P. 1
Laporan Audit Keuangan

Laporan Audit Keuangan

|Views: 1,612|Likes:
Published by nyomanariwijaya

More info:

Published by: nyomanariwijaya on Sep 06, 2010
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

06/01/2013

pdf

text

original

BADAN PEMERIKSA KEUANGAN

REPUBLIK INDONESIA


HASIL PEMERIKSAAN
ATAS
RUMAH SAKIT UMUM DAERAH
TAHUN ANGGARAN 2005
PADA
KABUPATEN BANYUMAS
DI
BANYUMAS



Nomor : 212/R/XIV.4/12/2005
Tanggal : 27 Desember 2005

2

DAFTAR ISI

RESUME HASIL PEMERIKSAAN............................................................ 1

BAB I. GAMBARAN UMUM
1. Tujuan Pemeriksaan.............................................................................................. 4
2. Sasaran Pemeriksaan............................................................................................ 4
3. Metode Pemeriksaan.............................................................................................. 4
4. Jangka Waktu Pemeriksaan................................................................................... 4
5. Obyek Pemeriksaan............................................................................................... 4
a. Dasar Hukum Pendirian, Tujuan Rumah Sakit Umum Daerah, Bidang
Usaha..............................................................................................................

5
1) Dasar Hukum Pendirian...........................................................................
2) Tujuan Rumah Sakit Umum Daerah........................................................
3) Bidang Usaha...........................................................................................
5
5
5
b. Organisasi........................................................................................................ 7
c. Personalia........................................................................................................ 8
d. Data Keuangan dan Kinerja RSUD.............................................................. 9
1) Anggaran dan
Realisasi........................................................................
a) Anggaran dan Realisasi Pendapatan...................................................
b) Anggaran dan Realisasi Belanja........................................................
2) Ratio Kinerja
RSUD..............................................................................
a) Indikator Pelayanan Rawat Inap RSUD.............................................
b) Daftar 10 besar penyakit berdasarkan data kegiatan RSUD ............
9
9
10
11
12
13
6. Cakupan Pemeriksaan....................................................................................... 14
BAB II. HASIL PEMERIKSAAN SISTEM PENGENDALIAN INTERN................. 16
1. Lingkungan Pengendalian..................................................................................... 16
a. Integritas dan Nilai Etika................................................................................ 16
b. Komitmen pada kompetensi........................................................................... 17
c. Partisipasi Dewan Penyantun......................................................................... 17
d. Filosofi dan Gaya Operasi Manajemen........................................................... 17
e. Struktur Organisasi......................................................................................... 18
f. Pemberian wewenang dan tanggung jawab.................................................... 19
g. Kebijakan dan praktik sumber daya............................................................... 19
2. Penaksiran Resiko.................................................................................................. 19
3. Aktivitas Pengendalian........................................................................................... 20
a. Kebijakan........................................................................................................ 20
b. Prosedur.......................................................................................................... 21
4. Informasi dan Komunikasi.................................................................................... 21
5. Pemantauan............................................................................................................ 22
BAB III. HASIL PEMERIKSAAN............................................................................. 23
1. Bagi hasil pendapatan administrasi karcis sebesar Rp65.087.028,00 belum
diterima dan pendapatan sewa diklat sebesar Rp3.600.000,00 belum disetor ke
kas daerah ……………………………………………………………………….


23
3

2. Penerimaan RSUD Banyumas sebesar Rp2.056.498.547,00 tidak dibukukan
secara bruto, dipotong langsung dan dikelola di luar rekening kas RSUD...........


27
3. Pemakaian fasilitas RSUD Banyumas oleh pihak ketiga belum memberikan
kontribusi yang memadai bagi daerah …………………………………………..


38
4. Pengenaan tarif pada RSUD Banyumas tidak berdasar Peraturan Daerah ……


41
5. Belanja jasa pelayanan sebesar Rp348.000.000,00 direalisasikan tidak sesuai
peruntukannya……………………………………………………………………


46
6. Penyajian data tunggakan pasien khusus pada Instalasi Laboratorium tidak
akurat dan pemakaian film radiologi (CT SCAN) sebanyak 670 lembar film
senilai Rp12.781.422,50 tidak didokumentasikan dengan memadai …………..



52
7. Pemberian extra fooding melalui Instalasi Gizi RSUD Banyumas sebesar
Rp6.105.600,00 tidak berdasarkan SK Direktur ………………………………...


58
8. Pemakaian sumber daya RSUD untuk pengelolaan Instalasi Farmasi Komponen
B belum memiliki landasan peraturan …………………………………………...


61
9. Pengadaan material dan ongkos tenaga kerja pengembangan Instalasi
Rehabilitasi Medis (IRM) melebihi kebutuhan minimal sebesar
Rp59.387.579,20 dan penambahan pekerjaan sebesar Rp20.363.400,00 belum
dapat diyakini kebenarannya …………………………………………………….




66
10. Pelaksanaan pembangunan sarana prasarana RSUD sebesar
Rp1.159.310.875,00 secara swakelola tidak didukung dokumen yang memadai
sehingga tidak dapat diyakini kewajarannya ……………………………………



73
11. Pengelolaan piutang pasien tidak tertib sehingga tidak dapat disajikan dalam
laporan Keuangan ………………………………………………………………..


79
12. Barang inventaris dan peralatan medis yang telah rusak dengan harga perolehan
sebesar Rp34.085.000,00 belum dihapuskan ........................................................


84
13. Alat kesehatan RSU Banyumas belum dilakukan kalibrasi sesuai yang
dipersyaratkan .......................................................................................................


87
14. Pengadaan perangkat lunak dan keras komputer senilai Rp995.996.000,00
menyimpang dari ketentuan pengelolaan keuangan daerah .................................


90
15. Asset tanah seluas 1500 m2 di kompleks RSUD Banyumas dikuasai instansi
lain ……………………………………………………………………………….

99
LAMPIRAN
4




HASIL PEMERIKSAAN
ATAS

RUMAH SAKIT UMUM DAERAH
KABUPATEN BANYUMAS

DI
BANYUMAS

Semester II Tahun Anggaran 2005

RESUME HASIL PEMERIKSAAN

Keberadaan Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Kabupaten Banyumas diatur
berdasarkan Peraturan Daerah Kabupaten Daerah Tingkat II Banyumas Nomor 2 Tahun
1996 tentang Penetapan Rumah Sakit Umum Kabupaten Daerah Tingkat II Banyumas
menjadi Unit Swadana Daerah yang memiliki tujuan meningkatkan derajat kesehatan
masyarakat dan pendidikan kesehatan, meningkatkan sumber daya manusia dan
meningkatkan kesejahteraan pihak yang terkait dalam pelayanan kesehatan. Pada
Tahun 2001 RSUD Kabupaten Banyumas ditetapkan menjadi RS kelas B Pendidikan
oleh Menteri Kesehatan dengan Surat Keputusan Nomor 850/Menkes/SK/VIII/2001
tanggal 5 Oktober 2001.
Hasil pemeriksaan atas Sistem Pengendalian Internal atas pengelolaan Keuangan
pada RSUD Kabupaten Banyumas dapat disimpulkan bahwa secara umum pengendalian
administrasi dan pengelolaan keuangan masih cukup lemah, yang ditunjukkan dengan
lemahnya beberapa komponen pengendalian terutama pada kebijakan manajemen yang
berhubungan dengan pihak eksternal Rumah Sakit, kompetensi sumber daya yang
5
menangani administrasi keuangan, dan pemantauan oleh Satuan Pengawas Internal
Rumah Sakit. Adanya beberapa kelemahan dalam pengendalian internal ini
mengakibatkan pengelolaan atas asset asset Rumah Sakit seperti kas, piutang, persediaan,
aktiva, hutang dan kerja sama dengan pihak ketiga belum dilaksanakan secara optimal,
sebagaimana diuraikan dalam temuan pemeriksaan.
Dengan tidak mengurangi keberhasilan yang telah dicapai oleh RSUD Kabupaten
Banyumas, hasil pemeriksaan terinci atas pengelolaan asset-asset RSUD masih
menunjukkan beberapa kelemahan yang dapat diuraikan sebagai berikut:
1. Bagi hasil pendapatan administrasi karcis sebesar Rp65.087.028,00 belum diterima
dan pendapatan sewa diklat sebesar Rp3.600.000,00 belum disetor ke kas daerah;
2. Penerimaan RSUD Banyumas sebesar Rp2.056.498.547,00 tidak dibukukan secara
bruto, dipotong langsung dan dikelola di luar rekening kas RSUD;
3. Pemakaian fasilitas RSUD Banyumas oleh pihak ketiga belum memberikan
kontribusi yang memadai bagi daerah;
4. Pengenaan tarif pada RSUD Banyumas tidak berdasar Peraturan Daerah
5. Belanja jasa pelayanan sebesar Rp348.000.000,00 direalisasikan tidak sesuai
peruntukannya;
6. Penyajian data tunggakan pasien khusus pada Instalasi Laboratorium tidak akurat dan
pemakaian film radiologi (CT SCAN) sebanyak 670 lembar film senilai
Rp12.781.422,50 tidak didokumentasikan dengan memadai;
7. Pemberian ekstra fooding melalui Instalasi Gizi RSUD Banyumas sebesar
Rp6.105.600,00 tidak berdasarkan SK Direktur;
8. Pemakaian sumber daya RSUD untuk pengelolaan Instalasi Farmasi Komponen B
belum memiliki landasan peraturan;
9. Pengadaan material dan ongkos tenaga kerja pengembangan Instalasi Rehabilitasi
Medis (IRM) melebihi kebutuhan minimal sebesar Rp59.387.579,20 dan penambahan
pekerjaan sebesar Rp20.363.400,00 belum dapat diyakini kebenarannya;
10. Pelaksanaan pembangunan sarana prasarana RSUD sebesar Rp1.159.310.875,00
secara swakelola tidak didukung dokumen yang memadai sehingga tidak dapat
diyakini kewajarannya;
6
11. Pengelolaan piutang pasien tidak tertib sehingga tidak dapat disajikan dalam laporan
Keuangan;
12. Barang inventaris dan peralatan medis yang telah rusak dengan harga perolehan
sebesar Rp34.085.000,00 belum dihapuskan;
13. Alat kesehatan RSU Banyumas belum dilakukan kalibrasi sesuai yang dipersyaratkan;
14. Pengadaan perangkat lunak dan keras komputer senilai Rp995.996.000,00
menyimpang dari ketentuan pengelolaan keuangan daerah;
15. Asset tanah seluas 1500 m2 di kompleks RSUD Banyumas dikuasai instansi lain.

BADAN PEMERIKSA KEUANGAN
PERWAKILAN IV DI YOGYAKARTA
KEPALA,


Dra. Evita Eriati, MM
NIP. 240001905



7
BAB I. GAMBARAN UMUM

1. Tujuan Pemeriksaan
Untuk menentukan apakah :
a. Informasi keuangan telah disajikan sesuai dengan kriteria yang telah ditetapkan;
b. Entitas yang diperiksa telah mematuhi persyaratan kepatuhan terhadap peraturan
keuangan tertentu;
c. Sistem pengendalian intern entitas tersebut, baik terhadap laporan keuangan
maupun terhadap pengamanan atas kekayaan, telah dirancang dan dilaksanakan
secara memadai untuk mencapai tujuan pengendalian.
2. Sasaran Pemeriksaan
Guna mencapai tujuan pemeriksaan tersebut di atas, pemeriksaan diarahkan pada
sasaran sebagai berikut :
a. Pendapatan dan pengeluaran/biaya pelayanan kesehatan pada RSUD;
b. Pengelolaan kas, piutang dan persediaan pada RSUD;
c. Pengelolaan aktiva pada RSUD, termasuk di dalamnya pengadaan barang dan
jasa di lingkungan RSUD serta efektivitas pemanfaatan sarana, prasarana dan
peralatan kesehatan;
d. Pengelolaan hutang pada RSUD;
e. Kerjasama dengan pihak ketiga dan aktivitas investasi pada RSUD.
3. Metode Pemeriksaan
Pemeriksaan dilakukan dengan cara menghimpun, menganalisis, dan mengevaluasi
data secara uji petik atas pengelolaan pendapatan, belanja rutin, belanja modal, kas,
piutang, persediaan, aktiva, hutang, kerjasama pihak ketiga dan investasi serta
konfirmasi dan pengujian di lapangan.
4. Jangka Waktu Pemeriksaan
Pemeriksaan dilakukan pada tanggal 29 Juli sampai dengan 23 Agustus 2005.
5. Obyek Pemeriksaan
a. Dasar Hukum Pendirian, Tujuan Rumah Sakit Umum Daerah, Bidang Usaha.
1) Dasar Hukum Pendirian
8
Rumah Sakit Umum Daerah Kabupaten Banyumas didirikan pada tanggal 1
Januari 1924 oleh Pemerintahan Belanda dan Tahun 1953 pengelolaannya
diserahkan kembali kepada Pemerintah Daerah Kabupaten Banyumas. Tahun
1993 RSUD Banyumas ditetapkan dari Rumah Sakit kelas D menjadi kelas C
pada tanggal 19 Januari 1993 melalui SK Menkes RI Nomor (tanpa
nomor)/Menkes/SK/I/1993 dan menjadi Rumah Sakit Kelas B Non
Pendidikan pada tanggal 28 Juli 2000 dengan SK Menkes RI Nomor
115/Menkes/SK/VII/2000 dan Tahun 2001 ditetapkan menjadi RS kelas B
Pendidikan oleh Menteri Kesehatan dengan SK Nomor
850/Menkes/SK/VIII/2001 tanggal 5 Oktober 2001. Sesuai dengan Peraturan
Daerah Kabupaten Daerah Tingkat II Banyumas Nomor 2 Tahun 1996 tentang
Penetapan Rumah Sakit Umum Kabupaten Daerah Tingkat II Banyumas
menjadi Unit Swadana Daerah dan diundangkan dalam Lembaran Daerah
Kabupaten Daerah Tingkat II Banyumas Nomor : 13 Tanggal 17 Nopember
1997.
2) Tujuan Rumah Sakit Umum Daerah
Tujuan RSUD adalah meningkatkan derajat kesehatan masyarakat dan
pendidikan kesehatan, meningkatkan sumber daya manusia dan
meningkatkan kesejahteraan pihak yang terkait dalam pelayanan kesehatan
dan pendidikan.
3) Bidang Usaha
Rumah Sakit Umum Daerah mempunyai bidang usaha pelayanan kesehatan
masyarakat yang meliputi :
a). Pelayanan Rawat Inap meliputi :
- Pelayanan Rawat Inap spesialis penyakit dalam
- Pelayanan Rawat Inap spesialis penyakit bedah
- Pelayanan Rawat Inap spesialis penyakit anak
- Pelayanan Rawat Inap spesialis obsgyn
- Pelayanan Rawat Inap spesialis penyakit mata
- Pelayanan Rawat Inap spesialis penyakit THT
- Pelayanan Rawat Inap spesialis penyakit Syaraf
9
- Pelayanan Rawat Inap spesialis penyakit jiwa
- Pelayanan Rawat Inap spesialis penyakit kulit dan kelamin
- Pelayanan Rawat Inap spesialis penyakit jantung
- Pelayanan Rawat Inap spesialis penyakit ortopedi
- Pelayanan Rawat Inap spesialis penyakit penyakit paru
b). Pelayanan Rawat Jalan meliputi :
- Klinik Gawat Darurat
- Klinik Konsultasi Gizi
- Klinik Laktasi
- Klinik Spesialis Bedah
- Klinik Spesialis Penyakit Dalam
- Klinik Spesialis Kebidanan dan Penyakit Kandungan
- Klinik Spesialis Anak
- Klinik Spesialis Mata
- Klinik Spesialis THT
- Klinik Spesialis Syaraf
- Klinik Spesialis Jiwa
- Klinik Spesialis Jantung
- Klinik Spesialis Penyakit Kulit dan kelamin
- Klinik Spesialis Ortopedi
- Klinik Psikologi
- Klinik VIP
- Klinik Keluarga Berencana
- Klinik Stres dan penanggulangan narkoba
- Pusat Konsultasi Epilepsi
- Pusat Pelayanan Stroke Terpadu

c). Pelayanan Unit Penunjang
- Instalasi Laboratorium Klinik
- Instalasi Farmasi
- Instalasi Gawat Darurat
- Instalasi Radiologi
10
- Kasir
- Pusat Data Elektronik
- Instalasi Bedah Sentral
- Instalasi Pemasaran Sosial
- Instalasi Gizi
- Instalasi Sterilisasi Sentral
- Instalasi Pemeliharaan Sarana dan Prasarana RS
- Instalasi Rehabilitasi Medik
- Fitnes Center
- Perpustakaan Elektronik dan Perpustakaan Konvensional
b. Organisasi
Pembentukan susunan organisasi dan tata kerja Badan Rumah Sakit Umum
Daerah diatur dengan Peraturan Daerah Kabupaten Banyumas Nomor 4 Tahun
2001 Tanggal 2 Juni 2001 tentang Pembentukan, Susunan Organisasi dan Tata
Kerja Badan Rumah Sakit Umum Daerah Kabupaten Banyumas.
1) Kepala Badan
2) Sekretariat, terdiri dari :
a). Sub Bagian Umum
b). Sub Bagian Tata Usaha
c). Sub Bagian Kepegawaian
d). Sub Bagian Rekam Medis
3) Bidang Pelayanan Medis, terdiri dari :
a). Sub Bidang Pelayanan Medis I
b). Sub Bidang Pelayanan Medis II
4) Bidang Keperawatan, terdiri dari :
a). Sub Bidang Pelayanan Keperawatan
b). Sub Bidang Asuhan Keperawatan
c). Sub Bidang Asuhan Kebidanan
5) Bidang Penunjang Medis, terdiri dari :
a). Sub Bidang Penunjang Medis I
b). Sub Bidang Penunjang Medis II
11
6) Bidang mutu dan pendidikan, terdiri dari :
a). Sub Bidang Riset, Pengembangan dan Peningkatan Mutu
b). Sub Bidang Sistem Informasi Manajemen Rumah Sakit
c). Sub Bidang Pendidikan dan Pelatihan
7) Bidang Keuangan, terdiri dari :
a). Sub Bidang Akuntansi dan Verifikasi
b). Sub Bidang Perbendaharaan
c). Sub Bidang Mobilisasi Dana
8) Kelompok Jabatan Fungsional
Susunan Organisasi dan Tata Kerja tersebut telah ditindaklanjuti dengan
Keputusan Bupati Banyumas Nomor 71 Tahun 2001 tentang Tugas Pokok,
Fungsi, Uraian Tugas dan Tata Kerja Badan Rumah Sakit Umum Kabupaten
Banyumas tanggal 18 Juli 2001.

c. Personalia
Jumlah karyawan pada Rumah Sakit Umum Daerah Kabupaten Banyumas
sampai dengan Juli 2005 sebanyak 517 orang dengan rincian sebagai berikut :
Total SDM PNS PTT Harian
Lepas
Jumlah
1. Tenaga Medis
2. Tenaga Keperawatan
3. Tenaga Kesehatan Lainnya
4. Tenaga Non Kesehatan
29
83
37
70
1
82
21
105
1
36
7
45
31
201
65
220
Total 219 209 89 517

d. Data Keuangan dan Kinerja RSUD
RSUD Banyumas telah menyusun Neraca per 31 Desember 2004. Hasil
pemeriksaan atas bukti pendukung dari Neraca tersebut menunjukkan bahwa nilai
dari akun-akun neraca tersebut tidak dapat ditelusuri karena tidak didukung bukti-
bukti yang memadai. Dengan demikian, Neraca RSUD tidak dapat disajikan pada
Bab ini, karena tidak valid. Namun demikian, Laporan Realisasi Pendapatan dan
Belanja untuk periode yang berakhir pada 31 Desember 2004 dan 31 Juni 2005
telah disajikan dengan cukup memadai.
12
1) Anggaran dan Realisasi
Anggaran dan realisasi pendapatan dan belanja pada RSUD Kabupaten
Banyumas dapat digambarkan sebagai berikut :
a). Anggaran dan Realisasi Pendapatan
Anggaran dan realisasi Pendapatan untuk RSUD Kabupaten Banyumas
untuk Tahun Anggaran 2004 dan 2005 (s.d. Agustus) seperti tertera
dalam tabel berikut ini :
Uraian Pendapatan Anggaran Realisasi Selisih
2004 2004 2004
(Rp) (Rp) (Rp)
Pendapatan Fungsional 14.721.286.000 15.556.359.644 835.073.644
1. Rawat Jalan 1.800.000.000 1.471.514.310 (328.485.690)
2. Rawat Inap 8.290.000.000 8.353.483.873 63.483.873
3. ASKES 3.521.286.000 4.468.827.661 947.541.661
4. Instalasi Farmasi B 950.000.000 896.701.348 (53.298.652)
5. Diklat 150.000.000 139.876.000 (10.124.000)
6. Lain-lain 10.000.000 225.956.452 215.956.452
-
Pendapatan Non Fungsional 115.000.000 117.634.232 2.634.232
1. Adm. Rawat Jalan 30.000.000 20.838.750 (9.161.250)
2. Adm. Rawat Inap 42.000.000 57.413.050 15.413.050
3. Sewa Rumah Dinas 1.300.000 1.285.100 (14.900)
4. Jasa Giro 41.700.000 38.097.332 (3.602.668)
-
JPS 778.714.000 807.754.443 29.040.443
Total Pendapatan 15.615.000.000 16.481.748.319 866.748.319




13
Pendapatan RSUD Kabupaten Banyumas untuk Tahun 2004 dianggarkan
sebesar Rp15.615.000.000,00 dan telah direalisasikan sebesar
Rp16.481.748.319,00 atau mencapai 105,55% dari target. Sedangkan untuk
Tahun 2005 (s.d. Agustus) dianggarkan sebesar Rp17.900.014.000,00 dan
telah direalisasikan sebesar Rp10.967.052.220,00 atau baru mencapai
61,27%

b). Anggaran dan Realisasi Belanja
Anggaran dan realisasi belanja untuk RSUD Kabupaten Banyumas untuk
Tahun Anggaran 2004 dan 2005 (s.d. Agustus) seperti tertera dalam tabel
berikut ini :
Uraian Pendapatan Anggaran Realisasi Selisih
2005 (s.d Agst) 2005 (s.d Agst) 2005 (s.d Agst)
Pendapatan Fungsional 17.000.000.000 10.098.679.889 (6.901.320.111)
1. Rawat Jalan 1.800.000.000 998.765.833 (801.234.167)
2. Rawat Inap 8.290.000.000 4.912.593.337 (3.377.406.663)
3. ASKES 6.000.000.000 3.575.335.738 (2.424.664.262)
4. Instalasi Farmasi B 800.000.000 529.818.156 (270.181.844)
5. Diklat 100.000.000 72.757.825 (27.242.175)
6. Lain-lain 10.000.000 9.409.000 (591.000)
-
Pendapatan Non Fungsional 121.300.000 60.617.888 (60.682.112)
1. Adm. Rawat Jalan 25.000.000 12.557.256 (12.442.744)
2. Adm. Rawat Inap 55.000.000 39.046.750 (15.953.250)
3. Sewa Rumah Dinas 1.300.000 856.800 (443.200)
4. Jasa Giro 40.000.000 8.157.082 (31.842.918)
-
JPS 778.714.000 807.754.443 29.040.443
Total Pendapatan 17.900.014.000 10.967.052.220 (6.932.961.780)
14
Uraian Belanja Anggaran Realisasi Selisih
2004 2004 2004
Belanja Administrasi Umum 6.917.814.573 7.190.230.804 272.416.231,00
Belanja Pegawai 4.948.054.573 5.251.725.498 303.670.925,00
Belanja Barang dan Jasa 1.273.500.000 1.232.697.651 (40.802.349,00)
Belanja Perjalanan Dinas 191.250.000 201.746.940 10.496.940,00
Belanja Pemeliharaan 505.010.000 504.060.715 (949.285,00)
Belanja Operasional & Pemeliharaan 10.719.610.500 11.356.321.018 636.710.518,00
Belanja Pegawai 6.544.610.500 6.567.466.335 22.855.835,00
Belanja Barang dan Jasa 4.175.000.000 4.788.854.683 613.854.683,00
Belanja Modal 2.500.629.500 2.361.814.679 (138.814.821,00)
Belanja Modal Bangunan Gedung 914.004.500 775.473.975 (138.530.525,00)
Belanja Modal Alat Kantor & Rumah Tangga 751.805.000 751.521.417 (283.583,00)
Belanja Modal Alat Kedokteran 834.820.000 834.819.287 (713,00)
Total Belanja 20.138.054.573 20.908.366.501 770.311.928,00

Uraian Belanja Anggaran Realisasi Selisih
2005 (s.d Agst) 2005 (s.d Agst) 2005 (s.d Agst)
Belanja Administrasi Umum 7.980.615.050 6.287.224.975 (1.693.390.075)
Belanja Pegawai 5.527.615.050 4.454.610.341 (1.073.004.709)
Belanja Barang dan Jasa 1.824.500.000 1.394.338.552 (430.161.448)
Belanja Perjalanan Dinas 365.500.000 245.102.060 (120.397.940)
Belanja Pemeliharaan 263.000.000 193.174.022 (69.825.978)
Belanja Operasional & Pemeliharaan 12.266.244.000 9.695.219.836 (2.571.024.164)
Belanja Pegawai 6.990.800.000 4.889.309.288 (2.101.490.712)
Belanja Barang dan Jasa 5.275.444.000 4.805.910.548 (469.533.452)
Belanja Modal 2.280.756.000 737.722.705 (1.543.033.295)
Belanja Modal Bangunan Gedung 1.080.756.000 383.836.900 (696.919.100)
Belanja Modal Alat Kantor & Rumah Tangga 400.000.000 200.540.455 (199.459.545)
Belanja Modal Alat Kedokteran 800.000.000 153.345.350 (646.654.650)
Total Belanja 22.527.615.050 16.720.167.516 (5.807.447.534)

Belanja RSUD Kabupaten Banyumas untuk Tahun 2004 dianggarkan
sebesar Rp20.138.054.573,00 dan telah direalisasikan sebesar
Rp20.908.366.501,00 atau mencapai 103,83% dari anggarannya.
Sedangkan untuk Tahun 2005 (s.d. Agustus) dianggarkan sebesar
Rp22.527.615.050,00 dan telah direalisasikan sebesar Rp16.720.167.516,00
atau telah mencapai 74,22%.
2) Rasio kinerja RSUD
Kegiatan pelayanan kesehatan yang dilakukan RSUD Kabupaten Banyumas
meliputi kegiatan pelayanan medis, pelayanan penunjang medis, dan
pelayanan administrasi. Adapun kegiatan pelayanan kesehatan khususnya
15
untuk pelayanan medis dalam Tahun Anggaran 2004 dan 2005 (s.d. Juni)
dapat dilihat dalam tabel berikut ini :
a). Indikator pelayanan rawat inap Rumah Sakit Umum Daerah
Tahun 2004
Bulan TT BOR
(%)
LOS TOI BTO GDR NDR
Januari 283 72,4 5 2 5 60 30
Februari 283 74,6 5 2 5 20 10
Maret 283 73,1 5 2 5 50 70
April 283 71,5 5 2 5 60 30
Mei 283 77,5 5 1 5 50 60
Juni 283 74,7 5 1 5 50 30
Juli 283 79,5 5 1 5 40 20
Agustus 283 76,3 5 2 5 50 30
September 283 70,1 5 2 5 57 25
Oktober 283 74,5 6 2 4 58 25
Nopember 283 78,7 5 1 5 58 25
Desember 283 74,5 5 1 5 58 23
Total Rata-rata 283 74,78 5,1 1,58 4,92 50,92 31,5

Tahun 2005
Bulan TT BOR LOS TOI BTO GDR NDR
Januari 283 79,80 6,00 1,00 5,00 40 24
Februari 283 81,30 6,00 2,00 4,00 56 29
Maret 283 81,10 5,00 1,00 5,00 34 12
April 283 82,80 6,00 1,00 5,00 39 25
Mei 283 87,70 6,00 1,00 5,00 65 28
Juni 283 85,30 6,00 1,00 9,00 53 24
Total Rata-rata 283 83 5,83 1,17 5,5 47,83 23,67

Berdasarkan data pada tabel di atas dapat diketahui bahwa tingkat
pemanfaatan Rumah Sakit Umum Daerah berupa Bed Ocupancy Rate
(BOR), Length of Stay (LOS), Turn Over Interval (TOI), Bed Turn Over
(BTO), Gross Death Rate (GDR) dan Nett Death Rate (NDR) selama dua
tahun terakhir menunjukkan hal-hal sebagai berikut :
- Rasio BOR untuk Tahun 2004 sebesar 74,78 % dan Tahun 2005
sebesar 83% ini menunjukkan bahwa untuk tahun 2004 sudah sesuai
dengan standar yang ditetapkan oleh Dirjen Pelayanan Medik Dinas
Kesehatan yaitu 60% - 80% dan untuk Tahun 2005 di atas standar yang
berarti bahwa tingkat pemanfaatan tempat tidur mengalami kenaikan di
16
atas standar ideal, hal ini menunjukkan bahwa jumlah pasien yang
menginap di Rumah Sakit semakin meningkat dibandingkan kapasitas
yang ada.
- Rasio LOS untuk Tahun 2004 sebesar 5,1 hari dan Tahun 2005 sebesar
5,83 hari. Hal ini menunjukkan bahwa selama dua tahun nilai ratio
LOS lebih rendah dari standar yang ditetapkan yaitu sebesar 6 – 9 hari.
Bisa disimpulkan LOS masih kurang efisien. LOS menggambarkan
tingkat efisiensi dan mutu pelayanan rumah sakit.
- Rasio TOI untuk Tahun 2004 sebesar 1,58 hari dan Tahun 2005 sebesar
1,17 hari. Hal ini menunjukkan bahwa untuk tahun 2004 dan 2005 ratio
ini sudah sesuai standar ideal yaitu sebesar 1 – 3 hari.
- Rasio BTO untuk tahun 2004 sebesar 4,92 kali dan tahun 2005 sebesar
5,5 kali hal ini menunjukkan bahwa rasio perputaran pemakaian tempat
tidur selama dua tahun masih jauh di bawah standar ideal yaitu sebesar
40 – 50 kali.
- Rasio GDR atau angka kematian kasar yaitu angka kematian umum
untuk tiap 1000 penderita keluar baik hidup dan mati pada periode
tertentu. Rasio GDR untuk Tahun 2004 dan 2005 masing-masing
sebesar 50,92 permil dan 47,83 permil hal ini menggambarkan bahwa
tingkat kematian untuk dua tahun masih di atas standar ideal yaitu di
bawah 45 permil. Rasio GDR ini menunjukkan bahwa semakin rendah
GDR berarti mutu pelayanan rumah sakit semakin baik.
- Rasio NDR adalah angka kematian pasien rawat inap yang dirawat lebih
atau sama dengan 48 jam perawatan untuk tiap 1000 penderita keluar
baik hidup atau mati pada periode tertentu. Rasio NDR untuk tahun
2004 sebesar 31,50 permil dan tahun 2005 sebesar 23,67 permil, hal
ini menunjukkan bahwa selama dua tahun rasio NDR sudah berada di
bawah standar yaitu sebesar 25 permil. Semakin rendah NDR suatu
rumah sakit, berarti mutu pelayanan rumah sakit semakin baik.
b). Daftar 10 besar penyakit berdasarkan data kegiatan Rumah Sakit Umum
Daerah selama dua tahun terakhir tampak pada daftar tabel berikut ini :
17
Tahun 2004
No Diagnosa Jumlah Prosentase
1 Diare dan gastroenteritis oleh penyebab infeksi tertentu
(kolitis infeksi)
752 39,56
2 Tuberkolosis paru 438 23,04
3 Demam tifoid partifoid 293 15,41
4 Pneumonia 97 5,10
5 Demam berdarah dengue 85 4,47
6 Infeksi saluran nafas bagian atas akut 69 3,63
7 Broncitis akut dan bronkiolitis akut 64 3,37
8 Tetanus 49 2,58
9 Tuberkulosis susunan syaraf pusat 31 1,63
10 Tetanus neuonatorum 23 1,21
Jumlah 1901 100
Tahun 2005 (s.d. Juni)
No Diagnosa Jumlah Prosentase
1 Skizoprenia 805 31,03
2 Gastro Enteritis 365 14,07
3 Decom 358 13,80
4 KP 203 7,82
5 Chirhosis Hepatis 174 6,71
6 Stroke Non Hemorrage 166 6,40
7 Thonsilitis Cronis 136 5,24
8 Dispepsia 135 5,20
9 Hernia 130 5,01
10 Infeksi Saluran Kencing 122 4,70
Jumlah 2594 100

Dari data pada tabel di atas diketahui bahwa antara Tahun 2004 dan Tahun
2005 pola penyakit yang ditangani oleh Rumah Sakit Umum Daerah
Kabupaten Banyumas mengalami perubahan. Pada Tahun 2004 penyakit
yang menduduki rangking tertinggi adalah penyakit diare dan gastroenteritis
oleh penyebab infeksi tertentu (kolitis infeksi) yaitu sebesar 39,56 %
sedangkan pada Tahun 2005 penyakit yang menduduki rangking tertinggi
adalah Skizoprenia yaitu sebesar 31,03 %.

6. Cakupan Pemeriksaan
Pemeriksaan pada Rumah Sakit Umum Daerah Kabupaten Banyumas
meliputi dua tahun anggaran yaitu Tahun 2004 dan Tahun 2005 (s.d. Agustus).
Pemeriksaan yang dilakukan meliputi pengelolaan pendapatan dan belanja rumah
sakit, kas, piutang, persediaan, aktiva, hutang, kerjasama dengan pihak ketiga dan
18
investasi. Pemeriksaan pendapatan antara lain meliputi pendapatan fungsional yang
terdiri dari Rawat Jalan, Rawat Inap, Askes, Instalasi Farmasi, diklat dan lain-lain,
sedangkan pendapatan Non Fungsional antara lain meliputi Administrasi Rawat
Jalan, Administrasi Rawat Inap, Sewa Rumah Dinas, Sewa Diklat, dan Jasa Giro.
Pemeriksaan belanja meliputi belanja Administrasi Umum, Belanja Operasi dan
Pemeliharaan dan Belanja Modal. Pendapatan RSUD Kabupaten Banyumas untuk
Tahun 2004 dianggarkan sebesar Rp15.615.000.000,00 dan telah direalisasikan
sebesar Rp16.481.748.319,00 atau mencapai 105,55% target. Sedangkan untuk
Tahun 2005 (s.d. Agustus) dianggarkan sebesar Rp17.900.014.000,00 dan telah
direalisasikan sebesar Rp10.967.052.220,00 atau baru mencapai 61,27%
Belanja RSUD Kabupaten Banyumas untuk Tahun 2004 dianggarkan
sebesar Rp20.138.054.573,00 dan telah direalisasikan sebesar Rp20.908.366.501,00
atau mencapai 103,83% dari anggarannya. Sedangkan untuk Tahun 2005 (s.d.
Agustus) dianggarkan sebesar Rp22.527.615.050,00 dan telah direalisasikan
sebesar Rp16.720.167.516,00 atau telah mencapai 74,22%.
Sehubungan dengan hal tersebut telah dilakukan pemeriksaan atas
pendapatan sebesar Rp25.833.291.653,00 atau 94,11% dari total realisasi
pendapatan tahun 2004 dan tahun 2005 (s.d. Agustus) dan belanja sebesar
Rp37.628.534.017,00 atau 100% dari total realisasi belanja tahun 2004 dan 2005.
Hasil pemeriksaan menunjukkan total penyimpangan (Audit Finding) untuk bidang
pendapatan sebesar Rp2.265.806.443,00 atau 8,77% dari realisasi pendapatan yang
diperiksa dan untuk belanja sebesar Rp1.593.815.501,70 atau 4,24% dari total nilai
belanja yang diperiksa.

BAB II. HASIL PEMERIKSAAN SISTEM PENGENDALIAN INTERN
Pengendalian intern adalah suatu proses pengendalian yang dijalankan oleh
Dewan Penyantun, Direktur dan atasan langsung pegawai rumah sakit umum daerah
yang didesain untuk memberikan keyakinan memadai untuk mencapai tujuan (a)
keandalan laporan keuangan, (b) efektivitas dan efisiensi operasi dan (c) kepatuhan
terhadap hukum dan peraturan yang berlaku.
Dalam sistem pengendalian intern terdapat lima komponen yang menjadi
perhatian pihak manajemen, lima komponen tersebut adalah sebagai berikut :
1. Lingkungan Pengendalian
Lingkungan pengendalian menunjukkan corak suatu organisasi yang mempengaruhi
sikap, kesadaran dan tindakan manajemen terhadap lingkungan pengendalian intern.
Lingkungan pengendalian antara lain mencakup integritas dan nilai etika, komitmen
terhadap kompetensi, partisipasi Dewan Penyantun, filosofi dan gaya operasi
manajemen, struktur organisasi, pemberian wewenang dan tanggung jawab, kebijakan
dan praktik sumber daya. Lingkungan Pengendalian pada RSUD Kabupaten
Banyumas dapat digambarkan sebagai berikut:
a. Integritas dan Nilai Etika
Integritas Dewan Penyantun, Direktur dan pegawai terhadap kelangsungan hidup
Rumah Sakit Umum Daerah Kabupaten Banyumas dan pencapaian tujuan rumah
sakit pada umumnya cukup baik. Nilai etika yang diterapkan Direktur kepada
para pegawai cukup baik sehingga pegawai memahami nilai-nilai etika dalam
bekerja maupun dalam pelayanan. Dalam hal disiplin bekerja dan etos kerja
pegawai di rumah sakit sudah baik, hal ini karena rumah sakit menerapkan cara
untuk meningkatkan pelayanan dengan memberi rangsangan yang berupa
pembagian jasa pelayanan dengan penghitungan berdasarkan angka indek yang
salah satu komponennya berupa penilaian prestasi, dedikasi, loyalitas, dan
kondite tidak tercela
Namun demikian, dari hasil pemeriksaan terhadap kondisi rumah sakit terdapat
salah satu pegawai yang perlu dilakukan pembinaan karena adanya tindakan yang
dapat dikategorikan sebagai pemalsuan bukti pendukung pertanggungjawaban
keuangan.

b. Komitmen pada Kompetensi
Direktur cukup memahami kompetensi yang dibutuhkan rumah sakit dan
berusaha menempatkan personil-personil yang tepat dalam melaksanakan tugas
pokok rumah sakit. Secara keseluruhan penempatan personil di beberapa unit
kerja telah cukup memadai, namun demikian masih terdapat beberapa unit kerja
yang kekurangan personil yang kompeten di bidangnya. Kekurangcukupan tenaga
yang kompeten terjadi pada Bagian Keuangan terutama untuk pengelolaan kas,
piutang dan penyusunan laporan Keuangan. Kepala Bidang Keuangan kurang
memahami akan pentingnya pembuatan laporan keuangan yang mencakup
seluruh komponen pendapatan, biaya dan akun-akun neraca yang terjadi dirumah
sakit secara menyeluruh dan kontinyu. Diperlukan data pendukung untuk
menyusun laporan keuangan yang lengkap dan pengalaman yang cukup untuk
menyusun Laporan Keuangan rumah sakit.
c. Partisipasi Dewan Penyantun
Dalam menetapkan kebijakan umum, menjalankan pengawasan, pengendalian dan
pembinaan terhadap rumah sakit, partisipasi aktif Dewan Penyantun sangat
dibutuhkan. Secara umum Dewan Penyantun telah melaksanakan tugasnya
dengan cukup memadai, namun demikian, pada beberapa bagian Dewan
Penyantun masih belum optimal dalam menjalankan perannya. Hal tersebut
dibuktikan dengan adanya beberapa permasalahan seperti terungkap dalam hasil
pemeriksaan.
d. Filosofi dan Gaya Operasi Manajemen
Direktur cukup memahami adanya batasan-batasan dalam mengoperasikan rumah
sakit dalam kerangka peraturan perundang-undangan yang berlaku. Akan tetapi
dalam pelaksanaan operasional rumah sakit masih dijumpai beberapa
permasalahan yang memerlukan kebijakan-kebijakan Direktur untuk
mengaturnya, antara lain :
- Adanya beberapa kegiatan yang belum ada landasan hukum. Hal ini terjadi
karena Direktur belum menetapkan Surat Keputusan sebagai landasan
hukum;

- Adanya pengenaan tarif rumah sakit yang belum berdasarkan Keputusan
Bupati;
- Adanya pegawai di bagian penerimaan uang yang mempunyai wewenang
pekerjaan yang melebihi batas atau merangkap beberapa tugas yang
sebenarnya bisa didelegasikan kepada pegawai lain;
- Laporan Keuangan yang dibuat belum mencerminkan kondisi keuangan yang
sebenarnya yang dalam hal ini dapat dilihat pada beberapa item pendapatan
dan belanja yang tidak dicatat sebagai transaksi rumah sakit.
- Tidak berfungsinya Tim Satuan Pengendalian Intern yang seharusnya
melakukan pengendalian secara berkala dengan cara membuat laporan
bulanan.
- Tidak tertibnya mekanisme pengadaan barang dan jasa yang dilaksanakan
secara swakelola oleh rumah sakit.
- Terdapat pemakaian fasilitas rumah sakit oleh pihak ketiga yang belum
ditangani secara maksimal sebagai potensi pendapatan.
e. Struktur Organisasi
Rumah Sakit Umum Daerah Kabupaten Banyumas merupakan rumah sakit kelas
B Pendidikan yang telah ditetapkan oleh Menteri Kesehatan dengan SK Nomor
850/Menkes/SK/VIII/2001 tanggal 5 Oktober 2001.
Berdasarkan Peraturan Daerah Kabupaten Banyumas Nomor 4 Tahun 2001
tentang Pembentukan, Susunan Organisasi dan tata kerja badan Rumah Sakit
Umum Kabupaten Banyumas dan ditindak lanjuti dengan Keputusan Bupati
Banyumas Nomor 71 Tahun 2001 tentang Tugas Pokok, Fungsi, Uraian Tugas
dan Tata Kerja Badan Rumah Sakit Umum Kabupaten Banyumas terdiri dari
Kepala Badan, Sekretariat, Bidang Pelayanan Medis, Bidang Keperawatan,
Bidang Penunjang Medis, Bidang Mutu dan Pendidikan, Bidang Keuangan dan
kelompok jabatan fungsional. Secara garis besar pembagian tugas pokok dan
fungsi sudah berjalan sesuai dengan yang diharapkan akan tetapi untuk bidang
keuangan belum dapat berfungsi secara optimal karena kurangnya tenaga kerja
yang kompeten.


f. Pemberian wewenang dan tanggung jawab
Pendelegasian wewenang dan tanggungjawab dari Direktur kepada Kepala
Instalasi, dan Kepala Bidang sebagian besar sudah cukup memadai akan tetapi
masih terdapat kebijaksanaan di instalasi tertentu yang tidak berdasarkan Surat
Keputusan Direktur. Hal ini dapat dilihat pada Instalasi Gizi yang telah
membagikan tambahan makanan protein tinggi pada bangsal tertentu hanya
berdasarkan usulan dari kepala keperawatan tanpa disahkan dengan Surat
Keputusan Direktur. Selain itu, pemberian wewenang kepada Kepala Instalasi
untuk mengusulkan tarif layanan tidak berarti dapat memberlakukan tarif tersebut
tanpa persetujuan Bupati Kepala Daerah. Pemberian wewenang yang terlalu luas
juga terjadi pada pemberian wewenang kepada Kepala Sub Bagian Umum yang
telah mengelola pengadaan barang dan jasa secara swakelola dengan tidak
didukung dokumen-dokumen yang memadai, tidak mendasarkan pada peraturan
yang berlaku dan menggunakan rekanan dari internal rumah sakit.
g. Kebijakan dan praktik sumber daya
Penempatan personil pada masing-masing tugasnya telah dilaksanakan dengan
cukup memadai, kecuali untuk bidang keuangan dan administrasi. Hal ini
seharusnya segera menjadi perhatian manajemen dengan semakin meningkatnya
pasien yang harus dilayani maka pembenahan tenaga kerja pada bidang
Keuangan dan administrasi tidak dapat dihindari untuk segera dilakukan. Di
samping itu pembenahan atas personil di unit-unit pelayanan yang menangani
administrasi pendapatan maupun barang juga perlu dilakukan, karena hasil
pemeriksaan menunjukkan pengadministrasian pendapatan dan barang di unit-unit
pelayanan masing kurang memadai.

2. Penaksiran Risiko
Risiko mencakup peristiwa dan keadaan intern maupun ekstern yang dapat terjadi dan
secara negatif mempengaruhi kemampuan perusahaan untuk mencatat, mengolah,
meringkas dan melaporkan data keuangan secara konsisten dengan asersi manajemen
dalam laporan keuangan. Penaksiran atau penilaian risiko atas pengelolaan Keuangan
secara formal belum pernah dilakukan oleh pihak rumah sakit, namun secara berkala

telah diantisipasi oleh manajemen dengan melakukan pertemuan berkala yang
membahas permasalahan keuangan yang perlu diselesaikan oleh manajemen.
Meskipun demikian, hasil pemeriksaan menunjukkan bahwa antisipasi terhadap risiko
pengelolaan keuangan belum sepenuhnya dikendalikan dengan optimal.

3. Aktivitas Pengendalian
Aktivitas pengendalian adalah kebijakan dan prosedur yang membantu memastikan
bahwa arahan manajemen telah dilaksanakan.
a. Kebijakan
Kebijakan operasional Rumah Sakit Umum Daerah Kabupaten Banyumas secara
umum ditetapkan oleh Direktur, sedangkan kebijakan mengenai tarif pelayanan
rumah sakit ditetapkan oleh Pemerintah Daerah Kabupaten Banyumas. Peraturan
Daerah dalam hal tarif telah mengalami perubahan dari Peraturan Daerah Nomor
1 Tahun 1991 tentang Pelayanan Kesehatan pada RSUD Kabupaten Banyumas
ke Peraturan Daerah Nomor 18 Tahun 2001 tentang Retribusi Pelayanan
Kesehatan pada Badan Rumah Sakit Umum Daerah Kabupaten Banyumas Unit
Swadana. Perubahan peraturan daerah yang mengatur tarif tersebut mempunyai
kenaikan biaya yang relatif tinggi sehingga dipandang akan membebani
masyarakat yang berobat ke RSUD Kabupaten Banyumas. Atas dasar hal tersebut
Direktur mengambil kebijaksanaan dengan mengeluarkan buku tarif baru
berdasarkan kenaikan tahap I yang mulai berlaku Tanggal 2 Januari 2002, dan
dilanjutkan dengan mengeluarkan Master Tarif berdasarkan kenaikan tahap II.
Kebijaksanaan ini dimaksudkan untuk menaikkan tarif secara bertahap sebelum
diberlakukan tarif sesuai dengan tarif dalam Peraturan Daerah Nomor 18 Tahun
2001 dan disamping itu dalam master tarif diatur lebih rinci komponen biaya
pemeriksaan yang tidak terakomodasi dalam tarif sesuai Perda Nomor 18 Tahun
2001, akan tetapi pemberlakuan master tarif tersebut hanya berdasarkan usulan
dari masing-masing instalasi dan ditandatangani Direktur tanpa persetujuan
Pemerintah Daerah secara resmi.
Kebijakan operasional lainnya dilakukan secara lisan dan tertulis dalam disposisi-
disposisi surat pelaksanaan kegiatan. Secara umum kebijakan ini telah

diterjemahkan dengan baik oleh para pelaksana, namun pada beberapa hal
sebagaimana tersaji pada hasil pemeriksaan (misalnya pengadaaan barang dan
jasa secara swakelola) kebijakan Direktur tidak ditaati oleh pegawai yang
diberikan kewenangan dan tanggung jawab.
b. Prosedur
Prosedur Kerja untuk masing-masing unit atau instalasi RSUD telah diatur dalam
Prosedur Tetap (Protap). Prosedur Tetap tersebut dibentuk dan ditetapkan dengan
Surat Keputusan Direktur RSUD Kabupaten Banyumas yang digunakan sebagai
pedoman kerja dari tiap unit atau instalasi.

4. Informasi dan Komunikasi
Sistem informasi yang relevan dengan tujuan pelaporan keuangan meliputi sistem
akuntansi, terdiri dari metode dan catatan yang dibangun untuk mencatat, mengolah,
meringkas dan melaporkan transaksi keuangan rumah sakit serta untuk memelihara
akuntabilitas aktiva, utang, dan ekuitas yang bersangkutan. Sistem akuntansi yang
terdiri dari metode dan pencatatan untuk mengidentifikasikan, menghimpun,
menganalisa, mengelompokkan, mencatat dan melaporkan transaksi untuk
menyelenggarakan pertanggungjawaban aktiva dan kewajiban yang bersangkutan
dengan transaksi pada umumnya belum berjalan dengan baik, hal ini terjadi karena
pihak rumah sakit sebagian masih menggunakan pencatatan secara manual tanpa
diback up data pendukung yang relevan, sedangkan untuk menerapkan metode
Billing system yang mengcover transaksi pelayanan rumah sakit secara komputerisasi
belum dijadikan acuan untuk penyusunan Laporan Keuangan secara akrual basis.
Komunikasi mencakup pemahaman tentang peran dan tanggung jawab individual
berkaitan dengan pengendalian intern terhadap pelaporan keuangan.
Komunikasi pada umumnya telah dilakukan secara memadai yaitu pertemuan rutin
antara Direktur dan jajaran di bawahnya untuk membahas permasalahan umum.
Namun demikian, komunikasi atas pengelolaan asset rumah sakit secara intensif dan
terinci kurang mendapatkan perhatian.



5. Pemantauan
Pemantauan adalah proses penentuan kualitas kinerja pengendalian intern
sepanjang waktu. Manajemen melakukan pemantauan terhadap pengendalian untuk
mengetahui apakah pengendalian tersebut telah berjalan sesuai dengan yang diharapkan.
Pemantauan pada Rumah Sakit Umum Daerah Kabupaten Banyumas belum dilakukan
secara kontinyu. Hal ini terjadi karena belum berfungsinya tim Satuan Pengawas Intern,
akan tetapi pengawasan dari Badan Pengawas Kabupaten dan pemantauan oleh Dewan
Penyantun telah dilakukan. Sehubungan dengan hal tersebut Badan Pengawas Daerah
Kabupaten Banyumas pada tanggal 9 s.d. 22 Agustus 2005 telah melakukan
pemeriksaan bidang kesejahteraan rakyat pada Badan Rumah Sakit Umum Daerah
Kabupaten Banyumas sesuai dengan Lembaran Temuan Pemeriksaan Nomor
700/IX/2005 tanggal 12 September 2005 dan tindak lanjut hasil pemeriksaan sampai
dengan tim BPK melakukan pemeriksaan belum diketahui pelaksanaannya.
Secara umum, terhadap temuan-temuan audit eksternal sebelumnya, Direktur
RSU secara responsif selalu mempertimbangkan dan menindaklanjuti dengan
melakukan upaya perbaikan.

23
BAB III. HASIL PEMERIKSAAN

1. Bagi hasil pendapatan administrasi karcis sebesar Rp65.087.028,00 belum
diterima dan pendapatan sewa diklat sebesar Rp3.600.000,00 belum disetor ke
kas daerah

Dalam melaksanakan pelayanan kesehatan kepada masyarakat, Pemerintah
Daerah menetapkan Perda Nomor 18 Tahun 2001 tentang Retribusi Pelayanan
Kesehatan yang mengatur tentang tarip pelayanan kesehatan sebagai dasar
pemungutan pendapatan. Perda tersebut di antaranya mengatur tentang pendapatan
administrasi yang berasal dari karcis untuk pelayanan Rawat Jalan dan Rawat Inap
seperti diuraikan sebagai berikut:
Administrasi Jenis Karcis Tarif
Pemda RSUD
J. Sarana J. Pelayanan
Karcis Rawat Jalan –
Poli Umum
3500 375

375

750 2000
Karcis Rawat Jalan -
Poli Spesialis
6000 375 375 750 4500
Karcis Poliklinik VIP 17500 625 625 1250 15000
Karcis Rawat Inap 4500 500 500 1000 2500
Karcis IRD 7500 625 625 1250 5000

Berdasarkan buku setoran ke Kas Daerah Kabupaten Banyumas, selama Tahun 2004
RSUD telah menyetorkan seluruh pendapatan administrasinya sebesar
Rp78.570.050,00 dan Tahun 2005 (s.d. Agustus) sebesar Rp51.604.006,00.
Pendapatan administrasi yang disetorkan belum termasuk pendapatan karcis
administrasi rawat jalan untuk pasien ASKES sebesar Rp38.292.750,00, sebagaimana
tertuang dalam LTP Bawasda Kabupaten Banyumas tanggal pemeriksaan 9 s/d 22
Agustus 2005.
Hasil pemeriksaan atas laporan pendapatan RSUD Banyumas menunjukkan bahwa
bagi hasil dari pendapatan administrasi karcis yang telah disetorkan oleh RSUD
kepada Kas Daerah (Pemkab) belum diterima. Bagi hasil tersebut sesuai ketentuan
Perda Nomor 18 Tahun 2001 dikembalikan ke RSUD Banyumas sebesar 50% untuk
digunakan sebagai biaya operasional. Hasil penghitungan bagi hasil yang seharusnya
diterima oleh RSUD dapat dijelaskan pada tabel berikut:
24

Setoran ke Kasda Tahun
Rawat Inap Rawat Jalan
Jumlah Bagi hasil (50%)
2004 20.747.500,00 57.822.550,00 78.570.050,00 39.285.025,00
2005 (S.d. Agustus) 12.557.256,00 39.046.750,00 51.604.006,00 25.802.003,00
Jumlah 33.304.756,00 96.869.300,00 130.174.056,00 65.087.028,00
Rincian ada pada lampiran 1

Hasil wawancara dengan Pemegang Kas RSUD Banyumas diperoleh penjelasan
bahwa selama ini RSUD tidak pernah meminta kepada Pemda Kabupaten Banyumas
tentang bagi hasil pendapatan administrasi karcis yang telah disetorkannya kepada
Pemda.
Selain hal itu, pemeriksaan atas pendapatan non fungsional RSUD Banyumas
menunjukkan bahwa selama Tahun 2004 – 2005 (s.d. Agustus), RSUD telah
menerima pendapatan sewa diklat sebesar Rp3.600.000,00 yang keseluruhannya
belum disetorkan ke Kas Daerah (Lampiran 2). Sesuai dengan ketentuan tentang Unit
Swadana Daerah, RSUD hanya dapat menggunakan penerimaan fungsionalnya secara
langsung untuk membiayai pengeluaran operasionalnya, sedangkan penerimaan non
fungsionalnya yang tidak berasal dari fungsi pelayanan kesehatan kepada pasien
seluruhnya disetorkan ke kas daerah. Penerimaan sewa diklat ini dapat dikategorikan
sebagai pemakaian kekayaan daerah yang di atur pada Perda Nomor 10 Tahun 2001
tentang Retribusi Pemakaian Kekayaan Pemerintah Daerah. Namun demikian,
Pemerintah daerah belum mengatur pengelolaan sewa diklat ini sebagai pendapatan
retribusi pemakaian kekayaan pemerintah daerah.

Bagi hasil pendapatan administrasi karcis yang belum diterima oleh RSUD
Banyumas dan pendapatan sewa diklat yang belum disetorkan ke Kas Daerah tidak
sesuai dengan:
a. Peraturan Daerah Nomor 18 Tahun 2001 tanggal 22 Nopember 2001 tentang
Retribusi Pelayanan Kesehatan pada Badan RSUD Kabupaten Banyumas Unit
Swadana Daerah,
25
• Pasal 31 ayat (5) Hasil penerimaan biaya administrasi (rawat jalan)
sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) huruf a yang besarnya sebagaimana
tersebut dalam lampiran Peraturan ini, disetor secara bruto ke Kas Daerah dan
dikembalikan ke Badan Rumah Sakit sebesar 50% (lima puluh perseratus).
• Pasal 32 ayat (4) Hasil penerimaan biaya administrasi (rawat inap)
sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) huruf a yang besarnya sebagaimana
tersebut dalam lampiran Peraturan ini, disetor secara bruto ke Kas Daerah dan
dikembalikan ke Badan Rumah Sakit sebesar 50% (lima puluh perseratus).
b. Perda Kabupaten Banyumas Nomor 10 Tahun 2001 tanggal 10 September 2001
tentang Retribusi Pemakaian Kekayaan Pemerintah Daerah Pasal 1 huruf e.
Kekayaan Pemerintah Daerah adalah aktiva tetap berupa barang-barang bergerak
dan atau tidak bergerak yang dimiliki dan atau di bawah penguasaan Pemerintah
Daerah yang disediakan untuk dan atau dapat dimanfaatkan oleh masyarakat guna
menunjang berbagai keperluan yang bersangkutan dalam rangka meningkatkan
kesejahteraan umum, huruf f. Pemakaian kekayaan pemerintah daerah adalah
pemakaian atau penggunaan atas Kekayaan Milik Pemerintah Daerah; Pasal 13
angka (2) Dalam hal pembayaran retribusi dilakukan di tempat lain yang ditunjuk
maka hasil penerimaan retribusi harus disetor ke Kas Daerah.
c. Keputusan Menteri Dalam Negeri Nomor 29 Tahun 2002 tentang Pedoman
Pengurusan, Pertanggungjawaban dan Pengawasan Keuangan Daerah serta tata
cara penyusunan APBD, pelaksanaan Tata usaha Keuangan Daerah dan
Penyusunan Perhitungan APBD, pasal 66 Dalam hal pengelolaan asset daerah
menghasilkan penerimaan, maka penerimaan tersebut menjadi Pendapatan Asli
Daerah dan disetor seluruhnya secara bruto ke Rekening Kas Daerah.

Bagi hasil pendapatan administrasi karcis yang belum diterima oleh RSUD dan
pendapatan sewa diklat yang belum disetorkan ke Kas Daerah mengakibatkan
pendapatan sebesar Rp65.087.028,00 belum dapat dipergunakan untuk operasional
RSUD dan dana sebesar Rp3.600.000,00 belum dapat dimanfaatkan oleh Pemerintah
Daerah.

26
Permasalahan tersebut disebabkan Kepala Bagian Keuangan lalai dalam
melaksanakan ketentuan dalam Perda dengan tidak mengupayakan permintaan bagi
hasil pendapatan administrasi karcis dan tidak menyetorkan pendapatan sewa diklat
ke kas daerah.

Sehubungan dengan hal tersebut Direktur RSUD Kabupaten Banyumas
menjelaskan bahwa memang untuk pendapatan administrasi pihak rumah sakit belum
memintakan 50% untuk operasional rumah sakit dan untuk pendapatan sewa diklat
sebesar Rp3.600.000,00 persepsi awal merupakan pendapatan untuk operasional
diklat. Namun demikian, setelah pemeriksaan berakhir RSUD telah memproses surat
usulan untuk menindaklanjuti hal tersebut.

Rekomendasi BPK-RI
BPK RI memberi rekomendasi kepada :
a. Bupati Banyumas untuk memerintahkan Kepala BPKD mengembalikan
pendapatan administrasi 50 % yang menjadi hak rumah sakit sebesar
Rp65.087.028,00 sebagai biaya operasional.
b. Direktur RSUD Kabupaten Banyumas agar menyetor pendapatan sewa diklat
sebesar Rp3.600.000,00 ke Kas Daerah.



27
2. Penerimaan RSUD Banyumas sebesar Rp2.056.498.547,00 tidak dibukukan
secara bruto, dipotong langsung dan dikelola di luar rekening kas RSUD

RSUD Banyumas memiliki penerimaan fungsional dan non fungsional yang
secara global dikelompokkan sebagai penerimaan Rawat Jalan, Rawat Inap, Askes
dan penerimaan lainnya. Penerimaan tersebut dikelola melalui satu pintu penerimaan
yaitu kasir RSUD. Sesuai dengan Laporan Keuangan Tahun 2004 dan 2005 (s.d.
bulan Agustus) realisasi pendapatan RSUD Banyumas secara kas basis adalah sebesar
Rp16.364.114.087,00 dan sebesar Rp11.418.143.421,00.
Hasil pemeriksaan atas pembukuan penerimaan pada Kasir Penerima
menunjukkan hal-hal sebagai berikut:
a. Penerimaan rumah sakit untuk pihak ketiga atas Kerjasama Operasional Alat
Kesehatan sebesar Rp1.241.984.650,00 tidak dibukukan sebagai bagian dari
pendapatan RSUD, dikelola secara terpisah dari kas RSUD dan kurang
disetorkan sebesar Rp112.562.468,00.
Untuk meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan kepada masyarakat,
RSUD Banyumas menjalin kerja sama operasional dengan pihak ketiga untuk
pemakaian Alat Kesehatan (KSO). Kerjasama pengoperasian alat kesehatan di
RSUD Banyumas didasarkan pada perjanjian kerjasama yang memuat hak dan
kewajiban kedua belah pihak. Seluruh perjanjian tersebut hanya merupakan
kesepakatan antara Direktur RSUD dengan pihak investor, kecuali perjanjian
pemakaian alat CT Scan yang ditandatangani oleh Kepala Daerah, Ketua DPRD,
Direktur RSUD dan Investor. Beberapa perjanjian pemakaian/pengoperasian alat
kesehatan tersebut antara lain dapat diuraikan sebagai berikut:
Alat Kesehatan Investor Jasa Investor
CT Scan PT. Bhineka Usada
Raya, Semarang
Rp162.500,00/ per pasien
Automatic X Ray Film
Processore
CV. Tri Cipta Jaya,
Semarang
Pembelian AGFA X-Ray film
Mesin Hemodialisa Fresenius Medical
Care, Jakarta
Pembelian bahan disposable
hemodialisa set

Analyzer Il Ilyte
Na/K/Cl
PT. Mendjangan
Jakarta Pusat

Rp30.000,00/ per pasien
28
Kantong Darah PMI Tarif bervariasi/ kolf
Autonalyzer ABX Mira
Plus dengan UPS
CV Asia Lab.,
Yogyakarta
Tarip per test
Electro Encephalograph
(EEG)
PT. Tiara Kencana Rp65.000,00/ per pasien

Hasil pemeriksaan fisik secara sampling menunjukkan seluruh alat
kesehatan yang dikerjasamaoperasionalkan berfungsi dengan baik.
Hasil pemeriksaan pengelolaan pendapatan rumah sakit atas
pengoperasian alat kesehatan melalui catatan pada kasir penerimaan menunjukkan
bahwa pendapatan rumah sakit atas KSO CT Scan, EEG, Elektrolite, dan Kantong
darah (bagian jasa pihak ketiga) belum dibukukan secara bruto sebagai
pendapatan rumah sakit, dipotong langsung, dan dikelola secara terpisah dari Kas
RSUD. Hasil rekapitulasi pendapatan KSO bagian jasa pihak ketiga yang
dipotong langsung berdasarkan pembayaran dari pasien selama Tahun 2004 dan
2005 (s.d Agustus) adalah sebesar Rp1.241.984.650,00 seperti tabel berikut:
Bulan/Tahun EEG CT Scan Elektrolite Darah Jumlah

2004 36.275.000 142.187.500 147.480.000 337.448.150 663.390.650
2005 23.570.000 153.260.000 167.456.000 234.308.000 578.594.000
Jumlah 59.845.000 295.447.500 314.936.000 571.756.150 1.241.984.650
Rincian ada pada lampiran 3.
Potongan tersebut selanjutnya secara harian disisihkan dari pendapatan
kasir RSUD dan ditampung dalam rekening Kepala Sub Bidang Mobilisasi Dana
(Sdri. Sukesti) dengan nomor rekening 3-003-20981-1 pada Bank Pembangunan
Daerah Jawa Tengah Cabang Purwokerto. Pembayaran kepada investor dilakukan
secara bulanan dengan menarik sejumlah uang dari rekening tersebut dan
disetorkan tunai oleh pemilik rekening.
Hasil wawancara dengan Sdri Sukesti, didapatkan informasi bahwa untuk
setiap pendebetan rekening tidak diselenggarakan pembukuan sehingga penarikan
uang dari rekening tersebut tidak dapat secara langsung diketahui penggunaannya.
Hasil pemeriksaan atas ketepatan pembayaran kepada investor selama
bulan Januari 2004 – Agustus 2005 menunjukkan adanya selisih kurang setor
untuk periode masa pemeriksaan Januari 2004 – Agustus 2005 sebesar
Rp102.664.100,00 yang dapat diuraikan pada tabel berikut:
29
No. Potongan KSO Setoran KSO Selisih
(kurang)/lebih
1 CT Scan 295.447.500,00 308.912.500,00 13.465.000,00
2 EEG 59.845.000,00 57.792.000,00 (2.053.000,00)
3 Elektrolite 314.936.000,00 318.772.100,00 3.836.100,00
4 Darah 571.756.150,00 453.843.950,00 (117.912.200,00)
Jumlah 1.241.984.650,00 1.139.320.550,00 (102.664.100,00)
Rincian pada lampiran 3.
Kekurangan setor tersebut belum termasuk potongan yang telah
direalisasikan Ka Subbid Mobilisasi Dana sebelum tahun 2004, sehingga untuk
mengetahui seluruh kewajiban setoran yang menjadi tanggung jawab Kasubbid
Mobilisasi Dana, per tanggal periode pemeriksaan (31 Agustus 2005), maka
penghitungan kewajiban yang bersangkutan dilakukan sebagai berikut:
Saldo buku kas per 31/12/2003 : 40.328.068,00
(-) Setoran yang mengurangi saldo Tahun 2003 : 25.404.700,00
Sisa dana 2003 yang masih menjadi kewajiban : 14.923.368,00
(+) Potongan KSO 2004 dan 2005 : 1.241.984.650,00
(- ) Setoran KSO 2004 dan 2005 : (1.139.320.550,00)
(- ) Setoran ke Kas RSU : (5.025.000,00)
Total Kewajiban : 112.562.468,00
Rekening giro per 31/8/2005 : (99.443.415,00)
Kewajiban tunai per 31/8/2005 : 13.119.053,00
(Rincian pada lampiran 4).

Atas selisih kurang tersebut Sdri. Sukesti telah memahami permasalahannya dan
bersedia menyelesaikannya.
Selain hal tersebut, hasil cross cek atas hak investor berdasarkan laporan
instalasi pelayanan yang mengoperasikan alat kesehatan dan setoran yang
direalisasikan Kasubbid mobilisasi dana sebagaimana tercantum pada table paling
atas, menunjukkan adanya perbedaan antara Laporan Instalasi pelayanan dan
setoran kepada investor yang dapat diuraikan sebagai berikut:
Laporan Unit Pelayanan Kasubbid Mobilisasi Dana Selisih Alat
Pasien Jumlah Pasien Jumlah Pasien Jumlah

CT Scan 1.901 308.912.500,00 1.818 295.447.500,00 83 13.465.000,00
EEG 774 54.012.000,00 920 59.845.000,00 146 5.833.000,00
Elektrolit 10.643 318.772.100,00 10.498 314.936.000,00 145 3.836.100,00
Darah (kolf) 4.708 453.843.950,00 * 571.756.150,00 * 117.912.200,00
*) tidak diketahui karena tarif bervariasi
30
Hasil wawancara dengan petugas pada unit pelayanan (secara sample) dan
kasir penerima didapatkan informasi bahwa perbedaan tersebut terjadi disebabkan
cara pandang (persepsi) kasir dan unit pelayanan yang berbeda terhadap
penyetoran jasa pihak ketiga atas pengoperasian alat kesehatan. Kasir menghitung
dan menyetorkan pendapatan jasa pihak ketiga secara basis kas (berdasarkan
pembayaran pasien yang dilayani dengan alat kesehatan yang berkenaan baik
pasien umum dan jaminan), sedangkan unit penghasil menghitung hak jasa pihak
ketiga berdasarkan basis akrual (hak pihak ketiga dihitung sejak pasien dilayani,
dengan tidak memperhatikan apakah pasien melakukan pembayaran atau tidak).
Dengan adanya kondisi tersebut, maka pembayaran setoran pihak ketiga
yang dikelola melalui pemotongan langsung pendapatan kasir tidak dapat
digunakan sebagai dasar pembayaran, karena transaksi tersebut belum
mencerminkan hak dan kewajiban kedua belah pihak sesuai kesepakatan dalam
perjanjian kerjasama.

b. Penerimaan rumah sakit dari layanan pasien privat dokter sebesar
Rp814.513.897,00 belum dibukukan sebagai pendapatan rumah sakit, dikelola
secara terpisah dari Kas RSUD dan belum memberikan kontribusi bagi rumah
sakit.
Dalam meningkatkan pelayanan terhadap masyarakat, sesuai ketentuan
Perda Nomor 18 Tahun 2001 tentang Retribusi Pelayanan Kesehatan, RSUD
dapat bekerjasama dengan pihak lain. Kerjasama tersebut dapat berupa pemakaian
fasilitas rumah sakit untuk mengadakan praktek umum/spesialis, pemakaian
poliklinik, kamar operasi dan fasilitas lainnya oleh pihak ketiga.
Hasil pemeriksaan atas pendapatan rumah sakit melalui pembukuan kasir
penerimaan menunjukkan adanya pendapatan pelayanan pasien privat dokter yang
dikelola di luar pembukuan rumah sakit. Selama Tahun 2004 dan 2005 (S/d
Agustus) jumlah pasien privat dokter adalah sebanyak 497 orang dan 432 orang
dengan pendapatan sebesar Rp458.431.810,00 dan Rp356.082.087,00.
Pendapatan privat dokter tersebut diperuntukkan untuk dokter, anesthesi dan
assisten keperawatan dengan besaran yang telah ditetapkan dengan Keputusan
31
Direktur RSU Banyumas Nomor 900/360/2005 tanggal 23 Februari 2005 tentang
Kebijakan pelayanan private pada RSU Banyumas. Dari pendapatan privat
tersebut, tidak dijumpai adanya kontribusi langsung untuk rumah sakit dari porsi
pendapatan privat, disebabkan Surat Keputusan Direktur belum mengaturnya.
Surat Keputusan tersebut hanya mengatur pembagian tarif privat untuk
pendapatan dokter dan tim operasinya.
Dari hasil pemeriksaan atas pembayaran uang privat kepada dokter,
anesthesi dan Askep diketahui bahwa dana privat dokter tersebut disisihkan
sebesar 5% dari bagian dokter dan anesthesia untuk dana taktis. Dana taktis
tersebut dikelola oleh Kepala Sub Bidang Mobilisasi Dana (Sdri. Sukesti). Hasil
rekapitulasi pendapatan dana taktis menunjukkan bahwa selama Tahun 2004 –
2005 terdapat mutasi penambahan sebesar Rp38.251.006,00 dan mutasi
pengurangan sebesar Rp33.520.000,00. Hasil wawancara dengan Sdri. Sukesti
didapatkan informasi bahwa dana taktis privat dokter digunakan untuk pemberian
reward bagi karyawan terbaik yang dilaksanakan oleh rumah sakit secara berkala.
Sampai dengan 31 Agustus 2005 saldo dana taktis tersebut sebesar
Rp25.151.110,00. Data selengkapnya pada lampiran 5.
Mempelajari Keputusan Direktur RSU yang mengatur tentang pendapatan
privat, menunjukkan bahwa mekanisme yang dilaksanakan oleh Ka Subbid
Mobilisasi Dana mengikuti Keputusan Direktur, yaitu pengelolaan pendapatan
privat dapat dilakukan secara langsung, penyisihan dana dari pendapatan privat
telah diatur penggunaannya dan kontribusi untuk RSU dari pelayanan privat
belum diatur proporsinya.

c. Restitusi, potongan, resep kredit dan keringanan kepada pasien dipotongkan
langsung dari penerimaan kasir dan tidak diselenggarakan pembukuan yang
memadai.
Sesuai dengan ketentuan Perda tentang Retribusi Pelayanan Kesehatan,
Direktur RSUD diberi kewenangan untuk memberikan pengurangan atau
pembebasan biaya bagi pasien. Pemberian pengurangan atau pembebasan biaya
dilakukan setelah pasien memenuhi syarat-syarat tertentu dan dilakukan secara
32
bertahap. Hasil pemeriksaan atas pembukuan pendapatan kasir penerimaan
menunjukkan adanya restitusi, resep kredit dan pemberian keringanan kepada
pasien dengan cara pemotongan langsung penerimaan kasir. Dari rekapitulasi
potongan secara langsung pada kasir melalui sample pada buku setoran rawat inap
diketahui minimal terdapat pemotongan sebesar Rp4.361.516,00 dari biaya
perawatan pasien, resep kredit sebesar Rp19.815.178,00, dan restitusi sebesar
Rp4.301.409,00. Atas pemotongan ini, kasir tidak menyelenggarakan buku
potongan, sehingga total nilai potongan pasien yang merupakan pengurang
pendapatan, atau subsidi rumah sakit tidak dapat diketahui dalam laporan
keuangan.
Hasil wawancara dengan kasir penerima, didapatkan informasi bahwa
kasir dapat memproses pemotongan biaya setelah pasien menunjukkan disposisi
Direktur atau kuasa Direktur, namun unit pelayanan tidak menginput data tersebut
ke dalam billing system. Dengan tidak diinputnya potongan tersebut, kuitansi
pembayaran hasil cetakan billing system yang digunakan sebagai dasar
pembayaran belum mengakomodasi potongan.
Hasil wawancara dengan Kepala Bagian Keuangan diperoleh informasi
bahwa prosedur pemberian potongan melalui billing system hanya dapat
dilakukan oleh pejabat yang berhak di unit pelayanan yang telah diberi kuasa oleh
Direktur melalui pemberian nomor pin tertentu. Maksud dari pengamanan
tersebut adalah agar pemberian potongan atau keringanan yang dilakukan melalui
billing system dapat selektif dan terpantau. Namun demikian pemeriksaan atas
pembukuan potongan tersebut menunjukkan bahwa potongan yang dilakukan baik
melalui billing (komputerisasi) maupun dengan cara manual belum dibukukan
sebagai biaya rumah sakit. Dengan demikian, pemberian potongan belum
sepenuhnya dapat dikendalikan oleh manajemen.

d. Pendapatan kasir dengan nilai yang belum dapat diidentifikasi tidak diinputkan
ke dalam billing sistem
Dengan diberlakukannya sistem komputerisasi dalam pelayanan, maka
seluruh transaksi pelayanan pasien diproses melalui billing system. Billing system
33
diharapkan dapat memberikan informasi yang lengkap tentang data pelayanan
pasien, cepat dan akurat dalam pemrosesan data serta menjamin validitas
transaksi dari intervensi yang tidak diharapkan. Untuk dapat diproses dalam
billing system, diperlukan beberapa data pokok yang harus tersedia untuk setiap
pasien yang akan dilayani. Data pokok tersebut antara lain adalah nomor rekam
medis.
Hasil pengamatan atas kegiatan kasir penerimaan menunjukkan adanya
sejumlah pendapatan yang tidak dapat diinput pada sistem komputer karena tidak
tersedianya nomor rekam medis pasien pada sobekan rincian biaya (kitir/cepitir).
Kitir tersebut hanya berisi nama pasien dan biaya pelayanan, sehingga kasir tidak
dapat memproses penginputan data pasien ke dalam billing system. Kasir hanya
dapat menerima pembayaran dan membukukannya sebagai pendapatan RSUD.
Meskipun telah dibukukan sebagai penerimaan kasir, pendapatan yang tidak dapat
diinputkan ke dalam billing tersebut selanjutnya tidak terpantau keberadaannya
karena kasir tidak menyelenggarakan pembukuan tersendiri atas pendapatan
tersebut. Dengan kondisi demikian, maka data billing system belum
mencerminkan seluruh transaksi pelayanan pasien yang riil.

Pengelolaan pendapatan sebagaimana diuraikan di atas tidak sesuai dengan:
a. Peraturan Pemerintah Nomor 105 Tahun 2000 tanggal 10 Nopember 2000 tentang
Pengelolaan dan Pertanggungjawaban Keuangan Daerah, pasal 24 ayat (3)
Pendapatan daerah disetor sepenuhnya secara tepat pada waktunya ke Kas Daerah
sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku.
b. Keputusan Menteri Dalam Negeri Nomor 29 Tahun 2002 tentang Pedoman
Pengurusan, Pertanggungjawaban dan Pengawasan Keuangan Daerah serta tata
cara penyusunan APBD, pelaksanaan Tata usaha Keuangan Daerah dan
Penyusunan Perhitungan APBD, pasal 40
• Ayat (1) Dalam fungsinya sebagai penerima pendapatan Daerah, Satuan
Pemegang Kas dilarang menggunakan uang yang diterimanya secara langsung
untuk membiayai pengeluaran perangkat daerah.
34
• Ayat (2) Satuan pemegang kas sebagaimana dimaksud pada pasal 39 ayat (6)
wajib menyetor seluruh uang yang diterimanya ke Bank atas nama rekening
Kas Daerah paling lambat satu hari kerja sejak saat uang kas tersebut diterima.
c. Peraturan Daerah Nomor 18 Tahun 2001 tanggal 22 Nopember 2001 tentang
Retribusi Pelayanan Kesehatan pada Badan RSUD Kabupaten Banyumas Unit
Swadana Daerah, pasal 55 ayat (1) Pemakaian fasilitas Rumah sakit oleh dokter
atau tenaga kesehatan lain untuk mengadakan praktek umum/spesialis, diatur
dengan surat perjanjian khusus. Ayat (2) Pemakaian fasilitas seperti tersebut pada
ayat (1) meliputi poliklinik umum, poliklinik gizi, kamar operasi, kamar roentgen,
kamar bersalin untuk kegiatan pemeriksaan.
d. Keputusan Menteri Kesehatan RI Nomor 66/MENKES/SK/II/1987 tentang Pola
Tarip RS Pemerintah pasal 19 “Pemungutan, pembukuan, penggunaan dan
pelaporan yang diterima di Rumah Sakit sebagai pendapatan Negara dilaksanakan
secara terpusat di Rumah Sakit.”
e. Keputusan Menteri Dalam Negeri Nomor 92 Tahun 1993 tentang Penetapan dan
Penatausahaan serta Pertanggungjawaban Keuangan Unit Swadana Daerah:
• Pasal 7 ayat (1) Unit Swadana Daerah dalam rangka upaya peningkatan
pelayanan kepada masyarakat dapat melakukan kerjasama dengan pihak
ketiga. Ayat (2), bentuk dan jenis kerjasama dengan pihak ketiga dapat
dilaksanakan setelah mendapatkan persetujuan tertulis dari Kepala Daerah.
• Pasal 13 ayat (1). b. Penerimaan fungsional Unit Swadana Daerah pada
bendahara khusus penerima dibukukan dalam buku kas umum/pembantu
dengan didukung bukti-bukti penerimaan yang sah; huruf.c. Penerimaan
fungsional Unit Swadana Daerah sebagaimana dimaksud huruf b. pasal ini,
pada kesempatan pertama segera disetor sepenuhnya ke Rekening
Bendaharawan Pengeluaran Unit Swadana Daerah yang bersangkutan di Bank
Pembangunan Daerah dan atau Bank Pemerintah lainnya yang ditunjuk.
f. Surat Keputusan Menteri Dalam Negeri Nomor 900 – 1101 tentang Petunjuk
teknis pengusulan, penetapan dan tata cara pengelolaan keuangan Unit Swadana
Daerah, Lampiran V. “ Rumah Sakit Swadana Daerah merupakan Unit Pelaksana
Teknis Daerah yang merupakan kekayaan Daerah yang tidak dipisahkan, maka
35
pengelolaan keuangannya disamping berpedoman pada pengelolaan keuangan
Rumah Sakit Swadana Daerah tetap tunduk pada peraturan mengenai Keuangan
Daerah.” Lampiran V. B. alinea dua disebutkan : Tarip dalam rangka
pengembangan pelayanan dan penyesuaian terhadap perubahan harga
barang/bahan alat ditetapkan oleh Kepala Daerah atas usul Direktur Rumah Sakit.
g. Peraturan Menteri Kesehatan RI Nomor 749a/Menkes/PER/XII/1989 tentang
Rekam Medis pasal 2 “Setiap pelayanan kesehatan yang melakukan pelayanan
rawat jalan maupun rawat inap wajib membuat rekam medis

Penerimaan RSUD Banyumas yang tidak dibukukan secara bruto, dipotong langsung
dan dikelola di luar rekening kas RSUD mengakibatkan:
a. Pendapatan RSUD Banyumas kurang disajikan minimal sebesar
Rp2.056.498.547,00;
b. Kekurangan setor kepada pihak ketiga sebesar Rp112.562.468,00;
c. Membebani tugas kasir penerimaan;
d. Pendapatan privat dokter minimal sebesar Rp814.513.897,00 belum memberikan
kontribusi bagi RSUD;
e. Potongan, resep kredit dan restitusi belum sepenuhnya dapat dikendalikan oleh
manajemen;
f. Pendapatan RSUD berdasarkan Billing Sistem belum dapat diyakini
kelengkapannya.

Permasalahan tersebut di atas disebabkan oleh:
a. Direktur RSU kurang memperhatikan ketentuan yang berlaku dalam menerbitkan
Surat Keputusan Direktur tentang pendapatan privat dokter, dan lalai tidak
memintakan persetujuan Kepala daerah atas Perjanjian KSO;
b. Kepala Bagian Keuangan sebagai atasan langsung Kasir penerimaan dan Kepala
Sub Bidang Mobilisasi Dana mengabaikan tugas pengawasan yang menjadi
tanggung jawabnya;
c. Kasir penerimaan kurang memahami mekanisme pembukuan pendapatan sesuai
ketentuan keuangan daerah;
36
d. Kepala Sub Bidang Mobilisasi Dana lalai menyimpan dana daerah pada rekening
pribadi dan tidak menyelenggarakan pembukuan atas penggunaannya.
e. Petugas pada unit-unit pelayanan kurang memahami pentingnya nomor rekam
medis sebagai data pokok pasien.

Sehubungan dengan hal tersebut Direktur menjelaskan bahwa
pertanggungjawaban kasir adalah berupa rekening atas nama “alat (Sukesti)” senilai
Rp99.443.415,00 dengan nomor rekening 3-003-20981-1 dari Bank BPD Jateng
selanjutnya akan dimasukkan dalam rekening RSUD di bawah pemegang kas namun
realisasinya akan dilaksanakan pada Tahun 2006, dikarenakan pada Tahun 2005 yang
sedang berjalan belum memuat pasal mengenai pembayaran kepada pihak ketiga.
Pada tanggal 6 Oktober 2005, Kepala Bagian Keuangan telah memberikan tindak
lanjut berupa tambahan kuitansi pembayaran kepada pihak ketiga senilai
Rp11.310.000,00 dan setoran tunai sebesar Rp1.809.053,00. Dengan adanya setoran
tambahan tersebut maka sisa kewajiban yang masih harus disetorkan ke Kas RSUD
berdasarkan perhitungan per tanggal 31 Agustus 2005 adalah sebesar
Rp99.443.415,00.

Rekomendasi BPK-RI
BPK RI memberi rekomendasi kepada :
a. Bupati Banyumas untuk memerintahkan kepada Direktur RSUD agar melakukan
penertiban administrasi keuangan dan penataan personel yang tepat dalam bidang
pengelolaan keuangan RSUD;
b. Direktur RSUD Kabupaten Banyumas menegur Kepala Bagian Keuangan yang
lalai dalam melakukan pengawasan keuangan yang menjadi tanggung jawabnya
dan Kepala Sub Bidang Mobilisasi Dana yang telah mengelola Keuangan RSUD
tidak sesuai ketentuan;
c. Direktur RSUD Kabupaten Banyumas memerintahkan kepada Kepala Sub Bidang
Mobilisasi Dana untuk menyetorkan potongan jasa KSO sebesar Rp99.443.415,00
(per 31 Agustus 2005) dan potongan jasa KSO setelah masa pemeriksaan yang
37
masih dipungut ke Kas RSUD. Untuk selanjutnya pembayaran jasa pihak ketiga
dilakukan melalui pemegang Kas RSUD.
d. Direktur RSUD Kabupaten Banyumas membuat surat perjanjian kerjasama
tentang privat dokter yang di dalamnya antara lain mengatur tentang kontribusi
untuk RSUD dari layanan privat dokter dan memerintahkan Kepala Sub Bidang
Mobilisasi Dana untuk menyetorkan dana privat dokter sebesar Rp25.151.110,00
ke Kas RSUD. Untuk selanjutnya pembayaran dana privat dokter dilakukan
melalui pemegang Kas RSUD.
e. Direktur RSUD agar memerintahkan kepada bagian yang terkait untuk
menyelenggarakan pencatatan pendapatan RSUD secara tertib, yaitu:
1) Kasir agar membukukan potongan/restitusi pada buku potongan;
2) Kepala Bagian Keuangan agar membukukan pendapatan secara basis kas dan
akrual dengan tertib, termasuk transaksi keringanan bagi pasien;
3) Direktur RSUD agar memerintahkan kepada Kepala Bagian PDE untuk
menertibkan data pendapatan pada billing system sehingga billing system
dapat memuat transaksi secara lengkap.
38

3. Pemakaian fasilitas RSUD Banyumas oleh pihak ketiga belum memberikan
kontribusi yang memadai bagi daerah

RSUD Banyumas menempati areal seluas 46.560 m2 yang digunakan sebagai
area pelayanan kesehatan masyarakat. Dalam mendukung pelayanan yang optimal,
RSUD Banyumas selain mengupayakan pelayanan medis dan penunjang medis, juga
telah berupaya melengkapi pelayanannya dengan menempatkan berbagai fasilitas dan
sarana prasarana yang dibutuhkan oleh pengunjung. Pelayanan tambahan tersebut
antara lain adalah Kantin RSUD, Toko Koperasi dan Wartel, Salon (Koperasi), serta
areal parkir bagi pengunjung. Fasilitas-fasilitas tersebut dikelola oleh pihak ketiga
(swasta) yang manajemennya terpisah dari manajemen Rumah Sakit.
Dari hasil pemeriksaan lapangan atas penggunaan fasilitas RSUD (pemda) dapat
disajikan data sebagai berikut:
No. Jenis Usaha Lokasi Pengelola Luas area
1 Kantin Di dalam area RSU Dharma Wanita 6.3 m x 6.6 m
2 Toko dan Wartel Di dalam area RSU Koperasi karyawan 4.6 m x 4.6 m
3 Salon Di dalam area RSU Koperasi karyawan 9,5 m x 2.7 m
4 Parkir luar Halaman luar RSU Sdr. Simun dkk. 23.4 m x 11m
5 Parkir dalam Halaman depan RSU Sdr. Simun dkk -
6 Toko Koperasi Halaman luar RSU Koperasi karyawan 6,75 m x 11 m
7 Kantin Koperasi Halaman luar RSU Mantan Karyawan 6,75 m x 11 m

Hasil pemeriksaan atas transaksi penerimaan RSUD dari aktivitas penggunaan
fasilitas Pemerintah Daerah tersebut menunjukkan terdapat penerimaan sebesar
Rp540.000,00 pada bulan April 2005 untuk sewa bangunan koperasi, wartel dan
salon. Sedangkan untuk parkir tidak dijumpai adanya kontribusi bagi RSUD. Hasil
wawancara dengan Bagian Tata Usaha RSUD diperoleh penjelasan bahwa perjanjian
kerjasama atas penggunaan fasilitas RSUD oleh pihak ketiga tersebut belum dibuat.
Penyetoran kontribusi kepada RSUD sebesar Rp540.000,00 per tahun merupakan
himbauan manajemen RSUD kepada pihak ketiga.
Pemeriksaan selanjutnya dilaksanakan dengan konfirmasi kepada pihak ketiga
yang mengelola unit bisnis yang bersangkutan. Pemilik Kantin saat dikonfirmasi
39
sedang tidak berada di tempat, sedangkan Ketua Koperasi Karyawan yang
membawahi unit Toko, Wartel, dan Salon menyatakan bahwa belum terdapat
kesepakatan antara RSUD dan koperasi tentang kontribusi untuk RSUD. Atas
pemakaian fasilitas di dalam area RSUD tersebut, biaya listrik dan air yang
digunakan oleh pemakai fasilitas masih ditanggung RSUD.
Selanjutnya dari hasil wawancara terhadap Pengelola Parkir didapatkan informasi
bahwa pengelola parkir membenarkan tidak adanya perjanjian kerjasama pengelolaan
parkir dengan Pemerintah Daerah (Dhi. RSUD Banyumas). Pengelola parkir
menjelaskan adanya gangguan-gangguan dari pihak luar yang sulit untuk
dikendalikan. Untuk selanjutnya yang bersangkutan bersedia untuk bermusyawarah
dengan pihak Pemerintah Daerah.
Dari hasil konfirmasi yang dilakukan kepada Pemerintah Daerah (dhi. BPKD
Kabupaten Banyumas) diperoleh keterangan bahwa pemakaian fasilitas RSUD oleh
pihak ketiga seharusnya memberikan kontribusi kepada Pemerintah Daerah. Untuk
selanjutnya Pemerintah Daerah akan mengkoordinasikan dengan unit kerja yang
terkait dengan permasalahan tersebut.
Dengan adanya kondisi yang demikian, maka kerjasama RSUD dengan pihak
ketiga belum sepenuhnya dapat menguntungkan RSUD sebagaimana yang
diamanatkan dalam ketentuan.

Permasalahan tersebut tidak sesuai dengan Peraturan Pemerintah Nomor 105
Tahun 2000 tanggal 10 Nopember 2000 tentang Pengelolaan dan
Pertanggungjawaban Keuangan Daerah:
a. Pasal 19 ayat (2) Pemerintah Daerah dapat mencari sumber-sumber pembiayaan
lain melalui kerjasama dengan pihak lain dengan prinsip saling menguntungkan.
b. Pasal 24 ayat (1) Setiap Perangkat Daerah yang mempunyai tugas memungut atau
menerima pendapatan daerah wajib melaksanakan intensifikasi pemungutan
pendapatan tersebut.



40
Permasalahan tersebut mengakibatkan:
a. RSUD belum mendapatkan kontribusi yang memadai atas penggunaan fasilitas
daerah termasuk belum diperhitungkannya pemakaian biaya listrik dan air oleh
pihak ketiga.
b. RSUD tidak dapat mengendalikan pengelolaan parkir yang berada di wilayahnya
sehingga mengganggu pelayanan terhadap masyarakat.

Permasalahan tersebut disebabkan Direktur RSUD kurang berupaya untuk
mengintensifkan peningkatan pendapatannya dari pemakaian fasilitas RSUD.

Sehubungan dengan permasalahan tersebut Direktur RSUD Kabupaten Banyumas
menjelaskan bahwa upaya penertiban dan penataan parkir akan melibatkan pihak
terkait dan akan segera dilakukan koordinasi dengan koperasi dan Dharma Wanita
Persatuan RSUD untuk dilakukan perjanjian atas penggunaan tempat milik RSUD
Banyumas. Pada tanggal 6 Oktober 2005, Direktur RSU telah menunjukkan data
tambahan bahwa RSUD telah membuat draft perjanjian kerjasama dengan pihak
ketiga, draft tersebut selanjutnya akan diproses melalui pemerintah daerah.

Rekomendasi BPK-RI
BPK RI memberi rekomendasi kepada :
Direktur RSUD Kabupaten Banyumas agar segera membuat perjanjian kerjasama
dengan pihak ketiga atas penggunaan fasilitas milik RSUD dan mengintensifkan
pendapatan yang seharusnya diterima RSUD.


41
4. Pengenaan tarif pada RSUD Banyumas tidak berdasar Peraturan Daerah

Rumah Sakit Umum Daerah merupakan salah satu perangkat teknis daerah yang
bukan merupakan kekayaan daerah yang dipisahkan sehingga untuk memberlakukan
suatu kebijakan publik yang berkaitan dengan pelayanan RSUD harus mengikuti
ketentuan yang diberlakukan oleh Pemerintah Daerah. Demikian juga dengan
pemberlakuan tarif pada RSUD Banyumas yang berkaitan dengan masyarakat luas diatur
dalam suatu Peraturan Daerah tentang Retribusi Pelayanan Kesehatan.
Tarif rumah sakit merupakan sebagian atau seluruh biaya penyelenggaraan
kegiatan pelayanan medik dan non medik yang dibebankan kepada masyarakat sebagai
imbalan atas jasa pelayanan yang diterima. Dari hasil pemeriksaan atas data base
pelayanan pasien pada bagian pelayanan di masing-masing unit / instalasi dijumpai
adanya pemberlakuan dasar tarif yang tidak berdasarkan Perda. Hasil Konfirmasi
dengan Kepala Bagian Keuangan diperoleh penjelasan bahwa untuk mengatasi masa
transisi pemberlakuan tarif lama yang tertuang dalam Peraturan Daerah Kabupaten
Daerah Tingkat II Banyumas Nomor 1 Tahun 1991 tentang Pelayanan Kesehatan pada
RSUD Kabupaten Banyumas dan tarif baru yang tertuang dalam Peraturan Daerah
Kabupaten Banyumas Nomor 18 Tahun 2001 tentang Retribusi Pelayanan Kesehatan
pada Badan Rumah Sakit Umum Daerah Kabupaten Banyumas Unit Swadana Daerah,
maka direktur mengambil langkah kebijaksanaan dengan menaikkan tarif secara
bertahap. Langkah tersebut diambil karena kedua Perda tarif tersebut memiliki
perbedaan unit cost yang cukup besar. Hal ini terjadi karena pada saat disusunnya Perda
Tarif Tahun 2001 harga-harga kebutuhan rumah sakit relatif tinggi.
Untuk mengatur kenaikan tarif secara bertahap agar tidak terjadi lonjakan biaya
yang membebani masyarakat luas, maka direktur menerbitkan Buku Master Tarif Tahap I
yang dikeluarkan pada Tanggal 2 Januari 2002 dan Buku Master Tarif Tahap II
dikeluarkan pada 2 Januari 2003. Hasil penelaahan buku master tarif dan pembandingan
dengan Perda Tahun 2001 menunjukkan bahwa buku master tarif memuat tarif layanan
yang lebih rinci dan lengkap daripada tarif layanan yang tertuang pada lampiran Perda.
Penyusunan buku master tarif dilakukan berdasar unit cost yang diusulkan masing-
masing instalasi dan disetujui oleh Direktur RSU. Master tarif tersebut diberlakukan

42
tanpa persetujuan Pemerintah Daerah secara resmi. Dilihat dari perbandingan harga per
unit cost maka tarif pada master tarif tahap I secara umum lebih rendah dari tahap II dan
tarif pada master tarif tahap II secara umum lebih rendah dari Perda Nomor 18 Tahun
2001. Perbedaan tarif tiap tahap tersebut sebagian dapat dilihat sebagai berikut:
! !! PERDA ! !! PERDA
SEDERHANA
- Film 18 x 2+ 1/.500 1/.500 10.000 1/.500 1/.500 15.500
- Hemoglobine 2.+00 2.9/5 3.500 2.+00 2.9/5 +.900
- Lekosit 2.+00 2.9/5 3.500 2.+00 2.9/5 +.900
SEDANG
- Appendicogram 56.000 56.000 20.000 56.000 56.000 31.500
- SGOT 8.5/6 9.626 /.500 8.5/6 9.626 9.250
- Globulin 9.126 10.1/6 /.500 9.126 10.1/6 9.250
CANGG!H
- !vP 116.000 116.000 35.000 116.000 116.000 55.000
- Trigliserid 1/.000 21.3/5 16.000 1/.000 21.3/5 21.500
- Kalium 2+.000 28.3/5 16.000 2+.000 28.3/5 21.500
Jenis Pemeriksaan
!!! B !!! A
Lengkapnya pada Lampiran 6
Penjelasan lebih lanjut dari Kasubbag Tata Usaha diperoleh keterangan bahwa
mulai tanggal 1 April Tahun 2005, melalui Surat Keputusan Direktur RSU Nomor 800/
671.A/2005, sudah diberlakukan tarif 100 % sesuai Peraturan Daerah Nomor 18 Tahun
2001. Hasil pemeriksaan secara sampling menunjukkan bahwa sebagian tarif layanan
pasien masih dikenakan berdasarkan master tarif tahap II karena di dalam Perda tarif
diatur secara global dan belum mengakomodasi adanya rincian pelayanan tambahan
untuk pasien. Bahkan minimal untuk lima layanan yang dilaksanakan oleh RSUD, Perda
tidak menyebutkan tarifnya. Macam-macam jenis layanan tersebut yaitu:
a. Pemeriksaan USG
b. Pemeriksaan Elektro Convultion Therapie (ECT)
c. Pelayanan EEG Brain Maping
d. Pelayanan ICU
e. Pelayanan Persalinan (VK)
Dari penghitungan secara sampling atas 10 jenis layanan pada bulan Januari s/d
Desember 2004 diketahui terdapat selisih pengenaan tarif berdasarkan master tarif II dan
Perda seperti terlihat pada tabel berikut ini:


43
Jenis Pemeriksaan Pendapatan jika
dihitung dengan
Master tarif
Tahap II
Pendapatan Jika
dihitung dengan
Perda Nomor 18
Tahun 2001
Selisih
1. Pengenaan tarif lebih tinggi dari Perda
GDT / MDT Kelas II*) 605.000,00 199.500,00 405.500,00
Jumlah 605.000,00 199.500,00 405.500,00
2. Pengenaan tarif lebih rendah dari Perda*)
Hemoglobin Kelas I 1.591.031,00 3.751.637,00 2.160.606,00
Hemoglobin Kelas II 1.981.881,00 4.783.504,00 2.801.623,00
Hemoglobin Kelas III 1.924.450,00 4.775.565,00 2.851.115,00
Hemoglobin Paviliun 729.081,00 1.608.040,00 878.959,00
Hemoglobin Kelas VIP 749.264,00 1.836.025,00 1.086.761,00
Albumin Kelas II 768.421,00 1.830.000,00 1.061.579,00
Trigliserid Kelas II 1.730.000,00 1.944.000,00 214.000,00
Film 35x35 Kelas II 10.989.000,00 11.462.500,00 473.500,00
Jumlah 20.463.128,00 31.991.271,00 11.528.143,00
3. Pengenaan tarif yang tidak ada dalam Perda
EEG Brain Maping Kelas II 39.665.000,00 0,00 39.665.000,00
*) Pengenaan tarif ini dihitung tanpa mengakomodasi biaya bahan, sehingga dapat diperbandingkan
dengan tarif perda yang juga tidak mengakomodasi biaya bahan.

Pada saat pemeriksaan tidak diketahui adanya persetujuan Bupati Banyumas atas
pengenaan tarif yang tidak sesuai Perda dan pengenaan tarif atas layanan tambahan yang
belum diakomodasi dalam Perda.

Permasalahan tersebut di atas tidak sesuai dengan :
a. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 7 Tahun 1987 tentang Penyerahan
Sebagian Urusan Pemerintahan dalam bidang kesehatan kepada Daerah Bab VII
Pasal 17 yang menyatakan bahwa :
- ayat (1) Tarip upaya kesehatan pada Rumah Sakit, Puskesmas dan Puskesmas
Pembantu serta sarana kesehatan lainnya yang diselenggarakan oleh daerah
ditetapkan dengan Peraturan Daerah.
- ayat (2) Tarip upaya kesehatan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1)
berpedoman pada komponen biaya yang ditetapkan oleh Menteri Kesehatan.
b. Peraturan Daerah Kabupaten Banyumas Nomor 18 Tahun 2001 tentang Retribusi
Pelayanan Kesehatan pada Badan Rumah Sakit Umum Daerah Kabupaten Banyumas
Unit Swadana Daerah Bab V Pasal 9 ayat (1) Tarif dalam rangka penambahan
pelayanan dan atau penyesuaian terhadap perubahan harga bahan ditetapkan dengan
Keputusan Bupati atas usul Direktur.

44

Pengenaan tarif yang tidak berdasarkan Perda mengakibatkan:
a. Pengenaan tarif atas lima layanan tidak memiliki dasar hukum yang memadai;
b. Penerimaan rumah sakit diterima lebih tinggi dari Peraturan Daerah minimal sebesar
Rp405.500,00;
c. Penerimaan rumah sakit diterima lebih rendah dari Peraturan Daerah minimal sebesar
Rp11.528.143,00.

Permasalahan tersebut disebabkan:
a. Kelalaian bagian pelayanan yang tetap memberlakukan Master Tarif Tahap II
meskipun Direktur telah memberlakukan Perda Nomor 18 Tahun 2001;
b. Perda Nomor 18 Tahun 2005 tidak memuat lampiran tarif secara lengkap dan rinci
dan Direktur RSU tidak mengusulkan adanya tarif tambahan layanan serta rinciannya
untuk ditetapkan Kepala Daerah agar menjadi landasan hukum yang memadai.

Sehubungan dengan permasalahan tersebut Direktur RSUD Kabupaten Banyumas
menjelaskan bahwa penyusunan tarif mengacu pada Pola Tarif Rumah Sakit secara
global dan tidak rinci, sedangkan rincian tarif diterjemahkan sendiri oleh masing-masing
instalasi, namun demikian pada rencana penyusunan tarif berikutnya akan disusun tarif
pelayanan secara rinci dan jelas sehingga mudah dipahami oleh semua unit kerja di
rumah sakit. Pada tanggal 6 Oktober 2005, Direktur RSU memberikan tambahan
penjelasan bahwa RSU telah mengkomunikasikan perihal kenaikan tarif secara bertahap
tersebut pada rapat dewan penyantun dan pernah mengusulkan persetujuan atas tarif
layanan tambahan kepada Bupati. Namun demikian, saat dilakukannya klarifikasi
persetujuan tersebut belum dapat ditunjukkan.

Rekomendasi BPK-RI
BPK RI memberi rekomendasi kepada Direktur RSUD Kabupaten Banyumas untuk :
a. Memerintahkan seluruh unit pelayanan untuk memberlakukan pemungutan tarif
berdasarkan Perda Nomor 18 Tahun 2001.
b. Mengusulkan tarif layanan tambahan yang belum tertuang pada Perda Nomor 18
Tahun 2001 kepada Bupati Banyumas untuk mendapatkan persetujuan.

45
5. Belanja jasa pelayanan sebesar Rp348.000.000,00 direalisasikan tidak sesuai
peruntukannya

Fungsi Rumah Sakit adalah menyelenggarakan pelayanan di bidang kesehatan
bagi masyarakat luas, hal ini sesuai dengan tugas pokoknya yaitu melaksanakan upaya
kesehatan secara efektif dan efisien sehingga diharapkan rumah sakit dapat
meningkatkan derajat kesehatan masyarakat dan pendidikan kesehatan bagi masyarakat.
Untuk mewujudkan hal tersebut rumah sakit harus memiliki sumber daya yang potensial
di bidang kesehatan sesuai dengan standar bidangnya masing-masing. Karyawan rumah
sakit merupakan komunitas internal yang memegang peranan penting dalam menentukan
kesuksesan penyelenggaraan sebuah rumah sakit. Oleh karena itu semua karyawan harus
selalu diperhatikan kesejahteraannya. Salah satu bentuk kesejahteraan bagi karyawan
adalah adanya pembagian jasa pelayanan
Pembagian jasa pelayanan pada RSU Banyumas telah diatur oleh Direktur
sebagaimana tertuang dalam Buku Pedoman pembagian jasa pelayanan di Rumah Sakit
Umum Banyumas edisi lima, sedangkan teknis pembagiannya dilaksanakan oleh Tim
Indek Rumah Sakit yang terdiri dari perwakilan karyawan masing-masing
bagian/instalasi. Adapun pembagian jasa pelayanan tersebut terdiri dari :
a. Standar Penilaian Indek Langsung
1) Direktur
2) Kontrak Karya
3) Tunjangan Pejabat Struktural
4) Tindakan Khusus
5) Medis
6) Pembagian jasa pelayanan tidak langsung (PNS)
7) Dokter Tamu
b. Standar Penilaian Indek Tidak Langsung
1) Standar Penilaian Indek Medis
2) Standar Penilaian Indek PNS
3) Standar Penilaian Indek Kontrak Karya


46

Pembagian indek dilakukan dengan memperhatikan kriteria sebagai berikut :
a. Golongan/pangkat
b. Masa Kerja
c. Volume Tanggung Jawab
d. Volume Kerja
e. Tunjangan Fungsional
f. Volume Beban Kerja
g. Prestasi, Dedikasi, Loyalitas, Tidak Tercela
Pemberian indek dilakukan/dipertimbangkan setelah yang bersangkutan mempunyai
masa kerja aktif minimal tiga bulan.
Pemeriksaan atas pembagian jasa pelayanan pada Bendahara Gaji, Buku catatan
keuangan dan hasil telaah SPJ menunjukkan terdapat pengeluaran yang diperhitungkan
sebagai komponen pengurang jasa pelayanan yang merupakan hak karyawan.
Pengeluaran-pengeluaran tersebut adalah sebagai berikut :
a. Pengeluaran untuk Dana Taktis direalisasikan sebesar Rp60.000.000,00
Besarnya pemotongan jasa pelayanan untuk dana taktis adalah sebesar
Rp3.000.000,00 per bulan, jumlah penerimaan sampai dengan Tahun 2004 sebesar
Rp3.000.000,00 x 12 bulan = Rp36.000.000,00 dan untuk Tahun 2005 sebesar
Rp3.000.000,00 x 8 bulan = 24.000.000,00 sehingga jumlah keseluruhan sebesar
Rp60.000.000,00 dan dana ini digunakan untuk kegiatan-kegiatan yang sifatnya sosial
dan kedinasan yang tidak tersedia anggarannya. Hasil pemeriksaan atas Laporan
Keuangan Dana Taktis untuk Tahun 2005, pengeluaran yang telah direalisasikan
sebesar Rp17,471,750.00 sedangkan pengeluaran untuk Tahun 2004 belum
diketahui nilainya karena tidak tersedia datanya.
b. Pengeluaran untuk Dana Investasi direalisasikan sebesar Rp238.000.000,00;
Besarnya pemotongan jasa pelayanan untuk dana investasi tergantung kebijaksanaan
direktur sesuai dengan naik atau turunnya pendapatan jasa pelayanan pada saat itu.
Hasil pemeriksaan SPJ untuk Dana Investasi dapat dijelaskan sebagai berikut :



47
Bulan Jumlah
Penerimaan
Jumlah
Pengeluaran
Saldo
Tahun 2004
Januari 10.000.000,00 - 10.000.000,00
Februari 10.000.000,00 - 20.000.000,00
Maret 10.000.000,00 - 30.000.000,00
April 10.000.000,00 - 40.000.000,00
Mei 10.000.000,00 - 50.000.000,00
Juni 20.000.000,00 - 70.000.000,00
Juli 20.000.000,00 - 90.000.000,00
Agustus 20.000.000,00 - 110.000.000,00
September 15.000.000,00 53.393.500,00
Oktober 15.000.000,00 71.606.500,00 68.393.500,00
November 15.000.000,00 - 83.393.500,00
Desember 15.000.000,00 - 98.393.500,00
Jumlah 170.000.000,00 98.393.500,00
Tahun 2005
Januari 4.000.000,00 23.500.000,00 78.893.500,00
Februari 4.000.000,00 - 82.893.500,00
Maret 10.000.000,00 - 92.893.500,00
April 10.000.000,00 12.770.000,00 90.123.500,00
- 23.500.000,00 66.623.500,00
Mei 15.000.000,00 23.500.000,00 58.123.500,00
Juni 15.000.000,00 10.000.000,00 63.123.500,00
Juli 10.000.000,00 23.500.000,00 49.623.500,00
- 11.248.000,00 38.375.500,00
Jumlah 68.000.000,00 38.375.500,00
Jumlah I dan II 238.000.000,00
Bunga Bank 3.968.868,00 42.344.368,00
Administrasi Bank 25.000 42.319.368,00
Jumlah Total 241.968.868,00 199.649.500,00 42.319.368,00

Hasil pemeriksaan atas penggunaan dana investasi sebesar Rp199.649.500,00 di
antaranya sebesar Rp70.500.000,00 dipinjam untuk pembayaran hutang kepada CV.
Cipta Sarana Informatika, sebesar Rp23.500.000,00 dipinjamkan tanpa keterangan
dan Rp10.000.000,00 dipinjamkan kepada dokter Tarkib. Atas peminjaman tersebut
belum diketahui pengembaliannya. Sedangkan sisa pengeluaran sebesar
Rp95.649.500,00 dipergunakan untuk keperluan kegiatan RSU pemeliharaan dan
pengembangan sarana dan prasarana rumah sakit, pembelian peralatan rumah sakit,
perawatan jenazah tanpa identitas, kegiatan Instalasi Pemeliharaan Sarana Rumah
Sakit dan lain-lain. Hasil penelaahan SPJ diketahui dari dana investasi sebesar

48
Rp95.649.500,00 tersebut di antaranya sebesar Rp34.607.000,00 dipinjamkan
kepada IPSRS RSU untuk kegiatan pemeliharaan RSU. Rincian selengkapnya ada
pada lampiran 7.
Dana investasi disimpan pada Tabungan Bima BPD Jateng dengan nomor rekening
2-003-13075-3 atas nama Drs. Santoso/Dana Investasi. Atas setiap pengeluarannya,
pemilik rekening menyatakan telah mendapatkan persetujuan dari Direktur RSU.

c. Bantuan untuk Pemerintah Daerah direalisasikan sebesar Rp50.000.000,00
Besarnya dana jasa pelayanan yang dikeluarkan untuk bantuan ke Pemda sebesar
Rp2.500.000,00 per bulan. Pemeriksaan SPJ menunjukkan dana yang telah
dikeluarkan adalah sebesar Rp2.500.000,00 x 12 bulan = Rp30.000.000,00 untuk
Tahun 2004 dan untuk Tahun 2005 (sampai dengan bulan Agustus) sebesar
Rp2.500.000,00 x 8 bulan = Rp20.000.000,00. Bantuan untuk pemda ini tidak
tercantum dalam Buku Pedoman pembagian jasa pelayanan, namun merupakan
kebijakan Direktur RSU untuk merealisasikannya.
Hasil konfirmasi dengan Pemegang Kas Rumah Sakit menjelaskan bahwa
pengeluaran tersebut sebagai “ Tali Asih “ dari rumah sakit kepada Pemerintah
Daerah dalam hal ini adalah BPKD.

Pengeluaran tersebut dengan jumlah sebesar Rp348.000.000,00 (Rp60.000.000,00 +
Rp238.000.000,00 + Rp50.000.000,00) direalisasikan tidak melalui mekanisme akun
pengeluaran yang sebenarnya akan tetapi melalui pengurangan belanja jasa pelayanan.
Di samping pengeluaran tersebut tidak mempunyai dasar hukum karena tidak diatur
dengan Surat Keputusan Direktur, pembentukan dana taktis dan dana investasi belum
mendapatkan persetujuan Kepala Daerah sebagaimana diamanatkan dalam ketentuan
pengelolaan keuangan daerah. Keberadaan dana-dana tersebut juga belum dibukukan
pada neraca RSU, sehingga transaksi penambahan maupun pengeluarannya tidak
terpantau dalam laporan keuangan.




49
Permasalahan tersebut di atas tidak sesuai dengan :
a. Keputusan Menteri Dalam Negeri Nomor 29 Tahun 2002 tentang Pedoman
Pengurusan, Pertanggungjawaban dan Pengawasan Keuangan Daerah serta tata cara
penyusunan APBD, pelaksanaan Tata usaha Keuangan Daerah dan Penyusunan
Perhitungan APBD, pasal 55 ayat (2) Pengguna anggaran dilarang melakukan
pengeluaran-pengeluaran atas beban belanja daerah untuk tujuan lain dari pada yang
ditetapkan.
b. Keputusan Menteri Dalam Negeri Nomor 92 Tahun 1993 tentang Penetapan dan
Penatausahaan serta pertanggung jawaban Keuangan Unit Swadana Daerah
Paragraf 4 Pasal 11 ayat (2) Penggunaan dana Unit Swadana Daerah untuk
pembiayaan investasi prasarana dan sarana di Unit Swadana Daerah yang
bersangkutan supaya terlebih dahulu mendapat persetujuan tersendiri dari Menteri
Dalam Negeri untuk Daerah Tk I dan Gubernur Kepala Daerah Tingkat I untuk
Daerah Tingkat II.
c. Peraturan Daerah Kabupaten Banyumas Nomor 18 Tahun 2001 tentang Retribusi
Pelayanan Kesehatan pada Badan Rumah Sakit Umum Daerah Kab Banyumas unit
Swadana Daerah pada
1) Bab I Ketentuan Umum Pasal 1 ayat (19) yang menyatakan bahwa jasa
pelayanan adalah imbalan yang diterima oleh pelaksana pelayanan atas jasa
yang diberikan kepada pasien dalam rangka observasi, diagnosis, pengobatan,
konsultasi, visite, rehabilitasi medik dan atau pelayanan lainnya.
2) Bab XIV Pengelolaan dan Penatausahaan penerimaan Rumah Sakit pada Pasal
57 ayat (7) menyebutkan bahwa Tata cara pengelolaan seluruh penerimaan
rumah sakit (pemungutan, pembukuan, penyetoran, penyaluran penggunaan
serta pelaporan) dilaksanakan sesuai dengan peraturan perundang-undangan
yang berlaku.

Permasalahan tersebut mengakibatkan :
a. Hak karyawan atas jasa pelayanan berkurang sebesar Rp348.000.000,00;
b. Status dana-dana yang disisihkan tidak memiliki landasan hukum, tidak jelas
mekanisme penggunaannya dan tidak terpantau dalam laporan keuangan.

50

Hal ini disebabkan karena adanya kebijakan Direktur yang kurang memahami
ketentuan yang berlaku dan tidak tersedianya akun anggaran untuk pengeluaran
dimaksud.

Sehubungan dengan permasalahan tersebut Direktur RSUD Kabupaten Banyumas
menjelaskan bahwa penggunaan dana-dana tersebut digunakan untuk kegiatan yang
sifatnya fleksibel dan tidak direncanakan sehingga tidak dianggarkan dalam DASK.

Rekomendasi BPK-RI
BPK RI memberi rekomendasi kepada Direktur RSUD Kabupaten Banyumas untuk :
a. Memerintahkan pengelola dana taktis mempertanggungjawabkan penyisihan jasa
pelayanan yang telah direalisasikan sebagai dana taktis sebesar Rp60.000.000,00
kepada Pemerintah Daerah (BPKD) dengan disertai bukti-bukti pengeluaran yang
sah;
b. Memerintahkan pengelola dana investasi mempertanggungjawabkan penyisihan jasa
pelayanan yang telah direalisasikan sebagai dana investasi sebesar Rp241.968.868,00
kepada Pemerintah Daerah (BPKD) dengan cara melengkapi bukti-bukti pengeluaran
yang sah, menyetorkan kas Dana Investasi minimal sebesar Rp42.319.368,00
(termasuk bunga bank sebesar Rp3.968.868,00) ke Kas RSUD, dan menarik
peminjaman dana investasi dari pihak ketiga serta menyetorkannya ke Kas RSUD;
c. Mengatur kembali pembagian jasa pelayanan kepada pihak di luar rumah sakit sesuai
ketentuan pengelolaan rumah sakit pemerintah, sehingga pembagian jasa pelayanan
sepenuhnya dilaksanakan dengan dasar hukum yang memadai dan transparan.








52
6. Penyajian data tunggakan pasien khusus pada Instalasi Laboratorium tidak akurat
dan pemakaian film radiologi (CT SCAN) sebanyak 670 lembar senilai
Rp12.781.422,50 tidak didokumentasikan dengan memadai

Sebagai bagian dari Organisasi Pelayanan Kesehatan, Instalasi Laboratorium dan
Radiologi merupakan unit pelaksana teknis fungsional rumah sakit yang melakukan
kegiatan pelayanan pemeriksaan laboratorium dan radiologi dalam usaha membantu
pelayanan medis terutama dalam penegakan diagnosis dan pengelolaan pasien.
Instalasi laboratorium dan radiologi menyelengggarakan pelayanan untuk
penderita rawat jalan, unit gawat darurat dan unit rawat inap. Hasil pemeriksaan kegiatan
administrasi pemakaian bahan pada Instalasi Laboratorium dan Radiologi diperoleh
gambaran bahwa pengendalian intern pada masing-masing instalasi masih lemah, hal ini
dapat dijelaskan sebagai berikut :
a. Instalasi Laboratorium
Pemeriksaan atas dokumen Buku Pantauan Pemakaian Bahan, Buku Pasien dan
hasil pengecekan alat uji Laboratorium yang merupakan bentuk Kerja Sama
Operasional (KSO) antara Rumah Sakit Umum Daerah Kabupaten Banyumas dengan
pihak ketiga, terdapat minimal dua alat kesehatan yakni Analyzer Il Ilyte Na/K/Cl,
dan Autonalyzer ABX Mira Plus dengan UPS yang tidak terpasang indikator
pengukur kuantitas layanannya sehingga menyulitkan dalam pengendalian
pemakaian bahan yang sesungguhnya. Dari hasil pemeriksaan buku pantauan
pemakaian bahan, dengan mengambil sampling untuk bulan Desember Tahun 2004
dan Januari - Agustus 2005 serta dari data pasien yang sudah periksa tetapi tidak
mengambil hasil laboratorium dan tidak membayar, terdapat beberapa orang pegawai,
keluarga dan tamu yang melakukan pemeriksaan tanpa melalui prosedur yang
seharusnya yaitu dengan cara mendaftar dan melakukan pembayaran lewat kasir,
namun pasien khusus tersebut langsung mendapatkan pelayanan di Laboratorium.
Karyawan, Keluarga dan tamu yang menggunakan bahan laboratorium sebanyak
185 orang dengan nilai pembayaran minimal sebesar Rp8.165.950,00. Selain itu
terdapat 48 pasien dengan nilai pembayaran sebesar Rp946.150,00 belum membayar
layanan laboratorium namun hasil laboratoriumnya telah selesai diproses.

53
Hasil wawancara dengan Kepala Instalasi Laboratorium dinyatakan bahwa
pasien-pasien tersebut merupakan pasien khusus yang memerlukan pelayanan cepat.
Pasien sebagaimana disebutkan telah mendapatkan ijin dari Direktur, namun tidak
diketahui secara formal data yang mendukung pernyataan tersebut. Dengan demikian,
pada saat pemeriksaan berakhir (tanggal 23 Agustus 2005) disimpulkan bahwa
layanan senilai Rp9.112.100,00 telah direalisasikan tanpa disertai pembayaran oleh
pasien.
Hasil cross cek data susulan dari Ka Sub Bid Penunjang Medis I setelah masa
pemeriksaan berakhir, yakni pada tanggal 6 Oktober 2005 menunjukkan tambahan
informasi bahwa Instalasi Laboratorium dan Kasir melakukan pencocokan atas
keseluruhan data tunggakan layanan di laboratorium. Pencocokan tersebut
menghasilkan data sebagai berikut:
Pasien khusus
Karyawan
Pasien khusus Non
Karyawan
Jumlah
Tarif billing 15.695.480,00 7.141.630,00 22.837.110,00
Ditagihkan Askes (8.932.075,00) (773.000,00) (9.705.075,00)
Dibayar pasien (4.515.290,00) (5.214.530,00) (9.729.820,00)
Kekurangan tagihan 2.248.115,00 1.154.100,00 3.402.215,00


Berdasarkan tabel di atas masih terdapat tunggakan sebesar Rp3.402.215,00 yang
belum diselesaikan dan akan ditindaklanjuti oleh manajemen. Pada saat pemeriksaan
dilaksanakan, data pembayaran sebesar Rp9.705.075,00 dan Rp9.729.820,00 tidak
diketahui oleh Instalasi Laboratorium dan tidak dapat ditunjukkan, sehingga catatan
pada Instalasi Laboratorium masih menunjukkan data bahwa pasien belum
menunaikan pembayarannya. Hal ini menunjukkan kurangnya koordinasi antara kasir
dan instalasi laboratorium dalam menyajikan data pembayaran pasien secara akurat.

b. Instalasi Radiologi
Instalasi Radiologi telah melakukan kerja sama operasional dengan PT. Bhineka
Usada Raya Cabang Semarang dalam pemanfaatan alat CT Scanner yang tertuang
dalam Surat Perjanjian Kerjasama Nomor : 119/759 A/2001 pada Tanggal 15
September 2001. Pada perjanjian kerja sama ini disebutkan bahwa rumah sakit

54
menggunakan alat tersebut untuk pelayanan pasien dengan memberi kontribusi
kepada pemilik alat dan kewajiban pembelian film oleh pihak rumah sakit kepada
pihak pemilik alat. Akan tetapi pada saat alat mengalami kerusakan dan pemakaian
film menjadi bertambah karena film sering rusak maka pihak rumah sakit yang
menanggung kerusakan film tersebut. Pemeriksaan atas Dokumen Laporan Harian
Radiologi, Laporan Bulanan Kegiatan Radiologi, Buku Permintaan Barang, dan
hasil cek fisik menunjukkan terdapat perbedaan pemakaian film radiologi (CT Scan)
menurut data harian yang dilaporkan dan data administrasi. Menurut data harian,
pemakaian film selama periode sampling sebanyak 3330 lembar dengan jumlah
kerusakan sebanyak 267 lembar, sedangkan menurut data bagian administrasi
terdapat pemakaian film sebanyak 2660 lembar termasuk yang rusak, jumlah
kerusakan tidak dapat diidentifikasi karena data pada laporan administrasi tidak
tersedia. Dengan demikian terdapat selisih 670 lembar film (3330 lembar – 2660
lembar ) dengan nilai sebesar Rp12.781.422,50 (1 box =100 lbr film, harga per box =
Rp1.907.675,00) yang tidak dapat dipertanggungjawabkan karena tidak dapat
ditelusuri kebenarannya. Perbedaan tersebut dapat dilihat sebagai berikut:

Bulan
Jumlah
Pasien
Mnrt Lap
kegiatan ke
Pimpinan Jumlah
Pemakaian
Film mnrt
Ctt Adm Selisih
Baik Rusak
(film) (Film) (film)

(film)
Januari 04 67 120 2 122 76 46
Februari 24 40 0 40 34 6
Maret 17 28 4 32 17 15
April 59 75 15 90 67 23
Mei 66 110 12 122 104 18

Juni 94 140 10 150 132 18
Juli 94 135 7 142 109 33
Agustus 115 121 16 137 147 (10)
September 125 190 16 206 148 58
Oktober 93 149 22 171 128 43
Nopember 110 185 14 199 157 42
Desember 108 179 41 220 139 81
Jumlah 972 1472 159 1631 1258 373

Januari 05 119 156 15 171 156 15
Februari 89 112 27 139 115 24

55
Maret 125 177 20 197 168 29
April 144 196 2 198 199 (1)
Mei 166 280 18 298 213 85
Juni 146 292 12 304 202 102
Juli 129 199 5 204 178 26
Agustus 141 179 9 188 171 17
Jumlah 1.059 1.591 108 1.699 1.402 297
Jumlah Total 2.031 3.063 267 3.330 2.660 670

Menurut hasil konfirmasi dengan bagian administrasi diperoleh penjelasan bahwa
perbedaan tersebut terjadi karena adanya pemakaian film yang kemungkinan tidak
dimasukkan dalam buku administrasi pasien karena adanya pergantian shif petugas
jaga. Selisih tersebut tidak dapat ditelusuri dengan tuntas disebabkan kartu persediaan
barang harian tidak pernah dibuat. Pengecekan terhadap film yang rusak tidak dapat
dilakukan karena penyimpanan film rusak tertumpuk menjadi satu dari tahun ke tahun
sehingga data kerusakan film yang sebenarnya hanya berdasarkan laporan bulanan dari
Instalasi Radiologi.
Setelah berakhirnya masa pemeriksaan, yakni pada tanggal 6 Oktober 2005
Kepala Instalasi Radiologi memberikan tambahan data yang menunjukkan bahwa telah
dilakukan penghitungan ulang atas kerusakan film dengan hasil total kerusakan film
selama Tahun 2004 dan 2005 adalah sebanyak 520 lembar film. Kerusakan tersebut
antara lain disebabkan loading jam (film rusak karena alat rusak), film bergaris dan
pemotretan kurang sempurna sehingga perlu diulang. Atas sebagian kerusakan tersebut,
pihak RSUD telah melakukan permohonan penggantian film kepada rekanan dan
disanggupi akan diganti sebanyak 300 lembar.

Permasalahan tersebut di atas tidak sesuai dengan :
a. Peraturan Pemerintah Nomor 105 Tahun 2000 tanggal 10 Nopember 2000 tentang
Pengelolaan dan Pertanggungjawaban Keuangan Daerah:
• pasal 4 “Pengelolaan keuangan daerah dilakukan secara tertib, taat pada peraturan
perundang-undangan yang berlaku, efisien, efektif, transparan dan
bertanggungjawab dengan memperhatikan azas keadilan dan kepatutan”.

56
• pasal 24 ayat (1) Setiap Perangkat Daerah yang mempunyai tugas memungut atau
menerima pendapatan daerah wajib melaksanakan intensifikasi pemungutan
pendapatan tersebut.
b. Peraturan Daerah Kabupaten Banyumas Nomor 18 Tahun 2001 tentang Retribusi
Pelayanan Kesehatan pada Badan Rumah Sakit Umum Daerah Kabupaten Banyumas
Unit Swadana Daerah Bab X Pasal 21 ayat (1) Bagi pasien yang tidak mampu
diberi keringanan membayar biaya pelayanan dan atau bebas biaya pelayanan,
tetapi pasien tersebut harus membawa surat keterangan miskin dari pejabat yang
berwenang, Untuk keperluan perawatan ini Direktur menempatkan pasien di kelas
II.

Permasalahan tersebut di atas mengakibatkan
a. Data tunggakan tidak dapat dipergunakan sebagai dasar pengendalian tunggakan oleh
manajemen;
b. Penerimaan rumah sakit dari layanan laboratorium tertunda minimal sebesar
Rp3.402.215,00;
c. Data pemakaian film tidak andal sehingga tidak dapat dipergunakan sebagai dasar
pengendalian persediaan oleh manajemen;
d. Kerusakan film tidak terpantau oleh manajemen sehingga tidak dapat diminimalkan.

Permasalahan tersebut disebabkan:
a. Kurangnya koordinasi antara Instalasi Laboratorium dan Kasir dalam memantau data
pembayaran pasien dan kelalaian Kepala Instalasi Laboratorium dalam
menyelenggarakan pembukuan bahan secara harian;
b. Adanya kelalaian dari petugas administrasi dan petugas jaga yang tidak
mendokumentasikan data dan pemakaian film dengan baik dan lemahnya
pengawasan dari Kepala Instalasi.

Sehubungan dengan permasalahan tersebut Direktur RSUD Kabupaten Banyumas
menjelaskan bahwa memang benar terjadi kurang koordinasi dan kurang tertib dalam

57
administrasi sehingga perlu dilakukan teguran kepada Kepala Instalasi Laboratorium dan
Subid Pelayanan Medis I, Kepala Instalasi Rawat Jalan serta kepada Kasir.

Rekomendasi BPK-RI
BPK RI memberi rekomendasi kepada Direktur RSUD Kabupaten Banyumas untuk :
c. Menegur Kepala Instalasi Laboratorium dan Instalasi Radiologi yang kurang tertib
dalam melaksanakan administrasi layanan pasien yang menjadi tanggung jawabnya
dan memerintahkan kepada masing-masing Kepala Instalasi untuk menyelenggarakan
pembukuan harian atas pemakaian bahan yang berada pada instalasinya;
d. Menagihkan sisa tunggakan layanan laboratorium sebesar Rp3.402.215,00.


58
7. Pemberian eksra fooding melalui Instalasi Gizi RSUD Banyumas sebesar
Rp6.105.600,00 tidak berdasarkan SK Direktur

Rumah Sakit Umum Daerah Kabupaten Banyumas mempunyai 16 instalasi yang
masing-masing mempunyai tugas dan fungsi sesuai dengan bidangnya. Salah satu dari
ke-16 instalasi tersebut adalah instalasi gizi yang mempunyai tugas mengelola bidang
makanan, baik makanan pasien maupun makanan karyawan RSUD.
Dalam Prosedur Tetap pemberian makanan pada Instalasi gizi RSUD Banyumas
dengan Nomor Dokumen : 14/IG/V/89 dan Nomor Revisi 3 Tahun 2003 disebutkan
bahwa untuk karyawan mendapat porsi makan dari Rumah Sakit dengan ketentuan
sebagai berikut :
Jenis Karyawan Jenis Makanan Frekwensi/hari Keterangan
Dokter Jaga Menu VIP 4X
Residen Menu VIP 3X
Supervisi Menu Kelas II 1X - Lauk Hewani telur 1
buah
- Supervisi :hari libur
2X
Instalasi Gizi,
Satpam, Supir,
Masjid
Menu Kelas II 3X Semua karyawan
mendapat teh manis 1
gelas sehari
Tukang Kebun dan
ISS
Menu Kelas II 1X
Perawat, PDE,
Laboratorium,
Kasir, Apotik,
Informasi,
Radiologi
Menu makanan
Dinas Malam
1X Karyawan Dinas
Malam
OK Telur + Mie Setiap ada
CITO
1 butir dan 1 bungkus
OK Tamu Menu VIP Setiap ada OP CITO apabila operasi
dilakukan setelah jam
14.00
Radiologi Telur + Susu Setiap hari - OK Tamu : dokter
spesialis dari luar
- Susu dan telur dalam
keadaan matang
Lembur Menu kelas II Sesuai
kebutuhan
Lembur berdasarkan acc
tertulis direktur

59
Sedangkan untuk yang mendapatkan snack harian sesuai prosedur tetap adalah Direktur,
Dokter Umum, Dokter Jaga, Dokter Residen, Dokter Spesialis, Kabag TU, Keuangan,
Perawatan, Kepala Instalasi Gizi, Apoteker/Kepala Instalasi Farmasi.
Pemberian makanan bagi karyawan tersebut dimaksudkan untuk kesejahteraan
karyawan dalam rangka penambahan gizi karyawan di lingkungan rumah sakit yang
dipandang sangat rentan terhadap berbagai penyakit. Di samping itu, berdasarkan data
pada Ruang Bougenville dan Ruang Cempaka (ruang penyakit dalam/ruang beresiko)
pada Tahun 2004 terdapat pasien Tubercolosis sebanyak 153 pasien dan telah
menyebabkan dua orang perawat terinfeksi penyakit tersebut.
Melihat kenyataan tersebut Kepala Bidang Keperawatan melalui surat Nomor
010/per/I/05 Tanggal 31 Januari 2005 mengajukan usulan untuk pemberian extra fooding
bagi perawat di ruang Bougenvile dan ruang Cempaka dengan pemberian makanan
tambahan tinggi protein. Adapun dana yang dibutuhkan adalah :
a. Kapasitas/jumlah pegawai yang membutuhkan makanan tambahan sebanyak 18 orang
untuk ruang bougenville dan cempaka
b. Harga makanan tambahan perporsi/orang
- Susu : Rp1000
- Telur : Rp600
c. Kebutuhan anggaran/Tahun Rp1600 X 18 orang x 365 hari = Rp10.512.000
Dari hasil pemeriksaan dan konfirmasi dengan Kepala Instalasi Gizi diperoleh penjelasan
bahwa usulan tersebut telah dilaksanakan dan dana yang telah dikeluarkan sampai dengan
bulan Agustus (saat pemeriksaan) adalah sebesar Rp1600 x 18 orang x 212 hari =
Rp6.105.600,00, akan tetapi atas pelaksanaan pemberian tambahan tersebut belum
didukung dengan adanya SK Direktur Rumah Sakit sehingga belum ada aturan resmi
yang melandasinya.

Permasalahan pemberian ekstra fooding yang tidak memiliki landasan peraturan
(SK Direktur) tersebut tidak sesuai dengan Keputusan Menteri Kesehatan Republik
Indonesia Nomor : 983/MENKES/SK/XI/1992 tentang Pedoman Organisasi Rumah Sakit
Umum Bab III Bagian Pertama pasal 8 yang menyatakan bahwa Direktur mempunyai
tugas memimpin, menyusun kebijaksanaan pelaksanaan, membina pelaksanaan,

60
mengkoordinasikan dan mengawasi pelaksanaan tugas rumah sakit sesuai dengan
peraturan perundang-undangan yang berlaku.

Hal ini mengakibatkan pemberian makanan tambahan protein tinggi untuk ruang
Bougenvile dan ruang Cempaka senilai Rp6.105.600,00 direalisasikan tanpa dasar
peraturan yang sah dan dapat menimbulkan kecemburuan dari instalasi lain yang tidak
mendapatkan tambahan makanan.

Permasalahan tersebut disebabkan kelalaian dari Kepala Instalasi Gizi yang telah
merealisasikan pemberian makanan tambahan tanpa didasari SK Direktur.

Sehubungan dengan permasalahan tersebut Direktur RSUD Kabupaten Banyumas
menjelaskan bahwa sudah dibuatkan SK tentang kebijakan pemberian extra fooding
kepada karyawan secara keseluruhan. Namun demikian untuk pemberian extra fooding
protein tinggi tambahan bagi pegawai yang berisiko tinggi khususnya di ruang
Bougenville dan Cempaka belum diterbitkan SKnya.

Rekomendasi BPK-RI
BPK RI memberi rekomendasi kepada Direktur RSUD Kabupaten Banyumas
untuk menegur Kepala Instalasi Gizi yang lalai dalam melaksanakan tugasnya dan
menetapkan Surat Keputusan tentang pemberian makanan tambahan protein tinggi untuk
pegawai berisiko tinggi secara proporsional dan sesuai kemampuan rumah sakit.


61
8. Pemakaian sumber daya RSUD untuk pengelolaan Instalasi Farmasi Komponen
B belum memiliki landasan peraturan

Dalam menyelenggarakan pelayanan fungsionalnya menyediakan obat bagi
pasien, Instalasi Farmasi. RSUD Banyumas melaksanakan pelayanan melalui dua
komponen instalasi, yaitu:
a. Komponen A yang bertugas mengelola obat-obatan yang berasal dari Inpres.
Askes, Pengembangan dan Pemda.
b. Komponen B yang bertugas mengelola obat-obatan dari Pedagang Besar Farmasi
(PBF), Pedagang Obat (PO) dan Apotek.
Komponen B merupakan instalasi farmasi yang modalnya dimiliki oleh dokter-
dokter/ Apoteker RSUD Banyumas yang pengelolaan serta tata kerjanya telah diatur
oleh Keputusan Bupati Banyumas Nomor 442/276/1996 tanggal 9 April 1996.
Meskipun permodalannya dimiliki oleh dokter dan apoteker, kewenangan
pengelolaannya ada di bawah Direktur RSUD yang didelegasikan kepada seorang
Apoteker yang merupakan pegawai RSUD.
Dalam mengelola obat yang menjadi kewenangannya, Instalasi Farmasi
Komponen B memperoleh keuntungan dari hasil penjualan obat kepada pasien
RSUD. Pembagian keuntungan tersebut diatur sebagai berikut:
a. 40% untuk Kas Daerah (dhi. Kas RSUD) yang selanjutnya dipergunakan untuk
peningkatan mutu RSU, pelayanan, peningkatan sumber daya serta menunjang
instalasi komponen A.
b. 5% untuk pengembangan dan penambahan modal Komponen B.
c. 45% untuk pemilik modal yang diatur oleh Direktur RSU.
d. 10% untuk Direktur RSU.
Hasil pemeriksaan atas pembukuan pengelolaan instalasi farmasi komponen B
menunjukkan bahwa pengelolaan Komponen B menggunakan sumber daya RSUD
dan dibiayai dari anggaran daerah. Sumber daya untuk pengelolaan komponen B
meliputi personel, sarana dan prasarana RSUD (tempat, listrik, jaringan komputer
dll). Sumber daya yang dikeluarkan untuk menunjang pengelolaan obat di Instalasi
Komponen B tidak dipisahkan dari manajemen RSUD. Personel yang menangani
penjualan obat di komponen B juga ditugaskan untuk melayani penjualan obat di
Komponen A. Baik komponen A maupun B berada di bawah kendali Kepala Instalasi

62
Farmasi. Penggunaan sumber daya RSUD tersebut tidak disebutkan dalam Surat
Keputusan Bupati Nomor 442/276/1996. Nilai sumber daya RSUD tidak dapat diukur
dengan tepat disebabkan belum ada pengaturan yang jelas tentang biaya yang menjadi
kewajiban RSU untuk menunjang komponen B.
Selain ditunjang biaya yang berasal dari anggaran daerah, Komponen B telah
merealisasikan biaya administrasi dan insentif dari hasil penjualan obat. Biaya
tersebut dipergunakan untuk pembayaran tenaga harian lepas yang bekerja pada
komponen B dan biaya bahan habis pakai lainnya. Sesuai dengan Surat Keputusan
Bupati tersebut di atas, komponen B hanya diperkenankan mengurangkan hasil
penjualan obat dengan biaya pembelian obat, sedangkan biaya administrasi tidak
disebutkan keberadaannya untuk dapat direalisasikan. Selama Tahun 2004 dan 2005
(S/d Agustus) biaya yang direalisasikan oleh komponen B adalah sebesar
Rp155.825.600,00. Dengan direalisasikan biaya tersebut maka pembagian
keuntungan kepada RSU menjadi lebih rendah sebesar Rp62.330.240,00, seperti
tampak pada tabel berikut:
Pembagian keuntungan Tahun Laba Biaya Laba bersih
Dengan biaya Tanpa biaya
Selisih
1 2 3 4=3-2 5=40%x4 6=40%x2 7=6-5
2004 1.668.643.030 99.118.250 1.569.524.780 627.809.912 667.457.212 39.647.300
2005 (Juli) 947.041.560 56.707.350 890.334.210 356.133.684 378.816.624 22.682.940
2.615.684.590 155.825.600 2.459.858.990 983.943.596 1.046.273.836 62.330.240
Penghitungan lengkap ada pada lampiran 8.

Hasil penelaahan atas surat keputusan Bupati Nomor 442/276/1996, menunjukkan
bahwa surat keputusan Bupati tidak mengatur secara jelas hak dan kewajiban kedua
belah pihak (RSU dan para pemilik modal), sehingga menimbulkan ketidakjelasan
perlakuan biaya yang harus direalisasikan untuk mendukung kelancaran tugas
Instalasi Farmasi Komponen B.
Dari hasil pemeriksaan atas mekanisme penerimaan uang penjualan obat pada
Komponen B diketahui bahwa komponen B melakukan pengelolaan uang dengan
cara penggunaan langsung dan terpisah dari pengelolaan keuangan RSUD. Uang
penjualan obat setiap harinya diterima oleh Kasir Penerimaan RSUD dan selanjutnya
disetorkan kepada bendahara komponen B melalui rekening nomor 1-003-01625-3.
Penggunaan uang penjualan obat secara langsung tersebut tidak diatur di dalam Surat

63
Keputusan Bupati. Atas penggunaan uang tersebut, bendahara komponen B telah
membuat pembukuan dan melaporkannya secara rutin kepada Direktur RSUD.
Hasil wawancara dengan Direktur RSUD diperoleh informasi bahwa format
pengelolaan komponen B dengan mekanisme yang selama ini telah berjalan
sebagaimana dijelaskan sebelumnya dipandang cukup andal dalam mengantisipasi
adanya pemberian resep keluar dari rumah sakit. Konfirmasi atas permasalahan ini
juga dilakukan kepada Pemerintah Daerah yang diwakili oleh Kepala BPKD dan
Kepala Bagian Hukum Kabupaten Banyumas. Hasil konfirmasi ditindaklanjuti
dengan rapat yang menyetujui adanya pengaturan kembali hak dan kewajiban kedua
belah pihak serta memperjelas badan usaha yang akan bekerja sama dengan RSUD.

Permasalahan tersebut tidak sesuai dengan:
a. Peraturan Pemerintah Nomor 105 Tahun 2000 tanggal 10 Nopember 2000 tentang
Pengelolaan dan Pertanggungjawaban Keuangan Daerah, pasal 19 ayat (2),
Pemerintah Daerah dapat mencari sumber-sumber pembiayaan lain melalui
kerjasama dengan pihak lain dengan prinsip saling menguntungkan.
b. Keputusan Direktur Jendral Pelayanan Medik Depkes RI Nomor
0428/Yanmed/RSKS/SK/1989 tanggal 17 April 1989 tentang Petunjuk
pelaksanaan peraturan Menkes RI tentang kewajiban menuliskan resep dan atau
menggunakan obat generik di RS Pemerintah :
• Pasal 3 ayat (4) Instalasi Farmasi Rumah Sakit berkewajiban dan harus
mampu mengelola obat-obatan Rumah Sakit secara berdaya guna dan berhasil
guna baik dari segi penggunaan biaya maupun obat-obatan.
• Pasal 9 ayat (3) Untuk dapat melaksanakan pengawasan dan pengendalian
terhadap pelayanan obat-obatan di Rumah Sakit, maka pelayanan obat-obatan
di Rumah Sakit harus melalui system satu pintu, ayat (4) Dengan system satu
pintu, sebagaimana dimaksud ayat (3) maka unit distribusi Instalasi Farmasi
Rumah Sakit (Apotek Rumah Sakit) secara bertahap harus difungsikan
sepenuhnya sebagai satu-satunya Apotek Rumah Sakit yang berkewajiban
melaksanakan pelayanan obat-obatan di Rumah Sakit.
Permasalahan tersebut mengakibatkan:
a. Biaya operasional yang direalisasikan oleh rumah sakit untuk menunjang
Komponen B menjadi tidak jelas statusnya sehingga tidak diketahui hak dan
kewajiban antara pihak rumah sakit dengan pemilik modal.

64
b. Biaya operasional yang direalisasikan oleh Komponen B sebesar
Rp155.825.600,00 tidak memiliki landasan peraturan dan penerimaan bagi hasil
yang diterima RSU menjadi lebih rendah sebesar Rp62.330.240,00.
c. Penerimaan yang disetor tidak melalui Kas Daerah dapat mengakibatkan
penggunaan yang tidak sesuai tujuannya.

Permasalahan tersebut disebabkan Surat Keputusan Bupati Banyumas Nomor
442/276/1996 tidak mengatur dengan jelas:
a. Status badan usaha yang bekerja sama dengan RSUD,
b. Hak dan kewajiban kedua belah pihak yang bekerja sama,
c. Perlakuan biaya operasional Farmasi Komponen B,
d. Mekanisme pengelolaan keuangan di Farmasi Komponen B.

Sehubungan dengan permasalahan tersebut Direktur RSUD Kabupaten Banyumas
menjelaskan bahwa aturan yang berlaku saat ini belum sesuai dengan aturan yang
ada di Pemerintah (Peraturan Pemerintah No. 105 Tahun 2000, Tanggal 10 Nopember
2000), sehingga akan ditindaklanjuti dengan membentuk suatu wadah (koperasi) dari
pemilik modal yang nantinya akan bekerja sama dengan RSUD Banyumas.

Rekomendasi BPK-RI
BPK RI memberi rekomendasi kepada :
a. Direktur RSUD agar merumuskan perjanjian kerja sama pengelolaan Instalasi
Farmasi Komponen B yang secara jelas mengatur hak dan kewajiban RSUD dan
pengelola dengan prinsip saling menguntungkan, berkeadilan dan
mempertimbangkan azas kepatutan dalam pembagian keuntungan. Perjanjian
tersebut selanjutnya diusulkan kepada Bupati Banyumas untuk mendapatkan
persetujuan;
b. Bupati Banyumas agar melakukan evaluasi atas usulan perjanjian kerja sama
pengelolaan Instalasi Farmasi Komponen B sebelum melakukan persetujuan atas
perjanjian kerja sama tersebut.



65
10. Pengadaan material dan ongkos tenaga kerja pengembangan Instalasi Rehabilitasi
Medis (IRM) melebihi kebutuhan minimal sebesar Rp59.387.579,20 dan
penambahan pekerjaan sebesar Rp20.363.400,00 belum dapat diyakini
kebenarannya

Dalam rangka meningkatkan mutu pelayanan kesehatan kepada masyarakat,
Rumah Sakit Umum Banyumas memerlukan adanya peningkatan fasilitas sarana dan
prasarana Instalasi, yaitu dengan pembangunan ruang Instalasi Rehabilitasi Medis (IRM).
Untuk membiayai pembangunan IRM tersebut, pada Tahun 2005 RSU telah
menganggarkan dana yang dituangkan dalam Dokumen Anggaran Satuan Kerja (DASK)
sebesar Rp296.604.000,00 dan telah direalisasikan sebesar Rp284.139.000,00.
Sebelum pekerjaan dilaksanakan, pemimpin kegiatan telah menunjuk konsultan
perencana perorangan untuk membuat gambar dan perincian kebutuhan bahan/material
yang dibutuhkan untuk pekerjaan Pengembangan Instalasi Rehabilitasi Medis (IRM),
namun penunjukan konsultan perencana tersebut tidak didasari dengan Surat Perintah
Kerja /Kontrak yang sah.
Untuk selanjutnya, pelaksanaan pekerjaan tersebut dilakukan dengan cara
swakelola berdasarkan Surat Perintah Kerja (SPK) Nomor : 050/339/2005 tanggal 17
Februari 2005 dengan nilai pekerjaan Rp284.139.000,00. Jangka waktu pelaksanaan
pekerjaan mulai tanggal 1 Maret sampai dengan 31 Mei 2005, dengan pemimpin kegiatan
pekerjaan tersebut adalah Kepala Sub Bagian Umum. Pekerjaan tersebut telah
diselesaikan dan diserahkan kepada Direktur RSU Banyumas berdasarkan Berita Acara
Penyerahan Pekerjaan Pengembangan IRM pada tanggal 16 Mei 2005.
Dari hasil pemeriksaan atas Rencana Anggaran Belanja (RAB), rincian
perhitungan volume dan kebutuhan material serta surat pertanggungjawaban keuangan
diketahui bahwa pengadaan material direalisasikan melebihi kebutuhan sebesar
Rp59.387.579,20 dan terdapat pemalsuan bukti pengadaan material oleh salah satu
anggota panitia pengadaan. Adapun kelebihan tersebut sebagian di antaranya senilai
Rp26.161.500,00 berasal dari peninggian nilai RAB (mark up) yang dibuat oleh
pemimpin kegiatan terhadap Rincian Perhitungan Volume dan kebutuhan material yang
dibuat oleh konsultan perencana, yaitu :

66


Kebutuhan barang menurut
No.

Uraian RAB Konsultan
Perencana
Selisih Harga
Satuan

Nilai selisih
1. Pekerjaan Pasangan :
- Batu kali 39 39 - - -
- Batu merah 37.000 36.932 68 200 13.600
- Pasir 34 rit 32 rit 2 135.000 270.000
- Kapur 250 - 250 6.500 1.625.000
- PC 293 267 26 33.500 871.000
Jumlah : 2.779.600
2. Pekerjaan Beton
- Pasir 5 rit - 5 rit 135.000 675.000
- Split 26,9 - 26,9 90.000 2.421.000
- PC 224 - 224 33.500 7.504.000
Jumlah : 10.600.000
3. Pekerjaan Atap
- Kayu 8/12 x 4 m 155 129 26 154.000 4.004.000
- Kayu 6/12 x 4 m 70 58 12 122.000 1.464.000
- Kayu 5/7 x 4 m 800 667 133 31.500 4.189.500
- Kayu 2/3 x 4 m 1001 833 168 12.375 2.079.000
- Papan 2/20 x 4 m 46 38 8 46.000 368.000
- Genteng 19.800 16.663 3137 200 627.400
- Genteng nok 149 124 25 2.000 50.000
Jumlah : 12.781.900
Total : 26.161.500

Sedangkan untuk pekerjaan selain yang tercantum pada table di atas, antara RAB
yang dibuat oleh pemimpin kegiatan dan perhitungan konsultan perencana untuk
kebutuhan bahan/material tidak terdapat perbedaan. Meskipun tidak terdapat perbedaan
antara nilai RAB dengan rincian konsultan perencana, pemeriksaan lanjutan dilaksanakan
dengan konfirmasi kepada pihak yang kompeten dan pengujian fisik pekerjaan, dengan
mempertimbangkan kondisi bahwa penunjukkan konsultan perencana oleh pemimpin
kegiatan hanya secara lisan (rekan pemimpin kegiatan), dalam pelaksanaan pekerjaan
pemimpin kegiatan tidak membuat Kerangka Acuan Kerja, buku harian, laporan
mingguan maupun bulanan, serta Surat Pertanggungjawaban tidak dapat diketahui
dengan pasti nilainya (karena SPJ atas kegiatan rehab IRM ini tidak dikumpulkan
menjadi satu, sehingga sulit diidentifikasi.)

67
Konfirmasi dilaksanakan pada tanggal 12 September 2005 kepada pelaksana
pekerjaan dengan didampingi oleh salah satu anggota panitia pengadaan. Dari hasil
konfirmasi, dilakukan penghitungan secara uji petik terhadap pemakaian bahan/material
untuk pekerjaan plafon dan pembayaran ongkos pekerja, yaitu :
a. Ongkos pekerja dalam RAB (pemimpin kegiatan) termasuk ongkos pembongkaran
ditentukan sebesar Rp62.716.078,95 dan didasari dengan bukti kehadiran pekerja.
Namun pada kenyataannya yang diterima oleh pelaksana pekerjaan hanya sebesar
Rp55.355.749,75, sehingga terdapat selisih sebesar Rp7.360.329,20 yang merupakan
tanggung jawab pemimpin kegiatan.
b. Bahan/material yang diadakan lebih kecil dibandingkan dengan RAB, yaitu :
Pekerjaan Plafon 479 m.
Untuk pekerjaan plafon dibutuhkan bahan/material berupa kayu ukuran 6/12 x 4 m,
untuk hanger dan kayu ukuran 4/6 x 5 m untuk plafon.
Dari pekerjaan plafon tersebut dalam RAB telah ditentukan jumlah pengadaan
penggunaan kayu ukuran 6/12 x 4 m sebanyak 173 batang, namun berdasarkan
kenyataan/kayu yang digunakan hanya sebanyak 10 batang atau selisih sebanyak
173 – 10 = 163 batang. Harga per batang sebesar Rp122.000,00 atau nilai kerugian
sebesar Rp122.000 x 163 = Rp19.886.000,00.
Sedangkan kayu ukuran 4/6 x 4 m dalam RAB sebanyak 780 batang, pekerjaan per
m2 menggunakan 5 m kayu, maka kayu yang dibutuhkan 479 x 5 m = 2.395 m.
Dari ukuran kayu per batang 4 m, maka kayu yang dibutuhkan sebanyak = 2.935 : 4
m = 599 batang, namun menurut RAB 780 batang, atau selisih 780 – 599 = 181.
Harga per batang sebesar Rp 24.750,00 atau nilai kerugian sebesar Rp24.750,00 x
181 batang = Rp 4.479.750,00.
Eternit
Dari luas plafon 479 m2, maka kebutuhan eternit juga sebanyak 479 m2., dari
kebutuhan 479 m2 tersebut pihak panitia telah mengadakan sebanyak 40 box atau
400 m2, sedangkan yang 79 m2 menggunakan eternit lama/bongkaran. Menurut
RAB dibutuhkan 70 box atau 700 m2. Dengan demikian terdapat kelebihan 700 –
400 = 300 m2 atau 30 box. Harga per box sebesar Rp50.000,00 atau kerugian
sebesar Rp50.000,00 x 30 = Rp 1.500.000,00

68

Dari hasil pemeriksaan selanjutnya atas Surat Pertanggungjawaban Keuangan
(SPJ) yang dapat diidentifikasi untuk kegiatan pengembangan IRM diketahui bahwa
pengadaan material untuk kegiatan pengembangan IRM dilakukan oleh Sdr.
Mulyono, PNS RSUD Banyumas pada staf kepegawaian yang ditunjuk sebagai salah
satu anggota panitia pengadaan barang, serta bertindak juga sebagai supplier
(pemasok) material dengan nama UD. Dwi Tunggal yang beralamat di Jalan Bogisan
Kaliori, Kecamatan Banyumas, Kabupaten Banyumas.
Penelitian selanjutnya atas SPJ di Pemegang Kas dan bukti nota pengadaan material
yang sebenarnya (riil) diketahui bahwa :
1. Bukti asli pengiriman/pengadaan bahan/material yang diperoleh saat pemeriksaan
berasal dari Toko Fajar Indah dan Toko Bintang, sedangkan dalam SPJ, bukti
pengadaan yang dipergunakan untuk penagihan uang tidak diketahui adanya bukti
tersebut.
2. Pemeriksaan dilakukan dengan melakukan pengecekan keberadaan UD. Dwi
Tunggal dengan didampingi salah satu anggota panitia pengadaan yang lain pada
tanggal 14 September 2005, yang diketahui bahwa pada alamat yang disebutkan
sebagai alamat UD. Dwi Tunggal tidak terdapat adanya toko bangunan maupun
UD Dwi Tunggal. Hal tersebut juga diperkuat dengan keterangan Ibu Lurah
Bogisan Kaliori yang rumahnya satu lokasi dengan alamat UD. Dwi Tunggal
yang menyatakan bahwa di daerahnya tidak terdapat UD. Dwi Tunggal maupun
toko bangunan lainnya.

Dari hasil wawancara dengan Sdr. Mulyono diperoleh pengakuan bahwa yang
bersangkutan telah melakukan pengadaan bahan/material dari distributor/Toko lain
dan nota serta kuitansi pembelian diganti dengan nama UD. Dwi Tunggal atas nama
dirinya. Dengan demikian Sdr. Mulyono akan sangat mudah untuk menambah angka
barang yang dibeli. Kegiatan tersebut mudah dilakukan karena keberadaan panitia
pengadaan barang yang lain, panitia pemeriksa pekerjaan dan panitia penerima
barang semuanya tidak berfungsi.


69
Permasalahan adanya pengadaan bahan/material yang melebihi kebutuhan tidak
sesuai dengan:
a. Peraturan Pemerintah Nomor 105 Tahun 2000 tanggal 10 Nopember 2000 tentang
Pengelolaan dan Pertanggungjawaban Keuangan Daerah dalam pasal 4 disebutkan
bahwa Pengelolaan Keuangan Daerah dilakukan secara tertib, taat pada peraturan
perundangan yang berlaku, efisien, efektif, transparan dan bertanggungjawab dengan
memperhatikan azas Keadilan dan Kepatutan;
b. Keputusan Presiden Nomor : 80 Tahun 2003 tanggal 3 Nopember 2003 tentang
Pedoman Pelaksanaan Pengadaan Basrang/Jasa Pemerintah dalam pasal 39 ayat (3)
disebutkan bahwa Pekerjaan-pekerjaan yang dapat dilakukan dengan cara swakelola
adalah :
1). Pekerjaan yang bertujuan untuk meningkatkan kemampuan teknis sumber daya
manusia;
2). Pekerjaan yang operasi dan pemeliharaannya memerlukan partisipasi masyarakat
setempat;
3). Pekerjaan tersebut dilihat dari segi besaran, sifat, lokasi dan pembiayaannya tidak
diminati penyedia barang/jasa;
4). Pekerjaan secara rinci/detail sulit dihitung/ditentukan;
c. Lampiran I Keputusan Presiden Nomor : 80 Tahun 2003 tanggal 3 Nopember 2003
tentang Pedoman Pelaksanaan Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah dalam huruf A
angka 2 antara lain ditetapkan bahwa dalam perencanaan swakelola agar menyusun
rencana kegiatan dan jadwal pelaksanaan, melakukan perencanaan teknis,
menyiapkan rencana keperluan tenaga kerja, bahan/material, peralatan yang
dijabarkan dalam rencana kerja bulanan, mingguan dan harian serta dari masing-
masing rencana tersebut dituangkan dalam Kerangka Acuan Kerja
d. Keputusan Menteri Dalam Negeri Nomor 29 Tahun 2002 tentang Pedoman
Pengurusan, Pertanggungjawaban dan Pengawasan Keuangan Daerah serta tata cara
penyusunan APBD, pelaksanaan Tata usaha Keuangan Daerah dan Penyusunan
Perhitungan APBD:
• Pasal 49 ayat (5) Setiap pengeluaran kas harus didukung oleh bukti yang lengkap
dan sah mengenai hak yang diperoleh oleh pihak yang menagih.

70
• Pasal 57 ayat (1) Pengguna anggaran wajib mempertanggungjawabkan uang yang
yang digunakan dengan cara membuat SPJ yang dilampiri dengan bukti-bukti
yang sah.
e. Inmendagri Nomor : 21 Tahun 1997 tentang Tuntutan Perbendaharaan dan Tuntutan
Ganti Rugi Keuangan Daerah dan Barang Daerah pada huruf C antara lain
disebutkan bahwa ruang lingkup penyimpangan ditinjau dari pelaku :
1) Pegawai Negeri bukan bendaharawan meliputi antara lain menaikkan harga,
menambah kualitas, mutu dan lain-lain;
2) Pihak ketiga meliputi antara lain penipuan, penggelapan dan perbuatan lainnya
yang secara langsung atau tidak langsung menimbulkan kerugian daerah.

Permasalahan tersebut mengakibatan RSU Banyumas dirugikan minimal sebesar
Rp59.387.579,20 atau (Rp26.161.500,00 + Rp7.360.329,20 + Rp19.886.000,00 +
Rp4.479.750,00 + Rp1.500.000,00).

Hal tersebut disebabkan :
a. Kesengajaan dari Pemimpin kegiatan yang tidak membuat buku/laporan harian,
mingguan dan bulanan pelaksanaan kegiatan;
b. Kesengajaan dari Sdr. Mulyono untuk mengubah/mengganti nota pembelian
bahan/material yang sebenarnya menjadi nota dari UD. Dwi Tunggal;
c. Tidak berfungsinya Panitia Pemeriksa Barang, anggota panitia pengadaan lainnya dan
panitia penerima barang.

Sehubungan dengan permasalahan tersebut Direktur RSUD Kabupaten
Banyumas menjelaskan bahwa dalam proses pekerjaan pengembangan IRM terdapat
pekerjaan di luar RAB yang merupakan permintaan user pada saat pelaksanaan
pekerjaan berlangsung dan perbedaan perhitungan antara pemimpin kegiatan dengan
konsultan perencana disebabkan konsultan belum menghitung pekerjaan pasangan dan
beton.
Selanjutnya pada tanggal 6 Oktober 2005 Direktur RSU dan Pimpinan Kegiatan
telah memberikan tambahan data dan penjelasan bahwa pada saat pelaksanaan pekerjaan

71
IRM tersebut telah terjadi perubahan dan penambahan-penambahan pekerjaan, namun
tidak diikuti dengan perhitungan kembali kebutuhan material dan administrasi atas
perubahan pekerjaan. Perubahan dan penambahan pekerjaan tersebut baru dibuat/dihitung
sendiri oleh Pimpinan Kegiatan pada saat memberikan komentar instansi dengan nilai
Rp20.363.400,00. Atas penambahan pekerjaan tersebut tidak didukung dengan Berita
Acara Perubahan/Penambahan pekerjaan sesuai prosedur semestinya. Dengan adanya
tambahan penjelasan seperti demikian, Badan Pemeriksa Keuangan belum dapat
meyakini kebenaran pekerjaan tambahan sebesar Rp20.363.400,00, sebelum dilakukan
pengujian atas tambahan pekerjaan tersebut.

Rekomendasi BPK-RI
BPK RI memberi rekomendasi kepada:
a. Bupati Banyumas untuk membentuk tim pemeriksa yang minimal terdiri dari unsur
Badan Pengawas Kabupaten, Dinas PU Cipta Karya, dan RSUD Kabupaten
Banyumas untuk melakukan pemeriksaan atas penambahan/perubahan pekerjaan
yang terkait dengan pekerjaan pengembangan IRM sebesar Rp20.363.400,00.
b. Kepala Bawasda untuk melaporkan hasil pemeriksaan tersebut di atas kepada Bupati
Banyumas dan menyampaikan hasilnya kepada Direktur RSUD untuk ditindaklanjuti
sesuai ketentuan pengelolaan keuangan daerah.
c. Direktur RSUD agar menarik kerugian minimal sebesar Rp39.024.179,20
(Rp59.387.579,20 – Rp20.363.400,00) dari Pemimpin Kegiatan dan menyetorkan ke
Kas RSUD.
d. Direktur RSUD agar memberikan peringatan kepada Pemimpin Kegiatan yang
sengaja tidak menyelenggarakan pencatatan atas pengelolaan pekerjaan
pengembangan IRM secara swakelola dan memberikan sanksi sesuai ketentuan
kepegawaian yang berlaku bagi PNS kepada Sdr. Mulyono atas kesengajaannya
mengganti nota pembelian.

72
10. Pelaksanaan pembangunan sarana prasarana RSUD sebesar Rp1.159.310.875,00
secara swakelola tidak didukung dokumen yang memadai sehingga tidak dapat
diyakini kewajarannya

Dalam rangka meningkatkan pelayanan, Rumah Sakit Umum (RSU) Banyumas
pada tahun 2004 dan tahun 2005 telah mengalokasikan dana Belanja Modal yang
dituangkan dalam Dokumen Anggaran Satuan Kerja (DASK) untuk menambah atau
mengembangkan sarana prasarana ruangan dan bangunan lainnya. Jumlah anggaran
untuk kegiatan tersebut pada tahun 2004 dianggarkan sebesar Rp841.854.500,00 untuk
sembilan kegiatan dan telah direalisasikan sebesar Rp775.473.975,00, sedangkan untuk
tahun 2005 telah dianggarkan sebesar Rp1.080.736.000,00 dan sampai dengan bulan
Agustus telah direalisasikan sebesar Rp383.836.900,00.
Pemeriksaan atas dokumen rencana dan realisasi pelaksanaan kegiatan dan Surat
Pertanggungjawaban (SPJ) diketahui bahwa pelaksanaan pembangunan yang dilakukan
dengan cara swakelola tidak tepat, pelaksanaannya tidak sesuai ketentuan dan nilai
masing-masing pekerjaan tidak dapat diyakini kewajarannya, yaitu setiap pelaksanaan
pekerjaannya tidak didukung dengan laporan kegiatan, seperti buku harian, kerangka
acuan kerja dan setiap pencairan dana tidak didukung dengan prestasi kemajuan fisik
pekerjaan yang diketahui oleh panitia pemeriksa dan pengawas pekerjaan. Adapun
pekerjaan-pekerjaan tersebut adalah sebagai berikut :
No. Uraian Anggaran Realisasi Tambahan keterangan
1. Pembuatan Poliklinik 4 220.014.500 220.014.500
2. Penambahan ruang gizi 134.000.000 133.962.000 18.982.500,00 Dana Investasi
3. Pembuatan Kamar mandi ruang
Flamboyan
105.280.000 105.098.000 26.966.000,00
2.920.000,00
Dana Investasi
4. Pengembangan ruang pemulasaran 70.500.000 70.443.000
5. Pembuatan Kamar Mandi Ruang
Edelwais, Cempaka dan Dahlia
90.240.000 89.946.500
6. Pembuatan Kamar mandi ruang Sakura 30.080.000 28.767.000
7. Pembuatan Nurse Stasionere 94.000.000 29.546.600
8. Pembuatan Tempat Parkir 69.740.000 69.705.125
9 Renovasi OK Unit II 28.000.000 27.991.250
10 Sandaran dan pengaman tempat tidur 5.289.000,00 Dana Investasi
11 Poliklinik 2 unit (Dana Askes 2003) 63.500.000,00 Dana Askes
Jumlah : 841.854.500 775.473.975 117.657.500,00



73

Tahun 2005
No. Uraian Anggaran Realisasi
(s.d. Agustus)
Dana
lnvestasi dan
lainnya
1. Pembuatan Poli VIP 250.000.000 -
2. Perbaikan IRM * 296.604.000 284.136.950 3.050.000,00
3. Pembuatan Nurse Stasionere 222.240.000 49.793.000
4. Pengembangan ruang Aula (Koverensi) 138.900.000 -
5. Pembuatan Tembok Keliling 60.000.000 49.906.950
6. Pembuatan TPA 42.372.000 -
7. Pembuatan Gudang Arsip 70.620.000 -
Jumlah : 1.080.736.000 383.836.900 3.050.000,00
*) Diuraikan dalam temuan pemeriksaan tersendiri.
Dilihat dari jenis dan nilai pekerjaan tersebut di atas seharusnya tidak dilaksanakan
dengan cara swakelola. Selain itu hasil pemeriksaan menunjukkan bahwa pelaksanaan
swakelola tidak sesuai dengan ketentuan, yaitu pekerjaan swakelola tidak didukung
dengan penyusunan rencana kegiatan dan jadwal pelaksanaan, tidak dilakukan
perencanaan teknis dan penyiapan rencana keperluan tenaga kerja, bahan/material,
peralatan yang dijabarkan dalam rencana kerja bulanan, mingguan dan harian serta dari
masing-masing rencana tersebut belum dituangkan dalam Kerangka Acuan Kerja.
Dengan keadaan demikian baik untuk kualitas, kuantitas maupun kebutuhan material
sulit untuk diukur kewajarannya karena tidak dapat diperbandingkan dengan standarnya
dan sulit dikendalikan.
Pemeriksaan selanjutnya atas Dokumen Anggaran Satuan Kerja dan laporan realisasi
kegiatan, pelaksanaan pekerjaan dan dokumen lainnya diketahui bahwa terdapat lima
kegiatan yang dibiayai dari pinjaman dana investasi dan belum dikembalikan sebesar
Rp57.207.500,00, serta terdapat pajak sebesar Rp14.004.198,00 belum disetor ke Kas
Negara, seperti tercantum pada tabel berikut:
No. Pekerjaan Peminjaman
dari dana investasi
Pajak belum disetor
PPN PPh psl 22
1 Ruang Instalasi Gizi 18.982.500,00 1.725.682,00 284.738,00
2 Kamar mandi ruang flamboyan 26.966.000,00 2.367.818,00 355.172,00
3 Pompa Air untuk IRM 3.050.000,00 277.275,00 41.600,00
4 5000 batu bata Ruang flamboyan 2.920.000,00 265.454,00 39.818,00
5 10 Sandaran tempat tidur 5.289.000,00 480.818,00 72.123,00
6 Kamar mandi ruang Edelweis, Sakura
dan Dahlia
- 8.093.700,00

74
Jumlah 57.207.500,00 13.210.747,00 793.451,00
Jumlah Pajak belum disetor 14.004.198,00

Penjelasan dari masing-masing pekerjaan adalah sebagai berikut :
a. Penambahan pekerjaan ruang instalasi gizi tidak dicatat laporan realisasi anggaran
yaitu, pengeluaran untuk pengadaan material sebesar Rp18.982.500,00. Untuk
membayar pengeluaran tersebut, pemimpin kegiatan melakukan peminjaman dari
dana investasi. Sejak bulan Oktober 2004 sampai dengan pemeriksaan bulan
September 2005 pinjaman tersebut belum dikembalikan. Dari pengeluaran tersebut
telah dipungut PPN sebesar Rp1.725.682,00 dan PPh pasal 22 sebesar Rp284.738,00,
namun belum disetor ke Kas Negara.
b. Penambahan Kamar Mandi Ruang Flamboyan selain dari anggaran dan realisasi
tersebut pada tabel sebelumnya, ternyata masih ada pengeluaran untuk pengadaan 14
pintu PVC dan perlengkapannya sebesar Rp26.966.000,00, yang dananya
direalisasikan dengan peminjaman dari dana investasi sejak Tahun 2004, sampai
dengan saat pemeriksaan dana tersebut belum dikembalikan. Dari pengeluaran
tersebut telah dipungut PPN sebesar Rp2.367.818,00 dan PPh pasal 22 sebesar
Rp355.172,00, namun belum disetor ke Kas Negara.
c. Pengadaan Pompa Air untuk ruang IRM sebesar Rp3.050.000,00 dibiayai dari
pinjaman Dana Investasi, namun belum dikembalikan serta dari pengadaan tersebut
telah dipungut PPN sebesar Rp277.275,00 dan PPh pasal 22 sebesar Rp41.600,00
namun belum disetor ke Kas Negara.
d. Pengadaan 5000 batu bata dan lainnya untuk ruang flamboyan senilai Rp2.920.000,00
dibiayai dari pinjaman dana investasi (belum dikembalikan) dan dari pengadaan
tersebut telah dipungut PPN sebesar Rp265.454,00 dan PPh pasal 22 sebesar
Rp39.818,00 namun belum disetor ke Kas Negara.
e. Pengadaan 10 sandaran tempat tidur senilai Rp5.289.000,00 telah dipungut PPN
sebesar Rp480.818,00 dan PPh pasal 22 sebesar Rp72.123,00 namun belum disetor ke
Kas Negara.
f. Dalam RAB Pembangunan Kamar Mandi untuk ruang Edelwais, Sakura dan Dahlia
per ruangan dananya sebesar Rp26.979.000,00 atau seluruhnya sebesar
Rp80.937.000,00 dari masing-masing RAB pekerjaan tersebut dialokasikan untuk

75
PPN sebesar Rp2.697.900,00 atau seluruhnya sebesar Rp8.093.700,00. Dari jumlah
pajak tersebut tidak ditemukan bukti pemungutan dan penyetorannya ke Kas Negara.
g. Pembuatan Poliklinik selain dari realisasi tersebut pada tabel sebelumnya, masih
terdapat penambahan dua poliklinik dengan biaya sebesar Rp63.500.000,00 yang
dibiayai dari dana pendapatan pelayanan Askes tahun 2003, namun SPJnya sampai
dengan berakhirnya masa pemeriksaan belum ditemukan.
Selain dari permasalahan-permasalahan tersebut di atas, hasil pemeriksaan atas
mekanisme pencairan dana untuk pembangunan sarana dan prasarana RSUD
menunjukkan bahwa pemegang kas merealisasikan pembayaran tanpa didukung dengan
laporan perkembangan fisik dan keuangan yang dituangkan dalam Berita Acara yang
ditandatangi oleh Panitia Pemeriksa Pekerjaan dan pengawas lapangan, namun hanya
didukung dengan bukti SPK, surat pesanan barang, nota dan kuitansi pembelian material.

Permasalahan tersebut tidak sesuai dengan:
a. Peraturan Pemerintah Nomor 105 Tahun 2000 tanggal 10 Nopember 2000 tentang
Pengelolaan dan Pertanggungjawaban Keuangan Daerah dalam pasal 10 ayat (3)
disebutkan bahwa setiap pejabat dilarang melakukan tindakan yang berakibat
pengeluaran atas beban APBD apabila tidak tersedia atau tidak cukup tersedia
anggaran untuk membiayai pengeluaran tersebut;
b. Keputusan Presiden Nomor : 80 Tahun 2003 tanggal 3 Nopember 2003 tentang
Pedoman Pelaksanaan Pengadaan Basrang/Jasa Pemerintah dalam pasal 39 ayat (3)
disebutkan bahwa pekerjaan-pekerjaan yang dapat dilakukan dengan cara swakelola
adalah :
1) Pekerjaan yang bertujuan untuk meningkatkan kemampuan teknis sumber daya
manusia;
2) Pekerjaan yang operasi dan pemeliharaannya memerlukan partisipasi masyarakat
setempat;
3) Pekerjaan tersebut dilihat dari segi besaran, sifat, lokasi dan pembiayaannya tidak
diminati penyedia barang/jasa;
4) Pekerjaan secara rinci/detail sulit dihitung/ditentukan;

76
c. Lampiran I Keputusan Presiden Nomor : 80 Tahun 2003 tanggal 3 Nopember 2003
tentang Pedoman Pelaksanaan Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah dalam huruf A
angka 2 antara lain ditetapkan bahwa dalam perencanaan swakelola agar menyusun
rencana kegiatan dan jadwal pelaksanaan, melakukan perencanaan teknis,
menyiapkan rencana keperluan tenaga kerja, bahan/material, peralatan yang
dijabarkan dalam rencana kerja bulanan, mingguan dan harian serta dari masing-
masing rencana tersebut dituangkan dalam Kerangka Acuan Kerja

Permasalahan tersebut di atas mengakibatkan :
a. Hasil pekerjaan baik kualitas maupun kuantitasnya serta biayanya tidak dapat
diyakini kewajarannya;
b. Laporan realisasi keuangan RSUD tidak menggambarkan pengeluaran yang
sebenarnya/ riil;
c. Penerimaan negara dari pajak tertunda sebesar Rp14.004.198,00.

Hal tersebut disebabkan :
a. Direktur RSU kurang memahami ketentuan tentang pengadaan barang dan jasa di
lingkungan pemerintah;
b. Pemimpin Kegiatan mengabaikan tanggungjawabnya untuk melakukan perencanaan
pada setiap pekerjaan dan menyelenggarakan pencatatan harian serta laporan kegiatan
lainnya;
c. Tidak berfungsinya Panitia pemeriksa pekerjaan/barang dan pengawas pekerjaan;

Sehubungan dengan permasalahan tersebut Direktur RSUD Kabupaten Banyumas
menjelaskan bahwa belum disetornya pajak dikarenakan kegiatan tersebut sifatnya
masih meminjam ke Dana Tabungan dengan kode rekening Jasa Pelayanan sehingga
belum ada SPJnya.
Selain penjelasan di atas pada tanggal 6 Oktober 2005 Direktur RSU dan Pemimpin
Kegiatan telah memberikan tambahan data yang dibuat setelah masa pemeriksaan selesai
dilaksanakan. Adapun data tersebut adalah laporan mingguan, kerangka acuan kerja,
Berita Acara Pemeriksaan dan Penerimaan Barang serta SPJ pekerjaan dua poliklinik

77
dengan biaya sebesar Rp63.500.000,00 yang dibiayai dari dana pendapatan pelayanan
Askes tahun 2003. Berdasarkan tambahan data tersebut Badan Pemeriksa Keuangan
belum dapat meyakini kebenarannya sebelum dilakukan pengujian atas tambahan data
tersebut di atas.

Rekomendasi BPK-RI
BPK RI memberi rekomendasi kepada :
a. Bupati Banyumas untuk menegur Direktur RSUD atas kelemahannya dalam
mengendalikan pekerjaan pembangunan fisik di lingkungan RSUD dan
memerintahkan untuk selanjutnya mengelola pengadaan barang dan jasa sesuai
ketentuan pengadaan barang dan jasa pemerintah.
b. Bupati Banyumas untuk membentuk tim pemeriksa yang minimal terdiri dari unsur
Badan Pengawas Kabupaten, Dinas PU Cipta Karya, dan RSUD Kabupaten
Banyumas untuk melakukan pemeriksaan atas pekerjaan swakelola yang
dilaksanakan oleh RSUD yang didanai dari dana APBD dan dana tabungan investasi.
c. Direktur RSUD untuk memberikan peringatan kepada Pemimpin Kegiatan dan
Pelaksana Teknis Kegiatan yang mengabaikan tanggungjawabnya untuk mengelola
pekerjaan pengadaan barang dan jasa secara tertib dan memerintahkan segera
menyelesaikan seluruh pertanggungjawaban atas kegiatan tersebut serta menyetorkan
pajak yang menjadi kewajibannya sebesar Rp14.004.198,00 ke Kas Negara.
d. Direktur RSUD untuk menegur kepada Panitia Pengadaan, Panitia Pemeriksa Barang
dan Pengawas Pekerjaan yang tidak melaksanakan tugas sesuai dengan fungsinya.

78

11. Pengelolaan piutang pasien tidak tertib sehingga tidak dapat disajikan dalam
laporan keuangan

Dalam melaksanakan fungsinya di bidang pelayanan kesehatan kepada
masyarakat, RSUD menerima pembayaran atas jasa yang telah diberikan kepada pasien.
Dengan kondisi pasien yang sangat heterogen, pembayaran yang diterima tidak selalu
berupa pembayaran tunai namun juga merupakan pembayaran angsuran atau bahkan
terdapat pemberian keringanan atau penundaan pembayaran. Mekanisme tersebut
mengakibatkan timbulnya piutang pasien yang harus dikelola dengan tertib dan
diusahakan penagihannya.
Hasil penelaahan mekanisme pengelolaan piutang menunjukkan bahwa data awal
piutang pasien berasal dari Kasir Penerima RSUD melalui billing system (system
penagihan terkomputerisasi). Pada setiap akhir bulan, data pembayaran atas pasien yang
telah diperbolehkan pulang dicetak dan diantaranya menunjukkan saldo piutang yang
belum terbayar. Atas piutang yang belum terbayar tersebut, pasien diminta untuk
menandatangani surat pernyataan kesanggupan menyelesaikan piutangnya. Surat
pernyataan tersebut diantaranya memuat nilai yang terhutang dan tanggal jatuh tempo.
Hasil pemeriksaan atas pencatatan administrasi piutang pasien menunjukkan
bahwa piutang pasien tidak dikelola dengan tertib, yang dapat ditunjukkan sebagai
berikut:
a. Data piutang hasil billing system tidak menunjukkan saldo piutang yang riil.
Pemeriksaan atas data pembayaran pasien pulang versi DOS (versi Windows belum
dapat menampilkan data piutang) menunjukkan bahwa kolom saldo piutang tidak
hanya memuat saldo piutang riil, namun juga memuat saldo piutang minus (karena
kelebihan pembayaran), saldo piutang yang ternyata didiskon, saldo piutang yang
ternyata dijamin oleh penjamin seperti Askes, Jamsostek atau perusahaan penjamin.
Hal ini dapat terjadi karena beberapa alternatif kesalahan yaitu di antaranya
kesalahan input, kesalahan tidak mengidentifikasi pengalihan piutang bagi yang telah
dijamin pihak lain, kesalahan mengidentifikasi diskon dan trouble pada system.

79
b. Bukti pelunasan piutang tidak diarsip sehingga pelunasan piutang tidak dapat
ditelusuri kebenarannya
Pemeriksaan atas keabsahan pelunasan piutang pasien menunjukkan bahwa bukti
pelunasan piutang yang berupa surat pernyataan yang telah dicap lunas oleh kasir
tidak diarsip (dibuang), karena petugas kasir sudah menginputkan ke dalam billing
system. Surat penagihan yang telah dicap lunas juga tidak diarsip sehingga pelunasan
piutang sulit ditelusuri keabsahannya.

c. Surat penagihan piutang tidak diregister sehingga sulit ditelusuri kelengkapannya.
Kasubbid Mobilisasi Dana berdasarkan surat pernyataan piutang dari kasir
menerbitkan surat penagihan. Mekanisme penerbitan surat tagihan tidak tertib, yaitu
nomor surat penagihan tidak diregister dan tidak diarsipkan dengan rapi, sehingga
untuk menilai kelengkapan surat penagihan dalam satu periode sulit untuk dilakukan.
Laporan penagihan bulanan dibuat hanya untuk piutang yang telah jatuh tempo pada
bulan tersebut. Sedangkan untuk piutang secara kumulatif belum diketahui
kelengkapan penagihannya. Penagihan melalui surat dilakukan oleh Kasubbid
Mobilisasi Dana dengan diketahui oleh Kepala Bagian Keuangan. Tidak diketahui
adanya tim penagihan yang bertugas menagihkan piutang pasien.
Setelah piutang dilunasi oleh pasien, Kasubbid Mobilisasi Dana memberikan tanda
lunas pada data saldo piutang hasil cetakan billing system. Pemberian tanda lunas
tersebut tidak berdasarkan surat pernyataan yang telah dicap lunas oleh kasir, namun
dengan mengecek data pasien pada billing system yang dilakukan satu persatu. Cara
yang demikian sangat beresiko untuk dapat menyajikan data piutang yang akurat.

d. Laporan penagihan piutang tidak dikirimkan ke Bagian Keuangan sehingga mutasi
piutang tidak dibuat pembukuannya
Data mutasi piutang pada kasir berupa data piutang yang telah ditandai tersebut, tidak
dikirimkan ke Bagian Keuangan untuk dilakukan pembukuan piutang. Bagian
keuangan tidak memiliki data piutang, tidak menyelenggarakan penjurnalan dan
pemostingan pada buku besar. Pantauan atas piutang pasien, pelunasan piutang dan
saldo akhir piutang tidak dapat ditunjukkan oleh Bagian Keuangan.

80

e. Piutang tidak dapat diidentifikasi umurnya sehingga piutang yang telah kedaluwarsa
tidak dapat diketahui nilainya.
Dengan tidak dibukukannya piutang, maka umur piutang tidak dapat diketahui
sehingga penyisihan terhadap piutang-piutang yang telah kedaluwarsa tidak dapat
dilakukan. Dengan tidak dilakukannya penyisihan piutang maka biaya atas piutang-
piutang yang tidak tertagih tidak dapat dinyatakan pada laporan keuangan.

f. Piutang atas penjualan obat pada Instalasi Farmasi Komponen B dilunasi dengan
jasa pemilik modal.
Hasil pemeriksaan atas pengelolaan piutang obat pada Instalasi Farmasi Komponen B
menunjukkan terdapat sejumlah resep kredit yang diberikan kepada pasien khusus
dari kalangan DPRD, Pemda, karyawan dan tamu-tamu RSUD. Dari hasil sampling
atas beberapa bukti pelunasan piutang obat DPRD dan Pemda diketahui bahwa
pelunasan piutang tersebut dilakukan oleh manajemen Farmasi Komponen B dengan
mengurangi bagian jasa yang seharusnya diterima oleh pemilik modal (para dokter
dan apoteker). Hal tersebut ditempuh sebagai salah satu pengendalian agar pemberian
resep oleh dokter memperhatikan kemampuan pasien dalam menebus resep tersebut.

Atas kondisi pengelolaan piutang yang tidak tertib dan tidak transparan tersebut
sebagaimana diuraikan di atas, manajemen RSUD belum melakukan upaya-upaya
penyelesaian yang optimal.

Permasalahan piutang yang tidak dikelola dengan tertib tidak sesuai dengan:
a. Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2004 tanggal 14 Januari 2004 tentang
Perbendaharaan Negara pasal 34 ayat (1) Setiap pejabat yang diberi kuasa untuk
mengelola pendapatan, belanja dan kekayaan Negara/daerah wajib mengusahakan
agar setiap piutang Negara/daerah diselesaikan seluruhnya dan tepat waktu.
b. Peraturan Pemerintah Nomor 105 Tahun 2000 tanggal 10 Nopember 2000 tentang
Pengelolaan dan Pertanggungjawaban Keuangan Daerah:

81
• pasal 4 “Pengelolaan keuangan daerah dilakukan secara tertib, taat pada peraturan
perundang-undangan yang berlaku, efisien, efektif, transparan dan
bertanggungjawab dengan memperhatikan azas keadilan dan kepatutan”.
• pasal 24 ayat (1) Setiap Perangkat Daerah yang mempunyai tugas memungut atau
menerima pendapatan daerah wajib melaksanakan intensifikasi pemungutan
pendapatan tersebut.
c. Keputusan Menteri Dalam Negeri Nomor 92 Tahun 1993 tentang Penetapan dan
Penatausahaan serta Pertanggungjawaban Keuangan Unit Swadana Daerah. Pasal 13
ayat (3) Untuk keperluan pengendalian/pengelolaan keuangan dan barang Unit
Swadana Daerah, dipergunakan penatausahaan menurut Sistem Akuntansi dengan
pembukuan berpasangan.

Pengelolaan piutang yang tidak tertib mengakibatkan:
a. Nilai piutang tidak dapat disajikan dalam laporan keuangan.
b. Pelunasan piutang berpotensi menimbulkan penyimpangan.
c. Biaya penyisihan piutang tidak dapat diukur dengan tepat sehingga penghapusan
piutang yang telah kedaluwarsa tidak dapat diproses.
d. Pelunasan piutang obat untuk pasien tertentu menjadi beban Instalasi Farmasi
komponen B.

Ketidaktertiban pengelolaan piutang tersebut disebabkan :
a. Billing system atas pengelolaan piutang belum sempurna;
b. Kasir tidak memahami pentingnya pengarsipan bukti pelunasan piutang.
c. Adanya kecenderungan Kasubbid Mobilisasi dana untuk mengelola piutang secara
tidak transparan.
d. Kelalaian Kepala Bagian Keuangan dalam melaksanakan pengendalian piutang dan
menyelenggarakan pembukuan piutang pasien RSUD.
e. Kebijakan pengelola Instalasi Farmasi Komponen B yang melunasi piutang dengan
menggunakan jasa pemilik modal.


82
Sehubungan dengan permasalahan tersebut Direktur RSUD Kabupaten Banyumas
menjelaskan bahwa penagihan piutang sebenarnya bagian keuangan diberi tembusan
surat, namun demikian ada sebagian surat yang tidak dikirim, sehingga mutasi piutang
sulit dilakukan di keuangan. Pada tanggal 6 Oktober 2005, Direktur RSUD menjelaskan
bahwa pembenahan atas pengelolaan piutang telah mulai dilaksanakan dan ditertibkan.

Rekomendasi BPK-RI
BPK RI memberi rekomendasi kepada Direktur RSUD Kabupaten Banyumas untuk :
a. Menegur Kepala Bagian Keuangan yang lalai dalam melaksanakan pengawasan atas
pengelolaan piutang RSUD dan tidak menyelenggarakan pembukuan piutang;
b. Memperingatkan Kepala Sub Bidang Mobilisasi Dana yang telah mengelola piutang
secara tidak tertib dan transparan;
c. Memerintahkan kepada Kepala Bagian PDE untuk melakukan sosialisasi atas
pengelolaan piutang secara komputerize kepada petugas pada unit-unit pelayanan
sehingga kesalahan input dapat diminimalkan.
d. Memerintahkan Kepala Bagian Keuangan untuk melakukan penertiban atas
pengelolaan piutang yang meliputi:
1) Pengarsipan bukti pelunasan piutang;
2) Penyelenggaraan buku register penagihan piutang;
3) Penyelenggaraan pembukuan piutang;
4) Pembuatan laporan keuangan yang memuat data piutang RSUD.
e. Memerintahkan kepada Kepala Instalasi Farmasi untuk menghentikan cara
pembayaran piutang dengan menggunakan jasa pemilik modal dan mengupayakan
penagihan piutang yang menjadi tanggungjawabnya.


83
12. Barang inventaris dan peralatan medis yang telah rusak dengan harga
perolehan sebesar Rp34.085.000,00 belum dihapuskan

Untuk menangani pengelolaan barang inventaris dan peralatan medis di
Rumah Sakit Umum (RSU) Banyumas, telah ditetapkan pengurus barang dan
bendaharawan barang pada Sub Bagian Umum. Dalam pengelolaan barang inventaris
tersebut pengelola barang telah melakukan pembukuan, yaitu telah membuat Buku
Induk Inventaris, Buku Inventaris, Kartu Inventaris Barang dan setiap semester telah
menyampaikan kepada Bupati Banyumas berupa laporan mutasi barang.
Pemeriksaan atas dokumen pengelolaan barang inventaris diketahui bahwa
terdapat barang-barang inventaris dan peralatan medis yang telah rusak berat serta
tidak dapat dipergunakan lagi sebanyak 104 buah dengan nilai perolehan sebesar
Rp34.085.000,00 belum dikeluarkan dari pembukuan dan diusulkan penghapusannya
kepada Bupati Banyumas. Adapun rincian jumlah dan nilai barang tersebut adalah
sebagai berikut :
No. Nama Barang Jumlah Nilai Keterangan
1. Kursi putar 9 4.050.000,00 Rusak
2. Bangku bulat 12 660.000,00 Rusak
3. Meja komputer 1 450.000,00 Rusak
4. Kereta makan 2 3.000.000,00 Rusak
5. Meja dorong 3 900.000,00 Rusak
6. Kufis 2 2.000.000,00 Rusak
7. Kipas angin 3 225.000,00 Rusak
8. Sterilisator 2 2.000.000,00 Rusak
9. Kursi plastik 10 500.000,00 Rusak
10. AC 3 2.000.000,00 Rusak
11. Water heater 2 1.000.000,00 Rusak
12. Dispenser 4 1.250.000,00 Rusak
13. Kulkas 2 2.000.000,00 Rusak
14. Rak piring 1 500.000,00 Rusak
15. Suction 3 3.000.000,00 Rusak
16. Mesin tik 1 250.000,00 Rusak
17. Sterilisator kering 1 1.500.000,00 Rusak
18. Rak sepatu 10 500.000,00 Rusak
19. Kursi roda 1 900.000,00 Rusak
20. Alat radiologi 1 - Rusak
21. Bangku fiberglass 4 3.600.000,00 Rusak
22. Meja ½ biro 4 1.000.000,00 Rusak

84
23. Box bayi 5 500.000,00 Rusak
24. Almari besar 4 500.000,00 Rusak
25. Kotak saran 2 200.000,00 Rusak
26. ECT 1 500.000,00 Rusak
27. Vacum 1 1.000.000,00 Rusak
28. Calculator 10 100.000,00 Rusak
Jumlah : 104 34.085.000,00

Barang-barang tersebut tersimpan pada gudang dan tidak pernah dimanfaatkan
lagi. Pada saat pemeriksaan, Sub Bag Umum belum melaporkan kondisi kerusakan
barang tersebut kepada Direktur RSU agar dapat diproses usulan penghapusannya
kepada Bupati Banyumas.

Permasalahan barang inventaris yang telah rusak namun belum dihapuskan tersebut
tidak sesuai dengan:
a. Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 7 Tahun 1997 tanggal 14 Agustus 1997
tentang Pengelolaan Barang Pemerintah Daerah, dalam pasal 21 ayat (1) antara
lain menyebutkan bahwa setiap barang daerah yang rusak dan tidak dapat
digunakan lagi/hilang/mati, tidak efisien lagi bagi keperluan dinas dapat
dihapuskan dari daftar inventaris;
b. Peraturan Daerah Kabupaten Banyumas Nomor : 16 Tahun 2001 tanggal 22
November 2001 tentang Pengelolaan Barang Pemerintah Daerah dalam pasal 21 :
Ayat (1) disebutkan bahwa setiap barang daerah yang sudah rusak dan tidak
dapat dipergunakan lagi, dapat dihapuskan dari daftar inventaris;
Ayat (3) huruf a, Barang bergerak seperti kendaraan perorangan dinas dan
kendaraan operasional dinas ditetapkan oleh Bupati setelah memperoleh
persetujuan DPRD, sedangkan untuk barang-barang inventaris yang nilainya
relatif kecil ditetapkan dengan keputusan Bupati.

Barang inventaris yang rusak dan tidak dapat dipergunakan lagi belum
diusulkan untuk dihapuskan, mengakibatkan kondisi dan nilai barang inventaris yang
dilaporkan kepada Bupati Banyumas tidak menggambarkan keadaan yang
sebenarnya/tidak riil.

85
Permasalahan tersebut disebabkan kelalaian dari pengurus barang dan atasan
langsungnya yang belum mengusulkan penghapusan barang inventaris yang telah
rusak berat/tidak dapat dipergunakan lagi.

Sehubungan dengan permasalahan tersebut Direktur RSUD Kabupaten
Banyumas menjelaskan bahwa telah menugaskan kepada Kasub Bag Umum (Sdr.
Tjiptojo) untuk menindaklanjuti sesuai prosedur dari pemerintah kabupaten (sesuai
SOP).

Rekomendasi BPK-RI
BPK RI memberi rekomendasi kepada Direktur RSUD Kabupaten Banyumas
untuk memerintahkan Kepala Sub Bagian Umum untuk segera mengusulkan
penghapusan barang inventaris yang telah rusak berat/tidak dapat dipergunakan lagi
kepada Bupati Banyumas.


87
13. Alat kesehatan RSU Banyumas belum dilakukan kalibrasi sesuai yang
dipersyaratkan

Hasil observasi fisik alat-lat kesehatan yang terdapat pada sarana dan
prasaranan kesehatan penunjang serta hasil wawancara dengan penanggung jawab
teknis alat kesehatan pada Rumah Sakit Umum Banyumas menunjukkan bahwa alat
kesehatan yang dimiliki Rumah Sakit belum seluruhnya dilakukan kalibrasi sesuai
yang dipersyaratkan, yaitu untuk pengadaan sebelum tahun 2003 sebanyak 131 alat
kesehatan telah dilakukan kalibrasi terakhir pada tahun 2002 dan telah memiliki
sertifikat, namun sampai September 2005 belum dilakukan perpanjangan, sedangkan
alat kesehatan hasil pengadaan tahun 2003 sebanyak 26 alat belum dilakukan
kalibrasi. Sedangkan alat kesehatan hasil pengadaan tahun 2004 sebanyak 11 alat
belum berumur satu tahun dan masih dalam masa garansi toko.
Pengujian/Kalibrasi adalah merupakan keseluruhan tindakan yang meliputi
pemeliharaan fisik dan pengukuran untuk membandingkan alat ukur dengan dengan
standar untuk satuan ukuran yang sesuai guna menetapkan sifat ukurannya (Sifat
Metrologik) atau menentukan besaran atau kesalahan pengukuran, serta kegiatan
peneraan untuk menentukan kebenaran nilai penjualan alat ukur. Pengujian/Kalibrasi
atas alat-alat kesehatan seharusnya dilakukan satu kali dalam setahun oleh institusi
penguji sebagaimana diatur dalam Keputusan Menteri Kesehatan dan Kesejahteraan
Sosial Nomor : 394/MENKES-KESOS/SK/V/2001 tanggal 8 Mei 2001, institusi
tersebut dapat berbentuk Organisasi Struktural atau Fungsional yang dimiliki
pemerintah atau swasta.
Kalibrasi alat kesehatan yang telah dilakukan RSU Banyumas pada tahun 2002
dilakukan oleh Balai Pengamanan Fasilitas Kesehatan (BPFK) Direktorat Jenderal
Pelayanan Medik Departemen Kesehatan Jakarta, karena di wilayah Kabupaten
Banyumas belum ada lembaga yang bisa melakukan pengujian/kalibrasi atas alat-lat
kesehatan. Adapun alat-alat kesehatan yang wajib dikalibrasi sebanyak 122 alat
kesehatan dengan rincian terlampir pada lampiran 9.



88
Kondisi tersebut tidak sesuai dengan Peraturan Menteri Kesehatan Nomor
:363/MENKES/PER/IV/1998 tanggal 8 April 1998 tentang Pengujian dan Kalibrasi
Alat Kesehatan pada Sarana dan Prasarana Kesehatan dalam :
a. Pasal 2
. Ayat (1) disebutkan bahwa Setiap Alat Kesehatan wajib dilakukan pengujian dan
atau kalibrasi untuk menjamin kebenaran nilai keluaran kinerja dan keselamatan
pemakaian;
Ayat (2) disebutkan bahwa pengujian dan atau kalibrasi dilakukan pada alat
kesehatan yang dipergunakan di sarana pelayanan kesehatan dengan kriteria :
1) Belum mempunyai sertifikat;
2) Sudah habis jangka waktu sertifikat.
b. Pasal 4 ayat (1) disebutkan bahwa pengujian dan atau kalibrasi alat kesehatan
dilakukan oleh Instansi penguji secara berkala, sekurang-kurangnya satu kali
dalam satu tahun.

Alat kesehatan yang terdapat pada sarana pelayanan kesehatan yang belum
dilakukan pengujian dan atau kalibrasi sesuai yang dipersyaratkan, mengakibatkan
kebenaran nilai keluaran atau kinerja dan keselamatan pemakaian untuk pelayanan
kesehatan kepada masyarakat kurang terjamin.

Masalah tersebut disebabkan oleh kurangnya perhatian dari pihak rumah sakit
untuk melakukan pengujian dan atau kalibrasi alat kesehatan.

Sehubungan dengan permasalahan tersebut Direktur RSUD Banyumas
menjelaskan bahwa pihak rumah sakit telah menyusun usulan untuk pengajuan
kalibrasi dan pada saat ini data mengenai alat sedang dipilih sesuai dengan prioritas
yang lebih dulu mengingat terbatasnya dana yang tersedia. Pada tanggal 6 Oktober
2005, Direktur RSUD memberikan penjelasan tambahan bahwa RSUD telah
mengusulkan permohonan anggaran kepada Pemerintah Daerah untuk dapat
dilakukannya kalibrasi.



89
Rekomendasi BPK-RI
BPK RI memberi rekomendasi kepada Direktur RSUD Kabupaten Banyumas
untuk melakukan kalibrasi atas peralatan yang belum dikalibrasi secara bertahap
sesuai kemampuan anggaran daerah.

90

16. Pengadaan perangkat lunak dan keras komputer senilai Rp995.996.000,00
menyimpang dari ketentuan pengelolaan keuangan daerah

Dalam rangka meningkatkan sistem administrasi agar menghasilkan laporan secara
lengkap, akurat dan tepat waktu maka Rumah Sakit Umum Daerah Banyumas bermaksud
menerapkan sistem komputerisasi secara on-line untuk setiap kegiatan pelayanan dan
administrasi rumah sakit, untuk itu maka RSUD Banyumas melakukan pengadaan
perangkat lunak dan keras komputer untuk memperbaharui sistem yang telah ada agar
tujuan tersebut dapat tercapai.
Hasil pemeriksaan atas pengadaan dan pengelolaan perangkat lunak dan keras
komputer pada RSUD Banyumas menunjukkan hal-hal sebagai berikut:
a. Pekerjaan tahap I senilai Rp149.996.000,00 dilaksanakan dengan tidak cermat,
melalui penunjukan langsung, dan pembayaran tidak sesuai realisasi pekerjaan.
Berdasarkan notulen rapat pada tanggal 16 Maret 2004, didapatkan informasi
bahwa RSUD telah melakukan studi banding di beberapa rumah sakit yang
menggunakan sistem komputerisasi untuk dasar menentukan rekanan dan sistem yang
layak digunakan. Dari ke-empat sistem dari rekanan yang dikaji, peserta rapat
mengusulkan bahwa modul dari RS. Pertamina Jaya layak untuk digunakan, karena
lebih murah dan lebih dapat diaplikasikan karena telah teruji penggunaannya. Hasil
rapat tersebut selanjutnya dilaporkan kepada Direktur RSU untuk diputuskan.
Namun demikian, pada tanggal 22 September 2004 RSUD Banyumas telah
melakukan penunjukkan langsung kepada CV. Cipta Sarana Informatika (CSI)
Purwokerto untuk mengembangkan Sistem Informasi Manajemen Rumah Sakit (SIM-
RS) berupa Billing Sistem (sistem pembayaran pasien) menggunakan program
Windows dengan nilai kontrak Rp149.996.000,00 dan pekerjaan tersebut harus
diserahkan pada tanggal 5 Nopember 2004 sesuai kesepakatan yang tertuang dalam
Surat Perjanjian (Kontrak) nomor 050/1383.A/2004.
Hasil wawancara kepada ketua tim pengadaan SIM-RS diperoleh keterangan
bahwa penunjukan langsung direalisasikan disebabkan pihak CSI sebelumnya telah
bekerja sama dengan RSUD Banyumas dalam mengembangkan Sistem

91
Komputerisasi Rumah Sakit dengan menggunakan program DOS (Disk Operating
System) sehingga pihak CSI hanya mengembangkan sistem komputer yang lama
menggunakan program baru.
Adapun sistem yang akan diadakan melalui perjanjian kontrak tersebut adalah sebagai
berikut :
NO. NAMA SISTEM VOLUME HARGA (Rp)
1. Modul Registrasi & Informasi 1 Paket 34.120.000,00
2. Modul Perawatan Pasien 1 Paket 54.120.000,00
3. Modul Kas & Bank 1 Paket 48.120.000,00
Jumlah 136.360.000,00
PPN 13.636.000,00
Total 149.996.000,00

Pemeriksaan lebih lanjut atas Surat Perjanjian Kerjasama tersebut tidak diketahui
adanya detail pekerjaan yang seharusnya dikerjakan oleh rekanan, sehingga
kelengkapan atas aplikasi yang dikerjasamakan tidak dapat diketahui.
Hasil wawancara dengan tim pemeriksaan barang diperoleh penjelasan bahwa
sistem tersebut telah diserahkan kepada pihak RSUD pada tanggal yang disepakati
akan tetapi pada saat penyerahan belum dapat dipergunakan, sehingga akhirnya
dikembalikan untuk disempurnakan. Meskipun sistem tidak dapat dipergunakan,
RSUD Banyumas telah melunasi pembayaran pekerjaan tersebut pada tanggal 6
Desember 2004 sebesar Rp149.996.000,00, yang berarti tidak sesuai dengan
ketentuan dalam perjanjian yaitu pembayaran baru akan direalisasikan apabila barang
telah diterima dan dapat dipergunakan dengan baik.
Hasil wawancara dengan petugas Pengolahan Data Elektronik (PDE)
menyebutkan bahwa sistem tersebut tidak dapat digunakan disebabkan belum
tersedianya perangkat keras komputer yang memadai. Untuk mengatasi hal tersebut,
pihak CSI mengirimkan 25 unit perangkat keras komputer untuk dapat dipergunakan
oleh RSUD (dipinjamkan). Berita acara serah terima atas pengiriman komputer
tersebut tidak diketahui. Dokumen penerimaan barang dan pemeriksaan barang juga
tidak ditemukan. Sampai hari terakhir pemeriksaan belum didapat berita acara serah
terima dan berita acara pemeriksaan barang sehingga tidak diketahui secara pasti
status kepemilikan komputer tersebut.


92
Hasil pengecekan fisik dan wawancara dengan pihak PDE membuktikan bahwa
perangkat keras beserta jaringannya telah terpasang pada bulan Nopember 2004,
sehingga sistem yang dipesan RSUD semestinya sudah dapat diinstall dan
dipergunakan. Namun pada kenyataannya sistem tersebut baru dioperasikan pada
pertengahan Bulan Agustus 2005.
Hasil wawancara dengan pihak CSI, diperoleh penjelasan bahwa sistem tersebut
sudah terinstall sejak Nopember 2004, namun program masih perlu diperbaiki.
Berdasarkan laporan hasil pemeriksaan atas perkembangan SIM-RS yang
dilaksanakan oleh RSUD pada tanggal 13 Juli 2005, disimpulkan bahwa program
SIM-RS belum dapat dioperasikan.
b. Pekerjaan tahap II senilai Rp620.145.900,00 dilakukan melalui hutang tanpa
persetujuan Kepala Daerah, pembayaran angsurannya direalisasikan tanpa
mempertimbangkan prestasi fisik pekerjaan, dan penyelesaian pekerjaannya
berlarut-larut.
Meskipun pekerjaan pembuatan sistem tahap I belum diterima dengan sempurna,
pada tanggal 1 Desember 2004 pihak RSUD kembali mengadakan kerjasama dengan
CV. Cipta Sarana Informatika Purwokerto untuk mengembangkan kembali program
SIM-RS menjadi lebih sempurna sekaligus menyediakan perangkat keras komputer
beserta jaringannya senilai Rp620.145.900,00 dengan rincian untuk pengadaan
perangkat lunak senilai Rp453.200.000,00 dan untuk perangkat keras senilai
Rp166.945.900,00 dengan sistem pembiayaan oleh pihak ketiga. Pembayaran
angsuran dijadwalkan selama 36 bulan mulai Januari 2005 sampai dengan Desember
2007 dengan angsuran perbulan Rp23.500.000,00 sehingga total pembayaran sampai
akhir periode pelunasan adalah sebesar Rp846.000.000,00. Sampai hari terakhir
pemeriksaan (20 September 2005) pembayaran telah direalisasikan sebesar
Rp211.500.000,00 (9 x 23.500.000,00). Perjanjian dengan sistem pembayaran
angsuran (hutang) tersebut belum dimintakan persetujuan secara tertulis kepada
DPRD dan Bupati.
Adapun rincian pekerjaan tersebut adalah sebagai berikut:



93
URAIAN UNIT HARGA JUMLAH
1. PERANGKAT KOMPUTER
PC. Work Station :
-. Motherboard Asus P4R800,VGA ATI Radeon
9100,FSB 800, AGP 8x, ATA 100,
Audio,NIC/LAN Card 3 Com 3C 940 Giga
Byte PCI, Dual DDR PC320
- Processor Intel Pentium 4 2.4 ghz
- Memory DDR 256 MB
- Keyboard & Mouse Logitech
- Speaker Aktif
- Monitor LG 15” Digital
19 7.245.000,00 137.655.000,00
2. JARINGAN KOMPUTER :
- Kabel Belden STP CAT 6 (Shield) 3 1.195.000,00 3.585.000,00
- Switch Hub 16 Port 10/100/1000 MBPS 1 5.685.000,00 5.685.000,00
- LAN Card 1 Gb 1 450.000,00 450.000,00
- Jasa Instalasi Jaringan 20 75.000,00 1.500.000,00
- Jasa Instalasi Workstation 20 140.000,00 2.800.000,00
- Jasa Instalasi Switch Hub 1 94.000,00 94.000,00
Total Perangkat Keras 151.769.000,00
PPN 15.176.900,00
Total Pembayaran 166.945.900,00

URAIAN UNIT HARGA JUMLAH
3. PERANGKAT LUNAK :
1 Modul Apotik / Inventory 1paket 63.000.000,00 63.000.000,00
2 Modul Medical Record 1paket 56.000.000,00 56.000.000,00
3 Modul Laboratorium 1paket 12.000.000,00 12.000.000,00
4 Modul Radiologi,Mammografi,CT-Scan 1paket 13.000.000,00 13.000.000,00
5 Modul Utility 1paket 13.000.000,00 13.000.000,00
6 Modul Kepegawaian 1paket 23.000.000,00 23.000.000,00
7 Modul Gizi 1paket 16.000.000,00 16.000.000,00
8 Modul Standar asuhan Keperawatan 1paket 39.000.000,00 39.000.000,00
9 Modul Perlengkapan 1paket 22.000.000,00 22.000.000,00
10 Modul Accounting & Keuangan 1paket 73.000.000,00 73.000.000,00
Support & Maintenance (1 th ) 82.000.000,00 82.000.000,00
Nilai Perangkat Lunak 412.000.000,00
PPN 41.200.000,00
Total Pembayaran 453.200.000,00
Total Perangkat Keras dan Lunak 620.145.900,00
Total Pembayaran diangsur 36 bulan @Rp23.500.000,00 846.000.000,00
Berdasarkan tabel di atas, terdapat pembelian 19 komputer sebagaimana
tercantum dalam Surat Perjanjian. Hasil wawancara dan pengecekan fisik
menunjukkan bahwa komputer tersebut adalah komputer yang telah dikirimkan pada
bulan Nopember 2004. Dengan demikian, pengiriman 19 komputer yang dilakukan

94
pada bulan Nopember 2004 tersebut, mendahului perjanjian kerjasama yang
ditandatangani pada 1 Desember 2004.
Sesuai dengan perjanjian kerja sama Nomor 445/2060.A/2004, pekerjaan tahap II
tersebut sudah harus terinstall dan terimplementasi mulai Bulan Januari 2005.
Berdasarkan hasil pengecekan fisik, perangkat lunak SIM-RS dari hasil perjanjian
kedua belum dapat dioperasionalkan.
Berdasarkan hasil pemeriksaan di lapangan dan konfirmasi pihak PDE diketahui
bahwa beberapa komputer belum digunakan sedangkan program SIM-RS yang baru
berjalan hanya program registrasi pasien dan biaya perawatan pasien atau Billing
System, tidak ada perbedaan yang signifikan antara program yang baru (under
Windows) dengan program lama (under DOS). Sedangkan program sub sistem
lainnya belum aktif walaupun sudah terpasang. Hasil konfirmasi kepada pihak PDE
diketahui bahwa belum berjalannya sistem tersebut dikarenakan belum adanya SDM
yang mampu untuk mengoperasikan program tersebut sehingga belum diketahui
apakah program SIM-RS tersebut dapat berjalan atau tidak.
c. Perjanjian Kerjasama tidak mempertimbangkan revisi surat penawaran.
Berdasarkan hasil pemeriksaan dokumen diketahui bahwa CV. Cipta Sarana
Informatika pernah mengajukan revisi Surat Penawaran Nomor 009 / CSI / III / 2004
tanggal 15 Maret 2004 tentang Pengembangan SIM-RS berbasis Windows dengan
jenis dan kualitas yang sama dengan harga yang lebih rendah untuk perangkat lunak
maupun perangkat keras akan tetapi RSUD tidak membuat perjanjian dengan harga
yang sesuai dengan harga revisi tersebut. Perbandingan harga perjanjian pertama dan
kedua dengan harga revisi adalah sebagai berikut :









95
No. URAIAN HARGA
PERJANJIAN
HARGA
REVISI
SELISIH
1 Modul Registrasi & Informasi 34.120.000,00 22.000.000,00 12.120.000,00
2 Modul Perawatan Pasien 54.120.000,00 42.000.000,00 12.120.000,00
3 Modul Kas & Bank 48.120.000,00 35.000.000,00 13.120.000,00
4 Modul Apotik / Inventory 63.000.000,00 70.000.000,00 -7.000.000,00
5 Modul Medical Record 56.000.000,00 63.000.000,00 -7.000.000,00
6 Modul Laboratorium 12.000.000,00 12.000.000,00 0,00
7 Modul Radiologi,Mammografi 13.000.000,00 12.000.000,00 1.000.000,00
8 Modul Utility 13.000.000,00 14.000.000,00 -1.000.000,00
9 Modul Kepegawaian 23.000.000,00 25.000.000,00 -2.000.000,00
10 Modul Gizi 16.000.000,00 16.000.000,00 0,00
11 Modul Standar asuhan Keperawatan 39.000.000,00 39.000.000,00 0,00
12 Modul Perlengkapan 22.000.000,00 22.000.000,00 0,00
13 Modul Accounting & Keuangan 73.000.000,00 77.000.000,00 -4.000.000,00
Support & Maintenance (1 th ) 82.000.000,00 75.000.000,00 7.000.000,00
TOTAL 548.360.000,00 524.000.000,00 24.360.000,00

Perbedaan antara perjanjian dengan revisi penawaran dari CSI mengakibatkan RSUD
rugi minimal senilai Rp24.360.000,00 hanya untuk pengadaan perangkat lunak.

d. Inventaris komputer tidak diadministrasikan dengan tertib
Dari hasil konfirmasi pihak PDE dan pengecekan langsung di lapangan atas barang
inventaris komputer yang dimiliki RSUD Banyumas, diketahui terdapat pengadaan 47
unit komputer senilai Rp340.515.000,00 dan jaringan komputer senilai Rp39.727.800,00
tahun 2004 yang sudah terpasang di setiap unit di RSUD tetapi belum dilaporkan
kepada bendahara barang Pemerintah Daerah.
Pengadaan dan pengelolaan perangkat keras dan lunak komputer yang menyimpang
dari ketentuan tersebut tidak sesuai dengan :
a. Undang-undang Nomor 25 Tahun 1999 jo. Undang-undang Nomor 33 Tahun 2004
tentang Perimbangan Keuangan antara Pemerintah Pusat dan Daerah tanggal 19 Mei
1999 dalam Pasal 12 ayat 1 menyebutkan bahwa pinjaman daerah dilakukan dengan
persetujuan DPRD.
b. Peraturan Pemerintah Nomor : 105 Tahun 2000 tanggal 10 Nopember 2000 tentang
Pengelolaan dan Pertanggungjawaban Keuangan Daerah dalam pasal 4 disebutkan
bahwa Pengelolaan Keuangan Daerah dilakukan secara tertib, taat pada peraturan
perundangan yang berlaku, efisien, efektif, transparan dan bertanggungjawab dengan
memperhatikan azas Keadilan dan Kepatutan;

96
c. Keputusan Presiden Nomor : 80 Tahun 2003 tanggal 3 Nopember 2003 tentang
Pedoman Pelaksanaan Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah dalam pasal 3
menyebutkan bahwa Pengadaan barang/jasa wajib menerapkan prinsip-prinsip
efisien, efektif, terbuka dan bersaing, transparan, adil dan akuntabel.
d. Keputusan Menteri Dalam Negeri Nomor 29 Tahun 2002 tentang Pedoman
Pengurusan, Pertanggungjawaban dan Pengawasan Keuangan Daerah serta tata cara
penyusunan APBD, pelaksanaan Tata usaha Keuangan Daerah dan Penyusunan
Perhitungan APBD pasal 49 ayat (5) Setiap pengeluaran kas harus didukung oleh
bukti yang lengkap dan sah mengenai hak yang diperoleh oleh pihak yang menagih.
e. Keputusan Menteri Dalam Negeri dan Otonomi Daerah Nomor 11 Tahun 2001
tanggal 1 Pebruari 2001 tentang Pedoman Pengelolaan Barang Daerah pada :
Pasal 18 ayat (1) menyebutkan bahwa Biro perlengkapan/bagian perlengkapan
sebagai pusat invetarisasi barang bertanggung jawab untuk menghimpun hasil
inventarisasi barang dan menyimpan dokumen kepemilikan.
Pasal 18 ayat (2) menyebutkan bahwa Kepala Unit/satuan kerja bertanggung
jawab untuk menginventarisasi seluruh barang inventaris yang ada dilingkungan
tanggung jawabnya.
f. Pasal 18 ayat (3) menyebutkan bahwa Daftar Rekapitulasi Inventaris sebagaimana
dimaksud pada ayat (2) harus disampaikan kepada Biro Perlengkapan/bagian
perlengkapan secara periodik.

Permasalahan tersebut mengakibatkan :
a. Memboroskan keuangan daerah sebesar Rp995.996.000,00 (Rp149.996.000,00 +
Rp846.000.000,00) karena pengadaan SIM-RS belum dapat dipergunakan sedangkan
hasil yang ada tidak berbeda dengan program komputer yang lama;
b. Pinjaman sebesar Rp620.145.900,00 tidak memiliki dasar yang sah sebagai pinjaman
daerah;
c. Merugikan keuangan daerah minimal sebesar Rp24.360.000,00 karena selisih harga
barang antara perjanjian dengan surat revisi penawaran.
d. Komputer dan jaringan belum dicatat sebagai inventaris sehingga rawan untuk
disalahgunakan.

97

Hal tersebut disebabkan :
a. Direktur RSU mengabaikan ketentuan tentang prosedur pinjaman daerah dan
ketentuan tentang pengadaan barang dan jasa pemerintah;
b. Tim pengadaan barang tidak melaksanakan tugas dan tanggungjawabnya, yaitu:
1) Tidak merencanakan kebutuhan barang secara cermat;
2) Tidak melakukan pengadaan barang sesuai dengan ketentuan yang berlaku.
3) Tidak memonitor pekerjaan pihak rekanan apakah sesuai dengan perjanjian atau
tidak.
4) Tidak memperhatikan surat revisi kerjasama yang ditawarkan CV. Cipta Sarana
Informatika.
c. Tim pemeriksa barang tidak melaksanakan tugasnya untuk menentukan kelengkapan
barang yang diterima sehingga dapat direalisasikan pembayaran;
d. Pemegang kas lalai dalam melaksanakan tugasnya merealisasikan pembayaran tanpa
adanya bukti-bukti yang sah untuk dapat dibayarkan.

Sehubungan dengan permasalahan tersebut Direktur RSUD menjelaskan bahwa
pengadaan software tidak dapat langsung diimplementasikan karena membutuhkan
kesiapan SDM. Pembelian software yang dilakukan RSUD bukan pembelian dalam arti
yang sebenarnya tetapi RSUD membayar jasa pelayanan untuk pembuatan software yang
masih dalam konsep pengembangan dan masih memerlukan masukan dari pihak RSUD
sehingga mundurnya pelaksanaan merupakan risiko yang tidak bisa dihindarkan. Tidak
siapnya program aplikasi karena banyaknya modul yang harus dikerjakan dan saling
terkait menyebabkan mundurnya pelaksanaan implementasi, sehingga hal tersebut perlu
disikapi dengan fleksibel dan kebijakan yang tepat agar tidak merugikan kedua belah
pihak. Proses pembangunan sistem informasi pada prinsipnya tidak akan pernah selesai
jika program tersebut dinyatakan selesai oleh rekanan dan meninggalkan RSUD maka
RSUD akan mengalami kerugian.
Pada tanggal 1 Oktober 2005 pihak RSUD menyampaikan evaluasi program aplikasi
SIMRS dengan hasil beberapa modul belum berjalan yaitu Modul Laboratorium, Modul
Radiologi, Mammografi, CT-Scan, Modul Kepegawaian, Modul Gizi, Modul

98
Perlengkapan dan Modul Accounting & Keuangan. Adapun Modul yang berjalan baru
Billing Sistem.

Rekomendasi BPK-RI
BPK RI memberi rekomendasi kepada :
a. Ketua DPRD Kabupaten Banyumas agar memberitahukan kepada Bupati untuk
mengelola pinjaman daerah sesuai ketentuan pengelolaan pinjaman daerah;
b. Bupati Banyumas untuk menegur Direktur RSUD yang telah merealisasikan
pinjaman daerah tanpa persetujuan Kepala Daerah dan DPRD serta memerintahkan
untuk mengajukan usulan revisi perjanjian kerjasama pembiayaan pengadaan
perangkat lunak dan keras komputer yang akan disepakati oleh Pemerintah Daerah
dan Pihak Ketiga dengan memperhatikan:
1) Surat Revisi Penawaran dari CV. CSI;
2) Penyelesaian pekerjaan pada saat revisi perjanjian dibuat;
3) Rincian item-item pekerjaan yang menjadi kewajiban pihak ketiga;
4) Penjadwalan kembali masa pembayaran dan besarnya angsuran yang disepakati
oleh kedua belah pihak sepanjang tidak merugikan negara.
c. Direktur RSUD untuk memantau penyelesaian pekerjaan oleh pihak ketiga sesuai
kesepakatan yang tertuang dalam Kontrak Nomor 445/2060.A/2004 dan menarik
kerugian karena selisih harga barang minimal senilai Rp24.360.000,00 untuk
diakomodasi dalam revisi surat perjanjian yang akan disepakati oleh Pemerintah
Daerah dan pihak ketiga;
d. Direktur RSUD untuk menegur Panitia Pengadaan dan Pemeriksa Pekerjaan yang
mengabaikan tanggung jawabnya untuk mengadakan perangkat keras dan lunak
komputer secara tertib;
e. Direktur RSUD untuk melakukan pendiklatan kepada pegawai-pegawai yang terkait
dengan pengoperasian program komputer yang telah diadakan untuk meminimalkan
ketidakefektifan pengadaan software dan hardware komputer.
f. Direktur RSUD agar memerintahkan kepada Kepala Sub Bagian Umum bekerjasama
dengan Kepala Bidang PDE untuk menginventaris komputer dan perangkatnya yang
berasal dari pengadaan tahun 2004 dengan tertib.

99
15. Asset tanah seluas 1500 m2 di kompleks RSUD Banyumas dikuasai instansi
lain

RSUD Banyumas berdiri di atas tanah seluas 46.560 m2 di desa Kejawar,
Kecamatan Banyumas Kabupaten Banyumas. Dalam rangka membantu kelancaran
tugas – tugas kantor BKKBN di daerah maka Pemda Kabupaten Banyumas pada
tanggal 26 Maret 1973 telah memberikan izin kepada Kepala BKKBN Propinsi Jawa
Tengah untuk memakai secara cuma-cuma sebagian tanah RSUD Banyumas seluas
60 x 25 m (1500 m2) untuk didirikan balai diklat BKKBN Kabupaten Banyumas.
Pada Tahun 1999, Bupati Banyumas telah mempersiapkan konsep perjanjian
pinjam pakai tanah RSUD Banyumas antara Pemda Kabupaten Banyumas dengan
kepala Kantor BKKBN Kabupaten Banyumas. Konsep tersebut telah mengatur hak
dan kewajiban kedua belah pihak, yang pada intinya penguasaan tanah tersebut masih
dibawah kewenangan Pemda Kabupaten Banyumas (dhi. RSUD Banyumas) dan
pihak Kantor BKKBN dapat memanfaatkannya sepanjang pihak RSUD Banyumas
belum memerlukan untuk keperluan yang sangat mendesak atau untuk pembangunan
dan pengembangan RSUD. Namun demikian, konsep tersebut pada kenyataannya
belum ditandatangani oleh pihak-pihak yang berkepentingan, sehingga konsep
tersebut belum dapat dipergunakan sebagai dasar pengaturan hak dan kewajiban
kedua belah pihak.
Hasil konfirmasi dengan Direktur RSUD dan Kepala Kesekretariatan RSUD
Banyumas, didapatkan informasi bahwa dalam rangka peningkatan pelayanan, RSUD
Banyumas sangat memerlukan pengembangan RSUD di lahan yang telah dimilikinya,
termasuk tanah yang ditempati Diklat BKKBN di Kabupaten Banyumas. Salah satu
upaya yang telah dilakukan oleh RSUD Banyumas untuk mengambilalih penguasaan
hak pakai atas tanah tersebut, antara lain dengan meminta Bupati Banyumas untuk
memproses pengambilalihan penggunaan tanah tersebut dari Diklat BKKBN Propinsi
Jawa Tengah melalui Surat Direktur RSUD Nomor 031/1199/2004 tanggal 28
Agustus 2004.
Hasil konfirmasi dengan Kepala Diklat BKKBN Propinsi Jateng wilayah
Banyumas didapatkan keterangan bahwa BKKBN akan mengikuti ketentuan yang

100
berlaku tentang pengelolaan asset daerah, termasuk di antaranya pengaturan masalah
tanah pemerintah daerah Kabupaten Banyumas yang sedang dipergunakan oleh
instansinya dan apabila proses pengambil alihan tanah tersebut berhasil Kepala
Diklat mengharapkan agar pihak RSUD mempertimbangkan masalah Sumber Daya
(Pegawai) Diklat BKKBN. Kepala Diklat menjelaskan bahwa para pegawai tersebut
sudah bekerja di kantor Diklat relatif lama dan sebagian besar sudah menjadi
penduduk setempat (bermukim di sekitar RSUD).
Sampai dengan saat pemeriksaan berakhir, 22 September 2005, tanah RSUD
tersebut masih dalam penguasaan Kantor Diklat BKKBN dan proses pengambilalihan
tanah tersebut belum selesai.

Permasalahan tersebut tidak sesuai dengan Surat Perjanjian Pinjam Pakai
dengan Sertifikat Hak Pakai Nomor 00004 yang terletak di Desa Kejawar Kecamatan
Banyumas yang selanjutnya disebut Tanah Pemda Kab Banyumas c.q. Rumah Sakit
Umum Banyumas dalam sertifikat tanah disebutkan bahwa lamanya hak berlaku
selama dipergunakan untuk Rumah Sakit Umum Banyumas.

Tanah RSUD yang dikuasai pihak lain mengakibatkan RSUD tidak dapat
memanfaatkan tanah tersebut untuk melakukan pengembangan RSUD.

Adanya tanah RSUD yang dikuasai pihak lain disebabkan pihak RSUD dan
Pemerintah Daerah kurang proaktif dalam mengupayakan pengambilalihan tanah
tersebut.

Sehubungan dengan permasalahan tersebut Direktur RSUD Kabupaten Banyumas
menjelaskan sependapat dengan permasalahan tersebut dan akan menindaklanjuti
sesuai saran BPK. Pada tanggal 6 Oktober 2005, Direktur RSUD memberikan
tambahan penjelasan bahwa RSUD telah melakukan langkah-langkah koordinasi
dengan Pemerintah Kabupaten Banyumas untuk menindaklanjuti permasalahan ini.
Untuk selanjutnya Pemerintah Daerah akan menunggu jawaban dari pihak yang
terkait.

101
Rekomendasi BPK-RI
BPK RI memberikan rekomendasi kepada Bupati Banyumas untuk mengupayakan
pengambilalihan hak atas tanah yang dipergunakan oleh Diklat BKKBN Propinsi
Jawa Tengah dengan mempertimbangkan keberadaan pegawai instansi yang
bersangkutan.


102
Perhitungan Bagi Hasil Pendapatan Administrasi
Tahun 2004 - 2005

Bulan/Tahun Setoran ke Kasda Bagi hasil
Rawat Inap Rawat Jalan Jumlah 50%
2004
Jan 2,139,250 5,915,100 8,054,350 4,027,175
Feb 1,453,000 4,289,500 5,742,500 2,871,250
Mar 1,785,000 5,355,700 7,140,700 3,570,350
Apr 1,694,250 4,696,750 6,391,000 3,195,500
Mei 1,806,000 4,541,000 6,347,000 3,173,500
Jun 1,699,750 4,549,750 6,249,500 3,124,750
Jul 1,738,750 4,896,500 6,635,250 3,317,625
Agust 1,729,750 4,818,750 6,548,500 3,274,250
Sep 1,582,750 4,261,250 5,844,000 2,922,000
Okt 1,618,250 4,439,000 6,057,250 3,028,625
Nop 1,765,500 4,766,750 6,532,250 3,266,125
Des 1,735,250 5,292,500 7,027,750 3,513,875
Jumlah I 20,747,500 57,822,550 78,570,050 39,285,025

2005
Jan 1,651,000 5,093,250 6,744,250 3,372,125
Feb 1,434,000 4,852,750 6,286,750 3,143,375
Mar 1,648,500 4,922,250 6,570,750 3,285,375
Apr 1,562,506 4,649,750 6,212,256 3,106,128
Mei 1,652,000 5,044,250 6,696,250 3,348,125
Jun 1,514,250 4,823,750 6,338,000 3,169,000
Jul 1,658,000 4,723,000 6,381,000 3,190,500
Agust 1,437,000 4,937,750 6,374,750 3,187,375
Jumlah II 12,557,256 39,046,750 51,604,006 25,802,003
Jumlah I + II 33,304,756 96,869,300 130,174,056 65,087,028


103
Lampiran : 2

PENERIMAAN SEWA DIKLAT

No Tgl Kunjungan Nama Instansi Biaya Diklat

1 28 Januari 2004 RSU Temanggung 150,000.00
2 04 Februari 2004 RSU Cilegon 150,000.00
3 12 Februari 2004 RSU Telogorejo 150,000.00
4 19 Februari 2004 RSU Cilacap 150,000.00
5 28-Apr-04 RSU Dr Soemarno Kaltim 150,000.00
6 06 Mei 2004 RSU Majenang 150,000.00
7 5-7 Mei 2004 RSU Labuang Baji Makasar 150,000.00
8 12 Mei 2004 RSU Wonosobo 150,000.00
9 19 Mei 2004 RSU Kardinah Tegal 150,000.00
10 15 Juni 2004 Bapelkes Gombong 150,000.00
11 14-15 Juni 2004 RSU Simeuleu 150,000.00
12 27 Juli 2004 RSU Palembang Bari 150,000.00
13 28 Juli 2004 RSU Gunung Sitoli 150,000.00
14 31 Agustus 2004 RSU Arjawinangun Cirebon 150,000.00
15 2-Sep-04 Bapelkes Gombong 150,000.00
16 14-Sep-04 RSJ Soeharto Heerdjan Jakarta 150,000.00
17 RSU Tugurejo 150,000.00
Jumlah I 2,550,000.00
Tahun 2005
1 17 Februari 2005 RS Sarila Husada Sragen 150,000.00
2 23 Februari 2005 RSU Kayu Agung Sumsel 150,000.00
3 17 Maret 2005 Dinkes kota Depok 150,000.00
4 01 Juni 2005 RSUD Dr Soeselo Slawi 150,000.00
5 23 Juni 2005 RSUD Wates 150,000.00
6 29 Juni 2005 RSU Ambarawa 150,000.00
7 31 Agustus 2005 RSU Islam Harapan Anda 150,000.00
Jumlah II 1,050,000.00
Jumlah I dan II 3,600,000.00


104
Lampiran : 3
Rakapitulasi potongan langsung jasa KSO
Tahun 2004 - 2005

EEG CT Scan
2,004 Potongan Setoran Dokter Pasien Selisih Potongan Setoran Dokter Jml Pasien Selisih
Jan 1,235,000 1,167,000 - 18

(68,000) 9,425,000 10,887,500 - 67 1,462,500
Feb 2,080,000 2,340,000 - 260,000 3,087,500 3,900,000 - 24 812,500
Mar 4,190,000 4,225,000 220,000 44 255,000 2,112,500 2,762,500 - 17 650,000
Apr 4,200,000 3,705,000 285,000 57

(210,000) 7,800,000 9,587,500 - 59 1,787,500
Mei 3,220,000 3,185,000 245,000 49 210,000 9,912,500 12,187,500 - 75 2,275,000
Jun 2,800,000 2,795,000 215,000 43 210,000 13,975,000 15,275,000 - 94 1,300,000
Jul 3,570,000 4,420,000 340,000 68 1,190,000 14,462,500 15,275,000 - 94 812,500
Agust 3,010,000 2,990,000 230,000 46 210,000 17,550,000 18,687,500 - 115 1,137,500
Sep 3,570,000 3,250,000 250,000 50

(70,000) 17,225,000 20,312,500 - 125 3,087,500
Okt 2,310,000 1,885,000 145,000 29

(280,000) 13,812,500 15,112,500 - 93 1,300,000
Nop 2,030,000 1,690,000 130,000 26

(210,000) 16,575,000 17,875,000 - 110 1,300,000
Des 4,060,000 3,380,000 260,000 52

(420,000) 16,250,000 17,550,000 - 108 1,300,000
Jumlah 36,275,000 35,032,000 2,320,000 482 1,077,000 142,187,500 159,412,500 - 981 17,225,000

2,005
Jan 3,900,000 3,380,000 260,000 52

(260,000) 16,900,000 19,337,500 - 119 2,437,500
Feb 3,150,000 2,730,000 210,000 42

(210,000) 13,000,000 14,462,500 - 89 1,462,500
Mar 2,870,000 2,730,000 210,000 42 70,000 19,825,000 20,312,500 - 125 487,500
Apr 1,820,000 1,560,000 120,000 24

(140,000) 21,287,500 23,400,000 - 144 2,112,500

105
Mei 3,500,000 3,640,000 280,000 56 420,000 22,910,000 27,300,000 - 168 4,390,000
Jun 3,290,000 3,665,000 205,000 41 580,000 21,637,500 23,725,000 - 146 2,087,500
Jul 2,310,000 1,275,000 175,000 35

(860,000) 17,062,500 20,962,500 - 129 3,900,000
Agust 2,730,000 - -

(2,730,000) 20,637,500 - - (20,637,500)
Jumlah 23,570,000 18,980,000 1,460,000 292

(3,130,000) 153,260,000 149,500,000 - 920 (3,760,000)
Total 59,845,000 54,012,000 3,780,000 774

(2,053,000) 295,447,500 308,912,500 - 1,901 13,465,000








106
Penghitungan Potongan Kasir Lampiran : 4

Saldo 31/12/2003 40,328,068
Dikurangi:
Setoran EEG Des 2003 1/6/2004 2,210,000

Setoran CT SCAN Des
2003 1/12/2004 9,425,000
Setoran Darah Des 2003 1/7/2004 13,769,700
Jumlah 25,404,700 25,404,700
Ditambah :
Potongan 2004 663,390,650
Potongan 2005 578,594,000
Jumlah 1,241,984,650 1,241,984,650
Dikurangi :
Setoran 2004 664,942,050
Setoran 2005 474,378,500
Jumlah 1,139,320,550 1,139,320,550
Dikurangi:
Setoran salah potong yang 5/10/2005 5,025,000 5,025,000

telah dikembalikan ke Kas
RSU
Total kewajiban kasir 112,562,468
Rekening giro per
31/8/2005 99,443,415

Kewajiban tunai kasir per
31/8/2005 13,119,053


107
Pendapatan Privat Dokter Lampiran : 5
Tahun 2004 - 2005

Bulan/Tahun Jml Pasien Dokter Anesthesi Askep Jumlah Dana Taktis
Mutasi + Mutasi - Saldo
2004
Saldo awal 20,420,104
Jan 56 32,375,000 9,708,342 2,627,092 44,710,434 2,104,167 - 22,524,271
Feb 27 15,125,000 4,708,339 1,257,189 21,090,528 973,917 1,960,000 21,538,188
Mar 52 33,125,000 10,208,342 2,712,192 46,045,534 2,166,667 1,695,000 22,009,855
Apr 44 26,375,000 8,208,341 2,150,524 36,733,865 1,729,167 1,600,000 22,139,022
Mei 26,000,000 7,916,678 2,305,007 36,221,685 1,695,834 - 23,834,856
Jun 38 24,500,000 7,916,672 1,945,422 34,362,094 1,620,834 - 25,455,690
Jul 60 39,500,000 12,416,674 3,284,174 55,200,848 2,550,001 - 28,005,691
Agust 40 22,875,000 7,125,007 1,568,755 31,568,762 1,500,000 5,145,000 24,360,691
Sep 48 29,125,000 9,208,341 2,422,091 40,755,432 1,916,667 1,600,000 24,677,358
Okt 30 17,126,000 5,376,004 1,423,764 23,925,768 1,125,000 1,600,000 24,202,358
Nop 42 23,626,000 7,000,006 1,990,006 32,616,012 1,531,250 - 25,733,608
Des 60 39,500,000 12,416,674 3,284,174 55,200,848 2,595,834 - 28,329,442
Jumlah I 497 329,252,000 102,209,420 26,970,390 458,431,810 21,509,338 13,600,000

2005
Jan 65 42,875,000 13,791,680 3,567,931 60,234,611 2,833,334 - 31,162,776
Feb 51 33,250,000 10,916,681 2,769,182 46,935,863 2,208,334 4,395,000 28,976,110
Mar 70 37,375,008 11,041,688 3,100,440 51,517,136 2,420,835 1,600,000 29,796,945
Apr 52 28,875,004 8,541,680 2,395,431 39,812,115 1,870,834 1,600,000 30,067,779
Mei 57 31,250,000 9,250,013 2,592,514 43,092,527 2,025,001 - 32,092,780
Jun 50 32,875,000 10,041,878 2,730,429 45,647,307 2,145,830 1,800,000 32,438,610
Jul 52 29,500,000 9,166,676 2,451,676 41,118,352 1,933,334 - 34,371,943
Agust 35 20,000,000 6,083,338 1,640,838 27,724,176 1,304,167 10,525,000 25,151,110
Jumlah II 432 256,000,012 78,833,634 21,248,441 356,082,087 16,741,668 19,920,000
Jumlah I + II 929 585,252,012 181,043,054 48,218,831 814,513,897 38,251,006 33,520,000

108
LAMPIRAN : 7
LAMPIRAN PEMAKAIAN DANA INVESTASI
SUMBER : SPJ

TGL URAIAN PENGGUNAAN NILAI

27-08-2005 Transpor Chief Anestasi 140,000.00
6/4/2005 Pembelian Gelas Ukur 90,000.00
16-07-2005 Pemakaman Jenazah 250,000.00
26-08-2005 Pembelian Kunci 28,000.00
18-06-2005 Pembelian Selot 32,500.00
13-08-2005 Pembelian cat dll 84,000.00
Biaya penguburan pasien (2 org) 500,000.00
24-08-2005 Pemeliharaan taman 200,000.00
17-05-2005 Perlengkapan sumur IRM 3,050,000.00
17-05-2005 Ongkos pengeboran sumur IRM 4,375,000.00
Perpipaan sumur IRM 760,000.00
5/10/2004 KM/WC R Flamboyan 26,046,000.00
5/10/2005 Pembelian bata dan pasir R Flambyn 2,920,000.00
…-10-2004 Pembl Sandaran dan pengaman t tdr 5,289,000.00
22-10-2004 Perbaikan taman depan IGD 375,000.00
…-10-2004 2 set sandaran dan pengaman t tdr R Anggrek 900,000.00
27-01-2005 Penambahan R Gizi 18,982,500.00
10/9/2005 Ongkos kebersihan taman dan kebun 105,000.00
Ongkos pengecatan ruang Gardena 450,000.00
10/9/2005 Ongkos Tenaga perkayuan 572,500.00
1/9/2005 Ongkos tenaga renovasi R Residen & Coas Unit II 1,992,000.00
Ongkos pengecatan R ICU 750,000.00
25-08-2005 Ongkos Tenaga perkayuan 465,000.00
Ongkos Pengecatan R Cempaka dan ICU 935,000.00
Ongkos pertukangan batu 220,000.00
20-08-2005 Pengecatan R Adelweis, Anggrek dan Bougenvile 6,598,000.00
20-08-2005 Pengecatan marka jalan rumah sakit 3,030,000.00

Jumlah 79,139,500.00
14-02-2005 Membayar Angsuran ke II SIM RS 23,500,000.00
27-10-2004 Dipinjam IPRRS 34,607,000.00
9/5/2005 Pembuatan Sumur bor IRM 12,770,000.00
21-01-2005 Pekerjaan ruang gizi 18,982,500.00
Jumlah 168,999,000.00


109


NO BULAN LABA BIAYA LABA BERSIH PEMBAGIAN KEUANTUNGAN KASDA

DENGAN
BIAYA TANPA BIAYA SELISIH
1 Januari 95,443,400.00 5,787,500.00 89,655,900.00 35,862,360.00
38177360
2315000
2 Februari 134,859,240.00 7,783,750.00 127,075,490.00 50,830,196.00 53943696 3113500
3 Maret 150,006,000.00 6,987,300.00 143,018,700.00 57,207,480.00 60002400 2794920
4 April 173,996,700.00 7,320,000.00 166,676,700.00 66,670,680.00 69598680 2928000
5 Mei 203,628,600.00 9,180,000.00 194,448,600.00 77,779,440.00 81451440 3672000
6 Juni 183,959,150.00 8,262,500.00 175,696,650.00 70,278,660.00 73583660 3305000
7 Juli 137,857,480.00 8,650,000.00 129,207,480.00 51,682,992.00 55142992 3460000
8 Agustus 111,808,900.00 12,628,700.00 99,180,200.00 39,672,080.00 44723560 5051480
9 September 120,631,570.00 8,272,750.00 112,358,820.00 44,943,528.00 48252628 3309100
10 Oktober 130,698,695.00 8,736,250.00 121,962,445.00 48,784,978.00 52279478 3494500
11 Nopember 144,746,750.00 7,474,500.00 137,272,250.00 54,908,900.00 57898700 2989800
12 Desember 81,006,545.00 8,035,000.00 72,971,545.00 29,188,618.00 32402618 3214000
Jumlah 1,668,643,030.00 99,118,250.00 1,569,524,780.00 627,809,912.00 667457212 39647300

1 Januari 100,064,250.00 11,405,000.00 88,659,250.00 35,463,700.00 40025700 4562000
2 Februari 105,844,814.00 6,055,000.00 99,789,814.00 39,915,925.60 42337925,60 2422000
3 Maret 125,782,850.00 6,385,000.00 119,397,850.00 47,759,140.00 50313140 2554000
4 April 184,429,059.00 7,200,000.00 177,229,059.00 70,891,623.60 73771623,60 2880000
5 Mei 147,379,030.00 7,520,250.00 139,858,780.00 55,943,512.00 58951612 3008100
6 Juni 134,044,548.00 10,239,600.00 123,804,948.00 49,521,979.20 53617819,20 4095840
7 Juli 149,497,009.00 7,902,500.00 141,594,509.00 56,637,803.60 59798803,60 3161000
Jumlah 947,041,560.00 56,707,350.00 890,334,210.00 356,133,684.00 378816624,00 22682940





110
Lampiran : 9

DAFTAR ALAT KESEHATAN RSU BANYUMAS YANG WAJIB KALIBRASI

NO NAMA ALAT MERK/TYPE
THN
PENGADAAN RUANG
1 Vacuum Ectractive ( elektrik ) Hanshin/H - 500X APBN 2003
2 Vacuum Ectractive ( elektrik ) Hanshin/H - 500X APBN 2003
3 Antepartum Fetal Monitor BD - 4000 HUNLIEGH UK APBN 2003 VK
4 Infant Radiant Warmer DAVID NING BD/ CHINA APBN 2003 VK
5 USG ( Ultrasonography ) Kontron/Iris 880 CE/985176 Radiologi
6 USG ( Ultrasonography ) Toshiba/SAL - 32 B/2534567 Unit II ( km bersalin )
7 CT Scan Hitachi / WSSO/27 Radiologi
8 X - Ray Sanye/X6501/9351 Radiologi
9 X - Ray Siemens/Ergophos 4/3028515 Radiologi
10 X - Ray Hitachi DR - 155 VO 11 Radiologi
11 X - Ray Mobile Siemen Radiologi
12 Suction pump Yamamoto/Gliken/Y65-810 ICU
13 Suction pump Schuco/5711-230/1289383 Kanthil
14 Suction pump Medi-pump/1132-2 ICU
15 Vacccum pump ( Suction pump ) Smat/DXT-1/67-161 IBS
16 Vacccum pump ( Suction pump ) H-500 VK
17 Vacccum pump ( Suction pump ) H-500 VK
18 Suction pump Ameda/Universal 30 II/AE 609003 Anggrek
19 Suction pump Ameda/Universal 30 II/AE 609005 Flamboyan
20 Suction pump Yamamoto/YGN - 810 HD
21 Defibrilator Odam/minidef II/W144210640 ICU
22 Defibrilator Odam/difigrad - m/835-87-5 IGD

111
23 ECG Kenz/ECG 103/9302-4516 Fisioteraphy
24 ECG Kenz/ECG 107/6127-5913 ICU
25 ECG Monitor Odam/sm- 785/93060142 ICU
26 ECG Monitor Physiogard sm- 786/93160145 ICU
27 ECG Kenz/ECG 106/6056-7379 IGD
28 ECG Fukuda/cardisuny/501B-III Poli Jantung
29 ECG Kenz/ECG 108/9302-4516 Fisioteraphy
30 Photometer Boehringer/photometer 4010 Laboratorium
31 Photometer DTN 410 Laboratorium
32 Auto analizer KHT 410 Laboratorium
33 Centrifuge Gemmy / KAT - 410/89004384 Laboratorium
34 Centrifuge ( mikrohematokrit ) DSC- 024 MH/9605013-7 Laboratorium
35 Centrifuge ( mikrohematokrit ) A/DSC-158/90121905 Laboratorium
36 Price Trace 30 Trace 30 Laboratorium
37 Haematologi Mocros 60 Laboratorium
38 Analyzer Na+ K+ CL- Llyte Laboratorium
39 Timbangan analitik Satornus/BP 211 D Laboratorium
40 Ultra Short Wave Diathermy ( SWD ) Shanghai LDT OD 31/210 Fisioteraphy
41 SWD DR. Morton/Model MP-78 Fisioteraphy
42 Micro Wave Teraphy Appartus( MWD ) OG /Giken ME-210/98021E Fisioteraphy
43 Accusonic 1,2,3 MHz Metron / AC 400/2320 Fisioteraphy
44 EEG Biolog System Fisioteraphy
45 Nebulizer Medic Acid Fisioteraphy
46 Ventilator Airx- home ICU
47 Ventilator ICU
48 Ventilator Hamilton Medrophae/2419 ICU
49 Syringe pump JMS/Model sp-500 ICU

112
50 Syringe pump TERUMO Model 118 ICU
51 Nebulizer KQW - 4B Kanthil
52 Anaeshtesi Soft Landerst 306 IBS
53 Anaeshtesi Soft Landerst SL 180 IBS
54 Anaeshtesi Villa IBS
55 Anaeshtesi Acoma IBS
56 Anaeshtesi IGD
57 Autoclave Hiroyama/HI - 36 ISS
58 Autoclave Hiroyama/HI - 36/981091427 ISS
59 Autoclave Hiroyama/HI - 36/850491549 ISS
60 Ventilator Muraco/Villa/243 IBS
61 Ventilator Acoma/AC 3000a/870 IBS
62 Sterilisator kering Memmert/400/D06060 IBS
63 ESU Captain/SM 2000 F IBS
64 ESU Captain SM 200 F IBS
65 Echo Sounder ES-102EX/Hadeco VK
66 Infant Incubator CMD 91/Meditec VK
67 Tensimeter Riester/NP S/N : 00569538 P3K
68 Tensimeter Smic/Desk Mercurial VK
69 Tensimeter Smic/Desk Mercurial VK
70 Tensimeter Riester/NP VK
71 Tensimeter Riester/NP 17244 stand model VK
72 Tensimeter Smic/Desk Mercurial stand model VK
73 Tensimeter Smic/ Desk Mercurial Anggrek
74 Tensimeter Smic/ Desk Mercurial Anggrek
75 Tensimeter Smic/ Desk Mercurial Anggrek
76 Tensimeter Riester/NP Anggrek

113
77 Tensimeter Riester/NP S/N : 010714323 Bougenville
78 Tensimeter Riester/NP S/N : 94654 Bougenville
79 Tensimeter Smic/ Desk Mercurial Bougenville
80 Tensimeter Smic/ Desk Mercurial Bougenville
81 Tensimeter Riester/NP 72814 Cempaka
82 Tensimeter Smic/ Desk Mercurial Cempaka
83 Tensimeter Riester/NP S/N : 961141884 Dahlia
84 Tensimeter Smic/ Desk Mercurial Edelwais
85 Tensimeter Smic/ Desk Mercurial Edelwais
86 Tensimeter Riester/ NP Edelwais
87 Tensimeter Smic/ Desk Mercurial Flamboyan
88 Tensimeter Smic/ Desk Mercurial Flamboyan
89 Tensimeter Riester / NP S/N : 010300054 Fisioteraphy
90 Tensimeter Smic/ Desk Mercurial Gardena
91 Tensimeter Smic/ Desk Mercurial Gardena
92 Tensimeter Riester / NP S/N : 0002594446 Gardena
93 Tensimeter Riester /NP HD
94 Tensimeter Smic/ Desk Mercurial IGD
95 Tensimeter Riester /NP IGD
96 Tensimeter Riester /NP IGD
97 Tensimeter Kosan/Sphygmomanometer IGD
98 Tensimeter Riester/NP stand Model IGD
99 Tensimeter Riester/NP S/N : 926092 Kanthil
100 Tensimeter Smic/ Desk Mercurial Kanthil
101 Tensimeter Riester/ NP Sakura
102 Tensimeter Riester/NP S/N : 010300054 Paviliun III
103 Tensimeter Smic/ Desk Mercurial Poli Syaraf

114
104 Tensimeter Smic/ Desk Mercurial Poli Umum
105 Tensimeter Smic/ Desk Mercurial Poli Umum
106 Tensimeter Smic/ Desk Mercurial Poli Jiwa
107 Tensimeter Smic/ Desk Mercurial Poli Orthopaedi
108 Tensimeter Riester/NP S/N : 921679 Bedah Minor ( UGD )
109 Tensimeter Rk meter/300/S/N Poli Mata
110 Tensimeter Meiden S/N Poli Obsgyn
111 Tensimeter Riester/NP Poli Obsgyn
112 Tensimeter Smic/ Desk Mercurial Poli Obsgyn
113 Tensimeter ALPK 2 - S/N Poli Anak
114 Tensimeter Riester/NP S/N : 99250 Poli Bedah
115 Tensimeter Smic Desk Mercurial S/N Poli Dalam
116 Tensimeter Riester/NP S/N : 011022453 Poli Jantung
117 Tensimeter Riester/NP S/N : 011022438 Poli Bedah Minor
118 Tensimeter Riester/NP S/N : 011022282 Poli Umum
119 Tensimeter Riester/NP S/N : 14145 Poli THT
120 Tensimeter Smic/ Desk Mercurial Poli Gigi
121 Tensimeter Riester/NP S/N : 0201817663 Wijaya Kusuma
122 Tensimeter Kramer/Anaroid S/N : 52482-803 Radiologi

DAFTAR ISI RESUME HASIL PEMERIKSAAN............................................................ 1

BAB I. GAMBARAN UMUM 1. Tujuan Pemeriksaan.............................................................................................. 4 2. Sasaran Pemeriksaan............................................................................................ 4 3. Metode Pemeriksaan.............................................................................................. 4 4. Jangka Waktu Pemeriksaan................................................................................... 4 5. Obyek Pemeriksaan............................................................................................... 4 a. Dasar Hukum Pendirian, Tujuan Rumah Sakit Umum Daerah, Bidang Usaha.............................................................................................................. 5 1) Dasar Hukum Pendirian........................................................................... 5 2) Tujuan Rumah Sakit Umum Daerah........................................................ 5 3) Bidang Usaha........................................................................................... 5 7 b. Organisasi........................................................................................................ c. Personalia........................................................................................................ 8 d. Data Keuangan dan Kinerja RSUD.............................................................. 9 1) Anggaran dan 9 Realisasi........................................................................ 9 a) Anggaran dan Realisasi Pendapatan................................................... 10 b) Anggaran dan Realisasi Belanja........................................................ 11 2) Ratio Kinerja 12 RSUD.............................................................................. 13 a) Indikator Pelayanan Rawat Inap RSUD............................................. b) Daftar 10 besar penyakit berdasarkan data kegiatan RSUD ............ 6. Cakupan Pemeriksaan....................................................................................... 14 BAB II. HASIL PEMERIKSAAN SISTEM PENGENDALIAN INTERN................. 16 1. Lingkungan Pengendalian..................................................................................... 16 a. Integritas dan Nilai Etika................................................................................ 16 b. Komitmen pada kompetensi........................................................................... 17 c. Partisipasi Dewan Penyantun......................................................................... 17 d. Filosofi dan Gaya Operasi Manajemen........................................................... 17 e. Struktur Organisasi......................................................................................... 18 f. Pemberian wewenang dan tanggung jawab.................................................... 19 g. Kebijakan dan praktik sumber daya............................................................... 19 2. Penaksiran Resiko.................................................................................................. 19 3. Aktivitas Pengendalian........................................................................................... 20 a. Kebijakan........................................................................................................ 20 b. Prosedur.......................................................................................................... 21 4. Informasi dan Komunikasi.................................................................................... 21 5. Pemantauan............................................................................................................ 22 BAB III. HASIL PEMERIKSAAN............................................................................. 23 1. Bagi hasil pendapatan administrasi karcis sebesar Rp65.087.028,00 belum diterima dan pendapatan sewa diklat sebesar Rp3.600.000,00 belum disetor ke kas daerah ………………………………………………………………………. 23
2

2. 3. 4. 5. 6.

Penerimaan RSUD Banyumas sebesar Rp2.056.498.547,00 tidak dibukukan secara bruto, dipotong langsung dan dikelola di luar rekening kas RSUD........... Pemakaian fasilitas RSUD Banyumas oleh pihak ketiga belum memberikan kontribusi yang memadai bagi daerah ………………………………………….. Pengenaan tarif pada RSUD Banyumas tidak berdasar Peraturan Daerah …… Belanja jasa pelayanan sebesar Rp348.000.000,00 direalisasikan tidak sesuai peruntukannya…………………………………………………………………… Penyajian data tunggakan pasien khusus pada Instalasi Laboratorium tidak akurat dan pemakaian film radiologi (CT SCAN) sebanyak 670 lembar film senilai Rp12.781.422,50 tidak didokumentasikan dengan memadai ………….. Pemberian extra fooding melalui Instalasi Gizi RSUD Banyumas sebesar Rp6.105.600,00 tidak berdasarkan SK Direktur ………………………………... Pemakaian sumber daya RSUD untuk pengelolaan Instalasi Farmasi Komponen B belum memiliki landasan peraturan …………………………………………... Pengadaan material dan ongkos tenaga kerja pengembangan Instalasi Rehabilitasi Medis (IRM) melebihi kebutuhan minimal sebesar Rp59.387.579,20 dan penambahan pekerjaan sebesar Rp20.363.400,00 belum dapat diyakini kebenarannya ……………………………………………………. Pelaksanaan pembangunan sarana prasarana RSUD sebesar Rp1.159.310.875,00 secara swakelola tidak didukung dokumen yang memadai sehingga tidak dapat diyakini kewajarannya ……………………………………

27 38 41 46

52 58 61

7. 8. 9.

66

10.

73 79 84 87 90 99

11. Pengelolaan piutang pasien tidak tertib sehingga tidak dapat disajikan dalam laporan Keuangan ……………………………………………………………….. 12. 13. 14. Barang inventaris dan peralatan medis yang telah rusak dengan harga perolehan sebesar Rp34.085.000,00 belum dihapuskan ........................................................ Alat kesehatan RSU Banyumas belum dilakukan kalibrasi sesuai yang dipersyaratkan ....................................................................................................... Pengadaan perangkat lunak dan keras komputer senilai Rp995.996.000,00 menyimpang dari ketentuan pengelolaan keuangan daerah .................................

15. Asset tanah seluas 1500 m2 di kompleks RSUD Banyumas dikuasai instansi lain ………………………………………………………………………………. LAMPIRAN
3

meningkatkan sumber daya manusia dan meningkatkan kesejahteraan pihak yang terkait dalam pelayanan kesehatan. Hasil pemeriksaan atas Sistem Pengendalian Internal atas pengelolaan Keuangan pada RSUD Kabupaten Banyumas dapat disimpulkan bahwa secara umum pengendalian administrasi dan pengelolaan keuangan masih cukup lemah. kompetensi sumber daya yang 4 . Pada Tahun 2001 RSUD Kabupaten Banyumas ditetapkan menjadi RS kelas B Pendidikan oleh Menteri Kesehatan dengan Surat Keputusan Nomor 850/Menkes/SK/VIII/2001 tanggal 5 Oktober 2001.HASIL PEMERIKSAAN ATAS RUMAH SAKIT UMUM DAERAH KABUPATEN BANYUMAS DI BANYUMAS Semester II Tahun Anggaran 2005 RESUME HASIL PEMERIKSAAN Keberadaan Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Kabupaten Banyumas diatur berdasarkan Peraturan Daerah Kabupaten Daerah Tingkat II Banyumas Nomor 2 Tahun 1996 tentang Penetapan Rumah Sakit Umum Kabupaten Daerah Tingkat II Banyumas menjadi Unit Swadana Daerah yang memiliki tujuan meningkatkan derajat kesehatan masyarakat dan pendidikan kesehatan. yang ditunjukkan dengan lemahnya beberapa komponen pengendalian terutama pada kebijakan manajemen yang berhubungan dengan pihak eksternal Rumah Sakit.

hasil pemeriksaan terinci atas pengelolaan asset-asset RSUD masih menunjukkan beberapa kelemahan yang dapat diuraikan sebagai berikut: 1.20 dan penambahan pekerjaan sebesar Rp20.600. Pelaksanaan pembangunan sarana prasarana RSUD sebesar Rp1.781. 9.547. Pemakaian fasilitas RSUD Banyumas oleh pihak ketiga belum memberikan kontribusi yang memadai bagi daerah.00 belum disetor ke kas daerah. sebesar Rp348.00 secara swakelola tidak didukung dokumen yang memadai sehingga tidak dapat diyakini kewajarannya.498. sebagaimana diuraikan dalam temuan pemeriksaan.087. 4.00 belum dapat diyakini kebenarannya. 7. Adanya beberapa kelemahan dalam pengendalian internal ini mengakibatkan pengelolaan atas asset asset Rumah Sakit seperti kas.00 tidak berdasarkan SK Direktur.600. Pengenaan tarif pada RSUD Banyumas tidak berdasar Peraturan Daerah 5. 2. 8. dipotong langsung dan dikelola di luar rekening kas RSUD.056.00 belum diterima dan pendapatan sewa diklat sebesar Rp3.00 direalisasikan tidak sesuai 6. hutang dan kerja sama dengan pihak ketiga belum dilaksanakan secara optimal. Dengan tidak mengurangi keberhasilan yang telah dicapai oleh RSUD Kabupaten Banyumas.menangani administrasi keuangan. piutang.363.875.105. aktiva. dan pemantauan oleh Satuan Pengawas Internal Rumah Sakit.50 tidak didokumentasikan dengan memadai. 3. Penerimaan RSUD Banyumas sebesar Rp2.400. Penyajian data tunggakan pasien khusus pada Instalasi Laboratorium tidak akurat dan pemakaian film radiologi (CT SCAN) sebanyak 670 lembar film senilai Rp12.387. Pemakaian sumber daya RSUD untuk pengelolaan Instalasi Farmasi Komponen B belum memiliki landasan peraturan. 10.159.310.000.422. Pemberian ekstra fooding melalui Instalasi Gizi RSUD Banyumas sebesar Rp6.028. persediaan. 5 .000.000. Bagi hasil pendapatan administrasi karcis sebesar Rp65.579. Pengadaan material dan ongkos tenaga kerja pengembangan Instalasi Rehabilitasi Medis (IRM) melebihi kebutuhan minimal sebesar Rp59. Belanja jasa pelayanan peruntukannya.00 tidak dibukukan secara bruto.

00 belum dihapuskan. MM NIP. 14. Evita Eriati. 15.00 menyimpang dari ketentuan pengelolaan keuangan daerah. Barang inventaris dan peralatan medis yang telah rusak dengan harga perolehan sebesar Rp34.000. 13.996. Pengelolaan piutang pasien tidak tertib sehingga tidak dapat disajikan dalam laporan Keuangan. 240001905 6 . Alat kesehatan RSU Banyumas belum dilakukan kalibrasi sesuai yang dipersyaratkan. BADAN PEMERIKSA KEUANGAN PERWAKILAN IV DI YOGYAKARTA KEPALA.11. Asset tanah seluas 1500 m2 di kompleks RSUD Banyumas dikuasai instansi lain. 12.000. Pengadaan perangkat lunak dan keras komputer senilai Rp995.085. Dra.

Pengelolaan aktiva pada RSUD. Informasi keuangan telah disajikan sesuai dengan kriteria yang telah ditetapkan. kerjasama pihak ketiga dan investasi serta konfirmasi dan pengujian di lapangan. termasuk di dalamnya pengadaan barang dan jasa di lingkungan RSUD serta efektivitas pemanfaatan sarana. pemeriksaan diarahkan pada sasaran sebagai berikut : a. GAMBARAN UMUM 1.BAB I. Entitas yang diperiksa telah mematuhi persyaratan kepatuhan terhadap peraturan keuangan tertentu. c. b. aktiva. belanja rutin. Kerjasama dengan pihak ketiga dan aktivitas investasi pada RSUD. 3. c. Bidang Usaha. belanja modal. baik terhadap laporan keuangan maupun terhadap pengamanan atas kekayaan. kas. Obyek Pemeriksaan a. Sasaran Pemeriksaan Guna mencapai tujuan pemeriksaan tersebut di atas. Sistem pengendalian intern entitas tersebut. 1) Dasar Hukum Pendirian 7 . Tujuan Pemeriksaan Untuk menentukan apakah : a. 2. prasarana dan peralatan kesehatan. piutang. e. piutang dan persediaan pada RSUD. b. menganalisis. Jangka Waktu Pemeriksaan Pemeriksaan dilakukan pada tanggal 29 Juli sampai dengan 23 Agustus 2005. 5. dan mengevaluasi data secara uji petik atas pengelolaan pendapatan. Metode Pemeriksaan Pemeriksaan dilakukan dengan cara menghimpun. Pendapatan dan pengeluaran/biaya pelayanan kesehatan pada RSUD. persediaan. Dasar Hukum Pendirian. hutang. 4. Tujuan Rumah Sakit Umum Daerah. Pengelolaan kas. d. Pengelolaan hutang pada RSUD. telah dirancang dan dilaksanakan secara memadai untuk mencapai tujuan pengendalian.

Pelayanan Rawat Inap spesialis penyakit anak . meningkatkan kesejahteraan pihak yang terkait dalam pelayanan kesehatan dan pendidikan.Pelayanan Rawat Inap spesialis obsgyn . Pelayanan Rawat Inap meliputi : .Pelayanan Rawat Inap spesialis penyakit THT . 3) Bidang Usaha Rumah Sakit Umum Daerah mempunyai bidang usaha pelayanan kesehatan masyarakat yang meliputi : a).Pelayanan Rawat Inap spesialis penyakit Syaraf 8 .Pelayanan Rawat Inap spesialis penyakit bedah . Sesuai dengan Peraturan Daerah Kabupaten Daerah Tingkat II Banyumas Nomor 2 Tahun 1996 tentang Penetapan Rumah Sakit Umum Kabupaten Daerah Tingkat II Banyumas menjadi Unit Swadana Daerah dan diundangkan dalam Lembaran Daerah Kabupaten Daerah Tingkat II Banyumas Nomor : 13 Tanggal 17 Nopember 1997.Pelayanan Rawat Inap spesialis penyakit mata . 2) Tujuan Rumah Sakit Umum Daerah Tujuan RSUD pendidikan adalah meningkatkan derajat kesehatan masyarakat meningkatkan sumber daya manusia dan dan kesehatan. Tahun 1993 RSUD Banyumas ditetapkan dari Rumah Sakit kelas D menjadi kelas C pada tanggal 19 Januari 1993 melalui SK Menkes RI Nomor (tanpa nomor)/Menkes/SK/I/1993 dan menjadi Rumah Sakit Kelas B Non Pendidikan Pendidikan pada tanggal 28 Juli 2000 dengan SK Menkes oleh Menteri Kesehatan dengan SK RI Nomor Nomor 115/Menkes/SK/VII/2000 dan Tahun 2001 ditetapkan menjadi RS kelas B 850/Menkes/SK/VIII/2001 tanggal 5 Oktober 2001.Pelayanan Rawat Inap spesialis penyakit dalam .Rumah Sakit Umum Daerah Kabupaten Banyumas didirikan pada tanggal 1 Januari 1924 oleh Pemerintahan Belanda dan Tahun 1953 pengelolaannya diserahkan kembali kepada Pemerintah Daerah Kabupaten Banyumas.

Pusat Konsultasi Epilepsi .Pelayanan Rawat Inap spesialis penyakit jiwa ..Klinik Spesialis Mata .Klinik Spesialis Penyakit Dalam .Instalasi Laboratorium Klinik .Klinik Psikologi .Klinik Spesialis Jantung . Pelayanan Unit Penunjang .Klinik Spesialis Jiwa .Klinik Stres dan penanggulangan narkoba .Pelayanan Rawat Inap spesialis penyakit penyakit paru b).Klinik Konsultasi Gizi .Instalasi Gawat Darurat .Klinik Keluarga Berencana .Klinik Spesialis Anak .Klinik Spesialis Syaraf .Instalasi Farmasi .Klinik Laktasi .Klinik Spesialis Penyakit Kulit dan kelamin .Klinik VIP .Klinik Gawat Darurat .Klinik Spesialis Bedah .Pusat Pelayanan Stroke Terpadu c). Pelayanan Rawat Jalan meliputi : .Instalasi Radiologi 9 .Klinik Spesialis THT .Pelayanan Rawat Inap spesialis penyakit jantung .Klinik Spesialis Kebidanan dan Penyakit Kandungan .Klinik Spesialis Ortopedi .Pelayanan Rawat Inap spesialis penyakit ortopedi .Pelayanan Rawat Inap spesialis penyakit kulit dan kelamin .

Instalasi Pemasaran Sosial . Sub Bidang Pelayanan Keperawatan b).Perpustakaan Elektronik dan Perpustakaan Konvensional b. Sub Bidang Asuhan Keperawatan c). terdiri dari : a). Sub Bagian Umum b).Instalasi Bedah Sentral .Kasir .Instalasi Pemeliharaan Sarana dan Prasarana RS . Organisasi Pembentukan susunan organisasi dan tata kerja Badan Rumah Sakit Umum Daerah diatur dengan Peraturan Daerah Kabupaten Banyumas Nomor 4 Tahun 2001 Tanggal 2 Juni 2001 tentang Pembentukan. Susunan Organisasi dan Tata Kerja Badan Rumah Sakit Umum Daerah Kabupaten Banyumas.. 1) Kepala Badan 2) Sekretariat.Instalasi Gizi . Sub Bidang Pelayanan Medis I b). Sub Bagian Rekam Medis 3) Bidang Pelayanan Medis. terdiri dari : a).Pusat Data Elektronik .Instalasi Sterilisasi Sentral .Instalasi Rehabilitasi Medik . terdiri dari : a). Sub Bidang Penunjang Medis II 10 . Sub Bidang Pelayanan Medis II 4) Bidang Keperawatan. Sub Bagian Tata Usaha c).Fitnes Center . Sub Bidang Asuhan Kebidanan 5) Bidang Penunjang Medis. Sub Bidang Penunjang Medis I b). Sub Bagian Kepegawaian d). terdiri dari : a).

Pengembangan dan Peningkatan Mutu b). Tenaga Medis Tenaga Keperawatan Tenaga Kesehatan Lainnya Tenaga Non Kesehatan 11 . Uraian Tugas dan Tata Kerja Badan Rumah Sakit Umum Kabupaten Banyumas tanggal 18 Juli 2001. 4. Sub Bidang Mobilisasi Dana 8) Kelompok Jabatan Fungsional Susunan Organisasi dan Tata Kerja tersebut telah ditindaklanjuti dengan Keputusan Bupati Banyumas Nomor 71 Tahun 2001 tentang Tugas Pokok. Sub Bidang Sistem Informasi Manajemen Rumah Sakit c). Hasil pemeriksaan atas bukti pendukung dari Neraca tersebut menunjukkan bahwa nilai dari akun-akun neraca tersebut tidak dapat ditelusuri karena tidak didukung buktibukti yang memadai. Sub Bidang Riset. Fungsi. c. Total d. Personalia Jumlah karyawan pada Rumah Sakit Umum Daerah Kabupaten Banyumas PNS 29 83 37 70 219 PTT 1 82 21 105 209 Harian Lepas 1 36 7 45 89 Jumlah 31 201 65 220 517 sampai dengan Juli 2005 sebanyak 517 orang dengan rincian sebagai berikut : Total SDM 1. Dengan demikian. terdiri dari : a). Sub Bidang Perbendaharaan c). 2. karena tidak valid.6) Bidang mutu dan pendidikan. Data Keuangan dan Kinerja RSUD RSUD Banyumas telah menyusun Neraca per 31 Desember 2004. Namun demikian. Sub Bidang Akuntansi dan Verifikasi b). terdiri dari : a). 3. Sub Bidang Pendidikan dan Pelatihan 7) Bidang Keuangan. Neraca RSUD tidak dapat disajikan pada Bab ini. Laporan Realisasi Pendapatan dan Belanja untuk periode yang berakhir pada 31 Desember 2004 dan 31 Juni 2005 telah disajikan dengan cukup memadai.

661 896.485.000 3. Rawat Jalan 2.348 139.d. Jasa Giro JPS Total Pendapatan Anggaran 2004 (Rp) 14. Adm.000.701. Rawat Inap 3.000 41.161.286.000.452 117.700.050 (14.250) 15.827.000.634. Diklat 6.634.690) 63. Anggaran dan Realisasi Pendapatan Anggaran dan realisasi Pendapatan untuk RSUD Kabupaten Banyumas untuk Tahun Anggaran 2004 dan 2005 (s. Lain-lain Pendapatan Non Fungsional 1.285.644 (328.124.714.100 38.298.721.310 8.873 947.097.754.956.232 20.319 12 .443 16.956.000.483.000 30.000.521.040.1) Anggaran dan Realisasi Anggaran dan realisasi pendapatan dan belanja pada RSUD Kabupaten Banyumas dapat digambarkan sebagai berikut : a).050 1. Rawat Jalan 2.413.000.000 Realisasi 2004 (Rp) 15.481.615.748. ASKES 4.000 115.332 807.353.661 (53.232 (9.900) (3.748.000 150. Sewa Rumah Dinas 4.443 866.876.000 1.652) (10.541. Rawat Inap 3.000 225. Instalasi Farmasi B 5.000 778.471. Adm.000) 215. Agustus) seperti tertera dalam tabel berikut ini : Uraian Pendapatan Pendapatan Fungsional 1.602.290.514.838.413.286.468.300.000.873 4.556.000.000 10.668) 29.359.452 2.644 1.750 57.000 42.319 Selisih 2004 (Rp) 835.073.000.000 8.000 15.000 950.000 1.483.800.

738 529.052.242.320.000 778.901. Rawat Jalan 2.000.250) (443.300.932.000 55.167) (3.757.615.443 (6.220 Selisih 2005 (s.818.d Agst) 10.000 100.918) 29.825 9.014.d Agst) (6.406.319.040. Rawat Inap 3. Anggaran dan Realisasi Belanja Anggaran dan realisasi belanja untuk RSUD Kabupaten Banyumas untuk Tahun Anggaran 2004 dan 2005 (s. Rawat Jalan 2.55% dari target.000.d Agst) 17.000 40. Sewa Rumah Dinas 4.156 72.082 807.181.443 10. Rawat Inap 3.000.442.000 121.888 12.842. Adm. Agustus) dianggarkan sebesar Rp17.220.052.335.000 Realisasi 2005 (s.157.000.000.00 atau mencapai 105.424.000.00 atau baru mencapai 61. Agustus) seperti tertera dalam tabel berikut ini : 13 .000 1.889 998.d.617.000) (60.000 10.000.744) (15.557.714. Diklat 6.409.000 17. Adm.290.754.800.112) (12.748.844) (27.00 dan telah direalisasikan sebesar Rp10.000.953.000 6.175) (591.27% b).780) Pendapatan Fungsional 1.575.111) (801.000.000 25.765.663) (2.256 39. Jasa Giro JPS Total Pendapatan Pendapatan RSUD Kabupaten Banyumas untuk Tahun 2004 dianggarkan sebesar Rp15.000 1.679. ASKES 4.000 800.000 8. Sedangkan untuk Tahun 2005 (s.967.900.098.200) (31.000 60.014.481.000.046.833 4.377.Uraian Pendapatan Anggaran 2005 (s.967.961.750 856.000. Instalasi Farmasi B 5.800 8.593.000.234.682.912.262) (270.337 3.00 dan telah direalisasikan sebesar Rp16.000. Lain-lain Pendapatan Non Fungsional 1.664.000.d.900.300.000.

00) (138.167.000 191.500.444.000 2.000 20.000 365.000 10.054.854. pelayanan penunjang medis.018 6.350 16.836.080.610.321.610.615.00 303.975 4.720.683 2.00 Belanja Administrasi Umum Belanja Pegawai Belanja Barang dan Jasa Belanja Perjalanan Dinas Belanja Pemeliharaan Belanja Operasional & Pemeliharaan Belanja Pegawai Belanja Barang dan Jasa Belanja Modal Belanja Modal Bangunan Gedung Belanja Modal Alat Kantor & Rumah Tangga Belanja Modal Alat Kedokteran Total Belanja 6.855.232.919.190.573.000.500.928.309.349.712) (469.615.335 4.266.501 Selisih 2004 272.527.705 383.244.000 834.525.345.715 11. Agustus) dianggarkan sebesar Rp22.00) 636.910. Sedangkan untuk Tahun 2005 (s.356.650) (5.978) (2.004.545) (646.940.d Agst) (1.501.d.075) (1.500 6.054.00) (713.366.280.Uraian Belanja Anggaran 2004 Realisasi 2004 7.683.805.940) (69.060.010. 2) Rasio kinerja RSUD Kegiatan pelayanan kesehatan yang dilakukan RSUD Kabupaten Banyumas meliputi kegiatan pelayanan medis.00 22.000 1.060 193.534) Belanja Administrasi Umum Belanja Pegawai Belanja Barang dan Jasa Belanja Perjalanan Dinas Belanja Pemeliharaan Belanja Operasional & Pemeliharaan Belanja Pegawai Belanja Barang dan Jasa Belanja Modal Belanja Modal Bangunan Gedung Belanja Modal Alat Kantor & Rumah Tangga Belanja Modal Alat Kedokteran Total Belanja 7.788.447.459.287 20.814.925.00 (40.854.285.397.455 153.819.000 12.527.100) (199.980.695.889.900 200.366.000 505.000 263.417 834.814.d Agst) Realisasi 2005 (s.00 atau telah mencapai 74.530.821.940 504.102.746.000 400.709) (430.00 dan telah direalisasikan sebesar Rp16.552 245.540.802.390.311.394.024.448) (120.83% direalisasikan dari sebesar Rp20.287.697.338.679 775.00) 10. dan pelayanan administrasi.498 1.050 1.174.341 1.500.719.975 751.175.725.452) (1.231.500 4.251.948.361.033.814.824.804 5.000 5.756.00 (949. Adapun kegiatan pelayanan kesehatan khususnya 14 .416.516.000.00 (138.516 Selisih 2005 (s.990.295) (696.527.720.473.000 800.050 Belanja RSUD Kabupaten Banyumas untuk Tahun 2004 dianggarkan sebesar Rp20.629.571.710.219.000.573 Uraian Belanja Anggaran 2005 (s.22%.835.573 4.800.567.167.500 914.d Agst) 6.615.101.722.00 atau dan telah 103.050 5.836 4.654.138.615.230.273.543.533.000 22.161.454.756.548 737.275.288 4.583.164) (2.518.000.073.610.000 6.250.521.651 201.004.050.908.138.573 1.022 9.908.820.807.693.224.00 613.054.917.805.00 mencapai anggarannya.00) 770.544.490.670.00) (283.500.500 751.000 2.466.825.496.

5 GDR 40 56 34 39 65 53 47.untuk pelayanan medis dalam Tahun Anggaran 2004 dan 2005 (s. Turn Over Interval (TOI).00 6.1 TOI 2 2 2 2 1 1 1 2 2 2 1 1 1.10 82.80 87.30 81.3 70.00 1.00 9. Length of Stay (LOS).6 73.00 1.1 74.5 74. Indikator pelayanan rawat inap Rumah Sakit Umum Daerah Tahun 2004 Bulan Januari Februari Maret April Mei Juni Juli Agustus September Oktober Nopember Desember Total Rata-rata TT 283 283 283 283 283 283 283 283 283 283 283 283 283 BOR (%) 72.7 74.00 5.00 5.5 74.4 74.00 1.00 1.67 Berdasarkan data pada tabel di atas dapat diketahui pemanfaatan bahwa tingkat Rumah Sakit Umum Daerah berupa Bed Ocupancy Rate (BOR).1 71.83 TOI 1.5 76.00 1.80% dan untuk Tahun 2005 di atas standar yang berarti bahwa tingkat pemanfaatan tempat tidur mengalami kenaikan di 15 .92 NDR 30 10 70 30 60 30 20 30 25 25 25 23 31. Juni) dapat dilihat dalam tabel berikut ini : a).00 6.78 % dan Tahun 2005 sebesar 83% ini menunjukkan bahwa untuk tahun 2004 sudah sesuai dengan standar yang ditetapkan oleh Dirjen Pelayanan Medik Dinas Kesehatan yaitu 60% . Bed Turn Over (BTO).5 78.00 6.70 85.00 5.d.17 BTO 5.80 81.92 GDR 60 20 50 60 50 50 40 50 57 58 58 58 50.7 79.83 NDR 24 29 12 25 28 24 23.00 5.00 2.5 77.5 Tahun 2005 Bulan Januari Februari Maret April Mei Juni Total Rata-rata TT 283 283 283 283 283 283 283 BOR 79.00 4.00 6.78 LOS 5 5 5 5 5 5 5 5 5 6 5 5 5. Gross Death Rate (GDR) dan Nett Death Rate (NDR) selama dua tahun terakhir menunjukkan hal-hal sebagai berikut : Rasio BOR untuk Tahun 2004 sebesar 74.00 5.00 5.58 BTO 5 5 5 5 5 5 5 5 5 4 5 5 4.30 83 LOS 6.

92 kali dan tahun 2005 sebesar 5.1 hari dan Tahun 2005 sebesar 5.92 permil dan 47.83 permil hal ini menggambarkan bahwa tingkat kematian untuk dua tahun masih di atas standar ideal yaitu di bawah 45 permil. hal ini menunjukkan bahwa selama dua tahun rasio NDR sudah berada di bawah standar yaitu sebesar 25 permil. b). Daftar 10 besar penyakit berdasarkan data kegiatan Rumah Sakit Umum Daerah selama dua tahun terakhir tampak pada daftar tabel berikut ini : 16 . Rasio BTO untuk tahun 2004 sebesar 4. Rasio GDR atau angka kematian kasar yaitu angka kematian umum untuk tiap 1000 penderita keluar baik hidup dan mati pada periode tertentu. Bisa disimpulkan LOS masih kurang efisien.atas standar ideal. Rasio NDR untuk tahun 2004 sebesar 31. berarti mutu pelayanan rumah sakit semakin baik.5 kali hal ini menunjukkan bahwa rasio perputaran pemakaian tempat tidur selama dua tahun masih jauh di bawah standar ideal yaitu sebesar 40 – 50 kali.17 hari. Rasio LOS untuk Tahun 2004 sebesar 5. Semakin rendah NDR suatu rumah sakit. Rasio GDR ini menunjukkan bahwa semakin rendah GDR berarti mutu pelayanan rumah sakit semakin baik. Rasio NDR adalah angka kematian pasien rawat inap yang dirawat lebih atau sama dengan 48 jam perawatan untuk tiap 1000 penderita keluar baik hidup atau mati pada periode tertentu. Hal ini menunjukkan bahwa selama dua tahun nilai ratio LOS lebih rendah dari standar yang ditetapkan yaitu sebesar 6 – 9 hari. Hal ini menunjukkan bahwa untuk tahun 2004 dan 2005 ratio ini sudah sesuai standar ideal yaitu sebesar 1 – 3 hari. hal ini menunjukkan bahwa jumlah pasien yang menginap di Rumah Sakit semakin meningkat dibandingkan kapasitas yang ada.58 hari dan Tahun 2005 sebesar 1.67 permil. Rasio TOI untuk Tahun 2004 sebesar 1. LOS menggambarkan tingkat efisiensi dan mutu pelayanan rumah sakit.83 hari.50 permil dan tahun 2005 sebesar 23. Rasio GDR untuk Tahun 2004 dan 2005 masing-masing sebesar 50.

persediaan.03 14. Juni) No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Skizoprenia Gastro Enteritis Decom KP Chirhosis Hepatis Stroke Non Hemorrage Thonsilitis Cronis Dispepsia Hernia Infeksi Saluran Kencing Jumlah Dari data pada tabel di atas diketahui bahwa antara Tahun 2004 dan Tahun 2005 pola penyakit yang ditangani oleh Rumah Sakit Umum Daerah Kabupaten Banyumas mengalami perubahan. Pada Tahun 2004 penyakit yang menduduki rangking tertinggi adalah penyakit diare dan gastroenteritis oleh penyebab infeksi tertentu (kolitis infeksi) yaitu sebesar 39.24 5.10 4.56 23.07 13. aktiva.Tahun 2004 No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Diagnosa Diare dan gastroenteritis oleh penyebab infeksi tertentu (kolitis infeksi) Tuberkolosis paru Demam tifoid partifoid Pneumonia Demam berdarah dengue Infeksi saluran nafas bagian atas akut Broncitis akut dan bronkiolitis akut Tetanus Tuberkulosis susunan syaraf pusat Tetanus neuonatorum Jumlah Diagnosa Jumlah 752 438 293 97 85 69 64 49 31 23 1901 Jumlah 805 365 358 203 174 166 136 135 130 122 2594 Prosentase 39.71 6.80 7.56 % sedangkan pada Tahun 2005 penyakit yang menduduki rangking tertinggi adalah Skizoprenia yaitu sebesar 31.d.21 100 Prosentase 31.82 6.70 100 Tahun 2005 (s.03 %. Agustus).37 2. hutang. kerjasama dengan pihak ketiga dan 17 . piutang.40 5.41 5.63 1.63 3. 6.58 1.01 4.04 15.20 5. Cakupan Pemeriksaan Pemeriksaan pada Rumah Sakit Umum Daerah Kabupaten Banyumas meliputi dua tahun anggaran yaitu Tahun 2004 dan Tahun 2005 (s.47 3.d. kas. Pemeriksaan yang dilakukan meliputi pengelolaan pendapatan dan belanja rumah sakit.

167.000. Askes.00 atau 8.050. Pemeriksaan belanja meliputi belanja Administrasi Umum. diklat dan lain-lain. Pemeriksaan pendapatan antara lain meliputi pendapatan fungsional yang terdiri dari Rawat Jalan. Instalasi Farmasi. Administrasi Rawat Inap. Hasil pemeriksaan menunjukkan total penyimpangan (Audit Finding) untuk bidang pendapatan sebesar Rp2.77% dari realisasi pendapatan yang diperiksa dan untuk belanja sebesar Rp1.319.220.00 atau telah mencapai 74.d.investasi.138.00 dan telah direalisasikan sebesar Rp20.815.806.70 atau 4.366.720.527.014. Belanja Operasi dan Pemeliharaan dan Belanja Modal.291.615.967.481.d.017.593.55% target.83% dari anggarannya.516.00 dan telah direalisasikan sebesar Rp10.052.00 atau 94. Sewa Rumah Dinas.054. dan Jasa Giro.27% Belanja RSUD Kabupaten Banyumas untuk Tahun 2004 dianggarkan sebesar Rp20. Sedangkan untuk Tahun 2005 (s.615.d.00 dan telah sebesar Rp16.501.24% dari total nilai belanja yang diperiksa. sedangkan pendapatan Non Fungsional antara lain meliputi Administrasi Rawat Jalan. Agustus) dianggarkan sebesar Rp22.628.00 atau baru mencapai 61. Rawat Inap.501.00 atau mencapai 105.00 atau mencapai 103.748. Sehubungan dengan hal tersebut telah dilakukan pemeriksaan atas pendapatan sebesar Rp25.573. direalisasikan 18 . Sedangkan untuk Tahun 2005 (s.900.00 atau 100% dari total realisasi belanja tahun 2004 dan 2005.653.908. Pendapatan RSUD Kabupaten Banyumas untuk Tahun 2004 dianggarkan sebesar Rp15.00 dan telah direalisasikan sebesar Rp16. Sewa Diklat. Agustus) dan belanja sebesar Rp37. Agustus) dianggarkan sebesar Rp17.265.11% dari total realisasi pendapatan tahun 2004 dan tahun 2005 (s.833.534.000.000.22%.443.

BAB II. lima komponen tersebut adalah sebagai berikut : 1. pemberian wewenang dan tanggung jawab. struktur organisasi. (b) efektivitas dan efisiensi operasi dan (c) kepatuhan terhadap hukum dan peraturan yang berlaku. Integritas dan Nilai Etika Integritas Dewan Penyantun. Nilai etika yang diterapkan Direktur kepada para pegawai cukup baik sehingga pegawai memahami nilai-nilai etika dalam bekerja maupun dalam pelayanan. Lingkungan Pengendalian Lingkungan pengendalian menunjukkan corak suatu organisasi yang mempengaruhi sikap. kesadaran dan tindakan manajemen terhadap lingkungan pengendalian intern. filosofi dan gaya operasi manajemen. Lingkungan Pengendalian pada RSUD Kabupaten Banyumas dapat digambarkan sebagai berikut: a. Direktur dan pegawai terhadap kelangsungan hidup Rumah Sakit Umum Daerah Kabupaten Banyumas dan pencapaian tujuan rumah sakit pada umumnya cukup baik. penilaian prestasi. Direktur dan atasan langsung pegawai rumah sakit umum daerah yang didesain untuk memberikan keyakinan memadai untuk mencapai tujuan (a) keandalan laporan keuangan. dan pembagian jasa pelayanan dengan penghitungan berdasarkan angka indek yang . HASIL PEMERIKSAAN SISTEM PENGENDALIAN INTERN Pengendalian intern adalah suatu proses pengendalian yang dijalankan oleh Dewan Penyantun. Dalam sistem pengendalian intern terdapat lima komponen yang menjadi perhatian pihak manajemen. partisipasi Dewan Penyantun. Lingkungan pengendalian antara lain mencakup integritas dan nilai etika. loyalitas. komitmen terhadap kompetensi. Dalam hal disiplin bekerja dan etos kerja pegawai di rumah sakit sudah baik. dari hasil pemeriksaan terhadap kondisi rumah sakit terdapat salah satu pegawai yang perlu dilakukan pembinaan karena adanya tindakan yang dapat dikategorikan sebagai pemalsuan bukti pendukung pertanggungjawaban keuangan. rangsangan yang berupa dedikasi. kebijakan dan praktik sumber daya. hal ini karena rumah sakit menerapkan cara untuk meningkatkan pelayanan dengan memberi salah satu komponennya berupa kondite tidak tercela Namun demikian.

Secara umum Dewan Penyantun telah melaksanakan tugasnya dengan cukup memadai. Hal tersebut dibuktikan dengan adanya beberapa permasalahan seperti terungkap dalam hasil pemeriksaan. Filosofi dan Gaya Operasi Manajemen Direktur cukup memahami adanya batasan-batasan dalam mengoperasikan rumah sakit dalam kerangka peraturan perundang-undangan yang berlaku.b. Kekurangcukupan tenaga yang kompeten terjadi pada Bagian Keuangan terutama untuk pengelolaan kas. Secara keseluruhan penempatan personil di beberapa unit kerja telah cukup memadai. Hal ini terjadi karena Direktur hukum. piutang dan penyusunan laporan Keuangan. d. menjalankan pengawasan. namun demikian. partisipasi aktif Dewan Penyantun sangat dibutuhkan. biaya dan akun-akun neraca yang terjadi dirumah sakit secara menyeluruh menyusun laporan keuangan yang lengkap dan pengalaman yang cukup untuk menyusun Laporan Keuangan rumah sakit. Kepala Bidang Keuangan kurang memahami akan pentingnya pembuatan laporan keuangan yang mencakup dan kontinyu. belum menetapkan Surat Keputusan sebagai landasan masih dijumpai beberapa Direktur untuk kebijakan-kebijakan . c. antara lain : Adanya beberapa kegiatan yang belum ada landasan hukum. Komitmen pada Kompetensi Direktur cukup memahami kompetensi yang dibutuhkan rumah sakit dan berusaha menempatkan personil-personil yang tepat dalam melaksanakan tugas pokok rumah sakit. Partisipasi Dewan Penyantun Dalam menetapkan kebijakan umum. pengendalian dan pembinaan terhadap rumah sakit. Akan tetapi dalam pelaksanaan operasional rumah sakit permasalahan yang memerlukan mengaturnya. namun demikian masih terdapat beberapa unit kerja yang kekurangan personil yang kompeten di bidangnya. Diperlukan data pendukung untuk seluruh komponen pendapatan. pada beberapa bagian Dewan Penyantun masih belum optimal dalam menjalankan perannya.

Fungsi. Uraian Tugas dan Tata Kerja Badan Rumah Sakit Umum Kabupaten Banyumas terdiri dari Kepala Badan. - Laporan Keuangan yang dibuat belum mencerminkan kondisi keuangan yang sebenarnya yang dalam hal ini dapat dilihat pada beberapa item pendapatan dan belanja yang tidak dicatat sebagai transaksi rumah sakit. Adanya pegawai di bagian penerimaan uang yang mempunyai wewenang pekerjaan yang melebihi batas atau merangkap beberapa tugas yang sebenarnya bisa didelegasikan kepada pegawai lain. - Tidak berfungsinya Tim Satuan Pengendalian Intern yang seharusnya melakukan pengendalian secara berkala dengan cara membuat laporan bulanan. Sekretariat. Bidang Keuangan dan kelompok jabatan fungsional. Susunan Organisasi dan tata kerja badan Rumah Sakit Umum Kabupaten Banyumas dan ditindak lanjuti dengan Keputusan Bupati Banyumas Nomor 71 Tahun 2001 tentang Tugas Pokok. . Terdapat pemakaian fasilitas rumah sakit oleh pihak ketiga yang belum ditangani secara maksimal sebagai potensi pendapatan. Bidang Penunjang Medis.- Adanya pengenaan tarif rumah sakit yang belum berdasarkan Keputusan Bupati. e. Struktur Organisasi Rumah Sakit Umum Daerah Kabupaten Banyumas merupakan rumah sakit kelas B Pendidikan yang telah ditetapkan oleh Menteri Kesehatan dengan SK Nomor 850/Menkes/SK/VIII/2001 tanggal 5 Oktober 2001. Bidang Mutu dan Pendidikan. - Tidak tertibnya mekanisme pengadaan barang dan jasa yang dilaksanakan secara swakelola oleh rumah sakit. Bidang Keperawatan. Secara garis besar pembagian tugas pokok dan fungsi sudah berjalan sesuai dengan yang diharapkan akan tetapi untuk bidang keuangan belum dapat berfungsi secara optimal karena kurangnya tenaga kerja yang kompeten. Bidang Pelayanan Medis. Berdasarkan Peraturan Daerah Kabupaten Banyumas Nomor 4 Tahun 2001 tentang Pembentukan.

f. Pemberian wewenang dan tanggung jawab Pendelegasian wewenang dan tanggungjawab dari Direktur kepada Kepala Instalasi, dan Kepala Bidang sebagian besar sudah cukup memadai akan tetapi masih terdapat kebijaksanaan di instalasi tertentu yang tidak berdasarkan Surat Keputusan Direktur. Hal ini dapat dilihat pada Instalasi Gizi yang telah membagikan tambahan makanan protein tinggi pada bangsal tertentu hanya berdasarkan usulan dari kepala keperawatan tanpa disahkan dengan Surat Keputusan Direktur. Selain itu, pemberian wewenang kepada Kepala Instalasi untuk mengusulkan tarif layanan tidak berarti dapat memberlakukan tarif tersebut tanpa persetujuan Bupati Kepala Daerah. Pemberian wewenang yang terlalu luas juga terjadi pada pemberian wewenang kepada Kepala Sub Bagian Umum yang telah mengelola pengadaan barang dan jasa secara swakelola dengan tidak didukung dokumen-dokumen yang memadai, tidak mendasarkan pada peraturan yang berlaku dan menggunakan rekanan dari internal rumah sakit. g. Kebijakan dan praktik sumber daya Penempatan personil pada masing-masing tugasnya telah dilaksanakan dengan cukup memadai, kecuali untuk bidang keuangan dan administrasi. Hal ini seharusnya segera menjadi perhatian manajemen dengan semakin meningkatnya pasien yang harus dilayani maka pembenahan tenaga kerja pada bidang Keuangan dan administrasi tidak dapat dihindari untuk segera dilakukan. Di samping itu pembenahan atas personil di unit-unit pelayanan yang menangani administrasi pendapatan maupun barang juga perlu dilakukan, karena hasil pemeriksaan menunjukkan pengadministrasian pendapatan dan barang di unit-unit pelayanan masing kurang memadai. 2. Penaksiran Risiko Risiko mencakup peristiwa dan keadaan intern maupun ekstern yang dapat terjadi dan secara negatif mempengaruhi kemampuan perusahaan untuk mencatat, mengolah, meringkas dan melaporkan data keuangan secara konsisten dengan asersi manajemen dalam laporan keuangan. Penaksiran atau penilaian risiko atas pengelolaan Keuangan secara formal belum pernah dilakukan oleh pihak rumah sakit, namun secara berkala

telah diantisipasi oleh manajemen dengan melakukan pertemuan berkala yang membahas permasalahan keuangan yang perlu diselesaikan oleh manajemen. Meskipun demikian, hasil pemeriksaan menunjukkan bahwa antisipasi terhadap risiko pengelolaan keuangan belum sepenuhnya dikendalikan dengan optimal. 3. Aktivitas Pengendalian Aktivitas pengendalian adalah kebijakan dan prosedur yang membantu memastikan bahwa arahan manajemen telah dilaksanakan. a. Kebijakan Kebijakan operasional Rumah Sakit Umum Daerah Kabupaten Banyumas secara umum ditetapkan oleh Direktur, sedangkan kebijakan mengenai tarif pelayanan rumah sakit ditetapkan oleh Pemerintah Daerah Kabupaten Banyumas. Peraturan Daerah dalam hal tarif telah mengalami perubahan dari Peraturan Daerah Nomor 1 Tahun 1991 tentang Pelayanan Kesehatan pada RSUD Kabupaten Banyumas ke Peraturan Daerah Nomor 18 Tahun 2001 tentang Retribusi Pelayanan Kesehatan pada Badan Rumah Sakit Umum Daerah Kabupaten Banyumas Unit Swadana. Perubahan peraturan daerah yang mengatur tarif tersebut mempunyai kenaikan biaya yang relatif tinggi sehingga dipandang akan membebani masyarakat yang berobat ke RSUD Kabupaten Banyumas. Atas dasar hal tersebut Direktur mengambil kebijaksanaan dengan mengeluarkan buku tarif baru berdasarkan kenaikan tahap I yang mulai berlaku Tanggal 2 Januari 2002, dan dilanjutkan dengan mengeluarkan Master Tarif berdasarkan kenaikan tahap II. Kebijaksanaan ini dimaksudkan untuk menaikkan tarif secara bertahap sebelum diberlakukan tarif sesuai dengan tarif dalam Peraturan Daerah Nomor 18 Tahun 2001 dan disamping itu dalam master tarif diatur lebih rinci komponen biaya pemeriksaan yang tidak terakomodasi dalam tarif sesuai Perda Nomor 18 Tahun 2001, akan tetapi pemberlakuan master tarif tersebut hanya berdasarkan usulan dari masing-masing instalasi dan ditandatangani Direktur tanpa persetujuan Pemerintah Daerah secara resmi. Kebijakan operasional lainnya dilakukan secara lisan dan tertulis dalam disposisidisposisi surat pelaksanaan kegiatan. Secara umum kebijakan ini telah

diterjemahkan dengan baik oleh para pelaksana, namun pada beberapa hal sebagaimana tersaji pada hasil pemeriksaan (misalnya pengadaaan barang dan jasa secara swakelola) kebijakan Direktur tidak ditaati oleh pegawai yang diberikan kewenangan dan tanggung jawab. b. Prosedur Prosedur Kerja untuk masing-masing unit atau instalasi RSUD telah diatur dalam Prosedur Tetap (Protap). Prosedur Tetap tersebut dibentuk dan ditetapkan dengan Surat Keputusan Direktur RSUD Kabupaten Banyumas yang digunakan sebagai pedoman kerja dari tiap unit atau instalasi. 4. Informasi dan Komunikasi Sistem informasi yang relevan dengan tujuan pelaporan keuangan meliputi sistem akuntansi, terdiri dari metode dan catatan yang dibangun untuk mencatat, mengolah, meringkas dan melaporkan transaksi keuangan rumah sakit serta untuk memelihara akuntabilitas aktiva, utang, dan ekuitas yang bersangkutan. Sistem akuntansi yang terdiri dari metode dan pencatatan untuk mengidentifikasikan, menghimpun, menganalisa, mengelompokkan, mencatat dan melaporkan transaksi untuk menyelenggarakan pertanggungjawaban aktiva dan kewajiban yang bersangkutan dengan transaksi pada umumnya belum berjalan dengan baik, hal ini terjadi karena pihak rumah sakit sebagian masih menggunakan pencatatan secara manual tanpa diback up data pendukung yang relevan, sedangkan untuk menerapkan metode Billing system yang mengcover transaksi pelayanan rumah sakit secara komputerisasi belum dijadikan acuan untuk penyusunan Laporan Keuangan secara akrual basis. Komunikasi mencakup pemahaman tentang peran dan tanggung jawab individual berkaitan dengan pengendalian intern terhadap pelaporan keuangan. Komunikasi pada umumnya telah dilakukan secara memadai yaitu pertemuan rutin antara Direktur dan jajaran di bawahnya untuk membahas permasalahan umum. Namun demikian, komunikasi atas pengelolaan asset rumah sakit secara intensif dan terinci kurang mendapatkan perhatian.

Secara umum. Hal ini terjadi karena belum berfungsinya tim Satuan Pengawas Intern.5. Manajemen melakukan pemantauan terhadap pengendalian untuk mengetahui apakah pengendalian tersebut telah berjalan sesuai dengan yang diharapkan.d. mempertimbangkan dan menindaklanjuti dengan . akan tetapi pengawasan dari Badan Pengawas Kabupaten dan pemantauan oleh Dewan Penyantun telah dilakukan. Pemantauan Pemantauan adalah proses penentuan kualitas kinerja pengendalian intern sepanjang waktu. Sehubungan dengan hal tersebut Badan Pengawas Daerah Kabupaten Banyumas Kabupaten Banyumas pada tanggal 9 s. Direktur RSU secara responsif selalu melakukan upaya perbaikan. terhadap temuan-temuan audit eksternal sebelumnya. 22 Agustus 2005 telah melakukan sesuai dengan Lembaran Temuan Pemeriksaan Nomor pemeriksaan bidang kesejahteraan rakyat pada Badan Rumah Sakit Umum Daerah 700/IX/2005 tanggal 12 September 2005 dan tindak lanjut hasil pemeriksaan sampai dengan tim BPK melakukan pemeriksaan belum diketahui pelaksanaannya. Pemantauan pada Rumah Sakit Umum Daerah Kabupaten Banyumas belum dilakukan secara kontinyu.

d.00. selama Tahun 2004 RSUD telah menyetorkan seluruh pendapatan administrasinya sebesar Rp78. Pemerintah Daerah menetapkan Perda Nomor 18 Tahun 2001 tentang Retribusi Pelayanan Kesehatan yang mengatur tentang tarip pelayanan kesehatan sebagai dasar pemungutan pendapatan.00 belum diterima dan pendapatan sewa diklat sebesar Rp3.604. Hasil pemeriksaan atas laporan pendapatan RSUD Banyumas menunjukkan bahwa bagi hasil dari pendapatan administrasi karcis yang telah disetorkan oleh RSUD kepada Kas Daerah (Pemkab) belum diterima.00 dan Tahun 2005 (s.006.292. Hasil penghitungan bagi hasil yang seharusnya diterima oleh RSUD dapat dijelaskan pada tabel berikut: 23 . Sarana 750 750 1250 1000 1250 J.087.600.00. Agustus) sebesar Rp51. Bagi hasil pendapatan administrasi karcis sebesar Rp65. Pelayanan 2000 4500 15000 2500 5000 Berdasarkan buku setoran ke Kas Daerah Kabupaten Banyumas.050. HASIL PEMERIKSAAN 1.570.BAB III.028. sebagaimana tertuang dalam LTP Bawasda Kabupaten Banyumas tanggal pemeriksaan 9 s/d 22 Agustus 2005. Perda tersebut di antaranya mengatur tentang pendapatan administrasi yang berasal dari karcis untuk pelayanan Rawat Jalan dan Rawat Inap seperti diuraikan sebagai berikut: Jenis Karcis Karcis Rawat Jalan – Poli Umum Karcis Rawat Jalan Poli Spesialis Karcis Poliklinik VIP Karcis Rawat Inap Karcis IRD Tarif 3500 6000 17500 4500 7500 Administrasi Pemda RSUD 375 375 375 625 500 625 375 625 500 625 J. Pendapatan administrasi yang disetorkan belum termasuk pendapatan karcis administrasi rawat jalan untuk pasien ASKES sebesar Rp38.750. Bagi hasil tersebut sesuai ketentuan Perda Nomor 18 Tahun 2001 dikembalikan ke RSUD Banyumas sebesar 50% untuk digunakan sebagai biaya operasional.000.00 belum disetor ke kas daerah Dalam melaksanakan pelayanan kesehatan kepada masyarakat.

557. Namun demikian.000.550.00 130.056. Bagi hasil pendapatan administrasi karcis yang belum diterima oleh RSUD Banyumas dan pendapatan sewa diklat yang belum disetorkan ke Kas Daerah tidak sesuai dengan: a.00 Bagi hasil (50%) 39.869. Selain hal itu.285.00 65.006.750.570.604.00 96. RSUD telah menerima pendapatan sewa diklat sebesar Rp3.802.00 33.00 Jumlah 78. Peraturan Daerah Nomor 18 Tahun 2001 tanggal 22 Nopember 2001 tentang Retribusi Pelayanan Kesehatan pada Badan RSUD Kabupaten Banyumas Unit Swadana Daerah.d.174.00 Rincian ada pada lampiran 1 Hasil wawancara dengan Pemegang Kas RSUD Banyumas diperoleh penjelasan bahwa selama ini RSUD tidak pernah meminta kepada Pemda Kabupaten Banyumas tentang bagi hasil pendapatan administrasi karcis yang telah disetorkannya kepada Pemda.003. RSUD hanya dapat menggunakan penerimaan fungsionalnya secara langsung untuk membiayai pengeluaran operasionalnya.00 39.028.087. Penerimaan sewa diklat ini dapat dikategorikan sebagai pemakaian kekayaan daerah yang di atur pada Perda Nomor 10 Tahun 2001 tentang Retribusi Pemakaian Kekayaan Pemerintah Daerah. pemeriksaan atas pendapatan non fungsional RSUD Banyumas menunjukkan bahwa selama Tahun 2004 – 2005 (s.025.00 25.00 12. Pemerintah daerah belum mengatur pengelolaan sewa diklat ini sebagai pendapatan retribusi pemakaian kekayaan pemerintah daerah.256.00 yang keseluruhannya belum disetorkan ke Kas Daerah (Lampiran 2).304.747.500. Agustus) Jumlah Setoran ke Kasda Rawat Inap 20.300.822.050. Sesuai dengan ketentuan tentang Unit Swadana Daerah.600.046. 24 .00 51. sedangkan penerimaan non fungsionalnya yang tidak berasal dari fungsi pelayanan kesehatan kepada pasien seluruhnya disetorkan ke kas daerah. Agustus).00 Rawat Jalan 57.756.d.Tahun 2004 2005 (S.

• Pasal 31 ayat (5) Hasil penerimaan biaya administrasi (rawat jalan) sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) huruf a yang besarnya sebagaimana tersebut dalam lampiran Peraturan ini.600.087. c. Bagi hasil pendapatan administrasi karcis yang belum diterima oleh RSUD dan pendapatan sewa diklat yang belum disetorkan ke Kas Daerah mengakibatkan pendapatan sebesar Rp65.028. Pemakaian kekayaan pemerintah daerah adalah pemakaian atau penggunaan atas Kekayaan Milik Pemerintah Daerah.00 belum dapat dimanfaatkan oleh Pemerintah Daerah.00 belum dapat dipergunakan untuk operasional RSUD dan dana sebesar Rp3.000. pasal 66 Dalam hal pengelolaan asset daerah menghasilkan penerimaan. pelaksanaan Tata usaha Keuangan Daerah dan Penyusunan Perhitungan APBD. • Pasal 32 ayat (4) Hasil penerimaan biaya administrasi (rawat inap) sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) huruf a yang besarnya sebagaimana tersebut dalam lampiran Peraturan ini. Kekayaan Pemerintah Daerah adalah aktiva tetap berupa barang-barang bergerak dan atau tidak bergerak yang dimiliki dan atau di bawah penguasaan Pemerintah Daerah yang disediakan untuk dan atau dapat dimanfaatkan oleh masyarakat guna menunjang berbagai keperluan yang bersangkutan dalam rangka meningkatkan kesejahteraan umum. Pasal 13 angka (2) Dalam hal pembayaran retribusi dilakukan di tempat lain yang ditunjuk maka hasil penerimaan retribusi harus disetor ke Kas Daerah. disetor secara bruto ke Kas Daerah dan dikembalikan ke Badan Rumah Sakit sebesar 50% (lima puluh perseratus). b. Pertanggungjawaban dan Pengawasan Keuangan Daerah serta tata cara penyusunan APBD. disetor secara bruto ke Kas Daerah dan dikembalikan ke Badan Rumah Sakit sebesar 50% (lima puluh perseratus). huruf f. Keputusan Menteri Dalam Negeri Nomor 29 Tahun 2002 tentang Pedoman Pengurusan. 25 . Perda Kabupaten Banyumas Nomor 10 Tahun 2001 tanggal 10 September 2001 tentang Retribusi Pemakaian Kekayaan Pemerintah Daerah Pasal 1 huruf e. maka penerimaan tersebut menjadi Pendapatan Asli Daerah dan disetor seluruhnya secara bruto ke Rekening Kas Daerah.

000. Namun demikian. 26 . setelah pemeriksaan berakhir RSUD telah memproses surat usulan untuk menindaklanjuti hal tersebut.000.00 sebagai biaya operasional. administrasi 50 % yang menjadi hak rumah sakit sebesar Rp65.600.028.00 ke Kas Daerah.087. Direktur RSUD Kabupaten Banyumas agar menyetor pendapatan sewa diklat sebesar Rp3.Permasalahan tersebut disebabkan Kepala Bagian Keuangan lalai dalam melaksanakan ketentuan dalam Perda dengan tidak mengupayakan permintaan bagi hasil pendapatan administrasi karcis dan tidak menyetorkan pendapatan sewa diklat ke kas daerah. Rekomendasi BPK-RI BPK RI memberi rekomendasi kepada : a. Bupati Banyumas untuk memerintahkan Kepala BPKD mengembalikan pendapatan b.600. Sehubungan dengan hal tersebut Direktur RSUD Kabupaten Banyumas menjelaskan bahwa memang untuk pendapatan administrasi pihak rumah sakit belum memintakan 50% untuk operasional rumah sakit dan untuk pendapatan sewa diklat sebesar Rp3.00 persepsi awal merupakan pendapatan untuk operasional diklat.

RSUD Banyumas menjalin kerja sama operasional dengan pihak ketiga untuk pemakaian Alat Kesehatan (KSO).143.547.241. bulan Agustus) realisasi pendapatan RSUD Banyumas secara kas basis adalah sebesar Rp16.087.562. Ketua DPRD. Penerimaan RSUD Banyumas sebesar Rp2. Rawat Inap.2. dipotong langsung dan dikelola di luar rekening kas RSUD RSUD Banyumas memiliki penerimaan fungsional dan non fungsional yang secara global dikelompokkan sebagai penerimaan Rawat Jalan.00/ per pasien Jakarta Pusat 27 . Seluruh perjanjian tersebut hanya merupakan kesepakatan antara Direktur RSUD dengan pihak investor. Hasil pemeriksaan atas pembukuan penerimaan pada Kasir Penerima menunjukkan hal-hal sebagai berikut: a.00.364. Bhineka Usada Raya. Untuk meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan kepada masyarakat.114.00 dan sebesar Rp11.d. Penerimaan rumah sakit untuk pihak ketiga atas Kerjasama Operasional Alat Kesehatan sebesar Rp1.000.418.421.00 tidak dibukukan secara bruto. Processore Semarang Mesin Hemodialisa Fresenius Medical Care.00. Tri Cipta Jaya.00 tidak dibukukan sebagai bagian dari pendapatan RSUD. Mendjangan Rp30.056.498.00/ per pasien Pembelian AGFA X-Ray film Pembelian bahan disposable hemodialisa set Ilyte PT. Jakarta Analyzer Na/K/Cl Il Alat Kesehatan CT Scan Jasa Investor Rp162. Kerjasama pengoperasian alat kesehatan di RSUD Banyumas didasarkan pada perjanjian kerjasama yang memuat hak dan kewajiban kedua belah pihak. Sesuai dengan Laporan Keuangan Tahun 2004 dan 2005 (s. Penerimaan tersebut dikelola melalui satu pintu penerimaan yaitu kasir RSUD. Direktur RSUD dan Investor. Semarang Automatic X Ray Film CV.468.984. Beberapa perjanjian pemakaian/pengoperasian alat kesehatan tersebut antara lain dapat diuraikan sebagai berikut: Investor PT. dikelola secara terpisah dari kas RSUD dan kurang disetorkan sebesar Rp112. kecuali perjanjian pemakaian alat CT Scan yang ditandatangani oleh Kepala Daerah. Askes dan penerimaan lainnya.650.500.

447.664.150 663. Tiara Kencana Rp65.984.00 seperti tabel berikut: Bulan/Tahun 2004 2005 Jumlah EEG CT Scan Elektrolite Darah Jumlah 36.650 Rincian ada pada lampiran 3.480.275. Hasil wawancara dengan Sdri Sukesti.241.000 142.594.000 234.570.936.756. Sukesti) dengan nomor rekening 3-003-20981-1 pada Bank Pembangunan Daerah Jawa Tengah Cabang Purwokerto.260.308.000 337. EEG. dan Kantong darah (bagian jasa pihak ketiga) belum dibukukan secara bruto sebagai pendapatan rumah sakit. Hasil pemeriksaan pengelolaan pendapatan rumah sakit atas pengoperasian alat kesehatan melalui catatan pada kasir penerimaan menunjukkan bahwa pendapatan rumah sakit atas KSO CT Scan.00 yang dapat diuraikan pada tabel berikut: 28 . Hasil pemeriksaan atas ketepatan pembayaran kepada investor selama bulan Januari 2004 – Agustus 2005 menunjukkan adanya selisih kurang setor untuk periode masa pemeriksaan Januari 2004 – Agustus 2005 sebesar Rp102.000 295.d Agustus) adalah sebesar Rp1.500 147. didapatkan informasi bahwa untuk setiap pendebetan rekening tidak diselenggarakan pembukuan sehingga penarikan uang dari rekening tersebut tidak dapat secara langsung diketahui penggunaannya.100.000 578. Potongan tersebut selanjutnya secara harian disisihkan dari pendapatan kasir RSUD dan ditampung dalam rekening Kepala Sub Bidang Mobilisasi Dana (Sdri. Pembayaran kepada investor dilakukan secara bulanan dengan menarik sejumlah uang dari rekening tersebut dan disetorkan tunai oleh pemilik rekening..650 23.000.390.00/ per pasien Hasil pemeriksaan fisik secara sampling menunjukkan seluruh alat kesehatan yang dikerjasamaoperasionalkan berfungsi dengan baik. dipotong langsung.000 571.000 59. Tarip per test Yogyakarta PT.650.241.845. Elektrolite. Hasil rekapitulasi pendapatan KSO bagian jasa pihak ketiga yang dipotong langsung berdasarkan pembayaran dari pasien selama Tahun 2004 dan 2005 (s.000 167.456.448.000 153.984.Kantong Darah Autonalyzer ABX Mira Plus dengan UPS Electro Encephalograph (EEG) PMI Tarif bervariasi/ kolf CV Asia Lab. dan dikelola secara terpisah dari Kas RSUD.500 314.187.150 1.

00) 112.100.000.901 308.498 Darah (kolf) 4.912.00 (Rincian pada lampiran 4).00 571.650.650.00 57.00 5.00 (117.756.00) 3.068.00 59.00) Kekurangan setor tersebut belum termasuk potongan yang telah direalisasikan Ka Subbid Mobilisasi Dana sebelum tahun 2004.708 453.500. hasil cross cek atas hak investor berdasarkan laporan instalasi pelayanan yang mengoperasikan alat kesehatan dan setoran yang direalisasikan Kasubbid mobilisasi dana sebagaimana tercantum pada table paling atas.447.100.200.00 CT Scan 1.936.818 EEG 774 54.843.000.468. sehingga untuk mengetahui seluruh kewajiban setoran yang menjadi tanggung jawab Kasubbid Mobilisasi Dana.700.00 318.756.025.845.950. Selisih (kurang)/lebih 13.000.053.000.053.150.00 25.643 318.000.550.000.415.000.912.562.000.00 (1.792.000.664.320.772.119.404.836.772.200.836.00 1.00 Rincian pada lampiran 3.00 (2.139. Atas selisih kurang tersebut Sdri.00 920 Elektrolit 10.100.845.012. Selain hal tersebut.241.00 Pasien 83 146 145 * Selisih Jumlah 13.00 * *) tidak diketahui karena tarif bervariasi 29 .100.00 3.843.00 (99.00 1.00 1.912.368.500. 1 2 3 4 CT Scan EEG Elektrolite Darah Jumlah Potongan KSO 295.00 59. Sukesti telah memahami permasalahannya dan bersedia menyelesaikannya.984.833.241.) Setoran ke Kas RSU Total Kewajiban Rekening giro per 31/8/2005 Kewajiban tunai per 31/8/2005 : : : : : : : : : 40.500.00 Setoran KSO 308. menunjukkan adanya perbedaan antara Laporan Instalasi pelayanan dan setoran kepada investor yang dapat diuraikan sebagai berikut: Alat Laporan Unit Pelayanan Pasien Jumlah Kasubbid Mobilisasi Dana Pasien Jumlah 295.00 10.936.) Setoran KSO 2004 dan 2005 (.00 453.550.00) (5.443.984.00 314.No.465.139.950.100.320.000.00) (102.447.150.00 314.00) 13.912. per tanggal periode pemeriksaan (31 Agustus 2005).00 14.500.923.000.328. maka penghitungan kewajiban yang bersangkutan dilakukan sebagai berikut: Saldo buku kas per 31/12/2003 (-) Setoran yang mengurangi saldo Tahun 2003 Sisa dana 2003 yang masih menjadi kewajiban (+) Potongan KSO 2004 dan 2005 (.00 571.00 1.465.00 117.

sedangkan unit penghasil menghitung hak jasa pihak ketiga berdasarkan basis akrual (hak pihak ketiga dihitung sejak pasien dilayani.00. b. Dalam meningkatkan pelayanan terhadap masyarakat. RSUD dapat bekerjasama dengan pihak lain.431. Dengan adanya kondisi tersebut.087. sesuai ketentuan Perda Nomor 18 Tahun 2001 tentang Retribusi Pelayanan Kesehatan.082. Kasir menghitung dan menyetorkan pendapatan jasa pihak ketiga secara basis kas (berdasarkan pembayaran pasien yang dilayani dengan alat kesehatan yang berkenaan baik pasien umum dan jaminan). pemakaian poliklinik.00 belum dibukukan sebagai pendapatan rumah sakit.Hasil wawancara dengan petugas pada unit pelayanan (secara sample) dan kasir penerima didapatkan informasi bahwa perbedaan tersebut terjadi disebabkan cara pandang (persepsi) kasir dan unit pelayanan yang berbeda terhadap penyetoran jasa pihak ketiga atas pengoperasian alat kesehatan. maka pembayaran setoran pihak ketiga yang dikelola melalui pemotongan langsung pendapatan kasir tidak dapat digunakan sebagai dasar pembayaran.513. Penerimaan rumah sakit dari layanan pasien privat dokter sebesar Rp814. Pendapatan privat dokter tersebut diperuntukkan untuk dokter. dikelola secara terpisah dari Kas RSUD dan belum memberikan kontribusi bagi rumah sakit. dengan tidak memperhatikan apakah pasien melakukan pembayaran atau tidak).810. karena transaksi tersebut belum mencerminkan hak dan kewajiban kedua belah pihak sesuai kesepakatan dalam perjanjian kerjasama. Selama Tahun 2004 dan 2005 (S/d Agustus) jumlah pasien privat dokter adalah sebanyak 497 orang dan 432 orang dengan pendapatan sebesar Rp458. Hasil pemeriksaan atas pendapatan rumah sakit melalui pembukuan kasir penerimaan menunjukkan adanya pendapatan pelayanan pasien privat dokter yang dikelola di luar pembukuan rumah sakit. kamar operasi dan fasilitas lainnya oleh pihak ketiga. Kerjasama tersebut dapat berupa pemakaian fasilitas rumah sakit untuk mengadakan praktek umum/spesialis.897. anesthesi dan assisten keperawatan dengan besaran yang telah ditetapkan dengan Keputusan 30 .00 dan Rp356.

Dari hasil pemeriksaan atas pembayaran uang privat kepada dokter. potongan. tidak dijumpai adanya kontribusi langsung untuk rumah sakit dari porsi pendapatan privat. Surat Keputusan tersebut hanya mengatur pembagian tarif privat untuk pendapatan dokter dan tim operasinya. Sampai dengan 31 Agustus 2005 saldo dana taktis tersebut sebesar Rp25. Restitusi. yaitu pengelolaan pendapatan privat dapat dilakukan secara langsung. Sukesti didapatkan informasi bahwa dana taktis privat dokter digunakan untuk pemberian reward bagi karyawan terbaik yang dilaksanakan oleh rumah sakit secara berkala. penyisihan dana dari pendapatan privat telah diatur penggunaannya dan kontribusi untuk RSU dari pelayanan privat belum diatur proporsinya. c.251.151. Sesuai dengan ketentuan Perda tentang Retribusi Pelayanan Kesehatan.000. menunjukkan bahwa mekanisme yang dilaksanakan oleh Ka Subbid Mobilisasi Dana mengikuti Keputusan Direktur.006.Direktur RSU Banyumas Nomor 900/360/2005 tanggal 23 Februari 2005 tentang Kebijakan pelayanan private pada RSU Banyumas. anesthesi dan Askep diketahui bahwa dana privat dokter tersebut disisihkan sebesar 5% dari bagian dokter dan anesthesia untuk dana taktis. Data selengkapnya pada lampiran 5.00 dan mutasi pengurangan sebesar Rp33. resep kredit dan keringanan kepada pasien dipotongkan langsung dari penerimaan kasir dan tidak diselenggarakan pembukuan yang memadai.00. Dari pendapatan privat tersebut. Dana taktis tersebut dikelola oleh Kepala Sub Bidang Mobilisasi Dana (Sdri. Direktur RSUD diberi kewenangan untuk memberikan pengurangan atau pembebasan biaya bagi pasien.00. Mempelajari Keputusan Direktur RSU yang mengatur tentang pendapatan privat.520. Hasil wawancara dengan Sdri. Sukesti). Hasil rekapitulasi pendapatan dana taktis menunjukkan bahwa selama Tahun 2004 – 2005 terdapat mutasi penambahan sebesar Rp38.110. disebabkan Surat Keputusan Direktur belum mengaturnya. Pemberian pengurangan atau pembebasan biaya dilakukan setelah pasien memenuhi syarat-syarat tertentu dan dilakukan secara 31 .

00. Hasil wawancara dengan kasir penerima. Dari rekapitulasi potongan secara langsung pada kasir melalui sample pada buku setoran rawat inap diketahui minimal terdapat pemotongan sebesar Rp4. kuitansi pembayaran hasil cetakan billing system yang digunakan sebagai dasar pembayaran belum mengakomodasi potongan. resep kredit sebesar Rp19.361.516. Atas pemotongan ini.178. maka seluruh transaksi pelayanan pasien diproses melalui billing system.00. d.409. Pendapatan kasir dengan nilai yang belum dapat diidentifikasi tidak diinputkan ke dalam billing sistem Dengan diberlakukannya sistem komputerisasi dalam pelayanan. Dengan demikian. Hasil wawancara dengan Kepala Bagian Keuangan diperoleh informasi bahwa prosedur pemberian potongan melalui billing system hanya dapat dilakukan oleh pejabat yang berhak di unit pelayanan yang telah diberi kuasa oleh Direktur melalui pemberian nomor pin tertentu. Namun demikian pemeriksaan atas pembukuan potongan tersebut menunjukkan bahwa potongan yang dilakukan baik melalui billing (komputerisasi) maupun dengan cara manual belum dibukukan sebagai biaya rumah sakit. Hasil pemeriksaan atas pembukuan pendapatan kasir penerimaan menunjukkan adanya restitusi. namun unit pelayanan tidak menginput data tersebut ke dalam billing system.00 dari biaya perawatan pasien. pemberian potongan belum sepenuhnya dapat dikendalikan oleh manajemen.301.815. kasir tidak menyelenggarakan buku potongan. dan restitusi sebesar Rp4. sehingga total nilai potongan pasien yang merupakan pengurang pendapatan. atau subsidi rumah sakit tidak dapat diketahui dalam laporan keuangan.bertahap. Maksud dari pengamanan tersebut adalah agar pemberian potongan atau keringanan yang dilakukan melalui billing system dapat selektif dan terpantau. resep kredit dan pemberian keringanan kepada pasien dengan cara pemotongan langsung penerimaan kasir. Dengan tidak diinputnya potongan tersebut. Billing system 32 . didapatkan informasi bahwa kasir dapat memproses pemotongan biaya setelah pasien menunjukkan disposisi Direktur atau kuasa Direktur.

diharapkan dapat memberikan informasi yang lengkap tentang data pelayanan pasien, cepat dan akurat dalam pemrosesan data serta menjamin validitas transaksi dari intervensi yang tidak diharapkan. Untuk dapat diproses dalam billing system, diperlukan beberapa data pokok yang harus tersedia untuk setiap pasien yang akan dilayani. Data pokok tersebut antara lain adalah nomor rekam medis. Hasil pengamatan atas kegiatan kasir penerimaan menunjukkan adanya sejumlah pendapatan yang tidak dapat diinput pada sistem komputer karena tidak tersedianya nomor rekam medis pasien pada sobekan rincian biaya (kitir/cepitir). Kitir tersebut hanya berisi nama pasien dan biaya pelayanan, sehingga kasir tidak dapat memproses penginputan data pasien ke dalam billing system. Kasir hanya dapat menerima pembayaran dan membukukannya sebagai pendapatan RSUD. Meskipun telah dibukukan sebagai penerimaan kasir, pendapatan yang tidak dapat diinputkan ke dalam billing tersebut selanjutnya tidak terpantau keberadaannya karena kasir tidak menyelenggarakan pembukuan tersendiri atas pendapatan tersebut. Dengan kondisi demikian, maka data billing system belum mencerminkan seluruh transaksi pelayanan pasien yang riil. Pengelolaan pendapatan sebagaimana diuraikan di atas tidak sesuai dengan: a. Peraturan Pemerintah Nomor 105 Tahun 2000 tanggal 10 Nopember 2000 tentang Pengelolaan dan Pertanggungjawaban Keuangan Daerah, pasal 24 ayat (3) Pendapatan daerah disetor sepenuhnya secara tepat pada waktunya ke Kas Daerah sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku. b. Keputusan Menteri Dalam Negeri Nomor 29 Tahun 2002 tentang Pedoman Pengurusan, Pertanggungjawaban dan Pengawasan Keuangan Daerah serta tata cara penyusunan APBD, pelaksanaan Tata usaha Keuangan Daerah dan Penyusunan Perhitungan APBD, pasal 40 • Ayat (1) Dalam fungsinya sebagai penerima pendapatan Daerah, Satuan Pemegang Kas dilarang menggunakan uang yang diterimanya secara langsung untuk membiayai pengeluaran perangkat daerah.

33

Ayat (2) Satuan pemegang kas sebagaimana dimaksud pada pasal 39 ayat (6) wajib menyetor seluruh uang yang diterimanya ke Bank atas nama rekening Kas Daerah paling lambat satu hari kerja sejak saat uang kas tersebut diterima.

c. Peraturan Daerah Nomor 18 Tahun 2001 tanggal 22 Nopember 2001 tentang Retribusi Pelayanan Kesehatan pada Badan RSUD Kabupaten Banyumas Unit Swadana Daerah, pasal 55 ayat (1) Pemakaian fasilitas Rumah sakit oleh dokter atau tenaga kesehatan lain untuk mengadakan praktek umum/spesialis, diatur dengan surat perjanjian khusus. Ayat (2) Pemakaian fasilitas seperti tersebut pada ayat (1) meliputi poliklinik umum, poliklinik gizi, kamar operasi, kamar roentgen, kamar bersalin untuk kegiatan pemeriksaan. d. Keputusan Menteri Kesehatan RI Nomor 66/MENKES/SK/II/1987 tentang Pola Tarip RS Pemerintah pasal 19 “Pemungutan, pembukuan, penggunaan dan pelaporan yang diterima di Rumah Sakit sebagai pendapatan Negara dilaksanakan secara terpusat di Rumah Sakit.” e. Keputusan Menteri Dalam Negeri Nomor 92 Tahun 1993 tentang Penetapan dan Penatausahaan serta Pertanggungjawaban Keuangan Unit Swadana Daerah: • Pasal 7 ayat (1) Unit Swadana Daerah dalam rangka upaya peningkatan pelayanan kepada masyarakat dapat melakukan kerjasama dengan pihak ketiga. Ayat (2), bentuk dan jenis kerjasama dengan pihak ketiga dapat dilaksanakan setelah mendapatkan persetujuan tertulis dari Kepala Daerah. • Pasal 13 ayat (1). b. Penerimaan fungsional Unit Swadana Daerah pada bendahara khusus penerima dibukukan dalam buku kas umum/pembantu dengan didukung bukti-bukti penerimaan yang sah; huruf.c. Penerimaan fungsional Unit Swadana Daerah sebagaimana dimaksud huruf b. pasal ini, pada kesempatan pertama segera disetor sepenuhnya ke Rekening Bendaharawan Pengeluaran Unit Swadana Daerah yang bersangkutan di Bank Pembangunan Daerah dan atau Bank Pemerintah lainnya yang ditunjuk. f. Surat Keputusan Menteri Dalam Negeri Nomor 900 – 1101 tentang Petunjuk teknis pengusulan, penetapan dan tata cara pengelolaan keuangan Unit Swadana Daerah, Lampiran V. “ Rumah Sakit Swadana Daerah merupakan Unit Pelaksana Teknis Daerah yang merupakan kekayaan Daerah yang tidak dipisahkan, maka

34

pengelolaan keuangannya disamping berpedoman pada pengelolaan keuangan Rumah Sakit Swadana Daerah tetap tunduk pada peraturan mengenai Keuangan Daerah.” Lampiran V. B. alinea dua disebutkan : Tarip dalam rangka pengembangan pelayanan dan penyesuaian terhadap perubahan harga barang/bahan alat ditetapkan oleh Kepala Daerah atas usul Direktur Rumah Sakit. g. Peraturan Menteri Kesehatan RI Nomor 749a/Menkes/PER/XII/1989 tentang Rekam Medis pasal 2 “Setiap pelayanan kesehatan yang melakukan pelayanan rawat jalan maupun rawat inap wajib membuat rekam medis Penerimaan RSUD Banyumas yang tidak dibukukan secara bruto, dipotong langsung dan dikelola di luar rekening kas RSUD mengakibatkan: a. Pendapatan RSUD Banyumas kurang disajikan minimal sebesar Rp2.056.498.547,00; b. Kekurangan setor kepada pihak ketiga sebesar Rp112.562.468,00; c. Membebani tugas kasir penerimaan; d. Pendapatan privat dokter minimal sebesar Rp814.513.897,00 belum memberikan kontribusi bagi RSUD; e. Potongan, resep kredit dan restitusi belum sepenuhnya dapat dikendalikan oleh manajemen; f. Pendapatan RSUD berdasarkan Billing Sistem belum dapat diyakini kelengkapannya. Permasalahan tersebut di atas disebabkan oleh: a. Direktur RSU kurang memperhatikan ketentuan yang berlaku dalam menerbitkan Surat Keputusan Direktur tentang pendapatan privat dokter, dan lalai tidak memintakan persetujuan Kepala daerah atas Perjanjian KSO; b. Kepala Bagian Keuangan sebagai atasan langsung Kasir penerimaan dan Kepala Sub Bidang Mobilisasi Dana mengabaikan tugas pengawasan yang menjadi tanggung jawabnya; c. Kasir penerimaan kurang memahami mekanisme pembukuan pendapatan sesuai ketentuan keuangan daerah;

35

Rekomendasi BPK-RI BPK RI memberi rekomendasi kepada : a.443.00 dan setoran tunai sebesar Rp1.310. Kepala Sub Bidang Mobilisasi Dana lalai menyimpan dana daerah pada rekening pribadi dan tidak menyelenggarakan pembukuan atas penggunaannya. dikarenakan pada Tahun 2005 yang sedang berjalan belum memuat pasal mengenai pembayaran kepada pihak ketiga. Bupati Banyumas untuk memerintahkan kepada Direktur RSUD agar melakukan penertiban administrasi keuangan dan penataan personel yang tepat dalam bidang pengelolaan keuangan RSUD. Dengan adanya setoran tambahan tersebut maka sisa kewajiban yang masih harus disetorkan ke Kas RSUD berdasarkan perhitungan per tanggal 31 Agustus 2005 adalah sebesar Rp99.00 dengan nomor rekening 3-003-20981-1 dari Bank BPD Jateng selanjutnya akan dimasukkan dalam rekening RSUD di bawah pemegang kas namun realisasinya akan dilaksanakan pada Tahun 2006. Pada tanggal 6 Oktober 2005. Direktur RSUD Kabupaten Banyumas menegur Kepala Bagian Keuangan yang lalai dalam melakukan pengawasan keuangan yang menjadi tanggung jawabnya dan Kepala Sub Bidang Mobilisasi Dana yang telah mengelola Keuangan RSUD tidak sesuai ketentuan.415.415.415. Petugas pada unit-unit pelayanan kurang memahami pentingnya nomor rekam medis sebagai data pokok pasien.00. b.00.00 (per 31 Agustus 2005) dan potongan jasa KSO setelah masa pemeriksaan yang 36 . Sehubungan dengan hal tersebut Direktur menjelaskan bahwa pertanggungjawaban kasir adalah berupa rekening atas nama “alat (Sukesti)” senilai Rp99. Direktur RSUD Kabupaten Banyumas memerintahkan kepada Kepala Sub Bidang Mobilisasi Dana untuk menyetorkan potongan jasa KSO sebesar Rp99. Kepala Bagian Keuangan telah memberikan tindak lanjut berupa tambahan kuitansi pembayaran kepada pihak ketiga senilai Rp11. c.053. e.443.000.d.809.443.

yaitu: 1) Kasir agar membukukan potongan/restitusi pada buku potongan.151.masih dipungut ke Kas RSUD. Untuk selanjutnya pembayaran dana privat dokter dilakukan melalui pemegang Kas RSUD. Direktur RSUD agar memerintahkan kepada bagian yang terkait untuk menyelenggarakan pencatatan pendapatan RSUD secara tertib.110. termasuk transaksi keringanan bagi pasien.00 ke Kas RSUD. 3) Direktur RSUD agar memerintahkan kepada Kepala Bagian PDE untuk menertibkan data pendapatan pada billing system sehingga billing system dapat memuat transaksi secara lengkap. d. e. 2) Kepala Bagian Keuangan agar membukukan pendapatan secara basis kas dan akrual dengan tertib. Direktur RSUD Kabupaten Banyumas membuat surat perjanjian kerjasama tentang privat dokter yang di dalamnya antara lain mengatur tentang kontribusi untuk RSUD dari layanan privat dokter dan memerintahkan Kepala Sub Bidang Mobilisasi Dana untuk menyetorkan dana privat dokter sebesar Rp25. Untuk selanjutnya pembayaran jasa pihak ketiga dilakukan melalui pemegang Kas RSUD. 37 .

000.560 m2 yang digunakan sebagai area pelayanan kesehatan masyarakat.75 m x 11 m Hasil pemeriksaan atas transaksi penerimaan RSUD dari aktivitas penggunaan fasilitas Pemerintah Daerah tersebut menunjukkan terdapat penerimaan sebesar Rp540. Dari hasil pemeriksaan lapangan atas penggunaan fasilitas RSUD (pemda) dapat disajikan data sebagai berikut: No. RSUD Banyumas selain mengupayakan pelayanan medis dan penunjang medis. Hasil wawancara dengan Bagian Tata Usaha RSUD diperoleh penjelasan bahwa perjanjian kerjasama atas penggunaan fasilitas RSUD oleh pihak ketiga tersebut belum dibuat.5 m x 2.3. Sdr. juga telah berupaya melengkapi pelayanannya dengan menempatkan berbagai fasilitas dan sarana prasarana yang dibutuhkan oleh pengunjung.6 m x 4.6 m 4. Toko Koperasi dan Wartel. serta areal parkir bagi pengunjung. Pemilik Kantin saat dikonfirmasi 38 .7 m 23. 1 2 3 4 5 6 7 Jenis Usaha Kantin Toko dan Wartel Salon Parkir luar Parkir dalam Toko Koperasi Kantin Koperasi Lokasi Di dalam area RSU Di dalam area RSU Di dalam area RSU Halaman luar RSU Halaman depan RSU Halaman luar RSU Halaman luar RSU Pengelola Dharma Wanita Koperasi karyawan Koperasi karyawan Sdr. Penyetoran kontribusi kepada RSUD sebesar Rp540.75 m x 11 m 6.4 m x 11m 6. Salon (Koperasi). wartel dan salon.000. Fasilitas-fasilitas tersebut dikelola oleh pihak ketiga (swasta) yang manajemennya terpisah dari manajemen Rumah Sakit.3 m x 6. Simun dkk. Dalam mendukung pelayanan yang optimal. Pemakaian fasilitas RSUD Banyumas oleh pihak ketiga belum memberikan kontribusi yang memadai bagi daerah RSUD Banyumas menempati areal seluas 46. Pemeriksaan selanjutnya dilaksanakan dengan konfirmasi kepada pihak ketiga yang mengelola unit bisnis yang bersangkutan. Pelayanan tambahan tersebut antara lain adalah Kantin RSUD.6 m 9. Simun dkk Koperasi karyawan Mantan Karyawan Luas area 6. Sedangkan untuk parkir tidak dijumpai adanya kontribusi bagi RSUD.00 pada bulan April 2005 untuk sewa bangunan koperasi.00 per tahun merupakan himbauan manajemen RSUD kepada pihak ketiga.

Pasal 19 ayat (2) Pemerintah Daerah dapat mencari sumber-sumber pembiayaan lain melalui kerjasama dengan pihak lain dengan prinsip saling menguntungkan. Selanjutnya dari hasil wawancara terhadap Pengelola Parkir didapatkan informasi bahwa pengelola parkir membenarkan tidak adanya perjanjian kerjasama pengelolaan parkir dengan Pemerintah Daerah (Dhi. b. RSUD Banyumas). 39 . Atas pemakaian fasilitas di dalam area RSUD tersebut. biaya listrik dan air yang digunakan oleh pemakai fasilitas masih ditanggung RSUD. BPKD Kabupaten Banyumas) diperoleh keterangan bahwa pemakaian fasilitas RSUD oleh pihak ketiga seharusnya memberikan kontribusi kepada Pemerintah Daerah. maka kerjasama RSUD dengan pihak ketiga belum sepenuhnya dapat menguntungkan RSUD sebagaimana yang diamanatkan dalam ketentuan. dan Salon menyatakan bahwa belum terdapat kesepakatan antara RSUD dan koperasi tentang kontribusi untuk RSUD. Untuk selanjutnya Pemerintah Daerah akan mengkoordinasikan dengan unit kerja yang terkait dengan permasalahan tersebut. Pasal 24 ayat (1) Setiap Perangkat Daerah yang mempunyai tugas memungut atau menerima pendapatan daerah wajib melaksanakan intensifikasi pemungutan pendapatan tersebut. sedangkan Ketua Koperasi Karyawan yang membawahi unit Toko. Dari hasil konfirmasi yang dilakukan kepada Pemerintah Daerah (dhi.sedang tidak berada di tempat. Wartel. Pengelola parkir menjelaskan adanya gangguan-gangguan dari pihak luar yang sulit untuk dikendalikan. Permasalahan tersebut tidak sesuai dengan Peraturan Pemerintah Nomor 105 Tahun 2000 tanggal 10 Nopember 2000 tentang Pengelolaan dan Pertanggungjawaban Keuangan Daerah: a. Untuk selanjutnya yang bersangkutan bersedia untuk bermusyawarah dengan pihak Pemerintah Daerah. Dengan adanya kondisi yang demikian.

Permasalahan tersebut disebabkan Direktur RSUD kurang berupaya untuk mengintensifkan peningkatan pendapatannya dari pemakaian fasilitas RSUD. RSUD tidak dapat mengendalikan pengelolaan parkir yang berada di wilayahnya sehingga mengganggu pelayanan terhadap masyarakat. Rekomendasi BPK-RI BPK RI memberi rekomendasi kepada : Direktur RSUD Kabupaten Banyumas agar segera membuat perjanjian kerjasama dengan pihak ketiga atas penggunaan fasilitas milik RSUD dan mengintensifkan pendapatan yang seharusnya diterima RSUD. Direktur RSU telah menunjukkan data tambahan bahwa RSUD telah membuat draft perjanjian kerjasama dengan pihak ketiga. RSUD belum mendapatkan kontribusi yang memadai atas penggunaan fasilitas daerah termasuk belum diperhitungkannya pemakaian biaya listrik dan air oleh pihak ketiga. Pada tanggal 6 Oktober 2005. b. draft tersebut selanjutnya akan diproses melalui pemerintah daerah.Permasalahan tersebut mengakibatkan: a. Sehubungan dengan permasalahan tersebut Direktur RSUD Kabupaten Banyumas menjelaskan bahwa upaya penertiban dan penataan parkir akan melibatkan pihak terkait dan akan segera dilakukan koordinasi dengan koperasi dan Dharma Wanita Persatuan RSUD untuk dilakukan perjanjian atas penggunaan tempat milik RSUD Banyumas. 40 .

Dari hasil pemeriksaan atas data base pelayanan pasien pada bagian pelayanan di masing-masing unit / instalasi dijumpai adanya pemberlakuan dasar tarif yang tidak berdasarkan Perda. Hasil penelaahan buku master tarif dan pembandingan dengan Perda Tahun 2001 menunjukkan bahwa buku master tarif memuat tarif layanan yang lebih rinci dan lengkap daripada tarif layanan yang tertuang pada lampiran Perda. Demikian juga dengan pemberlakuan tarif pada RSUD Banyumas yang berkaitan dengan masyarakat luas diatur dalam suatu Peraturan Daerah tentang Retribusi Pelayanan Kesehatan. Hasil Konfirmasi dengan Kepala Bagian Keuangan diperoleh penjelasan bahwa untuk mengatasi masa transisi pemberlakuan tarif lama yang tertuang dalam Peraturan Daerah Kabupaten Daerah Tingkat II Banyumas Nomor 1 Tahun 1991 tentang Pelayanan Kesehatan pada RSUD Kabupaten Banyumas dan tarif baru yang tertuang dalam Peraturan Daerah Kabupaten Banyumas Nomor 18 Tahun 2001 tentang Retribusi Pelayanan Kesehatan pada Badan Rumah Sakit Umum Daerah Kabupaten Banyumas Unit Swadana Daerah. maka direktur mengambil langkah kebijaksanaan dengan menaikkan tarif secara Perda tarif tersebut memiliki bertahap. maka direktur menerbitkan Buku Master Tarif Tahap I yang dikeluarkan pada Tanggal 2 Januari 2002 dan Buku Master Tarif Tahap II dikeluarkan pada 2 Januari 2003. Hal ini terjadi karena pada saat disusunnya Perda Tarif Tahun 2001 harga-harga kebutuhan rumah sakit relatif tinggi.4. Penyusunan buku master tarif dilakukan berdasar unit cost yang diusulkan masingmasing instalasi dan disetujui oleh Direktur RSU. Langkah tersebut diambil karena kedua perbedaan unit cost yang cukup besar. Tarif rumah sakit merupakan sebagian atau seluruh biaya penyelenggaraan kegiatan pelayanan medik dan non medik yang dibebankan kepada masyarakat sebagai imbalan atas jasa pelayanan yang diterima. Untuk mengatur kenaikan tarif secara bertahap agar tidak terjadi lonjakan biaya yang membebani masyarakat luas. Pengenaan tarif pada RSUD Banyumas tidak berdasar Peraturan Daerah Rumah Sakit Umum Daerah merupakan salah satu perangkat teknis daerah yang bukan merupakan kekayaan daerah yang dipisahkan sehingga untuk memberlakukan suatu kebijakan publik yang berkaitan dengan pelayanan RSUD harus mengikuti ketentuan yang diberlakukan oleh Pemerintah Daerah. Master tarif tersebut diberlakukan 41 .

Dilihat dari perbandingan harga per unit cost maka tarif pada master tarif tahap I secara umum lebih rendah dari tahap II dan tarif pada master tarif tahap II secara umum lebih rendah dari Perda Nomor 18 Tahun 2001. Pelayanan EEG Brain Maping d. Bahkan minimal untuk lima layanan yang dilaksanakan oleh RSUD. Pemeriksaan Elektro Convultion Therapie (ECT) c. Pelayanan Persalinan (VK) Dari penghitungan secara sampling atas 10 jenis layanan pada bulan Januari s/d Desember 2004 diketahui terdapat selisih pengenaan tarif berdasarkan master tarif II dan Perda seperti terlihat pada tabel berikut ini: 42 . "( ( & 0 ) * * * * * ** * * * * * * * * * ** * * Lengkapnya pada Lampiran 6 Penjelasan lebih lanjut dari Kasubbag Tata Usaha diperoleh keterangan bahwa mulai tanggal 1 April Tahun 2005.tanpa persetujuan Pemerintah Daerah secara resmi. Pemeriksaan USG b.A/2005. $ $ / . Perda tidak menyebutkan tarifnya. Hasil pemeriksaan secara sampling menunjukkan bahwa sebagian tarif layanan pasien masih dikenakan berdasarkan master tarif tahap II karena di dalam Perda tarif diatur secara global dan belum mengakomodasi adanya rincian pelayanan tambahan untuk pasien. sudah diberlakukan tarif 100 % sesuai Peraturan Daerah Nomor 18 Tahun 2001. + $ . melalui Surat Keputusan Direktur RSU Nomor 800/ 671. Perbedaan tarif tiap tahap tersebut sebagian dapat dilihat sebagai berikut: 1 " ( ") !) 2 !" # $ % & ( % ' ) $. Pelayanan ICU e. Macam-macam jenis layanan tersebut yaitu: a.

031.991.500.751.830.00 Jenis Pemeriksaan Pendapatan Jika dihitung dengan Perda Nomor 18 Tahun 2001 199.143.00 1.500.00 878. b.00 2.00 3.00 1.00 Selisih 405.783.000.959.000.591.264.851.081.00 2.000.500.761.608.606.128.500.881.00 1. Pengenaan tarif yang tidak ada dalam Perda EEG Brain Maping Kelas II 39.801.000.00 Jumlah 20.00 Hemoglobin Kelas VIP 749.00 1.000.579.00 Jumlah 605.00 1.00 4.271.500.115.040.00 39.462.665.981.00 31. Pengenaan tarif lebih tinggi dari Perda GDT / MDT Kelas II*) 605.00 4.565. 43 .463. Pada saat pemeriksaan tidak diketahui adanya persetujuan Bupati Banyumas atas pengenaan tarif yang tidak sesuai Perda dan pengenaan tarif atas layanan tambahan yang belum diakomodasi dalam Perda.00 199. Peraturan Daerah Kabupaten Banyumas Nomor 18 Tahun 2001 tentang Retribusi Pelayanan Kesehatan pada Badan Rumah Sakit Umum Daerah Kabupaten Banyumas Unit Swadana Daerah Bab V Pasal 9 ayat (1) Tarif dalam rangka penambahan pelayanan dan atau penyesuaian terhadap perubahan harga bahan ditetapkan dengan Keputusan Bupati atas usul Direktur.00 Trigliserid Kelas II 1.00 473.00 214.00 *) Pengenaan tarif ini dihitung tanpa mengakomodasi biaya bahan.000.450.086.00 Hemoglobin Kelas II 1.775.944.00 Hemoglobin Kelas III 1.00 2.00 Hemoglobin Paviliun 729.061.00 2. sehingga dapat diperbandingkan dengan tarif perda yang juga tidak mengakomodasi biaya bahan.504.665.836.00 3.160.00 1.730.623. Pengenaan tarif lebih rendah dari Perda*) Hemoglobin Kelas I 1.637. Puskesmas dan Puskesmas Pembantu serta sarana kesehatan lainnya yang diselenggarakan oleh daerah ditetapkan dengan Peraturan Daerah.00 0.000. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 7 Tahun 1987 tentang Penyerahan Sebagian Urusan Pemerintahan dalam bidang kesehatan kepada Daerah Bab VII Pasal 17 yang menyatakan bahwa : ayat (1) Tarip upaya kesehatan pada Rumah Sakit.Pendapatan jika dihitung dengan Master tarif Tahap II 1.00 Film 35x35 Kelas II 10. Permasalahan tersebut di atas tidak sesuai dengan : a.000.924.000.00 Albumin Kelas II 768. ayat (2) Tarip upaya kesehatan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) berpedoman pada komponen biaya yang ditetapkan oleh Menteri Kesehatan.00 11.025.00 405.00 11.500.989.528.421.

b. sedangkan rincian tarif diterjemahkan sendiri oleh masing-masing instalasi. Rekomendasi BPK-RI BPK RI memberi rekomendasi kepada Direktur RSUD Kabupaten Banyumas untuk : a. . Mengusulkan tarif layanan tambahan yang belum tertuang pada Perda Nomor 18 Tahun 2001 kepada Bupati Banyumas 44 untuk mendapatkan persetujuan. Permasalahan tersebut disebabkan: a. Sehubungan dengan permasalahan tersebut Direktur RSUD Kabupaten Banyumas menjelaskan bahwa penyusunan tarif mengacu pada Pola Tarif Rumah Sakit secara global dan tidak rinci. Pada tanggal 6 Oktober 2005.00. Penerimaan rumah sakit diterima lebih rendah dari Peraturan Daerah minimal sebesar Rp11. b.00.143. saat dilakukannya klarifikasi persetujuan tersebut belum dapat ditunjukkan. Penerimaan rumah sakit diterima lebih tinggi dari Peraturan Daerah minimal sebesar Rp405. Namun demikian.500. Direktur RSU memberikan tambahan penjelasan bahwa RSU telah mengkomunikasikan perihal kenaikan tarif secara bertahap tersebut pada rapat dewan penyantun dan pernah mengusulkan persetujuan atas tarif layanan tambahan kepada Bupati. Perda Nomor 18 Tahun 2005 tidak memuat lampiran tarif secara lengkap dan rinci dan Direktur RSU tidak mengusulkan adanya tarif tambahan layanan serta rinciannya untuk ditetapkan Kepala Daerah agar menjadi landasan hukum yang memadai. b. namun demikian pada rencana penyusunan tarif berikutnya akan disusun tarif pelayanan secara rinci dan jelas sehingga mudah dipahami oleh semua unit kerja di rumah sakit. Memerintahkan seluruh unit pelayanan untuk memberlakukan pemungutan tarif berdasarkan Perda Nomor 18 Tahun 2001.Pengenaan tarif yang tidak berdasarkan Perda mengakibatkan: a.528. c. Pengenaan tarif atas lima layanan tidak memiliki dasar hukum yang memadai. Kelalaian bagian pelayanan yang tetap memberlakukan Master Tarif Tahap II meskipun Direktur telah memberlakukan Perda Nomor 18 Tahun 2001.

000.5. hal ini sesuai dengan tugas pokoknya yaitu melaksanakan upaya kesehatan secara efektif dan efisien sehingga diharapkan rumah sakit dapat meningkatkan derajat kesehatan masyarakat dan pendidikan kesehatan bagi masyarakat. Oleh karena itu semua karyawan harus selalu diperhatikan kesejahteraannya. Standar Penilaian Indek Tidak Langsung 1) 2) 3) Standar Penilaian Indek Medis Standar Penilaian Indek PNS Standar Penilaian Indek Kontrak Karya 45 . Karyawan rumah sakit merupakan komunitas internal yang memegang peranan penting dalam menentukan kesuksesan penyelenggaraan sebuah rumah sakit. Salah satu bentuk kesejahteraan bagi karyawan adalah adanya pembagian jasa pelayanan Pembagian jasa pelayanan pada RSU Banyumas telah diatur oleh Direktur sebagaimana tertuang dalam Buku Pedoman pembagian jasa pelayanan di Rumah Sakit Umum Banyumas edisi lima. Untuk mewujudkan hal tersebut rumah sakit harus memiliki sumber daya yang potensial di bidang kesehatan sesuai dengan standar bidangnya masing-masing.00 direalisasikan tidak sesuai Fungsi Rumah Sakit adalah menyelenggarakan pelayanan di bidang kesehatan bagi masyarakat luas. sedangkan teknis pembagiannya dilaksanakan oleh Tim Indek a.000. Belanja jasa pelayanan peruntukannya sebesar Rp348. Rumah Sakit yang terdiri dari perwakilan karyawan masing-masing bagian/instalasi. Adapun pembagian jasa pelayanan tersebut terdiri dari : Standar Penilaian Indek Langsung 1) Direktur 2) Kontrak Karya 3) Tunjangan Pejabat Struktural 4) Tindakan Khusus 5) Medis 6) Pembagian jasa pelayanan tidak langsung (PNS) 7) Dokter Tamu b.

Tunjangan Fungsional f.000. Pemeriksaan atas pembagian jasa pelayanan pada Bendahara Gaji.000.000.00 x 8 bulan = 24. Golongan/pangkat b. Volume Tanggung Jawab d.00 sehingga jumlah keseluruhan sebesar Rp60.00. jumlah penerimaan sampai dengan Tahun 2004 sebesar Rp3. b.000.750. pengeluaran yang telah direalisasikan sebesar Rp17.00 sedangkan pengeluaran untuk Tahun 2004 belum diketahui nilainya karena tidak tersedia datanya. Hasil pemeriksaan SPJ untuk Dana Investasi dapat dijelaskan sebagai berikut : setelah yang bersangkutan mempunyai 46 .000.000.000. Pengeluaran untuk Dana Taktis direalisasikan sebesar Rp60. Tidak Tercela Pemberian indek dilakukan/dipertimbangkan masa kerja aktif minimal tiga bulan.000. Volume Kerja e.Pembagian indek dilakukan dengan memperhatikan kriteria sebagai berikut : a. Loyalitas.00 dan untuk Tahun 2005 sebesar Rp3.471. Pengeluaran-pengeluaran tersebut adalah sebagai berikut : a. Buku catatan keuangan dan hasil telaah SPJ menunjukkan terdapat pengeluaran yang diperhitungkan sebagai komponen pengurang jasa pelayanan yang merupakan hak karyawan.000.000.00 Besarnya pemotongan jasa pelayanan untuk dana taktis adalah sebesar Rp3.00 x 12 bulan = Rp36.000.000.00 per bulan. Hasil pemeriksaan atas Laporan Keuangan Dana Taktis untuk Tahun 2005. Dedikasi.000. Besarnya pemotongan jasa pelayanan untuk dana investasi tergantung kebijaksanaan direktur sesuai dengan naik atau turunnya pendapatan jasa pelayanan pada saat itu. Prestasi.000. Volume Beban Kerja g. Masa Kerja c. Pengeluaran untuk Dana Investasi direalisasikan sebesar Rp238.000.000.00 dan dana ini digunakan untuk kegiatan-kegiatan yang sifatnya sosial dan kedinasan yang tidak tersedia anggarannya.

000. Atas peminjaman tersebut belum diketahui pengembaliannya.00 10. pembelian peralatan rumah sakit.00 23.000.00 90.000.00 10.123.000.000.500.000.00 20.500.393.000.00 10.000.000.500.000.00 66.000.500.000.500.00 15.500.375.000.00 68.00 3.00 25.000.00 38.00 11.000.00 23.00 83.393.000.000.00 Jumlah Pengeluaran 71.000.000.000.00 23.393.00 dipinjamkan kepada dokter Tarkib.500.000.000.000.00 10.000.00 4.623.000. kegiatan Instalasi Pemeliharaan Sarana Rumah Sakit dan lain-lain.000.649.123.500.00 dipinjamkan tanpa keterangan dan Rp10.00 20.000.649.000.000. Cipta Sarana Informatika.000.00 30.248.000.500.000.000.319.00 40.00 23.00 92.00 90.00 12.00 38.00 15.500.500.968.000.000.00 20.00 10.000.000.500. sebesar Rp23.000.00 63.000.393.368.368.123.000.Bulan Tahun 2004 Januari Februari Maret April Mei Juni Juli Agustus September Oktober November Desember Jumlah Tahun 2005 Januari Februari Maret April Mei Juni Juli Jumlah Jumlah I dan II Bunga Bank Administrasi Bank Jumlah Total Jumlah Penerimaan 10.00 Hasil pemeriksaan atas penggunaan dana investasi sebesar Rp199.00 49.500.000.000.500.623.000.500.00 68.868.000.00 15. Hasil penelaahan SPJ diketahui dari dana investasi sebesar 47 .00 170.393.000.000.893.344.00 Saldo 10.968.000.000.000.00 238.000.00 58.000 199.000.00 dipergunakan untuk keperluan kegiatan RSU pemeliharaan dan pengembangan sarana dan prasarana rumah sakit.649.868.319.00 53.00 110.000.500.500.000.000. perawatan jenazah tanpa identitas.00 78.893.00 15.00 10.00 10.000.00 42.000.606.500.00 20.500.00 98.00 dipinjam untuk pembayaran hutang kepada CV.00 4.000.00 50.000.00 10.500.00 di antaranya sebesar Rp70.000.500.00 82.00 15.00 241.375.893.000.000.000.000.000.000.00 70.00 15.00 42.000.368.00 42.000.00 98.000.000.770.000.000.500.000. Sedangkan sisa pengeluaran sebesar Rp95.500.500.500.

00 per bulan.00 x 12 bulan = Rp30.000.000. Pengeluaran tersebut dengan jumlah sebesar Rp348.00 tersebut di antaranya sebesar Rp34.000. Keberadaan dana-dana tersebut juga belum dibukukan pada neraca RSU.00 x 8 bulan = Rp20. Rincian selengkapnya ada pada lampiran 7.00 + Rp238.500.000.000.000.000.00 (Rp60.00 + Rp50.500.00 dipinjamkan kepada IPSRS RSU untuk kegiatan pemeliharaan RSU.000. Atas setiap pengeluarannya.000.00 untuk Tahun 2004 dan untuk Tahun 2005 (sampai dengan bulan Agustus) sebesar Rp2. pembentukan dana taktis dan dana investasi belum mendapatkan persetujuan Kepala Daerah sebagaimana diamanatkan dalam ketentuan pengelolaan keuangan daerah. Di samping pengeluaran tersebut tidak mempunyai dasar hukum karena tidak diatur dengan Surat Keputusan Direktur. namun merupakan kebijakan Direktur RSU untuk merealisasikannya.000.649.00) direalisasikan tidak melalui mekanisme akun pengeluaran yang sebenarnya akan tetapi melalui pengurangan belanja jasa pelayanan. c. sehingga transaksi penambahan maupun pengeluarannya tidak terpantau dalam laporan keuangan. Bantuan untuk Pemerintah Daerah direalisasikan sebesar Rp50.00 Besarnya dana jasa pelayanan yang dikeluarkan untuk bantuan ke Pemda sebesar Rp2. Dana investasi disimpan pada Tabungan Bima BPD Jateng dengan nomor rekening 2-003-13075-3 atas nama Drs.000.000.500.607.Rp95.00. Santoso/Dana Investasi.500. pemilik rekening menyatakan telah mendapatkan persetujuan dari Direktur RSU. Bantuan untuk pemda ini tidak tercantum dalam Buku Pedoman pembagian jasa pelayanan.000.000. 48 .000. Pemeriksaan SPJ menunjukkan dana yang telah dikeluarkan adalah sebesar Rp2.000.000. Hasil konfirmasi dengan Pemegang Kas Rumah Sakit menjelaskan bahwa pengeluaran tersebut sebagai “ Tali Asih “ dari rumah sakit kepada Pemerintah Daerah dalam hal ini adalah BPKD.000.

Keputusan Menteri Dalam Negeri Nomor 29 Tahun 2002 tentang Pedoman Pengurusan. Peraturan Daerah Kabupaten Banyumas Nomor 18 Tahun 2001 tentang Retribusi Pelayanan Kesehatan pada Badan Rumah Sakit Umum Daerah Kab Banyumas unit Swadana Daerah pada 1) Bab I Ketentuan Umum Pasal 1 ayat (19) yang menyatakan bahwa jasa pelayanan adalah imbalan yang diterima oleh pelaksana pelayanan atas jasa yang diberikan kepada pasien dalam rangka observasi. pembukuan. Permasalahan tersebut mengakibatkan : a.000. penyetoran.Permasalahan tersebut di atas tidak sesuai dengan : a. b. Status dana-dana yang disisihkan tidak memiliki landasan hukum.000. diagnosis. c. pasal ditetapkan. Hak karyawan atas jasa pelayanan berkurang sebesar Rp348.00. 49 . pengobatan. tidak jelas mekanisme penggunaannya dan tidak terpantau dalam laporan keuangan. konsultasi. Pertanggungjawaban dan Pengawasan Keuangan Daerah serta tata cara penyusunan APBD. pelaksanaan Tata usaha Keuangan Daerah dan Penyusunan Perhitungan APBD. visite. b. penyaluran penggunaan serta pelaporan) dilaksanakan sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Keputusan Menteri Dalam Negeri Nomor 92 Tahun 1993 tentang Penetapan dan Penatausahaan pembiayaan serta pertanggung jawaban investasi prasarana Keuangan Unit Swadana Daerah Paragraf 4 Pasal 11 ayat (2) Penggunaan dana Unit Swadana Daerah untuk dan sarana di Unit Swadana Daerah yang 55 ayat (2) Pengguna anggaran dilarang melakukan pengeluaran-pengeluaran atas beban belanja daerah untuk tujuan lain dari pada yang bersangkutan supaya terlebih dahulu mendapat persetujuan tersendiri dari Menteri Dalam Negeri untuk Daerah Tk I dan Gubernur Kepala Daerah Tingkat I untuk Daerah Tingkat II. 2) Bab XIV Pengelolaan dan Penatausahaan penerimaan Rumah Sakit pada Pasal 57 ayat (7) menyebutkan bahwa Tata cara pengelolaan seluruh penerimaan rumah sakit (pemungutan. rehabilitasi medik dan atau pelayanan lainnya.

00) ke Kas RSUD.00 kepada Pemerintah Daerah (BPKD) dengan cara melengkapi bukti-bukti pengeluaran yang sah. dan menarik peminjaman dana investasi dari pihak ketiga serta menyetorkannya ke Kas RSUD.000.00 (termasuk bunga bank sebesar Rp3.000. menyetorkan kas Dana Investasi minimal sebesar Rp42. Rekomendasi BPK-RI BPK RI memberi rekomendasi kepada Direktur RSUD Kabupaten Banyumas untuk : a.368.Hal ini disebabkan karena adanya kebijakan Direktur yang kurang memahami ketentuan yang berlaku dan tidak tersedianya dimaksud. c. b.319.968. Memerintahkan pengelola dana taktis mempertanggungjawabkan penyisihan jasa pelayanan yang telah direalisasikan sebagai dana taktis sebesar Rp60. akun anggaran untuk pengeluaran 50 .968. Sehubungan dengan permasalahan tersebut Direktur RSUD Kabupaten Banyumas menjelaskan bahwa penggunaan dana-dana tersebut digunakan untuk kegiatan yang sifatnya fleksibel dan tidak direncanakan sehingga tidak dianggarkan dalam DASK.868.00 kepada Pemerintah Daerah (BPKD) dengan disertai bukti-bukti pengeluaran yang sah. sehingga pembagian jasa pelayanan sepenuhnya dilaksanakan dengan dasar hukum yang memadai dan transparan. Memerintahkan pengelola dana investasi mempertanggungjawabkan penyisihan jasa pelayanan yang telah direalisasikan sebagai dana investasi sebesar Rp241.868. Mengatur kembali pembagian jasa pelayanan kepada pihak di luar rumah sakit sesuai ketentuan pengelolaan rumah sakit pemerintah.

namun pasien khusus tersebut langsung mendapatkan pelayanan di Laboratorium. Instalasi laboratorium dan radiologi menyelengggarakan pelayanan untuk penderita rawat jalan.950.6.Agustus 2005 serta dari data pasien yang sudah periksa tetapi tidak mengambil hasil laboratorium dan tidak membayar.781. unit gawat darurat dan unit rawat inap.150.00 belum membayar layanan laboratorium namun hasil laboratoriumnya telah selesai diproses. Keluarga dan tamu yang menggunakan bahan laboratorium sebanyak 185 orang dengan nilai pembayaran minimal sebesar Rp8. 52 .165. terdapat minimal dua alat kesehatan yakni Analyzer Il Ilyte Na/K/Cl. Penyajian data tunggakan pasien khusus pada Instalasi Laboratorium tidak akurat dan pemakaian film radiologi (CT SCAN) sebanyak 670 lembar senilai Rp12.50 tidak didokumentasikan dengan memadai Sebagai bagian dari Organisasi Pelayanan Kesehatan. Karyawan. Instalasi Laboratorium Pemeriksaan atas dokumen Buku Pantauan Pemakaian Bahan. Hasil pemeriksaan kegiatan administrasi pemakaian bahan pada Instalasi Laboratorium dan Radiologi diperoleh gambaran bahwa pengendalian intern pada masing-masing instalasi masih lemah. keluarga dan tamu yang melakukan pemeriksaan tanpa melalui prosedur yang seharusnya yaitu dengan cara mendaftar dan melakukan pembayaran lewat kasir. Buku Pasien dan hasil pengecekan alat uji Laboratorium yang merupakan bentuk Kerja Sama Operasional (KSO) antara Rumah Sakit Umum Daerah Kabupaten Banyumas dengan pihak ketiga. dan Autonalyzer ABX Mira Plus dengan UPS yang tidak terpasang indikator pengukur kuantitas layanannya sehingga menyulitkan dalam pengendalian pemakaian bahan yang sesungguhnya.422. Dari hasil pemeriksaan buku pantauan pemakaian bahan. dengan mengambil sampling untuk bulan Desember Tahun 2004 dan Januari . Instalasi Laboratorium dan Radiologi merupakan unit pelaksana teknis fungsional rumah sakit yang melakukan kegiatan pelayanan pemeriksaan laboratorium dan radiologi dalam usaha membantu pelayanan medis terutama dalam penegakan diagnosis dan pengelolaan pasien. terdapat beberapa orang pegawai. hal ini dapat dijelaskan sebagai berikut : a. Selain itu terdapat 48 pasien dengan nilai pembayaran sebesar Rp946.00.

pada saat pemeriksaan berakhir (tanggal 23 Agustus 2005) disimpulkan bahwa layanan senilai Rp9.820.00 Pasien khusus Non Karyawan 7.00) 3.515.00) (4.402. Pada saat pemeriksaan dilaksanakan.075.00) (5. namun tidak diketahui secara formal data yang mendukung pernyataan tersebut.115.100. Pencocokan tersebut menghasilkan data sebagai berikut: Pasien khusus Karyawan 15.837.215.00 (8.705.729.00 (773.214.00) (9.00 yang belum diselesaikan dan akan ditindaklanjuti oleh manajemen.00 Tarif billing Ditagihkan Askes Dibayar pasien Kekurangan tagihan Berdasarkan tabel di atas masih terdapat tunggakan sebesar Rp3. Bhineka Usada Raya Cabang Semarang dalam pemanfaatan alat CT Scanner yang tertuang dalam Surat Perjanjian Kerjasama Nomor : 119/759 A/2001 pada Tanggal 15 September 2001. Instalasi Radiologi Instalasi Radiologi telah melakukan kerja sama operasional dengan PT.Hasil wawancara dengan Kepala Instalasi Laboratorium dinyatakan bahwa pasien-pasien tersebut merupakan pasien khusus yang memerlukan pelayanan cepat.00 Jumlah 22.215.932.141.729.695.00 tidak diketahui oleh Instalasi Laboratorium dan tidak dapat ditunjukkan.00 (9.480.154. Pasien sebagaimana disebutkan telah mendapatkan ijin dari Direktur. Dengan demikian.00) 1.820. Hasil cross cek data susulan dari Ka Sub Bid Penunjang Medis I setelah masa pemeriksaan berakhir.075.705.100.290.530.00) 2.402.110.112.248.630. b. sehingga catatan pada Instalasi Laboratorium masih menunjukkan data bahwa pasien belum menunaikan pembayarannya.00 telah direalisasikan tanpa disertai pembayaran oleh pasien. data pembayaran sebesar Rp9.00 dan Rp9. Pada perjanjian kerja sama ini disebutkan bahwa rumah sakit 53 .000.075. yakni pada tanggal 6 Oktober 2005 menunjukkan tambahan informasi bahwa Instalasi Laboratorium dan Kasir melakukan pencocokan atas keseluruhan data tunggakan layanan di laboratorium. Hal ini menunjukkan kurangnya koordinasi antara kasir dan instalasi laboratorium dalam menyajikan data pembayaran pasien secara akurat.

907.50 (1 box =100 lbr film. Menurut data harian.422.675. sedangkan menurut data bagian administrasi terdapat pemakaian film sebanyak 2660 lembar termasuk yang rusak.781. dan hasil cek fisik menunjukkan terdapat perbedaan pemakaian film radiologi (CT Scan) menurut data harian yang dilaporkan dan data administrasi. Pemeriksaan atas Dokumen Laporan Harian Radiologi. Akan tetapi pada saat alat mengalami kerusakan dan pemakaian film menjadi bertambah karena film sering rusak maka pihak rumah sakit yang menanggung kerusakan film tersebut. Laporan Bulanan Kegiatan Radiologi. jumlah kerusakan tidak dapat diidentifikasi karena data pada laporan administrasi tidak tersedia.menggunakan alat tersebut untuk pelayanan pasien dengan memberi kontribusi kepada pemilik alat dan kewajiban pembelian film oleh pihak rumah sakit kepada pihak pemilik alat. Dengan demikian terdapat selisih 670 lembar film (3330 lembar – 2660 lembar ) dengan nilai sebesar Rp12. pemakaian film selama periode sampling sebanyak 3330 lembar dengan jumlah kerusakan sebanyak 267 lembar. harga per box = Rp1. Perbedaan tersebut dapat dilihat sebagai berikut: Mnrt Lap kegiatan ke Pimpinan Baik Rusak (film) (Film) 120 2 40 0 28 4 75 15 110 12 140 135 121 190 149 185 179 1472 156 112 10 7 16 16 22 14 41 159 15 27 Pemakaian Film mnrt Ctt Adm (film) 76 34 17 67 104 132 109 147 148 128 157 139 1258 156 115 Bulan Jumlah Pasien Jumlah Selisih (film) 46 6 15 23 18 18 33 (10) 58 43 42 81 373 15 24 Januari 04 Februari Maret April Mei Juni Juli Agustus September Oktober Nopember Desember Jumlah Januari 05 Februari 67 24 17 59 66 94 94 115 125 93 110 108 972 119 89 122 40 32 90 122 150 142 137 206 171 199 220 1631 171 139 54 .00) yang tidak dapat dipertanggungjawabkan karena tidak dapat ditelusuri kebenarannya. Buku Permintaan Barang.

063 20 2 18 12 5 9 108 267 197 198 298 304 204 188 1. 55 . efisien. Peraturan Pemerintah Nomor 105 Tahun 2000 tanggal 10 Nopember 2000 tentang Pengelolaan dan Pertanggungjawaban Keuangan Daerah: • pasal 4 “Pengelolaan keuangan daerah dilakukan secara tertib. film bergaris dan pemotretan kurang sempurna sehingga perlu diulang.660 29 (1) 85 102 26 17 297 670 Menurut hasil konfirmasi dengan bagian administrasi diperoleh penjelasan bahwa perbedaan tersebut terjadi karena adanya pemakaian film yang kemungkinan tidak dimasukkan dalam buku administrasi pasien karena adanya pergantian shif petugas jaga. Atas sebagian kerusakan tersebut. taat pada peraturan perundang-undangan yang berlaku. Permasalahan tersebut di atas tidak sesuai dengan : a.591 3. pihak RSUD telah melakukan permohonan penggantian film kepada rekanan dan disanggupi akan diganti sebanyak 300 lembar. Pengecekan terhadap film yang rusak tidak dapat dilakukan karena penyimpanan film rusak tertumpuk menjadi satu dari tahun ke tahun sehingga data kerusakan film yang sebenarnya hanya berdasarkan laporan bulanan dari Instalasi Radiologi. efektif.Maret April Mei Juni Juli Agustus Jumlah Jumlah Total 125 144 166 146 129 141 1. Kerusakan tersebut antara lain disebabkan loading jam (film rusak karena alat rusak).059 2.031 177 196 280 292 199 179 1. Selisih tersebut tidak dapat ditelusuri dengan tuntas disebabkan kartu persediaan barang harian tidak pernah dibuat.402 2.330 168 199 213 202 178 171 1.699 3. yakni pada tanggal 6 Oktober 2005 Kepala Instalasi Radiologi memberikan tambahan data yang menunjukkan bahwa telah dilakukan penghitungan ulang atas kerusakan film dengan hasil total kerusakan film selama Tahun 2004 dan 2005 adalah sebanyak 520 lembar film. transparan dan bertanggungjawab dengan memperhatikan azas keadilan dan kepatutan”. Setelah berakhirnya masa pemeriksaan.

c. d. Sehubungan dengan permasalahan tersebut Direktur RSUD Kabupaten Banyumas menjelaskan bahwa memang benar terjadi kurang koordinasi dan kurang tertib dalam 56 . Kurangnya koordinasi antara Instalasi Laboratorium dan Kasir dalam memantau data pembayaran b. Data pemakaian film tidak andal sehingga tidak dapat dipergunakan sebagai dasar pengendalian persediaan oleh manajemen. Data tunggakan tidak dapat dipergunakan sebagai dasar pengendalian tunggakan oleh manajemen. Peraturan Daerah Kabupaten Banyumas Nomor 18 Tahun 2001 tentang Retribusi Pelayanan Kesehatan pada Badan Rumah Sakit Umum Daerah Kabupaten Banyumas Unit Swadana Daerah Bab X Pasal 21 ayat (1) Bagi pasien yang tidak mampu diberi keringanan membayar biaya pelayanan dan atau bebas biaya pelayanan. Kerusakan film tidak terpantau oleh manajemen sehingga tidak dapat diminimalkan.215. Untuk keperluan perawatan ini Direktur menempatkan pasien di kelas II. b. tetapi pasien tersebut harus membawa surat keterangan miskin dari pejabat yang berwenang. b. Permasalahan tersebut di atas mengakibatkan a. kelalaian petugas administrasi dan petugas jaga baik dan mendokumentasikan data dan pemakaian film dengan lemahnya pengawasan dari Kepala Instalasi.• pasal 24 ayat (1) Setiap Perangkat Daerah yang mempunyai tugas memungut atau menerima pendapatan daerah wajib melaksanakan intensifikasi pemungutan pendapatan tersebut. Adanya pasien dan dari kelalaian Kepala Instalasi Laboratorium yang dalam tidak menyelenggarakan pembukuan bahan secara harian.00.402. Penerimaan rumah sakit dari layanan laboratorium tertunda minimal sebesar Rp3. Permasalahan tersebut disebabkan: a.

57 .402.administrasi sehingga perlu dilakukan teguran kepada Kepala Instalasi Laboratorium dan Subid Pelayanan Medis I. Menegur Kepala Instalasi Laboratorium dan Instalasi Radiologi yang kurang tertib dalam melaksanakan administrasi layanan pasien yang menjadi tanggung jawabnya dan memerintahkan kepada masing-masing Kepala Instalasi untuk menyelenggarakan pembukuan harian atas pemakaian bahan yang berada pada instalasinya. Menagihkan sisa tunggakan layanan laboratorium sebesar Rp3. d. Kepala Instalasi Rawat Jalan serta kepada Kasir.215. Rekomendasi BPK-RI BPK RI memberi rekomendasi kepada Direktur RSUD Kabupaten Banyumas untuk : c.00.

Susu dan telur dalam keadaan matang Lembur berdasarkan acc tertulis direktur Lembur Menu kelas II Sesuai kebutuhan 58 . Supir. Informasi. Pemberian eksra fooding melalui Instalasi Gizi RSUD Banyumas sebesar Rp6. Laboratorium. PDE.7.Supervisi :hari libur 2X Semua karyawan mendapat teh manis 1 gelas sehari Karyawan Malam Dinas Instalasi Gizi.OK Tamu : dokter spesialis dari luar .00 .600.00 tidak berdasarkan SK Direktur Rumah Sakit Umum Daerah Kabupaten Banyumas mempunyai 16 instalasi yang masing-masing mempunyai tugas dan fungsi sesuai dengan bidangnya. Apotik.105. Masjid Tukang Kebun dan ISS Perawat. Radiologi OK OK Tamu Radiologi Menu Kelas II Menu Kelas II Menu makanan Dinas Malam 3X 1X 1X Telur + Mie Menu VIP Telur + Susu Setiap ada CITO Setiap ada OP Setiap hari 1 butir dan 1 bungkus CITO apabila operasi dilakukan setelah jam 14. Satpam. Salah satu dari ke-16 instalasi tersebut adalah instalasi gizi yang mempunyai tugas mengelola bidang makanan. Kasir.Lauk Hewani telur 1 buah . baik makanan pasien maupun makanan karyawan RSUD. Dalam Prosedur Tetap pemberian makanan pada Instalasi gizi RSUD Banyumas dengan Nomor Dokumen : 14/IG/V/89 dan Nomor Revisi 3 Tahun 2003 disebutkan bahwa untuk karyawan mendapat porsi makan dari Rumah Sakit dengan ketentuan sebagai berikut : Jenis Karyawan Dokter Jaga Residen Supervisi Jenis Makanan Menu VIP Menu VIP Menu Kelas II Frekwensi/hari 4X 3X 1X Keterangan .

Apoteker/Kepala Instalasi Farmasi. Keuangan. Adapun dana yang dibutuhkan adalah : a. Kapasitas/jumlah pegawai yang membutuhkan makanan tambahan sebanyak 18 orang untuk ruang bougenville dan cempaka b. berdasarkan data pada Ruang Bougenville dan Ruang Cempaka (ruang penyakit dalam/ruang beresiko) pada Tahun 2004 terdapat pasien Tubercolosis sebanyak 153 pasien dan telah menyebabkan dua orang perawat terinfeksi penyakit tersebut.600. menyusun kebijaksanaan pelaksanaan.512. Pemberian makanan bagi karyawan tersebut dimaksudkan untuk kesejahteraan karyawan dalam rangka penambahan gizi karyawan di lingkungan rumah sakit yang dipandang sangat rentan terhadap berbagai penyakit.105.000 Dari hasil pemeriksaan dan konfirmasi dengan Kepala Instalasi Gizi diperoleh penjelasan bahwa usulan tersebut telah dilaksanakan dan dana yang telah dikeluarkan sampai dengan bulan Agustus (saat pemeriksaan) adalah sebesar Rp1600 x 18 orang x 212 hari = Rp6. 59 . Dokter Jaga. membina pelaksanaan. Dokter Residen. Melihat kenyataan tersebut Kepala Bidang Keperawatan melalui surat Nomor 010/per/I/05 Tanggal 31 Januari 2005 mengajukan usulan untuk pemberian extra fooding bagi perawat di ruang Bougenvile dan ruang Cempaka dengan pemberian makanan tambahan tinggi protein. akan tetapi atas pelaksanaan pemberian tambahan tersebut belum didukung dengan adanya SK Direktur Rumah Sakit sehingga belum ada aturan resmi yang melandasinya. Dokter Spesialis. Permasalahan pemberian ekstra fooding yang tidak memiliki landasan peraturan (SK Direktur) tersebut tidak sesuai dengan Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor : 983/MENKES/SK/XI/1992 tentang Pedoman Organisasi Rumah Sakit Umum Bab III Bagian Pertama pasal 8 yang menyatakan bahwa Direktur mempunyai tugas memimpin. Kepala Instalasi Gizi.Sedangkan untuk yang mendapatkan snack harian sesuai prosedur tetap adalah Direktur. Di samping itu.00. Kebutuhan anggaran/Tahun Rp1600 X 18 orang x 365 hari = Rp10. Perawatan. Kabag TU. Harga makanan tambahan perporsi/orang Susu Telur : Rp1000 : Rp600 c. Dokter Umum.

00 direalisasikan tanpa dasar peraturan yang sah dan dapat menimbulkan kecemburuan dari instalasi lain yang tidak mendapatkan tambahan makanan.600. Permasalahan tersebut disebabkan kelalaian dari Kepala Instalasi Gizi yang telah merealisasikan pemberian makanan tambahan tanpa didasari SK Direktur. Hal ini mengakibatkan pemberian makanan tambahan protein tinggi untuk ruang Bougenvile dan ruang Cempaka senilai Rp6. Namun demikian untuk pemberian extra fooding protein tinggi tambahan bagi pegawai yang berisiko tinggi khususnya di ruang Bougenville dan Cempaka belum diterbitkan SKnya. Rekomendasi BPK-RI BPK RI memberi rekomendasi kepada Direktur RSUD Kabupaten Banyumas untuk menegur Kepala Instalasi Gizi yang lalai dalam melaksanakan tugasnya dan menetapkan Surat Keputusan tentang pemberian makanan tambahan protein tinggi untuk pegawai berisiko tinggi secara proporsional dan sesuai kemampuan rumah sakit.mengkoordinasikan dan mengawasi pelaksanaan tugas rumah sakit sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku. 60 .105. Sehubungan dengan permasalahan tersebut Direktur RSUD Kabupaten Banyumas menjelaskan bahwa sudah dibuatkan SK tentang kebijakan pemberian extra fooding kepada karyawan secara keseluruhan.

kewenangan pengelolaannya ada di bawah Direktur RSUD yang didelegasikan kepada seorang Apoteker yang merupakan pegawai RSUD. Komponen B merupakan instalasi farmasi yang modalnya dimiliki oleh dokterdokter/ Apoteker RSUD Banyumas yang pengelolaan serta tata kerjanya telah diatur oleh Keputusan Bupati Banyumas Nomor 442/276/1996 tanggal 9 April 1996. b. 45% untuk pemilik modal yang diatur oleh Direktur RSU. peningkatan sumber daya serta menunjang instalasi komponen A. Kas RSUD) yang selanjutnya dipergunakan untuk peningkatan mutu RSU. 5% untuk pengembangan dan penambahan modal Komponen B. Instalasi Farmasi. Pengembangan dan Pemda.8. Sumber daya untuk pengelolaan komponen B meliputi personel. Pembagian keuntungan tersebut diatur sebagai berikut: a. Meskipun permodalannya dimiliki oleh dokter dan apoteker. Komponen A yang bertugas mengelola obat-obatan yang berasal dari Inpres. Askes. d. Komponen B yang bertugas mengelola obat-obatan dari Pedagang Besar Farmasi (PBF). c. listrik. Dalam mengelola obat yang menjadi kewenangannya. Baik komponen A maupun B berada di bawah kendali Kepala Instalasi 61 . Pemakaian sumber daya RSUD untuk pengelolaan Instalasi Farmasi Komponen B belum memiliki landasan peraturan Dalam menyelenggarakan pelayanan fungsionalnya menyediakan obat bagi pasien. Personel yang menangani penjualan obat di komponen B juga ditugaskan untuk melayani penjualan obat di Komponen A. jaringan komputer dll). RSUD Banyumas melaksanakan pelayanan melalui dua komponen instalasi. Pedagang Obat (PO) dan Apotek. b. pelayanan. Hasil pemeriksaan atas pembukuan pengelolaan instalasi farmasi komponen B menunjukkan bahwa pengelolaan Komponen B menggunakan sumber daya RSUD dan dibiayai dari anggaran daerah. sarana dan prasarana RSUD (tempat. Instalasi Farmasi Komponen B memperoleh keuntungan dari hasil penjualan obat kepada pasien RSUD. yaitu: a. 10% untuk Direktur RSU. 40% untuk Kas Daerah (dhi. Sumber daya yang dikeluarkan untuk menunjang pengelolaan obat di Instalasi Komponen B tidak dipisahkan dari manajemen RSUD.

647. Selain ditunjang biaya yang berasal dari anggaran daerah. Dengan direalisasikan biaya tersebut maka pembagian keuntungan kepada RSU menjadi lebih rendah sebesar Rp62.030 99.684 378.624 983.041.668. Uang penjualan obat setiap harinya diterima oleh Kasir Penerimaan RSUD dan selanjutnya disetorkan kepada bendahara komponen B melalui rekening nomor 1-003-01625-3.240 2 3 4=3-2 1. Biaya tersebut dipergunakan untuk pembayaran tenaga harian lepas yang bekerja pada komponen B dan biaya bahan habis pakai lainnya.684. Komponen B telah merealisasikan biaya administrasi dan insentif dari hasil penjualan obat.330. menunjukkan bahwa surat keputusan Bupati tidak mengatur secara jelas hak dan kewajiban kedua belah pihak (RSU dan para pemilik modal). sehingga menimbulkan ketidakjelasan perlakuan biaya yang harus direalisasikan untuk mendukung kelancaran tugas Instalasi Farmasi Komponen B.836 Selisih 7=6-5 39.212 356.240.569. seperti tampak pada tabel berikut: Tahun 1 2004 2005 (Juli) Laba Biaya Laba bersih Pembagian keuntungan Dengan biaya Tanpa biaya 5=40%x4 6=40%x2 627.133.682.940 62.350 890.300 22. sedangkan biaya administrasi tidak disebutkan keberadaannya untuk dapat direalisasikan.459.990 Penghitungan lengkap ada pada lampiran 8. Dari hasil pemeriksaan atas mekanisme penerimaan uang penjualan obat pada Komponen B diketahui bahwa komponen B melakukan pengelolaan uang dengan cara penggunaan langsung dan terpisah dari pengelolaan keuangan RSUD. Nilai sumber daya RSUD tidak dapat diukur dengan tepat disebabkan belum ada pengaturan yang jelas tentang biaya yang menjadi kewajiban RSU untuk menunjang komponen B.273.615.707. Hasil penelaahan atas surat keputusan Bupati Nomor 442/276/1996.330.590 155.809.858.825.596 1.600 2. komponen B hanya diperkenankan mengurangkan hasil penjualan obat dengan biaya pembelian obat.643.046.816.250 1. Sesuai dengan Surat Keputusan Bupati tersebut di atas.118. Penggunaan sumber daya RSUD tersebut tidak disebutkan dalam Surat Keputusan Bupati Nomor 442/276/1996.825.600.912 667.00.943.210 2.524.560 56.00.780 947. Selama Tahun 2004 dan 2005 (S/d Agustus) biaya yang direalisasikan oleh komponen B adalah sebesar Rp155.457.Farmasi.334. Penggunaan uang penjualan obat secara langsung tersebut tidak diatur di dalam Surat 62 .

b. Hasil wawancara dengan Direktur RSUD diperoleh informasi bahwa format pengelolaan komponen B dengan mekanisme yang selama ini telah berjalan sebagaimana dijelaskan sebelumnya dipandang cukup andal dalam mengantisipasi adanya pemberian resep keluar dari rumah sakit. Permasalahan tersebut mengakibatkan: a. Konfirmasi atas permasalahan ini juga dilakukan kepada Pemerintah Daerah yang diwakili oleh Kepala BPKD dan Kepala Bagian Hukum Kabupaten Banyumas. Peraturan Pemerintah Nomor 105 Tahun 2000 tanggal 10 Nopember 2000 tentang Pengelolaan dan Pertanggungjawaban Keuangan Daerah. sebagaimana dimaksud ayat (3) maka unit distribusi Instalasi Farmasi Rumah Sakit (Apotek Rumah Sakit) secara bertahap harus difungsikan sepenuhnya sebagai satu-satunya Apotek Rumah Sakit yang berkewajiban melaksanakan pelayanan obat-obatan di Rumah Sakit. Permasalahan tersebut tidak sesuai dengan: a. 63 . pasal 19 ayat (2).Keputusan Bupati. ayat (4) Dengan system satu pintu. Hasil konfirmasi ditindaklanjuti dengan rapat yang menyetujui adanya pengaturan kembali hak dan kewajiban kedua belah pihak serta memperjelas badan usaha yang akan bekerja sama dengan RSUD. Biaya operasional yang direalisasikan oleh rumah sakit untuk menunjang Komponen B menjadi tidak jelas statusnya sehingga tidak diketahui hak dan kewajiban antara pihak rumah sakit dengan pemilik modal. maka pelayanan obat-obatan di Rumah Sakit harus melalui system satu pintu. Keputusan Direktur Jendral Pelayanan Medik Depkes RI Nomor 0428/Yanmed/RSKS/SK/1989 tanggal 17 April 1989 tentang Petunjuk pelaksanaan peraturan Menkes RI tentang kewajiban menuliskan resep dan atau menggunakan obat generik di RS Pemerintah : • Pasal 3 ayat (4) Instalasi Farmasi Rumah Sakit berkewajiban dan harus mampu mengelola obat-obatan Rumah Sakit secara berdaya guna dan berhasil guna baik dari segi penggunaan biaya maupun obat-obatan. Atas penggunaan uang tersebut. Pemerintah Daerah dapat mencari sumber-sumber pembiayaan lain melalui kerjasama dengan pihak lain dengan prinsip saling menguntungkan. bendahara komponen B telah membuat pembukuan dan melaporkannya secara rutin kepada Direktur RSUD. • Pasal 9 ayat (3) Untuk dapat melaksanakan pengawasan dan pengendalian terhadap pelayanan obat-obatan di Rumah Sakit.

Bupati Banyumas agar melakukan evaluasi atas usulan perjanjian kerja sama pengelolaan Instalasi Farmasi Komponen B sebelum melakukan persetujuan atas perjanjian kerja sama tersebut. 105 Tahun 2000. Penerimaan yang disetor tidak melalui Kas Daerah dapat mengakibatkan penggunaan yang tidak sesuai tujuannya. Perlakuan biaya operasional Farmasi Komponen B. Tanggal 10 Nopember 2000). berkeadilan dan mempertimbangkan azas kepatutan dalam pembagian keuntungan. b. c. Rekomendasi BPK-RI BPK RI memberi rekomendasi kepada : a. d. Hak dan kewajiban kedua belah pihak yang bekerja sama. Perjanjian tersebut selanjutnya diusulkan kepada Bupati Banyumas untuk mendapatkan persetujuan. c.600. Permasalahan tersebut disebabkan Surat Keputusan Bupati Banyumas Nomor 442/276/1996 tidak mengatur dengan jelas: a. b.330.00 tidak memiliki landasan peraturan dan penerimaan bagi hasil yang diterima RSU menjadi lebih rendah sebesar Rp62.b. Biaya operasional yang direalisasikan oleh Komponen B sebesar Rp155. sehingga akan ditindaklanjuti dengan membentuk suatu wadah (koperasi) dari pemilik modal yang nantinya akan bekerja sama dengan RSUD Banyumas. 64 . Mekanisme pengelolaan keuangan di Farmasi Komponen B.240.00. Sehubungan dengan permasalahan tersebut Direktur RSUD Kabupaten Banyumas menjelaskan bahwa aturan yang berlaku saat ini belum sesuai dengan aturan yang ada di Pemerintah (Peraturan Pemerintah No. Direktur RSUD agar merumuskan perjanjian kerja sama pengelolaan Instalasi Farmasi Komponen B yang secara jelas mengatur hak dan kewajiban RSUD dan pengelola dengan prinsip saling menguntungkan. Status badan usaha yang bekerja sama dengan RSUD.825.

20 dan terdapat pemalsuan bukti pengadaan material oleh salah satu anggota panitia pengadaan.00.10.00 dan telah direalisasikan sebesar Rp284.363.387. Sebelum pekerjaan dilaksanakan.000. Pengadaan material dan ongkos tenaga kerja pengembangan Instalasi Rehabilitasi Medis (IRM) melebihi pekerjaan kebutuhan sebesar minimal sebesar Rp59.139.161.20 belum dapat dan penambahan kebenarannya Dalam rangka meningkatkan mutu pelayanan kesehatan kepada masyarakat.00.139.00 berasal dari peninggian nilai RAB (mark up) yang dibuat oleh pemimpin kegiatan terhadap Rincian Perhitungan Volume dan kebutuhan material yang dibuat oleh konsultan perencana. yaitu dengan pembangunan ruang Instalasi Rehabilitasi Medis (IRM).500. Jangka waktu pelaksanaan pekerjaan mulai tanggal 1 Maret sampai dengan 31 Mei 2005. Untuk selanjutnya. Untuk membiayai pembangunan IRM tersebut. rincian perhitungan volume dan kebutuhan material serta surat pertanggungjawaban keuangan diketahui bahwa pengadaan material direalisasikan melebihi kebutuhan sebesar Rp59.579.000.00 diyakini 65 . Dari hasil pemeriksaan atas Rencana Anggaran Belanja (RAB). dengan pemimpin kegiatan pekerjaan tersebut adalah Kepala Sub Bagian Umum. Adapun kelebihan tersebut sebagian di antaranya senilai Rp26. Pekerjaan tersebut telah diselesaikan dan diserahkan kepada Direktur RSU Banyumas berdasarkan Berita Acara Penyerahan Pekerjaan Pengembangan IRM pada tanggal 16 Mei 2005. pada Tahun 2005 RSU telah menganggarkan dana yang dituangkan dalam Dokumen Anggaran Satuan Kerja (DASK) sebesar Rp296.579.400. pelaksanaan pekerjaan tersebut dilakukan dengan cara swakelola berdasarkan Surat Perintah Kerja (SPK) Nomor : 050/339/2005 tanggal 17 Februari 2005 dengan nilai pekerjaan Rp284.604. namun penunjukan konsultan perencana tersebut tidak didasari dengan Surat Perintah Kerja /Kontrak yang sah.000.387. yaitu : Rp20. pemimpin kegiatan telah menunjuk konsultan perencana perorangan untuk membuat gambar dan perincian kebutuhan bahan/material yang dibutuhkan untuk pekerjaan Pengembangan Instalasi Rehabilitasi Medis (IRM). Rumah Sakit Umum Banyumas memerlukan adanya peningkatan fasilitas sarana dan prasarana Instalasi.

504.000 12. antara RAB yang dibuat oleh pemimpin kegiatan dan perhitungan konsultan perencana untuk kebutuhan bahan/material tidak terdapat perbedaan.500 2.464.500 33.Kayu 6/12 x 4 m .500 154. 1.000 871.000 6.Kapur .000 4.000 10.000 34 rit 250 293 5 rit 26.781.000 7.600.079.Batu merah .9 224 26 12 133 168 8 3137 25 200 135.000 1.000 627.PC Jumlah : Pekerjaan Beton .Kayu 8/12 x 4 m .Kayu 2/3 x 4 m .189.900 26.000 1.Split .Batu kali .000 368.500 2. dengan mempertimbangkan kondisi bahwa penunjukkan konsultan perencana oleh pemimpin kegiatan hanya secara lisan (rekan pemimpin kegiatan).Kayu 5/7 x 4 m . Meskipun tidak terdapat perbedaan antara nilai RAB dengan rincian konsultan perencana. pemeriksaan lanjutan dilaksanakan dengan konfirmasi kepada pihak yang kompeten dan pengujian fisik pekerjaan. laporan mingguan maupun bulanan. serta Surat Pertanggungjawaban tidak dapat diketahui dengan pasti nilainya (karena SPJ atas kegiatan rehab IRM ini tidak dikumpulkan menjadi satu. sehingga sulit diidentifikasi.500 135.9 224 155 70 800 1001 46 19.000 2.000 31.000 2. dalam pelaksanaan pekerjaan pemimpin kegiatan tidak membuat Kerangka Acuan Kerja.932 32 rit 267 129 58 667 833 38 16.800 149 Kebutuhan barang menurut Konsultan Selisih Harga Perencana Satuan 39 36.161. 3.625. Uraian Pekerjaan Pasangan : .663 124 68 2 250 26 5 rit 26.000 Nilai selisih 13.400 50.) 66 .000 122.Genteng nok Jumlah : Total : RAB 39 37.000 4.004.No.PC Jumlah : Pekerjaan Atap .Papan 2/20 x 4 m .000 200 2. Sedangkan untuk pekerjaan selain yang tercantum pada table di atas. buku harian.421.375 46.000 33.Genteng .779.Pasir .500 12.000 90.600 675.Pasir .600 270.

00 67 .00 x 30 = Rp 1.00 atau nilai kerugian sebesar Rp122. Bahan/material yang diadakan lebih kecil dibandingkan dengan RAB. dari kebutuhan 479 m2 tersebut pihak panitia telah mengadakan sebanyak 40 box atau 400 m2. atau selisih 780 – 599 = 181.935 : 4 m = 599 batang. maka kayu yang dibutuhkan 479 x 5 m = 2. yaitu : Pekerjaan Plafon 479 m.00.000.00 x 181 batang = Rp 4. pekerjaan per m2 menggunakan 5 m kayu.355.000. Sedangkan kayu ukuran 4/6 x 4 m dalam RAB sebanyak 780 batang.000.95 dan didasari dengan bukti kehadiran pekerja. Namun pada kenyataannya yang diterima oleh pelaksana pekerjaan hanya sebesar Rp55.750. sehingga terdapat selisih sebesar Rp7. Harga per batang sebesar Rp 24. Untuk pekerjaan plafon dibutuhkan bahan/material berupa kayu ukuran 6/12 x 4 m.00 atau kerugian sebesar Rp50. maka kayu yang dibutuhkan sebanyak = 2. untuk hanger dan kayu ukuran 4/6 x 5 m untuk plafon.479. Dari ukuran kayu per batang 4 m.00 atau nilai kerugian sebesar Rp24.00.750. Dari hasil konfirmasi.75.Konfirmasi dilaksanakan pada tanggal 12 September 2005 kepada pelaksana pekerjaan dengan didampingi oleh salah satu anggota panitia pengadaan..000.886.000.750.000 x 163 = Rp19.395 m. Menurut RAB dibutuhkan 70 box atau 700 m2. yaitu : a. b. Harga per batang sebesar Rp122.749. sedangkan yang 79 m2 menggunakan eternit lama/bongkaran. namun menurut RAB 780 batang.360. Eternit Dari luas plafon 479 m2. Dengan demikian terdapat kelebihan 700 – 400 = 300 m2 atau 30 box.20 yang merupakan tanggung jawab pemimpin kegiatan.716. namun berdasarkan kenyataan/kayu yang digunakan hanya sebanyak 10 batang atau selisih sebanyak 173 – 10 = 163 batang. maka kebutuhan eternit juga sebanyak 479 m2.329.500.078. Harga per box sebesar Rp50. dilakukan penghitungan secara uji petik terhadap pemakaian bahan/material untuk pekerjaan plafon dan pembayaran ongkos pekerja. Ongkos pekerja dalam RAB (pemimpin kegiatan) termasuk ongkos pembongkaran ditentukan sebesar Rp62. Dari pekerjaan plafon tersebut dalam RAB telah ditentukan jumlah pengadaan penggunaan kayu ukuran 6/12 x 4 m sebanyak 173 batang.

Kabupaten Banyumas. Mulyono. PNS RSUD Banyumas pada staf kepegawaian yang ditunjuk sebagai salah satu anggota panitia pengadaan barang. sedangkan dalam SPJ. Dwi Tunggal yang beralamat di Jalan Bogisan Kaliori. Pemeriksaan dilakukan dengan melakukan pengecekan keberadaan UD. 2. Dwi Tunggal dengan didampingi salah satu anggota panitia pengadaan yang lain pada tanggal 14 September 2005. panitia pemeriksa pekerjaan dan panitia penerima barang semuanya tidak berfungsi. Dwi Tunggal maupun toko bangunan lainnya. Kecamatan Banyumas. Penelitian selanjutnya atas SPJ di Pemegang Kas dan bukti nota pengadaan material yang sebenarnya (riil) diketahui bahwa : 1. serta bertindak juga sebagai supplier (pemasok) material dengan nama UD. Dari hasil wawancara dengan Sdr.Dari hasil pemeriksaan selanjutnya atas Surat Pertanggungjawaban Keuangan (SPJ) yang dapat diidentifikasi untuk kegiatan pengembangan IRM diketahui bahwa pengadaan material untuk kegiatan pengembangan IRM dilakukan oleh Sdr. Hal tersebut juga diperkuat dengan keterangan Ibu Lurah Bogisan Kaliori yang rumahnya satu lokasi dengan alamat UD. Dengan demikian Sdr. Dwi Tunggal tidak terdapat adanya toko bangunan maupun UD Dwi Tunggal. bukti pengadaan yang dipergunakan untuk penagihan uang tidak diketahui adanya bukti tersebut. yang diketahui bahwa pada alamat yang disebutkan sebagai alamat UD. Dwi Tunggal yang menyatakan bahwa di daerahnya tidak terdapat UD. Mulyono akan sangat mudah untuk menambah angka barang yang dibeli. 68 . Mulyono diperoleh pengakuan bahwa yang bersangkutan telah melakukan pengadaan bahan/material dari distributor/Toko lain dan nota serta kuitansi pembelian diganti dengan nama UD. Bukti asli pengiriman/pengadaan bahan/material yang diperoleh saat pemeriksaan berasal dari Toko Fajar Indah dan Toko Bintang. Kegiatan tersebut mudah dilakukan karena keberadaan panitia pengadaan barang yang lain. Dwi Tunggal atas nama dirinya.

69 . melakukan perencanaan teknis. 3). Keputusan Menteri Dalam Negeri Nomor 29 Tahun 2002 tentang Pedoman Pengurusan. lokasi dan pembiayaannya tidak diminati penyedia barang/jasa. 2). b. Keputusan Presiden Nomor : 80 Tahun 2003 tanggal 3 Nopember 2003 tentang Pedoman Pelaksanaan Pengadaan Basrang/Jasa Pemerintah dalam pasal 39 ayat (3) disebutkan bahwa Pekerjaan-pekerjaan yang dapat dilakukan dengan cara swakelola adalah : 1).Permasalahan adanya pengadaan bahan/material yang melebihi kebutuhan tidak sesuai dengan: a. transparan dan bertanggungjawab dengan memperhatikan azas Keadilan dan Kepatutan. Peraturan Pemerintah Nomor 105 Tahun 2000 tanggal 10 Nopember 2000 tentang Pengelolaan dan Pertanggungjawaban Keuangan Daerah dalam pasal 4 disebutkan bahwa Pengelolaan Keuangan Daerah dilakukan secara tertib. sifat. peralatan yang dijabarkan dalam rencana kerja bulanan. c. menyiapkan rencana keperluan tenaga kerja. Pekerjaan tersebut dilihat dari segi besaran. Pekerjaan yang bertujuan untuk meningkatkan kemampuan teknis sumber daya manusia. pelaksanaan Tata usaha Keuangan Daerah dan Penyusunan Perhitungan APBD: • Pasal 49 ayat (5) Setiap pengeluaran kas harus didukung oleh bukti yang lengkap dan sah mengenai hak yang diperoleh oleh pihak yang menagih. 4). mingguan dan harian serta dari masingmasing rencana tersebut dituangkan dalam Kerangka Acuan Kerja d. efektif. taat pada peraturan perundangan yang berlaku. Pertanggungjawaban dan Pengawasan Keuangan Daerah serta tata cara penyusunan APBD. Pekerjaan yang operasi dan pemeliharaannya memerlukan partisipasi masyarakat setempat. bahan/material. Pekerjaan secara rinci/detail sulit dihitung/ditentukan. Lampiran I Keputusan Presiden Nomor : 80 Tahun 2003 tanggal 3 Nopember 2003 tentang Pedoman Pelaksanaan Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah dalam huruf A angka 2 antara lain ditetapkan bahwa dalam perencanaan swakelola agar menyusun rencana kegiatan dan jadwal pelaksanaan. efisien.

20 atau (Rp26. mutu dan lain-lain. Hal tersebut disebabkan : a.329. menambah kualitas. Tidak berfungsinya Panitia Pemeriksa Barang. Kesengajaan dari Pemimpin kegiatan yang tidak membuat buku/laporan harian.00). Permasalahan tersebut mengakibatan RSU Banyumas dirugikan minimal sebesar Rp59.00 + Rp1.387.579.• Pasal 57 ayat (1) Pengguna anggaran wajib mempertanggungjawabkan uang yang yang digunakan dengan cara membuat SPJ yang dilampiri dengan bukti-bukti yang sah. Sehubungan dengan permasalahan tersebut pekerjaan di luar RAB yang merupakan Direktur RSUD Kabupaten + Rp19.00 + Banyumas menjelaskan bahwa dalam proses pekerjaan pengembangan IRM terdapat permintaan user pada saat pelaksanaan pekerjaan berlangsung dan perbedaan perhitungan antara pemimpin kegiatan dengan konsultan perencana disebabkan konsultan belum menghitung pekerjaan pasangan dan beton. Selanjutnya pada tanggal 6 Oktober 2005 Direktur RSU dan Pimpinan Kegiatan telah memberikan tambahan data dan penjelasan bahwa pada saat pelaksanaan pekerjaan 70 .000. Mulyono untuk mengubah/mengganti nota pembelian bahan/material yang sebenarnya menjadi nota dari UD.500.000. anggota panitia pengadaan lainnya dan panitia penerima barang. 2) Pihak ketiga meliputi antara lain penipuan. Kesengajaan dari Sdr.360.20 Rp4. c.886. b. Dwi Tunggal. e. Inmendagri Nomor : 21 Tahun 1997 tentang Tuntutan Perbendaharaan dan Tuntutan Ganti Rugi Keuangan Daerah dan Barang Daerah pada huruf C antara lain disebutkan bahwa ruang lingkup penyimpangan ditinjau dari pelaku : 1) Pegawai Negeri bukan bendaharawan meliputi antara lain menaikkan harga.479.00 + Rp7. penggelapan dan perbuatan lainnya yang secara langsung atau tidak langsung menimbulkan kerugian daerah.500. mingguan dan bulanan pelaksanaan kegiatan.750.161.

Direktur RSUD agar menarik kerugian minimal sebesar Rp39. Mulyono atas kesengajaannya mengganti nota pembelian.363. Atas penambahan pekerjaan tersebut tidak didukung dengan Berita Acara Perubahan/Penambahan pekerjaan sesuai prosedur semestinya.20 – Rp20.363. 71 .363.387. Direktur RSUD agar memberikan peringatan kepada Pemimpin Kegiatan yang sengaja tidak menyelenggarakan pencatatan atas pengelolaan pekerjaan pengembangan IRM secara swakelola dan memberikan sanksi sesuai ketentuan kepegawaian yang berlaku bagi PNS kepada Sdr. Bupati Banyumas untuk membentuk tim pemeriksa yang minimal terdiri dari unsur Badan Pengawas Kabupaten. b.00.579.00) dari Pemimpin Kegiatan dan menyetorkan ke Kas RSUD.400.179.00.400. Dinas PU Cipta Karya. dan RSUD Kabupaten Banyumas untuk melakukan pemeriksaan atas penambahan/perubahan pekerjaan yang terkait dengan pekerjaan pengembangan IRM sebesar Rp20.20 (Rp59. Perubahan dan penambahan pekerjaan tersebut baru dibuat/dihitung sendiri oleh Pimpinan Kegiatan pada saat memberikan komentar instansi dengan nilai Rp20. Dengan adanya tambahan penjelasan seperti demikian. d. sebelum dilakukan pengujian atas tambahan pekerjaan tersebut. namun tidak diikuti dengan perhitungan kembali kebutuhan material dan administrasi atas perubahan pekerjaan.400.IRM tersebut telah terjadi perubahan dan penambahan-penambahan pekerjaan.400. Badan Pemeriksa Keuangan belum dapat meyakini kebenaran pekerjaan tambahan sebesar Rp20. Kepala Bawasda untuk melaporkan hasil pemeriksaan tersebut di atas kepada Bupati Banyumas dan menyampaikan hasilnya kepada Direktur RSUD untuk ditindaklanjuti sesuai ketentuan pengelolaan keuangan daerah.024.00.363. c. Rekomendasi BPK-RI BPK RI memberi rekomendasi kepada: a.

240.310.00.546.00 untuk sembilan kegiatan dan telah direalisasikan sebesar Rp775.875.00 2.705.289. Cempaka dan Dahlia Pembuatan Kamar mandi ruang Sakura Pembuatan Nurse Stasionere Pembuatan Tempat Parkir Renovasi OK Unit II Sandaran dan pengaman tempat tidur Poliklinik 2 unit (Dana Askes 2003) Jumlah : Anggaran 220.014.10. 6.125 27.975.946.280.000 94.000 105.500. pelaksanaannya tidak sesuai ketentuan dan nilai masing-masing pekerjaan tidak dapat diyakini kewajarannya.500 775.920.00 dan sampai dengan bulan Agustus telah direalisasikan sebesar Rp383.854.00 keterangan Dana Investasi Dana Investasi 841.000 29.00 26.500 133.500. 3.250 5. 8. seperti buku harian.000.975 72 . Pemeriksaan atas dokumen rencana dan realisasi pelaksanaan kegiatan dan Surat Pertanggungjawaban (SPJ) diketahui bahwa pelaksanaan pembangunan yang dilakukan dengan cara swakelola tidak tepat.000.500.000.500 134. 7. sedangkan untuk tahun 2005 telah dianggarkan sebesar Rp1.900.00 Dana Investasi Dana Askes Tambahan 18. 9 10 11 Uraian Pembuatan Poliklinik 4 Penambahan ruang gizi Pembuatan Kamar mandi ruang Flamboyan Pengembangan ruang pemulasaran Pembuatan Kamar Mandi Ruang Edelwais.000.966.00.000 70.098.000.00 117.080.000 89.000.740.854.473.443.736.500. 4.159.000 105. Rumah Sakit Umum (RSU) Banyumas pada tahun 2004 dan tahun 2005 telah mengalokasikan dana Belanja Modal yang dituangkan dalam Dokumen Anggaran Satuan Kerja (DASK) untuk menambah atau mengembangkan sarana prasarana ruangan dan bangunan lainnya.014. kerangka acuan kerja dan setiap pencairan dana tidak didukung dengan prestasi kemajuan fisik pekerjaan yang diketahui oleh panitia pemeriksa dan pengawas pekerjaan. Pelaksanaan pembangunan sarana prasarana RSUD sebesar Rp1.836.991.500.473. yaitu setiap pelaksanaan pekerjaannya tidak didukung dengan laporan kegiatan.000 30. 2.500 28.000 28. 1.080.600 69.000 69. Adapun pekerjaan-pekerjaan tersebut adalah sebagai berikut : No.657.000 Realisasi 220.00 secara swakelola tidak didukung dokumen yang memadai sehingga tidak dapat diyakini kewajarannya Dalam rangka meningkatkan pelayanan.767.000.000. 5.982.962.000 70. Jumlah anggaran untuk kegiatan tersebut pada tahun 2004 dianggarkan sebesar Rp841.000 90.00 63.

000 296.700.289.500.836. 5. 3.906.950 49.080.00 1 2 3 4 5 6 Ruang Instalasi Gizi Kamar mandi ruang flamboyan Pompa Air untuk IRM 5000 batu bata Ruang flamboyan 10 Sandaran tempat tidur Kamar mandi ruang Edelweis. bahan/material. tidak dilakukan perencanaan teknis dan penyiapan rencana keperluan tenaga kerja.372.000.050.454.000 49. pelaksanaan pekerjaan dan dokumen lainnya diketahui bahwa terdapat lima kegiatan yang dibiayai dari pinjaman dana investasi dan belum dikembalikan sebesar Rp57.000 42.736.00 26.00 *) Diuraikan dalam temuan pemeriksaan tersendiri.818.00 39.00 belum disetor ke Kas Negara.004. serta terdapat pajak sebesar Rp14. 7.000.123.818.00 Dilihat dari jenis dan nilai pekerjaan tersebut di atas seharusnya tidak dilaksanakan dengan cara swakelola.172. 4.Tahun 2005 No. Selain itu hasil pemeriksaan menunjukkan bahwa pelaksanaan swakelola tidak sesuai dengan ketentuan. Sakura dan Dahlia 73 .00 480.000 60.000 70.000 1. 3.00 2. Pekerjaan Peminjaman dari dana investasi 18. Uraian Pembuatan Poli VIP Perbaikan IRM * Pembuatan Nurse Stasionere Pengembangan ruang Aula (Koverensi) Pembuatan Tembok Keliling Pembuatan TPA Pembuatan Gudang Arsip Jumlah : Anggaran 250.198.000 Realisasi (s. 6.000.093.604.000. seperti tercantum pada tabel berikut: No.000.000.00 277. 2.900 Dana lnvestasi dan lainnya 3. kuantitas maupun kebutuhan material sulit untuk diukur kewajarannya karena tidak dapat diperbandingkan dengan standarnya dan sulit dikendalikan.900.966.00 2.00 Pajak belum disetor PPN 1.725.000.000. Dengan keadaan demikian baik untuk kualitas. yaitu pekerjaan swakelola tidak didukung dengan penyusunan rencana kegiatan dan jadwal pelaksanaan.d.000 138.500.367.950 383.136.00. peralatan yang dijabarkan dalam rencana kerja bulanan.818. 1.920.00 3. mingguan dan harian serta dari masing-masing rencana tersebut belum dituangkan dalam Kerangka Acuan Kerja.982.050.00 355.00 265.738.620.00 5.240.793.00 41.000 222.00 72. Agustus) 284.600.275.00 8.050. Pemeriksaan selanjutnya atas Dokumen Anggaran Satuan Kerja dan laporan realisasi kegiatan.00 PPh psl 22 284.207.682.

00 14.123.600. f. Dari pengeluaran tersebut telah dipungut PPN sebesar Rp1.937.451.Jumlah Jumlah Pajak belum disetor 57.172.004. Sejak bulan Oktober 2004 sampai dengan pemeriksaan bulan September 2005 pinjaman tersebut belum dikembalikan.00 dan PPh pasal 22 sebesar Rp72.00 namun belum disetor ke Kas Negara. Sakura dan Dahlia per ruangan dananya sebesar Rp26.00.367.00. d. ternyata masih ada pengeluaran untuk pengadaan 14 pintu PVC dan perlengkapannya sebesar Rp26.050.454. namun belum dikembalikan serta dari pengadaan tersebut telah dipungut PPN sebesar Rp277. pengeluaran untuk pengadaan material sebesar Rp18. Untuk membayar pengeluaran tersebut.747. Dalam RAB Pembangunan Kamar Mandi untuk ruang Edelwais.00 dan PPh pasal 22 sebesar Rp39. Pengadaan Pompa Air untuk ruang IRM sebesar Rp3. yang dananya direalisasikan dengan peminjaman dari dana investasi sejak Tahun 2004.818.00 13.979. b.207. Dari pengeluaran tersebut telah dipungut PPN sebesar Rp2.00 Penjelasan dari masing-masing pekerjaan adalah sebagai berikut : a.982.00 atau seluruhnya sebesar Rp80.00 namun belum disetor ke Kas Negara.00 dibiayai dari pinjaman Dana Investasi. e.818.00. Pengadaan 5000 batu bata dan lainnya untuk ruang flamboyan senilai Rp2.275.00 dan PPh pasal 22 sebesar Rp284.289.000.00 dan PPh pasal 22 sebesar Rp355.000.500.00 793.00 telah dipungut PPN sebesar Rp480. Pengadaan 10 sandaran tempat tidur senilai Rp5. Penambahan Kamar Mandi Ruang Flamboyan selain dari anggaran dan realisasi tersebut pada tabel sebelumnya. pemimpin kegiatan melakukan peminjaman dari dana investasi.00 namun belum disetor ke Kas Negara.00 dari masing-masing RAB pekerjaan tersebut dialokasikan untuk 74 .00 dibiayai dari pinjaman dana investasi (belum dikembalikan) dan dari pengadaan tersebut telah dipungut PPN sebesar Rp265.725. namun belum disetor ke Kas Negara.000.920.738. sampai dengan saat pemeriksaan dana tersebut belum dikembalikan.00.000. c.682.500. namun belum disetor ke Kas Negara.210.000.818.966.000.00 dan PPh pasal 22 sebesar Rp41.198. Penambahan pekerjaan ruang instalasi gizi tidak dicatat laporan realisasi anggaran yaitu.

g. sifat. b.900. Dari jumlah pajak tersebut tidak ditemukan bukti pemungutan dan penyetorannya ke Kas Negara. namun hanya didukung dengan bukti SPK. Permasalahan tersebut tidak sesuai dengan: a. Pembuatan Poliklinik selain dari realisasi tersebut pada tabel sebelumnya. 2) Pekerjaan yang operasi dan pemeliharaannya memerlukan partisipasi masyarakat setempat.00 atau seluruhnya sebesar Rp8.700. 75 .00. 3) Pekerjaan tersebut dilihat dari segi besaran. hasil pemeriksaan atas mekanisme pencairan dana untuk pembangunan sarana dan prasarana RSUD menunjukkan bahwa pemegang kas merealisasikan pembayaran tanpa didukung dengan laporan perkembangan fisik dan keuangan yang dituangkan dalam Berita Acara yang ditandatangi oleh Panitia Pemeriksa Pekerjaan dan pengawas lapangan. masih terdapat penambahan dua poliklinik dengan biaya sebesar Rp63.093. 4) Pekerjaan secara rinci/detail sulit dihitung/ditentukan. Keputusan Presiden Nomor : 80 Tahun 2003 tanggal 3 Nopember 2003 tentang Pedoman Pelaksanaan Pengadaan Basrang/Jasa Pemerintah dalam pasal 39 ayat (3) disebutkan bahwa pekerjaan-pekerjaan yang dapat dilakukan dengan cara swakelola adalah : 1) Pekerjaan yang bertujuan untuk meningkatkan kemampuan teknis sumber daya manusia. Selain dari permasalahan-permasalahan tersebut di atas.000. lokasi dan pembiayaannya tidak diminati penyedia barang/jasa. namun SPJnya sampai dengan berakhirnya masa pemeriksaan belum ditemukan. nota dan kuitansi pembelian material.500.00 yang dibiayai dari dana pendapatan pelayanan Askes tahun 2003. surat pesanan barang.697.PPN sebesar Rp2. Peraturan Pemerintah Nomor 105 Tahun 2000 tanggal 10 Nopember 2000 tentang Pengelolaan dan Pertanggungjawaban Keuangan Daerah dalam pasal 10 ayat (3) disebutkan bahwa setiap pejabat dilarang melakukan tindakan yang berakibat pengeluaran atas beban APBD apabila tidak tersedia atau tidak cukup tersedia anggaran untuk membiayai pengeluaran tersebut.

Pemimpin Kegiatan mengabaikan tanggungjawabnya untuk melakukan perencanaan pada setiap pekerjaan dan menyelenggarakan pencatatan harian serta laporan kegiatan lainnya. Penerimaan negara dari pajak tertunda sebesar Rp14. Laporan realisasi keuangan RSUD tidak menggambarkan pengeluaran yang sebenarnya/ riil. b. kerangka acuan kerja. Hal tersebut disebabkan : a.004. mingguan dan harian serta dari masingmasing rencana tersebut dituangkan dalam Kerangka Acuan Kerja Permasalahan tersebut di atas mengakibatkan : a. Lampiran I Keputusan Presiden Nomor : 80 Tahun 2003 tanggal 3 Nopember 2003 tentang Pedoman Pelaksanaan Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah dalam huruf A angka 2 antara lain ditetapkan bahwa dalam perencanaan swakelola agar menyusun rencana kegiatan dan jadwal pelaksanaan. c. Berita Acara Pemeriksaan dan Penerimaan Barang serta SPJ pekerjaan dua poliklinik 76 .c. melakukan perencanaan teknis.198. b. Hasil pekerjaan baik kualitas maupun kuantitasnya serta biayanya tidak dapat diyakini kewajarannya. Sehubungan dengan permasalahan tersebut Direktur RSUD Kabupaten Banyumas menjelaskan bahwa belum disetornya pajak dikarenakan kegiatan tersebut sifatnya masih meminjam ke Dana Tabungan dengan kode rekening Jasa Pelayanan sehingga belum ada SPJnya. Direktur RSU kurang memahami ketentuan tentang pengadaan barang dan jasa di lingkungan pemerintah. peralatan yang dijabarkan dalam rencana kerja bulanan. Adapun data tersebut adalah laporan mingguan. menyiapkan rencana keperluan tenaga kerja. Selain penjelasan di atas pada tanggal 6 Oktober 2005 Direktur RSU dan Pemimpin Kegiatan telah memberikan tambahan data yang dibuat setelah masa pemeriksaan selesai dilaksanakan. Tidak berfungsinya Panitia pemeriksa pekerjaan/barang dan pengawas pekerjaan. bahan/material.00. c.

Rekomendasi BPK-RI BPK RI memberi rekomendasi kepada : a.198.00 yang dibiayai dari dana pendapatan pelayanan Askes tahun 2003. 77 . Direktur RSUD untuk memberikan peringatan kepada Pemimpin Kegiatan dan Pelaksana Teknis Kegiatan yang mengabaikan tanggungjawabnya untuk mengelola pekerjaan pengadaan barang dan jasa secara tertib dan memerintahkan segera menyelesaikan seluruh pertanggungjawaban atas kegiatan tersebut serta menyetorkan pajak yang menjadi kewajibannya sebesar Rp14. dan RSUD Kabupaten Banyumas untuk melakukan pemeriksaan atas pekerjaan swakelola yang dilaksanakan oleh RSUD yang didanai dari dana APBD dan dana tabungan investasi.00 ke Kas Negara. c. Panitia Pemeriksa Barang dan Pengawas Pekerjaan yang tidak melaksanakan tugas sesuai dengan fungsinya.000. d. Bupati Banyumas untuk menegur Direktur RSUD atas kelemahannya dalam mengendalikan pekerjaan pembangunan fisik di lingkungan RSUD dan memerintahkan untuk selanjutnya mengelola pengadaan barang dan jasa sesuai ketentuan pengadaan barang dan jasa pemerintah.004. Direktur RSUD untuk menegur kepada Panitia Pengadaan. Dinas PU Cipta Karya.dengan biaya sebesar Rp63. Berdasarkan tambahan data tersebut Badan Pemeriksa Keuangan belum dapat meyakini kebenarannya sebelum dilakukan pengujian atas tambahan data tersebut di atas. Bupati Banyumas untuk membentuk tim pemeriksa yang minimal terdiri dari unsur Badan Pengawas Kabupaten.500. b.

Pengelolaan piutang pasien tidak tertib sehingga tidak dapat disajikan dalam laporan keuangan Dalam melaksanakan fungsinya di bidang pelayanan kesehatan kepada masyarakat. data pembayaran atas pasien yang telah diperbolehkan pulang dicetak dan diantaranya menunjukkan saldo piutang yang belum terbayar. yang dapat ditunjukkan sebagai berikut: a. kesalahan tidak mengidentifikasi pengalihan piutang bagi yang telah dijamin pihak lain. RSUD menerima pembayaran atas jasa yang telah diberikan kepada pasien. Data piutang hasil billing system tidak menunjukkan saldo piutang yang riil. Hal ini dapat terjadi karena beberapa alternatif kesalahan yaitu di antaranya kesalahan input. kesalahan mengidentifikasi diskon dan trouble pada system. Dengan kondisi pasien yang sangat heterogen. Mekanisme tersebut mengakibatkan timbulnya piutang pasien yang harus dikelola dengan tertib dan diusahakan penagihannya. Hasil pemeriksaan atas pencatatan administrasi piutang pasien menunjukkan bahwa piutang pasien tidak dikelola dengan tertib. Pemeriksaan atas data pembayaran pasien pulang versi DOS (versi Windows belum dapat menampilkan data piutang) menunjukkan bahwa kolom saldo piutang tidak hanya memuat saldo piutang riil. Surat pernyataan tersebut diantaranya memuat nilai yang terhutang dan tanggal jatuh tempo. 78 . namun juga memuat saldo piutang minus (karena kelebihan pembayaran). Hasil penelaahan mekanisme pengelolaan piutang menunjukkan bahwa data awal piutang pasien berasal dari Kasir Penerima RSUD melalui billing system (system penagihan terkomputerisasi).11. Atas piutang yang belum terbayar tersebut. saldo piutang yang ternyata dijamin oleh penjamin seperti Askes. Pada setiap akhir bulan. pasien diminta untuk menandatangani surat pernyataan kesanggupan menyelesaikan piutangnya. saldo piutang yang ternyata didiskon. pembayaran yang diterima tidak selalu berupa pembayaran tunai namun juga merupakan pembayaran angsuran atau bahkan terdapat pemberian keringanan atau penundaan pembayaran. Jamsostek atau perusahaan penjamin.

Pantauan atas piutang pasien. tidak dikirimkan ke Bagian Keuangan untuk dilakukan pembukuan piutang. namun dengan mengecek data pasien pada billing system yang dilakukan satu persatu. 79 . Pemberian tanda lunas tersebut tidak berdasarkan surat pernyataan yang telah dicap lunas oleh kasir. Laporan penagihan piutang tidak dikirimkan ke Bagian Keuangan sehingga mutasi piutang tidak dibuat pembukuannya Data mutasi piutang pada kasir berupa data piutang yang telah ditandai tersebut.b. Cara yang demikian sangat beresiko untuk dapat menyajikan data piutang yang akurat. Surat penagihan piutang tidak diregister sehingga sulit ditelusuri kelengkapannya. Kasubbid Mobilisasi Dana berdasarkan surat pernyataan piutang dari kasir menerbitkan surat penagihan. Tidak diketahui adanya tim penagihan yang bertugas menagihkan piutang pasien. d. Bukti pelunasan piutang tidak diarsip sehingga pelunasan piutang tidak dapat ditelusuri kebenarannya Pemeriksaan atas keabsahan pelunasan piutang pasien menunjukkan bahwa bukti pelunasan piutang yang berupa surat pernyataan yang telah dicap lunas oleh kasir tidak diarsip (dibuang). karena petugas kasir sudah menginputkan ke dalam billing system. Mekanisme penerbitan surat tagihan tidak tertib. yaitu nomor surat penagihan tidak diregister dan tidak diarsipkan dengan rapi. tidak menyelenggarakan penjurnalan dan pemostingan pada buku besar. Sedangkan untuk piutang secara kumulatif belum diketahui kelengkapan penagihannya. pelunasan piutang dan saldo akhir piutang tidak dapat ditunjukkan oleh Bagian Keuangan. Penagihan melalui surat dilakukan oleh Kasubbid Mobilisasi Dana dengan diketahui oleh Kepala Bagian Keuangan. sehingga untuk menilai kelengkapan surat penagihan dalam satu periode sulit untuk dilakukan. Bagian keuangan tidak memiliki data piutang. Setelah piutang dilunasi oleh pasien. Surat penagihan yang telah dicap lunas juga tidak diarsip sehingga pelunasan piutang sulit ditelusuri keabsahannya. Laporan penagihan bulanan dibuat hanya untuk piutang yang telah jatuh tempo pada bulan tersebut. c. Kasubbid Mobilisasi Dana memberikan tanda lunas pada data saldo piutang hasil cetakan billing system.

Pemda. Hasil pemeriksaan atas pengelolaan piutang obat pada Instalasi Farmasi Komponen B menunjukkan terdapat sejumlah resep kredit yang diberikan kepada pasien khusus dari kalangan DPRD. Hal tersebut ditempuh sebagai salah satu pengendalian agar pemberian resep oleh dokter memperhatikan kemampuan pasien dalam menebus resep tersebut. f. Piutang atas penjualan obat pada Instalasi Farmasi Komponen B dilunasi dengan jasa pemilik modal. manajemen RSUD belum melakukan upaya-upaya penyelesaian yang optimal. Permasalahan piutang yang tidak dikelola dengan tertib tidak sesuai dengan: a. belanja dan kekayaan Negara/daerah wajib mengusahakan agar setiap piutang Negara/daerah diselesaikan seluruhnya dan tepat waktu. b. Dari hasil sampling atas beberapa bukti pelunasan piutang obat DPRD dan Pemda diketahui bahwa pelunasan piutang tersebut dilakukan oleh manajemen Farmasi Komponen B dengan mengurangi bagian jasa yang seharusnya diterima oleh pemilik modal (para dokter dan apoteker). Dengan tidak dilakukannya penyisihan piutang maka biaya atas piutangpiutang yang tidak tertagih tidak dapat dinyatakan pada laporan keuangan.e. Piutang tidak dapat diidentifikasi umurnya sehingga piutang yang telah kedaluwarsa tidak dapat diketahui nilainya. Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2004 tanggal 14 Januari 2004 tentang Perbendaharaan Negara pasal 34 ayat (1) Setiap pejabat yang diberi kuasa untuk mengelola pendapatan. Atas kondisi pengelolaan piutang yang tidak tertib dan tidak transparan tersebut sebagaimana diuraikan di atas. maka umur piutang tidak dapat diketahui sehingga penyisihan terhadap piutang-piutang yang telah kedaluwarsa tidak dapat dilakukan. Peraturan Pemerintah Nomor 105 Tahun 2000 tanggal 10 Nopember 2000 tentang Pengelolaan dan Pertanggungjawaban Keuangan Daerah: 80 . Dengan tidak dibukukannya piutang. karyawan dan tamu-tamu RSUD.

dipergunakan penatausahaan menurut Sistem Akuntansi dengan pembukuan berpasangan. c. Pasal 13 ayat (3) Untuk keperluan pengendalian/pengelolaan keuangan dan barang Unit Swadana Daerah. Pelunasan piutang obat untuk pasien tertentu menjadi beban Instalasi Farmasi komponen B. b. Keputusan Menteri Dalam Negeri Nomor 92 Tahun 1993 tentang Penetapan dan Penatausahaan serta Pertanggungjawaban Keuangan Unit Swadana Daerah. Biaya penyisihan piutang tidak dapat diukur dengan tepat sehingga penghapusan piutang yang telah kedaluwarsa tidak dapat diproses. b. Nilai piutang tidak dapat disajikan dalam laporan keuangan. taat pada peraturan perundang-undangan yang berlaku. efisien. Kasir tidak memahami pentingnya pengarsipan bukti pelunasan piutang. efektif. Pengelolaan piutang yang tidak tertib mengakibatkan: a. c. Billing system atas pengelolaan piutang belum sempurna. d. e. transparan dan bertanggungjawab dengan memperhatikan azas keadilan dan kepatutan”. Kelalaian Kepala Bagian Keuangan dalam melaksanakan pengendalian piutang dan menyelenggarakan pembukuan piutang pasien RSUD.• pasal 4 “Pengelolaan keuangan daerah dilakukan secara tertib. d. Adanya kecenderungan Kasubbid Mobilisasi dana untuk mengelola piutang secara tidak transparan. Ketidaktertiban pengelolaan piutang tersebut disebabkan : a. Kebijakan pengelola Instalasi Farmasi Komponen B yang melunasi piutang dengan menggunakan jasa pemilik modal. 81 . c. Pelunasan piutang berpotensi menimbulkan penyimpangan. • pasal 24 ayat (1) Setiap Perangkat Daerah yang mempunyai tugas memungut atau menerima pendapatan daerah wajib melaksanakan intensifikasi pemungutan pendapatan tersebut.

namun demikian ada sebagian surat yang tidak dikirim. 82 . Pada tanggal 6 Oktober 2005. Rekomendasi BPK-RI BPK RI memberi rekomendasi kepada Direktur RSUD Kabupaten Banyumas untuk : a. e. b. Direktur RSUD menjelaskan bahwa pembenahan atas pengelolaan piutang telah mulai dilaksanakan dan ditertibkan. 2) Penyelenggaraan buku register penagihan piutang. c. Memerintahkan kepada Kepala Instalasi Farmasi untuk menghentikan cara pembayaran piutang dengan menggunakan jasa pemilik modal dan mengupayakan penagihan piutang yang menjadi tanggungjawabnya. Memerintahkan kepada Kepala Bagian PDE untuk melakukan sosialisasi atas pengelolaan piutang secara komputerize kepada petugas pada unit-unit pelayanan sehingga kesalahan input dapat diminimalkan. Memerintahkan Kepala Bagian Keuangan untuk melakukan penertiban atas pengelolaan piutang yang meliputi: 1) Pengarsipan bukti pelunasan piutang. d.Sehubungan dengan permasalahan tersebut Direktur RSUD Kabupaten Banyumas menjelaskan bahwa penagihan piutang sebenarnya bagian keuangan diberi tembusan surat. 4) Pembuatan laporan keuangan yang memuat data piutang RSUD. 3) Penyelenggaraan pembukuan piutang. Menegur Kepala Bagian Keuangan yang lalai dalam melaksanakan pengawasan atas pengelolaan piutang RSUD dan tidak menyelenggarakan pembukuan piutang. Memperingatkan Kepala Sub Bidang Mobilisasi Dana yang telah mengelola piutang secara tidak tertib dan transparan. sehingga mutasi piutang sulit dilakukan di keuangan.

14.000.000.000.000.000.000.00 3.000.00 500.000.000.000. Nama Barang Kursi putar Bangku bulat Meja komputer Kereta makan Meja dorong Kufis Kipas angin Sterilisator Kursi plastik AC Water heater Dispenser Kulkas Rak piring Suction Mesin tik Sterilisator kering Rak sepatu Kursi roda Alat radiologi Bangku fiberglass Meja ½ biro Jumlah 9 12 1 2 3 2 3 2 10 3 2 4 2 1 3 1 1 10 1 1 4 4 Nilai 4.000.000. 16.12.00 1. telah ditetapkan pengurus barang dan bendaharawan barang pada Sub Bagian Umum. 15.00 3. 5.00 2.050.000.000. 22.085. Adapun rincian jumlah dan nilai barang tersebut adalah sebagai berikut : No. Dalam pengelolaan barang inventaris tersebut pengelola barang telah melakukan pembukuan.00 1.000. 11. Pemeriksaan atas dokumen pengelolaan barang inventaris diketahui bahwa terdapat barang-barang inventaris dan peralatan medis yang telah rusak berat serta tidak dapat dipergunakan lagi sebanyak 104 buah dengan nilai perolehan sebesar Rp34. 8.00 belum dihapuskan Untuk menangani pengelolaan barang inventaris dan peralatan medis di Rumah Sakit Umum (RSU) Banyumas.000. 13. 9.085. Buku Inventaris.000.000.000.00 250.00 900.00 3.000.000. yaitu telah membuat Buku Induk Inventaris.600. 3.250. Kartu Inventaris Barang dan setiap semester telah menyampaikan kepada Bupati Banyumas berupa laporan mutasi barang.000. 6.00 1.00 660. 17. 2. 21.000. 19.000.000.000.00 900.00 1.00 2.500.000. 10.00 500. Barang inventaris dan peralatan medis yang telah rusak dengan harga perolehan sebesar Rp34. 12.000.000.000.00 belum dikeluarkan dari pembukuan dan diusulkan penghapusannya kepada Bupati Banyumas.000. 18.00 2.00 500. 1.00 450.00 Keterangan Rusak Rusak Rusak Rusak Rusak Rusak Rusak Rusak Rusak Rusak Rusak Rusak Rusak Rusak Rusak Rusak Rusak Rusak Rusak Rusak Rusak Rusak 83 . 20. 4. 7.00 225.00 2.

Barang bergerak seperti kendaraan perorangan dinas dan kendaraan operasional dinas ditetapkan oleh Bupati setelah memperoleh persetujuan DPRD.000. Peraturan Daerah Kabupaten Banyumas Nomor : 16 Tahun 2001 tanggal 22 November 2001 tentang Pengelolaan Barang Pemerintah Daerah dalam pasal 21 : Ayat (1) disebutkan bahwa setiap barang daerah yang sudah rusak dan tidak dapat dipergunakan lagi. tidak efisien lagi bagi keperluan dinas dapat dihapuskan dari daftar inventaris. Barang inventaris yang rusak dan tidak dapat dipergunakan lagi belum diusulkan untuk dihapuskan. Permasalahan barang inventaris yang telah rusak namun belum dihapuskan tersebut tidak sesuai dengan: a.00 100. Box bayi Almari besar Kotak saran ECT Vacum Calculator Jumlah : 5 4 2 1 1 10 104 500. 25.00 34. mengakibatkan kondisi dan nilai barang inventaris yang dilaporkan kepada Bupati Banyumas tidak menggambarkan keadaan yang sebenarnya/tidak riil.00 500. dapat dihapuskan dari daftar inventaris. Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 7 Tahun 1997 tanggal 14 Agustus 1997 tentang Pengelolaan Barang Pemerintah Daerah.00 500. sedangkan untuk barang-barang inventaris yang nilainya relatif kecil ditetapkan dengan keputusan Bupati.23. 27.000. 84 .000.000.00 1.00 Rusak Rusak Rusak Rusak Rusak Rusak Barang-barang tersebut tersimpan pada gudang dan tidak pernah dimanfaatkan lagi. 24.000. Sub Bag Umum belum melaporkan kondisi kerusakan barang tersebut kepada Direktur RSU agar dapat diproses usulan penghapusannya kepada Bupati Banyumas.000.085. Pada saat pemeriksaan. dalam pasal 21 ayat (1) antara lain menyebutkan bahwa setiap barang daerah yang rusak dan tidak dapat digunakan lagi/hilang/mati.000. Ayat (3) huruf a. b.000.00 200. 26. 28.

Rekomendasi BPK-RI BPK RI memberi rekomendasi kepada Direktur RSUD Kabupaten Banyumas untuk memerintahkan Kepala Sub Bagian Umum untuk segera mengusulkan penghapusan barang inventaris yang telah rusak berat/tidak dapat dipergunakan lagi kepada Bupati Banyumas. Sehubungan dengan permasalahan tersebut Direktur RSUD Kabupaten Banyumas menjelaskan bahwa telah menugaskan kepada Kasub Bag Umum (Sdr. Tjiptojo) untuk menindaklanjuti sesuai prosedur dari pemerintah kabupaten (sesuai SOP).Permasalahan tersebut disebabkan kelalaian dari pengurus barang dan atasan langsungnya yang belum mengusulkan penghapusan barang inventaris yang telah rusak berat/tidak dapat dipergunakan lagi. 85 .

13. yaitu untuk pengadaan sebelum tahun 2003 sebanyak 131 alat kesehatan telah dilakukan kalibrasi terakhir pada tahun 2002 dan telah memiliki sertifikat. institusi tersebut dapat berbentuk Organisasi Struktural atau Fungsional pemerintah atau swasta. Adapun alat-alat kesehatan yang wajib dikalibrasi sebanyak 122 alat kesehatan dengan rincian terlampir pada lampiran 9. Sedangkan alat kesehatan hasil pengadaan tahun 2004 sebanyak 11 alat belum berumur satu tahun dan masih dalam masa garansi toko. Alat kesehatan RSU Banyumas belum dilakukan kalibrasi sesuai yang dipersyaratkan Hasil observasi fisik alat-lat kesehatan yang terdapat pada sarana dan prasaranan kesehatan penunjang serta hasil wawancara dengan penanggung jawab teknis alat kesehatan pada Rumah Sakit Umum Banyumas menunjukkan bahwa alat kesehatan yang dimiliki Rumah Sakit belum seluruhnya dilakukan kalibrasi sesuai yang dipersyaratkan. yang dimiliki 87 . serta kegiatan peneraan untuk menentukan kebenaran nilai penjualan alat ukur. Pengujian/Kalibrasi atas alat-alat kesehatan seharusnya dilakukan satu kali dalam setahun oleh institusi penguji sebagaimana diatur dalam Keputusan Menteri Kesehatan dan Kesejahteraan Sosial Nomor : 394/MENKES-KESOS/SK/V/2001 tanggal 8 Mei 2001. Kalibrasi alat kesehatan yang telah dilakukan RSU Banyumas pada tahun 2002 dilakukan oleh Balai Pengamanan Fasilitas Kesehatan (BPFK) Direktorat Jenderal Pelayanan Medik Departemen Kesehatan Jakarta. sedangkan alat kesehatan hasil pengadaan tahun 2003 sebanyak 26 alat belum dilakukan kalibrasi. karena di wilayah Kabupaten Banyumas belum ada lembaga yang bisa melakukan pengujian/kalibrasi atas alat-lat kesehatan. namun sampai September 2005 belum dilakukan perpanjangan. Pengujian/Kalibrasi adalah merupakan keseluruhan tindakan yang meliputi pemeliharaan fisik dan pengukuran untuk membandingkan alat ukur dengan dengan standar untuk satuan ukuran yang sesuai guna menetapkan sifat ukurannya (Sifat Metrologik) atau menentukan besaran atau kesalahan pengukuran.

sekurang-kurangnya satu kali dalam satu tahun. Ayat (2) disebutkan bahwa pengujian dan atau kalibrasi dilakukan pada alat kesehatan yang dipergunakan di sarana pelayanan kesehatan dengan kriteria : 1) Belum mempunyai sertifikat. mengakibatkan kebenaran nilai keluaran atau kinerja dan keselamatan pemakaian untuk pelayanan kesehatan kepada masyarakat kurang terjamin. Pasal 4 ayat (1) disebutkan bahwa pengujian dan atau kalibrasi alat kesehatan dilakukan oleh Instansi penguji secara berkala. Ayat (1) disebutkan bahwa Setiap Alat Kesehatan wajib dilakukan pengujian dan atau kalibrasi untuk menjamin kebenaran nilai keluaran kinerja dan keselamatan pemakaian. 88 . Pada tanggal 6 Oktober 2005. Direktur RSUD memberikan penjelasan tambahan bahwa RSUD telah mengusulkan permohonan anggaran kepada Pemerintah Daerah untuk dapat dilakukannya kalibrasi. Alat kesehatan yang terdapat pada sarana pelayanan kesehatan yang belum dilakukan pengujian dan atau kalibrasi sesuai yang dipersyaratkan. Pasal 2 . Masalah tersebut disebabkan oleh kurangnya perhatian dari pihak rumah sakit untuk melakukan pengujian dan atau kalibrasi alat kesehatan. 2) Sudah habis jangka waktu sertifikat.Kondisi tersebut tidak sesuai dengan Peraturan Menteri Kesehatan Nomor :363/MENKES/PER/IV/1998 tanggal 8 April 1998 tentang Pengujian dan Kalibrasi Alat Kesehatan pada Sarana dan Prasarana Kesehatan dalam : a. b. Sehubungan dengan permasalahan tersebut Direktur RSUD Banyumas menjelaskan bahwa pihak rumah sakit telah menyusun usulan untuk pengajuan kalibrasi dan pada saat ini data mengenai alat sedang dipilih sesuai dengan prioritas yang lebih dulu mengingat terbatasnya dana yang tersedia.

Rekomendasi BPK-RI BPK RI memberi rekomendasi kepada Direktur RSUD Kabupaten Banyumas untuk melakukan kalibrasi atas peralatan yang belum dikalibrasi secara bertahap sesuai kemampuan anggaran daerah. 89 .

untuk itu maka RSUD Banyumas melakukan pengadaan perangkat lunak dan keras komputer untuk memperbaharui sistem yang telah ada agar tujuan tersebut dapat tercapai. peserta rapat mengusulkan bahwa modul dari RS.A/2004. Pengadaan perangkat lunak dan keras komputer senilai Rp995. dan pembayaran tidak sesuai realisasi pekerjaan. Hasil rapat tersebut selanjutnya dilaporkan kepada Direktur RSU untuk diputuskan. Pekerjaan tahap I senilai Rp149. melalui penunjukan langsung.996. Hasil pemeriksaan atas pengadaan dan pengelolaan perangkat lunak dan keras komputer pada RSUD Banyumas menunjukkan hal-hal sebagai berikut: a.16.996.00 dan pekerjaan tersebut harus diserahkan pada tanggal 5 Nopember 2004 sesuai kesepakatan yang tertuang dalam Surat Perjanjian (Kontrak) nomor 050/1383. Berdasarkan notulen rapat pada tanggal 16 Maret 2004.000. Namun demikian. akurat dan tepat waktu maka Rumah Sakit Umum Daerah Banyumas bermaksud menerapkan sistem komputerisasi secara on-line untuk setiap kegiatan pelayanan dan administrasi rumah sakit.00 menyimpang dari ketentuan pengelolaan keuangan daerah Dalam rangka meningkatkan sistem administrasi agar menghasilkan laporan secara lengkap.000. Cipta Sarana Informatika (CSI) Purwokerto untuk mengembangkan Sistem Informasi Manajemen Rumah Sakit (SIMRS) berupa Billing Sistem (sistem pembayaran pasien) menggunakan program Windows dengan nilai kontrak Rp149. Hasil wawancara kepada ketua tim pengadaan SIM-RS diperoleh keterangan bahwa penunjukan langsung direalisasikan disebabkan pihak CSI sebelumnya telah bekerja sama dengan RSUD Banyumas dalam mengembangkan Sistem 90 . Dari ke-empat sistem dari rekanan yang dikaji. karena lebih murah dan lebih dapat diaplikasikan karena telah teruji penggunaannya.000. Pertamina Jaya layak untuk digunakan.996.00 dilaksanakan dengan tidak cermat. pada tanggal 22 September 2004 RSUD Banyumas telah melakukan penunjukkan langsung kepada CV. didapatkan informasi bahwa RSUD telah melakukan studi banding di beberapa rumah sakit yang menggunakan sistem komputerisasi untuk dasar menentukan rekanan dan sistem yang layak digunakan.

000. Sampai hari terakhir pemeriksaan belum didapat berita acara serah terima dan berita acara pemeriksaan barang sehingga tidak diketahui secara pasti status kepemilikan komputer tersebut. 1.120. Untuk mengatasi hal tersebut.00 54.636. yang berarti tidak sesuai dengan ketentuan dalam perjanjian yaitu pembayaran baru akan direalisasikan apabila barang telah diterima dan dapat dipergunakan dengan baik. RSUD Banyumas telah melunasi pembayaran pekerjaan tersebut pada tanggal 6 Desember 2004 sebesar Rp149. 2.00 136. pihak CSI mengirimkan 25 unit perangkat keras komputer untuk dapat dipergunakan oleh RSUD (dipinjamkan).00 149.00 13.00. Dokumen penerimaan barang dan pemeriksaan barang juga tidak ditemukan.Komputerisasi Rumah Sakit dengan menggunakan program DOS (Disk Operating System) sehingga pihak CSI hanya mengembangkan sistem komputer yang lama menggunakan program baru.120.000.996. NAMA SISTEM Modul Registrasi & Informasi Modul Perawatan Pasien Modul Kas & Bank Jumlah PPN Total VOLUME 1 Paket 1 Paket 1 Paket HARGA (Rp) 34.00 Pemeriksaan lebih lanjut atas Surat Perjanjian Kerjasama tersebut tidak diketahui adanya detail pekerjaan yang seharusnya dikerjakan oleh rekanan.00 48.996. Meskipun sistem tidak dapat dipergunakan.000.360. 3. Hasil wawancara dengan tim pemeriksaan barang diperoleh penjelasan bahwa sistem tersebut telah diserahkan kepada pihak RSUD pada tanggal yang disepakati akan tetapi pada saat penyerahan belum dapat dipergunakan. Hasil wawancara dengan petugas Pengolahan Data Elektronik (PDE) menyebutkan bahwa sistem tersebut tidak dapat digunakan disebabkan belum tersedianya perangkat keras komputer yang memadai. sehingga akhirnya dikembalikan untuk disempurnakan.120. sehingga kelengkapan atas aplikasi yang dikerjasamakan tidak dapat diketahui. Berita acara serah terima atas pengiriman komputer tersebut tidak diketahui. Adapun sistem yang akan diadakan melalui perjanjian kontrak tersebut adalah sebagai berikut : NO.000.000.000.000. 91 .

b. diperoleh penjelasan bahwa sistem tersebut sudah terinstall sejak Nopember 2004. sehingga sistem yang dipesan RSUD semestinya sudah dapat diinstall dan dipergunakan.00 sehingga total pembayaran sampai akhir periode pelunasan adalah sebesar Rp846.Hasil pengecekan fisik dan wawancara dengan pihak PDE membuktikan bahwa perangkat keras beserta jaringannya telah terpasang pada bulan Nopember 2004. Meskipun pekerjaan pembuatan sistem tahap I belum diterima dengan sempurna.00 dengan sistem pembiayaan oleh pihak ketiga.000.00 dengan rincian untuk pengadaan perangkat lunak senilai Rp453.500. pada tanggal 1 Desember 2004 pihak RSUD kembali mengadakan kerjasama dengan CV. dan penyelesaian pekerjaannya berlarut-larut.00 dilakukan melalui hutang tanpa persetujuan Kepala Daerah. Pembayaran angsuran dijadwalkan selama 36 bulan mulai Januari 2005 sampai dengan Desember 2007 dengan angsuran perbulan Rp23. Namun pada kenyataannya sistem tersebut baru dioperasikan pada pertengahan Bulan Agustus 2005.000.145.500.000. Hasil wawancara dengan pihak CSI.00. Berdasarkan laporan hasil pemeriksaan atas perkembangan SIM-RS yang dilaksanakan oleh RSUD pada tanggal 13 Juli 2005.000.000.500. Sampai hari terakhir pemeriksaan (20 September 2005) pembayaran telah direalisasikan sebesar Rp211. Perjanjian dengan sistem pembayaran angsuran (hutang) tersebut belum dimintakan persetujuan secara tertulis kepada DPRD dan Bupati.900. disimpulkan bahwa program SIM-RS belum dapat dioperasikan.200.00 (9 x 23.00 dan untuk perangkat keras senilai Rp166. Adapun rincian pekerjaan tersebut adalah sebagai berikut: 92 .00). Cipta Sarana Informatika Purwokerto untuk mengembangkan kembali program SIM-RS menjadi lebih sempurna sekaligus menyediakan perangkat keras komputer beserta jaringannya senilai Rp620. pembayaran angsurannya direalisasikan tanpa mempertimbangkan prestasi fisik pekerjaan.945.900.145.900.000. Pekerjaan tahap II senilai Rp620. namun program masih perlu diperbaiki.

Jasa Instalasi Jaringan . Motherboard Asus P4R800.000.000.URAIAN 1.000.00 56.000.000.00 140.00 73.000.000.655.000.000.LAN Card 1 Gb .000.00 1.00 15. Hasil wawancara dan pengecekan fisik menunjukkan bahwa komputer tersebut adalah komputer yang telah dikirimkan pada bulan Nopember 2004.000.945.145.000.000.000.000.900.000. Dengan demikian.000.00 22. pengiriman 19 komputer yang dilakukan 93 .00 94.000. terdapat pembelian 19 komputer sebagaimana tercantum dalam Surat Perjanjian.00 13.CT-Scan 5 Modul Utility 6 Modul Kepegawaian 7 Modul Gizi 8 Modul Standar asuhan Keperawatan 9 Modul Perlengkapan 10 Modul Accounting & Keuangan Support & Maintenance (1 th ) Nilai Perangkat Lunak PPN Total Pembayaran Total Perangkat Keras dan Lunak Total Pembayaran diangsur 36 bulan @Rp23.00 13.00 94.Mammografi. JARINGAN KOMPUTER : .000. ATA 100.200.000.000.00 41.000.00 82.000.000.800.000.00 450. PERANGKAT LUNAK : 1 Modul Apotik / Inventory 2 Modul Medical Record 3 Modul Laboratorium 4 Modul Radiologi. Work Station : -.000.FSB 800.00 151.000.Switch Hub 16 Port 10/100/1000 MBPS .Jasa Instalasi Switch Hub Total Perangkat Keras PPN Total Pembayaran URAIAN 3.00 73.00 12.00 3 1 1 20 20 1 1.000.000.000.Speaker Aktif .000.00 56. AGP 8x.000.00 3.00 5.00 166.000.00 16.000.Jasa Instalasi Workstation .000.00 13.00 620.000.000.500.000.00 82.00 412.000.00 39.000.685.000.00 JUMLAH 63.00 75.000.Kabel Belden STP CAT 6 (Shield) .900.000.000. Dual DDR PC320 .000.000.000.00 23.000.500.000.Monitor LG 15” Digital 2.00 12.000.585.000.000.Keyboard & Mouse Logitech .NIC/LAN Card 3 Com 3C 940 Giga Byte PCI.00 16.4 ghz .000.00 453.000.00 22.000.195.000.000.Memory DDR 256 MB .000. PERANGKAT KOMPUTER PC.00 Berdasarkan tabel di atas.00 JUMLAH 137.685.00 5.00 39.00 UNIT 1paket 1paket 1paket 1paket 1paket 1paket 1paket 1paket 1paket 1paket HARGA 63.000.000.000.000.00 23.00 13.Processor Intel Pentium 4 2.00 2.176.000.000.000.VGA ATI Radeon 9100.900.00 450.769. Audio.245.000.200.00 UNIT 19 HARGA 7.00 846.

perangkat lunak SIM-RS dari hasil perjanjian kedua belum dapat dioperasionalkan. Cipta Sarana Informatika pernah mengajukan revisi Surat Penawaran Nomor 009 / CSI / III / 2004 tanggal 15 Maret 2004 tentang Pengembangan SIM-RS berbasis Windows dengan jenis dan kualitas yang sama dengan harga yang lebih rendah untuk perangkat lunak maupun perangkat keras akan tetapi RSUD tidak membuat perjanjian dengan harga yang sesuai dengan harga revisi tersebut.A/2004. mendahului perjanjian kerjasama yang ditandatangani pada 1 Desember 2004. pekerjaan tahap II tersebut sudah harus terinstall dan terimplementasi mulai Bulan Januari 2005. Berdasarkan hasil pengecekan fisik. Sesuai dengan perjanjian kerja sama Nomor 445/2060. Hasil konfirmasi kepada pihak PDE diketahui bahwa belum berjalannya sistem tersebut dikarenakan belum adanya SDM yang mampu untuk mengoperasikan program tersebut sehingga belum diketahui apakah program SIM-RS tersebut dapat berjalan atau tidak. Sedangkan program sub sistem lainnya belum aktif walaupun sudah terpasang. Berdasarkan hasil pemeriksaan di lapangan dan konfirmasi pihak PDE diketahui bahwa beberapa komputer belum digunakan sedangkan program SIM-RS yang baru berjalan hanya program registrasi pasien dan biaya perawatan pasien atau Billing System. c. Perbandingan harga perjanjian pertama dan kedua dengan harga revisi adalah sebagai berikut : 94 .pada bulan Nopember 2004 tersebut. Perjanjian Kerjasama tidak mempertimbangkan revisi surat penawaran. tidak ada perbedaan yang signifikan antara program yang baru (under Windows) dengan program lama (under DOS). Berdasarkan hasil pemeriksaan dokumen diketahui bahwa CV.

00 82.00 -2.120.120.000.120. diketahui terdapat pengadaan 47 unit komputer senilai Rp340.360.120.000.00 70.000.000. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 URAIAN Modul Registrasi & Informasi Modul Perawatan Pasien Modul Kas & Bank Modul Apotik / Inventory Modul Medical Record Modul Laboratorium Modul Radiologi.00 -7. taat pada peraturan perundangan yang berlaku. Undang-undang Nomor 25 Tahun 1999 jo.727.000.000.00 63.000.000.000.000.00 524.00 hanya untuk pengadaan perangkat lunak.000.000.000.000.000.120.360. Undang-undang Nomor 33 Tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan antara Pemerintah Pusat dan Daerah tanggal 19 Mei 1999 dalam Pasal 12 ayat 1 menyebutkan bahwa pinjaman daerah dilakukan dengan persetujuan DPRD. efektif.000.000.00 39.000.00 0.000.000.00 77.00 0.000.000.000.000. Inventaris komputer tidak diadministrasikan dengan tertib Dari hasil konfirmasi pihak PDE dan pengecekan langsung di lapangan atas barang inventaris komputer yang dimiliki RSUD Banyumas.000.00 54.120.000.000.000.000.00 12.000.00 75.00 23.00 548.000.000.00 0.000. 95 .No.000. Pengadaan dan pengelolaan perangkat keras dan lunak komputer yang menyimpang dari ketentuan tersebut tidak sesuai dengan : a.00 13.00 35. b.000.00 12.000.000.00 12.00 73.000.000. efisien.000.000.000.000.000.000.360.00 dan jaringan komputer senilai Rp39.000.000.00 -7.000.000.00 HARGA REVISI 22.000.00 SELISIH 12.000.00 25.00 48.00 22.000. Peraturan Pemerintah Nomor : 105 Tahun 2000 tanggal 10 Nopember 2000 tentang Pengelolaan dan Pertanggungjawaban Keuangan Daerah dalam pasal 4 disebutkan bahwa Pengelolaan Keuangan Daerah dilakukan secara tertib.000.000.000.00 7.000.000.00 -1.000.000.515.000.00 -4.00 22.00 12.00 tahun 2004 yang sudah terpasang di setiap unit di RSUD tetapi belum dilaporkan kepada bendahara barang Pemerintah Daerah.00 13.00 16.00 Perbedaan antara perjanjian dengan revisi penawaran dari CSI mengakibatkan RSUD rugi minimal senilai Rp24.000.000.000.000.00 1.000.00 39. transparan dan bertanggungjawab dengan memperhatikan azas Keadilan dan Kepatutan.000.000.00 24.000. d.000.00 16.00 63.00 56.000.Mammografi Modul Utility Modul Kepegawaian Modul Gizi Modul Standar asuhan Keperawatan Modul Perlengkapan Modul Accounting & Keuangan Support & Maintenance (1 th ) TOTAL HARGA PERJANJIAN 34.00 0.00 42.000.000.00 14.000.00 13.000.000.800.000.

000. c. Pertanggungjawaban dan Pengawasan Keuangan Daerah serta tata cara penyusunan APBD. Keputusan Menteri Dalam Negeri Nomor 29 Tahun 2002 tentang Pedoman Pengurusan.000. f.c. adil dan akuntabel.996. 96 . transparan.900.00 karena selisih harga barang antara perjanjian dengan surat revisi penawaran. d.996. Permasalahan tersebut mengakibatkan : a.00 (Rp149.000. terbuka dan bersaing.00 tidak memiliki dasar yang sah sebagai pinjaman daerah. Keputusan Presiden Nomor : 80 Tahun 2003 tanggal 3 Nopember 2003 tentang Pedoman Pelaksanaan Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah dalam pasal 3 menyebutkan bahwa Pengadaan barang/jasa wajib menerapkan prinsip-prinsip efisien.000. Memboroskan keuangan daerah sebesar Rp995.360.145. d. Pasal 18 ayat (2) menyebutkan bahwa Kepala Unit/satuan kerja bertanggung jawab untuk menginventarisasi seluruh barang inventaris yang ada dilingkungan tanggung jawabnya.00 + Rp846. Keputusan Menteri Dalam Negeri dan Otonomi Daerah Nomor 11 Tahun 2001 tanggal 1 Pebruari 2001 tentang Pedoman Pengelolaan Barang Daerah pada : Pasal 18 ayat (1) menyebutkan bahwa Biro perlengkapan/bagian perlengkapan sebagai pusat invetarisasi barang bertanggung jawab untuk menghimpun hasil inventarisasi barang dan menyimpan dokumen kepemilikan. Merugikan keuangan daerah minimal sebesar Rp24. Pinjaman sebesar Rp620. Pasal 18 ayat (3) menyebutkan bahwa Daftar Rekapitulasi Inventaris sebagaimana dimaksud pada ayat (2) harus disampaikan kepada Biro Perlengkapan/bagian perlengkapan secara periodik. efektif. b.000. pelaksanaan Tata usaha Keuangan Daerah dan Penyusunan Perhitungan APBD pasal 49 ayat (5) Setiap pengeluaran kas harus didukung oleh bukti yang lengkap dan sah mengenai hak yang diperoleh oleh pihak yang menagih.00) karena pengadaan SIM-RS belum dapat dipergunakan sedangkan hasil yang ada tidak berbeda dengan program komputer yang lama. e. Komputer dan jaringan belum dicatat sebagai inventaris sehingga rawan untuk disalahgunakan.

Modul Radiologi. d. 4) Tidak memperhatikan surat revisi kerjasama yang ditawarkan CV. 2) Tidak melakukan pengadaan barang sesuai dengan ketentuan yang berlaku. c.Hal tersebut disebabkan : a. Pada tanggal 1 Oktober 2005 pihak RSUD menyampaikan evaluasi program aplikasi SIMRS dengan hasil beberapa modul belum berjalan yaitu Modul Laboratorium. Sehubungan dengan permasalahan tersebut Direktur RSUD menjelaskan bahwa pengadaan software tidak dapat langsung diimplementasikan karena membutuhkan kesiapan SDM. sehingga hal tersebut perlu disikapi dengan fleksibel dan kebijakan yang tepat agar tidak merugikan kedua belah pihak. 3) Tidak memonitor pekerjaan pihak rekanan apakah sesuai dengan perjanjian atau tidak. Pemegang kas lalai dalam melaksanakan tugasnya merealisasikan pembayaran tanpa adanya bukti-bukti yang sah untuk dapat dibayarkan. Mammografi. Proses pembangunan sistem informasi pada prinsipnya tidak akan pernah selesai jika program tersebut dinyatakan selesai oleh rekanan dan meninggalkan RSUD maka RSUD akan mengalami kerugian. Tim pengadaan barang tidak melaksanakan tugas dan tanggungjawabnya. Tidak siapnya program aplikasi karena banyaknya modul yang harus dikerjakan dan saling terkait menyebabkan mundurnya pelaksanaan implementasi. Modul 97 . b. Pembelian software yang dilakukan RSUD bukan pembelian dalam arti yang sebenarnya tetapi RSUD membayar jasa pelayanan untuk pembuatan software yang masih dalam konsep pengembangan dan masih memerlukan masukan dari pihak RSUD sehingga mundurnya pelaksanaan merupakan risiko yang tidak bisa dihindarkan. Tim pemeriksa barang tidak melaksanakan tugasnya untuk menentukan kelengkapan barang yang diterima sehingga dapat direalisasikan pembayaran. Modul Gizi. CT-Scan. yaitu: 1) Tidak merencanakan kebutuhan barang secara cermat. Direktur RSU mengabaikan ketentuan tentang prosedur pinjaman daerah dan ketentuan tentang pengadaan barang dan jasa pemerintah. Modul Kepegawaian. Cipta Sarana Informatika.

Adapun Modul yang berjalan baru Billing Sistem. Rekomendasi BPK-RI BPK RI memberi rekomendasi kepada : a. Ketua DPRD Kabupaten Banyumas agar memberitahukan kepada Bupati untuk mengelola pinjaman daerah sesuai ketentuan pengelolaan pinjaman daerah.A/2004 dan menarik kerugian karena selisih harga barang minimal senilai Rp24. 4) Penjadwalan kembali masa pembayaran dan besarnya angsuran yang disepakati oleh kedua belah pihak sepanjang tidak merugikan negara. 98 . Direktur RSUD untuk melakukan pendiklatan kepada pegawai-pegawai yang terkait dengan pengoperasian program komputer yang telah diadakan untuk meminimalkan ketidakefektifan pengadaan software dan hardware komputer. Direktur RSUD untuk memantau penyelesaian pekerjaan oleh pihak ketiga sesuai kesepakatan yang tertuang dalam Kontrak Nomor 445/2060.Perlengkapan dan Modul Accounting & Keuangan. b. 2) Penyelesaian pekerjaan pada saat revisi perjanjian dibuat.000. f.00 untuk diakomodasi dalam revisi surat perjanjian yang akan disepakati oleh Pemerintah Daerah dan pihak ketiga. CSI. 3) Rincian item-item pekerjaan yang menjadi kewajiban pihak ketiga. d. c. Bupati Banyumas untuk menegur Direktur RSUD yang telah merealisasikan pinjaman daerah tanpa persetujuan Kepala Daerah dan DPRD serta memerintahkan untuk mengajukan usulan revisi perjanjian kerjasama pembiayaan pengadaan perangkat lunak dan keras komputer yang akan disepakati oleh Pemerintah Daerah dan Pihak Ketiga dengan memperhatikan: 1) Surat Revisi Penawaran dari CV. e.360. Direktur RSUD agar memerintahkan kepada Kepala Sub Bagian Umum bekerjasama dengan Kepala Bidang PDE untuk menginventaris komputer dan perangkatnya yang berasal dari pengadaan tahun 2004 dengan tertib. Direktur RSUD untuk menegur Panitia Pengadaan dan Pemeriksa Pekerjaan yang mengabaikan tanggung jawabnya untuk mengadakan perangkat keras dan lunak komputer secara tertib.

Kecamatan Banyumas Kabupaten Banyumas. Hasil konfirmasi dengan Kepala Diklat BKKBN Propinsi Jateng wilayah Banyumas didapatkan keterangan bahwa BKKBN akan mengikuti ketentuan yang 99 .15. Bupati Banyumas telah mempersiapkan konsep perjanjian pinjam pakai tanah RSUD Banyumas antara Pemda Kabupaten Banyumas dengan kepala Kantor BKKBN Kabupaten Banyumas. yang pada intinya penguasaan tanah tersebut masih dibawah kewenangan Pemda Kabupaten Banyumas (dhi. RSUD Banyumas sangat memerlukan pengembangan RSUD di lahan yang telah dimilikinya.560 m2 di desa Kejawar. Hasil konfirmasi dengan Direktur RSUD dan Kepala Kesekretariatan RSUD Banyumas. termasuk tanah yang ditempati Diklat BKKBN di Kabupaten Banyumas. konsep tersebut pada kenyataannya belum ditandatangani oleh pihak-pihak yang berkepentingan. Konsep tersebut telah mengatur hak dan kewajiban kedua belah pihak. Salah satu upaya yang telah dilakukan oleh RSUD Banyumas untuk mengambilalih penguasaan hak pakai atas tanah tersebut. Dalam rangka membantu kelancaran tugas – tugas kantor BKKBN di daerah maka Pemda Kabupaten Banyumas pada tanggal 26 Maret 1973 telah memberikan izin kepada Kepala BKKBN Propinsi Jawa Tengah untuk memakai secara cuma-cuma sebagian tanah RSUD Banyumas seluas 60 x 25 m (1500 m2) untuk didirikan balai diklat BKKBN Kabupaten Banyumas. Pada Tahun 1999. didapatkan informasi bahwa dalam rangka peningkatan pelayanan. Namun demikian. sehingga konsep tersebut belum dapat dipergunakan sebagai dasar pengaturan hak dan kewajiban kedua belah pihak. RSUD Banyumas) dan pihak Kantor BKKBN dapat memanfaatkannya sepanjang pihak RSUD Banyumas belum memerlukan untuk keperluan yang sangat mendesak atau untuk pembangunan dan pengembangan RSUD. Asset tanah seluas 1500 m2 di kompleks RSUD Banyumas dikuasai instansi lain RSUD Banyumas berdiri di atas tanah seluas 46. antara lain dengan meminta Bupati Banyumas untuk memproses pengambilalihan penggunaan tanah tersebut dari Diklat BKKBN Propinsi Jawa Tengah melalui Surat Direktur RSUD Nomor 031/1199/2004 tanggal 28 Agustus 2004.

berlaku tentang pengelolaan asset daerah. Permasalahan tersebut tidak sesuai dengan Surat Perjanjian Pinjam Pakai dengan Sertifikat Hak Pakai Nomor 00004 yang terletak di Desa Kejawar Kecamatan Banyumas yang selanjutnya disebut Tanah Pemda Kab Banyumas c. Untuk selanjutnya Pemerintah Daerah akan menunggu jawaban dari pihak yang terkait. 22 September 2005. 100 . Kepala Diklat menjelaskan bahwa para pegawai tersebut sudah bekerja di kantor Diklat relatif lama dan sebagian besar sudah menjadi penduduk setempat (bermukim di sekitar RSUD). Tanah RSUD yang dikuasai pihak lain mengakibatkan RSUD tidak dapat memanfaatkan tanah tersebut untuk melakukan pengembangan RSUD. Adanya tanah RSUD yang dikuasai pihak lain disebabkan pihak RSUD dan Pemerintah Daerah kurang proaktif dalam mengupayakan pengambilalihan tanah tersebut. Rumah Sakit Umum Banyumas dalam sertifikat tanah disebutkan bahwa lamanya hak berlaku selama dipergunakan untuk Rumah Sakit Umum Banyumas. Pada tanggal 6 Oktober 2005. tanah RSUD tersebut masih dalam penguasaan Kantor Diklat BKKBN dan proses pengambilalihan tanah tersebut belum selesai. Sehubungan dengan permasalahan tersebut Direktur RSUD Kabupaten Banyumas menjelaskan sependapat dengan permasalahan tersebut dan akan menindaklanjuti sesuai saran BPK. Direktur RSUD memberikan tambahan penjelasan bahwa RSUD telah melakukan langkah-langkah koordinasi dengan Pemerintah Kabupaten Banyumas untuk menindaklanjuti permasalahan ini. termasuk di antaranya pengaturan masalah tanah pemerintah daerah Kabupaten Banyumas yang sedang dipergunakan oleh instansinya dan apabila proses pengambil alihan tanah tersebut berhasil Kepala Diklat mengharapkan agar pihak RSUD mempertimbangkan masalah Sumber Daya (Pegawai) Diklat BKKBN.q. Sampai dengan saat pemeriksaan berakhir.

Rekomendasi BPK-RI BPK RI memberikan rekomendasi kepada Bupati Banyumas untuk mengupayakan pengambilalihan hak atas tanah yang dipergunakan oleh Diklat BKKBN Propinsi Jawa Tengah dengan mempertimbangkan keberadaan pegawai instansi yang bersangkutan. 101 .

750 4.723.372.304.500 5.875 39.744.735.000 3.173.175 2.766.700 4.000 6.750 4.500 5.250 4.381.250 6.434.869.694.125 3.658.750 4.057.822.625 3.139.250 6.750 1.044.750 96.915.000 6.750 6.087.289.000 4.256 6.350 3.250 3.000 1.375 25.652.093.250 4.006 130.000 1.453.648.187.000 6.000 6.261.300 6.699.541.562.500 1.000 1.028.375 3.025 Jumlah 8.046.250 2.604.500 5.500 3.750 39.190.128 3.651.266.350 5.439.696.250 4.212.317.750 4.500 6.250 1.256 33.513.747.550 Bagi hasil 50% 4.056 3.050 1.618.027.750 4.250 7.500 7.500 4.391.750 1.000 4.700 6.500 3.106.292.500 57.756 5.750 51.355.000 1.750 1.570.570.582.174.806.506 1.375 3.347.028 102 .250 6.274.649.750 3.250 4.750 5.750 78.100 4.2005 Bulan/Tahun 2004 Jan Feb Mar Apr Mei Jun Jul Agust Sep Okt Nop Des Jumlah I 2005 Jan Feb Mar Apr Mei Jun Jul Agust Jumlah II Jumlah I + II Setoran ke Kasda Rawat Inap Rawat Jalan 2.937.750 5.124.802.140.570.635.000 4.852.742.Perhitungan Bagi Hasil Pendapatan Administrasi Tahun 2004 .000 1.338.738.286.250 1.532.285.250 20.000 12.250 1.729.000 6.696.374.557.625 3.548.823.871.514.348.195.169.896.000 3.285.143.922.437.125 3.003 65.250 6.054.249.750 6.500 1.785.027.765.818.125 3.250 1.922.750 1.500 3.549.000 1.000 1.844.

00 150.00 150.000.050.000.00 150.00 150.000.000.000.00 150.00 150.000.000.000.00 150.000.00 150.600.00 3.00 150.000.00 150.00 150.00 150.00 150.Lampiran : 2 PENERIMAAN SEWA DIKLAT No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 Tgl Kunjungan 28 Januari 2004 04 Februari 2004 12 Februari 2004 19 Februari 2004 28-Apr-04 06 Mei 2004 5-7 Mei 2004 12 Mei 2004 19 Mei 2004 15 Juni 2004 14-15 Juni 2004 27 Juli 2004 28 Juli 2004 31 Agustus 2004 2-Sep-04 14-Sep-04 Jumlah I Tahun 2005 17 Februari 2005 23 Februari 2005 17 Maret 2005 01 Juni 2005 23 Juni 2005 29 Juni 2005 31 Agustus 2005 Jumlah II Jumlah I dan II Nama Instansi RSU Temanggung RSU Cilegon RSU Telogorejo RSU Cilacap RSU Dr Soemarno Kaltim RSU Majenang RSU Labuang Baji Makasar RSU Wonosobo RSU Kardinah Tegal Bapelkes Gombong RSU Simeuleu RSU Palembang Bari RSU Gunung Sitoli RSU Arjawinangun Cirebon Bapelkes Gombong RSJ Soeharto Heerdjan Jakarta RSU Tugurejo Biaya Diklat 150.00 150.00 150.00 150.00 150.00 2.000.000.000.000.000.000.00 150.000.000.000.000.000.00 150.000.550.000.000.00 150.000.00 150.000.00 150.000.00 1 2 3 4 5 6 7 RS Sarila Husada Sragen RSU Kayu Agung Sumsel Dinkes kota Depok RSUD Dr Soeselo Slawi RSUD Wates RSU Ambarawa RSU Islam Harapan Anda 103 .00 1.00 150.

000 2.000 Setoran 1.275.000) 210.550.190.000 3.000 (70.312.000 159.275.000 3.000 CT Scan Dokter - 2.000) 70.000 21.500 14.500 650.762.000 130.575.000 1.000 260.800.500 15.000 2.000 142.185.000 4.187.500 Setoran 10.112.275.570.000 3.000 3.500 23.690.912.437.000 1.010.500 2.000 215.462.500 16.004 Jan Feb Mar Apr Mei Jun Jul Agust Sep Okt Nop Des Jumlah 2.000) (210.000 1.500 3.705.000 4.787.000 1.000 3.000 210.820.220.000 340.500 17.337.087.225.500 20.000 2.300.687.000 2.500 9.000 1.500 1.Lampiran : 3 Rakapitulasi potongan langsung jasa KSO Tahun 2004 .000 3.190.000 19.000.500 3.500 104 .032.975.320.000 17.000 285.000) (210.000 13.287.225.300.825.000 210.000 Potongan 9.000 18.000 1.000 16.300.000 2.500 17.990.000 3.500 7.462.000 17.000) (420.005 Jan Feb Mar Apr Potongan 1.080.887.900.800.500 20.000 4.400.000 (210.000 250.000 2.112.000 3.812.000 3.310.875.340.000 15.000 2.870.000) 16.000 2.150.885.087.000 4.500 812.500 15.300.000 2.312.235.000 812.500 19.795.000 1.000 230.030.730.137.380.000 210.000 2.425.000 3.250.587.000 3.077.500 2.000 3.225.250.560.000) (280.500 13.000 17.000) 260.000 255.000 - 119 89 125 144 2.000 36.000 210.730.000 1.380.000 120.000 2.000 52 42 42 24 (260.500 1.000 4.500 487.000) 1.112.500 Jml Pasien 67 24 17 59 75 94 94 115 125 93 110 108 981 Selisih 1.000 245.900.000 9.167.462.900.420.200.000 13.000 145.000 2.000 14.412.462.500 2.570.000 Pasien 18 44 57 49 43 68 46 50 29 26 52 482 Selisih (68.187.000 260.000 1.000 (140.500 1.2005 EEG Dokter 220.060.000 35.275.500 12.550.

500.640.000 292 774 920 1.730.000 205.000 2.500 3.500 27.665.637.000 3.000) 22.000 23.000 23.300.500 17.912.000 3.637.980.730.500.053.000 295.000 3.637.000 (860.500 - 168 146 129 4.390.000) (3.000 308.310.000 105 .447.130.000 280.465.012.000) (2.570.910.000 2.500 20.000 (20.000 580.000 21.000 56 41 35 - 420.275.000 59.000 18.062.780.725.500 153.845.000 175.000) 13.460.760.000 1.000 20.500) 1.Mei Jun Jul Agust Jumlah Total 3.087.290.901 (3.000 54.962.500 149.900.260.000 3.000 2.000) (2.

000 1.404.700 25.404.650 578.984.769.241.000 112.942.000 9.650 1/6/2004 1/12/2004 1/7/2004 2.328.139.562.594.050 474.425.320.443.025.Penghitungan Potongan Kasir Saldo 31/12/2003 Dikurangi: Setoran EEG Des 2003 Setoran CT SCAN Des 2003 Setoran Darah Des 2003 Jumlah Ditambah : Potongan 2004 Potongan 2005 Jumlah Dikurangi : Setoran 2004 Setoran 2005 Jumlah Dikurangi: Setoran salah potong yang telah dikembalikan ke Kas RSU Total kewajiban kasir Rekening giro per 31/8/2005 Kewajiban tunai kasir per 31/8/2005 5/10/2005 5.068 25.241.053 106 .650 1.468 99.119.000 664.390.700 1.378.000 13.025.320.550 5.139.550 663.500 1.700 Lampiran : 4 40.210.984.415 13.

252.674 7.779 32.000 10.090.284.176 356.251.182 3.395.875.676 6.013 10.420 2.691 24.863 51.339 10.438.897 2.000 1.358 25.104.305.208.162.525.513.000 15.688 8.875.012 585.620.271 21.000 26.691 24.167 1.174 26.451.000 329.025.000 17.000 33.358 24.835 1.916.000 26.568.000 32.943 25.441 48.568.000 9.006 12.677.110 107 .209.611 46.685 34.167 16.434 21.000 5.420.610 34.151.087 814.341 5.000 1.710.762 40.208.680 10.094 55.174 1.796.600.041.000 31.338 78.000 39.690 28.600.678 7.208.125.139.341 7.000 1.848 31.125.000 65 51 70 52 57 50 52 35 432 929 42.855 22.600.600.000 37.440 2.054 3.800.712.627.925.008 28.041.916.422 3.000.005.500.640.006 4.834 1.780 32.647.000 1.769.009.250 2.920.188 22.541.668 38.856 25.082.125.600.875.2005 Bulan/Tahun 2004 Saldo awal Jan Feb Mar Apr Mei Jun Jul Agust Sep Okt Nop Des Jumlah I 2005 Jan Feb Mar Apr Mei Jun Jul Agust Jumlah II Jumlah I + II Jml Pasien Dokter Anesthesi Askep Jumlah Mutasi + Lampiran : 5 Dana Taktis Mutasi - Saldo 20.834 21.500.208.960.420.680 9.334 2.741.667 1.431 2.550.092.004 31.342 4.100.534 36.136 39.878 9.432 23.567.000.252.091 1.667 1.945 30.250.371.126.000 24.000 33.000.500.729.043.455.375.304.092 1.865 36.672 12.000 256.500.764 1.000 1.000 29.695.218.000 13.200.083.118.916.916.875.791.524.166.202.001 1.000 29.755 2.870.500.831 60.004 7.520.595.517.022 23.001 2.416.150.755.442 56 27 52 44 38 60 40 48 30 42 60 497 32.524 2.284.092.221.600.000 1.509.200.250.012 13.833.933.431.708.000 39.248.674 102.334 1.592.329.830 1.931 2.000 22.634 181.724.000 1.810 2.110 29.834 2.416.376.733.Pendapatan Privat Dokter Tahun 2004 .990.234.000 20.528 46.917 2.192 2.395.189 2.626.360.125.006 3.422.257.616.838 21.115 43.352 27.768 32.125.000 33.307 41.145.812.429 2.733.012 55.423.834 2.104 22.000.000 1.000 1.945.342 8.334 2.970.045.067.362.531.250.538.833.708.000 23.730.000 19.166.848 458.695.776 28.527 45.935.007 9.375.608 28.007 1.514 2.681 11.390 44.834.167 973.375.676 1.338 1.145.976.

000.00 3.00 20-08-2005 20-08-2005 14-02-2005 27-10-2004 9/5/2005 21-01-2005 Jumlah 108 .00 28.598.000.00 5.00 32.00 18.LAMPIRAN PEMAKAIAN DANA INVESTASI SUMBER : SPJ TGL 27-08-2005 6/4/2005 16-07-2005 26-08-2005 18-06-2005 13-08-2005 24-08-2005 17-05-2005 17-05-2005 5/10/2004 5/10/2005 …-10-2004 22-10-2004 …-10-2004 27-01-2005 10/9/2005 10/9/2005 1/9/2005 25-08-2005 URAIAN PENGGUNAAN Transpor Chief Anestasi Pembelian Gelas Ukur Pemakaman Jenazah Pembelian Kunci Pembelian Selot Pembelian cat dll Biaya penguburan pasien (2 org) Pemeliharaan taman Perlengkapan sumur IRM Ongkos pengeboran sumur IRM Perpipaan sumur IRM KM/WC R Flamboyan Pembelian bata dan pasir R Flambyn Pembl Sandaran dan pengaman t tdr Perbaikan taman depan IGD 2 set sandaran dan pengaman t tdr R Anggrek Penambahan R Gizi Ongkos kebersihan taman dan kebun Ongkos pengecatan ruang Gardena Ongkos Tenaga perkayuan Ongkos tenaga renovasi R Residen & Coas Unit II Ongkos pengecatan R ICU Ongkos Tenaga perkayuan Ongkos Pengecatan R Cempaka dan ICU Ongkos pertukangan batu Pengecatan R Adelweis.00 3.00 2.139.00 465.770.00 6.00 450.000.500.00 572.000.00 250.00 105.607.00 84.000.00 4.500.00 1.375.000.000.000.999.000.000.000.00 168.00 12.000.982.000.050.000.00 935.00 90.000.500.982.920.030.000.00 220.00 500.992.00 900.000.000. Anggrek dan Bougenvile Pengecatan marka jalan rumah sakit Jumlah Membayar Angsuran ke II SIM RS Dipinjam IPRRS Pembuatan Sumur bor IRM Pekerjaan ruang gizi LAMPIRAN : 7 NILAI 140.000.00 26.00 34.000.000.289.500.000.000.00 23.00 200.00 760.00 79.000.000.00 750.000.046.00 375.000.000.500.500.00 18.

676.00 70.672.272.512.250.200.698.196.00 627.850.00 150.660.780.900.00 99.207.00 137.334.560.00 81.250.00 100.00 77.080.00 56.750.979.118.320.809.524.00 7.429.844.862.820.962.00 54.00 35.655.075.00 130.00 184.00 72.695.00 2315000 50.60 50313140 73771623.385.759.783.804.707.00 203.789.00 175.NO BULAN LABA BIAYA LABA BERSIH 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 Januari Februari Maret April Mei Juni Juli Agustus September Oktober Nopember Desember Jumlah 95.996.00 1.00 137.803.668.00 7.00 1.00 49.00 129.500.00 7.700.00 147.00 9.987.00 173.787.000.00 7.915.00 99.948.20 56.00 39.60 47.440.262.00 119.379.278.006.808.500.746.814.00 194.041.700.00 144.782.00 166.750.60 58951612 53617819.00 PEMBAGIAN KEUANTUNGAN KASDA DENGAN BIAYA TANPA BIAYA SELISIH 38177360 35.20 59798803.600.00 121.006.000.00 99.00 149.00 5.064.521.00 125.684.000.00 890.859.500.509.150.000.943.272.00 134.405.250.250.00 134.00 11.959.00 112.548.00 3113500 2794920 2928000 3672000 3305000 3460000 5051480 3309100 3494500 2989800 3214000 39647300 4562000 2422000 2554000 2880000 3008100 4095840 3161000 22682940 1 2 3 4 5 6 7 Januari Februari Maret April Mei Juni Juli Jumlah 109 .140.631.779.480.00 123.545.480.628.569.628.00 141.055.358.814.500.030.00 183.00 139.643.00 29.00 89.545.00 8.000.188.750.570.736.618.480.00 88.857.992.00 70.180.60 55.00 947.978.200.229.463.623.000.207.240.650.908.900.250.00 8.902.00 177.239.594.474.000.00 143.400.00 6.637.445.448.210.00 12.00 8.009.700.682.971.780.018.00 127.60 356.830.00 57.00 6.600.00 120.784.925.00 53943696 60002400 69598680 81451440 73583660 55142992 44723560 48252628 52279478 57898700 32402618 667457212 40025700 42337925.670.00 8.497.00 105.700.912.528.891.00 7.360.700.00 111.490.00 7.900.030.000.443.943.300.044.00 8.350.659.133.00 10.00 44.250.650.059.60 378816624.000.680.035.059.180.696.600.00 66.00 39.00 51.850.00 48.858.397.00 6.520.

155 VO 11 Siemen Yamamoto/Gliken/Y65-810 Schuco/5711-230/1289383 Medi-pump/1132-2 Smat/DXT-1/67-161 H-500 H-500 Ameda/Universal 30 II/AE 609003 Ameda/Universal 30 II/AE 609005 Yamamoto/YGN .Ray X .Ray X .Lampiran : 9 DAFTAR ALAT KESEHATAN RSU BANYUMAS YANG WAJIB KALIBRASI THN PENGADAAN APBN 2003 APBN 2003 APBN 2003 APBN 2003 VK VK Radiologi Unit II ( km bersalin ) Radiologi Radiologi Radiologi Radiologi Radiologi ICU Kanthil ICU IBS VK VK Anggrek Flamboyan HD ICU IGD NO 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 NAMA ALAT Vacuum Ectractive ( elektrik ) Vacuum Ectractive ( elektrik ) Antepartum Fetal Monitor Infant Radiant Warmer USG ( Ultrasonography ) USG ( Ultrasonography ) CT Scan X .500X Hanshin/H .m/835-87-5 RUANG 110 .810 Odam/minidef II/W144210640 Odam/difigrad .500X BD .4000 HUNLIEGH UK DAVID NING BD/ CHINA Kontron/Iris 880 CE/985176 Toshiba/SAL .Ray Mobile Suction pump Suction pump Suction pump Vacccum pump ( Suction pump ) Vacccum pump ( Suction pump ) Vacccum pump ( Suction pump ) Suction pump Suction pump Suction pump Defibrilator Defibrilator MERK/TYPE Hanshin/H .32 B/2534567 Hitachi / WSSO/27 Sanye/X6501/9351 Siemens/Ergophos 4/3028515 Hitachi DR .Ray X .

410/89004384 DSC.3 MHz EEG Nebulizer Ventilator Ventilator Ventilator Syringe pump Kenz/ECG 103/9302-4516 Kenz/ECG 107/6127-5913 Odam/sm.23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 38 39 40 41 42 43 44 45 46 47 48 49 ECG ECG ECG Monitor ECG Monitor ECG ECG ECG Photometer Photometer Auto analizer Centrifuge Centrifuge ( mikrohematokrit ) Centrifuge ( mikrohematokrit ) Price Trace 30 Haematologi Analyzer Na+ K+ CLTimbangan analitik Ultra Short Wave Diathermy ( SWD ) SWD Micro Wave Teraphy Appartus( MWD ) Accusonic 1.024 MH/9605013-7 A/DSC-158/90121905 Trace 30 Mocros 60 Llyte Satornus/BP 211 D Shanghai LDT OD 31/210 DR.786/93160145 Kenz/ECG 106/6056-7379 Fukuda/cardisuny/501B-III Kenz/ECG 108/9302-4516 Boehringer/photometer 4010 DTN 410 KHT 410 Gemmy / KAT .home Hamilton Medrophae/2419 JMS/Model sp-500 Fisioteraphy ICU ICU ICU IGD Poli Jantung Fisioteraphy Laboratorium Laboratorium Laboratorium Laboratorium Laboratorium Laboratorium Laboratorium Laboratorium Laboratorium Laboratorium Fisioteraphy Fisioteraphy Fisioteraphy Fisioteraphy Fisioteraphy Fisioteraphy ICU ICU ICU ICU 111 .785/93060142 Physiogard sm.2. Morton/Model MP-78 OG /Giken ME-210/98021E Metron / AC 400/2320 Biolog System Medic Acid Airx.

36/850491549 Muraco/Villa/243 Acoma/AC 3000a/870 Memmert/400/D06060 Captain/SM 2000 F Captain SM 200 F ES-102EX/Hadeco CMD 91/Meditec Riester/NP S/N : 00569538 Smic/Desk Mercurial Smic/Desk Mercurial Riester/NP Riester/NP 17244 stand model Smic/Desk Mercurial stand model Smic/ Desk Mercurial Smic/ Desk Mercurial Smic/ Desk Mercurial Riester/NP ICU Kanthil IBS IBS IBS IBS IGD ISS ISS ISS IBS IBS IBS IBS IBS VK VK P3K VK VK VK VK VK Anggrek Anggrek Anggrek Anggrek 112 .36/981091427 Hiroyama/HI .4B Soft Landerst 306 Soft Landerst SL 180 Villa Acoma Hiroyama/HI .36 Hiroyama/HI .50 51 52 53 54 55 56 57 58 59 60 61 62 63 64 65 66 67 68 69 70 71 72 73 74 75 76 Syringe pump Nebulizer Anaeshtesi Anaeshtesi Anaeshtesi Anaeshtesi Anaeshtesi Autoclave Autoclave Autoclave Ventilator Ventilator Sterilisator kering ESU ESU Echo Sounder Infant Incubator Tensimeter Tensimeter Tensimeter Tensimeter Tensimeter Tensimeter Tensimeter Tensimeter Tensimeter Tensimeter TERUMO Model 118 KQW .

77 78 79 80 81 82 83 84 85 86 87 88 89 90 91 92 93 94 95 96 97 98 99 100 101 102 103 Tensimeter Tensimeter Tensimeter Tensimeter Tensimeter Tensimeter Tensimeter Tensimeter Tensimeter Tensimeter Tensimeter Tensimeter Tensimeter Tensimeter Tensimeter Tensimeter Tensimeter Tensimeter Tensimeter Tensimeter Tensimeter Tensimeter Tensimeter Tensimeter Tensimeter Tensimeter Tensimeter Riester/NP S/N : 010714323 Riester/NP S/N : 94654 Smic/ Desk Mercurial Smic/ Desk Mercurial Riester/NP 72814 Smic/ Desk Mercurial Riester/NP S/N : 961141884 Smic/ Desk Mercurial Smic/ Desk Mercurial Riester/ NP Smic/ Desk Mercurial Smic/ Desk Mercurial Riester / NP S/N : 010300054 Smic/ Desk Mercurial Smic/ Desk Mercurial Riester / NP S/N : 0002594446 Riester /NP Smic/ Desk Mercurial Riester /NP Riester /NP Kosan/Sphygmomanometer Riester/NP stand Model Riester/NP S/N : 926092 Smic/ Desk Mercurial Riester/ NP Riester/NP S/N : 010300054 Smic/ Desk Mercurial Bougenville Bougenville Bougenville Bougenville Cempaka Cempaka Dahlia Edelwais Edelwais Edelwais Flamboyan Flamboyan Fisioteraphy Gardena Gardena Gardena HD IGD IGD IGD IGD IGD Kanthil Kanthil Sakura Paviliun III Poli Syaraf 113 .

104 105 106 107 108 109 110 111 112 113 114 115 116 117 118 119 120 121 122 Tensimeter Tensimeter Tensimeter Tensimeter Tensimeter Tensimeter Tensimeter Tensimeter Tensimeter Tensimeter Tensimeter Tensimeter Tensimeter Tensimeter Tensimeter Tensimeter Tensimeter Tensimeter Tensimeter Smic/ Desk Mercurial Smic/ Desk Mercurial Smic/ Desk Mercurial Smic/ Desk Mercurial Riester/NP S/N : 921679 Rk meter/300/S/N Meiden S/N Riester/NP Smic/ Desk Mercurial ALPK 2 .S/N Riester/NP S/N : 99250 Smic Desk Mercurial S/N Riester/NP S/N : 011022453 Riester/NP S/N : 011022438 Riester/NP S/N : 011022282 Riester/NP S/N : 14145 Smic/ Desk Mercurial Riester/NP S/N : 0201817663 Kramer/Anaroid S/N : 52482-803 Poli Umum Poli Umum Poli Jiwa Poli Orthopaedi Bedah Minor ( UGD ) Poli Mata Poli Obsgyn Poli Obsgyn Poli Obsgyn Poli Anak Poli Bedah Poli Dalam Poli Jantung Poli Bedah Minor Poli Umum Poli THT Poli Gigi Wijaya Kusuma Radiologi 114 .

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->