Puisi Asrul Sani

Asrul Sani (lahir di Rao, Sumatra Barat, 10 Juni 1926, meninggal di Jakarta, 11 Januari 2004) adalah seorang sastrawan dan sutradara film asal Indonesia. Menyelesaikan studi di Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Indonesia (1955). Pernah mengikuti seminar internasional mengenai kebudayaan di Universitas Harvard (1954), memperdalam pengetahuan tentang dramaturgi dan sinematografi di Universitas California Selatan, Los Angeles, Amerika Serikat (1956), kemudian membantu Sticusa di Amsterdam (1957-1958). Bersama Chairil Anwar dan Rivai Apin, ia mendirikan "Gelanggang Seniman" (1946) dan secara bersama-sama pula menjadi redaktur "Gelanggang" dalam warta sepekan Siasat. Selain itu, Asrul pun pernah menjadi redaktur majalah Pujangga Baru, Gema Suasana (kemudian Gema), Gelanggang (1966-1967), dan terakhir sebagai pemimpin umum Citra Film (1981-1982). Asrul pernah menjadi Direktur Akademi Teater Nasional Indonesia, Ketua Lembaga Seniman Budayawan Muslimin Indonesia (Lesbumi), anggota Badan Sensor Film, Ketua Dewan Kesenian Jakarta, anggota Dewan Film Indonesia, dan anggota Akademi Jakarta (seumur hidup). Karyanya: Tiga Menguak Takdir (kumpulan sajak bersama Chairil Anwar dan Rivai Avin, 1950), Dari Suatu Masa dari Suatu Tempat (kumpulan cerpen, 1972), Mantera (kumpulan sajak, 1975), Mahkamah (drama, 1988), Jenderal Nagabonar (skenario film, 1988), dan Surat-Surat Kepercayaan (kumpulan esai, 1997). Buku mengenai Asrul: M.S. Hutagalung, Tanggapan Dunia Asrul Sani (1967) dan Ajip Rosidi dkk. (ed.), Asrul Sani 70 Tahun, Penghargaan dan Penghormatan (1997). Di samping menulis sajak, cerpen, dan esai, Asrul juga dikenal sebagai penerjemah dan sutradara film. Terjemahannya: Laut Membisu (karya Vercors, 1949), Pangeran Muda (terjemahan bersama Siti Nuraini; karya Antoine de St-Exupery, 1952), Enam Pelajaran bagi Calon Aktor (karya Ricard Boleslavsky, 1960), Rumah Perawan (novel Yasunari Kawabata, 1977), Villa des Roses (novel Willem Elschot, 1977), Puteri Pulau (novel Maria Dermount, 1977), Kuil Kencana (novel Yukio Mishima, 1978), Pintu Tertutup (drama Jean Paul Sartre, 1979), Julius Caesar (drama William Shakespeare, 1979), Sang Anak (karya Rabindranath Tagore, 1979), Catatan dari Bawah Tanah (novel Fyodor Dostoyeski, 1979), Keindahan dan Kepiluan (novel Yasunari Kawabata, 1980), dan Inspektur Jenderal (drama Nicolai Gogol, 1986). Film yang disutradarainya: "Pagar Kawat Berduri" (1963), "Apa yang Kau Cari, Palupi" (1970), "Salah Asuhan" (1974), "Bulan di Atas Kuburan" (1976), "Kemelut Hidup" (1978), "Di Bawah Lindungan Kaabah" (1978), dan lain-lain. Tahun 2000 Asrul menerima penghargaan Bintang Mahaputra dari Pemerintah RI.

DONGENG BUAT BAYI ZUS PANDU

Sintawati datang dari Timur, Sintawati menyusur pantai la cium gelombang melambung tinggi la hiasi dada dengan lumut muda, la bernyanyi atas karang sore dan pagi, Sintawati telah datang dengan suka sendiri

Sintawati telah lepaskan ikatan duka Sintawati telah belai nakhoda tua, Telah cumbu petualang berair mata Telah hiburkan perempuan-perempuan bernantian di pantai senja

Jika turun hujan terlahir di laut Berkapalan elang pulang ke benua Sintawati telah tunggu dengan wama biang-lala, Telah bawa bunga, telah bawa dupa

Sintawati mengambang di telaga gunung, Dan panggil orang utas yang beryakinkan kelabu Telah menakik haruman pada batang tua, Telah dendangkan syair dari gadis remaja

Sintawati telah menyapu debu dalam kota Telah mendirikan menara di candi-candi tua, Sintawati telah bawa terbang cuaca,

.... datang. Di balik rimba kelam. Sintawati telah datang ... mari kemari! Aku laksamana dari lautan menghentam malam hari Aku panglima dari segala burung rajawali Aku tutup segala kota. Naga malam. akan kenal bahagia Tiada takut pada pitam. ... jadi hutan mati Tapi aku jaga supaya janda-janda tidak diperkosa Budak-budak tidur di pangkuan bunda siapa kenal daku... Tiada takut pada kelam ..........Karena Sintawati senantiasa bercinta Sintawati datang dari Timur.! MANTERA Raja dari batu hitam. Aku jadikan belantara... aku sabar segala api. Sinta datang ...

Biar mereka pesta dan menari Meningkah rebana Aku akan bernyanyi. Mari kemari. Mari ke mari.pitam dan kelam punya aku Raja dari batu hitam. Naga malam. Mari kemari! Jaga segala gadis berhias diri. mari! ANAK LAUT Sekali ia pergi tiada bertopi . Di balik rimba kelam. Akan bercinta dengan tiada akhir hari Raja dari batu hitam. Engkau berjaga daripada api timbul api Mereka akan terima cintaku Siapa bercinta dengan aku. Naga malam. Di balik rimba kelam.

Awan tiada menutup mata dan hatinya rindu melihat laut terbentang biru "Sekali aku pergi dengan perahu ke negeri jauhan dan menyanyi kekasih hati lagu merindukan daku" "Tenggelam matahari Ufuk sana tiada nyata bayang-bayang bergerak perlahan aku kembali kepadanya” Sekali ia pergi tiada bertopi Ke pantai landasan matahari Dan bermimpi tengah hari Akan negeri di jauhan .Ke pantai landasan matahari Dan bermimpi tengah hari Akan negeri di jauhan Pair dan air seakan Bercampur.

ORANG DALAM PERAHU Hendak ke mana angin buritan ini membawa daku sedang laut tawar tiada mau tahu dan bintang. Laut lepas Aku lepas Hendak ke mana angin buritan membawa daku ON TEST . tiada pemberi pedoman tentu Ada perempuan di sisiku sambil tersenyum bermain-main air biru memandang kepada panji-panji di puncak tiang buritan dan berkata "Ada burung camar di jauhan!” Cahaya bersama aku Permainan mata di tepi langit akan hilang sekejap waktu Aku berada di bumi luas.

coba Di sana kata Tidak hanya punya kita Dan cinta mungkin kabur Dalam kabut debu Dan hidup menderu Melingkungi engkau dan aku Jalan panjang Sampai di mana dunia terkembang? Mata terlalu Singkat untuk itu Panjang jangan reka Tujuan jangan terka Pandang. di sana ada mereka.Engkau akan kubawa pergi Dari candi ini Ke tempat di mana manusia ada Coba. Di sana ada mereka Engkau akan kubawa pergi Dari candi ini Ke dunia: hidup air-dan-api ELANGLAUT .

pergi ke sarangnya Apakah ia tahu juga. .Ada elang laut terbang senja hari antara jingga dan merah surya hendak turun. makin nyata Sekali ini jemu dan keringat tiada akan punya daya tapi topan tiada mau dan rnengembus ke alam luas Jatuh elang laut ke air biru. bahwa panggilan cinta tiada ditahan kabut yang rnenguap pagi hari? Bunyinya menguak suram lambat-lambat mendekat. ke atas runyam karang putih. Satu-satu akan jatuh rnembangkai . tenggelam dan tiada tirnbul lagi Rumahnya di gunung kelabu akan terus sunyi.

ke bumi. bayi-bayi kecil tiada bersuara Hanya anjing. berkata pemukat tua: "Anjing meratapi orang mati!" Elang laut telah hilang ke lunas kelam topan tiada bertanya hendak ke mana dia Dan makhluk kecil yang membangkai di bawah pohon eru. malam hari meraung menyalak bulan yang melengkung sunyi Suaranya melandai turun ke pantai Jika segala senyap pula. anakku sayang pergi ke dunia bebas! Selama angin masih angin buritan . tiada pula akan berkata: "Ibu kami tiada pulang" SURAT DARI IBU Pergi ke dunia luas.

dan matahari pagi menyinar daun-daunan dalam rimba dan padang hijau Pergi ke laut lepas. anakku sayang pergi ke alam bebas! Selama hari belum petang dan warna senja belum kemerah-merahan menutup pintu waktu lampau Jika bayang telah pudar dan elang laut pulang ke sarang angin bertiup ke benua Tiang-tiang akan kering sendiri dan nakhoda sudah tahu pedoman boleh engkau datang padaku! Kembali pulang. anakku sayang kembali ke balik malam! Jika kapalmu telah rapat ke tepi Kita akan bercerita “Tentang cinta dan hidupmu pagi hari" PENGAKUAN Akulah musafir yang mencari Tuhan Atas runtuhan gedung dan dada yang remuk Dalam waktu tiada kenal berdiam dan samadi Serta kepercayaan pada cinta yang hilang bersama kabut pagi .

Dari seorang pencari rupa. karena tiada percaya Karena lelah. Karena murtad. dari dunia dan dari Tuhan Ah. Dalam negeri batu retak Lalang dan api yang siap bertemu Suatu kisah sedih dari sandiwara yang lucu. Dari rupa yang tiada lagi dikenalmya .Akulah yang telah berperi Tentang kerinduan akan penyelesaian yang tamat. Menyayangkan air mata berlinang dari kembang kerenyam yang kering Sedang kota-kota dan rumah-rumah bamboo lebih rendah dari wajah lautan Satu-satu masih terbayang antara pelupuk mata telah hampir terkatup. Tuhan yang berkata Akulah musafir yang mencari Tuhan. karena tiada punya ingatan. Lazuardi yang kering Bagaimana aku masih dapat. Suatu lukisan dari deru air berlayar atas lunas berganti-ganti bentuk Dari suatu lembah gelap dan suram Menguapkan kabut mati dari suatu kerahasiaan. bumi yang mati. Dari manusia.

Perawan ringan. 22 Februari 1949 VARIASI ATAS SUATU TANGGAPAN-SESAAT Petandang mendendangkan kuda kampung di jalan sunyi Pada malam yang jatuh kerut merut ke bumi Serta rindu dendam dan matahari Nanti berakhir pada burung bernyanyi. sampai Datang lagi godaan: "Akulah musafir yang mencari Tuhan” Bogor. dan budakkecil sunyi sendiri Lamban jatuh tali-temali . Biarkanlah lampu-lampu kelip Lebih samar dari sinar surya senja Kita akan bermain. Dan berlupalah sebentar akan kehabisan umur Marilah bermain Marilah berjalin tangan Jangan ingat segala yang sedih. perawan riang J Berlagulah dalam kebayangan Berupawarena Berupa wareni. Dan tidur pulas.

.Dan berduka camar yang bertengger di tiang tinggi Serta rindu dendam gelombang dan matahari Nanti berakhir pada arus tiada berperi. tetapi waktu singkat Lambai kekasih! Putar kemudi dan mari berlari Kuda dan camar telah berlepas dari yang sementara Dan kini larut dari lesu dan kerja Kita juga tidak lagi mau perduli. dan pemukat sunyi sendiri Ambillah keluhan dan buang segala sedu-sedan Berlupa sementara akan keliling yang mengikat Dan kita mau berlepas untuk suatu kenyataanmerdeka. Selamat saat masih sibuk dengan asmara sendin Jangan tunggu sampai kuda kampung bebas dari bersunyi. kenangan! Tiada lagi Jalan kembali telah terkunci. Ada ruang dalam kelemahan malam untuk persiapan besok pagi! POTRET SENDIRI AKHIR TAHUN '50 Tiada lagi. Burung camar tiada lagi bertengger di tiang tinggi. Harga besar. Pasir mersik beterbangan melarikan jejak kaki.

kalau betul ada hati la merasa kasihan dengan tiada perlu Dalam mencari kawan baru Aku hanya ingin menafaskan udara lain Orang liwat jurang dan tinggalkan dataran Jika hasil adalah: belati tadi ada di sisi sekarang tertancap di dada sendiri Maka kata akhir bukan lagi padaku Hasil boleh datang kapan ia mau . mata ikuti sosok tubuhku. Kaki berpasang-pasangan. di lorong-lorong tiada lagi terdengar pekikan Toh aku mesti jalan.Tulang-tulang dada sampai meranggah. Berderik merih karena cekikan Tetapi pandangan terakhir telah terlupa Memang kota yang kudekati. Tapi ini mata pun mata mati mati dari mulut yang tiada akan bercerita lagi Ada hati. telah kelabu tenggelam dalam peresapan Serta perburuan si pongang telapak pada dinding dan ruh-ruh yang telah penasaran Jalan-jalan lengang.

Begitulah ajaran Keadilan abadi. Bumi menepati janjinya. Dia berdaya cipta: engkau boleh mengatakan dia bukan ciptaan. Pujianku bukan memuji-Mu. Karena jenisku bukan jenis Rajaku. Karena pujian itu wujud. egoku musnah (fana') demi Ego-Nya. TUHAN DI ATAS PUJIAN Jika sinar Yang Maha Bijak menyambar tanah dan lempung Mau menerima benih. 508 SAAT BERSATU Aku tak sama dengan Sang Raja – bahkan jauh berbeda – meskipun kuperoleh cahaya dari sinar-Nya. I. Wahai Engkau yang Rahmat-Mu mengajari gumpalan yang tak berakal. Di musim semi seluruh simpanan ia keluarkan kembali. Yang kemurkaan-Mu membutakan hati dan penglihatan batin. Mas. O Tuhan Yang Mahakuasa. Keserbasamaan bukanlah dalam hal bentuk dan esensi: air menjadi serba-sama dengan tanah dalam tetumbuhan.J Rummi Jika secara lahir isterimu yang kauatur. amarah dan gairah nafsu adalah sifat binatang. Cinta dan kelembutan adalah sifat manusia. maka secara batin engkaulah yang diatur isterimu yang kaudambakan itu Inilah ciri khas Manusia: pada jenis binatang lain cinta kurang terdapat. Nabi bersabda bahwa wanita mengungguli orang bijak. Wanita adalah seberkas sinar Tuhan: dia bukan kekasih duniawi. dan mewujud itu dosa. sedangkan laki-laki yang sesat mengunggulinya. karena pada mereka kebuasan bintang tetap melekat. . dan itu menunjukkan rendahnya derajat mereka. Puisi Oleh: Jalaluddin Rumi.

bukan di Bulgaria bukan di Saqsin.Egoku musnah. aku bukan seorang Gabar maupun seorang Yahudi. Kepribadian-diri menjadi debu: hanya bekasnya tampak pada cap kaki-Nya di atas debu. Bukan dari Firdaus ataupun Ridwan aku jatuh. bukan pula dari Adam aku bernenekmoyang. aku dibentuk bukan dari debu maupun embun. Di suatu tempat yang ada di balik tempat. harus aku sampaikan isyarat karunianya itu. Aku bukan ditempa dari api ataupun busa. bukan di Surga atau di Neraka. Dia sajalah yang tinggal: aku mengepul seperti debu di bawah kaki kuda-Nya. matahari di Langit Keempat menyembunyikan diri karena malu. Bukan di dunia ini atau di dunia sana Aku tinggal. Rumahku bukan di Timur ataupun di Barat. Sejak namanya hadir ke dalam hidupku. Bukan di India. di suatu bidang tanpa jejak dan hayang. dengan nama Tuhan apa yang harus kuperbuat kini? Aku tidak menyembah Salib ataupun Sabit. Ia berkata: ”Demi persahabatan kita yang telah bertahun-tahun. yang bersungai lima. bukan di Irak ataupun di Khurasan aku tumbuh dewasa. Jiwa dan tubuh yang meninggi aku tinggal di dalam jiwa Kekasihku Yang Maha Esa! DOKTRIN TENTANG DIAM Jika berita datang dari wajah Syamsuddin. Aku lahir bukan di Cina yang jauh. . karena aku tak tahu tentang diriku. bukan di daratan maupun di lautan. ceritakanlah salah satu dari kegembiraan yang luar biasa. aku tak bersanak-keluarga dengan Malaikat ataupun jembalang. Jiwaku merenggut jubahku: ia menangkap parfum gamisnya Yusuf. Jadilah debu di bawah kaki-Nya demi cap-kaki itu dan jadilah laksana mahkota di atas kepala Sang Kaisar! TAK TAHU Lihatlah.

Bagaimana aku dapat – tanpa sadar – melukiskan Sang Teman yang tanpa tolak bandingnya itu? Penggambaran tentang luka hati yang sepi ini sebaiknya kutunda hingga lain waktu.” Ia berseru: ”Ceritakanlah dengan jelas dan terus terang tanpa kebohongan: jangan membuatku menunggu. apabila seseorang yang belum kembali ke kesadaran memaksakan diri untuk berperan sebagai pembual. Mintalah. I. yang menyebabkan dunia ini bersinar. 123 .” Aku berkata: ”Apabila Dia harus telanjang dalam pandanganmu. lebih dekat sedikit saja. Wahai teman: bukan cara kebiasaannya untuk berkata besok. tapi mintalah secara wajar: sehelai jerami takkan dapat menyangga sebuah gunung. supaya akal dan ruh serta penglihatan dapat meningkat seratus kali. semua yang ada akan terbakar. Mas. apakah engkau bukan seorang Sufi? Apa yang ada di tangan jadi habis berkurang karena tertundanya pembayaran? Aku berkata kepadanya: ”Lebih baik rahasia Teman tetap tersamar: dengarkanlah karena ia termasuk dalam isi cerita. kepandaianku tumpul. Aku tak berpakaian ketika tidur bersama Yang Maha Terpuji. aku tak tahu bagaimana memuji. takkan tahan dada dan pinggangmu. Janganlah mencari kesulitan dan kerusuhan serta pertumpahan darah: janganlah bicara lagi tentang Matahari dari Tabriz!” Puisi Oleh: Jalaluddin Rumi.” Aku berkata: ”Janganlah meletakkan tugas kepadaku. Jika Matahari.” Ia menyahut: ”Berilah aku makanan. karena waktu (waqt) adalah sebilah pedang yang tajam. dan cepatlah. karena aku lapar. karena aku telah hilang dari diriku (fana). Maka. Sufi adalah anak sang ’waktu’ (ibnul-waqt). O orang yang lalai! Angkatlah selubung dan bicaralah terus terang.Agar bumi dan langit dapat tertawa dengan gembira. Lebih baik rahasia para pencinta diceritakan (secara alegoris) dalam pembicaraan orang lain. Adalah tak pantas.

Namun cinta kepada yang mati takkan bertahan lama: ketika hari-hari berkabungnya telah berlalu. besi jadi bagai lilin di tangannya. namanya jamad (tidak berjiwa): jamid berarti ”beku”. Gunung-gunung bertasbih bersama Nabi Dawud. Puisi Oleh: Jalaluddin Rumi. tidak pernah ia menciumnya. Sebegitu rupa. engkau terpesona dan mengungkapkan seluruh rahasiamu kepadanya. seakan selama hidup sang anak tersayang. hanya tinggal abunya. di atas tanah segar makam anaknya. Bagai seorang ibu. daya tarik itu disebabkan oleh Cinta! Dengan mesra dan penuh air mata. Dan di dalam hatinya percaya sang anak mendengarkannya. maka sebaiknya engkau kenali sifat sejati setiap partikel alam semesta. di depan kuburan anaknya yang baru meninggal dunia. Cinta membawa pergi pesonanya: apinya pun hilang. karena dilanda dukacita. Di depan matamu mereka menghidupkan bayangan Sang Kekasih.DAYA TARIK CINTA Cinta dan khayalan menciptakan ribuan bentuk indah seperti Yusuf. Mas. Tunggulah sampai terbitnya matahari Kebangkitan. 3260 TUHAN DI DUNIA Dunia itu beku. Lihatlah. tongkat Nabi Musa menjadi seekor naga dalam pandangan kita. Jika Dia menurunkan mereka ke dunia kita. sehingga engkau dapat menyaksikan gerakan tubuh dunia. Yang dari satu sisi mereka tampak mati. V. berulang kali dengan bijak ia letakkan bibirnya. ia membayangkan tanahnya menjadi hidup. kobaran dukacitanya pun lenyap. sesungguhnya mereka adalah ahli sihir yang lebih mahir daripada Harut dan Marut. Berbicara kepadanya benar-benar dan sungguh-sungguh. . O tuan. dari sisi lainnya mereka hidup: di sini diam. Karena Tuhan menciptakan Manusia dari debu. di Sana berbicara.

III. tidak dapat terbang serta mencari padang ilalang bagai belalang. kami adalah benda mati. bagaimana sesuatu yang organik berubah menjadi tumbuhan? Bagaimana tumbuhan akan mengorbankan diri demi memperoleh ruh (hewani)? Bagaimana ruh (hewani) akan mengorbankan diri demi nafas (Ruh) yang menghamili Maryam? Semua itu akan menjadi beku dan kaku bagai salju. adalah lagu pujian Keagungan pada Tuhan. Puisi Oleh: Jalaluddin Rumi. Mas. Mendakilah dari dunia benda ke dunia ruh. Rembulan mematuhi isyarat yang diberikan Muhammad. sesungguhnya. Ketahuilah langit berputar karena gelombang Cinta: andai tak ada Cinta. dengarkan suara keras dari alam semesta. Mas. “Kami mendengar dan melihat serta mematuhi. orang yang belum mengetahui.Angin menjadi kendaraan bagi Sulaiman. Puisi Oleh: Jalaluddin Rumi. Mereka semua berseru. dunia akan membeku. api unggun (Namrud) menjadi taman mawar bagi Ibrahim. 3853 TEKA-TEKI TUHAN . meskipun bagi kalian. langit hanyalah serpihan buih belaka. Bila bukan karena Cinta. Cita-cita mereka yang tak terdengar. Setiap atom jatuh cinta pada Yang Maha Sempurna dan naik ke atas laksana tunas. 1008 CINTA: LAUTAN TAK BERTEPI Cinta adalah lautan tak bertepi. laut pun paham apa yang Tuhan titahkan pada Musa. Maka engkau akan mengetahui bahwa Tuhan diagungkan oleh segala benda mati: kesangsian yang dibuat para penafsir palsu tidak akan memperdayakanmu. V.

Dalam kitab lainnya dia berkata: ”Asketisme adalah sia-sia di Jalan ini tiada keselamatan kecuali hanya melalui kasih-sayang. masing-masing dari awal hingga akhir saling bertentangan. Apakah wahyu itu? Sebuah suara yang tak tertangkap oleh tanggapan pancaindera. . Dia-lah Tujuan dari ibadahmu. Kalau pikiranmu tak terganggu. Puisi Oleh: Jalaluddin Rumi. Wahai anakku. 1456 DUABELAS AJARAN INJIL Sang musuh agama ’Isa menyusun duabelas Kitab Injil. Lalu turunlah wahyu pada pendengaranmu.”Akan atau tidakkah kulaksanakan apa yang telah Dia ceritakan kepadaku?” Dengan Takdir Tuhan salah satu dari kedua pilihan itu akan memiringkan pertimbangan. Agar engkau dapat memahami teka-teki-Ny serta membaca tanda-tanda baik yang samar maupun yang jelas nyata. Dalam kitab yang satu dia menjadikan asketisme dan puasa sebagai sumber penyesalan dan syarat keselamatan.Siapa saja yang kebingungan dan kesulitan. bukan sebongkah awan: Atau. Mas. dan dia menyetujuinya. jangan kau sumbat pendengaran ruhanimu dengan kapas mentah.” Dalam kitab lainnya dia berkata: ”Baik pengekangan nafsumu maupun kasihsayangmu menyatakan bahwa engkau menghubungkan kedua aktivitasmu ini dengan-Nya. Kata ”paksaan” (jabr) membuat diriku tak sabar demi Sang Cinta: hanya orang yang mencintailah yang tak terbelenggu oleh paksaan. hanya mereka yang mata-hatinya telah dibukakan oleh Tuhan-lah yang mengetahui arti paksaan yang sebenarnya. Tuhan telah membisikkan sebuah tekateki ke dalam telinganya. bukan paksaan: cahaya dari bulan. yang mendorong kita ke dosa. bukanlah paksaan biasa: ia bukanlah paksaan yang didesak oleh keinginan-diri. I. apabila ia paksaan. Sehingga dia mungkin menjebaknya dalam dua kesangsian pikiran. Inilah hubungan akrab dengan Tuhan.

Dalam kitab lainnya dia berkata: ”Perintah-perintah dan larangan-larangan Tuhan itu bukan untuk dilaksanakan.” Dalam kitab lainnya dia berkata: ”Carilah seorang guru untuk mengajarimu: di antara berbagai sifat yang berasal dari leluhur engkau tidak akan menemukan pengetahuan melihat ke masa depan.” Dalam kitab lainnya dia berkata: ”jangan padamkan kemampuan pencerapan pancaindera: ia dapat menerangi jalan menuju perenungan yang paling dalam. jangan menjadi hamba manusia! Ambillah jalanmu sendiri. kau akan memadamkan lampu penyatuan di tengah malam.Selain tawakal dan pasrah sepenuhnya kepada Tuhan dalam kesengsaraan maupun kegembiraan.” Dalam kitab lainnya dia berkata: ”Lupakanlah keduanya: apapun yang mencakup pencerapan pancaindera adalah berhala.” Dalam kitab lainnya dia berkata: ”Bagaimana seratus bisa menjadi satu? Dia yang beranggapan begitu sesungguhnya gila. Apabila engkau terlalu cepat membuang sensasi dan fantasi. bagaimana bisa terdapat banyak ajaran yang berbeda? Dalam kitab lainnya dia berkata: ”Jadilah manusia. jangan sibuk mengembara mencari seorang guru!” Dalam kitab lainnya dia berkata: ”Semua bentuk yang bermacam-macam itu hanya satu: siapapun yang melihatnya ganda adalah orang-orang yang matanya rusak.” Dalam kitab lainnya dia berkata: ”Engkau harus berbakti kepada Tuhan.” Dalam kitab lainnya dia berkata: ”Padamkanlah ia – jangan takut – agar engkau dapat ribuan kali lipat penglihatan sebagai gantinya. Hati-hatilah! Pandanglah kekuatanmu dan ketahuilah bahwa Dia Yang Maha Mutlak yang memberikannya kepadamu. Karena dengan memadamkannya.” . gagasan tawakal kepada-Nya adalah mencurigakan. semuanya adalah kebohongan dan perangkap belaka. Sehingga kita dapat mengenal kelemahan kita dan mengakui kekuatan Yang Maha Kuasa.” Setiap golongan agama hanya meramalakan tujuan sebagaimana diri mereka memahaminya: akibatnya mereka jatuh menjadi tawanan ketakutan. Dalam kitab lainnya dia berkata: ”Jangan pikirkan kelemahanmu: memikirkannya merupakan suatu perbuatan yang tidak berterima kasih. cahaya ruhmu bertambah tak terhingga: dengan mengorbankan kepentinganmu sendiri Layla (Kekasih)-mu menjadi Majnun (pencinta)-mu. Untuk meramalkan tujuan tidaklah semudah menyilangkan kedua belah tangan: bila tidak. melainkan hanya untuk menunjukkan ketidakmampuan kita untuk memenuhinya.

Ada yang tetap tak terkisah. kemudian waspadalah! Tutuplah telingamu. engkau pergi dari hadapan dirimu ke hadapan dirimu Dan mendengar dari dirimu bahwa apa yang engkau pikirkan diceritakan secara rahasia kepadamu oleh seseorang dalam mimpi. I. kemudian dengar! Tidak. 463 MASAKLAH SEMUANYA” Karena engkau tak mampu mengemban Cahaya yang terbuka. perjalanan mutlak. karena engkau masih mentah. namun aku ingin memberimu sebuah tanda. mereka akan kehilangan cabang. namun Ruh Qudus akan menceritakan kepadamu tanpa aku sebagai perantara. Yang daripadanya pakaian dari seratus celupan akan muncul sederhana dan satu warna sebagaimana cahaya. Namun ketika mereka ranum dan menjadi manis serta lezat – maka. Puisi Oleh: Jalaluddin Rumi. minumlah kata-kata Hikmah. ketika engkau tertidur. Bukan. karena untuk Istana mereka belumlah pantas. engkau masih dalam musim semimu. engkau akan menceritakannya kepada telingamu sendiri – bukan aku ataupun orang lain. tanpa angkasa. Bagaimana engkau datang? Engkau datang secara tak sadar.Orang yang tidak paham akan kesucian ’Isa: dia bukanlah yang dikaruniai lautan kimia dari tong ’Isa. Jalan kedatanganmu tak engkau ingat. Serta melintasi langit laksana sebuah bintang. Hingga akhirnya engkau mampu menerima Cahaya. dan melihat apa yang kini tersembunyi tanpa kerudung. Biarkanlah pikiranmu pergi. Buah-buah yang masih mentah melekat erat pada cabang pohon. sebaiknya aku tak bercerita. karena cahayanya terselubung. Dunia ini laksana pohon: kita adalah laksana buah yang setengah matang melekat padanya. . Sama seperti kerajaan duniawi yang akan kehilangan kelezatannya bagi mereka yang mulutnnya telah menjadi manis oleh kebahagiaan yang tiada terkira. bukan. engkau tak dapat melihat musim panas. Demikianlah engkau menjadi ada dari ketiadaan. Mas. Wahai engkau yang bersatu denganku – Seperti.

tapi sanggup mereka rasakan degub kebangkitan jilbab yang seolah berasal dari dasar bumi Para malaikat Allah tak memiliki bahasa dan budaya. Janganlah berbicara. sama pentingnya dengan keputusasaan kaum gelandangan. tapi dari galaksi mereka seakan-akan terdengar suara: ini tidak main-main! ini lebih dari sekedar kebangkitan sepotong kain! Para malaikat Allah seolah sedang bercakap-cakap di antara mereka kebudayaan jilbab itu. ada yang tidak bisa tidak bersungguh-sungguh Sedemikian pentingkah gerakan jilbab di negeri itu? O. bersungguh-sungguhkah mereka? O. Janganlah berbicara. 1286 Lautan Jilbab Para malaikat Allah tak bertelinga.Wahai teman yang baik. III. amatilah dengan teliti: ada yang bersungguh-sungguh. sehingga Ruh mau bercakap padamu: dalam bahtera Nabi Nuh berhentilah berenang! Puisi Oleh: Jalaluddin Rumi. hingga engkau dapat mendengar dari Sang Pembicara apa yang tak dapat diucapkan atau dibayangkan. Mas. tapi mereka menyaksikan derap langkah beribu jilbab Para malaikat Allah tak punya jantung. ada yang akan bersungguh-sungguh. tapi mereka mendengar suara nyanyian beribu-ribu jilbab Para malaikat Allah tak memiliki mata. engkau bukanlah ”engkau” semata: engkau adalah langit dan lautan yang dalam. Kekuasaan ”Engkau”-mu yang maha luas adalah lautan yang di dalamnya ribuan ”engkau” tenggelam. sama pentingnya dengan kematian jiwa orang-orang malang . sama pentingnya dengan kekecutan hati semua kaum yang tersingkir.

kelahiran sejati justru dari rahim kebobrokan. alam dalam diri manusia. lihatlah ummat-ummat berjilbab. berseliweran melintas-lintas ke berjuta arah di seputar bumi Para malaikat Allah yang amat lembut sehingga seperjuta atom tak sanggup menggambarkannya Para malaikat Allah yang besarnya tak terkirakan oleh matematika ilmu manusia sehingga seluruh jagat raya ini disangga di telapak tangannya Tergetar. yang memerlukan cahaya pedoman. dari dzikir jiwa dan kepalan tangan Para malaikat Allah yang jumlahnya tak terhitung. kebangkitan yang murni justru dari himpitan-himpitan alamkah yang melahirkan gerakan itu atau manusia? O. tergetar sesaat. lihatlah rakyat manusia berjilbab.yang dijadikan alas kaki sejarah Bagaimana mungkin ada kelahiran di bawah injakan kaki Dajjal? bagaimana mungkin muncul kebangkitan dari rantai belenggu kejahiliyahan? O. hanya ketololan yang menemukan jilbab sekedar sebagai pakaian badan lihatlah perlahan-lahan makin banyak manusia yang memakai jilbab. lihatlah Siapapun saja yang memerlukan perlindungan. alam tak diperkenankan sungguh-sungguh tunduk di bawah kelicikan tuan-tuannya Apakah burung-burung ababil akan menabur dari langit untuk menyerbu para gajah yang durjana? O. Alam tak boleh benar-benar takluk oleh setajam apapun pedang peradaban manusia. burung-burung ababil melesat keluar dari kesadaran pikiran. oleh raungan sukma dari bumi Para malaikat Allah seolah bergemeremang bersahut-sahutan di antara mereka apa yang istimewa dari kain yang dibungkuskan di kepala? O. yang memerlukan genggaman keyakinan. lihatlah kaum lelaki berjilbab. lihatlah mereka semua berjilbab .

Adakah jilbab itu semacam tindakan politik. mata kami nangis darah Hidup adalah mendaki pundak orang-orang lain . kaki kami terperosok di pagar-pagar jalan protokol peradaban ini buku-buku pelajaran memakan kami tontonan dan siaran melahap kami iklan dan barang jualan menggiring kami panggung dan meja-meja birokrasi mengelabui kami mesin pembodoh kami sangka bangku sekolah ladang-ladang peternakan kami sangka rumah ibadah mulut kami terbungkam. proses pencarian kami jilbab ini percobaan keberanian di tengah pendidikan ketakutan yang tertata dengan rapi jilbab ini percikan cahaya dari tengah kegelapan. alotnya kejujuran di tengah hari-hari dusta jilbab ini eksperimen kelembutan untuk meladeni jam-jam brutal dari kehidupan jilbab ini usaha perlindungan dari sergapan-sergapan Dunia entah macam apa. seolah memantulkan suara-suara: Jilbab ini lagu sikap kami. menyerimpung kami kerakusan dengan ludah berbusa-busa. mengotori wajah kami langkah kami terhadang. tinta keputusan kami. langkah-langkah dini perjuangan kami jilbab ini surat keyakinan kami. semacam perwujudan agama. menjaring kami kekuasaan entah dari napsu apa. atau pola perubahan kebudayaan? Para malaikat Allah yang bening bagai cermin segala cermin. jalan panjang belajar kami. menyergap kami sejarah entah ditangan siapa.

dimanipulir oleh rumusan-rumusan palsu yang memabukkan tak ada perlindungan bagi padamnya matahari hak kehendak kami yang diranjau maka inilah jilbab. keputusan. yang dirajam. keberanian dan istiqamah. kami dininabobokan kaum cerdik pandai suntuk mencari permaafan atas segala kebobrokan kaum ulama sibuk merakit ayat-ayat keamanan para penyair pahlawan berkembang menjadi pengemis tidak ada perlindungan bagi kepala kami yang ditaburi virus-virus tak ada perlindungan bagi akal pikiran kami yang dibonsai tak ada perlindungan bagi hati nurani kami yang dipanggang diatas tungku api congkak kekuasaan tungku api kekuasaan yang halus. dinurani dan jiwaraga kami Ini jilbab ilahi rabbi. kami ditidurkan ketika hari bertiup. pembeda antara haq dan bathil jarak antara keindahan dengan kebusukan batas antara baik dan buruk. jilbab yang mengajarkan ilmu menapak dalam irama ilmu untuk tidak tergesa. lembut dan kejam Tak ada perlindungan bagi iman kami yang dicabik-cabik dengan pisau-pisau beracun tak ada perlindungan bagi kuda-kuda kami yang digoyahkan oleh keputusan sepihak yang dipaksakan tak ada perlindungan bagi akidah kami yang ditempeli topeng-topeng.hari depan ialah menyuap. disuap kalau matahari terbit kami sarapan janji kalau matahari mengufuk. inilah jilbab! Ini furqan. ilmu tak melompati waktu dan batas realitas . benar dan salah kami menyarungkan keyakinan dikepala kami menyarungkan pilihan. kami dikeloni janji kalau pagi bangkit. menyuap. disuap.

ac. menerobos ke masa depan yang kasat mata lautan jilbab! lautan jilbab! gelombang perjuangan. sedang menghimpun akal sehat menabung hati bening. para malaikat allah yang suaranya tak bisa didengarkan oleh segala macam telinga.id/gsdl/cgi-bin/library?e=d-00000-00---0skripsi--00-1--0-100---0---0prompt-10---4-------0-1l--11-en-50---20-about---00-3-1-00-11-1-0utfZz-800&a=d&d=HASH124f2fc0fad6348cd3f772&showrecord=1 . kemenangan demi kemenangan Para malaikat Allah yang lembut melebihi kristal. selangkah demi selangkah. berbisik-bisik di antara mereka Wahai! anak-anak tiri peradaban! anak-anak jadah kemajuan dan perkembangan! anak-anak yatim sejarah. luka pengembaraan.ilmu bernapas setarikan demi setarikan. tak mungkin bisa dihentikan wahai! sunyi telah memulai bicara! http://digilib.unnes. hikmah demi hikmah rahasia demi rahasia.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful