P. 1
Hubungan Ilmu Dengan Filsafat

Hubungan Ilmu Dengan Filsafat

|Views: 2,965|Likes:
Published by bricklick

More info:

Published by: bricklick on Sep 04, 2010
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as RTF, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

06/02/2013

pdf

text

original

Hubungan Ilmu dengan Filsafat Berdasarkan suatu asumsi bahwa hubungan antara ilmu dan filsafat adalah sama

-sama kegiatan manusia. Dilihat dari hasilnya, filsafat dan ilmu merupakan hasil daripada berpikir manusia secara sadar. Sedangkan dilihat dari prosesnya ilmu dan filsafat menunjukan suatu kegiatan yang berusaha untuk memecahkan masalahmasalah dalam kehidupan manusia (memperoleh suatu kebenaran dan pengetahuan), dengan menggunakan suatu metode-metode siestematis dan kritis. Henderson (dalam Salam, 1994: 74) memberikan gambaran hubungan (perbedaan) antara filsafat dengan ilmu sebagai berikut: No 1 2 Ilmu (science) Anak filsafat Filsafat Induk ilmu

Analitis; memeriksa semua gejala Sinopsis; memandang dunia dan melalui unsure tekecil untuk alam semesta sebagai keseluruhan, untuk dapat menerangkannya, memperoleh gambaran senyatanya menafsirkannya, dan memahami menurut bagiannya secara keseluruhan Menekankan untuk Bukan saja menekankan keadaan melukiskan objeknya; netral dan sebenarnya dari objek, melainkan juga bagaimana seharusnya objek itu. mengabstrakan factor keinginan dan Manusia dan nilai menjadi faktor penilaian manusia penting. Memulai sesuatu dengan asumsi- Memer.iksa dan meragukan segala asumsi-asumsi asumsi Menggunakan metode eksperimen Menggunakan semua penemuan ilmu yang terkontrol sebagai cara kerja pengetahuan; meguji sesuatu dengan pengalaman dan melalui pikiran dan sifat terpenting; menguji sesuatu dengan penginderaan fakta-fakta

3

4 5

Sedangkan Sikun Pribadi (dalam Salam, 1994: 76) mengemukakan perbedaan antara filsafat dengan ilmu sebagai berikut: perbedaan antara ilmu dengan ilmu ialah bahwa pengetahuan bertolak dari dunia fakta (bersifat ontis), sedangkan filsafat bertolak dari dunia nilai (selalu menghubungkan masalah dengan makna keseluruhan hidup, jadi bersifat deontis). Tetapi ilmu dan filsafat adalah aktivitas manusia yang sifatnya kognitif.
1

Jadi ilmu berhubungan dengan sesuatu yang mempersoalkan fakta-fakta yang faktual yang diperoleh melalui eksperimen, observasi, dan verifikasi. Secara keseluruhan perbedaan antara filsafat dengan ilmu adalah sebagai berikut: Ilmu Filsafat Berhubungan dengan lapangan yang Berhubungan dengan keseluruhan terbatas di dalam memperoleh suatu pengalaman untuk memperoleh suatu pandangan yang kompeherensif tentang pandangan yang kompeherensif tentang sesuatu sesuatu Menggunakan pendekatan analitis dan Menggunakan pendekatan sintesis atau sinoptis, berhubungan dengan sifat dan deskriptif. kualitas alam dan hidup secara keseluruhan. Menganalisis bagian-bagian Menghilangkan yang subjektif Ilmu tertarik pada hakikat sebagaimana mestinya factor-faktor keseluruhan manjadi Membedakan sesuatu dalam bentuk sintesis yang menjelaskan dan mencari makna sesuatu secara keseluruhan pribadi Tertarik pada personalitas, nilai-nilai dan semua pengalaman sesuatu Tidak hanya tertarik pada bagian-bagian yang nyata, melainkan pada kemungkinan-kemungkinan yang ideal dari suatu benda, nilai dan maknanya Mengadakan kritk, menilai dan mengkoordinasikan tujuan

Meneliti alam, mengontrol proses alam

Menekankan pada deskripsi hukum- Tertarik dengan hal-hal yang hukum fenomenal dan berhubungan berhubungan dengan pertanyaan “why” dan “how” kausal

Di samping perbedaan-perbedaan tersebut, ada beberapa persamaan antara ilmu dengan filsafat, yaitu: o Ilmu dan filsafat menggunakan metode-metode reflective thinking dalam menghadapi fakta-fakta dunia. o Ilmu dan filsafat menunjukan sikap kritis dan terbuka, dan memberikan perhatian yang tidak berat sebelah pada suatu kebenaran. o Ilmu dan filsafat tertarik pada pengetahuan yang terorganisir dan tersusun

secara sistematis. o Ilmu memberikan sejumlah bahan-bahan deskriptif dan factual serta esensial bagi pemikiran filsafat. Ilmu mengoreksi filsafat dengan jalan menghilangkan sejumlah ide-ide yang bertentangan dengan pengetahuan yang ilmiah. o Filsafat merangkum pengetahuan yang terpotong-potong, yang menjadikan bermacam-macam ilmu dan berbeda-beda, dan menyusun bahan-bahan tersebut ke dalam suatu pandangan tentang hidup dan dunia yang lebih menyeluruh dan terpadu. Persoalan Filsafat Timbulnya filsafat karena manusia merasa heran, dimana pada awalnya manusia heran pada gejala-gejala alam. Misalnya, melihat gempa bumi, hujan, banjir, atau melihat laut yang sangat luas. Orang merasa heran berarti mereka tidak mengetahuinya atau menghadapi persoalan, dimana persoalan ini ingin diperoleh jawabannya oleh para filsuf. Jawaban-jawaban itu diperoleh dari refleksi, yaitu berpikir tentang pikirannya sendiri. Jadi tidak semua persoalan itu harus persoalan filsafat. Persoalan filsafat berbeda dengan persoalan nonfolsafat, yaitu terletak pada materi dan ruang lingkupnya. Ciri-ciri persoalan filsafat: 1. Bersifat sangat umum Artinya persoalan kefilsafatan tidak bersangkutan dengan objek-objek khusus, atau sebagian besar masalah filsafat berkaitan dengan ide-ide besar. Misalnya filsafat tidak menanyakan berapa harta yang anda sedekahkan dalam satu bulan? akan tetapi filsafat menanyakan apa keadilan tersebut? Filsafat tidak menanyakan berapa jauh jarak Denpasar-Singaraja? Tetapi filsafat menanyakan apa jarak itu? 2. Tidak menyangkut fakta Persoalan filsafat bersifat spekulatif. Persoalan-persoalan yang dihadapi melampui batas-batas pengetahuan ilmiah (pengetahuan yang menyangkut fakta). Misalnya seorang ilmuwan memiikirkan peristiwa alamyang berupa
3

hujan. Mereka dapat memikirkan sebab-sebab terjadinya hujan dan memberikan deskripsi tentang peristiwa hujan tersebut, sehingga semua yang dipikirkan oleh ilmuwan tersebut ada dalam dunia empiris atau dapat dialami. Namun ilmuwan tidak mempersoalkan maksud dan tujuan hujan, yang dikarenakan di luar batas kewenangan ilmiah. Sedangkan filsafat menanyakan apakah ada kekuatan atau tenaga yang mampu menimbulkan hujan? Ilmuwan tidak memikirkan apakah tenaga itu berwujud materi atau bukan. Pemikiran tentang maksud dan tujuan, serta kekuatan itulah yang bersifat spekulasi. 3. Berkaitan dengan nilai-nilai (values) Persoalan-persoalan kefilsafatan bertalian dengan penilaian, baik moral, estetika, agama, maupun sosial. Nilai dalam hal ini adalah suatu kualitas abstrak yang ada pada sesuatu hal. Nilai-nilai dapat dihayati dan dimengerti. Sehingga dapat dikatakan bahwa yang dimaksudkan dengan nilai-nilai adalah kualitas abstrak yang dapat menimbulkan rasa senang, puas, atau bahagia bagi yang mengalami dan menghayatinya. Para filsuf mendiskusikan pertanyaanpertanyaan tentang nilai-nilai yang terdalam (ultimate values). Kebanyakan pertanyaan-pertanyaan itu berkaitan dengan dengan hakkat nilai-nilai. Hasilhasil pemikiran manusia tentang alam, kedudukan manusia tentang alam, dan sesuatu yang dicita-citakan manusia tersirat mengandung nilai-nilai. Misalnya: pertanyaan aapakah tuhan itu/ hal ini memungkinkan jawaban tentang ukuranukuran yang harus dipakai oleh manusia dalam menilai tindakan, meberikan bimbingan dan melakukan pilihan. 4. Bersifat kritis Filsafat merupakan analisis secara kritis terhadap konsep-konsep dari arti-arti yang biasanya diterima begitu saja oleh suatu ilmu tanpa pemeriksaan secara kritis. Setiap bidang pengalaman manusia, baik yang menyangkut bidang ilmu maupun agama berdasarkan penyelidikannya pada asumsi-asumsi yang diterima sebagai titik tolak berpikir maupun berbuat. Asumsi-asumsi tersebut diterima begitu saja dan diterapkan tanpa pemeriksaan secara kritis. Salah satuu tugas utama ahli filsafat adalah memeriksa dan menilaii asumsi-asumsi tersebut, mengungkapkan artinya, dan menetukan batas-batas penerapannya.

5. Bersifat sinoptik Persoalan filsafat mencangkup struktur kenyataan secara keseluruhan. Filsasfat merupakan ilmu yang membuat susunan keseluruhan. 6. Bersifat implikatif Jika suatu persoalan kefilsafatan sudah dijawab, dari jawaban itu akan memunculkan persoalan baru yang saling berhubungan. Jawaban yang dikemukakan mendukung akibat-akibat lebih jauh yang menyentuh kepentingan-kepentingan manusia. Berpikir Secara Kefilsafatan Berfilsafat artinya berpikir, maksudnya berfilsafat identik dengan berpikir. Tetapi tidak berarti berpikir adalah berfilsafat, sehingga tidak semua orang yang berpikir itu berfilsafat. Ciri-ciri berpikir secara kefilsafatan: 1. Radikal Radikal berasal dari bahasa Yunani radix yang artinya akar. Berpikir secara radikal artinya berpikir sampai ke akar-akarnya, sampai ke hakekat, esensi, atau sampai substansi yang dipikirkan. Manusia yang berfilsafat tidak akan puas hanya memperoleh pengetahuan lewat indra yang selalu berubah, melainkan dengan akalnya akan berusaha untuk mendapatkan pengetahuan hakiki, yaitu pengetahuan yang mendasari segala pengetahuan indrawi. 2. Universal Berpikir secara universal adalah berpikir tentang hal-hal serta proses-proses yang bersifat umum. Filsafat berkaitan dengan pengalaman umum dari umat manusia (common experience of human kind). Dengan jalan penjajakan yang radikal itu, filsafat berusaha untuk sampai pada kesimpulan-kesimpulan yang universal. Bagaimana cara atau jalan yang ditempuh oleh filsuf untuk mencapai sasaran pemikirannya dapat berbeda-beda, namun yang dituju adalah keumuman yang diperoleh dari hal-hal khusus yang ada dalam
5

kenyatan sebagai

kenyataan. 3. Konseptual Konsep di sini maksudnya hasil generalisasi dan abstraksi dari pengalaman tentang hal-hal srta proses-proses individual. Berfilsafat tidak berpikir tentang manusia tertentu, namun berpikir tentang manusia secara umum. Berfilsafat tidak berpikir terhadap perbuatan-perbuatan bebas yang dilakukan oleh orangorang tertentu (sebagaimana yang dipelajari oleh psikolog), tetapi bersangkutam dengan pemikiran apakah kebebasan itu? Dengan ciri konseptual ini, berpikir secara kefilsafatan melampui batas pengalaman seharihari. 4. Koheren dan kosisten Koheren artinya sesuai dengan kaidah-kaidah berpikir (logis). Konsisten artinya tidak mengandung kontrdiksi. Koheren dan konsisten dapat diterjemahan menjadi runtut, maksudnya bagan konseptual yang disusun tidak terdiri dari pendapat-pendapat yang saling kontradiksi. 5. Sistematik Sistematik berasal dari kata sistem, yang artinya kebulatan dari sejumlah unsur yang saling berhubungan menurut pengaturan untuk mencapai suatu maksud. Dalam mengemukakan jawaban atas masalah, para filsuf memakai pendapatpendapat sebagai wujud dari proses berpikir yang disebut berfilsafat. Pendapat-pendapat yang merupakan uraian-uraian kefiilsafatan harus saling berhubungan secara teratur dan mengandung adanya maksud atau tujuan tertentu. 6. Kompeherensip Kompeherensip adalah mencangkup secara keseluruhan. Berpikir secara kefilsafatn berusaha untuk menjelaskan alam semesta secara keseluruhan. Apabila sistem filsafat harus bersifat kompeherensip, maka sistem harus mencangkup secara keseluruhan dan tidak ada satupun yang berada di luarnya. 7. Bebas

Sampai batas-batas yang luas, setiap filsafat boleh dikatakan merupakan hasil dari pemikiran yang bebas. Bebas dari prasngka-prasangka social, historis, cultural, atau religius. Socrates memilih minum racun dan menatap maut daripada harus mengorbankan kebebasannya untuk berpikir menurut keyakinannya. Kebebasan berpikir iru adalah kebebasan yang berdisplin (tidak berarti sesuka hati, sembarangan), namun ikatan itu berasal dari dalam, dari kaidah, dan dari disiplin pikiran itu sendiri. 8. Bertanggung jawab Seorang filsuf berpikir sambil bertanggung jawab. Pertama bertanggung jawab terhadap hati nuraninya, sehingga terlihat hubungan kebebasan berpikir dalam filsafat dengan etika yang melandasinya. Filsuf seakan-akan terpangil untuk membiarkan pikirannya untuk menjelajahi suatu kenyataan. Kemudian ia harus bertanggung jawab bagaimana ia merumuskan ide-ide agar dapat dikomunikasokan pada orang lain, yang merupakan usaha seorang filsuf untuk megajak orang lain ikut serta dalam alam pikirannya. Cabang – Cabang Filsafat Persoalan-persoalan filsafat selain dapat dideskripsikan melaui ciri-cirinya, juga dapat dibagi menurut jenis-jenisnya, yang sesuai dengan cabang-cabang ilmu filsafat 1. Persoalan keberadaan (being) atau eksistensi (existence), yang bersangkutan dengan cabang filsafat Metafisika. 2. Persoalan pengetahuan (knowledge) atau kebenaran (truth). Persoalan pengetahuan yang bersangkutan denga cabang filsafat Epistomologi, sedangkan persoalan kebenaran bersangkutan dengan cabang filsafat Logika 3. Persoalan nilai-nilai (values) (nilai kebaikan tingkah laku dan nilai keindahan). Nilai kebaikan tingkah laku bersangkutan dengan cabang filsafat Etika, sedangkan nilai keindahan bersangkutan dengan cabang filsafat Estetika. a. Metafisika Istilah metafisika berasal dari bahasa yunani, meta ta phisika yang dapat diartikan sebagai sesuatu yang ada di bailik atau belakang benda-benda fisik. Aristoteles
7

tidak menggunakan menngunakan istilah Metafisika, tetapi proto philosopia (filsafat pertama), yang memuat uraian tentang sesuatu yang ada di belakang gejala-gejala fisik seperti bergerak, berubah, hidup, mati. Metafisika dapat didefinisakan sebagai studi atau pemikiran tentang sifat yang terdalam (ultimate nature) dari kenyataan atau kebenaran. Persoalan-persoalannya meliputi: 1. Persoalan-persoalan ontologis • Apa yang dimaksud dengan ada, keberadaan atau eksistensi itu? • Bagaimana penggolongan dari ada, keberadaan atau eksistensi itu? • Apa sifat dasar kenyataan atau keberadaan itu?

2. Persoalan-persoalan kosmologos (alam), yang bertalian dengan asal mula, perkembangan, dan struktur alam. • • Jenis keteraturan apa yang ada di alam? Keteraturan dalam alam seperti apa halnya sebuah mesin ataukan keteraturan yang bertujuan? • • Apa hakikat hubungan sebab dan akibat? Apakah ruang dan waktu itu?

3. Persoalan-persoalan antropologi (manusia) • • • b. Epistemologi Epistomologi juga disebut teori pengetahuan (theory of knowledge). Secara etimologi, istilah epistomologi berasal dari bahasa Yunani episteme yang artinya pengetahuan dan logos yang artinya teori. Epistomologi di artikan sebagai cabang Bagaimana terjadi hubungan badan dan jiwa? Apa yang dimaksud dengan kesadaran? Manusia sebagai makhluk bebas atau tak bebas?

filsafat yang mempelajari asal mula atau sumber, struktur, metode, dal validitas pengetahuan. Pertanyaan pokok pada epistomologi adalah apa yang dapat saya ketahui. Persoalan-persoalan dalam epistomogi antara lain: 1. Bagaimanakah manusia dapat mengetahui sesuatu? 2. Darimana pengetahuan itu diperoleh/ 3. Bagaimanakah validitas pengetahuan itu dapat dinilai/ 4. Apa perbedaan pengetahuan a priori (pengetahuan pra pengalaman) dengan pengetahuan a posteriori (pengetahuan purna pengalaman)? c. Logika Logika sebagai cabang ilmu filsafat bersangkutan dengan kegiatan berpikir. Secara etimologi, logika (bahasa Yunani), logos yang artinya kata, nalar, teori, atau uraian. Logika dapat diartikan sebagai ilmu, kecakapan, atau alat untuk berpikir secara luas. Yang menjadi objek material logika adalah pemikiran, sedang objek formalnya adalah kelurusan pikiran. Persoalan-persoalan dalam logoka adalah: 1. Apa yang dimaksud dengan pengertian (cocept)? 2. Apa yang dimaksud dengan putusan (proposition)? 3. Apa yang dimaksud dengan penyimpulan (inference)? 4. Apa aturan-aturan untuk dapat menyimpulkan secara luas? 5. Apa macam-macam silogisme? 6. Apa macam-macam sesat pikir (fallacy)? d. Etika Etika sebagai cabang ilmu filsafat disebt filsafat moral (moral philosophy). Secara etimologi, etika berasal dari bahasa yunani ethos artinya watak. Sedangkan kata moral dari bahasa latin mos (bentuk tunggal) atau mores (bentuk jamak) yang artinya kebiasaan. Istilah etika atau moral dapat diartikan kesusilaan. Objek material etika adalah tingkah laku yang dilakukan secara sadar dan bebas,
9

sedangkan objek formalnya adalah kebaikan dan keburukan dari tingkah laku tersebut. Dengan demikian perbuatan atau tingkah laku yang dilakukan secara tidak sadar dan tidak bebas akan dikenai penilaian bermoral dan tidak bermoral. Persoalan-persoalan dalam etika: 1. Apa yang dimaksud baik atau buruk secara moral? 2. Apa syarat-syarat suatu perbuatan dikatakan bermoral atau tidak? 3. Bagaimanakah hubungan antara kebebasan kehendak dengan perbuatan susila? 4. Apa yang dimaskud dengan kesadaran moral? 5. Bagaimanakah peranan hati nurani (conscience) dalam setiap perbuatan manusia? 6. Bagaimanakah pertimbangan moral berbeda dari dan tergantung pada suatu pertimbangan yang bukan moral? e. Estetika Estetika sebagai cabang ilmu filsafat disebut filsafat keindahan (philosophy of beauty). Secara etimologi, estetika berasal dari bahasa Yunani aisthetika yang artinya hal-hal yang dapat diserap dengan indra atau aesthesis yang artinya ‘cerapan indra’. Jika etika digambarkan dengan teori baik dan jahat maka estetika digambarkan sebagai kajian filsafat tentang keindahan dan kejelekan. Persoalanpersoalan dalam estetika: 1. Apakah keindahan itu? 2. Kendahan bersifat objektif ataukah subjektif? 3. Apa yang merupakan ukuran keindahan? 4. Apakah peranan keindahan dalam kehidupan manusia? 5. Bagaimanakah hubungan keindaham dengan kesabaran? Aliran – Aliran Filsafat

Dalam setiap persoalan-persoalan filsafat, akan terdapat aliran-aliran filsafat itu sendiri. 1. Aliran-Aliran Dalam Persoalan Keberadaan Persoalan dalam keberadaan menimbulkan tiga pandangan: a. Keberadaan dipandang dari segi banyak (kuantitas) Artinya ada berapa banyak kenyataan yang paling dalam itu. Segi masalah kuantitas akan melahirkan beberapa aliran filsafat sebagai jawaban atas permasalahan tersebut, antara lain; • Monisme

Aliran yang menyatakan bahwa anya ada satu kenyataan pundamental, yang dapat berupa jiwa, materi, Tuhan atau substansi lain yang tidak dapat diketahui. Tokoh-tokoh aliran monisme antara lain: o Thales (625-545 SM) yang berpendapat bahwa

kenyataan yang terdalam adalah air. o Anaximander (610-547 SM) yang berkeyakinan bahwa kenyataan terdalam adalah Aperion (sesuatu tanpa batas, tidak memiliki persamaan denga salah satu benda di dunia) o Anaxsimenes (585-528 SM) yang berkeyakinan bahwa kenyataan yang paling dalam adalah udara. o Baruch Spinoza (filsuf modern) yang berpendapat hanya ada satu subtansi yaitu tuhan (alam/ Naturans Naturata) • Dualisme (serba dua)

Aliran yang menganggap adanya dua substansi yang masing-masing berdiri sendiri. Tokoh-tokoh yang menganut aliran dualisme: o Plato (428-348 SM) yang mebedakan dunia menjadi
11

dua, yaitu dunia indra (dunia baying-bayang) dan dunia intelek (dunia ide) o Descartes (1596-1650) yang membedakan substansi pikiran dan substansi keluasan. o Leibniz (1646-1716) yang membedakan dunia yang sesungguhnya dan dunia yang mungkin. o Immanuel Kant (1724-1804) yang membedakan dunia gejala (phenomena) dengan dunia hakiki (noumena). • Pluralisme (serba banyak)

Aliran yang tidak mengakui adanya satu substansi atau dua substansi, tetapi banyak substansi. Tokoh-tokohnya: o Empedokles (490-430 SM) yang menyatakan hakikat kenyataan terdiri dari empat unsur (udara, api, air, dan tanah) o Anaxagoras (500-428 SM) yang menyatakan hakikay kenyataan terdiri atas unsur yang tak terhitung banyaknya, yaitu sejumlah sifat benda. Semua itu dikuasai oleh tenaga yang disebut nous (zat paling halus yang dapat bergerak dan mengatur) o Leibniz (1646-1716) yang menyatakan bahwa hakikat kenyataan terdiri atas monade-monade (substansi yang tidak berluas, selalu bergerak, tidak terbagi, tidak dapat rusak yang saling berhubungan dalam suatu sistem yang sebelumnya telah diselaraskan Harmonia prestabilia. o Mitchel Foucoult dan J.F. Lyotard (filsuf kontemporer) b. Keberadaan dipandang dari segi sifat (kualitas) yang menimbulkan beberapa aliran filsafat, yaitu: • Spiritualisme, yang mengandung beberapa arti, seperti:

o Spiritualisme adalah ajaran yang menyatakan bahwa kenyataan yang terdalam adalah roh (Pneuma, Nous, Reason, dan Logos), yaitu roh yang mengisi dan mendasari seluruh alam. o Spiritualisme merupakan pandangan idealistik yang menyatakan adanya roh secara mutlak, dunia indra dalam hal ini disebut sebagai dunia idea. o Spiritualisme dipakai dalam istilah keagamaan untuk menekankan pengaruh langsung dari roh suci dalam bidang agama. o Spiritualisme, kepercayaan bahwa roh-roh orang mati berkomunikasi dengan orang yang masih hidup melalui perantara tertentu (orang-orang tertentu) dalam wujud yang lain. Aliran spiritualisme juga disebut idealism (serba cita), tokoh-tokohnya:  Plato (430-348 SM) dengan ajarannya tentang ide (cita) dan jiwa. Ide adalah gambaran asli segala benda, semua yang ada dalam dunia hanyalah penjelmaan suatu bayangan saja. Ide tidak dapat ditangkap dengan indra, tetapi dapat dipikirkan, sedang yang dapat ditangkap oleh indra adalah dunia baying-bayang.  Leibniz (1646-1716) dengan teorinya

tentang monade (sesuatu yang bersahaja, sederhana, tidak menempati ruang, dan berpikir). Setiap monade bersifat otonom mutlak. • Materialsme, yang merupakan pandangan yang menyatakan bahwa tidak ada hal yang nyata kecuali materi. Pikiran dan
13

kesadaran hanyalah penjelmaan dari materi dan dapat dikendalikan pada unsur-unsur fisik. Materi adalah sesuatu yang kelihatan, dapat diraba, berbentuk, dan menempati ruang. Hal-hal yang besrifat kerohanian, pikiram, jiwa, keyakinan tidak lain hanyalah ungkapan proses kebendaan. Tokoh-tokoh aliran materialism: o Demokritos (460-370 SM) berkeyakinan bahwa alam semesta tersusun atas atom-atom kecil yang memiliki bentuk dan badan., sifat-sifat atom sama, yang nerbeda hanyalah ukuran, bentuk, dan letaknya. Jiwa terjadi dari atom-atom yang lebih kecil, bulat, dan sangat mudah bergerak. o Thomas Hobbes (1588-1679) yang berpendapat bahwa segala sesuatu yang terjadi di dunia merupakan gerak dari materi, termasuk juga pikiran dan perasaan. Karena segala sesuatu terjadi dari benda-benda kecil. c. Keberadaan dipandang dari segi proses, kejadian, atau perubahan Aliran-aliran yang berusaha menjawab persoalan ini antara lain: • Mekanisme (serba mesin), yangbmenyatakan bahwa gejala dapat dijelaskan berdasar asas-asas mekanik (mesin). Semua peristiwa adalah hasil dari materi yang bergerak yang dapat dijelaskan menurut kaidah-kaidahnya. Aliran mekanisme juga menerangkan semua peristiwa berdasarkan sebab kerja (efficient cause), yang dilawankan dengan sebab tujuan (final cause). Alam dapat digambarkan sebagai mesin yang yang seluruh fungsinya ditentukan secara otomatis oleh bagianbagiannya. Pandangan yang bercorak mekanistik dalam kosmologi pertama dikemukakan oleh Leucippus dan Democritus yang berpendirian bahwa alam dapat diterangkan berdasar atom-atomnya yang bergerak dalam ruang kosong. Pandangan ini juga dianut oleh Galileo galilei (1564-1641).

Descartes menganggap bahwa hakekat materi adalah keluasan (extension), semua gejala-gejala fisik dapat dietrangkan melalui kaidah-kaidah mekanik. Sedangkan Immanuel Kant mengatakan bahwa kepastian dari suatu kejadian sesuai dengan kaidah-kaidah sebab-akibat (causality) sebagai suatu kaidah alam. • Teleology (serba tujuan), menerangkan bahwa yang berlaku dalam kejadian alam bukanlah sebab akibat, melainkan semua memang ada sesuatu kemauan atau kekuatan yang mengarahkan alam ke suatu tujuan. Plato membedakan antara idea dengan materi. Tujuan berlaku di alam idea, sedangkan kaidah sebab akibat berlaku dalam materi. Menurut aristoteles untuk memahami kenyataan yang sesungguhnya kita harus memahami empat macam sebab, sebab bahan (material cause) seba bentuk (formal cause), sebab kerja (efficient cause), sebab tujuan (final cause). Sebab bahan, bahan yang menyebabkan sesuatu itu ada; sebab bentuk, yang menjadikan sesuatu berbentuk; sebab kerja, yang menyebabkan bentuk itu bekerja atas bahan; sebab tujuan, yang menyebabkan tujuan semata-mata karena perubahan tempat atau gerak. Dalam bidang ini semata-mata berkuasa sebab akibat yang pasti. Sebaliknya segala kejadain tujuannya adalah menimbulkan suatu bentuk atau tenaga. Namun dikatakan kegiatan alam mengandung suattu tujuan, sehingga sebab akibat hanyalah sebagai alat bagi alam untuk mencapai tujuannya. • Vitalisme, memandang bahwakehidupan tidak dapat

sepenuhnya dijelaskan secara fisika-kimiawi kerena hakekatnya berbeda dengan yang tidak hidup. Hans Adolf Eduard Driesch (1867-1941) menjelaskan bahwa setiap organism memiliki entelechy. Dalam hidup bekerja suatu asas khusus yang disebut asas hidup (entelechy). Henry Bergson (1859-1941) menyebut elan vital (sumber dari sebab kerja dan perkembangan dalam alam). Asa hidup ini memimpin dan mengatur gejala hidup dan menyesuaikannya dengan tujuan hidup, sehinnga vitalisme
15

sering dinamakan finalisme. • Organisisme adalah aliran yang biasanya dilawankan dengan mekanisme dan vitalisme. Menurut organisisme, hidup adalah suatu struktur yang dinamik dan suatu kebulatan yang memiliki bagian-bagian yang heterogen dan semua bagian bekerja di bawah kebulatannya. 2. Aliran-Aliran Dalam Persoalan Pengetahuan Persoalan pengetahuan yang bertalian dengan sumber-sumber pengatahuan dapat dijelaskan dengan aliran-aliran: • Rasionalisme berpandangan bahwa semua pengetahuan bersumber pada akal. Akal memperoleh bahan lewat indra, kemudian diolah oleh akal sehingga menjadi pengetahuan. Rasionalisme mendasarkan pada metode deduksi, yyaitu cara memperoleh kepastian melalui langkahlangkah metodis yang bertolak dari hasil-hasil yang bersifat umum untuk mendapatkan kesimpulan yang bersifat khusus. Rene Descartes membedakan tiga ide yang ada dalam diri manusia, yaitu innate ideas (ide bawaan sejak lahir), adventitious ideas (ide yang berasal dari diri manusia), dan factitious ideas (ide yang dihasilkan oleh pikiran itu sendiri. • Empirisme beranggapan bahwa semua pengetahuan diperoleh lewat indra. Indra memperoleh kesan-kesan dari alam nyata, kemudian kesan-kesan terkumpul dalam diri manusia sehingga menjadi pengetahuan. Pengetahuan yang berupa pengalaman terdiri dari penyusunan dan pengaturan kesan-kesan yang beraneka ragam. Aliran empirisme didukung oleh pendukung tradisi empirisme (Prosivisme Prancis, Logis (dari Wina), analisis filsafat Inggris dan aliran psikologo behavioristik. • Realisme adalah aliran yang menyatakan bahwa objek-objek yang diketahui adalah nyata dalam dirinya sendiri. Objek-objek tersebut tidak tergantung adanya pada yang mengetahuinya, yang menyerap

atau tidak tergantung pada pikiran. Pikiran dan

dunia luar saling

berinteraksi, tetapi interaksi itu tidak mempengaruhi sifat dasar dunia, yang tetap ada sebelum pikiran menyadarinya dan akan tetap ada seetelah pikiran berhenti menyadarinya. • Kritisme adalah aliran yang berusaha menjawab persoalan

pengetahuan. Tokohnya adalah Immanuel Kant yang bertitik tolak atas waktu dan ruang sebagai dua bentuk pengamatan. Akal akan menerima bahan-bahan pengetahuan dari empiri (dari indra sebagai empiri ekstern dan dari pengalaman sebagai empiri intern). Bahan-bahan yang berupa empiris itu masih kacau, sehingga akal akan mengatur dan menertibkan dalam bentuk pengamatan terhadap ruang dan waktu. Pengamatan merupakan permulaan pengetahuan, sedangkan pengolahan oleh akal merupakan pembentukan pengetahuan. Persoalan-persoalan pengetahuan yang bertalian dengan hakekat pengatahuan akan di terangkan oleh aliran-aliran berikut: • Idealisme berpendirian bahwa pengetahuan adalah proses-proses mental dan psikologis yang sifatnya subjektif. Pengetahuan merupakan ggambaran subjektif tentang kenyataan, tidak menggambarkan kebenaran yang sesungguhnya, memberikan gambaran yang tidak tepat tentang hakikat sesuatu yang berada di luar pikiran. • Empirisme berpendirian bahwa hakikat pengetahuan adalah berupa pengalaman. David Hume menyatakan bahwa ide-ide dapat dikembalikan pada sensasi-sensasi (ransang indra). Pengalaman merupakan ukuran terakhir dari kenyataan. William James menyatakan bahwa pernyataan tentang fakta adalah hubungan di antara benda-benda dan sama banyaknya dengan pengalaman khusus yang diperoleh secara langsung dengan indra. • Positivisme berpendirian bahwa kepercayaan berpendirian bahwa kepercayaan yang domatis harus digantikan pengetahuan faktawi. Segala yang berada di luar dunia pengalaman tidak perlu
17

diperhatikan, manusia harus perhatian dengan dunia ini. Sikap negative positivisme terhadap kenyataan yang ada di luar pengalaman telah berpengaruh terhadap bentuk pemikiran modern, yaitu pragmatisme, instrumentalisme, naturalism ilmiah, dan behaviorsme. Pernyataan yang tidak berdasar pengalaman atau tidak dapat diverifikasi tiddak bermakna atau buka pengetahuan. • Pragmatisme tidak mempersoalkan apa hakikat pengetahuan, tetapi menyatakan apa guna pengetahuan, dimana daya pengetahuan hendaknya digunakan sebagai sarana untuk berbuat. C.S Pierce menyatakan bahwa yang penting adalah pengaruh apa yang dapat dilakukan sebuah idea tau pengetahuan dalam suatu rencana. Pengetahuan merupakan gambaran yang kita peroleh dari apa yang kita saksikan, nilai dari pengetahuan bergantung pada penerapannya yang nyata dalam kehidupan. Pengetahuan dikatakan benar jika dapat membuktikan manfaatnya bagi kepentingan umum. William James menyatakan bahwa ukuran kebenaran sesuatu hal ditentukan oleh akibat praktisnya. Sesuatu pengertian tidak pernah benar tetapi pengertian hanya dapat menjadi benar, dimana ukuran kebenarannya hendaknya dicari dalam tingkatan seberapa jauh manusia sebagai pribadi dan secara psikis merasa puas. John Dewey menyatakan tidak perlu mempersoalkan kebenaran suatu pengetahuan, tetapi sejjauh mana kita dapat memecahkan persoalan yang timbul di masyarakat. Pengetahuan hendaknya diukur kebenarannya dari dari kegunaan untuk umum, sedang daya untuk berpikir dan daya untuk mengathui adalah sarana. Bukan pengetahuan itu yang benar tetapi pengertian itu akan benar dalam rangka proses sendiri yang benar. Pengetahuan bersifat dinamis karena sesuai dengan peristiwa-peristiwa yang silih berganti dan yang mencerminkan hakikat alam semesta. 3. Aliran-Aliran Dalam Persoalan Nilai-Nilai (Etika) Aliran-aliran dalam menjawab persoalan nilai-nilai antara lain:

Idealisme Etis adalah aliran yang meyakini hal-hal berikut: 1. Adanya skala nilai-nilai, asas-asas moral, atau aturan-aturan untuk bertindak. 2. Lebih mengutamakan hal-hal yang bersifat spiritual ataupun mental daripada yang bersifat indrawi atau kebendaan. 3. Lebih mengutamakan kebebasan moral daripada ketentuan kejiwaan atau alami. 4. Lebih mengutamakan hal umum daripada hal yang bersifat khusus.

Deontologisme Etis berpendirian bahwa sesuatu tindakan dianggap baik tanpa disangkutkan dengan nilai kebaikan sesuatu hal. Yang menjadi dasar moralitas adalah kewajiban, dimana perbuatan yang dikatakan wajib secara moral tanpa memperhitungkan akibatakibatnya.

Etika Teleologis merupakan bagian dari etika aksiologis (etika berdasar nilai) yang membuat ketentuan bahwa kebaikan atau kebenaran suatu tindakan sepenuhnya bergantung pada suatu hasil atau tujuan.

Hedonisme menganjurkan manusia untuk mencapai kebahagiannya yang didasarkan pada kenikmatan, kesenangan (pleasure). Tokohnya Cyrenaics (400 SM), menyatakan bahwa hidup yang baik adalah memperbanyak kenikmatan indra intelek. Sebaliknya Epikurus (341270 SM) menyatakan bahwa kesenangan dan kebahagian adalah tujuan hidup manusia. Epikurus tidak menganjurkan manusia untuk mengejar semua kenikmatan yang sesuai dengan intelegensi, namun kegembiran pikiran adalah lebih tinggi daripada kenikmatan jasmani.

Utilitarisme adalah pandangan yang menyatakan tindakan yang baik adalah tindakan yang menimbulkan kenikmatan atau kebahagian yang sebesar-besarnya bagi manusia yang sebanyak-banyaknya.
19

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->