P. 1
Menuju Masyarakat Madani

Menuju Masyarakat Madani

5.0

|Views: 10,819|Likes:

More info:

Published by: H Masoed Abidin bin Zainal Abidin Jabbar on Jun 30, 2008
Copyright:Public Domain

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

12/18/2012

pdf

text

original

Implementasi Pemahaman Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah

IMPLEMENTASI ADAT BASANDI SYARAK, SYARAK BASANDI KITABULLAH MEMBENTUK MASYARAKAT MANDIRI DI SUMATRA BARAT
Oleh : H. Mas’oed Abidin

‫الحمد لله الذي بعث في الميين رسول منهم يتلو عليهم آياته‬ ‫ويزكيهفم ويعلمهفم الكتاب والحكمفة وإن كانوا مفن قبفل لففي‬ ‫ضلل مفبين ، ل إله إل الله ول نعبفد إل إياه، مخلصفين له الديفن‬ ‫ولو كره الكافرون. وأزكفى صفلوات الله وتسفليماته على سفيدنا‬ ‫وإمامنفا، وأسفوتنا وحبيبنفا محمفد صفلى الله عليفه وسفلم واله‬ ‫ف‬ ‫ف‬ ‫ف‬ ‫ف‬ ‫ف‬ ‫ف‬ ‫ف‬ .‫ورضي الله عن أصحابه، ومن سار على ربهم إلى يوم الدين‬ .....‫أما بعد‬
MUKADDIMAH

T

eguh membina perilaku beradat di Luhak Agam tampak dari penyiapan sarana surau dan lembaga pendidikan anak nagari pada

setiap nagari, dusun dan taratak, yang dititik beratkan kepada membentuk masyarakat berperilaku akhlaq dengan pemahaman syarak. Rarak kalikih dek mindalu, tumbuah sarumpun jo sikasek, Kok hilang raso jo malu, bak kayu lungga pangabek, dan Nak urang Koto Hilalang, nak lalu ka Pakan Baso, malu jo sopan kalau pangabek lah hilang, habihlah raso jo pareso. Pembinaan terpadu masyarakat ini diawali dari pareso rumah tangga, surau dan lingkungan menghidupkan gerakan mencerdaskan umat

H.

Mas’oed Abidin

1

Implementasi Pemahaman Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah

dan menanamkan akhlaq sesuai adat bersendi syarak, syarak bersendi Kitabullah, syarak mangato adat memakai, karena mengamalkan Firman Allah:

ً ٍ‫وَففما كَا ن ال ْمؤ ْمنُو ن لِيَنْفِروا كَافَّة فَلَوْل َ نَفَر م ن ك ُل فِرقَة‬ ِ ُ ‫َفف‬ ‫َفف‬ َ ْ ِّ ‫َ ِ ْفف‬ ُ ‫منْهُفم طَائِفَة لِيَتَفَقَّهُوا فِفي الدّي ن وَلِيُنْذ ِروا قَومهُفم إِذ َا رجعُوا‬ ٌ ِ َ َ ْ َ ْ ْ ُ ‫ِ ِف‬ َ َ ُ ْ ْ 122 :‫إِلَيْهِم لَعَل ّهُم ي َحذ َرون . التوبة‬ ْ
“Tidak sepatutnya bagi orang Mukmin itu pergi semuanya kemedan perang. Mengapa tidak pergi dari tiap-tiap golongan diantara mereka beberapa orang untuk memperdalam ilmu pengetahuan mereka tentang agama (syariat, syarak) dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya (dengan cara-cara mengamalkannya pada setiap perilaku dan tindakan dengan kehidupan beradat), apabila mereka telah kembali kepadanya – kekampung halamannya --, supaya mereka itu dapat menjaga dirinya.” (QS.IX, at Taubah, ayat 122).

MENYIKAPI PERUBAHAN ZAMAN

A

rus globalisasi dengan riak penetrasi dari luar tanpa adanya pagar budaya anak nagari yang kokoh yang berakibat kepada perilaku masyarakat, praktek pemerintahan, pengelolaan wilayah dan asset,

serta perkembangan norma dan adat istiadat di banyak nagari lebih mengedepankan perebutan prestise berbalut materialistis dan individualistik sehingga kepentingan bersama masyarakat terabaikan akhirnya idealisme kebudayaan Minangkabau kerapkali menjadi sasaran cercaan, dan pencapaian hasil kebersamaan (kolektifiteit) telah menjadi kurang dibanding pencapaian individual dimaksud. Maka “Kembali ke Nagari“, menurut hemat saya, semestinya harus lebih dititik beratkan kepada kembali banagari1 dalam makna kebersamaan itu.

MENUJU MASYARAKAT MADANI
1

Selama 21 tahun, telah terjadi banyak perubahan dalam sistim pemerintahan local -- Nagari di Minangkabau – menjadi desa (kelurahan) segaram dengan UU No.5 tahun 1979. Setelah reformasi, maka Perda No.9/2000 di Sumbar menetapkan Kembali Ke Pemerintahan Nagari sebagai peluang besar untuk penguatan dan masyarakat nagari di Minangkabau, Sumatra Barat. Mas’oed Abidin 2

H.

Implementasi Pemahaman Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah

adani mengandung kata maddana al-madaina (َ ‫ )م ّنن المدَا‬artinya, ‫َد َ َ ِئنن‬

M
berkaitan.2

banaa-ha (‫ )بنَاهَنا‬yakni membangun atau hadhdhara (َ ّ ‫ )ح‬yaitu َ ‫َضر‬ memperadabkan dan tamaddana (َ‫ )تم ّن‬artinya menjadi beradab -‫َ َد ن‬ yang nampak dalam kehidupan masyarakatnya berilmu (periksa,rasio),

memiliki rasa (emosi) secara individu maupun secara kelompok serta memiliki kemandirian (kedaulatan) dalam tata ruang dan peraturan-peraturan yang saling

Masyarakat madani (ّ‫ = الحضْري‬al hadhariyyu) adalah masyarakat berbudaya dan ِ َ al-madaniyyah (tamaddun) yang maju, modern, berakhlaq dan memiliki peradaban melaksanakan ajaran agama (syarak) dengan benar, karena agama (Islam) tidak dibatasi ruang-ruang masjid, langgar, pesantren, majlis ta’lim semata, namun menata gerak kehidupan riil, tatanan politik pemerintahan, sosial ekonomi, seni budaya, hak asasi manusia, ilmu pengetahuan dan teknologi untuk mewujudkan masyarakat yang hidup senang dan makmur (َ ّ ‫ = تَن‬tana'ama) dengan aturan ( ‫َع م‬ ّ‫ = َا ُوْ ن مدَنِي‬qanun madaniy) atau syarak mangato, adaik mamakai yang melindungi َ ٌ ‫قن‬ hak-hak privacy, kepemilikan (perdata, ulayat) dan hak-hak sipil masyarakatnya. Maka dapat disimpulkan bahwa masyarakat madani adalah masyarakat kuat berpendidikan dan berpandangan kota (urban) meskipun mereka mendiami daerah nagari dan taratak (rural) seperti nampak jelas dalam tatanan masyarakat Madinah el Munawwarah dimasa hayat Nabi Muhammad SAW. Ajaran Islam berdasar Alquran “mengeluarkan manusia dari sisi gelap kealam terang cahaya (nur).”3 Konsep ini menghantui paham sekuler materialistis meng-ikutsertakan agama dalam arena kehidupan. Padahal melupakan nilai dasar (basic of value) Islam dan hanya mengambil sisi luar (ritual ceremonial) akan kehilangan kemampuan bertarung ditengah perkembangan global. Masyarakat yang lalai dan senang menerima akan terjerumus kedalam penggadaian diri melecehkan nilai-nilai bangsa. Nilai dinul Islam melahirkan masyarakat proaktif menghadapi perubahan sebagai suatu realitas yang mendorong melakukan
2

Lihat Kamus Arab-Indonesia, Al Munawwir, Cet.XIV, Pustaka Progressif Surabaya, 1997, hal.1320. Lihat juga Al-Munjid fi al-Lughah al-'Arabi'ah al-Mu'ashirah, Cet. I, Daarul Musyrif Bairut, 2000, hal. 1326-1327. Lihat QS.14, Ibrahim : 1.

3

H.

Mas’oed Abidin

3

Implementasi Pemahaman Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah

perbaikan kearah peningkatan mutu dengan basis ilmu pengetahuan (knowledge base society), basis budaya (culture base sociaty) dan agama (religious base society). Tantangan besar menata ulang masyarakat dengan nilai berketuhanan dan tamaddun sebagai mata rantai tadhamun al Islami dengan mengenalkan kehidupan Islam ketengah peradaban manusia, dengan tujuan menggiring masyarakat menuju madaniyah (modern, maju, beradab), dan menjadi antitesis terhadap degradasi moral peradaban barat (westernisasi) dengan rancangan bersendi wahyu (Kitabullah). Masyarakat tamaddun adalah masyarakat integratif secara sosial, politik, ekonomi ditengah pergumulan problematika sosial dan pribadi masyarakatnya. Di dalam masyarakat Minangkabau hidup menjadi beradab (madani) dengan spirit kebersamaan (sa-ciok bak ayam sa-danciang bak basi), sesuai pepatah “Anggang jo kekek cari makan, Tabang ka pantai kaduo nyo, Panjang jo singkek pa uleh kan, mako nyo sampai nan di cito”, diperkuat dengan keterpaduan (barek sa-pikua ringan sa-jinjiang) atau “Adat hiduik tolong manolong, Adat mati janguak man janguak, Adat isi bari mam-bari, Adat tidak salang ma-nyalang”4, nyata pada tangga musyawarah (bulek aie dek pambuluah, bulek kato dek mupakat), dalam kerangka “Senteng ba-bilai, Singkek ba-uleh, Ba-tuka ba-anjak, Barubah ba-sapo” dalam menerjemahkan iman kepada Allah SWT dan menjadi pengikat spirit sunnatullah dalam setiap gerak. Mengenali alam keliling “Panggiriak pisau sirauik, Patungkek batang lintabuang, Satitiak jadikan lauik, Sakapa jadikan gunuang, Alam takambang jadikan guru ”5, melahirkan sikap cinta ke nagari, menjadi perekat pengalaman sejarah6, melahirkan sikap positif menjaga batas-batas patut dan pantas, tidak terbawa hanyut materi dan hawa nafsu yang merusak sehingga terbentuk umat utama yang kuat dengan sehat fisik, sehat jiwa, sehat ide (pemikiran), dan sehat social, ekonomi,
4

5

6

Basalang tenggang, artinya saling meringankan dengan dukungan terhadap kehidupan dan “Karajo baiak ba-imbau-an, Karajo buruak bahambau-an”. Alam ini tidak diciptakan dengan sia-sia. Di dalamnya terkandung faedah kekuatan, dan khasiat yang diperlukan untuk mempertinggi mutu hidup jasmani manusia dengan bekerja membanting tulang dan memeras otak untuk mengambil sebanyak faedah dari alam dengan menikmati sambil mensyukurinya dan beribadah kepada Ilahi Yang Maha Kuasa. Bukti kecintaan kenagari ini banyak dalam ungkapan hujan ameh dirantau urang hujang batu dinagari awak, tatungkuik samo makan tanah tatilantang samo mahiruik ambun. Mas’oed Abidin 4

H.

Implementasi Pemahaman Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah

pendidikan dalam masyarakat sekitarnya dalam ruang lingkup sama (integratif), memiliki interrelasi dalam satu garistengah pemikiran Islam, menjadi "benang hijau" dan tidak menimbulkan gesekan karena mengambil bentuk pemikiran konstruktif (amar makruf) dan meninggalkan pemikiran destruktif (nahyun 'anil munkar) melalui pembentukan tata cara hidup yang diajarkan agama Islam (syarak), yakni berdikari terhadap diri sendiri tanpa tergantung orang lain (self help), membantu dengan ikhlas karena Allah SWT (selfless help), dan saling bekerjasama membantu satu sama lain (mutual help).

MORALITAS MASYARAKAT MADANI
ikap hati-hati sangat dituntut terhadap seorang Muslim sesuai ajaran Islam diawali dengan hati-hati berfikir, meraih keberhasilan, menjadi

ukuran kecerdasan, memiliki wawasan kedepan dan tanda kedewasaan. Ditengah persimpangsiuran free flows of words and image, bebas menyajikan yang menarik perhatian, dalam bentuk penayangan media informasi elektronika menapak alaf kesejagatan, maka sikap hati-hati menyerap informasi dengan memeranfungsikan filter budaya (tamaddun) dengan memakai takaran pantas dan patut, boleh dan tidak, sesuai anutan ajaran agama (religi) yang tidak semata bertumpu pada keinginan individual belaka. Salah menerjemahkan suatu informasi, berpengaruh bagi penentuan sikap dan pengambilan keputusan, terutama pada kondisi tidak menentu didorong sikap tergesa-gesa, prejudice, dapat berdampak jauh terhadap keselamatan orang banyak dalam suatu tatanan masyarakat majemuk (pluralis). Ajaran Islam sesuai Alquran, mengingatkan agar setiap muslim selalu berhati-hati dan tidak cepat mempercayai suatu berita yang sumbernya

S

H.

Mas’oed Abidin

5

Implementasi Pemahaman Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah

diragukan dan datang dari kelompok fasik yang suka memancing tumbuhnya kemelut. Sikap tabayun, cek dan ricek dalam menerima berita mesti selalu dipakai, agar tidak silap menetapkan amar putusan yang menyisakan penyesalan panjang, dengan menghukum kaum yang tidak bersalah. Maka meninggalkan tabayun memancing lahirnya tindakan zalim atau aniaya.

Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti, agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu (QS. al-Hujurat : 6).

َ ‫يَاأَيُّهَا ال ّذِين ءَامنُوا إ ِن جاءَك ُم فَاسقٌ بِنَبَأ ٍ فَتَبَيَّنُوا أ َن ت ُصيبُوا قَوما‬ ِ ِ ْ َ ْ ً ْ ْ َ َ ‫ب ِجهَالَةٍ فَت ُصب ِحوا ع َلَى ما فَعَلْت ُم نَاد ِمين‬ ُ ْ َ ْ َ َ ِ

Luhak Agam daerah yang indah, seakan qith’ah minal jannah fid-dun-ya, sepotong syorga yang menghiasi dunia. Betapa hinanya, bila negeri kaya jadi miskin dari kecintaan sesama. Pemahaman keindonesiaan yang mantap mesti tertanam dalam

pengembangan wilayah luhak Agam, agar tidak menjadi sasaran empuk konspirasi dan perebutan kepentingan internasional. Masyarakat Agam khususnya, dan Sumatra Barat umumnya harus menjadi besar dan kuat dengan kecerdasan (rasyid) memiliki kearifan masa datang dan selalu berpegang kepada ajaran Alquran.

“Dan ketahuilah olehmu bahwa di kalangan kamu ada Rasulullah. Kalau ia menuruti (kemauan) kamu dalam beberapa urusan benar-benarlah kamu akan mendapat kesusahan tetapi Allah menjadikan kamu cinta kepada keimanan dan menjadikan iman itu indah dalam hatimu serta menjadikan kamu benci kepada kekafiran, kefasikan dan kedurhakaan. Mereka itulah orang-orang yang mengikuti jalan yang lurus". (QS.49, al-Hujurat:7).

َ َّ َ ‫ْ َ ُف‬ ‫وَاع ْل َموا أ َفن فِيك ُفم ر سول الل ّفه لَوْ يُطِيعُك ُفم فِفي كَثِيرٍ م ن ال َمر‬ ِ ْ ِ ْ ْ ‫ِ َف‬ َ‫َ ُ ُ َ َ ّف‬ ‫لعَنِت ّفم وَلك ِفن الل ه حب َّفب إِلَيْك م الِيما نَف وَزيَّن َفه فِفي قُلُوبِك م وَك َرهف‬ َ َ َ ْ َ َّ ْ ‫ُف‬ ُ َ َ ْ ُ ‫ُف‬ ّ َ‫إِلَيْك ُم الْكُفْر وَالْفسوقَ وَالْعِصيَان أُولَئ ِك‬ ‫هُم الراشدُون‬ ِ َّ ُ َ َ ْ ُ ُ ُ َ

Artinya, di tengah pergumulan hidup ada sunnah Rasul Allah. Bila pegangan ini dilupakan, dengan mengikuti pendapat kebanyakan manusia, niscaya laknat akan menimpa berupa kesesatan. Menyadari bahwa Allah SWT.

H.

Mas’oed Abidin

6

Implementasi Pemahaman Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah

telah menghiasi hati setiap muslim dengan iman, menanamkan kebencian kepada kufur, dosa dan maksiyat, maka nikmat anugerah Allah. Moralitas hidup berbangsa, cinta persaudaraan dan persatuan (ukhuwah), tidak menghina dan merendahkan satu golongan, tidak mencari kesalahan dengan menggunjing merusak diri dan kehormatan, namun teguh dalam menciptakan ishlah, perbaikan dan reformasi, menegakkan keadilan dan taat hukum, merupakan kekuatan ampuh dalam merebut kejayaan7. Akhlaq mulia ini perlu secara sungguh dipertahankan sebagai kekuatan ampuh dalam menapak alaf baru, karena jika nilai moral ini sudah pupus dari bangsa ini, maka secara pasti akan lahir manusia modern yang biadab. Na’udzubillah. umat yang besar jumlahnya akan menjadi lebih kuat, berkecerdasan tinggi, sebagai ukuran dari keutamaan dan

Memperkuat Umat Menghormati Perbedaan

D

alam perubahan global potensi masyarakat mandiri akan membendung gelombang penetrasi budaya secara bersama. Merosotnya peran kelembagaan adat dan syarak di Minangkabau terkait pada kurang berpungsinya surau menjadi lembaga pendidikan

anak nagari dan lemahnya pagar adat dalam kekerabatan serta hilangnya daya saing pemuka adat membina anak nagari. Disini pokok permasalahan yang amat perlu diamati. Mendudukkan peran serta masyarakat memerlukan musyawarah dan mufakat. Kekayaan sangat berharga yang tersimpan didalam adat salingka nagari mesti digerakkan menjadi kekuatan dasar bagi membangun daerah dan negara. Perbedaan mesti dihormati, karena “Perbedaan di tengah-tengah umatku adalah rahmat” (Al Hadist). Perubahan adalah satu undang-undang alami, “innaz-zaman qad istadara”, -- zaman berubah masa berganti (Al Hadist) --. Artinya, “Pawang biduak nak rang Tiku, Pandai mandayuang manalungkuik, Basilang kayu dalam tungku, Di sinan api mangko hiduik”. Kitabullah yang menjadi landasan dari syarak

7

Lihat QS.49, al Hujarat : 7-13. Mas’oed Abidin 7

H.

Implementasi Pemahaman Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah

mangato adat memakai, menjelaskan tentang penghormatan terhadap perbedaan itu,

ُ ْ ‫يَاأَيُّهَفا النَّا س إِن ّفا خلَقْنَاك ُفم م ن ذ َكَرٍ وَأُنْث َفى وَجعَلْنَاك ُفم شعُوب ًفا‬ َ َ ‫ُف‬ َ ‫ْ ِ ْف‬ َ َ َّ َّ َ ‫وَقَبَائ ِل لِتَعَارفُوا إ ِفن أَك ْرمك ُفم عنْد َ الل ّفهِ أَتْقَاك ُفم إ ِفن الل ّفه عَلِي م‬ ِ ْ َ َ ‫ٌف‬ َ ْ َ 13 :‫خبِير الحجرات‬ ٌ َ
“Wahai manusia, sesungguhnya Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berkabilah-kabilah (bangsabangsa)dan berpuak-puak (suku-suku) supaya kamu saling kenal mengenal …”, (QS.49, al Hujurat : 13).

TUNTUTAN ZAMAN

S

eiring perkembangan zaman, masyarakat memerlukan pendidikan berkualitas (quality education) guna memproduk SDM yang diperlukan pasar kerja agar dapat ujud duduak samo randah tagak samo

tinggi dalam tata pergaulan masyarakat majemuk dan maju. Di awal abad 18, penggagas dan pengasuh surau memiliki jalinan kuat dengan masyarakat dalam satu ikatan saling menguntungkan (symbiotic relationship). Surau menjadi kekuatan (silent opposition) terhadap penjajahan dan penetrasi budaya dari luar. Dari surau lahir respon pemimpin dan komunitas Minangkabau menantang penjajahan budaya, sehingga umat kuat. Masyarakat Minangkabau sangat akomodatif seiring pemahaman syariat dalam membentuk watak anak nagari dan kondisi ini telah menjadi pendorong masyarakat lebih maju dan sangat dinamis. Senyatanya inilah kekuatan lain untuk menyusun masyarakat Madani itu.

PARADIGMA TAUHID (LAA ILAAHA ILLA ALLAH)

N
H.

abi Muhammmad SAW. membawa perubahan mendasar dengan revolusi aqidah terhadap seluruh spirit kehidupan manusia (social reform), yang dimulai dengan keyakinan tauhid ditengah

Mas’oed Abidin

8

Implementasi Pemahaman Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah

galau kepercayaan manusia ketika itu. Ketepatan bertindak adalah warisan masyarakat madani, berbudaya, maju, menghormati hak-hak sipil, mengutamakan ilmu pengetahuan, dan toleran dalam pergaulan. Kekuatan

tamaddun dan tadhamun (budaya) dari syarak (Islam) menyebar kepenjuru benua dalam waktu pendek menjadi rujukan pemikiran, pola tindakan masyarakat berbudaya memasuki Spanyol, Toulouse (Perancis), Samarkand, Turkistan,India, Cina, sampai jantung Asia di timur. Pelanjut risalah menawarkan sunnah dengan hati-hati (tsiqat), memilih tema dan waktu di iringi keberanian jihad. Teguh prinsip dalam revolusi paradigma tauhid dan paradigma akhlaqul karimah melaksanakan ajaran Islam sesuai ajakan “Islamlah kamu supaya selamat” (al Hadist). Gelombang revolusi keyakinan Aqidah dan Akhlaq8 yang dibawa oleh Muhammad SAW bertumpu kepada paradigma Laa ilaaha illa Allah (aqidah tauhid), artinya tiada yang berhak disembah kecuali hanya Allah adalah komitmen terhadap keesaan Allah dan menjadi wujud hubungan logis makhluk dengan Khalik (hablum min Allah dan hablum min an-nas), yakni penyerahan total kepada kedaulatan Allah.9 Setiap permintaan perlindungan kepada selain Allah, adalah terlarang. Berpijak kepada paradigma ini, manusia terbimbing dengan sikap tauhid (aqidah kokoh), kesabaran (teguh sikap jiwa) yang konsisten, keikhlasan (motivasi amal ikhtiar), tawakkal (penyerahan diri secara bulat) kepada kekuasaan Allah yang jadi ciri utama (sibghah, identitas) iman dan takwa secara nyata yang memiliki relevansi diperlukan setiap masa, dalam menata sisi-sisi kehidupan kini dan masa depan. Ditengah manusia secara perkembangan serius. kehidupan berbalut ini materi menjadi dan ilmu

pengetahuan, sains dan teknologi, terbayang kemerosotan nilai-nilai sipiritual Kemerosotan nilai-nilai penyebab berjangkitnya penyakit mental yang kronis, hilangnya pegangan hidup, kaburnya kebahagian yang di dambakan, Ilmu pengetahuan, sains, teknologi
8

9

Gerakan dakwah ini, terbukti telah mengubah masyarakat jahiliyah menjadi masyarakat maju, melalui proses civilisasi yang beradab, dari gelap kepada terang (QS.14,Ibrahim:1) Tiada sesuatupun yang berhak di sembah dan tidak ada pula tempat meminta pertolongan, kecuali semata hanya kepada Allah zat Yang Esa (QS.1,al-Fatihah: 5, juga QS.112, al-Ikhlas:15). Mas’oed Abidin 9

H.

Implementasi Pemahaman Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah

yang dikejar-kejar dengan mengorbankan banyak materi, tidak jarang memenjarakan manusia dalam kekosongan jiwa yang akut. Keberhasilan kemajuan materi dan ilmu pengetahuan, sains dan teknologi ini, dibarengi hilangnya pegangan hidup berujung dengan kehidupan kehilangan arah. Kesudahannya, terperosok kedalam lingkaran tak berujung pangkal (viceuse circle) ditengah siklus materialis individualis (dahriyyin) akhirnya berkembang menjadi sekuler atheistis. Suatu individu atau kelompok yang kehilangan pegangan hidup, walau secara lahiriyah kaya materi tetapi miskin mental spiritual, ber-peluang besar terperosok kedalam tingkah yang tidak mencerminkan nilai-nilaii kemanusiaan. Kerapkali pula terperangkap kepada menghancurkan nilai-nilai kemanusiaan sendiri, dan berperan aktif menukar nilai kehidupan diluar nilai kemanusiaan. Ironis dan tragis, apalagi kalau menjangkiti kelompok umat yang disebut muslim pula. Kurangnya perhatian kepada perusakan lingkungan moral dan akhlaq manusia, justru sangat berperan lebih merusak generasi manusia itu. Bahayanya lebih parah dari kerusakan lingkungan (ekosistim). Perusakan lingkungan moral hanya dapat diantisipasi dengan kembali kepada paradigma tauhid. Menghindari bahaya pengrusakan moral hanya dengan
10

konsekwen

melaksanakan revolusi paradigma dengan spirit Laa ilaha illa Allah, teguh berdisiplin mengikuti perintah Allah. Dengan paradigma tauhid ditemui ketegasan gagasan maupun gerak tidak ada satupun perintah yang paling utama untuk diikuti, kecuali hanya perintah Allah semata. Paradigma tauhid memantapkan keberadaan manusia dalam alur kehidupan yang benar. Indentitas Paradigma tauhid, terlihat pada sibghah (ciri-ciri) gerak dan gagasan secara tegas dapat membedakan pola hidup atau pandangan manusia

10

Nabi Muhammad SAW, mengingatkan perintah Allah Yang Maha Menjadikan “Janganlah berbuat perusakan (fasad) di bumi, Allah tidak suka kepada pembuat kerusakan” (Alquran). Mas’oed Abidin 10

H.

Implementasi Pemahaman Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah

bertauhid itu.11 Paradigma tauhid adalah pandangan hidup dengan kepercayaan yang bulat terhadap kekuasaan Allah Yang Maha Kuasa, melahirkan sikap positif dan dinamis. Paradigma Laa ilaha illa Allah, mengingatkan manusia untuk tidak terjatuh kepada sikap fatalistis (qadariyah), yakni menggantungkan hidup kepada perputaran nasib, tanpa ada upaya untuk berbuat merebut nasib itu. Tauhid mendorong manusia untuk memaksimalisasi seluruh daya pikir, daya cipta, daya upaya, menjadi modal dasar untuk menata kehidupan. Modal dasar ini perlu diasah dengan ilmu pengetahuan dan perlu diasuh dengan kecermatan dan kerajinan, dengan menjauhi watak syaithaniyah yaitu lalai, lengah dan angkuh (sombong). Dinamisasi sikap hidup berlandaskan keyakinan tauhid sangat menentukan bentuk lahir-bathin dari karya amal manusia. Motivasi amaliah ini bertumpu kepada paradigma tauhid yang benar. Menempatkan tauhid sebagai landasan berpikir, beramal, bertindak, serta menjadikan paradigma tauhid ini sebagai pijakan, dalam seluruh aspek kehidupan, politik, ekonomi, sosial, budaya, akan terjalinkan hubungan vertikal yang substansial langgeng berketerusan (sustained) antara makhluk dengan Khalik. Secara aktual tampak pada gerak yang ikhlas, perilaku tawadhuk, upaya yang tawakkal dan amalan usaha mencari redha Allah. Paradigma tauhid, adalah suatu gelombang revolusi keyakinan menghadapi kenyataan hidup manusia yang multi aspek, telah di gulirkan oleh Nabi Muhammad Rasulullah SAW sejak limabelas abad silam dalam masyarakat madani. Sebenarnya, hasil utama dari revolusi paradigma Laa ilaha illa Allah mampu mewujudkan “rahmatan lil-‘alamin”, atau tatanan kebahagian dan rahmat untuk seluruh alam ini. Insya Allah.

11

Paradigma Laa ilkaha illa Allah, adalah suatu keyakinan atau kepercayaan utuh tentang ke Esaan Allah yang sama sekali tidak bisa disebandingkan bahkan tidak bisa disejajarkan dengan ketunggalan asas kekuasaan manapun di dunia ini, baik yang tampak ataupun tidak. Asas Paradigma Tauhid menetapkan adanya asas absolut pada ketunggalan Allah atau ke Esa-an Allah Yang Maha Esa, dan secara absolut pula sama sekali berbeda dengan makhluk, sesuai FirmanNya menyebutkan “Katakanlah, Allah itu Maha Esa. Allah adalah tempat bergantungnya segala sesuatu. Tidak beranak dan tidak pula diperanakkan. Dan tidak ada sesuatupun yang menyamaiNya” (QS.112,al Ikhlas,1-4). Mas’oed Abidin 11

H.

Implementasi Pemahaman Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah

MEMAHAMI SYARAK MANGATO ADAT MEMAKAI

M

asyarakat adat berdasar syariat yang bersendikan Kitabullah, memahami bahwa kaedah-kaedah adat dipertajam makna dan fungsinya oleh kuatnya peran syariat. Pelajaran-pelajaran sesuai syarak itu, antara lain dapat diketengahkan,

1. Mengutamakan prinsip hidup berkeseimbangan

“Dan jika kamu menghitung-hitung ni’mat Allah, niscaya kamu tidak dapat menentukan jumlahnya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Pengampun lagi maha Penyayang” (QS.16, An Nahl : 18). Hukum Syarak menghendaki keseimbangan hidup rohani dan jasmani ; "Sesungguhnya jiwamu (rohani-mu) berhak atas kamu (supaya kamu pelihara) dan badanmu (jasmanimu) pun berhak atasmu supaya kamu pelihara" (Hadist). Keseimbangan ini semakin jelas wujud dalam kemakmuran di Minangkabau “Rumah gadang gajah maharam, Lumbuang baririk di halaman, Rangkiang tujuah sajaja, Sabuah banamo si bayau-bayau, Panenggang anak dagang lalu, Sabuah si Tinjau lauik, Birawati lumbuang nan banyak, Makanan anak kamanakan. Manjilih ditapi aie, Mardeso di paruik kanyang". Bimbingan syarak, "Berbuatlah untuk hidup akhiratmu seolah-olah kamu akan mati besok dan berbuatlah untuk hidup duniamu, seolah-olah akan hidup selama-lamanya" (Hadist).

َ َ َ ‫وَإ ِن تَعُدُّوا نِعمة الل ّهِ ل ت ُحصوهَا إ ِن الل ّه لَغَفُور رحيم‬ َ َ ْ ّ ْ ٌ ِ َ ٌ َ ُ ْ

2. Kesadaran kepada luasnya bumi Allah, merantaulah ! Allah telah
menjadikan bumi mudah untuk digunakan. Maka berjalanlah di atas permukaan bumi, dan makanlah dari rezekiNya dan kepada Nya lah tempat kamu kembali.

َّ ‫فَإِذ َا قُضي َت الصلة ُ فَانْت َشروا فِي الرض وَابْتَغُوا من فَضل‬ ِ ِ ِ ْ ْ ِ ُ ِ ِ ْ َ َ َ ‫الل ّهِ وَاذ ْك ُروا الل ّه كَثِيرا لَعَل ّك ُم تُفْل ِحون‬ َ ُ َ ْ ً ُ
“Maka berpencarlah kamu diatas bumi, dan carilah karunia Allah dan (di samping itu) banyaklah ingat akan Allah, supaya kamu mencapai kejayaan", (QS.62, Al Jumu’ah : 10). Agar supaya “jangan tetap tertinggal dan terkurung dalam lingkungan yang kecil”, dan sempit,

‫قَالُوْا أَل َم تَك ُن أ َرض اللهِ وَاسعَة فَتُهَا جروا فِيْهَا‬ ً ِ ْ ُ ْ ْ ُ ِ

H.

Mas’oed Abidin

12

Implementasi Pemahaman Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah

"Bukankah bumi Allah itu luas, sehingga kamu dapat berhijrah di bumi itu?". (QS.4, An Nisak : 97) Merantau di Minangkabau adalah sesuatu pelajaran dalam perjalanan hidup, “Karatau madang di hulu babuah babungo balun. Marantau buyuang dahulu di rumah paguno balun. Akan tetapi, selalu ditanamkan pentingnya kehati-hatian, “Ingek sa-balun kanai, Kulimek sa-balun abih, Ingek-ingek nan ka-pai, Agak-agak nan ka-tingga”.

3. Mencari nafkah dengan "usaha sendiri", dengan tulang delapan kerat dan cara
amat sederhana sekalipun "lebih terhormat", daripada meminta-minta dan menjadi beban orang lain, "Kamu ambil seutas tali, dan dengan itu kamu pergi kehutan belukar mencari kayu bakar untuk dijual pencukupkan nafkah bagi keluargamu, itu adalah lebih baik bagimu dari pada berkeliling meminta-minta". (Hadist). Membiarkan diri hidup dalam kemiskinan tanpa berupaya adalah salah , "Kefakiran (kemiskinan) membawa orang kepada kekufuran (keengkaran)" (Hadist).

4. Tawakkal dengan bekerja dan tidak boros adalah satu bentuk keseriusan dan
tidak "hanya menyerahkan nasib" tanpa berbuat apa-apa, "Bertawakkal lah kamu, seperti burung itu bertawakkal" (Atsar dari Shahabat). Artinya, pemahaman syarak menanamkan dinamika hidup yang tinggi.

5. Kesadaran kepada ruang dan waktu. Menyadari bahwa peredaran bumi,

َ 11 -10 :‫وَجعَلْنَا اللَّي ْل لِبَاسا(01)وَجعَلْنَا النَّهَار معَاشا(11) النبأ‬ ً َ َ َ َ ً

bulan dan matahari, pertukaran malam dan siang, menjadi bertukar musim berganti bulan dan tahun, adalah hukum alam semata.

"Kami jadikan malam menyelimuti kamu (untuk beristirahat), dan kami jadikan siang untuk kamu mencari nafkah hidup". (QS.78, An Naba’ : 10-11)

6. Arif akan adanya perubahan-perubahan dengan pandai mengendalikan diri,
agar jangan melewati batas, dan berlebihan, “Ka lauik riak mahampeh, Ka karang rancam ma-aruih, Ka pantai ombak mamacah. Jiko mangauik kameh-kameh, Jiko mencancang, putuih – putuih, Lah salasai mangko-nyo sudah”. Pemahaman syarak menekankan kepada kehidupan yang dinamis, mempunyai martabat (izzah diri), bekerja sepenuh hati, menggerakkan semua potensi yang ada, dengan tidak menyisakan kelalaian ataupun ke-engganan. Tidak berhenti sebelum sampai. Tidak berakhir sebelum benar-benar sudah.

KONSEP TATA RUANG YANG JELAS

H.

Mas’oed Abidin

13

Implementasi Pemahaman Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah

N

agari di Minangkabau berada di dalam konsep tata ruang yang jelas. Basasok bajarami, Bapandam bapakuburan, Balabuah batapian, Barumah batanggo, Bakorong bakampuang, Basawah baladang, Babalai bamusajik.

Ba-balai (balairuang atau balai-balai adat) tempat musyawarah dan menetapkan hukum dan aturan ; “Balairuang tampek manghukum, ba-aie janieh basayak landai, aie janiah ikan-nyo jinak, hukum adie katonyo bana, dandam agiae kasumaik putuih, hukum jatuah sangketo sudah”. Ba-musajik atau ba-surau tempat beribadah, “Musajik tampek ba ibadah, tampek balapa ba ma’ana, tampek balaja Alquran 30 juz, tampek mangaji sah jo batal”12, Artinya ada pusat pembinaan umat untuk menjalin hubungan masyarakat yang baik (hablum-minan-naas) dan terjamin pemeliharaan ibadah dengan Khalik (hablum minallah). Adanya balairuang dan musajik (surau) menjadi lambang utama terlaksananya hukum -- kedua lembaga – balairung dan mesjid – ini merupakan dua badan hukum yang disebut dalam pepatah : “Camin nan tidak kabuah, palito nan tidak padam”13—di dalam pemahaman “adat basandi syarak, syarak basandi Kitabullah., syarak mangato adat nan kawi syarak nan lazim”. Kedua lembaga ini – balai adat dan surau – keberadaannya tidak dapat dipisah dan dibeda-bedakan. “Pariangan manjadi tampuak tangkai, Pagarruyuang pusek Tanah Data, Tigo Luhak rang mangatokan. Adat jo syarak jiko bacarai, bakeh bagantuang nan lah sakah, tampek bapijak nan lah taban”. Apabila kedua sarana ini berperan sempurna, maka di kelilingnya tampil kehidupan masyarakat yang berakhlaq perangai terpuji dan mulia (akhlaqul-karimah) itu. “Tasindorong jajak manurun, tatukiak jajak mandaki, adaik jo syarak kok tasusun, bumi sanang padi manjadi”. Sebenarnya, nagari dalam daerah Minangkabau, Sumatra Barat, seakan sebuah republik kecil yang mempunyai sistim demokrasi murni, pemerintahan
12

Memang di surau tidak ada yang dapat di cari benda-benda (materi), kecuali hanya bekal ilmu, hikmah dan kepandaian-kepandaian untuk mengharungi hidup di dunia ini, dan dalam mempersiapkan hidup di akhirat. Sebagai terungkap di dalam Peribahasa Minangkabau, “bak batandang ka surau”, karena memang surau tak berdapur (Anas Nafis, 1996:464 -Surau-2). 13 Dt.Rajo Pengulu, Rangkaian Mustika Adat Basandi Syarak di Minangkabau, 1994, hal : 62.
H.

Mas’oed Abidin

14

Implementasi Pemahaman Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah

sendiri, asset sendiri, wilayah sendiri, perangkat masyarakat sendiri, sumber penghasilan sendiri, bahkan hukum dan norma-norma adat sendiri. Konsep tata-ruang adalah salah satu kekayaan budaya yang sangat berharga di nagari dan bukti idealisme nilai budaya di Minangkabau, termasuk di dalam mengelola kekayaan alam dan pemanfaatan tanah ulayat. “Nan lorong tanami tabu, Nan tunggang tanami bambu, Nan gurun buek kaparak, Nan bancah jadikan sawah, Nan munggu pandam pakuburan, Nan gauang katabek ikan, Nan padang kubangan kabau, Nan rawang ranangan itiak”. Tata ruang yang jelas memberikan posisi peran pengatur, pemelihara. Pendukung sistim banagari yang terdiri dari orang ampek jinih, yang terdiri dari ninikmamak ( yakni penghulu pada setiap suku, yang sering juga disebut ninikmamak nan gadang basa batuah, atau nan di amba gadang, nan di junjung tinggi, sebagai suatu legitimasi masyarakat nan di lewakan.), alim ulama (juga disebut dengan panggilan urang siak, tuanku, bilal, katib nagari atau imam suku, dll dalam peran dan fungsinya sebagai urang surau pemimpin agama Islam. Gelaran ini lebih menekankan kepada pemeranan fungsi ditengah denyut nadi kehidupan masyarakat (anak nagari), cerdik pandai (dapat saja terdiri dari anak nagari yang menjabat jabatan pemerintahan, para ilmuan, perguruan tinggi, hartawan, dermawan), urang mudo (yakni para remaja, angkatan muda, yang dijuluki dengan nan capek kaki ringan tangan, nan ka disuruah di sarayo). Dan bundo kanduang (terdiri dari kalangan ibu-ibu, yang sesungguhnya ditangan mereka terletak garis keturunan dalam sistim matrilinineal dan masih berlaku hingga saat ini, lebih jelasnya di ungkap di dalam Pegangan Penghulu, Bundo Kanduang di Minangkabau, adalah menjadi “limpapeh rumah nan gadang,umbun puruak pegangan kunci, pusek jalo kumpulan tali, sumarak dalam nagari, nan gadang basa batuah”).

H.

Mas’oed Abidin

15

Implementasi Pemahaman Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah

Maka, nagari di Minangkabau tidak sebatas pengertian ulayat hukum adat. Lebih mengedepan dan utama adalah wilayah kesepakatan antar berbagai komponen masyarakat di dalam nagari . Sikap hidup ini, menjadi sumber pendorong kegiatan di bidang ekonomi. Tujuan utama untuk keperluan jasmani (material needs). Hasilnya tergantung kepada dalam atau dangkalnya sikap hidup tersebut berurat dalam jiwa masyarakat nagari. Dan bergantung pula kepada tingkat kecerdasan yang telah dicapai.

MEMULAI DENGAN IBADAH

M

engabdi kepada Allah merupakan nilai ruhiyah, dan tanpa nilainilai itu kehidupan fisik duniawi yang nyata ini terasa hambar dan kosong. Maka nikmat besar itu sesungguhnya adalah kesempatan mempersembahkan anugerah kehidupan sebagai

makhluk Allah sesuai dengan eksistensi kita dijadikan.

“tidak dijadikan makhluk jinn dan manusia, hanya semata untuk mengabdi kepada Allah“.(QS. Adz-dzariyat, ayat 56). Suatu kaedah yang sering dilupakan masa sekarang adalah “man ‘arafa nafsahu fagad ‘arafa rabbahu”, artinya siapa yang ingat dirinya akan mengenal Tuhannya. Secara maknawi berisikan pemahaman yang mendalam, bahwa “yang melupakan Tuhannya jua yang selalu berpeluang lupa kepada diri sendiri”. Allah telah mengingatkan kita semua agar tidak terjatuh kepada kehidupan masyarakat tak tahu diri sebagaimana disebutkan dalam FirmanNya;

َّ ِ ‫وما خلَقْت ال ْجن وَالِن ْس إِل لِيَعْبُدُون‬ َ َ َ ُ َ ِ

H.

Mas’oed Abidin

16

Implementasi Pemahaman Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah

َ َ َ ‫ول تَكُونُوا كَال ّذِي ن ن َففسوا الل ّففه فَأَن ْففساهُم أَنْفُ فسهُم أُولَئ ِففك هُففم‬ ُ ُ ْ َ ْ َ َ ‫َفف‬ ‫الْفَاسقُون‬ ِ َ
“janganlah kamu menjadi kelompok yang melupakan Allah, karena akibatnya adalah Allah akan menjadikan kamu lupa terhadap dirimu sendiri, itulah mereka yang fasik” (QS.al Hasyr : 19). Lupa diri berujung kepada lupa daratan, kesudahannya akan tersesat dalam pelayaran hidup ini. Manusia yang tak tahu diri, seringkali terjerembab kepada sikap sombong, takabur, angkuh yang berujung dengan kufur nikmat dan dampaknya adalah melecehkan ketentuan-ketentuan hukum Allah, akhirnya bersikap perangai tidak perduli dengan alam lingkungan, bahkan sering melupakan tata hubungan bermasyarkat yang tampak pada hilangnya rasa toleransi (ukhuwwah) dan tumbuh perangai permisif yakni mengerjakan sesuatu seenak hati, akhirnya berkecenderungan tanpa pengindahan norma-norma yang berlaku. Gejala ini yang sering tampil dipermukaan dalam kehidupan masyarakat hari ini, terutama menjangkiti kaula muda yang telah terperangkap dalam kehidupan tak menentu atau “X-Generation” yakni suatu generasi yang tercabut dari akar budaya (tamaddun) tempat mereka ditumbuhkan. Kondisi inilah yang sangat ditakuti menjangkiti generasi Asia masa datang. Beberapa penyakit masyarakat sesudahnya bisa berkembang dengan pesat, seperti ritual sinkeritis, agama ceremonial, hilang pegangan hidup, cepat stress, bersikap pesimis, budaya lepak yang pada dasarnya banyak disebabkan oleh kehidupan yang disungkup paham-paham materalisme, individualisme, liberalisme atau kebebasan yang salah pasang, dan westernisasi padanannya untuk negeri timur yang berbudaya. Sebenarnya yang kita perlukan adalah modermisasi yang terarah sesuai dengan budaya bangsa, tidaklah semata kemajuan fisik dengan menggadaikan nilai-nilai moral atau harga diri bangsa yang pada awalnya mempunyai semangat patriotisme. yang bukan

H.

Mas’oed Abidin

17

Implementasi Pemahaman Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah

Dukungan masyarakat adat dan kesepakatan tungku tigo sajarangan yang terdiri dari ninikmamak, alim ulama, cadiak pandai, bundo kanduang dan kalangan rang mudo, menjadi penggerak utama mewujudkan tatanan sistim di nagari. Terutama dalam menerjemahkan peraturan daerah kembali kepemerintahan nagari. Hakekatnya, anak nagari sangat berkepentingan dalam merumuskan nagarinya. Konsep ini mesti tumbuh dari akar nagari itu sendiri. Tidak suatu pemberian dari luar. “Lah masak padi 'rang Singkarak, masaknyo batangkai-tangkai, satangkai jarang nan mudo, Kabek sabalik buhul sintak, Jaranglah urang nan ma-ungkai, Tibo nan punyo rarak sajo”, artinya diperlukan orang-orang yang ahli dibidangnya, terutama dalam menatap setiap perubahan peradaban yang tengah berlaku. Hal ini perlu dipahami, supaya jangan tersua “ibarat mengajar kuda memakan dedak”. Masyarakat nagari tidak terdiri dari satu keturunan (suku) saja, tetapi asal muasalnya berdatangan dari berbagai daerah di sekeliling ranah bundo. Namun mereka dapat bersatu dalam satu kaedah hinggok mancangkam tabang basitumpu atau hinggok mencari suku dan tabang mencari ibu. “Hiyu bali balanak bali, ikan panjang bali dahulu. Ibu cari dunsanak cari, induak samang cari dahulu “, Maknanya, -- yang datang dihargai, yang menanti dihormati --, “Dima bumi di pijak, di sinan langik di junjuang, di situ adaik bapakai”,satu bentuk perilaku duduk samo randah tagak samo tinggi yang menjadi prinsip egaliter di Minangkabau. Kalau bisa dipertajam, inilah prinsip demokrasi murni dan otoritas masyarakat yang sangat independen.

H.

Mas’oed Abidin

18

Implementasi Pemahaman Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah

Dengan modal itu, langkah penting kedepan adalah menguasai informasi substansial, mendukung pemerintahan yang menerapkan low-enforcment, memperkuat kesatuan dan Persatuan di nagari-nagari, dengan muaranya adalah ketahanan masyarakat dan ketahanan diri yang dimulai dengan apa yang ada. Kekayaan alam dan potensi yang terpendam dalam unsur manusia. Kekayaan nilai-nilai budaya lengkap dengan sarana pendukungnya. Selangkah demi selangkah mesti diberdayakan. Melaksanakan idea self help mesti seiring dengan sikap hati-hati. Ada kesadaran tinggi bahwa setiap gerak di awasi. Kesungguhan diri ditumbuhkan dari dalam. Tanamkan keyakinan bahwa Allah SWT satusatunya pelindung dalam kehidupan. Masyarakat Minangkabau yang beradat dan beragama selalu hidup dengan mengenang hidup sebelum mati dan hidup sesudah hidup ini. Sesuai peringatan Ilahi,

َ َ َ ‫إ ِن الل ّه ل يُغَي ِّر ما بِقَوْم ٍ حتَّى يُغَي ِّروا ما بِأَنْفُسهِم وَإِذ َا أ َراد َ الل ّه‬ ّ َ َ ْ ِ َ َ ُ ُ َ ُ .‫بِقَوْم ٍ سوءًا فَل مرد َّ ل َه وما لَهُم من دُونِهِ من وَال‬ ُ َ َ ُ َ َ ٍ ْ ِ ْ ِ ْ
" Sesungguhnya Allah Subhanahu Wata'ala tidak merobah keadan sesuatu kaum, kecuali mereka mau merubah keadaan yang ada dalam dirinya masing-masing .... Dan apabila Allah menghendaki keburukan terhadap satu kaum, maka tidak ada yang dapat menolaknya; sekali-kali tidak ada pelindung bagi mereka selain Dia”. (QS.13, Ar Ra’du : 11)

Memperkuat Posisi Nagari Tugas kembali kenagari adalah menggali potensi dan asset nagari yang terdiri dari budaya, harta, manusia, dan agama anutan anak nagari. Apabila tidak digali, akan mendatangkan kesengsaraan baru bagi masyarakat nagari. Dimulai dengan memanggil potensi yang ada dalam unsur manusia, masyarakat nagari. Gali kesadaran akan benih-benih kekuatan yang ada dalam diri masing-masing.

H.

Mas’oed Abidin

19

Implementasi Pemahaman Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah

Kemudian observasinya dipertajam, daya pikirnya ditingkatkan, daya geraknya didinamiskan , daya ciptanya diperhalus, daya kemauannya dibangkitkan. Upaya ini akan berhasil dengan menumbuhkan atau mengembalikan kepercayaan kepada diri sendiri. “Handak kayo badikik-dikik, Handak tuah batabua urai, Handak mulia tapek-i janji, Handak luruih rantangkan tali, Handak buliah kuat mancari, Handak namo tinggakan jaso, Handak pandai rajin balaja. Dek sakato mangkonyo ado, Dek sakutu mangkonyo maju, Dek ameh mangkonyo kameh, Dek padi mangko manjadi.”. Tujuannya agar sampai kepada taraf yang mampu berdiri sendiri dan membantu nagari secara selfless help, memberikan bantuan dari rezeki yang telah kita dapatkan tanpa mengharap balas jasa,

‫و َما لحد ٍ عنْد َه ُ م ن نِعْمةٍ ت ُجزى (91) إل ابْتِغَاءَ وَج هِ رب ِّهِ الع ْلَى‬ ِ َ َ ْ َ َ َ ْ ْ ِ )20(
"Pada hal tidak ada padanya budi seseorang yang patut dibalas, tetapi karena hendak mencapai keredhaan Tuhan-Nya Yang Maha Tinggi". (QS.al-Lail :19- 20) Optimisme banagari mesti selalu dipelihara, “Alah bakarih samporono,

Bingkisan rajo Majopahik, Tuah basabab bakarano, Pandai batenggang di nan rumik”. Mendukung percepatan pembangunan di era otonomi daerah di Sumbar, sangat perlu disegerakan upaya upaya ;

1. Meningkatkan Mutu SDM anak nagari, dan memperkuat Potensi yang sudah
ada melalui program utama,

a. menumbuhkan SDM Negari yang sehat dengan gizi cukup, meningkatkan
penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi (terutama terapan),

b. mengokohkan pemahaman agama, sehingga anak negari menjadi sehat rohani, c. menjaga terlaksananya dengan baik norma-norma adat, sehingga anak nagari
menjadi masyarakat beradat yang beragama (Islam).

H.

Mas’oed Abidin

20

Implementasi Pemahaman Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah

d. Membentuk masyarakat beradat dan beragama sebagai suatu identitas yang
tidak dapat ditolak dalam kembali kenagari.

2. Menggali potensi SDA di nagari, selaras perkembangan global dengan
memperkuat ketahanan ekonomi rakyat. Membangun kesejahteraan bertitik tolak pembinaan unsur manusia. Dari menolong diri sendiri kepada mutual help. Tolong-menolong adalah puncak budaya Adat basandi syarak, syarak basandi Kitabullah. Berbagi pekerjaan (ta'awun) ajaran syarak. "Bantu membantu, ta'awun, mutual help dalam rangka pembagian pekerjaan (division of labour) menurut keahlian masing-masing ini, akan mempercepat proses produksi, dan mempertinggi mutu, yang dihasilkan. Itulah taraf ihsan yang hendak di capai.

3. Memperindah nagari dengan menumbuhkan contoh di nagari. Indicator utama
adanya moral adat “nan kuriak kundi, nan sirah sago, nan baik budi nan indah baso”. Efisiensi organisasi dengan reposisi dan refungsionisasi semua pemeranan fungsi dari elemen masyarakat. Ketiga pengupayaan diatas menjadi satu konsepsi tata cara hidup. Sistem sosial dalam "iklim adat basandi syarak syarak basandi Kitabullah", adalah membina negara dan bangsa keseluruhannya untuk melaksanakan Firman Ilahi ,

َ َ ‫وَابْت َغ فِيما ءَاتَاك الل ّه الدَّار الخرة َ وَل تَن ْس ن َصيب َك من الدُّنْيَا‬ َ ُ َ َ ِ َ ِ َ ِ َ ِ َ َّ َ ‫وَأ َح سن ك َما أ َح سن الل ّه إِلَي ْك وَل تَب ْغ الْف َساد َ ف ِي الر ض إ ِن‬ َ ُ َ َ ْ َ ْ ِ ْ ِ ِ ْ َ ُّ ِ ‫الل ّه ل ي ُحب ال ْمفْسدِين‬ ِ ُ َ َ
"Berbuat baiklah kamu (kepada sesama makhluk) sebagaimana Allah berbuat baik terhadapmu sendiri (yakni berbuat baik tanpa harapkan balasan)”. (QS.28, Al Qashash : 77) Kekuatan moral yang dimiliki, ialah menanamkan "nawaitu" dalam diri masing-masing, untuk membina umat dalam masyarakat di nagari harus diketahui pula kekuatan-kekuatan. “Latiak-latiak tabang ka Pinang, Hinggok di Pinang duo-duo, Satitiak aie dalam piriang,

H.

Mas’oed Abidin

21

Implementasi Pemahaman Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah

Sinan bamain ikan rayo”. Teranglah sudah, bagi setiap orang yang secara serius ingin berjuang di bidang pembangunan masyarakat nagari lahir dan batin, material dan spiritual pasti akan menemui disini iklim (mental climate) yang subur. Apabila pandai menggunakan dengan tepat akan banyak membantu usaha pembangunan itu. Melupakan atau mengabaikan ini, adalah satu kerugian. Berarti mengabaikan satu partner "yang amat berguna" dalam pembangunan masyarakat dan negara.

JAUHI SIFAT FIR’AUNISME Sejarah mencatat Fir’aun adalah sosok kekuasaan yang tampil dengan sistim otoriter, diktator absolut, kejam dengan segala bentuk pemerkosaan hak-hak hidup rakyat banyak tanpa mengindahkan pendapat orang lain. Penindasan hak-hak rakyat bawah oleh tangan-tangan kekuasaan dengan tidak mengindahkan kebenaran wahyu yang disampaikan oleh utusan Allah yakni Musa AS ditolak, dengan alasan bahwa Fir’aun adalah penguasa tertinggi. Pemerintahannya tidak menghormati hak asasi makhluk yang dilakukan semata untuk mencapai semua yang diingininya. Walaupun di zamannya pembangunan proyek-proyek raksasa (sphinx, pyramida, Luxor) yang amat mencengangkan tak tertandingi hingga kini. Semua keberhasilan itu dibayar dengan darah dan nyawa, tidak hanya sebatas keringat dan air mata. Kondisi inilah sebenarnya yang telah menyebabkan rakyat terpuruk dalam menjadi budak. Diskriminasi merajalela karena penduduk yang bukan dari ras pemerintahannya tidak memiliki hak apapun ditengah kelompok elite keluarga istana di dekat Fir’aun, serta kekuasaan kelompok tentara (junudahu) dibawah Panglima Haman 14. Kekuatan inti ini mendapat dukungan dari pengusaha kaya yang selalu memperoleh fasilitas menguasai ekonomi dan hajat orang banyak seperti mega-konglomerat Qarun yang sangat angkuh15. Tiga kekuatan tersebut
14 15

lihat QS.28:8 lihat QS 28:76 Mas’oed Abidin 22

H.

Implementasi Pemahaman Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah

merupakan pilar utama kekuasaan yang sangat berperan menjadikan Fir’aun penguasa muthlak yang dikelilingi para penjilat yang bertindak semata atas petunjuk diraja meskipun hak-hak rakyat mesti di korbankan. Alquranul Karim mengulang-ulang kisah Fir’aun ini pada 74 ayat, dan Haman pada 6 tempat serta Qarun di 4 ayat, dengan tujuan agar Rasulullah SAW dan orang yang beriman bersedia melakukan kaji-banding agar kemelut pemerintahan sistim Fir’aun (Fir’aunisme) tidak terulang yang berakibat sendisendi kehidupan umat manusia akan rusak secara global. Sinyal Alquran mendalam dan rinci menyebut cara Fir’aun menghidupkan kekuasaan dengan licik penuh kesewenangan, antara lain;

1. Menjadikan penduduknya pecah belah (

),

2. Melakukan penindasan terhadap sebahagian dari rakyatnya dan memberikan
kedudukan terhadap kelompok penduduk yang sejalan dengan pola kekuasaanya ( sistim politik belah bambu, ) dengan menerapkan

3. Membunuh anak-anak lelaki (
tertentu serta menghidupkan anak-anak

) dari kelompok perempuan ( atau etnis cleansing) dengan maksud supaya

tidak lahir satu kekuatan yang bisa menjatuhkan kemapanan kekuasaannya16. Pengebirian nilai-nilai keluhuran dan kejujuran memupus patriotisme berbangsa di tengah kemajemukan penduduk, dan umat terpasung tanpa pemilikan hak kebebasan berideologi dan ujungnya adalah fasad dan kehancuran yang tak terelakkan.

َ ‫وَأ َضل فِرع َوْن قَومه وَما هَدَى‬ َ ُ َ ْ ُ ْ ّ َ
“Maka, hancur (celaka) Fir’aun beserta seluruh kaum pengikutnya dan tidak memberi petunjuk”17.

16 17

lihat QS.28 al-Qashash, ayat 4 lihat QS. Tha-haa, ayat 79 Mas’oed Abidin 23

H.

Implementasi Pemahaman Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah

Para pemuda adalah kelompok besar di tengah satu bangsa. Mereka wajib diberi amanah peran pelopor perubahan (agent of changes), dengan bekal utama adalah keyakinan dan keimanan kepada Allah SWT dan hidup beradat. Di Ranah Minang di Sumatera Barat ini, peran pendidikan dan dakwah menyadarkan masyarakat akan peran mereka meningkatkan harkat diri mereka sendiri. dalam membentuk dan

َ َ ‫إ ِن الل ّه ل يُغَي ِّر ما بِقَوْم ٍ حتَّى يُغَي ِّروا ما بِأَنْفسهِم‬ َ ّ ْ ِ ُ َ َ ُ َ ُ
"Sesungguhnya Allah tidak akan merobah nasib satu kaum, hingga kaum itu sendiri yang berusaha merobah sikap mereka sendiri." (QS.13, ar Ra’d : 11) Kenyataan sosial penduduk mestilah dengan mengakui keberadaannya, menjunjung tinggi puncak-puncak kebudayaan mereka. Disamping

menyadarkan masyarakat akan potensi besar yang dimiliki, untuk kemudian mendorong masyarakatnya kepada satu bentuk kehidupan yang bertanggung jawab. Sangat salah memberikan penilaian bahwa masyarakat bawah selalu tertinggal dibelakang, tidak mengenal perubahan, ketinggalan zaman sehingga tidak perlu diikut sertakan dalam segala kegiatan-kegiatan bersama, seakan masyarakat tersebut senantiasa mesti hidup dibawah kendali orang lain, harus disantuni dengan rasa belas kasihan, serta selalu tergantung kepada pihak lain. Disinilah peran dakwah agama, agar masyarakat dapat digerakkan menyadari keberadaan mereka, sehingga penduduk siap menerima setiap perubahan yang memang perlu mereka peroleh.

H.

Mas’oed Abidin

24

Implementasi Pemahaman Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah

Dengan demikian, dakwah agama – ISLAM -- menjadikan masyarakat hidup bermartabat dengan nilai-nilai budaya mereka yang luhur, kemudian mengikat mereka dengan satu keyakinan agama yang hanif kuat dan dinamis.

َ ْ ْ ْ ُ ‫وَأ َن أَقِم وَجهَك لِلدِّين حنِيفًا وَل تَكُون َن من ال ْمشرِكِين‬ ْ َ ِ َ َ ِ َّ
“Dan (aku telah diperintah): "Hadapkanlah mukamu kepada agama dengan tulus dan ikhlas dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang musyrik.” (QS.10, Yunus : 105) Berperilaku taqwa, adalah memiliki akhlaqul karimah yang menjadi puncak dari kemuliaan perangai manusia. Basis akhlaq adalah tauhid, jihad, redha dengan ketentuan Allah, mengikut Rasul, dan tidak fasad dalam hidup duniawi. Untuk tugas itu Rasulullah SAW di utus, “Innama bu’istu li utammima makarimul akhlaq (al Hadist).

TUNTUNAN AKHLAQ DALAM ADAT BASANDI SYARAK, SYARAK BASANDI KITABULLAH (AJARAN ISLAM)

Ajaran Islam sangat banyak memberikan dorongan kepada sikap-sikap
untuk maju. Kemajuan materi (madiyah) akan terpacu oleh akhlaq manusia yang menggenggam materi tersebut. Akhlaq adalah perangai yang berakar didalam hati sebagai anugerah dari Khalik Maha Pencipta. Makhluk manusia mesti terikat erat dengan Khalik sang Pencipta. Akhlaq adalah jembatan yang mendekatkan makhluk dengan Khaliknya. Menjadi parameter menilai sempurna atau tidaknya ihsan Muslim itu. Melaksanakan agama sama artinya dengan berakhlaq sesuai dengan tuntunan agama Islam. Karena itu, agama bukanlah sebuah beban, Membebaskan diri dari melainkan adalah sebuah identitas (cirri, shibgah).

ketentuan Maha Pencipta, atau membebaskan manusia dari nilai-nilai agama (seperti free of values yang banyak dipahami oleh masyarakat liberalistik) akan berakibat bahwa makhluk manusia menjadi makhluk yang tidak punya makna. Dengan demikian, semestinya agama harus dilihat sebagai satu keperluan utama.

H.

Mas’oed Abidin

25

Implementasi Pemahaman Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah

Ajakan Rasulullah SAW, agar "jadilah kamu berilmu yang mengajarkan ilmunya, atau belajar (muta’alliman), atau menjadi pendengar (mustami’an)", adalah anak kunci kemajuan peradaban manusia (hadharah, civilisasi), mampu menjawab perubahan zaman, jika selalu diingat bahwa dibelakangnya ada satu peringatan keras, "sekali jangan kamu menjadi kelompok keempat", yakni tidak mengikuti aktifitas keilmuan, yaitu "tidak mengajar, enggan belajar, malas mendengar". Rasulullah SAW menyebutkan satu tugas risalahnya sebagai “Hanya aku diutus untuk menyempurnakan akhlaq yang mulia” (al Hadist). Pentingnya akhlaq di ungkap banyak penyair (ahli hikmah) “innama umamul akhlaqu maa baqiyat, wa inhumu dzahabat akhlaquhum dzahabuu”, yang di artikan, “tegak rumah karena sendi, sendi hancur rumah binasa. Tegaknya bangsa karena berbudi, budi hancur luluhlah bangsa”. Filosofi “adat basandi syarak, syarak basandi kitabullah”di Minangkabau, banyak menampilkan pepatah mengandung ajaran akhlaq, “Nan kuriak kundi, nan sirah sago, nan baiak budi, nan indah baso”, atau “Bahaso manunjuakkan banso” artinya bahasa menunjukkan akhlaq bangsa. Akhlaq tidak dapat dilupakan, walaupun sipelakunya sudah tiada. “Utang ameh buliah dibaia, utang budi dibao mati”. Betapapun keperluan materi telah dapat dipenuhi, suasana hidup akan selalu hambar dan gersang manakala keperluan ruhanik (immaterial, spirituil) tidak diperhatikan. Selalu akan tampak bahwa manusia tanpa agama sama saja dengan makhluk yang bukan manusia. Perikehidupan tanpa bimbingan agama, artinya sama dengan peri kehidupan tidak berperikemanusiaan. Para Nabi dan Rasul yang diutus kepada manusia bertugas Allah. Semua bimbingan yang terdapat memberikan tuntunan akhlaq pada semua kitabsuci samawi dalam semua perilaku kehidupan. Rujukan dari tuntunan akhlaq adalah wahyu menekankan kepada terpeliharanya adab pergaulan antar manusia dan sesama makhluk. Tatanan adab pergaulan dimasud selalu di ikat dengan hubungan kasih (mahabbah) dengan Khalik Maha Pencipta, yang disebut dengan ibadah. Tuntunan akhlaq dan ibadah bukanlah sebatas teori, tetapi semua perilaku pada seluruh tingkat pelaksanaan hubungan kehidupan. Terlihat nyata dalam bentuk perilaku, contoh dan uswah yang ditinggalkan Rasulullah SAW, sesuai firman Allah menyebutkan,
H.

Mas’oed Abidin

26

Implementasi Pemahaman Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah

َ َ ‫لَقَد ْ كَا ن لَك ُم ف ِي ر سول الل ّهِ أ ُسوَة ٌ ح سن َة ل ِم ن كَا ن ي َر جو الل ّه‬ ُ ْ َ َ ْ َ ْ ِ ُ َ ْ َ ٌ َ َ َ ‫وَالْيَوْم الخر وَذ َك َر الل ّه كَثِيرا‬ َ ً َ َ ِ ْ َ
“Sesungguhnya telah ada bagi kamu pada diri Rasulullah itu suri teladan yang baik (uswah hasanah), yaitu bagi orang yang mengharapkan rahmat Allah dan kedatangan hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah” (QS.33, al Ahzab : 21). Meluasnya kemelut sosial, politik dan ekonomi yang dihadapi Negara, ikut menghantui umat terhadap malapetaka politik, moral, ekonomi, informasi dan budaya yang dipicu oleh kemerosotan akhlaq dan rohaniah individu anggota masyarakat, sedari pemimpin maupun rakyat yang mengikutnya. Kerusakan akhlaq adalah cerminan kepincangan pembangunan keperibadian (syahsiah) yang padu dan saling berkaitan antara sisi-sisi mental, sosial, fisik, emosi dalam satu tatanan kehidupan anak nagari, dan terkait pula dengan lemahnya sistem pendidikan sekular serta mengaburnya pencapaian tujuan pendidikan oleh para murabbi (guru). Menghadapi kondisi keumatan yang parah ini, wajib segera dibangun domain-domain kemanusiaan yang jadi satu dengan gerakan tarbiyyah Islamiyah dan menetapkan domain ruhiah atau domein rohaniah padu kedalam sistim pendidikan agar kerusakan akhlaq tidak menjadi lebih parah. Ketika pagar-pagar budaya impoten dan tipisnya penghormatan terhadap pemangku adat, alim ulama, cerdik pandai suluah bendang, mesti melaksanakan kewajiban utama membuka hati keluarga dan umat lebih luas, sehingga tubuh yang kasar dapat menerima percikan cahaya Ilahi yang lebih tinggi, dan manusia sadar bahwa tujuan hidup duniawi hanya alat untuk menuju akhirat yang kekal abadi. Dapat disimpulkan bahwa lemahnya bekalan agama dilapisan umat dan tipisnya pemahaman Islam akan berpengaruh didalam kehidupan. Paham ‘Ashabiyah (kedaerahan), menghilangkan arti maknawi dari ukhuwah. Persatuan lahiriyah tidak mampu menumbuhkan kebahagiaan mahabbah, cinta sesama. Di sinilah bermula sumber kehancuran.

H.

Mas’oed Abidin

27

Implementasi Pemahaman Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah

Kebejatan sosial, politik dan ekonomi yang menghimpit hari ini telah memberi satu konklusi bahwa keadaan itu terjadi karena usaha sadar manusia mengabaikan upaya penyepuhan jiwa (tazkiyah an-nafs) disertai kelalaian perbaikan watak (islah an nafs) di medan kehidupan. Maka, rumah tangga dan korong kampung berperan teladan, dengan kesabaran dan toleransi dalam hidup mesti jadi panduan. Pendidikan rohani membangun sumber daya manusia melalui penanaman nilai normative, aqidah dan budaya, adat basandi syarak, syarak basandi Kitabullah, mengukuhkan nilai ibadah dan akhlaq dalam diri umat, seperti solat, zikir dan membuhul ikatan mahabbah yang semakin erat dari masa ke masa. Ikatan ukhuwah yang teguh adalah curahan rahmat Allah dan mengangkat posisi (darjah) dengan iman. Pendidikan ruhiyah mencakup aspek rawatan dan pengawalan (aspek treatment), melalui taubat,tazkirah, tarbiyah, tau’iyah, yang selalu ditopang oleh dua manazil atau sifat penting, yaitu ‘Rabbaniah dan Siddiqiah’18. Sifat Rabbaniah ditegakkan dengan benar diatas landasan pengenalan (makrifat) dan pengabdian (`ubudiah) kepada Allah melalui peningkatan ilmu pengetahuan, pemantapan pengajaran, pemberian nasihat, menanamkan akhlaq menyuruh yang ma’ruf (social support) dan mencegah dari yang munkar (social control). Siddiqiah mencakup enam jenis kejujuran (al-sidq): 1. kejujuran lidah, 2. kejujuran niat dan kemauan (sifat ikhlas), 3. kejujuran cita-cita (azam) dan keteguhan mencapainya, 4. kejujuran dengan apa yang diucapkan dan dijanjikan (al-wafa’), 5. kejujuran bekerja berprestasi dan berkarya (amal as-shalih), dan 6. kejujuran mengamalkan ajaran agama (maqamat al-din).
18

Hawwa, Syeikh Mohd Said, Muzakarah Fi Manazil al-Siddiqin Wa-al-Rabbaniyin, Dar alSalam Li al-Tibaah, Kairo, 1987, hal 3-4, berkata ; ‫"اما الربانية فانها صديقية وزيادة فمبنى الصديقية على معرفة ال والعبودية له, اما الربانية فى مع ذلك علم وتعليم ونصيحة‬ "....‫وشهادة على الخلق وحكم بما انزل ال و امر بمعروف ونهي عن منكر‬

H.

Mas’oed Abidin

28

Implementasi Pemahaman Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah

Rasulullah SAW selalu berdo’a sebagaimana disampaikan oleh Ummul Mukminin ‘Aisyah R ’anha, “allahumma man waliya min amri umatiy syay-an fa syaqqa ‘alaihim fasy-quq ‘alaihi, wa man waliya min amri umatiy syay-an farfaqa bihim, far-fuq bihi”, Artinya, “Ya Allah, barangsiapa yang menjadi pemimpin atas umatku, lalu ia mempersulit mereka, maka persulitlah ia, dan barangsiapa yang memimpin umatku, lalu mengasihi mereka, maka kasihanilah ia” (HR.Shahih Muslim). Ketika kehidupan manusia kian bertambah modern dan peralatan teknologi semakin canggih, tidak dapat dibantah bahwa makin bertambah banyak masalah hati dan kejiwaan manusia yang tampil kepermukaan dan tidak mudah dapat diselesaikan, kecuali dengan mendekatkan diri kepada Allah SWT semata-mata. Umat perlu dihidupkan jiwanya menjadi satu umat yang mempunyai falsafah dan tujuan hidup (wijhah) yang nyata, memiliki identitas (shibgah), bercorak kepribadian terang (transparan) untuk ikut berpartisipasi aktif dalam proses pembangunan. Satu susunan hidup masyarakat berjama’ah yang diredhai Allah yang dituntut oleh “syari’at” Islam, sesuai Adat basandi Syarak dan Syarak basandi Kitabullah, menjadi “satu aspek dari Sosial Reform”, yang tidak dapat diabaikan,yaitu berusaha di urat masyarakat. Paling berbahaya tentulah bertukarnya niat ditengah perjalanan. Apa yang tadi telah dirumuskan semula menjadi kabur tak terbaca. Pada awalnya hendak menanam "cinta dan Takut kepada Allah" berubah menjadi "cinta kekuasaan dan takut mati". Yang diniatkan pada awalnya "dakwah Ila Allah" (mengajak umat utama kepada Allah), berobah tumbuh menjadi "dakwah ghairullah (kepentingan diri, jual tampang untuk aku). Perbuatan 'aku-isme" atau "ananiyah" akan menyuburkan tafarruq dan tanazu' itu. Karena itu perlu diajarkan cara-cara pembinaan hidup bermasyarakat itu.

H.

Mas’oed Abidin

29

Implementasi Pemahaman Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah

Membangun Masyarakat Potensial

Jiwa Sadar

Interaksi Iman

Adat Istiadat

Amaliyah

HAKIKAT SYARAK MANGATO DI MINANGKABAU Peran syarak di Ranah Minang adalah menyadarkan umat akan peran mereka dalam membentuk diri mereka sendiri.

َ َ ... ‫... إ ِن الل ّه ل يُغَي ِّر ما ب ِقوْم ٍ حتَّى يُغَي ِّروا ما بِأَن ْفسهِم‬ َ َ ُ َ ّ ْ ِ ُ َ َ ُ
"Sesungguhnya Allah tidak akan merobah nasib satu kaum, hingga kaum itu sendiri yang berusaha merobah sikap mereka sendiri." (QS.Ar-Ra’du : 11) Kenyataan sosial anak nagari harus di awali dengan mengakui keberadaan mereka, menjunjung tinggi puncak-puncak kebudayaan mereka, menyadarkan mereka akan potensi besar yang mereka miliki, mendorong mereka kepada satu bentuk kehidupan yang bertanggung jawab. Inilah tuntutan syarak sesuai Kitabullah. Pencapaiannya mesti melalui gerakan dakwah ilaa Allah, karena Islam adalah agama Risalah, yang ditugaskan kepada Rasul, dan penyebaran serta penyiarannya dilanjutkan oleh da'wah, untuk keselamatan dan kesejahteraan hidup manusia. Rentangan sejarah mencatat "Risalah merintis, da'wah melanjutkan". Kaedah ini mesti dipahami sebagai upaya intensif menerapkan adat basandi syarak syarak basandi

H.

Mas’oed Abidin

30

Implementasi Pemahaman Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah

Kitabullah, berisi petunjuk dan peringatan yang ditujukan untuk seluruh umat manusia, dan mengajak manusia dengan ilmu, hikmah dan akhlaq. Setiap Imam, Khatib, Urang Siak, Tuanku, alim ulama suluah bendang di nagari-nagari, mesti meneladani pribadi Muhammad SAW dalam membentuk effectif leader di Medan Da'wah, menuju kepada inti dan isi Agama Islam (QS. Al Ahzab, 33 : 21). Inti agama Islam adalah tauhid. Implementasinya adalah Akhlaq. Umat akan menjadi baik dan kembali berjaya, bila sebab-sebab kejayaan umat terdahulu di kembalikan, maka semestinya bertindak atas dasar syarak dengan “Memulai dari diri da'i, mencontohkannya kepada masyarakat lain", (Al Hadist). Inilah cara yang tepat. Keberhasilan upaya da'wah (gerak da'wah) memerlukan pengorganisasian (nidzam). Bimbingan syarak mengatakan bahwa al haqqu bi-laa nizham yaghlibuhu al baathil bin-nizam. Maknanya, yang hak sekalipun, tidak berperaturan (organisasi) akan dikalahkan oleh kebathilan terorganisir. Jelaslah bahwa program langkah (action planning) disetiap lini adalah keterpaduan, kebersamaan, kesepakatan, dan keteguhan. Langkah awal dengan menghidupkan musyawarah, sesuai bimbingan adat basandi syarak, syarak basandi Kitabullah. Allah menghendaki kelestarian Agama dengan kemampuan mudah, luwes, elastis, tidak beku dan tidak berlaku bersitegang.

BAHASA SYARAK ADALAH BAHASA KEHIDUPAN

H.

Mas’oed Abidin

31

Implementasi Pemahaman Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah

Koordinasi sesama akan mempertajam faktor-faktor pendukung dan akan menjadi pendorong keberhasilan menghidupkan adagium adat basandi syarak, syarak basandi Kitabullah. Aktualisasi Kitabullah, nilai-nilai Al-Qur'an,

hanya dapat dilihat melalui gerakan amal yang berkesinambungan (kontinyu) dalam seluruh aktivitas kehidupan manusia, seperti kemampuan bergaul, mencintai, berkhidmat, menarik, mengajak (da'wah), merapatkan potensi barisan, sehingga membuahkan agama yang mendunia. Usaha inilah yang akan menjadi gerakan antisipatif terhadap arus globalisasi negatif pada abad-abad sekarang. Kitabullah (Al-Qur'an) telah mendeskripsikan peran agama Islam sebagai agama yang kamal (sempurna) dan nikmat yang utuh, serta agama yang di ridhai,

‫الْيَوْفم أَك ْمل ْفت لَك م دِينَك م وَأَت ْمم ت ع َلَيْك م نِعْمت ِفي وَرضي ت لَك م‬ َ ْ ‫ُف‬ ‫َ ْ ُف‬ ْ ‫ُف‬ ْ ‫َ ُ ُف‬ ُ ‫َ ِ ُف ُف‬ َ ‫ال ِسلم دِينًا‬ َ َ ْ ْ
Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu ni`mat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu, (QS.Al Maidah, 5 : 3), dan

َ ‫إ ِن الدّين عنْد َ الل ّهِ ال ِسلم‬ ِ َ ِ َّ ُ َ ْ ْ
satu-satunya Agama yang diterima di sisi Allah,yaitu Agama Islam, (QS. Ali Imran, 3 :19). Konsekuensinya adalah yang mencari manhaj atau tatanan selain Islam, tidak akan di ridhai,

َ ْ ‫َ ْ ِف‬ ِ َ ِ ْ ُ ِ َ َ ‫وَم نْف يَبْت َفغ غَي ْر ال سلم ِ دِين ًفا فَل َفن يُقْب َل من ْفه وَهُوَ فِفي الخرةِ م نَف‬ ْ ِ ‫ال ْخاسرِين‬ ِ َ َ
H.

Mas’oed Abidin

32

Implementasi Pemahaman Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah

Barangsiapa mencari agama selain agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu) daripadanya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi. ( QS. Ali Imran, 3 : 85). Karena itu bagi masyarakat adat basandi syarak, syarak basandi Kitabullah, tidak ada pilihan lain kecuali melaksanakan tuntunan perilaku akhlaq sesuai bimbingan Islam,

َ َ َّ ِ ‫وَم نْف أ َح سَفن دِين ًفا مم نْف أ َفسل َم وَجهَفه لِل ّفهِ وَهُوَ مح سِفن وَاتَّب َفعَ مل ّة‬ َ ِ ْ ْ ُ َ ُ ْ َ ْ ُ ٌ ً‫إِب ْراهِيم حنِيفًا وَات َّخذ َ الل َّه إِب ْراهِيم خلِيل‬ َ َ َ َ َ َ ُ َ
"Dan siapakah yang lebih baik agamanya dari pada orang yang menyerahkan dirinya kepada Allah secara ikhlas, yakni orang Muslim, merekapun mengerjakan kebaikankebaikan" (QS. An Nisak, 4 : 125). Setiap Muslim, dengan nilai-nilai Kitabullah (Al Qur'an) wajib mengemban missi yang berat dan mulia yaitu merombak kekeliruan ke arah kebenaran, yang menjadi inti dari "perjalanan kepada kemajuan (al madaniyah, modernitas)", dengan implementasi perilaku sesuai pemahaman adat basandi syarak, syarak basandi Kitabullah. Generasi muda masa kini mesti memiliki utilitarian ilmu. berasaskan

epistemologi Islam yang jelas, dalam kata adat disebutkan, “Iman nan tak buliah ratak, kamudi nan tak buliah patah, padoman indak buliah tagelek, haluan nan tak buliah barubah”. Generasi muda mesti memiliki pemahaman luas dengan tasawwur

(world view). “Kalau tak tasuo di jalannyo, namuah ba pua-pua dagiang, namuah bakacau-kacau darah, tando sabana laki-laki.” Dalam kondisi kritis sekalipun, generasi muda Minangkabau di Sumatra Barat selalu awas dan berhati-hati,

H.

Mas’oed Abidin

33

Implementasi Pemahaman Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah

“Bakato sapatah dipikiri, Bajalan salangkah maliek suruik, Mulik tadorong ameh timbangannyo, Kaki tataruang inai padahannya, Urang pandorong gadang kanai, Urang pandareh ilang aka.” Menghadapi tantangan kontemporer, perubahan tata pergaualan dunia, generasi Minangkabau dengan filosofi adat basandi syarak syarak basandi Kitabullah mesti memiliki sikap istiqamah (konsistensi) yang dalam fatwa adat disebutkan, “Alang tukang tabuang kayu, Alang cadiak binaso adat, Alang alim rusak agamo, Alang sapaham kacau nagari. Dek ribuik kuncang ilalang, Katayo panjalin lantai, Hiduik jan mangapalang, Kok tak kajo barani pakai. Baburu kapadang data, Dapeklah ruso balang kaki, Baguru kapalang aja, Bak bungo kambang tak jadi”. Susah

memungkiri bahwa nilai budaya Adat basandi syarak dan syarak basandi Kitabullah di Minangkabau adalah kehidupan berdemokrasi yang telah lama tumbuh subur di tengah masyarakat Sumatera Barat. Kedudukan pemimpin didahulu-kan selangkah dan ditinggikan seranting, bertambah kokoh dengan ikatan saling tolong menolong dengan moril dan buah pikir dalam memperbanyak lawan ba iyo (musyawarah) dan melipat gandakan teman berunding. Apabila kaedah musyawarah melemah akan tumbuh sikap saling dengki mendengki, curiga yang dapat berkembang menjadi fitnah dan lahirlah kehancuran. Memupuk sikap musyawarah dan taawun dengan keyakinan bahwa Allah Yang Maha Rahman selalu membukakan pintu berkah dari langit dan bumi, menjadi kekuatan ampuh masyarakat bersama pemerintah

H.

Mas’oed Abidin

34

Implementasi Pemahaman Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah

membangun kepercayaan rakyat banyak. Inilah inti reformasi yang dituju dalam membangun Sumatera Barat baru abad ini. Kita dapat mengamati proses globalisasi pada tingkat persaingan dunia dengan spesifikasi "kepercayaan" -trust. Maka syarak bersendi kitabullah (agama Islam) menampilkan kemampuan menangkap tanda-tanda zaman bagi orang beriman yang mampu melihat -perubahan sosial, politik dan ekonomi -- pada setiap saat dan tempat dengan optimisme keluar dari problematika sosial umat manusia. Apatisme adalah selemah-lemah iman (adh'aful iman). Sikap diam (apatis) dalam kehidupan hanya dapat dihilangkan dengan, • • • • mengerjakan segala sesuatu yang bisa dikerjakan, jangan fikirkan sesuatu yang tidak mungkin dikerjakan, apa yang ada sudah cukup untuk memulai sesuatu, jangan berpangku tangan dan menghitung orang yang lalu. Konsep ini adalah amanat ajaran syarak basandi Kitabullah (agama Islam), agar memanfaatkan segala perubahan yang berhubungan dengan kehidupan dunia luar dan disekitarnya. Sikap hidup menjemput bola, menjadi sikap hidup sesuai adat Minangkabau (ABSSBK) dan ajaran Islam didalam mengantisipasi selemah-lemah iman dengan kata kunci menghadapi perubahan sosial, politik dan ekonomi melalui tiga cara hidup , yakni, 1. bantu dirimu sendiri (self help), 2. bantu orang lain (self less help), 3. saling membantu dalam kehidupan ini (mutual help), Ketiga konsep hidup ini mengajarkan seseorang untuk tidak tergantung kepada orang lain, karena ketergantungan akan menempatkan orang terbawa kemana-mana oleh yang menjadi tempat bergayut itu. Inilah peran utama adat basandi syarak, syarak basandi Kitabullah (ABS-SBK) yang tampak didalam
H.

Mas’oed Abidin

35

Implementasi Pemahaman Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah

pembentukan karakter (character building) anak nagari. Tentu saja melalui jalur pendidikan. Generasi muda Sumatera Barat mesti meniru kehidupan lebah, yang kuat persaudaraannya, kokoh organisasinya, berinduk dengan baik, terbang bersama membina sarang, dan baik hasil usahanya serta dapat dinikmati oleh lingkungannya. KHULASAH MENAMPILKAN PROGRAM UMATISASI Penerapan adat basandi syarak, syarak basandi Kitabullah di Minangkabau berkehendak kepada gerak yang utuh dan terprogram. Hasilnya tidak mungkin di raih dengan kerja sambilan, buah yang di petik, sesuai dengan bibit yang di tanam, demikian natuur-wet (sunnatullah, = undang-undang alami). Dalam langkah da'wah, setiap muslim berkewajiban melaksanakan tugas tabligh (menyampaikan), kemudian mengajak dan mengujudkan kehidupan beragama (bersyariat) di dunia (dinul-harakah al-alamiyyah). Maka melibatkan semua elemen masyarakat di Minangkabau untuk menghidupkan adat basandi syarak syarak basandi Kitabullah menjadi tugas bersama "umat da'wah" menurut nilai-nilai Al-Qur'an –

‫وَلْتَك ُن منْك ُم أ ُمة يَدْعُون إِلَى ال ْخيْرِ وَيَأ ْمرون بِال ْمعْروف وَيَنْهَون‬ َ ٌ َّ ْ ِ ْ َ ْ ِ ُ َ َ ُ ُ َ َ ‫ع َن ال ْمنْكَرِ وَأُولَئ ِك هُم ال ْمفْل ِحون‬ َ ُ ُ ُ ُ ِ

H.

Mas’oed Abidin

36

Implementasi Pemahaman Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah

Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma`ruf dan mencegah dari yang munkar; merekalah orang-orang yang beruntung. (QS. Ali Imran, 3 : 104 ). Da'wah ini tidak akan berhenti dan selalu berkembang terus sesuai variasi zaman yang walaupun selalu berubah namun tetap di bawah konsep mencari ridha Allah. Maka peran serta masyarakat yang di tuntut adalah Mengelola pembinaan anak nagari dengan peningkatan manajemen yang lebih accountable dari segi keuangan maupun organisasi. Melalui peningkatan ini, sumber finansial masyarakat dapat di pertanggung jawabkan secara lebih efisien dan peningkatan kualitas pembinaan umat dapat dicapai. Segi organisasi anak nagari mesti lebih viable -- dapat hidup terus, berjalan tahan banting, bergairah, aktif dan giat – menurut permintaan zaman, dan durable – yakni dapat tahan lama – seiring perubahan dan tantangan zaman. Ada beberapa tindakan yang mungkin dilakukan segera. Pertama. Melakukan introspeksi di kalangan kita sendiri. dipertahankan. Kedua. Masing-masing berusaha mengambil inisiatif dan aktif untuk mengikat kembali tali ukhuwah, kekerabatan dan kekeluargaan di antara keluarga tanpa gembar-gembor, namun secara jujur dalam mengatasi satu dua persoalan di tengah umat yang kita pandu. Ketiga, Memelihara kesempatan-kesempatan yang ada dan tersedia dalam melakukan tatanan kekerabatan di tengah "keluarga" kita, dengan memperbesar frekwensi pertukaran fikiran secara informal dalam berbagai masalah umat, dalam suasana jernih, tenang dan bersih serta tidak berprasangka.
H.

mulai dari

kelompok yang terkecil, bahkan keluarga. Masihkah prinsip-prinsip utama masih

Mas’oed Abidin

37

Implementasi Pemahaman Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah

Keempat, Berusaha mencari titik-titik pertemuan (kalimatin sawa) di antara kalangan kita, antara kalangan dan pribadi-pribadi para intelektual muslim (zu'ama), para pemegang kendali sistim ('umara), dan para ikutan umat utama, para ulama dan aktifis pergerakan baik tua maupun muda, dalam ikatan-iakatan yang tidak tegang dan kaku, karena kekuatan terletak pada keluwesan pikiran dan keteguhan prinsip. Kelima, Menegakkan secara sungguh dan bertanggung jawab Nizhamul Mujtama' (tata hidup bermasyarakat) diatas dasar aqidah Islamiyah dan Syari'ah, dengan memelihara mutu ibadah di kalangan umat utama, Mu'amalah (sosial, ekonomi, siyasah) dan Akhlaq (pemeliharaan tata nilai melelui pendidikan dan kaderisasi yang terarah) yang dikawal sejak dari rumah tangga, lingkungan (usrah) dan masyarakat (uswah). Usaha menghadapi tantangan kontemporer yang sedang menjajah hati budi umat Islam kini khususnya di Minangkabau (Sumatra Barat), dapat di tampilkan beberapa agenda kerja, 1. Mengokohkan pegangan umat dengan keyakinan dasar Islam sebagai suatu cara hidup yang komprehensif. 2. Menyebarkan budaya wahyu membimbing kemampuan akal.  Meningkatkan program pemahaman umat terhadap kandungan Alquran.  Melipatgandakan masyarakat.  Meningkatkan pengetahuan umat mengenai sirah Rasulullah SAW.  Menyuburkan amalan ruhaniah yang positif.  Proaktif membangun masyarakat dengan bekalan tauhid ibadah. 3. Memperluas penyampaian fiqh Islam dalam aspek-aspek sosio politik, ekonomi, komunikasi, pendidikan dan lain-lain. 4. Menghidupkan semangat jihad di jalan Allah.
H.

pengaruh

sunnah

Rasulullah

dalam

Mas’oed Abidin

38

Implementasi Pemahaman Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah

 Menggali sejarah kejayaan masa silam.  Menanam semangat kepahlawanan menghadapi lawan-lawan Islam.  Menyebarluaskan bahaya faham sekularis, materialisme, kapitalisme dan westernisasi.  Mengkritik rasialis dan assabiah jahiliyyah dengan hujah Islam yang benar.  Menentang aliran pemurtadan terhadap intelektual, pakar budaya, sasterawan dan wartawan yang merugikan Islam. 5. Meningkatkan program menguatkan peran bundo kandung (muslimat) yang telah berhasil membentuk sejarah gemilang Islam masa silam, untuk berperan ganda sebagai ibu dan pendidik di rumah tangga dan masyarakat Minangkabau. 6. Menampilkan sistem pendidikan Islam melawan aliran pendidikan sekular.  Memperbanyakkan program mengasuh dan mendidik generasi baru dan remaja Islam agar tidak dapat dimusnahkan oleh sekularisme dan budaya pornografi/pornoaksi.  Menggandakan usaha melahirkan penulis Islam dan

Minangkabau dalam berbagai lapangan media. 7. Menggandakan bilangan ulama suluah bendang di nagari. 8. Melahirkan pendakwah Rabbani melalui pembinaan pusat-pusat pengajian tinggi (ma’hadul ‘aliy) dan institut perkaderan Imamah dan Ulama suluah bendang di nagari. 9. Membentuk da’iya, imam khatib, para mu’allim dan tuangku di nagarinagari pada saat kembali ke surau.  Memberikan bekal yang cukup melalui pelatihan dan pembekalan ilmu yang memadai.  Membuatkan anggaran belanja yang memadai di daerah-daerah menjadi sangat penting di dalam mendukung satu usaha yang wajib.  Meningkatkan keselarasan, kesatuan, kematangan dan keupayaan mendalami budaya syarak (haraki Islami).
H.

Mas’oed Abidin

39

Implementasi Pemahaman Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah

10. Menjalin dan membuat kekuatan bersama untuk menghambat gerakangerakan yang merusak Islam.  Mengukuhkan pergerakan umat dalam memerangi semangat anti agama, anti keadilan, dan demokrasi.

 Meningkatkan budaya syura dalam masyarakat, untuk mengelak
dari cara-cara imperialisme masuk kedalam masyarakat di era kebebasan.  Meningkatkan kesadaran dan keinsafan tentang hak asasi manusia, hak-hak sipil (madani) dan politik untuk seluruh rakyat.  Meningkatkan keinsafan mempunyai undang-undang yang adil sesuai syarak.  Memastikan kehadiran media massa yang bebas, sadar, amanah, beretika dan profesional agar umat tidak mudah dimangsa oleh penjajah baru, baik dari kalangan bangsa sendiri atau orang luar.  Memastikan pemimpin umat dan negara terdiri dari kalangan orang yang bertaqwa, berakhlaq dan bersih dari penyalahgunaan kekuasaan untuk kepentingan diri, keluarga dan kelompoknya.

 Meningkatkan program untuk melahirkan masyarakat penyayang
yang tidak aniaya satu sama lain. Menanamkan tata kehidupan saling kasih mengasihi dan beradab sopan sesuai adat basandi syarak syarak basandi Kitabullah.

 Peran serta masyarakat berorientasi kepada mutu

menjadikan

pembinaan masyarakat berkembang menjadi lembaga center of exellence, menghasilkan generasi berparadigma ilmu komprehensif, berpengetahuan agama luas dan praktis, berbudi akhlaq plus keterampilan.

 Peningkatan peran serta masyarakat mengelola surau dalam sistim
terpadu menjadi bagian integral dari masyarakat Minangkabau seluruhnya. Pengembangan surau dalam peran pembinaan dapat menjadi inti, mata dan pusar dari learning society, masyarakat belajar. Sasarannya, membuat anak nagari generasi baru menjadi terdidik,
H.

Mas’oed Abidin

40

Implementasi Pemahaman Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah

berkualitas, capable, fungsional, integrated di tengah masyarakatnya, dengan landasan adat basandi syarak, syarak basandi Kitabullah. Padang, 23 Desember 2003

Bio Data

H. MAS’OED ABIDIN

Lahir Tanggal Dari Pasangan Pendidikan

: : :

11 Agustus 1935 di Kotogadang, Bukittinggi, H.Zainal Abidin bin Abdul Jabbar Imam Mudo dan Khadijah binti Idriss. Surau (madrasah) Rahmatun Niswan Koto Gadang, H. Abdul Mu’in Lambah, SMA A/C Sumatra Thawalib Syeikh Kotogadang,

Sumatra Thawalib Syaikh Ibrahim Moesa Parabek, SR SMP II Neg. Bukittinggi, Bukittinggi (1957), dan FKIP UNITA Padangsidempuan, IKIP Medan (1963). Jabatan Sekarang : Direktur Pusat Pengkajian Islam dan Minangkabau (PPIM) Sumbar, Wakil Ketua MUI Sumbar Membidangi Dakwah, Ketua Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia Sumbar, Sekretaris Dewan Pembina ICMI Orwil Sumbar, Ketua Umum BAZ Prop. Sumbar, Anggota Majlis Pertimbangan Pendidikan (MPP) Prov. Sumbar. Alamat Sekarang : Jalan Pesisir Selatan V/496 Siteba Padang (KP - 25146), Fax : 0751-58401, Tel: 0751-52898.

H.

Mas’oed Abidin

41

Implementasi Pemahaman Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah

Buku yang sudah diterbitkan: 1. Islam Dalam Pelukan Muhtadin MENTAWAI, DDII Pusat, Percetakan ABADI, Jakarta - 1997. 2. Dakwah Awal Abad, Pustaka Mimbar Minang, Padang - 2000. 3. Problematika Dakwah Hari Ini dan Esok, Pustaka Mimbar Minang, Padang – 2001. 4. Suluah Bendang di Minangkabau, Pustaka Mimbar Minang, Padang.2002 5. Pernik Pernik Ramadhan, Pustaka Mimbar Minang, Padang 2003

web-site mailto

: :

http://www.masoedabidin.web.id masoedabidin@ yahoo.com

H.

Mas’oed Abidin

42

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->