P. 1
Doc

Doc

|Views: 6,447|Likes:
Published by Meidiawati

More info:

Published by: Meidiawati on Sep 06, 2010
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

07/01/2013

pdf

text

original

Sections

  • A. Latar Belakang Masalah
  • B. Perumusan Masalah
  • C. Penegasan Istilah
  • D. Tujuan Penelitian
  • E. Manfaat Penelitian
  • F. Sistematika Skripsi
  • A. Penyesuaian Diri Remaja di Panti Asuhan
  • 1. Penyesuaian Diri
  • a. Pengertian Penyesuaian Diri
  • b. Aspek-Aspek Penyesuaian Diri
  • c. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Penyesuaian Diri
  • besar faktor-faktor yang mempengaruhi penyesuaian diri remaja
  • d. Penyesuaian Diri yang Baik
  • 2. Remaja
  • a. Pengertian Remaja
  • b. Ciri-Ciri Remaja
  • c. Tugas Perkembangan Remaja
  • 3. Panti Asuhan
  • a. Pengertian Panti Asuhan
  • b. Tujuan Panti Asuhan
  • c. Fungsi Panti Asuhan
  • 4. Penyesuaian Diri Remaja di Panti Asuhan
  • B. Dukungan Sosial
  • 1. Pengertian Dukungan Sosial
  • 2. Jenis-Jenis Dukungan Sosial
  • 3. Sumber-Sumber Dukungan Sosial
  • D. Hipotesis
  • A. Jenis Penelitian
  • B. Variabel Penelitian
  • 1. Identifikasi Variabel
  • 2. Definisi Operasional Variabel Penelitian
  • 3. Hubungan Antar Variabel Penelitian
  • C. Subjek Penelitian
  • 1. Populasi
  • 2. Sampel
  • D. Metode dan Instrumen Pengumpulan Data
  • E. Validitas dan Reliabilitas Alat Ukur
  • 1. Validitas
  • 2. Reliabilitas
  • F. Teknik Analisis Data
  • HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
  • A. Persiapan Penelitian
  • 1. Orientasi Kancah
  • 2. Proses Perijinan
  • 3. Penentuan Sampel
  • Tabel 4.1 Deskripsi Subjek Penelitian
  • B. Pelaksanaan Penelitian
  • C. Prosedur Pengumpulan Data
  • D. Deskripsi Data Penelitian
  • Tabel 4.2 Rangkuman Data Penelitian
  • E. Hasil Penelitian dan Pembahasan
  • 1. Hasil Uji Validitas dan Reliabilitas
  • a. Validitas
  • Tabel 4.3 Blue Print Skala Penyesuian Diri Setelah Uji Coba
  • Tabel 4.4 Blue Print Skala Dukungan Sosial Setelah Uji Coba
  • b. Reliabilitas
  • 2. Hasil Penelitian
  • a. Gambaran Penyesuaian Diri Remaja
  • Tabel 4.5 Pengelompokkan Norma Tingkat Penyesuaian Diri
  • Tabel 4.6 Distribusi Frekuensi Penyesuaian Diri
  • Tabel 4.7 Distribusi Frekuensi Aspek Penyesuaian Pribadi
  • Tabel 4.8 Distribusi Frekuensi Aspek Penyesuaian Sosial
  • b. Gambaran Dukungan Sosial
  • Tabel 4.9 Pengelompokkan Norma Tingkat Dukungan Sosial
  • Tabel 4.10 Distribusi Frekuensi Dukungan Sosial
  • Tabel 4.11 Distribusi Frekuensi Aspek Dukungan Emosional
  • Tabel 4.12 Distribusi Frekuensi Aspek Dukungan Penghargaan
  • Tabel 4.13 Distribusi Frekuensi Aspek Dukungan Instrumental
  • Tabel 4.14 Distribusi Frekuensi Aspek Dukungan Informasi
  • c. Uji Hipotesis
  • Tabel 4.18 Kontribusi Dukungan Sosial Terhadap Penyesuaian Diri Remaja
  • 3. Pembahasan
  • A. Kesimpulan
  • B. Saran

HUBUNGAN ANTARA DUKUNGAN SOSIAL DENGAN PENYESUAIAN DIRI REMAJA DI PANTI ASUHAN AL BISRI SEMARANG TAHUN 2007

SKRIPSI Diajukan Kepada Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Semarang Untuk Memenuhi Sebagian Dari Syarat-Syarat Guna Memperoleh Derajad Sarjana Psikologi

Oleh : Ayu Febriasari NIM. 1550402033

FAKULTAS ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS NEGERI SEMARANG 2007

i

HALAMAN PERSETUJUAN

Skripsi yang berjudul : Hubungan Antara Dukungan Sosial Dengan Penyesuaian Diri Remaja Di Panti Asuhan Al Bisri Semarang Tahun 2007

Yang diajukan oleh : Ayu Febriasari NIM. 1550402033

Telah diperiksa dan disetujui untuk diuji di depan dewan penguji skripsi Fakultas Ilmu Pendidikan

Semarang, 24 Juli 2007

Pembimbing I

Pembimbing II

Drs. Sugeng Hariyadi, M. S NIP. 131472593

Rulita Hendriyani, S. Psi., M. Si NIP. 132255795

ii

HALAMAN PENGESAHAN

Telah dipertahankan di depan dewan penguji skripsi Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Semarang dan dinyatakan diterima untuk memenuhi sebagian dari syarat-syarat guna memperoleh derajad sarjana S1 Psikologi pada : Hari Tanggal : : Selasa 24 Juli 2007 Panitia Ujian Skripsi

Ketua

Sekretaris

Dr. Agus Salim, M.S NIP. 131127082 Dewan Penguji 1. Dra. Sri Maryati D., M.Si. NIP.131125886 2. Drs. Sugeng Hariyadi, M.S NIP.131472593 3. Rulita Hendriyani, S.Psi.,M.Si NIP. 132255795

Dra. Sri Maryati D., M.Si. NIP. 131699302 Tanda Tangan

……………………

……………………

……………………

Semarang, 24 Juli 2007 Mengesahkan Fakultas Ilmu Pendidikan Dekan

Dr. Agus Salim, M. S NIP. 131127082

iii

Hasil pengolahan data diperoleh nilai korelasi rxy = 0.. manusia selalu melakukan penyesuaian diri sesuai dengan tuntutan dari diri sendiri maupun lingkungannya.566. iv . Variabel bebas pada penelitian ini adalah dukungan sosial dan variabel terikatnya adalah penyesuaian diri. komputasi dengan menggunakan komputer program statistical program for social sciences (SPSS) versi 10. S. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui ada tidaknya hubungan antara dukungan sosial dengan penyesuaian diri remaja di panti asuhan. Untuk mencapai tujuan hidupnya. M. Tentunya hal ini tidak selamanya berjalan dengan lancar. remaja sangat membutuhkan dukungan sosial dari orang lain di lingkungan terdekatnya yaitu pengasuh dan teman-teman sesama penghuni panti asuhan.0. Artinya terdapat hubungan yang positif dan signifikan antara dukungan sosial dengan penyesuaian diri remaja di Panti Asuhan Al Bisri Semarang.ABSTRAK HUBUNGAN ANTARA DUKUNGAN SOSIAL DENGAN PENYESUAIAN DIRI REMAJA DI PANTI ASUHAN AL BISRI SEMARANG Oleh : Ayu Febriasari Nim. Pada saat-saat seperti ini.01. Psi. 1550402033 Abstrak skripsi di bawah bimbingan Drs. Bagi remaja di panti asuhan. Data yang diperoleh dianalisis dengan menggunakan korelasi product moment dari Pearson. pengambilan sampel menggunakan teknik total sampling sebanyak 40 orang. M. banyak penghayatan baru yang memerlukan penyesuaian diri yang baru pula. Hipotesis penelitian ini yaitu ada hubungan positif antara dukungan sosial dengan penyesuaian diri remaja di panti asuhan. sering terjadi remaja gagal karena kemampuannya belum memadai. Subjek dalam penelitian ini adalah remaja penghuni Panti Asuhan Al Bisri Semarang yang berusia 13-18 tahun. Kata kunci : dukungan sosial. yang menunjukkan bahwa hipotesis diterima. S dan Rulita Hendriyani. Si. Metode pengambilan data menggunakan skala psikologi. penyesuaian diri. p < 0. Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian kuantitatif korelasional. Sugeng Hariyadi.

atas doa dan kasih sayangnya. Persembahan Kupersembahkan karya sederhana ini untuk Yang tercinta …. Ibu. kelembutan sekaligus kekuatan adalah kepribadian yang sangat cantik (DPHN. Yang Maha Perkasa dan Maha Bijaksana (QS. v . ST) Langkah penting yang harus dilakukan seorang pelari dalam arena perlombaan bukan hanya saat ia memulai garis start ataupun cukup dengan semangat yang menyalanyala.) dan Andro.MOTTO DAN PERSEMBAHAN Motto Allah telah menyatakan bahwasannya tidak ada Tuhan hanya Dia yang menegakkan keadilan. para malaikat dan orang-orang berilmu juga menyatakan demikian : tidak ada Tuhan selain Dia. wawasan. Ali Imran:18). budi pekerti. serta kekasihku. Ketulusan. adikku Ajeng (alm. Bapak. namun yang terpenting yaitu bagaimana ia dapat terus bertahan dan berjuang sekuat tenaga untuk mencapai tujuan akhir yaitu garis finish.

5. M.S dan Rulita Hendriyani. M. SH.. arahan dan motivasi dalam menyusun skripsi ini. Seluruh remaja di Panti Asuhan Al Bisri Semarang yang telah bersedia meluangkan waktu untuk mengisi skala penelitian.Psi. Dewan penguji skripsi Fakultas Ilmu Pendidikan yang memberikan berbagai masukan dan kritik bagi kesempurnaan penulisan skripsi. Selesainya skripsi ini tidak lepas dari bantuan berbagai pihak. sehingga peneliti dapat menyelesaikan skripsi ini yang berjudul : “Hubungan Antara Dukungan Sosial Dengan Penyesuaian Diri Remaja di Panti Asuhan Yatim Piatu Al Bisri Semarang”. vi . dosen pembimbing I dan II yang telah meluangkan waktu untuk memberikan bimbingan. 6.KATA PENGANTAR Puji syukur kehadirat Allah AWT yang telah melimpahkan rahmatNya. Adapun skripsi ini merupakan salah satu syarat untuk memperoleh gelar sarjana Psikologi pada Jurusan Psikologi Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Semarang. Dra. Shokis.Si.. Ketua Panti Asuhan Al Bisri Semarang.. Sri Maryati Deliana. Dekan Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Semarang. M.Si. untuk itu penulis mengucapkan terima kasih kepada : 1. 4.S. 3.. Agus Salim. S. M. Sugeng Hariyadi. Drs. Ketua Jurusan Psikologi Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Semarang. M.. Dr. 2.

Sekar. 8. adikku Ajeng (alm. dukungan dan kebersamaannya. 24 Juli 2007 Penulis vii . Kedua orang tua.) dan Andro. Teman-temanku Roksi. Semarang. Mas Toni. Cik Evi (Psikocentra). 10. Seluruh dosen Psikologi UNNES yang telah memberikan bekal ilmu pengetahuan selama penulis menempuh masa kuliah. Indri. Sahabat-sahabatku Sari. Semua pihak yang telah memberikan motivasi. bantuan dan masukan dalam penyusunan skrisi yang tidak dapat disebutkan satu persatu. serta DP Hendro N. yang telah memberikan bantuan dalam penyusunan skripsi serta teman–teman Jurusan Psikologi UNNES. terima kasih atas bantuan. 9. Akhirnya. Semoga segenap bantuan serta dukungan yang telah diberikan kepada penulis mendapat balasan dari Allah SWT.7. tercinta. 11. besar harapan penulis semoga skripsi ini dapat bermanfaat bagi penulis pada khususnya dan bagi pembaca pada umumnya. Mbak Ika (Pink).

............... Latar Belakang Masalah. D................... DAFTAR LAMPIRAN............ KATA PENGANTAR ................................................ i ii iii iv v vi viii xi xii xiii xiv 1 1 10 10 11 12 12 14 15 15 15 18 22 26 30 30 32 viii ................................................................................................... DAFTAR GRAFIK.......................... 1.......... Penyesuaian Diri Remaja di Panti Asuhan ........................................................................................................................................................... Sistematika Skripsi.................... Pengertian Penyesuaian Diri ................................................................................................................................................................................................................................. A............................................ Penyesuaian Diri yang Baik .................................................................................................... A............. Penegasan Istilah.............................................................................................................................................................................................................................................................. E.................... DAFTAR GAMBAR ........................... Manfaat Penelitian .. F........................................... Pengertian Remaja ..... BAB II LANDASAN TEORI ...... a...................................................................................................................... HALAMAN PERSETUJUAN..................... c............................................................. Perumusan Masalah ............................................................. Remaja ............ Penyesuaian Diri ................. HALAMAN PENGESAHAN............ DAFTAR ISI........... a............... Aspek-Aspek Penyesuaian Diri ......................... Ciri-Ciri Remaja......... b............. B... d........................... C............................................................. BAB I PENDAHULUAN ........................................................................ MOTTO DAN PERSEMBAHAN ................................... b.DAFTAR ISI Halaman HALAMAN JUDUL....................... Faktor-faktor yang Mempengaruhi Penyesuaian Diri.................................................................. 2.......... ABSTRAK ........................ Tujuan Penelitian ... DAFTAR TABEL..........................

........................ 3.......... 1. Pengertian Dukungan Sosial ........ 2............................................ Jenis Penelitian..................... BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN .............. A......... C......... Pengertian Panti Asuhan ................................................................................ 1............ 2................................................... 1.................................................. 2................................ Hipotesis. Identifikasi Variabel... Orientasi Kancah.. C.................................................................................................................. Variabel Penelitian ............... 2....................................................................................................................... Populasi .................. 1....... Persiapan Penelitian .................................................... c..... Tujuan Panti Asuhan ........................................................................................... 3.......................... Hubungan Antar Variabel Penelitian ................ B... Subjek Penelitian........................................................................................................................ E............. Dukungan Sosial ............................ 4......................................... a..... 3..............................................................................c............................................... 2................ B.................. Proses Perijinan...................................... Penyesuaian Diri Remaja di Panti Asuhan ....................................................................................................... Reliabilitas ...... Metode dan Instrumen Pengumpulan Data .................................. D..................... b.................................. A.......................... BAB III METODE PENELITIAN .................... Sumber-Sumber Dukungan Sosial ................................... Sampel....... Panti Asuhan ............................................... Teknik Analisis Data................... 1... F... 34 36 36 37 38 39 41 41 44 50 52 56 58 58 59 59 59 62 62 62 63 63 68 68 68 69 71 71 71 73 ix ........... Fungsi Panti Asuhan . Validitas dan Reliabilitas Alat Ukur ........ Validitas ...... Hubungan Antara Dukungan Sosial Dengan Penyesuaian Diri Remaja di Panti Asuhan .......... Definisi Operasional Variabel Penelitian...................................... Tugas Perkembangan Remaja ...... Jenis-Jenis Dukungan Sosial ....... D.................

...................................................................................................... BAB V SIMPULAN DAN SARAN .................................................................................................................................................................................. B.................... Reliabilitas ............ DAFTAR PUSTAKA DAFTAR LAMPIRAN 73 74 74 75 75 75 76 79 79 79 83 89 91 98 98 99 x ................. a..... Hasil Penelitian ........................... C.......... a..... Gambaran Penyesuaian Diri Remaja ...... Saran....... D................... Pelaksanaan Penelitian ................3........ Penentuan Sampel ................................................................................. Hasil Uji Validitas dan Reliabilitas........ Hasil Penelitian dan Pembahasan ............................................... c.................................... b.......... Validitas ..... 3........... Gambaran Dukungan Sosial.................................... b.................................................... B....... Uji Hipotesis ..... 1............ Pembahasan.......................... E.. Deskripsi Data Penelitian.................................... A........................... Kesimpulan .............................. 2....................................................... Prosedur Pengumpulan Data ..............................................

.......... Tabel 4.........................DAFTAR TABEL Halaman Tabel 3................................ Tabel 4.....................2 Rangkuman Data Penelitian........... Tabel 4..... Tabel 3.9 Pengelompokkan Norma Tingkat Dukungan Sosial ........15 Korelasi Antara Dukungan Sosial dengan Penyesuaian Diri Remaja .............3 Blue Print Skala Penyesuaian Diri Setelah Uji Coba....................................... Tabel 4.1 Deskripsi Subjek Penelitian ..................7 Distribusi Frekuensi Aspek Penyesuaian Pribadi ..........10 Distribusi Frekuensi Dukungan Sosial...................... Tabel 4........ Tabel 4............. Tabel 4..........1 Blue Print Penyesuaian Diri............ Tabel 4......................................6 Distribusi Frekuensi Penyesuaian Diri...... Tabel 4..................................... Tabel 4....................14 Distribusi Frekuensi Aspek Dukungan Informasi. Tabel 4............ Tabel 4...... Tabel 4.............12 Distribusi Frekuensi Aspek Dukungan Penghargaan..........................11 Distribusi Frekuensi Aspek Dukungan Emosional ..............................5 Pengelompokkan Norma Tingkat Penyesuaian Diri ...........8 Distribusi Frekuensi Spek Penyesuian Sosial ................................... Tabel 4...16 Kontribusi Dukungan Sosial Terhadap Penysuaian Diri Remaja 90 91 66 67 74 75 77 78 80 81 82 83 84 85 86 87 88 89 xi .................. Tabel 4.........................................................13 Distribusi Frekuensi Aspek Dukungan Instrumental ..4 Blue Print Skala Dukungan Sosial Setelah Uji Coba .................................... Tabel 4...2 Blue Print Dukungan Sosial...

1 Skema Hubungan Antara Variabel X dan Y ...............................2 Digram Dukungan Sosial .............. Gambar 4................................. 62 92 94 xii ............................DAFTAR GAMBAR Halaman Gambar 3....... Gambar 4...............1 Diagram Penyesuaian Diri Remaja ......

..... 81 85 xiii .......................................1 Tingkat Penyesuaian Diri Remaja ...........DAFTAR GRAFIK Halaman Grafik 4..........................2 Tingkat Dukungan Sosial .......... Grafik 4...................

....................................... 115 Lampiran 4 Sebaran Deskriptif Skala Penyesuaian Diri.................................................................. 132 Lampiran 15 Analisis Reliabilitas Skala Dukungan Sosial Ditinjau Dari Sumber Dukungan Sosial (Pengasuh & Teman-teman) ....................... 122 Lampiran 8 Validitas skala Dukungan Sosial .......... 131 Lampiran 14 Uji Linieritas................... 114 Lampiran 3 Data Kasar Skala Dukungan Sosial .......................... 116 Lampiran 5 Sebaran Deskriptif Skala Dukungan Sosial.......................................................... 117 Lampiran 6 Validitas Skala Penyesuaian Diri ................................................................................................................................................. 130 Lampiran 13 Uji Normalitas ..................... 139 Lampiran 17 Surat Bukti Penelitian........... 127 Lampiran 10 Analisis Hubungan Penyesuaian Diri dengan Dukungan Sosial ............. 105 Lampiran 2 Data Kasar Skala Penyesuian Diri....................................................................... 118 Lampiran 7 Reliabilitas Skala Penyesuaian Diri................................................................. 123 Lampiran 9 Reliabilitas Skala Dukungan Sosial...................................................................................................................................... 128 Lampiran 11 Deskriptif Skala Penyesuaian Diri .......... 140 xiv ..........DAFTAR LAMPIRAN Halaman Lampiran 1 Instrumen Skala Penelitian .................................................... 129 Lampiran 12 Deskriptif Skala Dukungan Sosial............................................................ 136 Lampiran 16 Surat Ijin Penelitian ...

Orang tua mempunyai peran penting dalam kaitannya dengan menumbuhkan rasa aman. seperti menjadi yatim. Apabila hal ini berjalan terusmenerus akan mengakibatkan anak tersebut terganggu dalam kehidupan sehari-hari. Perjalanan hidup seorang anak tidak selamanya berjalan dengan baik. tidak mampu dan terlantar. piatu bahkan yatim piatu. Terpenuhinya kebutuhan psikologis tersebut akan membantu perkembangan psikologis secara baik dan sehat. Keluarga yang berisi ayah. yang semua itu merupakan faktor kebutuhan psikologis anak. tidak adanya orang yang dapat diajak berbagi cerita atau dijadikan panutan dalam menyelesaikan masalah. ibu dan saudara kandung adalah tempat utama bagi individu mendapatkan pengalaman bersosialisasi pertama kalinya. Latar Belakang Masalah Keluarga adalah tempat yang penting dimana anak memperoleh dasar dalam membentuk kemampuannya agar kelak menjadi orang yang berhasil di masyarakat. 1 . Beberapa anak dihadapkan pada pilihan yang sulit bahwa anak harus berpisah dari keluarganya karena sesuatu alasan. kasih sayang dan harga diri. Lebih lagi. agar dapat tumbuh utuh secara mental. Ganjalan ini membuat anak tidak berdaya.1 BAB I PENDAHULUAN A. sehingga kebutuhan psikologisnya tidak terpenuhi secara wajar. emosional dan sosial.

Pada masa transisi tersebut. psikis dan sosial. 2004:233). Remaja yang berusaha menemukan identitas dirinya dihadapkan pada situasi yang menuntut harus mampu menyesuaikan diri bukan hanya terhadap dirinya .2 Anak-anak inilah yang dipelihara oleh pemerintah maupun swasta dalam suatu lembaga yang disebut panti asuhan. Perkembangan pada remaja pada hakekatnya adalah usaha penyesuaian diri yaitu usaha secara aktif mengatasi tekanan dan mencari jalan keluar dari berbagai masalah. psikis dan sosial juga sangat dibutuhkan bagi perkembangan kepribadiannya karena pada masa remaja dianggap sebagai masa transisi dari masa kanakkanak ke masa dewasa. Tempat itulah yang selanjutnya dianggap sebagai keluarga oleh anak-anak tersebut. Pada saat anak melewati masa remaja. pemenuhan kebutuhan fisik. Panti asuhan berperan sebagai pengganti keluarga dalam memenuhi kebutuhan anak dalam proses perkembangannya. Masa transisi ini banyak menimbulkan kesulitan-kesulitan dalam penyesuaian terhadap dirinya maupun terhadap lingkungan. Masa remaja dianggap sebagai masa labil yaitu dimana individu berusaha mencari jati dirinya dan mudah sekali menerima informasi dari luar dirinya tanpa ada pemikiran lebih lanjut (Hurlock. remaja mengalami berbagai masalah yang ada karena adanya perubahan fisik. Berhasil tidaknya remaja dalam mengatasi masalahnya tersebut sangat tergantung dari bagaimana remaja mempergunakan pengalaman yang diperoleh dari lingkungannya dan selanjutnya kemampuan menyelesaikan masalah ini akan dapat membentuk sikap pribadi yang lebih mantap dan lebih dewasa.

Hartini (2001:114) dalam penelitiannya pada anak-anak panti asuhan di Jawa Timur menemukan bahwa : Lima puluh dua persen anak-anak panti asuhan cenderung menunjukkan kesulitan dalam penyesuaian sosialnya yang menggambarkan adanya kebutuhan psikologis untuk dapat menyesuaikan diri dengan tata cara atau aturan lingkungannya. Tami (bukan nama sebenarnya) . Remaja yang tinggal di panti asuhan menemui banyak aturan yang harus ditaati oleh remaja tersebut. Bagi remaja yang tidak dapat menyesuaikan diri dengan baik cenderung menjadi anak yang rendah diri. Penyesuaian diri menuntut kemampuan remaja untuk hidup dan bergaul secara wajar terhadap lingkungannya. dengan demikian remaja dapat mengadakan interaksi yang seimbang antara diri dan kesempatan ataupun hambatan di dalam lingkungan. tertutup. tidak dapat menerima dirinya sendiri dan kelemahan-kelemahan orang lain. yang dialami Musa (bukan nama sebenarnya) bahwa dirinya masih merasa kesulitan untuk meyesuaikan diri dengan aturan dan teman di panti asuhan meski sudah tinggal selama lebih dari dua tahun. sehingga remaja merasa puas terhadap dirinya dan terhadap lingkungannya. serta merasa malu jika berada diantara orang lain atau situasi yang terasa asing baginya. Contohnya. juga merasa bosan tinggal di panti karena sering diejek teman-temannya. Hal ini menunjukkan bahwa kehidupan panti tersebut terlalu kaku dan kurang memperhatikan pemenuhan kebutuhan psikologis dan sosial para penghuninya. Hal ini seringkali membuat remaja merasa kesulitan untuk menyesuaikan diri dengan aturan yang ada dan merasa kurang bebas. sehingga seringkali remaja melanggar aturan yang ada.3 sendiri tetapi juga pada lingkungannya.

tekanan tersebut tidak jarang dilampiaskan dalam kehidupan di panti asuhan karena pantilah yang menjadi lingkungan hidup sehari-hari. Pada remaja panti asuhan. pasif. sehingga anak panti asuhan akan sulit menjalin hubungan sosial dengan orang lain. Keadaan panti yang membosankan dan adanya peraturan yang ketat membuat remaja merasa terkekang. Fadli (bukan nama sebenarnya) merasa bosan bila mengerjakan jadwal piket. Irfan sering pura-pura ketiduran jika mendapat giliran piket. Disamping itu. baik dengan teman atau dengan orang yang tidak dikenalnya. mudah putus asa. remaja tersebut dituntut untuk dapat menyesuaikan diri dengan baik di lingkungannya. anak-anak tersebut menunjukkan perilaku yang negativis. menarik diri. Seseorang dapat menyesuaikan diri terhadap lingkungan sosialnya jika ia memiliki keterampilan sosial dan mampu berhubungan dengan orang lain. apatis. Misbah (bukan nama sebenarnya) sering terlambat sekolah karena bangun kesiangan dan terkadang merasa malas berangkat sekolah karena uang sakunya kurang. remaja menjadi berontak atau tidak mematuhi semua aturan dan merasa kurang bebas. .4 kadang-kadang berbohong pada pengasuh jika ingin main ke rumah teman sepulang sekolah dengan alasan ada tugas belajar kelompok. menunjukkan rasa bermusuhan dan lebih egosentrisme. takut melakukan kontak dengan orang lain. Hartini (2001:117) membuktikan bahwa anak yang tinggal di panti asuhan mengalami banyak problem psikologis dengan karakter sebagai berikut : Kepribadian yang inferior. Keterampilan sosial ini kurang dimilliki oleh individu yang tinggal di panti asuhan. Sama halnya dengan Irfan (bukan nama sebenarnya) juga merasa bosan dengan jadwal piketnya. Oleh karena itu. Adanya tekanan tersebut. penuh dengan ketakutan dan kecemasan. lebih suka sendirian.

Umi (bukan nama sebenarnya) tidak percaya diri. SH (Ketua Panti Asuhan Al Bisri Semarang) mengatakan bahwa ada anak-anak panti asuhan yang berperilaku sesuka hatinya seperti sering meledek teman. Banyak diantara mereka yang suka bersitegang. Shokis. kurang percaya diri dan lebih suka sendirian. tidak suka berkumpul dengan teman-teman yang lain. cenderung memiliki sifat rendah diri. yaitu inferior. serta ada yang sulit untuk mengikuti kegiatan seperti piket. ada yang cenderung pendiam. mengaji dan kerja bakti.M. dirinya menganggap semua temannya sadis karena suka mengganggunya. Misalnya. Hal ini menunjukkan bahwa sebagian besar anak Panti Asuhan Al Bisri Semarang tersebut memiliki tingkat penyesuaian diri yang kurang. Nurma juga merasa takut selama tinggal di panti asuhan.5 Penulis juga menemukan karakteristik yang menunjukkan bahwa remaja di Panti Asuhan Al Bisri Semarang cenderung mempunyai sifat yang sama. merasa takut dan cemas. . cenderung menjadi pendiam dan pemalu. kaku dalam bergaul. Rosi (bukan nama sebenarnya) berusia 16 tahun sering bertengkar dengan temannya di panti asuhan dan pernah bertengkar dengan temannya di sekolah. shalat. Nurma (bukan nama sebenarnya) berusia 13 tahun. H. berkata jorok dan bertengkar. suka bersitegang. Contohnya. rendah diri. tertutup dan merasa takut. Nurma merasa malu karena mengganggap bahwa dirinya terjelek diantara teman-temannya. merasa bahwa dirinya mengalami kesulitan untuk menyesuaikan diri dengan orang lain. saling mengejek dan bertengkar. seperti suka mengganggu teman.

menarik diri. sehingga cenderung menarik diri dan lebih bersikap defensif dalam pergaulan. kurang responsif terhadap orang lain dan merasa rendah diri. Dengan demikian jelas terlihat bahwa remaja yang tinggal di panti asuhan secara umum mempunyai kecenderungan kurang mampu menyesuaikan diri dengan baik terhadap lingkungannya. khususnya saat berhadapan dengan orang lain yang masih baru. Lain lingkungan sosial lain pula pengalaman interaksi sosial yang diperoleh remaja. Sehubungan dengan adanya kondisi-kondisi khusus seperti kurangnya perhatian pengasuh. kurangnya fasilitas fisik. Akibatnya. terlalu ketatnya disiplin dan aturan yang dijalankan serta harus mengikuti kegiatan keagamaan dan program keterampilan yang diikuti oleh remaja tersebut.6 Diungkapkan lebih lanjut berdasarkan wawancara yang dilakukan oleh peneliti bahwa remaja panti asuhan yang sudah lama tinggal di panti biasanya memiliki relasi yang dekat dengan teman-teman di panti dan pengasuhnya. namun tetap saja remaja seringkali menunjukkan perilaku malu-malu. pasif. Walaupun esensi dari panti asuhan adalah menggantikan yang hilang dari orang tua melalui para pengasuh tetapi kenyataan ini sering sulit dicapai secara memuaskan. pencemas. Remaja di panti asuhan bergaul dan berhadapan dengan para pengasuh yang mempunyai peranan sebagai pengganti orang tua. Interaksi sosial yang dialami oleh remaja yang tinggal di panti asuhan berbeda dengan yang tinggal di keluarga biasa. . dalam mengadakan hubungan dengan lingkungan sekitarnya memungkinkan remaja tersebut cenderung menampakkan sikap pendiam.

Rutter dalam Monks.7 Manusia sebagai makhluk sosial akan selalu membutuhkan kehadiran orang lain dalam hidup. bantuan maupun kasih sayang membuatnya akan memiliki pandangan positif terhadap diri dan lingkungannya. Jika individu merasa didukung oleh lingkungannya. terutama anak-anak di tempat ini tidak mengalami suasana keibuan. Dukungan sosial yang diterima seseorang dalam lingkungannya. Dengan adanya pandangan positif terhadap diri dan lingkungannya. Oleh karena itu. penghargaan. individu membutuhkan individu lain yang dapat memberi dukungan sosial. segala sesuatu dapat menjadi lebih mudah pada saat mengalami kejadian-kejadian yang menegangkan (Smet. baik berupa dorongan semangat. dkk . perhatian. seseorang akan mampu menerima kehidupan yang dihadapi serta mempunyai sikap pendirian dan pandangan hidup yang jelas. Bowlby dalam Dagun (2002:8) mengecam dan mengkritik lembagalembaga rumah yatim piatu yang dianggapnya sebagai tempat yang tidak menumbuhkan perilaku sosial dan emosional pada anak. Hartini (2001:114) dalam penelitiannya menemukan bahwa 77 persen anak-anak panti asuhan di Jawa Timur mempunyai kebutuhan psikologis untuk mendapatkan dorongan dan dukungan dari lingkungannya. Dukungan yang diberikan dimaksudkan agar remaja terhindar dari problem psikologis seperti yang ditampakkan di atas. 1994:133). Adanya dukungan sosial bagi remaja di panti asuhan merupakan salah satu cara untuk mengatasi hambatan dalam penyesuaian dirinya. sehingga mampu hidup di tengah-tengah masyarakat luas secara harmonis.

8 (2002:96) mengatakan bahwa kasih sayang ibu mutlak diperlukan untuk menjamin suatu perkembangan psikis yang sehat pada anak. jumlah orang dewasa yang bersedia mengurus. dkk (1989:118) bahwa anak yang tumbuh di lingkungan panti asuhan lebih tergantung. dkk. Perbandingan antara jumlah pengasuh dan anak asuh yang tidak seimbang menyebabkan remaja kurang merasakan perhatian. memberi perawatan. pemberian kasih sayang ini tidak harus berasal dari ibu secara biologis. kasih sayang.. Hal . perhatian. stimulasi intelektual dan pembentukan nilai merupakan faktor yang penting dalam perkembangan anak (Mussen. 1989:138). Remaja tersebut ada yang masih ragu dan takut dalam menjalin hubungan dengan pengasuh. Dukungan sosial kurang bisa secara maksimal diberikan pada remaja panti asuhan disebabkan oleh berbagai faktor. Remaja yang tinggal di panti asuhan berkembang dengan bimbingan dan perhatian dari pengasuh yang berfungsi sebagai pengganti orang tua dalam keluarga. bisa juga dari orang lain atau ibu pengganti. lebih banyak membutuhkan perhatian dari orang dewasa dan lebih mengganggu di sekolah dibandingkan anak yang dirawat di rumah. kasih sayang dan bimbingan. Beberapa remaja menyatakan bahwa pengasuh tidak pernah memberikan pujian atas prestasi atau hasil pekerjaannya. antara lain adalah rasio jumlah anak asuh dengan pengasuh sangat tidak seimbang. Padahal pada kenyataannya menurut Rutter dalam Mussen. remaja yang jumlahnya sangat banyak tentu menghambat pemberian dukungan sosial secara individu. Bagi remaja yang tinggal di panti asuhan.

Apabila remaja panti asuhan mendapat cukup banyak dukungan sosial dari lingkungannya dalam bentuk apapun akan membuatnya mampu mengembangkan kepribadian yang sehat dan memiliki pandangan positif. Banyak remaja panti asuhan yang menyatakan bahwa uang saku sekolahnya hanya cukup untuk biaya transportasi saja dan tidak bisa membeli jajan. Bagi remaja panti asuhan. Selain dukungan sosial yang berasal dari pengasuh. Teman-teman yang berada di lingkungan panti asuhan kurang bisa saling memberi dukungan sosial disebabkan karena sama-sama membutuhkan perhatian lebih. Dukungan sosial tersebut remaja dapatkan dari pengasuh dan teman-teman sesama penghuni panti asuhan. hubungan individual secara hangat dan harmonis belum terpenuhi secara baik. sehingga sulit sekali untuk bisa saling memberi bimbingan positif.9 tersebut menunjukkan bahwa remaja yang tinggal di panti asuhan kurang mendapatkan perhatian. sehingga dirinya memiliki kemampuan untuk mengadakan penyesuaian diri secara harmonis. . baik terhadap diri sendiri maupun lingkungan. lingkungan panti asuhan merupakan lingkungan sosial utama yang dikenalnya dan merupakan sumber dukungan sosial yang utama. remaja di panti asuhan juga mendapat dukungan sosial dari teman-temannya sesama penghuni panti asuhan. Dukungan sosial dari teman-teman di panti asuhan juga terbentur oleh beberapa hal. Dukungan dalam bentuk materi juga kurang terpenuhi.

C. Perumusan Masalah Rumusan permasalahan dalam penelitian ini adalah : 1. penulis ingin mengadakan penelitian tentang Hubungan Antara Dukungan Sosial Dengan Penyesuaian Diri Remaja di Panti Asuhan Al Bisri Semarang. Bagaimana gambaran tentang dukungan sosial di Panti Asuhan Al Bisri Semarang. 2. Bagaimana gambaran tentang penyesuaian diri remaja di Panti Asuhan Al Bisri Semarang. Istilah yang perlu dijelaskan dalam penelitian ini adalah : 1. Apakah ada hubungan antara dukungan sosial dengan penyesuaian diri remaja di Panti Asuhan Al Bisri Semarang. Penegasan Istilah Ada beberapa istilah yang digunakan dalam penelitian ini dan perlu diberikan penjelasan. baik secara aktif maupun pasif yang melibatkan respon mental dan tingkah . 3.10 Berdasarkan berbagai uraian di atas. B. Ini dilakukan dengan maksud menghindari kemungkinan terjadinya interpretasi makna dalam menggunakan istilahistilah dalam penelitian. Penyesuaian diri remaja di panti asuhan Penyesuaian diri merupakan suatu usaha yang dilakukan oleh remaja untuk mempertemukan tuntutan diri sendiri dengan lingkungan.

Sumber dukungan sosial bagi remaja di panti asuhan dalam penelitian ini diperoleh dari pengasuh dan teman-teman sesama penghuni Panti Asuhan Al Bisri Semarang. . sehingga tercapai hubungan yang harmonis antara diri dengan lingkungannya yaitu panti asuhan. 2. Tujuan Penelitian Tujuan dari penelitian ini adalah : 1. perhatian emosi. Penyesuaian diri yang menjadi subjek dalam penelitian ini adalah penyesuaian diri remaja di Panti Asuhan Al Bisri Semarang. penilaian dan bantuan instrumental yang diperoleh individu melalui interaksi dengan lingkungan. Untuk mengetahui bagaimana gambaran tentang penyesuaian diri remaja di Panti Asuhan Al Bisri Semarang. 2. sehingga dapat membantu individu dalam mengatasi masalahnya. dimana hal itu memiliki manfaat emosional atau efek perilaku bagi penerima. Dukungan sosial Dukungan sosial merupakan hubungan interpersonal yang di dalamnya berisi pemberian bantuan yang melibatkan aspek-aspek yang terdiri dari informasi. yang usianya berkisar antara 13 sampai 18 tahun. D.11 laku. Untuk mengetahui bagaimana gambaran tentang dukungan sosial di Panti Asuhan Al Bisri Semarang.

E. abstrak. daftar isi. Manfaat Penelitian Melalui penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat sebagai berikut : 1. Untuk mengetahui ada tidaknya hubungan antara dukungan sosial dengan penyesuaian diri remaja di Panti Asuhan Al Bisri Semarang. dimana dukungan sosial merupakan salah satu hal yang dapat mempengaruhi tingkat penyesuaian diri remaja di panti asuhan. Remaja panti asuhan dapat menyesuaikan diri secara harmonis. kata pengantar. Sistematika Skripsi Sistematika dalam skripsi ini terdiri dari tiga pokok yaitu : Bagian Awal Skripsi Berisi halaman judul. Sebagai masukan bagi panti asuhan yang dapat dijadikan pertimbangan dalam memberikan perlakuan bagi anak asuhnya. daftar gambar. b. khususnya mengenai penyesuaian diri remaja di panti asuhan dalam kaitannya dengan dukungan sosial. daftar grafik dan daftar lampiran. halaman pengesahan. daftar tabel. 2.12 3. Manfaat Teoritis Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan sumbangan yang berarti bagi perkembangan ilmu Psikologi Perkembangan. F. baik yang berhubungan dengan diri maupun lingkungan sosialnya. Manfaat Praktis a. . motto dan persembahan.

Bagian Akhir Skripsi Pada bagian ini berisi daftar pustaka dan lampiran-lampiran. jenis-jenis dukungan sosial dan sumber dukungan sosial. penegasan istilah. berisi tentang jenis penelitian. Bab II Landasan Teori dan Hipotesis.13 Bagian Isi Skripsi Bab I Pendahuluan. Dukungan sosial yang menguraikan tentang pengertian dukungan sosial. memuat teori-teori yang dijadikan landasan penulisan dalam penelitian ini. Pada bab ini terdapat tinjauan pustaka. variabel penelitian. . aspek-aspek penyesuaian diri. deskripsi data penelitian. validitas dan reliabilitas. tujuan penelitian. perumusan masalah. prosedur pengumpulan data. Bab III Metodologi Penelitian. meliputi penyesuaian diri yang menguraikan tentang pengertian penyesuaian diri. pelaksanaan uji coba dan teknik analisis data. Bab IV Hasil Penelitian dan Pembahasan. populasi. hasil penelitian dan pembahasan. yang berisi kesimpulan dan saran. sampel dan teknik sampling. manfaat penelitian dan sistematika skripsi. yang berisi tentang hasilhasil penelitian yang meliputi persiapan penelitian. metode pengumpulan data. yang berisi tentang latar belakang masalah. pelaksanaan penelitian. faktor-faktor penyesuaian diri dan penyesuaian diri yang baik. Bab V Penutup.

Apabila remaja tidak dapat menyesuaikan diri dengan lingkungannya maka remaja akan memiliki sikap negatif dan tidak bahagia. lingkungan panti asuhan merupakan lingkungan sosial yang utama dalam mengadakan penyesuaian diri. Selain mengadakan kontak sosial.14 BAB II LANDASAN TEORI Individu memerlukan interaksi dengan lingkungan sosialnya karena dalam lingkungan sosial individu dapat berkembang dan menyesuaikan diri. sehingga menumbuhkan rasa aman dan bahagia yang penting dalam penyesuaian diri. Individu dalam perkembangannya membutuhkan orang lain. hubungan antara dukungan sosial dengan penyesuaian diri remaja di panti asuhan akan diuraikan pada bab ini. membuat remaja memiliki pandangan positif terhadap diri dan lingkungan. Dukungan sosial yang diterima remaja dari lingkungannya. Untuk lebih jelasnya. Bagi remaja yang tinggal di panti asuhan. Interaksi antara individu dan lingkungan sosialnya bersifat timbal balik. bantuan dan kasih sayang. penghargaan. remaja membutuhkan dukungan dari lingkungan. baik berupa dorongan semangat. Hal tersebut perlu diperhatikan oleh panti asuhan sebagai lingkungan pengganti keluarga dalam memberikan perlakuan dan pemenuhan kebutuhan remaja agar dapat mengembangkan kepribadian yang sehat. perhatian. 14 .

kemarahan dan lainlain emosi negatif sebagai respon pribadi yang tidak sesuai dan kurang efisien bisa dikikis habis (Kartono. iri hati.15 A. Penyesuaian diri adalah interaksi yang terus menerus dengan diri sendiri. pikiran dan perasaan untuk mengahadapi segala sesuatu setiap saat. prasangka. orang lain dan lingkungan. Dari diri sendiri maksudnya adalah total kesiapan tubuh. sehingga rasa permusuhan. juga dapat mengatasi berbagai masalah yang menimbulkan ketidaknyamanan dalam hidup bersama orang lain. Penyesuaian Diri Remaja di Panti Asuhan 1. Sedangkan lingkungan adalah penglihatan dan penciuman serta suara si sekitar individu yang dijalani sebagai urusan individu (Calhoun dan Acocella. Interaksi antara individu dengan orang lain dan lingkungannya bersifat timbal balik dan secara konstan saling mempengaruhi. 2000:259). depresi. . dengki. tingkah laku. 1995:14). Orang lain maksudnya adalah bahwa secara nyata mereka memiliki pengaruh terhadap individu. Setiap individu selalu melakukan penyesuaian diri. Pengertian Penyesuaian Diri Kehidupan merupakan proses penyesuaian diri yang berkesinambungan. Penyesuaian Diri a. Penyesuaian diri adalah usaha manusia untuk mencapai harmoni pada diri sendiri dan pada lingkungan. Individu selain dapat mengatasi masalahnya sendiri.

. Hal ini disebabkan oleh adanya dorongan untuk mengatasi hambatan-hambatan dalam mengaktualisasikan diri di lingkungan. khawatir dan marah apabila mendapat suatu tekanan dari lingkungan. Penyesuaian diri dengan diri sendiri adalah bagaimana individu mempersepsi dirinya sendiri. kejiwaan dan alam sekitarnya.16 Fahmi (1977:24) mengatakan bahwa penyesuaian diri adalah proses dinamis terus-menerus yang bertujuan untuk mengubah perilaku guna mendapatkan hubungan yang lebih serasi antara diri dan lingkungannya. Davidoff (1991:176) mendefinisikan penyesuaian diri sebagai proses usaha untuk mempertemukan tuntutan diri sendiri dengan lingkungan.psikologi. Pendapat Fahmi senada dengan Mu’tadin (www.com) yang menyatakan bahwa penyesuaian diri merupakan suatu proses dinamis yang bertujuan untuk mengubah perilaku individu agar terjadi hubungan yang lebih sesuai antara diri individu dengan lingkunganya. Penyesuaian diri dengan lingkungan dimaksud sebagai bagaimana individu mempersepsi dan bersikap terhadap realitas yang ada. Individu yang mempunyai penyesuaian diri yang baik dapat mengendalikan perasaan cemas. Kehidupan ini sendiri secara alamiah juga mendorong manusia untuk terus-menerus menyesuaikan diri. Manusia dituntut untuk menyesuaikan diri dengan lingkungan sosial. potensi-potensi yang dimiliki dan tingkat kepuasan akan hasil atau pengalaman yang diperoleh.

. Individu yang mampu menyesuaikan diri dengan baik akan mampu mencari sisi positif dari hal baru yang dimilikinya. kreatif dalam mengolah kondisi serta mampu mngendalikan diri. Adanya hal-hal tersebut membuat individu akan lebih mudah diterima oleh lingkungan. Penyesuaian diri dapat diperoleh melalui proses belajar memahami. penyesuaian diri dapat bersifat pasif yaitu kegiatan individu ditentukan oleh lingkungan dan dapat bersifat aktif yaitu kegiatan individu mempengaruhi lingkungan. Jadi. yaitu individu berusaha keras agar mampu mengatasi konflik dan frustrasi karena terhambatnya kebutuhan dalam dirinya. mengerti dan berusaha melakukan apa yang diinginkan individu maupun lingkungannya. sehingga tercapai keselarasan dan keharmonisan antara tuntutan dalam diri dan tuntutan dari lingkungan (Schneiders dalam Pramadi. sikap dan perilakunya. Karena lingkungan dan keinginan individu yang selau berubah. Penyesuaian diri merupakan proses yang mencakup respon mental dan tingkah laku.17 Gerungan (1996:55) menyatakan bahwa penyesuaian diri berarti mengubah diri sesuai dengan keadaan lingkungan (autoplastis) dan mengubah lingkungan sesuai dengan keinginan diri (alloplastis). maka penyesuaian diri sifatnya selalu dinamis antara autoplastis dan alloplastis. 1996:334).

kurang dan keluhan terhadap nasib yang dialaminya. Penyesuaian pribadi yang baik atau buruk pada prinsipnya dilandasi oleh sikap dan pandangan terhadap diri dan lingkungan. cemas. Aspek-Aspek Penyesuaian Diri Fahmi (1982:20) mengemukakan aspek-aspek penyesuaian diri yang terdiri dari : 1) Penyesuaian pribadi Penyesuaian pribadi adalah penerimaan individu terhadap dirinya sendiri. b. remaja yang dapat menyesuaikan diri dengan baik akan merasa aman. baik keadaan fisik maupun keadaan psikis. Penyesuaian pribadi berhubungan dengan konflik. Sebaliknya. tidak puas. memiliki sikap dan pandangan positif. baik secara aktif maupun pasif yang melibatkan respon mental dan tingkah laku. bahagia. kehidupan kejiwaannya ditandai oleh kegoncangan emosi atau kecemasan yang menyertai rasa bersalah. Remaja yang mengalami penyesuaian pribadi yang buruk. tekanan dan keadaan dalam diri individu.18 Berdasarkan beberapa pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa penyesuaian diri merupakan suatu usaha yang dilakukan oleh individu untuk mempertemukan tuntutan diri sendiri dengan lingkungan. . sehingga tercapai hubungan yang harmonis antara diri dengan lingkungannya.

com) mengatakan bahwa pada dasarnya penyesuaian diri memiliki dua aspek yaitu : 1) Penyesuaian pribadi Penyesuaian pribadi adalah kemampuan individu untuk menerima dirinya sendiri.19 2) Penyesuaian sosial Penyesuaian sosial terjadi dalam lingkup hubungan sosial tempat individu hidup dan berinteraksi. sehingga . hukum. Proses yang harus dilakukan individu dalam penyesuaian sosial adalah kemauan untuk mematuhi norma dan peraturan sosial kemasyarakatan. apa kelebihan dan kekurangannya serta mampu bertindak objektif sesuai dengan kondisi dirinya tersebut. Individu menyadari sepenuhnya siapa dirinya sebenarnya. sehingga tercapai hubungan yang harmonis antara dirinya dengan lingkungan sekitarnya.psikologi. Mu’tadin (www. 2) Penyesuaian sosial Penyesuaian sosial terjadi dalam lingkup hubungan sosial tempat individu berinteraksi dengan orang lain. Individu bertingkah laku menurut sejumlah aturan. adat dan nilai-nilai yang mereka patuhi untuk mencapai penyelesaian bagi persoalan-persoalan hidup agar dapat tetap bertahan dalam jalan yang sehat dari segi kejiwaan dan sosial. Dalam proses penyesuaian sosial individu mulai berkenalan dengan kaidah dan peraturan yang ada lalu mematuhinya.

sehingga merasa aman. sehingga ia mampu mengatasi konflik dan .20 menjadi bagian dari pembentukan jiwa sosial pada dirinya dan menjadi pola tingkah laku kelompok. mempunyai sikap tanggung jawab. Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa aspek-aspek penyesuaian diri adalah sebagai berikut : 1) Penyesuaian pribadi Penyesuaian pribadi merupakan kemampuan individu untuk menerima dirinya. mempunyai kemampuan untuk memahami dan mengontrol diri sendiri. berfikir dengan menggunakan rasio. harmonis dan seimbang. Kartono (2000:270) mengungkapkan aspek-aspek penyesuaian diri yang meliputi : 1) Memiliki perasaan afeksi yang adekuat. 3) Mempunyai relasi sosial yang memuaskan ditandai dengan kemampuan untuk bersosialisasi dengan baik dan ikut berpartisipasi dalam kelompok. 2) Memiliki kepribadian yang matang dan terintegrasi baik terhadap diri sendiri maupun orang lain. 4) Mempunyai struktur sistem syaraf yang sehat dan memiliki kekenyalan (daya lenting) psikis untuk mengadakan adaptasi. Melalui norma dalam masyarakat individu dituntut untuk dapat bekerjasama dan berinteraksi dengan individu dan kelompok lainnya. baik budi pekertinya dan mampu bersikap hati-hati.

baik dengan pengasuh maupun teman-teman sesama penghuni panti asuhan.21 tekanan dan menjadi pribadi yang matang. sehingga ia mampu menjalin relasi sosial dengan baik dan mampu menyesuaikan diri dengan lingkungannya. Dalam penelitian ini penyesuaian sosial terjadi dalam lingkup hubungan sosial tempat remaja hidup dan berinteraksi yaitu panti asuhan. Sedangkan indikator-indikator untuk penyesuaian sosial adalah : a) Memiliki hubungan interpersonal yang baik b) Memiliki simpati pada orang lain c) Mampu menghargai orang lain d) Ikut berpartisipasi dalam kelompok e) Mampu bersosialisasi dengan baik sesuai norma yang ada . bertanggungjawab dan mampu mengontrol diri sendiri. Adapun indikator-indikator secara rinci dari penyesuaian pribadi adalah sebagai berikut : a) Penerimaan individu terhadap diri sendiri b) Mampu menerima kenyataan c) Mampu mengontrol diri sendiri d) Mampu mengarahkan diri sendiri 2) Penyesuaian sosial Penyesuaian sosial merupakan kemampuan individu untuk mematuhi norma dan peraturan sosial yang ada.

peristiwa dan kehidupan. yaitu kecenderungan remaja untuk berperilaku positif atau negatif. motif berprestasi dan motif mendominasi. d) Faktor sikap remaja. Remaja yang bersikap positif terhadap segala sesuatu yang dihadapi akan lebih memiliki peluang untuk melakukan penyesuaian diri yang baik dari pada remaja yang sering bersikap negatif. . yaitu bagaimana remaja memandang dirinya sendiri. dkk (1995:110) dikelompokkan menjadi dua bagian yaitu faktor internal dan faktor eksternal. secara garis besar faktor-faktor yang mempengaruhi penyesuaian diri remaja menurut Hariyadi. b) Faktor konsep diri remaja. sosial maupun aspek akademik. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Penyesuaian Diri Penyesuaian diri dipengaruhi oleh banyak faktor. yaitu motif-motif sosial seperti motif berafiliasi. pesimis ataupun kurang yakin terhadap dirinya. yaitu pengamatan dan penilaian remaja terhadap objek. baik dari aspek fisik. Remaja dengan konsep diri tinggi akan lebih memiliki kemampuan untuk melakukan penyesuaian diri yang menyenangkan dibanding remaja dengan konsep diri rendah. psikologis. 1) Faktor internal a) Faktor motif.22 c. c) Faktor persepsi remaja. baik melalui proses kognisi maupun afeksi untuk membentuk konsep tentang objek tersebut.

intelegensi merupakan modal untuk menalar. . pengaruhnya akan lebih nyata bila remaja telah memiliki minat terhadap sesuatu.23 e) Faktor intelegensi dan minat. sehingga dapat menjadi dasar dalam melakukan penyesuaian diri. Hampir setiap remaja memiliki teman-teman sebaya dalam bentuk kelompok. 2) Faktor eksternal a) Faktor keluarga terutama pola asuh orang tua. Pada dasarnya pola asuh demokratis dengan suasana keterbukaan akan lebih memberikan peluang bagi remaja untuk melakukan proses penyesuaian diri secara efektif. c) Faktor kelompok sebaya. Manganalisis. b) Faktor kondisi sekolah. maka proses penyesuaian diri akan lebih cepat. Kondisi sekolah yang sehat akan memberikan landasan kepada remaja untuk dapat bertindak dalam penyesuaian diri secara harmonis. Kelompok teman sebaya ini ada yang menguntungkan pengembangan proses penyesuaian diri tetapi ada pula yang justru menghambat proses penyesuaian diri remaja. Ditambah faktor minat. pada prinsipnya tipe kepribadian ekstrovert akan lebih lentur dan dinamis. f) Faktor kepribadian. sehingga lebih mudah melakukan penyesuaian diri dibanding tipe kepribadian introvert yang cenderung kaku dan statis.

sukar diatur. moral dan emosional. Sunarto dan Hartono (1994:188) mengemukakan faktor-faktor yang mempengaruhi penyesuaian diri yaitu : 1) Kondisi fisik Kondisi fisik termasuk di dalamnya keturunan. prasangka semacam itu jelas akan menjadi kendala dalam proses penyesuaian diri remaja. Penyesuaian diri pada tiap-tiap individu akan bervariasi sesuai dengan tingkat perkembangan dan kematangan yang dicapainya. misalnya memberi label remaja negatif. susunan syaraf. . nakal. e) Faktor hukum dan norma sosial. 2) Perkembangan dan kematangan. suka menentang orang tua dan lain-lain. konstitusi fisik.24 d) Faktor prasangka sosial. sosial. Kualitas penyesuian diri yang baik hanya dapat diperoleh dan dipelihara dalam kondisi kesehatan fisik yang baik. kesehatan. penyakit dan sebagainya. Adanya kecenderungan sebagian masyarakat yang menaruh prasangka terhadap para remaja. kelenjar dan sistem otot. Bila suatu masyarakat benarbenar konsekuen menegakkan hukum dan norma-norma yang berlaku maka akan mengembangkan remaja-remaja yang baik penyesuaian dirinya. khususnya kematangan intelektual.

. kebutuhan-kebutuhan. akan tata kultural dimana pola di individu berada dan menentukan cara penyesuaian panti dirinya. kepribadian. belajar. kondisi fisik. intelegensi. sikap. determinasi diri. pengertian dan mampu memberi perlindungan kepada nggota-anggotanya merupakan lingkungan yang akan memperlancar proses penyesuaian diri. diantaranya yaitu pengalaman. 5) Penentu kultural Lingkungan berinteraksi Contohnya. minat.25 3) Penentu psikologis Banyak sekali faktor psikologis yang mempengaruhi proses penyesuaian diri. 4) Kondisi lingkungan Keadaan lingkungan yang damai. akan kehidupan asuhan mempengaruhi bagaimana remaja menempatkan diri dan bergaul dengan orang lain di sekitarnya. psikologis (diantaranya yaitu pengalaman. kebutuhan-kebutuhan. Pendapat mengenai faktor-faktor yang mempengaruhi penyesuaian diri yang dikemukakan di atas dapat disimpulkan bahwa penyesuaian diri dipengaruhi oleh faktor internal dan faktor eksternal. 1) Faktor internal Yaitu faktor yang berasal dari dalam diri individu yang meliputi motif. belajar. tentram. penuh penerimaan. persepsi. konsep diri. frustrasi dan konflik. determinasi diri.

penyesuaian diri yang positif menurut Hariyadi. kemampuan yang ada pada dirinya dan kenyataan objektif di luar dirinya. dkk (1995:106) ditandai oleh : 1) Kemampuan menerima dan memahami diri sebagaimana adanya. d. tidak dihantui oleh kecemasan dan ketakutan. 8) Dapat bertindak sesuai dengan norma yang berlaku. 4) Kemampuan bertindak secara dinamis. 6) Bersifat terbuka dan sanggup menerima umpan balik. luwes dan tidak kaku. Penyesuaian Diri yang Baik Penyesuaian diri secara positif pada dasarnya merupakan gejala perkembangan yang sehat. sehingga menimbulkan rasa aman. moral. sekolah. seperti lingkungan keluarga. 7) Memiliki kestabilan psikologis terutama kestabilan emosi. 2) Faktor eksternal Yaitu faktor yang berasal dari lingkungan atau dari luar individu.26 frustrasi dan konflik). 3) Kemampuan bertindak sesuai dengan potensi. 5) Rasa hormat pada sesama manusia dan mampu bertindak toleran. sosial dan emosional). . 2) Kemampuan menerima dan menilai kenyataan lingkungan di luar dirinya secara objektif. teman sebaya dan masyarakat. serta selaras dengan hak dan kewajibannya. perkembangan dan kematangan (intelektual.

Kadangkala karena paksaan dan kesempatan dari lingkungan. Apabila individu mampu mengetahui dan mengerti dirinya sendiri dengan cara realistis maka ia dapat menyadari keseluruhan potensi dalam dirinya. dia . Ketika seseorang marah. Dukungan dari orang di sekitar dapat membantu individu dalam menghadapi masalahnya. individu seringkali mengubah dan memodifikasi tujuannya dan ini berlangsung terus-menerus dalam kehidupannya. Individu yang memiliki penyesuaian diri yang baik akan belajar untuk membagi stres dan kecemasannya pada orang lain. 3) Dapat menilai diri sendiri secara positif Individu harus dapat mengenali kelemahan diri sebaik mengenal kelebihan diri.27 Heber dan Runyon (1983) dalam Hutabarat (2004:73) menyebutkan beberapa tanda pengenal penyesuaian diri yang sehat yaitu : 1) Persepsi yang tepat tentang kenyataan atau realitas Individu yang penyesuaian dirinya baik akan merancang tujuan secara realitas dan secara aktif ia akan mengikutinya. 4) Mampu mengekspresikan emosi dalam diri sendiri Emosi yang ditampilkan individu realistis dan secara umum berada di bawah kontrol individu. 2) Mampu mengatasi stres dan ketakutan dalam diri sendiri Satu hal penting dalam penyesuaian diri adalah seberapa baik individu mengatasi kesulitan. masalah dan konflik dalam hidupnya.

Individu yang memiliki kematangan emosional mampu untuk membina dan memelihara hubungan interpersonal dengan baik. baik secara psikologis maupun fisik. demikian pula sebaliknya individu menghargai orang lain. Sunarto dan Hartono (1994:184) menggolongkan individu yang mampu menyesuaikan diri secara positif ditandai hal-hal sebagai berikut : 1) Tidak menunjukkan adanya ketegangan emosional 2) Tidak menunjukkan adanya mekanisme-mekanisme psikologis 3) Tidak menunjukkan adanya frustrasi pribadi 4) Memiliki pertimbangan rasional dan pengarahan diri 5) Mampu dalam belajar 6) Menghargai pengalaman 7) Bersikap realistik dan objektif . 5) Memiliki hubungan interpersonal yang baik Seseorang membutuhkan dan mencari kepuasan salah satunya dengan cara berhubungan satu sama lain. Individu yang penyesuaian dirinya baik mampu mencapai tingkatan yang tepat dari kedekatan dalam hubungan sosialnya.28 mampu mengekspresikan dengan cara yang tidak merugikan orang lain. Individu tersebut menikmati rasa suka dan penghargaan orang lain.

tidak ditunda-tunda. Apapun yang terjadi dihadapi secara wajar tidak menjadi frustrasi. sehingga dalam memecahkan masalah dengan menggunakan rasio dan dapat mengendalikan emosinya. 5) Dalam menghadapi masalah butuh kesanggupan membandingkan pengalaman diri sendiri maupun pengalaman orang lain. emosinya tetap tenang. sehingga dengan pengetahuan itu dapat digunakan menanggulangi timbulnya masalah. tidak panik.29 Sundari (2005:43) menyatakan bahwa seseorang dikatakan memiliki penyesuaian diri yang positif apabila ia dapat menunjukkan ciri-ciri sebagai berikut : 1) Tidak adanya ketegangan emosi Bila individu menghadapi masalah. 2) Dalam memecahkan masalah berdasarkan pertimbangan rasional. konflik maupun kecemasan. mengarah pada masalah yang dihadapi secara langsung dan mampu menerima segala akibatnya. 3) Dalam memecahkan masalah bersikap realistis dan objektif Bila seseorang menghadapi masalah segera dihadapi secara apa adanya. Pengalaman-pengalaman ini tidak sedikit sumbangannya dalam pemecahan masalah. . 4) Mampu belajar ilmu pengetahuan yang mendukung apa yang dihadapi.

30

Dari karakteristik penyesuaian diri yang baik menurut beberapa tokoh di atas maka dapat disimpulkan bahwa karakteristik penyesuaian diri yang baik pada individu antara lain : 1) Mampu menerima dan memahami diri sendiri 2) Mampu menerima dan menilai kenyataan secara objektif 3) Mampu bertindak sesuai potensi diri 4) Memiliki kestabilan psikologis 5) Memiliki pertimbangan rasional dan pengarahan diri 6) Mampu bertindak sesuai norma yang berlaku 7) Memiliki hubungan interpersonal yang baik 2. Remaja a. Pengertian Remaja Masa remaja adalah masa transisi dari masa kanak-kanak menuju masa dewasa yang diikuti dengan berbagai masalah yang ada karena adanya perubahan fisik, psikis dan sosial. Masa peralihan itu banyak menimbulkan kesulitan-kesulitan dalam penyesuaian terhadap dirinya maupun terhadap lingkungan sosial. Hal ini dikarenakan remaja merasa bukan kanak-kanak lagi tetapi juga belum dewasa dan remaja ingin diperlakukan sebagai orang dewasa (Hurlock, 1994:174). Menurut Piaget dalam Hurlock (1994:206) remaja didefinisikan sebagai usia ketika individu secara psikologis berinteraksi dengan masyarakat dewasa. Pada masa remaja, anak tidak lagi merasa di bawah tingkat orang-orang yang lebih tua melainkan berada pada

31

tingkat yang sama. Antara lain dalam masalah hak dan berintegrasi dalam masyarakat, termasuk juga perubahan intelektual yang mencolok dan transformasi intelektual yang khas. Awal masa remaja berlangsung kira-kira dari 13 tahun sampai 16 tahun dan akhir remaja bermula dari usia 16 sampai 18 tahun yaitu usia matang secara hukum. Anak remaja sebetulnya tidak mempunyai tempat yang jelas. Remaja tidak termasuk golongan anak, tetapi tidak pula termasuk golongan orang dewasa atau golongan tua. Remaja ada diantara anak dan orang dewasa. Remaja masih belum mampu untuk menguasai fungsi-fungsi fisik maupun psikisnya (Monks, dkk., 2002:259). Menurut Santrock (2002:7) remaja merupakan suatu periode dimana kematangan kerangka dan seksual terjadi secara pesat, terutama pada awal masa remaja. Masa remaja terjadi secara berangsur-angsur tidak dapat ditentukan secara tepat kapan permulaan dan akhirnya, tidak ada tanda tunggal yang menandai. Bagi anak lakilaki ditandai tumbuhnya kumis dan pada perempuan ditandai melebarnya pinggul. Hal ini dikarenakan pada masa ini hormonhormon tertentu meningkat secara drastis. Pada laki-laki hormon tertosteron yaitu suatu hormon yang berkait dengan perkembangan alat kelamin, pertambahan tinggi dan perubahan suara. Sedang pada perempuan hormon estradiol yaitu suatu hormon yang berkait dengan perkembangan buah dada, rahim dan kerangka pada anak perempuan.

32

Remaja ditinjau dari sudut perkembangan fisik, remaja dikenal sebagai suatu tahap perkembangan fisik dimana alat-alat kelamin manusia mencapai kematangan secara anatomis berarti alat kelamin khususnya dan keadaan tubuh pada umumnya memperoleh bentuknya yang sempurna dan secara faali alat kelamin tersebut sudah berfungsi secara sempurna pula (Wirawan, 2001:6). Dari beberapa pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa remaja merupakan individu yang telah mengalami kematangan secara anatomis dimana keadaan tubuh pada umumnya sudah memperoleh bentuk yang sempurna, hal tersebut berkisar antara usia 13 tahun sampai 18 tahun. b. Ciri-Ciri Remaja Rentang kehidupan individu pasti akan menjalani fase-fase perkembangan secara berurutan, meski dengan kecepatan yang berbeda-beda, masing-masing fase tersebut ditandai dengan ciri-ciri perilaku atau perkembangan tertentu, termasuk masa remaja juga mempunyai ciri tertentu. Ciri-ciri masa remaja (Hurlock, 1994:207) antara lain : 1) Periode yang penting Merupakan periode yang penting karena berakibat langsung terhadap sikap dan perilaku serta berakibat panjang.

6) Usia yang menimbulkan ketakutan Adanya anggapan remaja adalah anak-anak yang tidak rapi. 4) Usia bermasalah Masalah remaja sering sulit diatasi.33 2) Periode peralihan Pada periode ini status individu tidak jelas dan terdapat keraguan akan peran yang harus dilakukan. hal ini sering disebabkan selama masa anak-anak sebagian besar masalahnya diselesaikan oleh orang tua. sehingga tidak berpengalaman mengatasinya. 5) Mencari identitas Pada awal masa remaja penyesuaian diri dengan kelompok masih penting. Masa ini remaja bukan lagi seorang anak dan bukan orang dewasa. jika perubahan fisik terjadi secara pesat perubahan perilaku dan sikap juga berlangsung secara pesat. kemudian lambat laun mulai mendambakan identitas diri dan tidak puas lagi dengan menjadi sama dengan teman-teman sebayanya. tidak dapat dipercaya dan cenderung berperilaku merusak. membuat orang dewasa yang harus membimbing dan mengawasi . 3) Periode perubahan Perubahan sikap dan perilaku sejajar dengan perubahan fisik.

tugas perkembangan masa remaja menurut Havighurst dalam Hurlock (1994:10) adalah : 1) Mencapai hubungan baru dan yang lebih matang dengan temanteman sebaya baik pria maupun wanita. Akibat adanya kematangan seksual yang dicapai. para remaja mengadakan hubungan sosial terutama ditekankan pada hubungan relasi antara dua jenis kelamin. c. 7) Masa yang tidak realistis Remaja melihat dirinya sendiri dan orang lain sebagaimana yang ia ingikan dan bukan bagaimana adanya. Seorang remaja haruslah mendapat penerimaan dari kelompok teman sebaya agar . dengan adanya ciri-ciri tersebut dapat dijadikan sinyal oleh lingkungan supaya remaja diperlakukan sebagaimana mestinya. 8) Ambang masa dewasa.34 remaja menjadi takut bertanggungjawab dan bersikap tidak simpatik terhadap perilaku remaja yang normal. Seperti halnya masa-masa perkembangan yang lain. Remaja mulai bertindak seperti orang dewasa. Tugas Perkembangan Remaja Setiap rentang kehidupan mempunyai tugas perkembangan masing-masing termasuk masa remaja mempunyai tugas perkembangan. masa remaja juga mempunyai ciri-ciri tertentu yang harus dimiliki sebagai bekal menuju perkembangan berikutnya.

Dalam kelompok sejenis. Menjadi bangga atau sekurang-kurangnya toleran dengan tubuh sendiri serta menjaga. 4) Mengharapkan bertanggungjawab. 3) Menerima keadaan fisiknya dan menggunakan tubuhnya secara efektif. Seorang remaja mulai dituntut memiliki kebebasan emosional karena jika remaja mengalami keterlambatan akan menemui berbagai kesukaran pada masa dewasa. misalnya tidak . melindungi dan menggunakannya secara efektif. Yaitu mempelajari peran sosialnya masing-masing sebagai pria atau wanita dan dapat menjalankan perannya masing-masing sesuai dengan jenis kelamin masing-masing sesuai dengan norma yang berlaku. 2) Mencapai peran sosial pria atau wanita. Berpartisipasi sebagai orang dewasa yang dan mencapai perilaku sosial yang bertanggungjawab dalam kehidupan bermasyarakat. sedang dalam kelompok jenis kelamin lain remaja belajar menguasai keterampilan sosial. 5) Mencapai kemandirian emosional dari orang tua dan orang dewasa lainnya. remaja belajar untuk bertingkah laku sebagai orang dewasa.35 memperoleh rasa dibutuhkan dan dihargai.

maka akan menjadi modal dalam melakukan penyesuaian diri. Dengan telah terpenuhinya tugas perkembangan remaja. Jika seorang remaja berhasil mencapai tugas perkembangannya maka akan menimbulkan rasa bahagia dan membawa ke arah keberhasilan dalam melaksanakan tugas-tugas berikutnya. Yaitu mulai berusaha memperoleh pengetahuan tentang kehidupan berkeluarga. karena remaja lebih merasa percaya diri dalam bertindak. . Pengertian Panti Asuhan Kamus Besar Bahasa Indonesia (Departemen Pendidikan Nasional. Yaitu dapat mengembangkan nilai-nilai yang berlaku dalam masyarakat sebagai pandangan hidup bermasyarakat. yaitu mulai memilih pekerjaan serta mempersiapkan diri masuk dunia kerja. 7) Mempersiapkan perkawinan dan keluarga. ada juga yang sudah tertarik untuk berkeluarga. Panti Asuhan a. 8) Memperoleh perangkat nilai dan sistem etis sebagai pegangan untuk berperilaku mengembangkan ideologi. 2001:826) mendefinisikan panti asuhan sebagai rumah tempat memelihara dan merawat anak yatim piatu dan sebagainya. 3.36 dapat menentukan rencana sendiri dan tidak dapat bertanggungjawab. 6) Mempersiapkan karier ekonomi.

Kesimpulan dari uraian di atas bahwa panti asuhan merupakan lembaga kesejahteraan sosial yang bertanggung jawab memberikan pelayanan penganti dalam pemenuhan kebutuhan fisik. baik terhadap dirinya. memberikan pelayanan pengganti fisik. Tujuan Panti Asuhan Tujuan panti asuhan menurut Departemen Sosial Republik Indonesia (1997:6) yaitu : 1) Panti asuhan memberikan pelayanan yang berdasarkan pada profesi pekerja sosial kepada anak terlantar dengan cara membantu dan membimbing mereka ke arah perkembangan pribadi yang wajar serta mempunyai keterampilan kerja. . sehingga mereka menjadi anggota masyarakat yang dapat hidup layak dan penuh tanggung jawab. tepat dan memadai bagi perkembangan kepribadian sesuai dengan harapan.37 Departemen Sosial Republik Indonesia (1997:4) menjelaskan bahwa : Panti asuhan adalah suatu lembaga usaha kesejahteraan sosial yang mempunyai tanggung jawab untuk memberikan pelayanan kesejahteraan sosial kepada anak terlantar dengan melaksanakan penyantunan dan pengentasan anak terlantar. b. tepat dan memadai bagi perkembangan kepribadiannya sesuai dengan yang diharapkan sebagai bagian dari generasi penerus cita-cita bangsa dan sebagai insan yang akan turut serta aktif di dalam bidang pembangunan nasional. sehingga mereka memperoleh kesempatan yang luas. keluarga dan masyarakat. sehingga memperoleh kesempatan yang luas. mental dan sosial pada anak asuhnya. mental dan sosial pada anak asuh.

c. Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa tujuan panti asuhan adalah memberikan pelayanan. 3) Sebagai pusat pengembangan keterampilan (yang merupakan fungsi penunjang). . bimbingan dan keterampilan kepada anak asuh agar menjadi manusia yang berkualitas. Panti asuhan sebagai lembaga yang melaksanakan fungsi keluarga dan masyarakat dalam perkembangan dan kepribadian anak-anak remaja. Panti asuhan berfungsi sebagai pemulihan. mempunyai keterampilan kerja yang mampu menopang hidupnya dan hidup keluarganya. Menurut Departemen Sosial Republik Indonesia (1997:7) panti asuhan mempunyai fungsi sebagai berikut : 1) Sebagai pusat pelayanan kesejahteraan sosial anak. pengembangan dan pencegahan. perlindungan. Fungsi Panti Asuhan Panti asuhan berfungsi sebagai sarana pembinaan dan pengentasan anak terlantar.38 2) Tujuan penyelenggaraan pelayanan kesejahteraan sosial anak di panti asuhan adalah terbentuknya manusia-manusia yang berkepribadian matang dan berdedikasi. 2) Sebagai pusat data dan informasi serta konsultasi kesejahteraan sosial anak.

lingkungan panti asuhan merupakan lingkungan sosial utama yang mereka kenal. Orang lain yang dimaksudkan yaitu pengasuh dan teman-teman sesama penghuni panti asuhan. 4. baik secara aktif maupun pasif yang melibatkan respon mental dan tingkah laku. konsultasi dan pengembangan keterampilan bagi kesejahteraan sosial anak.39 Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa fungsi panti asuhan adalah memberikan pelayanan. sehingga tercapai hubungan yang harmonis antara diri sendiri dengan lingkungan tempat tinggalnya yaitu panti asuhan. informasi. sehingga remaja perlu melakukan penyesuaian diri sesuai dengan lingkungan dimana remaja berada yaitu panti asuhan dan sesuai kebutuhan yang dituntut dari lingkungan tersebut agar proses pencapaian keharmonisan dalam mengadakan hubungan yang memuaskan bersama orang lain dan lingkungannya dapat tercapai. Remaja yang tinggal di panti asuhan berkembang dengan bimbingan dan perhatian dari pengasuh yang berfungsi sebagai pengganti . Bagi remaja yang tinggal di panti asuhan. Penyesuaian Diri Remaja di Panti Asuhan Penyesuaian diri remaja di panti asuhan merupakan suatu usaha yang dilakukan oleh remaja untuk mempertemukan tuntutan diri sendiri dengan lingkungan. Di panti asuhan juga terdapat aturan-aturan dan larangan-larangan tertentu yang telah ditetapkan yang harus dipatuhi oleh setiap remaja penghuni panti asuhan.

Remaja yang tinggal di panti asuhan berada dalam satu keluarga walaupun berasal dari keluarga yang berbeda-beda. Setiap remaja mempunyai pengalaman hidup yang berbeda-beda dan mereka berkumpul dalam satu keluarga yaitu panti asuhan. maka individu tersebut akan semakin terbiasa atau familiar dengan lingkungan tersebut. semakin lama remaja tersebut tinggal di suatu panti asuhan yang sama maka ia akan semakin terbiasa dan lebih mudah menyesuaikan diri dengan lingkungan panti tersebut (www. Semakin lama individu tinggal di suatu lingkungan. Sebab sikap menarik diri. baik dengan pengasuh dan teman-teman sesama penghuni panti asuhan. Oleh karena itu. Remaja semestinya harus sensitif terhadap masalah dan kesulitan orang lain serta ada kesanggupan untuk berpartisipasi di dalam aktivitas yang ada di panti asuhan.40 orang tua dalam keluarga. Bisa bergaul dengan orang lain dengan jalan membina persahabatan yang kekal.highbeam. Bisa menghargai pribadi lain dan menghargai hak-hak sendiri di dalam lingkungannya. Simpati terhadap orang lain adalah satu bentuk penyesuaian diri. takut . remaja perlu menyesuaikan diri dengan lingkungan tempat tinggalnya yaitu di panti asuhan. Mereka saling bekerjasama dalam menjalankan tugas masing-masing. Hal ini dapat mempengaruhi tingkat penyesuaian diri individu tersebut. sama halnya dengan remaja yang tinggal di panti asuhan. Remaja diharapkan mampu mereaksi secara efektif dan harmonis terhadap realitas sosial dan bisa mengadakan relasi sosial yang sehat.com).

dan ikatan-ikatan sosial tersebut menggambarkan tingkat kualitas umum dari hubungan interpersonal. Saat seseorang didukung oleh lingkungan maka segalanya akan terasa lebih mudah. negatif dan bisa menimbulkan banyak kesulitan. Pengertian Dukungan Sosial Dukungan sosial sangat diperlukan oleh siapa saja dalam berhubungan dengan orang lain demi melangsungkan hidupnya di tengahtengah masyarakat. Rook dalam Smet (1994:134) mengatakan bahwa dukungan sosial merupakan salah satu fungsi dari ikatan sosial. Dukungan sosial menunjukkan pada hubungan interpersonal yang melindungi individu terhadap konsekuensi negatif dari stres. timbul rasa percaya diri dan kompeten. Ikatan dan persahabatan dengan orang lain dianggap sebagai aspek yang memberikan kepuasan secara emosional dalam kehidupan individu. Dukungan sosial yang diterima dapat membuat individu merasa tenang. diperhatikan. Menurut Cobb dalam Shinta (1995:36) dukungan sosial adalah pemberian informasi baik secara verbal maupun non verbal. B. bermusuhan dan egois adalah bentuk penyesuaian diri yang kaku. pemberian bantuan tingkah laku atau materi yang didapat dari hubungan sosial yang akrab atau hanya disimpulkan dari keberadaan mereka yang membuat . Dukungan Sosial 1.41 melakukan kontak dengan orang lain. dicintai.

kesediaan. sehingga dapat menguntungkan bagi kesejahteraan individu yang menerima. mendapat saran atau kesan yang menyenangkan pada dirinya. menghargai dan menyayangi kita. merupakan persepsi individu terhadap sejumlah orang yang dapat diandalkan saat individu membutuhkan bantuan (pendekatan berdasarkan kuantitas). Dalam hal ini orang yang merasa memperoleh dukungan sosial secara emosional merasa lega karena diperhatikan. Jumlah sumber dukungan sosial yang tersedia. b. berkaitan dengan persepsi individu bahwa kebutuhannya akan terpenuhi (pendekatan berdasarkan kualitas). Tingkatan kepuasan akan dukungan sosial yang diterima. agar mereka dapat mencari jalan keluar untuk memecahkan masalahnya. Hal senada diungkap oleh Gottlieb dalam Smet (1994:135) yang menyatakan bahwa dukungan sosial terdiri dari informasi atau nasehat verbal dan non verbal.e-psikologi. bantuan yang nyata atau tindakan yang diberikan oleh orang lain atau didapat karena hubungan mereka dengan lingkungan dan mempunyai manfaat emosioanl atau efek perilaku bagi dirinya. Sarason berpendapat bahwa dukungan sosial itu selalu mencakup dua hal yaitu : a.42 individu merasa diperhatikan. bernilai dan dicintai. Sarason (1983) dalam Kuntjoro (www. .com) mengatakan bahwa dukungan sosial adalah keberadaan. kepedulian dari orang-orang yang dapat diandalkan.

perhatian. penilaian dan bantuan instrumental. diperhatikan. penghargaan atau bantuan yang diperoleh individu dari orang lain. dalam arti bahwa orang yang menerima sangat merasakan manfaat bantuan bagi dirinya karena sesuatu yang aktual dan memberikan kepuasan. perhatian emosional. dihargai dan menjadi bagian dalam kelompok. Dukungan sosial didefinisikan oleh House dalam Smet (1994:136) sebagai transaksi interpersonal yang melibatkan satu atau lebih aspekaspek yang terdiri dari informasi. Dukungan sosial bukan sekedar pemberian bantuan. dimana orang lain disini dapat diartikan sebagai individu perorangan atau kelompok. Tersedianya dukungan sosial akan membuat individu merasa dicintai. Hal tersebut menunjukkan bahwa segala sesuatu yang ada di lingkungan menjadi dukungan sosial atau tidak. tetapi yang penting adalah bagaimana persepsi si penerima terhadap makna dari bantuan tersebut. Hal itu erat hubungannya dengan ketepatan dukungan sosial yang diberikan.43 Hal di atas penting dipahami oleh individu yang ingin memberikan dukungan sosial karena menyangkut persepsi tentang keberadaan (availability) dan ketepatan (adequancy) dukungan sosial bagi seseorang. Sarafino (1998:97) mengatakan bahwa dukungan sosial adalah kenyamanan. . tergantung pada sejauh mana individu merasakan hal tersebut sebagai dukungan sosial.

44 Menurut Effendi dan Tjahjono (1999:218) dukungan sosial merupakan transaksi interpersonal yanhg ditujukan dengan memberi bantuan kepada individu lain dan bantuan itu diperoleh dari orang yang berarti bagi individu yang bersangkutan. 2. dimana hal itu memiliki manfaat emosional atau efek perilaku bagi penerima. Selain itu dukungan sosial dapat dijadikan pelindung untuk melawan perubahan peristiwa kehidupan yang berpotensi penuh dengan stres. sehingga menimbulkan pengaruh positif yang dapat mengurangi gangguan psikologis. Dukungan sosial berperan penting dalam memelihara keadaan psikologis individu yang mengalami tekanan. Dari definisi di atas dapat disimpulkan bahwa dukungan sosial merupakan hubungan interpersonal yang di dalamnya berisi pemberian bantuan yang melibatkan aspek-aspek yang terdiri dari informasi. penilaian dan bantuan instrumental yang diperoleh individu melalui interaksi dengan lingkungan. meningkatkan harga diri dan kejelasan identitas diri serta memiliki perasaan positif mengenai diri sendiri. perhatian emosi. Jenis-Jenis Dukungan Sosial House dalam Smet (1994:136) membedakan empat jenis dukungan sosial yaitu : . sehingga dapat meningkatkan kesejahteraan psikologis karena adanya perhatian dan pengertian akan menimbulkan perasaan memiliki. sehingga dapat membantu individu dalam mengatasi masalahnya.

dicintai dan diperhatikan. dorongan untuk maju atau persetujuan dengan gagasan atau perasaan individu dan perbandingan positif orang tersebut dengan orang lain. kepedulian dan perhatian terhadap individu. Dukungan emosional Dukungan ini mencakup ungkapan empati. Dukungan penghargaan Dukungan ini terjadi lewat ungkapan hormat positif untuk orang tersebut. saran atau umpan balik yang diperoleh dari orang lain.45 a. membentuk kepercayaan diri dan kemampuan serta merasa dihargai dan berguna saat individu mengalami tekanan. Dukungan ini meliputi perilaku seperti memberikan perhatian atau afeksi serta bersedia mendengarkan keluh kesah orang lain. d. sehingga individu tersebut merasa nyaman. seperti memberi pinjaman uang atau menolong dengan pekerjaan pada waktu mengalami stres. c. Dukungan instrumental Meliputi bantuan secara langsung sesuai dengan yang dibutuhkan oleh seseorang. sehingga individu dapat . Pemberian dukungan ini membantu individu untuk melihat segi-segi positif yang ada dalam dirinya dibandingkan dengan keadaan orang lain yang berfungsi untuk menambah penghargaan diri. Dukungan informatif Mencakup pemberian nasehat. b. petunjuk.

Dukungan penghargaan Dukungan ini melibatkan ekspresi yang berupa pernyataan setuju dan penilaian positif terhadap ide-ide. d. dicintai dan diperhatikan. b. c. sehingga individu tersebut merasa nyaman. Menurut Sarafino (1998:98) dukungan sosial terdiri dari empat jenis yaitu : a. Dukungan informasi Dukungan yang bersifat informasi ini dapat berupa saran. Dukungan emosional Dukungan ini melibatkan ekspresi rasa empati dan perhatian terhadap individu. misalnya yang berupa bantuan finansial atau bantuan dalam mengerjakan tugastugas tertentu. Dukungan instrumental Bentuk dukungan ini melibatkan bantuan langsung. Dukungan ini meliputi perilaku seperti memberikan perhatian dan afeksi seta bersedia mendengarkan keluh kesah orang lain. pengarahan dan umpan balik tentang bagaimana cara memecahkan persoalan. . perasaan dan performa orang lain.46 membatasi masalahnya dan mencoba mencari jalan keluar untuk memecahkan masalahnya.

memberi pujian bila remaja melakukan sesuatu yang baik. Dukungan dari orang-orang terdekat berupa kesediaan untuk mendengarkan keluhan remaja akan membawa efek positif yaitu sebagai pelepasan emosi dan mengurangi kecemasan. Dukungan penghargaan dapat dijadikan semangat bagi remaja untuk tetap maju dan mengembangkan diri agar tidak selalu menyesali keadaannya. Dalam dukungan ini renaja merasa diperhatikan. diterima dan dihargai oleh lingkungannya. . Misalnya. Dukungan instrumental bagi remaja di panti asuhan dapat berupa penyediaan sarana dan pelayanan yang dapat memperlancar dan memudahkan perilaku remaja dalam segala aktivitasnya. Dukungan sosial yang diterima oleh individu sangat beragam dan tergantung pada keadaannya. Dukungan sosial sangat diperlukan oleh siapa saja untuk berhubungan dengan orang lain.47 Pendapat senada dikemukakan juga oleh Ritter dalam Smet (1994:134) dukungan sosial mencakup dukungan emosional. Arti dan cakupan mengenai makna dari dukungan sosial sangat luas dan mendalam. Sama halnya dengan remaja di panti asuhan yang mengalami kesulitan dalam menjalin relasi dengan orang lain di lingkungannya. pemberian nasehat atau informasi maupun bantuan secara materi. Dukungan emosional lebih terasa dan dibutuhkan jika diberikan pada orang yang sedang mengalami musibah atau kesulitan. Dukungan ini mengembangkan harga diri pada yang menerimanya. dorongan untuk mengungkapkan perasaan.

Informasi yang diberikan oleh orang-orang terdekat seperti pengasuh dan teman di panti asuhan diharapkan mampu membuat remaja menerima dan melaksanakan aturan tersebut tanpa paksaan. . Menurut Cutrona dan Orford dalam Shinta (1995:36) mengungkapkan lima dimensi fungsi dasar dari dukungan sosial yaitu : a. Dukungan materi Dukungan materi adalah dukungan yang biasa disebut juga bantuan nyata (tangible aid) atau dukungan alat (instrumental support). bila remaja mengalami kesulitan dalam hal belajar. Ketika remaja mengalami kesulitan untuk dapat menerima suatu norma di dalam masyarakat atau aturan di panti asuhan. pengasuh dapat menjelaskan kepada remaja tentang alasan dan tujuan dibuatnya peraturan tersebut.48 Dukungan informasi membuat remaja merasa mendapat nasehat. Dukungan sosial yang diterima individu dari lingkungannya pada saat yang tepat dapat memberikan motivasi bagi individu tersebut. akibatnya individu tersebut dapat lebih bersemangat dalam menjalani hidup karena dirinya merasa diperhatikan. Contohnya. pengasuh dapat memberikan saran tentang cara belajar yang baik. petunjuk atau umpan balik agar dapat membatasi masalahnya dan mencoba mencari jalan keluar untuk memecahkan masalahnya. didukung dan diakui keberadaanya.

Dukungan emosional. . d. berupa bantuan langsung sesuai dengan yang dibutuhkan individu. petunjuk dan saran tentang bagaimana individu berperilaku. Dukungan emosi Jenis dukungan ini berhubungan dengan hal yang bersifat emosional atau menjaga keadaan emosi. mencakup pemberian nasehat. Integritas sosial Dapat diartikan sebagai perasaan individu yang merupakan bagian dari suatu kelompok yang memiliki minat dan pemikiran yang sama. b. c. e. d.49 b. keyakinan atau umpan balik tentang bagaimana seseorang berperilaku. c. Berdasarkan pendapat dari beberapa ahli di atas. Dukungan informasi. maka penulis mneyimpulkan bahwa jenis-jenis dukungan sosial meliputi : a. Dukungan informasi Dukungan yang berupa pemberian saran. mencakup ungkapan empati dan perhatian terhadap individu. Dukungan penghargaan. mencakup penilaian positif terhadap individu dan dorongan untuk maju. afeksi atau ekspresi. Dukungan penghargaan Dukungan penghargaan terjadi bila ada ekspresi penilaian yang positif terhadap individu. pengarahan. Dukungan instrumental.

kekasih.com) ada dua sumber dukungan sosial yaitu : a. Dukungan sosial ini bersifat non formal. Caplan dalam Gottlieb (1983:23) mengatakan bahwa dukungan sosial dapat diperoleh dari pasangan hidupnya. teman dekat atau relasi. Menurut Rook dan Dooley (1985) dalam Kuntjoro (www.epsikologi. Sumber dukungan sosial merupakan aspek paling penting untuk diketahui dan dipahami. Dengan pengetahuan dan pemahaman tersebut. keluarga. suami dan kerabat). Sumber natural Dukungan sosial yang natural diterima seseorang melalui interaksi sosial dalam kehidupannya secara spontan dengan orangorang yang berada di sekitarnya.50 3. b. teman . seseorang akan tahu pada siapa ia akan mendapatkan dukungan sosial yang sesuai dengan situasi dan keinginannya yang spesifik. istri. Namun perlu diketahui seberapa banyak sumber dukungan sosial ini efektif bagi individu yang memerlukan. Sumber artificial Dukungan sosial artificial adalah dukungan sosial yang dirancang ke dalam kebutuhan primer seseorang. misalnya anggota keluarga (anak. Sumber-Sumber Dukungan Sosial Sumber-sumber dukungan sosial banyak diperoleh individu dari lingkungan sekitarnya. sehingga dukungan sosial memiliki makna yang berarti bagi kedua belah pihak. misalnya dukungan sosial akibat bencana alam melalui berbagai sumbangan sosial.

sumbersumber dukungan sosial bagi remaja di panti asuhan dapat diperoleh dari pengasuh dan teman-teman di panti asuhan. . teman. 1994:33). dokter dan organisasi kemasyarakatan. Bagi remaja panti asuhan. lingkungan panti asuhan merupakan lingkungan utama yang dikenalnya. Remaja yang tinggal di panti asuhan berkembang dengan bimbingan dan perhatian pengasuh yang berfungsi sebagai pengganti orang tua. atau organisasi kemasyarakatan yang diikuti. Kekuatan dukungan sosial yang berasal dari relasi yang terdekat merupakan salah satu proses psikologis yang dapat menjaga perilaku sehat dalam diri seseorang. Pendapat senada dikemukakan oleh Sarafino (1998:97) bahwa dukungan sosial dapat diperoleh dari bermacam-macam sumber seperti suami atau istri. Dukungan sosial terpenting berasal dari keluarga (Rodin dan Salovey dalam Smet.51 sekerja. maka dukungan sosial yang diterima individu dapat diperoleh dari anggota keluarga. keluarga. sehingga merupakan sumber dukungan sosial yang utama bagi remaja. teman sebaya dan organisasi kemasyarakatan yang diikuti. Berdasarkan uraian di atas. Melengkapi pendapat tersebut Gore dalam Gottlieb (1983:19) menyatakan bahwa dukungan sosial lebih sering didapat dari relasi yang terdekat yaitu keluarga atau sahabat. rekan kerja. Dalam penelitian ini. Dukungan sosial tersebut remaja dapatkan dari pengasuh dan teman-teman sesama penghuni panti asuhan.

C. Hartini (2001:109) dalam penelitiannya pada anakanak panti asuhan di Jawa Timur menunjukkan deskripsi bahwa anak-anak panti asuhan sangat kaku dalam berhubungan sosial dengan orang lain dan sebagian besar mereka mengalami kesulitan dalam hubungan interpersonalnya. simpati. Untuk dapat menjalin kebersamaan dan keakraban dengan orang lain. terlebih lagi mereka telah bersama dalam sekian rentang waktu. remaja di panti asuhan juga mendapat dukungan sosial dari teman-temannya sesama penghuni panti asuhan dimana ia berada. Perasaan senasib sepenanggungan menjadikan mereka dekat satu sama lain. . Hubungan antara Dukungan Sosial dengan Penyesuaian Diri Remaja di Panti Asuhan Seseorang yang mampu menyesuaikan diri dengan baik lebih memiliki kemungkinan untuk mengembangkan diri ke lingkungan yang lebih luas. berupa perasaan senasib menjadikan adanya hubungan saling mengerti dan memahami masalah masing-masing.52 Selain dukungan sosial yang berasal dari pengasuh. yang tidak didapat dari orang tuanya sekalipun. saling memberi nasehat. Keterampilan sosial ini kurang dimiliki oleh individu yang tinggal di panti asuhan. seseorang perlu memiliki keterampilan sosial untuk menyesuaikan diri dengan orang lain. Hurlock (2004:214) mengatakan bahwa dukungan sosial dari teman sebaya.

penuh dengan ketakutan dan kecemasan. anak-anak tersebut menunjukkan perilaku yang negativis. mudah putus asa. takut melakukan kontak dengan orang lain. pasif. menunjukkan rasa bermusuhan dan lebih egosentrisme. segala . sehingga remaja dapat merespon dengan tepat semua stimulus yang ada. Smet (1994:133) menegaskan bahwa jika individu merasa didukung oleh lingkungan. sehingga pada akhirnya dapat menjadi hambatan dalam penyesuaian dirinya. lebih suka sendirian. menarik diri. apatis.53 Masuknya remaja yang berasal dari keluarga dan lingkungan yang berbeda menyebabkan mereka harus beradaptasi dan berinteraksi dengan lingkungannya yang baru di Panti Asuhan Al Bisri Semarang. Penelitian Hartini (2001:117) menghasilkan deskripsi problem psikologis anak panti asuhan dengan karakter sebagai berikut : Kepribadian yang inferior. Sebagai contoh yaitu hasil penelitian Hartini (2001:114) menemukan bahwa 52 persen anak-anak panti asuhan cenderung menunjukkan kesulitan dalam penyesuaian sosialnya yang menggambarkan adanya kebutuhan psikologis untuk dapat menyesuaikan diri dengan aturan lingkungannya. Disamping itu. Remaja harus berhadapan dengan situasi-situasi yang jauh berbeda dengan yang biasa ditemui dan pola-pola perilaku yang selama ini dipakai belum tentu cocok dengan situasi yang baru. sehingga anak panti asuhan akan sulit menjalin hubungan sosial dengan orang lain. remaja sangat membutuhkan bantuan dan dukungan dari teman-teman serta lingkungan barunya. Pada saat-saat seperti ini. Artinya mereka harus berusaha untuk mengikuti segala peraturan yang berlaku termasuk tinggal di panti asuhan bersama dengan pengasuh dan teman-teman panti lainnya.

Aspek dukungan emosional dapat memuaskan kebutuhan afiliasi remaja. Dinamika fungsi dukungan sosial terhadap penyesuaian diri remaja di Panti Asuhan Al Bisri Semarang dapat dijelaskan melalui aspek-aspek yang terkandung dalam dukungan sosial.54 sesuatu dapat menjadi lebih mudah pada waktu mengalami kejadian-kejadian yang menegangkan. dukungan instrumental serta dukungan informatif dapat bermanfaat bagi kesehatan dan kesejahteraan psikologis. Dukungan emosional yang berupa kesediaan untuk mendengarkan keluhan-keluhan remaja ini akan membawa efek positif yaitu sebagai pelepasan emosi dan mengurangi kecemasan. ketidakhadiran dukungan sosial dapat menimbulkan perasaan kesepian dan kehilangan yang juga dapat mengganggu proses penyesuaian diri. dimana mereka dapat mengutarakan semua permasalahan kepada orang yang dapat dipercaya dan tidak harus mengambil keputuasan sendiri. yaitu kebutuhan untuk mengadakan hubungan dan menjalin persahabatan dengan orang lain. dukungan penghargaan. Thoits (1986) dalam Shinta (1995:37) menyatakan bahwa dukungan emosi dari orang yang berarti dapat . Sementara itu. Ini mencerminkan bahwa dalam lingkungan panti mereka belum menemukan orang yang dapat dijadikan panutan dan orang yang dijadikan teman berkomunikasi yang baik. Hartini (2001:115) dalam penelitiannya pada anak-anak panti asuhan di Jawa Timur menemukan bahwa : Lima puluh tujuh persen anak-anak panti asuhan menunjukkan adanya kebutuhan psikologis untuk terlibat secara emosional dengan lingkungannya. Menurut House dalam Smet (1994:136) melalui dukungan emosional.

Adanya informasi yang berupa nasehat atau petunjuk membantu remaja dalam menginterpretasikan dan memahami secara jelas sifat masalah-masalah secara praktis. Jenis dukungan sosial yang lain yaitu dukungan informasi yang berfungsi membantu individu dalam memecahkan masalah-masalah yang dihadapi. meningkatkan harga diri dan kejelasan identitas diri serta memiliki perasaan positif mengenai diri sendiri (Effendi dan Tjahjono. kesejahteraan psikologis individu akan meningkat karena adanya perhatian dan pengertian yang menimbulkan perasaan memiliki. Adanya dukungan ini membuat remaja merasa terbantu secara materi. 1999:218). sikap dan keyakinan orang lain. Dukungan instrumental berfungsi memperlancar dan memudahkan perilaku remaja dalam segala aktivitasnya. Melalui dukungan sosial. Cohen dalam Shinta (1995:40) menyatakan bahwa pemberian dukungan informasi dan dukungan materi dapat membantu individu untuk merubah situasi dan merubah pemahaman dari situasi.55 bersifat menurunkan distres dengan menyokong satu atau lebih aspek dari individu yang terancam oleh kesulitan yang ada. sehingga . Adanya pujian. Dukungan penghargaan dapat berfungsi membantu remaja dalam mengembangkan kepribadiannya. Melalui interaksi dengan orang lain maka remaja dapat mengevaluasi dan mempertegas keyakinan-keyakinannya dalam membandingkan pendapat. Dukungan instrumental ini dapat berupa penyediaan sarana dan pelayanan. penilaian dan penghargaan terhadap individu dapt meningkatkan harga dirinya.

56 mempengaruhi penilaian stresnya. Berbagai jenis dukungan sosial yang diperoleh dapat membantu membentuk kepercayaan diri dan menciptakan rasa aman pada remaja dalam melakukan penyesuaian diri karena remaja tersebut akan lebih dapat menerima kelebihan dan kekurangan pada dirinya serta memperoleh bimbingan. Menurut Sarason dalam Effendi dan Tjahjono (1999:218) bahwa dukungan sosial bermanfaat bagi individu karena individu menjadi tahu bahwa orang lain memperhatikan. sehingga dapat terhindar dari kesulitan penyesuaian diri. Hipotesis Berdasarkan kajian teori di atas. maka hipotesis penelitian ini dirumuskan sebagai berikut : Ada hubungan positif antara dukungan sosial dengan penyesuian diri remaja di Panti Asuhan Al Bisri Semarang. Taylor dalam Pramudiani (2001:119) mengatakan bahwa dalam menghadapi peristiwa-peristiwa yang menekan. semakin rendah dukungan sosial yang . Semakin tinggi dukungan sosial yang diberikan maka semakin positif penyesuaian diri remaja di Panti Asuhan Al Bisri Semarang. menghargai dan mencintai dirinya. rasa cinta dan perlindungan dalam melakukan penyesuaian antara keaadan atau kebutuhan internal dirinya dengan tuntutan eksternal. D. individu yang memiliki dukungan sosial yang tinggi tidak hanya mengalami stres yang rendah tapi juga dapat mengatasi stres secara lebih berhasil bila dibandingkan dengan mereka yang kurang memperoleh dukungan sosial. Sebaliknya.

57 diberikan maka semakin negatif penyesuaian diri remaja di Panti Asuhan Al Bisri Semarang. .

Hal ini bertujuan agar hasil yang diperoleh dapat dipertanggungjawabkan khususnya untuk menjawab masalah yang diajukan. Berdasarkan hal tersebut di atas. validitas dan reliabilitas alat ukur dan teknik analisis data.58 BAB III METODE PENELITIAN Metode penelitian merupakan usaha yang harus ditempuh dalam penelitian untuk menemukan. dalam hal ini akan dibatasi secara sistematis sebagai berikut : jenis penelitian. metode dan instrumen pengumpulan data. variabel penelitian. mengembangkan dan menguji suatu kebenaran pengetahuan. A. subjek penelitian. Jenis Penelitian Penelitian yang dilakukan adalah penelitian korelasional dengan pendekatan kuantitatif yang menekankan analisisnya pada data-data numerikal yang diolah dengan metode statistika. pada bab ini akan dibahas mengenai metode dan hal-hal yang menentukan penelitian. 58 . Dalam hal ini adalah hubungan antara dukungan sosial dengan penyesuaian diri remaja di Panti Asuhan Al Bisri Semarang. Penelitian korelasional bertujuan untuk menemukan ada tidaknya hubungan antara dua buah variabel penelitian. Metode yang digunakan adalah metode yang sesuai dengan objek penelitian dan tujuan penelitian yang akan dicapai secara sistematik.

Variabel bebas (X) Variabel terikat (Y) = dukungan sosial = penyesuaian diri 2. Untuk memperoleh pengertian yang jelas mengenai variabel-variabel dalam penelitian ini dirumuskan definisi operasional variabel sebagai berikut: a. sehingga tercapai hubungan yang harmonis antara diri dengan lingkungannya. Penyesuaian diri Penyesuaian diri merupakan suatu usaha yang dilakukan oleh individu untuk mempertemukan tuntutan diri sendiri dengan lingkungan. Variabel bebas adalah variabel yang menjadi sebab timbulnya atau berubahnya variabel terikat. . Jadi variabel bebas adalah variabel yang mempengaruhi. Variabel terikat adalah variabel yang dipengaruhi atau yang menjadi akibat karena adanya variabel bebas. Identifikasi Variabel Variabel yang digunakan dalam penelitian ini terdiri dari dua variabel yaitu variabel bebas (variabel independent) dan variabel terikat (variabel dependent). Definisi Operasional Variabel Penelitian Definisi operasional variabel penelitian dimaksudkan untuk menghindari terjadinya salah pengertian dan penafsiran. baik secara aktif maupun pasif yang melibatkan respon mental dan tingkah laku. Variabel Penelitian 1.59 B.

yang usianya berkisar antara 13 sampai 18 tahun. Penyesuaian diri yang diungkap dalam penelitian ini diukur dengan mengunakan skala penyesuaian diri yang disusun penulis berdasarkan aspek-aspek penyesuaian diri yaitu : 1) Penyesuaian pribadi a) Penerimaan individu terhadap diri sendiri b) Mampu menerima kenyataan c) Mampu mengontrol diri sendiri d) Mampu mengarahkan diri sendiri 2) Penyesuaian sosial a) Memiliki hubungan interpersonal yang baik b) Memiliki simpati pada orang lain c) Mampu menghargai orang lain d) Ikut berpartisipasi dalam kelompok e) Mampu bersosialisasi dengan baik sesuai norma yang ada Orang lain yang dimaksudkan dalam aspek penyesuaian sosial yaitu pengasuh dan teman-teman sesama penghuni Panti Asuhan Al Bisri Semarang. . Sebaliknya.60 Penyesuaian diri yang menjadi subjek dalam penelitian ini adalah penyesuaian diri remaja di Panti Asuhan Al Bisri Semarang. Semakin tinggi skor yang diperoleh dari skala penyesuaian diri maka semakin tinggi penyesuaian dirinya. semakin rendah skor yang diperoleh maka semakin rendah penyesuaian dirinya.

. Dukungan sosial diungkap dengan menggunakan skala dukungan sosial yang disusun penulis berdasarkan empat jenis dukungan sosial yaitu : 1) Dukungan emosional. Semakin tinggi skor yang diperoleh dari skala dukungan sosial maka semakin tinggi dukungan sosialnya. 4) Dukungan informasi. dimana hal itu memiliki manfaat emosional atau efek perilaku bagi penerima. petunjuk dan saran. Sebaliknya. berupa bantuan langsung. berupa pemberian nasehat. sehingga dapat membantu individu dalam mengatasi masalahnya. perhatian emosi.61 b. Sumber dukungan sosial bagi remaja panti asuhan didapat dari pengasuh dan teman-teman sesama penghuni Panti Asuhan Al Bisri Semarang. mencakup penilaian positif dan dorongan untuk maju. semakin rendah skor yang diperoleh maka semakin rendah dukungan sosialnya. Dukungan sosial Dukungan sosial merupakan hubungan interpersonal yang di dalamnya berisi pemberian bantuan yang melibatkan aspek-aspek yang terdiri dari informasi. penilaian dan bantuan instrumental yang diperoleh individu melalui interaksi dengan lingkungan. mencakup empati dan perhatian. 2) Dukungan penghargaan. 3) Dukungan instrumental.

Hubungan antara variabel yaitu variabel X dan variabel Y terjadi hubungan sebab akibat. Subjek Penelitian 1. 2004:206). Hubungan Antar Variabel Penelitian Hubungan antar variabel adalah hal yang paling penting untuk dilihat dalam suatu penelitian. Populasi Populasi adalah keseluruhan subjek penelitian (Arikunto. Hubungan antara variabel penelitian digambarkan sebagai berikut : Dukungan sosial variabel bebas (X) Penyesuaian diri variabel terikat (Y) Gambar 3. Diasumsikan dalam penelitian in bahwa semakin tinggi dukungan sosial maka akan semakin tinggi penyesuaian dirinya.1 Skema Hubungan Antara Variabel X dan Y C.62 3. Adapun populasi dalam penelitian ini adalah seluruh remaja penghuni Panti Asuhan Al Bisri Semarang yang berjumlah 40 orang dengan ciri-ciri sebagai berikut : 1) Jenis kelamin laki-laki dan perempuan. Variabel bebas dalam penelitian ini adalah dukungan sosial dan variabel terikat dalam penelitian ini adalah penyesuaian diri. sebaliknya semakin rendah dukungan sosial maka akan semakin rendah penyesuaian dirinya. Populasi dibatasi sebagai sejumlah individu yang paling sedikit mempunyai satu sifat yang sama. 2002:108). . 2) Remaja berusia 13 sampai 18 tahun (Hurlock.

Teknik pengambilan sampel yang digunakan dalam penelitian ini yaitu total sampling. . Menurut Azwar (2003:4) beberapa karakteristik skala sebagai alat ukur psikologi yaitu : 1. 2002:109). Sampel Sampel merupakan sebagian atau wakil dari populasi yang diteliti (Arikunto. 2. D. Subjek yang akan diambil sebagai sampel penelitian sebanyak 40 orang. melainkan mengungkap indikator perilaku dari atribut yang diteliti. Stimulusnya berupa pertanyaan atau pernyataan yang tidak langsung mengungkap atribut yang hendak diukur. Indikator perilaku tersebut diterjemahkan lewat item-item. Skala psikologi adalah suatu daftar pertanyaan atau pernyataan yang diajukan agar dijawab oleh subjek dan interpretasinya terhadap pertanyaan atau pernyataan tersebut merupakan proyeksi dari perasaannya. Dalam total sampling semua individu dalam populasi diberi kesempatan yang sama untuk menjadi anggota sampel. Metode dan Instrumen Pengumpulan Data Metode pengumpulan data yang digunakan untuk memperoleh data yang diperlukan adalah dengan skala psikologi. 2. 4) Tinggal di Panti Asuhan Al Bisri Semarang.63 3) Tingkat pendidikan SMP dan SMU.

Peneliti memilih menggunakan skala psikologi dengan alasan sebagai berikut : 1. Skala penyesuaian diri Skala penyesuaian diri dikembangkan sendiri oleh penulis yang disusun berdasarkan aspek-aspek penyesuaian diri. Respon subjek tidak diklasifikasikan sebagai jawaban “benar” atau “salah”. Responden biasanya tidak menyadari arah jawaban yang dikehendaki dan disimpulkan apa yang sesungguhnya diungkap oleh pertanyaan atau pernyataan tersebut (Azwar. 3. 2. . Data yang diungkap berupa konstrak atau konsep psikologi yang menggambarkan aspek kepribadian individu. Bentuk pemberian skala bersifat langsung yaitu daftar pernyataan diberikan secara langsung kepada orang yang akan dimintai pendapat. yaitu subyek diminta untuk memilih salah satu dari beberapa alternatif jawaban yang sudah disediakan. Semua jawaban dapat diterima jika diberikan secara jujur dan sungguh-sungguh. 2003:5). Sesuai dengan permasalahan dalam penelitian ini.64 3. Pertanyaan sebagai stimulus tertuju pada indikator perilaku guna memancing jawaban yang merupakan refleksi dari keadaan diri subjek yang biasanya tidak disadari oleh responden yang bersangkutan. Skala ini menggunakan tipe pilihan. terdiri dari penyesuaian pribadi dan penyesuaian sosial. maka pada penelitian ini digunakan dua macam skala yaitu : 1.

Untuk item unfavorabel. nilai jawaban sangat sesuai (SS)=1. sangat tidak sesuai (STS)=4. sesuai (S)=2.65 Adapun indikator dalam skala penyesuaian diri yaitu : a. Pemberian skor untuk item favorabel. tidak sesuai (TS)=2. sangat tidak sesuai (STS)=1. . terdiri dan dari dua kelompok item yang berbentuk favorabel dan unfavorabel. sesuai (S). sesuai (S)=3. tidak sesuai (TS) dan sangat tidak sesuai (STS). tidak sesuai (TS)=3. Sistem penilaian menggunakan empat alternatif jawaban yaitu sangat sesuai (SS). Penyesuaian sosial 1) Memiliki hubungan interpersonal yang baik 2) Memiliki simpati pada orang lain 3) Mampu menghargai orang lain 4) Ikut berpartisipasi dalam kelompok 5) Mampu bersosialisasi dengan baik sesuai norma yang ada Skala penyesuaian diri menggunakan model skala Likert. nilai jawaban sangat sesuai (SS)=4. Penyesuaian pribadi 1) Penerimaan individu terhadap diri sendiri 2) Mampu menerima kenyataan 3) Mampu mengontrol diri sendiri 4) Mampu mengarahkan diri sendiri b.

27. 22. 54 14. 42. 58 18. 32. Mampu mengontrol diri sendiri d. 26. Penyesuaian diri pribadi 2. 46 6. Skala dukungan sosial 30 30 60 Skala yang dipergunakan untuk mengukur dukungan sosial dari subjek penelitian adalah skala yang disusun oleh penulis berdasarkan empat jenis dukungan sosial yaitu : a. 24. 41. 31. 55 15. 20. 43. 25. 36. 47 7. Ikut berpartisipasi dalam kelompok e. 33. 28. 57 17. 56 30 16. 37 2. Mampu menghargai orang lain d. 21. Mampu mengarahkan diri sendiri a.66 Tabel 3. Memiliki hubungan interpersonal yang baik b. 39. Dukungan emosional 1) Empati 2) Perhatian . 52 12. 50 3. Penyesuaian sosial Total 2. 35. 53 13. 29. Penerimaan individu terhadap diri sendiri b. 51 11. 48 8. 60 30 Total Penyesuaian 1. 19. 45 5. 30. 44 10. 34. Mampu bersosialisasi dengan baik sesuai norma yang ada Nomor Item Favorabel Unfavorabel 1. 49 9. 59 4. Mampu menerima kenyataan c. 40. Memiliki simpati pada orang lain c.1 Blue print skala penyesuaian diri Variabel Sub Variabel Indikator a. 38. 23.

28. 23. 54 12. 13. tidak sesuai (TS) dan sangat tidak sesuai (STS). 21. tidak sesuai (TS)=2. Dukungan penghargaan 3. sangat tidak sesuai (STS)=1. 16. 47. 44. 60 30 Total 15 15 15 15 60 . 24. 49 4. 32. 46. 27. petunjuk dan saran Nomor Item Favorabel Unfavorabel 1. 17. Dorongan untuk maju Bantuan langsung Pemberian nasehat. 52 7. 31. Perhatian a. 25. 53. Dukungan informasi Total Indikator a. petunjuk dan saran. 29. 57 9. 19. Sistem penilaian menggunakan empat alternatif jawaban yaitu sangat sesuai (SS).67 b. d. 30. sesuai (S)=3. 42. 56. Untuk item unfavorabel. 20. 58 5. Pemberian skor untuk item favorabel. sangat tidak sesuai (STS)=4. 45. Dukungan instrumental. Penilaian positif b. 14. 43. 59 11. 37 6. Dukungan penghargaan 1) Penilaian positif 2) Dorongan untuk maju c. tidak sesuai (TS)=3. berupa pemberian nasehat. 26. 38. 22. sesuai (S). sesuai (S)=2. nilai jawaban sangat sesuai (SS)=1. 36. 34 3. Dukungan emosional 2. Dukungan informasi. Empati b. 33 2. Dukungan instrumental 4. 50. berupa bantuan langsung. 35. 41. 55 30 8. Skala dukungan sosial menggunakan model skala Likert. 39. 51. 18.2 Blue print skala dukungan sosial Variabel Dukungan Sosial Sub Variabel 1. 48. 15. 40 10. nilai jawaban sangat sesuai (SS)=4. terdiri dan dari dua kelompok item yang berbentuk favorabel dan unfavorabel. Tabel 3.

68 E. artinya apabila dilakukan pengukuran beberapa kali terhadap subjek yang sama hasilnya relatif sama. Validitas Validitas merupakan suatu ukuran yang menunjukkan tingkat kevalidan atau kesahihan suatu instrumen. Validitas yang digunakan adalah validitas konstrak. Validitas dan Reliabilitas Alat Ukur 1. Teknik uji validitas dalam penelitian ini menggunakan rumus korelasi product moment dari Pearson. Uji validitasnya dilakukan dengan mengkorelasikan antara skor tiap item dengan skor total. yaitu : (Σ XY) – (ΣX)(ΣY)/N rxy = {ΣX2 – (ΣX)2 /N} {ΣY2. Reliabilitas Reliabilitas adalah sejauh mana hasil suatu pengukuran dapat dipercaya.(ΣY)2 /N} Keterangan : rxy = koefisien korelasi antara skor X (item) dengan skor Y (total) (1) ΣXY = jumlah perkalian antara skor X (item) dengan skor Y (total) ΣX ΣY N = jumlah skor item = jumlah skor total = jumlah subjek 2. yang mana suatu alat ukur dikatakan valid apabila telah cocok dengan konstruksi teoritis yang menjadi dasar pengukuran. .

69 Teknik analisis yang digunakan adalah teknik uji reliabilitas alpha yang dikembangkan oleh Cronbach. dengan rumus sebagai berikut : (Σ XY) – (ΣX)(ΣY)/N rxy = {ΣX2 – (ΣX)2 /N} {ΣY2. Teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini yaitu teknik korelasi product moment. dengan rumus : 2 ⎡ k ⎤ ⎡ Σσ b ⎤ 1− r11 = ⎢ ⎢ ⎥ σ 12 ⎥ ⎣ k − 1⎥ ⎢ ⎦⎣ ⎦ (2) Keterangan : r11 k 1 Σ σb 2 = = = = = reliabilitas instrumen jumlah item bilangan konstan jumlah varians butir varians total σ12 F.(ΣY)2 /N} (3) . Teknik Analisis Data Analisis data adalah salah satu kegiatan dalam penelitian yang berguna untuk menarik kesimpulan.

70 Keterangan : rxy = koefisien korelasi antara skor X (item) dengan skor Y (total) ΣXY = jumlah perkalian antara skor X (item) dengan skor Y (total) ΣX ΣY N = jumlah skor item = jumlah skor total = jumlah subjek .

prosedur pengumpulan data. Panti Asuhan Al Bisri didirikan dengan maksud menampung dan mendidik anak yatim piatu. Panti Asuhan Al Bisri memiliki 76 anak asuh yang terdiri dari 4 anak sekolah di TK. pelaksanaan penelitian. hasil dan pembahasan penelitian yang disajikan sebagai berikut : persiapan penelitian.71 BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN Hasil penelitian adalah data dari instrumen tertentu kemudian dianalisis dengan teknik dan metode yang telah ditentukan. tidak mampu dan terlantar agar mendapatkan penghidupan dan pendidikan yang layak guna menjadi manusia yang berkualitas. deskripsi data penelitian. Sendang Pentul Nomor 9 RT 06 RW II Kelurahan Tinjomoyo Kecamatan Banyumanik Kota Semarang berdiri pada tanggal 2 Juli 1997. A. hasil penelitian dan pembahasan. Persiapan Penelitian 1. Orientasi Kancah Panti Asuhan Al Bisri Semarang terletak di Jl. 71 . 26 anak sekolah di SD. Pada bab ini disajikan beberapa hal yang berkaitan dengan proses. 26 anak sekolah di SMP dan 20 anak sekolah di SMA.

c. Semua pihak yang mempunyai perhatian. 3) Mengadakan kerjasama maupun hubungan lain dengan badan hukum. Dana yang diterima untuk operasional kegiatan Panti Asuhan Al Bisri Semarang berasal dari : a. . 2) Mengadakan pendidikan agama maupun umum untuk intern maupun ekstern. b. 3) Perluasan areal tanah sekitar panti asuhan. Donatur tetap maupun tidak tetap. Jangka panjang 1) Menciptakan dan mengelola usaha-usaha guna menunjang kegiatan panti asuhan yang tidak bertentangan dengan agama dan negara. 2) Mengembangkan usaha ekonomi produktif dengan pendayagunaan lahan pertanian. Instansi pemerintah.72 Program kerja Panti Asuhan Al Bisri meliputi program jangka pendek dan jangka panjang yaitu : a. b. organisasi atau perorangan. Jangka pendek tahun 2005 sampai tahun 2010 1) Membangun asrama putra dan putri serta mengembangkan keterampilan anak. peternakan. perikanan dan perdagangan.

Pertama. 2. Peneliti dapat mengawasi secara langsung jalannya proses pengumpulan data. c.73 Ada beberapa pertimbangan yang mendasari penelitian dilakukan di Panti Asuhan Al Bisri Semarang antara lain : a. Kedua. mengajukan surat pengantar dari Fakultas Ilmu Pendidikan kepada Ketua Panti Asuhan Al Bisri Semarang untuk mendapatkan ijin melakukan penelitian di Panti Asuhan Al Bisri Semarang. . b. 3. Subjek sesuai dengan ciri-ciri populasi yang telah ditetapkan peneliti. Panti Asuhan Al Bisri Semarang bersedia untuk dijadikan tempat penelitian dan memberikan kemudahan perijinan kepada peneliti. d. Pengambilan sampel dalam penelitian ini didasarkan pada teknik total sampling dengan karakteristik sebagai berikut : jenis kelamin laki-laki dan perempuan. Proses Perijinan Sebelum melakukan penelitian. remaja berusia 13 sampai 18 tahun. peneliti minta surat pengantar dari Fakultas Ilmu Pendidikan yang ditujukan kepada Ketua Panti Asuhan Al Bisri Semarang. peneliti terlebih dahulu melakukan persiapan proses perijinan. Penentuan Sampel Sampel yang ditetapkan dalam penelitian ini adalah seluruh remaja di Panti Asuhan Al Bisri Semarang tahun 2007. tingkat pendidikan SMP dan SMU. Belum pernah diadakan penelitian mengenai penyesuaian diri remaja di Panti Asuhan Al Bisri Semarang.

Setelah pengumpulan data dengan menggunakan skala psikologi telah selesai maka langkah selanjutnya yang dilakukan peneliti adalah sebagai berikut : . Skala yang diberikan kepada subjek penelitian sebanyak 40 eksemplar. Prosedur Pengumpulan Data Pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan dua skala yaitu skala dukungan sosial dan skala penyesuaian diri. Pelaksanaan Penelitian Penelitian ini menggunakan sistem try out terpakai. Data hasil uji coba langsung digunakan untuk menguji hipotesis penelitian dimana hanya item yang valid saja yang akan dianalisis. Pengambilan data penelitian berlangsung pada hari Minggu tanggal 6 Mei 2007 yang dikenakan pada 40 orang subjek penelitian. Penelitian ini menggunakan sistem try out terpakai karena terbatasnya jumlah subjek penelitian.74 Tabel 4. C. sehingga data uji coba alat ukur akan digunakan sekaligus sebagai data penelitian.1 Deskripsi Subjek Penelitian Pendidikan Usia Jenis Kelamin Laki-Laki Perempuan 5 5 6 4 2 4 3 4 1 5 1 25 15 Total 10 10 6 3 5 6 40 13 tahun SMP 14 tahun 15 tahun 16 tahun SMA 17 tahun 18 tahun Total B.

Menentukan adakah hubungan antara dukungan sosial dengan penyesuaian diri remaja di Panti Asuhan Al Bisri Semarang. .09027 Sumber : Hasil penelitian yang diolah N 40 40 E. D. Untuk memperoleh instrumen yang baik maka dilakukan uji coba atau try out yang dianalisis validitas dan reliabilitasnya. Hasil Uji Validitas dan Reliabilitas Dalam rangka memperoleh data tentang variabel-variabel yang diteliti maka dibutuhkan alat pengumpul data. Hasil Penelitian dan Pembahasan 1. Mentabulasi data berdasarkan jumlah item. 4.9750 13. 3.75 1. Deskripsi Data Penelitian Gambaran mengenai data penelitian pada masing-masing variabel yang dianalisis terdapat pada table 4. Menentukan tingkat dukungan sosial dan penyesuaian diri remaja di Panti Asuhan Al Bisri Semarang. 2. Memberikan skor pada masing-masing jawaban yang telah diisi oleh subjek penelitian.9750 16.12951 Dukungan Sosial 116.2 Rangkuman Data Penelitian Variabel Mean Standar Deviation Penyesuaian Diri 108.2 sebagai berikut : Tabel 4.

Ini berarti rhitung lebih kecil dari rtabel (0.312) yang berarti ke-36 item tersebut valid. 20. 19. 42. 10.307. 38. 27. 58.312 Berdasarkan hasil uji coba validitas dengan bantuan komputer program SPSS release 10.313 > 0.632.76 a. 33. 59. 51.312) yang berarti ke-24 item tersebut tidak valid. 60. 6. 46. 11. 7. 54. 43. 9. 16. 18. 56. 32.313 dan rhitung tertinggi sebesar 0. sehingga instrumen penelitian yang digunakan untuk mengungkap penyesuaian diri sebanyak 36 item. Dari 24 item itu rhitung tertinggi sebesar 0. 8. 17. 22. 44. 53. 39. 37. 40. 14. 30. 28. 35. 3. 57. Validitas Teknik uji validitas yang digunakan adalah teknik statistik korelasi product moment. 23. 12.0 diperoleh : Instrumen skala penyesuaian diri sebanyak 60 item ternyata 24 item tidak valid yaitu nomor 1. Terdapat 36 item yang valid yaitu nomor 2. 21. Adapun sebaran item yang valid dan tidak valid untuk instrumen skala penyesuaian diri dapat dilihat pada tabel berikut : . 29. Uji signifikansi untuk menentukan valid atau tidaknya suatu item adalah dengan cara membandingkan rhitung dengan rtabel untuk TS = 5 % dan N = 40. 24. 25. 13. 49. maka rtabel = 0. 15. 55. Item yang valid menunjukkan rhitung terendah sebesar 0. 50. 47. Ini berarti rhitung lebih besar dari rtabel (0. 4. 31. 41. 34. 45. 26. 52.307 < 0. 48. 5. 36.

53. 40. Mampu menghargai orang lain d. Penerimaan individu terhadap diri sendiri b. 34. 39. 36. 40. 23*. 48 41. 37. 5. 3. 56. 33.77 Tabel 4. 50 37 3*. 30. 60. 54. 42. 57. 27. 32. Penyesuaian sosial Total Keterangan : * Item yang gugur / tidak valid 16 20 36 Sedangkan untuk instrumen skala dukungan sosial sebanyak 60 item ternyata 21 item tidak valid yaitu nomor 2.3 Blue Print Skala Penyesuian Diri Setelah Uji Coba Variabel Sub Variabel Indikator a. 38. 17. 42. 49 9. 23. Memiliki simpati pada orang lain c. 8. 12. Ini berarti rhitung lebih kecil dari rtabel (0. 22. 27*. 47 8. 20. 35. 51* 11. 20*. 52 12. 35. 38. 26. 59 10. 24. 18. 25*. 31. 54 14*. 13.312) yang berarti ke-21 item tersebut tidak valid. 58. 16. 43. 48. 11. Mampu bersosialisasi dengan baik sesuai norma yang ada Nomor Item Favorabel Unfavorabel 2. 4. Item yang valid . 50. 59. 7. Memiliki hubungan interpersonal yang baik b. Mampu mengontrol diri sendiri d. 57 17. 33. 9. 36*. 46 45 6*. Mampu mengarahkan diri sendiri a. 46. 39. 55* 15*. 21. 41. 52. 28*. 14. 15. 29. 29*. Ikut berpartisipasi dalam kelompok e. 4*. 45. 53* 13. 49. Terdapat 39 item yang valid yaitu nomor 1. 58 18. 22*.287. 24*. 43. 26. 34. 44* 7*. 19. Mampu menerima kenyataan c. 10. 19*. 47. 28. 56 19 16.287 < 0. 32. 51. 25. 60* Total Penyesuaian 1. 1*. 44. 30. 5*. Penyesuaian diri pribadi 17 2. Dari 21 item itu rhitung tertinggi sebesar 0. 31*. 21. 6. 55.

Dukungan instrumental 4. 20. 43*. 13. 14*. 22. 46*. 15. Dorongan untuk maju 3. 19. Penilaian positif b. Adapun sebaran item yang valid dan tidak valid untuk instrumen skala dukungan sosial dapat diketahui pada tabel berikut : Tabel 4. Empati b. sehingga instrumen penelitian yang digunakan untuk mengungkap penyesuaian diri sebanyak 39 item. 24. Perhatian a.78 menunjukkan rhitung terendah sebesar 0. petunjuk dan saran Total Keterangan : * Item yang gugur / tidak valid 22 17 39 7.314 dan rhitung tertinggi sebesar 0. 51. Dukungan informasi Bantuan langsung Pemberian nasehat. 18*. 45.665. 53. 49* 5. 60* 11 8 8*. 44*. 59 11. 41.312) yang berarti ke-39 item tersebut valid. Dukungan penghargaan Indikator a. 58 6. 33 3*. 23. 27. 35*. 39. 50*. 36. 34 4*. 28. 52 13 7 Total . 32. 30. 21. 48*. 57 9*.4 Blue Print Skala Dukungan Sosial Setelah Uji Coba Variabel Dukungan Sosial Sub Variabel 1. 54* 12. 38. 16. 55 10.314 > 0. 42*. Ini berarti rhitung lebih besar dari rtabel (0. 25*. 56. 17*. 31. 47. 37 Unfavorabel 2*. Dukungan emosional 2. 40* Nomor Item Favorabel 1. 29*. 26.

Reliabilitas Reliabilitas adalah derajat ketetapan dan ketelitian yang ditunjukkan oleh instrumen pengukuran sehingga dapat dipercaya. Hasil Penelitian Sesuai dengan tujuan penelitian ini yaitu untuk : a.8863 untuk instrumen penyesuaian diri dan sebesar 0. Mengetahui ada tidaknya hubungan antara dukungan sosial dengan penyesuaian diri remaja di Panti Asuhan Al Bisri Semarang. Mengetahui bagaimana gambaran tentang penyesuaian diri remaja di Panti Asuhan Al Bisri Semarang. c.9750 dan standar deviasi sebesar 13. Berdasarkan hasil penelitian diperoleh mean sebesar 108. Berdasarkan uji reliabilitas menggunakan rumus alpha diperoleh nilai r11 = 0. sehingga dapat digunakan sebagai alat ukur.79 b.12951. Gambaran Penyesuaian Diri Remaja Penyesuaian diri remaja di Panti Asuhan Al Bisri Semarang dapat dilihat dari aspek penyesuaian diri yaitu penyesuaian pribadi dan penyesuaian sosial. Mengetahui bagaimana gambaran tentang dukungan sosial di Panti Asuhan Al Bisri Semarang. 2. Hasil tersebut menunjukkan bahwa skala penyesuaian diri dan dukungan sosial adalah reliabel. . Data penyesuaian diri diambil dengan menggunakan skala penyesuaian diri sebanyak 36 item dan jumlah subjek sebanyak 40 orang.9236 untuk instrumen dukungan sosial. b. maka dapat diuraikan hasil penelitian sebagai berikut : a.

280735 X ≤ M−1. sedangkan subjek dengan skor lebih kecil atau sama dengan 89.669265 < X 2 M+0. Skor lebih besar dari 115. Distribusi aspek tentang tingkat penyesuaian diri dapat dilihat pada tabel berikut : .5SD 89.410245 berarti subjek mempunyai tingkat penyesuaian diri yang rendah.539755 < X ≤ 128.280735 < X ≤ 102.5 Pengelompokkan Norma Tingkat Penyesuaian Diri No Rumus Interval 1 M+1.5SD 115.539755 mempunyai penyesuaian diri yang sedang.280735−102. Apabila subjek memperoleh skor lebih besar dari 89.410245 5 X ≤ 89.5 dapat diketahui bila subjek penelitian memperoleh skor lebih besar dari 128. berarti Skor subjek lebih besar dari tingkat 102.410245 < X ≤ 115.669265 3 M−0.410245−115.280735 berarti subjek mempunyai tingkat penyesuaian diri yang sangat rendah.5SD < X ≤ M+0.669265 berarti subjek mempunyai tingkat penyesuaian diri yang tinggi.5SD < X 128.5SD Sumber : Hasil Penelitian Kategori Sangat Tinggi Tinggi Sedang Rendah Sangat Rendah Dari tabel 4.5SD < X ≤ M+1.669265 berarti subjek tersebut mempunyai tingkat penyesuaian diri yang sangat tinggi.80 Tabel 4.539755−128.5SD < X ≤ M−0.539755 4 M−1.5SD 102.

410245 < X ≤ 115.539755 89. bahwa dari 40 subjek yang diteliti. Apabila digambarkan dalam bentuk grafik akan diperoleh visualisasi sebagai berikut : 40 35 30 25 20 15 10 5 0 35 % 30 % 25 % \ 5% 5% Persentase SR R S Kategori T ST Grafik 4.410245 X ≤ 89.1 Tingkat Penyesuaian Diri Remaja .280735 < X ≤ 102.280735 Total Sumber : Hasil Penelitian No 1 2 3 4 5 f 2 10 14 12 2 40 % 5 25 35 30 5 100 Kategori Sangat Tinggi Tinggi Sedang Rendah Sangat Rendah Terlihat pada tabel di atas.669265 < X 115.81 Tabel 4. Sebanyak 25% atau 10 subjek mempunyai tingkat penyesuaian diri tinggi.669265 102.539755 < X ≤ 128.6 Distribusi Frekuensi Penyesuaian Diri Interval 128. Sebanyak 30% atau 12 subjek mempunyai tingkat penyesuaian diri rendah dan sebanyak 5% atau 2 subjek mempunyai tingkat penyesuaian diri sangat rendah. Sebanyak 35% atau 14 subjek mempunyai tingkat penyesuaian diri sedang. Hal ini menunjukkan bahwa secara umum penyesuaian diri remaja di Panti Asuhan Al Bisri Semarang dalam kategori sedang. sebanyak 5% atau 2 subjek mempunyai tingkat penyesuaian diri sangat tinggi.

7 Distribusi Frekuensi Aspek Penyesuaian Pribadi Interval 60. Hal ini menunjukkan bahwa secara umum penyesuaian pribadi remaja di Panti Asuhan Al Bisri Semarang dalam kategori sedang. Sebanyak 40% atau 16 subjek mempunyai tingkat penyesuaian pribadi sedang. Penyesuaian pribadi dapat dilihat dari distribusi frekuensi seperti tercantum pada tabel berikut. Sebanyak 22.18594 < X ≤ 47.93802 < X ≤ 60.5 40 30 5 100 Kategori Sangat Tinggi Tinggi Sedang Rendah Sangat Rendah Terlihat pada tabel di atas.5% atau 9 subjek mempunyai tingkat penyesuaian pribadi tinggi.5% atau 1 subjek mempunyai tingkat penyesuaian pribadi sangat tinggi. bahwa dari 40 subjek yang diteliti.82 Masing-masing aspek penyesuaian diri remaja di panti asuhan akan dijelaskan secara lebih rinci sebagai berikut : 1) Aspek Penyesuaian Pribadi Penyesuaian pribadi merupakan salah satu aspek dalam penyesuaian diri.93802 41. Tabel 4.18594 Total Sumber : Hasil Penelitian No 1 2 3 4 5 f 1 9 16 12 2 40 % 2.31406 47.5 22.31406 < X 53. sebanyak 2.56198 X ≤ 41. Sebanyak 30% atau 12 subjek mempunyai tingkat penyesuaian pribadi rendah dan Sebanyak 5% atau 2 subjek mempunyai tingkat penyesuaian pribadi sangat rendah. .56198 < X ≤ 53.

5% atau 13 subjek mempunyai tingkat penyesuaian sosial sedang. Sebanyak 27. dukungan penghargaan.5 27. Sebanyak 30% atau 12 subjek mempunyai tingkat penyesuaian sosial rendah dan Sebanyak 7.8 Distribusi Frekuensi Aspek Penyesuaian Sosial Interval 69.01684 < X ≤ 69.5 100 Kategori Sangat Tinggi Tinggi Sedang Rendah Sangat Rendah Terlihat pada tabel di atas.60052 < X 62.5% atau 1 subjek mempunyai tingkat penyesuaian sosial sangat tinggi.5 32. sebanyak 2. Tabel 4. b.01684 46.5 30 7.84948 Total Sumber : Hasil Penelitian No 1 2 3 4 5 f 1 11 13 12 3 40 % 2. Gambaran Dukungan Sosial Dukungan sosial pada remaja di Panti Asuhan Al Bisri Semarang dapat dilihat dari aspek-aspek dukungan sosial yaitu dukungan emosional.60052 54. Hal ini menunjukkan bahwa secara umum penyesuaian sosial remaja di Panti Asuhan Al Bisri Semarang dalam kategori sedang.8 berikut.84948 < X ≤ 54.5% atau 3 subjek mempunyai tingkat penyesuaian sosial sangat rendah.43316 X ≤ 46. dukungan instrumental .83 2) Aspek Penyesuaian Sosial Gambaran tentang penyesuaian sosial dapat dilihat pada table 4.5% atau 11 subjek mempunyai tingkat penyesuaian sosial tinggi. bahwa dari 40 subjek yang diteliti.43316 < X ≤ 62. Sebanyak 32.

09027.5SD Sumber : Hasil Penelitian Kategori Sangat Tinggi Tinggi Sedang Rendah Sangat Rendah Dari tabel 4.929865 < X ≤ 125.84 dan dukungan informasi.929865 berarti subjek mempunyai tingkat dukungan sosial rendah.839595 berarti subjek mepunyai tingkat dukungan sosial yang sangat rendah. Apabila subjek memperoleh skor lebih besar dari 92.5SD 92. Distribusi aspek tentang tingkat dukungan sosial dapat dilihat pada tabel berikut.110405 3 M−0.839595 X ≤ M−1.5SD < X ≤ M+1. Data dukungan sosial diambil dengan menggunakan skala dukungan sosial sebanyak 39 item dan jumlah subjek sebanyak 40 orang.110405 berarti subjek mempunyai tingkat dukungan sosial yang sangat tinggi.020135 4 M−1.9 dapat diketahui bila subjek penelitian memperoleh skor lebih besar dari 141. . Skor lebih besar dari 125.5SD < X ≤ M−0.110405 < X 2 M+0.110405 berarti subjek mempunyai tingkat dukungan sosial tinggi.020135 < X ≤ 141.020135−141.5SD < X ≤ M+0.5SD 108. sedangkan subjek dengan skor lebih kecil atau sama dengan 92. Tabel 4.5SD 125.020135 berarti subjek mempunyai tingkat dukungan sosial sedang.9750 dan standar deviasi sebesar 16.9 Pengelompokkan Norma Tingkat Dukungan Sosial No Rumus Interval 1 M+1.929865 5 X ≤ 92.839595−108.5SD < X 141. Skor lebih besar dari 108. Berdasarkan hasil penelitian diperoleh mean sebesar 116.92986−125.839595 < X ≤ 108.

85

Tabel 4.10 Distribusi Frekuensi Dukungan Sosial No 1 2 3 4 5 Interval 141,110405 < X 125,020135 < X ≤ 141,110405 108,929865 < X ≤ 125,020135 92,839595 < X ≤ 108,929865 X ≤ 92,839595 Total Sumber : Hasil Penelitian f 1 13 12 10 4 40 % 2,5 32,5 30 25 10 100 Kategori Sangat Tinggi Tinggi Sedang Rendah Sangat Rendah

Terlihat pada tabel di atas, bahwa dari 40 subjek yang diteliti, sebanyak 2,5% atau 1 subjek mempunyai tingkat dukungan sosial sangat tinggi. Sebanyak 32,5% atau 13 subjek mempunyai tingkat dukungan sosial tinggi. Sebanyak 30% atau 12 subjek mempunyai tingkat dukungan sosial sedang. Sebanyak 25% atau 10 subjek mempunyai tingkat dukungan sosial rendah dan sebanyak 10% atau 4 subjek mempunyai tingkat dukungan sosial sangat rendah. Hal ini menunjukkan bahwa secara umum dukungan sosial yang diperoleh remaja di Panti Asuhan Al Bisri Semarang dalam kategori sedang. Apabila digambarkan dalam bentuk grafik akan diperoleh visualisasi sebagai berikut :
35 30 25 Persentase 20 15 10 5 0 SR R S Kategori T ST 2.5 % 10 % \ 25 % 30 % 32.5 %

Grafik 4.2 Tingkat Dukungan Sosial

86

Masing-masing aspek dukungan sosial bagi remaja di panti asuhan akan dijelaskan secara lebih rinci sebagai berikut :
1) Dukungan Emosional

Gambaran tentang dukungan emosional dapat dilihat pada tabel 4.11 berikut. Tabel 4.11 Distribusi Frekuensi Aspek Dukungan Emosional Interval 24,821735 < X 21,807245 < X ≤ 24,821735 18,792755 < X ≤ 21,807245 15,778265 < X ≤ 18,792755 X ≤ 15,778265 Total Sumber : Hasil Penelitian No 1 2 3 4 5 f 3 6 13 13 5 40 % 7,5 15 32,5 32,5 12,5 100 Kategori Sangat Tinggi Tinggi Sedang Rendah Sangat Rendah

Terlihat pada tabel di atas, bahwa dari 40 subjek yang diteliti, sebanyak 7,5% atau 3 subjek mempunyai tingkat dukungan emosional sangat tinggi. Sebanyak 15% atau 6 subjek mempunyai tingkat dukungan emosional tinggi. Sebanyak 32,5% atau 13 subjek mempunyai tingkat dukungan emosional sedang. Sebanyak 32,5% atau 13 subjek mempunyai tingkat dukungan emosional rendah dan sebanyak 12,5% atau 5 subjek mempunyai tingkat dukungan emosional sangat rendah. Hal ini menunjukkan bahwa secara umum dukungan emosional yang diperoleh remaja di Panti Asuhan Al Bisri Semarang dalam kategori sedang.

87

2) Dukungan Penghargaan

Gambaran tentang dukungan penghargaan dapat dilihat pada tabel 4.12 berikut. Tabel 4.12 Distribusi Frekuensi Aspek Dukungan Penghargaan Interval 47,884065 < X 42,511355 < X ≤ 47,884065 37,138645 < X ≤ 42,511355 31,765935 < X ≤ 37,138645 X ≤ 31,765935 Total Sumber : Hasil Penelitian No 1 2 3 4 5 f 1 12 14 10 3 40 % 2,5 30 35 25 7,5 100 Kategori Sangat Tinggi Tinggi Sedang Rendah Sangat Rendah

Terlihat pada tabel di atas, bahwa dari 40 subjek yang diteliti, sebanyak 2,5% atau 1 subjek mempunyai tingkat dukungan penghargaan sangat tinggi. Sebanyak 30% atau 12 subjek mempunyai tingkat dukungan penghargaan tinggi. Sebanyak 35% atau 14 subjek mempunyai tingkat dukungan penghargaan sedang. Sebanyak 25% atau 10 subjek mempunyai tingkat dukungan penghargaan rendah dan sebanyak 7,5% atau 3 subjek mempunyai tingkat dukungan penghargaan sangat rendah. Hal ini menunjukkan bahwa secara umum dukungan penghargaan yang diperoleh remaja di Panti Asuhan Al Bisri Semarang dalam kategori sedang.

13 Distribusi Frekuensi Aspek Dukungan Instrumental Interval 29.5% atau 15 subjek mempunyai tingkat dukungan instrumental sedang.5 100 Kategori Sangat Tinggi Tinggi Sedang Rendah Sangat Rendah Terlihat pada tabel di atas.580855 20.88 3) Dukungan Instrumental Gambaran tentang dukungan instrumental dapat dilihat pada tabel 4.839715 X ≤ 16. Sebanyak 22.5 22.5% atau 13 subjek mempunyai tingkat dukungan instrumental tinggi.13 berikut.5 7.210285 16.5 37. Tabel 4.5% atau 9 subjek mempunyai tingkat dukungan instrumental rendah dan sebanyak 7. sebanyak 32.5% atau 3 subjek mempunyai tingkat dukungan instrumental sangat rendah.210285 < X ≤ 29. bahwa dari 40 subjek yang diteliti.469145 < X ≤ 20. Sebanyak 37. 4) Dukungan Informasi Gambaran tentang dukungan informasi dapat dilihat pada tabel 4.839715 < X ≤ 25. Hal ini menunjukkan bahwa secara umum dukungan instrumental yang diperoleh remaja di Panti Asuhan Al Bisri Semarang dalam kategori sedang.580855 < X 25.469145 Total Sumber : Hasil Penelitian No 1 2 3 4 5 f 0 13 15 9 3 40 % 0 32. .14 berikut.

c.313145 < X ≤ 41.289435 < X 36. Hal ini menunjukkan bahwa secara umum dukungan informasi yang diperoleh remaja di Panti Asuhan Al Bisri Semarang dalam kategori sedang.5% atau 19 subjek mempunyai tingkat dukungan informasi sedang.5 30 47. Korelasi pada penelitian ini dihitung dengan menggunakan korelasi product moment.360565 Total Sumber : Hasil Penelitian No 1 2 3 4 5 f 1 12 19 2 6 40 % 2.5% atau 1 subjek mempunyai tingkat dukungan informasi sangat tinggi. Uji Hipotesis Hipotesis yang diajukan dalam penelitian ini adalah hubungan positif antara dukungan sosial dengan penyesuaian diri remaja di Panti Asuhan Al Bisri Semarang. Sebanyak 47.336855 < X ≤ 36. Sebanyak 5% atau 2 subjek mempunyai tingkat dukungan informasi rendah dan sebanyak 15% atau 6 subjek mempunyai tingkat dukungan informasi sangat rendah.360565 < X ≤ 31.289435 31. bahwa dari 40 subjek yang diteliti.14 Distribusi Frekuensi Aspek Dukungan Informasi Interval 41.336855 X ≤ 26.313145 26. sebanyak 2. komputasi menggunakan bantuan komputer program statistical program for .89 Tabel 4.5 5 15 100 Kategori Sangat Tinggi Tinggi Sedang Rendah Sangat Rendah Terlihat pada tabel di atas. Sebanyak 30% atau 12 subjek mempunyai tingkat dukungan informasi tinggi.

01.17 Korelasi Antara Dukungan Sosial dengan Penyesuaian Diri Remaja Correlations Penyesuaian Diri Pearson Correlation 1 Sig. (2-tailed) . . N 40 Dukungan Pearson Correlation .” Semakin tinggi dukungan sosial maka semakin tinggi pula penyesuaian diri.566(**) . (2-tailed) .566(**) Sosial Sig. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada tabel berikut.90 social sciences (SPSS) versi 10. besarnya koefisien korelasi tersebut bertanda positif. yang berarti pada taraf signifikansi 1% hipotesis yang menyatakan ada hubungan positif antara dukungan sosial dengan penyesuaian diri remaja di Panti Asuhan Al Bisri Semarang diterima. sehingga dapat disimpulkan bahwa “ada hubungan positif antara dukungan sosial dengan penyesuaian diri remaja di Panti Asuhan Al Bisri Semarang. p < 0. Semakin rendah dukungan sosial maka semakin rendah pula penyesuaian diri.566.01 level (2tailed) Penyesuaian Diri Dukungan Sosial .0 diperoleh koefisien korelasi 0. Tabel 4.000 40 1 . Untuk melihat berapa besar kontribusi dukungan sosial terhadap penyesuaian diri remaja dapat dilihat dari table nilai R-Square seperti tercantum pada tabel berikut.0 Berdasarkan hasil analisis SPSS versi 10. demikian juga sebaliknya.000 N 40 ** Correlation is significant at the 0. 40 Berdasarkan dari perhitungan koefisien korelasi tersebut.

18 Kontribusi Dukungan Sosial Terhadap Penyesuaian Diri Remaja Model Summary Std.320 yang berarti penyesuaian diri remaja di Panti Asuhan Al Bisri Semarang dipengaruhi oleh dukungan sosial sebesar 32%.000 Terlihat dari tabel di atas bahwa nilai R-Square sebesar 0. selebihnya dipengaruhi oleh faktor–faktor lain di luar penelitian ini. intelegensi. 3.320 a Presictors: (Constant). F Change .91 Tabel 4.96589 . baik secara aktif maupun pasif yang melibatkan respon mental dan tingkah laku. kondisi lingkungan dan lain sebagainya. penyesuaian diri merupakan salah satu variabel penting yang membantu remaja menghadapi permasalahan dan berkembang secara optimal menuju kedewasaan. Error of the R Square Estimate Change 10. .566(a) . sikap. Pada remaja yang tinggal di panti asuhan. kepribadian.908 1 38 Model R R Square Adjusted R Sguare 1 . lingkungan panti asuhan merupakan lingkungan sosial yang utama dalam mengadakan penyesuaian diri. sehingga tercapai hubungan yang harmonis antara diri dengan lingkungannya. remaja khususnya di panti asuhan tidak akan mampu menyelesaikan konflik-konflik yang dialaminya di panti asuhan tersebut.320 . Tanpa adanya penyesuaian diri yang baik. Dukungan Sosial Sig.320 Change Statistics F df1 df2 Change 17. Pembahasan Bagi remaja yang tinggal di panti asuhan. Penyesuaian diri merupakan suatu usaha yang dilakukan oleh individu untuk mempertemukan tuntutan diri sendiri dengan lingkungan. misalnya konsep diri. persepsi.

PENYESUAIAN DIRI REMAJA T 25 % ST 5% SR 5% R 30 % S 35 % Gambar 4. hanya ada sedikit remaja yang memiliki penyesuaian diri baik (hanya ada 30% remaja dengan penyesuaian diri tinggi dan sangat tinggi). Hal tersebut menunjukkan bahwa remaja di panti asuhan lebih berusaha untuk mengembangkan penyesuaian pribadi dibanding penyesuaian sosial. Selebihnya 5% atau 2 orang remaja memiliki tingkat penyesuaian diri sangat tinggi. Dalam penelitian ini aspek penyesuaian diri yang dominan pada remaja di panti asuhan adalah aspek penyesuaian pribadi (40% atau 16 orang remaja memiliki tingkat penyesuaian pribadi sedang).1 Diagram Penyesuaian Diri Remaja . Hal ini mengindikasikan bahwa sebagian besar remaja di panti asuhan memiliki penyesuaian diri yang tergolong menengah ke bawah. 25% atau 10 orang remaja memiliki tingkat penyesuaian diri yang tinggi. 30% atau 12 orang remaja memiliki tingkat penyesuaian diri yang rendah dan 5% atau 2 orang remaja memiliki tingkat penyesuaian diri yang sangat rendah.92 Berdasarkan hasil penelitian diperoleh informasi bahwa penyesuaian diri remaja di Panti Asuhan Al Bisri Semarang tahun 2007 tergolong sedang yaitu sebanyak 35% atau 14 orang remaja dari 40 subjek yang diteliti.

93

Dalam mencapai penyesuaian diri secara maksimal, remaja di panti asuhan juga memerlukan dukungan sosial dari orang-orang terdekat di lingkungannya yaitu dari pengasuh dan teman-teman sesama penghuni panti asuhan. Hal ini sesuai dengan pendapat Winnubust dalam Smet (1994:133) yang mengatakan bahwa dukungan sosial tidak terlepas dari hubungan akrab, sehingga dari interaksi tersebut individu menjadi lebih tahu bahwa orang lain telah memperhatikan, mencintai dan menghargai dirinya. Dukungan sosial merupakan hubungan interpersonal yang di dalamnya berisi pemberian bantuan yang melibatkan aspek-aspek yang terdiri dari informasi, perhatian emosi, penilaian dan bantuan instrumental yang diperoleh individu melalui interaksi dengan lingkungan, dimana hal itu memiliki manfaat emosional atau efek perilaku bagi penerima, sehingga dapat membantu individu dalam mengatasi masalahnya. House dalam Smet (1994:136) menyatakan bahwa melalui dukungan emosional, dukungan penghargaan, dukungan instrumental serta dukungan informasi dapat bermanfaat bagi kesehatan dan kesejahteraan psikologis. Hasil analisis data menunjukkan bahwa dukungan sosial yang diperoleh remaja di Panti Asuhan Al Bisri Semarang tahun 2007 termasuk dalam kategori tinggi, terbukti dari 40 orang remaja yang diteliti sebanyak 32,5% atau 13 orang remaja dalam kategori tinggi. Selebihnya 2,5% atau 1 orang remaja memiliki tingkat dukungan sosial sangat tinggi, 30% atau 12 orang remaja memiliki tingkat dukungan sosial sedang, 25% atau 10 orang

94

remaja memiliki tingkat dukungan sosial rendah dan 10% atau 4 orang remaja memiliki tingkat dukungan sosial sangat rendah. Hasil analisis ini memberikan bukti empirik bahwa pengasuh dan teman-teman sesama penghuni panti asuhan telah memberikan dukungan sosial yang dirasakan secara memadai atau cukup kepada kebanyakan remaja di panti asuhan. Dalam penelitian ini, bentuk dukungan sosial yang memonjol pada remaja di panti asuhan adalah dukungan informasi, seperti pemberian nasehat, petunjuk dan saran dari pengasuh dan teman-teman sesama penghuni panti asuhan. Cohen dalam Shinta (1995:40) menyatakan bahwa pemberian dukungan informasi dapat membantu individu untuk merubah situasi dan merubah pemahaman dari situasi, sehingga mempengaruhi penilaian stresnya.

DUKUNGAN SOSIAL
T 32.5 % ST 2.5% SR 10 % R 25 %

S 30 %

Gambar 4.2 Diagram Dukungan Sosial

95

Masalah penyesuaian diri remaja bisa timbul bukan saja disebabkan oleh dukungan sosial kepada remaja, menurut Hariyadi, dkk (1995:110) banyak faktor yang bisa mempengaruhi antara lain : faktor internal seperti motif, konsep diri, sikap, intelegensi, minat, kepribadian dan faktor eksternal seperti kondisi sekolah, teman sebaya dan sebagainya. Jika hal-hal tersebut dibiarkan tanpa ada perhatian dapat meningkatkan masalah dalam penyesuaian diri remaja. Sumbangan efektif dukungan sosial sebesar 32% yang ditunjukkan oleh nilai R-Square sebesar 0,320, berarti masih terdapat 68% faktor lain yang mempengaruhi penyesuaian diri. Dukungan sosial merupakan faktor dominan yang mempengaruhi penyesuaian diri, walaupun demikian terdapat faktor-faktor lain yang perlu dipertimbangkan juga dalam upaya pengembangan penyesuaian diri remaja di panti asuhan. Berdasarkan hasil analisis data diperoleh nilai koefisien korelasi (rxy) sebesar 0,566 (sig = 0,000, p < 0,01). Hal ini berarti ada hubungan positif yang signifikan antara dukungan sosial dengan penyesuaian diri remaja di Panti Asuhan Al Bisri Semarang tahun 2007. Semakin tinggi dukungan sosial maka semakin tinggi pula penyesuaian dirinya, sebaliknya semakin rendah dukungan sosial maka semakin rendah pula penyesuaian dirinya. Dengan demikian hipotesis yang diajukan oleh peneliti diterima. Bagi remaja panti asuhan, lingkungan panti asuhan merupakan lingkungan sosial utama yang dikenalnya dan merupakan sumber

dan yang rendah sebanyak 2 orang remaja. Apabila remaja panti asuhan mendapat cukup banyak dukungan sosial dari lingkungannya baik dari pengasuh maupun teman-teman di panti asuhan dalam bentuk apapun akan membuatnya mampu mengembangkan kepribadian yang sehat dan memiliki pandangan positif. sehingga dukungan sosial yang dirasakan oleh remaja di Panti Asuhan Al Bisri Semarang lebih cenderung berasal dari pengasuhnya. sehingga dirinya memiliki kemampuan untuk mengadakan penyesuaian diri secara harmonis. Studi pendahuluan menunjukkan bahwa dari 5 orang remaja panti asuhan memiliki tingkat dukungan sosial yang tinggi sebanyak 1 orang remaja. tingkat dukungan sosial yang sedang sebanyak 2 orang remaja. Dukungan sosial tersebut remaja dapatkan dari pengasuh dan teman-teman sesama penghuni panti asuhan. .8984). sedangkan tingkat penyesuaian diri yang sedang sebanyak 1 orang remaja. yaitu dukungan sosial tergolong tinggi dan penyesuaian diri tergolong sedang.96 dukungan sosial yang utama. Hal ini menunjukkkan bahwa studi pendahuluan dari 5 orang remaja tersebut tidak sesuai dengan hasil penilitian secara umum.1197) lebih besar dibandingkan dengan nilai rerata atau mean dukungan sosial yang bersumber dari teman (mean=2. tingkat penyesuaian diri yang rendah sebanyak 3 orang remaja dan sangat rendah sebanyak 1 orang remaja. Lebih lanjut berdasarkan hasil penelitian tampak bahwa nilai rerata atau mean dari dukungan sosial yang bersumber dari pengasuh (mean=3. baik terhadap diri sendiri maupun lingkungan.

. pencemas khususnya saat beradapan dengan orang lain yang masih baru. Terbukti dari hasil penelitian bahwa aspek penyesuaian diri yang lebih dominan pada remaja di panti asuhan adalah aspek penyesuaian pribadi (40 % atau 16 orang remaja memiliki tingkat penyesuaian pribadi sedang). berbeda dengan apa yang dimiliki oleh 5 orang remaja tersebut yang tergolong rendah dan sangat rendah. Hasil ini menunjukkan bahwa penyesuaian diri yang dimiliki 5 orang remaja tersebut tergolong menengah ke bawah (70 % remaja dengan penyesuaian diri sedang. Hal ini menunjukkan bahwa dukungan sosial dari pengasuh dan teman-teman sesama penghuni panti asuhan dirasakan kurang memadai bagi 5 orang remaja tersebut. namun tetap saja mereka seringkali menunjukkan perilaku malu-malu. menarik diri.97 Dukungan sosial yang dirasakan sebagian besar remaja secara umum tergolong tinggi. rendah dan sangat rendah). Hal ini menunjukkan bahwa 5 orang remaja tersebut kurang mengembangkan penyesuaian sosial. berbeda dengan apa yang dirasakan oleh 5 orang remaja tersebut yang tergolong sedang dan rendah. Penyesuaian diri yang dimiliki sebagian besar remaja secara umum tergolong sedang. sehingga 5 orang remaja tersebut lebih berusaha untuk mengembangkan penyesuaian pribadi dibanding penyesuaian sosial. Diungkap lebih lanjut berdasarkan wawancara yang dilakukan oleh peniliti bahwa remaja di panti asuhan yang sudah lama tinggal di panti biasanya memiliki relasi yang dekat dengan teman-teman di panti dan pengasuhnya.

98 BAB V SIMPULAN DAN SARAN A. 30% atau 12 orang remaja memiliki tingkat penyesuaian diri yang rendah dan 5% atau 2 orang remaja memiliki tingkat penyesuaian diri yang sangat rendah. Selengkapnya dapat dilihat dari data sebagai berikut : 2. 35% atau 14 orang remaja memiliki tingkat penyesuaian diri yang sedang. 25% atau 10 orang remaja memiliki tingkat penyesuaian diri yang tinggi. Rata-rata remaja di Panti Asuhan Al Bisri Semarang memiliki tingkat penyesuaian diri yang sedang yaitu sebanyak 35% atau 14 orang remaja. 32.5% atau 13 orang remaja memiliki tingkat dukungan sosial yang tinggi. Selengkapnya dapat dilihat dari data sebagai berikut : 5% atau 2 orang remaja memiliki tingkat penyesuaian diri yang sangat tinggi.5% atau 1 orang remaja memiliki tingkat dukungan sosial yang sangat tinggi. Rata-rata remaja di Panti Asuhan Al Bisri Semarang memiliki tingkat dukungan sosial yang tinggi yaitu sebanyak 32% atau 13 orang remaja. 2. 30% atau 12 orang remaja memiliki tingkat dukungan sosial yang sedang. Kesimpulan Berdasarkan hasil analisis data dan pembahasan yang telah dilakukan dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut : 1. 98 . 25% atau 10 orang remaja memiliki tingkat dukungan sosial yang rendah dan 10% atau 4 orang remaja memiliki tingkat dukungan sosial yang sangat rendah.

Penelitian ini juga menghasilkan koefisien determinasinya (R Square) sebesar 0. Bagi Remaja di Panti Asuhan Remaja di Panti Asuhan Al Bisri Semarang rata-rata memiliki tingkat penyesuaian diri yang tergolong sedang. sebaliknya semakin rendah dukungan sosial maka semakin rendah pula penyesuaian dirinya. Remaja diharapkan dapat memahami arti penting dari penyesuaian diri dan dapat mengambil nilai-nilai yang positif. Ada hubungan positif yang signifikan antara dukungan sosial dengan penyesuaian diri remaja di Panti Asuhan Al Bisri Semarang tahun 2007 (indeks korelasi rxy = 0.99 3. maka penulis mengajukan saran-saran sebagai berikut : 1. misalnya tidak menggantungkan diri pada orang lain. bertanggungjawab dan bisa menempatkan diri sebagaimana mestinya. Saran Berdasarkan hasil penelitian.320 yang berarti bahwa 32% variabel dukungan sosial mempunyai sumbangan terhadap variabel penyesuaian diri dan sisanya sebesar 68% dipengaruhi oleh faktor lain. analisis data dan kesimpulan yang telah diambil.566. p < 0. agar memiliki penyesuaian diri yang baik hendaknya remaja lebih berupaya untuk mengembangkan penyesuaian diri yang baik dalam lingkungannya. Artinya semakin tinggi dukungan sosial maka semakin tinggi pula penyesuaian dirinya. B.01). sehingga mudah menyesuaikan diri dimanapun berada dan mampu mengembangkan semua potensi pada diri secara .

Bagi Pihak Panti Asuhan Remaja di Panti Asuhan Al Bisri Semarang rata-rata memiliki tingkat penyesuaian diri yang tergolong sedang. maka hendaknya panti asuhan sebagai keluarga dapat menciptakan situasi yang menyenangkan bagi anak asuhnya. Hal ini dapat ditempuh dengan cara yaitu rasio jumlah antara pengasuh dan jumlah anak asuh hendaknya juga mendapatkan perhatian yang serius. sehingga anak asuh merasa mendapatkan pengganti keluarganya. Panti asuhan sebaiknya menyediakan pengasuh yang dapat meluangkan waktu secara intensif dan memiliki selisih usia yang tidak terlalu jauh dengan remaja agar proporsional dalam mengasuh remaja tersebut. Mengingat latar belakang remaja yang masuk ke panti asuhan adalah remaja dengan latar belakang keluarga. 2. mengingat ketidakseimbangan antara jumlah pengasuh dan anak asuh yang terlalu besar. maka hubungan individual secara pribadi dan hangat kurang memungkinkan untuk dijalin.100 optimal serta diterapkan dan diwujudkan melalui hubungan dalam kehidupan sehari-hari. hendaknya masalah dukungan sosial yang mempengaruhi penyesuaian diri remaja senantiasa diperhatikan oleh pihak panti asuhan. ekonomi dan lain sebagainya yang kurang menguntungkan. sehingga sangat membantu pembentukan diri untuk menuju alam kedewasaan. .

intelegensi. kepribadian. misalnya konsep diri. . teman sebaya dan lain sebagainya.101 3. kondisi sekolah. sikap. Bagi Peneliti Lain Peneliti yang tertarik melakukan penelitian lebih lanjut yang berkaitan dengan penyesuaian diri hendaknya menggunakan populasi yang lebih luas dan memperhatikan faktor-faktor lain yang mempengaruhi penyesuian diri.

Hubungan Antara Perilaku Coping dan Dukungan Sosial dengan Kecemasan pada Ibu Hamil Anak Pertama. Alih Bahasa : Mari Jumiati.. S.M. Psikologi Perkembangan. Alih Bahasa : Daradjat. Bandung : PT Eresco Gottlieb. 1983. Jakarta : Bulan Bintang 1982. 2002. Baverly Hills: Sage Publications Hariyadi.102 DAFTAR PUSTAKA Arikunto. Edisi ke-3. Departemen Sosial Republik Indonesia. Jakarta: Rineka Cipta Davidoff. Volume 14. S. Insan Media Psikologi. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Psikologi Suatu Pengantar. Jilid 2. Panduan Pelaksanaan Pembinaan Kesejahteraan Sosial Anak Melalui Panti Sosial Asuhan Anak. Sekolah dan Masyarakat. New York : Mc Graw Hill Dagun. E. 2002. S. Jakarta (tidak diterbitkan) Effendi dan Tjahjono.. Penyusunan Skala Psikologi. Deliana. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek. 2001. Jakarta : Balai Pustaka. Nomor 54. Deskripsi Kebutuhan Psikologi Pada Anak Panti Asuhan. J. S. dan Acocella. 1999. Perkembangan Peserta Didik. Z. 1995. Psikologi Tentang Penyesuaian dan Hubungan Kemanusiaan.A. 1997. Jilid 1. W. 1996. 1995. Suparwoto. Anima. Jakarta : Erlangga Press . M. Penyesuaian Diri. 2004. S. J. Halaman 214-227 Fahmi.H.M. Hendrarno. N. Halaman 109-118 Hurlock. Social Support Strategies Guidelines For Mental Health Practice. Semarang : IKIP Semarang Press Hartini. 2003. Jakarta : Rineka Cipta Azwar. Jakarta : Erlangga Departemen Pendidikan Nasional. B. 1991. Volume 3. Nomor 2.R. E.F. Psikologi Keluarga. Kesehatan Jiwa Dalam Keluarga. 1977. 2001. Haryono.. Psikologi Sosial. Jakarta: Bulan Bintang Gerungan. Yogyakarta: Pustaka Pelajar Offset Calhoun.

Hubungan Antara Dukungan Sosial Yang Diterima Secara Nyata Dengan Ada Atau Tidaknya Gangguan Depresi Pasca Persalinan pada Ibu Dewasa Muda. Anima. A. Z.. Self Adjustment.. halaman 118-122 Santrock. dan Basri. A. 43. A. L. XI. 2002. J. 2000. www.e-psikologi. Alih Bahasa : Chausairi. No. E. A. D. 1995. Jakarta : Erlangga Sarafino. Z. Haditono. Psikologi Kesehatan. Perkembangan Peserta Didik. D. F.M. Edisi 5.highbeam. S. 237-245 Pramudiani. J. B. Conger. Nomor 1. Nomor 2. Psikodimensia (Kajian Ilmiah Psikologi). Halaman 70-81 Kartono. 2007. T.103 Hutabarat.com Shinta. Bandung : Mandar Maju Kuntjoro.S.W. Nomor 2. Penyesuaian Diri Perempuan Pekerja Seks dalam Kehidupan Sehari-hari. Kagan. Vol. Volume 9.C. 2001. 1998. Jurnal Psikologi Indonesia. A. Perkembangan dan Kepribadian Anak. J. www. 1994.. Jakarta: Gramedia Mu’tadin.P.. 2002. Jakarta : Rineka Cipta . 1989. Hygiene Mental.J. K.. Volume 1. 2002. Arkhe (Jurnal Ilmiah Psikologi). P.S. Live Span Development (Perkembangan Masa Hidup). Knoers. Kualitas Hidup Penderita Penyakit Jantung Pasca Serangan Jantung Ditinjau Dari Dukiungan Sosial dan Interval Waktu.J. Huston. 2002.e-psikologi. Halaman 1-7 Smet. www. 1994. Jurnal Psikologi Sosial. Yogyakarta: Gajah Mada University Press Mussen.com Oktavia. 2004.B. Alih Bahasa: Meitasari. Psikologi Perkembangan Pengantar Dalam Berbagai Bagiannya. Hal. 2002. Perilaku Coping dan Dukungan Sosial Pada Pemuda Penganggur Studi Deskriptif terhadap Pemuda Penganggur di Perkotaan. Nomor 1. Jakarta : PT Grasindo Sunarto dan Hartono. Penyesuaian Diri Remaja. Halaman 15-22 Pramadi. Volume 8. USA : John Willey and sons Schneiders. Dukungan Sosial Pada Lansia. 1996.R. Health Psikologi : Biopsychosocial Interaction. Hubungan Antara Kemampuan Penyesuaian Diri Terhadap Tuntutan Tugas dan Hasil Kerja.com Monks.H.

2001. Jakarta : Rineka Cipta . S. Kesehatan Mental Dalam Kehidupan.104 Sundari. Jakarta : Rineka Cipta Wirawan. 2005. Psikologi Remaja.

105 .

106 INSTRUMEN SKALA PENELITIAN SKALA A DUKUNGAN SOSIAL SKALA B PENYESUAIAN DIRI .

berilah tanda sama dengan (=). Baca dan pahami baik-baik setiap pernyataan berikut. 2. Semua jawaban adalah benar. Bila anda merasa tidak sesuai dengan pernyataan yang diajukan. Teliti kembali pekerjaan anda. sehingga tidak ada jawaban yang dianggap salah. Kami sangat menjaga kerahasiaan jawaban anda. 7. Pilih salah satu dari 4 (empat) jawaban yang tersedia : SS S TS STS Bila anda merasa sangat sesuai dengan pernyataan yang diajukan. Atas partisipasi dan kesediaan anda untuk mengisi skala ini.107 Nama Usia Jenis kelamin Pendidikan : : : L/P : SMP / SMU PETUNJUK PENGISIAN SKALA A DAN B 1. SS S TS STS Saya suka warna kuning. 5. kami mengucapkan banyak terima kasih. Berilah tanda silang (X) pada jawaban yang anda pilih. 3. kemudian buatlah tanda silang (X) pada jawaban yang baru. Bila anda merasa sesuai dengan pernyataan yang diajukan. Contoh : No Pernyataan 1. Bila anda merasa sangat tidak sesuai dengan pernyataan yang diajukan. 6. Contoh : Jawaban No Pernyataan 1. Informasi yang anda berikan melalui pengisian skala ini tidak berdampak pada siapa-siapa. Dalam hal ini tidak ada penilaian benar atau salah. jika anda memberikan jawaban sesuai dengan keadaan atau perasaan Anda yang sebenarnya. jangan ada satu pernyataan yang terlewatkan. Kemudian jawablah semua pernyataan sesuai dengan keadaan atau perasaan anda yang sesungguhnya. Saya suka warna kuning. “SELAMAT MENGERJAKAN” . baik atau buruk. 4. SS Jawaban S TS STS Bila hendak mengganti jawaban.

7. Pengasuh tidak mendukung terhadap tindakan-tindakan saya. Teman-teman di panti menolak ketika saya ingin meminjam uang untuk membeli buku. 13. PERNYATAAN Setiap ucapan dan sikap pengasuh menunjukkan kasih sayang. 10. 8. pengasuh jarang membelikan SS S TS STS SS S TS STS SS S TS STS SS S TS STS SS S TS STS SS S TS STS SS SS S S TS STS TS STS SS S TS STS SS S TS STS SS S TS STS SS S TS STS . SS JAWABAN S TS STS 2. Meskipun saya meminta. pengasuh selalu mengingatkan saya untuk minum obat. Pengasuh selalu membedakan saya dengan teman yang lain. Pengasuh membelikan buku-buku pelajaran yang saya perlukan. 11. Pengasuh menyediakan ruang untuk belajar yang cukup nyaman. Pengasuh membiarkan saya walaupun saya pulang terlambat dari sekolah. 6. 4. teman-teman di panti SS S TS STS mentertawakan saya. Pengasuh memberi nasehat agar saya menjadi orang yang berguna. 12. 9. 5. Ketika saya sakit. 14. Pengasuh memberikan pujian atas prestasi yang telah saya raih. 3. Pengasuh selalu mendorong saya untuk giat belajar.108 SKALA A NO 1. Saya jarang mendapat teguran dari pengasuh atas kesalahan yang saya perbuat. Jika saya menangis.

Pada saat saya lalai menjalankan ibadah agama teman di panti mengingatkan. Saya tidak mempunyai tempat untuk bertanya tentang cara menyelesaikan masalah. pengasuh justru memarahi saya.109 perlengkapan sekolah. 22. 19. Saat saya kecewa dengan nilai ulangan sekolah. 25. Pengasuh senang jika saya melakukan pekerjaan dengan baik. 29. 17. 21. Saya mendapat keterangan yang cukup tentang cara belajar yang baik dari pengasuh. 15. 20. Teman di panti selalu menghibur apabila saya sedang sedih. Teman-teman di panti selalu mencela kesalahan yang saya lakukan. Teman di panti keberatan saat saya meminjam alat tulisnya. SS S TS STS SS S TS STS SS S TS STS SS SS S S TS STS TS STS SS S TS STS SS S TS STS SS S TS STS SS S TS STS SS S TS STS SS S TS STS SS S TS STS SS S TS STS SS S TS STS SS S TS STS . Teman-teman di panti tidak pernah mengucapkan selamat di hari ulang tahun saya. 16. 27. Pengasuh bersikap tertutup ketika saya meminta nasehat. 18. Teman di panti memberi nasehat bila saya melakukan kesalahan. Teman-teman di panti mau meminjamkan buku catatan saat saya tidak masuk sekolah. Saya jarang diberi kesempatan untuk menunjukkan kemampuan saya. 28. 26. Semua peralatan tersedia di panti asuhan. Pengasuh mengajarkan pada saya agar tidak mudah putus asa. 24. 23.

SS S TS STS 43. Pengasuh sering menanyakan perkembangan prestasi yang saya peroleh di sekolah. SS S TS STS 38. SS S TS STS 36. SS S TS STS 40. SS S TS STS 35. SS S TS STS 34. Uang saku sekolah saya hanya cukup untuk biaya transportasi saja. SS S TS STS 44.110 30. SS S TS STS 41. Pengasuh selalu mengajarkan pada saya mengenai sopan santun. Teman-teman di panti menganggap pendapat saya tidak penting. Teman-teman di panti turut prihatin bila saya sedang sakit. Pengasuh jarang memberi jalan pemecahan bila terjadi permusuhan dengan teman di panti asuhan. SS S TS STS 33. SS S TS STS 31. Saya dan teman-teman di panti saling memberi semangat untuk mencapai masa depan yang lebih baik. Pengasuh kurang memahami atas kesulitan yang saya alami dalam pelajaran. SS S TS STS 32. Saat saya bimbang. Jika saya kesulitan mengerjakan tugas. tidak ada teman di panti yang memberikan saran. Teman-teman di panti kurang mendukung keputusan yang saya ambil. Saya mendapat saran dari pengasuh di saat saya bimbang untuk menentukan suatu pilihan. SS S TS STS 42. SS S TS STS 39. Ketika mendapat nilai yang bagus. teman-teman di panti memberi selamat pada saya. SS S TS STS 37. SS S TS STS . Pengasuh menolak saat saya meminta sepatu baru untuk mengganti yang sudah rusak. Teman-teman di panti suka mengabaikan pendapat saya. teman di panti meminjamkan buku pelajaran.

Pengasuh tidak peduli ketika saya menghadapi masalah. Pengasuh menjelaskan tentang alasan pentingnya saya mengikuti kegiatan keagamaan. Pengasuh menganjurkan agar saya lebih bersabar dalam menghadapi masalah. 59. SS S TS STS 52. Teman-teman di panti meyakinkan saya agar saya selalu percaya diri. Kelemahan yang saya miliki sering menjadi bahan ejekan teman di panti. saya kurang ditanggapi oleh SS S TS STS 51. SS S TS STS . SS S TS STS 49. SS SS S S TS STS TS STS 56. 57. SS S TS STS 53. Pengasuh jarang membantu saya memahami hal-hal yang belum saya ketahui. 47. Keluhan-keluhan pengasuh. SS SS S S TS STS TS STS 58. Pengasuh selalu mendukung saya untuk menjadi pribadi yang mandiri. SS S TS STS 54. SS SS S S TS STS TS STS 60. Teman di panti mencela bila saya melakukan kesalahan. 55. Pengasuh tidak memberi saya obat ketika saya sakit. Panti asuhan menyediakan buku-buku bacaan. Di panti asuhan tersedia sarana olah raga yang saya butuhkan. SS SS SS S S S TS STS TS STS TS STS 48. SS S TS STS 50. pengasuh mengantar saya untuk periksa ke dokter. Pengasuh jarang memberi uang untuk jajan. Teman-teman di panti enggan berbagi pengetahuan dengan saya. 46. Saat saya sakit.111 45. Teman-teman di panti mennyakan keadaan saya bila terlihat berbeda dari biasanya.

8. Saya turut berbahagia bila ada teman di panti yang berprestasi.112 SKALA B NO 1. 17. 12. 3. 7. 2. Saya merasa sedikit sekali teman di panti yang mau membantu saya. Saya memilih untuk pergi pada saat pengasuh membutuhkan bantuan saya. Jika saya sedih saya tidak akan murung. saya turut berpartisipasi walaupun tidak disuruh. 5. Saya sulit menentukan apa yang baik bagi diri saya. Bagaimana pahitnya kehidupan. Saya sering mencela hasil karya teman di panti yang kurang bagus. Setiap ada kegiatan di panti asuhan. 10. 16. 6. 11. Apabila bertemu pengasuh. SS SS SS JAWABAN S S S TS STS TS STS TS STS 4. Saya jalankan semua peraturan panti asuhan sekalipun SS SS S S TS STS TS STS SS S TS STS SS S TS STS SS S TS STS SS S TS STS SS S TS STS SS S TS STS SS SS S S TS STS TS STS . saya selalu menyapa terlebih dulu. Saya merasa malu karena tinggal di panti asuhan. Saya selalu melakukan sesuatu sesuai dengan SS S TS STS kemampuan yang saya miliki. 9. Saya tidak berani berpendapat di depan umum. 15. 14. 13. Saya menghargai pendapat teman di panti meski tidak sesuai dengan pendapat saya. PERNYATAAN Saya menyukai diri saya sendiri seperti apa adanya. Saya seringkali kurang bisa berhati-hati dalam SS SS SS S S S TS STS TS STS TS STS bertindak. Saya dilahirkan sebagai anak yang kurang beruntung. akan saya hadapi apa adanya.

33. 30. 24. Kekurangan yang ada dalam diri saya sangat SS SS S S TS STS TS STS SS S TS STS menghambat cita-cita saya. 28. 31. 27. 19. 25. 22. Bila saya berbuat salah. Saya menolak hukuman yang diberikan pengasuh atas kesalahan yang saya perbuat. Saya memiliki bakat yang bisa saya kembangkan. 18. Saya membiarkan teman di panti yang sedang mengalami kesulitan karena saya mengalami hal yang sama. Saya merasa keberatan untuk menerima keputusan yang berbeda dengan pendapat saya. Saya merasa bahwa pengasuh memberi pertolongan karena kasihan. 23. saya dapat menerima sebagai wujud kasih sayang pengasuh. 20. Saya tetap bergaul dengan teman-teman di panti yang memiliki banyak kekurangan. Saya ikut menyumbangkan pikiran dalam suatu diskusi. 29. Saya dapat mengungkapkan kemarahan secara wajar. Teman-teman di panti suka menceritakan masalahnya kepada saya. Bila pengasuh memarahi saya.113 itu berat. 32. 21. Saya tidak tahu apa yang harus saya lakukan setelah keluar dari panti asuhan. Meskipun mendapat tugas yang sulit. saya enggan untuk minta maaf. SS S TS STS SS S TS STS SS S TS STS SS S TS STS . saya SS SS S S TS STS TS STS SS S TS STS SS S TS STS SS S TS STS SS SS S S TS STS TS STS SS S TS STS SS S TS STS menghiburnya. Apabila teman di panti sedang sedih. 26. saya berusaha untuk menyelesaikannya. Saya kecewa bila teman-teman di panti tidak bersedia membantu saya.

Saya merasa bahwa saya orang yang kurang berharga. SS S TS STS 35. SS S TS STS 42. SS S TS STS 38. Saya bosan menjalankan aktivitas yang ada di panti asuhan. SS S TS STS 48. Saya langsung marah bila ada teman di panti yang mengejek saya. SS S TS STS 43. Saya akan memperbaiki kesalahan yang telah saya perbuat. SS S TS STS 47. Menurut saya. Saya selalu memaksakan diri untuk meraih sesuatu yang tidak mungkin saya capai. SS SS S S TS STS TS STS 40. SS SS S S TS STS TS STS . saya memperbaikinya kembali. Bila mengalami kegagalan. Saya merasa frustrasi bila menghadapi tugas yang sulit. Saya bisa menerima kekurangan yang ada dalam diri saya. Saya merasa sesuatu yang saya kerjakan seringkali gagal. SS SS S S TS STS TS STS 37.114 34. Saya lebih suka sendirian daripada bermain dengan teman-teman. SS S TS STS 44. SS S TS STS 41. Bila ada teman di panti yang mengejek. saya berusaha diam dan tidak membalasnya. Saya sering berkhayal ingin dilahirkan kembali sebagai anak orang kaya. SS S TS STS 46. semua komentar teman di panti mengenai saya adalah bertujuan membuat saya lebih baik. Saya minta ijin dahulu jika ingin meminjam sesuatu. 49. 36. Kegagalan merupakan pelajaran berharga bagi saya untuk menjadi lebih baik. saya selalu bersikap tenang. Ketika menghadapi masalah. 39. SS S TS STS 45.

Saya tidak mentertawakan teman di panti yang sedang menangis. SS S TS STS 54. SS SS S S TS STS TS STS . SS S TS STS 58. SS S TS STS 53. SS S TS STS 56. SS S TS STS 59. Saya lebih senang menghabiskan waktu luang bersama teman-teman di panti. Saya aktif mengikuti kegiatan keagamaan di panti asuhan. Saya tetap berusaha mendengarkan pembicaraan teman di panti meski membosankan. Saya tidak yakin dengan kemampuan yang saya miliki. SS S TS STS 55. Saya mencari-cari alasan jika ada kerja bakti karena menurut saya hal itu membosankan. 60. Di panti asuhan. Saya hanya senang bermain dengan teman di panti yang lebih pandai. SS SS S S TS STS TS STS 52.115 50. SS S TS STS 57. Saya senantiasa melaksanakan piket harian. Saya tidak memberi ucapan selamat bila ada teman di panti yang menjadi juara. 51. saya hanya bermain dengan teman dekat saja. Peraturan yang ada di panti asuhan membebani aktivitas sehari-hari.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->