TEATER TEORI

Teater (bahasa Inggris: theater atau theatre, bahasa Perancis théâtre berasal dari kata theatron (θέατρον) dari bahasa Yunani, yang berarti "tempat untuk menonton").awalnya sendiri diperkenalkan pada kultus dyonisius,awalnya sebagai ritual upacara pengorbanan domba/lembu kepada Dyonisius dan nyanyian yang digunakan pada masa itu disebut "tragedi".dalam perkembangannya Dyonisius dewa yang berwujud hewan itu kemudian berubah menjadi manusia dan dipuja sebagai dewa anggur dan kesuburan.[1] adalah cabang dari seni pertunjukan yang berkaitan dengan akting/seni peran di depan penonton dengan menggunakan gabungan dari ucapan, gestur (gerak tubuh), mimik, boneka, musik, tari dan lain-lain. Bernard Beckerman, kepala departemen drama di Universitas Hofstra, New York, dalam bukunya, Dynamics of Drama, mendefinisikan teater sebagai " yang terjadi ketika seorang manusia atau lebih, terisolasi dalam suatu waktu/atau ruang, menghadirkan diri mereka pada orang lain." Teater bisa juga berbentuk: opera, ballet, mime, kabuki, pertunjukan boneka, tari India klasik, Kunqu, mummers play, improvisasi performance serta pantomim.

TEKNIK PENGAKTORAN
PENDAHULUAN

BEBERAPA PENGERTIAN Kata drama berasal dari bahasa Yunani Draomai yang berarti berbuat, berlaku, bertindak. Jadi drama bisa berarti perbuatan atau tindakan.

ARTI DRAMA Arti pertama dari Drama adalah kualitas komunikasi, situasi, actiom (segala yang terlihat di pentas) yang menimbulkan perhatian, kehebatan (axciting), dan ketegangan pada para pendengar. Arti kedua, menurut Moulton Drama adalah hidup yang dilukiskan dengan gerak (life presented in action). Menurut Ferdinand Brunetierre : Drama haruslah melahirkan kehendak dengan action. Menurut Balthazar Vallhagen : Drama adalah kesenian melukiskan sifat dan sifat manusia dengan gerak. Arti ketiga drama adalah cerita konflik manusia dalam bentuk dialog yang diproyeksikan pada pentas dengan menggunakan percakapan dan action dihadapan penonton (audience).

ARTI TEATER Ada yang mengartikan sebagai “gedung pertunjukan”, ada yang mengartikan sebagai “panggung” (stage). Secara Etimologi (asal kata), Teater Adalah Gedung Pertunjukan (auditorium). Dalam arti luas Teater adalah kisah hidup dah kehidupan manusia yang dipertunjukan di depan orang banyak. Misalnya Wayang Orang, Ludruk, Lenong, Reog, Sulapan. Dalam arti sempit Teater adalah kisah hidup dan kehidupan manusia yang diceritakan dalam pentas, disaksikan oleh orang banyak, dengan media, gerak, percakapan dan laku, dengan atau tanpa dekor (layer); Didasarkan pada naskah yang tertulis (hasil seni sastra) dengan atau tanpa musik.

APA PERBEDAAN DRAMA DENGAN TEATER Teater dan drama, memiliki arti yang sama, tapi berbeda uangkapannya.Teater berasal dari kata yunanikuno "theatron" yang secara harfiah berarti gedung/tempat pertunjukan. Dengan demikian maka kata teater selalu mengandung arti pertunjukan/tontonan. Drama juga dari kata yunanai 'dran' yang berarti berbuat, berlaku atau beracting. Drama cenderung memiliki pengertian ke seni sastra. Didalam seni sastra, drama setaraf denagn jenis puisi, prosa/esai. Drama juga berarti suatu kejadian atau peristiwa tentang manusia. Apalagi peristiwa atau cerita tentang manusia kemudian diangkat kesuatu pentas sebagai suatau bentuk pertunjukan maka menjadi suatu peristiwa Teater. Kesimpulan teater tercipta karena adanya drama.

TEATER SEBAGAI ORGANISASI Proses Teater merupakan sebuah proses organisasi (bentuk kerja kolektif; dimana segala macam orang dengan segala macam fungsinya tergabung dalam suatu koordinasi yang rapih,dan juga mencakup juga pengertian sampai batas-batas yang sentimentil), seperti hal nya diri manusia itu sendiri, atau layaknya seperti sebuah negara. Keberhasilan suatu pertunjukan Teater dapat juga sebagai keberhasilan suatu seni organisasi; baik organisasi penyelenggaraannya (Panitia Produksi) maupun segi seni-seninya (Penyutradaraan, Penataan set, Permainan, Musik dan unsur-unsur lain).

Berikut ini contoh Elemen dari sebuah Group Teater dalam mengadakan sebuah Produksi.

- Pimpinan Produksi - Sekretaris Produksi - Keungan Produksi / Bendahara - Urusan Dokumentasi - Urusan Publikasi - Urusan Pendanaan

- Urusan Ticketing atau karcis - Urusan Kesejahteraan - Urusan Perlengkapan

- Sutradara - Art Director / Pimpinan Artistik - Stage Manager - Property Master - Penata Cahaya - Penata Kostum - Penata setting - Perias / Make Uper - Penata Cahaya - Penata Musik Setiap Elemen memiliki tugas sendiri-sendiri dan sudah seharusnya untuk bertanggungjawab penuh atas tugas itu (secara profesional). Sebagai Contoh seorang Urusan Pendanaan, ia harus memikirkan seberapa besar dana yang dibuhtuhkan? Dari mana dana itu didapatkan. Begitupula seorang Sutradara yang bertanggungjawab atas pola permainan panggung; (akting pemain, cahaya, bunyi-bunyian, set, property dan lainlain). Jikalau kita memandang Elemen dalam Group Teater, ada kesamaan dengan elemen dalam tubuh kita sendiri; setiap organ tubuh memiliki fungsi sendiri, tetapi saling berhubungan dan tergabung dalam fungsi yang sempurna. Teater ibarat laboratorium kehidupan itu sendiri, seperti yang diungkapkan Peter Brook “Teater akan menjadi tempat yang indah bagi orang-orang yang mabuk dan kesepian, Teater merupakan sebuah tindak budaya, Teater bukanlah tempat untuk melarikan diri ataupun untuk mencari perlindungan”.

). Rupa sebagai unsur penunjang ( cahaya. 5. Tubuh. sebagai unsur penunjang ( kata/untuk acuan pemeran) 4. sebagai unsur penunjang ( bunyi benda. 3. manusia sebagai unsur utama ( pemeran/pelaku/pemain) 2.efek dan musik). 6. Suara. Lakon sebagai unsur penjalin ( cerita. rias dan kostum. Dari rumusan diatas dapt ditarik kesimpulan bahwa unsur-unsur teater menurut urutannya adalah sebabagai berikut : 1.RUMUSAN TEATER Teater adalah salah satu bentuk kegiatan manusia yang secara sadar menggunakan tubuhnya sebagai unsur utama untuk menyatakan dirinya yang diwujutkan dalam suatu karya seni suara. Gerak. sebagai unsur penunjang.fiksi dan narasi ). Bunyi. bunyi dan rupa yang dijalin dalam cerita pergulatan kehidupan manusia.non cerita. .

Jika vokal tidak bagus atau jelek. Yang perlu diperhatikan dalam berlatih olah suara adalah tenaga suara dari perut yang didorong ke atas melalui ruang resonansi diimbangi dengan pengaturan nafas yang tepat. 2010 • Related • Filed Under Vokal merupakan tenaga dalam olah suara. Ukuran bagus dan tidaknya suatu vokal terletak pada kuat atau tidaknya suara yang dproduksi lewat mulut. Vokal adalah suara yang menyembunyikan kata yang keluar dari mulut. Adapun bentuk olah suara dapat dilakukan dengan latihan dasar menyanyi dan deklamasi. Dengan vokal yang baik akan bisa memberikan kontribusi yang besar bagi pertunjukkan atau pementasan karya seni teater.Teknik Olah Suara Pada Seni Teater January 13th. maka kalimat menjadi mubazir dan tidak berguna dalam memantaskan karya teater. Vokal inilah yang menjadi kunci dalam pergelaran karya seni teater. .

Barangkali ia akan sampai sebgai sesuatu yang kacau. Dengan kata lain ia tidak lagi merupakan bagian terperinci. tetapi apabila ia lalu menggunakannya. Atau dengan kata lain. maka akan memberikan hasil yang umum dan tidak unik. teknik ini menjadi sepontanitas yang secara otomatis teratur dan sadar bentuk. hampir setiap orang bisa mempelajari dan menghafalkan teknik seni bermain yang sudah disusun dan diajarkan. Sebaliknya. inilah yang disebut teknik dalam kesenian. bisa dipakai. Namum demikian teknik yang umum ini selalu penting dalam hidup setiap seniman. atau bertele-tele. Orang lain bisa mempelajari karena mengaguminya. bisa saja mempelajari teknik itu dan punya banyak pengetahuan tentang itu tapi tak dapat ia kuasai. dan apa yang semula unik. maka akan memberikan hasil yang umum dan tidak bisa dipakai secara umum. Actor dibedakan menjadi dua yaitu: pemain alam dan pemain bukan alam (buatan). Demikianlah kalau ada pemeo yang mengatakan. karena ia hanya akan sampai pada efek-efek tanpa keindahan dan gubahan yang unik. sehingga. hanyalah orang yang mempunyai rohani seniman saja yang bisa melakukannya. karena ia menguasai alat komunikasinya. Dlam hasil kesenian yang baik teknik sudah menyatu di dalam intuisi sang seniman. selalu dapat menguasai yang ia ajak berkomunikasi. tanpa teknik. dan demikian pula kedudukan teknik bermain dalam seni seorang pemain. Dalam hal ini. Tapi perlu dicatat. Bila dipakai. Hanya dalam hasil kesenian yang buruk teknik itu nampak berlebihan atau kurang. Teknik ini ada yang unik dan ada yang umum. karena. atau dengan jalan berguru pada buku penuntun. Sedangkan pemain bukan alam mengetahui acting lewat pengajaran oleh seorang guru. Sang seni dan sangilham. sangat dasar sifatnya. Kedua jenis pemain ini berbeda. hanyalah orang yang berbakat kesenian saja yang bisa melakukannya. meskipun sederhana. atau sama sekali tidak punya daya tarik. hanyalah dengan teknik yang unik ia bisa memancarkan pribadinya. Teknik yang unik timbul dari pribadi seorang seniman yang memang unik. lalu menjadi tidak unik lagi. Penulis hanya menyarankan untuk meletakkan dalam kedudukan yang wajar saja. maka itu berarti ia meniru atau terpengaruh. bahwa teknik itu dipelajari untuk dilupakan. hanya akan menjadi gairah yang asik tapi tidak komunikatif. Teknik yang umum yang sifatnya dasar. Cara mencapai hasil dalam menyampaikan sang seni dan sang ilham kepada orang lain. namun tanpa sang seni dan sang ilham ia tak akan mampu menyajikan seni bermain yang baik. maka pada hakikatnya itu berarti bahwa teknik itu dipelajari dengan penghayatan sehingga akhirnya bisa menjadi semacam naluri. Pemain alam mengetahui itu tanpa ada yang mengajarinya secara teratur dan juga barangkali tanpa membaca buku penuntun. karena tak . dalam hal ini. Sedangkan yang lain. melainkan sudah menjadi unsur yang padu. tetapi mereka disarankan untuk mengetahui seluk-beluk teknik bermain (Acting). atau dengan kata lain membuat ia menjadi fasih. Demikian kedudukan teknik dalam kesenian. tak bisa ia endapkan menjadi pengalaman.PENTINGNYA TEKNIK BERMAIN BAGI ACTOR TEKNIK BERMAIN (Acting) merupakan unsur penting bagi pemain (Actor). Teknik yang umum menyebabkan seniman merasa yakin dalam membawakan dirinya dalam keseniannya. Dalam kritik-kritik seni sering menempatkan teknik bermain (acting) secara berlebih-lebihan.

Ini hanya masalah pribadi yang hanya dapat diatasi oleh senimannya sendiri. . Ternyata jika kita telusuri persoalannya adalah masalah rohani seniman yang tidak berkembang. satu pasal teknik bermain yang paling sederhana pun bisa membukakan pintu ke arah perbendaharaan ilham artistiknya yang kaya itu. filsafat. namun. agama. Cara yang biasa dilakukan dalam menambah atau mencari pengalaman rohani / batin agar lebih kaya dalam mendapatkan sang seni dan sang ilham. Manfaat gai pemain berbakat dalam mempelajari teknik bermain yang umum adlaah untuk menambah kemampuannya dalam membuat keragaman gaya. Dokter jiwa.bisa ia sangkutkan dengan kebutuhan rohani. karena hanya sarat dengan permainan teknik melulu. Ada pula pemain yang berbakat dan cukup paham akan teknik bermain yang umum. pada satu tingkat perkembangan tertentu. dan ilmu pengetahuan tidak bisa memberi resep yang menyembuhkan. pemain menjadi kering. Tidak ada buku yang bisa mengajarkan perkembangan rohani. Dan bagi seorang yang memang berbakat besar.

[2] Karya seni dapat dilihat dari bentuk pakaian dan rias. Properti o 3.5 5. Teater Modern Daftar isi [sembunyikan] • • • • • 1 Teater Tradisional o 1. diataranya adalah :[5] 1. Pemain/Pemeran/Tokoh o 3.Indonesia kaya akan seni.[1] Seni merupakan unsur kebudayaan yang tumbuh dan berkembang sejajar perkembangan manusia sebagai pencipta dan penikmat karya seni. berbagai upacara adat dan prosesinya.1 1.3 3.[6] .[4]Di Indonesia mempunyai dua teater.2 Kelompok dan sutradara 3 Unsur-unsur Teater o 3. Naskah/Skenenario o 3. jenisjenis pertunjukan. Salah satunya adalah sebi pertunjukan yaitu bentuk teater. Penataan 4 7. Teater Tradisional 2. dan lain-lain. Penonton 5 Referensi [sunting] Teater Tradisional Teater Tradisional adalah bentuk pertunjukan yang pesertanya dari daerah setempat karena terkondisi dengan adat istiadat. jenis makanan dan hidangan.2 2.1 Ciri-ciri Teater Modern o 2. sutradara o 3.[3] Seni Teater adalah seni yang kompleks.4 4.1 Ciri-ciri Teater Tradisional 2 Teater Modern o 2. sosial masyarakat dan struktur geografis masingmasing daerah.6 6. Skenario o 3. artinya dapat bekerjasama dengan cabang seni lainnya.

Dulmulk dari Sumatera Selatan .Mak Yong dan Mendu dari Riau . Pementasan panggung terbuka (lapangan.Bangsawan dari Sumatera Utara .Masres dari Indramayu .Randai dari Sumatera Barat .Ludruk dari Surabaya .Gambar ini merupakan Museum Wayang .Anak Ari dari Nusa Tenggara . .Ketoprak dari Yogyakarta .Lenong dan Topeng Blantik dari Betawi .Arya Barong Kecak dari Bali [sunting] Ciri-ciri Teater Tradisional Teater Tradisional mempunyai ciri-ciri sebagai berikut [7]: 1.Wayang Orang dari Jawa Tengah/Yogyakarta . halaman rumah).Mamanda dan Wayang Gong dari Kalimantan Selatan .

Teater Garasi : Yudi Ahmad Tajudin 3. film [sunting] Ciri-ciri Teater Modern . 3.Ada pengaturan jalan cerita .tempat panggung tertutup [sunting] Kelompok dan sutradara Kelompok teater modern dan sutradara [10]: 1. Teater Kecil : Arifin C. drama b.2. Ceritanya turun temurun. Teater Koma : N.Panggunga tertata . Riantiarno 4. sinetron d. teater c. Pementasan sederhana. Bengkel Teater : WS Rendra 5. Teater Gandrik : Jujuk Prabowo 2. Noor dan lain-lain .[9] contoh Teater Modern : a. atau karya sastra.[8] [sunting] Teater Modern Teater Modern adalah cerita yang bahannya dari kejadian-kejadian sehari-hari.

Naskah/Skenenario Naskah/Skenario berisi kisah dengan nama tokoh dan diaolog yang duicapkan. robot. [sunting] 2. seperti : keadaan.[15] [sunting] 5.[12] Tujuan dari naskah/skenario untuk sutradara agar penyajiannya lebih realistis.[16] Contohnya : kursi. properti. sutradara Sutradara merupakan orang yang memimpin dan mengatur sebuah teknik pembuatan atau pementasan teater/drama/film/sinetron. Peran Utama Peran Utama Yaitu peran yang menjadi pusat perhatian penonton dalam suatu kisah b. Properti Properti merupakan sebuah perlengkapan yang diperlukan dalam pementasan drama atau film.[13] Macam-macam peran [14]: a. dekorasi. yang isinya lengkap. petunjuk akting dan sebagainya. nama tokoh. meja.[sunting] Unsur-unsur Teater Unsur-unsur dalam teater antara lain [11]}: [sunting] 1. Peran Tambahan/Figuran Figuran Yaitu peran yang diciptakan untuk memperkuat gambar suasana [sunting] 4. dan lain-lain . karakter. hiasan ruang.[rujukan?] [sunting] 3. Skenario Skenario merupakan nsakah drama (besar) atau film. Pemain/Pemeran/Tokoh Pemain merupakan orang yang memeragakan tokoh tertentu pada film/sinetron biasa disebut aktris/aktor. Peran Pembantu Peran Pembantu Yaitu peran yang tidak menjadi pusat perhatian c.

[rujukan?] Penonton menonton untuk menghibur hatinya dan bagi senimannya bisa sebagaievaluator dari karyanya.[rujukan?] Pada setiap pementasan seni pasti ada penonton.[19] Bentuk karya seni akan sia-sia jika tidak memiliki penikmat karya. Tata Lampu Tata Lampu adalah pencahayaan dipanggung d. Tata Rias Tata Rias adalah cara mendadndani pemain dalam memerankan tokoh teater agar lebih meyakinkan b. komposisi properti agar efektif mendukung pentas f.[sunting] 6. Tata Busana Tata Busana adalah pengaturan pakaina pemain agar mendukung keadaan yang menghendaki.[18] Penonton sebagai evaluator yang mengapresiasi dan menilai hasil karya seni yang dipentaskan. Tata Pentas Tata Pentas adalah seting. Pentas/Panggung [sunting] 7. Contohnya : pakaian sekolah lain dengan pakaian harian c. antara lain[17]: a. Penataan Seluruh pekerja yang terkait dengan pendukung pementasan teater. Tata Suara Tata Suara adalah pengaturan pengeras suara e. Penonton Penonton adalah undur dalam pementasan drama/teater/sandiwara atau film karena sebagai saksi dari hasil akhir kerabat kerja.[20] .

.

Teater Populer adalah sebuah cita-cita. Berazaskan ilmu dramaturgi dan sinematografi. Berbagai kegiatan kesenian yang mendasari ilmu panggung di sanggar Teater Populer meliputi banyak bidang. Teater Populer menganut aliran realis sehingga dalam bidang seni peran. dan Editting Penyutradaraan dan Penulisan Naskah .Sanggar Teater Populer. Kelompok Kerja Kreatif Teater Populer selalu aktif dalam pementasan teater maupun pembuatan film layar lebar. dapat langsung diaplikasikan di luar panggung seperti misalnya di media layar lebar. seperti: • • • • • • Seni Peran Seni Rupa Seni Tari. atau juga disebut Yayasan Teater Populer. dan Suara Seni Sastra Penguasaan Kamera. Tata Cahaya. merupakan suatu tempat berkumpulnya para pekerja kreatif di bidang seni. drama dan film. yang berarti segala kegiatannya tidak ada yang absurd. Musik.

Teater Koma belajar dari kelompok-kelompok teater terdahulu. Teater Koma bisa juga disebut sebagai teater tanpa selesai. Saya menuliskan konsep kesenian Teater Koma. Dalam kesempatan itu. maka . Teater Tanpa Selesai.Tentang Kami Indeks Artikel Tentang Kami hal 1 Tentang Kami hal 2 Tentang Kami hal 3 Tentang Kami hal 4 Tentang Kami hal 5 Tentang Kami hal 6 Tentang Kami hal 7 Kode Etik Semua Halaman Halaman 1 dari 8 Jakarta. Sebelum pementasan ke-empat Teater Koma yang berjudul Kontes 1980. Pencarian wujud dan isi teater yang lebih kaya warna. Mungkin bentuk pementasannya merupakan gabungan dari bentuk teater yang sudah ada. . 1980. akan menjadi prioritas utama. Teater Koma menganggap. Pada tanggal 1 Maret 1977. dan sebagian mementaskan karya teater mereka. terutama didorong oleh kegelisahan pencarian berbagai kemungkinan lain dan upaya mewujudkannya di atas pentas. Para sutradara diminta mengungkapkan konsep berteaternya. Lalu konsep itu didiskusikan.. saya menulis. duabelas seniman yang punya iktikad sama.’ dan seterusnya. digelar pula panel diskusi yang diikuti oleh sutradarasutradara teater nasional. Ada dua tujuan pokok yang menjadi landasan dalam bekerja. belum seluruhnya selesai. Dalam suratnya kepada Dewan Kesenian Jakarta sehubungan dengan pementasan pertama Teater Koma. Judulnya. Selasa Pahing. Dewan Kesenian Jakarta menggelar Temu Teater Nasional. ‘Melihat sekarang ini kegiatan teater kita sangat didominasi oleh teater-teater senior yang nampak tenang dan bahagia dengan warna teaternya yang semakin khas itu. Beberapa kelompok teater dari Jakarta dan dari luar Jakarta mengirim kontingen. antara lain didorong oleh keinginan menghadirkan tontonan teater yang diharapkan memiliki warna berbeda dengan kelompok teater yang sudah ada. Tapi bisa juga bentuknya malah ‘berbeda sama sekali’. Tekad mendirikan kelompok teater. mendirikan kelompok Teater Koma. Isinya demikian. Titik tolak pembentukan kelompok. karya pentas teater yang ada selama ini.

Tak perlu berikrar terlalu muluk. Hanya seniman saja yang memahami apa yang dilakukan orang teater. Celakanya. sudah tentu bukan sesuatu yang baru. rasanya seperti menyaksikan. Teater ada di awang-awang. Hanya pujian. ‘upaya penggalian berbagai kemungkinan’. vokal. yang berupaya mencari berbagai kemungkinan pengucapan lain. Dengan kesungguhan hati. tidak ada sesuatu yang baru’. Dan apa pun hasilnya. Seakan ada di dalam lemari besi terkunci. Artinya. dia harus menyediakan (mengelola) waktunya dengan sepenuh hati. Dalam buklet pementasan. meski dalam keterbatasan. Tak ada kritik tajam yang bisa dipelajari atau dipakai untuk bercermin. Lalu penonton memandang teater sebagai alien yang sukar dipahami dan ‘berbahaya’. terutama dari segi pemenuhan materi. kondisi teater kita sungguh tidak masuk akal. Ketika hal itu terus terjadi. Pasti banyak kekurangan dalam pentas Rumah Kertas. ‘di bawah matahari. tapi intensif. di Teater Tertutup TIM. lewat dupa.Pernah terjadi. dia harus mencari akal agar semua jadwal tak terganggu. Tapi dilupakan hingga memfosil. pada suatu masa. misal. maaf. seluruh jiwaraga. Pegangan yang mencipta kegembiraan bekerja adalah kerjasama yang saling menghargai. kerjanya tak boleh terganggu. Pembinaan terhadap calon seniman dilakukan secara tak resmi. Kemudian. Para anggota diminta untuk tidak berharap banyak dari teater. teater menjadi ‘benda yang aneh’. Saya tak berani menyatakan. ‘hidup dan matiku hanya untuk teater’ atau omong kosong lain yang sloganistis. Intim dan spontan. pemimpin-guru-sutradara teater dan film yang sangat saya hormati. karya teater yang baik juga bisa dilahirkan. Teguh Karya. Lewat omong-omong dan diskusi. tindakan ‘masturbasi’. dan berbagai pengetahuan teater. sulit dijamah dan dijauhi. Anggota kelompok yang terlanjur memiliki pekerjaan di luar teater. Setiap kali menonton kegiatan teater semacam itu. saudara dan tetangga dekat. Untuk membuktikan hal itu. awal Agustus 1977. menulis kata pengantar berjudul Prospek. ‘bikin dan lahirkan pembaruan-pembaruan!’. semacam workshop. apa yang disajikan Teater Koma adalah sesuatu yang baru. Membentuk kelompok menjadi wadah.1. kata orang. Barangkali lebih tepat disebut. Menyiapkan calon seniman dan pekerja teater yang tangguh. nafas. Tapi begitu ikrar terlibat dalam kegiatan. workshop akan diarahkan menuju perencanaan pementasan. 2. Akan diundang seniman-budayawan di luar kelompok untuk memandu pembahasan sebuah topik yang punya keterkaitan dengan senibudaya. Salah satu anjurannya. Di lain sisi. Pujian datang dari sesama teman. yang kemudian menjadi pegangan adalah. Akan diselenggarakan pula latihan dasar. Naskah-naskah drama yang digali kandungan idenya. yang dianggap ‘baru’ adalah sesuatu yang pada suatu masa pernah akrab dengan kita. merasa yakin karyanya sebagai hasil semedi. para pekerja teater yang menggelar teater macam itu. Teater Koma menggelar produksinya yang pertama berjudul Rumah Kertas. darah dan keringat. bahkan orang teater pun banyak yang tak paham. lebih diutamakan karya para penulis Indonesia. Bisa jadi. olah tubuh. Sebab. Tapi mengapa kerja seolah sia-sia? Mengapa seakan-akan hanya sedikit orang saja yang ‘memilikinya’? .

dibutuhkan. Mitos. Teater bisa mengandung berbagai pertanyaan yang seringkali tak terjawab. Persoalannya adalah. Dengan cara itu. Saya menyodorkan pemahaman mengenai disiplin dan tanggungjawab seorang seniman. kritik dan otokritik. malah justru mampu mencipta kegembiraan kerja. Teater juga bukan kamus yang serba tahu. Bukan sebuah ‘istana asap’ yang harus diciptakan. yang dikerjakan tidak tergesa-gesa.Teater tak boleh terpencil apalagi dipencilkan. berulang kali. Seperti katak dalam tempurung. mengapa sampai tidak dipahami. Saya tidak pernah marah jika ada pemain datang terlambat latihan. Teater bukan alien. Tidak. Mereka harus rela mensubsidi kegiatan sendiri. Mungkin ada bagian yang magol dan tak komunikatif. Itu dongeng. Teater bukan obat batuk ‘ampuh’ yang langsung menyembuhkan. Lalu akan datang kekecewaan dan teater pun ‘dibenci’. Juga bukan pahlawan sakti dan bersayap yang dengan pongah menatap dari langit. Tapi teater harus akrab dengan masyarakatnya. Menjadi magnit. jadi rebutan khalayak. Teater adalah pemaparan pemikiran. Karena pada suatu ketika. akan diketahui bahwa yang dibangun hanyalah ‘istana asap’ belaka. Bekerja. berdasarkan kenyataan lapangan. . sumber teater adalah kehidupan dan alam semesta. teater cuma kumpulan pertanyaan yang jawabannya harus dicari bersama. selalu berupaya meneliti kembali semua kekurangan dan kelebihan. hasil keseniannya buruk. suasana akrab kemudian dibangun. Lalu hanya dengan mengangkat jari sebelah tangan. Dan masyarakat adalah ‘cermin yang bening’ bagi teater. Sebaiknya ditilik lagi. Saya hanya berusaha mengetahui mengapa dia terlambat dan membahasnya dengan simpatik. sebuah pertunjukan yang baik dan bernas pun bisa disajikan. Itu kata kunci yang utama. apakah rileks dilakoni dengan penuh kewaspadaan dan rasa tanggungjawab atau hanya rileks tak waspada saja? Cara sederhana seperti itu. Rileks tapi tetap waspada. Keakraban dengan kehidupan nyata adalah sumber daya kreatif para seniman teater. Jangan sampai melupakan hal yang sangat penting itu. saya menganjurkan anggota Teater Koma agar tidak memasuki teater dengan modal kosong. hasil perenungan bagai emas berjatuhan. Bahkan Teater pun harus senantiasa bercermin. Jika apa yang disajikan teater tidak dimengerti oleh masyarakat. Saya kurang setuju jika seniman teater hanya berkubang di dalam lingkar-teaternya saja. Salah satu upaya pencarian jalan menuju kebahagiaan. Sebab. Atau seperti para pemain lenong. Seniman teater sebaiknya seperti para seniman Bali. Bisajadi. Dalam sebuah paguyuban. jangan masyarakat yang disalahkan. yang masing-masing anggotanya saling mengisi kekurangan. Kisah manusia menjadi titik pusatnya. Atau mungkin. yang sehari-hari bekerja sebagai tukang becak atau kuli pelabuhan. Dengan tidak mengurangi rasa hormat kepada mereka yang merelakan diri hidup hanya untuk teater. Teater adalah investasi kultural jangka panjang. yang ketika tidak berkesenian adalah petani-petani tekun yang mencintai tanah dan bumi.

sekaligus juga tidak menjanjikan apa-apa. berbagai sumber kreatif mampu mencipta ‘peristiwa teater’. Begitu keinginan berkelompok diikrarkan. Apa harus ditolak? Tentu tidak. juga menjadi semacam alat seleksi. bisa jadi kegiatan kelompok akan tersendat atau bahkan macet. Biarlah waktu yang akan membeberkan kenyataan. mendadak ingin masuk kegiatan teater. Lalu saya coba menuangkannya dalam tulisan. Catatan-catatan saya hanya kumpulan berbagai informasi.Saya beritahu. Peluang penggalian narasumber kreatif yang lebih luas justru lebih banyak terdapat di luar teks. usia. sikap ikut-ikutan semacam itu justru sering terjadi dalam dunia teater kita. Saya sering merangkumnya sehingga menjadi naskah drama. teater ternyata tidak seperti yang dibayangkan sebelumnya. berbagai sumber kreatif itu bisa diserap untuk kemudian diproyeksikan kembali secara tajam. biasanya mereka akan segera lari. Ada beberapa anggota yang sebelumnya tak tahu apa itu teater. Pegangan. Sangat sederhana tapi bukan berarti mudah dilakukan. Jika tidak. Lalu memilih yang paling tepat sebagai bahan utama. bahwa kelompok sangat membutuhkan kehadirannya. Catatan ini lebih merupakan kumpulan pengalaman lapangan. . Dengan kepekaan seorang seniman. juga bukan patokan kaku. Mereka bisa mencarinya di dalam kehidupan nyata. Tapi naskah drama tulisan saya. Tanggungjawab yang diminta bukan karena paksaan tapi karena kebutuhan. Sebab. Disiplin teater bukan disiplin mati. Jika teater dibayangkan sebagai sosok yang mengerikan. catatan ini bisa juga disebut sebagai sikap dan pegangan kerja kelompok Teater Koma. catatan pinggir atau percik-percik pemikiran. Di sekeliling kita. Teater. pada hari latihan berikutnya. saya masih meyakini konsep teater teks sebagai dasar dan titik tolak menuju perwujudan peristiwa teater. Dan kerja bukan sebuah beban melainkan menjadi kumpulan kegembiraan. Bagaimanapun. Saya menganjurkan pemain-pemain saya untuk menggali jawaban tidak hanya dari teks. dia tidak terlambat lagi. naskah punya kemungkinan berubah atau berkembang. ibarat sebuah kegiatan yang dijalankan dengan dada lapang dan keikhlasan. nyatanya lebih berat dibanding latihan untuk pementasan. Kejujuran. Meskipun dalam arti yang lebih luwes. mengajarkan banyak hal yang berharga. Pengalaman lapangan. seiring dengan gerak zaman. Tapi karena dorongan teman. kematangan dan waktu. Pada kenyataannya. Biasanya. yang sewaktu-waktu bisa berubah. Jadi. Latihan-latihan dasar yang diwajibkan. tapi disiplin hidup. bukan kesimpulan baku yang didata dari survei ilmiah lalu menjadi pegangan yang kaku. Jika dia tidak hadir atau datang terlambat. Memperkokoh dasar. saya harus siap berbuka hati dan sabar. saya telah mencatat berbagai hal. Modalnya hanya semangat atau harapan tertentu. Sekian lama bekerja dalam teater. kenyataan mana yang harus diungkapkan? Saya akan bertindak untuk tidak menggambarkan berbagai kesulitan dalam berteater. biasanya daya tahan pun akan kuat. Bahkan menonton pertunjukan teater pun tak pernah. Tapi jika hanya dijanjikan tepuk tangan dan popularitas saja. Di dalam perjalanan. Lalu kita dianggap pembohong. mereka langsung hengkang. kenyataannya sering tidak seperti itu. Tapi jika niat lahir dari keinginan yang kuat. kemudian bersama-sama membahasnya di dalam forum latihan.

teater.Catatan ini ditulis tidak dengan kehendak memaksa orang lain untuk mengikuti. Salah satunya. Bahkan sebutir pasir. Nilai ‘yang sangat buruk’ itu. Usia 16 tahun. Sekali seminggu membaca puisi di radio. Saya juga. penyutradaraan dan penulisan. banyak anak muda yang suka berpuisi. Jakarta memiliki wajah yang belang-bonteng. Tapi dari kekurangan. diiringi dengan banyak pertanyaan. Dia menaruh bagian-bagian yang dimilikinya. gaduh dan sunyi. Tapi tak pernah ada jawaban pasti. Memang belum terlalu pasti. saya langsung merantau ke Jakarta. sebuah inti-kehidupan. membaur jadi . Di luar cara saya. Diberi kesempatan untuk menghargai. Kadang saya mengikuti lomba deklamasi (dan tidak pernah menang). Kenyataan lapangan yang saya alami. bagian dari nasib saya. seyogyanya. hingga saat ini. Dan dari ketidakpuasan. biru dan kelabu. Mungkin ini dunia saya. Saya bermain sebagai Scipion dalam Caligula karya Albert Camus. secara tak langsung. Dan di titik itulah letak kekuatan seni pertunjukan. lahir upaya perbaikan. saya tak pernah menyesalinya. Saya yakin bermain buruk. Dan ayun langkah saya. Tapi saya merasa seakan menemukan dunia yang diimpikan selama ini. Yang mengherankan. Saya tetap berusaha untuk menghargai. Kegiatan saya berkisar antara ‘diskusi tentang puisi’ dan menerbitkan majalah dinding di sekolah. yang berbeda. Teater memiliki peluang dan kemungkinan yang sangat luas. Saya sadar. Dunia bergulir dan ‘marak’ karena upaya-upaya agar menjadi lebih baik. Sejak itu. yang usianya masih sangat muda. menghargai segala hal. setiap cara pasti memiliki kekurangan dan kelebihannya. perjalanan kreatif mendorong saya jadi seperti sekarang ini. suram dan gemerlapan. Semoga pembeberan ini tidak malah mengaburkan. bertanya mengapa. saya tetap bahagia. Teguh Karya. Nasib? Atau cuma kebetulan saja? Entahlah. Saya mulai mengenal teater pada 1965. Segala unsur kesenian bermuara kepada teater. Biarlah orang berpendapat. Kaya dan miskin. pastilah spesifik. Saya belajar dalam sebuah ‘akademi kehidupan’ di bawah bimbingan guru tunggal. Saya hanya ingin ‘mengajak untuk memahami’ apa yang sudah dan hendak dilakoni kelompok Teater Koma. merah dan hitam. biasanya. Dan masing-masing cara. semangat menggebu-gebu dan dengan pongah ingin menyaingi Shakespeare. Saya mempercayai kesenian. Pada tempatnya masing-masing. Meski sering dijerat situasi buruk. tentu banyak cara lain. bukan satu-satunya jalan dalam berteater. Saat itu. Paling tidak. lahir ketidakpuasan. Kesenian adalah ‘kehidupan’. Begitu lulus SMA. pada tempatnya. sampah ataupun kotoran hewan. Dan punya harga. Pasti berguna bagi hal-hal tertentu. Teater adalah kesenian. Saya mendalami pengetahuan artistik. Sering saya berkaca. khusus. saya sedang mempersiapkan diri untuk menjalani semacam ‘upacara ritual’ memasuki dunia dambaan. mungkin sama baiknya jika ditilik dari sisi peyakinan dan kebutuhannya. Dan kesenian telah menjalankan tugasnya dengan baik. Itulah hidup. 1967. pastilah punya harga. saat masih SMA di Kota Cirebon. Saya samasekali tak menyangka. upaya memperbaiki diri. Itulah teater. adakah ‘sesuatu’ yang samasekali tidak berharga? Saya meragukannya. tergantung bagaimana si seniman memanfaatkannya. Saya bersyukur karena diberi peluang untuk meraih banyak hal. ada sesuatu yang sangat buruk dan sama sekali tak ada harga.

saya mulai mengarahkan perhatian kepada teater rakyat kita yang sifatnya intim. bagi mereka? Adakah mereka memahami? Pernahkah mereka mendengar tentang Konstantin Stanislavsky. aturannya disakralkan dan ditabukan. nampak seorang lelaki tua. Segenap isi pikirannya hanya tertuju kepada Tuhan Yang Maha Esa. Teater tradisi dan teater rakyat kita. Ketika lelaki tua itu menyelesaikan sembahyang dan mengucap salam. Harapan dan putus-asa. Hanya ingin mempelajari teknik pemanggungannya dan ‘memanfaatkannya’. Lalu timbul kesimpulan. Hanya disimpan dan dianggap pusaka. Teater Indonesia harus dilahirkan kembali tapi tidak selalu berpatokan kepada teori dari Barat. apa yang sudah saya lakukan. Musnah sejarahnya. August Strindberg. Pada suatu hari. Dia bersembahyang dengan sangat khusuk. Jarang dipakai. Terpinggirkan. Lalu. berhimpitan gubuk-gubuk reot di kawasan yang kumuh. Bertolt Brecht. jujur dan apa adanya. pakaiannya lusuh. Saya hanya ingin menjadikannya sebagai bahan studi banding. saya merasa teater tradisional dan teater rakyat kita bak baju wangi kamper yang tergantung dalam lemari terkunci. tanpa diketahui di mana letak kuburannya. Sejak itu saya merasa. Apa arti kesenian dan teater. Hanya sedikit yang kenal. Mungkin hanya urban yang gagal mengadu nasib di Jakarta. Adakah yang sudah saya perbuat untuk dia? Sosok yang seakan tengah membusuk tapi tetap ingat Tuhan? Sosok yang bukan satu-satunya. Di dekatnya membusuk gunungan sampah yang menghitam. apa yang sudah saya serap. Eugene O’Neill. Tubuhnya renta. Di sudut yang luput dari perhatian. apalagi dieksplorasi. banyak yang kemudian mati merana. Teater tradisional kita bertahan dalam posisinya. Gang-gang becek dan got-got mampet berbau busuk. Pada 1968. Riwayat mistiknya dikisahkan. Bau bacin. Saya segera berlalu dengan mata berkaca-kaca. Hanya mereka yang berpendidikan saja yang mampu menikmati. Itu pun sering cuma sebatas kulit saja. Tapi haruskah seperti itu? Bukankah semua orang berhak menikmati kesenian? Tidak bisakah agak lebih disederhanakan? Bukankah teater rakyat memiliki kemungkinan menuju bentuk ‘penyederhanaan’ itu? Sederhana. Mungkin itu yang jadi salah satu sebab. Saya tak ingin dijebak keharuan. spontan. bebas. masa depan lebih berbahagia. samasekali belum memadai. saya membalas salam. bukan simplisitas. Saya tidak menyesal memiliki pengetahuan Teater Barat. Kekuatannya jarang ditimbang. mengapa teater modern seakan barang mewah yang sulit terjangkau oleh orang kebanyakan. tak perduli sekeliling. meski saya sangat terharu. Tapi apa yang tengah dikerjakan lelaki tua itu? Dia bersembahyang di atas kertas karton yang dijadikannya sebagai sajadah. Jakarta adalah pintu berbagai kemungkinan. Gedung-gedung tinggi mencakar langit dengan pongah. Sekuat daya saya menahan perasaan. Saya menyesal karena sudah melupakan milik sendiri. Tapi di dekatnya. Tapi saya tak ingin menelan mentah-mentah. hanya sebagai warisan tradisi belaka.satu dalam masyarakat yang mendambakan masa depan lebih baik. Hanya sedikit . Tapi dia bukan pengemis. Arthur Miller atau Meyerhold? Teater modern disahkan kehadirannya lewat pengetahuan dan teori-teori. saya lewat sebuah pasar yang becek. tak resmi. sebab kita dikepung berjuta orang papa seperti dia.

sebagai titik tolak yang sangat penting. Teater dan kehidupan sehari-hari adalah dua hal yang saling berkaitan. “Selamat tinggal guru. Tapi sebagai tontonan. Teater harus membuka diri terhadap pengaruh-pengaruh yang berguna bagi pengembangannya. Selalu tidak puas. Itu pun sering menuai berbagai penolakan karena dianggap berniat merusak warisan tradisi budaya bangsa. saya tidak akan melupakan guru”. Sebagai ilmu pengetahuan. dan emosi. Keinginan disusul oleh keinginan lain. menyerap nilai-nilai estetik. lalu membeberkannya secara adil dan jitu. Teater harus menutup kemungkinan masuknya pengaruh buruk. Setiap saat. membuat kehidupan manusia jadi lebih baik. Apa manfaatnya bagi kebahagiaan. Bentuknya. Dia tidak jauh dari masyarakatnya. dinamis dan bergerak tanpa sungkan. mungkin merupakan campuran dari berbagai hal. Itulah ikrar yang membuat saya kemudian berkeliling Nusantara. tanpa terpengaruh dari mana pengaruh itu berasal. Mengapa begitu? Karena teater lebih memihak kepada hati nurani dan kemanusiaan. teater harus membaur dengan kehidupan sehari-hari. dan pemikirannya memiliki akar. Dia hidup. surealisme. Hanya sedikit peminatnya. tanpa ragu. bukanlah jawaban. Dia tak boleh mengajari tapi mengajak bersama-sama memecahkan berbagai masalah kehidupan. Dia harus mampu menyodorkan pemikiran-ulang berbagai konvensi serta memfasilitasi pikiran-pikiran baru yang bertujuan mulia. Dia harus hadir untuk semua pihak yang membutuhkannya. Saya ingin menjadikannya sebagai bahan utama teater saya kelak. tidak dengan sentimen yang memihak dan mengandung prasangka. apa manfaatnya bagi kemanusiaan. tanpa menyakiti. Teater Indonesia harus mampu menembus berbagai batasan. kering dan sunyi. waktu. ekspresionisme. Teater harus bicara. 1975. Ide-ide. ‘Apa yang akan kita sampaikan?’ Rencana itu. pemikiran. jarang sekali digali untuk dipahami atau dijadikan sumber ilham. bentuk. Lalu sang murid pergi dan melakukan sesuatu yang berbeda dengan apa yang sudah dilakukan oleh gurunya. roh dan semangatnya. Dia harus bisa dinikmati oleh kaum terpelajar dan urban-gagal yang sebelumnya tidak pernah mengenal teater. mungkin bisa nampak terasing. ada seorang murid yang menyalami gurunya dan sambil berlinang air mata mengucap. ruang. menjadi media-kretif yang menjembatani dan menciptakan ‘komunikasi estetik’. Mimpi-mimpinya akrab.yang coba memikirkan kemungkinan hadirnya teater rakyat dan teater tradisional ke dalam bentuk dan warna teater kita masa kini. meski pengaruh itu terbit dari dalam negeri sendiri. cara penyajian. selama enam bulan. . simbolisme. struktur penulisan cerita dan simbolisasinya. Yang utama. Pada dasarnya manusia cenderung tidak puas. Realisme. Teater sebaiknya memotret peristiwa. seperti wajah Jakarta yang belang-bonteng. aturan.

dan gaya berteater. Pementasan. intim. merawat kelompok teater semudah membalikkan telapak tangan. bukan hal mudah. bebas. materi misalnya. Pentas-pentas Teater Koma juga berusaha lebih masuk ke dalam lingkaran masyarakatnya. saya mulai meninggalkan gaya ‘realisme romantik’ dan melangkahkan kaki ke babakan ‘pemotretan masalah dan membeberkannya tanpa menyakiti’. AD/ART hanya benda mati berupa sekumpulan aturan. sumbernya dari sifat babakan ‘goro-goro’ dalam wayang. Naskah yang sudah ada. Sedang kegiatan kreatif selalu bergantung kepada manusianya. Ketika beberapa seniman kemudian ikrar bergabung. pendekatan saya lebih condong kepada imajinasi. Niat mendirikan kelompok teater baru. Untunglah. beberapa pendukung dan rencana pementasan. Dan tanpa ragu saya bisa merombak naskah. maka boleh dibilang kegiatan itu tengah menggali lubang kuburnya sendiri. saya anggap sebagai sekolah. Di lapangan. kebutuhan artistik (juga pembiayaan) dari waktu ke waktu bergerak terus? Luwes. Keindahan. terpaksa kami menyingkir ke area parkir atau halaman . sebagai jawaban dari ‘keinginan menyampaikan sesuatu’ itu. Lalu. Mungkin pementasan bisa dilaksanakan. sebaiknya lahir karena kebutuhan yang sifatnya lebih kultural. Dalam penulisan. Seakanakan saya hendak mendirikan partai baru. Belum lagi kemampuan pembiayaan yang harus diperhitungkan pula. Memang semudah itu. untuk itu saya tak perlu meminta izin. Itu salah satunya. saya harus menimbang banyak hal dari berbagai sudut. Teater lahir karena kebutuhan mewujudkan rasa estetik. Luwes. nyaris dicurigai. spontan dan berseloroh. Mulanya seorang simpatisan menyediakan beranda rumahnya. pentas perdana Teater Koma itu. Kebutuhan yang lain adalah. Jika tamu datang. Hanya perlu sedikit keberanian (atau kenekatan). Setiap hari. masalah yang timbul berbeda pula. juga seringkali tidak begitu memuaskan dan harus selalu dikoreksi. Jika ada yang menyatakan. ‘ingin menyampaikan sesuatu’. Ajakan-ajakan saya kepada beberapa seniman tak dipercaya begitu saja. penyutradaraan. Sebagai penulis. Sebagai sutradara. Tapi segala peristiwa di dalam perjalanan proses kreatif itu. Memimpin para seniman. Baik dalam gaya penulisan. tempat latihan berpindah-pindah. Pada masa awal. Lalu bagaimana caranya agar kelompok teater tidak mati muda? Padahal. dan biasa disebut guyon parikeno. yang berkata seperti itu adalah pembohong besar. sesudah itu? Bagaimana kelanjutannya? Mampukah kelompok berdiri ajeg di bawah hempasan badai waktu? Mampukah terus melahirkan seni pentas yang semakin berkualitas seiring pengalaman-batin dan usia? AD/ART bukan jawaban dari masalah. bisa lahir berpuluh kelompok teater plus AD/ART-nya. Teater Koma tidak lahir di sebuah panggung yang sudah tersedia. Jika kebutuhan ‘menyampaikan sesuatu’ itu hanya terdorong oleh sesuatu yang di luar kesenian. banyak benturan saya temui. disesuaikan kembali berdasar kenyataan lapangan. Saya menyerap semua masalah dan menjadikannya sebagai pembelajaran.Detik berdirinya Teater Koma adalah awal dari sebuah babakan baru bagi saya. Saya punya pengalaman unik saat melakoni masa persiapan produksi Rumah Kertas. Gaya penyajian berseloroh. senimannya. kemampuan saya menyutradarai selalu diuji. seringkali drama karya saya sendiri. maka saya berani bilang. Setiap saat. kenyataan panggung dan kemampuan para aktor juga harus dipertimbangkan. Padahal. tidak resmi. itu jawabannya.

Akan dikenang oleh diri sendiri dan penontonnya. baru menyadari bahwa perannya sangat bagus. Tantangan saya yang terberat adalah menciptakan sebuah kesatuan bahasa pentas. jelas masih milik grup di mana mereka berasal. Di dalam latihan. tapi memberikan pemahaman. konsentrasi. pasti akan dirasakan juga ‘kehadiran’nya. Teater yang baik lahir dari ide yang baik. timbul lagi satu kesimpulan. Paling tidak. Dalam hampir semua naskah yang saya tulis. disiplin dan tanggungjawab. rasanya tak perlu lagi ragu-ragu merencanakan sebuah pementasan. Cara mereka meyakini dan melatih pendekatan terhadap karakter berbeda pula. Hasilnya optimal. Kepentingan pertunjukan bukan melulu kepentingan satu individu. Jika dia mau berlatih dengan keras. bakat mereka besar. Saya selalu mengandaikan penonton ada di sekeliling area permainan. Kegembiraan dalam kebersamaan bekerja. justru. Pemain-pemain saya berasal dari kelompok teater yang berbeda-beda disiplin dan keyakinannya. Setiap kali latihan. Warna dialog mereka. kerjasama. Itu prinsip bermain dalam ‘teater arena’. Entah di panggung atau di dunia film. selalu ada peluang untuk bermain bagus. Suatu persaingan sehat sengaja saya provokasi. Aktor-aktrisnya. sebagian besar memiliki pengalaman bermain. semua berlomba menyajikan yang terbaik. terkonsep. Yang paling penting. juga harus senantiasa saya kondisikan. sekecil apa pun peran di dalam naskah itu. Mereka mengundurkan diri karena tidak tahan berlatih dengan cara nomaden seperti itu. Itu cara bermain para aktor teater rakyat dalam menghadapi audiens-nya. Saya tidak mengubah cara mereka mengucap dialog. pada bulan pertama kami harus berganti-ganti pemain. komentar mereka bisa dianggap sebagai uji coba awal sebelum kami menggelar pentas di hadapan masyarakat yang lebih luas. itu masalah lain. Saya mengambil sisi baiknya. tapi bukan kediplinan yang kaku atau semu. maka nampak jelas kesulitan saya dalam mempersiapkan sebuah pentas. Akhirnya kami berlatih di halaman depan sebuah restoran. Yang penting dia sudah menyadari dan selanjutnya tidak akan lagi menganggap remeh peran apa pun.depan. Di benak saya. komunikasi menjadi sangat penting. Jika hal semacam itu berhasil ditumbuhkan. Semangat kerjasama kekeluargaan dan kekompakan. Soal sesudahnya dia bermain bagus atau tidak. dengan kekayaan yang sumbernya berasal dari berbagai perbedaan. Secara sadar saya melatih pemain untuk menghadapi penonton. Peluang itu kemudian digarap dalam penyutradaraan. Dengan demikian. Disiplin? Ya. Selama masa empat bulan latihan. Tujuannya adalah memunculkan daya tarik yang unik dan menggoda. Sering kami berlatih di garasi mobil yang sempit milik seorang anggota. konsentrasi harus tajam dan terarah. kami menerima dengan iklas. Teater Koma memang tidak memulai dari nol samasekali. Dan komitmen. bisa dicipta oleh suasana saling menghargai dan saling mengisi. tepat pada malam pertama pementasan. apa pun peran yang dimainkan. Soal kondisi tempat latihan. Manfaat yang bisa saya petik adalah. di sebelah mana pun mereka menonton. Tempat latihan ternyata bukan hal yang utama. Lalu mencari cara paling efektif agar semua dialog ‘sampai’ ke hati para penonton. Seringkali. . seorang pemain. Tapi saya yakin. pasti ada penonton tidak resmi yang kemudian berkomentar. melainkan kepentingan kelompok. Jika perkembangan Teater Koma disimak.

Teater rakyat memang banyak ragamnya. saya coba kembangkan sehingga akhirnya menjadi ‘gaya Teater Koma’. Sudah sejak lama itu diketahui. Berbicara tanpa banyak gerak. pasti berguna karena memang digunakan. Bukankah pernah kita dengar ungkapan ‘marah dalam diam’? Dalam hal ini. Baru beberapa saja yang bisa saya pahami. Baik untuk kepentingan permainan atau untuk kebutuhan tata-rupa (visual). adalah komposisi yang diam dan sunyi tapi indah dan mengandung dinamik yang unik. apa boleh buat. begitu komposer menetapkan bunyi itu dalam komposisi musiknya. dibutuhkan seorang aktor. tapi berkembang dan menciptakan kemungkinan yang berbagai-bagai. wayang kulit. Salah satu kekuatan dari ‘gerak’ kehidupan. Ketika musik dimainkan. rasanya lebih menyiratkan dinamik laten masyarakat kita.Bagi orang teater. Dia adalah bagian dari orkes. marakas atau triangle) tidak dibunyikan? Dan itu terjadi karena pemegang instrumennya mengantuk atau tertidur? Akibatnya. Dekat. secara keseluruhan. Yang kian lama semakin dewasa dan matang. Wujud dan isinya. opera bangsawan dan komedie stamboel. Tarling. Ciri yang tidak mandek pada sebuah titik. ketoprak. tarling (gitar dan suling) dan cemeng (semacam ubrug). Apa pun yang ada di atas panggung. seluruh orkestra akan rusak atau cacat. Penonton yang jeli akan pulang dengan membawa kesan buruk. terus belajar dan mencari. Jika sudah direncanakan sejak awal. ‘enak dinikmati’ dan ‘menyatu’. suatu bentuk seni musik di pesisir Cirebon. Dan penting. Sampai saat ini. memang. Dengan jujur. Marakas atau triangle hanya sebuah instrumen yang kecil bentuknya dan nampak seakan tak berarti. lenong. Tapi roh dan semangatnya tetap berakar kepada semangat rakyat dan tradisi. wayang golek. wayang orang. punya andil dalam membentuk penyajian teater yang saya yakini. akan tetap memiliki perbedaan. sering saya gunakan untuk memecahkan bloking permainan. semakin saya yakin bahwa hal itulah yang justru berperan sangat penting dalam meraih keberhasilan. Tak beda dengan kerja penyutradaraan dalam perencanaan pentas. . Jejer wayangkulit dan wayanggolek. semua materi memiliki nilai artistik yang sama besar. Tapi makin menekuni kerja teater. Malah. Kesederhanaan akan muncul sebagai sifatnya yang utama. Hal itu hanya dimungkinkan oleh hadirnya sebuah grup teater yang kompak. Ambillah sebagai contoh. Gaya pengadeganan masres. masres (sejenis ketoprak di Cirebon). Tapi kemiskinan dan keterbatasan tak akan menghambat kehadirannya. tapi juga intim dengan masyarakatnya. Kelak saya berniat membaurkan semua kemungkinan teatral itu menjadi sebuah bentuk dan gaya yang mudahmudahan akan menjadi ciri dari teater saya. Juga isi pikiran dan tujuannya. ketoprak. sebuah orkes simfoni. Jejer. Saya ingin membaurkan apa yang pernah saya serap. mempengaruhi bentuk teater saya. tanpa kehendak merusak apa yang sudah kita miliki. Lenong. saya masih berburu berbagai kemungkinan. Jika dianggap tidak penting. Saya ingin melahirkan semacam ‘adonan teatral’ yang bukan saja ‘sedap dipandang’. dia memiliki nilai. Dan bermakna. Akrab. barangkali teater saya (dengan ciri itu) kelak akan berdiri sejajar dengan sumber-sumber yang sudah mengilhami saya. kesimpulan di atas juga bukan hal yang baru. hampir semua jenis teater rakyat yang pernah saya tonton. juga mewarnai musik teater saya. apa yang terjadi jika salah satu instrumen (misal. Tapi. tentu tak akan dihadirkan di atas panggung.

si pemeran wadam tak akan mampu memenuhi apa yang saya ingin. nada dan nyanyian. Lagu dan musik untuk adegan itu sudah disiapkan. Mungkin gaya ‘bernyanyi’ ini. Opera Bangsawan dan makyong. Bukankah Teater Koma hanya sebuah grup teater amatir? Anggotanya sebagian besar tidak bekerja hanya untuk teater. Pacar seorang gembel yang wadam. biasa-biasa saja. Saya cenderung menulis naskah-naskah yang punya kemungkinan dinyanyikan. Sudah jelas. Bisakah harapan saya terwujud? Memang. meyakini bentuk ekspresi yang serupa pula. Tubuhnya kurang lentur dan gaya permainannya tidak istimewa. Bakat menyanyi si pemeran wadam. musik. Meski bisa juga merupakan kumpulan nada-nada yang sumbang. hal itu rasanya mustahil. Saya bebaskan dia dari semua ikatan. belum bisa saya jawab sekarang. Dan yang paling celaka. juga tidak bisa bermain sambil menyanyi. Sebagian adegan dalam wayang orang. ritme. seperti sebuah dialog yang dipuisikan secara ritmis. atau menggebrak dengan garang. terutama. yang getir.Tapi melihat kenyataan yang ada. Modalnya sebagai pemain sangat kurang. Saya berharap. Itulah kehidupan kita. ada sebuah adegan kematian. ‘pesan’ tertentu bisa lebih merasuk ke hati lewat nyanyian. Selama satu bulan. Karena dia tetap tidak mampu melakukan apa yang saya minta. Dalam setiap naskah saya. Adegan sering dia wujudkan dengan air mata yang berderai-derai. dikenal sebagai bentuk ‘opera Jawa’ yang khas. selalu ada lirik. Bisa diucapkan begitu saja. Dia boleh mengucapkan dialognya dengan bunyi yang dia rasa benar. latihan berjalan sendat dan selalu mandek pada adegan itu. Mungkin permintaan saya keterlaluan. ketukan. Dan selama 4 jam sehari. misalnya. Mereka berkumpul pada sore hari. penonton bisa tertawa sambil menangis. Nyanyian. melodi atau ‘nyanyian’ akan tercipta dengan sendirinya. Dia tidak bisa menyanyi. Adegan itu adalah adegan untuk si wadam. tidak bisa menari. saat ini saya tak memiliki aktor-aktris yang bisa bermain sekaligus juga bisa bernyanyi. . apa yang harus saya lakukan? Setiap kali latihan. dia memang tidak bisa bernyanyi. Mau tak mau. Sebuah permainan dalam. Musibah terjadi ketika sang pacar sedang mencari puntung rokok. dirangkum menjadi lagu dan dimusiki. Konyol dan getir. Dalam salah satu naskah saya. Saya bilang. Saya juga tidak memiliki kelompok musik dan pencipta lagu handal yang memahami konsep teater saya. kelak akan menjadi salah satu warna teater saya. Dan mungkin permainannya akan buruk jika saya terus bersikeras. Saya tengah mengembangkannya. Suaranya sumbang. Benturan yang saya hadapi adalah. tetapi bisa juga dinyanyikan. juga dinyanyikan. si pemeran wadam harus menyanyi. tapi keharuan. not. Dia harus menumpahkan segenap kesedihan lewat nyanyian. 5 hari seminggu. bukan air mata yang diinginkan adegan. bisa sebuah rangkaian melodi yang sendu atau manis. Dan dari kegetiran. berlatih menyiapkan sebuah pentas teater. Lalu. adegan itu bagai duri dalam daging. Saya merasa. Akhirnya saya mengambil sebuah ‘alternatif’ yang agak riskan. mati tergencet bus di terminal. Bukankah kita memiliki jenis teater tradisional yang bentuknya seperti itu? Langendriya atau Langendriyan.

tapi juga harus mempersembahkan idealnya dimana persembahannya itu harus menyatu sebagai suatu kebenaran. Dia adalah aktor Salim Bungsu. Dan di atas panggung. sebab permainanmu sudah gagal”. Cara itu bisa lebih mengenai sasaran dibanding kukuh menggariskan ketentuan baku. Itu. Geraknya yang kadang karikatural. Kesedihan. Permainannya total dan tuntas. kekonyolan yang getir. rileks. Keharuan malah lebih muncul. bebas. dalam.Ternyata. Alat itu harus bisa dimainkan dengan menarik. kelemahannya adalah juga kekuatannya. ditambah dengan keindahan”. Dia mampu bergerak dengan lebih bebas. sanggup mencipta lubang-lubang respons bagi penonton. sangat meyakinkan. Sutradara. aktor harus bermain bukan hanya untuk dirinya sendiri. Dia mampu mewujudkan apa yang saya ingin. Alat seorang aktor adalah raga dan sukma-nya. indah. di dalam hal ini. Memang. Bukankah saya bekerja dengan pemain-pemain amatir? Dan adakah pemain yang profesional di Indonesia? Dengan pengertian. bukan lagi milik naskah dan sutradara. seorang pemikir teater pernah menulis. yang ‘dinyanyikan’. “Jangan biarkan penonton mengalihkan perhatiannya dari permainanmu. Sutradara harus mengarahkan secara luwes apa yang pemain mampu lakukan. bermakna. Sementara di sebuah sudut gelap . Adegan kematian itu sudah menjadi miliknya. Tapi seorang aktor Komedie Stamboel juga pernah menyatakan pendapatnya dengan contoh sangat sederhana. yang nampak dari luar seakan sebagai kompromi. Dan kekuatan itu berhasil dimunculkan saat berbagai aturan yang dirasakan sebagai ikatan. raga dan sukma-nya. kau boleh menangis. melainkan juga untuk penonton. Tubuhnya meliuk-liuk lentur dan sumbangnya ‘nyanyian’ tak terasa lagi. Memberikan pemahaman. sanggup memerankan apa saja. hasilnya di luar dugaan. Padahal di setiap pentas teater rakyat. Jika penonton sempat makan kacang pada saat kau bermain. padahal itu jalan keluar yang simpatik dan memiliki daya kekuatan untuk mencipta kekayaan permainan. Langkah ‘alternatif’ itu menemukan jalannya. telah dilonggarkan dan diganti dengan pegangan bermain yang lebih dekat dengan kemampuannya. Penonton tertawa sambil menangis. harus berlaku sebagai pemandu dan bukan sebagai instruktur yang mendikte. pengalaman mengajarkan kepada saya bahwa seorang pemain yang paling lemah pun. Di masa lalu. Tak ada lagi ikatan. dan karenanya dia memperoleh honorarium yang besar dari pekerjaannya? Bisa hidup dari pekerjaannya? Di negara kita. Dia jadi idola. Intinya. permainan harus mencipta daya pikat dan daya magnit. pemeran wadam dalam J. juga salah satu cara saya dalam membina pemain. Menyadarkan kekuatan yang sesungguhnya sudah dimilikinya. setahu saya. Dengan kata lain. seorang aktor seharusnya sanggup mengontrol badan dan jiwa-nya. dia sangat menguasai panggung.J (1979) dan Kontes 1980. belum ada profesionalisme semacam itu untuk teater. jika kelemahannya dimanfaatkan secara tepat maka kelemahannya justru akan menjadi kekuatannya. “Pemain harus mereflektir bukan hanya refleksi dari imitasi kehidupan. Dalam pementasan. Ternyata. saat ini. Dia harus sanggup menggerakkan anggota tubuh bahkan yang paling halus sekalipun. penonton bisa juga menikmati pertunjukan sambil minum wedang jahe dan makan kacang.

Lalu saya mengkaji-kaji kemampuan mereka. Sehingga tanpa instruksi pun. saya tahu siapa akan bermain sebagai apa. Hari itu. Apalagi pada dasarnya manusia selalu ingin diakui sebagai yang serba bisa. Yang saya butuhkan. Indah. Keuntungan memiliki kelompok adalah. kesegaran nampak kembali. waktu saya manfaatkan untuk membicarakan apa saja. Bahkan bisa terjadi saya mengganti pemeran di tengah perjalanan latihan. Kami tidak berlatih tapi berkeringat. biasanya adalah pementasan yang mahal. inisiatif. ini yang paling penting. Sebuah ide adalah biaya. Tapi tentu ada koridornya. Kemudian. Sementara itu. Pementasan yang lengkap. saya menulis naskah drama untuk kebutuhan grup. Kalau hal itu sudah dimiliki. ukuran estetik dan artistik. saya mengenal kekuatan dan kelemahan setiap anggota. ruang latihan penuh ger. Saya memilih gabungan cara dari keduanya. Mungkin karena saya anggap kurang cocok.orang-orang asyik bermain dadu koprok. Dan sebuah hasil adalah kemenangan atau kekalahan. Malah bisa sia-sia. maka tanggungjawab dan disiplin akan lahir dengan sendirinya. perasaan bisa tertekan dan hasilnya akan berbalik menjadi buruk. pentas masres tetap berjalan hingga subuh tanpa merasa terganggu. Latihan harus didorong oleh niat ‘ingin berlatih’. Cara yang saya pakai adalah membuka pintu peluang lebar-lebar. Jerih payah bisa mencipta sebuah hasil. Dan. Ada sutradara teater yang berpendapat bahwa. Setiap kali menulis naskah. Yang ringan dan yang lucu. ketoprak. Untuk itu. Bergerak tanpa bisa dicegah lagi. Tapi saya menghindarkan diri bekerja secara mekanis dan dengan cara yang rutin. Rasa tersinggung adalah salah satu segi yang bisa membahayakan emosi dan kekompakan sebuah kelompok. saya selalu meminta supaya mereka sudi berbuka hati dan menerima kenyataan. setiap produksi selalu melewati proses latihan yang panjang. Bermakna. Hidup. latihan naskah tidak saya lakukan karena beberapa aktor nampak lesu. Sejak pentas perdana. tidak selalu seperti itu. Biasanya. maka latihan hanya merupakan pengulangan tanpa pengembangan. Latihan-latihan harus ada dalam suasana segar dan gembira. Itu sebabnya. Esok harinya. Semua segi tak luput dari pengamatan. Padahal tentu saja. Pernah terjadi. agar pemain berkembang mandiri. saya memupuk keberanian agar mereka memiliki rasa percaya pada kemampuan sendiri. Semua boleh saling memaki asal tidak membikin sakit hati. memiliki naskah yang harus dihafal dan dilatih. lenong. Latihan naskah (atau tidak dengan naskah) mutlak perlu. Sebuah biaya adalah kumpulan jerih payah. Tapi pementasan yang mahal belum tentu pementasan yang berhasil. Daya berlatih malah tambah besar berkali lipat. pertunjukan bisa jelek dan membosankan jika kurang latihan. pekerjaan teater bisa dilakukan. nyaris merupakan sebuah aksioma. Jadi. Pementasan teater tidak hanya . saya ajak para calon pemeran membahas lakon. Jika tidak. Jika tidak. Lalu teater akan menggelinding tanpa harus dikomandoi. Dan hal itu sering terjadi. sebelum saya menulis. kosong. Hal itu. masres dan Srimulat mampu menampilkan tontonan menarik hanya dengan latihan sesekali bahkan tanpa latihan. mana yang harus dipilih? Mana yang benar? Teater masa kini.

Selalu ada alternatif. Tapi untuk melaksanakan semua itu. orang teater kita tak memulainya samasekali dari nol. Jika ada orang teater mengeluhkan tempat latihan. justru dari yang mulanya tak ada. teater membutuhkan tempat di mana seluruh penonton bisa berkumpul dan bersama-sama melakoni sebuah peristiwa teater. property. yang lain akan segera menggantikan. teater kita miskin? Jadi. tak perlu cemas dan putus-asa. Tapi. di gudang sumpek. Manusia memiliki akal. persoalannya memang hanya. sesungguhnya. Daerah membentuk dewan-dewan kesenian dan pusat kesenian. tanpa disuruh berhenti pun akan segera minggir dan menghentikan semua kegiatan berteater. Tak perlu bingung jika fasilitas tata cahaya tidak memadai. Segalanya dikembalikan kepada diri sendiri. Dunia teater tak cocok baginya. Kalau niat kuat untuk ‘menyampaikan sesuatu’ lewat teater. bukankah sejak dulu. Jakarta punya Pusat Kesenian Jakarta-TIM dan 5 gelanggang remaja. Dan teater tak pernah kuatir karenanya. gedung pertunjukan. Justru di sini letak keseniannya. Segalanya mungkin. penonton. juga manajemen produksi (termasuk publikasi dan penjualan karcis). Untuk bisa ditonton. Berbagai pertunjukan yang bagus dan baik. set-dekor. Dengan adanya subsidi. segala kemungkinan bisa ditempuh. Dia bisa lahir di pojok-pojok tempat pelacuran. memang dibutuhkan biaya. mengapa harus dipersoalkan lagi? Uniknya pementasan teater. mau atau tidak? Mampu atau tidak? Sesudah mau dan mampu. olah-suara. memang kondisi teater menjadi agak lebih baik. Teater harus dinikmati bersama audiens. subsidi pemda yang terlalu kecil dan apresiasi penonton yang buruk. Semua unsur ikut menunjang keberhasilan pementasan. Teater adalah karyacipta dari yang tiada menjadi ada. atau di jalanan. saat belum banyak gedung teater. . Teater tidak harus lahir di pusat-pusat kesenian. Demikian pula para seniman. Grotowski sudah membuktikannya. Hilang satu. Dengan begitu kehadirannya menjadi lengkap.ditunjang oleh sutradara dan pemain saja. Jadi. Selalu mengharapkan bantuan hanya sifat manja. lahir pula. Kuatkah dorongan berteater? Atau lemah? Bukan melulu dari keserbaadaan muncul karya-karya besar. Pemda membangun gedung teater dan berbagai venue. punya daya tahan atau tidak? Jika tidak punya stamina. sedikitnya gedung sudah ada. tapi biasanya. musik. Dan hanya orang teaterlah yang bisa melahirkan kegiatan berteater. pertanyaan berikut adalah. Tapi itu bukan satu-satunya penyebab lahirnya teater yang baik. Lagipula. Mungkin lebih baik dia bekerja di bidang lain. di hall penjara. Meski sering dipakai untuk acara pernikahan. maka dia adalah orang teater yang malas. Dan jangan lupa. di tanah lapang yang becek. Teater tidak digarap hanya untuk disimpan di dalam kamar. Berawal dari kosong. Dia melahirkan konsep ‘teater miskin’. koreografi. Puluhan tahun yang silam. busana dan rias wajah. kostum mahal biayanya. gedung berakustik buruk. Ada tata cahaya. efek spesial. juga berarti keunikan pencarian jalan keluar dari berbagai hambatan. Lalu dari mana biaya bisa didapat? Jika biaya tak memungkinkan untuk mewujudkan pementasan yang lengkap. teater tetap bisa bergerak dan hidup. Kemiskinan sebaiknya jangan jadi penyebab kegiatan berteater stop.

Bertanggungjawab. Teater Koma. yang akan dilewati tanpa keluh kesah. justru di situlah letak inti sumber dari daya kreatifnya. anggota dari masyarakat yang lebih besar. Jika tetap bekerja keras. Dan ibarat sumber air. Teater Koma sedang menyiapkan diri ke arah maksud-maksud seperti itu. Tak ada prioritas. Keseniannya ibarat remah-remah nasi bagi seorang gembel. Orang teater sejati. Kesimpulan-kesimpulannya adalah hasil kerjanya dan bukan hanya keinginan di dalam hati atau di atas kertas saja. tidak perlu tegang dan tergesa-gesa. tanpa kerut dahi. Berniat menjadi daya semangat. akrab dan intim dengan masyarakatnya. Teater bak peperangan tanpa selesai. mungkin dia seniman. Dia bekerja. ‘Dan kesulitan mana lagi yang harus saya hadapi?’ Baginya. mungkin terwujud. misalnya. berniat mewujudkan ide-ide yang nampak sepele. Ada Kode Etik yang merupakan pegangan hati jika secara tulus berikrar menjadi anggota Teater Koma. Sebab. Posisinya bagai sebatang rumput dari kumpulan rumput di padang rumput. semua orang memiliki tugas dan kewajiban sosial yang harus dikerjakan. dalam kehidupan sehari-hari. Di dunia teater. Meski begitu. Keseniannya bagai rangkaian upacara ritual yang memang sulit dilaksanakan tapi bukan berarti kemandekan. jelas dibutuhkan proses serta perjalanan yang panjang. Kenikmatan-kenikmatan artistik yang diperoleh adalah kenikmatan yang tuntas. Dengan sigap dia akan menggantikan sesuatu yang sukar diperoleh dengan alternatif yang punya nilai estetik dan artistik serupa. Saya merasa yakin. . Dan semua persyaratan itu baru ada jika ada komitmen. Tapi. bahwa. ada kesadaran. Teaternya adalah gabungan dari teater masa lalu dan berbagai pemikiran masa kini. meski pakaian dan kehidupannya compang-camping. Jadi wadah kehidupan bagi ikan-ikan serta mahluk air lainnya. apakah hal itu mungkin atau tidak mungkin. Orang teater yang teguh hati akan terus bekerja dan tidak mudah putus-asa. Disiplin. tapi dasar pijakannya kuat dan punya akar. Hadir. untuk mewujudkan hasil seni pertunjukan yang baik. Kenikmatan ketika sambil tersenyum dia berkata. Rahasianya: selalu bekerja keras. Sebagai anggota kelompok masyarakat. Dia akan tahan menghadapi hantaman badai waktu dan dengan gembira tetap bekerja. Dia akan tampil dengan tegar dan jiwa besar. senantiasa memancarkan kejernihan. waktu jua yang akan menjawab. kemudian menggenang jadi telaga. Catatan ini saya tulis pada 10 Januari 1980. semoga tetap dipakai oleh kelompok sebagai dasar dalam menyikapi kesenian dan kebudayaan. Tapi di luar dunia teater. tidak akan mengasingkan diri. Tulus. dia juga manusia. Dia ada dan hadir di tengah masyarakatnya. Dan kelak. Dia tak akan mengeluh jika diberi tugas oleh ketua RT/RW untuk ikut siskamling atau kerja bakti. Manusia yang lebur dalam persoalan yang juga dialami oleh mereka yang tidak bekerja di dunia teater.Kelompok teater yang kompak bisa menjawab tantangan semacam itu. Gigih. Jujur. dan rempah-rempah dalam masakan. teater merupakan kawasan tanpa istirahat. Luwes.

Yang Muda menghargai Yang Tua. Tempat dan Suasana yang Tepat. 3. Yang Tua menghargai Yang Muda. 5. Tulus Menghargai dan Berterimakasih kepada Alam dan Kehidupan. Kerjasama dan Kedisiplinan. Setia kepada Tanggungjawab. Tahudiri. 4. Setia kepada Tugas dan Pekerjaan. 7. 3. 6. . Bersikap dan Bertindak Tepat. 4. Memahami. memaknai Lautan”.KODE ETIK TEATER KOMA ETIKA 1. 2. Percaya TEATER adalah Jalan Menuju Kebahagiaan. GUYUB Anggota adalah Matarantai Enerji Kreatif Dalam Ikatan Persaudaraan Berdasar KASIH. Tidak Membenci. Tenggangrasa. Setia kepada Hati Nurani. Setia kepada Kelompok dan Rumah Kelompok. Pada Waktu. lalu bergerak ke kiri atau ke kanan atau merembes dan muncul di sebalik hambatan. 2. KEBAHAGIAAN. kemudian BERJALAN menuju TUJUAN. SETIA 1. Berwatak Bagai Air: “Senantiasa berupaya berada di tempat rendah. Jujur. 5. Mencintai Sesama. jika terhambat berhenti sejenak. Setia kepada Tujuan.

Sering melakukan kiprah kreatifitasnya di Pusat Kesenian Jakarta Taman Ismail Marzuki. baik di televisi maupun di panggung. Kini.TEATER KOMA Didirikan di Jakarta. . kelompok didukung oleh sekitar 30 anggota aktif dan 50 anggota yang langsung bergabung jika waktu dan kesempatannya memungkinkan. sudah menggelar 115 pementasan. mengawali kegiatan dengan 12 seniman (kemudian disebut sebagai Angkatan Pendiri). 1 Maret 1977. TVRI dan Gedung Kesenian Jakarta. Hingga 2008. Perkumpulan Kesenian yang bersifat non-profit ini.

Riantiarno. Jujur. Suksesi. Women in Parliament/Aristophanes. . Samson Delila. Sampek Engtay. yang digelar selama sebulan penuh di PKJ-TIM. Opera Kecoa. The Marriage of Figaro/ Beaumarchaise. The Robber/Freidrich Schiller. Pialang Segi Tiga Emas. Banci Gugat. TEATER KOMA. Kontes 1980. Trilogi OPERA KECOA (Bom Waktu. Woyzeck/Georg Buchner. Pentas-pentasnya sering digelar lebih dari 2 minggu. Orang Kaya Baru-Kena Tipu-Doea Dara-Si Bakil-Tartuffe/Moliere. Ubu Roi/Alfred Jarre. The Visit/Der Besuch der Alten Damme/Kunjungan Cinta/Friedrich Durrenmatt. RSJ atau Rumah Sakit Jiwa. Republik Togog. The Crucible/Arthur Miller. diikuti oleh 24 kelompok kesenian dari dalam dan luar negeri). teater bisa menjadi salah satu jembatan menuju suatu keseimbangan batin dan jalan bagi terciptanya kebahagiaan yang manusiawi. Maaf. diyakini pula sebagai salah satu cara untuk mengasah daya akal sehat. Pasar Tontonan Jakarta.. harus menghadapi pelarangan pentas serta pencekalan dari pihak yang berwewenang. The Comedy of Error dan Romeo Juliet karya William Shakespeare. Kelompok senantiasa berupaya bersikap optimistis.J. Agustus 1997. Antara lain. Berbagai upaya juga dilakukan lewat ‘program apresiasi’ (PASTOJAK. TEATER KOMA yakin. Rumah Kertas. Dan sebagai akibat. daya budi. Juga menggelar karya para dramawan kelas dunia. Juga tercatat memiliki banyak penonton yang setia.Maaf. dan hati nurani. Opera Sembelit. bebas dari interes-politik praktis dan menjadi tontonan yang dibutuhkan berbagai kalangan masyarakat. Semar Gugat. Animal Farm/George Orwell. TEATER KOMA adalah kelompok kesenian yang konsisten dan produktif. What About Leonardo?/Kenapa Leonardo?/Evald Flisar. Berharap teater berkembang dengan sehat. Presiden Burung-Burung. The Three Penny Opera dan The Good Person of Shechzwan/Bertolt Brecht. Opera Primadona. Konglomerat Burisrawa.Maaf. Republik Bagong. bercermin lewat teater. Opera Ular Putih. kelompok teater yang independen dan bekerja lewat berbagai pentas yang mengkritisi situasi-kondisi sosial-politik di tanah air. J. Tanda Cinta.TEATER KOMA banyak mementaskan karya N. Opera Julini).

menjadi bentuk yang . Yang paling bungsu. Sandiwara pertama yang digelar. tanpa publisitas yang provokatif. pemusik teater. Riantiarno. Drama musikal. Rumah Kertas karya N. Angkatan X/2005. Angkatan Pendiri/1977. pada kenyataannya. TEATER KOMA telah banyak melahirkan aktor-aktris. penulis drama. penata busana. bentuk yang coba mengadaptasi warna-lokal lalu mengawinkannya dengan teknik pentas teater-Barat. sebagian besar memiliki pengalaman pentas sebelum bergabung dan mendirikan TEATER KOMA. pimpinan panggung. dan pimpinan produksi. Tanpa gembar-gembor. desainer artistik. jadi ajang yang mempersatukan visi dan impian bentuk yang kelak menjadi bentuk-biang (meski tetap ‘terbuka’ terhadap kemungkinan pengembangan). sutradara. yang terdiri dari 12 seniman. kini dimanfaatkan secara optimal oleh para penggiat seni pertunjukan. desainer pencahayaan. penata grafis. Yakni. Inilah anugerah yang patut disyukuri. Sesudah itu. angkatan demi angkatan lahir.Regenerasi Teater Koma Kegiatan TEATER KOMA diawali dengan dukungan Angkatan Pendiri/1977. Sumbangan berharga bagi perkembangan seni pertunjukan di Indonesia. Keahlian mereka. penata teknik pentas. penata rias dan rambut.

Meski begitu. 1 Maret 1977. baru agak terkoordinasi pada Angkatan VIII/1994. Selain pengetahuan teater. tapi sekaligus juga bertanggungjawab kepada masyarakat. diuji dalam pagelaran Opera Kecoa. hanya paguyuban atau semacam perkumpulan kesenian yang bahkan belum memiliki sistem penerimaan anggota baru. Angkatan VIII/1994. Maka tidak heran. Kelompok. Tapi. Mereka bekerja bahu-membahu dengan adik-adiknya. Calon anggota wajib mengikuti pelatihan dasar teater selama satu semester. Juga dibutuhkan konsentrasi pembelajaran dan pelatihan yang terpadu agar angkatan baru bisa hadir lebih matang. diuji dalam Semar Gugat. Waktu setahun. mereka tidak lagi hanya bertanggungjawab kepada kelompok. mulai diajarkan kepada Angkatan II/1978. Angkatan II diterima pada 1978 dan Angkatan III. pengantar antropologi. paling bekerja di belakang panggung. jika semua pengetahuan seni teater. bukan tindakan main-main. sesudah 1979. diuji dalam Republik Togog.menjamin ‘anak didiknya’ mampu menjalani ujian lewat pementasan ini dan akan . Angkatan X/2005. 2004. 1983. tidak semua orang bisa menjadi calon anggota TEATER KOMA. Ikrar menjadi anggota TEATER KOMA. terlalu pendek untuk mempersiapkan lahirnya seniman teater. sesuai saat kelahiran TEATER KOMA. Pengetahuan seni pentas (juga sejarah teater dan sastra drama). seni pentas di berbagai daerah di Indonesia. kelompok menyadari hal itu sebagai resiko tak terelakkan dari sebuah upaya ‘regenerasi’ yang swadaya. dipilih dari formulir pendaftaran/lamaran yang masuk. Sejak 1977. Budi Sobar. enam bulan. TEATER KOMA. diserap secara acak dan tidak tersistem. diuji dalam Opera Ikan Asin. Sistem penerimaan calon anggota dan pembelajaran seni-teater. sekitar empat atau lima tahun. Angkatan IX/2000 kembali diuji dalam Sampek Engtay 2005. Angkatan V/1984. Angkatan VI/1989 dan VII/1990. setiap tahun TEATER KOMA menerima anggota baru. 1990. Meski begitu. Meski sering kesulitan dalam pembiayaan pembelajaran. Sejak Angkatan IV/1980. Dan janji harus ditepati. diundang datang untuk berbagi pengalaman dengan para calon seniman yang ikrar menjadi anggota TEATER KOMA. diuji dalam Suksesi. Setelah satu atau dua tahun. Angkatan IV/1980. 1995. apresiasi psikologi. Sejak 1994. ketekunan dan tahan banting. senirupa. Yakni. Upaya regenerasi yang swadaya. Dan Angkatan IX/2000. Kita tahu. bukan akademi atau lembaga pendidikan seni yang formal. Apresiasi Musik dan Tari. Tapi. Biasanya. Antaranya. Jarak waktu yang panjang. menyebabkan biaya pembelajaran menjadi salah satu kendala. ada biaya yang ditagih dari para calon anggota. masih harus menghadapi lagi beberapa wawancara khusus dan psikotes. pakar di bidangnya.mentor angkatan paling bungsu -. Idealnya. apa pun resikonya. Mereka dianggap ‘lulus’ secara memuaskan. Mulai ada seleksi. Patut diakui. Edi Sutarto dan Sari Madjid -. ‘angkatan baru’ diuji dalam sebuah pementasan. Tugas mereka hanya belajar. Kurikulum dan silabus pun disusun hanya berdasar kebutuhan pementasan. paling banyak hanya 17 calon yang diterima. Kini. memang begitu. jarak waktu masing-masing angkatan. yang terseleksi pun. dari sekitar 30 pelamar yang dipanggil. kedisiplinan. diprioritaskan bahan-bahan lain yang melengkapi.diyakini bisa mewadahi keinginan itu. Sesudah ‘lulus’. dan angkatan seterusnya. 1985. Sesuai tradisi. saat kelompok menggelar produksi. Ikrar ibarat janji. Berbagai tokoh. penerimaan ‘angkatan baru’ tetap dilakukan pada awal bulan Maret. dengan dasar yang lebih kuat. dipandu pakar. calon anggota tidak dilibatkan dalam produksi yang tengah digelar kelompok. Jika dilibatkan pun. memiliki tradisi gerak dan musik. 1979. bahasa-sastra dan filsafat. Inilah yang kemudian dianggap sebagai jembatan menuju jenjang ‘kelulusan’ mereka sebagai anggota TEATER KOMA. sosiologi. dikarenakan oleh berbagai hal. Tidak dipungut biaya sepeser pun. penerimaan anggota baru tidak lagi dilakukan setahun sekali.

Kepada siapakah. penyelenggaraannya hampir setiap bulan. sulit berjalan baik tanpa didukung masyarakat. Workshop diselenggarakan pada hari Sabtu dan Minggu. Para peserta setiap workshop. dalam setahun. Mustahil dihindari. setiap workshop akan diikuti oleh sekitar sepuluh atau duabelas sekolah. TEATER KOMA juga menyelenggarakan kegiatan Workshop Teater Bagi Pelajar SMU. Ujung dari ‘Pelatihan Lanjutan’. Teater membutuhkan penonton. Niat utama hanyalah keinginan menyebarluaskan pengetahuan dasar teater yang benar. adalah sebuah pementasan panggung. selama dua hari.00. di masa depan. diharapkan. hasil dari kegiatan apa pun. Dan. di masa depan. hal itu bukan sesuatu yang tak mungkin. tentu. mereka adalah calon-calon pemimpin bangsa.00 hingga 17. sejak pukul 10. Mengingat hal tersebut. Tak ada niat samasekali untuk mencetak para peserta workshop agar menjadi seniman teater. pemikir. Semangat workshop yang dipatok adalah ‘kegembiraan menyerap pengetahuan dasar teater’ dengan ‘toleransi dan saling menghargai’. kini. penulis. perkembangan teater Indonesia di masa depan bergantung. bisa mendaftar dan menjadi wakil dari sekolah masing-masing. hal yang niscaya. teater membutuhkan ruang gerak yang sepadan tanpa kecurigaan. penyandang dana dan wadah pementasan. manajemen pengelolaan. akan digelar 10 kali workshop. Pelajar SMU. Semua unsur itu seharusnya merupakan kekuatan-kekuatan yang menyatu dan sinergis. adalah. sebulan sekali. Dari setiap sekolah. SAMA SEKALI TAK DIPUNGUT BAYARAN alias GRATIS. Rencana jangka panjang Workshop Teater Bagi Pelajar SMU. Bukan hanya wilayah keaktoran saja yang perlu digarap. dengan jeda 60 menit untuk makan siang. boleh mendaftar ulang untuk workshop berikutnya. Peserta workshop paling berbakat. kecuali Mei dan Desember. Regenerasi. Sehingga. diharapkan. baik dan indah. kerjakeras dan upaya pewujudan impian anak-anak muda yang ingin mengungkap jatidiri lewat teater. Yang tidak terpilih. Perjalanan masih sangat jauh. Satu hal yang juga tak kurang pentingnya.menyajikan tontonan yang sama menarik dengan Sampek Engtay sebelumnya. dimulai November 2005. dramaturg. Meski. adalah. asing serta musykil. Jadi. Regenerasi hanya salah satu upaya. Para senior TEATER KOMA. Hal itu penting bagi pengembangan imajinasi kreatif dan kemungkinan lahirnya berbagai inovasi. mereka tidak lagi memandang teater sebagai dunia yang aneh. Jangan lupa. Tentu atas seizin guru dan orangtua. sekitar 3 siswa. sebagai upaya lahirnya sebuah apresiasi. Sehingga. insya Allah. Tekad. sutradara. Sesungguhnya. pekerja panggung. Waktu masih panjang. Ya. hanya bukti yang sementara saja sifatnya. kritikus. akan diberi peluang mengikuti ‘Pelatihan Lanjutan’ selama empat bulan. dari Andalah dukungan diharapkan. hanya akan dipilih paling banyak 3 peserta saja. adalah hal yang lebih patut dihargai. dibatasi hanya sekitar 30 siswa. kini telah melewati usia 40 bahkan 50 tahun. Kegiatan Workshop Teater Bagi Pelajar SMU. . ketekunan. jika masih berminat. jika bukan kepada anak-anak muda itu? Regenerasi teater sudah tentu harus menyentuh berbagai bidang.

Sampek Engtay (Surabaya) 7 1989 .Perkawinan FIGARO 9 1990 .Suksesi 11 1993 .Opera Julini 3 1987 .05 .Sandiwara Para Binatang 4 1988 .11 .08 .Opera Primadona 5 1988 .Sampek Engtay (Jakarta) 6 1989 .04 .Opera Ikan Asin 2 1986 .Sampek Engtay (Medan) 8 1989 .06 .Republik Bagong .04 .07 .03 .09 .10 .Konglomerat Burisrawa 10 1990 .Detail Produksi 1 1983 .Raja Ubu 12 1997 .04 .03 .09 .Sampek Engtay (Jakarta) 13 2001 .

Republik Petruk 22 2009 .SieJinKwie 1. Maaf 16 2005 . ria iarawan.05 .happy salma..Sampek Engtay 2005 18 2006 .. theater itu sendiri adalah seni yang dipentaskan. Maaf. .karena saya ketua theater di kampus.08 . dunia imajinasi.colosal. jenis-jenis theater.03 . 3.02 . 5.Maaf. dalam lakon cerita.Sampek Engtay 2010 25 2010 ..01 .Kenapa Leonardo 21 2009 .unsur .01 . karena rakyat dulunya yang dijajah.01 .01 .14 2004 . yaitu ada theater kabaret. theater mahadaya. materi referensi: pribadi.07 .sejak saat itu disebut theater. tokoh saat ini cornelia agatha.01 .07 .yaitu budaya dan sosial. jadi.Tanda Cinta 17 2006 .Kunjungan Cinta 20 2008 .seseorang yang.Republik Togog 15 2005 ..unsur theater. sejarah perkembangan theater diawali dari kegiatan romusha zaman belanda ..nah sejak saat itulah ada kegiatan theater.05 .Penggali Intan 24 2010 . dan sampai saat ini kegiatan tersebut diisyaratkan dengan lakon drama yang realita.theater.khayal.unit kegiatan mahasiswa.Festival Topeng 19 2007 . 2. 4.dan masih banyak lagi. adalah kejiwaan.Tanda Cinta 23 2009 .. sudjewo tejo.

blogspot.Web nyari naskah disini :: http://banknaskah-fs.com/ http://bandarnaskah.blogspot.com/2010/04… .

Eksistensi kelompok tersebut membuktikan masih tetap adanya kecintaan akan teater yang yang ingin mengungkapkan dirinya di panggung. Akan tetapi sistem itu telah mencapai titik kulminasi dalam perkembangannya dan sedang berada dalam tahap yang sulit. teater keliling dan teater swasta. perhatian dan dana. Kota-kota yang tidak begitu besar pun memiliki gedung opera dan ansambel balet di samping teater sandiwara. karena seni suka diukur dengan prasyarat materinya.Di mancanegara teater Jerman sering dicap sebagai ribut dan dilanda narsisme. mengingat pendapatan teater dari karcis masuk pada umumnya hanya mencapai sepuluh atau lima belas persen dari pengeluarannya. yaitu apa yang disebut Kelompok-Kelompok Bebas. Akan tetapi di belakangnya terdapat sistem yang dikagumi di seluruh dunia. telah berkembang paguyuban seni panggung yang besar. sebuah jaringan rapat yang terdiri dari teater milik negara bagian dan kota. yang didirikan oleh sutradara Peter Stein. Dengan bersumber pada gerakan mahasiswa tahun 1968. . Sistem subsidi berlaku juga untuk teater swasta – seperti Schaubühne di Berlin. Banyak orang menganggap panggung-panggung sebagai hal mewah. Sumbangan masyarakat Jerman bagi teater cukup besar: bentuknya gagasan. Secara keseluruhan terbentuk semacam panorama teater.

Antara angkatan seniman yang berteater sekarang dan tokoh seperti Peter Stein. Teater angkatan muda tidak lagi mau menjadi avant-garde. Yang ada sekarang keanekaragaman yang berwarna-warni. Stefan Bachmann dan Thomas Ostermeier pada tahun 1990-an. terbentang jarak yang jauh. Peter Zadek atau Claus Peymann. Di teater Volksbühne yang dipimpinnya di Berlin. tema dan pengarang.Selama periode yang panjang Peter Stein dianggap sebagai tokoh unik dalam teater Jerman. telah memudar. . Teater harus menciptakan gambaran mengenai kehidupan kita. mengajari. Namun tidak pernah ada teater yang berlangsung terlepas dari waktu pementasannya. Nama Christoph Marthaler dan Christoph Schlingensief juga menandai pandangan baru mengenai seni panggung yang menanggapi pergeseran yang terjadi seusai Perang Dingin dan seiring dengan kedatangan kapitalisme global. sekaligus menghidupkan ingatan. menelanjangi atau menindak berkesan usang. Setelah era naik daunnya seniman muda seperti Leander Haußmann. Mereka yang tergolong pemberontak tahun 1968 itu memakai perbendaharaan kata yang tidak cocok lagi untuk teater kontemporer. Hal itu tampak juga dalam Pertemuan Teater Berlin setiap tahun. René Pollesch atau Christina Paulhofer telah menciptakan bentuk pementasan yang mengutamakan gaya daripada isi cerita: Cara bercerita tradisional dengan berpegang pada teks terasa agak asing bagi mereka. ia membiarkan teks sandiwara diutak-atik dan disusun kembali sesukanya. Armin Petras. pemimpin Berliner Ensemble. Berbeda dengan sutradara lainnya ia menciptakan karya yang dapat dikenali melalui kontinuitas pengulangan motif. Gaya penyutradaraannya mengutamakan teks. Frank Castorf yang namanya terkenal sebagai penghancur karya drama telah menjadi teladan bagi generasi seniman teater itu. Itulah fungsi kemasyarakatannya. Untuk itu teater disubsidi. para sutradara itu kini sudah menjadi kepala teater. melainkan mencari bentuk ekspresi tersendiri. Ciri yang menandai teater Jerman selama kurang lebih 250 tahun. Martin Kusej. Sutradara seperti Michael Thalheimer. Pengertian seperti mencerahkan. yaitu konfrontasi dengan masyarakat.