P. 1
makalah 2

makalah 2

|Views: 481|Likes:
Published by ziyya_elhakim

More info:

Published by: ziyya_elhakim on Sep 04, 2010
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

05/26/2013

pdf

text

original

Peningkatan mutu atau kualitas pembelajaran merupakan inti dari reformasi pendidikan
di negara manapun. Hal ini disebabkan oleh asumsi bahwa, peningkatan mutu sekolah
yang memiliki peran penting dalam peningkatan mutu pendidikan nasional, tergantung
pada kualitas pembelajaran. Namun, peningkatan kualitas pembelajaran sangat bersifat

26

kontekstual, sangat dipengaruhi oleh kondisi sosial dan kultural sekolah dan
lingkungannya. Berbagai penelitian menunjukan bagaimana bagaimana pentingnya
kondisi dan lingkungan sekolah mempengaruhi kualitas pembelajaran, seperti, dalam
penelitian tentang sekolah efektif (Purkey & Smith, 1983), kerja guru dan pembelajaran
(McLaughlin Talbert, 1993), retrukturisasi sekolah dan kinerja organisasi (Darling-
Hammond, 1996), yang semuanya ini bermuara pada suatu pernyataan “apabila ingin
meningkatkan kualitas pembelajaran, kualitas sekolah sebagai satu kesatuan dimana
pembelajaran berlangsung harus ditingkatkan”.

Sebagai lembaga internasional yang bergerak di bidang budaya dan pendidikan,
UNESCO banyak memberikan perhatian dan berupaya mendorong peningkatan mutu
sekolah di banyak negara, khususnya negara-negara sedang berkembang. Setiap tahun
UNESCO kantor Asia & Pasifik bekerjasama pemerintah China dan Thailand secara
bergantian menyelenggarakan seminar innovasi pendidikan yang difokuskan pada
peningkatan mutu sekolah. UNESCO memiliki resep bahwa untuk meningkatkan kualitas
sekolah diperlukan berbagai kebijakan, yang mencakup antara lain (UNESCO, 2001
dalam Zamroni, 2009):
1. Sekolah harus siap dan terbuka dengan mengembangkan a reactive mindset,
menanggalkan “problem solving” yang menekankan pada orientasi masa lalu, berubah
menuju “change anticipating” yang berorientasi pada “how can we do things differently”.
2. Pilar kualitas sekolah adalah Learning how to learn, learning to do, learning to be, dan
learning to live together.
3. Menetapkan standard pendidikan dengan indikator yang jelas.
4. Memperbaharui dan kurikulum sehingga relevan dengan kebutuhan masyarakat dan
peserta didik.
5. Meningkatkan pemanfaatan ICT dalam pembelajaran dan pengeloaan sekolah.
6. Menekankan pada pengembangan sistem peningkatan kemampuan professional guru.
7. Mengembangkan kultur sekolah yang kondusif pada peningkatan mutu.
8. Meningkatkan partisipasi orang tua masyakat dan kolaborasi sekolah dan fihak-fihak
lain.
9. Melaksanakan Quality Assurance.

27

Definisi tunggal kualitas sekolah yang diterima banyak fihak sulit untuk dirumuskan.
Apalagi, rumus definisi mutu sekolah amat terkait dengan tujuan dan strategi pendidikan
yang ada. Begitu pula kualitas sekolah dipersepsikan berbeda-beda menurut kepala
sekolah, guru, siswa dan orang tua siswa.

Kualitas sekolah memiliki berbagai makna. Seperti, a)bisa berupa suatu konsensus tidak
tertulis atas kondisi-kondisi sekolah, yang kemudian menjurus sekolah favorit di satu
ujung dan dan sekolah “terlihat” di ujung lain; b)kualitas input yang ada; c)kualitas
proses yang terjadi; d)kualitas kurikulum yang tercermin dalam kegiatan sekolah sehari-
hari; e)kualitas output, baik dalam bentuk pencapaian ataupun dalam bentuk “gain score”;
f)value added, dalam, arti sejauh mana sekolah secara totalitas mengalami peningkatan;
dan, g)jumlah lulusan yang diterima Perguruan Tinggi ternama. (Prof. Zamroni, 2009).

Dalam kaitan dengan mutu sekolah, UNICEF mendeskripsikan sebagai suatu kondisi
dimana: a)siswa sehat, bergizi, dan siap mengikuti proses pembelajaran dan dapat
dukungan dari orang tua siswa dan masyarakat; b)lingkungan sekolah sehat, aman, tidak
bias gender dan fasilitas belajar tercukupi; c)kurikulum sekolah menjamin siswa
mendapatkan pelajaran yang memadai, khususnya pengetahuan dan ketrampilan untuk
hidup; d)proses dilaksanakan oleh guru yang terlatih dengan menekankan pada
pendekatan “learner-centered teaching”, manajemen kelas yang berkualitas, evaluasi dan
penilaian yang tepat, dan bisa mengurangi disparitas hasil dari berbagai latar belakang
yang ada; dan, e)outcome sesuai dengan kebutuhan pembangunan nasional dan aktif
berpartisipasi dalam kehidupan masyarakat.

Namun, selama ini pembicaraan mutu sekolah cenderung dititik beratkan pada
pengetahuan dan ketrampilan yang dikuasai oleh siswa. Memang, sangat sering
dibicarakan secara filosofis dan teoritis siswa harus memiliki cipta, karsa, rasa atau siswa
memiliki otak, hati dan budi, tetapi pada akhirnya tetap saja mutu kembali pada seberapa
jauh siswa sudah menguasai pengetahuan dan ketrampilan yang telah diajarkan di
sekolah. Lebih ironis lagi, pengetahuan yang dikuasai siswapun diestimasi dengan
pendekatan yang dangkal: kemampuan menghafal.

28

Makna mutu hanya diartikan sebagai kemampuan penguasaan pengetahuan merupakan
suatu realitas. Secara sadar dan terencana kondisi ini harus diubah. Perubahan dalam
kaitan dengan mutu ini merupakan keharusan, khususnya apabila dikaitkan dengan masa
depan, era baru abad 21. Mereka yang tidak mau berubah akan menjadi terasing dan
tertinggal zaman. Dengan puitis, Eric Hoffer (1971) pemikir berkebangsaan Amerika
Serikat menyatakan: “In times of change, learners inherit the Earth, while the learned find
themselves beautifully equipped to deal with a world that no longer.” Seorang ahli
pendidikan, lebih spesifik tokoh manajemen dan kebijakan pendidikan, Michael Fullan
(1994), menegaskan bahwa perubahan tidak dapat dihindarkan. Banyak pendidik terbawa
arus perubahan masa depan, dengan berbagai euphoria, tetapi tidak menyadari masa
depan itu sendiri, dengan lebih senang mempertahankan status quo. Fullan mengingatkan
dengan keras bahwa “yesterday’s scores will not win tomorrow’s ball games.” Oleh
karena itu, “if you are not part of the future, you’re history!”. Berkaitan dengan
perubahan di dunia pendidikan, futurist Alvin Toffler (1999) menegaskan bahwa: “The
illiterate of the 21st century will not be those who cannot read and write, but those who
cannot learn, unlearn, and relearn.”

Pendidikan berfungsi untuk mempersiapkan generasi baru mampu hidup dan sukses
menjalani kehidupan di masa depan, maka sekolah harus memahami dan
mengidentifikasi kompetensi apa yang diperlukan untuk masa depan itu. Jose J. Soto
(2005) mengidentifikasi kompetensi yang diperlukan di abad 21 bagi kehidupan
masyarakat yang mulkultural, antara lain: a)memiliki integritas pribadi yang kokoh
dengan memegang teguh etika bertanggung jawab bagi kemajuan masyarakatnya dan
memegang teguh etika dalam perilaku pribadi dan profesionalnya; b)menjadi a learning
person, senantiasa memperluas dan memperdalam pengetahuan dan skills yang dimiliki;
c)memiliki kemampuan berkerjasama dengan segala perbedaan yang dimiliki;
d)menguasai dan memanfaatkan ITC; dan, e)mampu mengambil keputusan yang
senantiasa berlandaskan kepentingan masyarakat luas.

Lembaga lain, UNESCO menekankan pada empat pilar sebagai kemampuan dasar yang

29

harus dihasilkan oleh dunia pendidikan. Keempat pilar tersebut adalah: a)learning to do
(solve daily problems); b)learning to know (keep learning); c)learning to be (ethically
responsible) and d)learning to live together (the ability to respect and work with others).
Dalam suatu seminar berkaitan dengan reformasi pendidikan untuk meningkatkan
pendidikan yang bermutu, Kay (2008) menganalisis perkembangan yang akan terjadi di
abad 21 dan mengidentifikasi kompetensi apa yang diperlukan dan menjadi tugas
pendidikan untuk mempersiapkan warga negara dengan kompetensi tersebut.

Terdapat 5 kondisi atau konteks baru dalam kehidupan berbangsa, yang masing-masing
memerlukan kompetensi tertentu. Yakni, a)kondisi kompetisi global (perlu kesadaran
global dan kemandirian), b)kondisi kerjasama global (perlu kesadaran global,
kemampuan bekerjasama, penguasaan ITC), c)pertumbuhan informasi (perlu melek
teknologi, critiacal thinking & pemecahan masalah), d)perkembangan kerja dan karier
(perlu Critical Thinking & pemecahan masalah, innovasi & penyempurnaan, dan,
fleksibel & adaptable), e)perkembangan ekonomi berbasis pelayanan jasa, knowledge
economy (perlu Melek informasi, Critical Thinking dan pemecahan masalah).

Jadi menurut Kay diatas sekolah harus mempersiapkan siswa dengan kemampuan:
a)kesadaran global, b)watak kemandirian, c)kemampuan bekerjasama secara global,
d)kemampuan menguasai ITC, e)kemampuan melek teknologi, f)kemampuan intelektual
yang ditekankan pada critical thinking dan kemampuan memecahkan masalah,
g)kemampuan untuk melakukan innovasi & menyempurnakan, dan, h) memiliki
pengetahuan dan ketrampilan yang bersifat fleksibel & adaptabel.

Menurut Kay (2008) ini, mutu sekolah ditentukan bagaimana jawaban atas pertanyaan:
a)apakah siswa mampu berpikir kritis dan memecahkan masalah. b)apakah siswa
memiliki kesadaran global. c)apakah siswa memiliki kemandirian. d)apakah siswa
mampu bekerjasama dengan baik. e)apakah siswa melek teknologi. f)apakah siswa
memiliki watak pembaharu. g)apakah siswa mampu berkomunikasi secara efektif. Kalau
jawaban “ya”, maka sekolah itu bermutu. Semakin tinggi skore dekat dengan ya, semakin
bermutu sekolah itu. Selanjutnya, berdasarkan kemampuan tersebut diatas, Kay (2008)

30

mengidentifikasi 5 kemampuan yang amat penting dalam kehidupan, yakni, a)etika kerja,
b)kemampuan berkolaborasi, c)kemampuan berkomunikasi, d)tanggung jawab sosial,
dan, e)berpikir kritis dan memecahkan masalah.

Sejalan dengan kajian Kay ini, Departemen Pendidikan New Zealand melakukan
reformasi kurikulum dengan menekankan bahwa para siswa harus menguasai lima
kemampuan dasar. Yakni, a)kemampuan berpikir kritis dan memecahkan masalah
(critical thinking dan problem solving)), b)kemampuan mempergunakan bahasa, symbol-
simbol dan teks, c)kemampuan mengendalikan diri sendiri (mampu memotivasi diri
sendiri, memiliki sikap “bisa mengerjakan” “a can-do attitude”, mampu merencanakan
masa depan), d)kemampuan berhubungan dan bekerjasama (kemampuan untuk
mendengarkan, kemampuan mengenali perbedaan pendapat, kemampuan bernegosiasi,
kemampuan berpikir bersama) dan, e)kemampuan berpartisipasi dan berkontribusi bagi
kesejahteraan masyarakatnya (kemampuan untuk berpartisipasi dalam berbagai kegiatan,
kemampuan berkontribusi, kemampuan menciptakan peluang). Kemampuan dasar ini
dikembangkan-diaplikasikan pada setiap mata pelajaran yang ada.

Barangkali akan muncul pertanyaan apakah perkembangan abad 21 diatas relevan bagi
bangsa Indonesia yang masih berstatus sebagai negara sedang berkembang.
Perkembangan dan perubahan kehidupan masyarakat mengarah pada satu trend besar dan
universal, yakni perubahan dan kemajuan. Sebagai negara terbuka, bangsa Indonesia
akan masuk arus besar tersebut. Pengalaman perkembangan teknologi selama ini
menunjukan tingkat perkembangan yang terjadi amat cepat dan dampaknya juga cepat
menyebar dalam berbagai aspek kehidupan termasuk dalam aspek kultur. Oleh karena itu,
bangsa Indonesia harus mempersiapkan diri dengan baik dan masuk arus perubahan
dengan cerdas agar bisa memanfaatkan peluang yang ada, tidak sekedar memperoleh
dampak negatif belaka.

Kompetensi abad ke 21 harus pula dijadikan acuan dalam pendidikan Indonesia. Sekolah,
khususnya kepala sekolah dan guru harus mulai mengubah mind set nya. Mengajar tidak
sekedar mentransfer ilmu pengetahuan, teknologi dan ketrampilan, melainkan mengajar

31

juga mentransfer kehidupan. Implikasi yang paling dekat adalah semua guru, tidak
pandang mata pelajaran yang diampu, memiliki tanggung jawab membangun moral dan
karakter siswa. Dengan kata lain membangun karakter atau watak merupakan tujuan
utama dalam proses pembelajaran. Tapi sayangnya pengembangan karakter tidak bisa
diajarkan, melainkan dikembangkan lewat proses pembiasaan. Oleh karena itu, perilaku
guru harus bisa dijadikan tauladan bagi para siswanya. Sekolah, sendiri harus merupakan
kancah kehidupan tempat pembangunan karakter berlangsung.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->