Melibatkan Masyarakat dalam Penanggulangan Kerusakan Lingkungan Pesisir dan Laut

Dari Wikibooks Indonesia, sumber buku teks bebas berbahasa Indonesia
Langsung ke: navigasi, cari
Artikel ini perlu dirapikan agar memenuhi standar Wikibooks.
Perapian bisa berupa membagi artikel ke dalam paragraf atau mewikifisasi artikel. Setelah dirapikan, Anda boleh menghapus pesan ini.

I. Kerusakan Lingkungan Pesisir dan Laut Dewasa ini sumberdaya alam dan lingkungan telah menjadi barang langka akibat tingkat ekstraksi yang berlebihan over-exploitation dan kurang memperhatikan aspek keberlanjutan. Kendati ia secara ekonomi dapat meningkatkan nilai jual, namun di sisi lain juga bias menimbulkan ancaman kerugian ekologi yang jauh lebih besar, seperti hilangnya lahan, langkanya air bersih, banjir, longsor, dan sebagainya. Kegagalan pengelolaan SDA dan lingkungan hidup ditengarai akibat adanya tiga kegagalan dasar dari komponen perangkat dan pelaku pengelolaan. Pertama akibat adanya kegagalan kebijakan (lag of policy) sebagai bagian dari kegagalan perangkat hukum yang tidak dapat menginternalisasi permasalahan lingkungan yang ada. Kegagalan kebijakan (lag of policy) terindikasi terjadi akibat adanya kesalahan justifikasi para policy maker dalam menentukan kebijakan dengan ragam pasal-pasal yang berkaitan erat dengan keberadaan SDA dan lingkungan. Artinya bahwa, kebijakan tersebut membuat ‘blunder’ sehingga lingkungan hanya menjadi variabel minor. Padahal, dunia internasional saat ini selalu mengaitkan segenap aktivitas ekonomi dengan isu lingkungan hidup, seperti green product, sanitary safety, dan sebagainya. Selain itu, proses penciptaan dan penentuan kebijakan yang berkenaan dengan lingkungan ini dilakukan dengan minim sekali melibatkan partisipasi masyarakat dan menjadikan masyarakat sebagai komponen utama sasaran yang harus dilindungi. Contoh menarik adalah kebijakan penambangan pasir laut. Di satu sisi, kebijakan tersebut dibuat untuk membantu menciptakan peluang investasi terlebih pasarnya sudah jelas. Namun di sisi lain telah menimbulkan dampak yang cukup signifikan dan sangat dirasakan langsung oleh nelayan dan pembudidaya ikan di sekitar kegiatan. Bahkan secara tidak langsung dapat dirasakan oleh masyarakat di daerah lain. Misalnya terjadi gerusan/abrasi pantai, karena karakteristik wilayah pesisir yang bersifat dinamis. Kedua adanya kegagalan masyarakat (lag of community) sebagai bagian dari kegagalan pelaku pengelolaan lokal akibat adanya beberapa persoalan mendasar yang menjadi keterbatasan masyarakat. Kegagalan masyarakat (lag of community) terjadi akibat kurangnya kemampuan masyarakat untuk dapat menyelesaikan persoalan lingkungan

dimana ke arah laut 12 mil dari garis pantai untuk propinsi dan sepertiga dari wilayah laut itu (kewenangan propinsi) untuk kabupaten/kota dan ke arah darat batas administrasi kabupaten/kota. perhubungan. Dahuri et al. Kedua definisi wilayah pesisir tersebut di atas secara umum memberikan gambaran besar. Misalnya saja. dan perembesan air asin. maupun yang disebabkan oleh kegiatan manusia di darat seperti penggundulan hutan dan pencemaran (Soegiarto. sedangkan ke arah laut meliputi bagian laut yang masih dipengaruhi oleh proses-proses alami yang terjadi di darat seperti sedimentasi dan aliran air tawar. disamping kurangnya kapasitas dan kapabilitas masyarakat untuk memberikan pressure kepada pihak-pihak yang berkepentingan dan berkewajiban mengelola dan melindungi lingkungan. Kompleksitas aktivitas ekonomi seperti perikanan. wilayah pesisir didefinisikan sebagai wilayah peralihan antara ekosistem darat dan laut yang saling berinteraksi. ke arah darat meliputi bagian daratan. dan . Ketiga adanya kegagalan pemerintah (lag of government) sebagai bagian kegagalan pelaku pengelolaan regional yang diakibatkan oleh kurangnya perhatian pemerintah dalam menanggapi persoalan lingkungan. proses penciptaan co-existence antar variabel lingkungan yang menuju keharmonisan dan keberlanjutan antar variabel menjadi terabaikan. angin laut. baik kering maupun terendam air. solusi pembuatan tanggul-tanggul penahan abrasi yang dilakukan di beberapa daerah Pantai Utara (Pantura) Jawa.10/MEN/2002 tentang Pedoman Umum Perencanaan Pengelolaan Pesisir Terpadu. seringkali pemerintah melakukan penanggulangan permasalahan lingkungan yang ada secara parsial dan kurang terkoordinasi. Ketidakberdayaan masyarakat tersebut semakin memperburuk bargaining position masyarakat sebagai pengelola lokal dan pemanfaat SDA dan lingkungan. namun secara jangka panjang persoalan lain yang mungkin sama atau juga mungkin lebih besar akan terjadi di daerah lain karena karakteristik wilayah pesisir dan laut yang bersifat dinamis. dan sebagainya. Contoh kongkrit adalah banyaknya pabrik-pabrik yang membuang limbah yang tidak diinternalisasi ke DAS yang pasti akan terbuang ke laut atau kebocoran pipa pembuangan residu dari proses ekstrasi minyak yang tersembunyi. Dampaknya.secara sepihak. Kegagalan pemerintah (lag of government) terjadi akibat kurangnya kepedulian pemerintah untuk mencari alternatif pemecahan persoalan lingkungan yang dihadapi secara menyeluruh dengan melibatkan segenap komponen terkait (stakeholders). secara jangka pendek mungkin dapat menanggulangi permasalahan yang ada. II. yang masih dipengaruhi sifat-sifat laut seperti pasang surut. pemukiman. pariwisata. Pentingnya Mengelola Lingkungan Pesisir dan Laut Wilayah pesisir merupakan daerah pertemuan antara darat dan laut. 1976. Berdasarkan Keputusan Menteri Kelautan dan Perikanan Nomor: KEP. Misalnya saja. kegagalan masyarakat melakukan penanggulangan masalah pencemaran yang diakibatkan oleh kurang perdulinya publik swasta untuk melakukan internalisasi eksternalitas dari kegiatan usahanya. betapa kompleksitas aktivitas ekonomi dan ekologi terjadi di wilayah ini. 2001). Dalam hal ini.

Komunitas/masyarakat memiliki adat istiadat. Salah satu bentuk pengelolaan yang cukup berpeluang memberikan jaminan efektifitas dalam pengimplementasiannya adalah pengelolaan berbasis masyarakat (community based management). nilai-nilai sosial maupun kebiasaan yang berbeda dari satu tempat ke tempat lainnya. swasta dan masyarakat dalam hal ini menjadi bagian terpenting yang tidak terpisahkan dalam upaya mengelola lingkungan pesisir dan laut. baik sebagai bagian dari subjek maupun objek pengelolaan tersebut. hal ini tidak menutup kemungkinan akan adanya bentuk-bentuk pengelolaan lain yang lebih aplikatif (applicable) dan adaptif (acceptable). Peran serta masyarakat dalam pengelolaan ini lebih dikenal dengan istilah pengelolaan berbasis masyarakat (PBM) atau community based management (CBM). strategi pengelolaan pada masing-masing wilayah akan bervariasi sesuai dengan situasi setempat. pernahkah kita berpikir bahwa hutan tersebut adalah milik kita. Peranan pemerintah. padang lamun dan terumbu karang. Dengan memperhatikan hal ini dan tentunya juga kondisi fisik dan alamiah dari lingkungan pesisir dan laut. Pernahkah kita berpikir bahwa kitalah orang yang sangat tergantung pada kondisi alam di sekitar kita ? Pernahkah kita berpikir bahwa kita sangat membutuhkan air yang notabene sangat tergantung pada keadaan hutan di sekitar kita ? Lalu bagaimana keadaan hutan di sekitar. proses pengelolaannya diharapkan dapat menjadi lebih padu. Dewasa ini. Perbedaan dalam hal-hal tersebut menyebabkan terdapatnya perbedaan pula dalam praktek-praktek pengelolaan lingkungan. sehingga harus kita kelola agar terjaga kelestariannya ? Pernahkah kita dilibatkan dalam proses perencanaan pengelolaan lingkungan di sekitar kita ? Proses pengelolaan lingkungan ada baiknya dilakukan dengan lebih memandang situasi dan kondisi lokal agar pendekatan pengelolaannya dapat disesuaikan dengan kondisi lokal daerah yang akan dikelola. Yang perlu diperhatikan adalah nilai-nilai dan norma-norma yang dianut oleh suatu masyarakat yang merupakan kearifan masyarakat dalam pengelolaan sumberdaya alam dan lingkungan.sebagainya memberikan tekanan yang cukup besar terhadap keberlanjutan ekologi wilayah pesisir seperti ekosistem mangrove. Namun demikian. dalam proses pengelolaan lingkungan perlu memperhatikan masyarakat dan kebudayaannya. Segenap gambaran wacana tersebut di atas secara umum memberikan cermin bagaimana sebuah pengelolaan yang melibatkan unsur masyarakat cukup penting untuk dikaji dan diujicobakan. Tekanan yang demikian besar tersebut jika tidak dikelola secara baik akan menurunkan kualitas dan kuantitas sumberdaya yang terdapat di wilayah pesisir. Pandangan ini tampaknya relevan untuk dilaksanakan di Indonesia dengan cara memperhatikan kondisi masyarakat dan kebudayaan serta unsurunsur fisik masing-masing wilayah yang mungkin memiliki perbedaan disamping kesamaan. Oleh karena itu. pengelolaan lingkungan secara terpadu disinyallir terbukti memberikan peluang pengelolaan yang cukup efektif dalam rangka menyeimbangkan antara pelestarian lingkungan dan pemanfaatan ekonomi. lancar dan efektif serta diterima oleh masyarakat setempat. Dengan demikian. .

tanggung jawab dan kesempatan kepada masyarakat untuk mengelola sumberdayanya (dalam bukunya Nikijuluw lebih menitikberatkan pada pengelolaan perikanan) sendiri dengan terlebih dahulu mendefinisikan kebutuhan dan keinginan. Namun demikian. (6) mampu menumbuhkan stabilitas dan komitmen. (4) mampu meningkatkan efisiensi secara ekonomis maupun teknis. (1) mampu mendorong timbulnya pemerataan dalam pengelolaan sumberdaya alam dan lingkungan. dimana masyarakat sendiri yang mendefinisikan kebutuhan.Menurut Carter (1996) [[Community-Based Resource Management (CBRM)]] didefinisikan sebagai suatu strategi untuk mencapai pembangunan yang berpusat pada manusia. tujuan serta aspirasinya. dapat disimpulkan bahwa pengelolaan yang berbasis masyarakat (PBM/CBM) adalah suatu sistem pengelolaan sumberdaya alam dan lingkungan di suatu tempat dimana masyarakat lokal di tempat tersebut terlibat secara aktif dalam proses pengelolaan sumberdaya alam yang terkandung didalamnya. (3) mampu meningkatkan manfaat lokal bagi seluruh anggota masyarakat yang ada. Jadi. (2) mampu merefleksikan kebutuhan-kebutuhan masyarakat lokal yang spesifik. dimana pusat pengambilan keputusan mengenai pemanfaatan sumberdaya dan lingkungan secara berkelanjutan di suatu daerah terletak/berada di tangan organisasiorganisasi dalam masyarakat di daerah tersebut. masyarakat diberikan kesempatan dan tanggung jawab dalam melakukan pengelolaan terhadap sumberdaya dan lingkungan yang dimilikinya. Pengelolaan di sini meliputi berbagai dimensi seperti perencanaan. Selanjutnya dikatakan bahwa dalam sistem pengelolaan ini. tujuan dan aspirasinya serta masyarakat itu pula yang membuat keputusan demi kesejahteraannya. 1997) adalah sistem pengelolaan sumberdaya (terumbu karang) terpadu yang perumusan dan perencanaannya dilakukan dengan pendekatan dari bawah (bottom up approach) berdasarkan aspirasi masyarakat dan dilaksanakan untuk kepentingan masyarakat. Dalam konsep “Co-Management” ini pengelolaan lingkungan pesisir dan laut tidak hanya melibatkan unsur masyarakat lokal saja tapi juga melibatkan unsur . Lebih lanjut Nikijuluw (2002) mengemukakan bahwa PBM menyangkut pula pemberian tanggung jawab kepada masyarakat sehingga mereka dapat mengambil keputusan yang pada akhirnya menentukan dan berpengaruh pada kesejahteraan hidup mereka. Lebih lanjut Carter (1996) mengemukakan bahwa konsep pengelolaan sumberdaya alam dan lingkungan pesisir dan laut berbasis masyarakat memiliki beberapa aspek positif yaitu. dalam perkembangannya konsep pengelolaan berbasis masyarakat (CBM) mengalami perubahan dengan dikembangkannya satu konsep yang disebut “CoManagement”. Definisi Pengelolaan Berbasis Masyarakat (PBM) berdasarkan Petunjuk Pelaksanaan Pengelolaan Berbasis Masyarakat (COREMAP-LIPI. serta pemanfaatan hasil-hasilnya. serta (7) masyarakat lokal termotivasi untuk mengelola secara berkelanjutan. (5) responsif dan adaptif terhadap variasi kondisi sosial dan lingkungan lokal. pelaksanaan. Sedangkan Nikijuluw (2002) mendefinisikan PBM sebagai suatu proses pemberian wewenang.

terkoordinasi dan tersinkronisasi. kepiting. (iv) manfaat harus lebih besar dari biaya. masyarakat juga mempunyai tanggung jawab dan turut berperanserta untuk menjaga kelestarian dan keberlanjutan sumberdaya alam dan lingkungan. serta (ix) koordinasi antara pemerintah dengan masyarakat. Selanjutnya Pomeroy and Williams (1994) menyatakan bahwa penerapan CoManagement akan berbeda-beda dan tergantung pada kondisi spesifik lokasi. Mengingat bahwa subjek dan objek penanggulangan ini terkait erat dengan keberadaan masyarakat pesisir. Perlu ditegaskan bahwa dalam konsep Co-Management. udang. Hal ini jelas menunjukkan bahwa peran pemerintah dan masyarakat dalam pengelolaan sumberdaya dan lingkungan seoptimal mungkin harus seimbang. maka penanggulangan kerusakan lingkungan pesisir dan laut yang berbasis masyarakat menjadi pilihan yang bijaksana untuk diimplementasikan. biaya dan upaya bertahun-tahun. Pomeroy dan Williams (1994) mengemukakan sembilan kunci kesuksesan dari model Co-Management.pemerintah. sehingga praktekpraktek pengelolaan sumberdaya alam dan lingkungan yang masih murni oleh masyarakat (CBM) menjadi embrio dari penerapan konsep Co-Management tersebut. Tetapi lebih dipandang sebagai alternatif pengelolaan yang sesuai untuk situasi dan lokasi tertentu. yaitu (i) batas-batas wilayah yang jelas terdefinisi. termasuk mendukung pengelolaan sumberdaya dan lingkungan demi sebesar-besarnya kepentingan dan kesejahteraan masyarakat. (iii) keterikatan dalam kelompok. (viii) desentralisasi dan pendelegasian wewenang. seperti ikan. maka Comanagement hendaknya tidak dipandang sebagai strategi tunggal untuk menyelesaikan seluruh permasalahan dari pengelolaan sumberdaya alam dan lingkungan. masyarakat lokal merupakan salah satu kunci dari pengelolaan sumberdaya alam dan lingkungan. kayu mangrove. Bahkan secara lebih tegas Gawell (1984) dalam White et al (1994) menyatakan bahwa tidak ada pengelolaan sumberdaya alam dan lingkungan yang berhasil (dalam studi Gawell adalah ekosistem terumbu karang) tanpa melibatkan masyarakat lokal sebagai pengguna (the users) dari sumberdaya alam dan lingkungan tersebut. Hal ini penting dilakukan mengingat pemerintah mempunyai kewajiban untuk memberikan pelayanan terhadap masyarakat. dimana mereka juga mempunyai ketergantungan yang cukup tinggi terhadap ketersediaan sumberdaya di sekitar. (ii) kejelasan keanggotaan. (vii) kerjasama dan kepemimpinan dalam masyarakat. (vi) legalisasi dari pengelolaan. Di sisi lain. Penanggulangan Kerusakan Lingkungan Pesisir dan Laut Berbasis Masyarakat Penanggulangan kerusakan lingkungan pesisir dan laut perlu dilakukan secara hati-hati agar tujuan dari upaya dapat dicapai. III. dan sebagainya. (v) pengelolaan yang sederhana. Penerapan Co-management yang baik dan sukses memerlukan waktu. Hal tersebut dilakukan untuk mengurangi adanya tumpang tindih kepentingan pemanfaatan di wilayah pesisir dan lautan. .

Tujuan khusus penanggulangan kerusakan lingkungan pesisir dan laut berbasis masyarakat dalam hal ini dilakukan untuk (i) meningkatkan kesadaran masyarakat mengenai pentingnya menanggulangi kerusakan lingkungan. Oleh karena itu. Tujuan khusus penanggulangan kerusakan lingkungan pesisir laut berbasis masyarakat juga didefinisikan dengan meminjam tujuan program PBM yang dikembangkan COREMAP (1997). (iii) membantu masyarakat setempat memilih dan mengembangkan aktivitas ekonomi yang lebih ramah lingkungan. Pola perencanaan pengelolaan seperti ini sering dikenal dengan sebutan [[participatory management planning]]. sehingga proses identifikasi kelembagaan lokal yang ada dan menganalisisnya untuk mengetahui sejauh mana kelembagaan tersebut berhubungan dengan upaya pengelolaan sumberdaya alam dan lingkungan. Dalam hal ini prinsip-prinsip pemberdayaan masyarakat menjadi hal krusial yang harus dijadikan dasar implementasi sebuah pengelolaan berbasis masyarakat. (ii) meningkatkan kemampuan masyarakat untuk berperan serta dalam pengembangan rencana penanggulangan kerusakan lingkungan secara terpadu yang sudah disetujui bersama. dan (iv) memberikan pelatihan mengenai sistem pelaksanaan dan pengawasan upaya penanggulangan kerusakan lingkungan pesisir dan laut berbasis masyarakat. Dalam hal ini. seperti apakah . transformasi atau penguatan kelembagaan masyarakat. tujuan penanggulangan kerusakan pesisir dan laut berbasis masyarakat dalam hal ini adalah memberdayakan masyarakat agar dapat berperanserta secara aktif dan terlibat langsung dalam upaya penanggulangan kerusakan lingkungan lokal untuk menjamin dan menjaga kelestarian pemanfaatan sumberdaya dan lingkungan. Pengkajian kelembagaan lokal ini harus didasarkan pada pertanyaan mendasar tentang pengelolaan sumberdaya alam dan lingkungan berbasis masyarakat. suatu komunitas mempunyai hak untuk dilibatkan atau bahkan mempunyai kewenangan secara langsung untuk membuat sebuah perencanaan pengelolaan wilayahnya disesuaikan dengan kapasitas dan daya dukung wilayah terhadap ragam aktivitas masyarakat di sekitarnya. Tujuan program yang dikemukakan COREMAP-LIPI (1997) dinilai sejalan dengan pemikiran McAllister (1999) yaitu bahwa di dalam penelitian secara partisipatif untuk kegiatan pengelolaan sumberdaya alam dan lingkungan yang berbasis masyarakat seringkali terfokus pada pengembangan. sehingga diharapkan pula dapat menjamin adanya pembangunan yang berkesinambungan di wilayah bersangkutan. COREMAP dalam hal ini mengambil ekosistem terumbu karang sebagai objek pengelolaan. dimana pola pendekatan perencanaan dari bawah yang disinkronkan dengan pola pendekatan perencanaan dari atas menjadi sinergi diimplementasikan. Tujuan umum penanggulangan kerusakan lingkungan pesisir dan laut berbasis masyarakat dalam hal ini meminjam definisi COREMAP-LIPI (1997) yang menyebutkan tujuan umum pengelolaan berbasis masyarakat.Penanggulangan kerusakan lingkungan pesisir dan laut berbasis masyarakat diharapkan mampu menjawab persoalan yang terjadi di suatu wilayah berdasarkan karakteristik sumberdaya alam dan sumberdaya manusia di wilayah tersebut.

yaitu (i) proses perencanaannya berasal dari dalam dan bukan dimulai dari luar. (ii) pemilihan/pengangkatan motivator (key person) desa. (2) Perencanaan Dalam melakukan perencanaan upaya penanggulangan pencemaran laut berbasis masyarakat ini terdapat tujuh ciri perencanaan yang dinilai akan efektif.kelembagaan lokal tersebut sejalan dengan tujuan dari partisipasi lokal ? apakah pembuatan keputusan dilakukan secara demokratis. (v) memiliki kerangka kerja yang fleksibel bagi pengambalian keputusan. (iii) berorientasi pada tindakan (aksi) berdasarkan tingkat kesiapannya. menjunjung tinggi persamaan dan mempunyai peran dan kepemilikan yang seimbang serta menganut konsep keberlanjutan sumberdaya (konservatif) ? Jika pertanyaan-pertanyaan tersebut tidak lengkap terjawab. dan (iii) penyadaran tentang keberlanjutan ekonomi jika upaya penanggulangan kerusakan lingkungan dapat dilaksanakan secara arif dan bijaksana. (4) Penyadaran Masyarakat Dalam rangka menyadarkan masyarakat terdapat tiga kunci penyadaran. (iv) memiliki tujuan dan luaran yang jelas. (vi) bersifat terpadu. (3) Persiapan Sosial Untuk mendapatkan dukungan dan partisipasi masyarakat secara penuh. yaitu (i) penyadaran tentang nilai-nilai ekologis ekosistem pesisir dan laut serta manfaat penanggulangan kerusakan lingkungan. (ii) merupakan perencanaan partisipatif. . maka masyarakat harus dipersiapkan secara sosial agar dapat (i) mengutarakan aspirasi serta pengetahuan tradisional dan kearifannya dalam menangani isu-isu lokal yang merupakan aturan-aturan yang harus dipatuhi. yaitu (i) sosialisasi rencana kegiatan dengan masyarakat dan kelembagaan lokal yang ada. dan (vii) meliputi proses-proses untuk pemantauan dan evaluasi. Upaya penanggulangan kerusakan lingkungan pesisir dan laut berbasis masyarakat sebaiknya dilakukan dengan meminjam petunjuk teknis pengelolaan berbasis masyarakat (PBM) yang diajukan COREMAP (1997). (1) Persiapan Dalam persiapan ini terdapat tiga kegiatan kunci yang harus dilaksanakan. dan (iii) penguatan kelompok kerja yang telah ada/pembentukan kelompok kerja baru. maka perlu dilakukan upaya untuk membuat kesepakatan baru secara bersama yang bersifat melembaga dan atau mentransformasi kesepakatan lokal yang telah ada. (ii) penyadaran tentang konservasi. termasuk keikutsertaan masyarakat lokal. dan (iii) berperanserta dalam perencanaan dan pengimplementasian rencana tersebut. (ii) mengetahui keuntungan dan kerugian yang akan didapat dari setiap pilihan intervensi yang diusulkan yang dianggap dapat berfungsi sebagai jalan keluar untuk menanggulangi persoalan lingkungan yang dihadapi.

(5) Analisis Kebutuhan Untuk melakukan analisis kebutuhan terdapat tujuh langkah pelaksanaannya. (iii) peranserta masyarakat dalam pemantauan dan pengawasan. dan (vii) identifikasi strategi yang diperlukan untuk mencapai tujuan kegitan. yaitu: (i) mengkaji permasalahan. yaitu: (i) melakukan perkiraan atau analisis tentang kebutuhan prasarana yang dibutuhkan dalam upaya penanggulangan kerusakan lingkungan. (v) pelatihan pemantauan kondisi sosial ekonomi dan ekologi. (vi) identifikasi kendala-kendala yang dapat menghalangi implementasi yang efektif dari rencana-rencana tersebut. yaitu: (i) PRA dengan melibatkan masyarakat lokal. (7) Penyusunan Rencana Penanggulangan Kerusakan Lingkungan Pesisir dan Laut secara Terpadu dan Berkelanjutan Terdapat lima langkah penyusunan rencana penanggulangan kerusakan lingkungan pesisir dan laut secara terpadu dan berkelanjutan. dan (vi) orientasi mengenai pengawasan dan pelaksanaan ketentuan-ketentuan yang berkaitan dengan upaya penanggulangan kerusakan lingkungan dan pelestarian sumberdaya. (iv) identifikasi masalah-masalah yang memerlukan tindak lanjut. Oleh karena itu. (9) Pendanaan Pendanaan merupakan bagian terpenting dalam proses implementasi upaya penanggulangan kerusakan lingkungan. penyusunan rencana penanggulangan dan pelaksanaan penanggulangan berbasis masyarakat. serta (ii) meningkatkan kemampuan (keterampilan) lembaga-lembaga desa yang bertanggung jawab atas pelaksanaan langkah-langkah penyelamatan dan penanggulangan kerusakan lingkungan dan pembangunan prasarana. (ii) identifikasi situasi yang dihadapi di lokasi kegiatan. (6) Pelatihan Keterampilan Dasar Pelatihan keterampilan dasar perlu dilakukan untuk efektivitas upaya penanggulangan kerusakan lingkungan. peluang dan ancaman. yaitu (i) pelatihan mengenai perencanaan upaya penanggulangan kerusakan. strategi dan kendala yang akan dihadapi dalam pelaksanaan upaya penanggulangan kerusakan lingkungan. (8) Pengembangan Fasilitas Sosial Terdapat dua kegiatan pokok dalam pengembangan fasilitas sosial ini. (iii) membantu pelaksanaan pemetaan oleh masyarakat. kelemahan. (iii) analisis kekuatan. (iv) mengidentifikasi aktivitas penyebab kerusakan lingkungan. peran pemerintah selaku . (ii) menentukan sasaran dan tujuan penyusunan rencana penanggulangan. dan (v) melibatkan masyarakat dalam proses perencanaan serta dalam pemantauan pelaksanaan rencana tersebut. (ii) keterampilan tentang dasar-dasar manajemen organisasi. (v) identifikasi pemanfaatan kebutuhan-kebutuhan yang diinginkan di masa depan. (iv) pelatihan dasar tentang pengamatan sumberdaya.

tetapi dapat disesuaikan dengan karakteristik wilayah. ISSN 14109514. Pelibatan Masyarakat Menanggulangi Kerusakan Pesisir dan Laut. Namun demikian. Wacana pada Kolom Teras WARTA Pesisir dan Laut Edisi Nomor 01/Th.com/2008/05/13/kerusakan-lingkunganpesisir-dan-laut/ Wahyudin Y.penyedia pelayanan diharapkan dapat memberikan alternatif pembiayaan sebagai dana awal perencanaan dan implementasi upaya penanggulangan.wordpress. modal terpenting dalam upaya ini adanya kesadaran masyarakat untuk melanjutkan upaya penanggulangan dengan dana swadaya masyarakat setempat. sumberdaya dan masyarakat setempat.wikibooks. Kerusakan Lingkungan Pesisir dan Laut. [sunting] Sumber bacaan • • Wahyudin Y.org/wiki/Melibatkan_Masyarakat_dalam_Penanggulangan_Kerusaka n_Lingkungan_Pesisir_dan_Laut" Kategori: Artikel yang perlu dirapikan .com/2008/05/13/pelibatan-masyarakat-dalampenanggulangan-kerusakan-pesisir-dan-laut/ Diperoleh dari "http://id. 2005. Kesembilan proses implementasi upaya penanggulangan pencemaran laut tersebut di atas tidak bersifat absolut. terlebih bilamana di wilayah tersebut telah terdapat kelembagaan lokal yang memberikan peran positif bagi pengelolaan sumberdaya dan pembangunan ekonomi masyarakat sekitarnya. Artikel pada Kolom Pesisir dan Laut WARTA Pesisir dan Laut Edisi Nomor 01/Th.VI/2005. ISSN 1410-9514. lihat : http://komitmenku. lihat: http://komitmenku.VI/2005. 2005.wordpress.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful