P. 1
Key Sektor Dan Kebijakan Industri Di Indonesia

Key Sektor Dan Kebijakan Industri Di Indonesia

|Views: 660|Likes:
Published by Ambara Sugama
kebijakan industri manufaktur dan key sektor di Indonesia, berdasarkan tabel IO 2008
kebijakan industri manufaktur dan key sektor di Indonesia, berdasarkan tabel IO 2008

More info:

Published by: Ambara Sugama on Sep 09, 2010
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

04/17/2013

pdf

text

original

UNIVERSITAS INDONESIA

TUGAS PENGGANTI UAS EKONOMI PEMBANGUNAN Dosen : Padang Wicaksono, Ph.D

Keterkaitan Antar-Sektor dan Kebijakan Pengembangan Industri Manufaktur di Indonesia : Studi Empiris dengan Tabel Input Output Tahun 2008 dan Peraturan Presiden No 28 Tahun 2008

Oleh: I Made Ambara NPM 0906583825

FAKULTAS EKONOMI PROGRAM PASCA SARJANA ILMU EKONOMI DEPOK JULI 2010

Abstraksi : Dengan menggunakan tabel input output Indonesia tahun 2008, dapat diketahui 11 sektor kunci yang memiliki keterkaitan yang tinggi dengan sektor-sektor lain dalam perekonomian. Dari 11 sektor kunci tersebut, enam diantaranya termasuk kategori industri, sedangkan sisanya termasuk kategori jasa. Kesebelas sektor kunci tersebut merupakan sektor-sektor yang paling penting dalam menggerakkan perekonomian Indonesia, apabila dilakukan penambahan investasi pada sektor-sektor tersebut. Selanjutnya, berdasarkan aturan kebijakan pengembangan industri di Indonesia, pemerintah Indonesia saat ini tidak proaktif mengidentifikasi sektor-sektor kunci dalam perekonomian dan memfasilitasi pengembangannya seperti di masa Orde Baru atau terkesan pasif. Pasifnya kebijakan pemerintah Indonesia tersebut berimplikasi pada tidak terpecahkannya masalah kegagalan koordinasi antar-sektor dalam perekonomian untuk melakukan pergeseran dasar perekonomian agar tingkat kemakmuran yang lebih tinggi bagi seluruh perekonomian seperti dijelaskan dalam teori Big Push dapat tercapai. Kata kunci : keterkaitan antar-sektor, kegagalan koordinasi, Big Push, tabel I-O, sector kunci, kebijakan pengembangan Industri

1.

Pendahuluan

Perekonomian suatu negara, berdasarkan kesamaan karakteristik kegiatan yang dilakukan, dapat diklasifikasikan kedalam beberapa sektor. Walaupun kegiatan yang dilakukan dalam setiap sektor berbeda, namun terdapat kesalingtergantungan (complementarity) antara sektor yang satu dengan sektor lainnya. Kesalingtergantungan antar-sektor tersebut dapat menjadi hambatan apabila perekonomian suatu negara ingin dipacu untuk mencapai keseimbangan baru yang dapat meningkatkan kesejahteraan seluruh sektor, misalnya dengan proses industrialisasi. Hambatan tersebut terjadi karena diperlukan inisiatif suatu sektor untuk mengambil langkah pertama, sementara setiap sektor dalam perekonomian cenderung untuk menunggu aksi sektor lainnya daripada menjadi pioneer untuk memulai proses industrialisasi tersebut. Dalam kondisi complementarity dan tidak adanya sektor yang berinisiatif mengambil langkah pertama untuk memulai proses industrialisasi, terjadilah kondisi yang disebut kegagalan koordinasi (coordination failure). Oleh sebab itu, dalam kondisi tersebut, diperlukan intervensi pemerintah (dikenal dengan istilah Big Push) untuk mengkoordinasikan proses industrialisasi di seluruh sektor dalam perekonomian secara bersamaan. Menurut Rosentein-Rodan, jika berbagai sektor dalam perekonomian mengadopsi teknologi yang bersifat increasing return secara bersamaan (memulai proses industrialisasi), sektorsektor tersebut akan menciptakan pendapatan yang dapat menjadi sumber bagi permintaan barang sektor lainnya dan memperbesar pasar bagi setiap sektor dan membuat industrialisasi menjadi menguntungkan bagi semua sektor. Dalam tahap implementasi proses industrialisasi tersebut, pemerintah sebagai faktor penentu harus menentukan sektor-sektor mana saja yang perlu diberikan insentif dalam berbagai bentuk (Big Push). Terdapat berbagai pendekatan untuk menentukannya, salah satunya adalah pendekatan keterkaitan antarsektor (linkage) Todaro (2009). Dalam pendekatan linkage, sektor-sektor yang perlu diberikan Big Push disebut sektor kunci (key sectors) yaitu sektor-sektor yang memiliki keterkaitan (linkage) tinggi dengan Tulisan Pengganti UAS Ekonomi Pembangunan Halaman 1

sektor lain yang menggunakan output yang dihasilkannya dan dengan sektor lain yang menyediakan input bagi sektor-sektor berkenaan. Berdasarkan pendekatan linkage tersebut, tulisan ini bertujuan untuk mengidentifikasi sektor-sektor kunci dalam perekonomian Indonesia dengan bantuan tabel input output (tabel I-O) Indonesia tahun 2008 dan meneliti kebijakan pengembangan industri di Indonesia apakah telah memperhitungkan faktor linkage atau tidak. Berkaitan dengan tujuan penulisan tersebut, permasalahan yang ingin dipecahkan ada dua yaitu : 1. Sektor-sektor apa saja di dalam perekonomian Indonesia yang merupakan Key Sectors? Key sectors mana yang termasuk kategori industri? 2. Apakah kebijakan pengembangan industri di Indonesia telah mempertimbangkan faktor linkage antar-sektor dalam menentukan industri prioritas? Apakah pemerintah Indonesia saat ini mempunyai komitmen yang kuat untuk mengembangkan industri manufaktur lebih lanjut? Selanjutnya terdapat empat bagian berikutnya dari tulisan ini yaitu : telaah pustaka, metodologi penelitian yang digunakan, hasil analisis dan terakhir adalah kesimpulan.

2. Telaah Pustaka 2.1 Kebijakan Pengembangan Industri Manufaktur di Indonesia Sampai dengan tahun 1965, 56% output perekonomian Indonesia bersumber dari sektor pertanian. Sementara itu, pada tahun yang sama, sektor industri hanya menyumbang 13%. Persentase output dari sektor pertanian terus menurun pada tahun 1980 dan 2000 seiring dengan kebijakan pengembangan industri subtitusi impor dan industri manufaktur padat karya yang berorientasi ekspor (lihat tabel 2.1). Tabel.2.1 Perubahan Persentase Output Sektoral terhadap GDP di Indonesia Sektor Agricultural (Pertanian) Industri Jasa Sumber: Hayami & Godo (2009) Selain itu, pada tahun 1965 prosentase ekspor barang dari industri manufaktur hanya 4% dan berubah menjadi 57% dari total ekspor barang pada tahun 2000 (Hayami dan Godo, 2000). Keberhasilan perubahan struktur output seperti ditunjukkan oleh tabel 2.1 dan juga struktur ekspor tidak dapat dilepaskan dari intervensi kebijakan pemerintah Indonesia untuk memberikan fasilitas berupa proteksi untuk mendukung pengembangan industri subtitusi impor pada masa oil boom dan penetapan nilai tukar Rupiah yang overvalue untuk pengembangan industri manufaktur padat karya berorientasi ekspor pascaoil boom. Kebijakan seperti itu sangat diperlukan untuk membangun industri yang mampu berperan Tulisan Pengganti UAS Ekonomi Pembangunan Halaman 2 1965 56 13 31 1980 30 49 21 2000 17 47 36

dalam perekonomian dalam keadaan akumulasi modal yang rendah, tenaga kerja yang kurang terampil, dan kemampuan wirausaha dan manajerial yang belum berkembang (Hayami dan Godo, 2009). Kebijakan pemerintah Indonesia di masa lalu tersebut telah sukses mengubah andalan perekonomian Indonesia untuk menghasilkan output, pertama dari semula mengandalkan sektor pertanian yang menghasilkan bahan mentah menjadi mengandalkan hasil industri subtitusi impor. Kedua, dari semula mengandalkan industri subtitusi impor menjadi mengandalkan industri manufaktur padat karya yang berorientasi ekspor. Berdasarkan uraian diatas dapat disimpulkan bahwa pada masa Orde Baru, pemerintah Indonesia aktif mengidentifikasi sektor dalam perekonomian yang sangat penting untuk mengubah sektor yang menjadi andalan penghasil output dan proaktif memberikan insentif kepada sektor tersebut.

2.2 Studi Empiris untuk Mengidentifikasi Key Sectors dengan Alat Tabel I-O Terdapat banyak metode untuk mengidentifikasi sektor-sektor kunci dalam perekonomian suatu negara. Hazari (1970) menggunakan dua metode untuk mengidentifikasi sektor-sektor kunci dalam perekonomian India dengan alat analisis tabel I-O. Metode pertama menggunakan indeks untuk melihat keterkaitan antar-sektor dengan konsep indeks total keterkaitan ke belakang dan ke depan seperti yang dikembangkan Hirschman. Penelitian terkini untuk mengidentifikasi sektor kunci sesuai dengan metode pertama yang digunakan Hazari, dilakukan oleh Hartono (2003), Resosudarmo et all (2008) dan Purnomo dan Istiqomah (2008). Metode kedua memasukkan preferensi pembuat kebijakan/pemerintah dengan kondisi keterkaitan antar-sektor. Selanjutnya, Hazari berkesimpulan bahwa sektor kunci dalam perekonomian dapat tidak didefinisikan atau tidak dapat teridentifikasi karena hasil dari dua metode yang digunakan tersebut tidaklah unik. Dengan kata lain dapat dikatakan bahwa menurut Hazari, hasil tiap metode untuk mengidentifikasi key sectors tidak sama dan peran pengambil kebijakan sangatlah penting dalam hal ini. Selain metode yang digunakan Hazari, terdapat banyak metode lain yang dapat digunakan untuk mengidentifikasi key sectors. M. Natsir (2009) menggunakan empat metode untuk mengidentifikasi key sektor di Sulawesi Tenggara, yaitu : (1) indeks seperti yang dikembangkan Hirschman (2) sektor penghasil nilai tambah bruto terbesar (3) sektor yang mempunyai nilai multiplier output terbesar (3) sektor yang mempunyai income multiplier terbesar. Seperti kesimpulan yang dikemukakan Hazari, sektor kunci yang ditemukan oleh M Natsir tidak sama untuk setiap metode yang digunakan. Diantara berbagai metode untuk mengidentifikasi sektor kunci tersebut, metode yang dikembangkan oleh Hirschman lebih menekankan kepada kemampuan suatu sektor untuk menggerakkan pertumbuhan seluruh sektor lain dalam perekonomian, baik sektor yang menyediakan input bagi sektor berkenaan maupun sektor lain yang menggunakan output sektor bersangkutan. Oleh sebab itu, metode tersebut akan digunakan dalam tulisan ini untuk mengidentifikasi key sectors dalam perekonomian Indonesia.

3. Metodologi 3.1 Alat Analisis

Tulisan Pengganti UAS Ekonomi Pembangunan

Halaman 3

Alat analisis yang digunakan dalam tulisan ini ada 2, yaitu : pertama tabel I-O untuk mengidentifikasi sektor kunci dalam perekonomian Indonesia dan kedua Peraturan Presiden No 28 Tahun 2008 untuk menilai kebijakan industri pemerintah Indonesia saat ini. Tabel I-O yang digunakan dalam tulisan ini merupakan tabel I-O transaksi domestik harga produsen tahun 2008 dengan 66 sektor (lihat lampiran 1). Tabel I-O Indonesia tahun 2008 tersebut merupakan tabel I-O terbaru yang telah dikeluarkan oleh Badan Pusat Statistik. Selanjutnya, data dalam tabel I-O tersebut diolah dengan Microsoft Excel sesuai metode analisis yang diperlukan untuk menjawab permasalahan dalam tulisan ini. 3.2 Metode Analisis 3.2.1 Metode Analisis untuk Mengidentifikasi Sektor Kunci dengan Tabel I-O Untuk melakukan identifikasi sektor kunci dengan bantuan tabel I-O, perlu diketahui konsep-konsep berikut ini : 1. Matrik Kebalikan Liontief Matrik Kebalikan Liontief atau (I-A)-1 diperoleh dengan cara melakukan invers dari hasil pengurangan antara matrik identitas (I) dan matrik A. Matrik identitas adalah matrik bujursangkar berdimensi n x n, dimana n adalah jumlah sektor dalam perekonomian dengan nilai 1 untuk seluruh elemen yang terletak pada diagonal utama dan nilai elemen selain yang terletak pada diagonal utama sama dengan nol. Gambar 3.1 Kerangka Tabel Input Output

Sumber : Badan Pusat Statistik (2009) Matrik A, pada gambar 3.1 ditunjukkan oleh hasil bagi tiap elemen matrik I-O kolom “Permintaan Antara” : 1 s.d. n dan baris “Input Antara” : 1 s.d. N dengan jumlah input tiap sektor, atau dengan kata lain, matrik A adalah matrik bujur sangkar berukuran N x n, dengan elemen : aij = xij / Xj Dimana subscript “i” menunjukkan baris dan subscript “j” menunjukkan kolom dimana jumah kolom dan baris sama dengan jumlah sektor dalam perekonomian. aij = elemen matrik A baris ke i kolom ke j Tulisan Pengganti UAS Ekonomi Pembangunan Halaman 4

xij = elemen matrik I-O baris ke i kolom ke j Xj = total masukan (input) baris (sektor) ke j 2. Ukuran Keterkaitan Antar-sektor dalam Perekonomian a. Total backward linkage Index atau Indeks Keterkaitan Total ke Belakang (IKB) Nilai Total Keterkaitan Kebelakang (NTKB) suatu sektor adalah jumlah tiap elemen dalam suatu kolom matrik kebalikan Liontief. Sedangkan Indeks Total Keterkaitan Kebelakang membandingkan NTKB suatu sektor dengan rata-rata NTKB seluruh sektor. Indeks Keterkaitan ke Belakang (IKBj), diperoleh dengan cara:
n

n ∑ b ij IK B j =
i =1 n i =1 n

∑ ∑
j =1

b ij

dimana : IKBj= indeks keterkaitan total ke belakang sektor-j, dimana j menunjukkan kolom pada gambar 2.2.1 bij= unsur matriks kebalikan Leontif baris-i dan kolom-j n = jumlah sektor dalam perekonomian b. Total Forward Linkage Index atau Indeks Keterkaitan Total ke Depan (IKD) Nilai Total Keterkaitan Depan (NTKD) suatu sektor adalah jumlah tiap elemen dalam suatu baris matrik kebalikan Liontief. Sedangkan Indeks Total Keterkaitan Kedepan membandingkan NTKD suatu sektor dengan rata-rata NTKD seluruh sektor. Indeks Keterkaitan ke Depan (IKDi), diperoleh dengan cara:
n

n ∑ b ij IK D i =
i =1 n i =1 n

∑ ∑
j =1

b ij

dimana IKDi= indeks keterkaitan total ke depan sektor-i, dimana i menunjukkan baris pada gambar 2.2.1 bij= unsur matriks kebalikan Leontif baris-i dan kolom-j n = jumlah sektor dalam perekonomian Kedua indeks tersebut menunjukkan posisi NTKB dan NTKD suatu sektor terhadap rata-ratanya, dimana suatu sektor dinyatakan mempunyai IKB/IKD yang tinggi apabila nilai IKB/IKD sektor yang bersangkutan lebih besar dari satu. 3. Key Sectors (Sektor Kunci) Menurut Resosudarmo et.all (2008), sektor kunci menurut pendekatan linkage, didefinisikan sebagai sektor yang memegang peranan penting dalam penggerakkan roda perekonomian yang ditentukan berdasarkan nilai IKB dan IKD sektor berkenaan. Sektor kunci adalah sektor yang memiliki nilai IKB dan IKD lebih besar dari satu.

Tulisan Pengganti UAS Ekonomi Pembangunan

Halaman 5

Selain itu, apabila nilai IKB >1 dan IKD <1 maka suatu sektor disebut Backward Oriented, yaitu sektor yang tinggi pengaruhnya dalam meningkatkan pertumbuhan sektor-sektor lain yang menyediakan input bagi sektor berkenaan. Sebaliknya apabila nilai IKB <1 dan IKD>1, maka suatu sektor disebut Forward Oriented, yaitu sektor yang tinggi pengaruhnya dalam meningkatkan pertumbuhan sektor lainnya yang menggunakan output sektor bersangkutan untuk input. Selain itu, apabila nilai IKB <1 dan IKD <1 maka sektor bersangkutan disebut Non Key Sektor, yaitu sektor yang rendah keterkaitannya dalam hal meningkatkan pertumbuhan sektor lainnya. 3.2.2 Metode Analisis Kebijakan Industri Meneliti kebijakan pemerintah dalam sektor industri dengan meneliti Peraturan Presiden nomor 28 tahun 2008 mengenai kebijakan industri nasional dan selanjutnya memberikan penjelasan secara deskriptif mengenai apakah kebijakan pengembangan industri di Indonesia telah memperioritaskan pengembangan key sectors atau tidak dan menilai sebapa besar komitmen pemerintah Indonesia untuk pengembangan industri tersebut.

4. Hasil Analisis 4.1 Hasil Analisis Sektor Kunci Berdasarkan hasil pengolahan data, dalam perekonomian Indonesia terdapat 11 sektor kunci, 6 diantaranya dapat dikelompokkan sebagai “industri manufaktur” dan sisanya dapat dikelompokkan sebagai “jasa”. Tabel 4.1 Sektor Kunci Dalam Perekonomian Indonesia
NO SEKTOR 32 38 39 40 42 48 51 52 53 56 65 NAMA SEKTOR Industri makanan lainnya Industri kertas, barang dari kertas & percetakan Industri pupuk & pestisida Industri kimia Industri barang dari karet Industri mesin, mesin listrik, alat2 & perlengkapan listrik Listrik, gas & air minum Bangunan Perdagangan Pengangkutan darat Jasa hiburan, kebudayaan, perorangan & rumah tangga IKB 1.248 1.156 1.030 1.032 1.148 1.072 1.122 1.129 1.032 1.085 1.001 IKD 1.307 1.063 1.852 1.696 1.125 1.309 1.211 1.337 2.880 1.289 1.437 Keterangan Industri man Industri man Industri man Industri man Industri man Industri man Jasa Jasa Jasa Jasa Jasa

Sumber : Lampiran 1 Tabel 4.1 menunjukkan bahwa kesebelas sektor kunci tersebut memiliki nilai IKB dan IKD yang lebih besar dari 1. Nilai IKB yang melebihi 1, menunjukkan bahwa sektor-sektor tersebut mempunyai kemampuan yang melebihi rata-rata seluruh sektor untuk menarik pertumbuhan output sektor di hulunya Tulisan Pengganti UAS Ekonomi Pembangunan Halaman 6

(sektor-sektor yang menyediakan input bagi sektor berkenaan). Sedangkan nilai IKD yang melebihi 1, menunjukkan bahwa sektor-sektor tersebut memiliki kemampuan melebihi rata-rata untuk menarik pertumbuhan sektor di hilirnya (sektor-sektor yang menggunakan output ke-11 sektor kunci). Dengan demikian, 11 sektor tersebut merupakan sektor-sektor yang paling penting dalam menggerakkan perekonomian Indonsia. Selanjutnya, peningkatan investasi pada 11 sektor tersebut diharapkan akan menghasilkan peningkatan output paling tinggi pada seluruh sektor yang ada dalam perekonomian Indonesia. Selain sektor kunci, dalam tabel di lampiran 1, terdapat juga sektor-sektor yang bersifat backward oriented dan forward oriented. Apabila dilakukan investasi pada sektor-sektor ini akan menyebabkan peningkatan besar pada output masing masing untuk sektor di hulu dan hilir sektor berkenaan. 4.2 Hasil Analisis Kebijakan Pengembangan Industri Pemerintah Indonesia Apakah keenam sektor kunci yang termasuk kategori industri mendapatkan fasilitas untuk pengembangannya dalam kebijakan industri nasional dalam Perpres no 28 tahun 2008? Bagian D penjelasan Perpres tersebut tidak menyebutkan nama-nama industri yang dapat memperoleh fasilitas dalam pengembangannya. Walaupun demikian, disebutkan bahwa fasilitas dapat diberikan kepada industri pionir, yaitu industri yang memiliki keterkaitan yang luas, memberi nilai tambah dan eksternalitas yang tinggi, memperkenalkan teknologi baru, serta memiliki nilai strategis bagi perekonomian nasional. Istilah “keterkaitan luas” dalam definisi industri pionir tersebut dapat diartikan bahwa kebijakan pengembangan industri nasional telah mempertimbangkan faktor keterkaitan antar-sektor, walaupun bukan satu-satunya faktor yang menentukan untuk dapat memperoleh fasilitas. Selanjutnya, pemberian fasilitas pengembangan industri tidak langsung ditentukan dan diberikan oleh pemerintah, tetapi harus melalui serangkaian prosedur pengajuan permohonan dari industri berkenaan kepada pemerintah melalui Tim Nasional Peningkatan Ekspor dan Peningkatan Investasi (lihat Lampiran 2, kutipan bagian D Perpres no 28 tahun 2008). Berbeda dengan peran aktif pemerintah Indonesia dalam rangka pengembangan industri di masa Orde Baru, kebijakan pemerintah masa kini terkesan pasif. Terkesan hanya menunggu industri yang “merasa” sesuai dengan kreteria dalam perpres tersebut mengajukan aplikasi permohonan pemberian fasilitas. Dengan “pasifnya” peran pemerintah dalam pengembangan lebih lanjut industri manufaktur Indonesia tersebut, berarti masalah kegagalan koordinasi seperti dijelaskan dalam teori Big Push tidak terpecahkan. Implikasinya adalah harapan agar industri manufaktur Indonesia (terutama yang merupakan key sectors) dapat membantu perekonomian Indonesia untuk berubah secara signifikan dari keadaan saat ini sulit untuk dicapai. Ada kemungkinan, keengganan pemerintah secara proaktif menentukan dan memberikan fasilitas kepada industri dalam kategori prioritas adalah karena kebijakan yang protektif dan interventionis dianggap tidak lagi sesuai dengan masa kini yang mengedepankan mekanisme pasar. Selain itu keengganan tersebut dapat terjadi karena Indonesia merupakan anggota organisasi perdagangan dunia (WTO) dan telah berkomitmen untuk melaksanakan perdagangan bebas tanpa proteksi terhadap industri dalam negeri.

Tulisan Pengganti UAS Ekonomi Pembangunan

Halaman 7

Terakhir perlu dicatat, walaupun tema tulisan ini mengedepankan pentingnya campur tangan pemerintah dalam perekonomian suatu negara, kebijakan pemerintah dapat menjadi “pisau bermata dua” (Todaro, 2009). Maksud dari istilah Todaro tersebut adalah kebijakan pemerintah dapat membantu perekonomian menuju tingkat yang lebih baik tetapi dapat juga menjerumuskan perekonomian ke dalam krisis. Contoh kisah sukses intervensi pemerintah Indonesia adalah pengembangan industri subtitusi impor dan industri berorientasi ekspor seperti telah dikemukakan pada bagian 2.1 diatas. Sedangkan contoh kebijakan pemerintah yang membawa dampak buruk pada perekonomian Indonesia adalah kebijakan liberalisasi sektor keuangan di akhir tahun 1988. Kebijakan tersebut, semula dianggap berhasil namun sembilan tahun kemudian dianggap menjadi penyebab utama krisis perbankan di Indonesia. Enoch et all (2003) membagi perkembangan sektor perbankan Indonesia selama periode 1988-1999 kedalam tujuh tahap. Mereka mengidentifikasi tidak adanya tata kelola yang baik (good governance) dari pemerintah dalam mengatasi masalah yang timbul dalam setiap tahap yang selanjutnya berimplikasi pada buruknya kredibilitas kebijakan pemerintah sehingga memicu krisis yang sistemik.

5. Kesimpulan Dengan menggunakan tabel I-O dapat diketahui 11 sektor kunci yang perlu dikembangkan secara bersamaan dengan koordinasi pemerintah untuk mencapai keseimbangan baru dalam perekonomian yang dapat meningkatkan kesejahteraan seluruh pelaku ekonomi di Indonesia. Dari 11 sektor kunci tersebut, enam diantaranya termasuk kategori industri, sedangkan sisanya termasuk kategori jasa. Kesebelas sektor tersebut merupakan sektor-sektor yang paling penting dalam menggerakkan perekonomian Indonsia. Selanjutnya, berdasarkan aturan kebijakan pengembangan industri, pemerintah Indonesia saat ini tidak proaktif seperti di masa Orde Baru dan terkesan pasif menunggu industri mengajukan aplikasi untuk mendapatkan fasilitas. Pasifnya kebijakan pemerintah Indonesia tersebut berimplikasi pada tidak terpecahkannya masalah kegagalan koordinasi antar-sektor dalam perekonomian untuk melakukan pergeseran dasar perekonomian agar tercapai tingkat kemakmuran yang lebih tinggi bagi seluruh perekonomian seperti dijelaskan dalam teori Big Push.

Tulisan Pengganti UAS Ekonomi Pembangunan

Halaman 8

DAFTAR PUSTAKA

Badan Pusat Statistik (2009), Tabel Input Output Updating 2008 Enoch, Charles, Olivier Frécaut and Arto Kovanen (2003), Indonesia’s Banking Crisis : What Happened and What Did We Learn?, Bulletin of Indonesian Economic Studies, Vol. 39, No. 1, 2003: 75– 92 Hartono, Djoni (2003), Peran Sektor Jasa Terhadap Perekonomian Jakarta : Analisis Input Output, Jurnal Ekonomi Pembangunan Indonesia, Vol IV No.1, hal 39-57 Hayami, Yujiro & Yoshihisa Godo (2009). Development Economics: From the Poverty to the Wealth of Nations, 3rd ed. Oxford University Press Hazari, Bharat R. (1970), Empirical Identification of Key Sectors in The Indian Economy, The Review of Economics and Statistics, Vol. 52, No. 3 (Aug., 1970), pp. 301-305 Published by: The MIT Press. Stable URL: http://www.jstor.org/stable/1926298 Natsir, M (2009), Kajian Empiris Peranan Sektor Kunci (Key Sectors) dalam Perekonomian Sulawesi Tenggara Berdasarkan Tabel Input-Output 2007, website Unhalu Kendari Purnomo, Didit dan Devi Istiqomah (2008), Analisis Peranan Sektor Industri terhadap Perekonomian Jawa Tengah Tahun 2000 dan Tahun 2004 (Analisis Input Output), Jurnal Ekonomi Pembangunan Vol. 9, No. 2, Desember 2008, hal. 137 - 155 Resosudarmo, Budy P., Djoni Hartono dan Ditya A. Nurdianto (2008), Inter-Island Economic Linkages and Connections in Indonesia , Economics and Finance in Indonesia Vol. 56 (3), Page 297 – 327, LPEM UI Todaro, Michael P. and Stephen C. Smith (2009). Economic Development, 10th ed. Pearson, AddisonWesley www.kemenperin.go.id

Tulisan Pengganti UAS Ekonomi Pembangunan

Halaman 9

LAMPIRAN 1
KODE SEKTOR 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 38 39 40 41 42 43 44 45 NAMA SEKTOR Padi Penumbukan padi Jagung Tanaman umbi-umbian Sayuran & buah-buahan Tanaman bhn makanan lainnya Karet Tebu gula & gula rakyat Kelapa Minyak kelapa rakyat & sawit Tembakau daun & olahan Kopi & kopi goreng Teh daun & teh olahan rakyat Cengkeh Pala Rempah-rempah lainnya Tanaman lainnya Peternakan Pemotongan ternak Perunggasan & hasil-hasilnya Penebangan & penggergajian kayu Hasil hutan lainnya Perikanan Penambangan batubara & biji logam Penambangan minyak & gas bumi Penambangan lainnya Industri pengolahan & pengawetan makanan Industri minyak dan lemak Penggilingan & penyosohan beras Industri tepung terigu & biji-bijian lainnya Industri pemurnian gula Industri makanan lainnya Industri minuman Industri rokok Industri pemintalan Industri tekstil, kulit & pakaian Industri kayu, and barang dari kayu Industri kertas, barang dari kertas & percetakan Industri pupuk & pestisida Industri kimia Pengilangan minyak Industri barang dari karet Industri barang yang terbuat dari mineral non metal Industri semen Industri besi & baja dasar IKB 0.809 0.773 0.811 0.724 0.717 0.769 0.941 0.872 0.859 0.955 1.140 0.983 0.762 0.790 0.750 0.925 0.849 0.988 1.221 1.213 0.817 0.816 0.849 0.837 0.686 0.831 1.274 1.300 1.279 1.136 1.283 1.248 1.210 0.916 1.036 1.192 1.150 1.156 1.030 1.032 0.767 1.148 1.000 1.095 1.025 IKD 1.240 0.719 0.934 0.711 0.889 0.633 0.864 0.967 0.699 1.021 0.635 0.680 0.623 0.635 0.625 0.778 0.875 1.200 0.708 0.852 0.760 0.648 1.016 1.699 2.611 0.807 0.804 0.919 0.826 0.939 0.763 1.307 0.651 0.666 0.729 0.899 0.910 1.063 1.852 1.696 2.075 1.125 0.683 0.676 0.726 Ket forward otd

forward otd backward otd

forward otd backward otd backward otd

forward otd forward otd forward otd backward otd backward otd backward otd backward otd backward otd Key Sector backward otd backward otd backward otd backward otd Key Sector Key Sector Key Sector forward otd Key Sector backward otd backward otd backward otd

Tulisan Pengganti UAS Ekonomi Pembangunan

Halaman 10

46 47 48 49 50 51 52 53 54 55 56 57 58 59 60 61 62 63 64 65 66

Industri logam dasar bukan besi Industri barang dari logam Industri mesin, mesin listrik, alat2 & perlengkapan listrik Industri alat pengangkutan & perbaikannya Industri barang lain yang tidak dapat digolongkan di mana-mana Listrik, gas & air minum Bangunan Perdagangan Rumah makan & hotal Kereta api Pengangkutan darat Pengangkutan air Pengangkutan udara Jasa penunjang angkutan Komunikasi Lembaga keuangan Usaha bangunan & jasa perumahan Pemerintahan umum & pertahanan Jasa sosial & kemasyarakatan Jasa hiburan, kebudayaan, perorangan & rumah tangga Kegiatan lain yang tidak jelas batasannya

1.219 0.952 1.072 0.979 1.141 1.122 1.129 1.032 1.213 1.264 1.085 1.068 1.044 0.977 0.800 0.916 0.873 1.008 1.058 1.001 1.082

0.658 0.949 1.309 1.054 0.655 1.211 1.337 2.880 0.875 0.626 1.289 0.763 0.739 0.881 1.017 1.852 1.313 0.675 0.718 1.437 0.620

backward otd

Key Sector

backward otd Key Sector Key Sector Key Sector backward otd backward otd Key Sector backward otd backward otd forward otd forward otd forward otd backward otd backward otd Key Sector backward otd

Keterangan : IKD = Indeks Total keterkaitan ke Depan, IKB = Indeks Total keterkaitan ke Belakang, Otd = Oriented Sumber : hasil pengolahan data atas tabel I-O Indonesia tahun 2008

Tulisan Pengganti UAS Ekonomi Pembangunan

Halaman 11

LAMPIRAN 2 Kutipan Penjelasan Perpres No 28 Tahun 2008 sumber www.kemenperin.go.id menu kebijakan industri D. FASILITAS PEMERINTAH Dalam rangka menumbuhkan dan atau mempercepat pembangunan industri nasional, pemerintah dapat memberikan fasilitas kepada: a. industri prioritas tinggi, baik industri prioritas nasional maupun industri prioritas berdasarkan kompetensi inti industri daerah; b. industri pionir; c. industri yang dibangun di daerah terpencil, tertinggal, perbatasan atau daerah lain yang dianggap perlu; d. industri yang melakukan penelitian, pengembangan dan inovasi; e. industri yang menunjang pembangunan infrastruktur; f. industri yang melakukan alih teknologi; g. industri yang menjaga kelestarian lingkungan hidup; h. industri yang melakukan kemitraan dengan usaha mikro, kecil, menengah, atau koperasi; i. industri yang menggunakan barang modal atau mesin atau peralatan yang diproduksi di dalam negeri; atau j. industri yang menyerap banyak tenaga kerja. Yang dimaksud Industri Prioritas Tinggi yaitu industri prioritas yang berorientasi ekspor dan menyerap tenaga kerja dan atau mampu mendukung secara signifikan kegiatan-kegiatan ekonomi sebagai berikut: a. Pengembangan infrastruktur; b. Menanggulangi kemiskinan; c. Meningkatkan kemampuan industri pertahanan di dalam negeri. Sedangkan industri pionir adalah industri yang memiliki keterkaitan yang luas, memberi nilai tambah dan eksternalitas yang tinggi, memperkenalkan teknologi baru, serta memiliki nilai strategis bagi perekonomian nasional. Fasilitas pemerintah yang dimaksud dalam Peraturan Presiden ini adalah sebagaimana ditetapkan dalam Pasal 18 dan Pasal 21 Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2007 tentang Penanaman Modal. Pemberian fasilitas dapat dilakukan peninjauan paling lama setiap 2 (dua) tahun. Adapun mekanisme pemberian fasilitas pemerintah dilaksanakan melalui proses sebagai berikut: a. Permohonan pemberian fasilitas diajukan kepada Tim Nasional Peningkatan Ekspor dan Peningkatan Investasi (TimNas PEPI). b. Tim Nasional Peningkatan Ekspor dan Peningkatan Investasi mengkaji, merumuskan, mengevaluasi dan merekomendasikan pemberian atau pencabutan fasilitas pemerintah kepada Menteri atau Pejabat terkait untuk diproses lebih lanjut penetapannya. c. Prosedur dan mekanisme tersebut diatur lebih lanjut oleh Ketua Harian Tim Nasional Peningkatan Ekspor dan Peningkatan Investasi.

Tulisan Pengganti UAS Ekonomi Pembangunan

Halaman 12

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->