokasi dan fasilitasi hasil Litbang 5) Mengembangkan inovasi pelayanan dan teknologi kesehatan melalui sarana laboratorium /sentra litbang , diklat dan pengembangan prototipe 6) Mengarahkan, membimbing dan memfasilitasi anggotanya dalam melaksanakan Health Tecnology Assesment (HTA) kegiatan litbang. Tugas Pengembangan :

65
Sejarah dan Profil Puslitbang Sisjakkes

7) Bersama anggota mengembangkan jaringan Litbangkes dengan berbagai stakeholder terkait dalam negeri dan luar negeri 8) Menyiapkan, memasarkan dan menyelenggarakan paket pelatihan. 9) Bersama anggota menyediakan jasa konsultasi dan asistensi teknis litbang serta fasilitasi dan pendampingan untuk membantu Pemerintah Daerah dan swasta.

2. PANITIA PEMBINA ILMIAH ( PPI ) : Tugas dan tanggung jawab panitia pembina ilmiah ( PPI ) membantu Kapuslitbang untuk : 1. Meningkatkan kapasitas Peneliti terutama dibidang Metodologi Penelitian dan HSR 2. Menyusun protap penelitian dan pengembangan. 3. Menyusun agenda riset dan prioritas penelitian 4. Melakukan seleksi usulan penelitian sesuai dg kriteria/ pedoman yang telah ditentukan 5. Memberikan saran-saran perbaikan usulan penelitian, perbaikan terhadap laporan penelitian, penyebaran hasil penelitian, seminar penelitian dan publikasi

66
Sejarah dan Profil Puslitbang Sisjakkes

6. Menyusun agenda kegiatan pembinaan penelitian dan pengembangan 7. Menyusun rumusan policy paper, policy brief, policy option dan rekomendasi dari hasil penelitian dan pengembangan 8. Melaksanakan tugas lain yang diminta Kepala Puslitbang Sistem dan Kebijakan kesehatan, khususnya yang menyangkut kegiatan pembinaan ilmiah dalam rangka pembinaan institusi secara keseluruhan 9. Melakukan kerjasama dengan Dewan Redaksi Buletin Sistem Kesehatan dan Panitia Pembinaan Jabatan Peneliti (P2JP) 10. Memfasilitasi hasil-hasil Litbangkes untuk memperoleh Hak Atas Kekayaan Intelektual ( HAKI ) 11. Bersama KPP memfasilitasi pengembangan HTA ( Health Technology Assesment)

3. DEWAN REDAKSI ( DR ) : Tugas dan tanggung jawab dewan redaksi membantu Kapuslitbang : 1. Memotivasi dan membimbing para peneliti untuk aktif menulis makalah ilmiah hasil penelitian atau bahan lainnya serta buku-buku ilmiah 67
Sejarah dan Profil Puslitbang Sisjakkes

2. Secara berkala menerbitkan Buletin Penelitian Sistem Kesehatan 3. Menghimpun tulisan-tulisan/makalah ilmiah yang dikirim oleh para peneliti 4. Menyeleksi dan mengedit makalah yang dipublikasikan 5. Secara berkala melakukan koordinasi dengan Ketua PPI

4. PANITIA PENILAI JABATAN PENELITI ( P2JP ) Sesuai dengan Kep. Ketua LIPI No. : 1661/D/1999, tentang pedoman Karya Ilmiah Jabatan Peneliti, maka tugas dan tanggung jawab P2JP membantu Kapuslitbang : 1. Memeriksa karya tulis ilmiah dalam bidang ilmu yang menjadi tanggung jawabnya 2. Mengusulkan angka kredit bagi pejabat peneliti ke Ketua LIPI melalui Kepala uslitbang. Catatan :  P2JP adalah panitia ahli yang membantu ketua LIPI menetapkan angka kredit bagi pejabat peneliti  P2JP instansi adalah panitia ahli yang ada di intansi. LABORATORIUM

68
Sejarah dan Profil Puslitbang Sisjakkes

Dalam institusi litbangkes keberadaan laboratorium adalah merupakan sarana penting untuk menunjang pelaksanaan tugas utama. Puslitbang Sisjakkes memiliki 5 Laboratorium : 1. Laboratorium Penelitian Pengembangan Pelayanan Akupunktur ( LP3A ) 2. Laboratorium Penelitian Pengembangan Pelayanan Pengobatan Obat Tradisional ( LP4OT ) 3. Laboratorium Penelitian Pengembangan Pelayanan Pengobatan Tenaga Dalam ( LP4TD ) 4. Laboratorium Penelitian Pengembangan Pelayanan Kesehatan Reproduksi ( LP3 R Si And ) 5. Laboratorium Penelitian Pengembangan Informasi Kesehatan ( LP2 INFOKES )

3. 3. SUMBER DAYA SARANA

Luas seluruh tanah yang dimiliki Puslitbang Sistem dan Kebijakan Kesehatan Surabaya adalah = 62.640,97 m2. Penggunan tanah tersebut dirinci sebagai berikut : - tanah bangunan tempat kerja = 52.400 m2.

- tanah bangunan untuk perumahan = 10.240,97m2. ------------------Jumlah = 62.640,97m2. 69
Sejarah dan Profil Puslitbang Sisjakkes

Adapun Luas Bangunan Gedung seluruhnya = 37.237,02 m2 dengan rincian sebagai berikut : - Bangunan Gedung Kantor - Bangunan Gedung Pendidikan - Bangunan Bengkel = 8.553,07 m2 = = 350,00 m2 240,00 m2

- Bangunan Garasi & Tempat Parkir = 1.903,00 m2 - Sistem Pengolahan Air Sederhana = 1.886,70 m2 - Instalasi Gardu Listrik Induk - Asrama Permanen - Pagar & tanda batas lainnya - Lapangan Parkir - Jalan khusus dalam komplek = 100,00 m2

= 4.245,25 m2 = 2.499,00 m2 = 15.000,00 m2 = 2.460,00 m2 ------------------Jumlah = 37.237,02 m2

Kapasitas daya tampung Gedung Utama/Ruang Pertemuan :

1. Ruang Aula ( 1 ruangan ) dengan kapasitas tampung : a. Susunan Kelas : Kursi Kursi+Meja b. Susunan U-Shape : Kursi 70
Sejarah dan Profil Puslitbang Sisjakkes

= 100 org = 80 org = 75 org

Kursi+Meja c. Susunan O-Shape : Kursi Kursi+Meja

= 50 org = 80 org = 60 org

2. Ruang Diskusi atau Ruang MC ( 1 ruangan ) dengan kapasitas tampung = 50 org

3. Ruang Kelas ( 3 ruangan ) dengan kapasitas masing2 = 25 org

4. Graha / Ruang Besar ( 1 ruangan ) dengan kapasitas tampung = 500 org

5. Penginapan ( dikelola KPRI Usaha Kita ) 1. Griya Prima A/V.I.P ( 2 Kamar) = 8 org 2. Griya Prima B 3. Griya Utama 4. Griya Madya 5. Griya Pratama (15 Kamar) = 30 org (18 Kamar) = 36 org ( 4 Kamar) = 27 org (28 Kamar) = 56 org

6. Luas bangunan dipakai instansi lain di lingkup P3SKK : 1.AROS : 667m2 + 135m2 2.ASA 3.ASRAMA PELATIHAN 4.AAS 71
Sejarah dan Profil Puslitbang Sisjakkes

= =

802 m2 190 m2

= 1.360 m2 = 783 m2

5.MUSEUM 6.BKMM : 562 + 198 + 45 7.BTKL : 565 + 1.692

= 1.587 m2 = 805 m2

= 2.257 m2

3. 4. SUMBER DAYA MANUSIA ( SDM ) Sumber daya manusia ( SDM) atau Personalia ditinjau dari berbagai aspek adalah sebagai berikut :

Berdasarkan Pendidikan : S3 = 11 S2 = 38 S1 = 46

Jabatan Peneliti : Ahli Pen.Utama = 4 Ahli Pen.Madya = 2 Ahli Pen.Muda = 10

Kepakaran : – Health Services – Health Behavior – Health Policy and Management – Epid & Biostat – Non Medication Theraphy 72
Sejarah dan Profil Puslitbang Sisjakkes

= 20 = 3 = 23 = 2 = 1

– Pengobatan Komplementer dan Alternatif = 1

– Pharmaceutical Care – Pharmacy Policy & Management

= 5 = 10

Distribusi berdasarkan Lokasi & Jabatan :
KLASIFIKASI SURABAYA JAKARTA TOT JUMLAH JABATAN

Peneliti Staf Peneliti Struktural Staf Struktural Jumlah

34 * 11 12 60 117

22 1 5 28

13 4 3 20

69 16 12 68 165

* 3 merangkap struktural 3. 5. UPAYA LITBANGKES Upaya memperkuat manajemen litbang untuk kebijakan : 1. Memperkuat interface (a) – Bekerja bersama-sama dengan klien mulai dari penetapan agenda riset, topik penelitian, sampai dengan proposal / protokol penelitian. 2. Memperkuat interface (b) – Mengemas hasil penelitian dalam format masukan kebijakan (policy brief, memoranda, papers) – Melibatkan peneliti / lembaga pada policy cycle process 73
Sejarah dan Profil Puslitbang Sisjakkes

– Presentasi di hadapan policy maker untuk litbanglitbang strategis Litbang Untuk Pengembangan Sistem Kesehatan Daerah : (Action Research 2002-2004 di Kaltim, NTB, Jatim) 1. Pengembangan Puskesmas Otonomi luas di kab/Kota dalam rangka otoda Lk 21: kelembagaan 2. Peningkatan Kapasitas Pembiayaan & Penganggaran Bid Kes dalam rangka otoda  Lk 16: Pembiayaan 3. Pengembangan kapasitas advokasi sektor kesehatan dalam rangka otoda  Lk: 3: Advokasi & negosiasi 4. Pengembangan kemitraan dalam rangka otoda  Lk: 8: Asosiasi swasta. 5. Peningkatan kemampuan manajerial SDM kes di kab/kota dl rangka otoda  Lk 13: Manajemen SDM Kesehatan Upaya penguatan Grand Stategy Depkes : Depkes telah menetapkan 4 Grand Stategy Depkes, yakni : 1. Menggerakkan dan memberdayakan masyarakat untuk hidup sehat 2. Meningkatkan akses masyarakat terhadap pelayanan kesehatan yang berkualitas 3. Meningkatkan sistem survailans, monitoring dan informasi kesehatan 74
Sejarah dan Profil Puslitbang Sisjakkes

4. Meningkatkan pembiayaan kesehatan

Puslitbang Sisjakkes melaksanakan proyek untuk mendukung 4 Grand Stategy ( GS ) tersebut dengan rincian :

G S 1 ( Menggerakkan dan memberdayakan masyarakat untuk hidup sehat ) dengan Judul Litbang : 1. Pengembangan “Desa Siaga” dalam rangka penanganan masalah kedaruratan kesehatan 2. Studi Pembiayaan Posyandu Mandiri 3. Studi tetang Peran Serta Masyarakat, Lintas Sektor dan Swasta dalam rangka Revitalisasi Posyandu

G S 2 ( Meningkatkan akses masyarakat terhadap pelayanan kesehatan yang berkualitas ) dengan Judul Litbang : 1. Kajian pelaksanaan pembinaan kesehatan produksi dalam rangka percepatan penurunan AKI dan AKB 2. Studi upaya peningkatan akses terhadap informasi dan pelayanan KB berkualitas dalam rangka penurunan AKI dan AKB 3. Studi upaya peningkatan rujukan persalinan oleh tenaga non profesional dalam rangka percepatan penurunan AKI dan AKB 75
Sejarah dan Profil Puslitbang Sisjakkes

4. Studi upaya peningkatan cakupan dan kualitas pelayanan antenatal di daerah miskin perkotaan dan pedesaan dalam percepatan penurunan AKI dan AKB 5. Studi upaya peningkatan koordinasi pelayanan kesehatan reproduksi dan pelayanan PMS dan HIV/AIDS di puskesmas untuk mempercepat penurunan AKI dan AKB 6. Studi upaya peningkatan manajemen dalam pertolongan persalinan dan paska persalinan di rumah dan fasilitas kesehatan dalam rangka percepatan penurunan AKI dan AKB 7. Studi upaya peningkatan fungsi pelayanan obstetri dan neonatal emergency dasar (PONED) dan pelayanan obstetri dan neonatal emergency komprehensif (PONEK) dalam rangka akselerasi penurunan AKB dan AKI 8. Studi upaya peningkatan peran serta masyarakat dalam rangka percepatan penurunan AKI dan AKB 9. Studi upaya peningkatan kerjasama lintas sektor dalam rangka percepatan penurunan AKI dan AKB 10. Studi upaya peningkatan manajemen sistem rujukan kehamilan dan persalinan dlm rangka percepatan penurunan AKI dan AKB 76
Sejarah dan Profil Puslitbang Sisjakkes

11. Analisis kebijakan pelayanan kesehatan dalam rangka akselerasi penurunan AKI dan AKB 12. Studi Upaya revitalisasi pelayanan kesehatan puskesmas dan jaringannya dalam rangka peningkatan kualitas pelayanan kesehatan 13. Studi upaya revitalisasi posyandu dalam rangka peningkatan fungsi dan kinerja posyandu 14. Analisis kebijakan dan strategi pemerintah untuk mendukung reformasi puskesmas dalam desentralisasi 15. Studi peningkatan kualitas pelayanan di PPK strata I dan PPK rujukan Tk I pada kasus rawat inap pasien JPKMM 16. Kajian Tentang Harga Obat yang rasional untuk pelayanan kesehatan dasar

G S 3 ( Meningkatkan sistem survailans, monitoring dan informasi kesehatan ) dengan Judul Litbang : 1. Studi perbandingan Ideal Anggaran UKM dan UKP di Tingkat Kabupaten /Kota 2. Dikerjakan oleh Puslitbang lain (ESK)

G S 4 ( Meningkatkan pembiayaan kesehatan )dengan Judul Litbang : 77
Sejarah dan Profil Puslitbang Sisjakkes

1. Studi optimalisasi anggaran pembangunan kesehatan kab/kota 2. Studi perbandingan ideal anggaran UKM dan UKP di Tk. kab/kota 3. Review Systematic Program Jaminan Kesehatan Masyarakat Miskin tahun 1999- 2005 4. Studi Optimalisasi anggaran Pembiayaan Kesehatan di kabupaten/kota

Upaya Kompetensi : 1. Pelatihan : • Health System Research (HSR) • Advokasi untuk kebijakan kesehatan • Kesehatan reproduksi • Analisis kebijakan kesehatan • Pengobatan dan obat Tradisional • Pengobatan akupunktur • Manajemen mutu yankes • Building Learning Organization (BLO) • Economic analysis • Burden of Diseases • Farmakoepidemiologi 2. Fasilitasi/pendampingan: • Desentralisasi (HWS, PDK) 78
Sejarah dan Profil Puslitbang Sisjakkes

3. 6. HASIL LITBANGKES 5 TAHUN TERAKHIR

PENELITIAN TAHUN 2004 : 1. Pengembangan sistem Pelayanan Kesehatan di Kab/Kota Berkaitan dengan Pelaksanaan Otonomi Daerah (Tahap III : Implementasi Puskesmas Dengan Otonomi Luas) 2. Evaluasi Paket/Upaya Peningkatan Kapabiiitas Pembiayaan dan Penganggaran Bidang Kesehatan dalam rangka Otonomi Daerah (Tahap III: Tahap Implementasi dan Evaluasi) 3. Pengembangkan Model Kemitraan Dalam Komite Kesehatan Kabupaten/Kota (District Health

Council) sebagai Suatu Bentuk Pemberdayaan Masyarakat di Bidang Kesehatan (Tahap III) 4. Evaluasi Kemampuan Manajerial SDM Kesehatan di Kabupaten/Kota dalam Era Desentralisasi

(evaluasi Implementasi) 5. Pengembangan Kapasitas Advokasi Sektor

Kesehatan dalam Otonomi Daerah (Tahap III)

79
Sejarah dan Profil Puslitbang Sisjakkes

6. Efektifitas Pemanfaatan Dokter dan Paramedis Perawatan di Puskesmas Perawatan dan Non Perawatan 7. Model Pembinaan Pengecer Obat Tradisional Terkait Penyalahgunaan Bahan Kimia Berkhasiat Obat (Studi Kasus di 2 Kota Propinsi Jawa Tengah dan 2 Kota/Kabupaten Propinsi Jawa Timur) 8. Pengembangan Model Peningkatan Kinerja

(Performance) Puskesmas di Daerah Terpencil 9. Pengembangan Model Peningkatan Pemanfaatan Pelayanan Keluarga Antenatal Miskin di dan Persalinan ( oleh Tahun

Pedesaan

pertama : need assessment ) 10. Intervensi Pemberdayaan Masyarakat melalui Penumbuh kembangan Upaya Kesehatan yang Berbasis Masyarakat Miskin di Pedesaan dalam rangka "Making Pregnancy Safer" 11. Analisis Efektifitas Program Jaminan Pemeliharaan Kesehatan Bagi Keluarga Miskin (JPK-Gakin) dalam Pelaksanaan PKPS-BBM Bidang Kesehatan 12. Beban Penyakit (Burden of Disease) dan Umur Harapan Hidup Produktif (Healthy Life Expectancy)

Perkiraan Nasional dan Tujuh Kawasan di Indonesia 80
Sejarah dan Profil Puslitbang Sisjakkes

13. Kebutuhan Kesehatan Dasar Masyarakat Pasca Gawat Darurat Kompleks dalam Memampukan Sistem Kesehatan Indonesia pada Wilayah

Spesifik: Suatu Tanggapan PENELITIAN TAHUN 2005 : 1. Evaluasi Tindak Lanjut Pelatihan Building Learning Organization 2. Kajian Pemanfaatan dan Pemeliharaan Sarana dan Alat Kesehatan di Rumah Sakit dan Puskesmas 3. Pengembangan Sistem Kesehatan Daerah Kabupaten / Kota 4. Pengembangan Jaringan Kerja Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM), Asosiasi dan Dunia Usaha dalam Upaya Pembangunan Kesehatan di Kabupaten/Kota. 5. Pengembangan Peran dalam Peningkatan Kinerja Joint Health Council (JHC) dan District Health

Committee (DHC) Pembangunan Kesehatan Daerah 6. Studi pengembangan Kapasitas Litbang Kesehatan di Daerah Provinsi Kalimantan Timur (Analisis situasi) 7. Pengembangan Model Rekruitmen dan Pendayaguna -an Tenaga Paramedis .di Daerah Terpencil.

81
Sejarah dan Profil Puslitbang Sisjakkes

8. Pengembangan Kesehatan Pasca

Prototipe Bencana

Sistem (Studi

Pelayanan Kasus di

Kabupaten Aceh Besar, Niasdan Alor) 9. Penyempumaan Sistem Informasi Kesehatan df Kabupaten /Kota 10. Asesmen Kinerja dan Pelaksanaan Urusan Wajib Standar
Pelayanan Minimal (UW-SPM) sektor kesehatan Kabupaten dan Kota

11. Studi Systematic Review : Penelitian-penelitian Puslitbang Pelayanan dan Teknologi Kesehatan tahun 2005. (Studi tentang desentralisasi dan kebijakan kesehatan) 12. Assessment penyelenggaraan posyandu.

PENELITIAN TAHUN 2006 : 1. Pengembangan "Desa Siaga" Dalam Rangka

Penanganan Masalah Kedaruratan Kesehatan 2. Upaya Revitalisasi Pelayanan Kesehatan Puskesmas dan Jaringannya Dalam Rangka Meningkatkan Kualitas Pelayanan Kesehatan 3. Study Upaya Revitalisasi Posyandu Dalam Rangka Peningkatan Fungsi danKinerja Posyandu

82
Sejarah dan Profil Puslitbang Sisjakkes

4. Kajian Pelaksanaan Kegiatan Pembinaan Kesehatan Reproduksi untuk Mempercepat Penurunan AKI danAKB 5. Analisis Kebijakan dan Strategi Pemerintah untuk Mendukung Desentralisasi 6. Upaya Peningkatan Akses Terhadap Informasi dan Pelayanan KB Berkualitas dalam rangka Reformasi Puskewsmas dalam

Pwenurunan AKI dan AKB 7. Upaya Peningkatan Rujukan Persalinan oleh Tenaga non Profesional dalam Rangka Percepatan Penurunan AKI dan AKB 8. Upaya peningkatan Cakupan dan Kualitas Pelayanan Antenatal di Daerah Miskin Perkotaan dan Pedesaan dalam Percepatan Penurunan AKI danAKB 9. Upaya Peningkatan Koordinasi Pelayanan

Kesehatan Reproduksi dan Pelayanan Penyakit Infeksi Menular Seksual & HIV/AIDS di Puskesmas untuk mempercepat penurunan AKI & AKB 10. Upaya peningkatan Manajemen Pertolongan

Persalinan dan Pasca Persalinan oleh Bidan di Rumah dan Fasilitas Kesehatan 11. Upaya Peningkatan Fungsi Pelayanan Obstetri dan Neonatal Emergensi Dasar (PONED) dan Pelayanan 83
Sejarah dan Profil Puslitbang Sisjakkes

Obstetri dan Neonatal Emergensi Komprehensif (PONEK) Dalam Rangka Akselerasi Penurunan AKB dan AKI 12. Upaya peningkatan Peran Serta Masyarakat Dalam Rangka Akselerasi Penurunan AKI dan AKB 13. Upaya Peningkatan Kerjasama Lintas Sektor Dalam Rangka Percepatan Penurunan AKI dan AKB 14. Upaya Peningkatan Manajemen Sistem Rujukan Kehamilan dan Persalinan Dalam Rangka Percepatan Penurunan AKI dan AKB 15. Analisis kebijakan Pelayanan Kesehatan Dalam Rangka Akselerasi Penurunan AKI dan AKB 16. Studi Tentang Peran Serta Masyarakat, Lintas Sektor dan Swasta Dalam Rangka Revitalisasi Posyandu. 17. Studi Upaya Pengembangan Posyandu Mandiri di Propinsi Jawa Tengah 18. Analisis Pembiayaan Puskesmas (Study di Kabupaten Pacitan dan Ponorogo) 19. Studi Upaya Peningkatan Kualitas Pelayanan

Kesehatan Dasar di Puskesmas 20. Studi Analisis Pembiayaan Posyandu Mandiri 21. Studi Sistem Pembayaran (PPK) Penyelenggaraan Rujukan Jaminan

Pelayanan

Kesehatan 84

Kesehatan Masyarakat Miskin
Sejarah dan Profil Puslitbang Sisjakkes

22. Pengembangan Model PeningkatanKinerja Sistem Kesehatan Kab./Kota sesuai dengan SKN dan SKD 23. Studi Peningkatan Kualitas Pelayanan di PPK Starta I dan PPK Rujukan Tk.I Pada Kasus Rawat Inap Pasien Jaminan Kesehatan Masyarakat Miskin. 24. Kajian Tentang Harga Obat yang Rasional untuk Pelayanan Kesehatan Dasar. 25. Studi Perbandingan Ideal Anggaran UKM dan UKP di Tingkat Kabupaten/Kota 26. Studi Optimalisasi Anggaran Pembangunan Kesehatan di Kabupaten/Kota 27. Review Sistematis Program Jaminan Kesehatan Masyarakat Miskin Tahun 1999-2005 28. Pengetahuan sikap, perilaku Ibu terhadap kelainan refraksi anak Sekolah Dasar Krembangan I Surabaya 29. Pengetahuan,sikap,perilaku penduduk usia 40 tahun keatas terhadap kelainan refraksi di Dupak Surbaya 30. Analisis perilaku beresiko dan determinan penyakit Non Comunicable Disease (NCD) di Indonesia 31. Tingkat disabilitas fisik dan psikososial ditinjau dari jenis gangguan, perilaku beresiko, social ekonomi dan demografi

85
Sejarah dan Profil Puslitbang Sisjakkes

32. Analisis factor-faktor yang mempengaruhi tingkat kepuasan penderita rawat jalan dan rawat inap di Indonesia 33. Improving Maternal Health in Eastern Indonesia (IMHEI) 34. Data Quality Self Assessment (DQS) 35. Penelitian Jaminan Kesehatan Masyarakat Miskin PENELITIAN TAHUN 2007- 2008 : Pada tahun ini dilaksanakan penelitian besar secara nasional yaitu : Riset Kesehatan Dasar atau Riskesdas 2007/2008. Penelitian ini dalam satu kesatuan koordinasi oleh Badanlitbangkes dimana P3SKK berperan sebagai Korwil3 yang mencakup Wilayah Timur Indonesia. Semua peneliti dibawah Badanlitbangkes dikerahkan untuk turun lapangan menangani riset tersebut.

86
Sejarah dan Profil Puslitbang Sisjakkes

87
Sejarah dan Profil Puslitbang Sisjakkes

3. 7. KEGIATAN KERJASAMA DENGAN INSTANSI LAIN ( M.O.U. ) DALAM BIDANG KESEHATAN

No 1

INSTITUSI Puslitbang Yantekkes dg Satria Nusantara (Lab Tenaga Dalam) Puslitbang Sisjakkes dg Yayasan Pendidikan Netra Utama ( AROS) P3SKK dg DPD PAKSI Prop. Jatim ( Lab. Akupuntur) P3SKK dg Yayasan Hotline

WAKTU 2003-2008

KEGIATAN Pelayanan & Penelitian.

2.

2003-2010

Pendidikan

3.

1990-2009

Pelayanan dan Diklat

4.

2002-2008

Pelayanan Konseling Kesehatan Reproduksi Penelitian dan pengembangan Tenaga Kesehatan Akupuntur Pelayanan Kesehatan Mata Masyarakat

5.

P3SKK dg Yayasan Natura Husada Surabaya

2005-2009

6.

P3SKK dg BKMM

1992-2008

88
Sejarah dan Profil Puslitbang Sisjakkes

7.

P4TK dg Perhimpunan Dokter Spesialis Andrologi Indonesia (PERSANDI) Cab. Jatim P4TK dg RSUD dr.Soetomo, FK UNAIR & Pemerintah Kab. Barito Utara. P4TK dg UBAYA ( PUSDAKOTA )

2002-2007

Pelayanan & Penelitian

8.

2003-2008

Pengembangan Sistem Kesehatan Kabupaten Konseling Pra Nikah Tukar menukar informasi Tdk ada Kegiatan Pelayanan Obtra untk kanker

9.

2002-2007

10. P4TK dg UNBRAW

1999-2004

11. P4TK dg Univ Katolik Widya Mandala 12. P4TK dg Yayasan Kanker Wisnuwardhana (YKW) 13. P4TK dg Program ASA perwakilan Jatim

2000-2005

1999-2002

2003-2008

Saling memanfaatkan kemampuan di bid kesehatan reproduksi khususnya HIV/AIDS

89
Sejarah dan Profil Puslitbang Sisjakkes

14. P4TK dg Program Pendidikan Dokter (UNISMA)

2004-2009

Diklat, Pengabdian Masyarakat dan Pembangunan Kesehatan Forum Kesehatan Reproduksi, pertemuan ilmiah, penelitian Penelitian

15. P4TK dg JEN

2003-2003

16. P4TK dg Dinkes Kab. Sumenep 17. P4TK dg Badan Diklat Prop Jatim

2003-2003

2003-2003

Diklat untk Ka Dinkes dan Ka Puskesmas -

18. P4K dg UNAIR 19. P4K dg yayasan Pengabdian Andhab Asor (Lab Puslitbang Yankes Masyarakat Pulau Madura) 20. Badan Litbangkes dg ITS 21. Puslitbang YanKes dg RS Bethesda Yogyakarta

1990-2003 1992-1993

1993-1998

-

1995-1998

-

90
Sejarah dan Profil Puslitbang Sisjakkes

22. Puslitbang, Kanwil, RSUD dr.Soetomo dan Poloteknik Elektronika ITS

1995-1998

dlm rangka pengembangan pendidikan kelas jauh ATEM jakarta di Surabaya -

23. Memorandum of Understanding between Faculty of Human Development Victoria University of Technology Australia and Health Services Research and Development Centre of Surabaya Indonesia

1997-1997

3. 8. MUSEUM KESEHATAN Dalam sejarah upaya perjuangan bangsa Indonesia untuk membangun negerinya, sudah banyak sekali karya nyata yang sangat bermanfaat bagi kehidupan masyarakat luas. Namun seringkali kepedulian terhadap aset sejarah tersebut diabaikan, sehingga banyak bukti peninggalan yang sangat berharga untuk informasi dan pengembangan pengetahuan yang tidak terdokumentasikan dengan baik, bahkan banyak yang hilang. 91
Sejarah dan Profil Puslitbang Sisjakkes

Oleh karena itu keberadaan berbagai museum kini mulai banyak dikembangkan.. Tetapi masih jarang sekali museum yang mengkoleksi khusus upaya perjuangan kesehatan terpadu dari jaman ke jaman. Puslitbang Sisjakkes memiliki Museum Kesehatan Dr.Adhyatma,MPH, yang merupakan Museum Kesehatan milik Depkes RI satu-satunya. Museum ini dirintis sejak 92
Sejarah dan Profil Puslitbang Sisjakkes

tahun 1990 dan diresmikan pada tahun 2004 dengan SK Menkes No. 1012/MENKES/ SK/IX/2004. Pemaparan materi koleksi museum menempati ruangan gedung yang cukup luas. Dan dibuka untuk umum pada jam kerja, berfungsi sebagi wahana wisata ilmiah, kajian pengetahuan, dan penelitian iptek kesehatan. Secara umum koleksi museum menggambarkan segala upaya manusia pada jaman silam hingga jaman kini untuk mempertahankan hidup dengan memelihara kesehatan diri dan lingkungannya, baik secara tradisonal maupun dengan cara modern, baik berdasarkan ilmu pengetahuan barat maupun budaya timur. Didalam Museum selain koleksi benda asli, tiruan atau replikasi, foto, gambar, dan lain-lainnya, juga dilengkapi dengan Perpustakaan khusus museum, menyajikan koleksi berupa buku, majalah, kaset, video, dan lain-lain yang memungkinkan untuk studi pendalaman. Penyajian koleksi museum kesehatan dipaparkan dalam ruang pamer kusus yang disebut SASANA , yakni : 1.Sasana Adhyatma, 2.Sasana Sejarah, 3.Sasana Genetika, 4.Sasana Kencana, 5.Sasana Kesehatan Reproduksi,

6.Sasana Budaya Kesehatan, 7.Sasana Medik & Non Medik. 8. Sasana Daur Ulang, 9.Sasana Flora & Fauna.

93
Sejarah dan Profil Puslitbang Sisjakkes

4. KENANGAN UNTUK DIRENUNGKAN
Sekian tahun telah berlalu, alangkah telah banyak berubah. Kalau dulu di Jl. Indrapura 17 dan sekitarnya banyak terdapat manusia bernapas dalam lumpur-

kemaksiatan, dan khayalan sebagai taman firdausi, kini tempat itu telah menjadi pusat kegiatan ilmiah untuk pengembangan pemikiran demi kemanusiaan. Bukan

firdausi kayalan lagi, melainkan sebuah oase dimana manusia benar-benar menginjakkan kakinya di atas bumi yang nyata, penuh kegairahan kerja dengan otak, hati dan cita-citanya. Sebuah oase di tengah padang tandus

penderitaan rakyat, dimana tiap-tiap manusia Indonesia, terutama rakyat kecilnya, mendambakan percikan air kesejahteraan hidup yang dihasilkan untuk membasahi kekeringan jiwa-raganya. Sebuah oase yang tidak akan kekeringan "tirta amerta", bahkan semoga akan semakin melimpah sepanjang masa. Dan kini saatnya kita membuka hati mengenangkan kembali tahun demi tahun yang lewat itu, maka tampaklah membayang di dinding pelupuk mata kita “para purna-wira karya-utama” yang telah merintis pekerjaan mulia yang kita warisi sekarang ini. 94
Sejarah dan Profil Puslitbang Sisjakkes

Deretan nama-nama bapak Prof. Dr. Soetopo, lbu G. Soetopo, Bapak Dr. Goenawan, Bapak Dr. Wasito, Bapak Dr. Sarnanto, lbu Dr. Soerti Gondosoebarjo, Bapak Soewandi, Bapak Abdul Kadir, Bapak Boentarman, Bapak Wibisorio, Bapak Sosrokoesoemo, dan seterusnya, namanama itu tidak mungkin terhapus dari jasa-jasanya. Sebagaian besar dari beliau telah wafat. Dengan kepergian beliau-beliau sungguh kita merasa kehilangan. Kita

tundukkan kepala, kita panjatkan doa kehadirat yang Maha Kuasa, semoga arwah-arwah beliau mendapatkan tempat kedamaian abadi setelah menunaikan pengamalan ilmu dan cita-citanya untuk masyarakat, bangsa, negara dan

kemanusiaan. Dibalik itu terkandung harapan amat besar semoga kita sebagai generasi penerus mampu mewarisi keteladan mereka demi bangsa kita. Bapak Prof. Dr. Soetopo, Maha Putra klas III RI, pencetus ide pertama pendirian gedung lembaga kita dengan segala kesibukan di dalamnya, pemimpin pertama yang mengelolanya menjadi pusat kegiatan ilmiah dalam bidang kesehatan rakyat, beliau di hari tuanya, walaupun fisik cacat, namun masih tetap aktif dalam profesinya sebagai pengemban amanat penderitaan rakyat penuh dedikasi dan kecintaannya. Beliau juga yang merintis dan memimpin sebuah Badan “Pendidikan anak-anak Tuna Netra” yang 95
Sejarah dan Profil Puslitbang Sisjakkes

didirikannya sendiri, dan kemudian dinamakan Yayasan Pendidikan Anak-anak Buta (YPAB). Bapak Prof. Dr. Soetopo , dalam jabatannya sebagai pemimpin Lembaga Pusat Penyelidikan dan Pemberantasan Penyakit Kelamin, maupun sebagai Ketua Yayasan Pendidikan Anak-anak Buta (YPAB), beliau selalu didampingi oleh lbu G. Soetopo dengan setianya. Dua sejoli ideal di dalam rumah tangga maupun di luarnya sebagai pengabdi kemanusiaan. Bapak Dr. Wasito, Bapak Dr. Sarnanto, lbu Dr. Soerti, ketiga beliau inipun terukir ditempat terhormat. Dalam wreda-usianya masih saja penuh gairah mengabdikan ilmunya, cita-citanya dan dedikasinya kepada negara, bangsa dan masyarakat, tidak mengenal lelah. Sudah sepatutnya deretan nama-nama itu di perpanjang lagi dengan menyebutkan semua yang telah membaktikan dirinya dalam rintisan karya yang mulia. Kalau dalam buku kecil ini tidak akan mampu memuatnya, lubuk hati kita cukup luas untuk mencatat semua itu. Kita catat nama-nama itu dalam lubuk hati kita dengan perasaan bangga dan terima kasih. Sebagai generasi penerus sudah selayaknya tergugah sanubarinya untuk meneruskan etos kerja yang telah diteladani tersebut, untuk kita kembangkan dan kita tingkatkan sesuai dengan tantangan situasi dan kemajuan jaman. 96
Sejarah dan Profil Puslitbang Sisjakkes

Kemudian akhirnya marilah kita berdialog dengan kolbu kita masing-masing, bertanyalah pada dirimu sendiri : ” demi kemanusian apa yang telah aku darma baktikan untuk bangsa dan negaraku ini ?” Kemudian sang kolbupun menjawab : ” Jawabnya bukan dengan kata tetapi dengan karya nyata yang berguna ”. MOSIK TRUS MANGISTI PRAJNA MANAKRA SANDHI MABUKA SWASTHA Terus memutar otak mencari ilmu dan kebajikan menguak takbir rahasia hidup menggapai kesejahteraan manusia

97
Sejarah dan Profil Puslitbang Sisjakkes

DAFTAR PUSTAKA
Pembukaan Gedung Pusat Penyelidikan dan Pemberantasan Penyakit Kelamin, 1953, VD Research Institute Indonesia, Soerabaja The First Two Years Development of the Venereal Disease Research Institute of Indonesia, 1953, VD Research Institute Indonesia, Soerabaja Djuru Patek Manusia dan Pekerdjaannja, 1953, VD Research Institute Indonesia, Soerabaja Panca Warsa Lembaga Pusat Penyelidikan dan Pemberantasan Penyakit Kelamin, 1956, Lembaga Pusat Penyelidikan dan Pemberantasan Penyakit Kelamin, Surabaja. Pidato Peringatan 5 tahun, 1956, Lembaga Pusat Penyelidikan dan Pemberantasan Penyakit Kelamin , Surabaja Sambutan Gubernur Djawa Timur pada Upacara Timbang Terima Djabatan Pimpinan LP4K , 1958, Lembaga Pusat Penyelidikan dan Pemberantasan Penyakit Kelamin, Surabaja Pidato Penerimaan Djabatan Pimpinan LP4K, 1958, Lembaga Pusat Penyelidikan dan Pemberantasan Penyakit Kelamin, Surabaja Sekilas Pusat Penelitian dan Pengembangan Pelayanan Kesehatan, 1991, Pusat Penelitian dan Pengembangan Pelayanan Kesehatan, Surabaya. Laporan Tahunan Puslitbang Pelayanan dan Teknologi Kesehatan Tahun 2005, 2006, Puslitbang Pelayanan dan Teknologi Kesehatan, Surabaya Laporan Tahunan Puslitbang Sistem dan Kebijakan Kesehatan Tahun 2006, 2007, Puslitbang Sistem dan Kebijakan Kesehatan, Surabaya

98
Sejarah dan Profil Puslitbang Sisjakkes

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->