P. 1
Pernahkan anda bertanya mengapa ikan tuna ditangkap dengan long line

Pernahkan anda bertanya mengapa ikan tuna ditangkap dengan long line

|Views: 2,593|Likes:
Published by supardi_ardidja
Bab pendahuluan dalam buku metode penangkapan ikan yang sedang diedit dan dipesan untuk dicetak oleh STP Press, berisi penjelasan bagaimana memahami metode penangkapan ikan.
Bab pendahuluan dalam buku metode penangkapan ikan yang sedang diedit dan dipesan untuk dicetak oleh STP Press, berisi penjelasan bagaimana memahami metode penangkapan ikan.

More info:

Published by: supardi_ardidja on Sep 11, 2010
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

05/04/2013

pdf

text

original

Sections

Pendahuluan

Supardi Ardidja-2010

1

Pernahkan anda
bertanya mengapa
ikan tuna ditangkap
dengan long line

Oleh:

Supardi Ardidja

2010

Pendahuluan

2

Apa itu
Metode Penangkapan Ikan

Kebutuhan dunia akan ikan dari tahun ke tahun semakin meningkat
sebanding dengan tingkat pertumbuhan manusia, karena ikan mengandung
protein hewani yang tidak mengandung kolesterol dan tidak ada
substitusinya. Terdorong oleh fenomena ini, kita berusaha sebanyak
mungkin menyediakan kebutuhan ikan untuk konsumsi. Dewasa ini orang
membutuhkan ikan bukan saja untuk mengenyangkan perut atau
memenuhi kebutuhan tubuh akan protein, tapi bagi yang hidupnya mapan
mereka lebih mementingkan selera.
Tentang selera inilah yang terkadang membuat masalah, misalnya
ada orang yang senang dengan semangkok sop tulang sirip ikan hiu. Bagi
yang memikirkan tentang kelangsungan rantai makanan biota laut, untuk
semangkok sop sirip hiu akan membutuhkan berapa ekor ikan hiu?.
Mungkin jika ditawarkan seporsi kepiting goreng saos tomat, pasti dari
setumpukan kepiting tersebut, yang pertama kita lirik dan cari adalah
kepiting yang ada telurnya, gurih dan lezat memang. Tapi kita jarang
berpikir kalau indukan kepiting yang bertelur ditangkap, akan masih adakah
kepiting bertelur berikutnya?. Kalau hiu kebanyakan tertangkap, mahluk
laut apa lagi yang akan menggantikannya sebagai predator tertinggi pada
siklus rantai makanan?.

Menangkap ikan tampaknya hanya merupakan hal yang sepele,
tidak memerlukan pendidikan tinggi, tidak memerlukan otak yang cerdas,
asal mau ke laut, buktinya tak sekolahpun para nelayan dapat menangkap
ikan. Memang betul, tapi mengapa ada perguruan tinggi yang memiliki
program studi menangkap ikan hingga mahasiswanya mampu mencapai
tingkat doctoral. Mengapa pula seusainya perang dunia II USSR bersusah
payah memboyong AL Fridman yang Yahudi untuk diangkat menjadi Kepala
Bidang Riset Perikanan. Tentunya para founder kita dahulu, sudah
memikirkan secara mendalam bahwa untuk menangkap ikan tidak hanya
cukup dengan kuat di laut, berani menempuh badai menerjang ombak, tapi
juga harus tahu ikannya ada di mana. Tidak hanya cukup mendengarkan
desirnya gerakan ikan dengan gagang dayung, tidak hanya cukup dengan
melihat kemilaunya air laut ditengah malam atau tukikan camar di
permukaan laut. Oleh sebab ketidakcukupan inilah, hingga para nelayan

Pendahuluan

Supardi Ardidja-2010

3

perlu pula belajar banyak, terutama tentang bagaimana menangkap ikan
dengan mudah, berbiaya murah, hasilnya meriah, kapal mendarat cukong
dan isteri senyum semringah.

Mahluk laut yang akan ditangkap adalah mahluk hidup, tentunya
perlu sekali belajar kehidupan ikan (biologi perikanan). Sisi kehidupan ikan
yang mana yang perlu kita pelajari?. Tentunya adalah sisi-sisi kehidupan
ikan yang memudahkan dalam menangkap ikan. Apakah hanya biologi
perikanan saja yang patut kita pelajari, jelas tidak!. Banyak sekali ilmu-ilmu
dasar yang diperlukan untuk kita belajar menangkap ikan dengan mudah.
Contoh sederhana adalah seorang Ahli mesin harus mempelajari perilaku
air yang mengalir di dalam pipa yang statis, akan tetapi seorang nelayan
harus mempelajari perilaku pipa yang bergerak di dalam air yang juga
mengalir dinamis. bagaimana Pertanyaannya dari sekian banyak ilmu yang
dipelajari. Lalu bagaimanakah kita membaurkan sekian banyak ilmu dasar
hingga menjadi sebuah kompetensi menangkap ikan yang handal. dalam
metode penangkap ikan inilah kita akan tahu untuk apa mempelajari
sedemikian banyak ilmu atau ilmu apakah yang harus kita pelajari, dari

mulai berangan hendak menangkap ikan hingga ikan bisa “dinikmati”.

Metode penangkapan ikan bertujuan untuk mengambangkan pola
pikir dan perilaku dalam memecahkan masalah baik teknik maupun sosial
yang berkaitan dengan problematika menangkap ikan, serta membangun
keyakinan yang kuat dalam upaya menangkap ikan.
Menangkap ikan yang tidak didasari oleh pengetahuan tentang
bagaimana ikan tertangkap adalah pekerjaan yang sia-sia. Sebelum
mempelajari metode Penangkapan Ikan terlebih dahulu harus memahami
tentang ikan apa yang akan ditangkap, ikannya ada dimana, sifatnya
bagaimana, serta densitas dalam kelompok/ukuran individu. Ikan adalah
mahluk hidup, tentunya basis dari keempat hal tersebut di atas adalah
Biologi Perikanan. Pertanyaan berikutnya adalah apa yang harus dipelajari
dalam biologi perikanan?. Jawabannya sederhana saja dan pula tidak
banyak yang harus dipelajari, yaitu: hanyalah hal-hal yang terdapat dalam
ilmu biologi perikanan yang dapat membantu mempermudah menangkap
ikan.

Terkait dengan makin meningkatnya kebutuhan manusia tentang
ikan, berdampak pada upaya peningkatan efektifitas dan efisiensi
penangkapan ikan. Upaya menangkap ikan tertentu dengan satu alat
penangkap ikan tidak cukup dengan satu metoda penangkapan ikan saja,
tapi menggabungkan sejumlah metoda penangkapan ikan yang telah
dikenal.

Pendahuluan

4

Upaya meningkatkan jumlah hasil tangkapan, mungkin tidak akan
diperoleh di perairan pantai yang dangkal tapi harus pula merambah ke
samudera yang luas dan ganas, dari permukaan laut hingga ke kedalaman
ratusan meter di bawah permukaan laut. Jumlah hasil tangkapan diperoleh
dengan cara menambah jumlah dan memperbesar alat penangkap ikan
serta memperbesar ukuran kapal. Selain itu diperlukan pula mekanisasi,
otomatisasi dan bahkan mungkin komputerisasi di bidang perikanan, yang
mana kesemuanya itu didasarkan pada metoda penangkapan ikan.
Sebelum menjawab pertanyaan apa itu metode penangkapan ikan.
Telebih dahulu harus dapat membedakan antara metode penangkapan ikan
dan cara menangkap ikan. Misalnya akan menyimpan saputangan. Dua

kata “menyimpan saputangan” ini mengandung bahwa saputangan dapat

disimpan dimana saja, maka dikatakan bahwa dua kata tersebut diatas
adalah sebuah metode yang disebut metode menyimpan saputangan.
Silahkan praktekan dengan benar menyimpan saputangan dengan tangan
kanan di saku celana sebelah kanan. Kemudian praktekkan pula dengan
benar menyimpan saputangan dengan tangan kanan di saku celana sebelah
kiri. Tentunya keduanya dilakukan secara berbeda, walaupun
saputangannya sama, celananya yang sama dan tangannya pun sama.
Dengan kata lain, bahwa kedua perlakuan di atas dikerjakan dengan cara
yang berbeda. Kesimpulannya adalah satu metode dapat dilakukan dengan
berbagai cara.

Selain itu harus pula mengenal tiga pengelompokkan bagaimana
ikan ditangkap (akan dijelaskan lebih lanjut), yaitu: ikan yang dapat
ditangkap sekor demi seekor, ikan yang dapat ditangkap sekaligus banyak
dan ikan yang hanya dapat ditangkap dengan dikumpulkan sedikit demi
sedikit.

Mari kita perhatikan alur pikir pada gambar 1 mengapa kita harus
mempelajari metode penangkapan ikan. Berawal dari permintaan
(demand), bisa berdasarkan permintaan konsumen, bisa berdasarkan
permintaan pribadi dan bisa pula berdasarkan permintaan pasar. Mungkin
saja mulai pasar di Senggigi hingga pasar di Tokyo. Katakanlah permintaan
ikan yang harus ditangkap tersebut berasal dari konsumen. Ikan yang
diminta adalah sasimi ikan tuna. Kita membuat sejumlah pertanyaan
berdasarkan alur pikir seperti tampak dalam gambar. Pertanyaan tersebut
adalah sebagai berikut (Alih-alih kita akan menangkap ikan).
1. Ikan apa yang cocok untuk sasimi dan akan kita tangkap: big eye tuna,
Thunnus obesus;

Pendahuluan

Supardi Ardidja-2010

5

2. Ikan tersebut adanya dimana: “Highly migratory” bisa berada di mana
saja, antara Samudra Atlantik, Hindia, dan Pasific; pada 25° N - 55° S,
dan 80° E - 150° E (FAO Area). Pada Bulan Maret 2010, sebagian kecil
tuna ini berada dekat dengan Indonesia, di sebelah utara Sabang
(gambar 2., 2 titik putih dalam lingkaran merah). Peta ini dapat
diunduh dari http://species-identification.org/species.php?species_group=fnam&
menuentry =soorten&id=1936& tab= map (jangan lupa peta diupdate dulu).
3. Sifatnya bagaimana: Biologi perikanan memberikan informasi bahwa
blue fin tuna adalah termasuk spesies ikan perenang cepat, predator
yang efisien, termasuk pemangsa berbagai jenis ikan pelagis kecil,
crustacea, cumi-cumi (cephalopods). Memangsa sepanjang malam dan
siang hari, Big eye tuna dapat hidup dari mulai lapisan epipelagic
hingga mesopelagic hingga kedalaman 1.000 meter (gambar 3).
Namun, umumnya berada pada kedalaman 0 hingga 300meter, di
lapisan mana terdapat limpahan makanannya.
1. Kepadatan dalam kelompok/ukuran individu; seperti informasi yang
kita peroleh diatas bahwa tuna ini memang hidup berkelompok, namun
tingkat kepadatannya moderat, berukuran besar (Pelagis besar),
dengan ukuran individu, panjang sekitar 2,5 m dengan berat sekitar 210
kg.

TEKNOLOGI

BIOLOGI

METODE
PENANGKAPAN
IKAN

Ikan apa ?

Adanya dimana?

Sifatnya bagaimana?

Kepadatan dalam
kelompok/ukuran
individu

Kapal

SDM

Alat Penangkap Ikan

Teknik Penangkapan
Ikan

Penanganan Hasil di
atas kapal

Regulasi

KONSUMEN

Gambar 1 Alur pikir mengapa kita harus mempelajari metode penangkapan ikan (belum
termasuk Code of Conduct for Responsible Fishery dan Ekosistem, terletak
dibawah regulasi).

Pendahuluan

6

Gambar 2 Peta sebaran big eye tuna sumber: Map retrieved from OBIS on 09-03-2010.
Update map.

Gambar 3 Sebaran tuna berdasarkan kedalaman perairan, diedit dari
http://www.fao.org/fishery/topic/16082/en#Distribution

Berdasarkan informasi biologi yang kita peroleh, maka kita akan
mencoba menentukan metode penangkapan ikan apa yang akan kita
gunakan, dengan mempertimbangkan dua hal penting sebagai berikut:
1. Kelompok tuna ini dapat ditangkap sekaligus banyak dan juga dapat
ditangkap seekor demi seekor.
a. Jika akan ditangkap sekaligus banyak dengan mengurung arah
renangnya (horisontal) dan mengurungnya dari bawah (vertikal).
Masalahnya adalah bahwa ikan tersebut, berada pada kedalaman
0–1.000 meter di bawah permukaan laut. Dengan kata lain, jika
ikan selalu di lapisan epipelagic (0 – 50m) maka metode menangkap
ikan dengan mengurung dapat dilakukan. Alat yang akan
digunakan adalah purse seine.
b. Jika ikan berada di kedalaman laut lebih dari 100 meter, maka ikan
hanya dapat ditangkap seekor demi seekor, dan metode

Pendahuluan

Supardi Ardidja-2010

7

penangkapan ikan yang akan digunakan adalah tali dan pancing
(line and hook). Salah satu alat penangkap ikannya adalah Rawai
Tuna.
2. Cuaca berdasarkan data rata-rata kecepatan angin adalah 5 – 15
m/det. Atau 9,7 – 29,7 knot) (grafik pada gambar 8.). Rata-rata
ketinggian ombak berkisar antara 0 – 3 meter. (gambar 4).
(pengetahuan tentang kecepatan angin dan ketinggian gelombang
dapat dipelajari dalam Cuaca dan Iklim (weather and climate). Arah
angin dapat dilihat dari arah simbol panah dari peta tersebut. Kondisi
ini berbahaya bagi pengoperasian purse seine. Namun masih aman
untuk mengoperasikan long line. Asalkan kapal long line yang
digunakan memenuhi syarat “Ocean going” (istilah “Ocean going” ini
dapat dipelajari dalam Bangunan Kapal dan Stabilitas Kapal
Penangkap Ikan
, sedangkan pengaruh arah dan kecepatan angin
terhadap kapal penangkap ikan dan terhadap pengoperasian alat
penangkap ikan dapat dipelajari dalam Teknik Penangkapan Ikan dan
Pengendalian Kapal Penangkap Ikan).
Berdasarkan dua pertimbangan di atas maka kita sebaiknya
memilih metode Tali dan Pancing. Yakni tuna ditangkap seekor demi
seekor. (silahkan dibaca pada bab yang membahas tentang metode tali dan
pancing) di buku ini.

Permasalah berikutnya adalah apakah kita telah memiliki kapal long
line atau kita harus membuat kapalnya. Jika belum memiliki kapal maka
perlu membuat suatu rencana pembangunan kapal penangkap ikan:
(silahkan baca Perencanaan Kapal Penangkap Ikan dalam Kapal Penangkap
Ikan; Ardidja, 2010).

Setelah kita menentukan metode penangkapan ikan dalam hal ini
adalah tali dan pancing, langkah berikutnya adalah memikirkan sarana dan
teknologi seperti apa yang dibutuhkan untuk melaksanakan metode tali dan
pancing ini. Gambar 1 pada bagian Teknologi terdapat masalah kapal, SDM,
alat penangkap Ikan, Teknik Penangkapan Ikan, Penanganan Hasil Tangkap
dan yang terakhir adalah regulasi. Kemudian kembali lagi ke konsumen
dalam bentuk hasil tangkapan. Keenam permasalahan di atas saling terkait
satu sama lain. Mari kita cermati satu persatu:

Pendahuluan

8

Gambar 4 Peta cuaca untuk wilayah perairan Samudra Hindia Maret 2010;
http://www.oceanweather.com/data/

1) Kapal.

Menangkap ikan di laut tentunya memerlukan kapal karena jarak yang
jauh dan waktu operasi yang tidak sebentar. Masalah pertama yang
harus kita pikirkan adalah kapal yang akan digunakan seperti apa.

Pertama. Di atas telah disebutkan bahwa kapal harus “ocean going”,

dalam arti bahwa kapal harus mampu menghadapi berbagai kondisi
cuaca berat di samudra. Kapal harus memiliki stabilitas awal (initial
stability) yang baik. Bentuk kapal harus mampu mengurangi masalah
“down flooding” yang diakibatkan tingginya gelombang, proses

penanganan hasil. Kapal long line memerlukan ruang kerja yang luas di
bagian depan. Karena Indonesia umumnya mengikuti tipe kapal long
line jepang, yang melakukan setting dari buritan dan hauling di haluan.
Proses operasi long line secara umum terdiri dari tiga tahapan, yaitu:
Setting, drifting, hauling dan penanganan hasil (pelajari Teknik
Penangkapan Ikan) Tahapan setting dan hauling memerlukan ruang
kerja yang cukup, terutama pada saat pelaksanaan tahapan hauling.

Pendahuluan

Supardi Ardidja-2010

9

Gambar 5 Peta arah dan kecepatan arus wiliayah ekuator kawasan perairan Samudra
Hindia bulan Januari 2010; Sumber Ocean Motion Surface Current; (aslinya
berwarna), sumber: http://oceanmotion.org/html/resources/oscar.htm

Pendahuluan

10

Gambar 6 Peta arus permukaan dunia (Wind Driven Surface Currents: Gyres
Background); Sumber; http://oceanmotion.org/html/
background/wind-driven-surface.htm

Gambar 7 Ocean surface wind;

Sumberhttp://oceanmotion.org/html/resources/winds.htm

Pendahuluan

Supardi Ardidja-2010

11

Gambar 8 Rata-rata kecepatan angin pada bulan Maret 1999 s/d 2008; Sumber :

http://oceanmotion.org/html/resources/winds.htm?sseyear=
2008&ssemon=MAR&sseparam=Wind+Vectors&sseframes=10&ssedata=Graph

Ruang kerja ini diperlukan dalam pelaksanaan tahapan hauling dan
penanganan hasil.
Kedua. Jarak jelajah yang jauh memerlukan ruang akomodasi, palkah
penyimpanan persediaan bahan bakar, pelumas, air tawar dan
perbekalan lainnya yang cukup termasuk palkah penyimpanan hasil
tangkap. Ruang akomodasi harus dapat memberikan kenyamanan bagi
awak kapal, agar awak kapal tidak merasa jauh dari rumah.
Perlengkapan kapal (misalnya, perlengkapan penentuan posisi kapal,
komunikasi, perlengkapan keselamatan, perlengkapan operasioanl
penangkapan ikan dan perlengkapan-perlengkapan lainnya harus pula
memenuhi syarat yang ditetapkan oleh aturan keselamatan kapal, baik
nasional maupun internasional, termasuk surat-surat kapal. Kapal
harus dapat menyediakan air tawar dalam jumlah yang cukup untuk
semua keperluan baik untuk semua orang yang ada di kapal dan
kapalnya itu sendiri. Palkah hasil tangkap, jumlah dan kapasitas yang
cukup sesuai dengan sistem penyimpanan ikan yang diperlukan.
Kemungkinan fishing ground terletak di wilayah zona ekonomi ekslusif
negara lain, maka diperlukan perijinan-perijinan negara setempat.
Jumlah, tipe dan kapasitas perlengkapan operasional tergantung dari
sistem long line yang dioperasikan harus dilengkapi baik teknis maupun
administrtatif guna mempermudah dan meringankan kerja serta untuk
mempertahankan mutu ikan hasil tangkapan.
Ketiga. Kapal kayu jika tidak terpaksa, sudah jarang digunakan untuk
membangun kapal penangkap ikan, besi dan fiber glass banyak menjadi
pilihan pengusaha perikanan (kecuali kapal-kapal penangkap ikan
konvensional). Kapal-kapal long line yang terbuat dari kayu yang ada
dan beroperasi di Indonesia, umumnya adalah modifikasi dari kapal-
kapal niaga (kapal interinsuler pengangkut kayu). Tipe kapal-kapal
penangkap sekarang tidak lagi memerlukan palkah penyimpanan ikan
permanen dan palkah persediaan bahan bakar, pelumas dan air tawar

Pendahuluan

12

yang berkapasitas besar, karena hasil tangkapan langsung di tampung
di kapal induk (mother ship), untuk penyimpanan dan proses
penanganan hasil lanjutannya. Sedangkan persediaan jangka panjang
bahan bakar, pelumas dan air tawar dipasok dari kapal pemasok
(supplier ship).
Keempat. Penataan perlengkapan operasi penangkapan ikan, tidak saja
mempertimbangkan efektivitas, juga egronomi, dan keselamatan kerja
keselamatan awak dan alatnya. Pemilihan alat juga harus memilih yang
khusus digunakan di laut (marine use) dan bersertifikat yang diakui oleh
badan-badan otorita keselamatan kapal. Perlengkapan utama pada
long line adalah line hauler dan side roller, Indonesia sudah dapat
memproduksi line hauler tipe sederhana yang dipergunakan untuk
kapal-kapal long line kayu (kapal-kapal yang dimodifikasi dari bekas
kapal purse seine dan kapal pengangkut kayu interinsuler. Upaya
modifikasi ini disebabkan fishing ground ikan-ikan layang semakin jauh
dari fishing base. Semakin marak dengan adanya permintaan tuna
segar). Alat penggulung tali branch line (Branch winder) dan alat
penggulung buoy line tidak merupakan perlengkapan utama sebab
dapat digantikan oleh tenaga manusia untuk menggerjakan
penggulugan branch line dan buoy line. Kedua peralatan yang
disebutkan terakhir ini muncul bersamaan dengan berubahnya sistim
operasi tunggal ke sistem operasi armada, kapal berada di laut hingga
berbulan-bulan mendarat jika akan docking saja. Sehingga diperlukan
peralatan untuk meringankan kerja awak kapal dan efisiensi, dalam
artian kapal dapat mengoperasikan longline dengan jumlah pancing
yang jauh lebih banyak.
Kelima. Tenaga penggerak kapal, listrik dan hidrolik. Beberapa buku
bahkan judul mata kuliah di tingkat akademik, mata ajaran di tingkat
sekolah lanjutan, mengatakan bahwa mesin penggerak kapal adalah
mesin induk atau mesin utama, sedangkan mesin pembangkit listrik
termasuk mesin penggerak dan generator dan permesinan lainnya di
katagorikan dengan mesin bantu atau pesawat bantu. Dewasa ini,
hampir segala sesuatu digerakkan dengan tenaga listrik atau hidrolik,
mulai start mesin induk, pompa-pompa hidrolik, peralatan-peralatan
yang dikontrol secara elektrik hidrolik, peralatan penentuan posisi
kapal, komunikasi, pompa-pompa air tawar dan bahan bakar,
refrigerasi, perlengkapan penangkapan penerangan, pendingin ruangan
dan sirkulasi udara, hingga dapur. Bahkan Eropa melarang
penggunaan minyak bakar dan gas di dapur, dengan alasan kecelakaan
di kapal terutama kebakaran kapal kebanyakan ditimbulkan oleh

Pendahuluan

Supardi Ardidja-2010

13

bahan-bahan yang mudah terbakar termasuk penggunaan gas alam di
dapur. Mungkin saja, sebagian dari peralatan tersebut dapat
digerakkan dengan tenaga pengganti, batere misalnya, namun
demikian batere harus pula diisi ulang menggunakan tenaga listrik. Line
hauler adalah utama, mengapa demikian. Karena alat tersebut
diisediakan untuk menggantikan tenaga manusia. Misalkan saja, kapal
memasang 300 pancing, jarak antar pancing 50 meter, maka total main
line yang harus dihibob adalah sekitar 15 km, kemudian pekerjaan ini
dilakukan hampir setiap hari dan hampir selama proses operasi
penangkapan ikan. Tidak ada tenaga bersumber dari “nasi” yang
sanggup melakukannya. Dengan demikian, line hauler adalah alat
utama yang harus dilengkapi pada sebuah kapal long line. Oleh
karenanya, semua peralatan yang tidak dapat digantikan oleh alat
lainnya atau tenaga manusia tergolong dalam peralatan utama. Bukan
“Alat bantu”, karena alat tersebut memiliki tugas dan fungsinya sendiri-
sendiri baik secara terintegrasi dengan alat lainnya atau berdiri sendiri.
Tujuan efisiensi akan mengabaikan hal-hal yang kurang bermanfaat di
atas kapal. Tanpa listrik kapal seolah-olah “mati”. Bahkan di
pelabuhan atau di dok disediakan electrik harbour, (menggunakan lstrik
dari daratan).
Keenam. Nakhoda adalah pemimpin tertinggi di atas kapal, walaupun
sebagian tugasnya diemban oleh fishing master. Sehingga nakhoda
harus setiap saat, dapat memantau dan mengambil tindakan cepat
penanggulangan, jika terjadi hal-hal yang menyebabkan “ketidak
selamatan” operasi penangkapan dan awak kapalnya. Konsekwensinya
adalah, bahwa penataan bangunan atas (super structure) harus sedapat
mungkin tidak menyebabkan nakhoda terlambat mengambil tindakan.
Jurumudi dan ABK yang mengendalikan line hauler, bertindak saling
mendukung. Dengan kata lain, jurumudi dan pengendali line hauler
memiliki dua hati tapi satu mata, konsekwensinya bahwa jurumudi
harus dapat melihat dengan jelas apa yang dilakukan oleh pengendali
line hauler, juga sekaligus melihat kedudukan juluran main line
terhadap haluan kapal. KM. Madidihang I milik STP, memindahkan
jurumudi ke luar bangunan kamar kemudi menggunakan kontrol jarak
jauh (remote control) untuk mengendalikan haluan dan kecepatan
kapal. Sehingga dengan hanya sedikit tolehan kepala atau isyarat
tangan dari petugas line hauler, juru mudi akan segera tahu dan dengan
segera bertindak apa yang harus dilakukan terhadap haluan dan
kecepatan kapal.

Pendahuluan

14

2) Sumber Daya Manusia
Sumberdaya manusia baik yang bekerja langsung di atas kapal maupun
sebagai tenaga manajemen di darat harus merupakan tenaga kerja
yang memiliki pola pikir dan perilaku profesional serta memiliki
kemampuan manajerial yang memadai. Bagi perwira harus dilengkapi
dengan berbagai sertifikat minimal yang disayaratkan, misalnya
ANKAPIN untuk perwira dek dan ATKAPIN untuk perwira Mesin,
Sertifikat BST (Basic Safety training) dan sertifikiat-sertifikat lain
disesuaikan dengan bidang pekerjaannya. Sertifikat BST adalah wajib
bagi semua orang yang bekerja di atas kapal. Kewajiban memiliki
sertifikat ini adalah ketentuan internasional melalui IMO. Juga, Bagi
semua yang bekerja di kapal harus kuat dan sehat baik fisik maupun
mentalnya. Pihak manajemen harus pula melengkapi mereka dengan
jaminan kesehatan dan jaminan pensiun jika memungkinkan. Lengkapi
mereka dengan perjanjian Kerja Laut yang tidak merugikan kedua
pihak. Bagian penting dari kelangsungan usaha adalah menyediakan
tenaga cadangan dan tenaga pengganti. Oleh karenanya perlu pula
mempelajari Manajemen Usaha Perikanan termasuk didalamnya
perhitungan laba rugi dan prediksi kelangsungan usaha (economic
viability).
Ketrampilan minimal ABK baik dalam bernavigasi (keselamatan kapal)
maupun menangkap ikan telah diatur dalam konvensi internasional
Torremolinos (International Convention on Standards of Training,
Certification and Watchkeeping for Fishing Vessel Personnel (STCW-F),
1995.

3) Alat Penangkap Ikan
Tuna yang akan ditangkap selain berada di samudra, juga hidup pada
lapisan perairan hingga 1000 meter di bawah permukaan air, hidupnya
bekelompok tetapi tidak padat, berukuran besar. Jika berada di lapisan
permukaan hingga 100 meter dapat menggunakan alat penangkap ikan
yang dapat menangkap ikan sekaligus banyak (jika ikannya
mengelompok padat). Jika berada pada kedalaman lebih dari 100
meter, maka alat penangkap ikan yang digunakan adalah alat yang
termasuk dalam kelompok metode penangkapan ikan dengan tali dan
pancing (hook and line), yakni menangkap ikan berukuran besar seekor
demi seekor, dalam hal ini adalah rawai tuna hanyut (drift long line).
Tergantung pada tipe kapal long line yang dimiliki apakah akan

Pendahuluan

Supardi Ardidja-2010

15

menggunakan sistem basket, sistem drum, sistem box, sistem blong
atau sistem otomatis (autoline).
Pada tahun 1970-an awal diperkenalkannya alat penangkap ikan
komersil modern di Indonesia, bahan utama long-line menggunakan
kuralon dari kelompok PVA (Polyvinyl Alkohol) dengan sistem basket.
Dewasa ini penggunaan kuralon sudah ditinggalkan orang karena mahal
dan sulit dicari di pasaran. Penggantinya adalah Nylon monofilament
yang dianyam (braided), walaupun harganya lebih murah dan mudah
didapat dibanding kuralon, namun kekuatannya jauh lebih rendah
dengan usia pakai lebih pendek. Namun demikian, pemilihan tipe long
line yang akan digunakan secara umum sangat tergantung kepada
permodalan usaha, karena setiap tipe long line memiliki perlengkapan
penangkapan yang berbeda, dan sebagian besar masih harus diimport
dari luar negeri. Keterkaitan dengan kapal, maka masing-masing tipe
long line memerlukan penataan ruangan yang berbeda pula, misalnya
tipe box memerlukan kotak penyimanan main line dan mesin penata
tali (Line arranger). Tipe drum (berasal dari Eropa) memerlukan drum
yang selain memerlukan tempat khusus juga penataanntya, karena
berukuran besar terkait erat dengan stabilitas kapal. Baik long line tipe
box maupun tipe drum memerlukan alat pelepas main line serta mesin
pengatur waktu pemasangan branch line (hook master) dan buoy line.
Korea menyenangi mesin pelepas branch line dan umpan, sedangkan
jepang lebih menyukai pelepasannya menggunakan tenaga dan
ketrampilan manusia. Harus pula ada ruang yang digunakan untuk
menyimpan branch line, pelampung, radio bouy, light buoy, dan suku
cadang alat penangkap ikan.
4) Teknik Penangkapan Ikan
Teknik penangkapan ikan merupakan akumulasi berbagai ilmu dan
pengetahuan yang dipelajari di sekolah-sekolah berjurusan
penangkapan ikan. Operasi penangkapan ikan adalah suatu kerja yang
menggabungkan keahlian mengendalikan kapal, keahlian
mengoperasikan alat penangkap ikan, keselamatan, manajemen dan
pertanggungjawaban. Termasuk menghindari segala resiko bahaya baik
untuk kapalnya sendiri atau kapal orang lain (pelajari Peraturan
Internasional untuk mencegah tubrukan di laut International Collision
Regulation). Tujuan yang harus dicapai adalah ikan didapat, kapal dan
orangnya selamat, pulang-pulang perusahaan dan keluarga tersenyum
semringah, sekaligus tidak dicaci maki oleh “Green Peace” atau
digelandang oleh Pengawas Perikanan. Dan perlu diingat pula, bahwa

Pendahuluan

16

beberapa generasi keturunan kita ke depan harus memiliki kesempatan
yang sama untuk menangkap ikan.
Di bagian atas bab ini, telah diuraikan tentang informasi kekuatan dan
arah angin, tinggi gelombang dan kekuatan dan arah arus. Terkait
dengan pengendalian kapal angin akan mendorong bagian atas
bangunan kapal, arus akan menghanyutkan bangunan kapal di bawah
air dan alat penangkap ikannya, (pada kenyataannya jika tidak
bertentangan dengan kedua faktor alam itu maka kapal dan alat
penangkap ikan akan hanyut mengikuti pergerakan air).
Mempertimbangkan Haluan dan kecepatan kapal harus dengan
seksama. Sebagai contoh haluan dan kecepatan tidak menyebabkan
ABK yang melepas branch line terjepit tangannya, main line tidak selalu
bergesekan dengan badan kapal, dan jangan sampai pula terjadi main
line terbelit propeller, jangan menyebabkan main line tegang, apalagi
sampai putus. Saat itu juga juru mudi, terkadang mewakili nakhoda
dalam mengendalikan situasi operasional hauling, tentunya
memerlukan pengeras suara (public addressor) di dekatnya. Teknik
pengoperasian juga, harus mempertimbangkan keselamatan kapal,
tidak mengurangi nilai stabilitas kapal, berkaitan dengan efek
akumulatif dari faktor internal dan eksternal kapal, terutama faktor alat
penangkap ikan yang notabene cenderung menambah kemiringan
kapal.
5) Penanganan Hasil Tangkap
Penanganan hasil yang dimaksudkan disini adalah melulu penanganan
hasil tangkap di atas kapal, selama operasi penangkapan ikan hingga
ikan sampai ke pelabuhan pendaratan untuk proses lanjutan perjalanan
ikan ke tangan konsumen. Hasil yang harus dicapai dalam proses
penanganan hasil ini adalah bahwa, ikan harus tetap segar, bermutu
baik yang memenuhi persyaratan maksimum yang diinginkan oleh
konsumen. Perlu diingat bahwa, persyaratan standar mengandung arti
sesuatu yang harus dipenuhi dan tidak boleh dikurangi. Mestinya
dalam pelaksanaannya harus memberikan lebih dari yang diminta
“standard” sedapat mungkin memperlakukan ikan semaksimal mungkin
sehingga memenuhi selera konsumen, dan akan merasa senang serta
tidak segan-segan membelinya dengan harga tinggi.
Penanganan hasil tangkap yang memenuhi kriteria mutu dan HACCP
(Hazard Analysis and Critical Control Point ). HACCP adalah pendekatan
pencegahan sistematis bahaya keamanan pangan, farmasi dan
keselamatan khususnya pencegahan terjadinya bahaya yang

Pendahuluan

Supardi Ardidja-2010

17

ditimbulkan secara fisik, kimia, dan biologis. Memang benar bahwa
HACCP adalah dikhususkan untuk industri makanan, namun mutu akhir
produk olahan ikan sangat ditentukan oleh mutu hasil tangkapan di
kapal. Oleh karenanya, Eropa memberlakukan peraturan baru yang
diberlakukan tahun 2011 bahwa semua alat dan orang yang menangani
produk ikan dan hasil olahan ikan harus bersertifikat. Tahun 2009 BPPI
Semarang mencoba membahas secara mendalam dalam upaya
memenuhi tuntunan konsumen tersebut. Itulah! Konsumen adalah
raja, absolut, dan susah ditolak.
Prinsip yang harus dijalankan dalam menangani ikan berukuran relatif
besar yang ditangkap seekor demi seekor dengan long line adalah
sebagai berikut:
- Buang segala sesuatu yang menjadi sumber terjadinya proses
dekomposisi faktor internal ikan, misalnya insang, isi perut dan
lendir. Jangan heran bukan saja manusia yang harus sikat gigi dan
mandi tuntas, tuna harus disikat, disemprot dan diakhiri dengan
sapuan lembut spon pengering.
- Hindarkan terjadinya kontaminasi dengan produk apapun yang
dapat menyebabkan kerusakan ikan dan/atau tertularnya bangkai
ikan baik dalam bentuk bakteri maupun racun, misalnya karat pisau
pemotong sirip dan tutup insang akan menyebabkan tetanus.
Limbah hidung dapat menyebarkan bakteri influensa. Sabun hijau
dapat menyebabkan keracunan.
- Hindarkan terkena matahari langsung, sinar matahari akan
mempercepat terjadi proses dekomposisi.
- Upayakan alat dan orang tetap higyenis.
- Tubuh ikan harus utuh tanpa cacat atau gores, hindarkan luka
akibat apapun pada bagian daging ikan.
- Dalam proses pembekuan hindarkan pembekuan cepat.
Pembekuan cepat akan menyebabkan daging terlalu cepat
mengeras hingga terbentuknya rongga-rongga di dalam daging
ikan.

- Ikuti segala petunjuk dan aturan yang diminta oleh konsumen.
- Pelajarilah dengan baik pengetahuan tentang Penanganan Hasil
Tangkap.

Pendahuluan

18

Konsekwensinya adalah bahwa, kapal harus dilengkapi dengan seluruh
perlengkapan penanganan hasil tangkap yang cukup, baik jumlah
maupun kualitasnya, termasuk perlengkapan bongkar muat (loading
and unloading equipment).

6) Regulasi

Kapal penangkap ikan yang berukuran kecil sampai besar adalah suatu
objek yang dikenai berbagai peraturan baik nasional maupun
internasional. Namun semua peraturan tersebut demi kepentingan
keselamatan kapal, awak kapal, usaha dan pelayaran dan
keseimbangan ekologi. Pelajaran mengenai regulasi ini dapat dipelajari
dalam mata kuliah Hukum Maritim dan Peraturan Perikanan. Selain itu
dapat pula dipelajari dalam SOLAS. Berikut ini adalah rangkuman dari
SOLAS yang terkait dengan kapal penangkap ikan:
Konvensi Internasional SOLAS adalah perjanjian/konvensi paling
penting untuk melindungi keselamatan kapal dagang. Versi pertama
diterbitkan pada tahun 1914 sebagai akibat tenggelamnya kapal RMS
Titanic. Dimana diatur mengenai ketentuan tentang jumlah sekoci/rakit
penolong dan perangkat keselamatan lain serta peralatan yang
dibutuhkan dalam prosedur penyelamatan, termasuk ketentuan untuk
melaporkan posisi kapal melalui radio komunikasi.
Dan sejak pertama sekali ditetapkan dilakukan beberapa perubahan/
amandemen 1929, 1948, 1960, dan 1974
Konvensi Internasional SOLAS 1974 diratifikasi oleh Pemerintah
Republik Indonesia pada tanggal 17 Desember 1980 dengan Keputusan
Presiden Nomor 65 Tahun 1980. Kemudian pada tanggal 12 Desember
2002, Konferensi Diplomatik yang dilaksanakan oleh Maritime Safety
Committee dari IMO mengadopsi amandemen Konvensi Internasional
SOLAS yang dikenal dengan sebutan International Ship and Port Facility
Security (ISPS) Code, 2002.
- Pendahuluan
- Prosedur amandemen
- Ketentuan teknis
- Chapter I - Ketentuan umum
- Chapter II-1 - Konstruksi - Pembagian dan stabilitas, permesinan dan
instalasi listrik
- Chapter II-2 - Pelindungan kebakaran, deteksi kebakaran dan
pemadaman kebakaran
- Bab III - Perangkan pertolongan dan pengaturannya

Pendahuluan

Supardi Ardidja-2010

19

- Chapter IV - Komunikasi Radio
- Chapter V - Keselamatan navigasi
- Chapter VI - Muatan barang
- Chapter VII - Muatan barang berbahaya
- Chapter VIII - Kapal Nuklir
- Chapter IX - Managemen keselamatan operasi kapal
- Chapter X - Ketentuan untuk kapal cepat
- Chapter XI-1 - Upaya kusus untuk meningkatkan keselamatan
pelayaran
- Chapter XI-2 - Upaya kusus untuk meningkatkan keamanan
pelayaran
- Chapter XII - Aturan tambahan untuk kapal curah

Pemerintah Indonesia telah mengesahkan konvensi ini melalui
Keputusan Presiden No 65 tahun 1980 Mengesahkan "International
Convention For The Safety Of Life At Sea, 1974", Sebagai Hasil
Koferensi Internasional Tentang Keselamatan Jiwa Di Laut 1974, Yang
Telah ditandatangani oleh delegasi pemerintah Republik Indonesia, Di
London, Pada Tanggal 1 Nopember 1974, Yang Merupakan Pengganti
"International Convention For The Safety Of Life At Sea, 1960", …
International Ship and Port Facility Security, IMO.
International Ship and Port Facility Security (ISPS) Code adalah
Peraturan Internasional mengenai fasilitas keamanan pelabuhan dan
kapal yang merupakan amandemen dari SOLAS Konvensi (1974/1988)
dalam pengaturan keamanan minimum untuk kapal, pelabuhan dan
lembaga pemerintah. Yang diberlakukan mulai tahun tahun 2004,
aturan ini menentukan tanggung jawab kepada pemerintah,
perusahaan perkapalan, awak, dan pelabuhan beserta personilnya
untuk "mendeteksi ancaman keamanan dan mengambil tindakan
pencegahan terhadap insiden keamanan yang berdampak pada kapal
laut atau fasilitas pelabuhan yang digunakan dalam perdagangan
internasional."
Amandemen terakhir adalah pada bulan Juni 2009, yang akan
diberlakukan mulai 1 Januari 2011 dimana Electronic Chart Display and
Information Systems (ECDIS) dan Bridge Navigational Watch Alarm
Systems (BNWAS) akan menjadi wajib (mandatory), yang merupakan
amandemen terhadap Chapter V/19 SOLAS, Keselamatan bernavigasi,
aturan ini akan diberlakukan pada setiap kapal baru dan secara

Pendahuluan

20

bertahap akan diberlakukan juga terhadap kapal yang sudah dibangun
sebelum aturan ini berlaku.
Amandemen terhadap SOLAS lainnya adalah terhadap aturan II-1/3 -5.2
untuk melarang membangun bangunan baru yang terbuat dari asbes
(asbestoss) tanpa pengecualian.

Keselamatan Pelayaran. Keselamatan Pelayaran didefinisikan sebagai
suatu keadaan terpenuhinya persyaratan keselamatan dan keamanan
yang menyangkut angkutan di perairan dan kepelabuhan. Terdapat
banyak penyebab kecelakaan kapal laut; karena tidak diindahkannya
keharusan mengikat semua barang mudah bergerak (lashed), hingga
pada persoalan penempatan barang yang tidak memperhitungkan titik
berat kapal dan lengan penegak yang stabil. Cermati tenggelamnya
kapal milik perusahaan Binama di papua Barat yang menyebabkan
tewasnya sejumlah ABK dan dua orang taruna Akademi Perikanan
Sorong yang sedang melaksanakan praktek akhir (29 Januari 2010).
Terutama dalam operasi penangkapan Ikan. Namun demikian,
Penyebab kecelakaan sebuah kapal tidak dapat disebutkan secara pasti,
melainkan perlu dilakukan pengkajian dari berbagai aspek, teknis,
manusia dan alam. Contohnya apakah kapal sudah laik laut, apakah
peraturan internasional keselamatan pelayaran sudah dipenuhi (SOLAS,
1974 termasuk sejumlah amandemennya).
International Convention for the Prevention of Pollution from Ships,
1973, yang dimodifikasi dalam Protocol 1978 yang terkait (MARPOL)
yang berisi Pencegahan polusi yang diakibatkan oleh minyak,
Pengendalian Pencemaran yang diakibatkan oleh zat cair berbahaya,
Pencegahan pencemaran oleh zat-zat berbahaya dalam bentuk
kemasan, Pencegahan polusi yang diakibatkan oleh limbah dari kapal,
Pencegahan polusi oleh sampah dari kapal, dan pencegahan polusi
udara dari kapal.
Diperkuat oleh Keputusan Presiden No. 46 Tahuan 1986 “Keputusan
Presiden Republik Indonesia Tentang Pengesahan International
Convention For The Prevention Of Pollution From Ships, 1973, beserta
Protokol (The Protocol Of 1978 Relating,To The International
Convention For The Prevention Of Pollution From Ships, 1973).

Konvensi STCW-F 1995 (1995 STCW-F Convention)

Tidak hanya kapal yang terkena regulasi, awak kapal atau siapapun
yang bekerja di atas kapal atau siapapun yang berperan aktif dalam

Pendahuluan

Supardi Ardidja-2010

21

penangkapan ikan terkena peraturan. Selain mengenai keselamatan,
maka STCW-F mengatur tentang kompetensi dan profisiensi, selain
mampu bekerja sesuai dengan tugas dan tanggung jawabnya, juga
harus dibuktikan dengan berbagai sertifikat yang harus dimiliki. Tidak
terkecuali, siapapun yang bekerja di atas kapal harus memiliki sertifikat
Basic Saferty Training (BST). Bahkan bagi instruktur pelatihan wajib
memiliki sertifikat IMO Model Corse 609, sedangkan bagi penguji harus
memiliki sertifikat IMO Model Corse 312. Para awak kapal harus
memiliki minimum ketrampilan dalam menyelamatkan diri, orang lain
dan kapalnya itu sendiri.
Kovensi STCW-F 1995 melengkapi protokol Torremolinos dalam
kerangka pelatihan dan sertifikasi awak kapal penangkap ikan.
Konvensi ini ditujukan terhadap standar pelatihan dan sertifikasi
nakhoda dan petugas jaga pada kapal penangkap ikan dengan panjang
24 meter atau lebih, kepala kamar mesin dan masinis pada kapal
dengan tenaga 750kW atau lebih serta awak kapal yang
bertanggungjawab terhadap komunikasi radio. Demikian juga
mengenai basic safety training (BST) bagi semua awak kapal
(mandatory).
STCW-F 1995 diadopsi 7 Juli 1995 dan akan diberlakukan 1 tahun
setelah diterima oleh 15 negara. Hingga terhitung 2 Oktober 2009 baru
13

negara

yang

meratifikasi

konvensi

tersebut.

(http://www.stp.dkp.go.id).
Alat penangkap ikan juga tidak terkecuali, terkena aturan baik yang
berlaku secara internasional maupun nasional. Peraturan bagi alat
penangkap ikan umumnya terkait dengan menjaga kelestarian biota
dan hewan laut yang dianggap telah mendekati kepunahan, misalnya
paus, penyu laut, lumba-lumba, singa laut, hiu?, dan Southern blue fin
tuna. Ikan-ikan konsumsipun banyak yang sudah dikurangi jumlah
penangkapannya. Misalnya Eropa melarang dilakukan penangkapan
tuna menggunakan purse seine di wilayah perairan eropah. Termasuk
juga pelagic trawl. Bagi negara-negara yang masih mengijinkan
penangkapan ikan dengan trawl dan purse seine, termasuk Indonesia,
melakukan pembatasan ukuran alat penangkap ikan melalui
pembatasan ukuran mata jaring dan wilayah pengelolaan perikanan
Reublik Indonesia (WPP-RI.
Indonesia telah menetapkan melalui Undang-Undang No 31 tahun 2004
tentang Perikanan. Dalam Undang-undang ini mengatur berbagai aspek
dalam pengelolaan, pemanfaatan, pengawaan dan pengadilan usaha

Pendahuluan

22

perikanan. Kenudian diperjelaskan lagi dengan berbagai keputusan
dan peraturan Kementerian Kelautan dan Kementerian Keuangan
(pelajari Hukum Laut dan Peraturan Perikanan).
Kapal penangkap ikan selama beroperasi di Wilayah Pengelolaan
Perikanan Indonesia (Per.01/MEN/2009) Pasal 1.2 Pembagian Wilayah
perairan Indonesia menjadi 11 WPP-RI dan Pasal 2. Khusus untuk
kegiatan penangkapan ikan, penentuan daerah penangkapan dalam
perizinan usaha perikanan tangkap harus sudah disesuaikan dengan
WPP-RI yang ditetapkan dengan Peraturan Menteri ini dalam kurun
waktu paling lambat 3 (tiga) tahun sejak ditetapkannya Peraturan
Menteri ini. Berikut ini sebagian Keputusan dan Peratuan Menteri
Kelautan dan Perikanan Republik Inonesia, yang mengatur lebih lanjut
tentang usaha perikanan:
1. Keputusan Menteri Kelautan Dan Perikanan Republik Indonesia
2. Keputusan Menteri Keuangan Republik Indonesia Nomor
316/Kmk.06/2001 Tanggal 21 Mei 2001 Tentang Tatacara
Pengenaan Dan Penyetoran Pungutan Perikanan
3. Keputusan Menteri Kelautan Dan Perikanan Republik Indonesia
Nomor Kep. 50/Men/2008 Tentang Produktivitas Kapal Penangkap
Ikan

4. Peraturan Menteri Kelautan Dan Perikanan Nomor: Per.
06/Men/2005 Tentang Penggantian Bentuk Dan Format Perizinan
Usaha Penangkapan Ikan
5. Peraturan Menteri Kelautan Dan Perikanan Republik Indonesia
Nomor Per.08/Men/2008
6. Peraturan Menteri Kelautan Dan Perikanan Republik Indonesia
Nomor Per. 05/Men/2007 Tentang Penyelenggaraan Sistem
Pemantauan Kapal Perikanan
7. Peraturan Menteri Kelautan Dan Perikanan Republik Indonesia
Nomor Per.06/Men/2008 Tentang Penggunaan Alat Penangkapan
Ikan Pukat Hela Di Perairan Kalimantan Timur Bagian Utara
8. Peraturan Menteri Kelautan Dan Perikanan Republik Indonesia
Nomor Per.09/Men/2008 Tentang Penyelenggaraan Pendidikan
Dan Pelatihan Di Lingkungan Departemen Kelautan Dan Perikanan

Pendahuluan

Supardi Ardidja-2010

23

9. Peraturan Menteri Kelautan Dan Perikanan Republik Indonesia
Nomor Per.03/Men/2009 Tentang Penangkapan Ikan Dan/Atau
Pengangkutan Ikan Di Laut Lepas
10. Peraturan Menteri Kelautan Dan Perikanan Republik Indonesia
Nomor Per.11/Men/2009 Tentang Penggunaan Pukat Ikan (Fish
Net) Di Zona Ekonomi Eksklusif Indonesia
11. Peraturan Menteri Kelautan Dan Perikanan Republik Indonesia
Nomor Per.12/Men/2009 Tentang Perubahan Atas Peraturan
Menteri Kelautan Dan Perikanan Nomor Per.05/Men/2008 Tentang
Usaha Perikanan Tangkap
12. Peraturan Menteri Kelautan Dan Perikanan Republik Indonesia
Nomor Per.02/Men/2009 Tentang Tata Cara Penetapan Kawasan
Konservasi Perairan Menteri Kelautan
13. Peraturan Menteri Kelautan Dan Perikanan Republik Indonesia
Nomor PER.08/MEN/2008 Tentang Penggunaan Alat Penangkapan
Ikan Jaring Insang (Gill Net) Di Zona Ekonomi Eksklusif Indonesia

Mari kita kembali ke Metode Penangkapan ikan. Bagaimana
perkembangan kebutuhan manusia tentang ikan. Ada pepatah kuno
mengatakan banyak anak banyak rejeki, di satu sisi tidak keliru!?.
Celakanya, pepatah ini berdampak pada para nelayan yang berasal dari
Jawa, semakin banyak ikan ditangkap semakin banyak untung didapat?
(Ingat luh! Jawa itu ada sunda, anda jawa, ada badui hingga samin, ada
barat, tengah hingga timur, tidak salah jika ingin melihat bangsa Indonesia,
cukup melihat Jakarta). Padahal ikan yang banyak, dan tidak segar bahkan
mendekati busuk, hanya untuk ikan asin, bahan terasi, mungkin juga
sebagai bahan tepung pakan ikan (budidaya). Dan yang begitu itu umumnya
hanya untuk makanannya orang gunung. Orang kota? nggak banyak, yang
sedikit, telah kena diakali oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab,
ikan asin yang warnanya bening putih, “catching eyes”, kaku dikemas
dengan kantong plastik elegant, bermerek, harganya selangit (bagi kantong
saya), di pajang di etalase bergengsi, jika tidak hati-hati, padahal!!. Padahal
banyak bahan pengawet yang ramah kesehatan. Banyak cara aman untuk
menjemur ikan asin tanpa serangga. Namun demikian, sampaikah informasi
hasil jerih para cendekiawan ini ke pesisir?.
Bagaimana menangkap ikan. Kata kuncinya sangat sederhana,
yang juga akan mendasari perkembangan teknologi penangkapan ikan,
yaitu kita harus bisa menangkap ikan, secara menguntungkan, selama
menangkap ikan kita harus selamat, dan tidak lupa pula untuk tetap

Pendahuluan

24

bertanggung jawab secara utuh baik vertikal maupun horisontal. Tidak
perlu banyak, asal ikan itu segar, sampai di tangan konsumen. Ikan
tersebut tampak seperti baru diangkat dari air, berbau anyir, matanya
bening bak mata bayi tanpa dosa. Tekstur badannya kenyal, seperti gadis
belasan yang sering berolah raga. Mungkin kata “bisa” inilah yang
membuat para pengajar model “fast food” garuk kepala, berpura-pura
gatel, lupa keramas.

Dengan kata lain, ikan seperti apa yang harus kita tangkap agar
tetap untung, selamat dan bertanggung jawab. Jawabannya sederhana,
yaitu: jika dapat, ikannya mudah ditangkap, ukurannya besar-besar syukur-
syukur jumlahnya cukup, enak dimakan dan laku dijual (atau tanyalah
konsumen). Kalaupun belum tahu anda akan dapat menangkap ikan apa,
lihat saja tabel ikan-ikan ekonomis penting yang dikeluarkan oleh
Kemeterian Kelautan dan Perikanan. Ujar pak Dr. Jisman Manurung, selagi
punggung ikannya masih menghadap ke langit pasti enak dimakan?? (pak
Jisman adalah dosen bimbing saya, Ketua Tim Peneliti, sekaligus pemimpin
proyek bakar ikan di KAL Baruna Jaya IV, sambil menikmati pelayaran
selama tiga bulan, dalam rangka penelitian oseanografi dan perikanan serta
menyambut Hari Bahari Internasional, 1998, mulai dari Jakarta dan berakhir
di Bunaken). Jawaban “mudah ditangkap” inilah yang menjadi bahan
pemikiran para penangkap ikan sejak jamannya Meizi atau mungkin juga
sejak manusia tahu bahwa ikan itu enak dimakan sekaligus
mengenyangkan. Lalu muncul pertanyaan bagaimana menangkap ikan
dengan mudah?. Juga jawabannya sangatlah sederhana, walau sedikit
konyol, yaitu: ikannya ngumpul syukur-syukur diam (di pasar barangkali),
juga bukan.

Kata kunci “ngumpul dan diam” inilah, membutuhkan penelitian

yang serius dan rekayasa yang cerdas. Sudah banyak teknologi untuk
mengatasi masalah ngumpul dan diam ini, contohnya rumpon untuk
mengumpulkan ikan, dari mulai lampu “galaxi” sampai dengan lampu Sofia
“Lacuba” yang berbasis under water attracting lamp. Rumpon, dari mulai
rumpon yang digunakan oleh para nelayan payang (kata bapakku, yang
mengenalkan rumpon ke Indonesia adalah orang jepang loh, saat jaman
penjajahan). Rumpon sederhana yang beranggotakan, cocoan, antang,
talen, gawar, sarib dan bantrak), yang ditinggal di tengah laut selama
seminggu agar busuk, dan kalau dicari susahnya setengah mati, sampai
dengan rumpon bernama philipina “Payaos”. Pekerjaan njelimet ini sampai
kini belum berakhir.

Pendahuluan

Supardi Ardidja-2010

25

Teknologi telah menyediakan alat canggih, yang bisa dipakai namun
lupa dirawat, telah banyak membantu para nelayan mencari dimana ikan
ngumpul. Fish finder dan sonar digabung dengan pengetahuan dan
pengalaman tentang fish ground serta data yang dikoleksi bertahun-tahun.
Kini, para nelayan tidak berupaya untuk mengumpulkan ikan, tapi mencari
dimana ikan ngumpul. (kembali lagi hunting methode digunakan, highly
cost) Lampu galaxi dan rumpon kini berfungsi sebagai attractor. Rumpon
cukup digantung di sekeliling kapal.
Cahaya menarik perhatian biota laut yang memiliki sifat phototaksis
positif (jangan lupa, mata ikan layang adalah phototaksis negatif). Kok
bisa?, ya tentu saja yang datang duluan adalah jasad renik termasuk
crustacea, nah ikan layang doyan sekali dengan mahluk kecil yang lucu ini,
coba saja, sesekali anda membuka isi perut ikan layang atau lemuru.
Mulanya orang menangkap ikan hanya untuk kebutuhan sendiri,
dan keluarga, berlanjut ikan dibutuhkan untuk alat tukar pemenuh
kebutuhan lain rumah tangga, seperti sandang dan papan. Sehingga ikan
yang harus dapat dibawa mendarat harus lebih banyak, lebih banyak dan
lebih banyak lagi. Dari perorangan, meningkat menjadi keluarga,
sekampung, sekongsi (korporasi) hingga perusahaan. Konsumen tidak
terbatas orang pesisir hingga orang samin, tapi telah merambah ke manca
negara, termasuk Eropa yang mewajibkan sejumlah persyaratan dan
sertifikasi.

Bermula dari menggunakan perahu yang didayung dengan tenaga
nasi, berlanjut dengan tenaga angin, kemudian tenaga bensin, solar
termasuk minyak tanah yang sekarang harganya melangit. Biaya terbesar
produksi adalah untuk menggerakkan kapal dalam upaya mencari
keberadaan ikan yang misterius. Dahulu orang senang meggunakan
metode mengejar (hunting), namun karena sang solar yang maha mahal,
maka orang cenderung meninggalkan metode memburu ini. Lalu memilih
“ikan yang sedang makan tidak makan ngumpul, sambil berkopi pangku di
belantara rumpon yang kini menyebar di sebelah utara pulau Sulawesi terus
ke timur hingga Papua New Guniea. Jangan heran kalau ada isu Laut Jawa
(over fishing), karena tidak ada lagi layang tersayang”. Karena apa?.
Belantara rumpon telah menyediakan semua kebutuhan bagi ikan layang
sang pengelana yang tak pernah mengenal lelah, dari mulai makanan bak
restoran cap naga, tempat beristirahat bak hotel berbintang lima, tempat
“mojok yang sungguh asyoi” bagi pasangan layang. Tak perlu lagi jauh-jauh
ke Laut Jawa yang mungkin sudah terpolusi, mau masuk ke ambon yang
tidak lagi memiliki lagi “laut ambon manise”. Karena salah satu link rantai

Pendahuluan

26

makanannya, sudah terserap habis oleh sang budidaya mutiara yang
terkenal dengan biota laut “Filter Feeder” terefisien di dunia.
Di sebelah selatan, seharusnya ikan yang bermigrasi melalui ujung

Afrika yang “tinggal harapan”, menelusuri arus khatulistiwa kemudian
seharusnya tertahan oleh “The Great Barrier Reef”, mestinya masuk ke

celah-celah Kepulauan Nusa Tenggara, yang juga merupakan jalur termurah
bagi kapal-kapal niaga luar negeri yang memotong layar dari Samudra
Hindia ke Pasifik yang kurang diawasi, telah pula disediakan belantara
rumpon. Mungkin suatu saat, masyarakat Nusa Tenggara tidak akan lagi
menikmati panen teri yang melimpah. Laut Flores yang terkenal dengan
“Bank”-nya tidak akan mampu lagi menyediakan makanan lezat bagi
cakalang. Sesekali Anda memperhatikan, ikan-ikan sisa hasil tangkapan
purse seine yang didaratkan di Banyuwangi atau Muncar, siapa tahu Anda
akan melihat “Baby Tuna” yang betul-betul tuna yang masih baby.
Sekolah Tinggi Perikanan terkenal dengan simbolnya “Omne vivum
ex oceanis” yang katanya laut merupakan sumber kehidupan, sampai
dengan saat ini saya sedikit setuju. Mungkin pemeo tersebut harus diganti

dengan “Omne vivum ex mangrove”, mengapa demikian. Kalau kita

mengurut rantai makanan, maka sebesar apapun ikan di Samudra sana,
hampir semua ikan adalah predator. Kecuali salah satu spesies paus, ikan
besar apapun akan memakan ikan yang lebih kecil, yang lebih kecil
memakan yang paling kecil, yang paling kecil makanannya adalah zoo
plankton. Siapa tahu pula bahwa zoo plankton menyukai nyamikan phyto
plankton. Berbicara tentang phyto plankton hingga nano plankton, kita
akan terseret ke awal pertumbuhan di laut. Diawali dengan photosintesa
yang memerlukan sinar matahari, chlorophyl dan unsur hara. Indonesia
adalah zamrud khatulistiwa yang menerima sinar matahari sepanjang
tahun, kita tak perlu kuatir kekurangan, kecuali suhunya yang aduhai!,
akibat efek pemanasan global. Apalagi khlorophyl melimpah-ruah hingga
sempat-sempatnya mampir juga di botol air mineral. Lalu yang terakhir
adalah unsur hara. Inilah biang keroknya.
Sumber unsur hara adalah hijauan di gunung-gunung sana atau
hasil sekresi biota yang tumbuh di terumbu karang. Coba anda cermati
peta laut, adakah pulau-pulau besar kita yang tidak memiliki sungai?. Di
sekitar pulau mana yang tidak terdapat terumbu karang, walau kondisinya
telah membuat kita panik, sampai-sampai becak jadi korban, besi
rongkosan dimakamkan di laut, termasuk ban bekas yang justru merusak,
juga ikutan pesiar di dasar laut. Berbagai konstruksi beton di bangun
didasar laut untuk mencoba kembali menumbuhkan koloni karang baru.

Pendahuluan

Supardi Ardidja-2010

27

Sampai dengan menciptakan home industri pemeliharaan karang dengan
menggunakan batere (mencoba menumbuhkan karang hasil penelitian
orang Australia).

Mestinya bahan baku unsur hara tersebut akan sampai juga ke laut.
Tapi jangan heran, yang terbawa aliran sungai sekarang adalah batangan
pohon, partikel lumpur, polutan limbah pabrik sampai sandal jepit, plastik
dan sepatu boot bahkan mungkin celana dalam bekas sekali pakai. Tidak
ada lagi ranting dan daun yang hanyut, karena sudah di/terbakar. Jika pun
ada bahan baku yang terbawa aliran sungai, bahan ini memerlukan waktu
dan tempat untuk proses dekomposisi. Proses dekomposisi akan terjadi
jika bahan tersebut terbaring damai tertutup lapisan lumpur di sepanjang
tepian pantai atau sungai yang airnya tenang menghanyutkan. Namun apa
yang kenyataannya?. Agar air itu tenang tentunya harus ada penahan, yaitu
akaran Mangrove. Mudah-mudahan “Green belt” akan kembali selebar 200
meter dari garis pantai? Dan mudah-mudahan masih ada DAS di tepian
sungai?.

Tidak ada lagi air pantai yang tenang menghanyutkan, yang ada
adalah benar-benar menghanyutkan tepian pantai, deburan ombak
menciptakan abrasi yang tiada hentinya. Proses dekomposisi unsur hara
sulit terjadi, burayak dan juvenil kehilangan tempat bermain. Jika sampai
terjadi biota-biota laut yang mungil ini tidak ada. Lalu apa yang akan
dimakan oleh ikan yang paling kecil, lalu apa yang dimakan ikan yang lebih
besar termasuk tuna?. Mungkin ini salah satu penyebab mengapa ikan
tuna tidak suka mampir di sekitar wilayah perairan Indonesia. Tidak ada
lagi tuna lokal di lekukan Nias, tidak ada lagi tuna di sepanjang kedalaman
palung Laut Banda. Mudah-mudahan ada yang membuktikan hipotesa ini

adalah benar. Dan mungkin juga Anda setuju dengan pernyataan “Omne
Vivum Ex Mangrove” adalah juga lebih sesuai.
Tentunya Anda bertanya, mengapa kita melantur terlalu jauh.
Sebenarnya tidak. Uraian di atas adalah suatu ilustrasi bagaimana mencari
dimana ikan berada (fish ground) tentunya adalah ikan yang dapat
ditangkap dengan mudah. Jawabannya adalah ditempat mereka “kumpul”.
Berikutnya pasti kita bertanya, dimana ikan-ikan tersebut ngumpul, kata
“dimana” inilah yang sampai sekarang masih sulit untuk menyatakan
dengan pasti lokasinya. Mudah-mudah dengan berbagai upaya penelitian
yang berkelanjutan serta mahal, barangkali para cerdik pandai dapat
menjawab pertanyaan yang sangat mendasar dari para penangkap ikan ini.
Sehingga akan ada Fishing ground yang benar-benar merupakan suatu
wilayah perairan laut yang terdapat banyak ikannya dan alat penangkap

Pendahuluan

28

ikan dapat dioperasikan secara menguntungkan dan segera diinformasikan
ke masyarakat nelayan. (buruan loh, keburu ikannya pergi belajar ke negeri
cina). Masih adakah orang seperti pak Ayodhyoa Alm., yang dengan hanya
bersepeda menelusuri pantai propinsi Aceh Naggroe Darussalam untuk
meneliti ikan Cakalang (selagi hidup beliau adalah guru, bapak dan sahabat
berbincang saya).

Mahluk hidup yang diciptakan Tuhan (yang sering kita umpat
kalau hujan “sialan banjirnya!!”, kalau panas “sialan debunya!!”), termasuk
kita sebagai mahluk yang berakal dan berbudi, memerlukan tiga kebutuhan
dasar yang sama, yaitu: makan, tumbuh dewasa, dan berkembang biak.
Biota laut pada umumnya jika sedang melakukan ketiga kegiatan
tersebut diatas, pasti “ngumpul”, bahkan saat mencari ketiga kebutuhan
itupun, mereka pergi berbondong-bondong. Dan hebatnya mahluk yang
bukan manusia ini memiliki siklus yang konsisten, tidak seperti kita mahluk
manusia!. Kapan saja, dimana saja, dan celakanya boleh-boleh saja.
Marilah kita cermati setahap demi setahap, ketiga kebutuhan

pokok tersebut:
Pertama, apa yang dimakan. Uraian di atas telah mencoba untuk
menuntun Anda memahami dimana kira-kira ikan mencari makan (“kira-
kira” ini bukan menjadi dominasi para statistikiawan saja loh, menangkap
ikan juga nyata-nyata “gambling”). Tetapi pertanyaan “apa yang dimakan
ikan”, adalah menjawab mengapa anda perlu belajar ilmu pengetahuan
biologi perikanan dengan baik, benar, dan terarah serta bermanfaat untuk
membantu mempermudah menangkap ikan. Dan yang tidak kalah
pentingnya adalah waktu makan.
Kedua, kapan ikan makan. Ini sudah pasti, jangankan ikan, manusia saja,
memerlukan makan saat matahari akan terbit dan saat matahari akan
tenggelam (kecuali di Jakarta tidak jelas kapan bisa menikmati siang dan
kapan menikmati malam, waktunya habis di kemacetan lalu lintas).
Mengapa demikian. Pada dasarnya mahluk hidup terutama Ikan,
membutuhkan energi untuk beraktifitas sepanjang siang hari, demikian juga
di malam hari terutama biota nokturnal. Bahkan tidurpun memerlukan
energi. Untuk apa?, silahkan tanya dokter!. Namun demikian, pada saat
tubuh ini beristirahat, maka antibody kita mulai bekerja dan bertarung
dengan berbagai hama dan penyakit yang merasuk ke dalam darah kita
terutama virus. Antibodypun perlu energi, termasuk mimpi?!. Terbukti
juga, bahwa nelayan payang, lampara, dan “kursin” (istilah nelayan Tegal
dan Pekalongan untuk menyebutkan kata “Purse seine”), akan melakukan

Pendahuluan

Supardi Ardidja-2010

29

“tawur” (setting) pada saat “tunggang gunung” (segera sesaat setelah
matahari terbenam) dan “pajaran” (dari kata fajar sesaat sebelum
matahari terbit). *Purse seine diperkenalkan di Indonesia sekitar awal tahun
tujuhpuluhan, bersamaan dengan revolusi perikanan laut Indonesia dan mungkin
juga merupakan awal dari proses over fishing. Fisheries Development Training
Program (penulis menjadi traines Angkatan III). Kerja besar bersejarah ini didanai
oleh United Nation Development Program dengan KM. Lemuru I berbasis di BPPI
Semarang di jendrali oleh Bapak Mat Siin Assan (saat itu Indonesia masih dalam
kategori Under Development Country). Purse seine dengan menggunakan power
block kedua berikutnya adalah KM. Lemuru II penulis yang pertama
menakhodainya dibimbing oleh Bapak Lilik Syahliono Alm).

Beda halnya dengan udang sang nokturnal, si pemalas itu tidur di siang
hari, berselimutkan lumpur lembut di dasar perairan, bergadang di malam
hari untuk mencari makan atau pacaran. Oleh karenanya, menangkap
udang yang paling mudah adalah di malam hari. Namun pengusaha
berprinsip “time is profit”, lalu muncul pemikiran bagaimana waktu siang
hari tidak terbuang sia-sia dan udang tetap dapat ditangkap. Kok bisa,

tentu saja karena udang dibangunkan dengan menggunakan “tackler chain”

(rantai yang dikaitkan di kedua ujung bawah sepasang otter board,
berukuran lebih pendek dari “ground rope”. Kasihan juga, kapan udang
makan? Kapan udang istirahat?, Kapan udang pacaran?.
Contoh lain lagi adalah pada penangkapan tuna dengan menggunakan
rawai. Tahapan “setting” di waktu fajar (saat tuna lapar), dan sekitar jam
09.00 dilakukan tahapan “hauling”.

Makanan yang bagaimana yang disukai ikan. Perlu dipahami bahwa
makanan ikan bersaudara kandung dengan keberadaan ikan. Kita ambil
contoh umpan untuk tuna yang “highly migratory” dipasang pada rawai
tuna. Metodenya adalah tuna lapar mencari makan, kita yang menyajikan
makanannya (umpan). Menyajikan lebih bersifat menawarkan.
Menawarkan umpan kepada tuna, entah disukai atau tidak (otopsi),
buktinya hook-rate tuna nasional kita tetap terus di bawah 1. Kata umpan
atau dengan kata lain apa yang dimakan oleh ikan?. (hook rate adalah ratio
jumlah ikan tuna yang tertangkap per seratus pancing). Bukan saja ikan apa
yang harus disajikan, tapi lebih penting lagi adalah bagaimana
“menyajikannya”. Kuncinya adalah bahwa tuna bukan pemakan bangkai,
dengan kata lain tuna menyenangi umpan yang hidup, yang mengkilap,
atau streamline. Permasalahannya adalah bagaimana menawarkan kepada
tuna sajian umpan hidup atau paling tidak, tampak hidup.

Pendahuluan

30

Mari kita sedikit beranalogi, misalkan kita adalah “seorang tuna” yang
bukan pemburu, tengah tersesat dan kelaparan di tengah hutan yang
melulu hijau. Tentunya mata kita akan mencari sesuatu yang dapat
dimakan. Mata bisa melihat gerak dan warna, tidak jelas mana yang lebih
dulu kita lihat, gerak atau warna, mungkin juga berbarengan. Warna adalah
hasil pantulan cahaya terhadap mata, dan yang paling kuat pantulannya
adalah yang kulitnya keras rata dan mengkilap. Diantara yang hijau-hijau,
kita berharap ada buah yang berwarna kuning atau merah. Dan ternyata
ada. Lalu kita dekati dan kita petik. Kecuali kita sudah tahu buah apa,
tentunya kita akan cium-cium dulu, ternyata “looks like tasty” dan “tampak
segar” boleh dicoba, tapi bagaimana kalau berbau busuk?.
Berikut ini adalah cerita dari sekuensi perkosaan berantai dalam upaya
menyediakan bandeng hidup untuk umpan tuna.
Awal Perkosaan, bandeng dibudidayakan di tambak-tambak estuari dengan
kedalaman air 60 – 90 cm. Ketika dipanen air harus diturunkan
kedalamannya hingga 15 – 20 cm. Bandeng ditangkap dengan
menggunakan jaring atau jala lempar, orang Cirebon menyebutnya

“encrak”. Bandeng adalah ikan yang lincah dan energik, sehingga bandeng

akan meronta bahkan merejang sampai terjala atau terjaring. Bandeng
tidak langsung di masukkan ke penampung, tapi dibungkus dulu dengan
karung basah. Dua trauma yang dialami bandeng, kehabisan tenaga dan
stress bahkan bisa-bisa shock. Mungkin juga gelembung udaranya
mengkerut, berdenyut kiut-miut.
Perkosaan kedua, adalah penderitaan bandeng pindah dari media tambak
ke media kontainer (mobile box), suhu, kadar garam, pH dan tekanan
berbeda. Stress lagi dan lapar serta lemes.
Perkosaan ketiga, adalah perjalanan dari tambak ke kapal. Sopir kita adalah
gurunya jagoan ngebut. Bukan karena suka ngebut, tapi diburu waktu,
karena menjelang pagi bandeng harus sudah berada di kapal. Entah
bandeng atau sopirnya yang takut panas matahari. Masalahnya adalah
selama di perjalanan ngebut dan guncangan air di dalam box-nya, entah
apa jadinya, jika kepala bandeng terbentur ke dinding box, mungkin seperti
kita juga bisa pusing tujuh keliling, makin stress lagi, walau belum mati tapi
loyo.
Perkosaan keempat, adalah pengulangan penderitaan di sesi perkosaan
kedua, bedanya adalah bandeng dari box ke palkah penampungan umpan
di kapal. Suhu, kadar garam, pH dan tekanan tidak sama, dipindah begitu
saja tanpa perlakuan aklimatisasi, sang bandeng makin loyo.

Pendahuluan

Supardi Ardidja-2010

31

Perkosaan kelima, perjalanan dari “fishing base” ke “fishing ground”

mungkin sehari atau dua, bahkan mungkin lebih dari itu. Lapar!. Bandeng
stress mana mau makan. Susah dibayangkan kondisi sang bandeng, yang
puasa kepaksa.
Perkosaan keenam, adalah penusukan tanpa perikebandengan punggung
bandeng dengan pancing berkait yang berdiameter sekitar 5 milimeter,
baiknya pancing tidak mengandung tetanus, saya tidak tahu apakah
bandeng bisa menjerit, masih bisa menggelepar saja sudah bagus, kasihan!.
Perkosaan ketujuh, bandeng dilempar ke laut, langsung dibenamkan ke
kedalaman laut, katakanlah untuk menangkap ikan madidihang, paling tidak
100 meter bahkan lebih. Setiap 10 meter kedalaman air diukur dari
permukaan, tekanan air akan meningkat sebesar 1 atmosfir. Awalnya
bandeng menikmati tekanan air di tambak yang dalamnya 90 cm (0,09
atm), pindah ke box yang dalamnya sekitar 2 meter (0,2 atm), pindah lagi ke
palkah umpan yang dalamnya sekitar dua meter (0,2 atm) dan langsung di
tenggelamkan ke kedalaman air yang bertekanan 10 atmosfir mungkin
lebih. Bandeng “Santa Maria” (istilah pelaut untuk mengatakan mati
keren!).
Kesimpulannya apa perlu mengumpan tuna dengan bandeng hidup?.
Namun demikian, itu adalah upaya menawarkan makanan kepada tuna
makanan yang diperkirakan masih hidup, segar, mengkilap dan streamline.
Kuncinya bukanlah pada bandeng yang hidup, tapi terlebih pada penataan
pancing dan bagaimana memasang umpan agar umpan tampak hidup. Ikan
yang hidup, berenang mendatar, sesekali menukik, mungkin berlenggang-
lenggok.

Dua pertanyaan mendasar yang diuraikan di atas (ikan apa dan
ikannya ada dimana) belumlah lengkap, jika kita belum mengetahui perilaku
ikan (fish behaviour) dan tingkat kepadatan/ukuran ikan dalam kelompok
(schooling).
Ketiga adalah Perilaku ikan. Perilaku ikan yang dibutuhkan disini bukan
lenggak-lenggok renangnya dan lirikan matanya ikan. Tapi lebih mengarah
pada bagaimana respon ikan terhadap stimulan asing, terkait dengan
konstruksi dan bahan alat penangkap ikan saat dioperasikan. Baik respon
ikan terhadap konstruksinya maupun terhadap bahan yang digunakan
untuk merakit alat penangkap ikan. Tujuannya adalah bagaimana memilih
bahan alat penangkap ikan yang sesuai untuk menangkap ikan tertentu,
dan disain alat penangkap ikan itu sendiri, agar umpannya yang tampak dan
alatnya tidak tampak. (terpaksa juga setelah ini Anda harus mempelajari

Pendahuluan

32

Disain Alat Penangkap Ikan dan Bahan Alat Penangkap Ikan serta kaitkan
dengan Biologi Perikanan).
Perilaku lainnya adalah yang mendasari cara pengoperasian alat penangkap
ikan (untuk teknik mengoperasikan alat penangkap ikan Anda harus belajar
Teknik Penangkapan Ikan). Berikut ini beberapa contoh dari cara
mengoperasikan alat penangkap ikan, yang didasari oleh pemikiran yang
muncul dari metode penangkapan ikan.
Misalnya udang, si pemalas ini paling suka memilih berjalan dengan kakinya
yang banyak, dari pada berenang, tapi udang adalah biota laut yang dapat
menghindarkan diri dengan cara melompat ke arah belakang dengan
kecepatan tinggi, bila tersentuh sesuatu atau melihat predatornya.
Pertanyaannya adalah ke arah mana udang melompat sehingga
lompatannya masuk ke dalam alat penangkap ikan, jelas belakang, tapi
belakangnya, ke timur, ke barat, ke selatan atau ke utara?. Yang terpenting
adalah melompatnya udang harus langsung masuk ke mulut pukat udang.
Masalahnya adalah kemana udang menghadap?, Kalau sudah tahu kemana
udang menghadap, tentunya para nakhoda dapat menentukan haluan
towing pukatnya. Towing adalah suatu proses tahapan penarikan pukat
udang (shrimp trawl) sepanjang dasar jalur sapuan pada kecepatan kapal
terhadap dasar perairan dan selama waktu tertentu.
Jaring insang (gillnet) adalah selain termasuk dalam kelompok metode
menjerat, juga dapat dikelompokkan ke dalam metode menjebak. Kata
kuncinya adalah menjebak ikan untuk dijerat. Pertanyaan pertama adalah
dari arah mana ikan akan dijebak atau jika kurang setuju, kita katakan
memotong arah renang ikan. Jawabannya tentu dari arah depan.
Permasalahannya adalah kearah mana ikan berenang. Misalnya ke barat,
mengapa ikan berenang ke barat?. Terpaksa kita harus mempelajari
biologi perikanan tentang rantai makanan. Kita melompat saja ke link yang
menyangkut tentang plankton. Wah terpaksa juga kita harus belajar
Planktonologi. Cukuplah Anda pelajari hanya tentang plankton yang terkait
dengan rantai makanan ikan !?. Secara umum pergerakan plankton sangat
dipengaruhi oleh arah aliran arus. Tentang arus Anda harus belajar
Osenagrafi Perikanan. Dalam konteks ini kita harus mengetahui arah arus,
karena bersama aliran arus akan terhanyutkan pula plankton, juga akan
terhanyutkan biota laut tingkat yang lebih tinggi lainnya. Nah!, ikan ini
cerdik, ikan tidak mengikuti arus, tapi ikan akan berenang menentang arus.
Jika para nakhoda sudah tahu arah arus, tentunya dengan mudah dia
menentukan haluan setting gillnetnya, dengan cara memotong atau hampir

Pendahuluan

Supardi Ardidja-2010

33

memotong arah aliran arus. Dari sini akan berkembang Teknik
Pengoperasian Gillnet
.
Terkait dengan respon ikan terhadap gillnet, oleh karena ingin menjebak,
maka jebakannya harus tidak kelihatan (transparant). Tentunya anda harus
memilih menggunakan bahan yang mudah-mudahan tidak kelihatan,
karena ikan memiliki linea lateralis (lagi-lagi biologi perikanan). Bahan yang
transparant itu seperti apa?. Anda harus belajar Bahan Alat Penangkap
Ikan. Saat ini yang penting anda harus tahu, bahwa anda memerlukan
bahan yang transparant. Sama halnya dengan rawai yang akan kita
pamerkan kepada tuna adalah umpan yang berisi pancing, bukan
komponen rawai-nya. Demikian juga dengan bubu. Bubu termasuk
kelompok penjebak. Pada dasarnya bubu digunakan untuk menjebak ikan
atau biota laut lainnya untuk masuk hingga terjebak di dalam bubu. Kata

kuncinya adalah “masuk ke dalam bubu”. Pertanyaannya adalah mengapa

ikan mau masuk kedalam bubu. Ada tiga tujuan ikan masuk ke dalam bubu,
kecuali ada ikan yang sedang iseng. Pertama mungkin ingin menghampiri
makanan. Kedua untuk mencari tempat berlindung. Ketiga mencari tempat
memijah. Namun demikian dari ketiga tujuan di atas, dua yang terakhir
dapat dikatakan mirip sama, yaitu mencari tempat terlindung yang aman.
Dengan demikian, untuk tujuan ikan masuk ke dalam bubu yang pertama,
buatlah bubu yang tidak kelihatan dan pamerkan kepada ikan atau biota
laut lainnya “di dalam bubu ini ada “Sea Chinees foods”, ada sasimi mujair
(mujair terkenal amisnya, sangat mengundang selera), disediakan juga
pecahan beling” yang disukai ikan kakap. Dan untuk tujuan masuk bubu
yang kedua, buatlah bubu dengan tema “boleh masuk, hotel ini sangat
ekslusif bebas dari razia predator”.
Misalan-misalan yang telah diuraikan di atas baru sebagian kecil dari sifat
ikan (fish behaviour), tentunya Anda harus menggali lebih dalam lagi di
biologi perikanan.
Keempat adalah tingkat kepadatan/ukuran ikan. Tingkat kepadatan ikan
dalam konteks ini adalah kepadatan dalam kelompok (schooling). Kecuali
ikan-ikan yang soliter, umumnya hidupnya membentuk kelompok, ukuran
ikan adalah ukuran individu ikan dalam kelompok. Kita bagi saja tingkat
kepadatan menjadi:
1. Kelompok ikan yang mengumpul padat.
2. Kelompok kan yang mengumpul tapi tidak padat.
3. Kelompok ikan yang menyebar dan tidak padat.
Sedangkan ukuran ikan kita mengacu saja pada yang sudah ada, yaitu:

Pendahuluan

34

1. Ikan yang berukuran besar(contohnya adalah pelagis besar: Tuna)
2. Ikan yang berukuran kecil (contohnya pelagis kecil: Layang).
Tingkat kepadatan dan ukuran ikan ini diperlukan untuk memudahkan
memilih metode penangkapan ikan apa yang akan kita pilih. Bab-bab
berikutnya adalah penjelasan tentang sejumlah metode penangkapan ikan
sesuai dengan klasifikasi kongres Fishing Gear Methode, 1951 (Brandt,
1984). (jumlahnya ada buanyak!!). Untuk itu, disini kita akan membaginya
menjadi tiga kelompok saja, dengan tujuan untuk lebih memudahkan
pemahaman sejumlah metode penangkapan yang buanyak itu, yang
didasarkan pada kombinasi pembagian tiga tingkatan kepadatan dan dua
ukuran ikan, yaitu:
1. Ikan-ikan yang hanya dapat ditangkap seekor demi seekor. Contoh alat
penangkap ikannya adalah yang termasuk dalam metode penangkapan
ikan dengan tali dan pancing (hook and line), yaitu: Rawai Tuna (Tuna
Long line), Huhate (Pole and Line), Tonda (Trolling), Rawai dasar
(Bottom long line), Pancing cumi (squid jigger), dan sejenisnya;
2. Ikan yang dapat ditangkap sekaligus banyak. Contoh alat penangkap
ikannya adalah yang termasuk dalam metode penangkapan ikan
dengan mengurung (dari samping/bawah), yaitu: Pukat cincin (Purse
seine), Lampara, payang, dan sejenisnya;
3. Ikan yang hanya dapat ditangkap dengan mengumpulkannya sedikit
demi sedikit. Contoh alat penangkap ikannya adalah yang termasuk
dalam metode penangkapan ikan yang dihela, ditarik, dan didorong,
ditunggu, dijerat dan dipuntal, yaitu trawl, gillnet, sudu, seine net,
bagan, bubu, setnet, dan sejenisnya.
Dari ketiga pengelompokkan tersebut di atas, terdapat pengecualian
misalnya ikan cakalang, tongkol, madidihang dapat ditangkap seekor-demi
seekor dan dapat juga ditangkap sekaligus banyak.
Manfaat pengelompokkan inipun dapat dijadikan sebagai dasar dalam
menentukan, ukuran dan bentuk kapal, tipe palkah dan perlakuan pada
hasil tangkapan di atas kapal, kecepatan kapal (service speed), daya
tampung (capacity), penataan dek (deck alignment), kemampuan jelajah
(endurance), stabilitas kapal (ship stability) dan keselamatan kapal
(seaworthiness) serta kualifikasi (kompetensi dan profisiensi) dan jumlah
awak kapal. Lebih lanjut lagi dapat pula digunakan sebagai dasar dalam
rekayasa teknologi penangkapan ikan. Bahkan sampai pada teknologi
pemasaran dan tata niaganya serta penanganan hasil paska tangkap
sekaligus dalam mempertahankan mutu ikan berikut standarisasinya.

Pendahuluan

Supardi Ardidja-2010

35

Upaya menyediakan ikan dalam jumlah banyak memerlukan
teknologi penangkapan ikan yang efektif dan efisien sekaligus tetap
memikirkan tentang kelestarian dan tanggung jawab kita terhadap masa
depan kelangsungan hidup manusia. Hal inilah yang memaksa, para
cendekiaan menciptakan sejumlah teknologi bagaimana menangkap ikan
dengan mudah tanpa banyak biaya dan resiko, bagaimana agar para
konsumen langsung memilih ikan tuna yang masih hidup di depan meja
makannya. Yang belum, mungkin, ikan yang dapat dibeli dimana saja,
dimakan enak-enak saja, harganya murah-murah saja, dan dapat dinikmati
kapan saja, bila perlu di bis kota. Rasanya mungkin akan surprise bila kita
dapat menikmati jajanan ikan, sebagai selingan gorengan “gehu sumedang”
atau “tempe bandung”. Pempek Palembang bahan bakunya ikan loh!.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->