P. 1
PERUBAHAN

PERUBAHAN

5.0

|Views: 6,337|Likes:

More info:

Published by: H Masoed Abidin bin Zainal Abidin Jabbar on Jun 30, 2008
Copyright:Public Domain

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

06/13/2013

pdf

text

original

Pernik-Pernik Reformasi

PERUBAHAN TIDAK MERUSAK

Perubahan adalah sesuatu kewajaran, demikian suatu ajaran Sunnah Allah. Manusia datang ke bumi guna melakukan perubahan ke arah yang baik (ishlah), dilarang melakukan kerusakan. Berpuluh ayat Allah telah menyatakan "laa tufsiduu fil-ardhi" artinya "jangan buat bencana di bumi", dan kemudian diiringi dengan ketegasan dari Allah bahwa "inna Allaha laa yuhibbu al-mufsidiina", artinya "Allah tidak menyukai orang yang berbuat bencana atau perusakan-perusakan".

Perubahan didalam bimbingan Agama tidak berbentuk "unjuk rasa" yang sering dianggap wujud dari demokrasi, tetapi lebih banyak berbentuk "unjuk fikiran" yang terkendali dengan kesadaran yang penuh kedamaian, berwujud "mujadalah" atau bertukar fikiran, dengan mengutamakan penghormatan kepada pendapat-pikiran lawan bicara. Cara yang dikembangkan adalah "idfa' billatii hiya ahsan", artinya kalau kamu belum berkenan atau menolak karena tidak sepaham, "tolaklah dengan cara yang lebih baik", bukan dengan merusak kiri kanan. Begitulah bimbingan agama Allah yang benar. Agama Islam memberikan bimbingan dengan tiga cara mencapai perubahan. Pertama, disebut tajdid artinya pemurnian. Tajdid merupakan suatu keharusan dan perubahan sikap dari dalam (moral) melalui pemantapan "iman". Ada bimbingan agama Islam dengan jelas menyebutkan "jaddiduu imaanakum", artinya "murnikanlah iman kamu". Iman tercermin dari dua sikap, yaitu shabar dan syukur, artinya pandai menahan diri dan mampu menjaga nikmat Ilahi. Kedua, adalah taghyir artinya perubahan nasib. Bimbingan Wahyu Al Quran menyebutkan "Inna Allaha laa yughaiyyiru maa bi qaumin hatta yughayyiruu maa bi anfusihim", artinya bahwa Allah tidak akan merubah nasib suatu kaum (masyarakat), sebelum masyarakat itu merubah sikap (anfus) mereka". Lebih jauh dalam kaitan "taghyir" ini, setiap diri dari anggota masyarakat itu wajib melakukan

Nuansa Kehidupan Islami

1

Pernik-Pernik Reformasi

perubahan sikap, meninggalkan yang buruk menggantinya dengan yang baik, dari merusak kepada membangun, dari malas kepada rajin, dari lalai kepada berhati-hati, dari ceroboh kepada disiplin, dari liar kepada mawas diri (taat hukum). Taghyir ini mesti dilakukan dengan cara damai dan sejuk. Begitu tuntutan Allah kepada umatnya. Ketiga, adalah tashlih artinya perbaikan. Firman Allah menyebutkan "laa tufsiduu fil-ardhi ba'da ishlahihaa", artinya "jangan kamu merusak di bumi setelah Allah memberikan ishlah (perbaikan-perbaikan) dengan bimbingan wahyu-Nya". Perubahan ini wajib di laksanakan dengan cara yang baik dan damai. Karena itu, tashlih (perbaikan) ini akan mencakup tashlihul-aqidah (perbaikan aqidah), tashlihul ibadah (perbaikan ibadah), tashlihul akhlaq (perbaikan akhlaq), tashlihul iqtishadiyah (perbaikan ekonomi), tashlihu al- siyasiyah (perbaikan tatanan politik), tashlihul mu'amalah (hubungan kemasyarakatan) dan banyak lagi yang lain. Semuanya wajib dilakukan dengan aman, tertib, tenteram, sejuk, dan damai, mengarah kepada selamat (Islam=salam). Berbeda dengan kamus-kamus barat yang selama ini menyebutkan perubahan dengan memakai istilah, "reformasi" yang sebagai gerakan dikenal diabad 16, dan telah bergulir sebagai suatu perombakan idea keagamaan dengan nafas "radikal" dan serba kekerasan yang pada akhirnya menelan banyak kurban. Para reformis Eropah di abad 16 itu, diantaranya memperkenalkan nama Calvin. (lihat KUBI dan KBIK). Istilah lainnya adalah "renaisance", dan mungkin sekali diterjemahkan dengan kebangkitan kembali. Sesungguhnya kedua istilah tersebut sangat tidak identik dengan perubahan berwujud tajdid, taghyir ataupun tashlih, sebagai di bimbingkan agama (Islam). Kebiasan hidup di Sumatera Barat (adat di Minangkabau) menjunjung tinggi setiap perubahan dengan istilah "sakali aie gadang sakali tapian barubah", namun dengan semangat "singkek uleh ma-uleh, kurang tukuak manukuak", dihidupkan kebiasaan "tau di raso jo pareso" atau "kulimek sabalun abih", dan "pandai batenggang di nan sulik" artinya berjalan diatas norma kebaikan serta akhlaq mulia. Bila kita melihat, masyarakat Sumatera Barat (Minangkabau) yang "beradat", dengan kaedah filosofinya "adat basandi syara' dan syara' basandi Kitabullah", maka ada kewajiban kita mengghindari setiap pengrusakan, penjarahan, kebrutalan dan tindakan a-moral lainnya. Kelakuan merusak tidak sepadan dengan adat kebiasaan ataupun tuntunan agama manapun. Maka dalam kondisi bagaimanapun marilah

Nuansa Kehidupan Islami 2

Pernik-Pernik Reformasi

kita junjung tinggi norma-norma luhur yang telah kita warisi bersama. Akhirnya,"Ya Allah, hindarkanlah negeri kami, bangsa kami, daerah kami dan negara kami yang tercinta ini dari kerusakan dan penghancuran karena kebodohan kami semua". Amin Ya Mujibas-saa-iliina.

Padang, 17 Mei 1998.

Jihad Besar

JIHAD adalah satu keberanian berkemampuan tinggi dalam mengendalikan diri sebagai di ungkapkan Rasulullah SAW sesuai sabdanya; "Seseorang tidak dikatakan pemberani karena melompati musuh di medan laga. Tetapi orang yang berani berjihad itu adalah yang mampu menahan diri ( artinya,memiliki ke-sabaran)" (Al Hadist). Berani dengan perhitungan (iman dan ihtisab) adalah bukti sebuah kesabaran. Perhitungan matang di topang oleh ketabahan dan kemampuan menahan diri akan mendorong seseorang untuk bertindak benar. Berpegang teguh kepada kebenaran (haq dari Allah) membuahkan keberanian dalam bertindak dan akhirnya bersedia untuk berjuang mempertahankan kebenaran itu. Kesabaran adalah kemampuan mengendalikan diri dan menjadi pakaian para ekselensi dan pimpinan dalam mengemban tugas-tugasanya. Kenanam dan menumbuhkan kesabaran bukan satu urusan sepele tetapi adalah kerja besar dan berat, sesuai sabda Rasulullah SAW menyebutnya sebagai "jihad akbar", atau "perjuangan yang berat". Sejarah mencatat peristiwa besar di bulan Ramadhan dari Perang Badar yang adalah ladang perkuburan para syuhada, sebagai dikatakan oleh Rasulullah SAW, "Kita baru saja keluar dari jihad (perang) yang kecil dan akan memasuki jihad (perang) yang lebih besar lagi" (Al Hadist). Pernyataan Rasulullah SAW ini menimbulkan tanya keheranan para sahabat pengikut Rassulullah yang mohon di jelaskan; "MANA LAGI PERANG (JIHAD) YANG BESAR ITU, WAHAI BAGINDA RASUL?".

Nuansa Kehidupan Islami

3

Pernik-Pernik Reformasi

Para sahabat menilai dan mengalami sendiri perang yang baru ditinggalkan tadi adalah yang paling akbar, paling besar, yang pernah mereka alami. Baginda Rasulullah SAW memberikan rumusan, “JIHADUL AKBAR, JIHADUN NAFSI"(Al Hadist), artinya “Jihad (perang) yang besar itu, adalah perang mengalahkan nafsu”, maknanya kemampuan mengendalikan diri. Pengendalian diri dalam arti mendalam adalah kemampuan suatu bangsa tegak pada prinsip kebangsaan yang telah disepakati bersama, teguh bertindak dengan sikap patriotisme yang mendalam berakar pada kemampuan untuk mandiri dan tidak banyak tergantung dari kendali orang luar. Disinilah suatu perjuangan besar (jihadul akbar) yang berawal dari jihadun nafs (perjuangan mengendalikan diri). Arena latihannya adalah ibadah shaum atau ibadah puasa. Shaum atau puasa itu, diawali dan diakhiri oleh “pengendalian diri", mulai sejak sahur sampai datangnya waktu berbuka dengan menahan (imsak), tiada semenit pun masa toleransi walaupun perut lapar dan kerongkongan kering dahaga. Kerelaan menahan sampai datang waktunya dibolehkan berbuka merupakan latihan disiplin yang tinggi, dan pengendalian diri yang utuh. Sebuah latihan, hanya bisa dilihat hasilnya setelah masa latihan terlewati. Keberhasilan melaksanakan puasa (shaum) terlihat berbekas, jika mampu melahirkan sifat-sifat disiplin dalam mengendalikan diri, baik selama atau sesudah Ramadhan pergi. Makin tinggi nilai latihan makin lama bekasnya di dalam diri. Di dalam pembangunan bangsa (PJPT-II dan seterusnya) dan memasuki persaingan ketat era globalisasi abad keduapuluhsatu kehadapan, tugas setiap individu semakin berat. Masa kedepan sangat memerlukan manusia yang berkualitas. Memiliki disiplin yang tinggi dalam setiap kondisi. Kita amat memerlukan bangsa yang tangguh dan ampuh dalam menjalankan misi pembangunan, disegala bidang. Yang diperlukan adalah sumber daya manusia yang rela menahan diri, berhemat, sanggup memikul beban bersama dan memiliki rasa solidaritas (ukhuwah) yang men-dalam. Semuanya hanya bisa diciptakan, melalui latihan kebersamaan dan disiplin yang terus menerus. Kesempatan ini dibukaan oleh Allah Subhanahu Wa Ta'ala, melalui ibadah puasa (shaum) di bulan Ramadhan ini. Konsekwensinya adalah jangan dibiarkan Ramadhan berlalu tanpa ada usaha memetik nilai-nilai mulia yang terkandung di dalamnya, dan sewajarnya setiap diri berusaha sekuat daya, supaya lingkungan dimanapun berada, bisa menerapkan amalan puasa (shaum), ”La'allakum

Nuansa Kehidupan Islami 4

Pernik-Pernik Reformasi

Tattaquuna” artinya, “supaya kamu menjadi orang-orang yang terpelihara, terlindungi”. Bangsa yang bertaqwa, adalah bangsa yang mawas diri, yang hemat, dan tidak menahan hak orang lain, sesuai firman Allah; “Dan berikanlah kepada keluarga-keluarga yang dekat akan haknya, kepada orang miskin dan orang yang dalam perjalanan; dan janganlah kamu menghambur-hamburkan hartamu secara boros. Sesungguhnya pemboros-pemboros itu adalah saudara-saudara syaithan dan syaithan itu adalah sangat ingkar kepada Tuhannya.” (QS.17-Al Isra’,ayat 26-27).

Ad-Din an Nashihah. DALAM Pergaulan hidup Muslim sehari-hari ada suatu tugas bermasyarakat yang mesti di tunaikan yaitu “memberikan nasehat kepada sesama saudaranya”, sebagai suatu kewajiban asasi dalam mengamalkan ajaran “amar ma’ruf nahi munkar”, supaya masyarakat hidup dalam suasana yang baik, aman dan tenteram, sehingga tercipta tatanan masyarakat utama (khaira ummah). “Amar ma’ruf nahi munkar” adalah kewajiban kemanusiaan yang mesti dijalankan dan di tunaikan secara tulus ikhlas dalam kerangka mardhatillah, menurut bingkai “tawashii bil haqqi dan tawashii bis-shabri”, yaitu berwasiat dengan kebenaran (al-haq min rabbika) dan ketabahan (shabar), beralaskan sabda Rasulullah SAW; “agama itu adalah nasehat” (ad-diin an-nashihah). Bila tugas kembar ini dilalaikan, maka yang akan tampil kepermukaan adalah segala bentuk kekacauan dan kebringasan dengan kemasan fitnah serta berbagai isu yang sulit dibendung. Sebab itu, "amar ma'ruf-nahi munkar" di ketengahkan tanpa kebencian dan dendam, jauh dari perasaan iri dan hasad dengki. Tugas ini tidak mengenal sakit hati, tetapi harus berbingkai asih-asuh berisi cinta sejati sesama hidup, karena “sama-sama ingin masuk surga, sama-sama ingin terhindar dari neraka, dan terbebas dari godaan iblis-syaitan”. Tujuan yang ingin dicapai adalah kehidupan bermartabat kemanusiaan dengan beralaskan mahabbah dan kasih sayang. Sabda Baginda Rasulullah SAW menyebutkan bahwa di bulan Ramadhan, “di bukakan pintu syurga, di tutup pintu neraka, dan di rantai syaithan", hakikinya bermakna setiap orang berketeguhan sikap dalam melaksanakan amal perbuatan yang hanya mendekatkan ke sorga (taqarrub ila Allah), yakni mengerjakan segala "kebaikan" sesuai ajaran Allah dan Rasulullah, karena kebaikan itu adalah “warna fitrah"

Nuansa Kehidupan Islami

5

Pernik-Pernik Reformasi

kemanusiaan. Perlombaan menabur-tanam kebaikan (al khairi, ma’ruf) dan konsekwen dalam menanggalkan keburukan (maksiat, munkarat) merupakan keyakinan mukmin yang tak bisa ditawar-tawar, dalam hal ibadah shaum harusalah diterjemahkan bahwa “puasa (shaum) tidak hanya sekedar menahan haus dan lapar, tetapi adalah kemampuan menahan diri”. Karena itu ibadah shaum (puasa) mampu menghindarkan seseorang dari segala kejahatan pribadi dan kejahatan di tengah kehidupan bermasyarakat, serta menjauhkan seseorang dari sikap ceroboh dan perbuatan tidak senonoh meniru perangai syaithan dengan segala bentuk tipu daya, adu domba, fitnah, isue dengan rentetan kepalsuan demi kepalsuan. Dakwah ilaa-Allah menjadi kewajiban pribadi (fardhu-‘ain) setiap muslim yang beriman. Dakwah adalah gerakan massal “mempuasakan masyarakat dari segala tindakan tidak terpuji", seperti perangai konsumeris, individualis, materialis, spekulatip yang berakibat terhadap gejolak moneter dan kehidupan ekonomi yang tengah melanda bangsa. Bila kita mau secara jujur mengkaji gejolak moneter yang kita alami hari ini, terjadinya tidak semata-mata di karenakan oleh faktor fisik ekonomi semata, namun sebenarnya bertumbuh tambah besar adalah karena hilangnya kepercayaan kepada diri, atau hilangnya kecintaan bangsa kepada negaranya, hilangnya kepercayaan rakyat kepada pemimpin atau hilangnya kepercayaan pemimpin terhadap rakyatnya, yang secara timbal balik menimbulkan hilangnya kepercayaan kepada milik sendiri (baca: rupiah) dan terlampau besarnya kepercayaan kepada milik orang lain (baca: dollar). Sebagai bangsa kita cenderung merasa lebih aman menyimpankan kekayaan di Lembaga-Lembaga Keuangan Luar Negeri daripada menanamkan kekayaan dimaksud dinegeri sendiri, dan lebih suka mengkonsumsi produk-produk luar negeri dan menganggap hasil dalam negeri sendiri rendah derajatnya. Lebih jauh sebenarnya yang hilang adalah patriotisme kebangsaan dan kecintaan kepada tanah air, sehingga sulit untuk mengharapkan timbulnya kerelaan berkorban, karena sebagai bangsa sudah kehilangan ruhuljihad (jiwa perjuangan). Ramadhan melahirkan “izzatun-nafsi” (harga diri) berakar taqwa yang terlihat pada sikap percaya diri, hemat, senantiasa berhati-hati (mawas diri), istiqamah (teguh-prinsip) dalam menanam nilai kebersamaan (ukhuwwah) ditengah hidup bermasyarakat dan berbangsa. Sikap yang mewarnai izzatun nafsi akan berperan dalam membentuk watak bangsa yang besar, yang tidak hanya semata-mata terikat kepada tabiat bernafsi-nafsi atau hanya menyelamatkandiri sendiri,

Nuansa Kehidupan Islami 6

Pernik-Pernik Reformasi

akan tetapi lebih mendahulukan sikap kebersamaan (kegotong royongan) sebagai penggambaran dari suatu budaya bangsa yang ditopang oleh ajaran wahyu agama yang benar yakni “ta ‘aa-wanuu ‘ala al-birri wa at-taqwa” artinya “saling membantu bersama-sama (bergotong royong) dalam kebajikan dan taqwa”. Prinsip inilah sesungguhnya yang telah melahirkan pengorbanan besar para pejuang bangsa dalam merebut kemerdekaan, dan sikap ini pula yang perlu di pelihara dan di tumbuhkan lagi dalam mempertahankan kemerdekaan dan mengisinya melalui program-program pembangunan. Semua jawabannya tersimpan dalam kesediaan kita semua mengamalkan satu jihad besar yang disebut “Gerakan Fastabiqul Khairat” yang melibatkan seluruh lapisan umat. Inilah jihad besar sepanjang masa sesuai bimbingan Allah SWT dalam firman-NYA; ”Dan berjihadlah kamu pada jalan Allah dengan jihad yang sebenar-benarnya. Dia telah memilih kamu dan Dia sekali-kali tidak menjadikan untuk kamu dalam agama suatu kesempitan. (Ikutilah) agama orang tuamu Ibrahim AS. Dia (Allah) telah menamai kamu sekalian orang-orang muslim dari dahulu, dan (begitu pula) dalam (Al Quran) ini, supaya Rasul itu menjadi saksi atas dirimu dan supaya kamu semua menjadi saksi atas segenap manusia, maka dirikanlah shalat (sembahyang), tunaikanlah zakat dan berpeganglah kamu pada tali Allah. Dia (Allah) lah Pelindungmu, maka Dialah sebaik-baik Pelindung dan sebaik-baik Penolong” (QS.22-Al-Hajj,ayat 78).

Padang, 16 Januari 1998.

Nuansa Kehidupan Islami

7

Pernik-Pernik Reformasi

FORMULASI POLA QUR^ANI

Sebagai muslim ada kewajiban mewujudkan masyarakat yang makmur dengan ber keadilan dan memiliki ketenteraman dalam wujud adil dalam kemakmuran yang menjadi idaman dalam hidup ini. Berkeadilan sejati adalah makmur dan tenteram dibawah naungan Rahmat Allah Yang Maha Kuasa. Sebagai insan hamba Allah, tidak dibenarkan mengabai dimensi kultural dari bangsa ini. Lebih 85% umat ini memiliki nilai-nilai khair ummatin atau ummat utama sebagai konsekwensi dari dinamika sosial bangsa yang berkemampuan tinggi, maka ada kewajiban memilihkan solusi tepat, singkat, untuk dipakai pada masa-masa yang panjang. Tepatnya, perlu di mulai dengan menerapkan Pola "Q" yang semestinya tidak ditolak oleh bagian terbesar generasi bangsa ini yang telah menerima Al Qur^an sebagai hidayah. Maka, "Pola Qur^ani" yang bermuatan hidayah yang mampu dijadikan nilai-nilai dasar pembentukan kualitas manusia.

Muatan dasar pertama adalah imaniyah, yakni keyakinan kepada Kekuasaan Allah Yang Maha Esa. Juga dikenal sebagai formula "tauhid", yang memberikan motivasi bagi manusia dalam menggerakkan aktivitas ke-amal nyata, dan berkemampuan melakukan antisipasi terhadap perubahan-perubahan cepat. Suatu tatanan peradaban modern (maju) bisa di terima tanpa harus tercerabut dari nilai dasar iman dan kepribadian. Formula tauhid, adalah kesadaran mendalam, bahwa alam ini diciptakan dengan kesiapan menerima setiap perubahan-perubahan. Yang tetap tidak berobah adalah idealisme mencari redha Allah.

Muatan kedua berupa formula ukhuwwah, yaitu kesadaran akan pentingnya persaudaraan dan kekerabatan yang diikat dengan tali keakraban (sebangsa dan setanah air). Muatan ini mendorong tercitapnya upaya-upaya nyata dan serius dalam mengaktualisasikan potensi yang dimiliki guna

Nuansa Kehidupan Islami 8

Pernik-Pernik Reformasi

diarahkan kepada kehidupan mandiri (self help) dalam upaya menciptakan tatanan bermasyarakat yang lebih baik (mutual help), pada akhirnya mampu melahirkan masyarakat yang hidup dan menghidupi (selfless help) sebagai uswah-hasanah atau sosok ketauladanan. Formula ukhuwwah atau kekerabatan (kesaudaraan) berperan dalam memecahkan masalah kemiskinan dan kemelaratan ummat, dengan meluruskan kesenjangan sosial atas prinsip ta'awunitas, yaitu kerjasama atas dasar sama-sama bekerja.

Firman Allah dalam Al Qur^an menyebutkan, "I'maluu 'alaa makanatikum, inni 'amil", artinya "kamu masing-masing berbuat pada tempat (posisi) kamu, akupun berbuat pula (menurut kemampuan pada posisiku pula)". Makna lebih dalam ialah berkembangnya tatanan saling menghormati pada posisi sama terhormat, dan tertutupnya kesempatan exploitation de l'homme par l'homme seperti pada kehidupan kapitalistis.

Muatan ketiga adalah formula fii- sabilillah, yang pada hakekatnya mengikat diri pada pemilihan hanya pada jalan Allah, yang bermakna bahwa sumber pendapatan dan pembiayaan yang dilakukan terhindar dari kebocoran-kebocoran (waste atau mubazzir). Menegakkan aturan normatif merupakan konsekwensi logis agar secara aktualita didapati batas-batas antara boleh dan tidak, antara suruhan dan larangan, antara halal dan haram, dan kepedulian yang tinggi terhadap perubahan-perubahan dengan bimbingan akhlaqul karimah.

Muatan keempat, adalah formula optimilisasi duniawi untuk ukhrawi, karena antara dunia dan kepentingan akhirat (hari akhir) sama sekali tidak terpisah, tidak berdiri sendiri-sendiri tanpa satu sama lain ada ketergantungan. Kepercayaan kepada hari akhir (kehidupan sesudah mati) sebenarnya keyakinan terhadap adanya kewajiban pertanggungan-jawab individual yang tidak bisa dimanipulasi datanya. Keyakinan yang menempatkan pernilaian bahwa "hari akhir itu lebih baik dari hari sekarang (dunia) ini". Konsep kesejahteraan hari nanti (akhirat) amat ditentukan oleh pemilihan

Nuansa Kehidupan Islami

9

Pernik-Pernik Reformasi

yang tepat masa kini (duniawi). Konsep "ukhrawi" melahirkan sikap positif berupa kehati-hatian, pemilihan amal yang tepat, disiplin yang tinggi, hemat, tidak takabbur, bahkan terjauh dari sikap perilaku tercela, akhirnya mampu membentuk kualitas manusia yang berperan efektif dan konstruktif dalam proses pembangunan seluruh segi kehidupan manusia dalam menciptakan perdamaian dunia. Makanya, formulasi "akhirat" mampu membentengi ummat dari gejolak faham sekularistik, yang akan bermuara dengan hedonistik, sadisme dan a-moral.

Kepercayaan atau keyakinan kepada kehidupan ukhrawi memposisikan manusia pada peranan optimal dan strategis, bermuatan nilai pendidikan dalam menciptakan sumber daya manusia yang seimbang dengan memiliki kehandalan intelektual, fisik, dan profesionalitas, dengan memiliki keimanan dan ketaqwaan, memiliki kepribadian yang luhur, seperti yang diharapkan dalam format pembangunan manusia seutuhnya.

Muatan kelima, adalah formula ilmu dan hikmah,sebagai suatu yang mutlak harus dipunyai oleh seorang manusia Muslim. Kebutuhan terhadap ilmu, menjadi bahagian awal dari pemberitaan Qurani, pada ayat-ayat yang perama. Ilmu tidak pernah berhenti, sampai dunia berakhir dengan kiamat. Allah SAW menyebutnya dalam Fiman Nya " Bacalah, Dan Tuhanmu- lah Yang Maha Pemurah. Yang mengajar (manusia) dengan perantaraan kalam. Dia mengajarkan kepada manusia apa yang tidak diketahuinya" (Al 'Alaq, QS.96 ayat 3-5). Merebut ilmu, sesuai dengan bimbingan Rasulullah SAW menjadi kewajiban bagi setiap Muslim (lelaki dan perempuan), (Al Hadist). Tidak ada batas usia menuntut ilmu sebagaimana sabda Rasulullah SAW, "Tuntutulah ilmu itu dari ayunan hingga ke liang lahat (qubur)" (Al Hadist). Tidak pula terbatas di satu wilayah seperti yang dianjurkan "Tuntutlah ilmu walau ke negeri Cina". Lebih mendasar pernyataan tentang keberhasilan manusia hanya dengan ilmu, sesuai sabda Rasulullah SAW, "Siapa yang inginkan dunia dia harus peroleh dengan ilmu, siapa yang inginkan akhirat juga harus direbut dengan ilmu, dan siapa yang inginkan keberhasilan kedua-duanya (dunia dan akhirat) maka keduanya harus direbut dengan ilmu" (Al

Nuansa Kehidupan Islami 10

Pernik-Pernik Reformasi

Hadist). Seiring dengan Firman Allah, artinya "Allah menganugerahkan al hikmah (ilmu, kefahaman mendalam tentang Al qur'an dan As Sunnah) kepada siapa yang IA kehendaki. Dan barangsiapa yang dianugerahi Al Hikmah (ilmu) itu, maka ia benar- benar telah di anugerahi karunia (nikmat) yang banyak. Dan hanya orang- orang yang berakal- lah yang dapat mengambil pelajaran (dari firman- firman Allah)" (Al Baqarah, QS. 2 ayat 269).

Suatu kenyataan bahwa pergolakan kompetitif di era globalisasi di dominasi oleh pemilik ilmu pengetahuan dan teknologi dan berpeluang menguasai dunia abad mendatang. Penguasaan ilmu pengetahuan (hikmah) adalah bagian integral dalam Pola Qurani (Pola Q), akomodasi alternatif untuk memotivasi manusia (Muslim) mengantisipasi langkah zaman jauh ke depan. Pengembangan Pola Qur^ani merupakan salah satu pilihan tepat ber muatan hidayah Al Qur^ani, yang dipercayai ummat terbanyak dari generasi bangsa ini, berpotensi untuk secara bersama-sama menopang laju pembangunan bangsa dan negara tercinta, serta merupakan langkah positif kedepan guna menatap perubahan zaman. Semua di lakukan mengharap redha Allah aplikasi terutama dari nilai Al Qur^an. Wa hamdulillahi Rabbil 'Alamien.

Padang, Dzulqa’idah 1418 H

Globalisasi Kearifan Menangkap Perubahan Zaman

Nuansa Kehidupan Islami

11

Pernik-Pernik Reformasi

Zaman senantiasa mengalami perubahan Begitulah Sunatullah. Yang Kekal hanyalah Sunnatullah, aturan yang telah ditetapkan oleh Allah, Maha pencipta. Menjelang berakhirnya alaf kedua dan memasuki abad baru, abad dua puluh satu sebagai awal millenium ketiga, ditemui suatu kenyataan, terjadinya lonjakan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi dengan pesat. Ditandai dengan lajunya teknologi komunikasi dan informasi (information technology). Suatu gejala yang disebut-sebut sebagai arus globalisasi, dan "perdagangan bebas, yang memacu dunia ini dalam satu arena persaingan yang tinggi dan tajam. Globalisasi sebenarnya dapat diartikan sebagai suatu tindakan atau proses menjadikan sesuatu mendunia (universal), baik dalam lingkup maupun aplikasinya, the act of process or policy making something worldwide in scope or application menurut pengertian The American Heritage Dictionary. Di era globalisasi akan terjadi perubaha-perubahan cepat. Dunia akan transparan, terasa sempit, dan seakan tanpa batas. Hubungan komunikasi, informasi, transportasi menjadikan satu sama lain menjadi dekat, sebagai akibat dari revolusi industri, hasil dari pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Arus globalisasi juga akan menggeser pola hidup masyarakat dari agraris dan perniagaan tradisional menjadi masyarakat industri dan perdagangan modern. Dari kehidupan sosial berasaskan kebersamaan, kepada masyarakat yang individualis, dari lamban kepada serba cepat. Asas-asas nilai sosial menjadi konsumeris materialis. Dari tata kehidupan yang tergantung dari alam kepada kehidupan menguasai alam. Dari kepemimpinan yang formal kepada kepemimpinan yang mengandalkan kecakapan (profesional).

Pertumbuhan Ekonomi, Nikmat yang Wajib Dipelihara

Aspek paling mendasar dari globalisasi menyangkut secara langsung kepentingan sosial masing-masing negara. Masing-masing akan berjuang memelihara kepentingannya, dan cenderung tidak akan memperhatikan nasib negara-negara

Nuansa Kehidupan Islami 12

Pernik-Pernik Reformasi

lain. Kecenderungan ini bisa melahirkan kembali "Social Darwinism", dimana dalam persaingan bebas bentuk apapun, yang kuat akan bisa bertahan dan yang lemah akan mati sendiri (Wardiman, 1997). Kondisi ini mirip dengan kehidupan sosial budaya masyarakat jahiliyah, sebagaimana diungkapkan sahabat Ja'far bin Abi Thalib kepada Negus, penguasa Habsyi abad ke-7, yang nota bene berada di alaf pertama: "Kunna nahnu jahiliyyah, nakkulul qawiyyu minna dha'ifun minna," artinya: "Kami masyarakat jahiliyyah, yang kuat dari kami berkemampuan menelan yang lemah di antara kami." Kehidupan sosial jahiliyyah itu telah dapat diperbaiki dengan kekuatan Wahyu Allah, dengan aplikasi syari'at Islam berupa penerapan ajaran tauhid ibadah dan tauhid sosial (Tauhidic Weltanschaung). Ini suatu bukti tamaddun pendekatan historik yang merupakan keberhasilan masa lalu (the glory of the past). Allah berfirman: "Demikian itulah umat sebelum kamu. Bagi mereka amal usahanya, dan bagi kamu amal usahamu." (Q.S. 2: 141)

Globalisasi membawa banyak tantangan (sosial, budaya, ekonomi, politik dan bahkan menyangkut setiap aspek kehidupan kemanusiaan. Globalisasi juga menjanjikan harapan-harapan dan kemajuan. Setiap Muslim harus jeli ('arif) dalam menangkap setiap pergeseran yang terjadi karena perubahan zaman ini. Harus mampu menjaring peluang-peluang yang ada, sehingga memiliki visi jauh ke depan. "Laa tansa nashibaka minaddunya", artinya "jangan sampai kamu melupakan nasib/peranan kamu dalam percaturan hidup dunia (Q.S. 28: 77). Suatu yang amat menjanjikan itu adalah pertumbuhan ekonomi yang pesat, sebagai alat untuk menciptakan kemakmuran masyarakat. Indonesia sebagai bagian dari Asia Tenggara, dalam tiga dasawarsa ini telah menikmati pertumbuhan ekonomi yang pesat. Bank Dunia menyebut sebagai "The Eight East Asian Miracle" yang berkembangan menjadi macan Asia bersama: Jepang, Taiwan, Korea Selatan,

Nuansa Kehidupan Islami

13

Pernik-Pernik Reformasi

Hong Kong, Thailand, Singapura, Malaysia. Sungguh suatu nikmat yang wajib disyukuri. "Lain syakartum la adzidannakum", bila kamu mampu menjaga nikmat Allah (syukur), niscaya nikmat itu akan ditambah. Dalam bidang ekonomi ini, negara-negara Asean menikmati pertumbuhan rata-rata 7-8 % pertahun, sementara Amerika dan Uni Eropa hanya berkesempatan menikmati tingkat pertumbuhan ekonomi rata-rata 2,5 sampai 3 % pertahun. Populasi Asean sekarang 350 juta, diperkirakan tahun 2003 saat memasuki AFTA, populasi ini akan mencapai 500 juta (Adi Sasono, Cides, 1997). Bila pertumbuhan ekonomi ini dapat dipelihara, Insya Allah pada tahun 2019, saat skenario APEC, maka kawasan ini akan menguasai 50,7 % kekayaan dunia, Amerika dan Uni Eropa hanya 39,3% dan selebihnya 10 % dikuasai Afrika dan Amerika Latin (Data Deutsche Bank, 1994). Apa artinya semua ini? Kita akan menjadi pasar raksasa yang akan diperebutkan oleh orang-orang di sekeliling. Bangsa kita akan dihadapkan pada "Global Capitalism". Kalau kita tidak hati-hati keadaan akan bergeser menjadi "Capitalism Imperialism" menggantikan "Colonialism Imperialis" yang sudah kita halau 50 tahun silam. Dengan "Capitalism Imperialism" kita akan terjajah di negeri sendiri tanpa kehadiran fisik si penjajah. Pertanyaan yang perlu dijawab segera: Sudahkah kita siap menghadapi perubahan zaman yang cepat dan penuh tantangan ini? Di antara jawabnya adalah, kita berkewajiban sesegeranya mempersiapkan generasi baru yang siap bersaing dalam era global tersebut. Kita berkewajiban membentuk Sumber Daya Manusia (SDM) yang masih berkecenderungan individual menjadi Sumber Daya Umat (SDU) yang bercirikan kebersamaan dengan nilai asas "gotong royong", berat sepikul ringan sejinjing, atau prinsip ta'awunitas. Sebuah prinsip dasar yang mulai diabaikan oleh kalangan intelektual sekuler. Kita memerlukan generasi yang handal, dengan daya kreatif, innovatif, kritis, dinamis, tidak mudah terbawa arus, memahami nilai-nilai budaya luhur, siap bersaing dalam knowledge based society, punya jati diri yang

Nuansa Kehidupan Islami 14

Pernik-Pernik Reformasi

jelas, memahami dan mengamalkan nilai-nilai ajaran Islam sebagai kekuatan spritual. Kekuatan yang memberikan motivasi emansipatoris dalam mewujudkan sebuah kemajuan fisik-material, tanpa harus mengorbankan nilai-nilai kemanusiaan. Disini peran yang amat crusial dari Agama Islam. Wallahu a'lam. Padang, 7 Agustus 1997.

Nuansa Kehidupan Islami

15

Pernik-Pernik Reformasi

GENERASI PENYUMBANG

Adalah suatu keniscayaan masa depan sangat banyak di tentukan oleh umat yang memiliki kekuatan budaya yang dominan. Semestinya usaha diarahkan kepada pembentukan satu generasi penyumbang dalam bidang pemikiran (aqliyah), ataupun penyumbang pembaharuan (inovator)1. Keberhasilan akan banyak ditentukan oleh keunggulan institusi di bidang pendidikan atau pembinaan terhadap generasi yang berpengetahuan tentang kemampuan yang dimiliki, memiliki pemahaman (identifikasi) mendalam tentang masaalahmasaalah yang tengah dihadapi, equalisasi yang mengarah kepada kaderisasi diiringi oleh penswadayaan kesempatankesempatan yang ada2. Suatu kelemahan mendasar pada negara berkembang adalah melemahnya jati diri karena kurangnya komitmen kepada nilai-nilai luhur agama yang menjadi anutan bangsa3. Kelemahan ini dipertajam oleh tindakan isolasi diri karena kurangnya kemampuan terhadap penguasaan “bahasa dunia” (politik, ekonomi, sosial, budaya), yang pada gilirannya hidup dengan kecenderungan terjajah di negeri sendiri. Kurangnya percaya diri tersebab lemahnya penguasaan teknologi dasar yang menopang tatanan perekonomian bangsa, lemahnya minat menuntut ilmu, yang pada akhirnya menutup peluang untuk berperan serta dalam kesejagatan4. Pemberdayaan tamaddun (agama dan adat budaya) didalam tatanan kehidupan masyarakat seutuhnya, menjadi landasan meletakkan dasar pengkaderan re-generasi, dengan mengaktifkan kegiatan-kegiatan mengarah kepada penerapan hidup keseharian menjadi kewajiban utama, agar tidak terlahir generasi yang lemah5. Perlibatan generasi muda pada aktifitasaktifitas lembaga agama dan budaya, dan penjalinan hubungan erat yang timbal balik antara badan-badan kebudayaan serumpun (dalam dan luar kawasan), menjadi pendorong bagi terlahirnya generasi penyumbang yang bertanggung jawab 6. Penjalinan kerja sama dengan lembaga-lembaga perguruan tinggi (akademik) dengan meningkatkan pengadaan pengguna fasilitas yang mendorong kepada penelitian memasuki jati diri berbangsa dan bernegara akan memperkokoh interaksi kesejagatan. Melalui penelitian dan penelaahan perobahan-perobahan di desa dan kota sebagai antisipasi arus kesejagatan adalah

Nuansa Kehidupan Islami 16

Pernik-Pernik Reformasi

keniscayaan yang akan memperkokoh jati diri. Pengoperasionalan hasil-hasil penelitian dalam meningkatkan kerja sama berbagai instansi, bisa menopang peningkatan kesejahteraan7. Menggali ekoteknologi dengan kearifan yang ramah lingkungan, serta penanaman keyakinan aktual bahwa yang ada sekarang adalah milik generasi mendatang, menumbuhkan konsekwensi logis beban generasi kini berkewajiban memelihara dan menjaga untuk di wariskan kepada gereasi pengganti, secara lebih baik dan lebih sempurna8. Aktifitas ini akan memacu peningkatan daya kinerja di berbagai bidang garapan melalui perancangan pembangunan arus bawah dan alur pemikiran, melalui pendekatan holistik (holistic approach). Menghadapi arus kesejagatan (global) yang deras secara dinamik memerlukan penyesuaian kadar apa yang di kehendaki, maknanya adalah arus kesejagatan tidak boleh mencabut generasi dari akar budaya bangsanya. Sebaliknya arus kesejagatan itu semestinya di rancang bisa merobah apa yang tidak di kehendaki9. Senyatanya membiarkan diri terbawa arus deras perobahan sejagat tanpa memperhitungkan jati diri akhirnya akan menyisakan malapetaka10. Sosialisasi pembinaan jati diri bangsa terletak pada pemeranan maksimal fungsi ibu bapa (kekuatan inti masyarakat terdapat di rumah tangga)11. Usaha berkesinambungan ini mesti sejalan dengan pengokohan lembaga keluarga (extended family), serta pemeranan peran serta masyarakat secara pro aktif menjaga kelestarian adat budaya (hidup beradat). Setiap generasi yang di lahirkan dalam satu rumpun bangsa seyogyanya tumbuh menjadi kekuatan yang peduli dan pro-aktif dalam menopang pembangunan bangsanya dengan tujuan yang jelas, menciptakan kesejahteraan yang adil merata melalui program-program pembangunan. Sadar manfaat pembangunan seharusnya merata dengan prinsip-prinsip jelas, equiti yang berkesinambungan, sehingga partisipasi tumbuh dari bawah dan datang dari atas, pada gilirannya pula setiap individu di dorong maju dengan merasa aman yang menjamin kesejahteraan12.

Nuansa Kehidupan Islami

17

Pernik-Pernik Reformasi

Tidaklah mungkin dianggap enteng setiap usaha kearah pemantapan metodologi pengembangan program pendidikan dan pembinaan (keluarga, institusi, dan lingkungan), dengan pemantapan aqidah (pemahaman aktif ajaran Agama) pada generasi mendatang13. Adanya political action berkenaan dengan pengamalan ajaran-ajaran Agama (Islam) yang senyatanya merupakan anutan terbesar generasi mendatang, niscaya akan menjadi sumber kekuatan besar dalam proses pembangunan melalui integrasi aktif, dimana umat berperan sebagai subjek bagi pembangunan bangsa itu sendiri14. Generasi penyumbang (inovator) sangat di perlukan pembentukannya dalam kerangka pembangunan berjangka panjang. Bila terlupakan, generasi yang terlahir adalah generasi pengguna (konsumptif) yang jauh dari sikap produktif, dan akan merupakan benalu bagi bangsa dan negara 15. Semoga Allah memberi kekuatan memelihara amanah bangsa ini. Amin.

Padang, April 1998.

Nuansa Kehidupan Islami 18

Pernik-Pernik Reformasi

FITNAH COBAAN

Wahyu Allah SWT memperingatkan setiap diri agar selalu berhati-hati terhadap datangnya cobaan (fitnah) yang bisa menimpa setiap orang. Sesuai firman-Nya; "Dan peliharalah dirimu dari fitnah (siksaan) yang tidak semata khusus ditimpakan terhadap orang-orang yang zalim (aniaya) diantara

Nuansa Kehidupan Islami

19

Pernik-Pernik Reformasi

kamu. Dan ketahuilah bahwa Allah amat keras siksaannya" (QS.8, al-Anfal:25). Fitnah adalah siksaan yang tidak hanya teruntuk orang yang aniaya (zalim), bahkan akibatnya dirasakan oleh orang lain yang ada disekelilingnya. Nabi Muhammad SAW menyuruh mewaspadai kondisi kehidupan manusia di suatu ketika yang akan di sungkup fitnah berbungkus tipu daya (khida'aat) seperti; (a). Membenarkan kebohongan, sesuatu yang didalamnya tersimpan

(b). Mendustakan (menolak) sesuatu yang telah benar, (c). Memberikan amanah kepada orang-orang khianat, (d). Mengkhianati orang-orang jujur, dan (e) Mengikuti ucapan "ar-ruwaiybidhah"., yaitu "seorang bodoh yang berbicara tentang segala urusan", (HR.Ibn.Majah dari Abi Hurairah RA). Masyarakat yang terbiasa pada sikap membenarkan yang salah cenderung akan menolak kebenaran, sebab yang menjadi ukuran adalah interest (kepentingan). Tatkala amanah diserahkan kepada pengkhianat, orang jujur akan di khianati (di kucilkan). Yang tampil adalah orang-orang bodoh yang berbicara seenak perut menyangkut segala urusan orang banyak. Suka atau tidak, segala permasaalahan tidak duduk secara tepat. Yang akan berkembang subur segala tindakan anarkis. Berbagai kekacauan (fasad) dan pemaksaan kehendak sukar dibendung. Tindakan balas dendam di bumbui saling curiga, hasad dan dengki akan meraja lela. Akhirnya, berlakukah peringatan Rasulullah SAW; "bila urusan sudah dipegang yang bukan ahlinya, tunggu sajalah kehancuran" (Al Hadist). Datanglah bencana besar berupa fitnah (siksaan) yang tak terelakkan. Kepada orang ber-iman diperintahkan agar jangan mengkhianati Allah dan Rasul dengan merusak amanat yang dipercayakan. Bahayanya sangat besar. Harta, kekayaan, anak, turunan, adalah sumber fitnah besar. (lihat QS.8:27-28). Allah SWT akan menguji dengan keburukan dan kebaikan, di dalamnya terdapat siksaan atau fitnah (lihat QS.21,alAnbiya':35). Dalam situasi serba tak menentu perlu dipelihara konsistensi (istiqamah).

Nuansa Kehidupan Islami 20

Pernik-Pernik Reformasi

Baiklah di simak dialog Khuzaifah bin al-Yamany RA dengan Rasulullah SAW. Ketika orang banyak bertanya kebaikan (alkhair), dia menyoal keburukan (syarr), karena takut kalau keburukan itu yang menimpa dirinya. Sahabat Khuzaifah berkata; "Wahai Rasulullah, sebelumnya kami hidup dalam zaman jahiliyah dan kodisi buruk, hingga didatangkan oleh Allah kepada kami kebaikan (hidayah Islam, kerasulan Muhammad SAW). Apakah dibalik kebaikan ini masih tersimpan keburukan?". Rasul SAW menjawab; "Ya!". Ditanya lagi; "Apakah disebalik keburukan itu masih terdapat kebaikan?", maka Rasul menjawab; "Benar, tetapi diselimuti kabut!". Lantas kutanyakan; "Kabut semacam apa?", yang di jawab oleh Nabi SAW; "kaum yang mengajak tanpa petunjuk hidayahku!" (dalam riwayat lainnya, "kaum yang bersunnah diluar sunnahku, dan berpedoman diluar hidayahku"). "Kamu mengenali mereka, tapi kamu mengingkari (terang-terangan atau sembunyi, karena perangainya tidak sejalan)". Aku tanyakan lagi; "Apakah sesudah kebaikan itu masih ada keburukan?". Jawab Nabi; "Ya!, Dakwah (yang berkembang) adalah ajakan kepintu jahanam. Siapa saja yang mengikuti (seruan) mereka, berarti siap terjun kedalamnya". Kutanyakan pula; "Tunjukkan kepada kami sifat mereka, wahai Rasulullah!" Dijawab Nabi SAW; "Kulit mereka seperti kita, dan perkataan mereka seperti lisan kita juga". Maka, aku sampaikan; "Apakah perintahmu kepadaku, andai kutemui kondisi seperti itu?" Sabda Rasulullah SAW; "Tetaplah dalam jamaah muslimin dan ikutilah para imam (pemimpin) mereka (Muslim) itu!". Akhirnya, kutanyakan; "Bagaimana, jika aku tak menemui lagi dikalangan mereka (kaum muslimin) itu jamaah dan juga tidak ada imam (pemimpin)?". Nabi SAW berkata; "Menghindarlah ('uzlah) dari seluruh firqah (kelompok) yang ada, walau engkau akan menggigit urat kayu hingga maut datang menjelang, dan engkau tetap begitu (sedemikian itu lebih baik untukmu)". (HR.Tirmidzi)

Padang, September 1998.

Nuansa Kehidupan Islami

21

Pernik-Pernik Reformasi

MASA DEPAN

Betapapun krisis tengah melanda Indonesia sebagai bahagian dari kawasan Asia Tenggara, namun sebagai bangsa yang besar semestinya bersikap optimis dengan dorongan semangat besar bahwa bangsa (kawasan) ini akan menjadi pusat kegiatan masa datang, baik dalam penguasaan ekonomi ataupun intelektual menghadapi percaturan abad ke duapuluh satu. Suatu kenyataan, instalasi kekuatan ekonomi terpegang oleh bahagian terkecil (selected minority) dengan penguasaan kebutuhan mayoritas penduduk di pedesaan. Namun, bila kekuatan kecil ini mampu membangkitkan peran penguasaan kebutuhan terbesar masyarakat, adalah suatu keniscayaan semata bangsa ini akan dapat bergerak secara pasti menjadi umat yang di perhitungkan. Sulit untuk di elakkan, adanya suatu keharusan memelihara gerak pertumbuhan dari bawah (bottom-up). Usaha nyata perlu dikembangkan melalui ekonomi keluarga dan pemungsian kekuatan ekonomi pasar dari pedesaan. Karena, yang akan memimpin orang banyak adalah yang bisa berbuat banyak untuk orang banyak itu. Peranan generasi mendatang harus di siapkan pada dasar kesepahaman memelihara destiny sendiri, dengan menanamkan kebebasan terarah untuk menumbuh kembangkan tanggung jawab bersama, dalam upaya meningkatkan daya saing dan menghasilkan hal-hal yang produktif, pada gilirannya akan membuahkan beragam hasil usaha yang dinikmati bersama. Memang ada satu kecemasan bahwa sebahagian generasi yang bangkit kurang menyadari tempat berpijak.

Nuansa Kehidupan Islami 22

Pernik-Pernik Reformasi

Sebenarnya suatu kelaziman belaka pada kawasan yang tengah berkembang tampilan kolektivitas lebih mengedepan dari pada aktivitas individu. Dalam hubungan ini diperlukan penyatuan gerak langkah memelihara sikap-sikap yang harmonis dengan menghindari adanya tindakan eksploitasi dalam hubungan bermasyarakat. Penguatan daya implementasi konsep-konsep aktual menjadi sangat penting, melalui research dan pengembangan serta kualita dalam membentuk kondisi. Pemberdayaan institusi (lembaga) kemasyarakatan yang ada (adat, agama, perguruan tinggi), dalam mencapai ujud keberhasilan, mesti disejalankan dengan kelompok umara’ (penguasa) yang adil (kena pada tempatnya). Ketersambungan pendapat ilmuan dan para pengamat melalui dialog, dan penekanan amanah pada pemegangpemegang kendali ekonomi, serta penyatuan gerak seluruh masyarakat yang ujud dalam do’a (harapan) berpadu pada usaha (kenyataan), merupakan pekerjaan mendesak dalam meniti suatu pengembangan pembangunan (development). Pemeranan seni mengajak secara aktif (dakwah) akan menyokong mempertahankan apa yang kita miliki dan membuat apa yang belum kita miliki. Akhlak mulia adalah suatu kemestian bagi mendorong tumbuhnya pro-aktif dalam gerak pembangunan fisik dan nonfisik. Suatu kecemasan bahwa diantara generasi yang tengah berkembang belum siap memerankan tugas di masa depan, memang beralasan. Gejala itu terlihat dari banyaknya generasi bangsa yang masih terdidik dalam bidang non-science (seperti, kecenderungan terhadap yang berbau mistik, paranormal, pedukunan, penguasaan kekuatan jin, budaya lucah, pergaulan bebas, kecanduan ectacy,dan konsumsi penanyangan pornografi) ditengah berkembangnya iptek. Gejala ini tampil pada permukaan tata pergaulan yang dipermudah oleh penayangan informasi produk cyber space. Keinginan yang tidak selektif, peniruan gaya hidup yang tidak berukuran, sesungguhnya akan lebih banyak menghambat kesiapan menatap masa depan. Kemungkinan ini bisa terjadi karena kurangnya interest terhadap agama dan mulai meninggalkan puncak-puncak budaya yang diwarisi, diperberat oleh tindakan para pemimpin formal dan non-formal yang kebanyakannya masih terpaut pada pengamatan tradisional dan non-science.

Nuansa Kehidupan Islami

23

Pernik-Pernik Reformasi

Problematika ini akan teratasi dengan usaha berketerusan dalam memelihara kemurnian aqidah (tauhid) supaya tidak terjadi pemahaman dan pengamalan keseharian agama yang campur aduk, serta usaha berkesinambungan dalam menjaga agar tidak terjerumus dalam kehidupan materialis. Upaya yang intensif ini semestinya berkemampuan menggiring Sumber Daya Umat tetap bertumpu kepada science dengan nilai agama dan budaya. Tugas ini perlu di emban secara terpadu. Padang, Maret 1998.

KUALITAS UMAT

Salah satu masalah kehidupan modern adalah kualitas manusia yang berkaitan dengan kualitas umat dalam kerangka Ijtima’iyah (kemasyarakatan).

Modernisasi telah mendorong umat manusia menggapai tingkat kehidupan duniawi (materiil) yang menghidangkan kehidupan nyata lebih baik dari kehidupan sebelumnya. Percepatan ini hanya dimungkinkan oleh penguasaan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi. Sejak dari permulaan abad lalu, terasa perkembangan lapangan komunikasi informasi sangat mempengaruhi warna kehidupan sosial-ekonomi, apalagi dalam menatap arus globalisasi.

Nuansa Kehidupan Islami 24

Pernik-Pernik Reformasi

Selain berkembang kearah yang positif, tidak jarang dampak negatif menyertai bila kesiapan moral spiritual tidak di seiringkan dengan laju perkembangan material. Seringkali laju pertumbuhan materiil tidak diimbangi oleh kesadaran akhlak (moral), yang menyisakan "limbah budaya" dan berakibat menurunnya kualitas manusia. Limbah budaya, tampak pada perilaku yang tidak normatif, seperti kehidupan materialistis dengan menghilangkan batas-batas antara halal dan haram.

Memisahkan nilai-normatif dalam aktifitas hidup manusia, atau mengabaikan dominasi moral agama sebagai ukuran kualitas manusiawi, pasti akan mengundang bencana bagi kelangsungan citra kemanusiaan. Hajat hidup tidak semata pemenuhan kebutuhan materiil, malah lebih oleh kepuasan spiritual yang melahirkan rasa aman, rasa bahagia dan hidup yang tenteram.

Perebutan materi semata dengan menghalalkan serba cara, bisa menghapuskan kecintaan terhadap sesama manusia, acapkali mengorbankan kerukunan dan kesantunan. Nilai-nilai halus kemanusiaan akan terusik dan terabaikan, tatkala aktifitas kehidupan di sandarkan pada penataan individualistik terdorong pemikiran bahwa kehidupan ukhrawi tidak kena mengena (tidak relevan) dengan kegiatan duniawi (paham sekularisme).

Akibat lebih jauh, manusia terbiasa merampas hak orang lain dengan dalih "struggle for life". Muaranya berakhir pada kehidupan hedonistik, dan berkembangnya kriminalitas, sadisma, pergaulan tak bermoral (a-moral). Keinginan mendapatkan sesuatu secara mudah tanpa harus mengerahkan potensi secara optimal akan mengundang kehidupan tanpa kewajaran, bisa menghilangkan hak esensial manusia seperti hapusnya right of privacy (hak-hak pribadi), selanjutnya sirnalah penghormatan manusia terhadap sesama dalam hidupnya. Kondisi ini, membawa kepada peluncuran nilai-nilai kualitas manusia, seperti kehidupan ekonomi berkaedah "economics animals" yang menjangkiti sebahagian negeri maju, merupakan limbah budaya yang bergerak sangat cepat di tengah derasnya arus globalisasi.

Nuansa Kehidupan Islami

25

Pernik-Pernik Reformasi

Pada beberapa kenyataan gerak ekonomi tidak lagi merujuk kepada kemashalahatan orang banyak, tetapi mengarah kepada keuntungan pribadi semata. Karenanya diperlukan adanya saringan (filterisasi) terhadap perkembangan negatif karena membahayakan terhadap pertumbuhan generasi bangsa dimasa depan. Saringan utama adalah kebijakan memanfaatkan nilai- nilai luhur yang dimiliki, dalam bentuk penerapan kebiasaan-kebiasaan normatif nilai kemanusiaan, seperti nilai-nilai adat yang menitik beratkan kepada kebersamaan (gotong royong), puncak-puncak kebudayaan yang mendasarkan kepada perbuatan terpuji, serta panduan ajaran agama yang mengajarkan akhlak mulia (akhlaqul-karimah).

Khusus bagi daerah Sumatera Barat (Minangkabau), pelaksanaan konsep “adat basandi syara’ dan syara’ basandi kitabullah” sangat ideal untuk membentuk masyarakat dengan kemapanan berbangsa (memiliki patriotisme berat sepikul ringan sejinjing), yang siap menerima kondisi hidup yang multipluralisme baik dalam kefahaman ataupun keragaman (basilang kayu dalam tungku di sinan api mangko-nyo iduik), artinya adalah menghormati perbedaan untuk mencapai satu keberhasilan yang di nikmati secara bersama. Konsep adat ini menjadi alas dasar pembinaan ketahanan moral masyarakat untuk merebut keberhasilan pembangunan materil (fisik).

Aktualisasi program pembangunan berkelanjutan (sustained development) yang berwawasan lingkungan sebenar adalah kesadaran mewujudkan konsep ideal dalam puncakpuncak kebudayaan bangsa, dan pengembangan nilai-nilai potensial adat istiadat (termasuk di Minangkabau), menjadi potensi riil dalam kehidupan masyarakatnya, sungguhpun ada kecemasan bahwa nilai-nilai adat mulai di gantikan oleh hanya sebatas upacara adat, bukan prilaku beradat. Tugas berat dan mulia bagi setiap putra daerah ini. Semoga Allah senantiasa memberinya kekuatan. Padang, Dzulqaidah 1418 H

Nuansa Kehidupan Islami 26

Pernik-Pernik Reformasi

Hijrah

Secara sederhana, hijrah berarti pindah. Suatu peristiwa Sirah Nabawi (sejarah Rasulullah SAW) bersama-sama Mukminin pindah dari Makkah ke Madinah pada satu setengah millenium yang lalu, dan merupakan awal tahun baru Islam

Nuansa Kehidupan Islami

27

Pernik-Pernik Reformasi

sejak shahabat Umar Ibnu Al-Khattab RA menetapkannya sebagai kalender hijrah. Hijrah bukan melarikan diri karena takut siksaan, atau karena tekanan musyrikin Quraisy semata. Hijrah adalah satu peristiwa penting, yang menjadi titik awal (starting-point) kebangkitan Dakwah Islam. Hijrah merupakan dedikasi demi keyakinan (iman) dan bukti kepatuhan serta taat prinsip terhadap ajaran tauhid. Hijrah merupakan jawaban tegas atas seruan Allah melalui pembuktian kecintaan sejati (mahabbah) kepada Muhammad Rasulullah SAW, dengan mengalahkan kecintaan terhadap harta benda, sanak keluarga serta kerelaan menggantinya dengan keikhlasan menerima Ajaran Islam. Hijrah adalah fenomena kekuatan umat Mukminin dalam menampilkan citra ajaran dan latihan yang di lakukan Rasulullah SAW terhadap pengikutnya, setelah mereka di uji dengan krisis berupa “…tertekan di tanah air sendiri bahkan diancam dan ditakuti akan diculik..(QS.8:26)” akhirnya mampu menampilkan satu sosok umat bermutu (khaiyr-ummah) yang siap memikul tanggung jawab manusiawi sebagai khalifah Allah di muka bumi. Hijrah puncak kewibawaan ajaran Islam, merupakan gerakan nyata dari interpretasi Wahyu Al Quran yang telah menjadikan Islam sebagai agama yang haq (benar) dari Allah, yang tidak bisa di rusak oleh perdayaan dan tekanan dari golongan musyrikin (atheis) Quraisy berupa penangkapan, pemenjaraan, pembunuhan, pengusiran, penculikan, pengucilan, intimidasi dan tidak boleh berhubungan dagang (embargo ekonomi) serta bermacam usaha makar yang diperlakukan terhadap Rasulullah SAW dan orang-orang Mukmin,”…dan (akhirnya) Allah sebaik-baik pembalas tipu daya”(QS.8:30). Maka, hijrah adalah satu kebenaran undangundang baja perjalanan sejarah manusia berkeyakinan tauhid dengan akidah Islam. Hijrah adalah kesediaan melaksanakan reformasi aktual dengan menanggalkan kehidupan jahili yang nyata terlihat tumbuh membiasa sebagai karakter masyarakat Jahiliyah, seperti penyembahan berhala dan manusia, hilangnya batas halal-haram, berkelakuan keji tercela (zina, sadis, miras, korupsi, kolusi, manipulasi, hedonis dan riba), menjadi ancaman terhadap jiran, memutus silaturrahim dengan membahayakan ketenteraman tetangga, yang kuat menelan yang lemah,(lihat “Al Islam Ruhul Madaniyah” yang menukilkan penjelasan Shahabat Ja’far bin Abi Thalib kepada Kaisar Negus di Habsyi).

Nuansa Kehidupan Islami 28

Pernik-Pernik Reformasi

Dengan strukturisasi ruhaniyah melalui Risalah Muhammad SAW, yang terkenal shiddiq (lurus, transparan), amanah (jujur), tabligh (dialogis), fathanah (ilmiah), ditanamkan keyakinan bersih kepada kekuasaan Allah Yang Esa (tauhidiyah), kepercayaan terhadap hari berbangkit (akhirat), disiplin beribadah (syari’at), optimisme yang tinggi terhadap luasnya bumi (rezki), kesaudaraan mendalam (mu-akhah), akhirnya setiap pribadi mukmin siap untuk berhijrah sematamata mengharapkan balasan (pahala) dari Allah (lihat, QS.4:100). Hijrah telah menjadi ketetapan operatif yang berlangsung terus menerus dalam proses restrukturisasi masyarakat baru yang berdiri dengan ikatan kepercayaan dengan prinsip dasar yang lebih tinggi dari sekedar hubungan solidaritas kelompok (‘ashabiyah, nepotisme) dan tumbuhkembang menjadi masyarakat majemuk pertama yang hidup diatas landasan keadilan berkemakmuran1. Hijrah telah membentuk tatanan masyarakat yang terbuka untuk semua, dengan kesempatan berkembang mencari kehidupan berdasar hak asasi yang sama bagi semua anggota masyarakatnya. Tidak ada kelompok yang bisa mencegah berbagai anggota masyarakatnya untuk maju. Salah satu keutamaan yang di tampilkan Islam adalah membangun satu masyarakat yang kuat berdasarkan sikap saling mengasihi (ukhuwwah dan mahabbah) dan saling membantu (ta’awun), sebuah peradaban yang tinggi yang melahirkan suatu lingkungan yang sehat politik, ekonomi, kebudayaan dan materil, sehingga memungkinkan manusia mengarahkan dirinya untuk menyembah Allah, mengikut perintah-perintahNya dalam semua kegiatan (lihat QS.Tahrim,ayat 6), tanpa adanya rintangan dari institusi-institusi masyarakat. Masyarakat akan tetap di anggap terbelakang sepanjang ia gagal menciptakan satu lingkungan yang tepat untuk menyembah Allah sesuai dengan syari’at-Nya. Maka tidak dapat di sangkal bahwa Islam dan Iman telah mampu membangkitkan motivasi kuat dengan keyakinan diri yang unggul memiliki kebebasan terarah dan bertanggung jawab, baik secara moral maupun intelektual. Inilah suatu catatan kaki dari sejarah hijrah yang tak boleh di abaikan. Generasi umat Islam hari ini harus mampu mencapai visi baru

1

Sejarah kemudian membuktikan betapa Shahabat Ali bin Abi Thalib pernah diadili atas aduan seorang Yahudi dengan dakwaan pemilikan seperangkat baju besi oleh seorang hakim Muslim dan akhirnya demi hukum dan keadilan Ali bin Abi Thalib bisa di kalahkan lantaran tidak dapat mengetangahkan bukti-bukti di pengadilan (mahkamah). Nash (teks) Al Quran membuktikan pula bahwa masyarakat Madinah tumbuh berkeamanan yang tenteram serta dihuni tidak hanya oleh umat Mukmin (homogrenitas agama), tapi juga oleh Yahudi-Nashara (Judeo-kristiani) dan Munafik.

Nuansa Kehidupan Islami

29

Pernik-Pernik Reformasi

dalam gelombang kesadaran Islam yang pengaruhnya nampak dalam tatanan kehidupan duniawi. Hanya kelompok Yahudi (zionis) tidak pernah diam berupaya sekuat daya agar manusia senantiasa mengikut millah (konsepsi dan cara-cara) mereka (QS.2:120). Wallahu a’lamu bis-shawaab.

Padang, 1 Muharram 1419 H

Nuansa Kehidupan Islami 30

Pernik-Pernik Reformasi

TABUAH

TABUAH sudah di tabuh !!

Nuansa Kehidupan Islami

31

Pernik-Pernik Reformasi

Ada satu yang penting untuk di ketahui seluruh anak negeri untuk di laksanakan bersama-sama. Tabuah itu menjadi tanda pula untuk masuknya waktu shalat, sebelum azan dikumandangkan. Nadanya bertalu-talu, meriah sekali tatkala datang bulan suci hari baik bulan baik, hari raya anak negeri di Minangkabau. Tabuah alat komunikasi yang mentradisi di kampung halaman sejak masa doeloe. Nadanya menggema kesegenap pelosok nagari, kadang kala bersahutan dari satu kampung kekampung lainnya, antara satu taratak dengan taratak bersebelahan. Suara pukulannya mampu menggerakkan hati orang yang mendengar, menyentak tanya apa kiranya yang tengah terjadi, supaya setiap diri awas dan hati-hati. Tak seorangpun yang tak menyadari bahwa sebenarnya ada yang penting tengah berlangsung, mengundang partisipasi seluruh anak nagari. Atau tatkala waktu shalat tiba, mengingatkan agar pekerjaan di hentikan, yang di sawah balik kerumah, yang di ladang bersiap untuk pulang, yang di pasar istirahat sejenak, suatu gambaran kebudayaan yang bersenyawa pada kehidupan surau tempat tabuah biasanya ditempatkan. Surau tempat mengaji anak-anak, wadah pembinaan generasi muda dalam menyiapkan patah tumbuh hilang berganti, karena adanya kesadaran terhadap kepastian datangnya masa untuk aktif berperan mewarnai corak kehidupan, serta kesiapan dalam menjalankan singkek ma-uleh kurang manukuak melanjutkan bengkalai para orang tua, dalam menyambung pembangunan kehidupan yang berkelanjutan ( baca; sustained development) di ranah bundo Minangkabau. Di Surau pula tempat akhlak mulia di tanamkan, tempat yang muda-muda bertemu bercengkerama sesama besar, tempat yang tua-tua menularkan adat kebiasaan yang normatif, merupakan persiapan utama dalam menatap hidup kedepan dalam tatanan pergaulan yang berjalin berkulindan dengan adat bersendi syara’, syara’ bersendi Kitabullah. Akhlak perangai yang terlihat dalam pergaulan berat sepikul ringan sejinjing, sama hidup dalam tanggung jawab kebersamaan (gotong royong). Suasana itu sekarang sudah mulai punah dari kehidupan sosial bermasyarakat di Minangkabau. Surau tidak lagi sebagai simbol kehidupan yang di minati, beralih kesimpang jalan tempat lepau dilengkapi tivi atau vidio menjadi pangkalan yang muda-muda berlalu lalang. Kiat pergaulan dan perlengkapan (assesories) paling disukai adalah buatan orang lain. Tangan terampil ukurannya adalah menampung belas kasihan orang

Nuansa Kehidupan Islami 32

Pernik-Pernik Reformasi

lain tanpa memperlihatkan hasil buatan buah tangan sendiri. Surau yang di punyai oleh setiap kaum dan suku mulai hilang dari tatanan kampung yang telah menjadi desa dan lurah. Corak kehidupan surau tidak banyak terkait dengan turun naiknya nafas kehidupan bermasyarakat di kampungkampung. Tanda bakorong-bakampuang (yang di perlukan oleh sebuah nagari), tidak lagi pada simbol adanya balairung tempat musyawarah, adanya surau tempat mengaji, adanya medan nan bapaneh tempat mempertemukan kebolehan rantau dan kampung, adanya tepian tempat mandi. Simbolsimbol kebudayaan dengan peralatan-peralatan penunjang mulai hapus oleh hidup kebarat-baratan (westernisasi). Sebenarnya, yang mesti di hidupkan adalah semangat modernisasi tanpa harus tercerabut dari akar budaya. Simbol kebudayaan adalah sarana untuk memupuk kecintaan kepada norma kehidupan beradat, khususnya bagi anak-anak nagari di alam Minangkabau, sebagai upaya memperkaya puncak budaya nasional. Tabuah pun tak terdengar di tabuh, untuk mengingatkan akan hal-hal yang penting, yang perlu di awasi. Masyarakat terlena, lupa kepada sesuatu kewajiban kebersamaan. Hidup mulai menjurus kepada nafsi-nafsi (individualistik) sebagai ciri dari limbah budaya materialisme, yang selama ini hanya lazim ditemui pada tatanan kehidupan masyarakat Barat. Orang Minangkabau di Sumatera Barat yang menanggalkan budayanya hanya akan mewarisi generasi dalam sebutan tempat kenangan nostalgia. Jiwanya akan mati, tata kehidupan tidak lagi beralaskan adat yang tak lekang karena panas tak lapuk karena hujan. Bila kondisi itu tidak di awasi, rela ataupun tidak, maka peringatan terhadap jalan di alih urang lalu, tepian di aliah urang mandi niscaya akan menjadi kenyataan pula. Hidup kedepan di prediksi akan dikuasai oleh kaum yang teguh pada puncak kebudayaannya. Tak mudah di sangkal bahwa puncak kebudayaan adalah warna kehidupan satu kaum (bangsa). Nilai kebudayaan dalam tatanan kehidupan yang aktif merupakan aset bernilai tinggi untuk di persandingkan pada era kesejagatan (globalisasi). Yang kehilangan komitmen nilai-nilai budaya yang kokoh berpeluang menjadi kelompok yang akan diperebutkan orang dalam persaingan keras (kehidupan Social Darwinisme). Mudah-mudahan kita mampu memelihara nilai-nilai budaya bangsa ini. Amin.

Padang, Maret 1998.

Nuansa Kehidupan Islami

33

Pernik-Pernik Reformasi

UMATISASI LAWAN GLOBALISASI

Nabi Ibrahim AS diutus Allah untuk menata suatu kehidupan kemasyarakatan melalui suatu program yang jelas, dengan menanamkan sikap rela berkurban (mengabdi kepada Allah), meramaikan negeri dengan menyeru manusia untuk menunaikan ibadah hajji, mensucikan tempat ibadah di Makkah el Mukarramah (Baitil ‘atiq), menggerakkan umat untuk berproduksi (diantaranya hewan ternak) sebagai sarana penyempurnaan ibadah, dan belajar mengambil manfaat dari peristiwa-peristiwa ibadah ini.

Nuansa Kehidupan Islami 34

Pernik-Pernik Reformasi

Konsep Rabbani2 ini dapat disebut sebagai program umatisasi kehidupan mendunia (globalisasi) yang berdampak jauh sampai akhir zaman (masa kini dan masa datang). Tatanan itu kemudian dilanjutkan oleh keutusan Risalah Muhammad SAW, yang menempatkan pada rukun Islam3 menjadikannya sangat spektakular dan tidak pernah terlintas akan meluas cakupannya meliputi bidang transportasi, informasi, keuangan (moneter), ekonomi perdagangan serta manajemen, bahkan mengkait kepada seluruh aktifitas kehidupan manusia (individu, berbangsa, mendunia) seperti terjadi pada zaman sekarang. Globalisasi yang terlahir dari program umatisasi. Rombongan Jamaah Hajji Indonesia setiap tahun bertolak meninggalkan tanah air. Menuju "tanah suci", menyahuti "panggilan Allah", Nida' Makkah untuk melaksanakan "ibadah haji", sebagai Rukun Islam mendambakan dapat menunaikan ibadah ini, tanpa membedakan asal-usul, pangkat dan derajat, semata hanya menyempurnakan Iman dan Taqwa kepada Allah. Labbaika Allahumma labbaika.

Setiap tahun jamaah haji Indonesia jumlahnya bertambah, sesuai dengan angka kuota yang di sepakati antara pemerintah Indonesia dan pemerintah Saudi Arabia.

2 Lihat QS.22, Al Hajj, ayat 26-28, yang artinya : “ Dan (ingatlah), ketika kami memberikan tempat kepada Ibrahim di tempat Baitullah, dengan mengatakan : “Janganlah kamu memperserikatkan sesuatupun dengan Aku, dan sucikanlah rumahKu ini bagi orang-orang yang thawaf, dan orang-orang yang beribadat dan orang-orang yang ruku’ dan sujud ”. “ Dan berserulah kepada manusia untuk mengerjakan haji, niscaya mereka akan datang kepadamu dengan berjalan kaki, dan mengendarai unta yang menjadi kurus (karena jauhnya perjalanan) yang datang dari segenap penjuru yang jauh”. “ Supaya mereka menyaksikan berbagai manfa’at bagi mereka dan supaya mereka menyebut nama Allah pada hari yang telah ditentukan atas rezeki yang Allah telah berikan kepada mereka berupa binatang ternak. Maka makanlah sebahagian daripadanya dan (sebahagian lagi) berikanlah untuk dimakan orang-orang yang sengsara lagi fakir. (Q.S. 22 . al Hajji, 26-28) 3 Lima rukun dari Arkanul-Islam adalah, Syahadatain (pengakuan kepada Tiada Tuhan selain Allah, dan Muhammad Rasulullah), mendirikan shalat, berpuasa di bulan Ramadhan, membayarkan zakat, menunaikan hajji ke bait-Allah el Haram (minimal satu kali se umur hidup) bagi yang mampu/kuasa (pada bulan tertentu, Dzulhijjah). (Al Hadist).

Nuansa Kehidupan Islami

35

Pernik-Pernik Reformasi

Pada tahun ini4 jumlahnya sangat drastis bila perkiraan bertumpu kepadai estimasi gejolak moneter yang tengah melanda bangsa Indonesia atau prediksi kemelut politik yang melanda kawasan Teluk. Kecemasan yang mengganjal hanya teratasi oleh adanya keyakinan bahwa haji adalah menyahuti panggilan Allah yang merupakan keyakinan tauhid dari jamaah sejagat.

Dalam satu dasawarsa terakhir dalam pelaksanaan haji memang sering terjadi peristiwa menyedihkan, seperti 1990 dengan Musibah Terowongan Al-Mu'ashiem, atau dikenal juga sebagai "peristiwa Mina" yang merengut banyak nyawa. Sungguh semua adalah "taqdir" yang tak terelakkan. Satu dari ketentuan qadha dan qadar Allah semata. Belum lagi "kecemasan" itu lengang dari pikiran, hiru-biru perang dahsyat (peristiwa Teluk) tujuh tahun lalu terasa pula mengerikan5 .

Dalam setiap fikiran insan Muslim menggelantung sebuah pertanyaan, hikmah apa yang tersimpan di balik peristiwa-peristiwa itu semua. Ada yang melihatnya sebagai satu peringatan keras dari Allah 'Azza Wa Jalla, agar umat manusia segera sadar. Supaya tidak terperosok lebih lebih dalam kepada mengandalkan materi semata dengan sandaran superioritas duniawi berbalut kecanggihan teknologi. Tidak semua "masalah" di-jagat-raya ini bisa diatasi dengan faktor keandalan manusia, iptek atau kebendaan semata. Ada faktor "Yang Maha Menentukan", yakni kekuasaan Allah yang muthlak, sebagai "walayatu lillahil haq", dan seringkali terlupakan dalam

4 Tahun haji 1418 H /1998 jumlah jamaah haji Indonesia mendekati 202 ribu orang.

5 Masalah Al Quds dan Bangsa Palestina belum selesai, di samping Israel dengan lobby Zionis belum teratasi. Kemiskinan dan kemelaratan menghimpit kebanyakan Umat di Afrika, yang notabene juga beragama Islam, seperti peristiwa di Eritheria, Kamerun, Nigeria ataupun Sudan. Ratap tangis para janda dan anak-anak belum lagi reda di Iran dan Irak sebagai akibat perang tanding kedua-duanya selama delapan tahun. Libiya yang di isolir oleh kekuatan Barat, kehidupan Islam di Bosnia masih merana, kemelut Kosovo datang pula melanda. Irak di paksa menderita dengan embargo ekonomi. Kuweit hidup dalam kecemasan invasi negara tetangga, sehingga semuanya itu sangat berdampak kepada kebijaksanaan yang tidak manusiawi.

Nuansa Kehidupan Islami 36

Pernik-Pernik Reformasi

setiap pengambilan langkah putusan oleh manusia dalam hidupnya.

Sering sekali "sang manusia" terpeleset jalan, terperosok jauh kedalam jurang kehancuran karena melupakan wilayah iman, akhirnya kehidupan dengan berbuah penderitaan diciptakan sendiri oleh hasil rekayasa pikiran serta perbuatan tangannya6. Perasaan sedih dan kecewa memadati relung-relung hati setiap Muslim.

Masyarakat Indonesia yang cinta damai dan sangat menghargai nilai-nilai kemerdekaan suatu bangsa, menjadi terkejut dan sesak dada tatkala perisitiwa demi peristiwa datang himpit berhimpit, walaupun terjadinya di kawasan Timur Tengah yang labil senantiasa bergolak sepanjang kurun, sungguhpun "nikmat Allah" berlimpah ruah di kawasan itu.

Negeri kaya di Timur Tengah telah menularkan kemakmurannya yang dinikmati hampir seluruh pelosok negeri, dalam sekejab mata berubah menjadi neraka, di mangsa oleh kekuasaan raksasa. Keamanan dan kesejahteraan merupakan kata-kata yang menghiasi kamus belaka. Kesenjangan

6 Lihat QS.30, Ar-Rum, ayat 41-45, artinya ; “ Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari akibat perbuatan mereka (yang mengundang krisis dan bencana), agar mereka kembali ke jalan lurus”. “ Katakanlah; “Adakanlah perjalanan di muka bumi dan perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang durhaka dahulu. Kebanyakan mereka itu adalah orang-orang yang mempersekutukan Allah “. “ Oleh karena itu, hadapkanlah wajahmu kepada Agama yang lurus (Islam) sebelum datang dari Allah satu hari yang tak daapat di tolak kedatangannya; pada hari itu mereka terpisah-pisah (sebahagian dalam sorga dan sebahagian lagi di neraka)”. “ Siapa yang kufur, dia sendiri yang menaggung akibat kekafirannya. Siapa yang beramal shaleh untuk diri mereka sendiri, mereka menyiapkan tempat yang menyenangkan; agar Allah memeberi pahala kepada orang yang beriman dan beramal shaleh dari karunia-Nya. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang ingkar”. (QS.30:41-45).

Nuansa Kehidupan Islami

37

Pernik-Pernik Reformasi

merupakan hal yang biasa dalam kenyataan di kawasan yang selama ini telah berkomunikasi dalam satu bahasa, bertata-krama dalam satu adat yang sama. Seketika bertukar menjadi kancah nista dan duka, saling menghancurkan nilai-nilai manusia. Krisis telah menjadi tampilan tatkala persatuan hanya sebatas sebutan7. persaudaraan dan

Keprihatian situasi ini tidak luput dari perhatian. Terutama Indonesia dengan kenyataan jumlah umat Islam terbesar dan dominan bila dihimpun dalam satu kawasan Asia Tenggara. Semuanya setiap saat, minimal lima kali sehari semalam, wajah mereka menghadap ke Kiblat yang sama, Ka'batullah di Mekkah al Mukarramah.

7 Selama sepuluh tahun sejak KTT Baghdad 1978, Saudi Arabia (sampai 1988) telah memikul kewajiban Bangsa Palestina dalam bidang keuangan, memperkuat ketahanan Rakyat Palestina diwilayah yang diduduki, dan jumlahnya mencapai lebih dari 1,3 milyar dolar Amerika. Dan untuk kepentingan negara-negara di Benua Afrika, telah mendanai lebih dari 17 milyar dollar Amerika, di antaranya 59% berupa hibah. Hampir 70 negara berkembang memanfaatkan bantuan keuangan Saudi Arabia, yang jumlahnya lebih dari 34 milyar dollar Amerika. Belum terhitung sumbangan dermawan perorangan melalui lembaga-lembaga sosial dan keuangan Timur Tengah, menyebar sampai kedesa-desa terpencil di seantero dunia. Semuanya telah menunjang perkembangan dalam bidang pendidikan, sosial kemasyarakatan, dan juga penyempurnaan sarana-sarana ibadah dan dakwah. Kondisi ini pasti tidak bisa bertahan lama tatkala solidaritas Islam dicabik-cabik, berganti dengan kemuraman dan ketidak percayaan. Memang, perang membawa duka. Yang menang, menderita. Yang kalah lebih celaka. Peristiwa teluk (1990) telah menghadiahkan hutang yang menghimpit beberapa negara di kawasan itu, secara pelan namun pasti tengah meniti proses pemelaratan bangsa dengan beban biaya tinggi. Teluk Persi yang tenang, bergejolak dengan kehadiran kekuatan "multi-nasional" yang tak dapat ditolak. Semua pihak mempunyai kepentingan yang sama, demi perdamaian. Keamanan, kedaulatan, kemerdekaan, disamping pertimbangan ekonomi, dan "minyak" membuka peluang untuk Yahudi dengan lobby-zionis-nya dengan leluasa melakukan tindakan kasar kepada warga Arab dan Palestina. Sementara itu semua mata tertuju ke Teluk Persia, suatu kawasan rebutan, dan hingga kini sulit di cari solusinya. Kedaulatan dan kemerdekaan negeri-negeri tetangga, ikut terancam, keamanan dan keselamatan manusia jadi taruhan. Kekuasaan dengan kekuatan senjata, tidak lagi menjadi jaminan bagi terciptanya kedamaian. Ketenangan berubah menjadi pembantaian.

Nuansa Kehidupan Islami 38

Pernik-Pernik Reformasi

Kekhawatiran Ummat Islam terhadap kawasan Teluk yang di incar Zionis (dibawah naungan lobby Amerika Serikat) adalah suatu yang wajar dan cukup beralasan. Melihat apa yang pernah dilakukan pada beberapa negara-negara lainnya di dunia, telah terbukti kehadiran kekuatan asing pada satu kawasan sangat berbahaya8. Kehadiran pasukan asing di jazirah Arab (baca: Timur Tengah) sejak dahulu tidak disenangi. Jika sekarang pintu itu terbuka, sebenarnya yang membuka peluang adalah hilangnya sikap percaya diri dan pudarnya semangat kebersamaan di tengah kehidupan kawasan itu9. Kita, harus pandai belajar dari sejarah.

Persahabatan Indonesia dengan Timur Tengah telah terjalin lama sekali. Sejak dari pertama sekali orang Indonesia menunaikan ibadah haji ke Mekkah. Bahkan jauh sebelum itu, ketika pedagang-pedagang Arab mulai menjejakkan kakinya ke bumi Nusantara, banyak keturunan Arab tersebar diseluruh tanah air, sebagai bukti eratnya persahabatan itu.

Di Indonesia kita mengenal nama keluarga Baswedan, Afiff, Alattas, Salim, Albar, Muhammad, Bafadhol, Baraja, dan banyak lagi yang telah menyatu dalam kerukunan satu bangsa Indonesia10.
8 Ketika Perang Teluk meletus (1991), Wilayah Saudi menjadi tempat pangkalan pasukan multi nasional dibawah komando Amerika Serikat (operasi Desert Stroom), sebenarnya sangat di tentang oleh dunia Islam dan oleh masyarakat Saudi sendiri, (sungguhpun sebelumnya Raja Fahd terlebih dahulu meminta persetujuan para Ulama Saudi Arabia, demi menjaga keamanan wilayah semata).

9 Umumnya kawasan Timur Tengah (termasuk Kerajaan Saudi Arabia), tidak membangun pasukan besar dengan maksud expansi. Akan tetapi berusaha selalu membantu negara-negara tetangga yang beragama Islam. Hanya Irak diantara beberapa negara lainnya (Mesir, Iran, Siria, Turki) yang mempunyai kekuatan andal selama ini dan sering membantu Bangsa Palestina terutama untuk mewujudkan kemerdekaannya, dan pembebasan Masjidil Aqsha (kiblat pertama Ummat Islam) dan pencemaran Yahudi belum terlaksana sepenuhnya. 10 Khusus bagi Sumatera Barat yang memakai panggilan "Serambi Mekkah", arti persahabatan (Saudi Arabia - Indonesia), mempunyai

Nuansa Kehidupan Islami

39

Pernik-Pernik Reformasi

Bahkan lebih dari itu, tatkala delegasi haji Indonesia ke Saudi Arabia (1947) bisa mengibarkan "sangsaka Merah Putih" ditengah Padang Arafah. Waktu itu delegasi Indonesia beranggotakan K.H. Adnan, Haji Syamsir (berasal dari Bukittinggi), dan K.H. Saleh Su'aidy. Delegasi itu kemudian dikenal sebagai "delegasi haji" Indonesia pertama. Bila kita melihat perkembangan dan hubungan akrab yang telah terbina dengan solidaritas (ukhuwwah) serta akidah Islamiyah ini di buhul lebih erat dalam kesejagatan pasti dapat dijadikan kekuatan ampuh dan nyata dalam mengatasi berbagai krisis (termasuk moneter) yang di hadapi sekarang ini. Implementasinya terpulang kepada kesediaan kita juga11.

PERUBAHAN

Perubahan adalah suatu kewajaran, natuur-wet (sunnatullah). Alam selalu berubah, kepada yang baik (kemajuan, development) atau kepada yang buruk (kemunduran, bencana). Perubahan fisik (materil) ataupun nonmateril (kebudayaan) yang menyangkut kehidupan umat manusia. Mencari yang tetap tanpa berubah di dunia, mencari sesuatu yang tak di jadikan. Masaalahnya adalah bagaimana mengarahkan perubahan kepada yang bermanfaat ? Manusia memiliki ratio dalam menuntun arah setiap perubahan di tengah perkembangan alam, sementara alam memiliki

makna yang dalam. Persahabatan yang diikat oleh "aqidah" dan pandangan hidup yang satu. Persaudaraan Islam, atau "ukhuwah Islamiyah". Hampir semua "ulama tua" di Minangkabau adalah "alumni Masjidil Haram". Sejak dari Sheikh Ahmad Khatib Al Minangkabawy (Imam Masjid el Haram) yang tidak pernah pulang keranah Minang, hingga Haji Jalaluddin (mantan Ketua Masjlis Ulama Indonesia Sumbar). 11 “ Hai orang-orang yang beriman !, apabila kamu memerangi pasukan (musuh), maka berteguh hatilah kamu dan sebutlah (nama) Allah sebanyak-banyaknya agar kamu memperoleh kemenangan” “ Dan ta’atlah kepada Allah dan Rasul-Nya dan janganlah kamu berbantah-bantahan, yang menyebabkan kamu menjadi gentar dan hilang kekuatanmu dan bersabarlah. Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar”. (QS. 8- al Anfal, ayat 45 – 46)

Nuansa Kehidupan Islami 40

Pernik-Pernik Reformasi

keterbatasan dalam menyediakan secukupnya untuk setiap perubahan yang di kendaki manusia. Maka budaya (tamaddun) dan agama (religi) yang dianut manusia sangat berperan dalam mengantisipasi setiap perubahan yang terjadi.

Sebuah pertanyaan, apakah agama berkemampuan mendorong suatu perubahan kearah kemajuan (development)? Dalam menjawabnya selalu terjadi pertentangan baru antara elit sekuler yang berkiblat ke barat (westernis) dengan nasionalis beragama. Sebenarnya kebangkitan agama ditengah nasionalis di Indonesia tidak pernah menjadi ancaman terhadap barat. Sebaliknya bisa terjadi bahwa kebangkitan barat bisa menjadi ancaman bagi nasionalis beragama di Indonesia (termasuk Asia), karena barat adalah sekuler dan Indonesia (Asia Tenggara) adalah beragama.

Homogenitas Agama di Eropa (Barat dengan christsociety) diperankan secara sungguh-sungguh dalam pembentukan Pasar Tunggal Eropa, sementara di Asia (khususnya Indonesia) dengan kemajemukan agama (multi pluralisma) tidak pernah menghambat pertumbuhan manajemen, perdagangan ataupun perekonomian, karena adanya satu basis tempat berpijak, yaitu budaya timur (Asia) yang memang berbeda dari budaya barat.

Timur (Asia) umumnya di kenal sebagai tempat lahirnya agama-agama, dan tempat turunnya wahyu yang menjadi dasar bagi agama samawiy. Barat sejak awal tumbuh dari akar budaya Yunani dan Romawi yang semata mengandalkan kemampuan ratio dan logika dan sangat cocok bagi gerakan Zionis (Yahudi). Perbedaan nyata terlihat juga pada kehidupan individualistik beraliran materialisme sekuler yang mendorong barat kepada eksploitasi untuk struggle for life dan struggle for the fittest, yang berkecenderungan terhadap menghalalkan semua cara dalam pencapaian semua yang dicitakan.

Sementara timur (Asia) lebih mengutamakan penerapan sifat kebersamaan dan kekerabatan, yang terlihat jelas dalam setiap ajaran yang di anut warganya dari ajaran Budhais, Hinduis, Shintois, Konfusius, Kristiani. Lebih kontras tercermin

Nuansa Kehidupan Islami

41

Pernik-Pernik Reformasi

pada ajaran Islam yang senantiasa menekankan kepada pemenuhan tanggung jawab pribadi terhadap Tuhan (hablum minallah) serta penunaian kewajiban sesama hidup manusia (hablum minan-naas).

Di masa depan, agama-agama terutama di Asia akan berjalan sebagai sumber pendorong. Maka tidaklah mengejutkan bila suatu ketika akan terlihat adanya pergulatan antara umatization (pemeranan potensi umat) menghadapi western globalization (globalisasi barat), yang bila kesiapan jati diri diabaikan pastilah menelan korban berjatuhan berbentuk krisis (bencana) dalam segala bidang yang menyangkut ekonomi, moneter, perdagangan, sosial politik dan budaya.

Perjuangan kedepan sangatlah berat bagi setiap umat beragama (terutama di Indonesia). Kerja keras sangat mendesak adalah usaha berkesinambungan kearah penyehatan kehidupan masyarakat sebagai memenuhi syarat pengabdian terhadap Tuhan Allah dan memelihara harkat kemanusiaan.

Islam sebagai satu agama samawy (berdasar wahyu Allah) membuka diri secara selektif, dengan seluruh ajarannya menutup celah penurunan nilai citra kemanusiaan. Manusia adalah makhluk mulia yang memiliki harkat kemuliaan. Islam selalu membuka diri untuk menerima segala bentuk perubahan kearah kemajuan yang merupakan salah satu hajat hidup manusia.

Keberhasilan selalu di pulangkan kepada upaya manusia dalam mencapainya (Innallaha laa yughayyiru maa bi qaumin, hatta yughayyiruu maa bi anfusihim, artinya, Allah tidak merobah nasib suatu kaum sehingga kaum itu berusaha sungguh merubah anfus (sikap jiwa atau jati diri) mereka sendiri. Karena itu perlu di kaji ulang pemahaman aqidah salaf yang melihat setiap konflik secara dinamis dengan tujuan konstruktif. Islam tidak mengenal adanya pemungsian peran manusia untuk exploitation de l’homme par l’homme yang akhirnya berakibat si kuat menelan si lemah.

Nuansa Kehidupan Islami 42

Pernik-Pernik Reformasi

Kalau begitu, ada pertanyaan yang perlu di jawab dengan usaha (jihad) yang sungguh-sungguh, yaitu sampai kemana umat Islam masih berpegang dengan ruhul Islam itu ( terutama di ranah yang menganut kaedah adat bersendi syarak, syarak bersendi kitabullah, di Minangkabau). Jawabannya menjadi solusi dalam upaya membentuk generasi baru (Indonesia) di abad keduapuluh satu yang siap bertanding dan bersanding di tengah percaturan global.

Konsekwensinya adalah tingkatkan kerjasama dengan alas agama dan adat (puncak budaya atau tamaddun). Penghormatan terakhir akan direbut dengan kejayaan terhadap nilai normatif yang di pertahankan juga. Secara aktual dapat di mulai menghidupkan kembali asas ekonomi antar keluarga sebagai warisan budaya (di Minangkabau di simpulkan dalam suatu ke’arifan kaedah singkek uleh ma-uleh, kurang tukuak manukuak, senteng ba bilai, ka bukik samo mandaki, ka lurah samo manurun, barek sa pikua, ringan sa jinjiang), di dalam ajaran syara’ (agama) menyebutkan ta’awanuu ‘alal birri wattaqwa, wa laa ta’awanuu ‘alal-itsmi wal ‘udwaana yakni saling bertolongan di atas kebaikan dan ketaqwaan dan tidak bertolongan untuk dosa dan permusuhan.

Insya Allah melalui usaha yang terbangkitkan kembali batang terandam. Billahit-taufiq.

intensif

akan

Padang, 25 Maret 1998/Dzul qa’idah 1418 H

Nuansa Kehidupan Islami

43

Pernik-Pernik Reformasi

Umat Seimbang

Dan sesungguhnya Kami telah muliakan anak cucu Adam (umat manusia). Kami angkut mereka di daratan dan di lautan (yakni dimudahkan kehidupan manusia baik di darat ataupun di laut), Kami beri mereka rezeki

Nuansa Kehidupan Islami 44

Pernik-Pernik Reformasi

dari yang baik-baik dan Kami lebihkan dengan kelebihan yang sempurna atas kebanyakan makhluk yang telah Kami ciptakan” (Al Q.S.17, Al Isra’, ayat 70)

Betapa indahnya pernyataan Khalik Yang Maha Menjadikan. Pernyataan tentang kesiapan umat manusia untuk hidup di atas dunia. Manusia dipersiapkan sebagai makhluk utama. Memiliki segala kelebihan. Secara fisik, tubuhnya lengkap, kuat, cantik, penuh gaya. Spiritnya (jiwanya) disempurnakan dengan akal dan pikiran. Punya keinginan dan kecerdasan (inteligensia), rasa (emosional), dan memiliki dorongan-dorongan (nafsu) untuk mewujudkan segala yang diingini. Manusia dianugerahi kecerdasan intelektual dan kecerdasan emosional. Dengannya manusia bisa menjadi umat yang memiliki keseimbangan (ummatan wasathan).

Alampun dijadikan bersahabat dengan manusia. Segala sesuatu yang ada disediakan untuk sebesar-besar manfaat bagi hidup manusia. Laut dan darat adalah arena kehidupan, turun temurun. Di sana manusia berkiprah (exploitasi alam) selama hayat dikandung badan. Patah tumbuh hilang berganti, dari generasi ke generasi. Melaksanakan pembangunan, perombakan ke arah yang lebih baik dan menjalankan reformasi. Reformasi dalam bimbingan Tuhan selalu berasas horizontal. Artinya, tidak satu kewajibanpun boleh ditinggalkan dalam memenuhi suatu kewajiban lain.

Manusia diminta untuk senantiasa akrab dan menjaga fungsi alam (laa tabghil fasaada fil ardhi -jangan buat bencana di permukaan bumi-). Alam itu berperan pula menjaga keberadaan manusia, memberikan keselamatan terhadap kehidupan itu sendiri. Demikianlah satu siklus hidup yang aman dan menjanjikan kesejahteraan sepanjang masa. Bumi akan diwariskan kepada hamba-hamba Allah yang baik-baik (shaleh). Innal ardha yaritsuhaa ‘ibadiyas-shalihin.

Bila suatu ketika keseimbangan ini terganggu, penyebabnya tiada lain adalah hasil kurenah (perbuatan) tangan manusia sendiri.

Nuansa Kehidupan Islami

45

Pernik-Pernik Reformasi

“Zhaharal fasaadu fil barri wal bahri bimaa kasabat aydin-naas, li yudziiqahum ba’dal-ladzii ‘amiluu, la’allahum yar-ji’un ” Artinya ” Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali ke jalan yang benar”. (QS. 30, Ar-Rum, ayat 41). Demikianlah suatu sunnatullah (undang-undang baja alam) yang akan berlaku sepanjang perjalanan alam fana ini, hingga kiamat datang menjelang. Suatu peringatan supaya manusia tetap bersiteguh hati dalam memelihara perannya, sebagai khalifah fil ardhi.

Untuk menata kehidupan ini tetap berjalan seimbang, maka Khalik ( Allah Rabbun Jalil) memberikan pedoman (hidayah) yang jelas dan terang. Berakar kepada kebenaran (haq) dari Allah dan berakhir dengan kebenaran dari Allah juga. Itulah ‘Aqidah Tauhid’. Aqidah tauhid memiliki perbedaan kontras dengan ilmu (knowledge). Ilmu berawal dari ragu dan berujung kepada keraguan yang lebih besar. Aqidah tauhid tidak sama dengan falsafah yang berisi tanya dari awal dan akan berakhir dengan tanya yang lebih besar di ujungnya.

Aqidah tauhid (keyakinan kepada kekuasaan Allah yang mutlak, Allah Subhanahu Wa Ta’ala Yang Maha Esa dan Maha Kuasa) akan melahirkan sikap tunduk dan taat. Sehingga akhirnya tumbuh kesediaan manusia menyerahkan segala kemampuan akal dan gagasan pikiran, maupun hasil observasi dan eksperimentasi kepada kekuasaan Allah dengan pernyataan yang bersih, “Wahai Allah, Rabbanaa, tidak ada satupun yang Engkau jadikan ini sia-sia” (QS 3: 190). Tatkala itulah ilmu memperoleh kebenaran.

Dalam buhul aqidah tauhid inilah Mukmin mendapatkan keseimbangan hidup yang prima. Sehingga bila melihat satu bencana mereka yakin itu hanya sebatas ujian dari Allah, yang menuntutnya bertindak lebih baik dan hati-hati di masa mendatang.

Nuansa Kehidupan Islami 46

Pernik-Pernik Reformasi

Pada kutub yang berbeda, berbarislah manusia yang mengingkari keberadaan dirinya sebagai makhluk Tuhan. Tetapi mereka tutup mata hatinya dari keberadaan-Nya. Untuk mereka berlakulah ketentuan Allah: Dan barang siapa yang membutakan mata hatinya di dunia ini (dari petunjuk Allah), niscaya di akhirat nanti dia akan lebih buta dan lebih tersesat dari jalan yang benar.(QS 17: 72)

Manusia seperti itu akan merasakan azab menyiksa kehidupan. Mereka akan sesak dada dan mengumpat kiri-kanan. Mereka limbung kehilangan keseimbangan di tengah-tengah percaturan kehidupan. Karena itu kembalilah kepada Allah, supaya Allah senantiasa memberikan perlindungan- Nya selalu.

Padang, 12 Nopember 1997.

FENOMENA CENDEKIAWAN DALAM MASYARAKAT

Nuansa Kehidupan Islami

47

Pernik-Pernik Reformasi

Mereka yang memasuki dunia pendidikan Pasca Sarjana adalah mereka yang memiliki tingkat kecerdasan rata-rata diatas mahasiswa lainnya, seperti yang dikatakan teman bahwa pada umumnya mereka adalah para "bintang" mahasiswa selama menjalani pendidikan dalam jenjang pendidikan yang lebih rendah, tetapi "bintang" ini semakin pudar setelah mereka berada dalam struktur ruang lingkup akademis tertentu.

Menurut Mas’oed Abidin penyebabnya adalah mereka sudah "mengkapling" dirinya dalam sebuah spesialisasi ilmu pengetahuan tertentu dan menempatkan dirinya tidak lagi mengetahui "realitas" kehidupan disekitarnya tempat berpijak. Dengan cara lain mereka sudah menempatkan dirinya dalam pola pemikiran dirinya sendiri, bukan pada pola pemikiran orang lain tempat dirinya berpijak dan berdialog.

Dalam keadah filsafat Ilmu Pengetahuan, para Saintis adalah mereka yang menspesialisikan dirinya dalam sebuah bidang keilmuan tertentu. Spesialisasi ini dibangun berdasarkan atas pengalaman dan pendidikan yang melahirkan basis pengetahuan (knowledge). Basis pengetahuan (knowledge) membentuk sebuah bangunan yang disebut dengan Sains, yang menjadi bahan kajian dan wilayah garapan para Doktor atau Master.

Namun setelah mereka memperoleh Doktor atau Master, mereka sudah kehilangan realitas kehidupan disekitarnya yang menjadi tempat berpijak Sains tersebut, sains sesungguhnya dibangun dari pengetahuan (knowledge). Tanpa mengetahui keadaan masyarakat disekitarnya sebagai masukan pengetahuan, maka sains tidak dapat lahir dan hidup.

Persoalannya mengapa para Doktor atau Master dan mereka yang lulus dari Program Pasca Sarjana lainnya mengalami stagnasi ilmu pengetahuan dan kehilangan kreativitas yang melahirkan istilah GBHN (Guru Besa Hanya Nama) saat ini. Jawabnya adalah para Saintis ogah untuk kembali kepada dasar pembentukan ilmu pengetahuan tersebut (masyarakat).

Nuansa Kehidupan Islami 48

Pernik-Pernik Reformasi

Masyarakat merupakan sebuah buku besar ilmu pengetahuan. tempat segala kreativitas dan inovasi yang ada dalam hidup ini. Sebagai buku besar, masyarakat (alam) merupakan sumber kreativitas dan inovasi yang tidak terhenti, lari dari masyarakat merupakan lari dari kebebasan hidup dan berfikir seorang ilmuwan, seperti yang dikemukakan oleh Mas'oed Abidin bahwa kecerdasan seorang Guru ditentukan oleh membuat sebuah pertanyaan dari sebuah persoalan kehidupan yang dihadapi kepada para murid, dari sebuah realitas kehidupan kepada sebuah persoalan hidup yang berada diluar realitas tersebut.

Sedangkan kecerdasan seorang murid ditentukan oleh kemampuannya untuk mengembalikan jawaban kepada persoalan hidup yang dihadapi oleh guru tersebut dalam mata pelajaran yang dihadapi. Pengertian cerdas menurut hasil penelitian psikolog yang yang dirangkum dalam buku Emotional Intelligence (1997) ditentukan oleh tingkat kematangan emosi seseorang, semakin besar tingkat kematangan emosi seseorang dalam mengendalikan marah, sabar, dan beberapa sikap emosional lainnya semakin tinggi tingkat kecerdasan orang tersebut.

Ajaran agama Islam menempatkan manusia untuk menjadi Guru terlebih dahulu daripada menjadi murid. Hal ini membedakan dari paradigma pendidikan yang ada bahwa seorang guru yang baik haruslah menjadi seorang murid yang baik terlebih dahulu. Pembalikan tesis ini merupakan sebuah keberanian luar biasa dari ajaran agama Islam dari ruang lingkup kehidupan yang membatasi diri seseorang.

Pembatasan ruang lingkup ini tidak hanya mempersempit wawasan dan cara pandang manusia untuk menatap hidup ini, dalam rangka memperoleh pengetahuan (knowledge), tetapi juga mencegah manusia untuk mengalami neourosis dalam hidup ini. Neourosis disebabkan oleh pembatasan-pembatasan yang dilakukan manusia untuk membatasi dirinya untuk bergerak dalam hidup ini.

Nuansa Kehidupan Islami

49

Pernik-Pernik Reformasi

Pembatasan ini juga akan melahirkan pembatasan terhadap ruang gerak orang lain yang berbeda cara pandang mereka. Dengan kata lain, terdapat sebuah otoritas keilmuan dari seorang manusia yang bergerak dalam sebuah disiplin ilmu tertentu. Otoritas ini diciptakan baik oleh diri mereka sendiri maupun orang lain dalam bentuk spesialisasi keilmuan.

Untuk mencapai gelar Doktor atau Master bukanlah pekerjaan yang gampang. Salah seorang teman mengatakan bahwa perjuangan untuk memperoleh kedua gelar akademik tertinggi ini tidak hanya cukup dengan keringat, tetapi juga memerlukan pengorban darah dan air mata. Kritik terhadap akademisi yang bergelar Doktor atau Master biasanya berasal dari kalangan non-master atau non-doktor tersebut.

Pada umumnya, manusia akan melarikan diri dari realitas kehidupan kepada sistem nilai untuk menjustifikasikan dirinya sebagai pemegang kebenaran dari orang yang kalah terhadap realitas kehidupan yang harus digeluti tersebut..

Padang 12 November 1997

Futurulog??

Nuansa Kehidupan Islami 50

Pernik-Pernik Reformasi

Ada kecenderungan mimbar ilmiah hari ini, menyimak dan mengutip pendapat futurolog, sebagai suatu usaha meningkatkan kredibilitas dan kemampuan memproyeksi masa depan. Nama-nama seperti Alvin Toffler dengan athe third Wave-nya, Naisbitt dengan Global Paradoxnya, Patricia dan John Naisbitt dengan Megatrend 2000 telah menjadi idola-idola baru. Mereka disebut sebagai nabi-nabinya ilmuwan masa kini. Serasa kurang hebat kalau tidak mengutip nama dan pendapatnya. Sunggguhpun proyeksinya belum ada yang melewati dua puluh lima tahun.

Satu setengah millenium yang lalu, seorang yang ummi (buta huruf), mengemukakan sebuah pernyataan: "Akan datang padamu suatu masa, dimana zaman itu akan semakin pendek, ilmu semakin sempit, fitnah (cobaan-cobaan) semakin kentara, kekikiran semakin mudah dijumpai, makar/ pembunuhan sangat banyak terjadi." Pernyataan ini sesungguhnya hanyalah sebuah hadits dari lidah Muhammad SAW, sebagaimana diriwayatkan oleh mutafaqun alaihi dari Abi Hurairah. Akan tetapi, pernyataan itu sungguh sangat ilmiah. Sebuah pandangan melewati masa depan. Sekarang disebut dengan proyeksi futurulogis.

Pantaskah Muhammad SAW dipandang sebagai futurolog? Yang kemudian disejajarkan dengan para ilmuwan dan futurolog tersebut? Muhammad SAW nyata-nyata telah memberikan proyeksi satu setengah millenium melewati masanya! Bahkan lebih jauh, ke suatu masa se sudah alam fisik, masa akhirat. Masa yang tidak terukur waktu, abad ataupun millenium. Tidak terjangkau dimensi. Namun pasti. Pada masa itu, pernyataan-pernyataan Muhammad tentu amat mencengangkan. Tetapi, sekarang, limabelas abad kemudian, situasi itu sudah menjadi kenyataan. Dunia makin kecil, jarak makin dekat, hampir tiada lagi batas dan sekat, waktu menjadi nisbi. Antara waktu kerja dan istirahat tidak ditemui definisi. Seakan-akan: wa ja'alna allaila li baasan, wa ja'alna annahaara ma'asyan tidak diindahkan orang lagi.

Nuansa Kehidupan Islami

51

Pernik-Pernik Reformasi

Kemelut kejiwaan datang melanda. berbagai penyakit yang tadinya tidak pernah dikenal, merajalela, merenggut kebahagiaan hidup. Keberadaan materi, hampir tidak mampu menjawab. Mungkin inilah yang dikeluhkan para penyair: Uang bisa beli kasur mewah, tapi tak mampu beli tidur nyenyak; Uang bisa beli rumah gedung, tapi tak mampu beli rumah tangga; Uang bisa beli berkeranjang bunga, tapi tak mampu beli cinta; Uang bisa beli obat, tapi tak mampu beli sehat; dan seterusnya.

Dimana-mana orang merasakan lapar. Yang miskin lapar karena tak ada yang akan dimakan. Yang kaya pun lapar karena tak ada lagi yang boleh dimakan, karena pantangan dan larangan dokter (diet). Malang sekali.

Kebanyakan orang sudah dihinggapi rasa takut. Yang sedang di bawah takut, karena tak mungkin naik ke atas. Yang diataspun takut kalau sebentar lagi akan jatuh. Lebih parah yang menjaga takut kalau yang dijaga tidak terselamatkan. Yang dijagapun takut kalau yanag menjaga ketiduran. Hebohhh. Kebanyakan pula yang terperangkap penyakit kikir. Tidak sekedar enggan mengulurkan bantuan (materi) sampai senyumpun susah dicari. Bapak pulang kantor tidak bawa senyum. Ibu menunggu di rumah pun kehabisan senyum. Penjual tak lagi punya senyum pada pembeli, karena pembeli hanya berkomunikasi dengan angka-angka yang tertempel di kertas. Semua berkata: pada mulanya demi efisiensi. Efisiensi sebuah produk dari ilmu pengetahuan.Ternyata ilmu semakin sempit.

Nuansa Kehidupan Islami 52

Pernik-Pernik Reformasi

Fitnahpun menjadi-jadi. Ibu dan bapak kehilangan komunikasi. Dalam kondisi seperti ini, hanya ada satu antisipasi. Beribadah kepada Ilahi. Disinilah eksistenasi kita, karena: Tidaklah Kujadikan jin dan manusia, kecuali semata untuk beribadah kepada-Ku (QS at-Tahrim: 6). Bimbingan rasulullah selanjutnya menyebutkan: al 'ibadatu fi alharji kahijratin ilayya (Shahii Muslim) Artinya: "(Tetap) Beribadah di saat banyak pembunuhan/makar sama dengan berhijrah kepadaku."

Ibadah adalah proteksi, perlindungan dari setiap kemelut yang terjadi, termasuk dari pergeseran nilai budaya. Ibadah sama seperti scanning bagi sebuah CPU dalam perangkat yang disebut komputer. CPU dalam diri manusia tiada lain adalah qalb. Inna fi al jasadi mudghatan, iza shaluhat, shaluhal jasadu kulluhu, wa iza fasadat fasadatil jasad kulluhu, ala wahiyal qalb (Hadis) Sungguh di dalam tubuh ini ada segumpal daging, manakala dia sehat, akan sehatlah seluruh jasad dan manakala dia sudah rusak, akan rusaklah seluruh jasad. Ketahuilah bahwa segumpal daging itu adalah hati. Bila hati sudah rusak, semua tindakan akan error. Inilah kemelut kejiwaan yang diderita oleh banyak orang di saat pemenuhan kebutuhan material telah mencukupi. Ibadah tidak mungkin terlaksana bila di hati tak bersemayam iman dan taqwa. Iman dan taqwa bukanlah sekedar semboyan, tapi identik dengan perbuatan. Bila ini suatu yang pasti. Maka semua yang dikatakan Rasul itu pasti adanya, termasuk kepastian akhirat. Maka bukanlah Muhammad itu futurolog, karena dia adalah Rasul utusan Allah. Katanya teruji, sikapnya terpuji, dan peringatannya kenyataan pasti. Wa ma yan tiqu 'anil hawa. In huwa illa wahyun yuu ha. Artinya: Dan tidaklah (Muhammad itu) ngomong asal bunyi (asbun). Sungguh semua ucapannya wayhu (yang diwahyukan).(QS 53: 3-4)

Nuansa Kehidupan Islami

53

Pernik-Pernik Reformasi

Padang, November 1997

Nuansa Kehidupan Islami 54

Pernik-Pernik Reformasi

Menciptakan Masyarakat Tamaddun Menurut Mohammad Natsir12

12 Pengantar Redaksi: Membicarakan dan mengenang Mohammad Natsir jelas tidak akan pernah lengkap, karena begitu saratnya khasanah "peninggalan" beliau dalam segala segi, baik agama, politik, sosial budaya, ilmu pengetahuan, keteladanan, pemikiran, bahkan filsafat. Kali ini Fajar mengangkat salah satu "sudut kecil dari auditorium besar" peninggalan beliau. Berikut hasil wawancara reporter Fajar dengan H. Mas'oed Abidin, Ketua DDII Wilayah Sumbar, salah satu kader beliau yang banyak mengikuti jejak langkah dan pemikiran beliau, bahkan sampai beberapa saat sebelum beliau menghadap ilahi di akhir hayat. Wawancara eksklusif ini ditulis kembali oleh Tamrin Kiram dan Kimpul.

Nuansa Kehidupan Islami

55

Pernik-Pernik Reformasi

Salah satu tema menarik saat ini adalah upaya menciptakan masyarakat tamaddun (beradab). Konsep pemikiran ini merupakan antitesis terhadap degradasi moral yang dibawa oleh peradaban Barat.Konsep ini mulai difikirkan dan dirancang oleh beberapa politisi dunia, khususnya yang ada di Malaysia dan beberapa negara lain yang memiliki mayoritas penduduk beragama Islam. Masyarakat tamaddun merupakan sebuah masyarakat integratif antara kondisi masyarakat yang ada, baik secara sosial, politik maupun ekonomi dengan problematika sosial dan pribadi yang ada didalamnya. Ini sejalan dengan salah satu konsepsi Mohammad Natsir yang telah dirancang sejak tahun 1930-an yang lalu, dan menjadi perwujudan pada masa kini.

Dari Kesehatan sampai Mengatasi Adh'aful Iman

Berawal dari konsepsi tentang kesehatan. Mohammad Natsir membagi kesehatan atas empat bahagian. Pertama, kesehatan fisik. Kedua, kesehatan jiwa. Ketiga, kesehatan ide (pemikiran), dan keempat, kesehatan sosial masyarakat disekitarnya. Keempat kesehatan tersebut berada dalam ruang lingkup yang sama (integratif) yang memiliki interrelasi satu sama lain. Interrelasi ini berada dalam ruang lingkup pemikiran Islam, yang dinilai oleh Buya Mas'oed Abidin sebagai sebuah garis tengah yang menjadi "benang hijau" terhadap segala bentuk pemikiran yang ada. Sebagai sebuah garis tengah yang menjadi "benang hijau", dia tidak mengalami gesekan-gesekan pemikiran dan mengambil segala bentuk pemikiran konstruktif dan meninggalkan pemikiran destruktif. Hal ini dikemukakan Mohammad Natsir melalui upaya membangun masyarakat besar melalui masyarakat kecil dan sederhana. Istilah yang pas untuk menjelaskan hal ini adalah melalui pembentukan cara hidup berdikari terhadap diri sendiri, tanpa tergantung kepada orang lain (self help), kemudian membantu orang lain tanpa pamrih, ikhlas karena Allah SWT (selfless help), terakhir adalah membentuk sebuah ketergantungan untuk membantu satu sama lain (mutual help). Cara hidup ini merupakan konsepsi pemikiran Mohammad Natsir yang dikembangkan beliau menjadi dasar pembentukan kerjasama antara negara yang mendasari bentuk hubungan inernasional yang mampu menciptakan tata perdamaian dunia.

Nuansa Kehidupan Islami 56

Pernik-Pernik Reformasi

Ketiga dasar tersebut merupakan dasar pembentukan masyarakat tamaddun (beradab), sebagaimana yang menjadi dasar pemikiran Anwar Ibrahim melalui buku "Kebangkitan Asia" (The Asian Renaissance, 1995). "Kebangkitan Asia" (The Asian Renaissance) bukanlah sesuatu yang bersifat "kebangkitan ekonomi", tetapi merupakan sesuatu yang bersifat moral (the moral renewance). Sebagai sebuah "pembersihan moral" (the moral renewance), maka peranan agama Islam menjadi penting. Kepentingannya terletak kepada kemampuan aplikasi dari segala ide atau pemikiran yang dilaksanakan, sebagaimana yang dikemukakan oleh pengertian globalisasi yang diartikan sebagai ruang lingkup pemikiran yang bisa dilaksanakan di tengah masyarakat (The policy making something worldwide in scope or application). Relevansi pengertian "globalisasi" dalam konteks pemahaman ajaran agama Islam di atas dapat dilihat dari kata-kata DR. Sidek Baba, timbalan Rektor UIAM Malaysia dalam seminar Kebangkitan Peranan Generasi Baru di Asia Tenggara di Pekanbaru 21-23 Juli 1997 yang menyatakan bahwa terdapat interaksi antara pemahaman ajaran agama Islam dengan aspek globalisasi kehidupan yang terjadi dunia saat ini. Sebagai sebuah proses globalisasi, ajaran agama Islam tidak dapat berdiri sendiri, tanpa bersinggungan dengan lalu lintas ide atau pemikiran yang ada di dunia sekitarnya. Interaksi ini mengharuskan pemahaman ajaran agama Islam tidak lagi secara eksklusif dalam ruang lingkup pergaulan hidup sehari-hari dalam sebuah komunitas sosial yang tertutup dari dunia sekitarnya, tetapi harus bersifat inklusif untuk bisa dipahami oleh semua orang. Peranan pemikiran baru dalam mencerahkan problematika sosial, budaya, ekonomi dan politik dalam segenap masyarakat yang ada dari proses westernisasi yang dibawa kebudayaan Barat, merupakan salah satu antitesis terhadap masalah (kondisi) tersebut. Pemikiran Mohammad Natsir merupakan pemikiran ahlul salaf yang berada di tengah-tengah sebagai upaya penjelmaan umat pertengahan (ummathan wassatahan) yang dikemukakan ajaran Al Qur'an. Sebagai sebuah pemikiran aplikatif terhadap problemtika sosial yang ada, maka penerapan terhadap segenap ide (pemikiran) yang ada merupakan sebuah kebutuhan mutlak yang diharapkan masyarakat saat ini. Frustrasi sosial yang melahirkan agresi dalam segenap bidang kehidupan dilahirkan oleh kesenjangan antara sebuah ide dengan aplikasi ide tersebut. Kesenjangan ini merupakan

Nuansa Kehidupan Islami

57

Pernik-Pernik Reformasi

sebuah pemikiran Natsir yang diatasi oleh pembentukan masyarakat self help, selfless help dan mutual help di atas. Upaya untuk menjembatani kesenjangan tersebut hanya bisa dilakukan melalui kata-kata terakhir, sebelum beliau wafat, yang diucapkan Natsir kepada Buya Mas'oed Abidin: "Berorientasilah kepada ridha Allah SWT."

Kata-kata ridha merupakan maqam (tingkatan) terakhir dalam maqam (tingkatan) rohani kehidupan tasauf (pembersihan diri). Maqam ini hanya bisa dicapai setelah melalui maqam-maqam di bawahnya, seperti taubat, wara, zuhud, shabr, fakir dan tawakkal. Ketujuh maqam tersebut hanya bisa dilalui oleh mereka yang telah mengalami pencerahan (enlightenment), baik dalam bidang pemikiran maupun spritual rohani. Pencerahan (enlightenment) tersebut dilakukan oleh mereka yang telah menjelajahi berbagai pemikiran yang ada dan melakukan penyaringan (filter) terhadap segala bentuk pemikiran tersebut, agar melahirkan pemikiran bersih, jernih dan bisa diterima oleh semua pihak, baik mereka yang setuju maupun mereka yang berseberangan dengan dirinya. Proses ini dilakukan oleh Mohammad Natsir melalui kawah candradimuka intelektual melalui proses belajar yang panjang dengan berbagai guru-guru beliau, mulai dari guru yang memiliki pandangan hidup dan pemikiran yang keras dan memiliki fanatisme agama yang tinggi seperti tokoh PERSIS Ahmad Hassan sampai dengan tokoh moderat dan sosialis, seperti HOS Cokroaminoto. Di samping itu, proses pencerahan dan sikap politik beliau dibentuk juga oleh latar belakang pendidikan dan pengalaman hidup. Beliau tidak saja dianggap sebagai politisi aktif yang hidup dalam masyarakat, tetapi juga sebagai the political thinkers atau the political idea philospher. Sebagai seorang the political thinkers atau the political idea philospher, maka peranan masyarakat kecil merupakan ide (pemikiran) politik beliau yang utama. Ide (pemikiran) tersebut dituangkan dalam bentuk upaya menciptakan sebuah produk kerajinan kecil (handicraft) dalam masyarakat yang dinela saat ini sebagai "satu desa satu produk" (one village one product). Pemikiran "satu desa satu produk" (one village one product) yang dilaksanakan oleh Gubernur Sumatera Barat, H. Hasan Basri Durin berdasarkan pola pengembangan ekonomi masyarakat kecil di Jepang, merupakan salah satu bentuk pemberdayaan rakyat kecil (people empowerment) yang menjadi tiang proses kompetisi perekonomian dunia dalam

Nuansa Kehidupan Islami 58

Pernik-Pernik Reformasi

proses globalisasi tersebut. Dalam proses globlaisasi ini, hanya produk-produk yang mampu bersaing pada tingkat pasaran dunia yang mampu memenangkan persaingan besar. Persaingan pasar tersebut ditentukan oleh speksifikasi produk yang menjadi unsur "kepercayaan" (trust), seperti yang diungkapkan oleh penulis sejarah Francis Fukuyama, pria Jepang yang lahir dan dibesarkan di Amerika Serikat dan menduduki Dekan di George Mason University, Washington baru-baru ini di Jakarta. Berbeda dengan Francis Fukuyama yang mengemukakan tesis kesejarahan telah berakhir saat ini (The End of History), maka Natsir mengemukakan adanya tesis kesejarahan tersebut setiap saat dan tempat. Setiap ajaran Islam, mampu memberikan jalan keluar (solusi) terhadap problematika sosial umat manusia, dia berada dalam hati manusia yang mampu menangkap tanda-tanda zaman perubahan sosial, politik dan ekonomi di sekitarnya. Mereka yang mampu menangkap tanda tanda-tanda zaman perubahan sosial, politik dan ekonomi tersebut, mereka adalah orang-orang beriman. Apatisme politik dan bersikap menjadi "pengamat" dalam perubahan sosial, politik dan ekonomi tersebut adalah mereka yang memiliki selemah-lemah iman (adh'aful iman). Sikap diam (apatis) dalam kehidupan sosial, politik dan ekonomi yang selalu mengalami perubahan hanya bisa diatasi dan dihilangkan dengan mengerjakan segala sesuatu yang bisa dikerjakan, jangan fikirkan sesuatu yang tidak mungkin dikerjakan, apa yang ada sudah cukup untuk memulai sesuatu, jangan berpangku tangan dan menghitung orang yang lalu. Keempat kata-kata tersebut merupakan amanat Mohammad Natsir untuk tidak menunggu perubahan sosial, politik dan ekonomi dalam hidup ini, tetapi memanfaatkan segala perubahan tersebut untuk berhubungan kehidupan dunia luar disekitarnya. Sikap hidup menjemput bola, bukan menunggu bola merupakan sikap hidup untuk mengantisipasi selemah-lemah iman yang menjadi kata-kata kunci perubahan sosial, politik dan ekonomi yang diinginkan Mohammad Natsir melalui tiga cara hidup yang dikemukakannya. Yakni, bantu dirimu sendiri (self help), bantu orang lain (self less help), dan saling membantu dalam kehidupan ini (mutual help), Ketiga konsep hidup ini tidak mengajarkan seseorang untuk tidak tergantung kepada orang lain, ketergantungan akan menempatkan orang terbawa kemana-mana oleh mereka yang menjadi tempat bergantung.

Nuansa Kehidupan Islami

59

Pernik-Pernik Reformasi

Gubahlah Dunia dengan Amalmu Hidupkan Dakwah Bangun Negeri Jagalah Ibu Pertiwi

Nuansa Kehidupan Islami 60

Pernik-Pernik Reformasi

Jangan Jatuh di Pangkuan Komunis

Pak Natsir, dalam setiap pertemuannya dengan ahlul qurba yang juga merupakan inner circle dari perjuangan Islam dan harga diri umat di daerah, selalu mendengarkan keluhan tentang pesatnya gerakan misionaris. Lebih-lebih sejak masa orde lama telah terkondisi seakan-akan memberi peluang kepada gerakan missionaris tersebut atas dukungan orang-orang komunis (PKI). Bahkan setelah PKI dihapuskan sebagai satu-satunya tuntutan hati nurani rakyat dengan kepeloporan angkatan '66, orang-orang komunis yang lari ketakutan mencoba berlindung di balik dinding lonceng-lonceng gereja, setidak-tidaknya inilah terjadi di Pasaman Barat, tatkala di bawah pimpinan Mayor Johan Rifai (Bupati Pasaman zaman Orla, narapidana seumur hidup, mantan aktifis PKI gol A). Kondisi masyarakat yang runyam ini, menurut Pak Natsir hanya mungkin diperbaiki dengan amal nyata. Bukan dengan semboyan-semboyan yang bisa memancing apatisme masyarakat atau melawan kebijakan penguasa di daerah. Pak Natsir menasehatkan supaya kaedah yang selama ini telah dimiliki oleh umat Islam, ukhuwah dan persatuan, mesti dihidupkan terus. Diantaranya dengan membentuk perwakilan Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia (DDII) di daerah Tk.I propinsi Sumatera Barat yang diresmikan sendiri oleh Pak Natsir di Gedung Nasional Bukittinggi (sekarang gedung DPRD Tk. II Kodya Bukittinggi) 15 Juli 1968. (Baca juga: Kiprah DDII Tigapuluh Tahun red.) Pertemuan bersejarah ini dihadiri oleh hampir seluruh ulama Sumatera Barat. Para ulama tersebut tergabung dalam Majelis Ulama Sumatera Barat yang terang-terangan anti komunis. Dalam ajaran Islam, Komunisme adalah kelompok dahriyyin atau atheis (golongan yang tidak mengakui adanya Tuhan). Komunisme adalah ajaran kafir, begitu aqidah Islam. Pertemuan itu juga diikuti oleh ninik mamak pemuka masyarakat yang datang berduyun-duyun menyambut kehadiran pemimpin pulang. Antusias hadirin waktu itu terlihat secara spontan. Tidak ada satu kursipun yang kosong, tak ada tempat yang lowong yang tak diisi. Banyak hadirin yang berdiri bahkan ada yang hanya dapat duduk di lantai. Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia (DDII) perwakilan Sumatera Barat

Nuansa Kehidupan Islami

61

Pernik-Pernik Reformasi

diresmikan sebagai perwakilan pertama di daerah di luar DKI Jakarta. Kepengurusan pertama Dewan Dakwah di Sumbar dinakhodai para ulama kharismatik, seperti Buya H. Mansur Daud Dt. Palimo Kayo. Mantan Duta Besar RI di Irak yang juga adalah mantan Ketua Umum Masyumi Sumatera Tengah. Buya yang terkenal sangat anti komunis. Tahun 1968 Buya Datuk Palimo Kayo telah menduduki jabatan sebagai Ketua Umum Majelis Ulama Sumbar, hingga akhir hayat beliau. Kepengurusan Dewan Dakwah Sumbar diperkuat oleh Buya H. Nurman, Buya H. Anwar, Buya H. M. Bakri Dt. Rajo Sampono dan dari kalangan muda seperti Mazni Salam Dt. Paduko Intan, Djoefry Sulthany, Ratnasari, Fachruddin HS Dt. Majo Indo dan lain-lain. Memang semua penggerak pertama Dewan Dakwah di Sumbar adalah keluarga besar Bulan Bintang dan tidak perlu dibantah, mereka adalah orang-orang yang aktif dalam setiap gerak perjuangan Agama dan Bangsa. Jauh hari sebelum kemerdekaan Republik Indonesia diproklamirkan, mereka adalah pribadi-pribadi yang sangat anti komunis. Diantaranya ada yang berada pada barisan Perintis Kemerdekaan. Namun, masih ada saja kalangan yang berpandangan sinis. Kalangan itu melihat bahwa di antara pengurus pertama Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia Sumatera Barat yang diresmikan tersebut, dicap sebagai kelompok orang-orang "bekas pemberontak PRRI", istilah yang dihidupkan oleh PKI di tahun 1960-an. Padahal Pemerintah RI secara resmi telah mengeluarkan amnesti dan abolisi sejak tahun 1961 (lihat Keppres No.:659/th 1961). Maksudnya, tidak ada yang kalah, tidak ada pula yang harus merasa menang. Semua kembali ke pangkuan Ibu Pertiwi. Namun saat itu situasi terasa sangat menyakitkan. Kembali ke pangkuan Ibu Pertiwi, di saat Ibu Pertiwi berada "di pangkuan komunis". Memang suatu kenyataan sejarah bahwa pimpinan pusat Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia sejak didirikan Februari 1967 itu, terdiri dari bekas-bekas pemimpin dan pejuang Islam yang tangguh dan sangat anti komunis. Mereka adalah KH Faqih Usman, DR Mohammad Natsir, MR Kasman Singodimejo, KH Nawawi Duski, Prawoto Mangkusasmito, Buya Duski Samad, Buya HMD Datuk Palimo Kayo, Buya H A Malik Ahmad, H Zainal Abidin Ahmad, KH Shaleh Widodo, Bukhari Tamam, KH Hasan Basri, Prof Osman Ralibiy, Prof DR HM Rasyidi, KH

Nuansa Kehidupan Islami 62

Pernik-Pernik Reformasi

Rusyad Nurdin, DR Bahder Djohan, dr Ali Akbar, KH Yunan Nasution, MR Syafruddin Prawiranegara,MR Assa'at, KH Muchlas Rowi, KH Amiruddin Siregar, Mokhtar Lintang, KH Gaffar Ismail, yang sebagian mereka tercantum sebagai Badan Pendiri Yayasan Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia. Ketua Umum yang dipegang oleh Bapak DR. Mohammad Natsir diperkuat Sekretaris Umum Bapak Buchari Tamam, sampai kedua-dua beliau itu dipanggil oleh Allah SWT. Komposisi tersebut memang terdiri dari pemimpin-pemimpin bekas partai Masyumi. Partai yang telah membubarkan dirinya karena berseberangan dengan kebijaksanaan pemerintah Soekarno. Pemerintahan Orde Lama yang nyata-nyata telah memberi angin berkembangnya komunis di Indonesia. Terbukti pula, sebagian dari mereka, para pemimpin keluarga besar Bulan Bintang itu, adalah pelaku-pelaku aktif, atau simpatisan PRRI, yang pada tahun 1961-1967 oleh pencinta komunis disebut sebagai "bekas pemberontak PRRI". Keberadaan keluarga Bulan Bintang dan bekas PRRI di Sumatera Barat waktu itu sebagai jawaban dan merupakan konsekwensi logis dari anti komunis. Keluarga Bulan Bintang dan PRRI jelas-jelas merupakan satu kelompok yang memiliki ciri-ciri khas /karakteristik (hal yang mumayizat) sebagai kelompok anti komunis, sudah sejak masa lalu, jauh sebelum adanya angkatan '66 atau bangkitnya Orde Baru. Karena itu khusus untuk daerah Sumbar, kehadiran Dewan Dakwah disambut sebagai suatu harapan "yang akan mampu menjawab tantangan". Dewan Dakwah dianggap sangat istiqamah sebagai kekuatan anti komunis yang jelas-jelas seiring dengan misi orde baru ketika itu sebagai orde anti komunis di Indonesia. Keberadaan Dewan Dakwah diterima oleh kalangan tua dan muda sebagai suatu kekuatan baru dalam memelihara kerukunan umat dan kejayaan agama. Hanya sebahagian kalangan yang tidak senang. Mereka umumnya kelompok-kelompok non-Islam yang mencemaskan keberadaan Dewan Dakwah. Mereka cemas seakan-akan Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia akan mencungkil kembali luka lama yang mulai bertaut. Namun Pak Natsir menasehatkan: "Gubahlah dunia dengan amalmu dan hidupkan dakwah bangun negeri".

Nuansa Kehidupan Islami

63

Pernik-Pernik Reformasi

Nuansa Kehidupan Islami 64

Pernik-Pernik Reformasi

Menghidupkan Amal, Membentengi Aqidah Memelihara Kerukunan dalam Beragama13

Memelihara daerah dari bahaya gerakan Salibiyah berarti juga menjaga keutuhan nilai-nilai adat yang terang-terangan menyebutkan bahwa ranah ini adatnya bersendi syara' dan syara' bersendi Kitabbullah. Selain itu memelihara keutuhan ukhuwah hanya dimungkinkan dengan menghidupkan kembali nilai-nilai "tungku tigo sajarangan" dalam melibatkan unsur-unsur alim ulama ninik mamak dan para cendekiawan baik yang duduk dalam pemerintahan maupun yang ada di kalangan perguruan tinggi. Juga tak dapat dilupakan tentang peran kegotong-royongan sebagai buah dari ajaran ta'awun sebagai inti aqidah tauhid.

Amal nyata yang diprogramkan oleh Pak Natsir dan ditinggalkan untuk dikerjakan di Sumatera Barat merupakan program yang amat monumental. Ada lima program pokok yakni:

1. Gerakkan kembali tangan umat melalui penguasaan keterampilan di desa-desa sebagai usaha membina kesejahteraan bersama, artinya menghidupkan kembali ekonomi umat di desa-desa. Desa adalah benteng kota dalam artian perkembangan ekonomi yang sesungguhnya. 2. Hidupkan kembali lembaga puro. Yakni kebiasaan menabung dan berhemat dalam satu simpanan bernama puro. Juga
13 Wawancara eksklusif dengan H. Mas'oed Abidin

Nuansa Kehidupan Islami

65

Pernik-Pernik Reformasi

menghidupkan kebiasaan berinfaq, bersedekah dan berzakat sebagai suatu usaha pelaksanaan syariat Islam, menghimpun dana dari umat yang berada untuk dikembalikan kepada umat yang lemah (dhu'afak). 3. Hidupkan kembali Madrasah-madrasah yang sudah lesu darah, karena kehabisan tenaga pada masa pergolakkan. Hidupkan masjid bina jama'ah dan tumbuhkan minat seluruh masyarakat untuk menghormati ilmu dan memiliki kekuatan Iman dan Tauhid, terutama memulainya dari kalangan generasi muda. 4. Perhatikan kesehatan umat dengan mendirikan Rumah Sakit Islam. Bila kita terlambat memikirkan kesehatan umat maka orang lain akan mendahuluinya, bisa-bisa terjadi nantinya jalan dialih orang lalu. Membangun Rumah Sakit Islam adalah ibadah karena ada suruhan untuk berobat bagi setiap orang yang sakit (hamba Allah). Gerakan ini bisa berarti juga memfungsikan para ahli di bidangnya yang keislamannya sama bahkan tidak diragukan. 5. Perhatikan nasib pembangunan masyarakat di Mentawai. Mentawai itu adalah daerah kita dan semestinya kitalah yang amat berkepentingan dalam membangunnya. Bila orang bisa berkata bahwa Mentawai ketinggalan sebenarnya yang disebut ketinggalan adalah kita yang tak mau memperhatikan mereka di Mentawai itu. Kelima program ini minta dilaksanakan tanpa harus menunggu waktu dan dapat diprioritaskan mana yang mungkin didahulukan walaupun sebenarnya kelima-limanya merupakan pekerjaan yang amat integral. Modal kita yang utama untuk mengangkat program ini adalah kesepakatan semua pihak dan dorongan mencari ridha Allah, begitu Pak Natsir mengingatkan kepada pemimpin-pemimpin di kala itu. Dari dorongan-dorongan tersebut berbentuk taushiah pada mulanya akhirnya membuahkan hasil nyata. Pada Oktober tahun 1969 Balai Kesehatan Ibnu Sina (cikal bakal Rumah Sakit Islam Ibnu Sina) yang mengambil tempat di rumah Dr. Yusuf dan rumah keluarga Dr. M. Jamil di Bukittinggi diresmikanlah beroperasinya Balai Kesehatan Ibnu Sina oleh Proklamator Republik Indonesia Bapak. DR. Mohammad Hatta. Satu sejarah baru telah dimulai yakni membangun balai kesehatan sebagai rangkaian dari suatu ibadah dan gerak dakwah. Keberadaan Balai Kesehatan ini disambut oleh seluruh lapisan masyarakat dari desa-desa hingga ke kota, oleh pegawai sampai petani, dari ulama dan pejabat hingga

Nuansa Kehidupan Islami 66

Pernik-Pernik Reformasi

pedagang dan perantau. Serta merta seluruh pihak-pihak tersebut membuka puro (persediaan harta) menyalurkannya dengan ikhlas untuk berdirinya Balai Kesehatan Islam di Bukittinggi dan akhirnya menyebar ke Padang Panjang, Padang, Payakumbuh, Kapar (Pasaman Barat), Simpang Empat dan Panti dalam waktu yang sangat pendek hanya berjarak tiga tahun setelah peresmiannya dan akhirnya menjadi Rumah Sakit Islam Ibnu Sina. Apa yang diperbuat oleh misi baptis selama ini telah dapat dijawab oleh umat Islam di daerah Sumatera Barat dengan suatu amal nyata yakni melalui program dakwah illallah dalam bidang kesehatan. Seiring dengan itu masalah pendidikan pun dihidupkan seperti perhatian penuh terhadap lembaga pendidikan yang sudah ada (Thawalib Parabek, Thawalib Padang Panjang, Diniyah Padang Panjang dan banyak lagi yang lain). Disamping madrasah yang sudah ada dihidupkan pula madrasah baru seperti Aqabah di Bukittinggi dan madrasah-madarasah Islam yang tumbuh dari masyarakat di desa-desa. Masalah keterampilan seperti pertanian dan peternakan terpadu di Tanah Mati Payakumbuh dan pemanfaatan lahan-lahan wakaf umat di Rambah Kinali mulai di garap. Tujuan utamanya tidak hanya sekedar untuk mendatangkan hasil secara ekonomis namun lebih jauh dari itu. Diharapkan sebagai wadah pembinaan dan pelatihan generasi muda. Pembangunan rumah-rumah ibadah terutama di kampus-kampus (masjid kampus) dan Islamic Centre tetap menjadi perhatian utama. Walaupun ada suatu kampus yang amat memerlukan pembangunan sarana ibadah (masjid) merasa enggan dan takut untuk menerimanya terang-terangan dari Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia (DDII) karena takut terbias politik Keluarga Besar Bulan Bintang (Masyumi). Seperti contoh dibangunnya masjid kampus di tengah komplek UNAND dan IKIP di Air Tawar Padang yang terhalang beberapa lama hanya karena ketakutan terhadap bayangan Masyumi semata. Namun akhirnya dengan pendekatan yang dilakukan oleh orang-orang tua diantaranya Hasan Beyk Dt. Marajo dan Rektor IKIP Padang Prof. DR. Isyrin Nurdin terbangunkan jugalah masjid kampus yang diidamkan oleh setiap mahasiswa dan civitas akademika kedua perguruan tinggi di Padang itu. Dan sampai sekarang masjid kampus itu berkiprah dengan baik dengan nama Masjid Al-Azhar kampus IKIP Air Tawar Padang. Ketakutan pada Dewan Dakwah sejak dari mula merupakan

Nuansa Kehidupan Islami

67

Pernik-Pernik Reformasi

bayangan tanpa alasan hanya sebagai suatu trauma psikologis semata atas pernah terjadinya pergolakan daerah (PRRI) dan pandangan yang kurang ilmiah terhadap Masyumi. Suatu hal yang aneh memang bila dibandingkan dengan jumlah Ummat Islam di daerah Sumatera Barat yang boleh dikata hampir 100%, di kala sebahagian kecil diantaranya menjadi phobi dengan gerakan Islam yang kebetulan dijalankan oleh orang-orang yang kata mereka adalah ex. Masyumi atau Keluarga Besar Bulan Bintang.

Nuansa Kehidupan Islami 68

Pernik-Pernik Reformasi

KOKOH

Setiap kali dalam hidup seorang berhadapan dengan imtihan (bala). Melalui ujian itu seseorang akan sampai kepada keberhasilan atau kepada kegagalan. Bila seseorang menghendaki keberhasilan, sangat di perlukan sikap-sikap

Nuansa Kehidupan Islami

69

Pernik-Pernik Reformasi

positif bagi meraih keberhasilan di maksud, diantaranya yang paling penting adalah tabah, rela berkorban, teguh pendirian. Kesemua sikap itu adalah merupakan kesiapan mental yang sangat diperlukan dalam meraih keberhasilan. Jika sikap-sikap positif itu tidak ada, hampir-hampir keberhasilan susah diperoleh.

Sikap tabah,modal utama, Nabi Ibrahim AS adalah contoh yang baik dalam millah (perjalanan hidup dibawah bimbingan Allah) dalam memperlihatkan sikap ketabahan-nya, kerelaan berkorban, keteguhan pendirian. Juga contoh baik dalam sikapnya memuliakan tamu, dalam berbuat baik sesama kerabat, dan dalam kesiapannya melaksanakan perintah Allah serta melepaskan ketergantungan kepada perintah materi (kebendaan). Dalam kadar cobaan yang diberikan dan di laluinya ternyata Ibrahim AS lulus dari ujian yang berat itu.

Ujian kejiwaan ini, secara beruntun dia alami. Sungguhpun berat, dia senantiasa berhasil melaluinya, semata karena keteguhannya dalam merebut redha Allah. Ketabahan-nya teruji tatkala harus berhadapan dengan pilihan dibakar oleh Namrudz di dalam sebuah unggun-api, kedudukan yang terhormat di sisi sang penguasa. Syaratnya hanyalah mengganti perannya melaksanakan Dakwah Ilallah kepada Dakwah Ilalmaal (seruan kepada harta), serta membenarkan perilaku Namrudz (Maharaja Nebucadnezar) yang menetapkan dirinya sebagai penguasa absolute setingkat tuhan.

Sejarah membuktikan bahwa Ibrahim Alaihis-salam memilih tetap menegakkan kebenaran dakwahnya kepada Allah walaupun dengan segala resiko. Dia menang. Imbalannya dari Allah langsung diterimanya. Api unggun yang dipersiapkan untuk membakar Ibrahim, tak mempan merontokkan sehelai rambut pun yang melekat ditubuhnya. Firman Allah menceritakan: "wahai api, dinginlah dan selamatkan tubuh Ibrahim dari gejolakmu yang membakar".

Nuansa Kehidupan Islami 70

Pernik-Pernik Reformasi

Rela berkorban, Nabi Ibrahim AS telah menjadi teladan hingga kini. Satu-satunya anak kesayangan yaitu Ismail (Alahisalaam), rela dikorbankan, demi memenuhi tuntutan perintah Allah Yang Maha Rahman. Pengorbanannya diterima.

Dalam situasi yang amat kritis,-- disaat kedua-duanya pasrah dan ikhlas melaksanakan perintah Allah--, bantuan Allah datangseketika. Ismail tidak jadi menemui ajalnya. Akhirnya,kesabaran dan ketaatan yang nyata-nyata inilah maka Allah melarang Ibrahim meneruskan pengorbanannya menyembelih Ismail.

Peristiwa besar ini dinukilkan dalam Al Quran :"Dan Kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar"QS.37 Ash-Shaffaat,ayau 107). Sebuah bukti, bahwa kerelaan dan keikhlasan dalam melaksanakan perintah Allah, selalu berujung dengan mendapatkan kemudahan jalan dari Allah.

Teguh pendirian. Meminta kepada selain Allah (patung,ajian,benda sakti) sebenarnya merupakan watak yang tidak pantas dimiliki oleh manusia yang berakal. Keberadaann manusia dialam ini hanya tersebab "rahmat" dan "rahim" dari Allah (Yang Maha Menjadikan). Penghambaan kepada materi, pasti mendatangkan bencana.

Materi hanyalah rahmat Allah, dan alat bagi manusia untuk mencapai kemakmuran. Bukan satu-satunya tujuan dalam hidup, apalagi dianggap sebagai Tuhan sehingga manusia rela diperbudaknya (hubbul-maal, atau hubbud-dun-ya).

Menjadi budak materi(benda) tidak sesuai dengan harkat dan martabat manusia. Menetapkan pilihan kepada tauhid

Nuansa Kehidupan Islami

71

Pernik-Pernik Reformasi

merupakan bukti keteguhan pendirian.

Demikianlah kiat dakwah para Rasul Allah, yang terlihat dalam sikap yang konsisten dan konsekwen. Inilah yang wajib di warisi para du'at dimanapun berada. Insya Allah.

Padang, Nopember 1997.

Nuansa Kehidupan Islami 72

Pernik-Pernik Reformasi

Perguruan Tinggi Kehilangan Keseimbangan “Teguran berbuah tawuran…”

Perguruan tinggi sebagai sebuah lembaga merupakan kawah candradimuka, tempat mempersiapkan kader-kader bangsa. Hanya berbilang tahun (4-7 tahun) saja, jebolan perguruan tinggi harus sudah siap terjun di tengah masyarakat. Mereka adalah kelompok tersendiri, elite, yang tidak hanya sekedar the man on the street. Di pundaknya tersandang beban memimpin kelompok tempat dia berada.

Diakui, tidak setiap lulusan sekolah menengah bisa masuk perguruan tinggi. Ada seperangkat persyaratan yang mesti dipenuhi. Minat, kemampuan (termasuk materi), dan yang paling dominan: kecerdasan atau IQ. Sesuatu yang dijadikan logam dasar yang akan ditempa dan diasah menjadi sesuatu yang bernilai “sarjana”.

Walaupun minat dan kemampuan ada, tanpa kecerdasan sebagai logam dasar yang akan diasah, sebenarnya kesempatan tertutup sudah. Walau ada saja keganjilan yang mengganjal mata kita. Tanpa kecerdasanpun, kadangkala, seseorang bisa masuk perguruan tinggi. Inilah, salah satu, sumber masalah tersebut. Dengan kecerdasan yang tidak memadai, mereka akan mudah diombang-ambingkan, diperalat oleh yang lebih cerdas, dan seterusnya menjadi kuda tunggangan. Mereka akan menjadi “potensi besar” dengan nilai negatif.

Kecerdasan, sebenarnya tidak pantas diukur hanya (dan hanya!) dengan IQ semata. Ada ukuran lain, yang disebut Emotional Intelegence, emosinal inteligensia. Sebuah kemampuan meletakkan emosi pada tempat yang benar. Istilah di ranah Minang: nan tau di ereng jo gendeng, tau di rantiang ka malantiang, tau di batu ka manaruang.

Nuansa Kehidupan Islami

73

Pernik-Pernik Reformasi

Intelektual yang benar, berpikir sebelum berbuat. Bukan berbuat tanpa pikir, atau berbuat dulu, akibatnya nanti dipikirkan. Dengan kata lain, intelektual adalah orang yang meneliti sebelum meniti suatu tindakan. Maka, tidak dapat tidak, untuk pembentukan emotional intelegence diperlukan pedoman. Pedoman itu hanya ada dalam agama.

Agama menjelaskan emotional intelegence dalam surat Ali Imran 133, sesuatu yang dipunyai orang-orang muttaqin. Yakni: orang-orang yang (mau) menafkahkan hartanya dalam keadaan lapang maupun sempit, dan orang-orang yang mampu menahan marahnya, dan orang-orang yang sanggup memaafkan kesalahan orang lain, Allah mencintai orang-orang yang berbuat kebajikan.

Dalam menerima sebuah berita yang berkembang, seorang intelektual dibimbing untuk tidak menerima berita begitu saja, sebagaimana dituntunkan dalam Al Hujuraat ayat 6: Hai orang yang beriman, jika datang kepadamu orang-orang fasik (yakni orang-orang tidak berilmu), membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti, agar kamu tidak menimpakan suatu akibat musibah (tersebab perbuatan kamu) kepada suatu kaum, tanpa mengetahui (terlebih dahulu) keadaannya (yang sebenarnya), yang menyebabkan nanti, kamu akan menyesal (selama-lamanya), atas perbuatanmu itu.

Kedua tuntunan ini memberikan corak khusus tentang keberadaan para intelektual, baik dalam menerima atau menyelesaikan sebuah berita (masalah). Ada fikir ada zikir. . Intelektual dalam tanda petik

Tawuran yang digelar sangat spektakuler oleh para calon intelektual, dalam tanda petik, beberapa waktu lalu di Air Tawar, benar-benar mengejutkan. Betapa tidak. Silakan tanya pada komponen ’66, yang pernah menjadikan kampus sebagai basis gerakan Kesatuan Aksi (KAMI/KAPPI) mengoncang Orde Lama 32 tahun lalu.

Nuansa Kehidupan Islami 74

Pernik-Pernik Reformasi

Sekian lama mereka berdemonstrasi, tidak pernah satu bangunanpun terbakar. Tidak ada korban mahasiswa harus masuk rumah sakit, kecuali hanya seorang yang harus jadi martir, pahlawan AMPERA, Ahmad Karim di Bukittinggi.

Kampus masih selamat dan bisa diwariskan dalam keadaan utuh. Karena waktu itu masih ada keseimbangan. Alangkah hebatnya kesatuan rasa dengan rasa antara sesama mahasiswa (dan dosen) di kampus kita di masa lalu, sehingga mampu melewati saat-saat kritis.

Dan alangkah “hebatnya” rasa yang dimiliki mahasiswa sekarang yang mampu membuat kehancuran melewati batas perkiraan kita. Kita harus bertanya, masih adakah keseimbangan intelektual?

Hilangnya Keseimbangan Kampus

Kampus yang akan melahirkan intelektual, idealnya mencerminkan diskusi ilmiah, kajian-kajian masyarakat dan prospek masa depan (individual ataupun kolektif). Dia dipenuhi oleh terbolak-baliknya buku-buku, bukan beterbangannya batubatu. Teguran-teguran yang didengar, adalah teguran ilmiah, yang berakhir dengan sebuah kesimpulan aplikatif untuk kemajuan umat manusia. Bukan teguran vulgar yang berbuah tawuran.

Kaum intelektual yang tumbuh dari kaedah-kaedah ilmu pengetahuan, sungguh tidak memiliki dendam pribadi. Merujuk pendapat para seniman, maka dendam intelektual hanya pada kebodohan dan keterbelakangan.

Yang semestinya dimiliki intelektual kampus hanyalah hasrat memperdalam ilmu. Karena menuntut ilmu adalah kewajiban

Nuansa Kehidupan Islami

75

Pernik-Pernik Reformasi

setiap Muslim (baca: “yang mau menyerahkan diri”) baik lakilaki maupun perempuan.

Minat menuntut ilmu akan lebih bermakna bila disejajarkan dengan penanaman emotional intelegence. Kondisi ini terbaca di dalam sejarah para ilmuwan dari masa ke masa.

Sekedar contoh, para ilmuwan hukum (hukama) seperti Syafii, Maliki, Hambali dan Hanafi, selalu berkata: “Bila pendapat orang selain aku lebih berdasar (baca: lebih sesuai dengan Qur’an dan Hadis) maka kewajiban kalian adalah menerima pendapat mereka dan meninggalkan pendapatku. Inilah kearifan intelektual. Kearifan intelektual dengan makna hakiki membenarkan yang benar dan menyalahkan yang salah. Tanpa melihat dari siapa atau dari mana sumber kebenaran itu (baca: tidak semata kebenaran kelompok maupun golongan).

Sekarang yang ada hanya kecemasan intelektual. Tidak hanya sekedar intelektual yang cemas karena norma yang yang berlaku tidak lagi ilmiah. Kecemasan yang bertolak dari “kebenaran” individual, serta cenderung mengabaikan eksistensi orang lain. Yang lahir tentulah bencana. Kecemasan intelektual akan bermuara pada intelectual arogance, (baca: kesombongan intelektual). Bila kondisi ini berkembang, adalah mustahil sebuah masalah terselesaikan segera.

Tidak akan pernah terjadi dialog, karena kita sudah berselisih sebelum duduk. Bukankah setiap perbedaan harus diselesaikan setelah “didudukkan”?????? Bagaimana mungkin kita bisa duduk semeja dalam emosi dan kemarahan menggumpal menyesak dada?

Hanya emotional intelegence yang mampu menjawabnya. Tapi apakah kita masih mempunyainya? Masihkah kampus kita menterjemahkan emotional intelegence dalam kurikulum dan kegiatannya?

Nuansa Kehidupan Islami 76

Pernik-Pernik Reformasi

Kalau jawabannya adalah tidak, tak perlu dikaji lagi segala penyebab tawuran dalam tingkat apapun (termasuk tawuran siswa SLTA/SMU di Jakarta, tawuran pendukung OPP, tawuran para tenaga kerja, dan sekeranjang tawuran lainnya). Karena penyebab semua itu adalah emosi tanpa kendali. Naudzubillah.

Di sini kita melihat krusialnya ajaran Sunnah Rasulullah. Seorang pemberani, bukanlah orang yang berani bertarung di medan tempur, tetapi seorang pemberani adalah yang mampu mengendalikan emosi. Kerja ini kerja berat, dan tergolong jihad al akbar, yaitu jihad mengendalikan nafsu.

Ilmuwan yang tidak mampu mengendalikan nafsu, cenderung akan membinasakan orang, termasuki dirinya. Tetapi nafsu (nafs, baca: dorongan-dorongan kehendak) bagi orang-orang berilmu akan membawa keselamatan orang lain, dan dirinya. Inilah jalinan aqidah tauhid. Allah Yang Maha Tahu, memberikan rumusan terhadap orangorang yang berpengetahuan, yaitu hamba-hamba Allah yang paling takut (sangat berhati-hati) kepada Allah.

Firman Allah surat Fathir ayat 28: Dan demikian pula di antara manusia, binatang-binatang melata, binatang-binatang ternak, ada yang bermacam-macam warnanya (jenis, sifat, dan sikap). Sesungguhnya (dari semuanya itu) yang paling takut kepada Allah (selalu berhati-hati dengan tindakannya) di antara hamba-hamba-Nya itu hanyalah ulama (orang-orang yang berilmu, intelektual). Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Pengampun. Yang takut kepada Allah inilah orang yang selamat.

AIRMATA

Nuansa Kehidupan Islami

77

Pernik-Pernik Reformasi

Sepanjang perjalanan usia, sulit menemukan orang yang hampir tak pernah menangis, mengalirkan airmata. Meski sekali. Airmata adalah refleksi dari emosi, menyangkut apa yang di alami. Bisa karena sedih, tertekan, terlalu emosi, gembira, atau implementasi puncak kesedihan.

Airmata dalam kejujuran, lebih ber'cerita' dari balik kejadian sesungguhnya. Airmata tak perlu berceritera banyak, karena yang melihat sangat memahami, kenapa airmata harus ditumpahkan ? Kitapun kadangkala ikut larut bersama-sama. Tanpa sadar, terjadilah sebuah "koor airmata", tanpa nadasuara. Baik dikala haru, bahagia, sedih maupun sebaliknya. Terjalinlah keakraban senasib-sepenanggungan. Amat pantas airmata ikut mengalir. Bahkan yang tidak ikut menyumbang, bisa dipandang sebagai tak peka terhadap kedalaman dari persaudaraan.

Dikutub lain, ada airmata yang susah dibaca. Bersimbah dari warna kepura-puraan. Seperti fabel tentang geraham sang buaya saat menikmati santapan lezat dalam mulut, airmatanya juga mengalir bercucuran. Bukan karena sedih, namun lebih disebabkan kelezatan lahapan sang mangsa. Hal ini dikenalah dengan nama "airmata buaya".

Disisi lain, ada pula airmata disertai sedu-sedan, isak-tangis yang meraung-raung. Karena tali tempat bergantung sudah putus. Tanah tempat berpijak telah terban. Sakit yang tak terkatakan. Perasaian yang tak tertanggungkan. Mungkin berhubungan dengan kemelut sosial, ekonomi kehidupan sehari-hari. Mulai dari harga barang dan jasa yang melonjak naik. Bencana alam yang terjadi silih-berganti, hujan yang belum mau turun, atau banjir yang datang melanda, memusnahkan kehidupan. Jadilah, bagi yang tak sanggup membendung, tak ada jalan lain selain berurai airmata.

Ironinya airmata tidak lagi khas sebagai isyarat kesedihan, tapi ungkapan kegembiraan. Bagi seorang tua yang berdiam dikaki bukit, sepucuk surat dari anak bernama Si Biran Tulang,

Nuansa Kehidupan Islami 78

Pernik-Pernik Reformasi

(situngga-babeleng atau sibungsu nan indak baradiak lai), mampu mengalirkan airmata bahagia. Kebahagian orang tua ini berawal dari sebuah berita sang anak, yang sekarang sudah mulai bekerja walaupun hanya sebagai pembantu di sebuah toko. Tatkala surat dibuka, tidak semata berisi berita, tapi kiriman sedikit belanja "santo", dari hasil upah pertama. Biarlah abak yang lebih dahulu menikmati, dari jerih payah mendidik selama ini.

"Alhamdulillah", tatkala itu orang tua sangat merasakan nikmat besar yang tak terkatakan. hingga berderai airmata. Airmata syukur dan bahagia. Perasaan syahdu, terasa, namun tak terkatakan. Lidah membisu seribu basa, kehilangan kata. Yang tampak hanya airmata.

Teringat kepada Allah juga begitu. Bila kesadaran tumbuh merekah, menydari banyaknya perintah yang belum terlaksana. Banyak kesalahan telah terlakukan. Banyak waktu tersedia yang telah terbuang percuma. Sadar akan besarnya nikmat yang sudah diterima yang tidak terhitung jumlahnya. Bila semua iytu teringat kembali dari awal kelahiran, hingga detik ini. Dari buayan, hingga ke mahligai perkawinan. Sejak belajar dari bawah, hingga memperoleh jabatan. Sebuah pertanyaan mesti dijawab, sudahkah suruhan Nya tertunaikan, adakah kepentingan ummat banyak diutamakan ?.

Melupakan ikrar, sumpah dan janji, melahirkan ketamakan. Dorongan nafsu tak terkendali akan menghilangkan batas antara suruh dan tegah. Melumerkan batas halal dan haram. Kepentingan ummat, hilang dari kaji. Karena kebebasan sudah menjadi trendy. Akhirnya amanah dipegang asal jadi. Surau, masjid dan ritual ibadah, bukan lagi langganan. Ibu dan bapak sering terlupakan. Keluarga, konco, dan kawan menjadi dikedepankan. Bila diperingatkan kesalahan, dendam kesumat jadi kelakuan.

Disinilah manusia disuruh sadar kembali, dengan menyahuti panggilan Allah Khaliqul Jaali;

Nuansa Kehidupan Islami

79

Pernik-Pernik Reformasi

"Tuubuu ilallahi jami'an ayyuhal mukminun, la'allakum tuflihuun", artinya, Kembalilah kamu keseluruhannya kepada Allah, wahai orang-orang yang ber-iman, supaya kamu mendapatkan keutungan (kemenangan)"

Bila dipahami besarnya nikmat dari Allah. Lahirlah kesadaran bagi setiap insan kembali pada keberadaanya yang hakiki. Kesadaran, bahwa hidup kelak akan berhenti, dengan datangnya mati, akan dijawab oleh hati yang bersih. Teringatlah segala kelalaian dan kekurangan. Mengalirlah airmata membasahi pipi, hanya dari mereka yang bertaubat nashuha. Sesungguhnya, inilah hakekat kesucian dari sebuah airmata.

Ingatlah bagaimana Rasulullah Shallallahu 'alaihi Wa Sallam telah bersabda; " Ada dua mata yang tak pernah dijamah oleh api neraka.(Pertama), mata yang menangis mengalirkan air mata karena takut kepada Allah, dan (Kedua), mata yang senantiasa bertanggang (berjaga-jaga) di jalan Allah",(hadits diriwayatkan : Jami' Atturmudzi.)

Allahpun memperingatkan pula dalam firmanNya: "Falyadhhaqqu qalilan wal yabkuu katsiran", (Kurangilah gelakketawa, sering-seringlah menangisi dosa) (Al-Qur’an Al- Karim)

Semoga kita sanggup memiliki, bola-bola mata yang mampu mengalirkan airmata karena rasa takut kepada Allah. Amien.

Padang, November 1997. Mu’allamun Majnun?

Nuansa Kehidupan Islami 80

Pernik-Pernik Reformasi

“Ilmuan” yang tidak meyakini wahyu Allah, senantiasa menyatakan bahwa kaedah-kaedah wahyu tidak seiring dengan rumusan iptek dan kurang ilmiah. Jelasnya tidak masuk akal. Lebih jauh lagi mereka katakan wahyu itu hanya sebatas kitab untuk didendangkan. Paling tinggi sekedar untuk musabaqah.

Tilawahnya untuk didengar dan dibaca pada upacara-upacara seremonial. Sari tilawahnya untuk melengkapi suasana agar dikatakan masih melekat dengan agama. Sama sekali tidak untuk diterjemahkan ke dalam kehidupan nyata.

Ada anggapan, untuk hidup di dunia harus memakai kaedah duniawi (materiil). Dunia harus dibaca menurut teori dunia. Akhirat adalah soal lain yang tidak punya sangkutan dengan dunia. Yang pantas disebut adalah ke-kini-an, here and now. Dunia tidak untuk membicarakan masalah here after. Soal-soal hidup sesudah hidup (baca: mati), itu masalah nanti. Itu hanya menghabiskan waktu saja, tidak ilmiah.

Soal paling mendesak dalam hidup adalah kebutuhan makan, pakaian, papan atau perumahan, pendidikan serta sekeranjang kebutuhan-kebutuhan mendesak lainnya. Semua harus mengikuti pertumbuhan dan perkembangan zaman. Inilah ambang ukuran yang mesti dijawab segera. Usaha menghasilkan pemenuhan hajat kebutuhan materil sampai tingkat optimal, inilah yang paling logis (mendesak).

Dalam ukuran materil, maka akhirat itu termasuk berita yang aneh. Tanpa nilai kepastian, dan masih dipertanyakan. Jangan habiskan waktu dengan soal-soal yang belum pasti. Demikianlah sebahagian tesis “ilmuwan logika”.

Tatkala diingatkan: “Telah datang musibah karena ulah dosa (kelalaian) manusia, atau tersebab ajaran agama terinjak-injak, atau karena kesombongan diri yang telah melupakan Allah!” “Para ilmuan logika” menjadi kurang percaya. Mereka menampik, bahwa seruan para kiyai, santri, tuanku, alim-ulama

Nuansa Kehidupan Islami

81

Pernik-Pernik Reformasi

itu tidak beralasan ilmiah. Pandangan agama itu kolot, absurd, dan tidak sejalan dengan pandangan ilmu pengetahuan yang sudah sofisticated (maju dan modern). Pandangan hari ini haruslah berdalil ilmu pengetahuan. Bukankah adanya asap karena adanya api, dan adanya kabut karena adanya angin, atau semua yang terjadi hanya karena pertukaran musim, gejala alam (seperti El Nino, la Niena) sesuatu yang sudah semestinya berlaku menurut siklus. Tidak ada satu kaitanpun dengan dosa.Terhadap siklus alam, tidak ada relevansinya dengan agama.

Tingkah laku yang diperlihatkan mereka itu telah disebut Al Qur’an. Dalam surat Ad Dukhaan: Balhum fii syakkin yal'abuun. Fartaqib yauma ta'tii assamaau bidukhaanin mubiin. Yagsyan naasa, haadza 'adzabun aliim. Rabbana iksif 'anna al 'adzaaba inna mu'minuun. Anna lahumu dzikra wa qad jaa ahum rasuulum mubiin. Tsumma tawallaw 'anhu wa qaalu mu'allamun majnuun. (QS 44: 9-14)

“Tapi mereka bermain-main dalam keragu-raguan. Maka tunggulah hari ketika langit membawa kabut yang tebal (berakibat bencana kelaparan dan kekeringan) yang menyungkup manusia. Inilah azab yang pedih. (Sungguhpun mereka berdoa): “Ya Tuhan kami, lenyapkanlah dari kami azab itu. Sesungguhnya kami sekarang akan beriman.” Tapi, bagaimana (mungkin) mereka akan dapat menerima peringatan, padahal telah datang kepada mereka seorang Rasul, yang memberi penjelasan (menyampaikan wahyu sebelumnya, namun) kemudian mereka berpaling daripadanya, dan berkata: dia (rasul itu) adalah seorang yang menerima ajaran dari orang lain, lagi pula mereka berkata: Mu'allamun Majnun [(Muhammad) Itu kan Ilmuwan Gila......]” Demikian ketegasan Firman Allah.

Sinyalemen Al Qur’an tersebut kita temui dalam sikap para “ilmuwan” modern yang tidak menggubris wahyu. “Ilmuwan” (dalam tanda petik) menganggap semua yang terjadi di alam adalah hukum sebab-akibat semata.

Nuansa Kehidupan Islami 82

Pernik-Pernik Reformasi

Sadar atau tidak, mereka melupakan yang menjadi Maha Sebab segala sesuatu. Seharusnya mereka meyakini, yang mereka pergunakan dalam menganalisa sebab-akibat adalah anugerah dari Sang Maha Sebab.

Sebutir kepala, dengan segumpal daging yang bernama otak, alangkah lemahnya dijadikan sandaran keangkuhan. Hanya dengan sebuah benturan kecil, sang kepala bisa bertaburan isinya. Semua analisis dan logika menjadi berantakan. Lalu kemana “kebenaran” akan digantungkan? Layakkah kebenaran disandarkan pada sebutir ataupun beribu butir batok kepala?

Permainan mereka hanya keragu-raguan. Ilmu mereka dimulai dari keraguan dan diakhir pada keraguan yang lebih tinggi. Dan mereka sendiri ragu dalam permainan itu. Siapa yang sebenarnya majnun? Dalam kondisi seperti ini, orang-orang berakidah tauhid senantiasa dibekali dengan suatu keyakinan, sebagaimana telah diberikan kepada rasul.

Yaa ayyuhalladzi na aamanu ishbiru wa shaabiru wa raabithu wa ittaqullaha la'allakum tuflihuun. Artinya: Hai orang beriman, sabarlah! Tingkatkan lagi sabarmu! Berlindunglah pada Tuhanmu! Bertaqwalah! Kamu akan memperoleh kemenangan (QS 3: 200).

Akhirnya “kebenaran”, bukanlah kemenangan tanpa tauhid.

milik

rasio.

Tak

ada

Pahala-wan

Nuansa Kehidupan Islami

83

Pernik-Pernik Reformasi

Pahlawan adalah pejuang yang telah menyerahkan jiwa raga, fikiran dan karyanya untuk kemashlahatan orang banyak. Kejayaan bangsa dan negara, serta agama dan ummat. Pahlawan tidak pernah minta dikenang dan di sanjung.

Namun bangsa yang tumbuh darihasil perjuangan para pahlawan itulah yang sangat berkewajiban untuk mengenang jasa mereka. Bangsa yang besar adalah bangsa yang senantiasa mengenang serta menghormati para pahlawan mereka. Begitu semboyan yang lazimnya kita dengar, dan harus senantiasa kita hidupkan selalu.

Para pahlawan, sosoknya bisa tiada, tetapi hasil perjuangan mereka selalu dirasakan setiap saat akan. Sungguhpun telah hancur badan di kandung tanah, namun pengorbanan mereka selalu akan di kenang.

Mereka adalah perintis, pejuang, yang telah mengorbankan semua yang ada pada diri mereka untuk kejayaan masyarakat banyak. Pejuang ada pada setiap bidang dan lapangan. Bisa bernama pahlawan kemerdekaan, pahlawan pembangunan, pahlawan agama, pahlawan negara dan negeri, yang nilai pengorbanan dan perjuangannya harus menjadi contoh suri teladan bagi generasi sesudah mereka. Keiklasannya telah teruji dan pengabdiannya sangat terpuji.

Pahlawan lahir dari darma baktinya yang tulus, serta pengabdian tanpa pamrih, hanya karena mengharap redha Allah Subhanahu wa Ta'ala semata. Yang ingin di perolehnya hanyalah pahala dari sisi Tuhan Yang Maha Kuasa. Karenanya dia pantas di gelari orang yang mengutamakan mengejar pahala (pahala-wan).

Nuansa Kehidupan Islami 84

Pernik-Pernik Reformasi

Amat beruntung satu generasi yang mempunyai para pahlawan yang akan di ikut jejak dan langkahnya. Merugi satu bangsa yang bertumbuh tanpa adanya sosok dan sikap pahlawan. Pahlawan muncul dari cita-cita luhur dan perjuangan yang suci. Kadang kala terlihat pada sosok yang sama sekali tidak memperdulikan kepentingan diri pribadinya, atau keberadaan keluarganya.

Tujuannya tercermin dari konsistensinya yang tinggi terhadap jalur perjuangannya yang suci itu. Suatu pengabdian yang mendalam dan luhur terhadap bangsa ataupun agama dan negeri (negara)nya. Besarnya satu sosok pahlawan terlihat dari tinggi rendahnya nilai pengorbanan yang telah diberikannya.

Sangat banyak diantaranya yang tidak pernah menikmati hasil-hasil perjuangannya sama sekali. Bahkan banyak pula yang tidak mendapatkan penghargaan dalam bentuk bintang yang di sematkan di dada, ataupun bintang yang bertabut di bahu.

Sangat banyak nama-nama kalau akan di sebut, dari yang terkenal seperti Bung Tomo, H.Agus Salim, Tan Malaka, St.Syahrir, Mohammad Hatta, Mohammad Natsir, Assaat, HOS Cokroaminoto, Prof.Hamka, Ki Hajar Dewantara, Adi Negoro, dan banyak sekali nama-nama besar akan menyertai sebelum dan sesudah mereka.

Semuanya telah tercatat dengan tinta emas atas semua bentuk pengorbanan dan pengabdian mereka untuk bangsa dan negara di zaman mereka hidup. Buahnya di rasakan oleh orang banyak berbentuk pengorbanan ke-pahala-wanan mereka, dalam bidang masing-masing. Lebih banyak lagi yang tidak bisa atau tidak pernah di sebut, dan jumlahnya bahkan tidak terhitung, dan hanya bisa disebut dengan satu sebutan "pahalawan yang tak di kenal".

Nuansa Kehidupan Islami

85

Pernik-Pernik Reformasi

Semuanya telah mengiasi persada ibu pertiwi dengan pengorbanan dan keikhlasan perjuangannya. Semoga Allah Subhanahu Wa Ta'ala akan menerima semua bentuk pengorbanan mereka sebagai ' amal yang saleh disisi-Nya', Amin.

Generasi yang akan meneruskan cita-cita para pahlawan sekarang harus bertanya kedalam diri masing-masing, sanggupkah diri memelihara warisan para pahlawan untuk membangun bangsa, agama dan negara ini, dengan mengutamakan mengejar "pahala", bukannya semata berebut kedudukan dan harta ??? Inilah hakekat peringatan hari pahlawan itu. Insya Allah.

Padang, 10 Nopember 1997.

Nuansa Kehidupan Islami 86

Pernik-Pernik Reformasi

FESTIVAL ISLAM 1976 TEROMPET KEBANGKITAN ISLAM KEDUA

Mari kita ungkapkan satu peristiwa sejarah yang pendek pada dua puluh tahun silam.

Pada bulan April - Jui 1976 di London di selenggarakan World of Islam Festival 1976, yang di persiapkan secara apik sejak beberapa tahun sebelumnya dengan melibatkan lembaga-lembaga ternama dan kerjasama Universitas-universitas London.14

Rencana besar itu telah terselenggara dengan dukungan tokoh-tokoh Inggris, pencinta Kebudayaan dan Kultur, yang bernaung dibawah satu badan WORLD OF ISLAM FESTIVAL TRUST, dan diketuai oleh seorang diplomat terkenal Sir Harold Beeley dan dibantu oleh 8 orang anggota. Diantaranya hanya dua orang Muslim, yaitu Yahya Al Tajir (Duta Besar Uni Emirat

14.. Beberapa lembaga-lembaga kebudayaan yang ikut ambil bagian di dalam penyelenggaraan Festival ini, adalah The Arts Council of Britain, The British Library, The British Museum, The Victoria and Albert Museum, The Horniman Museum, The Commonwelth Institute. Universitas-Universitas Inggris, melalui kegiatan festival ini mengangkat program akademis berupa seminar-seminar dan kuliah umum. Diantara Perguruan Tinggi yang aktif itu adalah Universitas-Universitas London, Oxford, Cambridge, Edinburg, dan lain-lain. Dari luar Britain, ikut aktif Al Azhar University, Mesir, King Abdul Aziz University, Saudi, Temple University Philadelphia USA, dan banyak lagi lainnya. Negara-negara Islam, seperti Mesir, Syria, Iran, Iraq, Saudi dan Tunisia, memberikan pinjaman barang-barang sejarah Islam, dan mengetengahkan konsep-konsep kebudayaan, sebagai bukti dari api (spirit) Islam.

Nuansa Kehidupan Islami

87

Pernik-Pernik Reformasi

Arab) dan Sheikh Shukri (seorang Bankir). Direktur penyelenggara seorang ilmuwan Paul Keeler. Seiring dengan World of Islam Festival 1976 ini juga dilaksanakan satu INTERNATIONAL ISLAMIC CONGRES di London, dibawah undangan Islamic Council of Europe.

Kongres ini menampilkan lebih kurang 40 orang sarjana, ulama, pemikir dan pemuka-pemuka Islam dari Barat dan Timur.15 Dari Indonesia, waktu itu di undang Bapak Mohammad Natsir yang pada beberapa sidang-sidang utamanya mendapat kehormatan sebagai salah seorang Presiden Kongres.16

15. Diantara para ilmuwan, pemimpin Islam dunia yang hadir, antara lain Maulana Abul Ala Al Maududi (Lahore), Dr.Brohi (Karachie), Mohammad Aman H.Hobohm (Embassy Jerman Barat di Sri Langka), Mrs.Aisha Lemu (Sakoto, Nigeria), Mrs. Fathima Heeren Sarka (Munich), Prof. Kurshid Ahmad (Leicester, UK), DR. Ahmad An Najar (King Abdul Aziz University), Prof. Ismail Faruqi, Prof. Muhammad Quthb. 16. Bapak Mohammad Natsir -- Bekas Perdana Menteri Negara Kesatuan Republik Indonesia, 1950 - 1951, dan sebelumnya dikenal dengan Mosi Integralnya dengan hapusnya RIS menjadi Negara Kesatuan RI --, sebenarnya sejak 1967 telah di angkat menjadi Vice President World Muslim Congress yang bermarkas di Karachi (Pakistan), dan Sekjennya adalah seorang diplomat dan pemikir terkenal DR. Inamullah Khan.
1967 itu juga (26 Februari), sebagai hasil Musyawarah Ulama se DKI di Jakarta, beliau ditetapkan menjadi Ketua Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia, sampai wafat (1993).

1969, Pak Natsir terpilih menjadi Anggota Majlis Ta'sisi (pendiri) World Muslim League (Rabithah Alam Islamy) di Mekkah. 1976, sekembali beliau dari Festival London, Pak Natsir ditetapkan menjadi Anggota Majlis A'la Al-Alamylil Masajid (Dewan Masjid Sedunia) bersama-sama dengan Sheikh Ali Al Harakan, bermarkas di Makkah el Mukarramah. Seluruhnya jabatan tersebut tidak pernah dicabut dari tangan beliau sampai akhir hayatnya (1993). Sehubungan dengan World of Islam Festival 1976 di London ini, beliau mengungkapkan panjang lebar dalam satu ceramah umum di Gedung Kebangkitan Nasional Jakarta (19 Juni 1976), di saat mana Festival masih berlangsung.

Nuansa Kehidupan Islami 88

Pernik-Pernik Reformasi

Kongres Islam Internasional, London 1976, ini adalah pertama kali diadakan. Berlangsung dalam 12 hari siang malam. Tidak salah kalau biaya Festival Islam ini dua juta pounsterling dan pembukaannya oleh Ratu Elisabeth II.

Ada beberapa ungkapan para ahli -- "mujaddid" -- dan para pemimpin dunia Islam dikala itu, sehingga menampakkan penggambaran nyata dari "shahwah Islamiyah" -- kebangkitan Islam -- yang terang merupakan "spirit of Islam", dan dalam kurun yang panjang membekas dalam mental spiritual ummat Islam itu sendiri

Amier Muhammad Al Faishal sebagai key-note speaker mengungkapkan ; "Manusia telah bisa mempelajari bagaimana mengendalikan alam lingkungannya, tetapi dia tidak belajar mengendalikan dirinya sendiri. Maka dia menjadi kehilangan arah serta kehilangan rasa perimbangannya". Muhammad Quthb17 memperkenalkan ; "Islam sebagai satu kekuatan yang mampu untuk memberi. Yakni memberi al-iktsir penawar hidup dan kunci-kunci penyelesaian bagi persoalan-persoalan hidup di alam modern sekarang ini, baik di Timur

Rekaman ceramah beliau di terbitkan oleh Yayasan Idayu, Jakarta 1976, dan Media Dakwah, Jakarta 1987. Dibawah judul "World Of Islam Festival, Dalam Perspektif Sejarah". (4). Amier Muhammad Al Faishal, Perdana Menteri Kerajaan Saudi Arabia (1976), menyampaikan key-note speaks pada International Islamic Congres. Lihat, Natsir, World Of Islam Festival, Dalam Perspektif Sejarah, Jakarta, Idayu, 1976 - Medan Da'wah, 1987. 17. (5). Mohammad Quthb, dari paper berjudul "What Islam can Give to Humanity Today -- A Summing Up", (lihat juga, Natsir, Kebudayaan Islam Dalam Perspektif Sejarah, Jakarta, Girimukti Pasaka, 1988, Cetakan Pertama, hal. 313-314).

Nuansa Kehidupan Islami

89

Pernik-Pernik Reformasi

ataupun di Barat.

Mohammad Natsir18 memperingatkan bahwa : "Islam mengandung sumber-sumber energi rohaniah dan aqliyah, yang apabila digunakan dengan sebaik-baiknya akan membawa mereka (ummat Islam dan dunia) kepada kejayaan masa depan -- the Glory of the Future--".

Penguasaan alam, pemanfaatan dunia, penawar hidup, penyelesaian problema-problema, bahkan kejayaan manusia masa depan -- termasuk kejayaan ummat Islam -sebagaimana di tawarkan oleh Islam, sangat tergantung kepada kesiapan mental-spritual ummat Islam itu sendiri.

Terutama dalam melakukan langkah-langkah tepat untuk kembali kepada ajaran Islam yang murni dari Al-Quran dan Sunnah.

Kembali kepada Al-Quran dan Sunnah, bukan suatu lips service (sekedar komat kamit), namun usaha intensif kearah pulihnya ; (1). kemurnian aqidah dari syirik, keberhasilan amal ibadah dari bid'ah, (2). pulihnya idealisme dan ruhul jihad untuk membebaskan diri dari kedudukan yang hina, kesadaran mendalam dakan risalah (massege) Islam yang harus di dukung penuh sebagai "ummatan washatan"

(3). beridentitas keselarasan. Ummat yang kakinya berpijak ke bumi, fikirannya mengolah dunia, dan hatinya terpaut ke langit.

18. (6). M. Natsir, Ibid. hal. 315

Nuansa Kehidupan Islami 90

Pernik-Pernik Reformasi

Inilah sikap "mental spritual" ummat yang dibentuk oleh Risalah Islam, yang dihidangkan sebagai resep kepada kehidupan dunia, yang membuktikan tercapainya kejayaan masa lalu -- the Glory of the Past, sebagai meminjam istilah Montegomery Watt --.

Risalah Agama justeru yang mampu memecahkan problematika hidup yang dihadapi oleh ummat manusia di dunia.

FAJAR TELAH TERBIT Tidak hanya yang tua... Tapi juga yang muda ikut bahagia... Muraipun berkicau tanda gembira... Bila Fajar telah terbit.

H. Mas'oed Abidin, 30 Maret 1997

Nuansa Kehidupan Islami

91

Pernik-Pernik Reformasi

Makmurkan Masjid Tegakkan Jama’ah

Seringkali bila kita berkata kepada orang yang sudah biasa apa yang disebut berpolitik, berorganisasi dan berlambang "Memakmurkan Masjid", mereka sambut denga sikap skeptis dan dingin, sebab bunyinya kurang menarik, persoalannya tidak diraskan aktuil, tidak vital bila dihubungkan denga apa yang mereka namakan "perjuangan".

Sebenarnya maka mereka ini bersikap begitu oleh karena sudah lama terkurung dengan tidak sadar barangkali dalam cara berpikir yang konvensional dan statis.

Pada hal, sesungguhnya kepada Umat Islam, Rasulullah Sallallahu 'alaihi wa sallam telah mewariskan justeru Masjid itu sebagai lambang pembina potensi umatnya.

Masjid Quba di Madinah itu adalah pusat penyusuhan dan pembangunan Umat Islam yang pertama; pembina kekuatan umat dizaman pancaroba penuh derita.

Masjid bukanlah semata-mata tempat shalat, kalau sekedar untuk shalat yang lima waktu dan sunnat bernafsi-nafsi seluruh punggung bumi yang bundar ini adalah tempat Umat Islam bershalat. Masjid adalah untuk menegakkan ibadah dan menyusun jamaah. Islam tidak dapat tegak tanpa jamaah. Ajaran-ajaran Islam adalah jalinan ibadah dan muamalah. Yang satu "muamalah maal khalqi".

Nuansa Kehidupan Islami 92

Pernik-Pernik Reformasi

Ini kaji " alif - baa - taa". Yang sudah terang perintah. Bahwa perintah : Adalah perintah wajib

Masyarakat Islam memikul jamaah yang dikenakan langsung oleh jamaahnya/agamanya.

Maka Masjid adalah warisan Rasul, sebagai penangkalan bagi Umat Islam untuk membina jamaahnya. Menambah pngertian, mempertinggi kecerdasan, dan akhlaq budi pekerti, mendinamikan jiwa, memberikan pegangan hidup bagi para anggota jamaahnya, dalam menghadapi pokok-pokok persoalan hidup.

Malah dari Masjid dan Langgar yang berjiwa hidup dan dinamis sebagai pusat, dapat diberikan bimbingan yang menaikkan taraf kemakmuran hidup oleh para ahli yang mencintai umat.

Soalnya penghidupan mereka, kebanyakannya, soal yang sederhana dan elementer; soal ternak, tanaman dan pupuk, soal mempertinggi hasil bumi, soal tambak, tebat ikan, dan kerajinan masyarakat agraris, soal cangkul patah dan yang belum berganti, soal sapi yang belum berobat, soal atap tiris yang belum disisip, soal anak yang belum sekolah ..., Soal-soal yang tidak kunjung dapat dipecahkan dengan sistem ekonomi yang hebat-hebat, sistem pesawat udara jet-jet tanpa landasan tempat naik dan turunnya.

Dengan masjid yang berjiwa hidup sebagai pusat pembinaan umat, pusat pembinaan jamaah, akan dapatlah Umat Islam memelihara "Izzah" kepribadian umat dalam berkecimpung dalam masyarakat ramai yang berbagai corak, ibarat ikan dilaut memelihara dagingnya tetap segar dan tawar walaupun terus menerus berendam dalam air asin; dapat pula

Nuansa Kehidupan Islami

93

Pernik-Pernik Reformasi

jamaah Islam itu berlomba-lomba dengan jamaah lainnya menegakkan kebenaran dan keadilan dan menyumbangkan kebajikan bagi masyarakat umum.

Itu fungsi Masjid, Itu kewajiban Umat Muhammad Shallallahu alaihi wa sallam dalam keadaan macam manapun. Bina Jamaah melalui Masjid ....., Hidupkan Masjid kembali, nanti, masjid akan memancarkan hidup kepada umat.

Akan beberapa puluh ribu benar jumlah gedung-gedung kebudayaan, markas-markas organisasi dengan mulanya, stadion-stadion dengan lapangannya, dinegeri ini. Bandingkan dengan milyunan banyaknya masjid besar kecil langgar dan surau milik umat Islam yang bertabur-tabur dinegeri ini. Tinggal; mengisi dan menghidupkannya. Bukan sekedar memperindahnya untuk diperagakan dilagakkan, ibarat orang menghias kuburan cina dengan marme berukir-ukir, menyimpan mayat tak bernyawa di dalamnya.

Alangkah meruginya Umat Islam, bila mereka tidak kunjung mengenal dan mempergunakan modal dan kekayaannya sumer kekuatannya. Bukanlah masjid yang hidup itu, kepada Umat Muhammad di amanatkan untuk "mencetak" manusia yang hidup yang tidak kenal gentar selain dari kepada Allah.

Sudah kita lupakan ; " Hanya yang akan memakmurkan masjid-masjid Allah,

Nuansa Kehidupan Islami 94

Pernik-Pernik Reformasi

" orang-orang yang beriman kepada Allah dan kepada hari " kemudian, serta menegakkan shalat dan mengeluarkan " zakat, dan tidak takut melainkan (hanya) kepada Allah; " maka mudah-mudahan mereka termasuk orang-orang yang terpimpin", (at- taubah 18). Ini tuntutan yang diterima Umat Islam dari Syariat Islam yang tidak disangkal wajib berlakunya atas pemeluknya di negeri ini.

Nuansa Kehidupan Islami

95

Pernik-Pernik Reformasi

KHITTAH DAKWAH ISLAM INDONESIA

Nuansa Kehidupan Islami 96

Pernik-Pernik Reformasi

Dakwah Tuntutan Risalah Dakwah pada hakekatnya adalah usaha sadar untuk mengubah seseorang, sekelompok orang, atau suatu masyarakat menuju keadaan yang lebih baik sesuai dengan perintah Allah dan tuntutan Rasulnya. Dakwah terhadap umat Islam Indonesia adalah segala usaha untuk mengubah posisi, situasi dan kondisi umat menuju keadaan yang labih baik agar terpenuhi perintah-Nya untuk menjadi ummatan wasatan yang merupakan Rahmatan lil 'Alamien. Usaha mengubah suatu kelompok masyarakat dari satu keadaan kepada keadaan yang lebih baik tidak mungkin terlaksana tanpa rencana yang terpadu. Kegiatan-kegiatan yang dilakukan untuk mengubah diri menuju keadaan yang lebih baik ini sudah dan sedang dilakukan semenjak umat ini terbentuk 14 abad yang lalu. Karena itu agar lebih efektif dan efisien dan dapat dii- kuti sebagai pedoman, perlu disusun kembali rencana-rencana dalam Rencana Induk Pengembangan yang disebut Khittah Dakwah Islam Indonesia (KDII). Untuk dapat memenuhi fungsinya sebagai pedoman yang menyeluruh bagi kegiatan-kegiatan umat, maka perumusan KDDI beserta Rencana Pelaksanaan Programnya harus jelas dan mudah dipahami. Selain dari itu, KDII ini juga disusun sedemikian rupa sehingga kegiatan-kegiatan yang sudah dan sedang dilaksanakan dengan mudah dapat diplotkan di dalamnya agar secara keseluruhan jelas posisi dan hirarkinya di dalam peta keseluruhan. Tujuannya adalah untuk menumbuhkan rasa pemilikan, keterlibatan dan keterikatan masing-masing kegiatan yang tengah berjalan.

Aqidah, Ibadah dan Akhlak

Islam sebagai sumber dan jalan kebenaran yang berasal dari Allah SWT, adalah pandangan hidup yang bukan saja diperuntukkan bagi kesejahteraan kaum muslimin, tetapi juga bagi semua umat manusia, rahmat bagi alam semesta dengan

Nuansa Kehidupan Islami

97

Pernik-Pernik Reformasi

segenap isinya, yakni alam manusia, alam hewan, alam tumbuh-tumbuhan dan lingkungan hidup seluruhnya. Alam manusia yang terdiri dari berbagai suku dan bangsa dengan warna kulit yang berbeda-beda yang menganut berbagai agama dan faham, kecuali mereka yang kufur, merasakan rahmat Allah melalui ciptaan-Nya. Islam yang bersumber pada kebenaran Illahi, baik yang terkandung dalam ayat-ayat Qur'an dan Sunnah Rasullullah maupun yang terdapat dalam ayat-ayat kauniah, adalah pegangan, jalan, sikap dan sekaligus pula pedoman hidup setiap muslim dimanapun dan pada zaman apapun ia berada. Dienul Islam adalah ajaran purna, baik dalam makna penyempurnaan ajaran-ajaran Allah (wahyu) lewat para nabi terdahulu maupun purna dalam kaitannya dengan pandangan hidup manusia yang bersifat ra'yu (akal). Dengan demikian, Islam adalah ajaran yang koprehensif sifatnya. Selain dari mengandung nilai-nilai dasar yang bersifat fundamental, Islam juga berisikan norma-norma dan prinsip-prinsip ilmu pengetahuan atau pemberitahuan Illahi lain, terkandung dalam Al Qur'an yang diperjelas dengan Sunnah Rasulnya. Oleh karena itu bagi setiap muslim, Islam adalah kebenaran mutlak, universal dan eternal, yang tidak terikat pada ruang dan waktu. Walaupun demikian, menurut ajaran Islam, tidaklah dibenarkan seseorang memaksa orang lain menjadi pemeluk agama Islam. Dalam kehidupan beragama, Islam mengajarkan azas, bahwa tidak ada paksaan dalam agama. Islam bahkan mengajarkan tasamuh (toleransi) dalam kehidupan beragama. Dalam arti tersebut, Islam mengatur berbagai hubungan manusia, juga dalam masyarakat pluralistik, baik dengan Tuhannya, dengan sesamanya, dengan dirinya sendiri dan dengan alam lingkungannya. Sebagai suatu sistem yang mengatur tata hubungan manusia tersebut, Islam terdiri dari: Aqidah (tata keimanan), Syari'ah (tata kaidah hukum), dan Akhlaq (tata kaidah moral), yang berkaitan erat satu dengan yang lain. Sebagai agama yang mengatur pelbagai kehidupan dan penghidupan manusia, nilai-nilai dasar dan norma-norma azasi Islam memberi pedoman untuk lebih mengutamakan persamaan-persamaan tanpa mengabaikan perbedaan-perbedaan mengenai segala aspek kehidupan manusia. Dengan demikian, sistem-sistem: sosial, politik, ekomoni, pendidikan, dan sistem budaya lain yang Islami adalah sistem-sistem yang berdasarkan aqidah, syari'ah, dan akhlak, yang tidak bersifat monolitik.

Nuansa Kehidupan Islami 98

Pernik-Pernik Reformasi

Realisasi Kebenaran Ajaran Allah

Karena tugas Islam sebagai rahmatan lil 'alamin, maka tujuan hidup dan perjuangan hidup kaum muslimin baik sebagai individu maupun sebagai kelompok warga masyarakat, warga negara dan warga dunia, adalah merealisasikan kebenaran ajaran Allah dalam kehidupan pribadi dan kehidupan bermasyarakat dalam segala aspeknya. Bagi setiap muslim, dalam aspek apapun, tujuan itu tidak terlepas dari tujuan hidupnya yang berpedoman kepada Al Qur'an dan Sunnah Rasullullah. Dari segi arahnya, tujuan hidup yang Islami dapat diperinci menjadi tujuan vertikal dan horizontal. Tujuan vertikal adalah kehidupan yang diridhai Allah (Q.S-2: 207, 265; Q.S-6: 162-163; Q.S-19: 6; Q.S-27: 19; Q.S-48: 29-42; Q.S-73: 20; Q.S-89: 27-30; Q.S-92: 18-21; Q.S-101: 6-7; Q.S-13: 22; Q.S-9: 72). Tujuan horizontal adalah: a. Kebahagiaan di dunia dan di akhirat (Q.S-201; Q.S-28: 77; Q.S-7: 156) dan b. Rahmat bagi (Q.S-21:107). sesama manusia dan alam semesta

Dari segi satuan lingkungannya, tujuan hidup Islami adalah: 1. Terwujudnya pribadi yang diridhai Allah, yaitu pribadi muslim yang paripurna, yang taqwa kepada Allah SWT (Q.S-2: 22,28). 2. Terwujudnya rumah tangga yang diridhai Allah yaitu rumah tangga sakinah yang diliputi mawadah dan rahmah anugrah Allah (Q.S-30:21). 3. Terwujudnya qaryah (lingkungan kampung, kampus, kompleks kerja, dan sebagainya) yang diridhai Allah, yaitu qaryah yang kondusif dan "layak" menerima berkah Allah dari pelbagai arah, disebabkan warganya beriman dan bertaqwa kepada Allah SWT (Q.S-7: 96).

Nuansa Kehidupan Islami

99

Pernik-Pernik Reformasi

4. Terwujudnya negeri yang diridhai Allah yaitu negeri yang baik (baldah tayyibah) yang meliputi maghfirah (ampunan Allah) (Q.S-34: 15). 5. Terwujudnya dunia yang diri berpangkal dari faham sekularisme materialisme makin berkembang lebih cepat pada masyarakat indusri. Sekularisme cenderung untuk meniadakan peranan agama, sekalipun kemungkiana bahwa agama akan diberi tempat, atau diberi kotak, berupa spatialisai agama. Agama diberi tempat untuk berperan secara khusus dalam bidang "Rohaniah", tetapi tidak diberi tempat berperan dalam masyarakat yang lain. Salah satu kekhawatiran terbesar umat Islam dan bangsa Indonesia seluruhnya sekarang dan dimasa yang akan datang ialah timbulnya masyarakat berkelas yang mengotakkan masyarakat kedalam kelas-kelas yang mempunyai kepentingan-kepentingan ekonomi yang berbeda dan saling bertentangan. Pada dasawarsa akhir ini kecenderungan ke arah pengkelasan masyarakat rupanya makin meningkat, sehingga umat Islam menjadi semakin berat: karena selain dari harus menghadapi pemudaran nilai-nilai agama, juga menghadapi fragmentasi sosial ke dalam kelas-kelas. Gejala ini akan membuat kebijakan perjuangan Islam menjadi bersifat ganda. Di satu pihak, umat Islam mempunyai tugas nasional untuk mencegah pengkelasan masyarakat yang diakibatkan oleh sistem politik yang pragmatis, di lain pihak, umat Islam ingin mencegah sekularisasi. Tugas ganda ini bertumpu pada keyakinan bahwa Islam sebagai agama dan pandangan hidup harus mencegah pengkelasan masyarakat yang sekularisasi kehidupan. Sementara itu dalam bidang budaya terjadi arus lain, yaitu derasnya kebangkitan nativisme yakni kepercayaan dan anutan-anutan yang dianggap dari nenek moyang yang diles-tarikan secara turun-temurun. Kebangkitan ini ternyata mempunyai kolerasi dengan proses sekularisai atau spatialisasi di atas. Sebenarnya spiritualisme pada gerakan nativisme bertentangan dengan materialisme masyarakat industri yang sekular. Akan tetapi pada kenyataannya terdapat hubungan kepentingan yang erat antara skularisme dan nativisme. Hal ini dapat terjadi karena gerakan nativisme menawarkan suatu spiritualisme yang sesuai dengan konsepsi spatialisme agama dari cita-cita sekular. Spiri- tualisme-nativisme sampai batas tertentu mempunyai raison d'etre, berhubung masyarakat industri selalu mempunyai kecenderungan alienasi yang diduganya dapat ditolong oleh spiritualisme yang merupakan terapi psikologis tehadap perasaan tidak aman warga masyarakat Industrial.

Nuansa Kehidupan Islami 100

Pernik-Pernik Reformasi

Usaha yang perlu dijalankan untuk mengatasi gejala sekularisme dan segala nativisme dapat bersifat teoritik dan empirik. Untuk menghadapi sekularisme, secara teoritik Islam sudah mempunyai khasanah pustaka yang cukup luas, tinggal memasyarakatkannya. Dengan demikian garis besar upaya mencegah sekularismre ialah pengintregasian ilmu-ilmu secara teoritk dalam sistem keagamaan. Secara empirik, penanggulangan sekularisme adalah pengintregasian sistem budaya dalam sistem sosial dengan ajaran agama. Tugas cendekiawan muslim, karena itu, menjadi sangat pen- ting dalam dakwah menghadapi sekularisme. Terhadap nativisme, Islam juga mempunyai kepustakaan yang panjang yang mengungkap ketinggian spiritualisme Islam, sehingga secara teoritik sebenarnya ajaran Islam dengan mudah dapat mengatasi persoalan spiritualisme itu. Demikian pula secara empirik, sifat-sifat paguyuban dari nativisme yang rindu pada masyarakat kecil, dan hubungan dekat, misalnya akan dapat dipenuhi. Dalam menghadapi sekularisme dan nativisme, persoalan yang tersulit adalah masalah kelembagaan. Selama ini sebenarnya umat Islam cukup mempunyai berbagai sumber daya, lembaga dan manusia selain sumber ideologis. Jadi, masalahnya ialah bagaimana memanfaatkan dan mengarahkan dakwah di bidang sosial-budaya. Untuk menahan sekularisme, organisasi profesi yang sekarang ada perlu dimanfaatkan. Forum-forum formal dan informal dapat digunakan untuk bermujadalah (berdialog) secara intelektual. Demikian juga media massa yang memadai akan menjelaskan secara teoritik permasalahan sosial-budaya dari sudut pandang integral Islami. Sementara itu lembaga-lembaga yang ada, dapat dimanfaatkan untuk menautkan agama dengan berbagai sektor kehidupan. Untuk itu, sejumlah pikiran utama mengenai bidang-bidang yang strategis harus sudah disiapkan, sehingga orang Islam yang tidak mempunyai akses ke dalam kelompok perjuangan Islampun dapat memetik ide tersebut. Untuk keperluan ini dibutuhkan lembaga-lembaga penelitian dan pengembangan yang mampu menampilkan ide-ide secara strategis untuk menawarkan alternatif-alternatif dalam menghadapi permasalahan modern. Untuk menghadapi nativisme sumber daya kelembagaan dan manusia sudah tersedia, persoalannya tinggal bagaimana mendekatkan para penganut nativisme pada lembaga-lembaga itu. Perlu diusahakan menghadapkan para penganut tarekat dan ahli-ahli tasawuf dengan penganut spiritualisme-nativisme, melalui saluran semacam sarasehan atau pertemuan tatap

Nuansa Kehidupan Islami

101

Pernik-Pernik Reformasi

muka. Pertemuan personal akan lebih menghadapi bagi para penganut nativisme, sebab kebanyakan mereka hidup dalam lingkungan tertutup dan jauh dari sumber bacaan. Mereka lebih percaya pada hubungan personal daripada hubungan imporsonal melalui bacaan. Pada dasarnya nativisme timbul dari kepercayaan dari apa yang dikenal sebagai "warisan nenek moyang" dan kesederhanaan berfikir, dan bukan dari sifat-sifat tercela yang membuat mereka jauh dario cahaya ilahi. Tidak semua warisan nenek moyang itu perlu ditinggalkan, selam tidak betentangan dengan aqidah Islamiyah. Warisan nenek moyang seperti itu dapat saja dilestarikan. Bahkan dapat dikembangkan secara baik-baik dengan jiwa baru, yakni jiwa Islam. Persoalan sekularisme dan nativisme menjadi makin kompleks karena kerjasama antara dua kekuatan sosial-budaya. Kerjasama ini terjadi karena mereka mempunyai kepentingan yang sama. Keuntungan politik yang diperoleh nativisme selama ini mempunyai latar belakang sosial dan sejarah. Nativisme kebanyakan didukung oleh kebanyakan keturunan para priyayi (aristokrat) yang kemudian menjadi birokrat, yang secara historis pernah mempunyai jarak dengan budaya Islam. Karena jarak sosial antara priyayi dan santri makin dekat, maka dapat diharapkan bahwa perkembangan sejarah sendiri akan cenderung untuk menyusutkan dukungan priyayi birokrat kepada nativisme. Proses yang natural ini akan terjadi sesudah masa generasi yang sekarang berada dalam birokrasi itu berakhir. Proses sejarah ini bisa dipercepat dengan dakwah yang lebih intensif. Gerakan-gerakan kebudayaan yang menuju ke arah ini patut dikembangkan, sekalipun tidak mempunyai hubungan langsung dengan dakwah.

2. Aspek pendidikan

Latar belakang dan landasan pemikiran Umat Islam adalah kelompok masyarakat yang beriman kepada Allah swt, kodrat dan iradat-Nya. Seluruh kehidupan umat Islam semestinya dikembangkan secara kreatif, baik oleh masing-masing individu (fardhu 'ain) maupun oleh eksponen-eksponen masyarakat (fardhu kifayah), berdasarkan dan sesuai dengan hukum Allah, yang tertuang secara tertulis dalam syariah, kauniah, maupun sejarah. Oleh karena itu, sgala

Nuansa Kehidupan Islami 102

Pernik-Pernik Reformasi

ungkapan kegiatan perilaku budaya umat Islam seyogianya merujuk pada sistem ide dan pola fikir yag lepas landas dari nilai Islami yang universal. Semua ekspresi bihavioral dan verbal seorang muslim adalah manifestasi dan realisasi ibadah demi tercapainya kemuliaan dan keridhaan Allah semata. Umat Islam Indonesia sebagai masyarakat yang berbudaya telah mengalami proses pencarian, penemuan, pengembangan dan peningkatan norma-norma yang merupakan landasan bagi terbentuknya budaya bangsa Indonesia. Ilmu, teknologi dan ekspresi kemanusiaan adalah pengembangannya, disamping komponen budaya lain, yang tidak mungkin dilepaskan dari nilai kebenaran agama yang hakiki. Adalah menjadi kewajiban generasi sekarang untuk meneruskan kapada generasi pelanjut baik sebagai informasi, ilmu, atau teknologi, namun sebagai pedoman untuk pengembangan peradaban yang lebih tinggi yang bercorak Islam, yang secara intrinsik merupakan rahmat bagi seluruh umat, bangsa, dan alam semesta. keragaman norma dan perilaku budaya umat merupakan khazanah bagi terbentuknya budaya umat yang Islami. Oleh karena itu, pengembangan umat adalah sebagai usaha, optimasi kapasitas (baik kuantitatif maupun kualitatif) individu anggota umat yang mampu melaksanakan iman, Islam, dan ikhsan. Dengan ungkapan lain, ialah individu yang mampu melaksanakan ibadah dalam arti kata yang seluas-luasnya. Manusia adalah makhluk ciptaan Allah dengan sifat-sifat dan karakter fisik dan psikisnya yang tunduk kepada hukum syari'ah, hukum Allah dan hukum sejarah yang merupakan hukum Allah. Karena itulah, Allah swt menyediakan wahyu dan alam semesta sebagai petunjuk, pedoman dan sarana bagi kehidupan. Derajat kemuliaan manusia brgantung pada tinggi rendahnya iman dan ilmunya, yang direalisasikan dalam perilaku ibadah dan budayanya (amal shaleh). Hajat hidup umat Islam akan kesejahteraan lahir dan bathin (fisik, moral dan spiritual) menuntut umat untuk menggali, memelihara, mengembangkan, melestarikan potensi dan kemahiran riel dirinya agar dapt menggunakan sumber-sumber alam sebagai sarana hidup dan penghidupan (budaya, peradaban), sehemat mungkin dan manfaat seluas mungkin. Penemuan dan pengembangan ilmu, teknologi da ekspresi kemanusiaan (humanitas) hanya mungkin dicapai dengan mengembangkan ketajaman rasa, akal, dan rohani. Oleh karena itu, filsafat, struktur dan metoda keilmuwan hendaknya konsisten sistem nilai dimaksud dan relevan dengan kemungkinan perkembangan teknologinya. Diantara jarak untuk merealisasikan perwujudan hamba Allah

Nuansa Kehidupan Islami

103

Pernik-Pernik Reformasi

yang berkeseimbangan (ummatan wasatha) tersebut, perlu dirumuskan kebijakan pendidikan umat yang mampu membentuk, mengembangkan dan melaksanakan penghayatan nilai dan norma, pengenalan akan potensi diri, pemanfaatan sumber-sumber agama, alam dan sejarah serta pengamalan kemampuan dan keterampilannya untuk mencapai kesejahteraan dan peningkatan peradaban yang Islami.

Modal dan permasalahan umat Islam di bidang pendidikan

Salah satu modal yang dimiliki umat Islam Indonesia di bidang pendidikan kesadaran dan keyakinan umat akan dienul Islam sebagai materi program pendidikan dan sebagai sumber nilai. Demikian pula kesadaran tentang alam dengan segala hukumya termasuk diri manusia, sebagai sumber ilmu dan teknologi. Umat Islam Indonesia juga mempunyai tradisi keilmuan dan lembaga-lembaga pendidikan, seperti: pesantren, madrasah, sekolah-sekolah Islam, masjid, usroh, lembaga pengajian, dan keluarga muslim sebagi tempat kegiatan pendidik-an berprogram dan berproses. Di samping itu, umat Islam Indonesia juga berhubungan dengan memanfaatkan lembaga-lembaga Islam internasional di bidang keilmuan dan tekno- logi. Sejumlah cendekiawan muslim Indonesia telah berkomunikasi dengan cendekiawan muslim dunia. Sungguhpun umat Islam Indonesia mempunyai potensi dan kegiatan pendidikan yang cukup luas, namun dirasakan pula adanya berbagai permasalahan, yang secara langsung maupun tidak langsung merupakan penghambat tercapainya tujuan pendidikan itu sendiri. Permasalahan tersebut meliputi: (a) masalah pendekatan, (b) masalah kelembagaan, (c) perangkat keras, (d) perangkat halus, dan (e) masalah pola pengembangan. Masalah yang menyangkut (a) aspek pendekatan, antara lain meliputi: (1) Dalam proses pendidikan, agama cenderung dipelajari secara juridis-teoritik, sehingga agama lebih sebagai "ilmu" daripada sebagai tuntunan atau pandangan hidup yang membuahkan pemikiran dan perilaku serta akhlak yang Islami; (2) ILmu agama tidak berkembang, dan sejalan dengan itu para ahli di bidang itupun makin menyusut, baik mengenai jumlah maupun mutunya; (3) Pandangan sebagian besar umat Islam terhadap agamanya masih bersifat dikotomik atau sekularistik.

Nuansa Kehidupan Islami 104

Pernik-Pernik Reformasi

Agama akan dianggap mengatur masalah-masalah keakhiratan saja, sedang masalah dunia tidak diatur oleh agama, tetapi oleh yang lain dari agama. Masalah yang menyangkut (b) aspek kelembagaan, antara lain meliputi: (1) Lembaga pendidikan pesantren cenderung bersifat tradisional dan merupakan milik pribadi. Sementara kerjasama antar pesantren tidak efektif, dan kontaminasi pihak luar makin nyata; (2) Banyak lembaga pendidikan madrasah dan sekolah Islam yang menghadapi masalah kemandirian karena kepemimpinannya ditetapkan oleh pihak pemberi subsidi, sedang Yayasan pendukung tidak dibenarkan menginduk pada lembaga/organisasi pusatnya; (3) Masjid, usroh dan lembaga pengajian lain tidak mempunyai program yang utuh serta terencana sebagai lembaga pendidikan umat dan cenderung bersifat sporadik dan simplistik. Karena sifat "non-institutionalnya", maka proses pendidikan di lembaga-lembaga tersebut lebih bersifat individual daripada umatik behavioral. Permasalahan yang menyangkut (c) perangkat halus, antara lain: (1) Tujuan pendidikan kebanyakan terlalu umum, sehingga tidak dapat diukur; (2) Kurikulum lebih bersifat diferensial, nonintegratif, elitis, berorientasi dan "paket non komposit"; (3) Sistem evaluasi tidak jelas, bersifat "seleksi alamiah" atau sebaliknya bersifat paradigmatik (menuju pada ketentuan), dan bersifat mekanistik; (4) Khusus untuk pesantren kurikulum bersifat statis, sementara untuk sekolah Islam dan madrasah kurikulumya bergesar ke arah ilmu-ilmu "sekuler". Permasalahan yang menyangkut (d) perangkat keras pendidikan, terutama berupa: alat-alat bantu pelajaran yang amat minim, kepustakaan yang amat terbatas, sarana pem bangunan dan pembiayaan yang sangat terbatas. Permasalahan yang menyangkut (e) pola pembangunan pendidikan ialah tidak hanya "pola ilmiah pokok" dan tolok ukur yang baku.

3. Aspek Kejamaahan dan Ukhuwah

Pentingnya organisasi sebagai alat perjuangan telah dibuktikan kesahihannya oleh lintasan sejarah perjuangan bangsa Indonesia, yang diwarnai terutama oleh pergerakan organisasi kemasyarakatan, baik dibidang politik maupun dibidang non-politik. Hal ini nyata terlihat baik pada periode pra

Nuansa Kehidupan Islami

105

Pernik-Pernik Reformasi

kemerdekaan maupun pada era pasca kemerdekaan. Demikian pula halnya dengan perjuangan umat Islam di Indonesia, peranan organisasi Islam baik dalam bentuk formal maupun dalam ikatan jamaah yang lain adalah besar. Sebagai alat perjuangan, organisasi Islan setidak-tidaknya memenuhi satu atau lebih peran berikut : (1) sebagai pengikat umat menjadi jamaah yang lebih kuat, sehingga merupakan kekuatan sosial yang efektif; (2) sebagai media pengembangan dan pemasyarakatan budaya Islami; (3) sebagai media pendidikan dan pembinaan umat atau anggotanya untuk mencapai derajat pribadi taqwa; (4) sebagai alat untuk merencanakan dan melaksanakan kegiatan dakwah islamiah; (5) sebagai media untuk pengembangan minat mengenai aspek kehidupan tertentu (ekonomi misalnya) dalam rangka mengembangkan tujuan kemasyarakatan yang adil dan sejahtera. Secara umum, organisasi atau institusi jamaah Islam di Indonesia dapat dikelompokkan ke dalam dua bagian besar, yaitu organisasi formal dan organisasi non-formal. Organisasi formal ialah yang jelas strukturasinya, eksistensi formalnya atau statusnya diakui baik oleh kalangan luar maupun oleh kalangan dalam. Dikelompok organisasi ini, berdasarkan kegiatan utama dan himpunan anggotanya, dapat dikelompok-kelompokkan lagi menjadi yang berciri vertikal atau horisontal, integral atau sektoral. Ciri vertikal berarti bahwa dalam strukturisasinya ada garis administrasi dan komando dari pimpinan tertinggi sampai ke pimpinan terendah dan anggota. Sebaliknya ciri horisontal berkaitan dengan sifat kesejajaran antar unit satu dengan unit lain dalam struktur organisasinya. Ciri integral berkaitan dengan kegiatan organisasi yang meliputi banyak aspek kehidupan manusia. Organisasi yang integral ini pad umumnya mempunyai ciri keanggotaan yang majemuk dari segi usia dan jenis kelamin. Sebaliknya, organisasi yang berciri sektoral berarti bahwa kegiatan organisasi itu hanya menyangkut satu aspek kehidupan saja atau aspek kehidupan yang berhubungan dengan periode umur tertentu saja. Sebagai contoh dapat disebut organisasi yang berciri vertikal-integral : Muhammadiyah, Nahdatul Ulama, dan sebagainya.; vertikal-sektoral : HMI, PII, Wanita Islam, dan sebagainya.; horisontal-integral : Majelis Ulama; horisontal-sektoral: HSBI. Ciri organisasi ini berkaitan erat dengan keluasan perannya dalam perjuangan, seperti dikemukakan diatas. Organisasi non-formal ialah ikatan jamaah yang mempunyai

Nuansa Kehidupan Islami 106

Pernik-Pernik Reformasi

ciri-ciri : (1) ikatan anggota dengan organisasi bersifat tidak formal. Ikatan itu hanya karena ide atau kegiatan saja; (2) kepemimpinannya bersifat fungsional; (3) Jamaahnya bersifat trbuka, heterogen dan non-afiliatif. Sebagaimana organisasi formal, organisasi non-formal juga mempunyai beberapa ciri, yaitu ciri sektoral atau teritorial. Ciri teritorial berkaitan dengan orientasi kegiatan suatu kawasan atau daerah tertentu. Organisasi non-formal Islam ada yang bersifat eksplisit sebagai jamaah Islam, seperti (a) jamaah masjid, (b) jamaah kampus, (c) jamaah pengajian. Dikenal pula organisasi non-formal yang tidak secara eksplisit sebagai jamaah Islam, tetapi kegiatannya Islami. Sebagai contoh dapat disebut misalnya : kegiatan sosial ekonomi (arisan, koperasi, paguyuban), kegiatan budaya dan seni, dan sebagainya. Salah satu bentuk lembaga kejamaahan non formal yang khas Indonesia ialah pesantren. Pesantren, di samping kedudukannya sebagai lembaga pendidikan juga merupakan lembaga kejamaahan. Hal ini karena pesantren mempunyai kemampuan mengikat santrinya dan sekaigus juga mempunyai ikatan dengan umat atau masyrakat pada tingkat "grassroot" (lapisan bawah). Ikatan ini sifatnya lebih kuat, bahkan sering melebihi ikatan pada organisasi formal yang ada. Kalau jamaah kampus merupakan ikatan jamaah pada tingkat 'elitis intelektual', jama'ah pesantren mampu mengikat umat pada tingkat 'populis-awami'. Kondisi jamaah Islam di Indonesia dan kecenderungan perkembangannya secara garis besar dapat dilukiskan sebagai berikut. Dengan melakukan kajian banding dari saat ke saat lain dan dengan menggunakan tolok ukur keterpenuhannya peran organisasi dalam perjuangan dengan kegiatan-kegiatannya tergolong besar kadang-kadang menunjukkan sifat eksklusifistiknya yang primordial dan karena latar belakang inferioritasnya, amat mngganggu ukhuwah antar jamaah organisasi Islam, bahkan menumbuhkan keadaan desintegrasi. Organisasi formal islam yang kecil, yang menunjukkan sifat keperjuangan Islam yang demokratif dan partisipatorik, juga tidak terlepas dari sifat eksklusifisme di atas. Organisasi yang kadang-kadang di pandang lebih dari sekedar alat oleh para pemimpin atau aktifismenya. sementara ukhuwah antar jemaah baru benar-benar terjadi apabila muncul persoalan yang dianggap amat kritikal (kasus UU Perkawinan, UU Peradilan Agama, dsbnya). Keadaan di atas akan berkembang lebih parah lagi dengan

Nuansa Kehidupan Islami

107

Pernik-Pernik Reformasi

munculnya sementara pemimpin organisasi yang mempunyai pretensi lain, yang tidak segan mengorbankan hal yang lebih fundamental untuk memperoleh pemenuhan interes pribadi. Di sisi lain, terjadi hambatan dalam estafetta kepemimpinan. Pemimpin yang lebih muda dalam usia, umumnya merasa belum siap melanjutkan estafetta kepemimpinan generasi tua, baik karena alasan intern, seperti kemampuan maupun karena pemahaman agama yang terbatas. Selain itu ada juga hambatan ekstern, seperti, misalnya situasi sosial politik yang tidak kondusif. Keadaan organisasi Islam non-formal, secara singkat dapat dilukiskan sebagai berikut. Jamaah mesjid umpamanya bersifat amat heterogen, karena terdiri dari (campuran tua-mudi), awam-intelektual, dstnya), paternalistik. Karena itu ikatannya lebih longgar. Pada mesjid-mesjid kota, peranan generasi muda lebih dominan sebagai aktivis. Jemaah kampus lebih homogen terutama kalau dilihat dari ciri kemudaan dan keintelektualannya. Sifatnya lebih mandiri, loyalitasnya lebih pada ide (walaupun mereka mengenal "tokoh ideal"), ikatannya lebih kokoh dan mobilitasnya lebih tinggi. Jamaah pengajian lebih bervariasi. Walaupun lebih banyak generasi tuanya, ikatannya lebih longgar, paternalistik. Karena itu mobilitasnya lebih rendah. Jamaah yang tidak jelas Islamnya mempunyai karakteristik yang amat bervariasi tergantung pada bentuk ikatannya. Jamaah pesantren, karena lebih bersifat "milik pribadi", pengelolaannya bersifat tertutup. Bentuk komunikasi antar lembaga kejamaahannya amat terbatas. Hubungan antar pesantren, lebih bersifat hubungan darah daripada hubungan ide. Di sisi lain, dikalangan jamaah/pesantren terlihat kelambanan tumbuhnya kepemimpinan baru, sehingga meninggalnya pemimpin tua sering diikuti dengan menyuramnya suatu pesantren. Ini sering diikuti oleh renggangnya hubungan hubungan antar pesantren yang ada. Beberapa masalah yang harus dihadapi dan harus dipecahkan untuk lebih mengefektifkan organisasi atau ikatan jamaah non-formal ini, sehingga benar-benar dapat menjadi alat perjuangan ialah masalah komunikasi, pembinaan kaderisasi kepemimpinan. Bentuk ikatan jamaah non-formal lain, seperti kelembagaan profesi, kelembagaan seni, masih kurang mendapat umat Islam. Dari gambaran tentang kondisi dan kecenderungan orga

Nuansa Kehidupan Islami 108

Pernik-Pernik Reformasi

nisasi Islam di atas dapat diidentifikasi permasalahana di bidang pembinaan jamaah sebagai berikut : (1) Bagaimana caranya agar ukhuwah antar organisasi Islam dapat berjalan lebih baik lagi dari keadaan sekarang. Bila selama ini ukhuwah itu diartikan secara statis saja, yaitu lebih dikaitkan dengan status, maka kini dan dimasa yang akan datang bagaimanakah cara mengembangkannya sehingga menjadi fungsioanal? (2) Bagaimana melakukan refungsionalisasi organisasi (formal) sehingga benar-benar dapat diandalkan sebagai alat perjuangan? (3) Bagaimana mengembangkan sistem komunikasi dan koordinasi antar organisasi Islam non-formal? agaimana pula meningkatkan pola pembinaan dan kaderisasi pimpinan organisasi non-formal itu?

V. Aspek Politik

Pada hakekatnya politik adalah seni mengatur masyarakat. Kehidupan politik selalu ditandai dengan konflik kepentingan antara kelompok-lelompok dalam masyarakat, yang berusaha untuk merealisasikan gagasan-gagasan ideologinya menjadi realitas sosial yang iedal menurut wawasan masing-masing. Kepentingan yang dimaksud dapat bersifat politis, ekonomis, kultural, maupun ideologis. Dengan demikian, merupakan hal yang wajar bila perjuangan untuk memperoleh kekuasaan merupakan fenoma politik yang paling menonjol dalam masyarakat. Oleh karena dengan porsi kekuasaan yang dapat diperoleh, tiap kekuatan sosial akan menerjemahkan cita-cita menjadi kenyataan konkrit. Dengan kata lain setiap kelompok sosial-politik, lewat kekuasaan, berusaha untuk melakukan alokasi otoritatif nilai-nilai yang diyakininya.

Bila diperhatikan, perjuangan politik umat Islam di Indonesia terlihat bahwa peranan politik Islam mengalami penurunan yang konstan, baik sebagai akibat kelemahan-kelemahan internal dalam tubuh umat maupun karena perekayasaan politik yang datang dari luar. Perekayasaan politik yang melumpuhkan peranan politik rakyat dan umat Islam khususnya terasa amat efektif sejak beberapa dasawarsa

Nuansa Kehidupan Islami

109

Pernik-Pernik Reformasi

terakhir. Nampaknya proses pembangunan yang sangat berorientasi pada aspek ekonomi dan sangat pragmatik, secara langsung maupun tidak langsung, telah berpengaruh pada proses penumpulan pandangan ideologis masyarakat Indonesia.

Proses modernisasi yang dibarengai dengan industriali- sasi, urbanisasi, sekularisasi, dan masuknya MNC/TNC secara besar-besaran dengan segala dampak sosio-politiknya, telah menyebabkan makin cairnya pandangan ideologis umat/bangsa. Banyak daerah di Indonesia, yang pada zaman demokrasi parlementer didominasi oleh kekuatan politik Islam (seperti misalnya : Sumbar, Jabar, Sulsel, dan Kalsel) kini telah diwarnai oleh kekuatan politik lain. Secara sangat singkat kemorosotan perang poitik Islam dalam sejarah Indonesia dapat dilukiskan sepeti berikut.

Dalam era 1949-1959 peranan politik Islam masih mempu- nyai bobot kekuasaan yang menentukan. Kehidupan politik yang ditandai dengan persaingan bebas antar parpol dimasa itu menghasilkan secara demokratik golongan-golongan yang dapat mewakili aspirasi umat. Masyumi, NU, PSII, dan Perti mengumpulkan sekitar 45 % suara dalam dua kali pemilu,, baik untuk menyusun DPR maupun Konstituante. Terbukti bahwa salam kehidupan politik yang demokratik umat Islam dapat mengambil peranan politik secara representatif.

Dalam era 1959-1965 peranan politik tersebut terdesak kepinggir. Demokrasi Terpimpin Soekarno menggeser kekuatan poliik Islam, antara lain dengan pembubaran Masyumi, sehingga arena politik Indonesia menjadi medan adu kekuatan antara PKI yang telah berhasil melakukan infiltrasi cukup jauh ke dalam tubuh PNI (PNI-kiri) dan menguasai Front Nasional disatu pihak, dan TNI-AD dilain pihak. Soekarno sendiri berusaha menjadi penyeimbang dalam adu kekuatan politik tersebut, sampai terjadi peralihan dalam perimbangan kekuatan itu dengan terjadinya G-30-S/PKI.

Dalam era "Orde Baru" peran politik Islam menjadi makin lemah. Dengan makin kuatnya kooperatisme, umat Islam dan

Nuansa Kehidupan Islami 110

Pernik-Pernik Reformasi

sektor sipil pada umumnya tidak lagi mempunyai peranan dalam proses pengambilan keputusan di Indonesia. Dewasa ini semakin jelas kekuasaan hampir secara penuh dipegang oleh golo- ngan birokrat baik sipil maupun militer, terutama melalui Golkar. Dua partai lainnya hanya berfungsi sejauh tidak menggangu sistem yang telah diciptakan. Beberapa ciri utama Orba dapat dilukiskan sebagai berikut.

Pertama, bureaucratic-military complex. Peranan militer sudah melimpah diberbagai bidang, terutama dibidang politik dan birokrasi. Jabatan-jabatan, sejak dari bupati sampai gubernur dan sel-sel birokrasi penting telah diisi oleh militer.

Kedua, state capitalism. Kekuasaan negara dibidang ekonomi adalah besar, namun kendatipun sumber-sumber kekayaan nasional dikuasai oleh negara, tetapi arah pengelolaan perekonomian Indonesia telah banyak menyimpang dari pasal 33 UUD 1945. Disamping itu, sektor swasta sangat kentara dimonopoli oleh pemilik-pemilik modal kuat dengan elite politik sebagai pelindungnya.

Ketiga, full-grown sekularism. UU no 3 dan no 8 tahun 1985 oleh sementara pihak telah dijadikan sebagai landasan hukum bagi pengembangan sekularisme penuh. Tidak saja Golkar dan Parpol, melainkan juga seluruh organisasi massa, termasuk organisasi-organisasi keagamaan yang harus berazaskan tunggal Pancasila. Bahwa organisasi agama juga tidak dipearbolehkan berazaskan agamanya menunjukkan bahwa para penentu proses sosial secara sadar atau tidak telah bertekad memasuki full-geown sekularism.

Keempat, terlihat kecenderungan totalitarianisme terselubung. Penguasa tidak saja mengontrol, mengarahkan dan "membina" salah satu dimensi kehidupan rakyat Indonesia, yaitu kehidupan politiknya, akan tetapi mengawasi, mengarahkan, dan membina hampir seluruh dimensi kehidupan, lewat UU nomor 3 dan nomor 8 di atas.

Kelima, dalam bidang agama di tingkat massa rakyat dan

Nuansa Kehidupan Islami

111

Pernik-Pernik Reformasi

jabatan-jabatan strategis di berbagai Departemen dan Pemerintah Daerah terasa dominasi golongan minoritas tertentu yang mengganggu rasa keadilan masyarakat luas.

Keenam, usaha deislamisasi. Kekuatan-kekuatan Islamofobia untuk melumpuhkan Islam pada dasarnya menggunakan be-berapa cara, antara lain : intensifikasi pelaksanaan pola pengucilan golongan umat yang berfikir mandiri (independen), mendorong kecenderungan dalam masyarakat kearah nativisme yang serba akomodatif dan memukul kekuatan ekonomi umat atau setidak-tidaknya mendorong proses gulung tikarnya kekuatan golongan ekonomi umat/lemah.

Ketujuh, Pendekatan-pendekatan security terasa sangat menonjol, sehingga rasa tanggung jawab dan partisipasi masyarakat menjadi terhambat.

Beberapa catatan khusus mengenai peranan militer dalam percaturan politik dan ekonomi Indonesia, dapat di ungkapkan sebagai berikut. Pemerintah Orde Baru sejak awal mempunyai dua tujuan sentral yang tidak dapat dipisahkan satu dari yang lain, yaitu "pembangunan ekonomi" dan "stabilitas politik". Tujuan ganda ini merupakan tujuan antara untuk memantapkan kepercayaan rakyat terhadap aktivitas sosial militer di dalam penyelenggaraan bernegara, suatu legitimasi peran sosial-politik militer.

Aspek pencapaian dan pemeliharaan stabilitas politik dilaksanakan dengan realisasi pengendalian aktivitas politik secara ketat dan tersentralisasi, melakukan kristalisasi dalam tubuh militer dan kelompok sipil, serta menggunakan segala aparatur pemerintah secara maksimal. Hal yang terakhir ini sebenarnya merupakan lembaga yang digunakan untuk memantapkan stabilitas politik dan sekaligus menjadi lembaga pokok untuk mempercepat proses pelaksanaan program-program pembangunan.

Nuansa Kehidupan Islami 112

Pernik-Pernik Reformasi

Beberapa indikasi dari perwujudan strategi pemerintah Orde Baru misalnya terlihat dari hal-hal sebagai berikut: (1) peningkatan terus-menerus pertumbuhan ekonomi sebagai manifestasi program integral dibadang ekonomi: (2) Mitosisasi pembangunan: (3) Peraturam yang longgar untuk pengadaan dana penbangunan dan kapital untuk kegiatan ekonomi, terutama investasi asing: (4) Pemantapan mekanisme kerja dan peningkatan status birokrasi secara khusus dalam masyarakat: (5) Penataan lembaga-lembaga pemerintah dan lenbaga-lembaga sosial politik secara tegar: (6) Mobilisasi segala kekuatan dalam masyarakat untuk melakukan partisipasi perlaksanan program pembangunan.

Beberapa isue politik yang berkaitan dengan peranan militer di bidang politik, yang perlu mendapat perhatian dalam perkembangannya, ialah: (1). Regenerasi dalam tubuh ABRI: (2). Dinamika pemikiran di kalangan militer tentang peranan sosial-politik militer, baik secara institusional maupun secara individual : (3). Program modernisasi ABRI, baik di bidang personil, persenjataan, maupun organisasi: (4) Dimensi populis ABRI, seperti: Babinsa, AMD, dan aspekaspek pendukung sistem hamkamrata.

IV. ASPEK EKONOMI

Aspek hidup ekonomi seseorang atau suatu masyrakat tidak terlepas dari aspek hidup yang lain. Dengan demikian, usaha memperbaiki kehidupan ekonomi, disamping mempertimbangkan faktor-faktor ekonomi, juga tidak kalah pentingnya dengan faktor - faktor non - okonomi.

Nuansa Kehidupan Islami

113

Pernik-Pernik Reformasi

Usaha perbaikan ekonomi dalam masyarakat liberal lebih ditujukan untuk memperbaiki proses kegiatan ekonomi itu sendiri, yaitu siklus produksi - distribusi - konsumsi, yang ditekan terutama pada teknis ekonomis. Sebaliknya, pada sistim ekonomi sosialis perbaikan lebih diarahkan pada masyarakat di mana kegiatan ekonomi berlangsung.Namun demikian-pengertian masyarakat di sini adalah pengertian kesatuan kolektif komunitas, sehingga harkat manusia sebagai individu kerap kali dilupakan dan dikorbankan. Dua pendekatan pengembangan tersebut menghasilkan pola perkembangan yang berbeda. Ekonomi liberal atau kapitalstik, yang berorentasi pada komponen modal/pengusaha, mampu menghasilkan perkembangan ekonomi yang relatif cepat tetapi disertai dengan ketidakadilan ekonomi. Sebaliknya, sistim ekonomi sosialis secara teoritik mampu melahirkan aspek keadilan ekonomi, tetapi perkembangan tekah menempatkan elite penguasa sebagai pendominasi perencanaan, pelaksanaan dan penikmatan hasil - hasil ekomomi.

Tujuan - tujuan ekonomi yang ingin dicapai oleh setiap bangsa pada prinsipnya sama, yaitu: (a). mewujudkan perkembangan ekonomi: (b). keadilan ekonomi dalam semua tahapan kegiatannya, produksi, distribusi, dan konsumsi: dan (c) yang sebenarnya merupakan tujuan antara atau pendukung bagi tercapainya dua tujuan tersebut ialah stabilitas ekonomi, baik, baik stabilitas kesempatan kerja, stabilitas harga, maupun keamanan ekonomi, tyermasuk jaminan hidup warga masyarakat dihari tua. Tujuan - tujuan ekonomi ini dalam prktek sukar dicapai secara bersamaan. Hingga saat ini belum ada konsep teoritik yang mantap untuk dapat mengembangkan ekonomi ekonomi atau bangsa yang secara berimbang mencapai tingkat pertumbuhan yang cepat sekaligus dengan tingkat keadilan ekonominya. Dari sisi lain, kalau kemerosotan ekonomi suatu masyarakat atau bangsa terjadi,baik berupa tingkat inflasi yang tinggi maupun rusaknya sektor produksi pertanian akibat bencana alam, ataupun karena sebab lain, biasanya yang paling dahulu merasakan akibatnya dan yang paling parah keadaanya adalah masyarakat lapisan bawah, yang miskin dan lemah. Ini terjadi baik di negara sosialis. Di negara kapitalis, karena modal begitu dominan posisinya, maka kelompok yang bermodal tidak

Nuansa Kehidupan Islami 114

Pernik-Pernik Reformasi

mampu melakukan kegiatan okonomi secara bebas. Di negara sosialis, yang umumnya pemerintahannya bersifat otoiter, masyarakat miskin tidak dapat bertindak sebagai subjek yang menentukan, melainkan menjadi objek pelaksana kegiatan ekonomi.

Islam yang berdasarkan diri pada prinsip persamaan kedudukan,prinsif keadilan tuntutan jaminan sosial yang jelas, prinsip perimbangan antara hak dan kewajiban,serta tuntutan hidup tolong - menolong, memungkinkan dikurangi penderitaankaum lemah dalam menghadapi goncangan ekonomi. Dengan mengembangkan sikap kebersamaan dalam menikmati keuntungan dan menaggung kerugian (profit sharing dan risk sharing) dalam berbagai kegiatan ekonomi,baik dalam fungsinya sebagai produsen, distributor, maupun sebagai konsumen, keserasian hubungan antara unit-unit ekonomi dalam masyarakat dapat dijamin.

Dari sisi lain, dapat dilihat bahwa kalau sistem ekonomi kapitalistik lebih "berpihak" pada pemilik modal (pengusaha), sementara sistem ekonomi sosialistik lebih "berpihak" pada buruh, tidak mungkinkah "sistem ekonomi yang Islami" mempunyai potensi untuk menyeimbangkan pemihakantersebut bukan saja pada pengusaha dan buruh, tetapi terutama uga pada konsumen? Jawaban-jawaban filositik teoritik mungkin pernah dilontarkan dan cukup meyakinkan kebenarannya. Namun, secara operasional empirik perlu pengembangan lebih lanjut.

Kondisi perekonomian Indonesia, setelah periode menikmati manisnya minyak bumi mendekati penghujungnya, mulai menghadapi permasalahan yang cukup serius karena sumber utama devisa negara tersebut makin menyusut jumlahnya. Di sisi lain, upaya mwendapatkan devisa non-minyak belum menunjukkan hasil yang memuaskan. Sementara itu, kegiatan perekonomian di dalam negeri sendiri makin terasa lesu, baik karena pengaruh resesi dunia maupun sebagai akibat faktor-faktor internal sendiri. Kecenderungan yang demikian itu, menyebabkan sebagian pengamat pesimistik memandang perkembangan ekonomi Indonesia.

Nuansa Kehidupan Islami

115

Pernik-Pernik Reformasi

Walaupun problema-problema yang mengakibatkan lambannya perkembangan ekonomi dapat berbeda antara satu negara dengan negara lain, tetapi kesamaan umum tetap ada yaitu bahwa di dalamnya terkait variabel-variabel ekonomis maupun non-ekonomis. Kedua variabel pokok ini harus dilihat baik melalui pendekatan statis maupun pendekatan dinamis, sehingga dapat melahirkan pemahaman yang menyeluruh dan terpadu.

Setidak-tidaknya ada lima permasalahan pokok yang dihadapi perekonomian Indonesia yaitu: masalah modal, masalah tenaga kerja, kejujuran pelaku kegiatan ekonomi. Dua permasalahan yang terakhir termasuk problema non-ekonomis.

Masalah permodalan. Masalah permodalan menyangkut keterbatasan sumber modal baik dari dalam maupun dari luar negeri. Selain dari itu, daya serap investasipun terbatas juga karena sempitnya pasaran hasil produksi, baikunuk ekspor maupun [asaran dalam negeri. Permasalahan ini diperberat lagi dengan efisiensi pemanfaatan modal yang rendah dan arah investasi yang kerap kali tidak disertai dengan perencanaan yang matang. Akibatnya, angka cor (capital out put ratio) tinggi dan matarantai pengaruh ke muka dan ke belakang kecil, backward and foreward linkage terbatas.

Masalah ketenagakerjaan. Melihat fenomena ketenagakerjaan di Indonesia, terdapat semacam paradoksal, yakni di atu fihak pengangguran makin membengkak tetapi di fihak lain dirasakan kebutuhan akan tebnaga kerja tertentu, terutama tenaga ahli dan menengah. Hal ini terjadi karena jumlah tenaga kerja kasar dan tidak terlatih (non-profesional) amat banyak, sebaliknya tenaga ahli dan terlatih amat terbatas, kecuali untuk bidang tertentu. Kerawanan tenagakerja ini makin diperberat dengan dua hal, yaitu : (1) meningkatnya perkembangan sektor-sektor ekonomi dengan teknologi tinggi (yang sebenarnya dapat dicapai dengan teknologi yang lebih rendah), dan (2) sikap angkatan kerja yang statis, etos kerjayang rendah, dan langkanya motive\asi wiraswasta.

Masalah keadilan ekonomi. Sekalipun peranan pemerintah dalam bidang ekonomi, terutama sejak 1967, cukup dominan,

Nuansa Kehidupan Islami 116

Pernik-Pernik Reformasi

tetapi kebebasan bersaing sektor swasta makin tajam. Di satu fihak, perkembangan ekonomi dapat dipercepat karena fihak swasta domestik maupun asing yang bermodal kuat mampu mendirikan berbagi alat produksi dalam skala besar, teknologi canggih, efisiensi tinggi, yang memungkinkan kualitas produksi meningkat, hingga keuntungan yang diperoleh menjadi besar. Di fihak lain, sektor-sektor ekonomi yang menyangkut hajat hidup rakyat banyak makkin melemah, terutama sektor informal. Kerajinan rumah tangga di desa, industri kecil di kota, transportasi non-mesin sebagian bangkrut. Fenomena yang ironi terlihat: yang besar makin kuat sementara yang kecil makin lumpuh atau mati.

Keterbatasan lapangan kerja di pedesaan mengakibatkan meningkatnya secara besar-besaran urbanisasi, yang bukan saja menambah pengangguran di kota dan di desa, tetapi juga timbulnya dampak sosial yang negatif. Upaya pemerintah meningkatkan keadilan ekonomi dengan mencanangkan delapan jalur pemerataan, rupanya menitikberatkan pada pertimbangan ekonomi, terutama yang berorientasi pada pertumbuhan. Walaupun telah diakui banyak segi kelemahannya, masih juga dilaksanakan di Indonesia. Sementara itu isue "keadilan sosial" atau "emansipasi sosial" sebagai strategi alternatif, walaupun telah mendapat pasaran di forum kajian teoritik (di berbagai forum akademik) rupanya belum mendapat pasaran dalam praktek.

Dengan menyusutnya secara tajam sumber modal yang dikuasai pemerintah khususnya dari hasil minyak bumi sejak tahun 1982, peranan swasta bermodal besar semakin dominan, situasi liberal yang kapitalistik makin mendapat angin, sehingga kegiatan ekonomi lemah, termasuk koperasi, semakin memburuk. Sinyaleman sistem ekonomi Indonesia lebih condong ke ekonomi kapitalistik makin mendapat pembuktian empirik yang valid dengan fenomena-fenomena ekonomi di atas. Kalau dimulai tahun 1967 sektor ekonomi modern menjadi pelopor perkembangan ekonomi, maka semenjak 1982 sektor modern inipun mengalami kesuraman sebagaimana halnya sektor ekonomi yang telah tersingkir dan dikalahkan oleh sektor ekonomi modern tersebut.

Problematika ekonomi Indonesia yang kompleks tersebut, yang memprihatinkan seluruh bangsa Indonesia terutama golongan

Nuansa Kehidupan Islami

117

Pernik-Pernik Reformasi

menengah dan bawah, sebenarnya hampir identik dengan problematika ekonomi umat Islam. Umat Islam, disamping merupakan bagian mayoritas rakyat Indonesia, hampir semuanya menduduki strata sosial-ekonomi menengah-bawah dan bawah. Sektor ekonomi informal,terutama, dilakukan oleh umat Islam. Sebaliknya pada sektor ekonomi kuat dan menengah-kuat justru umat Islam merupakan minoritas dan tidak berperan menentukan. Fihak yang paling berperan justru pengusaha-pengusaha non-pribumi baik WNI maupun WNA yang menguasai matarantai ekonomi yang tidak terputuskan sejak dari impor sampai ke pedesaan, dan dari pedesaan sampai ke eksport.

Di sisi lain dapat dilihat bahwa sektor pemerintah memegang peranan yang cukup besar dalam perekonomian, baik sebagai konsumen berbagai hasil produksi maupun sebagai produsen barang-barang penting bagi kebutuhan rakyat banyak. Dalam kaitan ini, baik pemborong yang mensuplai kebutuhan pemerintah maupun penyalur hasil produksi pemerintah hampir seluruhnya dinikmati oleh pengusaha menengah-kuat dan kuat, terutama yang memiliki hubungan yang akrab dengan pejabat yang berwenang.

VII. Aspek Ilmu dan Teknologi Manusia diciptakan Allah sebagai makhluk yang paling baik strukturnya, paling mulia, melebihi dan mengatasi makhluk yang lain (At-Tien:4, Al-Isra':70). Namun, kemudian sebagaian mereka muncul sebagai makhluk yang bersegi negatif, bodoh, zalim dan kikir (Al-Ahzab:72, Al-Isra':100), atau bahkan paling hina (At-Tien:5). Dengan demikian, manusia asalnya adalah makhluk yang potensial paling unggul, termulia, namun dalam pertumbuhannya belum tentu demikian. Oleh karenanya, ada semacam kewajiban yang inheren dalam diri manusia, yaitu mengaktualkan keunggulan kwalitas tersebut, baik segi fisik, mental, intelektual, maupun spiritualnya. Aktualisasi potensi diri sebagai makhluk yang paling superior tersebut merupakan salah satu fungsi kodrati manusia, suatu proses "ihsanisasi". Fungsi kodrati manusia yang lain adalah fungsi "pengabdian"

Nuansa Kehidupan Islami 118

Pernik-Pernik Reformasi

(adz-Dzariat:56, Al-Bayyinah:5), yang disamping berdimensi transendental (ibadah khusus), juga tercermin dalam dimensi horisontal, yaitu pengabdian kepada sesama manusia dengan amal shalih (ibadah umum). "Kekhalifahan" adalah fungsi kodrati yang lain (Al-Bawarah:30, Al-An'am:165), yaitu menjadi wakil Allah dalam mengelola dan mengatur kehidupan di dunia agar tercipta harmoni dan kesejahteraan di bawah ridho-Nya. Fungsi kodrati yang lain adalah "kerisalahan" (Ali-Imran:104, Al-Maidah:67), menyampaikan kebenaran dienul Islam sebagai pedoman hidup manusia untuk mencapai keselamatan dan kebahagiaan. Bagaimana manusia dapat menunaikan keempat fungsi kodrati tersebut (ihsanisasi, pengabdian, kekhalifahan, dan kerisalahan), manusia dengan kemampuan fisik, intelektual dan mentalnya membutuhkan "jalan kebenaran" yang bersumber pada kebenaran hakkiki. Sumber kebenaran yang mutlak hanyalah datang dari Allah semata. Untuk dapat menangkap kebenaran tersebut kepada manusia tersedia dua 'jalur', yaitu wahyu dan ayat kauniah, manusia membutuhkan interpretasi terhadap keduanya. Interpretasi terhadap wahyu (Qur'an dan Sunah) sering dikenal sebagai "tafsir", sementara interpretasi terhadap fenomena-fenomena kauniah dikenal sebagai "ilmu pengetahuan". Ilmu dan teknologi berkembang didorong oleh kebutuhan manusia untuk memenuhi kebutuhan hidupnya, untuk dapat mempertahankan eksistensinya yaitu berinteraksi secara harmoni dengan lingkungan alamnya. Dengan ilmu pengetahuan dan teknologi manusia mampu memperoleh kemudahan-kemudahan dalam melakukan kehidepan sehari-hari, dalam memenuhi fungsi hidupnya. Dengan ungkapan lain, makna dikembangkan ilmu dan teknologi oleh manusia (aspek aksiologis ilmu dan teknologi) ialah sebagai alat agar manusia dapat memenuhi misi atau makna kehidupannya di dunia. Perkembangan ilmu, serta teknologi yang menyertainya dicapai manusia melalui matarantai yang panjang dari upaya manusia untuk dengan kemampuan "interpretasi ayat kauniah"-nya yang berupa kemampuan observasi, abstraksi, pengkajian dan eksperimentasi mereka. Perkembangan ilmu dan teknologi yang dicapai oleh umat

Nuansa Kehidupan Islami

119

Pernik-Pernik Reformasi

manusia hingga saat ini telah mendorong 'loncatan peradaban' yang mencengangkan. Perkembangan ini sedemikian menyilaukan umat manusia sehingga menggeser persepsi mereka tentang ilmu dan teknologi, yang semula sebagai alat untuk berinteraksi dengan lingkungan alaminya, menjadi sesuatu yang lebih dari itu. Ilmu dan teknologi seringa dipandang sebagai yang mampu memecahkan segalanya, lahirlah rasionalisme. Ilmu dan teknologi seolah sebagai "tuhan". Di sisi lain, disadari pula bahwa perkembangan ilmu dan teknologi tidak hanya berkembag oleh kemampuan rasional manusia saja, akan tetapi dipengaruhi pula oleh corak pemikiran filsafati (pandangan budaya, keyakinan dan agama) para pengembangnya. Dengan demikian, perkembangan ilmu dan teknologi taklah netral, tetapi diwarnai pula oleh presuposisi-presuposisi tertentu. Hal ini akan semakin nyata dirasakan pada spektrum ilmu-ilmu sosial. Pertanyaan ini cukup bermakna mengingat ilmu dan teknologi yang dimiliki manusia saat ini dikembangkan dengan kurang memperhatikan nilai-nilai moralitas kemanusiaan, nilai-nilai keagamaan. Apalagi para pengembang ilmu dan teknologi kebanyakan mereka yang non-muslim. Bagi bangsa Indonesia yang juga berarti bagi umat Islam, perkembangan ilmu dan teknologi juga menunjukkan permasalahan tesendiri, yaitu kenyataan ketinggalan dan sifat ketergantungan yang berkepanjangan tehadap dunia barat. Disamping itu, proses alih-iptek (transfer of science dan technology) yang kita lakukan berlangsung tanpa sandaran etis yang kuat, sehingga proses ahli-iptek tersebut kadang-kadang secara sadar atau tidak disertai pula alih-nilai (transfer of value) Barat, yang dalam beberapa hal bukan saja bertentangan dengan nilai-nilai budaya bangsa, terutama bertentangan dengan nilai-nilai Islam. Efek samping lain proses alih-iptek seperti disebutkan diatas juga tidak menjamin terpecahkannya secara memadai permasalahan utama yang dihadapi bangsa Indonesia sendiri, seperti : kemiskinan, defisiensi pendidikan, defisiensi gizi dan kesehatan, kelangkaan kesempatan kerja, dan sebagainya. Hal ini terjadi karena paket-paket teknologi yang ditransfer pada umumnya dirancang untuk menghadapi problematika kehidupan masyarakat maju dan sekularistik, yang berbeda dengan problema sosial budaya bangsa Indonesia dan umat Islam didalamnya.

Nuansa Kehidupan Islami 120

Pernik-Pernik Reformasi

Kenyataan tentang perkembangan ilmu dan teknologi diatas dapat menimbulkan dilema etis bangsa Indonesia, terutama kaum muslim dan cendekiawannya. Di satu sisi, bagaimanapun juga ilmu dan teknologi akan selau berkembang, karena perkembangannya sendiri adalah suatu sunatullah. Tanpa mengikuti dan menggunakan kemajuan ilmu dan teknologi, umat Islam akan terbelakang dan akan inferior dalam perkembangan budayanya. Di sisi lain, kemajuan yang dicapai oleh ilmu dan teknologi itu tanpa sandaran etis yang kuat akan dapat menjerumuskan uamt pada kehidupan yang materialistik. Ilmu dan teknologi, menurut pandangan Islam, mestinya dikembangkan dan diperuntukkan bagi pemenuhan fungsi-fungsi koderati manusia di atas. Bagaiman dengan ilmu dan teknologinya manusia mampu mengaktualisasikan dirinya menjadi makhluk yang termulia, menajdi wakil Allah dalam mengelola dunia, membudayakan manusia sesuai dengan ketinggian dengan martabatnya dihadapan Allah. Ilmu dan teknologi mestinya dimanfaatkan manusia untuk menunaikan tugas kerisalahannya dan menyingkatkan pengabdiannya terhadap sesama manusia sebagai manifestasi pengabdiannya kepada Al-Khalik. Dari uraian di atas, dapat diidentifikasi permasalahan yang dihadapi umat Islam Indonesia, khususnya kelompok cendekiawannya, dibidang ilmu dan teknologi sebagai berikut.

(1) Bagaimana uamt Islam dapat mendudukkan kembali fungsi ilmu dan teknologi sebagai sarana manusia untuk menunaikan fungsi-fungsi kodratinya sebagai hamba Allah? Dan bagaimana cendekiawan muslim mampu mengambangkan ilmu dan teknologi tanpa terjerumus pada pola berfikir materialistik dan sekularistik? (2) Bagaimanakah umat Islam mampu menguraikan ketinggalan dan ketergantungannya di bidang ilmu dan teknologi dari dunia barat? Dan bagaimana proses alih-ilmu dan alih-teknologi dapat berlangsung tanpa menimbulkan efek negatif alih-nilai dan budaya barat?

Nuansa Kehidupan Islami

121

Pernik-Pernik Reformasi

PERMASALAHAN MASYARAKAT UMAT ISLAM INDONESIA

1.

Aspek sosial-budaya

Salah satu persoalan pokok yang dihadapi umat Islam menjelang tahun 2000 ialah datangnya masyarakat industri yang mempunyai dampak dalam bidang sosial-budaya. Masyarakat industri cenderung untuk mengalami sekularisasi, yaitu pemisahan sektor-sektor sosial-budaya dari agama. Sekularisasi yang berpangkal dari faham sekularisme materialisme makin berkembang lebih cepat pada masyarakat indusri. Sekularisme cenderung untuk meniadakan peranan agama, sekalipun kemungkiana bahwa agama akan diberi tempat, atau diberi kotak, berupa spatialisai agama. Agama

Nuansa Kehidupan Islami 122

Pernik-Pernik Reformasi

diberi tempat untuk berperan secara khusus dalam bidang "Rohaniah", tetapi tidak diberi tempat berperan dalam masyarakat yang lain. Salah satu kekhawatiran terbesar umat Islam dan bangsa Indonesia seluruhnya sekarang dan dimasa yang akan datang ialah timbulnya masyarakat berkelas yang mengotakkan masyarakat kedalam kelas-kelas yang mempunyai kepentingan-kepentingan ekonomi yang berbeda dan saling bertentangan. Pada dasawarsa akhir ini kecenderungan ke arah pengkelasan masyarakat rupanya makin meningkat, sehingga umat Islam menjadi semakin berat: karena selain dari harus menghadapi pemudaran nilai-nilai agama, juga menghadapi fragmentasi sosial ke dalam kelas-kelas. Gejala ini akan membuat kebijakan perjuangan Islam menjadi bersifat ganda. Di satu pihak, umat Islam mempunyai tugas nasional untuk mencegah pengkelasan masyarakat yang diakibatkan oleh sistem politik yang pragmatis, di lain pihak, umat Islam ingin mencegah sekularisasi. Tugas ganda ini bertumpu pada keyakinan bahwa Islam sebagai agama dan pandangan hidup harus mencegah pengkelasan masyarakat yang sekularisasi kehidupan. Sementara itu dalam bidang budaya terjadi arus lain, yaitu derasnya kebangkitan nativisme yakni kepercayaan dan anutan-anutan yang dianggap dari nenek moyang yang diles-tarikan secara turun-temurun. Kebangkitan ini ternyata mempunyai kolerasi dengan proses sekularisai atau spatialisasi di atas. Sebenarnya spiritualisme pada gerakan nativisme bertentangan dengan materialisme masyarakat industri yang sekular. Akan tetapi pada kenyataannya terdapat hubungan kepentingan yang erat antara skularisme dan nativisme. Hal ini dapat terjadi karena gerakan nativisme menawarkan suatu spiritualisme yang sesuai dengan konsepsi spatialisme agama dari cita-cita sekular. Spiri- tualisme-nativisme sampai batas tertentu mempunyai raison d'etre, berhubung masyarakat industri selalu mempunyai kecenderungan alienasi yang diduganya dapat ditolong oleh spiritualisme yang merupakan terapi psikologis tehadap perasaan tidak aman warga masyarakat Industrial. Usaha yang perlu dijalankan untuk mengatasi gejala sekularisme dan segala nativisme dapat bersifat teoritik dan empirik. Untuk menghadapi sekularisme, secara teoritik Islam sudah mempunyai khasanah pustaka yang cukup luas, tinggal memasyarakatkannya. Dengan demikian garis besar upaya mencegah sekularismre ialah pengintregasian ilmu-ilmu secara teoritk dalam sistem keagamaan. Secara empirik, penanggulangan sekularisme adalah pengintregasian sistem

Nuansa Kehidupan Islami

123

Pernik-Pernik Reformasi

budaya dalam sistem sosial dengan ajaran agama. Tugas cendekiawan muslim, karena itu, menjadi sangat pen- ting dalam da'wah menghadapi sekularisme. Terhadap nativisme, Islam juga mempunyai kepustakaan yang panjang yang mengungkap ketinggian spiritualisme Islam, sehingga secara teoritik sebenarnya ajaran Islam dengan mudah dapat mengatasi persoalan spiritualisme itu. Demikian pula secara empirik, sifat-sifat paguyuban dari nativisme yang rindu pada masyarakat kecil, dan hubungan dekat, misalnya akan dapat dipenuhi. Dalam menghadapi sekularisme dan nativisme, persoalan yang tersulit adalah masalah kelembagaan. Selama ini sebenarnya umat Islam cukup mempunyai berbagai sumber daya, lembaga dan manusia selain sumber ideologis. Jadi, masalahnya ialah bagaimana memanfaatkan dan mengarahkan da'wah di bidang sosial-budaya. Untuk menahan sekularisme, organisasi profesi yang sekarang ada perlu dimanfaatkan. Forum-forum formal dan informal dapat digunakan untuk bermujadalah (berdialog) secara intelektual. Demikian juga media massa yang memadai akan menjelaskan secara teoritik permasalahan sosial-budaya dari sudut pandang integral Islami. Sementara itu lembaga-lembaga yang ada, dapat dimanfaatkan untuk menautkan agama dengan berbagai sektor kehidupan. Untuk itu, sejumlah pikiran utama mengenai bidang-bidang yang strategis harus sudah disiapkan, sehingga orang Islam yang tidak mempunyai akses ke dalam kelompok perjuangan Islampun dapat memetik ide tersebut. Untuk keperluan ini dibutuhkan lembaga-lembaga penelitian dan pengembangan yang mampu menampilkan ide-ide secara strategis untuk menawarkan alternatif-alternatif dalam menghadapi permasalahan modern. Untuk menghadapi nativisme sumber daya kelembagaan dan manusia sudah tersedia, persoalannya tinggal bagaimana mendekatkan para penganut nativisme pada lembaga-lembaga itu. Perlu diusahakan menghadapkan para penganut tarekat dan ahli-ahli tasawuf dengan penganut spiritualisme-nativisme, melalui saluran semacam sarasehan atau pertemuan tatap muka. Pertemuan personal akan lebih menghadapi bagi para penganut nativisme, sebab kebanyakan mereka hidup dalam lingkungan tertutup dan jauh dari sumber bacaan. Mereka lebih percaya pada hubungan personal daripada hubungan imporsonal melalui bacaan. Pada dasarnya nativisme timbul dari kepercayaan dari apa yang dikenal sebagai "warisan nenek moyang" dan kesederhanaan berfikir, dan bukan dari sifat-sifat tercela yang membuat mereka jauh dario cahaya

Nuansa Kehidupan Islami 124

Pernik-Pernik Reformasi

ilahi. Tidak semua warisan nenek moyang itu perlu ditinggalkan, selam tidak betentangan dengan aqidah Islamiyah. Warisan nenek moyang seperti itu dapat saja dilestarikan. Bahkan dapat dikembangkan secara baik-baik dengan jiwa baru, yakni jiwa Islam. Persoalan sekularisme dan nativisme menjadi makin kompleks karena kerjasama antara dua kekuatan sosial-budaya. Kerjasama ini terjadi karena mereka mempunyai kepentingan yang sama. Keuntungan politik yang diperoleh nativisme selama ini mempunyai latar belakang sosial dan sejarah. Nativisme kebanyakan didukung oleh kebanyakan keturunan para priyayi (aristokrat) yang kemudian menjadi birokrat, yang secara historis pernah mempunyai jarak dengan budaya Islam. Karena jarak sosial antara priyayi dan santri makin dekat, maka dapat diharapkan bahwa perkembangan sejarah sendiri akan cenderung untuk menyusutkan dukungan priyayi birokrat kepada nativisme. Proses yang natural ini akan terjadi sesudah masa generasi yang sekarang berada dalam birokrasi itu berakhir. Proses sejarah ini bisa dipercepat dengan da'wah yang lebih intensif. Gerakan-gerakan kebudayaan yang menuju ke arah ini patut dikembangkan, sekalipun tidak mempunyai hubungan langsung dengan da'wah.

2. Aspek pendidikan

Latar belakang dan landasan pemikiran

Umat Islam adalah kelompok masyarakat yang beriman kepada Allah swt, kodrat dan iradat-Nya. Seluruh kehidupan umat Islam semestinya dikembangkan secara kreatif, baik oleh masing-masing individu (fardhu 'ain) maupun oleh eksponen-eksponen masyarakat (fardhu kifayah), berdasarkan dan sesuai dengan hukum Allah, yang tertuang secara tertulis dalam syariah, kauniah, maupun sejarah. Oleh karena itu, sgala ungkapan kegiatan perilaku budaya umat Islam seyogianya merujuk pada sistem ide dan pola fikir yag lepas landas dari nilai Islami yang universal. Semua ekspresi bihavioral dan verbal seorang muslim adalah manifestasi dan realisasi ibadah demi tercapainya kemuliaan dan keridhaan Allah semata. Umat Islam Indonesia sebagai masyarakat yang berbu-

Nuansa Kehidupan Islami

125

Pernik-Pernik Reformasi

daya telah mengalami proses pencarian, penemuan, pengembangan dan peningkatan norma-norma yang merupakan landasan bagi terbentuknya budaya bangsa Indonesia. Ilmu, teknologi dan ekspresi kemanusiaan adalah pengembangannya, disamping komponen budaya lain, yang tidak mungkin dilepaskan dari nilai kebenaran agama yang hakiki. Adalah menjadi kewajiban generasi sekarang untuk meneruskan kapada generasi pelanjut baik sebagai informasi, ilmu, atau teknologi, namun sebagai pedoman untuk pengembangan peradaban yang lebih tinggi yang bercorak Islam, yang secara intrinsik merupakan rahmat bagi seluruh umat, bangsa, dan alam semesta. keragaman norma dan perilaku budaya umat merupakan khazanah bagi terbentuknya budaya umat yang Islami. Oleh karena itu, pengembangan umat adalah sebagai usaha, optimasi kapasitas (baik kuantitatif maupun kualitatif) individu anggota umat yang mampu melaksanakan iman, Islam, dan ikhsan. Dengan ungkapan lain, ialah individu yang mampu melaksanakan ibadah dalam arti kata yang seluas-luasnya. Manusia adalah makhluk ciptaan Allah dengan sifat-sifat dan karakter fisik dan psikisnya yang tunduk kepada hukum syari'ah, hukum Allah dan hukum sejarah yang merupakan hukum Allah. Karena itulah, Allah swt menyediakan wahyu dan alam semesta sebagai petunjuk, pedoman dan sarana bagi kehidupan. Derajat kemuliaan manusia brgantung pada tinggi rendahnya iman dan ilmunya, yang direalisasikan dalam perilaku ibadah dan budayanya (amal shaleh). Hajat hidup umat Islam akan kesejahteraan lahir dan bathin (fisik, moral dan spiritual) menuntut umat untuk menggali, memelihara, mengembangkan, melestarikan potensi dan kemahiran riel dirinya agar dapt menggunakan sumber-sumber alam sebagai sarana hidup dan penghidupan (budaya, peradaban), sehemat mungkin dan manfaat seluas mungkin. Penemuan dan pengembangan ilmu, teknologi da ekspresi kemanusiaan (humanitas) hanya mungkin dicapai dengan mengembangkan ketajaman rasa, akal, dan rohani. Oleh karena itu, filsafat, struktur dan metoda keilmuwan hendaknya konsisten sistem nilai dimaksud dan relevan dengan kemungkinan perkembangan teknologinya. Diantara jarak untuk merealisasikan perwujudan hamba Allah yang berkeseimbangan (ummatan wasatha) tersebut, perlu dirumuskan kebijakan pendidikan umat yang mampu membentuk, mengembangkan dan melaksanakan penghayatan nilai dan norma, pengenalan akan potensi diri, pemanfaatan sumber-sumber agama, alam dan sejarah serta pengamalan kemampuan dan keterampilannya untuk mencapai

Nuansa Kehidupan Islami 126

Pernik-Pernik Reformasi

kesejahteraan dan peningkatan peradaban yang Islami.

Modal dan pendidikan

permasalahan

umat

Islam

di

bidang

Salah satu modal yang dimiliki umat Islam Indonesia di bidang pendidikan kesadaran dan keyakinan umat akan dienul Islam sebagai materi program pendidikan dan sebagai sumber nilai. Demikian pula kesadaran tentang alam dengan segala hukumya termasuk diri manusia, sebagai sumber ilmu dan teknologi. Umat Islam Indonesia juga mempunyai tradisi keilmuan dan lembaga-lembaga pendidikan, seperti: pesantren, madrasah, sekolah-sekolah Islam, masjid, usroh, lembaga pengajian, dan keluarga muslim sebagi tempat kegiatan pendidik-an berprogram dan berproses. Di samping itu, umat Islam Indonesia juga berhubungan dengan memanfaatkan lembaga-lembaga Islam internasional di bidang keilmuan dan tekno- logi. Sejumlah cendekiawan muslim Indonesia telah berkomunikasi dengan cendekiawan muslim dunia. Sungguhpun umat Islam Indonesia mempunyai potensi dan kegiatan pendidikan yang cukup luas, namun dirasakan pula adanya berbagai permasalahan, yang secara langsung maupun tidak langsung merupakan penghambat tercapainya tujuan pendidikan itu sendiri. Permasalahan tersebut meliputi: (a) masalah pendekatan, (b) masalah kelembagaan, (c) perangkat keras, (d) perangkat halus, dan (e) masalah pola pengembangan. Masalah yang menyangkut (a) aspek pendekatan, antara lain meliputi: (1) Dalam proses pendidikan, agama cenderung dipelajari secara juridis-teoritik, sehingga agama lebih sebagai "ilmu" daripada sebagai tuntunan atau pandangan hidup yang membuahkan pemikiran dan perilaku serta akhlak yang Islami; (2) ILmu agama tidak berkembang, dan sejalan dengan itu para ahli di bidang itupun makin menyusut, baik mengenai jumlah maupun mutunya; (3) Pandangan sebagian besar umat Islam terhadap agamanya masih bersifat dikotomik atau sekularistik. Agama akan dianggap mengatur masalah-masalah keakhiratan saja, sedang masalah dunia tidak diatur oleh agama, tetapi oleh yang lain dari agama. Masalah yang menyangkut (b) aspek kelembagaan,

Nuansa Kehidupan Islami

127

Pernik-Pernik Reformasi

antara lain meliputi: (1) Lembaga pendidikan pesantren cenderung bersifat tradisional dan merupakan milik pribadi. Sementara kerjasama antar pesantren tidak efektif, dan kontaminasi pihak luar makin nyata; (2) Banyak lembaga pendidikan madrasah dan sekolah Islam yang menghadapi masalah kemandirian karena kepemimpinannya ditetapkan oleh pihak pemberi subsidi, sedang Yayasan pendukung tidak dibenarkan menginduk pada lembaga/organisasi pusatnya; (3) Masjid, usroh dan lembaga pengajian lain tidak mempunyai program yang utuh serta terencana sebagai lembaga pendidikan umat dan cenderung bersifat sporadik dan simplistik. Karena sifat "non-institutionalnya", maka proses pendidikan di lembaga-lembaga tersebut lebih bersifat individual daripada umatik behavioral. Permasalahan yang menyangkut (c) perangkat halus, antara lain: (1) Tujuan pendidikan kebanyakan terlalu umum, sehingga tidak dapat diukur; (2) Kurikulum lebih bersifat diferensial, nonintegratif, elitis, berorientasi dan "paket non komposit"; (3) Sistem evaluasi tidak jelas, bersifat "seleksi alamiah" atau sebaliknya bersifat paradigmatik (menuju pada ketentuan), dan bersifat mekanistik; (4) Khusus untuk pesantren kurikulum bersifat statis, sementara untuk sekolah Islam dan madrasah kurikulumya bergesar ke arah ilmu-ilmu "sekuler". Permasalahan yang menyangkut (d) perangkat keras pendidikan, terutama berupa: alat-alat bantu pelajaran yang amat minim, kepustakaan yang amat terbatas, sarana pem bangunan dan pembiayaan yang sangat terbatas. Permasalahan yang menyangkut (e) pola pembangunan pendidikan ialah tidak hanya "pola ilmiah pokok" dan tolok ukur yang baku. 3. Aspek Kejamaahan dan Ukhuwah

Pentingnya organisasi sebagai alat perjuangan telah dibuktikan kesahihannya oleh lintasan sejarah perjuangan bangsa Indonesia, yang diwarnai terutama oleh pergerakan organisasi kemasyarakatan, baik dibidang politik maupun dibidang non-politik. Hal ini nyata terlihat baik pada periode pra kemerdekaan maupun pada era pasca kemerdekaan. Demikian pula halnya dengan perjuangan umat Islam di Indonesia, peranan organisasi Islam baik dalam bentuk formal maupun dalam ikatan jamaah yang lain adalah besar. Sebagai alat perjuangan, organisasi Islan

Nuansa Kehidupan Islami 128

Pernik-Pernik Reformasi

setidak-tidaknya memenuhi satu atau lebih peran berikut : (1) sebagai pengikat umat menjadi jamaah yang lebih kuat, sehingga merupakan kekuatan sosial yang efektif; (2) sebagai media pengembangan dan pemasyarakatan budaya Islami; (3) sebagai media pendidikan dan pembinaan umat atau anggotanya untuk mencapai derajat pribadi taqwa; (4) sebagai alat untuk merencanakan dan melaksanakan kegiatan da'wah islamiah; (5) sebagai media untuk pengembangan minat mengenai aspek kehidupan tertentu (ekonomi misalnya) dalam rangka mengembangkan tujuan kemasyarakatan yang adil dan sejahtera. Secara umum, organisasi atau institusi jamaah Islam di Indonesia dapat dikelompokkan ke dalam dua bagian besar, yaitu organisasi formal dan organisasi non-formal. Organisasi formal ialah yang jelas strukturasinya, eksistensi formalnya atau statusnya diakui baik oleh kalangan luar maupun oleh kalangan dalam. Dikelompok organisasi ini, berdasarkan kegiatan utama dan himpunan anggotanya, dapat dikelompok-kelompokkan lagi menjadi yang berciri vertikal atau horisontal, integral atau sektoral. Ciri vertikal berarti bahwa dalam strukturisasinya ada garis administrasi dan komando dari pimpinan tertinggi sampai ke pimpinan terendah dan anggota. Sebaliknya ciri horisontal berkaitan dengan sifat kesejajaran antar unit satu dengan unit lain dalam struktur organisasinya. Ciri integral berkaitan dengan kegiatan organisasi yang meliputi banyak aspek kehidupan manusia. Organisasi yang integral ini pad umumnya mempunyai ciri keanggotaan yang majemuk dari segi usia dan jenis kelamin. Sebaliknya, organisasi yang berciri sektoral berarti bahwa kegiatan organisasi itu hanya menyangkut satu aspek kehidupan saja atau aspek kehidupan yang berhubungan dengan periode umur tertentu saja. Sebagai contoh dapat disebut organisasi yang berciri vertikal-integral : Muhammadiyah, Nahdatul Ulama, dan sebagainya.; vertikal-sektoral : HMI, PII, Wanita Islam, dan sebagainya.; horisontal-integral : Majelis Ulama; horisontal-sektoral: HSBI. Ciri organisasi ini berkaitan erat dengan keluasan perannya dalam perjuangan, seperti dikemukakan diatas. Organisasi non-formal ialah ikatan jamaah yang mempunyai ciri-ciri : (1) ikatan anggota dengan organisasi bersifat tidak formal. Ikatan itu hanya karena ide atau kegiatan saja; (2) kepemimpinannya bersifat fungsional; (3) Jamaahnya bersifat trbuka, heterogen dan non-afiliatif. Sebagaimana organisasi formal, organisasi non-formal

Nuansa Kehidupan Islami

129

Pernik-Pernik Reformasi

juga mempunyai beberapa ciri, yaitu ciri sektoral atau teritorial. Ciri teritorial berkaitan dengan orientasi kegiatan suatu kawasan atau daerah tertentu. Organisasi non-formal Islam ada yang bersifat eksplisit sebagai jamaah Islam, seperti (a) jamaah masjid, (b) jamaah kampus, (c) jamaah pengajian. Dikenal pula organisasi non-formal yang tidak secara eksplisit sebagai jamaah Islam, tetapi kegiatannya Islami. Sebagai contoh dapat disebut misalnya : kegiatan sosial ekonomi (arisan, koperasi, paguyuban), kegiatan budaya dan seni, dan sebagainya. Salah satu bentuk lembaga kejamaahan non formal yang khas Indonesia ialah pesantren. Pesantren, di samping kedudukannya sebagai lembaga pendidikan juga merupakan lembaga kejamaahan. Hal ini karena pesantren mempunyai kemampuan mengikat santrinya dan sekaigus juga mempunyai ikatan dengan umat atau masyrakat pada tingkat "grassroot" (lapisan bawah). Ikatan ini sifatnya lebih kuat, bahkan sering melebihi ikatan pada organisasi formal yang ada. Kalau jamaah kampus merupakan ikatan jamaah pada tingkat 'elitis intelektual', jama'ah pesantren mampu mengikat umat pada tingkat 'populis-awami'. Kondisi jamaah Islam di Indonesia dan kecenderungan perkembangannya secara garis besar dapat dilukiskan sebagai berikut. Dengan melakukan kajian banding dari saat ke saat lain dan dengan menggunakan tolok ukur keterpenuhannya peran organisasi dalam perjuangan dengan kegiatan-kegiatannya, terlihat bahwa sebagian besar organisasi formal yang mengalami penurunan efektivitas perannya merupakan suatu "erosi fungsional". Hal ini terjadi baik karena faktor-faktor internal organisasi sendiri (unsur kepemimpinan terutama), faktor-faktor internal umat Islam (menurunnya ukhuwah), maupun karena faktor eksternal (terutama akibat perekayasaan sosial). Kecendrungan sifat ketergantungan dan "hanyut arus" lebih menonjol lagi, terutama dalam dua dasawarsa terakhir ini. Organisasi-organisasi formal yang tergolong besar kadang-kadang menunjukkan sifat eksklusifistiknya yang primordial dan karena latar belakang inferioritasnya, amat mngganggu ukhuwah antar jamaah organisasi Islam, bahkan menumbuhkan keadaan desintegrasi. Organisasi formal islam yang kecil, yang menunjukkan sifat keperjuangan Islam yang demokratif dan partisipatorik, juga tidak terlepas dari sifat eksklusifisme di atas. Organisasi yang kadang-kadang di pandang lebih dari sekedar alat oleh para pemimpin atau aktifismenya. sementara ukhuwah antar jemaah baru

Nuansa Kehidupan Islami 130

Pernik-Pernik Reformasi

benar-benar terjadi apabila muncul persoalan yang dianggap amat kritikal (kasus UU Perkawinan, UU Peradilan Agama, dsbnya). Keadaan di atas akan berkembang lebih parah lagi dengan munculnya sementara pemimpin organisasi yang mempunyai pretensi lain, yang tidak segan mengorbankan hal yang lebih fundamental untuk memperoleh pemenuhan interes pribadi. Di sisi lain, terjadi hambatan dalam estafetta kepemimpinan. Pemimpin yang lebih muda dalam usia , umumnya merasa belum siap melanjutkan estafetta kepemimpinan generasi tua, baik karena alasan intern, seperti kemampuan maupun karena pemahaman agama yang terbatas. Selain itu ada juga hambatan ekstern, seperti, misalnya situasi sosial politik yang tidak kondusif. Keadaan organisasi Islam non-formal, secara singkat dapat dilukiskan sebagai berikut. Jamaah mesjid umpamanya bersifat amat heterogen, karena terdiri dari (campuran tua-mudi), awam-intelektual, dstnya), paternalistik. Karena itu ikatannya lebih longgar. Pada mesjid-mesjid kota, peranan generasi muda lebih dominan sebagai aktivis. Jemaah kampus lebih homogen terutama kalau dilihat dari ciri kemudaan dan keintelektualannya. Sifatnya lebih mandiri, loyalitasnya lebih pada ide (walaupun mereka mengenal "tokoh ideal"), ikatannya lebih kokoh dan mobilitasnya lebih tinggi. Jamaah pengajian lebih bervariasi. Walaupun lebih banyak generasi tuanya, ikatannya lebih longgar, paternalistik. Karena itu mobilitasnya lebih rendah. Jamaah yang tidak jelas Islamnya mempunyai karakteristik yang amat bervariasi tergantung pada bentuk ikatannya. Jamaah pesantren, karena lebih bersifat "milik pribadi", pengelolaannya bersifat tertutup. Bentuk komunikasi antar lembaga kejamaahannya amat terbatas. Hubungan antar pesantren, lebih bersifat hubungan darah daripada hubungan ide. Di sisi lain, dikalangan jamaah/pesantren terlihat kelambanan tumbuhnya kepemimpinan baru, sehingga meninggalnya pemimpin tua sering diikuti dengan menyuramnya suatu pesantren. Ini sering diikuti oleh renggangnya hubungan hubungan antar pesantren yang ada. Beberapa masalah yang harus dihadapi dan harus dipecahkan untuk lebih mengefektifkan organisasi atau ikatan jamaah non-formal ini, sehingga benar-benar dapat menjadi alat perjuangan ialah masalah komunikasi, pembinaan kaderisasi kepemimpinan.

Nuansa Kehidupan Islami

131

Pernik-Pernik Reformasi

Bentuk ikatan jamaah non-formal lain, seperti kelembagaan profesi, kelembagaan seni, masih kurang mendapat umat Islam. Dari gambaran tentang kondisi dan kecenderungan orga nisasi Islam di atas dapat diidentifikasi permasalahana di bidang pembinaan jamaah sebagai berikut : (1) Bagaimana caranya agar ukhuwah antar organisasi Islam dapat berjalan lebih baik lagi dari keadaan sekarang. Bila selama ini ukhuwah itu diartikan secara statis saja, yaitu lebih dikaitkan dengan status, maka kini dan dimasa yang akan datang bagaimanakah cara mengem bangkannya sehingga menjadi fungsioanal ? (2) Bagaimana melakukan refungsionalisasi organisasi (formal) sehingga benar-benar dapat diandalkan sebagai alat perjuangan ? (3) Bagaimana mengembangkan sistem komunikasi dan koordinasi antar organisasi Islam non-formal ? agaimana pula meningkatkan pola pembinaan dan kaderisasi pimpinan organisasi non-formal itu ?

V. Aspek Politik

Pada hakekatnya politik adalah seni mengatur masyarakat. Kehidupan politik selalu ditandai dengan konflik kepentingan antara kelompok-lelompok dalam masyarakat, yang berusaha untuk merealisasikan gagasan-gagasan ideologinya menjadi realitas sosial yang iedal menurut wawasan masing-masing. Kepentingan yang dimaksud dapat bersifat politis, ekonomis, kultural, maupun ideologis. Dengan demikian, merupakan hal yang wajar bila perjuangan untuk memperoleh kekuasaan merupakan fenoma politik yang paling menonjol dalam masyarakat. Oleh karena dengan porsi kekuasaan yang dapat diperoleh, tiap kekuatan sosial akan menerjemahkan cita-cita menjadi kenyataan konkrit. Dengan kata lain setiap kelompok sosial-politik, lewat kekuasaan, berusaha untuk melakukan alokasi otoritatif nilai-nilai yang diyakininya.

Nuansa Kehidupan Islami 132

Pernik-Pernik Reformasi

Bila diperhatikan, perjuangan politik umat Islam di Indonesia terlihat bahwa peranan politik Islam mengalami penurunan yang konstan, baik sebagai akibat kelemahan-kelemahan internal dalam tubuh umat maupun karena perekayasaan politik yang datang dari luar. Perekayasaan politik yang melumpuhkan peranan politik rakyat dan umat Islam khususnya terasa amat efektif sejak beberapa dasawarsa terakhir. Nampaknya proses pembangunan yang sangat berorientasi pada aspek ekonomi dan sangat pragmatik, secara langsung maupun tidak langsung, telah berpengaruh pada proses penumpulan pandangan ideologis masyarakat Indonesia. Proses modernisasi yang dibarengai dengan industrialisasi, urbanisasi, sekularisasi, dan masuknya MNC/TNC secara besar-besaran dengan segala dampak sosio-politiknya, telah menyebabkan makin cairnya pandangan ideologis umat/bangsa. Banyak daerah di Indonesia, yang pada zaman demokrasi parlementer didominasi oleh kekuatan politik Islam (seperti misalnya : Sumbar, Jabar, Sulsel, dan Kalsel) kini telah diwarnai oleh kekuatan politik lain. Secara sangat singkat kemorosotan perang poitik Islam dalam sejarah Indonesia dapat dilukiskan sepeti berikut. Dalam era 1949-1959 peranan politik Islam masih mempu- nyai bobot kekuasaan yang menentukan. Kehidupan politik yang ditandai dengan persaingan bebas antar parpol dimasa itu menghasilkan secara demokratik golongan-golongan yang dapat mewakili aspirasi umat. Masyumi, NU, PSII, dan Perti mengumpulkan sekitar 45 % suara dalam dua kali pemilu,, baik untuk menyusun DPR maupun Konstituante. Terbukti bahwa salam kehidupan politik yang demokratik umat Islam dapat mengambil peranan politik secara representatif. Dalam era 1959-1965 peranan politik tersebut terdesak kepinggir. Demokrasi Terpimpin Soekarno menggeser kekuatan poliik Islam, antara lain dengan pembubaran Masyumi, sehingga arena politik Indonesia menjadi medan adu kekuatan antara PKI yang telah berhasil melakukan infiltrasi cukup jauh ke dalam tubuh PNI (PNI-kiri) dan menguasai Front Nasional disatu pihak, dan TNI-AD dilain pihak. Soekarno sendiri berusaha menjadi penyeimbang dalam adu kekuatan politik tersebut, sampai terjadi peralihan dalam perimbangan kekuatan itu dengan terjadinya G-30-S/PKI. Dalam era "Orde Baru" peran politik Islam menjadi makin lemah. Dengan makin kuatnya kooperatisme, umat Islam dan sektor sipil pada umumnya tidak lagi mempunyai peranan

Nuansa Kehidupan Islami

133

Pernik-Pernik Reformasi

dalam proses pengambilan keputusan di Indonesia. Dewasa ini semakin jelas kekuasaan hampir secara penuh dipegang oleh golo- ngan birokrat baik sipil maupun militer, terutama melalui Golkar. Dua partai lainnya hanya berfungsi sejauh tidak menggangu sistem yang telah diciptakan. Beberapa ciri utama Orba dapat dilukiskan sebagai berikut. Pertama, bureaucratic-military complex. Peranan militer sudah melimpah diberbagai bidang, terutama dibidang politik dan birokrasi. Jabatan-jabatan, sejak dari bupati sampai gubernur dan sel-sel birokrasi penting telah diisi oleh militer. Kedua, state capitalism. Kekuasaan negara dibidang ekonomi adalah besar, namun kendatipun sumber-sumber kekayaan nasional dikuasai oleh negara, tetapi arah pengelolaan perekonomian Indonesia telah banyak menyimpang dari pasal 33 UUD 1945. Disamping itu, sektor swasta sangat kentara dimonopoli oleh pemilik-pemilik modal kuat dengan elite politik sebagai pelindungnya. Ketiga, full-grown sekularism. UU no 3 dan no 8 tahun 1985 oleh sementara pihak telah dijadikan sebagai landasan hukum bagi pengembangan sekularisme penuh. Tidak saja Golkar dan Parpol, melainkan juga seluruh organisasi massa, termasuk organisasi-organisasi keagamaan yang harus berazaskan tunggal Pancasila. Bahwa organisasi agama juga tidak dipearbolehkan berazaskan agamanya menunjukkan bahwa para penentu proses sosial secara sadar atau tidak telah bertekad memasuki full-geown sekularism. Keempat, terlihat kecenderungan totalitarianisme terselubung. Penguasa tidak saja mengontrol, mengarahkan dan "membina" salah satu dimensi kehidupan rakyat Indonesia, yaitu kehidupan politiknya, akan tetapi mengawasi, mengarahkan, dan membina hampir seluruh dimensi kehidupan, lewat UU nomor 3 dan nomor 8 di atas. Kelima, dalam bidang agama di tingkat massa rakyat dan jabatan-jabatan strategis di berbagai Departemen dan Pemerintah Daerah terasa dominasi golongan minoritas tertentu yang mengganggu rasa keadilan masyarakat luas. Keenam, usaha deislamisasi. Kekuatan-kekuatan Islamofobia untuk melumpuhkan Islam pada dasarnya menggunakan be-berapa cara, antara lain : intensifikasi pelaksanaan pola pengucilan golongan umat yang berfikir mandiri (independen), mendorong kecenderungan dalam masyarakat kearah nativisme yang serba akomodatif dan memukul kekuatan ekonomi umat atau setidak-tidaknya mendorong proses gulung

Nuansa Kehidupan Islami 134

Pernik-Pernik Reformasi

tikarnya kekuatan golongan ekonomi umat/lemah. Ketujuh, Pendekatan-pendekatan security terasa sangat menonjol, sehingga rasa tanggung jawab dan partisipasi masyarakat menjadi terhambat. Beberapa catatan khusus mengenai peranan militer dalam percaturan politik dan ekonomi Indonesia, dapat di ungkapkan sebagai berikut. Pemerintah Orde Baru sejak awal mempunyai dua tujuan sentral yang tidak dapat dipisahkan satu dari yang lain, yaitu "pembangunan ekonomi" dan "stabilitas politik". Tujuan ganda ini merupakan tujuan antara untuk memantapkan kepercayaan rakyat terhadap aktivitas sosial militer di dalam penyelenggaraan bernegara, suatu legitimasi peran sosial-politik militer. Aspek pencapaian dan pemeliharaan stabilitas politik dilaksanakan dengan realisasi pengendalian aktivitas politik secara ketat dan tersentralisasi, melakukan kristalisasi dalam tubuh militer dan kelompok sipil, serta menggunakan segala aparatur pemerintah secara maksimal. Hal yang terakhir ini sebenarnya merupakan lembaga yang digunakan untuk memantapkan stabilitas politik dan sekaligus menjadi lembaga pokok untuk mempercepat proses pelaksanaan program-program pembangunan. Beberapa indikasi dari perwujudan strategi pemerintah Orde Baru misalnya terlihat dari hal-hal sebagai berikut: (1) peningkatan terus-menerus pertumbuhan ekonomi sebagai manifestasi program integral dibadang ekonomi: (2). Mitosisasi pembangunan: (3). Peraturam yang longgar untuk pengadaan dana penbangunan dan kapital untuk kegiatan ekonomi, terutama investasi asing: (4). Pemantapan mekanisme kerja dan peningkatan status birokrasi secara khusus dalam masyarakat: (5). Penataan lembaga-lembaga pemerintah dan lenbaga-lembaga sosial politik secara tegar: (5). Mobilisasi segala kekuatan dalam masyarakat untuk melakukan partisipasi perlaksanan program pembangunan. Beberapa isue politik yang berkaitan dengan peranan militer di bidang politik, yang perlu mendapat perhatian dalam perkembangannya, ialah: (1). Regenerasi dalam tubuh ABRI: (2). Dinamika pemikiran di kalangan militer tentang peranan sosial-politik militer, baik secara institusional maupun secara individual : (3). Program modernisasi ABRI, baik di bidang personil, persenjataan, maupun organisasi: (4) Dimensi populis ABRI, seperti: Babinsa, AMD, dan aspek- aspek

Nuansa Kehidupan Islami

135

Pernik-Pernik Reformasi

pendukung sistem hamkamrata.

IV.

ASPEK EKONOMI

Aspek hidup ekonomi seseorang atau suatu masyrakat tidak terlepas dari aspek hidup yang lain. Dengan demikian, usaha memperbaiki kehidupan ekonomi, disamping mempertimbangkan faktor-faktor ekonomi, juga tidak kalah pentingnya dengan faktor - faktor non - okonomi. Usaha perbaikan ekonomi dalam masyarakat liberal lebih ditujukan untuk memperbaiki proses kegiatan ekonomi itu sendiri, yaitu siklus produksi - distribusi - konsumsi, yang ditekan terutama pada teknis ekonomis. Sebaliknya, pada sistim ekonomi sosialis perbaikan lebih diarahkan pada masyarakat di mana kegiatan ekonomi berlangsung.Namun demikian-pengertian masyarakat di sini adalah pengertian kesatuan kolektif komunitas, sehingga harkat manusia sebagai individu kerap kali dilupakan dan dikorbankan. Dua pendekatan pengembangan tersebut menghasilkan pola perkembangan yang berbeda. Ekonomi liberal atau kapitalstik, yang berorentasi pada komponen modal/pengusaha, mampu menghasilkan perkembangan ekonomi yang relatif cepat tetapi disertai dengan ketidakadilan ekonomi. Sebaliknya, sistim ekonomi sosialis secara teoritik mampu melahirkan aspek keadilan ekonomi, tetapi perkembangan tekah menempatkan elite penguasa sebagai pendominasi perencanaan, pelaksanaan dan penikmatan hasil - hasil ekomomi. Tujuan - tujuan ekonomi yang ingin dicapai oleh setiap bangsa pada prinsipnya sama, yaitu: (a). mewujudkan perkembangan ekonomi: (b). keadilan ekonomi dalam semua tahapan kegiatannya, produksi, distribusi , dan konsumsi: dan (c) yang sebenarnya merupakan tujuan antara atau pendukung bagi tercapainya dua tujuan tersebut ialah stabilitas ekonomi, baik, baik stabilitas kesempatan kerja, stabilitas harga, maupun keamanan ekonomi, tyermasuk jaminan hidup warga masyarakat dihari tua. Tujuan - tujuan ekonomi ini dalam prktek sukar dicapai secara bersamaan. Hingga saat ini belum ada konsep teoritik yang mantap untuk dapat mengembangkan ekonomi ekonomi atau bangsa yang secara berimbang mencapai tingkat pertumbuhan yang cepat sekaligus dengan tingkat keadilan ekonominya.

Nuansa Kehidupan Islami 136

Pernik-Pernik Reformasi

Dari sisi lain, kalau kemerosotan ekonomi suatu masyarakat atau bangsa terjadi,baik berupa tingkat inflasi yang tinggi maupun rusaknya sektor produksi pertanian akibat bencana alam, ataupun karena sebab lain, biasanya yang paling dahulu merasakan akibatnya dan yang paling parah keadaanya adalah masyarakat lapisan bawah, yang miskin dan lemah. Ini terjadi baik di negara sosialis. Di negara kapitalis, karena modal begitu dominan posisinya, maka kelompok yang bermodal tidak mampu melakukan kegiatan okonomi secara bebas. Di negara sosialis, yang umumnya pemerintahannya bersifat otoiter, masyarakat miskin tidak dapat bertindak sebagai subjek yang menentukan, melainkan menjadi objek pelaksana kegiatan ekonomi. Islam yang berdasarkan diri pada prinsip persamaan kedudukan,prinsif keadilan tuntutan jaminan sosial yang jelas, prinsip perimbangan antara hak dan kewajiban,serta tuntutan hidup tolong menolong, memungkinkan dikurangi penderitaankaum lemah dalam menghadapi goncangan ekonomi. Dengan mengembangkan sikap kebersamaan dalam menikmati keuntungan dan menaggung kerugian (profit sharing dan risk sharing) dalam berbagai kegiatan ekonomi,baik dalam fungsinya sebagai produsen, distributor, maupun sebagai konsumen, keserasian hubungan antara unit-unit ekonomi dalam masyarakat dapat dijamin. Dari sisi lain, dapat dilihat bahwa kalau sistem ekonomi kapitalistik lebih "berpihak" pada pemilik modal (pengusaha), sementara sistem ekonomi sosialistik lebih "berpihak" pada buruh, tidak mungkinkah "sistem ekonomi yang Islami" mempunyai potensi untuk menyeimbangkan pemihakantersebut bukan saja pada pengusaha dan buruh, tetapi terutama uga pada konsumen? Jawaban-jawaban filositik teoritik mungkin pernah dilontarkan dan cukup meyakinkan kebenarannya. Namun, secara operasional empirik perlu pengembangan lebih lanjut. Kondisi perekonomian Indonesia, setelah periode menikmati manisnya minyak bumi mendekati penghujungnya, mulai menghadapi permasalahan yang cukup serius karena sumber utama devisa negara tersebut makin menyusut jumlahnya. Di sisi lain, upaya mwendapatkan devisa non-minyak belum menunjukkan hasil yang memuaskan. Sementara itu, kegiatan perekonomian di dalam negeri sendiri makin terasa lesu, baik karena pengaruh resesi dunia maupun sebagai akibat faktor-faktor internal sendiri. Kecenderungan yang demikian itu, menyebabkan sebagian pengamat pesimistik memandang perkembangan ekonomi Indonesia.

Nuansa Kehidupan Islami

137

Pernik-Pernik Reformasi

Walaupun problema-problema yang mengakibatkan lambannya perkembangan ekonomi dapat berbeda antara satu negara dengan negara lain, tetapi kesamaan umum tetap ada yaitu bahwa di dalamnya terkait variabel-variabel ekonomis maupun non-ekonomis. Kedua variabel pokok ini harus dilihat baik melalui pendekatan statis maupun pendekatan dinamis, sehingga dapat melahirkan pemahaman yang menyeluruh dan terpadu. Setidak-tidaknya ada lima permasalahan pokok yang dihadapi perekonomian Indonesia yaitu: masalah modal, masalah tenaga kerja, kejujuran pelaku kegiatan ekonomi. Dua permasalahan yang terakhir termasuk problema non-ekonomis. Masalah permodalan. Masalah permodalan menyangkut keterbatasan sumber modal baik dari dalam maupun dari luar negeri. Selain dari itu, daya serap investasipun terbatas juga karena sempitnya pasaran hasil produksi, baikunuk ekspor maupun [asaran dalam negeri. Permasalahan ini diperberat lagi dengan efisiensi pemanfaatan modal yang rendah dan arah investasi yang kerap kali tidak disertai dengan perencanaan yang matang. Akibatnya, angka cor (capital out put ratio) tinggi dan matarantai pengaruh ke muka dan ke belakang kecil, backward and foreward linkage terbatas. Masalah ketenagakerjaan. Melihat fenomena ketenagakerjaan di Indonesia, terdapat semacam paradoksal, yakni di atu fihak pengangguran makin membengkak tetapi di fihak lain dirasakan kebutuhan akan tebnaga kerja tertentu, terutama tenaga ahli dan menengah. Hal ini terjadi karena jumlah tenaga kerja kasar dan tidak terlatih (non-profesional) amat banyak, sebaliknya tenaga ahli dan terlatih amat terbatas, kecuali untuk bidang tertentu. Kerawanan tenagakerja ini makin diperberat dengan dua hal, yaitu : (1) meningkatnya perkembangan sektor-sektor ekonomi dengan teknologi tinggi (yang sebenarnya dapat dicapai dengan teknologi yang lebih rendah), dan (2) sikap angkatan kerja yang statis, etos kerjayang rendah, dan langkanya motive\asi wiraswasta. Masalah keadilan ekonomi. Sekalipun peranan pemerintah dalam bidang ekonomi, terutama sejak 1967, cukup dominan, tetapi kebebasan bersaing sektor swasta makin tajam. Di satu fihak, perkembangan ekonomi dapat dipercepat karena fihak swasta domestik maupun asing yang bermodal kuat mampu mendirikan berbagi alat produksi dalam skala besar, teknologi canggih, efisiensi tinggi, yang memungkinkan kualitas produksi meningkat, hingga keuntungan yang diperoleh menjadi besar. Di fihak lain, sektor-sektor ekonomi yang menyangkut hajat hidup rakyat banyak makkin melemah,

Nuansa Kehidupan Islami 138

Pernik-Pernik Reformasi

terutama sektor informal. Kerajinan rumah tangga di desa, industri kecil di kota, transportasi non-mesin sebagian bangkrut. Fenomena yang ironi terlihat: yang besar makin kuat sementara yang kecil makin lumpuh atau mati. Keterbatasan lapangan kerja di pedesaan mengakibatkan meningkatnya secara besar-besaran urbanisasi, yang bukan saja menambah pengangguran di kota dan di desa, tetapi juga timbulnya dampak sosial yang negatif. Upaya pemerintah meningkatkan keadilan ekonomi dengan mencanangkan delapan jalur pemerataan, rupanya menitikberatkan pada pertimbangan ekonomi, terutama yang berorientasi pada pertumbuhan. Walaupun telah diakui banyak segi kelemahannya, masih juga dilaksanakan di Indonesia. Sementara itu isue "keadilan sosial" atau "emansipasi sosial" sebagai strategi alternatif, walaupun telah mendapat pasaran di forum kajian teoritik (di berbagai forum akademik) rupanya belum mendapat pasaran dalam praktek. Dengan menyusutnya secara tajam sumber modal yang dikuasai pemerintah khususnya dari hasil minyak bumi sejak tahun 1982, peranan swasta bermodal besar semakin dominan, situasi liberal yang kapitalistik makin mendapat angin, sehingga kegiatan ekonomi lemah, termasuk koperasi, semakin memburuk. Sinyaleman sistem ekonomi Indonesia lebih condong ke ekonomi kapitalistik makin mendapat pembuktian empirik yang valid dengan fenomena-fenomena ekonomi di atas. Kalau dimulai tahun 1967 sektor ekonomi modern menjadi pelopor perkembangan ekonomi, maka semenjak 1982 sektor modern inipun mengalami kesuraman sebagaimana halnya sektor ekonomi yang telah tersingkir dan dikalahkan oleh sektor ekonomi modern tersebut. Problematika ekonomi Indonesia yang kompleks tersebut, yang memprihatinkan seluruh bangsa Indonesia terutama golongan menengah dan bawah, sebenarnya hampir identik dengan problematika ekonomi umat Islam. Umat Islam, disamping merupakan bagian mayoritas rakyat Indonesia, hampir semuanya menduduki strata sosial-ekonomi menengah-bawah dan bawah. Sektor ekonomi informal,terutama, dilakukan oleh umat Islam. Sebaliknya pada sektor ekonomi kuat dan menengah-kuat justru umat Islam merupakan minoritas dan tidak berperan menentukan. Fihak yang paling berperan justru pengusaha-pengusaha non-pribumi baik WNI maupun WNA yang menguasai matarantai ekonomi yang tidak terputuskan sejak dari impor sampai ke pedesaan, dan dari pedesaan sampai ke eksport. Di sisi lain dapat dilihat bahwa sektor pemerintah memegang peranan yang cukup besar dalam perekonomian,

Nuansa Kehidupan Islami

139

Pernik-Pernik Reformasi

baik sebagai konsumen berbagai hasil produksi maupun sebagai produsen barang-barang penting bagi kebutuhan rakyat banyak. Dalam kaitan ini, baik pemborong yang mensuplai kebutuhan pemerintah maupun penyalur hasil produksi pemerintah hampir seluruhnya dinikmati oleh pengusaha menengah-kuat dan kuat, terutama yang memiliki hubungan yang akrab dengan pejabat yang berwenang.

VII. Aspek Ilmu dan Teknologi Manusia diciptakan Allah sebagai makhluk yang paling baik strukturnya, paling mulia, melebihi dan mengatasi makhluk yang lain (At-Tien:4, Al-Isra':70). Namun, kemudian sebagaian mereka muncul sebagai makhluk yang bersegi negatif, bodoh, zalim dan kikir (Al-Ahzab:72, Al-Isra':100), atau bahkan paling hina (At-Tien:5). Dengan demikian, manusia asalnya adalah makhluk yang potensial paling unggul, termulia, namun dalam pertumbuhannya belum tentu demikian. Oleh karenanya, ada semacam kewajiban yang inheren dalam diri manusia, yaitu mengaktualkan keunggulan kwalitas tersebut, baik segi fisik, mental, intelektual, maupun spiritualnya. Aktualisasi potensi diri sebagai makhluk yang paling superior tersebut merupakan salah satu fungsi kodrati manusia, suatu proses "ihsanisasi". Fungsi kodrati manusia yang lain adalah fungsi "pengabdian" (adz-Dzariat:56, Al-Bayyinah:5), yang disamping berdimensi transendental (ibadah khusus), juga tercermin dalam dimensi horisontal, yaitu pengabdian kepada sesama manusia dengan amal shalih (ibadah umum). "Kekhalifahan" adalah fungsi kodrati yang lain (Al-Bawarah:30, Al-An'am:165), yaitu menjadi wakil Allah dalam mengelola dan mengatur kehidupan di dunia agar tercipta harmoni dan kesejahteraan di bawah ridho-Nya. Fungsi kodrati yang lain adalah "kerisalahan" (Ali-Imran:104, Al-Maidah:67), menyampaikan kebenaran dienul Islam sebagai pedoman hidup manusia untuk mencapai keselamatan dan kebahagiaan. Bagaimana manusia dapat menunaikan keempat fungsi kodrati tersebut (ihsanisasi, pengabdian, kekhalifahan, dan kerisalahan), manusia dengan kemampuan fisik, intelektual dan mentalnya membutuhkan "jalan kebenaran" yang bersumber pada kebenaran hakkiki. Sumber kebenaran yang mutlak hanyalah datang dari Allah semata. Untuk dapat menangkap kebenaran tersebut kepada manusia tersedia dua 'jalur', yaitu wahyu dan ayat kauniah, manusia membutuhkan interpretasi terhadap keduanya. Interpretasi terhadap wahyu (Qur'an dan

Nuansa Kehidupan Islami 140

Pernik-Pernik Reformasi

Sunah) sering dikenal sebagai "tafsir", sementara interpretasi terhadap fenomena-fenomena kauniah dikenal sebagai "ilmu pengetahuan". Ilmu dan teknologi berkembang didorong oleh kebutuhan manusia untuk memenuhi kebutuhan hidupnya, untuk dapat mempertahankan eksistensinya yaitu berinteraksi secara harmoni dengan lingkungan alamnya. Dengan ilmu pengetahuan dan teknologi manusia mampu memperoleh kemudahan-kemudahan dalam melakukan kehidepan sehari-hari, dalam memenuhi fungsi hidupnya. Dengan ungkapan lain, makna dikembangkan ilmu dan teknologi oleh manusia (aspek aksiologis ilmu dan teknologi) ialah sebagai alat agar manusia dapat memenuhi misi atau makna kehidupannya di dunia. Perkembangan ilmu, serta teknologi yang menyertainya dicapai manusia melalui matarantai yang panjang dari upaya manusia untuk dengan kemampuan "interpretasi ayat kauniah"-nya yang berupa kemampuan observasi, abstraksi, pengkajian dan eksperimentasi mereka. Perkembangan ilmu dan teknologi yang dicapai oleh umat manusia hingga saat ini telah mendorong 'loncatan peradaban' yang mencengangkan. Perkembangan ini sedemikian menyilaukan umat manusia sehingga menggeser persepsi mereka tentang ilmu dan teknologi, yang semula sebagai alat untuk berinteraksi dengan lingkungan alaminya, menjadi sesuatu yang lebih dari itu. Ilmu dan teknologi seringa dipandang sebagai yang mampu memecahkan segalanya, lahirlah rasionalisme. Ilmu dan teknologi seolah sebagai "tuhan". Di sisi lain, disadari pula bahwa perkembangan ilmu dan teknologi tidak hanya berkembag oleh kemampuan rasional manusia saja, akan tetapi dipengaruhi pula oleh corak pemikiran filsafati (pandangan budaya, keyakinan dan agama) para pengembangnya. Dengan demikian, perkembangan ilmu dan teknologi taklah netral, tetapi diwarnai pula oleh presuposisi-presuposisi tertentu. Hal ini akan semakin nyata dirasakan pada spektrum ilmu-ilmu sosial. Pertanyaan ini cukup bermakna mengingat ilmu dan teknologi yang dimiliki manusia saat ini dikembangkan dengan kurang memperhatikan nilai-nilai moralitas kemanusiaan, nilai-nilai keagamaan. Apalagi para pengembang ilmu dan teknologi kebanyakan mereka yang non-muslim. Bagi bangsa Indonesia yang juga berarti bagi umat Islam, perkembangan ilmu dan teknologi juga menunjukkan permasalahan tesendiri, yaitu kenyataan ketinggalan dan sifat ketergantungan yang berkepanjangan tehadap dunia barat.

Nuansa Kehidupan Islami

141

Pernik-Pernik Reformasi

Disamping itu, proses alih-iptek (transfer of science dan technology) yang kita lakukan berlangsung tanpa sandaran etis yang kuat, sehingga proses ahli-iptek tersebut kadang-kadang secara sadar atau tidak disertai pula alih-nilai (transfer of value) Barat, yang dalam beberapa hal bukan saja bertentangan dengan nilai-nilai budaya bangsa, terutama bertentangan dengan nilai-nilai Islam. Efek samping lain proses alih-iptek seperti disebutkan diatas juga tidak menjamin terpecahkannya secara memadai permasalahan utama yang dihadapi bangsa Indonesia sendiri, seperti : kemiskinan, defisiensi pendidikan, defisiensi gizi dan kesehatan, kelangkaan kesempatan kerja, dan sebagainya. Hal ini terjadi karena paket-paket teknologi yang ditransfer pada umumnya dirancang untuk menghadapi problematika kehidupan masyarakat maju dan sekularistik, yang berbeda dengan problema sosial budaya bangsa Indonesia dan umat Islam didalamnya. Kenyataan tentang perkembangan ilmu dan teknologi diatas dapat menimbulkan dilema etis bangsa Indonesia, terutama kaum muslim dan cendekiawannya. Disatu sisi, bagaimanapun juga ilmu dan teknologi akan selau berkembang, karena perkembangannya sendiri adalah suatu sunatullah. Tanpa mengikuti dan menggunakan kemajuan ilmu dan teknologi, umat Islam akan terbelakang dan akan inferior dalam perkembangan budayanya. Akan tetapi di sisi lain, kemajuan yang dicapai oleh ilmu dan teknologi itu tanpa sandaran etis yang kuat akan dapat menjerumuskan uamt pada kehidupan yang materialistik. Ilmu dan teknologi, menurut pandangan Islam, mestinya dikembangkan dan diperuntukkan bagi pemenuhan fungsi-fungsi koderati manusia di atas. Bagaiman dengan ilmu dan teknologinya manusia mampu mengaktualisasikan dirinya menjadi makhluk yang termulia, menajdi wakil Allah dalam mengelola dunia, membudayakan manusia sesuai dengan ketinggian dengan martabatnya dihadapan Allah. Ilmu dan teknologi mestinya dimanfaatkan manusia untuk menunaikan tugas kerisalahannya dan menyingkatkan pengabdiannya terhadap sesama manusia sebagai manifestasi pengabdiannya kepada Al-Khalik. Dari uraian di atas, dapat diidentifikasi permasalahan yang dihadapi umat Islam Indonesia, khususnya kelompok cendekiawannya, dibidang ilmu dan teknologi sebagai berikut. (1) Bagaimana uamt Islam dapat mendudukkan kembali fungsi ilmu dan teknologi sebagai sarana manusia untuk menunaikan fungsi-fungsi kodratinya sebagai hamba Allah ?

Nuansa Kehidupan Islami 142

Pernik-Pernik Reformasi

Dan bagaimana cendekiawan muslim mampu mengambangkan ilmu dan teknologi tanpa terjerumus pada pola berfikir materialistik dan sekularistik ? (2) Bagaimanakah umat Islam mampu menguraikan ketinggalan dan ketergantungannya di bidang ilmu dan teknologi dari dunia barat ? Dan bagaimana proses alih-ilmu dan alih-teknologi dapat berlangsung tanpa menimbulkan efek negatif alih-nilai dan budaya barat?

Taushiatul Khamsah

1). Kalau kita memperhatikan risalah "At Taushiatul Khamsah", oleh Al Ustadz ABU LIHJAH, teranglah yang pertama-tama dimaksudkan olehnya ialah : Konservasi - yakni menghimpunkan atau pemeliharan apa yang ada Maksud konversi itu untuk membukakan jalan bagi reintegrasi yakni "menghimpun yang tadinya berserakan". Re-integrasi hanya akan bermanfaat apabila disusuli oleh konsolidasi, penyatuan bagi apa yang sudah dihimpun. Bila konsolidasi sudah terjelma, segala langkah dapat diajukan secara tertib, dalam konfrontasi terhadap pelbagai peristiwa dan keadaan. Begitu intisari dari "At Taushiatul Khamsah", .... 2). Sekarang sudah sekian masa yang lewat, sudah patut pula dibuat sekedar balans Alhamdulillah, konservasi itu sampai sekrang berhasil juga. Pada umumnya tidak mengecewakan. Terutama ialah berkat adanya "anti toxine" lama yang masih mengalir pada jamaah-jamaah utuh.

Nuansa Kehidupan Islami

143

Pernik-Pernik Reformasi

Bisa timbul pertanyaan ; "apakah "utuh" itu ? Artinya bukan sekedar tidak masuk jamaah lain-lain? Jika pada umumnya demikian, ini barulah "taraf minimal" sifatnya baru negatif. Sudah tentu proses konservasi tidak boleh berhenti disitu. Pisang juga kalau diperam lama-lama, walaupun tidak akan berobah menjadi mangga, dia akan ranum, cair tidak bisa dipergunakan lagi. Kalau kita memperhatikan dengan tajam, tak dapat disangkal, bahwa dikalangan jamaah, sudah juga ada mulai kelihatan gejala-gejala "ranun" itu. Ada yang "uzlah"pasif Ada yang mungkin dengan tidak sudah kian lama kian hanyut, atau mereka terlihat dalam arus makshiyat 100%. Ada yang hanya mengeluh; Yah, apa boleh buat, apa boleh di bikin dalam keadaan seperti sekarang ini. Lalu menunggu perkembangan keadaan akan berubah. keadaan. Kalau-kalau

Seolah-olahnya nanti itu, akan kedengaran semacam gong besar, menandakan "keadaan sudah berubah". Sedangkan, andaikatapun akan ada kejadian semacam itu, belum tentu pula olehnya apa yang seharusnya diperbuatnya disaat itu selain dari pada terkejut. Memang zaman itu akan berubah juga, dengan atau tanpa kita. Soalnya ialah apakah perubahan itu akan menguntungkan kita atau akat merugikan kita. Ini tentulah akan bergantung kepada : - apakah kita memasukkan andil kedalam zaman itu dari sekarang atau tidak.

Nuansa Kehidupan Islami 144

Pernik-Pernik Reformasi

Oleh karena itu dari konservasi pasif, kita harus meningkat kepada re-integrasi yang aktif. Re-integrasi dalam tiga bidang : (1) bidang umat, (2) bidang pemimpin, (3) bidang kader. 3). Bidang Umat A. Risalah Alif-baa-taa, sudah mengemukakan sebahagian dari usaha re-integrasi umat yang dipancarkan dari "lembaga risalah" warisan Rasul. Re-integrasi dalam bentuk ini, adalah hal yang primer, dan tidak boleh tidak. Baik untuk jangka pendek maupun dalam jangka panjang, dalam suasana keadaan bagaimana pun coraknya, walaupun sudah ada juga di samping itu bentuk dan saluran-saluran lain. Dia merupakan generator yang memancarkan aliran listrik, untuk penggerakkan lain-lain saluran itu. Jangan kita lupakan bahwa yang paling menderita kerusakan oleh keadaan yang sekarang ini, bukanlah kehidupan materi, tetapi kehidupan rohani. Sejarah cukup membuktikan bahwa kendatipun keadaan pada suatu waktu pulih dalam bentuk lahirnya, tetapi masih panjang sekali masa yang diperlukan lagi, untuk pemulihan kesehatan dan kemantapan rohani itu. Untuk merawat luka "kehidupan rohani" itu, kemanakan lagi akan di cari obatnya, selain daripada kepada "lembaga risalah" yang hidup dan dapat memancarkan ....? B. Suatu hal yang menimbulkan rasa syukur, ialah bahwa berkat latihan-latihan mental dan amal semenjak dahulu itu, dibeberapa tempat masih ada anggota-anggota (jamaah) yang menerjunkan diri dalam penyelenggaraan bermacam-macam amal, dibidang pendidikan, dakwah dan lain-lain amal sosial. Kebanyakan bersifat lokal. Yang diperlukan bagi mereka ialah ;

Nuansa Kehidupan Islami

145

Pernik-Pernik Reformasi

(1). perhatian dari pada kepala keluarga dorongan dan tempo-tempo juga tuntunan.

(jamaah),

(2). hubungan antara satu kegiatan lokal dengan kegiatan lokal lainnya walaupun berupa "hubungan moril". (3). menduduk-kan "nawaitu"nya, Yang tersebut belakangan ini, "menduduk-kan nawaitu-nya" penting sekali artinya dalam rangka re-integrasi dan konsolidasi. Sebab besar bedanya antara seseorang yang melakukan sesuatu kegiatan dengan alam pikiran, bahwa dia sudah pindah perahu, lantaran menganggap bahwa perahunya yang lama sudah kandas, dengan seseorang yang melaksanakan kegiatannya, walaupun sama jenisnya, tetapi dengan niat dan pengertian bahwa dengan cara itu dia melaksanakan bidang kesatu da kedua dari pasal tiga qanun asasinya. Yang pertama merasa, dia sudah pindah ke alam lain sama sekali, dimana juga dirasanya tidak ada resiko. Yang kedua merasa, masih merasa dalam alam yang lama, sedang melanjutkan amal usaha dalam rangka yang lama itu, walaupun sebahagian seberapa yang mungkin menurut ruang dan waktu. Pada umumnya, mendudukkan niat-memperbaharui dan menyegarkan aqidah dan qaidah suatu partai politik, dalam arti yang lazim. Dia adalah lebih dari di-ikat oleh kesatuan idea dibidang politik, akan tetapi juga dan terutama oleh tali ukhuwwah yang berurat pada keimanan. Yang tidak boleh bergerak itu ialah dan hanyalah satu bentuk atau forum dari sudut yang mengenai praktis politik. Tapi bagaimana orang akan biasa akan meniadakan tubuh jamaah sendiri, sedang dia ini berakar dalam kalbu masingmasing anggota keluarganya. Yang perlu terus kita usahakan ialah menghidup suburkan rasa dan kesadaran ke jamaah-an ini di antara para keluarga. C. Sesungguhnya kita masih banyak tenaga. mempunyai saluran

Saluran-saluran lama dan saluran-saluran baru...

Nuansa Kehidupan Islami 146

Pernik-Pernik Reformasi

Dan bisa pula ditambh dengan yang paling baru lagi. Di antara saluran-saluran yang lama, ada yang sudah lumpuh. Tapi masih ada kerangkanya, dan masih ada pusatnya, walaupun sudah sama-sama lumpuh. Pesat jalannya dengan lambang lain. Mengenai ini perlu diajari dan diusahakan bagaiaman menggiatkan lagi yang sudah lumpuh. Di samping itu dimana pertukaran lambang, yang bertukar hanyalah lambangnya bukanlah jiwanya. 4. Untuk itu re-integrasi dikalangan para kepala keluarga tadinya merupakan syarat muthlak. Sudah dapat dimaklumi, bukan sebanyak itu para kepala keluarga tadinya, tentu ada yang sudah lama lucutnya, atau lumpuh atau mulai ranum. Ada pula yang baru sekarang banyak kukunya yang sebenarnya. Kalau dia dahulu menjadi kepala keluarga dengan "tanda kutip", dia sebetulnya benar-benar menjadi kepala keluarga, yang bernafas keluar badan. Kalaupun sekarang dia tidak terang-terang menentan, tetapi dari langkah lakunya dan ucapannya dia bukan keluarga lagi. Berada dalam keadaan semacam ini, maka usaha reintegrasi dibidang ini, kita harus mulai dari alif-baa-taa. Mulailah dari teras yang tetap segar tandanya mereka sudah lulus ujian, sudah berjalan dengan tertib, berangsurangsur, yang dengan izin Allah lebih baik dari yang tidak ada lagi itu. Dan jika mereka yang sudah lemah-lemah lutut itu sekarang ini, sudah melihat perkembangan menuju kearah yang agak menggembirakan dan memberi harapan, nanti akan kembali. Kita boleh coba mengobati lutut mereka yang lemah itu, tapi jangan kita paksa-paksakan. Nanti kita kecewa, dan mereka sendiripun kesal. Adapun bekas golongan kepala keluarga dengan "tanda kutip" itu, terbaik-baik saja kita dalam pergaulan sehari-hari, sebagaimana juga kita berbaik-baik dalam pergaulan seharihari dengan sesama manusia, walaupun berlainan jamaahnya.

Nuansa Kehidupan Islami

147

Pernik-Pernik Reformasi

Akan tetapi kalau sudah, mengenai hal-hal yang mengenai risalah kita, disitu ada garis demokrasi yang tajam dan kita harus mampu bersikap ; " Jangan kawan-kawan turut keluar bersama kami sama sekali" ....., Mengenai hal yang semacam ini, akan berfaedah sekali bila kita memperhatikan kembali, antara lain Surat At Taubah ayat 60 - 99 ....., dimana kita dapat berkenalan semacam corak manusia. Silahkan ulangi mentelaahnya, kemudian teruskan pada ayat 100 dan seterusnya ...., Re-integrasi pada niveau kepala keluarga adalah integrasi selectif. Sesungguhnya hikmah Allah menurunkan sesuatu ujian, adalah guna seleksi. Bukan untuk satu neveau golongan saja. bukanlah keseluruhannya bisa diganti dengan umat yang lebih baik, Maka perlulah sekali para kepala keluarga mengadakan silaturahmi sewaktu-waktu. Dalam silaturahmi itu terutama dapatlah diperbaharui ikatan ukhuwwah yang menjasdi salah satu sumber kekuatan lahir dan batin, dimana pula dapat dibuat inventarisasi dari tenaga-tenaga yang ada, baik yang berupa faktor-faktor objektif ataupun faktor-faktor subjektif. Dapat saling lengkap melengkapi suatu fakta dan data yang perlu sama diketahui. Mungkin pula atas penilaian bersama itu dapat disusun satu daftar usaha, untuk jangka pendek dan jangka panjang. Satu dan lainnya dengan semboyan dan tekad; " yang sulit kita kerjakan sekarang, " yang tak mungkin, kita kerjakan berseok ... Insya Allah,

Nuansa Kehidupan Islami 148

Pernik-Pernik Reformasi

" yang mudah sudah banyak orang lain mengerjakannya Jangan tinggalkan semuanya bila sebelum semua dapat dilaksanakan. Dalam silaturahmi, antara lain dapat dibuat balans dari usaha yang sudah dilakukan dan yang belum dapat dilakukan. Dan di coba lagi maju selangkah, dan begitu seterusnya ...... Pendeknya satu dan lainnya, sudah sama kita fahami. Tak perlulah disini "orang tua diajar pula memakan bubur lagi". Pokoknya, Re-integrasi keluarga menghendaki re-integrasi kepala keluarga yang selektif. Re-integrasi aktif menghendaki aktiviteit. Aktivited menghendaki bimbingan. Rencana harus berdasarkan penilaian fakta dan data yang up to date, dan tepat. Bimbingan harus berdasarkan rencana, Ini semuanya menghendaki adanya pengumpulan fakta dan data yang dapat dipertanggung jawaban dalam silaturahmi lokal, interlokal (dan sentral dimana bisa) ..... 5). Kader Zaman terus beredar dan tiap-tiap zaman dan rijalnya. Babakan pentas bisa beralih, pemainnya bisa berganti. jalan cerita sudah wajar pula menghendaki peralihan babak dan penggantian pemain sesuatu waktu. Memang itulah yang menjadi latar belakang pikiran kita, dalam usaha pembinaan umat yang akan lebih panjang umurnya dari pada usia seseorang pemimpin sesuatu waktu.

Nuansa Kehidupan Islami

149

Pernik-Pernik Reformasi

Maka yang tidak boleh tidak kita lakukan sebagai suatu "conditiosine quanon", ialah meletakkan dasar bagi kontinuiteit aqidah dan qaidah, diatas mana khittah harus didasarkan. Satu-satunya jalan itu, ialah ; Membimbing dan mempersiapkan tunas-tunas muda dari generasi yang akan menyambung permainan di pentas sejarah. Mempersiapkan jiwa mereka, melengkapkan pengetahuan dan pengalaman mereka, mencetuskan api cita-cita mereka, menggerakkan dinamik mereka, menghidupkan "zelf - disiplin" mereka yang tumbuh dari Iman dan Taqwa. Bukanlah itu suatu pekerjaan tersambil, sekedar pengisipengisi waktu yang kebetulan berlebih. Tempo-tempo ini adalah pekerjaan yang "masuk agenda", yang untuknya harus disediakan waktu, harus dilakukan dengan sadar dan pragmatis. Dalam rangka ini ada dua hal yang perlu diperhatikan; (A). Mereka dari generasi baru itu telah beruntung mendapat kesempatan yang lebih luas dibidang menuntut ilmu, baik ilmu jiwa duniawi ataupun ukhrawi, dari pada mereka dari angkatan 25 (duapuluh lima-an) dulu, syukur. Tapi dasar Iman dan Taqwa yang merupakan sumber kekuatan dan pedoman akhlaq dan karakter sebagai bekal yang tidak boleh tidak harus mereka miliki untuk menjalankan tugas - yang akan mereka jalankan itu. Ini hanya dapat dicapai dengan r i a d a h dalam arti yang luas. (Disinilah terletaknya fungsi yang khusus dari Masjid sebagai lembaga risalah yang hidup dan dinamis sebagai pusat pembinaan umat dan pembentukan kader). Apa yang kita lihat dan rasakn dalam "keadaan" sekarang ini, cukuplah kiranya menjadi peringatan bagi kita, betapa pentingnya meletakkan "dasar jiwa" bagi para calon pemimpin umat. Banyak orang yang tadinya bertolak dari rumah dengan niat dan semboyan hendak menegakkan panji-panji "kalimat ilahi", akan tetapi lantaran dasar yang tidak kuat ditengah

Nuansa Kehidupan Islami 150

Pernik-Pernik Reformasi

perjalanan, tertempuh jalan yang disebut "tujuan menghalalkan semua cara". Lupa mereka bahwa panji-panji Kalimat Allah itu tidak dapat berkibar bila dalam perjalanan dia terus diinjak-injak oleh kaki yang membawanya sendiri.

(B). Fakultas dari bermacam-macam jurusn sudah ada yang mempersiapkan mereka untuk jadi "sarjana". Kita menghajatkan teoritis yang tajam dan efektif. Di samping itu yang dihajatkan dalam pembinaan umat ialah "opsir lapangan" yang bersedia dan pandai berkecimpung di tengah-tengah umat. Kalaupun dihajatkan sarjana-sarjana, yang diperlukan bukan semata-mata sarjana yang "melek buku" tetapi "buta masyarakat". Sedangakn kemahiran membaca "kitag masyarakt" itu tidak dapat diperoleh dalam ruang kuliah dan perpustakaan semata-mata. Oleh karena itu mereka perlu di-introdusir ke tengah-tengah umat dan turut aktif bersama-sama menghadapi dan mencoba mengatasi persoalan dari kehidupan umat dipelbagai bidang. Sehingga mereka dapat merasakan denyutan jantung umat, dan lambat laun berurat pada hati umat itu. Makin pagi makin baik ......, (Banyak dari antara gejala dari keadaan sekarang ini yang dapat dielakkan tadinya, kalau tidaklah terlampau banyak kita mempunyai "salon politik" yang menjadikan pemimpin amateur). Maka ditengah-tengah masyarakat yang hidup itulah dapat berlaku proses "timbang terima" secara berangsur-angsur, antara yang akan pergi dan yang akan menyambung, patah tumbuh hilang berganti. Sebab kesudahannya, yang dapat mencetuskan "api" ialah batu api juga.

Nuansa Kehidupan Islami

151

Pernik-Pernik Reformasi

6. Konsolidasi & Polarisasi Tenaga-tenaga yang sudah dikumpulkan kembali secara selektif, usaha-usaha lama yang tlah digiatkan lagi, kegiatan-kegiatan baru dalam pelbagai bentuk yang sudah tumbuh dengan spontan dimana-mana itu. hanya akan dapat bertahan lama dan akan lebih efektif apabila semua itu di konsolidir dengan menyatukan aqidah dan qaidah, menyesuaikan langkah dalam suatu strategi yang sama. Kalau tidak, kegiatan lokal dan regional itu bisa jadi "mangsa" atau terdesak dalam kompetisi antara bermacammacam kekuatan dan aliran-aliran yang sama berkompetisi dengan kita, sudah sama-sama kita ketahui masing-masingnya sudah dipolarisasi dalam organisasi masing-masing yang utuh. Teranglah bahwa usaha integrasi harus diiringi segera oleh polarisasi melalui koordinasi kegiatan-kegiatan yang sejenis. Ada lembaga-lembaga, yayasan-yayasan dibidang sosial, dakwah dan kebudayaan yang diselenggarakan oleh para keluarga. Lembaga dan badan-badan itu perlu disatukan langkahnya, diadakan di antaranya pembagian lapangan, kerja sama, saling bantu membantu, dan yang utama disatukan faham mereka, strategi yang akan ditempuh. Di antara keluarga kita cukup banyak menulis, yang penanya subur dan bermutu, mereka perlu diketemukan antara satu sama lain. Kalau belum bisa dalam bentuk organisasi yang formil, dengan mengadakan diskusi (seminar), dan pertemuan se waktu-waktu guna pembahas persoalan yang timbul dalam bidang mereka, dan guna menyesuaikan langkah serta pedoman dalam rangka tujuan dan mengisi "accu" umat. Banyak sekolah-sekolah menengah dan fakultas-fakultas bertebaran dibeberapa tempat, dan diselenggarakan oleh keluarga kita. Cara bekerjanya taman-taman pendidikan itu perlu disesuaikan dengan tujuan untuk membina kader dalam arti yang sebenarnya, tidak sekedar penambah banyak orang yang bergelar BA, Drs dan sebagainya.

Nuansa Kehidupan Islami 152

Pernik-Pernik Reformasi

Ini perlu peninjauan dan penjelajahan bersama antara pemimpin-pemimpin instelling-instelling tersebut. Perlu kontak, perlu mempool keahlian dan pengalaman. Bagaimana sebenarnya agar menghidupkan masjid sebagai pusat pembinaan umat yang efektif, agar jangan asal ramai orang bershalat jamaah saja. Ini perlu kepada koordinasi. Dan begitulah seterusnya. Kalau re-integrasi dibidang kepala keluarga seperti dimaksud dalam paal terdahlu bis dinamakan reintegrasi secara vertikal (taushiyatul khamsah bab 1 dan 2), maka reintegrasi dari kegiatan yang sejenis ini bisa dinamakan reintegrasi horizontal. Kedua-duanya dilakukan sejalan, dan kedua-keduanya menuju kepada konsolidasi dan polarisasi keseluruhannya, yakni adanya potensi yang riil tersusun dan aktif dalam wijhah, khittah dan strategi yang satu. Formilnya tenaga-tenaga itu kalau perlu biar bersifat lokal atau regional akan tetapi hakikatnya ; Ini semua memerlukan tenaga yang khusus, pembagian tugas menurut bidang masing-masing. dan

Segala sesuatu di selenggarakan tanpa gembar-gembor, semuanya legal bersumber kepada hak-hak azasi yang juga dijamin oleh Undang-Undang Dasar Negara.

Akhirul kalam Sekianlah beberapa pokok pikiran mengenai re-integrasi dalam tiga bidang itu, sebagai landasan dari taraf-taraf selanjutnya konsolidasi, polarisasi dalam rangka taushiyatul khamsah. Adapun tafsri dari taushiyatul khamsah adalah tanfiznya. Kata Saidina Umar bin Khatab R.A. tidak ada faedahnya suatu pemikiran selama tidak ada pelaksanannya.

Nuansa Kehidupan Islami

153

Pernik-Pernik Reformasi

Maka tanfiz berkehendak kepada ; program, pembagian tugas-tugas, pelaksanaan, balans, program lagi ....., dan begitu seterusnya. Tak usah ditegaskan lagi bahwa ini berkehendak kepada pengkhidmatan dalam bermacam bentuk ; daya cipta, waktu, keringat, harta (untuk tidak menyebutkan bentuk-bentuk yang lebih dari pada itu dulu). Ini sudah menjasdi sunnatullah, laa tabdila likhalqillah ....., Mudah-mudahan tidaklah kita akan masuk golongan yang pernah disentil oleh seorang penyair ; " kejayaan jua yang kau idamkan, jalan mencapainya kau tempuh tidak, Betapakah kapal akan berlayar ditanah kering. Bismillah .....

Ta’aalau ilaa Kalimatin Sawaa’ (Kembali Kepada Kata Persamaan)

1). Keadaan dunia dimasa kini menurut suarasuara ramai, dan melihat kepada kejadian-kejadian di beberapa negeri, sangat mengkhawatirkan. Dengan nyata sekali dalam perhubungan internasional, yaitu antara negara-negara, tampak ada perbedaan antara dua kelompok besar, satu sama lain ada pertentangan, antara Barat dan Timur, sosialis dan materialis, diniyah atau laa-diniyah; masing-masing dengan sekutunya dan pengikutpengikutnya dan daerah-daerah pengaruhnya. Kedua pihak, saling berebut pengaruh dengan saling mengakui memperjuangkan terwujudnya cita-cita perdamaian dan kemerdekaan, saling menyebut diri pencipta

Nuansa Kehidupan Islami 154

Pernik-Pernik Reformasi

kesejahteraan dan mewujudkan kebehagiaan hidup diseluruh dunia. Namun masing-masing, menuduh bahwa pihak yang satu sedang menjalankan tipu muslihat dengan mengerahkan semua upaya kekuasaan dan daya kekayaan dan kekuatan ancaman guna menguasai dan melemahkan pihak lainnya. Pengaruh yang bertentangan itu menimbulkan kesulitan-kesulitan dalam tiap-tiap negeri, di medan ekonomi berkenaan dengan rebutan rezeki, di medan politik berkenaan dengan kekuatan dan kekuasaan (daulah wa assiyaasah), di medan kultur berkenaan dengan faham dan fikiran (ghazwul fikry) termasuk juga adab sopan santun dan seni kebudayaan, di medan sosial berkenaan dengan hubungan antar golongan-golongan masyarakat (strukturisasi), pendeknya dalam segala lapangan kehidupan negara, pemerintahan, daerah, negeri dan penduduk (demokratisasi, humanisasi, dalam kemasan kesejagatan). Menyikapi kondisi dunia yang berpecah itu, maka seharusnya umat Islam tidak terbelah dan wajib memiliki wijhah yang jelas dengan selalu berpegang teguh kepada bimbingan Allah (QS.ar Rum, ayat 30) “fa aqim wajhaka liddiini haniifan ..., fithratallah allati fatharannaasa ‘alaiha ..., laa tabdiila likhalqillahi ... dst”, yang pertama adalah perintah kepada kita untuk menghadapkan muka tegaktegak kepada agama Allah dengan tidak ragu-ragu sedikitpun, lurus (hanif) tanpa mencampur aduk (tidak sinkretik), dan berketetapan hati melaksanakan ketentuan-ketentuan Allah melalui mendekatkan diri (taqarrub) kepada Allah dengan taqwa (melaksanakan seluruh perintah dan meningalkan seluruh larangannya), dan memantapkan pelaksanaan ibadah perorangan dan jamaah, dan yang paling utama adalah tidak pernah akan menuhankan yang lain selain Allah (tauhidic weltanschaung). Golongan yang berpecah akan berkembang menjadi kelompok-kelompok sektarian dengan kebanggaan kelompok masing-masing dan bisa membelah bangsa (disintegrasi).

2). Dinegeri kitapun, sebagaimana di negeri-negeri lainnya di dunia, kita merasakan dan menderitakan akibatakibat pengaruh itu, berupa kekacauan-kekacauan dalam kalangan perusahaan (ekonomi) di seluruh sektor, dibidang penghasilan disertai pemogokan, dilapangan perkebunan didampingi perampasan hak-hak, disektor perdagangan dan politik berakhir dengan hilangnya kepercayaan.

Nuansa Kehidupan Islami

155

Pernik-Pernik Reformasi

Tampilan huru hara, unjuk rasa, unjuk kekuatan dimanamana berbungkus kejahilan, telah mendera lapis-lapis kehidupan masyarakat, dari kota hingga desa, dari pasar negeri hingga kepusat negara, selalu berakibat hilangnya nyawa dan musnahnya harta. Derita derita lain, hilangnya tertib lahirnya teror, sementara perjalanan hukum terseok-seok berbimbingan tumbuhnya kekacauan menjadi-jadi. Yang paling merasakan adalah rakyat banyak yang selalu hidup dalam ketakutan disaat hilangnya kepastian dan menjauhnya keamanan.

3). Tidak dapat tidak, kekacauan yang bertambah lama dan luas itu, berangsur-angsur akan menimbulkan, di kalangan yang bertambah lama bertambah besar, satu psygose atau perasaan putus asa dan akhirnya tunduk kepada paham yang dominan dengan menyerahkan nasib tanpa ada keinginan berbuat sama sekali. Perasaan ini semestinya dimengerti akan berakibat binasanya suatu umat yang kuat bergeser menjadi lemah tak berdaya, dan yang besar akan menjadi kecil, tidak dimasukkan dalam perhitungan, tetapi bergerak menjadi sibuk menghitung kekuatan orang luar. Mungkin sekali tampil sesudah itu kelak, masyarakat manusia yang hidup dengan puing reruntuhan kebudayaan yang sudah lenyap, dan dalam keadaan yang lebih celaka lebih sengsara dari leluhur mereka, yang pada masa jayanya pernah disebut sebagai pejuang; karena kehilangan kesadaran siyasiy dan kebingungan akal fikiran manhajiy, walaupun sadar tentang kehilangannya tapi tak berdaya lagi untuk menemukan kembali apa-apa yang telah hilang itu, semata dikarenakan tak pandai berupaya lantaran mengabaikan alat perkakas dan kesempatan yang tersedia, semata hanya enggan mengambil pengalaman kepada masa-masa yang pernah dijalani oleh masyarakat manusianya. Analisa ini harus dijawab segera dengan sii-ruu fil ardhi .... (historis, politis), .... fandzuruu kaifa kaana ‘aqibah .... (sosial, psychologis) nya..,

4). Analisa pertumbuhan umat demikian hingga sekarang, sudah melewati pergantian kurun demi kurun, sejak kaum Nuh, kaum Luth, Tsamud, kaum Shaleh dan lainnya, sebagai nukilan Qurani yang telah diyakini oleh jumlah

Nuansa Kehidupan Islami 156

Pernik-Pernik Reformasi

terbanyak masyarakat ini, bermula dari penentangan terhadap Risalah para Rasul dalam perjalanan panjang sejarah, sejak masa diktatorial orde fir’aun hingga orde bala, kemutlakan otoriter veto zaman Pharaoh hingga Clinton, pelaksanaan politik belah bambunya Hamman hingga Netanyahu, kehidupan materialisme hedonistik konglomerasi Qarun sampai Eddy Tansil. Analisa pertumbuhan yang telah berulang-ulang di ulangkan oleh Al Quran, menyangkut bangun jatuhnya masyarakat manusia, semata-mata disebabkan karena pengabaian kesadaran secara terang-terangan akan ajaran dan petunjuk dari pesuruh-pesuruh (Rasul) Allah juga. Masyarakat yang melupakan secara sengaja dan sadar akan ajaran dari pesuruh Allah ini akan bertumbuh dengan pasti menjadi kelompok perusuh. Na’udzubillah.

5). Dalam pada itu, sungguhpun paham persamaan segala manusia dan hak-hak kemerdekaannya berasal dari ajaran Agama, akan tetapi oleh karena kepentingan pihakpihak imperium feodal, sejak Romawi hingga revolusi Perancis, sampai reformasi demokratisasi humanisasi melanda belahan bumi, dan perang paham isme (millah, lihat QS. Al-Baqarah 120), maka penolakan asas agama menjadi salah satu sasaran tembak dalam pertentangan diantara pemegang kekuasaan dunia politik sejagat (konspirasi internasional). Pertentangan itu, senyatanya melupakan kepentingan bersama dan merusak perhubungan antar manusia sebagai jamaah agama (gemeente collectiviteit) yang perlu untuk keselamatan dunia dan manusia. Memecah umat manusia (firaq) yang terikat oleh kewajiban kerja sama (ta’awun) menjadi dua pihak (diniyah dan laa diniyah) yang seakan harus berhadapan dalam satu satuan perang yang dipertentangkan secara bengis dan ganas, dengan penuh kecurigaan dan intimidasi, sesungguhnya telah memungkiri segala keuatamaan budi manusia. Agama Islam yang sangat berperangaruh terhadap budi pekerti dan memberikan semangat kepada segenap bangsa Indonesia dengan bagian terbesar rakyat penduduknya beragama Islam, telah memberikan sumbangan besar dalam menghidupkan kesadaran rasa persamaan dan persaudaraan dalam satu batas kesatuan wilayah Republik Indonesia. Maka tidak dapat tidak, kebanyakan partai politik yang tidak berdasarkan agama itu, akan berisikan penganut agama Islam

Nuansa Kehidupan Islami

157

Pernik-Pernik Reformasi

juga, yang secara pasti tetap akan bersetuju melaksanakan perintah-aturan agamannya, karena tidak akan ditemui adanya satu nilai yang mampu diletakkan diluar asas ajaran agamanya. Dengan terpenuhinya syarat-syarat itu, niscaya negeri dan bangsa kita ini akan selalu terpelihara dari kecelaan dan kenistaan serta terhinmdar dari bencana pertentangan pahampaham yang didunia (Barat) telah menimbulkan kesulitankesulitan yang berbahaya. Insya Allah. Negara Republik Indonesia yang diproklamasikan 17 Agustus 1945 wajib dipertahankan kedaulatannya oleh setiap warga negara Indonesia dengan kesadaran mendalam bahwa kemerdekaan negara kesatuan ini adalah merupakan rahmat dan karunia Allah terhadap hasil perjuangan jihad seluruh bangsa Indonesia atas dasar “kalimatin sawa”, kata persamaan untuk segenap golongan bangsa.

6). Kita, umat Islam di Indonesia merupakan bagian terbanyak mesti siap memikul tanggung jawab terbesar dan sedia menyandang beban terberat terhadap keselamatan dan pembangunan Negara Kesatuan Republik Indonesia, dalam menuju negara yang berkebajikan, berkeadilan, yang diliputi oleh ridha Allah, dimana terlaksananya ajaran Islam dalam kehidupan orang perorangan, dalam bermasyarakat dan dalam bernegara. Perjuangan ini memiliki kemestian menyusun lapis tenaga umat dengan tertib, dengan membangunkan peri kehidupan lahir bathin melalui menanamkan pengertian dan akhlaq umat, dengan cara mendidik sifat, menyusun kekuatan dan perpaduan kecakapan guna memperoleh segala syarat mendukung dan mengembangkan cita-cita Islam sebagai tata cara hidup yang memberikan Rahmat bahagia bagi segenap makhluk (rahmatan lil-‘alamin).

7). Cita-cita yang luhur ini, hanya dapat ditumbuhkan dalam alam ketertiban dan keamanan. Kekacauan mengakibatkan pemborosan tenaga, penghamburan harta dan pengorbanan jiwa percuma dan tidak dapat dipertanggung jawabkan. Kekacauan juga akan membawa usaha dan ikhtiar kejalan buntu dan keruntuhan.

Nuansa Kehidupan Islami 158

Pernik-Pernik Reformasi

Semestinya umat Islam menolak tiap-tiap usaha dari pihak manapun juga yang mengakibatkan kekacauan dan kelumpuhan negara serta alat-alatnya. Mengingat bahwa menurut ajaran Islam, untuk menjaga dan memelihara keselamatan dan mengatur tertib keamanan dimestikan adanya ulil amri, yaitu pemerintahan yang memegang kekuasaan menurut hukum dan musyawarah, maka semestinya umat Islam tidak boleh membenarkan adanya satu orang ataupun golongan tertentu dari dalam maupun dari luar yang menggunakan kekuasaannya secara paksa untuk melakukan perkosaan atas sesuatu pihak yang lain dalam mencapai maksudnya. Kesewenangan kekuasaan yang menghimpun ditangannya segala kekuatan ancaman dan paksaan kekerasan dalam menjalankan hak pemerintahan, dengan dalih apapun, tidak akan dapat menghasilkan kepuasan dan tidak mampu mewujudkan kebahagiaan sebagai syarat pertama mengisi kemerdekaan. Maka Islam menuntun manusia kepada satu susunan masyarakat dengan kewajiban mengadakan ulil amri yang dikuasakan memerintah dengan bijaksana penuh hikmah dengan prinsip musyawarah dalam menjalankan hukum keadilan sesuai dengan yang diturunkan Allah dalam kitab suci dalam Al Quran dengan berpedoman kepada cara-cara Rasulullah SAW melaksanakan perintah-perintah dan peraturan dengan mengingat keadaan dan masa (elastis).

8). Perjuangan harus ditempuh melalui jalan dan cara yang sah, sebagaimana telah dibuka jalannya menurut undang-undang dan peraturan-peraturan yang berlaku dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia yang berdasarkan kedaulatan rakyat melalui saluran yang lazim dalam negara demokrasi. Didalam menyikapi partai-partai dan perserikatanperserikatan lain, semestinya umat Islam mempedomani ayat Allah (QS.2,al Baqarah,148), “al haqq min rabbika falaa takunanna minal mumtarin..., wa likulli wijhah huwa muwallihaa..., fastabiq al-khairaat”.Yang menyatakan bahwa setiap seseorang ada tujuan yang dipentingkannya. Maka, Allah SWT memerintahkan kita untuk berlomba membuat kebajikan dengan menyerahkan diri secara bulat tanpa ragu dengan kebenaran yang telah diturunkan Allah, dan

Nuansa Kehidupan Islami

159

Pernik-Pernik Reformasi

yang pasti bahwa kebajikan-kebajikan itu akan menghimpun untuk kepentingan seluruh umat manusia.

9). Bertalian dengan agama lain, semestinya pula umat Islam berpedoman kepada (QS.al-Baqarah 256), “laa ikraha fid-diin..., dst”. Bahwa tidak ada paksaan dalam agama, karena Iman diperoleh sebagai rahmat dan karunia Ilahi bukan melalui pemaksaan; dan dalam pergaulan hidup serta tatanan bernegara harus diakui kemerdekaan beragama tiap-tiap orang, selagi kemerdekaan itu selalu bertumpu kepada terpeliharanya kesopanan umum dan ketertiban negeri dengan tidak melanggar kehormatan orang lain serta penghormatan kepada kemerdekaan orang lain. Sungguh jalan yang benar itu sudah nyata dari jalan yang sesat, yang membebankan tanggung jawab bersama untuk selalu memimpin umat selalu setia kepada kebenaran; dan siapa yang tidak mempercayai thaghut, dengan meninggalkan tindakan penipuan, kemudian selalu berpegang teguh kepada hukum-hukum Allah sesungguhnya dia sudah berpegang kepada sekuat-kuat pegangan yang tidak pernah patah; dan Allah Maha Mendengar lagi Maha mengetahui.

Ditengah dunia yang pecah belah dibalut pemaksaan kehendak dan penyebaran faham-faham (individualisme, sekularistik), serta berjangkitnya dorongan nafsu kebendaaan (materialisme,hedonisme) yang membuta tuli sedang menuju kearah malapetaka besar kemanusiaan, sudah sewajarnya umat Islam yang jumlahnya banyak ini menyerukan kepada keluarga bangsa yang kebetulan tidak sealiran agama, bahwa umat Islam itu memegang amanatnya sebagai umat yang menjunjung tinggi kemerdekaan beragama, bahkan memperjuangkan kemerdekaan agama dari tekanan dan tindasan siapapun (QS.al Hajj, 39-40). Maka, marilah kita kembali kepada “kalimatan sawaa’ “ antara sesama kita, yaitu tentunya tidak akan ada diantara kita yang mau meninggalkan penyembahan kepada Allah Yang Maha Esa. Untuk itu, umat Islam di wajibkan berpegang teguh hanya kepada tali Allah. Umat Islam berkewajiban menolak pemahaman secara tunduk kepada adanya permusuhan antara golongan dalam

Nuansa Kehidupan Islami 160

Pernik-Pernik Reformasi

masyarakat yang terkam menerkam serta terlepas dari tali Allah. Umat Islam berkewajiban pula memelihara hubungan horizontal, dalam bentuk pemeliharaan solidaritas sesama manusia, atas dasar ajaran bahwa seluruh manusia adalah kelauarga Allah, dan paling disayangNya adalah yang paling bermanfaat sesama hidup diantara manusia itu. Dalam kaedah tatanan bermasyarakat, agama menetapkan kepada setiap diri umatnya untuk memelihara rukun serta mempertahankan damai suasana kedamaian serta membukakan selalu pintu penyelesaian setiap permasalahan sengketa secara pula. Islam wajib dalam untuk damai

Maka umat Islam di Indonesia menyadari sepenuhnya bahwa mereka mempunyai tugas sebagai pendukung risalah yang patut dan pantas membulatkan semua tenaga dan mengerahkan semua benda serta menyatukan pemikirannya untuk kemashalahatan umat banyak.

Dari itu jangan salah mendasarkan sikap. Bahwa umat Islam telah dipilih dan dijadikan sebagai umat pertengahan (ummatan wasathan), yang memiliki kewajiban terhadap persatuan dan persaudaraan dunia serta perikemanusiaan. Karena itu, umat Islam memiliki kewajiban terlebih dahulu untuk menciptakannya dengan memulai dari diri sendiri. Kewajiban mesti harus lebih dahulu di tunaikan sebelum hak menjadi tuntutan. Allahu Akbar,

Nuansa Kehidupan Islami

161

1 1

QS.3:139, menyiratkan optimisme besar untuk penguasaan masa depan. Masa depan ditentukan oleh aktivitas amaliyah (QS.6:135) bandingkan QS.11:93 dan QS.11:121, juga QS.6:132 kemuliaan (darjah) sesuai dengan sumbangan hasil usaha.
2 3 3 4 5 5 6 6 7 7 8 8 9 9 1 1 11 1 12 1 13 1 14 1 15

Lihat QS.9:105, amaliyah khairiyah akan menjadi bukti ditengah kehidupan manusia (dunia). Melemahnya jati diri tersebab lupa kepada Allah atau hilangnya aqidah tauhid, lihat QS.9:67, lihat juga QS:59:19.

Lihat QS.9:122, supaya mendalami ilmu pengetahuan dan menyampaikan peringatan kepada umat supaya bisa menjaga diri (antisipatif). Lihat QS.4:9, mengingatkan penanaman budaya taqwa dan perkataan (perbuatan) benar.

Generasi yang tumbuh dalam persatuan yang kokoh kuat dengan I’tisham kepada Allah dan menjauhi setiap perpecahan (lihat QS.3:103, perbandingkan QS.4:145-146, sesuai QS.22:78). Lihat QS.6:54 dan QS.16:97, bandingkan QS.25:70-71. Lihat QS.19:40, dan QS.21:105, pewaris bumi adalah hamba Allah yang shaleh (baik), bandingkan dengan QS.7:128. Lihat QS.3:145 dan 148, lihat juga QS.4:134, dan bandingkan QS.28:80. Lihat QS.30:41 Lihat QS.66:6 bandingkan dengan QS.5:105. Lihat QS.4:58, selanjutnya dasar equiti (keadilan) adalah bukti ketaqwaan (QS.5:8) Sesuai QS.3:102, selanjutnya kemuliaan hanya pada bangsa yang bertaqwa (QS.49:13). “wa man yattaqillaha yaj’allahuu makhrajan”(QS.65:2-3) Lihat pula QS.3:160, dan QS.47:7. Lihat QS.28:83

10

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->