P. 1
Teori+Belajar+Aliran+Psikologi+Behavioristik

Teori+Belajar+Aliran+Psikologi+Behavioristik

|Views: 2,310|Likes:
Published by AhiebPluzShomad

More info:

Published by: AhiebPluzShomad on Sep 14, 2010
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

02/26/2013

pdf

text

original

TEORI BELAJAR ALIRAN PSIKOLOGI BEHAVIORISTIK, KOGNITIFISTIK DAN HUMANISTIK

Makalah Diajukan untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah ³ Psikologi Belajar Pendidikan Agama Islam ´

Oleh: Rida Ulfa Ulum Athik Winarsih : : D01208118 D01208123 D01208124 D01208125

Kuteb Syarifuddin : Devi Agusdina M :

Dosen Pembimbing: Drs. Syaifuddin, M. Pd. I

JURUSAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM FAKULTAS TARBIYAH INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI SUNAN AMPEL SURABAYA 2009

KATA PE

ANTAR

Dengan menyebut nama Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang, lantunan syukur kami haturkan kepada-Nya sehingga kita masih dalam lingkaran shirot al-mustaqim. Sholawat serta salam semoga terlimpah curahkan kepada junjungan seluruh umat, sang penegak kebenaran, Nabi Muhammad SAW karena ajaran beliaulah kita selamat dari kedzaliman dunia dan akhirat. Begitu sulitnya menyempurnakan makalah ini sehingga terlalu jauhdari kata layak dan pantas untuk dikonsumsi oleh para pembaca dan kami menyadari sepenuhnya bahwa makalah ini tidak akan selesai tanpa bantuan dan dukungan semua pihak, untuk itu kami ucapkan terima kasih kepada seluruh pihak yang telah membantu demi terselesaikannya penyusunan makalah ini, yang terlalu banyak untuk disebutkan satu persatu. Dengan selesainya makalah ini, kami berharap membawa manfaat bagi pembaca dan kami sendiri khususnya. Kritik dan saran yang bersifat membangun akan kami terima dengan senang hati.

Surabaya, 12 Oktober 2009

Penyusun

BAB I PENDAHULUAN

A. L

B l

Masalah

Teori belajar adalah teori yang prakmatik dan eklektik. Teori dengan sifat demikian ini hampir dipastikan tidak pernah mempunyai sifat ekstrim. Tidak ada teori belajar yang secara ekstrim memperhatikan aspek siswa saja, aspek guru saja, aspek kurikulum saja dan sebagainya. Titik fokus yang menjadi pusat perhatian suatu teori selalu ada. Ada yang lebih mementingkan proses belajar, ada yang lebih mementingkan sistem informasi yang diolah dalam proses belajar, dan lain-lain. Namun faktorfaktor lain du luar titik fokus itu juga selalu diperlukan untuk menjelaskan seluruh persoalan belajar yang dibahas. Manusia adalah makhluk individu dan makhluk sosial. Dalam hubungannya manusia sebagai makhluk sosial, terkandung suatu maksud bahwa manusia bagaimanapun juga tidak lepas dari individu yang lain nya. Secara kodrati manusia akan selalu hidup bersama. Hidup bersama antar manusia akan berlangsung dalam berbagai bentuk komunikasi dan situasi. Dalam kehidupan semacam inilah terjadi interaksi. Dengan demikian kegiatan hidup manusia akan selalu disertai dengan proses interaksi atau komunikasi, baik interaksi dengan alam lingkungan, interaksi dengan sesama, maupun interaksi dengan tuhannya, baik itu sengaja maupun tidak disengaja. Sehubungan dengan hal tersebut, dengan ketidak terbatasannya akal dan keinginan manusia, untuk itu perlu difahami secara benar mengenai pengertian proses dan interaksi belajar. Belajar dan mengajar adalah dua kegiatan yang tunggal tapi memang memiliki makna yang berbeda. Belajar diartikan sebagai suatu perubahan tingkah-laku karena hasil dari pengalaman yang diperoleh. Sedangkan mengajar adalah kegiatan menyediakan kondisi yang merangsang serta mangarahkan kegiatan belajar siswa/subjek belajar

nilai dan sikap yang dapat membawa perubahan serta kesadaran diri sebagai pribadi. Mendeskripsikan implikasi teori belajar. 5. Apa kelebihan dan kekurangan dari teori belajar untuk materi pembelajaran tertentu di sekolah? 6. Mengetahui suatu keunggulan dan kekurangan dari masing-masing teori tentang belajar.untuk memperoleh pengetahuan. Apa definisi teori belajar psikologi kognitifistik? 3. kognitifistik dan humansitik? 5. Tujuan Pembahasan 1. 2. Mengetahui bagaimana cara menerapkan teori-teori belajar dalam pendidikan. keterampilan. Memahami ciri dan konsep ketiga teori belajar psikologi. 4. Bagaimana konsep teori belajar behavioristik. . Mengkaji implikasi dari teori-teori belajar. Apa definisi teori belajar psikologi behavioristik? 2. 6. 3. Bagaimana implikasi dari teori-teori belajar tersebut? C. B. Mampu mengaplikasikan sebuah teori terhadap pembelajaran di sekolah. Rumusan Masalah 1. Apa definisi teori belajar psikologi humanistik? 4.

2 1 .. Memandang individu sebagai makhluk reaktif yang memberi respon terhadap lingkungan. Behaviorisme memandang individu hanya dari sisi fenomena jasmaniah.L. bakat. teori belajar dapat dipahami sebagai prinspip umum atau kumpulan prinsip yang saling berhubungan dan merupakan penjelasan atas sejumlah fakta dan penemuan yang berkaitan dengan peristiwa belajar. Behaviorisme tidak mau mempersoalkan apakah ma nusia baik atau jelek. Gage. Ciri dari teori ini adalah Muhibbin Syah. timbulah konsep ´manusia mesin´ (Homo Mechanicus). dan mengabaikan aspek-aspek mental. behaviorisme hanya ingin mengetahui bagaimana perilakunya dikendalikan oleh faktor-faktor lingkungan. Belajar artinya perbahan perilaku organise sebagai pengaruh lingkungan. 92. 2 1 Behaviorisme merupakan salah satu pendekatan untuk memahami perilaku individu. 2009 .BAB II PEMBAHASAN A. Dalam arti teori belajar yang lebih menekankan pada tingkah laku manusia. Pengalaman dan pemeliharaan akan membentuk perilaku mereka. N. Second Edition. minat dan perasaan individu dalam suatu belajar. karena seluruh perilaku manusia adalah hasil belajar. Teori belajar behaviorisme adalah sebuah teori yang dicetuskan oleh Gage dan Berliner tentang perubahan tingkah laku sebagai hasil dari pengalaman. & Berliner. Hal. rasional atau emosional. Dari hal ini. Teori Belajar Behaviorisme 1. Nally). behaviorisme tidak mengakui adanya kecerdasan. Teori Behaviorisme Secara pragmatis. 1979. Dengan kata lain. D. Peristiwa belajar semata-mata melatih refleks-refleks sedemikian rupa sehingga menjadi kebiasaan yang dikuasai individu. Psikologi Belajar. (Chicago: Rand Mc. Educational Psychology. Teori kaum behavoris lebih dikenal dengan nama teori belajar. (PT: Raja Grafindo Pustaka:Jakarta).

Teori Belaar danPembelajaran. Bersifat mekanis e. Mementingkan masa lalu f. Mementingkan pembentukan reaksi atau respon h. 57. Menekankan pada tingkah laku yang nampak dengan mempergunakan metode obyektif. Ia mengemukakan bahwa dengan menerapkan strategi ternyata individu dapat dikendalikan melalui cara stimulus alami dengan stimulus yang tepat untuk mendapatkan pengulangan respon yang diinginkan. d. Hal. Menekankan pada faktor bagian c. Media:Jogjakarta). Nur Wahyuni.a. Dalam percobaan ini anjing di beri stimulus bersarat sehingga terjadi reaksi bersarat pada anjing. (Ar-Ruz . Dengan demikian dalam tingkah laku belajar terdapat jalinan yang erat antara reaksi-reaksi behavioural dengan stimulusnya. 3 2008 . Contoh situasi percobaan tersebut pada Baharuddin. Guru yang menganut pandangan ini berpandapat bahwa tingkahlaku sisw a merupakan reaksi terhadap lingkungan dan tingkahl laku adalah hasil belajar. Mementingkan faktor lingkungan b. 3 Pavlov mengadakan percobaan laboratories terhadap anjing. Tokoh-Tokoh Teori Belajar Behaviorisme a. Pada teori belajar ini sering disebut S-R psikologis artinya bahwa tingkah laku manusia dikendalikan oleh ganjaran atau reward dan penguatan atau reinforcement dari lingkungan. sementara individu tidak menyadari bahwa ia dikendalikan oleh stimulus yang berasal dari luar dirinya. Mementingkan peranan kemampuan dan hasil belajar yang diperoleh adalah munculnya perilaku yang diinginkan. 2. Menekankan pentingnya latihan i. Mengutamakan unsur-unsur dan bagian kecil g. Ivan Petrovich Pavlov (1849-1936) Ivan Petrovich Pavlov lahir 14 September 1849 di Ryazan Rusia. Mementingkan mekanisme hasil belajar j.

Dalam penyelidikannya tentang proses belajar. Thorndike (1874-1949) Menurut Thorndike belajar merupakan peristiwa terbentuknya asosiasi-asosiasi antara peristiwa yang disebut stimulus dan respon. Eksperimen yang dilakukan adalah dengan kucing yang dimasukkan pada sangkar tertutup yang apabila pintunya dapat dibuka secara otomatis bila knop di dalam sangkar disentuh. Sementara individu tidak sadar dikendalikan oleh stimulus dari luar.Yang terpenting dalam belajar menurut teori ini adalah adanya latihan dan pengulangan. b. Kelemahan teori ini adalah belajar hanyalah terjadi secara otomatis keaktifan dan penentuan pribadi dihiraukan. dan antri di bank.manusia adalah bunyi bel di kelas untuk penanda waktu tanpa disadari menyebabkan proses penandaan sesuatu terhadap bunyi-bunyian yang berbeda dari pedagang makan. Thorndike menemukan hukumhukum belajar : 1) Hukum Kesiapan (Law of Readiness) Jika suatu organisme didukung oleh kesiapan yang kuat untuk memperoleh stimulus maka pelaksanaan tingkah laku akan . Thorndike menggambarkan proses belajar sebagai proses pemecahan masalah. dalam hal ini Thorndike melakukan eksperimen dengan sebuah puzzlebox. Atas dasar percobaan di atas. bel masuk. Ciri-ciri belajar dengan Trial dan Error Yaitu : adanya aktivitas. Belajar menurut teori ini adalah suatu proses perubahan yang terjadi karena adanya syarat-syarat yang menimbulkan reaksi. ada kemajuan reaksi-reaksi mencapai tujuan. ada berbagai respon terhadap berbagai situasi. pelajar harus diberi persoalan. ada eliminasai terhadap berbagai respon yang salah. Percobaan tersebut menghasilkan teori Trial dan Error. Dari contoh tersebut diterapkan strategi Pavlo ternyata individu dapat dikendalikan melalui cara mengganti stimulus alami dengan stimulus yang tepat untuk mendapatkan pengulangan respon yang diinginkan.

menimbulkan kepuasan individu sehingga asosaiasi cenderung diperkuat. 2) Hukum Latihan Hukum latihan akan menyebabkan makin kuat atau makin lemah hubungan S-R. Bila tidak menunjukkan stimuli maka guru tidak dapat membimbing siswa untuk mengarahkan tingkah lakunya. Rumusan tingkat hukum akibat adalah. 3) Hukum akibat ( Efek ) Hubungan stimulus dan respon cenderung diperkuat bila akibat menyenangkan dan cenderung diperlemah jika akibatnya tidak memuaskan. Semakin sering suatu tingkah laku dilatih atau digunakan maka asosiasi tersebut semakin kuat. Teori ini juga disebut dengan operant conditioning. Guru memiliki peran dalam mengontrol dan mengarahkan siswa dalam proses belajar sehingga tercapai tujuan yang diinginkan. Pada teori ini guru memberi penghargaan hadiah atau nilai tinggi sehingga anak akan lebih rajin. mengontrol tingkah laku. Jadi hokum akibat menunjukkan bagaimana pengaruh hasil suatu tindakan bagi perbuatan serupa. Operant conditioning adalah suatu proses penguatan perilaku operant yang dapat mengakibatkan perilaku tersebut dapat diulang kembali atau menghilang sesuai keinginan. bahwa suatu tindakan yang disertai hasil menyenangkan cenderung untuk dipertahankan dan pada waktu lain akan diulangi. Skinner berpendapat bahwa tujuan psikologi adalah meramal. . Skinner (1904-1990) Skinner menganggap reward dan reinforcement merupakan faktor penting dalam belajar. Operant conditing menjamin respon terhadap stimuli. Hukum ini sebenarnya tercermin dalam perkataan repetioest mater studiorum atau practice makes perfect. c.

teori Skinnerlah yang paling besar pengaruhnya terhadap perkembangan teori belajar behavioristik. Pandangan teori behavioristik telah cukup lama dianut oleh para pendidik. Materi pelajaran digunakan sebagai sistem modul. Untuk itu lingkungan perlu diubah untuk menghindari hukuman. 3. Program-program pembelajaran seperti Teaching Machine. dari yang sederhana sampai yang komplek (Paul.Prinsip belajar Skinners adalah : 1) Hasil belajar harus segera diberitahukan pada siswa jika salah dibetulkan jika benar diberi penguat. 5) dalam pembelajaran digunakan shapping. 4) Tingkah laku yang diinginkan pendidik diberi hadiah dan sebaiknya hadiah diberikan dengan digunakannya jadwal variable ratio reinforcer. tidak digunakan hukuman. merupakan program pembelajaran yang menerapkan teori belajar yang dikemukakan Skiner. Pembelajaran berprogram. . Analisis Tentang Teori Behavioristik Kaum behavioris menjelaskan bahwa belajar sebagai suatu proses perubahan tingkah laku dimana reinforcement dan punishment menjadi stimulus untuk merangsang pebelajar dalam berperilaku. 1997). modul dan program-program pembelajaran lain yang berpijak pada konsep hubungan stimulus-respons serta mementingkan faktor-faktor penguat (reinforcement). bagianbagian tersebut disusun secara hirarki. Pendidik yang masih menggunakan kerangka behavioristik biasanya merencanakan kurikulum dengan menyusun isi pengetahuan menjadi bagian-bagian kecil yang ditandai dengan suatu keterampilan tertentu. Kemudian. 3) Dalam proses pembelajaran lebih dipentingkan aktivitas sendiri. Namun dari semua teori yang ada. 2) Proses belajar harus mengikuti irama dari yang belajar.

proses belajar tidak sekedar pembentukan atau shaping. Mereka tidak memperhatikan adanya pengaruh pikiran atau perasaan yang mempertemukan unsur-unsur yang diamati tersebut. sehingga menjadikan peserta didik tidak bebas berkreasi dan berimajinasi. ternyata perilakunya terhadap suatu pelajaran berbeda. yaitu membawa pebelajar menuju atau mencapai target tertentu. Skinner dan tokoh-tokoh lain pendukung teori behavioristik memang tidak menganjurkan digunakannya hukuman dalam kegiatan pembelajaran.Teori behavioristik banyak dikritik karena seringkali tidak mampu menjelaskan situasi belajar yang kompleks. Pandangan behavioristik hanya mengakui adanya stimulus dan respon yang dapat diamati. Padahal banyak faktor yang mempengaruhi proses belajar. sebab banyak variabel atau hal-hal yang berkaitan dengan pendidikan dan/atau belajar yang dapat diubah menjadi sekedar hubungan stimulus dan respon. tidak kreatif dan tidak produktif. Namun ada beberapa alasan mengapa Skinner tidak sependapat dengan Guthrie. Teori behavioristik juga cenderung mengarahkan pebelajar untuk berfikir linier. konvergen. Menurut Guthrie hukuman memegang peranan penting dalam proses belajar. juga dalam memilih tugas sangat berbeda tingkat kesulitannya. Pandangan behavioristik juga kurang dapat menjelaskan adanya variasi tingkat emosi pebelajar. yaitu: . Pandangan ini tidak dapat menjelaskan mengapa dua anak yang mempunyai kemampuan dan pengalaman penguatan yang relatif sama. Namun apa yang mereka sebut dengan penguat negatif (negative reinforcement) cenderung membatasi pebelajar untuk berpikir dan berimajinasi. Teori ini tidak mampu menjelaskan penyimpangan-penyimpangan yang terjadi dalam hubungan stimulus dan respon. walaupun mereka memiliki pengalaman penguatan yang sama. Pandangan teori ini bahwa belajar merupakan proses pembentukan atau shaping.

Dampak psikologis yang buruk mungkin akan terkondisi (menjadi bagian dari jiwa si terhukum) bila hukuman berlangsung lama. Jika pebelajar tersebut masih saja melakukan kesalahan. Hukuman yang mendorong si terhukum untuk mencari cara lain (meskipun salah dan buruk) agar ia terbebas dari hukuman. Teori behavioristik dengan model hubungan stimulus responnya. Skinner lebih percaya kepada apa yang disebut sebagai penguat negatif. Namun bedanya adalah penguat positif menambah. Ketidaksamaannya terletak pada bila hukuman harus diberikan (sebagai stimulus) agar respon yang muncul berbeda dengan respon yang sudah ada. seorang pebelajar perlu dihukum karena melakukan kesalahan. sedangkan penguat negatif adalah mengurangi agar memperkuat respons. Lawan dari penguatan negatif adalah penguatan positif (positive reinforcement). Keduanya bertujuan untuk memperkuat respon. b. hukuman dapat mendorong si terhukum melakukan hal-hal lain yang kadangkala diperbuatnya. maka hukuman harus ditambahkan. Aplikasi Teori Behavioristik dalam Pembelajaran Aliran psikologi belajar yang sangat besar pengaruhnya terhadap arah pengembangan teori dan praktek pendidikan dan pembelajaran hingga kini adalah aliran behavioristik. Tetapi jika sesuatu tidak mengenakkan pebelajar (sehingga ia melakukan kesalahan) dikurangi (bukan malah ditambah) dan pengurangan ini mendorong pebelajar untuk memperbaiki kesalahannya. Aliran ini menekankan pada terbentuknya perilaku yang tampak sebagai hasil belajar.a. sedangkan penguat negatif (sebagai stimulus) harus dikurangi agar respon yang sama menjadi semakin kuat. c. Pengaruh hukuman terhadap perubahan tingkah laku sangat bersifat sementara. Misalnya. Dengan kata lain. Penguat negatif tidak sama dengan hukuman. maka inilah yang disebut penguatan negatif. mendudukkan orang yang belajar . lebih buruk daripada kesalahan yang 4.

Aplikasi teori behavioristik dalam kegiatan pembelajaran tergantung dari beberapa hal seperti: tujuan pembelajaran. pasti. sehingga belajar adalah perolehan pengetahuan. para pendidik mengembangkan kurikulum yang terstruktur dengan menggunakan standar-standar tertentu dalam proses pembelajaran yang harus dicapai oleh para pebelajar. sifat materi pelajaran. Pembelajaran yang dirancang dan berpijak pada teori behavioristik memandang bahwa pengetahuan adalah obyektif. pebelajar dianggap sebagai objek pasif yang selalu membutuhkan motivasi dan penguatan dari pendidik. tidak berubah. bereksperimentasi dan mengembangkan kemampuannya sendiri. karakteristik pebelajar. Implikasi dari teori behavioristik dalam proses pembelajaran dirasakan kurang memberikan ruang gerak yang bebas bagi pebelajar untuk berkreasi. Demikian halnya dalam pembelajaran. sehingga makna yang dihasilkan dari proses berpikir seperti ini ditentukan oleh karakteristik struktur pengetahuan tersebut. tetap. Pebelajar diharapkan akan memiliki pemahaman yang sama terhadap pengetahuan yang diajarkan. Begitu juga dalam proses evaluasi belajar pebelajar diukur hanya pada hal-hal yang nyata dan dapat diamati sehingga hal-hal yang bersifat tidak teramati kurang dijangkau dalam proses evaluasi. Pengetahuan telah terstruktur dengan rapi. media dan fasilitas pembelajaran y ang tersedia. Karena sistem pembelajaran tersebut bersifat otomatis-mekanis . Munculnya perilaku akan semakin kuat bila diberikan reinforcement dan akan menghilang bila dikenai hukuman.sebagai individu yang pasif. sedangkan mengajar adalah memindahkan pengetahuan (transfer of knowledge) ke orang yang belajar atau pebelajar. Artinya. Oleh karena itu. Respon atau perilaku tertentu dengan menggunakan metode drill atau pembiasaan semata. Fungsi mind atau pikiran adalah untuk menjiplak struktur pengetahuan yag sudah ada melalui proses berpikir yang dapat dianalisis dan dipilah. apa yang dipahami oleh pengajar atau guru itulah yang harus dipahami oleh murid.

dalam menghubungkan stimulus dan respon sehingga terkesan seperti kinerja mesin atau robot. sehingga kontrol belajar harus dipegang oleh sistem yang berada di luar diri pebelajar. Kegagalan atau ketidakmampuan dalam penambahan pengetahuan dikategorikan sebagai kesalahan yang perlu dihukum dan keberhasilan belajar atau kemampuan dikategorikan sebagai bentuk perilaku yang pantas diberi hadiah. ketaatan pada aturan dipandang sebagai penentu keberhasilan belajar. Pembelajaran dan evaluasi menekankan pada hasil belajar. ketrampilan secara terpisah. Tujuan pembelajaran menurut teori behavioristik ditekankan pada penambahan pengetahuan. Karena teori behavioristik memandang bahwa pengetahuan telah terstruktur rapi dan teratur. atau tes. Evaluasi hasil belajar menuntut jawaban yang benar. kuis. yang menuntut pebelajar untuk mengungkapkan kembali pengetahuan yang sudah dipelajari dalam bentuk laporan. Pembiasaan dan disiplin menjadi sangat esensial dalam belajar. sedangkan belajar sebagi aktivitas ³mimetic´. sehingga aktivitas belajar lebih banyak didasarkan pada buku teks/buku wajib dengan penekanan pada ketrampilan mengungkapkan kembali isi buku teks/buku wajib tersebut. hal ini menunjukkan bahwa pebelajar telah menyelesaikan tugas belajarnya. . Akibatnya pebelajar kurang mampu untuk berkembang sesuai dengan potensi yang ada pada diri mereka. Evaluasi menekankan pada respon pasif. Demikian juga. Penyajian isi atau materi pelajaran menekankan pada ketrampian yang terisolasi atau akumulasi fakta mengikuti urutan dari bagian ke keseluruhan. dan biasanya menggunakan paper and pencil test. Pebelajar atau peserta didik adalah objek yang berperilaku sesuai dengan aturan. sehingga pembelajaran lebih banyak dikaitkan dengan penegakan disiplin. Pembelajaran mengikuti urutan kurikulum secara ketat. Maksudnya bila pebelajar menjawab secara ³benar´ sesuai dengan keinginan guru. maka pebelajar atau orang yang belajar harus dihadapkan pada aturan-aturan yang jelas dan ditetapkan terlebih dulu secara ketat.

Menurut pandangan gestaltis. Jadi kaum kognitifis berpandangan. Peletak dasar teori gestalt adalah Merx Wertheimer (1880-1943) yang meneliti tentang pengamatan dan problem solving. semua kegiatan belajar menggunakan pemahaman terhadap hubungan hubungan. Intinya. Kaum gestaltis berpendapat bahwa pengalaman itu berstuktur yang terbentuk dalam suatu keseluruhan. terutama hubungan antara bagian dan keseluruhan. kemudian Wolfgang Kohler (18871959) yang meneliti tentang insight pada simpase. menurut mereka. seseorang terlibat langsung dalam situasi itu dan memperoleh insight untuk pemecahan masalah. Teori kognitif Gestalt Teori kognitif mulai berkembang dengan lahirnya teori belajar gestalt. bahwa tingkah laku seseorang lebih bergantung kepada pemahaman terhadap hubungan ± hubunganyang ada didalam suatu situasi. 1. Mereka berpendapat bahwa tingkah laku seseorang tidak hanya dikontrol oleh reward dan reinforcement. Teori Belajar Kognitivisme Ada beberapa ahli yang belum merasa puas terhadap penemuan para ahli sebelumnya mengenai belajar sebagai sebuah proses hubungan stimulus-response-reinforcement. tingkat kejelasan dan keberartian dari apa yang diamati dalam situasi belajar . Dalam situasi belajar. Mereka memberi tekanan pada organisasi pegamatan atas stimuli di dalam lingkungan serta pada faktor yang mempengaruhi pengematran tersebut. Sumbangannya diikuti oleh Kurt Koffka (1886-1941) yang menguraikan secara terperinci tentang hokum-hukum pengamatan. Teori ini menekankan evaluasi pada kemampuan pebelajar secara individual. B. yaitu tindakan mengenal atau memikirkan situasi dimana tingkah laku itu terjadi.Evaluasi belajar dipandang sebagi bagian yang terpisah dari kegiatan pembelajaran. Menurut mereka tingkah laku seseorang senantiasa didasarkan pada kognitif. dan biasanya dilakukan setelah selesai kegiatan pembelajaran.

satu dari stuktur medan kognisi itu sendiri. orang ± orang yang dijumpainya. 4. Untuk itu bruner memakai cara dengan apa yang disebutnya . melainkan kualitatif. Lewin memberikan peranan lebih penting pada motivasi dari reward. Pada intinya. Kepada siswa harus diberikan suatu area yang belum diketahui agar ia dapat belajar. karena ia tak daapat belajar dari apa yang telah diketahuinya. Teori Belajar Cognitive Developmental dari Piaget Dalam teorinya. pertumbuhan kapasitas mental memberikan kemampuan-kemapuan mental yang sebelumnya tidak ada. Jadi menurut Lewin. yang lainya dari kebutuhan motivasi internal individu. Piaget memandang bahwa proses berpikir sebagai aktivitas gradual dari fungsi intelektual dari konkret menuju abstrak. Menurut Piaget. Teori belajar Cognitive-field dari Lewin Kurt Lewin (1892-1947) mengembangkan suatu teori belajar kognitiv-field dengan menaruh perhatian kepada kepribadian dan psikologi social. Lewin memandang masing-masing individu berada di dalam suatu medan kekuatan yang bersifat psikologis. Jerome Bruner dengan Discovery Learningnya Yang menjadikan dasar ide J.adalah lebih meningkatkan kemampuan belajar seseorang dari pada dengan hukuman dan ganjaran. perkembangan kognitif bergantung kepada akomodasi. objek material yang ia hadapi serta fungsi kejiwaan yang ia miliki. Life space mencankup perwujudan lingkungan di mana individu bereaksi. Piaget adalah ahli psikolog developmentat karena penelitiannya mengenai tahap tahap perkembangan pribadi serta perubahan umur yang mempengaruhi kemampuan belajar individu. misalnya . 2. Pertumbuhan intelektuan adalah tidak kuantitatif. belajar berlangsung sebagai akibat dari perubahan dalam struktur kognitif. Perubahan sruktur kognitif itu adalah hasil dari dua macam kekuatan. 3. Medan dimana individu bereaksi disebut life space. Bruner ialah pendapat dari Piaget yang menyatakan bahwa anak harus berperan secara aktif di dalam belajar di kelas.

Sedangkan teori belajar kognitif lebih menekankan pada belajar merupakan suatu proses yang terjadi dalam akal pikiran manusia. 2004. sikap. Dalam dunia pendidikan belajar merupakan aktivitas pokok dalam penyelenggaraan proses belajar-mengajar. dan ketrampilan. seorang scientist. Psikologi Belajar Mengajar. Seperti juga diungkapkan oleh Winkel (1996: 53) bahwa ³Belajar adalah suatu aktivitas mental atau psikis yang berlangsung dalam interaksi aktif dengan lingkungan yang menghasilkan perubahan-perubahan dalam pengetahuan 4 Hal. Pada dasarnya terdapat dua pendapat tentang teori belajar yaitu teori belajar aliran behavioristik dan teori belajar kognitif. sehingga hasil belajar adalah sesuatu yang dapat diamati dengan indra manusia langsung tertuangkan dalam tingkah laku. 4 Belajar seharusnya menjadi kegiatan yang tak terpisahkan dari kehidupan manusia. 49. Teori belajar behavioristik menekankan pada pengertian belajar merupakan perubahan tingkah laku. Biarkan murid kita menemukan arti bagi diri mereka sendiri dan memungkinkan mereka mempelajari konsep-konsep di dalam bahasa yang mereka mengerti. Belajar merupakan salah satu kebutuhan hidup manusia yang paling penting dalam upaya mempertahankan hidup dan mengembangkan diri. Seperti yang dikemukakan oleh Ahmadi dan Supriono (1991: 121) bahwa belajar adalah suatu proses usaha yang dilakukan individu untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang baru secara keseluruhan sebagai hasil pengalaman individu itu sendiri dalam interaksi dengan lingkungannya´. Bruner menyebutkan hendaknya guru harus memberikan kesempatan kepada muridnya untuk menjadi seorang problem solver. . yaitu dimana murid mengorganisasi bahan pelajaran yang dipelajarai dengan suatu bentuk akhir yang sesuai dengan tingkat kemajuan anak tersebut. Melalui belajar seseorang dapat memahami sesuatu konsep yang baru. dan atau mengalami perubahan tingkah laku. (Sinar Baru Algesindo:Bandung).discovery learning. historian atau ahli matematika. Oemar Hamalik.

pemahaman. Menurut Piaget setiap anak mengembangkan kemampuan berpikirnya menurut tahap yang teratur. Perubahan itu bersifat secara relatif dan berbekas´. Beberapa kemampuan kognitif yang penting muncul pada saat ini. dia dapat sedikit memahami lingkungannya dengan jalan melihat. Teori Belajar Piaget Jean Piaget adalah seorang ilmuwan perilaku dari Swiss. ketrampilan dan nilai sikap yang bersifat relatif dan berbekas. Anak tersebut mengetahui bahwa perilaku yang tertentu menimbulkan akibat tertentu pula bagi dirinya. Dengan kata lain mereka mengandalkan kemampuan sensorik serta motoriknya. Berikut adalah beberapa teori belajar kognitif menurut beberapa pakar teori belajar kognitif: 5.pemahaman. meraba atau memegang. Pada satu tahap perkembangan tertentu akan muncul skema atau struktur tertentu yang keberhasilannya pada setiap tahap amat bergantung pada tahap sebelumnya. Misalnya . Sehingga dapat disimpulkan bahwa pada dasarnya belajar adalah suatu proses usaha yang melibatkan aktivitas mental yang terjadi dalam diri manusia sebagai akibat dari proses interaksi aktif dengan lingkungannya untuk memperoleh suatu perubahan dalam bentuk pengetahuan. mengecap. ketrampilan dan nilai sikap. ilmuwan yang sangat terkenal dalam penelitian mengenai perkembangan berpikir khususnya proses berpikir pada anak. tingkah laku. Tahap Sensori Motor(dari lahir sampai kurang lebih umur dua tahun) Dalam dua tahun pertama kehidupan bayi ini. Sesuai dengan karakteristik matematika maka belajar matematika lebih cenderung termasuk ke dalam aliran belajar kognitif yang proses dan hasilnya tidak dapat dilihat langsung dalam konteks perubahan tingkah laku. mencium dan menggerakan. Adapun tahapan-tahapan tersebut adalah: a.

Tahap Operasi Formal (kurang lebih umur sebelas tahun sampai limabelas tahun) Selama tahap ini anak sudah mampu berpikir abstrak yaitu berpikir mengenai gagasan. Anak-anak sering kali dapat mengikuti logika atau penalaran. d. mereka dapat membuat . Intelek anak dibatasi oleh egosentrisnya yaitu ia tidak menyadari orang lain mempunyai pandangan yang berbeda dengannya. c. Tahap Operasi Konkrit (kurang lebih tujuh sampai sebelas tahun) Dalam tahap ini anak-anak sudah mengembangkan pikiran logis. b. Pemikirannya tidak jauh karena selalu terikat kepada hal-hal yang besifat konkrit. dapat saja berbeda tanpa harus mempengaruhi misalnya kuantitas. Dalam upaya mengerti tentang alam sekelilingnya mereka tidak terlalu menggantungkan diri pada informasi yang datang dari pancaindra. Anak-anak yang sudah mampu berpikir secara operasi konkrit sudah menguasai sebuah pelajaran yang penting yaitu bahwa ciri yang ditangkap oleh pancaindra seperti besar dan bentuk sesuatu.dengan menendang-nendang dia tahu bahwa selimutnya akan bergeser darinya. Mereka dapat mengembangkan hukum-hukum yang berlaku umum dan pertimbangan ilmiah. Dengan adanya perkembangan bahasa dan ingatan anakpun mampu mengingat banyak hal tentang lingkungannya. tetapi jarang mengetahui bila membuat kesalahan. Tahap Pra-operasional ( kurang lebih umur dua tahun hingga tujuh tahun) Dalam tahap ini sangat menonjol sekali kecenderungan anak-anak itu untuk selalu mengandalkan dirinya pada persepsinya mengenai realitas. Anak dengan operasi formal ini sudah dapat memikirkan beberapa alternatif pemecahan masalah.

Ternyata bersadar pada studi eksperimental yang dilakukan oleh para peneliti hal ini tidak sepenuhnya benar. Hal ini terbukti dengan banyaknya peneliti yang tertarik melakukan analisis serta memperluas teori tersebut. Biggs dan Collis (1982: 22) membedakan antara . Fakta ini memicu sebuah pengembangan teori dari teori Piaget yang dikenal dengan neo-Piagetian theories. Biggs dan Collis adalah peneliti yang turut melakukan dan analisis teori belajar Piaget. Salah satu isu utama yang dikaji oleh kedua peneliti ini berkaitan dengan struktur kognitif. Teori mereka dikenal dengan Structure of Observed Learning Outcomes (SOLO). Teori belajar Piaget memberikan pengaruh yang luar biasa terhadap perkembangan teori pembelajaran kognitif. Implikasi dari hal ini adalah ketika seorang anak sudah dapat mengawetkan besaran suatu unsur dengan mengenali bahwa besaran dari benda tersebut sama terlepas dari bentuknya anak secara rasional dapat diduga akan mengawetkan konsep berat. Penyimpangan yang dimaksud adalah terjadinya perbedaan cara dalam memperoleh sebuah struktur yang sama oleh seorang individu. karena struktur antara konsep besaran dan berat sama. salah satu kritik yang cukup tajam terhadap teori Piaget adalah berkenaan dengan asumsi bahwa pengertian akan suatu struktur yang sama akan diperoleh pada usia yang sama dalam berbagai domain intelektual. Piaget membagi tahapan perkembangan kemampuan kognitif anak menjadi empat tahap yang didasarkan pada usia anak tesebut.hipotesis dan membuat kaidah mengenai hal-hal yang bersifat abstrak. Hal ini dianggap sebagai sebuah penyimpangan. Berdasarkan uraian diatas. Dari beberapa hasil pengembangan penelitian dalam teori ini ternyata penyimpangan ini lazim terjadi sebagaimana diungkapkan oleh Biggs dan Collis (1982).

suatu hari siswa berada pada level formal di matematika namun dilain hari dia masih berada pada level yang konkrit pada topik yyang berbeda. atau bahkan dapat terjadi. penampilan atau motivasi. Biggs & Collis (1991:60) Dari uraian di atas maka dapat dikatakan bahwa teori tersebut lebih menekankan pada analisis terhadap kualitas respon anak. tetapi sedikit pertukaran terjadi pada konstruksi yang lebih proximal .³generalized cognitive structure´ atau struktur kognitif umum anak dengan ³actual respon´ atau respon langsung anak ketika diberikan perintah-perintah. Dan butir-butir rangsangan dalam konteks ini tidak difokuskan untuk melihat kebenaran dari jawaban saja melainkan lebih pada melihat struktur alamiah dari respon siswa dan perubahannya dari waktu ke waktu. selanjutnya asumsi ini juga meliputi penyimpangan yang dalam model ini dikatakan: Siswa dapat saja berada pada awal level formal dalam matematika namun berada pada level awal konkrit dalam sejarah. Penekan pada suatu tugas tertentu sangat penting seperti yang diasumsikan dalam taksonomi SOLO bahwa penampilan seseorang sangatlah beragam dalam menyelesaikan satu tugas dengan tugas lainnya. hal ini berkaitan erat dengan logika yang mendasarinya. Untuk melihat respon anak diperlukan butir-butir rangsangan. pembelajaran. . Menurut mereka HCS ini relative lebih stabil dari waktu ke waktu serta bebas dari pengaruh pembelajaran disaat anak diukur menggunakan taxonomi SOLO dalam menyelesaikan suatu tugas tertentu. Hasil observasi seperti ini tidak dapat mengindikasikan terdapatnya ³pertukaran´ dalam perkembangan kognitif yang berlangsung. Mereka menerima kebeadaan konsep struktur kognitif umum namun mereka menyakini bahwa hal tersebut tidak dapat diukur langsung sehingga perlu mengacu pada sebuah ³hypothesized cognitive structure´ (HCS) atau struktur kognitif hipotesis.

ketika semakin banyak mode yang memungkinkan maka multi-modal fungsioning menjadi normanya. Mode Iconic Pada mode ini symbol-simbol dan gambar digunakan untuk merepresentasikan elemen-elemen yang diperolehnya pada mode sensorimotor. Bagaimanapun juga terdapat satu perbedaan penting dari teori yang dikemukakan Piaget yaitu ketika mode atau level baru mulai muncul. 2). Level terakhir adalah batas tertinggi dari proses abstraksi yang dapat ditunjukkan anak. Cirri-ciri dari anak yang berada pada mode ini antara lain sering menggunakan strategi menebak. Tanda-tanda tersebut digunakan sebagai peran pengganti dari komunikasi oral. Berikut adalah 5 mode yang diutarakan oleh Biggs dan Collis: 1). Oleh karena itu mode-model tersebut tumbuh sejak lahir hingga dewasa. Biggs & Collis (1991: 60) menyediakan suatu level tersendiri yang diberi nama ³post formal mode´. Perkembangan yang berkelanjutan pada mode ini ditunjukkan oleh kegiatan-kegiatan fisik ketika diperolehnya tacit knowledge. Mode sensorimotor dan iconic adalah modemode alamiah dari seorang manusia yang berkembang secara . bukan seluruh penampilan yang harus menyesuaikan dengan level-nya. Mode Sensorimotor Focus perhatian pada mode ini adalah lingkungan fisik sekitar anak. Secara khusus. senang menggunakan alat peraga dan senang membuat gambarangambaran mental. Anak membangun kemampuan untuk melakukan koordinasi dan mengatur interaksinya dengan lingkungan sekitar.Untuk menjelaskan konsep ³pertukaran´ yang terjadi dalam pertumbuhan kognitif yang tidak biasa diantara anak-anak sekolah. ini tidak akan menggantikan level yang lama begitu saja melainkan dapat berkembang bersamaan.

Sebuah system symbol memiliki tingkatan dan logika internal yang dapat memfasilitasi sebuah hubungan antara sistem simbol dan lingkungan fisik di sekitarnya. Kemampuan berpikir pada tahap ini meliputi membuat formula hipotesis dan membuat penalaran yang proporsional. Mereka mulai merepresentasikan dunia fisik melalui bahasa oral ke dalam bentuk tulisan. . Mode Post Formal Keberadaan mode ini lebih menekankan pada pembuatan hipotesis secara deduktif dari pada penyusunan teori berdasarkan bukti-bukti empiris. Karena dalam matematika anak menggambarkan dan mengoperasikan objek-objek yang berada di sekitarnya. Mode Formal Pada mode ini titik berat kemampuan sesorang adalah pada kemampuan mengkonstruksi teori tanpa bantuan contoh benda konkrit. 4). 3). yaitu sebuah system symbol yang akan mereka gunakan dalam kehidupannya di dunia.alamiah juga. Taksonomi SOLO ini terdiri dari lima tahap yang dapat menggambarkan perkembangan kemampuan berpikir kompleks pada siswa dan dapat diterapkan di berbagai bidang. Sistem symbol yang digunakan di sekolah antara lain adalah matematika dan bahasa. Mode concrete symbolic adalah mode terbesar sebagai target dari matematika sekolah. Oleh karena itu kemampuan ini dituntut pada mahasiswa-mahasiswa di Perguruan Tinggi. 5). Sedangkan target pertama dari sekolah formal ada pada mode concrete symbolic. Mode Concrete Symbolic Pada mode ini anak mengalami ³pertukaran´ dalam proses abstraksi. Karakteristik terpenting dari mode ini adalah kemampuan untuk bertanya tentang prinsip-prinsip mendasar dari sesuatu hal.

sehingga tidak membentuk sebuah kesatuan konsep sama sekali dan tidak mempunyai makna apapun. Pada tahap ini siswa dapat menghubungkan antara fakta dengan teori serta tindakan dan tujuan. daftar. Beberapa kata kerja yang dapat mengindikasi aktivitas pada tahap ini adalah. mengingat dan melakukan prosedur mengklasifikasikan. Adapun kata kerja yang mengidikasikan kemampuan . Tahap Multi-Structural Pada tahap ini siswa sudah memahami beberapa komponen namun hal ini masih bersifat terpisah satu sama lain sehingga belum membentuk pemahaman secara komprehensif. membuat menggabungkan dan melakukan algoritma. sederhana. Tahap Uni-Structural Pada tahap ini terlihat adanya hubungan yang jelas dan sederhana antara satu konsep dengan konsep lainnya tetapi inti konsep tersebut secara luas belum dipahami. mengurutkan. membilang atau mencacah. menjelaskan. Beberapa koneksi sederhana sudah terbentuk namun demikian kemampuan meta-kognisi belum tampak pada tahap ini. 2).Berikut adalah tahapan respon berpikir berdasar taksonomi SOLO: 1). memahami peran bagian-bagian bagi keseluruhan serta telah dapat mengaplikasikan sebuah konsep pada keadaan-keadaan yang serupa. Pada tahap ini siswa hanya memiliki sangat sedikit sekali informasi yang bahkan tidak saling berhubungan. Tahap Pre-Structural. 4). mengindentifikasikan. Adapun beberapa kata kerja yang mendeskripsikan kemampuan siswa pada tahap ini antara lain. Tahap Relational. 3). Pada tahap ini siswa dapat menunjukan pemahaman beberapa komponen dari satu kesatuan konsep.

Kata-kerja yang merefleksikan kemampuan pada tahap ini antara lain. Pendekatan ini melihat kejadian setelah ³sakit´ tersebut sembuh. membuat suatu teori. Dalam artikel ³What is Humanistik Education?´. Humanistik lebih melihat pada sisi perkembangan kepribadian manusia daripada berfokus pada ³ketidaknormalan´ atau ³sakit´ seperti yang dilihat oleh teori psikoanalisa Freud. atau guru dapat dikatakan bersifat humanistik dalam beberapa kriteria. mengaplikasikan. yang terpenting dalam melihat manusia adalah potensi yang dimilikinya.pada tahap ini antara lain. Menurut Abraham. membuat hipotesis. membedakan. C. menghubungkan. melakukan refleksi serta membangun suatu konsep. 5). Ide mengenai pendekatan-pendekatan ini terangkum dalam psikologi humanistik. Hal ini menunjukkan bahwa ada beberapa tipe pendekatan humanistik dalam pendidikan. membandingkan. menganalisis. membuat generalisasi. Kemampuan bertindak positif ini yang disebut sebagai potensi . Sehingga perlu adanya satu pengertian yang disepakati mengenai kata humanistik dala pendidikan. kelas. yaitu bagaimana manusia membangun dirinya untuk melakukan hal-hal yang positif. menggabungkan. Krischenbaum menyatakan bahwa sekolah. menjelaskan hubungan sebab akibat. Tahap Extended Abstract Pada tahap ini siswa melakukan koneksi tidak hanya sebatas pada konsep-konsep yang sudah diberikan saja melainkan dengan konsep-konsep diluar itu. Dalam artikel ³some educational implications of the Humanistic Psychologist´ Abraham Maslow mencoba untuk mengkritisi teori Freud dan behavioristik. Dapat membuat generalisasi serta dapat melakukan sebuah perumpamaan-perumpamaan pada situasisituasi spesifik. Teori Belajar Humanisme Pengertian humanistik yang beragam membuat batasan-batasan aplikasinya dalam dunia pendidikan mengundang berbagai macam arti pula.

Jadi bisa dikatakan bahwa emosi adalah karakterisitik yang sangat kuat yang nampak dari para pendidik beraliran humanistik. berimajinasi. penerimaan.manusia dan para pendidik yang beraliran humanistik biasanya memfokuskan penganjarannya pada pembangunan kemampuan positif ini. dan pengetahuan interpersonal lainnya. Selain menitik beratkan pada hubungan interpersonal. sementara humanistik melihat keuntungan pendidikan emosi. Karena berpikir dan merasakan saling beriringan. mengabaikan pendidikan emosi sama dengan mengabaikansalah satu potensi terbesar manusia. A thu Combs (1912-1999)     . tampak bahwa pendekatan ini mengedepankan pentingnya emosi dalam dunia pendidikan. Freudian melihat emosi sebagai hal yang mengganggu perkembangan. misalnya ketrampilan membangun dan menjaga relasi yang hangat dengan orang lain. berintuisi. kejujuran interpersonal. keasadaran. para pendidikan yang beraliran humanistik juga mencoba untuk membuat pembelajaran yang membantu anak didik untuk meningkatkan kemampuan dalam membuat. Tokoh Teori Belajar Humanistik: a. mempunyai pengalaman. Pendidik humanistik mencoba untuk melihat dalam spektrum yang luas mengenai perilaku manusia. bagaimana mengajarkan kepercayaan. Kita dapat belajar menggunakan emosi kita dan mendapat keuntungan dari pendekatan humanistik ini sama seperti yang kita dapatkan dari pendidikan yang menitikberatkan kognisi. memahami perasaan orang lain. Kemampuan positif disini erat kaitannya dengan pengembangan emosi positif yang terdapat dalam domain afektif. merasakan. ³Berapa banyak hal yang bisa dilakukan manusia? Dan bagaimana aku bisa membantu mereka untuk melakukan hal hal tersebut dengan lebih baik? Melihat hal-hal yang diusahakankan oleh para pendidik humanistik. Intinya adalah meningkatkan kualitas ketrampilan interpersonal dalam kehidupan sehari-hari. dan berfantasi.

Belajar terjadi bila mempunyai arti bagi individu. takut untuk mengambil kesempatan. Untuk itu guru harus memahami perilaku siswa dengan mencoba memahami dunia persepsi siswa tersebut sehingga apabila ingin merubah perilakunya. Jadi. Perilaku buruk itu sebenarnya tak lain hanyalah dari ketidakmampuan seseorang untuk melakukan sesuatu yang tidak akan memberikan kepuasan baginya. guru harus berusaha merubah keyakinan atau pandangan siswa yang ada. Sehingga yang penting ialah bagaimana membawa si siswa untuk memperoleh arti bagi pribadinya dari materi pelajaran tersebut dan menghubungkannya dengan kehidupannya. takut membahayakan apa yang sudah ia miliki dan sebagainya. hal-hal yang mempunyai sedikit hubungan dengan diri. Padahal arti tidaklah menyatu pada materi pelajaran itu. Pada diri masing-masing orang mempunyai berbagai perasaan takut seperti rasa takut untuk berusaha atau berkembang. Meaning (makna atau arti) adalah konsep dasar yang sering digunakan. Combs berpendapat bahwa banyak guru membuat kesalahan dengan berasumsi bahwa siswa mau belajar apabila materi pelajarannya disusun dan disajikan sebagaimana mestinya. b. Anak tidak bisa matematika atau sejarah bukan karena bodoh tetapi karena mereka enggan dan terpaksa dan merasa sebenarnya tidak ada alasan penting mereka harus mempelajarinya.Bersama dengan Donald Snygg (1904-1967) mereka mencurahkan banyak perhatian pada dunia pendidikan. makin mudah hal itu terlupakan. tetapi di sisi lain seseorang juga . Abraham Maslow Maslow mengemukakan bahwa individu berperilaku dalam upaya untuk memenuhi kebutuhan yang bersifat hirarkis. Combs memberikan lukisan persepsi diri dan dunia seseorang seperti dua lingkaran (besar dan kecil) yang bertitik pusat pada satu. Perilaku internal membedakan seseorang dari yang lain. Guru tidak bisa memaksakan materi yang tidak disukai atau tidak relevan dengan kehidupan mereka. Lingkaran kecil (1) adalah gambaran dari persepsi diri dan lingkungan besar (2) adalah persepsi dunia. Makin jauh peristiwa-peristiwa itu dari persepsi diri makin berkurang pengaruhnya terhadap perilakunya.

ke arah kepercayaan diri menghadapi dunia luar dan pada saat itu juga ia dapat menerima diri sendiri(self). Abraham Maslow dikenal sebagai pelopor aliran psikologi humanistik. Rogers tidak memiliki banyak teman sehingga ia lebih banyak menghabiskan waktunya untuk membaca. Pada masa-masa berikutnya ia sibuk membantu anak-anak bermasalah/nakal . Illinois. manusia termotivasi untuk memenuhi kebutuhankebutuhan hidupnya. Ia pernah belajar di bidang agrikultural dan sejarah di University of Wisconsin. California. pada tahun 1902 dan wafat di LaJolla. pada tahun 1987. Rogers bekerja di Child Study Department of the Society for the prevention of Cruelty to Children (bagian studi tentang anak pada perhimpunan pencegahan kekerasan tehadap anak) di Rochester. ke arah berfungsinya semua kemampuan. meskipun ia sebenarnya sangat menyukai buku-buku petualangan. keunikan diri. Pada tahun 1928 ia memperoleh gelar Master di bidang psikologi dari Columbia University dan kemudian memperoleh gelar Ph. Dia membaca buku apa saja yang ditemuinya termasuk kamus dan ensiklopedi. Pada tahun 1931. Semasa mudanya. Carl Rogers Carl Ransom Rogers dilahirkan di Oak Park. NY.memiliki dorongan untuk lebih maju ke arah keutuhan. Adapun hirarki kebutuhan tersebut adalah sebagai berikut: 1) 2) 3) 4) 5) Kebutuhan fisiologis / dasar Kebutuhan akan rasa aman dan tentram Kebutuhan untuk dicintai dan disayangi Kebutuhan untuk dihargai Kebutuhan untuk aktualisasi diri c. Kebutuhan-kebutuhan tersebut memiliki tingkatan atau hirarki. Teorinya yang sangat terkenal sampai dengan hari ini adalah teori tentang Hierarchy of Needs (Hirarki Kebutuhan). Maslow percaya bahwa manusia tergerak untuk memahami dan menerima dirinya sebisa mungkin.D di dibidang psikologi klinis pada tahun 1931. Menurut Maslow. mulai dari yang paling rendah (bersifat dasar/fisiologis) sampai yang paling tinggi (aktualisasi diri).

yaitu: 1) Menjadi manusia berarti memiliki kekuatan yang wajar untuk belajar. Siswa tidak harus belajar tentang hal-hal yang tidak ada artinya. Menurut Rogers. ia menunjukkan sejumlah prinsip- prinsip dasar humanistik yang penting diantaranya ialah : 1) 2) Manusia itu mempunyai kemampuan belajar secara alami. Rogers menyakini bahwa klien sebenarnya memiliki jawaban atas permasalahan yang dihadapinya dan tugas terapist hanya membimbing klien menemukan jawaban yang benar. Dan pada tahun 1942. teknik-teknik assessment dan pendapat para terapist bukanlah hal yang penting dalam melakukan treatment kepada klien. Menurut Rogers yang terpenting dalam proses pembelajaran adalah pentingnya guru memperhatikan prinsip pendidikan dan pembelajaran. Rogers menjabat sebagai ketua dari American Psychological Society. Pengorganisasian bahan pelajaran berarti mengorganisasikan bahan dan ide baru sebagai bagian yang bermakna bagi siswa 3) Pengorganisasian bahan pengajaran berarti mengorganisasikan bahan dan ide baru sebagai bagian yang bermakna bagi siswa. . Carl Rogers adalah seorang psikolog humanistik yang menekankan perlunya sikap saling menghargai dan tanpa prasangka (antara klien dan terapist) dalam membantu individu mengatasi masalah-masalah kehidupannya.dengan menggunakan metode-metode psikologi. 2) Siswa akan mempelajari hal-hal yang bermakna bagi dirinya. yang membuatnya mendapatkan tawaran sebagai profesor pada fakultas psikologi di Ohio State University. Dari bukunya Freedom To Learn. ia menerbitkan satu tulisan berjudul ³The Clinical Treatment of the Problem Child´. 3) Belajar yang menyangkut perubahan di dalam persepsi mengenai dirinya sendiri diangap mengancam dan cenderung untuk ditolaknya. 4) Belajar yang bermakna dalam masyarakat modern berarti belajar tentang proses. Pada tahun 1939. Belajar yang signifikan terjadi apabila materi pelajaran dirasakan murid mempunyai relevansi dengan maksud-maksud sendiri.

pengalaman dapat diperoleh dengan berbagai cara yang berbeda-beda dan terjadilah proses belajar. lebih mudah dicapai terutama jika siswa dibiasakan untuk mawas diri dan mengritik dirinya sendiri dan penilaian dari orang lain merupakan cara kedua yang penting.4) Tugas-tugas belajar yang mengancam diri ialah lebih mudah dirasakan dan diasimilasikan apabila ancaman-ancaman dari luar itu semakin kecil. siswa tidak diharapkan sebagai botol-botol kecil yang siap diisi dengan berbagai ilmu pengetahuan sesuai dengan kehendak guru. Tasker (1992: 30) mengemukakan tiga penekanan dalam teori belajar konstruktivisme sebagai berikut. kemerdekaan. D. 8) Belajar inisiatif sendiri yang melibatkan pribadi siswa seutuhnya. kreativitas. Artinya. Teori Belajar Konstruktivisme Menurut teori belajar konstruktivisme. 10) Belajar yang paling berguna secara sosial di dalam dunia modern ini adalah belajar mengenai proses belajar. Sehubungan dengan hal di atas. Dengan kata lain. pengetahuan tidak dapat dipindahkan begitu saja dari pikiran guru ke pikiran siswa. merupakan cara yang dapat memberikan hasil yang mendalam dan lestari. baik perasaan maupun intelek. . 6) 7) Belajar yang bermakna diperoleh siswa dengan melakukannya. Belajar diperlancar bilamana siswa dilibatkan dalam proses belajar dan ikut bertanggungjawab terhadap proses belajar itu. bahwa siswa harus aktif secara mental membangun struktur pengetahuannya berdasarkan kematangan kognitif yang dimilikinya. 9) Kepercayaan terhadap diri sendiri. suatu keterbukaan yang terus menerus terhadap pengalaman dan penyatuannya ke dalam diri sendiri mengenai proses perubahan itu. 5) Apabila ancaman terhadap diri siswa rendah.

3. Oleh karena itu. Kedua pengertian di atas menekankan bagaimana pentingnya keterlibatan anak secara aktif dalam proses pengaitan sejumlah gagasan dan pengkonstruksian ilmu pengetahuan melalui lingkungannya. Kedua. Pembelajaran menjadi lebih bermakna karena siswa mengerti 3. pengalaman belajar yang lalu dari seseorang akan mempengaruhi terjadinya proses belajar tersebut. Strategi siswa lebih bernilai.1. sebagai berikut: . fungsi kognisi bersifat adaptif dan membantu pengorganisasian melalui pengalaman nyata yang dimiliki anak. Siswa mengkonstruksi pengetahuan dengan cara mengintegrasikan ide yang mereka miliki 2. tetapi secara aktif oleh struktur kognitif siswa. dalam mengkonstruksi pengetahuan secara 2. yaitu 1. Siswa mempunyai kesempatan untuk berdiskusi dan saling bertukar pengalaman dan ilmu pengetahuan dengan temannya. Tytler (1996: 20) mengajukan beberapa saran yang berkaitan dengan rancangan pembelajaran. Hanbury (1996: 3) mengemukakan sejumlah aspek dalam kaitannya dengan pembelajaran. Dalam upaya mengimplementasikan teori belajar konstruktivisme. untuk mempelajari suatu materi yang baru. Pertama. Bahkan secara spesifik Hudoyo (1990: 4) mengatakan bahwa seseorang akan lebih mudah mempelajari sesuatu bila belajar itu didasari kepada apa yang telah diketahui orang lain. Wheatley (1991: 12) mendukung pendapat di atas dengan mengajukan dua prinsip utama dalam pembelajaran dengan teori belajar konstrukltivisme. Mengaitkan antara gagasan dengan informasi baru yang diterima. Selain penekanan dan tahap-tahap tertentu yang perlu diperhatikan dalam teori belajar konstruktivisme. Peran aktif siswa bermakna. pengetahuan tidak dapat diperoleh secara pasif. dan 4. Pentingya membuat kaitan antara gagasan dalam pengkonstruksian secara bermakna.

5. Memberi pengalaman yang berhubungan dengan gagasan yang telah dimiliki siswa. Teori ini berkembang dari kerja Piaget. siswa lebih diutamakan untuk mengkonstruksi sendiri pengetahuan mereka melalui asimilasi dan akomodasi. 2002: 8). Bagi siswa agar benar-benar memahami dan dapat menerapkan pengetahuan. berusaha dengan susah payah dengan ide-ide. Dari beberapa pandangan di atas. Dengan kata lain. dan 6. Bukan kepatuhan siswa dalam refleksi atas apa yang telah diperintahkan dan dilakukan oleh guru. Menciptakan lingkungan belajar yang kondusif. dan teori psikologi kognitif yang lain. satu prinsip yang paling penting dalam psikologi pendidikan adalah bahwa guru tidak hanya sekedar . Vygotsky. Menurut teori konstruktivis ini. Teori konstruktivis ini menyatakan bahwa siswa harus menemukan sendiri dan mentransformasikan informasi kompleks. 1. dapat disimpulkan bahwa pembelajaran yang mengacu kepada teori belajar konstruktivisme lebih menfokuskan pada kesuksesan siswa dalam mengorganisasikan pengalaman mereka. seperti teori Bruner (Slavin dalam Nur. teori-teori pemrosesan informasi.1. 3. Mendorong siswa untuk memikirkan perubahan gagasan mereka. 4. mereka harus bekerja memecahkan masalah. Memberi kesempatan kepada siswa untuk mengemukakan gagasannya dengan bahasa sendiri. Memberi kesempatan kepada siswa untuk mencoba gagasan baru. Hakikat Pembelajaran Menurut Teori Belajar Konstruktivisme Teori-teori baru dalam psikologi pendidikan dikelompok dalam teori pembelajaran konstruktivis (constructivist theories of learning). Memberi kesempatan kepada siswa untuk berfikir tentang pengalamannya sehingga menjadi lebih kreatif dan imajinatif. mengecek informasi baru dengan aturan-aturan lama dan merevisinya apabila aturan-aturan itu tidak lagi sesuai. 2. menemukan segala sesuatu untuk dirinya.

pengertahuan tidak dapat dipindahkan begitu saja dari pikiran guru ke pikiran siswa. Pertama. Guru dapat memberikan kemudahan untuk proses ini. Kedua adalah pentingya membuat kaitan antara gagasan dalam pengkonstruksian secara bermakna. Siswa harus membangun sendiri pengetahuan di dalam benaknya. fungsi kognisi bersifat adaptif dan membantu pengorganisasian melalui pengalaman nyata yang dimiliki anak. siswa tidak diharapkan sebagai botol-botol kecil yang siap diisi dengan berbagai ilmu pengetahuan sesuai dengan kehendak guru. Sehubungan dengan hal di atas. pengetahuan tidak dapat diperoleh secara pasif. Bahkan secara spesifik Hudoyo (1990: 4) mengatakan bahwa seseorang akan lebih mudah mempelajari sesuatu bila belajar itu didasari kepada apa yang telah . Wheatley (1991: 12) mendukung pendapat di atas dengan mengajukan dua prinsip utama dalam pembelajaran dengan teori belajar konstrukltivisme. Pertama adalah peran aktif siswa dalam mengkonstruksi pengetahuan secara bermakna. Dengan kata lain. dan mengajar siswa menjadi sadar dan secara sadar menggunakan strategi mereka sendiri untuk belajar. tetapi secara aktif oleh struktur kognitif siswa. Tasker (1992: 30) mengemukakan tiga penekanan dalam teori belajar konstruktivisme sebagai berikut. Kedua pengertian di atas menekankan bagaimana pentingnya keterlibatan anak secara aktif dalam proses pengaitan sejumlah gagasan dan pengkonstruksian ilmu pengetahuan melalui lingkungannya. Ketiga adalah mengaitkan antara gagasan dengan informasi baru yang diterima. dengan memberi kesempatan siswa untuk menemukan atau menerapkan ide-ide mereka sendiri. dengan catatan siswa sendiri yang harus memanjat anak tangga tersebut Sebagaimana telah dikemukakan bahwa menurut teori belajar konstruktivisme. Kedua. bahwa siswa harus aktif secara mental membangun struktur pengetahuannya berdasarkan kematangan kognitif yang dimilikinya. Artinya.memberikan pengetahuan kepada siswa. Guru dapat memberi siswa anak tangga yang membawa siswa ke pemahaman yang lebih tinggi.

(2) memberi kesempatan kepada siswa untuk berfikir tentang pengalamannya sehingga menjadi lebih kreatif dan imajinatif. Tytler (1996: 20) mengajukan beberapa saran yang berkaitan dengan rancangan pembelajaran. (2) pembelajaran menjadi lebih bermakna karena siswa mengerti. Bukan kepatuhan siswa dalam refleksi atas apa yang telah diperintahkan dan dilakukan oleh guru. Oleh karena itu. Dalam upaya mengimplementasikan teori belajar konstruktivisme. Hanbury (1996: 3) mengemukakan sejumlah aspek dalam kaitannya dengan pembelajaran. (3) strategi siswa lebih bernilai.diketahui orang lain. dan (6) menciptakan lingkungan belajar yang kondusif. (5) mendorong siswa untuk memikirkan perubahan gagasan mereka. dapat disimpulkan bahwa pembelajaran yang mengacu kepada teori belajar konstruktivisme lebih menfokuskan pada kesuksesan siswa dalam mengorganisasikan pengalaman mereka. Dari beberapa pandangan di atas. Dengan kata lain. sebagai berikut: (1) memberi kesempatan kepada siswa untuk mengemukakan gagasannya dengan bahasa sendiri. . yaitu (1) siswa mengkonstruksi pengetahuan dengan cara mengintegrasikan ide yang mereka miliki. untuk mempelajari suatu materi yang baru. siswa lebih diutamakan untuk mengkonstruksi sendiri pengetahuan mereka melalui asimilasi dan akomodasi. (3) memberi kesempatan kepada siswa untuk mencoba gagasan baru. Selain penekanan dan tahap-tahap tertentu yang perlu diperhatikan dalam teori belajar konstruktivisme. pengalaman belajar yang lalu dari seseorang akan mempengaruhi terjadinya proses belajar tersebut. (4) memberi pengalaman yang berhubungan dengan gagasan yang telah dimiliki siswa. dan (4) siswa mempunyai kesempatan untuk berdiskusi dan saling bertukar pengalaman dan ilmu pengetahuan dengan temannya.

yang telah dicapai. Aplikasinya dalam pembelajaran adalah bahwa guru memiliki kemampuan dalam mengelola hubungan stimulus respons dalam situasi pembelajaran sehingga hasil belajar siswa dapat optimal. Simpulan Teori belajar humanisme dan behaviorisme memiliki ciri khas masingmasing . Sedangkan teori kognitivisme didasarkan pada kognisi. perilaku guru sendiri serta hasil belajar siswa 5. Membimbing guru untuk merancang dan merencanakan proses pembelajaran. 3. Teori belajar humanisme berusaha memahami perilaku belajar dari sudut pandang perilakunya bukan sudut pandang pengamatnya. Sedangkan teori belajar behavioristik merupakan proses perubahan tingkah laku sebagai akibat adanya interaksi antara stimulus dengan respons yang menyebabkan siswa mempunyai pengalaman baru.BAB III PENUTUP A. Membantu guru untuk memahami bagaimana siswa belajar. . Membantu guru untuk mengevaluasi proses. 2.masing individu untuk mengenal diri mereka sendiri sebagai manusia yang unik & membantu dalam mewujudkan potensi. Teori konstruktivisme memiliki cirri khas dengan penekanan pada konteks dimana keterampilan akan dipelajari dan diaplikasikan dan menempatkan belajar dalan konteks yang bermakna.yaitu tindakan mengenal atau memikirkan situasi dimana tingkah mengenal atau memikirkan situasi dimana tingkah laku itu terjadi.potensi yang ada pada diri mereka. 4. Tujuan utama para pendidik adalah mambantu siswa untuk mengembangkan dirinya yaitu membantu masing. Memandu guru untuk mengelola kelas. Manfaat dari beberapa teori belajar adalah : 1.

dan sebagainya. dan perkembangan teori pembelajaran hendaknya dipahami oleh para pendidik dan diterapkan dalam dunia pendidikan dengan benar.Saran Pengertian. Dengan memahami berbagai teori belajar. prinsip. Guru dapat menerapkan menurut aliran-aliran teori tertentu. Membantu guru dalam memberikan dukungan dan bantuan kepada siswa sehingga dapat 8. 7. sehingga tujuan pendidikan akan benar-benar dapat dicapai. Seperti teori behavioristik dalam pembelajaran guru memperhatikan tujuan belajar. Implikasi perkembangan teori pembelajaran sekarang sangatlah beragam. prinsip-prinsip pembelajaran dan pengajaran. pendidikan yang berkembang di bangsa kita niscaya akan menghasilkan out put-out put yang berkualitas yang mampu membentuk manusia Indonesia seutuhnya.6. B. mencapai hasil prestasi yang maksimal. . karakteristik siswa. Membantu proses belajar lebih efektif. efisien dan produktif.

Oemar.DAFTRAR PUSTAKA Ahmadi. Nana. Jogajakarta : Ar-Ruz Media Group. 2009. Baharuddin dan Wahyuni. Psikologi Belajar. Jakarta: UI Press. 2007. Nur. Abu dan Supriono. Teori Belajar dan Pembelajaran. Bandung:Sinar Baru Algesindo Offset Sudjana. Teori-teori Belajar Untuk Pengajaran. 2008. Psikologi Belajar dan Mengajar. Syah. Psikologi Pengajaran. Raja Grafindo Persada . 1991. Hamalik. 1989. Jakarta: Rineka Cipta. Jakarta:PT.Muhibbin. Widodo.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->