Kekuatan Gaya dalam KaryaJudul : Stilistika Kajian Puitika Bahasa, Sastra, dan Budaya Penulis : Prof. Dr.

Nyoman Kutha Ratna Tebal : x-xi, 480 halaman Penerbit : Pustaka Pelajar Yogyakarta, 2009 HIDUP di dunia tak mungkin tanpa gaya. Dengan gaya, hidup menjadi lebih variatif. Dengan variasi, hidup menjadi lebih menggairahkan. Dengan mengandaikan bahwa sebuah karya (sastra) itu hidup, penuh daya vitalitas, sebagaimana puisi-puisi Chairil Anwar, maka kekuatan gaya ikut bermain di dalamnya. Karenanya, gaya setiap genre karya sastra dari pengarang yang satu dengan yang lain dalam periode tertentu, selalu berbeda. Perbedaan gaya pengarang dapat menjadi ciri pemerlain yang bisa merangsang pembaca atau penikmat menemukan cara dan daya ungkap yang inspiratif bagi kehidupan bermasyarakat. Agar gaya yang digunakan bisa menginspirasi, pengarang perlu memahami ilmu gaya bahasa yang disebut stilistika. Dengan memahami stilistika, pengarang memiliki modal untuk mengaplikasikan rasa dan rasio ke dalam karyanya. Sampai saat ini, buku yang secara khusus membicarakan stilistika, masih sangat langka. Kelangkaan itu bagi Kutha Ratna adalah peluang yang dapat membangunkan kegelisahan akademikanya sehingga lahirlah bukunya keenam, yaitu "Stilistika Kajian Puitika Bahasa, Sastra, dan Budaya". Sebelumnya, telah terbit lima bukunya. Secara intertekstual, keenam buku Kutha Ratna itu berhubungan satu sama lain dalam melihat sastra dari konteks sosial budaya sehingga dapat dijadikan referensi untuk membedah karya sastra dari usnur ekstrinsik tanpa melupakan unsur instrinsik. Pun dengan buku ini yang dari judulnya saja, penulis tampaknya hendak menyaturagakan bahasa, sastra, dan budaya dalam sekali hembusan napas. Hal ini logis karena sastra menggunakan bahasa sebagai medium penyampaian, sedangkan bahasa adalah salah satu unsur universal dari kebudayaan manusia menurut Kuntjaraningrat. Namun demikian, sebagai judul besarnya, buku ini memberikan porsi lebih pada stilistika dalam pembahasannya. Buku yang terdiri dari 9 bab ini, 7 bab isinya ikhwal stilistika dikaitkan dengan ilmu humaniora khususnya bahasa sastra dan budaya. Hal ini bisa dicermati dalam bab I sampai bab VIII, kecuali bab IV dan bab IX. Bab IV memfokuskan perhatian pada proses kreatif, karya sastra, dan peranan masyarakat pembaca. Sementara itu, bab IX bertajuk kesimpulan yang berisi rangkuman terhadap 8 bab sebelumnya. Lebih lanjut, buku ini berusaha mengajak pembaca keluar dari model tradisional dalam menganalis karya sastra sekaligus menemukan cara-cara berbeda dalam analisis sehingga memberikan horizon harapan baru bagi studi sastra khususnya dan studi humaniora pada umumnya. "Menemukan arah baru, sekaligus model penelitian dengan teori stilistika kontemporer, stilistika postmodern" (hal. 2). Dengan demikian, kesan monoton dan monolitik sebagai bagian dari upaya penyeragaman dalam kajian sastra berubah ke arah kajian yang mengedepankan keberagaman analisis yang memberikan warna baru bagi pengembangan studi humaniora.

Hanya ada satu bab yang membincangkan stilistika dan analisis karya sastra. maka buku ini adalah buku pertama yang membahas secara khusus tentang stilistika dalam bahasa Indonesia oleh pakar sastra Indonesia. Shipley. susah dibedakan antara gagasan pribadi penulisnya dengan gagasan ahli yang dikompilasi. dan mengidentifikasi ciriciri khas stilistika sastra dengan cara menemukan identitasnya dalam karya sastra. Hough. Lain dengan Darma Putra. jika mengacu pada fungsi pengarang (penulis) dalam terminologi Barthes. Kutha Ratna tampaknya banyak mengompilasi pemikiran Barat. Hal ini paling tidak mencerminkan dua hal terhadap proses kreativitas penulisnya. vi). terkesan takut keluar dari bahasa yang ditradisikan oleh ilmuwan kampus. buku ini juga menelusuri sejarah perkembangan stilistika dari Barat sampai Indonesia. untuk melihat persoalan Timur. Perbedaan ini berkaitan dengan perkara gaya dan selera. karena perannya sebagai kompilator dalam menulis buku. Peran kompilator juga mewarnai hampir semua buku susunan Kutha Ratna. dengan latar belakang akademis plus jurnalis. buku ini juga minim contoh bagaimana stilistika dioperasikan dalam analisis bahasa dan budaya sesuai dengan judulnya. terbit di Malaysia berjudul Stilistik: Satu Pengantar (1989) dengan menggunakan ragam bahasa Melayu. Dengan gaya seorang kompilator. Dalam Kata Pengantar buku ini disebutkan. sebagai penulis. Pertama. Kutha Ratna adalah orang yang terbuka dengan pemikiran Barat. belum ada buku teks yang secara khusus berbicara mengenai stilistika" (hal. . Tokoh-tokoh Barat yang dirujuk seperti Fowler. orang yang mengumpulkan dan menambahkan hal-hal tertentu (hal. Teori digali dari barat. Ini adalah konsekuensi dari seorang akademikus yang suntuk memperdalam teori sastra dan budaya. kajian yang dibuatnya menjadi lincah. Dengan mengompilasi pemikiran sarjana barat dan timur. Teeuw menandakan betapa kecilnya perhatian sarjana Indonesia terhadap kajian di bidang stilistika. selain buku yang ditulis oleh Umar Junus.Selain itu. mencoba membedakan titik perpisahan antara stilistika bahasa dengan sastra. tetapi objek yang dikaji adalah karya sastra dari negeri sendiri. tanpa melupakan pemikiran Timur. Dengan cara itu. 95). pergaulan akademik dibangun melalui teks yang menjadi objek kajian. Pemikiran Barat Betapa pun buku ini menawarkan model penelitian dengan teori stilistika kontemporer. Murry. di samping juga latar belakang penulis. Konsekuensi dari pemaknaan itu membuat Kutha Ratna tampil dengan gayanya sendiri dalam menulis buku. Kutha Ratna dengan latar belakang akademis murni yang berkutat lebih banyak di dunia teori sastra dan budaya telah membatasi diri dalam gaya baku penulisan. Kutha Ratna tidak lebih dari seorang kompilator. maka gaya (menulis) yang dilakoninya pun terasa baku kaku. kajian stilistika yang dibincangkan dalam buku ini. Selain itu. Kutha Ratna telah membangun jembatan persahabatan dengan konvergensi pemikiran tanpa dikotomi. walaupun secara implisit bahasa dan budaya sering menyatu dalam karya sastra. Kedua. Berbeda dengan Darma Putra misalnya. "Sampai saat ini. Jika mengacu pada pernyataan itu. yang lihai mengoperasionalkan teori Barat. Walaupun Kutha Ratna memiliki pijakan teori sastra yang kuat dengan referensi yang beragam dari dunia Barat dan Timur.

para pemerhati. Teori digunakan untuk memperkuat argumentasi dengan mencairkan kebekuan. atau sarana untuk komunikasi manusia yang satu dengan yang lainnya. hanya manusia yang dihukumi mempunyai bahasa karena hanya manusia yang memiliki . Dengan demikian. semua makhluk hidup (manusia. binatang. Dr. Pada dasarnya. buku ini telah menawarkan paradigma baru dalam kajian stilistika yang bisa dijadikan referensi untuk melihat persoalan gaya bahasa secara lebih komprehensif. tersampaikanlah pesan dari orang ke satu kepada orang yang lain. bahkan orang yang lain pun bisa membalas pesan tersebut kepada orang ke satu (pengirim pesan). Hal itu karena bahasa yang digunakan mampu diiterpretasi dan dipahami oleh kedua belah pihak. buku yang diterbitkan secara nasional ini. Hal inilah yang mempengaruhi pilihan gaya dalam menggunakan bahasa. Dengan bahasa. dosen. dan Budaya Penulis : Prof. sangat penting dibaca oleh para mahasiswa. Nyoman Kutha Ratna Penerbit : Pustaka Pelajar. atau peneliti yang bergulat dalam dunia sastra khususnya dan humaniora umumnya untuk menambah wawasannya dalam bergaya bahasa. yakni pengirim pesan dan penerima pesan. Walaupun demikian. alat. Sastra. Yogyakarta Cetakan : Pertama. umat manusia bisa saling berinteraksi antara satu dengan yang lainnya. Kajian Puitika Bahasa.Peresensi : Supriyadi*) Bahasa merupakan media.000. guru. Akan tetapi.seakan tidak terikat pada teori. Karenanya. dan tumbuhuan) itu berbahasa. penulis. 16 Maret 2010 | 04:28 WIB istimewa Judul Buku : Stilistika. Buku ini memberikan modal dasar membangun kekuatan gaya dalam karya. Memahami Gaya dan Keindahan Bahasa Selasa. Mei 2009 Tebal : xi + 480 halaman Harga : Rp 51.

sajak. khususnya adalah puisi. dan yang lainnya juga dapat diketahui dari bahasa yang digunakan karena dari masing-masing bahasa tersebut memiliki entitas dan cirri khas yang berbeda-beda sehingga dapat diklarifikasi. dan lain-lain. Dalam kajiannya. Batak. Nyoman Kutha Ratna dalam bukunya yang berjudul Stilistika. sementara keidahan melibatkan berbagai sarana yang dimiliki oleh gaya bahasa. dan khas pengguna bahasa. sebenarnya saling melengkapi keberadaannya. Stilistika. dinyatakan. bahkan dengan manusia. penggunaan dari gaya dan ilmu gaya itu secara luas meliputi seluruh aspek kehidupan manusia. Sunda. bahasa juga bisa digunakan dalam budaya bahasa oleh masing-masing kelompok. gaya bahasa beragam menurut adat dan budaya berbahasa masing-masing daerah. masing-masing bahasa dengan setiap periodisasinya memilki khas keindahannya. tetapi gaya tetap berada dalam aturan. Dalam sastra secara substantif. Gaya bahasa adalah cara tertentu. bagaimana segala sesuatu dilakukan. Secara sempit. menjadi suatu disiplin ilmu yang mempelajari gayagaya bahasa. gaya berbahasa. Selain sebagai alat komunikasi. Antara stilistika dan estetika. gaya dan atau ilmu gaya digunakan pada kajian bahasa dan sastra. dan diungkapakan. entah itu menggunakan isyarat atau bahasa tubuh yang sekiranya bisa dipahami. bahasa bisa menjadi sebuah karya sastra yang indah jika disusun dengan diksi (pilihan kata) yang bagus dan sarat akan makna yang mendalam. Berkaitan dengan hal itu. yakni ilmu tentang gaya bahasa. terkandung gaya (style) dan keindahan (esthetic). Sebenarnya. sebagai puitika sastra (hal. Memang benar ada kebebasan penyair. telah melahirkan berbagai karya santra. Dr. termasuk bahasa. Karya sastra yang lahir dari rahim bahasa itu antara lain. dengan tujuan tertentu. bahasa juga bisa melahirkan karya sastra yang indah. adalah termasuk sastra. Keberbedaan asal itulah yang menjadikan saling melengkapi antara keduanya. Putu Wijaya hingga Zawawi Imran juga telah . sementara estetika dari filsafat. Suatu kelompok bisa teridentifikasi dari mana asalnya dengan tutur bahasa yang digunakan. dan Budaya dengan lugas memaparkan pembahasan gaya bahasa Indonesia dalam kajian bahasa sastra dan budaya. Seluruh aspek keindahan dalam karya sastra terkandung dan dibicarakan melalui medium. Sastra. Stilistika menampilkan keindahan. Prof. 386). Stilistika lahir dari rahim retorika. Gaya bahasa (style). Orang Jawa. Indonesia. yaitu unsur-unsur gaya bahasanya. Dalam pembicaraan puisi. Dalam hal ini. binatang juga mempunyai bahasa untuk bisa berkomunikasi dengan binatang lain. Chairil anwar dengan Aku-nya membangun gaya tersendiri dalam karakter berpuisinya. Kajian Puitika Bahasa. sebagai tata sastra. Gaya lahir secara bersistem. bahasa juga merupakan identitas suatu kelompok. Meskipun demikian. cerita pendek. Terlepas dari fungsi bahasa sebagai alat komunikasi.adalah cara-cara khas bagaimana segala sesuatu diungkapkan dengan cara tertentu sehigga tujuan yang dimaksudkan dapat dicapai secara maksimal.akal pikiran untuk belajar dan mempelajari sesuatu. puisi. Meski demikian. Dengan demikian ini. gaya tidak bebas sama sekali. Orang Indonesia akan diketahui bahwa ia berasal dari Indonesia jika ia menggunakan bahasa Indonesia sesuai dengan logat bahasa Indonesia.

pengimajian kata (imagery). dan bahasa figuratif. morfologis dan sintaktis. masing-masing penyair memiliki khas yang berbeda-beda.membangun gaya dan karakternya dalam berbahasa dan mengolah bahasa menjadi karya sastra puisi. penggunaan kata-kata konkret. Kemudian periode sastra angkatan 2000-an dengan ciri postmodernisme. dan amanat (intention)] yang tercermin dalam pemakaian bahasa puisi Indonesia tahun 1990-an. Buku yang berjudul Stilistika. Bahkan masyarakat sebagai penikmat karya sastra dan pengguna bahasa. Dengan demikian. (2) Dari . dianalis juga pengungkapan struktur batin puisi [yang meliputi tema (sense). Penelitian Judul: Kajian Stilistika Puisi Indonesia Tahun 1990-an Peneliti: Ganjar Harimansyah Wijaya Pos-el: Deskripsi Fisik: Tahun: 2001 ISBN/ISSN: Sumber: Tesis (Universitas Sebelas Maret Surakarta) Subjek: Peneliti Pusat Bahasa Abstrak: Kajian stilistika terhadap puisi Indonesia ini merupakan analisis pemakaian bahasa di dalam puisi Indonesia modern periode 1990-an. Khususnya pada sastrawan dan ahli bahasa. pujannga baru (¶30-an). (1) Puisi Indonesia tahun 1990-an tidak lagi memperlihatkan pola rima akhir yang terpola. angkatan ¶60 hingga angkatan ¶70 dengan ciri sastra populer dan sastra perempuan. Begitu pun secara periodik. Sastra. Kajian Puitika Bahasa. Selain itu. Karakter yang dibangun pada masing-masing angkatan memiliki ciri tersendiri dalam melahirkan puitika karya sastra. buku ini sangat membantu dalam kajian-kajian bahasa dan sastra. Dalam beberapa kata tertentu. pemilihan kata (diksi). puitika atau karya sastra di Indonesia pun relatif berubah dari masa ke masa. Hasil kajian stilistika terhadap puisi Indonesia tahun 1990-an ini disimpulkan sebagai berikut. selain itu. nada (tone). terdapat bunyi bahasa yang mencerminkan kenyataan tertentu (ikonisitas). Pemakaian bahasa tersebut dianalisis dari aspek bunyi bahasa. Akan tetapi. yakni angkatan balai pustaka (µ20an). dan Budaya layak dijadikan referensi oleh siapa saja yang ingin mendalami stilistika sebagai analisis bahasa dan sastra yang terkait dengan budaya. Bahasa merupakan alat kounikasi. keragaman berpuisi telah lebih mengenalkan heterogenitas gaya dan keindahan. akan diajak oleh penulis untuk menyelami stilistika dari sejarahnya hingga kemunculannya di Indonesia. Periodisasi tersebut terbagi dalam beberapa masa. perasaan (feeling). serta kaitannya dengan estetika. fungsi bahasa juga bisa berupa karya sastra yang menggunakan keindahan kata yang memikat. Indonesia mempunyai bahasa Indonesia yang mana bahasa tersebut telah meahirkan karya-karya yang indah. Terlebih lagi periode sastra angkatan 2000-an seperti sekarang ini. angkatan ¶45.

riuh. puisi dalam periode ini memperlihatkan kekhasannya dalam segi-segi sintaktis yang lebih banyak menggunakan verba transitif daripada menggunakan verba intransitif. Kebanyakan. kegelapan. stilistika jika dikaitkan dengan teori sastra kurang mendapatkan perhatian. Amanat yang terkandung dalam puisi Indonesia tahun 1990-an tersirat dalam tema puisinya. baik bahasa maupun sastra. b) terdapat banyak penyebutan pronomina persona dalam puisi yang merujuk pada benda-benda yang dipersonifikasikan. (4) Hal yang menjadi keistimewaan personifikasi dalam puisi periode ini²dibandingkan dengan pemakaian metafora. berupa deskripsi berbagai jenis gaya bahasa. detik. seperti majas. dan gerak yang tampil secara bersamasama. dan 3) pengimajian lihatan. tentang kegelisahan. dan metonimi²adalah adanya kata sifat atau kata yang menggambarkan suasana tertentu yang dijadikan kata benda untuk kemudian dipersonifikasikan. Senin. Dengan demikian. stilistika lebih banyak dibicarakan dalam ilmu bahasa. (5) Puisi indonesia tahun 1990-an masih menampilkan tema-tema besar seperti tema religi. (3) Hal yang menarik dalam puisi periode ini ialah a) penggunaan bahasa daerah oleh penyair tertentu yang bukan berasal dari daerah bahasa itu. ilmu tentang penerapan kaidah-kaidah linguistik dalam penelitian gaya bahasa. terutama gaya bahasa. stilistika adalah ilmu yang digunakan untuk menganalisis suatu karya. Sikap yang dominan muncul tersebut adalah sikap pesimistis dan kemuraman dalam memandang suatu masalah itu. dengan mempertimbangkan aspek-aspek keindahannya sekaligus latar belakang sosialnya (hlm. dan pemakaian tanda baca dengan segala variasi penggunaan dan maknanya. dan terutama tema kemanusian dan kritik sosial. lengang.aspek morfologis. 1). terjadi kesenjangan pemakaian stilistika dalam ranah bahasa dan sastra. cinta. stilistika dapat dipakai untuk semua ilmu humaniora. puisi Indonesia tahun 1990-an memperlihatkan pembentukan kata yang cenderung mengikuti pembentukan kata sesuai kaidah yang ada. dengaran. Sebenarnya. kediktatoran orang kaya. b) nada sinisme dan cemooh yang diungkapkan melalui kiasan atau simbol-simbol. sejarah. dan sebagainya. Terutama di dalam kehidupan masyarakat modern dengan segala perkembangan teknologinya. Nada puisi Indonesia tahun 1990-an menampilkan a) nada ironis. jam. dan ilmu yang menyelidiki pemakaian bahasa dalam karya sastra. ilmu interdisipliner antara linguistik dansastra. stilistika dapat memasuki segala aspek kehidupan manusia (hlm.11). Stilistika merupakan ilmu tentang gaya bahasa. Di antara cara-cara yang disampaikan penulis melalui buku ini adalah (1) . Meskipun demikian. pelesapan S sebagai anafora yang berelasi noninsan (yang telah disebutkan pada klausa sebelumnya). Lebih jauh lagi. simile. Beberapa pelesapan unsur sintaktis terjadi dalam wujud tidak munculnya beberapa indikasi formal berupa subordinator atau koordinator (pelesapan konjungtor). Kutha Ratna sebagai penulis ingin memberikan penjelasan serta menjembatani kesenjangan itu. ilmu yang menyelidiki pemakaian bahasa dalam karya sastra. Dari aspek sintaktis. misalnya kata sepi. c) nada naratif yang dapat diserap melalui pengalaman penyair. d) nada perenungan yang khusuk (nada perenungan ini biasanya mengandung simbol-simbol filosofi dan religi). Oleh karena itu. 16 November 2009 Telaah Gaya Bahasa dengan Stilistika STILISTIKA adalah ilmu tentang gaya. untuk menelusuri cara-cara yang khas atau cara pengungkapan tertentu sehingga tujuan yang ingin disampaikan oleh penulis dapat dilakukan semaksimal mungkin.

Stil wacana sastra yang lebih obyektif dan ilmiah. Buku ini secara gamblang mengupas tuntas stilistika. mengganti kritik sastra yang bersifat subyektif dan impresif dengan analisis. khusus penyimpangan dan penggunaan linguistik untuk memperoleh efek khusus. Berbagai tujuan stilistika. dan (5) secara luas. dan sistem sosial. sekaligus model penelitian dengan teori stilistika kontemporer.P ertama menerangkan hubungan antara bahasa dengan fungsi artistik dan maknanya. definisi. tidak terbatas pada sastra. Keempat. dan (5) mengidentifikasi ciri-ciri khas stilistika sastra dengan cara menemukan identitasnya dalam karya sastra (hlm. relevansi teori. Dari uraian lengkap dalam buku tersebut dapat disimpulkan dalam poin berikut. sejarah. khususnya puisi. sebagai gaya bahasa. 2). keterkaitannya dengan sastra. stilistika postmodern. menggambarkan karakteristik khusus sebuah karya sastra. (4) dalam pengertian yang sesungguhnya. Bagaimanakah efek estetis yang dapat dicapai melalui bahasa? Apakah pemilihan bentukbentuk bahasa tertentu dapat menimbulkan efek estetis? Apakah fungsi penggunaan bentuk tertentu mendukung tujuan estetis?. stilistika dibicarakan dalam semua bidang ilmu pengetahuan. Kelima. (3) mencoba membedakan titik perpisahan antara stilistika bahasa dan sastra. sebagai gaya. Keenam. (Resti Nurfaidah. 391). bahkan juga seluruh aspek kehidupan manusia (hlm. dari etimologi. (4) menemukan arah baru. menjawab pertanyaan mengapa sastrawan mengekspresikan dirinya justru memilih cara khusus?. yaitu (1) di dunia barat. penikmat buku)** 83. (2) mencoba menemukan perkembangan stilistika di Indonesia. (3) stilistika merupakan bidang penelitian bahasa dan sastra atau merupakan jembatan antara puitika bahasa dan puitika sastra.menelusuri sejarah perkembangan stilistika sejak awal perkembangannya di Barat. Namun biasanya stilistika lebih sering dikaitkan dengan bahasa sastra.Kedua menentukan dan memperlihatkan penggunaan bahasa sastrawan.Ketiga. stilistika merupakan bagian dari retorika sedangkan di Indonesia retorika merupakan bagian dari stilistika. mengkaji pelbagai bentuk gaya bahasa yang digunakan oleh . stilistika merupakan wilayah penelitian sastra. (2) di Indonesia studi stilistika tidak berkembang sebagaimana diharapkan. Tujuan Stilistika Stilistika sebenarnya dapat ditujukan terhadap berbagai penggunaan bahasa. Kuntha Ratna banyak menampilkan kutipan atau contoh dari berbagai karya sastra untuk memperjelas pembahasannya. Berbagai analisis terbatas dalam kaitannya dengan majas (gaya bahasa) sementara dalam teori kontemporer majas berfungsi untuk membantu gaya bahasa.

dan gaya kalimat. kata. kita dapat juga menentukan ragamnya (genre) berdasarkan gaya bahasa teks karena kekhasan penggunaan bahasa. Sebuah karya kita perkirakan terbit pada zaman Balai Pustaka dengan memperhatikan gaya bahasa (gaya angkatan). Menentukan gaya khas seorang pengarang (sastrawan) kita seharusnya membaca dan menelaah penggunaan bahasa dalam semua karyanya. majas dan citra. Dalam Bunga Rampai Stilistika. Gaya bahasa adalah cara menggunakan bahasa dalam konteks tertentu oleh orang tertentu untuk maksud tertentu. Sesungguhnya gaya bahasa terdapat dalam segala ragam bahasa ragam lisan dan ragam tulis. . Gaya bahasa sebuah karya juga dapat mengungkapkan periode. Akan tetapi secara tradisional gaya bahasa selalu dikaitkan dengan teks sastra. polarima. struktur kalimat. Memastikan apa yang disebut gaya suatu ragam atau suatu jenis sastra tertentu. kita mengenal gaya realisme dalam karya yang lain (gaya aliran). Idrus dikenal dengan gaya bahasanya yang khas sederhana. Dalam Pengkajian Puisi Univeristas Gajah Mada. gaya bahasa pribadi seseorang. dan kalimat sehingga lahirlah gaya intonasi. Gaya bahasa mencakup diksi atau pilihan kata. Ruang Lingkup Stilistika Berbagai pakar sastra telah mengurai ruang lingkup stilistika. 4. angkatan. 9 Misalnya. Misalnya kita dapat mengenal gaya sebuah karya sebagai gaya egaliter (gaya ragam). makna yang digunakan seorang sastrawan atau yang terdapat dalam sebuah karya sastra. yaitu aspek-aspek bahasa yang ditelaah dalam stilistika meliputi intonasi. bunyi. Sudjiman (1993:13-14) menguraikan pusat perhatian stilistika adalahstyle. Pradopo (1993:10) mengurai ruang lingkup stilistika. kita seharusnya membaca dan menelaah penggunaan bahasa dalam semua karya dari ragam dan jenisnya. ragam sastra dan ragam nonsastra. Yogyakarta. kita dapat menduga siapa pengarang sebuah karya sastra karena kita menemukan ciri-ciri penggunaan bahasa yang khas. kecenderungannya untuk secara konsisten menggunakan struktur tertentu. gaya bunyi.sastrawan dalam karyanya. termasuk tipografinya. Setelah membaca sebuah karya sastra. yaitu cara yang digunakan pembicara atau penulis untuk menyatakan maksudnya dengan menggunakan bahasa sebagai saranastyle dapat diterjemahkan sebagai gaya bahasa. khususnya teks sastra tertulis. atau aliran sastranya. gaya kata. Demikian pula cara kerja untuk menentukan gaya semasa (angkatan). Misalnya.

aliran kesusastraan tertentu. Intermasa. menghayati. 1) Pengertian Stilistika 2) Sejarah Stilistika 3) Tujuan Stilistika 4) Manfaat Stilistika 5) Hubungan Stilistika dengan Disiplin Ilmu Lain 6) Metodologi Penelitian Stilistika Sastra 7) Stilistika Puisi 8) Stilistika Cerita Pendek 9) Stilistika Novel 5. Dengan demikian ruang lingkup stilistika itu sebagai berikut. 3). Manfaat Stilistika Berbagai manfaat diperoleh dari stilistika bagi pembaca sastra. struktur bahasa. Ungkapan. Pengkajian stilistika adalah meneliti gaya sebuah teks sastra secara rinci dengan sistematis memperhatikan preferensi penggunaan kata. tradisi. aplikasi dan mengambil tepat guna dalam mencapai retorika agar melahirkan efek artistik. kritikus sastra. Ia menguraikan bahwa apresiasi stilistika tiada lain usaha memahami. atau periode lainnya. frekuensi penggunaan kelas kata tertentu) atau retoris (majas dan citraan). dan sastrawan. Pribahasa. 5). . walaupun dengan redaksi yang berbeda. guru sastra. matra dan rima). cara. Aspek kalimat 4). Keenam obyek itu dibahas satu persatu secara singkat dengan sistematika bahasan. 2). 6). mengamati antarhubungan pilihan kata untuk mengidentifikasikan ciri-ciri stilistika (stilistic features) yang membedakan pengarang (sastrawan) karya. sintaksis (tipe struktur kalimat). Ciri ini dapat bersifat fonologi (pola bunyi bahasa. Dalam Apresiasi Stilistika. 10 Berdasar ruang lingkup stilistika di atas dan sebelumnya jelas terlihat persamaan. dan daftar contoh. Ranah penelitian menjadi terlalu luas. Gaya bahasa. Ranah penelitian stilistika biasanya dibatasi pada teks tertentu. Kalimat Asosiatif. leksikal (diksi. Plastik bahasa. Berdasarkan ekspresi individual kita kenal 1). Manfaat menelaah sebagai berikut. Natawidjaja (1986:5) menguraikan obyek stilistika atau ruang lingkup stilistika.

. 5) Kemampuan membedakan bahasa yang digunakan dalam satu karya sastra dengan karya sastra yang lain.1) Mendapatkan atau membuktikan ciri-ciri keindahan bahasa yang universal dari segi bahasa dalam karya sastra lebih. 2) Menerangkan secara baik keindahan sastra dengan menunjukkan keselarasan penggunaan ciriciri keindahan bahasa dalam karya sastra. 3) Membimbing pembaca menikmati karya sastra dengan baik 4) Membimbing sastrawan memperbaiki atau meninggikan mutu karya sastranya.