P. 1
Menolak dan Membentengi Diri dari Sihir

Menolak dan Membentengi Diri dari Sihir

|Views: 5,570|Likes:
Published by soelfan
Sihir adalah perbuatan yang aneh atau ajaib (gharib) yang tidak dikenal menurut kebiasaan manusia. Sihir memperlihatkan hal-hal yang luar biasa (khawariq al ‘adat), seperti mukjizat dan keramat, tetapi sama sekali bukan mukjizat, juga bukan keramat. Kesempurnaan sihir itu tampak lewat perkataan, perbuatan, azimat (jimat/aza'im), sumpah, dan lain-lain yang diperlihatkan oleh tukang sihir dari kalangan manusia.

Di antara karakteristik tukang sihir ialah tidak mengenal ke¬lunakan hati, tidak ada keceriaan wajah, tidak mengenal rasa belas kasihan, dan tidak ada rasa cinta kasih. Hatinya keras, perbuatannya kasar, dan sifat-sifatnya kejam. Tukang sihir adalah manusia najis, kotor, lahir dan batinnya, serta tempat (lingkung¬an)-nya. Pekerjaan tukang sihir adalah mengkafirkan manusia terhadap Allah Subhanahu wa Ta'ala. Sehingga, dia berani mengutuk Zat Allah, mencela Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam, dan tidak mau mengakui agama. Dia bahkan berani mengotori mushaf Alquran dengan air kencing dan kotorannya. Dia tidak takut untuk menulis ayat-ayat Alquran dengan darah haid, atau dengan air kencing babi, bahkan dengan air mani hasil perzinaan.
Sihir adalah perbuatan yang aneh atau ajaib (gharib) yang tidak dikenal menurut kebiasaan manusia. Sihir memperlihatkan hal-hal yang luar biasa (khawariq al ‘adat), seperti mukjizat dan keramat, tetapi sama sekali bukan mukjizat, juga bukan keramat. Kesempurnaan sihir itu tampak lewat perkataan, perbuatan, azimat (jimat/aza'im), sumpah, dan lain-lain yang diperlihatkan oleh tukang sihir dari kalangan manusia.

Di antara karakteristik tukang sihir ialah tidak mengenal ke¬lunakan hati, tidak ada keceriaan wajah, tidak mengenal rasa belas kasihan, dan tidak ada rasa cinta kasih. Hatinya keras, perbuatannya kasar, dan sifat-sifatnya kejam. Tukang sihir adalah manusia najis, kotor, lahir dan batinnya, serta tempat (lingkung¬an)-nya. Pekerjaan tukang sihir adalah mengkafirkan manusia terhadap Allah Subhanahu wa Ta'ala. Sehingga, dia berani mengutuk Zat Allah, mencela Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam, dan tidak mau mengakui agama. Dia bahkan berani mengotori mushaf Alquran dengan air kencing dan kotorannya. Dia tidak takut untuk menulis ayat-ayat Alquran dengan darah haid, atau dengan air kencing babi, bahkan dengan air mani hasil perzinaan.

More info:

Published by: soelfan on Sep 06, 2010
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

05/10/2014

pdf

text

original

Menolak dan Membentengi Diri dari Sihir

Abdul Kholiq Al-Athar

Hal. Hal. || 1

Menolak Dan Membentengi Diri Dari Sihir

Abdul Kholiq Al-Athar Pustaka Hidayah

http://www.akhirzaman.info/

Menolak dan Membentengi Diri dari Sihir

Abdul Kholiq Al-Athar

Hal. Hal. || 2

Diterjemahkan dari buku aslinya berbahasa Arab: As-Sihr wa as-Saharah wa al-Mashurin karya Abdul Khaliq al- 'Aththar terbitan Maktabah al-Istisyfa' bi al-Qur'an, Kairo Penerjemah: Drs. Tarmana Ahmad Qosim Penyunting: Evi Dewi Sofiawati Hak terjemahan dilindungi Undang-undang All rights reserved Cetakan Pertama, Rabi' al-Awwal 1417/Agustlls 1996 Cetakan Kedua, Rarnadhan 1417/J anuari 1997 Diterbitkan oleh PUSTAKA HIDAYAH Jl. Rereng Adumanis 31, Sukaluyu, Bandung 40123 TeL/Fax. (022) 2507582 Desain Sampul : Gus Ballon

http://www.akhirzaman.info/

Menolak dan Membentengi Diri dari Sihir

Abdul Kholiq Al-Athar

ISI BUKU PENGANTAR PENGARANG PENGERTIAN SIHIR Hal. Hal. || 3 Kejam, Keras, dan Kasar Menyembah Berhala dan Matahari Macam-macam Sihir Sihir At- Tafriq Sihir Habil, Sihir Khubal, dan Sihir :’Abath Sihr Al-Jawarih wa Al-A'dha' Lemah Syahwat (Seksual) dan Impotensi Syarat-Syarat Mendapatkan Hubungan Seksual yang Sukses Permasalahan Sihir dan Tukang Sihir Menurut Alquran dan As-Sunnah An-Nabawiyyah Pengertian Sihir Menurut Konsepsi Alquran Penjelasan Ayat 116 Ayat-ayat Alquran dalam Surah Al-Baqarah Mengenai Sihir Penjelasan dan Ta'unl Nabi Muhammad Shallallahu 'Alaihi wa Sallam Terkena Sihir(?) Tambahan Ulasan Mengenai Hadits Tersebut Proses Tembusnya Sihir kepada Badan, Jiwa, Akal, Hati, dan Ruh Orang yang Terkena Sihir Sihir dan Ahli Sihir Karamah, Barakah, dan Tabarruk Perbandingan antara Mukasyafah Khairiyyah Malahiyyah dan Mukasyafah Sirriyyah Syaithaniyyah Sejauh Mana Kemampuan Sihir Menembus Fisik Manusia? Macam-macam Sihir Sihir Tafriq 1.Sihir Habit, Khubal, dan ‘Abath 2.Sihir Khudzal atau Tashallub Al-A'dha' 3.Sihir Khudzal atau Tashallub al-A’dha 4.SihirJawarih wa Al-A'dha Pemahaman dan Pemikiran Para Fuqaha dan Ulama Besar Mengenai Sihir Bahasan Seorang Fuqaha Besar (Terkenal) pada Abad Ini Kitab Ghidza' Al-Arwah: SIHIR Ahli Sihi Meminta Tolong kepada Setan Sebagian Besar Bani Israil Adalah Ahli Sihir
http://www.akhirzaman.info/

Menolak dan Membentengi Diri dari Sihir

Abdul Kholiq Al-Athar

Harut dan Marut Serta Sihirnya Pendapat Lain Mengenai Harut dan Marut PENDAPAT PARA ULAMA MENGENAI HAKIKAT SIHIR Hal. Hal. || 4 Tambahan Penjelasan Hikmah Diharamkannya Mempelajari Sihir Macam-Macam Sihir Pendapat Agama Mengenai Macam-Macam Sihir Tersebut Gambaran-gambaran Ajaib dari Sihir dan Sulap (Sya 'wadzah) Sihir di Tibet dan India Sihir pada Masa Sultan Ghawri Keajaiban Doktor Salamun Sihir Orang Mesir (Bagian) Atas Pelajaran Jin Termasuk Salah Satu Ats-Tsaqalain Hakikat Jin Asal-Usul Jin Kedudukan (Posisi) Jin terhadap Dakwah Nabi Muhammad Shallallahu 'Alaihi wa Sallam Tempat Tinggal Jin dan Makanannya Kekuasaan Nabi Sulaiman Terhadap Jin Penjelasan Beberapa Kata Melihat Jin dalam Bentuk yang Bermacam-macam Mengusap Tanpa Memperlihatkan Diri Sesosok Jin dengan Mahasiswa Fakultas Hukum Kadang-kadang Jin Menimbulkan Huru-hara Jin Meminta Fatwa kepada Syaikh 'Abdulwahhab Sya'rani Orang-orang yang Meragukan dan Mengingkari Eksistensi Jin Jadilah Anda Seorang yang Kuat Hati dan Tidak Takut Penjaga (Perisai) Diri dari Gangguan Jin Pengaruh Alquran dan Zikir (Lainnya) terhadap Jin Tempat Jin MUKJIZAT FISIK SEBAGAI TANDA KEBENARAN NABI 1.Hakikat Mukjizat 2.Syarat-syarat Mukjizat 3.Bukti Mukjizat yang Menunjukkan Kebenaran (Kenabian) Para Nabi 1.Sifat Sihir 2.Sihir dan Kedokteran Tekanan Darah TInggi Majalat As-Sihr (Medan Operasional Sihir) SIHIR DAN AKIDAH
http://www.akhirzaman.info/

Menolak dan Membentengi Diri dari Sihir

Abdul Kholiq Al-Athar

NABI MUHAMMAD Shallallahu 'Alaihi wa Sallam DAN SIHIR SIHIR DAN AHLI SIHIR DALAM PANDANGAN ISLAM Akhir Perjalanan (Kesimpulan) MUKJIZAT DAN KERAMAT Hal. Hal. || 5 NABI MUHAMMAD Shallallahu 'Alaihi wa Sallam DAN PERISTIWA SIHIR YANG MENIMPANYA JAMPI DAN BENTENG DARI SIHIR Alat Penggagal dan Penghancur Sihir Tambahan JAMPI (DOA), ZIKIR PERLINDUNGAN, BENTENG DIRI, DAN PENJAGAAN BAGI KORBAN SIHIR

http://www.akhirzaman.info/

Menolak dan Membentengi Diri dari Sihir

Abdul Kholiq Al-Athar

PENGANTAR PENGARANG Hal. Hal. || 6 Dengan nama Allah. Segala puji hanya milik Allah. Semoga shalawat dan salam selalu tercurah kepada Nabi Muhammad Shallallahu 'Alaihi wa Sallam rasul utusan Allah Subhanahu wa Ta'ala. Allah-lah tempat meminta pertolongan dan tempat berlindung. Dia tempat meminta bantuan, Dia tempat memohon keselamatan, Dia juga tempat bersandar. Takut dan khawatir hanya kepada Allah. Kemuliaan hanyalah milik Allah, dan Rasul-Nya, serta orang-orang yang beriman. Permasalahan sihir sebetulnya tidak seperti yang dikatakan dan diakui oleh orang yang hanya mempunyai ilmu pengetahuan sedikit. la tidak seperti yang dianggap oleh orang yang kebodohannya lebih tampak daripada kepintarannya. Sihir bukanlah suatu yang ajaib atau sya'wadwh "sulap". Sihir juga bukan dajl (kebohongan). la bukan kecelakaan, juga bukan tipu muslihat (ihtiyal). Sihir ternyata bukan sesuatu yang hanya dikenal pada masa-masa kenabian. Sihir sebetulnya telah dikenal sejak zaman jahiliah dahulu, ketika Islam belum dikenal oleh kebanyakan manusia. Permasalahan sihir ternyata diungkap oleh Alquran Al-Karim dengan terangterangan, jelas, dan mudah ditangkap maknanya lebih jelas lagi, sihir itu dijelaskan pula oleh beberapa hadits shahih yang memperkuat dan memperjelas apa yang diisyaratkan alquran Al-Karim. Sihir merupakan suatu permasalahan yang hakikat permasalahannya dan keberadaannya diungkap oleh Alquran, yakni merupakan haqiqah Quraniyyah, bukan hanya pengakuan orang-orang jahiliah belaka. Sihir antara lain disebutkan dan diisyaratkan dalam firman Allah Subhanahu wa Ta'ala ... mereka menyulap (menyihir) mata orang dan menjadikan banyak orang itu takut, serta mereka mendatangkan sihir yang besar (menakjubkan) (QS. Al-A'raf 7:116). Pada ayat lain Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman, Maka setelah mereka melemparkan, Musa berkata, "Apa yang kamu lakukan itu, itulah yang sihir, sesungguhnya Allah akan menampakkan ketidakbenarannya (QS. Yunus 10:81). Kemudian pada surah lain Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman, Dan lemparkanlah apa yang ada pada tangan kananmu, niscaya dia akan menelan apa yang mereka perbuat. Sesungguhnya apa yang mereka perbuat itu adalah tipu daya tukang sihir (belaka). Dan tidak akan menang tukang sihir itu, dari mana saja dia datang (QS. Thaha 20:69). Jadi, tongkat yang dilemparkan oleh tangan kanan Nabi Musa a.s. itu mampu menelan apa yang diperbuat tukang-tukang sihir Fir'aun. Apa yang mereka perbuat itu hanyalah tipu daya tukang sihir belaka. Dan tukang sihir itu tidak akan pernah menang dengan cara apa pun yang mereka lakukan.

http://www.akhirzaman.info/

Menolak dan Membentengi Diri dari Sihir

Abdul Kholiq Al-Athar

Pada ayat lain, Allah Subhanahu wa Ta'ala memfirmankan, Mereka mengajarkan sihir kepada manusia (QS. Al-Baqarah 2:102). Kemudian firman-Nya lagi, Maka mereka mempelajari dari kedua malaikat itu apa yang dengan sihir itu, mereka dapat menceraikan antara (suami) dan istrinya (QS. Al-Baqarah 2:102). Hal. Hal. || 7 Dalam surah Al-Falaq disebutkan, ... dan dari kejahatan tukang (sihir) (yang) meniup-niup dalam ikatan (QS. Al-Falaq 113:4). Jika telah jelas bahwa sihir itu merupakan haqiqah Quraniyyah, suatu permasalahan yang diakui keberadaannya dan diterangkan di dalam Alquran, maka hal itu membuktikan adanya tukang sihir yang durjana, fasik, dan jahat. Dialah yang melakukan perbuatan sihir. Dan perbuatan tukang sihir jahat itu umumnya mampu merusak jiwa seseorang, hartanya, dan bahkan keluarganya. Jadi, permasalahan sihir itu secara garis besar meliputi tiga masalah, yaitu tukang sihir, perbuatan sihir, dan orang yang terkena sihir. Tukang sihir yang paling terkenal, sebagaimana namanya disebutkan dalam Shahih Bukhari dan Muslim adalah Lubaid bin AlA'sham dan anak-anak perempuannya yang menjadi tukang sihir yang sangat jahat dan fasik. Sesungguhnya sihir merupakan perbuatan yang jelas-jelas menimbulkan dan mengakibatkan bahaya yang sangat besar dan madarat yang dahsyat. Betapa tidak, sihir dapat memisahkan atau mencerai-beraikan orang-orang yang dahulu saling mencintai, saling mengasihi, dan saling menyayangi. Bahaya macam apakah yang lebih besar daripada bahaya sihir yang dapat merusak otak dan akal manusia yang terkena sihir habil (tukang melakukan tipu muslihat), sihir khubal (yang mengakibatkan kegilaan), atau sihir 'abath (yang melahirkan fitnah). Atau sihir yang dapat merusak pendengaran, atau penglihatan orang yang terkena sihir sama' lewat pendengaran, atau sihir bashar lewat pandangan mata, atau dengan sihir syumm lewat penciuman, atau sihir kalam lewat perkataan. Kejahatan apakah yang lebih berbahaya dan lebih besar pengaruh dan akibatnya daripada kejahatan sihir yang dapat membuat orang yang terkena sihir itu berduka cita, lapar, merasa kesepian (in'izal) , dan kesedihan. Kejahatan apakah yang lebih jelek dan lebih berbahaya daripada perbuatan sihir yang menimbulkan dan menyebarkan permusuhan, kedengkian, dan dendam kesumat di antara orang-orang yang sebelumnya saling mencintai, saling mengikhlaskan persahabatannya, saling menyayangi di antara karib kerabatnya, antara ayah dan anaknya, antara seorang putri dengan ibunya, antara adik dan kakaknya, antara suami dan istrinya, dan antara seseorang dengan teman atau kenalannya. Oleh karena itulah, sihir dalam pandangan syariat Islam dianggap sebagai perbuatan dosa yang paling besar. la merupakan kesalahan yang paling membahayakan,
http://www.akhirzaman.info/

Menolak dan Membentengi Diri dari Sihir

Abdul Kholiq Al-Athar

sehigga dinilai sebagai akbar al-kaba'ir (dosa yang paling besar di antara dosa-dosa besar lainnya). Dosa sihir menurut Nabi Muhammad Shallallahu 'Alaihi wa Sallam sama seperti dosa menyekutukan Allah Subhanahu wa Ta'ala (syirik) dan dosa durhaka kepada kedua orangtua. Hal. Hal. || 8 Dalam tatanan hukum Islam, hukuman tukang sihir ialah dipenggal lehernya dengan pedang atau dibunuh. Dengan demikian, masyarakat menjadi aman dan tenteram, serta bebas dari bahaya sihir, terhindar dari kejahatannya, dari tipu muslihatnya, dari kekejiannya, dan dari kehinaannya. Karena bahaya sihir semacam itulah, Allah Subhanahu wa Ta'ala berkenan menurunkan ayat-ayat Alquran yang berguna untuk membatalkan atau menggagalkan sihir dan menghancurkannya, serta yang dapat menyembuhkan orang-orang yang terkena sihir tersebut. Allah Subhanahu wa Ta'ala juga, dengan rahmat dan kasih sayangNya, berkenan mewahyukan kepada Nabi Muhammad Shallallahu 'Alaihi wa Sallam beberapa ta'awwuzdat (ayat-ayat yang dapat dipakai untuk memohon perlindungan dari kejahatan sihir) dan ayat-ayat yang dapat menjadi benteng bagi manusia supaya sembuh atau terhindar dari sihir. Saya memohon kepada Allah yang Mahamulia dan Maha- luhur, dengan karuniaNya yang Mahaluas dan kedermawanan-Nya yang tak terbatas, untuk menjaga dan menyelamatkan kita dan segenap umat Islam dari kejahatan dan bahaya tukang sihir dan perbuatan setan-setan yang terkutuk. Sihir, sebetulnya, merupakan suatu bab pembahasan yang paling penting, yang banyak dibahas dan dikaji dalam ilmu kedokteran Qurani dan Nabawi. Saya mohon petunjuk kepada Allah, Al-Hady» "Yang Memberi Petunjuk", memohon pertolongan kepada Allah yang suka menolong (Al-Mu'in), dan memohon bantuan kepada Allah Al-Mughits, Tuhan yang suka membantu. Saya juga memohon keselamatan kepada Allah yang suka menyelamatkan hamba-Nya (al-mujir). Serta, saya pun memohon penjagaan (pembentengan) kepada Allah Yang Mahakuat dan Mahakokoh dari segala macam bahaya dan bencana. Saya memohon kepada Allah yang Maha Mengetahui untuk memberikan taufikNya kepada saya, sehingga dapat membahas sampai tuntas berbagai masalah yang diisyaratkan Alquran Al-Karim lewat ayat-ayat yang terang dan jelas maksudnya (sharih dan muhkam). Saya berharap kepada-Nya supaya saya diberi kemampuan untuk memahami ayat-ayat Alquran dan sunnah Nabawiyyah lewat kajian mendalam (intensif) dan luas (ekstensif), sehingga dapat mengungkap segala karakteristik para tukang sihir durjana dan fasik itu, demikian pula bentuk, akhlak perilakunya, etikanya, dan keyakinannya. Dengan cara begitu diharapkan kita dapat menjaga diri dan selamat dari gangguannya. Kita pun berharap, bahwa sihir dan tukang sihirnya dilenyapkan oleh Allah sampai tidak ada lagi bekasnya. Sesungguhnya tukang sihir dari manusia dan
http://www.akhirzaman.info/

Menolak dan Membentengi Diri dari Sihir

Abdul Kholiq Al-Athar

jin adalah musuh Allah, musuh dirinya, dan musuh semua makhluk Allah di dunia ini. Dan termasuk rahmat dan karunia Allah Subhanahu wa Ta'ala terhadap makhlukNya, bahwa lewat zikir dan doa yang ditetapkannya, Dia akan selalu memenggal leherleher tukang sihir. Sungguh baik apa yang ditetapkan Allah Subhanahu wa Ta'ala untuk Hal. Hal. || 9 menghancurkan tukang sihir itu. Kemudian kami pun akan menjelaskan ciri-ciri dan tanda- tanda sihir yang menimpa orang yang terkena sihir (al-mas-hur) dan macam-macam sihir. Di antara macam sihir itu ialah sihir tafriq dan tamziq, yakni sihir yang dapat mencerai-beraikan dan memecahkan (persatuan) antara seorang suami dengan istrinya; ada juga sihir hibal, sihir khabal, sihir 'abath, sihir al-jawarih wa al-a'dla' (sihir yang menimpa semua anggota tubuh), di samping ada juga sihir sama' (lewat pendengaran),' sihir bashar (lewat pandangan mata), sihir syumm (lewat ciuman), dan sihir takhyzl (lewat khayalan). Selanjutnya akan saya jelaskan berbagai cara untuk membatalkan dan menggagalkan serta menghancurkan sihir, baik yang haram - dan antara cara-cara itu, maupun yang dibolehkan dan disahkan. Terakhir, akan saya perkenalkan pula para tukang sihir itu, baik dari kalangan jin maupun dari kalangan manusia. Disertai penjelasan dan pengenalan mengenai cara-cara untuk menjaga diri kita serta melindunginya dari kejahatan dan bahaya para tukang sihir wanita yang suka meniup-niup pada buhul (ikatan), dan dari tipu muslihat pada tukang sihir pria, serta dari kejahatan tukang makar (penipu) jika mereka melancarkan makar dan tipu muslihatnya. Semua itu akan saya jelaskan, seraya bermohon semoga Allah yang Mahatinggi dan Mahamulia memberi hidayah dan petunjuk jalan, serta taufik, sehingga kita dapat beramal dengan ikhlas, baik dalam perbuatan maupun dalam perkataan. Baik perbuatan itu secara terang-terangan, maupun secara diam-diam. Amin. Sesungguhnya Allah itu sebaik-baik tempat berlindung (Majikan) dan sebaikbaiknya tempat bergantung (Al-Wakil). Saya adalah hamba Allah yang sangat mengharapkan ampunan dosa dari Tuhannya yang Mahakuasa. Abdul Al-Khaliq Al-Aihthar Al-Muhamy Khadim 'Ilm Al-Thibb Al-Qurany wa An-Nabawiy (Pelayan Ilmu Kedokteran Menurut Alquran dan Sunnah Nabi).

http://www.akhirzaman.info/

Menolak dan Membentengi Diri dari Sihir

Abdul Kholiq Al-Athar

PENGERTIAN SIHIR Sihir adalah perbuatan yang aneh atau ajaib (gharib) yang tidak dikenal menurut kebiasaan manusia. Sihir memperlihatkan hal-hal yang luar biasa (khawariq al adat), seperti mukjizat dan keramat, tetapi sama sekali bukan mukjizat, juga bukan keramat. Hal. Hal. | 10 Kesempurnaan sihir itu tampak lewat perkataan, perbuatan, azimat (jimat/ aza'im), sumpah, dan lain-lain yang diperlihatkan oleh tukang sihir dari kalangan manusia. Kejam, Keras, dan Kasar Di antara karakteristik tukang sihir ialah tidak mengenal kelunakan hati, tidak ada keceriaan wajah, tidak mengenal rasa belas kasihan, dan tidak ada rasa cinta kasih. Hatinya keras, perbuatannya kasar, dan sifat-sifatnya kejam. Tukang sihir adalah manusia najis, kotor, lahir dan batinnya, serta tempat (lingkungan)-nya. Pekerjaan tukang sihir adalah mengkafirkan manusia terhadap Allah Subhanahu wa Ta'ala. Sehingga, dia berani mengutuk Zat Allah, mencela Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam, dan tidak mau mengakui agama. Dia bahkan berani mengotori mushafAlquran dengan air kencing dan kotorannya. Dia tidak takut untuk menulis ayat-ayat Alquran dengan darah haid, atau dengan air kencing babi, bahkan dengan air mani hasil perzinaan. Menyembah Berhala dan Matahari Tukang sihir selalu melakukan perbuatan syirik. Mereka menyembah berhala, matahari, dan apa saja selain Allah Subhanahu wa Ta'ala. Tukang sihir dari kalangan manusia melakukan penyembahan seperti itu sebagai tanda hormat dan cinta, serta untuk mendekatkan diri kepada tukang sihir dari kalangan jin. Dengan cara seperti itu, tukang sihir dari kalangan jin senang dan mau membantu tukang sihir manusia dalam rangka melaksanakan aksinya, yakni menimpakan kejahatan dan bahaya terhadap orang lain yang menjadi sasarannya (al-mashur). Tukang sihir dari kalangan jin adalah setan durjana yang sangat jahat dan berbahaya. Dia mempunyai semua sifat jelek, seperti kehinaan, kekejian, suka menipu; jahat, dan celaka. Dialah al-ghawl, "hantu raksasa/monster". Para tukang sihir dari kalangan jin itu melakukan apa saja yang diminta oleh tukang sihir dari kalangan manusia. Sehingga, tukang sihir dari kalangan manusia itu merupakan paduan atau gabungan dari segenap jin jahat yang bertugas untuk menimpakan bahaya kepada manusia yang menjadi sasaran sihir (al-mashur). Di antara sekian banyak tukang sihir, ada yang disebut khadam sihir (pelayan sihir) yang pekerjaannya adalah menyampaikan atau menimpakan sihir yang di amanatkan oleh tukang sihir dari kalangan jin dan manusia untuk disampaikan kepada sasaran sihir yakni manusia yang akan dikenai sihir (al-mashur). Jadi, termasuk masalah yang akan dibahas secara tuntas dalam buku ini adalah bagaimana proses terjadinya sihir secara sempurna dan bagaimana pula pengaruh sihir

http://www.akhirzaman.info/

Menolak dan Membentengi Diri dari Sihir

Abdul Kholiq Al-Athar

yang dikenakan atau ditimpakan tukang sihir terhadap orang yang menjadi sasar an sihir tersebut. Khadam tukang sihir yang diberi kekuasaan untuk mengganggu manusia yang akan dikenai sihir itu menggunakan kesempatannya untuk mengganggu manusia yang Hal. Hal. | 11 lengah, atau sedang marah, atau sedang merasa takut, atau sedang melampiaskan hawa nafsunya, sehingga dia bergabung dan menyatu dengannya. Ia berada pada setiap aliran darah manusia yang kena sihirnya. Macam-macam Sihir Di antara yang akan diperkenalkan dan dijelaskan dalambuku ini adalah macammacam sihir. Macam-macam sihir tersebut adalah sebagai berikut: 1. Sihir a`yun atau sihir ’ayn (lewat mata), sihir lisan (lewat lidah), sihir adzan (lewat telinga), sihir al-sama' (lewat pendengaran), sihir al-bashar (pandangan mata), dan sihir al-kalam (lewat perkataan). 2. Sihir at-tafriq (untuk memecah-belah persatuan atau mencerai-beraikan cinta-kasih). 3. Sihir hibal, sihir khabal, dan sihir 'abath. 4. Sihir khadzal. 5. Sihir jawarih wa al-a`dha' (anggota tubuh), yakni sihir lewat sama' (pendengaran), lewat syumm (ciuman), dan lewat bashar (pandangan mata), serta lewat kalam (perkataan). 6. Sihir a`yun bi at-takhyil (lewat khayalan atau lamunan). 7. Sihir at-tarwi, at-tafzi, tar'ib, dan batstsu ar-r’ub (untuk menyebarkan rasa takut kepada sasaran sihir). 8. Sihir tahzin (membuat sedih), tay'is (membuat putus asa), syurud (menyesatkan atau melinglungkan) dan dzahul (untuk membingungkan dan mengacaukan pikiran sasaran). 9. Sihir campuran (tamrijat) dari syurud, dzahul, dan tawhan (yang melahirkan kelemahan badan). Termasuk dari karakteristik dan macam sihir adalah menanamkan benih-benih perpecahan, seperti buruk sangka, salah paham, keraguan, dan permusuhan. Juga menimbulkan kedengkian, rasa dendam kesumat, kebencian, ta’ashshub atau fanatik (buta), rasa cemburu, dan kemarahan. Demikian pula meniup-niup hasutan pada jiwa dan menimbulkan was-was atau keraguan dalam diri manusia lewat tiupan tersebut. Sihir At-Tafriq Di antara wujud dan macam sihir tafriq—untuk memecah belah atau menceraiberaikan persatuan dan kesatuan—adalah: (1) Membolak-balikkan (memutarbalikkan) makna perkataan dan perbuatan.
http://www.akhirzaman.info/

Menolak dan Membentengi Diri dari Sihir

Abdul Kholiq Al-Athar

Hal. Hal. | 12

(2) Membesar-besarkan atau mengagung-agungkan sebab-sebab perpecahan dan pertentangan meskipun asalnya hanya hal-hal yang sepele. (3) Membolak-balikkan gambar (penampilan bentuk jasad) lewat tipu muslihat (bantuan) setan. Cara-cara seperti itu sebagaimana trik-trik yang dilakukan dalam perfilman, dengan cara menjelekkan yang bagus atau membuat bagus yang jelek. Membesarkan yang kecil atau membuat kecil yang asalnya besar. (4) Membuat orang suka menyepi (`uzlah) dan lapar (ihthiwa'). (5) Menyebarluaskan permusuhan dan kedengkian, serta kebencian dengan berbagai macam cara. (6) Mencuri-curi pendengaran (istiraq al-sam`) dan istijla'u albashar (mengelabui penglihatan). (7) Menimbulkan keraguan pada perkataan, perbuatan, dan kondisi atau keadaan orang yang tersihir. Juga menimbulkan keraguan pada orang lain yang menjadi teman dekatnya yang paling dicintai, yang paling dekat, yang paling tulus, dan yang paling diharapkan pertolongannya oleh orang yang terkena sihir itu. (8) Membencikan (menjadikan benci) orang yang terkena sihir terhadap setiap yang bagus, terhadap nilai-nilai agama, dan terhadap orang-orang baik dan orang-orang yang dekat kepada al-mashur (yang terkena sihir). Dia dijadikan cinta (dicintakan) terhadap yang sebaliknya, yakni hal-hal yang tidak baik. Khadam sihir dapat melakukan istirqaq al-sama' (mencuri-curi pendengaran atau menguping, atau mengintai). Maksudnya, dia menirukan suara (perkataan) orang yang akan dikenai fitnah dengan orang yang terkena sihir. Dengan suara tiruan itulah khadam sihir menyampaikan dan menyalakan api permusuhan dan kebencian di antara orang yang terkena sihir dan orang-orang terdekatnya serta kekasih atau karib-kerabatnya. Sedang istijla' al-bashar (mengelabui pandangan), takhyil bi-alshurah (pengkhayalan dengan gambar) dan takhyil bi-al-shawt (pengkhayalan atau penipuan dengan suara) itu terjadi dengan cara khadam sihir menyerupakan dirinya, baik dalam mimpi atau pun dalam keadaan terjaga, dengan orang yang akan dijerumuskan ke jurang permusuhan dan tukang sihir dari jin. Sihir sering juga dilancarkan dengan cara mencuri-curi pendengaran (mendengarkan dengan sembunyi-sembunyi) dan mengelabui pandangan (menyerupakan diri dengan orang yang akan dicelakakan) pada satu waktu. Hal itu dilakukan oleh tukang sihir untuk lebih memantapkan dan meyakinkan berhasilnya api permusuhan lewat suara dan gambar (imitasi khayalan). Kadang-kadang khadam sihir itu memasukkan khayalan terhadap orang yang terkena sihir sehingga dia melamun yang sangat aneh-aneh. Kadangkadang juga membuat suara yang macam-macam di sekitar tempat tinggal orang yang terkena sihir. Sehingga dia mendengar suara tersebut dari segenap penjuru tempat tinggalnya, baik yang dekat maupun yang jauh darinya. Demikian pula dengan cara menyebarkan bau-bauan sehingga orang yang terkena sihir itu dapat mencium macammacam bau. Ada yang harum, ada pula yang bau busuk.

http://www.akhirzaman.info/

Menolak dan Membentengi Diri dari Sihir

Abdul Kholiq Al-Athar

Demikianlah, antara lain sebagian karakter atau sifat-sifat dan cara-cara sihir yang dilakukan oleh tukang sihir itu. Allah Subhanahu wa Ta'ala mengisyaratkan, Dan demikianlah kami jadikan bagi tiaptiap nabi itu musuh, yaitu setan-setan (dari jenis) manusia dan dari jenis) jin, sebagian Hal. Hal. | 13 mereka membisikkan kepada sebagian yang lain perkataan-perkataan yang indah-indah untuk menipu (manusia) (QS. AI-An-`am: 112). Pada ayat 121 dari surah Al-An`am difirmankan, Sesungguhnya setan-setan itu membisikkan kepada kawan-kawannya agar mreka membantah kamu. Dan jika kamu menuruti mereka, sesungguhnya kamu tentulah menjadi orang-orang musyrik. Al-Wahyu, yang kadang-kadang merupakan bisikan dan isyarat itu, dilakukan oleh setan dan jin tukang sihir dengan perkataan, dengan isyarat, atau dengan menimbulkan permusuhan dan kebencian dalam dada manusia yang disihir. Sesungguhnya setan itu meletakkan belalai hidungnya pada hati anak Adam. Sebagaimana dia pun berjalan pada setiap tempat mengalirnya darah anak Adam. Pada ayat lain Allah Subhanahu wa Ta'ala menegaskan, Dan Kami tidak mengutus sebelum kamu seorang rasul pun dan tidak pula seorang nabi, melainkan apabila dia mempunyai suatu keinginan, setan pun memasukkan godaan-godaan terhadap keinginannya itu (QS. Al-Hajj: 52). Sihir Habil, Sihir Khubal, dan Sihir `Abath Jika ruh manusiawi hilang lalu tampak ruh jahat, dan terjadi perpaduan atau penyatuan dalam jangka waktu lama, maka tampaklah ruh yang jahat berbajukan dan menyerupai Habil tukang tipu muslihat, Khubal—tukang mencelakakan orang sampai gila, dan Abath—tukang menimbulkan fitnah. Kadang-kadang khadam atau pelayan sihir itu menyatu dengan diri orang yang terkena sihir karena ingatannya atau akalnya lemah. Dan kadang-kadang juga karena orang yang terkena sihir itu kehilangan kepribadiannya. Tetapi boleh jadi karena memang begitu tabiat aslinya. Dan boleh jadi dia mempunyai pribadi mendasar yang lebih jahat daripada Habil yang suka menyebar fitnah dan bencana itu. Sihr Al Jawarih wa Al A`dha' Mengenai sihir terhadap semua anggota tubuh, kita diingatkan kepada peristiwa yang menimpa Nabi Muhammad Shallalahu ‘Alaihi wa Sallam di samping sihir yang terjadi pada masa Nabi Musa a.s. Ketika itu, pernah terjadi tukang sihir Fir'aun menyihir (menyulap) mata manusia dan menjadikan mereka takut. Bahkan Nabi Musa a.s. membayangkan seakan-akan ular/tongkat itu merayap cepat dengan kemampuan tukang sihir itu.

http://www.akhirzaman.info/

Menolak dan Membentengi Diri dari Sihir

Abdul Kholiq Al-Athar

Hal itu diisyaratkan Alquran Al-Karim, Berkata Musa, "Silakan kamu sekalian melemparkan." Maka tiba-tiba tali-tali dan tongkat-tongkat mereka, terbayang pada Musa seakan-akan merayap cepat lantaran sihir mereka (QS. Thaha: 66). Sihir yang mengenai seluruh jasad itu ada yang menimbulkan kelemahan syahwat Hal. Hal. | 14 (seksual) berkepanjangan. Ada juga yang hanya sedikit melemahkan syahwat (seksual) yang datang tiba-tiba. Kadang menimbulkan berbagai penyakit, khususnya penyakit cepat tua. Kadang-kadang juga menimbulkan penyakit lemah berkepanjangan akibat selalu meminum (menelan) obat-obatan yang menimbulkan kelemahan fisik dan memabukkan. Lemah Syahwat (Seksual) dan Impotensi Nanti akan saya jelaskan mengenai pengertian lemah syahwat (al-dha’f al-jinsy), macam-macamnya, sebab-sebabnya, dan terapi pengobatannya. Selanjutnya akan dijelaskan perbedaan antara lemah syahwat (al-dha’f al-jinsy) dan ar-rabth (impotensi). Penulis juga akan mengemukakan dalil dan bukti-bukti kebenaran adanya impotensi dari Alquran dan As-Sunnah. Akan diperkenalkan juga pengertian rabth (impotensi), tanda-tanda dan ciricirinya, sebab-sebabnya, serta cara terjadinya impotensi tersebut. Syarat-Syarat Mendapatkan Hubungan Seksual yang Sukses 1. Harus adanya urat syaraf yang kuat dan sehat. Hal itu terjadi jika tidak ada penyakit yang menimpa badan, yang umumnya penyakit tersebut melahirkan kelemahan syahwat. 2. Tidak adanya penghalang, perintang, dan yang melemahkan semangat syahwat (impotensi). 3. Kondisi jiwa (psikologis) yang tenang, stabil, tetap, dan tidak ada rasa khawatir dan cemas. Tidak menyandu obat-obat penenang yang sangat membahayakan, serta tidak banyak begadang. 4. Faktor-faktor perangsang, baik untuk laki-laki maupun perempuan. 5. Cepat mengeluarkan air mani dan terapinya untuk mendapatkan kepuasan seksual tentunya harus diusahakan supaya tidak cepat mengeluarkan air mani. 6. Rafats (cumbu-rayu), yakni pembukaan untuk melakukan jimak. 7. Ukuran kecil atau besarnya, atau tebal tipisnya alat laki-laki tidak berpengaruh terhadap hubungan seksual. Karena keterangsangan dan kelezatan itu akan timbul secara sempurna dengan masuk dan bersinggungannya zakar ketika telah menegang, meski dalam beberapa saat saja. Faktor perintang atau penghalang, kadangkadang datang dari pihak suami. Kadang-kadang juga datang dari pihak istri. Sehingga, karena adanya penghalang atau perintang tersebut, pihak istri kadangkadang menolak suaminya, baik dengan kedua tangannya maupun dengan kedua

http://www.akhirzaman.info/

Menolak dan Membentengi Diri dari Sihir

Abdul Kholiq Al-Athar

kakinya. Tetapi laki-laki pun kadang-kadang merasakan adanya penghalang pada farji wanita. Kadang-kadang juga terjadi, dan ini sangat jarang, laki-laki dari jenis manusia berhubungan (seksual) dengan wanita dari jenis jin. Demikian sebaliknya. Wanita dari jenis Hal. Hal. | 15 manusia dicampuri oleh kaum laki-laki dari jenis jin. Bismillah wa-al-hamdu lillah, wa ash-shalatu wa as-salamu ’ala Rasulillah, "Dengan menyebut nama Allah, seraya memohon pertolongan dan bantuan-Nya. Segala puji hanya milik Allah. Semoga rahmat dan salam sejahtera selalu terlimpah kepada rasul utusan Allah." Sihir merupakan salah satu dari tujuh dosa besar yang sangat mencelakakan dan membahayakan manusia, seperti halnya menyekutukan Allah, membunuh, durhaka kepada kedua orangtua, berzina, memfitnah, dan lain-lainnya. Sihir juga termasuk salah satu hal yang ajaib dan aneh yang terjadi dalam kehidupan di dunia fana ini. Siapa yang tidak menahan diri sehingga menyihir atau meminta orang lain untuk menyihir demi kepentingan dirinya, maka celakalah dia. Sihir merupakan salah satu fan (disiplin ilmu) atau satu macam ilmu pengetahuan yang mempunyai kaidah-kaidah dan rahasia tertentu. Sihir merupakan perbuatanperbuatan awal atau permulaan (premis minor dan mayor) yang melahirkan akibat atau nilai (konklusi). Atas dasar itu, maka siapa yang mempelajari kaidah-kaidah dan dasardasar pokok sihir; serta mengetahui rahasia-rahasianya lalu mengamalkannya, maka dia adalah sahir (tukang sihir). Dan siapa yang mempelajarinya untuk diamalkan; lalu menggunakan setan sebagai khadam sihir untuk menimpakan bahaya dan gangguan, bahkan mengafirkan orang lain, memecah belah dan menceraiberaikan antara seseorang suami dan istrinya, atau antara seseorang dengan kelompok atau sahabatnya, maka sungguh dia telah melakukan suatu dosa besar di antara dosa-dosa besar yang tidak mudah diampuni. Bahkan, pelaku atau tukang sihir itu berhak dipenggal lehernya dengan pedang sebagai balasan yang setimpal baginya. Sihir merupakan haqiqah imaniyyah—permasalahan yang bersangkut-paut dengan keimanan. Bahkan Alquran dan Sunnah Nabi pun mengungkap dan membahasnya secara panjang lebar. Meskipun demikian, sihir bukanlah suatu kebohongan (dajl) atau sulap belaka. Saya bermohon kepada Allah untuk diberi petunjuk dan taufik, serta kemampuan untuk dapat membahas bab-bab berikut secara rinci. 1. Pengertian sihir dilengkapi dengan berbagai dalil dari Alquran dan As-Sunnah. 2. Karakteristik (sifat-sifat) sihir dan sandaran tukang sihir dari bangsa manusia. 3. Proses terjadinya sihir.

http://www.akhirzaman.info/

Menolak dan Membentengi Diri dari Sihir

Abdul Kholiq Al-Athar

Hal. Hal. | 16

4. Cara terjadinya atau meresapnya sihir dan pengaruhnya terhadap harta, keluarga, dan badan orang yang terkena sihir. 5. Macam-macam sihir. 6. Tanda-tanda atau ciri-ciri adanya sihir yang menimpa orang yang kena sihir (almashur). 7. Berbagai wasilah atau perantara untuk membatalkan, menggagalkan, dan menghancurkan sihir, serta mengobati orang yang terkena sihir. 8. Perlindungan terhadap sihir. Permasalahan Sihir dan Tukang Sihir Menurut Alquran dan As-Sunnah An-Nabawiyyah Pengertian Secara etimologis (lughah), sihir berarti menipu dan memalingkan seseorang dari arah hidupnya. Sedang secara terminologi, sihir adalah perkataan dan perbuatan yang memperlihatkan hal-hal yang istimewa dan ajaib, serta luar biasa, seperti mukjizat dan keramat. Sihir dalam operasinya selalu menggunakan perantara (wasilah) lewat ruqyah (jampi-jampi), jimat (azimat), mantra-mantra, dan aqsam (sumpah). Sihir Menurut Konsepsi Alquran Ayat-ayat yang menerangkan tentang sihir terdapat dalam surah Al-A`raf ayat 111126, yaitu sebagai berikut: 111. Pemuka-pemuka itu menjawab, "Beri tangguhlah dia dan saudaranya, serta kirimlah ke kota-kota beberapa orang yang akan mengumpulkan (ahli-ahli sihir)." 112. Supaya mereka membawa kepadamu semua ahli sihir yang pandai. 113. Dan beberapa ahli sihir itu datang kepada Fir'aun mengatakan, "(Apakah) sesungguhnya kami akan mendapat upah, jika kamilah yang menang?" 114. Fir'aun menjawab, "Ya, dan sesungguhnya kamu benar-benar akan termasuk orangorang yang dekat (kepadaku)." 115. Ahli-ahli sihir berkata, "Hai Musa, kamukah yang akan melemparkan lebih dahulu, ataukah kami yang akan melemparkan?" 116. Musa menjawab, "Lemparkanlah lebih dahulu." Maka tatkala mereka melemparkan, mereka menyulap. (menyihir) mata orang dan menjadikan orang banyak itu takut, serta mereka mendatangkan sihir yang besar (menakjubkan). 117. Dan Kami wahyukan kepada Musa, "Lemparkanlah tongkatmu, maka sekonyongkonyong tongkat itu menelan apa yang mereka sulapkan." 118. Karena itu, nyatalah yang benar dan batallah yang selalu mereka kerjakan. 119. Maka mereka kalah di tempat itu, dan jadilah mereka orangorang yang hina. 120. Dan ahli-ahli sihir itu serta merta meniarapkan diri dengan bersujud. 121. Mereka berkata, "Kami beriman kepada Tuhan semesta alam." 122. (Yaitu) Tuhan Musa dan Harun.
http://www.akhirzaman.info/

Menolak dan Membentengi Diri dari Sihir

Abdul Kholiq Al-Athar

123. Fir'aun berkata, "Apakah kamu beriman kepadanya sebelum aku memberi izin kepadamu. Sesungguhnya (perbuatan) ini adalah suatu muslihat yang telah kamu rencanakan di dalam kota ini untuk mengeluarkan penduduknya daripadanya. Maka kelak kamu akan mengetahui (akibat perbuatanmu ini). 124. Demi, sesungguhnya aku akan memotong tangan dan kakimu dengan bersilang secara Hal. Hal. | 17 bertimbal balik, kemudian sungguh-sungguh aku akan menyalib kamu semuanya." 125. Ahli-ahli sihir itu menjawab, "Sesungguhnya kepada Tuhanlah kami kembali." 126. Dan kamu tidak menyalahkan kami melainkan karena kami telah beriman kepada ayatayat Tuhan kami ketika ayat-ayat itu datang kepada kami (mereka berdoa), "Ya Tuhan kami, limpahkanlah kesabaran kepada kami, dan wafatkanlah kami dalam keadaan berserah diri kepada-Mu (sebagai orang Islam)." Penjelasan Ayat 116 Kami akan mencoba mengajak Anda untuk memahami secara mendalam ayat 116 dari surah Al-Araf tersebut. 1. Firman Allah Subhanahu wa Ta'ala, saharu a'yuna an-nas, "mereka menyihir (menyulap) mata orang banyak", yaitu dengan menggunakan satu macam sihir yang dikandung oleh sihir jawarih dan a dha'—sihir yang menimpa anggota tubuh. Hal itu terjadi, jika dalam pandangan mata manusia tampak sesuatu yang menakjubkan lewat pemetaan gambar-gambar yang berbeda dengan bentuk (gambar) yang sebenarnya. Itulah sihir a'yun (mata). Ini baru merupakan salah satu dari sihir jawarih dan a dha'. Sedang macam sihir lainnya adalah sihir al-adzan (telinga), sihir lisan (lidah), sihir sama' (pendengaran), dan sihir kalam (perkataan). 2. Mengapa hanya disebutkan saharu a'yun an-nas dan tidak disebutkan saharu an-nas (menyihir manusia)? Hal itu mengantarkan kita untuk mengetahui macam-macam sihir yang biasa menimpa badan manusia. Yakni, sihir a'yun, sihir sama', sihir al-adzan (telinga), dan ada juga yang disebut sihir an-nas (menyihir manusia), baik secara individu (perorangan), maupun secara jamaah (berkelompok) lewat jalan setansetan yang menjadi khadam atau pelayan sihir dan para tukang sihir. 3. Sedang yang dimaksud dengan istarhabuhum "tukang-tukang sihir itu menjadikan banyak orang (menjadi) takut", yakni, ketika orang-orang yang tidak beriman dan tidak mempunyai benteng syariat atau agama melihat kehebatan sihir para ahli sihir mereka merasakan adanya rasa takut, khawatir, dan sangat gentar. Dan rasa takut yang diakibatkan oleh sihir itu sebagai akibat suatu macam sihir yang disebut sihir istirhab, takhwif, tarwi, dan tafzi', yakni macam sihir yang membuat orang lain merasa sangat takut dan khawatir. Mengenai hal tersebut, Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman, Maka Musa merasa takut dalam hatinya. Kami berkata, 'janganlah kamu takut, sesungguhnya kamulah yang paling unggul (menang). Dan lemparkanlah apa yang ada di tangan kananmu, niscaya dia
http://www.akhirzaman.info/

Menolak dan Membentengi Diri dari Sihir

Abdul Kholiq Al-Athar

akan menelan apa yang mereka perbuat. Sesungguhnya apa yang mereka perbuat itu adalah tipu daya tukang sihir (belaka). Dan tidak akan menang tukang sihir itu, dari mana saja dia datang (QS. Thaha: 67-69). Seperti kita maklumi, bahwa setan mengganggu manusia lewat dirinya sendiri. Hal. Hal. | 18 Sebagaimana halnya malaikat yang suka memberikan ilham dan pemahaman kepada orang-orang mukmin yang saleh lewat hati yang dikenai isyarat rabbany, dari Tuhan Rabb Al-'Alamin. Perhatikan firman Allah Subhanahu wa Ta'ala berikut ini: “Dan sesungguhnya Alquran itu benar-benar diturunkan oleh Tuhan semesta alam. Dia dibawa turun oleh Ar-Ruh Al-Amin (Jibril a.s.) ke dalam hatimu (Muhammad) agar kamu menjadi salah seorang di antara orang-orang yang memberi peringatan dengan bahasa Arab yang jelas.” (QS. Asy-Syu`ara 26:192-195). Pada surah Al-Baqarah Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman, Katakanlah, "Barangsiapa yang menjadi musuh Jibril, maka Jibril itu telah menurunkannya (Alquran) ke dalam hatimu dengan seizin Allah; membenarkan apa (kitab-kitab) yang sebelumnya dan menjadi petunjuk dan berita gembira bagi orang-orang mukmin." (QS. Al-Baqarah 2:97). Makna ayat tersebut ialah bahwa Nabi Musa a.s. digoda dengan penuh kesungguhan oleh setan, seperti halnya dia menggoda Nabi Adam a.s. Dan godaan dan gangguan setan itu begitu besar, sehingga Sayyidina Musa a.s. merasakan dalam dirinya ada rasa (sedikit) takut. Tetapi, tentu saja tidak akan berhasil, sebab karunia dan pertolongan Allah Subhanahu wa Ta'ala segera datang membantu dan menolongnya. Dengan demikian, hati Sayyidina Nabi Musa a.s. menjadi kokoh dan tangguh serta tenang dengan wahyu yang diturunkan oleh Allah Subhanahu wa Ta'ala ke dalam hatinya. Dia wahyukan, Kami berkata, 'Janganlah kamu takut, sesungguhnya kamulah yang paling unggul (menang)." Firman Allah Qulna (kami berkata), maksudnya Allah menetapkan, menenangkan, dan mengokohkan (mengikat) hati Sayyidina Musa a.s. dengan perantaraan perkataan (alqawl) dan wahyu rabbany dari Tuhan yang langsung disampaikan. Dengan kata lain, Dia menyebutkan, "Wahai Musa, tetaplah, kokohlah, dan tenanglah karena sesungguhnya Allah besertamu dan akan selalu menguatkan dan menolongmu. Dan yakinlah, bahwa kamu mengikuti kebenaran. Dan siapa yang mengikuti kebenaran, maka dia akan disertai dan ditolong oleh Allah yang Mahamulia dan Mahaluhur. Dan siapa yang disertai dan dibantu serta ditolong oleh Allah, dia pasti kuat dan menang." Firman Allah, Wa ja'u bi-sihrin `azhim, "Dan mereka mendatangkan sihir yang besar (menakjubkan)", maksudnya bahwa sihir mereka itu mengandung kehebatan, kekuatan, kekejian, dan tipu muslihat yang ajaib, di samping memperlihatkan kecerdikan dan kecermatan. Mereka mampu membuat takut banyak orang yang hadir menyaksikan sihir mereka (ahli-ahli sihir). Bahkan mereka menyihir (menyulap) mata banyak orang, sehingga mereka terpesona dan merasa takjub, serta melihat sesuatu tidak seperti
http://www.akhirzaman.info/

Menolak dan Membentengi Diri dari Sihir

Abdul Kholiq Al-Athar

aslinya. Mereka, termasuk Nabi Musa a.s., melihat dengan matanya ketika mereka tersihir apa-apa yang diperlihatkan tukang sihir itu bukan yang sesungguhnya. Mereka melihat tongkat dan tali seakan-akan merayap. Dalam kaitan itu, Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman, Berkata Musa, "Silakan Hal. Hal. | 19 kamu sekalian melemparkan." Maka tiba-tiba tali-tali dan, tongkat-tongkat mereka terbayang kepada Musa seakan-akan merayap cepat lantaran sihir mereka. Maka Musa merasa takut dalam hatinya. Kami berkata, 'Janganlah kamu takut, sesungguhnya kamulah yang paling unggul (menang). Dan lemparkanlah apa yang ada pada tangan kananmu, niscaya dia akan menelan apa yang mereka perbuat. Sesungguhnya apa yang mereka perbuat itu adalah tipu daya tukang sihir (belaka). Dan tidak akan menang tukang sihir itu, dari mana saja dia datang." (QS. Thaha: 66-69). Oleh karena itu, Allah Subhanahu wa Ta'ala menyatakan apa yang diperbuat oleh ahli-ahli sihir itu dengan firman-Nya, Wa ja'u bi-sihrin "Mereka mendatangkan sihir". Dan sihir yang mereka perbuat itu disifati dalam firman-Nya sebagai yang "agung/besar" yakni, bukan sulap, bukan khayalan, dan bukan dajl (kebohongan). Tetapi itu adalah sihir yang sesungguhnya sebagai hasil kecerdikan dan kepandaian tukang sihir. Bukankah sihir merupakan suatu pekerjaan dan penghidupan, seperti pekerjaanpekerjaan lainnya? Dan bukankah setiap pekerjaan (produksi) itu mempunyai asal-usul atau latar belakang dan rahasianya? Siapa yang mempelajari dengan sungguh-sungguh serta mengetahui rahasia sihir dan asal-usulnya, pasti dia mengetahui, memiliki, dan menguasainya. Dalam Alquran, Allah Subhanahu wa Ta'ala telah menggambarkan bahwa perbuatan atau karya para tukang sihir itu merupakan sesuatu yang agung atau besar. Tetapi sebesar dan sehebat atau seagung apa pun yang dilakukan sihir atau para ahlinya—dengan segala kekuatan, kehebatan, dan kecerdikannya—itu hanya merupakan kebatilan yang disandarkan dan diperkuat dengan kebatilan. Dan, selamanya, yang namanya kebatilan itu pasti lenyap dan kalah. Hal itu dijelaskan Allah Subhanahu wa Ta'ala dalam firman-Nya, Sebenarnya Kami melontarkan yang hak kepada yang batil, lalu yang hak itu menghancurkannya, maka dengan serta merta yang batil itu lenyap. Dan kecelakaanlah bagi kamu dengan menyifati (Allah dengan sifat-sifat yang tidak layak bagi-Nya) (QS. Al-Anbiya' 21:18). Pada ayat lain diisyaratkan, Dan katakanlah, "Telah datang al-haq (kebenaran) dan lenyap(lah) kebatilan. Sesungguhnya yang batil itu (pasti) terbukti (akan) lenyap." (QS. AlIsra' 17:81). Pada ayat-ayat lain disebutkan pula, Karena itu, nyatalah yang benar dan batallah yang selalu mereka kerjakan. Maka mereka kalah di tempat itu dan jadilah mereka orangorang yang hina. Dan ahli-ahli sihir itu serta merta meniarapkan diri dengan bersujud.
http://www.akhirzaman.info/

Menolak dan Membentengi Diri dari Sihir

Abdul Kholiq Al-Athar

Mereka berkata, "Kami beriman kepada Tuhan semesta alam. (Yaitu) Tuhan Musa dan Harun" (QS. Al-Araf 7:118-122). Ayat-ayat mengenai sihir diterangkan juga dalam surah Asy-Syu'ara, Berkata Musa kepada mereka, "Lemparkanlah apa yang hendak kamu lemparkan." Lalu mereka Hal. Hal. | 20 melemparkan tali-temali dan tongkat-tongkat mereka, dan berkata, "Demi kekuasaan Fir'aun, sesungguhnya kami benar-benar akan menang." Kemudian Musa melemparkan tongkatnya, maka tiba-tiba tongkat itu menelan benda-benda palsu yang mereka adakan itu. Maka tersungkurlah ahli-ahli sihir sambil bersujud kepada Allah. Mereka berkata, "Kami beriman kepada Tuhan semesta alam. (Yaitu) Tuhan Musa dan Harun." (QS. Al-Syu`ara 26:43-48). Ayat-ayat Alquran mengenai sihir tercantum dalam surah Yunus ayat 80 sampai 82, Maka tatkala ahli-ahli sihir itu datang, Musa berkata kepada mereka, "Lemparkanlah apa yang hendak kamu lemparkan." Maka setelah mereka melemparkan, Musa berkata, "Apa yang kamu lakukan itu, itulah yang sihir, sesungguhnya Allah akan menampakkan ketidakbenarannya." Sesungguhnya Allah tidak akan membiarkan terus berlangsungnya pekerjaan orang-orang yang membuat kerusakan. Dan Allah akan mengokohkan yang benar dengan ketetapan-Nya, walaupun orang-orang yang berbuat dosa tidak menyukai(nya)." Jika Allah berkehendak, pasti Dia mengkhususkan pembahasan sihir dalam surah Al-Baqarah. Sedang ringkasan bahasan mengenai sihir itu ada pada surah Al-Araf, surah Yunus, surah Thaha, dan surah Asy-Syu'ara. 1. Ahli-ahli sihir itu fasik (durjana dan berdosa), kafir, dan fajir (durhaka). Hal itu karena mereka meminta pertolongan dan bantuan, serta memohon perlindungan kepada arwah-arwah syaithaniyyah (yang dipengaruhi setan) yang jahat dan celaka, serta sangat membahayakan. Setan-setan itu melaksanakan apa yang diinginkan dan menjadi tujuan para ahli sihir yang jahat. Coba perhatikan firman Allah, Mereka—ahli-ahli sihir itu berkata, "Demi kekuasaan Fir'aun, sesungguhnya kami benar-benar akan menang." (QS. Asy-Syu'ara 26:44). 2. Jika para ahli sihir itu meminta pertolongan, bantuan, dan perlindungan dari arwaharwah syaithaniyyah, yakni arwah-arwah jahat yang dipengaruhi setan, untuk menimpakan kejahatan kepada orang yang menjadi sasaran sihir (al-mashur), maka untuk membatalkan dan menggagalkan sihir dan segala pengaruhnya kita harus berlindung dan bertawakal kepada Allah. Hendaklah kita memohon pertolongan serta bantuan dari-Nya. Dalam surah Thaha Allah berfirman, Janganlah kamu takut, sesungguhnya kamulah yang paling unggul (menang). Dan lemparkanlah apa yang ada di tangan kananmu, niscaya ia akan menelan apa yang mereka perbuat. Sesungguhnya apa yang mereka perbuat itu adalah tipu daya tuhang sihir (belaka). Dan tidaklah akan menang tukang sihir itu dan mana saja dia
http://www.akhirzaman.info/

Menolak dan Membentengi Diri dari Sihir

Abdul Kholiq Al-Athar

datang (QS. Thaha 20:68-69). Dan firman-Nya lagi, Dan Kami wahyukan kepada Musa, lemparkanlah tongkatmu, maka sekonyong-konyong tongkat itu menelan apa yang mereka sulapkan. Karena itu nyatalah yang benar dan batallah apa yang selalu mereka kerjakan. Maka mereka kalah di Hal. Hal. | 21 tempat itu, dan jadiiah mereka orang-orang yang hina. Dan ahli-ahli sihir itu serta merta meniarapkan diri dengan bers'ujud (QS. Al-A'raf 7:117-120). Kemudian firman-Nya dalam surah Yunus, Maka tatkala mereka melemparkan , Musa berkata, "Apa yang kamu lakukan itu, itulah yang sihir; sesungguhnya Allah akan menampakkan ketidakbenarannya. Sesungguhnya Allah tidak akan membiarkan terus berlangsungnya perbuatan orang-orang yang membuat kerusakan.. Dan Allah akan mengokohkan yang benar dengan ketetapan-Nya walaupun orang-orang yang berbuat dosa tidak menyukainya." (QS. Yunus 10:81-82). Jadi sihir itu perbuat.an batil (salah). Dan setiap yang batil pasti akan lenyap, hancur dan binasa, serta selesai tidak akan ada bekasnya. Hal ini sebagaimana diisyaratkan Allah, Sebenarnya Kami melontarkan yang hak kepada yang batil lalu yang hak itu menghancurkannya, maka dengan serta merta yang batil itu lenyap (QS. Al-Anbiya' 21:18). Demikian pula isyarat Allah dalam surah lain, Dan katakanlah, "Telah datang yang haq (benar) dan (telah) lenyap yang batil. Sesungguhnya yang batil itu pasti (akan) lenyap." (QS. Al-Isra' 17:81). Pada ayat lain Allah Subhanahu wa Ta'ala memfirmankan, ... dan mereka membantah dengan alasan yang batil untuk melenyapkan kebenaran dengan yang batil itu; karena itu Aku siksa mereka. Maka betapa (pedihnya) azab-Ku itu (QS. Al-Mukmin/Ghafir 23:5). Firman Allah dalam surah A1-A'raf: 118 menyebutkan, Maka nyatalah yang hak (benar) dan batallah apa yang (telah) mereka kerjakan. Kemudian Dia menegaskan, Apa yang kamu datangkan itu, itulah yang sihir. Sesungguhnya Allah akan menampakkan ketidakbenarannya. Sesungguhnya Allah tidak akan memperbaiki (membiarkan) terus berlangsungnya perbuatan orang-orang yang membuat kerusakan. Dan Allah akan mengokohkan yang hak (benar) dengan ketetapan-Nya walaupun orang-orang yang berbuat dosa tidak menyukai(nya). (QS. Yunus 10:81-82). Ayat.-ayat Al-Quran dalam Surah Al-Baqarah Mengenai Sihir Dan setelah datang kepada mereka seorang Rasul dan sisi Allah yang membenarkan apa (kitab) yang ada pada mereka, sebagian dan orang-orang yang diberi kitab (Taurat) melemparkan kitab Allah ke belakang (punggung)-nya seolah-olah mereka tidak rnengetahui (bahwa itu kitab Allah). Dan mereka mengikuti apa yang dibaca oleh setan-s elan pada masa kerajaan Sulaiman (dan mereka mengatakan) bahwa Sulaiman itu mengerjakan sihir.
http://www.akhirzaman.info/

Menolak dan Membentengi Diri dari Sihir

Abdul Kholiq Al-Athar

Hal. Hal. | 22

Padahal Sulaiman tidak kafir (tidak mengerjakan sihir). Hanya setan-setan itulah yang kafir (mengerjakan sihir). Mereka mengajarkan sihir kepada manusia dan apa yang diturunkan kepada dua orang malaikat di negeri Babil, yaitu Harut dan Marut, sedang keduanya tidak mengarjakan (sesuatu) kepada seorang pun sebelum mengatakan, "Sesungguhnya kami hanya cobaan (fitnah bagi kamu), sebab itu janganlah kamu kafir." Maka mereka mempelajari dari kedua malaikat itu apa yang dengan sihir itu, mereka dapat menceraikan antara seorang (suami) dengan istrinya. Dan mereka itu (ahli sihir) tidak memberi mudharat dengan sihirnya kepada seorang pun kecuali dengan izin Allah. Dan mereka mempelajari sesuatu yang memberi mudharat kepadanya dan tidak memberi nanfaat. Demi, sesungguhnya mereka telah meyakini bahwa barangsiapa yang menukarnya (kitab Allah) dengan sihir itu, tiadalah keuntungan baginya di akhirat, dan amat jahatlah perbuatan mereka menjual dirinya dengan sihir, kalau mereka mengetahui. Sesungguhnya kalau mereka beriman dan bertakwa, (niscaya mereka akan mendapat pahala), dan sesungguhnya pahala di sisi Allah adalah lebih baik, kalau mereka mengetahui (QS. AlBaqarah 2:101-103). Penjelasan dan Ta'wil Nabi Muhammad Shallallahu 'Alaihi wa Sallam datang membawa kitabullah, Alquran Al-Karim kepada orang-orang, termasuk orang Yahudi. Sebetulnya, berita mengenai sifat-sifat Nabi Muhammad Shallallahu 'Alaihi wa Sallam itu telah dijelaskan dan ditetapkan dalam kitab Taurat yang belum diselewengkan dan belum dirusak. Bahkan mereka pun telah dikenalkan kepada kitabullah Alquran yang akan menguatkan kenabian Nabi Muhammad Shallallahu 'Alaihi wa Sallam itu. Tetapi, justru mereka tidak mau menerima al-haqq, kebenaran yang dibawa oleh Nabi Muhammad Shallallahu 'Alaihi wa Sallam dan tidak pula mau saling menolong di antara sesamanya. Mereka malah pura-pura tidak mengetahui, mereka mengingkarinya dan merintangi penyebarluasan agama yang dibawa oleh Nabi Muhammad Shallallahu 'Alaihi wa Sallam. Mereka tetap membanggakan diri dan sombong hanya karena mempunyai kitab Taurat yang telah mereka rusak dan telah mereka selewengkan itu. Jadi pada hakikatnya, mereka telah melemparkan kitab Allah yang ada pada tangan atau di hadapan mereka, yakni kitab Taurat dengan segala kandungan cahayanya, serta tidak mau mengikuti apa yang diberitakannya mengenai kehadiran Nabi penutup, Nabi Muhammad Shallallahu 'Alaihi wa Sallam. Ketika mereka menentang kebenaran dan meninggalkannya, mereka mengganti kitabullah itu dengan buku-buku mengenai sihir, sya'wadzah (sulap), dan dajl (yang mengandung ramalan, tipuan, dan kebohongan) yang diisyaratkan atau diilhamkan oleh setan dari bangsa jin kepada setan dari bangsa manusia. Kita meyakini bahwa Allah Subhanahu wa Ta'ala-lah yang menundukkan burung, angin, dan jin terhadap Nabi Sulaiman a.s. Dengan kata lain, dengan kekuasaan-Nya, kebijaksanaan-Nya, kekuatan-Nya,

http://www.akhirzaman.info/

Menolak dan Membentengi Diri dari Sihir

Abdul Kholiq Al-Athar

dan Jabarut (kekuasaan)-Nya, Allah Subhanahu wa Ta'ala telah menundukkan jin terhadap Nabi Sulaiman a.s. Perhatikanlah ayat-ayat Alquran benikut ini, Ia (Sulaiman) berkata, "Ya Tuhanku, ampunilah aku dan anugerahkanlah kepadaku kerajaan yang tidak dimiliki oleh seorang pun Hal. Hal. | 23 sesudahku, sesungguhnya Engkaulah yang Maha Pemberi." Kemudian Kami tundukkan kepadanya angin yang berhembus dengan baik menurut ke mana saja yang dikehendakinya. Dan (Kami tundukkan pula kepadanya) setan-setan semuanya ahli bangunan dan penyelam (QS. Shad 38:35-37). Allah juga berfirman pada beberapa ayat dalam surah Saba', Dan Kami (tundukkan) angin bagi Sulaiman yang perjalanannya di waktu pagi sama dengan perjalanan sebulan, dan perjalanannya di waktu sore sama dengan perjalanan sebulan. Dan Kami alirkan cairan tembaga baginya. Dan sebagian dari jin ada yang bekerja di hadapannya (di bawah kekuasaannya) dengan izin Tuhannya. Dan siapa yang menyimpang di antara mereka dan penintah Kami, Kami rasakan kepadanya azab neraka yang apinya menyala-nyala. Para jin itu membuat untuk Sulaiman apa yang dikehendakinya dan gedung-gedung yang tinggi, dan patung-patung, dan piring-piring yang besarnya seperti kola'in dan periuk dan tetap (berada di atas tungku). Bekerjalah hai keluarga Dawud untuk bersyukur (kepada Allah). Dan sedikit sekali dari hamba-hamba-Ku yang berterima kasih. Maka tatkala Kami telah menetapkan kematian Sulaiman, tidak ada yang menunjukkan kepada mereka kematiannya itu kecuali rayap yang memakan tongkatnya. Maka tatkala dia telah tersungkur, tahulah jin itu. bahwa sekiranya mereka mengetahui yang gaib, tentulah mereka tidak tetap dalam siksa yang menghinakan (QS. Saba'34:12-14). Sedang pada surah Al-Anbiya' (81-82) disebutkan, Dan (telah Kami tundukkan) untuk Sulaiman angin yang sangat kencang tiupannya yang berhembus dengan perintahnya ke negeri yang Kami telah berkati. Dan adalah Kami Maha Mengetahui segala sesuatu. Dan Kami telah tundukkan (pula) kepada Sulaiman segolongan setan-setan yang menyelam (kedalam laut) untuknya, dan mengenjakan pekerjaan selain danipada itu, dan adalah Kami memelihara mereka itu. Perhatikan pula firman Allah Subhanahu wa Ta'ala dalam surah An-Naml (semut), Dan dihimpunkan untuk Sulaiman tentaranya dari jin, manusia dan burung, lalu meneka itu diatur dengan tertib (dalam barisan) (QS. 27:17). Selanjutnya, firman-Nya, Berkata Sulaiman, "Hai pembesar --pembesar siapakah di antara kamu sekalian yang sanggup membawa singgasananya kepadaku sebelum mereka datang kepadaku sebagai onang-onang yang berserah diri (Muslimin)." Berkata 'Ifrit (yang cerdik) dari golongan jin, 'Aku akan datang kepadamu dengan membawa singgasana itu sebelum kamu berdiri dari tempat dudukmu; sesungguhnya aku benar-benar kuat untuk membawanya lagi dapat dipercaya." Berkatalah seorang yang mempunyai ilmu dari Al-Kitab,

http://www.akhirzaman.info/

Menolak dan Membentengi Diri dari Sihir

Abdul Kholiq Al-Athar

'Aku akan membawa singgasana itu kepadamu sebelum matamu berkedip.' (QS An-Naml 27: 38-40). Bendasarkan ayat-ayat tersebut jelaslah bahwa dengan kekuasaan, keperkasaan, kebijaksanaan, dan kekuatan-Nya, Allah Subhanahu wa Ta'ala telah menundukkan jin Hal. Hal. | 24 terhadap Nabi Sulaiman a.s. Tetapi setan-setan dari bangsa jin itu menceritakan kejadian seperti itu yang dibumbui atau dihiasi dengan kebohongan, kepalsuan, dan penyelewengan dari mereka, sehingga mereka memutarbalikkan fakta. Menurut mereka, seperti yang diberitahukannya lagi kepada manusia yang tidak beriman, bahwa para jin itu ditundukkan kepada Nabi Sulaiman a.s. lewat perantaraan peng gunaan azimat, mantra, jampi-jampi, dan yang sepertinya. Dan menurut pengakuan palsu dan bohong para setan jin dan setan manusia itu, bahwa siapa saja dari kalangan manusia yang menggunakan jampi-jampi, mantra, dan azimat itu, maka dia akan dapat menaklukkan dan menundukkan jin untuk diperalatnya supaya melakukan apa saja, dan bagaimana saja, serta kapan saja sekehendaknya. Itulah yang dikatakan dan diwahyukan (diisyaratkan dan diilhamkan) oleh setansetan pada masa kerajaan dan kenabian Nabi Sulaiman a.s. ketika setan-setan jin dan setan-setan manusia mengajarkan sihir hitam (black magic) kepada manusia. Mereka sejak itu mengajari manusia mengenali dan mengamalkan sihir-sihir yang merusak manusia, menceraiberaikan persaudaraan dan memisahkan suami dan istrinya, dan sihir yang menakutkan. Mereka juga mengajarkan sihir yang mengagetkan (sihir tafzi). Sehingga, banyak orang yang meyakini, ketika itu, bahwa sihir itu adalah mukjizat atau paling rendah, keramat (kemuliaan yang diberikan Allah kepada para wali-Nya). Sebagaimana mereka juga meyakini bahwa para ahli sihir itu adalah nabi atau rasul. Bahkan ada yang mengitikadkan, bahwa ahli sihir melebihi derajat rasul dan nabi. Itulah pekerjaan setan-setan jin dan setan-setan manusia. Mereka menggiring untuk menjadi kafir dengan meyakini, bahwa selain Allah yang Mahaluhur itu ada yang dapat memberi manfaat kepada manusia dan dapat pula memberi mudharat. Mereka, yang selain Allah itu, menurut ajaran para ahli sihir dari bangsa jin dan manusia itu dapat memberikan penyakit, menyembuhkan, membuat manusia fakir, dan membuat manusia menjadi kaya. Kemudian Allah Subhanahu wa Ta'ala menurunkan dua malak (malaikat) dari malaikat yang ada di langit, yaitu Harut dan Marut. Allah mengilhami dan mengajari keduanya tentang cara-cara membatalkan dan menggagalkan serta menghancurkan sihir yang dilancarkan oleh ahli sihir, baik dari kalangan jin, maupun dari kalangan manusia. Kemudian mereka, kedua malak itu, mengajarkan resep-resep itu kepada manusia. Kedua malak itu pun memberitahukan kepada manusia, bahwa sihir itu tidak sama dengan mukjizat ataupun keramat, juga bukan sesuatu yang hariq li al ‘adah, "luar biasa". Sihir
http://www.akhirzaman.info/

Menolak dan Membentengi Diri dari Sihir

Abdul Kholiq Al-Athar

hanya merupakan suatu hirfah (pekerjaan, pencaharian) dan karya yang ada asal-usulnya dan ada rahasianya. Juga ada kaidah-kaidahnya serta aturannya. Dan siapa pun yang mempelajari asal-usul sihir, kaidah-kaidahnya, dan aturan-aturannya, maka dia menjadi tukang sihir. Hal. Hal. | 25 Kedua malak, Harut dan Marut pun mengajari manusia, bahwa tukang-tukang sihir itu bukanlah tuhan, bukan rasul, juga bukan nabi, bahkan manusia atau makhluk mulia pun bukan. Para ahli sihir adalah manusia jahat, fasik (durhaka), kafir (ingkar kepada Tuhan Rabb Al-'Alamin) karena mereka menggunakan setan-setan jin untuk kebutuhannya. Jadi, tukang-tukang sihir itu menggunakan jasa para setan sebagai lawan dari setan-setan itu yang telah memperbudak tukang sihir dan menghinakannya. Oleh karena itu, maka mempelajari sihir hitam (black magic) yang membahayakan merupakan perbuatan kufur (mengingkari Tuhan yang Mahakuasa) dan fasik (kedurhakaan), juga kemaksiatan yang sangat besar dosanya. Ketika diketahui secara pasti oleh kita betapa bahayanya sihir dan bahwa sihir merupakan dosa besar, maka tidak perlu diragukan lagi, bahwa mempelajari cara-cara membatalkan dan menggagalkan sihir termasuk suatu kewajiban yang sangat penting. Sementara itu, kata malak (sebagai mufrad dari malaikat) menurut sebagian ahli tafsir dibaca malik, dengan mengkasrahkan lam-nya yang berarti raja. Sehingga menurut mereka, kedua orang raja tersebut termasuk sebagian raja di dunia dari kalangan manusia. Atau, keduanya sebagai dua orang laki-laki yang mempunyai nama baik, berwibawa, kharismatik, saleh (taat beragama), dan mulia akhlaknya. Karena kejernihan hati kedua orang tersebut, dan kemuliaan etikanya, serta kebagusan perilakunya, maka keduanya disebut sebagai malikani (dua raja, atau menurut yang lain sebagai kedua malaikat). Tetapi, yang paling penting dari keduanya, bahwa mereka itu, baik disebut sebagai kedua malak atau malaikat, maupun sebagai dua raja mulia, setiap kali mengajari manusia cara-cara penguasaan (ilmu) sihir. Bahwa sihir itu bukan sulap dan bukan suatu kebohongan, juga bukan sesuatu yang luar biasa, tetapi merupakan suatu pencaharian atau alat penghidupan dan kehidupan. Bisa juga disebut karya (shan'ah), mereka pun sekaligus mengajarkan cara-cara menggagalkan dan membatalkan sihir tersebut, serta cara menghancur-luluhkannya. Keduanya selalu menegaskan, "Sesungguhnya kami hanyalah fitnah (cobaan), dan ujian bagi kamu sekalian, maka hati-hatilah jangan sampai kamu menjadi kafir dengan mengingkari (eksistensi) Allah yang telah menciptakan semua makhluk-Nya; dan jauhilah penyembahan terhadap makhluk yang hanya mempunyai segala sifat kekurangan: lemah, hina, miskin, dan tidak kuasa berbuat apa-apa."
http://www.akhirzaman.info/

Menolak dan Membentengi Diri dari Sihir

Abdul Kholiq Al-Athar

Di antara sihir yang diajarkan oleh kedua malak atau malik tersebut adalah suatu macam sihir tafriq "yang memecah-belah-(kan)". Memecah-belahkan atau menceraiberaikan antara ayah dan anaknya, antara suami dan istrinya, antara seorang sahabat dengan sahabatnya, antara ibu dan anaknya, antara saudara dengan saudaranya, antara pimpinan perusahaan dengan bawahan dan karyawannya, antara istri dan ibu mertuanya, Hal. Hal. | 26 antara suami dengan ibu mertuanya, dan antara mereka yang sedang menjalin cinta kasih dengan pasangannya. Semestinya diketahui, bahwa bahaya apa pun yang menimpa manusia, apa pun penyebabnya, dan apa pula sumbernya, baik itu berupa manusia, hewan, jin, benda mati, atau setan, maka tetap bahaya itu terjadi dengan izin dan kehendak Allah Subhanahu wa Ta'ala Tak ada dalam kerajaan dan kekuasaan Allah Subhanahu wa Ta'ala sesuatu yang terjadi tanpa kehendak dan izin-Nya. Allah Subhanahu wa Ta'ala mengisyaratkan lewat firman-Nya, Tiada suatu bencana pun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauh Mahfuzh) sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah (QS. Al-Hadid 57:22). Jadi, bahaya atau musibah apa pun yang menimpa manusia, pasti terjadi dengan izin dan kehendak Allah Subhanahu wa Ta'ala. Tetapi ada bedanya antara perintah (amar) Allah dan kehendak-Nya. Dalam kaidah ushul (fiqih) ditegaskan bahwa Allah Subhanahu wa Ta'ala bisa saja menghendaki (masyi'ah) sesuatu (beberapa hal) tetapi tidak memerintahkannya. Sebagaimana Dia yang Mahatinggi pun memerintahkan beberapa hal yang tidak dikehendaki-Nya. Sebagai contoh, Allah Subhanahu wa Ta'ala memerintahkan Iblis untuk bersujud, tetapi Dia tidak menghendakinya bersujud, maka Iblis pun tidak bersedia bersujud kepada Adam a.s. Demikianlah (masyi'ah) Allah Subhanahu wa Ta'ala. Terjadinya berbagai kemaksiatan itu pasti sesuai dengan kehendak Allah Subhanahu wa Ta'ala, tetapi Dia tidak pernah memerintahkan siapa pun untuk melakukan kemaksiatan dan perbuatan jelek. Bagaimanapun, Allah tidak akan memerintahkan makhluk-Nya untuk melakukan perbuatan keji, sebagaimana Dia pun tidak meridhai adanya kekufuran (kekafiran) dari hamba-hamba-Nya. Atas dasar itu, dapat disimpulkan bahwa sihir merupakan haqiqat Quraniyyah — kajian Alquran — dan bukan suatu kebohongan (dajl) juga bukan sulap (sya`wadzah). Jika firman Allah Subhanahu wa Ta'ala hanya sampai (berbunyi) Wa ma hum bi-dharrina bihi min ahadin, " Dan mereka itu (ahli sihir) tidak memberi mudharat (bahaya) dengan sihirnya kepada seorang pun", maka dapat dipahami bahwa sihir itu secara mutlak tidak membahayakan atau tidak akan mengenai seseorang. Hal itu jika dipahami bahwa ma’-nya adalah nafiyah — untuk menafikan atau meniadakan. Yakni, tiadalah ahli sihir itu
http://www.akhirzaman.info/

Menolak dan Membentengi Diri dari Sihir

Abdul Kholiq Al-Athar

menimpakan bahaya dengan sihir itu terhadap seorang pun. Tetapi ketika Allah Subhanahu wa Ta'ala menyebutkan adanya istitsna "pengecualian" dengan firman-Nya Illa bi-idzni Allah, "Kecuali dengan izin Allah", dipahami,bahwa sihir itu dapat membahayakan manusia, tetapi hal itu terjadi jika ada izin Allah Subhanahu wa Ta'ala dan kehendak-Nya Hal. Hal. | 27 Nabi Muhammad Shallallahu 'Alaihi wa Sallam Terkena Sihir(?) Mengenai peristiwa sihir yang menimpa Nabi Muhammad Shallallahu 'Alaihi wa Sallam diriwayatkan dalam Shahih Bukhari, Shahih Muslim, Sunan Nasa’iy, Sunan Turmudzi, Sunan Abu Dawud, Musnad Imam Ahmad bin Hanbal, Sunan Darimy, dan Sunan Ibn Majah, bahkan disebutkan pula dalam kitab-kitab hadits lainnya. Riwayat-riwayat hadits tersebut telah disebutkan (dikumpulkan dan dibahas) dalam kitab saya yang berjudul "Kedokteran Menurut Alquran dan Sunnah Nabi Melalui Para Imam yang Mulia". Bagi pembaca yang bermaksud memperluas dan memperjelas kajian riwayat-riwayat tersebut, kami persilakan merujuk kitab yang telah ditunjukkan tersebut. Pada kesempatan ini, saya hanya akan menyebutkan satu riwayat mengenai peristiwa tersebut, yaitu riwayat dari Ummu Al-Mukminin, Siti Aisyah r.a. yang menyebutkan, "Nabi Muhammad Shallallahu 'Alaihi wa Sallam terkena sihir. Beliau diduga oleh yang lain melakukan sesuatu, padahal tidak melakukannya. Terbayangkan padanya bahwa beliau Shallallahu 'Alaihi wa Sallam mendatangi ahli (istri)-nya padahal beliau tidak mendatangi mereka. Beliau bersabda padaku—kata Aisyah r.a., "Wahai Aisyah, aku telah memohon fatwa kepada Tuhanku, lalu Dia memfatwakan kepadaku, Jibril a.s. mendatangiku dekat kepalaku, sedang Mikail a.s. datang dan duduk dekat kakiku. Yang duduk dekat kepalaku berkata, "Ia terkena sihir (mathbub ay mashur)." Tambahan Dalam hadits tersebut terdapat kata mathbub yang berarti mashur (tersihir). Selanjutnya, hadits tersebut menyebutkan bahwa Malaikat Mikail yang ada dekat kakiku bertanya, "Wa man thabbabahu (siapakah yang menyihirnya)?" Malaikat Jibril yang ada dekat kepadaku menjawab, "Lubayd bin Al A`sham." Kemudian malak yang ada pada kakiku bertanya lagi, "Pada benda apakah menyihirnya?" Malak yang ada pada kepalaku menjawab, "Pada sebatang sisir dan rambut yang jatuh ketika disisir (musyatah) di sumur Dzarwan di bawah tembok yang mengelilingi sumur." Lalu Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam mengutus Imam Ali r.a. — semoga Allah memuliakan wajahnya—dan Zaid bin Tsabit r.a. Mereka mengeluarkan sihir itu dari sumur, seakan-akan airnya inai (pacar merah), dan pohon kurma (yang ada di tempat itu) seakan-akan kepala setan.

http://www.akhirzaman.info/

Menolak dan Membentengi Diri dari Sihir

Abdul Kholiq Al-Athar

Hal. Hal. | 28

Mulailah Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam membuka (melepas) ikatan-ikatan sihir. Setiap beliau Shallallahu 'Alaihi wa Sallam melepas satu ikatan, beliau membaca satu ayat dari Al-Mu awwidzatayn (Al-Falaq dan An-Nas). Sampai akhirnya beliau merasakan adanya keringanan pada badannya. Begitu selesai melepas semua ikatan, selesai pulalah pembacaan ayat-ayat Alquran-nya, seakan-akan beliau lepas dari ikatan. Ulasan Mengenai Hadits Tersebut 1. Dengan perintah Allah Subhanahu wa Ta'ala, Sayyidina Jibril a.s. menggunakan kata mathbub dan tidak menggunakan kata mashur (tersihir). Padahal kata mashur itu banyak digunakan dalam Alquran Al-Karim. Kata mathbub sendiri diambil sebagai isim maful dari kata thabba yang berarti alaja atau dawa (mengobati). Jadi, yuthabbibu artinya yu aliju atau yudawy, "mengobati". Dan thatib ialah mu’alij atau mudawy, "dokter yang mengobati". Maksud penggunaan kata tersebut (mathbub) untuk menegaskan bahwa ada sihir yang dapat digunakan untuk mengobati (bi-anna min as-sihr al-'ilaj). Atau, yang paling jelas, bahwa sihir dapat diobati. Bahkan, bukan hal yang mustahil dan tidak sulit bagi Allah Subhanahu wa Ta'ala untuk melenyapkan atau menghilangkan segala rasa sakit dan bekas sihir apa pun dari orang yang terkena sihir. Seperti yang telah diketahui bersama bahwa ilmu mushthalah al-hadits adalah salah satu ilmu yang, demi kemajuan ilmu tersebut, Allah telah menakdirkan dan memilih beberapa ulama terkenal, termasuk dari kalangan fuqaha dan huffazh (penghafal dan pakar hadits) yang giat mengkaji dan meneliti ilmu tersebut. Hal itu terjadi sejak terjadinya pengkodifikasian ilmu hadits tersebut sampai zaman sekarang (1416 H). Para fuqaha (ulama) atau ahli ilmu hadits telah meletakkan ushul (pokok-pokok) dan berbagai kaidah, kelengkapan, dan syarat-syarat untuk menerima hadits, men-tash-hih (mensahih)-kannya, men-dha if-kannya, menyatakan ke-maudhu an-nya, atau meng-hasan-kannya. Hal ini sejalan dengan firman Allah Subhanahu wa Ta'ala, Sesungguhnya Kami menurunkan AlDzikr (Alquran), dan sesungguhnya Kami akan menjaganya (QS. Al-Hijr 15:9). Fuqaha (ulama) yang arif dan bijaksana, serta ikhlas dan selalu sadar merasa tenang (thuma`ninah) untuk menerima dan memperjuangkan segala kaidah dan ushul (pokok-pokok) ilmu mushthalah hadits. Bahkan mereka merasa bahagia karena Allah telah mengaruniai mereka menguasai ilmu mushthalah hadits tersebut. Dengan pikiran dan pemahamannya serta logikanya, mereka juga selalu bersedia berjuang untuk kepentingan ilmu mushthalah hadits tersebut. Alhamdulillah, tak ada satu abad (qarn) pun yang kosong dari ulama mujahid yang ahli dalam ilmu hadits. Dan, alhamdulillah pula, saya tidak pernah mendengar atau membaca bahwa salah seorang dari ulama atau fuqaha ilmu mushthalah hadits itu mencela atau men-dha if-kan hadits mengenai tersihirnya Nabi Muhammad Shallallahu 'Alaihi wa Sallam.

http://www.akhirzaman.info/

Menolak dan Membentengi Diri dari Sihir

Abdul Kholiq Al-Athar

Sementara yang menolak hadits tersebut hanyalah dari segelintir umat Islam, yaitu dari kalangan filosof, atau lebih tepatnya, dari kalangan teolog (ulama ilmu kalam). Mereka menolak hadits tersebut bukan karena disandarkan kepada ushul atau kaidahkaidah ilmu mushthalah hadits, tetapi karena mereka mempunyai pemahaman yang khusus mengenai ayat Alquran yang mengisyaratkan 'ishmah atau keterpeliharaan Hal. Hal. | 29 Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam. Hal ini sebagaimana diisyaratkan firman Allah Subhanahu wa Ta'ala dalam surah Al-Maidah 67, Wahai Rasul, sampaikanlah apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu. Jika kamu tidak mengerjakan (apa yang diperintahkan itu, berarti) kamu tidak menyampaikan risalah-Nya (amanat-Nya). Allah memelihara kamu dari (gangguan) manusia. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang kafir. Anehnya, sebagian umat Islam memahami bahwa Allah Subhanahu wa Ta'ala memelihara dan menjaga serta melindungi Nabi Muhammad Shallallahu 'Alaihi wa Sallam itu dengan perlindungan yang sempurna, menyeluruh, dan langgeng. Padahal, apa pun hikmah di belakangnya, telah disaksikan banyak umat Islam, bahwa perjalanan hidup Nabi Muhammad Shallallahu 'Alaihi wa Sallam tidak sunyi dari berbagai peristiwa dan kejadian yang memperlihatkan bahwa beliau Shallallahu 'Alaihi wa Sallam pernah diganggu oleh sebagian manusia jahil. Bukankah wajah dan pelipis Nabi Muhammad Shallallahu 'Alaihi wa Sallam pernah terluka? Bahkan Ubay bin Khalaf—semoga laknat Allah selalu menyertainya—pernah datang dengan gagah berani mencela Nabi dan meletakkan mantra pada kepala beliau Shallallahu 'Alaihi wa Sallam yang mulia. Dan lebih jahat lagi, Ubay bin Khalaf yang terkutuk itu juga berani meletakkan kakinya pada leher Nabi Muhammad Shallallahu 'Alaihi wa Sallam ketika beliau sujud kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala. Yang lebih jelas dari itu semua, bahwa Nabi Muhammad Shallallahu 'Alaihi wa Sallam pun pernah diberi lengan domba yang telah dicampuri racun. Ketika Nabi Muhammad Shallallahu 'Alaihi wa Sallam telah mulai menggigitnya sedikit, maka terasalah oleh mulut Nabi rasa pahit, atau tidak enaknya racun tersebut. Kemudian, dengan 'ishmah atau penjagaan Allah Subhanahu wa Ta'ala lengan domba itu berkata, "Janganlah engkau memakan sedikit pun dariku wahai Rasulullah, aku telah dicampuri racun." Jika keterpeliharaan (`ishmah) Nabi Muhammad Shallallahu 'Alaihi wa Sallamitu lengkap, meliputi segala hal, dan langgeng, lalu bagaimanakah kita menafsirkan kejadian dan peristiwa yang pernah terjadi pada diri Nabi Muhammad Shallallahu 'Alaihi wa Sallam itu? Bahkan hadits-hadits yang disepakati ahli hadits pun tidak melupakan untuk mengungkapkannya? Sungguh, yang benar adalah bahwa kejadian atau peristiwa yang menimpa Nabi Muhammad Shallallahu 'Alaihi wa Sallam yang ma`shum (terjaga) itu mengandung hikmah yang tinggi sekali. Beliau terkena bahaya dari kaumnya, lalu terlihatlah bagaimana beliau menyikapi musibah semacam itu. Terlihatlah bahwa Nabi yang agung itu tidak
http://www.akhirzaman.info/

Menolak dan Membentengi Diri dari Sihir

Abdul Kholiq Al-Athar

menggerutu dan tidak pernah putus asa, Bahkan beliau selalu tabah dan sabar. Beliau selalu menegaskan, "Semoga Allah Subhanahu wa Ta'ala selalu merahmati, mengasihi, dan menyayangi saudaraku, Musa a.s. yang telah diberi cobaan (bencana) yang lebih banyak tetapi selalu bersabar." Hal. Hal. | 30 Hikmah dari kejadian dan peristiwa yang menimpa diri Nabi Muhammad Shallallahu 'Alaihi wa Sallam itu untuk menegaskan bahwa Nabi Muhammad Shallallahu 'Alaihi wa Sallam betul-betul contoh teladan bagi umatnya dalam menghadapi cobaan, bahaya, dan finah dan orang lain. Dan, memang tidak disangkal lagi, bahwa para pengikut Nabi Muhammad Shallallahu 'Alaihi wa Sallam, sejak dahulu ketika beliau Shallallahu 'Alaihi wa Sallam masih ada, kemudian pada zaman para sahabat yang puluhan tahun, sampai sekarang, bahkan sampai kiamat nanti, terus-menerus mendapatkan bencana, cobaan, dan ujian. Tetapi mereka, dan mungkin kita, alhamdulillah, selalu bersabar dan tabah dalam menghadapi itu semua. Mereka bahkan mengatakan (seperti difirmankan Allah Subhanahu wa Ta'ala), Sungguh telah terdapat - bagi kamu sekalian —pada (diri) Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam itu teladan (contoh) yang baik bagi orang yang mengharapkan (keridaan) Allah dan (kesenangan) di hari akhir, serta selalu berzikir (mengingat) kepada Allah—dengan zikir—yang banyak (QS. A1-Ahzab 33:21). Jika Nabi Muhammad Shallallahu 'Alaihi wa Sallam terjaga secara sempurna dan menyeluruh serta langgeng, maka boleh jadi Nabi Muhammad Shallallahu 'Alaihi wa Sallam itu mempunyai sifat-sifat sempurna dan suci, bersih dan sifat-sifat kekurangan. Dan karena itu, orang yang mengatakan demikian berarti telah terjerumus ke dalam semacam perbuatan syirik, menyekutukan Allah Subhanahu wa Ta'ala. Sedang yang dimaksud 'ishmah atau keterpeliharaan dan keterjagaan Nabi Muhammad Shallallahu 'Alaihi wa Sallam itu menguatkan haqiqat Quraniyyah, kebenaran Qurani, bahwa Allah Subhanahu wa Ta'ala menjaga diri Nabi Muhammad Shallallahu 'Alaihi wa Sallam dengan penjagaan yang lengkap, sempurna, dan menyeluruh serta langgeng itu dalam kaitannya dengan tabligh ar-risalah, yakni menyampaikan amanat Allah Subhanahu wa Ta'ala kepada makhluk-Nya. Dengan kata lain, 'ishmah dan Allah Subhanahu wa Ta'ala itu diberikan demi kelangsungan risalah dan demi keselamatan Rasulullah dalam rangka menyampaikan risalah atau amanat Allah Subhanahu wa Ta'ala. Ketika tabligh atau penyampaian risalah dan amanat dan Allah Subhanahu wa Ta'ala itu dilakukan dengan akal pikiran dan logika Nabi Muhammad Shallallahu 'Alaihi wa Sallam, maka 'ishmah atau penjagaan dan Allah Subhanahu wa Ta'ala mencakup risalah, akal pikiran, dan logika Nabi Muhammad Shallallahu 'Alaihi wa Sallam. Itu berarti, bahwa Allah Subhanahu wa Ta'ala memberikan perlindungan dan penjagaan-Nya kepada Nabi Muhammad Shallallahu 'Alaihi wa Sallamkhususnya pada akal pikirannya, juga pada syariat (ajaran) yang dibawanya. Karena kita mengetahui hal yang benar itu dan kitab-kitab Sunnah (hadits), maka mencela dan menonaktifkan hadits yang sahih dan tsabit (kuat), yang kebenarannya
http://www.akhirzaman.info/

Menolak dan Membentengi Diri dari Sihir

Abdul Kholiq Al-Athar

diyakini oleh kebanyakan ulama merupakan dosa yang sangat besar. Oleh karena itu, untuk memahami hadits atau Sunnah Nabi Muhammad Shallallahu 'Alaihi wa Sallam diperlukan akal pikiran yang cerdas, sederhana, bijaksana, adil, serta ikhlas, dengan memohon petunjuk dan Allah Subhanahu wa Ta'ala agar kita dapat memahami hadits tersebut secara benar sesuai dengan yang diinginkan oleh Allah Subhanahu wa Ta'ala dan Hal. Hal. | 31 Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam. Ayat-ayat dan surah An-Najm juga perlu direnungkan oleh kita dalam rangka memahami 'ishmah atau keterpeliharaan Nabi Muhammad Shallallahu 'Alaihi wa Sallam. Allah berfirman, Demi bintang ketika terbenam; kawanmu (Muhammad) tidak sesat dan tidak pula keliru; dan tiadalah yang diucapkannya itu (Alquran) menurut kemauan hawa nafsunya. Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya). Yang diajarkan kepadanya oleh (Jibril) yang sangat kuat, yang memunyai akal yang sangat cerdas, dan (Jibril itu) menampakkan diri dengan rupanya yang asli, sedang dia berada di ufuk yang tinggi. Kemudian dia mendekat, lalu bertambah dekat lagi, maka jadilah dia dekat (pada Muhammad) sejarak dua ujung busur panah atau lebih dekat (lagi) (QS. An-Najm 53:1-9). Allah Subhanahu wa Ta'ala bersumpah, dalam ayat tersebut, bahwa Dia menjaga dan melindungi akal Nabi Muhammad Shallallahu 'Alaihi wa Sallam dan kesesatan. Sebagaimana Diajuga telah menjaga amal perbuatan Nabi-Nya dan perbuatan-perbuatan yang salah (ghiwayah). Allah Subhanahu wa Ta'ala pun telah menjaga lidah (lisan) Nabi Muhammad Shallallahu 'Alaihi wa Sallam dan memperkatakan sesuatu—mengenai urusan agama—dengan mengikuti keinginan hawa nafsu dirinya atau hawa nafsu orang lain. Semua yang dikatakannya, seperti diisyaratkan ayat Alquran tersebut, merupakan wahyu yang diterimanya dan Allah Subhanahu wa Ta'ala. Dalam judul khusus Proses tembusnya sihir pada badan manusia, jiwanya, akalnya, dan hatinya, serta ruh manusia yang terkena sihir", akan diterangkan bagian badan Nabi yang terkena sihir. Saya juga memohon hidayah dan petunjuk dari Allah Subhanahu wa Ta'ala agar mampu memahami, menerangkan sejelas-jelasnya, dan menemukan jawaban yang benar dan menenangkan kita semua, insya Allah Ta 'ala. Sesungguhnya musuh-musuh Islam, baik dari pengikutnya sendiri, atau apalagi dari yang bukan pemeluknya, baik dengan penuh kesengajaan, maupun karena kebodohan, selalu berusaha untuk menjauhkan umat Islam dan Sunnah Nabi Muhammad Shallallahu 'Alaihi wa Sallam. Cara yang ditempuh mereka antara lain dengan menyusupkan keraguan terhadap kitab-kitab Sunnah Nabi Muhammad Shallallahu 'Alaihi wa Sallam. Mereka selalu melancarkan perjuangan untuk menjerumuskan umat Islam ke dalam jurang syirik (menyekutukan Allah Subhanahu wa Ta'ala) dan meragukan ajaran-Nya. Menurut mereka, umat Islam tidak mungkin dapat melakukan ibadah dengan benar tanpa merujuk kepada kitab-kitab Sunnah Nabi Muhammad Shallallahu 'Alaihi wa Sallam yang tepercaya. Sebagaimana telah kita ketahui, Alquran Al-Karim hanya mencakup ushul (pokok-pokok) dan hal-hal global (kuliyyat, garis besar) mengenai akidah (keyakinan), mu'amalah, dan ibadah. Alquran tidak menerangkan ajaran Islam secara rinci. Semua penjelasan rinci
http://www.akhirzaman.info/

Menolak dan Membentengi Diri dari Sihir

Abdul Kholiq Al-Athar

hanya terdapat dalam sunnah Nabi Muhammad Shallallahu 'Alaihi wa Sallam yang shahihah dan tsabitah (kuat). Bahkan, untuk kepentingan itu, Alquran sendiri telah menegaskan betapa pentingnya sunnah Nabi. Oleh karena itu, mereka memasukkan keraguan-keraguan terhadap kitab Sunnah Nabi Shallallahu 'Alaihi wa Sallam. Hal. Hal. | 32 Perhatikanlah ayat-ayat Alquran berikut ini: Siapa yang menaati Rasul (Nabi Muhammad), maka sungguh dia telah menaati Allah (QS. An-Nisa' 4:80). Apa saja yang dibawa Rasul kepadamu, maka ambillah. Dan apa saja yang dia larang darimu, maka hentikanlah. Dan bertakwalah kepada Allah. Karena sesungguhnya Allah itu sangat pedih siksa-Nya (QS. Al-Hasyr 59:7). Sesungguhnya Allah telah mengetahui orang-orang yang berangsur-angsur di antara kamu dengan berlindung (kepada kawan-kawannya), maka hendaklah orang-orang yang menyalahi perintah Rasul takut akan ditimpa cobaan atau azab yang pedih (QS. An-Nur 24:63). Atas dasar itu, maka sebetulnya celaan dan penolakan sebagian orang bahkan dan kalangan umat Islam terhadap hadits apa pun yang terdapat pada kitab-kitab Sunnah yang mu'tamadah (tepercaya) tanpa mengikuti kaidah-kaidah ushul, dan syarat-syarat yang ditetapkan dalam ilmu mushthalah hadits, perbuatan semacam itu dinilai dosa besar. Proses Tembusnya Sihir kepada Badan, Jiwa, Akal, Hati, dan Ruh Orang yang Terkena Sihir Berikut ini penulis akan menjelaskan bagaimana cara (proses) tembusnya sihir kepada akal (manusia) yang terkena sihir. Dengan kehendak dan permohonan izin Allah Subhanahu wa Ta'ala, penulis akan mulai membahas masalah yang cukup unik ini. Semoga Allah memberikan petunjuk dan taufik kepada Al-Faqir, saya yang sangat memerlukan limpahan rahmat Allah yang Qadir "Mahakuasa". Tetapi sebelum itu, penulis akan menjelaskan terlebih dahulu mengenai peran, fungsi, dan tugas akal manusia. 1. Akal dapat melahirkan dinamo penggerak yang lazim untuk kehidupan dan berfungsi menggerakkan badan; di samping berfungsi untuk mengambil kesimpulan atau konklusi, berpikir, mengingat, mengurus (me-manage), mengkhayal (mencari inspirasi), menggambarkan (mendeskripsi), menghidupkan, dan menggiatkan semua alat-alat tubuh. 2. Akal dapat memberi makan (feeding) kepada semua alat perlengkapan badan yang bermacam-macam dengan mengalirkan sejumlah aliran listrik (dinamo
http://www.akhirzaman.info/

Menolak dan Membentengi Diri dari Sihir

Abdul Kholiq Al-Athar

penggerak) yang menghubungkan otak dengan semua alat perlengkapan tubuh, bahkan termasuk semua rambut. 3. Akal dapat membuat semua alat perlengkapan tubuh bekerja dengan tenang, teratur, dan berkelanjutan, serta tenus-menerus selama ada mukh atau otak— dengan izin Allah Subhanahu wa Ta'ala. Akal juga berfungsi untuk memproduksi, menghasilkan, dan mengalirkan sejumlah aliran listrik (potensi hidup) yang pokok serta menghubungkan kekuatan tersebut ke seluruh anggota tubuh untuk kepentingan hidup, untuk pcnyiapan potensi hidup, dan menggerakkan serta menggiatkan semua anggota tubuh. Jika terjadi kekurangan dalam pengaliran anus listrik tersebut, pada anggota tubuh yang mana pun, pasti melahirkan kekacauan, misalnya kejang, sawan, atau epilepsi. Apalagi, jika ada anggota tubuh atau kelengkapan tubuh yang tidak teraliri aliran listrik sama sekali, atau kadarnya tidak memenuhi kebutuhan, atau aliran listriknya melebihi kapasitas, maka hal itu dapat menimbulkan kekacauan dan ketidakseimbangan. Jika aliran listrik (potensi kehidupan) tidak sampai sama sekali kepada salah satu anggota tubuh atau alat kelengkapan tubuh, maka anggota tubuh tersebut akan terkena penyakit pembekuan, atau yang lebih dikenal dengan penyakit lumpuh. Anggota tubuh atau alat kelengkapan tubuh tersebut telantar (khadzal). Secara praktis, anggota tubuh tersebut tidak dapat secara total melaksanakan tugasnya sebagaimana mestinya. Jika kahrabiyyah (aliran listrik yang menjadi daya kekuatan tubuh) itu sampai kepada anggota tubuh yang mana pun, dalam ukurannya yang paling minim dan tidak sesuai dengan kebutuhan, maka anggota tubuh tersebut akan terkena penyakit kelemahan yang parsial (sebagian) dalam waktu sementara (temporal). Dengan demikian, anggota tubuh tersebut tidak dapat melaksanakan fungsinya untuk memberikan kekuatan pada tubuh. Jika ternyata anggota tubuh yang terkena penyakit sebagian (parsial) seperti itu adalah kedua betis, atau kedua kaki (bagian bawah atau qadam), maka keduanya akan kehilangan kemampuan untuk mengemban tubuh. Tentu saja orang yang bersangkutan tidak dapat beijalan. Orang yang mempunyai penyakit lumpuh semacam ini, kedua kakinya tidak dapat lagi membawa (mengemban) badan. Dia terpaksa bergantung atau bersandar pada anggota tubuh lainnya. Dia tidak dapat berjalan sebagaimana biasanya untuk sementara. Bahkan ada yang tidak dapat berdiri sama sekali. Seperti halnya kedua betis dan kedua kaki bagian bawah, demikianlah keadaan kedua hasta (lengan), kedua tangan, dan jarijemari. Jika aliran listrik (daya kekuatan tubuh) yang didapatnya hanya sedikit dan tidak memenuhi kebutuhannya, maka ia tidak akan dapat menjalankan tugasnya. Kadang kadang orang yang mempunyai penyakit demikian, tidak dapat membawa barang yang sangat ringan sekalipun. Tidak sedikit ada yang tidak mampu mengangkat kedua tangannya sendiri.

Hal. Hal. | 33

http://www.akhirzaman.info/

Menolak dan Membentengi Diri dari Sihir

Abdul Kholiq Al-Athar

Hal. Hal. | 34

Demikian pula halnya dengan lidah dan kalam (alat bicara). Lidah atau alat bicara yang tidak mendapatkan potensi hidup (aliran listrik) yang memadai, akan sangat sulit digunakan untuk berbicara, bahkan ada yang tidak dapat digunakan berbicarasama sekali. Dengan demikian, lidah atau lisan orang tersebut tidak lagi mampu menerangkan perasaan dan keinginannya. Sebagaimana halnya lidah, demikian pula keadaan telinga dan mata. Jika aliran listrik (potensi hidup) yang dialirkan dan mukh (otak) ke mata tidak memadai, maka pasti seseorang akan sulit melihat. Mungkin juga dia dapat melihat tetapi dengan jarak yang dekat sekali. Dia tidak dapat membedakan secara persis siapa, atau apa, atau warna apa yang dilihatnya itu. Bahkan mungkin dia akan menjadi buta. Sama seperti alat kelengkapan tubuh yang vital, anggota tubuh pelengkap pun tidak akan berfungsi sebagaimana mestinya jika aliran listrik atau potensi hidup hanya sampai sedikit sekali dan jauh dan yang dibutuhkan. Sebagai contoh lain, jika aliran listrik yang dialirkan otak kepada anggota tubuh yang berfungsi melahirkan keturunan, alat produksi laki-laki, umpamanya, sangat minim, apalagi tidak ada sama sekali, bahkan tidak sampai ke kulit dan qadhib atau zakarnya, maka hilanglah potensi hidup dan anggota tubuh yang vital itu. Dengan demikian, alat itu tidak akan bergerak dan tidak bersemangat, bahkan tidak dapat tegak (menegang). Dan ..., yang tidak dapat menggauli. Jika kadar aliran listrik (potensi hidup) yang dialirkan otak ke alat produksi laki-laki, kulit, dan zakarnya hanya sedikit, yakni tidak sesuai dengan yang dibutuhkan, atau darah mengalir kepada anggota tubuh tersebut dengan kadar yang minim sekali, maka alat produksi tersebut mungkin bergerak, menegang, dan hidup, tetapi lemah. Dan kondisi bagusnya hanya kuat sebentar saja, berbeda dengan kondisi ketika dia sedang sehat. Sebaliknya, jika suplai kahrabiyyah (aliran listrik atau potensi hidup yang vital) itu melebihi kapasitas, maka anggota tubuh atau alat kelengkapan hidup akan terkena penyakit yang disebut al-shar'u "ayan/sawan atau epilepsi". Semua anggota tubuh akan terkena penyakit ayan atau sawan (epilepsi) secara utuh dan total (keseluruhan). Jika aliran listrik yang melebihi kadar itu mengalir dan otak ke segenap anggota tubuh. Akibatnya, semua anggota tubuh mengeras seperti kayu, gemetar, membeku, kejangkejang, mulut berbuih, kedua mata mengeras, dan kesadaran orang ter sebut hilang secara total. Tetapi, jika Allah yang Mahakuasa berkenan memberikan karunia-Nya kepada orang miskin dan celaka seperti itu, dia akan kembali sadar dan pulih seperti biasa secara berangsur-angsur. Akan tetapi, kadang-kadang kadar aliran listrik (kahrabiyyah) yang berlebihan itu hanya menimpa salah satu atau beberapa anggota tubuh yang vital. Dengan demikian, anggota tubuh tersebut akan mengeras dan mengejang, misalnya salah satu betis atau keduanya, salah satu lengan (hasta) atau keduanya secara bersamaan.

http://www.akhirzaman.info/

Menolak dan Membentengi Diri dari Sihir

Abdul Kholiq Al-Athar

Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman, Sesungguhnya yang merasa takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya hanyalah ulama (QS. Fathir 35:28). Atas dasar itulah, maka wajib bagi setiap insan, khususnya para ulama (sarjana) yang ahli dalam masalah otak dan urat syaraf untuk bersujud kepada Allah Subhanahu wa Hal. Hal. | 35 Ta'ala demi memuliakan dan mengagungkan-Nya, di samping sebagai tanda khudhu'— merendahkan diri di hadapan-Nya—dan khusyu' atau tunduk kepada-Nya. Sujud juga wajib dilakukan oleh mereka demi menyatakan pengakuan dan ikrar atas keagungan ciptaan Allah itu otak dan urat-urat syaraf pada manusia. Bagaimanapun, otak manusia itu merupakan satu alam besar dan agung. Sungguh benar yang dikatakan oleh sarjana logika elektronik, "Jika kita akan membuat akal yang berfungsi seperti akal manusia dalam melaksanakan tugas dan pekerjaannya, maka kita memerlukan area seluas daratan bumi yang menyamai globe dunia atau seperti bumi yang bulat." Sesungguhnya, akal atau otak manusia terbagi atas beberapa bagian dan wilayah (daerah). Setiap bagian (potongan) dan setiap wilayah (daerah) mempunyai batasan, tanda, - dan tugas khusus. Jika Allah Subhanahu wa Ta'ala yang Mahaluas karunia-Nya berkenan menyelamatkan otak atau akal tersebut; maka bagian-bagian otak dan akal itu akan berfungsi secara baik, dan dalam keselamatan dan keamanan. Dengan demikian, manusia yang memiliki otak seperti itu akan hidup senang dan bahagia. Adapun jika salah satu bagian atau salah satu elemen otak atau akal itu ada yang terkena musibah, maka orang tersebut akan kehilangan kehidupannya yang normal. Itu baru ditinjau dari salah satu fungsi atau tugas otak atau akal. Padahal, seperti telah dimaklumi, bahwa di antara tugas akal atau otak itu ialah istiqbal al-ma`lumat, 'menerima hal-hal yang telah diketahui", lalu menyimpannya, kemudian melepaskan atau mengeluarkannya jika diperlukan. Pekerjaan menerima hal-hal yang telah diketahui, menyimpannya, dan melepaskan atau mengeluarkannya itu berbeda secara total dengan memproduksi dan mengalirkan kahrabiyyah (potensi hidup) yang pokok dan pendistribusiannya untuk kepentingan kehidupan fisik atau anggota tubuh manusia, supaya bergerak dan hidup. Kadang-kadang, bagian otak yang mempunyai tugas khusus untuk melakukan tugas tersebut sehat dan tidak cacat. Sementara bagian otak lainnya yang bertugas untuk menerima informasi dan menyimpan, serta mengeluarkannya lagi jika perlu, boleh jadi tidak ada at au tidak berfungsi sama sekali. Itulah yang disebut dan dikenal dengan at-takhalluf al aqly al-kully ad-da'im "kemunduran (kebekuan) akal secara total dan berkepanjangan ". Kadang-kadang bagian otak yang bertugas untuk menerima informasi, menyimpan, dan menyebarkannya itu tidak sehat secara keseluruhan, juga tidak lenyap secara total. Maka kondisi otak atau akal semacam ini disebut at-takhalluf al aqly "ketertinggalan atau kelemahan otak" atau dhu’f al aql ath-thari'ghayr adda'im
http://www.akhirzaman.info/

Menolak dan Membentengi Diri dari Sihir
"

Abdul Kholiq Al-Athar

kelemahan otak mendadak yang tidak langgeng". Tandanya, bahwa orang yang mempunyai kondisi otak atau akal semacam itu kadang-kadang menerima informasi, menyimpannya, dan menyampaikannya lagi dengan cara/metode kemampuan yang lemah, bagus, atau sederhana saja. Hal. Hal. | 36 Ada juga kondisi lain, yakni ketika manusia yang mempunyai kondisi otak seperti itu selamanya mempunyai sifat yang sangat lemah atau lamban dalam menerima informasi, menyimpannya, dan menyampaikannya lagi. Dan itu sebagai akibat logis dari kelemahan kemampuannya dalam menggunakan otak atau berpikir. Sementara itu, ada juga manusia yang terkena musibah dua macam keadaan pada otaknya. Yakni, bagian otak yang memproduksi tenaga listrik atau potensi hidup, serta mengalirkan dan menghubungkannya dengan anggota tubuh yang lain terkena penyakit. Pada saat yang sama pun, penyakit itu mengenai bagian otak lain yang berfungsi untuk menerima informasi, menyimpannya, dan mengeluarkannya lagi. Keadaan otak semacam ini, dapat terlihat pada sebagian anggota fisik manusia, seperti pada kaki, tangan, lidah, atau mungkin juga mata, yaitu keadaannya tidak normal seperti biasa. Kadang-kadang, orang tersebut pun pada saat yang sama terkena penyakit pada bagian otak yang khusus untuk menerima informasi, menyimpannya, dan menyebarkannya lagi. Seperti yang diyakini oleh setiap Muslim yang benar dan adil, serta jujur, bahwa Allah Subhanahu wa Ta'ala pasti melindungi, menjaga, dan memelihara akal atau otak Nabi-Nya, yaitu Nabi Muhammad Shallallahu 'Alaihi wa Sallam pada bagian otak yang khusus untuk menerima informasi, menyimpannya, dan menyebarluaskannya lagi. Juga diyakini oleh kebanyakan umat Islam yang mengerti, bahwa Allah Subhanahu wa Ta'ala pasti selalu menjaga, memelihara, dan melindungi otak atau akal Nabi Muhammad Shallallahu 'Alaihi wa Sallam yang khusus untuk memproduksi (melahirkan) tenaga listrik, mengalirkannya, dan menyambungkan serta mendistribusikannya ke semua anggota tubuh Nabi Muhammad Shallallahu 'Alaihi wa Sallam yang mulia itu. Allah Subhanahu wa Ta'ala pun selalu menjaga dan memelihara serta melindungi akal Nabi Muhammad Shallallahu 'Alaihi wa Sallam yang mempunyai fungsi atau tugas khusus, yakni berpikir, mengingat (menghafal), mengatur (me-manage), mengambil konklusi atau kesimpulan, menggambarkan (mendeskripsi), mengkhayal (mencari inspirasi atau merenung), kecuali masalah kelupaan. Mengenai lupanya Nabi Muhammad Shallallahu 'Alaihi wa Sallam diisyaratkan oleh Allah Subhanahu wa Ta'ala lewat firmanNya, “Dan jika setan menjadikan kamu lupa (akan larangan ini), maka janganlah kamu duduk beserta orang-orang yang zalim itu sesudah teringat (akan larangan itu).” (QS. AlAn'am 6:68). Dalam surah Yusuf ayat 42 Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman,

http://www.akhirzaman.info/

Menolak dan Membentengi Diri dari Sihir

Abdul Kholiq Al-Athar

“Maka setan menjadikan dia lupa menerangkan (keadaan Yusuf) kepada tuannya. Karena itu, tetaplah ia (Yusuf) dalam penjara beberapa tahun lamanya.” (QS. Yusuf 12:42). Dalam surah Al-Kahfi ayat 63 juga disebutkan, ... dan tidak ada yang melupakan aku untuk menceritakannya kecuali setan dan ikan itu mengambil jalannya ke laut dengan Hal. Hal. | 37 cara yang aneh sekali. Rasulullah, Nabi Muhammad Shallallahu 'Alaihi wa Sallam juga pernah lupa mengenai rakaat shalat, sehingga beliau ditanya oleh seorang sahabatnya yang dikenal dengan dzu al-yadain "mempunyai dua tangan", "Apakah engkau mengqashar shalat wahai Rasulullah atau engkau lupa? " Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam sebagai sayyid al-awwalin wa al-akhirin, pemimpin yang dipertuan oleh segenap makhluk terdahulu sampai yang terkemudian, sesuai dengan beberapa riwayat dan bahkan ditunjukkan oleh Alquran, memang pernah mengalami lupa seperti halnya manusia biasa. Demikian pula para rasul lainnya. Nabi Adam a.s. umpamanya, beliau pernah lupa seperti diisyaratkan Alquran, Dan sesungguhnya telah Kami perintahkan kepada Adam dahulu, maka dia lupa (akan perintah itu), maka Kami tidak mendapatkan padanya kemauan kuat (QS. Thaha 20:115). Hal yang serupa dengan lupa adalah al-waswasah (was-was atau keraguan). Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman, Dan Kami tidak mengutus sebelum kamu seorang rasul pun, dan tidak (pula) seorang nabi, melainkan apabila dia mempunyai suatu keinginan, maka setan pun memasukkan godaan-godaan terhadap keinginan itu, maka Allah pun menghilangkan apa yang dimasukkan oleh setan itu, dan Allah menguatkan ayat-ayat-Nya. Allah Maha Mengetahui dan Mahabijaksana (QS. Al-Hajj 22:52). Pada surah Thaha 20:120, Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman, Kemudian setan membisikkan pikiran jahat kepadanya, dengan berkata, "Hai Adam, maukah saya tunjukkan kepadamu pohon Khuldi dan kerajaan yang tidak akan binasa." Pada surah Yunus: 94, Allah menegaskan, Maka jika kamu (Muhammad) berada dalam keragu-raguan tentang apa yang Kami turunkan kepadamu, maka tanyakanlah orangorang yang membaca kitab sebelum kamu. Ketika ayat Alquran Al-Karim tersebut turun kepada Nabi Muhammad Shallallahu 'Alaihi wa Sallam , maka beliau Shallallahu 'Alaihi wa Sallam bersabda, "Aku tidak meragukan apa yang diturunkan kepadaku dan aku tidak akan bertanya kepada orangorang yang membaca kitab sebelum aku.' Menurut Ibn Abbas r.a., tak seorang pun yang selamat dan keraguan dan bisikan setan (syak dan waswasah). Kemudian Ibn Abbas membaca ayat Alquran surah Yunus tersebut dan surah Al-Isra' 17:73-75 yaitu, Dan sesungguhnya mereka hampir memalingkan kamu dan apa yang telah Kami wahyukan kepadamu, agar kamu membuat yang lain secara
http://www.akhirzaman.info/

Menolak dan Membentengi Diri dari Sihir

Abdul Kholiq Al-Athar

Hal. Hal. | 38

bohong terhadap kami; dan kalau sudah begitu tentulah mereka mengambil kamu jadi sahabat yang setia. Dan kalau Kami tidak memperkuat (hati)-mu, niscaya kamu hampirhampir condong sedikit kepada mereka. Kalau terjadi demikian, benar-benanlah Kami akan rasakan kepadamu (siksaan) berlipat ganda di dunia ini, dan begitu (pula) siksaan sesudah mati, dan kamu tidak akan mendapat seorang penolong pun terhadap Kami. Untuk membahayakan manusia, setan-setan itu mempunyai banyak wasilah— perantara dan alat—yang tidak lepas dan izin Allah Subhanahu wa Ta'ala di antaranya: 1. Godaan setan itu dipusatkan pada otak. Dengan izin Allah, meski Dia tidak menghendaki, setan-setan itu memasukkan ikhtilal fi at-tafkir, yaitu kelemahan dan kekacauan dalam berpikir, dalam mendapatkan informasi, dan mengeluarkannya lagi. Sihir semacam itu disebut sihir habil (hibill), yaitu untuk memperdaya atau menipu, sihir khubal, yaitu untuk mengacaukan pikiran manusia sampai gila, dan sihir 'abath, yaitu untuk memfitnah (menimpakan bencana). Dengan sihir semacam itu, orang yang terkena sihir akan kehilangan kemampuan mengingat, berpikir, mengatur, mengambil konklusi atau kesimpulan, ber-tasawwur (mendeskripsi), dan berkhayal (merenung). Jadi, sihir habil, sihir khubal, dan sihir 'abath berpusat pada otak manusia. 2. Dengan izin Allah tetapi tanpa kehendak-Nya, setan memusatkan godaan dan gangguan terhadap manusia pada otak yang berfungsi untuk menghasilkan kahrabiyyah (tenaga listrik sebagai potensi hidup manusia), mengalirkannya, dan mendistribusikannya ke semua anggota tubuh dan alat kelengkapan tubuhnya. Karena gangguan dan godaan setan melalui jalur tersebut, maka seseorang akan mengalami epilepsi (sawan/ayan) secara total (pada seluruh tubuh) atau mungkin hanya mengenai sebagian (satu atau lebih) anggota tubuh saja. Jadi, pada sihir dua macam yang telah disebutkan itu, setan memusatkan godaan dan gangguannya pada otak manusia. Tetapi, dengan karunia dan rahmat Allah Subhanahu wa Ta'ala, Dia menjaga, memelihara, dan melindungi akal atau otak Nabi Muhammad Shallallahu 'Alaihi wa Sallam, sehingga otaknya tidak terganggu oleh sihir tersebut. 3. Wasilah atau perantaraan yang ketiga yang digunakan setan dalam menggoda dan mengganggu manusia adalah dengan menjauhi secara total otak manusia, tetapi dia memusatkan gangguan dan godaannya itu pada salah satu alat tubuh. Seperti pada mata, telinga, tangan, kaki, atau pada alat produksi laki-laki, khususnya zakarnya, atau pada prostatnya, atau pada buah pelir. Dalam hal ini setan menghalangi sampainya kahrabiyyah (tenaga listrik atau potensi hidup) yang dialirkan dari otak ke semua anggota tubuh dan alat-alat kelengkapan tubuh lainnya yang menjadi pusat gangguannya terhadap manusia.
http://www.akhirzaman.info/

Menolak dan Membentengi Diri dari Sihir

Abdul Kholiq Al-Athar

Hal itu seperti pembiusan yang dilakukan oleh dokter gigi pada gigi geraham yang akan dicabut. Itulah yang disebut pembiusan sebagian dan pembiusan total. Dokter gigi menyuntik tempat (gigi) yang akan dioperasinya. Pembiusan yang dilakukan setan juga adalah pemutusan hubungan tenaga atau daya antara tempat (anggota tubuh) yang Hal. Hal. | 39 dibius dengan otak atau akal supaya hilang daya rasa dan daya hubung anggota tubuh tersebut dengan otak atau akal. Demikian pula pembiusan yang dilakukan oleh dokter sebelum operasi penyucian bayi laki-laki atau perempuan. Pembiusan semacam mi dipusatkan pada anggota tubuh yang dibius dan bukan pada otak atau akal secara total, yang mengakibatkan pembiusan total. Untuk melancarkan gangguan dan godaan serta sihirnya dalam kondisi seperti in i, setan seperti pembius berpusat dan bercokol pada sebagian anggota tubuh dan bukan pada otak. Sihir seperti itulah yang menimpa Nabi Muhammad Shallallahu 'Alaihi wa Sallam. Demikian pula seperti racun yang mengenai diri Nabi Muhammad Shallallahu 'Alaihi wa Sallam seperti yang dikenakan oleh orang Yahudi. Jika saja Nabi Muhammad Shallallahu 'Alaihi wa Sallam itu diberi penjagaan ('ishmah) oleb Allah Subhanahu wa Ta'ala secara sempurna, mencakup, dan langgeng, maka lengan domba yang disuguhkan kepadanya pasti akan berbicara justru sebelum beliau memakannya, dan bukan setelah mulai memakan sebagiannya. Tetapi, bagaimanapun, harus diyakini oleh setiap Muslim bahwa Allah Subhanahu wa Ta'ala melindungi, menjaga, dan memelihara Nabi Muhammad Shallallahu 'Alaihi wa Sallam, kekasih-Nya, dari kegilaan dan pembunuhan. Adapun musibah atau cobaan yang menimpa Nabi Muhammad Shallallahu 'Alaihi wa Sallam berupa perlakuan keji dan kotor, kedengkian, dan dendam kesumat yang dilancarkan oleh orang-orang kafir, musyrik, dan orang-orang durjana lainnya, maka yang demikian hanya merupakan sunnah Allah Subhanahu wa Ta'ala untuk mengujinya. Sebagaimana hal itu pun berlaku untuk para nabi dan rasul a.s. sebelumnya. Sihir dan Ahli Sihir Sihir, seperti yang telah disebutkan di muka, adalah sesuatu yang aneh dan ajaib yang tidak dikenal oleh kebanyakan manusia. Ia menampakkan keistimewaan atau keluarbiasaan, seperti halnya mukjizat untuk para nabi dan rasul, keramat (karomah) untuk para wali atau orang-orang saleh, dan seperti al-mahanah (kerendahan/kehinaan), yaitu keistimewaan dan keanehan yang dimiliki manusia (makhluk) jahat. Lengkapnya, sihir itu ialah perkataan, perbuatan, mantra, jampi-jampi, azimat, dan yang serupa dengan itu, yang dilakukan oleh tukang sihir dan kalangan manusia. Hati tukang sihir tidak mengenal kesucian dan kelembutan. Wajahnya pun tidak ceria dan riang. Tabiatnya sangat jelek dan jahat, karena tidak mengenal kasih dan sayang. Etika
http://www.akhirzaman.info/

Menolak dan Membentengi Diri dari Sihir

Abdul Kholiq Al-Athar

atau suluknya tidak mengenal kecintaan. Tukang sihir dan kalangan manusia sangat kotor dan najis. Akidahnya sesat dan batinnya pun rusak dan kotor. Pakaian, badan, dan tempatnya penuh dengan kotoran dan segala yang bau. Tukang sihir dan kalangan manusia, demikian juga dan kalangan jin, sudah pasti Hal. Hal. | 40 kafir dan mengingkari eksistensi Allah Subhanahu wa Ta'ala dengan kekafiran yang terangterangan dan jelas sekali. Mereka berani mengutuk Zat Allah, mencela Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam bahkan berani menulis sebagian ayat Alquran dengan darah haid manusia, dengan air kencing babi, atau dengan air mani hasil perzinaan, dan tinta-tinta najis lainnya. Demikian pula, begitu jahatnya, mereka berani menginjak-injak mushhaf, bahkan membuang air kecil dan membuang air besar pada mush-haf Alquran. Semoga laknat atau kutukan Allah Subhanahu wa Ta'ala yang sebanyak-banyaknya pada mereka dan untuk selama-Iamanya. Itulah garis besar perbuatan keji dan kotor yang dilakukan oleh tukang sihir dan bangsa manusia. Mereka juga tentu saja menyembah kepada selain Allah, seperti bersujud kepada matahari, atau bintang-gemintang lainnya, kepada berhala, patungpatung, hewan, manusia, dan lain-lainnya. Semua persembahan itu dilakukan oleh tukang sihir dan kalangan manusia demi kecintaan, keridhaan, kesenangan, dan penghambaannya serta buktinya kepada setan sebagai tukang sihir dan kalangan jin. Tukang sihir dari jin itu disebut al-ghul, raksasa'. Mereka selalu menaati dan mengikuti perintah dari tukang sihir manusia. Oleh karenanya, para tukang sihir dan kalangan jin itu saling menolong dan saling membantu dalam rangka menaati dan mengikuti kehendak tukang sihir dari kalangan manusia untuk menimpakan bahaya, bencana, dan mudharat kepada orang yang menjadi sasarannya (al-mashur). Di antara setan-setan itu ada yang disebut khadim as-sihr, 'pelayan sihir', atau disebut juga talqihah atau maqthu', yakni petugas khusus yang bertugas untuk menimpakan kejahatan dan bahaya kepada manusia. Mereka, para khadam atau pelayan sihir itu, menjadi pesuruh dan tukang sihir dan bangsa manusia. Tukang sihir dari bangsa jin adalah setan yang jahat, nakal, najis, kotor, tukang tipu, dan sangat hina. Dia tidak mendapat segudang gelar kejahatan semacam itu kecuali jika telah lama melakukan operasinya. Yakni, telah melakukan pelatihan panjang dan dalam tempo yang lama sekali. Operasinya adalah menjerumuskan manusia kejurang kesesatan, kemusyrikan, kekafiran, dan kemunafikan. Dalam menjalankan operasinya, tukang sihir dan kalangan manus ia dan jin selalu menggunakan kata-kata atau ungkapan yang mereka baca dan mereka tulis. Di samping itu, mereka ajuga menggunakan isyarat (kode dan sandi), gerakan-gerakan, sukun-sukun (sikap diam) yang mereka ekspresikan atau mereka ungkapkan sesuai dengan tujuannya. Tentu saja hal itu dalam rangka menjerumuskan manusia ke jurang kejahatan dan bahaya,
http://www.akhirzaman.info/

Menolak dan Membentengi Diri dari Sihir

Abdul Kholiq Al-Athar

kemusyrikan, kekufuran, dan kemunafikan, di samping menimpakan bahaya dan mudharat atau bencana kepada yang menjadi sasarannya. Jika tukang sihir dari kalangan manusia berbicara, kata-katanya tidak diarahkan, bahkan tidak dipahami oleh orang lain yang ada di sekitarnya. Dia sebetulnya berbicara Hal. Hal. | 41 dengan kawan-kawan atau sekutunya dan bangsa jin. Jadi, yang benar, dia tidak berbicara sendirian. Dia berbicara dengan kawannya dan kalangan setan atau jin. Semua manusia yang hadir di hadapan tukang sihir itu sama sekali tidak dapat memahami maksud katakata atau semua ungkapannya. Demikian pula gerakan wajah, isyarat, pandangan, diamnya, atau raut mukanya yang begitu cepat berubah, dan senang ke sedih, dan ceria ke duka. Dapat pula dikatakan, bahwa para ahli sihir itu mempunyai bahasa, atau sebut saja, isyarat dan sandi-sandi yang hanya diketahui oleh mereka sendiri. Sedang selain tukang sihir tidak dapat menangkap maksud yang dikatakannya atau diisyaratkannya, baik sebagian apalagi secara keseluruhan. Tetapi yang jelas, apa yang mereka katakan, gerakkan, lakukan, atau isyaratkan itu adalah pengagungan, pemuliaan, penyucian, bahkan penghambaan terhadap tukang sihir dan kalangan jin. Seperti yang telah diketahui bersama, agar setan mau berkhidmat dan tunduk kepada segala keinginan dan cita-cita manusia (tukang sihirnya), maka tukang sihir dan kalangan manusia itu harus menyembah hanya kepada setan dan tidak boleh menyembah Ar-Rahman (Allah yang Maha Pengasih dan Penyayang). Hal mi termasuk haqiqat Quraniah, apa yang diungkapkan dan diisyaratkan oleh Alquran Al-Karim. Dalam surah Al-Baqarah, umpamanya, Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman, Allah Pelindung orang-orang yang beriman; Dia mengeluarkan mereka dan kegelapan (kekafiran) menuju cahaya (iman). Dan orang-orang kafir, pelindung-pelindungnya adalah setan, yang mengeluarkan mereka dari cahaya (iman) menuju kepada kegelapan (kekafiran). Mereka itu adalah penghuni neraka. Mereka kekal di dalamnya (QS. Al-Baqarah:257). Dalam surah Al-A'raf, Allah Subhanahu wa Ta'ala memfirmankan, Sesungguhnya mereka menjadikan setan-setan (sebagai) pelindung mereka selain Allah, dan mereka mengira bahwa mereka mendapat petunjuk (QS. Al-A'raf 7:30). Perhatikan penjelasan berikut ini. Manusia menundukkan setan, tetapi setan memperbudak manusia. Jadi, lawan dan taskhir (menundukkan setan) adalah isti'bad (memperbudak manusia). Sedang alaqsam adalah jamak dan qasam yang berarti yamin atau halaf (sumpah). Tukang sihir dan kalangan manusia bersumpah dengan raja-raja, orang tua/ bapak-bapak, dan kakek-kakek setan yang jahat dari bangsa jin. Hal itu dilakukan oleh tukang sihir dari kalangan manusia demi mengagungkan, memuliakan, dan menyucikan tukang sihir dari bangsa jin. Di

http://www.akhirzaman.info/

Menolak dan Membentengi Diri dari Sihir

Abdul Kholiq Al-Athar

samping sebagai tanda kasih sayang dan tanda taqarrub - untuk mendekatkan diri kepada mereka. Mungkin juga itu adalah peribadatan atau persembahan tukang sihir dan kalangan manusia terhadap tukang sihir dari bangsa jin (setan). Thalasim adalah jamak dan thalsam, Hal. Hal. | 42 yakni ungkapan-ungkapan yang digunakan oleh tukang sihir dari kalangan manusia dengan tukang sihir dari kalangan jin. Ungkapan-ungkapan seperti itu hanya dikenal di kalangan mereka sendiri. Tak seorang manusia pun mengetahui dan memahaminya. Ungkapan tersebut bisa juga disebut mantra-mantra. Kandungan pokoknya adalah persembahan kepada tukang sihir dari bangsa jin dan kekufuran atau pengingkaran terhadap Allah Subhanahu wa Ta'ala. Yang lebih jahat, lebih kafir, lebih durjana, dan lehih jelek adalah thalsam muthalsam (mantra yang paling top). Sementara, yang disebut 'aza'im adalah jamak dan 'azimah. Ia adalah kumpulan kata-kata yang dibaca atau ditulis dan perbuatan-perbuatan yang disampaikan dari tukang sihir manusia kepada tukang sihir bangsa jin. Kemudian tukang sihir dari bangsa manusia itu menuntut agar tukang sihir dari kalangan bangsa jin melaksanakan segala keinginan dan tujuannya dalam rangka menimpakan bahaya dan bencana kepada orang yang menjadi sasarannya (almashur). Al-’azdim (azimat-azimat atau mantra-mantra) itu merupakan peribadatan dan doa yang bermacam-macam. Ada yang dilakukan dan dikatakan oleh tukang sihir dari kalangan manusia sambil berdiri dengan penuh kerendahan dan kehinaan di hadapan tukang sihir dari kalangan jin. Ada juga yang dilakukannya ketika dia sedang ruku' atau sujud sambil telanjang. Atau dia melakukannya sambil menyepi (bertapa) di tempat najis dan kotor yang sunyi. Kadang-kadang disertai penyalaan kemenyan, yang disebut bukhur al-’afarit atau kemenyan jin ifrit yang cerdas dan sangat bau busuk itu. Kemudian mereka meletakkan barang apa saja, seperti sepatu atau kaki kuda. Apabila barang itu diletakkan pada orang yang dinyalakan, maka akan tercium bau busuk sekali. Hal itu akan disukai oleh setan-setan yang memang kesukaannya adalah bau-bauan yang tidak sedap atau yang busuk. Berbeda dengan malaikat yang menyukai bau-bauan yang semerbak wangi. Dengan demikian, ’azaim itu merupakan upacara ritual yang penuh dengan kata-kata dan perbuatan serta keadaan tertentu yang dilakukan sebagai persembahan dari tukang sihir dari kalangan manusia kepada tukang sihir dari kalangan jin. Berikut ini akan penulis kemukakan perbedaan antara mukjizat karamat (keramat), mahanah, dan sihir. Mukjizat adalah perbuatan luar biasa (istimewa), di mana semua makhluk, baik perorangan atau secara berkelompok, tidak akan mampu melakukannya. Setelah terbukti secara kuat, bahwa semua makhluk—jin, manusia, malaikat, hewan, dan binatang apa pun—tidak dapat melakukan dan membuat seperti mukjizat tersebut, maka wajib diyakini
http://www.akhirzaman.info/

Menolak dan Membentengi Diri dari Sihir

Abdul Kholiq Al-Athar

dan diakui bahwa mukjizat hanyalah karya Al-Khaliq Sang Maha Pencipta, Allah Rabb al'alamin. Menurut sebagian ulama, mukjizat ialah sesuatu yang luar biasa yang melebihi kemampuan manusia semuanya, meskipun mereka itu dari kalangan rasul atau nabi. Hal. Hal. | 43 Mukjizat tersebut diperlihatkan oleh Allah Subhanahu wa Ta'ala kepada sebagian hambaNya yang mempunyai akhlak mulia, etika yang bagus, dan kelebihan lainnya, yang memperkuat pengakuannya bahwa dia adalah seorang rasul utusan Allah Subhanahu wa Ta'ala. Mukjizat tersebut semakin tampak keluarbiasaannya ketika ternyata tak ada seorang manusia pun yang menandinginya, meski mereka diberi kesempatan untuk mem buktikan yang sepertinya. Jika mukjizat tersebut tampak ada pada seseorang, maka hal itu akan membuktikan bahwa dia benar-benar rasul yang bertugas untuk menyampaikan risalah (amanat) dari Allah Subhanahu wa Ta'ala. Selanjutnya, setiap orang harus membenarkan dan mengimaninya, dan mengikuti segala ajakannya. Karena, pengakuan kerasulannya disandarkan kepada mukjizatnya. Jika Allah Subhanahu wa Ta'ala menampakkan mukjizat tersebut kepada seorang rasul, maka seakan-akan Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman, Benarlah hamba-Ku pada apa yang disampaikannya dari-Ku, maka percayailah ia. Karena manusia tanpa izin Allah—tidak akan dapat mendatangkan atau melakukan seperti mukjizat yang diberikan kepadanya. Aku memperlihatkan hal itu (mukjizat) hanya untuk menguatkan orang yang telah Aku pilih untuk menyampaikan risalah dari-Ku." Tentunya sangat mustahil jika Allah memberikan mukjizat itu kepada seorang pembohong, karena menguatkan atau mengakui seorang pembohong berarti bohong. Dan itu sangat mustahil bagi Allah Subhanahu wa Ta'ala. Seorang rasul dapat disepertikan dengan seorang utusan raja yang diamanati untuk melakukan sesuatu. Ketika orang-orang yang menyaksikan utusan raja tersebut meragukannya, maka raja mengirim surat kepada mereka dilengkapi dengan cap dan tanda tangannya sendiri. Dalam surat tersebut, raja menegaskan bahwa orang yang menjadi utusannya itu betul-betul utusannya kepada mereka. Dia diutus untuk suatu urusan tertentu. Dan mereka harus mengikuti dan menaatinya dalam segala yang ditetapkan dan dibebankan kepada mereka melalui perantaraan atau perintahnya. Jadi jelaslah, bahwa mukjizat itu di atas kemampuan manusia dan ia tidak akan didapat atau dicapai oleh manusia biasa jika tidak dengan izin Allah, hanya dengan mempelajari ilmu-ilmu tertentu atau mempraktikkan cara-cara tertentu. Mukjizat hanyalah pemberian dan karunia dari Allah Subhanahu wa Ta'ala. Sementara sihir adalah lawan dan mukjizat. Ia hanya merupakan pekerjaan atau karya manusia yang mempunyai kaidah-kaidah tertentu, kelengkapan-kelengkapan, asalusul, dan rahasia tertentu pula. Siapa yang mempelajarinya sampai sukses, maka dia pasti menjadi tukang sihir.
http://www.akhirzaman.info/

Menolak dan Membentengi Diri dari Sihir

Abdul Kholiq Al-Athar

Dengan kata lain, sihir itu merupakan hasil dan pelatihan atau praktik perbuatan dan suluk (riyadhah) tertentu yang ditetapkan oleh tukang sihir sebagai sang guru. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman, Maka Musa melemparkan tongkatnya, yang tiba-tiba ular itu menjadi ular yang nyata. Dan dia menarik tangannya (dan dalam bajunya), Hal. Hal. | 44 maka tiba-tiba tangan itu jadi putih (bersinar) bagi orang yang melihatnya (QS. Asy-Syu'ara 26:32-33). Saya perlu menegaskan kembali, bahwa mukjizat itu bukan ciptaan Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam. Mukjizat hanyalah ciptaan, kreasi, dan pengaturan Allah yang Mahamulia dan Mahatinggi. Mukjizat hanya merupakan penguat bagi setiap nabi yang sejalan dengan kondisi umatnya. Pada masa kenabian Nabi Musa a.s., umpamanya, banyak menyebar sihir. Maka mukjizat yang diberikan oleh Allah Subhanahu wa Ta'ala kepadanya adalah suatu mukjizat berupa tongkat untuk menghancurkan dan mengalahkan para ahli sihir dan orang-orang jahat. Mukjizat tersebut juga terlihat melebihi kemampuan ahli-ahli sihir tersebut, bahkan di atas kemampuan semua manusia. Sementara mukjizat Nabi Isa a.s. adalah menyembuhkan orang yang buta dan yang mempunyai penyakit kusta, menghidupkan orang-orang yang telah maiti, dan memberitahukan kaumnya tentang apa yang mereka makan dan mereka simpan di rumahnya. Mukjizat yang diberikan Allah Subhanahu wa Ta'ala itu cocok dengan kondisi di zaman itu, yakni majunya bidang kedokteran dan banyaknya para dokter terkenal. Dan terbukti, apa yang dilakukan oleh Nabi Isa a.s. itu sangat mencengangkan karena melebihi kemampuan manusia yang ahli dalam kedokteran pada masa itu, bahkan pada masa-masa sekarang pun. Betapa hebat dan mencengangkan apa yang dilakukan oleh Nabi Isa a.s. itu, sebab apa yang dilakukannya itu ternyata tidak melalui cara-cara yang lazim dilakukan oleh para dokter. Dia mengobati umatnya tanpa operasi bedah dan tanpa menggunakan alat-alat seperti yang biasa dipergunakan oleh para dokter. Sementara itu, para dokter ternyata tidak mampu menghidupkan orang-orang yang telah mati. Mereka juga tidak mampu mengobati orang-orang buta. Al-Akmah adalah orang yang sejak kelahirannya telah buta. Dia berhasil disembuhkan oleb Nabi Isa a.s. Sedang Al-Abrash, yang juga disembuhkan oleh Nabi Isa as., adalah orang yang kulitnya terkena penyakit putih tiba-tiba (bukan putih kulit yang biasa) yang kadang-kadang ada yang sampai menjadi penyakit judzam (penyakit kusta/lepra). Semoga Allah Subhanahu wa Ta'ala melindungi kita dari penyakit semacam itu. Nabi isa a.s. mengobati orang-orang yang sakit itu hanya dengan mengusapkan tangannya disertai doa permohonan kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala tanpa menggunakan obat atau alat-alat lainnya seperti yang digunakan oleh para dokter. Adapun mukjizat Nabi Muhammad Shallallahu 'Alaihi wa Sallam yang terhesar adalah mukjizat yang sarat dengan kandungan ilmu pengetahuan (ilmiah). Karena, masa yang dilaluinya adalab masa di mana ilmu pengetahuan telah mulai memperlihatkan kemajuannya. Dan ciri yang paling menonjol dari kemajuan ilmu pengetahuan ketika itu
http://www.akhirzaman.info/

Menolak dan Membentengi Diri dari Sihir

Abdul Kholiq Al-Athar

adalah bidang kesusastraan. Kefasihan dan kebalaghahan dalam bahasa Arab dan ilmu pengetahuan telah memperlihatkan hasil yang menandakan adanya suatu gerakan ilmiah yang meliputi perkembangan pemikiran dan kemampuan manusia. Maka Allah Subhanahu wa Ta'ala memperkuat kenabian dan kerasulan Nabi Hal. Hal. | 45 Muhammad Shallallahu 'Alaihi wa Sallam itu dengan mukjizat terbesarnya berupa Alquran Al-Karim. Kitab yang Mahamulia ini tidak diragukan lagi sarat dengan ilmu pengetahuan dalam berbagai bidang, syariat atau hukum, kefasihan dan kebalaghahan (ketinggian nilai sastranya), sumber-sumber akhlak dan etika yang tinggi. Semuanya itu imerupakan masalah-masalah yang tidak terjangkau oleh kemampuan manusia. Dengan mukjizat terbesar yang diberikan Allah Subhanahu wa Ta'ala kepada Nabi yang ummy (buta huruf), Allah menggariskan silabus akhlak dan etika perilaku manusia dalam lapang an akidah, ilmu, adab (kebudayaan dan peradaban), dan lain-lainnya. Berikut ini penjelasannya secara rinci. Alquran Al-Azhim adalah kitabullah—kitab dari Allah—Tuhan sekalian alam yang dibawa oleh Jibril Al-Amin a.s. kepada hati Nabi Muhammad Shallallahu 'Alaihi wa Sallam dengan kata-katanya yang berbahasa Arab. Alquran diturunkan Allah kepada Nabi Muhammad untuk disampaikan kepada segenap umat manusia seperti apa yang diterimanya dari Jibril a.s. Beliau Shallallahu 'Alaihi wa Sallam hanya bertugas untuk menyampaikan apa adanya dengan teksnya yang asli seperti yang diterimanya dari Jibril a.s. Sedang penjelasan maksud dan kandungannya oleh Nabi Muhammad Shallallahu 'Alaihi wa Sallam sendiri disebut hadits atau sunnah (jika berhubungan dengan masalah hukum), yaitu berupa perkataan, perbuatan serta ketetapannya. Perhatikan ayatayat berikut ini: “Dan Kami turunkan kepadamu Alquran (Adz-Dzikr) supaya kamu jelaskan kepada segenap manusia apa yang diturunkan kepada mereka.” (QS. An-Nahl 16:44). Dari ayat itu, jelaslah bahwa bukan kemampuan Nabi Muhammad Shallallahu 'Alaihi wa Sallam dan orang-orang lain dari kalangan sastrawan kenamaan untuk membuat dan mendatangkan yang seperti Alquran itu. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman, “Sesungguhnya, jika manusia dan jin berkumpul untuk membuat yang serupa dengan Alquran ini, niscaya mereka tidak akan dapat membuat yang serupa dengan dia, sekalipun sebagian mereka menjadi pembantu bagi sebagian yang lain.” (QS. Al-Isra' 17:88). Alquran harus diakui sebagai mukjizat karena berbagai keunggulan (kemukjizatan)-nya. Dia menjadi mukjizat karena susunannya yang menarik dan mengagumkan, serta gaya bahasanya yang bagus dan indah. Setiap surah dari surahsurah Alquran itu mempunyai susunan dan gaya bahasa tersendiri yang berbeda dengan yang lainnya, sejak awal sampai akhirnya.

http://www.akhirzaman.info/

Menolak dan Membentengi Diri dari Sihir

Abdul Kholiq Al-Athar

Alquran mengandung hidayah dan petunjuk sampai hidayah dan petunjuk yang paling tinggi. Ia mengandung daya tarik yang kuat terhadap hati dan ruh manusia. Syariat yang dikandungnya cocok untuk segala zaman dan tempat. Kandungannya meliputi segala kebutuhan hidup manusia dan menjawab segala tantangannya. Bahkan, begitu lengkap dan sempurnanya Alquran, Ibn Abbas r.a. sampai berkata, "Jika ada `iqal, Hal. Hal. | 46 "igal"—ikat kepalayang hilang dariku, pasti aku akan mendapatkannya dalam Alquran. " Maksud Ibn Abbas r.a., jika dia hilang ikal atau barang lainnya, dia akan menemukan hukumnya di dalam Alquran karena Alquran mengandung hukum segala sesuatu, meski secara global, yang kemudian dirinci oleh hadits/Sunnah Nabi Muhammad Shallallahu 'Alaihi wa Sallam. Alquran menjadi mukjizat juga karena mengandung suluk atau etika secara global dan akhlak atau moralitas yang cerdas dan suci. Suluk dan akhlak yang dikandung Alquran sangat berpengaruh dalam rangka menghiasi pribadi Muslim dan menjernihkan serta mengharumkan hati dan ruhnya. Kemukjizatan atau keistimewaan dan keunggulan Alquran juga dibuktikan atau ditandai dengan kandungannya terhadap ilmu pengetahuan alam dan eksakta (`ulum kawniyyah), meski dengan isyarat yang ringkas dan tidak menjelaskannya secara rinci. Dengan kondisi seperti itu, maka umat Islam yang telah masuk Islam di awal kedatangannya tidak terlalu disibukkan dengan urusan-urusan ilmu pengetahuan tersebut dan melalaikan urusan-urusan agamanya. Atau, mereka meragukan kebenaran Islam, jika mereka menemukan sains dan teknologi yang diisyaratkan Alquran tetapi ternyata akal pikirannya belum mampu memahami dan menjangkaunya. Dan ketika akidah atau keimanannya telah suci dan kuat, jiwa mereka pun telah suci bersih dengan mengenal dan mengamalkan kaidah-kaidah (pokokpokok) ajaran Islam, syariat dan adab-adabnya. Ajarannya pun telah meresap ke dalam kalbu dan ruh mereka, sehingga mereka akan dapat mengambil konklusi atau kesimpulan dari apa yang diisyaratkan oleh Alquran berupa kandungan ilmu pengetahuannya, termasuk ilmu kauni atau ilmu pengetahuan alam dengan aman dan selamat dari penyimpangan agama Islam. Kemukjizatan dan ketinggian Alquran juga ditandai dengan kandungannya terhadap berita-berita umat terdahu1u dan pemberitaan mengenai hal-hal gaib yang akan terjadi, yang sebagiannya telah terjadi untuk membenarkan apa yang dikandungnya. Sementara hal itu pun akan terjadi lagi pada masa-masa yang akan datang. Alquran semakin terlihat kemuliaan dan ketinggian nilainya ketika membatalkan atau mengharamkan penyembahan terhadap berhala dan mengajak untuk mengakui satusatunya agama yang diridhai Allah Subhanahu wa Ta'ala. Di samping itu, Alquran juga mengajak hati manusia untuk memperhatikan kehidupan akhirat, supaya bersiap-siap menghadapi hisab atau penghitungan (amal perbuatan). Alquran pun mengajak manusia untuk menyucikan Allah Subhanahu wa Ta'ala dan segala sifat yang tidak baik dan tidak layak bagi-Nya, seperti Dia memiliki istri dan anak.

http://www.akhirzaman.info/

Menolak dan Membentengi Diri dari Sihir

Abdul Kholiq Al-Athar

Jika saja Alquran itu dibawa oleh seorang nabi yang mampu membaca dan menulis, bergaul dengan ulama ahli kitab, membahas dan mendiskusikan berbagai masalah dan mendebat mereka, maka hal itu pasti merupakan satu tanda kebenaran kenabiannya. Dan ketika pertemuannya dengan para ulama ahli kitab itu menyebabkan dirinya ditolak, maka itu berarti dia telah melebihi kemampuan para sarjana sains, Hal. Hal. | 47 termasuk peradaban dan kebudayaan, serta teknologi. Bahkan, dia telah melampaui garis garis atau peraturan-peraturan serta hukum-hukum yang ditetapkan dalam kitab-kitab samawi yang terdahulu. Dia membetulkan apa yang diselewengkan oleh para ahli kitab terhadap kitabkitabnya. Dia pun menafikan atau meniadakan segala apa yang tidak layak bagi Allah dan para rasul-Nya, yakni berbagai sifat kekurangan atau sifat-sifat yang jelek, yang biasanya hanya menjadi sifat dan karakter manusia dan makhluk lainnya. Hal itu misalnya pengakuan ahli kitab Taurat yang menyebutkan bahwa Allah Subhanahu wa Ta'ala bertengkar (bergulat) dengan Israel. Hampir saja, akunya, Israel itu mengalahkan-Nya. Tetapi kemudian Allah memukulnya pada paha-Nya. Ada pula ahli kitab yang menuduh bahwa Allah Subhanahu wa Ta'ala pernah menyesal, menangis, dan bermusyawarah dengan para hukama (filosof), dan lainlainnya yang termasuk kebohongan-kebohongan kitab perjanjian lama dan Talmud serta kitab-kitab lainnya. Semua kitab yang telah diselewengkan oleh ulamanya tersebut menempatkan Allah Subhanahu wa Ta'ala seperti makhluk-Nya atau seperti manusia. Sungguh, Allah Subhanahu wa Ta'ala Mahaluhur dan Mahasuci dan apa yang mereka sifatkan pada-Nya. Benarlah Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman, Tak ada sesuatu pun yang seperti-Nya. Dia adalah Yang Maha Mendengar dan Mengetahui (QS. Asy-Syu'ara 26:11). Jika Alquran Al-Karim itu dibawa atau diemban oleh seorang nabi yang tidak pandai membaca dan menulis, dia pun tidak pernah mengenal duduk-duduk atau bergaul dengan ulama ahli kitab, maka hal itu menunjukkan bahwa dia seorang nabi yang betulbetul sangat kuat dan luar biasa. Dalam kaitan itu Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman, Dan kamu tidak pernah membaca sebelumnya (Alquran) sesuatu kitab pun, dan kamu tidak pernah menulis satu kitab dengan tangan kananmu; andaikata kamu pernah (membaca dan menulis), maka benar-benar ragulah orang-orang yang mengingkarimu). (QS. Al-'Ankabut 29:48). Jadi, ke-ummi-an atau ketidakpandaian Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam dalam hal membaca dan menulis itu menjadi dalil atau bukti nyata bahwa Alquran AlKarim itu hanyalah dan sisi Allah Subhanahu wa Ta'ala. Jika beliau Shallallahu 'Alaihi wa Sallam pandai membaca dan menulis, apalagi telah diketahui belajar dan bergaul dengan para ulama ahli kitab, maka hal itu justru akan menjadi sumber keraguan bagi umat manusia yang mengingkari dan tidak menerimanya. Mereka mungkin saja berargumentasi, bahwa beliau Shallallahu 'Alaihi wa Sallam pernah membaca kitab-kitab samawi lalu mengarang dan menyusun apa yang dikandung kitab-kitab tersebut sehingga
http://www.akhirzaman.info/

Menolak dan Membentengi Diri dari Sihir

Abdul Kholiq Al-Athar

menjadi (suatu ringkasan), yaitu Alquran. Dia lalu mengarangnya dengan kefasihan dan kebalaghahannya. Tentu saja apa yang mereka akukan dan mereka katakan itu batil belaka. Karena, bagaimanapun, penciptaan Alquran tidak dapat dilakukan oleh (kemampuan) manusia, Hal. Hal. | 48 baik secara kolektif, apalagi secara berpencaran atau sendiri-sendiri, baik mereka itu sebagai kelompok terpelajar (sastrawan) apalagi jika hanya orang-orang bodoh atau buta huruf. Dan yang jelas, Alquran sejak dahulu sampai hari kiamat pun tetap menantang umat manusia untuk membuat satu surah saja yang sepertinya. Ternyata, meski telah berlalu lebih dan seribu empat ratus tahun, belum pernah ada yang dapat menjawab tantangan tersebut. Dan memang tak ada seorang pun yang mampu menjawab atau membuktikannya sampai hari kiamat. Saya sungguh merasa kagum dengan apa yang dikatakan Seseorang, sesungguhnya jika Alquran itu ditemukan tertulis dalam suatu mushaf di suatu padang lapang oleh seseorang yang pandai membacanya, dan dia tidak mengetahui siapakah yang mendatangkan mushaf tersebut (ke sana), maka dapat dipastikan bahwa itu hanyalah dari sisi Allah Subhanahu wa Ta'ala. Sebab tak ada kemampuan manusia untuk mendatangkan atau membuat yang seperti itu. Lalu bagaimana jika Alquran itu dibawa oleh orang yang paling jujur di antara semua makhluk. Dia pun menegaskan bah wa Alquran itu sungguh-sungguh dan sisi Allah Subhanahu wa Ta'ala dan bukan dan dirinya sendiri. Yang demikian saja mestinya cukup bagi kita, segenap manusia, bahwa Alquran itu mengandung i’jaz, keunggulan dan keistimewaan yang tiada taranya. Karamah, Barakah, dan Tabarruk Untuk mengenal sihir lebih jauh, perlu kita bandingkan sihir dengan karamah (keramat), barakah, dan tabarruk. Al-karamah merupakan isim (kata benda) dan fi'il (kata kerja) karuma —ra'-nya didhammah-kan. Sedang jamak dan karamah ialah karamat. Makna karamah ialah kemuliaan yang diberikan Allah Subhanahu wa Ta'ala kepada hamba-hamba-Nya berupa berbagai pemberian, karunia, rahmat, dan yang sepertinya. Sedang karamah yang bersifat umum adalah kemuliaan atau karunia yang diberikan Allah Subhanahu wa Ta'ala kepada anak Adam. Sebagaimana diisyaratkan oleh firman Allah Subhanahu wa Ta'ala Dan sungguh Kami telah memuliakan anak-anak Adam dan Kami angkut mereka di daratan dan lautan, Kami beri mereka rezeki dan yang baik baik dan Kami lebihkan mereka dengan kelebihan yang sempurna atas kebanyakan makhluk yang telah Kami ciptakan (QS. Al-Isra' 17:70). Pada ayat/surah lain difirmankan, “Sungguh Kami telah menciptakan manusia pada bentuknya yang paling mulia/bagus .”(QS. At-Tin 95:4).

http://www.akhirzaman.info/

Menolak dan Membentengi Diri dari Sihir

Abdul Kholiq Al-Athar

Sedangkan karamah (kemuliaan) yang khusus, yang merupakan karamah yang paling utama, adalah kemuliaan atau keutamaan yang diberikan Allah Subhanahu wa Ta'ala kepada sebagian hamba-Nya. Hal itu dapat berupa hidayah yang menunjuk mereka untuk menjadi Mukmin, dan memberinya taufik, yaitu kemampuan untuk beramal dan untuk menaati Allah dengan melaksanakan segala perintah-Nya dan menjauhi segala Hal. Hal. | 49 larangan-Nya. Jiwa yang istiqamah (tegak) dalam mempertahankan keimanan dan ketaatan ini merupakan keramat atau karamah yang paling agung. Imam Bukhani rahimahullah ta'ala dalam kitab Ar-Raqa'iq bab Tawadhu' menyebutkan hadits dan Abu Hurairah r.a., bahwa Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam bersabda, Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman, Siapa yang menyakiti (mengganggu) waliKu, maka Aku permaklumkan perang padanya. Tidaklah hamba-Ku ber-taqarrub mendekatkan diri — kepada-Ku (yang lebih baik) daripada melaksanakan apa yang aku fardukan kepadanya. Dan tidaklah hamba-Ku terus-menerus ber-taqarrub kepada Aku dengan melaksanakan yang sunat-sunat - nawafil - kecuali Aku akan mencintainya. Dan jika Aku telah mencintainya, maka Aku menjadi pendengarannya yang dia mendengar dengan (alat) pendengaran itu; (Aku menjadi) penglihatannya yang dengan itu dia melihat; (Aku menjadi) tangannya yang dengannya dia memukul, dan (Aku pun menjadi) kaki-Nya, yang dengannya dia berjalan. Jika dia meminta kepada-Ku, pasti Aku memberinya. Jika dia memohon perlindungan dari-Ku, pasti Aku melindunginya. Dan tidaklah Aku ragu-ragu untuk melakukan sesuatu seperti keragu-raguan-Ku untuk (mencabut) jiwa (ruh) hamba-Ku yang Mukmin yang tidak menyukai kematian, sedang Aku tidak suka menyakitinya — meski (kematian) harus dia jalani. Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam bersabda, "Siapa yang mencintai seseorang/sesuatu karena Allah, membenci karena Allah, memberi karena Allah, mencegah/melarang karena Allah, menikah karena Allah, dan menundukkan lidahnya dalam ber-zikrullah — mengingat Allah, maka sungguh dia telah melengkapi unsurunsur keimanan. Dan dengan demikian dia berhak mendapatkan wilayah kewalian atau perlindungan dari Allah Subhanahu wa Ta'ala." Sabda Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam dalam hadits lain, "Siapa yang senang dengan kebaikannya dan menasa sakit dengan dosanya, maka sungguh dia telah sempurna keimanannya (melengkapi unsurunsur keimanan).' Jadi, orang-orang yang telah melengkapi rukun-rukun keimanan, syarat-syaratnya, kandungannya, dan cabang-cabangnya, mereka adalah ahli karamah dan takrim, pemilik kemuliaan/keramat. Mereka adalah as-sabiqun as-sabiqun "para pemenang perlombaan". Mereka itulah yang telah mencapai martabat kewalian yang paling tinggi, karena dengan istiqamah-nya mereka mudah dikenal. Mereka juga mudah dikenal karena doa dan permohonannya selalu diijabah oleh Allah Subhanahu wa Ta'ala. Jika mereka bersumpah atas nama Allah, pasti dengan berkah doanya Allah akan memperlihatkan pada tangantangan mereka berbagai hal yang luar biasa. Seperti memperbanyak (sesuatu) yang sedikit, menyembuhkan yang sakit, mendapatkan yang hilang, selamat dan bahaya, bencana, kehancuran dan kecelakaan-kecelakaan lain.
http://www.akhirzaman.info/

Menolak dan Membentengi Diri dari Sihir

Abdul Kholiq Al-Athar

Jadi, keramat atau karamah, "kemuliaan", itu seperti mukjizat karena keduanya sama-sama luar biasa. Hanya mukjizat disertai penantangan dan pengakuan kenabian. Dan ciri itu merupakan kebalikan (tidak ada pada) keramat/karamah. Hal. Hal. | 50 Tetapi yang jelas, mukjizat dan karamah diciptakan oleh Allah Subhanahu wa Ta'ala Karamah. adalah karunia dan pemberian dan Allah Subhanahu wa Ta'ala kepada seorang wali. Sehingga, saya tegaskan bahwa karamah itu ciptaan atau pemberian dan karunia dan Allah, bukan ciptaan seorang wali. Dan, yang jelas, keramat atau ka'ramah itu dicapai oleh seorang wali sebagai berkah dan ketaatannya mengikuti sunnah Nabi Muhammad Shallallahu 'Alaihi wa Sallam. Berikut saya berikan contoh-contoh keramat atau kemuliaan dan keistimewaan beberapa wali, hamba-hamba Allah yang sangat bertakwa. Seorang sahabat yang mulia dan agung, Usaid bin Hudhair pernah membaca Alquran. Dia melihat di rumahnya ada suatu naungan (bayangan) yang padanya terdapat semacam lampu-lampu bercahaya terang. Dia memberitahukan hal itu kepada Nabi Muhammad Shallallahu 'Alaihi wa Sallam. Lalu beliau memberitahukannya bahwa itu adalah malaikat. Mereka turun karena Usaid bin Hudhair membaca Alquran dengan ikhlas. 'Imran bin Hushain, seorang sahabat mulia dan agung, pernah disalami (dijabat tangannya) oleh sejumlah malaikat. Salman Al-Farisy dan Abu Ad-Darda' r.a. pernah makan pada suatu piring. Mereka mendengar tasbih dari piring itu dan makanan yang ada padanya. Imam Bukhari - rahimahullah ta'ala- meriwayatkan bahwa kedua sahabat agung, Usaid bin Hudhair dan Ubbad bin Basyar r.a. pernah keluar dan rumah Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam pada suatu malam yang sangat gelap. Lalu mereka disinari oleh cahaya seperti ujung cemeti. Mengenai keramat seorang wali dalam hal memperbanyak makanan yang sedikit, pernah terjadi pada seorang sahabat mulia dan agung, kepercayaan Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam yaitu Abu Bakar Ash-Shiddiq r.a. Sebagaimana diriwayatkan kisahnya oleh kedua Syaikh Al-Hadits, Imam Bukhari dan Imam Muslim—rahimahumallah ta’ala, bahwa Abu Bakar Ash-Shiddiq r.a. pernah pulang ke rumahnya dengan membawa tiga orang tamu. Ketika itu beliau tidak mempunyai makanan kecuali sedikit sisa makan. Tetapi ternyata sisa makanan itu menjadi lebih banyak. Maka ketiga tamu itu memakannya sampai kenyang. Bahkan mereka masih menyisakan makanan itu lebih banyak daripada sebelumnya. Sisa makanan itu diangkat dan dibawa ke hadapan Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam. Kemudian datanglah serombongan orang, dan mereka pun memakan makanan tersebut sampai kenyang.

http://www.akhirzaman.info/

Menolak dan Membentengi Diri dari Sihir

Abdul Kholiq Al-Athar

Seorang sahabat lainnya, Khabib bin 'Udy pernah ditawan oleh orang-orang musyrik di Makkah yang dimuliakan dan diagungkan oleh Allah Subhanahu wa Ta'ala. Ternyata ada yang membawa anggur kepadanya untuk dia makan. Padahal ketika itudi Makkah tidak ada anggur. Hal. Hal. | 51 Setiap Zakariya memasuki mihrab untuk menemui Siti Maryam r.a., putri Imran, dia selalu mendapatkan rezeki padanya. Zakariya, yang ditugasi untuk mencarikan dan membawakan makanan bagi Siti Maryam r.a., suka menemukan buah-buahan musim dingin pada musim panas di tempat itu. Dia juga suka menemukan buah-buahan hasil panen musim panas di tempat Siti Maryam pada musim dingin. Tentu saja Nabi Zakaria a.s. merasa kagum dan heran ketika menyaksikan hal demikian. Lalu dia bertanya, "Dari mana kamu mendapatkan makanan ini?" Siti Maryam menjawab, "Makanan itu dan sisi (pemberian) Allah Subhanahu wa Ta'ala" Peristiwa lain yang mengherankan adalah bayi-bayi yang telah berbicara ketika masih dalam buaian. Bayi-bayi itu adalah Nabi Isa a.s. putra Maryam, putra Masyithah binti Fir'aun yang berkata kepada ibunya, Tetaplah dan jangan mundur. Sesungguhnya engkau ada dalam kebenaran."Juga bayi yang menjadi saksi atas perlakuan Zulaikha kepada Nabi Yusuf a.s., dan seorang bayi (anak penggembala) yang menjadi sahabat Imam Juraij — rahimahullah ta 'ala. Perbandingan Antara Mukasyafah Khairah Malaikiyyah dengan Mukasyafah Syirrirah Syaithaniyyah Berikut ini penulis akan mengemukakan penjelasan lewat perbandingan (komparasi) antara mukasyafah (terbuka hijab) yang baik sebagai hasil bimbingan malaikat dengan mukasyafah (mengetahui sebagian hal gaib) yang jahat hasil petunjuk setan. Cara-cara setan untuk memperdaya dan mengganggu manusia itu dilakukan lewat isyarat dan ungkapan kata-kata. Kadang-kadang juga dengan khayalan gambar (konkret). Hal itu dapat terjadi, tentunya dengan izin Allah Subhanahu wa Ta'ala meski Dia tidak menghendakinya, sebagai ujian dan cohaan. Jika setan menggunakan alat perangkapnya dengan kedua cara sekaligus, yakni mengganggu lewat perkataan dan pengkhayalan bentuk (gambar), maka itulah yang disehut mukasyafah, syaithaniyyah lewat istiraq al-sama` dan istijla' al-bashar (mencuri atau mengintip pendengaran dan mengelabui penglihatan). Atau disebut juga al jala' al-sam`iy (manusia mendengar sesuatu tanpa melihat siapa yang mengatakannya) dan al jala' al-bashary (manusia melihat sesuatu yang bukan sebenarnya). Di samping mukasyafah syirrirah syaithaniyyah tersebut, terdapat pula mukasyafah khairah malaikiyyah, yaitu dapat mengetahui dan menyaksikan hal gaib dan aneh yang baik sebagai hasil bimbingan dan isyarat malaikat dari Allah Subhanahu wa Ta'ala. Mukasyafah yang kedua ini hanya diberikan Allah Subhanahu wa Ta'ala kepada para walihttp://www.akhirzaman.info/

Menolak dan Membentengi Diri dari Sihir

Abdul Kholiq Al-Athar

Nya, sebab para malaikat yang suka bertugas untuk memberikan ilham dan ifham (pemahaman sesuatu) itu mengilhamkan (menunjukkan lewat hati) kepada hambahamba Allah yang saleh lewat suara/perkataan atau dengan menggunakan bentuk. Atau, kadang-kadang juga dengan perantaraan kedua cara tersebut. Hal itu bisa terjadi, baik ketika tidur, maupun ketika jaga. Cara-cara pemberian ilham kepada hamba-hamba Allah Hal. Hal. | 52 disesuaikan dengan derajat (maqam) hamba tersebut. Jika derajatnya atau maqam-nya semakin tinggi dan meningkat, maka Allah akan selalu menambah kualitas dan kuantitas karunia, keramat, dan pemberian-Nya kepada hamba-Nya itu. Itulah keramat atau karamah kemuliaan yang diberikan Allah Subhanahu wa Ta'ala kepada para aulia wali-waliNya. Sedangkan kelebihan yang ada pada wali-wali setan adalah segala hal yang diperlihatkan untuk menghinakan mereka atau disebut al-mahanah (kehinaan). Berikut penjelasan mengenai almandnah tersebut. Al-Mahanah seperti juga mukjizat dan keramat dalam hal keluarbiasaannya. Ia adalah sesuatu yang luar biasa yang dijadikan Allah sebagai cobaan dan ujian bagi wali (dari kalangan setan). Dengan keluarbiasaan tersebut, Allah menghinakan setan dan walinya, menjatuhkannya, dan merendahkannya di hadapan manusia, supaya mereka menjauhi dan menghinakannya. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman, “Adapun manusia, apabila Tuhannya mengujinya lalu dimuliakannya dan diberi-Nya kesenangan, maka dia berkata, "Tuhanku telah memuliakanku. " Adapun bila Tuhannya mengujinya, lalu membatasi rezekinya, maka dia berkata, "Tuhanku menghinakanku." Sekali-kali tidak (demikian), sebenarnya kamu tidak memuliakan anak yatim (QS. Al-Fajr 89:15-17). Dalam surah Al-Hajj, Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman, “Dan siapa yang dihinakan Allah, maka tidak seorang pun yang memuliakannya” (QS. Al-Hajj 22:18). Ayat Alquran yang dicantumkan dalam surah Al-Hajj: 18 itu mengungkapkan karamah dan mahanah sekaligus. Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam sendiri pernah berdoa, Allahumma akrimna Wala tuhinna. A'thina wa-la tahrimna, wa zidna wa-la tunqishna, wa atsirna wala tu'atstsir 'alaina, "Ya Allah, muliakanlah kami dan jangan Engkau hinakan kami. Berilah kami karunia dan rahmat-Mu, dan janganlah Engkau menelantarkan kami (tidak diberi apa-apa). Tambahkanlah kepada kami segala pemberian-Mu dan jangan kurangi kami darinya. Dahulukanlah kami dalam pemberian karunia dan rahmat-Mu dan janganlah Engkau mendahulukan yang lain atas kami." Dalam hal keistimewaan dan keluarbiasaan, al-mahanah itu seperti mukjizat dan keramat atau karamah. Al-mahanah itu dijadikan oleh Allah dan diberikan kepada setiap

http://www.akhirzaman.info/

Menolak dan Membentengi Diri dari Sihir

Abdul Kholiq Al-Athar

orang jahat, durjana, fasik (durhaka), dan kafir. Allah membuka atau menampakkan rahasia dan tabirnya, sehingga dia menjadi terhina dan rendah sekali. Beberapa contoh al-mahanah dan al-ihanah : Hal. Hal. | 53 1. Pada masa Nabi Muhammad Shallallahu 'Alaihi wa Sallam masih hidup, ada orang gila yang fasik dan fajir (durhaka dan jahat). Dia dikenal dengan nama Musailamah Al-Kadzdzab (pendusta alias pembohong). Dia mengaku sebagai nabi. Maka Allah menghinakan dan merendahkannya. Suatu ketika dia didatangi oleh para pengikutnya. Mereka mengatakan kepadanya, "Sesungguhnya Muhammad dan beberapa sahahabatnya turun menuju suatu sumur yang airnya sangat asin dan pahit. Lalu Nabi Muhammad Shallallahu 'Alaihi wa Sallam meludahi air sumur tersebut dengan megucapkan Bismillah, sehingga air itudengan izin dan kehendak Allah - menjadi tawar dan segar, padahal sebelumnya asin dan pahit. Sang mal’un—yang dilaknat Allah—Musailamah Al-Kadzdzab mengaku bahwa dia mampu melakukan seperti apa yang dilakukan oleh Nabi Muhammad Shallallahu 'Alaihi wa Sallam. Maka para pengikutnya membawanya ke suatu sumur yang airnya tidak asin dan tidak segar (tawar). Lalu Musailamah Al-Kadzdzab pembohong itu meludahinya. Dan dengan izin Allah air itu menjadi asin dan pahit sekali. Meskipun hal tersebut istimewa atau luar biasa, tetapi jelas air itu tidak disukai manusia. 2. Pernah terjadi ada biji mata seorang sahabat yang tercukil dan terlepas, lalu biji mata itu bergantung pada pipinya. Kemudian dia mendatangi Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam untuk memohon diobati. Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam berpesan kepadanya, "Lebih baik engkau bersabar saja dan engkau akan dimasukkan ke surga." Dia menjawab, "Saya tidak dapat bersabar wahai Rasulullah." Lalu Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam mengucapkan Bismillah, seraya meletakkan tangannya yang mulia itu pada matanya dan mengembalikan biji mata itu ke tempatnya semula dengan izin Allah Subhanahu wa Ta'ala Kemudian beliau meludahi matanya sambil mengucapkan Bismillah. Sahabat tersebut berkata, "Akhirnya mataku menjadi baik." Berita mengenai hal itu rupanya sampai pula ke telinga Musailamah, al-mal'un "yang terkutuk", sang pembohong itu beserta teman-temannya. Lalu mereka pun membawa seseorang yang mempunyai penyakit yang disebut al-asya'. Orang yang memiliki penyakit tersebut matanya selalu mengeluarkan air berdarah, meskipun dia dapat melihat dan memandang. Maka Musailamah pun mencoba meludahi mata orang tersebut. Dan akibatnya, luar biasa, dia menjadi buta total. Hal yang luar biasa dan istimewa itu dikehendaki oleh Allah untuk menghinakan dan merendahkannya. Itulah sebagian contoh al-mahanah dan al-ihanah (penghinaan Allah terhadap orangorang jahat semacam Musailamah Al-Kadzdzab). Al-mahanah adalah suatu perbuatan yang luar biasa hasil ciptaan Allah Subhanahu wa Ta'ala. Orang yang melihat itu, meski sakit mata, menjadi buta total karena kehendak Allah. Demikian pula yang menjadikan air
http://www.akhirzaman.info/

Menolak dan Membentengi Diri dari Sihir

Abdul Kholiq Al-Athar

sumur yang manis menjadi asin dan pahit adalah Allah Subhanahu wa Ta'ala. Allah-lah yang memperlihatkan kehinaan wali setan. Sementara karamah atau keramat adalah kebalikan dari itu, meskipun keduanya ciptaan Allah Subhanahu wa Ta'ala. Allah memberikan karamah atau kemuliaan atau keistimewaan kepada hamba hamba-Nya yang saleh untuk menolongnya, memperkuatnya, dan menyelamatkannya dari segala macam bahaya. Hal. Hal. | 54 Tetapi Allah Subhanahu wa Ta'ala memperlihatkan keluarbiasaan kepada wali setan hanya untuk menghinakan dan merendahkannya. Berbagai contoh keramat/karamah: Ketika kota Mesir telah ditaklukkan dan dipimpin oleh 'Amr bin Ash r.a. (sebagai gubernurnya) dan kawan-kawannya, `Amr bin Ash r.a. mendapatkan bahwa orang-orang Mesir setiap tahunnya selalu memilih putri cantik. Putri itu dihiasi dengan berbagai perhiasan lalu mereka persembahkan dan lemparkan ke Sungai Nil. Hal itu mereka lakukan dalam suatu upacara yang dikenal dengan ‘Id Wafa' An-Nil (Hari Raya Persembahan ke Sungai Nil). Amr bin Ash r.a. bertanya kepada mereka, "Mengapa kalian melakukan hal itu?" Mereka menjawab, "Jika kita tidak melakukan hal demikian, maka Sungai Nil akan menenggelamkan rumah-rumah dan sawah-ladang kami. Atau, air Sungai Nil itu akan sangat sedikit, sehingga rumah-rumah dan tanaman kami terbakar hangus." Untuk memecahkan masalah itu, Amr bin Ash r.a. mengutus utusan untuk memohon fatwa kepada Khalifah Umar bin Khaththab r.a. Lalu Khalifah Umar bin Khaththab r.a. menulis dua pucuk surat yang dikirimkannya kepada Amr bin Ash r.a. Surat pertama berbunyi sebagai berikut: Dari Abdullah, Umar bin Khaththab, Amir Al-Mukminin Khalifah Pengganti Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam ditujukan kepada Amr bin Ash r.a. Gubernur (Wali) Mesir. Amma ba`du (adapun sesudah itu), jika telah datang suratku ini kepadamu, maka lemparkanlah surat yang berisi lampiran ini ke Sungai Nil di Mesir. Sedang isi surat Umar bin Khaththab r.a. ke Amr bin Ash r.a. itu adalah: Dari Abdullah, Umar bin Khaththab r:a. Khalifah Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam yang ditujukan kepada Sungai Nil Mesir. Amma ba`du, "Jika Anda mengalirkan air kepada kami dari sisimu, maka kami tidak memerlukanmu. Tetapi, jika Anda mengalirkan air dengan banyak dari sisi-kehendak Allah Subhanahu wa Ta'ala, maka kami memohon kepada Allah untuk memberikan kebaikanmu dan menjaga kami dari kejahatanmu." Maka, sesuai dengan fatwa Khalifah, Amr bin Ash r.a. pun melemparkan surat dari Umar bin Khaththab r.a. tersebut ke Sungai Nil. Akhirnya selesailah urusan Sungai Nil
http://www.akhirzaman.info/

Menolak dan Membentengi Diri dari Sihir

Abdul Kholiq Al-Athar

tersebut. Airnya memberikan kebaikan karena tidak pernah menenggelamkan dengan banjirnya, tidak pula mengakibatkan kebakaran karena airnya sangat sedikit. Jika telah diyakini secara pasti bahwa mukjizat dan keramat atau karamah adalah sesuatu yang istimewa dan luar biasa dari Allah Subhanahu wa Ta'ala, dan ternyata Hal. Hal. | 55 mukjizat dan keramat itu menimbulkan rasa senang dan kegembiraan dalam hati umat Islam, maka yang wajib diagungkan dan dimuliakan serta disembah adalah Allah Subhanahu wa Ta'ala. Dia-lah yang telah menciptakan dan melahirkan mukjizat dan karamah tersebut. Dia saja, Allah Subhanahu wa Ta'ala yang berhak untuk menjadi tempat ruku', sujud, khudhu'—merendah, berdoa, menghinakan diri, dan merendahkan diri di sisiNya. Adapun orang-orang yang mengagungkan, memuliakan, dan menyucikan orangorang yang diberi mukjizat atau keramat oleh Allah Subhanahu wa Ta'ala, maka sesungguhnya mereka telah keliru dan tersesat. Mereka adalah orang-orang yang musyrik. Sesungguhnya Allah Subhanahu wa Ta'ala telah memuliakan para rasul dan para nabi dengan mukjizat yang bermacam-macam dan memberikan keramat kepada para wali. Hal itu tidak berarti bahwa manusia harus tunduk, khusyu', melakukan ruku' dan sujud, berdoa, dan menyembah kepada mereka, para rasul dan para wali. Alquran Al-Karim telah banyak menyebutkan para wali Allah yang Rahman dan mempunyai perikehidupan yang menyenangkan. Sebagai kebalikannya, Alquran juga banyak mengungkap wali-wali setan yang mempunyai karakteristik jelek dan perilaku yang merugikan dan menyengsarakan. Dan siapa yang mengingkari eksistensi atau keberadaan wali-wali Allah, maka boleh jadi itu karena kebodohannya. Dan boleh jadi dia kafir sebab orang yang mengingkari apa yang terang-terangan disebutkan nashsh-nya dalam Alquran adalah orang kafir. Kepada orang-orang saleh seperti wali, ketika mereka masih hidup, kita harus meneladani dan mengikuti langkah-langkahnya, di samping memohon doa dan berkahnya untuk kita dan segenap umat Islam, dengan penuh rasa hormat dan kecintaan, serta penghargaan yang setinggi-tingginya. Tentu saja, kita tidak boleh menentang dan memusuhinya sebab jika kita memusuhi mereka berarti kita harus berani menanggung risiko. Yakni, di-Perangi oleh Allah Subhanahu wa Ta'ala, sebagaimana disebutkan dalam hadits qudsi, bahwa Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam bersabda, "Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman, siapa yang memusuhi wali-Ku, maka Aku permaklumkan perang kepadanya. Jika Rasulullah wafat, kita memohon kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala untuk memberikan dan melimpahkan shalawat dan salam kepadanya. Dan jika seorang wali wafat, maka kita memohon semoga Allah yang Maha Pengasih lagi Penyayang

http://www.akhirzaman.info/

Menolak dan Membentengi Diri dari Sihir

Abdul Kholiq Al-Athar

melimpahkan keridaan dan rahmat kepadanya. Atau dengan kata-kata yang lebih dikenal, radhiyallahu 'anhu atau rahimahullah ta 'ala. Pembaca yang ingin memperluas bahasan mengenai hal mi, dipersilakan membaca kitab karangan saya, dengan judul Awliya' Ar-Rahman As-Su'ada wa Aqliy'a' Asy-Syaithan Hal. Hal. | 56 At-Ta's'a' Al-Asyqiya' ("Wali-wali Allah yang Rahman yang Berbahagia dan Wali-wali Setan yang Celaka dan Merana'). Setelah dijelaskan mengenai mukjizat, karamat, dan al-mahanah, maka kita dapat mengetahui bahwa sihir tidak termasuk mahanah, juga bukan keramat, apalagi mukjizat. Sihir hanyalah merupakan hirfah, pekerjaan atau shan'ah, karya (produksi) yang mempunyai asal-usul, kaidah-kaidah, dan rahasia-rahasia tertentu. Siapa yang mempelajarinya sampai mahir, sehingga menguasainya, makaja dilah dia seorang tukang sihir yang mahir. Oleh karena itu, setiap kali kedua malaikat (kedua raja), Harut dan Marut, mengajarkan asal-usul (pokok-pokok), kaidah-kaidah, dan rahasia-rahasia sihir, keduanya selalu mengatakan, "Innama nahnu fitnah fa-la takfur, kami hanyalah fitnah, ujian dan cobaan bagi kamu, maka janganlah kamu menjadi kafir." Dengan kata lain, kamu jangan menjadi kafir karena sihir, lalu kamu meyakini bahwa para ahli sihir itu berkuasa memberikan manfaat dan menolak mudharat seperti tuhan-tuhan, atau seperti rasulrasul, bahkan wali juga bukan. Ya Allah, tukang sihir itu hanyalah wali-wali setan. Inilah yang hak' dan benar. Dan demikianlah yang harus diyakini oleh setiap Muslim. Sejauh Mana Kemampuan Sihir Menembus Fisik Manusia? Apakah sihir itu mengakibatkan suatu bahaya atau mudharat yang menimpa manusia yang terkena sihir? Bagaimanakah caranya sampai terjadi begitu? Dan mengapa sampai terjadi? Dalam surah Al-An'am, Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman, Jika Allah menimpakan suatu kemudharatan kepadamu, maka tidak ada yang menghilangkannya selain Dia sendiri. Dan jika Dia mendatangkan kebaikan kepadamu, maka Dia Mahakuasa atas segala sesuatu. Dan Dia-lah yang berkuasa atas sekalian hamba-hamba-Nya. Dan Dia-lah yang Mahabjaksana lagi Maha Mengetahui (QS. Al-An'am: 17-18). Dalam surah yang lain Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman pula, Jika Allah menimpakan suatu kemudharatan kepadamu, maka tidak ada yang dapat menghilangkannya kecuali Dia sendiri. Dan jika Allah menghendaki kebaikan bagimu, maka tak ada yang dapat menolak karunia-Nya. Dia memberikan kebaikan itu kepada siapa yang dikehendaki-Nya di antara hamba-hamba-Nya dan Dia-lah yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang (QS. Yunus: 107).

http://www.akhirzaman.info/

Menolak dan Membentengi Diri dari Sihir

Abdul Kholiq Al-Athar

Sedang pada surah Al-Baqarah 2:102, Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman, Maka mereka mempelajari dan kedua malaikat itu, apa yang dengan sihir itu, mereka dapat menceraikan antara seorang (suami) dengan istrinya. Dan mereka itu (ahli-ahli sihir) tidak memberi mudharat dengan sihirnya kepada seorang pun kecuali dengan izin Allah. Dan mereka mempelajari sesuatu yang memberi mudharat kepadanya dan tidak memberi Hal. Hal. | 57 manfaat. Seperti dimaklumi bersama, bahwa rukun iman keenam ialah beriman, mempercayai dan meyakini adanya qadar, "ketentuan Allah", yang baik maupun yang tidak baik, yang manis ataupun yang pahit, semuanya danri Allah Subhanahu wa Ta'ala Dalam surah Al-Hadid: 22 Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman, Tiada suatu bencana pun yang menimpa di bumi dan tidak (pula) pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis pada kitab (Lauh Mahfuzh) sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah. Sesungguhnya keburukan atau bahaya apa pun yang menimpa manusia, baik disebabkan oleh tangan manusia, atau karena hewan buas yang menyerangnya, atau ada benda mati yang menimpa dirinya, atau ada suatu peristiwa/kejadian alam yang mengenainya, semuanya terjadi dengan takdir ketentuan Allah dan kehendak-Nya. Manusia kadang-kadang mendapat suatu musibah, yang tentunya dengan kehendak Allah Subhanahu wa Ta'ala dan izin-Nya, sedang Allah meletakkan sebab bencana atau musibah tersebut melalui usapan setan, atau suatu mudharat yang dikenakan oleh khadam atau pelayan sihir yang menggauli dan mendekati manusia yang menjadi sasaran sihirnya. Sesungguhnya, setan dan kalangan jin yang menjadi penyebab terkenanya bahaya atau musibah pada manusia itu bagaikan bakteri, virus, mikrobat, kuman, dan semacamnya. Jadi, sebagaimana Allah Subhanahu wa Ta'ala telah menciptakan makhlukmakhluk semacam bakteri-bakteri, kuman-kuman, mikrobat-mikrobat, virus-virus, dan lain-lainnya, Allah juga menciptakan setan-setan dan bangsa jin. Jadi, sebagaimana makhluk Allah sebangsa virus, kuman, bakteri, mikrobat, dan yang lainnya dapat menimpa dan membahayakan tubuh manusia, maka demikian pula setan-setan jin, setan-setani khadam sihir, dan setan-setan penghasut manusia dapat membahayakan tubuh manusia. Dan semuanya terjadi dengan izin Allah Subhanahu wa Ta'ala. Lalu mengapa setan, baik setan sihir atau setan hasud, dapat menimpakan musibah atau bahaya kepada kita? Termasuk kezaliman yang nyata, dan perangkap setan, jika ada yang bertanya: Mengapa Allah memberiikan kemampuan kepada setan dan bangsa jin, yang kemudian dimanfaatkan oleh setan manusia untuk menimpakan bahaya dan bencana kepada
http://www.akhirzaman.info/

Menolak dan Membentengi Diri dari Sihir

Abdul Kholiq Al-Athar

manusia? Pertanyaan tersebut tampaknya perlu diluruskan, Sehingga sebaiknya dikatakan, "Mengapa Allah memberiikan kekuatan (kemampuan) kepada setan dan bangsa manusia untuk menimpakan kejahatan dan bahaya kepada sesama insan? Dan mengapa pula Allah Subhanahu wa Ta'ala memberikan kemampuan dan kekuatan kepada ulat-ulat (bakteri-bakteri), kuman-kuman, virus-virus, dan yang semacamnya untuk Hal. Hal. | 58 menimpakan bahaya dan musibah/bencana kepada manusia? Padahal, sebetulnya, segala perbuatan yang terjadi dengan izin Allah ta'ala itu tidak mesti ditanyakan dengan katakata limadza (mengapa) atau kayfa (bagaimana caranya). Berkenaan dengan sihir, Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman, Dan tiadalah mereka, dengan sihir itu, membahayakan seseorang kecuali dengan izin Allah Subhanahu wa Ta'ala (QS. Al-Baqarah 2:102). Jika saja ayat tersebut tidak mengandung istitsna (kata untuk mengecualikan), lalu berhenti pada kata wa ma hum bi-dharrina bihi min ahadin, maka akan dipahami bahwa sihir tidak akan membahayakan manusia, dan itu tidak sesuai dengan realitas yang ada. Hal itu bisa dipahami, jika ma dianggap sebagai nafiyah, "yang menafikan" (meniadakan). Yakni, ahli-ahli sihir itu tidak akan membahayakan dengan sihirnya terhadap jasad manusia siapa pun. Tetapi ketika ternyata Allah Subhanahu wa Ta'ala menyebutkan istitsna, maka dapat dipahami bahwa sihir itu dapat saja membahayakan diri manusia. Itu pun akan terjadi jika Allah Subhanahu wa Ta'ala mengizinkan dan menghendakinya. Sebagai kesimpulan dan ayat tersebut, ada sebuah doa dan salah seorang ulama ahli tafsir berikut ini: "Ya Allah, sesungguhnya Engkau telah memberikan kemampuan kepada sebagian hamba-Mu untuk menguasai dan rnempergunakan sihir. Dan Engkau memperuntukkan diri-Mu untuk mengizinkan dalam menimpakan bahaya. Maka, aku memohon kepada-Mu, wahai Tuhanku, dengan rahasia dan hak (izin) yang Engkau memperuntukkan diri-Mu untuk memberi izin, supaya Engkau menjaga kami dari kejahatan dan bahaya apa yang telah Engkau berikan—berupa kemampuan dan kekuasaan—kepada sebagian makhlukMu, dengan kelebihan, rahasia dan berkah firmanMu wa ma hum .... "Dan tiadalah mereka, dengan sihir itu, membahayakan seorang pun kecuali dengan izin Allah Subhanahu wa Ta'ala. Macam-macam Sihir Berikut mi saya akan menjelaskan secara rinci macam-macam sihir - dari sudut pengaruhnya terhadap jiwa seseorang yang terkena sihir; akal atau otaknya, hatinya, ruhnya, dan badannya. Baik bahaya sihir itu mengenai salah satu anggota tubuh korban sihir atau keseluruhannya. Macam-macam sihir adalah:

http://www.akhirzaman.info/

Menolak dan Membentengi Diri dari Sihir

Abdul Kholiq Al-Athar

1. Sihir tafriq, yang dapat memecah-belah antara suami dan isrinya, antara seorang sahahat dengan sahabatnya, antara satu golongan dan golongan iainnya. 2. Sihir jawarih dan a'dha', yaitu sihir yang mengenai anggota tubuh. Sihir semacam ini mempunyai cabang-cabang, yaitu sihir a’yun (sihir mata); sihir takhyil (pengkhayalan); sihir ’adzan dan sama (sihir pendengaran); sihir mulut, bibir, gigit, dan lidaht/lisan; sihir ajhizah dan a’dha' (sihir yang mengenai alat kelengkapan tubuh dan anggota tubuh), sihir ghadad dan la’b (permainan). 3. Sihir habil, sihir khubal, dan sihir 'abath 4. Sihir khudzal dan tashallub al-a’dha'. 5. Sihir targlib, tarwi', tafzi ', tahwif , dan lain-lainnya. 6. Sihir tay'is, qunuh, dan lain-!ainnya. 7. Sihir shadud (sihir qalb) dan sihir suhub). Berikut penjelasan secara rinci mengenai macam-macam sihir tersebut. 1. Sihir Tafriq Sihir tafriq, yaitu sihir yang dapat mencerai-beraikan antara suami dan istrinya, antara ayah dan anaknya, antard anak dan ibunya, antara seorang teman dengan temannya, dan lain-lainnya. Sihir ini termasuk macam sihir yang paling jahat, paling berbahaya, paling kasar, dan paling menyesatkan. Alat untuk pengoperasian sihir ini adalalah fitnah. Dan fitnah, seperti diisyaratkan Alquran, merupakan perbuatan yang sangat kejam, bahkan lebih kejam daripada pembunuhan Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman, Dan fitnah itu lebih besar bahayanya daripada pembunuhan (QS Al-Baqarah 2:191). Pada ayat lain disebutkan, Dan fitnah itu lebih besar (dosanya) daripada membunuh (QS. Al-Baqarah 2:217). Jadi, sihir tafriq, yang menggunakan media fitnah sebagai alat utamanya, lebih kejam, lebih besar (dosanya), dan lehih besar bahayanya daripada membunuh. Bagaimana tidak, bukankah sihir tafriq itu dapat menjadikan orang-orang yang semula saling mencintai dan menyenangi menjadi saling membenci? Membuat orang-orang yang semula saling mendekati, menjadi saling menjauhi? Membuat orang-orang yang pernah saling menolong, menjadi saling menentang dan mengingkari? Jadi, sesungguhnya sihir tafriq itu membalikkan kecintaan menjadi kebencian dan permusuhan, kekasih menjadi musuh, orang dekat atau akrab menjadi jauh. Jika sihir tafriq berhasil menembus seseorang, maka orang itu akan menjadi pendengki, pendendam dan musuh yang paling berbahaya terhadap orang yang sebelumnya menjadi partner terdekatnya, dan kekasihnya, atau orang yang paling diperhttp://www.akhirzaman.info/

Hal. Hal. | 59

Menolak dan Membentengi Diri dari Sihir

Abdul Kholiq Al-Athar

Hal. Hal. | 60

cayainya. Penyebutan sihir tafriq sendiri bermula atau sebagai kesimpulan dari ayat Alquran yang mengungkapkan, Lalu mereka mempelajari dari kedua malaikat itu apa yang dapat memisahkan (yufarriquna, mencerai-beraikan) dengan sihir itu antara seseorang (suami) dengan istrinya. Dan tiadalah mereka itu membahayakan dengan sihir itu terhadap seseorang, kecuali dengan izin Allah Subhanahu wa Ta'ala (QS. Al-Baqarah 2:102). Al-Mar'u Wa Zawjuh (Seseorang dan Pasangannya) Yang dimaksud al-mar'u Wa zawjuh atau sescorang dengan pasangannya ialah setiap dua orang atau dua kelompok yang mempunyai huhungan kontrak, akad atau perjanjian. Seperti antara suami dan istrinya, keduanya mempunyai hubungan ikatan perkawinan, antara dua saudara, antara ayah dan anaknya, antara seorang putri dengan ibunya, antara seorang pengusaha dan bawahan/karyawannya, antara majikan dan pembantunya, antara seorang suami dengan bapak mertuanya, antara suami dan ibu mertuanya, antara seorang istri dengan ayah dan suaminya, antara dia dengan ibu dan suaminya, antara seorang teman dengan sahabatnya, antara tetangga dengan tetangganya, dan lain-lain. Unsur-unsur Sihir Tafriq 1. Manusia tukang sihir. Seperti telah disebutkan sebelumnya, bahwa tukang sihir dari kalangan manusia itu adalah orang yang hatinya tidak mengenal belas-kasihan dan kelembutan. Dia merupakan manusia yang sangat kasar, kejam, jahat, dan berbahaya sekali. Tabiatnya tidak mengenal kelembutan dan wajahnya tidak mengenal keceriaan, selalu masam dan kecut. Jadi, tukang sihir dari bangsa manusia ini adalah orang yang keji, jorok, dan kotor; baik kotor lahirnya maupun batinnya, baik badan, pakaian, dan tempatnya, maupun hati dan akidahnya Tukang sihir dari bangsa manusia pasti orang kafir yang terang-terangan. Dia akan melakukan apa saja yang membuat murka Tuhan yang Rahman dan membuat senang setan. Segala perbuatan jelek dan jahat dilakukan oleh tukang sihir dari bangsa manusia untuk dijadikan persembahan dan pendekatan diri kepada tukang sihir bangsa setan dari kalangan jin. Mereka dalam melaksanakan operasinya, menggunakan berbagai alat, seperti macam-macam kemenyan bau busuk, minyak yang jelek dan bau, serta barang-barang najis dan kotor lainnya. 2. Setan tukang sihir. Dia salah seorang tentara (pimpinan) Iblis yang terkutuk dari kalangan jin. Sifat-sifatnya kasar, kejam, jahat, dengki, dendam, dan sifat-sifat jahat lainnya seperti pemarah dan menyesatkan. Akidahnya kufur (mengingkari Allah Subhanahu wa Ta'ala) dan syirik (menyekutukan Allah Subhanahu wa Ta'ala, Sedang ibadahnya atau persembahannya dilakukan untuk menyenangkan dan menggembirakan majikannya, ustadznya, imamnya, dan tokohnya dalam kejahatan, kekejaman, kebengisan, dan lain-lainnya. yaitu Juragan Iblis Yang Maha Terkutuk itu.

http://www.akhirzaman.info/

Menolak dan Membentengi Diri dari Sihir

Abdul Kholiq Al-Athar

Hal. Hal. | 61

Bentuk persembahan atau ibadah yang dituntut oleh Iblis dari para tukang sihir bangsa jin itu ialah al-fusuq atau kefasikan (kedurhakaan), al-Ishyan atau kemaksiatan, dari yang sekecil-kecilnya sampai yang sebesar-besarnya. Juragan Iblis itu tidak akan mau memberikan penghargaan atau gelar — sebagai “raksasa“ atau "monster" umpamanya — kecuali jika para tukang sihir dari kalangan manusia maupun dari kalangan jin/setan ini telah memenuhi berbagai kualifikasi atau persyaratan. Kualifikasi ini adalah segala perbuatan jahat, maksiat, dan kedurhakaan lainnya. 3. Setan sihir atau khadam sihir. Tukang sihir dari kalangan manusia pada hakikatnya adalah salah seorang tentara Iblis yang Maha Terkutuk sebab akidah dan keyakinannya ada!ah akidah dan keyakinan sebagaimana digariskan dan dirancang oleh iblis. Dia berakhlak dengan akhlak-akhlak Iblis. Bahkan dia berani menyembah Iblis dan menaatinya dengan penuh kesabaran, keikhlasan, dan perjuangan matimatian. Manusia ahli sihir akan melakukan apa saja yang dapat menyenangkan dan rnendekatkan dirinya kepada tuhannya, Iblis yang Maha Terkutuk itu. Dia mau menjadi kafir, musyrik, fasik, dan selalu melakukan segala kemaksiatan dan kejahatan untuk menyenangkan tuhannya itu, dan menjauhkan dirinya dari Tuhan Allah Rabb al- ’alamin. Dengan demikian, rida dan senanglah setan tukang sihir yang menjadi raksasa terhadap manusia yang menjadi tukang sihir. Atas dasar itu, maka tuan raksasa, setan dari kalangan jin ini memerintahkan sejumlah besar setan dan jin yang jahat-jahat untuk selalu mengabdi dan berdedikasi kepada tukang sihir dari kalangan manusia, untuk menimpakan bencana dan bahaya kepada al-mashur, orang yang menjadi sasaran sihirnya Ada di antara mereka yang bergelar setan sihir, tau khadam sihir, atau naqthu yaitu yang mempersiapkan diri untuk berkhidmat dan berbakti kepada ahli sihir dari kalangan manusia. Ada juga yang digelari talqinah, yakni petugas khusus yang menjalankan tugasnya dengan menimpakan bahaya, bencana, dan kemudharatan kepada manusia jika telah tiba saat yang tepat, seperti ketika dia marah, lengah, atau terjerumus ke dalam kemaksiatan. Lalu setan dari bangsa jin itu ikut nimbrung dan bengabung bersamanya, bahkan menyatu dengan dirinya. 4. Unsur atau faktor keempat ialah manusia yang menjadi sasaran sihir Alat (Perantara) dan Tipu Muslihat (Tehnik) Operasional Sihir Tafriq Qalb shurah (membalikkan gambar). Di antara tugas akal manusia ialah menghadapi atau memandang lewat mata gambar-gambar atau bentuk manusia dan barang-barang lainnya. Tugas khadam sihir yang bermarkas pada akal manusia yang
http://www.akhirzaman.info/

Menolak dan Membentengi Diri dari Sihir

Abdul Kholiq Al-Athar

Hal. Hal. | 62

tersihir dalam bentuk ini adalah untuk membalikkan gambar yang terlihat oleh matanya. Bentuk yang bagus dibalikkan atau diperlihatkan menjadi jelek. Demikian pula sebaliknya. Jalan yang dilalui dalam sihir bentuk ini ialah membalikkan atau memanipulasi bentuk gambar benda atau manusia, atau yang lebih dikenal dengan sebutan Istizla’ Al-Bashar 'Memanipulasi Pandangan'. Di samping itu, dalam menghadapi dan menerima iriformasi, akal juga menggunakan pendengaran, yakni dengan mendengarkan berbagai macam suara. Dengan demikian, setan yang suka mengganggu itu menghembuskan desas-desusnya kepada manusia yang tersihir. Dia bersama orang yang tersihir melakukan pekerjaan yang disebut istiraq al-sama (menguping atau mengintip berita). Caranya, khadam atau pelayan sihir itu memperdengarkan (memberitahukan) sesuatu ke dekat telinga orang yang tcrkena sihir itu atau di sekitar tempat tinggalnya. Suara-suara izu diulang-ulang oleh khadam sihir tersebut. Kadang-kadang orang yang terkena sihir mendengar suara-suara yang tidak jelas baginya, ketika dia sedang berjalan. Sihir yang menimpa dirinya itu melalui cara-cara sebagai berikut: a. Mencampuradukkan yang hak dengan yang batil, kezaliman dengan keadilan, keimanan dengan kekufuran, ikhlas dengan syirik, cahaya dengan kegelapan (kezaliman), kebaikan dengan keburukan/kejahatan, yang baik dengan yang jelek, yang bagus dengan yang tercela, yang thayyib (bermutu) dengan yang kotor atau keji, dan lain-lainnya. b. Dengan melakukan tipu muslihat, Seperti memasukkan racun ke dalam madu atau ke dalam minyak. Setan menghiasi pandangan manusia lewat tujuh puluh pintu keimanan supaya dia terjerumus kedalam salah satu pintu kekafiran atau kemusyrikan. Misalnya, orang yang menggunakan asma Allah untuk pengobatan. Tetapi setelah membaca tiga puluh asma Allah yang baik-baik itu dia membacakan pula nama-nama raja setan yang ahli sihir, jahat, kafir, fasik, dan sangat membahayakan. Ada juga orang yang tengah membaca asma al-husna itu, tetapi dia menyebutkan nama al-muqafanjalan, hamsan hamsan lamsan lamsan hamusan hamusan., safqathin., saqfathin. Jadi, orang yang melakukan sihir semacam itu meresapkan (menyusupkan) sisipan yang jelek, yakni dengan memasukkan nama-nama raja setan di antara nama-nama asma al-husna (nama-nama Allah yang baik). Gaya menyusupkan racun ke dalam makanan yang baik-baik seperti madu, minyak, dan lain-lainnya, juga dipergunakan oleh tokoh sihir jin dengan menyebarkan tipu muslihat, manipulasi, makar dan lain-lainnya ke dalam hal-hal yang abstrak. Setan dan jin,
http://www.akhirzaman.info/

Menolak dan Membentengi Diri dari Sihir

Abdul Kholiq Al-Athar

atau ahli sihir secara aktif memutarbalikkan yang hak menjadi bathil dan yang batil diakui hak. Hal ini dilakukan melalui tafsir dan takwil. Tafsir yaitu menjelaskan makna-makna atau kandungan Alquran. Takwi1 adalah memalingkan makna ayat Alquran yang zhahir ke makna lain yang lebih logis. Hal. Hal. | 63 Dalam teknik ini, iblis, setan dan jin berusaha mempengaruhi dan memperdaya manusia untuk melakukan pemaknaan terhadap ajaran Islam atau terhadap Alquran sebagai rujukan utamanya. Jika berhasil, maka orang yang terpengaruh sihirnya itu akan memberikan penafsiran yang keliru, dan pemahaman yang salah terhadap Alquran. Yang haram dijadikan atau diartikan halal, dan yang halal dipahami haram, Yang baik menjadi buruk dan yang buruk menjadi baik. Keimanan dipahami mengandung kekufuran, dan kekufuran diyakini benar dan menjadi unsur keimanan. Senjata ampuhnya adalah filsafat dan teknik-teknik pengambilan kesimpulan atau konklusi keliru. Kadang-kadang tipu muslihat atau tipu daya setan tukang sihir dengan cara menengahi atau menjadi penengah di antara kebaikan dan keburukan, dan tujuannya menonjolkan keburukan tetapi diakui oleh manusia sebagai kebaikan. Atau penengah itu diletakkan di antara keimanan dan kekufuran. Demikian pula unsur-unsur penengah yang diletakkan di antara mereka yang sedang menjalin hubungan baik, rasa kasih sayang di antara mereka yang suka saling menolong. Tukang sihir dari kalangan jin itu menyusupkan permusuhan pertengkaran, celaan tipu muslihat, dan makar-makar lainnya ke dalam persatuan yang sedang terjadi di antara dua kubu yang telah disebutkan itu. Anehnya, yang tertipu dan terpedaya oleh bujuk rayu iblis, setan, dan jin ahli sihir itu, bukan kelompok-keloinpok kecil, dan bukan partai-partai yang lemah saja, melainkan partai atau kelompok besar dari kalangan atas, seperti ulama besar pun, tidak lepas dan gangguan sihirnya. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman, Sungguh beruntung orang yang menyucikan jiwanya, dan sungguh celaka (merugi) orang yang mengotorinya (QS. Asy-Syams: 9-10). Maksudnya, celakalah dan merugilah orang yang telah mengotori jiwanya dengan menjerumuskan diri kejurang kecelakaan dan kerusakan. Yakni, lewat kemaksiatan yang dilakukannya, antara lain dengan meracuni dan mengganggu orang lain, memfitnah, mengumpat, mengadu-domba, mencela dan mencaci maki, serta mernperolok-ulok orang lain. Siapa yang melakukan kemaksiatan seperti itu berarti dia telah menjerumuskan dirinya ke jurang kejahatan. Sebagaimana halnya seorang ayah yang telah menginjak-injak anak putrinya yang masih hidup. Dia berani menguburnya dalam keadaan hidup. Seperti itulah ad-dussu, menyusupkan kejahatan ke dalam hati dan jiwa manusia oleh tukang sihir dari kalangan jin/setan. Manusia yang suka mendesas-desuskan kejahatan atau berita yang berbau fitnah adalah manusia jahat, dan sebenarnya dia adalah setan dari bangsa manusia. Karena dia menyusupkan dan memasukkan rasa benci dan kemarahan ke dalam
http://www.akhirzaman.info/

Menolak dan Membentengi Diri dari Sihir

Abdul Kholiq Al-Athar

hati orang-orang yang saling menyenangi atau mencintai. Dia menyusupkan keingkaran, kemungkaran, dan kejahatan di antara orang-orang yang saling bersahahat. Dia juga memasukkan rasa keras hati, sifat kasar; dan kejam di antara karib-kerabat, di antara orang-orang yang telah menjalin persahabatan dan percintaan. Juga di antara orangorang yang sedang menjalin kerja sama yang harmonis, seperti antar tetangga, antar Hal. Hal. | 64 perusahaan, antar karib kerabat, antar peserta didik, dan lain-lainnya. Setan-setan atau ahli sihir dari bangsa jin itu mendesuskan atau menyusupkan isu negatif untuk mencabut rasa cinta, persahabatan, kekeluargaan, kekerabatan, dan persaudaraan dari hati manusia yang menjadi sasarannya. Mereka melakukan hal ini untuk melepas rasa maaf, lapang dada, ampunan. rasa aman, keselamatan dan lain-lainnya dari hati orang-orang yang termakan sihirnya. Sebaliknya, sebagai ganti dari apa yang mereka keluarkan itu, mereka menyusupkan rasa benci permusuhan, kedongkolan atau dendam kesumat, cemburu buta, kemarahan, dengki, kesedihan, kegundahan, dan akhlak-akhlak jelek lainnya. Jadi, ad-dussu Wa at-tadsis atau mendesas-desuskan dan menyusupkan pengaruh jahat itu maksudnya untuk mencabut dan melepaskan rasa cinta, kasih sayang, rasa maaf, toleransi, pertolongan, bantuan, amanah, keimanan, rasa aman, keselamatan, perdamaian, kebaikan, dan sifat-sifat baik Iainnya. Tetapi, mereka tidak akan puas dengan hanya melepas sifat-sifat baik tersebut. Lebih jahatnya lagi, setelah mereka melepas dan mencabut itu lalu mereka susupkan sifat-sifat yang sangat buruk sebagai lawan dan sifatsifat baik yang dicabutnya. Sehingga, tujuan utamanya adalah terjadinya perpisahan, perceraian, dan penmusuhan di antara kelompok-kelompok yang asalnya baik. Itulah sihir tafriq. Fitnah dan Waswasah Hal yang sama dengan talbis (meracunkan dan mencampurkan hak dengan kebatilan), ad-dussu (mendesas-desuskan atau menyusupkan ide kejahatan), al-waqi 'h (memfitnah dan mengumpat atau menjerumuskan orang ke dalam jurang bahaya), adalah memfitnah dan mengganggu lewat bisikan ke dalam hati. Yang dirnaksud dengan fitnah, di sini adalah memasukkan syubhat "keraguan/kebimbangan" ke dalam hati. Perbuatan ini dilakukan oleh setan ahli sihir ke dalam hati manusia melalui syahwat atau segala yang menyenangkan untuk menarik jiwa manusia, di samping segala rangsangan hawa nafsu lainnya. Hal itu dilengkapi dengan segala macam kemudahan atau fasilitas perbuatan jahat lainnya, yang kesemuanya akan menggiring manusia ke jurang perbuatan syirik "menyekutukan Allah" dan kekufuran atau mengingkari Allah Subhanahu wa Ta'ala disamping memancing manusia untuk bersikap munafik dan tidak ikhlas. Hal-hal yang merupakan pekerjaan setan ahli sihir tersebut termasuk sebagian dari kandungan ayat berikut ini:
http://www.akhirzaman.info/

Menolak dan Membentengi Diri dari Sihir

Abdul Kholiq Al-Athar

Setan telah menguasai mereka lalu menjadikan mereka lupa mengingat Allah; mereka itulah golongan (hizb) setan. Ketahuilah bahwa sesungguhnya golongan setan itulah golongan yang merugi (QS. Al-Mujadilah 58:19). Hal. Hal. | 65 Maksud istahwadza ‘alaihin asy-syaithan, bahwa setan mendatangi dan menggoda manusia dari berbagai pcnjuru, (sektor kehidupan). Mereka mendatangi hamba-hamba Allah dari berbagai jalan dengan menggunakan berbagai cara yang berubah-ubah dan selalu diperbaharui. Agar manusia terjerurnus ke jurang kemaksiatan dan segala perbuatan dosa, mereka memberikan dan menyiapkan berbagai fasilitas menarik dengan berbagai macam cara untuk memperdayakan manusia. Dengan cara seperti itu, setan-setan itu telah memburu manusia dan menggiringnya ke dalam perangkapnya, ke jalan yang telah dirancang dan disediakannya tadi, jika setan telah menguasai manusia, dia akan mengikuti segala kesenangan dan kemewahan yang telah disediakan oleh setan-setan terkutuk itu. Itulah cara-cara fitnah yang dilancarkan setan dengan melemparkan keraguan ke dalam hati manusia, dan mengotorinya dengan kemunafikan dan kepalsuan. Dalam hubungan itu, Allah Subhanahu wa Ta'ala berfrman, Mereka itu adalah orang-orang yang Allah tidak hendak menyucikan hati mereka (QS. Al-Maidah 5:41). Dalam pengertian istihwadz ''menguasai itu, setan juga menggoda lewat semua unsur jiwa dan raga manusia. Mereka merintangi dan menggoda jiwanya, hatinya, akalnya, ruhnya dan badannya. Cara yang Dilakukan. Setan Ahli Sihir untuk Memecah-belah Persatuan dan Kesatuan Manusia Dalam pepatah disebutkan api yang besar (yang menimbulkan kebakaran) itu bermula dari percikan api kecil. Hujan yang lebat itu berawal dari tetesan air lalu memencar. Dan perjalanan seribu mil dimulai dengan satu langkah pertama. Pohon sihir tafriq itu bagaikan pohon kurma. Akarnya melekat di bawah bumi, besar, tebal, dan dalam. Sedang batangnya menjulang di atas bumi, tinggi dan panjang. Batang dan rantingnya banyak sekali. Sedangkan pekerjaan setan ahli sihir adalah menebarkan benih-benih tafriqah dan perpecahan, pertikaian, permusuhan, dan pertengkaran. Dan ketahuilah, bahwa permlaan operasionalnya dari hal-hal yang kecil, hina dan lemah, bahkan kurus pula. Tetapi setan ahli sihir selalu menghembuskan semangat untuk menjadi besar. Dia selalu meniup-niup dan membisikkan sehingga ha1-hal yang asal mulanya remeh menjadi masalah-masalah besar dan membahayakan. Setan ahli sihir mulai memecah-belah dari pihak suami secara sendirian. Dia menenggelamkan sang suami ke dalam perbuatan maksiat yang penuh dengan syahwat
http://www.akhirzaman.info/

Menolak dan Membentengi Diri dari Sihir

Abdul Kholiq Al-Athar

seksual, perbuatan yang penuh kesamaran (syubhat), kemusyrikan, perbuatan yang mengandung fitnah atau bahaya besar; dan perbuatan dosa-dosa lainnya. Akibatnya, seorang suami menjadi sangat lemah keimanannya. Bagaimanapun lemahnya kekuasaan setan sihir dan kemampuannya untuk Hal. Hal. | 66 menggoda manusia yang beriman, tetapi dengan kelihaiannya setan dapat melemahkan keimanan orang tersebut. Dia mulai merayu seorang mukmin untuk meninggalkan perbuatan-perbuatan yang sunat. Kemudian gaya bertahap itu pun dilakukannya ketika dia menggoda seorang mukmin untuk meninggalkan perbuatan-perbuatan yang fardu dan wajib. Di samping itu, dia pun selalu berusaha, dengan segala kepandaian dan kepiawaiannya agar setiap insan Mukmin itu tenggelam dalam perbuatan maksiat yang penuh dengan rangsangan syahwat. Jika seorang Mukmin telah mulai rajin meninggalkan yang sunat-sunat (sunat dan nafilah), selanjutnya dia akan berani uncuk meninggalkan yang wajib-wajib dan yang fardu-fardu. Jika insan Mukmin mulai berani melakukan kefasikan, seperti melakukan perbuatan dosa besar dan kemaksiatan (dosa besar dan kecil, tetapi banyak), maka insan seperti itu telah menyiapkan diririya untuk menjadi mangsa setan ahli sihir. Dalam keadaan seperti itu, setan akan memperdayakan orang itu secara lunak dan mudah. Setan akan menjerumuskan dia dengan segala kelihaian dan kepandaiannya. Setelah setan ahli sihir berhasil menggoda suami secara sendirian, maka mulailah dia menggoda, merayu, dan merusak setiap istri untuk menentang suaminya. Dia menghembuskan kepada setiap istri rasa permusuhan, kebencian, buruk sangka, tidak saling menghormati, hilang kepercayaan, tidak sabaran, dan lain-lainnya. Pada saat demikian, posisi setan seperti bensin terhadap api yang sedang menyala. Kadang-kadang setan ahli sihir itu posisinya seperti seorang petani yang pandai. Dia membajak bumi atau tanah lalu dia menebarkan benih. Selanjutnya dia menyirami dan menyiangi tanaman itu dengan air yang cukup dan pupuk yang berkualitas. Dia juga membersihkan tanamannya dari setiap serangga dan virus-virus yang mengganggu dan merusak tanaman itu. Itulah langkah-langkah atau strategi yang dilalui setan ahli sihir terhadap mangsanya, insan yang terkena sihir, jika berhasil, maka timbultah masalah di antara sang suami dan istrinya: kegersangan, keretakan, pertikaian, kebencian dan permusuhan. Rusaklah bubungan suami istri itu. Di tengah-tengah hubungan suami istri yang retak iu, tak bosan-bosannya setan sihir menebarkan benih apa saja yang membuat hubungan mereka kacau-balau. Dia melemparkan benih kebencian, pertengkaran, cemburu, kemarahan, dendam atau rasa dongkol, dan permusuban. Setan sihir pun selalu berusaha untuk menghidup-hidupkan hubungan mereka supaya selalu tegang, bertengkar, dan kacau. Kadang-kadang, bermula dari masalah kecil dan sederhana, lahirlah keputusan besar dan mence1akakan. Dan puncaknya, terjadilah perceraian (furqah dan thalaq). Imam Muslim-rahimahullah ta’ala — mengeluarkan dan meriwayatkan hadits jabir bin Abdullah r.a. Dia berkata, "Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam bersabda,
http://www.akhirzaman.info/

Menolak dan Membentengi Diri dari Sihir

Abdul Kholiq Al-Athar

sesungguhnya setan itu meletakkan arasy (singgasana)-nya di atas air. Kemudian dia mengutus detasemen (pasukan)-nya. Siapa di antara mereka yang paling berhasil menggoda orang-orang Mukmin, maka orang itulah yang paling dekat kepadanya”. Lalu setan mengumpulkan personalnya. Dia bertanya kepada salah seorang di Hal. Hal. | 67 antara mereka, 'Apakah yang kamu lakukan hari ini?' Salah seorang di antaranya menjawab, 'Hari ini aku telah menggoda si anu, sehingga dia mau meminim khamar' Setan ahli sihir itu berkata, 'Kamu bukan anakku.' Dia bertanya kepada orang kedua, 'Apakah yang kamu lakukan hari ini?' Dia menjawab, 'Hari ini aku menggoda si anu sehingga dia mau mencuri (berkorupsi).' Dia berkata, 'Kamu bukan anakku.' Kemudian dia bertanya kepada orang ketiga, 'Apakah yang kamu lakukan hari ini?' Dia menjawab, 'Aku telah menggoda si anu dan si anu, sehingga keduanya saling menjauhi, saling membenci, saling membelakangi, dan saling membunuh.' Sang tokoh setan in berkata sambil menepuk kuduknya, 'Kamu adalah anakku. Dengan tugas itulah aku diutus.'" Selanjutnya, setan ahli sihir itu secara bertahap memperluas dan memperdalam permasalahan khilaf 'pertentangan" di antara suami-istri. Tekniknya, dia menghembuskan dan meniupkan sikap-sikap arogan dan kesombougan ke dalam jiwa masing-masing. Dengan demikian, masing-masing mengaku paling benar; paling berjasa, paling penting, paling pandai; paling mudah menganibil konklusi, paling bagus turunannya, paling saleh, paling kuat, paling sehat, dan paling berkuasa. Dia juga menggoda keduanya dengan memasukkan waswaasah (desas-desus atau isu-isu negatif), menyusupkan fitnah, memasukkan keraguan, memanipulasi makna perkataan dan perbuatan, keadaan, dan posisi atau jabatan masing-masing. Sehingga yang baik diakui jelek, dan yang jelek diakui baik. Maka timbullah rasa kurang percaya antara yang satu kepada yang lain. Di antara wasilah atau perantara yang dipergunakan setan ahli sihir untuk memecah-belah adalah berusaha untuk membalikkan sifat-sifat baik menjadi jelek. Seperti sifat penyantun dan penyayang diubah menjadi sifat kasar dan kejam. Sedang sifat pemaaf dan toleran atau lapang dada, diubah menjadi sikap ingin menuntut, mencela, mewaspadai (muraqabah), menghakimi, bahkan ingin menyiksanya (mu’ aqabah). Hal itu dilakukan oleh setan ahli sihir dengan menimbulkan berbagai sebab perpecahan, kebencian, pertentangan, pengingkaran, dan pertengkaran. Bahkan memancing untuk melakukan kezaliman dengan menimpakan bahaya dan gangguan terhadap harta dan keluarga, juga menggiring manusia untuk meremehkan hukum-hukum hudud Allah SW T. Setan ahli sihir itu juga selalu mendorong suami dan istri untuk saling melemparkan tuduhan, saling memanggil dengan sebutan-sebutan jelek. Dia juga gigih memancing mereka untuk membesar-besarkan buruk sangka dan buruk maksud (tujuan dan keinginan). Dengan kehendak dan izin Allah Subhanahu wa Ta'ala, saya akan menjelaskan pula mengenai sihir a`yun (lewat mata/pandangan) dan sihir takhyil (pengkhayalan). Kedua macam sihir tersebut sebetulnya merupakan bagian dari teknik operasional sihir tafriq —
http://www.akhirzaman.info/

Menolak dan Membentengi Diri dari Sihir

Abdul Kholiq Al-Athar

pemecah belah itu. Di antara cara atau wasilah atau perantara yang cukup jitu, yang digunakan setan untuk mengacaukan hubungan suami istri atau dua kelompok adalah menimbulkan rasa takut dari masing-masing mereka terhadap yang lain. Rasa takut itu bermula dari sifat kikir, boros, cemburu buta, rasa mendongkol (dendam kesumat), ketertipuan, kebohongan, olok-olok, mempermainkan, penghinaan, penguasaan Hal. Hal. | 68 terhadap yang lain, memaksakan pendapat dan keinginan, ta'ashub atau fanatik buta, tidak toleran, dan lain-lain. Di samping itu, termasuk cara jahat yang dilakukan oleh setan ahli sihir adalah memasukkan mediator yang tidak saleh atau jahat untuk isllah "mendamaikan" suami-istri atau dua kelompok yang sedang bertentangan. Padahal peribahasa menegaskan, faqdi asy-syai'i la yu’thihi, "yang tidak mempunyai sesuatu (kemampuan) tidak dapat memberikannya". Jadi, jika ada orang jahat, fasik, atau munafik menjadi mediator untuk mengadakan ishlah (upaya damai), rnaka yang timbul justru sesuatu yang lebih parah lagi. Wasilah atau perantara lain yang digunakan setan ahli sihir untuk memperdayakan suami-istri atau kedua kelompok adalah sifat tamak atau rakus dan serakah yang bukan pada tempatnya. Hal itu sangat mudah terjadi, jika setan sihir itu betul-betul telah menguasai (istahwadza) sasarannya, baik akal pikirannya, hatinya, jiwanya, dan raganya.; jika dia telah berhasil menguasai pikirannya, maka pikiran orang itu akan disusupi pemikiran jahat untuk melakukan berbagai kesalahan dan dosa, menimpakan bahaya dan gangguan terhadap masing-masing pihak. Gangguan tersebut secara khusus akan ditimpakan setan terhadap harta mereka, keluarganya, nama baiknya, kesehatannya, dan masa depannya. Lebih daripada itu, setan sihir itu juga menyocoki pikiran manusia dengan sifat pendendam, keinginan kuat untuk membalas dendam, mencela dan menghina yang berlebihan. Dia juga merasuki pikiran manusia agar mereka menyukai yang haram dan membenci yang halal dan baik. Mereka selalu mengingatkan manusia tentang kelezatan barang-barang yang dilarang, dan membuat mereka lupa terhadap hal-hal yang berkualitas bagus dan halal. Dari penjelasan di atas, dapat disimpulkan bahwa setan ahli sihir yang menggoda dan menyihir dengan sihir tafriq atau sihir tamziq (untuk memecah-belah persatuan), menggunakan caracara sebagai berikut: 1. Menanamkan benih-benih perpecahan atau perceraian, seperti buruk sangka, salah paham, keraguan, kebimbangan, kebingungan, dan yang semacamnya. 2. Menyebarluaskan rasa benci dan permusuhan sebagai ganti rasa cinta kasih dan sayang. 3. Menyebarluaskan pengingkaran dan pertengkaran dan suka membalas dendam, sebagai ganti dari sikap lapang dada, memaafkan, dan sikap toleran. 4. Membalikkan makna perkataan dan perbuatan sehingga masing-masing dari suami dan istri memahami perkataan dan perbuatan yang lain secara salah atau keliru.
http://www.akhirzaman.info/

Menolak dan Membentengi Diri dari Sihir

Abdul Kholiq Al-Athar

Hal. Hal. | 69

5. Membesar-besarkan khilaf atau perbedaan pendapat yang melahirkan pertengkaran dan perpisahan (perceraian)6. Membolak-balikkan gambar, secara khayal atau imajinatif, melalui tipu-daya atau tipu muslihat setan atau, menurut istilah setan manusia, trik-trik sinema (al-hayal asy-synama'iyyah). Wujud konkretnya ialah tampaknya wajah cantik menjadi jelek, dan yang asalnya jelek justru menjadi cantik/tampan, atau juga membesarkan yang kecil dan mengecilkan yang besar. Begitu pula, memendekkan yang panjang dan memanjangkan yang pendek dan bentuk-bentuk imitatif yang lain, 7. Menyusupkan keraguan (tasykik) pada pemikiran, pandangan, pendapat, perkataan, perbuatan, tindakannya, dan segala sikapnya orang yang terkena sihir. Di samping itu menyusupkan hal-hal tersebut kepada orang-orang yang ada di sekitarnya, seperti teman-teman dekatnya, partner kerjanya, mitra belajarnya, dan semua orang terdekatnya. Dengan cara demikian, orang itu akan memandang siapa pun dengan pandangan kebalikan. Sahahat menjadi musuh, orang dekat menjadi jauh, orang mulia diakui sebagai pencuri, dan begitu sebaliknya. Itulah, antara lain, yang disebut memutar-balikkan makna perkataan dari perbuatan gaya setan ahli sihir. Gaya sihir macam ini disebut juga sihir qalab suhub "sihir membolak-balik dan menarik". Dengan demikian, orang yang terkena sihir cara ini akan terbalik dalam memandang sesuatu dan akan ter tarik oleh bujuk rayu setan. Dia akan memahami segala sesuatu dari sisi kebalikannya dan dia secara tidak sadar telah tertarik dengan sihir dan godaan setan ahli sihir itu. Dia tidak menyadari bahwa perbuatannya itu tidak maslahat, bahkan memhahayakan diri dan keluarganya. Semoga Allah melindungi kita dari segala macam sihir. Wasilah atau perantaraan atau alat yang digunakan dalam sihir tafriq atau tamziq adalah - istiraq as-sama` (menguping atau mencuri pendengaran), dan istijla' al-bashar (mengelabui mata/pandangan). Istiraq as-sama` itu disebut juga al-jala` as-sam’iy. Sedang istijla' al-bashar disebut juga al-jala' at-bashary. Atau masing-masing disebut juga al-kasyf wa al-ilham dan al-kasyf wa al-waswasah. Dengan cara istiraq as-sama', khadam sihir dari kalangan setan bangsa jin itu menirukan suara orang-orang yang akan dikenai fitnah, furqah (perpecahan), dan rasa benci di antara orang tersebut dengan orang yang menjadi sasaran sihir. Dengan suara hasil tiruan (imitatif) itu, khadam sihir menyampaikan dan mendesuskan rasa permusuhan, kebencian, dan pertikaian. Sedangkan yang dimaksudkan dengan istijla' al-bashar (mengelabui pandangan) ialah takhyil "pengkhayalan" dengan gambar, sebagaimana pengkhayalan dengan suara. Setan ahli sihir atau khadam sihir, baik lewat mimpi atau dalam keadaan jaga (melalui cara pengkhayalan), menyerupai atau menggambarkan dirinya seperti gambar (prototipe) orang yang akan dilibatkan dalam perpecahan, pertengkaran, kebencian dengan orang lain yang menjadi orang-orang terdekatnya. Tukang sihir dari bangsa setan itu menggambarkan dirinya atau menampakkan dirinya seperti musuh yang akan membalas
http://www.akhirzaman.info/

Menolak dan Membentengi Diri dari Sihir

Abdul Kholiq Al-Athar

dendam terhadap temannya yang menjadi musuhnya. Kadang-kadang kedua cara itu, mencuri-curi pendengaran atau menguping dan mengelabui pandangan atau gambar, dilakukan sekaligus dalam satu waktu (secara serempak). Setan menggunakan suara dan gambar imitatif untuk lebih meyakinkan dan Hal. Hal. | 70 memperkuat upaya menyalakan api permusuhan, api fitnah, api kebencian, dan api perpecahan. Kadang-kadang kedua cara tersebut dipergunakan sekaligus oleh setan ahli sihir di sekitar tempat tinggal orang yang menjadi sasaran sihirnya. Misalnya, kepada orang yang terkena sihir itu datang suara-suara dan gambar-gambar imitatif sekaligus dalam satu waktu. Yakni, dia mendengar suara di samping melihat gambar-gambar palsu yang memancingnya untuk memarahi teman dekatnya. Lalu dia akan menentangnya, dan pada gilirannya akan memusuhinya. Dalam hubungannya dengan masalah ini, Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman, Dan demikianlah, Kami jadikan/ciptakan bagi setiap nabi itu musuh (dari) setan-setan manusia dan jin, yang sebagian mereka membisikkan kepada sebagian yang lainnya perkataanperkataan yang indah untuk menipu (QS. Al-An`am 6:112). Sedang pada ayat yang lain Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman, Dan janganlah kamu memakan binatang-binatang yang tidak disebut nama Allah ketika menyembelihnya (yakni, dengan menyebut nama selain Allah). Sesungguhnya perbuatan yang semacam itu adalah suatu kefasikan (perbualan dosa). Sesungguhnya setan-setan itu membisikkan kepada kawan-kawannya agar mereka membantah kamu; dan jiha kamu menuruti mereka, maka sesungguhnya kamu (sekalian) tenlulah menjadi orang-orang musyrik (QS. Al-An'am 6:121). Jadi, gaya mengganggu lewat ungkapan kata-kata dan lewat isyarat, atau gaya menyihir dengan suara dan gambar, atau pengkhayalan, penyerupaan, penggambaran, dan pemiripan dengan menggunakan suara dan gambar, merupakan gaya setan dalam menyihir manusia untuk menyebarluaskan dan menyalakan api permusuhan, saling membenci, sating menentang, saling mengingkari, dan saling mendendam, sehingga orang yang asalnya saling mencintai, saling menguatkan, saling menolong, dan saling membantu menjadi bersikap sebaliknya. Dalam kaitannya dengan masalah tersebut, Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam menegaskan, "Sesungguhnya setan itu meletakkan mulutnya pada hati anak Adam (semua manusia). Jika dia sedang sadar (ingat kepada Allah), maka setan itu mundur. Dan apabila anak Adam diam (lengah), dia menggoda." Dalam Hadits lain beliau Shallallahu 'Alaihi wa Sallam bersabda, "Sesungguhnya setan itu berjalan pada setiap tempat mengalirnya darah anak Adam." Yang paling menakjubkan dan mengerikan, ialah bahwa setan juga ternyata aktif menggoda para nabi. Sebagaimana diisyaratkan olek Allah Subhanahu wa Ta'ala, Dan
http://www.akhirzaman.info/

Menolak dan Membentengi Diri dari Sihir

Abdul Kholiq Al-Athar

tidaklah Kami mengutus--sebelum kamu. seorang rasul dan tidak (pula) searang nabi, kecuali jika dia mempunyai suatu keinginan, maka setan pun memasukkan godaangodaannya pada keinginannya itu (QS. AI-Hajj 22:52). Hal. Hal. | 71 2. Sihir Habil, Khubal, dan ’Abath Sebelum menerangkan jenis sihir yang kedua ini, akan dijelaskan terlebih dahulu fungsi akal atau otak manusia. Di antara tugas akal itu adalah: a. Menerna informasi (maklumat), menyimpannya, dan mengeluarkan atau menyebarkannya jika diperlukan dengan ukuran tertentu dan pada waktu yang telah ditentukan pula. b. Berpikir, merenung, mengingat, mengatur, menggambarkan (mendeskripsi), mengambil konklusi atau kesimpulan, berinovasi, mencipta (berkreasi), dan mengokohkan yaitu meluruskan dan memperbaiki perkataan dan perbuatan (amal). Seperti diketahui, bahwa akal atau otak manusia itu mempunyai jutaan sel yang melaksanakan tugas dan kewajiban akal. Dengan izin dan kehendak Allah, setan ahli sihir yang akan menggoda manusia itu berpusat dan menetap pada otaknya, anggota tubuhnya, dan alat-alat kelengkapan tubuhnya. Hal ini seperti diisyatatkan oleh sabda Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam, ''Sesungguhnya setan itu berjalan (berada) pada setiap aliran darah anak Adam." Jika setan telah berpusat dan menetap pada otak manusia yang akan diganggu dan dikuasainya, maka Allah memberinya kekuasaan (kemampuan) untuk mengenali semua sel-sel otak manusia, demikian pula tugas dan pekerjaannya, serta penggunaannya. Kita telah mengetahui bahwa ada penyatuan setan dengan manusia yang terkena sihirnya dalam jangka waktu yang lama, bahkan abadi. Sebagaimana hal ini dijelaskan dalam buku saya Iqtiran Asy-Syaithan bii-al-Insan (Penyatuan Setan dengan Manusia), dan secara khusus pada pasal "Macam-macam Penyatuan Setan dengan Manusia". Di samping penyatuan setan dengan manusia dalam waktu yang lama, ada juga penyatuan secara mendadak atau disebut Iqtiran Thari. Ada lagi lqtiran.Kulliy atau penyatuan secara total. Dan kebalikannya adalah penyatuan parsial (sebagian). Selain itu, ada juga Iqtiran Juz''iy Kulliy "penyatuan parsial/sebagian abadi", dan kebalikannya adalah penyatuan Juz 'iy Thari' (sebagian dan mendadak atau temporal). Ada lagi penyatuan yang total abadi, dan kebalikannya adalah penyatuan total secara tiba-tiba dan sementara (temporal). Semua itu tergantung kepada kemampuan setan dalam pemusatan penggodaannya terhadap manusia yang disihirnya. Sihir habil (tipu muslihat), sihir khubal (menimbulkan kegilaan), dan sihir 'abath (menyebarkan fitnah dan bencana besar) itu akan terkena kepada manusia yang menjadi sasaran sihir jika dia sampai tidak sadar untuk selamanya.
http://www.akhirzaman.info/

Menolak dan Membentengi Diri dari Sihir

Abdul Kholiq Al-Athar

Bahkan selamanya pikirannya kacau-balau, lupa, dan selalu berbuat kemaksiatan. Hal itu terjadi jika setan ahli sihir telah menyatu, menetap, menguasai, dan memusatkan gangguannya pada otak manusia. Atau lebih khususnya, dia telah berpusat pada sel-sel otak manusia yang secara khusus digunakan untuk berpikir, merenung, mengatur (memanage), menggambarkan, dan mengkhayalkan. Cara begitu disebut dengan Iqtiran Juziy Hal. Hal. | 72 Daim 'penyatuan parsial abadi'. Ada juga manusia yang terkena sihir itu kembali sadar dari ketidak sadarannya, memahami segala seuatu, dan mengingat kembali apa yang terlupa, bahkan dia mampu menjawab segala pertanyaan yang diarahkan kepadanya, juga dapat mengenal barangbarang dan orang-orang yang ada di sekitarnya, tetapi setelah sadar dia kembali tidak ingat atau gila lagi. Begitu selanjutnya, kadang-kadang sadar kadang-kadang tidak. Itulah yang dikatakan seorang sahabat Nabi Muhammad Shallallahu 'Alaihi wa Sallam yang bernama Ibn Abi Sahary kepada beliau, "Sesungguhnya anak ini terusir hari ini. Kami tidak mengetahui penyebabnya ...." Dan ternyata Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam mengakui dan membenarkan pengakuan atau deskripsi tersebut. Gaya penyihiran seperti itu disebut dengan Iqtiran Juz'iy Thari' Tha'if Thariq. Sedang penyebab terjadinya sihir jenis ini adalah karena setan telah menyatu dengan otak manusia dan berpusat serta menguasai sel-sel otak manusia. Kita mengetahui bahwa terjadinya sihir habit, khubal, dan `Abath adalah karena bersatunya setan ahli sihir dengan manusia yang tersihir, di samping penguasaannya terhadap otak serta pemusatan penggodaannya pada otak tersebut. Khususnya, dia telah menguasai sel-sel otak manusia yang berfungsi untuk berpikir, memahami, mengambil kesimpulan, merenung, menggambarkan atau mengkhayalkan. Dia telah menguasai selsel otak manusia yang fungsinya untuk menerima informasi, menyimpannya, dan mengeluarkan atau menginformasikannya kembali. Jika penguasaan setan itu berlaku untuk selamanya, maka itulah yang disebut Al-Iqtiran Al-Daim "penyatuan abadi" . Tetapi jika hal itu hanya terjadi kadang-kadang saja, yakni kadang-kadang sadar dan kadangkadang tidak sadar, maka penyatuan demikian disebut Al-Iqtiran Ath-Thari' "penyatuan tiba-tiba (temporal)". Ciri-ciri dan tanda-tanda pengaruh sihir habit, khubal, dan `abath adalah sebagai berikut: 1. Kekacauan berpikir. Seseorang yang terkena sihir itu, jika berbicara, tidak jelas arah dan tujuannya, suaranya tinggi dan keras, serta cepat. Pemikirannya selalu berpindah-pindah, dari satu pemikiran ke pemikiran lain, dari satu objek ke objek lain. Dia tidak akan memberi kesempatan kepada teman atau lawan bicaranya, baik untuk menolak pembicaraannya, atau memberikan penjelasan, atau memberikan pendapatnya, atau mengajukan usulan catatan. Jika berbicara, pembicaraannya kacau dan sulit dimengerti oleh yang lain.
http://www.akhirzaman.info/

Menolak dan Membentengi Diri dari Sihir

Abdul Kholiq Al-Athar

2. Kadang-kadang matanya terbuka terus dan tidak tertutup. Kadang-kadang juga matanya rusak. Bahkan, dia suka memutar-mutarkan pandangannya ke kanan, ke kiri, ke atas, dan ke bawah. Hal. Hal. | 73 3. Tidak berpusat dan menetap di satu tempat. Dia selalu berpindah-pindah tempat dan keadaannya pun selalu berubah-ubah dari satu keadaan ke keadaan lainnya. Kadang-kadang dia tenang, tampak berpikir, dan diam. Tetapi kadang-kadang juga dia tidak tenang dan pikirannya seperti goncang. Dia akan menampilkan fanatisme buta, pengingkaran, dan terus-menerus pada suatu perkataan dan perbuatan yang dilihatnya. 4. Membiarkan badan kotor dan tidak terurus. Demikian pula pakaian dan tempatnya. Dia tidak memperhatikan penampilan lahirnya. Dia membiarkan kukunya panjang dan tidak membersihkannya dari berbagai kotoran. 5. Berlebihan dalam mengisap rokok, minum kopi, teh, dan tidak memperhatikan etika makan dan minum. 6. Berteriak, berpaling dari sesuatu dan suka menentang. Dia pun tidak akan meneruskan "satu pekerjaan tertentu. Dia selalu berpindah-pindah pekerjaan yang tidak karuan. 3. Sihir Khudzal atau Tashallub Al-A`dha' Di antara tugas dan kewajiban otak manusia ialah menghasilkan dan mendistribusikan tenaga listrik (kahrabiyyah atau potensi hidup) yang pokok, demi kemaslahatan hidup dan untuk menggerakkan semua anggota tubuh manusia, terutama anggota tubuh yang vital. Jadi, dengan izin dan kehendak Allah Subhanahu wa Ta'ala, otak dapat menghasilkan atau memproduksi tenaga listrik yang dibutuhkan untuk kemaslahatan fisik manusia. Kemudian tenaga listrik (daya hidup) itu dialirkan dan didistribusikan ke semua anggota tubuh dan semua alat perlengkapan hidup manusia. Hal itu dilakukan lewat penyambungan tenaga listrik antara semua anggota tubuh dengan otak manusia. Seringkali otak menghasilkan tenaga listrik (daya hidup atau potensinva) untuk kepentingan fisik manusia. Kemudian tenaga listrik itu dialirkan dan disebarkan ke setiap anggota tubuh dan semua bagiannya. Hal itu dilakukan melalui teknik atau metode yang teratur; tertib, dan perlahan-lahan. Dengan begitu, manusia dapat hidup dengan tenang, bahagia, tu’maninah, aman, dan damai (dalam keselamatan), serta sehat sejahtera. Tetapi manusia itu dihadapkan kepada berbagai tantangan (kondisi tubuh) sebagai herikut: Keadaan Pertama

http://www.akhirzaman.info/

Menolak dan Membentengi Diri dari Sihir

Abdul Kholiq Al-Athar

Hal. Hal. | 74

Terputusnya huhungan dan aliran tenaga listrik kepada anggota tubuh dan bagianbagiannya secara total dun terus-menerus. Atau mungkin terputus secaa total dengan tiba-tiba dan temporal (tidak selamanya). Jika terputusnva aliran dan huhungan tenaga lirstrik ini sifatnya abadi atau langgeng, maka itu disebut syatal (kelumpuhan), yakni adanya salah satu anggota tubuh yang mati secara total (lumpuh). Tetapi, kadang-kadang terputusnya aliran dan sambungan tenaga istrik kepada anggota tubuh dan bagian-hagian otak tidak bersifat langgeng, hanya sementara saja. Inilah yang disebut dengan khadzal (lemah). Jika aliran tenaga listrik itu sampai pada auggota tubuh dan bagian-bagiannya, maka kehidupan dan daya hidup dapat berjalan. Demikian pula semua auggota tubuh dapat bergerak seperti lazimnya orang hidup. Tetapi, jika aliran tenaga listrik itu berhenti, maka anggota tubuh atau bagian-bagiannya itu kehilangan daya semangatnya, daya hidupnya, dan bisa jadi total, yakni kehilangan potensi hidupnya. Jadi, keadaan dan kondisi fisik seperti ini adalah terputnsnya aliran tenaga listrik (potensi hidup) dan salah satu anggota tubuh, baik itu sifatnya langgeng yang dapat melahirkan kelumpuhan, maupun sifatnva sementara yang disebut lemah saja. Keadaan Kedua Jika tenaga listrik itu mengalir kepada alat kelengkapan hidup dengan kadar yang lebih banyak dari ukuran biasa yang teratur, maka alat kelengkapan tubuh tersebut akan mengeras (tashallub) atau kejang-kejang (tasyannuj), atau menjadi keras seperti kayu (takhasysyub). Kondisi fisik seperti ini kadang-kadang menimpa seluruh anggota tubuh, kadang-kadang hanya menimpa salah satunya saja. Keadaan Ketiga Jika tenaga listrik (potensi hidup) itu sampai kepada alat kelengkapan tubuh dengan kadar yang lemah atau lebih sedikit, dan tidak sesuai dengan kebutuhan metabolisme tubuh, maka fisik manusia itu tidak akan kuat. Dia juga tidak akan mampu bergerak sebagaimana biasanya. Bahkan berdiri pun tidak kuat, apalagi berjalan. Yang lebih menyedihkan, jika keadaan atau kondisi fisik seperti itu terjadi dalam jangka waktu yang lama. Yang jelas, kondisi fisik seperti ini tidak menimpa semua anggota tubuh dan semua alat kelengkapan tuhuh. Hanya sebagian anggota tubuh saja yang mengalami kelemahan sehingga sulit untuk bergerak dan tidak dapat melaksanakan fungsi serta tugasnya. Dengan demikian, betapa sangat jahat dan sangat berpengaruhnya sihir dan tukang sihir ini. Semoga Allah melindunigi kita dari gangguan sihir dan tukang sihir. Amin. 4. Sihir Jawarih wa Al-A'dha'

http://www.akhirzaman.info/

Menolak dan Membentengi Diri dari Sihir

Abdul Kholiq Al-Athar

Sihir Jawarih wa Al-A’dha’ adalah sihir yang menimpa salah satu anggota tubuh. Antara lain sebagai berikut: a. Sihir Al-A'yun (Mengenai Mata) Hal. Hal. | 75 Dalam surah Al-Araf; 116, Allah Subhanahu wa Ta'ala mengisyaratkan Ahli-ahli sihir berkata, “Hai Musa, kamukah yang akan melemparkan lebih dahulu, ataukah kami yang akan melemparkan” Musa menjawab, "Lemparkanlah. (lehih dahulu.)'." Maka tatkala mereka melemparkan., mereka menyulap mata orang (banyak) dan menjadikan mata orang banyak itu takut, serta mereka mendatangkan sihir yang besar (menakjubkan) (QS. 7:116). Jadi, di sini, sihir diberi kekuasaan untuk menguasai salah satu alat kelengkapan tubuh, yaitu mata. Sihir Khadzal (menelantarkan manusia dan melemahkannya), sihir tashallub (mengakibatkan kerasnya anggota tubuh), dan sihir tahhasysyub (membuat badan keras seperti kayu), tampaknva sejalan dengan jenis sihir yakni sihir yang hanya mengenai salah satu alat kelengkapan tubuh. Jika terjadi keterputusan sambungan tenaga listrik ((daya hidup dan potensinya) secara lengkap atau sempurna, maka seseorang dapat kehilangan mata atau penglihatannya. Kadang-kadang tenaga listrik itu kembali lagi setelah beberapa saat atau setetah waktu yang lama. Tetapi, kadangkadang juga tidak kembali normal lagi, Jika ada penolongan dan izin Allah, maka tenaga listrik itu akan mengalir lagi, sehingga ia dapat melihat kembali. Jika aliran tenaga listrik (potensi hidup) yang mengalir kemata melebihi kapasitas dan kebutuhan, maka hal itu akan menimbulkan rasa sakit pada mata. Tetapi pengaruh tersebut hanya temporal, beherapa waktu saja dan tidak lama. Sebaliknya, jika aliran tenaga listrik (daya hidup) tersebut hanya sedikit, tentu saja kemampuan memandang menjadi lemah. Kadang-kadang, kemampuan melihat itu melemah dan menguat dalam waktu yang bersamaan. Dalam kondisi begini, mata terkena zughlulah “ kesilauan". b. Sihir Tahhyil (Pengkhayalan) Sihir a’yun dan sihir takhyil keduanya sihir yang mengenai mata. Hanya di samnping mengenai mata, sihir takhyil juga mempengaruhi akal manusia. Lebih tegasnya, sihir takhyil mempengaruhi sel-sel otak yang berfungsi untuk menerima atau menangkap gambar dan informasi (maklumat). Dengan izin dan perintah Allah Subhanahu wa Ta'ala sel-sel tersebut membolak-balikkan gambar yang diterima lewat penglihatan mata. Sebagai contoh, seseorang akan melihat benda besar dari kejauhan tarnpak kecil. Sebagaimana orang yang berdiri di atas bumi melihat kapal terbang yang begitu besar itu tampak kecil. Sebaliknya, jika matanya tajam, apalagi jika menggunakan alat pembesar penglihatan, maka benda kecil akan terlihat besar. Jika seseorang naik kereta api dengan kecepatan yang sangat tinggi, maka dia akan melihat pepohonan dan tiang-tiang listrik seakan-akan berjalan.
http://www.akhirzaman.info/

Menolak dan Membentengi Diri dari Sihir

Abdul Kholiq Al-Athar

Sihir takhyil menjadikan manusia melihat barang-barang yang tadinya bergerak menjadi diam dan menetap. Sebaliknya, dia melihat barang-barang yang diam itu bergerak. Hal. Hal. | 76 Untuk membenarkan pernyataan itu, Allah Subhanahu wa Ta'ala berirman dalam surah Asy-Syu'ara 26:43-44, Berkatalah Musa kepada mereka: "Lemparkanlah apa yang hendak kamu Lemparkan". Lalu mereka melemparkan tali temali dan tongkat-tongkat mereka dan berkata: "Demi kekuasaan Fir'aun, sesungguhnya kami benar-benar akan menang". Sedang pada surah Thaha 20:65-69, Allah Subhanahu wa Ta'ala juga memfirmankan, (Setelah mereka berkumpul) mereka berkata: "Hai Musa (pilihlah), apakah kamu yang melemparkan (dahulu) atau kamikah orang yang mula-mula melemparkan?" Berkata Musa: "Silakan kamu sekalian melemparkan". Maka tiba-tiba tali-tali dan tongkat-tongkat mereka, terbayang kepada Musa seakan-akan ia merayap cepat, lantaran sihir mereka. Maka Musa merasa takut dalam hatinya. Kami berkata: "Janganlah kamu takut, sesungguhnya kamulah yang paling unggul (menang). Dan lemparkanlah apa yang ada di tangan kananmu, niscaya ia akan menelan apa yang mereka perbuat. Sesungguhnya apa yang mereka perbuat itu adalah tipu daya tukang sihir (belaka). Dan tidak akan menang tukang sihir itu, dari mana saja ia datang". Sebenarnya, tali-temali dan tongkat adalah benda diam dan tidak bergerak. Tetapi Sayidina Musa as. melihat benda-benda itu bergerak. Itulah pengaruh takhyil (pengkhayalan) atau cara setan dalam mengelabui mata manusia. Dengan sihir takhyil, manusia melihat sesuatu tidak seperti hakikatnya atau sifat barang-barang tersebut menjadi terbalik. Maka, benda yang sebenarnya diam tampak menjadi bergerak, sedang benda yang bergerak tampak diam. Demikian juga, benda panjang terlihat pendek, dan yang pendek tampak panjang. Yang bagus kelihatan jelek, sedang yang jelek tampak bagus. Itulah pengaruh takhyil, sehagai basil upaya setan dalam memperdayakan khayal manusia. Seseorang yang terpengaruh sihir takhyil akan melihat suatu benda atau gambar tampak terbalik. Sihir demikian disebut al-hiyal asy-syaithaniyyah "tipu muislihat Setan''. Anehnya, setan-setan dari bangsa jin itu mengenalkan cara-cara tipu muslihat macam demikian kepada teman-temannya dari saran manusia, lalu mereka menyebutnya dengan Al-Hiyal Asy-Syinama'iyyah "trik-trik sinema". Padahal metode demikian menurut hakikatnya adalah tipu muslihat setan. Jelaslah bagi kita, bahwa sihir a'yun (sihir mata) itu sangat berpengaruh kepada mata. Sedang sihir takhyil berpengaruh terhadap mata dan akal. Seseorang yang terkena sihir takhyil melihiat suatu perbuatan dan hakikat sesuatu berupa khayalan atau imitasi. Khayalan dan takhyilat, metode dan teknik pengkhayalan, tersebut ada dan terjadi di luar fisik objek atau sasarannya, yaitu dengan menggunakan jasa arwah-arwah setan yang
http://www.akhirzaman.info/

Menolak dan Membentengi Diri dari Sihir

Abdul Kholiq Al-Athar

menggambarkan dan mengkhayalkan kepada sasaran sihirnya. Sedang orang yang terkena sihir itu melihat gambaran atau khayalan atau bentuk imitasi itu dengan perantaraan khadam atau pelayan sihir yang menyatu dengannya. Jadi, dalam keadaan takhyil dan tashwir (pengkhayalan dan penggambaran), setan Hal. Hal. | 77 mengkhayalkan dan menggambarkan arwah setan dari luar fisik manusia. Khadam atau pelayan sihir itu menyamar gambar-gambar atau khayalan-khayalan itu dan meletakkannya pada cermin akal manusia yang terena sihir. Inilah yang disebut al-jala' albashary atau istijla’ al-bashar (mengelabui mata), atau disebut juga dengan al-kasyf asysyaithany bi at-takhyil wa at-tashwir wa al-waswasah (pembukaan hijab oleh setan dengan pengkhayalan, penggambaran, dan desas-desus). Gaya seperti itu juga terjadi pada orang-orang Mukmin yang ikhlas dan teguh keimanannya serta wara’ (hati-hati). Pada mereka juga terjadi al-jala’ al-bashary dan istijla’ al-bashar lewat perantaraan malaikat yang memberikan ilham dan ifham (daya pemahaman). Itu yang disebut dengan al-kasyf al-ilhamy al-malaky bi-al-shurah wa alkhayal, terbuka hijab dengan iham malaikat dalam bentuk gambar dan khayal'. Demikian pula, sebagaimana terjadinya penipuan terhadap mata lewat gambar atau pandangan, atau yang disebut al-jala' al-bashary, maka terhadap telinga pun terjadi hal yang sama. Artinya, setan juga menggoda manusia lewat telinganya dan yang Iebih dikenal dengan istiraq as-sam’ atau al-jala’ as-sami’y "menguping atau mencuri-curi pendengaran”. c. Sihir Sama’wa Al-Adzan Sihir a’yun dan sihir takhyil pada dasarnya sejalan dengan sihir sama’ dan adzhan (sihir Iewat telinga). Karena pemikiran asasinya adalah bahwa setan yang bersatu dengan orang yang terkena sihir itu berpusat pada akalnya. Untuk kepentingan hikmah yang sangat banyak, tetapi sekarang tidak mungkin dijelaskan, Allah Subhanahu wa Ta'ala memberikan kemampuan kepada setan untuk memusatkan penggodaan dan penyihirannya pada otak atau akal manusia yang lemah (lumpuh) atau yang terkena sihir. Lebih jauh dari itu, telah diajarkan pula cara-cara mempengaruhi dan menguasai alat kelengkapan hidup tubuh manusia, khususnya mata, telinga, dan alat produksi, serta alat pencernaan makanan. Dalam kaitan itu Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam menegaskan, “Sesungguhnya setan itu berjalan atau mengalir pada setiap perjalanan darah manusia. Maka sempitkanlah tempat mengalir darah satan itu dengan banyak shaum” Hal itu dapat dipahami karena ternyata setan telah menguasai otak manusia dan dia bercokol di situ, sehingga dia memusatkan kegiatannya untuk menggoda atau menyihir manusia pada otaknya. Hal itupun diperkuat atau dilengkapi dengan penguasaan setan terhadap pengaliran tenaga listrik (kahrabiyyah, potensi hidup) yang dialirkan dari
http://www.akhirzaman.info/

Menolak dan Membentengi Diri dari Sihir

Abdul Kholiq Al-Athar

otak ke semua anggota tubuh dan alat kelengkapan tubuh. Caranya, dia menghalangi sampainya aliran tenaga listrik tersebut ke semua anggota tubuh dan semua alat kelengkapannya. Bisa juga dengan mendorong atau mengalirkannya dalam jumlah yang sangat banyak dan melebihi kapasitas yang normal. Atau mengalirkan dan mendistribusikannya dengan kadar yang lebih sedikit dan tidak memenuhi kebutuhan Hal. Hal. | 78 normal. Jika setan berhasil mencegah pengaliran tenaga listrik atau potensi hidup itu terhadap alat kelengkapan tubuh yang vital, maka orang yang terkena itu akan berhenti dari aktivitasnya. Dia akan merasa lesu dan bahkan tak bertenaga lagi, sebab tenaga listrik atau daya hidupnya tidak sampai atau tidak mengalir. Dia kehilangan kebutuhan hidup yang esensial atan pokok, dan kehilangan bahan-bahan untuk hidup dan bergerak. Sementara itu, jika distribusi tenaga listrik yang dialirkan jauh melebihi kapasitas, maka akan terjadi kerusakan dalam cara kerja anggota tubuh. Hal ini sama jika aliran listrik yang dialirkan ke rumah-rumah terlalu tinggi tegangannya, maka segala perangkat dan perkakas rumah yang menerirna aliran listrik akan mengalami kerusakan berat. Begitu pula yang terjadi pada jasad atau fisik manusia ketika mendapatkan aliran tenaga listrik atau potensi hidup yang melebihi kapasitas dan kebutuhan normal. Akibatnya, semua anggota tubuh dan alat-alat kelengkapannya akan terkena tekanan tinggi. Orang itu mungkin akan pingsan, lumpuh, gemetar, gundah (frustrasi), berdebar-debar, bahkan mungkin saja menimbulkan kegilaan—naudzubillah. Seperti telah diketahui, bahwa telinga merupakan alat penerima informasi lewat pendengaran dan setan selalu menggunakan berbagai cara untuk menggoda dan menggelincirkan manusia. Maka, di samping menggodanya dari dalam, setan juga menggoda manusia dan luar fisiknya dengan melemparkan keraguan, desas-desus, kebimbangan, dan inforrnasi-inforrnasi yang menangsang kemarahan lewat telinga atau pendengaran. Perhatikan firman Allah Subhanahu wa Ta'ala berikut ini, Fa-waswasa ilaihi asysyaithan, Maka setan membisiskan (godaannya) padanya.” Jadi, maksud Fa-waswasa ilaihi, ialah bahwa gangguan dan godaan setan kepada seseorang (Nabi Adam dan yang lainnya) itu datang dari luar dirinya. Al-waswasa “bisikan godaan" di sini mungkin berupa perkataan yang diucapkan setan untuk merusak pendengaran manusia. Kadang-kadang bisikan dan godaan setan itu berupa perkataan, dan ini disebut istiraq al-sama’ atau mencuri-curi pendengaran, dan kadang-kadang juga dengan perantaraan isyarat, gambar dan pengkhayalan (takhyil). Tetapi gambar dan pengkhayalan terjadi melalui jalan penipuan terhadap mata atau pandangan. Kadang-kadang setan juga menggoda dan membisikkan godaannya terhadap manusia lewat dua cara itu sekaligus, yakni lewat suara yang didengar telinga dan gambaran yang dilibat mata. Sementara itu, bisikan dari luar terjadi lewat perantara setan jin dan setan-setan manusia.

http://www.akhirzaman.info/

Menolak dan Membentengi Diri dari Sihir

Abdul Kholiq Al-Athar

Perhatikan firman Allah Subhanahu wa Ta'ala berikut ini, “Dan kejahatan bisikan setan yang suka mundur (jika manusia sedang mengingat Allah). Yang suka membisikkan (sesuatu) ke dalam dada manusia. Dari golongan jin dan manusia” (QS. An-Nas 114: 4-6). Tetapi harus diingat, meskipun yang menggoda manusia itu adalah setan jenis Hal. Hal. | 79 manusia, tetapi yang menggerakkan, mempengaruhi dan mendonongnya untuk melakukan gangguan dan godaan itu adalah setan-setan dari bangsa jin. Dan, sebagaimana gangguan dan bisikan setan itu timbul dari luar (fisik) manusia, maka kadang-kadang juga bisikan dan godaan itu keluar dari dalam diri manusia, baik dari dirinya langsung maupun dari orang lain yang mewakili setan. Perhatikan firman Allah benikut ini, “Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dan Kami mengetahui apa yang dibisikkan oleh dirinya.” (QS. Qaf 50:16). Dan pada surah An-Nas disebutkan, Katakanlah, "Aku berlindung kepada Tahan. (yang memelihara dan menguasai) manusia. Raja manusia, Sesembahan manusia. Dari kejahatan (bisikan) setan yang biasa bersembunyi, yang membisikkan (kejahatan) ke dalam dada manusia. Dari (golongan) jin dan manusia." Huruf fi (dalam) kalimat Fi shudur an-nas "dalam dada manusia itu zharafiyyah (menerangkan tempat), yakni di dalam. Dan itu menunjukkan adanya bisikan kejahatan dari dalam diri manusia sendiri, atau dari setan yang biasa menggodanya. Mungkin juga dari bangsa manusia dan bangsa jin. Godaan atau bisikan kejahatan yang timbul dari luar diri manusia maupun dari dalam diri manusia dapat terjadi karena memang setan berpusat pada telinga manusia dan menguasainya. Lewat telinga itu, setan berharap pemikiran-pemikiran buruk dan informasi yang salah akan masuk dan mempengaruhi manusia. d. Sihir Mulut, Lidah, dan Perkataan Dalam sihir jenis ini, setan berpusat dan menguasai jaringan alat suara dan sambungan tenaga listrik (potensi hidup) antara otak dan lisan (lidah). Itulah, antara lain, tipu muslihat setan dalam mengoperasikan atau melaksanakan sihir a’yun, sihir takhyil, sihir sama’ dan sihir adzan. Dia berpusat dan menguasai alat kelengkapan tubuh, serta mempengaruhi sambungan tenaga listrik dari otak ke alat kelengkapan tubuh berupa pendengaran. Demikian pula, dia berpusat dan menguasai, serta mempengaruhi hubungan tenaga listrik di antara otak dan alat kelengkapan tubuh (mata). Berkenaan dengan sihir mulut, lidah, bibir, gigi, dan perkataan maka di sini setan membuat berbagai perubahan, penyakit, kekacauan, dan keruwetan terhadap alat kelengkapan tubuh tersebut.
http://www.akhirzaman.info/

Menolak dan Membentengi Diri dari Sihir

Abdul Kholiq Al-Athar

Hal. Hal. | 80

Dalam sihir jenis ini, setan tidak saja berpusat pada jaringan suara dan mulut, serta hubungan tenaga listrik dan otak ke lidah, tetapi setan juga berpusat pada otak manusia, Atau lebih khususnya pada sel-sel khusus yang berfungsi untuk mendapatkan dan menerima maklumat atau informasi, lalu menyimpannya, dan kemudian mengeluarkan atau menyebarluaskannya lagi jika diperlukan. Setiap orang pasti pernah mendengar suara setan yang berbicara lewat lidah manusia yang menjadi tempat menyatunya. Setan itu menyebutkan namanya, kepribadiannya, agama, dan keadaan (kondisinya). Dalam kitab Zad Al-Ma’ad fi Hadyi Khair Al-‘Ibad bab 'Petunjuk Rasulullali Shallallahu 'Alaihi wa Sallam. Berkenaan dengan Pengobatan Orang yang Gila" terdapat dialog antara Imam ibnu Taimiyah – rahimahullah ta’ala - dengan seorang jin wanita yang bergabung (menyatu) dengan seorang manusia. Dialog itu disaksikan banyak orang, di antaranya Imam Ibn Qayyim – rahimahullah ta’ala (pengarang kitab Zad Al-Ma’d tersebut). Lengkapnva dialog tersebut adalah sebagai berikut: Jin wanita itu berkata, “Aku mencintai orang ini." Imam Ibn Taimiyyah berkata, "Tetapi dia tidak mencintaimu." Ruhb jin wanita itu berkata, "Aku ingin melakukan ibadah haji dengannya (uridu an ahijja bihi)." Imam Ibn Taimiyyah berkata, 'Tetapi dia tidak mau berhaji denganmu.' 'Kalau begitu aku akan meninggalkannya demi menghargai kamu,'' kata jin wanita itu. Syaikh Ibn Taimiyyah malah menukas, justru Anda harus keluar demi mentaati Allah dan Rasulullah." Imam Ahmad bin Hanbal – rahimahullah ta’ala - pernah mengutus seseorang sambil dititipi bakiak (sandalnya). Orang itu berbicara pada ruh setan, "Sesungguhnya Imam Ahmad menyuruhmu untuk keluar. Jika tidak, aku akan memukulmu dengan bakiak ini sebanyak tujuh puluh kali." Orang-orang yang hadir di situ mendengar ruh setan itu berkata lewat lidah seorang wanita yang menjadi tempat bergabungnya setan tersehut, 'Baiklah aku sambut perintah Imam Ahmad. Sesungguhnya Imam Ahmad itu orang yang taat kepada Allah. Maka setiap sesuatu akan mentaati Allah karena ajakan dia, Sesungguhnva jika kami diperintah oleh dia untuk keluar dan meninggalkan Irak, pasti kami akan keluar semuanya. Kejadian tersebut memperlihatkan dengan jelas bahwa setan berpusat pada otak manusia yang tidak beriman, lalu manusia itu menghilang, kemudian muncullah setan dan berbicara menurut istilah kedokteran, keadaan di mana setan dapat berbicara lewat lidah manusia disebut izdiwaj syakhshiyyah- "penyatuan kepribadian", atau ''penggandaan kepribadian". e. Sihir, Targhib, Tarwi, Tafzi, Takhwif, dan Istirhab Jenis sihir ini adalah upaya setan untuk menakut-nakuti manusia yang menjadi sasanan sihirnya.
http://www.akhirzaman.info/

Menolak dan Membentengi Diri dari Sihir

Abdul Kholiq Al-Athar

Berkenaan dengan ini, Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman, “Mereka — Ahli-ahli sihir Fir’aun berkata: "Hai Musa, kamukah yang akan melemparkan (lebih dahulu), atau kamikah yang melemparkan (dahulu)?", "Musa berkata lemparkanalah oleh kamu sekalian.’ Setelah mereka melemparkan, mereka menyihir (menyulap) mata banyak orang dan Hal. Hal. | 81 membuat mereka menjadi takut. Dan mereka mendatangkan sihir yang agung (menakjubkan).” (QS. Al-Araf 7:115-116). Dalam surah Ali 'Imran 3:175, Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman, "Sesungguhnya mereka itu tidak lain hanyalah setan yang menakut-nakuti (kamu) dengan kawan-kawannya (orang-orang musyrik Quraisy), karena itu janganlah kamu takut kepada mereka, tetapi takutlah pada-Ku jika kamu benar-benar orang-orang beriman (QS. Ali 'Imran 3:175). Seperti diketahui bersama, bahwa rasa takut dan rasa terkejut (khawf dan faza’), jika lelah menghantui atau menguasai seseorang, hal itu akan melemahkan gerakan atau aktivitasnya dan melumpuhkan keadaannya. Seperti banyak dikatakan, bahwa orang yang mempunyai rasa takut, hidupnya tidak tenteram, tidak tenang, bahkan makan, dan minum pun tidak enak. Demikian pula, dia tidak dapat tidur dengan nyenyak, dan tidak akan merasa senang tinggai di dimana saja. Oleh karena itu, jika setan yang sangat dikutuk Tuhan itu telah menguasai seorang hamba Allah, menggentarkan dan menakut-nakutinya, maka dia akan selalu mengkhayalkan, menggambarkan, membisikkan kejahatan kepadanya, dan mendesasdesuskan segala godaan kepadanya. Orang yang terkena sihir itu mungkin akan menyangka bahwa setan terkutuk itu adalah muraqib, pelindung dan pengawas bagi dirinya dari gangguan orang lain, khususnya dari orang-orang yang mempunyai kekuasaan. Dengan demikian, orang yang terkena sihirnya itu tampak lemah dan tak bergairah hidup. Kita melihat dia selalu membahas dan memperhatikan apa yang ada di depannya dan dibelakangnya. Dan tampaknya dia selalu menunggu-nunggu kejahatan (bahaya) setiap waktu. Kadang-kadang dia ditakut-takuti oleh setan dan kematian, dari nasib masa depan, dan dari pengkhianatan orang yang paling dekat, paling dicintai, serta paling ikhlas kepadanya. Umumnya, setan yang sedang menggoda dan mengganggu manusia dengan sihir jenis ini selalu membawanya jauh-jauh dari keramaian, bahkan dari keluarga yang biasanya hidup bersama dalam satu rumah (tempat). Sehingga, tampak dia tidak mau berbicara dengan teman-teman dan keluarganya sekali pun, tidak pernah mau makan dan minum bersama. Dia juga tidak memperhatikan penampilan dirinya. Rambutnya tampak selalu kusut, kuku-kukunya panjang, dan badannya kotor. Demikian pula, dia tidak pernah mengurus kebersihan pakaian dan tempat di sekitar diriiya. f. Sihir Tay'is, Qanuth, Takhzin, Shadad, Syurud, Dzuhul, dan Nisyan

http://www.akhirzaman.info/

Menolak dan Membentengi Diri dari Sihir

Abdul Kholiq Al-Athar

Tay'is dan Qanuth adalah jenis sihir yang dilancarkan setan untuk membuat manusia putus asa dari rahmat dan kasih sayang Allah Subhanahu wa Ta'ala yang Rahman dan Rahim, TakhzIn adalah usaha setan untuk membuat sasaran sihirnya sedih. Syurud adalah langkah setan dalam menggelincirkan manusia dengan menghalang-halangi kelancaran agarna Allah. Nisyan atau lupa juga merupakan akibat tertipunya manusia oleh bujuk dan Hal. Hal. | 82 rayu setan. Sedang Syurud ialah pemurtadan dan penyesatan yang dilakukan oleh setan untuk menggelincirkan dan mencelakakan manusia. Sementara Dzuhul ialah kekacauan pikiran sehagai akibat terpedaya oleh ajakan dan tipu daya setan. Dalam surah Yusuf 12:87, Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman, Hai anak-anakku, pergilah kamu, maka carilah berita tentang Yusuf dan saudara-saudaranya dan jangan berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya tiada berputus asa dari rahmat Allah melainkan kaum yang kafir (QS. Yusuf 12:87). Dalam surah Al-Hir 15:51-56, Allah Subhanahu wa Ta'ala juga berfirman, Dan katakanlah kepada mereka tentang tamu-tamu Ibrahim. Ketika mereka masuk ke tempatnya, lalu mereka mengucapkan "Salam." Berkata Ibrahim, ''Sesungguhnya kami merasa takut kepadamu. Mereka berkata, "Janganlah kamu merasa takut, sesungguhnya kami memberi kabar gembira kepadamu dengan (kelahiran seorang) anak laki-laki (yang akan menjadi) orang yang ‘alim (pintar). Berkata Ibrahim, "Apakah kamu memberi kabar gembira kepadaku, padahal usiaku telah lanjut. Maka dengan cara bagaimanakah (terlaksananya) kabar gembira yang kamu kabarkan ini?" Mereka menjawab, "Kami menyampaikan kabar gembira kepadamu dengan benar, maka janganlah kamu termasuk orang-orang yang berputus asa." Ibrahim berkata, "Tidak ada orang yang berputus asa dari rahmat Tuhannya kecuali orang-orang yang sesat.” (QS, al-Hijr 15:51-56). Jadi, berdasarkan beberapa firman Allah Subhanahu wa Ta'ala itu, berputus asa dari rahmat dan kasih sayang Allah Subhanahu wa Ta'ala merupakan kekufuran. Orang yang mempunyal sifat tersebut bisa jadi kafir, meski kafirnya bukan kafir akidah atau keyakinan. Satan akan selalu berusaha dengan berbagai cara dan perantaraan, dengan macammacam metoda dan teknik unuk menjerumuskan manusia kejurang kekafiran. Dia berusaha untuk menyusupkan mentalitas mudah putus asa ke dalam perkataan, perbuatan, pemikiran, dan keadaan manusia yang menjadi sasaran sihirnya. Sehingga, jika orang itu seorang pelajar atau santri, dia tidak mau belajar. Jika dia seorang karyawan atau pedagang dia malas bekerja. Demikian seterusnya, kemalasan ditimpakan kepada setiap orang yang akan digelincirkannya. Sesungguhnya, jika manusia mengetahui bahwa rahmat dan kasih sayang Allah Subhanahu wa Ta'ala itu meliputi segala sesuatu, maka jika ada seseorang yang tidak mempunyai harapan akan rahmat Allah Subhanahu wa Ta'ala dia berarti telah memiliki salah satu sifat orang kafir. Meski dia bukan orang kafir dalam urusan akidah atau keyakinan, dan dia tidak akan dikekalkan dalam neraka. Setan Menyesatkan, menggunakan Pikiran dan Membuat Manusia Lupa
http://www.akhirzaman.info/

Menolak dan Membentengi Diri dari Sihir

Abdul Kholiq Al-Athar

Hal. Hal. | 83

Setan juga selalu aktif membuat manusia lupa akan kewajibannya, sehingga dia menjadi tersesat, bahkan ada yang sampai murtad. Setan juga giat mengacaukan pikiran manusia. Jadi, lupa dan merasa kacau pikiran serta tersesat merupakan akibat dan pengaruh godaan dan gangguan setan. Berkenaan dengan masalah ini, Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman, Dan apabila kamu melihat orang-orang yang memperolok-olokan ayat-ayat Kami, maka tinggalkanlah mereka, sehingga mereka membicarakan pembicaraan yang lain. Dan jika setan menjadikan kamu lupa (akan larangan itu), maka janganlah kamu duduk bersama orang-orang yang zalim setelah teringat (akan larangan itu) (QS. Al-An’am 6:68). Dan dalam surah Yusuf 12:42 ditegaskan, Dan Yusuf berkata kepada orang yang diketahuinya akan selamat di antara mereka berdua, "Terangkanlah keadaanku kepada tuanmu." Maka setan menjadikan dia lupa menerangkan (keadaan Yusuf) kepada tuannya. Karena itu, tetaplah dia (Yusuf) dalarn penjara (sampai) beberapa tahun lamanya. Dalam surah Al-Kahfi, 18:63, Allah Subhanahu wa Ta'ala menjelaskan masalah nisyan (lupa) itu, Dia berfirman, Muridnya menjawab, '1Tahukah kamu tatkala kita mencari tempat berlindung di batu tadi, maka sesungguhnya aku lupa (menceritakan tentang) ikan itu, dan tidak ada yang melupakan aku untuk menceritakannya kecuali setan, dan ikan itu mengambil jalannya ke laut dengan cara yang aneh sekali." Jelas, dari tiga ayat tersebut, Allah Subhanahu wa Ta'ala meng-isnad-kan atau menyandarkan adanya lupa yang dialami oleh beberapa orang karena perbuatan setan. Hanya karena ulah setanlah manusia bisa lupa. Tentunya, hal itu dengan izin dan kehendak Allah Subhanahu wa Ta'ala. Di samping membuat manusia putus asa dan lupa, setan juga membuat mereka sedih. Dia akan selalu berusaha dengan Segenap kemampuan dan kekuasaannya untuk membuat manusia bersedih. Hal tersebut diisyaratkan oleh firman Allah Subhanahu wa Ta'ala berikut ini, Sesungguhnya pembicaraan rahasia itu adalah dari setan, supaya orang-orang yang beriman itu berduka cita, sedang pembicaraan itu tiadalah memberi mudharat sedikit pun kepada mereka, kecuali dengan izin Allah. Dan kepada Allah-lah hendaknya orang-orang beriman bertawakal (QS. Al-Mujadilah 58:10). Sedang pada ayat 19 dari surah tersebut Allah Subhanahu wa Ta'ala menyebutkan, Setan telah menguasai mereka, lalu menjadikan mereka lupa mengingat Allah, mereka itulah golongan setan. Ketahuilah, bahwa sesungguhnya golongan setan itulah yang merugi. g. Shudud (Menghalangi Jalan Agama)

http://www.akhirzaman.info/

Menolak dan Membentengi Diri dari Sihir

Abdul Kholiq Al-Athar

Jenis sihir ini diisyaratkan dalam firman Allah Subhanahu wa Ta'ala, “Barangsiapa yang berpaling dari pengajaran Tuhan yang Maha Pemurah (Alquran), maka Kami akan adakan baginya setan (yang akan menyesatkan). Maka setan itulah yang akan menjadi teman yang selalu menyertainya. Dan sesungguhnya setan-setan itu benar-benar menghalangi mereka dari jalan yang benar dan mereka menyangka bahwa mereka Hal. Hal. | 84 mendapat petunjuk.” (QS. Az-Zukhruf 43:36-37). Sedang pada ayat lain dari surah Az-Zukhruf tersebut, Allah Subhanahu wa Ta'ala memfirmankan, Dan janganlah karnu sekali-kali dipalingkan oleh setan. Sesungguhnya dia musuh yang nyata bagimu. Sedang dalam surah Al-Maidah 5:91, Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman, “Sesungguhnya setan itu bermaksud hendak menimbulkan permusuhan dan kebencian di antara kamu lantaran (meminum) khamar dan berjudi, dan menghalangi kamu dari mengingat Allah dan dari shalat. Maka berhentilah kamu (dari mengerjakan pekerjaan itu). Dan terakhir, dalam surah Al-Ankabut 29:38, Allah Subhanahu wa Ta'ala menegaskan, “Dan (juga) kaum ‘Ad dan Tsamud, dan sungguh telah nyata bagi kamu (kehancuran mereka) dari (puing-puing) tempat tinggal mereka. Dan setan menjadikan mereka memandang baik (perbuatan-perbuatan mereka, lalu dia menghalangi mereka dari jalan (Allah). Sedangkan mereka adalah orang-orang yang berpandangan tajam.” Pemahaman dan Pemikiran Para Fuqaha dan Ulama Besar Mengenai Sihir Dengan kemudahan dan karunia Allah Subhanahu wa Ta'ala yang diberikan kepada saya, berikut ini saya akan mengemukakan pemahaman para ulama dan fuqaha besar mengenai sihir. Hal ini akan lebih meyakinkan dan menguatkan permasalahan sihir tersebut. Saya akan memulai dengan mengemukakan dalil dari kitab yang paling sahih setelah Alquran, yaitu Shahih Bukhari yang diperjelas dengan syarh-nya yang berjudul Fath Al-Bary bi-Syarh Shahih Al-Bukhary karangan Syaikh Ibn Hajar Al- 'Asqalany, khususnya juz X kitab Ath-Thibb (Kedokteran), bab Sihir halaman 221. Penjelasan dalam kitab tersebut dimulai dengan ayat-ayat Alquran berikut ini: “Tetapi setan-setan itulah yang kafir (mengerjahan sihir). Mereka mengajarkan sihir kepada manusia dan apa yang diturunkan kepada kedua malaikat di negeri Babil, yaitu Harut dan. Marut. Sedang keduanya tidak mengejarkan (sesuatu) kepada seseorang sebelum mengatahan, "Sesungguhnya kami hanyalah cobaan (bagimu), sebab itu janganlah kamu kafir," Maka mereka mempelajari dari kedua malaihat itu apa yang dengan sihir itu, mereka dapat menceraikan antara seorang (suami) dengan istrinya. Dan mereka itu (ahli sihir) tidak memberi mudharat dengan sihirnya kepada seorang pun kecuali dengan izin Allah. Dan mereka mempelajari sesuatu yang memberi mudharat kepadanya dan tidak memberi manfaat. Demi, sesungguhnya mereka telah meyakini bahwa barangsiapa yang menukarnya (kitab Allah) dengan sihir itu, tiadalah baginya keuntungan di akhirat (QS. Al-Baqarah 2:102).

http://www.akhirzaman.info/

Menolak dan Membentengi Diri dari Sihir

Abdul Kholiq Al-Athar

Dalam surah Thaha 20:65-69, Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman, “(Setelah mereka berkumpul), mereka berkata, "Hai Musa (pilihlah), apakah kamu yang melemparkan (dahulu) atau kamikah orang yang mula-mula melemparkan." Berkata Musa, "Silakan kamu sekalian melemparkan!" Maka tiba-tiba tali-temali dan tongkat-tongkat Hal. Hal. | 85 mereka terbayang kepada Musa seakan-akan ia merayap cepat, lantaran sihir mereka. Maka Musa merasa takut dalam hatinya. Kami berkata, ''janganlah kamu takut, sesungguhnya kamulah yang paling unggul (menang). Dan lemparkanlah apa yang ada di tangan kananmu; niscaya dia akan menelan apa yang mereka perbuat. Sesungguhnya apa yang mereha perbuat itu adalah tipu daya tukang sihir (belaka). Dan tidak akan menang tukang sihir itu dari mana saja dia datang.” (QS. Thaha 20:65-69). Dalam surah Al-Anbiya' disebutkan, “Maka apakah kamu menerima sihir padahal kamu. Menyaksikan.” (QS. Al-Anbiya' 21:3). Dan firman Allah Subhanahu wa Ta'ala dalam surah Al-Falaq 113:4-5, “Dan dari kejahatan. (tukang sihir) yang meniup-niup dalam buhulan (ikatan). Dan dari kejahatan tukang menghasud (mendengki) jika dia menghasud. Menurut Ibn Hajar, an-naffatsat itu adalah ahli-ahli sihir. Tusharuna artinya kamu dibuat buta. Dalam hadits yang diriwayatkan Imam Bukhari-rahimahullah taala-no. 5763 dari Hisyam bin Urwah bin Al-Zubair dari ayahnya, dari Ummu Al-Mukminin, disebutkan bahwa Siti Aisyah r.a. mengatakan bahwa Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam disihir oleh seorang laki-laki dari Bani Zuraiq bernama Lubaid bin Al-A'sham. Sehingga terbayang bagi Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam bahwa beliau (merasa) melakukan sesuatu, padahal beliau (hakikatnya) tidak melakukannya. Pada suatu hari ketika beliau ada di sampingku, beliau berdoa dan berdoa (terus menerus), lalu beliau Shallallahu 'Alaihi wa Sallam bersabda, "Wahai Aisyah, apakah engkau merasakan bahwa Allah Subhanahu wa Ta'ala telah memberikan fatwa padaku mengenai apa yang aku mintakan fatwa-Nya? Telah datang kepadaku dua orang (seperti dua orang) laki-laki. Lalu salah satu di antara keduanya duduk di dekat kepalaku, sedang yang satu lagi duduk di dekat kakiku. Kemudian salah satu dari mereka berkata pada temannya, "Apa yang diderita orang ini?" Dia menjawab, "Dia mathub: (tersihir)." Ditanyakan, "Siapakah yang menyihirnya?" "Lubaid bin Al-A'sham,"jawabnya. Ditanyakan, "Pada apa menyihirnya?" "Pada sisir dan rambut yang jatuh ketika disisir, dan seludang mayang kurma (jantan).' Dia bertanya, "Di manakah itu?" Dijawab, "Di sumur Dzarwan." Lalu Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam dengan sejumlah sahabatnya mendatangi sumur tersebut. Kemudian Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam pulang. Beliau
http://www.akhirzaman.info/

Menolak dan Membentengi Diri dari Sihir

Abdul Kholiq Al-Athar

Hal. Hal. | 86

bersabda, "Hai Aisyah, seakan-akan air sumur itu debu pacar, dan kepala pohon kurmanya (bagaikan) kepala-kepala setan." Aisyah berkata, "Mengapa engkau tidak mengeluarkannya wahai Rasulullah?" Beliau bersabda, "Aku telah disembuhkan oleh Allah. Dan aku tidak suka menyebarkan kabar buruk kepada manusia." Beliau menyuruh (orang lain) untuk memendamnya. Dalam kitab Fath Al-Bary bab "Sihir" disebutkan, menurut Ar- Raghib dan yang lainnya, kata sihir itu mempunyai banyak makna. Antara lain, sesuatu yang lembut dan halus (ma lathufa wa daqqa). Sahartu ash-shabiyya artinya, aku melakukannya dengan penuh kelembutan (tipuan) dan menarik atau mempengaruhinya. Dan, menarik sesuatu untuk menjadi miring atau condong) adalah menyihirnya. Perhatikan firman Allah Subhanahu wa Ta'ala berikut ini, Tentulah mereka berkata, "Sesungguhnya pandangan kamilah yang dikaburkan, bahkan kami adalah orang-orang yang kena sihir (QS. AlHijr 15:15). Maksudnya, pandangan mereka itu dipalingkan sehingga tidak mengetahui. Sejalan dengan itu, ada sebuah hadits Rasullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam yang berbunyi, inna min al-bayan la-sihran, "Sesungguhnya sebagian penjelasan itu ada yang berupa sihir (menarik sekali)." Makna sihir kedua ialah apa yang terjadi dengan tipuan dan pengkhayalan yang tidak mempunyai hakikat kebenaran. Hal ini seperti yang dilakukan oleh tukang sulap yang menyihir pandangan mata penonton dengan kelincahan dan kecerdikan tangannya. Sebagaimana diisyaratkan oleh Allah Subhanahu wa Ta'ala, Terbayangkan kepada Musa bahwa tali-temali dan tongkat itu merayap dengan cepat lantaran sihir mereka (QS. Thaha 20:66). Dalam ayat lain disebutkan, Mereka menyihir (menyulap) mata manusia .... (QS. AlA'raf 7:116). Atas dasar itulah Nabi Musa juga pernah dituduh sebagai tukang sihir. Pengertian sihir ketiga ialah sesuatu yang dicapai atau didapat dengan bantuan setan lewat suatu pendekatan kepada mereka. Makna ini sejalan dengan firman Allah Subhanahu wa Ta'ala, Tetapi setan-setan itu kafir (mempelajari sihir); mereka mengajarkan sihir kepada manusia (QS. Al-Baqarah 2:102). Keempat, sihir juga berarti apa yang dicapai dengan berbicara kepada bintanggemintang dan memanggil ruh-ruhnya dengan pengakuan yang batil. Menurut Ibn Hazm, sebagai wujud sihir dalam pengertian terakhir ini adalah apa yang berwujud mantera, seperti perangko yang ditulisi gambar kalajengking. Sihir juga kadang-kadang berupa perkataan dan perbuatan tukang sihir ketika menyihir. Imam Nawawi mengatakan, "Sihir itu mempunyai hakikat, yaitu masalah yang betul-betul eksis atau ada wujudnya." Demikian pula pendapat jumhur ulama yang
http://www.akhirzaman.info/

Menolak dan Membentengi Diri dari Sihir

Abdul Kholiq Al-Athar

didukung oleh ulama-ularna lainnya. Hal ini ditunjukkan oleh Al-Kitab (Alquran) dan As-Sunah Ash-Shahihah Al-Masyhurah "yang masyhur". Namun satu hal yang di-ikhlilaf-kan atau dipertentangkan adalah apakah sihir itu menimbulkan atau mengakibatkan penjungkirbalikan zat (inqilab 'ayn) diri manusia atau Hal. Hal. | 87 tidak? Kalau ada orang yang berpendapat bahwa sihir hanya tahhyil (pengkhayalan), maka tentu tidak akan terjadi pembalikan (penjungkirbalikan atau penghancuran) zat diri manusia. Berkenaan dengan pendapat yang menyatakan bahwa sihir mempunyai hakikat, yakni diakui wujudnya secara tsabit/kuat dan pasti adanya, mereka berbeda pendapat apakah sihir mempunyai ta'tsir "pengaruh/bekas" saja, sehingga dapat mengubah sifat atau pembawaan tubuh. Dalam sifatnya yang demikian, sihir menjadi satu macam penyakit atau sampai mampu memindahkan bentuk makhluk, seperti benda mati dijadikan hewan atau sebaliknya. Menurut pendapat jumhur ulama, sihir tidak akan mampu membalikkan atau mengubah jenis dan sifat benda. Dengan demikian, tukang sihir tidak akan mampu dengan sihirnya mengubah batu menjadi emas atau sebaliknya. Atau mengubah manusia menjadi hewan atau sebaliknya. Menurut Imam Al-Qurthubi, sihir itu merupakan suatu teknik keahlian (hiyal shina 'iyyah) yang dapat dicapai dengan belajar, usaha, dan pelatihan. Hanya, begitu lembut dan halusnya, sihir hanya dikuasai oleh beberapa orang saja. Materi atau substansinya adalah penguasaan terhadap berbagai keistimewaan benda-benda dan mengetahui susunannya dan waktu-waktunya (tarhib dan awqat-nya). Lebih lanjut Imam Al-Qurthubi mengatakan bahwa sebagian sihir mempunyai pengaruh terhadap hati (jiwa); seperti rasa cinta, benci, menimpakan kebaikan (suatu manfaat) atau kejahatan. Di samping mempengaruhi badan dengan rasa sakit, seperti yang telah dijelaskan di muka. Hanya yang sulit dimengerti adalah pembalikan benda mati menjadi hewan, atau sebaliknya. Dan itu pun hasil perbuatan sihir tukang sihir. Para ulama berbeda pendapat mengenai ayat Alquran, surah Al-Baqarah 2:102, yang telah disebutkan. Menurut sebagian ulama, Nabi Sulaiman pernah mengumpulkan buku-buku mengenai sihir dan para dukun (ahli sihirnya) lalu memendamnya di bawah kursi (singgasana)-nya. Tak seorang pun dari setan-setan, termasuk prajurit Nabi Sulaiman itu, dapat mendekati kursinya. Ketika Nabi Sulaiman wafat dan para ulama yang mengetahui urusan itu pun telah wafat sebagian, datanglah setan kepada sebagian ulama di antara mereka dengan menyamar seperti seorang manusia. Setan terkutuk itu berkata kepada salah seorang 'alim Yahudi, "Senangkah kamu jika aku tunjukkan suatu perbendaharaan kekayaan yang tiada taranya?" Mereka menjawab, "Ya, tentu saja." Setan berkata, "Galilah kursi SuIaiman." Lalu mereka pun menggali kursi (singgasana) itu, padahaI singgasana itu jauh dari keramaian mereka. Ternyata mereka mendapatkan bukubuku (kitab-kitab) itu. Kemudian setan berkata kepada orang Yahudi itu, "Sesungguhnya Nabi Sulaiman itu dapat menundukkan dan memanfaatkan potensi manusia dan jin itu
http://www.akhirzaman.info/

Menolak dan Membentengi Diri dari Sihir

Abdul Kholiq Al-Athar

dengan kitab-kitab ini" Berita mengenai haI itu pun dengan cepat menyebar di kalangan mereka, bahkan sampai ke generasi-generasi selanjutnya. Ajaibnya berita itu dibumbui, bahwa Nabi SuIaiman itu seorang tukang sihir. Jadi, menurut pengakuan mereka bahwa Sayyidina Hal. Hal. | 88 Sulaiman itu menundukkan dan memanfaatkan jin dengan menggunakan mantra-mantra, doa-doa, perkataan-perkataan, dan perbuatan-perbuatan, sebagaimana yang terdapat dan dikodifikasikan (ditulis) dalam buku-buku, yang menurut mereka sengaja dipendam oleh Nabi Sulaiman a.s. di bawah singgasananya. Untuk menjawab dan menanggapi pengakuan busuk dan bohong itulah Allah Subhanahu wa Ta'ala menurunkan ayat-ayat Alquran tersebut (surah Al-Baqarah 2:102), dan yang seperti itu. Ayat-ayat tersebut menegaskan kebohongan dan kesesatan pengakuan setan dan kawan-kawannya dari kelompok Yahudi dan lainnya, yang mengklaim dan mengaku, bahkan menuduh dan memfitnah bahwa Nabi Sulaiman a.s. itu adalah seorang tukang sihir. Ada yang berpendapat bahwa setan-setan dari bangsa jin mengisyaratkan kepada setan-setan dari kalangan manusia yang jahat mengenai materi dan pemikiran sihir lalu mereka menuliskannya. Nama-nama setan dari bangsa manusia itu ditulis dalam bukubuku yang menurut pengakuan mereka dipendam di bawah kursi Sulaiman a.s. Dan ketika Nabi Sulaiman telah wafat, barulah mereka mengeluarkannya. Ibn Ishak menambahkan bahwa orang-orang Yahudi, khususnya yang ada ketika itu, telah melukis suatu cincin, dan mereka menisbatkan atau menyandarkannya kepada Nabi Sulaiman. Mereka mengaku, bahwa itu cincin Nabi SuIaiman a.s. Mereka pun mencap atau menandai kitab-kitab tersebut dengan cap palsu yang disandarkan kepada Nabi Sulaim an a.s. Alamat yang mereka tulis, "Ini apa yang ditulis Ashif bin Barkhiya Ash Shiddiq untuk raja Sulaiman bin Dawud dari perbendaharaan gudang ilmu." Nabi Sulaiman itu tidak kafir (wa ma kafara Sulaiman). Maksudnya, Nabi Sulaiman itu tidak menjadi kafir. Dia tidak mempelajari sihir dan tidak mengamalkannya. Tetapi setan-setanlah yang mengajarkan sihir itu kepada kawan-kawannya, yaitu setan-setan dari bangsa manusia. Sedang Nabi Sulaiman bebas dari perbuatan terkutuk itu. Wa ma unzila 'ala al-malakaini "Dan apa yang diturunkan kepada kedua malaikat", yakni apa yang diturunkan kepada kedua malaikat itu dengan membolehkan sihir. Menurut sebagian ulama, kedua malaikar itu memberitahukan (mengajari) rnanusia bagaimana cara (proses) terjadinya sihir. Mereka pun memberitahukan bahwa tukang sihir itu bukanlah tuhan, rasul pun bukan, bahkan mereka pun bukan orang-orang baik (saleh). Kedua malaikat itu juga melarang manusia untuk minta tolong kepada tukang sihir atau bergaul dengan mereka. Bagaimanapun, sihir bukan mukjizat, dan bukan karamat (kemuliaan dari para wali). Sihir hanyalah hirfah, suatu keahlian yang dijadikan penghidupan, ia hanyalah shan 'ah (karya) yang mempunyai kaidah-kaidah tertentu, dan mempunyai asal-usul (pokokhttp://www.akhirzaman.info/

Menolak dan Membentengi Diri dari Sihir

Abdul Kholiq Al-Athar

pokok) tertentu pula. Siapa yang mempelajarinya-na 'udzu billah-pasti menjadi tukang sihir dan menjadi kafir. Selanjutnya Ibn Hajar Al-'Asqalany mengatakan bahwa sebagian ulama membolehkan mempelajari dan menguasai ilmu sihir hanya demi suatu kepentingan. Hal. Hal. | 89 Misalnya untuk membedakan jenis sihir yang menimbulkan kekafiran dan yang tidak, atau untuk memudahkan pengobatan (terapi) orang yang terkena sihir. Mengenai Firman Allah Subhanahu wa Ta'ala fa-anna tusharuna, "Maka bagaimanakah kamu sekalian bisa tertipu, dipalingkan dari kebenaran, dihalangi dari kebenaran dan kebaikan, dan dibutakan dari tauhid dan ketaatan kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala dan Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam. Sedangkan al-mashur (yang tersihir) itu ialah setiap orang yang menaati segala sesuatu yang bukan pada tempatnya. Ada yang mengatakan bahwa Nabi Muhammad Shallallahu 'Alaihi wa Sallam pernah tersihir selama enam bulan. Sedang menurut yang lainnya, beliau Shallallahu 'Alaihi wa Sallam tersihir selama empat puluh malam, yakni sejak mulai berubahnya tabiat beliau sampai lepasnya sihir tersebut dari badannya. Menurut Ibn Hajar Al-'Asqalany, 'ismah atau keterjagaan Nabi Muhammad Shallallahu 'Alaihi wa Sallam itu berkenaan dengan urusan agama dan tugas risalah. Adapun mengenai urusan dunia, beliau Shallallahu 'Alaihi wa Sallam tidak diutus untuk hal itu. Dan risalah (amanat menyampaikan ajaran agama pun) bukan untuk urusan duniawi. Atas dasar itu, beliau Shallallahu 'Alaihi wa Sallam bisa saja terkena sihir, juga penyakit lainnya, seperti apa yang menimpa manusia lain pada umumnya. Meskipun demikian, tidak pernah terbayangkan Nabi terkena sesuatu yang tidak mempunyai hakikat (eksistensi) karena beliau memiliki 'ishmah "keterjagaan" dari hal-hal seperti sihir, khususnya dalam kaitan beliau Shallallahu 'Alaihi wa Sallam sebagai pengemban risalah dan penyebar agama. Seandainya Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam pun terkena sihir, sihir yang menimpa beliau Shallallahu 'Alaihi wa Sallam itu hanya sekadar kena dan tidak akan membahayakan. Bekas sihirnya itu tidak akan menjatuhkan martabat beliau sebagai Nabi dan Rasul utusan Allah Subhanahu wa Ta'ala Atau, paling tidak seperti yang mengenai Nabi Musa a.s. Ketika para ahli sihir Fir'aun beraksi dengan tongkat-tongkat dan tali-temalinya, beliau merasakan adanya sedikit rasa takut. Tetapi kemudian diwahyukan kepadanya bahwa itu bukan apa-apa, dan beliau a.s. sendiri yang lebih unggul dan akan menang. Dengan demikian, semakin kuatlah pandangan dan pendapat yang menyatakan bahwa sihir telah mengenai badan dan jasad lahir Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam, tetapi tidak sampai menguasai akal, otak, dan hati (keyakinannya). Al-Mahlab (Al-Muhlib) berkata, "Keterjagaan dan keterpeliharaan ('ishmah) Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam itu tidak menghalangi keinginan setan untuk
http://www.akhirzaman.info/

Menolak dan Membentengi Diri dari Sihir

Abdul Kholiq Al-Athar

memperdayakannya." Dalam Ash-Shahih, telah disebutkan bahwa ada seorang setan yang bermaksud merusak shalat Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam dan ternyata Allah Subhanahu wa Ta'ala memberinya kemampuan untuk melakukan hal itu. Tergodalah shalat Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam. Hal. Hal. | 90 Demikian pula pengaruh sihir kepadanya. Bahaya sihir yang pernah menimpanya sama sekali tidak mengurangi kredibilitas beliau dalam kaitannya dengan tugas menyampaikan risalah. Justru itu termasuk jenis penyakit yang biasa beliau alami seperti manusia pada umumnya, seperti penyakit lemah (lesu) untuk berbicara, atau malas untuk melakukan sesuatu. Adanya khayalan yang menimpa kepada beliau tidak lama, bahkan segera hilang karena Allah membatalkan atau menggagalkannya dan menyelamatkannya dari tipu daya setan. Ibn Al-Qishar berargumentasi bahwa sihir yang menimpa Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam itu berupa jenis penyakit, dengan sabda Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam di penghujung hadits sahih tersebut, Amma ana fa-qad syafany Allahu, "Adapun aku, telah disembuhkan oleh Allah Subhanahu wa Ta'ala". Dalam hadits Ibn Abbas bin As'ad disebutkan, "Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam pernah mengalami sakit sampai beliau tertahan (berhenti) berhubungan dengan istrinya dan tertahan dari makan." Dan menurut Siti Aisyah r.a., " ... kemudian beliau Shallallahu 'Alaihi wa Sallam berdoa dan berdoa." Itu membuktikan bahwa sihir telah membahayakan (mengganggu) badan Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam tetapi tidak sampai mengganggu akal dan pemikirannya. Karena ternyata beliau Shallallahu 'Alaihi wa Sallam masih dapat menghadap Allah dan berdoa seperti biasanya dan menurut cara yang benar dan peraturan yang lurus. Itulah yang kita ketahui dari riwayat Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam yang sekaligus mengandung pelajaran, yakni disunahkannya untuk berdoa ketika menghadapi hal-hal buruk seperti tersihir itu. Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam sendiri menyerahkan hal itu kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala dan memohon kepada-Nya untuk menyembuhkannya, di samping mencari jalan lain yang dibolehkan oleh syariat Islam (al- akhdzu bi-al-asbab). Terbuktilah dari perilaku Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam itu bahwa doa termasuk obat dan senjata orang Mukmin. Sabda Nabi Muhammad Shallallahu 'Alaihi wa Sallam kepada Siti Aisyah r.a., "Aku telah meminta fatwa kepada Tuhanku lalu Dia memberi fatwa kepadaku." Maksudnya, Allah Subhanahu wa Ta'ala mengijabah doanya sesuai dengan yang beliau mohonkan. Doa Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam itu memohon kepada Allah untuk berkenan menjelaskan hakikat dan rahasia apa yang menimpanya. Ternyata Allah Subhanahu wa Ta'ala mengutus kedua malaikat yang menjelaskan apa yang terjadi dan menimpa diri Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam serta mengisyaratkan apa obat penyembuhnya.
http://www.akhirzaman.info/

Menolak dan Membentengi Diri dari Sihir

Abdul Kholiq Al-Athar

Hal. Hal. | 91

Kemudian, dalam beberapa riwayat disebutkan hadits yang menegaskan bahwa yang duduk dekat kepala Nabi Muhammad Shallallahu 'Alaihi wa Sallam itu adalah malikat Jibril a.s., sedang yang duduk dekat kakinya adalah malaikat Mikail a.s. Keduanya mendatangi Nabi Muhammad Shallallahu 'Alaihi wa Sallam dalam tidurnya. Tetapi, mimpi para nabi adalah wahyu. Dalam sebuah hadits, sihir diisyaratkan dengan kata-kata mathbub. Hal itu menunjukkan, bahwa ada sesuatu yang mirip dengan sihir karena keunikannya, yang dapat menjadi obat dan terapi untuk menyembuhkan sihir, tentu saja dengan izin Allah Subhanahu wa Ta'ala, meskipun penyembuhan itu memerlukan waktu yang agak lama. Itu juga berarti, bahwa sihir itu merupakan suatu penyakit seperti penyakit lainnya. Menurut Ibn Al-Qayyim, pertama kali Nabi Muhammad Shallallahu 'Alaihi wa Sallam menyandarkan urusan sihir itu kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala dan menegaskan bahwa sihir itu merupakan penyakit yang disebabkan oleh suatu materi (benda atau elemen) yang masuk ke otak atau akal dan menguasai (masuk ke) perut bagian depan sehingga hal itu dapat mengubah keadaannya. Tampaknya, pada awalnya Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam berpendapat bahwa penggunaan hijamah (berbekam atau berpantik) dapat mengobatinya. Tetapi ketika ternyata, menurut wahyu dari Allah, hal itu adalah sihir, maka Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam pun mengobatinya dengan obat dan terapi yang cocok dengannya, yaitu mengeluarkan materi (benda) sihir. Bagaimanapun, sihir itu kadang-kadang merupakan pengaruh dari arwah (ruh-ruh) yang jahat dan jelek. Kadangkadang juga merupakan pengaruh alam. Dan yang disebutkan terakhir ini lebih jahat daripada sihir. Pengaruh atau penyakit yang ditimbulkan oleh pengaruh alam itu dapat diobati dengan hijamah (berbekam). Imam Al-Qurthubi mengatakan bahwa sihir itu disebut thibb, sebab makna asal kata thibb itu ialah mengetahui secara cerdik terhadap sesuatu. Ketika pengobatan penyakit dan sihir itu tercapai dengan kecerdasan, maka penyakit dan sihir juga disebut thibb (kedokteran). Ada yang mengatakan bahwa ketika Nabi Muhammad Shallallahu 'Alaihi wa Sallam mengeluarkan sihir, beliau mendapatkan suatu patung lilin milik Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam dan ternyata padanya terdapat jarum yang ditancapkan disertai mantra (tarqiyyah) dengan sebelas ikatan. Maka turunlah Jibril a.s. dengan membawakan surah Al-Mu'awwidzatain (Al-Falaq dan An-Nas). Setiap beliau Shallallahu 'Alaihi wa Sallam membaca satu ayat, maka lepaslah satu ikatan. Nabi pun merasakan adanya keringanan. Setelah selesai membaca ayat-ayat Alquran itu, maka lepaslah semua ikatan, seakan-akan Nabi Muuhammad Shallallahu 'Alaihi wa Sallam lepas dari suatu ikatan. Dalam kamus Lisan Al-‘Arab disebutkan, jika ada orang yang berkata Fa-la syaithana, maka maksudnya sesuatu itu kotor atau jelek. Di Indonesia, jika ada yang mengatakan, "Setan kamu", itu Maksudnya jahat sekali. Dan jika orang-orang Arab menjelekkan
http://www.akhirzaman.info/

Menolak dan Membentengi Diri dari Sihir

Abdul Kholiq Al-Athar

seorang laki-laki, maka mereka akan mengatakan, "Kamu setan." Sedang jika mereka mengejek dan menjelekkan wanita, mereka mengatakan, "Ghawl (raksasa, hantu, momok)." Orang Arab juga suka menyebut sebagian ular dengan "setan" untuk ular yang mukanya sangat jelek. Hal. Hal. | 92 Dalam Shahih Bukhari judul 48 bab "Syirik dan Sihir Termasuk yang Menghancurkan Amalan Manusia", disebutkan hadits no. 5764 dari Abu Hurairah r.a. bahwa Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam bersabda, “Jauhilah syirik, menyekutukan Allah, dan sihir." Masih dalam Shahih Buhhari, dengan judul 49 bab "Apakah Sihir dapat Dikeluarkan?", Ibn Hajar Al-'Asqalany berkata, "Qatadah r.a, berkata kepada Sa'id bin AlMusayyib, "Saya mengatakan kepada Sa'id bin Al-Musayyib r.a. mengenai seseorang yang terkena sihir (thibb), atau yang diambil (dilepaskan) dari istrinya. Apakah sihir itu dapat dilepas atau dibuka (A-yuhallu 'anhu. aw yunsyaru)? Sa'id bin Al-Musayyib menjawab, "Tidak mengapa itu (yakni dapat dibuka)." Ahli sihir yang bisa mengobati hanya menghendaki 'ishlah (perbaikan). Bagaimanapun, sesuatu yang berguna itu tidak dilarang. Sedang dalam hadits Bukhari no. 5765, dari Siti Aisyah r.a., dia berkata, "Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam pernah terkena sihir, sehingga beliau melihat (merasakan) seperti mendatangi istri-istrinya, padahal tidak mendatanginya." Sufyan berkata, "Ini termasuk sihir yang paling jelek." Lalu Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam bersabda kepada Siti Aisyah r.a., 'Wahai Aisyah, apakah engkau mengetahui bahwa Allah telah memfatwakan kepadaku mengenai apa yang aku minta? Telah datang kepadaku dua orang laki-laki, yang satu duduk dekat kepalaku sedang yang satu lagi duduk dekat kakiku. Yang duduk dekat kepalaku berkata kepada ternannya, "Bagaimana keadaan orang ini?" Dia menjawab, "Dia mathbub (terkena sihir)." Dia berkata, "Siapakah yang menyihirnya?" Yang satu lagi menjawab, "Lubaid bin Al-A'sham." Siti Aisyah r.a. berkata, "Mengapakah engkau tidak melepas (membuka)-nya?" Maka Nabi Muhammad Shallallahu 'Alaihi wa Sallam menjawab, "Adapun aku, demi Allah, Allah telah menyembuhkan aku dan aku tidak suka menyebarkan kejahatan kepada seorang rnanusia pun .... " (sampai akhir hadits). Jadi, mengenai boleh tidaknya mengeluarkan atau melepaskan sihir, Ibn AlMusayyib, seorang tabi’ pengikut sahabat, berpendapat membolehkannya. Qatadah mengatakan, "Carilah orang yang mengobatinya." Allah hanya melarang apa yang membahayakan dan tidak melarang apa yang bermanfaat, termasuk mempelajari sihir untuk mengobati orang yang terkena sihir, sebagaimana dikatakan Ibn Hajar Al-'Asqalany yang mengutip pendapat sebagian ularna. Bahkan Nabi Muhammad Shallallahu 'Alaihi wa Sallam bersabda, "Siapa yang dapat menolong saudaranya, hendaklah dia melakukannya." Demikian pula, seorang tabi' mulia semacam Ibn Al-Musayyib, memandang bolehnya orang yang terkena sihir untuk mendatangi siapa saja yang dapat atau mampu mengeluarkan dan mengobati sihir yang menimpa dirinya.
http://www.akhirzaman.info/

Menolak dan Membentengi Diri dari Sihir

Abdul Kholiq Al-Athar

Menurut Ibn Jauzy, al-masyrah (dari nasyara yansyuru, mernbuka/melepaskan) maksudnya melepaskan sihir dari orang yang terkena sihir. Dan itu biasanya hampir tidak dapat dilakukan kecuali oleh orang yang mengetahui sihir. Imam Ahmad bin Hanbal-rahimahullah ta'ala-pernah ditanya mengenai seseorang yang Hal. Hal. | 93 mampu melepaskan sihir dari orang yang terkena sihir. Beliau rnenjawab, "Tidak mengapa." Ibn Hajar Al-'Asqalany menanggapi perkataan Imam Ahmad bin Hanbal itu, bahwa itulah pendapat yang dapat dipercaya (al-mu'tamad}. Tetapi menurut Al-Hasan (Al-Bashary) - rahimahullah ta'ala, sebenarnya sihir itu dilepaskan dengan qudrat "kekuasaan" Allah Subhanahu wa Ta'ala melalui tarqiyah (jampijarnpi), doa-doa, dan zikir dari Alquran dan As-Sunnah untuk melindungi diri. Jadi, alat untuk melepaskan sihir itu ada dua macam. Jika dengan menggunakan ayat-ayat Alquran, zikir-zikir pelindung diri, doa-doa, dan tahashshunat (alat-alat pembenteng diri) yang telah diketahui maknanya, maka itu dibolehkan. Sedang yang tidak diketahui maknanya, yakni selain dari Alquran dan doa-doa, maka itu mengandung syirik (menyekutukan Allah). Maksud kata-kata yu’khadz ‘an zawjatihi, bahwa Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam tertahan dari berhubungan dengan istrinya, yakni tidak dapat mencampuri istrinya. Hal itu karena al-ukhdzah (mantra) yang diucapkan oleh ahli sihir atau berupa barang yang ditiup oleh ahli sihir. Maksud kata-kata aw yuhallu 'anhu, yakni yunsyar (dibuka atau dilepas, seperti dikatakan nasyartu al-muzhallata, "Saya membuka payung"). Al-hallu atau membuka sihir itu merupakan semacam pengobatan terhadap sihir yang telah menimpa seseorang dengan suatu cara pengobatan yang bercampur dengan penyakit, maka sihir tersebut akan terbuka dan lepas (yuksyaf 'anhu). Menurut Ibn Hajar Al-Asqalany, di antara yang menguatkan disyariatkannya membuka atau melepas sihir adalah seperti yang dikatakan Ibn Baththal dalam kitab-kitab Wahb Ibn Munabbah/Munabbih. Disebutkan, hendaklah mengambil tujuh lembar daun bidara hijau, lalu ditumbuk di antara dua batu, kemudian dicampuri air. Setelah itu bacalah ayat Al-Kursy dengan qawafil (surah-surah yang dimulai dengan kata-kata qul, seperti qul huwa Allahu ahad, qul a 'udzu bi rabb al-falaq, dan lain-lainnya). Lalu air itu dipercikkan sebanyak tiga percikan ke tubuh korban. Selanjutnya bahan itu dipakai mandi. Insya Allah dan dengan izin-Nya akan sembuh. Jampi atau terapi ini berguna sekali untuk mengobati seseorang (suami) yang tertahan sehingga tidak dapat mencampuri istrinya. Ibn Hajar Al-Asqalany mengatakan, "Saya pun menemukan sifat atau teknik nusyrah (membuka sihir itu) pada kitab Ath-Thibb Al-Nabawy karangan Ja'far Al-Musta'firy." Selanjutnya Ibn Hajar mengatakan bahwa Ibn Al-Qayyim berkata, "Obat yang paling manjur dan cara terbaik untuk mernbuka atau melepaskan sihir, yang merupakan pengaruh ruh-ruh jahat yang kotor, adalah dengan obat-obat Ilahiyyah (dari Tuhan Allah Subhanahu wa Ta'ala) berupa zikir-zikir, doa-doa, ibadah, dan ayat-ayat Alquran. Jika
http://www.akhirzaman.info/

Menolak dan Membentengi Diri dari Sihir

Abdul Kholiq Al-Athar

hati manusia itu dipenuhi dengan zikrullah (zikir mengingat Allah), atau wirid-wirid dengan berbagai macam doa dan bacaan ayat-ayat suci Alquran yang disertai tawajjuhmenghadapkan diri kepada Allah, maka hati itu tidak akan kosong dan akan terjaga dari kemasukan sihir." Hal. Hal. | 94 Selanjutnya Ibn Al-Qayyim mengatakan, "Kekuasaan pengaruh sihir itu hanya akan menimpa hati manusia yang lemah, yang kosong dari keyakinan yang benar dan tidak dimakmurkan dengan zihrullah: Oieh karena itu, kebanyakan orang yang terkena sihir adalah wanita, anak kecil, dan orang-orang jahil (bodoh), yakni yang tidak mengamalkan ajaran Islam. Karena ruh-ruh (arwah) yang keji danjahat itu hanya akan bersemangat dan berani memasuki ruh-ruh manusia yang memang siap untuk dimasuki (kondusif untuk sihir)." Kemudian menurut Ibn Hajar Al-Asqalany, ada juga riwayat dari Ibn Al-Qayyim mengenai bolehnya melepaskan sihir, yang kemungkinannya dilakukan dengan sihir lagi. Dia juga mengatakan bahwa mungkin juga sihir mengenai Nabi Muhammad Shallallahu 'Alaihi wa Sallam, meskipun betapa agungnya pribadi beliau Shallallahu 'Alaihi wa Sallam dan betapa kuatnya tawajjuh-nya. Bahkan wirid atau zikirnya pun jelas tidak sedikit, bahkan terus-menerus. Tetapi tampaknya perlu dibedakan antara sihir yang menimpa Nabi Muhammad Shallallahu 'Alaihi wa Sallam dengan sihir yang menimpa orang-orang lainnya. Boleh jadi yang menimpa Nabi Muhammad Shallallahu 'Alaihi wa Sallam itu hanya sekadar untuk menjelaskan permasalahan sihir dan cara Nabi meIepasnya. Dalam Shahih Buhhari, judul 50, bab "Sihir", disebutkan hadits yang diriwayatkan Imam Bukhari - rahimahullah ta 'ala - (no. 5766) dari Hisyam, dari ayahnya, dari Siti Aisyah r.a. Dia berkata, "Nabi Muhammad Shallallahu 'Alaihi wa Sallam pernah terkena sihir, sehingga terbayang-lah padanya bahwa beliau Shallallahu 'Alaihi wa Sallam melakukan sesuatu, padahal hakikatnya tidak. Sehingga sampailah suatu ketika, pada waktu beliau berada di rumahku, beliau berdoa dan berdoa memohon kepada Allah. Lalu beliau Shallallahu 'Alaihi wa Sallam bersabda, "Wahai Aisyah, apakah engkau merasakan (mengetahui) bahwa Allah Subhanahu wa Ta'ala telah memfatwakan kepadaku mengenai apa yang aku minta (fatwa-Nya)." Kataku. "Apakah itu, ya Rasulullah?" Beliau bersabda, "Telah datang kepadaku dua orang (seperti manusia) laki-laki. Yang satu duduk dekat kepalaku, dan yang satu lagi duduk dekat kedua kakiku .... (sampai akhir hadits seperti yang telah disebutkan). Sedang pada judul 51, bab "Sesungguhnya Sebagian Al-Bayan (Penjelasan) itu Mengandung Sihir" ditunjukkan hadts Bukhari no. 5767 clari Abdullah bin Umar r.a. yang mengatakan, "Telah datang dua orang laki-laki dari sebelah masyriq (timur) dan keduanya berkhutbah (berpidato). Ternyata banyak orang yang merasa kagum dengan khutbahnya itu. Maka menanggapi peristiwa tersebut, bersabdalah Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam, "Sesungguhnya sebagian al-bayan "penjelasan" itu mengandung sihir. Atau, sesungguhnya sebagian penjelasan atau keterangan itu adalah sihir."

http://www.akhirzaman.info/

Menolak dan Membentengi Diri dari Sihir

Abdul Kholiq Al-Athar

Menurut AI-Khathaby, penjelasan (al-bayan) itu ada dua macam. Pertama, apa yang dapat menjelaskan maksud sesuatu dengan cara bagaimanapun. Dan kedua, apa yang dipengaruhi oleh suatu keahlian sehingga enak didengar dan menarik perhatian. Dan penjelasan (al-bayan) yang seperti itulah yang menyerupai sihir, karena penjelasan demikian dapat menarik hati dan menguasai jiwa seseorang, sehingga segala sesuatu Hal. Hal. | 95 dapat berpindah dari hakikat yang sebenarnya dan dipalingkan dari arahnya. Akibatnya, orang yang melihat justru melihat sesuatu yang bukan sebenarnya. Mengenai hal seperti ini, jika yang terjadi justru memalingkan sesuatu yang tidak baik ke arah yang baik, maka jelas itu boleh dan terpuji. Tetapi jika yang hak dipalingkan (diarahkan) kepada yang batil, maka itu tidak boleh dan tercela. Selanjutnya Al-Khathaby mengatakan bahwa al-bayan (penjelasan dan penerangan) yang menyerupai sihir-membalikkan sesuatu yang benar menjadi salah-adalah madzmum "tercela". Tetapi, jika al-bayan (penjelasan) yang dimaksud hanya sekadar mirip dengan sihir dalam menarik perhatian, maka hal itu tidak salah. Dan menurut sebagian ularna, sihir yang disebutkan dalam hadits itu sekadar memuji kemampuan seseorang, yaitu dua orang dari masyriq yang pandai berpidato, dalam memancing emosi dan perhatian publik (umum). Bagaimanapun, menghiasi pembicaraan, khususnya untuk menerangkan yang hak, sangat diperlukan. Tetapi menurut Imam Malik dan ulama lainnya, jika keterangan atau penjelasan itu mengandung cara-cara yang dibuat-buat, seperti berkata disalah-salahkan yang bukan pada ternpatnya, itu pun tetap tercela (madzmum). Ada yang berpendapat bahwa yang dimaksud dengan hadits di atas, adalah seseorang menentang yang hak dengan menggunakan kepandaian berargumentasi dan fasih dalam berbicara dan menjelaskan, bahkan lebih fasih daripada orang yang benar. Lalu dia menyihir orang-orang dengan kemampuan itu sehingga dapat menentang (mengalahkan) yang benar. Sementara, menurut Ibn Baththal, maksud hadits tersebut bahwa sebagian penjelasan (al-bayan) itu merupakan sihir yang menyihir banyak orang. Oleh karena itu, tidak semua penjelasan tercela, sebagaimana tidak semuanya mengandung pujian. Bagaimana mungkin semua al-bayan (kemampuan menjelaskan) itu tercela, bukankah Allah Subhanahu wa Ta'ala telah mengaruniakan kemampuan menjelaskan itu kepada manusia. Hal ini seperti diisyaratkan firman Allah Subhanahu wa Ta'ala, Yang Maha Pemurah (1), (itu) mengajarkan Alquran (2), Dia menciptakan manusia (3), Dia mengajarnya al-bayan (kemampuan menjelaskan) (QS. Ar-Rahman 51:1-4). Para ulama telah sepakat untuk memuji orang yang mampu berkata atau menyusun perkataan dan karangannya secara ijaz murahkaz (ringkas terarah), yakni katakatanya tidak banyak tetapi kandungan maknanya banyak. Dalam Shahih Bukhari: 52, bab "Berobat dengan Tamar (Kurma) Bagi yang Terkena
http://www.akhirzaman.info/

Menolak dan Membentengi Diri dari Sihir

Abdul Kholiq Al-Athar

Hal. Hal. | 96

Sihir", dari hadits Bukhari no. 5768; dari 'Amir bin Sa'd, dari ayahnya r.a., dia berkata, "Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam bersabda, "Siapa yang sarapan pagi setiap hari dengan beberapa biji tamar (kurma), maka dia tidak akan terkena bahaya racun dan sihir hari itu sampai malamnya." Menurut yang lain, jumlah kurma tersebut sebanyak tujuh buah. Sementara menurut hadits Bukhari no. 5769 yang diterima dari 'Amir bin Sa'd dari ayahnya r.a., dia berkata, "Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam bersabda, "Siapa yang sarapan pagi dengan memakan sembilan biji kurma, maka dia tidak akan terkena bahaya racun dan sihir." Dalam beberapa riwayat, tidak semua riwayat, disebutkan adaya tamar al- 'aliyah atau tamar Madinah. Dinamai demikian karena kemuliaan Allah yang diberikan padanya. Konon, tamar Madinah itu harganya paling mahal karena merupakan kurma paling bagus. Imam Nasa'iy meriwayatkan hadits Jabir, dia me-marfu’kannya, "Al- 'ajwatu: min aljannati, tamar atau kurma itu dari surga." Dengan izin dan kehendak Allah, tamar tersebut menjadi obat penangkal racun dan sihir. Tetapi ternyata Siti Aisyah r.a. hanya menyuruh orang yang terkena sihir untuk memakan tujuh biji kurma (tamar) saja selama tujuh kali (pagi-pagi). Menurut Al-Khathabi, 'ajwah atau tamar itu berguna untuk menangkal dan menyembuhkan pengaruh racun dan sihir karena berkah doa Nabi Muhammad Shallallahu 'Alaihi wa Sallam, khususnya pada tamar Madinah, dan bukan karena keistimewaan tamarnya sendiri. Bahasan Seorang Fuqaha Besar (Terkenal) pada Abad Ini Syaikh Mushthafa Al-Hadidy Ath-Thair adalah seorang ulama besar, mulia, banyak keramatnya, memiliki sifat-sifat terpuji, banyak berkah dan keutamaannya. Dalam usianya yang telah mencapai lima puluh tahun, beliau mempunyai bahasan yang mendalam dan diakui sebagai bahasan yang paling lengkap, serta paling mencakup berbagai aspek penting mengenai sihir. Untuk lebih menyempurnakan dan menyebarluaskan manfaat kitab tersebut, di samping untuk menguatkan bahasan saya mengenai sihir, maka dengan memohon karunia dan rahmat Allah Subhanahu wa Ta'ala, saya akan mengemukakan bahasan kitab tersebut. Kitab Ghidza' Al-Arwah: Halaman 65-115 Sungguh saya sangat berbahagia karena dapat mengambil banyak manfaat ketika
http://www.akhirzaman.info/

Menolak dan Membentengi Diri dari Sihir

Abdul Kholiq Al-Athar

membaca kitab yang bagus dan penuh berkah, dengan judul Nazhariyyatu An-Nubuwwah fi Al-Islam "Hakikat Kenabian dalam Islam" yang dikarang oleh DR. Thaha Dasuqi. Kitab tersebut mengandung bahasan yang bagus, kajiannya dalam, dan ulasannya menarik, khususnya mengenai mukjizat dan keramat/karomah, serta sihir. Saya mencantumkan isi kitab tersebut di sini dengan harapan tercapai suatu manfaat yang besar sesuai dengan Hal. Hal. | 97 yang diharapkan. Apalagi pendapat DR. Dasuqi ini mempunyai keistimewaan tersendiri. Bahkan terlihat, beliau-rahimahullah ta'ala-mendebat atau membantah pendapat Syaikh AlIslam Ibn Taimiyyah. Jelas hal seperti ini menuntut kami untuk mengenalkannya kepada para ulama pernbahas pendapat baru tersebut (kitab Nazhariyyatu Al-Basyar fi Al-Islam: 70-116). Bahasan tersebut akan kami tutup dengan mengungkapkan pendapat lain mengenai objek tersebut sebagaimana disebutkan oleh seorang mufassir dan muhaddits-pakar hadits-Al-Ustadz Abdul Karim Al-Khathib dalam kitabnya yang sangat bermutu At-Tafsir Al-Qurany Li-al-Quran "Tafsir yang Cocok dengan Apa yang Dikehendaki Alquran" (Tafsir Alquran dengan Metode Al-quran)" (Lihat dalam kitab At- Tafsir Al-Qurany: 17271745). Berikut tulisan Syaikh Mushthafa Al-Hadidy At-Thayr mengenai sihir SIHIR Sihir secara etimologis (lughah) ialah menampakkan apa yang lembut dan samar. Sedang menurut istilah (terminologis) sihir ialah sesuatu yang aneh yang tidak dikenal oleh kebanyakan manusia. Sifatnya menyerupai segala yang khawariq li-al- adah "luar biasa", seperti mukjizat dan keramat, tetapi sebetulnya bukan bagian darinya. Menurut hakikatnya, sihir tidak termasuk sesuatu yang luar biasa, karena ada kaidah-kaidahnya dan asal-usulnya yang dapat dipelajari. Oleh karena itu, sihir berbeda dengan mukjizat yang merupakan karunia Allah Subhanahu wa Ta'ala untuk para nabi-Nya. Terjadinya mukjizat tidak lebih hanyalah memohon kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala dan menghadap kepada-Nya. Demikian pula, sihir bukan keramat (karamah) karena karomah adalah karunia Allah Subhanahu wa Ta'ala yang diberikan kepada para wali-Nya. Untuk mencapai karamah pun tidak lain harus memohon kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala. Bahkan seringkali karamah' itu datang atau diberikan kepada seorang wali dengan tiba-tiba. Hal ini sebagaimana yang dialami atau didapat oleh Khabib, Umar bin Khaththab r.a., dan Hamzah Al-Aslamy. Seperti halnya mukjizat, karamah kadang-kadang datang kepada Nabi dengan tiba-tiba. seperti ratapan anak hewan dan bertasbihnya makanan di hadapan Nabi Muhammad Shallallahu 'Alaihi wa Sallam. Ahli Sihir Meminta Tolong kepada Setan

http://www.akhirzaman.info/

Menolak dan Membentengi Diri dari Sihir

Abdul Kholiq Al-Athar

Para ahli sihir itu mencapai keahliannya dengan berbagai cara, termasuk dengan berkorban apa saja, berupa perbuatan-perbuatan jahat yang dipersembahkan kepada setan-setan sebagai tokoh ahli sihirnya. Di antara yang mereka lakukan adalah jampi-jampi yang mengandung syirik dan mad-h (pujian) kepada para setan. Demikian pula, mereka menyembah atau berkhidmat kepada bintang-gemintang, melakukan berbagai kejahatan, Hal. Hal. | 98 dan melakukan macam-macam kefasikan, seperti melakukan dosa-dosa besar (mencuri, berzina, durhaka kepada kedua orang tua) dan lain-lainnya. Semuanya itu dapat mendekatkan diri mereka kepada setan sebagai pemimpin mereka dan pembimbingnya, dan sekaligus menjauhkan mereka dari Allah Subhanahu wa Ta'ala. Satu hal yang pasti adalah adanya kesesuaian atau keselarasan dan kecocokan antara para ahli sihir dari bangsa manusia dengan ahli sihir dari bangsa jin (setan). Sehingga, dengan adanya kesesuaian (harmonisasi) tersebut terjadilah hubungan persaudaraan yang erat, dan terjalinlah jiwa saling menolong di antara kedua pihak. Sebagaimana halnya para malaikat hanya menolong orang-orang saleh dari orang-orang yang beriman, maka demikian pula, setan-setan itu tidak menolong kecuali orang-orang yang telah menyatakan diri sebagai pelaku kejahatan dengan mengikuti langkah-langkah jahatnya. Dalam hubungan ini, Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman: Dan (ingatlah) hari di waktu Allah menghimpunkan mereka semuanya, (dan Allah berfirman), "Hai golongan jin (setan), sesungguhnya kamu telah banyak (menyesatkan) manusia." Lalu berkatalah kawan-kawan mereka dari golongan manusia, "Ya Tuhan kami, sesungguhnya sebagian dari kami telah mendapat kesenangan dari sebagian (yang lain). Dan kami telah sampai kepada waktu yang telah Engkau tentukan bagi kami." Allah berfirman, "Neraka itulah tempat diam kamu, sedang kamu kekal di dalamnya. Kecuali kalau Allah menghendaki (yang lain). Sesungguhnya Tuhanmu Mahabijaksana lagi Maha Mengetahui." (QS. Al-An'am 6:128). Jadi, menurut ayat tersebut, para setan dan ahli sihir itu telah banyak mencelakakan dan menyesatkan manusia. Seperti yang diisyaratkan firman Allah Subhanahu wa Ta'ala tersebut, Maka berkatalah kawan- kawan mereka dari (bangsa) manusia, "Wahai Tuhan kami, sebagian kami telah mendapatkan kesenangan dari sebagian (lainnya); dan kami telah sampai kepada waktu yang telah Engkau tentukan bagi kami." Kesenangan manusia yang diambil dari jin (setan-setan) itu ialah mendapatkan sihir, pedukunan, dan segala kebohongan. Hal itu mereka lakukan untuk mendapatkan keuntungan duniawi yang kotor dan keji. Sedang kesenangan yang didapat oleh para ahli sihir kalangan jin dari kawan-kawannya bangsa manusia ialah ketaatan mereka untuk mengikuti langkah-langkah hidup yang telah digariskan oleh ahli sihir itu, berupa berbagai perbuatan jahat yang menyeret mereka kepada kekufuran (menjadi kafir dan musyrik). Sebagian Besar Bani Israil Adalah Ahli Sihir

http://www.akhirzaman.info/

Menolak dan Membentengi Diri dari Sihir

Abdul Kholiq Al-Athar

Sebagian Bani Israil itu suka mempelajari dan mempraktikkan sihir. Mereka lebih mendahulukan sihir daripada ajaran kitab Taurat yang dibawa Nabi Musa a.s. Bahkan mereka berani terang-terangan melakukan hal itu. Berkenaan dengan masalah ini, Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman: Hal. Hal. | 99 “Dan setelah datang kepada mereka seorang Rasul dari sisi Allah yang membenarkan apa (kitab) yang ada pada mereka, sebagian dari orang-orang yang diberi kitab (Taurat) melemparkan kitab Allah ke belakang (punggung)-nya, seolah-olah mereka tidak mengetahui bahwa itu adalah kitab Allah. Dan mereka mengikuti apa yang dibaca oleh setan-setan pada masa kerajaan Sulaiman (dan mereka mengatakan) bahwa Sulaiman itu mengerjakan sihir, padahal Sulaiman tidak kafir (mengerjakan sihir). Mereka mengajarkan sihir kepada manusia dan apa yang diturunkan kepada kedua malaikat di negeri Babil, yaitu Harut dan Marut. Sedang keduanya tidak mengajarkan (sesuatu) kepada seorang pun sebelum mengatakan, "Sesungguhnya kami hanya cobaan ( bagimu). Sebab itu janganlah kamu kafir." Maka mereka mempelajari dari kedua malaikat itu apa yang dengan sihir itu, mereka dapat menceraikan antara seorang (suami) dengan istrinya. Dan mereka itu (ahli sihir) tidak memberi mudharat dengan sihirnya kepada seorang pun kecuali dengan izin Allah. Dan mereka mempelajari sesuatu yang memberi mudharat kepadanya dan tidak memberi manfaat. Sesungguhnya mereka telah meyakini bahwa barangsiapa yang menukarnya (kitab Allah) dengan sihir itu, tiadalah baginya keuntungan di akhirat, dan amat jahatlah perbuatan mereka menjual dirinya dengan sihir, kalau mereka mengetahui (QS. AlBaqarah 2:101-102). Kitab yang disebutkan dalam ayat tersebut, menurut pendapat yang paling kuat, adalah kitab Taurat yang diwahyukan Allah kepada Nabi Musa a.s. Menurut ayat tersebut, orang-orang Yahudi itu mengikuti dan mempraktikkan sihir yang dibacakan oleh setan-setan, khususnya sejak kerajaan dan kenabian Nabi Sulaiman a.s. Pada masa itulah setan-setan mengenalkan dan mengajarkan sihir kepada para dukun. Mereka menuliskan (mengkodifikasikan) sihir dan mengajarkannya kepada manusia. Hal tersebut menyebar luas pada masa Nabi Sulaiman bin Dawud a.s. Bahkan, mereka yang berhasil mempelajari sihir pada waktu itu dianggap sebagai orang-orang yang mengetahui hal gaib, dan itu adalah ilmu Nabi Sulaiman, yang di samping sebagai nabi, juga seorang raja. Menurut mereka, kerajaan Nabi Sulaiman itu sebetulnya ditentukan oleh ilmu sihir tersebut. Dengan ilmunya itu, dia menundukkan berbagai makhluk Allah yang berkhidmat kepadanya, seperti jin, setan, manusia, burung-burung, dan angin yang dapat berjalan sesuai dengan perintahnya. Pengakuan mereka itu ditentang dan dibohongkan oleh Allah Subhanahu wa Ta'ala, Dan tidaklah Sulaiman itu kafir (mempelajari dan mempraktikkan sihir), tetapi setan-setan itu(lah) yang kafir; mereka mengajarkan sihir kepada manusia (QS. Al-Baqarah 2:102).

http://www.akhirzaman.info/

Menolak dan Membentengi Diri dari Sihir

Abdul Kholiq Al-Athar

Allah membohongkan dan menentang pengakuan (klaim) setan-setan dan orangorang yang mengikutinya bahwa Nabi Sulaiman telah mempelajari dan mempraktikkan sihir. Bahkan sihir dijadikan alat kerajaannya. Bagaimanapun, para nabi itu terjaga dari perbuatan-perbuatan yang merugikan manusia, seperti sihir itu. Nabi Sulaiman a.s. mendapat kerajaan besar dan menjadi seorang raja yang menguasai dunia di masanya Hal. Hal. | 100 sebagai ijabah dari Allah Subhanahu wa Ta'ala atas doanya. Karena dia pernah berdoa, "Wahai Tuhanku, ampunilah dosaku dan berilah aku kerajaan yang tidak pantas bagi siapa pun setelah aku. Sesungguhnya Engkau Maha Pemberi." Berkenaan dengan masalah itu, Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman, Dia – Sulaiman - berkata, "Ya Tuhanku, ampunilah aku dan anugerahkanlah kepadaku kerajaan yang tidak dimiliki oleh seorang jua pun sesudahku. Sesungguhnya Engkaulah yang Maha Pemberi." Kemudian Kami tundukkan kepadanya angin yang berhembus dengan baik menurut ke mana saja yang dikehendakinya. Dan (Kami tundukkan Pula kepadanya) setansetan semuanya, ahli bangunan, dan penyelam. Dan setan ,yang lain yang terikat dalam belenggu. Inilah anugerah Kami; maka berikanlah (pada orang lain) atau tahanlah (untuk dirimu sendiri) dengan tiada pertanggungjawaban. Dan sesungguhnya dia mempunyai kedudukan yang dekat pada sisi Kami dan tempat kembali yang baik (QS. Shad 38:35-40). Harut dan Marut Serta Sihirnya Harut dan Marut adalah dua malaikat yang diturunkan Allah Subhanahu wa Ta'ala dalam bentuk manusia (laki-laki) untuk mengajarkan sihir kepada manusia. Dengan cara demikian, diharapkan manusia dapat membedakan mana yang diakui sebagai mukjizat dan mana sihir, sehingga mereka tidak berbohong dan tidak meragukan kenabian para nabi. Atau untuk membatalkan pengakuan ahli sihir bahwa mereka adalah nabi, sebab pernah terjadi ada sebagian orang yang terpesona dengan ilmu sihir sehingga menganggap mereka yang memperlihatkan hal-hal yang aneh itu adalah nabi. Maka Allah mengutus kedua malaikat itu untuk mengajarkan sihir kepada manusia sehingga mereka dapat menentang dan melawan sihir-sihir yang dilakukan oleh orangorang jahat yang mengaku nabi itu. Menurut sebagian orang, hal itu telah terjadi sejak masa Nabi Idris a.s. Ada yang berpendapat, bahwa kedua orang itu disebut malikaini (dua raja), tetapi karena keduanya saleh, mereka diserupakan dengan malaikat. Pendapat ini dikuatkan oleh sebagian umat Islam yang membaca dengan malikaini (dua raja, dengan mengkhasrah-kan huruf lam-nya). Sedang Babil (Babilonia) tempat kelahiran dan kemunculan kedua raja tersebut adalah di negeri Irak. Baik mereka itu kedua malaikat atau kedua raja, tetapi yang jelas, mereka diturunkan Allah Subhanahu wa Ta'ala untuk memberi petunjuk kepada manusia supaya manusia tidak tertipu oleh sihir para ahli sihir. Maka mereka mengajarkan sihir seraya terus memperingatkan akan bahaya-bahaya ilmu tersebut, baik bahaya tersebut menimpa diri mereka sendiri, atau masyarakatnya. Hal ini diisyaratkan firman Allah Subhanahu wa Ta'ala (lihat surah Al-Baqarah 2:102 di atas).

http://www.akhirzaman.info/

Menolak dan Membentengi Diri dari Sihir

Abdul Kholiq Al-Athar

Bagi mereka yang telah mengetahui hakikat permasalahan sihir dan dia memang orang yang berakal dan mengerti, tentu akan menolak mentah-mentah pengakuan tukang sihir yang mengaku sebagai nabi atau wali, atau manusia istimewa lainnya. Setelah menolak sihir dan ahlinya, dia akan mengagungkan masalah kenabian dan memuliakan para nabi, lalu dia mengikutinya. Hal ini sebagaimana terjadi pada ahli sihir Fir'aun ketika Hal. Hal. | 101 ternyata tongkat Nabi Musa a.s. dapat melahap apa yang dihasilkan oleh sihir mereka. Begitu para ahli sihir Fir'aun itu melihat bahwa yang diperlihatkan Nabi Musa a.s. berbeda dengan kehebatan sihirnya, maka mereka pun dengan akal cerdas yang mereka terima dari Tuhannya langsung beriman dan meyakini eksistensi Allah Subhanahu wa Ta'ala dan mempercayai Nabi Musa a.s. Bahkan, mereka pun tidak merasa gentar dan takut akan ancaman Fir'aun. terkutuk itu. Pendapat Lain Mengenai Harut dan Marut Sebagian ulama berpendapat bahwa Harut dan Marut itu merupakan dua setan. Keduanya tidak mengajari siapa pun mengenai sihir sehingga mereka selalu mengatakan, "Sesungguhnya kami hanya merupakan fitnah (bencana) dan bahaya bagi manusia, maka janganlah kamu seperti kami sebab jika kamu seperti kami, kamu akan menjadi kafir. Bahkan, menurut Al-Manduwy, keduanya mengatakan hal itu (Kami hanya merupakan fitnah bagimu, maka janganlah kamu menjadi kafir) hanya memperolok-olok dan mempermainkan mereka, dan bukan untuk menasihati atau memberikan petunjuk. Sedang mereka, menurut pendapat ini, disebut. malaikat karena keduanya mampu membentuk apa saja, seperti manusia, dan marnpu pula menyamar sebagaimana halnya para malaikat. Pendapat bagaimanapun yang dikemukakan, Allah Subhanahu wa Ta'ala telah menjelaskan keadaan kedua malaikat (raja) tersebut, berikut setan-setan yang mengajarkan sihir kepada manusia. Lihat dan baca lagi surah Al-Baqarah 2:102. Menurut surah Al-Baqarah 2:102 tersebut, setan-setan itu mengajari sebagian manusia, khususnya orang-orang Yahudi, mengenai sihir yang telah mereka kenal sebelum kemunculan kedua malaikat (kedua raja) tersebut. Setan-setan itu juga mengajari sebagian manusia (Yahudi) mengenai sihir yang diturunkan kepada kedua malaikat tersebut. Sihir yang diajarkan kedua malaikat tersebut ternyata lebih hebat daripada yang telah dikenal oleh setan-setan tersebut. Tetapi, sebetulnya Harut dan Marut ketika itu tidak mengajarkan sihir kepada manusia kecuali mengatakan dahulu, "Sesungguhnya kami ini hanya fitnah dan ujian dari Allah. Maka janganlah kamu menjadi kafir dengan menggunakan dan mempraktikkan sihir. Karena sihir itu mengandung pemanfaatan tenaga dan kemampuan setan-setan yang kafir; sedangkan mereka itu tidak akan menolongmu kecuali jika ideologimu seperti ideologi mereka, dan kamu pun harus banyak melakukan kejahatan seperti yang mereka lakukan.
http://www.akhirzaman.info/

Menolak dan Membentengi Diri dari Sihir

Abdul Kholiq Al-Athar

Hal. Hal. | 102

Jadi, tampaknya mereka itu seperti seorang guru besar kedokteran. Dia menasihati mahasiswanya, "Pada pil ini terdapat racun, maka kamu jangan menggunakannya sebagai obat untuk mengobati seorang pasien. Atau, kamu sekalian jangan menggunakan obat tersebut untuk mengobati berbagai penyakit tertentu. Karena ia justru akan membahayakan atau akan memperlambat kesembuhan." Atau, kata-kata yang seperti itu. Ada juga yang berpendapat bahwa kalimat Fa-la takfur "maka janganlah kamu kafir (mengingkari Allah)" maksudnya janganlah manusia menjadi kafir dengan meyakini bolehnya menggunakan sihir, mempelajari dan menggunakannya. Sedang menurut pendapat lainnya, “Janganlah kamu kafir dengan meyakini bahwa sihir itu hak (benar), dan pengaruh atau bekasnya pasti terjadi." Pendapat yang disebutkan terakhir ini didasarkan kepada pendapat Mu'tazilah yang mengatakan bahwa sihir itu hanyalah takhyil (pengkhayalan) dan penggambaran (ilustrasi) yang salah, yang tidak mempunyai hakikat (eksistensi). Dan, menurut Mu'tazilah, siapa yang mengakui atau meyakini bahwa sihir itu mempunyai hakikat (eksistensi) atau wujud tersendiri, maka kafirlah dia. Pendapat Para Ulama Mengenai Hakikat Sihir Menurut Al-Alusy, jumhur ulama berpendapat bahwa sihir itu mempunyai hakikat, wujud eksistensi tersendiri, dan bukan hanya khayalan belaka. Dengan kelihaian sihirnya, ahli sihir memungkinkannya untuk terbang ke angkasa dan berjalan di atas air. Demikian pula, dia dapat saja membunuh jiwa manusia, dan sangat mudah baginya untuk membalikkan manusia menjadi keledai. Pelaku yang sesungguhnya dalam peristiwaperistiwa sadis itu adalah Allah Subhanahu wa Ta'ala. Tetapi sunnah Allah tidak memberikan kemampuan bagi ahli sihir untuk mampu membelah laut, menghidupkan yang mati, membuat binatang ternak dapat berbicara, dan lain-lainnya yang hanya merupakan tanda-tanda kenabian dan hanya dapat dilakukan oleh para rasul (mukjizat). Tetapi menurut Al-Mu'tazilah dan Al-Istirabadzi, sihir tidak mempunyai hakikat (eksistensi). Sihir hanyalah takhyil, pengkhayalan atau penggambaran belaka. Bahkan, Mu`tazilah mengkafirkan orang yang mengatakan (berkeyakinan), bahwa sihir dapat melakukan hal-hal seperti membunuh jiwa, membalikkan manusia menjadi binatang atau lain-lainnya. Menurut mereka, jika sihir dipahami mempunyai hakikat dan keistimewaan demikian, maka hal itu dapat menutup jalan kenabian. Artinya, bahwa kenabian bisa dipelajari oleh sembarang orang dan tidak terbatas kepada pilihan Allah Subhanahu wa Ta'ala. Para ulama ahli tahqiq (penelitian) ada yang membedakan antara sihir dan mukjizat. Bahwa mukjizat disertai penantangan dan pengakuan kerasulan, sedang sihir tidak demikian adanya. Dengan demikian, mukjizat tidak mungkin tampak dan dicapai oleh orang yang mengaku-aku sebagai nabi secara bohong. Hal itu ditentukan Allah untuk menjaga martabat kenabian. Dengan begitu, diharapkan tidak ada orang yang sukses untuk mengaku-aku sebagai nabi, apalagi sebagai rasul.

http://www.akhirzaman.info/

Menolak dan Membentengi Diri dari Sihir

Abdul Kholiq Al-Athar

Saya, Syaikh Mushthafa Al-Hadidy Ath-Thayr, melihat kebenaran dari yang dikatakan oleh Mu'tazilah, bahwa sihir itu tidak mempunyai hakikat dan dia hanya merupakan khayalan belaka. Oleh karena itu, sihir tidak akan dapat menembus jantung substansi setiap barang, seperti mengubah bentuk manusia menjadi keledai. Mengapa saya setuju dengan pendapat Mu'tazilah, karena memang pendapat tersebut sejalan dengan Hal. Hal. | 103 konsepsi Alquran Al-Karim. Ketika Nabi Musa a.s. menyaksikan sihir yang dipertontonkan oleh para ahli sihir, Dia berfirman, Musa berkata, "Silakan kamu melemparkan (dahulu)." Maka tiba-tiba tali-temali dan tongkat mereka terbayang pada Musa seakan-akan dia merayap lantaran sihir mereka (QS. Thaha 20:66). Ayat tersebut menunjukkan bahwa sihir itu tidak mempunyai hakikat (wujud, eksistensi). Dan materi ini pula yang menjadi pembeda antara sihir dan mukjizat. Ketika ada makanan bertasbih di hadapan Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam, maka itu berarti bahwa makanan itu bertasbih dengan sesungguhnya. Demikian pula, ketika ada air yang memancar dari jemari Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam, itu pun adalah air sungguhan. Sehingga banyak orang yang berwudu, minum, bahkan mandi dari air tersebut. Dan demikian seterusnya. Tetapi tidak demikian halnya dengan sihir, seperti yang akan dijelaskan pada bab "Gambar-gambar Aneh atau Ajaib dari Sihir dan Sulap". Saya akan menambahkan mengenai perbedaan mukjizat dengan sihir, bahwa mukjizat itu merupakan karunia (pemberian) dari Allah Subhanahu wa Ta'ala dan tidak ada wasilah atau perantaraan untuk mendapatkannya. Sebagaimana halnya unta Nabi Shaleh yang keluar dari gunung untuk menguatkan kerasulan Nabi Shaleh a.s. Lalu unta itu meminum air dari air mereka, kemudian mereka pun meminum air susunya. Kemudian unta itu disembelih oleh seorang penjahat dari kaum Tsamud. Berbeda dengan mukjizat, sihir mempunyai kaidah-kaidah tertentu, asal-usul dan disiplin tertentu, yang apabila dipelajari seseorang, maka dia akan menguasainya. Dan sihir memang tidak mempunyai hakikat (wujud atau eksistensi) secara materil, meskipun dapat dipergunakan untuk membahayakan manusia. Perhatikan firman Allah Subhanahu wa Ta'ala berikut ini, Dan mereka mengikuti apa yang dibaca oleh setan-setan pada masa kerajaan Sulaiman (dan mereka mengatakan) bahwa Sulaiman itu mengerjakan sihir, padahal Sulaiman itu tidak kafir (tidak mengerjakan sihir), hanya setan-setan itulah yang kafir (mengerjakan sihir). Mereka mengajarkan sihir kepada manusia dan apa yang diturunkan kepada dua orang malaikat di negeri Babil, yaitu Harut dan Marut, sedang keduanya tidak mengajarkan (sesuatu) kepada seorang pun sebelum mengatakan, "Sesungguhnya kami hanya cobaan (bagimu), sebab itu, janganlah kamu kafir." Maka mereka mempelajari dari kedua malaikat itu, apa yang dengan sihir itu, mereka dapat menceraikan antara seorang (swami) dengan istrinya. Dan mereka itu (ahli sihir) tidak memberi mudharat dengan sihirnya kepada seorang pun kecuali dengan izin Allah. Dan mereka mempelajari sesuatu yang memberi mudharat kepadanya dan tidak memberi manfaat. Demi, sesungguhnya mereka telah meyakini bahwa barangsiapa yang menukarnya (Kitab Allah) dengan sihir itu, tiadalah baginya keuntungan di akhirat, dan amat
http://www.akhirzaman.info/

Menolak dan Membentengi Diri dari Sihir

Abdul Kholiq Al-Athar

jahatlah perbuatan mereka menjual dirinya dengan sihir, kalau mereka mengetahui (QS. AlBaqarah2:102). Mengenai hukum tukang sihir, di-ikhtilaf-kan oleh para ulama, sebab para sahabat mulia pun tidak sepakat. Ketika salah seorang pembantu Hafshah, Ummu Al-Mukminin, Hal. Hal. | 104 menyihir beliau r.a. lalu diketahui oleh Umar bin Khaththab r.a., maka beliau menyuruh Abdurrahman bin Zaid untuk membunuhnya. Sementara sahabat Usman bin Affan r.a. mengingkari secara mutlak untuk membunuh tukang sihir. Dalam satu riwayat disebutkan bahwa Umar bin Khaththab dengan tegas pernah menyuruh para tukang sihir. Dia berkata, "Bunuhlah setiap tukang sihir, laki-laki ataupun perempuan." Sehingga ada tiga orang tukang sihir yang dibunuh. Imam Syaf'iy—rahimahullah ta’ala—secara mutlak menentang membunuh tukang sihir. Karena Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam pun tidak membunuh orang Yahudi yang menyihirnya, maka terhadap Mukmin pun demikian. Hal ini sesuai dengan petunjuk Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam yang bersabda, "Mereka, Yahudi dan Nashrani, mempunyai hak diperlakukan dengan baik seperti hak-hak orang Islam. Mereka pun mempunyai kewajiban seperti kewajiban yang harus dilaksanakan oleh umat Islam." Para ulama juga berbeda pendapat mengenai hukum mempelajari dan mengajarkan sihir. Sebagian mengatakan bahwa orang yang mempelajari dan mengajarkan sihir adalah kafir, berdasarkan surah Al-Baqarah 2:102 tersebut. Sebagian lagi, yang menjadi pendapat jumhur ulama, mengatakan bahwa mempelajari dan mengajarkan sihir itu haram. Tetapi ada juga yang menghukumi keduanya makruh saja. Bahkan, yang mengherankan, ada yang menghukumi keduanya mubah (boleh-boleh saja). Sedang alasan (ta'lil) mengafirkan setan yang mengajarkan sihir dalam ayat tersebut, karena mereka mengajarkannya untuk menyesatkan dan membahayakan. Pendapat terakhir inilah yang dicenderungi oleh Ar-Razy. Dia mengatakan, "Para ahli tahqiq (penelitian) sepakat bahwa mengetahui sihir itu tidak jelek dan tidak terlarang karena ilmu menurut zatnya itu tetap mulia. Juga, karena sifat umum kandungan ayat atau firman Allah Subhanahu wa Ta'ala. Tetapi setan-setanlah yang kafir. Mereka mengajarkan sihir kepada manusia (QS. Al-Baqarah 2:102). Jika seorang Muslim tidak mengetahui sihir, maka boleh jadi dia tidak dapat membedakan mukjizat dari sihir. Padahal mengetahui hakikat mukjizat itu wajib, dan apa yang menjadi faktor penting untuk tegaknya sesuatu yang wajib adalah wajib. Sehingga, mempelajari sihir hukumnya justru wajib dan bukan haram. Kemudian Al-Alusy mengatakan, "Yang benar menurut saya adalah haram, seperti yang diakui/dipegang oleh jumhur ulama, kecuali jika ada kepentingan syara'. Dan, sihir diharamkan untuk menutup bahaya, sebab siapa yang berenang di sekitar kolam larangan, boleh jadi dia masuk ke dalamnya. Orang yang menggembala di sekitar kebun larangan, boleh jadi dia masuk ke dalamnya. Betul, bahwa mengetahui perbedaan sihir
http://www.akhirzaman.info/

Menolak dan Membentengi Diri dari Sihir

Abdul Kholiq Al-Athar

Hal. Hal. | 105

dengan mukjizat itu wajib, tetapi tidak dengan sendirinya mempelajari sihir itu wajib, seperti kebanyakan ulama yang mengetahui mukjizat tanpa mempelajari sihir. Dan, yang paling penting lagi, jika mempelajari sihir itu wajib, mengapa para ulama pada masa-masa awal Islam tidak mempelajarinya." Bahkan tidak ada indikasi jelas yang membolehkan mempelajarinya. Demikian menurut pendapat Al-Alusi yang dikutip secara bebas. Tambahan Penjelasan Orang yang membolehkan mempelajari sihir itu berdasarkan ayat Alquran surah AlBaqarah 2:102, “Dan mereka mengikuti apa yang dibaca oleh setan-setan pada masa kerajaan Sulaiman (dan mereka mengatakan), bahwa Sulaiman itu mengerjakan sihir, padahal Sulaiman tidak kafir (tidak mengerjakan sihir), hanya setan-setan itulah yang kafir (mengerjakan sihir). Mereka mengajarkan sihir kepada manusia dan apa yang diturunkan kepada kedua orang malaikat di negeri Babil, yaitu Harut dan Marut, sedang keduanya tidak mengajarkan (sesuatu) kepada seorang pun sebelum mengatakan, "Sesungguhnya kami hanya cobaan (bagimu), sebab itu janganlah kamu kafir." Maka mereka mempelajari dari kedua malaikat itu apa yang dengan sihir itu, mereka dapat menceraikan antara seorang (suami) dengan istrinya. Dan mereka (ahli sihir) itu tidak memberi mudharat dengan sihirnya kepada seseorang pun kecuali dengan, izin Allah. Dan mereka mempelajari sesuatu yang memberi mudharat kepadanya dan tidak memberi manfaat. Demi, sesungguhnya mereka telah meyakini bahwa barangsiapa yang menukarnya (kitab Allah) dengan sihir itu tiadalah baginya keuntungan di akhirat, dan amat jahatlah perbuatan mereka menjual dirinya dengan sihir, kalau mereka mengetahui. Berdasarkan ayat tersebut, ada malaikat yang mengajarkan sihir, padahal mereka itu terjaga dari kemaksiatan. Dan mereka dapat mengajarkan sihir tentunya karena telah belajar mengenai hal itu. Jadi, hukum mempelajari sihir pun sama bolehnya dengan mengajarkannya. Tetapi pendapat yang membolehkan mempelajari sihir dengan alasan demikian ini ditolak, karena kedua malaikat itu mengajarkan sihir hanya untuk menguji dan membedakan mukjizat dengan sihir yang memang sangat diperlukan (mendesak) ketika itu. Hal itu yang tentunya tidak berlaku untuk zaman sekarang. Tetapi orang-orang yang mengharamkan sihir itu pun menyatakan, seandainya sihir itu telah menyebar luas dan diperlukan pengetahuan dan penguasaan mengenainya untuk menjelaskan bahaya sihir tersebut, di samping mengajak masyarakat untuk menjauhinya, maka mempelajari sihir tidak lagi menjadi haram. Seperti halnya orangorang yang mempelajari filsafat untuk membela agama dan dia sendiri akidahnya sudah mantap. Meskipun jika terang-terangan sihir itu diharamkan untuk dipelajari, tetap lebih baik. Dengan demikian, hal itu tergantung kepada niatnya. Argumentasi atau penggunaan dalil (istidlal) yang membolehkan mempelajari sihir dengan alasan bahwa ..kedua malak (malaikat) tersebut telah mengajarkannya, harus dibuktikan dengan pemaknaan bahwa kedua makhluk tersebut memang malaikat. Tetapi jika keduanya adalah setan atau dua orang laki-laki (manusia biasa), maka otomatis
http://www.akhirzaman.info/

Menolak dan Membentengi Diri dari Sihir

Abdul Kholiq Al-Athar

mempelajari sihir menjadi tidak boleh, karena yang pernah mengajarkan dan menyebarluaskannya pun adalah kedua makhluk jahat. Hikmah Diharamkannya Mempelajari Sihir Hal. Hal. | 106 Seperti telah dikemukakan, bahwa jumhur ulama mengharamkan mempelajari sihir dan mengajarkannya demi menutup bahaya yang lebih banyak. Sebab, bagaimanapun, siapa yang berenang di sekitar kolam larangan, maka boleh jadi dia terjerumus ke dalamnya. Maka siapa yang mempelajarinya, mungkin dia akan menggunakannya untuk mengganggu orang lain, atau akan membahayakan masyarakatnya. Mungkin juga dia akan meminta tolong kepada setan-setan kafir, sehingga dia mengatakan atau melakukan sesuatu yang bertentangan dengan ajaran Islam dan menyenangkan setan-setan terkutuk itu. Jadi, yang benar adalah pendapat jumhur (kebanyakan) ulama, sebab bagaimanapun sihir itu bagaikan pisau bermata dua. Di samping sihir tersebut dipelajari untuk sekadar pengetahuan dan untuk membedakannya dari mukjizat, ia juga bisa jadi dipakai untuk mengganggu orang lain atau membahayakan lingkungan/masyarakat. Meski boleh jadi suatu saat dapat mempertebal keimanan, tetapi juga sangat mungkin merangsang untuk melakukan kejahatan dan perbuatan maksiat. Sebagaimana telah dijelaskan sebelum ini. Di antara bahayanya, sihir kerap dipergunakan untuk mencerai-beraikan dua pasangan (antara suami dan istri, antara kawan, antara dua persekutuan, antara dua partai, antara dua kubu, dan lain-lainnya). Hal itu dilakukan dengan melenyapkan rasa cinta, rasa kekeluargaan, dan rasa persahabatan dari tiap-tiap orang tersebut. Kemudian dimasukkanlah rasa kebencian, rasa permusuhan, rasa saling mencurigai, dan lain-lain, sehingga pada akhirnya mereka pun berpisah (bercerai). Tentu saja hal itu berhasil jika Allah Subhanahu wa Ta'ala mengizinkannya, sebagaimana diisyaratkan oleh Allah Subhanahu wa Ta'ala, “Dan tidaklah mereka membahayakan seseorang pun kecuali dengan izin Allah Subhanahu wa Ta'ala (QS. AlBaqarah 2:102). Jadi, bagaimanapun, tergantung izin Allah Subhanahu wa Ta'ala. Karena Dia yang merangkaikan dan menghubungkan berbagai sebab dengan akibatnya, baik dalam sihir, maupun dalam masalah lainnya. Dengan kehendak dan izin Allah, orang yang sehat sering terpengaruh (tertular) penyakit orang yang sakit. Demikian.pula, Dia menghubungkan akibat-akibat sihir dengan sebab-sebabnya untuk berbagai hikmah yang hanya diketahui oleh-Nya. Tukang sihir hanyalah melatih diri dan mengikuti sebab-sebab atau suatu disiplin dalam dunia sihir, karena siapa pun tidak mempunyai kekuatan untuk melakukan sesuatu kecuali dengan izin dan kehendak Allah Subhanahu wa Ta'ala. Bahaya sihir yang lain ialah dapat menghilangkan rasa (feeling) dan mencabut kewarasan otak atau akal, di samping menyebarluaskan berbagai penyakit fisik dan psikis

http://www.akhirzaman.info/

Menolak dan Membentengi Diri dari Sihir

Abdul Kholiq Al-Athar

(kejiwaan), suka menipu, dan sering mengancam keamanan harta milik orang lain, sebagaimana akan dijelaskan secara rinci pada bab tertentu. Jadi, siapa yang mempelajari sihir, maka dia terancam untuk melakukan berbagai kejahatan dan kemaksiatan (kesalahan). Bagaimanapun, dia akan mencoba-coba Hal. Hal. | 107 mencocokkan atau mempraktikkan ilmunya dengan teorinya. Dia juga akan terdorong untuk menggunakannya pada hal-hal yang destruktif (membahayakan) meskipun mungkin, kadang-kadang digunakannya untuk menolong orang lain. Kemudian, semakin lama dia akan semakin berani menentang norma-norma agama dan sosial karena semakin berpengalaman, apalagi jika kehebatannya diakui oleh masyarakat. Bahkan yang lebih celaka, jika dia merasa telah menjadi manusia sakti, maka dia akan terdorong untuk melakukan apa saja yang diinginkannya. Untuk menghindarkan sihir dari manusia, Allah Subhanahu wa Ta'ala memperingatkan, “Demi, sesungguhnya mereka telah meyakini bahwa siapa yang menukarkannya (kitab Allah) dengan sihir itu, tiadalah baginya keuntungan di akhirat. Dan amat jahatlah perbuatan mereka menjual dirinya dengan sihir, kalau mereka mengetahui.” (QS. Al-Baqarah: 102). Maksudnya, sungguh buruk apa yang menjadi ganti (penukar) bagi dirinya sendiri dan kemuliaannya sebagai makhluk paling mulia. Juga lebih buruk daripada membersihkan jiwanya dengan mengikuti petunjuk kitab Allah (Taurat dan Alquran) yang menganjurkan untuk melakukan kebaikan dan menjauhi perbuatan jahat dan merugikan, memerintahkan ketakwaan, saling menyayangi dan menghargai. Ternyata mereka memilih sihir untuk menjadi isi jiwa mereka, yang akan merusak nilai-nilai pribadi, nilai kemanusiaan, dan norma-norma agama. Mereka itu, seakan-akan telah menjual dirinya kepada kepentingan setan-setan yang memperlakukan dia sekehendaknya. Sungguh, itu adalah seburuk-buruk jual-beli. Dan sungguh itu merupakan kerugian yang berlipat-ganda. Macam-Macam Sihir Syaikh Abu As-Su'ud dalam tafsirnya mengatakan bahwa sihir itu ada beberapa macam, antara lain sihir kaldaniyyin. Penganut sihir itu adalah kaum penyembah bintanggemintang, seraya mengaku bahwa bintang-bintang itulah yang mengatur alam ini. Mereka mempunyai dan menggunakan hal-hal yang luar biasa dengan mencampurkan antara kekuatan langit dan kekuatan bumi. Nabi Ibrahim a.s. sendiri diutus oleh Allah untuk membatalkan dan menghapuskan keyakinan mereka itu. Para penyembah bintang itu ada tiga kelompok. Kelompok pertama berkeyakinan bahwa bintang-bintang itu wajib adanya dengan zatnya sendiri. Kelompok pertama ini disebut kaum Shabi'ah. Sedang kelompok kedua berkeyakinan bahwa aflak (bintanggemintang) itu sebagai tuhan. Dan untuk masing-masing bintang itu oleh penyembahnya dibuatkan suatu haikal (kuil/tempat ibadah). Mereka selalu sibuk untuk berkhidmat kepada tuhan-tuhannya itu. Mereka itu para penyembah berhala (patung-patung).
http://www.akhirzaman.info/

Menolak dan Membentengi Diri dari Sihir

Abdul Kholiq Al-Athar

Hal. Hal. | 108

Sedang kelompok ketiga adalah mereka yang menetapkan bahwa bintang-gemintang itu mempunyai pelaku mukhtar yang bebas memilih. Tetapi mereka mengatakan, bahwa pelaku tersebut memberikan kekuatan (kekuasaan) yang tinggi pada bintang-bintang tersebut yang berpengaruh terhadap alam ini. Bahkan dia menyerahkan pengaturan alam ini kepada semua bintang-bintang tersebut. Macam kedua adalah sihir yang dimiliki oleh mereka yang mempunyai angan-angan dan jiwa yang kuat. Mereka berkeyakinan bahwa manusia, jika ruhnya disucikan, akan mempunyai kekuatan yang berpengaruh (berperan) untuk mengadakan manfaat, menghilangkan suatu jiwa, menghidupkan seseorang atau suatu jiwa, mematikan, dan bahkan mengubah bentuk makhluk. Macam ketiga ialah sihir orang yang biasa meminta tolong kepada arwah (ruh-ruh) yang ada di bumi. Sihir tersebut dinamai azimat-azimat dan penunduk jin. Ada juga sihir takhyil, yaitu menggambarkan atau mengkhayalkan yang biasa menarik perhatian mata, atau yang lebih populer disebut sulap. Pendapat Agama Mengenai Macam-Macam Sihir Tersebut Syaikh Abu Su'ud, Mufti Rum (Rumawi), dalam tafsirnya mengatakan bahwa tidak ada khilaf (pertentangan) di antara umat Islam bahwa siapa yang mempunyai iktikad atau keyakinan yang sejalan dengan sihir kaldiniyyin atau ketiga macamnya, dia adalah kafir. Demikian pula orang yang meyakini dan mengamalkan sihir awham dan nufus qawiyyah, sihir yang dimiliki oleh orang yang mempunyai angan-angan dan jiwa yang kuat. Ada juga orang yang meyakini, bahwa dengan penyucian jiwa disertai membaca azimat dan ruqyah - zikir dan doa - sebanyak-banyaknya, dia akan mendapat keistimewaan sesuai dengan yang dikehendaki Allah. Tetapi keistimewaari tersebut sesuai dengan kebiasaan (rasional). Menurut Mu'tazilah, keyakinan demikian pun haram dan menyeret orang yang mengakuinya kepada kekufuran. Iktikad atau keyakinan demikian, tidak akan membuat manusia mengenal kebenaran para nabi dan rasul a.s. Jika kestimewaan seperti itu betul-betul tercapai, maka manusia boleh jadi mengingkari para nabi dan rasul. Selanjutnya, menurut Syaikh Abu Su'ud, jika kita cermati secara teliti, orang yang menekuni hal itu adalah orang baik dan mengikuti syariat Islam dalam berbagai halnya, yakni dalam ketaatan melaksanakan perintah dan menjauhi larangannya. Sedang yang dimintai tolong atau bantuannya pun adalah arwah (ruh-ruh) yang baik-baik saja, sementara azimat dan ruqyah (jampi-jampinya) pun tidak bertentangan dengan syariat Islam. Demikian pula, keistimewaan atau keluarbiasaan yang ada padanya pun tidak membawa dampak negatif terhadap orang lain. Maka kelebihan yang demikian itu bukan sihir yang diharamkan. Tetapi, jika orang tersebut ternyata jahat, dan tidak berpegang teguh kepada syariat Islam, dan ruh-ruh yang diajak kerja samanya pun ruh-ruh jahat, maka dia dapat menjadi kafir dengan keyakinan dan perilakunya itu.
http://www.akhirzaman.info/

Menolak dan Membentengi Diri dari Sihir

Abdul Kholiq Al-Athar

Adapun sulap dan yang sepertinya, yang biasa memperlihatkan hal-hal ajaib melalui perantaraan pengaturan-alat-alat ukur dan kecepatan atau ketangkasan tangan, ditambah dengan bantuan obat-obat tertentu dan batu-batu khusus, maka sihir demikian dibolehkan. Hal. Hal. | 109 Jadi, sesuai dengan penelitian Syaikh Abu Su'ud, sihir yang mengandung manfaat yang dikuasai dan dikendalikan oleh orang yang taat mengamalkan syariat itu boleh yaiz). Karena arwah atau ruh-ruh yang dijadikan alat bantunya pun arwah yang baik-baik. Dia pun -tidak menggunakan azimat-azimat yang bertentangan dengan syariat Islam. Bahkan amalan demikian tidak boleh disebut sebagai sihir. Adapun orang-orang yang biasa meminta tolong kepada arwah yang jahat, maka dia adalah kafir sebab, dia tidak akan ditolong oleh arwah tersebut kecuali jika ideologi dan keyakinannya sama. Itulah yang disebut ahli atau tukang sihir. Itulah sihir yang dilarang oleh Alquran untuk dipelajari dan diajarkan. Jika demikian, maka pendapat mazhab Syaikh Abu Su'ud dalam masalah ini sama dengan pendapat mazhab Ar-Razy. Sekarang, setelah diteliti secara cermat, jelaslah bahwa secara mutlak sihir itu diharamkan karena sihir itu seperti pisau bermata dua. Sementara ahli sihir itu tidak akan pernah luput dari ketergelinciran dan kecelakaan. Kemudian, jika kita perhatikan perkataan dan kajian Syaikh Abu Su'ud, jelaslah bahwa sulap itu tidak termasuk sihir. Oleh karena itu, sya'wadzah (sulap) tidak termasuk yang dilarang. Gambaran-Gambaran Ajaib dari Sihir dan Sulap (Sya'wadzah) Ketika tentara Salib singgah di suatu tempat yang disebut Dimyath; pada masa sultan Shalahuddin Al-Ayyubi, dia (Shalahuddin) mengepung mereka selama tiga puluh lima hari. Kemudian terjadi peperangan, dan peperangan tersebut dimenangkan oleh umat Islam. Akibatnya, tentara Salib mundur kocar-kacir. Kemudian, ketika dia bermaksud akan mengunjungi Syam (Syria), dia pergi ke negeri tersebut lewat laut. Dia singgah di suatu lapangan yang luas di Damaskus. Di sana dia menyaksikan banyak pegulat (gladiator) dan Para pemain. Ada seseorang yang tampak asing datang menghampirinya. Orang itu menawarkan kepada Sultan Shalahuddin untuk memperlihatkan sulapnya, dan dia berkenan untuk menyaksikannya. Lalu ahli sulap itu membuat kemah di tengah lapangan di hadapan Sultan Shalahuddin. Orang itu memulai sulapnya dengan mengeluarkan sebuah bola dari benang. Dia mengikatkan benang itu pada tangannya, kemudian dia lemparkan bola tersebut ke angkasa (langit) sekuat tenaganya. Lalu dia bergantung pada benang tersebut sampai akhirnya dia menghilang dan tidak diketahui ke mana perginya.

http://www.akhirzaman.info/

Menolak dan Membentengi Diri dari Sihir

Abdul Kholiq Al-Athar

Setelah beberapa saat, salah satu kakinya jatuh dan merayap menuju kemah dan memasukinya. Lalu jatuh pula salah satu tangannya, seraya merayap dan masuk ke dalam kemah. Demikian pula yang terjadi pada tangan dan kaki yang satunya lagi. Demikianlah semua anggota tubuh lainnya, semua berjatuhan satu per satu. Dan, pada giliran terakhir, jatuh pulalah kepalanya lalu merayap menuju kemah. Setelah beberapa menit, keluarlah Hal. Hal. | 110 orang asing itu dari kemah dengan kelengkapan anggota tubuh-nya secara sempurna. Kemudian dia menghadap Sultan, seraya mencium bumi di depannya. Melihat keajaiban tersebut, orang-orang kagum penuh keheranan. Kemudian dia masuk kemah lagi di hadapan orang banyak. Seseorang yang menemani dia berkata kepada semua yang hadir, "Silakan masuk dan cari, adakah seseorang di dalam kemah itu." Mereka pun memasuki kemah dan ternyata tidak menemukan siapa-siapa. Lalu mereka merobohkan kemah dan mendirikannya lagi di tempat lain. Ternyata orang tadi keluar dari kemah tersebut, seraya berjalan dengan kedua kakinya. Tentu saja, keajaiban seperti itu membuat kagum dan heran orang-orang, khususnya yang ada ketika itu. Sulap seperti ini, sering kita saksikan di layar televisi di zaman modern sekarang ini. Tetapi amir (admiral, sang pemimpin) S. Akhlathy tidak menyukai sulap seperti itu. Dia marah dan memukul leher orang tersebut di hadapan banyak orang. Kemudian dia berkata kepada Malik An-Nashir, "Orang seperti ini tidak dapat dipercaya untuk menjadi mata-mata tentara Salib." Ketika amir tersebut akan membunuh temannya yaitu ahli sulapnya sendiri, dia meminta perlindungan kepada Malik An-Nashir. Dia mengaku sebetulnya tidak mengetahui ilmu sulap sebelum itu. Dia hanya mengetahuinya tanpa disengaja. Apa yang dilakukannya itu tidak dikenal sebelumnya. Demi keselamatannya, Malik An-Nashir memerintahkan dia untuk keluar dari kota Damaskus dengan segera sebab jika tidak, akan ada orang yang membunuhnya. Ketika itu pula dia pergi meninggalkan kota Damaskus. Kisah ini ditulis Ibn Iyas dalam Tarikh-nya. Ibn lyas juga menyebutkan suatu kisah yang terjadi pada masa pemerintahan Malik Al-Kamil Al-Ayyubi. Pernah ada seseorang Maghriby, orang Maroko, yang memasuki kota Mesir. Dia adalah seorang pakar seni teater (seni sinema) yang disebut juga pakar sihir. Dia memperlihatkan kepada salah seorang tokoh masyarakat suatu kebun di luar kota Kairo. Kebun tersebut dihiasi dengan berbagai pepohonan yang rindang dan berbuah. Di dalamnya juga terdapat lima penjual tepung (tukang sayur-mayur) dan bahkan ada beberapa ekor sapi. Para pekerja kebun tersebut tampak sedang berjaga-jaga di sekitar kebun. Tentu saja, orang yang menyaksikan keajaiban itu merasa kagum penuh keheranan. Tanpa berpikir panjang, tokoh masyarakat itu membeli kebun (fiktif) itu dari orang Maghribi dengan harga seribu dinar. Lalu uang itu pun diambilnya. Orang Maghribi (Maroko) itu menjualnya di hadapan hakim (tuan qadi), sehingga orang yang membeli kebun tersebut merasa tenteram bahwa dirinya telah membeli dan mendapatkan kebun (fiktif) tersebut. Mulailah orang tersebut menikmati kebunnya dengan tidur di dalamnya. Tetapi, tatkala dia bangun di pagi harinya, ternyata dia tidak menemukan apa-apa. Lalu dia
http://www.akhirzaman.info/

Menolak dan Membentengi Diri dari Sihir

Abdul Kholiq Al-Athar

bertanya kepada orang-orang di sekitarnya, "Pernahkah ada kebun seperti yang digambarkan itu?" Ternyata orang-orang menjawab, "Kami sama sekali tidak pernah melihat kebun semacam itu." Ramailah orang-orang membicarakan kejadian aneh tersebut. Ketika kejadian itu sampai kepada Al-Malik Al-Kamil, dia mencari orang Maghribi tersebut, tetapi tidak rnendapatkannya. Orang Maghribi itu mengambil uang yang seribu Hal. Hal. | 111 dinar, lalu pergi. Menurut Ibn Iyas, raja-raja Yaman pernah menghadiahkan sebuah menara/kubah berlampu (semacam kap yang ada lampunya) yang terbuat dari tembaga yang bagus kepada Raja AI-Kamil. Keajaibannya, dari menara atau kubah tersebut keluar seseorang yang kulitnya dari tembaga ketika fajar terbit. Dia berkata kepada Raja Al-Kamil, "Selamat pagi, semoga engkau baik-baik saja." Hal itu dikatakannya pada setiap terbit fajar. Maksud perkataannya di sini adalah suara peluit yang keluar dari kubah tersebut maknanya seperti itu. Kubah tersebut tetap ada sampai masa kerajaan An-Nashir, Muhammad bin Qalawun. Setelah itu baru hilang. Ibn Batutah, sang pengembara, menceritakan ketika dia pergi melancong ke negeri Cina, dia dipanggil (dijamu) oleh salah seorang amir (gubernur) dengan menghadirkan salah seorang ahli sulap. Amir itu berkata, "Silakan, perlihatkan kepada saya keajaibanmu." Pesulap itu mengambil sebuah bola yang diikat dengan seutas tali yang panjang. Dia melemparkan bola itu ke udara sampai tidak kelihatan lagi. Ketika talinya hanya tertinggal sedikit, dia menyuruh salah seorang muridnya untuk naik. Muridnya lalu bergantung pada tali (dari benang) tersebut. Dia naik sampai jauh, bahkan sampai tidak kelihatan lagi. Gurunya memanggilnya sebanyak tiga kali, tetapi tidak ada jawaban. Dengan marah dia mengambil sebilah pisau, lalu naik sambil bergantung pada tali tersebut sampai tidak terlihat lagi. Kemudian pesulap itu dari udara melemparkan satu tangan muridnya ke bumi. Lalu dia melemparkan tangan yang satunya lagi. Bahkan semua anggota tubuhnya dia lemparkan satu per satu. Lalu dia turun sambil meniup-niup (terengah-engah) dan bajunya penuh dengan lumuran darah. Kemudian dia mencium bumi di depan amir (Gubernur). Lalu dia diajak bicara oleh amir dengan bahasa Cina. Selanjutnya dia disuruh untuk menyambung-nyambungkan badan anak itu. Lalu, tukang sulap itu menyambungnyambungkan lagi badan muridnya. Kemudian dia menginjak-injak dengan kakinya. Akhirnya anak itu pun hidup lagi dan berdiri di depan amir. Menyaksikan kejadian yang mengagumkan tersebut, Ibn Batutah, sang pengembara, merasa kagum. Lalu ada yang berkata kepadanya, bahwa sebetulnya peristiwa tersebut tidak terjadi sesungguhnya dan itu hanyalah kelihaian tukang sulap di Cina saja. Sihir di Tibet dan India
http://www.akhirzaman.info/

Menolak dan Membentengi Diri dari Sihir

Abdul Kholiq Al-Athar

Surat kabar Al-Muqthim, edisi terbitan 21 Desember 1933, menulis suatu artikel yang diterjemahkan dari suatu kitab karangan Dr. Al-Kasandra. Dia dikenal sebagai dokter psikologi di sebuah rumah sakit jiwa di London. Kitab yang dikarang dokter tersebut berjudul Al- Am Ghair Al-Mutathawwir "Dunia yang Tidak Berkembang". Hal. Hal. | 112 Dalam artikel terjemahan tersebut disebutkan dua kejadian luar biasa semacam sihir. Dua kejadian ajaib tersebut diungkapkan oleh Almarhum Syaikh Muhammad Rasyid Ridha dalam kitabnya Wahyu Muhammad. Kami menghikayatkannya kembali dari kitab karangan Rasyid Ridha tersebut. Dr. Kasandra sendiri banyak memperhatikan dan meneliti serta memperbincangkan dalam bukunya itu - masalah menidurkan (membuat tidur) secara magnetis pasiennya. Juga dibahas masalah black magic (sihir hitam) dan selain kedua masalah gaib tersebut yang biasa dilatih dan diperagakan oleh para ahli sihir India (Hind) dan Tibet. Bahkan ahli riyadhah ruhiyyah (latihan tenaga dalam) pun biasa melakikan -keajaiban tersebut. Kami akan mengungkapkan kedua kejadian ajaib tersebut. 1. Dr. Kasandra mempunyai seorang teman (seorang profesor). Dia dikenal seorang sufi India. Profesor tersebut pernah memanggil sang dokter untuk mengunjungi seorang ahli tasawuf India. Ketika keduanya mengunjungi ahli tasawuf tersebut, mereka mendapatkannya sedang berbincang-bincang dengan sebatang pohon tin. Dia berkata, "Sungguh engkau bagus dan berjasa bagi kehidupan. Engkau, bahkan telah menghibur jiwaku dan menyembuhkannya. Sekarang telah tiba masa kepergianmu dari alam ini, alam yang penuh kepalsuan dan alam fana, tidak kekal. Matilah sekarang dan jangan kembali lagi untuk kedua kalinya." Begitu selesai dia berbicara, layulah pohon tin tersebut. Dokter pun memeriksanya dan ternyata pohon tersebut memang telah mati. 2. Dr. Kasandra juga pernah mendatangi Lama - atau Dalai Lama? - di Tibet. Dia digelari masyarakatnya sebagai hukama yang agung (filosof besar). Tuan dokter menemukan pada tokoh tersebut delapan orang laki-laki yang membawa sebuah peti. Mereka lalu menurunkan peti tersebut, kemudian tutupnya dibuka. Sang dokter tampak terkejut, ketika melihat ada seseorang yang mukanya seperti muka mayat di dalam peti tersebut. Lama itu memperkenankan tuan dokter memeriksanya. Ternyata sang dokter menemukan denyut nadi orang yang di dalam peti itu telah berhenti, dan badannya terasa sangat dingin seperti batu. Kedua matanya tampak seperti telah tertutup selama satu hari penuh, dalam keadaan mati. Kemudian diletakkan cermin di depan mulut dan hidungnya, ternyata tidak ada bekas napasnya. Tuan Lama lalu mengucapkan beberapa kata. Kami pun menyaksikan kedua mata orang tersebut mulai terbuka. Kemudian dia duduk pada petinya. Lalu dengan dibantu oleh dua orang pendeta, dia berdiri dan berjalan. Kemudian dia mendekati Lama dan menundukkan kepalanya kepada Lama, lalu dia kembali lagi ke dalam peti (usungan mayat)-nya. Tetapi dia terus-menerus memandang Lama. Beberapa saat, dia kembali mati lagi.
http://www.akhirzaman.info/

Menolak dan Membentengi Diri dari Sihir

Abdul Kholiq Al-Athar

Anda sendiri pernah mengetahui bahwa Nabi Isa a.s. pernah diberi kemampuan oleh Allah untuk menghidupkan orang yang mati. Beliau pun pernah berkata kepada pohon tin, "Matilah!" Dan ternyata pohon itu mati. Tetapi, tentu saja, apa yang dilakukan Nabi Isa a.s. bukan sihir dan tidak menggunakan perantara yang biasa dipergunakan oleh ahli sihir. Beliau juga tidak meminta bantuan jin. Berbeda dengan para nabi, para ahli sihir itu tidak Hal. Hal. | 113 akan dapat melakukan aksinya kecuali dengan menggunakan jasa jin, baik untuk mematikan pepohonan ataupun untuk menghidupkan yang mati. Mayat itu segera kehilangan daya hidupnya dalam beberapa detik (menit) saja; bahkan nyaris hanya untuk memperlihatkan keajaiban ahli sihir (Lama) dalam menghidupkan orang yang mati saja. Dan apa yang terjadi pada ahli sihir bukanlah kejadian yang sesungguhnya, tetapi hanya berupa sihir, yaitu dengan menyulap pandangan atau mata orang yang menyaksikannya. Hal ini sebagaimana yang pernah dilakukan oleh seorang Maghribi yang menjual kebunnya kepada orang Mesir, lengkap dengan segala pepohonannya, penjual tepung (sayur-mayur), binatangnya, dan para karyawannya. Kemudian orang Mesir itu tidur di kebunnya. Ketika dia bangun di pagi hari, ternyata dia tidak mendapatkan apa-apa. Jadi, kebunnya adalah kebun fiktif, hanya dalam pandangan mata orang Mesir tersebut yang telah tertipu dan tersihir oleh orang Maghribi itu. Sebenarnya di daerah tersebut tidak ada kebun, sebagaimana yang dikenal oleh masyarakat sekitar tempat itu. Oleh karena itu, Lama - seorang sufi India - itu pun tidak mampu menghidupkan orang yang telah mati tersebut lebih lama dari masa keberadaan kebun yang diciptakan secara fiktif oleh orang Maghribi. Hal ini berbeda dengan apa yang dilakukan oleh Nabi Isa a.s. Orang yang dihidupkan kembali oleh dia dapat hidup dalam jangka waktu lama, sampai mati kembali ketika ajalnya telah tiba. Syaikh Muhammad Rasyid Ridha juga menceritakan seorang Muslim yang mempunyai akidah kuat dan selalu beribadah. Dia dikenal saleh di negerinya dan lebih sering dipanggil dengan nama Syaikh Muhammad Al-Ashafiry. Dia pernah memandang sebuah pohon tin dan berkata padanya, "Engkau miskin (kasihan sekali), dan akan mati." Tiba-tiba pohon tin tersebut pun layu dan kering, lalu matilah. Jika hal demikian terjadi pada seorang Muslim yang tidak mempelajari dan mengamalkan sihir, maka hal itu merupakan suatu karamah, yaitu kemuliaan yang diberikan Allah Subhanahu wa Ta'ala kepadanya. Dia tidak pernah mempelajari, apalagi mengajarkan sihir. Dia hanya orang biasa yang rajin beribadah dengan ikhlas kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala. Sihir pada Masa Sultan Ghawri Pada masa Sultan Ghawri pernah terjadi keajaiban sihir. Dengan tuduhan sebagai ahli sihir yang zindiq (kafir), seseorang dihadapkan kepada Sultan. Dia berwudu dengan air susu dan beristinja - bersuci setelah selesai buang air kecil atau buang air besar dengan air susu juga. Bahkan dia pun banyak melakukan perbuatan yang bertentangan
http://www.akhirzaman.info/

Menolak dan Membentengi Diri dari Sihir

Abdul Kholiq Al-Athar

Hal. Hal. | 114

dengan syariat Islam selain yang telah disebutkan itu. Kemudian dia dibawa ke hadapan qadhi (hakim) Al-Maliky. Hakim membenarkan tuduhan yang dikenakan kepada ahli sihir tersebut. Lalu dia dihukum kafir dan harus dipenggal lehernya. Keputusan itu lalu dilaksanakan di bawah jendela di sebuah madrasah. Sebelumnya, dia dikenalkan kepada khalayak ramai dalam keadaan telanjang di atas seekor unta. Keajaiban Doktor Salamun Di negeri kami pernah ada seseorang yang asing melewat. Dia mengaku sebagai Dr. Salamun. Dia mempunyai keajaiban sihir dan dapat menidurkan seseorang secara magnetik. Dia juga mempunyai kekuatan batin dan kemampuan seperti itu hasil dari pelatihan (riyadhah) sebagaimana yang dilakukan oleh para ahli sihir India dan Tibet. Di antara keajaibannya adalah dia pernah meletakkan gelas kosong yang terbuat dari alumunium pada tangan Almarhum Sa'd Zaghlul Basya yang ketika itu menjadi perdana menteri Mesir. Dr. Salamun memandangi gelas tersebut sampai menjadi berat. Bahkan perdana menteri itu tidak mampu lagi menahan berat gelas tersebut. Lalu gelas itu dilepaskan dari tangannya. Kejadian ajaib lainnya, dia pernah mengubur dirinya di dalam tanah selama enam jam di kota Iskandariyah. Hal itu dia lakukan di depan sejumlah dokter. Kemudian dia keluar dalam keadaan hidup. Padahal menurut kebiasaan, jika ada manusia yang dipendam di bawah tanah tanpa ada udara segar untuk bernapas dalam beberapa detik saja orang itu akan mati. Demikian pula, dia pernah membuat seseorang tidur. Lalu orang yang tertidur itu dapat memberitahukan seseorang dari keluarganya yang telah mati selama dua puluh tahun. Disebutkan bahwa dia hidup di bagian selatan kota tertentu. Dia juga menyebutkan bahwa dirinya mengelola suatu kedai (toko) di negeri tersebut. Bahkan dia mengaku menikahi putri pemilik toko tersebut. Setelah mertuanya meninggal, maka dialah yang berkuasa untuk mengelola toko tersebut dengan penuh keleluasaan. Dia juga menyebutkan nomor telepon keluarganya. Lalu mereka pun berbicara dengannya, dan ia merespon pembicaraan itu. Lalu hubungannya dengan keluarganya itu kembali normal lagi. Sihir Orang Mesir (Bagian) Atas Pada permulaan abad ini terdapat seorang ahli sihir Mesir (bagian) atas, yaitu Sahir Al-Wajh Al-Qubuly. Dia meminta kepada semua pemimpin untuk melemparkan cincinnya ke laut. Jika mereka lakukan itu, dia berjanji akan mengembalikan cincinnya kepada mereka. Dan tentu saja hal itu terjadi. Bahkan dia mempunyai banyak keajaiban lainnya. Setelah dia meninggal, rupanya anaknya ingin mengikuti jejak sang ayah, yakni mendalami sihir. Tetapi niatnya itu dicegat oleh ibunya. Ibunya tidak ingin anaknya itu menjadi kafir seperti ayahnya.
http://www.akhirzaman.info/

Menolak dan Membentengi Diri dari Sihir

Abdul Kholiq Al-Athar

Sang anak tetap penasaran untuk menanyakan alasan dilarangnya dia menjadi tukang sihir. Maka sang ibu pun membuka lemari. Keluarlah darinya sebuah patung. Ibu itu berkata kepada anaknya, "Sesungguhnya ketika ayahmu hidup dan menjadi ahli sihir, dia menyembah patung ini supaya mendapatkan pertolongan dan bantuan dari setansetan dalam melahirkan hal-hal ajaib. Maka, pesan ibunya itu, "Kamu jangan menjadi kafir Hal. Hal. | 115 seperti ayahmu." Kisah ini telah diceritakan oleh guru kami Syaikh Al-Adawy semoga mendapat ampunan dosa dari Allah - dengan menjelaskan firman Allah Subhanahu wa Ta'ala berikut ini, Dan (ingatlah) hari ketika Allah menghimpun mereka semuanya, (dan Allah berfirman), "Hai golongan jin (setan), sesungguhnya kamu telah banyak (menyesatkan) manusia", lalu berkatalah kawan-kawan mereka dari golongan manusia, "Ya Tuhan kami, sesungguhnya sebagian kami telah mendapat kesenangan dari sebagian (yang lainnya) dan kami telah sampai kepada waktu yang telah Engkau tentukan bagi kami." Allah berfirman, "Neraka itulah tempat diam kamu, sedang kamu kekal di dalamnya, kecuali jika Allah meng hendaki (yang lainnya). Sesungguhnya Tuhanmu Mahabijaksana lagi Maha Mengetahui." (QS. AlAn'am 6:128). Pelajaran Jika Anda telah mengetahui problematika sihir yang membahayakan itu, wahai saudaraku yang Muslim, maka hati-hatilah dan menjauhlah dari sihir supaya akidah Anda tidak tergelincir. Dan jika Anda menghindar dari sihir, maka Anda pun akan selamat dan tidak akan menyimpang dari ajaran Islam. Hanya Allah yang memberi hidayah dan petunjuk ke jalan yang benar dan lurus. Jin Termasuk Salah Satu Ats-Tsaqalain Jika telah diketahui bahwa sihir lebih banyak bergantung pada pemanfaatan tenaga atau jasa jin, maka ketahuilah bahwa kaum jin itu adalah salah satu tsaqalain (jin dan manusia), yang kepada mereka Nabi Muhammad Shallallahu 'Alaihi wa Sallam diutus oleh Allah Subhanahu wa Ta'ala. Sebagian mereka ada yang Muslim, dan sebagian lagi kafir. Mereka juga disebutkan oleh Alquran dalam beberapa tempat dan kesempatan. Bahkan ada surah khusus secara lengkap membicarakan tentang mereka. Atas dasar itu, maka wajiblah kita mengimani keberadaan mereka, dan mengimani bahwa Nabi Muhammad Shallallahu 'Alaihi wa Sallam pun diutus kepada mereka. Jika Anda mengetahui hal ini, tentu Anda ingin mengetahui hakikat mereka, perbuatan, dan tempat tinggalnya, serta berbagai hal mengenai mereka. Untuk itulah, saya menulis bab khusus yang membicarakan mereka, sehingga jelaslah segala permasalahan mengenai mereka. Hakikat Jin

http://www.akhirzaman.info/

Menolak dan Membentengi Diri dari Sihir

Abdul Kholiq Al-Athar

Kata jin" merupakan isim jenis dan berbentuk jamak. Mufradnya adalah jinny. Mereka adalah makhluk Allah yang secara fisik lebih merupakan makhluk bangsa api. Sebagian mereka atau keseluruhannya dapat berubah-ubah bentuk dengan bentuk yang macam-macam. Menurut hakikat keberadaannya, jin lebih sering menyamar (tidak Hal. Hal. | 116 menampakkan diri). Hal ini seperti diisyaratkan firman Allah Subhanahu wa Ta'ala, Apakah kamu sekalian hendak berbantah dengan aku tentang nama-nama (berhala) yang kamu dan nenek moyangmu menamakannya, padahal Allah sekal-ikali tidak menurunkan hujjah untuk itu? Maka tunggulah (azab itu). Sesungguhnya aku juga termasuk orang yang menunggu bersama kamu." (QS. Al-A’raf 7:71). Kadang-kadang jin itu juga terlihat dalam bentuknya yang tidak asli. Adapun bentuk yang sesungguhnya hanya akan dilihat oleh para nabi tertentu. Jin mempunyai kekuatan untuk melakukan hal-hal yang berat, misalnya dia mempunyai kesanggupan untuk memindahkan singgasana Ratu Balqis dari negeri Saba' ke negeri Syam. Dia berjanji akan memindahkannya sebelum Nabi Sulaiman pindah dari tempat duduknya, yakni sebelum beliau a.s. berpindah tempat duduk untuk menghukum manusia yang perlu dihukum. Mereka juga termasuk makhluk yang mempunyai akal yang penuh dengan kesadaran. Dan atas dasar itu, mereka juga ditaklif atau dibebani untuk beriman kepada Nabi Muhammad Shallallahu 'Alaihi wa Sallam, dan memang ada sebagian di antara mereka yang mengimaninya. Sebagaimana hal ini diisyaratkan oleh firman Allah Subhanahu wa Ta'ala, Dan sesungguhnya kami tatkala mendengar petunjuk (Alquran) kami beriman kepadanya. Barangsiapa beriman kepada Tuhannya, maka dia tidak takut akan pengurangan pahala, dan tidak (takut pula) akan penambahan dosa dan kesalahan (QS. Al Jinn 72:13). Fisik-fisik jin, di samping mempunyai kemampuan luar biasa, juga halus (lembut). Dan tidak ada halangan, secara rasional, jika sebagian jin yang mempunyai fisik halus itu keistimewaannya berbeda dengan jenis jin lainnya. Boleh jadi juga, mereka mempunyai kekuatan dan kemampuan yang luar biasa ajaibnya. Dan alam, termasuk alam jin, yang mempunyai banyak rahasia, rupanya dapat membuat akal manusia dan pikirannya bingung. Maka, subhanallah "Mahasuci Allah" yang telah menciptakan makhluk ini dengan penuh keajaiban. Dia-lah Yang Maha Pencipta dan Mahaagung dan Mahakuasa. Sebagian ahli filsafat ada yang mengingkari eksistensi jin. Tetapi sejumlah besar dari para filosof terdahulu dan mereka yang mempunyai kemampuan batin (ar-ruhaniyyat) mengakui keberadaan mereka. Mereka menyebut bangsa jin itu sebagai arwah sufliyyah (arwah yang rendah). Para filosof itu menganggap bahwa jin termasuk jawahir (partikel) yang berdiri sendiri dan tidak merupakan ajsam (fisikal). Sebagian mereka baik dan sebagian lainnya jahat. Dan menurut hakikatnya, mereka itu bermacam-macam,

http://www.akhirzaman.info/

Menolak dan Membentengi Diri dari Sihir

Abdul Kholiq Al-Athar

sedangkan jumlah dan macam-macamnya tidak diketahui kecuali oleh Allah Subhanahu wa Ta'ala. Bagaimanapun, Islam mewajibkan umatnya untuk mengimani keberadaan mereka. Bahkan Islam mengafirkan orang yang mengingkari keberadaan jin, sebab mengingkari Hal. Hal. | 117 keberadaan jin berarti membohongkan sebagian kandungan Alquran. Dan sebagaimana Alquran menetapkan wujud atau keberadaan mereka, maka demikian pula yang ditetapkan sunnah. Jumhur (mayoritas) penganut paham agama mengakui keberadaan jin. Demikian pula, kebanyakan para pemikir di zaman sekarang pun mengakui keberadaan mereka. Menurut kelompok manusia yang disebut terakhir ini, jin itu berada di balik alam nyata yang materil, dan mereka tidak diketahui oleh mata lahir manusia. Dengan kata lain, para jin itu tidak tampak dalam pandangan manusia. Mereka juga mempunyai majalah khusus sebagai media komunikasinya dengan menggunakan namanama mereka. Itu terdapat di Eropa dan di negeri-negeri lainnya. Yang mereka bahas khususnya mengenai alam ruh (alam metafisik)? Asal-Usul Jin Al-Qurthubi mengatakan bahwa ahli ilmu - para ulama berbeda pendapat mengenai asal-usul jin. Ismail meriwayatkan dari Hasan Bashri, bahwa jin itu anak keturunan Iblis. Sedang manusia adalah anak keturunan Adam a.s. Di antara mereka, baik jin maupun manusia, ada yang kafir dan ada yang mukmin. Mereka juga sama-sama berhak mendapat pahala atau terbebani siksa. Siapa di antara mereka - dari jin dan manusia - yang mukmin, maka dia adalah wali Allah atau hamba-Nya yang saleh. Dan siapa di antara mereka yang kafir, maka dia adalah setan. Seperti diketahui, setan itu terdiri dari kelompok jin dan manusia. Lihat surah An-Nas. Sementara, Adh-Dhahhak meriwayatkan dari Ibn Abbas r.a. bahwa jin itu adalah anak cucu Al Jann (jin-jin). Dan mereka bukan setan-setan; di antara mereka ada yang mukmin dan ada pula yang kafir. Sementara, setan-setan adalah anak cucu Iblis. Mereka tidak mati kecuali bersama-sama dengan Iblis. Para ulama juga berbeda pendapat mengenai jin mukmin, apakah dia masuk surga atau tidak? Sesuai dengan perbedaan para ulama mengenai asal-usul jin, maka menurut mereka yang berkeyakinan bahwa jin itu adalah keturunan makhluk kelompok jin, dan bukan keturunan Iblis, jin yang mukmin di antara rnereka dapat masuk surga. Sedang, menurut mereka yang ber-Pendapat bahwa jin itu anak cucu keturunan Iblis, maka di sini ada dua pendapat. Pertama, kelompok ini ditokohi oleh Al-Hasan Al-Bashry, bahwa sesuai dengan keimanannya, mereka masuk surga. Tetapi, menurut pendapat kedua yang dipfmpin oleh Mujahid, mereka itu tidak masuk surga, tetapi dijauhkan dari neraka. Demikian diriwayatkan oleh Al-Mawardy. Inilah menurut pendapat Al-Qurthubi. Kedudukan (Posisi) Jin Terhadap Dakwah Nabi Muhammad Shallallahu 'Alaihi wa Sallam

http://www.akhirzaman.info/

Menolak dan Membentengi Diri dari Sihir

Abdul Kholiq Al-Athar

Jin pernah bertemu sebagai perutusan dengan Nabi Muhammad Shallallahu 'Alaihi wa Sallam. Pertemuan Pertama Hal. Hal. | 118 Untuk kali pertama ini, Nabi Muhammad Shallallahu 'Alaihi wa Sallam tidak melihat mereka. Diriwayatkan dalam Shahihain dan Imam Turmudzi dari Ibn Abbas r.a. - redaksi ini dari Imam Muslim, "Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam tidak membacakan Alquran pada jin, dan beliau tidak melihat mereka. Suatu ketika Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam pergi dengan beberapa orang sahabatnya menuju pasar Ukazh. Ketika itu ada penghalang antara setan-setan dengan berita dari langit. Dan ada cahaya api yang dilemparkan kepada setan-setan itu. Maka setan-setan itu pulang kepada kaumnya. Mereka ditanya oleh kawan-kawannya, "Mengapa kalian pulang?" Terdapat penghalang di antara kami dengan berita dari langit; dan ada cahaya api yang dilemparkan kepada kami," demikian jawabnya. Kawan-kawannya berkata, "Itu hanyalah disebabkan sesuatu yang telah teijadi. Maka sekarang pergilah ke arah timur dan barat dari bumi ini. Dan cari tahulah, apa sebenarnya yang menjadi penghalang di antara kita dengan berita dari langit itu?" Lalu mereka pun pergi ke barat dan timur. Pergilah kelompok yang menuju Tihamah, sedang Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam berada di sekitar pohon kurma (?) dan para jin itu menuju pasar Ukazh. Ketika itu Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam dengan para sahabatnya sedang mendirikan shalat fajar (shubuh). Ketika kaum jin itu mendengarkan Alquran, mereka memperhatikannya, lalu berkata, "Inilah yang menjadi penghalang di antara kami dan berita dari langit itu." Lalu mereka pulang kepada kaumnya dan mengatakan, "Wahai kaum kami, sesungguhnya kami telah mendengarkan Alquran yang penuh keajaiban. Ia menunjuki jalan yang benar, maka kami mengimaninya. Dan kami pun tidak akanmenyekutukan Tuhan kami dengan seorang pun." Lalu Allah Subhanahu wa Ta'ala menurunkan wahyu kepada Nabi Muhammad Shallallahu 'Alaihi wa Sallam, Dan sesungguhnya kami tatkala mendengarkan petunjuk (Alquran), kami beriman kepadanya. Maka barangsiapa yang beriman kepada Tuhannya, maka dia tidak takut akan pengurangan pahala dan tidak (pula takut) akan penambahan dosa dan kesalahan (QS. Al-Jinn: 13). Pertemuan Kedua Pada pertemuan kedua ini, Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam dibebani untuk bertabligh (menyampaikan ajaran Islam) kepada mereka dan beliau melihat mereka. Disebutkan dalam Sunan Baihaqi melalui berbagai jalan (sanad), dari Abdullah bin Mas'ud r.a., "Nabi Muhammad Shallallahu 'Alaihi wa Sallam suatu ketika melakukan shalat Isya' lalu pergi. Beliau memegang tanganku dan mengajakku sehingga sampailah kami di suatu tempat. Beliau membuat beberapa garis di atas bumi, lalu berpesan, "Jangan keluar dari
http://www.akhirzaman.info/

Menolak dan Membentengi Diri dari Sihir

Abdul Kholiq Al-Athar

garismu ini." Ketika aku sedang duduk-duduk, tiba-tiba ada beberapa laki-laki (rijal) yang datang kepadaku. Mereka seakan-akan suatu suku bangsa (manusia)." Ibn Mas'ud r.a. menyebutkan hadits panjang, antara lain disebutkan bahwa Nabi Muhammad Shallallahu 'Alaihi wa Sallam ma ja'ahu ila as-sahar "tidak datang kepadanya Hal. Hal. | 119 Ibn Masud - sampai sahur (fajar)". Ibn Mas'ud r.a. berkata, "Aku mendengar macammacam suara, lalu datanglah Nabi Muhammad Shallallahu 'Alaihi wa Sallam. Aku bertanya kepadanya, "Suara-suara apakah yang aku dengar ini?" Beliau Shallallahu 'Alaihi wa Sallam menjawab, "Itu adalah suara jin ketika mereka memanggil aku dan mengucapkan salam kepadaku." Pertemuan Ketiga Pada pertemuan ketiga, kaum jin itu memanggil Nabi Muhammad Shallallahu 'Alaihi wa Sallam untuk menemui mereka. Maka Nabi pun mendatangi mereka dan mengajaknya ke jalan Islam. Ketika itu Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam tidak disertai oleh seorang pun dari sahabatnya. Abd. bin Humaid, Imam Ahmad, dan Imam Muslim - rahimhumullah ta ‘ala - dan selain mereka mengeluarkan riwayat dari Alqamah r.a. Dia berkata, "Aku bertanya kepada Ibn Mas'ud r.a. apakah ada seorang sahabat yang menemani Nabi Muhammad Shallallahu 'Alaihi wa Sallam pada malam pertemuan dengan jin? Ibn Mas'ud r.a. menjawab, tak seorang pun di antara kami yang menemaninya. Tetapi pada suatu malam kami bersama Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam lalu kami kehilangan beliau Shallallahu 'Alaihi wa Sallam. Kami mencarinya di berbagai lembah dan syi'ab - bukit-bukit atau perkampungan besar. Kami mengatakan, mungkin Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam dibawa pergi dengan cepat atau tertipu oleh jin. Maka kami melewati malam itu sebagai malam yang paling jelek yang biasa dilalui suatu kaum. Ketika kami bangun di pagi hari, tiba-tiba Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam datang dari gua Hira. Kami menceritakan perasaan kami. Beliau bersabda, 'Kami didatangi seorang jin yang mengundangku. Maka aku pun tnendatangi mereka dan membacakan Alquran pada mereka. Lalu dia pergi denganku, dan dia memperlihatkan bekas-bekas tempat tinggal mereka dan bekas-bekas apinya."' (hlm. 132). Pertemuan Keempat Pertemuan keempat ini terjadi dengan Jin Nashibain. Kejadian ini dilatarbelakangi perintah Allah Subhanahu wa Ta'ala terhadap Nabi Muhammad Shallallahu 'Alaihi wa Sallam untuk mengajak mereka dan membacakan Alquran pada mereka. Allah Subhanahu wa Ta'ala mendatangkan kepada Nabi beberapa orang jin dari kelompok Nashibain. Mereka berkumpul di hadapan Nabi. Lalu Nabi Muhammad Shallallahu 'Alaihi wa Sallam bersabda kepada para sahabatnya, "Sesungguhnya, malam nanti aku akan membacakan Alquran kepada kaum jin. Siapakah di antara kalian yang akan mengikutiku?" Mereka terdiam. Lalu beliau Shallallahu 'Alaihi wa Sallam mengatakannya untuk kedua kalinya. Mereka masih terdiam. Beliau Shallallahu 'Alaihi wa Sallam
http://www.akhirzaman.info/

Menolak dan Membentengi Diri dari Sihir

Abdul Kholiq Al-Athar

mengatakan untuk ketiga kalinya, dan mereka tetap diam. Maka berkatalah Ibn Mas'ud r.a., "Aku, ya Rasulullah." Ibn Mas'ud r.a. berkata, "Dan, tidak ada yang lain bersarna Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam itu selain aku. Lalu kami pergi. Dan ketika sampal di dataran tinggi Hal. Hal. | 120 Makkah, Nabi Muhammad Shallallahu 'Alaihi wa Sallam masuk ke suatu perkampungan yang besar yang disebut Syi'b Al-Hujun (Kampung Hujun). Beliau Shallallahu 'Alaihi wa Sallam menggaris suatu garis, seraya berpesan kepadaku untuk duduk di situ. Kemudian beliau Shallallahu 'Alaihi wa Sallam bersabda, "Jangan keluar sebelum aku kembali kepadamu." Lalu beliau Shallallahu 'Alaihi wa Sallam pergi dan membuka acaranya dengan membaca Alquran. Aku melihat ada semacam burung nasar yang turun dan berjalan (terbang) pada pepohonan yang dahannya bergelantungan (rafraf). Aku juga mendengar suara gaduh yang tidak jelas, sehingga aku mengkhawatirkan Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam. Ada kabut hitam yang menghalangi antara aku dengannya, sehingga aku tidak dapat mendengar lagi suaranya. Kemudian mereka mulai pergi sedikitsedikit seperti perginya awan. Lalu Nabi Muhammad Shallallahu 'Alaihi wa Sallam datang pada waktu fajar. Beliau bertanya, " Apakah kamu sempat tidur?" Aku menjawab, " Demi Allah, aku tidak sempat tidur. Sungguh aku akan meminta tolong kepada orang-orang ketika aku mendengar engkau mengetuk mereka dengan tongkatmu, lalu engkau mengatakan, "Duduklah kamu sekalian." Beliau Shallallahu 'Alaihi wa Sallam bersabda, "Jika kamu keluar dari tempatmu, aku tidak menjamin keamananmu, mungkin kamu akan disambar oleh sebagian mereka (jin) itu." Selanjutnya beliau Shallallahu 'Alaihi wa Sallam bertanya, " Apakah kamu melihat sesuatu?" Aku menjawab, "Ya, wahai Rasulullah. Aku melihat beberapa orang hitam memakai pakaian putih-putih." Maka Nabi Muhammad Shallallahu 'Alaihi wa Sallam bersabda, "Mereka adalah Jin Nashibain." Dalam hadits ini juga disebutkan bahwa Ibn Mas'ud r.a. mengatakan, "Aku mendengar suara gaduh sekali. Lalu Nabi Muhammad Shallallahu 'Alaihi wa Sallam bersabda, "Sesungguhnya kaum jin itu saling mendorong (menuduh) mengenai seseorang yang terbunuh di antara mereka. Mereka mengadukan masalahnya kepadaku. Maka aku putuskan di antara mereka dengan keputusan yang benar...", -sampai akhir hadits. Dalam riwayat lain, sebagaimana dikutip Al-Qurthubi, disebutkan bahwa Ibn Mas'ud setelah menyebutkan kepergiannya dengan Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam tidak disertai yang lain, dia berkata, "Maka beliau Shallallahu 'Alaihi wa Sallam pergi sehingga sampai, di kampung Hujun di perkampungan Abu Dabb. Kemudian beliau Shallallahu 'Alaihi wa Sallam membuat suatu garis (lingkaran), seraya berpesan, 'Jangan melewati garis (lingkaran) ini!" Kemudian beliau Shallallahu 'Alaihi wa Sallam pergi menuju Hujun. Lalu turunlah kepadanya semacam burung puyuh yang menurunkan ( menggelincirkan) batu dengan kakinya. Mereka berjalan sambil memukul rebana, seperti perempuan yang memukul rebana, atau mereka itu berjalan pelan-pelan, sehingga akhirnya Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam tertutup (terhalang) dan aku tidak dapat melihatnya. Aku
http://www.akhirzaman.info/

Menolak dan Membentengi Diri dari Sihir

Abdul Kholiq Al-Athar

berdiri, lalu ada isyarat dari Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam dengan tangannya supaya aku duduk. Kemudian beliau Shallallahu 'Alaihi wa Sallam membaca Alquran. Suaranya terus-menerus keras (meninggi). Dan kaum jin itu melekat ke bumi sehingga aku tidak dapat melihatnya. Tatkala beliau berpaling kepadaku, beliau bertanya, "Apakah kamu akan mendatangiku?" Aku menjawab, "Ya, wahai Rasulullah!" Beliau bersabda, "Itu Hal. Hal. | 121 bukan hak dan urusanmu. Mereka adalah kaum jin yang datang untuk mendengarkan Alquran. Kemudian mereka kembali kepada kaumnya sambil memperingatkan mereka ...", sampai akhir hadits. Menurut Ikrimah, mereka itu berjumlah dua belas ribu (12.000) personal dari jazirah (pulau) Maushil (Irak). Ringkasnya, sebetulnya jin mempunyai enam pertemuan dengan Nabi Muhammad Shallallahu 'Alaihi wa Sallam seperti disebutkan Al-Alusy. Tempat Tinggal Jin dan Makanannya Sebetulnya jin itu mendiami bumi yang kita diami, hanya kita tidak dapat melihat mereka. Dari beberapa hadits yang berkenaan dengan pertemuan mereka dengan Nabi Muhammad Shallallahu 'Alaihi wa Sallam dapat diketahui bahwa mereka itu ada yang berasal dari kaum Nashibain atau Maushil. Dan ketahuilah, semua tempat di bumi yang kita diami itu diisi pula oleh jin. Karena rahmat dan kasih sayang Allah Subhanahu wa Ta'ala, mereka tidak terlihat oleh mata kebanyakan manusia, sehingga manusia tidak terkejut (ketakutan) jika bertemu dengan mereka, juga tidak berbahaya jika ditemui mereka. Mereka diciptakan oleh Allah dari api, sedang kita diciptakan dari tanah. Mereka dihalangi untuk mengganggu manusia dengan suatu penghalang berupa peraturanperaturan (Nawamis) yang hanya diketahui oleh Allah Subhanahu wa Ta'ala. Kadang-kadang, ada pula di antara mereka yang mengganggu sebagian manusia. Mungkin hal itu untuk menegaskan keberadaan (wujud) mereka saja, sehingga manusia menyadari bahwa mereka juga ada di bumi ini dan hidup berdampingan dengan manusia. Di samping itu, manusia dapat mengetahui dan mengakui keagungan Allah Subhanahu wa Ta'ala dan kekuasaan-Nya, juga dapat mengetahui dan merasakan rahmat dan karuniaNya. Dengan mengetahui kebalikan sesuatu, maka kita akan mengetahui keistimewaannya. Sebagaimana Anda mengetahui dan menyadari nikmat kesehatan dengan sakit yang menimpa badan, maka Anda pun akan mengetahui upaya penjagaan dari bahaya yang dilakukan kaum jin terhadap sebagian manusia. Adapun mengenai makanan yang biasa mereka makan, adalah makanan yang seperti kita makan. Mereka biasa memakan biji-bijian dan daging, seperti yang kita lakukan. Tulang-belulang yang kita buang dan lemparkan, Allah menutupnya sehingga menjadi daging lalu mereka makan. Hal ini dikuatkan oleh hadits-hadits dari Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam. Karena tulang-belulang menjadi makanan jin, maka kita tidak diperkenankannya untuk beristinja dengan tulang-belulang, bahkan tidak sah sehingga haram hukumnya beristinja apalagi bersuci dengan tulang-belulang itu.

http://www.akhirzaman.info/

Menolak dan Membentengi Diri dari Sihir

Abdul Kholiq Al-Athar

Mungkin ada yang berkata, jika mereka memakan makanan seperti yang kita makan, berarti mereka juga mempunyai fisik kasar seperti kita. Padahal, telah disebutkan bahwa jin itu mempunyai fisik yang halus (lembut). Untuk menanggapi pendapat tersebut, sesungguhnya mereka memanfaatkan makanan-makanan materil itu dengan elemenelemen (unsur-unsur) yang cocok dengan kehalusan mereka. Dan Allah Subhanahu wa Hal. Hal. | 122 Ta'ala memberi kekuatan kepada mereka untuk melakukan hal seperti itu. Atau, mungkin juga sebutan bagi mereka sebagai makhluk halus itu merupakan pendapat baru dari manusia yang tidak dapat melihat mereka. Dan, sebetulnya, halangan apakah yang membuat/menjadikan mereka tidak berfisik kasar. Hanya saja Allah Subhanahu wa Ta'ala menutupi mereka dari pandangan kita. Allah menciptakan mata kita dengan suatu cara atau metode yang hanya diketahui oleh Allah dan membuat kita tidak melihat mereka. Atau, karena Allah telah menciptakan hijab-penghalang dari kegaiban (barang gaib) yang diletakkan di antara kita dan mereka. Hanya Allah Subhanahu wa Ta'ala yang lebih mengetahui jawaban yang paling benar. Kekuasaan Nabi Sulaiman Terhadap Jin Nabi Sulaiman pernah berdoa dan ternyata doanya itu dikabulkan oleh Allah Subhanahu wa Ta'ala. Doa itu disebutkan dalam Alquran Surah Shad: 35, (Qala) Rabbi ighfir li wa hab-li mulkan la yanbaghi li-ahadin min ba'di innaka anta al-Wahhab, (Dia berkata), "Wahai Tuhanku, ampunilah dosaku dan berikanlah padaku kerajaan – kekuasaan yang tidak pantas bagi seorang pun setelah aku. Sesungguhnya Engkau Maha Pemberi." Dan di antara bukti ijabah doanya ialah seperti yang difirmankan-Nya, Dan Kami tundukkan padanya angin yang berhembus dengan baik menurut ke mana saja yang dikehendakinya. Dan (Kami tundukkan pula kepadanya) setan-setan semuanya ahli bangunan dan penyelam, dan setan-setan yang lain yang terikat dalam belenggu. Inilah anugerah Kami, maka berikanlah (untuk orang lain), atau tahanlah (untuk dirimu) dengan tiada pertanggungjawaban (QS. Shad 38:36-39). Jadi, sebagaimana dilukiskan oleh ayat tersebut, Allah Subhanahu wa Ta'ala menundukkan angin kepada Nabi Sulaiman, yaitu seorang nabi agung yang sekaligus menjadi raja dunia di masanya. Angin tersebut begitu taat dan patuh kepada Nabi Sulaiman a.s. Ia menurut saja disuruh ke mana pun sesuai dengan keinginan Nabi Sulaiman a.s. Dan begitulah seperti dikatakan Ibn Abbas r.a. Dilukiskan juga pada ayat lain bahwa angin itu bersama-sama Nabi Sulaiman. Perhatikan firman Allah Subhanahu wa Ta'ala berikut ini: Dan Kami (tundukkan) angin bagi Sulaiman, yang perjalanannya di waktu pagi sama dengan perjalanan sebulan. Dan perjalanannya di waktu sore sama dengan perjalanan sebulan (pula). Dan Kami alirkan cairan tembaga baginya. Dan sebagian dari jin ada yang bekerja di hadapannya (di bawah kekuasaannya) dengan izin Tuhannya. Dan siapa yang menyimpang di antara mereka dari perintah Kami, Kami rasakan kepadanya azab neraka yang apinya menyala-nyala (QS. Saba' 34:12).
http://www.akhirzaman.info/

Menolak dan Membentengi Diri dari Sihir

Abdul Kholiq Al-Athar

Hal. Hal. | 123

Dalam menafsirkan ayat tersebut, Qatadah berkata, "Angin itu berhembus membawa Nabi Sulaiman ketika pergi pada pagi hari sampai matahari tergelincir/miring (tengah hari) sejauh perjalanan sebulan, jika dilakukan manusia biasa. Demikian pula ketika dia bepergian setelah awal tergelincir sampai matahari terbenam sejauh perjalanan sebulan." Imam Ahmad mengeluarkan riwayat dalam kitab Al-Zuhd, dari Al-Hasan. Mengenai tafsiran ayat tersebut dia mengatakan, "Nabi Sulaiman a.s. pergi di pagi hari dari Bait Muqaddas (Palestina), lalu beliau tidur siang (qailulah) di Ishthakhar. Kemudian dari Ishthakhar sore harinya pergi lagi, lalu istirahat dan tidur lagi di Qal`ah, tempat kediaman sementara (hotel) Khurasan." Menurut Imam Al-Qurthubi, Al-Hasan pernah mengatakan, "Nabi Sulaiman pergi dari Damaskus menuju Ishthakhar lalu tidur siang di situ. Sedang perjalanan antara kedua kota tersebut sejauh perjalanan sebulan bagi yang berjalan/bepergian dengan cepat. Kemudian dia berangkat di sore hari dari Ishthakhar lalu bermalam di Kabil. Sedang perjalanan antara kedua tempat tersebut ditempuh selama sebulan oleh yang bepergian cepat." Al-Suddy mengatakan, "Angin tersebut berhembus membawa Nabi Sulaiman a.s. dalam sehari sejauh perjalanan yang biasa ditempuh selama dua bulan." Ada pula riwayat yang menyatakan bahwa Nabi Sulaiman mempunyai tempat tinggal di Tadmur, Palmyra (sebuah kota di Syria dahulu). Tempat tinggal tersebut dibangun oleh jin dari bahan-bahan bangunan, seperti lempengan logam, tiang-tiang (‘umud), batu pualam putih dan blonde merah kekuning-kuningan. Berkenaan dengan itu, An-Nabighah (Adz-Dhibyani) berkata, Ingatlah Sulaiman ketika Tuhannya berkata, 'Bangunlah (bangkitlah) kamu di daratan. Dan hindarkanlah darinya kekufuran nikmat. Dan tentara jinnya telah Aku izinkan untuk membangun Tadmur (Palmyra) dengan bahan-bahan lempengan tembaga dan tiang-tiang.'" Berkenaan dengan itu, Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman, Maka Kami tundukkan kepadanya angin yang berhembus dengan baik menurut kemana saja yang dikehendakinya. Dan (Kami tundukkan pula kepadanya)setan-setan semuanya ahli bangunan dan penyelam (QS. Shad 38:36-37). Yang dimaksud dengan setan-setan di dalam ayat tersebut ialah jin. Mereka itu terbagi dua bagian. Satu bagian, kelompok Jin yang taat. Dia dibebani bermacam-macam pekerjaan berat. Sedang bagian kedua adalah kelompok jin yang membangkang. Dan Allah memberikan kekuasaan kepada Nabi Sulaiman untuk membelenggunya. Kelompok pertama yang taat itu bertugas untuk membangun berbagai bangunan, sebagaimana diisyaratkan firman Allah Subhanahu wa Ta'ala, Para jin itu membuat untuk
http://www.akhirzaman.info/

Menolak dan Membentengi Diri dari Sihir

Abdul Kholiq Al-Athar

Sulaiman apa yang dikehendakinya dari (berupa) gedung-gedung yang tinggi (istana-istana megah), patung-patung, dan piring-piring yang besarnya seperti kolam dan periuk yang tetap (berada di atas tungku). Bekerjalah hai keluarga Daud untuk bersyukur (kepada Allah). Dan sedikit sekali dari hamba-hamba-Ku yang berterima kasih (QS. Saba' 34:13) Hal. Hal. | 124 Penjelasan Beberapa Kata Al-Maharib merupakan jamak dari mihrdb. Menurut Ibn Athiyyah artinya ialah qashr (istana). Sedang menurut Abu Ubaidah, berupa rumah terbaik di suatu negeri. Menurut Syaikh Zamakhsyari, tamatsil (patung-patung) tersebut berupa gambar patung para malaikat, nabi-nabi, orang-orang saleh, dan lain-lainnya. Patung-patung tersebut terbuat dari tembaga, kuningan, kaca, dan batu pualam. Kemudian patungpatung tersebut disimpan di mesjid-mesjid, tempat ibadah, supaya dilihat oleh orangorang yang melakukan ibadah. Diharapkan, dengan melihat patung-patung itu, orangorang beribadah seperti ibadah yang dilakukan oleh malaikat, para nabi, dan orang -orang saleh yang dibuatkan patungnya. Dan, memang menurut Adh-Dhahhak, hal itu diperkenankan dalam syariat mereka, kaum Nabi Sulaiman a.s. Menurut Al-Alusy, riwayat yang menyebutkan bahwa kaum Nabi Sulaiman membuatkan atau menyiapkan dua patung singa di bawah kursinya dan dua ekor burung nasar di atasnya, sehingga jika Nabi Sulaiman a.s. akan naik, maka kedua singa itu melentangkan kedua hasta (tangan)-nya untuk dijadikan tangga; dan apabila sedang duduk maka kedua burung tersebut mengipasinya dengan kedua sayapnya, maka hal tersebut tentunya bukan sesuatu yang aneh. Hal itu dapat terjadi dengan meng gunakan alat-alat yang dapat digerakkan; baik untuk naik ataupun untuk turun atau duduk. Dengan demikian, alat tersebut dapat menggerakkan kedua tangan (hastanya) atau sayap-sayap burung nasar. Bukankah manusia di zaman modern juga telah mampu membuat yang lebih aneh dan lebih banyak daripada itu? Al-Alusy juga mengatakan ada yang berpendapat bahwa tamatsil itu adalah tempat dibacakan thalsamat (mantra-mantra). Ada patung tempat dibacakan mantra untuk buaya, atau untuk lalat, atau untuk nyamuk. Setiap orang yang melewati tempat (patung) tersebut harus membacakan mantra. Pelaksanaan mantra demikian telah masyhur di kalangan para filosof. Di Baghdad terkenal sebuah pintu yang disebut pintu gerbang Thalsam. Pada pintu tersebut dibuatkan sebuah patung ular. Menurut keyakinan mereka ketika itu, patung ular tersebut dibuat untuk menghindari kejahatan ular khususnya di negeri Baghdad. Kami sering menyaksikan orang Baghdad digigit ular. Ada yang tidak merasa sakit samasekali, ada pula yang merasa sakit tetapi hanya sedikit. Namun kami pernah menyaksikan di antara penduduk Baghdad ada yang mati karena disengat ular. Padahal jarang sekali orang-orang di luar Baghdad yang selamat jika digigit ular.

http://www.akhirzaman.info/

Menolak dan Membentengi Diri dari Sihir

Abdul Kholiq Al-Athar

Selanjutnya Al-Alusi berkata, "Tetapi kami tidak berkeyakinan bahwa patung ular tersebut mempunyai pengaruh terhadap sengatan dan gigitan ular. Sebab boleh jadi, menurut prasangka kami, ular di negeri itu termasuk jenis ular yang tidak berbahaya. Adapun makna jifan adalah tempat makanan (piring, mangkok, pinggan, dan yang Hal. Hal. | 125 sepertinya), baik dalam ukuran kecil ataupun besar. Kata tersebut merupakan bentuk jamak dari kata jufnah (jifnah). Menurut para etimolog (ahli bahasa), jufnah/jifnah itu lebih besar daripada al-qash`ah. Qash'ah adalah tempat makanan yang besarnya dapat mengenyangkan sepuluh orang. Dan yang lebih kecil daripada qash'ah ialah shahfah. Tempat makanan yang disebut terakhir ini hanya cukup untuk dipakai seorang. Shahfah adalah piring tempat makanan. Sedang shafhah adalah lembaran kertas. Piring tempat makanan yang disebut jifan yang dimiliki Nabi Sulaiman a.s. itu begitu besar, bahkan diumpamakan seperti Jawab. Al jawab bentuk jamak dari jabiyah yang berarti kolam besar. Bahkan ada yang menyebutkan, bahwa piring tempat makanan tersebut dapat mengenyangkan seribu orang. Nabi Sulaiman dikenal pada masanya sebagai raja dunia yang sangat luar biasa. Qudur adalah jamak dari qidr "ketel" tempat memasak. Ketel (qidr) Nabi Sulaiman a.s. itu digambarkan sebagai rasiyat - menetap di tungku - karena besarnya. Bandingkan dengan piringnya. Di samping ada jin yang ditundukkan oleh Allah Subhanahu wa Ta'ala terhadap Nabi Sulaiman a.s. untuk tugas membuat bangunan, ada juga di antara mereka yang ditundukkan untuk tugas menyelam. Mereka ditugasi menyelam guna mengeluarkan batu-batu mulia, yakni ratna mutu manikam alias permata dan sejenisnya dari lautan. Ada yang berpendapat bahwa-Nabi Sulaiman a.s. adalah orang pertama yang mengeluarkan mutiara dari lautan. Sedangkan kaum jin yang sombong dan menentang Nabi Sulaiman digabungkan dalam belenggu. Perhatikan ayat Alquran yang telah disebutkan. Jadi, jin itu khususnya yang ditundukkan kepada Nabi Sulaiman a.s. terbagi atas dua bagian. Bagian pertama adalah kelompok jin yang tunduk kepada perintah Nabi Sulaiman a.s., baik sebagai kuli bangunan maupun sebagai penyelam. Sedang kelompok kedua adalah mereka yang menentang dan tidak taat kepada perintah Nabi Sulaiman. Dengan izin dan pertolongan Allah, Nabi Sulaiman membelenggu mereka. Dengan harapan, mereka akan terbelenggu dan terhalang untuk mengganggu manusia. Tentu saja belenggu yang dipakai merantai atau membelenggu jin itu tidak seperti belenggu manusia, mengingat mereka itu makhluk halus, menurut satu pendapat. Belenggu yang cocok untuk mereka adalah belenggu immateril yakni, suatu belenggu
http://www.akhirzaman.info/

Menolak dan Membentengi Diri dari Sihir

Abdul Kholiq Al-Athar

khusus yang hanya diketahui oleh Allah Subhanahu wa Ta'ala. Dengan belenggu tersebut, mereka tidak dapat beraksi dengan leluasa. Pada umumnya, manusia sejak dahulu sampai sekarang beranggapan bahwa jin itu mengetahui yang gaib. Allah Subhanahu wa Ta'ala yang Mahabijaksana berkehendak Hal. Hal. | 126 untuk menjelaskan kepada manusia bahwa sebetulnya kaum jin itu tidak mengetahui yang gaib. Nabi Sulaiman a.s. mempunyai kebiasaan untuk beriktikaf di 'Mesjid Bait Muqaddas dalam jangka waktu yang cukup lama. Ketika ajalnya telah tiba, Allah mengambil ruhnya ketika beliau a.s. sedang melakukan shalat sambil berdiri, seraya bersandar pada tongkatnya. Beliau wafat dalam keadaan beribadah, yakni sedang beriktikaf di Mesjid Bait Muqaddas (Palestina). Sebagai anak buah, jin pun biasa mengelilingi Nabi Sulaiman di sekitarnya, baik ketika beliau sedang melakukan shalat, maupun di luar itu. Tetapi para jin itu tidak mampu memperhatikan dan mendekatinya ketika Nabi Sulairnan melakukan shalat karena takut terbakar. Sementara itu, ada seorang jin yang melewatinya, dan ternyata dia tidak mendengar suara Nabi Sulaiman. Lalu, karena semakin penasaran, dia melewatinya lagi, dan ternyata tidak terdengar suaranya. Situasi demikian membuatnya berani untuk memperhatikan Nabi Sulaiman a.s. Dan, ternyata beliau a.s. telah meninggal. Tongkatnya pun telah dimakan oleh rayap. Dengan demikian, diketahuilah bahwa beliau a.s. telah wafat dalam waktu yang lama. Diketahui pula, bahwa Nabi Sulaiman a.s. wafat sambil bersandar ke tongkatnya; sehingga terkesan bahwa beliau a.s. masih hidup. Setelah tongkat itu rusak karena dimakan rayap, maka beliau yang telah wafat akhirnya terjatuh ke bumi. Dan jelaslah bagi jin dan manusia, bahwa Nabi Sulaiman a.s. telah wafat. Kewafatan beliau diketahui dengan kejadian yang menakjubkan tersebut. Berkenaan dengan peristiwa kematian Nabi Sulaiman a.s., Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman, Maka tatkala Kami telah menetapkan kematian Sulaiman, tidak ada yang menunjuhkan kepada mereka kematiannya itu kecuali rayap yang memakan tongkatnya. Maka tatkala dia telah tersungkur, tahulah jin itu, bahwa kalau sekiranya mereka mengetahui yang gaib, tentulah mereka tidak tetap dalam siksaan yang menghinakan itu (QS. Saba' 34:14). Maksud siksaan yang menghinakan (al-dzab al-muhin) di situ ialah bahwa para jin itu telah tunduk kepada Nabi Sulaiman untuk melakukan pekerjaan-pekerjaan berat sebelum kematiannya. Melihat Jin dalam Bentuk yang Bermacam-macam Telah dijelaskan sebelum ini, bahwa manusia pada umumnya tidak dapat melihat jin dalam wujudnya yang hakiki. Hal ini demi kemaslahatan kita dan tanda kasih sayang Allah Subhanahu wa Ta'ala terhadap hamba-Nya. Dan memang, tidak akan ada yang dapat
http://www.akhirzaman.info/

Menolak dan Membentengi Diri dari Sihir

Abdul Kholiq Al-Athar

melihat wujud jin yang sebenarnya kecuali para nabi dan rasul a.s., serta hamba-hamba Allah yang saleh. Dengan kelengkapan rohani yang sempurna, para nabi dan rasul mampu bertemu dengan wujud jin yang sebenarnya. Mereka juga mampu melihat jin sesuai dengan fitrahnya yang asli (sangat menakutkan?). Hal. Hal. | 127 Adapun melihat jin dalam bentuk-bentuk yang lain, selain bentuk yang sebenarnya, maka telah banyak disaksikan dan dialami oleh beberapa orang selain para nabi dan rasul a.s. Kita telah mengemukakan beberapa hadits yang menunjukkan bahwa sebagian sahabat Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam pun pernah melihat jin di antaranya ialah Abdullah bin Mas'ud r.a., salah seorang sahabat akrab Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam yang selalu taat kepadanya. Abdullah Ibn Mas'ud r.a. pernah melihat jin seperti sekumpulan orang dari Sudan - hitam-hitam? - atau orang India (Hind); atau kadangkadang mereka terlihat seperti burung nasar. Majelis Nabi Sulaiman dihadiri oleh para tokoh mulia dari kalangan jin dan manusia. Kaum jin itu menghadiri majelis Nabi Sulaiman dalam keadaan seperti manusia laki-laki (rijal) sehingga dapat terlihat oleh manusia. Di antara jin yang hadir itu ada jin yang dalam suatu majelis yang dihadiri Nabi Sulaiman, dia mengatakan, "Aku sanggup mendatangkan istana Ratu Balqis itu ke hadapanmu sebelum engkau berdiri dari maqom (majelis)-mu; Dan sesungguhnya aku sangat kuat dan sangat terpercaya untuk itu." Jawaban tersebut merupakan tanggapan terhadap tawaran Nabi Sulaiman a.s. yang meminta istana Ratu Balqis dipindahkan ke negerinya. Beliau a.s. berkata, "Siapa di antara kamu sekalian yang dapat mendatangkan singgasananya kepadaku, sebelum mereka datang menyerah (masuk Islam) padaku?" Dalam hadits yang 'diriwayatkan Imam Muslim - rahimahullah ta ‘ala - pada kitab Shahih-nya dari hadits Abu As-Sa'ib maula pembantu - Hisyam bin `Urwah dari Abu Said disebutkan, "Ada seorang pemuda di antara kami yang baru menikah. Ketika kami keluar bersama Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam untuk berperang di Khandaq, pemuda tersebut memohon izin kepada Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam untuk pulang kepada keluarganya pada setiap tengah hari. Ketika suatu hari dia meminta izin kepada Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam, beliau Shallallahu 'Alaihi wa Sallam berpesan, "Bawalah senjata/pedangmu. Aku takut engkau diserang Bani Quraizhah." Maka dia pun mengambil pedangnya lalu pulang. Ternyata begitu dia sampai, istrinya tengah berdiri di antara dua pintu. Dia bermaksud menghunuskan tombaknya untuk menusuk istrinya karena merasa cemburu. Lalu istrinya berkata, "Tahanlah tombakmu dan masuklah ke dalam rumah. Lihatlah apa yang menyebabkan aku keluar rumah." Lalu dia masuk rumah, ternyata ada seekor ular besar yang terbaring di atas kasur. Maka dia pun bermaksud menghunuskan (menusukkan) tombaknya ke ular tersebut sampai menembus tubuhnya. Kemudian dia keluar dari kamar tidurnya lalu dia tusukkan tombaknya di tengah rumah, sehingga ular tersebut pun mengamuk dan melawannya. Kami - kata Abu Said - tidak mengetahui siapakah yang paling cepat matinya. Ular atau pemuda tersebut." (hlm. 140).
http://www.akhirzaman.info/

Menolak dan Membentengi Diri dari Sihir

Abdul Kholiq Al-Athar

Siti Aisyah r.a. juga pernah membunuh ular yang diketahuinya telah memasuki kamar tidurnya, ketika itu dia sedang membaca Alquran. Dia bermimpi dalam tidurnya ada yang berkata kepadanya, "Engkau telah membunuh seorang mtikmin dari kaum jin, yang termasuk orang-orang yang datang kepada Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam" Dia menjawab, "Jika dia mukmin tentu tidak akan masuk ke kamar istri Rasulullah Shallallahu Hal. Hal. | 128 'Alaihi wa Sallam" Dikatakan kepadanya, "Dia tidak masuk (datang) kepadamu kecuali kamu dalam keadaan mengenakan penutup kepala (menutup aurat), dan dia tidak masuk ke rumahmu kecuali untuk mendengarkan zikir (bacaan Alquran)." Ketika bangun di pagi hari, Siti Aisyah tampak ketakutan, lalu dia segera membeli beberapa budak sahaya, kemudian dimerdekakannya. Aku pernah berkenalan dengan seorang jin wanita yang mempunyai banyak pengikut. Ketika seorang guru besar (syaikh) lupa membawa jadwal pelajaran di kantornya, dan itu terjadi sebelum tahun ajaran baru dimulai, aku menyuruh salah seorang pengikut jin wanita itu untuk membawakan jadwal tersebut. Lalu dia pergi dan dengan cepat dia telah kembali lagi, seraya membawa daftar nama panitia ujian semester dua. Tetapi dia tidak membawa jadwal pelajaran yang harus dibawanya. Sahabatku bertanya kepadanya, "Yang diminta oleh kami bukan daftar panitia ujian ini." Lalu aku bertanya kepada pengikut jin wanita itu, Mengapa Anda tidak membawakan jadwal pelajaran milik guru besar itu?" Dia berkata pada pimpinannya, bahwa dia telah sampai di depan kantor sang guru besar, Syaikh Mahdi, tetapi di depan kantornya itu ada penjaga (haris), dan menurutnya dia tidak sepantasnya mendobrak pintu untuk memasuki kantor itu lalu mencuri jadwal pelajarannya. Sedang daftar panitia ujian, dia temukan di tempat sampah beserta barang-barang yang sudah tidak berguna lagi. "Aku membawanya sebagai bukti, bahwa aku telah sampai di kantor Al-Mahdi." Lalu Yamun (dalam tulisan Arabnya, ya', mim, nun, atau ymn) berkata, "Sebagaimana manusia pun tidak boleh mencuri sesuatu barang, maka demikian pula jin, mereka tidak boleh mencuri." Pada kunjungan lainnya, Yamun berkata kepada temanku bahwa sebetulnya anjing yang suka berkeliling di rumahnya itu adalah di antara pengikutnya. Dia membebani anjing itu untuk menjaga rumah tersebut. Dia meminta kepada temanku untuk tidak menyakiti anjing itu, demikian pula kepada anaknya. Setelah peristiwa tersebut, banyak kejadian dan masalah yang terjadi antara jin itu dengan temanku. Temanku tersebut mempunyai sahabat yang bertugas sebagai penilik (pemeriksa) Al-Azhar. Dia mencela temanku yang membenarkan dan memperhatikan jin wanita tersebut. Pada suatu hari, jin wanita menampakkan diri sebagai seorang wanita biasa. Hal itu terjadi di siang bolong tepatnya di taman depan rumahnya. Dia tampak mengenakan pakaian tertutup dan memakal kerudung putih. Dia meminta kepada temanku untuk memanggilkan temannya yang menjadi pemeriksa Al-Azhar itu. Lalu temanku menyuruh seseorang untuk memanggilnya. Kebetulan rumahnya dekat dengan rumah temanku itu. Lalu dia datang dan dapat melihat jin wanita tersebut dengan mengenakan pakaian putih yang menutupi auratnya. Dia berkata, "Mengapa engkau mencela aku di depan temanmu?" Pemeriksa itu kemudian meminta maaf kepada jin wanita tersebut. Kemudian
http://www.akhirzaman.info/

Menolak dan Membentengi Diri dari Sihir

Abdul Kholiq Al-Athar

dia berharap jin wanita itu tidak mengganggunya. Maka jin wanita itu berjanji tidak akan mengganggunya. Dan setelah itu ia menghilang seperti yang dimakan (ditelan) bumi. Setelah itu, temanku menemukan banyak kesulitan karena jin-jin pengikut jin wanita itu. Lalu ia mengeluarkan karyawan dari bangsa jin itu, sehingga selesailah segala Hal. Hal. | 129 kesulitannya setelah karyawan dari bangsa jin itu dikeluarkan. Mengusap Tanpa Memperlihatkan Diri Pada dua dasawarsa - dua puluh tahunan - pertama di abad ini (kira-kira 1920-an) ada seorang syaikh, guru besar, di antara syaikh-syaikh Al-Azhar, beliau adalah guru besar kami, pergi menuju provinsi bagian timur untuk mengunjungi sebagian kerabatnya di sana. Ternyata mereka sedang dirundung kesedihan. Tatkala dia tanyakan sebab kesedihan mereka, mereka menjawab bahwa salah seorang putri mereka terkena usapan - gangguan seorang jin yang hampir tidak pernah mau meninggalkannya. Dia biasa bercakap-cakap dengan lidah sang putri tetapi suaranya seperti suara seorang laki-laki. Padahal putri tersebut telah dinikahi oleh seorang pemuda dari kampung. Mereka mengkhawatirkan, jika keadaan seperti itu berlangsung terus, maka ada kemungkinan pemuda yang telah menikahinya itu akan menalaknya. Lalu syaikh itu meminta izin untuk mendekatinya dan mereka mengizinkannya. Disertai mereka, beliau mendatangi sang putri yang sedang kesurupan itu. Syaikh mengucapkan salam, lalu jin yang sedang berada di jasad wanita itu menjawab salam tersebut dengan lidah wanita tersebut. Dia mengucapkan selamat kepada syaikh, seraya berkata, "Selamat kepada saudaraku dalam menuntut ilmu." Lalu dia ditanya, "Bagaimana bisa begitu?" Jin itu berkata kepada syaikh, "Kami pernah hadir di Al-Azhar bersama sejumlah syaikh-syaikh, lalu dia menyebutkan nama-nama mereka." Syaikh menjawab, "Sungguh, mereka adalah guru-guruku. Dulu, ketika itu, aku pernah bertanya kepada seorang teman dari kalangan guru besar mengenai suatu permasalahan. Apakah engkau masih ingat teks pertanyaanku dan jawabannya? " Lalu jin itu menyebutkan soal tersebut lengkap dengan jawabannya. Syaikh berkata, "Semua itu pernah terjadi. Dan engkau adalah saudaraku dalam menuntut ilmu. Oleh karena itu, aku mempunyai hak yang harus engkau lakukan. Demikian pula, ilmu mempunyai hak atasmu untuk diamalkan." Lalu Syaikh Azhar itu bertanya lagi, "Apakah engkau ingat hadits Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam, La dharara wa la dhirara, Tidak boleh mengganggu orang lain dan tidak boleh membalas gangguan orang lain terhadap kita.' Jin itu menjawab, "Ya, aku ingat hadits itu dan hafal." Syaikh Azhar itu bertanya, "Apakah engkau paham betul maksudnya?" Dia menjawab, "Maksud hadits tersebut, seorang Muslim dilarang mengganggu saudaranya." Syaikh Azhar bertanya, "Apakah engkau juga di-taklif – dibebani - untuk mengamalkan hadits ini secara sempurna seperti manusia? " Jin itu menjawab, "Apakah aku mengganggu seseorang? Karena kamu telah bergabung
http://www.akhirzaman.info/

Menolak dan Membentengi Diri dari Sihir

Abdul Kholiq Al-Athar

(menyatu) dengan putri ini, maka dia mendapatkan musibah besar dan bahaya (mudharat) darimu. Dan karena hal itu, suaminya akan menceraikannya sebab dengan kondisi seperti ini putri tersebut tidak- dapat melaksanakan tugasnya sebagai seorang istri. Dengan demikian, kamu harus meninggalkannya; dan jika tidak, maka kamu lebih berdosa daripada orang-orang awam yang tidak mempunyai ilmu sebanyak yang engkau Hal. Hal. | 130 miliki," kata Syaikh Azhar yang menjadi keluarga korban tersebut. Jin itu berkata, "Bagaimana mungkin aku meninggalkannya padahal aku mencintainya?" Syaikh Azhar berkata, "Kecintaanmu padanya merupakan jalinan percumbuan. Padahal jalinan percumbuan seperti itu dengan wanita asing adalah haram. Bahkan percumbuan dengan setiap wanita yang belum menjadi miliknya adalah haram. Dan, bagaimana bisa terjadi engkau mencintai wanita dari kalangan manusia padahal engkau mempunyai wanita dari bangsamu. Silakanlah Anda melamar salah seorang di antara wanita-wanita jin dan nikahilah ia. Sempurnakanlah cintamu padanya. Semoga engkau termasuk yang mendengarkan nasihat dan mengikuti yang terbaik di antara nasihat itu." Kemudian dengan terpaksa dia harus berkata, "Semoga Allah memberimu petunjuk, sebagaimana engkau telah menunjuki aku. Tetapi, mengapa aku tidak boleh mengunjunginya?" Syaikh Azhar itu berkata, "Berkunjung tidak dilarang. Dengan syarat, kunjungan atau ziarah itu hanya satu kali dalam setahun. Dan harus dilakukan secara halus tanpa membahayakannya. Engkau pun tidak boleh menimbulkan kesedihan bagi orangorang di sekitarnya, seperti yang telah terjadi kini. Syarat lainnya, engkau harus mengikuti norma-norma syariat Islam yang mulia." Demikian kata Syaikh Azhar itu. Mereka berdua, akhirnya, menyepakati suatu perjanjian untuk saling menghormati hak masingmasing, dan perjanjian lainnya, bahwa sang putri diharuskan selalu memakai pakaian putih yang panjang (tertutup). Untuk keberkahan perjanjian itu, Syaikh Azhar membacakan surah AlFatihah. Kemudian jin itu mengucapkan selamat tinggal sambil mengucapkan salam, lalu pergi. Sesosok Jin dengan Seorang Mahasiswa Fakultas Hukum Saya pernah menjadi ketua panitia ujian (untuk mendapatkan syahadah (ijazah) tsanawiyyah (menengah) pada salah satu pesantren di Al-Azhar pada tahun 1946: Telah menjadi kebiasaan ketika itu bahwa untuk orang-orang tunanetra diadakan ujian lisan. Pada saat yang sama, orang-orang yang bukan tunanetra mengikuti ujian tulis. Sementara, sebagai bagian dari bahan ujian, kepala perpustakaan berkewajiban untuk menghadirkan buku-buku yang telah ditentukan. Buku-buku atau kitab-kitab tersebut menjadi rujukan para penguji untuk membuat soal-soal yang akan ditanyakan kepada para peserta ujian lisan, yakni mahasiswa yang tunanetra. Pengamatan saya membuktikan, bahwa kepala perpustakaan tidak dapat hadir sebanyak tiga kali berturut-turut. Dia digantikan oleh karyawan perpustakaan.

http://www.akhirzaman.info/

Menolak dan Membentengi Diri dari Sihir

Abdul Kholiq Al-Athar

Untuk mengetahui keadaan kepala perpustakaan itu, saya memanggil karyawan perpustakaan tersebut. Dia memberitahukan bahwa kepala perpustakaan itu mempunyai seorang anak yang sedang kuliah di Fakultas Hukum. Dia termasuk mahasiswa yang baik dan sesuai dengan harapan orang tuanya. Kemudian, suatu ketika, anaknya tiba-tiba suka diam saja dan tampak ketakutan. Pekerjaannya sehari-hari adalah pulang-pergi mengukur Hal. Hal. | 131 tempat (apartemen) yang kami diami dengan hastanya. Melihat kenyataan demikian, aku, sebagai ketua panitia ujian, merasa sangat sedih penuh kebingungan. Saya tidak tahu harus berbuat apa. Saya betul-betul dihantui perasaan bingung, bimbang, dan tidak tenang, serta takut jangan-jangan keadaan seperti itu berlanjut dengan keadaan yang lebih parah lagi. Maka aku berdoa memohon kepada Allah untuk kebaikan dan kemaslahatan kepala perpustakaan itu dan anaknya. Saya berpesan kepadanya, "Uruslah anakmu, semoga Allah menentukan yang terbaik setelah kejadian ini." Ujian tersebut sebetulnya merupakan ujian tahap pertama. Ketika itu, untuk mendapatkan ijazah harus ditempuh lewat ujian tahap kedua. Dan ketika tiba waktunya untuk pelaksanaan ujian tahap kedua, rupanya Allah menghendaki saya untuk menjadi ketua panitia lagi. Ketika itu saya berjumpa dengan kepala perpustakaan itu dengan wajah ceria berseri-seri penuh kegembiraan. Lalu aku tanyakan tentang keadaan anaknya. Menurutnya, alhamdulilldh anaknya telah disembuhkan Allah Subhanahu wa Ta'ala. Kemudian terjadilah perbincangan antara aku dengannya, sebagai berikut: Dia berkata, "Ada sebagian orang-orang Sudan yang suka mengobati penyakit jiwa dengan jampijampi (ruqyah) dan Alquran Al-Karim. Terlihat pada mereka ada sebagian mushhaf yang ada hamisy (catatan)-nya. Dalam hamisy itu terdapat beberapa hikmah dan beberapa ayat Alquran Al-Karim untuk menyeJm buhkan berbagai penyakit, khususnya penyakit jiwa (amradh ruhiyyah). Di antara mereka itu ada yang suka menikah dengan orang-orang Mesir. Sebagai orang Mesir dan lingkungan Azhar, aku berharap ada orang Sudan yang menikahi orang Mesir, kami akan meminta petunjuk untuk mengobati anakku. Dan di antara kehiasaan orang Sudan yang menikahi orang Mesir adalah mengunjungi keluarga mertuanya tiap tahun. Ketika dia tiba di Mesir, aku diberitahu kedatangannya. Segera saja aku berkunjung kepadanya, dengan harapan dia dapat mengunjungi anakku dan mengobatinya. Dia meminta aku membawa seperempat kilo minyak samin dan lemak kambing. Permintaannya itu sangat sulit untuk dibuktikan sebab minyak samin macam itu tergolong langka. Air susu kambing (ma'iz) itu tidak banyak mengandung lemak. Maka aku pun berusaha untuk mendapatkannya. Aku mencoba meminta dan seseorang yang merniliki kandang kambing untuk mendapatkan jenis samin yang sedang dicari itu. Aku pun memberinya penghargaan yang banyak untuk segera menemukan minyak samin tersebut. Alhamdulillah, setelah dua hari dia berhasil menemukannya. Dan, datanglah syaikh dari Sudan itu. Dia pegang telapak tangan anakku dan merapatkannya (menutupkannya) seraya membaca doa atau ayat-ayat Alquran cukup lama. Anakku berteniak keras sekali.
http://www.akhirzaman.info/

Menolak dan Membentengi Diri dari Sihir

Abdul Kholiq Al-Athar

Syaikh dan Sudan itu menyuruh anakku untuk membuka telapak tangannya dan membentangkannya. Kami menemukan pada telapak tangannya itu abu hitam yang telah terbakar. Dia memberitahukan kami, bahwa jin Ifrit yang telah mengganggu anakku itu telah dibakar oleh Allah Subhanahu wa Ta'ala. Hal. Hal. | 132 Setelah lama anakku tidak membuka mulutnya, kini dia berbicara lagi. Dia mengatakan bahwa kepala dan kedua telinganya terasa sakit sekali. Kemudian dia disuruh tidur oleh syaikh dan Sudan itu dengan telenang. Dia menuangkan sedikit minyak samin kambing itu ke hidung anakku, hingga anakku bersin dan hilanglah rasa sakitnya. Alhamdulillah, setelah itu dia kembali normal lagi." Kadang-Kadang Jin Menimbulkan Huru-Hara Pada edisi Desember 1958, dalam majalah Ar-Ruh terdapat makalah berjudul "Arwah Mengusir Kami dan Rumah Kami". Dalam makalah itu disebutkan, bahwa pemilik rumah tersebut tidak mempercayai selain yang materil (berujud benda). Dia tidak mempercayai yang di balik alam materi. Tetapi, setelah ada kejadjan tragis yang menimpa dininya dan keluarganya, dia terpaksa harus mempercayai apa yang tidak tampak (immatenil). Ringkas cerita, pemilik rumah itu pada suatu sore hari di bulan Agustus 1958, dikejutkan dengan adanya minyak tanah (zayt bitrul atau ceyrocyn?) dan jerami yang mencampuri makanan dan minuman mereka. Padahal, umumnya mereka itu sangat hatihati. Peristiwa itu terus-menerus berlanjut. Sampai mereka pun mencoba untuk membuat air teh dengan menggunakan tenaga listrik. Ternyata mereka pun masih menemukan minyak tanah tersebut pada minumannya. Pada suatu hari, mereka menemukan secarik kertas di atas minuman tehnya. Mereka lepaskan kertas tersebut dari air teh lalu mereka baca. Pada kertas itu tertulis, "Tinggalkanlah rumah semuanya. Peringatan yang berbau ancaman itu berulang kali terjadi dengan kertas-kertas lainnya. Pada gilirannya, datanglah ancaman paling kejam, jika mereka tidak. keluar dari rumah, maka rumah tersebut akan dibakar. Selang beberapa saat mereka mendapatkan awan yang berhembus dari kamar yang terkunci dan kosong, yang tidak didiami oleh seorang pun. Lalu mereka membuka kamar tersebut dan mereka memadamkan apinya. Ketika mereka tidak keluar rumah saja, maka terjadilah kebakaran di tempat lain rumah itu. Tetapi setelah mereka keluar, barulah gangguan itu selesai. Setelah mereka mendiami rumah baru, mereka tahu bahwa sebagian penduduk di kota itu pernah mengalami kejadian seperti yang menimpa mereka. Ketika mereka mengunjungi penduduk yang pernah mengalami kejadian itu, mereka ditunjukkan kepada seseorang yang mampu menghilangkan gangguan atau pengacauan tersebut dari rumah mereka. Setelah mereka sampai di situ, mereka diminta untuk melakukan puasa selama tujuh hari. Lalu dia melakukan suatu pengobatan atau terapi dengan metoden ya sendiri. Dan pada hari keenamnya, mereka menemukan kertas pada cerek air teh. Tertulis

http://www.akhirzaman.info/

Menolak dan Membentengi Diri dari Sihir

Abdul Kholiq Al-Athar

padanya, "Dinginkan (kipasi) rumah itu di pagi hari." Lalu mereka pun melakukannya, dan lenyaplah gangguan dan huru-hara tersebut. Sementara surat kabar Akhbar Qahiriyyah, edisi 26 April 1970, pada kolom pertama halaman kedua, menulis suatu berita mengenai Kisyam Banjaltara. Disebutkan, bahwa Hal. Hal. | 133 Parman Luwis, direktur salah satu toko meminta salah seorang paderi (pendeta) untuk mendatangi tokonya dan melakukan sembahyang disertai pencucuran air suci di sekitar (segenap penjuru) tokonya. Dengan perbuatan religius tersebut, diharapkan dapat mengusir arwah jahat yang sering mengganggu para karyawan yang bekerja di tempat tersebut, seperti yang mereka laporkan dan alami. Pendeta atau paderi itu pun memenuhi permintaan pemilik toko tersebut untuk tujuan seperti yang diinginkan. Tetapi ternyata arwah itu masih gentayangan juga, sebagaimana yang diberitakan oleh para karyawan itu. Ringkasnya, jin itu ada dua macam, seperti halnya manusia, ada yang saleh dan ada yang jahat (thalih). Para jin yang saleh, tentu saja mereka baik-baik dan tidak mengganggu yang lain, baik manusia maupun sesama jin sendiri. Sedang yang thalih atau jahat di antara mereka suka mengganggu, baik terhadap manusia maupun terhadap sesama jin sendiri. Berkenaan dengan kenyataan tersebut, Allah Subhanahu wa Ta'ala menegaskan, Dan sesungguhnya di antara kami, ada orang-orang yang saleh. Dan'di antara kami ada (pula) yang tidak demikian. Adalah kami menempuh jalan yang berbeda-beda. (QS. Al-Jinn 72:11). Di antara bangsa jin ada yang beriman (mempercayai) Nabi Muhammad Shallallahu 'Alaihi wa Sallam dan apa-apa yang diberitahukan atau dikandung oleh Alquran Al-Karim. Hal ini sejalan dengan isyarat Alquran yang menyatakan, Katakanlah (hai Muhammad), telah diwahyukan kepadaku, bahwasanya, sekumpulan jin telah mendengarkan (Alquran), lalu berkata, "Sesungguhnya kami telah mendengarkan Alquran yang menakjubkan, (yang) memberi petunjuk kepada jalan yang benar, lalu kami beriman kepadanya. Dan sesungguhnya kami tidak akan mempersekutukan seorang pun dengan Tuhan kami." (QS. Al-Jinn 72:1-2). Dalam ayat 13 dari surah Al-Jinn tersebut ditegaskan, Dan sesungguhnya kami tatkala mendengar petunjuk (Alquran), kami beriman kepadanya. Barangsiapa beriman kepada Tuhannya, maka dia tidak takut akan pengurangan pahala, dan tidak (takut pula) akan penambahan dosa dan kesalahan. Jin Meminta Fatwa kepada Syaikh Abd Al Wahhab Sya'rani Syaikh Abd Al Wahhab Sya`rani termasuk imam para ulama, zahir dan batin. Beliau wafat sekitar tahun 973 H. Beliau mempunyai kitab unik dengan judul Kasyf Al-Hijab wa ArRan An Wajhi As'ilat Al Jan (Membuka Hijab dan Kotoran dari Sisi [Dimensi] Pertanyaan Jin). Kitab tersebut dikarangnya pada tahun 955 H. Beliau - rahimahullah ta ‘ala http://www.akhirzaman.info/

Menolak dan Membentengi Diri dari Sihir

Abdul Kholiq Al-Athar

mengarang kitab tersebut untuk menjawab berbagai pertanyaan yang dikemukakan oleh para jin. Jawaban terhadap berbagai pertanyaan para jin itu beliau tulis dalam dua versi. Yakni, versi manzhum - puitis - dan versi mantsur - prosa. Mengapa demikian? Karena ternyata para jin itu mempunyai kecenderungan untuk mengapresiasi karangan puitis daripada prosa. Jawaban yang beliau siapkan itu dilakukan pada waktu sahur, diduga Hal. Hal. | 134 kuat setelah mendirikan shalat tahajjud dan membaca Alquran, dengan harapan mendapatkan kekuatan untuk menjawabnya. Demikian seperti diakuinya. Berikut sebagian yang ditulis Syaikh Sya'rani ketika memberikan kata pengantar dalam karangannya yang memuat jawaban terhadap berbagai pertanyaan yang dilontarkan oleh kaum jin. Syaikh Sya'rani - rahimahulldh ta`ala - berkata, "Berbagai pertanyaan jin itu datang kepadaku secara tertulis pada sehelai kertas yang diletakkan pada seorang jin. Jin yang membawa surat tersebut merupakan seekor anjing kuning yang lembut seperti anjing padang pasir. Ukuran lembar kertas tersebut besar sekali dan ditulis dengan tulisan Arab. Lalu saya membuka surat (tulisan) tersebut. Antara lain tertulis, "Apa (bagaimana) pendapat ulama bangsa manusia dan syaikh-syaikhnya mengenai berbagai persoalan berikut ini ... yang dibawa oleh pembawanya kepada syaikh? Persoalan-persoalan tersebut pernah kami tanyakan kepada syaikh-syaikh kami dari kalangan jin. Mereka menyatakan bahwa untuk mendapatkan jawaban yang benar dan memuaskan mengenai pertanyaan-pertanyaan tersebut harus dikemukakan kepada ulama dari kalangan manusia. Kemudian mereka menyebutkan semua pertanyaan itu sejak awal sampai akhir. Pertanyaan-pertanyaan tersebut sampai kepadaku pada malam Selasa, 26 Rajab 955 H. Pembawa surat tersebut datang kepadaku lewat lengkungan bangunan aula yang menghadap teluk Al-Hakimi. Dan setelah menyampaikan surat lalu dia keluar. Sebetulnya jin membawa surat tersebut ingin masuk lewat pintu aula. Tetapi dia dihalangi oleh orang-orang yang ada di sekitar itu. Mereka menyangka bahwa ia adalah anjing biasa yang najis. Bahkan, berdasarkan prasangkanya itu, mereka pun menyucikan setiap tempat yang dilalui jin tersebut. Tetapi, ketika aku beritahukan yang sebenarnya, mereka sungguh-sungguh terkejut. Bahkan merasa menyesal telah mengganggunya. Maka alhamdulillah, segala puji bagi Allah yang telah memberi karunia kepada kami sehingga saya dapat menangkap petunjuk saudara-saudara kami dari bangsa jin pada zaman sekarang ini. Sekarang saya akan memulai menjawab pertanyaan-pertanyaan mereka itu sesuai dengan petunjuk Allah Subhanahu wa Ta'ala kepada saya pada saat itu. Dia-lah yang mencukupi dan Dia adalah sebaik-baik Pembimbing. Jawabanku terhadap berbagai pertanyaan kaum jin itu ditulis dalam suatu buku dengan judul Kasyf Al-Hijab wa Ar-Ran 'an Wajhi As'ilati Al-Jann. Semoga Allah memberi manfaat dari kitab tersebut terhadap umat Islam. Amin sampai akhir ...."

http://www.akhirzaman.info/

Menolak dan Membentengi Diri dari Sihir

Abdul Kholiq Al-Athar

Saya, pengarang buku ini, telah meneliti dan memperhatikan pertanyaanpertanyaan tersebut, ternyata sarat dengan muatan problematika ilmiah yang cukup dalam dan rumit untuk dijawab. Tetapi rupanya Syaikh Abdul Wahhab Sya'rani dapat menjawabnya. Berikut beberapa pertanyaan mereka: Hal. Hal. | 135 Pada pertanyaan kesebelas, Syaikh Sya'rani menyebutkan, "Mereka bertanya kepadaku tentang maqam (kedudukan) ma`rifat – mengenal - kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala. Apakah, kata mereka, ada seseorang yang dapat sampai ke suatu maqam di mana dia dapat mengenali - me-ma`rifati - Allah Subhanahu wa Ta'ala, seperti Allah Subhanahu wa Ta'ala mengenal dirinya. Atau hal itu tidak mungkin dicapai oleh seorangpun? Pertanyaan tersebut saya jawab, bahwa tak seorang pun dapat sah mencapai derajat seperti itu, bagaimanapun tinggi maqam-nya. Allah Subhanahu wa Ta'ala mempunyai ilmu khusus dan istimewa yang tidak sah atau tidak mungkin diketahui atau dijangkau oleh hamba-hamba-Nya (la budda anna al-Haqqa Ta ala yata'tsiru an ibadihi bi-'ilmi akhara). Maqam demikian tidak akan tercapai oleh seorang malak (malaikat) pun, dan demikian pula seorang rasul. Sebab, jika hamba Allah mengetahui Zat Allah seperti Dia mengetahui dirinya, maka berarti ilmu manusia sama dengan ilmu Allah Subhanahu wa Ta'ala dan tak ada satu orang pun yang mengatakan hal demikian." Jawaban mengenai soal tersebut mencapai dua halaman dari buku tersebut. Di antara pertanyaan mereka yang banyak itu ada juga pertanyaan dengan no. 31, yang dijawab oleh Syaikh Sya'rani, "Mereka bertanya kepadaku dengan apakah seorang abdi atau hamba Allah dapat keluar dari `Ulum Al Awham - ilmu yang penuh keraguan kepada ilmu yang tidak disertai keraguan? Saya menjawab, bahwa seorang hamba dapat keluar dari ilmu-ilmu yang sarat dengan keraguan menuju ilmu-ilmu yang meyakinkan jika Allah Subhanahu wa Ta'ala yang mengajarkannya ke dalam kalbu (hati hamba-Nya); dengan mengangkat segala perantara - alwasa'ith - berupa pikiran dan akal. Sehingga ilmu tersebut sebenarnya diambil dan ilmu Allah Subhanahu wa Ta'ala. Dengan cara pemberitahuan dari diri-Nya lewat tangan seorang malak (malaikat) pembawa ilham." Jawaban mengenai pertanyaan tersebut mencapai tiga halaman. Ringkasnya, tuan-tuan jin itu telah mengajukan delapan puluh pertanyaan rumitrumit kepada Syaikh Abdul Wahhab Sya'-rani. Saya tidak bermaksud untuk mengemukakan pertanyaanpertanyaan ke sidang pembaca, yang tampaknya pertanyaanpertanyaan itu melebihi kapasitas kebanyakan orang-orang terpelajar. Persoalanpersoalan pelik tersebut telah dijawab oleh Syaikh Abdul Wahhab Sya'rani dalam 131 halaman. Pada bagian akhir, beliau berpesan kepada mereka, "Pikirkanlah oleh tuan-tuan dan pahamilah benar-benar, dan jika tuan-tuan merasa belum puas, silakan tanyakan kepada para ulama arifin - ahli ma`rifat - selain aku. Itulah jawabanku untuk sementara. Tetapi boleh jadi, setelah beberapa waktu lagi Allah memberikan ilmu yang lebih tinggi kepadaku. Hanya milik Allah-lah segala puji dan kasih sayang sejak awalnya sampai akhirnya, lahir dan batinnya dan seterusnya. "Orang yang Meragukan dan Mengingkari Eksistensi Jin
http://www.akhirzaman.info/

Menolak dan Membentengi Diri dari Sihir

Abdul Kholiq Al-Athar

Banyak orang yang masih mengingkari keberadaan jin. Di samping ada juga yang meragukan, apakah jin itu ada atau tidak ada. Padahal, semestinya, jika Alquran telah menetapkan keberadaan jin, maka tidak ada jalan untuk meragukan dalam mempercayai keberadaan mereka itu. Keberadaan mereka telah dikisahkan oleh Allah Subhanahu wa Ta'ala lewat surah jin dan lain-lainnya. Sebaiknya orang-orang yang meragukan Hal. Hal. | 136 keberadaan jin atau mengingkarinya hendaklah menggunakan akal pikirannya secara sederhana saja. Sehingga dia tidak mengingkari hal-hal yang semestinya diketahui, dalam urusan agama, secara pasti dan mudah (sederhana). Dan hendaklah dia tidak membohongkan sebagian kandungan Alquran sebagai kalam Allah Subhanahu wa Ta'ala. Sebab jika mereka membohongkan sebagian kandungan Alquran, maka mereka termasuk orang-orang yang kafir dan celaka - na'udzu billah min dzalika. Sebagaimana Alquran telah menetapkan eksistensi (keberadaan) alam jin ini, maka para pemikir dan para ulama pun telah mengakui dan menetapkannya. Bahkan mereka juga menerbitkan berbagai majalah yang Bering memuat alam ruh, yakni alam yang bersembunyi di balik alam nyata ini. Almarhum Muhammad Farid Wajdi, seorang filosof, pernah mengarang buku berjudul Ala Athlal Al-Madzhab Al-Maddy. Sesuai dengan judulnya, Muhammaf Farid Wajdi dalam buku tersebut menyerang orangorang yang beraliran materialisme dan mengokohkan keberadaan alam ruhy. Jadilah Anda Seorang yang Kuat Hati dan Tidak Takut Setelah Anda mengetahui hakikat-hakikat jin seperti yang telah kami kemukakan, maka saya berharap Anda menjadi orang yang kuat akal, kuat jiwa (ruh), dan kuat dalam keimanan kepada Allah serta segala peraturan dan disiplin-Nya di alam raya ini. Anda tidak perlu takut dan gentar membaca dan mengenai hakikat seperti ini. Janganlah seperti orang-orang yang membaca tentang tenaga listrik, bahwa listrik itu membuat seseorang pingsan, bahkan mati. Juga jangan seperti orang-orang yang takut ketika membaca berita mengenai gempa bumi, gunung berapi, petir, dan kedatangannya yang tiba-tiba dan sangat mengejutkan itu. Hendaklah kita membaca mengenai itu semua untuk menambah wawasan pengetahuan dan tidak merasa takut, meskipun peristiwa-peristiwa tersebut dapat menghancurkan, mengejutkan, membuat pingsan, dan suka menimbulkan kehancuran dengan tiba-tiba. Demikian pula, semestinya Anda tidak takut dan gentar ketika membaca buku mengenai permasalahan jin. Kuatkanlah akal dan hatimu, serta janganlah takut ketika mendengar berbagai peristiwa yang berkaitan dengan ulah jin. Bagaimanapun, Allah Subhanahu wa Ta'ala telah menjaga manusia dari kejahatan jin dengan peraturan dan disiplin yang diketahui oleh Allah Subhanahu wa Ta'ala. Dan, sebetulnya bahaya yang ditimpakan jin hanyalah kepada sebagian kecil manusia yang lengah dari zikrullah. Bukankah Anda terlalu jarang mendengar kejadian-kejadian yang diakibatkan oleh ulah dan perilaku jin jahat. Padahal Anda terlalu sering, bahkan tiap hari, mendengarkan berbagai kejadian alam yang sangat tragis, seperti gempa bumi dahsyat, banjir di berbagai
http://www.akhirzaman.info/

Menolak dan Membentengi Diri dari Sihir

Abdul Kholiq Al-Athar

negara, gunung berapi di berbagai belahan bumi, sambaran petir yang mematikan manusia dan menghancurkan berbagai gedung pencakar langit, dan begitu pula peristiwa kebakaran dahsyat. Sebagaimana di kalangan jin itu ada yang jahat, di kalangan mereka juga banyak jin Hal. Hal. | 137 yang baik dan saleh, bahkan ulama handal. Ada pula di antara kaum jin itu yang menjadi dokter dan biasa mengobati. Sebagaimana Allah Subhanahu wa Ta'ala telah membuat obat untuk terapi berbagai penyakit, maka demikian pula untuk menghadapi jin jahat, Allah pun menyiapkan obat penawarnya. Ketahuilah, bahwa apa yang terjadi berupa kejahatan dari kelompok jin, sebetulnya lebih disebabkan dan ditujukan untuk menjadi peringatan dan pelajaran. Di samping supaya menjadi pengetahuan bagi manusia, bahwa di balik alam nyata itu ada alam gaib yang tidak terlihat. Tetapi Allah Subhanahu wa Ta'ala menjaga dan memelihara manusia dari kejahatan kaum jin, meskipun mereka hidup berdampingan. Mengenai penjagaan Allah Subhanahu wa Ta'ala itu, Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman, Berkata Ya'qub, "Bagaimana aku akan mempercayakannya (Bunyamin) kepadamu, kecuali seperti aku telah mempercayakan saudaranya (Yusuf ) kepada kamu dahulu?" Maka Allah adalah sebaik-baik Penjaga. Dan Dia adalah Maha Penyayang di antara para penyayang (QS. Yusuf 12:64). Penjaga (Perisai) Diri dari Gangguan Jin Ada beberapa hal yang dapat menjadi perisai atau penjaga dari gangguan jin. 1. Isti'adzah, memohon perlindungan dari Allah Subhanahu wa Ta'ala dengan membaca a'udzu billahi min asy-syaithan ar-rajim. Hal ini didasarkan kepada petunjuk-Nya, Dan jika kamu ditimpa suatu godaan setan, maka berlindunglah kepada Allah. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. (QS. Al-A`raf 7:200). Dalam sebuah hadits sahih disebutkan bahwa ada dua orang laki-laki yang saling mencela di hadapan Nabi Muhammad Shallalahu’Alaihi wa Sallam sehingga muka salah seorang di antara mereka memerah. Maka Nabi Muhammad Shallalahu’Alaihi wa Sallam melerainya, dengan mengatakan, "Sesungguhnya aku telah mengetahui suatu kalimat zikir yang jika dibaca oleh seseorang pasti hilanglah kemarahannya, yaitu a`udzu billahi min asy-syaithan (aku berlindung kepada Allah dari godaan setan)." Dan seperti yang telah dikemukakan, bahwa setan itu termasuk dari kalangan jin, menurut sebagian ulama. 2. Membaca dua mu’awwidzat (mu’awwidzatain). Imam Turmudzi - rahimahullah ta’ala - meriwayatkan hadits Abu Said, dia berkata, "Rasulullah Shallalahu’Alaihi wa Sallam berlindung dari gangguan jin dan ain al-insan (mata manusia), sehingga turunlah almu’awwidzatain (Al-Falaq dan An-Nas). Setelah turun dua surah tersebut, Nabi Muhammad Shallalahu’Alaihi wa Sallam memanfaatkan keduanya dan meninggalkan
http://www.akhirzaman.info/

Menolak dan Membentengi Diri dari Sihir

Abdul Kholiq Al-Athar

selain kedua surah tersebut." Imam Turmudzi menilai hadits tersebut dengan mengaakan hadits ini hasan gharib. 3. Membaca ayat Al-Kursy, sebagaimana dikatakan Abu Hurairah r.a., "Aku dijadikan sebagai wakil Rasulullah Shallalahu’Alaihi wa Sallam untuk menjaga zakat Ramadhan - zakat fitrah. Maka, ada seseorang – Jin yang datang. Dia mencoba menumpahkan makanan. Lalu aku ambil makanan itu sambil berkata, 'Sungguh saya akan melaporkan sikap kamu kepada Rasulullah Shallalahu’Alaihi wa Sallam."' Lalu Abu Hurairah menyebutkan hadits itu selengkapnya, antara lain disebutkan ada perkataan jin yang menasihatinya agar dia terjaga dari gangguan jin, seraya berkata, "Jika kamu akan tidur, maka bacalah ayat kursi. Pasti engkau selalu mendapatkan penjaga dirimu dari Allah dan tidak akan didekati setan sampai shubuh." Nabi Muhammad Shallalahu’Alaihi wa Sallam bersabda, "Kamu benar, dan dia bohong. Itulah setan." 4. Membaca surah Al-Baqarah. Dalam sebuah hadits dari Suhail dari Abu Hurairah r.a. disebutkan bahwa Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam pernah bersabda, ' Janganlah kalian jadikan rumah-rumah kalian sebagai kuburan. Sesungguhnya rumah yang dibacakan padanya surah Al-Baqarah tidak akan didekati setan." 5. Membaca penutup (akhir) surah Al-Baqarah. Dalam sebuah hadits sahih, Abu Masud Al-Anshary mengatakan bahwa Rasulullah Shallalahu’Alaihi wa Sallam bersabda, "Siapa yang membaca dua ayat akhir surah Al-Baqarah, maka itu mencukupi keselamatan dan keamanannya." 6. Membaca La Ilaha Ila Allah. Dalam hadits yang diriwayatkan Imam Turmudzi dari Nu'man bin Basyir r.a. dari Rasulullah Shallalahu’Alaihi wa Sallam., "Siapa yang membaca La ilaha illallah wandahu la syarika lah lahu al-mulku wa lahu al-hamdu wa huwa ala kulli syai'in qadir ... (hlm. 151) "Tidak ada tuhan yang berhak disembah selain Allah dan tidak ada sekutu bagi-Nya. Hanya milik-Nya segala kerajaan dan hanya milik-Nya segala puji. Dan Dia Mahakuasa atas segala sesuatu", sebanyak seratus kali, maka zikir tersebut senilai dengan memerdekakan sepuluh budak sahaya. Dicatat baginya seratus kebaikan. Dihapuskan darinya seratus dosa. Zikir tersebut juga dapat menjadi perisai baginya dari godaan dan gangguan setan pada hari itu sampai sorenya ... sampai akhir hadits." Pengaruh Alquran dan Zikir (Lainnya) Terhadap Jin Alquran dan zikir, seperti doa dan bacaan-bacaan/wirid lainnya, sangat berpengaruh terhadap jin. Diriwayatkan dari Abu Khalid Al-Walibi, "Aku pernah keluar dari rumah sebagai utusan kepada Umar - rahimahullah ta’ ala. Aku singgah di suatu rumah, sedang istriku ada di belakangku. Aku mendengar suara anak-anak dan permainan mereka yang membisingkan (suara gaduh). Aku membaca Alquran dengan keras. Tiba-tiba aku mendengar suara barang yang jatuh dengan keras. Lalu aku tanyakan hal itu kepada
http://www.akhirzaman.info/

Hal. Hal. | 138

Menolak dan Membentengi Diri dari Sihir

Abdul Kholiq Al-Athar

orang-orang di sekitar itu. Mereka berkata, "Kami diambil (ditarik) oleh setan-setan lalu mereka mempermainkan kami. Ketika kamu membaca Alquran dengan suara keras, mereka melepaskan kami lalu pergi." Ibn Aqil, dalam Al-Funun, menghikayatkan. Dia mempunyai satu rumah di Hal. Hal. | 139 Zhafariyyah, daerah sekitar kota Baghdad, yang apabila didiami oleh manusia, mereka akan mati. Lalu datanglah seorang qari' atau pembaca Alquran. Dia menyewa rumah tersebut. Ibn Aqil pun mengintip rumah tersebut ketika didiami qari' itu. Dia tidur, dan ketika bangun di pagi hari ternyata dia selamat. Tetangga sekitarnya merasa kaget. Dia bermukim di rumah itu sebentar lalu pindah lagi. Ketika ditanya mengenai kejadian itu, dia menjawab, "Ketika aku bermalam di rumah tersebut, aku melakukan shalat isya' dengan membaca beberapa ayat Alquran. Tiba-tiba ada seorang pemuda yang naik dari sumur seraya mengucapkan salam kepadaku. Maka aku jawab salamnya. Lalu dia berkata, "Tidak apa-apa atas kamu (kamu tidak akan celaka berada di sini). Ajarilah aku beberapa ayat Alquran." Maka aku pun mulai mengajarinya. Lalu aku bertanya kepadanya, " Bagaimana cerita rumah ini?" Dia menjawab, "Kami adalah kaum jin Muslim. Kami biasa melakukan shalat dan membaca Alquran. Rumah ini umumnya tidak didiami kecuali oleh orang-orang jahat (fasik). Lalu kami cekik mereka." Aku berkata lagi, "Pada malam hari aku takut padamu, maka sebaiknya engkau datang di siang hari." Lalu sang qari' itu mengatakan, "Selanjutnya dia naik dari sumur pada siang hari dan aku mengetahuinya ..." sampai seterusnya. Imam Muslim dan Abu Dawud meriwayatkan dari Jabir r.a. bahwa dia pernah mendengar Rasulullah Shallalahu’Alaihi wa Sallam bersabda, 'Jika seseorang memasuki rumahnya, dan dia ber-zikrullah ketika masuk rumahnya dan ketika makan, maka berkatalah setan kepada kawan-kawannya, "Kamu tidak dapat bermalam dan tidak mendapat makanan malam." Dan jika dia membaca atau menyebut asma Allah ketika masuk rumahnya tetapi tidak membacanya jika makan, maka saran kepada temantemannya berkata, "Kamu sekalian dapat makanan malam, tetapi tidak bisa bermalam di sini." Tetapi jika dia tidak menyebut Allah (zikrullah) ketika memasuki rumahnya, maka setan berkata, "Kamu sekalian dapat bermalam dan mendapat makanan malam." Tempat Jin Seringnya jin berdiam di tempat-tempat najis. Maka setiap prang harus memohon perlindungan Allah - ber-isti'adzah ketika memasuki tempat-tempat najis itu. Dalam hadits Anas r.a. yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Imam Muslim dikatakan, bahwa Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam jika memasuki kakus (tempat membuang hajat) suka membaca zikir Allahumma inni a`udzu bika min al-khubutsi wa al-khaba'itsi "Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada Engkau dari jin laki-laki dan jin perempuan." Sedang menurut riwayat Said bin Manshur dalam Sunan-nya, beliau membaca Bismillah Allahumma inni a'u"dzu bika min al-khubutsi wa al-khaba'itsi, yakni dengan
http://www.akhirzaman.info/

Menolak dan Membentengi Diri dari Sihir

Abdul Kholiq Al-Athar

tambahan Bisrnillah. Maksudnya, zikir tersebut hendaknya dibaca sebelum memasuki kakus dan bukan sesudahnya. Hal itu untuk menjaga asma Allah Subhanahu wa Ta'ala dari tempat-tempat najis. Di samping ttu, zikir tersebut juga pantas untuk dibaca ketika memasuki atau Hal. Hal. | 140 melewati tempat-tempat kosong dan gelap, padang sahara, bukit-bukit, tempat-tempat air, dan lain-lainnya yang seperti itu, karena jin biasanya berada di tempat ,-tempat seperti itu. Di samping membaca zikir seperti itu, setiap Muslim juga hendaklah mempunyai hati yang kuat, akidah yang kokoh, penuh harap atas rahmat dan penjagaan dari Allah Subhanahu wa Ta'ala. Karena siapa yang mempunyai pengharapan akan rahmat Allah Subhanahu wa Ta'ala, maka pasti dia akan menemukannya. Sebagaimana diisyaratkan oleh firman-Nya, Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang bertakwa dan orang-orang yang suka barbuat kebajikan (QS. An-Nahl 16:128) Tentu saja akan lebih baik dan lebih mantap jika had yang kuat, yang dikokohkan dengan akidah yang mantap, lalu disertai zikir, yaitu membaca Alquran dan lain-lainnya. Pada sikap demikian sebenarnya terdapat kebaikan yang banyak. Perbuatan-perbuatan demikian akan mengokohkan jiwa (ruh), dan jika ruh telah kuat dan kokoh, maka Allah akan menjaganya dari berbagai bahaya dan gangguan. MUKJIZAT FISIK SEBAGAI TANDA KEBENARAN NABI 1.Hakikat Mukjizat Mukjizat termasuk bagian dari tanda-tanda kebenaran para nabi a.s. mengenai apa yang mesti mereka sampaikan dari Allah Subhanahu wa Ta'ala kepada umatnya. Tetapi sebelum membicarakan cara membuktikan mukjizat nabi yang menunjukkan kebenaran kenabiannya, akan dijelaskan terlebih dahulu hakikat (definisi) mukjizat. Kata mukjizat, secara etimologis berasal dari kata 'ajz (lemah). Kata ini sebagai lawan dari kata qudrah. ('kuasa). Atas dasar itu, maka urusan mukjizat itu ialah sesuatu yang melemahkan (mu’jiz) terhadap kekuasaan makhluk untuk membuat atau membuktikan yang seperti itu. Sedang mukjizat menurut definisi terminologis, seperti yang dikemukakan oleh ulama ilmu kalam (teolog) ialah sesuatu yang luar biasa disertai penentangan, yakni pengakuan sebagai rasul atau pengemban risalah, dan tidak ada makhluk yang dapat meniru atau membuat hal yang sama. Mengenai definisi mukjizat tersebut, As-Sa'd berkata, "Mukjizat ialah sesuatu yang tampak berbeda dengan kebiasaan yang diakui oleh orang yang mengaku sebagai nabi/rasul ketika menentang orang-orang yang mengingkarinya atau menentangnya.
http://www.akhirzaman.info/

Menolak dan Membentengi Diri dari Sihir

Abdul Kholiq Al-Athar

Dibuktikan, bahwa orang-orang yang menentang itu tidak mampu menjawab tantangan nabi/rasul tersebut." Sementara, menurut shahib (pengarang) Al-Marafiq, mukjizat itu ialah apa yang digunakan untuk menampakkan kebenaran orang yang mengaku sebagai rasul utusan Hal. Hal. | 141 Allah Subhanahu wa Ta'ala. Konsekuensi logis dari berbagai definisi tersebut, bahwa mukjizat mesti berupa barang yang fisikal atau berwujud materi, berupa perkataan atau perbuatan, positif atau negatif. Dan perkataan atau perbuatan tersebut mesti hanya dari Allah Subhanahu wa Ta'ala, dan bukan dari yang selain-Nya. Tanda yang berupa perkataan atau perbuatan tersebut dimaksudkan untuk membenarkan orang yang mengaku sebagai nabi atau rasul, dan disertai tantangan. Kebenaran itu terbukti ketika tidak ada manusia biasa yang mampu membuktikan hal seperti itu, serta tak berdaya untuk menandinginya. Sebagaimana yang didatangkan atau dibawa oleh salah seorang di antara mereka, misalnya berupa Alquran, tongkat, dan lain-lain. Seorang Nabi diakui kebenarannya selama perbuatan atau perkataan itu benarbenar menjadi bukti penguat baginya, tidak bertentangan (kontradiksi), dan cocok dengan dakwahnya. Dia sendiri juga tetap melakukan ajaran dakwahnya dan tidak mengabaikan atau terlambat mengamalkannya. Dia juga tidak boleh mendahului pengamalannya. Selama perbuataan yang dilakukan nabi itu dari Allah untuk memuaskan (menyenangkan) manusia dengan mengakui kenabian orang yang mengaku sebagai nabi, maka perbuatan tersebut mesti berbeda dengan kebiasaan (luar biasa). Juga mesti tidak sejalan dengan apa yang dikenal oleh kebanyakan manusia biasa yang aneh-aneh, dan perbuatan-perbuatan baru inovatif yang mereka saksikan. 2. Syarat-Syarat Mukjizat Tuan 'Adhad AI-Din Abdurrahman Al-Iyjy membatasi keistimewaan-keistimewaan mukjizat itu pada beberapa poin. Dengan terlebih dahulu mengemukakan syarat-syarat mukjizat sebagai berikut: Pertama, bahwa mukjizat merupakan perbuatan (rekayasa) Allah Subhanahu wa Ta'ala atau yang menduduki kedudukannya, Karena upaya untuk membenarkan dari sisiNya tidak akan tercapai dengan apa yang bukan dari sisi-Nya. Kata-kata, ''Yang menduduki kedudukannya" dimaksudkan untuk mencakup hal-hal seperti pernyataan "Mukjizatku adalah (aku) meletakkan tanganku pada kepalaku, sedang kalian tidak mampu melakukannya." Lalu dia melakukannya dan orang lain tidak mampu melakukannya. Maka yang demikian ini adalah mukjizat. Di situ tidak ada perbuatan Allah sebab jika Allah tidak menciptakan kemampuan (qudrah) itu bukan fi'l-perbuatanNya. Dan siapa yang membuat (menentukan) al-tarku-meninggalkan untuk membuat kemampuan pada manusia-sebagai wujudiyyan (ada/eksis), maka dia mesti menghilangkannya (hIm. 156).
http://www.akhirzaman.info/

Menolak dan Membentengi Diri dari Sihir

Abdul Kholiq Al-Athar

Hal. Hal. | 142

Kedua, sebuah mukjizat harus luar biasa (berbeda dengan kebiasaan). Sebab tanpa itu, tidak ada tanda keunggulannya (i'jaz-nya). Sedang menurut segolongan orang bahwa mukjizat itu mesti tidak ditentukan atau ditakdirkan untuk nabi. Tetapi syarat ini tidak menjadi masalah penting. Sebab kemampuannya untuk melakukan sesuatu yang tidak dicapai dengan kemampuan orang lain, biasanya merupakan mukjizat. Ketiga, mukjizat mesti tidak ada tandingan (oposisi)-nya, sebab jika benar-benar tidak ada tandingannya (oposisinya) berarti betul-betul merupakan mukjizat. Keempat, mukjizat mesti tampak pada tangan orang yang mengaku sebagai nabi. Hal itu diperlukan untuk diketahui bahwa mukjizat tersebut memang untuk membuktikan kebenarannya. Lalu, apakah disyaratkan pernyataan terang-terangan dengan menantang? Menurut pendapat yang paling benar, tidak perlu. Bahkan cukup ditampakkan melalui tanda-tanda dari kondisi nabi tersebut. Seperti jika dikatakan kepadaya, "Jika kamu benar-benar nabi, coba perlihatkan keunggulanmu (mukjizatmu)." Maka dia hendaklah membuktikannya. Kelima, mukjizat mesti cocok dengan pengakuannya. Seperti jika dia mengatakan, "Mukjizatku adalah menghidupkan yang telah mati." Tetapi ternyata dia melakukan hal luar biasa lainnya, maka itu belum menunjukkan kebenaran kenabiannya. Keenam, apa yang diakui atau diperlihatkan tidak boleh membohongkannya. Jika dia berkata, "Mukjizatku ialah kemampuan hewan biawak (dhabb) ini untuk berbicara." Lalu dia menegaskan bahwa itu bohong, maka kebenaran kenabiannya tidak diketahui. Bahkan keyakinan orang lain semakin bertambah mengenai kebohongannya. Tetapi seandainya dia berkata, "Mukjizatku adalah menghidupkan mayat", lalu dia menghidupkannya, kemudian dia sendiri membohongkannya, maka dalam kondisi demikian ada dua kemungkinan. Kemungkinan pertama, bahwa itu tidak menjadi mukjizat. Kemungkinan kedua, dan ini merupakan pendapat yang benar, itu sudah merupakan mukjizat, dan pengakuannya itu tidak merusak kemukjizatan perilaku atau tindakannya. Sebab yang mu'jiz atau yang menjadi mukjizat adalah menghidupkan, dan itu telah terbukti. Setelah itu, terserah dia, mau membenarkannya atau membohongkannya. Pengakuan setelah membuktikan mukjizatnya itu tidak berkaitan dengan mukjizatnya yang telah terbukti. Adajuga yang mengatakan, jika dia menghidupkan kembali mayat, lalu mayat itu hidup dalam jangka waktu yang cukup lama, seperti yang diperlihatkan dan dibuktikan oleh Nabi Isa a.s., maka itu tetap mukjizat; tetapi jika setelah hidup kembali beberapa detik kemudian mayat itu mati lagi, maka jelas itu hanya kebohongan belaka, Sebut saja itu sihir. Jadi, yang benar, ada perbedaan antara kedua gambaran tersebut. Sehingga yang tampak benarnya adalah tidak wajibnya menentukan (menyatakan) mukjizat tersebut. Ketujuh, bahwa mukjizat itu tidak boleh mendahului sebuah pengakuan, tetapi
http://www.akhirzaman.info/

Menolak dan Membentengi Diri dari Sihir

Abdul Kholiq Al-Athar

Hal. Hal. | 143

harus bersarna-sama menyertainya. Sebab upaya pembenaran (tashdiq) sebelum ada pengakuan tidak rasional. Jika seseorang mengatakan, "Mukjizatku adalah apa yang telah tampak pada tangan (kemampuanku) sebelum ini, maka hal itu belum menjadi bukti kebenaran kenabiannya. Setelah itu dia masih dituntut untuk membuktikannya. Jika ternyata dia tidak mampu, maka bohonglah dia dalarn pengakuannya. Demikian syarat mukjizat menurut Ustadz 'Adhaduddin Abdurrahman Al-Iyjr. Sebagian ulama masih menambahkan lagi syarat-syarat mukjizat tersebut. Yakni, bahwa unsur keluarbiasaan dari mukjizat yang bertujuan membenarkan orang yang mengaku sebagai nabi itu tidak terjadi saat kebiasaan-kebiasaan manusia sedang hancur atau kacau. Jika tidak disyaratkan demikian, maka Al-Masih Ad-Dajjal, seorang biang kerok kebohongan, akan datang membawa berbagai macam keluarbiasaan yang betul-betul luar biasa, tetapi terjadi saat kebiasaan-kebiasaan manusia sedang hancur dan kacau. Keluarbiasaan Al-Masih Ad-Dajjal itu tidak menunjukkan bahwa dia mempunyai hubungan dengan langit, atau bahwa itu dari sisi Allah Subhanahu wa Ta'ala. Mungkin kita dapat menyimpulkan bahwa syarat-syarat mukjizat yang telah dikemukakan tersebut tampaknya merupakan konklusi atau kesimpulan dari beberapa ta'rif atau definisi yang telah disebutkan. Yakni, bahwa definisi-definisi itu telah mencakup persyaratan-persyaratan mukjizat yang telah disebutkan. 3. Bukti Mukjizat Para Nabi yang Menunjukkan Kebenaran (Kenabian)

Setelah kita mengetahui berbagai ta'rif atau definisi mukjizat dan penentuan syaratsyaratnya serta keistimewaannya, tampaknya kita perlu mengetahui pula dilalah, yaitu penunjukan perbuatan atau bukti untuk membenarkan nubuwwah (kenabian) para nabi. Ketika kita melihat dan memperhatikan berbagai keistimewaan dari perbuatan yang mu'jiz-melemahkan - itu kita mengetahui bahwa hal itu merupakan perbuatan Allah Subhanahu wa Ta'ala yang membuat manusia tidak mampu menirukan atau melakukan hal yang sama seperti itu. Dan orang yang mengaku nabi pun adalah dari kelompok basyar (manusia). Jadi dia termasuk dalam kelompok manusia yang sama-sama mempunyai kemungkinan dan kemampuan yang sama seperti kebanyakan manusia lain. Jika ada pada nabi itu apa yang tidak dapat dilakukan oleh manusia lain, bahkan makhluk mana pun tidak akan mampu melakukannya, maka jelaslah bahwa apa yang terjadi padanya berupa mukjizat, yaitu perbuatan (karya) Allah Subhanahu wa Ta'ala yang diperlihatkan kepadanya untuk membenarkan pengakuan kenabiannya. Perbuatan Allah Subhanahu wa Ta'ala yang diperlihatkan pada manusia itu secara garis besar ada dua. Pertama, perbuatan yang biasa dilaku- kan oleh kebanyakan manusia dan mereka mengenalnya. Kedua, perbuatan Allah yang tidak biasa dilakukan oleh manusia dan tidak diketahuinya.
http://www.akhirzaman.info/

Menolak dan Membentengi Diri dari Sihir

Abdul Kholiq Al-Athar

Adapun perbuatan-perbuatan yang dapat diketahui dan bahkan dilakukan oleh manusia disebut al-qawanin wa al-asbab al-'adiyah "hukum alam dan sebab-sebab kebiasaan" yang ditentukan Allah Subhanahu wa Ta'ala pada alam sejak Allah menciptakannya sampai waktu yang tidak diketahui kecuali oleh Allah sendiri. Hal. Hal. | 144 Jadi, Allah Subhanahu wa Ta'ala yang telah menciptakan materi (makhluk) lengkap dengan hukum peraturannya dan keistimewaannya. Dari sekian hukum atau peraturan dan keistimewaan itu ada yang kita ketahui, dan tidak sedikit yang belum (tidak) kita ketahui. Di antara hukum dan spesifikasi itu ada yang dapat kita jangkau dengan kemampuan kita, jika terdapat peralatan untuk menjangkaunya, dan ada pula yang tidak dapat kita jangkau dengan kemampuan kita. Mengenai qawanin maddah. "hukum alam'', tak ada dikatakan oleh para ulama atau para sarjana bahwa dia telah menemukan suatu qanun (hukum atau peraturan) di antara sekian hukum yang ditentukan Allah Subhanahu wa Ta'ala pada alam. Atau, mereka itu menyandarkan (memasukkan) suatu keistimewaan pada materi alam yang sebelumnya tidak menjadi milik materi alarn tersebut. Paling banter, mereka berani mengaku telah diberi kemampuan untuk mengungkapkan (iktisyaf) atau menemukan sebagian qanun (hukum) alam yang sebetulnya telah ada pada benda atau materi tersebut sejak beberapa tahun yang lalu. Mereka sendiri tidak mampu memastikan kapan permulaan lahirnya itu. Tetapi mereka rnencoba memeriksa dan meneliti, lalu berkesimpulan bahwa hukum tersebut ada titik permulaannya (titi mangsanya). Jadi, berbagai hukum dan peraturan alam yang ditemukan para sarjana atau ulama itu tidak diakui oleh salah seorang di antara mereka sebagai hasil karya inovatifnya atau ciptaannya. Meskipun orang-orang terkemudian mengatakan - dan itu tentu keliru - bahwa itu suatu hukum yang diciptakan oleh seseorang. Tak ada seorang pun dari kalangan sarjana atau penemu aturan alam yang baru itu berani menjawab pertanyaan mahma kanat "kapan hukum atau aturan itu terjadi?". Mereka merasakan betapa lemah diri mereka untuk mengungkap sebab-sebab terjadinya suatu hukum alam. Paling banter, mereka berani menjawab dalam batas-batas temuannya pertanyaan itu, "Bagaimana caranya hukum itu terjadi (kayfa kanat)?" Jika ada kesepakatan para sarjana atau ulama dari yang paling pandai sampai yang lebih pandai lagi, bahwa mereka tidak berinovasi membuat suatu hukum alam tertentu dan mereka hanya menemukannya, itu menunjukkan bahwa yang berinovasi membuat qanun (hukum atau aturan alam) itu jauh melebihi kemampuan mereka dan di atas kemampuan mereka. Dia adalah yang mengadakan (menciptakan) hukum alam tersebut ketika Dia menciptakan alam (materi). Yang demikian itu jarang terjadi pada ilmu tumbuh-tumbuhan dan ilmu hewan (ilmu hayat), begitu pula dalam lapangan atom dan benda-benda yang sulit dilihat. Semua berjalan pada aturan yang telah digariskan dan landasan-landasan yang tetap yang biasa
http://www.akhirzaman.info/

Menolak dan Membentengi Diri dari Sihir

Abdul Kholiq Al-Athar

dihadapi dan dilakukan oleh manusia, serta telah diketahui olehnya. Secara bertahap mereka dapat menggunakan dan merasakan aturan alam dan landasan-Iandasannya. Kemudian mereka pun mencoba mengharmonisasikan kehidupannya dengan hukum alam dan segala aturan tersebut. Bahkan mereka mendasarkan ilmu pengetahuannya kepada hukum alam yang tetap berlaku sesuai dengan peraturannya yang telah Hal. Hal. | 145 ditentukan dengan kaitan atau hubungan yang kuat antara sebab dan akibatnya. Berkat rahmat kasih sayang Allah Subhanahu wa Ta'ala terhadap makhluk-Nya, Allah memberlakukan segala hukum alam dan tata aturannya bagi mereka sedemikian rupa sehingga mereka dapat hidup di alam ini dengan nyaman. Bahkan mereka juga dapat menentukan suatu disiplin ilmu (pengetahuan) di alam ini. Dan berkat rahmat kasih sayang Allah Subhanahu wa Ta'ala terhadap makhluk-Nya, Dia telah membuat hukum parsial khusus (spesifik), ciri-ciri, tanda-tanda istimewa yang membedakan suatu kumpulan makhluk dari kumpulan makhluk alam lainnya. Tidak ada tujuan atau kepentingan ilahiyah (ghayah ilahiyyah) yang ikut campur di antara jenis-jenis makhluk atau macam-macamnya. Jika ada intervensi-keikutcampuran - Tuhan terhadap jenis dan macam-macam makhluk, maka manusia tidak akan dapat membangun suatu disiplin ilmu pengetahuannya ataupun dasar-dasarnya. Alam hewan mempunyai hukum atau tata aturan umum. Dan berbagai macam hewan pun mempunyai hukum khusus (spesifik) dan karakteristik - sifat-sifat khusus - yang membedakannya dari yang lain. Sebagai contoh dari pernyataan-pernyataan tersebut, singa tidak berubah menjadi gajah, padahal keduanya satu jenis (spesies). Demikian pula, kera tidak berubah menjadi manusia, padahal keduanya pun dari satu jenis (spesies). Dan hal itujarang terjadi pada berbagai macam hewan lainnya (hlm. 159). Jika pembicaraan kita dialihkan kepada masalah tumbuhan, maka kita pun akan mengetahui bahwa tumbuhan pun mempunyai qanun atau hukum yang umum. Dan setiap fashilah atau bagian atau macam dari tumbuhan tersebut mempunyai ciri-ciri khas atau keistimewaan tertentu yang membedakannya dari tumbuhan lainnya yang samasama berada di lingkaran hukum atau tata aturan jenis tumbuhan secara umum. Semua qanun atau hukum alam yang baku tersebut adalah perbuatan (ciptaan) Allah Subhanahu wa Ta'ala yang dikenakan atau ditetapkan bagi alam. Dan, sebagian dari hukum atau peraturan alam itu ada yang diketahui manusia, dan tidak sedikit yang belum diketahuinya. Kita tidak akan berpaling atau memperhatikan orang yang telah berubah sikapnya dengan kemampuan ilmu pengetahuannya yang terbatas, lalu dia berpaling untuk mengakui kekuasaan atau kemampuannya sendiri. Kernudian dia mempunyai keyakinan bahwa dirinya dapat menguasai materi alam ini, bahkan dia menduga bahwa dirinya mempunyai kekuasaan untuk menguasai materi alam. Sungguh pengakuan atau dugaan tersebut sangat bohong. Jika ada seseorang yang berkeyakinan bahwa dia dapat menguasai materi dan mampu memperlakukan semaunya, dan memutuskan
http://www.akhirzaman.info/

Menolak dan Membentengi Diri dari Sihir

Abdul Kholiq Al-Athar

keterkaitan alamnya dari Allah Subhanahu wa Ta'ala, seraya meyakini bahwa dirinya berkuasa karena sebagai tuhan dan bukan lagi hamba, maka tentu saja Allah akan menarik berkah karunia pemberian-Nya yang mengangkat (menghilangkan) segala berkah dari nikmat-Nya. Hal. Hal. | 146 Dalam kaitan ini, Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman, “Sesungguhnya perumpamaan hehidupan duniawi itu adalah seperti air (hujan) yang Kami turunkan dari langit, lalu tumbuhlah dengan suburnya karena air itu tanaman-tanaman bumi, di antaranya ada yang dimakan manusia dan binatang ternak. Hingga apabila bumi itu telah sempurna keindahannya, dan memakai (pula) perhiasannya, dan pemilik-pemiliknya menduga bahwa mereka pasti menguasainya, tiba-tiba datanglah kepadanya azab Kami di waktu malam atau siang, lalu Kami Jadikan (tanaman-tanamannya) laksana tanamantanaman yang sudah disabit, seakan-akan belum pernah tumbuh kemarin. Demikianlah Kami menjelaskan tanda-tanda kekuasaan (Kami) kepada orang-orang yang berpikir (QS. Yunus 10:24). Di samping perbuatan Allah yang telah biasa kita lakukan dan kita kenal, dan tindakan Allah terhadap materi atau makhluk-Nya yang telah kita kenal, ternyata Allah juga mempunyai perbuatan dan tindakan (pengelolaan) lain yang belum kita kenal dan belum biasa kita lakukan. Perbuatan Allah yang belum kita kenal itu berhubungan dengan materi dan berhubungan juga dengan alam, secara umum. Jika kita mengatakan bahwa ada perbuatan Allah yang tidak dikenal, maka otomatis yang dimaksud adalah apa yang kita capai lewat penemuan-penemuan ilmiah dan upaya untuk menghilangkan hijab (tabir) dari hukum yang ada pada alam yang tertutup (al- 'alam al-mastur). Dan alhamdulilldh, Allah telah memberikan kemampuan kepada kita untuk menemukan hal-hal baru dan mendapatkan hal-hal yang asalnya tersembunyi di alam raya ini. Jadi kita tidak bermaksud - dengan perbuatan Allah yang luar biasa (ghair al-'ady) itu - berupa penemuan-penemuan ilmiah dan mengetahui hukum-hukum alam yang belum diketahui sebelumnya. Kita juga tidak memaksudkan - perbuatan-perbuatan Allah yang luar biasa itu - dengan apa yang biasa dilakukan sebagian orang dengan mengadakan kontak hubungan langsung dengan alam-alam yang tidak terlihat (oleh mata); atau membuat tindakan-tindakan (ganjil) atau perbuatan-perbuatan (ajaib) yang tidak dapat dilakukan oleh (umumnya) kami - sebagai manusia - dengan segenap kemampuan dan kelebihan kami. Jadi, sekali lagi kami tidak memaksudkan - dengan perbuatan Allah yang luar biasa itu - adalah hal-hal yang telah kami sebutkan itu, tetapi, yang kami maksudkan adalah sesuatu yang lain yang kami pahami dan kami yakini adanya, tetapi kita (kami) tidak dapat melakukan atau membuat (mendatangkan) yang seperti itu. Sebagai contoh, Alquran menghikayatkan kisah Nabi Ibrahim a.s. Disiapkanlah oleh raja Namrudz kayu bakar lalu dinyalakan dengan api yang menggejolak untuk
http://www.akhirzaman.info/

Menolak dan Membentengi Diri dari Sihir

Abdul Kholiq Al-Athar

Hal. Hal. | 147

membakar Nabi Ibrahim a.s. serta dilakukan segala usaha yang biasa untuk melakukan pembakaran itu. Nabi Ibrahim adalah sesosok tubuh yang terdiri dari fisik materiel yang dapat terbakar. Sedang api juga merupakan unsur alam yang mempunyai hukum alam (kebiasaan) membakar. Maka, jika segala unsur yang mematikan telah siap, sedang undang-undang atau hukum alam materiel pun menetapkan bahwa jika ada persambungan (gesekan) antara fisik yang memungkinkan untuk dibakar dengan api yang mempunyai spesifikasi membakar, dan kondisi hukum alam pun terbukti cocok atau sesuai dengan tuntutan, maka pasti terjadilah pembakaran sebagai konsekuensi logis dari hukum alam (kebiasaan). Musuh-musuh Nabi Ibrahim a.s. juga mengetahui semua spesifikasi atau keistimewaan-keistimewaan alam yang demikian ini. Lalu mereka pun ingin melepaskan diri mereka dari ajakan dakwah Nabi Ibrahim a.s. dengan menggunakan undang-undang atau hukum Tuhan semacam itu. Mereka menyalakan api yang panas dan mereka menginginkan Nabi Ibrahim a.s. dilemparkan ke dalam lautan nyala api tersebut. Sebetulnya, menurut pertimbangan manusiawi, dapat saja ada pertolongan Allah terhadap Nabi Ibrahim a.s. melalui cara yang telah kita kenal. Seperti adanya salah satu unsur alam yang tidak berfungsi, misalnya ada angin kencang yang berhembus sehingga tidak memungkinkan api untuk menyala atau turunnya hujan yang sangat lebat. Tetapi, rupanya cara-cara seperti itu dapat diketahui bahkan telah biasa pula dilakukan oleh manusia biasa. Allah Subhanahu wa Ta'ala telah memberikan memampuan kepada manusia untuk memadamkan api. Dan upaya untuk sekadar memadamkan api itu telah dikenal dengan mudah oleh manusia biasa sekalipun. Tetapi cara-cara atau perantaraan-perantaraan yang belum biasa dilakukan dan bahkan tidak diketahui oleh manusia adalah jika terjadi segala unsur hukum atau tata aturan duniawi telah tersedia lengkap tetapi tidak berfungsi. Atau segala aturan hukum dengan segala sendinya telah siap tetapi ternyata melahirkan hasil yang sangat berbeda dengan apa yang telah dikenal oleh kebanyakan manusia biasa. Nabi Ibrahim a.s. dilemparkan ke dalam lautan nyala api dan Allah pun tidak memadamkan api, tetapi ternyata hukum alam, yaitu kebiasaan api membakar itu melahirkan sesuatu yang tidak sesuai dengan yang ditunggu-tunggu dan tidak dikenal oleh manusia, bahkan oleh makhluk mana pun sepanjang masa di seluruh dunia. Itulah i'jaz yang membuat manusia menjadi lemah untuk melakukannya, karena Allah hanya memfirmankan, Kami katakan, "Wahai api, jadilah kamu dingin dan menyelamatkan Ibrahim. Mereka ingin menipu (memperdayakan) Ibrahim." Lalu Kami jadikan mereka sebagai orang-orang yang paling merugi (QS. Al-Anbiya' 21:69-70). Di dalam Alquran juga terdapat kisah Nabi Musa a.s. dengan kaumnya, di samping dengan Firaun di Mesir. Dalam kisah Nabi Musa a.s. dengan Fir'aun Mesir, kita menemukan berbagai hal yang
http://www.akhirzaman.info/

Menolak dan Membentengi Diri dari Sihir

Abdul Kholiq Al-Athar

Hal. Hal. | 148

betul-betul menyentuh kalbu dan menarik perhatian kita. Fir'aun ingin mengalahkan hujjah Nabi Musa a.s. ketika dia berkeyakinan bahwa Nabi Musa adalah tukang sihir. Lalu dia menetapkan suatu perjanjian untuk mempertemukan Nabi Musa a.s. dengan para tokoh sihir yang menjadi bawahannya. Dengan kecerdasannya sebagai nabi, Nabi Musa a.s. memilih waktu untuk pertemuan itu, yakni hari berkumpulnya banyak orang. Berkumpullah para ahli sihir dari berbagai penjuru. Mereka bersiap-siap untuk menampilkan keahliannya dengan mengemban tugas dari Fir'aun seraya diiming-imingi hadiah yang sangat menarik yang memperdayakan mereka. Para ahli sihir itu merasa lebih kuat karena mendapat motivasi dari Raja Fir'aun. Mulailah mereka mengerahkan segala daya dan kekuatannya untuk melakukan tipu muslihat yang memperdayakan dan menarik hati manusia yang menyaksikannya. Sehingga, Alquran Al-Karim menghikayatkan kepada kita mengenai diri Nabi Musa a.s. sendiri yang tampak merasa takut ketika menyaksikan tali-temali dan tongkat-tongkat-terbayangkan padanya dan pada orang-orang yang hadir di situ - seakan-akan merayap dengan cepat lantaran kemampuan tipu muslihat (sihir) para ahli sihir. Secara alami, Nabi Musa a.s. merasa takut bukan oleh perbuatan ahli sihir itu, tetapi - Wallahu a'lam - oleh kuatnya pengaruh sihir terhadap para hadirin yang menyaksikan. Bahkan mereka juga berpaling dari Nabi Musa a.s. seraya menoleh dan mencurahkan perhatiannya kepada ahli sihir. Di sini terjadi sesuatu yang sangat mempengaruhi manusia berupa perhatian Allah Subhanahu wa Ta'ala. Yaitu, ketika Dia tidak melepaskan tongkat-tongkat dan tali-temali dari materi yang menutupinya, sebab kejadian demikian dapat dicapai oleh kemampuan dan kekuatan manusia. Dia pun tidak menghendaki untuk memalingkan hati manusia yang menyaksikan peristiwa aneh itu dan membelokkannya kepada kesalehan Nabi Musa a.s., karena yang demikian juga termasuk hal yang biasa disaksikan oleh kita setiap hari. Justru, ketika ada perhatian dan intervensi (keikutsertaan pengaruh) Tuhan, tongkat itu berubah menjadi ular. Yakni, jenis tongkat itu berubah dari ciri spesifiknya ke ciri spesifik khusus yang ada pada benda lain. Ketika tumbuhan mengering, seperti tongkat itu, maka ia tidak bisa bergerak lagi dan tidak ada ihsas (daya rasa). Bahkan terputuslah hubungannya (dengan gerak dan daya rasa). Tetapi ketika tongkat itu berubah menjadi bergerak dan mempunyai rasa, maka tongkat itu telah mendapatkan ciri khusus yang ada pada hewan, yaitu dengan menjadi ular. Pembalikan jenis dan macam makhluk hanyalah merupakan perbuatan Allah Subhanahu wa Ta'ala saja. Tetapi hal tersebut belum dikenal oleh manusia dalam kehidupannya sehari-hari. Dan, berkat rahmat Allah Subhanahu wa Ta'ala , Dia tidak membuat pembalikan jenis sebagai suatu nizham "disiplin'' yang berlaku pada alam secara umum. Jika tidak begitu, maka pasti kita akan tertimpa kebingungan yang berkepanjangan. Dan boleh jadi kita hidup tanpa ketetapan dan tujuan.

http://www.akhirzaman.info/

Menolak dan Membentengi Diri dari Sihir

Abdul Kholiq Al-Athar

Hal. Hal. | 149

Ketika tongkat Nabi Musa a.s. berubah menjadi jenis lain (ular besar), tampillah segala tanda dan ciri jenis makhluk baru pada bentuknya yang paling sempurna. Apalagi ketika dia membuka mulutnya lalu menelan semua hasil pengaruh daya khayal dan sihir para ahli sihir. Dan terlihatlah bahwa itu hanya merupakan perbuatan Allah Subhanahu wa Ta'ala saja, dan bukan sihir. Mereka berhata, "Hai Musa, apakah engkau akan melempar dahulu, atau kamikah yang pertama kali (orang yang) melemparkan?" Nabi Musa a.s. berkata, "Silakan kalian melemparkan (dahulu)!" Maka tiba-tiba tali-lali dan longkal-tongkat mereka, terbayang kepada Musa seakan-akan merayap dengan cepat, lantaran sihir mereka. Maka Musa merasa takut dalam hatinya. Kami berkata, "Janganlah kamu takut, sesungguhnya kamulah yang paling unggul (menang). Dan lemparkanlah apa yang ada di tangan kananmu, niscaya ia akan menelan apa yang mereka perbuat. Sesungguhnya apa yang mereka perbuat itu adalah tipu daya tukang sihir (belaka). Dan tidak akan menang tukang sihir itu, dari mana saja dia datang." (QS. Thaha 20:65-69). Ketika Allah melakukan perbuatan-Nya yang belum kita kenal sebagai upaya pertolongan terhadap salah seorang hamba-Nya, Dia tidak melakukan sesuatu yang rumit bagi pemikiran orang-orang yang menyaksikannya dan tidak mempengaruhi suatu qanun (hukum). Tetapi Dia melakukan sesuatu yang berbeda (bertentangan) dengan suatu hukum atau peraturan; atau berbeda dengan pengaruh dari suatu hukum yang diketahui oleh ilmu para ulama (sarjana). Bahkan hal itu dapat diketahui oleh orangorang awam dengan dzauq (feeling/perasaan) mereka dan pemanfaatan terhadap pengaruh dari perbuatan Allah tersebut; atau dengan perasaan mereka terhadap segala pemberian dan karunia Allah Subhanahu wa Ta'ala. Oleh karena itu, kita menemukan taslim (penyerahan diri dan sikap mengalah) terhadap perbuatan yang keluar dari Allah Subhanahu wa Ta'ala tersebut secara langsung. Suatu taslim atau penyerahan diri yang menyerupai taslim (penyerahan), dan ketaatan terhadap apa yang mudah dipahami oleh akal, tidak mengandung hal-hal yang perlu diperdebatkan atau didiskusikan. Itulah taslim atau penyerahan diri yang menunjukkan kepuasan akal karena telah mencapai ma'rifatullah, mengenal Allah Subhanahu wa Ta'ala, seraya menyadari sepenuhnya akan kelemahan diri dibandingkan dengan ke-Mahakuasa-an Allah Subhanahu wa Ta'ala, Penciptanya. Perhatikan firman Allah Subhanahu wa Ta'ala berikut ini: “Lalu tukang-tukang sihir itu tersungkur dengan bersujud, seraya berkata, "Kami telah percaya kepada Tuhan Harun dan Musa." Berkata Fir'aun, ''Apakah kamu telah beriman kepadanya (Musa) sebelum aku memberi izin kepadamu sekalian. Sesungguhnya dia adalah pemimpinmu yang mengajarkan sihir kepadamu sekalian. Maka sesungguhnya aku akan memotong tangan dan kaki kamu sekalian dengan bersilang secara bertimbal-balik, dan sesungguhnya aku akan menyalib kamu sekalian pada pangkal pohon kurma, dan
http://www.akhirzaman.info/

Menolak dan Membentengi Diri dari Sihir

Abdul Kholiq Al-Athar

Hal. Hal. | 150

sesungguhnya kamu akan mengetahui siapa di antara kita yang paling pedih dan kekal siksanya." Mereka berkata, "Kami sekali-kali tidak akan mengutamakan kamu daripada bukti-bukti yang nyata (mukjizat) yang telah datang kepada kami, dan daripada Tuhan yang telah menciptakan kami, maka putuskanlah apa yang hendak kamu putuskan. Sesungguhnya kamu hanya akan dapat memutuskan pada kehidupan di dunia ini saja. Sesungguhnya kami telah beriman kepada Tuhan kami, agar Dia mengampuni kesalahankesalahan kami dan sihir yang telah kamu paksakan kepada kami untuk melakuhannya. Dan Allah lebih. baik (pahala-Nya) dan lebih kekal (azab-Nya)." (QS. Thaha 20:70-73). Berdasarkan contoh tersebut dan penjelasan yang lalu, jelaslah bagi kita bahwa perbuatan Allah Subhanahu wa Ta'ala yang belum terbiasa kita lakukan dan belum kita kenal itu ternyata berhubungan erat dengan qanun (hukum) yang telah kita kenal, kita paharni keadaan atau kondisinya, dan pengaruhnya telah biasa kita rasakan. Tetapi Allah tidak memperlihatkan secara jelas pengaruh atau bekas yang ditimbulkan dari perbuatan-Nya itu. Atau, Allah Subhanahu wa Ta'ala memperlakukan perbuatan-Nya yang luar biasa itu mengikuti hukum yang tidak sejalan dengan metode atau cara yang telah dikenal oleh akal kita. Jika kita renungkan segala perbuatan Allah Subhanahu wa Ta'ala yang luar biasa, yakni di luar kebiasaan kita sebagai manusia, seperti yang diungkapkan atau dihikayatkan Alquran Al-Karim dan As-Sunnah An-Nabawiyyah yang suci, kita akan menemukan bahwa perbuatan-Nya itu termasuk apa yang telah disebutkan di atas. Jika kita dalami dan kita pahami rahasianya, perbuatan luar biasa tersebut sangat berkaitan dengan hukum materiel (alam) atau dengan hukum kehidupan duniawi, di samping berkaitan juga dengan segala alat (media) ilmu pengetahuan yang biasa kita kenal. Atau juga berhubungan erat dengan segala hukum alam (al-kawn) dan peraturan makhluk yang ada di dunia ini. Dengan demikian, jelaslah bagi kita mengenai dua macam perbuatan Allah Subhanahu wa Ta'ala yang telah dikemukakan itu. Sampai di sini kita bertanya, di manakah letak mukjizat dari dua macam perbuatan Allah Subhanahu wa Ta'ala itu? Apakah mukjizat itu berada pada lingkaran perbuatan yang telah biasa kita kenal dan lakukan? Atau berada di lingkungan perbuatan yang tidak biasa kita kenal dan lakukan? Para ulama, ketika menetapkan beberapa syarat mukjizat, antara lain menyebutkan bahwa mukjizat itu mesti berbeda dengan kebiasaan (luar biasa). Artinya, hal tersebut tidak dapat dilakukan oleh manusia biasa yang menyaksikan mukjizat itu. Tetapi para ularna juga berbeda pendapat, jika mukjizat itu ternyata ditakdirkan (ditentukan) bagi nabi yang akan dikuatkan dengannya atau rnukjizat tersebut di atas kemampuannya juga. Syarat keluarbiasaan mukjizat tersebut rupanya belum begitu jelas bagi kita. Apa
http://www.akhirzaman.info/

Menolak dan Membentengi Diri dari Sihir

Abdul Kholiq Al-Athar

Hal. Hal. | 151

yang mereka inginkan dan maksudkan dengan keluarbiasaan mukjizat tersebut?·Sebab penemuan-penemuan ilmiah (yang baru) juga sering dinilai sebagai sesuatu yang luar biasa, khususnya jika dikaitkan dengan kemampuan kebanyakan manusia. Orang yang sangat cerdas dan pandai dalam berbagai penemuan-penemuan baru yang ilmiah, sering melakukan atau mendapatkan sesuatu yang luar biasa yang tidak dikenal oleh orang yang lebih lemah kemampuannya daripada dia, apalagi jika dibandingkan dengan orang-orang yang lebih cerdas lagi. Jadi, kata-kata "luar biasa" atau khariq lil'adah itu mengandung muatan umum yang perlu dibatasi dan dijelaskan lebih lanjut. Sampai saat ini, kami belum mendapatkan seorang pengarang pemikiran Islam yang mampu memberikan definisi "keluar-biasaan" mukjizat tersebut dan menjelaskannya secara rinci. Tetapi, satu hal yang pasti, bahwa sifat keluarbiasaan mukjizat yang terjadi pada para nabi dan rasul itu tidak akan sama dengan sifat keluarbiasaan penemuanpenemuan baru yang didapatkan oleh orang-orang selain para nabi dan rasul. Bagaimanapun, problema ini membawa para pakar Islam untuk berbeda pendapat dengan perbedaan yang sengit. Sebab pembahasan mukjizat dari sisi keluarbiasaannya pasti akan berhubungan secara langsung dengan segala macam yang luar biasa, dan ini tampaknya banyak sekali, yang sebetulnya bukan mukjizat. Apakah hal-hal luar biasa itu, khususnya yang bukan mukjizat, akan kita tolak secara total atau kita terima? Apakah keramat atau karamah para wali itu akan kita tetapkan dan kita terima atau akan kita tolak pula? Demikian pula, apakah hal-hal luar biasa yang terjadi pada para ahli sihir itu akan kita terima atau kita tolak mentah-mentah? Dan keluarbiasaan-keluarbiasaan lainnya yang dipertontonkan oleh sebagian orang, tetapi tidak dikenal dan tidak diketahui oleh kebanyakan orang, apakah akan kita terima atau kita tolak? Al-Mu'tazilah menetapkan dengan tegas dan pasti (hasim) mengenai permasalahan "keluarbiasaan mukjizat" itu, bahwa tidak akan terjadi khawariq lil- 'adah "yang luar biasa" kecuali untuk para nabi a.s. Sementara menurut mazhab lain, hal itu dapat terjadi pada para nabi yang sangat luar biasa dan pada selain nabi yang luar biasa. Artinya, ada pembedaan dan kriteria, serta keistimewaan tertentu baik untuk mukjizat, maupun yang lainnya. Perbedaan-perbedaan tersebut berhubungan dengan beberapa objek masalah. Kita akan bicarakan hal-hal tersebut pada bagian yang akan datang. Tetapi yang jelas, di sini kami akan menegaskan bahwa qaid (syarat) khariq lil-'adah. (luar biasa atau berbeda dengan kebiasaan) bagi mukjizat yang dijadikan salah satu syarat atau salah satu keistimewaannya itu, sebenarnya merupakan suatu qaid (pengikat atau syarat) yang belum jelas batasannya, dan belum tampak maksud dan tujuannya. Ketika qaid tersebut dalam kondisi sulit atau rumit seperti itu, maka sebagian pemikir
http://www.akhirzaman.info/

Menolak dan Membentengi Diri dari Sihir

Abdul Kholiq Al-Athar

Hal. Hal. | 152

Islam ada yang menolak qaid itu mentah-mentah. Sebab, jika ditinjau dari satu sisi, qaid tersebut tidak disebutkan secara jelas dalam nash-nash syariat Islam yang mu'tamad (dapat dipertanggungjawabkan rujukan utamanya) ataupun yang tidak mu'tamad. Dan dari sisi lain, qaid tersebut tidak mengandung muatan umum atau spesifik (khusus). Sebab, jika kita cocokkan permasalahan tersebut dengan problematika nubuwwah (segala sesuatu yang berhubungan dengan kenabian), kita akan menemukan bahwa keluarbiasaan yang dilekatkan pada seorang nabi, pada hakikatnya, menjadi kebiasaan bagi para nabi lainnya, meski tidak biasa bagi kebanyakan manusia biasa. Alquran, umpamanya, merupakan mukjizat, tetapi manusia biasa telah biasa membaca dan memahami maknanya. Kelompok ini, yang diwakili oleh sebagian pemikir Muslim, sampai pada kesimpulan bahwa istilah khawariq lil- 'adah "luar biasa" itu bukan qaid yang pasti, tetapi hanya nisbi saja. Menurut Ibn Taimiyyah, tampaknya ini salah seorang dari kelompok pemikir Muslim aliran ini. Jika ayat Alquran itu dijadikan sebagai sesuatu yang khariq lil- 'adah (luar biasa) atau tidak luar biasa, itu suatu penyifatan atau penentuan sifat yang tidak dilakukan oleh Alquran, hadits, ataupun ulama salaf. Kami juga telah menjelaskan pada kesempatan lain, bahwa penyifatan tersebut tidak sempurna atau tidak berpengaruh. Sebab nubuwwah (kenabian dengan segala keluarbiasaannya itu) menjadi kebiasaan bagi para nabi a.s., meski jika dikenakan kepada selain para nabi menjadi sesuatu yang luar biasa. Mendapatkan informasi dari Allah Subhanahu wa Ta'ala secara gaib berupa informasi ma'shum (untuk menjaga diri) itu hanya khusus bagi para nabi a.s. Dan hal demikian tidak terdapat pada orang-orang selain para nabi, apalagi harus menjadi kebiasaan. Jadi, tanda kenabian mesti khariqah li-al- 'adah "luar biasa". Dengan pengertian, bahwa perbuatan atau tanda seperti itu tidak biasa terjadi pada umumnya anak Adam. Jika menjadi sesuatu yang biasa bagi umumnya anak Adam, maka hal itu tidak menjadi ciri spesifik atau khusus bagi nabi a.s. Justru, para nabi dan yang bukan nabi bersekutu dalam ciri atau tanda istimewa tersebut. Oleh karena itu, sebagian ulama berkesimpulan, bahwa tanda kenabian (mukjizat) itu mesti khariqah lial- 'adah "luar biasa", meski hal itu tidak berarti bahwa semua yang luar biasa itu pasti tanda kenabian. Kita setuju dengan pendapat Ibn Taimiyyah bahwa peristilahan khariqah li-al- 'adah itu cukup rumit dan tidak jelas karakteristiknya ketika istilah tersebut dipergunakan oleh para ulama pemikir Islam. Tetapi kita menolak mentah-mentah beberapa problema dan hukum yang ditetapkannya. Kita menolak pendapat Ibn Taimiyyah yang menyatakan bahwa masalah khariqah li-al- 'adah itu merupakan masalah yang nisbi atau relatif. Demikian pula kita menolak pendapatnya yang menyatakan bahwa peristilahan tersebut tidak dipergunakan oleh Alquran Al-Karim. Sebab jika kita perhatikan Alquran, meski tidak terang-terangan menggunakan istilah tersebut, ayat-ayat yang berkenaan dengan penampilan mukjizat para nabi a.s. itu semuanya mengandung muatan keluarbiasaan.
http://www.akhirzaman.info/

Menolak dan Membentengi Diri dari Sihir

Abdul Kholiq Al-Athar

Jadi Ibn Taimiyyah keliru dalam menentukan hukum yang berkenaan dengan khariqah li-al- 'adah mu'jizat. Dan semestinya beliau memperbaiki kekurangannya dan bukan mempertahankannya dengan melontarkan berbagai argumentasi yang tidak tepat. Hal. Hal. | 153 Jadi jelaslah, yang menjadi inti perbedaan pendapat para ulama itu berkisar pada masalah kerumitan (al-gumudh) dalam penggunaan istilah khariqah li-al- 'adah pada mukjizat para nabi a.s. Dan syumuliyyah "cakupan" kandungan kata tersebut yang tampak dari sifatnya yang mutlak. Hanya saja, yang menjadi titik persamaan pendapat kebanyakan ulama berkisar sekitar pemahaman umum, bahwa mukjizat yang semestinya di atas kemampuan akal manusia dan melebihi kemampuan manusia itu menggunakan kata insan "manusia" secara mutlak; sehingga mencakup semua jenis manusia, termasuk para nabi dan rasul. Al-Amidi berkata, "Sesungguhnya rasul - utusan Allah - itu hanya mendatangkan mukjizat yang tidak dapat dijangkau oleh akal secara mandiri. Tetapi titik persamaan pendapat jumhur ulama tersebut, meski dapat memecahkan sebagian masalah yang sulit, juga menyisakan sisi-sisi lain yang masih rumit, yang perlu dipikirkan secara mendalam. Ketika ahli sihir menggunakan jasa para jin atau didatangi setan-setan, sesungguhnya dia telah melakukan berbagai hal yang luar biasa dan di atas kemampuan akal manusia. Tetapi perbuatan luar biasa macam itu tentu saja tidak termasuk ke dalam wilayah dan medan mukjizat. Dengan demikian, untuk membedakan keluarbiasaan sihir tersebut dengan mukjizat mesti diletakkan beberapa qaid atau ikatan dan pemahaman (tanda-tanda). Tetapi, sebetulnya, orang yang rajin memikirkan makna dan kandungan ayat-ayat Alquran akan menemukan bahwa berkah pertolongan Allah Subhanahu wa Ta'ala tidak akan membiarkan permasalahan seperti itu berlarut-larut tanpa pemecahan. Menurut beberapa ayat, terdapat beberapa kriteria spesifik yang terdapat pada mukjizat dan tidak terdapat pada hal-hal lain yang tampak luar biasa. Misalnya, dalam Alquran kita menemukan bahwa orang yang menggunakan jasa jin itu pasti orang yang mempunyai etika tidak sehat, langkah hidup yang menyimpang, dan mempunyai fitrah jahat. Mari kita kaji firman Allah Subhanahu wa Ta'ala berikut ini, “Mereka - setan-setan - itu turun kepada tiap-tiap pendusta lagi banyak dosa.” (QS. AsySyu'ara 26:222). Demikian pula yang menjadi perantara ma'rifah (mengetahui hal-hal gaib), yakni jin untuk masalah sihir ini atau setan-setan, mesti melakukan kebohongan terus-menerus. Dan itu jelas bertolak beLakang dengan tabiat nubuwwah "kenabian". Bagaimanapun,
http://www.akhirzaman.info/

Menolak dan Membentengi Diri dari Sihir

Abdul Kholiq Al-Athar

sandaran jin atau setan untuk mendapatkan ma'rifah (mengetahui berbagai hal) atau sebut saja informasi, adalah dengan mencuri-curi informasi (istiraq as-sama') dan mengintip serta memperhatikan informasi dari alam arwah. Hal. Hal. | 154 Jadi, jin atau setan, sebagai perantara manusia jahat untuk mendapatkan informasi itu, mengumpulkan inforrnasinya bagaikan seseorang yang ikut nimbrung masuk dalam suatu majelis agar mendapatkan informasi, sedang para peserta majelis itu tidak menyukainya. Jika para peserta majelis mengeraskan pembicaraannya; atau orang yang mengintip informasi itu diberi kesempatan untuk mendengarkan, maka benarlah segala informasi yang mereka dapatkan dan sebarluaskan dari para peserta majelis itu. Tetapi, jika mereka merendahkan suaranya atau yang mengintip informasi itu tersesat, maka informasi yang didapatkannya penuh dengan dusta dan dicampuri pendapat pribadi jin dan setan itu. Benarlah firman Allah Subhanahu wa Ta'ala, “Mereka - setan-setan - itu turun kepada tiap-tiap pendusta lagi banyak dosa.” (QS. Asy-Syu'ara 26:222). Alquran Al-Karim dengan terang-terangan menegaskan lewat lisan (perkataan dan pengakuan) jin, bahwa perantara untuk mendapatkan ma'rifah atau inforrnasi melalui cara mengintip dan memperhatikan alam ruh yang menjadi ciri khas jin itu telah terhalang dengan diutusnya nabi penutup, Nabi Muhammad Shallallahu 'Alaihi wa Sallam. Hal tersebut tercantum dalam surah Al-Jinn, “Dan sesungguhnya kami dahulu dapat menduduki beberapa tempat di langit itu untuk mendengar-dengarkan (berita-beritanya). Tetapi sekarang, barangsiapa yang (mencoba) mendengar-dengarkan (seperti itu) tentu akan menjumpai panah api yang mengintai (untuk membakarnya) (QS. Al-Jinn 72:9). Kerancuan masalah karakteristik mukjizat dengan adanya unsur-unsur keluarbiasaan yang dicapai oleh sebagian ahli sihir dengan menggunakan jasa jin itu tidak terbatas kepada adanya kemampuan jin untuk mengetahui informasi gaib dan memberitahukannya - dan itu telah berakhir dengan ditutupnya kenabian, yakni dengan kelahiran Nabi Muhammad Shallallahu 'Alaihi wa Sallam. Ternyata, masih ada unsur lain yang berhubungan dengan sisi praktis yang dapat disaksikan oleh mata manusia dan dapat pula dirasakan dengan alat perasa apa pun. Setelah mereka mengetahui hal itu, mereka menganggap hal itu sebagai sesuatu yang luar biasa (istimewa). Macam keluarbiasaan yang dimaksud di sini adalah kebengkokan (kejelekan) sifat. Sebagaimana hal tersebut telah diungkapkan dalam Alquran, “Mereka - setan-setan - itu turun kepada tiap-tiap pendusta lagi banyak dosa.” (QS. Asy-Syu'ara 26:222). Tetapi kebengkokan sifat pun tidak merupakan satu-satunya dalil yang membedakan perbuatan luar biasa ahli sihir dari mukjizat para nabi a.s. Yang jelas, kita masih bisa mempelajari masalah tersebut secara objektif. Dan kita harus mencari
http://www.akhirzaman.info/

Menolak dan Membentengi Diri dari Sihir

Abdul Kholiq Al-Athar

pengaruh materiel dari yang dicapai oleh jasa jin. Mungkin kita akan menemukan sesuatu yang konkret yang membedakan mukjizat dari yang lainnya yang mempunyai ciri keluarbiasaan. Hal. Hal. | 155 Sebenarnya, ketika manusia menggunakan jasa jin untuk urusan-urusan konkret, apa yang diinginkannya? Umpamanya, dia menginginkan jin untuk membawakan benda materiel yang berat dari tempat yang jauh dalam jangka waktu yang sangat singkat melebihi kemampuan manusia. Dan hal itu kadang-kadang dapat dipenuhi oleh jin atau setan, sehingga diakui oleh orang-orang yang menyaksikannya sebagai sesuatu yang luar biasa. Tetapi, jika contoh seperti itu kita uraikan, kita akan mendapatkan bahwa hal itu sebenarnya sejalan dengan hukum alam. Sebenarnya, hal tersebut merupakan hal yang biasa karena jin diberi kekuatan dan kelembutan (baca: kehalusan) fisik yang lebih daripada yang diberikan Allah Subhanahu wa Ta'ala kepada manusia. Ketika Nabi Sulaiman a.s. menggunakan jin untuk kebutuhannya, hal itu tidak disebut mukjizat untuk dirinya. Bukankah ada hamba Allah dari kalangan manusia, yaitu ahli ilmu yang diberi kekuatan rohani oleh Allah Subhanahu wa Ta'ala untuk memperlakukan materi melebihi apa yang dilakukan dan dimiliki oleh jin. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirrnan, “Berkata Sulaiman, "Hai pembesar-pembesar, siapakah di antara kamu sekalian yang sanggup membawa singgasananya kepadaku sebelum mereka datang kepadaku sebagai orang-orang yang berserah diri." Berkata 'lfrit yang cerdik - dari golongan jin, "Aku akan datang kepadamu dengan membawa singgasana itu kepadamu sebelum kamu berdiri dari tempat dudukmu, sesungguhnya aku benar-benar kuat (untuk membawanya) lagi dapat dipercaya." Berkatalah seorang yang mempunyai ilmu dari Al-Kitab, "Aku akan membawa singgasana itu kepadamu sebelum matamu berkedip." Maka tatkala Sulaiman melihat singgasana itu terletak dihadapannya, dia berkata, "lni termasuk karunia Tuhanku untuk mencobaku, apakah aku bersyukur atau mengingkari (akan nikmat-Nya)." Dan barangsiapa yang bersyukur, maka sesungguhnya dia bersyukur untuk (kebaikan) dirinya sendiri. Dan barangsiapa yang kufur (tidak bersyukur) maka sesungguhnya Tuhanku Mahakaya dan Mahamulia (QS. An-Naml 27:3840). Jadi, sebetulnya semua yang dilakukan jin itu hanya merupakan pemanfaatan atau pelaksanaan hukum alam dengan ukuran (kemampuan) yang diberikan kepada mereka, dan kekuatan yang diberikan Allah Subhanahu wa Ta'ala kepada mereka. Kita belum pernah mendengar atau menyaksikan ada seseorang yang menggunakan jasa jin untuk memperlakukan suatu hukum alam dengan bentuk (cara) yang bertentangan dengan yang telah dikenal manusia. Sebagai contoh, kita belum pernah mendengar seseorang yang meminta bantuan jin untuk membuatnya mampu bertahan lama dalam api tanpa terbakar dalam kondisi api menyala-nyala. Paling banter, jin hanya mampu memadamkan api supaya tidak membakar manusia dengan kecepatan memadamkan
http://www.akhirzaman.info/

Menolak dan Membentengi Diri dari Sihir

Abdul Kholiq Al-Athar

yang lebih cepat daripada yang dilakukan oleh manusia. Juga dengan menggunakan gaya atau teknik yang melebihi kemampuan manusia. Tetapi hal itu tidak dengan sendirinya menunjukkan bahwa mereka telah melakukan sesuatu yang bertentangan dengan hukum alam (sangat luar biasa). Sebab, memadamkan api itu termasuk sesuatu yang telah dikenal oleh manusia. Bahkan, di alam modern sekarang, memadamkan api kebakaran termasuk yang sangat mudah untuk dilakukan. Jadi, pelaksanaan dan pemanfaatan hukum alam dengan bentuk pelaksanaan yang lebih cepat dan dengan teknik yang lebih utama, tetap tidak disebut sebagai suatu i'jaz (melemahkan kemampuan manusia). Dernikian pula hasilnya, tidak disebut sebagai mukjizat. Jin sebetulnya seperti manusia. Mereka semua didatangi oleh Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam. Mereka ditantang dengan kemampuan mukjizatnya untuk mendatangkan yang sepertinya. Mereka pun sama-sama menjadi sasaran dakwah Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman, “Dan (ingatlah) ketika Kami hadapkan serombongan Jin kepadamu yang mendengarhan Alquran, maka tatkala mereka menghadiri pembacaan(nya), lalu mereka berkata, "Diamlah kamu (untuk mendengarkannya). Ketika pembacaan telah selesai mereka kembali kepada kaumnya (untuk) memberi peringatan. Mereka berhata, "Hai kaum kami, sesungguhnya kami telah mendengarkan kitab (Al-quran) yang telah diturunkan sesudah Musa yang membenarkan kitab-kitab sebelumnya lagi memimpin kepada kebenaran dan kepada jalan yang lurus. Hai kaum kami, terimalah (seruan) orang yang menyeru kepada Allah dan berimanlah kepadaNya, niscaya Allah akan mengampuni dosa-dosa kamu, dan melepaskan kamu dari azab yang pedih. Dan orang yang tidak menerima (seruan) orang yang menyeru kepada Allah, maka dia tidak akan melepaskan diri dari azab Allah di muka bumi, dan tidak ada baginya pelindung selain Allah. Mereka itu dalam kesesatan yang nyata." (QS. Al-Ahqaf 46:29-32). Dalam surah Al-Jinn disebutkan, “Katakanlah (hai Muhammad), "Telah diwahyukan kepadaku bahwa sekumpulan jin telah mendengarkan (Alquran), lalu mereka berkata, "Sesungguhnya kami telah mendengarkan Alquran yang menakjubkan, (yang) memberi petunjuk kepada jalan yang benar, lalu kami beriman kepadanya. Dan sesungguhnya kami tidak akan mempersekutukan seorang pun dengan Tuhan kami" (QS. Al-Jinn 72:1-2). Dalam Alquran juga kita dapatkan adanya tantangan untuk melaksanakan perintah yang dilontarkan kepada manusia dan jin. Seperti firman Allah Subhanahu wa Ta'ala, Kami akan memperhatikan sepenuhnya kepadamu, hai manusia dan jin (QS. Ar-Rahman 55:31). Selanjutnya pada ayat berikutnya disebutkan, Hai jamaah Jin dan manusia, jika kamu sanggup menembus (melintasi) penjuru langit dan bumi, maka lintasilah, kamu tidak
http://www.akhirzaman.info/

Hal. Hal. | 156

Menolak dan Membentengi Diri dari Sihir

Abdul Kholiq Al-Athar

dapat menembusnya kecuali dengan kekuatan (QS. Ar-Rahman 55:33). Ayat-ayat Alquran Al-Karim tersebut menunjukkan bahwa jin masuk ke dalam wilayah lingkungan risalah bersama-sama dengan manusia. Kaum jin itu berada pada daerah dakwah Nabi Muhammad Shallallahu 'Alaihi wa Sallam juga para nabi lainnya. Mereka juga tertantang dengan tantangan mukjizat Nabi, khususnya berupa Alquran AlKarim. Dalil-dalil tersebut mestinya cukup menegaskan bahwa apa yang dibawa oleh Nabi Muhammad Shallallahu 'Alaihi wa Sallam itu jauh berbeda dengan apa yang didatangkan oleh manusia dan jin. Jika ternyata mukjizat yang dibawa oleh nabi itu berbeda (bertentangan) dengan apa yang dikenal oleh manusia dan jin, maka tentu lebih berbeda lagi dengan apa yang biasa dikenal dan dilakukan oleh makhluk-makhluk lain yang mempunyai derajat lebih rendah daripada jin dan manusia. Kita belum pernah mendengar seorang nabi menantang, untuk mernperkuat kenabiannya, sehingga dia dapat terbang ke udara, atau dapat memindahkan barang-barang berat dalam jangka waktu yang sangat cepat yang tidak dapat dilakukan oleh orang lain. Karena, sebetulnya, kemampuan terbang ke angkasa dan memindahkan barang-barang berat dalam waktu singkat itu telah ditakdirkan kepada binatang lain, seperti burung dan hewan-hewan yang biasa mengangkat barang berat. Hewan-hewan itu diberikan kemampuan-kemampuan khusus oleh Allah. Hanya mungkin saja kita akan mengatakan, bahwa malak (baca: malaikat) mungkin dapat melakukan apa yang dilakukan atau diperlihatkan oleh para nabi. Di sini terdapat titik terang dan benang merah yang jelas bahwa apa yang dibawa oleh nabi itu, secara akal (rasio), tidak menghalangi kemungkinan Allah memberlakukannya ke tangan seorang malaikat, jika hal itu dianggap oleh Allah sebagai suatu tugas atau kewajiban malaikat. Atau sebagai pembebanan dalam rangka melaksanakan suatu perintah yang harus dilakukan olehnya. Dan hal ini tidak menjadi masalah karena malaikat tidak termasuk dalam wilayah atau lingkungan pelaksana risalah. Dan nabi, dengan mukjizatnya, tidak pernah menantang malaikat sebab tidak ada faedahnya bagi nabi untuk menantang malaikat. Dan yang menjadi masalah bukan penantangan itu sendiri, justru penantangan dengan mukjizat yang dapat menggantikan kedudukan (peran) firman Al-Haq (Allah Subhanahu wa Ta'ala), "Betul hamba-Ku dalam apa yang disampaikannya dari-Ku." Pernyataan seperti itu berguna untuk kepentingan pelaksanaan risalah yang diemban setiap rasul. Sehingga, dia berhasil menggiring manusia untuk mengikuti jalan hidup yang ditetapkan Allah yang dibawa oleh para nabi a.s. Dan hal itu tidak akan terbukti kecuali dengan firman Allah atau yang menggantikannya. Karena malaikat itu tidak berkepentingan dengan risalah, maka tidak ada faedahnya untuk membuktikan suatu perbuatan yang sebenarnya mampu mereka lakukan.

Hal. Hal. | 157

http://www.akhirzaman.info/

Menolak dan Membentengi Diri dari Sihir

Abdul Kholiq Al-Athar

Mungkin termasuk yang tidak perlu diingatkan ialah bahwa Allah menggunakan jasa sebagian malaikat untuk menyampaikan risalah atau manhaj Allah (jalan hidup manusia) kepada rasul atau utusan Allah untuk disampaikan lagi kepada sasaran dakwahnya dalam banyak kesempatan. Hal. Hal. | 158 Berikut ini ada suatu perbedaan penting yang diungkapkan Alquran untuk menguatkan perbedaan-perbedaan antara apa yang dibawa nabi dengan apa yang diperlihatkan manusia lainnya, yang berupa hal-hal luar biasa. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman: “Sesungguhnya Alquran itu benar-benar firman (Allah yang dibawa oleh) utusan yang mulia (Jibril a.s.), yang mempunyai kekuatan, yang mempunyai kedudukan tinggi di sisi Allah, yang mempunyai Arasy, yang ditaati di sana (alam malaikat) lagi dipercaya. Dan temanmu (Muhammad) itu bukanlah sekali-kali orang yang gila. Dan sesungguhnya Muhammad itu melihat Jibril di ufuk yang terang. Dan dia (Muhammad) bukanlah seorang yang bakhil untuk menerangkan yang gaib. Dan Alquran itu bukanlah perkataan setan yang terkutuk.” (QS. At-Takwir 81:19-25). Dari berbagai muqaddamah (premis minor dan premis mayor) tersebut, kita dapat menarik konklusi bahwa apa yang dibawa atau didatangkan oleh nabi-nabi a.s. berupa mukjizat itu mesti di atas kemampuan manusia dan jin, serta jauh melebihi kemampuan makhluk-rnakhluk lain yang mempunyai derajat lebih rendah daripada manusia dan jin, juga mesti berbeda (bertentangan) dengan yang mereka kenal dan lakukan. Kita telah mengetahui bahwa jin dan manusia telah diberi kekuatan oleh Allah Subhanahu wa Ta'ala untuk mengikuti hukum yang ditetapkan Allah pada materi. Allah pun memberikan kemampuan kepada otak dan kekuatan mereka untuk mengungkapkan hukum-hukum yang masih terpendam serta mengetahui keterkaitan sebab dengan akibat yang masih belum tampak bagi manusia. Dari situ, adalah wajar jika kita mengatakan bahwa mukjizat para nabi itu bukan dari jenis pemanfaatan atau penggunaan hukum materi (alam) menurut bentuknya yang telah dikenal, juga tidak berdasarkan tata aturan atau disiplin yang telah diketahui. Juga wajar jika kita mengatakan bahwa mukjizat para nabi a.s. itu tidak didasarkan kepada penggunaan hukum materi alam yang terpendam menurut bentuknya yang telah berlaku. Jika tidak demikian, maka mukjizat tersebut akan menjadi taruhan yang mencelakakan masa depan dakwah secara total. Dengan kata lain, jika para ulama atau sarjana sains dapat mengungkap hukum tersebut mengikuti metode yang telah biasa mereka kenal, maka dakwah yang disampaikan para nabi itu tidak akan diterima oleh manusia. Apalagi jika para ulama itu dapat menggunakan (mengikuti) hukum tersebut dengan mudah sekali, sebagaimana nabi menggunakannya dalam kondisi kritis (al-halah al-iftira-dhiyyah).

http://www.akhirzaman.info/

Menolak dan Membentengi Diri dari Sihir

Abdul Kholiq Al-Athar

Hal. Hal. | 159

Inti dari bahasan tersebut ialah bahwa mukjizat itu tidak datang melalui metode perbuatan Allah yang biasa diterapkan kepada alam dengan mengikuti hukum kausalitas (sebab akibat). Dia telah mengaruniakan kepada makhluk-Nya kekuasaan, ilmu, dan kemampuan-kernampuan rasio yang memungkinkan mereka dapat mengungkapkan berbagai hukum alam dan memanfaatkannya. Dan mukjizat itu datang mengikuti cara perbuatan dan pengetahuan lain dan melalui metode perbuatan dan pengetahuan yang baru, tetapi Allah belum (tidak) memperlihatkan kepada makhluk-makhluk-Nya dan belum memungkinkan bagi mereka untuk memanfaatkannya. Jadi, sesungguhnya mukjizat itu tidak mengikuti hukum alam disertai kondisi-kondisi yang cocok, serta tidak mengikuti kaidah-kaidah yang berlaku pada alam setelah tersedia segala sebab-sebabnya. Mukjizat juga menggunakan atau memanfaatkan kaidah dan hukum yang berbeda atau bertolak belakang dengan hukum alam yang berlaku bagi kebanyakan manusia biasa yang bukan nabi. Mukjizat, sebetulnya, tidak memanfaatkan hukum alam apa pun dengan cara yang kontradiktif. Tetapi, hukum (qanun) yang menjadi sasaran harus dipahami oleh para sarjana sains sebagai sebab-sebab dan hasil-hasil konklusi, dan pengaruhnya bercampur dengan instink semua orang awam. Sehingga, kebenarannya diterima oleh hati mereka sebagai suatu akidah atau keyakinan yang tidak mengandung keraguan dan tidak mengundang perdebatan. Ketika nabi memanfaatkan hukum dengan cara yang kontradiktif dan mungkin tidak mengikutinya secara total padahal kondisi-kondisinya telah lengkap dan siap dipergunakan, maka pada saat itu manusia lebih tertarik untuk menaati apa saja yang dibawa oleh nabi a.s. Dan, pelaksanaan mukjizat pun benarbenar menggantikan firman Allah, “Benar hamba-Ku pada setiap apa yang disampaikannya dari-Ku,” Berdasarkan berbagai pernyataan dan bahasan yang lalu, kami ingin mengetahui hakikat dan sifat mukjizat, dan bagaimana pula mukjizat materiel dapat menunjukkan kebenaran seorang nabi. Sebetulnya apa yang telah kami sebutkan harus dianggap cukup untuk menjelaskan tujuan utama dan maksud penting dari apa yang kami inginkan. Tetapi para ulama salaf menyebutkan banyak hal dan menyebarluaskan berbagai problematika yang semuanya bermuara pada satu pertanyaan, "Apakah ada hal-hal luar biasa (khawariq lial- 'adah) yang dicapai oleh orang-orang selain para nabi? Jika ada, lalu apa hubungan dan kaitannya dengan mukjizat?" Untuk menjawab pertanyaan tersebut terdapat banyak peristilahan seperti sihir, keramat atau karamah, ma'unah, ihanah, dan lain-lainnya. Kami akan mengemukakan sebagian peristilahan tersebut untuk kemudian
http://www.akhirzaman.info/

Menolak dan Membentengi Diri dari Sihir

Abdul Kholiq Al-Athar

menjelaskan kaitannya dengan mukjizat. Hanya Allah yang memberi taufik dan hidayah (kepada hamba-hamba-Nya). 1. Hal. Hal. | 160 Sifat Sihir

Sifat atau ciri-ciri spesifik sihir atau karakteristiknya, menurut orang-orang yang mengakui eksistensinya, adalah seperti yang dijelaskan oleh salah seorang sarjana (ulama) peneliti dan pembahas. Dia mengatakan: (1) Sihir,secara etimologis,ialah setiap yang halus dan samar pengambilannya. Seperti dikatakan: 'ayn sahirah, "pandangan halus dan samar". Nabi Muhammad Shallallahu 'Alaihi wa Sallam bersabda, "Sesungguhnya sebagian penjelasan itu adalah sihir karena menarik perhatian." (2) Menurut konsepsi Alquran, sihir adalah tahhyil atau pengkhayalan (penipuan dengan khayal) yang dapat menipu pandangan manusia, sehingga terlihat pada mereka apa yang tidak terjadi sesungguhnya. Hal ini seperti diisyaratkan Alquran, “Musa berkata, "Silahkan kamu sekalian melemparkan (dahulu)." Tiba-tiba talitali dan tongkat-tongkat mereka terbayang pada Musa seakan-akam merayap dengan cepat, lantaran (kekuatan) sihir mereka (QS. Thaha 20:66). (3) Sihir berupa hilah (siasat atau tipu muslihat) dan sulap (sya 'wadzah) atau berupa keahlian atau keterampilan 'ilmiah (shina’ah ilmiyyah) yang samar dan diketahui oleh sebagian orang. Boleh jadi sebagian sihir merupakan pengaruh arwah (ruhruh) dan pengaruh at-tanwim al-maghnathisy (obat bius). Jadi, sebenarnya sihir itu didasarkan kepada suatu keahlian atau keterampilan yang dapat dipelajari dan dilatih. Karena sihir menurut pernyataan ini mempunyai kaidahkaidah tertentu, pokok-pokok khusus yang dapat dipahami, dan bahkan ada guru dan pakarnya. Hanya saja, keahlian atau keterampilan itu tampak halus, khusus, dan lembut serta disandarkan kepada isyarat dalam mempengaruhi indera dan memperdayakannya. Jika indera manusia telah terpedaya dan terpengaruh, maka jiwa akan memberikan sejumlah informasi yang berlebihan atau yang tidak berjalan secara wajar menurut tabiatnya. Timbullah dalam jiwa suatu pengaruh tertentu secara terus-menerus sehingga melahirkan suatu perasaan rela atau suatu ikatan yang menetap. Hal itu dapat diumpamakan seperti suatu kuman yang rela berada di situ atau suatu virus yang menimpa badan dan mengurangi keseimbangannya padahal sebenarnya tidak ada kuman. Mungkin juga di situ ada suatu penyebab yang menimbulkan kekurangan dalam keseimbangan badan, bahkan melahirkan penyimpangan terhadap tata aturan atau hukum yang telah ditetapkan oleh Allah Subhanahu wa Ta'ala. Itulah ringkasan secara global mengenai ciri-ciri sihir menurut orang-orang yang
http://www.akhirzaman.info/

Menolak dan Membentengi Diri dari Sihir

Abdul Kholiq Al-Athar

mengakui eksistensinya. Sifat sihir semacam itu tampak longgar dan dapat dimasuki halhal baru, seperti obat bius (at-tanwim al-maghnathasy), menghadirkan arwah, dan lain-lainnya. Hal. Hal. | 161 2. Sihir dan Kedokteran Para sarjana fisika dan sarjana anatomi, serta orang-orang yang menggeluti berbagai disiplin ilmu dan keahlian (keterampilan) yang berhubungan dengan alam materi dan khususnya alam hewani, bersaksi bahwa alam dunia ini semuanya berjalan mengikuti hukum atau tata aturan yang lengkap, kaidah-kaidah, dan 'ilal (sebab dan akibatnya atau kausalitas) yang telah ditetapkan oleh Allah Subhanahu wa Ta'ala. Sehingga, jika ada suatu sebab, misalnya penyakit, pasti ada akibat yaitu obat. Dan jika sebabnya tidak ada, maka akibatnva pun tidak ada. Para pakar filsafat dan para pemikir menggabungkan berbagai hukum parsial (juz'iyyah) tersebut dan mengangkatnya ke sebab umum atau 'illah kulliyyah atau juga kausa prima, yang mereka sebut dengan nama muqaddas (yang disucikan), yaitu Allah Yang Mahaagung. Para tokoh agama meyakini dan mempercayai ini semua. Tetapi mereka beserta sebagian filosof berpendapat bahwa permasalahan hukum kausalitas itu merupakan hubungan keterikatan yang biasa (irtibath 'ady). Dengan demikian, bisa saja Allah Subhanahu wa Ta'ala mengangkat atau tidak memberlakukan hukum-hukum alam ini atau sebagiannya dalam kondisi-kondisi khusus, yang menurut sebagian ahli (pakar) disebut mukjizat. Kemudian hal ini dijadikan alat untuk menetapkan dan mengokohkan kenabian para nabi. Sementara, menurut sebagian pakar (ulama) lainnya, hal itu dapat diperluas, tidak sebatas mukjizat para nabi, sehingga dalam kondisi-kondisi tertentu, mencakup keramat atau karamah. para wali dan lain-lainnya. Itulah kaidah umum, yang tampaknya saya tidak menyangka ada orang yang menentang hal tersebut. Sedang materi fisik manusia termasuk yang dikandung kaidah umum tersebut, yang tunduk kepada sejumlah hukum-hukum umum dan hukum-hukum khususnya. Materi fisik manusia juga mernpunyai hubungan yang bergantian dengan alam raya yang luas ini. Jika fisik materiel dapat hidup dalam kondisi-kondisi normal (biasa) sejalan dengan hukum-hukum alam yang telah ditetapkan, dan dia dijadikan untuk mengikuti hukum tersebut, maka fisik materiel tersebut berarti menjalani kehidupan yang normal (biasa). Adapun jika tiba-tiba datang kepadanya sesuatu, atau dia mengalami sesuatu yang tidak sejalan secara normal dengan hukum-hukum alam tersebut, atau mungkin tidak mengikuti hukum-hukum alam secara total, maka kita menganggapnya atau menghukuminya, bahwa dia hidup di bawah kondisi-kondisi sakit, dan ia menjalani perikehidupan yang tidak normal atau tidak biasa (yumarisu hayat ghairi 'adiyyah).

http://www.akhirzaman.info/

Menolak dan Membentengi Diri dari Sihir

Abdul Kholiq Al-Athar

Kondisi-kondisi sakit (zharuf maradhiyyah) tersebut kadang-kadang diketahui sebab dan alasan (‘ilal)-nya. Dan kondisi-kondisi sakit itu pun berkaitan dengan karakter sebab dan alasan yang timbul. Para pemula dalam ilmu kedokteran dapat mengenali sebab-sebab dan alasanHal. Hal. | 162 alasan tersebut keseluruhannya. Bahkan, mereka pun mampu mengetahui hakikat dari keseluruhan sebab dan alasan tersebut. Itulah kondisi-kondisi sakit yang tidak akan kami pahami secara mendalam untuk kepentingan keahlian sihir ini. Kami pun tidak akan mengkaji secara dalam terhadap rasionalitas yang berhubungan dengan seni sihir ini. Kecuali jika ada sebagian perangkat perantara dan kemungkinan-kemungkinan (potensi kemampuan) yang hilang. Dapat saja kita meringkaskan sebab dan alasan tersebut dalam susunan dua macam kejadian (peristiwa) yang clikatakan oleh para dokter dalam permasalahan zhahirah maradhiyyyah "fenomena sakit" dan pembatasannya. Mereka mengatakan, jika ada suatu penyakit, itu berarti ada semacam kelemahan fungsional dari salah satu atau beberapa anggota tubuh. Dan itu sebagai akibat dari adanya pengaruh, baik dari luar, maupun dari dalam. Pengaruh tersebut mengenai bentuk atau warna/karakter lain dalam susunan anatomisnya sampai suatu batas yang kadang-kadang tampak jelas dan dapat dilihat dan dikenali oleh mata telanjang. Mungkinjuga bekas atau pengaruh itu tidak jelas, sehingga untuk melihat dan mengenalinya diperlukan mikroskop atau alatalat lainnya yang dapat dipergunakan untuk mengkaji dan meneliti suatu benda. Benda yang mempengaruhi anggota tubuh manusia itu boleh jadi salah satu dari faktor-faktor berikut ini: 1. Pengaruh alam atau fisikal, seperti kondisi sangat panas atau sangat dingin; atau adanya penerangan (terlalu terang) dan lain-lainnya. 2. Pengaruh kimiawi, seperti karena unsur-unsur asam dan lain-lainnya, 3. Pengaruh mekanik. Mungkin semua pengaruh yang telah disebutkan itu dapat digabungkan dengan suatu istilah yaitu al-ishabat (terkena musibah). Tetapi, tampaknya masih ada pengaruh lain, yaitu: 4. Pengaruh biologis, seperti adanya bakteri, virus, dan lain-lainnya. 5. Pengaruh hormon. Telah diketahui bahwa guncangan (gangguan) apa pun yang terjadi pada keseimbangan hormonal dalam fisik bisa berlanjut sampai menimbulkan kondisi-kondisi sakit yang telah dikenal. Dan keguncangan seperti itu ada sebab-sebabnya. 6. Pengaruh genetik (atsar wiratsy). Ada banyak penyakit yang timbul pada seseorang sebagai penyakit turunan (genetik) yang berhubungan dengan
http://www.akhirzaman.info/

Menolak dan Membentengi Diri dari Sihir

Abdul Kholiq Al-Athar

penciptaan unsur sel tubuh dan sifat-sifat turunan yang mengandung hormon laki-laki (spermatozoa) dan hormon perempuan (ovum). 7. Pengaruh-pengaruh psikologis dan lingkungan makanan (bl'ah ghidza'iyyah). Hal. Hal. | 163 Jika kita dihadapkan kepada keadaan sakit apa pun, maka langkah pertama adalah mengenali anggota tubuh atau alat kelengkapan tubuh kita yang lemah dalam melaksanakan fungsinya. Setelah itu baru mengenali apa yang mempengaruhinya. Dan sampai sejauh mana penyakit itu mempengaruhi susunan anatomis dan fungsional pada anggota tubuh atau alat kelengkapan tubuh yang ada pada badan secara keseluruhannya. Pengobatan terhadap penyakit tersebut diarahkan untuk berbagai segi (kepentingan). Untuk melenyapkan (menyelamatkan diri) dari pengaruh yang mempengaruhi badan sehingga sakit atau untuk sekadar meringankan kemampuannya dalam mempengaruhi badan. Juga untuk memperbaiki susunan (struktur) anatomis dan fungsional. Lalu diusahakan untuk mengembalikan susunan tersebut kepada asalnya sehingga dapat menggantikannya. Sebagai contoh, seseorang terkena influensa. Influensa ini suatu istilah fenomenal yang mengindikasikan berbagai gejala atau ciri/tanda yang tampak sebagai akibat adanya kelemahan fungsional pada salah satu anggota tubuh, misalnya pada paru-paru, tenggorokan, atau pada saluran ingus dan pembuluh napas. Yang menjadi penyebab dan yang paling berpengaruh di sini adalah virus influensa. Dalam mengobati penyakit tersebut, diutamakan melenyapkan virus yang menjadi penyebab dan yang mempengaruhi badan. Lalu mengusahakan meringankan atau memperkecil pengaruh virus tersebut, kemudian pengobatan alat kelengkapan tubuh yang terkena penyakit (virus) tersebut. Tekanan Darah Tinggi Yang mempengaruhi badan atau yang menyebabkan sakit tekanan darah tinggi ada banyak faktor. Ada faktor keturunan (genetik), faktor psikologis, dan faktor hormonal. Kesemuanya menimbulkan kelemahan fungsional pada alat kelengkapan tubuh yang berputar mengedarkan darah. Lalu timbullah tekanan darah tinggi dengan indikasi yang telah kita kenal. Berkenaan dengan penyakit ini, pengobatannya diarahkan kepada penyebab yang mempengaruhi lahirnya penyakit dan anggota tubuh yang terkena penyakit tersebut. Mungkin Anda telah mengetahui, bahwa orang-orang yang mempunyai spesialisasi dalam kedokteran akan mengatakan bahwa penyakit itu merupakan suatu fenomena (gejala) yang mempunyai sebab yang dapat dipahami dan kaidah-kaidah tertentu yang dapat dikenali dengan ilmu nazhary "teoretis analitis", ditambah dengan
http://www.akhirzaman.info/

Menolak dan Membentengi Diri dari Sihir

Abdul Kholiq Al-Athar

latihan-latihan praktis. Selain itu, diperlukan juga berbagai sarana dan prasarana (wasa'il) yang mengantarkan peneliti atau pengkaji untuk mengetahui sesuatu yang lembut (halus) dan samar penjelasannya. Profesi kedokteran dengan bentuk semacam itu jelas jauh berbeda dengan profesi Hal. Hal. | 164 sihir, baik dalam segi sifatnya, maupun dari segi keistimewaan masing-masing yang membedakan keduanya dari segi hakikatnya. Kedokteran tidak mengungkapkan hal yang gaib dan tidak mengkhayalkan sesuatu yang sesungguhnya tidak terjadi. Orang yang berprofesi sebagai dokter juga tidak boleh seorang dajjal (pendusta) atau bekerja sama dengan para dajjal lainnya. Kedokteran mendasarkan praktiknya kepada sebab dan akibatnya serta mencari kesimpulan atau hasil dari Pembuat Hukum Alam dan Pemberi Nikmat. Sementara, pada saat yang sama, sihir di antara spesifikasinya tidak bisa mengobati penyakit karena serangan kuman yang menimpa fisik manusia, atau menghilangkan virus yang menyerang sel-sel tubuh, atau mengobati kelemahan hormon yang mempengaruhi ketahanan tubuh. Hal itu karena sebab-sebab timbulnya penyakit termasuk dalam lingkungan bahasan ilmu praktik atau percobaan ('ilm tajriby) dan berlaku pada medan percobaan materiel. Jika kita mendengar ada pengobatan (terapi) yang diarahkan untuk melenyapkan kuman, atau untuk mengobati kelemahan fungsional mekanis anggota tubuh supaya kembali normal dan seimbang tanpa mengikuti metode yang telah kita kenal dari dunia kedokteran, maka hendaklah orang yang melakukan pekerjaan seperti itu menyebarluaskan temuannya atau menginformasikannya kepada semua orang. Mereka juga diharapkan dapat membukukan atau mencatat secara kronologis tahap-tahap perkembangan ilmu (sains) yang unik tersebut, termasuk efek atau hasil-hasil dan pengaruh-pengaruhnya. Dengan cara atau metode seperti itu, barangkali kita dapat mempercayai apa yang mereka katakan, bahwa hal itu merupakan temuan dokter dokter spesialis atau bahkan hasil penelitian profesor dalam kedokteran di alam modern sekarang ini. Adapun jika terapi yang belum dikenal di dunia kedokteran semacam itu belum terjadi, lalu ada ungkapan-ungkapan (slogan-slogan) yang mengiklankan suatu pusat pengobatan atau suatu perkumpulan dokter, maka sebaiknya hal demikian tidak perlu diperhatikan karena hal itu tidak termasuk usaha terapi suatu penyakit: Kecuali jika bermaksud untuk meremehkan atau merendahkan ilmu kedokteran dan para dokternya, atau merupakan tantangan bagi masyarakat dan para sarjananya, atau juga sekaligus meremehkan para tokoh agama yang berbeda-beda wawasannya, atau boleh jadi merupakan pelecehan terhadap norma-norma agama. Di samping itu, sikap tidak etis tersebut merupakan pelecehan terhadap akal manusia, mempermainkan perasaan para tokoh (jamahir), sekaligus mengganggu
http://www.akhirzaman.info/

Menolak dan Membentengi Diri dari Sihir

Abdul Kholiq Al-Athar

perasaan para penderita yang sedang membutuhkan bantuan kemanusiaan untuk menyelamatkan mereka dari ancaman penyakitnya. Orang yang sedang menderita itu tidak memerlukan khayalan-khayalan yang justru akan menggiring mereka ke jurang kesesatan. Sebenarnya para penderita itu hanya tinggal menunggu kapan diantarkan ke lubang kubur. Atau, paling tidak, mereka akan menderita kelemahan daya tahan tubuh Hal. Hal. | 165 karena penyakit yang terus menggeragoti mereka. Dan jika telah kronis, maka kemungkinan untuk sehat pun sangat tipis. Majalat As-Sihr (Medan Operasional Sihir) Untuk menjelaskan medan operasional sihir, terdapat sedikit problema sesuai dengan kesimpulan di atas mengenai sihir. Yakni, bahwa sihir itu medannya bukan melakukan terapi atau mengobati penyakit dengan metode pengenalan terhadap sebab timbulnya penyakit. Lalu, apa dan di mana medan operasional sihir itu? Apa pula medan atau lapangan kerja (operasional) sihir bagi mereka yang mengakui keberadaannya? Seperti diketahui dari penjelasan yang lalu mengenai keberadaan sihir, manusia terbagi ke dalam dua kelompok besar. Yakni, ada yang mengakuinya sebagai suatu realita (hakikat), ada juga yang tidak. Menurut pendapat yang kedua ini, sihir hanya tipu muslihat belaka. Dan pada saat yang sama, saya sependapat dengan Anda yang mengakui sihir sebagai suatu realita. Dengan kata lain, sihir itu ada dan berpengaruh, serta mempunyai medan atau lapangan yang khusus. Karena itu, saya memandang perlu untuk menerangkan majal as-sihr (medan operasional sihir) tersebut, sehingga akan menambah wawasan bagi mereka yang mengakui keberadaannya. Untuk menjelaskan medan operasional sihir tersebut, penulis akan menggunakan dua pendekatan sekaligus. Yakni, pendekatan analitik kritis dengan pemecahan rasional. Kemudian, pada saat yang sama pun, medan sihir tersebut dijelaskan lewat pendekatan historis (dengan mengungkap kembali berbagai kejadian yang telah lalu). Jadi, di samping kami akan memecahkan fenomena sihir secara rasional, kami juga akan menoleh kembali sejarah khusus asal-usul fenomena sihir tersebut untuk dijadikan ukuran konkret. Para sarjana (ulama) membahas fenomena sihir ini sebelum kita berpendapat bahwa sihir itu merupakan fenomena sosial kemasyarakatan. Sedangkan fenomena sosial kemasyarakatan sangat berbeda dengan fenomena alam atau fisika (zhahirah riyadhiyyah). Fenomena alam (ilmu pasti) itu sifatnya tetap dan tidak berubah, serta diam tidak bergerak. Adapun fenomena sosial adalah fenomena agama. la selalu bergerak dan berubah-ubah. Sedang fenomena sihir bukan fenomena ilmu pasti (ilmu alam/fisik), tetapi merupakan fenomena sosial. Karena merupakan fenomena sosial, maka fenomena sihir selalu bergerak dan tidak tunduk kepada kondisi umum yang tetap. Fenomena tersebut tidak menampakkan keistimewaan (karakter khusus) yang sama pada setiap waktu. Perantara (sarana dan prasarana) yang menjadi sandarannya pun tidak selalu sama pada setiap zaman. Perantara itu selalu mengikuti perkembangan
http://www.akhirzaman.info/

Menolak dan Membentengi Diri dari Sihir

Abdul Kholiq Al-Athar

zaman. Demikian pula warnanya. Sekarang, kami akan mengemukakan kepada Anda, sidang pembaca yang budiman, cara-cara (metode) sihir secara operasional yang bermacam-macam dan berbeda-beda. Akan Anda lihat nanti, bahwa apa yang dahulu terlihat sebagai sihir, Hal. Hal. | 166 sekarang telah terbuka hijabnya bagi rasionalitas yang mendasari sains materil ('ulum madiyyah). Dengan demikian, jelaslah bahwa yang disebut sihir ketika itu hanya dusta (dajjal) belaka dan hanya khurafat (khayal) pada sebagian orang yang sesat dan menyesatkan orang lain yang sepaham dengannya. Ibn Hajar Al-Haitsami memberikan definisi atau batasan mengenai medan sihir itu kepada kita. Beliau memperkenalkan medan-medan sihir yang terjadi pada masa beliau dan masa-masa sebelumnya ketika beliau mengarang sihir dan mengklasifikasikan macam-macam sihir. Ibn Hajar Al-Haitsami berpendapat, bahwa sihir itu terbagi atas beberapa bagian. Pertama, sihir yang dilandaskan kepada pengakuan ahli sihir bahwa mereka mengetahui ilmu nujum (sebagai astronom). Mereka juga mengakui adanya pengaruh astronomi itu terhadap kehidupan manusia. Untuk mendapatkan itu ada ilmu pengetahuan (teorinya) dan kaidah-kaidahnya. Dulu banyak orang yang tertipu dan terpesona dengan bintang-gemintang. Sampai-sampai sebagian dari mereka ketika itu berkeyakinan bahwa bintang-gemintang itu bukan saja sangat mempengaruhi perikehidupan manusia, tetapi lebih jauh daripada itu mereka mengakui bahwa kekuasaan bintang-gemintang itu sangat menentukan alam. Menurut mereka, bintanglah yang mempengaruhi alam, sedang alam tidak mempengaruhi bintang. Sehingga, hanya kepada bintanglah manusia harus menyatakan tunduk secara sempurna disertai persembahan yang mutlak. Sementara menurut sebagian lagi dari mereka, keyakinan pertama itu harus diringankan (dikurangi atau disederhanakan): Menurut mereka ini, bintang-gemintang memang berpengaruh terhadap siapa dan apa yang ada di bawahnya. Karena bintang itu memang mempunyai keistimewaan, seperti bentuknya yang bulat dan tampak mempunyai kesempurnaan bentuk. Tetapi, pada saat yang sama, bintang pun adalah makhluk yang diciptakan oleh Tuhan yang lebih tinggi dan lebih berkuasa, serta lebih mulia daripadanya. Perbedaan ini telah tampak sejak dahulu, yaitu pada zaman Babilonia seperti para penyembah bintang itu. Keyakinan seperti itu akan tampak di kemudian hari melalui tulisan para filosof Pada masa kenabian Nabi Ibrahim a.s., akidah atau keyakinan seperti itu dihancurkan dan dilenyapkan. Kedua, sihir yang tidak ada kaitannya dengan bintang-gemintang, tetapi berhubungan dengan orang-orang yang mempunyai khayalan (awham/paham-paham) dan jiwa yang kuat. Dengan perantara tertentu, dia dapat mempengaruhi sebagian orang.

http://www.akhirzaman.info/

Menolak dan Membentengi Diri dari Sihir

Abdul Kholiq Al-Athar

Ketiga, sihir yang dalam operasionalnya menggunakan perantara berupa jin. Sementara hakikat jin termasuk masalah yang masih diperdebatkan. Tetapi kami termasuk yang mengakui keberadaannya dan tidak menafikan wujudnya. Kami juga menetapkan bahwa jin itu mempunyai pengaruh sesuai dengan kekuasaan dan kekuatan yang diberikan oleh Allah kepadanya. Bukankah Anda-yang sepakat dengan sayaHal. Hal. | 167 berpendapat bahwa dari segi karakteristik tabiatnya, jin itu berupa badan atau fisik halus yang dapat melihat kita, tetapi kita pada umumnya tidak dapar melihatnya. Mungkin saja jin mengenakan pakaian materiel dan kepadanya dikenakan hukum yang lazim untuk materi, juga akan hancur dengan hancurnya materi tersebut. Karena jin itu berupa fisik halus, maka dia dapat saja melakukan berbagai pekerjaan yang berat sekalipun dan melakukan berbagai pekerjaan berat sesuai dengan kemampuannya yang melebihi kemampuan kita. Kekuatan atau kekuasaannya juga melebihi kekuatan atau kekuasaan kita, sebab kekuasaan dan kekuatan kita harus melalui penggunaan indera. Padahal indera kita terlarang untuk mengenali makhlukmakhluk halus (ruh) seperti jin itu. Oleh karena itu, sesuai dengan karakteristik fisik jin, pekerjaan yang mereka hasilkan pun lebih merupakan barang-barang halus, lembut, dan samar pula. Pekerjaan-pekerjaan yang sifatnya lembut/halus itu memang sejalan dengan tabiat sihir secara umum. Sebelum Nabi Muhammad Shallallahu 'Alaihi wa Sallam diutus sebagai nabi dan rasul, para ahli sihir dari kalangan jin itu dapat mengintip berita-berita gaib atau yang disebut istiraq as-sama'. Setelah berita hasil curian itu mereka dapatkan dari langit, mereka turun ke bumi, lalu mereka sebarluaskan setelah dicampuri berbagai hal yang menyesatkan. Mereka memberitahukan sesuatu yang gaib atau apa yang akan terjadi pada masa datang melalui metode istiraq as-sama' (mencuri-curi berita). Dan, setelah Nabi Muhamrnad Shallallahu 'Alaihi wa Sallam diutus menjadi rasul, mereka tidak lagi diberi kesempatan untuk melakukan hal yang sama. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman, “Kecuali setan-setan yang mencuri-curi berita yang dapat didengar (dari malaikat) lalu dia dikejar oleh semburan api yang terang” (QS. Al-Hijr 15:18). Pada surah Al-Jinn disebutkan, “Dan sesungguhnya kami dahulu dapat menduduki beberapa tempat di langit itu untuk mendengarkan (berita-beritanya). Tetapi sekarang, barangsiapa yang (mencoba) mendengar-dengarkan (seperti itu) tentu akan menjumpai panah api yang mengintai (untuk membakamya) (QS. Al-Jinn 72:9). Keempat, sihir yang menggunakan penipuan (manipulasi) inderawi. Masalah tersebut diakui secara praktis faktual. Bukankah Anda melihat percikan hujan itu bagaikan rangkaian benang yang bersambung-sambung, padahal sebenarnya berpisahpisah? Bukankah penumpang kereta api melihat kereta apinya diam dan bumi yang berjalan? Dan ahli sihir yang menggunakan fenomena semacam ini mempunyai kemampuan dan pengalaman serta keringanan pada tangannya sehingga dapat
http://www.akhirzaman.info/

Menolak dan Membentengi Diri dari Sihir

Abdul Kholiq Al-Athar

memperdayakan akal orang-orang. Kelima, sihir yang dilakukan oleh orang-orang yang memiliki berbagai ilmu dan pengetahuan (sains) mengenai keistimewaan materi dan asal-usul alam berdasarkan ilmu pasti. Mereka menggunakan hal-hal tersebut dengan segenap keistimewaannya Hal. Hal. | 168 dalam suatu tatanan yang kokoh unik (nizham muhkam daqiq) dan dapat melahirkan suatu hasil yang kemudian dapat mempengaruhi rasio orang-orang yang mempunyai kemampuan atau kepintaran sederhana pun. Pada masa lalu orang yang mempunyai akal cerdik tidak mampu membenarkan kepandaian atau kecerdikan salah seorang di antara ahli sihir yang menyusun (merakit) suatu patung kuda disertai seruling berdasarkan kaidah-kaidah arsitektur tertentu. Pembuatan patung tersebut dilakukan dengan perhitungan yang mendalam dan dalam waktu yang telah ditentukan. Setelah sampai pada batas waktu yang telah ditentukan, maka kuda yang berekor besar itu pun meniup seruling dengan tiupan yang mencengangkan orang-orang yang hadir ketika itu. Mereka menganggap bahwa itu adalah hasil pengaruh sihir terhadap materi (benda). Tetapi anak-anak di zaman sekarang dapat mengetahui rahasia alat tersebut. Sementara orang-orang dewasanya juga berasumsi bahwa benda seperti itu termasuk barang yang dapat membantu menumbuhkan kecerdasan otak anak-anak. Mereka memanfaatkan rahasia alat tersebut untuk membuat alat-alat yang disandarkan pembuatannya kepada Al-Zamblak(?) Dari sisi pemanfaatan barang-barang secara ilmiah dalam mempengaruhi otak orang-orang cerdas adalah penggunaan obat-obatan, dedaunan (rumput yang dipakai obat), dan proses kimiawi yang dapat mempengaruhi otak manusia, baik mengaktifkannya, maupun membekukannya (membodohkannya). Di samping dapat mempengaruhi gerakan mekanik pada badan atau fisik manusia. Ada juga beberapa kelompok manusia pada berbagai zaman yang mencoba untuk mengikat (mempengaruhi) hati dan mengacaukannya. Seperti pengakuan salah seorang di antara mereka ialah bahwa dia mengetahui isim a 'zham (isim atau nama Allah Yang Agung), atau penggunaan jasa jin, atau, siapa yang melewati suatu tempat, maka dia akan terkena ini atau itu. Mereka pun menguatkan pengakuannya itu dengan berbagai kata-kata yang tidak dipahami maknanya oleh kebanyakan orang selain ahli sihir yang dicampuri dengan mantra-mantra dan isme-isme (isu-isu) yang dapat menakut-nakuti hati manusia dan mengacaukannya. Di samping itu, mantra-mantra seperti itu juga dapat mempengaruhi dan menguasai insting (pembawaan) serta menahannya. Jika hal itu berhasil, maka penderita menjadi sangat sedih dan gundah, pengkhayalan pun semakin aktif. Penderita pun akan sering membayangkan dan mengkhayalkan hal-hal yang sebetulnya tidak terjadi. Tentu saja hal itu sangat mempengaruhi jasad. Seperti diketahui, faktor psikologis sangat mempengaruhi mekanisme fisik-rnateriel dan penyaringan hormon. Akibatnya, orang yang terkena gangguan seperti itu akan sakit. Terapinya mungkin lewat cara yang
http://www.akhirzaman.info/

Menolak dan Membentengi Diri dari Sihir

Abdul Kholiq Al-Athar

paradoks ('aksiyyah). Tetapi mungkin juga dapat diobati dengan suntikan dan obatobatan konvensional. Dari sejumlah macam sihir tersebut dapat disimpulkan bahwa sihir itu tidak mempunyai medan dalam mempengaruhi fisik manusia keeuali pada beberapa wilayah Hal. Hal. | 169 (tempat)" tertentu saja. Dan sihir terlalu jauh untuk diidentikkan, dari segi lapangan kerjanya, dengan medan kerja kedokteran. Bahkan tak ada hubungan kedokteran dengan sebab-sebab sihir itu. Berdasarkan konklusi tersebut, kita dapat mengatakan bahwa orang yang beranggapan sihir itu dapat mengobati suatu penyakit yang disebabkan oleh kelemahan hormon dan virus, atau karena kelemahan mekanis, maka sebetulnya anggapan itu keliru atau salah. Asumsi atau pengakuan seperti itu tidak mempunyai landasan yang benar dan tidak akan ada orang 'alim handal yang akan menerima pernyataan seperti itu. Tetapi itu tidak berarti bahwa sihir tidak dapat mengobati suatu penyakit sama sekali. Hanya yang pasti, sihir mempunyai medan kerja yang khusus dan mengobati penyakit dengan gayanya yang khas pula. Tetapi kemungkinan ini pun tidak bersifat umum dan mencakup berbagai penyakit. Yakni, kemampuan sihir dalam mengobati penyakit itu dalam batas-batas yang sangat sempit sekaIi. Dan batasan-batasan kemungkinan kemampuan sihir mengobati suatu penyakit itu sebetulnya sangat jelas dan mudah dipahami oleh kita. Jika sihir tidak dapat mengobati berbagai penyakit yang biasa ditangani oleh para dokter, maka jelas sihir itu hanya dapat mengobati berbagai penyakit yang ditimbulkan oleh sihir dan para ahli sihir lagi. Jika ada penyakit yang menjangkiti badan bukan karena adanya kuman atau virus, atau sebab-sebab materiel, tetapi justru lewat cara lain yang hanya diketahui oleh ahli sihir sendiri karena adanya perbuatan sihir, maka untuk menyembuhkan seorang ahli sihir harus menyakiti dahulu, yakni lewat proses sihir. Inilah muqaddimah primer (premis minor primer) yang mendasar supaya sihir dapat mendermakan khidmatnya yang diharapkan banyak orang. Tentu saja permulaan pengobatan seperti itu tidak terpuji, karena pengobatan seperti itu hanya akan melahirkan konklusi (hasil) yang sangat lemah. Berbeda dengan sihir, kedokteran merupakan pekerjaan yang baik dan mulia, jika hal itu didorong oleh .motivasi yang terpuji. Dan orang-orang yang menjadi dokter adalah orang-orang yang mulia pula, bahkan 'mereka adalah orang-orang pilihan karena mereka bersedia mengobati berbagai penyakit yang tidak ditimbulkan oleh mereka sendiri. Profesi mereka pun bukan menyakiti dahulu lalu mengobati apa yang mereka sakiti. Untuk mengobati suatu penyakit, dokter tidak mensyaratkan harus menyakiti pasien dahulu. Sama sekali tidak, karena yang demikian hanyalah profesi ahli sihir. Sedang sihir sudah pasti jelek dan jahatnya. Para ahli sihir adalah orang-orang yang jahat dan berbahaya. Mereka sesat dan menyesatkan karena pengantar untuk pengobatan yang menjadi landasannya pun tidak baik. Mereka menyakiti dahulu baru
http://www.akhirzaman.info/

Menolak dan Membentengi Diri dari Sihir

Abdul Kholiq Al-Athar

mengobati apa yang mereka sakiti. Jadi, ahli sihir itu menetapkan syarat primer "menyakiti pasien" untuk menghilangkan penyakitnya. Atas dasar itu, orang yang beranggapan bahwa medan kerja sihir itu luas, bahkan mencakup penyakit yang biasa diselesaikan dengan kedokteran, maka mereka perlu mengeluarkan dalil dan bukti-bukti argumentatif untuk membenarkan pengakuannya itu. Tetapi dalil dan bukti Hal. Hal. | 170 yang dimaksud bukanlah suatu metode yang biasa mengubah sifat atau karakter sihir dan membuat kebohongan-kebobongan. Karena kami pun sering mendengar macam-macam sihir yang tampak dan eksis pada suatu zaman, lalu menghilang setelah ditemukan rahasianya. Sebagai contoh adalah fenomena menghadirkan arwah yang pernah ramai pada tahun 1950-an dan 1960-an. Sesungguhnya sihir merupakan fenomena sosial kemasyarakatan. Rahasiarahasianya dapat diketahui oleh para sarjana sosial. Menurut pengamatan mereka, sihir itu merupakan suatu zhahirah atau gejala seperti gejala lainnya. la suka berubah-ubah dan bergerak maju, dan pada setiap masa tampil dengan sifat dan karakter yang cocok dengan perkembangan masa tersebut. Fenomena sihir itu lebih sering tampak pada lingkungan orang-orang sakit untuk mengganggu (memanfaatkan) perasaannya. Atau untuk mengganggu orang-orang bodoh sehingga mau mengorbankan harta kekayaannya. Apalagi jika yang bodoh tersebut tidak mengetahui ilmu-ilmu sains yang berkenaan dengan materi (benda). Sihir bisa juga mengganggu orang yang tidak mengetahui kaidah-kaidah dan kausalitas kehidupan, atau dia bodoh mengenai pengetahuan agama, sehingga akidahnya lemah pula. SIHIR DAN AKIDAH Sampai sekarang, jelaslah kiranya batasan hubungan atau bentuk ketergantungan sihir dengan hal-hal lain yang ilmiah, sehingga sempurnalah sisi-sisi pembahasan mengenai sihir. Kemudian, mudah pula bagi kami untuk menjelaskan secara ringkas mengenai posisi sihir dalam akidah Islam. Dan posisi sihir dalam akidah itu akan semakin jelas ketika kita telah menemukan batasan dari sasaran atau tujuan umum sihir. Orang yang pernah memikirkan dan memahami tujuan-tujuan dan sasaran ahli sihir akan dapat menyusun tujuan-tujuan utama sihir seperti berikut ini. 1. Dengan sihirnya, sebagian ahli sihir bertujuan untuk mendapatkan materi secara cepat dan keuntungan materiel (harta kekayaan) dengan cara yang mudah meski tidak mengikuti cara-cara dan metode yang cocok dengan syari'ah (hukum Islam). Cara kerja sihir disandarkan kepada upaya-upaya untuk merampas harta orang lain tanpa hak. Menguasai rezeki mereka dengan teknik sulap dan penipuan serta kebohongan. Ahli sihir semacam ini adalah ahli sihir yang paling jahat, paling hina jiwanya, dan paling banyak jatuhnya dari derajatderajat kemuliaan. Seringkali para ahli sihir macam ini didekati oleh orang-orang bodoh yang menghendaki popularitas di tengah-tengah masyarakat, khususnya di hadapan para pejabat pemerintahan.

http://www.akhirzaman.info/

Menolak dan Membentengi Diri dari Sihir

Abdul Kholiq Al-Athar

Hal. Hal. | 171

2. Dengan sihirnya pula, kelompok ahli sihir macam kedua ini menghendaki untuk mempromosikan dan melariskan suatu mazhab atau suatu pendapat (ideologi) dan mengacaukan pendapat-pendapat yang bertentangan dengannya. Tetapi cara dan metode yang dilaluinya bukan cara-cara dan gaya-gaya yang rasional dan logis, tetapi mengikuti cara-cara yang menakutkan, berbohong, dan berbagai manipulasi (kepalsuan). Mereka yang mengikuti gaya sihir macam ini seringkali atau kebanyakan adalah orang-orang yang merasakan kelemahan mazhab atau pahamnya. Karena tidak mempunyai kekuasaan dan kemampuan dalam menghadapi tantangan musuh-musuhnya dengan metode penggunaan argumentasi yang logis dan gaya atau metode yang rasional beradab, maka mereka memilih gaya-gaya menyerang yang biasanya hanya dilakukan oleh orang-orang awam yang bodoh. Tentunya mereka ini tidak dapat menguasai kecuali orang-orang yapg mempunyai akal yang lemah. 3. Kelompok ahli sihir yang tampaknya tidak mempunyai kecenderungan untuk meyakini akidah yang benar. Mereka tidak meyakini adanya Allah dan tidak tunduk kepada kekuasaan-Nya. Oleh karena itulah, mereka menggunakan sihirnya untuk mempengaruhi dan menipu. orang-orang bodoh dengan gaya petunjuk, "Sesungguhnya Allah itu bukan penyebab pertama (kausa prima): Allah juga bukan 'ilat atau sebab yang mempengaruhi alam. Dia pun bukan satusatunya pencipta, dan juga bukan yang paling berhak untuk memperlakukan alam ini sekehendak-Nya. Kita jugadapat melakukan hal-hal yang luar biasa, dapat mempengaruhi berbagai barang dengan mengikuti qanun atau hukum materi, tanpa harus mengikuti nizham 'tata aturan yang lain." Jika saja mereka mengatakan hal itu dengan terang-terangan dan dengan menggunakan ungkapan yang jelas maksudnya, maka pasti orang-orang awam yang kurang ilmu itu tidak akan membenarkan apa yang mereka katakan. Mereka ingin mengatakan "petunjuk"-nya itu dengan suatu gaya tutur yang disandarkan kepada pernberian petunjukdan menarik jiwa yang lemah untuk mengakui suatu peristiwa yang tidak berwujud dalam wujud yang sebenarnya, atau yang tidak sesuai dengan realitas - Di samping menggunakan logika yang lebih banyak disandarkan kepada keraguan daripada logika yang disandarkan kepada hal-hal yang meyakinkan dan rasional. Semua macam aliran sihir tersebut tidak kita temukan keseluruhannya kecuali di berbagai negara yang berbeda-beda. Fenomena sihir itu tidak tumbuh berkembang kecuali pada iklim-iklim yang sedang dilanda kefakiran, banyak penyakit, dan orang-orang yang bodoh, yakni orang-orang yang tidak mampu bersaing dengan orang lain dalam menghadapi kehidupan dengan gaya hidup progresif. Kita dapat menyaksikan berbagai negara yang menjadi lahan subur bagi perkembangan sihir, gaya-gaya hidup penuh kedustaan, pelecehan terhadap kemuliaan martabat manusia, dan penghinaan terhadap akal pikiran manusia. Semakin maju peradaban suatu negara semakin maju pula gaya berpikirnya, dan mereka menganggap bahwa sihir dan para tokohnya itu sebagai suatu warisan kebudayaan yang lucu. Sihir dianggap warisan para nenek moyangnya yang
http://www.akhirzaman.info/

Menolak dan Membentengi Diri dari Sihir

Abdul Kholiq Al-Athar

hidup pada masa terbelakang dan penuh dengan kebodohan. Para sosiolog sepakat bahwa fenomena sihir merupakan fenomena sosial yang membahayakan dan dapat menghancurkan manusia. Para ahli sihir itu merupakan lambang paling penting untuk menunjukkan keterbelakangan suatu bangsa atau Hal. Hal. | 172 masyarakat. Jika saja ada seorang tokoh agama (ulama) dalam agama apa pun yang mengakui dan mempercayai fenomena sihir sejalan dengan yang diinginkan oleh para tokoh sihir, maka mereka harus memeriksa akal pikirannya kembali, di samping harus memeriksa kepribadiannya. Jadi, sesungguhnya sihir itu betul-betul dapat menggoncangkan akidah atau keyakinan seseorang. Dilihat dari kaitannya dengan suluk (etika), sihir bersyaratkan merusak dahulu baru memperbaiki apa yang dirusaknya itu. Itulah kiranya, konklusi umum yang dapat kami temukan dari pengaruh sihir terhadap akidah dan etika kehidupan (suluk). NABI MUHAMMAD Shallallahu 'Alaihi wa Sallam DAN SIHlR Sejarah telah mencatat beberapa hadits yang disandarkan kepada Nabi Muhammad Shallallahu 'Alaihi wa Sallam. Kebanyakan riwayat menyatakan bahwa secara praktis (faktual) Nabi Muhammad Shallallahu 'Alaihi wa Sallam pernah terkena sihir. Sihir tersebut - hanya satu-satunya - dikenakan oleh seorang Yahudi bernama Lubaid bin Al-A'sham. Bekas pengaruh sihir itu masih terasa oleh beliau Shallallahu 'Alaihi wa Sallam dalam beberapa hari atau beberapa bulan. Kemudian Allah Subhanahu wa Ta'ala mewahyukan kepadanya, lewat malak Jibril a.s., bahwa beliau terkena sihir (mashur atau mathbub). Sedang barang yang digunakan untuk menyihir Nabi itu sudah dilemparkan ke suatu sumur di bawah pohon kurma yang warna airnya seperti warna air pacar (kemerah-merahan). Setelah mendapatkan wahyu, maka Nabi Muhammad Shallallahu 'Alaihi wa Sallam mengeluarkan benda berisi sihir itu dari sumur. Lalu beliau membuka (melepaskan) rahasia sihir itu. Kemudian sumurnya dipendam. Setelah itu, Nabi Muhammad Shallallahu 'Alaihi wa Sallam seperti yang terlepas dari ikatan (ka'annama nysyitha min 'iqal). Itulah gambaran ringkas mengenai peristiwa sihir yang menimpa Nabi Muhammad Shallallahu 'Alaihi wa Sallam. Berdasarkan beberapa riwayat sahih, beliau Shallallahu 'Alaihi wa Sallam juga pernah mengalami sakit yang disebabkan sihir tersebut. Riwayat-riwayat tersebut meski dari sisi sanadnya sahih dan dapat dipercaya, karena, antara lain diriwayatkan oleh Imam Muslim-rahimahullah ta'ala" tetapi riwayatriwayat tersebut tidak sampai mutawatir, hanya riwayat-riwayat ahad. Maka, berkenaan dengan riwayat-riwayat tersebut, para ulama berbeda pendapat. Sebagian mereka menolak untuk menerima riwayat-riwayat tersebut, karena di samping tidak mu’tamal, riwayat-riwayat itu juga hanya berupa riwayat-riwayat ahad (tidak mutawatir), Kelompok ini juga bersandar kepada keyakinannya, bahwa Nabi Muhammad Shallallahu 'Alaihi wa Sallam terhalang dari upaya jahat manusia. Hal ini dapat dilihat umpamanya dalam firman Allah Subhanahu wa Ta'ala:
http://www.akhirzaman.info/

Menolak dan Membentengi Diri dari Sihir

Abdul Kholiq Al-Athar

“Wahai Rasul, sampaikanlah apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu. Dan jika kamu tidak mengerjakan (apa yang diperintahhan itu, berarti) kamu tidak menyampaikan amanat-Nya. Allah memelihara kamu dari (gangguan) manusia. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang kafir.” (QS.Al-Maidah 5:67). Hal. Hal. | 173 Sedangkan menurut pendapat kedua, riwayat-riwayat tersebut tidak mu'tamad (dapat dipercaya/valid). Karena ada berbagai pendapat, maka seorang ulama atau peneliti hendaklah mencari takhrij (seleksi hadits) yang paling cocok, serasi dengan rasio, dan tidak bertentangan pula dengan kelayakan nubuwwah Nabi Muharnmad Shallallahu 'Alaihi wa Sallam. Menurut saya, yang benar ialah tidak perlu mengadakan seleksi yang menyulitkan seperti itu. Begitu juga tidak perlu ada khilaf yang tajam seperti itu, tidak perlu ada pembagian umat Islam yang menerima atau menolak riwayat-riwayat tersebut. Tetapi, saya tidak bermaksud mendebat suatu kaidah ilmu hadits atau salah satu syarat untuk bolehnya menerima atau menolak suatu hadis. Karena, berkenaan dengan problema tersebut ada orang-orang yang khusus dan ada pakar yang spesifik. Menurut hemat saya, riwayat-riwayat itu tidak ada kontradiksinya dengan ayat, “Dan Allah memeliharamu dari (gangguan) manusia.. Seperti yang telah dikemukakan, 'ishmah "penjagaan" dari Allah Subhanahu wa Ta'ala itu lebih berhubungan dengan medan risalah dan penyampaian amanah (dakwah), serta landasan tabligh. Sedang medan risalah, tiang pokok dakwah, dan landasan tabligh itu adalah akal (otak) dan ruh (jiwa), yang tidak mungkin terkena sihir. Bukankah ahli sihirdan orang-orang jahat lainnya telah terbukti mampu mernbahayakan (menyakiti jasad Nabi Muhammad Shallallahu 'Alaihi wa Sallam dan pada materi (fisik) lainnya. Tetapi suatu hal yang mustahil, ialah bahwa orang-orang jahat akan mengganggu asas (pokok) tasyri' Nabi Muhammad Shallallahu 'Alaihi wa Sallam, yakni akal dan ruhnya. Keterangan tersebut memberikan perbedaan yang jelas dan sempurna mengenai pribadi dan fisik Nabi, baik yang mungkin terkena sihir atau perbuatan jahat manusia, maupun yang tidak mungkin dikenainya. Kepribadian (ruh) dan otak Nabi Muhammad Shallallahu 'Alaihi wa Sallam termasuk sesuatu yang betul-betul mendapat jaminan Allah Subhanahu wa Ta'ala. Jadi, jika Nabi Muhammad Shallallahu 'Alaihi wa Sallam terkena sihir dan segala pengaruhnya, maka hal itu paling hanya mengenai dan menyakiti badan atau fisiknya saja. Dan itu sama saja dengan apa yang dilemparkan oleh kaum musyrik Makkah dahulu terhadap beliau Shallallahu 'Alaihi wa Sallam. Bukankah pelipis beliau Shallallahu 'Alaihi wa Sallam pernah terluka? Juga hal-hal lain yang hanya merupakan gangguan fisik belaka. Jadi, nabi-nabi boleh saja terkena gangguan dan sakit pada badannya, sedang yang terjaga adalah apa yang menjadi asas (pokok) untuk tegaknya risalah dan tiang punggung terlaksananya tabligh, menyampaikan amanah. SIHIR DAN AHLI SIHIR DALAM PANDANGAN ISLAM

http://www.akhirzaman.info/

Menolak dan Membentengi Diri dari Sihir

Abdul Kholiq Al-Athar

Sesungguhnya hukum atau ketetapan Allah dalam berbagai permasalahannya lebih banyak berkaitan erat dengan manfaat atau mudharat (bahaya) sebagai akibat atau konsekuensinya. Jika ternyata ada sesuatu yang lebih banyak mudharatnya daripada manfaatnya, atau tidak ada manfaatnya sama sekali, maka barang atau objek itu harus dijauhi. Dan orang yang melakukan sesuatu yang bertentangan dengan urusan (hukum) Hal. Hal. | 174 syara' diakui sebagai orang yang berdosa. Itu jika perbuatan dosanya hanya berkaitan dengan suluk atau etika. Dan dosanya akan mengenai objek materiel yang membahayakan individu dan masyarakat sekaligus. Sementara, orang yang melakukan sesuatu yang kontradiktif dengan urusan syariat akan dihukumi kafir. Hal itu jika perbuatannya yang menyimpang itu berhubungan dengan akidah atau keyakinan (keimanan), atau dengan ideologi Islam, tempat sandaran kokoh agama dan benteng kuat syariat Islam. Jika dilihat dari sisi etika, profesi sihir hanya melahirkan bahaya belaka. Bahkan, kalaupun ada manfaatnya, yakni menyembuhkan sihir lagi, kegunaan itu berkaitan dengan suatu syarat asasi, yakni harus menyakiti dahulu, baru menyembuhkan apa yang disakitinya. Sedang dari sisi akidah atau keyakinan, atau ideologi pun bahayanya sangat jelas. Sihir sangat membahayakan keutuhan dan kemurnian akidah dan ideologi Islam, yang menjadi sumber arah etika Islam dan bentuk gerakan atau perilaku insani secara umum. Saya tidak meragukan bahwa pembaca yang budiman dapat menyimpulkan bagaimana hukum Islam mengenai sihir. Dan apa hukum yang ditetapkan Islam terhadap para ahli sihir, khususnya yang aktif beroperasi, yakni mereka yang masih mempelajari sihir, mengajarkannya, dan mempraktikkannya. Sesungguhnya Islam menghukumi kafir bagi para ahli sihir. Demikian pula terhadap mereka yang membenarkan sihir tersebut. Sejumlah besar ulama Islam pun cenderung untuk berpendapat demikian. Mereka menguatkan, bahwa orang-orang yang aktif mengoperasikan sihir itu kafir. Hanya sedikit saja yang berpendapat bahwa ahli sihir itu hanya berdosa (mujrim). Mereka juga mengklaim bahwa orang-orang yang suka pergi kepada ahli sihir untuk meminta bantuannya adalah berdosa. Menurut pendapat pertama, seorang ahli sihir harus dibunuh sebagai hukuman baginya yang telah mencelakakan dan menyesatkan manusia. Menurut Al-Hafizh Adz-Dzahaby Ad-Dimasyqy, sihir itu merupakan dosa paling besar urutan ketiga. Beliau mendasarkan pendapatnya kepada firm an Allah Subhanahu wa Ta'ala berikut ini, “Dan mereka mengikuti apa yang dibaca oleh setan-setan pada masa kerajaan Sulaiman. (Dan mereka mengatakan) bahwa Sulaiman itu mengerjakan sihir. Padahal Sulaiman tidak kafir (tidak mengerjakan sihir), hanya setan-setan itulah yang kafir (mengerjakan sihir). Mereka mengajarkan sihir kepada manusia dan apa yang diturunkan kepada dua orang malaikat di negeri Babil. Yaitu Harut dan Marut, sedang keduanya tidak mengajarkan (sesuatu) kepada seorang pun sebelum mengatakan, "Sesungguhnya kami hanya cobaan (bagimu), sebab itu janganlah kamu kafir." Maka mereka mempelajari dari kedua malaikat itu apa yang dengan sihir itu mereka dapat menceraikan antara seorang
http://www.akhirzaman.info/

Menolak dan Membentengi Diri dari Sihir

Abdul Kholiq Al-Athar

(suami) dengan. istrinya. Dan mereka itu (ahli sihir) tidak memberi mudharat dengan sihirnya kepada searang pun kecuali dengan izin Allah. Dan mereka mempelajari sesuatu yang memberi mudharat kepadanya dan tidak memberi manfaat. Demi, sesungguhnya mereka telah meyakini, bahwa barangsiapa yang menukarnya (kitab Allah) dengan sihir itu, tiadalah baginya keuntungan di akhirat, dan amat jahatlah perbuatan mereka menjual Hal. Hal. | 175 dirinya dengan sihir, kalau mereka mengetahui (QS. Al-Bagarah 2:102). Dan tidak ada tujuan lain dari setan ketika berusaha mengajarkan sihir kepada manusia, selain agar manusia menyekutukan Allah Subhanahu wa Ta'ala, Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman ketika memberitahukan mengenai Harut dan Marut, “Dan mereka mengikuti apa yang dibaca aleh setan-setan pada masa kerajaan Sulaiman (dan mereka mengatakan), bahwa Sulaiman itu mengerjakan sihir, padahal Sulaiman tidak kafir (tidak mengerjakan sihir), hanya setan-setan itulah yang kafir (mengerjakan sihir). Mereka mengajarkan sihir kepada manusia dan apa yang diturunkan kepada dua arang malaikat di negeri babil. Yaitu Harut dan Marut, sedang keduanya tidak mengajarkan (sesuatu) kepada seorang pun sebelum mengatakan, "Sesungguhnya kami hanya cobaan (bagimu), sebab itu janganlah kamu kafir." Maka mereka rnempelajari dari kedua malaikat itu apa yang dengan sihir itu mereka dapat menceraikan seorang (suami) dengan istrinya. Dan mereka itu (ahli sihir) tidak memberi mudharat kepada seseorang pun kecuali dengan izin Allah. Dan mereka mempelajari sesuatu yang memberi mudharat kepadanya dan tidak memberi manfaat. Demi, sesungguhnya mereka telah meyakini, bahwa barangsiapa yang menukarnya (kitab Allah) dengan sihir itu, tiadalah baginya keuntungan di ahhirat, dan amat jahatlah perbuatan mereka menjual sihir itu, kalau mereka mengetahui (QS. Al-Baqarah 2:102). Kita dapat melihat banyak orang yang tersesat yang masuk ke dalam lingkaran sihir. Mereka hanya menyangka bahwa sihir itu haram atau perbuatan dosa saja. Mereka tidak merasakan bahwa sihir itu suatu kekufuran, sehingga mereka masih saja berani memasukkan unsur sihir ke dalam trik-trik film (sinema). Padahal trik-trik tersebut hanyalah sihir belaka. Demikian pula, yang memisahkan seorang suami dari istrinya adalah sihir. Ada laki-laki yang mencintai atau juga yang berlebihan membenci juga karena sihir. Sedang kata-kata (mantra) yang digunakannya juga berupa kata-kata yang tidak diketahui maknanya. Bahkan kebanyakan merupakan kata-kata yang mengandung muatan syirik dan kesesatan. Jadi, bagaimanapun hukuman bagi ahli sihir adalah dibunuh karena perbuatan sihir itu mengandung ajaran untuk kufur atau meangingkari (eksistensi) Allah Subhanahu wa Ta'ala. Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam menegaskan, “Jauhilah tujuh perbuatan yang menghancurkan (amal-amal kalian)." Kemudian Nabi menyebutkan diantara yang tujuh itu adalah sihir. Oleh karena itulah, setiap orang hendaklah bertakwa kepada Allah dengan sesungguhnya. Dan hendaklah mereka menjauhi segala perbuatan dan keyakinan yang dapat merugikan kehidupannya di dunia dan di akhirat. Demikian menurut Adz-Dzahaby.

http://www.akhirzaman.info/

Menolak dan Membentengi Diri dari Sihir

Abdul Kholiq Al-Athar

Hal. Hal. | 176

Saya tidak ingin mengajak Anda untuk mengumpulkan pendapat para ulama lalu menyusunnya karena hal tersebut merupakan hal yang kurang layak dalam ruang seperti ini. Terutama setelah saya kenalkan kepada Anda kaidah umum untuk mengarahkan berbagai pendapat dan menyusunnya, dan adanya kemungkinan sampai kepada asas atau dasar pengarahan pendapat tersebut. Kaidah umum yang semestinya kita dapatkan adalah, bahwa sihir itu jelas merupakan perbuatan dosa besar (jarimah) dalam pandangan agama Islam. Sedang dalam pandangan sosiologi, sihir menjadi tanda atau lambang keterbelakangan, di samping merupakan pelecehan maksud (tujuan pengobatan) menurut kedokteran. Bahkan, menurut sarjana psikologi, sihir merupakan kesederhanaan (kerendahan) rasio (sadzajah 'aqliyyah). Sihir juga merupakan petunjuk yang berbisa dan sangat berbahaya terhadap apa yang sepantasnya kita lakukan supaya kita dapat berdiri di hadapan fenomena sihir tersebut. Jika tidak demikian, maka saya hanya akan mengatakan perkataan yang mulia seperti yang diisyaratkan Allah Subhanahu wa Ta'ala dalam firmanNya, “Katakanlah, "Siapakah yang memberi rezeki kepadamu dari langit dan dari bumi". Katakanlah, "Allah", dan sesungguhnya kami atau kamu (orang-orang musyrik), pasti berada dalam kebenaran atau dalam kesesatan yang nyata (QS. Saba'34:24). \ Akhir Perjalanan (Kesimpulan) Setelah jelas segala permasalahan sihir tersebut, baik medan kerjanya, tabiatnya, dan hubungannya dengan akidah atau keyakinan, serta berbagai motivasi untuk mengikutinya, kami sekarang merasa tenang untuk mengatakan bahwa sihir itu sebenarnya bukan sesuatu yang luar biasa. Inilah satu titik kesimpulan mendasar. Kita telah sepakat, bahwa sesuatu yang luar biasa itu ialah yang tidak tunduk kepada suatu qanun atau hukum alam yang ada dalam realita. Baik hal tersebuttelah terbuka hijabnya, atau yang belum terbuka hijabnya, dan inilah yang masih Iuar biasa dan di luar kemampuan orang-orang yang berada pada lingkungan wilayah dakwah nabi-nabi dan yang berkepentingan terhadap dakwah Nabi Muhammad Shallallahu 'Alaihi wa Sallam serta masuk dalam milieu atau lingkungan kerasulan Nabi Muhammad Shallallahu 'Alaihi wa Sallam. Jika sihir seperti yang telah dijelaskan tunduk kepada qanun (undang-undang atau hukum alam) dan ditakdirkan dapat dikuasai oleh sebagian orang yang nota bene berada dalam wilayah dakwah Nabi Muhammad Shallallahu 'Alaihi wa Sallam atau nabi-nabi lainnya, maka jelaslah sihir itu bukan sesuatu yang luar biasa (khariq li-al- 'adah). Dan jika ternyata sihir itu betul-betul mengikuti hukum alam dan mengandung berbagai kaidah untuk menguasainya, dapat dikuasai oleh manusia yang berada di bawah orang-orang yang berkepentingan dengan dakwah Nabi Muhammad Shallallahu 'Alaihi wa Sallam, maka jelas sihir memungkinkan untuk diajarkan dan dipelajari. Karena yang disebut mengajarkan sihir adalah memindahkan (mentransfer) rahasia-rahasia hukum alam, metode penggunaannya dari seseorang kepada yang lain dengan
http://www.akhirzaman.info/

Menolak dan Membentengi Diri dari Sihir

Abdul Kholiq Al-Athar

menggunakan ilmu pengetahuan. Spesifikasi seperti ini tidak hanya ada pada sihir saja, tetapi juga pada berbagai perkara yang ada di bawah lingkungan hukum alam dan berbagai kaidah-kaidah tertentu, serta pada apa saja yang ditetapkan oleh Allah untuk dikuasai oleh manusia, yakni mereka Hal. Hal. | 177 diberi kekuasaan dan kekuatan oleh Allah untuk menguasainya, mempelajari, dan menggunakannya. Kekhususan atau spesifikasi semacam itu, yang dimiliki oleh sihir, dijelaskan oleh Allah lewat surah Al-Baqarah, “Maka mereka itu mempelajari dari kedua malaikat itu apa yang dengan sihir itu mereka dapat menceraikan antara seorang (suami) dengan istrinya. Allah Subhanahu wa Ta'ala telah menurunkan Alquran yang menjelaskan secara ringkas ciri-ciri khusus sihir dan tujuan pemanfaatannya. Yang mengajarkan sihir pertama kali adalah setan. Dia mampu melakukan sesuatu yang pada mulanya belum mampu dilakukan oleh manusia, Setan kemudian mengajari manusia bagaimana menggunakan sihir lewat metode pengajaran dan pelajaran. Sejak awalnya pun sihir tidak mempunyai tujuan yang baik. Hal itu seperti diisyaratkan Alquran dalam surah Al-Baqarah 2:102, bahwa setan-setan itu mengajarkan sihir kepada manusia untuk menceraikan seorang (suami) dari istrinya. Alquran meralat perilaku manusia untuk meluruskan akidahnya. Atas dasar itu semua, dapatlah kita katakan bahwa sihir itu bukanlah sesuatu yang luar biasa. Tetapi sihir pun bukan dari perbuatan khusus Allah Subhanahu wa Ta'ala. la hanya bagian dari perbuatan-perbuatan yang ada dalam lingkungan tata aturan hukum alam (materiel). Atau termasuk perbuatan yang mengikuti undang-undang kehidupan yang ditetapkan oleh Allah Subhanahu wa Ta'ala di bumi sejak adanya hukum materi dan hukum kehidupan. Jadi, kami tidak menolak keberadaan sihir secara keseluruhan. Tetapi kami pun tidak menerimanya dengan mengikuti penjelasan yang lama. Jadi, kami tidak menolak sihir karena ia ada (eksis). Tidak mungkin kita menolak eksistensi sesuatu yang benar-benar ada. Menurut keterangan pada zaman dahulu, sihir itu termasuk perbuatan luar biasa. Pernyataan seperti itu tidak kita terima, kecuali jika memahami keluar biasaan yang ada pada sihir itu dengan pemahaman yang sangat sederhana dan rendah (naif) sekali. Karni menerima keberadaan sihir sebagai suatu fenomena sosiologis yang sejalan dengan ada tidaknya kebodohan, dan sejalan dengan berkurang atau bertambahnya kebodohan tersebut. Sedangkan jika dihubungkan dengan kebudayaan, kesadaran berpikir kreatif, dan kesadaran beragama yang benar, mungkin sihir itu diterima dan mungkin juga ditolak. Kemudian hubungan sihir dengan mukjizat, itu sama saja dengan hubungan segala
http://www.akhirzaman.info/

Menolak dan Membentengi Diri dari Sihir

Abdul Kholiq Al-Athar

yang ada di dunia ini terhadap mukjizat tersebut. MUKJlZAT DAN KERAMAT Seringkali permasalahan keramat (karamah/kemuliaan) itu dikaitkan kepada seorang Hal. Hal. | 178 wali, baik wali menurut pandangan agama Islam maupun wali menurut pengertian agama-agama lain. Sementara sifat kewalian biasanya juga dikenakan kepada orang-orang saleh yang mengikuti dan menaati salah seorang nabi dari nabi-nabi utusan Allah Subhanahu wa Ta'ala. Mereka Juga menghidupkan (menyebarluaskan) ajaran-ajaran pokoknya, prinsipprinsip hidupnya, dan mereka pun mengikuti langkah-langkah hidup nabinya. Bahkan ada di antara mereka yang tampaknya menjadi perwujudan (personifikasi) dari ajaran-ajaran pokok yang dibawa oleh nabinya. Tetapi keterkaitan keramat dengan para wali itu tidak akan terbukti kecuali jika kita mengikuti pemaknaan kata keramat yang diistilahkan atau diformulasikan oleh para ulama ilmu kalam (teolog) dan medan bahasan yang mereka batasi. Tetapi satu hal yang pasti, jika kata keramat (karamah) tidak mengikuti makna terminologisnya, maka maknanya menjadi umum dan mencakup banyak hal tentang kemuliaan. Bahkan Ailah Subhanahu wa Ta'ala telah menegaskan, bahwa Dia telah memberikan kemuliaan atau keramat (karamah) itu kepada semua Bani Adam. Seperti diisyaratkan ayat, Dan sungguh Kami telah memuliakan bani-anak cucu-Adam dan Kami angkut mereka di daratan dan di lautan. Kami beri mereka rezeki dari yang baik-baik dan Kami lebihkan mereka dengan kelebihan yang sempurna atas kebanyakan makhluk yang telah Kami ciptakan (QS. Al-Isra' 17:70) Banyak fenomena yang bermacam-macam yang diberikan Allah Subhanahu wa Ta'ala kepada manusia yang tampak pada bentuk-bentuk materiel dan wujud-wujud immateriel. Dan di antara tanda kemuliaan yang diberikan Allah Subhanahu wa Ta'ala kepada manusia adalah apa yang berhubungan dengan ketinggian derajat, keluhuran budi pekerti, dan jauh dari hal-hal yang rendah dan hina serta sesat. Dengan rahmat dan karunia-Nya, Allah berkenan memberi taufik (kemampuan beramal) kepada sebagian hamba-Nya untuk menetapi dan mengikuti jalan yang benar dan mempunyai kecenderungan kepada kebaikan dan keutamaan. Sehingga mereka dapat meningkat derajatnya seperti orang-orang yang menghendaki sampai ke puncak pengenalan dirinya dan menemukan jati dirinya yang teladan (paripurna). Taufik yang diberikan Allah Subhanahu wa Ta'ala semacam itu dianggap sebagai keramat. Bahkan boleh jadi itu adalah keramat yang paling tinggi tingkatannya.

http://www.akhirzaman.info/

Menolak dan Membentengi Diri dari Sihir

Abdul Kholiq Al-Athar

Pernyataan tersebut diakui oleh Syaikh Muhammad bin Abd. Al-Karim Al-Syihristany (wafat thn. 548 H). Beliau mengatakan, "Di antara keramat yang paling agung yang diberikan Allah Subhanahu wa Ta'ala kepada hamba-hamba-Nya adalah dimudahkan-Nya pintu-pintu kebaikan dan disulitkan-Nya berbagai sebab-sebab kejahatan. Semakin besar kemudahan yang diberikan Allah kepada hamba-hamba-Nya dan semakin didekatkan-Nya Hal. Hal. | 179 mereka kepada kebaikan, maka keramat (kemuliaan) pun semakin banyak." Makna keramat yang demikian ini disepakati oleh semua orang, baik oleh orang 'alim, maupun orang bodoh. Demikian pula orang-orang baik, bahkan orang-orang kurang baik sekalipun. Karena tampaknya telah menjadi kesepakatan (ijma'), maka kami tidak bermaksud mendiskusikannya lagi karena memang hal itu tidak diperlukan lagi. Yang perlu didiskusikan justru makna keramat secara terminologis yang memperlihatkan adanya unsur keluarbiasaan pada keramat tersebut. Makna keramat secara terminologis inilah yang berkaitan erat dengan pemikiran kewalian (al-wilayah). Sebab, keramat tidak akan terlihat pada tangan orang jahat, dajjal (pendusta), tukang sihir, atau dukun. Keramat pun tidak akan tampak pada orangorang yang mengaku-ngaku sebagai nabi secara dusta. Kewalian, menurut pendapat mayoritas ulama, merupakan suatu realita yang tidak perlu dipungkiri lagi keberadaannya. Dan tampaknya keramat pada tangan para wali juga bukan hal yang ganjil. Kecuali, kaum mu'tazilah dan kelompok yang sejalan dengan mereka. Yang tidak sepakat dengan pendapat itu, paling tidak, sebagian kelompok yang kurang menerima keberadaan kewalian itu berpendapat bahwa kewalian hanya terbatas kepada seseorang dari kalangan sahabat Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam saja. Jika kewalian merupakan suatu realita dan sesuatu yang betul-betul terjadi, maka akal pikiran manusia ketika menerima hal itu, tidak menemukan adanya suatu kontradiksi yang akan membingungkan pikiran dan mengejutkan instink dan perasaan manusia. Menurut Asy-Syihristany, keramat para wali itu dibolehkan (adanya) secara rasio dan sesuai dengan yang terdengar dari berbagai sumber keterangan. Peristiwa sejarah yang benar memberikan berbagai contoh yang konkret sambil memberikan isyarat adanya keterkaitan kewalian dengan keramat. Asy-Syihristany berkata, "Bukankah di dalam Alquran terdapat kisah singgasananya Ratu Balqis dan perkataan wali tersebut, sebagaimana difirmankan Allah Subhanahu wa Ta'ala, Berkatalah seorang yang mempunyai ilmu dari Al-Kitab, "Aku akan membawa singgasana itu kepadamu sebelum matamu berkedip." Maka tatkala Sulaiman melihat singgasana itu terletak di hadapannya, dia pun berkata, "Ini termasuk karunia Tuhanka untuk menguji aku, apakah aku bersyukur atau mengingkari (kufur nikmat). Dan barangsiapa yang bersyukur, maka sesungguhnya dia bersyukur untuk kepentingan dirinya. Dan barangsiapa yang kufur
http://www.akhirzaman.info/

Menolak dan Membentengi Diri dari Sihir

Abdul Kholiq Al-Athar

nikmat, maka sesungguhnya Tuhanku Mahakaya lagi Mahamulia." (QS. An-Naml 27:40). Bukankah kisah ibu Nabi Musa a.s. dan kisah Siti Maryam, ibu Nabi Isa a.s. serta keluarbiasaannya yang tampak, juga dilemparkannya Nabi Musa a.s. ke laut, merupakan keramat, yaitu kemuliaan yang diberikan Allah kepada sebagian hamba-Nya? Bahkan Siti Maryam pun pernah mendapatkan rezeki (buah-buahan) musim dingin pada musim panas. Dan mendapatkan buah-buahan yang mestinya ada pada musim panas pada musim dingin, demikian pula tumbuhnya pohon kurma di padang sahara. Bukankah hal-hal seperti itu merupakan keramat yang paling besar yang diperlihatkan Allah Subhanahu wa Ta'ala kepada Siti Maryam ibu Nabi Musa a.s.? Berkenaan dengan keramat wali, kita sering sekali menemukan mereka dari orangorang saleh umat Islam. Bahkan mungkin hal itu terlalu banyak untuk dihitung. Meskipun riwayat-riwayat yang mernbicarakan atau mengisahkan keramat para wali itu lewat riwayat-riwayat ahad-yang mungkin tidak memberikan suatu kepastian ilmu mengenai terjadinya kisah-kisah tersebut-tetapi karena begitu banyaknya, maka kita dapat menemukan ilmu yang meyakinkan dan benar bahwa berbagai hal luar biasa telah terbukti ada pada tangan-tangan orang-orang yang memang pantas mempunyai keramat. Pandangan tersebut dikuatkan oleh Syaikh Ibn Taimiyyah - rahimahullah ta'ala yang berkata, "Sesungguhnya Al-Hawariyyun (kelompok ulama pada masa Nabi Isa a.s.) dan orang-orang saleh lainnya juga mempunyai banyak keramat sebagaimana banyaknya keramat bagi orang-orang saleh dari umat Nabi Muhammad Shallallahu 'Alaihi wa Sallam ini" Jadi, berdasarkan pendapat-pendapat dan pernyataan-pernyataan tersebut dapat disimpulkan, bahwa kewalian itu merupakan sesuatu yang betul-betul terjadi secara praktis dan rasional (diterima akal sehat). Sedang mengenai keterkaitan keramat dengan kewalian juga merupakan sesuatu yang telah disaksikan oleh sejarah dan tak ada ulama yang menentangnya. Atas dasar itu, maka kebanyakan orang yang berakal sepakat bahwa keramat para wali itu ada, dan para wali itu jumlahnya banyak. Hanya yang menjadi problem selanjutnya adalah masalah yang paling substansial (inti), khususnya jika dibandingkan dengan mukjizat dengan keramat. Jika keramat merupakan sesuatu yang luar biasa, maka berarti sejalan atau sebanding dengan sifat atau tabiat (karakteristik) mukjizat. Ketika kita mengetahui adanya kesesuaian keramat dan mukjizat, kita masuk ke dalam wilayah yang penuh dengan kebingungan. Karena kita tidak mudah untuk membedakan mana keramat dan mana mukjizat. Jadi, kita juga kebingungan untuk membedakan antara nabi dan wali.
http://www.akhirzaman.info/

Hal. Hal. | 180

Menolak dan Membentengi Diri dari Sihir

Abdul Kholiq Al-Athar

Meski demikian, jika problema itu hanya sebatas itu, mungkin logika kita masih menerima. Hanya tinggal mencarikan benang merah pembeda antara keduanya dari kalangan pemikir Muslim, sehingga menjadi jelaslah permasalahannya. Akal kita pun akan mendapatkan kepuasan, di samping mau menyerah kepada ketentuan yang benar. Hal. Hal. | 181 Para ulama sejak dahulu telah berusaha untuk membedakan antara mukjizat dan keramat. Landasan utama mereka adalah keyakinan bahwa yang memiliki mukjizat itu adalah orang yang mengaku sebagai nabi. Sementara orang yang mempunyai keramat tidak mengaku sebagai nabi atau sebagai utusan Allah Subhanahu wa Ta'ala kepada hamba-hamba-Nya, Sebagian ulama telah membedakan antara mukjizat dengan keramat, atas dasar bahwa mukjizat itu tidak mungkin ditandingi dan ditentang. Sedang keramat ada kemungkinan ditandingi. Pembedaan yang terakhir antara mukjizat dan keramat itu tampaknya bukan sesuatu yang penting. Sebab, selama kita menerima pengertian bahwa keramat itu perbuatan yang luar biasa, kita pun sejak dulu menerima bahwa yang dimaksud dengan al-'adah (kebiasaan) adalah kebiasaan yang ada pada nizham (tata aturan dan disiplin) serta hukum alam juga hukum kehidupan yang ditentukan Allah Subhanahu wa Ta'ala terhadap dunia fana ini. Untuk menemukan rahasia tata aturan, disiplin, dan hukum alam tersebut, Allah Subhanahu wa Ta'ala memberikan kemampuan kepada sebagian manusia untuk membuka tabirnya dan untuk membuktikan metode dan teknik operasionalnya. Setelah kita mengakui hal-hal tersebut, maka tidak benar jika kita berani mengatakan bahwa yang khariq li-al- 'adah. (luar biasa) itu, apa pun bentuknya, mungkin untuk ditandingi dan ditentang. Mengapa demikian? Karena yang bersifat luar biasa itu berasal dari perbuatan khusus (hak preogratif) Allah Subhanahu wa Ta'ala, “Dan Allah memperlihatkan hal-hal luar biasa itu kepada sebagian hamba-Nya, baik dengan tujuan untuk menguatkannya,· atau untuk membohongkan dan menghinakannya. Perhatikan bahasan sebelum ini mengenai keluarbiasaan yang diizinkan Allah bagi orang-orang jahat. Menurut pendapat ulama pertama, yang mempunyai keluar-biasaan itu mukjizat untuk para nabi, keramat untuk para wali, irhash untuk para nabi sebelum diangkat menjadi nabi, dan ma'unah (pertolongan), yaitu keluarbiasaan yang diberikan Allah kepada orang saleh di bawah tingkatan para wali. Sedang menurut pendapat ulama kedua, keluarbiasaan itu diperlihatkan Allah kepada orang yang mengaku sebagai nabi atau tuhan. Allah memperlihatkan pada tangannya apa yang luar biasa itu justru untuk istidraj (menyiksa) atau untuk menjelaskan kehinaannya di hadapan banyak manusia. Atas dasar itu, hendaklah kita tidak berkata bahwa hal yang luar biasa itu mungkin saja dapat ditentang (ditandingi) selama hal itu telah ditetapkan keluarbiasaannya (khariq li-al- 'adah). Jika hal yang luar biasa itu tampak pada seorang nabi dan dapat memperkuat kenabiannya, dia pun benar dan jujur dalam pengakuannya sebagai nabi,
http://www.akhirzaman.info/

Menolak dan Membentengi Diri dari Sihir

Abdul Kholiq Al-Athar

maka hal tersebut disebut mukjizat. Dan jika suatu perbuatan yang luar biasa itu tampak pada seorang wali, atau seseorang yang saleh dan taat, maka dia harus mengikuti seorang nabi yang tepercaya dan diakui betul-betul, serta syariatnya belum dihapus dengan syariat nabi sesudahnya. Hal. Hal. | 182 Sebagai ciri khas bahwa dia telah mengikuti seorang nabi yang diakui dan dipercaya umatnya, dia harus membuktikannya dengan perkataan dan perbuatan. Dia pun mampu menghindarkan dirinya dan orang lain dari berbagai penyimpangan atau bid'ah yang dilakukan oleh orang-orang bodoh dan orang awam, atau yang dibuat olehpara ulama yang mengikuti hawa nafsunya dan ambisi materialistisnya. Mereka yang mengikuti sunnah para nabi diakui orang-orang awam sebagai teladan yang wajib diikuti. Dan orang alim yang mengikuti hawa nafsunya tidak boleh merusak atau mengganggu perbuatan mereka yang mengikuti sunnah para nabi itu. Karena mereka telah menetapkan komitmennya untuk selalu mengikuti jalan benar dan lurus seperti yang digariskan oleh para nabinya a.s. Jika para wali atau orang-orang yang saleh itu terus-menerus mengikuti jalan atau sunnah para nabi, padahal di sekitarnya banyak orang yang telah menyimpang dari ajaran atau sunnah para nabinya, maka Allah Subhanahu wa Ta'ala akan memperlihatkan pada tangan mereka hal-hal yang luar biasa supaya menjadi saksi atas kebenaran posisinya. Hal itu juga untuk menguatkan semangatnya, mengokohkan posisinya, dan mengokohkan kemauan kerasnya, sehingga mereka akan terus mengikuti jalan yang hak dan langkah yang tepat. Para wali atau orang-orang saleh yang tetap istiqamah mengikuti sunnah para nabinya tidak akan terganggu oleh perilaku orang-orang yang menentangnya selama mereka tegak dalam kebenaran. Tetapi hal itu tidak berarti bahwa para wali mendapatkan 'ishmah - keterjagaan dari perbuatan salah dan dosa - seperti diyakini sebagian besar orang awam dan orang-orang yang mempunyai kepentingan tertentu. Bagaimanapun, mereka bukan nabi, sehingga kemungkinan melakukan kesalahan itu tetap terbuka luas. Jadi, yang benar, para wali itu tidak mempunyai 'ishmah atau tidak ma'shum “terjaga" dari perbuatan dosa. Orang yang ma'shum hanyalah para nabi dan rasul a.s. Seorang wali sering melakukan kesalahan, tetapi dia pasti akan segera bertobat jika bersalah. Seorang wali umumnya tidak dapat menahan diri dari perbuatan salah atau dosa kecil. Tetapi mereka juga tidak akan kuat lama dalam perbuatan dosa besar. Jika melakukan perbuatan salah, mereka akan segera bertobat dan kembali kepada Tuhannya. Dan apabila mereka tergelincir ke jurang kesalahan, mereka segera bangkit untuk memperbaiki diri dan menuju pada kesernpurnaan diri pribadinya. Berkenaan dengan masalah keramat para wali dan ke-ma'shum-an para nabi, Syaikh Ibn Taimiyyah - rahimahulldh ta'ala - berkata, "Adanya keramat para wali (orang-orang
http://www.akhirzaman.info/

Menolak dan Membentengi Diri dari Sihir

Abdul Kholiq Al-Athar

saleh) itu menunjukkan kebenaran agama yang dibawa oleh seorang nabi atau rasul. Tetapi hal itu tidak menunjukkan bahwa seorang wali itu ma'shum atau terjaga dari perbuatan dosa. Dan juga tidak mengisyaratkan bahwa seorang wali mesti diikuti dalam segala hal yang dikatakan dan dilakukannya. Sikap seperti ini tidak sama dengan sikap terhadap para nabi dan rasul. Karena kekeliruan menyikapi perilaku orang-orang Hal. Hal. | 183 saleh itulah banyak orang-orang Nashrani dan Yahudi serta yang lainnya tergelincir ke jurang kesesatan. Para tokoh Nashrani yang saleh, Al-Hawariyyun, juga banyak yang mempunyai keramat, sebagaimana hal yang sama juga terdapat pada para wali dari kalangan umat Nabi Muhammad Shallallahu 'Alaihi wa Sallam. Para Ahli-Kitab menyangka bahwa orangorang saleh itu mesti terjaga dari perbuatan dosa sebagaimana halnya para nabi a.s. sehingga mereka menyikapi orang-orang saleh dari kalangannya seperti menyikapi para nabi dan rasulnya. Itulah suatu kesalahan fatal mereka. Berbeda dengan wali, setiap nabi wajib diterima dan diikuti segala hal yang dibawanya karena dia sebagai nabi yang mengaku sebagai nabi. Dan pengakuannya itu dikuatkan dan dibenarkan oleh mukjizat yang diberikan kepadanya. Mereka itu ma'shumun "terjaga" dari perbuatan dosa. Jadi, mukjizat itu dapat menunjukkan kebenaran seorang nabi, dan mengharuskan umatnya untuk mengikuti ajarannya, di samping menunjukkan keabsahan atau validitas agama yang dibawa nabi tersebut. Sehebat apa pun seorang wali, tidak mesti terjaga dari perbuatan salah dan dosa." Demikian menurut Ibn Taimiyyah. Jadi, jelaslah bagi kita, bahwa para wali itu mempunyai berbagai haI yang istimewa. Hal itu akan membuktikan kebenaran bahwa mereka mengikuti sunnah nabi a.s. di samping menjadi indikasi bahwa mereka termasuk orang yang ikhlas mengamalkan agama yang dianutnya. Meskipun demikian, derajat para wali itu di bawah para nabi dan rasul a.s. Jadi, bagaimanapun, keramat para wali itu tidak akan sampai menyamai atau menandingi mukjizat para rasul a.s. Sebagaimana derajat pahala dan keutamaan mereka pun tidak akan menyamai derajat pahala dan keutamaan para rasul a.s. Tetapi mereka mempunyai sebagian pahala dan keutamaan yang dimiliki atau dicapai para nabi dan rasul, sebagaimana amal perbuatannya pun mengikuti sebagian amal perbuatan para nabi dan rasul a.s. Mengenai kaitan keramat dengan mukjizat seperti yang telah kami kemukakan itu tampaknya sejalan dengan pendapat Syaikh Muhammad Ibn Abd Al-Karim AsySyihrastany, Dia menyatakan bahwa setiap keramat yang diberikan oleh Allah kepada seorang wali, maka sesungguhnya itu sekaligus menjadi ciri mukjizat bagi nabinya, jika perilaku atau muamalah wali tersebut mengikuti sunnah nabinya. Dan setiap yang tampak pada haknya, maka hal itu menjadi dalil atas kebenaran gurunya sebagai pemilik (penentu) syariatnya. Sehingga, jelaslah bahwa keramat itu sama sekali tidak mengotori mukjizat. Justru yang paling benar adalah menguatkannya, menunjukkan kebenarannya, dan menggunakannya sebagai rujukan.
http://www.akhirzaman.info/

Menolak dan Membentengi Diri dari Sihir

Abdul Kholiq Al-Athar

Tampaknya sekarang jelaslah apa yang mesti menjadi anasir atau faktor-faktor untuk mendefinisikan keramat para wali itu menurut terminologi para ulama yang ahli dalam agama Islam. Dengan faktor-faktor inti itu kita dapat mendefinisikan keramat dalam satu definisi yang ringkas dan mengandung berbagai unsur atau faktor yang paling substansial (inti). Diharapkan dengan definisi seperti itu akan jelaslah perbedaannya Hal. Hal. | 184 dengan mukjizat dan hal-hal lain yang mempunyai keluarbiasaan. Jadi, definisi keramat (karamah) menurut versi baru itu adalah sesuatu yang luar biasa yang tampak pada seorang' abdi Allah yang saleh, selalu mengikuti sunnah nabinya, dibebani untuk melaksanakan syariat nabinya, dan disertai dengan iktikad atau akidah yang benar, baik dia mengetahui keramatnya maupun tidak. Definisi keramat yang kita formulasikan sekarang, yang merupakan hasil pengkajian dari berbagai unsur dan aspek keramat secara garis besar, tidak disetujui oleh para tokoh Mu'tazilah. Demikian pula orang-orang yang sejalan dengan pemikirannya. Mereka berpendapat bahwa tidak boleh ada sama sekali khawariq li-al- 'adah atau keluarbiasaan yang tampak pada seseorang yang bukan nabi. Menurut Syamsuddin Al-Ashfa'iy, adanya berbagai keramat itu boleh saja terjadi menurut pendapat kami dan menurut pendapat Abu Al-Husain Al-Bashari dari Mu'tazilah. Tetapi para tokoh Mu'tazilah lainnya mengingkari hal itu. Demikian pula Ustadz Abu Ishak dari kami, kelompok Mu'tazilah. Tetapi tampaknya kita perlu mempersiapkan konsep untuk mengingatkan kelemahan mazhab yang mengingkari sama sekali adanya keramat pada para wali, apalagi orang yang meragukan dasar-dasar keramat tersebut. Bagaimanapun masih banyak umat Islam selain Mu'tazilah yang mengingkari adanya keramat para wali itu. Para filosof juga telah mencoba untuk mengkaji dan merenungkan masalah keramat itu. Tetapi ketika para filosof membicarakan keramat, maka pembicaraannya itu tentu berbeda-beda sesuai dengan latar belakang sosio kultural tempat hidup mereka. Ketika seorang failasuf (filosof) membicarakan masalah keramat pada masa dahulu dan ketika kerumitan masalah keramat itu menguasai pemikiran Islam, mereka memformulasikan makna keramat itu menurut makna terminologinya. Para filosof Islam terrnasuk tokohnya, yaitu Abu Ali bin Sina, memberikan pengertian khawariq li-al- 'adah (keluarbiasaan) dengan mengernbalikannya kepada makna kekuatan jiwa (keteguhan hati). Bedanya ialah bahwa nabi dan orang saleh selain nabi - jiwanya suci dan selalu menginginkan kebaikan. Sementara ahli sihir, jiwanya kotor atau jahat. Tetapi perbedaan antara nabi dan orang saleh - menurut mazhab mereka - tidak begitu jelas. Para filosof dahulu pernah mengejutkan kita dengan pemberian makna khas terhadap keramat atau khawariq li-al- 'adah (yang luar biasa) terhadap orang-orang yang
http://www.akhirzaman.info/

Menolak dan Membentengi Diri dari Sihir

Abdul Kholiq Al-Athar

Hal. Hal. | 185

selalu mengikuti langkah-langkah yang ditetapkan Allah secara umum. Ketika mereka mengernbalikan makna khawariq li-al-‘adah. itu kepada kesucian jiwa manusia, para ulama menentangnya karena mereka beranggapan bahwa yang luar biasa itu hanyalah perbuatan Allah Subhanahu wa Ta'ala belaka, yang menjadi pengganti dari firman-Nya, “Benar hamba-Ku mengenai apa yang disampaikannya dari Aku.” Meskipun para filosof dahulu telah mengejutkan kita dengan pernyataan yang ganjil seperti itu, mereka tidak memungkiri bahwa keramat itu termasuk ke dalam kajian-kajian metafisika yang sulit untuk diformulasikan definisinya. Berbeda dengan para filosof terdahulu, para filosof modern menggunakan istilah keramat itu dengan makna konotasi etis - moralitas, yakni dengan makna akhlakinya. Menurut mereka, sesungguhnya keramat manusia itu ialah sifat-sifat utama dan mulia yang ada pada seseorang, sehingga hal itu membuat dia laik untuk dihormati dalam pandangan dirinya ataupun dalam pandangan orang lain. Dan secara mutlak, istilah kekeramatan manusia dimaksudkan nilai manusiawi dari sisi tabiatnya yang cerdas. Ketika para filosof modern memindahkan makna keramat dari maknanya yang metafisikal ke makna lain yang menjadi kebalikannya, lalu mengaitkannya kepada nilai dan kedudukan manusia di alam ini, sebetulnya mereka, dengan sikapnya itu, telah mengaitkan makna keramat dengan makna akhlaki atau etisnya (mafhum akhlaqy). Meskipun pemikiran tersebut tidak kosong dari apa yang disebutkan Syaikh AsySyihristany, tetapi pemikiran tersebut di Barat dan di zaman modern sekarang bertentangan dengan teori yang diajukan Syaikh Syihristany karena adanya perbedaan sifat kajian akhlak menurut pandangan kedua kubu. Para filosof modern menyimpan banyak harapan pada manusia yang jenius, karena merekalah yang dapat meletakkan hukum dan akhlak (etika). Dia pula yang dapat membandingkan lapangan nilai-nilai kemanusiaan dan lapangan apa yang sepantasnya dilakukan oleh manusia, baik berupa perkataan maupun perbuatan yang sesuai dengan ketinggian derajatnya. Atas dasar pandangan seperti itu, maka keramat (kemuliaan) manusia itu akan berbeda secara metodologis dalam kajian dan pengenalannya dari satu lembaga ke lembaga (institusi) lainnya. Kita melihat di sebagian lembaga pendidikan masalah keramat untuk kemuliaan manusia itu dipelajari secara khusus. Kemudian keramat itu dikenali juga melalui lapangan dengan meneliti sifat manusia dalam perilakunya seharihari. Sementara di lembaga pendidikan lain kita dapat mengenali akhlak dan keramat manusia lewat keteladanan, tetapi tidak dipelajari secara khusus, dan semua perilaku baik yang diharapkan dari seseorang, termasuk cara berpikir. Pascal pernah mencoba membicarakan masalah keramat manusia dengan pendekatan makna seperti makna tersebut, yang juga sama seperti yang dikatakan oleh
http://www.akhirzaman.info/

Menolak dan Membentengi Diri dari Sihir

Abdul Kholiq Al-Athar

Kant. Umpamanya, dia mengatakan, "Keramat manusia itu didasarkan kepada cara berpikirnya." Sedang termasuk yang dikandung dengan keramat insaniah adalah salah satu asas atau landasan mazhab akhlaknya Immanuel Kant. Menurutnya, puncak keinginan manusia itu adalah memuliakan makhluk yang ada dan berakal (menggunakan akalnya). Yakni, kehormatan atau kemuliaan manusia itu jika dia memang berperilaku Hal. Hal. | 186 sebagaimana mestinya sebagai manusia, yaitu dengan menggunakan akalnya. Paham demikian menuntut pengamalan kaidah lain, yaitu "Jika kamu akan beramal (berbuat), maka hendaklah amal perbuatanmu itu dilandasi suatu kaidah, 'Menjadikan jiwa kemanusiaan pada pribadimu dan pada pribadi-pribadi yang lain sebagai tujuan dan bukan sebagai sarana (perantara)." Pernyataan tersebut mengandung makna, bahwa manusia yang berakal itu mempunyai keramat (kemuliaan) zatiah (yang asli) yang harus dianggap sebagai tujuan hidupnya dan bukan sekadar perantara atau sarana. Dan keramat atau kemuliaan yang timbul dari kemanusiaannya itu harus didahulukan atas segala kepentingan lain. Jika akalnya tunduk kepada hawa nafsunya, atau menundukkan sebagian orang untuk kemaslahatan dan kemanfaatan dirinya, maka itu berarti dia telah berperilaku yang kontroversial dan bertentangan dengan asas kemuliaan (keramat) insaniah-nya. Jika pemikiran mengenai keramat (kemuliaan manusia) itu berubah mengikuti makna fisikal dengan teori tersebut atau mengikuti teori etikanya, maka jelaslah hubungan keramat sudah terputus dari pemikiran mukjizat jika mengikuti pemahaman para ulama dan tokoh agama. Atau, paling tidak, bahwa keramat itu tidak berhubungan sama sekali dengan mukjizat, kecuali jika kita mengikuti penafsiran formal-religius, yakni pemahaman mukjizat dan keramat melalui pendekatan agama. Sampai di sini, tampaknya pengembaraan kita mungkin telah sampai kepada tujuan. Dan oleh karena itu, kami akan menyimpulkan permasalahan perbedaan keramat dengan mukjizat dalam ungkapan katakata dan susunan kalimat yang ringkas tetapi padat makna. Ketika kita telah mengetahui bahwa mukjizat itu sesuatu yang luar biasa, dan bahwa yang dimaksud kebiasaan adalah kebiasaan hukum alam dan tata aturan duniawi atau nizham, maka dari sisi ini, keramat menyerupai mukjizat. Sedang yang membedakan keduanya adalah terletak pada zat diri nabi dan wali yang disertai nilai pribadi masingmasing. Lebih daripada itu, sisi taba'iyyah, "kepengikutan" yang mengikat keduanya. Yakni, bahwa ada yang mengikuti wali dan ada yang diikuti yaitu nabi a.s. Asas atau pokok pembeda antara nabi dan wali adalah asas yang juga menjadi pembeda antara nabi yang sebenarnya dengan orang yang mengaku-ngaku sebagai nabi secara bohong. Bagaimanapun, Allah Subhanahu wa Ta'ala memperlihatkan sesuatu yang luar biasa pada tangan keduanya. Hanya bedanya, sesuatu yang luar biasa yang diberikan kepada seorang nabi itu sesuai dengan pengakuannya sebagai nabi, serta membenarkan kenabiannya. Sementara keluarbiasaan yang diberikan kepada orang yang mengakungaku sebagai nabi justru membuktikan kebohongan pengakuannya, di samping menjadi alat untuk menghinakan pribadinya.
http://www.akhirzaman.info/

Menolak dan Membentengi Diri dari Sihir

Abdul Kholiq Al-Athar

Keluarbiasaan seperti itu jarang terjadi pada orang yang mengaku-ngaku sebagai tuhan. Kalaupun ada sesuatu yang Iuar biasa padanya, seperti yang terjadi pada Al-Masih Ad-Dajjal, tokoh utama pendusta, yang lahir pada akhir zaman nanti, ketika diminta darinya sesuatu yang luar biasa, ternyata memang ada padanya. Nah, apa yang ada padanya itu merupakan istidraj suatu tipuan dari Allah-bagi dirinya dan bagi segenap Hal. Hal. | 187 pengikutnya. Sebab, masalah ketuhanan atau sifat-sifat dan karakteristik tuhan itu dapat diketahui meski oleh orang yang kurang cerdas sekali pun. Jadi, jika ada seorang manusia yang mengaku sebagai tuhan dengan segala sifat kekurangannya yang disaksikan oleh bangsanya dari kalangan manusia, maka hal itu tidak perlu pembohongan sebab sudah jelas bohongnya. Berbeda halnya dengan seorang mutanabbi', yang mengaku-ngaku sebagai nabi, dia harus dibohongkan' dan dibuktikan segala kebohongannya. Sebab, bagaimanapun, nabi dan mutanabbi' sama-sama dari satu jenis. Dan karena dari satu jenis, yaitu kenabian, maka lebih sering melahirkan ketidakjelasan dan kerancuan, untuk membedakan nabi yang sebenarnya dengan nabi yang hanya mengaku-ngaku saja. Sedang manusia yang mengaku sebagai tuhan, maka pengakuannya itu jelas-jelas bertentangan dengan kaidahkaidah rasio, hatta yang paling sederhana sekalipun. Sehingga, siapa yang mengikuti orang yang mengaku-ngaku sebagai tuhan, maka dia terang-terangan telah menentang akalnya sendiri, dan tidak mengikuti fitrah atau hati nuraninya. Untuk itulah diperlukan adanya istidraj-tipuan dari Allah atau ujian untuk menjatuhkannya secara bertahapsehingga tampaklah puncak kehinaannya. Kemudian akan ditimpakan padanya siksaan dengan cara yang paling mengerikan dan menyedihkan. Mari kita perhatikan firman Allah berikut ini, “Tidak ada yang ditunggu-tunggu oleh orang kafir selain datangnya para malaikat kepada mereka. Atau datangnya perintah Tuhanmu. Demikianlah yang telah diperbuat oleh orang-orang (kafir) sebelum mereka. Dan Allah tidak menganiaya mereka, Tetapi merekalah yang selalu menganiaya diri mereka sendiri.” (QS. An-Nahl 16:33). Adapun se lain mukjizat, keramat, serta istidraj, seperti sihir dan sulap, maka sebenarnya tidak ada hal-hal yang luar biasa, seperti yang telah dijelaskan secara panjang lebar. Hanya kepada Allah kita memohon limpahan taufik.

NABI MUHAMMAD Shallallahu 'Alaihi wa Sallam DAN PERISTIWA SIHIR YANG MENIMPANYA Nabi Muhammad Shallallahu 'Alaihi wa Sallam pernah terkena sihir. Hal ini berlandaskan tekstual beberapa ayat Alquran seperti berikut ini. l. Surah Al-Ikhlas Allah Subhanahu wa Ta'ala
http://www.akhirzaman.info/

berfirman, “Katakanlah, Dia-lah Allah yang Maha Esa

Menolak dan Membentengi Diri dari Sihir

Abdul Kholiq Al-Athar

(1). Allah adalah tempat meminta tolong (2). Dia tidak melahirkan tidak pula dilahirkan (3). Dan tidak ada seorang pun yang menyerupai- Nya (4). 2. Surah Al-Falaq Hal. Hal. | 188

dan

Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman, “Katakanlah, ''Aku berlindung kepada Tuhan yang menguasai subuh (1), dari kejahatan makhluk-Nya (2), dan dari kejahatan malam apabila telah gelap gulita (3); dan dari kejahatan wanita-wanita tukang sihir yang menghembus pada buhul-buhul (4); serta dari kejahatan orang yang dengki apabila ia mendengki" (5). 3. Surah An-Nas Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman, Katakanlah, ''Aku berlindung kepada Tuhan (yang memelihara dan menguasai) manusia Cl), Raja mariusia (2), Sembahan manusia (3), dari kejahatan (bisikan) setan yang biasa bersembunyi (4), yang suka membisikkan (kejahatan) ke dalam dada manusia (5), dari (golongan) jin dan manusia" (6). Nabi Muhammad Shallallahu 'Alaihi wa Sallam pernah terkena sihir berdasarkan ayat-ayat (surah-surah) tersebut sejalan dengan susunan surah-surah itu. Dimulai dengan surah Al-Ikhlash, lalu surah Al-Falaq, dan diakhiri dengan surah An-Nas, Dengan ketiga surah itulah kitabullah Alquran Al-Karim ditutup. Hal itu sesuai dengan runtutan atau ketertiban penyusunan Al-Mushshaf yang didasarkan pada petunjuk dari Allah Subhanahu wa Ta'ala kepada Nabi Muhammad Shallallahu 'Alaihi wa Sallam. Demikian menurut keyakinan kami. Dalam memahami surah Al-Falaq dan An-Nas tersebut, para mufassir berbeda pendapat. Ada yang mengakui, mungkin saja -Nabi Muhammad Shallallahu 'Alaihi wa Sallam itu terkena sihir. Tetapi menurut mufassir lainnya, jika dikaitkan dengan kesempurnaan dan keterjagaan atau 'ishmah Nabi, maka hal itu tidak mungkin terjadi. Padahal menurut beberapa riwayat sahih, kedua surah tersebut turun kepada Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam supaya beliau Shallallahu 'Alaihi wa Sallam memakainya sebagai jampi atau ruqyah dalam mengobati sihir yang menimpanya. Sihir tersebut diIakukan oleh seorang Yahudi dari Bani Zuraiq. Dia dikenal dengan nama Lubaid bin AlA'sham. Di samping dua surah tersebut yang mengisyaratkan adanya sihir yang menimpa Nabi Muhammad Shallallahu 'Alaihi wa Sallam terdapat beberapa hadits sahih yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Imam Muslim-rahimahullah ta’ala. Juga, kitabkitab hadits sahih lainnya, yang menjadi rujukan sebagian mufassir daIam memahami kedua surah tersebut. Jika diperhatikan, akan tampaklah bahwa Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam itu pernah terkena sihir. Beberapa hal mengenai ini telah dikemukakan sebelumnya. Imam Bukhari-rahimahullah ta'ala - meriwayatkan dari Hisyam bin 'Urwah bin AzZubair, dari ayahnya, dari Siti Aisyah r.a. Dia berkata, "Ada seorang laki-laki yang menyihir
http://www.akhirzaman.info/

Menolak dan Membentengi Diri dari Sihir

Abdul Kholiq Al-Athar

Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam. Dia seorang Yahudi dari Bani Zuraiq, namanya Lubaid bin AI-A'sham-la'natullah 'tilaihi, Sehingga terbayangkan pada Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam bahwa beliau meIakukan sesuatu, padahal tidak melakukannya. Hal. Hal. | 189 Hingga pada suatu hari atau suatu malam, ketika beliau sedang bersamaku, beliau berdoa dan memohon kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala Kemudian beliau bersabda, "Hai Aisyah, apakah engkau mengetahui (merasakan) bahwa Allah Subhanahu wa Ta'ala telah memfatwakan sesuatu padaku mengenai apa yang aku mohon (fatwa-Nya)? Aku didatangi dua orang laki-Iaki. Yang satu duduk dekat kepalaku, dan yang satu lagi duduk dekat kedua kakiku. Salah seorang di antara mereka berkata kepada temannya, 'Apakah yang diderita orang ini?' Yang satu lagi menjawab, 'Mathbid: (terkena sihir).' 'Siapakah yang menyihirnya?', tanya yang satu. Kemudian dijawab, 'Lubaid bin Al-A'sharn, seorang Yahudi dari Bani Zuraiq.' 'Pada apa sihir itu disusupkan?' tanya yang satu. Dijawab, 'Pada sisir dan rambut yang jatuh ketika disisir dan pada seludang mayang kurma jantan(?).' 'Di mana diletakkannya?', tanya yang satu. Dijawab, 'Diletakkan pada sumur Dzarwan." Lalu Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam pun pergi beserta beberapa orang sahabatnya. Beliau melihat sumur itu. Terlihat di dalamnya ada pohon kurma. Kemudian beliau Shallallahu 'Alaihi wa Sallam pulang menemui Siti Aisyah r.a. seraya bersabda, "Demi Allah, seakan-akan air sumur itu bagaikan air rendaman inai (pacar). Dan ujung pohon/mayang kurmanya seperti kepala setan-setan." Aku - kata Aisyah r.a. - berkata, "Wahai Rasulullah, apakah engkau mengeluarkan sihir itu?" Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam menjawab, "Tidak. Aku telah disembuhkan dan disejahterakan oleh Allah Subhanahu wa Ta'ala dan aku khawatir akan menyebarkan kejelekan di kalangan manusia." Lalu Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam memerintahkan untuk menutup atau mengubur sumur tersebut. Demikian hadits Siti Aisyah r.a. yang diriwayatkan Imam Bukhari-rahimahullah ta'ala. Ada hadits lain yang juga diriwayatkan oleh Imam Bukhari - rahimahulliih ta'ala dari Hisyam bin 'Urwah bin Az-Zubair, dari ayahnya, dari Siti Aisyah r.a. Dia berkata, "Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam terkena sihir, sehingga beliau merasa mendatangi istrinya, padahal sebenarnya tidak. Sihir demikian termasuk sihir yang paling kejam, jika memang demikian." Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam bersabda kepada Siti Aisyah r.a., "Apakah engkau mengetahui bahwa Allah Subhanahu wa Ta'ala telah memberi fatwa kepadaku mengenai apa yang aku mohon fatwa-Nya?" (Selanjutnya beliau bersabda), "Telah datang kepadaku dua orang laki-laki. Yang satu duduk dekat kepalaku, sedang yang satu lagi duduk dekat kedua kakiku. Yang duduk dekat kepalaku berkata kepada yang lain, 'Bagaimana keadaan orang ini?' 'la mathbub (terkena sihir)', jawabnya. Dia bertanya, 'Siapakah yang menyihirnya?' Dijawab, 'Lubaid bin Al-‘Asham seorang Yahudi dari Bani Zuraiq, sekutu Yahudi dan dia seorang munafik.' 'Pada apa sihir itu disusupkan?' tanya
http://www.akhirzaman.info/

Menolak dan Membentengi Diri dari Sihir

Abdul Kholiq Al-Athar

yang satu. Dijawab, 'Pada sisir dan pada rambut yang jatuh ketika menyisir.' 'Di mana disimpannya?' tanyanya. Dijawab, 'Pada seludang mayang kurma jantan di bawah ra’ufah - sebuah pohon anggur - (?) di dalam sumur Dzarwan". Siti Aisyah r.a. lalu berkata, "Lalu Nabi Muhammad Shallallahu 'Alaihi wa Sallam Hal. Hal. | 190 mendatangi sumur tersebut kemudian mengeluarkan benda sihir itu. Kemudian Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam bersabda, 'Inilah sumur yang pernah aku beritahukan. Seakan-akan airnya bekas rendaman air pacar. Dan seakan-akan ujung pohon kurmanya adalah kepala-kepala setan.'" Dalam riwayat yang ketiga, juga diriwayatkan oleh Imam Bukhari rahimahullah ta 'ala - dari Hisyam dari ayahnya, dari Siti Aisyah r.a. Dia berkata, "Nabi Shallallahu 'Alaihi wa Sallam terkena sihir, sehingga terbayangkan padanya bahwa beliau meIakukan sesuatu padahal tidak melakukannya. Hingga pada suatu hari ketika beliau Shallallahu 'Alaihi wa Sallam sedang bersamaku, beliau berdoa dan berdoa memohon kepada Allah." Kemudian beliau bersabda, "Apakah engkau mengetahui (merasakan) hai Aisyah, bahwa Allah Subhanahu wa Ta'ala telah memberikan fatwa-Nya padaku mengenai apa yang aku minta fatwa-Nya dari-Nya?" Aku bertanya, "Apakah itu, wahai RasuIullah?" Beliau lalu bersabda, "Telah datang kepadaku dua orang laki-laki. Yang satu duduk dekat kepalaku dan yang satu lagi duduk dekat kedua kakiku. Kemudian yang satu bertanya kepada temannya, 'Sakit apakah laki-Iaki ini?' 'Dia terkena sihir (mathbub).' 'Siapakah yang menyihirnya?' tanyanya lagi. Dijawab oleh temannya, 'Lubaid bin Al-‘Asham seorang Yahudi dari Bani Zuraiq.' 'Pada apa sihir itu disusupkan?' tanya yang satu. Dijawab, 'Pada sisir dan rambut yang jatuh ketika disisir, serta pada seludang (kulit pembalut) mayang kurma jantan.' 'Di manakah itu disimpannya?' tanya yang satu. 'Disimpan di dalam sumur Dzarwan"." jawab temannya. Siti Aisyah r.a. berkata, "Maka Nabi Shallallahu 'Alaihi wa Sallam pergi bersama beberapa orang sahabatnya menuju sumur tersebut. Beliau pandangi sumur tersebut, dan ternyata di atasnya ada sebatang pohon kurma. Kemudian beliau Shallallahu 'Alaihi wa Sallam pulang lagi ke rumah Siti Aisyah r.a. seraya bersabda, 'Demi Allah, air sumur itu seakan-akan air rendaman pacar (inai) Nuqq'aat Al-Hinna'). Tetapi, pohon kurmanya seperti kepala-kepala setan. '" Aku berkata, "Wahai Rasulullah, apakah engkau tidak mengeluarkannya?" Beliau menjawab, "Tidak, karena sesungguhnya aku telah disejahterakan oleh Allah dan disembuhkan-Nya. Aku khawatir (takut) menyebarkan kejelekan - karena sihir itu - kepada banyak orang." Lalu beliau memerintahkan untuk memendam (mengubur) sumur tersebut." Itulah hadis-hadis mengenai sihir yang diriwayatkan Imam Bukhari-rahimakullah ta a’la. Hadits-hadits yang diriwayatkan Imam Muslim pun seperti itu. Tiga riwayat hadits yang telah dikemukakan itu lafazh atau redaksi dan maknanya berdekatan, Riwayat-riwayat itu mengisyaratkan bahwa Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam pernah terpengaruh oleh sihir yang dikerjakan oleh seorang Yahudi. Pengaruh sihir
http://www.akhirzaman.info/

Menolak dan Membentengi Diri dari Sihir

Abdul Kholiq Al-Athar

tersebut sarnpai kepada suatu batas, ketika Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam merasa melakukan sesuatu padahal sebenarnya tidak. Dan merasa mendatangi istrinya padahal sebenarnya tidak mendatanginya. Ada suatu riwayat dalam Musnad Imam Ahmad-rahimahullah ta 'ala - dari Ibrahim Hal. Hal. | 191 bin Khalid dari Mu'ammar bin Hisyam, dari ayahnya, dari Siti Aisyah r.a. Dia berkata, "Selama enam bulan Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam seperti mendatangi istrinya padahal tidak mendatanginya. Lalu beliau didatangi dua orang malaikat. Yang satu duduk dekat kepalanya, sedang yang satu lagi duduk dekat kedua kakinya." (Al-Hadits), Dalam Tafsir Ats-Tsa'laby disebutkan riwayat dari Ibn Abbas r.a. dan Siti Aisyah r.a. bahwa seorang pemuda Yahudi pernah menjadi khadam Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam. Dengan sembunyi-sembunyi orang Yahudi itu mendekatinya. Mereka terusmenerus mendekati Nabi s Shallallahu 'Alaihi wa Sallam sampai dia berhasil mengambil beberapa helai rambut Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam yang terjatuh ketika disisir dan ditambah dengan beberapa helai gigi sisirnya. Barang-barang tersebut diberikannya kepada orang Yahudi. Mereka pun menyihir Nabi pada barang-barang tersebut. Sedang yang memimpin operasi itu adalah salah seorang di antara mereka yang dikenal dengan sebutan Lubaid bin Al-A'sham. Kemudian barang-barang itu dipendam di dalam sumur milik Bani Zuraiq dari kaum Yahudi. Sumur tersebut dikenal dengan nama Dzarwan. Dengan sihir itu, Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam menjadi sakit. Rambutnya berguguran. Dan hal itu berlalu sampai enam bulan. Selama itu Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam merasakan seperti mendatangi istri-istrinya, padahal sebenarnya tidak. Ketika itu beliau tampak lernah tetapi tidak menyadari apa yang menimpanya. Ketika beliau Shallallahu 'Alaihi wa Sallam sedang tidur, tiba-tiba ada dua malaikat yang mendatanginya. Yang satu duduk dekat kepalanya, sedang yang satu lagi duduk dekat kedua kakinya. Malaikat yang duduk dekat kepalanya berkata pada temannya, "Bagaimana keadaan orang ini?" Dia menjawab, "Orang ini thubba (terkena sihir)." "Apakah maksud thubba itu?" tanya yang satu. "Suhira (disihir)," kata temannya. "Siapa yang menyihirnya?" "Lubaid bin Al-A'sham, seorang Yahudi," jawabnya. "Dengan apa menyihirnya?" tanya malak yang satu. Temannya menjawab, "Dengan sisir dan beberapa helai rambut yang jatuh ketika disisir." Dia bertanya, "Di manakah letak sihir itu?" "Sihir itu disimpan pada seludang mayang kurma jantan di bawah pohon anggur yang diletakkan di dalam sumur Dzarwan." Lalu Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam bangun dan tampak agak panik (sedikit ketakutan). Kemudian beliau bersabda, "Wahai Aisyah, apakah engkau mengetahui bahwa Allah telah menasihati aku (memberi fatwa kepadaku)?" Kemudian Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam mengutus Ali bin Abu Thalib r.a., Zubair bin 'Awwam, dan 'Ammar bin Yasir. Lalu mereka menguras air sumur tersebut. Air itu seakan-akan rendaman air pacar (inai). Kemudian mereka mengangkat batu dan mengeluarkan seludang mayang kurma. Ternyata di situ ada beberapa helai rambut yang jatuh dari kepala Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam yang mulia itu dan
http://www.akhirzaman.info/

Menolak dan Membentengi Diri dari Sihir

Abdul Kholiq Al-Athar

beberapa buah gigi sisirnya. Di situ terdapat tali yang diikatkan sebanyak dua belas ikatan (itsnata 'asyrat 'uqdatan) yang ditusuki jarum. Lalu Allah Subhanahu wa Ta'ala menurunkan surah Al-Falaq dan An-Nas, dua surah untuk memohon perlindungan (Al-Mu'awwidzatain). Setiap Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Hal. Hal. | 192 wa Sallam membaca satu ayat, maka lepaslah satu ikatan. Dan ketika ikatan terakhir terlepas, maka Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam merasakan adanya keringanan pada badannya. Lalu beliau Shallallahu 'Alaihi wa Sallam berdiri seperti yang terlepas dari ikatan. Kemudian beliau tidur dengan lelap seperti tidak pernah terkena apa-apa. Orang-orang yang memperhatikan beberapa hadits dan khabar seperti itu akan ragu-ragu untuk menerima atau menolaknya. Sebab, selintas terlihat, riwayat-riwayat tersebut menempatkan Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam pada martabat yang mengurangi kesernpurnaannya dan justru mengurangi ke- 'ishmah-annya. Dengan kata lain, Nabi Muhammad Shallallahu 'Alaihi wa Sallam itu tidak ma'shum secara sempurna. Tentu saja hal itu menjadi bahan diskusi yang menarik, karena mengandung muatan khilaf-perbedaan pendapat-yang terjadi di antara para ulama. Banyak di antara ulama yang menolak hadits-hadits tersebut dan tidak mau menerimanya, dengan alasan bahwa 'ishmah Nabi itu di atas segala pertimbangan (ukuran), dan maqam (kedudukan) Nabi juga jauh melebihi maqam apa pun. Tetapi, pada saat yang sama, banyak pula ulama yang ingin memperhatikan keabsahan hadits-hadits sahih dan kitabkitabnya. Sehingga mereka merasa keberatan dengan penolakan hadits-hadits tersebut. Mereka mencoba untuk melakukan takhrij atau seleksi hadits. Dengan harapan, haditshadits tersebut dapat diterima, meski harus melalui jalan yang sulit untuk mengadakan takwil dan takhrij-nya. Dengan cara seperti itu, mereka seperti juga setiap Muslim lainnya, berharap dapat menolong dan mempertahankan sunnah dan kitab-kitab hadits yang memuatnya. Dan pada puncaknya, semua umat Islam dapat bertemu pada satu titik kesepakatan tanpa ada khilaf (perbedaan pendapat). Tetapi dalam posisi sulit yang demikian rupa, seperti yang kita hadapi ini, sudut pandang umat Islam mengenai hadits-hadits sihir itu tidak mudah untuk disatukan. Sehingga ada sebagian kaum Muslimin yang lebih mendahulukan jama' (jam'u), yaitu pengkompromian dalil antara menerima hadits seperti itu dengan sisi yang berkaitan dengan hadits tersebut. Dengan harapan ditemukannya alasan untuk menerima hadits tersebut. Tetapi di sisi lain, banyak umat Islam yang lebih mengistimewakan maqam kenabian dan menyucikannya dari berbagai indikasi kekurangan. Sehingga mereka kurang begitu mudah untuk menerima berita apa pun dan hadits seperti apa pun jika mengisyaratkan kekurangan martabat Nabi Muhammad Shallallahu 'Alaihi wa Sallam. Di antara ulama yang menolak hadis sihir, khususnya yang menimpa Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam dan tidak mau menerima berbagai khabar yang bersambung
http://www.akhirzaman.info/

Menolak dan Membentengi Diri dari Sihir

Abdul Kholiq Al-Athar

sampai kepada Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam dari kalangan mufassirin adalah Imam Thabari. Ketika sampai padanya hadis Siti Aisyah r.a., mengenai terkenanya Nabi oleh sihir Yahudi, beliau langsung berkomentar bahwa hal itu tidak mungkin terjadi sebab siapa yang disifati atau dinyatakan terkena sihir, maka seakan-akan akalnya terganggu. Dan Allah tidak mau menerima yang demikian itu. Perhatikan firman-Nya, Hal. Hal. | 193 Kami lebih mengetahui dalam keadaan bagairnana mereka mendengarkan sewaktu mereka mendengarkan kamu, dan sewaktu mereka berbisik-bisik (yaitu), ketika orangorang zalim itu berkata, "Kamu tidak? lain hanyalah mengikuti seorang laki-laki yang tersihir." Lihatlah bagairnana mereka mernbuat perumpamaan-perumpamaan terhadapmu; karena itu mereka menjadi sesat dan tidak dapat lagi menemukan jalan (yang benar) (QS. Al-Isra 17:47-48). Selanjutnya Imam Thabari mengatakan, "Tetapi orang Yahudi atau anak-anak perempuannya yang menyihir itu mungkin telah mencoba dengan sungguh-sungguh untuk melakukan hal itu tetapi tidak mampu (tidak berhasil). Kemudian Allah Subhanahu wa Ta'ala memperlihatkan 'kepada Nabi-Nya apa yang mereka sembunyikan, berupa sihir itu, sehingga Nabi pun dapat mengeluarkannya. Dan kejadian itu menunjukkan kebenarannya Nabi Muhammad, antara lain dibuktikan dengan selamatnya beliau dari sihir." Kemudian kata Imam Thabari selanjutnya, "Bagaimana mungkin rasa sakit itu karena perbuatan mereka. Jika saja mereka mampu melakukan hal itu, pasti mereka akan membunuh Nabi, bahkan membunuh banyak orang-orang Mukmin." Sebenarnya, apa yang dikatakan Imam Thabari itu, menurut kami, tidak menunjukkan bahwa dia men-sahih-kan dan menerima hadits-hadits mengenai sihir. Hal itu dengan pertimbangan sebagai berikut: 1. Menurut khabar (hadits) yang diriwayatkan dengan tiga versi itu, orang Yahudi yang menyihir Nabi ialah Lubaid bin Al-A'sham. Tak ada satu riwayat pun yang menyebutkan anak-anak perempuan dari orang Yahudi tersebut. Sedang mengenai khabar yang berkenaan dengan sihir terhadap Nabi itu pilihannya hanya satu; diterima semuanya, atau ditolak semuanya. 2. Jika yang dilakukan Lubaid itu termasuk yang disembunyikan (tamwih) oleh mereka, lalu apa hikmahnya jika Allah memperlihatkannya kepada Nabi Muhammad Shallallahu 'Alaihi wa Sallam.? Dan mengapa Nabi Muhammad Shallallahu 'Alaihi wa Sallamjuga tampak bersemangat untuk mengeluarkan benda sihir itu dari sumur padahal tidak berpengaruh kepada dirinya karena Allah telah mengobatinya? Kemudian, indikasi macam apa yang membenarkan kenabian Nabi Muhammad Shallallahu 'Alaihi wa Sallam karena mengeluarkan sesuatu yang sebetulnya tidak ada pengaruhnya bagi beliau dalam realitas kehidupan? Imam Muhammad Abduh mengatakan ketika mengomentari hadits mengenai sihir,
http://www.akhirzaman.info/

Menolak dan Membentengi Diri dari Sihir

Abdul Kholiq Al-Athar

"Sungguh, banyak orang yang suka menirukan pendapat orang lain yang tidak berakal mengenai kenabian dan apa yang wajib dilakukan terhadapnya. Kemudian mereka mengatakan, 'Sesungguhnya khabar (hadits) mengenai pengaruh sihir pada jiwa yang mulia Nabi Muhammad Shallallahu 'Alaihi wa Sallam itu betul-betul sahih, sehingga lazim untuk diyakini, Dan jika kita tidak membenarkan hadits tersebut, hal itu termasuk bid’ah Hal. Hal. | 194 yang dilakukan oleh para pelaku bid'ah, Karena sihir yang menimpa Nabi merupakan salah satu dari berbagai macam sihir. Padahal Alquran pun telah memperlihatkan keabsahan sihir itu.'" Kemudian perkataan tersebut ditanggapi Syaikh Muhammad Abduh dengan mengatakan, "Perhatikan, bagaimana dia memutar-balikkan agama yang sahih dan alhaqq (kebenaran) yang jelas maksudnya dalam pandangan muqallid yang suka meniru pendapat orang lain itu menjadi bid'ah? Na 'udzu. billah, kita bermohon perlindungan kepada Allah untuk tidak menjadi orang seperti itu." Selanjutnya Syaikh Muhammad Abduh berkata, "Alquran dijadikan oleh mereka yang suka meniru-niru pendapat orang lain itu sebagai hujjah untuk menetapkan adanya sihir. Tetapi dia berpaling dari Alquran dalam menafikan sihir dari Nabi Muhammad Shallallahu 'Alaihi wa Sallam seraya menganggap bahwa sihir itu sebagian kebohongan orang-orang musyrik terhadap Nabi. Dia menakwilkan Al-quran mengenai adanya sihir ini. Tetapi dia tidak menakwilkan Alquran mengenai menafikan sihir dari Nabi." Padahal yang dimaksud dan diinginkan oleh orang-orang musyrik itu jelas. Karena mereka mengatakan, "Sesungguhnya setan yulabisuhu, mempengaruhi Nabi Muhammad Shallallahu 'Alaihi wa Sallam." Dan mulabasah, upaya mempengaruhi dan mengganggu oleh setan itu dapat diketahui oleh mereka dengan sihir, dan oleh salah satu macam dari berbagai macam sihir. Dan itu merupakan pengaruh sihir yang dinisbatkan atau disandarkan kepada Lubaid bin Al-‘Asham sebab sihir yang digunakan oleh Lubaid telah mengganggu (mempengaruhi) akal Nabi Muhammad Shallallahu 'Alaihi wa Sallam dan daya nalarnya, seperti pengakuan mereka. Selanjutnya Imam Muhammad Abduh berkata, "Yang wajib kita yakini ialah bahwa Alquran mengandung ketentuan hukum yang pasti maqthu'un). Dan sesungguhnya Alquran adalah kitab mutawatir yang diriwayatkan dari Nabi Muhammad Al-Ma'shum, terpelihara dari dosa. Alquran adalah kitab yang wajib kita yakini segala apa yang ditetapkannya dan tidak boleh meyakini apa yang dinafikannya." Imam Muhammad Abduh melanjutkan, "Alquran datang untuk menafikan sihir dari Nabi Muhammad Shallallahu 'Alaihi wa Sallam. Alquran menegaskan bahwa yang mengatakan sihir itu dapat menembus badan Nabi Muhammad Shallallahu 'Alaihi wa Sallam adalah orang-orang musyrik, musuh Nabi Muhammad Shallallahu 'Alaihi wa Sallamdan Alquran mencela dan menjelekkan pengakuan mereka itu. Jadi, Nabi Muhammad Shallallahu 'Alaihi wa Sallam itu tidak tersihir dengan sesungguhnya."

http://www.akhirzaman.info/

Menolak dan Membentengi Diri dari Sihir

Abdul Kholiq Al-Athar

Imam Muhammad Abduh selanjutnya berkata, "Adapun hadits yang membicarakan adanya sihir yang menimpa Nabi, meskipun sahih, tetapi hadits itu hadits ahad: Sedang hadits ahad tidak dapat dijadikan sandaran untuk menentukan akidah atau keyakinan. Dan keterpeliharaan (keterjagaan) Nabi dari pengaruh sihir pada akalnya itu merupakan salah satu akidah yang harus diyakini. Tidak boleh diambil pendapat yang menafikan Hal. Hal. | 195 'ishmah atau ke-terpeliharaan Nabi kecuali dengan dalil yang meyakinkan, bukan dengan hadits ahad. Kita juga tidak boleh mengikuti pendapat yang menetapkan 'ishmah Nabi dengan dalil yang zhanni (prasangka yang tidak meyakinkan) dan mazhnun (mengandung keraguan)." Masih menurut Imam Muhammad Abduh, "Hadits yang sampai kepada kit a melalui sanad ahad hanya menghasilkan sesuatu yang mengandung zhann (prasangka) bagi yang menganggapnya sebagai riwayat-riwayat sahih dan tidak menghasilkan suatu keyakinan. Adapun bagi orang yang mempunyai dalil untuk menunjukkan bahwa hadits tersebut tidak sahih, maka sulit atau bahkan tidak ada dalil atau hujjah untuk mendebatnya .... " "Bagaimanapun, kita mempunyai hak, bahkan kewajiban, untuk menyerahkan urusan sihir itu kepada orang yang mengeluarkan hadits dan kita tidak bersandar kepadanya untuk menentukan akidah kita. Yang terbaik bagi kita adalah mengikuti nashsh dari Al-Kitab Alquran dan dalil akal (rasio). Sebab, jika benar pengakuan orangorang Yahudi dan orang-orang musyrik lainnya itu, bahwa otak Nabi Muhammad Shallallahu 'Alaihi wa Sallam dapat dikacaukan (diganggu), maka boleh pula disangkakan bahwa beliau Shallallahu 'Alaihi wa Sallam menyampaikan sesuatu, padahal sesungguhnya tidak menyampaikannya. Atau, bahwa wahyu yang turun kepadanya, sesungguhnya tidak turun. Jadi, masalahnya jelas sekali sehingga tidak memerlukan penjelasan lagi." Kedua Imam yang mulia, Imam Thabari dan Imam Muhammad Abduh mengikuti sikap seperti itu terhadap hadits sihir, khususnya yang menimpa Nabi Muhammad Shallallahu 'Alaihi wa Sallam. Sedang di depan mereka terdapat banyak pendapat yang menguatkan dan menolong keabsahan hadits tersebut, serta menolak pendapat yang menentangnya. Bahkan mereka berani menuduh kafir atau ateis terhadap orang-orang yang menentang atau menolak hadits-hadits tersebut, yang kebetulan diriwayatkan oleh dua syaikh hadits, Imam Bukhari dan Imam Muslim-rahimahullah ta'ala. Al-Qadhy 'Iyadh, dalam kitabnya Al-Syifa' bi-Ta'rif Huquq Al-Mushthafa (Obat Penawar yang Mengenalkan Hak-hak Nabi Muhammad Shallallahu 'Alaihi wa Sallam Nabi Pilihan) mengomentari hadits sihir, "Ketahuilah wahai saudaraku, semoga Allah memberikan taufik kepada kita semua dan kepada Anda, bahwa hadits mengenai sihir yang menimpa Nabi Muhammad Shallallahu 'Alaihi wa Sallam khususnya, itu sahih dan muttafaq 'alaihi (disepakati ahli hadits). Orang-orang ateis (kafir) telah mencela hadits tersebut. Hal itu didasarkan kepada pandangan otaknya yang tumpul dan dangkal, ditambah dengan upaya merancukan hadits tersebut, sehingga melahirkan keraguan dalam hati umat Islam terhadap syariatnya."
http://www.akhirzaman.info/

Menolak dan Membentengi Diri dari Sihir

Abdul Kholiq Al-Athar

"Tetapi Allah Subhanahu wa Ta'ala tidak mengizinkan hal itu. Dia berkenan menyucikan syariat Islam dan Nabi pembawanya dari segala kerancuan yang mereka susupkan. Sesungguhnya sihir merupakan salah satu penyakit yang mungkin saja menimpa Nabi Muhammad Shallallahu 'Alaihi wa Sallam, seperti halnya penyakit lainnya, asalkan tidak terlalu buruk dan tidak menjatuhkan martabatnya. Bukankah sejak Nabi Hal. Hal. | 196 disebut-sebut terkena sihir, lalu diselamatkan Allah, tidak pernah ada kesan bahwa martabat Nabi menjadi jatuh?" Selanjutnya Al-Qadhy 'Iyadh - rahimahullah ta'ala - berkata, "Adapun mengenai riwayat bahwa Nabi terbayangkan seperti melakukan sesuatu, padahal sesungguhnya tidak, misalnya mendatangi istri-istrinya, tetapi sebetulnya tidak mendatanginya, maka hal seperti itu tidak termasuk hal-hal yang mengganggu atau mengurangi kredibilitas beliau sebagai juru tabligh yang menyampaikan amanat Allah Subhanahu wa Ta'ala dan sebagai penentu syariat Islam. Demikian pula, hal itu tidak mengurangi kebenarannya sebagai nabi dan rasul utusan Allah Subhanahu wa Ta'ala Karena banyak dalil dari Alquran dan As-Sunnah serta ijmak para ulama, yang menunjukkan bahwa Nabi Muhammad Shallallahu 'Alaihi wa Sallam itu ma'shum (terjaga) dari hal-hal yang akan menjatuhkan kredibilitasnya sebagai orang yang mempunyai misi untuk menyampaikan risalah atau amanat Allah Subhanahu wa Ta'ala." Hal seperti itu, sebenarnya lebih tepat sebagai urusan lahiriah-duniawiah, yang seperti kita ketahui dan pahami tidak menjadi misi pokok Nabi Muhammad Shallallahu 'Alaihi wa Sallam. Bahkan Nabi pun tidak diberi kelebihan untuk hal-hal duniawi seperti itu. Beliau, dalam urusan-urusan duniawi-lahiriah sama seperti manusia lainnya. Maka tidak aneh, jika ternyata terbayangkan pada Nabi apa yang sesungguhnya tidak terjadi, kemudian setelah itu beliau terlepas dari bayangan seperti itu. Wajar sekali bukan? Selanjutnya, AI-Qadhy 'Iyadh berkata, "Semoga sekarang menjadi jelas bagi Anda kandungan hadits tersebut. Bahwa sihir hanya mampu mempengaruhi lahiriah Nabi dan jasad kasarnya, tetapi tidak menguasai hati Nabi, tidak pula terhadap iktikad dan akalnya. Sihir, paling banter, mengganggu pandangan Nabi, menahannya dari menggauli istrinya, dan menahannya dari makannya. la hanya mampu menguasai atau mempengaruhi fisik Nabi Muhammad Shallallahu 'Alaihi wa Sallam dan membuatnya sakit, seperti sakit-sakit biasa lainnya. Sehingga, maksud kata-kata, 'Terbayang seakan-akan beliau mendatangi ahlinya, padahal tidak mendatanginya', yakni tampak ada semangat atau selera dan ada kekuasaan atau kekuatan untuk menggauli istrinya, tetapi begitu akan mendekatinya, beliau diganggu sihir, sehingga tidak jadi mendatangi istrinya. Sebagaimana hal itu menimpa orang yang sakit biasa." Al-Alusy dalam tafsirnya Ruh Al-Ma'any mengutip pendapat Imam Al-Maziry yang mengomentari hadits mengenai sihir tersebut. Dia berkata, "Hadits tersebut diingkari dan diakui sebagai hadits munkar oleh para pelaku bid'ah dengan alasan, bahwa hadits tersebut menurunkan derajat kenabian dan meragukannya. Terkenanya Nabi oleh sihir dapat menghilangkan kepercayaan (tsiqah) dari beliau dalam menentukan syariat."
http://www.akhirzaman.info/

Menolak dan Membentengi Diri dari Sihir

Abdul Kholiq Al-Athar

Pendapat tersebut dijawab bahwa hadits mengenai sihir itu sahih dan tidak merendahkan atau menentang nashsh. Dan hal itu tidak berarti akan menurunkan derajat kenabian dan tidak pula menimbulkan keraguan mengenainya. Sebab, orang-orang kafir menggunakan kata-kata mashur "tersihir" dengan makna majnun "gila" untuk Nabi Muhammad Shallallahu 'Alaihi wa Sallam. Dan tentu saja beliau tidak akan pernah gila. Hal. Hal. | 197 Jika yang dimaksudkan oleh mereka adalah makna konotasi lahiriahnya, maka berarti hanyalah yang sesuai dengan kisah terkenanya Nabi oleh sihir yang tidak membahayakannya itu atau hanya seperti sakit-sakit yang lain. Atau, maksud orang-orang kafir itu bahwa Nabi Muhammad Shallallahu 'Alaihi wa Sallam terpengaruh oleh sihir, dan apa yang datang kepadanya berupa wahyu itu hanyalah akibat dari khayalan dan tipu muslihat sihir. Pengakuan mereka yang demikian juga tentu sangat bohong. Sebab, Nabi Muhammad Shallallahu 'Alaihi wa Sallam sudah dijamin akan mendapatkan perlindungan Allah yang disebut 'ishmah, khususnya yang berhubungan dengan kepentingan menyampaikan risalah. Adapun segala yang berhubungan dengan sebagian urusan duniawi, yang Nabi Muhammad Shallallahu 'Alaihi wa Sallam tidak diutus untuk mengurusnya, maka gangguan duniawi itu mungkin saja mengenai Nabi seperti lazimnya manusia biasa. Jadi, bukan hal yang terlalu jauh dari kenabian jika sebagai manusia biasa beliau Shallallahu 'Alaihi wa Sallam pernah terbayangkan melakukan sesuatu yang sebetulnya tidak terjadi. Bahkan ada disebutkan (baca: diriwayatkan), bahwa terbayangkan pada diri Nabi Muhammad Shallallahu 'Alaihi wa Sallam itu beliau mendatangi istrinya, padahal sebetulnya tidak mendatanginya. Itu pun tidak menjadi masalah. Bukankah banyak orang yang membayangkan sesuatu, seperti persis melakukannya, dalam mimpinya. Maka hal demikian, bukan hal yang aneh jika terjadi dalam keadaan terjaga. Dan itu, seperti Anda ketahui, merupakan pembelaan sembarangan dan tanpa pemikiran terhadap hadits. Sebab jika sihir berhasil menguasai badan dan anggota seseorang, maka biasanya secara otomatis mengganggu pikiran (akal) juga, di samping mengganggu bahkan merusak penglihatan yang benar terhadap berbagai perkara sebagaimana hal itu terjadi terhadap Nabi Muhammad Shallallahu 'Alaihi wa Sallam dan segala gambaran pemikirannya. Adapun komentar Syaikh Ibn Al-Qayyim terhadap hadits sihir yang menimpa Nabi Muhammad Shallallahu 'Alaihi wa Sallam adalah sebagai berikut, "Hadits tersebut sebetulnya tsabit (kuat dan benar) menurut ulama ahli hadits dan diterima di kalangan mereka. Tetapi hadits tersebut diingkari dan tidak diterima oleh ulama teologi (ilmu kalam) dan yang lainnya. Mereka membohongkan hadits seperti itu. Bahkan sebagian di antara mereka ada yang sampai menyusun suatu buku yang menyerang atau mengkritik pedas Hisyam bin 'Urwah bin Az-Zubair yang meriwayatkan hadits dari Siti Aisyah r.a." Perkataan atau penilaian yang paling baik mengenai Hisyam bin 'Urwah bin AzZubair hanya kata-kata, "Ghalitha wa isytabaha 'alaihi al-amru, dia salah dan urusan sihir
http://www.akhirzaman.info/

Menolak dan Membentengi Diri dari Sihir

Abdul Kholiq Al-Athar

Hal. Hal. | 198

itu samar baginya." Tidak ada sedikit pun sihir yang mengenai Nabi Muhammad Shallallahu 'Alaihi wa Sallam sebab Nabi Muhammad Shallallahu 'Alaihi wa Sallam itu tidak mungkin terkena sihir. Jika beliau terkena sihir, itu berarti membenarkan apa yang dikatakan orang-orang kafir, seperti diungkapkan kembali oleh Alquran, Kamu (sekalian) tiadalah mengikuti kecuali seorang Iaki-laki yang tersihir. Mereka yang menolak hadits ini juga berkata, "Itu mirip dengan apa yang dikatakan Fir'aun kepada Nabi Musa a.s., 'Dan sesungguhnya aku, betul-betul menyangkamu hai Musa sebagai orang yang terkena sihir.'" Demikian pula seperti yang dikatakan orangorang kafir dari kaum Nabi Shaleh a.s. kepada Nabi Shaleh a.s., Sesungguhnya kamu adalah salah seorang dari orang-orang yang kena sihir (QS. Asy-Syu'ara: 153). Atau, seperti yang dikatakan kaum Nabi Syu'aib kepada Nabi Syu'aib a.s., Sesungguhnya kamu adalah salah seorang dari orang-orang yang kena sihir (QS. Asy-Syu'ara: 185). Menurut orang-orang yang menolak hadits sihir ini, para nabi itu tidak mungkin (diakui) terkena sihir yang sesungguhnya, sebab jika terkena sihir, itu berarti menafikan perlindungan dan perneliharaan ('ishmah) dari Allah Subhanahu wa Ta'ala terhadap mereka dari godaan-godaan setan. Selanjutnya Ibn Al-Qayyim Al-Jawziyyah berkata, "Apa yang mereka katakan itu tidak dapat diterima oleh para pakar (ahli ilmu). Karena Hisyam bin 'Urwah bin Az-Zubair itu termasuk orang yang paling tsiqah (dapat dipercaya) dan paling pandai (alim). Tak ada seorang imam hadits pun yang mencelanya sehingga harus menolak haditsnya .... " Mengapa ulama ilmu kalam (para teolog) menolak hadits sihir yang menimpa Nabi Muhammad Shallallahu 'Alaihi wa Sallam? Bukankah hadits sihir itu pun telah diriwayatkan oleh perawi selain Hisyam dari Siti Aisyah r.a. Penyusun kitab Shahihain telah sepakat untuk men-sahih-kan hadis sihir itu, dan tidak ada satu pun dari pakar hadits yang menolak atau mengomentarinya dengan komentar jelek. Menurut Ibn Al-Qayyim Al-Jawziyyah, sihir yang menimpa Nabi Muhammad Shallallahu 'Alaihi wa Sallam itu termasuk penyakit biasa yang telah disembuhkan oleh Allah. Dan peristiwa seperti itu tidak mengurangi kredibilitas Nabi dan tidak mencelanya sebab boleh saja para nabi itu sakit, seperti juga pingsan. Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam pun pernah pingsan ketika sakit. Beliau pernah terjatuh ketika kakinya terluka. Penyakit yang seperti itu hanya merupakan bencana atau cobaan yang tidak mengurangi kredibilitas beliau Shallallahu 'Alaihi wa Sallam, justru menambah keagungan dan kemuliaannya. Manusia yang paling berat cobaannya adalah para nabi. Mereka mendapatkan banyak cobaan dan bencana dari umatnya sendiri. Ada di antara mereka yang dibunuh, dipukuli, ditahan (disandera), dan ada juga yang biasa diejek. Jadi bukanlah suatu bid'ah jika ada nabi yang diuji oleh umatnya, dengan izin Allah meski tidak menghendakinya, dengan macam-macam ujian seperti juga suatu macam sihir. Sebagaimana Nabi pun
http://www.akhirzaman.info/

Menolak dan Membentengi Diri dari Sihir

Abdul Kholiq Al-Athar

Hal. Hal. | 199

pernah diuji dengan dilempari batu sarnpai terIuka. Bahkan pernah juga beliau Shallallahu 'Alaihi wa Sallam dilempari kotoran ketika sedang melakukan sujud, dan lain-lain cobaan dan bencana. Semua itu tidak mengurangi kredibilitas mereka. Tidak pula menirnbulkan cela pada mereka. Justru, yang jelas, itu semua menambah ketinggian derajat dan kernuliaannya di sisi Allah. Kemudian Ibn Al-Qayyirn Al-Jawziyyah berkata, "Adapun perkataan tuan-tuan, “Jika para nabi itu terkena sihir, maka itu berarti menafikan penjagaan dan perlindungan dari Allah Subhanahu wa Ta'ala terhadap mereka', ketahuilah bahwa Allah itu betul-betul memberikan bimbingan, pemeliharaan, dan penjagaan serta perlindungan. Tetapi Dia juga menguji mereka dengan macam-macam ujian, seperti halnya yang dikenakan kepada umat mereka. Ujian Allah kepada mereka misalnya adanya orang-orang kafir yang menyakitinya dengan berbagai macam cara dan bermacam-macarn bentuk. Hal itu dimaksudkan Allah untuk menyempurnakan kemuliaan mereka, di samping untuk menjadi suri teladan bagi orang-orang sesudahnya. Baik para sahabatnya, maupun urnatnya. Dengan contoh seperti itu, umat Islam atau umat para nabi itu akan meniru kesabaran dan ketabahan para pemimpinnya jika mereka pun mendapatkan ujian seperti itu. Perlakuan Allah seperti itu pun mernbuat orang-orang kafir semakin teruji. Apakah mereka akan berhenti menyakiti para nabi dan umatnya, atau rnereka akan terusrnenerus mengganggu dengan risiko siksaan batin di dunia, dan siksaan kekal di akhirat kelak. Itulah, antara lain, sebagian hikrnah dan manfaat ujian Allah terhadap para nabi, yakni dengan menyakiti mereka atau menguji rnereka lewat perlakuan kaumnya sendiri. Dan tentu masih banyak hikmah dan manfaat lain yang lebih sempurna, lebih bermanfaat, serta lebih menyenangkan bagi mereka. Tidak ada sembahan selain Allah. Dan tidak ada tuhan yang mengurus dunia ini selain Dia yang Mahaperkasa." Itu pun, seperti Anda ketahui, merupakan pembelaan tanpa pemikiran yang benar. Sebab, bencana atau ujian yang dipergunakan Allah Subhanahu wa Ta'ala untuk menguji para nabi itu justru berupa keingkaran rnereka dan kesesatannya, serta 'keengganan mereka untuk menerima ajaran yang benar. Ujian yang demikian ini tidak mengganggu para nabi sedikit pun. Adapun apa yang menimpa Nabi berupa penyakit pingsan atau yang sejenisnya, hal itu merupakan sesuatu yang baru dan biasa, yang umumnya tidak memerlukan waktu lebih lama daripada satu hari atau satu malam. Jika hal itu berlanjut sampai enam bulan atau bahkan setahun, maka tentu hal itu termasuk yang mengganggu Nabi dari pelaksanaan dan pengembanan risalahnya, di samping memisahkannya dari maqam (kedudukan) mereka sebagai nabi. Ibn Hazm, dalam bukunya Al-Muhalla ketika mengomentari hadits sihir, berkata, "Khabar atau hadits itu sahih. Allah telah mengenalkan kepada Nabi Muhammad Shallallahu 'Alaihi wa Sallam orang yang menyihirkan, dan ternyata tidak sampai
http://www.akhirzaman.info/

Menolak dan Membentengi Diri dari Sihir

Abdul Kholiq Al-Athar

membunuhnya." Anehnya, seorang ulama besar, faqhih, dan mujtahid yang luas wawasannya sekaliber Ibn Al-Qayyim, juga seorang ulama besar yang disegani dan diakui kecerdasannya seperti Ibn Hazm, bersikap seperti itu mengenai hadits sihir. Dan telah Hal. Hal. | 200 sampai kepada keduanya pendapat-pendapat para ularna lain yang menerima hadits sihir tersebut. Mereka pun ber-hujjah dengan hadits tersebut. Yang paling jelas mengenai sikap Ibn Al-Qayyim ketika mernperbincangkan hadits sihir itu adalah seperti yang dikutjp oleh Ibn Hajar dalam syarah hadits tersebut dari Shahih Bukhari. Ibn Hajar berkata, "Ibn Al-Qayyim mengatakan bahwa obat yang paling mujarab dan alat yang paling kuat untuk melepaskan sihir dan menggagalkan kekuatannya, yang merupakan pengaruh arwah jahat, adalah obat-obat ilahiyah berupa zikir, doa, yang terus-menerus dibaca. Itu termasuk sebab yang paling agung untuk menangkal sihir." Selanjutnya Ibn Al-Qayyim berkata, "Kemampuan penguasaan sihir itu hanya berlaku bagi orang-orang yang mempunyai hati (jiwa) yang lemah. Oleh karena itu, umumnya, sihir menimpa anak-anak dan kaum wanita, serta orang-orang bodoh. Sebab arwah jahat dan kotor itu hanya bersemangat dan berani mengganggu hati dan jiwa yang lemah, yang memang siap menerimanya." Itulah yang ditetapkan dan diakui oleh Ibn Al-Qayyim, bahwa arwah jahat mempunyai kekuatan untuk mengganggu manusia yang di antara pengaruhnya itu disebut sihir. Dia berpendapat bahwa arwah jahat itu tidak akan mempengaruhi kecuali jiwa-jiwa yang lernah atau hati yang kosong dari keimanan, seperti ruhnya anak-anak dan kaum wanita. Bagaimana pendapatnya itu dapat diterima jika dia pun berpendapat bahwa Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam terkena sihir? Bagaimana ini menjadi pendapat Ibn Al-Qayyim sendiri? Dia telah menurunkan derajat dan maqam Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam sampai setingkat derajat dan maqam anak-anak dan kaum wanita? Ibn Hajar juga menolak apa yang dikutipnya secara ringkas dari Ibn Al-Qayyim. Menurutnya, pernyataan Ibn Al-Qayyim itu merupakan kesimpulan dari hadits yang berkenaan dengan sihir. Pernyataannya menegaskan mungkin sihir menimpa Nabi Muhammad Shallallahu 'Alaihi wa Sallam meskipun maqam-nya tinggi, tawajjuh-nya benar, dan selalu berzikir mengingat Allah. Selanjutnya Ibn Hajar berkata, "Tetapi penolakan terhadap pendapat Ibn Al-Qayyim itu dapat dirinci. Bahwa apa yang disebutkannya itu berdasarkan kebanyakan (mayoritas). Dan sihir terjadi pada diri Nabi Muhammad Shallallahu 'Alaihi wa Sallam untuk menegaskan mungkinnya sihir menimpa seseorang, termasuk Nabi sekalipun." Itulah salah satu sisi sikap dan pandangan orang-orang yang mengingkari hadits mengenai sihir, khususnya yang menimpa Nabi a.s., dan sikap orang-orang yang membela hadits tersebut.
http://www.akhirzaman.info/

Menolak dan Membentengi Diri dari Sihir

Abdul Kholiq Al-Athar

Masih banyak lagi ulama lain yang lebih mementingkan kesejahteraan dan kesehatan Nabi. Mereka tampaknya tidak begitu jelas melibatkan dirinya pada perbedaan pendapat mengenai hadits sihir itu. Mereka adalah kelompok mufassirin, para pakar tafsir Alquran Al-Karirn. Mereka tidak mempunyai keinginan apalagi semangat untuk mempermasalahkan hadits sihir ketika menafsirkan surah Al-Falaq. Bahkan, ketika Hal. Hal. | 201 menafsirkan ayat min syarri an-naffatsat fi al-'uqadi, "Dari kejahatan para tukang sihir perempuan yang meniup-niup pada buhulan (ikatan)", mereka tidak mengisyaratkan secara dekat atau secara jauh kepada kandungan hadits sihir tersebut. Padahal itulah objek yang harus dibahas. Itu berarti mereka lebih memilih sikap tawaqquf - berhenti tidak mempermasalahkannya - bahkan kecenderungan mereka untuk menolak hadits tersebut lebih jelas daripada kecenderungan mereka untuk menerimanya. Tentu saja tidak semua ahli tafsir mempunyai sikap seperti itu, dan di antara mufassirin yang mengikuti jalan seperti itu adalah Syaikh Zamakhsyari Al-Kasysyaf, Imam Thabari, Imam Al-Qurthubi, dan An-Nasafy. Jadi ada tiga pendapat mengenai hadits sihir tersebut. Pertama, pendapat yang menolak hadits tersebut dan tidak mau menerimanya demi menyucikan maqam dan kedudukan Nabi Muhammad Shallallahu 'Alaihi wa Sallam serta menguatkan 'ishmah-nya. Kedua, pendapat yang menguatkan hadits tersebut dan men-takhrij hadits tersebut yang sejalan dengan upaya penjagaan terhadap maqam kenabian Nabi Muhammad Shallallahu 'Alaihi wa Sallam dan tetap memelihara 'ishmah-nya. Ketiga, pendapat yang tidak melibatkan diri untuk mempermasalahkan hadits tersebut. Mereka tidak menolak hadits sihir tersebut, juga tidak menerimanya. Mereka tidak mengisyaratkan posisi hadits tersebut baik secara langsung maupun tidak langsung. Saya sendiri bertanya-tanya kepada diri saya manakah pendapat yang harus saya ikuti, khususnya jika saya melibatkan diri saya ke dalam kelompok para ulama yang mempunyai obsesi untuk mengkaji Alquran Al-Karim. Dalam kondisi seperti ini saya lebih baik bersikap masa bodoh (la syu'ury), untuk selanjutnya bertawaqquf - tidak menentukan sikap ke kanan atau ke kiri - lalu membiarkan hadits itu dan tidak menggunakannya. Sikap itu dilandaskan kepada berbagai hal berikut ini. Bahwa hadits sihir itu bukan hadits yang diriwayatkan dari Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam, yang bertujuan atau mempunyai maksud untuk menegaskan suatu perintah dari berbagai perintah agama. Dan bukan pula merupakan salah satu larangan dari larangannya. Atau, bahkan juga untuk memberikan nasihat atau petunjuk yang berhubungan erat dengan syariat (hukum) Islam atau etikanya. Hadits tersebut, seandainya sahih sekalipun, tidak lebih daripada sekadar menginformasikan sebagian keadaan atau kondisi khusus Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam dan tidak ada yang lebih mengenal akan hal itu kecuali keluarganya yang terdekat, seperti Siti Aisyah r.a. Jadi, seandainya pun hadits sahih, maka tidak ada
http://www.akhirzaman.info/

Menolak dan Membentengi Diri dari Sihir

Abdul Kholiq Al-Athar

yang meriwayatkannya, sebagai sanad kedua setelah Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam, selain Siti Aisyah r.a. Itu berarti, bahwa apa yang menimpa diri Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam itu tidak mempunyai pengaruh terhadap perikehidupan di luar keluarganya sendiri, dan lebih khusus hanya berhubungan erat dengan pribadi Siti Aisyah r.a. yang menurut salah satu riwayat, beliau Shallallahu 'Alaihi wa Sallam tidak Hal. Hal. | 202 dapat menggaulinya selama enam bulan. Bahkan menurut riwayat lain, Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam tidak menggauli Siti Aisyah r.a. itu selama setahun. Kemungkinan besar tidak ada sanad lain selain Siti Aisyah r.a. yang kemudian dilanjutkan oleh Hisyam bin 'Urwah bin Az-Zubair r.a. Jika peristiwa sihir yang menimpa Nabi Muhammad Shallallahu 'Alaihi wa Sallam itu mempunyai pengaruh terhadap selain lingkungan keluarga sempit dan terbatas itu, maka pasti masalah tersebut akan ramai dibicarakan orang atau diriwayatkan banyak periwayat melalui sanad yang banyak pula, atau menjadi mutawatir. Di samping itu, sangat boleh jadi kasus itu akan merupakan peristiwa yang mengguncang masyarakat umat Islam semua. Bahkan informasi dan berita mengenai kasus itu akan menyebar luas ke daerah atau ke negeri-negeri luar jazirah Arab. Kasus itu pun akan menjadi berita turun-ternurun di kalangan umat Islam berbagai negeri, di samping akan dikenal oleh musuh-musuh Islam di berbagai tempat. Dan pasti pula, berita sihir yang menimpa Nabi itu akan terus hidup hangat di lingkungan umat Islam dalam tempo lama, bahkan mungkin tak henti-hentinya dibicarakan orang. Tetapi, jika hanya berupa hadits ahad yang tidak dipegang beritanya kecuali oleh keluarga Az-Zubair dari Siti Aisyah r.a., maka keadaan seperti itu tidak cukup luas untuk menjadi pembicaraan orang dalam hal menerimanya, kecuali jika merupakan peristiwa atau kasus yang berhubungan erat dengan hubungan suami-istri keluarga Nabi Muhammad Shallallahu 'Alaihi wa Sallam dengan Siti Aisyah r.a. saja. Sehingga, tidak ada yang mengetahui kecuali Siti Aisyah r.a. bersama orang-orang terdekat, seperti putraputri saudaranya, yaitu Shafiyyah dari suaminya Az-Zubair bin 'Awwam. Bahwa Alquran Al-Karim dengan tegas mengungkapkan dan menyatakan kepada Nabi Muhammad Shallallahu 'Alaihi wa Sallam, “Dan Allah akan selalu menjaga (memelihara) kamu dari (gangguan) manusia.” Ayat tersebut merupakan janji dari Allah Subhanahu wa Ta'ala kepada Nabi Muhammad Shallallahu 'Alaihi wa Sallam dari berbagai tipu daya musuh-rnusuhnya, baik gangguan itu akan mengenai jasadnya, akalnya, ataupun perasaan (kalbu)-nya. Jadi, Allah Subhanahu wa Ta'ala yang menjamin penjagaan dan perlindungan Nabi Muhammad Shallallahu 'Alaihi wa Sallam secara mutlak, sehingga tidak ada seorang manusia pun yang mampu mengganggunya atau menyakitinya. Atas dasar itu, ketika Nabi menerima ayat ('ishmah) itu, beliau bersabda kepada seorang sahabatnya yang akan memimpin penjagaan terhadap dirinya, "Wahai sekalian manusia, pergilah karena sesungguhnya aku telah dijaga dan dipelihara (dilindungi) oleh Allah yang Mahaperkasa lagi Mahaagung (Azza wa Jalla)."
http://www.akhirzaman.info/

Menolak dan Membentengi Diri dari Sihir

Abdul Kholiq Al-Athar

Apakah setelah itu akan dapat dimengerti, bahwa Allah Subhanahu wa Ta'ala memimpin penjagaan terhadap pribadi Nabi Muhammad Shallallahu 'Alaihi wa Sallam, bahkan memberitahukan hal itu dengan tegas, lalu ternyata ketika ada itipu daya atau makar dari seorang Lubaid bin Al-A'sham tidak ditolak-Nya, sehingga otak atau akal yang merupakan alat tubuh yang paling vital itu terkena sihirnya? Bahkan masa sakitnya pun Hal. Hal. | 203 lama? Ada yang mengatakan selama enam bulan penyakit sihir itu mengganggu pribadi Nabi Muhammad Shallallahu 'Alaihi wa Sallam sang pengemban risalah yang seharusnya menghadapi umatnya selama dua puluh empat jam tanpa pernah berhenti. Bahkan ada juga yang meriwayatkan bahwa hal itu berlangsung selama setahun penuh? Lalu bagaimana tugas risalahnya? Terbengkalai begitu saja? Mana riwayat yang mengisyaratkan hal itu? Lalu, bagaimanakah akibatnya, jika Nabi Muhammad Shallallahu 'Alaihi wa Sallam yang agung itu atau siapa pun, otak atau akalnya terganggu oleh sihir? Berpikirnya menjadi kacau, sehingga terbayangkan padanya seakan-akan melakukan sesuatu tetapi sebenarnya tidak. Terbayangkan pula padanya seakan-akan mencampuri istrinya tetapi tidak. Atau, apakah hal itu boleh saja terjadi padanya? Justru kasus seperti itu merupakan realita yang tidak mungkin terhindar dari pribadi Nabi, karena harus menjadi bahan kajian dalam syariat Islam? Lalu beliau bersabda, padahal beliau tidak menyadari, apa yang didengar oleh orang-orang Mukmin apakah itu Alquran atau Sunnah yang ternyata bukan Alquran juga bukan Sunnah, lalu para perawi pun menerimanya dan menegakkan agama Islam pada hal yang demikian itu? Atau, mungkin terlihat bahwa umat Islam telah mengetahui apa yang menimpa Nabi Muhammad Shallallahu 'Alaihi wa Sallam, lalu mereka menonaktifkannya dari tugas kenabian selama masa terjangkit sihir itu? Lalu mengapa mereka tetap mendengarkan apa yang disabdakannya dan mengapa pula mereka menerima segala sesuatu darinya? Bukankah Allah Subhanahu wa Ta'ala menegaskan dalam firman-Nya, Apa saja yang diperintahkan Rasul kepadamu, maka terimalah. Dan apa yang dilarangnya bagimu maka jauhilah .... (QS. Al-Hasyr 59: 7). Adakah umat Islam tanpa Nabi Muhammad padahal beliau ada pada mereka? Atau ada Nabi tetapi tidak ada umat Islamnya? Bukankah umat Islam ketika itu telah meneapai ribuan? Bahwa Rasulullah Nabi Muhammad Shallallahu 'Alaihi wa Sallam itu dikenal sebagai seorang Imam umat Islam dalam setiap shalat lima waktu, baik ketika mereka dalam hadhar ataupun dalam safar. Apakah benar, di sela-sela Nabi Shallallahu 'Alaihi wa Sallam terkena sihir itu, yang katanya sampai berbulan-bulan, beliau mendirikan shalat bersamasama umat Islam tanpa ada gangguan pada otak dan ingatannya, dan shalatnya pun tidak terganggu, baik dalam perkataannya (adzkar shalat) ataupun alam gerakannya? Dapatkah dibenarkan, bahwa beliau berdiri, duduk, ruku' dan sujud, padahal beliau membayangkan melakukan sesuatu yang sebenarnya tidak dilakukannya?

http://www.akhirzaman.info/

Menolak dan Membentengi Diri dari Sihir

Abdul Kholiq Al-Athar

Justru yang benar, Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam tetap melakukan shalat berjamaah dengan umat Islam ketika itu hingga dua hari yang paling akhir menjelang wafatnya, padahal beliau dalam keadaan sakit. Beliau memaksakan diri untukmemimpin shalat meski harus berangkat ke mesjid dengan dipapah oleh dua orang sahabat. Ketika ternyata sakitnya semakin berat, maka beliau memerintahkan Abu Bakar Shiddiq Hal. Hal. | 204 r.a. untuk memimpin salat berjamaah. Lalu bagaimana dengan kitab-kitab hadits mu'tabar (handal) yang mengungkap kasus tersebut. Diragukan atau ditolak saja? Dan jika demikian berarti menyepelekan atau mungkin melecehkan sunnah? Tidak, kita harus tetap memuliakan kitab-kitab sunnah dan mengagungkan para penyusun dan periwayatnya, serta mengakui sepenuhnya perjuangan mereka dalam mengumpulkan sunnah dan menyeleksinya, serta menghafalnya. Tetapi itu hanya merupakan satu qadhiyyah (problema). Di pihak lain, jika harus mengangkat derajat kitab-kitab hadits tersebut melebihi maqam dan derajat Alquran dan harus mengikuti hukum yang ditetapkan oleh sunnah yang ternyata kontradiksi dengan ayat-ayat Alquran yang jelas maksudnya, itu merupakan qadhiyyah (problema) lain. Jadi, penghargaan terhadap As-Sunnah dan Alquran itu harus proporsional. JAMPI DAN BENTENG DARI SIHIR Berikut ini akan dijelaskan apa-apa yang memungkinkan untuk dijadikan ruqyah (doa atau jampi), doa perlindungan (ta awwudzat), alat pembenteng (tahashshunat), dan alat penjaga (tahaffuzhat) dari gangguan sihir. Juga akan dijelaskan berbagai alat (sarana) untuk membatalkan atau menggagalkan, dan menghancurkan sihir, serta obat penyembuh bagi orang yang tersihir. Telah kita ketahui bahwa orang yang terkena sihir itu dimasuki setan (muqtaran bihi asy-syaithan) yang jahat dan nakal yang disebut khadim sihr (pelayan sihir), atau disebut juga syaithan sihr (setan sihir). Setan tersebut menguasai orang yang terkena sihir lewat perantaraan atau atas komando ahli sihir dari bangsa manusia yang jahat dan fasik. Orang yang mahsud (terkena hasud dengki) juga seperti orang yang terkena sihir. Sebab, orang yang dengki pun sedang kemasukan seorang setan yang disebut syaithan alhasud, dia seperti setan sihir. Tetapi bedanya, kalau setan sihir itu beroperasi dan berkuasa dengan komando tukang sihir dari kalangan manusia, sedang setan hasud (dengki) melesat bagaikan peluru dari revolver (pistol). Atau ia melesat seperti anak panah yang dilemparkan dari busur. Jadi, setan hasud itu pergi dari mata seorang pendengki, pendendam, dan jahil yang telah dimasuki (dikuasai) oleh setan hasud seperti burung-burung yang hinggap ketika ada kesempatan untuk menghasud. Jadi, tukang hasud dan pendendam itu adalah manusia yang mempunyai jiwa yang penuh dengan kedongkolan, kebencian, rasa cemburu,
http://www.akhirzaman.info/

Menolak dan Membentengi Diri dari Sihir

Abdul Kholiq Al-Athar

kemarahan, dan lain-lain yang seperti itu. Dia tidak suka melihat orang lain mendapatkan karunia Allah ’Azza wa Jalla. Sungguh, penghasut, pendengki, dan pendendam itu manusia yang kotor dan keji bagaikan keranjang sampah yang penuh dengan kotoran dan najis. Orang pendengki, pendendam, dan penghasud itu dimasuki oleh ratusan setan Hal. Hal. | 205 hasud. Mereka mendapatkannya sebagai sasaran empuk bagaikan barang yang hilang. Dari celah-celah perbuatannya mereka menguasai atau menggoda orang-orang yang menjadi sasaran hasudnya (al-mahsudin). Rasulullah Shallalahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda, Pandangan mata itu hak dari setan menghadirinya (menyaksikan dan mempengaruhinya). " Sabdanya lagi, "Hindarilah racun mata-mata." Kemudian sabdanya lagi, "Pandangan itu merupakan satu panah dari berbagai panah Iblis (setan). Orang yang mirip dengan orang yang terkena sihir dan terkena hasud atau dengki adalah orang yang gila (menderita penyakit anjing gila atau al-mashru'). Jadi, pada setiap mereka itu ada setannya. Setan yang paling lemah adalah setan yang masuk ke dalam jiwa orang gila (al-mashru`). Sedang setan yang paling jahat dan paling celaka adalah setan yang masuk kepada orang yang terkena hasud (al-mashud). Dan setan yang paling celaka/jahat, paling nakal, dan paling jelek adalah setan yang menjadi khadam sihir karena dia tidak menggabungkan diri (masuk) ke dalam tubuh orang yang terkena sihir kecuali dengan komando ahli sihir yang fasik dan jahat. Jika khadam sihir keluar dari tubuh manusia yang terkena sihir tanpa izin dari ahli sihir, maka dia akan dibunuh langsung tanpa kompromi dan tanpa alasan apa pun. Oleh karena itu, khadam (pelayan) sihir itu selalu berusaha untuk menguasai orang yang tersihir sehingga membuat putus asa semua orang yang berhubungan dengan yang terkena sihir itu. Baik yang mengobati, keluarga korban, maupun korban itu sendiri. Dan jika berhasil, wa na'udzu billah, dia menguasai mereka, sehingga orang yang terkena sihir, yang mengobati maupun keluarganya putus asa, maka keputusasaan itu adalah salah satu macam kekafiran. Sebagaimana diisyaratkan firman Allah ’Azza wa Jalla, Hai anak-anakku, pergilah kamu, maka carilah berita tentang Yusuf dan saudaranya dan janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya tiada yang berputus asa dari rahmat Allah melainkan kaum yang kafir (QS. Yusuf 12:87). Dalam Surah Al-Hijr disebutkan, Ibrahim berkata, "Tidak ada orang yang berputus asa dari rahmat Tuhannya kecuali orang-orang yang sesat (QS. Al-Hijr 15:56). Oleh karena itu, khadam atau pelayan sihir selalu berusaha untuk tetap mempengaruhi dan menguasai orang yang terkena sihir, dengan harapan dia atau keluarganya atau yang mengobatinya menjadi putus asa. Dia melakukan itu karena takut oleh ahli sihir yang akan membunuhnya jika dia kembali atau keluar dari orang yang terkena sihir itu tanpa hasil.

http://www.akhirzaman.info/

Menolak dan Membentengi Diri dari Sihir

Abdul Kholiq Al-Athar

Alat Penggagal dan Penghancur Sihir Ada tiga alat perantara untuk menghancurkan dan menggagalkan sihir. Yang pertama, terpenuhi dengan menakut-nakuti, inti kebohongan, penggantian, perubahan, dan pembaruan. Yang kedua, jarang dipergunakan oleh orang-orang saleh. Sedang. yang Hal. Hal. | 206 ketiga, merupakan wasilah atau perantara (alat) yang aman dan terjamin kesuksesannya. Pertama, membatalkan (menggagalkan) dan menghancurkan sihir lewat setan sihir atau pelayan sihir yang masuk (bergabung) dengan orang yang terkena sihir. Bisa juga lewat jalan setan lain, atau dengan cara mengajak bicara setan yang ada dalam badan orang yang terkena sihir, dan menggunakan jasanya. Banyak orang yang mengobati orang yang terkena sihir itu dengan cara mengajak bicara kepada setan yang sedang menyusup ke dalam tubuh orang yang terkena sihir itu. Mereka menundukkannya dengan menanyakan namanya, menanyakan tukang sihir yang memanfaatkan jasanya, menanyakan nama orang yang membebani tukang sihir untuk melakukan sihir, menanyakan tempat penyimpanan sihir, dan menanyakan barang-barang yang digunakan untuk menyihir. Setan pelayan sihir itu mejawab semua pertanyaan yang diajukan kepadanya. Tetapi sebetulnya termasuk kebodohan dan kedunguan jika ada yang dengan mudah membenarkan setan pelayan sihir yang menyebutkan namanya, nama ahli sihir yang menggunakannya, tempat sihir, dan barang-barang yang dipakai untuk menyihir. Karena yang pasti benar (jujur) dalam perkataannya hanyalah Rasulullah, seperti diisyaratkan firman Allah ’Azza wa Jalla, Dan tiadalah yang diucapkannya itu (Alquran) menurut kemauan hawa nafsunya. Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang-diwahyukan (kepadanya). Yang diajarkan kepadanya oleh (Jibril) yang sangat kuat (QS. An-Najm 53:3-5). Rasulullah Shallalahu ‘Alaihi wa Sallam, lewat empat hadits yang semuanya sahih, memberitahukan kepada kita bahwa setan itu sangat pembohong (kadzub). Dia banyak berdusta, menipu, banyak melakukan makar, dan sangat tercela karena kebohongannya. Dia berdusta untuk menimbulkan fitnah dan kejahatan. Dia berbohong untuk me mecahbelah dan melepaskan rasa cinta kasih di antara yang sedang berkasih sayang, yang saling mencintai, dan di antara orang-orang yang saling menolong. Jika Rasulullah, Nabi Muhammad Shallalahu ‘Alaihi wa Sallam, berkali-kali menegaskan bahwa setan itu pembohong ulung, maka kita wajib mengikuti petunjuknya. Dan kita wajib selalu mencurigai setiap yang dikatakan setan sebagai suatu kebohongan, kedustaan, penipuan, dan kontroversial atau berbeda dengan kenyataan. Bahkan, lebih celaka, jika kita membenarkan apa yang dikatakan pelayan sihir dan meyakininya sebagai suatu berita yang meyakinkan, boleh jadi hal itu akan menyeret seseorang ke dalam kekufuran, kemusyrikan, kerugian, dan kecelakaan. Semoga Allah Azza wa Jalla melindungi kita dari hal yang demikian.

http://www.akhirzaman.info/

Menolak dan Membentengi Diri dari Sihir

Abdul Kholiq Al-Athar

Rasulullah Shallalahu ‘Alaihi wa Sallam menegaskan, "Siapa yang membenarkan peramal atau dukun, maka sungguh dia telah mengingkari apa yang diturunkan kepada Nabi Muhammad Shallalahu ‘Alaihi wa Sallam" Rasulullah Shallalahu ‘Alaihi wa Sallam berulang-ulang dalam haditsnya menyatakan bahwa setan itu sangat pendusta dan pembohong ulung.. Hadits-hadits itu, antara lain, hadits Abu Hurairah r.a. ketika dia Hal. Hal. | 207 bertindak sebagai penjaga kurma untuk sedekah, hadits Abu Ayyub Al-Anshary, hadits Ubay bin Ka'ab, dan hadits Umar bin Khaththab r.a. Atas dasar itu, mengajak berbicara kepada setan yang menjadi pelayan sihir dan bergabung (menyatu) dengan manusia yang tersihir adalah perbuatan yang salah. Wasilah atau perantaraan yang demikian itu penuh dengan kebohongan, kecurigaan, penggantian, mungkin berita dan segala masalahnya diganti, perubahan, pembaruan, dan cara-cara bohong lainnya. Meskipun mungkin juga sekali-kali setan pun benar pada apa yang dikatakannya. Tetapi kemungkinan benar dan jujurnya setan itu sebetulnya terlalu lemah untuk disebutkan. Kalaupun setan itu benar dan dia menghadirkan sihir, maka sangat mungkin baginya mendatangkan sihir yang berbeda dengan sihir yang sedang mengenai orang yang terkena sihir ketika itu. Karena bagaimanapun, kita tidak mempunyai wasilah atau perantaraan untuk membenarkan bahwa sihir yang sedang diderita oleh penderita itu adalah sihir yang disebutkan setan tersebut. Bahkan, meskipun perkataan setan itu betul mengenai sihir yang digunakannya ketika itu, mungkin saja penyihir memperbarui sihirnya pada saat itu juga, sehingga boleh jadi agak sulit untuk mengobati sihir tersebut. Metode pertama itu disebut metode istinthaq atau mengajak setan yang sedang menyusup itu untuk berbicara dan menggunakan setan lain untuk menyelesaikan sihir yang sedang menimpa seseorang karena ulah setan pelayan sihir. Kedua, adalah melalui istilham, memohon ilham atau petunjuk yang benar dari Allah Azza wa Jalla untuk melapangkan dada kita, menyinari kalbu kita. Dapat juga kita memohon ilham (petunjuk) dari Allah untuk memberikan isyarat lewat mimpi yang jelas maksudnya, dengan karunia dan rahmat Allah Azza wa Jalla. Jadi, metode pertama dengan menggunakan metode istinthaq wa istikhad asysyaithan, yaitu mengajak bicara dan menggunakan jasa setan; sedang metoda kedua melalui istilham dan istihad', yaitu memohon ilham dan hidayah atau petunjuk dari Allah Azza wa Jalla. Jadi, metode pertama dan kedua ini bertujuan mencari informasi lengkap` mengenai zat (macam) sihir untuk kemudian dilenyapkan dan dihancurkan. Sedang metode ketiga, adalah dengan pembentengan (tahshin) dan melindungi korban sihir dengan menggunakan bacaan Alquran Al-Karim, zikir-zikir, dan ibadah-ibadah tertentu.

http://www.akhirzaman.info/

Menolak dan Membentengi Diri dari Sihir

Abdul Kholiq Al-Athar

Hal. Hal. | 208

Membatalkan dan menggagalkan sihir dapat dilakukan dengan cara mengenali macam sihir, tempatnya, dan pelakunya lewat pelaksanaan shalat raja' (pengharapan). Dengan memohon petunjuk, ilham, fatwa, pertolongan, dan bantuan untuk melapangkan dada dan membukakan hati, kita dapat mengenali sihir yang sedang beraksi, untuk kemudian menggagalkan dan melenyapkannya. Ibadah atau zikir tersebut diisyaratkan oleh ayat-ayat berikut ini, yaitu surah Yunus 10:62-64; surah Al-Baqarah 2:257; surah Al-A`raf 7:196; dan surah Fushshilat 41:30-32. Berikut terjemahan ayatayat tersebut. 1. Surah Yunus: 62-64

“Ingatlah, sesungguhnya wali-wali Allah itu, tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati. (Yaitu)., orangorang yang beriman dan mereka selalu bertakwa. Bagi mereka berita gembira di dalam kehidupan di dunia dan (dalam kehidupan) di akhirat. Tidak ada perubahan bagi kalimat-kalimat (janji-janji) Allah. Yang demikian itu adalah kemenangan yang besar.” 2. Surah Al-Baqarah: 257

“Allah pelindung (wali) orang-orang yang beriman; Dia mengeluarkan mereka dari kegelapan (kekafiran) kepada cahaya (iman). Dan orang-orang yang kafir, pelindungpelindungnya adalah setan-setan yang mengeluarkan mereka dari cahaya kepada kegelapan (kekafiran). Mereka itu adalah penghuni neraka. Mereka kekal di dalamnya.” 3. Surah Al-A`raf: 196

“Sesungguhnya wali (pelindung)-ku adalah Allah yang telah menurunkan Al-Kitab (Alquran) dan Dia melindungi orang-orang yang saleh.” 4. Surah Fushshilat 41:30-32 Allah berfirman,

“Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan "Tuhan kami ialah Allah" kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka, maka malaikat akan turun kepada mereka (dengan mengatakan), “Janganlah kamu (sekalian) merasa takut dan janganlah kamu merasa sedih, dan bergembiralah kamu dengan (memperoleh) surga yang telah dijanjikan Allah kepadamu." Kami-lah pelindung-pelindungmu dalam kehidupan di dunia dan di akhirat; Di dalamnya kamu memperoleh apa yang kamu inginkan dan memperoleh (pula) di dalamnya apa yang kamu minta. Sebagai hidangan (bagimu) dari Tuhan yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang." (Lihat kembali kitab saya Al-Faqir, yang sangat mengharapkan rahmat dan ampunan Allah yang Mahakuasa - Abdul Khaliq Al-Aththar, yaitu kitab Awliya` ArRahman As-Su add' wa Awliyd' Asy-Syaithdn Al Asyqiya'. Ayat-ayat tersebut menegaskan bahwa Allah Azza wa Jalla mempunyai wali-wali
http://www.akhirzaman.info/

Menolak dan Membentengi Diri dari Sihir

Abdul Kholiq Al-Athar

yang dibimbing-Nya, dengan memberikan perhatian yang banyak, perlindungan, petunjuk, pertolongan, taufik, dan bantuan-Nya. Di antara karunia dan pemuliaan Allah yang diberikan kepada wali-wali itu ialah dengan mengilhamkan mimpi yang benar kepada mereka. Mimpi mereka itu bagaikan Hal. Hal. | 209 satu perempat puluh enam bagian dari kenabian, sebagaimana ditegaskan oleh Rasulullah Shallalahu ‘Alaihi wa Sallam, " Mimpi yang benar dan saleh - cocok dengan petunjuk Allah itu adalah satu bagian dari empat puluh enam bagian nubuwwah (kenabian)." Dalam kesempatan lain Rasulullah Shallalahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda, "Tidak ada dari mubasysyirat an-nubuwwah "kabar gembira kenabian", kecuali berupa mimpi yang benar yang dilihat oleh hamba Allah, atau mimpi itu diperlihatkan kepadanya." Seperti telah diketahui bersama, bahwa wahyu ada dua macam. Pertama, wahyu yang sangat jelas dan tampak sekali, yakni bahwa Rasulullah (setiap nabi dan rasul) melihat utusan Allah berupa malaikat dengan mata terang tanpa ada keraguan sedikit pun. Hal ini khusus bagi para rasul dan nabi a.s. Kedua, wahyu khafi atau wahyu yang samar. Wahyu ini ada dua macam, yaitu penglihatan lewat mimpi (ketika tidur), dan lewat ilham dari malaikat dalam keadaan terjaga, bukan ketika tidur dengan perantaraan malaikat yang bertugas memberikan ilham dan ifham pemahaman- serta tahdits (mengajak bicara). Lihat pula kitab saya Al-Faqir, yang sangat berharap akan rahmat dan ampunan Allah yang Mahakuasa, Abd Al-Khaliq Al-Aththar dengan judul, Ar-Ru'ya AlManamiyyah wa Al Ahlam, Kayfiyyatu Takwiniha wa Ushul wa Qawaid Ta'wiliha (Penglihatan dalam tidur dan mimpi, cara mendapatkannya, asal-usul, dan kaidah-kaidah penakwilan atau pemaknaannya). Seorang wali adalah orang-orang yang dipilih oleh Allah Azza wa Jalla, yang dicintaiNya dan mereka pun sangat mencintai-Nya. Mereka suka kepada keimanan, mencintai orang-orang Mukmin dan Alquran. Mereka juga mencintai ahli Alquran. Mereka suka pada amal yang ikhlas dan orang-orang yang suka beramal dengan jiwa ikhlas, seperti mencintai kebenaran dan kejujuran di samping mencintai setiap orang yang benar dan jujur. Mereka banyak mendapatkan karunia dari Allah Azza wa Jalla Kekufuran dan kefasikan, serta kemaksiatan, tidak mereka sukai. Dalam kaitan itu, Rasulullah Shallalahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda, "Banyak orang yang rambutnya kusut tidak teratur dan hanya mempunyai dua potong kain (pakaian) yang lusuh, selalu ditolak oleh pemilik pintu-pintu, jika mereka mengetuk pintu, tetapi jika dia bersumpah kepada Allah atau memohon kepada-Nya, pasti diperkenankan-Nya." Pada hadits lain Rasulullah Shallalahu ‘Alaihi wa Sallam menegaskan, "Perbagus (halalkan) makananmu, maka kamu akan menjadi orang yang dikabulkan doanya." Jika para wali yang suci, penuh ketakwaan, jernih pikirannya, dermawan, mulia, agung, suka ruku' dan sujud, suka melakukan amar makruf dan nahyi munkar, serta suka menjaga hukum-hukum Allah, lalu menghadap kepada Allah dengan menangis, penuh
http://www.akhirzaman.info/

Menolak dan Membentengi Diri dari Sihir

Abdul Kholiq Al-Athar

rasa kehinaan dan kefakiran, merasa pecah atau rusak hatinya, banyak berdoa, penuh pengharapan, selalu memohon fatwa-Nya, dan selalu mohon petunjuk dan pertolonganNya, maka Allah Azza wa Jalla akan berkenan memuliakan mereka. Allah akan menyayanginya, mengasihinya, memberinya karunia yang banyak, serta memberikan apa saja yang mereka minta. Mereka disinari cahaya dari-Nya dengan cahaya keimanan dan Hal. Hal. | 210 cahaya Alquran pada dadanya. Mereka akan ditunjuki-Nya ke jalan yang lurus, serta diarahkan-Nya ke arah yang benar dan baik. Rasulullah Shallalahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda, "Hati-hatilah terhadap firasat- pandangan batin seorang Mukmin, karena dia melihat dengan cahaya dari Allah." Jadi, para wali itu sudah pasti akan diberi mimpi yang benar dan jelas maksudnya, diberi ilham dan petunjuk, dan disinari hatinya dengan keimanan, norma-norma Alquran, dan ihsan. Apalagi jika hamba pilihan yang dimaksud seperti Nabi Muhammad Shallalahu ‘Alaihi wa Sallam. Pernah terjadi kepadanya, sebagaimana yang dikatakannya kepada istrinya, Siti Aisyah r.a., "Aku telah memohon fatwa kepada Tuhanku, lalu Dia memfatwakan kepadaku. Telah datang kepadaku Jibril yang duduk dekat kepalaku dan Mikail di dekat kedua kakiku." Jadi, orang-orang saleh yang mempunyai sifat-sifat mulia seperti itu suka melakukan shalat ar-raja', untuk mengharapkan rahmat dan petunjuk Allah, shalat istihda' untuk memohon petunjuk-Nya, dan shalat istifta' untuk memohon fatwa-Nya. Jadi, shalatshalat seperti itu sama seperti shalat istikharah, yaitu untuk memohon pilihan dari Allah Azza Wa Jalla. Mereka selalu mengharapkan limpahan karunia Allah dengan mengasihi dan menyayangi mereka jika mereka berhak untuk mendapatkan pemberian-Nya dan pantas mendapatkan limpahan rahmat dan karunia-Nya yang bermacam-macam. Tambahan Jika seorang hamba Allah tidak berhasil dalam permohonan limpahan karunia Ilahi dengan cara seperti itu, maka hendaklah dia waspada terhadap dirinya, jangan-jangan dia tidak melakukan cara atau metode pendekatan itu secara benar. Atau, boleh jadi dia mempunyai banyak cela atau aib yang belum dibersihkannya. Mungkin dia tidak sempurna dalam melaksanakan ibadah wajibnya, atau bahkan jarang melaksanakan ibadah sunat, sering meninggalkan yang nawafil, seperti sunat-sunat. Jika seorang hamba Allah tidak berhak mendapatkan limpahan karunia Allah, maka hendaklah dia terusmenerus memohon limpahan karunia dan rahmat dari Allah Azza wa Jalla. Dan hendaklah dia mengetahui, bahwa sesungguhnya Allah Azza wa Jalla suka melimpahkan karunia dan rahmat-Nya kepada para wali dan hamba-Nya. Menurut wasilah atau perantaraan yang ketiga, untuk menggagalkan dan menghancurkan sihir itu dapat dilakukan dengan membentengi korban sihir dan melindunginya. Disertai dengan cara memperkuat jiwa korban, serta melemahkan dan merusak khadam sihir.

http://www.akhirzaman.info/

Menolak dan Membentengi Diri dari Sihir

Abdul Kholiq Al-Athar

Unsur-unsur cara atau metode tersebut adalah sebagai berikut: 1. Diusahakan supaya korban sihir mendengarkan bacaan ayat-ayat suci Alquran yang disertai dengan perhatian penuh, pendalaman maknanya, mengambil pelajaran darinya, dan selalu memikirkan maksudnya. 2. Melakukan zikrullah atau mengingat Allah dengan cara hati yang hadir atau khusyu' penuh perhatian, penuh rasa hina, penuh pengharapan kepada Allah, dan menghadapkan hati kepada Allah Azza wa Jalla 3. Banyak berdoa dengan serius dan berulang-ulang. 4. Disertai shaum dan bangun malam (shalat tahajjud). 5. Zuhud atau tidak cinta kepada keduniaan serta banyak memikirkan keakhiratan. Untuk menguatkan jiwa seseorang yang terkena sihir, hendaklah dia dibentengi dengan selalu menjaga diri dari perbuatan dosa dan kemaksiatan. Dengan karunia dan rahmat Allah Azza wa Jalla, telah saya jelaskan pada bab pertama dari kitab ini kepentingan dan keutamaan setiap upaya untuk menjaga diri, mengobati sihir, dan membentengi diri dari sihir. Hal yang paling penting adalah hendaknya korban sihir (al-mashur) dan yang lainnya selalu taat kepada segala perintah Allah dan menjauhi segala larangan-Nya. Hendaknya dia rajin melakukan ibadah, baik yang fardu atau wajib, maupun yang sunatnya. Di samping menjaga diri jangan sampai melakukan kemaksiatan, baik yang kecil apalagi yang besar. Korban sihir itu juga hendaknya rajin membaca Alquran atau .zikir-zikir lainnya yang berguna untuk perlindungan dari Allah Azza wa Jalla. Atau bacaan Alquran dan zikir-zikir itu dibacakan oleh orang-orang saleh. Beberapa zikir tersebut akan dikemukakan, insya Allah Ta'ala. Ada sebagian orang yang terkena sihir, setelah diberi sedikit kesehatan dan kesejahteraan oleh Allah Azza wa Jalla, mereka menelantarkan kaum wanita dan keluarganya, serta membuat kerusakan di muka bumi. Mereka merusak otak dan hatinya dengan racun dan ghayum (awan/rokok?), serta nyanyian-nyanyian setan. Akibatnya, mereka kembali sakit (tersihir) dan menjadi hina-dina - semoga Allah melindungi kita dari perbuatan itu - lalu keadaannya kembali seperti semula, bahkan lebih parah lagi. Umar bin Khaththab r.a. pernah berkata, "Janganlah kamu sekalian menolong musuh-musuhmu untuk menguasaimu, yakni dengan melakukan kemaksiatan terhadap Tuhanmu." Allah Azza wa Jalla berfirman, Dan Kami menurunkan dari (bagian) Alquran suatu yang menjadi penawar dan rahmat bagi orang-orang Mukmin, dan Alquran itu tidaklah menambah kepada orang-orang yang zalim kecuali kerugian (QS. Al-Isra'17:82). Pada surah lain, Allah Azza wa Jalla menyatakan, Dan jika Kami jadikan Alquran itu suatu bacaan dalam bahasa selain bahasa Arab tentulah mereka mengatakan, "Mengapa tidak dijelaskan ayat-ayatnya? Apakah (patut Alquran) dalam bahasa asing sedang (rasul
http://www.akhirzaman.info/

Hal. Hal. | 211

Menolak dan Membentengi Diri dari Sihir

Abdul Kholiq Al-Athar

adalah orang) Arab?" Katakanlah, 'Alquran itu petunjuk dan penawar bagi orang-orang yang beriman. Dan orang-orang yang tidak beriman, pada telinga mereka ada sumbatan, sedang Alquran itu suatu kegelapan bagi mereka. Mereka itu adalah (seperti) orang-orang yang dipanggil dari tempat yang jauh (QS. Fushshilat 41:44). Hal. Hal. | 212 Rasulullah Shallalahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda, "Banyak pembaca Alquran, sedang Alquran sendiri melaknatnya." Jadi, berdasarkan ayat-ayat dan hadits tersebut, Alquran diturunkan oleh Allah Azza wa Jalla untuk menjadi obat penawar, rahmat (kebaikan), dan petunjuk bagi orang-orang yang beriman. Sementara bagi orang-orang jalrat (zalim), fasik, dan kafir, turunnya Alquran justru rnembuat mereka tersiksa dan merugi. Satu hal yang harus diperhatikan, bahwa pembacaan ayat-ayat Alquran dan zikir atau wirid lainnya untuk kepentingan penawar hati dan penyejuk kalbu itu harus disertai suatu keyakinan yang benar dan jiwa ikhlas kepada Allah Azza wa Jalla. Sebab jika keyakinannya lemah, maka faedah dan manfaat ayat-ayat Alquran dan zikir-zikir itu akan lemah sekali. Dan sebaliknya, jika keyakinannya mantap dan keimanannya sangat kuat, maka bacaan zikir-zikir itu akan semakin menguatkan hikmah dan faedahnya. Kesimpulan dari wasilah atau alat perantara ketika ini adalah bahwa kita mencoba menghadirkan arwah malaikat yang mulia dan pilihan, serta mempunyai derajat tinggi di sisi Allah ke dalam badan orang yang menjadi korban sihir. Dan itu hanya dapat terjadi dengan mendengarkan dan memperhatikan bacaan-bacaan Alquran, apalagi jika sambil memikirkan makna dan merenungkan maksudnya. Demikian pula ketika melakukan zikir lainnya, harus dilakukan dengan hati yang penuh kesungguhan dan khusyu', merendah, dan merasakan kehinaan diri. Kaidah yang telah terkenal berbunyi, "Jika ada malaikat, maka setan pun pergi." Betapa nikmatnya dan berpengaruhnya jika Alquran itu dibaca disertai pemikiran makna dan perenungan maksudnya, serta diambil pelajarannya, ketika sedang melakukan shalat. JAMPI (DOA), DZIKIR PERLINDUNGAN, BENTENG DIRI, DAN PENJAGAAN BAGI KORBAN SIHIR Bagian akhir dari kitab ini akan mengetengahkan bermacam-macam ruqyah (jampi atau doa), ta’awwudzat (zikir perlindungan), tahashshunat (untuk benteng diri), dan tahaffuzhat (zikir penjaga diri khususnya bagi korban sihir).

http://www.akhirzaman.info/

Menolak dan Membentengi Diri dari Sihir

Abdul Kholiq Al-Athar

Hal. Hal. | 213

http://www.akhirzaman.info/

Menolak dan Membentengi Diri dari Sihir

Abdul Kholiq Al-Athar

Hal. Hal. | 214

http://www.akhirzaman.info/

Menolak dan Membentengi Diri dari Sihir

Abdul Kholiq Al-Athar

Hal. Hal. | 215

Doa-doa Perlindungan, Benteng Diri, dan Penjagaan

http://www.akhirzaman.info/

Menolak dan Membentengi Diri dari Sihir

Abdul Kholiq Al-Athar

Hal. Hal. | 216

http://www.akhirzaman.info/

Menolak dan Membentengi Diri dari Sihir

Abdul Kholiq Al-Athar

Hal. Hal. | 217

http://www.akhirzaman.info/

Menolak dan Membentengi Diri dari Sihir

Abdul Kholiq Al-Athar

Hal. Hal. | 218

http://www.akhirzaman.info/

Menolak dan Membentengi Diri dari Sihir

Abdul Kholiq Al-Athar

Hal. Hal. | 219

http://www.akhirzaman.info/

Menolak dan Membentengi Diri dari Sihir

Abdul Kholiq Al-Athar

Hal. Hal. | 220

http://www.akhirzaman.info/

Menolak dan Membentengi Diri dari Sihir

Abdul Kholiq Al-Athar

Hal. Hal. | 221

http://www.akhirzaman.info/

Menolak dan Membentengi Diri dari Sihir

Abdul Kholiq Al-Athar

Hal. Hal. | 222

http://www.akhirzaman.info/

Menolak dan Membentengi Diri dari Sihir

Abdul Kholiq Al-Athar

Hal. Hal. | 223

http://www.akhirzaman.info/

Menolak dan Membentengi Diri dari Sihir

Abdul Kholiq Al-Athar

Hal. Hal. | 224

http://www.akhirzaman.info/

Menolak dan Membentengi Diri dari Sihir

Abdul Kholiq Al-Athar

Hal. Hal. | 225

http://www.akhirzaman.info/

Menolak dan Membentengi Diri dari Sihir

Abdul Kholiq Al-Athar

Hal. Hal. | 226

http://www.akhirzaman.info/

Menolak dan Membentengi Diri dari Sihir

Abdul Kholiq Al-Athar

Hal. Hal. | 227

http://www.akhirzaman.info/

Menolak dan Membentengi Diri dari Sihir

Abdul Kholiq Al-Athar

Hal. Hal. | 228

http://www.akhirzaman.info/

Menolak dan Membentengi Diri dari Sihir

Abdul Kholiq Al-Athar

Hal. Hal. | 229

http://www.akhirzaman.info/

Menolak dan Membentengi Diri dari Sihir

Abdul Kholiq Al-Athar

Hal. Hal. | 230

http://www.akhirzaman.info/

Menolak dan Membentengi Diri dari Sihir

Abdul Kholiq Al-Athar

Hal. Hal. | 231

http://www.akhirzaman.info/

Menolak dan Membentengi Diri dari Sihir

Abdul Kholiq Al-Athar

Hal. Hal. | 232

http://www.akhirzaman.info/

Menolak dan Membentengi Diri dari Sihir

Abdul Kholiq Al-Athar

Hal. Hal. | 233

http://www.akhirzaman.info/

Menolak dan Membentengi Diri dari Sihir

Abdul Kholiq Al-Athar

Hal. Hal. | 234

http://www.akhirzaman.info/

Menolak dan Membentengi Diri dari Sihir

Abdul Kholiq Al-Athar

Hal. Hal. | 235

http://www.akhirzaman.info/

Menolak dan Membentengi Diri dari Sihir

Abdul Kholiq Al-Athar

Hal. Hal. | 236

http://www.akhirzaman.info/

Menolak dan Membentengi Diri dari Sihir

Abdul Kholiq Al-Athar

Hal. Hal. | 237

http://www.akhirzaman.info/

Menolak dan Membentengi Diri dari Sihir

Abdul Kholiq Al-Athar

"Bilamana pemilik Hak Cipta berkeberatan dengan digunakan bahan-bahan miliknya, silahkan menghubungi kami dan dalam kesempatan pertama, insya-Allah kami akan segera menarik kembali.” (admin@akhirzaman.info ) Hal. Hal. | 238

Semoga Bermanfaat

http://www.akhirzaman.info/

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->