P. 1
Teori Aktivitas Industri& pengembangan desa

Teori Aktivitas Industri& pengembangan desa

|Views: 1,029|Likes:
Published by noor_puspito
by galuh fathia santi
by galuh fathia santi

More info:

Categories:Types, Research, Science
Published by: noor_puspito on Sep 05, 2010
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

01/07/2013

pdf

text

original

AKTIVITAS INDUSTRI DAN PENGEMBANGAN WILAYAH PERDESAAN oleh: GALUH FATHIA SHANTI

2.1. Konsep Aktivitas Industri 2.1.1 Pengertian Aktivitas Industri Studi mengenai industri pada umumnya akan selalu dititikberatkan pada bahasan mengenai industri manufaktur; yang identik dengan kegiatan membuat atau menghasilkan dalam jumlah besar dengan menggunakan teknologi dan mesin-mesin (Chapman dan Walker, 1991). Menurut Daljoeni (1998: 167) aktivitas industri didefinisikan sebagai usaha pengubahan suatu komoditi agar menjadi lebih bermanfaat (commercial manufacturing). Setidaknya terdapat tiga hal dalam setiap kegiatan industri ini, yaitu pengumpulan bahan mentah, ada peningkatan terhadap kegunaannya lewat pengubahan bentuk serta pengiriman komoditi yang lebih berharga ini ke tempat lain. Dari pengertian tersebut, maka dapat dikatakan bahwa sebuah aktivitas industri akan sangat bergantung pada faktor-faktor produksi yang berkaitan satu sama lain sebagai suatu sistem produksi. Faktor produksi yang terlibat dalam aktivitas industri antara lain faktor produksi berupa bahan mentah, bahan bakar (energi), faktor produksi tenaga kerja (buruh), modal serta kemampuan manajerial. Aktivitas Industri Sebagai Kutub Pertumbuhan Konsep dasar kutub pertumbuhan pada awalnya diperkenalkan secara sistematis oleh Perroux dalam tulisannya pada tahun 1955. Konsep ini terkait erat dengan ekonomi keruangan yang tersusun atas kekuatan sentrifugal dan sentripetal dari sebuah pusat atau kutub pertumbuhan. Setiap kutub akan menjadi pusat keluarnya kekuatan sekaligus sebagai pusat yang akan menarik berbagai kekuatan ke dalamnya. Dari sini dapat dicatat bahwa konsep dasar kutub pertumbuhan Perroux ini kemudian diaplikasikan secara jelas dengan keberadaan industri (Kuklinski: 21). Menurut Perroux, industri merupakan aktivitas dengan tingkat inovasi tinggi dan dapat berlangsung dalam unit ekonomi yang luas. Aktivitas industri dapat mendominasi lingkungannya dan memberikan pengaruh kepada unit ekonomi lain.

Pada dasarnya, Perroux memfokuskan bahasan mengenai perkembangan kutub pertumbuhan ini dalam lingkup ekonomi. Namun kemudian, Christaller dan Losch mengembangkan teori ini dengan menambahkan dimensi geografi dan keruangan. Sehingga, istilah kutub pertumbuhan menurut konsep Perroux tidak merujuk pada dimensi geografi, sedangkan pada perkembangan berikutnya, terdapat istilah pusat pertumbuhan (growth centre) yang mengacu pada aspek lokasi keruangan (Glasson, 1978: 172). Sementara, terdapat pendapat lain, bahwa istilah kutub pertumbuhan lebih mengacu kepada lingkup nasional, sedangkan pusat pertumbuhan mengacu kepada skala regional. Menurut Glasson (1978: 173), pada prinsipnya terdapat tiga konsep dasar ekonomi dan pengembangan lingkup geografinya sebagai berikut: a. Konsep leading industries dan perusahaan propulsif. Dalam konsep ini sebuah kutub pertumbuhan berupa perusahaan propulsif yang menjadi leading industries dan mendominasi unit ekonomi lain. Hal tersebut dapat berbentuk sebuah perusahaan propulsif saja atau juga dapat berupa kompleks atau kawasan industri. Lokasi industri–industri tersebut secara geografis umumnya disebabkan oleh beberapa faktor, antara lain adanya sumberdaya alam, seperti air dan bahan bakar; adanya faktor sumberdaya buatan, seperti jaringan komunikasi, pelayanan infrastruktur serta ketersediaan tenaga kerja; atau adanya kesempatan dan peluang lain di lokasi tersebut. Konsep ini menunjukkan adanya kaitan yang kuat antara industri dengan sektor ekonomi lainnya. Kaitan tersebut dapat berbentuk kaitan “ke depan” (forward linkages), artinya industri mempunyai rasio penjualan hasil industri yang tinggi terhadap rasio total. Sedangkan kaitan ke belakang (backward linkages) berarti bahwa industri mempunyai rasio input output terhadap rasio total. b. Konsep Polarisasi Konsep ini menyatakan bahwa pertumbuhan leading industries yang cepat dapat menyebabkan terjadinya polarisasi unit ekonomi yang lain ke dalam kutub pertumbuhan tersebut. Proses polarisasi ini secara implisit akan menimbulkan berbagai keuntungan aglomerasi ekonomi, baik keuntungan internal maupun eksternal. Polarisasi ekonomi ini akan memicu polarisasi geografi melalui aliran sumberdaya dan konsentrasi aktivitas ekonomi.

c. Konsep Spread Effect Konsep ini menyatakan bahwa ketika mencapai keadaan dinamik, kualitas propulsif suatu kutub pertumbuhan akan menyebar ke daerah di sekitarnya. Konsep spread effect dan trickling down ini menjadi semakin populer sebagai teori yang menjadi dasar bagi berbagai kebijakan. 2.2 Aglomerasi Industri Para ahli geografi dan perencana wilayah pada umumnya cenderung

menghubungkan masalah pengembangan industri dengan teori-teori lokasi klasik yang awalnya diperkenalkan oleh Weber (1929) dan kemudian diperbaharui menjadi teori lokasi neoklasik oleh Hoover (1937), Isaard (1956) dan Moses (1958). Secara eksplisit, teori-teori yang berbasis pada teori Weber ini dapat dijelaskan melalui logika sebuah proses penentuan lokasi organisasi industri. Konsep tersebut dihubungkan dengan adanya dinamika secara agregat dari suatu kutub pertumbuhan. Inilah yang menjadi dasar adanya pemikiran tentang proses aglomerasi industri. Kaitannya dengan industri, kutub pertumbuhan disini diartikan sebagai sektor produksi yang memiliki kaitan ke belakang (backward linkages), baik secara langsung maupun tak langsung, dengan sektor-sektor lainnya dalam jumlah besar. Kutub pertumbuhan menjadi posisi sentral dalam struktur input dan output produksi. Proses aglomerasi industri diawali dari adanya industri utama pada lokasi tertentu yang menjadi pusat pertumbuhan bagi lingkungan sekitarnya. Kemudian seiring dengan proses perkembangan industri utama tersebut, akan bermunculan jenis industri-industri hulu (upstream industries) dalam jumlah besar yang berlokasi di tempat tersebut. Industri hulu ini menghasilkan produksi yang nantinya menjadi input bagi industri utama. Dalam perkembangan berikutnya, jenis industri-industri hilir (downstream industries) yang memindahkan lokasi industri mendekati industri utama semakin bertambah. Hal ini untuk mempermudah akses memperoleh produksi industri utama sebagai input bagi proses produksi industri-industri hulu (Scott, 1990:45-46). Dari proses aglomerasi tersebut, terbentuk pula adanya keterkaitan ke depan dan ke belakang dalam sebuah kutub pertumbuhan, sebagai satu kekuatan yang berdimensi keruangan (Perroux, 1961). Efek turunan yang cukup signifikan dari adanya aglomerasi industri tersebut antara lain:

Penyerapan tenaga kerja di sekitar pusat aglomerasi Hal ini akan menjadi konsekuensi logis, karena keberadaan industri umumnya dapat menyerap tenaga kerja dalam jumlah besar. Menurut Scott, bila sistem proses produksi yang ada cukup bervariasi akan dapat mewujudkan keragaman ketrampilan dan kemampuan baru bagi para pekerja. Keragaman kemampuan pekerja ini dapat menarik industri baru untuk berlokasi di tempat tersebut. Terjadi efek pengganda (multiplier effects) bagi daerah di sekitar pusat aglomerasi industri Secara sederhana, ini dapat dijelaskan melalui upah yang diterima oleh para pekerja. Para pekerja akan membelanjakan uangnya untuk membeli barang dan jasa yang ditawarkan di sekitar tempat kerja mereka. Perputaran uang inilah yang sering disebut efek pengganda dan dapat mendorong pertumbuhan ekonomi daerah sekitar industri. Mendorong dan mempercepat pertumbuhan ekonomi di daerah pusat aglomerasi industri tersebut berada Aglomerasi industri menjadi pemicu bagi pertumbuhan dan dinamika ekonomi di daerah tersebut. Ini karena keberadaan aglomerasi industri menyebabkan naiknya arus migrasi serta modal ke daerah itu. Keuntungan lokalisasi dan urbanisasi ekonomi. Menurut Hoover (1937), keberadaan aglomerasi industri dapat mendorong naiknya kualitas serta jumlah sarana dan prasarana buatan yang memerlukan biaya besar di daerah itu; seperti jaringan jalan, terminal barang, dan sebagainya. 2.3 Keterkaitan Industri Transmisi pertumbuhan yang terjadi secara sentripetal dan sentrifugal dari sebuah kutub pertumbuhan terhadap daerah dimana industri tersebut berada dapat mengalir melalui keterkaitan antarindustri (Kuklinski, 1971). Dari pernyataan tersebut, terdapat dua hal yang dapat dicatat, pertama, keterkaitan antarindustri (inter-indsutrial linkages) yang menunjukkan sistem produksi atau rantai produksi dari sebuah aktivitas industri. Kedua, keterkaitan industri terhadap daerah di sekitarnya yang masih mendapat pengaruh dari aktivitas industri tersebut. Menurut Scott (1990: 48), keterkaitan antarindustri dalam sistem produksi akan mempengaruhi besar biaya produksi yang harus dikeluarkan. Menurutnya, terdapat beberapa aspek penting yang dapat mempengaruhi keterkaitan antarindustri tersebut, yaitu: a. Transportasi dan komunikasi

Kegiatan transportasi dan komunikasi sebagi salah satu keterkaitan antarindustri dalam sistem produksi. Fungsi jarak menunjukkan besarnya biaya yang harus dibayar serta tingkat kesulitan industri untuk memperoleh bahan baku sebagai input maupun saat mereka harus melepas produk ke pasaran atau kepada industri hilir yang lain. b. Karakter produk dan struktur produksi Keterkaitan antarindustri dapat terjadi bila proses produksi yang terjadi dalam sebuah industri saling melengkapi atau terkait dengan industri lain untuk menghasilkan produknya. c. Lokasi Lokasi merupakan salah satu faktor yang mendorong terjadinya keterkaitan antarindustri. Sebagai ilustrasi, bila terdapat sebuah industri bersakala kecil dengan aktivitas produksi yang memiliki ketergantungan tinggi dengan industri lain, maka akan cenderung berlokasi dekat dengan dengan industri partner utamanya. Konsep Pengembangan Wilayah Pengembangan wilayah diartikan sebagai usaha memberdayakan suatu masyarakat yang berada di suatu daerah untuk memanfaatkan sumber daya alam yang terdapat di sekitarnya dengan menggunakan teknologi yang relevan dengan kebutuhan, dan bertujuan meningkatkan kualitas hidup masyarakat yang bersangkutan. Dalam konsep

pengembangan wilayah, setidaknya terdapat tiga sasaran utama yang ditempuh yaitu meningkatkan pertumbuhan ekonomi, memperluas kesempatan usaha dan menjaga agar pembangunan tetap berjalan secara berkesinambungan. Pada umumnya konsep pengembangan wilayah dimaksudkan untuk memperkecil kesenjangan (disparitas) pertumbuhan dan ketimpangan kesejahteraan antar wilayah (Alkadri, 1999). Namun dalam implementasinya, konsep pengembangan wilayah ini sendiri sangat sulit diterapkan. Kegagalan tersebut sangat nyata terlihat dari beberapa wilayah yang diprioritaskan sebagai pusat pertumbuhan ekonomi sehingga mengalami kemajuan pesat, sedangkan wilayah lain jauh dari kemampuan untuk berkembang. Berkaitan dengan konsep pengembangan wilayah ini, terdapat dua teori yang relevan, yaitu teori atau model pusat-pinggiran yang dikemukakan oleh Friedman serta teori tahap perkembangan dari Adam Smith. Menurut Friedman dengan model pusatpinggiran (core-periphery) terdapat empat tahapan dalam perkembangan dan perubahan sistem keruangan dalam suatu wilayah,yakni sebagai berikut (Gilbert dan Gugler, 1979):

1. Tahap pertama (struktur pra-industrialisasi) Ditandai oleh adanya wilayah yang belum tereksploitasi dengan ciri permukiman perdesaan yang terpencar, dengan pusat-pusat tertentu yang mengatur dan melayani masing-masing kegiatan di wilayah tersebut. Masing-masing wilayah berdiri sendiri dan tingkat ketergantungan antar wilayah kecil. 2. Tahap kedua (permulaan industri) Dicirikan dengan adanya industrialisasi dan meningkatnya konsentrasi investasi ke dalam satu atau beberapa kota besar. Kesenjangan wilayah mulai nampak karena sumberdaya, baik alam maupun manusia, terus mengalir ke wilayah yang lebih produktif, maninggalkan wilayah yang dianggap telah usang. Muncul karakter dualistik wilayah, ditandai dengan adanya pusat pertumbuhan dengan pembangunan yang maju, cepat dan intensif, sementara kondisi wilayah pinggiran dengan kegiatan ekonomi yang tidak terkait dengan pusat, bersifat stagnan bahkan merosot. 3. Tahap ketiga (pematangan industri) Ditandai dengan adanya proses pematangan industri dan kesadaran wilayah pinggiran atas eksploitasi terhadap sumberdaya dari wilayah pinggiran. Hal semacam ini merespon pemerintah untuk membuat kebijakan mengenai kesenjangan perkembangan wilayah pusat-pinggiran. Sehingga akhirnya, pada tahap ini kesenjangan wilayah pusatpinggiran semakin berkurang. 4. Tahap Keempat (terbentuknya sistem) Ditandai dengan munculnya suatu sistem ekonomi keruangan yang terintegrasi penuh. Masing-masing pusat pertumbuhan berinteraksi dalam lingkup sebuah sistem. Dalam kondisi seperti ini, kesenjangan wilayah semakin dapat diminimalisir. Sedangkan menurut teori tahapan (stages theory) yang dikemukakan oleh Adam Smith, menyebutkan bahwa perkembangan suatu wilayah akan mengalami tahap-tahap sebagai berikut: Tahap pertama, adalah tahap perekonomian swasembada, dimana hanya terdapat sedikit investasi atau perdagangan. Penduduk pertanian menjadi basis distribusi menurut lokasi sumberdaya alam. Tahap kedua, dengan kemajuan perangkutan, wilayah yang bersangkutan mengembangkan perdagangan dan spesialisasi, maka muncullah lapisan kedua yang mengusahakan industri desa sederhana untuk memenuhi kebutuhan para petani. Karena pada mulanya semua

bahan, pasar dan tenaga kerja disediakan oleh penduduk pertanian, maka lapisan baru ini berlokasi di tempat yang berkaitan dengan lapisan basis. Tahap Ketiga, dengan semakin bertambahnya perdagangan inter-regional, wilayah yang bersangkutan berkembang melalui suatu urutan perubahan jenis produksi tanaman pertanian dan peternakan, yaitu dari tanaman biji-bijian dan peternakan yang ekstensif menuju jenis tanaman buah-buahan dan peternakan yang intensif. Tahap Keempat, dengan semakin bertambahnya jumlah penduduk dan semakin bekurangnya tanaman hasil pertanian, wilayah yang bersangkutan melakukan

industrialisasi. Industri sekunder berkembang, mula-mula mengolah produk-produk primer tetapi kemudian semakin lebih terspesialisasi. Ketiadaan industrialisasi akan

mengakibatkan terjadinya tekanan penduduk, menurunnya taraf hidup dan stagnasi serta kemerosotan secara umum di wilayah tersebut. Tahap kelima, adalah pengembangan industri tersier yang berproduksi untuk ekspor. Wilayah tersebut mengekspor model, ketrampilan dan jasa-jasa yang bersifat khusus ke wilayah- wilayah lain yang telah berkembang. Dilihat dari faktor pemicu perkembangannya, terdapat dua macam perkembangan wilayah, yaitu: Perkembangan dari dalam Menurut Teori Sektor yang dikemukakan oleh Clark dan Fisher disebutkan bahwa kenaikan pendapatan per kapita berbagai wilayah dalam berbagai waktu pada umumnya dibarengi oleh adanya realokasi sumberdaya, dengan penurunan proporsi angkatan kerja dalam kegiatan-kegiatan primer (pertanian), dan kenaikan proporsi dalam kegiatankegiatan sekunder (manufakturing) dan kemudian disusul dalam kegiatan-kegiatan tersier atau jasa (Glasson diterjemahkan oleh Sihotang, 1977). Perkembangan dari dalam suatu wilayah juga didasarkan pada potensi sumberdaya alam, sumberdaya manuasia, serta beberapa faktor lokasi yang menentukan suatu wilayah dapat terakses dengan baik dari wilayah lainnya.

Perkembangan dari luar Di dalam teori basis ekspor (export base theory) dikemukakan bahwa pertumbuhan suatu wilayah ditentukan oleh eksploitasi pemanfaatan-pemanfaatan alamiah dan

pertumbuhan basis ekspor wilayah yang bersangkutan yang selanjutnya dipengaruhi oleh tingkat permintaan ekstern dari wilayah-wilayah lain. Pendapatan yang diperoleh dari penjualan ekspor akan mengakibatkan berkembangnya kegiatan-kegiatan penduduk setempat, perpindahan modal dan tenaga kerja, keuntungan-keuntungan eksternal dan perkembangan wilayah lebih lanjut. Teori ini memandang tingkat permintaan luar terhadap produk dari industri-industri ekspor suatu wilayah sebagai penentu bagi perkembangan regional. Metode lain yang juga memasukkan faktor-faktor dari luar ke dalam perkembangan wilayah adalah model-model alokasi sumberdaya inter regional yang dikemukakan Ohlin. Dalam model ini diasumsikan bahwa faktor-faktor produksi, terutama tenaga kerja dan modal, akan mengalir keluar dari wilayah yang imbalannya rendah ke wilayah yang imbalannya tinggi. Jadi, jika suatu wilayah yang lebih rendah daripada di semua wilayah lainnya, maka ada kemungkinan terjadinya arus keluar ke wilayah-wilayah lain atau arus masuk modal yang hendak memanfaatkan rendahnya biaya tenaga kerja tersebut, atau juga merupakan kombinasi dari dua kemungkinan tersebut (Glasson,1977). Faktor lain yang tidak kalah menentukan dalam perkembangan suatu wilayah adalah faktor kebijaksanaan. Kebijaksanaan ini meliputi kebijaksanaan ekonomi, kebijaksanaan sosial dan budaya serta kebijaksanaan lain yang menentukan arah pengembangan wilayah. Sementara, aspek interaksi keruangan yang terjadi dalam konsep pengembangan wilayah ini meliputi (Rondinelli, 1978): a. Keterkaitan fisik, dapat berupa jaringan transportasi yang menghubungkan antar wilayah. b. Keterkaitan ekonomi, keterkaitan ini dapat berupa keterkaitan aliran komoditas barang, modal, keterkaitan produksi serta berbagai elemen ekonomi lainnya. Keterkaitan ekonomi erat hubungannya dengan keterkaitan fisik, dimana semakin baik kondisi fisik yang menghubungkan antar wilayah, maka aspek ekonomi dapat lebih cepat berkembang. c. Keterkaitan pergerakan peduduk, pola migrasi baik permanen maupun non permanen merupakan gambaran dalam keterkaitan pergerakan penduduk ini. Pergerakan penduduk dari perdesaan ke perkotaan merupakan bentuk interaksi keruangan desa-kota.

d.

Keterkaitan teknologi, terutama peralatan, cara dan metode produksi harus terintegrasi secara spasial dan fungsional karena inovasi teknologi saja tidak cukup untuk memacu transformasi sosial dan ekonomi pada suatu wilayah, terutama bila teknologi yang diterapkan tidak tepat guna.

e.

Keterkaitan sosial, pola hubungan sosial dalam keterkaitan ini menjadi pengaruh dari adanya keterkaitan ekonomi.

f.

Keterkaitan pelayanan sosial, adanya keterkaitan fisik, ekonomi dan teknologi merupakan upaya untuk memperluas jaringan berbagai fasilitas pelayanan sosial, seperti rumah sakit, puskesmas, sekolah, dan sebagainya.

g.

Keterkaitan administrasi, politik, dan kelembagaan, bentuk-bentuk keterkaitan ini dapat dilihat pada struktur pemerintahan, batas-batas administrasi, sistem pengelolaan anggaran dan pembiayaan pembangunan.

2.5 Konsep Kawasan Perdesaan 2.5.1 Pengertian Desa dan Perdesaan Dari berbagai sumber, terdapat beberapa pengertian desa adalah permukiman yang terletak di luar kota dan penduduknya bekerja dalam bidang agraris (Daldjoeni, 1998). Sementara menurut Kamus Tata Ruang, terdapat dua definisi desa, pertama, desa merupakan suatu wilayah yang ditempati oleh sejumlah penduduk sebagai kekuatan masyarakat termasuk di dalamnya kesatuan masyarakat hukum yang mempunyai organisasi pemerintahan terendah langsung dibawah camat dan berhak menyelenggarakan rumah tangganya sendiri dalam ikatan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Pengertian kedua, desa adalah permukiman kecil di luar kota jumlah penduduk terbatas, luas daerah georafis terbatas, kepadatan penduduk rendah, berpola hubungan tradisional, mata pencaharian utama di bidang pertanian. Sedangkan pengertian wilayah perdesaan menurut Dirjen Pembangunan Desa, diartikan sebagai wilayah yang memiliki ciri-ciri sebagai berikut: Perbandingan tanah dan manusia cukup besar Lapangan kerja didominasi oleh sektor agraris Hubungan penduduk yang akrab Sifat masyarakat menurut tradisi Sementara menurut Yustika (2002: 109), wilayah perdesaan umumnya di negaranegara dunia ketiga, dideskripsikan sebagai tempat bagi orang-orang untuk bekerja di

sektor pertanian. Penurunan proporsi penduduk yang tinggal di wilayah perdesaan dalam 25 tahun terakhir ini menjadi sebuah fenomena nyata. Hal ini juga merupakan konsekuensi dari semakin beragamnya kegiatan ekonomi yang tidak hanya bertumpu pada sektor pertanian, dan umumnya berlangsung di perkotaan. Fenomena ini pula yang kemudian mendorong masyarakat perdesaan berpindah ke daerah perkotaan. Keterkaitan Desa-Kota Keterkaitan desa-kota pada dasarnya dipengaruhi oleh gerakan manusia dan juga sifat keinginan manusia untuk saling melengkapi, dikarenakan suatu wilayah dengan wilayah lain memiliki keadaan yang berbeda (Daljoeni, 1996). Batasan desa-kota juga diperjelas oleh Bintarto (1989) dalam skema zone interaksi desa-kota, bahwa kawasan desa-kota meliputi daerah di sekitar kota, mulai dari suburban hingga rural urban fringe. Pada kawasan tersebut dapat dijumpai berbagai karakteristik daerah perkotaan, namun lokasinya sudah berada di luar inti kota dan karakteristik penduduknya lebih bersifat seperti masyarakat perdesaan. Berikut ini skema untuk memperjelas pengertian kawasan desa-kota.

GAMBAR 2.1 ZONE INTERAKSI DESA-KOTA

6 5 3 4 2 1

Sumber: Bintarto (1989:67)

Keterangan: 1. City, merupakan kota atau pusat kota

2. Suburban, merupakan suatu area yang lokasinya dekat pusat kota dengan luas mencakup daerah penglaju atau commuter. Daerah ini disebut juga subdaerah perkotaan. 3. Suburban fringe, merupakan suatu area yang melingkasi suburban dan merupakan daerah peralihan antara kota dan desa (jalur tepi sub daerah perkotaan). 4. Urban fringe, meliputi semua daerah batas luar kota yang mempunyai sifat mirip kota (jalur tepi daerah perkotaan paling luar). 5. Rural urban fringe merupakan suatu jalur daerah yang terletak antara daerah kota dan daerah desa yang ditandai dengan penggunaan tanah camuran (jalur batas desa-kota). 6. Rural, perdesaan. 2.5.3 Konsep Dualisme dalam Interaksi Aktivitas Industri dengan Kawasan Perdesaan Sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya, bahwa keberadaan aktivitas industri di suatu tempat dapat menjadi sebuah titik pertumbuhan baru yang dapat mendorong perkembangan wilayah di sekitarnya. Aktivitas industri ini memiliki kekuatan untuk mendorong terjadinya pemusatan pertumbuhan ekonomi yang lebih besar daripada daerah hinterlandnya. Daerah ini kemudian menyerap tenaga terlatih dan investasi dari wilayah hinterlandnya sebagai wilayah yang relatif kurang berkembang. Inilah yang menjadi ancaman bagi perkembangan wilayah perdesaan di sekitar pusat aktivitas industri. Menurut Estalita (2001), bila kondisi seperti ini berlanjut, maka akan terjadi gejala dualisme ekonomi yang dapat dideskripsikan sebagai suatu daerah perkotaan yang dinamis, tumbuh dan modern yang dilingkupi oleh daerah perdesaan yang statis, menurun dan tradisional. Perdesaan yang sering diidentikkan dengan sektor tradisional, khususnya pertanian. Sektor tradisional, secara umum, memiliki pengertian mengacu kepada segala sesuatu yang telah dilakukan oleh petani secara turun temurun atau sudah menjadi kebiasaan. Selain itu, sektor pertanian tidak memakai manajemen modern dengan mempertimbangkan faktor biaya dan keuntungan (Yustika, 2002: 117). Menurut Norton dan Alwang (1993), terdapat beberapa karakteristik sektor tradisional yang diwakili oleh sektor pertanian, antara lain (Yustika, 2002: 118): a. Pertanian campuran dan dominasi hubungan keluarga

Artinya, pertimbangan hubungan dalam keluarga lebih mendominasi berbagai keputusan dalam pengolahan pertanian mereka. Pertanian tradisional dijalankan dengan berbagai bentuk serta teknik yang berbeda, dengan jenis tanaman yang dapat berganti-ganti pula. b. Pemanfaatan tenaga kerja dan lahan Pemanfaatan lahan untuk pertanian tradisional umumnya sangat kecil (antara 1-3 Ha). Namun tenaga kerja yang dipakai per hektarnya sangat tinggi. c. Musiman Penggunaan tenaga kerja pada pertanian tradisional cenderung untuk

mempertimbangkan variasi musim yang berdampak pada siklus pertanian. Sehingga jumlah tenaga kerja yang dipakai akan berbeda setiap musimnya. d. Produktivitas dan efisiensi Pertanian tradisional dikarakteristikkan oleh rendahnya penggunaan input-input yang harus dibeli dibandingkan dengan pemanfaatan tenaga kerja. Dengan demikian, jumlah panen per hektar, produksi per orang, dan ukuran-ukuran lain menyebabkan produktivitas cenderung menjadi rendah. e. Rasionalitas dan resiko Petani tradisional sesungguhnya secara ekonomi sangat rasional. Mereka bekerja dengan dimotivasi oleh keinginan untuk meningkatkan mutu standar hidup. Namun demikian, resiko gagal panen, terserang hama dan bencana alam selalu membebani sektor pertanian tradisional. Sektor industri tumbuh dan berkembang dengan melibatkan bantuan modal yang jauh lebih besar. Karena sektor industri memakai teknik padat modal dan koefisien teknik tetap maka sektor ini tidak dapat menciptakan kesempatan kerja pada laju yang sama dengan laju pertumbuhan penduduk. Dengan demikian surplus buruh harus mencari alternatif pekerjaan lain diluar sektor industri. Menurut Higgins, sebelum adanya proses ekspansi, sektor pedesaan tidak mengalami kelebihan atau kekurangan faktor produksi. Pada permulaannya sektor tersebut menyerap tenaga buruh tambahan dengan memanfaatkan tanah untuk pertanian lebih banyak. Ini menyebabkan naiknya kombinasi buruh dan modal saat output juga naik. Rasio buruh dengan modal yang ada di sektor tersebut naik secara teratur dan karena tersedia koefisien teknis maka teknik yang dipakai di sektor ini menjadi berubah-ubah. Sebagai contoh,

penanaman padi dengan irigasi telah menggantikan penanaman padi kering. Pada akhirnya, seluruh tanah yang tersedia diolah dengan teknik padat-buruh dan produktivitas marginal buruh turun ke nol atau bahkan di bawah nol. Jadi dengan pertumbuhan penduduk yang terus menerus, pengangguran tersembunyi mulai muncul. Dalam kondisi ini,petani tidak termotivasi untuk menanam modal lebih banyak atau memeperkenalkan teknik yang dapat menghemat buruh. Disamping itu, tidak tersedia teknik untuk menigkatkan output perorang dan tidak ada keinginan dari pihak buruh untuk meningkatkan produktivitas mereka sendiri. Akibatnya, teknik produksi, produktivitas orang per jam dan kesejahteraan sosial ekonomi masyarakat perdesaan tetap berada di tingkat yang rendah. Higgins juga berpendapat bahwa hanya sedikit saja atau tidak terjadi kemajuan teknologi di sektor perdesaan sementara di sektor industri terjadi kemajuan teknologi yang begitu cepat. Hal tersebut cenderung meningkatkan jumlah pengangguran tersembunyi. Situasi seperti ini semakin diperburuk dengan adanya tingkat upah yang tinggi. Karena tingkat upah buruh industri yang semakin tinggi dan tidak sebanding dengan tingkat produktivitasnya akan mendorong pengusaha untuk mencari teknik yang menghemat buruh, sehingga ini semakin mengurangi kemampuan sektor industri dalam menyerap kelebihan buruh dari perdesaan di sekitarnya. 2.6 Ikhtisar Kajian Teori Keberadaan pusat-pusat pertumbuhan di suatu daerah atau wilayah akan memberikan pengaruh bagi perkembangan wilayah di sekitarnya. Begitu pula dengan pusat pertumbuhan berupa aktivitas industri. Menurut Perroux, industri merupakan aktivitas dengan tingkat inovasi tinggi dan dapat berlangsung dalam unit ekonomi yang luas. Aktivitas industri dapat mendominasi lingkungannya dan memberikan pengaruh kepada unit ekonomi lain. Menurut Daljoeni (1998: 167), aktivitas dari industri didefinisikan sebagai usaha pengubahan suatu komoditi agar menjadi lebih bermanfaat (commercial manufacturing). Pengertian aktivitas industri akan selalu berorientasi pada suatu bentuk usaha pengolahan. Aktivitas industri merupakan suatu kegiatan yang menggabungkan berbagai faktor produksi, sehingga dapat dikatakan bahwa aktivitas industri adalah sebuah sistem produksi yang bekerja saling berkaitan. Oleh karena itu, dalam sektor industri selalu terjadi apa yang disebut dengan keterkaitan industri. Dalam sistem produksinya, keterkaitan antarindustri dapat dilihat dari kebutuhan input yang diperoleh dari industri-industri hulu (upstream

industries) dan penggunaan output suatu industri bagi industri hilir (downstream industries). Keterkaitan industri dengan perdesaan di sekitarnya, dapat dilihat dari kaitan sistem proses produksi dengan sektor–sektor perdesaan yang ada. Didalamnya, tercakup pula kebutuhan industri akan tenaga kerja. Berdasarkan tipe-tipe keterkaitan keruangan yang dikemukakan oleh Rondinelli (1978), maka keterkaitan yang difokuskan dalam studi ini adalah: a. Keterkaitan Ekonomi, keterkaitan ini dapat berupa keterkaitan aliran komoditas barang, modal, keterkaitan produksi serta berbagai elemen ekonomi lainnya.Dalam keterkaitan ini juga dapat diketahui backward dan forward linkage antara aktivitas industri dengan perdesaan di sekitarnya. b. Keterkaitan pergerakan peduduk, untuk studi ini akan lebih difokuskan kepada pola interaksi keruangan yang ditinjau dari pola arus tenaga kerja serta keterikatan lokasi antara aktivitas industri dengan perdesaan sekitarnya. Ikhtisar dari keseluruhan kajian literatur di atas dapat disajikan dalam Tabel II.1 berikut ini.

TABEL II.1 VARIABEL PENELITIAN
Konsep Konsep aktivitas industri Variabel Penelitian Aktivitas internal industri Sistem produksi industri Elemen Studi Batasan aktivitas industri yang diteliti. Kaitan aktivitas internal industri dengan kawasan perdesaan di Kecamatan Tugu. Karakter aktivitas internal industri di Kecamatan Tugu. Industri sebagai generator pertumbuhan wlayah perdesaan di Kecamatan Tugu. Keterkaitan ekonomi dan keruangan industri dengan wilayah perdesaan di Kecamatan Tugu.

Keterkaitan industri

Rantai produksi industri

Konsep wilayah

pengembangan

Generator wilayah.

pertumbuhan

Konsep Konsep kawasan perdesaan

Variabel Penelitian Pengertian perdesaan Karakter perdesaan

Elemen Studi Kegiatan ekonomi masyarakat perdesaan di Kecamatan Tugu. Keterkaitan ekonomi aktivitas industri dengan kawasan perdesaan di Kecamatan Tugu.

Sumber: Analisis, 2004

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->