P. 1
Diklat Biologi

Diklat Biologi

|Views: 3,708|Likes:
Published by haikalmoch

More info:

Published by: haikalmoch on Sep 16, 2010
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

05/19/2013

pdf

text

original

BAB I METABOLISME SEL

Kehidupan di dalam tubuh digerakkan oleh energi kimia yang ada di dalam tubuh. Proses pembentukan energi di dalam tubuh makhluk hidup berlangsung di semua sel. Dengan demikian, semua sel bertanggung jawab atas energinya sendiri. Proses pembentukan energi ini melibatkan bahan-bahan organik yang masuk sel dan diproses di dalam organel-organel penting. Sumber energi utama bagi makhluk hidup di Bumi adalah matahari. Energi matahari itu dimanfaatkan tumbuhan hijau untuk fotosintesis, kemudian energi itu diubah ke dalam bentuk senyawa kimia yaitu dalam bentuk gula. Gula diubah menjadi amilum, prote-in, lemak dan berbagai bentuk senyawa organik. Senyawa kimia ini menjadi bahan makanan bagi makhluk hidup lain yang heterotrof. Semua makhluk hidup, baik tumbuhan maupun hewan memanfaatkan karbohidrat untuk dioksidasikan menjadi oksigen, karbondioksida dan energi. Energi matahari itu ditangkap tumbuhan untuk diubah menjadi senyawa kimia, selanjutnya energi kimia yang tersimpan dalam tumbuhan berpindah ke makhluk hidup lain pada saat tumbuhan dimakan oleh makhluk hidup tersebut. Di dalam tubuh makhluk hidup terjadi perombakan senyawa kimia untuk berbagai keperluan hidupnya. Menurut hukum termodinamika, energi itu tidak dapat diciptakan dan tidak dapat dilenyapkan. Energi itu dapat diubah dari bentuk satu ke bentuk yang lain, yang dikenal sebagai transformasi energi melalui proses metabolisme. Dalam proses transformasi energi pada makhluk hidup, sebagian energi diubah menjadi energi panas, misalnya panas tubuh hewan atau manusia. Dalam proses transformasi energi itu ada sebagian energi yang terbuang. Energi yang terbuang yaitu energi panas, misalnya panas tubuh hewan atau manusia. Sebagian energi diubah ke dalam bentuk senyawa kimia yang lain. Akhirnya, jika makhluk hidup mati maka semua energi panas di bebaskan ke lingkungan.

Tujuan Pembelajaran
Setelah mempelajari materi metabolisme sel, petatar diharapkan dapat: • mendeskripsikan pengertian metabolisme dan menjelaskan fungsi enzim dalam peristiwa metabolimse, • menjelaskan faktor-faktor yang mempengaruhi enzim, • mengidentifikasi enzim yang berperan dalam katabolisme gula dan anabolisme karbohidrat, • menjelaskan kaitan katabolisme dan anabolisme, • mengidentifikasi hasil katabolisme pati dan anabolisme karbohidrat, • membuat diagram kaitan antara katabolisme karbohidrat, protein, dan lemak, • membuat perbedaan antara respirasi aerobik dan anaerobik, • menjelaskan tentang reaksi terang dan reaksi gelap dalam fotosintesis.

1

A. Pengertian Metabolisme
Reaksi kimia yang berlangsung di dalam tubuh makhluk hidup dikenal sebagai metabolisme. Metabolisme secara harfiah mempunyai arti ”perubahan” (bahasa Yunani metabolite = berubah) yang dipakai untuk menunjukkan semua perubahan kimia dan energi yang terjadi di dalam tubuh, atau secara sederhana adalah penggunaan makanan oleh tubuh. Secara keseluruhan, metabolisme dikaitkan dengan pengaturan sumber daya materi dan energi. Metabolisme dapat dibedakan menjadi dua macam, yaitu reaksi penyusunan atau anabolisme dan reaksi penguraian atau katabolisme. Anabolisme adalah reaksi penyusunan dengan memakai energi untuk membangun molekul sederhana menjadi molekul yang lebih kompleks. Salah satu contoh anabolisme adalah fotosintesis yaitu sintesis yang menggunakasn energi cahaya, yakni mengubah bahan anorganik karbondioksida dan air menjadi senyawa organik yang lebih kompleks yakni gula. Katabolisme adalah perombakan senyawa kompleks menjadi senyawa yang lebih sederhana dengan membebaskan energi. Proses utama dari katabolisme adalah respirasi seluler. Pada proses respirasi seluler, glukosa dan bahan organik lainnya dirombak menjadi karbon dioksida dan air. Dapat dibayangkan bahwa kesibukan molekul-molekul di dalam sel itu berlangsung dalam dua kegiatan besar: menyusun ion atau molekul menjadi molekul-molekul yang lebih besar, atau menguraikan senyawa-senyawa itu menjadi molekul yang lebih kecil. Metabolisme itu digunakan untuk memperoleh energi, menyimpan energi, menyusun bahan makanan, merombak bahan makanan, membentuk struktur sel, merombak struktur sel, memasukkan atau mengeluarkan zat-zat, melakukan pergerakan, menanggapi rangsangan, mengadakan pertumbuhan dan reproduksi. Pendek kata, di dalam sel itu terdapat "mesin" kehidupan yang rumit. Pada makhluk hidup, banyak reaksi kimia yang terjadi secara simultan. Jika kita melihat reaksi kimia tersebut satu persatu, akan sulit memahami aliran energi yang terjadi di dalam sel. Namun demikian, ada panduan yang penting untuk memahami metabolisme sel yanitu sebagai berikut. 1. semua rekasi kimia yang terjadi di dalam sel melibatkan enzim 2. reaksi tersebut melibatkan perubahan senyawa dalam suatu serial atau lintasan. Lintasan dapat berupa lintas lurus (linier) atau melingkar (siklik). Reaksi-reaksi yang berlangsung di dalam tubuh makhluk hidup terjadi secara optimal pada suhu 270C, yakni suhu ruang, misalnya pada tubuh tumbuhan dan hewan berdarah dingin (poikiloterm); atau pada suhu 370C, misalnya dalam tubuh hewan berdarah panas (homoioterm). Pada suhu tersebut, proses oksidasi akan berjalan lambat. Agar rekasireaksi berjalan lebih cepat diperlukan katalisator. Katalisator adalah zat yang dapat mempercepat rekasi, tetapi zat itu sendiri tidak ikut bereaksi. Katalisator di dalam sel 2

makhluk hidup disebut biokatalisator. Contoh biokatalisator adalah enzim dan beberapa molekul RNA yang disebut ribozim. B. Biokalisator Merupakan Pelaku Metabolisme Katalisator adalah zat yang dapat mempercepat reaksi tetapi zat itu sendiri tidak ikut berreaksi. Katalisator di dalam sel makhluk hidup disebut biokatalisator atau enzim. Secara kimia, enzim tersusun atas dua bagian: bagian protein dan bagian bukan protein. Bagian protein (apoenzim) bersifat labil (mudah berubah) misalnya mudah terpengaruh oleh suhu, dan keasaman. Bagian yang bukan protein (gugusan prostetik), yaitu gugusan yang aktif. Gugus prostetik yang berasal dari molekul anorganik disebut kofaktor, misalnya berupa logam besi, tembaga, seng atau zat organik yang mengandung logam. Gugus prostetik yang terdiri dari senyawa organik kompleks disebut koenzim, misalnya NADH, FADH, koenzim A, tiamin (vitamin B1). Adapun ciri-ciri enzim adalah enzim merupakan suatu biokatalisator, protein, bekerja secara khusus, jumlah yang dibutuhkan tidak terlalu banyak, dapat bekreja bolak balik, tidak ikut bereaksi, dapat digunakan berulang kali, dan bekerjanya dipengaruhi lingkungan. 1. Biokatalisator Reaksi-reaksi di tabung reaksi seringkali memerlukan katalisator untuk mempercepat proses reaksi. Di dalam sel juga terdapat katalisator yang berbentuk enzim. Katalisator yang membantu berlangsungnya reaksi di dalam tubuh makhluk hidup tersebut hanya dihasilkan oleh sel-sel makhluk hidup. Oleh karena itu disebut sebagai biokatalisator. 2. Protein Enzim itu adalah suatu protein, dengan demikian sifat-sifat enzim sama dengan protein, yaitu: pada suhu tinggi menggumpal, terpengaruh pH. 3. Bekerja secara Khusus Enzim bekerja secara khusus, artinya enzim tertentu hanya dapat mempengaruhi reaksi tertentu, tidak dapat mempengaruhi reaksi lainnya. Zat yang terpengaruh oleh enzim disebut substrat. Substrat adalah zat/bahan yang berreaksi. Oleh karena macam zat/bahan yang berreaksi itu di dalam sel sangat banyak, maka macam enzim pun juga banyak. Kekhususan enzim dengan substrat dapat dibayangkan seperti hubungan antara gembok dengan anak kunci; setiap gembok memiliki anak kunci tersendiri. Demikian pula enzim, memiliki bagian aktif tertentu yang hanya cocok untuk substrat tertentu pula.

3

4. Jumlah yang Diperlukan Tidak Perlu Banyak Oleh karena enzim berfungsi sebagai pemercepat reaksi sedangkan dia sendiri tidak ikut berreaksi, maka jumlahnya tidak perlu banyak. Satu molekul enzim dapat bekerja berkali-kali, selama enzim itu sendiri tidak rusak. 5. Dapat Bekerja Balik Umumnya, enzim dapat bekerja bolak balik. Artinya, suatu enzim dapat senyawa menjadi bekerja menguraikan suatu senyawa-senyawa lain, dan

sebaliknya dapat bekerja menyusun senyawansenyawa itu menjadi senyawa semula. Perhatikan Gambar 1.1. Zat (substrat) A dapat diuraikan

menjadi zat B dan zat C, sebaliknya zat C dapat direaksikan kembali dengan zat B membentuk zat A seperti semula. 6. Kerja Dipengaruhi Lingkungan Lingkungan yang berpengaruh pada kerja enzim adalah suhu, pH, hasil akhir dan zat penghambat.
Gambar 1.1 Enzim Bekerja Dapat Balik

a) Suhu: Biasanya enzim bersifat non aktif pada suhu rendah (0oC atau di bawahnya), tetapi tidak rusak. Jika suhunya kembali normal enzim mampu bekerja kembali. Enzim bekerja optimal pada suhu 30oC atau mengalami denaturasi)
o

pada suhu tubuh, dan akan rusak (disebut

pada suhu 50 C atau lebih tinggi. Jika telah mengalami

kerusakan, enzim tidak dapat berfungsi kembali meskipun suhunya normal. b) pH: Enzim bekerja optimal pada pH netral. Pada kondisi asam atau basa, kerja enzim terhambat. c) Hasil Akhir: Kerja enzim juga dipengaruhi oleh hasil Semakin menumpuk hasil akhir, semakin lambat kerja enzim. d) Zat Penghambat: Zat yang dapat menghambat kerja enzim disebut penghambat atau inhibitor. Selain hasil akhir, terdapat zat-zat lain yang dapat menghambat kerja enzim. Zat tersebut memiliki struktur seperti enzim yang dapat "masuk" ke substrat, atau ada yang memiliki struktur seperti substrat sehingga enzim "salah masuk" ke penghambat tersebut. akhir. Hasil akhir yang menumpuk menyebabkan enzim menemui kesulitan untuk "bertemu" dengan substrat.

4

7. Tidak Ikut Bereaksi Enzim hanya diperlukan sebagai pemercepat reaksi, namun molekul enzim itu sendiri tidak ikut berekasi. 8. Dapat Digunakan Berulang Kali Enzim dapat digunakan berulang kali karena enzim tidak berubah pada saat terjadi reaksi. Satu molekul enzim dapat bekerja berulang kali, selama enzim itu sendiri tidak rusak. Jika molekul enzim rusak, enzim tersebut harus diganti. Oleh karena itu, enzim hanya diperlukan dalam jumlah sedikit. Seringkali enzim diberi nama sesuai dengan substratnya, dan diberi akhiran ase. Enzim selulase adalah enzim yang dapat menguraikan selulose. Enzim lipase menguraikan lipid atau lemak; enzim protease menguraikan protein, dst. Reaksi-reaksi yang dibantu oleh enzim disebut fermentasi (ferment = enzim). Akan tetapi fermentasi seringkali digunakan untuk istilah proses pembuatan zat oleh mikroorganisme. Sudah barang tentu, mikroorganisme itu menggunakan enzim-enzim yang ada di dalam selnya. Misalnya sel ragi melakukan fermentasi alkohol, karena dapat menghasilkan alkohol melalui proses pengubahan karbohidrat. Namun sering juga istilah fermentasi digunakan untuk proses pernapasan anaerobik, meskipun tidak semua fermentasi itu anaerobik. Molekul selalu bergerak dan bertumbukan satu sama lain. Jika suatu molekul substrat menumbuk molekul enzim yang tepat, substrat akan menempel pada enzim. Tempat menempelnya molekul substrat pada enzim disebut sisi aktif. Ada dua teori mengenai kerja enzim, yaitu teori lock and key (gembok-anak kunci) dan inducet fit (kecocokan teriduksi). a. Teori Gembok-Anak Kunci Sisi aktif enzim mempunyai bentuk tertentu yang hanya sesuai untuk satu jenis substrat. Bentuk substrat sesuai dengan sisi aktifnya. Hal itu menyebabkan enzim bekerja secara spesifik. Lihat Gambar 1.2, substrat yang mempunyai bentuk ruang yang sesuai dengan sisi aktif enzim akan berikatan dan membentuk kompleks transisi enzimsubstrat. Senyawa transisi ini tidak stabil sehingga pembentukan produk berlangsung dengan sendirinya. Jika enzim mengalami denaturasu karena panas maka bentuk sisi aktif berubah sehingga substrat tidak sesuai lagi. b. Teori Induced fit Reaksi anatara substrat dengan enzim berlangsung karena adanya induksi molekul substrat terhadap molekul enzim. Menurut teori ini, sisi aktif enzim bersifat fleksibel dalam menyesuaikan struktur sesuai dengan struktur substrat. Ketika substrat memasuki sisi aktif enzim, aka enzim akan terinduksi dan kemudian mengubah bentuknya sedikit sehingga mengalami perubahan sisi aktif yang semula tidak cocok

5

menjadi cocok (fit). Kemudian terjadilah pengikatan substrat oleh enzim, yang selanjutnya substrat diubah menjadi produk. Perhatikan Gambar 1.3.

Gambar 1.2 KerjaEnzim Bekerja Secara Gembok-Anak Kunci

Gambar 1.3 KerjaEnzim Bekerja Secara Inducet Fit

C. INHIBITOR PENGHAMBAT METABOLISME Inhibitor adalah zat yang dapat menghambat kerja enzim. Inhibitor ada yang bersifat reversibel dan ada yang bersifat irreversibel. 1. Inhibitor reversibel Inhibitor reversibel adalah penghambat yang tidak berikatan secara kuat dengan enzim. Inhibitor reversibel dibedakan menjadi inihibitor kompetitif dan nonkompetitif. a. Inhibitor kompetitif Inihibitor kompetitif menghambat kerja enzim dengan menempati sisi aktif enzim sehingga substrat tidakdapat masuk. Penghambatan ini bersifat reversibel (dapat kembali seperti semula) dan dapat dihilangkan dengan menambah konsentrasi substrat. Contoh inihibitor kompetitif adalah malonat dan oksalosuksinat, yang bersaing dengan substrat suksinat untuk berikatan dengan enzim suksinat dehidrogenase. b. Inhibitor nonkompetitif Inhibitor nonkompetitif biasanya berupa senyawa kimia yang tidak mirip dengan substrat dan berikatan pada sisi selain sisi aktif enzim. Ikatan ini menyebabkan perubahan bentuk enzim sehingga sisi aktif enzim tidak sesuai lagi dengan substratnya. Perhatikan Gambar 1.4. Contohnya, antibiotik penisilin menghambat kerja enzim penyusun dinding

6

sel bakteri. Inhibitor ini bersifat reversibel, tetapi tidak dapat dihilangkan dengan menambahkan konsentrasi substrat. 2. Inhibitor irreversibel Inihibitor ini berikatan dengan sisi aktif enzim secara kuat sehingga tidak dapat terlepas. Enzim menjadi tidak aktif dak tidak dapat kembali seperti semula. Contohnya, diisopropil fluorofosfat (DFP) yang manghambat kerja enzim asetilkolinesterase. Enzim asetilkolinesterase adalah enzim yang penting dalam transmisi impuls saraf. Penghambatan asetilkolinesterse menyebabkan kekejangan otot. Diisoprofilfluorofosfat biasanya digunakan sebagai insektisida.

Gambar 1.4 Penghambatan Enzim

D. METABOLISME TERDIRI DARI KATABOLISME DAN ANABOLISME 1. KATABOLISME Katabolisme adalah reaksi penguraian senyawa yang lebih kompleks menjadi senyawa yang lebih sederhana. Penguraian suatu senyawa dapat menghasilkan energi. Energi itu berasal dari terlepasnya ikatan-ikatan kimia yang menyusun suatu senyawa. Semakin kompleks senyawa kimia itu, semakin banyak ikatan kimia yang menyusunnya, akan semakin besar energi yang dilepaskannya. Akan tetapi energi itu tidak dapat

digunakan secara langsung oleh sel. Energi itu diubah terlebih dahulu menjadi senyawa adenosin trifosfat (ATP) yang dapat digunakan oleh sel sebagai sumber energi terpakai. Apakah ATP itu? ATP merupakan gugusan adenin yang berikatan dengan tiga gugusan fosfat. Terlepasnya ikatan fosfat dalam gugusan adenin itulah menghasilkan energi yang langsung dapat digunakan oleh sel. Energi itu digunakan untuk melangsungkan reaksi-reaksi kimia, pertumbuhan, transportasi, reproduksi, dan menjawab rangsangan.

7

a. Katabolisme Karbohidrat Contoh katabolisme adalah proses pernapasan sel atau respirasi. Yang dimaksud dengan pernapasan sel atau respirasi adalah proses penguraian bahan makanan untuk dihasilkan energi. Pernapasan sel dilakukan oleh semua sel penyusun tubuh, baik sel-sel tumbuhan maupun sel hewan dan manusia. Pernapasan sel dilakukan baik siang maupun malam. Ditinjau dari kebutuhannya akan oksigen, respirasi dapat dibedakan menjadi dua macam: 1) respirasi aerobik, yaitu respirasi yang menggunakan oksigen untuk mendapatkan energi; 2) respirasi anaerobik, yaitu respirasi yang tidak membutuhkan oksigen untuk mendapatkan energi. Bahan baku respirasi adalah karbohidrat, asam lemak atau protein (asam amino). Hasil respirasi berupa karbondioksida, air dan energi dalam bentuk ATP. 1) Respirasi Aerobik Persamaan reaksi proses respirasi aerobik (aerob) itu secara sederhana dapat dituliskan sebagai berikut: C6H12O6 + 6O2 --------> 6H2O + 6CO2 + 675 kkal Dalam kenyataan, reaksi yang terjadi tidak sesederhana itu. Reaksi-reaksi itu dapat dibedakan menjadi 4 tahapan yaitu: glikolisis, oksidasi piruvat, siklus Krebs dan sistem transpor elektron. a) Glikolisis Glikolisis adalah peristiwa pengubahan satu molekul glukosa (terdiri dari 6 atom C) menjadi dua molekul asam piruvat (terdiri dari 3 atom C), 2 molekul NADH dan 2 (dua) molekul ATP. NADH adalah singkatan dari nikotinadenin dinukleotida H yang merupakan sumber elektron berenergi tinggi. Sedangkan ATP adalah singkatan dari adenosin trifosfat, yang merupakan senyawa berenergi tinggi. Selama glikolisis, dihasilkan 4 molekul ATP, akan tetapi 2 molekul ATP diantaranya digunakan kembali untuk berlangsungnya reaksi-reaksi sehingga tersisa 2 molekul ATP yang siap digunakan tubuh. Seluruh proses glikolisis tanpa memerlukan oksigen. Reaksi glikolisis berlangsung di sitoplasma (di luar mitokondria). Hasil akhir glikolisis adalah asam piruvat. Perhatikan Gambar 1.5. Senyawa selain glukosa, misalnya fruktosa, manosa, galaktosa, dan lemak dapat pula mengalami metabolisme melalui jalur glikolisis dengan bantuan enzim-enzim tertentu. Lihat Gambar 1.6 b) Oksidasi piruvat Pada oksidasi piruvat senyawa 3C diubah menjadi senyawa 2C. Piruvat yang dihasilkan dari glikolisis akan melewati membran mitokondria. Sebelum piruvat masuk daur Kreb’s sebagai jalur pusat metabolisme aerobik, rangka karbon piruvat mengalami tiga perubahan kimia berikut:

8

Gambar 1.6 Masuknya Senyawa Karbohidrat selain Glukosa ke dalam Proses Glikolisis (Penulisan dipersingkat dengan tanda panah).

b) Oksidasi piruvat

Gambar 1.5 Skema Reaksi Glikolisis

Pada oksidasi piruvat senyawa 3C diubah menjadi senyawa 2C. Piruvat yang dihasilkan dari glikolisis akan melewati membran mitokondria. Sebelum piruvat masuk daur Kreb’s sebagai jalur pusat metabolisme aerobik, rangka karbon piruvat mengalami tiga perubahan kimia berikut: 1. dekarboksilasi (melepaskan CO2) 2. oksidasi dari kelompok keto pada C2 ke suatu kelompok karboksil 3. aktivasi dengan cara berikatan ke coenzim A melalui ikatan tioester Tahap dekarboksilasi oksidatif merupakan reaksi asam piruvat (3C) diubah menjadi asetil KoA (2C) (Gambar 1.7).

9

Gambar 1.7 Reaksi Dekarboksilasi Oksidatif

c) Siklus Krebs Krebs adalah nama orang yang menemukan siklus ini. Siklus Kreb’s disebut juga daur asam sitrat, atau siklus asam trikarboksilat. Dalam daur asam sitrat terjadi dua peristiwa: 1. Degradasi dari C2 unit dari asetil CoA menjadi CO2, menghasilkan energi yang tersimpan dalam bentuk ATP atau GTP dan tenaga reduksi berbentuk NADH atau FADH2. 2. Suplai prekursor untuk biosintesis dari asam amino, porfirin, dan basa pirimidin atau purin untuk nukleotida. Pada saat asetil CoA memasuki siklus Krebs, asetil CoA direaksikan dengan asam oksaloasetat (4C) menjadi asam sitrat (6C). Selanjutnya, asam oksaloasetat memasuki daur menjadi berbagai macam zat yang akhirnya kembali menjadi asam oksaloasetat dengan melepaskan CO2. Demikianlah pengubahan zat di dalam tahap ini mengalami pendauran. Pada tiap tahapan, dilepaskan pula energi baik dalam bentuk ATP maupun dalam bentuk hidrogen. ATP yang dihasilkan langsung dapat digunakan, sedangkan hidrogen berenergi digabungkan dengan penerima hidrogen (aseptor hidrogen) yaitu NAD dan FAD, untuk dibawa ke sistem transfer elektron, agar energinya dilepaskan dan hidrogen direaksikan dengan oksigen membentuk air. Pada siklus Krebs, dari satu molekul asetil CoA dihasilkan energi yang disimpan dalam NADH, yaitu sebanyak 3 molekul; energi dalam FADH2 (flavin adenin dinukleotida hidrogen) sebanyak 1 molekul; dalam ATP sebanyak 1 molekul. Hasil pemecahan satu molekul glukosa dihasilkan 2 molekul asetil KoA, oleh karena itu energi yang dihasilkan dari daur Krebs nantinya dikalikan dua. Seluruh reaksi daur Krebs berlangsung dengan memerlukan oksigen bebas (aerobik). Daur Krebs berlangsung di dalam mitokondria. Lihat Gambar 1.8.

10

Gambar 1.8 Skema Siklus Kreb’s

d) Sistem Transpor Elektron Energi yang terbentuk dari peristiwa glikolisis dan siklus Krebs ada dua macam. Pertama dalam bentuk ikatan fosfat bertenaga tinggi yaitu ATP atau GTP (guanosin trifosfat). Energi ini merupakan energi siap pakai, langsung dapat digunakan untuk berbagai keperluan. Kedua dalam bentuk sumber elektron yaitu NADH (nikotin adenin dinukleotida H) dan FAD (flavin adenin dinukleotida) yakni dalam bentuk FADH2. Kedua macam sumber elektron ini dibawa ke sistem transpor elektron.

11

Proses transpor elektron ini sangat kompleks. Pada dasarnya, elektron dan H+ dari NADH dan FADH2 dibawa dari satu substrat ke substrat lain secara berantai. Pembawa elektron dalam transpor elektron antara lain protein besisulfur (FeS) dan sitokrom. Selain itu terdapat pula senyawa ubikuinon yang bukan protein. Setiap kali dipindahkan, energi yang terlepas digunakan untuk mengikatkan fosfat anorganik (P) ke molekul ADP sehingga terbentuk ATP. Pada bagian akhir terdapat oksigen (O2) sebagai penerima (aseptor), sehingga terbentuklah H2O. Perhatikan Gambar 1.9. Pada setiap tahap respirasi dihasilkan senyawasenyawa antara dari tahapan-tahapan tertentu. Senyawasenyawa antara itu digunakan sebagai bahan dasar proses anabolisme. Dengan demikian pada respirasi terjadi efisiensi bahan, karena tidak ada bahan yang terbuang. Dari glikolisis yang terjadi di sitoplasma selain dihasilkan ATP juga menghasilkan NADH sebanyak 2 molekul, jika berlangsung metabolisme aerobik maka NADH akan melintasi membran mitokondria dan memasuki rantai transpor elektron. NADH dari sitoplasma ini tidak dapat langsung menembus membran mitokondria, untuk itu NADH

Gambar 1.9 Sistem Transpor Elektron melalui Senyawa-senyawa Antara untuk Menghasilkan ATP.

harus disiklus ulang melalui sistem electron shuttle, yang membawa elektron melintasi membran dalam bentuk tereduksi. Glycerol 3-phosphate shuttle berfungsi misalnya dalam sel-sel otot kerangka dan otak. Elektron dari NADH digunakan untuk membentuk gliserol 3-fosfat melalui reaksi oksidasi reduksi, NADH teroksidasi menjadi NAD sedangkan DHAP (dihidroksi

aseton fosfat) tereduksi menjadi gliserol 3-fosfat, reaksi ini dikatalisis oleh enzim dehidrogenase. Gliserol 3-fosfat dioksidasi oleh suatu FAD dehidrogenase yang terikat membran menjadi FADH2. Selanjutnya FADH2 masuk dalam rantai taranspor elektron dan menghasilkan 2 ATP. • Malat-aspartat shuttle yang ada dalam hati dan jantung mengarahkan pada pembentukan 3 ATP untuk setiap molekul NADH sitoplasmik. Elektron dari NADH sitoplasma melintasi membran dalam mitokondria melalui substrat malat, yang dioksidasi dalam matriks mitokondria oleh malat dehidrogenase mitokondria menjadi oksaloasetat dengan menggunakan NAD terikat dehidrogenase sebagai katalisisnya. (gambar 5.5).Jadi dalam sel-sel jantung dan hati NADH sitoplasma dioksidasi melalui 12

“malat-aspartat shuttle” dalam peristiwa fosforilasi oksidatif setiap molekulnya dapat menghasilkan 3 ATP. Secara keseluruhan energi yang dihasilkan dari oksidasi satu molekul glukosa secara sempurna adalah sebagai berikut: Dalam sel yang melakukan glycerol 3-phosphat shuttle • • • Glikolisis menghasilkan 4 ATP + 2NADH (4ATP) – 2ATP = 6 ATP Oksidasi piruvat menghasilkan 2 NADH = 6 ATP Daur asam sitrat menghasilkan 2ATP 2 FADH (4 ATP) 6 NADH (18 ATP) = 24 ATP = 36 ATP

Dalam sel yang melakukan malat-aspartat shuttle • Glikolisis menghasilkan 4 ATP dan 2 NADH (6ATP) – 2ATP = 8 ATP • Oksidasi piruvat menghasilkan 2 NADH = 6 ATP • Daur asam sitrat menghasilkan 2ATP 2 FADH ( 4 ATP) 6 NADH (18 ATP)

= 24 ATP = 38 ATP

2) Respirasi Anaerobik Respirasi anaerobik (anaerob) adalah reaksi pemecahan karbohidrat untuk mendapatkan energi tanpa menggunakan oksigen. Respirasi aerobik menggunakan oksigen untuk mengikat hidrogen membentuk air, pada respirasi anaerobik menggunakan senyawa tertentu, misalnya asam fosfoenolpiruvat atau asetaldehida) sebagai pengikat hidrogen, membentuk asam laktat atau alkohol. Respirasi anaerobik dapat terjadi pada: a. jaringan yang kekurangan oksigen, misalnya ketika kita lari sangat cepat atau melakukan kontraksi otot sangat kuat sehingga terdapat otot yang kekurangan oksigen, b. akar tumbuhan yang terendam air c. biji-biji berkulit tebal yang sulit ditembus oksigen. d. sel-sel ragi dan bakteri anaerobik. Bahan baku respirasi anaerobik pada peragian adalah glukosa. Selain glukosa, bahan baku seperti fruktosa, galaktosa dan manosa juga dapat diubah menjadi alkohol. Hasil akhir respirasi anaerobik adalah alkohol, karbondioksida dan energi. Alkohol bersifat racun bagi sel-sel ragi. Sel-sel ragi hanya tahan terhadap alkohol pada kadar 9%--18%, jika kadar

13

alkohol lebih tinggi dari 18%, maka proses alkoholisasi terhenti. Hal yang demikian merupakan suatu kendala pada industri pembuatan alkohol. Oleh karena glukosa tidak terurai lengkap menjadi air dan karbon dioksida, maka energi yang dihasilkan pada

respirasi anaerobik lebih kecil dibandingkan respirasi aerobik. Reaksi respirasi anaerobik juga lebih sederhana, karena tidak melalui reaksi-reaksi antara sebagaimana reaksi aerobik. Pada respirasi aerobik dihasilkan 675 Kal. (kkl = kilokalori), sedangkan pada respirasi anaerobik hanya dihasilkan 21 Kal. Perhatikan persamaan reaksinya berikut ini:
ragi

C6H12O6 --------> 2C2H5OH + 2CO2 + 21 kkal
glukosa etanol karbon dioksida energi

Dari persamaan rekasi tersebut, tampak bahwa oksigen tidak diperlukan. Bahkan, bakteri anaerobik seperti Clostridium tetani (penyebab tetanus) tidak dapat hidup jika berhubungan dengan udara bebas. Infeksi tetanus dapat terjadi jika luka tertutup sehingga memberi kemungkinan bakteri tumbuh subur. Isitilah fermentasi sering digunakan untuk proses respirasi anaerobik. Selain fermentasi alkohol, fermentasi yang lain juga dilakukan oleh mikroorganisme dengan menggunakan berbagai substrat zat organik. Fermentasi asam laktat tergolong respirasi anaerobik. Hasil akhirnya adalah asam laktat atau asam susu. Fermentasi ini misalnya yang berlangsung di dalam sel-sel otot, yaitu ketika sel-sel berkonraksi terus menerus sementara persediaan oksigen habis atau terbatas. Untuk memenuhi kebutuhan energi dilakukan respirasi anaerobik berupa fermentasi asam laktat. Jika asam laktat yang dihasilkannya menumpuk, maka akan timbul kelelahan otot atau bahkan nyeri otot. Ketika istirahat, asam laktat diangkut dan dikeluarkan dari tubuh. Kita akan merasa segar kembali. Pada fermentasi asam laktat, proses respirasi diawali dengan tahap glikolisis (ingat reaksi-reaksi pemecahan glukosa hingga terbentuk asam piruvat). Asam piruvat yang dihasilkannya akan diubah menjadi asam laktat atau asam susu. Persamaan reaksinya seperti berikut.
2 asam piruvat (dari glikolisis) 2ADP 2 fosfoenol piruvat 2 ATP 2NADH 2 laktat 2NAD

Dalam makna yang berkaitan dengan mikroorganisme, fermentasi diartikan sebagai perubahan enzimatik dari substansi organik oleh mikroorganisme untuk menghasilkan produk-produk organik yang lebih sederhana. Contohnya produksi alkohol (fermentasi

14

alkohol) oleh sel-sel ragi dan pengubahan alkohol menjadi asam asetat atau cuka (fermentasi cuka) oleh bakteri acetobacter aceti. Fermentasi alkhol berlangsung secara anaerobik, sedangkan fermentasi cuka berlangsung secara aerobik. b. Katabolisme Lemak Katabolisme lemak dimulai dengan pemecahan lemak menajdi gliserol dan asam lemak. Gliserol yang merupakan senyawa dengan 3 atom C dapat diubah menjadi gliseraldehid 3-fosfat. Selanjutnya, gliseraldehid 3-fosfat mengikuti jalur glikolisis sehingga terbentuk piruvat. Sementara itu, asam lemak dipecah menjadi molekul-molekul dengan 2 atom C. Molekul dengan 2 atom C ini kemudian diubah menjadi asetil koenzim A. Bandingkan, satu molekul glukosa (6C) hanya menghasilkan 2 asetil koenzim A, sedangkan satu molekul lemak (18C) dapat menghasilkan 10 asetil koenzim A. Oleh sebab itu, dalam proses katabolisme, energi yang sihasilkan lemak lebih besar daripada yang dihasilkan oleh karbohidrat. Energi yang dihasilkan dari 1 gram karbohidrat sebesar 4,1 kkal, sedangkan dari 1 gram lemak dihasilkan energi sebesar 9 kkal. Molekul-molekul lemak tidak dapat diedarkan dari sel ke sel. Agar dapat didistribusikan ke seluruh tubuh, molekul lemak harus diuraikan menjadi gliserol dan asam lemak terlebih dahulu yang selanjutnya digunakan sebagai substrat dalam respirasi. Lemak diuraikan menjadi gliserol, kemudian diubah menjadi dihidroksiaseton fosfat. Selanjutnya, senyawa dihidroksiaseton fosfoat diubah menjadi fosfogliseraldehida. Zat ini merupakan zat antara dalam peristiwa glikolisis dan siklus Krebs.
trigliserida + 3 H2O
lipase

gliserol + 3 asam lemak

Katabolisme lemak pada manusia dan hewan dimulai di usus halus. Proses pemecahan lemak ini dibantu oleh enzim lipase. Lambung juga memiliki enzim lipase yang dapat memecahkan lemak tetapi di lambung tidak terjadi proses pemecahan karena tingginya tingkat keasaman lambung (pH lambung antara 1,2-2,5). Di dalam sel, asam lemak dikatabolisme melalui lintasan β-oksidasi, perhatikan Gambar 1.10. Hasil proses ini adalah asetil KoA, NADH, FADH2. Tahap awal metabolisme asam lemak terjadi pada membran luar mitokondria. Asam lemak mula-mula diaktivasi menjadi asil lemak KoA. Proses aktivasi ini dikatalis oleh asil KoA sintetase. Dalam proses katabolisme asam lemak terdapat lima tahapan yang terjadi.

15

Gambar 1.10 Lintasan β-oksidasi

a. Tahap pertama, merupakan upaya masuknya asil lemak KoA ke dalam matriks mitokondria. Asil lemak KoA berikatan dengan koenzim karnitin, kemudian ditransfer ke dalam matriks mitokondria. Enzim yang membantu dalam proses transfer ini adalah karnitin asiltransferase. Metabolisme asil lemak KoA selanjutnya terjadi di dalam matriks mitokondria melalui urutan reaksi yang dikenal sebagai lintasan β-oksidasi. b. Tahap kedua, merupakan reaksi pembentukan enoil KoA dengan cara oksidasi atau dehidrogenasi terhadap asam lemak aktif. Koenzim yang dibutuhkan oleh enzim pada tahap ini adalah FAD yang berperan sebagai akseptor hidrogen. c. Tahap ketiga, merupakan tahap hidrasi, pengubahan trans enoil KoA menjadi 3hidroksiasil KoA oleh enzim enoil KoA hidratase. d. Tahap keempat, merupakan tahap dehidrogenasi kedua. Produk tahap ketiga diubah menjadi 3-ketoasil KoA. Proses ini dikatalis oleh enzim β-hidroksiasil KoA dehidrogenae dan melibatkan NAD yang direduksi menjadi NADH. e. Tahap kelima, merupakan tahap pemecahan ketoasil KoA pada ikatan C-C dengan enzim asetil KoA asetiltransferase (lebih dikenal dengan tiolase) sehingga terbentuk asetil- KoA dan asil KoA. Asil KoA yang terbentuk pada tahap akhir ini mengalami reaksi degradasi lebih lanjut seperti langkah sebelumnya. Setiap siklus degradasi asam lemak akan terjadi pengurangan dua atom karbon (asetil KoA). Jika asam lemak mempunyai jumlah atom karbon genap, maka akan teroksidasi menjadi molekul asetil KoA. Molekul asetil KoA hasi degradasi ini dapat teroksidasi lebih lanjut ke Siklus Krebs, jika organisme harus menggunakan lemak bukan karbohidrat sebagai sumber energi utama. 16

c. Katabolisme Protein Protein yang terdapat di dalam sel dan makanan didegradasi menjadi monomer penyusunnya, yaitu asam amino, oleh enzim protease. Protease tersebut dapat berada di dalam lisosom maupun dalam lambung dan usus. Asam amino dihasilkan dari proses hidrolisis protein. Setelah gugus amin dilepas dari asam amino, beberapa asam amino diubah menjadi asam piruvat dan ada juga yang diubah menjadi asetil koenzim A. Gugus amin yang dilepas dari asam amino dibawa ke hati untuk diubah menjadi amonia (NH3) dan dibuang lewat urin. Satu gram protein menghasilkan energi yang sama dengan 1 gram karbohidrat yaitu 4,1 kkal. Katabolisme protein pertama kali berlangsung di dalam lambung. Di tempat ini, pepsin memecah protein dengan memutuskan ikatan peptida yang ada di sisi gugus amin bebas. Selanjutnya, di dalam usus protein juga dipecah oleh tripsin dan senyawa ini dipecah kembali oleh aktivitas aminopeptidase menjadi asam amino-asam amino bebas. Produk ini kemudian melalui dinding usus halus masuk ke dalam aliran darah menuju ke berbagai organ lalu ke sel. Beberapa asam amino mengalami proses deaminasi dan dekarboksilasi. Proses deaminasi asam amino dapat terjadi secara oksidatif dan nonoksidatif. Contoh asam amino yang mengalami proses deaminasi oksidatif adalah asam glutamat. Reaksi pemecahan asam glutamat dikatalis oleh enzim L-glutamat dehidrogenase yang dibantu oleh NAD atau NADP. Dekarboksilasi asam amino merupakan cara lain dalam degradasi asam amino protein menghasilkan limbah nitrogen berupa amonia. Senyawa ini bersifat racun bagi organisme tertentu. Agar tidak membahayakan tubuh, biasanya gugus amino diekskresi dari tubuh dalam bentuk urea, yaitu suatu senyawa yang larut dalam air dan bersifat notoksik. Pembentukan urea dimulai dari reaksi antara gugus amino dengan karbon dioksida. Urea yang terbentuk biasanya dikeluarkan dari tubuh melalui urin. Perhatikan Gambar 1.11. Asam amino dihasilkan dari proses Gambar 1.11 Siklus Urea terjadi di Mitokondria hidrolisis protein. Setelah gugus amin dari asam dan Sitosol amino dilepas, beberapa asam amino diubah menjadi asam piruvat dan ada juga yang diubah menjadi asetil koenzim A. Gugus amin yang dilepas dari asam amino dibawa ke hati untuk diubah menjadi amonia (NH3) dan dibuang lewat urin. 17

2. ANABOLISME Anabolisme adalah semua reaksi penyusunan yang berlangsung di dalam sel, yang berasal dari senyawa sederhana disusun menjadi senyawa yang lebih kompleks. a. Anabolisme Karbohidrat Anabolisme karbohidrat merupakan proses penyusunan karbohidrat. Karbohidrat dibedakan atas monosakarida, disakarida, oligosakarida, dan polisakarida. Contoh monosakarida adalah glukosa, fruktosa, dan galaktosa. Monosakarida berikatan dengan monosakarida membentuk disakarida. Contoh diskarida adalah maltosa, laktosa dan sukrosa. Disakarida berikatan dengan disakarida membertuk polisakarida. Contoh polisakarida adalah glikogen dan amilum. Proses pembentukan glikogen dari glukosa terjadi di dalam tubuh hewan saja. Sebaliknya, pembentukan amilum dari glukosa terjadi pada tumbuhan saja. Glukosa dibentuk dari molekul anorganik yaitu CO2 dan H2O dan energi yang berasal dari matahari. Proses ini disebut fotosintesis. Pada beberapa bakteri, energi itu tidak berasal dari matahari tetapi dari energi kimia sehingga prosesnya disebut kemosintesis. 1) Fotosintesis Fotosintesis berasal dari kata foton=cahaya, sintesis=penyusunan. Fotosintesis adalah peristiwa penyusunan zat organik (gula) dari zat anorganik (air, karbondioksida) dengan pertolongan energi cahaya matahari. Oleh karena itu bahan baku yang digunakan adalah zat karbon (karbondioksida), maka istilah lain yang juga digunakan adalah asimilasi zat karbon. Pada dasarnya, proses fotosintesis merupakan kebalikan dari pernapasan. Jika proses pernapasan bertujuan memecah gula menjadi karbondioksida, air dan energi, maka proses fotosintesis mereaksikan karbondioksida dan air menjadi gula dengan menggunakan energi cahaya matahari. Jika proses pernapasan berlangsung di semua sel makhluk hidup baik siang maupun malam, maka proses fotosintesis hanya berlangsung di tumbuhan berklorofil pada waktu siang hari. Malam hari juga dapat terjadi fotosintesis asalkan ada sumber cahaya (misal cahaya lampu). Meskipun merupakan kebalikan dari proses pernapasan, namun rentetan reaksinya tidak sama. Secara singkat, persamaan reaksi fotosintesis yang terjadi di alam dapat dituliskan sebagai berikut:
Cahaya Matahari

6CO2 + 12H2O

--------------->
Klorofil

C6H12O6 + 6O2 + 6H2O

Air (6H2O) yang terbentuk dari fotosintesis berbeda dengan air (12H2O) yang digunakan sebagai bahan fotosintesis. Jadi merupakan molekul air baru yang terbentuk selama fotosintesis. Tumbuhan yang dapat melakukan fotosintesis hanyalah tumbuhan

18

yang berklorofil. Karena itu tumbuhan hijau yang berklorofil disebut sebagai produsen (penghasil). Keberadaan makhluk di bumi sangat tergantung kepada keberadaan produsen. Reaksi fotosintesis terjadi pada membran fotosintesis tumbuhan. Pada bakteri fotosintesis membran tersebut merupakan lipatan membran sel. Pada tumbuhan, alga, protista bersel satu (misalnya Euglena), semua reaksi fotosintesis terjadi di dalam kloroplas. Kloroplas mempunyai sistem membran dalam. Membran ini terorganisasi menjadi kantong pipih berbentuk cakram yang disebut tilakoid. Tumpukan tilakoid disebut grana. Tiap-tiap tilakoid merupakan ruang tertutup dan berfungsi sebagai tempat pembentukan ATP. Di sekeliling tilakoid terdapat cairan yang disebut stroma. Stroma mengandung enzim yang berperan dalam reaksi fotosintesis. Lihat Gambar 1.12. Orang yang pertama kali menemukan fotosintesis adalah Ingenhousz pada tahun 1799. Ingenhousz memasukkan tumbuhan air Hydrilla verticillata ke dalam bejana, yang diisi air. Bejana gelas itu ditutup dengan corong terbalik, di atasnya diberi tabung reaksi yang juga berisi air hingga penuh. Bejana itu diletakkan di terik matahari. Tak lama kemudian muncul gelembung udara dari tumbuhan air itu. Gas ini ternyata oksigen. Ingenhousz menyimpulkan, fotosintesis menghasilkan oksigen. Pada tahun 1822, Engelmann melakukan percobaan dengan menggunakan ganggang Spirogyra. Ganggang Spirogyra mempunyai kloroplas seperti spiral. Hanya kloroplas yang terkena sinar yang mengeluarkan oksigen. Kloroplas yang tidak terkena sinar tidak mengeluarkan oksigen. Buktinya, bakteri suka oksigen banyak berkerumun di bagian kloro-plas yang terkena sinar. Jadi kesimpulannya adalah: a) fotosintesis dilakukan oleh kloro-plas; b)
Gambar 1.12 Kloroplas Fotosintesis terjadi di Dalam

kloroplas hanya berfotosintesis jika terkena cahaya. menghasilkan

Pada tahun 1860, Sachs membuktikan bahwa proses fotosintesis

amilum. Daun yang sebagian dibungkus kertas timah (kertas grenjeng) dipetik di sore hari, setelah terkena sinar matahari sejak pagi hari. Daun tersebut direbus untuk mematikan sel-selnya. Selanjutnya daun tersebut dimasukkan ke dalam alkohol, agar klorofilnya larut. Maka daun tersebut akan menjadi pucat. Tetesi daun itu dengan yodium, maka bagian yang tertutup oleh kertas timah tetap pucat, sedang yang tidak tertutup warnanya menjadi biru kehitaman. Warna biru kehitaman menandakan bahwa di daun tersebut terdapat amilum. 19

Hill pada tahun 1937 berhasil membuktikan bahwa energi sinar yang diterima digunakan untuk memecah molekul air menjadi H2 dan O2. Peristiwa ini dikenal sebagai fotolisis, yang merupakan tahap awal dari fotosintesis. Fotolisis harus berlangsung dengan bantuan cahaya. Karena itu disebut reaksi terang. H2 yang dihasilkan dari penguraian air ditangkap oleh NADP sehingga terbentuk NADPH2. Selanjutnya terjadi penyusutan CO2 oleh H2 yang dibawa oleh NADP tersebut. Oleh Blackman dikemukakan, penyusutan atau reduksi CO2 oleh H2 sehingga terbentuk CH2O berlangsung tanpa bantuan cahaya. Karenya disebut reaksi gelap. Persamaan reaksinya adalah sebagai berikut: CO2 + 2NADPH2 + O2 -----> 2NADP + H2 + CO + O + H2 + O2 Jika reaksi Hill dan Blackman digabungkan, maka akan terlihat sebagai berikut: Hill: (Reaksi terang), berlangsung di dalam grana. 2H2O ------------> 2NADPH2 + O2 Blackman: (Reaksi gelap), berlangsung di dalam stroma. CO2 + 2NADPH2 + O2 -----> 2NADP + H2 + CO + O + H2 + O2 atau: CO2 + 2H2O -----> CH2O + H2O + O2 Kalau baris terakhir ini dikalikan enam maka diperoleh: 6CO2 + 12H2O -----> (CH2O) 6 + 6H2O + 6O2 Jadi reaksi gelap hanya berlangsung jika tersedia energi kimia dan hidrogen yang dihasilkan oleh reaksi terang. Tanpa didahului reaksi terang, reaksi gelap tidak akan berlangsung. Tahapan Proses Fotosintesis Proses fotosintesis merupakan rangkaian dari proses penangkapan energi cahaya, aliran elektron, dan penggunaan energi yang dilepaskan oleh elektron untuk menghasilk an zat organik. a) Penangkapan Energi Cahaya (Fotosistem) Ketika klorofil menyerap energi foton dari cahaya, elektron pada klorofil akan terlepas ke orbit luar (tereksitasl). Elektron ini akan ditangkap oleh penerima elektron yaitu plastokuinon. Unit penangkapan elektron ini disebut fotosistem. Akibatnya, jumlah elektron di dalam klorofil menjadi tidak stabil. Untuk itu, klorofil harus disuplai elektron dari molekul lain. Dalam waktu yang bersamaan terjadi proses fotolisis yaitu H2O terpecah menjadi 2H+, ½ O2, dan elektron. Elektron dari air inilah yang dipakai untuk menstabilkan klorofil.

20

Ada dua macam fotosistem di dalam tilakoid. Molekul klorofil yang berada pada pusat reaksi dari fotosistem I dinamakan P700 karena sangat baik menyerap cahaya dengan panjang gelombang 700 nanometer. Sedangkan molekul klorofil yang berada pada pusat reaksi fotosistem II dinamakan P680, karena sangat baik menyerap cahaya dengan panjang gelombang 680 nanometer. b) Aliran Elektron Ada dua macam aliran elektron, yaitu elektron dari fotosistem II (P680) yang bersifat nonsiklis dan dari fotosistem I (P700) yang bersifat siklis. Fotosistem II terjadi sebelum fotosistem I. Elektron yang terlepas dari P680 ditangkap oleh penerima elektron dan dipindahkan secara berantai dari penerima elektron plastokuinon sitokrom, dan plastosianin. Energi yang terlepas ketika elektron berpindah dari satu penerima elektron ke penerima elektron lain ditangkap untuk membentuk ATP. Penerima elektron yang terakhir adalah klorofil P700. Pada saat yang bersamaan, P700 yang menyerap energi foton dan elektronnya tereksitasi. Elektron dari P700 ini ditangkap oleh penerima elektron seperti feredoksin, untuk membentuk NADPH. Aliran elektron dari P680 dan P700 ini bersifat nonsiklis (fotofosforilasi non-siklis). Artinya, elektron yang terlepas dari klorofil tidak kembali ke tempatnya semula. Lihat Gambar 1.13. Aliran elektron pada fotosistem I dapat bersifat siklis untuk membentuk ATP. Klorofil P700 yang menyerap energi foton elektronnya akan tereksitasi. Elektron ditangkap oleh penerima elektron, yaitu feredoksin koenzim Q, dan plastosianin kemudian kembali ke klorofil P700. Oleh sebab itu, aliran elektron ini disebut fotofosforilasi siklis. Energi yang terlepas selama proses perpindahan elektron ini digunakan untuk mensintesis ATP. Lihat kembali Gambar 1.13. Jalan pintas yang ditempuh elektron dari P430 menuiu sitokrom b membentuk fotofosforilasi siklik.

Gambar 1.13 Skema Perjalanan Elektron Nonsiklik Selama Reaksi Terang.Tanda panah putusputus dari P430 menuiu sitokrom b adalah jalan pintas yang dilalui elektron yang bersifaf siklik.

21

2) Siklus Calvin

Siklus ini dikemukakan oleh Melvin Calvin. Siklus ini merupakan proses penggunaan ATP dan NADPH untuk mengubah CO2 menjadi gula (glukosa, maltosa, sukrosa, amilum). Hasil akhir dari siklus Calvin adalah gliseraldehid 3-fosfat (G3P), suatu senyawa antara yang dipakai untuk membentuk senyawa gula (karbohidrat). Untuk membentuk satu molekul G3P, siklus Calvin harus berjalan tiga kali. Siklus Calvin dapat dibagi ke dalam tiga fase berikut. a) Pengikatan (Fiksasi CO2) CO2 diikat oleh senyawa C-5 yaitu ribulosa bifosfat (RuBP) untuk membentuk senyawi C-6. Senyawa C-6 ini kemudian dipecah menjadi 2 senyawa gliserat 3-fosfat (PGA). Enzim yang mengkatalisis reaksi ini disebut RuBisCo (ribulosa 1,5 bifosfat karboksilase). b) Reduksi Setiap senyawa PGA difosforilasi oleh ATP dengan bantuan enzim fosfogliserat kinase untuk membentuk 1,3-bifosfogliserat dan ADP. Selanjutnya senyawa ini diubah menjadi gliseraldehid 3-fosfat atau G3P dengan menambahkan 2 elektron dari 2 NADPH. NADPH diubah meniadi NADP+. Siklus ini harus berjalan tiga kali sehingga terbentuk 6 molekul G3P. c) Pembentukan RuBP Senyawa RuBP harus selalu dibentuk karena senyawa ini digunakan untuk mengikat CO2. Pembentukan kembali senyawa RuBP dari 5 senyawa G3P membutuhkan 3 ATP. Jadi, untuk membuat 1 G3P secara keseluruhan dalam siklus Calvin dibutuhkan 9 ATP dan 6 NADPH. G3P dapat diubah menjadi dihidroksiaseton fosfat. G3P ditambah dihidroksiaseton fosfat membentuk glukosa. Dengan demikian untuk membentuk 1 molekul glukosa dibutuhkan siklus Calvin yang berdaur selama 6 kali, dan ditangkaplah 6 molekul CO2 seperti reaksi berikut. 6CO2 + H2O ------> C6H12O6 + 6O2 + 6H2O Perhatikan siklus Calvin pada Gambar 1.14. 3) Kemosintesis Cahaya digunakan sebagai sumber energi untuk memecah molekul air. Hasil akhir yang terbentuk adalah gula (selanjutnya diubah menjadi amilum) yang akan digunakan sebagai cadangan makanan. Jadi, energi cahaya diubah menjadi energi yang tersimpan dalam bentuk ikatan kimia. Namun sumber energi tidak hanya cahaya. Beberapa mikroorganisme ada yang dapat memperoleh energi dengan jalan mengoksidasi senyawa kimia. Misalnya bakteri belerang, bakteri nitrit, bakteri nitrat, dan bakteri besi. Bakteri belerang mengoksidasikan H2S untuk memperoleh energi. Selanjutnya, energi yang diperoleh digunakan untuk

22

melakukan assimilasi C. Karena proses penyusunan bahan organik digunakan energi dari pemecahan senyawa kimia, maka disebut kemosintesis. Perhatikan reaksinya: H2S + O2 ----> 2H2O + 2S + energi Energi yang diperoleh lebih kecil jumlahnya. Energi tersebut digunakan untuk fiksasi CO2 menjadi karbohidrat. Dengan demikian, reaksi selengkapnya adalah: CO2 + H2S ----> CH2O + S2 + H2O Bakteri besi memperoleh energi kimia dengan cara mengoksidasi Fe2+ menjadi Fe3+. Bakteri Nitrosomonas dan Nitrococcus mengoksidasi NH4+ untuk memperoleh energi. (NH4)2 CO3 + 3O2 ----> 2HNO2 + CO2 + 3H2O + E Demikian pula bakteri Nitrobacter melakukan kemosintesis untuk menghasilkan energi. Ca(NO2)2 + O2 Ca(NO3) + E

Gambar 1.14 Siklus Calvin

b. Anabolisme Lemak Anabolisme lemak atau sintesis lemak disebut juga lipogenesis. Lemak dapat disintesis, baik dari protein maupun dari karbohidrat, melalui asetil CoA. Molekul lemak tersusun atas gliserol dan asam lemak. Gliserol dapat terbentuk dari zat antara yang ada di glikolisis yakni terbentuk dari dihidroksiaseton fosfat (zat ini terbentuk dari fruktosa 1,6 difosfat). Gliserol juga dapat berasal dari aldehid fosfogliseraldehida (PGAL). Sedangkan asam lemak terbentuk dari asetil CoA, suatu zat yang dihasilkan oleh pengubahan asam piruvat pada akhir glikolisis. Persamaan reaksi terbentuknya gliserol dari reaksi-reaksi glikolisis dapat dilihat seperti berikut.

23

α-gliserofosftat

Dihidroksiaseton fosfat + NADH2 α-gliserofosfat + H2O

dehidrogenase

α-gliserofosfat + NAD

Gliserol-3-fosfat + H3PO4

Perhatikan Gambar 1.15 tentang anabolisme triasilgliserol. Pembentukan triasilgliserol yang melalui jalur reaksi dihidroksiaseton fosfat dengan KoA asil asam lemak. Tahap selanjutnya adalah hidrolisis asam fosfatidat dengan katalis fosfatida fosfatase menghasilkan diasilgliserol. Tahap akhir sintesis trigliserida adalah reaksi antara diasilgliserol dengan molekul ketiga dari koenzim A asil asam lemak menghasilkan triasilgliserol atau trigliserida. Proses tahap akhir dikatalis oleh diasilgliserol asiltransferase. Perhatikan pulan Gambar 1.16 tentang jalur-jalur utama metabolisme lemak. Asam lemak dihasilkan dari asam piruvat. Tiga molekul asam lemak dengan gliserol akan bereaksi membentuk molekul lemak. Enzim yang membantu reaksi adalah lipase. Sintesis lemak berlangsung di retikulum endoplasma. Lemak tidak larut di dalam air. Untuk mengangkutnya, lemak dapat dibongkar dan dibentuk menjadi gula. Gula yang terbentuk masuk lagi ke dalam reaksi glikolisis, atau lemak tadi dapat dijadikan gliserol kembali yang selanjutnya gliserol diubah menjadi dihidroksiaseton fosfat. Zat tersebut dapat menuju ke siklus Krebs untuk menghasilkan energi.

Gambar 1.15 Anabolisme Triasilgliserol

24

Gambar 1.16 Jalur-jalur Metabolisme Lemak

Dengan uraian tersebut jelas bahwa molekul lemak dapat di bongkar dijadikan energi. Peristiwa pembongkaran lemak ini terjadi jika persediaan gula darah telah habis. Kita pasti memahami bahwa orang yang terlalu gemuk disebabkan karbohidrat yang dimakannya terlalu banyak. Untuk menanggulanginya, kurangi makanan berkarbohidrat dan berlemak, agar lemak di dalam tubuh "dibakar" untuk menghasilkan energi. b. Anabolisme Protein Protein tersusun atas senyawa asam amino. Asam amino yang satu dengan asam amino yang lain dihubungkan oleh suatu ikatan peptida. Penggabungan molekul-molekul asam amino dipengaruhi oleh proses fosforilasi. Suatu molekul asam amino terdiri atas suatu gugus karboksil (-COOH) dan gugus amino (-NH2). Penggabungan gugusan amino (-NH2) pada suatu substrat disebut aminasi. Ada dua cara sintesis protein, yaitu melalui reaksi aminasi reduksi dan reaksi transaminasi. Dalam penyusunan asam amino, asam glutamat memegang peranan yang penting. Asam glutamat terbentuk oleh adanya reaksi antara asam d-ketoglutarat dan NH3 dengan bantuan enzim dehidrogenase glutamat. Aminasi dari asam oksaloasetat akan menghasilkan asam aspartat, dan aminasi dari asam piruvat akan menghasilkan alanin. Semua proses ini berlangsung dalam reaksi aminasi reduksi. Reaksi-reaksi tersebut adalah: • asam α-ketoglutarat + NH3 asam α-iminoglutarat + H2O glutamate dehidrogenase asam α-iminoglutarat + NADH2 asam glutamat + NAD • • asam oksaloasetat + NH3 + NADH2 asam piruvat + NH3 + NADH2
aspartat dehidrogenase

asam aspartat + H2O + NAD

alanin dehidrogenase

alanin + H2O + NAD

25

Reaksi transaminasi merupakan reaksi yang melibatkan transfer atau pemindahan satu gugus amino dari suatu asam amino ke suatu asam α-ketoglutarat baru dan asam amino baru. Enzim yang berperan adalah enzim transaminase. Persamaan reaksinya adalah: sintesis asam aspartat dari asam glutamat asam aspartat + asam oksaloasetat glutamat aspartat dehidrogenase asam α-ketoglutarat + asam aspartat

Sintesis protein merupakan penerjemahan rangkaian kode-kode genetika yang berjumlah ratusar, ribuan, bahkan jutaan, menjadi rangkaian asam amino suatu protein tertentu melalui suatu proses yang sangat kompleks. Perhatikan Gambar 1.17.

Gambar 1.17 Metabolisme Protein

RINGKASAN 1. Metabolisme terdiri dari katabolisme dan anabolisme. Reaksi metabolisme di dalam tubuh dibantu oleh enzim; 2. Biokatalisator adalah zat yang dapat mempercepat reaksi sementara zat itu sendiri tidak ikut bereaksi; 3. Enzim terdiri dari apoenzim dan prostetik; 4. Ciri-ciri enzim adalah enzim merupakan suatu biokatalisator, protein, bekerja secara khusus, jumlah yang dibutuhkan tidak terlalu banyak, dapat bekreja bolak balik, bekerjanya dipengaruhi lingkungan. 5. Katabolisme merupakan reaksi penguraian, yaitu menguraikan zat yang mempunyai struktur kompleks menjadi zat yang memiliki struktur lebih sederhana, dalam rangka menghasilkan energi; 6. Respirasi aerobik adalah pernapasan yang menggunakan oksigen bebas untuk memperoleh energi; respirasi aerobik mempunyai 3 tahapan yaitu: glikolisis, siklus Krebs dan sistem transpor elektron; 7. Respirasi anaerobik adalah reaksi pemecahan karbohidrat untuk mendapatkan energi tanpa menggunakan oksigen bebas;

26

8. Fermentasi asam laktat berlangsung secara anaerobik di dalam sel-sel otot, menghasilkan asam laktat yang menimbulkan kelelahan otot; 9. Anabolisme merupakan reaksi penyusunan yang berlangsung di dalam sel, misalnya fotosintesis, kemosintesis, sintesis polipeptida dan sintesis lemak; 10. Fotosintesis merupakan reaksi penyusunan gula dari karbondioksida dan air, dengan pertolongan cahaya. Reaksi ini diawali dengan fotolisis yang merupakan reaksi terang dan reaksi penyusutan membentuk CH2O yang berlangsung tanpa cahaya yang merupakan reaksi gelap. 11. Kemosintesis adalah reaksi penyusunan bahan organik yang menggunakan energi dari pemecahan senyawa kimia; 12. Sintesis lemak berlangsung di dalam RE

PENJELASAN ISTILAH Anabolisme = reaksi-reaksi penyusunan yang terjadi di dalam tubuh makhluk hidup; dari zat atau senyawa yang sederhana disusun menjadi senyawa yang kompleks; = gugusan protein pada enzim; = zat pemercepat rekasi yang terdapat di dalam tubuh makhluk hidup, sedangkan zat itu sendiri tidak ikut bereaksi; disebut pula sebagai enzim; = peristiwa penyusunan zat organik (gula/amilum) dengan mereaksikan zat anorganik (karbondioksida dan air) yang dilakukan oleh klorofil dengan pertolongan energi cahaya mata hari. = pengubahan satu molekul gula 6C menjadi dua molekul asam piruvat (3C), 2 molekul NADH dan 2 molekul ATP; tahapan reaksi ini berlangsung di sitosol, dan mememrlukan oksigen bebas (aerobik); = reaksi penguraian yang berlangsung di dalam tubuh, dari molekul/ senyawa yang kompleks menjadi molekul/senyawa yang lebih sederhana; = proses penyusunan zat organik dari zat anorganik dengan menggunakan energi dari pemecahan senyawa kimia; = semua peristiwa katabolisme dan anabolisme yang berlangsung di dalam tubuh; = gugusan bukan protein pada enzim, yang merupakan gugusan yang aktif; = perubahan bentuk.

Apoenzim Biokatalisator

Fotosintesis

Glikolisis

Katabolisme

Kemosintesis Metabolisme Prostetik Transformasi LATIHAN

Jawablah pertanyaan berikut dengan singkat! 1. Apakah yang dimaksud dengan: a. anabolisme b. katabolisme. Jelaskan masing-masing dengan satu contoh! 2. Jelaskan ciri-ciri suatu enzim atau biokatalisator! 3. Jelaskan berlangsungnya reaksi glikolisis dengan menggunakan skema! 4. Apakah keuntungan berlangsungnya reaksi dalam siklus Krebs? Jelaskan! 5. Jelaskan berlangsungnya reaksi terang dalam fotosintesis! 6. Jelaskan berlangsungnya reaksi gelap!

27

7. Apakah perbedaan antara respirasi aerobik dan anaerobik? Jelaskan dengan tabel pembeda! 8. Jelaskan perbedaan antara fotosintesis dan kemosintesis dalam bentuk tabel! 9. Bagaimanakah cara untuk membuktikan bahwa dalam fotosintesis dihasilkan gula? 10. Apakah fungsi cahaya dalam fotosintesis? Jelaskan! 11. Bagaimanakah perbedaan jumlah energi yang dihasilkan pada metabolisme karbohidrat lemak, dan protein? 12. Jelaskan berlangsungnya reaksi lintasan β-oksidasi dengan menggunakan skema! 13. Apakah perbedaan antara katabolisme lemak dan protein? Jelaskan! 14. Jelaskan dengan skema proses pembentukan gliserol! 15. Jelaskan proses katabolisme protein dalam tubuh!

28

BAB II KROMOSOM DAN MATERI GENETIK
Di dalam inti sel terdapat benang-benang kromatin yang nampak berpasangan, menebal, yang disebut kromosom. Kromosom tersusun atas protein, DNA dan RNA. Karena adanya DNA, kromosom mengandung gen, yakni substansi pembawa sifat yang dapat diwariskan pada keturunan-keturunannya. Jumlah benang kromosom di dalam sel setiap jenis makhluk hidup tidak sama. Umumnya, sel tubuh memiliki kromosom yang berpasangan, yang disebut sebagai sel diploid yang diberi simbol sebagai sel dengan kromosom 2n. Sedangkan sel gamet memiliki kromosom yang tidak berpasangan, disebut sebagai sel haploid yang diberi simbol sel dengan kromosom n. Gen merupakan sepenggal DNA yang fungsional, yakni mengontrol sintesis protein. Gen terletak pada lokus (lokasi) tertentu. Gen merupakan faktor bakat, menentukan sifat individu. Karena kromosom berpasangan, maka setiap gen memiliki alela (pasangan gen). Jadi alela terletak pada lokus yang sama pada kromosom yang homolog. DNA tersusun atas deoksiribosa, asam fosfat dan basa purin (yaitu adenin, guanin) dan basa pirimidin (yaitu sitosin, timin). Rangkaian deoksiribosa dengan fosfat membentuk nukleosida, sedang rangkaian deoksiribosa, fosfat dan basa membentuk nukleotida. Rangkaian nukleotida membentuk polinukleotida. DNA tersusun atas dua polinukleotida yang berpilin, yang dihubungkan oleh ikatan hidrogen. Terdapat pasangan yang tetap dalam ikatan hidrogen itu yakni A-T dan G-S. DNA merupakan molekul hidup, karena mampu melakukan replikasi yang dikenal sebagai replikasi semikonservatif. DNA melakukan transkripsi membentuk RNA. RNA tersusun atas satu molekul polunukleotida, yang terdiri dari gula ribosa, asam fosfat dan basa purin (yaitu guanin, adenin) dan pirimidin (yaitu sitosin, urasil). RNA membawa kode-kode genetik atau kodon atau triplet. RNA dibentuk di dalam nukleolus, kemudian di keluarkan ke sitoplasma. Di sitoplasma, ribosom membaca kode-kode genetik pada RNA untuk memanggil asam amino guna dirangkai menjadi protein. Proses ini dikenal sebagai sintesis polipeptida.

Tujuan Pembelajaran
Setelah mempelajari materi kromosom dan genetik, petatar diharapkan dapat: • • • • • mendeskripsikakan struktur heliks ganda DNA, sifat, dan fungsinya, mendeskripsikan struktur, sifat, dan fungsi RNA, mendeskripsikan hubungan antara DNA, gen, dan kromosom. menjelaskan proses dan bagian-bagian yang terlibat dalam sintesis protein. mendeskripsikan mutasi tingkat gen dan mutasi kromosom.

B. KROMOSOM TERDIRI ATAS DNA DAN PROTEIN

Kromosom terdapat di dalam nukleus, dan hanya dapat diamati dengan mikroskop pada saat sel mengadakan pembelahan mitosis. Sebelum sel mengadakan pembelahan mitosis, di dalam inti nampak adanya benang-benang halus yang dapat menyerap zat warna. Benang-benang yang menyerap warna itu disebut sebagai kromatin (chroma =

29

berwarna, tin = benang). Ketika sel mengadakan mitosis, yaitu pada tahap profase, benangbenang tersebut semakin menebal dan memendek yang disebut sebagai kromosom (chroma=berwarna, soma=badan). Benang kromatin merupakan benang fibril yang terdiri atas DNA, dan protein, kadang-kadang RNA. DNA singkatan dari Deoksiribonucleic Acid atau Asam Deoksiribonukleat. RNA singkatan dari Ribonucleic Acid atau Asam Ribonukleat. DNA merupakan molekul hidup, karena dapat mengadakan replikasi (menggandakan diri). Karena adanya molekul DNA ini, kromosom dapat menggandakan diri. DNA merupakan tempat penyimpanan informasi genetik yang akan diwariskan kepada keturunan-keturunannya. Dengan adanya DNA, kromosom dikatakan sebagai benang pembawa sifat, karena sifat-sifat makhluk hidup pada dasarnya tersimpan di dalam DNA. Perhatikan Gambar 2.1 dan 2.2 RNA yang menyusun kromosom merupakan RNA hasil transkripsi (proses penyalinan) DNA. Di dalam nukleus, tepatnya di dalam nukleolus, DNA disalin (ditranskripsikan) menjadi RNA. Biasanya, RNA yang terbentuk akan segera dikeluarkan dari nukleolus ke sitoplasma. Protein penyusun kromosom ada dua macam, yaitu protein histon yang bersifat basa dan nonhiston yang bersifat asam. Protein ini berfungsi untuk mempertahankan keutuhan kromatin dan ada yang berperanan sebagai enzim untuk penggandaan DNA dan pengkopian DNA menjadi RNA.

Gambar 2.1 Struktur Kromosom

Gambar 2.2 Kromosom mengandung Molekul DNA

1. Jumlah Kromosom Di dalam sel tubuh biasanya kromosom berpasangan atau diploid, sedangkan di dalam sel gamet biasanya tidak berpasangan (tunggal) atau haploid. Jika terjadi pembuahan antara sperma (kromosom n) dengan ovum (kromosom n) maka akan terbetuk sel zigot (kromosom 2n). Selanjutnya sel zigot membelah secara mitosis membentuk sel tubuh (kromosom 2n).

30

Jumlah pasangan kromosom dalam setiap jenis makhluk hidup tidak sama. Sebagai contoh, jumlah kromosom pada lalat buah 4 pasang, manusia 23 pasang, kera 24 pasang, kuda 32 pasang, ayam 39 pasang, kubis 9 pasang, tomat 12 pasang, tembakau 24 pasang, padi 12 pasang, dan sel ragi 17 pasang. Selain itu, ukuran kromosom pada setiap spesies juga berbeda. Biasanya, kromosom tumbuhan memiliki ukuran yang lebih besar. Kromosom yang berukuran besar terdapat pada sel-sel kelenjar ludah lalat buah Drosophilla melanogaster, yang besarnya dapat mencapai 100 kali kromosom biasa. Jumlah kromosom tidak dapat digunakan sebagai penentu tinggi rendahnya tingkatan makhluk hidup. Makhluk hidup yang memiliki tingkatan rendah dalam klasifikasi belum tentu memiliki jumlah kromosom yang lebih sedikit. 2. Genom Kromosom Kromosom diberi nomor menurut panjang pendeknya. Kromosom manusia diberi nomor 1 sampai dengan 23. Jadi pada manusia kromosom nomor 1 (terpanjang) ada sepasang, demikian pula kromosom yang lain jumlahnya sepasang. Perangkat kromosom secara keseluruhan yaitu kromosom nomor 1 sampai dengan nomor 23 disebut sebagai genom kromosom. Istilah genom ini juga digunakan untuk merujuk DNA secara keseluruhan di dalam sel, yang disebut sebagai genom DNA yang artinya keseluruhan DNA. Di dalam sel prokariotik kromosom tidak dibungkus oleh membran nukleus. Meskipun kromosom tidak bermembran, materi kromosom tidak tersebar merata di dalam sitoplasma. Kromosom itu terletak di daerah inti. Pada sel bakteri misalnya, kromosomnya tidak bermembran dan terdiri dari DNA yang sirkuler karena bentuknya melingkar seperti kalung, tak berujung. 3. Bentuk Kromosom Satu benang kromosom terdiri dari lengan kromosom dan sentromer atau kinetokhor. Sentromer atau kinetokhor bentuknya bulat, tidak mengandung DNA. Letak sentromer bermacam-macam. Ada yang terletak di ujung kromosom, sehingga menyerupai huruf i (telosentrik). Bentuk kromosom demikian hanya memiliki sebuah lengan. Adapula yang seperti huruf L (submetasentrik), sehingga salah satu lengannya lebih panjang dari yang lain. Ada pula yang seperti huruf V dan seperti tongkat memanjang dengan sentromer di tengah (metasentrik). Kromosom akrosentrik, sentromer terletak di ujung kromosom. Lihat Gambar 2.3. Fungsi sentromer adalah untuk pergerakan kromosom dari daerah ekuator ke kutub masing-masing pada waktu mitosis. Pergerakan itu dijalankan oleh tubulus mikro. Sedangkan pada lengan kromosom, pada pembesaran kuat hingga ribuan kali nampak adanya struktur seperti manik-manik yang tersusun rapat. Manik-manik ini disebut kromomer, yang terdiri dari protein histon dan DNA. Diduga, DNA di dalam kromomer inilah yang memiliki fungsi genetik dalam kromosom.

31

Gambar 2.3 Jenis Kromosom Berdasarkan Letak Sentromer (a) metasentrik, (b) submetasentrik, (c) akrosentrik, (d) telosentrik

C. GEN DAN ALELA BERADA DALAM LOKUS YANG SAMA Di dalam benang kromosom terdapat zarah penentu sifat individu. Zarah adalah unit terkecil yang tidak dapat dibagi-bagi lagi agar tetap berfungsi; jika dibagi, fungsinya hilang. Zarah penentu sifat itu disebut gen. Ada juga yang menyebut gen itu sebagai unit terkecil dari materi genetik yaitu materi pewarisan sifat. Penentu sifat atau gen itu terletak pada lokus (lokasi) tertentu pada kromosom. Karena merupakan penentu sifat, maka gen berperanan sebagai pengatur sifat-sifat yang diwariskan dari induk kepada keturunanketurunannya. Gen-gen yang ada di kromosom ternyata tidak memiliki batas-batas yang jelas. Jadi tidak dapat ditentukan mana batas gen yang satu dan mana batas gen yang lain karena strukturnya tidak kompak seperti butiran. Meskipun demikian, orang membayangkan gen terletak pada benang kromosom secara teratur dalam suatu deretan yang berurutan. Setiap gen memiliki fungsi tertentu. Ada gen penentu sifat warna bunga, ada gen penentu bentuk biji, ada gen penentu golongan darah, ada pula gen penentu warna kulit. Dengan demikian jumlah gen amat banyak dan masing-masing terletak pada lokus kromosom tertentu. Pada manusia gen penentu sifat rambut, warna kulit, golongan darah, masing-masing menempati lokus tertentu, dan bahkan menempati nomor kromosom tertentu. Saat ini orang telah dapat memetakan letak sebagian gen-gen tertentu, di mana daerah lokusnya dan terletak pada kromosom nomor berapa gen tersebut. Kromosom di dalam sel tubuh biasanya berpasangan. Sepasang kromosom itu merupakan homolog sesamanya, yang artinya memiliki bentuk yang sama dan memiliki lokus gen yang sama pula. Gen yang berada pada lokus yang sama pada kromosom yang homolog disebut sebagai alela. Terkadang alela itu memiliki fungsi sama, saling mendukung, atau terkadang malah berlawanan. Misalnya, ada gen yang berfungsi menentukan warna merah pada bunga, pasangannya (alelanya) justru menentukan sifat warna putih, sehingga yang nampak adalah warna bunga merah muda. Ada gen yang dominan (menang) yang berpasangan dengan alela resesif (kalah), sehingga yang nampak adalah sifat yang dominan. Gen mengontrol pembuatan polipeptida (protein) tertentu. Satu gen mengontrol pembuatan satu macam polipeptida. Polipeptida itu digunakan sebagai penyusun sel atau 32

sebagai protein struktural dan ada pula yang difungsikan menjadi enzim atau sebagai protein fungsional. Enzim adalah protein yang berfungsi sebagai katalisator dalam proses metabolisme sel. Dengan demikian gen mengontrol baik struktur maupun fungsi metabolisme sel. Dengan kata lain, gen mengendalikan sifat-sifat makhluk hidup. Secara kimiawi, gen itu pada dasarnya berupa sepenggal DNA yang memiliki urutan basa tertentu, yang berfungsi mengkode pembuatan satu macam polipeptida. Panjang pendeknya urutan basa itu bermacam-macam. Ada yang pendek, ada yang panjang. Panjang pendeknya gen menentukan panjang pendeknya rantai asam amino pada polipeptida. Sebagaimana diketehui, rantai polipeptida itu tersusun dari rangkaian asam amino. Semakin panjang urutan basa, semakin panjang urutan asam amino yang menyusun poplipeptida itu. Ada gen yang memiliki ratusan pasangan basa, ada yang ribuan pasangan basa. D. DNA MERUPAKAN CETAK BIRU KEHIDUPAN DNA singkatan dari dioksiribonucleic acid atau asam dioksiribonukleat. Orang sering menyebutnya asam inti atau asam nukleat karena sering terdapat di dalam nukleus. Ada pula DNA yang terdapat di luar nukleus, misalnya di dalam kloroplas atau mirokondria. Sedangkan RNA merupakan singkatan dari ribonucleic acid atau asam ribonukleat. Di dalam sel, (transkripsi). RNA dibentuk oleh DNA melalui proses pencetakan

1. Struktur DNA DNA terdiri dari dua utas benang polinukleotida yang saling berpilin (double helix = anda berpilin). Seutas polinukleotida tersusun atas rangkaian nukleotida. Setiap nukleotida tersusun atas: a. gugusan gula deoksiribosa (gula pentosa yang kehilangan satu atom oksigen); b. gugusan asam fosfat yang terikat pada atom C nomor 5 dari gula; c. gugusan basa nitrogen yang terikat pada atom C nomor 1 dari gula; Basa nitrogen penyusun DNA terdiri dari basa purin yaitu adenin (A) dan guanin (G) serta basa pirimidin yaitu sitosin (S) dan timin (T). Ikatan gula-basa disebut nukleosida, sehingga seluruhnya ada 4 macam nukleosida, yaitu: Ikatan A-gula disebut adenosin deoksiribonukleosida (deoksiadenosin),ikatan G-gula disebut guanosin deoksiribonukleosida (deoksiguanosin), ikatan S-gula disebut sitidin deoksiribonukleosida (deoksisitidin) dan ikatan T-gula disebut timidin deoksinukleosida (deoksitimidin). Ikatan asam fosfat-gula-basa disebut sebagai deoksiribonukleotida atau sering disebut nukleotida saja. Ada 4 macam deoksiribonukleotida yaitu adenosin deoksiribonukleotida, guanosin deoksiribonukleotida, sitidin deoksiribonukleotida dan timidin deoksiribonukleotida. Jika nukleotida-nukleotida itu membentuk rangkaian, maka disebut polinu-

33

kleotida. Nah, DNA terbentuk dari dua utas polinukleotida yang saling berpilin. Basa-basa pada utas yang satu memiliki pasangan tetap dengan basa-basa pada utas yang lain. Basa A senantiasa berpasangan dengan T, sedang basa G senantiasa berpasangan dengan S. Yang menghubungkan kedua basa itu adalah ikatan hidrogen. Dengan demikian, utas polinukleotida yang satu merupakan komplemen dari utas polinukleotida yang lain. Dikatakan kedua polinukleotida pada satu DNA saling komplemen. Perhatikan Gambar 2.4.

Gambar 2.4 Struktur Polinukleotida pada DNA

Model struktur DNA ganda berpilin (double helix) yang demikian itu dikemukakan pertama akali oleh Watson & Crick pada tahun 1953, berdasar hasil analisis foto dengan menggunakan sinar X. Tentu saja, karena yang difoto itu tingkat molekul, maka gambar yang nampak hanyalah bayangan gelap dan terang saja. Bayangan foto itu dianalisis sehingga mereka berkesimpulan bahwa molekul DNA merupakan dua benang polinukleotida yang berpilin. 2. Jumlah Keempat Basa Dalam DNA dan Dalam Tiap Spesies Tidak Sama Jumlah basa A, T, G dan S yang terdapat di dalam DNA tidak sama. Hal ini bergantung pada urutan basa pada benang DNA. Demikian juga jumlah basa yang terdapat pada setiap spesies tidak sama. Artinya, setiap spesies memiliki jumlah basa yang khas.

34

3. Di Dalam DNA, Jumlah A dan S Selalu Sama Telah kita ketahui bahwa A selalu berpasangan dengan T dan G selalu berpasangan dengan S. Di dalam DNA, jumlah basa A dan S senantiasa sama. 4. Urutan Basa dan Panjang DNA Tiap Spesies Berbeda Urutan basa sepanjang polinukleotida itu dalam setiap spesies tidak sama; misalnya ada yang berurutan A-T-T-S-G dan spesies yang lain A-A-T-G-S. Panjang pendeknya benang polinukleotida itu juga tidak sama. Sebagai contoh, sel bakteri Escheresia coli mengandung DNA yang panjangnya 5000 kali panjang sel. Jadi seandainya sel bakteri kita perbesar panjangnya hingga 5 meter, benang DNA yang terdapat di dalamnya mencapai 25 Km! Dengan basa yang jumlahnya hanya 4 macam dan DNA yang panjang, maka akan terbentuk berbagai kemungkinan urutan basa yang tak terbatas jumlahnya. Karena gen tersusun dari urutan basa tertentu, maka jumlah gen pada DNA juga sangat banyak kemungkinannya. Jadi hanya dengan 4 macam basa akan terbentuk banyak gen yang menentukan sifat individu. Ini merupakan suatu penciptaan yang sangat efisien dan sangat teliti oleh Tuhan Pencipta Yang Maha Kuasa. 5. DNA Merupakan Molekul Hidup Sifat khas dari DNA adalah dapat melakukan penggandaan diri

sendiri yang

dikenal sebagai proses replikasi. Sebagaimana diketahui, benang DNA terdiri dari dua utas polinukleotida, yang basa-basanya berpasangan. Pada proses replikasi mula-mula dua utas polinukleotida itu berpisah, masing-masing nukleotida dapat membentuk pasangan komplemennya. Jadi utas yang lama masing-masing membentuk pasangan yang baru yang sesuai. Ini berarti bahwa pada peristiwa replikasi tersebut dihasilkan dua DNA identik, masing-masing DNA terdiri dari utas lama dan utas baru. Karenanya peristiwa replikasi itu disebut sebagai replikasi semi konservatif (konservatif artinya mempertahankan yang lama). 6. DNA Mentranskripsi Diri Membentuk RNA Selain mampu melakukan replikasi semikonservatif, DNA juga mampu mengkopi dirinya menghasilkan RNA.`Prosesnya disebut sebagai transkripsi DNA (ada yang menerjemahkannya menyalin diri). Caranya, dua utas DNA berpisah. Salah satu polinukleotida berfungsi sebagai pencetak atau sense, yang lain sebagai gen atau anti sense. Yang berfungsi sebagai pencetak misalnya memiliki urutan basa sebagai berikut: G-G-ST-T-A dan yang berfungsi sebagai gen tentu memiliki urutan basa komplemennya yaitu SS-G-A-A-T. Karena pencetaknya G-G-S-T- T-A, maka RNA hasil cetakannya adalah S-SG- A-A-U. Jadi RNA S-S-G-A-A-U merupakan kopi dari S-S-G-A-A-G (gen), dan

35

merupakan komplemen dari pencetak. Perlu diperhatikan bahwa RNA tidak memiliki basa T, dan sebagai gantinya adalah urasil (U) yang memiliki struktur kimia hampir sama dengan T. Dengan melakukan penyalinan/pengkopian/transkripsi, urutan basa pada gen disalin menjadi urutan basa pada RNA. Proses ini berlangsung di dalam nukleus. DNA tetap berada di dalam nukleus, sedang hasil transkripsinya dikeluarkan dari nukleus menuju ke sitoplasma. Ini dimaksudkan agar gen asli tetap terlindung, sementara hasil kopiannya ditugaskan untuk melaksanakan pesan-pesan yang dikandungnya. Pesan-pesan itu berupa urutan basa nitrogen yang ada di RNA. Jika RNA rusak, akan segera diganti dengan hasil kopian yang baru. E. RNA MERUPAKAN MOLEKUL HASIL TRANSKRIPSI DNA RNA singkatan dari ribonucleic acid atau asam ribonukleat. RNA dibentuk oleh DNA melalui proses transkripsi. Berikut akan diuraikan tentang struktur RNA dan macam RNA. 1. Struktur RNA Berbeda dengan DNA yang terdiri dari benang ganda berpilin, benang RNA merupakan benang tunggal, tersusun dari gula ribosa, fosfat dan basa. Basa purin RNA terdiri dari adenin (A) dan guanin (G) serta basa pirimidin yang terdiri dari sitosin (S) dan urasil (U) sebagai pengganti timin. 2. Macam RNA RNA ada tiga macam, yaitu RNA duta (RNA-d), RNA ribosom (RNA-r), dan RNA transpor (RNA-t). Semuanya dihasilkan oleh DNA melalui proses transkripsi (penyalinan). RNA-d merupakan seutas RNA yang memanjang, yang berfungsi membawa kode-kode genetik atau kodon. Kodon adalah 3 urutan basa yang digunakan untuk memanggil asam amino tertentu. RNA-r adalah RNA yang menyusun ribosom. Bentuk RNA ini tidak jelas. Ribosom adalah organel tempat sintesis protein berlangsung. RNA-t adalah RNA yang berfungsi membawa (mengikat) asam amino untuk disintesis menjadi polipeptida. Bentuk RNA-t ini seperti daun semanggi, karena ada basa yang komplemen saling berikatan sehingga bentuk RNA melipat-lipat. a. RNA-d Pembawa Kode Genetik RNA-d merupakan polinukleotida berbentuk linier. RNA-d disintesis di dalam nukleus melalui transkripsi oleh ADN. Panjang pendeknya RNA-d berhubungan dengan panjang pendeknya rantai polipeptida yang akan disusun. Urutan asam amino yang menyusun rantai polipeptida itu sesuai dengan urutan kodon yang terdapat di dalam molekul RNA-d yang bersangkutan. RNA-d yang memiliki kodon sekitar 900-1500

36

dapat membentuk sebuah rantai polipeptida yang rata-rata terdiri atas 300-500 asam amino. Molekul RNA-d yang mengandung sejumlah kodon untuk proses penyusunan satu rantai polipeptida dinamakan satu sistron. RNA-d pada sel-sel bakteri sering mengandung kodon-kodon untuk menyusun beberapa rantai polipeptida. RNA-d yang ukurannya cukup panjang demikian ini dan berfungsi menyusun beberapa rantai polipeptida disebut polisistronik. Pada sel-sel prokariot, ukuran RNA-d pendek-pendek dan akan mengalami degradasi (perusakan) dengan cepat, bahkan kadang-kadang ketika proses pembentukannya belum selesai. Di dalam bakteri E. coli, umur RNA-d rata-rata dua menit, dan setelah itu molekulnya terurai oleh enzim ribonuklease. Inilah yang menjadi sifat menyolok dari RNA-d, yakni cepat dibuat dan cepat pula diuraikan. RNA-d di dalam sel-sel yukariot jauh lebih stabil daripada RNA-d sel-sel prokariot, umurnya lebih panjang hingga mencapai beberapa jam dan bahkan ada yang mencapai beberapa hari. Tiga urutan basa yang ada pada RNA-d berfungsi sebagai kode genetik (kodon). Anehnya, urutan basa itu baru bisa "dibaca" dan sintesis polipeptida akan berlangsung apabila terdapat kodon AUG. Karenanya kodon AUG disebut sebagai Kodon Permulaan. Proses sintesis polipeptida akan berakhir apabila terdapat kodon UAA, UAG dan UGA (pada prokariot) dan UAA (pada yukariot). Karenanya, kodon UAA, UAG dan UGA serta UAA disebut sebagai Kodon Terminasi (penghenti). Dengan adanya kodon permulaan dan kodon penghenti berarti tidak semua urutan nukleotida pada RNA-d berfungsi sebagai kodon, yang berfungsi sebagai kodon hanyalah urutan nukleotida yang berada di antara kodon permulaan dan kodon penghenti. Urutan nukleotida yang terletak sebelum kodon permulaan dan setelah kodon penghenti tidak dibaca sebagai kodon. Kodon yang ada pada RNA-d tidak dapat secara langsung "memanggil" asam-asam amino untuk dirangkai menjadi polipeptida. Hal ini berbeda dengan enzim yang secara langsung dapat menemukan dan bereaksi dengan substratnya. Untuk memanggil asam amino, RNA-d dibantu oleh RNA-t yang dapat mengidentifikasi asam amino, mengikatnya dan kemudian mengangkutnya. Dengan demikian RNA-t berfungsi sebagai adaptor. b. RNA-t Menerjemahkan Sandi Genetik Ke Dalam Urutan Basa Polipeptida RNA-t merupakan molekul berukuran kecil, terdiri dari 75-90 unit nukleotida. RNAt dapat membentuk lipatan karena beberapa basa komplemennya berpasangan, menyebabkan bentuknya menyerupai daun semanggi (lihat Gambar 2.5). Pada bagian “tangkai” terikat asam amino. Pada sintesis polipeptida, RNA-d masuk ke dalam celah ribosom sambil mengeluarkan sandi genetik. Karena adanya kode-kode itu, RNA-t datang ke ribosom sambil membawa asam amino yang dikehendaki. Kode tertentu akan dijawab oleh

37

RNA-t khusus yang membawa asam amino khusus pula. Selanjutnya asam amino itu dirangkai hingga menjadi polipeptida.

Gambar 2.5 Struktur RNA transfer

c. ARN-r Berfungsi Sebagai Adaptor ARN-r merupakan ARN yang masih misterius, belum diketahui strukturnya dengan pasti. Zat ini berfungsi sebagai adaptor pada proses sintesis polipeptida. ARN-r yang merupakan komponen penyusun ribosom ini jumlahnya paling banyak, yakni lebih dari 80% dari seluruh total ARN di dalam sel. F. SINTESIS POLIPEPTIDA Bahan baku untuk sintesis polipeptida atau protein adalah asam amino. Ada 20 (dua puluh) macam asam amino penting yang dapat dirangkai-rangkai membentuk polipeptida. Dengan dua puluh macam asam amino itu akan dapat disusun berjuta macam kemungkinan polipeptida dengan berbagai macam urutan asam amino penyusunnya, yang panjang pendeknya juga bervariasi. Jadi, molekul polipeptida itu bermacam-macam bergantung pada asam amino yang menyusunnya dan bergantung pula pada panjang pendeknya rantai polipeptida. Untuk memudahkan mempelajarinya, asam amino itu ditulis secara singkat dengan mencantumkan 3 huruf pertama dari nama asam amino itu. Misal asam amino prolin disingkat pro, sistein ditulis sis, dan seterusnya. Berikut disajikan daftar singkatan dari 20 macam asam amino. Proses merangkai-rangkai asam amino hingga terbentuk polipeptida dilakukan di dalam ribosom, dibantu oleh berbagai macam enzim yang bekerja padanya. Sebelum membahas proses sintesis lebih lanjut, berikut akan diuraikan terlebih dahulu kode genetik, anti kodon, kodon dan macam asam amino yang dipesannya, translasi, gen yang aktif dan yang tidur serta mutasi.

38

Tabel 2.1 Nama 20 Asam Amino dan Singkatannya ====================================================== No :Nama As. Amino :Singkatan :Nama As. Amino :Singkatan --------------------------------------------------------------------------------------------1 : Glisin 2 : Alanin 3 : Valin 4 : Leusin 5 : Isoleusin 6 : Serin 7 : Threonin 8 : Asam Aspartat 9 : Asam Glutamat 10 : Asparagin : : : : Gli Ala Val Leu :11 :Glutamin :12 :Histidin :13 :Arginin :14 :Lisin :15 :Phenilalanin :16 :Tirosin :17 :Triptofan :18 :Sistein :19 :Metionin :20 :Prolin : Glu : His : Arg : Lis : Phe : Tir : Trp : Sis : Met : Pro

: Ile : Ser : Thr : Asp : Glu : Asn

-----------------------------------------------------------------------------------------------1. Kode Genetik Terdiri dari 3 Urutan Basa Dari hasil berbagai eksperimen dapat dibuktikan bahwa kode genetik itu

sebenarnya merupakan urutan 3 basa (3 nukleotida) yang terdapat di sepanjang RNA-d. Setiap 3 basa memiliki arti khusus sebagai sandi genetik . Urutan 3 basa itu dikenal pula sebagai triplet, atau kodon. Misalkan urutan AAU, USA, GUS, UUA, dsb mempunyai makna tersendiri. Jadi “bahasa” genetik itu tersusun atas 3 urutan basa nitrogen. 2. Anti Kodon Merupakan Komplemen Kodon Pada bagian ujung RNA-t yang tumpul, terdapat urutan basa (urutan nukleotida) tertentu yang komplemen terhadap kodon. Urutan basa ini disebut anti kodon. Jika kodon memiliki urutan SAU, maka anti kodon memiliki urutan GUA. Jika ada kodon ASU, GUA, SUA, GUS, dan ASA maka anti kodonnya adalah UGA, SAU, GAU, SAG dan UGU. Asam amino berjumlah 20 macam. Setiap asam amino dibawa oleh RNA-t tertentu. Jadi, sedikitnya ada 20 macam RNA-t yang memiliki anti kodon yang berbeda. 3. Kodon dan Macam Asam Amino yang Dipesannya Kodon yang terbaca pada RNA-d akan didatangi oleh RNA-t yang memiliki antikodon komplemennya. Oleh karena RNA-t itu membawa asam amino tertentu, maka berarti bahwa kodon tertentu akan dijawab dengan membawa asam amino tertentu pula. Misalnya kodon UUU akan menyebabkan RNA-t yang membawa phenilalanin datang. Artinya, kodon UUU dijawab dengan asam amino phenilalanin. Kodon SUU akan dijawab dengan asam amino leusin, kodon SSU dijawab dengan asam amino prolin, dan seterusnya.

39

Mengingat jumlah basa ada 4 macam (A, G, S, U) sedangkan jumlah kodon ada 3 basa, maka seluruhnya ada 43 kodon = 64 kodon. Padahal, jumlah asam amino yang dapat dipesan hanya 20 macam. Ini berarti satu macam asam amino dapat dipesan oleh lebih dari satu macam kodon. Misalkan asam amino phenilalanin dapat dipesan oleh kodon UUU atau UUS. Artinya, jika ada kodon UUU atau UUS, maka berarti meminta asam amino phenilalanin. Tabel 2.2 Hubungan Antara Kodon dengan Macam Amino yang Dipesannya

Keterangan: Melalui tabel di atas, urutan kodon dapat dibuat dengan jalan menuliskan basa dari lajur paling kiri, selanjutnya tuliskan basa dari baris atas dan akhirnya tuliskan basa dari lajur kiri. Misalnya USU (atas) akan diperoleh asam amino serin. Kodon UAA diperoleh stop, artinya berhenti melakukan translasi. Jadi jika pembacaan kodon menjumpai urutan UAA (juga UGA dan UAG) maka proses sintesis protein berhenti, karena kodon tersebut merupakan kodon penghenti.

4. Penerjemahan Kodon atau Translasi

Keterangan berikut merupakan penjelasan ringkas tentang proses translasi (translation=penerjemahan) atau penerjemahan kodon. Agar lebih memahami, selama membaca keterangan berikut hendaknya diperhatikan juga tabel hubungan kodon dengan asam amino di atas. Perhatikan pula gambar proses transkripsi seperti tampak pada Gambar 2.6. dan proses translasi pada Gambar 2.7, 2.8, dan 2.9. Uraian akan dimulai dari proses pencetakan RNA-d, yang urutan prosesnya seperti berikut. a. Mula-mula DNA (gen) di dalam nukleus melakukan transkripsi membentuk RNA-d. Informasi genetik pada gen yang diperlukan dicetak dalam bentuk RNA-d, sehinga RNA-d mengandung kodon; b. RNA-d dikeluarkan dari nukleus, menuju sitoplasma. Di sitoplasma, RNA-d didatangi oleh ribosom, kemudian RNA-d masuk ke dalam “celah” ribosom. 40

c. Ketika RNA-d masuk ke ribosom, ribosom “membaca” kodon yang masuk. Pembacaan dilakukan untuk setiap 3 urutan basa hingga selesai seluruhnya. Sebagai catatan: ribosom yang datang untuk membaca kodon biasanya tidak hanya satu, melainkan beberapa ribosom yang dikenal sebagai polisom. Dengan demikian, proses pembacaan kodon dapat berlangsung serentak secara berurutan. d. Ketika kodon I terbaca ribosom (misal kodonnya AUG), RNA-t yang membawa antikodon UAS dan asam amino metionin datang. RNA-t masuk ke celah ribosom. e. Ribosom terus bergeser agar RNA-d lebih masuk, guna membaca kodon II. Misal kodon II UGU, yang segera diterjemahkan oleh RNA-t berantikodon ASA sambil membawa asam amino sistein.. Di dalam ribosom, metionin yang pertama kali masuk dirangkaikan dengan sistein, membentuk dipeptida. f. Ribosom terus bergeser, membaca kodon III. Misalkan kodon III ASU, segera diterjemahkan oleh antikodon RNA-t UGA sambil membawa asam amino treonin. RNA-t tersebut masuk ke ribosom. Asam amino treonin dirangkaikan dengan dipeptida yang telah terbentuk sehingga terbentuk tripeptida. Demikian seterusnya proses pembacaan kode genetik itu berlangsung di dalam ribosom, yang diterjemahkan ke dalam bentuk asam amino guna dirangkai-rangkai menjadi polipeptida. Urutan asam amino di dalam polipeptida itu sesuai dengan kodon, yang berarti sesuai dengan “pesanan” gen. Jumlah asam amino yang membentuk satu molekul protein bisa mencapai puluhan dan bahkan ratusan molekul asam amino. Dari 20 macam asam amino belum tentu seluruhnya digunakan, bergantung pada macam polipeptida yang dihasilkan. g. Semua proses dibantu oleh enzim-enzim yang bekerja secara khas (protein tertentu fungsinya tertentu pula). Satu gen hanya mengontrol sintesis satu macam polipeptida. Jadi banyaknya gen menentukan banyaknya macam polipeptida yang dibentuk. Polipeptida yang dibentuk kemudian “diproses” menjadi protein. Jika polipeptidak itu dapat kita bayangkan berbentuk linier, protein ada yang linier, ada yang tiga dinemsi dan bahkan ada pula yang kompleks strukturnya. Selanjutnya protein ada yang digunakan oleh sel itu sendiri atau diekspor ke luar sel.

Gambar 2.6 Transkripsi

41

Gambar 2.7 Proses Inisiasi meliputi Peletakan Subunit Ribosom Kecil ke RNA-d dan Molekul RNA-t met (asam amino metionin) Berpasangan dengan Kodon AUG (kodon start). Ribosom memiliki 3 Sisi Pelekatan: Sisi P untuk Peptida, sisi A untuk Asam Amino, dan Sisi E untuk Tempat Keluarnya RNA-t

Gambar 2.8 Proses Elongasi, RNA-t dengan Asam Amino yang Sesuai Masuk ke Sisi A. Polipeptida Pindah ke Asam Amino dari RNA-t. Selanjutnya RNA-d serta RNA serta RNA-t yang Membawa Peptida Bergeser ke Sisi P. RNA-t Lama Pindah ke Sisi E.

42

Gambar 2.9 Proses Terminasi, RNA-t Mempunyai Antikodon yang Merupakan Pasangan dari Salah Satu dari Tiga Kodon Pemberi Sinyal Penghenti Kodon (Kodon Stop), misalnya Kodon UAG, seperti yang Tergambar.

5. Gen yang Aktif dan Gen yang Tidak Aktif (Tidur) Setiap sel pada satu tubuh memiliki gen yang sama. Sel tubuh berasal dari satu sel zigot yang mengalami pembelahan mitosis. Gen-gen yang berada di dalam sel kaki misalnya, sama dengan gen-gen yang berada di dalam usus kita, tetapi sel usus mampu menghasilkan enzim pencernaan, sedangkan sel kaki tidak, serta sel pankreas mampu menghasilkan hormon insulin dan sel pipi tidak. Gen penghontrol hormon insulin di pankreas aktif melakukan pengungkapan. Pengungkapan gen disebut pula sebagai ekspresi gen, artinya gen itu aktif mengontrol sintesis polipeptida. Gen pengontrol insulin yang ada di sel kaki dan pipi tidak aktif, alias “tidur”. Coba bayangkan bagaimana jika ekspresi gen itu “ngawur”, misal gen insulin di sel kaki menghasilkan hormon insulin. Atau, gen pembentuk rambut di sel usus aktif menghasilkan rambut. Bersyukurlah, semua metabolisme tubuh itu ada aturannya, dan aturan-aturan itu dilakukan secara taat asas. Faktor-faktor yang menyebabkan suatu gen menjadi aktif atau tidak yaitu: umur, letak dan jenis kelamin. a. Umur Pada waktu bayi/masih belum dewasa, ada gen-gen yang tidur, setelah dewasa baru aktif. Atau, ada pula gen yang sebaliknya, ketika bayi gen itu aktif, setelah dewasa menjadi tidak aktif. b. Letak Ada gen yang aktif di tempat tertentu pada tubuh, tetapi tidur jika berada di jaringan yang lain. Misalnya, gen kumis hanya memunculkan kumis jika berada di bibir atas. Di sel-sel yang lain, meskipun juga mengandung gen kumis, tidak menampakkan ekspresinya.

43

c. Jenis Kelamin Gen penghasil kumis pada wanita tidak aktif, sedang pada pria aktif. Konon aktif tidaknya gen pembentuk kumis itu juga dipengaruhi oleh hormon testosteron. Jadi ada kerjasama antara jenis kelamin dengan hormonal. G. MUTASI MENGHASILKAN KETURUNAN YANG SIFATNYA

BERBEDA DENGAN INDUK Mutasi adalah perubahan organisasi materi genetika yang mengakibatkan terjadinya perubahan sifat atau karakter. Perubahan genotipe itu dapat terjadi karena berubahnya gen, yang disebut sebagai mutasi gen, dan dapat pula terjadi karena berubahnya kromosom yang disebut sebagai mutasi kromosom. Sebagai akibat dari perubahan genotipe, maka mutasi menyebabkan perubahan sifat. Jika mutasi berlangsung pada sel gamet, maka akan terjadi perubahan sifat pada individu-individu keturunannya. Jika mutasi itu berlangsung pada sel tubuh (sel somatis), maka akan terjadi perubahan sifat pada hasil pembelahan mitosis dari sel somatis itu. Hal ini disebut sebagai mutasi somatik. Mutasi somatik belum tentu diwariskan kepada individu keturunannya. Gen atau DNA itu bersifat stabil, tidak mudah mengalami perubahan. Ini dimaksudkan agar sifat-sifat individu itu dapat dipertahankan dan tidak berubah-ubah. Namun ini bukan berarti bahwa perubahan DNA tidak mungkin terjadi. DNA dapat berubah jika urutan basa (urutan nukleotida) pada DNA mengalami perubahan, sehingga mengubah kode genetika. DNA berfungsi mengontrol sintesis polipeptida, sehingga perubahan DNA akan mengubah polipeptida yang dihasilkannya. Polipeptida merupakan komponen yang penting sebagai penyusun sel dan berfungsi dalam metabolisme sel, sehingga perubahan pada DNA berarti akan mengubah sifat dari sel tersebut. Selain mutasi tingkat gen terdapat pula mutasi tingkat kromosom. Mutasi tingkat kromosom disebut pula sebagai aberasi kromosom. Mutasi kromosom terjadi sebagai akibat dari perubahan jumlah kromosom atau struktur DNA. Oleh karena kromosom itu mengandung DNA, maka perubahan kromosom tentu mengakibatkan perubahan molekul DNA yang menyusun kromosom tersebut. Dibandingkan mutasi gen, mutasi kromosom lebih nampak pengaruhnya pada individu. 1. Sejarah Ditemukannya Mutasi Mutasi mula-mula ditemukan oleh Set Wright (1870) yang melihat adanya kelainan pada kaki domba. Kaki domba tersebut lebih pendek dibandingkan dengan kaki domba lainnya. Domba berkaki pendek itu dapat mengembangkan keturunannya dan selanjutnya disebut domba jenis Ancon.

44

Istilah mutasi pertama kali digunakan oleh Hugo de Vries (1901) dalam bukunya The Mutation Theory. Istilah ini digunakan untuk mengemukakan adanya perubahan fenotipe yang mendadak pada bunga Oenothera lamarckiana dan perubahan itu bersifat menurun. Sekarang telah diketahui bahwa perubahan yang terjadi diakibatkan adanya penyimpangan jumlah kromosomnya. Penelitian lebih lanjut tentang mutasi dilakukan oleh Morgan (1910), yang menemukan lalat buah (Drosophila melanogaster) jantan bermata putih di antara lalat jantan lain yang bermata merah. Selanjutnya murid Morgan yang bernama Herman Yoseph Muller berhasil melakukan mutasi buatan menggunakan mutagen sinar X. Peristiwa terjadinya mutasi disebut mutagenesis. Organisme yang mengalami mutasi sehingga menghasilkan fenotipe baru disebut mutan. Sedangkan faktor penyebab mutasi dikenal dengan mutagen (mutagenic agent). Terjadinya mutasi akan menimbulkan variasi genetika dan variasi genetika merupakan “bahan baku” evolusi. Jika tidak ada mutasi, semua gen akan memiliki struktur yang tetap, tidak memiliki alel-alelnya, sehingga tidak memungkinkan terjadinya evolusi dan tidak mampu beradaptasi terhadap perubahan lingkungan. Dengan demikian mutasi sangat penting bagi keanekaragaman organisme dan kelestariannya seperti sekarang ini. Mutasi dapat dibedakan atas dasar beberapa sudut pandang. Berdasarkan faktor keturunan (gen) dan kromosom, mutasi dibedakan menjadi mutasi gen dan mutasi kromosom atau aberasi kromosom. Berdasarkan cara mutasi itu terjadi, mutasi dibedakan menjadi mutasi alam dan mutasi buatan. Berdasarkan macam sel yang mengalami mutasi ada mutasi somatis dan mutasi germinal. Mutasi ada yang merugikan dan ada yang menguntungkan. Ada juga mutasi spontan yang terjadi dengan sendirinya dan mutasi buatan karena diinduksi oleh mutagen. Mutasi buatan dilakukan oleh manusia dalam rangka mendapatkan bibit yang lebih baik, misalnya dengan menggunakan penyinaran yaitu sinar X, sinar ultra violet, sinar a, sinar b, sinar g, dan neutron, atau menggunakan senyawa kimia seperti formaldehida, metana, kolkisin, kafein, pengawet, dan benzopyrene. 2. Mutasi Tingkat Gen dan Tingkat Kromosom Mutasi dapat dibedakan menjadi dua macam yaitu mutasi tingkat gen dan mutasi tingkat kromosom. Mutasi gen adalah perubahan urutan basa pada DNA yang mengakibatkan terjadinya perubahan kodon dan akhirnya mengubah urutan asam amino pada polipeptida yang terbentuk. Mutasi kromosom terjadi karena perubahan jumlah kromosom, dan hilangnya atau bertambahnya salah satu segmen sebuah kromosom. a. Mutasi Gen Mutasi gen disebut juga dengan mutasi titik. Mutasi ini terjadi akibat perubahan urutan basa pada DNA atau dapat pula dikatakan sebagai perubahan nukleotida pada DNA. Nukleotida adalah per-senyawaan penyusun DNA yang terbentuk dari basa nitrogen, gula,

45

dan fosfat. Akibat perubahan urutan basa pada DNA, pesan-pesan DNA dalam bentuk kodon pada RNA-d juga berubah. Selanjutnya, kodon-kodon yang berubah itu akan diterjemahkan ke dalam urutan asam amino pada proses sintesis polipeptida. Akibatnya, polipeptida yang terbentuk tidak sesuai dengan kondisi sel yang normal. Secara singkat dapat dikatakan bahwa mutasi gen dapat mengakibatkan terjadinya perubahan polipeptida atau protein yang dihasilkan. Akibat berikutnya adalah dapat mem-pengaruhi metabolisme sel dan sifat-sifat sel. Dengan kata lain, perubahan genotipe akan dapat mempengaruhi fenotipe individu. Mutasi tingkat gen terjadi apabila nukleotida pada DNA mengadakan duplikasi (penggandaan), insersi (penyisipan), delesi (kehilangan nukleotida akibat terlepas dari ikatannya), atau inversi (terbaliknya letak nukleotida). Berikut disajikan perubahanperubahan macam basa nitrogen, perubahan letak urutan basa nitrogen, dan jumlah nukleotida. 1) Perubahan Macam Basa Nitrogen Perubahan pada basa-basa nitrogen dari DNA disebut juga dengan pergeseran tautomerik. Perubahan dapat terjadi karena transisi yaitu pertukaran (substitusi) antara basa yang sejenis misalnya antara pirimidin dengan pirimidin (adenin diganti guanin atau sebaliknya) atau purin dengan purin (sitosin diganti timin atau sebaliknya). Bisa juga terjadi karena tranversi yaitu pertukaran antara basa yang tidak sejenis misalnya antara basa purin dengan basa pirimidin. Sebagai contoh transversi misalnya, urutan basa mula-mula AAS-GSG-STS. Karena sesuatu sebab, salah satu basa G (basa purin) berubah menjadi T (basa pirimidin), sehingga urutannya menjadi AAS-TSG-STS. Perubahan ini juga akan mengakibatkan perubahan pada kodon yang dihasilkannya. Contoh kejadian ini adalah pengaruh benzopyrene, yakni suatu zat yang ada di dalam asap rokok yang dapat menimbukan tumor. Penelitian secara kimiawi pada hemoglobin menunjukkan adanya perbedaan antara hemoglobin normal (hemoglobin A) dengan hemoglobin penderita sickle cell anemia atau anemia sel sabit yang disebut sebagai hemoglobin S. Perbedaan kedua macam hemoglobin itu terletak pada satu asam amino di antara 600 asam-asam amino yang menyusunnya. Apabila kita perhatikan kode triplet no. 6 pada DNA penderita maka akan tampak adanya perubahan pasangan basa A−T menjadi T−A. Kode gen pada DNA (kodogen) semula adalah STS yang berubah menjadi SAS. Oleh karena itu, kodon pada mRNA (RNAd) berubah dari GAG (asam glutamat) menjadi GUG (valin). 2) Perubahan Letak Urutan Basa Nitrogen Umpamanya urutan basa nitrogen pada DNA mula-mula AAS-SGS-TTS. Karena sesuatu hal, basa S dan G saling bertukar tempat sehingga letaknya terbalik menjadi AAS46

GSG-TTS. Perubahan demikian juga akan mempengaruhi urutan kodon dan akhirnya mempengaruhi urutan asam amino pada polipeptida. 3) Perubahan Jumlah Nukleotida/Basa Nitrogen Tipe lain dari mutasi gen dapat terjadi karena perubahan jumlah basa nitrogen yang disebut dengan pergeseran rangka (frame shift). Pergeseran rangka pada DNA ini dapat terjadi karena adanya: 1) penambahan (adisi) satu atau beberapa basa 2) pengurangan (delesi) satu atau beberapa basa Misalnya jumlah nukleotida/basa nitrogen penyusun gen seluruhnya ada 90 pasang. Karena sesuatu dan lain hal, jumlahnya berkurang menjadi 89 pasang (misalnya karena terlepas) atau bertambah sehingga menjadi 91 pasang. Penambahan basa nitrogen ini dapat terjadi karena penyisipan basa baru atau ada yang mengalami duplikasi. Akibat penambahan atau pengurangan pasangan basa tersebut maka kodon-kodon yang dihasilkan melalui transkripsi juga berubah. Perubahan kodon mengakibatkan terjadinya perubahan polipeptida. Umpamanya, urutan basa DNA mula-mula adalah AAS-GSG-STS. Jika urutan basa tersebut mendapat tambahan basa T pada bagian permulaan, maka urutan basa menjadi TAA-SGS-GST-S... Penambahan ini dapat terjadi akibat duplikasi misalnya duplikasi basa pada awal, sehingga urutannya menjadi AAA-SGS-GST-SÉ Penambahan basa nitrogen dapat juga terjadi di tengah yang biasanya disebut dengan penyisipan. Misalnya terjadi penyisipan basa G diantara ..S-G.., sehingga urutannya menjadi AASGGS-GST-S... Jika terjadi pengurangan basa A, maka urutan basa pada DNA tersebut menjadi ASG-SGS-TS. Perubahan urutan basa pada DNA ini akan menghasilkan kodon yang berbeda pula. Mutasi gen bisa menjadi mutasi tidak bermakna yang artinya perubahan basa nitrogen pada kodon triplet itu tidak mempengaruhi pembentukan protein. Keadaan ini dapat terjadi karena ada beberapa kode untuk satu asam amino yang sama. Misalnya kodogen pada DNA adalah AGA berubah menjadi AGG atau AGT atau AGS, sehingga terjadi perubahan kodon pada RNA-d dari USU menjadi USS atau USA atau USG. Sedangkan asam amino yang akan dipanggil untuk sintesis polipeptida semuanya sama yaitu serin. b. Mutasi Tingkat Kromosom Berbagai sel dari spesies yang sama umumnya mempunyai jumlah kromosom yang sama. Sel tubuh (somatis) berkromosom 2n, sedangkan sel gamet berkromosom n. Kromosom organisme dapat mengalami mutasi sehingga jumlah, ukuran, dan struktur kromosomnya berubah. Perubahan yang terjadi pada kromosom akibat mutasi dikenal juga sebagai aberasi kromosom. Aberasi kromosom atau mutasi kromosom terjadi karena perubahan struktur

47

kromosom dengan hilangnya atau bertambahnya salah satu segmen kromosom dan perubahan jumlah kromosom. Mutasi kromosom tidak hanya berdampak pada perubahan satu macam gen, melainkan dapat mengakibatkan berubahnya beberapa gen yang terkandung di dalam kromosom tersebut. Oleh karena itu pengaruh mutasi kromosom pada fenotipe individu lebih nyata dibandingkan dengan pengaruh mutasi gen. 1) Perubahan Struktur Kromosom Perubahan struktur kromosom dapat disebabkan oleh perubahan jumlah gen dalam kromosom karena delesi dan duplikasi serta perubahan lokasi gen pada kromosom karena inversi dan translokasi. a) Delesi atau Defisiensi Kromosom Delesi merupakan peristiwa hilangnya suatu segmen kromosom karena patah. Sebagai contoh pada aleuron (biji) jagung. Sifat tidak berwarna aleuron adalah resesif yang ditutup ekspresinya oleh pengaruh gen dominan yang menentukan warna aleuron tersebut. Namun, jika bagian kromosom yang mengandung gen dominan patah dan hilang, tinggal gen resesif yang mengakibatkan aleuron tidak berwarna. Lihat Gambar 2.10. Macam delesi dapat dibedakan: 1) delesi terminal, kehilangan ujung segmen kromosom; 2) delesi interfisial, kehilangan bagian tengah segmen kromosom; 3) delesi cincin, kehilangan segmen kromosom yang berbentuk lingkaran seperti cincin; 4) delesi loop, delesi cincin yang membentuk lengkungan pada kromosom lainnya. Contoh delesi pada manusia adalah delesi pada lengan pendek kromosom nomor 5. Perubahan ini mengakibatkan sindrom cri-du-cat (cat cry syndrome atau sindrom kucing menangis). Sindrom kucing menangis mempunyai ciri-ciri: pita suara kecil, epiglotis melengkung sehingga tangisan pada waktu lahir seperti kucing, mengalami keterbelakangan fisik dan mental, bayi kecil dan lemah, otak kecil, muka lebar, dan hidung tebal. Penderita sindrom ini mati pada waktu lahir atau pada masa kanak-kanak. b) Duplikasi Kromosom Kromosom dapat menggandakan diri yang disebut sebagai duplikasi kromosom. Duplikasi kromosom terjadi pada segmen kromosom tertentu. Akibat duplikasi segmen, maka akan terdapat lebih dari satu segmen identik di dalam satu perangkat kromosom. Misalnya di dalam satu perangkat kromosom terdapat dua segmen kromosom akibat dari duplikasi segmen tersebut. Dengan demikian di dalamnya terdapat dua kali jumlah gen dibandingkan kromosom normal. Perhatikan Gambar 2.11. Sebagai contoh adalah mutan mata Bar pada lalat buah Drosophila melanogaster akibat mengalami dua kali duplikasi pada segmen 16A dari kromosom X. Mutan ini memiliki ukuran mata yang kecil.

48

c) Inversi Kromosom Inversi adalah peristiwa pembalikan segmen kromosom. Pembalikan segmen ini terjadi karena kromosom patah di dua tempat, yang diikuti oleh penyisipan kembali gengen dengan urutan terbalik. Jadi misalnya kromosom itu memiliki segmen yang ditandai dengan A-B-C-D-E-F-G. Segmen C-D-E patah, kemudian menyisip kembali dalam keadaan terbalik. Maka sekarang terbentuk kromosom dengan segmen A-B-E-D-C-F-G. Lihat Gambar 2.12. Apabila segmen yang terbalik mencakup sentromer, maka disebut inversi perisentrik, dan jika tidak mencakup sentromer disebut inversi parasentrik. d) Translokasi Kromosom Translokasi kromosom adalah peristiwa pindahnya potongan segmen kromosom ke potongan kromosom lain yang bukan homolognya. Bentuk yang paling umum adalah translokasi resiprokal, yaitu pertukaran segmen kromosom antara 2 kromosom yang bukan homolog. Jadi potongan kromosom dari kromosom A pindah ke kromosom B dan potongan kromosom dari kromosom B pindah ke kromosom A. Suatu segmen kromosom dapat juga berpindah ke lokasi baru dalam kromosom yang sama atau kromosom lain, tanpa pertukaran resiprok. Jadi, potongan kromosom dari kromosom A pindah ke kromosom B sehingga kromosom B bertambah panjang. Bentuk ini biasa disebut dengan transposisi (pindah tempat). Perhatikan Gambar 2.13.

Gambar 2.10 Delesi atau Defisiensi Kromosom

Gambar 2.11 Duplikasi Kromosom

Gambar 2.12 Inversi Kromosom

Gambar 2.13 Translokasi Kromosom

Translokasi resiprokal dapat dibedakan atas: 1) translokasi homozigot, apabila dua pasang kromosom translokasi mempunyai gen-gen yang sama; 2) translokasi heterozigot, apabila dua pasang kromosom translokasi mempunyai gen-gen yang tidak sama; 3) translokasi Robertson, merupakan mekanisme untuk mereduksi dan menambah jumlah kromosom, terdiri dari: a) fusi kromosom, terjadi apabila dua kromosom nonhomolog

49

bergabung menjadi satu; b) fisi atau disosiasi kromosom, apabila suatu kromosom membelah menjadi dua. Fisi ini disebut juga sebagai isokromosom. Pada waktu menduplikasi diri, pembelahan sentromernya mengalami perubahan arah sehingga terbentuklah dua kromosom yang masing-masing mempunyai lengan yang identik (sama). e) Katenasi Kromosom Katenasi kromosom adalah mutasi kromosom yang terjadi pada dua kromosom yang non-homolog yang pada saat pembelahan menjadi empat kromosom, ujung-ujungnya saling bertemu sehingga membentuk lingkaran. 2). Perubahan Jumlah Kromosom Setiap organisme dalam satu spesies biasanya mempunyai jumlah kromosom yang sama, tetapi spesies yang berbeda umumnya mempunyai jumlah kromosom yang berbeda. Meskipun demikian, karena sesuatu hal, jumlah kromosom dalam spesies yang sama dapat berubah sehingga tidak sama dengan individu sejenis lainnya. Perubahan jumlah kromosom dapat terjadi karena kesalahan pada proses mitosis atau meiosis. Peristiwanya dapat berlangsung melalui pindah silang, gagal berpisah atau melalui rekombinasi DNA. Pindah silang terjadi apabila kromosom saling tumpang tindih pada tahap metafase ketika mitosis. Misalnya mula-mula terdapat kromosom Aa dan Bb. Pada metafase kromosom yang mengandung gen Aa bertumpang tindih dengan kromosom yang mengandung gen Bb. Karena bertumpang tindih, sebagian segmen kromosom gen b terikut ke A sedangkan sebagian segmen kromosom gen a terikut ke B. Pada akhir mitosis akan terbentuk kromosom Ab dan kromosom Ba. Perhatikan Gambar 2.14. Gagal berpisah terjadi apabila pada peristiwa mitosis terdapat perangkat kromosom yang saling membelit sehingga sulit terpisah. Akibatnya terdapat sel anak yang tidak mendapat kromosom sedangkan sel anak yang lain mendapatkan kelebihan kromosom. Rekombinasi DNA terjadi akibat bertambahnya sepenggal DNA pada kromosom.

Gambar 2.13 Translokasi Kromosom

Rekombinasi DNA terjadi akibat bertambahnya sepenggal DNA pada kromosom. Pertam-bahan DNA itu dapat terjadi melalui peristiwa persilangan, transformasi (pada bakteri), transduksi (pada bakteri oleh virus), atau secara buatan. Perubahan jumlah kromosom pada organisme dibedakan menjadi: 1) Perubahan yang meliputi seperangkat genom (seluruh set kromosom) sehingga jumlahnya merupakan kelipatan dari set kromosom haploidnya, disebut euploidi; dan 2) Perubahan yang meliputi jumlah kromosom dalam satu perangkat (salah satu kromosom di dalam satu set kromosom), disebut aneuploidi. 50

a) Euploidi Euploidi merupakan perubahan yang menyangkut seluruh set kromosom, sehingga jumlahnya merupakan kelipatan dari set kromosom haploidnya. Organisme euploidi mempunyai genom yang lengkap. Menurut jumlah perangkat kromosomnya organisme dapat dibedakan sebagai berikut. 1) Monoploid Organisme monoploid (n) mempunyai satu genom atau satu perangkat kromosom di dalam sel tubuhnya dan setiap kromosom terdapat dalam jumlah tunggal. Contoh organisme monoploid adalah lebah madu jantan. 2) Diploid Organisme diploid mempunyai dua perangkat kromosom (2n), setiap kromosom mempunyai pasang-an masing-masing. Diploid ditemukan pada sebagian besar organisme eukariot. 3) Triploid Organisme triploid mempunyai tiga perangkat kromosom (3n) dalam sel tubuhnya (sel somatik). Individu triploid bersifat steril. Sifat ini dimanfaatkan untuk membuat buahbuahan yang tidak berbiji, misalnya semangka tanpa biji. 4) Tetraploid Organisme tetraploid mempunyai empat perangkat kromosom (4n) dalam sel somatiknya. Individu tetraploid biasanya fertil. Tumbuhan tetraploid berwarna lebih gelap karena mengandung klorofil lebih banyak dan berukuran besar. 5) Poliploid Organisme yang mempunyai lebih dari dua perangkat kromosom disebut dengan organisme poliploid, peristiwanya disebut dengan poliploidi. Poliploid lebih umum terjadi pada tumbuhan dan jarang ditemukan pada hewan. Poliploidi yang terjadi pada kromosom homolog disebut dengan gutoploidi, sedangkan yang terjadi pada kromosom non-homolog disebut dengan aloploidi. Pada umumnya tanaman budidaya merupakan poliploid (tetraploid), misalnya apel, pisang, kopi, kapas, kacang tanah, kentang, tebu, gandum, dan tembakau. b) Aneuploidi Aneuploidi (an = tidak; eu = benar; ploid = unit) adalah perubahan jumlah kromosom di dalam satu perangkat atau satu genom kromosom. Organisme aneuploidi mempunyai jumlah kromosom yang lebih banyak atau lebih sedikit dibandingkan jumlah kromosom diploidnya. Keadaan ini menyebabkan tingginya mortalitas (kematian) dan rendahnya fertilitas (kesuburan). Organisme aneuploid dapat bertahan hidup sampai dewasa apabila kromosom yang kurang atau lebih tidak mengandung gen yang berfungsi vital. 51

Aneuploidi dapat disebabkan beberapa hal, diantaranya: 1) nondisjunction, yakni peristiwa gagal-berpisah pada kromosom homolog ketika anafase meiosis I; 2) anapase lag, yaitu tidak melekatnya kromatid pada gelendong pembelahan ketika meiosis. 1. Macam-macam aneuploidi: 1) nulisomik (2n-2), apabila suatu organisme kehilangan 2 kromosom sejenis (homolog) dalam sel-selnya. Kemungkinan terus hidup adalah sangat kecil. 2) monosomik (2n-1), organisme yang kehilangan satu kromosom dari satu perangkat kromosom homolognya. Misalnya pada manusia yang menderita Sindrom Turner. 3) trisomik (2n+1), organisme yang memiliki kelebihan satu kromosom. Misalnya ditemukan pada kecubung. 4) tetrasomik (2n+2), organisme yang memiliki kelebihan 2 kromosom sejenis. c. Aneuploidi pada Manusia Jumlah kromosom pada genom manusia adalah 2n = 46, yang terdiri dari 22 pasang autosom (22AA atau 44A) dan 2 kromosom seks (XX atau XY). Kadang terjadi gagal berpisah pada saat pembentukan gamet sehingga terbentuk mutan. Berikut ini dijelaskan beberapa mutan manusia. 1) Sindrom Turner (45, XO atau 44A + X) Penderita mempunyai 44 autosom dan hanya 1 kromosom X. Oleh karena itu kariotipenya menjadi 45, XO atau 44A + X. Penderita ini ditemukan oleh H. H. Turner pada tahun 1938. Penderita sindrom Turner berkelamin wanita, namun tidak memiliki ovarium, alat kelamin dalam terlambat perkembangannya (infantil) dan tidak sempurna, steril, kedua puting susu berjarak melebar, payudara tidak berkembang, badan cenderung pendek (kurang lebih 120 cm), dada lebar, leher pendek, mempunyai gelambir pada leher, dan mengalami keterbelakangan mental. 2) Sindrom Klinefelter (47, XXY atau 44A + XXY) Penderita mempunyai 44 autosom dan 3 kromosom kelamin (XXY). Susunan kromosom kelamin XXY diakibatkan fertilisasi ovum XX oleh sperma Y atau ovum X oleh sperma XY. Penderita ini ditemukan oleh H.F. Klinefelter (1942). Penderita sindrom Klinefelter berkelamin laki-laki tetapi cenderung kewanitaan, testis mengecil dan mandul (steril), payudara membesar, dada sempit, pinggul lebar, bulu badan tidak tumbuh, tubuhnya cenderung tinggi (lengan dan kakinya panjang), mental terbelakang. 3) Sindrom Jacobs (47, XYY atau 44A + XYY) Penderita mempunyai 44 autosom dan 3 kromosom kelamin yaitu XYY. Penderita ini ditemukan oleh P.A. Jacobs pada tahun 1965 dengan ciri-ciri pria bertubuh normal, ber-

52

perawakan tinggi, bersifat antisosial, perilaku kasar dan agresif, wajah menakutkan, memperlihatkan watak kriminal, IQ di bawah normal (80-95). 4) Wanita Super (47, XXX atau 44A + XXX) Penderita mempunyai kelebihan sebuah kromosom X sehingga memiliki 47 kromosom. Penderita steril karena alat genitalia dalam mengalami kelainan. 5) Sindrom Patau (47, XY+13 dan 47, XX+13 atau 45A+13 + XY dan 45A+13 + XX) Penderita mempunyai 45 autosom. Kelebihan kromosom ini disebut trisomi. Dengan demikian seluruhnya terdapat 45 autosom dengan kromosom kelamin XY atau XX. Trisomi dapat terjadi mungkin pada kromosom nomor 13, 14, atau 15. Susunan kromosom pada penderita laki-laki adalah 47, XY+13, sedangkan penderita perempuan adalah 47, XX+13. Ciri-ciri penderita sindrom patau adalah kepala kecil, mata kecil, sumbing celah langit-langit, tuli, polidaktili, mempunyai kelainan otak, jantung, ginjal, dan usus serta pertumbuhan mentalnya terbelakang. Biasanya penderita meninggal pada usia kurang dari satu tahun. 6) Sindrom Edwards (47, XY+18 dan 47, XX+18 atau 45A+18 + XY dan 45A+18 + XX) Penderita mengalami trisomi atau kelebihan satu autosom nomor 18, sehingga susunan kromosom pada penderita laki-laki adalah 47, XY+18, sedangkan penderita perempuan adalah 47, XX+18. Sindrom ini terjadi karena nondisjuction pada autosom nomor 18 pada saat ovulasi. Ciri-ciri penderita adalah memiliki kelainan pada alat tubuh, telinga dan rahang bawah kedudukannya rendah, mulut kecil, mental terbelakang, tulang dada pendek, umumnya hanya mencapai umur 6 bulan saja. 7) Sindrom Down (47 XY+21 dan 47 XX+21 atau 45A+21 + XY atau 45A+21 + XX) Penderita mengalami kelebihan satu autosom pada kromosom nomor 21 dan dapat terjadi pada laki-laki dan perempuan. Sindrom ini terjadi karena nondisjunction pada autosom nomor 21 ketika pembentukan ovum. Lihat Gambar 7.11. Susunan kromosom pada penderita laki-laki adalah 47 XY+21, sedangkan penderita perempuan adalah 47 XX+21. Penderita ini ditemukan oleh J. Langdon Down pada tahun 1866 dengan ciri-ciri tinggi badan sekitar 120 cm, kepala lebar dan pendek, bibir tebal, lidah besar dan menjulur, liur selalu menetes, jari pendek dan gemuk terutama kelingking, telapak tangan tebal, mata sempit miring ke samping, gigi kecil-kecil dan jarang, IQ rendah, umumnya steril. Penderita sindrom Down ada yang idiot (IQ 24); imbisil (IQ 25-49); dan ada yang debil (IQ 50-69).

53

Kelainan sindrom Down bersifat universal, yang artinya terdapat di mana-mana tanpa membedakan jenis bangsa, kedudukan, dan keadaan sosial mereka. Kelainan ini banyak sekali dijumpai di Indonesia. Di kota besar biasanya terdapat panti asuhan yang menerima titipan anak-anak penderita sindrom Down. 3. Macam dan Faktor Penyebab Mutasi Berdasar kejadiannya, mutasi dapat dibedakan menjadi dua macam. Pertama adalah mutasi alami dan kedua adalah mutasi buatan. a. Mutasi Alami Mutasi dapat berlangsung secara alami. Mutasi alami berlangsung sangat lambat dan jarang terjadi. Diduga mutasi alami berlangsung sekali antara 2000 hingga satu milyar kejadian individu organisme. Artinya, jika ada satu milyar kejadian, hanya satu kejadian yang mengalami mutasi, sedangkan sisanya normal. Mutasi alami terjadi karena: 1). pancaran sinar kosmik atau sinar luar angkasa, 2). sinar radioaktif yang terdapat di alam, 3). sinar ultraviolet, 4). radiasi internal dari bahan radioaktif yang mungkin masuk ke dalam tubuh melalui makanan atau saluran pernapasan akibat pencemaran radioaktif, 5). kesalahan sewaktu replikasi DNA. Mutasi alami umumnya merugikan individu yang mengalaminya dan keturunannya. Individu yang mengalami mutasi disebut mutan. Gen mutan umumnya bersifat resesif. Seringkali mutan itu tidak dapat hidup di lingkungannya karena tidak dapat beradaptasi. Dari sekian banyak yang tidak dapat hidup, ada mutan yang dapat menyesuaikan diri dengan lingkungannya, mampu bertahan hidup, dan menghasilkan keturunan baru. Keturunan baru itu dapat berbeda sama sekali dari induk sebelumnya. Dengan demikian, muncullah varietas baru atau bahkan spesies baru yang berbeda dengan nenek moyangnya. Terbentuknya jenis baru karena mutasi alami ini merupakan salah satu mekanisme evolusi biologis. b. Mutasi Buatan Mutasi buatan atau mutasi induksi adalah perubahan materi genetik yang dilakukan oleh manusia. Mutasi yang diharapkan adalah mutasi yang menguntungkan, terutama bagi manusia. Harap diingat, menguntungkan bagi manusia belum tentu menguntungkan bagi mutan itu sendiri. 54

4. Faktor Penyebab Mutasi Ada dua hal pokok yang dapat mengakibatkan mutasi, yaitu sinar dan zat kimia. a. Sinar X, sinar ultra violet, sinar a, neutron, sinar b, dan sinar g. b. Gas metana, kafein, formaldehida, kolkisin, obat-obatan tertentu, pengawet makanan, benzopyrene dalam asap rokok, dan pestisida. Semua faktor penyebab mutasi itu disebut mutagenik. Mutagenik yang lain misalnya jenis virus tertentu dan suhu tinggi. Dari berbagai mutagenik itu, sinar X merupakan mutagenik yang sering digunakan untuk men-dapatkan mutan tumbuhan atau hewan. Sinar X dapat menimbulkan ionisasi atom-atom yang terkandung dalam DNA. Akibatnya gen menjadi labil dan berubah susunan kimianya, sehingga terjadi mutasi gen. Mutasi kromosom juga dapat terjadi karena sinar X dapat memutus kromosom. Fragmen-fragmen kromosom itu ada yang hancur, ada pula yang bergabung dengan kromosom lain di dalam inti sel tersebut. Mutasi umumnya bersifat merugikan. Mutasi pada sel-sel generatif biasanya bersifat letal (mematikan), namun tetap ada yang dapat hidup. Oleh karena itu untuk memperoleh mutan buatan dilakukan penyinaran dalam jumlah banyak. Misalnya biji-biji yang diberi sinar X harus dalam jumlah banyak dan dilakukan secara berulang-ulang. Tanaman budidaya seperti padi, atau tanaman hias diperoleh dari mutasi buatan. Bibit unggul hasil mutasi radiasi antara lain padi kultivar Atomita I, Atomita II; kedelai kultivar Muria; tomat kultivar Bouset dan Money Maker; kentang kultivar Patronas, Donata, dan Radosa. Mutasi induksi dengan senyawa kimia yang dilakukan pada tumbuhan umumnya menghasilkan keturunan poliploid, yang memberikan hasil lebih besar dan tidak berbiji, contohnya pada semangka, tomat, jambu, anggur, dan jeruk. Mutasi buatan dapat dilakukan dengan menyisipkan suatu DNA ke dalam DNA sel target. Mengenai masalah ini akan dibahas secara terinci pada bab Bioteknologi. Dengan berkembangnya biologi molekuler, para ahli biologi dewasa ini mampu mengisolasi gen dari satu organisme dan menyisipkannya ke dalam DNA organisme lain. 5. Tinjauan Macam Mutasi yang Lain Berdasar macam atau tipe sel yang meng-alaminya, mutasi dibedakan menjadi mutasi somatis dan mutasi germinal. Mutasi somatis adalah mutasi yang terjadi pada sel soma atau sel tubuh dan kurang mempunyai arti genetis. Mutasi germinal adalah mutasi yang terjadi pada sel germ (sel kelamin) di dalam gonad dan dapat diwariskan kepada keturunannya. 55

Berdasarkan jumlah faktor keturunan yang mengalami mutasi, mutasi dapat dibedakan menjadi mutasi bertahap (mutasi mikro) dan mutasi lompatan (mutasi makro). Mutasi bertahap adalah mutasi yang terjadi atas satu atau sekelompok kecil faktor keturunan. Sedangkan mutasi lompatan merupakan mutasi yang terjadi atas sejumlah besar ataupun mungkin seluruh faktor keturunan. Berdasarkan manfaat bagi individu dan populasi yang mengalaminya, mutasi ada yang merugikan dan menguntungkan. Mutasi yang merugikan adalah mutasi yang mengakibatkan munculnya ciri dan kemampuan yang tidak adaptif pada individu atau populasi. Sedangkan mutasi yang menguntungkan adalah mutasi yang menimbulkan ciri dan kemampuan yang semakin adaptif pada individu atau populasi. Umumnya, yang paling banyak terjadi adalah mutasi yang merugikan. Berdasar sifat genetiknya, maka ada mutasi dominan dan mutasi resesif. Mutasi dominan akan menampakkan pengaruhnya walaupun dalam keadaan heterozigot. Mutasi resesif pada organisme diploid tidak akan diketahui selama dalam keadaan heterozigot, kecuali resesif yang terpaut kromosom kelamin. Akan tetapi pada organisme haploid seperti virus dan bakteri, pengaruh mutasi dominan dan mutasi resesif dapat dilihat pada fenotipe virus dan bakteri tersebut. Berdasarkan arah mutasinya, mutasi dapat dibedakan menjadi mutasi maju dan mutasi balik. Mutasi maju adalah mutasi dari fenotipe normal menjadi abnormal. Mutasi balik adalah peristiwa mutasi yang dapat mengembalikan dari fenotipe tidak normal menjadi fenotipe normal.

RINGKASAN 1. Benang-benang penyerap warna di dalam inti disebut kromatin. Pada proses pembelahan sel, benang-benang kromatin memendek dan menebal, disebut kromosom. Pada kromosom terdapat sentromer, yang berfungsi sebagai tempat melekatnya kromosom pada benang spindel pada mitosis. 2. Kromosom tersusun atas DNA dan protein (histon dan nonhiston). 3. DNA merupakan molekul hidup karena mampu menduplikasi diri. Dengan adanya DNA kromosom dapat menggandakan diri. 4. Kromosom merupakan benang-benang pembawa sifat (gen). 5. Kromosom pada sel somatik (sel tubuh) berpasangan (2n kromosom atau sel diploid); kromosom pada sel gamet tidak berpasangan (n kromosom atau sel haploid). Jumlah pasangan kromosom dalam setiap spesies berbeda. 6. Genom kromosom adalah perangkat kromosom atau keseluruhan kromosom pada sel tersebut.

56

7. Bentuk kromosom bermacam-macam. Berdasarkan letak sentromernya, kromosom dibedakan menjadi kromosom metasentrik, submetasentrik, akrosentrik, dan telosentrik. 8. Di dalam kromosom terdapat zarah yang menentukan sifat individu, yang disebut gen. Gen terletak pada lokus tertentu dari kromosom, namun tidik dapat ditentukan batasbatasnya secara jelas. 9. Pasangan gen yang berada pada kromosom yang homolog dan terletak pada lokus yang sama disebut alel. Gen dan alel ada yang memiliki fungsi sama, dapat saling mendukung, atau ada yang saling berlawanan. 10. Gen berfungsi mengontrol pembuatan polipeptida. satu gen untuk satu polipeptida. Polipeptida membentuk protein yang berfungsi sebagai penyusun sel dan sebagai pemercepat reaksi kimia di dalam sel. Gen mewariskan sifat dari generasi ke generasi. 11. Secara kimiawi, gen merupakan sepenggal DNA yang berfungsi mengontrol pembuatan polipeptida. 12. DNA berupa dua utas polinukleotida saling berpilin (polinukleotida ganda berpilin). Rangkaian gula dan basa disebut sebagai nukleosida. Rangkaiai gula basa, dan asam fosfat disebut sebagai nukleotida. Basa nitrogen yatrg menyusun DNA adalah adenin (A), guanin (G), sitosin (C), dan timin (T). 13. Dua polinukleotida dihubungkan oleh jembatan hidrogen, yakni ikatan antara basa pada polinukleotida yang satu dengan yang lain. A berpasangan dengan T, G berpasangan dengan C. 14. Jumlah keempat basa dalam DNA dan dalam tiap spesies tidak sama. Di dalam DNA, jumlah A dan C selalu sama. Urutan basa dan panjang DNA tiap spesies berbeda. 15. DNA mampu memperbanyak diri dengan melakukan replikasi dan mengkopi diri membentuk RNA dengan melakukan transkripsi (penyalinan). 16. RNA terdiri dari satu polinukleotida yang tersusun dari gula ribosa dan basa A, G, C, dan U (urasil). RNA berumur pendek dan mudah rusak. 17. Ada tiga macam RNA utama yaitu RNA duta (RNA-d), RNA ribosom (RNA-r), dan RNA transfer (RNA-t). RNA-d membawa kode genetika, RNA-t membawa asam amino dan menerjemahkan kode genetika sedangkan RNA-r yang berada di dalam ribosom berfungsi menyediakan tempat bagi polipeptida dalam síntesis protein. 18. Setiap sel di dalam satu tubuh individu memiliki gen yang sama. Gen ada yang aktif dan ada yang tidak aktif. Gen aktif melakukan ekspresi gen. Ekspresi gen tergantung pada letak sel, usia, dan jenis kelamin. 19. Mutasi dapat terjadi apabila terdapat perubahan susunan DNA atau dapat juga terjadi karena salah penerjemahan kode-kode genetika. 20. Perangkat pelaksanaan sintesis polipeptida adalah kodon, antikodon, asam amino, ribosom, dan berbagai enzim. 21. Asam amino adalah bahan baku untuk sintesis polipeptida atau protein. Ada 20 macam asam amino penting yang dapat dirangkai membentuk polipeptida. Asam amino ditulis secara singkat dengan mencantumkan 3 huruf pertama dari nama asam amino itu. 22. Kode genetika atau kodon atau triplet terdiri dari 3 urutan basa yang terdapat pada RNA-d. Di RNA-t terdapat antikodon yang merupakan komplemen dari kodon. RNA-t berfungsi menerjemahkan kodon dan mengangkut asam amino untuk disintesis menjadi polipeptida. 23. Sintesis polipeptida terdiri dari proses transkripsi dan translasi. 24. Transkripsi adalah proses pembentukan RNA dari DNA. 25. Ada tiga tahapan transkripsi, yaitrt inisiasl (permulaan), elongasi (pemanjangan), dan terminasi (penghentian).

57

26. Translasi merupakan proses penerjemahan kodon oleh RNA-t yang berlangsung di ribosom. 27. Asam amino dalam sintesis protein perlu diaktivasi terlebih dahulu oleh ATP. Aktivasi asam amino berlangsung dengan bantuan enzim aminoasil RNA-t sintetase. Selain itu, tiap asam amino mengikatkan diri pada RNA-t yang sesuai dengan dibantu oleh enzim spesifik juga. 28. Selama proses dan sesudah sintesisnya, suatu rantai polipeptida mulai menggulung dan melipat secara spontan membentuk protein fungsional. 29. Kesalahan dalam menerjemahkan kode-kode genetika menyebabkan protein yang disusun tidak sesuai dengan "pesanan" sehingga enzim yang disintesis juga salah. Hal ini disebut mutasi. 30. Sering kali polipeptida yang baru disintesis memerlukan pemrosesan atau modifikasi terlebih dahulu agar dapat berfungsi. PENJELASAN ISTILAH Aberasi kromosom Aneuploid = mutasi di tingkat kromosom; disebut pula sebagai mutasi kromosom. = individu yang mempunyai jumlah kromosom yang lebih atau kurang dari jumlah kromosom yang normal di dalam satu genom. = urutan 3 basa yang merupakan komplemen dari kodon; antikodon terdapat pada RNA-t, sedang kodon terdapat pada RNA-d; = utas DNA yang tidak melakukan pencetakan; antisense merupakan gen! = pasangan gen pada kromosom yang homolog, pada lokus yang sama; = semua pasangan kromosom selain kromosom kelamin = zat yang terdapat di dalam asap rokok, yang bersifat karsinogen (dapat menimbulkan kanker). = sel dengan kromosom ganda; sel soma (sel tubuh) biasan ya memiliki kromosom ganda (berpasangan) karenanya disebut di ploid. = bentuk benang DNA yang terdiri dari dua benang polinukleotida yang saling berpilin; diterjemahkan menjadi ganda berpilin; = pemberi darah kepada semua golongan darah semua golongan darah akan menerimanya (tidak terjadi aglutinasi); golongan darah 0 merupakan donor universal; Fenilketonuria = penyakit di mana urine seseorang banyak mengandung asam amino fenilalanin; = penampakan sifat sebagai hasil interaksi antara genotipe dengan lingkungannya; = janin dalam kandungan = keseluruhan kromosom pada inti sel; = sifat yang ditentukan oleh gen; disebut pula sifat bawaan, bakat; 58

Antikodon

Antisense Alela Autosom Benzopyrene Diploid

Double helix

Donor Universal

Fenotipe Fetus Genom kromosom Genotipe

Haploid Heterozigot Homozigot Kromosom Homolog Kromosom Kelamin

Kodon Komplemen

Kromatin

Kromomer Kromosom

Lokus Mutagen Mutagenik Mutan Mutasi

= sel dengan kromosom yang tidak berpasangan, misalnya terdapat pada sel-sel gamet pada umumnya. = genotipe yang tersusun dari gen daan alela yang tidak sama, satu dominan yang lain resesif; = genotipe yang tersusun atas gen dan alela yang sama, yaitu sama-sama dominan atau sama-sama resesif; = pasangan kromosom yang memiliki gen yang sama pada lokus yang sama pula; pasangan kromosom yang identik; = kromosom yang menentukan jenis kelamin makhluk hidup, terdiri dari kromosom X dan X pada betina serta X dan Y pada yang jantan. = 3 urutan basa pada RNA-d yang memiliki arti khusus; kodon tertentu berarti memesan asam amino tertentu pula; = pasangan yang sesuai; utas DNA yang satu bersesuaian dengan utas DNA yang lain; dikatakan utas DNA yang satu merupakan komplemen bagi yang lain; = benang-benang halus yang terdapat di dalam nukleus yang dapat menyerap waARN pada proses peweaARNan sel; kromatin dapat berubah menjadi kromosom; = struktur seperti manik-manik yang terdapat di dalam kromosom, yang terdiri dari protein histon dan DNA. = benang-benang pembawa sifat, karena di dalamnya terkandung gen; kromosom tersusun atas benang-benang kromatin; Kromosom homolog = kromosom pasangan dari kromosom yang lain yang memiliki gen dan lokus yang sama; = letak gen di dalam kromosom; = penyebab mutasi. = zat atau partikel penyebab mutasi. = organisme yang mengalami mutasi. = perubahan genotipe atau organisasi materi genetik yang mengakibatkan terjadinya perubahan sifat atau karakter dan dapat bersifat menurun, diwariskan dari sel induk kepada sel keturunannya. = mutasi pada tingkat gen yang ditandai dengan pengurangan/penambahan/perubahan urutan basa pada gen. = perubahan struktur kromosom atau jumlah kromosom; disebut sebagai aberasi kromosom. = perubahan fenotipe akibat perbedaan lingkungan; = senyawa kimia yang terbentuk dari ikatan mole kul gula dengan basa nitrogen; = senyawa kimia yang terbentuk dari ikatan antara gula, basa nitrogen dan asam fosfat; = gen yang terpaut karena letaknya pada lokus yang saling berdekatan; = berpindahnya gen dari satu kromosom ke kromosom yang homolog karena lokusnya berjauhan, pada proses meiosis (pada metafase);

Mutasi gen Mutasi kromosom Modifikasi Nukleosida Nukleotida Pautan Pindah Silang

59

Pergeseran rangka DNA = tipe mutasi gen dengan adanya 1) penambahan (adisi) satu atau beberapa basa; dan 2) pengurangan (delesi) satu atau beberapa basa. Pergeseran tautomerik Poliploidi Protein histon Protein nonhiston Replikasi = perubahan struktur basa nitrogen pada DNA akibat pergantian letak basa purin atau pirimidin. = bertambahnya perangkat kromosom pada individu. = protein yang bersifat basa, terdapat pada kromosom; = protein yang bersifat asam, terdapat pada kromosom; = proses penggandaan DNA menjadi dua yang menghasilkan dua DNA yang identik; replikasi DNA disebut sebagai replikasi semikonservatif, yang artinya mempertahankan satu utas DNA yang lama dan membentuk satu utas DNA yang baru yang komplemen; = kata lain dari peka; = utas DNA pencetak; DNA pencetak disebut pula sebagai template DNA; = kinetokor = bentukan bulat yang berfungsi sebagai tempat perlekatan lengan kromosom dan perlekatan dengan benangbenang spindel pada pembelahan mitosis; = pertukaran (substitusi) antara basa yang sejenis yaitu antara pirimidin dengan pirimidin atau purin dengan purin. = pertukaran antara basa yang tidak sejenis yaitu antara purin dengan pirimidin. = utas DNA pencetak (lihat sense); = peristiwa penyalinan=pengkopian DNA menjadi ARN; Translasi = peristiwa penerjemahan kodon menjadi asam amino pada sintesis protein; = kode genetik atau kodon (lihat kodon).

Rentan Sense Sentromer

Tautomerik transisi Tautomerik transversi Template Transkripsi

Triplet

LATIHAN 1. Jelaskan apa yang dimaksud dengan kromosom homolog dan kromosom nonhomolog! 2. Tuliskan dan jelaskan macam kromosom berdasarkan bentuk sentromernya! 3. Tuliskan macam-macam RNA dan jelaskan fungsinya masing-masing! 4. Jelaskan apa yang dimaksud dengan nukleosida dan nukleotida! 5. Jelaskan perbedaan struktur DNA dan RNA! 6. Apa yang dimaksud dengan triplet atau kodon? 7. Jumlah kodon ada 64 kodon dan setiap kodon tertentu dijawab dengan membawa asam amino tertentu. Padahal, jumlah asam amino hanya 20 macam. Bagaimana cara RNA-t menjawab kodon-kodon tersebut? Jelaskan! 8. Apa yang akan terjadi jika RNA{ melakukan kesalahan dalam menerjemahkan kodekode genetika? 9. Jelaskan mekanisme sintesis protein dalam bentuk skema!

60

BAB III GENETIKA
Genetika merupakan ilmu yang mempelajari pewarisan sifat dari induk kepada keturunan-keturunannya. Pewarisan sifat itu dilakukan melalui pembelahan dan reproduksi. Dalam genetika konvensional, pewarisan sifat yang dipelajari khususnya pewarisan sifat melalui perkawinan, yakni bertemunya sperma dan ovum menghasilkan individu baru yang mewarisi separuh sifat dari induk jantan dan separuh sifat dari induk betina. Sebelumnya, akan disampaikan beberapa konsep penting di bawah ini Dulu orang menduga, sifat seseorang ditentukan oleh sperma pria. Pendapat tersebut gugur setelah diketahui bahwa baik sperma maupun ovum mempunyai andil yang sama dalam menentukan sifat seseorang. Ada lagi pendapat yang menyatakan bahwa sifat-sifat itu diwariskan melalui darah. Karena itu muncul istilah "darah biru" untuk keturunan raia dan "darah seni" untuk keturunan seniman. Pendapat ini juga gugur setelah ditemukan transfusi darah. Orang yang mendapatkan transfusi darah dari orang lain tidak pernah mengalami perubahan sifat menjadi seperti pemberi (donor) darah. Sifat-sifat organisme diwariskan dari induk kepada keturunannya melalui gen. Baik induk jantan maupun betina mempunyai kemungkinan yang sama dalam mewariskan sifat-sifatnya. Induk jantan mewariskan separuh sifatnya melalui sperma dan induk betinamewariskan separuh sifatnya melalui ovum. Keturunannya mewarisiseparuh sifat dari induk jantan dan separuh sifat dari induk betina. Sifat tersebut dibawa oleh gen yang terdapat dalam kromosom. Sifat yang dibawa oleh gen disebut faktor genetik atau faktor pembawaan atau genotipee. Tidak semua sifat bawaan atau genotipee dapat tampak sebagai gejala. Genotipee akan dipengaruhi oleh lingkungan, sehingga menampilkans sifat yang tampak, yang disebut fenotipee. Perubahan sifat karena pengaruh faktor lingkungan dikenal sebagai modifikasi. Untuk mendapatkan perubahan sifat yang permanen, diperlukan berbagai usaha, antara lain melalui perkawinan silang (persilangan), pemutasian, dan rekayasa genetik. Persilangan dan pemutasian banyak diterapkan di dunia pertanian dan peternakan. Sedang rekayasa genetik banyak diterapkan dalam berbagai penelitian, termasuk dalam dunia kedokteran.

Tujuan Pembelajaran
Setelah mempelajari materi genetika, petatar diharapkan dapat: • • • • • • • • menemukan hipotesis Mendel tentang pewarisan sifat. menjelaskan Hukum Mendel I dan II . menjelaskan penyimpangan semu Hukum Mendel. mendeskripsikan faktor-faktor penentu jenis kelamin. menjelaskan mekanisme perbaikan mutu genetika. menjelaskan cara mempelajari pola pewarisan sifat pada manusia. mengidentifikasi cacat penyakit, kelainan dan pola pewarisannya pada manusia. mengkomunikasikan cara menghindari penyakit menurun pada masyarakat.

61

A. HUKUM MENDEL

Pada dasarnya, persilangan itu menghasilkan keturunan-keturunan yang memiliki sifat-sifat memisah. Pemisahan sifat itu sesuai dengan hukum Mendel. Persilangan dengan satu sifat beda (monohibrida) menghasilkan keturunan yang sifatnya memisah dengan perbandingan 3 : 1. Pada persilangan dengan dua sifat beda (dihibrida) akan menghasilkan keturunan yang sifatnya memisah dengan perbandingan 9 : 3 : 3 : 1, sedang trihibrida akan menghasilkan keturunan dengan perbandingan 27 : 9 : 9 : 9 : 3 : 3 :3 : 1. Untuk mengingat kembali materi yang telah disajikan di SLTP, berikut akan disajikan persilangan monohibrida. Mendel melakukan percobaannya di kebun selama 12 tahun. Dia menyilangkan (mengawinkan silang) sejenis buncis dengan memperhatikan satu sifat beda yang menyolok. Misalnya buncis berbiji bulat disilangkan dengan buncis berbiji keriput; buncis dengan biji warna kuning disilangkan dengan biji warna hijau; buncis berbunga merah dengan bunga putih, dan seterusnya. Pada saat menyilangkan, tanaman induk diberi notasi P (singkatan dari parental=induk). Keturunan I (keturunan pertama) yang dihasilkan disebut filial I (filial=keturunan) yang disingkat F1. Untuk mendapatkan keturunan II (F2) dilakukan persilangan antar sesama F1. Caranya, Mendel menanam tumbuhan F1 yang disilangkan dengan tumbuhan F1 yang lain. Dari hasil persilangan monohibrid yang dilakukan Mendel diperoleh hasil antara faktor dominan dan resesif berbanding sebagai 3 : 1. Beberapa prinsip sehubungan dengan hasil percobaan Mendel dapat dikemukakan berikut ini: 1. Sifat yang muncul pada F1 disebut sebagai sifat dominan (menang), sedang yang tidak muncul disebut sifat yang resesif (kalah). Pada contoh nomor 1 di tabel, bentuk biji bulat dominan terhadap keriput, dan biji keriput resesif terhadap bulat. Pada contoh nomor 2 di tabel, warna biji kuning dominan terhadap hijau, dan hijau resesif terhadap kuning; 2. Banyaknya individu (tanaman) yang muncul pada F2 antara yang dominan dan resesif memiliki perbandingan rata-rata 3 : 1. Pada contoh nomor 1, tanaman yang menghasilkan biji bulat sebanyak 5.474 pohon, sedang yang menghasilkan biji keriput sebanyak 1.850 pohon. Bulat : keriput = 2,96 : 1, atau dibulatkan menjadi bulat : keriput = 3 : 1. Oleh Mendel, induk yang dominan diberi simbol dengan huruf pertama dari sifat dominan, dengan mengunakan huruf besar yang ditulis dua kali; sedangkan sifat resesif diberi simbol dengan dua kali huruf kecil dari huruf domonan tadi. Jadi biji bulat diberi simbol BB sedang biji keriput diberi simbol bb. Mengapa ditulis dua kali atau sepasang? Ingatkah kamu bahwa kromosom itu berpasangan? Setiap gen pada kromosom yang satu memiliki alela pada kromosom pasangannya. Meskipun Mendel dahulu belum memahami gen dan alela, namun dia menuliskannya dengan simbol berpasangan. Mendel juga mengemukakan bahwa pada saat pembentukan gamet terjadi pemisahan bebas dari 62

sifat/gen yang dikandung oleh induknya. Artinya, setiap gamet akan mendapatkan gen yang telah memisah secara acak. Misal induk Bb akan menghasilkan gamet B dan b, sedang induk BbPp (biji bulat, batang panjang) akan menghasilkan gamet BP, Bp, bP dan bp. Prinsip demikian ini dikenal sebagai prinsip segregasi secara bebas. Individu yang mengandung notasi dominan-dominan atau dominan-resesif akan menampakkan fenotipe dominan. Hanya individu yang mengandung notasi resesif-resesif yang menampakkan fenotipe resesif. Jadi genotipe BB dan Bb menampakkan fenotipe bulat, sedang genotipe bb akan menampakkan fenotipe keriput. Genotipe (bukan genotif melainkan genotipe atau genotipe) adalah sifat atau karakter yang ditentukan oleh gen. Ada yang menyebut genotipe sebagai faktor bakat atau pembawaan. Genotipe itu bersifat menurun (diwariskan kepada keturunannya). Akan tetapi pengaruh genotipe tidak selalu menampakkan hasilnya, sebab sangat bergantung pada lingkungannya. Sifat yang nampak dari luar (disebut fenotipe) itu merupakan hasil kerja antara genotipe dengan lingkungannya. Untuk memudahkan pemahaman tentang genotipe dan fenotipe, berikut disajikan pemisalannya. Misalkan air, memiliki genotipe H2O. Pada suhu 0oC hingga 100oC (lingkungan suhu), air menampakkan sifat cair (fenotipe cair). Pada suhu di atas 100oC fenotipenya berupa uap dan pada suhu di bawah 0oC fenotipenya berupa es yang padat. Jadi meskipun air genotipenya H2O, fenotipenya dapat berupa padat, cair atau gas, bergantung pada lingkungan suhu di sekitarnya. Contoh yang lain lagi adalah bakat melukis pada seorang anak. Katakanlah bakat melukis ditentukan oleh gen. Maka bakat melukis adalah genotipe. Genotipe melukis tidak menampakkan hasilnya jika anak itu tidak pernah diberi pelajaran menggambar. Pelajaran menggambar adalah lingkungan. Anak yang berbakat melukis (genotipe) kemudian diberi pelajaran menggambar (lingkungan) akan menampakkan ketrampilan menggambar (fenotipe). Setiap kamu memiliki bakat pandai. Karena itu aturlah lingkunganmu agar muncul fenotipe pandai. Cara mengatur lingkungan misalnya dengan memiliki buku, banyak membaca, banyak berdiskusi, banyak melakukan kegiatan/prktikum. Untuk lebih memahami penyilangan berdasar hukum Mendel, perhatikan analisis berikut: P Gamet F1 F1 >< F1 Gamet B BB (bulat) B bb (keriput) b Bb (bulat) + b B Bb b +

Bb

63

F2

BB Bb Bb bb (bulat) (bulat) (bulat) (keriput) Gamet B b B BB Bb b Bb bb

Jadi pada keturunan II atau F2 individu bulat : individu keriput = 3 : 1. Individu dengan genotipe BB atau bb disebut individu homozigot. Jika dikawinkan sesamanya, individu homozigot tidak mengalami pemisahan. Indiividu dengan genotipe Bb disebut individu heterozigot. Jika dikawinkan sesamanya, individu heterozigot akan mengalami pemisahan. Misal Bb disilangkan dengan Bb akan menghasilkan keturunan BB, Bb dan bb sebagaimana digambarkan di atas. Buncis biji bulat, warna kuning disilangkan dengan biji keriput, warna hijau.

Keturunan pertama semuanya bulat, kuning. Apa artinya? Artinya adalah sifat bulat dominan terhadap keriput dan kunig dominan terhadap hijau. Persilangan antar F1

menghasilkan keturunan kedua (F2) sebagai berikut: 315 tanaman bulat kuning, 101 tanaman keriput kuning, 108 tanaman bulat hijau dan 32 keriput hijau. Jika diperhatikan, perbandingan antara tanaman bulat kuning : keriput kuning : bulat hijau : keriput hijau adalah : 9 : 3 : 3 : 1. Tentu saja perbandingan tersebut tidak pas benar, karena barangkali ada tanaman yang mati!. Perhatikan analisis papan catur berikut ini. P : BBKK (bulat, kuning) BbKk (bulat, kuning) + KK, Bk BBKk 2 BBkk 6 BbKk 10 Bbkk 14 BbKk (bulat kuning) Bk, bK BbKK 3 BbKk 7 bbKK 11 bbKk 15 bK, bk bk BbKk 4 Bbkk 8 bbKk 12 bbkk 16 + bbkk (keriput, hijau)

F1 :

F1 + F1 : BbKk (bulat kuning) Gamet : BK, Bk, bK, bk

Gamet BK Bk bK bk

BK BBKK 1 BBKk 5 BbKK 9 BbKk 13

64

Tanaman bulat kuning pada kotak nomor : 1, 2, 3, 4, 5, 7, 9, 10, 13 = 9 ; Tanaman bulat hijau pada kotak nomor : 6, 8, 14 = 3; Tanaman keriput kuning pada kotak nomor: 11, 12, 15 = 3; Tanaman keriput hijau pada kotak nomor 16 = 1; Nampak bahwa bulat kuning : bulat hijau : keriput kuning : keriput hijau = 9 : 3 : 3 : 1. Tanaman homozigot pada kotak nomor: 1, 6, 11 dan 16. Lainnya heterozigot; Bastar konstan atau individu baru pada kotak nomor: 6 dan 11. Bastar konstan atau individu baru adalah keturunan homozigot yang memiliki sifat baru (berbeda dari kedua induknya), sehingga dalam persilangan aantar sesamanya tidak memisah (konstan). Beberapa percobaan dengan dua sifat beda atau lebih terkadang menghasilkan

keturunan yang memiliki perbandingan tidak sesuai dengan hukum Mendel. Sebenarnya, jika dianalisis hasil tersebut masih sesuai dengan hukum Mendel. Karena itu ada yang menyebutnya sebagai penyimpangan semu dari hukum Mendel.

B. PENYIMPANGAN SEMU HUKUM MENDEL Telah diuraikan bahwa persilangan monohibrida dominan resesif menghasilkan F2 dengan perbandingan dominan : resesif 3 : 1, sedangkan dihibrida akan menghasilkan perbandingan 9 : 3 : 3 : 1. Pada kasus-kasus tertentu, perbandingan tersebut tidak selalu sama seperti dituliskan di atas. Misalnya saja pada monohibrida dihasilkan perbandingan 1 : 2 : 1, sedangkan pada dihibrida dihasilkan perbandingan 9 : 6 : 1 atau bahkan ada 15 : 1. Munculnya perbandingan yang tidak sesuai dengan hukum Mendel disebut sebagai penyimpangan semu hukum Mendel. Disebut demikian karena sebenarnya prinsip agregasi bebas masih tetap berlaku, hanya saja karena gen-gen yang membawakan sifat memiliki ciri tertentu maka perbandingan yang dihasilkan seolah-olah menyimpang dari hukum Mendel. Penyimpangan semu hukum Mendel disebut pula sebagai hukum non Mendel. 1. Polimeri Ketika dilakukan persilangan gandum berkulit merah dengan putih ternyata dihasilkan keturunan kedua (F2) yang memiliki perbandingan merah : putih = 15 : 1. Menyimak dari perbandingan tersebut, kita segera menduga bahwa hal itu sebagai akibat dari persilangan dihibrida. Tetapi mengapa tidak menghasilkan perbandingan 9 : 3 : 3 : 1 ? Jelas ini suatu penyimpangan, bukan? Jika ditelaah nampaknya perbandingan 15 : 1 itu berasal dari perbandingan (9 + 3 + 3) : 1. Jadi sebenarnya tidak terlalu menyimpang dari 65

hukum Mendel. Hal ini hanya suatu penyimpangan semu, sebab kalau kita buatkan papan catur persilangannya akan nampak bahwa hal tersebut merupakan persilangan dihibrida. Adanya sifat merah hingga 15 menunjukkan bahwa faktor merah dominan yang ditentukan oleh dua gen yang sama. Ini berarti bahwa faktor merah diberi notasi M1M1M2M2 dan putih merupakan sifat resesif dengan notasi m1m1m2m2. Induk (P) : M1M1M2M2 >< m1m1m2m2 (merah) Gamet F1 F1 + F1 : M1M2, >< (putih) m1m2

: M1m1M2m2 (merah) : M1m1M2m2 >< M1m1M2m2 (merah) >< (merah) >< M1M2, M1m2, m1M2, m1m2

Gamet F2 Gamet M1M2

: M1M2, M1m2, m1M2, m1m2 :

M1m2

m1M2

m1m2

M1M2 M1m2 m1M2 M1M1M2M M1M1M2m2 M1m1M2M 2 2 2 1 3 M1M1M2m M1M1m2m2 M1m1M2m2 2 6 7 5 M1m1M2M M1m1M2m2 m1m1M2M2 2 10 11 9 M1m1M2m2 M1m1m2m2 m1m1M2m2 13 14 15

m1m2 M1m1M2m2 4 M1m1m2m2 8 m1m1M2m2 12 m1m1m2m2 16

Dari papan catur di atas terlihat bahwa kotak nomer 1 sampai dengan 15 memiliki fenotipe merah, sedang kotak nomor 16 putih. Jadi perbandingan merah : putih = 15 : 1. Merah dengan faktor M1 dan M2 adalah nomor: 1, 2, 3, 4, 5, 7, 9, 10, dan 13 (ada 9); Merah dengan faktor M1 adalah nomor: 6, 8, dan 14 (ada 3); Merah dengan faktor M2 adalah nomor: 11, 12 dan 15 (ada 3); Putih: 16 (ada 1). Dengan demikian perbandingan sebenarnya 9 : 3 : 3 : 1. Individu yang homozigot adalah pada nomor 1, 6, 11 dan 16, sedang yang lain heterozigot. Rasio termodifikasi dari 9 : 3 : 3 : 1 menjadi rasio 15 : 1, jika alel-alel dominan pada kedua lokus menghasilkan fenotipe yang sama tanpa efek kumulatif, hal ini dikenal pula dengan epistatis dominan duplikat.

66

2. Kriptomeri Ketika disilangkan bunga Linaria marocana merah dengan yang putih, ternyata semua keturunan pertamanya (F1) berwarna ungu. Hal yang demikian ini tentu merupakan sesuatu yang tidak biasa, mengingat warna ungu merupakan fenotipe baru. Dari hasil F1 saja kita kesulitan menentukan mana yang dominan bukan? Jika sesama F1 disilangkan ternyata menghasilkan keturunan kedua (F2) yang memiliki perbandingan ungu : merah : putih = 9 : 3 : 4, suatu perbandingan yang agak membingungkan. Jika ditelaah secara rinci, sebenarnya peristiwa tersebut adalah sebagai berikut: a. Persilangan tersebut merupakan persilangan dihibrida; b. Fenotipe ungu yang jumlahnya mencapai 9 menunjukkan bahwa fenotipe ungu muncul karena adanya dua faktor yang dominan hadir bersama; jadi fenotipe ungu merupakan fenotipe tersembunyi yang akan muncul jika ada dua faktor dominan hadir bersama; c. Fenotipe putih mencapai 4 menunjukkan bahwa fenotipe putih muncul karena adanya faktor dominan. Sebab jika putih resesif, perbandingannya pasti hanya 1 Karena adanya faktor tersembunyi itulah maka peristiwa ini disebut sebagai kriptomeri

(kriptos=tersembunyi). Penelitian terhadap air sel menunjukkan bahwa bunga merah memiliki air sel yang bersifat asam, dan warna merah disebabkan karena pigmen antosianin. Di lain pihak, warna bunga putih memiliki air sel bersifat basa, tanpa antosianin. Antosianin dominan terhadap tanpa antosianin sedangkan basa dominan terhadap asam. Ternyata pigmen antosianin di lingkungan air sel yang asam menghasilkan warna merah, di lingkungan air sel yang basa menghasilkan warna ungu. Jadi fenotipe tersembunyi muncul apabila dua faktor dominan bertemu. Terbukti, jika antosianin (dominan) hadir di dalam sel yang basa, maka warna yang muncul adalah warna ungu. Perhatikan analisis papan catur berikut:

Induk (P) : AAbb

><

aaBB

(merah) >< (putih) Gamet F1 F1 + F1 : Ab dan aB

: AaBb (ungu) : AaBb (ungu) >< >< AaBb (ungu)

Gamet F2

: AB, Ab, aB, ab dan AB, Ab, aB, ab. :

67

Gamet AB Ab aB ab

AB 1 5 9 13

Ab 2 6 10 14

aB 3 7 11 15

ab 4 8 12 16

Fenotipe ungu : 1, 2, 3, 4, 5, 7, 9, 10, 13; Jumlah 9; Fenotipe merah : 6, 8, 14; Jumlah 3; Fenotipe putih : 11, 12, 15, 16; Jumlah 4; Jadi ungu : merah : putih = 9 : 3 : 4 Perbandingan 9 : 3 : 3 : 1 menjadi 9 : 3 : 4 terjadi jika genotipe resesif pada salah satu lokus (misalnya aa) mensupresi ekspresi alel-alel pada lokus B, lokus A disebut menunjukkan epistatis resesif terhadap lokus B; hanya jika ada alel dominan pada lokus Alah, alel-alel pada lokus hipostatik B dapat diekspresikan. Genotipe A-B- dan A-bb menghasilkan dua fenotipe lainnya. 3. Epistasis, Hipostasis Ketika disilangkan gandum berkulit hitam dengan yang berkulit kuning, muncul F1 yang berkulit hitam. Segera kita menduga bahwa faktor hitam dominan terhadap kuning. Namun pada F2 dihasilkan keturunan-keturunan yang memiliki perbandingan sebagai berikut: 12 hitam : 3 kuning : 1 putih. Sebenarnya perbandingan tersebut berasal dari (9 + 3) : 3 : 1. Dari perbandingan ini nampak bahwa persilangan tersebut merupakan persilangan dihibrida, meskipun yang disilangkan hanya faktor warna kulit biji. Faktor yang dominan tidak hanya faktor hitam, melainkan juga faktor kuning karena memiliki angka perbandingan hingga 3. Ini berarti faktor warna tidak ditentukan oleh satu gen, melainkan oleh dua gen yang lokusnya berlainan. Artinya, gen penentu warna hitam yang dominan berada terpisah dari gen penentu warna kuning yang juga dominan. Masing-masing gen itu memiliki alela tersendiri. Jika kedua gen itu hadir bersama dalam satu individu, maka akan menampilkan fenotipe gen yang menutupi atau menghalangi, yang dikenal sebagai gen epistasis. Jadi, jika faktor hitam dan kuning hadir bersama, fenotipe yang muncul adalah fenotipe hitam. Dikatakan hitam epistasis terhadap kuning, dan kuning hipostasis terhadap hitam. Jika di dalam individu hanya ada gen yang ditutup atau dihalangi, maka fenotipe yang muncul

68

adalah fenotipe dari gen yang dihalangi tersebut. Gen ini disebut gen hipostasis. Tidak adanya gen dominan pada individu justru akan memunculkan sifat baru, yaitu sifat putih. Dengan demikian, peristiwa epistasis dan hipostasis itu adalah: a. Ada dua gen yang sama-sama dominan, pada lokus yang berbeda, yang menentukan satu sifat; Satu sifat yang ditentukan itu adalah warna kulit biji gandum. b. Gen yang satu bersifat menghalangi (epistasis) sedang yang lain bersifat dihalangi (hipostasis); c. Kehadiran kedua gen dominan tersebut akan memunculkan fenotipe dari gen yang epistasis (fenotipe yang muncul adalah hitam); d. Kehadiran gen yang hipostasis akan memunculkan fenotipe dari gen hipostasis (fenotipe yang muncul adalah kuning); e. Ketidak hadiran dari kedua gen dominan (jadi yang ada hanya alela resesif) akan memunculkan fenotipe baru (fenotipenya putih). Untuk jelasnya, perhatikan analisis papan catur berikut ini.

Induk (P)

: HHkk

>< hhKK

(hitam) >< (kuning) Gamet F1 F1 + F1 : Hk dan hK

: HhKk (hitam) : HhKk + HhKk (hitam) >< (hitam)

Gamet F2 Gamet HK Hk hK hk HK 1 5 9 13

: HK, Hk, hK, hk dan HK, Hk, hK, hk

Hk 2 6 10 14

hK 3 7 11 15

hk 4 8 12 16

Dengan demikian ketika alel yang dominan di satu lokus, misalnya alel A, menghasilkan fenotipe tertentu tanpa peduli kondisi alel pada lokus yang satunya lagi, maka lokus A disebut epistatik terhadap lokus B. Lebih lanjut, karena alel dominan A

69

mampu mengekspresikan dirinya sendiri baik ada B ataupun b, maka ini adalah contoh dari epistasis dominan. Alel-alel di lokus hipostatik (B atau b) dapat diekspresikan hanya jika genotipe individu itu resesif homozigot lokus epistatik (aa). Dengan demikian, genotipe AB - dan A-bb menghasilkan fenotipe yang sama, sedangkan aaB- dan aabb menghasilkan dua fenotipe lain. Rasio klasik 9 : 3 : 3 : 1 termodifikasi meniadi rasio 12 : 3 : 1.

C. PAUTAN DAN PINDAH SILANG Telah dipahami bahwa gen itu terletak secara linier pada lokus tertentu pada kromosom. Selama pembelahan meiosis, dalam rangka menghasilkan sel gamet, akan terjadi pemisahan secara bebas gen-gen yang berada di kromosom tersebut. Banyaknya macam gamet yang dihasilkan bergantung pada banyaknya sifat dalam persilangan. Akan tetapi tidak semua gen dapat memisah secara bebas. Gen-gen yang letaknya berdekatan (lokusnya berdekatan) atau terletak dalam kromosom yang sama, ada yang tidak melakukan pemisahan secara bebas. Artinya, gen itu berpautan satu dengan yang lain. Jumlah pautan itu tergantung pada jumlah pasangan kromosom dan panjangnya kromosom. Makin panjang kromosom itu, semakin banyak gen yang dikandungnya dan semakin banyak pula gen yang berpautan. Akibatnya, keanekaragam anindividu semakin besar. Adanya pautan inilah yang juga merupakan salah satu sebab tidak sesuainya hasil persilangan dengan hukum Mendel. Fenomena lain lagi nampak pada meiosis, yaitu terjadinya pindah silang kromosom, yang terjadi pada saat pembagian kromosom. Pindah silang terjadi karena kromosom itu saling bertumpang tindih, terutama pada metafase. Kromosom yang bertumpangan itu "melebur", sehingga lengan dari kromosom yang satu berpindah (menempel) pada

kromosom yang lain. Maka terjadilah tukar menukar lengan kromosom. Tukar menukar lengan kromosom tersebut mengakibatkan terjadinya rekombinasi kromatid pada kromosom yang homolog. Jadi pada peristiwa pindah silang terbentuk kombinasi baru. Jika pada peristiwa berpautan memungkinkan dua gen atau lebih selalu bersama dalam sel gamet, maka pindah silang memungkinkan gen-gen itu saling berpisah. Singkatnya, gengen dekat bertautan, sedang gen-gen jauh berpisahan. Pindah silang justru dapat berada pada sembarang titik sepanjang

"merusak" (memisahkan) pautan gen yang kromosom.

Besarnya kemungkinan terjadi pindah silang berbanding lurus dengan jarak kedua gen tersebut. Semakin jauh jaraknya, kemungkinan terjadi pindah silang semakin besar.

70

Misalkan gen P dan Q jaraknya dua kali jarak gen M dan N. Maka kemungkinan terjadi pindah silang untuk memisahkan pautan gen P dan Q menjadi dua kali lebih besar daripada memisahkan pautan gen M dan N. Gen yang amat dekat sulit untuk melakukan pindah silang. D. PENENTUAN JENIS KELAMIN Pengamatan kromosom pada lalat buah Drosophila melanogaster menunjukkan adanya perbedaan bentuk kromosom pada yang jantan dan betina. Lalat buah memiliki empat pasang kromosom. Biasanya, kromosom itu diberi nomor sesuai dengan panjang kromosom. Kromosom terpanjang diberi nomor 1, dan terpendek diberi nomor 4. Pada lalat betina, pasangan kromosom ke empat terdiri dari kromosom yang sama panjang. Pada lalat jantan, pasangan kromosom keempat bentuknya tidak sama. Salah satu kromosom dari pasangan kromosom yang tidak sama panjang tersebut bentuknya bengkok. Sekitar 2/3 panjangnya lurus dan 1/3 nya membengkok hingga menyerupai kail yang disebut mirip huruf Y. Karena itu kromosom ini disebut kromosom Y. Pasangannya yang lurus disebut kromosom X , karena huruf X merupakan pasangan huruf Y. Jadi, sekitar 2/3 kromosom X dan Y berpasangan, sedang 1/3 bagian tidak berpasangan, karena ujung kromosom Y membengkok. Karena itu terdapat 1/3 bagian kromosom X yang tidak beralela akibat tidak ditutupi oleh kromosom Y. Dikatakan bahwa 2/3 kromosom itu memiliki bagian yang homolog, sedang 1/3 bagian kromosom X memiliki bagian yang nonhomolog. Dengan demikian pada lalat jantan terdapat pasangan kromosom terpendek yang bentuknya tidak sama dan disebut sebagai kromosom XY. Sedangkan pada lalat betina memiliki kromosom XX. Kromosom XX dan XY disebut sebagai kromosom kelamin (kromosom sek). Pasangan kromosom selain kromosom kelamin disebut sebagai autosom. Jadi autosom itu pada lalat buah ada 3 pasang yang terdiri dari pasangan kromosom nomor 1, 2 dan 3. Pasangan kromosom nomor 4 disebut kromosom kelamin. Manusia memiliki autosom sebanyak 22 pasang. Kromosom kelamin pada wanita diberi simbol XX dan pada laki-laki diberi simbol XY. Karena autosom dianggap sebagai satu kesatuan maka individu wanita diberi simbol 2A + XX sedang individu laki-laki diberi simbol 2A + XY. Setiap sel telur memiliki kromosom A + X, atau disebut ovum X. Jadi hanya ada satu macam sel telur. Sedangkan sperma ada dua macam, yaitu sperma dengan kromosom A + X yang disebut sperma X dan sperma dengan kromosom A + Y yang disebut sperma Y. Jika sperma X membuahi ovum akan dihasilkan zigot XX yang akan berkembang menjadi perempuan dan jika sperma Y yang membuahi ovum akan dihasilkan zigot XY yang akan berkembang manjadi laki-laki. Umumnya, makhluk hidup dengan kromosom XX berjenis kelamin betina dan yang berkromosom XY berjenis kelamin jantan, kecuali pada golongan unggas, kupu-kupu dan

71

ngengat. Pada hewan-hewan ini genotipenya terbalik. Pada yang jantan pasangan kromosom kelaminnya sama, sedang pada yang betina pasangan kromosomnya tidak sama. Agar tidak terjadi kebingungan, maka individu jantan diberi simbol ZZ sedangkan individu betina diberi simbol ZW. Belalang yang tidak memiliki kromosom Y pada yang jantan diberi simbol X0 sedangkan pada betina tetap XX. Berdasarkan uraian di atas, maka jenis kelamin tidak hanya ditentukan oleh ada tidaknya kromosom X dan Y, melainkan oleh adanya perimbangan antara autosom dan kromosom kelamin. Untuk jelasnya perhatikan tabel yang menunjukkan perbandingan antara X/A dalam menentukan kelamin pada Drosophila dan manusia. Setiap kali seorang pria dapat mengeluarkan 3 ml air mani yang di dalamnya terkandung sel sperma yang jumlahnya mencapai 360 juta sel. Secara teoritis, jumlah sperma X dan Y sama, jadi mamsing-masing sekitar 180 juta sel. Seandainya kemungkinan untuk bertemu dengan sel ovum sama, maka kemungkinan lahir bayi lakilaki atau perempuan sama. Namun kenyataan (berdasar survai) menunjukkan bahwa bayi laki-laki yang dilahirkan 105 dibandingkan 100 bayi perempuan. Hal ini disebabkan karena sperma Y lebih cepat gerakannya dibandingkan sperma X. Namun setelah dilahirkan kematian bayi laki-laki 50% lebih tinggi daripada bayi perempuan. Penelitian menunjukkan bahwa kekebalan tubuh laki-laki lebih rendah daripada perempuan. Beberapa penyakit infeksi lebih mudah menyerang laki-laki daripada perempuan. Selain kematian karena kekebalan, kaum laki-laki juga banyak yang meninggal karena kecelakaan atau yang lain. Itulah sebabnya maka populasi penduduk lebih banyak perempuan daripada laki-laki. Selain gerakannya yang lebih cepat, ternyata sperma Y lebih mudah terpengaruh kondisi keasaman vagina. Jika vagina agak asam (pH sekitar 6), sperma Y gerakannya lebih cepat daripada sperma X. Akibatnya, kemungkinan lahir bayi laki-laki lebih besar. Namun jika kondisi vagina terlalu asam (pH 5-6), sperma Y akan mati sedangkan sperma X yang lebih tahan keasaman banyak yang masih hidup. Akibatnya, kemungkinan lahir bayi perempuan lebih besar daripada bayi laki-laki. Kondisi vagina yang terlalu asam (pH lebih rendah dari 5) akan mematikan sperma. Dari uraian tersebut ternyata jika kondisi vagina ibu terlalu asam, maka bayi yang dilahirkan lebih banyak berjenis kelamin perempuan. Jika kondisinya agak asam, maka bayi yang dilahirkan lebih banyak laki-laki. 1. Gen Terpaut Pada Kromosom Seks Atau Gen Pautan Seks Telah dibahas bahwa kromosom kelamin pada individu jantan umumnya memiliki kromosom XY, dan karenanya sekitar 1/3 bagian kromosom X merupakan kromosom nonhomolog. Ini berarti jika pada 1/3 kromosom X nonhomolog itu terdapat gen penyakit, maka tidak memiliki gen pasangannya yang berfungsi sebagai alela gen tersebut. Kelemahan gen tidak dapat "ditutupi" oleh alela pasangannya. Gen yang terpaut pada 72

kromosom kelamin sebagaimana diuraikan tersebut seringkali disebut sebagai Gen Pautan Seks (ada buku yang menyebutnya Gen Tautan Seks). Penyakit hemofili, kebotakan, diabetes mellitus, buta warna, merupakan contoh penyakit yang disebabkan oleh gen pautan seks. 2. Hemofili Hemofili (hemofilia) adalah penyakit darah tidak dapat membeku. Akibat luka yang kecil saja, penderita dapat terrenggut nyawanya karena akan terjadi pendarahan yang terus menerus. Penderita hemofili tidak dapat memproduksi faktor pembeku darah. Gen faktor pembeku darah berada pada kromosom X nonhomolog. Gen yang bersifat dominan diberi simbol H (mampu memproduksi faktor pembeku darah) sedang yang resesif diberi simbol h (tidak mampu memproduksi faktor pembeku darah). Pada wanita, gen tersebut memiliki alela pasangannya, sedang pada laki-laki tidak. Oleh karena itu pengaruh gen h pada wanita dapat "ditutup" oleh pasangannya yaitu gen H yang normal (XhXH), sedang pada laki-laki tidak (XhY). Itulah sebabnya mengapa penyakit hemofili lebih banyak menyerang kaum pria dibandingkan wanita Tabel 3.1 Genotipe dan Fenotipe Hemofili Pada Pria dan Wanita ===================================================== No. : Genotipe Fenotipe Keterangan

------------------------------------------------------------------------------------------------1 : XHXH Wanita normal 2 : XHXh Wanita pembawa 3 : XhX Wanita hemofili Bersifat letal, meninggal : sebelum dewasa 4 : XHY Pria normal 5 : XhY Pria hemofili --------------------------------------------------------------------------------------------Wanita pembawa (karier, fenotipenya normal) yang genotipenya XHXh dapat menghasilkan dua macam ovum, yaitu ovum XH dan ovum Xh. Jika wanita ini menikah dengan laki-laki normal (XHY), maka ada kemungkinan anak laki-lakinya menderita hemofili. Analisisnya adalah sebagi berikut: P: Gamet XHXh (wanita karier) XH dan Xh + XHY (laki-laki normal) XH dan Y

Kemungkinan anaknya: XHXH, XhXH, XhY, XhY (wanita normal) (wanita karier) (laki-l aki hemofili) (laki-laki hemofili)

73

3. Kebotakan dan Butawarna

Sama seperti butawarna, kebotakan juga lebih banyak diderita oleh laki-laki. Rupanya gen penumbuh rambut terletak juga pada kromosom X nonhomolog. Demikian pula buta warna. E. GAGAL BERPISAH Pada suatu percobaan yang dilakukan oleh kelompok Morgan, terdapat hasil-hasil

percobaan yang tidak diharapkan. Ketika itu disilangkan lalat betina bermata putih dan lalat jantan bermata merah. Telah diketahui gen mata merah terletak pada kromosom X. Dengan demikian, persilangan lalat itu diharapkan memiliki keturunan lalat betina bermata merah dan lalat jantan bermata putih. Akan tetapi diantara populasi lalat tersebut kedapatan adanya lalat jantan bermata merah dan betina bermata putih. Berdasarkan analisis, lalat tersebut terjadi dari adanya peristiwa gagal berpisah. Peristiwa gagal berpisah terjadi akibat dua kromosom homolog saling berbelit sehingga ketika terjadi meiosis kedua kromosom tersebut sulit terpisahkan. Akibatnya terdapat sel anak yang memiliki 3 kromosom X dan ada pula yang hanya memiliki kromosom Y. Dari analisis papan catur tersebut nampak bahwa lalat no 1 dan 6 merupakan lalat yang diharapkan, yaitu lalat betina bermata merah dan lalat jantan bermata putih. No 2 yakni XXX, disebut sebagai betina super. No 3 yakni X saja, merupakan lalat betina mata merah. Hal ini merupakan kebetulan pertama; No 4 yakni Y saja, merupakan lalat jantan bermata putih dan mati. No 5, yakni XXY, merupakan lalat betina bermata putih. Dan ini merupakan kebetulan kedua. F. GEN LETAL Gen letal adalah gen yang dapat menimbulkan kematian. Hal ini terjadi karena fungsi gen itu terganggu, sehingga tubuh organisme tidak dapat tumbuh sempurna. Sebagai contoh setiap tumbuhan memiliki klorofil. Apabila gen pengendali klorofil tidak berfungsi, maka tumbuhan itu tidak memiliki klorofil dan akibatnya akan mati. Gen letal dibedakan menjadi letal resesif dan letal dominan. Uraian berikut ini terdiri dari letal resesif, letal dominan dan contoh gen letal pada manusia. 1. Letal Resesif Sebagaimana disinggung di atas, terdapat tumbuhan yang tidak memiliki klorofil yang disebut sebagai tumbuhan albino. Apabnila klorofil dikendalikan oleh gen A, maka tumbuhan normal bersimbol AA dan tumbuhan albino bersimbol aa. Tumbuhan albino muncul dari hasil persilangan antara induk heterozigot Aa dengan Aa. Keturunan yang bergenotipe aa akan mati waktu kecil, karena tidak mampu melakukan fotosintesis. Jadi tidak ada tumbuhan dewasa bergenotipe aa. Peristiwa letal resesif dapat dijumpai pada

74

hewan misalnya kelinci Pelger yaitu kelinci yang mengalami gangguan pada sumsum tulangnya; ekor pendek pada mencit. 2. Letal Dominan Ketika disilangkan tikus berambut kuning dengan tikus berambut kuning. hasilnya ternyata terdapat tikus berambut kuning dan tikus berambut tidak kuning dengan perbandingan 2 : 1. Meskipun eksperimen diulang-ulang hasilnya tetap yaitu 2 : 1. Penelitian berikutnya terhadap tikus tersebut ternyata menghasilkan temuan bahwa tikus berambut kuning mati ketika masih embrio. Lagi pula, tikus berambut kuning yang mati itu ternyata bergenotipe homozigot dominan. Berdasar temuan itu dapat disimpulkan bahwa tikus yang hidup hingga dewasa adalah tikus kuning yang heterozigot dan yang tidak kuning. Seharusnya, perbandingan tikus kuning : tidak kuning = 3: 1. Oleh karena tikus homozigot dominan mati pada waktu embrio, maka perbandingannya berkurang 1/4 bagian dari seluruh kemungkinan, sehingga perbandingannya menjadi 2 : 1. 3. Letal Pada Manusia Pada manusia terdapat gen letal misalnya yang menyebabkan penyakit sicklemia dan thalassemia. a. Sicklemia Eritrosit penderita sicklemia berbentuk bulan sabit. Hal ini diakibatkan oleh adanya molekul hemoglobin yang bersambung membentuk serabut-serabut. Sel darah yang demikian menghalangi aliran darah terutama di dalam kapiler darah. Itulah sebabnya penyakit ini mematikan. Sifat siklemia ditentukan oleh gen S. Orang yang bergenotipe SS menderita sicklemia, sedangkan yang bergenotipe ss normal. Orang ayang heterozigot yakni yang bergenotipe Ss merupakan orang berfenotipe sehat. Keturunan SS diperoleh dari hasil perkawinan Ss dengan Ss. b. Thalassemia Thalassemia adalah penyakit darah dimana eritrosit penderita bentuknya lonjong, ukurannya kecil dan jumlahnya lebih banyak dibandingkan darah orang normal. Eritrosit yang demikian memiliki afinitas yang rendah terhadap oksigen, sehingga penderita akan kekurangan oksigen. Biasanya, penderita thalassemia yang letal memiliki genotipe homozigot dominan yaitu ThTh yang disebut sebagai thalassemia mayor. Orang yang bergenotipe Thth disebut sebagai thalassemia minor sedangkan yang bergenotipe thth tidak menderita thalassemia. atau normal

75

G. HEREDITAS PADA MANUSIA Sifat-sifat manusia, baik sifat fisik, fisiologis maupun psikologis diwariskan kepada keturunannya mengikuti hukum Mendel maupun non Mendel. Sifat-sifat manusia yang dominan hampir selalu nampak fenotipenya pada keturunannya misalnya: mata sipit, kulit gelap, rambut keriting. Berbeda dengan penyakit infeksi, penyakit menurun akan di wariskan kepada keturunannya dan tidak dapat disembuhkan. Biasanya penyakit menurun bersifat resesif, yang nampak jika heterozigot. Orang albino tidak memiliki pigmen warna melanin. Gen albino tidak terletak pada kromosom kelamin. Penyakit butawarna lebih banyak diturunkan kepada anak laki-laki, yang berarti gen butawarna terletak pada kromosom X nonhomolog. Butawarna ditentukan oleh gen yang resesif. Gangguan mental disebabkan kerusakan syaraf karena asam fenil piruvat di dalam darah terlalu tinggi, sebagai akibat tidak adanya enzim yang mengubah fenilalanin menjadi asam amino tiroksin. Fenilalanin membentuk senyawa asam fenil piruvat yang merusak syaraf. Produksi enzim dikontrol oleh gen. Sebelum menikah sebaiknya calon mempelai mengetahui silsilah keluarga masing-masing, untuk memastikan bahwa tidak ada anggota keluarganya yang menderita penyakit keturunan. Darah manusia digolongkan berdasarkan ada tidaknya antigen dan antibodi di dalam darahnya. Golongan darah manusia dapat dibedakan menjadi golongan darah ABO, MN dan rhesus. Golongan darah dapat digunakan sebagai petunjuk untuk menentukan keturunan seseorang. Untuk menentukan keturunan seseorang digunakan analisis sistem AB0 dan MN. 1. Sifat Fisik yang Menurun Sifat-sifat pada manusia diwariskan kepada keturunannya mengikuti pola pewarisan yang telah kita pelajari. Sifat-sifat tersebut meliputi sifat-sifat fisik, fisiologis dan psikologis. Sifat fisik adalah sifat badan yang nampak (misal bentuk hidung, bibir), sifat fisiologis adalah sifat faal tubuh (misal alergi, hormonal) sedang sifat psikologis adalah sifat kejiwaan seseorang. Di dalam pokok bahasan ini akan dibicarakan sifat-sifat fisik yang nampak, karena lebih mudah untuk diamati. Di dalam kehidupan sehari-hari kita menjumpai adanya beberapa sifat fisik yang dominan. Dikatakan dominan karena sifat tersebut hampir selalu muncul pada keturunannya. Mata sipit, kulit gelap, rambut keriting, merupakan beberapa contoh di antaranya. Umumnya, bangsa Asia Timur hingga Asia Tengah (Jepang, Cina) bermata sipit. Jika mereka menikah dengan suku bangsa apapun yang matanya tidak sipit, maka keturunannya akan bermata sipit. Demikian pula halnya dengan kulit gelap dan rambut lurus. Dikatakan bahwa sifat mata sipit, rambut lurus dan kulit gelap merupakan sifat yang dominan.

76

Tabel 3.2 Contoh Sifat Dominan dan Resesif pada Manusia -------------------------------------------------------------------------------------------SIFAT DOMINAN SIFAT RESESIF ------------------------------------------------------------------------------------------Rambut lurus Rambut ikal Bibir tebal Bibir tipis Mata sipit Mata lebar Hidung lurus Hidung melengkung Keriting putar dalam Keriting putar luar Lubang hidung besar Lubang hidung kecil Dapat menggulung lidah Tidak dapat -----------------------------------------------------------------------------------------Beberapa sifat fisik lain yang diturunkan contohnya adalah: bentuk daun telinga, alis mata, kumis, bulu dada, bentuk jari tangan, bentuk telapak tangan, tangan kidal, bentuk jari kaki, bentuk telapak kaki, betis, dan kegemukan. Pada prinsipnya, semua sifat fisik merupakan warisan dari kedua orang tua kita. 2. Penyakit yang Menurun Sebelumnya telah disinggung beberapa penyakit menurun yang terdapat pada manusia yaitu hemofili, kepala botak dan buta warna. Penyakit-penyakit keturunan itu berbeda dengan penyakit infeksi, karena penyakit keturunan tidak menular, tidak dapat disembuhkan, namun diwariskan kepada keturunannya. Untungnya, penyakit menurun biasanya bersifat resesif, sehingga baru menampakkan fenotipenya jika dalam keadaan homozigot. Jika dalam keadaan heterozigot, fenotipe penyakit tidak muncul karena tertutup oleh alela yang dominan. Albino Ada kejadian seorang anak yang bule (disebut albino), yakni rambut, mata, bulu mata dan semua kulitnya berwarna putih padahal ibu bapaknya berkulit berwarna. Anak albino memiliki kulit seperti anak Eropa, meskipun kedua orang tuanya berkulit sawo matang atau hitam. Harap diingat, orang Eropa pun dapat memiliki keturunan albino. Menurut penelitian, kemungkinan terjadinya albino di dunia 1 : 20.000 kelahiran. Orang yang albino adalah orang yang tidak memiliki pigmen warna melanin. Warna melanin ada yang hitam, coklat, kuning, atau putih. Albino tidak memiliki pigmen melanin karena enzim pembentuk melanin tidak dapat dihasilkan. Enzim melanin diproduksi berdasarkan perintah gen melanin. Jadi pada orang albino gen melaninnya tidak dapat memerintah untuk memproduksi enzim. Orang yang bule ternyata rentan (mudah terkena) terhadap kangker kulit. Karena mata orang bule tidak mengandung pigmen, maka mata tersebut akan terasa sakit jika berada di tempat yang terang benderang. 77 a.

Karena tidak semua keturunan dalam satu keluarga bersifat albino, segera kita dapat menduga bahwa sifat tersebut dibawa oleh gen resesif, yang muncul jika ayah dan ibunya masing-masing membawa sifat resesif tersebut. Gen albino tidak terletak pada kromosom kelamin, melainkan pada autosom. Selain itu, albino diketahui sebagai hasil perkawinan monohibrida. Jadi albino kita beri simbol mm (tidak menghasilkan enzim melanin), orang yang normal diberi simbol MM (menghasilkan enzim melanin) sedang orang yang membawa faktor albino (disebut karier albino) tetapi dia normal diberi simbol Mm. Berikut diberikan analisis dengan papan catur, jika seorang ayah pembawa albino (Mm), dan ibunya juga pembawa albino (Mm). Tabel 3.3 Kemungkinan Keturunan dari Ayah dan Ibu Karier Albino M 1 3 m 2 4

Gamet M m

Keterangan: Keturunan 1 normal; 2 dan 3 karier albino; 4 albino. b. Buta Warna

Buta warna adalah orang yang tidak dapat melihat warna tertentu, yaitu tidak dapat menangkap panjang gelombang tertentu. Umumnya buta warna dibedakan atas buta warna merah dan buta warna hijau. Biasanya, orang hanya menderita salah satu dari penyakit buta warna tersebut, yakni buta warna merah saja atau hijau saja. Jarang sekali terjadi buta warna kedua-duanya. Jika tayangan TV hitam putih. hal demikian terjadi, penderita seolah sedang menikmati

Buta warna merah ada yang parah, ada pula yang tidak. Demikian juga buta warna hijau, ada yang parah dan ada yang tidak. Penyakit ini diturunkan secara resesif, pada kromosom X nonhomolog (kormosom X yang tidak memiliki pasangan gen di kromosom Y). Buktinya, kemungkinan orang mendapat penyakit ini di Indonesia 3,5% pada laki-laki. Jarang sekali penyakit ini diderita oleh orang perempuan. Akan tetapi orang perempuan pembawalah yang mewariskan cacat tersebut kepada anak laki-lakinya. Misalkan ada kejadian sebagai berikut. Laki-laki normal menikah dengan wanita normal, ternyata mempunyai anak laki-laki buta warna dan anak perempuan normal. Dari hasil perkawinan tersebut nampak bahwa faktor buta warna adalah resesif, dan wanita fenotipe normal tersebut sebenarnya pembawa buta warna. Mengingat buta warna terletak di kromosom X, maka wanita pembawa buta warna diberi simbol XbX, sedang laki-laki normal diberi simbol XY. Ovum yang dihasilkan wanita tersebut adalah ovum

78

Xb dan X, sedang sperma yang dihasilkan laki-laki normal adalah sperma X dan Y. Jika dianalisis, maka hasilnya adalah sebagai berikut: Gamet ayah: Gamet ibu : X ; Y X

Xb ;

Kemungkinan anak-anaknya: 1. X Xb (perempuan pembawa); 2. XX (perempuan normal) 3. XbY (laki-laki butawarna); 4. XY (laki-laki normal)

Dari analisis nampak bahwa kemungkinan lahir bayi laki-laki buta warna adalah 25%, normal juga 25%. Sedangkan kemungkinan lahir bayi perempuan normal 50%. Hanya saja, 25% diantaranya berfungsi sebagai pembawa (karier). Mungkinkah wanita menderita buta warna? Coba beri penjelasan tentang kemungkinan tersebut. Buatlah analisisnya. Juga bagaimana hasil perkawinan antara lakilaki buta warna dengan wanita normal (tidak karier). c. Gangguan Mental Sebenarnya gangguan mental banyak ragamnya dan bermacam-macam penyebabnya. Salah satu penyebabnya adalah kerusakan syaraf karena kadar asam fenil piruvat di dalam darah terlalu tinggi. Penderita tidak dapat mensintesis enzim yang dapat mengubah asam amino fenilalanin menjadi asam amino tiroksin. Akibatnya, fenilalanin kadarnya meningkat, dan dikeluarkan dari tubuh bersama urine. Karena itu penderita disebut menderita penyakit fenilketonuria (disingkat FKU). Sebagian fenilalanin yang tidak dikeluarkan di tubuh membentuk senyawa asam fenil piruvat yang dapat merusak syaraf. Inilah yang menyebabkan penderita mengalami gangguan mental. Sebagaimana kita ketahui, enzim itu merupakan suatu protein. Sintesis protein dikendalikan oleh gen. Dalam keadaan homozigot, penderita memiliki genotipe aa. Jika kedua orang tuanya berfenotipe normal, berarti mereka merupakan pembawa atau karier dalam keadaan heterozigot. Jadi ayahnya bergenotipe Aa dan ibunya juga Aa. Perkawinan antara Aa dan Aa akan menghasilkan keturunan AA, Aa, Aa dan aa. Jadi perbandingan genotipenya 1 : 2 : 1 sedang perbandingan fenotipenya 3 : 1. Kemungkinan anaknya genotipe dominan (normal) adalah ¼ atau 25%, genotipe heterozigot (pembawa sifat) adalah 2/4 atau 50% dan genotipe homozigot (menderita gangguan mental) adalah ¼ atau 25%.

79

3. Mengenal Silsilah Calon Pengantin Sebelum Menikah Berdasarkan kemungkinan di atas, kita dapat menghindari perkawinan antar heterozigot sehingga munculnya gangguan mental pada keturunannya dapat dicegah. Penyakit keturunan merupakan penyakit yang ditentukan oleh gen, yang diwariskan secara turun-temurun. Meskipun seseorang nampaknya normal, tetapi jika salah seorang anggota familinya ada yang menderita, ada kemungkinan orang tersebut bertindak selaku pembawa (karier). Seorang pembawa dapat menyebabkan keturunannya menderita gangguan penyakit jika menikah dengan pembawa juga. Nah, calon pengantin harus dipastikan tidak sama-sama heterozigot. Caranya, dengan dilihat silsilahnya. Bagaimana halnya dengan butawarna, hemofili dan penyakit keturunan lain yang terpaut pada kromosom kelamin? Mengenai penyakit tersebut, jika calon pengantin wanita merupakan pembawa, maka sudah cukup untuk dapat memunculkan penyakitnya pada salah seorang dari anak laki-lakinya. Jika calon pengantin laki-laki menderita buta warna, maka salah seorang anak perempuannya akan menjadi pembawa. Demikianlah, penyakit menurun itu dapat dihindari dengan melihat silsilah seseorang, agar keturunannya tidak menderita penyakit yang tidak diharapkan. Misalnya saja tidak menikah dengan calon yang diketahui karier penyakit, atau jika pasangan sesama karier telah menikah mereka dapat mencegah terjadinya kehamilan. Kemungkinan timbul penyakit menurun pada pernikahan dengan keluarga dekat dibandingkan dengan pernikahan dengan orang lain. Pernikahan dengan keluarga dekat akan lebih besar kemungkinannya menerima gen resesif, sehingga kemungkinan keturunannya menjadi resesif homozigot. Seperti telah diuraikan sebelumnya, resesif homozigot akan menampakkan fenotipenya. H. GOLONGAN DARAH PADA MANUSIA Ada beberapa golongan darah pada manusia yaitu golongan darah ABO, golongan darah MN dan rhesus. Penggolongan darah itu didasarkan atas ada tidaknya antigen antibodi tertentu di dalam darahnya. a. Golongan Darah A, B dan 0 Sebelum tahun 1900, orang belum dapat melakukan transfusi darah dengan aman karena sering terjadi kejutan (shock) sehingga terjadi kematian. Tahun 1900, K. Landsteiner dari Austria menemukan adanya berbagai golongan darah manusia. Dia menemukan bahwa jika golongan darah berbeda dicampurkan akan terjadi penggumpalan pada sel-sel darah merah tersebut. Inilah yang dapat menyebabkan kematian. Golongan darah manusia dapat dibedakan menjadi 4 macam, yaitu A, B, AB dan 0 (nol). Penggolongan darah demikian dikenal sebagai penggolongan darah AB0 (baca: AB Nol). Penggolongan darah AB0 berdasarkan kepada ada tidaknya antigen-antibodi di dalam darah seseorang. Antigen (zat asing) yang dibentuk berupa aglutinogen (zat yang

80

menggumpalkan), sedang antibodi (pelawan antigen) yang dibentuk berupa aglutinin (zat yang digumpalkan). Baik zat yang menggumpalkan maupun yang digumpalkan merupakan suatu protein. Golongan darah A mempunyai aglutinogen A dan aglutinin ß, golongan darah B mempunyai aglutinogen B dan aglutinin α, golongan darah AB mempunyai aglutinogen AB dan tidak memiliki aglutinin, sedangkan golongan darah 0 tidak memiliki aglutinogen tetapi memiliki aglutinin α dan ß. Aglutinogen A dapat menggumpalkan aglutinin α dan aglutinogen B dapat menggumpalkan aglutinin ß. Jika orang bergolongan darah A mendapatkan transfusi darah dari golongan B, darahnya akan mengalami aglutinasi (penggumpalan) karena percampuran antara aglutinogen A dan aglutinin α. Aglutinogen A dihasilkan oleh gen A, aglutinogen B di hasilkan oleh gen B, sedangkan darah yang tidak menghasilkan aglutinogen adalah gen 0. Gen-gen penentu golongan darah tersebut diberi simbol I, singkatan dari isohemaglutinogen, sehingga alelaalelanya disimbolkan IA, IB, dan I0. Coba perhatikan tabel berikut: Tabel 3.4 Golongan darah dan Genotipenya ============================================== Gol. Darah : Aglutinogen : Aglutinin : Genotipe : : (antigen) : (antibodi) : --------------------------------------------------------------------------------A : A : ß : IAIO (heterozigot) A : A : : IAIA (homozigot) B : B : α : IBIO (heterozigot) B : B : : IBIB (homozigot) AB : AB : : IAIB (heterozigot) 0 : : ß : I0IO (homozigot) --------------------------------------------------------------------------------Penggumpalan akan terjadi jika darah yang diberikan (ditransfusikan) mengandung aglutinogen (antigen) yang ditolak oleh aglutinin. Tabel 3.5 Dampak Pencampuran Darah dari Golongan Darah yang Berbeda ====================================================== : Golongan Darah Donor Gol. Darah Penerima :-------------------------------------------------: A : B : AB : 0 ---------------------------------------------------------------------------------------------A : - : + : + : B : + : : + : AB : - : : : 0 : + : + : + : ---------------------------------------------------------------------------------------------Keterangan: + terjadi aglutinasi - tidak terjadi aglutinasi

81

Dari Tabel 3.5 dapat dilihat bahwa darah 0 yang diberikan ke semua golongan darah tidak dapat menggumpalkan. Golongan darah 0 disebut sebagai donor universal. Sebaliknya, golongan darah AB dapat menerima semua golongan darah. Golongan darah AB disebut penerima universal (resipien universal). Meskipun demikian, untuk lebih amannya dalam transfusi darah, setiap golongan darah hendaknya menerima golongan darah sejenis. Sebab, transfusi dengan golongan yang tidak sejenis akan menyebabkan terjadinya percampuran antara aglutinogen dan aglutinin yang tidak sesuai. Jika benarbenar terpaksa bolehlah digunakan golongan darah lain yang tidak membahayakan. Sebagaimana disebutkan pada tabel sebelumnya, genotipe golongan darah ada yang homozigot dan ada yang heterozigot. Jika orang bergolongan darah A heterozigot menikah dengan orang bergolongan darah B yang heterozigot, maka: Golongan darah A: IAI0 Golongan darah B: IBI0 A 0 Sel gamet :I I : IB I0 Keturunan : IAIB (golongan darah AB) IAI0 (golongan darah A) IBI0 (golongan darah B) I0I0 (golongan darah 0) b. Golongan Darah MN Setelah ditemukan golongan darah A, B, dan 0, ditemukanlah golongan darah M, N dan MN. Dasar penggolongannya adalah adanya antigen (suatu protein asing) di dalam sel darah merah. Jika sel darah merah seseorang mengandung antigen M maka darahnya bergolongan M, jika eritrositnya mengandung antigen N maka darahnya bergolongan N dan jika eritrositnya mengandung antigen MN maka darahnya bergolongan MN. Jika individu M mendapatkan transfusi darah dari individu N, maka zat N (protein) tersebut akan dianggap sebagai antigen (benda asing) bagi M. Karena itu individu M akan membentuk antibodi. Demikian pula sebaliknya, jika individu N mendapat transfusi darah dari individu M, maka tubuhnya akan membentuk antibodi. Antibodi merupakan pelawan antigen. Maka terjadilah penggumpalan. Menurut penelitian, keberadaan antigen itu ditentukan oleh satu gen namun memiliki dua alela. Dengan demikian golongan darah M memiliki genotipe LMLM, golongan darah N memiliki genotipe LNLN, sedang golongan darah MN memiliki genotipe LMLN. Bagaimanakah hubungannya dengan golongan darah AB0? Ternyata, pada semua golongan darah AB0 dijumpai golongan darah MN. Jadi golongan darah A ada kemungkinan memiliki M, N atau MN. Demikian pula golongan darah B dan 0. Semisal seseorang bergolongan darah A,M, maka genotipenya adalah: IAIA, LMLM. Golongaan darah B, M memiliki genotipe IBIB, LMLM. Golongan darah A,N memiliki genotipe IAIA, LNLN. 82

Untuk menentukan keturunan seseorang, sering digunakan analisis dengan sistem gabungan AB0 dan MN. Misalkan ada seorang anak mengaku anak sebuah keluarga, untuk mendapatkan warisan. Anak tersebut bergolongan darah 0,M, sang suami bergolongan darah A,N dan sang isteri bergolongan darah B,M. Akan tetapi, penentuan golongan darah demikian tidak dapat dijamin 100% kebenarannya. Faktor kebetulan boleh jadi berlangsung. Oleh karena itu untuk memastikannya diperlukan analisis DNA. Dengan analisis ini, kebenarannya akan lebih dapat diandalkan. c. Golongan Darah Rhesus Selain golongan darah AB0 dan MN, dikenal pula golongan darah rhesus. Disebut rhesus karena pertama kali ditemukan dalam eritrosit kera Rhesus. Orang yang mempunyai antigen Rh di permukaan eritrositnya digolongkan Rh+ (disebut rhesus positif). Tubuh orang yang bergolongan darah Rh+ tidak dapat membentuk antibodi yang melawan antigen Rh. Sebaliknya, orang yang tidak memiliki antigen rh di permukaan eritrositnya digolongkan Rh- (disebut rhesus negatif). Tubuh orang yang bergolongan darah Rh- dapat membentuk antibodi antigen Rh. Jika orang bergolongan darah Rh- mendapat darah Rh+, tubuhnya akan membentuk antibodi antigen Rh, yaitu antibodi yang akan melawan antigen pada permukaan eritrosit golongan Rh+. Kemampuan membentuk antibodi ini tidak alami, artinya tidak ada sejak lahir. Tubuh baru mengeluarkan antibodi pelawan Rh+ jika mendapatkan antigen Rh+. Misalkan seorang ibu memiliki Rh-, mengandung bayi yang bergolongan darah Rh+. Meskipun darah ibu dan anak tidak bercampur karena terhalang plasenta di dalam kandungan, tetapi beberapa butir eritrosit bayi ada yang lolos masuk ke dalam tubuh ibunya. Karena itulah di dalam tubuh si ibu membentuk antibodi anti Rh+. Antibodi ini “melawan” darah bayi yang mengandung antigen Rh. Akan tetapi, biasanya, anak pertama lahir dengan selamat mengingat proses “perlawanan” itu tidak begitu kuat. Jika kemudian si ibu mengandung anak kedua yang juga bergolongan darah Rh+, maka antibodi yang telah terbentuk di dalam darah ibu akan masuk ke dalam tubuh anaknya. Antibodi tersebut segera melawan antigen Rh pada eritrosit anak. Eritrosit si bayi akan mengalami penggumpalan (mengalami aglutinasi). Bayi tersebut menderita gangguan darah yang dikenal sebagai eritroblastosis fetalis, yakni penyakit anemia (kurang darah) karena sel-sel eritrosit berkurang. Akibatnya, pertukaran gas terganggu. Bergantung kepada parahnya reaksi, penyakit ini dapat mematikan. Perlu diketahui bahwa gangguan darah tersebut hanya terjadi jika ibu Rh- dan bayi yang dikandungnya (fetus) Rh+. Jika si ibu Rh+ dan fetusnya Rh-, tidak akan terjadi gangguan darah baik pada bayi maupun pada ibu. Darah ibu tidak terganggu karena adanya gangguan dari antibodi pelawan Rh+ darah fetus jumlahnya kecil, sehingga tubuh ibu dapat mengatasinya.

83

Faktor rhesus diatur oleh satu gen yang terdiri dari dua alela, yaitu Rh yang dominan dan rh yang resesif. Genotipe orang yang bergolongan darah Rh+ adalah RhRh atau Rhrh, sedang genotipe orang yang bergolongan darah Rh- adalah rhrh. Misalkan terdapat kejiadian sebagai berikut: dari perkawinan antara ibu bergolongan darah Rh- (genotipe rhrh) dan ayah Rh+ (genotipe Rhrh), ada berapa persen kemungkinan bayi yang dikandung ibu bergolongan darah Rh-? RANGKUMAN 1. Modifikasi adalah perubahan fenotipe karena pengaruh lingkungan. 2. Persilangan monohibrida menghasilkan F2 dengan perbandingan 3 ; 1, sedangkan dihibrida menghasilkan F2 dengan perbandingan 9 : 3 : 3 : 1. 3. Fenotipe yang muncul pada F1 disebut sifat yang dominan, sedangkan yang tidak muncul (kalah) disebut sifat yang resesif. 4. Genotipe adalah sifat yang ditentukan oleh gen, sedangkan fenotipe adalah penampakan sifat sebagai hasil interaksi antara genotipe dengan lingkungannya. 5. Epistasis dan hipostasis merupakan persilangan dua sifat yang sama-sama dominan. Satu sifat ditentukan oleh dua gen yang lokusnya berlainan, tiap-tiap gen memiliki alel tersendiri. Jika kedua gen itu hadir bersama, fenotipe yang muncul adalah dari pengaruh gen epistasis. fika individu mengandung gen hipostasis, fenotipe yang muncul di bawah pengaruh gen hipostasis dan tidak adanya gen dominan memunculkan fenotipe baru. Peristiwa pada dua pasang sifat beda, maka ada yang disebut epistasis dominan (12 : 3 : 1) 6. Kriptomeri adalah sifat yang tersembunyi, yang baru muncul fenotipenya jika genotipe dominan bertemu dengan genotipe dominan yang lain. Misalnya persilangan bunga Linaria maroccana merah dengan putih menghasilkan F1 ungu, sedangkan F2 menghasilkan perbandingan ungu : merah : putih adalah 9 : 3 : 4 (epistatis resesif). Bunga merah memiliki sitoplasma bersifat asam, sedangkan bunga putih memiliki sitoplasma bersifat basa. Merah dominan terhadap putih dan basa dominan terhadap asam. Warna ungu muncul karena faktor merah bertemu dengan faktor basa. 7. Polimeri merupakan satu sifat yang ditentukan oleh dua pasang gen sehingga persilangannya merupakan persilangan dihibrida. Perbandingan yang diperoleh 15 : 1, disebut juga epistatis dominan duplikat. 8. Dua gen yang lokusnya berdekatan akan selalu berpautan. Gen-gen yang lokusnya berjauhan memungkinkan untuk saling berpisah karena terjadi pindah silang. 9. Umumnya individu jantan memiliki pasangan kromosom kelamin XY, sedangkan individu betina memiliki pasangan kromosom kelamin XX. Oleh karena kromosom Y membengkok, maka terdapat sepertiga bagian kromosom X yang tidak berpasangan, yang disebut sebagai kromosom nonhomolog. Pasangan kromosom lain selain kromosom kelamin disebut autosom. 10. Sperma sebagai hasil meiosis terdiri dari dua macam, yaitu sperma X dan sperma Y. Ovum hanya satu macam, yaitu ovum X. Jika sperma Y membuahi ovum akan menghasilkan zigot jantan (XY), sedangkan jika sperma X membuahi ovum akan menghasilkan zigot betina (XX). 11. Pada laki-laki, yang berkromosom XY sepertiga kromosom X-nya merupakan kromosom nonhomolog, maka gen yang terletak pada bagian tersebut tidak memiliki alel (pasangannya). Jika kromosom tersebut mengandung gen penyakit, maka gen

84

tersebut tidak dapat ditutupi oleh alel pasangannya. Akibatnya, penyakit menurun lebih banyak diderita oleh kaum laki-laki daripada perempuan. 12. Penyakit hemofilia dan buta warna merupakan contoh penyakit yang lebih banyak diwariskan kepada anak laki-laki daripada kepada anak perempuan. 13. Gen letal dapat menimbulkan kematian apabila dalam keadaan homozigot. Ada dua macam gen letal, yaitu letal resesif dan letal dominan. 14. Semua sifat manusia baik fisik, fisiologis, maupun psikologis diwariskan kepada keturunannya mengikuti Hukum Mendel dan nonMendel. 15. Penyakit menurun tidak dapat disembuhkan dan tidak menular melainkan diwariskan kepada keturunannya. Contohnya albino, buta warna, gangguan mental, dan hemofilia. 16. Penyakit menurun dapat dihindari dengan mencegah terjadinya perkawinan dengan carrier (pembawa) atau penderita, atau mencegah dihasilkannya keturunan dari pasangan suami isteri yang diketahui carrier atau penderita. 17. Golongan darah manusia dapat dibedakan berdasarkan ada tidaknya antigen antibodi, yaitu ABQ MN, dan rhesus. 18. Golongan darah MN memiliki gen penghasil antigen dan gen tersebut memiliki dua alel. 19. Darah yang memiliki antigen Rh tergolong Rh+ atau rhesus positif, sedangkan yang tidak memiliki tergolong Rh- atau rhesus negatif. Tubuh yang bergolongan darah Rh+ tidak dapat membentuk antibodi pelawan antigen Rh. Sebaliknya, tubuh yang bergolongan Rh- dapat membentuk antibodi pelawan antigen Rh. 20. Perbaikan mutu genetik di bidang pertanian dan peternakan dilakukan dengan seleksi, penyilangan (breeding) dan mutasi buatan. Seleksi dilakukan untuk memilih tanaman atau ternak yang memiliki sifat unggul. Penyilangan dilakukan untuk menghasilkan keturunan yang bersifat unggul. Mutasi buatan dilakukan untuk memperoleh organisme yang bersifat unggul. PENJELASAN ISTILAH Antibodi = protein yang dibentuk oleh tubuh sebagai pelawan terhadap antigen; setiap antigen tertentu akan dibentuk antibodi tertentu pula. Pembentuk antibodi adalah sel- sel darah putih (sel T dan sel B); Antigen = semua benda asing yang masuk ke dalam tubuh, khususnya protein asing; tubuh akan bereaksi terhadap se tiap benda asing/protein yang masuk ke dalam tubuh; Antikodon = urutan 3 basa yang merupakan komplemen dari kodon; antikodon terdapat pada RNA-t, sedang kodon terdapat pada RNA-d; Antisense = utas DNA yang tidak melakukan pencetakan; antisense merupakan gen! Alela = pasangan gen pada kromosom yang homolog, pada lokus yang sama; Autosom = semua pasangan kromosom selain kromosom kelamin Bastar Konstan = individu baru = individu homozigot yang memiliki genotipe dan fenotipe berbeda dari kedua induknya; jika disilangkan sesamanya tidak memisah (tidak memendel) Benzopyrene = zat yang terdapat di dalam asap rokok, yang bersifat karsinogen (dapat menimbulkan kanker). Dihibrida = perkawinan dengan memperhatikan dua sifat beda; 85

Diploid

Dominan Donor Universal

Epistasis Fenotipe Fetus Genom kromosom Genotipe Haploid Hemofili Heterozigot Hipostasis Homozigot Intermediate

Karier

Kriptomeri

Kromosom Homolog Kromosom Kelamin

Kodon Komplemen

Letal (gen letal) Modifikasi Monohibrida

= sel dengan kromosom ganda; sel soma (sel tubuh) biasan ya memiliki kromosom ganda (berpasangan) karenanya disebut di ploid. = sifat/fenotipe yang muncul pada F1; sifat yang menang terhadap sifat yang resesif; = pemberi darah kepada semua golongan darah semua golongan darah akan menerimanya (tidak terjadi aglutinasi); golongan darah 0 merupakan donor universal; Fenilketonuria = penyakit di mana urine seseorang banyak mengandung asam amino fenilalanin; = sifat/fenotipe yang menutupi sifat yang lain; = penampakan sifat sebagai hasil interaksi antara genotipe dengan lingkungannya; = janin dalam kandungan = keseluruhan kromosom pada inti sel; = sifat yang ditentukan oleh gen; disebut pula sifat bawaan, bakat; = sel dengan kromosom yang tidak berpasangan, misalnya terdapat pada sel-sel gamet pada umumnya. = penyakit darah sulit membeku; = genotipe yang tersusun dari gen daan alela yang tidak sama, satu dominan yang lain resesif; = sifat/fenotipe yang ditutupi oleh sifat yang lain (lihat epistasis); = genotipe yang tersusun atas gen dan alela yang sama, yaitu sama-sama dominan atau sama-sama resesif; = fenotipe yang muncul yang merupakan peralihan antara fenotipe dominan dan resesif; misal dominan merah dengan resesif putih akan muncul fenotipe intermediate merah muda; = pembawa; orang yang bergenotipe heterozigot suatu penyakit disebut karier; harap jangan dikacaukan dengan wanita karier, yaitu wanita yang memiliki jabatan atau posisi tertentu dalam pekerjaannya; = faktor tersembunyi yang fenotipenya akan nampak setelah dilakukan persilangan, antara genotipe dominan dengan genotipe dominan; jika genotipe dominan bertemu akan memunculkan fenotipe baru; = pasangan kromosom yang memiliki gen yang sama pada lokus yang sama pula; pasangan kromosom yang identik; = kromosom yang menentukan jenis kelamin makhluk hidup, terdiri dari kromosom X dan X pada betina serta X dan Y pada yang jantan. = 3 urutan basa pada RNA-d yang memiliki arti khusus; kodon tertentu berarti memesan asam amino tertentu pula; = pasangan yang sesuai; utas DNA yang satu bersesuaian dengan utas DNA yang lain; dikatakan utas DNA yang satu merupakan komplemen bagi yang lain; = gen penyebab kematian; = perubahan fenotipe akibat perbedaan lingkungan; = persilangan dengan memperhatikan satu sifat beda;

86

Pautan Pindah Silang

Rentan Resipien Universal Rhesus Resesif Sense Transfusi Darah LATIHAN

= gen yang terpaut karena letaknya pada lokus yang saling berdekatan; = berpindahnya gen dari satu kromosom ke kromosom yang homolog karena lokusnya berjauhan, pada proses meiosis (pada metafase); = kata lain dari peka; = penerima dari semua golongan darah tanpa penolakan. Golongan darah AB merupakan resipien universal; = sejenis kera; rhesus digunakan untuk penggolongan darah; darah Rh+ artinya di eritrosit terdapat antigen rhesus; = sifat yang kalah atau tertutup oleh sifat yang dominan; sifat/fenotipe yang tidak muncul pada F1. = utas DNA pencetak; DNA pencetak disebut pula sebagai template DNA; = pemindahan/pemberian darah dari satu orang ke orang lain.

Jawablah pertanyaan berikut dengan singkat! 1. Jelaskan mengapa penyakit menurun lebih banyak diderita kaum lakilaki daripada kaum perempuan! 2. Apakah yang dimaksud dengan penyimpangan semu Hukum Mendel? Jelaskan dengan contoh! 3. Apakah yang dimaksud dengan pindah silang? 4. Misalkan seseorang ingin mendapatkan rasio fenotipe keturunan 1 : 1 : 1 : 1. Bagaimanakah seharusnya genotipe induknya? 5. Manakah sel kelamin yang memberikan andil besar dalam peristiwa fertilisasi, ovum ataukah sperma? Jelaskan! 6. Apa gunanya mengenal silsilah keluarga calon pengantin sebelum menikah? Jelaskan! 7. Rudi yang kedua orang tuanya bergolongan darah AB, mempunyai golongan darah A, sedangkan Wati yang orang tuanya bergolongan darah 0 dan AB, mempunyai golongan darah B. Rudi dan Wati menikah. a. Bagaimanakah kemungkinan golongan darah anak-anak mereka? b. Buatlah peta silsilahnya! 8. Seorang wanita yang buta warna pasti mempunyai ayah yang buta warna dan ibunya tidak selalu buta warna. Jelaskan! Bagaimana sifat buta warna kedua orang tua dari seorang pria buta warna? ]elaskan! 9. Mengapakah penyakit hemofilia lebih sering diderita anak laki-laki daripada perempuan? 10. Seorang wanita bergolongan darah Rh- menikah dengan seorang pria bergolongan darah Rh+. Bagaimanakah anak kedua dapat mengalami eritroblastosis fetalis? Jelaskan!

87

BAB IV BIOTEKNOLOGI
Kata bioteknologi kita sering mendengarnya dalam kehidupan sehari-hari. Apa arti dari kata tersebut, mungkin ada yang sudah tahu tetapi mungkin juga ada yang belum. Sebelum kita membahas apa itu bioteknologi mari kita lihat disekitar kita, apa yang kita bisa dilihat disekitar rumah kita. Kita sering lihat ada tempe, tape singkong, tape ketan, oncom. Ini semua adalah makanan tradisional. Selain itu, kita sering meminum youghurt atau memakan keju. Semua makanan tersebut ini dibuat melalui proses yang dinamakan fermentasi. Proses fermentasi telah lama sekali pernah digunakan oleh manusia untuk membuat makanan atau minuman. Di Babilonia (6000 tahun sebelum masehi) fermentasi telah digunakan untuk pembuatan minuman bir, di Mesir (4000 tahun sebelum masehi) proses fermentasi juga telah digunakan untuk membuat roti. Apa itu proses fermentasi? Proses fermentasi merupakan suatu proses yang didalamnya terlibat mikroorganisme. Di dalam proses ini, mikroorganisme berperan dalam mengubah zat atau senyawa menjadi senyawa lain. Misalnya pada proses fermentasi pembuatan bir. Pada proses fermentasi pembuatan bir, mikroorganise berperan dalam mengubah gula (glukosa) menjadi alkohol. CH3-CH2-OH C6H12O6 Mikroorganiseme Proses fermentasi pertama kali diteliti oleh ilmuwan yang bernama Louis Pasteur dan dapat dibuktikan bahwa proses fermentasi yang terjadi disebabkan oleh adanya mahluk hidup yang berukuran kecil dan dapat mengubah suatu zat menjadi senyawa yang lain. Apabila mikroorganisme itu tidak ada maka proses fermentasi tidak berlangsung. Dari hasil penelitian tersebut maka berkembanglah metode fermentasi ini dan banyak digunakan dalam mengolah bahan menjadi suatu produk makanan atau minuman. Proses menggunakan mahluk hidup tidak hanya dalam memproduksi makanan dan minuman saja tetapi digunakan dalam segala bidang contoh lain dari proses menggunakan mahluk hidup adalah pada saat terjadi perang dunia pertama, dimana Inggris melarang jerman untuk mengimpor minyak esensial tumbuhan untuk memproduksi glyserol yang merupakan bahan baku pembuatan bahan peledak. Untuk mengantisipasi hal diatas jerman melakukan suatu upaya untuk mengatasi keterbatasan bahan gliserol akibat pelarang impor tersebut. Cara yang digunakan untuk menghasilkan glyserol adalah mengunakan mikroba untuk mengubah gula menjadi glyserol dan hasilnya sangat menakjubkan jerman bisa menghasilkan 100 ton glyserol setiap bulannya. Inggris juga mengunakan kegiatan yang serupa yaitu menggunakan mikroba untuk memproduksi aseton dan butanol sebagai bahan amunisi dengan menggunakan bakteri Clostridium acetobutycilum yang dapat mengubah gula menjadi aseton dan butanol. Semua proses yang dijelaskan di atas adalah proses-proses yang menggunakan mahluk hidup/mikroorganisme untuk suatu proses produksi. Proses-proses yang menggunakan mahluk hidup terus berkembang sampai sekarang dan merambah pada bidang-bidang lainnya. Proses-proses yang mengunakan mahluk hidup tersebut dinamakan bioteknologi.

88

Tujuan Pembelajaran
Setelah mempelajari materi bioteknologi, petatar diharapkan dapat: • • • • • menjelaskan ruang lingkup bioteknologi dan prinsip-prinsip dasarnya. membedakan bioteknologi konvensional dan modern serta memberikan contoh hasil produknya. menjelaskan proses rekayasa geneti ka. menjelaskan keuntungan dan kerugian produk bioteknologi. menjelaskan dampak pemanfaatan hasil produk bioteknologi di berbagai bidang.

A. PENGERTIAN BIOTEKNOLOGI Secara harfiah, bioteknologi berasal dari kata bio, tekno dan logi. Bio artinya hidup, tekno berarti alat dan logi adalah ilmu yang mempelajari. Dari kata-kata tersebut, banyak definisi tentang bioteknologi dan pada prinsipnya bioteknologi sebagai penetapan ilmu tentang makhluk hidup (terutama di bidang mikrobiologi dan biologi molekuler) bersamasama dengan teknologi untuk memanfaatkan komponen subsel organisme hidup (biasanya mikroorganisme) sebagai pabrik untuk menghasilkan barang yang dikehendaki. Definisi lain yang lebih operasional oleh Technology Assesment of The US Conggress adalah “any technique that uses living organisms or their product to make or modify a product, to improve plants or animals, or to develop micoorganiss for specific uses” (sejumlah teknik yang melibatkan organisme hidup atau produknya untuk membuat atau memodifikasi produk, meng-improvisasi tanaman dan hewan serta mengembangkan mikroorganisme untuk tujuan-tujuan tertentu). B. SEJARAH PERKEMBANGAN BIOTEKNOLOGI Sebagaimana diuraikan di atas, bioteknologi sebenarnya bukan barang baru karena manusia sudah memanfaatkannya sama tuanya dengan perjalanan manusia sendiri. Bioteknologi dan manusia telah melakukan manipulasi terhadap makhluk hidup untuk memecahkan masalah yang dihadapi serta meningkatkan kesejahteraannya pada ribuan tahun sebelum masehi. Pada dasarnya, waktu itu mekanisme kerja tekonologi tersebut hanyalah bersandar pada jasad renik yang tersedia untuk mengubah bahan dasar menjadi bahan lain yang diinginkan. Suatu kesalahan konsep yang sering kita dengar adalah bahwa bioteknologi adalah ilmu baru yang hanya melibatkan DNA dan rekayasa genetik. Untuk mengetahui sejarah dan riwayat perkembangan bioteknologi dapat diringkas sebagai berikut (www.public.asu.edu/~langland): a. Awal pemanfaatan bioteknologi telah dimulai pada 10.000 tahun sebelum masehi saat masyarakat agraris (pertanian) yang mengkoleksi biji tanaman yang memiliki sifat-sifat yang baik (desirable trait) untuk benih pada masim tanam tahun-tahun mendatang. Masyarakat Babylonia, Mesir dan Romawi juga telah menggunakan teknik yang sama pemuliaan ternak. 89

b. Pada 6.000 B.C (sebelum masehi), masyarakat telah memproduksi bir, anggur dan roti dengan menggunakan teknik fermentasi yang merupakan proses alami dengan melibatkan aktivitas biologis dari organisme sel tunggal. c. Tahun 4.000 B.C, masyarakat China telah menggunakan bakteri asam laktat untuk memproduksi yoghurt dan anggur, molds untuk produksi keju. d. Pada tahun 1.500 A.C (setelah masehi) telah terjadi ekspedisi untuk koleksi tanaman yang melintasi dunia. Koleksi ini telah menghasilkan koleksi tanaman terlengkap yang merupakan “gen bank tanaman” pertama di dunia. Tanaman yang memiliki ciri-ciri yang bagus (termasuk sifat untuk resistensi terhadap penyakit) disimpan sebagai benih untuk tujuan pemuliaan benih. e. Nikolai I. Vavilov, ahli genetika Rusia pertama yang mengawali penelitian komprehenship dan program breeding (pemuliaan) yang meliputi juga rencana logis untuk manajemen sumberdaya genetik. f. Akhir abad 19 merupakan abad milenia biologi. Mikroorganisme telah ditemukan dan dapat dimanfaatkan untuk pasteurisasi. Gregor Mendel telah memulai mempelajari peristiwa genetika dengan memanfaatkan tanaman ercis untuk eksperimen. g. Karl Ereky (1919-Hongaria): memperkenalkan istilah bioteknologi. Istilah ini dalam waktu itu berarti semua cara yang dapat menghasilkan suatu hasil dari bahan mentah dengan melibatkan organisme hidup. h. Awal abad 20: bioteknologi telah terlibat dalam industri dan pertanian. Proses fermentasi telah dikembangkan dengan menghasilkan aseton dari tepung. i. Antara 1930 – 1952: peneliti memfokuskan kerja pada keterkaitan antara protein dan gen. Mereka menemukan hubungan langsung antara mutasi gen dan urutan asam amino sebagai penyusun protein. j. Penemuan penicilin selama PD II merupakan penemuan di bidang farmasi/obat-obatan dengan melibatkan proses bioteknologi. Selama perang dingin (cold war), terfokus pengembangan senjata biologi dan produksi antibodi secara besar-besaran. k. Ambang akhir menuju biologi molekuler modern telah dicapai pada tahun 1953 dengan penemuan struktur DNA oleh James Watson dan Francis Crick. Experimen-eksperimen lanjutan oleh sejumlah ilmuwan telah menegaskan bagaimana informasi di dalam gen itu dikode dan diekspresikan. l. Akumulasi pengetahuan tentang struktur sel, biokimia dan hereditas telah membuka pintu menuju ke era biologi molekuler dan bioteknologi. Tahun 1985 telah direncanakan tentang mapping dan sekuensing genome manusia yang berakhir 2003 dengan menemukan 80.000 – 100.000 gen manusia.

90

C. BIOTEKNOLOGI: ILMU PENGETAHUAN MULTIDISIPLIN Ketika kita belajar dan mempelajari bioteknologi sebenarnya kita tidak dapat lepas dari sejumlah disiplin ilmu lain. Walaupun dalam perkembangan akhir-akhir ini bioteknologi lebih terfokus dalam pengembangan molekular bioteknologi, tetapi sebenarnya bioteknologi bukan sesuatu disiplin ilmu tunggal dan sempit. Sebaliknya, bioteknologi memerlukan kontribusi dari sejumlah bidang kajian dalam biologi, kimia, matematika, ilmu komputer dan teknik bahkan bidang filosofi dan ekonomi. Gambar 4.1 menunjukkan diagram kontribusi sejumlah disiplin ilmu dalam bioteknologi.

Gambar 4.1 Pohon Bioteknologi: Keterlibatan Displin Ilmu yang Berbeda dalam Bioteknologi

Ibarat sebuah pohon, ilmu dasar sangat mutlak diperlukan sebagai “akar“ dari seluruh aspek bioteknologi. Pengembangan bioteknologi memerlukan penelitian-penelitian proses-proses yang mendasar kehidupan organisme pada tingkatan biokimia, molekul dan

91

genetika. Hasil-hasil penelitian ilmu dasar dari semua aspek ini dengan bantuan ilmu komputer bertindak sebagai „batang“ untuk menyalurkan hasil temuan di tingkat akar dapat diaplikasikan dalam semua aspek bidang „cabang dan ranting“ yang terlibat dalam pengembangan bioteknologi. Satu contoh sederhana bahwa bioteknologi adalah bersifat interdisiplin ilmu dapat disampaikan sebagai berikut: Pada tingkat ilmu dasar (basic science), ilmuwan melakukan penelitian dalam wilayah kajian mikrobiologi untuk menemukan gen atau produk gen pada bakteri sebagai agen penyebab penyakit. Untuk mengetahui lebih mendalam peran gen ini diperlukan keterlibatan kajian dari bidang biokimia, biologi molekuler dan genetika. Proses ini juga melibatkan penggunaan ilmu komputer untuk mempelajari urutan gen (sekuens gen) dan juga untuk menganalisis struktur protein yang dihasilkan oleh gen ini. Penerapan ilmu komputer untuk mempelajari data-data DNA dan protein telah melahirkan ilmu baru yang dikenal sebagai bioinformatika. Selanjutnya, hasil penelitian dasar yang telah menyediakan dan memberikan pemahaman yang detail gen tersebut, maka gen ini dapat dimanfaatkan dalam berbagai keperluan, misalnya untuk pengembangan obat-obatan, bioteknologi pertanian, aplikasi dalam bidang lingkungan dan kelautan dan sebagainya. D. BIOTEKNOLOGI TRADISIONAL DAN MODERN Berdasarkan tingkat kerumitan dan aplikasinya, maka bioteknologi secara sederhana dapat dipilahkan menjadi bioteknologi tradisional/konvensional dan bioteknologi modern. 1. Bioteknologi tradisional/konvensional Bioteknologi tradisional/konvensional adalah bioteknologi yang tingkat kerumitannya rendah dan teknik ini sering digunakan oleh masyarakat awam. Bioteknologi tradisional/konvensional atau kadang disebut sebagai bioteknologi sederhana menggunakan makhluk hidup secara langsung dan mekanismenya sederhana. Di bawah ini adalah beberapa contoh produk bioteknologi sederhana. a. Tape ketan Tape ketan merupakan makanan tradisional yang banyak dibuat dan di konsumsi oleh masyarakat kita. Pembuatan tape menggunakan proses fermentasi yang dilakukan dengan menggunakan jamur Saccharomyces cereviceae. Jamur ini memiliki kemampuan mengubah karbohidrat menjadi alkohol dan karbodioksida. Selain Saccharomyces cereviceae dalam pembuatan tape ini terlibat pula mikroorganisme lain seperti Mucor chlamidosporus dan Endomycopsis fibuligera. Kedua mikroorganisme ini turut membantu dalam mengubah pati menjadi gula sederhana.

92

b. Tempe Makanan tradisonal Indonesia salah satunya adalah tempe. Teknik pembuatan tempe ini sangat sederhana. Bahan tempe adalah kedelai. Proses pembuatan tempe pada dasarnya adalah proses menumbuhkan spora jamur tempe yaitu Rhizopus sp. Membentuk benangbenang yang disebut hifa. Benang tersebut mengikat biji kedelai membentuk suatu massa yang kompak. Pada proses pertumbuhan jamur Rhizopus juga menghasilkan enzim yang dapat mengurai protein yang terdapat dalam biji kedelai, sehingga protein-protein ini dalam biji kedelai mudah di cerna. c. Roti Proses pembuatan roti menggunakan proses fermentasi yaitu menggunakan jamur ragi Saccharomyces sp. Pada proses fermentasi dihasilkan alkohol dan gas karbodioksida. Gas karbodioksida tidak dapat lepas ke udara tetapi terjebak dalam adonan roti yang pekat, hal ini mengakibatkan pengembangan adonan. Dengan pemanasan pada suhu tinggi dapat mematikan sel-sel khamir (ragi). Proses fermentasi selain dihasilkan gas juga dihasilkan alkohol. Alkohol kalau dipanaskan dapat memberikan aroma khas dan dapat meningkatkan cita rasa. d. Nata de coco Nata de coco sering di sebut dengan kolang-kaling air kelapa. Makanan ini berupa makanan penyegar atau pencuci mulut yang telah lama populer. Nata de coco bisa digolongkan pada dietry fiber yang memberikan andil cukup berarti untuk keberlangsungan proses fisiologi secara normal. Nata berarti bakteri selulose atau selulosa sintesis. Bakteri yang digunakan untuk proses pembuatan nata de coco adalah Acetobacter xylinum. Bakteri ini adalah bakteri asam asetat, bersifat aerobik dan Gram negatif serta berbentuk batang. Bakteri itu sendiri terperangkap dalam massa fiber yang dibuatnya. Untuk dapat menghasilkan massa yang kokoh, kenyal, tebal, putih dan tembus pandang, perlu diperhatikan suhu inkubasi, komposisi bahan dan pH. e. Sayuran fermentasi Jenis bakteri yang digunakan pada proses pembuatan sayuran fermentasi adalah Streptococcus, Lactobacillus dan Pediococcus. Bakteri tersebut bisa mengubah gula menjadi asam laktat. Asam laktat yang terbentuk membatasi pertumbuhan mikroorganisme yang lain dan memberikan rasa khas pada sayuran. f. Keju Keju dibuat berasal dari susu yang diasamkan dengan memasukan jamur Penicillium camemberti. Jamur ini yang berperan dalam pembentukan keju yang mengubah gula susu (laktosa) menjadi asam susu (asam laktat). Pengumpalan terjadi karena pada proses pembuatan susu di tambahkan enzim yang mengandung kimosin (renin) menggumpalkan susu. g. Youghurt 93 untuk

Youghurt merupakan salah satu jenis minuman fermentasi yang termasuk dalam minuman penyegar. Bakteri yang digunakan pada pembuatan youghurt sama dengan bakteri Lactobacillus bulgaricus dan Streptococcus thermophillus. h. Minuman beralkohol Minuman beralkohol adalah proses bioteknologi sederhana melalui proses fermentasi. Mikroorganisme yang berperan adalah Saccharomyces cereviceae yang berfungsi mengubah zat gula menjadi alkohol dan karbondioksida i. Antibiotik Antibiotik adalah suatu zat kimia yang dihasilkan oleh mikroorganisme yang dapat menghambat pertumbuhan atau mematikan bakteri atau mikroorganisme yang lain. Zat ini pertama kali ditemukan oleh Alexander Fleming yang dikenal dengan antibiotik penicilin. Penicilin di hasilkan oleh jamur Penicillium sp. j. Biogas Limbah organik, atau sampah domestik dan limbah pertanian dapat di konversikan menjadi bioenergi. Bioenergi merupakan gas kompleks yang terdiri dari metana, gas karbondioksida, asam sulfida dan gas-gas lain. Pengubahan sampah organik ini melibatkan proses fermentasi. Proses yang terjadi adalah respirasi anaerob. Proses ini terjadi secara alami. Bakteri yang terlibat adalah Bacteriodes, Clostredium sp, Escherichia coli dan beberapa bakteri Methanobacterium dan Methanobacillus. 2. Bioteknologi Modern Bioteknologi modern merupakan perkembangan dari bioteknologi sederhana. Bioteknologi modern dipengaruhi oleh perkembangan ilmu pengetahuan seperti mikrobiologi, biokimia, biologi sel, biomolekuler, genetika, fisika dan lain-lain. Bioteknologi modern kemudian berkembang dan menjadi ilmu terapan seperti pada bidang teknologi reproduksi, radiasi, hidroponik dan teknik rekombinasi gen. Produk bioteknologi modern umumnya merefleksikan untuk pemenuhan kebutuhan langsung manusia, namun juga untuk aplikasi lain misalnya dalam mikrobiologi, biologi kelautan dan biologi tanaman. a. Obat-obatan Contoh produk bioteknologi modern adalah produksi obat-obatan untuk kesehatan manusia. Pada kenyataannya, lebih dari 65% perusahaan bioteknologi di negara-negara maju dilibatkan dalam produksi obat-obatan. Pada tahun 1980, perusahaan bioteknologi Gentech telah mengembangkan insulin manusia untuk pengobatan penyakit diabetes yang merupakan obat yang dikembangkan berbasis bioteknologi pertama untuk kesehatan manusia. Hingga saat ini telah diproduksi ratusan obat dan vaksin produk bioteknologi untuk mengobati 200 penyakit manusia. Dari separoh produk obat ini diperuntukkan men-

94

treatment kanker. Tabel 4.1 menunjukkan sepuluh contoh obat produk bioteknologi terlaris yang ada di dunia hingga saat ini. Tabel 4.1. Daftar Top Ten Obat Produk Bioteknologi
Nama obat Betaseron Caredase Engerix B Epiver Epogen Genetropin Humulin Intron Neupogen Procrit Produsen (Nama Pabrik) Chiron/Berlex Genzyme Genetech Glaxo Smithklein Amgen Genetech Genetech Biogene Amgen Amgen Fungsi Multiple sclerosis Gaucher’s disease Vaksin hepatitis B Anti-HIV Red blood cell enhancement Kegagalan pertumbuhan Diabetes Anti infeksi virus dan cancer Mereduksi Neutroponia Platelet enhancement

b. Protein rekombinan Selain obat-obatan juga diproduksi secara luas dan skala besar produk protein melalui kloning gen. Protein-protein ini disebut sebagai protein rekombinan karena diproduksi melalui teknik kloning gen yang melibatkan transfer gen dari satu organisme ke organisme yang lain. Sebagian besar protein ini dihasilkan dari gen manusia yang disisipkan ke gen bakteri untuk menghasilkan protein rekombinan yang digunakan untuk pengobatan penyakit manusia. Contoh produk protein rekombinan ini dapat dilihat pada Tabel 4. 2.
Tabel 4.2 Contoh Protein yang Dihasilkan dari Kloning Gen Produk Aplikasi Blood factor VIII Untuk pengobatan hemofilia Epidermal Growth factor Untuk menstimuli produksi antibodi pada penderita kegagalan sistem imun Growth hormone Untuk pengobatan kegagalan kerja kelenjar pituitary dan untuk peningkatan produksi susu pada sapi Insulin Untuk pengobatan dibetes mellitus Interferons Untuk pengobatan terhadap infeksi cancer dan virus Interleukin Untuk pengobatan cancer dan stimulasi produksi antibodi Antibody monoclonal Untuk diagnosa dan pengobatan berbagai penyakit termasuk kancer Tissue plasminogen activators Untuk pengobatan gagal jantung dan stroke

Untuk melengkapi produk bioteknologi modern akan dibahas tipe-tipe bioteknologi disertai prinsip, prosedur, teknik dan produk yang dihasilkan. Tipe-tipe bioteknologi yang dimaksud meliputi: 1) 2) Bioteknologi mikroba Bioteknologi pertanian

95

3) 4) 5) Pada

Bioteknologi hewan Bioremediasi Bioteknologi kedokteran pembahasan materi ini masih belum dijelaskan tentang Bioteknologi Kedokteran,

Bioteknologi Tanaman, Bioteknologi Forensik, Bioteknologi Kelautan dan Bioethic dan akan dibahas pada materi selanjutnya. Sebelum membahas lebih detail untuk masing-masing tipe bioteknologi alangkah lebih baik bila kita pelajari dahulu teknologi DNA rekombinan, karena semua tipe bioteknologi ini umumnya memanfaatkan teknologi ini. E. TEKNOLOGI DNA REKOMBINAN (KLONING GEN) Meskipun penelitian genetika klasik dianggap luar biasa, tetapi belum terdapat pemahaman tentang sifat molekuler gen sampai tahun 1940-an. Baru kemudian setelah eksperimen-eksperimen yang dilakukan oleh Avery, Mac Leod, dan Mc Carty pada tahun 1944 serta Hershey dan Chase pada tahun 1952 semua orang percaya bahwa DNA merupakan material genetik, sebelum itu dianggap secara luas bahwa gen tersusun oleh protein. Penemuan tentang peran DNA merupakan daya tarik yang sangat besar bagi penelitian genetika, dan banyak ahli biologi terkenal (Delbruck, Chargaff, Crick dan Monod) telah memberi sumbangan jaman kebesaran genetika yang kedua. Dalam waktu empat belas tahun antara tahun 1952 sampai tahun 1966 struktur DNA telah dapat diketahui, kode genetik dipecahkan, serta proses-proses transkripsi dan translasi dapat dijabarkan. Kemudian antara tahun 1971 sampai 1973 penelitian genetika kembali maju dengan pesatnya sehingga dapat disebut sebagai revolusi dalam biologi modern. Suatu metode yang sama sekali baru dikembangkan sehingga memungkinkan eksperimen yang sebelumnya tidak mungkin dilakukan akhirnya dapat berhasil dirancang dan dilaksanakan. Metode-metode ini disebut teknologi DNA rekombinan atau rekayasa genetik yang inti prosesnya adalah kloning gen dan hal ini telah melahirkan jaman kebesaran genetika yang ketiga. Langkah-langkah dasar dalam kloning gen dapat diringkas menjadi sebagai berikut (Gambar 4. 2). 1) 2) Isolasi DNA dari dua sumber yaitu fragmen DNA yang akan disisipkan (contoh gen V dari genom manusia) dan plasmid DNA sebagai vektor dari bakteri. Suatu fragmen DNA yang mengandung gen yang akan diklon diinsersikan (disisipkan) pada molekul DNA sirkular yang disebut vektor untuk menghasilkan suatu molekul DNA rekombinan. Untuk menyisipkan fragmen DNA ini diperlukan enzim restriksi agar terjadi mekanisme potong sambung dengan tepat.

96

3) 4)

Terjadi penyambungan yang tepat antara fragmen gen dan plasmid akibat dipotong oleh enzim restriksi yang tepat pula. Terbentuk molekul DNA rekombinan antara vektor (plasmid DNA) dan fragmen DNA yang disisipkan oleh enzim ligase.

Gambar 4.2 Langkah-langkah teknik kloning gen (teknik DNA rekombinan)

5) Vektor bertindak sebagai wahana yang membawa gen masuk ke dalam sel tuan rumah (host) yang biasanya berupa bakteri, walaupun sel-sel jenis lain dapat juga digunakan. Di dalam sel host vektor mengadakan replikasi, menghaslikan banyak kopi atau turunan yang identik, baik vektornya sendiri maupun gen yang dibawanya. Ketika sel

97

host membelah, kopi molekul DNA rekombinan diwariskan pada progeni dan terjadi replikasi vektor selanjutnya. 6) Setelah terjadi sejumlah besar pembelahan sel, maka dihasilkan koloni atau klon sel host yang identik. Tiap-tiap sel dalam klon mengandung satu kopi atau lebih molekul DNA rekombinan, dengan demikian dikatakan bahwa gen yang dibawa oleh molekul rekombinan telah diklon. 1. Plasmid Komponen penting dalam eksperimen kloning gen adalah wahana (vehicle) yang membawa gen masuk sel tuan rumah dan bertanggung jawab atas replikasinya. Untuk dapat bertindak sebagai wahana suatu molekul DNA harus mampu memasuki sel tuan rumah serta mengadakan replikasi untuk menghsilkan kopi dalam jumlah besar. Dua jenis molekul DNA alamiah dapat memenuhi persyaratan tersebut, antara lain: a. Plasmid, merupakan molekul DNA sirkuler yang terdapat dalam bakteri dan beberapa organisme lain. Plasmid dapat mengadakan replikasi dengan tidak tergantung pada kromosom sel tuan rumah. b. Kromosom virus, terutama kromosom bakteriofag, yaitu virus yang khusus menginfeksi bakteri. Pada waktu infeksi, molekul DNA bakteriofag diinjeksikan ke dalam sel tuan rumah dan di sini kemudian DNA ini mengalami relikasi. Ciri-ciri dasar plasmid Plasmid adalah molekul DNA sirkular yang terdapat bebas dalam sel bakteri (Gambar 4.3). Plasmid hampir selalu membawa satu gen atau lebih dan sering kali gen tersebut menyebabkan adanya ciri-ciri penting yang ditunjukkan oleh bakteri tuan rumah. Sebagai contoh, kemampuan hidup di dalam antibiotik dengan konsentrasi yang biasanya toksik seperti kloramfenikol dan ampisilin sering disebabkan oleh adanya plasmid yang membawa gen resisten antibioik di dalam bakteri. Di dalam laboratorium resistensi antibiotik sering digunakan sebagai suatu selectable marker untuk memastikan bahwa bakteri dalam kultur mengandung bahan tertentu (Gambar 4.4).

Gambar 4.3 Plasmid 98

semua sel dapat tumbuh

hanya sel yang mengandung RP4 dapat tumbuh

Gambar 4.4 Penggunaan Resistensi Antibiotik sebagai Selectable Marker pada Plasmid

Semua plasmid memiliki paling sedikit satu urutan (rangkaian) DNA yang dapat bertindak sebagai asal replikasi, sehingga plasmid-plasmid itu mampu memperbanyak diri di dalam sel, sama sekali tidak tergantung pada kromosom bakteri (Gambar 4.5a). plasmidplasmid yang lebih kecil menggunakan enzim-enzim replikasi DNA sel tuan rumah untuk membuat kopi plasmid itu sendiri, sedangkan beberapa plasmid yang lebih besar membawa gen yang mengkode enzim yang spesifik untuk replikasi plasmid. Beberapa plasmid juga dapat mengadakan replikasi dengan cara melekatkan diri pada kromosom bakteri (Gambar 4.5b). Plasmid integratif atau episom ini dapat dipertahankan dengan stabil melalui berkali-kali pembelahan sel, tetapi pada tahap tertentu akan berada sebagai unsur yang bebas. Integrasi juga merupakan ciri penting pada beberapa kromosom bakteriofag.

99

Gambar 4.5 Cara Replikasi Plasmid Non-integratid (a) dan Episom (b) 2. Teknik-teknik untuk manipulasi DNA Langkah-langkah dasar dalam kloning gen membutuhkan beberapa keterampilan manipulasi. Pertama, teknik preparasi DNA murni. Teknik ini memungkinkan tersedia sampel DNA murni, baik wahana kloning maupun gen yang akan diklon. Contoh prosedur preparasi DNA adalah sebagai berikut: a. lisis: campurkan 0,6 ml Buffer 1 (Lysis Buffer) dengan 0,3 ml sampel (darah atau suspensi sel (107 sel/ml) atau 150 mg jaringan pada tabung reaksi. Inkubasikan pada suhu 68oC (pada balok pemanas) selama 5 - 10 menit. b. deproteinasi: tambahkan 0.9 ml kloroform dalam tabung reaksi dan sentrifugasi singkat hingga kedua fasa membentuk emulsi. Pisahkan kedua fasa ini dengan sentrifugasi 10.000 rpm selama 2 menit pada suhu kamar. c. presipitasi DNA: pindahkan fasa cair yang ada di bagian atas yang berisi genom DNA (batas kedua fasa tampak) pada tabung reaksi 2 ml yang baru dan tambahkan 0,9 ml aquabides serta 0.1 ml Buffer 2 (Precipitation Buffer). Untuk mendapatkan presipitat/endapan DNA, sentrifugasi 10.000 rpm selama 2 menit pada suhu kamar.

100

d. resuspensi DNA: supernatan dibuang dan tambahkan 0,3 ml Buffer 3 (Resuspension Buffer). e. presipitasi DNA: tambahkan 0,75 ml 96% Et-OH kemudian sentifugasi 10.000 rpm selama 10 menit pada suhu kamar. Ambil supernatan dan cuci pelet dengan 70% EtOH. Sentrifugasi sekali lagi dengan kecepatan 10.000 selama 5 - 10 menit. Ambil supernatan dan keringkan (bisa pada suhu kamar atau pada suhu ruang vakum bersuhu 37 oC selama 5 menit). Setelah kering, DNA tampak berupa kristal putih di dasar tabung reaksi, tambahkan TE Buffer (10 mM Tris-Cl ph 8,4 dan 1 mM EDTA) agar DNA larut. Selanjutnya untuk mendapatkan DNA fragmen yang dikehendaki dilakukan amplifikasi fragmen DNA tersebut melalui PCR (polymerase chain reaction). Bahan yang diperlukan adalah Beat PCR (tabung reaksi khusus untuk PCR), aquatrides, primer DNA, DNA sampel dan mineral oil dengan komposisi dan jumlah zat serta urutan kerja sebagai berikut: 1). 19 µl ddH2O (trides), , 2 µl DNA sampel, 2 tetes mineral oil, 2 µl primer 1dan 2 µl primer 2 dicampur dalam beat PCR. 2). Masukkan beat PCR pada mesin PCR yang sudah diinstal sesuai dengan suhu dan siklus yang dikehendaki Kedua, teknik pemotongan dengan enzim resktriksi dan penyambungan dengan enzim ligase (ligasi) Setelah menyiapkan sampel DNA, untuk pembentukan molekul DNA rekombinan diperlukan pemotongan vektor pada tempat yang spesifik dan kemudian dilakukan penyambungan kembali dengan cara sedemikian rupa sehingga gen dapat diinsersikan pada wahana. Kemampuan memanipulasi DNA dengan cara ini merupakan bagian dari riset dasar untuk sintesis dan modifikasi DNA dalam sel hidup. Penemuan enzim yang dapat memotong dan menyambung molekul DNA dalam sel telah memberikan kemungkinan pemurnian endonuklease restriksi dan ligase yang sekarang digunakan untuk membuat molekul DNA rekombinan dalam tabung percobaan. Contoh prosedur ligasi adalah sebagai berikut: Campurkan 5 µl T4 DNA Ligase Buffer, 1 µl vektor (biasanya dipakai :pGEM-T atau p-GEM-Easy Vector), 1 µl T4 DNA Ligase dan 3 µl DNA template (dari PCR produk) dalam tabung (microtube) dan inkubasikan sepanjang malam pada suhu 4 oC.

101

Tabel 4.3. Macam-Macam Enzim Restriksi dan Sisi Pemotongannya pada DNA Enzim Restriksi AluI BamHI EcoRI HaeIII HindIII HpaII PstI SmaI Sisi Pemotongan pada untai DNA AG↓CT G↓GATCC G↓AATTC GG↓CC A↓AGCTT C↓CGG CTGCA↓G CCC↓GGG

Proses pemotongan dan penyambungan dapat dilihat pada Gambar 4.6.

Gambar 4.6 Proses pemotongan dengan enzim resrtiksi dan penyambungan dengan enzim ligase

102

Teknik memasukkan molekul DNA ke dalam sel tuan rumah Begitu molekul DNA rekombinan telah terbentuk, molekul ini harus dimasukkan dalam sel tuan rumah sehingga replikasi dapat berlangsung. Transpor ke dalam sel tuan rumah menggunakan proses-proses alamiah untuk pengambilan molekul DNA plasmid dan DNA virus. Proses-proses ini dan cara penggunaannya dalam kloning gen diterangkan melalui teknik transformasi. Berikut adalah contoh teknik transformasi: 1) Siapkan medium padat agar dalam cawan petri. 2) Cairkan sel kompeten (biasanya dipakai JM 109 High Efficiency Competent Cells) dengan cara membiarkan di atas es selama 5 menit. Sel ini harus tersimpan dalam suhu -70oC kemudian ambil 50 µl dan masukkan dalam tabung reaksi 5 ml. 3) Tambahkan 4 µl hasil ligasi ke dalam tabung reaksi dan biarkan di atas sel selama 20 menit. 4) Taruh dalam waterbath bersuhu 42 oC selama 45 detik dan segera ditaruh di atas es selama 2 menit. 5) Tambahkan 950 µl medium cair SOC tanpa amphilicin pada suhu kamar. 6) Inkubasikan pada suhu 37 oC selama 1,5 jam sambil digoyang. Teknik untuk identifikasi sel yang mengandung molekul DNA rekombinan Teknik ini digunakan untuk mendapatkan klon yang membawa gen yang disisipkan dengan contoh prosedur sebagai berikut: 1) Tanam hasil transformasi ini ke lempeng agar (yang sudah ditambah X-Gal dan Amphicilin). Ambil 100 µl medium cair (tabung trnasformasi) dan teteskan serta aratakan di permukaan lempeng agar. Inkubasikan pada suhu 37 oC sepanjang malam, setelah itu pindah dan simpan ke kulkas (4 oC). 2) Amati koloni berwarna putih (koloni yang mengandung DNA rekombinan) dan ambil koloni ini kemudian tanam dalam medium cair plus amphicilin dan simpan pada suhu 37 oC sepanjang malam. 3) Sampai tahap ini diperoleh gen-gen (fragmen DNA) yang sudah diklonkan dalam plasmid bakteri. Untuk mengetahui urutan basa N dari gen-gen yang terdapat dalam fragmen DNA tersebut, tahap selanjutnya adalah preparasi plasmid dan sekuensing. F. TIPE-TIPE BIOTEKNOLOGI 1. Bioteknologi mikroba Sejumlah hal menarik terkait dengan bioteknologi mikroba adalah bahwa mikroba memiliki peranan yang sangat penting dalam pengembangan bioteknologi dan juga produk bioteknologi.

103

Enzim-enzim Mikroba Enzim telah digunakan pada aplikasi produksi makanan pada penelitian molekular biologi. Karena mikroba ini sangat baik digunakan untuk menghasilkan enzim, enzim yang pertama kali diperdagangkan adalah enzim yang diisolasi untuk digunakan pada biologi molekular dari DNA polimerasi dan pembatasan enzim pada bakteri. Contohnya pada bakteri E. Coli. Taq DNA polimerase dapat juga sebagai enzim thermostabil. Taq mempunyai panas yang stabil yang penting untuk PCR yang diisolasi dari bakteri Thermus aquaticus. Oleh karena itu mikroba ini disebut thermophiles. Beberapa kesamaan enzim thermostabil sudah diidentifikasi pada thermophiles dan secara luas digunakan pada PCR dan reaksi lainnya. Enzim selulase dihasilkan oleh E. Coli digunakan untuk penurunan kadar selulosa (polisakarida membentuk dinding sel tumbuhan). Selulase secara luas digunakan untuk membuat makanan hewan agar lebih mudah dicerna. Protease subtilisin, dihasilkan dari Bacillus subtillis, merupakan komponen yang penting pada bahan detergen laundry, fungsinya untuk mengurangi dan menghilangkan noda protein pada baju. Beberapa enzim bakteri juga digunakan untuk pembuatan makanan seperti enzim pencerna gula yang disebut amilase yang digunakan untuk menghilangkan tajin untuk membuat sirup jagung. Bakteri Transforman Transformasi bakteri adalah kemampuan dari bakteri manghasilkan DNA dari lingkungan sekitarnya, hal ini merupakan langkah penting dari proses mengkloning DNA rekombinan. Pada kloning DNA, rekombinan plasmid dapat dikenalkan dalam sel bakteri sehingga mengalami transformasi, jadi bakteri tersebut dapat mereplikasi plasmid rekombinan tersebut. Banyak bakteri yang tiadak mampu mengumpulkan DNA dengan mudah kecuali dibuat lebih dapat menerima sel yang disediakan untuk transformasi yang disebut sebagai sel kompeten. Protein Mikrobial Sebagai Reporter Lusiferase adalah enzim yang sama yang terdapat pada kunang-kunang untuk menghasilkan cahaya. Gen lux telah dikloning dan digunakan untuk mempelajari gen pengekspresi dalam beberapa cara yang unik. Sebagai contoh melalui kloning gen lux masuk ke plasmid, gen lux pada plasmid dapat digunakan untuk menyediakan gen reporter yang bernilai. Jika dimasukkan ke dalam sel hewan maupun tumbuhan, lusiferase menyandikan melalui lux plasmid yang dapat menyediakan sel menjadi cahaya. Dengan cara ini plasmid lux beraksi sebagai ”reporter” untuk menyediakan sebuah indikator visual dari gen ekspresi. Gen lux baru-baru ini telah digunakan untuk mengembangkan kadar logam yang bercahaya, untuk menguji tuberculosis (TB). TB disebabkan oleh bakteri Mycobakterium tubercolusis yang tumbuh dengan lambat dan dapat bertahan dalam tubuh

104

manusia dalam beberapa tahun. Untuk kadar logam TB, ilmuwan memperkenalkan gen lux dalam virus yang diserang Mycobakterium tuberculosis. Kelenjar ludah dari pasien yang terinfeksi oleh M.tuberculosis dicampur bersam gen lux berisi virus. Jika M.tuberculosis ada pada contoh kelenjar ludah, virus akan menyerang sel bakteri yang dapat dideteksi dengan sinar. Gen-gen reporter mempunyai nilai lebih dalam penelitian dan pengobatan. Produk Makanan Mikroba digunakan untuk membuat beberapa makanan yang termasuk yogurt, keju, dan sauerkraut/dan beverage, seperti beer, wine, champagnes, dan liquor. Pada mulanya produksi keju, rennin yang tradisional memperoleh dari ekstrak dari perut anak sapi dan sering produksi susu lainnya berasal dari spesies seperti kambing, domba, kuda, dan beberapa zebra maupun unta. Rennin pengentalan susu untuk produksi curd melalui bagian dasar pada protein dinamakan kasein, yang mana sebagian besar komponennya disebut susu. Dasar kasein dibentuk dari perpaduan dari protein yang mengumpal(kougalasi) yang prosesnya sama saat membuat asam susu(yogurt). Ditahun 1980, penggunaan teknik rekombinan DNA, sama halnya dengan clon rennin dan diperlihatkan dalam sel bakteri dan jamur seperti Aspergillus niger. Rekombinasi rennin (sekarang dinamakan chymosin) pada mikroba sangat penting untuk pembuatan keju seperti halnya penggantian rennin untuk mengesktrasikannya dan calves. Di tahun 1990, reninn dikatakan sebagai komposisi makanan utama pada rekombinan rekombinasi DNA disetujui oleh Food and Drug Administration. Untuk beberapa jenis keju, beberapa strain dari bakteri dinamakan lactic acid bakteria(lactococcus lactis) digunakan untuk pengentalan. Bakteri ini mengurangi kasein dan metabolisme gula pada susu melewati proses yang dinamakan fermentasi. Mikroba Fermenter Fermentasi merupakan proses mikroba yang penting untuk menghasilkan beberapa produk makanan dan minuman termasuk jenis roti, anggur, sampanye, yogurt, dan keju. Fermentasi mikroba sangat membutuhkan lingkup bioteknologi. Satu diantara aplikasi awal pada mikroorganisme-masakan pada bir dan wine-melibatkan fermentasi oleh yeast. Untuk memahami bagaimana pembuatan beer, wines dan roti memerlukan mikroba, perlu tahu lebih banyak tentang proses fermentasi. Fermentasi bakteri asam laktat digunakan untuk produksi keju, susu asam ,dan yogurt. Produksi yogurt mempunyai ciri percampuran dari bakteri yang seringkali termasuk strain pada fermentasi mikroba asam laktat seperti (Streptococcus thermophilus dan strain yang disebut laktobasilus). Bentuk pengaktifan dari fermentasi mikroba asam laktat dengan menambahkan campuran dari susu dan gula yang difrementasikan mengatur suhunya dengan sangat hati-hati. Mikroba dalam campuran itu menggunakan gula untuk menghasilkan asam laktat. Asam laktat dan produk lainnya yang difermenatsikan

105

menghasilkan rasa manis dan rasa asam pada yogurt serta membantu koagulasi pada yogurt. Protein Untuk Terapi Pengobatan Perkembangan teknologi rekombinasi DNA yang berlangsung dengan sangat cepat dapat dilakukan dengan menggunakan bakteri yang dapat menghasilkan produk kesehatan yang penting seperti protein. Insulin merupakan salah satu contoh molekul hasil rekombinasi bakteri yang digunakan sebagai protein untuk terapi yang pertama kalinya dapat digunakan oleh manusia. Insulin merupakan salah satu hormon yang di produksi oleh sel β (beta) yang terdapat di dalam pancreas. Pensekresian insulin ke dalam aliran darah dapat berperan penting dala proses metabolisme karbohidrat. Salah satu fungsi utama dari insulin adalah untuk merangsang glukosa yang terdapat di dalam sel tubuh seperti sel otot, dimana glukosa dapat menurunkan produksi ATP sebagai sumber energi. Timbulnya penyakit kencing manis atau diabetes mellitus disebabkan oleh kurangnya produksi insulin di dalam tubuh yang dapat berakibat meningkatnya konsentrasi gula darah. Penyakit lain yang dapat ditimbulkan adalah tekanan darah tinggi, lemahnya sistem peredaran, katarak, dan kerusakan pada saraf. Sebelum adanya teknologi rekombinasi DNA, insulin dibentuk di dalam pankreas sapi dan babi sebelum disuntikkan ke dalam tubuh penderita. Namun, cara ini di anggap kurang praktis dan mahal serta seringkali menghasilkan insulin yang kurang murni. Pada beberapa penderita, insulin yang dihasilkan dalam tubuh sapi dapatmenyebabkan alergi. 2. Bioteknologi pertanian Lebih dari 40 tahun belakangan ini, produksi pangan dunia yang dibutuhkan setiap orang meningkat 25%, sementara jumlah lahan yang tersedia hanya bertambah sekitar 10%. Bagaimana mungkin pertambahan kecil dari lahan tersebut dapat memenuhi kebutuhan pangan manusia didunia? Oleh karena itu, banyak perbaikan dilakukan pada produksi dengan mengandalkan perkawinan silang untuk menghasilkan hewan dan tanaman dengan sifat khusus. Namun perkembangan terbaru menjelaskan bahwa banyak hasil produksi dapat dipercepat dengan pemindahan gen secara langsung. Salah satu pengembangan bioteknologi pertanian adalah kultur jaringan tanaman. Teknologi ini merupakan suatu teknik untuk menghasilkan keturunan dengan sifat yang unggul. Teknik reproduksi itu berbagai macam dibawah ini akan dijelaskan beberapa teknik pada teknologi reproduksi. Kelebihan dari teknik ini adalah dapat menghasilkan jumlah bibit unggul yang sangat banyak dalam jangka waktu yang singkat. Kultur jaringan dipopulerkan oleh Muller, Hildebrant dan Riker pada tahun 1954. Kultur jaringan adalah teknik pemeliharan jaringan dalam medium buatan. Jaringan adalah kumpulan sel yang

106

mempunyai bentuk dan fungsi yang sama. Teknik kultur jaringan ini adalah teknik budi daya untuk menghasilkan keturunan yang mempunyai sifat yang sama dengan induknya.

Gambar 4.7 Hasil Kultur Jaringan

Transgenesis tanaman (perpindahan gen ke tanaman secara langsung) adalah inovasi yang boleh dikatakan masuk akal untuk mencapai sukses daripada hibridisasi konvensional. Beberapa perkembangan yang memiliki potensi komersial yang signifikan adalah tanaman yang dapat menghasilkan pestisida sendiri, tanaman yang tahan terhadap herbisida, dan bahkan bioproduk seperti vaksin tanaman. Dikarenakan produksi protein transgenik relatif mudah dan protein yang dihasilkannyapun layak danbagus, maka perkembangan penelitian pada bidang ini sangat menjanjikan. Sebagai contoh, serat kapas yang semula mengalami kenaikan sekitar 1,5% pertahun, dengan cara penyisipan gen tunggal dapat meningkat menjadi 60%. Metode-metode yang digunakan untuk menghasilkan tanaman transgenik 1) Seleksi Perkawinan Konvensional dan Hibridisasi Rekayasa genetik pada tanaman bukanlah suatu hal yang baru. Sejak berkembangnya bidang pertanian, para petani telah melakukan seleksi benih sesuai sifatsifat yang diinginkan. Sekalipun perkawinan silang yang dilakukan dapat menghasilkan tongkol-tongkol jagung yang besar, apel yang mengandung banyak air, dan bibit unggul yang diperoleh secara modern, namun cara ini membutuhkan waktu yang lama dan tidak tentu. Untuk mendapatkan bibit unggul sesuai sifat-sifat yang diinginkan dilakukan dengan perkawinan silang antara 2 jenis tanaman dan mengulang kembali perkawinan silang antara keturunan hibrid dengan salah satu induknya. Pada kenyataannya, tanaman dari spesies yang berbeda pada dasarnya tidak dapat dihibridisasi, akibatnya sifat genetik tidak dapat diisolasi dari tanaman. Dengan bioteknologi, keterbatasan tersebut dapat diatasi. Para ilmuwan sekarang dapat memindahkan gen-gen khusus untuk sifat yang diinginkan kedalam tanaman. Proses ini berjalan cepat dan pasti karena tanaman menunjukkan beberapa keuntungan bagi para ahli genetik, yaitu:

107

a. sejarah panjang dari persilangan tanaman memberikan peluang bagi ahli genetika tanaman memiliki kekayaan strain yang dapat dieksploitasi secara molekuler; b. tanaman menghasilkan banyak keturunan, sehingga mutasi jarang terjadi dan rekombinasi dapat ditemukan dengan mudah; c. tanaman memiliki kemampuan regenerasi lebih baik daripada hewan; d. batas spesies dan kompatibititas seksual bukan merupakan persoalan yang berkepanjangan. 2) Kloning = Menumbuhkan Tanaman dari Sel Tunggal Pada umumnya sel-sel tanaman berbeda dengan sel hewan, tetapi satu ciri khas sel tanaman yang penting untuk bioteknologi adalah beberapa tanaman dapat melakukan regenerasi dari satu sel. Tumbuhan baru yang terbentuk memiliki tiruan genetik (klon) dari sel induk. Kemampuan alami sel tanaman ini membuatnya ideal untuk penelitian genetik. Setelah materi genetik yang baru dihasilkan didalam sel tanaman, maka sel tersebut dengan cepat membentuk tanaman dewasa dan para peneliti dapat mengetahui hasil modifikasi genetik pada waktu yang relatif singkat. Selanjutnya kita akan mempertimbangkan tentang beberapa metode yang digunakan untuk penyisipan informasi genetik pada sekl tanaman. 3) Fusi Protoplas Ketika tanaman dilukai, maka sejumlah sel yang disebut callus akan tumbuh pada tempat yang dilukai tersebut. Sel-sel callus memiliki kemampuan untuk berdiferensiasi menjadi tunas dan akar serta keseluruhan tanaman berbunga. Kita dapat mengambil keuntungan dari kemampuan ini. Potensi alami sel-sel tersebut yang terprogram menjadi calon tanaman baru sangat ideal untuk rekayasa genetik. Seperti pada sel-sel tanaman, selsel callus dikelilingi oleh dinding selulosa yang tebal, yaitu sebuah rintangan yang menghambat pembentukan DNA baru. Untungnya, dinding sel tersebut dapat dipecah dengan enzim selulose sehingga menghasilkan sel tanpa dinding sel yang disebut protoplas. Protoplas ini dapat digabungkan dengan protoplas lain dari beberapa spesies, kemudian membentuk sel yang dapat tumbuh menjadi tanaman hibrid. Metode ini disebut fusi protoplas. 4) Teknik Potongan Daun (Leaf Fragment Technique) Transfer genetik terjadi secara alami pada tanaman dalam merespon organisme patogen. Contohnya, suatu luka dapat terinfeksi oleh bakteri tanah yang disebut Agrobacterium tumefaciens (Agrobacter). Bakteri ini memiliki plasmid yang besar (molekul DNA double helix yang sirkuler) yang dapat merangsang sel-sel tanaman untuk tumbuh terus menerus tanpa terkontrol (tumor). Oleh karena itu, plasmid ini dikenal sebagai Tumor inducing (Ti) plasmid. Sedangkan hasil dari tumor tersebut disebut crown gall. Menurut Nasir (2002b), selama infeksi bakteri ini mentransfer sebagian kecil materi genetik yang dimilikinya (T-DNA) ke dalam genom sel tanaman inang. Setelah diinsersi,

108

gen-gen bakteri tersebut diekspresi oleh sel-sel tanaman yang terinfeksi (Thieman dan Palladino, 2004). Plasmid bakteri memberi gagasan bagi para ahli bioteknologi sebagai sarana transfer DNA. Dalam penggunaannya, peneliti sering menyebut sebagai teknik potongan daun. Dalam teknik ini, daun dipotong kecil-kecil kemudian ketika potongan daun mulai regenerasi, mereka akan mengkulturnya pada medium yang mengandung Agrobacter yang telah mengalami modifikasi genetik. Selama proses ini, DNA dari Ti plasmid berintegrasi ke DNA sel inang dan materi genetikpun telah terkirim. Potongan daun tersebut kemudian diberi hormon untuk merangsang pertumbuhan tunas dan akar. Kekurangan utama dari proses ini adalah Agrobacter tidak dapat menginfeksi tanaman monokotil seperti jagung dan gandum. Tanaman dikotil seperti tomat, kentang, apel, dan kedelai merupakan contoh yang cocok untuk proses ini. Namun, penelitian barubaru ini jelas menunjukkan bahwa T-DNA dapat digabungkan ke dalam spesies monokotil. Pada kasus terakhir ini, sel-sel transformasi menghasilkan kalus yang tahan terhadap kanasin dan mengekspresikan gen gus. Sayangnya, kalus ini gagal membentuk kuncup atau pucuk. c. Bioteknologi hewan Salah satu contoh bioteknologi hewan adalah kloning hewan. Untuk membuat kloning dari hewan dewasa, maka DNA dari sel donor harus dimasukkan ke sel telur.dengan teknik enukleasi yaitu dengan menyedot untuk mengeluarkan DNA dari nukleus, teknik tersebut termasuk teknik Honolulu yaitu dengan menyuntikkan nukleus sel donor secara langsung ke dalam bagian tengah sel telur yang telah dienukleasi. Pada langkah pertama, sel dikumpulkan dari hewan donor dan dikultur dengan aliran listrik rendah rendah. Beberapa sel tersebut masih hidup, namun lemah, sehinga penggantian dan perubahan gen aktif berhenti. Setelah DNA dikirim ke telur, maka sifat biologinya akan diambil. Kemudian sel baru berubah menjadi embrio. Untuk beberapa hari pertama, embrio tumbuh di inkubator. Ketika embrio tersebut siap, embrio tersebut ditransfer ke induk pengganti untuk terjadi proses kehamilan. Induk pengganti tersebut akan memberikan kelahiran kloning. Contoh lain adalah produksi hewan transgenik. Beberapa perkembangan yang sangat besar dalam bioteknologi adalah hasil riset transgen dalam hewan. Eksperimen pertama dalam transgenesis hewan dilaksanakan dalam level seluler, dimana gen baru ditambahkan pada satu sel kultur dan terdapat pengaruh terhadap satu sel tersebut. Ketika teknologi kloning sedang berkembang transgenik telah menjalankan serangkaian percobaan baru dalam memanipulasi sel tunggal, gen bisa ditambahkan pada sejumlah sel. Sel tersebut kemudian disaring untuk menemukan sel yang menunjukkan gen yang diinginkan. Setelah

109

sel tersebut ditemukan, maka masing-masing bisa digunakan untuk menumbuhkan hewan yang lengkap, dengan teknologi kloning.

Gambar 4.8 Kloning:biasanya dimulai dengan pemindahan nukleus telur dari telur yang
telah dibuahi dan penggantian denga nukleus lain (dari hewan dewasa).

Beberapa teknik transgenik: Berbagai metode biasa digunakan untuk memperkenalkan materi genetik baru melalui teknik transgenik . Teknik-teknik tersebut adalah: Trangenesis bermedia retrovirus dikembangkan dengan menginfeksi embrio tikus dengan retrovirus sebelum embrio tersebut ditanam. Retrovirus berfungsi sebagai vektor untuk DNA baru metode, tersebut dibatasi dengan bebrapa aplikasi karena ukuran transgen atau materi genetika yang ditransfer adalah terbatas. Metode mikroinjeksi pronuklear memperkenalkan transgen DNA pada tahap paling awal dalam perkembangan zigot, ketika sperma dan sel telur bergabung DNA disuntikan ke nukleus sperma atau telur. Karena DNA baru disuntikkan secara langsung maka tidak ada vektor yang diperlukan; oleh karena itu, tidak ada rangkaiaan genetik eksternal untuk mencampraduk proses. Dalam metode sel stem embrionik, sel embrio dikumpulkan dari inner sel mass blastosit, kemudian dicampur dengan DNA yang terbentuk dengan menggunakan DNA rekombinan beberapa sel ES akan menyerap DNA dan ditransformasikan ke

110

materi genetik baru. Sel ES yang ditransformasikan tersebut kemudian disuntikkan ke dalam inner sel mass dari blastosit inang. Pada metode yang sama, sperma transfer media menggunakan protein linker untuk memasukkan ke dalam sel sperma. Antibodi Monoklonal Para peneliti telah lama memikirkan tentang pemanfaatan antibodi untuk berbagai penggunaan yang ditujukan ke beberapa bagian tertentu dalam tubuh. Penggunaan dari target antibodi mendorong konsep “magic bullet” pada ahun 1980-an, yaitu sebuah pengobatan yang bias secara efektif mencari dan menghancurkan sel tumor dimanapun dia berada.Salah satu tujuan utama dalam terapi menggunakan antibody adalah produksi antibodi yang spesifik dalam jumlah yang besar . Pada awalnya peneliti mengisolasi myelomas, dimana antibodi mensekresikan tumor untuk menghasilkan antibody yang berguna. Namun,situasi itu berubah secara drastis dengan adanya perkembangan teknologi antibodi monoklonal. Prosedur untuk memproduksi monoclonal (dibuat dari kloning sel tunggal). Proses ini diawali dengan penyuntikan antigen (Ag) pada seekor tikus dimana antibody itu diinginkan. Setelah hewan tersebut menghasilkan respon kekebalan pada antigen, selanjutnya limpanya diambil. Beberapa sel menghasilkan antibodi limpa atau yang disebut lymphocyte. Sel limpa tersebut telah menggabungkan en masse dengan sel myeloma khusus yang tidak banyak menghasilkan antibodi. Hasil sel yang melebur atau hibridomas tersebut masih mempertahankan ciri dari kedua induk. Mereka berkembang secara berkelanjutan dan cepat dalam kultur seperti sel myeloma (kanker), dan menghasilkan antibodi yang ditetapkan dengan limposit yang melebur dari hewan yang diimunisasi. Ratusan hibridoma dapat dihasilkan dari peristiwa fusi tunggal. Kemudian,secara sistematis hibridomas disaring untuk mengidentifikasi kloning yang menghasilkan sejumlah antibodi yang diinginkan. Setelah diidentifikasi antibody tersebut diproduksi dalam jumlah yang besar. 4. Bioremediasi Di lingkungan, tanaman dan mikroba dapat mengabsorbsi dan mendegradasi sejumlah besar bahan kimia dan polutan baru., sehingga bahan kimia tersebut menjadi tidak berbahaya. Bioremediasi merupakan proses pembersihan (remediasi) bahan pencemar tanah dengan menggunakan aktivitas mikroorganisme. Mikroorganisme dapat menggunakan bahan pencemar sebagai sumber energi, sumber karbon atau aseptor elektron untuk metabolisme hidupnya. Bioremediasi dapat terjadi secara intrinsik dan direkayasa (engineered). Bioremediasi intrinsik adalah bioremediasi yang berlangsung dengan sendirinya tanpa campur tangan manusia karena kondisi lingkungan menunjang (nutrien tersedia) dan 111

mikroba yang berperanan dalam jumlah yang mencukupi. Namun demikian seringkali faktor lingkungan tidak optimal sehingga tidak memungkinkan terjadinya bioremediasi intrinsik sehingga memerlukan perbaikan faktor lingkungan, hal ini disebut engineered bioremediation. Sebelum kita membicarakan tentang kehidupan organisme yang dapat menguraikan polutan, pertama-tama kita akan mempertimbangkan lingkungan yang perlu dibersihkan dan meneliti sejumlah bahan kimia umum yang mencemari lingkungan. Apa saja yang perlu dibersihkan dengan remediasi? Tanah, air dan sedimen adalah bagian dari lingkungan yang perlu dibersihkan dengan bioremidiasi. Pendekatan yang digunakan untuk membersihkan tanah bisa sangat berbeda dengan pendekatan yang digunakan untuk membersihkan air. Demikian halnya, pembersihan air di permukaan tanah memerlukan penanganan yang berbeda dengan pembersihan air tanah. Polutan dapat masuk ke lingkungan dengan banyak cara yang berbeda dan mempengaruhi komponen-komponen yang ada di lingkungan. Pada beberapa kasus, polutan memasuki lingkungan melalui tumpahan minyak, kecelakaan truk atau pecahnya tanki bahan kimia di daerah industri. Mikroba dapat mengubah beberapa bahan kimia menjadi bahan yang tidak berbahaya melalui metabolisme aerob. Reaksi yang membutuhkan oksigen atau dengan metabolisme anaerob, reaksi dimana O2 tidak diperlukan. Kedua tipe proses tersebut melibatkan reaksi oksidasi dan reduksi. Hal ini adalah dasar yang harus dipahami jika kita ingin memahami biodegradasi. Pada beberapa lingkungan seperti air di permukaan tanah, dimana O2 tersedia, bakteri aerob memecah polutan dengan mengoksidasi berbagai macam bahan kimia termasuk molekul-molekul organik (yang mengandung atom karbon) seperti produk petroleum. Dalam prosesnya, O2 direduksi menghasilkan air, kemudian mikroba dapat memecah/ mendegradasi bahan organik yang teroksidasi untuk menjadikannya molekul yang lebih sederhana dan relatif tidak berbahaya, seperti gas CO2 dan Metana. Bakteri menghasilkan energi dari proses ini, yang digunakan untuk membuat sel yang lebih banyak dan meningkatkan biomassa. Beberapa mikroba aerob juga mengoksidasi bahan-bahan inorganik ( molekul yang tidak mengandung karbon) seperti tembaga dan ammonia. Mikroorganisme memerlukan tambahan sumber C dalam melakukan proses degradasi polutan, sehingga perlu dilakukan penambahan elektron aseptor yang sesuai, tergantung pada spesies mikroba dan kondisi lingkungan setempat, misalnya O2 untuk polutan yang memerlukan kondisi aerob,nitrat, fumarat atau sulfat untuk yang memerlukan kondisi anaerob. Pada bagian yang terkontaminasi sangat berat dan lapisan tanah yang dalam, konsentrasi O2 mungkin sangat rendah. Di bawah permukaan tanah mungkin O2 yang berdifusi ke dalam tanah sangat sedikit, dan ada O2 yang digunakan oleh bakteri aerob 112

dengan sangat cepat. Walaupun kadang-kadang memungkinkan untuk memasukkan O2 dalam perlakuan untuk menstimulasi biodegradasi aerobik pada lingkungan yang rendah O2. Biodegradasi ada juga yang terjadi secara alami melalui metabolisme anaerob. 5. Bioteknologi Kedokteran Teknik-teknik dalam biologi molekuler ternyata menjadi sangat berarti untuk mendeteksi banyak penyakit genetik dan kegiatan medis lainnya. Salah satu cara yang dapat dilakukan adalah menguji abnormalitas kromosom dan gen yang rusak (defective genes). Hingga saat ini banyak uji genetik dilakukan pada fetus untuk mengidentifikasi jenis kelamin anak atau untuk mendeteksi penyakit-penyakit genetik. Kebanyakan prosedur tersebut melibatkan uji penyakit-penyakit genetik yang terjadi sebagai akibat adanya perubahan jumlah kromosom. Salah satu contoh penyakit yang paling dapat dipahami akibat perubahan jumlah kromosom yaitu penyakit sindrom Down. Banyak individu yang mengidap sindrom Down memiliki kopi kromosom 21 (trisomi 21). Individu yang menderita sindrom tersebut menunjukkan sejumlah gejala seperti keterbelakangan mental, ukuran tubuh kecil dan air muka atau wajahnya lebar. Uji fetus pada sindron Down umum terjadi, terutama pada kehamilan seorang wanita yang berusia lebih dari 40 tahun, karena timbulnya sindrom Down sangat berkaitan dengan usia telur yang diproduksi pada tubuh wanita. Trisomi 21 dan kelainan jumlah kromosom yang lain dapat diuji pada fetus untuk memberikan informasi pada orang tua yang digunakan untuk menentukan apakah mereka ingin meneruskan kehamilannya. Jika kerusakan telah dapat ditemukan, maka uji genetik juga dapat memberikan informasi yang dapat digunakan untuk melindungi fetus selama kehamilan maupun setelah bayi itu lahir. Jadi bagaimanakah tes sindrom Down dapat dilakukan pada fetus yang sedang berkembang? Dua teknik yang berbeda dapat digunakan untuk menguji sindrom Down pada fetus yang sedang berkembang, yakni amniocentesis dan chorionic villus sampling. Amniocentesis dilakukan pada fetus yang sedang berkembang berusia sekitar 16 minggu. Sebuah jarum dimasukkan melalui perut ibu ke dalam kantong amnion untuk mendapatkan sel-sel yang lepas dari fetus seperti sel-sel kulit. Sel-sel ini kemudian diisolasi dan dikultur selama beberapa hari untuk meningkatkan jumlah sel dan kemudian sel-sel itu dipreparasi sehingga kromosomn dapat ditampung dalam slide kaca. Kromosom-kromosom tersebut diwarnai dengan warna-warna berbeda yang mengikat protein-protein yang terdapat pada DNA, kemudian menentukan pola pergantian antara pita yang terang dan yang gelap pada tiap kromosom. Berdasarkan ukuran setiap kromosom dan pola ikatannya, penguraian kromosom menjadi berpasang-pasangan dan penghitungan jumlah kromosom dapat dilakukan dengan mudah.

113

Chorionic villus sampling (CVS) dilakukan dengan prosedur berikut: tabung pengisap digunakan untuk mengambil lapisan sel-sel yang disebut villi korion, yakni jaringan fetus yang berperan dalam pembentuikan plasenta. Keuntungan CVS dibandingkan dengan amniocentesis yaitu sedikit sel saja sudah dapat dijadikan sample sehingga secara cepat dapat digunakan untuk proses kariotiping. Keuntungan CVS yang lain yaitu pada tahap ini dapat diterapkan pada awal kehamilan (sekitar 8-10 minggu), tetapi pada saat yang sama karena fetus masih sangat kecil, maka pada tahap ini mengandung resiko yang tinggi karena gangguan pada fetus dan dapat menyebabkan keguguran.

Gambar 4.9 Amniocentesis dan Chorionic Villus Sampling Proses kariotiping dengan mudah dapat dilakukan pada orang dewasa untuk memeriksa kelainan kromosom. Khusus darah yang diambil dari seseorang yang dewasa dan sel-sel darah putih tersebut digunakan untuk proses kariotipe. Sebuah teknik yang relatif masih baru untuk karyotipe pada fetus dan orang dewasa yaitu fluorescence in situ hybridization (FISH). Pada FISH kromosom yang telah diperoleh disiapkan pada slide dan kemudian probe fluorescent dihibridisasi pada tiap kromosom. Setiap probe digunakan khusus untuk urutan “penanda” tertentu pada tiap kromosom. Pada beberapa kasus, FISH dapat ditunjukkan dengan probe yang menampilkan warna-warna yang berbeda. Teknik ini menghasilkan spektral karyotipe. FISH sangat berguna untuk mengidentifikasi kromosomkromosom yang hilang maupun kromosom-kromosom yang berlebih. Sejumlah penyakit genetik manusia yang disebabkan oleh kelainan kromosom terjadi ketika satu bagian kromosom dihilangkan atau bagian kromosom tersebut digantikan dari satu kromosom ke kromosom yang lain dikarenakan masalah-masalah pada replikasi kromosom. Misalnya pada suatu leukemia (kanker sel-sel darah putih) yang disebut chronic myelogenous leukemia. DNA dipertukarkan antara kromosom 9 dan kromosom 22 sehingga gen-gen dari 114

kromosom 9 digantikan oleh kromosom 22 dan sebaliknya. Pertukaran ini dapat dideteksi melalui FISH yang menggunakan probe fluorescent dengan warna berbeda untuk tiap kromosom. Banyak penyakit genetik yang diakibatkan mutasi gen tertentu meski kelainan pada jumlah kromosom atau kerusakan struktur kromosom. Karena teknik yang lebih baik sedang dikembangkan, maka para ilmuwan dapat mendeteksi gen pembawa penyakit secara individu pada fetus maupun orang dewasa. Kemampuan tersebut akan menjadi semakin umum seperti kita mempelajari gen-gen penyakit sebagai hasil penelitian Human Genome Project. Beberapa genetik dapat dideteksi pada embrio maupun orang dewasa dari sel-sel amniotik atau sel-sel darah, berturut-turut dengan menggunakan analisis restriction fragment length polymorphism (RFLP). Ide dasar penggunaan analisis RFLP yaitu bahwa urutan gen perusak dipotong secara berbeda oleh enzim restriksi lebih banyak digunakan daripada penggunaan komplement normalnya karena perubahan nukleotida pada gen-gen mutan dapat mempengaruhi site pemotongan enzim restriksi menjadi site yang lebih banyak ataupun menjadi lebih sedikit. Analisis RFLP juga digunakan pada DNA fingerprinting. Jika DNA dari individu sehat dan individu dengan penyakit sickle-cell dipotong dengan enzim restriksi, maka DNA dari individu tersebut akan memiliki ukuran yang berbeda dikarenakan cara pemotongan enzim restriksi pada tiap gen. Hal ini dengan jelas diamati saat potongan DNA diletakkan untuk dianalisis secara Southern blot dengan probe untuk gen β-globin yaitu gen yang menyebabkan penyakit sickle-cell. Karenanya terdapat istilah restriction fragmen polymorphism yaitu fragmen-fragmen dengan panjang atau bentuk yang berbeda (“poly” berarti banyak dan “morphism” mengacu pada suatu bentukan atau kemunculan sesuatu) yang dibentuk oleh enzim restriksi. Penyakit sickle-cell terjadi ketika seseorang memiliki dua gen β-globin mutan. Ganda protein β-globin mutan menghasilkan bentuk hemoglobin yang abnormal yang berpengaruh pada ukuran dan bentuk sel darah merah yang memberikannya ciri bentuk seperti “sabit”. Satu keuntungan analisis RFLP yaitu dapat digunakan untuk menganalisis kerusakan gen, dimana mutasi yang terjadi dapat mengubah enzim restriksi dalam mengenali urutan gen. Sebuah pendekatan yang disebut analisis allele-specific oligonucleate (ASO) mampu mendeteksi perubahan nukleotida tunggal pada banyak gen, bahkan jika mutasi tidak mengubah site restriksi. Pada teknik ASO, DNA diisolasi dari selsel manusia, biasanya berupa sel-sel darah putih, dan kemudian diperkuat dengan polymerase chain reaction (PCR) yang menggunakan rantai primer yang memperantarai gen pembawa penyakit. Setelah itu DNA kemudian di “blot” pada penyaring nilon dan dihibridisasi secara terpisah dua ASOs berbeda sebagi probe. ASOs merupakan urutan kecil oligonucleate dengan pita tunggal, biasanya panjangnya sekitar 20 nukleotida. Sebuah ASO yang akan menghibridisasi gen normal dan sebuah ASO untuk gen mutan 115

juga digunakan. Gambar 3 menunjukkan sebuah contoh bagaimana analisis ASO dapat digunakan untuk menguji gen sickle-cell. Tes yang didasarkan pada PCR seperti ini menjadi semakin bertambah bermanfaat untuk mendeteksi gen-gen pembawa penyakit. Satu keunggulan PCR yaitu sifat sensitifnya yang tinggi dalam mendeteksi kerusakan pada DNA dalam jumlah yang sedikit. Sehingga analisis PCR dan ASO digunakan untuk mendeteksi kerusakan gen pada sel-sel tunggal dari embrio awal. RANGKUMAN 1. Bioteknologi adalah upaya untuk merekayasa organisme atau komponen organisme untuk menghasilkan produk dan jasa yang berguna bagi manusia. 2. Alasan digunakan makhluk hidup dalam bioteknologi antara lain: makhluk hidup senantiasa berkembang biak, dapat diklona agar sifat tidak berubalu sifat makhluk hidup dapat diubah-ubatu dan dapat menghasilkan berbagai produk yang bermanfaat. 3. Bioteknologi tradisional telah dipraktekkan di masyarakat kita sejak jaman dulu, misalnya dalam membuat tapai, oncom, dan tempe. Bioteknologi modern diterapkan berdasarkan prinsip-prinsip ilmiah, menggunakan peralatan yang lebih modern dan dalam skala besar. 4. Penggunaan mikroorganisme dalam bioteknologi antara lain sebagai penghasil makanan dan minuman, penghasil protein sel tunggal, penghasil zat organik, penghasil energi, penghasil obat, pencerna limbah, dan pemisah logam daribijihnya. LATIHAN Jawablah pertanyaan berikut dengan singkat! 1. Apa peran mikroba dalam produksi insulin dan bagaimana mekanisme produksi insulin ini sehingga siap menggantikan insulin dari organisme tingkat tinggi untuk pasien dibetes melitus? 2. Bagaimana cara mendesain vaksin untuk virus target (contoh kasus pada vaksin untuk HIV) ? 3. Mengapa dalam transgenesis tanaman selalu digunakan tumor- inducing (Ti) plasmid? 4. a. Jelaskan teknik-teknik transgenik pada hewan! b. Apa keuntungan dan kerugian produk transgenik baik pada tanaman maupun hewan? 5. Jelaskan prosedur identifikasi pelaku dalam kasus pembunuhan dan atau perkosaan untuk menentukan pelakunya?

116

DAFTAR PUSTAKA Amin, M. 2003. Charaterization and Application of Molecular Marker in the Peking Duck and Other Waterfowl Species. Goettingen: Cuvillier-Verlag Avice, J.C. 1994. Molecular Markers, Natural History and Evolution. New York: Chapman & Hall Brown, T.A. 1991. Pengantar Kloning Gen. (Gene Cloning and Introduction). Yogyakarta: Yayasan Essentia Medica. Davis, L.; Kuehl, M. And Battey, J. 1994. Molecular Biology 2 nd Edition. New York: Appleton & Lance. Old, R.W dan Primrose, S.B. 1989 Principles of Gene Manipulation. Blackwell Scientific Publication. Thieman, W. J. & Palladino, M. A. 2005. Introduction to biotechnology. New York. Wilmut, I. 2002. Klonen für Medizinische Zwecke in Spektrum der Wissenschaft. Dossier 4. p. 38-44.

117

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->