P. 1
padi

padi

|Views: 494|Likes:
Published by capeer

More info:

Published by: capeer on Sep 11, 2010
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

03/19/2013

pdf

text

original

Prospek dan Arah Pengembangan

AGRIBISNIS PADI

Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian

Departemen Pertanian
2005

MENTERI PERTANIAN REPUBLIK INDONESIA

SAMBUTAN MENTERI PERTANIAN
Atas perkenan dan ridho Allah subhanahuwataala, seri buku tentang prospek dan arah kebijakan pengembangan komoditas pertanian dapat diterbitkan. Buku-buku ini disusun sebagai tindak lanjut dan merupakan bagian dari upaya mengisi “Revitalisasi Pertanian, Perikanan, dan Kehutanan” (RPPK) yang telah dicanangkan Presiden RI Bapak Dr. H. Susilo Bambang Yudhoyono pada tanggal 11 Juni 2005 di Bendungan Jatiluhur, Kabupaten Purwakarta, Propinsi Jawa Barat. Keseluruhan buku yang disusun ada 21 buah, 17 diantaranya menyajikan prospek dan arah pengembangan komoditas, dan empat lainnya membahas mengenai bidang masalah yaitu tentang investasi, lahan, pascapanen, dan mekanisasi pertanian. Sementara 17 komoditas yang disajikan meliputi: tanaman pangan (padi/beras, jagung, kedelai); hortikultura (pisang, jeruk, bawang merah, anggrek); tanaman perkebunan (kelapa sawit, karet, tebu/gula, kakao, tanaman obat, kelapa, dan cengkeh); dan peternakan (unggas, kambing/ domba, dan sapi). Sesuai dengan rancangan dalam RPPK, pengembangan produk pertanian dapat dikategorikan dan berfungsi dalam : (a) membangun ketahanan pangan, yang terkait dengan aspek pasokan produk, aspek pendapatan dan keterjangkauan, dan aspek kemandirian; (b) sumber perolehan devisa, terutama terkait dengan keunggulan komparatif dan keunggulan kompetitif di pasar internasional; (c) penciptaan lapangan usaha dan pertumbuhan baru, terutama terkait dengan peluang pengembangan kegiatan usaha baru dan pemanfaatan pasar domestik; dan (d) pengembangan produk-produk baru, yang terkait dengan berbagai isu global dan kecenderungan perkembangan masa depan.
i

dan program telah disusun untuk mencapai target swasembada jangka pendek 2005. Juli 2005 Menteri Pertanian. instansi pemerintah propinsi dan kabupaten/kota. Bagi Indonesia. jangka menengah 2010 maupun jangka panjang 2025. Di samping itu diuraikan investasi yang dibutuhkan dan dukungan kebijakan yang diperlukan untuk mempertahankan swasembada. Peluang untuk mencapai target swasembada tersebut cukup besar karena adanya modal sumberdaya alam. teknologi. Achmad Suryana ii iii . Jakarta. beras menyangkut kepentingan masyarakat luas yang dalam usaha pemenuhan kebutuhan harus ditangani dengan sungguh-sungguh oleh pemerintah.Sebagai suatu arahan umum. khususnya dalam pengembangan agribisnis komoditas pertanian. Anton Apriyantono. Semoga buku-buku tersebut bermanfaat bagi upaya kita mendorong peningkatan investasi pertanian. Strategi. Juni 2005 Kepala Badan Litbang Pertanian Dr. termasuk inovasi teknologi. KATA PENGANTAR Upaya peningkatan produksi beras di dalam negeri makin dituntut untuk memenuhi kebutuhan yang terus meningkat seiring dengan meningkatnya jumlah penduduk dengan tingkat konsumsi yang masih tinggi. Perlu kami ingatkan. dan sektor swasta serta masyarakat agribisnis pada umumnya. Dr. Namun tantangan peningkatan produksi di masa yang akan datang juga makin meningkat terkait dengan persaingan dalam pemanfaatan sumberdaya antara sektor pertanian dengan sektor lainnya. Ir. pemerintah telah menetapkan sasaran swasembada secara berkelanjutan bagi komoditas pangan ini. MS Jakarta. dan iklim tropik yang sesuai untuk budidaya padi. sehingga dalam menelaahnya perlu disertai dengan ketajaman analisis dan pendalaman lanjutan atas aspek-aspek bisnis yang sifatnya dinamis. buku ini adalah suatu dokumen yang menyajikan informasi umum. kami harapkan seri buku tersebut dapat memberikan informasi mengenai arah dan prospek pengembangan agribisnis komoditas tersebut bagi instansi terkait lingkup pemerintah pusat. Ir. Mengingat peran strategis beras dalam ketahanan pangan. Buku ini berisikan pokok pikiran tentang prospek dan arah pengembangan padi berdasarkan sistem produksi dan status usahatani padi saat ini. kebijakan.

(3) mendorong peningkatan produktivitas melalui inovasi baru.5% per tahun dengan indeks panen 1. Untuk mencapai sasaran tersebut Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian telah dan akan menghasilkan varietas unggul padi hibrida dan padi tipe baru. Achmad Suryana Kepala Badan Litbang Pertanian Dr. Ir. Ragunan No. (2) peningkatan efisiensi usahatani melalui inovasi unggul dan berdaya saing. Dr. Peningkatan produktivitas padi 1. : (0251) 312755 Em@il : crifc1@indo.net.52 diperkirakan dapat mempertahankan swasembada beras hingga tahun 2025. 147 Bogor Jawa Barat Telp. 29 Pasarminggu Jakarta Selatan Telp. Ir. lumbung pangan desa. Pemerintah berkeinginan mempertahankan swasembada beras secara berkelanjutan.8 juta ton gabah kering giling (GKG). Strategi yang dapat ditempuh dalam meningkatkan produksi padi nasional adalah: (1) mendorong sinergi antarsubsistem agribisnis. : (0251) 334089 Faks. MSc. (7) pemberdayaan petani dan masyarakat. kebutuhan beras dalam periode 20052025 diproyeksikan masih akan terus meningkat.deptan.id Pusat Litbang Tanaman Pangan Jl.go. crifc3@indo. maka pada tahun 2025 kebutuhan tersebut diproyeksikan sebesar 65. RINGKASAN EKSEKUTIF Beras merupakan komoditas strategis berperan penting dalam perekonomian dan ketahanan pangan nasional.id. irigasi. Ir. Kebijakan pengembangan padi diarahkan pada: (1) pembangunan dan pengembangan kawasan agribisnis padi yang modern.9 juta ton GKG. (8) pengembangan kelembagaan (kelembagaan produksi dan penanganan pascapanen. Varietasvarietas unggul yang berdaya hasil tinggi ini diharapkan dapat diaktualisasikan potensi genetiknya melalui pengembangan teknologi budi daya dengan pendekatan Pengelolaan Tanaman dan Sumberdaya Terpadu (PTT). (5) mendorong diversifikasi produksi.TIM PENYUSUN Penanggung Jawab Ketua Anggota : : : Dr. : (021) 7800644 Em@il : kabadan@litbang. Dr. : (021) 7806202 Faks. Dr. (2) meningkatkan akses petani terhadap sumberdaya. Kalau pada tahun 2005 kebutuhan beras setara 52. (6) mendorong partisipasi aktif seluruh stakeholder. tangguh.id iv . Irsal Las I Nyoman Widiarta Sjaiful Bahri Putu Wardana. koperasi. Dr. Dr.net. modal. dan pasar. (4) memberikan insentif berusaha. Merdeka No. Abdul Karim Makarim Made Oka Adnyana Agus Setiono Ade Ruskandar MS . dan pemberian jaminan kehidupan yang lebih baik bagi petani. (3) pengelolaan dan pemanfaatan sumberdaya alam v Badan Litbang Pertanian Jl. Djoko Said Damardjati Kepala Pusat Litbang Tanaman Pangan Dr. teknologi. keuangan dan penyuluhan). dan menjadi basis utama dalam revitalisiasi pertanian ke depan. Sejalan dengan pertambahan jumlah penduduk.

............. Prospek dan potensi inovasi teknologi ....... Produksi.. Program yang dicanangkan meliputi : (1) pengembangan sarana dan prasarana.... dan (5) pengembangan kelembagaan dan kemitraan yang modern................ 24 5.......... DAFTAR ISI Halaman SAMBUTAN MENTERI PERTANIAN ......... tangguh................ Upaya peningkatan produksi padi guna mempertahankan swasembada sampai tahun 2025 membutuhkan investasi sebesar Rp......................................... dan (8) pemantapan manajemen pembangunan pertanian.......... POTENSI DAN ARAH PENGEMBANGAN ... Peningkatan produktivitas ...... 24 IV.......... (5) pengembangan sistem perlindungan........... Peta jalan (Roadmap) komoditas padi .. 20 4..4 trilyun untuk pengembangan dan perluasan adopsi teknologi (varietas dan pendekatan budidaya).................secara optimal......................... baik masyarakat (petani) maupun swasta......... PROSPEK...... A....................... Profil teknologi padi ... 15 D................ Kelayakan Usaha Traktor. 11 C.......... efisien. Pengembangan industri beras ............................. 10 1.... efisien dan produktif serta berkelanjutan yang dapat mendukung ketahanan ekonomi dan pelestarian lingkungan... I.................................. KONDISI AGRIBISNIS PADI SAAT INI .............. RINGKASAN EKSEKUTIF ... III......................................................................................................... 30 vi vii ...... Dukungan kebijakan pemerintah terhadap pelaku agribisnis padi....... Potensi sumberdaya lahan .. luas panen dan produktivitas ..................... TUJUAN DAN SASARAN ........................... (4) perluasan areal tanam (ekstensifikasi)...... B...... (3) akselerasi peningkatan produktivitas (intensifikasi)................................... vii II.................... PENDAHULUAN.. Prospek .. 10 2.............. dan produktif............ A........................................ (6) pengolahan dan pemasaran hasil...................... Thresher dan RMU ................. Skenario peningkatan produksi ................... (2) pengembangan sistem perbenihan......... Arah Pengembangan Produksi Padi Nasional ... 2....... B....... 18 3........... Potensi Peningkatan Produksi ............................................. 17 2..... TIM PENYUSUN .... Kebutuhan peningkatan produksi ......... 85..... 17 1........ (4) pemberdayaan petani dan masyarakat pedesaan..... C............................. Profil usahatani padi ................ akan mempercepat upaya peningkatan investasi...... (7) pengembangan kelembagaan.......... Arah dan lokasi pengembangan .... KATA PENGANTAR.......... i iii iv v 1 3 3 4 5 7 7 7 9 DAFTAR ISI... 1... Proyeksi permintaan ........

.. 35 2.. 39 7................ Pengolahan dan pemasaran hasil ........................... 34 C........... 44 LAMPIRAN .. STRATEGI.... Pengembangan sistem perlindungan ....................... Pengembangan sistem perbenihan ................................................................. Akselerasi peningkatan produktivitas (intensifikasi) ............................... 39 8.................................... 35 1.... 45 viii ............. Pemantapan manajemen pembangunan ........... Pengembangan sarana dan prasarana .. 36 4.. Pengembangan kelembagaan .... Strategi ........................ Kebijakan . Program ......... DUKUNGAN KEBIJAKAN . KEBUTUHAN INVESTASI ..................................................... 38 6... 38 5......V...................................................... Perluasan areal tanam (ekstensifikasi) ................ 41 VII................ 36 3... 31 B................... 39 VI................ KEBIJAKAN DAN PROGRAM ................................. 31 A............

Dengan tingkat konsumsi rata-rata 141 kg/kapita/tahun. Hal ini tentu terkait dengan peningkatan produktivitas dan luas areal tanam. Walaupun daya saing padi terhadap beberapa komoditas lain cenderung turun. dan bahkan politik. Walaupun program diversifikasi pangan sudah sejak lama dicanangkan.Prospek dan Arah Pengembangan Agribisnis Padi Prospek dan Arah Pengembangan Agribisnis Padi I. Selain itu. Peningkatan produktivitas padi dalam kurun waktu tersebut mencapai 1 . bahkan cenderung meningkat sejalan dengan meningkatnya jumlah penduduk. Namun karena jumlah penduduk terus bertambah dan tersebar di banyak pulau maka ketergantungan akan pangan impor menyebabkan rentannya ketahanan pangan sehingga berdampak terhadap berbagai aspek kehidupan. Stagnasi pengembangan dan peningkatan produksi padi akan mengancam stabilitas nasional. Kebutuhan pangan nasional memang dapat dipenuhi dari produksi dalam negeri dan impor. Kenyataan menunjukkan bahwa produksi padi nasional sejak tahun 1970 hingga 2004 meningkat hampir tiga kali lipat. sehingga menjadi basis utama dalam revitalisiasi pertanian ke depan. peningkatan pendapatan. usahatani padi telah memberikan kesempatan kerja dan pendapatan bagi lebih dari 21 juta rumah tangga dengan sumbangan pendapatan 25-35%. PENDAHULUAN Hingga saat ini dan beberapa tahun mendatang. namun upaya pengembangan dan peningkatan produksi beras nasional mutlak diperlukan dengan sasaran utama pencapaian swasembada. namun belum terlihat indikasi penurunan konsumsi beras. beras tetap menjadi komoditas strategis dalam perekonomian dan ketahanan pangan nasional. Oleh sebab itu. untuk mencapai kemandirian pangan hingga tahun 2005 dibutuhkan 34 juta ton beras atau setara dengan 54 juta ton GKG/tahun. beras tetap menjadi sumber utama gizi dan energi bagi lebih dari 90% penduduk Indonesia. ekonomi. dan kesejahteraan petani. Di Indonesia. termasuk sosial. padi diusahakan oleh sekitar 18 juta petani dan menyumbang 66% terhadap produk domestik bruto (PDB) tanaman pangan.

Statistik Indonesia.38 52. 2004. Luas Panen dan Produktivitas Dalam beberapa tahun terakhir laju peningkatan produksi padi nasional cenderung melandai1). laju peningkatan produktivitas padi cukup tinggi yang mencapai 1. dan lahan pasang surut.6%. Sementara peningkatan luas areal panen dalam periode yang sama mencapai 39.8%. dari 1.11 51.38 BPS.36 Parameter Indonesia Produksi (000 ton GKG) Luas Panen (000 ha) Produktivitas (kw/ha) Jawa Produksi (000 ton GKG) Luas Panen (000 ha) Produksi (kw/ha) Luar Jawa Produksi (000 ton GKG) Luas Panen (000 ha) Produksi (kw/ha) Sumber: BPS. rekayasa kelembagaan. Sampai saat ini sekitar 90% produksi padi nasional dipasok dari lahan sawah irigasi yang sebagian telah terkonversi untuk berbagai keperluan di luar pertanian. Walaupun demikian setelah tahun 1984 Indonesia dinyatakan mencapai swasembada beras.97 5.38 2004 54. 1. 2005 1) 28.Prospek dan Arah Pengembangan Agribisnis Padi Prospek dan Arah Pengembangan Agribisnis Padi 87.20 39. dari 8. KONDISI AGRIBISNIS PADI SAAT INI A.14 11. lahan kering. Tabel. yang berarti naik 3.40 24.43 pada tahun 2003 (Lampiran 1).09 juta ton.22 24.3 juta ha pada tahun 1970 menjadi 11. Sementara lahan sawah tadah hujan. Penurunan IP mengindikasikan bahwa usahatani padi mendapat saingan dari usahatani komoditas lain yang lebih menguntungkan.74% dari tahun sebelumnya. Produksi. Statistik Pertanian. Indeks panen (IP) juga menurun. Ke depan. terutama varietas unggul dan teknologi budi daya.45 6. lahan kering. II.92 45.42 ton/ha pada tahun 1970 menjadi 4. misalnya. upaya peningkatan produksi padi perlu pula diarahkan ke lahan sawah tadah hujan. Produksi padi tahun 2004 mencapai 54.71 39. Dalam periode 2000-2003.0% per tahun. luas panen dan produktivitas usahatani padi indonesia. laju kenaikan produksi hanya 0.49 45. dan lahan pasang surut yang tersebar luas di berbagai daerah belum banyak berkontribusi dalam peningkatan produksi padi. 2 3 . Produksi.54 ton/ha pada tahun 2004.56 pada tahun 2002 menjadi 1.9% per tahun (Tabel 1). Keberhasilan upaya peningkatan produksi padi nasional tidak terlepas pula dari implementasi berbagai program intensifikasi yang didukung oleh inovasi teknologi pancausahatani.87 23. tetapi luas panen turun 0. dan dukungan kebijakan pemerintah. 20 tahun kemudian (2007) negara ini kembali berswasembada beras.64 6.2% per tahun. 2003 dan 2004 2003 52.09 11. selain di lahan sawah irigasi.17 5. Di sisi lain. dari 2.6 juta ha pada tahun 2004. 2001 dan Departemen Pertanian.

Hingga saat ini pulau Jawa tetap memberikan kontribusi ter-besar dalam pengadaan produksi padi nasional dengan pangsa luas panen dan produksi masing-masing 46. Pada musim hujan dan musim kemarau. Di Jawa. produksi padi nasional meningkat 269% dari 20.7 juta ton. Kontribusi varietas unggul dalam peningkatan produktivitas padi mencapai 75% jika diintegrasikan dengan teknologi pengairan dan pemupukan. gejala pelandaian produksi padi yang umumnya terjadi di lahan sawah irigasi di Jawa berdampak luas terhadap penyediaan pangan nasional ke depan.8% per tahun. 2) Sumaryanto. B. terutama setelah terjadi ledakan hama penyakit dan anomali iklim. Penurunan produksi padi di Jawa sebagian ditutupi oleh produksi di Sulawesi dan Kalimantan yang masing-masing dengan laju peningkatan 3.2%) dibanding luas panen (26. meskipun tidak berarti tanpa kekurangan pangan. Ekonomi Padi dan Beras Indonesia.65 ton dan 5. tetapi cukup potensial melalui peningkatan produktivitas. dan pendekatan program intensifikasi.2 juta ton pada tahun 1971 menjadi 54. Pelandaian dan penurunan produksi padi lebih banyak disebabkan oleh serangan hama penyakit dan anomali iklim. Pelajaran yang dapat ditarik dari implementasi Revolusi Hijau selama ini antara lain adalah besarnya sumbangan varietas unggul dan teknologi budidaya dalam peningkatan produksi padi. namun karena areal panen padi tidak luas maka sumbangannya terhadap produksi nasional relatif kecil.32 ha per musim mendorong petani untuk memaksimalkan pendapatan dengan cara meningkatkan intensitas tanam dan menyesuaikan pola tanam dengan masukan sangat intensif 2). Dengan demikian.3% dari produksi.2% maka produksi turun 1.1%. Dalam: F. strategi. Badan Litbang Pertanian. Inovasi Revolusi Hijau besar sumbangannya terhadap pengadaan produksi pangan nasional terutama beras. 5 . Usahatani dan pendapatan rumah tangga petani padi: Studi kasus di Persawahan DAS Brantas. Namun tidak demikian halnya pada tahun-tahun lainnya. Volume impor beras dalam 13 tahun terakhir rata-rata 2. Dangan dihasilkan dan dikembangkannya beragam VUB dengan sifat yang beragam pula dapat memecahkan masalah lingkungan biotik dan abiotik serta memenuhi keinginan petani dan preferensi konsumen yang juga berbeda antardaerah.5% dan 3. terutama melalui perluasan areal. opportunity cost usahatani padi juga makin tinggi karena makin tajamnya kompetisi penggunaan lahan. Data tersebut mengindikasikan bahwa pulau Jawa tidak dapat lagi diandalkan dalam peningkatan produksi padi nasional ke depan. Tingginya volume impor beras pada tahun 1999 selain dapat dihubungkan dengan krisis ekonomi. tingginya penggunaan input. Peningkatan produksi lebih banyak disumbang oleh peningkatan produktivitas (56. dan kurangnya perhatian terhadap pelestarian sumber daya alam. meskipun laju produktivitas padi meningkat 1. intensifikasi terlalu terfokus pada lahan sawah irigasi.3%).8% dan 54%. Jika pada tahun 1993 impor beras hanya 24 ribu ton. terutama antara padi dengan komoditas lain yang bernilai ekonomi lebih tinggi.4 juta ton pada 4 tahun 2004. pada tahun 1999 mencapai 4. Profil Usahatani Padi Lahan garapan yang sempit dengan rata-rata 0. sebagian besar (90%) areal pertanaman padi di sentra produksi utama telah ditanami varietas unggul baru (VUB) dan 17 varietas di antaranya lebih dominan pengembangannya dengan luas tanam lebih dari 10 ribu ha per varietas. Bukti nyata pentingnya inovasi teknologi dalam pembangunan pertanian dapat dilihat antara lain dari peningkatan produksi padi dari tahun ke tahun. Di Maluku dan Papua laju pertumbuhan produksi juga tinggi. juga erat kaitannya dengan penurunan produksi padi akibat anomali iklim El-Nino pada tahun 1997 yang terus berdampak hingga tahun 1998. Keberhasilan peningkatan produktivitas sangat berkorelasi dengan inovasi teknologi. 2004. produktivitas padi masing-masing 5. Selain keterbatasan sumberdaya lahan. Profil Teknologi Padi Dalam periode 1971-2004. Faktor yang mempengaruhi fluktuasi volume impor beras tidak memiliki pola yang jelas.49 ton/ha. namun karena luas panen turun 2. Jakarta. Kasryno dkk (eds). C.2% per tahun. Pada tahun 2004.Prospek dan Arah Pengembangan Agribisnis Padi Prospek dan Arah Pengembangan Agribisnis Padi Selama 1990-2003 volume impor beras Indonesia berfluktuasi. dengan peningkatan tajam terjadi setelah tahun 2000 (Lampiran 2).

terutama hortikultura.1 kg pada tahun 2003 menjadi 111. 58% di antaranya terkonsentrasi di Jawa dan 21.3% di Sumatera.49 0.3 juta/ha.5 juta. dengan elastisitas pendapatan dan harga yang kurang dari satu. Sebenarnya.Prospek dan Arah Pengembangan Agribisnis Padi Prospek dan Arah Pengembangan Agribisnis Padi Nilai penerimaan dari usahatani padi dengan status garapan milik pada musim hujan (MH).5 5. dan Rp 5. III. BPS (2001). Konversi GKG – beras (%) Kota 1.49 0.0 23. dan Rp 3 juta/ha. LPEM-UI.0 kg pada tahun 20252).7 juta. keuntungan atas biaya tunai pada musim hujan hanya sekitar Rp 1 juta/ha karena kompensasi untuk sewa lahan mencapai Rp 1. Harga 3. karena kualitas lahan yang disewakan umumnya lebih baik dan petani penyewa umumnya menanam komoditas yang bernilai ekonomi lebih tinggi. Parameter 1. sedangkan pada MK I meningkat menjadi Rp 1.722 -0.465 -0. Harga. Rp 2.35 juta/ha.49% per tahun. musim kemarau (MK) I.5 10 63 Keterangan: 1. Asumsi yang digunakan untuk proyeksi permintaan beras. Total biaya tunai untuk masingmasing musim tanam adalah Rp 2.3 juta/ha. dan Konsumsi Beras. Dalam: A. 2001.15 juta/ha.0 23. Pendapatan b. adalah Rp 2. dan MK II berturut-turut adalah Rp 5. RT) 3 5. Rp 5.5 10 63 Desa 1. Pada usahatani padi dengan status garapan sewa. Harga 4. Untuk menyiasati keuntungan yang rendah tersebut. 2) Harianto. Suryana (eds).1 kg pada tahun 2010.5% dari permintaan rumah tangga Tabel 2.7 juta. Pertumbuhan: a. keuntungan atas biaya tunai rata-rata Rp 1. konsumsi beras per kapita turun dari 114. dan Rp 2. Permintaan antara (% dari kons. Pendapatan b.9 juta.564 5.4 juta. sehingga keuntungan atas Varietas Ciherang yang daya hasil dan rasanya setara dengan IR64 telah mendominasi areal pertanaman padi biaya tunai berturut-turut di beberapa daerah di Jawa Barat. stok) 6. Walaupun demikian tidak semua petani penyakap bernasib lebih baik daripada petani penyewa. karena laju pertumbuhan penduduk lebih tinggi dari laju penurunan konsumsi maka jumlah permintaan pangan tetap meningkat.6 juta.56 juta/ha/musim.l. PROSPEK. dianggap sama dengan pertumbuhan periode 1990-2000 Harianto (2001) 3. Prospek 1. jumlah penduduk Indonesia pada tahun 2025 lebih dari 296 juta. Namun. Pada MK I keuntungan lebih rendah dan bahkan pada MK II keuntungan kurang dari Rp 500 ribu/ha. Rp 2. Dengan perhitungan laju pertumbuhan penduduk sebesar 1.564 3. Jakarta 6 7 . Suryana dan Hermanto (2004) 2. petani penyewa umumnya mengusahakan komoditas nonpadi pada MK II. Pendapatan usahatani padi dengan status garapan sakap (bagi hasil) lebih tinggi daripada garapan sewa. Proyeksi permintaan Asumsi yang digunakan untuk menghitung proyeksi permintaan beras disajikan pada Tabel 2. Pendapatan. Pada musim hujan. Kalau permintaan industri diperhitungkan sebesar 23.0 5. Pertumbuhan penduduk (%/thn) 1 2. POTENSI DAN ARAH PENGEMBANGAN A. Permintaan lainnya (a. dan 105. Elastisitas: 2 a. Bunga Rampai Ekonomi Perberasaan.

7 juta ton GKG (26. dan 10. Ekonomi Padi dan Beras Indonesia. Kebutuhan peningkatan produksi Dengan mempertimbangkan daya dukung sumberdaya di berbagai daerah.386 2. menurut wilayah (000 ton). Jakarta.170 (55.487 (65. dan 2025 diperlukan peningkatan produksi berturut-turut sebesar 0.Prospek dan Arah Pengembangan Agribisnis Padi Prospek dan Arah Pengembangan Agribisnis Padi Tabel 3. Di lain pihak. Kasryno dkk (eds). Permintaan beras dalam periode 2005 .2 juta ton (26.7 juta ton (7.837) 2010 8.3%). 2020. dan 2025 diperlukan peningkatan produksi padi berturut-turut sebesar 0.028 512 41. harga beras di pasar dunia cenderung turun dengan volume perdagangan yang tipis (sekitar 56%). Perluasan areal sebaiknya tidak dilakukan di Jawa mengingat opportunity cost-nya sangat tinggi dan daya dukung lahan makin menurun.2025.3%) dari produksi tahun 2003.371 2. panen.202 2.173 2.504 23. atau meningkat masing-masing 8% dan 27% dari permintaan pada tahun 2003 (Tabel 3).3%).563 (52.8 juta ton pada tahun 2015. dan pemasaran hingga 9 Angka dalam kurung adalah konversi beras ke GKG (000 ton) dan permintaan lainnya (stok) sebesar 10%3).961 1. maka Jawa masih harus mendatangkan 3) Suryana.1%). Jawa akan menjadi beban bagi daerah lain untuk memenuhi kebutuhan beras.798 2. tetapi juga kualitas. Kalimantan Sulawesi Maluku & Papua Indonesia 2003 7.5 juta ton pada tahun 2025.637 2.6 juta ton pada tahun 2020. maka kebutuhan beras pada tahun 2010 lebih dari 35 juta ton dan pada tahun 2025 lebih dari 41 juta ton.416 408 33. 2020. Penyebab turunannya produksi beras antara lain adalah: (a) terbatasnya terobosan teknologi baru dalam meningkatkan daya hasil varietas setelah generasi IR64 dan Cisadane. permintaan beras tidak hanya menyangkut aspek kuantitas.1 juta ton GKG pada tahun 2010.120 1.5%). (b) perubahan sistem kelembagaan ke arah sistem komoditas yang terkoordinasi vertikal. (c) peningkatan kualitas sumberdaya manusia dengan manajemen profesional. Badan Litbang Pertanian.8 juta ton (13. 2004. 8 .507 2. Paradigma pembangunan pertanian yang selama ini difokuskan pada pendekatan kemampuan produksi (supply driven) dengan peranan pemerintah pusat yang sangat dominan harus diubah menjadi demand driven yang mencakup keseluruhan sistem agribisnis padi.1%). dan 7.263 (62.825) 2015 8. upaya peningkatan produksi padi seyogianya lebih diarahkan kepada peningkatan produktivitas sumberdaya lahan dengan memanfaatkan inovasi teknologi. (e) serangan hama penyakit. Produksi beras per kapita setelah tahun 1990 menurun dengan fluktuasi yang cukup tinggi.984) 2020 8. dan Hermanto.287 (52.433 18. Bilamana impor beras sebanyak 5% dimungkinkan. Sulawesi dan Kalimantan mampu memenuhi kebutuhan pangan sendiri hingga tahun 2025. kualitas air. 3. aspek sosial budaya di masingmasing daerah.987 22. 2010. dan perkembangan teknologi agroindustri. nilai gizi.838 2.8 juta ton (7. Pertanian dengan demand driven oriented adalah pertanian industri (industrialized agriculture) yang dicirikan oleh: (a) good governance.862 484 39.499 21. pascapanen.037 20. Dengan skenario swasembada absolut (kecukupan 100%) yang digunakan.9 juta ton (1.704 457 37.242 2. Sebaliknya. A.323) 2025 9. yaitu mentoleransi impor beras sebesar 5% maka untuk memenuhi kebutuhan beras pada tahun 2010. 2. 3. 10. (b) penciutan lahan subur dan menurunnya tingkat kesuburan tanah.055 2.611 1. Kebijakan Ekonomi Perberasan Nasional.362 399 32. Dalam: F.298 3.160 (58. maka untuk memenuhi kebutuhan beras pada tahun 2005. 3. bahkan diperkirakan berpeluang mencapai swasembada absolut. (d) penerapan teknologi maju pada seluruh aspek sistem agribisnis secara terintegrasi. 6. 5. dan prasarana irigasi.005 1. dan (f) frekuensi anomali iklim yang makin meningkat.081 2.138) 2005 7. 7. (d) ginya tingkat kehilangan hasil pascapanen.019 2. Ke depan. dan 13.7%).1 juta ton (13.601 19. 2015. budidaya.944 2. Kalau skenario swasembada ontrend (kecukupan 95%) yang digunakan .852) 2.6 juta ton (1.6%).556 432 35. 2015. Wilayah Sumatera Jawa Bali & Nusteng. (c) penurunan harga riil padi yang disertai oleh peningkatan biaya produksi.4 juta ton GKG (20%). mulai dari perbaikan potensi genetik.

Luas lahan rawa dan pasang surut yang sesuai untuk usahatani padi adalah 3. varietas-varietas unggul tersebut dapat diPadi varietas unggul tipe baru Fatmawati mampu berproduksi 10-20% lebih tinggi dari IR64 yang hingga kini disukai oleh banyak petani dan konsumen. lahan rawa pasang surut yang telah digunakan untuk sawah baru seluas 0. maka ketahanan pangan akan dapat berlanjut apabila target produksi beras dalam negeri mencapai minimal 95% dari konsumsi beras nasional. 0. Jika dikaitkan dengan ketersediaan beras di pasar dunia yang makin tipis. dan (e) aset produktif per tenaga kerja pertanian memadai. Dengan demikian terdapat 6.89 juta ha di Maluku dan Papua. 40 di antaranya untuk lahan sawah irigasi (termasuk 4 varietas unggul hibrida = VUH.31 juta ha). Lahan sawah. dan (e) responsif terhadap perubahan dinamika pasar. potensi lahan kering belum dimanfaatkan secara optimal bagi pengembangan tanaman padi dan tanaman pangan lainnya. Hingga saat ini kontribusi padi gogo terhadap pengadaan produksi padi nasional baru mencapai 5-6%. Balai Penelitian Tanaman Padi dari Badan Litbang Pertanian.51 juta ha. 2. 5 varietas untuk lahan kering (padi gogo).93 juta ha. (2) kelanggengan fungsi lahan pertanian yang baru dibuka. Potensi sumberdaya lahan Berdasarkan peta tanah skala 1:1. Lahan kering yang sesuai untuk tanaman semusim diperkirakan seluas 25. Prospek dan potensi inovasi teknologi Badan Litbang Pertanian telah menghasilkan berbagai terobosan peningkatan produksi padi. Potensi Peningkatan Produksi 1. (c) produksi dengan standar mutu dan efisiensi tinggi sesuai selera konsumen. 2. sementara jumlah penduduk Indonesia terus bertambah dengan laju pertumbuhan yang masih tinggi. telah menghasilkan 54 varietas unggul padi. Di banyak daerah. Hingga saat ini.51 juta ha).12 juta ha di Jawa. Varietas unggul.01 juta ha di antaranya terdapat di Sumatera.85 juta ha di Bali dan Nusa Tenggara. (d) responsif terhadap dinamika perubahan pasar.11 juta ha di Sulawesi. Manajemen stok pangan diperlukan untuk menjaga stabilitas harga pangan dalam negeri. Maluku dan Papua (3. Dari 13. (4) dampak lingkungan atau perubahan ekosistem.000. 1. 1. yang tersebar di Sumatera (1.26 juta ha.03 juta ha di Kalimantan. 1. luas lahan yang sesuai dikembangkan untuk pertanian adalah 24. Berdasarkan masalah dan kendala produksi serta tuntutan pengguna. Dalam periode 2000-2004. dan 9 varietas untuk lahan pasang surut.5 juta ha di lahan basah (sawah) dan 76.86 juta ha yang telah dimanfaatkan.4 juta ha lahan yang dapat dikembangkan untuk sawah.000 dari Pusat Litbang Tanah dan Agroklimat. 11 . Dengan pengelolaan yang tepat. Sulawesi (0. B. Ciri sistem usahatani padi dalam pertanian industri adalah: (a) berteknologi maju spesifik lokasi pada keseluruhan aspek sistem. dan 7.3 juta ha di lahan kering. dan (5) masih adanya alternatif peningkatan produksi padi melalui peningkatan produktivitas dan IP. Luas lahan sawah nonrawa pasang surut dengan kelas sesuai untuk tanaman padi adalah 13. (3) ketersediaan tenaga kerja pertanian.33 juta ha. Jawa (0. baru 6.01 juta ha).Prospek dan Arah Pengembangan Agribisnis Padi Prospek dan Arah Pengembangan Agribisnis Padi pergudangan yang dikelola secara profesional dan efisien. dan 4 varietas unggul tipe baru = VUTB). 10 Lahan rawa dan pasang surut. Lahan kering.26 juta ha lahan sawah yang ada. (b) sumberdaya manusia berkualitas dan profesional.12 juta ha). terutama varietas unggul berdaya hasil tinggi dan komponen teknologi budidaya yang diyakini mampu meningkatkan produktivitas padi nasional di masa datang. degradasi lingkungan dan sebagainya. lahan kering diperkirakan dapat mendukung upaya peningkatan produksi padi nasional.92 juta ha). Kalimantan (1. Namun perlu dipertimbangkan beberapa hal berikut: (1) investasi yang mungkin tinggi.

batang kokoh. VUB lainnya seperti Gilirang. Pengembangan padi gogo di antara tanaman perkebunan diharapkan dapat mendukung peningkatan produksi padi nasional. dan Fatmawati dilepas sebagai VUTB. dan Situ Bagendit. Pergiliran varietas dan penanaman secara mozaik dan stripe planting (tanaman peka yang diselingi baris tanaman tahan) dapat mengatasi penyakit blas. namun ketahanannya terhadap penyakit blas masih bersifat parsial. keunggulan VUTB antara lain adalah jumlah anakan lebih sedikit (6-12 anakan) tetapi semuanya produktif. dan varietas inbrida lainnya. Gilirang. daun tegak dan tebal. Beberapa VUS padi lahan pasang surut toleran keracunan besi dan aluminium (lahan sulfat masam) telah dilepas dengan nama Punggur. Way Apo Buru. Rokan. Indragiri. dan lahan rawa pasang surut) diperkirakan mampu meningkatkan produktivitas padi nasional. dan potensi hasil 10-15 t/ha. Cigeulis. dan VUTB Fatmawati berdaya hasil 5-20% lebih tinggi dari IR64. dan super genjah (varietas unggul spesifik. Di antara banyak varietas padi sawah yang dilepas dalam beberapa tahun terakhir. yaitu varietas yang diperuntukkan bagi peningkatan produktivitas yang melebihi barier potensi hasil yang sudah melandai (VUH dan VUTB) dan varietas yang diperuntukkan bagi stabilitas hasil. mutu gizi. Varietas-varietas unggul ini telah menambah pilihan bagi petani di agroekosistem lahan rawa pasang surut. dan H-21 mampu berproduksi 7-12 t/ha dan memiliki tingkat ketahanan yang lebih baik terhadap beberapa hama penyakit utama. kekeringan. Padi hibrida Maro. termasuk mutu rasa. Hipa-3. Margasari. varietas yang lebih disukai oleh petani dan konsumen selain IR64 adalah Ciherang. air. dan Memberamo. Sejak beberapa tahun terakhir tingkat kesuburan 13 Padi hibrida Hipa-3 dan Hipa-4 berdaya hasil 10-20% lebih tinggi dari IR64. H-17. H-18. Siak Raya. jumlah gabah>250 butir/malai. Hipa-4. Memberamo.Prospek dan Arah Pengembangan Agribisnis Padi Prospek dan Arah Pengembangan Agribisnis Padi kelompokkan menjadi dua. Tenggulang. Rasio gabah/jerami VUTB >0. Beberapa galur padi hibrida generasi berikutnya seperti H-6. VUB ini telah berkembang dan mulai menggeser dominasi IR64. Cimelati. Beberapa tahun mendatang direncanakan akan dikembangkan varietas unggul tipe baru hibrida (VUTBH) dengan keunggulan produktivitas ganda. tanaman dan organisme. Batutegi. Pengembangan VUH dan VUTB pada lahan suboptimal (lahan sawah tadah hujan. Maro Hipa-3. 12 . Situ Patenggang. Hipa-4 yang dikembangkan oleh Badan Litbang Pertanian dan 13 varietas padi hibrida lainnya yang dikembangkan oleh pihak swasta di Indonesia memiliki produktivitas yang lebih tinggi daripada IR64 di daerah bukan endemik hama dan penyakit. Lima varietas padi gogo toleran tanah masam (keracunan Al). H-19. dan VUH Rokan.5 sehingga efisien dalam penggunaan hara. dan Mendawak. Cimelati. lahan kering. Ciherang. Silugonggo. Martapura. VUS). Dibandingkan dengan VUB. dan naungan telah dilepas pula dengan nama Danau Gaung. panen dan pascapanen. Pengelolaan lahan. dan Ciapus dilepas sebagai padi semi VUTB. Ciliwung. Lambur.

Hal ini ditandai oleh struktur tanah yang buruk. Teknologi pengeringan gabah juga telah dihasilkan dan penting artinya dalam mempercepat proses pascapanen dan mengatasi masalah pengeringan gabah pada musim hujan. Dalam model PTT. kehilangan hasil akibat serangan hama dan penyakit dapat ditekan menjadi rata-rata 2. pada tahun 2003/04 dikembangkan pula pada lahan sawah lahan tadah hujan. Dalam model PTT dianjurkan penggunaan bahan organik yang merupakan salah satu komponen utama teknologi untuk memperbaiki sifat fisik tanah. kandungan C-organik rendah. dan pengelolaan pascapanen dipadukan sehingga memberikan efek sinergis dalam peningkatan produktivitas dan efisiensi usahatani. Limbah padi berupa jerami diproses menjadi pakan ternak. Model PTT diharapkan menjadi salah satu pilar Revolusi Hijau Lestari dalam memacu produksi padi di masa yang akan datang. R/C didefinisikan sebagai rasio antara penerimaan dengan biaya. serta teknologi industri untuk diversifikasi produk berbasis beras.Prospek dan Arah Pengembangan Agribisnis Padi Prospek dan Arah Pengembangan Agribisnis Padi sebagian lahan sawah irigasi menurun. Pay Back Period. Belajar dari pengalaman pengembangan model PTT padi pada sawah irigasi pada tahun 2002 di beberapa lokasi di Indonesia. thresher dan RMU untuk mendukung usahatani padi cukup layak. varietas unggul yang dikembangkan mampu berproduksi sesuai dengan potensi genetiknya. Penerapan sistem panen beregu mampu pula menekan kehilangan hasil saat panen dari sekitar 13. lahan kering. Beberapa teknologi peningkatan mutu dan nilai tambah beras yang telah dihasilkan antara lain adalah teknologi produksi tepung beras kaya protein.6% menjadi 3. Thresher dan RMU Analisis kelayakan usaha traktor. maka pengembangan usaha traktor. Dengan menerapkan teknologi PHT.8%. hara mikro dan kehidupan biologis juga rendah sebagai dampak dari sistem intensifikasi yang diterapkan selama ini. dan lahan rawa pasang surut dengan peningkatan hasil hingga lebih dari 50%.4% per tahun. dan unit penggilingan padi (RMU) menggunakan tiga rasio kelayakan. lebih rendah dari umur ekonomisnya yang mencapai 5 tahun. C.46 tahun. thresher.49 kali biaya atau dengan keuntungan bersih sebesar 49%.77 kali biaya atau dengan keuntungan bersih sebesar 77%. pengelolaan gulma terpadu. dan Titik Impas disajikan pada Tabel 4. Titik Impas tercapai apabila traktor mampu mengolah lahan sawah seluas 34 ha per tahun. dan tingkat petani masing-masing mencapai 37%.1-18.76 berarti biaya investasi dapat dikembalikan dalam tempo 1. artinya usaha tersebut mampu memberikan penerimaan sebesar 1. Usaha thresher menunjukkan R/C 1. teknologi produksi beras premium atau beras super. jumlah bibit/lubang. pengelolaan hara spesifik lokasi. Pay Back Period sebesar 1. beras kristal dan beras instan.49. komponen budidaya seperti pengelolaan hama terpadu (PHT). Dalam kaitan ini telah dikembangkan Sistem Integrasi Padi-Ternak (SIPT). 27% dan 16% dibandingkan dengan tanpa penerapan model PTT.77. pemupukan berdasarkan kebutuhan tanaman. Peningkatan produksi padi dengan menerapkan model PTT di tingkat penelitian. yaitu Revenue-Cost Rasio (R/C). sedangkan Titik Impas adalah volume kegiatan yang memberikan nilai penerimaan yang sama dengan total biaya. Melalui model PTT. Berdasarkan ketiga indikator tersebut.76 tahun. lebih rendah dibandingkan dengan kapasitas kerja traktor yang mampu mencapai 50 ha per tahun. Kelayakan Usaha Traktor. Usaha traktor menunjukkan R/C 1. Pay Back Period adalah waktu yang diperlukan untuk mengembalikan biaya investasi. Untuk memperbaiki kualitas lahan dapat diupayakan melalui penggunaan bahan organik yang dikombinasikan dengan efisiensi input teknologi (umur bibit. tingkat pengkajian (on farm).46 berarti biaya investasi usaha thresher dapat dikembalikan dalam tempo 1. lebih rendah dari umur ekonomis traktor yang mencapai 5 tahun. Titik 14 15 . sedangkan kotoran ternak yang diolah menjadi kompos dikembalikan ke tanah untuk memperbaiki dan meningkatkan produktivitas lahan. artinya usaha tersebut mampu memberikan penerimaan sebesar 1. Pay Back Period 1. manajemen air dll) yang populer disebut model Pengelolaan Tanaman dan Sumberdaya Terpadu (PTT).

000/ha): a.4 9. Arah Pengembangan Produksi Padi Nasional Menuju tahun 2025 mendatang.9 1. pengembangan di areal baru. usaha thresher dinilai sangat layak. Oli c. Evaluasi Dampak Pemanfaatan Alsintan. 4 Titik impas: Ha/tahun untuk traktor. maka usaha ini juga layak dikembangkan.5 5 50 2.0 31. Angka ini juga lebih rendah dari kapasitas thresher yang mencapai 200 ton per tahun.261. Pay Back Period sebesar 3. jauh lebih pendek dari umur ekonomis peralatan yang digunakan yang mencapai 10 tahun.250 3. D. dan 2025.5 7. thresher dan unit penggilingan padi (RMU). Upaya pemenuhan kebutuhan beras nasional hingga tahun 2025 akan ditempuh melalui dua cara: (1) peningkatan produktivitas padi dengan laju pertumbuhan 1. 2015. produktivitas 0.476.375 1. Dibandingkan dengan kapasitas RMU yang mencapai 500 ton gabah per tahun.1 295. Indonesia dituntut untuk mampu mencukupi minimal 95% dari kebutuhan beras nasional (swasembada). Uraian Spesifikasi Harga beli (Rp. ketahanan terhadap kendala biotik (hama dan penyakit).37% per tahun.1 mengindikasikan bahwa biaya investasi dapat dikembalikan dalam tempo 3.996. Pada tahun 2010.8 juta ton GKG. Kelayakan usaha traktor.65 104 Kapasitas: Ha/tahun untuk traktor. Suku cadang d.3 juta ton.647.3 4. Peningkatan produktivitas Peningkatan produktivitas padi dapat diupayakan melalui (1) peningkatan hasil potensial dan aktual varietas melalui perbaikan genetik potensi hasil.787.000/th) Keuntungan (Rp. ton GKG/tahun untuk thresher dan RMU Sumber: Ditejentan-IPB. (diolah) 2 3 1 impas usaha thresher adalah 113 ton per tahun. dan (2) percepatan inovasi teknologi melalui jaringan penelitan dan pengkajian. dan (2) peningkatan areal panen padi melalui peningkatan intensitas tanam (IP).1 68.965. Titik Iimpas 342 ton per tahun artinya usaha RMU dapat 16 . Pada tahun 2009 mendatang.2 5.41 17. 58.5 5 200 1. termasuk sebagai tanaman sela di lahan perkebunan dan lahan bukaan baru. toleransi terhadap cekaman abiotik (kekeringan dan keracunan).000/unit) PK Umur Teknis (thn) Kapasitas Analisis Finansial Biaya tetap (penyusutan) (Rp.7 27.2 272.1 42.600 8.4 131.500 8. 1.1 11.000/thn) Total Biaya (Rp.5 11.9 juta ton.3 68.575 7. 2002. 2020.175 43. artinya usaha ini mampu menutup seluruh biaya apabila thresher mampu merontok gabah sebanyak 113 ton per tahun. 62. dan pendampingan.8 juta ton.1 30.43 3.54 2. prescription farming).1 3.1 190. Impor beras diusahakan maksimal 5% dari kebutuhan tersebut.68 juta ton dan 64.1 11.1 1.39 2.33 22. dan perbaikan teknik budidaya menggunakan alat bantu penetapan teknologi spesifik lokasi (PTT yang diperbaiki. Solar b.Prospek dan Arah Pengembangan Agribisnis Padi Prospek dan Arah Pengembangan Agribisnis Padi Tabel 4.520 36.000/satuan) (Rp.822.300 20 8 20 175 223 5. pengembangan. sosialisasi.750 20 10 500 3.0-1. target produksi padi nasional menurut Ditjen Bina Produksi Tanaman Pangan adalah 56. ton GKG/tahun untuk thresher dan RMU.5% per tahun.46 dengan keuntungan bersih sebesar 46%. petak demonstrasi. 17 11.264. Penerimaan per unit: Rp/ha untuk traktor dan Rp/ton untuk thresher dan RMU. dan 65.85%. RMU menunjukkan R/C 1. dan luas panen 0. Artinya. kebutuhan beras diperkirakan masing-masing sebesar 55.6 4.000/th) R/C Pay Back Period (th) Titik Impas 1 2 3 4 Traktor Thresher RMU menutup seluruh biaya apabila usaha tersebut mampu menggiling gabah sebanyak 342 ton per tahun.3 79.48%. Upah operator Total Biaya Variabel: (Rp.000/th) Penerimaan (Rp.875 450 11. Kapasitas thresher dan RMU dalam satuan ha masing-masing 40 ha dan 100 ha.90 juta ton GKG pada tahun 2025 atau setara dengan laju peningkatan produksi 0.1 tahun.000/ha) (Rp.000/thn) Biaya variabel Rp.

26 juta ha7) dan oleh Ditjen Bina Produksi Tanaman Pangan telah diproyeksikan seluas 1. A. produktivitas padi nasional diharapkan meningkat lebih cepat.57 juta. strategi ini tidak menumbuhkan daerah pertanian baru atau kurangnya pemerataan pembangunan pertanian dan penyerapan tenaga kerja. Program Pengembangan Padi Hibrida 2005-2009.26 juta ha. I. 2. Pola IP Padi 300. Dalam A. Bogor. dan D. lahan sawah tadah hujan. 2. Mardiharini. Perontokan gabah dengan pedal atau mesin thesher lebih efisien dan mempercepat proses produksi. Adimahardja. jalan usahatani. I.52. Namun. di Jawa dan Bali tersedia lahan potensial seluas 3.. dan Irian Jaya tersedia lahan yang sesuai untuk sawah baru. Las. hasil varietas-varietas unggul tersebut dapat diaktualisasikan hingga mencapai potesi genetik yang dimilikinya. 6) Triny S. 4) 19 . 2004. Konsepsi dan prospek implementasi sistem usaha pertanian berbasis sumber daya. Badan Litbang Pertanian. Sumarno. Hidayat dan E. Balitpa. Las. Arah dan lokasi pengembangan Pengembangan areal tanam difokuskan pada lahan-lahan yang memiliki sumber air yang cukup dengan kendala produksi seminimal mungkin.K. Satoto. 7) Direktorat Seralia. Jakarta. I. peluang dan potensi peningkatan produktivitas padi pada lahan kering.N. S. sejalan dengan konsep Revolusi Hijau Lestari. Ditjen Bina Produksi Tanaman Pangan.. Setyobudi. Jakarta. Dengan penerapan teknologi budidaya spesifik lokasi (improved PTT). dan (4) usaha agribisnis lebih mudah karena daerah penerima adopsi umumnya telah memiliki infrastruktur yang memadai. pesemaian sistem culik. 66 hal. Optimalisasi sumber daya lahan dan air untuk pembangunan pertanian. Pengembangan areal panen juga diarahkan ke sentra-sentra produksi karena di daerah tersebut umumnya telah tersedia jaringan irigasi. 2000. dan tanam bibit muda. masing-masing seluas 4. 2005.Prospek dan Arah Pengembangan Agribisnis Padi Prospek dan Arah Pengembangan Agribisnis Padi Dengan mempercepat inovasi teknologi seperti varietas berdaya hasil tinggi (VUB. M. 18 dan 2. A. Demikian juga untuk pengembangan padi hibrida dan padi tipe baru. Makarim dkk. Selain efisien dalam penggunaan input dan mudah diadopsi petani. Makarim. Pusat Penelitian dan Pengembangan Pertanian. Pasandaran.06 juta. S. maka produksi padi nasional akan surplus mulai tahun 2015.. Pengelolaan tanaman terpadu padi hibrida. Guswara. Areal yang sesuai untuk pengembangan padi hibrida di Jawa dan Bali sudah teridentifikasi seluas 3. Walaupun dengan nilai agregat yang lebih rendah. Di Kalimantan. Keuntungan dari percepatan dan perluasan adopsi teknologi adalah: (1) peningkatan produksi lebih terjamin karena sifat lahan sudah dipahami petani.47 juta ha5). sementara potensi hasil VUTB dan VUH 10-20% lebih tinggi. A. Laporan Akhir. I. VUTB dan VUH).K. Widiarta. Purba. VUTB dan VUH). dan lahan rawa pasang surut justru lebih besar. 1999. (2) penggunaan lahan lebih hemat sehingga lahan yang lain dapat digunakan untuk komoditas lainnya. lantai jemur. Perluasan areal panen diarahkan pada peningkatan IP melalui pemanfaatan sumber air yang ada menjadi IP 1. (3) peluang peningkatan pendapatan petani lebih besar karena teknologi yang diterapkan sudah matang dan diyakini efektif meningkatkan hasil dan efisiensi.K. teknologi budidaya spesifik lokasi juga tidak merusak lingkungan. Sumatera. A. Kartaatmadja. dan pasar sehingga mudah menerapkan usaha dan sistem agribisnis.) Tonggak Kemajuan Teknologi Produksi Tanaman Pangan: Konsep dan Strategi Peningkatan Produksi Pangan.84 juta ha lahan. Peningkatan IP dimungkinkan dengan penggunaan varietas berumur genjah. Untuk peningkatan IP padi6) di Jawa dan Bali telah teridentifikasi 0. 5) Las. Dengan asumsi akan terjadi kenaikan produksi + 3% per tahun melalui percepatan inovasi teknologi PTT dan varietas (VUB. (eds. Hal 28-54.0 juta ha bagi pengembangan padi hibrida dan padi tipe baru di 12 propinsi8) (Tabel 5 dan Lampiran 3). VUB yang dihasilkan umumnya berdaya hasil 5% lebih tinggi dibandingkan dengan varietas yang telah berkembang saat ini.

Las dkk (1999).0 62. areal panen naik 0. Skenario Skenario Skenario Skenario Skenario 1 2 3 4 (pesimis) (optimis) (realistis) (sumberdaya) Areal panen Naik 0. Peningkatan produktivitas sebesar 1.Prospek dan Arah Pengembangan Agribisnis Padi Prospek dan Arah Pengembangan Agribisnis Padi Tabel 5. Potensi areal pengembangan padi melalui ekstensifikasi.0 54.0 50.572 0 22 820 4. 68.0%/th 0. produktivitas meningkat 1% per tahun (Lampiran 4). dan Triny dkk (2004) 3.061 3. Skenario peningkatan produksi Ada dua faktor yang dipertimbangkan dalam memproyeksikan produksi padi.5%/th 1. 20 21 . Dengan skenario optimis. Proyeksi permintaan dan produksi beras (setara GKG) menurut skenario 1. yaitu areal panen dan produktivitas. peningkatan luas panen dan pengembangan varietas hibrida.0 58.37%/th Produktivitas Naik Naik Naik Naik 1. Selain peningkatan produktivitas 1% per tahun seperti halnya skenario 1.151 10.21 ton GKG/ha (Lampiran 4).0 66. Skenario proyeksi produksi padi. Angka ini dimungkinkan dapat tercapai jika teknologi diadopsi secara optimal dan semua prasarana terpenuhi. Gambar 3).0 Juta ton GKG Sumatera Jawa-Bali Bali-Nusteng Sulawesi Kalimantan Lainnya Total 844 64.0 60. dengan skenario realistis Indonesia juga akan berswasembada absolut sampai tahun 2025 (Lampiran 4.4% maka Indonesia akan mampu berswasembada absolut (100%) hingga tahun 2025 (Gambar 1). Skenario 3: Skenario realistis.0%/th 1.0 Produksi Swa-100% 844 Sumber: Abdurachman dkk (2000).4%/th Dipertahankan Dipertahankan Naik 0.5% per tahun. Kalau produktivitas meningkat 1% per tahun areal panen naik 0.7 juta ha.0% per tahun adalah nilai rata-rata peningkatan produktivitas dalam periode 2000-2004. produktivitas padi pada tahun 2025 diproyeksikan 6. areal panen dipertahankan. Tabel 6.0 2004 2009 2014 Tahun 2019 2024 Gambar 1. skenario 3 mengasumsikan luas panen dipertahankan.4%. Peningkatan luas panen2 (ribu ha) Wilayah/pulau ekstensifikasi1 (ribu ha) 2. 52.3 3. Seperti pada skenario 2. produktivitas diproyeksikan meningkat 1.604 Pengembangan VUH&VUTB (ribu ha)*) Kes. Skenario proyeksi produksi padi disajikan pada Tabel 6. Data statistik Departemen Pertanian menunjukkan bahwa luas areal panen pada tahun 2004 mencapai 11. Dengan skenario ini Indonesia akan berswasembada beras hingga tahun 2025 (Gambar 2) dan perluasan areal tanam belum diperlukan.256 Skenario 1: Skenario pesimis.0 56.48%/th Skenario 2: Skenario optimis.

Atas dasar kriteria tersebut.48% per tahun.0 64. Proyeksi permintaan dan produksi beras (setara GKG) menurut skenario 2. Dengan skenario Ditsereal.0 54.Prospek dan Arah Pengembangan Agribisnis Padi Prospek dan Arah Pengembangan Agribisnis Padi 70. Pada skenario ini luas panen naik 0. Untuk itu perlu disusun skala prioritas target pengembangan.0 Juta ton GKG Produksi Swa-100% 2004 2009 2014 2019 2024 60.0 56.0 56. lebih moderat dibandingkan dengan skenario 2 dan 3. maka skala prioritas peningkatan produksi secara nasional yang 9) Ditjen Bina Produksi Tanaman Pangan. Proyeksi permintaan dan produksi beras (setara GKG) menurut skenario 4. Jakarta 22 23 .0 66. Skala prioritas dan arah pengembangan padi disusun berdasarkan areal tanam pada masing-masing agroekosistem dan potensi menekan senjang hasil antara hasil aktual di tingkat petani dan potensi produktivitas varietas unggul. Dengan skenario 4 target produktivitas pada tahun 2025 hanya 5. Proyeksi permintaan dan produksi beras (setara GKG) menurut skenario 3.0 50. Gambar 3.0 60. 2004.0 Juta ton GKG 60.0 52.0 54.02 ton GKG/ha (produktivitas tahun 2003 hanya 4.0 50. dan pada tahun 2016 akan terjadi berswasembada absolut (Lampiran 4. Setiap skenario menargetkan peningkatan produktivitas dari yang dicapai saat ini.0 56.0 52. Departemen pertanian.0 66. Rencana strategis pembangunan tanaman pangan Tahun 2005-2009.0 Tahun Produksi Swa-100% Skenario 4: Skenario.0 66. Direktorat Jenderal Bina Produksi Tanaman Pangan9).0 64.0 58.0 2004 2009 2014 Tahun 2019 2024 Produksi Swa-100% 52. Indonesia akan berswasembada beras sampai tahun 2025 (bahkan lebih) kalau kriteria swasembada ditetapkan sebesar 95% dari kebutuhan.0 54.0 2004 2009 2014 Tahun 2019 2024 Gambar 4.37%. 68. 68.0 64.0 Gambar 2.52 ton GKG/ha). Gambar 4). sementara produktivitas naik 0.0 68.0 Juta ton GKG 62.0 62.0 50.0 62.0 58.0 58.

yaitu (1) persilangan dan seleksi konvensional. inovasi teknologi varietas unggul memegang peranan penting.3 100 Kontribusi t/ha 0. khususnya sumber daya genetik dari plasmanutfah domestik.578 Senjang hasil (t/ha) 1.201 333. Dalam hal ini pemanfaatan teknologi pascapanen padi dan produk sampingnya memegang peranan penting. Skala prioritas arah pengembangan untuk peningkatan produktivitas padi berdasarkan tipologi lahan Luas tanam (ha) 2. Upaya perbaikan potensi genetik varietas padi tidak hanya memerlukan dukungan pengelolaan dan karakterisasi plasma nutfah.77 t/ha.0 7. Pengembangan industri beras Selain untuk dikonsumsi langsung.46 15.209.38 23.4 44.23 0.324 7.4 52. Dalam hal perbaikan ketahanan VUBS masih terus diusahakan untuk mendapatkan galur-galur tahan dan galur yang memiliki nilai gizi tinggi dari IRRI dan International Food Research Institute (IFRI).26 0.200 988. dan (6) rekayasa genetik. Dalam kaitan ini.8 20. Balitpa bekerja bersama dengan BB-Biogen.46 13. kerjasama diarahkan pada pembentukan padi tahan cekaman biotik dengan teknik transgenik seperti ketahanan terhadap hama penggerek batang maupun dengan teknik radiasi bersama Badan Tenaga Atom Nasional. sedangkan untuk identifikasi wilayah pengembangan bekerjasama Puslittanak. VUB yang dilepas perlu dilengkapi dengan teknologi budidaya dan teknologi panen/pascapanen agar potensi genetiknya dapat 24 25 . perbaikan genetik varietas padi tidak hanya dilakukan dengan cara konvensional.0 3. dan 3) perakitan VUH.23 100 Skala prioritas Nilai 71. terutama produktivitas dan kualitasnya.08 19. Bergantung kepada tuntutan pemecahan masalah. tetapi juga memerlukan teknik bioteknologi. beras juga dapat diolah untuk berbagai keperluan dengan nilai tambah yang cukup tinggi.75 1. Dengan LIPI. Pendekatan ini membuka peluang kerjasama dengan lembaga penelitian seperti BB-Biogen. 4. Peta jalan (roadmap) komoditas padi Peran Badan Litbang Pertanian khususnya penelitian padi untuk mempertahankan swasembada beras sangat dominan pada tahapan riset (Gambar 6). lahan sawah beririgasi sederhana. Titik tolak pelaksanaan program adalah kondisi produktivitas padi nasional pada tahun 2005 yang diperkirakan mencapai 4. Pengembangan VUB ke depan akan memanfaatkan sumberdaya yang ada.0 Ranking 1 5 3 2 4 6 Tipologi lahan sawah Irigasi teknis Irigasi 1/2 teknis Irigasi sederhana Tadah hujan Pasang surut Lainnya Total produksi padi di masa datang harus bertumpu pada enam pendekatan.586.0 2. 2) perakitan VUTB.5 12.23 0.015.551 1.6 61.Prospek dan Arah Pengembangan Agribisnis Padi Prospek dan Arah Pengembangan Agribisnis Padi didukung oleh penelitian dan pengembangan diarahkan kepada lahan beririgasi teknis.0 70.75 2. Perguruan Tinggi dan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI).953 2.38 15. Sedangkan Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP).349 615. dan lainnya (Tabel 7). Alternatif dan peluang peningkatan nilai tambah padi melalui sistem industri beras disajikan pada Gambar 5. Untuk tetap menjaga agar produksi dalam negeri dapat memenuhi kebutuhan (swasembada). Dalam upaya peningkatan produktivitas padi nasional.70 % 13. 5. (5) pemuliaan molekuler.5 26. lahan sawah beririgasi setengah teknis.748.26 0. upaya peningkatan Tabel 7. (2) pemuliaan heterosis/hibrida.33 1. tetapi juga karakterisasi lahan yang sesuai bagi pengembangannya. Bekerjasama dengan BB-Biogen akan diperbaiki kelemahan VUH maupun VUTB seperti kehampaan yang masih tinggi.0 2. Untuk pengelolaan dan kharakterisasi plasma nutfah padi. dan Dinas-dinas terkait semakin besar pada tahapan pengembangan melalui adopsi teknologi padi.9 4. (4) persilangan padi kerabat jauh. (3) pemuliaan padi tipe baru. lahan rawa (pasang surut dan lebak). pengembangan VUB dilakukan melalui tiga pilahan penelitian yaitu 1) perakitan VUB spesifik (VUBS). lahan sawah tadah hujan.39 0.59 t/ha. Balitpa terus berupaya meningkatkan potensi genetik varietas dan menyiapkan teknologi aktualisasi potensi genetik VUB. Ditjen. Selaras dengan strategi Revolusi Hijau Lestari. produktivitas padi nasional harus terus ditingkatkan sehingga pada tahun 2009 dapat mencapai 4.7 40.5 Distribusi area 28.

Prospek dan Arah Pengembangan Agribisnis Padi 27 . Peta Jalan (roadmap) komoditas Padi. EKSTRUDAT •Pangan Olahan •Modified Starch •Gum/Perekat GABAH (±50%) DEDAK (±9%) INDUSTRI TEKSTIL SEKAM (±20%) •Arang Sekam •Abu Gosok •Bahan Bakar •Silikat •Karbon Aktif Gambar 5. Alternatif dan peluang industri beras Gambar 6.26 PANGAN POKOK •Beras Kepala •Beras Giling •Berkualitas •Beras Arimatik •Beras Instan •Beras Kristal Prospek dan Arah Pengembangan Agribisnis Padi JERAMI (±50%) PANGAN FUNGSIONAL •BERAS (±61%) •MENIR (±10%) PADI BERAS PECAH KULIT (±80%) PANGANAN •Beras •Beras •Beras •Beras •Beras •Kompos •Pakan/Silase •Bahan Bakar •Medua Jamur •Kertas •Papan Partikel Yodium IG Rendah Nutrisi Tinggi Berlembaga Fe Tinggi •Kue Basah •Keu kering TEPUNG •Tepung BKP •Tepung Instan •Industri Tekstil •Pangan Olahan BAHAN BAKU INDUSTRI PATI •Pakan •Pangan Serat •Minyak BIHUN.

Hasil penelitian panen dan pascapanen telah menjadi bagian dari teknologi pengembangan VUTB/VUB sejuta hektar dan PMI. Balitpa menyediakan benih BS untuk keperluan pengembangan varietas unggul. penelitian juga diharapkan mampu menghasilkan teknologi produksi benih padi hibrida dan wilayah yang sesuai bagi pengembangan VUTB/VUH. seminar. dengan BB-Pascapanen dan Ditjen BP2HP dalam hal perbaikan penanganan pasca panen. diseminasi melalui penyediaan benih sumber. Secara langsung. Dari program perakitan varietas akan dihasilkan galurgalur harapan yang siap diuji adaptasi dan uji multilokasi melalui jaringan litkaji dengan BPTP di daerah-daerah produsen padi. teknologi yang dihasilkan baru akan bermanfaat jika sudah digunakan oleh petani. dan media lainnya. . dan secara tidak langsung melalui tahapan pengkajian bersama BPTP. sehingga VUBS. air. ekspose. Direktorat Jenderal Tanaman Pangan. Varietas unggul baru yang telah disetujui untuk dilepas. Penelitian perbaikan komponen teknologi LATO diharapkan dapat menghasilkan perbaikan komponen teknologi PTT padi sawah irigasi yang telah dijadikan sebagai teknologi utama dalam implementasi program Peningkatan Mutu Intensifikasi (PMI) dan pengembangan sejuta hektar VUTB/VUB. Hasil penelitian perbaikan komponen teknologi PTT akan direkomendasikan untuk dikaji lebih lanjut oleh BPTP di lahan marjinal. VUTB gogo beserta PTT pada lahan marjinal menjadi komponen teknologi unggulan yang telah terintegrasi dalam kegiatan tersebut. 28 29 . tanaman dan organisme (LATO) serta panen dan pascapanen menjadi bagian yang tak terpisahkan dari program pengembangan komoditas padi. segera dimasyarakatkan melalui program pengembangan VTUB/VUB atau melalui program perbaikan mutu intensifikasi (PMI) pada lahan sawah irigasi yang digerakkan oleh Ditjen Tanaman Pangan bekerja sama dengan dinas-dinas pertanian. Sosialisasi teknologi dapat melalui BPTP. temu lapang. diseminasi dan sosialisasi teknologi sangat penting artinya. Pada tahun 2007 mendatang. Diseminasi hasil penelitian akan dilakukan secara langsung maupun tidak langsung. teknologi perbaikan PTT dan varietas unggul diharapkan telah diadopsi dan dikembangkan pada lahan marjinal melalui program PMI. kerja sama diharapkan dapat menghasilkan teknik perontokan VUTB. Dengan BB-Mektan. Oleh sebab itu penelitian perbaikan komponen pengelolaan lahan. misalnya. Memasuki tahun 2007 diharapkan intesifikasi telah diintroduksikan pada lahan marjinal. sebelum diusulkan untuk dilepas sebagai VUB. Bekerjasama dengan Puslittanak. Dalam penelitian perbaikan komponen LATO dan pascapanen terbuka peluang untuk bekerjasama dengan lembaga penelitian lainnya. Dalam hal ini. dan institusi terkait lainnya. Di masa yang akan datang penelitian ini diharapkan dapat menghasilkan teknologi yang mendukung pengembangan PTT di lahan marjinal melalui program PMI. Ditjen BP2HP Dinas Pertanian. Bagaimanapun canggihnya.Prospek dan Arah Pengembangan Agribisnis Padi Prospek dan Arah Pengembangan Agribisnis Padi teraktualisasikan.

48%. dengan target swasembada berkelanjutan dan peningkatan pendapatan petani melalui peningkatan efisiensi produksi dan peningkatan nilai tambah. 2020. 56. Dalam urutan tahun yang sama.75 juta. TUJUAN DAN SASARAN Tujuan pengembangan produksi padi nasional adalah untuk memenuhi kebutuhan beras dalam negeri yang terus meningkat. Untuk mencapai tujuan tersebut.Prospek dan Arah Pengembangan Agribisnis Padi Prospek dan Arah Pengembangan Agribisnis Padi IV.03 juta. dan stok nasional.32 juta dan 65. Dengan menggunakan tingkat konversi GKG menjadi beras sebesar 63%.56 juta juta ton GKG. 55. dan nilai gizi. produktivitas 0. 2009. Sasaran produksi sebesar 56. sasaran produksi dan produk berbasis beras juga ditujukan untuk peningkatan kualitas. elastisitas pendapatan dan harga.21 juta. 2015. 52. 58. selaras dengan dinamika permintaan dan preferensi konsumen yang makin beragam dan meningkat yang ditempuh melalui pendekatan perbaikan genetik maupun teknologi pascapanen.37% per tahun.68 juta ton pada tahun 2009 dan 64. dan 2025. permintaan antara (persentase dari konsumsi rumah tangga dan permintaan lainnya). Selain itu.94 juta ha. baik sebagai bahan pangan maupun bahan baku industri.90 juta ton GKG pada tahun 2025. 30 .02 ton GKG/ha.85 juta ton GKG berturutturut pada tahun 2006.85%. dengan produktivitas masing-masing 4.19 juta ha dan 12. jenis. telah mencanangkan sasaran peningkatan produksi nasional rata-rata 0.45 juta. maka untuk swasembada berkelanjutan dibutuhkan gabah sebanyak 53. dan luas panen berturut-turut 12.20 juta dan 62.42 juta. pertumbuhan pendapatan dan harga.98 juta. Direktorat Jenderal Tanaman Pangan. 62.65 ton dan 5. dan luas panen 0. 59. untuk mencapai swasembada 95% dibutuhkan gabah sebanyak 50. sasaran peningkatan produksi padi dalam periode 2006-2025 dihitung berdasarkan proyeksi permintaan beras dengan memperhitungkan pertumbuhan penduduk.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->