Pendahuluan

Pernahkan anda bertanya mengapa ikan tuna ditangkap dengan long line Oleh: Supardi Ardidja

2010

Supardi Ardidja-2010

1

Pendahuluan

Apa itu Metode Penangkapan Ikan
Kebutuhan dunia akan ikan dari tahun ke tahun semakin meningkat sebanding dengan tingkat pertumbuhan manusia, karena ikan mengandung protein hewani yang tidak mengandung kolesterol dan tidak ada substitusinya. Terdorong oleh fenomena ini, kita berusaha sebanyak mungkin menyediakan kebutuhan ikan untuk konsumsi. Dewasa ini orang membutuhkan ikan bukan saja untuk mengenyangkan perut atau memenuhi kebutuhan tubuh akan protein, tapi bagi yang hidupnya mapan mereka lebih mementingkan selera. Tentang selera inilah yang terkadang membuat masalah, misalnya ada orang yang senang dengan semangkok sop tulang sirip ikan hiu. Bagi yang memikirkan tentang kelangsungan rantai makanan biota laut, untuk semangkok sop sirip hiu akan membutuhkan berapa ekor ikan hiu?. Mungkin jika ditawarkan seporsi kepiting goreng saos tomat, pasti dari setumpukan kepiting tersebut, yang pertama kita lirik dan cari adalah kepiting yang ada telurnya, gurih dan lezat memang. Tapi kita jarang berpikir kalau indukan kepiting yang bertelur ditangkap, akan masih adakah kepiting bertelur berikutnya?. Kalau hiu kebanyakan tertangkap, mahluk laut apa lagi yang akan menggantikannya sebagai predator tertinggi pada siklus rantai makanan?. Menangkap ikan tampaknya hanya merupakan hal yang sepele, tidak memerlukan pendidikan tinggi, tidak memerlukan otak yang cerdas, asal mau ke laut, buktinya tak sekolahpun para nelayan dapat menangkap ikan. Memang betul, tapi mengapa ada perguruan tinggi yang memiliki program studi menangkap ikan hingga mahasiswanya mampu mencapai tingkat doctoral. Mengapa pula seusainya perang dunia II USSR bersusah payah memboyong AL Fridman yang Yahudi untuk diangkat menjadi Kepala Bidang Riset Perikanan. Tentunya para founder kita dahulu, sudah memikirkan secara mendalam bahwa untuk menangkap ikan tidak hanya cukup dengan kuat di laut, berani menempuh badai menerjang ombak, tapi juga harus tahu ikannya ada di mana. Tidak hanya cukup mendengarkan desirnya gerakan ikan dengan gagang dayung, tidak hanya cukup dengan melihat kemilaunya air laut ditengah malam atau tukikan camar di permukaan laut. Oleh sebab ketidakcukupan inilah, hingga para nelayan
2

Pendahuluan

perlu pula belajar banyak, terutama tentang bagaimana menangkap ikan dengan mudah, berbiaya murah, hasilnya meriah, kapal mendarat cukong dan isteri senyum semringah. Mahluk laut yang akan ditangkap adalah mahluk hidup, tentunya perlu sekali belajar kehidupan ikan (biologi perikanan). Sisi kehidupan ikan yang mana yang perlu kita pelajari?. Tentunya adalah sisi-sisi kehidupan ikan yang memudahkan dalam menangkap ikan. Apakah hanya biologi perikanan saja yang patut kita pelajari, jelas tidak!. Banyak sekali ilmu-ilmu dasar yang diperlukan untuk kita belajar menangkap ikan dengan mudah. Contoh sederhana adalah seorang Ahli mesin harus mempelajari perilaku air yang mengalir di dalam pipa yang statis, akan tetapi seorang nelayan harus mempelajari perilaku pipa yang bergerak di dalam air yang juga mengalir dinamis. bagaimana Pertanyaannya dari sekian banyak ilmu yang dipelajari. Lalu bagaimanakah kita membaurkan sekian banyak ilmu dasar hingga menjadi sebuah kompetensi menangkap ikan yang handal. dalam metode penangkap ikan inilah kita akan tahu untuk apa mempelajari sedemikian banyak ilmu atau ilmu apakah yang harus kita pelajari, dari mulai berangan hendak menangkap ikan hingga ikan bisa “dinikmati”. Metode penangkapan ikan bertujuan untuk mengambangkan pola pikir dan perilaku dalam memecahkan masalah baik teknik maupun sosial yang berkaitan dengan problematika menangkap ikan, serta membangun keyakinan yang kuat dalam upaya menangkap ikan. Menangkap ikan yang tidak didasari oleh pengetahuan tentang bagaimana ikan tertangkap adalah pekerjaan yang sia-sia. Sebelum mempelajari metode Penangkapan Ikan terlebih dahulu harus memahami tentang ikan apa yang akan ditangkap, ikannya ada dimana, sifatnya bagaimana, serta densitas dalam kelompok/ukuran individu. Ikan adalah mahluk hidup, tentunya basis dari keempat hal tersebut di atas adalah Biologi Perikanan. Pertanyaan berikutnya adalah apa yang harus dipelajari dalam biologi perikanan?. Jawabannya sederhana saja dan pula tidak banyak yang harus dipelajari, yaitu: hanyalah hal-hal yang terdapat dalam ilmu biologi perikanan yang dapat membantu mempermudah menangkap ikan. Terkait dengan makin meningkatnya kebutuhan manusia tentang ikan, berdampak pada upaya peningkatan efektifitas dan efisiensi penangkapan ikan. Upaya menangkap ikan tertentu dengan satu alat penangkap ikan tidak cukup dengan satu metoda penangkapan ikan saja, tapi menggabungkan sejumlah metoda penangkapan ikan yang telah dikenal.
Supardi Ardidja-2010 3

Pendahuluan

Upaya meningkatkan jumlah hasil tangkapan, mungkin tidak akan diperoleh di perairan pantai yang dangkal tapi harus pula merambah ke samudera yang luas dan ganas, dari permukaan laut hingga ke kedalaman ratusan meter di bawah permukaan laut. Jumlah hasil tangkapan diperoleh dengan cara menambah jumlah dan memperbesar alat penangkap ikan serta memperbesar ukuran kapal. Selain itu diperlukan pula mekanisasi, otomatisasi dan bahkan mungkin komputerisasi di bidang perikanan, yang mana kesemuanya itu didasarkan pada metoda penangkapan ikan. Sebelum menjawab pertanyaan apa itu metode penangkapan ikan. Telebih dahulu harus dapat membedakan antara metode penangkapan ikan dan cara menangkap ikan. Misalnya akan menyimpan saputangan. Dua kata “menyimpan saputangan” ini mengandung bahwa saputangan dapat disimpan dimana saja, maka dikatakan bahwa dua kata tersebut diatas adalah sebuah metode yang disebut metode menyimpan saputangan. Silahkan praktekan dengan benar menyimpan saputangan dengan tangan kanan di saku celana sebelah kanan. Kemudian praktekkan pula dengan benar menyimpan saputangan dengan tangan kanan di saku celana sebelah kiri. Tentunya keduanya dilakukan secara berbeda, walaupun saputangannya sama, celananya yang sama dan tangannya pun sama. Dengan kata lain, bahwa kedua perlakuan di atas dikerjakan dengan cara yang berbeda. Kesimpulannya adalah satu metode dapat dilakukan dengan berbagai cara. Selain itu harus pula mengenal tiga pengelompokkan bagaimana ikan ditangkap (akan dijelaskan lebih lanjut), yaitu: ikan yang dapat ditangkap sekor demi seekor, ikan yang dapat ditangkap sekaligus banyak dan ikan yang hanya dapat ditangkap dengan dikumpulkan sedikit demi sedikit. Mari kita perhatikan alur pikir pada gambar 1 mengapa kita harus mempelajari metode penangkapan ikan. Berawal dari permintaan (demand), bisa berdasarkan permintaan konsumen, bisa berdasarkan permintaan pribadi dan bisa pula berdasarkan permintaan pasar. Mungkin saja mulai pasar di Senggigi hingga pasar di Tokyo. Katakanlah permintaan ikan yang harus ditangkap tersebut berasal dari konsumen. Ikan yang diminta adalah sasimi ikan tuna. Kita membuat sejumlah pertanyaan berdasarkan alur pikir seperti tampak dalam gambar. Pertanyaan tersebut adalah sebagai berikut (Alih-alih kita akan menangkap ikan). 1. Ikan apa yang cocok untuk sasimi dan akan kita tangkap: big eye tuna, Thunnus obesus;
4

Pendahuluan

2. Ikan tersebut adanya dimana: “Highly migratory” bisa berada di mana saja, antara Samudra Atlantik, Hindia, dan Pasific; pada 25° N - 55° S, dan 80° E - 150° E (FAO Area). Pada Bulan Maret 2010, sebagian kecil tuna ini berada dekat dengan Indonesia, di sebelah utara Sabang (gambar 2., 2 titik putih dalam lingkaran merah). Peta ini dapat diunduh dari http://species-identification.org/species.php?species_group=fnam& menuentry =soorten&id=1936& tab= map (jangan lupa peta diupdate dulu). 3. Sifatnya bagaimana: Biologi perikanan memberikan informasi bahwa blue fin tuna adalah termasuk spesies ikan perenang cepat, predator yang efisien, termasuk pemangsa berbagai jenis ikan pelagis kecil, crustacea, cumi-cumi (cephalopods). Memangsa sepanjang malam dan siang hari, Big eye tuna dapat hidup dari mulai lapisan epipelagic hingga mesopelagic hingga kedalaman 1.000 meter (gambar 3). Namun, umumnya berada pada kedalaman 0 hingga 300meter, di lapisan mana terdapat limpahan makanannya. 1. Kepadatan dalam kelompok/ukuran individu; seperti informasi yang kita peroleh diatas bahwa tuna ini memang hidup berkelompok, namun tingkat kepadatannya moderat, berukuran besar (Pelagis besar), dengan ukuran individu, panjang sekitar 2,5 m dengan berat sekitar 210 kg.
KONSUMEN

TEKNOLOGI BIOLOGI
Ikan apa ? Adanya dimana? Sifatnya bagaimana? Kepadatan dalam kelompok/ukuran individu METODE PENANGKAPAN IKAN Kapal SDM Alat Penangkap Ikan Teknik Penangkapan Ikan Penanganan Hasil di atas kapal Regulasi

Gambar 1 Alur pikir mengapa kita harus mempelajari metode penangkapan ikan (belum termasuk Code of Conduct for Responsible Fishery dan Ekosistem, terletak dibawah regulasi).

Supardi Ardidja-2010

5

Pendahuluan

Gambar 2 Peta sebaran big eye tuna sumber: Map retrieved from OBIS on 09-03-2010. Update map.

Gambar 3 Sebaran tuna berdasarkan kedalaman perairan, diedit dari http://www.fao.org/fishery/topic/16082/en#Distribution

Berdasarkan informasi biologi yang kita peroleh, maka kita akan mencoba menentukan metode penangkapan ikan apa yang akan kita gunakan, dengan mempertimbangkan dua hal penting sebagai berikut: 1. Kelompok tuna ini dapat ditangkap sekaligus banyak dan juga dapat ditangkap seekor demi seekor. a. Jika akan ditangkap sekaligus banyak dengan mengurung arah renangnya (horisontal) dan mengurungnya dari bawah (vertikal). Masalahnya adalah bahwa ikan tersebut, berada pada kedalaman 0–1.000 meter di bawah permukaan laut. Dengan kata lain, jika ikan selalu di lapisan epipelagic (0 – 50m) maka metode menangkap ikan dengan mengurung dapat dilakukan. Alat yang akan digunakan adalah purse seine. b. Jika ikan berada di kedalaman laut lebih dari 100 meter, maka ikan hanya dapat ditangkap seekor demi seekor, dan metode
6

Pendahuluan

penangkapan ikan yang akan digunakan adalah tali dan pancing (line and hook). Salah satu alat penangkap ikannya adalah Rawai Tuna. 2. Cuaca berdasarkan data rata-rata kecepatan angin adalah 5 – 15 m/det. Atau 9,7 – 29,7 knot) (grafik pada gambar 8.). Rata-rata ketinggian ombak berkisar antara 0 – 3 meter. (gambar 4). (pengetahuan tentang kecepatan angin dan ketinggian gelombang dapat dipelajari dalam Cuaca dan Iklim (weather and climate). Arah angin dapat dilihat dari arah simbol panah dari peta tersebut. Kondisi ini berbahaya bagi pengoperasian purse seine. Namun masih aman untuk mengoperasikan long line. Asalkan kapal long line yang digunakan memenuhi syarat “Ocean going” (istilah “Ocean going” ini dapat dipelajari dalam Bangunan Kapal dan Stabilitas Kapal Penangkap Ikan, sedangkan pengaruh arah dan kecepatan angin terhadap kapal penangkap ikan dan terhadap pengoperasian alat penangkap ikan dapat dipelajari dalam Teknik Penangkapan Ikan dan Pengendalian Kapal Penangkap Ikan). Berdasarkan dua pertimbangan di atas maka kita sebaiknya memilih metode Tali dan Pancing. Yakni tuna ditangkap seekor demi seekor. (silahkan dibaca pada bab yang membahas tentang metode tali dan pancing) di buku ini. Permasalah berikutnya adalah apakah kita telah memiliki kapal long line atau kita harus membuat kapalnya. Jika belum memiliki kapal maka perlu membuat suatu rencana pembangunan kapal penangkap ikan: (silahkan baca Perencanaan Kapal Penangkap Ikan dalam Kapal Penangkap Ikan; Ardidja, 2010). Setelah kita menentukan metode penangkapan ikan dalam hal ini adalah tali dan pancing, langkah berikutnya adalah memikirkan sarana dan teknologi seperti apa yang dibutuhkan untuk melaksanakan metode tali dan pancing ini. Gambar 1 pada bagian Teknologi terdapat masalah kapal, SDM, alat penangkap Ikan, Teknik Penangkapan Ikan, Penanganan Hasil Tangkap dan yang terakhir adalah regulasi. Kemudian kembali lagi ke konsumen dalam bentuk hasil tangkapan. Keenam permasalahan di atas saling terkait satu sama lain. Mari kita cermati satu persatu:

Supardi Ardidja-2010

7

Pendahuluan

Gambar 4 Peta cuaca untuk wilayah perairan Samudra Hindia Maret 2010; http://www.oceanweather.com/data/

1) Kapal. Menangkap ikan di laut tentunya memerlukan kapal karena jarak yang jauh dan waktu operasi yang tidak sebentar. Masalah pertama yang harus kita pikirkan adalah kapal yang akan digunakan seperti apa. Pertama. Di atas telah disebutkan bahwa kapal harus “ocean going”, dalam arti bahwa kapal harus mampu menghadapi berbagai kondisi cuaca berat di samudra. Kapal harus memiliki stabilitas awal (initial stability) yang baik. Bentuk kapal harus mampu mengurangi masalah “down flooding” yang diakibatkan tingginya gelombang, proses penanganan hasil. Kapal long line memerlukan ruang kerja yang luas di bagian depan. Karena Indonesia umumnya mengikuti tipe kapal long line jepang, yang melakukan setting dari buritan dan hauling di haluan. Proses operasi long line secara umum terdiri dari tiga tahapan, yaitu: Setting, drifting, hauling dan penanganan hasil (pelajari Teknik Penangkapan Ikan) Tahapan setting dan hauling memerlukan ruang kerja yang cukup, terutama pada saat pelaksanaan tahapan hauling.

8

Pendahuluan

Gambar 5

Peta arah dan kecepatan arus wiliayah ekuator kawasan perairan Samudra Hindia bulan Januari 2010; Sumber Ocean Motion Surface Current; (aslinya berwarna), sumber: http://oceanmotion.org/html/resources/oscar.htm

Supardi Ardidja-2010

9

Pendahuluan

Gambar 6

Peta arus permukaan dunia (Wind Driven Surface Currents: Gyres Background); Sumber; http://oceanmotion.org/html/ background/wind-driven-surface.htm

Gambar 7

Ocean surface wind; Sumberhttp://oceanmotion.org/html/resources/winds.htm

10

Pendahuluan

Gambar 8

Rata-rata kecepatan angin pada bulan Maret 1999 s/d 2008; Sumber :
http://oceanmotion.org/html/resources/winds.htm?sseyear= 2008&ssemon=MAR&sseparam=Wind+Vectors&sseframes=10&ssedata=Graph

Ruang kerja ini diperlukan dalam pelaksanaan tahapan hauling dan penanganan hasil. Kedua. Jarak jelajah yang jauh memerlukan ruang akomodasi, palkah penyimpanan persediaan bahan bakar, pelumas, air tawar dan perbekalan lainnya yang cukup termasuk palkah penyimpanan hasil tangkap. Ruang akomodasi harus dapat memberikan kenyamanan bagi awak kapal, agar awak kapal tidak merasa jauh dari rumah. Perlengkapan kapal (misalnya, perlengkapan penentuan posisi kapal, komunikasi, perlengkapan keselamatan, perlengkapan operasioanl penangkapan ikan dan perlengkapan-perlengkapan lainnya harus pula memenuhi syarat yang ditetapkan oleh aturan keselamatan kapal, baik nasional maupun internasional, termasuk surat-surat kapal. Kapal harus dapat menyediakan air tawar dalam jumlah yang cukup untuk semua keperluan baik untuk semua orang yang ada di kapal dan kapalnya itu sendiri. Palkah hasil tangkap, jumlah dan kapasitas yang cukup sesuai dengan sistem penyimpanan ikan yang diperlukan. Kemungkinan fishing ground terletak di wilayah zona ekonomi ekslusif negara lain, maka diperlukan perijinan-perijinan negara setempat. Jumlah, tipe dan kapasitas perlengkapan operasional tergantung dari sistem long line yang dioperasikan harus dilengkapi baik teknis maupun administrtatif guna mempermudah dan meringankan kerja serta untuk mempertahankan mutu ikan hasil tangkapan. Ketiga. Kapal kayu jika tidak terpaksa, sudah jarang digunakan untuk membangun kapal penangkap ikan, besi dan fiber glass banyak menjadi pilihan pengusaha perikanan (kecuali kapal-kapal penangkap ikan konvensional). Kapal-kapal long line yang terbuat dari kayu yang ada dan beroperasi di Indonesia, umumnya adalah modifikasi dari kapalkapal niaga (kapal interinsuler pengangkut kayu). Tipe kapal-kapal penangkap sekarang tidak lagi memerlukan palkah penyimpanan ikan permanen dan palkah persediaan bahan bakar, pelumas dan air tawar
Supardi Ardidja-2010 11

Pendahuluan

yang berkapasitas besar, karena hasil tangkapan langsung di tampung di kapal induk (mother ship), untuk penyimpanan dan proses penanganan hasil lanjutannya. Sedangkan persediaan jangka panjang bahan bakar, pelumas dan air tawar dipasok dari kapal pemasok (supplier ship). Keempat. Penataan perlengkapan operasi penangkapan ikan, tidak saja mempertimbangkan efektivitas, juga egronomi, dan keselamatan kerja keselamatan awak dan alatnya. Pemilihan alat juga harus memilih yang khusus digunakan di laut (marine use) dan bersertifikat yang diakui oleh badan-badan otorita keselamatan kapal. Perlengkapan utama pada long line adalah line hauler dan side roller, Indonesia sudah dapat memproduksi line hauler tipe sederhana yang dipergunakan untuk kapal-kapal long line kayu (kapal-kapal yang dimodifikasi dari bekas kapal purse seine dan kapal pengangkut kayu interinsuler. Upaya modifikasi ini disebabkan fishing ground ikan-ikan layang semakin jauh dari fishing base. Semakin marak dengan adanya permintaan tuna segar). Alat penggulung tali branch line (Branch winder) dan alat penggulung buoy line tidak merupakan perlengkapan utama sebab dapat digantikan oleh tenaga manusia untuk menggerjakan penggulugan branch line dan buoy line. Kedua peralatan yang disebutkan terakhir ini muncul bersamaan dengan berubahnya sistim operasi tunggal ke sistem operasi armada, kapal berada di laut hingga berbulan-bulan mendarat jika akan docking saja. Sehingga diperlukan peralatan untuk meringankan kerja awak kapal dan efisiensi, dalam artian kapal dapat mengoperasikan longline dengan jumlah pancing yang jauh lebih banyak. Kelima. Tenaga penggerak kapal, listrik dan hidrolik. Beberapa buku bahkan judul mata kuliah di tingkat akademik, mata ajaran di tingkat sekolah lanjutan, mengatakan bahwa mesin penggerak kapal adalah mesin induk atau mesin utama, sedangkan mesin pembangkit listrik termasuk mesin penggerak dan generator dan permesinan lainnya di katagorikan dengan mesin bantu atau pesawat bantu. Dewasa ini, hampir segala sesuatu digerakkan dengan tenaga listrik atau hidrolik, mulai start mesin induk, pompa-pompa hidrolik, peralatan-peralatan yang dikontrol secara elektrik hidrolik, peralatan penentuan posisi kapal, komunikasi, pompa-pompa air tawar dan bahan bakar, refrigerasi, perlengkapan penangkapan penerangan, pendingin ruangan dan sirkulasi udara, hingga dapur. Bahkan Eropa melarang penggunaan minyak bakar dan gas di dapur, dengan alasan kecelakaan di kapal terutama kebakaran kapal kebanyakan ditimbulkan oleh
12

Pendahuluan

bahan-bahan yang mudah terbakar termasuk penggunaan gas alam di dapur. Mungkin saja, sebagian dari peralatan tersebut dapat digerakkan dengan tenaga pengganti, batere misalnya, namun demikian batere harus pula diisi ulang menggunakan tenaga listrik. Line hauler adalah utama, mengapa demikian. Karena alat tersebut diisediakan untuk menggantikan tenaga manusia. Misalkan saja, kapal memasang 300 pancing, jarak antar pancing 50 meter, maka total main line yang harus dihibob adalah sekitar 15 km, kemudian pekerjaan ini dilakukan hampir setiap hari dan hampir selama proses operasi penangkapan ikan. Tidak ada tenaga bersumber dari “nasi” yang sanggup melakukannya. Dengan demikian, line hauler adalah alat utama yang harus dilengkapi pada sebuah kapal long line. Oleh karenanya, semua peralatan yang tidak dapat digantikan oleh alat lainnya atau tenaga manusia tergolong dalam peralatan utama. Bukan “Alat bantu”, karena alat tersebut memiliki tugas dan fungsinya sendirisendiri baik secara terintegrasi dengan alat lainnya atau berdiri sendiri. Tujuan efisiensi akan mengabaikan hal-hal yang kurang bermanfaat di atas kapal. Tanpa listrik kapal seolah-olah “mati”. Bahkan di pelabuhan atau di dok disediakan electrik harbour, (menggunakan lstrik dari daratan). Keenam. Nakhoda adalah pemimpin tertinggi di atas kapal, walaupun sebagian tugasnya diemban oleh fishing master. Sehingga nakhoda harus setiap saat, dapat memantau dan mengambil tindakan cepat penanggulangan, jika terjadi hal-hal yang menyebabkan “ketidak selamatan” operasi penangkapan dan awak kapalnya. Konsekwensinya adalah, bahwa penataan bangunan atas (super structure) harus sedapat mungkin tidak menyebabkan nakhoda terlambat mengambil tindakan. Jurumudi dan ABK yang mengendalikan line hauler, bertindak saling mendukung. Dengan kata lain, jurumudi dan pengendali line hauler memiliki dua hati tapi satu mata, konsekwensinya bahwa jurumudi harus dapat melihat dengan jelas apa yang dilakukan oleh pengendali line hauler, juga sekaligus melihat kedudukan juluran main line terhadap haluan kapal. KM. Madidihang I milik STP, memindahkan jurumudi ke luar bangunan kamar kemudi menggunakan kontrol jarak jauh (remote control) untuk mengendalikan haluan dan kecepatan kapal. Sehingga dengan hanya sedikit tolehan kepala atau isyarat tangan dari petugas line hauler, juru mudi akan segera tahu dan dengan segera bertindak apa yang harus dilakukan terhadap haluan dan kecepatan kapal.

Supardi Ardidja-2010

13

Pendahuluan

2) Sumber Daya Manusia Sumberdaya manusia baik yang bekerja langsung di atas kapal maupun sebagai tenaga manajemen di darat harus merupakan tenaga kerja yang memiliki pola pikir dan perilaku profesional serta memiliki kemampuan manajerial yang memadai. Bagi perwira harus dilengkapi dengan berbagai sertifikat minimal yang disayaratkan, misalnya ANKAPIN untuk perwira dek dan ATKAPIN untuk perwira Mesin, Sertifikat BST (Basic Safety training) dan sertifikiat-sertifikat lain disesuaikan dengan bidang pekerjaannya. Sertifikat BST adalah wajib bagi semua orang yang bekerja di atas kapal. Kewajiban memiliki sertifikat ini adalah ketentuan internasional melalui IMO. Juga, Bagi semua yang bekerja di kapal harus kuat dan sehat baik fisik maupun mentalnya. Pihak manajemen harus pula melengkapi mereka dengan jaminan kesehatan dan jaminan pensiun jika memungkinkan. Lengkapi mereka dengan perjanjian Kerja Laut yang tidak merugikan kedua pihak. Bagian penting dari kelangsungan usaha adalah menyediakan tenaga cadangan dan tenaga pengganti. Oleh karenanya perlu pula mempelajari Manajemen Usaha Perikanan termasuk didalamnya perhitungan laba rugi dan prediksi kelangsungan usaha (economic viability). Ketrampilan minimal ABK baik dalam bernavigasi (keselamatan kapal) maupun menangkap ikan telah diatur dalam konvensi internasional Torremolinos (International Convention on Standards of Training, Certification and Watchkeeping for Fishing Vessel Personnel (STCW-F), 1995. 3) Alat Penangkap Ikan Tuna yang akan ditangkap selain berada di samudra, juga hidup pada lapisan perairan hingga 1000 meter di bawah permukaan air, hidupnya bekelompok tetapi tidak padat, berukuran besar. Jika berada di lapisan permukaan hingga 100 meter dapat menggunakan alat penangkap ikan yang dapat menangkap ikan sekaligus banyak (jika ikannya mengelompok padat). Jika berada pada kedalaman lebih dari 100 meter, maka alat penangkap ikan yang digunakan adalah alat yang termasuk dalam kelompok metode penangkapan ikan dengan tali dan pancing (hook and line), yakni menangkap ikan berukuran besar seekor demi seekor, dalam hal ini adalah rawai tuna hanyut (drift long line). Tergantung pada tipe kapal long line yang dimiliki apakah akan
14

Pendahuluan

menggunakan sistem basket, sistem drum, sistem box, sistem blong atau sistem otomatis (autoline). Pada tahun 1970-an awal diperkenalkannya alat penangkap ikan komersil modern di Indonesia, bahan utama long-line menggunakan kuralon dari kelompok PVA (Polyvinyl Alkohol) dengan sistem basket. Dewasa ini penggunaan kuralon sudah ditinggalkan orang karena mahal dan sulit dicari di pasaran. Penggantinya adalah Nylon monofilament yang dianyam (braided), walaupun harganya lebih murah dan mudah didapat dibanding kuralon, namun kekuatannya jauh lebih rendah dengan usia pakai lebih pendek. Namun demikian, pemilihan tipe long line yang akan digunakan secara umum sangat tergantung kepada permodalan usaha, karena setiap tipe long line memiliki perlengkapan penangkapan yang berbeda, dan sebagian besar masih harus diimport dari luar negeri. Keterkaitan dengan kapal, maka masing-masing tipe long line memerlukan penataan ruangan yang berbeda pula, misalnya tipe box memerlukan kotak penyimanan main line dan mesin penata tali (Line arranger). Tipe drum (berasal dari Eropa) memerlukan drum yang selain memerlukan tempat khusus juga penataanntya, karena berukuran besar terkait erat dengan stabilitas kapal. Baik long line tipe box maupun tipe drum memerlukan alat pelepas main line serta mesin pengatur waktu pemasangan branch line (hook master) dan buoy line. Korea menyenangi mesin pelepas branch line dan umpan, sedangkan jepang lebih menyukai pelepasannya menggunakan tenaga dan ketrampilan manusia. Harus pula ada ruang yang digunakan untuk menyimpan branch line, pelampung, radio bouy, light buoy, dan suku cadang alat penangkap ikan. 4) Teknik Penangkapan Ikan Teknik penangkapan ikan merupakan akumulasi berbagai ilmu dan pengetahuan yang dipelajari di sekolah-sekolah berjurusan penangkapan ikan. Operasi penangkapan ikan adalah suatu kerja yang menggabungkan keahlian mengendalikan kapal, keahlian mengoperasikan alat penangkap ikan, keselamatan, manajemen dan pertanggungjawaban. Termasuk menghindari segala resiko bahaya baik untuk kapalnya sendiri atau kapal orang lain (pelajari Peraturan Internasional untuk mencegah tubrukan di laut  International Collision Regulation). Tujuan yang harus dicapai adalah ikan didapat, kapal dan orangnya selamat, pulang-pulang perusahaan dan keluarga tersenyum semringah, sekaligus tidak dicaci maki oleh “Green Peace” atau digelandang oleh Pengawas Perikanan. Dan perlu diingat pula, bahwa
Supardi Ardidja-2010 15

Pendahuluan

beberapa generasi keturunan kita ke depan harus memiliki kesempatan yang sama untuk menangkap ikan. Di bagian atas bab ini, telah diuraikan tentang informasi kekuatan dan arah angin, tinggi gelombang dan kekuatan dan arah arus. Terkait dengan pengendalian kapal angin akan mendorong bagian atas bangunan kapal, arus akan menghanyutkan bangunan kapal di bawah air dan alat penangkap ikannya, (pada kenyataannya jika tidak bertentangan dengan kedua faktor alam itu maka kapal dan alat penangkap ikan akan hanyut mengikuti pergerakan air). Mempertimbangkan Haluan dan kecepatan kapal harus dengan seksama. Sebagai contoh haluan dan kecepatan tidak menyebabkan ABK yang melepas branch line terjepit tangannya, main line tidak selalu bergesekan dengan badan kapal, dan jangan sampai pula terjadi main line terbelit propeller, jangan menyebabkan main line tegang, apalagi sampai putus. Saat itu juga juru mudi, terkadang mewakili nakhoda dalam mengendalikan situasi operasional hauling, tentunya memerlukan pengeras suara (public addressor) di dekatnya. Teknik pengoperasian juga, harus mempertimbangkan keselamatan kapal, tidak mengurangi nilai stabilitas kapal, berkaitan dengan efek akumulatif dari faktor internal dan eksternal kapal, terutama faktor alat penangkap ikan yang notabene cenderung menambah kemiringan kapal. 5) Penanganan Hasil Tangkap Penanganan hasil yang dimaksudkan disini adalah melulu penanganan hasil tangkap di atas kapal, selama operasi penangkapan ikan hingga ikan sampai ke pelabuhan pendaratan untuk proses lanjutan perjalanan ikan ke tangan konsumen. Hasil yang harus dicapai dalam proses penanganan hasil ini adalah bahwa, ikan harus tetap segar, bermutu baik yang memenuhi persyaratan maksimum yang diinginkan oleh konsumen. Perlu diingat bahwa, persyaratan standar mengandung arti sesuatu yang harus dipenuhi dan tidak boleh dikurangi. Mestinya dalam pelaksanaannya harus memberikan lebih dari yang diminta “standard” sedapat mungkin memperlakukan ikan semaksimal mungkin sehingga memenuhi selera konsumen, dan akan merasa senang serta tidak segan-segan membelinya dengan harga tinggi. Penanganan hasil tangkap yang memenuhi kriteria mutu dan HACCP (Hazard Analysis and Critical Control Point ). HACCP adalah pendekatan pencegahan sistematis bahaya keamanan pangan, farmasi dan keselamatan khususnya pencegahan terjadinya bahaya yang
16

Pendahuluan

ditimbulkan secara fisik, kimia, dan biologis. Memang benar bahwa HACCP adalah dikhususkan untuk industri makanan, namun mutu akhir produk olahan ikan sangat ditentukan oleh mutu hasil tangkapan di kapal. Oleh karenanya, Eropa memberlakukan peraturan baru yang diberlakukan tahun 2011 bahwa semua alat dan orang yang menangani produk ikan dan hasil olahan ikan harus bersertifikat. Tahun 2009 BPPI Semarang mencoba membahas secara mendalam dalam upaya memenuhi tuntunan konsumen tersebut. Itulah! Konsumen adalah raja, absolut, dan susah ditolak. Prinsip yang harus dijalankan dalam menangani ikan berukuran relatif besar yang ditangkap seekor demi seekor dengan long line adalah sebagai berikut: Buang segala sesuatu yang menjadi sumber terjadinya proses dekomposisi faktor internal ikan, misalnya insang, isi perut dan lendir. Jangan heran bukan saja manusia yang harus sikat gigi dan mandi tuntas, tuna harus disikat, disemprot dan diakhiri dengan sapuan lembut spon pengering. Hindarkan terjadinya kontaminasi dengan produk apapun yang dapat menyebabkan kerusakan ikan dan/atau tertularnya bangkai ikan baik dalam bentuk bakteri maupun racun, misalnya karat pisau pemotong sirip dan tutup insang akan menyebabkan tetanus. Limbah hidung dapat menyebarkan bakteri influensa. Sabun hijau dapat menyebabkan keracunan. Hindarkan terkena matahari langsung, sinar matahari akan mempercepat terjadi proses dekomposisi. Upayakan alat dan orang tetap higyenis. Tubuh ikan harus utuh tanpa cacat atau gores, hindarkan luka akibat apapun pada bagian daging ikan. Dalam proses pembekuan hindarkan pembekuan cepat. Pembekuan cepat akan menyebabkan daging terlalu cepat mengeras hingga terbentuknya rongga-rongga di dalam daging ikan. Ikuti segala petunjuk dan aturan yang diminta oleh konsumen. Pelajarilah dengan baik pengetahuan tentang Penanganan Hasil Tangkap.

-

-

-

Supardi Ardidja-2010

17

Pendahuluan

Konsekwensinya adalah bahwa, kapal harus dilengkapi dengan seluruh perlengkapan penanganan hasil tangkap yang cukup, baik jumlah maupun kualitasnya, termasuk perlengkapan bongkar muat (loading and unloading equipment). 6) Regulasi Kapal penangkap ikan yang berukuran kecil sampai besar adalah suatu objek yang dikenai berbagai peraturan baik nasional maupun internasional. Namun semua peraturan tersebut demi kepentingan keselamatan kapal, awak kapal, usaha dan pelayaran dan keseimbangan ekologi. Pelajaran mengenai regulasi ini dapat dipelajari dalam mata kuliah Hukum Maritim dan Peraturan Perikanan. Selain itu dapat pula dipelajari dalam SOLAS. Berikut ini adalah rangkuman dari SOLAS yang terkait dengan kapal penangkap ikan: Konvensi Internasional SOLAS adalah perjanjian/konvensi paling penting untuk melindungi keselamatan kapal dagang. Versi pertama diterbitkan pada tahun 1914 sebagai akibat tenggelamnya kapal RMS Titanic. Dimana diatur mengenai ketentuan tentang jumlah sekoci/rakit penolong dan perangkat keselamatan lain serta peralatan yang dibutuhkan dalam prosedur penyelamatan, termasuk ketentuan untuk melaporkan posisi kapal melalui radio komunikasi. Dan sejak pertama sekali ditetapkan dilakukan beberapa perubahan/ amandemen 1929, 1948, 1960, dan 1974 Konvensi Internasional SOLAS 1974 diratifikasi oleh Pemerintah Republik Indonesia pada tanggal 17 Desember 1980 dengan Keputusan Presiden Nomor 65 Tahun 1980. Kemudian pada tanggal 12 Desember 2002, Konferensi Diplomatik yang dilaksanakan oleh Maritime Safety Committee dari IMO mengadopsi amandemen Konvensi Internasional SOLAS yang dikenal dengan sebutan International Ship and Port Facility Security (ISPS) Code, 2002.
-

Pendahuluan Prosedur amandemen Ketentuan teknis Chapter I - Ketentuan umum Chapter II-1 - Konstruksi - Pembagian dan stabilitas, permesinan dan instalasi listrik - Chapter II-2 - Pelindungan kebakaran, deteksi kebakaran dan pemadaman kebakaran - Bab III - Perangkan pertolongan dan pengaturannya

18

Pendahuluan

Chapter IV - Komunikasi Radio Chapter V - Keselamatan navigasi Chapter VI - Muatan barang Chapter VII - Muatan barang berbahaya Chapter VIII - Kapal Nuklir Chapter IX - Managemen keselamatan operasi kapal Chapter X - Ketentuan untuk kapal cepat Chapter XI-1 - Upaya kusus untuk meningkatkan keselamatan pelayaran - Chapter XI-2 - Upaya kusus untuk meningkatkan keamanan pelayaran - Chapter XII - Aturan tambahan untuk kapal curah
-

Pemerintah Indonesia telah mengesahkan konvensi ini melalui Keputusan Presiden No 65 tahun 1980 Mengesahkan "International Convention For The Safety Of Life At Sea, 1974", Sebagai Hasil Koferensi Internasional Tentang Keselamatan Jiwa Di Laut 1974, Yang Telah ditandatangani oleh delegasi pemerintah Republik Indonesia, Di London, Pada Tanggal 1 Nopember 1974, Yang Merupakan Pengganti "International Convention For The Safety Of Life At Sea, 1960", … International Ship and Port Facility Security, IMO. International Ship and Port Facility Security (ISPS) Code adalah Peraturan Internasional mengenai fasilitas keamanan pelabuhan dan kapal yang merupakan amandemen dari SOLAS Konvensi (1974/1988) dalam pengaturan keamanan minimum untuk kapal, pelabuhan dan lembaga pemerintah. Yang diberlakukan mulai tahun tahun 2004, aturan ini menentukan tanggung jawab kepada pemerintah, perusahaan perkapalan, awak, dan pelabuhan beserta personilnya untuk "mendeteksi ancaman keamanan dan mengambil tindakan pencegahan terhadap insiden keamanan yang berdampak pada kapal laut atau fasilitas pelabuhan yang digunakan dalam perdagangan internasional." Amandemen terakhir adalah pada bulan Juni 2009, yang akan diberlakukan mulai 1 Januari 2011 dimana Electronic Chart Display and Information Systems (ECDIS) dan Bridge Navigational Watch Alarm Systems (BNWAS) akan menjadi wajib (mandatory), yang merupakan amandemen terhadap Chapter V/19 SOLAS, Keselamatan bernavigasi, aturan ini akan diberlakukan pada setiap kapal baru dan secara

Supardi Ardidja-2010

19

Pendahuluan

bertahap akan diberlakukan juga terhadap kapal yang sudah dibangun sebelum aturan ini berlaku. Amandemen terhadap SOLAS lainnya adalah terhadap aturan II-1/3 -5.2 untuk melarang membangun bangunan baru yang terbuat dari asbes (asbestoss) tanpa pengecualian. Keselamatan Pelayaran. Keselamatan Pelayaran didefinisikan sebagai suatu keadaan terpenuhinya persyaratan keselamatan dan keamanan yang menyangkut angkutan di perairan dan kepelabuhan. Terdapat banyak penyebab kecelakaan kapal laut; karena tidak diindahkannya keharusan mengikat semua barang mudah bergerak (lashed), hingga pada persoalan penempatan barang yang tidak memperhitungkan titik berat kapal dan lengan penegak yang stabil. Cermati tenggelamnya kapal milik perusahaan Binama di papua Barat yang menyebabkan tewasnya sejumlah ABK dan dua orang taruna Akademi Perikanan Sorong yang sedang melaksanakan praktek akhir (29 Januari 2010). Terutama dalam operasi penangkapan Ikan. Namun demikian, Penyebab kecelakaan sebuah kapal tidak dapat disebutkan secara pasti, melainkan perlu dilakukan pengkajian dari berbagai aspek, teknis, manusia dan alam. Contohnya apakah kapal sudah laik laut, apakah peraturan internasional keselamatan pelayaran sudah dipenuhi (SOLAS, 1974 termasuk sejumlah amandemennya). International Convention for the Prevention of Pollution from Ships, 1973, yang dimodifikasi dalam Protocol 1978 yang terkait (MARPOL) yang berisi Pencegahan polusi yang diakibatkan oleh minyak, Pengendalian Pencemaran yang diakibatkan oleh zat cair berbahaya, Pencegahan pencemaran oleh zat-zat berbahaya dalam bentuk kemasan, Pencegahan polusi yang diakibatkan oleh limbah dari kapal, Pencegahan polusi oleh sampah dari kapal, dan pencegahan polusi udara dari kapal. Diperkuat oleh Keputusan Presiden No. 46 Tahuan 1986 “Keputusan Presiden Republik Indonesia Tentang Pengesahan International Convention For The Prevention Of Pollution From Ships, 1973, beserta Protokol (The Protocol Of 1978 Relating,To The International Convention For The Prevention Of Pollution From Ships, 1973). Konvensi STCW-F 1995 (1995 STCW-F Convention) Tidak hanya kapal yang terkena regulasi, awak kapal atau siapapun yang bekerja di atas kapal atau siapapun yang berperan aktif dalam
20

Pendahuluan

penangkapan ikan terkena peraturan. Selain mengenai keselamatan, maka STCW-F mengatur tentang kompetensi dan profisiensi, selain mampu bekerja sesuai dengan tugas dan tanggung jawabnya, juga harus dibuktikan dengan berbagai sertifikat yang harus dimiliki. Tidak terkecuali, siapapun yang bekerja di atas kapal harus memiliki sertifikat Basic Saferty Training (BST). Bahkan bagi instruktur pelatihan wajib memiliki sertifikat IMO Model Corse 609, sedangkan bagi penguji harus memiliki sertifikat IMO Model Corse 312. Para awak kapal harus memiliki minimum ketrampilan dalam menyelamatkan diri, orang lain dan kapalnya itu sendiri. Kovensi STCW-F 1995 melengkapi protokol Torremolinos dalam kerangka pelatihan dan sertifikasi awak kapal penangkap ikan. Konvensi ini ditujukan terhadap standar pelatihan dan sertifikasi nakhoda dan petugas jaga pada kapal penangkap ikan dengan panjang 24 meter atau lebih, kepala kamar mesin dan masinis pada kapal dengan tenaga 750kW atau lebih serta awak kapal yang bertanggungjawab terhadap komunikasi radio. Demikian juga mengenai basic safety training (BST) bagi semua awak kapal (mandatory). STCW-F 1995 diadopsi 7 Juli 1995 dan akan diberlakukan 1 tahun setelah diterima oleh 15 negara. Hingga terhitung 2 Oktober 2009 baru 13 negara yang meratifikasi konvensi tersebut. (http://www.stp.dkp.go.id). Alat penangkap ikan juga tidak terkecuali, terkena aturan baik yang berlaku secara internasional maupun nasional. Peraturan bagi alat penangkap ikan umumnya terkait dengan menjaga kelestarian biota dan hewan laut yang dianggap telah mendekati kepunahan, misalnya paus, penyu laut, lumba-lumba, singa laut, hiu?, dan Southern blue fin tuna. Ikan-ikan konsumsipun banyak yang sudah dikurangi jumlah penangkapannya. Misalnya Eropa melarang dilakukan penangkapan tuna menggunakan purse seine di wilayah perairan eropah. Termasuk juga pelagic trawl. Bagi negara-negara yang masih mengijinkan penangkapan ikan dengan trawl dan purse seine, termasuk Indonesia, melakukan pembatasan ukuran alat penangkap ikan melalui pembatasan ukuran mata jaring dan wilayah pengelolaan perikanan Reublik Indonesia (WPP-RI. Indonesia telah menetapkan melalui Undang-Undang No 31 tahun 2004 tentang Perikanan. Dalam Undang-undang ini mengatur berbagai aspek dalam pengelolaan, pemanfaatan, pengawaan dan pengadilan usaha
Supardi Ardidja-2010 21

Pendahuluan

perikanan. Kenudian diperjelaskan lagi dengan berbagai keputusan dan peraturan Kementerian Kelautan dan Kementerian Keuangan (pelajari Hukum Laut dan Peraturan Perikanan). Kapal penangkap ikan selama beroperasi di Wilayah Pengelolaan Perikanan Indonesia (Per.01/MEN/2009) Pasal 1.2 Pembagian Wilayah perairan Indonesia menjadi 11 WPP-RI dan Pasal 2. Khusus untuk kegiatan penangkapan ikan, penentuan daerah penangkapan dalam perizinan usaha perikanan tangkap harus sudah disesuaikan dengan WPP-RI yang ditetapkan dengan Peraturan Menteri ini dalam kurun waktu paling lambat 3 (tiga) tahun sejak ditetapkannya Peraturan Menteri ini. Berikut ini sebagian Keputusan dan Peratuan Menteri Kelautan dan Perikanan Republik Inonesia, yang mengatur lebih lanjut tentang usaha perikanan: 1. Keputusan Menteri Kelautan Dan Perikanan Republik Indonesia 2. Keputusan Menteri Keuangan Republik Indonesia Nomor 316/Kmk.06/2001 Tanggal 21 Mei 2001 Tentang Tatacara Pengenaan Dan Penyetoran Pungutan Perikanan 3. Keputusan Menteri Kelautan Dan Perikanan Republik Indonesia Nomor Kep. 50/Men/2008 Tentang Produktivitas Kapal Penangkap Ikan 4. Peraturan Menteri Kelautan Dan Perikanan Nomor: Per. 06/Men/2005 Tentang Penggantian Bentuk Dan Format Perizinan Usaha Penangkapan Ikan 5. Peraturan Menteri Kelautan Dan Perikanan Republik Indonesia Nomor Per.08/Men/2008 6. Peraturan Menteri Kelautan Dan Perikanan Republik Indonesia Nomor Per. 05/Men/2007 Tentang Penyelenggaraan Sistem Pemantauan Kapal Perikanan 7. Peraturan Menteri Kelautan Dan Perikanan Republik Indonesia Nomor Per.06/Men/2008 Tentang Penggunaan Alat Penangkapan Ikan Pukat Hela Di Perairan Kalimantan Timur Bagian Utara 8. Peraturan Menteri Kelautan Dan Perikanan Republik Indonesia Nomor Per.09/Men/2008 Tentang Penyelenggaraan Pendidikan Dan Pelatihan Di Lingkungan Departemen Kelautan Dan Perikanan

22

Pendahuluan

9. Peraturan Menteri Kelautan Dan Perikanan Republik Indonesia Nomor Per.03/Men/2009 Tentang Penangkapan Ikan Dan/Atau Pengangkutan Ikan Di Laut Lepas 10. Peraturan Menteri Kelautan Dan Perikanan Republik Indonesia Nomor Per.11/Men/2009 Tentang Penggunaan Pukat Ikan (Fish Net) Di Zona Ekonomi Eksklusif Indonesia 11. Peraturan Menteri Kelautan Dan Perikanan Republik Indonesia Nomor Per.12/Men/2009 Tentang Perubahan Atas Peraturan Menteri Kelautan Dan Perikanan Nomor Per.05/Men/2008 Tentang Usaha Perikanan Tangkap 12. Peraturan Menteri Kelautan Dan Perikanan Republik Indonesia Nomor Per.02/Men/2009 Tentang Tata Cara Penetapan Kawasan Konservasi Perairan Menteri Kelautan 13. Peraturan Menteri Kelautan Dan Perikanan Republik Indonesia Nomor PER.08/MEN/2008 Tentang Penggunaan Alat Penangkapan Ikan Jaring Insang (Gill Net) Di Zona Ekonomi Eksklusif Indonesia Mari kita kembali ke Metode Penangkapan ikan. Bagaimana perkembangan kebutuhan manusia tentang ikan. Ada pepatah kuno mengatakan banyak anak banyak rejeki, di satu sisi tidak keliru!?. Celakanya, pepatah ini berdampak pada para nelayan yang berasal dari Jawa, semakin banyak ikan ditangkap semakin banyak untung didapat? (Ingat luh! Jawa itu ada sunda, anda jawa, ada badui hingga samin, ada barat, tengah hingga timur, tidak salah jika ingin melihat bangsa Indonesia, cukup melihat Jakarta). Padahal ikan yang banyak, dan tidak segar bahkan mendekati busuk, hanya untuk ikan asin, bahan terasi, mungkin juga sebagai bahan tepung pakan ikan (budidaya). Dan yang begitu itu umumnya hanya untuk makanannya orang gunung. Orang kota? nggak banyak, yang sedikit, telah kena diakali oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab, ikan asin yang warnanya bening putih, “catching eyes”, kaku dikemas dengan kantong plastik elegant, bermerek, harganya selangit (bagi kantong saya), di pajang di etalase bergengsi, jika tidak hati-hati, padahal!!. Padahal banyak bahan pengawet yang ramah kesehatan. Banyak cara aman untuk menjemur ikan asin tanpa serangga. Namun demikian, sampaikah informasi hasil jerih para cendekiawan ini ke pesisir?. Bagaimana menangkap ikan. Kata kuncinya sangat sederhana, yang juga akan mendasari perkembangan teknologi penangkapan ikan, yaitu kita harus bisa menangkap ikan, secara menguntungkan, selama menangkap ikan kita harus selamat, dan tidak lupa pula untuk tetap
Supardi Ardidja-2010 23

Pendahuluan

bertanggung jawab secara utuh baik vertikal maupun horisontal. Tidak perlu banyak, asal ikan itu segar, sampai di tangan konsumen. Ikan tersebut tampak seperti baru diangkat dari air, berbau anyir, matanya bening bak mata bayi tanpa dosa. Tekstur badannya kenyal, seperti gadis belasan yang sering berolah raga. Mungkin kata “bisa” inilah yang membuat para pengajar model “fast food” garuk kepala, berpura-pura gatel, lupa keramas. Dengan kata lain, ikan seperti apa yang harus kita tangkap agar tetap untung, selamat dan bertanggung jawab. Jawabannya sederhana, yaitu: jika dapat, ikannya mudah ditangkap, ukurannya besar-besar syukursyukur jumlahnya cukup, enak dimakan dan laku dijual (atau tanyalah konsumen). Kalaupun belum tahu anda akan dapat menangkap ikan apa, lihat saja tabel ikan-ikan ekonomis penting yang dikeluarkan oleh Kemeterian Kelautan dan Perikanan. Ujar pak Dr. Jisman Manurung, selagi punggung ikannya masih menghadap ke langit pasti enak dimakan?? (pak Jisman adalah dosen bimbing saya, Ketua Tim Peneliti, sekaligus pemimpin proyek bakar ikan di KAL Baruna Jaya IV, sambil menikmati pelayaran selama tiga bulan, dalam rangka penelitian oseanografi dan perikanan serta menyambut Hari Bahari Internasional, 1998, mulai dari Jakarta dan berakhir di Bunaken). Jawaban “mudah ditangkap” inilah yang menjadi bahan pemikiran para penangkap ikan sejak jamannya Meizi atau mungkin juga sejak manusia tahu bahwa ikan itu enak dimakan sekaligus mengenyangkan. Lalu muncul pertanyaan bagaimana menangkap ikan dengan mudah?. Juga jawabannya sangatlah sederhana, walau sedikit konyol, yaitu: ikannya ngumpul syukur-syukur diam (di pasar barangkali), juga bukan. Kata kunci “ngumpul dan diam” inilah, membutuhkan penelitian yang serius dan rekayasa yang cerdas. Sudah banyak teknologi untuk mengatasi masalah ngumpul dan diam ini, contohnya rumpon untuk mengumpulkan ikan, dari mulai lampu “galaxi” sampai dengan lampu Sofia “Lacuba” yang berbasis under water attracting lamp. Rumpon, dari mulai rumpon yang digunakan oleh para nelayan payang (kata bapakku, yang mengenalkan rumpon ke Indonesia adalah orang jepang loh, saat jaman penjajahan). Rumpon sederhana yang beranggotakan, cocoan, antang, talen, gawar, sarib dan bantrak), yang ditinggal di tengah laut selama seminggu agar busuk, dan kalau dicari susahnya setengah mati, sampai dengan rumpon bernama philipina “Payaos”. Pekerjaan njelimet ini sampai kini belum berakhir.

24

Pendahuluan

Teknologi telah menyediakan alat canggih, yang bisa dipakai namun lupa dirawat, telah banyak membantu para nelayan mencari dimana ikan ngumpul. Fish finder dan sonar digabung dengan pengetahuan dan pengalaman tentang fish ground serta data yang dikoleksi bertahun-tahun. Kini, para nelayan tidak berupaya untuk mengumpulkan ikan, tapi mencari dimana ikan ngumpul. (kembali lagi hunting methode digunakan, highly cost) Lampu galaxi dan rumpon kini berfungsi sebagai attractor. Rumpon cukup digantung di sekeliling kapal. Cahaya menarik perhatian biota laut yang memiliki sifat phototaksis positif (jangan lupa, mata ikan layang adalah phototaksis negatif). Kok bisa?, ya tentu saja yang datang duluan adalah jasad renik termasuk crustacea, nah ikan layang doyan sekali dengan mahluk kecil yang lucu ini, coba saja, sesekali anda membuka isi perut ikan layang atau lemuru. Mulanya orang menangkap ikan hanya untuk kebutuhan sendiri, dan keluarga, berlanjut ikan dibutuhkan untuk alat tukar pemenuh kebutuhan lain rumah tangga, seperti sandang dan papan. Sehingga ikan yang harus dapat dibawa mendarat harus lebih banyak, lebih banyak dan lebih banyak lagi. Dari perorangan, meningkat menjadi keluarga, sekampung, sekongsi (korporasi) hingga perusahaan. Konsumen tidak terbatas orang pesisir hingga orang samin, tapi telah merambah ke manca negara, termasuk Eropa yang mewajibkan sejumlah persyaratan dan sertifikasi. Bermula dari menggunakan perahu yang didayung dengan tenaga nasi, berlanjut dengan tenaga angin, kemudian tenaga bensin, solar termasuk minyak tanah yang sekarang harganya melangit. Biaya terbesar produksi adalah untuk menggerakkan kapal dalam upaya mencari keberadaan ikan yang misterius. Dahulu orang senang meggunakan metode mengejar (hunting), namun karena sang solar yang maha mahal, maka orang cenderung meninggalkan metode memburu ini. Lalu memilih “ikan yang sedang makan tidak makan ngumpul, sambil berkopi pangku di belantara rumpon yang kini menyebar di sebelah utara pulau Sulawesi terus ke timur hingga Papua New Guniea. Jangan heran kalau ada isu Laut Jawa (over fishing), karena tidak ada lagi layang tersayang”. Karena apa?. Belantara rumpon telah menyediakan semua kebutuhan bagi ikan layang sang pengelana yang tak pernah mengenal lelah, dari mulai makanan bak restoran cap naga, tempat beristirahat bak hotel berbintang lima, tempat “mojok yang sungguh asyoi” bagi pasangan layang. Tak perlu lagi jauh-jauh ke Laut Jawa yang mungkin sudah terpolusi, mau masuk ke ambon yang tidak lagi memiliki lagi “laut ambon manise”. Karena salah satu link rantai
Supardi Ardidja-2010 25

Pendahuluan

makanannya, sudah terserap habis oleh sang budidaya mutiara yang terkenal dengan biota laut “Filter Feeder” terefisien di dunia. Di sebelah selatan, seharusnya ikan yang bermigrasi melalui ujung Afrika yang “tinggal harapan”, menelusuri arus khatulistiwa kemudian seharusnya tertahan oleh “The Great Barrier Reef”, mestinya masuk ke celah-celah Kepulauan Nusa Tenggara, yang juga merupakan jalur termurah bagi kapal-kapal niaga luar negeri yang memotong layar dari Samudra Hindia ke Pasifik yang kurang diawasi, telah pula disediakan belantara rumpon. Mungkin suatu saat, masyarakat Nusa Tenggara tidak akan lagi menikmati panen teri yang melimpah. Laut Flores yang terkenal dengan “Bank”-nya tidak akan mampu lagi menyediakan makanan lezat bagi cakalang. Sesekali Anda memperhatikan, ikan-ikan sisa hasil tangkapan purse seine yang didaratkan di Banyuwangi atau Muncar, siapa tahu Anda akan melihat “Baby Tuna” yang betul-betul tuna yang masih baby. Sekolah Tinggi Perikanan terkenal dengan simbolnya “Omne vivum ex oceanis” yang katanya laut merupakan sumber kehidupan, sampai dengan saat ini saya sedikit setuju. Mungkin pemeo tersebut harus diganti dengan “Omne vivum ex mangrove”, mengapa demikian. Kalau kita mengurut rantai makanan, maka sebesar apapun ikan di Samudra sana, hampir semua ikan adalah predator. Kecuali salah satu spesies paus, ikan besar apapun akan memakan ikan yang lebih kecil, yang lebih kecil memakan yang paling kecil, yang paling kecil makanannya adalah zoo plankton. Siapa tahu pula bahwa zoo plankton menyukai nyamikan phyto plankton. Berbicara tentang phyto plankton hingga nano plankton, kita akan terseret ke awal pertumbuhan di laut. Diawali dengan photosintesa yang memerlukan sinar matahari, chlorophyl dan unsur hara. Indonesia adalah zamrud khatulistiwa yang menerima sinar matahari sepanjang tahun, kita tak perlu kuatir kekurangan, kecuali suhunya yang aduhai!, akibat efek pemanasan global. Apalagi khlorophyl melimpah-ruah hingga sempat-sempatnya mampir juga di botol air mineral. Lalu yang terakhir adalah unsur hara. Inilah biang keroknya. Sumber unsur hara adalah hijauan di gunung-gunung sana atau hasil sekresi biota yang tumbuh di terumbu karang. Coba anda cermati peta laut, adakah pulau-pulau besar kita yang tidak memiliki sungai?. Di sekitar pulau mana yang tidak terdapat terumbu karang, walau kondisinya telah membuat kita panik, sampai-sampai becak jadi korban, besi rongkosan dimakamkan di laut, termasuk ban bekas yang justru merusak, juga ikutan pesiar di dasar laut. Berbagai konstruksi beton di bangun didasar laut untuk mencoba kembali menumbuhkan koloni karang baru.
26

Pendahuluan

Sampai dengan menciptakan home industri pemeliharaan karang dengan menggunakan batere (mencoba menumbuhkan karang hasil penelitian orang Australia). Mestinya bahan baku unsur hara tersebut akan sampai juga ke laut. Tapi jangan heran, yang terbawa aliran sungai sekarang adalah batangan pohon, partikel lumpur, polutan limbah pabrik sampai sandal jepit, plastik dan sepatu boot bahkan mungkin celana dalam bekas sekali pakai. Tidak ada lagi ranting dan daun yang hanyut, karena sudah di/terbakar. Jika pun ada bahan baku yang terbawa aliran sungai, bahan ini memerlukan waktu dan tempat untuk proses dekomposisi. Proses dekomposisi akan terjadi jika bahan tersebut terbaring damai tertutup lapisan lumpur di sepanjang tepian pantai atau sungai yang airnya tenang menghanyutkan. Namun apa yang kenyataannya?. Agar air itu tenang tentunya harus ada penahan, yaitu akaran Mangrove. Mudah-mudahan “Green belt” akan kembali selebar 200 meter dari garis pantai? Dan mudah-mudahan masih ada DAS di tepian sungai?. Tidak ada lagi air pantai yang tenang menghanyutkan, yang ada adalah benar-benar menghanyutkan tepian pantai, deburan ombak menciptakan abrasi yang tiada hentinya. Proses dekomposisi unsur hara sulit terjadi, burayak dan juvenil kehilangan tempat bermain. Jika sampai terjadi biota-biota laut yang mungil ini tidak ada. Lalu apa yang akan dimakan oleh ikan yang paling kecil, lalu apa yang dimakan ikan yang lebih besar termasuk tuna?. Mungkin ini salah satu penyebab mengapa ikan tuna tidak suka mampir di sekitar wilayah perairan Indonesia. Tidak ada lagi tuna lokal di lekukan Nias, tidak ada lagi tuna di sepanjang kedalaman palung Laut Banda. Mudah-mudahan ada yang membuktikan hipotesa ini adalah benar. Dan mungkin juga Anda setuju dengan pernyataan “Omne Vivum Ex Mangrove” adalah juga lebih sesuai. Tentunya Anda bertanya, mengapa kita melantur terlalu jauh. Sebenarnya tidak. Uraian di atas adalah suatu ilustrasi bagaimana mencari dimana ikan berada (fish ground) tentunya adalah ikan yang dapat ditangkap dengan mudah. Jawabannya adalah ditempat mereka “kumpul”. Berikutnya pasti kita bertanya, dimana ikan-ikan tersebut ngumpul, kata “dimana” inilah yang sampai sekarang masih sulit untuk menyatakan dengan pasti lokasinya. Mudah-mudah dengan berbagai upaya penelitian yang berkelanjutan serta mahal, barangkali para cerdik pandai dapat menjawab pertanyaan yang sangat mendasar dari para penangkap ikan ini. Sehingga akan ada Fishing ground yang benar-benar merupakan suatu wilayah perairan laut yang terdapat banyak ikannya dan alat penangkap
Supardi Ardidja-2010 27

Pendahuluan

ikan dapat dioperasikan secara menguntungkan dan segera diinformasikan ke masyarakat nelayan. (buruan loh, keburu ikannya pergi belajar ke negeri cina). Masih adakah orang seperti pak Ayodhyoa Alm., yang dengan hanya bersepeda menelusuri pantai propinsi Aceh Naggroe Darussalam untuk meneliti ikan Cakalang (selagi hidup beliau adalah guru, bapak dan sahabat berbincang saya). Mahluk hidup yang diciptakan Tuhan (yang sering kita umpat  kalau hujan “sialan banjirnya!!”, kalau panas “sialan debunya!!”), termasuk kita sebagai mahluk yang berakal dan berbudi, memerlukan tiga kebutuhan dasar yang sama, yaitu: makan, tumbuh dewasa, dan berkembang biak. Biota laut pada umumnya jika sedang melakukan ketiga kegiatan tersebut diatas, pasti “ngumpul”, bahkan saat mencari ketiga kebutuhan itupun, mereka pergi berbondong-bondong. Dan hebatnya mahluk yang bukan manusia ini memiliki siklus yang konsisten, tidak seperti kita mahluk manusia!. Kapan saja, dimana saja, dan celakanya boleh-boleh saja. Marilah kita cermati setahap demi setahap, ketiga kebutuhan pokok tersebut: Pertama, apa yang dimakan. Uraian di atas telah mencoba untuk menuntun Anda memahami dimana kira-kira ikan mencari makan (“kirakira” ini bukan menjadi dominasi para statistikiawan saja loh, menangkap ikan juga nyata-nyata “gambling”). Tetapi pertanyaan “apa yang dimakan ikan”, adalah menjawab mengapa anda perlu belajar ilmu pengetahuan biologi perikanan dengan baik, benar, dan terarah serta bermanfaat untuk membantu mempermudah menangkap ikan. Dan yang tidak kalah pentingnya adalah waktu makan. Kedua, kapan ikan makan. Ini sudah pasti, jangankan ikan, manusia saja, memerlukan makan saat matahari akan terbit dan saat matahari akan tenggelam (kecuali di Jakarta tidak jelas kapan bisa menikmati siang dan kapan menikmati malam, waktunya habis di kemacetan lalu lintas). Mengapa demikian. Pada dasarnya mahluk hidup terutama Ikan, membutuhkan energi untuk beraktifitas sepanjang siang hari, demikian juga di malam hari terutama biota nokturnal. Bahkan tidurpun memerlukan energi. Untuk apa?, silahkan tanya dokter!. Namun demikian, pada saat tubuh ini beristirahat, maka antibody kita mulai bekerja dan bertarung dengan berbagai hama dan penyakit yang merasuk ke dalam darah kita terutama virus. Antibodypun perlu energi, termasuk mimpi?!. Terbukti juga, bahwa nelayan payang, lampara, dan “kursin” (istilah nelayan Tegal dan Pekalongan untuk menyebutkan kata “Purse seine”), akan melakukan
28

Pendahuluan

“tawur” (setting) pada saat “tunggang gunung” (segera sesaat setelah matahari terbenam) dan “pajaran” (dari kata fajar  sesaat sebelum matahari terbit). *Purse seine diperkenalkan di Indonesia sekitar awal tahun
tujuhpuluhan, bersamaan dengan revolusi perikanan laut Indonesia dan mungkin juga merupakan awal dari proses over fishing. Fisheries Development Training Program (penulis menjadi traines Angkatan III). Kerja besar bersejarah ini didanai oleh United Nation Development Program dengan KM. Lemuru I berbasis di BPPI Semarang di jendrali oleh Bapak Mat Siin Assan (saat itu Indonesia masih dalam kategori Under Development Country). Purse seine dengan menggunakan power block kedua berikutnya adalah KM. Lemuru II  penulis yang pertama menakhodainya dibimbing oleh Bapak Lilik Syahliono Alm).

Beda halnya dengan udang sang nokturnal, si pemalas itu tidur di siang hari, berselimutkan lumpur lembut di dasar perairan, bergadang di malam hari untuk mencari makan atau pacaran. Oleh karenanya, menangkap udang yang paling mudah adalah di malam hari. Namun pengusaha berprinsip “time is profit”, lalu muncul pemikiran bagaimana waktu siang hari tidak terbuang sia-sia dan udang tetap dapat ditangkap. Kok bisa, tentu saja karena udang dibangunkan dengan menggunakan “tackler chain” (rantai yang dikaitkan di kedua ujung bawah sepasang otter board, berukuran lebih pendek dari “ground rope”. Kasihan juga, kapan udang makan? Kapan udang istirahat?, Kapan udang pacaran?. Contoh lain lagi adalah pada penangkapan tuna dengan menggunakan rawai. Tahapan “setting” di waktu fajar (saat tuna lapar), dan sekitar jam 09.00 dilakukan tahapan “hauling”. Makanan yang bagaimana yang disukai ikan. Perlu dipahami bahwa makanan ikan bersaudara kandung dengan keberadaan ikan. Kita ambil contoh umpan untuk tuna yang “highly migratory” dipasang pada rawai tuna. Metodenya adalah tuna lapar mencari makan, kita yang menyajikan makanannya (umpan). Menyajikan lebih bersifat menawarkan. Menawarkan umpan kepada tuna, entah disukai atau tidak (otopsi), buktinya hook-rate tuna nasional kita tetap terus di bawah 1. Kata umpan atau dengan kata lain apa yang dimakan oleh ikan?. (hook rate adalah ratio jumlah ikan tuna yang tertangkap per seratus pancing). Bukan saja ikan apa yang harus disajikan, tapi lebih penting lagi adalah bagaimana “menyajikannya”. Kuncinya adalah bahwa tuna bukan pemakan bangkai, dengan kata lain tuna menyenangi umpan yang hidup, yang mengkilap, atau streamline. Permasalahannya adalah bagaimana menawarkan kepada tuna sajian umpan hidup atau paling tidak, tampak hidup.

Supardi Ardidja-2010

29

Pendahuluan

Mari kita sedikit beranalogi, misalkan kita adalah “seorang tuna” yang bukan pemburu, tengah tersesat dan kelaparan di tengah hutan yang melulu hijau. Tentunya mata kita akan mencari sesuatu yang dapat dimakan. Mata bisa melihat gerak dan warna, tidak jelas mana yang lebih dulu kita lihat, gerak atau warna, mungkin juga berbarengan. Warna adalah hasil pantulan cahaya terhadap mata, dan yang paling kuat pantulannya adalah yang kulitnya keras rata dan mengkilap. Diantara yang hijau-hijau, kita berharap ada buah yang berwarna kuning atau merah. Dan ternyata ada. Lalu kita dekati dan kita petik. Kecuali kita sudah tahu buah apa, tentunya kita akan cium-cium dulu, ternyata “looks like tasty” dan “tampak segar” boleh dicoba, tapi bagaimana kalau berbau busuk?. Berikut ini adalah cerita dari sekuensi perkosaan berantai dalam upaya menyediakan bandeng hidup untuk umpan tuna. Awal Perkosaan, bandeng dibudidayakan di tambak-tambak estuari dengan kedalaman air 60 – 90 cm. Ketika dipanen air harus diturunkan kedalamannya hingga 15 – 20 cm. Bandeng ditangkap dengan menggunakan jaring atau jala lempar, orang Cirebon menyebutnya “encrak”. Bandeng adalah ikan yang lincah dan energik, sehingga bandeng akan meronta bahkan merejang sampai terjala atau terjaring. Bandeng tidak langsung di masukkan ke penampung, tapi dibungkus dulu dengan karung basah. Dua trauma yang dialami bandeng, kehabisan tenaga dan stress bahkan bisa-bisa shock. Mungkin juga gelembung udaranya mengkerut, berdenyut kiut-miut. Perkosaan kedua, adalah penderitaan bandeng pindah dari media tambak ke media kontainer (mobile box), suhu, kadar garam, pH dan tekanan berbeda. Stress lagi dan lapar serta lemes. Perkosaan ketiga, adalah perjalanan dari tambak ke kapal. Sopir kita adalah gurunya jagoan ngebut. Bukan karena suka ngebut, tapi diburu waktu, karena menjelang pagi bandeng harus sudah berada di kapal. Entah bandeng atau sopirnya yang takut panas matahari. Masalahnya adalah selama di perjalanan ngebut dan guncangan air di dalam box-nya, entah apa jadinya, jika kepala bandeng terbentur ke dinding box, mungkin seperti kita juga bisa pusing tujuh keliling, makin stress lagi, walau belum mati tapi loyo. Perkosaan keempat, adalah pengulangan penderitaan di sesi perkosaan kedua, bedanya adalah bandeng dari box ke palkah penampungan umpan di kapal. Suhu, kadar garam, pH dan tekanan tidak sama, dipindah begitu saja tanpa perlakuan aklimatisasi, sang bandeng makin loyo.
30

Pendahuluan

Perkosaan kelima, perjalanan dari “fishing base” ke “fishing ground” mungkin sehari atau dua, bahkan mungkin lebih dari itu. Lapar!. Bandeng stress mana mau makan. Susah dibayangkan kondisi sang bandeng, yang puasa kepaksa. Perkosaan keenam, adalah penusukan tanpa perikebandengan punggung bandeng dengan pancing berkait yang berdiameter sekitar 5 milimeter, baiknya pancing tidak mengandung tetanus, saya tidak tahu apakah bandeng bisa menjerit, masih bisa menggelepar saja sudah bagus, kasihan!. Perkosaan ketujuh, bandeng dilempar ke laut, langsung dibenamkan ke kedalaman laut, katakanlah untuk menangkap ikan madidihang, paling tidak 100 meter bahkan lebih. Setiap 10 meter kedalaman air diukur dari permukaan, tekanan air akan meningkat sebesar 1 atmosfir. Awalnya bandeng menikmati tekanan air di tambak yang dalamnya 90 cm (0,09 atm), pindah ke box yang dalamnya sekitar 2 meter (0,2 atm), pindah lagi ke palkah umpan yang dalamnya sekitar dua meter (0,2 atm) dan langsung di tenggelamkan ke kedalaman air yang bertekanan 10 atmosfir mungkin lebih. Bandeng “Santa Maria” (istilah pelaut untuk mengatakan mati keren!). Kesimpulannya apa perlu mengumpan tuna dengan bandeng hidup?. Namun demikian, itu adalah upaya menawarkan makanan kepada tuna makanan yang diperkirakan masih hidup, segar, mengkilap dan streamline. Kuncinya bukanlah pada bandeng yang hidup, tapi terlebih pada penataan pancing dan bagaimana memasang umpan agar umpan tampak hidup. Ikan yang hidup, berenang mendatar, sesekali menukik, mungkin berlengganglenggok. Dua pertanyaan mendasar yang diuraikan di atas (ikan apa dan ikannya ada dimana) belumlah lengkap, jika kita belum mengetahui perilaku ikan (fish behaviour) dan tingkat kepadatan/ukuran ikan dalam kelompok (schooling). Ketiga adalah Perilaku ikan. Perilaku ikan yang dibutuhkan disini bukan lenggak-lenggok renangnya dan lirikan matanya ikan. Tapi lebih mengarah pada bagaimana respon ikan terhadap stimulan asing, terkait dengan konstruksi dan bahan alat penangkap ikan saat dioperasikan. Baik respon ikan terhadap konstruksinya maupun terhadap bahan yang digunakan untuk merakit alat penangkap ikan. Tujuannya adalah bagaimana memilih bahan alat penangkap ikan yang sesuai untuk menangkap ikan tertentu, dan disain alat penangkap ikan itu sendiri, agar umpannya yang tampak dan alatnya tidak tampak. (terpaksa juga setelah ini Anda harus mempelajari
Supardi Ardidja-2010 31

Pendahuluan

Disain Alat Penangkap Ikan dan Bahan Alat Penangkap Ikan serta kaitkan dengan Biologi Perikanan). Perilaku lainnya adalah yang mendasari cara pengoperasian alat penangkap ikan (untuk teknik mengoperasikan alat penangkap ikan Anda harus belajar Teknik Penangkapan Ikan). Berikut ini beberapa contoh dari cara mengoperasikan alat penangkap ikan, yang didasari oleh pemikiran yang muncul dari metode penangkapan ikan. Misalnya udang, si pemalas ini paling suka memilih berjalan dengan kakinya yang banyak, dari pada berenang, tapi udang adalah biota laut yang dapat menghindarkan diri dengan cara melompat ke arah belakang dengan kecepatan tinggi, bila tersentuh sesuatu atau melihat predatornya. Pertanyaannya adalah ke arah mana udang melompat sehingga lompatannya masuk ke dalam alat penangkap ikan, jelas belakang, tapi belakangnya, ke timur, ke barat, ke selatan atau ke utara?. Yang terpenting adalah melompatnya udang harus langsung masuk ke mulut pukat udang. Masalahnya adalah kemana udang menghadap?, Kalau sudah tahu kemana udang menghadap, tentunya para nakhoda dapat menentukan haluan towing pukatnya. Towing adalah suatu proses tahapan penarikan pukat udang (shrimp trawl) sepanjang dasar jalur sapuan pada kecepatan kapal terhadap dasar perairan dan selama waktu tertentu. Jaring insang (gillnet) adalah selain termasuk dalam kelompok metode menjerat, juga dapat dikelompokkan ke dalam metode menjebak. Kata kuncinya adalah menjebak ikan untuk dijerat. Pertanyaan pertama adalah dari arah mana ikan akan dijebak atau jika kurang setuju, kita katakan memotong arah renang ikan. Jawabannya tentu dari arah depan. Permasalahannya adalah kearah mana ikan berenang. Misalnya ke barat, mengapa ikan berenang ke barat?. Terpaksa kita harus mempelajari biologi perikanan tentang rantai makanan. Kita melompat saja ke link yang menyangkut tentang plankton. Wah terpaksa juga kita harus belajar Planktonologi. Cukuplah Anda pelajari hanya tentang plankton yang terkait dengan rantai makanan ikan !?. Secara umum pergerakan plankton sangat dipengaruhi oleh arah aliran arus. Tentang arus Anda harus belajar Osenagrafi Perikanan. Dalam konteks ini kita harus mengetahui arah arus, karena bersama aliran arus akan terhanyutkan pula plankton, juga akan terhanyutkan biota laut tingkat yang lebih tinggi lainnya. Nah!, ikan ini cerdik, ikan tidak mengikuti arus, tapi ikan akan berenang menentang arus. Jika para nakhoda sudah tahu arah arus, tentunya dengan mudah dia menentukan haluan setting gillnetnya, dengan cara memotong atau hampir

32

Pendahuluan

memotong arah aliran arus. Dari sini akan berkembang Teknik Pengoperasian Gillnet. Terkait dengan respon ikan terhadap gillnet, oleh karena ingin menjebak, maka jebakannya harus tidak kelihatan (transparant). Tentunya anda harus memilih menggunakan bahan yang mudah-mudahan tidak kelihatan, karena ikan memiliki linea lateralis (lagi-lagi biologi perikanan). Bahan yang transparant itu seperti apa?. Anda harus belajar Bahan Alat Penangkap Ikan. Saat ini yang penting anda harus tahu, bahwa anda memerlukan bahan yang transparant. Sama halnya dengan rawai yang akan kita pamerkan kepada tuna adalah umpan yang berisi pancing, bukan komponen rawai-nya. Demikian juga dengan bubu. Bubu termasuk kelompok penjebak. Pada dasarnya bubu digunakan untuk menjebak ikan atau biota laut lainnya untuk masuk hingga terjebak di dalam bubu. Kata kuncinya adalah “masuk ke dalam bubu”. Pertanyaannya adalah mengapa ikan mau masuk kedalam bubu. Ada tiga tujuan ikan masuk ke dalam bubu, kecuali ada ikan yang sedang iseng. Pertama mungkin ingin menghampiri makanan. Kedua untuk mencari tempat berlindung. Ketiga mencari tempat memijah. Namun demikian dari ketiga tujuan di atas, dua yang terakhir dapat dikatakan mirip sama, yaitu mencari tempat terlindung yang aman. Dengan demikian, untuk tujuan ikan masuk ke dalam bubu yang pertama, buatlah bubu yang tidak kelihatan dan pamerkan kepada ikan atau biota laut lainnya “di dalam bubu ini ada “Sea Chinees foods”, ada sasimi mujair (mujair terkenal amisnya, sangat mengundang selera), disediakan juga pecahan beling” yang disukai ikan kakap. Dan untuk tujuan masuk bubu yang kedua, buatlah bubu dengan tema “boleh masuk, hotel ini sangat ekslusif bebas dari razia predator”. Misalan-misalan yang telah diuraikan di atas baru sebagian kecil dari sifat ikan (fish behaviour), tentunya Anda harus menggali lebih dalam lagi di biologi perikanan. Keempat adalah tingkat kepadatan/ukuran ikan. Tingkat kepadatan ikan dalam konteks ini adalah kepadatan dalam kelompok (schooling). Kecuali ikan-ikan yang soliter, umumnya hidupnya membentuk kelompok, ukuran ikan adalah ukuran individu ikan dalam kelompok. Kita bagi saja tingkat kepadatan menjadi: 1. Kelompok ikan yang mengumpul padat. 2. Kelompok kan yang mengumpul tapi tidak padat. 3. Kelompok ikan yang menyebar dan tidak padat. Sedangkan ukuran ikan kita mengacu saja pada yang sudah ada, yaitu:
Supardi Ardidja-2010 33

Pendahuluan

1. Ikan yang berukuran besar(contohnya adalah pelagis besar: Tuna) 2. Ikan yang berukuran kecil (contohnya pelagis kecil: Layang). Tingkat kepadatan dan ukuran ikan ini diperlukan untuk memudahkan memilih metode penangkapan ikan apa yang akan kita pilih. Bab-bab berikutnya adalah penjelasan tentang sejumlah metode penangkapan ikan sesuai dengan klasifikasi kongres Fishing Gear Methode, 1951 (Brandt, 1984). (jumlahnya ada buanyak!!). Untuk itu, disini kita akan membaginya menjadi tiga kelompok saja, dengan tujuan untuk lebih memudahkan pemahaman sejumlah metode penangkapan yang buanyak itu, yang didasarkan pada kombinasi pembagian tiga tingkatan kepadatan dan dua ukuran ikan, yaitu: 1. Ikan-ikan yang hanya dapat ditangkap seekor demi seekor. Contoh alat penangkap ikannya adalah yang termasuk dalam metode penangkapan ikan dengan tali dan pancing (hook and line), yaitu: Rawai Tuna (Tuna Long line), Huhate (Pole and Line), Tonda (Trolling), Rawai dasar (Bottom long line), Pancing cumi (squid jigger), dan sejenisnya; 2. Ikan yang dapat ditangkap sekaligus banyak. Contoh alat penangkap ikannya adalah yang termasuk dalam metode penangkapan ikan dengan mengurung (dari samping/bawah), yaitu: Pukat cincin (Purse seine), Lampara, payang, dan sejenisnya; 3. Ikan yang hanya dapat ditangkap dengan mengumpulkannya sedikit demi sedikit. Contoh alat penangkap ikannya adalah yang termasuk dalam metode penangkapan ikan yang dihela, ditarik, dan didorong, ditunggu, dijerat dan dipuntal, yaitu trawl, gillnet, sudu, seine net, bagan, bubu, setnet, dan sejenisnya. Dari ketiga pengelompokkan tersebut di atas, terdapat pengecualian misalnya ikan cakalang, tongkol, madidihang dapat ditangkap seekor-demi seekor dan dapat juga ditangkap sekaligus banyak. Manfaat pengelompokkan inipun dapat dijadikan sebagai dasar dalam menentukan, ukuran dan bentuk kapal, tipe palkah dan perlakuan pada hasil tangkapan di atas kapal, kecepatan kapal (service speed), daya tampung (capacity), penataan dek (deck alignment), kemampuan jelajah (endurance), stabilitas kapal (ship stability) dan keselamatan kapal (seaworthiness) serta kualifikasi (kompetensi dan profisiensi) dan jumlah awak kapal. Lebih lanjut lagi dapat pula digunakan sebagai dasar dalam rekayasa teknologi penangkapan ikan. Bahkan sampai pada teknologi pemasaran dan tata niaganya serta penanganan hasil paska tangkap sekaligus dalam mempertahankan mutu ikan berikut standarisasinya.
34

Pendahuluan

Upaya menyediakan ikan dalam jumlah banyak memerlukan teknologi penangkapan ikan yang efektif dan efisien sekaligus tetap memikirkan tentang kelestarian dan tanggung jawab kita terhadap masa depan kelangsungan hidup manusia. Hal inilah yang memaksa, para cendekiaan menciptakan sejumlah teknologi bagaimana menangkap ikan dengan mudah tanpa banyak biaya dan resiko, bagaimana agar para konsumen langsung memilih ikan tuna yang masih hidup di depan meja makannya. Yang belum, mungkin, ikan yang dapat dibeli dimana saja, dimakan enak-enak saja, harganya murah-murah saja, dan dapat dinikmati kapan saja, bila perlu di bis kota. Rasanya mungkin akan surprise bila kita dapat menikmati jajanan ikan, sebagai selingan gorengan “gehu sumedang” atau “tempe bandung”. Pempek Palembang bahan bakunya ikan loh!.

1.

PENGERTIAN MENANGKAP IKAN

Bagian ini sebagian didasari oleh Fishing Methode (Brand, 1984). Sejarah nelayan dan pemburu sama tuanya, keduanya merupakan suatu upaya memenuhi kebutuhan akan pakan, namun entah kenapa memanah ikan yang berenang di rawa-rawa dianggap sedang menangkap ikan sedangkan memanah seekor bebek yang juga sedang berenang di tempat yang sama dianggap sedang berburu padahal menggunakan alat yang persis sama. Pada dasarnya nelayan dan pemburu memiliki metode dan teknis yang saling melengkapi antara menangkap hewan di darat dan menangkap ikan di air. Sulit untuk membedakan apakah sebuah tombak didisain untuk menangkap ikan, berburu, berkelahi, atau hanya merupakan simbul seremonial saja. Diketahui sejumlah metode menangkap terdapat pada menangkap atau memburu seperti, menombak, memanah, menembak, menangkap dengan pancing, memerangkap dengan tipe mekanik yang berbeda, atau perangkap-perangkap non mekanik. Menangkap ikan di air lebih mudah daripada menangkap hewan di darat, sebab menangkap ikan hanya memerlukan alat yang sederhana sedangkan untuk berburu hewan di darat memerlukan alat dan keahlian yang lebih baik. Namun keduanya memerlukan stamina yang prima. Perkembangan sejarah berdirinya suatu negara ditinjau dari sudut pandang lain, keduanya berkembang dalam jalur yang berbeda. Seorang pemburu keterampilannya akan semakin meningkat dan tidak tertutup kemungkinannya untuk menjadi seorang prajurit dengan status yang lebih terhormat, sedangkan keterampilan seorang nelayan akan tetap seperti itu dan tetap akan berada pada kelompok orang kebanyakan dengan status “golongan rendah”.
Supardi Ardidja-2010 35

Pendahuluan

Hal yang menarik bahwa metode yang digunakan dalam industri perikanan dewasa ini adalah metode berburu. Sekarang metode ini telah banyak ditinggalkan, diganti dengan menunggu berkumpulnya ikan. Walaupun dewasa ini, terutama pukat cincin, kembali menggunakan metode berburu pada areal terbatas. Berbeda dengan berternak (stock breeding). Pemburu mencari ikan seekor demi seekor atau sekelompok hewan liar, baik yang jinak atau domestik, tidak peduli akan sejarah hidupnya, tidak mempengaruhi sifat atau kebutuhannya yang mungkin hidup pada kawasan yang sangat luas. Sedangkan peternak mengontrol sejumlah kelompok hewan-hewan domestik yang dikenal, memerlukan sejarah hingga DNA-nya, memerlukan penanganan khusus, pada tempat terbatas (tertutup) yang dibuat mirip dengan tempat asalnya. Ada beberapa pendapat bahwa tujuan dari seluruh jenis perikanan laut harus beralih dari berburu ke manajemen kontrol stok dari perairan asal ke perairan buatan. Walaupun beberapa negara sudah ada yang melakukannya, namun pada umumnya tujuan ini masih akan sulit terpenuhi. Sulit untuk mengatur populasi ikan di samudera, lain halnya dengan di daratan. Regulasi yang ada masih berkisar terhadap pembatasan teknis pada alat penangkap ikan. Jika kita menyimaki bagaimana ikan Salmon ditangkap, dimana ikan salmon hanya boleh ditangkap pada waktuwaktu tertentu saja. Atau dengan kata lain regulasi dapat berjalan dengan baik. Regulasi yang mengatur kapan dan berapa banyak ikan boleh ditangkap serta berapa kapal yang boleh beroperasi, maka sumberdaya laut kita mudah-mudahan tetap lestari. Mungkin perkembangan perikanan di masa depan adalah perikanan terpadu yang saling menguntungkan dengan sistem subsidi silang, diantaranya adalah mengintegrasikan, penangkapan ikan, mariculture, olah raga, wisata, pendidikan dan penelitian. Ingat, Indonesia memiliki “the most beautiful sea on the wold” atau zamrud khatulistiwa.

2.

PERALIHAN DARI SUBSISTENCE FISHERY KE COMMERCIAL FISHERY DAN SPORT
FISHING

Tidak diketahui kapan manusia mulai membuat alat penangkap ikan. Penangkapan ikan dengan segala jenis alatnya, pada awalnya dilakukan untuk memperoleh makanan untuk keluarganya, komunitas, atau kelompok tertentu, yaitu hanya menangkap ikan seekor demi seekor, kadang berukuran besar atau dilain waktu memperoleh ukuran kecil. Penangkapan yang demikian itu disebut Subsistence fishery (suatu
36

Pendahuluan

perikanan skala kecil yang hanya memerlukan alat penangkap ikan yang sederhana). Ikan yang sangat dibutuhkan untuk konsumsi manusia tidak memiliki substitusi seperti halnya bahan makanan yang ada di daratan. Kondisi keseharian yang terus menerus dilaut, tidak memberi kesempatan bagi para nelayan untuk berupaya memenuhi penyelenggaraan rumah tangganya dengan tenaganya sendiri. Oleh karenanya, nelayan cenderung menangkap ikan lebih dari yang dibutuhkannya untuk diri sendiri, apalagi diketahui bahwa ikan dapat disimpan dan diolah dalam berbagai bentuk produk ikan olahan, seperti ikan kering, ikan asap, ikan asin, atau diproses dengan permentasi sederhana sebagai bahan baku agroindustri. Hal semacam inilah yang merupakan faktor pendorong bagi manusia untuk meningkatkan jumlah hasil tangkapannya, untuk lebih mengembangkan alat penangkapnya, dan untuk memfasilitasi perkembangan artisanal fishery yang permanen. Upaya menangkap ikan dalam jumlah besar memerlukan waktu, jumlah alat yang lebih besar, peningkatan intensitas pengoperasian, ukuran dan efisiensinya. Penangkapan ikan seekor demi seekor, atau dalam jumlah kecil seperti dalam perikanan subsisten telah beralih menjadi suatu artisanal commercial fishery yang terkadang harus mengikuti permintaan khusus pasar. Sekaligus juga mendorong upaya peningkatan teknologi penangkapan. Misalnya ikan yang hanya dapat ditangkap seekor demi seekor, kini dapat ditangkap dalam jumlah banyak, dengan menambah jumlah atat penangkap ikan. Long line dan bottom long line, misalnya Perikanan artisanal memegang peranan penting dalam era modern sekarang. Perdagangan komoditi ikan semakin meningkat dari tahun ke tahun, dan hal ini membangkitkan perkembangan perikanan skala besar yang didasarkan pada penangkapan ikan dalam jumlah sekaligus banyak (bulk fishing). Seiring dengan meningkatnya permintaan pasar akan ikan, khususnya dalam bidang industri, muncul juga kecenderungan baru, yaitu daerah penangkapan tidak lagi terbatas di daerah perairan pantai tapi jauh meluas ke tengah samudera bahkan antar benua dan dari kedalaman perairan yang sangat dangkal hingga ke kedalaman perairan yang sangat besar, hanya untuk mencari jumlah ikan yang jauh lebih banyak. Seiring dengan itu pula, ukuran alat penangkap semakin besar, berat, dan memerlukan tenaga manusia yang semakin banyak pula.

Supardi Ardidja-2010

37

Pendahuluan

Perikanan artisanal skala kecil dan industri perikanan skala besar merupakan penyumbang nutrisi yang tidak sedikit bagi manusia, baik dimasa kini maupun di masa datang. Mungkin dalam kapasitas yang berbeda, di suatu tempat memerlukan jumlah ikan yang rendah tapi berkualitas tinggi, di tempat lain diperlukan kuantitas yang besar dengan harga yang jauh lebih rendah, baik itu untuk keperluan industri atau sebagai bahan baku dalam pembuatan pakan hewan atau perikanan budidaya.

3.

SPORT FISHING DAN COMMERCIAL FISHERIES

Sport fishing. Dikalangan pecandu mancing di laut dikenal dengan istilah popping, dari sudut pandang perikanan dapat digolongkan kedalam perikanan skala kecil yang didisain tidak untuk memenuhi kebutuhan hidup dari hasil tangkapannya, tapi untuk mengkonsentrasikan keterampilan agar memperoleh kesenangan dan kepuasan. Kepuasan akibat meningkatnya adrenalin. Pada penangkapan ikan dengan long line (ribuan pancing) atau hand line dengan hanya beberapa buah pancing berharap memperoleh hasil tangkapan yang baik, tapi dalam sport fishing yang diharapkan adalah dapat menangkap ikan yang mampu melawan dan meronta-ronta dengan ganas (strong fighting game fish) baik dengan alat tangkap yang sederhana atau yang canggih (terkadang mahal) walaupun hanya seekor. Dewasa ini, sport fishing telah meningkat lagi dengan Game fishing bahkan cenderung ke gamble fishing. Tidak ada peningkatan dalam metode maupun teknik penangkapannya, kecuali adanya teknologi perbaikan mutu dari alat yang digunakan. Kepuasan yang diperoleh dari game fishing, adalah “You are the best” dan adanya hadiah bagi peserta yang dinyatakan sebagai pemenang. Pada dasarnya, penangkapan ikan dengan pancing merupakan metode yang digunakan oleh setiap orang. Dewasa ini sport fishing bukan lagi milik orang-orang kaya tertentu tapi telah pula digunakan oleh masyarakat umum sebagai suatu bentuk rekreasi yang penting. Sport fisherman digolongkan sebagai pemburu, hidup bebas di lingkungan yang terbatas, seolah merasa menjadi manusia terakhir yang menghubungkan antara manusia dan alam. Dalam kehidupan modern di beberapa negara, terutama negara yang berkembang pesat industrinya, seni dan budayanya, penangkapan ikan dibagi dua, sprot fishing sebagai simbul dan lainnya adalah pemenuh kebutuhan pangan. Ditinjau dari sudut pandang teknik penangkapan keduanya hanya menggambarkan dua variasi dari prinsip yang sama dalam menangkap ikan dengan pancing. Baik sport fishery maupun commercial fishery keduanya berkepentingan dalam memelihara alam terhadap tindakan-tindakan
38

Pendahuluan

manusia yang merusak. Selain itu, kawasan penangkapan ikan tidak dapat diatur secara sendiri-sendiri dengan metode sport fishing. Lebih lanjut, metode-metode yang efektif yang dilakukan dalam perikanan komersil harus membantu mengelola keseimbangan alam di perairan penangkapan ikan. Sport fishermen dan commercial fishermen harus bekerjasama tidak hanya memelihara tapi juga melindungi alam.

4.

ACTIVE DAN PASSIVE FISHING GEAR

Seperti telah dijelaskan di atas hanya ada beberapa prinsip dasar yang dapat digunakan untuk menangkap ikan, meskipun terdapat sejumlah besar variasi alat penangkap ikan yang dioperasikan di seluruh dunia. Dari sekian banyak variasi ini diklasifikasikan menjadi 16 kelompok prinsip penangkapan yang berbeda, yang kemungkinannya dapat lebih disederhanakan lagi. Kadang-kadang alat penangkap ikan yang sama dapat digunakan untuk dua atau bahkan lebih metode penangkapan tanpa harus mengubah konstruksi tapi cukup mengubah teknik pengoperasiannya saja. Penangkapan ikan ada yang membagi dalam kategori alat yang aktif dan pasif. Alat penangkap ikan yang pasif ikan harus datang dengan sendirinya, seperti dalam perangkap, gillnet, dan juga pada beberapa tipe penangkapan dengan pancing. Sedangkan alat yang aktif seperti, draggers, trawl, dan cast nets, dan juga tombak dan harpoon serta beberapa alat tangkap drive-in fisheries tergantung pada keahlian operatornya. Pengelompokkan ke dalam alat yang pasif dan aktif tidak ada kaitannya dengan prinsip menangkap. Sebagai contoh dalam beberapa kelompok metode penangkapan ikan terdapat satu jenis alat penangkap ikan. Harus dipahami bahwa tidak saja ukuran tapi juga kecepatan penarikan (towing speed) dari satu alat aktif akan mempengaruhi efisiensinya. Peningkatan ukuran dan kecepatan memerlukan tenaga ekstra untuk mengoperasikan suatu alat aktif. Jangan terkelirukan dengan alat penangkap ikan bergerak (moving) dan diam (stasioner). Stasioner set line dan troll line keduanya termasuk alat pasif, keduanya harus disukai oleh ikan dan juga merupakan metode alat penangkap ikan pasif dengan pancing. Sebaliknya ripping hook (otrek, Jawa Tengah) digerakkan naik dan turun disertai dengan getaran lembut, dalam beberapa kasus, alat penangkap ikan aktif, menangkap (dalam hal ini menipu ikan) secara acak dengan bentuk tertentu tali dan pancing. Penggabungan prinsip aktif dan pasif telah dikembangkan para nelayan, misalnya mengabungkan antara gillnet dan menggiring atau lebih
Supardi Ardidja-2010 39

Pendahuluan

tepat disebut dengan menuntun ikan memasuki perangkap dengan mengunakan atraksi cahaya. Perangkap ini adalah gillnet yang dilingkarkan dilengkapi dengan penaju. Teknik penangkapan ikan dengan gillnet yang konvensional (memotong arah ruaya ikan) diubah dengan mengurung. Lampara dasar, yang dikembangkan akhir-akhir ini mengubah teknik penyapuan lurus menjadi penyapuan melingkar.

5.

IDE DASAR METODE PENANGKAPAN DAN KEMUNGKINAN DISTRIBUSI DAN PENGEMBANGANNYA

Sekilas pandang tampaknya terdapat adanya perbedaan tipe alat penangkap ikan yang sangat besar yang telah berkembang di dunia perikanan. Tapi jika membandingkan alat penangkap ikan dari berbagai negara, akan menjadi jelas bahwa teknik penangkapan telah dikembangkan dari hanya beberapa dasar pemikiran untuk menangkap ikan. Sebagian besar dasar pemikiran dalam menangkap ikan telah menyebar ke seluruh dunia dan telah menjadikannya suatu kebiasaan manusia. Berdasarkan studi etnologi terdapat sedikit persamaan di dalam metode penangkapan tradisional, terkadang juga disebut perikanan yang primitif. Hal ini tidak dapat dijelaskan berdasarkan perubahan kebiasaan (cultural exchange) namun sepertinya lebih mendekati pada reaksi manusia yang menemui suatu masalah. Tidak mengherankan, seiring dengan perjalanan waktu, penangkapan ikan terus berkembang, dengan metode dan permasalahan yang hampir sama; dan dimana-mana masalah tersebut dipecahkan orang dengan cara yang hampir sama. Namun demikian, peralihan langsung dalam pengetahuan mengenai alat penangkap ikan (khususnya dibidang perikanan laut) telah terjadi sejak dulu, tidak saja antara negara-negara yang bertetangga, tapi juga antar benua. Hanya pada beberapa kasus saja penyebaran metode penangkapan diketahui dengan baik, khususnya penyebaran yang terjadi di zaman modern ini. Contoh yang baik dari disain alat penangkap ikan “Madeira trap”, dibuat dalam bentuk dan kegunaan khusus, yang dapat ditelusuri dari India, melalui Seychelles, Kepulauan Zanzibar, Madagascar, dan menyebar jauh ke barat hingga ke Laut Karibia. Metode penangkapan ikan di perairan dingin di Kutub Utara dikenal baik di seluruh kawasan kutub. Cover pots dikenal baik di kawasan Asia sama dikenalnya dengan di Afrika, juga di Amerika (Brand, 1984). Penyebaran metode penangkapan dewasa ini sama sekali tidak menemui kesulitan. Kawasan Penangkapan Ikan Internasional, dan badanbadan dunia seperti FAO, memfasilitasi adanya hubungan langsung.
40

Pendahuluan

Republik Afrika Selatan telah mengadopsi purse seine dari California, dan di kawasan Baltic Timur Laut telah menggunakan disain pound nets dari Jepang. Kawasan terlarang Madagascar Tenggara menggunakan jarring monofilament, dan di kawasan terlarang Stone Age pada pulau-pulau kecil seperti pulau Lan Yu (Botel Tobago) di sebelah timur Taiwan Timur setiap orang mengetahui bagaimana membuat jaring dari tali kasar polypropylene. Pengetahuan mengenai pentingnya metode penangkapan yang baru, yang dibuat dari bahan jaring yang baru, menyebar dengan cepat, pengembangan dan pengujiannya berjalan secara simultan di seluruh belahan bumi ini. Kesimpulannya, selain duplikasi atau berbagai temuan tentang teknik penangkapan yang sering terjadi dan sering merupakan komunikasi tidak terbatas antara satu negara dengan negara lainnya. Di setiap kawasan penangkapan ikan, metode penangkapan ikan yang telah dikenal dikembangkan dan diubah, terkadang hanya oleh kemauan seseorang, tergantung kebutuhannya. Diawali dari metode penangkapan ikan yang sangat sederhana dengan alat yang masih primitif dengan segera akan digabung dengan teknik yang lebih kompleks. Perkembangan ini telah dipercepat dan ditingkatkan oleh berbagai stimulan. Periode lompatan pengembangan diikuti oleh stagnasi waktu yang terus berlangsung hingga sekarang. Faktor pendorong pengembangan alat penangkap telah lama dikenal, seperti upaya penangkapan ikan dalam jumlah besar, atau menangkap di perairan yang lebih dalam, dengan harapan memperoleh ikan dalam jumlah banyak. Dan mendorong dilakukannya perubahan konstruksi alat penangkap ikannya. Stimulan lainnya yang mendorong terjadinya pengembangan teknik penangkapan ikan adalah keinginan untuk mengubah penangkapan ikan tradisional hingga ke alat penangkap ikan yang memerlukan pengendalian (Watched fishing gear), penambahan tenaga manusia, hingga alat penangkap otomatis yang dapat dikendalikan oleh hanya beberapa orang saja. Peralatan deteksi ikan terus dikembangkan untuk memantau jumlah hasil tangkapan. Terakhir telah dikenal alat underwater detecting device yang dijalankan melalui program komputer, seperti dari tipe EK dan melalui suatu program komputer yang disebut EP, dengan segera densitas, ukuran bahkan jumlah ekor dapat diketahui dalam sepersekian detik langsung dapat dibaca dan diprediksi di layar monitor komputer.

Supardi Ardidja-2010

41

Pendahuluan

6.

BURUH DAN PENANGKAPAN IKAN SECARA KOLEKTIF

Pada beberapa metode penangkapan hanya memerlukan sedikit tenaga manusia pada metode lain memerlukan tenaga manusia yang banyak bahkan jika tenaga kerja tidak mencukupi dapat dilakukan oleh anak-anak. Terdapat beberapa metode penangkapan ikan yang dianggap cocok untuk wanita (dan anak-anak) sementara lainnya hanya untuk pria. Pekerjaan yang dilakukan oleh wanita hanya berkisar penangkapan kan di darat, sedangkan pekerjaan menangkap ikan yang dilakukan oleh kaum lelaki bisa di darat maupun di laut. Pembagian pekerjaan berdasarkan kelamin mungkin sudah setua usia manusia. Secara umum, pekerjaanpekerjaan di luar rumah yang memerlukan kekuatan fisik dilakukan hanya oleh pria; pekerjaan lainnya yang tidak membutuhkan kekuatan fisik, milik wanita. Tidak ada kaitannya dengan kualitas atau status antara pria dan wanita. Pembagian ini hanya didasarkan pada perbedaan fisik antara pria dan wanita. Umumnya wanita bertanggungjawab atas pengumpulan makanan seperti sayuran atau hewan-hewan kecil; untuk bahan makanan; atau mengasuh anak; memelihara kebun; pekerjaan-pekerjaan rumah dan sejenisnya. Sedangkan pria dianggap bertanggungjawab untuk berburu; menjaga keluarganya, kampung atau kawasan hidupnya; berbagai jenis pekerjaan kasar seperti membuka hutan, membangun rumah (kadangkadang); dan pekerjaan lain yang membutuhkan tenaga besar. Metode memungut atau memulung mungkin hanya dilakukan oleh wanita, Penangkapan ikan dengan racun menunjukkan tidak ada perbedaan nyata, walaupun pada penangkapan ikan dengan listrik sekarang umumnya hanya dilakukan oleh pria. Metode skala kecil pada memancing, dengan jumlah pancing terbatas dapat menggunakan wanita (di darat) atau pria. Tapi pada penangkapan ikan skala besar seperti long line merupakan ciri metode penangkapan ikan yang khusus untuk pria. Lain halnya dalam metode penangkapan dengan perangkap, perangkap sekecil apapun tetap dilakukan oleh pria. Pada penangkapan ikan dengan jaring kantong (bag nets) peralatan-peralatan kecil yang dioperasikan dengan tangan sering dilakukan oleh wanita, seperti memperbaiki jaring, sementara pengoperasian bag nets yang berukuran besar merupakan pekerjaan pria. Penangkapan ikan dengan alat dragger (di Indonesia tidak dikembangkan, bahkan jika ada perlu dilarang), seine nets, surrounding gear, dan umumnya juga drive-in nets merupakan metode penangkapan ikan untuk pria. Pada Lift nets, dapat dilihat bahwa peralatan kecil dapat juga dilakukan oleh wanita, sementara yang besar-besar khusus oleh pria. Alat penangkap ikan,
42

Pendahuluan

seperti cover pots, dapat dioperasikan oleh pria atau wanita, tapi cast nets hanya dioperasikan oleh pria. Penangkapan ikan dengan Gillnet, entangling nets, khusus penangkapan ikan dengan sistem komputerisasi atau dengan mesin-mesin pemanen, tampaknya hanya untuk pria, walaupun hanya diperlukan tenaga yang sangat minimal sekalipun. Kesimpulannya bahwa tidak semua metode penangkapan ikan cocok untuk wanita. Dalam beberapa kasus wanita mengoperasikan peralatan kecil, tapi tidak ada statistik yang menyatakan kuantitas pakan diperoleh oleh wanita untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari familinya, kecuali di Afrika, Asia hitam dan Bali. Bertolak belakang dengan pria, pekerjaan wanita dianggap merupakan basis tersendiri, hal ini dapat terlihat bahwa wanita tidak pernah menangkap ikan sendirian, tapi membuat suatu kelompok seperti gotong royong, setiap wanita memiliki peralatannya sendiri. Hal ini dilakukan tidak saja untuk ngobrol selama menangkap ikan tapi juga untuk mengupayakan hasil tangkap yang lebih banyak dengan menggiring ikan secara bersama-sama, dan untuk mencegah ikan meloloskan diri bila hanya menggunakan sebuah alat saja. Penangkapan ikan dalam bentuk kelompok dengan menggunakan alat penangkap ikan yang berukuran besar, umumnya lebih cenderung dilakukan oleh pria. Di dunia perikanan, kerjasama sangat dibutuhkan umpamanya dalam perakitan alat berukuran sangat besar seperti trawl, beach seining, dan purse seining. Sekilas hal ini merupakan perilaku hubungan antar pria, termasuk untuk mengerjakan pekerjaan yang dibatasi oleh waktu, ini merupakan sifat dasar dari pria. Kerjasama sesaat ini tidak dikontrol oleh seseorang di luar kelompok, atau pemerintah, mungkin ini merupakan asset berharga bagi dunia perikanan saat ini. Sebagai contoh dalam trawl berpasangan (pair trawling). Seringkali kerjasama seperti ini diperlukan, walaupun dengan mekanisasi, berbagai metode penangkapan ikan demikian tidak dapat dilakukan sendirian. Wanita bangsa Eropa dan Amerika tidak asing lagi di dunia nelayan. Namun tidak demikian halnya dengan bangsa Indonesia pada umumnya. Bangsa Indonesia terkenal sangat memegang teguh norma susila. Kecuali jika kapal-kapal penangkap ikan Indonesia sudah menyediakan fasilitas personal privasi antara pria dan wanita. Nyatanya belum. Atas dasar itulah maka, Sekolah Tinggi Perikanan belum dapat memberi kesempatan kepada wanita untuk belajar pada program studi penangkapan ikan dan permesinan perikanan. Walaupun FAO telah menganjurkan agar memberikan kesempatan kepada wanita untuk berperan serta aktif dalam dunia usaha perikanan (emansipasi). Peningkatan secara progresif
Supardi Ardidja-2010 43

Pendahuluan

mekanisasi akan mengurangi jumlah tenaga kerja dalam bentuk kelompok. Peningkatan mekanisasi juga merupakan alasan mengapa wanita turut berperan di dalam penangkapan ikan. (Eropa dan Amerika pada penangkapan ikan dengan Autoline dan bubu). Dimana isteri dapat membantu mengendalikan kapal-kapal kecil sementara suaminya memasang alat penangkap ikan. Dewasa ini mereka juga dapat bekerja dalam perikanan skala besar bila pekerjaan-pekerjaan berat telah dilakukan oleh mesin. Tapi tidak boleh dilupakan bahwa ada sebagian sektor perikanan dimana wanita sudah lama mendominasi dan terkadang memimpin, seperti dalam pemasaran produk hasil perikanan. Khususnya di Afrika, wanita mendominasi pemrosesan ikan, tidak saja di belahan utara, juga di berbagai negara tropis. Berbicara tentang tenaga manusia dan metode penangkapan ikan, terdapat kelompok ketiga manusia yang terkadang memiliki posisi khusus dalam penangkapan ikan. Mereka adalah orang-orang tua yang tidak dapat lagi melakukan pekerjaan-pekerjaan praktis dalam metode penangkapan ikan, khususnya dalam perikanan laut. Kontribusi penting dari orang tua dalam komunitas penangkapan ikan mungkin dalam pembuatan jaring (menjurai). Akibat merambah dengan sangat cepatnya polyamide monofilament sebagai bahan gillnet di Indonesia, nelayan tua dan wanita di ribuan desa pesisir sangat berperan dalam pembuatan dan perbaikan alat penangkap. (Perlu diingat bahan tersebut sulit dijurai karena licin, sehingga memerlukan ketelitian dan ktrampilan khusus sekaligus kesabaran dan ketabahan untuk duduk berjam-jam lamanya tanpa memerlukan pemikiran yang serius). Indonesia yang hampir di dominasi oleh agama Islam, hampir tidak memberikan kesempatan kepada wanita untuk bekerja di laut. Berbeda halnya dengan kapal-kapal penumpang yang rata-rata berukuran besar, sehingga hak privasi wanita dapat terpenuhi. Sedangkan pada kapal penangkap ikan, selain kapalnya berukuran relatif kecil dengan jumlah hari layar yang relatif besar, pekerjaan berat dan beresiko tinggi, maka baik dari sisi privasi maupun tenaga yang dibutuhkan hampir tidak memberikan kesempatan untuk wanita berperan serta aktif untuk menangkap ikan di laut. Mungkin dalam usaha-usaha hilir, misalnya bidang pemrosesan produk hasil tangkap dan bidang manajemen. Pekerjaan-pekerjaan yang membutuhkan ketelitian dan kesabaran mungkin dapat dipercayakan kepada wanita, misalnya di bidang penelitian, input data base statistik, uji mutu atau bidang pekerjaan lain dalam usaha perikanan yang memerlukan sesuatu yang tidak dimiliki oleh kaum lelaki.
44

Pendahuluan

7.

TENAGA KERJA, MEKANISASI DAN OTOMATISASI

Keinginan untuk meningkatkan efektivitas dan efisiensi alat penangkap ikan menstimulasi pengembangan dari teknik penangkapan ikan yang telah dikenal dan upaya untuk menemukan teknik penangkapan ikan yang baru. Berbagai pendorong memacu kecenderungan ini tidak hanya untuk memperoleh hasil tangkapan yang lebih banyak, tapi juga untuk menangkap di perairan yang lebih dalam, dan untuk menggantikan kehadiran manusia di sekitar alat penangkap ikan, dengan mengupayakan agar alat tersebut dapat menangkap secara otomatis tanpa perlu kehadiran manusia di dekatnya. Tampaknya sejak dulu, nelayan dianggap memiliki fisik yang kuat jika tidak, tidak ada penangkapan ikan. Bila diperlukan jumlah hasil tangkapan yang lebih banyak, ukuran alat penangkap ikan diperbesar dan jumlahnya diperbanyak. Problema pengurangan tenaga kerja dengan ditemukannya mesin peralatan penangkapan ikan sejak sebelum abad ke18, dan dengan adanya motorisasi kapal-kapal perikanan, telah mengurangi kebutuhan tenaga manusia untuk mengoperasikan peralatan perikanan tersebut. Awal pemikirannya adalah untuk memudahkan penanganan alat penangkap ikan dengan menggunakan winch, tapi seiring dengan meningkatnya nilai hasil tangkapan dan meningkatnya biaya untuk membayar tenaga manusia, mesin juga harus dapat menggantikan tenaga manusia tanpa mengurangi penghasilan (yield). Dalam bentuk pengembangan ini, motorisasi menggantikan dayung dan layar, winch yang digerakkan dengan tenaga mesin mengurangi jumlah tenaga manusia sekaligus meningkatkan keuntungan dan keselamatan. Hasil tangkap per orang (catch per man), per kapal, per ton meningkat dengan pesat. Pengembangan ini menjadi sangat penting dalam peningkatan mekanisasi dalam perikanan skala besar dan skala kecil. Pengoperasian secara modern dengan trawl dan stern trawl berukuran besar; menangani purse seine modern yang sangat besar dengan power block, diperkenalkannya drum dengan tenaga motor untuk jaring dan tali, winch untuk purse line pada purse seining, line thrower dan line arranger pada long line, net hauler pada gillnet, squid jigger pada penangkapan cumi-cumi, automatic pole & line machine pada penangkapan cakalang dengan pole & line, atau semua contoh dari metode dan teknik penangkapan ikan yang telah berhasil tidak hanya untuk memfasilitasi lapangan kerja tapi juga sekaligus mengurangi jumlah tenaga manusia. Sekaligus mendorong para tenaga kerja untuk
Supardi Ardidja-2010 45

Pendahuluan

lebih meningkatkan ilmu pengetahuan dan ketrampilan selain tetap memiliki kekuatan tubuh yang prima. Pengurangan jumlah awak kapal dengan penggunaan mesin dianggap penting di negara-negara industri maju yang notabene kekurangan tenaga kerja, atau sangat mahal. Ditimpali dengan tenaga mudanya tidak mau melakukan pekerjaan beresiko tinggi, yang disebabkan penghasilan bekerja di darat jauh lebih memadai dengan resiko yang rendah. Tapi di negara-negara berkembang atau sedang berkembang dan negara-negara industri yang sedang dilanda krisis ekonomi dengan tingkat pengangguran yang tinggi seperti halnya Indonesia, mungkin mekanisasi kurang sesuai, karena upaya untuk mencoba tetap mempertahankan sebanyak mungkin manusia dapat berkecimpung di perikanan hanya untuk memberi mereka pekerjaan dan makanan. Kemungkinannya bahwa memperoleh pekerjaan lebih penting dibanding dengan kenyamanan kerja. Walaupun konsekwensinya pendapatan per kapita menjadi sangat kecil. Kecenderungan dewasa ini dalam pengembangan alat penangkap ikan adalah mengubah teknik penangkapan ikan sedemikian rupa yang dioperasikan secara otomatis, dengan sedikit upaya manusia. Khususnya dalam mengoperasikan hand line slogannya adalah: “Push the button and let it fish” (Simrad). Pengertiannya adalah dengan hanya menekan tombol (otomatisasi dengan komputerisasi). Dalam hal ini komputer digunakan untuk membuat keputusan dalam mengendalikan alat. Dalam sistem yang baru, operasi secara keseluruhan alat penangkap ikan dibagi dalam beberapa tahapan, dan setiap tahapan berjalan secara otomatis. Namun tidak diartikan bahwa robot telah menggantikan tenaga manusia. Komputer membantu tidak hanya melaksanakan pekerjaan, tapi juga “berhitung” lebih cepat dibanding manusia. Dalam beberapa kasus, keputusan terakhir tetap berada ditangan manusia. Pengembangan yang terbaru tampaknya adalah dalam penangkapan ikan dengan long line (Autoline), yang seharusnya menjadi sangat berguna dimasa datang sekaligus merugikan generasi mendatang. Walaupun adanya kenaikan harga BBM perkembangan ini tidak akan terhambat. Pada perikanan skala kecil “mesin pemanen (harvesting machine)” telah dikembangkan yang juga akan merupakan basis komputerisasi, seperti yang telah dilakukan di berbagai mesin-mesin pertanian. Namun demikian, ide ini adalah untuk masa depan, untuk perikanan di Indonesia saat ini, tenaga manusia, pengalaman, dan pengetahuan mengenai fish behavior, serta dimana keberadaannya ikan,

46

Pendahuluan

masih sangat diperlukan untuk keberhasilan dalam mengkonstruksi dan mengoperasikan alat penangkap ikan. Tenaga Kerja Asing yang bekerja di kapal-kapal Indonesia harus memenuhi ketentuan, telah diatur dalam Peraturan Menteri Kelautan Dan Perikanan Nomor: Per.12/Men/2009 Tentang Perubahan Atas Peraturan Menteri Kelautan Dan Perikanan Nomor : Per.05/Men/2008 Tentang Usaha Perikanan Tangkap, Bab Xiv Pasal 75 Dan Pasal 76, berisi tentang aturan dan persyaratan yang harus dipenuhi oleh Tenaga Kerja Asing serta tata cara untuk memperoleh surat ijin kerja yang bekerja di kapal-kapal penangkap ikan Indonesia. Sedangkan aturan atau persyaratan yang harus dipenuhi oleh Tenaga Kerja Indonesia (TKI) yang berkerja di kapal-kapal perikanan asing belum ada ketentuannya. Mestinya, adalah mengikuti aturan yang berlaku di negara asal perusahaan perikanan yang mempekerjakannya. Informasi tentang TKI yang bekerja di Jepang dari BNP2TKI (Bandan Nasional Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia - http://www.bnp2tki.go.id/) Media Indonesia: Penyerapan tenaga kerja di sektor perikanan dalam tiga tahun terakhir anjlok hingga lebih dari 85 persen per tahun. “Total penyerapan tenaga kerja sektor perikanan pada 2006 mencapai 1.207 orang. Pada 2008, penyerapan tenaga kerja sektor perikanan mengalami penurunan drastis menjadi 173 orang saja per tahun," kata Kepala Riset Pusat Kajian Pembangunan Kelautan dan Peradaban Maritim (PK2PM) Suhana di Jakarta, Minggu (24/5) (http:// www. mediaindonesia.com). Dari sini tidak dijelaskan apa permasalahannya. Namun berdasarkan informasi yang diperoleh dari waancara para tenaga kerja indonesia yang dipulangkan bahkan banyak yang terlantar dengan penulis, mengatakan bahwa disebabkan oleh ketidak lengkapan persyaratan yang harus dipenuhi oleh para TKI, pemutusan hubungan kerja sepihak dari perusahaan. Permasalahn lain yang dihadapi para tenaga kerja perikanan indonesia adalah ketidak tahuan perusahaan asing tentang harga selembar sertifikat ANKAPIN dan ATKAPIN. Atau mungkin juga akibat dampak ketentuan ANKAPIN/ATKAPIN hanya didasarkan kepada besaran kapal, sedangkan betapa berat pekerjaan dan resiko yang harus ditanggung oleh para pemegang sertifikat. Terutama seklai belum adanya “endorsement” untuk ANKAPIN DAN ATKAPIN. Mungkin, tugas Kementerian Kelautan untuk membenahi permasalahan internasional ini, secara komprehensif, intensif dan berkelanjutan, agar gaji yang diterima sesuai dengan jerih payah memperoleh sertifikat tersebut, pekerjaan yang jauh dari bersih, jam
Supardi Ardidja-2010 47

Pendahuluan

kerja di laut yang teramat padat, resiko tinggi yang harus ditanggung. Indonesia telah berupaya mengikuti aturan dan persyaratan yang dikeluarkan IMO melalui STCW-F, pertanyaannya adalah apakah pihak Internasional sudah tahu bahwa pelatihan dan pendidikan baik formal maupun informal telah mengikuti aturan tersebut. Ataukah karena mengikuti ketentuan, sehingga para tenaga kerja hanya mementingkan keselamatan dibanding bekerja untuk memperoleh ikan. Belum adanya pengaturan mengenai pengawakan kapal perikanan Indonesia dan yang terkait, menimbulkan ketidakpastian hukum tentang pengawakan kapal penangkap ikan sesuai dengan tingkat sertifikat, penjenjangan karir dan sistem remunerasi awak kapal. Hal tersebut dapat menimbulkan konsekuensi keselamatan kapal dan awaknya dan konsekuensi bagi pengusaha (http://www.stp.dkp.go.id). Walaupun pemerintah telah mengeluarkan peraturan bagi pelaut pada umumnya. Pemerintah telah membuat ketentuan tentang hak-hak dan kewajiban pelaut melalui Keputusan Pemerintah No 7 tahun 2000 Tentang Kepelautan. Terdapat ketentuan mengenai Tenaga Pelaut yang bekerja di kapal asing pasal 18. Dan hampir seluruh isi peraturan ini menyangkut hak dan kewajiban yang terkait dengan ketenaga kerjaan pelaut. Namun demikian diperlukan suatu badan yang melindungi kepentingan pelaut perikanan, yang betul-betul melindungi. Dan juga apakah peraturan pemerintah ini berlaku di luar negeri?. Pasal 1. Dalam Peraturan Pemerintah ini yang dimaksud dengan: (1) Kepelautan adalah segala sesuatu yang berkaitan dengan pengawakan, pendidikan, persertifikatan, kewenangan serta hak dan kewajiban pelaut; (2) Awak kapal adalah orang yang bekerja atau dipekerjakan di atas kapal oleh pemilik atau operator kapal untuk melakukan tugas di atas kapal sesuai dengan jabatannya yang tercantum dalam buku sijil; (3) Pelaut adalah setiap orang yang mempunyai kualifikasi keahlian atau keterampilan sebagai awak kapal; (4) Sertifikat kepelautan adalah dokumen kepelautan yang sah dengan nama apapun yang diterbitkan oleh Menteri atau yang diberi kewenangan oleh Menteri; Perjanjian (5) Kerja Laut adalah perjanjian kerja perorangan yang ditandatangani oleh pelaut
Indonesia dengan pengusaha angkutan di perairan; …

Pasal 2.

48

Pendahuluan

(1) Setiap pelaut yang bekerja pada kapal niaga, kapal penangkap ikan, kapal sungai dan danau harus mempunyai kualifikasi keahlian atau keterampilan sebagaimana diatur dalam Peraturan Pemerintah ini….. (3) Ketentuan mengenai kualifikasi keahlian dan keterampilan bagi setiap pelaut yang bekerja di kapal sebagaimana dimaksud dalam ayat (2) diatur lebih lanjut dengan Keputusan Menteri. Pasal 18. (1) Setiap pelaut yang akan disijil harus memiliki Perjanjian Kerja Laut yang masih berlaku; (2) Perjanjian Kerja Laut sebagaimana dimaksud ayat (1) harus memuat hak-hak dan kewajiban dari masing-masing pihak dan memenuhi ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku; (3) Hak-hak dan kewajiban dari masing-masing pihak sebagaimana dimaksud dalam ayat (2) sekurang-kurangnya adalah : a. Hak pelaut: Menerima gaji, upah, lembur, uang pengganti hari-hari libur, uang delegasi, biaya pengankutan dan upah saat diakhirinya pengerjaan, pertanggungan untuk barang-barang milik pribadi yang dibawa serta kecelakaan pribadi serta perlengkapan untuk musim dingin untuk yang bekerja di wilayah yang suhunya 15 derajat celcius atau kurang yang berupa pakaian dan peralatan musim dingin; b. Kewajiban pelaut: Melaksanakan tugas sesuai dengan jam kerja yang ditetapkan sesuai dengan perjanjian, menanggung biaya yang timbul karena kelebihan barang bawaan di atas batas ketentuan yang ditetapkan perusahaan, menaati perintah perusahaan dan bekerja sesuai dengan jangka waktu perjanjian. c. Hak pemilik/operator: Memperkerjakan pelaut d. Kewajiban pemilik/operator: Memenuhi semua kewajian yang merupakan hak-hak pelaut sebagaimana dimaksud dalam huruf a. (4) Perjanjian Kerja Laut harus diketahui oleh pejabat Pemerintah yang ditunjuk oleh Menteri. (5) Ketentuan lebih lanjut mengenai Perjanjian Kerja Laut sebagaimana dimaksud dalam ayat (1), ayat (2), ayat (3), dan ayat(4) diatur dengan Keputusan Menteri.

Supardi Ardidja-2010

49

Pendahuluan

Pasal 19: Penempatan Pelaut (1) Pelaut Indonesia dapat bekerja di kapal Indonesia dan/atau kapal asing sesuai dengan Sertifikat Keahlian Pelaut atau Sertifikat Keterampilan Pelaut yang dimilikinya. (2) Untuk membuka kesempatan kerja pelaut Indonesia pada kapal-kapal asing di luar negeri, penempatan tenaga kerja pelaut dapat dilakukan oleh perusahaan pelayaran nasional atau perusahaan jasa penempatan tenaga kerja pelaut yang memenuhi persyaratan. (3) Persyaratan yang harus dipenuhi oleh perusahaan jasa penempatan tenaga kerja pelaut sebagaimana dimaksud dalam ayat (2) meliputi : a. berbentuk badan hukum Indonesia yang memiliki izin usaha penempatan tenaga kerja pelaut; b. memiliki tenaga ahli pelaut. (4) Bagi pelaut yang bekerja pada kapal-kapal asing di luar negeri tanpa melalui penempatan tenaga kerja pelaut sebagaimana dimaksud dalam ayat (2) berkewajiban : a. Membuat perjanjian kerja laut sesuai dengan ketentuan yang berlaku; b. Perjanjian kerja laut sebagaimana dimaksud dalam huruf a harus memuat hukum mana yang berlaku apabila terjadi perselisihan yang menyangkut pelaksanaan perjanjian kerja laut; c. Melapor kepada perwakilan Republik Indonesia dimana pelaut tersebut bekerja. (5) Bagi pelaut yang tidak melaksanakan kewajiban sebagaimana dimaksud dalam ayat (4), menanggung sendiri akibat yang timbul apabila terjadi perselisihan yang menyangkut pelaksanaan perjanjian kerja laut . Pasal 20 : Usaha penempatan tenaga kerja pelaut sebagaimana dimaksud dalam Pasal 19 dilakukan dengan memperhatikan :
a.

penciptaan perluasan kesempatan kerja pelaut khususnya yang bekerja di kapal-kapal berbendera asing;

b. pengembangan fasilitas pendidikan kepelautan yang memenuhi persyaratan sesuai ketentuan internasional; c. peningkatan kemampuan dan keterampilan pelaut sesuai dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi di bidang pelayaran.

50

Pendahuluan

Pendidikan dan pelatihan di Indonesia terutama yang dikelola oleh Kementerian Perikanan dan Kelautan telah mengutamakan kesiapan fisik, mental, kemampuan dan ketrampilan untuk menangkap Ikan. Sebagai ilustrasi, tugas utama seseorang yang akan menangkap ikan di laut adalah memperoleh ikan. Menangkap ikan ke laut harus menggunakan kapal. Seseorang yang membawa (melayarkan) kapal diwajibkan memiliki sertifikat ANKAPIN untuk dek dan ATKAPIN untuk mesin. Mereka sudah tahu dan siap mental, bahwa mereka mengerjakan pekerjaan yang tidak disukai sebagian besar orang, celakanya merekapun sudah tahu, dengan perasaan menggiris dan keterpaksaan, karena kondisi, dimana masyarakat nelayan kita masih berkutat dengan urusan perut, urutan terendah. (baca Mass Low). Sudah ada upaya sementara penyetaraan dengan sertifikat kepelautan lain, itu langkah awal yang baik sekali. Namun demikian, tolong dicermati beban kerja dan resiko tinggi yang harus ditanggung serta keahlian dan ketrampilan yang dimiliki para tenaga Kerja Indonesia bidang perikanan. Mari kita cermati sebagian Keahlian dan ketrampilan yang dimiliki: a. Menentukan posisi kapal - Penentuan posisi kapal dengan berbagai cara dipelajari dan dilatih, mulai dengan menentukan posisi kapal dengan menggunakan mata dan kuping. Kemampuan mata dan kuping terbatas meraka dapat menentukan posisi kapal dengan menggunakan mata dan kuping elektronik (RADAR, RDF). Mata dan kuping elektronikpun ada batasnya, mereka meminta bantuan orang atau alat lain untuk menentukan posisi kapal (GPS). Jika GPS tidak bisa diminta bantuan untuk menentuan posisi kapal, menentukan posisi kapal dengan bantuan benda astonomi, sampaipun dalam kodisi terpaksa dengan menentukan posisi duga merka pelajari dan latih. Dipinggir pantai sudah tidak ada ikan, mereka mencari ikan sampai jauh ke lintang 200 Selatan, untuk mencari tuna sirip biru (sekarang sudah hampir punah, kata green peace). Jika tidak mereka mengejar ikan tuna ke tengah samudra hindia hingga pantai timur afrika, dan tidak seharipun mereka melihat daratan. b. Mentaati aturan berlalu lintas – Peraturan Internasional untuk mencegah tubrukan di laut (Colregs) 1972 sampai dengan adanya amandemen 1993 yang dibelakukan 4 Nopember 1995, walaupun tidak sampai memelajari amandemen 2001 yang diberlakukan 23 Nopember 2003 tentang wing-in-ground (WIG), telah dipelajari sampai tamat. Dipelajari pula bagaimana melengkapi kapal agar dianggap kapal da kapal yang sedang mengopersikan ikannya. Mereka tahu siapa yang harus dihindari dan siapa yang harus bertahan.
Supardi Ardidja-2010 51

Pendahuluan

c. Berkomunikasi. Mulai berkomunikasi konvensional hingga komunikasi dalam keadaan darurat (GMDSS=Global Marine Distress Satelite Sistem) di pelajari dan dilatih tuntas. d. Mengendalikan kapal. Mempelajari pengedalian kapal tidak saja mempelajari bagaimana sandar labuh, menyimpangi atau menyusul kapal lain, berlayar di perairan sempit, berlayar di alur ramai, menghindari tubrukan baik dengan manual sampai dengan penentuan Closes Point Approach (CPA). Dipelajari pula bagaimana mengendalikan kapal saat mengoperasikan alat penangkap ikan, dimana setiap gerak kapal dihambat oleh alat penangkap ikan. Tali Long line yang panjangnya hampir 20 km (400 pancing), purse seine yang panjangnya mencapai 2 km dengan kedalaman hingga mencapai 130 meter, dengan berat hampir 60 ton. Belum lagi jika hasil tangkapan harus dimuat ke kapal penampung sementara alat penangkap ikan masih di air. Berbagai kemungkinan bahaya kecelakaan bisa timbul dan cara mengatasinya di pelajari. Mereka juga mempelajari untuk menghindari dan mengatasi berbagai kemungkinan alat penangkap ikan tidak bekerja sebagaimana mestinya. e. Stabilitas kapal. Mereka mempelajari sejumlah hambatan yang akibat adanya faktor eksternal dari alat penangkap ikan. Umum faktor eksternal ombak dan angin yang mendorong kapal hingga miring, tapi faktor eksternal juga dipelajari mereka adalah faktor eksternal dari alat penangkap ikan yang sedang dioperasikan, yang notabene selalu menarik kapal hingga miring dan tidak dapat kembali tegak sebelum tuntas proses operasi. Bahkan jika menemui kondisi demikian ditambah dengan adanya faktor cuaca samudra serta bagaimana menghindari dan menanggulanginya mereka pelajari. Memuat di pelabuhan memang sangat sederhana, seberat apapun muatan yang dimasukkan ke kapal termasuk alat penangkap ikan tidak akan mempengaruhi stabilitas awal kapal, karena telah dihitung dengan cermat para Naval Architect, tapi mereka lebih banyak mempelajari bagaimana efek penambahan muatan yang hampir tidak konstan setiap hari, pergeseran muatan ikan yang kadang-kadang runtuh dengan sendirinya, ditimpali lagi proses ini berlangsung bersamaan dengan efek tetap memiringkan dari alat penangkap ikan, ditambah lagi dengan efek permukaan bebas yang muncul dari “down flooding” dan tanki-tanki yang secara konstan perlahan semakin berkurang isinya. f. Kecakapan pelaut. Mengarea dan menghibob jangkar bagi mereka adalah urusan kecil. Mereka pelajari tali temali penting, hanging dan

52

Pendahuluan

hang-in ratio, distribusi, daya apung, daya tenggelam, distribusi, cutting, joining, lassing, tapering, termasuk penanganan wire, menjalankan winch, guna mengarea dan menghibob warp sementara kapal melaju. Menjalankan purse seine winch guna mengarea purse line yang kecepatannya sama dengan kecepatan kapal saat tahapan setting (8 – 12 knot) silahkan hitung (8 knot x 1852 meter) / 3600 detik = …m/d. dan purse wire yang harus diarea berdiamater 14 mm dengan panjang kurang lebih 1,5 x panjang purse seine. Saat menghibob tahanan dari purse seine bisa mencapi lebih dari 100 ton. Mungkin tidak masuk akal, bagi yang tidak pernah bekerja dengan purse seine atau trawl, but it’s true. Power block yang berfungsi menghibob jaring yang dihambat oleh goyangan kapal tahanan jaring di air. Menggantung otter board yang beratnya 1,2 ton dipinggir kapal, yang dilakukan hampir 2 jam sekali, baik dalam kondisi cuaca cerah maupun buruk.

8.

TEKNOLOGI PENANGKAPAN

Teknik penangkapan ikan merupakan sebagian dari teknologi penangkapan ikan (“perikanan tangkap”), Salah satu dari alat penangkap ikan yang sama dapat dioperasikan dalam beberapa cara yang berbeda. Jika tidak mengetahui metode penangkapannya jangan harap dapat melakukannya, sebagai contoh pada sebuah jaring yang dapat digunakan untuk seining atau dragging, untuk drive-in fishery, bahkan untuk gilling dan entangling. (Ini merupakan salah satu alasan klasifikasi alat penangkap ikan dan metode penangkapan ikan tidak didasarkan pada konstruksi alat, tapi didasarkan pada prinsip bagaimana ikan ditangkap). Prinsip menangkap dapat digunakan dalam berbagai cara dan kadang-kadang harus ditunjang oleh taktik penangkapan ikan (fishing tactics), yang sebagian besar didasarkan pada metode memikat ikan, tanpa harus menakut-nakutinya. Contoh lainnya adalah long line. Long line termasuk dalam kelompok metode tali dan pancing, terbagi dalam lima tipe, yaitu tipe Basket, Drum. Blong, Box dan autoline. Kelimanya memiliki teknik pengopesian dan konstruksi alat yang hampir berbeda. Konstruksi, pengoperasian alat dan taktik penangkapan ikan dianggap sebagai bagian dari teknologi penangkapan ikan. Namun demikian, teknologi penangkapan ikan menyertakan bahan dalam konstruksi alat, sejauh hal itu diperlukan disertakan pula kapal penangkapan ikan. Dikaitkan dengan bahan jaring, serat alami telah digantikan oleh serat buatan bersamaan dengan ditemukannya serat
Supardi Ardidja-2010 53

Pendahuluan

polyamide (PA), polyester (PES) dan serat buatan lainnya sesuai kebutuhan masing-masing jenis alat penangkap ikan. Tidak diragukan lagi bahwa metode mid-water trawling dan purse seining tidak mungkin dapat dilakukan tanpa menggunakan benang-benang sintetis yang lebih kuat dan tipis, terpisah dari berperannya echo sounder. Contoh yang paling baik adalah pada keberhasilan penangkapan ikan dengan gillnet, tidak mungkin terjadi tanpa menggunakan benang yang memiliki daya tampak yang rendah (low visibility), bahkan transparan, seperti pada polyamide monofilament. Cina, tidak lagi menggunakan benang yang dipintal untuk jaring puntal (entangle net), yang justru lebih efektif dan lebih efisien jika dibandingkan dengan jaring puntal yang dikontruksi dari Nylon multifilament yang dipintal. Telah dikenal hampir di seluruh dunia bahwa belum ada inovasi yang sensasional dengan mengecualikan kegunaan serat sintetis dan juga gabungan dari beberapa serat sintetis menjadi benang atau tali compound. Pengembangan teknik penangkapan ikan, harus berjalan seiring dengan pengembangan yang terus menerus dari kapal penangkapan ikan, tenaga penggerak, sekaligus dikelola oleh tenaga kerja ahli dan trampil serta manajemen yang terkontrol dengan baik. Mungkin siapa tahu suatu saat kapal penangkapan ikan digerakkan dengan tenaga atom. Beranjak dari kapal yang terbuat dari bambu (masih terdapat di Asia) untuk penangkapan ikan berjangka sangat pendek (one-day fishing) hingga kapal-kapal pabrik (factory vessel) yang dioperasikan bersama armada kapal penangkap ikan (catcher fleet) atau kapal pabrik yang menangkap sendiri (self-catching factory ship) yang mampu berada di tengah laut hingga beberapa bulan entah di samudera mana dan memproses langsung hasil tangkapannya. Namun demikian, kapal-kapal multi fungsi sudah banyak ditinggalkan orang, mereka lebih menyukai kapal spesialis dengan berbagai penataan khusus. Dewasa ini, terkait dengan penangkapan ikan laut modern, kapal penangkapan ikan dengan alat penangkap ikan merupakan satu kesatuan yang tidak terpisahkan. Pengembangan alat penangkap ikan dan teknik penangkapan ikan tidak dapat dipisahkan. Keberhasilan dan kemajuan perikanan didasarkan oleh keharmonisan antar manusia sebagai pemeran utama, dan ikan sebagai obyeknya, dan ketiga faktor lain yang mempengaruhinya yaitu konstruksi alat dan pengoperasiannya serta kapal penangkapan ikan. Banyak kalangan merasa pesimis dengan perkembangan perikanan tangkap. Masuk akal, karena biaya operasional semakin tinggi akibat
54

Pendahuluan

dikuranginya subsidi BBM oleh pemerintah. Ada perusahaan-perusahaan perikanan tangkap, yang mulanya aktif dan memberikan keuntungan, sekarang berubah menjadi perusahaan pengumpul (pedagang ikan di tengah laut). Namun demikian, perlu dicermati sisi positif dan sisi negatifnya. Sisi positifnya usaha ini merupakan upaya saling menguntungkan antara penangkap ikan dan penampung. Para penangkap ikan tidak perlu banyak menghabiskan bahan bakar untuk hanya kembali ke fishing base untuk menjual hasil tangkapannya. Bahan bakar dapat digunakan untuk memperpanjang hari operasi (fishing day). Sisi negatifnya adalah tidak adanya kontrol harga dalam bisnis di tengah laut ini. Mungkin juga tidak ada kontribusinya terhadap pendapatan non migas bagi daerah yang memiliki wilayah pengelolaan perikanan terkait, “apalagi buat negara”. Sehingga perlu dibuat suatu regulasi untuk mengatur perdagangan di tengah laut ini.

9.

WILAYAH PENGELOLAAN PERIKANAN REPUBLIK INDONESIA

Suatu studi melalui penelusuran pustaka dilakukan untuk mengkaji kebijakan pembangunan perikanan tangkap di Indonesia. Formulasi kebijakan perikanan tangkap Indonesia dikembangkan berdasarkan data ‘catch-effort’ dan model ’Tangkapan Maksimum Berimbang Lestari’, MSY yang mengandung beberapa kelemahan, beresiko tinggi terhadap keberlanjutan dan keuntungan jangka panjang dari pengelolaan perikanan tangkap. Pada makalah ini penulis menyampaikan beberapa argumentasi untuk menggeser kebijakanpengelolaan perikanan tangkap dalam rangka pemulihan stok sumberdaya dan usaha perikanan tangkap, sebagai berikut: (1) pergeseran kebijakan perikanan, dari pengelolaan yang beorientasi pada perluasan usaha menuju pada pengelolaan yang berkelanjutan; (2) pengelola perikanan memahami bahwa prinsip ‘sumberdaya tidak akan pernah habis’, sudah tidak berlaku atau dengan kata lain, ’perluasan usaha penangkapan yang tanpa kontrol tidak akan menguntungkan lagi’; (3) Pengelola perikanan menyadari bahwa pemindahan usaha penangkapan dari wilayah yang mengalami tangkapan berlebih ke wilayah lainnya akan memberikan kontribusi terhadap kolapsnya perikanan tangkap setempat, dan; (4) Pergeseran pengelolaan perikanan dari ketergantungan terhadap model MSY menuju pengelolaan berdasarkan pendekatan ekosistem, dimana Kawasan Perlindungan Laut akan memainkan peran cukup penting (Wiadnya, et all. 2004). Pemerintah dalam hal ini Kementerian Kelautan dan Perikanan dalam rangka mendukung kebijakan pengelolaan sumberdaya ikan dan
Supardi Ardidja-2010 55

Pendahuluan

lingkungannya sesuai dengan Pasal 7 ayat (1) Undang-Undang Nomor 31 Tahun 2004 tentang Perikanan, perlu menetapkan wilayah pengelolaan perikanan Republik Indonesia(pengelolaan perikanan) pada tanggal 21 Januari 2009 Menteri Kelautan dan Perikanan mengeluarkan peraturan nomor per.01/men/2009 tentang Wilayah Pengelolaan Perikanan Republik Indonesia. Membagi Wilayah Pengelolaan Perikanan Republik Indonesia menjadi 11 WPP-RI, lihat Gambar 9 dan Tabel 1.

Gambar 9. Peta 11 Wilayang Pengelolaan Perikanan Republik Indonesia, Koordinat selatan paling barat 150-37’S – 910-47’T dan koordinat Utara paling timur 090-38’U – 1410-23’T; PER.01/MEN/2009 - (tidak diskala); Tabel 1. Kode 11 Wilayah Pengelolaan Perikanan Republik Indonesia,
PER.01/MEN/2009

No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 56

Kode 571 572 573 711 712 713 714 715 716

Wilayah Perairan Selat Malaka dan Laut Andaman Samudera Hindia sebelah Barat Sumatera dan Selat Sunda Samudera Hindia sebelah Selatan Jawa hingga sebelah Selatan Nusatenggara, Laut Sawu dan Laut Timor bagian Barat Selat Karimata, Laut Natuna, dan Laut Cina Selatan Laut Jawa Selat Makassar, Teluk Bone, Laut Flores, dan Laut Bali Teluk Tolo dan Laut Banda Teluk Tomini, Laut Maluku, Laut Halmahera, Laut Seram, dan Teluk Berau Laut Sulawesi dan sebelah Utara Pulau Halmahera

Pendahuluan 10 11 717 718 Teluk Cenderawasih dan Samudera Pasifik Laut Aru, Laut Arafura dan Laut Timor bagian Timur

Dilema yang dihadapi kini adalah tentang pengawasan, dan restribusi daerah sekitar WPP RI. Salah satu upaya efisiensi bagi penangkap ikan di laut adalah sesedikit mungkin menggunakan bahan bakar. Penangkapan Ikan dengan sistem armada adalah salah contoh kongkrit dalam upaya ini. Terkait dengan adanya WPP RI, jika daerah sekitar WPP RI mampu menyediakan fasilitas pendaratan ikan yang menyediakan segala kebutuhan operasional kapal, social welfare bagi para nelayan yang telah berhari-hari melaut, kontrol harga, pelayanan, keamanan dan pengawasan yang memberikan keuntungan berimbang antara nelayan dan konsumen, sekaligus memberikan income daerah yang wajar. Aksesibilitas murah, mudah dan cepat, yang akan meningkatkan efisiensi distribusi hasil tangkapan. Dampak lanjutannya adalah bahwa pembangunan perekonomian daerah akan meningkat, sekaligus mendukung percepatan pertumbuhan ekonomi daerah. Tentunya nelayan Pekalongan yang menangkap ikan di WPP RI 716 atau di WPP RI 713 akan memilih pelabuhan pendaratan terdekat, mungkin juga tidak akan menjual ikannya kepada perusahaan-perusahaan pengumpul ikan di tengah laut.

Ringkasan
1. Metode Penangkapan ikan mendasari teknologi penangkapan ikan 2. Mempelajari metode penangkapan ikan harus didahului dengan mempelajari biologi perikanan, oseanografi perikanan, meteorologi, 3. Mempermudah memehami metode penangkapan ikan dengan mengelopokkan ikan, sebagai berikut: 1) Kelompok ikan yang mengumpul padat. 2) Kelompok ikan yang mengumpul tapi tidak padat. 3) Kelompok ikan yang menyebar dan tidak padat. Dan pengelompokkan ukuran individu ikan dalam kelompok adalah: 1) Ikan yang berukuran besar(contohnya adalah pelagis besar: Tuna) 2) Ikan yang berukuran kecil (contohnya pelagis kecil : layang) 4. Contoh alat penangkap ikan hasil dari dua pengelompokkan ikan.
Supardi Ardidja-2010 57

Pendahuluan

1) Ikan-ikan yang hanya dapat ditangkap seekor demi seekor. Contoh alat penangkap ikannya adalah yang termasuk dalam metode penangkapan ikan dengan tali dan pancing (hook and line), yaitu: Rawai Tuna (Tuna Long line), Huhate (Pole and Line), Tonda (Trolling), Rawai dasar (Bottom long line), Pancing cumi (squid jigger), dll. 2) Ikan yang dapat ditangkap sekaligus banyak. Contoh alat penangkap ikannya adalah yang termasuk dalam metode penangkapan ikan dengan mengurung (dari samping/bawah), yaitu: Pukat cincin (Purse seine), Lampara, payang, dll 3) Ikan yang hanya dapat ditangkap dengan mengumpulkannya sedikit demi sedikit Contoh alat penangkap ikannya adalah yang termasuk dalam metode penangkapan ikan yang dihela, ditarik, dan didorong, ditunggu, dijerat dan dipuntal, yaitu trawl, gillnet, sudu, seine net, bagan, bubu, setnet, dll. 5. Pengembangan kapal penangkap ikan, sumberdaya manusia perikana tangkap, alat penangkap ikan, teknik penangkapan ikan, penanganan hasil tangkap dan regulasi keberadaanya saling terkait satu sama lain, yang didasari oleh bagaimana ikan ditangkap. 6. Kapal, awak kapal, alat penangkap ikan, ekslporasi dikenai regulasi nasional maupun internasional. 7. Sejarah penangkap ikan dan pemburu sama tuanya, keduanya merupakan suatu upaya memenuhi kebutuhan akan pakan, namun entah kenapa memanah ikan yang berenang di rawa-rawa dianggap sedang menangkap ikan sedangkan memanah seekor bebek yang juga sedang berenang di tempat yang sama dianggap sedang berburu padahal menggunakan alat yang persis sama. 8. Peralihan dari subsistence fishing ke commercial fishery dan sport fishing disebabkan adanya peningkatan permintaan pasar kebutuhan akan sumber makanan yang tidak memiliki substitusi, dan adanya permintaan akan sesuatu yang dapat digunakan sebagai hiburan untuk memuaskan kesenangan. 9. Sport fishing dari digolongkan kedalam perikanan skala kecil yang didisain tidak untuk memenuhi kebutuhan hidup dari hasil tangkapannya tapi untuk mengkonsentrasikan keterampilan agar memperoleh kesenangan dan kepuasan. 10. Alat penangkap ikan yang aktif dan pasif adalah penggolongan yang sangat sederhana ditinjau dari bagaimana ikan tertangkap. Aktif
58

Pendahuluan

menyatakan bahwa alat penangkap ikan harus mendekati, memburu ikan, sedangkan pasif ikan mendekati, menabrak, terperangkap ke alat penangkap ikan yang diam. 11. Buruh dan Penangkapan Ikan Secara Kolektif; Buruh adalah orang yang mengerjakan pekerjaan penangkapan ikan yang dibayar atau digaji oleh pemilik atau nakhoda kapal sesuai dengan volume pekerjaan yang telah dilaksanakannya. 12. Penangkapan ikan secara kolektif lebih mengarah pada sistem koperasi atau dikenal sekarang dengan istilah pola PIR atau sister. 13. Tenaga Kerja, Mekanisasi dan Otomatisasi; Tenaga kerja di kapal atau dikenal dengan Awak Kapal sama dengan buruh, adalah orang yang dinbayar untuk melaksanakan pekerjaan baik berdasarkan kontrak maupun pekerja tetap. 14. Mekanisasi adalah proses memudahkan pekerjaan manusia dengan menggunakan tenaga mekanik, namun manusia masih berperan dalam pekerjaan sebagai pengontrol. 15. Kepentingan Tenaga Kerja Perikanan Indonesia baik yang bekerja di kapal-kapal domestik maupun kapal asing atau kapal asing yang beerada di negara asing telah dilindungi oleh regulaasi yang dikeluarkan oleh Pemerintah Indonesia, selama regulasi tersebut ditaati. 16. Otomatisasi adalah proses menjauhkan tenaga manusia dari pekerjaannya, dengan kata lain manusia dihindarkan dari bahaya langsung yang diakibatkan oleh peralatan atau pengurangan tenaga manusia untuk meningkatkan margin perusahaan. 17. Teknologi Penangkapan ikan adalah semua cara dalam melaksanakan proses penangkapan ikan dari mulai ikan ditangkap hingga ikan sampai ke konsumen. 18. WPP RI terbagi dalam 11 wilayah pengelolaan penangkapan Ikan.

Pertanyaan
1. Lelaskan apa yang dimasud dengan metode penangkapan ikan?. 2. Jelaskan apa yang dimaksud dengan menangkap ikan ?
Supardi Ardidja-2010 59

Pendahuluan

3. Apakah perbedaannya antara menangkap dan memburu pada perikanan ? 4. Jelaskan apa yang dimaksud dengan perikanan subsisten, berikan contohnya ? 5. Jelaskan apa yang dimaksud dengan perikanan komersil, berikan contohnya ? 6. Jelaskan apa yang dimaksud dengan sport fishing, berikan contohnya ? 7. Jelaskan apa yang dimaksud dengan alat penangkap ikan aktif dan pasif ditinjau dari sudut metode penangkapan ?. 8. Jelaskan apa ide dasar metode penangkapan ikan? 9. Jelaskan apa yang dimaksud dengan buruh, ? 10. Jelaskan apa yang dimaksud dengan penangkapan secara kolektif ? 11. Jelaskan apa yang dimaksud dengan teknologi penangkapan ikan ?

Pilihan Ganda
1. Seseorang yang sedang menangkap bebek di danau dengan panah disebut sebagai seorang: A. nelayan B. pemburu C. pemanah D. penangkap ikan 2. Seseorang yang sedang menangkap ikan di danau dengan panah disebut sebagai seorang: A. nelayan B. pemburu C. pemanah D. penangkap ikan

3. Menangkap ikan di laut yang dilakukan oleh perorangan atau kelompok dengan tujuan untuk hiburan dan kesenangan disebut sebagai: A. subsistence B. commercial C. commercial D. sport fishing fishing fishery fishing 4. Alat penangkap ikan yang aktif dan pasif adalah penggolongan yang sangat sederhana ditinjau dari bagaimana alat penangkap ikan tersebut menangkap ikan. Pilih salah satu yang alat penangkap ikan aktif A. Long line B. trolling C. trawl D. gill net

5. Alat penangkap ikan yang aktif dan pasif adalah penggolongan yang sangat sederhana ditinjau dari bagaimana alat penangkap ikan tersebut
60

Pendahuluan

menangkap ikan. Pilih salah satu yang alat penangkap ikan pasif A. Long line B. trolling C. trawl D. gill net

6. Seseorang yang dibayar untuk menangkap ikan dan hasilnya diperuntukkan bagi yang membayar , pilih satu yang bukan termasuk sebagai buruh A. Awak Kapal B. ABK C. Pemilik D. Nakhoda

7. Tenaga Kerja, Mekanisasi dan Otomatisasi; Tenaga kerja di kapal atau dikenal dengan Awak Kapal adalah orang yang dibayar untuk melaksanakan pekerjaan baik berdasarkan kontrak maupun pekerja tetap atau A. Pelayar B. Buruh C. Pemilik D. Nakhoda

8. Penangkapan ikan secara kolektif lebih mengarah pada sistem koperasi atau dikenal sekarang dengan istilah C. Perikanan D. Kelompok etalase 9. Otomatisasi adalah proses ………….. tenaga manusia dari pekerjaannya, dengan kata lain manusia dihindarkan dari bahaya langsung yang diakibatkan oleh peralatan atau pengurangan tenaga manusia untuk meningkatkan margin perusahaan A. menjauhkan B. mendekatka n C. mekanisasi D. menyenangka n A. Bagi hasil B. PIR

10. Mekanisasi adalah proses ……………pekerjaan manusia dengan menggunakan tenaga mekanik, namun manusia masih berperan dalam pekerjaan sebagai pengontrol. A. menjauhkan B. mendekatkan C. memudahkan D. menyulitkan

Tugas
Buatlah paper berdasarkan studi berbagai literatur dan data statistik Perikanan Indonesia atau hasil pengamatan langsung dari pelabuhan pendaratan ikan terdekat, tentang alat penangkap ikan apakah
Supardi Ardidja-2010 61

Pendahuluan

yang dapat digolongkan kepada alat penangkap ikan yang menangkap ikan seekor demi seekor, sekaligus banyak, dan yang dikumpulkan sedikit demi sedikit.

DAFTAR PUSTAKA
Ayodhyoa, A.U., Metoda Penangkapan Ikan, Yayasan Dewi Sri, Bogor, 1974 B.C. Ministry Of Environment, Fish Collection Methods And Standards, Digital Version 4.0, ISBN 0-7726-3241-3, Published By The Resources Inventory Committee, Province Of British Columbia,1997 Ben Yami M., Tuna Fishing with Pole and Line, FAO, Fishing New’s book Ltd., Farnham, Surrey, England, 1980. Ben Yami, M., Purse Seining Manual FAO Fishing Manual; published by Fishing News Books Ltd; UK Handlining and Squid Jigging FAO Training Ser. 23 (in English, French and Spanish) , 1994. Ben-Yami, M. 1989. Fishing with Light (An FAO Fishing Manual). Blackwell Science Ltd., Oxford. 132pp. Beverly, Steve., Lindsay Chapman And William Sokimi, Horizontal Longline Fishing Methods And Techniques, A Manual For Fishermen, Secretariat Of The Pacific Community, ISBN 982-203-937-9, Noumea, Multipress, Noumea, New Caledonia, (Pdf), 2003. Bjarnason, B. A., Handlining and squid jigging, FAO TRAINING SERIES No. 23, ISBN 92-5103100-2, Food and Agriculture Organization of the United Nations, Rome, 1992 Bjordal, Å. and Løkkeborg, S. 1996. Longlining. Fishing News Books, Blackwell Science Ltd., Oxford. 156 pp. Brand, A Vont, Fishing Gear Methods, Food And Agriculture Organization Of The United Nations, Rome, 1985 Brand, A. Vont, Fish Catching Methods of The World, Fishing News Books Ltd., Farnham, Surrey, England, 1984. Carpenter, Kent E., The Living Marine Resources Of The Western Central Pacific, Volume 4, Bony Fishes Part 2 (Mugilidae to Carangidae), Food And Agriculture Organization Of The United Nations, Rome, 1999. Cowx, I.G. and Lamarque, P. (eds.). 1990. Fishing with Electricity (Applications in freshwater fisheries management). Blackwell Science Ltd., Oxford. 272 pp. FAO Fish Tech. Pap. 222 Rev.1 FAO catalogue of fishing gear design (multi-lingual). FAO Fisheries Technical Paper 339. FAO, Rome. 233pp. FAO Fishing Manual; Published by Fishing News Books Ltd; UK Small-Scale Fishing with Driftnets. FAO Fish. Tech. 284 (in English, French and Spanish) FAO, Fishing gears and methods Related documents Definition and Classification of Fishing Gear Categories (multi-lingual). FAO, Fishing News Books Ltd; UK FAO catalogue of small scale fishing gear; 2nd edition (multi-lingual). Fishing News Books Ltd; UK Fish Catching Methods of the World (Third edition; 1984). FAO, Fishing with Bottom Gillnets FAO Training Ser. 3 (in English, French and Spanish) Purse Seining with Small Boats FAO Training Ser. 13 (in English, French and Spanish) FAO, Longline Fishing FAO Training Ser. 22 (in English, French and Spanish) Trials and developments in fishing with handlines carried out by FAO during 1977-89. Fisheries Circular No. 830 (in English)

62

Pendahuluan
FAO, Species Fact Sheets, FIGIS on line, 2010. FAO, Tata Laksana untuk Perikanan yang Bertanggung Jawab, Departemen Pertanian Republik Indonesia, Rome, 1995. Flewwelling, P., An Introduction To Monitoring, Control And Surveillance Systems For Capture Fisheries, ISBN 92-5-103584-9, Food and Agriculture Organization of the United Nations Rome, 1994. Fyson, J., Design of Small Fishing vessels, FAO Fishing News Books, England, 1985 Gabriel, O. Andreas Von Brandt (ed.). (in prep.). Fish Catching Methods of the World. (Fourth Edition). Blackwell Science Ltd., Oxford. ISBN 13: 978-058238-280-6, 2005. Galbraith, R.D. and A Rice, An Introduction to Commercial Fishing Gear and Methods Used in Scotland, Fisheries Research Services, E S Strange FRS Marine Laboratory, Scottish Fisheries Information, No. 25 2004, ISSN: 0309 9105 , Aberdeen, 2004 Garry L. Preston, Paul D. Mead, Lindsay B. Chapman & Pale Taumaia, Deep-Bottom Fishing Techniques For The Pacific Islands, A Manual For Fishermen, AUSAID, Secretariat Of The Pacific Community, Australian Agency For, International Development, 1999. Hardy , R. And J. G. M. Smith, Catching And Processing Scallops And Queens, Ministry Of Agriculture, Fisheries And Food Torry Research Station, Torry Advisory Note No. 46, FAO In Partnership With Support Unit For International Fisheries And Aquatic Research, Sifar, 2001 Illustration of Japanese Fisihing Vessels. ISSCFG Classification, FAO-Fish.Tech.Pap.222, p Keputusan Menteri Kelautan Dan Perikanan Republik Indonesia Nomor Kep. 50/Men/2008 Tentang Produktivitas Kapal Penangkap Ikan Keputusan Menteri Keuangan Republik Indonesia Nomor 316/Kmk.06/2001 Tanggal 21 Mei 2001 Tentang Tatacara Pengenaan Dan Penyetoran Pungutan Perikanan Mcgrath, C.J, Eifac Consultation On Eel Fishing Gear And Techniques, Food And Agriculture Organization Of The United Nations, Rome, 1971 Mulyanto, Definisi dan Klasifikasi Bentuk Kapal Perikanan, terjemahan dari Definition and Classification of Fishery Vessel types, FAO Fisheries Technical Paper 267, 1985. 1986. Nedelec C., Definisi Dan Penggolongan Alat Penangkap Ikan, Disesuaikan dan Dilengkapi Untuk Keadaan Indonesia oleh Fauzi, Zarochman dan Nasruddin Siregar, Balai Pengembangan Penangkapan Ikan Semarang, Food And Agriculture Organization Of The United Nations, Semarang, 1989. Nédélec, C. and Prado, J. (eds.). 1989. FAO Catalogue of Small Scale Fishing Gear. Blackwell Science Ltd., Oxford. 224pp. Nédélec, C. and Prado, J. 1990. Definition and classification of fishing gear categories. FAO Fisheries Technical Paper 222. Revision 1. FAO, Rome. 92pp. Nomura, M. (1981). Fishing Techniques (2). Japan International Cooperation Agency, Tokyo. 183 pp. Nomura, M. And T. Yamazaki, Fishing Techniques, Vol. 1, Textbooks of SEAFDEC, Japan International Cooperation Agency, Tokyo., 1975. Nomura, M., and T. YAMAZAKI, (1977). Fishing Techniques (1). Japan International Cooperation Agency, Tokyo. 206 pp. Peraturan Menteri Kelautan Dan Perikanan Nomor: Per. 06/Men/2005 Tentang Penggantian Bentuk Dan Format Perizinan Usaha Penangkapan Ikan, 2005

Supardi Ardidja-2010

63

Pendahuluan
Peraturan Menteri Kelautan Dan Perikanan Republik Indonesia Nomor Per.12/Men/2009 Tentang Perubahan Atas Peraturan Menteri Kelautan Dan Perikanan Nomor Per.05/Men/2008 Tentang Usaha Perikanan Tangkap, 2009 Peraturan Menteri Kelautan Dan Perikanan Republik Indonesia Nomor Per.08/Men/2008 Tentang Penggunaan Alat Penangkapan Ikan Jaring Insang (Gill Net) Di Zona Ekonomi Eksklusif Indonesia, 2008 Peraturan Menteri Kelautan Dan Perikanan Republik Indonesia Nomor Per. 05/Men/2007 Tentang Penyelenggaraan Sistem Pemantauan Kapal Perikanan, 2007 Peraturan Menteri Kelautan Dan Perikanan Republik Indonesia Nomor Per.06/Men/2008 Tentang Penggunaan Alat Penangkapan Ikan Pukat Hela Di Perairan Kalimantan Timur Bagian Utara , 2008 Peraturan Menteri Kelautan Dan Perikanan Republik Indonesia Nomor Per.09/Men/2008 Tentang Penyelenggaraan Pendidikan Dan Pelatihan Di Lingkungan Departemen Kelautan Dan Perikanan Peraturan Menteri Kelautan Dan Perikanan Republik Indonesia Nomor Per.03/Men/2009 Tentang Penangkapan Ikan Dan/Atau Pengangkutan Ikan Di Laut Lepas Peraturan Menteri Kelautan Dan Perikanan Republik Indonesia Nomor Per.11/Men/2009 Tentang Penggunaan Pukat Ikan (Fish Net) Di Zona Ekonomi Eksklusif Indonesia Peraturan Menteri Kelautan Dan Perikanan Republik Indonesia Nomor Per.12/Men/2009 Tentang Perubahan Atas Peraturan Menteri Kelautan Dan Perikanan Nomor Per.05/Men/2008 Tentang Usaha Perikanan Tangkap Peraturan Menteri Kelautan Dan Perikanan Republik Indonesia Nomor Per.02/Men/2009 Tentang Tata Cara Penetapan Kawasan Konservasi Perairan Menteri Kelautan Peraturan Menteri Kelautan Dan Perikanan. Nomor: Per.15/Men/2005, Tentang, Penangkapan Ikan Dan/Atau Pembudidayaan Ikan Di Wilayah Pengelolaan Perikanan Republik Indonesia Yang Bukan Untuk Tujuan Komersial, Menteri Kelautan Dan Perikanan, Jakarta, 31 Oktober 2005. Peraturan Menteri Perhubungan Nomor KM 9 2005 Tentang Pendidikan dan Pelatihan Serta Sertifikasi Pelaut Kapal Penangkap Ikan, 2005. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 7 Tahun 2000 Tentang Kepelautan, 2000 Potter, E.E.E and M.G. Pawson, Gill Netting, Laboratory leaflet No. 69, Ministry Of Agriculture, Fisheries And FoodDirectorate Fisheries Research, Lowestoft, 1991. Prado, J. FAO Definition and classification of fishing gear categories. Fishery Industries Division, 1990. Preston, G.L. et all, Trolling Techniques For The Pacific Islands, A Manual For Fishermen, The Commonwealth Foundation, FAO/UNDP, South Pacific Regional Fisheries Development Programme, United States Agency For International Development, New Caledonia,1987 Preston, Garry Leonard, at all, Trolling techniques for The Pacific Islands, A Manual For Fishermen, South Pacific Commission Noumea, New Caledonia, 1987. Preston, Garry Leonard, at all, Vertical Longlining and other Methods of Fishing around Fish Aggregating Devices (FADs), A Manual For Fishermen, Secretariat of the Pacific Community, New Caledonia, 1998. Sainsbury, J.C., Commercial Fishing Methods. Fishing News (Books), London. 119 pp. 1971. Sainsbury, J.C.. Commercial Fishing Methods (an introduction to vessel and gear). Blackwell Science Ltd., Oxford. 1996. Schaefer, Kurt M., Vertical Movement Patterns of Skipjack Tuna (Katsuwonus Pelamis) in The Eastern Equatorial Pacific Ocean, as Revealed with Archival Tags, NOAA, Fish. Bull. 105:379–389 ,2007.

64

Pendahuluan
Scharfe, J. (ed.)., FAO Catalogue of Fishing Gear Designs. Blackwell Science Ltd., Oxford. 1989. Sea Grant Sea Grant, Known Your Net, Identifying & Avoiding Commercial Fishing Nets, education, research, outreach, on line, http://www.miseagrant.umich.edu/nets/ largegill.html, Michigan, 2007. Sokimi, William and Lindsay Chapman, Technical Assistance to The Republic of Nauru to Provide Training in Mid-Water Fishing Techniques that can be Used in Association with Fish Aggregating Devices (Fads), Field Report No. 16, Secretariat of the Pacific Community, Noumea, New Caledonia, 2002. Uktolseja JCB, B Gafa, R Purwasasmita, B Iskandar, Sumberdaya Ikan Pelagis Besar: Potensi dan Penyebaran Sumberdaya Ikan Laut di Perairan Indonesia. Jakarta: Departemen Pertanian. 1997 Undang-Undang Republik Indonesia , Nomor 9 Tahun 1985 , Tentang Perikanan Watt , Robert B., Modern Purse Seine Fishing with Winch and Sonar, Technical Report No.288, SEA FISH Industri Autority, SFDP, July 1986. Welcomme, R.L., River Fisheries- The Fishery, Fao Fishery Resources And Environment Division, M-42 Isbn 92-5-102299-2 (PDF), Food And Agriculture Organization Of The United Nations, Rome, 1985. Whitehead, Peter J.P., FAO Fisheries Synopsis No. 125, Volume 7, Part 1, food and agriculture organization of the united nations, united nations development programme, Rome, 1985. Wiadnya, D.G.R et all,. Kajian Kebijakan Pengelolaan Perikanan Tangkap Di Indonesia: Menuju Pembentukan Kawasan Perlindungan Laut (on pdf), suatu studi literatur. www.coraltrianglecenter.org. 2004.

Supardi Ardidja-2010

65

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful