P. 1
73

73

|Views: 263|Likes:
Published by jhon

More info:

Published by: jhon on Sep 16, 2010
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

01/01/2014

pdf

text

original

PERBEDAAN HASIL LATIHAN FOREHAND DRIVE MENGGUNAKAN ARAH BOLA DEPAN BELAKANG DAN POSISI PEMAIN MAJU MUNDUR

TERHADAP KEMAMPUAN MELAKUKAN FOREHAND DRIVE TENIS LAPANGAN PADA PETENIS PUTRA KLUB VTC PEKALONGAN TAHUN 2005

SKRIPSI
Diajukan dalam rangka penyelesaian studi Strata I untuk memperoleh gelar Sarjana Pendidikan

Disusun oleh : Nama NIM Jurusan Fakultas : Jati Setyo Utami : 6301401015 : Pendidikan Kepelatihan Olahraga : Ilmu Keolahragaan

UNIVERSITAS NEGERI SEMARANG 2005
i

SARI Jati Setyo Utami, 2005. Perbedaan Hasil Latihan Forehand Drive Menggunakan Arah Bola Depan Belakang dan Posisi Pemain Maju Mundur terhadap Kemampuan Melakukan Forehand Drive Tenis Lapangan pada Petenis Putra Klub VTC Pekalongan Tahun 2005. Skripsi. Jurusan PKLO. Fakultas Ilmu Keolahragaan. Universitas Negeri Semarang. Permasalahan yang menjadi pusat perhatian dalam penelitian ini adalah : 1) Apakah ada perbedaan hasil latihan forehand drive menggunakan arah bola depan belakang dan posisi pemain maju mundur terhadap kemampuan melakukan forehand drive pada tenis lapangan. 2) Manakah yang lebih baik antara latihan forehand drive menggunakan arah bola depan belakang dan posisi pemain maju mundur terhadap kemampuan melakukan forehand drive cabang olahraga tenis lapangan. Tujuan dari penelitian adalah : 1) Untuk mengetahui perbedaan hasil latihan forehand drive menggunakan arah bola depan belakang dan posisi pemain maju mundur terhadap kemampuan melakukan forehand drive pada cabang olahraga tenis lapangan; 2) Untuk mengetahui yang lebih baik antara latihan forehand drive menggunakan arah bola depan belakang dan posisi pemain maju mundur terhadap kemampuan melakukan forehand drive pada tenis lapangan. Populasi penelitian adalah petenis putra Club VTC Pekalongan Tahun 2005 yang berjumlah 39 orang. Teknik pengambilan sampel dengan teknik purposive random sampling, yaitu pengambilan sampel atas dasar tujuan tertentu. Variabel dalam penelitian ini ada dua yaitu latihan forehand drive dengan arah bola depan belakang dan latihan forehand drive dengan posisi pemain maju mundur sebagai variabel bebas sedangkan kemampuan forehand drive sebagai variabel terikat. Metode pengumpulan data dengan test kemampuan melakukan forehand drive. Data yang diperoleh dianalisis menggunakan uji beda (t-test). Hasil penelitian menunjukkan bahwa rata-rata kemampuan melakukan forehand drive kelompok ekperimen yang mendapat latihan dengan arah bola depan belakang adalah 18,28 sedangkan kelompok kontrol yang mendapat latihan forehand drive dengan posisi pemain maju mundur adalah 14,94. Berdasarkan hasil uji t diperoleh thitung = 4,29 > ttabel = 2,12. Hal ini menunjukkan ada perbedaan hasil latihan forehand drive menggunakan arah bola depan belakang dengan hasil latihan forehand drive menggunakan posisi pemain maju mundur terhadap kemampuan melakukan forehand drive tenis lapangan pada petenis putra klub VTC Pekalongan tahun 2005. Ditinjau dari rata-rata nilai kemampuan melakukan forehand drive menunjukkan bahwa kelompok yang dilatih dengan arah bola depan belakang lebih baik dibandingkan kelompok yang dilatih dengan posisi pemain maju mundur. Berdasarkan hasil tersebut diperoleh saran yaitu : 1) Meningkatkan kemampuan melakukan forehand drive dapat menggunakan latihan dengan arah bola depan belakang. Latihan ini dapat digunakan diklub-klub tenis khususnya klub VTC Pekalongan sebagai variasi latihan untuk menghindari kejenuhan pemain saat melakukan latihan forehand drive, 2) Bagi peneliti lain yang hendak melakukan penelitian sejenis, hendaknya menggunakan hasil penelitian ini sebagai bahan referensi sehingga dapat memperoleh hasil yang lebih sempurna.

ii

LEMBAR PENGESAHAN

Telah dipertahankan di hadapan sidang Panitia Ujian Skripsi Fakultas Ilmu Keolahragaan Univeritas Negeri Semarang pada: Hari Tanggal Pukul Tempat : Senin : 24 Oktober 2005 : 08.00 – 10.00 WIB : Laboratorium PKLO Ruang I

Panitia Ujian Ketua Sekretaris

Drs. Sutardji, M.S. NIP. 130523506 Dewan Penguji

Drs. Wahadi, M.Pd. NIP. 131571551

1. Drs. Tohar, M.Pd. NIP. 130340642

(Ketua)

2. Soedjatmiko, S.Pd., M.Pd NIP. 132158176

(Anggota)

3. Drs. Sukirno, M.Pd. NIP. 130935358

(Anggota)

iii

MOTTO DAN PERSEMBAHAN
Motto : 1. Sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan, maka apabila kamu telah selesai dari suatu urusan kerjakanlah dengan sunguh-sunguh urusan lain, dan hanya kepada Tuhan-mulah hendaknya kamu berharap” (Qur’an Surat “Alam Nasyrah” ayat 6-8).

Persembahan : Skripsi ini kupersembahkan kepada : 1. Bapak dan Ibuku tercinta atas segala do’a dukungan dan kasih sayangnya. 2. Mas Eko, mbak Dwi - mas Tono, mbak Sari – mas Tyo, mbak Nunu – mas

Agung, De’Ari atas segala dukungan, pehatian, bantuan dan doanya. 3. Almamater FIK UNNES.

iv

KATA PENGANTAR Puji syukur alhamdulillah penulis panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat dan karunia-Nya, sehingga penulis dapat

menyelesaikan skripsi ini. Keberhasilan penulis dalam menyusun skripsi ini tidak lepas dari bantuan dan dorongan berbagai pihak, sehingga pada kesempatan ini penulis mengucapkan terimakasih yang sebesar-besarnya kepada : 1. Rektor Universitas Negeri Semarang yang telah memberikan kesempatan penulis menjadi mahasiswa UNNES. 2. Dekan Fakultas Ilmu Keolahragaan Universitas Negeri Semarang yang telah memberikan ijin dan kesempatan kepada penulis untuk menyelesaikan skripsi ini. 3. Ketua Jurusan Pendidikan Kepelatihan Olahraga FIK UNNES yang telah memberikan dorongan dan semangat untuk menyelesaikan skripsi ini. 4. Soedjatmiko, S.Pd., M.Pd. Dosen Pembimbing I yang telah sabar dalam memberikan petunjuk dan membimbing penulis dalam menyelesaikan skripsi. 5. Drs. Sukirno, M.Pd., Dosen Pembimbing II yang telah sabar dan teliti dalam memberikan petunjuk, dorongan dan semangat sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini. 6. Eko Ardianto, S.Pd., Kepala sekaligus pelatih klub Tenis Lapangan VTC Pekalongan yang telah memberikan kesempatan dan pengarahan selama penelitian berlangsung. 7. Petenis Putra VTC Pekalongan tahun 2005 yang telah bersedia menjadi sampel dalam penelitian ini.

v

8. Keluarga bapak Santoso (beserta ibu, mas Dana dan D’Arum) di Karangayu dan bapak Sumarno (beserta ibu, mas Donny dan D’Wulan) di Kendal yang telah memberikan fasilitas, dukungan, doa dan perhatiannya selama ini. 9. Temen seperjuangan di PKLO 2001 atas segala dukungan dan bantuannya selama ini. 10. Sahabat-sahabatku: Duta, Prima, Mas Berti, dan Mas Hata atas segala bantuan dan perhatiannya selama ini. 11. Teman-teman kost Wiswa Anjani (Nova, Novi, Opie, Ningsih, Yeni) dan Wisma Ayu (Semuanya tanpa kecuali) atas segala dukungan dan bantuannya. 12. Mbak Yetty dan Mbak Trie atas dukungan, bantuan dan doanya selama ini. 13. Semua pihak yang telah membantu penulis dalam menyelesaikan skripsi ini baik secara langsung maupun tidak langsung yang tidak dapat penulis sebutkan satu persatu. Semoga Allah SWT memberikan pahala yang berlipat ganda kepada semua pihak atas bantuan dan amal baiknya yang telah diberikan kepada penulis. Penulis menyadari atas segala kekurangan dalam penulisan skripsi ini. Untuk itu kritik dan saran yang bersifat membangun sangat penulis harapkan. Akhirnya penulis berharap semoga skripsi ini bermanfaat bagi para pembaca semua.

Semarang, Penulis

Oktober 2005

vi

DAFTAR ISI Halaman HALAMAN JUDUL........................................................................................ i SARI................................................................................................................. HALAMAN PENGESAHAN.......................................................................... MOTTO DAN PERSEMBAHAN ................................................................... KATA PENGANTAR ..................................................................................... DAFTAR ISI.................................................................................................... DAFTAR TABEL............................................................................................ DAFTAR GAMBAR ....................................................................................... DAFTAR LAMPIRAN.................................................................................... BAB I PENDAHULUAN ............................................................................. Alasan Pemilihan Judul............................................................... Permasalahan .............................................................................. Tujuan Penelitian ........................................................................ Penegasan Istilah......................................................................... Kegunaan Hasil Penelitian .......................................................... BAB II LANDASAN TEORI DAN HIPOTESIS ......................................... 2.1 Landasan Teori........................................................................... 2.1.1 2.1.2 2.1.3 2.1.4 2.1.5 2.1.6 2.1.7 2.1.8 2.1.9 Teknik Dasar Permainan Tenis Lapangan ..................... Pengertian Forehand Drive............................................ Macam-Macam Pegangan Raket.................................... Teknik Pegangan Dalam Forehand Drive ..................... Cara Melakukan Teknik Pegangan Eastern................... Macam Pukulan Forehand Drive................................... Teknik Pukulan Forehand Drive ................................... Gerak Kaki ( footwork) pada Forehand Drive............... Latihan Forehand Drive Mengunakan Arah Bola Depan Belakang......................................................................... 2.1.10 Latihan Forehand Drive Pada Posisi Pemain Maju Mundur........................................................................... 2.2 Hipotesis..................................................................................... 26 28 24 ii iii iv v vii ix x xi 1 1 5 5 5 9 10 10 10 10 11 13 14 15 18 23

vii

BAB III METODE PENELITIAN ................................................................. 3.1 3.2 3.3 3.4 3.5 3.6 3.7 3.8 Populasi ....................................................................................... Sampel......................................................................................... Variabel Penelitan ....................................................................... Metode Pengambilan Data .......................................................... Desain Atau Pola Penelitian........................................................ Instrumen Penelitian ................................................................... Faktor-faktor yang Mempengaruhi Penelitian ............................ Metode Analisis Data..................................................................

30 30 31 32 32 33 34 37 41 45 45 47 50 50 50 52 53

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN ................................. 4.1 Hasil Penelitian............................................................................ 4.2 Pembahasan ................................................................................. BAB V SIMPULAN DAN SARAN ............................................................... 5.1 Simpulan ..................................................................................... 5.2 Saran ........................................................................................... DAFTAR PUSTAKA ...................................................................................... LAMPIRAN-LAMPIRAN...............................................................................

viii

DAFTAR TABEL

Tabel

Halaman

1. Tabel Persiapan Penghitungan Statistik ........................................................ 42

ix

DAFTAR GAMBAR Gambar Halaman

1. Pegangan Eastern.......................................................................................... 14 2. Forehand Flat Drive ..................................................................................... 15 3. Forehand Topspin Drive ............................................................................... 17 4. Saat Benturan Raket Dengan Bola Pada Teknik Pukulan Forehand Drive. 20 5. Dasar Pukulan Forehand Drive Dari Posisi Bersikap Sampai Gerak Lanjut 22 6. Lapangan Tes Kemampuan Melakukan Forehand Drive............................. 35

x

DAFTAR LAMPIRAN Lampiran 2. Hasil Tes Awal Forehand Drive Petenis Putra Club VTC Pekalongan Tahun 2005 ................................................................................................ 3. Rangking Hasil Test Awal Forehand Drive Petenis Putra Club VTC Pekalongan Tahun 2005............................................................................. 4. Hasil Tes Awal Forehand Drive Untuk Dipasangkan ............................... 5. Hasil Tes Awal Forehand Drive antara Kelompok Eksperimen dan Kontrol ....................................................................................................... 6. Hasil Tes Akhir Forehand Drive antara Kelompok Tes Akhir Forehand Drive Petenis Putra Club VTC Pekalongan Tahun 2005 ........................... 7. Hasil Tes Akhir Forehand Drive antara Kelompok Eksperimen dan Kontrol ....................................................................................................... 8. Uji Perbedaan Hasil Tes Akhir Antara Kelompok Eksperimen dan Kelompok Kontrol ..................................................................................... 9. Hasil t-test Data Kemampuan Melakuakan Forehand Drive pada Kondisi Akhir .......................................................................................................... 10. Jadwal Latihan Selama Penelitian.............................................................. 11. Program Latihan Forehand Drive Club VTC Pekalongan Tahun 2005 .... 12. Daftar Nama Pembantu Penelitian ............................................................. 13. Surat Keputusaan Penetapan Dosen Pembimbing ..................................... 14. Surat Ijin Penelitian.................................................................................... 15. Surat Keterangan Telah Melakukan Penelitian.......................................... 16. Foto Kegiatan Penelitian ............................................................................ 17. Tabel Nilai t ............................................................................................... 61 62 63 67 68 69 70 71 75 60 59 58 57 55 56 54 Halaman 53

1. Daftar Nama Petenis Putra Club VTC Pekalongan Tahun 2005 ...............

xi

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Alasan Pemilihan Judul Tenis merupakan salah satu cabang olahraga permainan yang sangat populer karena banyak diminati oleh masyarakat. Kebutuhan akan tenis lapangan semakin meningkat karena banyaknya orang yang gemar bermain tenis mulai dari anak-anak, remaja, dan orang dewasa. Tiap orang mempunyai tujuan yang berbeda-beda dalam melakukannya, misalnya ada yang bertujuan untuk memperluas pergaulan, memperbanyak teman, rekreasi, kesehatan, tidak sedikit pula dari mereka yang berusaha untuk prestasi. Bahkan dewasa ini tenis dapat dijadikan sebagai lapangan pekerjaan mengingat melalui tenis dapat menghasilkan pendapatan. Sedangkan untuk pencapaian prestasi yang optimal dalam permainan tenis lapangan dapat dicapai melalui peranan yang sangat penting dari seoarang pelatih. Oleh karena itu pelatih harus mampu menyusun program, memilih, dan menerapkan metode latihan sesuai dengan tujuan latihan itu sendiri. Selain pelatih, orang tua dan atlet itu sendiri mempunyai peranan dan tanggung jawab yang sama dalam pencapaian prestasi. Usaha pemasalan, pembinaan, dan pengembangan untuk mencapai prestasi tersebut perlu diadakan pendekatan ilmiah, adanya sarana yang menunjang dan metode latihan yang tepat. Untuk pencapaian prestasi yang optimal dalam permainan tenis lapangan, faktor yang mendasar yang perlu dikuasai oleh seorang pemain adalah pukulan dasar.

xii

Penguasan pukulan dasar yang baik dan benar merupakan salah satu landasan penting untuk meningkatan kecakapan bermain tenis. Bagi petenis, penguasaan teknik dasar pukulan mutlak diperlukan dalam meningkatkan prestasi. Untuk penguasaan teknik dasar dapat dicapai dengan latihan yang benar, tepat, dan teratur. Menurut B. Yudoprasetio (1981 : 43) “Pukulan-pukulan dalam permainan tenis digolongkan dalam tiga golongan, yakni: Groundstroke, Volleys dan Overhead Stroke.” Sedangkan untuk pukulan groundstroke dapat dibedakan lagi menjadi beberapa jenis antara lain: a). Forehand Drive, b). Drop Shot, c). Backhand Drive, d). Half Volley. Sedangkan pendapat lain mengatakan dalam permainan tenis lapangan ada empat jenis pukulan dasar yang harus dikuasai oleh seorang petenis yaitu; a). Service b). Forehand Drive (Groundstroke) c).

Backhand Drive (Groudstroke) d). Volley (Scharff,1981:24). Salah satu pukulan drive yang perlu dikuasai oleh seorang petenis lapangan adalah forehand drive. Menurut Mottram (1996:37) : ”Pukulan drive biasanya dinyatakan sebagai suatu pukulan yang paling mudah dipelajari oleh pemain pemula. Hal ini disebabkan pemain pemula memang merasa relatif

mudah untuk mengembalikan bola dengan pola forehand, karena raketnya bebas dari tubuh.” Sedangkan pendapat lain mengatakan “Groundstroke Forehand mengarah kesamping tubuh di mana anda memegang raket.” (Jim

Brown,1996:31). Hal ini adalah bentuk pukulan tenis yang paling sering dilakukan dan paling mudah dipelajari.

xiii

Dari pernyataan diatas dapat disimpulkan bahwa pukulan forehand drive merupakan pukulan yang harus dikuasai terlebih dahulu sebelum pukulan yang lain di pelajari. Hal ini dikarenakan pukulan forehand sangat mudah dipelajari dari pada pukulan yang lainnya. Menurut Rex Lardner (1996:31).” Pukulan forehand merupakan stroke yang paling aman dipakai dalam tenis.” Sedangkan menurut Katilli (1948:30) “Pukulan forehand adalah senjata penyerang utama karena gerak-geriknya tidak begitu sulit untuk dipelajari dan menguasai pukulan ini dari pada pukulan-pukulan yang lainnya”. Pendapat lain juga dikemukakan oleh B. Yudoprasetio (1981: 55)” Forehand drive adalah pukulan yang wajar, maka forehand drive harus dipelajari dan dikuasai tekniknya terlebih dahulu.” Berdasarkan pendapat di atas maka dapat disimpulkan bahwa pukulan forehand drive merupakan pukulan yang sangat penting. Oleh karena itu tidak menutup kemungkinan pukulan ini lebih dominan digunakan dalam suatu pertandingan untuk mendapatkan nilai atau angka. Walaupun pukulan forehand drive sangat mudah dipelajari namun dalam penguasaannya tetap harus melalui latihan. Untuk meningkatkan variasi pukulan drive dapat menggunakan latihan dengan menggunakan variasi arah bola depan belakang dan latihan dengan variasi pada posisi pemain lari maju mundur. Dalam hal ini yang dimaksud dengan arah bola depan belakang adalah bahwa dalam latihan forehand drive dapat dilakukan dengan bola yang diumpan kemudian dipukul dan diarahkan disekitar daerah servis untuk latihan arah bola depan dan pada daerah baseline untuk arah bola

xiv

belakang. Latihan ini dilakukan secara bergantian dan terus menerus dalam satu tahap, sedangkan posisi pemain maju mundur maksudnya adalah bahwa dalam latihan posisi pemain lari maju mundur guna memukul bola serta

mengarahkannya pada daerah yang telah ditentukan secara bergantian dan terus menerus dalam satu tahap latihan. Dalam kedua bentuk latihan diatas maka penulis tertarik untuk menelitinya. Judul penelitian tersebut adalah : “PERBEDAAN HASIL LATIHAN FOREHAND DRIVE MENGGUNAKAN ARAH BOLA DEPAN BELAKANG DAN POSISI PEMAIN MAJU MUNDUR TERHADAP KEMAMPUAN MELAKUKAN FOREHAND DRIVE TENIS LAPANGAN PADA PETENIS PUTRA KLUB VTC PEKALONGAN TAHUN 2005” Adapun alasan pemilihan judul tersebut adalah: 1. Dalam permainan tenis lapangan pukulan drive merupakan salah satu teknik dasar pukulan yang sangat penting karena merupakan pukulan yang dominan digunakan. 2. Latihan menggunakan variasi arah bola depan belakang dan variasi latihan dengan posisi pemain lari maju mundur dapat meningkatkan penguasaan teknik dasar khususnya dalam melakukan Forehand Drive cabang olahraga tenis lapangan.

xv

1.2  Permasalahan   Berdasarkan pada alasan pemilihan judul di atas maka permasalahan dalam penelitian ini adalah : 1. Apakah ada perbedaan hasil latihan forehand drive menggunakan arah bola depan belakang dan posisi pemain maju mundur terhadap kemampuan melakukan forehand drive cabang olahraga tenis lapangan? 2. Manakah yang lebih baik antara latihan forehand drive menggunakan arah bola depan belakang dan posisi pemain maju mundur terhadap kemampuan melakukan forehand drive cabang olahraga tenis lapangan? 1.3  Tujuan Penelitian  Adapun tujuan penelitian ini adalah 1. Untuk mengetahui adanya perbedaan hasil latihan forehand drive

menggunakan arah bola depan belakang dan posisi pemain maju mundur terhadap kemampuan melakukan forehand drive pada cabang olahraga tenis lapangan. 2. Untuk mengetahui mana yang lebih baik antara latihan forehand drive menggunakan arah bola depan belakang dan posisi pemain maju mundur terhadap kemampuan melakukan forehand drive pada cabang olahraga tenis lapangan.

1.4  Penegasan Istilah  Untuk menghindari salah tafsir dalam memberikan pengertian yang dimaksud dalam skripsi ini, maka perlu dijelaskan istilah-istilah yang dianggap
xvi

penting. Dengan demikian untuk menghindari adanya permasalahan dalam memberikan penafsiran. Istilah-istilah yang dianggap penting tersebut dapat dijelaskan sbb: 1.4.1 Perbedaan Perbedaan menurut W.J.S. Peorwadarminta (1984:731) adalah “Beda” yaitu sesuatu yang menjadikan berlainan (tidak sama) antara dua benda (hal dsb).” Perbedaan yang dimaksud dalam penelitian ini adalah membedakan dua macam latihan forehand drive menggunakan arah bola depan belakang dan posisi pemain maju mundur terhadap kemampuan melakukan forehand drive cabang olahraga tenis lapangan. 1.4.2 Hasil Hasil menurut W.J.S. Peorwadarminta (1984:348) adalah sesuatu yang diadakan dalam penelitian ini adalah sesuatu yang diadakan (dibuat, dijadikan dsb). Akibat; kesudahan (dari pertandingan, ujian dsb) Hasil yang dimaksud dalam penelitian ini adalah sesuatu yang diadakan atau akibat yang ditimbulkan dari latihan forehand drive menggunakan arah bola depan belakang dan posisi pemain maju mundur terhadap kemampuan melakukan forehand drive cabang olahraga tenis lapangan. 1.4.3 Latihan Latihan menurut W.J.S. Poerwadarminta (1984:570) adalah “Pelajaran untuk membiasakan atau memperoleh kecakapan.”

xvii

Dalam hal ini yang dimaksud latihan adalah proses yang dilaksanakan untuk meningkatkan kemampuan melakukan forehand drive yang beban latihannya semakin lama semakin bertambah. 1.4.4 Forehand Drive Menurut Katilli (1948:48) Forehand drive adalah pukulan di sebelah kanan pemain, dan pada pemain kidal dari sebelah kirinya. Forehand drive dalam penelitian ini adalah suatu stroke yang dilaksanakan dari sisi kanan tubuh pemain yang tidak kidal (normal) atau sisi kiri pemain kidal dilaksanakan dengan suatu ayunan menyamping secara penuh setelah bola melambung yang dilaksanakan dengan benar untuk mengembalikan bola drive. 1.4.5 Arah Bola Depan Belakang Arah adalah “Jurusan atau menuju sesuai dengan arah mata angin, Sedangkan Depan adalah “Hadapan atau muka” dan Belakang adalah “Arah atau bagian yang menjadi lawan muka (depan)”. (W.J.S. Poerwadarminta, 1976: 55, 243, 108) Arah bola depan belakang dalam penelitian ini adalah forehand drive dengan bola yang diumpan panjang kemudian dipukul dengan arah di sekitar daerah servis untuk arah bola depan dan daerah baseline untuk arah bola belakang yang dilakukan secara bergantian dalam satu tahap, pemain memukul bola dengan arah bola yang sudah ditentukan, yang dilakukan secara terus menerus pada daerah yang telah ditentukan saat melakukan pukulan forehand drive.

xviii

1.4.6

Posisi Pemain Maju Mundur Posisi adalah “Kedudukan”, Sedangkan Pemain adalah “Orang yang

bermain (bola, biola, sandiwara, dsb), dan Maju adalah “Berjalan (bergerak) kemuka atau lawan mundur, serta Mundur adalah “Berjalan (bergerak) kebelakang atau lawan maju. (W.J.S. Peorwadarminta ,1976: 766,621,621,662). Posisi pemain maju mundur adalah selama dalam latihan posisi pemain lari maju mundur dalam memukul bola yang diumpankan dengan arah yang telah ditentukan secara terus menerus dalam satu tahap.

1.4.7

Kemampuan Melakukan Forehand Drive. Kemampuan adalah “Kesanggupan atau kecakapan. (W.J.S.

Poerwadarminta, 1976: 628,1043). Kemampuan melakukan forehand drive yang dimaksud adalah

kesangggupan atau kecakapan melakukan forehand drive pada daerah-daerah yang telah diberi skor pada saat melakukan forehand drive. 1.4.8 Victory Tenis Club Victory Tenis Club adalah klub tenis yang ada di belakang gedung SMA Negeri I Kajen Pekalongan. Klub ini menggunakan 1 lapangan yang ada di belakang gedung SMA Negeri I Kajen Pekalongan.

xix

1.5  Kegunaan Hasil Penelitian  Dari hasil penelitian ini di harapkan dapat : Memberikan sumbangan yang bermanfaat berupa informasi bagi pelatih, pembina, maupun petenis lapangan dalam memilih bentuk latihan meningkatkan kecakapan pukulan forehand drive dalam permainan tenis lapangan. 2. Dapat digunakan sebagai bahan pembanding bagi mereka yang ingin melakukan penelitian sejenis.  

xx

BAB II 

LANDASAN TEORI DAN HIPOTESIS 

2.1 Landasan Teori 2.1.1 Teknik Dasar Permainan Tenis Lapangan Dalam permainan tenis lapangan, teknik dasar merupakan penentu bagi kelanjutan keberhasilan dalam menguasai permainan dengan benar sehingga dapat menghindari kesalahan-kesalahan cara memukul bola dalam permainan tenis. Dalam permainan tenis ada empat jenis pukulan yang harus dikuasai. Scharff (1981:24) menyatakan bahwa: “Empat teknik dasar yang harus dikuasai dalam tenis lapangan yaitu; Service, Forehand Drive, Backhand Drive, dan Volley.” Dari keempat jenis pukulan tersebut tiga perempat dari nilai kemenangan akan dicapai. Dengan teknik dasar yang baik seorang petenis akan bermain dengan baik. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat uraian sebagai berikut: a. Servis (Service) Service adalah “Pukulan tunggal yang paling penting.” (Lardner 1996:51). Pendapat lain service adalah “Satu-satunya pukulan dalam permainan tenis, di mana pemain seluruhnya menguasai bola.” (Scharff, 1981:60). Servis yang keras dapat dipakai sebagai senjata dalam melancarkan serangan pertama. Sekarang ini servis keras merupakan usaha yang sangat menguntungkan. Sedangkan pendapat lain mengatakan servis adalah stroke atau pukulan yang mengawali setiap point.
xxi

10

b. Forehand Drive Forehand Drive adalah “Pukulan disebelah kanan pemain, pada pemain kidal pada sebelah kirinya.” (Katilli 1948:30). Sedangkan menurut Lardner (1996:31) “Pukulan forehand merupakan stroke yang paling umum dipakai dalam tenis.” c. Backhand Drive Backhand Drive adalah Pukulan drive yang dilakukan terhadap bola yang berada di samping kiri pemain, kalau pemain menggunakan tangan kanan.(B. Yudoprasetio, 1981: 64). d. Volley Menurut Ladner (1996:62) “Volley adalah suatu cara memukul sebelum mental dilapangan, pada umumnya di wilayah dekat net.” Volley forehand

maupun backhand merupakan pukulan pada bola sebelum bola itu melambung. 2.1.2 Pengertian Forehand Drive Drive yang dilakukan terhadap bola disamping kanan pemain (yang menggunakan tangan kanan) atau disamping kiri pemain (yang menggunakan tangan kiri pemain kidal) disebut forehand drive. Menurut Katilli (1948:30) Forehand drive adalah “Pukulan disebelah kanan pemain, pada pemain kidal disebelah kirinya.” Sedangkan menurut Yudoprasetio (1981;59) Forehand drive adalah “Pukulan yang termasuk golongan

groundstroke, yaitu pukulan yang dilakukan terhadap bola yang sudah menyentuh tanah (lapangan) dengan pukulan datar di atas net. Pukulan forehand drive dilakukan dari sisi kanan pemain yang menggunakan tangan kanan pemain atau dari sisi kiri pemain yang menggunakan
xxii

tangan kiri untuk memukul bola. Hal ini sesuai pendapat bahwa; “Forehand drive adalah pukulan yang paling penting bagi seorang pemula.” Tujuannya adalah mengembalikan bola pada sisi badan sebelah raket (sebelah kanan pada orang dewasa dan sebelah kiri pada orang kidal), setelah bola itu melantun sekali. (Scharff, 1981 : 24). Berdasarkan pendapat tersebut di atas dapat disimpulkan bahwa forehand drive adalah suatu pukulan dalam permainan tenis lapangan yang dilakukan dalam suatu swing atau ayunan kesamping kanan secara penuh, kemudian dengan raket diayunkan ke samping badan lalu diayunkan ke depan untuk memukul bola secara datar di atas net setelah memantul sekali di lapangan. 2.1.3 Macam-Macam Pegangan Raket Sejak tenis mulai diperkenalkan kepada umum, cara-cara pemain memegang raketnya diperhatikan dan akhirnya diketahui, bahwa pada garis besarnya, ada tiga cara memegang raket, yakni cara memegang di Amerika bagian timur (disebut eastern grip), cara memegang di Eropa (disebut continental grip) dan cara memegang di Amerika bagian barat (disebut western grip) (Yudoprasetio, 1981:13) Menurut Scharff (1981:24) “Ada tiga macam genggaman yang disebut: Eastern, Continental,dan Western. Pendapat yang sama juga dikatakan oleh Katilli (1948:23):”Ada tiga pegangan “standard” yang jadi patokan: 1) Pegangan Western (Western grip) 2) Pegangan Eastern (Eastern grip) 3) Pegangan Continental (Continental grip) Dalam penelitian ini pegangan yang digunakan untuk melakukan pukulan Forehand Drive adalah Pegangan Eastern (Eastern Grip), sebab pegangan
xxiii

tersebut mempunyai keuntungan yaitu, dapat dengan mudah melakukan pukulan forehand, karena dalam permainan tenis pegangan inilah yang paling mudah digunakan. 2.1.4 Teknik Pegangan Dalam Forehand Drive Cara memegang raket punya peran penting dalam melakukan ketepatan dalam melakukan pola pukulan. Begitu juga pegangan untuk forehand drive.” Jumlah terbanyak pemain-pemain peringkat dunia, menggunakan apa yang disebut grip atau pola Eastern atau grip “jabat tangan “ untuk pukulan forehand drive. Jumlah pemain terbanyak pemain-pemain peringkat dunia, menggunakan apa yang disebut grip pola eastern atau grip “jabat tangan”. Untuk pola pukulan forehand drive ini memperoleh permukaan raket berada pada posisi vertikal terhadap bola.” (Mottarm,96:18). “Cara memegang raket disebut grip. Dan grip membawa rasa kepada orang yang memukulnya dengan tapak tangan adalah eastern grip atau lazimnya disebut grip seperti berjabat tangan. ”(B. Yudoprasetio,1981:65). Dengan menggunakan pegangan eastern maka jangkauan pemain panjang dan pukulannya mempunyai power yang lebih besar, lebih kencang dari pada kontinental grip atau western grip. Selain itu dapat memberikan pukulan topspin, slice, flat, dan chop. Genggaman eastern juga mampu melayani pukulan bola yang mengandung berbagai putaran (Katilli,1948:27). Beda utamanya terletak pada posisi telapak tangan pada western, telapak tangan berada dibawah gagang, pada continental diatasnya, sedangkan pada eastern berada dibagian belakang gagang.

xxiv

2.1.5

Cara Melakukan Teknik Pegangan Eastern “Cara melakukan teknik pegangan Eastern untuk pukulan forehand sangat

cocok untuk pukulan tinggi, setinggi pinggang atau pukulan-pukulan rendah. Eastern grip diperoleh dengan memegang leher (throat) dari raket dengan tangan kiri dan merentangkannya kedepan badan dengan pangkal gagang ke jurusan anda. Permukaan raket harus membentuk sudut siku-siku dengan tanah. Peganglah raket dengan tangan kanan, sehingga ruas belakang dari ibu jari berada dibagian atas dari raket. Ini berarti, bahwa letak telunjuk dan ibu jari berada pada bagian atas dari bidang rata dari gagang. Ibu jari membalut gagang, sedangkan jari-jari lain berada pada gagang. Telapak tangan harus dekat pada bidang yang rata dari gagang itu. Seumpama kita “berjabat tangan” dengan raket itu. Orang yang kidal seperti demikian juga, hanya raket dipegang dengan tangan kanan, sedangkan gagangnya digenggam dengan tangan kiri.”(Scharff,1981:24).

2.1.6

Gambar 1. Pegangan Eastern. (Soediharso, 1991 : 50). Macam Pukulan Forehand Drive Ada tiga jenis forehand drive berkenaan dengan spin atau putaran: a.

Forehand flat-drive; b. Forehand topspin-drive; c. Forehand sliced-drive.

xxv

2.1.6.1 Forehand Flat-Drive Forehand Flat-Drive adalah pukulan forehand drive pada bola yang

mengandung sedikit top spin atau back spin. Bola yang dipukul dengan teknik forehand flat drive, melayang dengan lurus, cepat serta tajam seolah-olah rata dengan tanah. Kalau bola dipukul dengan flat betul, permukaan raket sebelum dan sesudah kontak dengan bola (impact) tetap tegak lurus terhadap tanah sampai akhir ayun lanjut. Cara melakukan forehand flat drive adalah: ayunkan raket lurus ke belakang, kemudian ke muka atau kearah bola tanpa membuat lengkung yang berarti. Kaki kiri ke depan dan bahu miring kejaring, mata mengawasi kearah bola (lihat gambar 2).

Gambar 2. Forehand Flat- Drive ( A.A. Katilli , 1948: 40 ). 2.1.6.2 Forehand Topspin-Drive

xxvi

Pada pelaksanaan teknik forehand topspin-drive ini, bola dipukul ke atas, raketnya mengenai bola dibawah garis tengahnya sehingga akan menghasilkan putaran bola kedepan (overspin). Kelebihan bola dipukul dengan menggunakan dengan teknik forehand topspin-drive ini adalah hasil bola yang dipukul lebih condong untuk jatuh ke tanah lebih cepat dari bola tanpa spin. Sedangkan bola yang dipukul dengan forehand backspin atau underspin-drive cenderung untuk bergantung di udara. Oleh karena itu, maka forehand topspin–drive merupakan “passing shot” yaitu pukulan yang dapat melewati penyerang jaring. Hal ini disebabkan karena cepatnya bola menukik ke bawah akan mengakibatkan lawan yang akan melakukan volli terhadap bola terpaksa memukul bola yang rendah dan vollinya akan naik keatas.”(katilli,1948:42). Agar permukan raket terhadap bola betul-betul menghasilkan putaran ke depan (overspin), maka forward swing harus dilakukan dari bawah ke atas terhadap bola. Oleh karena itu, raket memukul bola harus dari “tinggi bola” (ball level), yaitu titik pantulan tertinggi dari bola setelah memukul di lapangan. Backswing bisa dilakukan tinggi, tetapi dalam hal ini pemain harus membiasakan diri dengan swing melingkar sehingga raket akan berada di bawah tinggi bola tepat sebelum kontak dengan bola. Permukaan raket bisa terbuka (membentuk sudut 45) atau tegak lurus terhadap tanah (lapangan). Akan tetapi kalau permukaan raket terlalu tertutup, bola akan terlalu pendek jatuhnya atau menyentuh net.

xxvii

Kalau permukaan raket terlalu terbuka, pemain harus menggunakan ayunan raket untuk menghasilkan topspin yang masuk dalam lapangan.(lihat gambar 3). berlebihan untuk menjaga agar bola

Gambar 3. Forehand Topspin-Drive. (A.A. Katilli, 1948 : 44).

2.1.6.3 Forehand Sliced-Drive Pada forehand slice- drive ini, senar raket menggesek bola dari tengahnya kebawah. Backswing pada forehand sliced-drive lebih tinggi dari pada backswing pada forehand topspin-drive atau forehand flat-drive. Permukaan raket terbuka (pinggir atas dimirangkan ke belakang). Dalam posisi ini, raket diayunkan kemuka pada forward swing dan memukul bola ke bawah pada belakang

bawahnya. Gerak raket ini mengakibatkan putaran kebelakang dan menyebabkan bola mengambang di udara lebih lama dari pada forehand topspin flat-drive. Karena bola melayang di udara lebih lama atau lambat, maka pukulan forehand sliced-drive mudah divolli oleh lawan. Oleh sebab itu maka kalau lawan

xxviii

sudah tertarik ke kanan, ke kiri atau dia tidak menduganya, pukulan forehand sliced-drive kurang membawa hasil passing shot. Bola yang dipukul dengan teknik forehand sliced drive akan memantul rendah dan menggelincir. Apabila bola dipukul sebelum putarannya berkurang, bola sering sekali meleset dari raket. Oleh sebab itu lawan akan terpaksa menunda pukulannya sehingga dia akan terganggu. Dari ketiga macam pukulan forehand drive di atas maka pukulan yang diberikan dalam penelitian ini adalah forehand flat-drive. 2.1.7 Teknik Pukulan Forehand Drive Untuk mendapatkan teknik pukulan forehand drive yang baik diperlukan teknik-teknik pukulan yang benar. Menurut Scharff (1981:29) “forehand taraf pemulan dibagi atas lima bagian : 1). Cara berdiri, 2). Ayunan kebelakang, 3). Ayunan depan, 4). Saat pukulan dan 5). Gerakan lanjutan”. Setiap tahap sama pentingnya untuk memperoleh pukulan yang keras dan berirama. Pukulan dari awal sampai akhir harus lancar dan merupakan koordinasi dari gerak kaki, gerakbadan, dan gerak tangan, disebut koordinasi karena sulit untuk memukul tanpa gerak kaki yang baik, sedangkan pukulan yang dilakukan dengan tangan saja akan kekurangan tenaga dan kekuatan yang sebenarnya. Untuk lebih jelasnya, maka akan diuraikan kelima hal tersebut di atas sebagai berikut: 2.1.7.1 Cara berdiri Suatu sikap siap harus dilakukan saat menunggu hendak memukul bola. Menghadaplah ke net sepenuhnya dengan dua kaki dibuka, berat badan ditopang oleh kedua kaki. Ayunkan leher raket di tangan kiri dan arahkan kepalanya ke net. Mata harus tertuju kebola. Badan tetap santai, lutut sedikit ditekukkan dan

xxix

punggung sebelah atas agak dibungkukkan. Tiap selesai memukul sikap badan harus segera kembali ke dalam posisi begini. Dari posisi siaga ini bebas bergerak kearah bola. 2.1.7.2 Ayunan belakang Sambil berdiri dengan berputar, ayunkan raket kebelakang dengan gerakan rata, lurus kebelakang dan horizontal dari tangan kanan. Pindahkan berat badan berangsur-angsur kekaki belakang. Gerakan ini serentak dan bersamaan dengan laju bola yang datang. Kalau masih ada waktu, tariklah raket sejauh mungkin ke belakang. Lengan kiri juga mempunyai peranan yang sangat penting dalam ayunan badan untuk keseimbangan dan harus bergerak bebas. Ayunan belakang dan gerakan kaki harus segera dimulai, begitu arah dan kecepatan bola telah dapat dipastikan. Ini berarti, bahwa hal ini harus dilakukan apabila terjadi service dan pengembalian bola masih di udara. Bola lawan tidak boleh dibiarkan melambung ke daerah kita sebelum mempersipkan ayuanan belakang. Ayunan belakang harus dikuasai penuh, lancar, dan tepat pada waktunya untuk memberi waktu kepada tubuh kita dan raket bergerak kedepan untuk memukul bola. 2.1.7.3 Ayunan depan Saat menghentikan ayunan belakang, dan memulai gerakan ke depan raket tergantung pada kecepatan bola yang datang. Waktu berhentinya gerakan pada akhir dari rentangan tangan ketika mengayun ke belakang, haruslah pendek sekali. Jika perkiraan kecepatan itu tepat, dan “timingnya” cocok. Lutut sedikit ditekuk, dan tangan kiri berada di depan untuk membantu putaran badan.

xxx

Begitu memulai ayunan depan, melangkahkan kaki kiri sambil memiringkan bola kearah net dan bola yang melayang. Waktu melakukan ini, mulailah memindahkan berat badan dari kaki kanan yang berada di belakang kaki kiri yang berada di depan. Ada waktu yang sama tangan kanan dengan kepala raket vertikal ke tanah dan masih di atas pergelangan tangan harus direntangkan jauh ke depan sampai gerakan badan raket serentak. 2.1.7.4 Saat Benturan Sewaktu raket bergerak kedepan untuk memukul bola, kepala raket harus berada pada ketinggian bola dan rata pada saat benturan. Tepat pada saat itu raket harus dipegang lebih erat dan harus demikian selama pemukulan itu berlangsung. Hal ini dimaksudkan untuk penguasaan terhadap bola. Harus selalu diusahakan agar senar raket mengenai bola tepat pada bagian tengahnya dan pada ketinggian pinggang, tekuklah lutut sampai setinggi bola. Sebaliknya apabila bola itu melambung lebih tinggi, mundurlah sedikit dan biarkan bola jatuh setinggi pinggang. Sedapat mungkin bola harus dikenakan pada puncak ketinggiannya dan antara ujung kaki kiri dan pertengahan pinggang. (lihat gambar 4).
PEAK

RISE
HIT HERE

DECLINE

THE BOUND

Gambar 4. Saat Benturan Raket Dengan Bola Pada Teknik Pukulan Forehand Drive. (Robert Scharff , 1981 : 32).

xxxi

Dari gambar 4, dapat dijelaskan bahwa pemukulan bola pada teknik pukulan forehand drive, dilakukan pada saat setelah bola memantul di lapangan pada saat setelah bola memantul di lapangan dan mencapai titik pantulan tertinggi (nomor 3). Untuk teknik pukulan forehand drive , pemain hendaklah mengambil posisi cukup jauh dari bola untuk memungkinkan merentangkan lengan, karena bila bola yang akan dipukul terlalu dekat dengan tubuh, maka pemukul terpaksa akan menekukkan siku. Apabila hal ini dilakukan maka akan merusak pukulan, karena tekukan lengan ini akan mengurangi tenaga pukulan dengan arahnya tidak datar seperti yang diinginkan. 2.1.7.5 Gerakan Lanjutan Waktu melakukan forehand drive berat badan berpindah dari kaki kanan ke kaki kiri dan raket bergerak menuju bola dan lalu membentur bola, sampai gerakan lanjutannya. gerakan lanjutan ini sangat penting karena, gerakan inilah yang menentukan laju bola. Dalam gerakan lanjutan ini sangat penting karena gerakan lanjutan inilah yang menentukan laju bola. Dalam gerakan lanjutan ini berat badan ke depan atau ke arah bola, dan selama ini kedua kaki harus selalu berada di tanah. Keseimbangan harus selalu dijaga dengan kaki kanan, lengan kiri dan dengan mengangkat tumit sedikit dari tanah. Satu kesalahan yang sering terjadi adalah mengangkat kaki yang di belakang selama memukul bola atau sebelum gerak lanjut selesai. Menekukkan lutut sewaktu memindahkan berat badan menyebabkan pukulan menjadi rata dan dengan demikian tidak bisa menyodok atau mengangkat bola. Jika meluruskan lutut, bidang pukulan akan berubah dan saat baik akan

xxxii

terbuang. Gerakan ini akan mengakibatkan seorang petenis lapangan tidak bisa mengenai bola pada bagian tengah dari raket. Gerak lanjut berakhir jika kepala raket itu terhenti dengan sendirinya di depan bahu sebelah kiri dan kaki kiri. Kepala raket berakhir setinggi antara pinggang dan bahu, tergantung pada tinggi dan kecepatan bola yang dipukul. Pergelangan tangan harus tegak pada waktu bola itu kena dan lambat laun berubah pada gerak lanjutan, sehingga pada akhirnya telapak tangan menghadap ke bawah, (kalau menggunakan tenik pegangan bola Eastern). Pada bola yang melambung rendah, perlu gerak lanjutan yang lebih tinggi agar bola yang dipukul melampaui net. Pada akhir pukulan, berat badan harus tetap karena lengan dan raketnya menarik badan sebelah kanan kembali ke posisi siap (ready) dan tangan kiri berada pada raket lagi. Hal ini dimaksud untuk mempersiapkan terhadap pukulan lawan selanjutnya. (lihat gambar 5)

Gambar 5. Dasar Pukulan Forehand Drive Dari Posisi Bersikap Sampai Gerak Lanjut. (Robert Scharff, 1981 : 30).

xxxiii

Dari gambar di atas, diterangkan bahwa semua gerakan dalam melakukan teknik pukulan forehand drive dari posisi siap (1) ayunan belakang, (2) ayunan depan (3) saat pukulan dan (4) lanjutannya harus terlaksana dengan gerakan yang harmonis. 2.1.8 Gerak Kaki ( Footwork) pada Forehand Drive Gerak kaki (footwork) dalam teknik pukulan forehand drive memegang peranan yang sangat penting terhadap keberhasilan pukulan tersebut. Kemampuan untuk bergerakan cepat memang sangat penting tapi sebagian nilai mutunya akan berkurang apabila gerakan tata kakinya dilakukan dengan ceroboh atau dalam bentuk yang sangat buruk. Seorang petenis lapangan tidak harus mampu bergerak dengan cepat untuk tiba pada daerah pukulan, tetapi setelah tiba disana harus dapat melakukan gerakan kaki yang memungkinkan semua pukulan yang dilakukannya terlaksana dengan pengaruh yang paling menyulitkan pihak lawan. Menurut Soediharso (1991:68) “Hampir semua pemain profesional sependapat, bahwa hampir 50 sampai 70 persen keberhasilan seorang pemain memperoleh kemenangan sangat ditentukan oleh kaki yang baik.” Dari pendapat tersebut di atas dapat dijadikan pedoman bahwa pukulanpukulan yang sempurna dalam perminan tenis lapangan akan tidak berarti dalam pertandingan apabila pergerakan kaki pemin tidak baik. Bagi petenis lapangan yang pergerakan kakinya jelek akan mengalami kesulitan dalam usahanya mengatur jarak antara badan dan bola. Gerakan kaki atau footwork dalam melakukan teknik pukulan forehand drive yaitu menempatkan kaki kiri di depan dan kaki kanan di belakang pada pemain yang tidak kidal. sedangkan pada pemain ynag kidal, untuk melakukkan
xxxiv

pukulan forehand drive penempatan kaki kanan di depan sedangkan kaki kiri harus di belakang. Untuk menempatkan kaki seperti yang dimaksud di atas, perlu gerakan kaki yang baik. Pergerakan kaki yang baik sangat penting untuk membantu ayunan dari lengan untuk menghasilkan pukulan yang keras,menjaga keseimbangan badan dan dalam menentukan arah. Menurut pendapat Yudoprasetio (1981:34): “Seperti halnya semua gerakan yang dibutuhkan dalam perminan tenis lapangan, footwork juga terdiri dari beberapa perbuatan atau bagian yang harus dilaksanakan menjadi rangkaian gerakan yang serasi (harmonis). Jadi footwork harus diakui oleh seorang petenis lapangan, karena footwork yang baik akan memungkinkan dia dapat melakukan semua pukulan dengan tenaga yang efisien dengan hasil yang maksimal. Hal ini disebabkan karena posisi badan dan gerakan pemain terhadap bola akan teratur dengan rapi. Disamping itu dengan melakukan gerakan kaki yang baik akan memungkinkan seorang petenis lapangan dapat melakukan pukulan pada bola dengan lebih keras. Dari uraian di atas maka dapat disimpulkan, bahwa dalam latihan forehand drive pengaturan gerak kaki sangat berpengaruh terhadap arah pukulan bola maka seorang petenis sebelum melakukan pukulan harus dapat menata gerak kaki terlebih dahulu agar arah pukulannya tepat sesuai dengan arah yang dituju. 2.1.9 Latihan Forehand Drive Mengunakan Arah Bola Depan Belakang B. Yudoprasetio (1981;40) “Dalam bermain tenis drive atau forehand drive merupakan pukulan yang menjuruskan atau mengarahkan bola kemuka .”

xxxv

Dari pernyataan tersebut maka cocok digunakan untuk mengembangkan forehand drive yaitu latihan dengan mengarahkan atau menjuruskan bola. Latihan forehand drive menggunakan arah depan belakang adalah latihan yang diterapkan dalam meningkatkan penguasaan pukulan forehand drive dan latihan menggunakan bola yang diarahkan untuk latihan forehand drive dengan menggunakan arah bola depan belakang dalam permainan tenis lapangan. Variasi latihan Forehand drive dengan menggunakan arah bola depan belakang misalnya dengan mengarahkan bola pada daerah servis. Latihan ini juga dapat digunakan oleh para pemain yang menyukai bermain di depan net. Dengan latihan ini maka pemain juga dapat meningkatkan pukulan yang dapat dijadikan sebagai senjata dalam suatu permainan. Sedangkan bola yang diarahkan pada daerah baseline merupakan variasi bentuk latihan untuk arah bola belakang. Latihan arah bola depan dapat dipadukan dengan latihan dengan arah bola belakang yang merupakan suatu bentuk peningkatan variasi latihan. Sesuai dengan pendapat Soediharso (1991:75) “Ketepatan atau accuration adalah kunci bila seorang pemain menyukai bermain di garis belakang.” Hal ini menunjukkan bahwa latihan dengan arah bola belakang selain menambah variasi latihan untuk arah bola, juga dapat bermanfaat bagi pemain belakang, mengingat dalam latihan bola diarahkan pada daerah baseline. Forehand drive menggunakan arah bola depan belakang mengandung pengertian bahwa dalam latihan forehand drive dapat dilakukan dengan latihan dengan bola yang diumpan kemudian dipukul dengan mengarahkan bola disekitar daerah servis yang merupakan variasi bentuk latihan untuk meningkatkan penguasaan bola depan dan pada daerah beseline untuk arah bola belakang. Bola
xxxvi

yang sudah diumpan sesuai dengan arah depan belakang kemudian dipukul ke daerah yang telah ditentukan secara berulang-ulang dalam satu tahap. Keuntungan latihan forehand Drive dengan arah bola depan belakang yaitu arah bola selalu tepat sehingga mudah untuk dipukul, posisi pemain tidak terlalu bergeser, mempunyai motivasi yang kuat karena ada teman yang mengumpannya, secara teknis dapat meningkatkan mutu pukulan forehand Drive, karena laju bola umpan bisa diatur kecepatannya, kedalamannya dan kejauhannya, waktu penguasaan forehand relatif lebih cepat, faktor kesulitannya relatif lebih sedikit, frekuensi pukulan lebih cepat dan banyak pemain tidak cepat lelah karena tidak banyak mengalami pergeseran. Kerugian latihan Forehand Drive dengan arah bola depan belakang adalah subjek dalam melakukan latihan akan merasa cepat jenuh, karena hanya melakukan satu gerakan pukulan Forehand saja, umpan bola bisa terjadi terlalu cepat. 2.1.10 atihan Forehand Drive Pada Posisi Pemain Maju Mundur Latihan forehand drive pada posisi pemain maju mundur adalah latihan forehand drive dengan posisi pemain lari maju mundur dalam memukul dan mengarahkan bola pada daerah yang telah ditentukan secara berulang-ulang dalam satu tahap. Variasi latihan Forehand drive pada posisi pemain maju mundur adalah seperti yang telah dikemukakan oleh Handono Murti (2002:31,39), bahwa begitu bola diarahkan pada daerah depan maka dapat dipukul dengan langkah-langkah kecil dan posisi badan menyamping. Latihan ini merupakan latihan dalam kemampuan mengarahkan pukulan, yang perlu diperhatikan pada setiap bola yang
xxxvii

akan dipukul adalah jangan sampai setiap bola yang datang selalu dipukul dengan keras dan cepat saja tanpa mengabaikan kontrol masuknya. Agar bola dapat dipukul dengan tepat adalah dengan cara dekati bola sampai sedemikian rupa, sehingga pada saat memantul keatas, lakukan pukulan. Pada posisi siap pukul, posisi kaki kiri di depan. Tekuk kedua kaki dengan berat badan bertumpu pada kaki kiri. Setelah melakukan penyesuaian langkah dengan posisi badan menyamping dan sudah siap memukul, ikuti dengan langkah kaki kanan sebagai akhiran. Setelah melakukan pukulan dengan posisi pemain maju dilanjutkan dengan mempersiapkan pukulan selanjutnya dalam hal ini posisi pemain mundur. Jangan menebak bola datang melainkan membaca arah bola dengan akurat. Berdasarkan uraian di atas maka dapat disimpulkan bahwa latihan Forehand drive pada posisi pemain maju mundur merupakan salah satu bentuk variasi latihan guna meningkatkan kemampuan melakukan bola. Dalam hal ini bola yang dipukul dan di arahkan pada daerah baseline yang dilakukan secara berulangulang dalam satu tahap latihan. Keuntungan latihan Forehand Drive dengan posisi pemain maju mundur yaitu mempunyai motivasi yang kuat untuk melakukan pukulan Forehand Drive karena dilakukan seperti bermain, hal ini menumbuhkan semangat juang yang tinggi dalam latihan. Kelemahan latihan ini Forehand Drive dengan posisi pemain maju mundur adalah bola belum dapat dikuasai, tenaga tidak efisien dan tekniknya tidak selalu bagus atau sempurna, waktu penguasaan latihan Forehand Drive dengan posisi pemain maju mundur relatif lama karena ada gerakan selingan yang lain, arah

xxxviii

Forehand tidak selalu tepat sasaran, faktor kesulitan dalam melakukan latihan ini lebih banyak, pemain mengalami kelelahan yang berarti.

2.2  Hipotesis  Hipotesis menurut Sutrisno Hadi (2001:257)”Pernyataan yang masih lemah kebenarannya dan masih perlu dibuktikan kebenarannya.” Keuntungan latihan Forehand Drive dengan arah bola depan belakang yaitu arah bola selalu tepat sehingga mudah untuk dipukul, posisi pemain tidak terlalu bergeser, mempunyai motivasi yang kuat karena ada teman yang mengumpannya, secara teknis dapat meningkatkan mutu pukulan Forehand Drive, karena laju bola umpan bisa diatur kecepatannya, kedalamannya dan kejauhannya, waktu penguasaan Forehand relatif lebih cepat, faktor kesulitannya relatif lebih sedikit, frekuensi pukulan lebih cepat dan banyak pemain tidak cepat lelah karena tidak ada pukulan selingan yang lain. Kerugian latihan Forehand Drive dengan arah bola depan belakang adalah subjek dalam melakukan latihan akan merasa cepat jenuh, karena hanya melakukan satu gerakan pukulan Forehand saja, umpan bola bisa terjadi terlalu cepat. Sedangkan keuntungan latihan Forehand Drive dengan posisi pemain maju mundur yaitu mempunyai motivasi yang kuat untuk melakukan pukulan

Forenhand Drive karena dilakukan seperti bermain, hal ini menumbuhkan semangat juang yang tinggi dalam latihan. Kelemahan latihan ini Forehand Drive dengan posisi pemain maju mundur adalah bola belum dapat dikuasai, tenaga tidak efisien dan tekniknya tidak selalu bagus atau sempurna, waktu penguasaan
xxxix

latihan Forehand Drive dengan posisi pemain maju mundur relatif lama karena banyak mengalami pergeseran tempat, arah Forehand tidak selalu tepat sasaran, faktor kesulitan dalam melakukan latihan ini lebih banyak, pemain mengalami kelelahan yang berarti. Dengan landasan teori pada analisis pukulan drive, perbedaan latihan kekuatan Forehand drive menggunakan arah bola depan belakang dan posisi pemain maju mundur, serta dengan segala keuntungan dan kerugian dari tiap bentuk latihan forehand drive, maka penulis menyusun hipotesis sebagai berikut : Adanya perbedaan antara latihan forehand drive dengan menggunakan arah bola depan belakang dan posisi pemain maju mundur dan latihan menggunakan arah bola depan belakang lebih baik dari pada latihan dengan menggunakan posisi pemain maju mundur terhadap kemampuan melakukan forehand drive tenis lapangan pada petenis putra klub VTC Pekalongan tahun 2005.

xl

BAB III METODOLOGI PENELITIAN 

Metodologi penelitian merupakan syarat mutlak di dalam suatu penelitian ilmiah. Berbobot tidaknya suatu penelitian tergantung pada pertanggungjawaban metodologi penelitiannya. Penggunaan metodologi penelitian harus tepat dan mengarah pada tujuan serta dipertanggungjawabkan secara ilmiah. Menurut Sutrisno Hadi (1987:4) “Metodologi penelitian yang seperti kita kenal sekarang memberikan garis-garis yang cermat dan mengajukan syarat-syarat yang benar, maksudnya adalah untuk menjaga agar penelitian yang dicapai dari suatu penelitian memiliki harga ilmiah yang setinggi-tingginya. Dalam bab ini yang akan dibahas adalah hal-hal sebagai berikut:

3.1 Populasi Menurut Sutrisno Hadi (2001:220) “Populasi adalah seluruh penduduk yang dimaksud untuk diselidiki. Populasi dibatasi dengan sejumlah penduduk atau individu yang paling sedikit mempunyai sifat yang sama. Populasi dalam penelitian ini adalah petenis putra klub VTC Kabupaten Pekalongan Tahun 2005 yang berjumlah 39 orang. Karena semua petenis lapangan mempunyai sifat-sifat yang sama : laki-laki, umur rata-rata 15-17 tahun, berlatih diklub yang sama ( Klub VTC Pekalongan ), maka memenuhi syarat untuk menjadi populasi.

30
xli

3.2 Sampel Menurut Sutrisno Hadi (2001:221) “Sampel adalah sebagian atau wakil dari populasi. Jika kita hanya meneliti sebagian dari populasi, maka penelitian tersebut disebut penelitian sampel. Penelitian ini merupakan penelitian populasi yaitu seluruh populasi digunakan sebagai anak coba. Teknik sampling yang digunakan adalah purposive random sampling yaitu pengambilan sampel yang didasarkan atas tujuan tertentu yaitu sampel yang digunakan adalah 34 dari populasi 39. Hal ini dikarenakan 5 sampel belum menguasai teknik dasar pukulan forehand drive karena sampel baru saja gabung dengan klub VTC Pekalongan sebagai tempat penelitian. Sedangkan teknik random yang digunakan dalam penelitian ini adalah untuk menentukan kelompok eksperimen dan kelompok kontrol. Walaupun cara ini diperbolehkan, yaitu peneliti bisa menentukan sampel berdasarkan tujuan tertentu, tetapi ada syarat –syarat yang harus dipenuhi. a. Pengambilan sampel harus didasarkan atas ciri-ciri, sifat-sifat atau karakteristik tertentu, yang merupakan ciri-ciri pokok populasi. b. Subjek yang diambil sebagai sampel harus benar-benar merupakan subjek yang paling banyak mengandung ciri-ciri yang terdapat pada populasi (key subjects). c. Penentuan karakteristik populasi dilakukan dengan cermat didalam studi pendahuluan. Dalam penelitian ini, sampel diambil dengan cara memilih sampel berdasarkan tujuan tertentu, yaitu sampel yang sudah mahir melakukan forehand drive, kemudian sampel tersebut dipilih secara acak karena jumlah sampel
xlii

sebelumnya terlalu banyak, untuk itu sampel yang digunakan sesuai dengan alasan yang sudah disampaikan di atas.

3.3 Variabel Penelitian Variabel adalah gejala yang bervariasi yang menjadi obyek penelitian atau apa yang menjadi titik perhatian suatu penelitian. (Suharsimi Arikunto 2002:96). Variabel yang digunakan dalam penelitian ini adalah : 3.3.1 Variabel Bebas Variabel bebas adalah variabel penyebab (yang mempengaruhi). Variabel bebas dalam penelitian ini adalah: 1) Latihan forehand drive dengan arah bola depan belakang 2) Latihan forehand drive dengan posisi pemain maju mundur 3.3.2 Variabel Terikat Variabel terikat adalah variabel yang dipengaruhi. Variabel terikat dalam penelitian ini adalah Kemampuan forehand drive.

3.4 Metode Pengambilan Data Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode eksperimen, untuk memperoleh data yang sesuai dengan tujuan penelitian. Teknik eksperimen adalah metode yang memberikan dan menggunakan suatu gejala yang disebut latihan atau percobaan. Dengan adanya latihan tersebut akan terikat adanya hubungan sebab akibat sebagai pengaruh dari pelaksanaan latihan. Menurut Sutrisno Hadi (1987:89) salah satu tugas yang penting dalam riset ilmiah adalah penetapan ada tidaknya hubungan sebab akibat antar fenomena dan membuat

xliii

hukum tentang hubungan sebab akibat. Metode eksperimen adalah metode yang paling jitu untuk meneliti hubungan sebab akibat itu.”

3.5 Desain atau Pola Penelitian Desain atau pola yang digunakan dalam penelitian ini adalah Matched Subject Design atau pola M-S, dengan pengertian: “Matched Subject Design, yaitu eksperimen yang menggunakan kelompok kontrol yang sudah disamakan subjek demi subjek sebelum eksperimen dilaksanakan. Yang disamakan adalah satu variabel atau lebih yang telah diketahui pengaruh terhadap hasil eksperimen yaitu variabel diluar atau faktor yang dieksperimenkan (Sutrisno Hadi, 1987:278) Untuk menyamakan atau menyeimbangkan kedua grup tersebut dengan cara subject matching ordinal pairing yaitu subjek yang hasilnya sama atau hampir sama dengan tes awal kemudian dipasangkan dengan rumus ab ba maka terbentuk 2 kelompok, maka kedua kelompok tersebut mempunyai tingkat kemampuan yang seimbang. Hal ini dapat dilihat dari mean dari kedua kelompok tersebut yang sama atau hampir sama untuk menentukan kelompok eksperimen maupun kelompok kontrol. Kedua kelompok yang memiliki tingkat kemampuan yang seimbang diundi. Hal ini bertujuan memberikan kesempatan yang sama pada kedua kelompok untuk menjadi kelompok eksperimen maupun kelompok kontrol, sehingga subjektifitas dari peneliti tidak akan masuk didalamnya. Sehingga akan dapat ditentukan kelompok mana yang menjadi kelompok eksperimen maupun kelompok kontrol.

xliv

3.5.1 Tahap Persiapan Beberapa tahap persiapan sebelum peneliti lakukan sebelum pengambilan data antara lain: 3.5.1.1 Persiapan Pengambilan Sampel Sebelum mendapatkan sampel, peneliti mengadakan observasi terlebih dahulu di klub VTC Pekalongan. Setelah mendapatkan informasi mengenai jumlah atlit dan jadual latihan di klub tersebut, peneliti mengajukan surat ijin penelitian sebagai syarat mengadakan penelitian. 3.5.1.2 Alat-alat dan Perlengkapan Penelitian Alat-alat yang digunakan untuk menunjang kelancaran penelitian ini antara lain: 1 buah lapangan tenis, bola tenis sebanyak 50 butir, raket tenis, tali, dua buah tongkat, keranjang bola, blngko penilaian, kapur tulis berwarna serta meteran. 3.5.1.3 Tenaga Pelaksana Dalam penelitian ini, peneliti dibantu oleh anggota pengelola klub VTC Pekalongan dan rekan mahasiswa FIK UNNES Semarang. Adapun nama-nama petugas pelaksana penelitian dapat dilihat pada lampiran.

3.6 Instrumen Penelitian Alat yang digunakan dalam penelitian ini adalah Hewitt’s achievement test dari Jack E. Hewitt. Tes pukulan drive dari Hewitt ini dirancang untuk digunakan sebagai alat pengelompokkan dan penentuan tingkat. Tes ini mempunyai koefisien validitas 0,63 dan realibilitas 0,75 (lihat gambar 6)

xlv

Gambar 6.

Instrumen Tes Penempatan Forehand Drive. (James S. Bosco dan William F. Gustafson, 1983 : 217).

Pelaksanaan tes penempatan Forehand drive : pemain mengembalikan bola dengan forenhand drive sehingga bola melewati diatas net. Pada masingmasing tiang net, ujungnya diikatkan 7 kaki dari tiang. Tali diikatkan keatas tiang setinggi 7 kali sehingga berada 7 kaki di atas permukaan lapangan dan sejajar dengan bagian atas dari net. Pemain berdiri pada perpotongan baseline (garis belakang) dan center servis mark. Pengumpanan berada pada perpotongan garis pusat service dan garis service. Pengumpan memukul bola tenis kepada pemain sebanyak 5 bola sebagai percobaan tepat di seberang daerah service. Pemain
xlvi

bergerak pada posisi yang benar untuk melakukan forehand drive memukul bola melewati net dan di bawah tali ke dalam daerah lapangan untuk memperoleh angka sebanyak mungkin. Pemain memilih 10 bola untuk dikembalikan dengan forehand drive. Bola-bola yang dipukul di atas tali dan masuk kedalam daerah penilaian. Nilainya setengah dari nilai umum. Semua bola yang menyentuh net dan tali diulang. Nilai pemain adalah jumlah dari nilai yang diperolah pada 10 pukulan forehand drive. 3.6.1 Waktu dan Tempat Penelitian Penelitian dimulai tanggal 14 Agustus 2005 sampai dengan 9 September 2005 dengan keterangan sebagai berikut : 3.6.1.1 Tes Awal Tes awal dilaksanakan pada tanggal 14 Agustus 2005 dilapangan klub VTC Pekalongan mulai pukul 13.30 sampai dengan selesai. Tes awal ini menggunakan tes menempetan forehand drive dari Hewitt. Pelaksanaannya adalah sampel melakukan forehand drive sebanyak 10 kali yang sebelumnya diberi kesempatan melakukan 2 kali forehand drive sebagai percobaan. Sebelum tes awal dimulai diadakan persiapan terlebih dahulu yaitu membuat batas garis yaitu untuk penempatan forehand drive, menyiapkan petugas pelaksana dan formulir tes serta menyiapkan alat-alat yang diperlukan lainnya. Setelah itu sampel diberikan penjelasan tentang petunjuk pelaksanaan tes forehand drive serta melakukan pemanasan secukupnya. Adapun langkah pelaksanaan tes awal adalah sebagai berikut : 1) Sampel dipanggil satu per satu
xlvii

menurut nomor tes yang telah disusun. 2) Sampel yang telah dipanggil memasuki lapangan dan siap untuk melakukan tes penempatan forehand drive. 3) Setelah pencatat skore dan pengawas sasaran siap, maka sampel melakukan tes penempatan forehand drive sebanyak 10 kali, 2 kali percobaan sebelum 10 kali pukulan forehand drive dinilai. 3.6.1.2 Pelaksanaan Penelitian Pelaksanaan penelitian yang dimaksud di sini adalah pelaksanaan pemberian latihan atau perlakuan. Dalam pelaksanaan latihan menurut M. Sajoto (1996 : 47) yang mengutip pendapat Brooks dan Fahey menerangkan “untuk cabang-cabang olahraga yang banyak dilakukan dengan lari, berhenti, seperti cabang olahraga sepak bola, tenis lapangan dll, latihan sekurang-kurangnya 45 menit”. Waktu yang digunakan untuk memberikan perlakuan dalam penelitian ini adalah 90 menit. Untuk lebih jelasnya pelaksanaan pelatihan dan materi latihan dapat dilihat pada lampiran 11. 3.6.1.3 Tes Akhir Tes akhir ini merupakan tahap akhir dari penelitian. Fungsi dari tes akhir ini adalah untuk mendapatkan data hasil dari masing-masing kelompok dengan alat tes yang sama. Tes akhir ini dilaksanakan pada tanggal 9 September 2005. Hasil tes akhir antara dua kelompok dianalisis dengan metode statistik. 3.7 Faktor-faktor yang Mempengaruhi Penelitian Dalam penelitian ini untuk menghindari adanya kemungkinankemungkinan kesalahan selama penelitian, maka penulis akan mengemukakan beberapa faktor yang dapat mempengaruhi hasil penelitian dan usaha-usaha untuk

xlviii

menghindarinya. Adapun Faktor-faktor yang mempengaruhi penelitaian ini adalah: 1. Faktor kesungguhan hati Faktor kesungguhan hati dalam pelaksanaan penelitian dari masingmasing sampel tidak sama, untuk itu penulis dalam pelaksanaan latihan dan tes selalu memotivasi, mengawasi dan mengontrol setiap aktivitas yang dilakukan dengan melibatkan pembimbing untuk mengarahkan kegiatan sampel pada tujuan yang akan dicapai. 2. Faktor penggunaan alat Dalam penelitian ini, baik dalam test maupun dalam pemberian materi latihan sebelum dimulai diupayakan semua alat yang berhubungan dengan penelitian sudah dipersiapkan terlebih dahulu, sehingga latihan dapat berjalan dengan lancar. 3. Faktor pemberian materi Materi latihan mempunyai peran yang sangat penting dalam usaha mencapai tujuan, jelas hal ini akan menimbulkan kebosanan pada sampel sehingga untuk menghindarinya perlu diberikan latihan dalam bentuk permainan sebagai pembangkit gairah (motivasi) dengan cara bermain tenis. 4. Faktor Kemampuan Sampel Masing-masing sampel memiliki kemampuan dasar yang berbeda, baik dalam penerimaan materi secara lisan maupun kemampuan dalam penggunaan alat tes. Untuk iti penulis selain memberikan informasi secara klasikal, secara individu penulis berusaha memberikan koreksi agar tes yang digunakan benarbenar baik.
xlix

5. Faktor Kegiatan Sampel di Luar penelitian. Tujuan utama pelaksanaan penelitian ini adalah memperoleh data-data seakurat mungkin. Untuk menghindari adanya kegiatan sampel di luar penelitian yang bisa menghambat proses latihan dan pengambilan data penelitian, penulis berusaha mengatasi dengan memilih waktu penelitian bersamaan dengan jadwal latihan rutin. Salah satu masalah penting dalam setiap eksperimaen adalah bagaimana mengendalikan dan memperhitungkan pengaruh-pengaruh yang ditimbulkan oleh faktor-faktor di luar variabel. Untuk menjaga agar tidak terpengaruh oleh faktor luar, perlu dilakukan usaha-usaha untuk mengantisipasinya. Faktor-faktor di luar penelitian yang perlu dikendalikan antara lain: 3.7.1 Faktor Kemauan dan Kesungguhan Hati Faktor kemauan besar pengaruhnya terhadap hasil yang dicapai oleh masing-masing anak coba. Oleh karena itu peneliti bersama pelatih kub VTC Pekalongan berusaha memberi motivasi pada anak coba. 3.7.2 Faktor Kemampuan Anak Coba. Tidak bisa dipungkiri bahwa kemampuan anak coba berbeda-beda. Tetapi hal ini dapat diusahakan untuk mengurangi tingkat perbedaan mereka, cara dengan memasangkan sampel dengan cara ab ba dari hasil tes awal. 3.8.1 Faktor Pemberian Motivasi Latihan. Selama penelitian, subjek harus selalu diberikan motivasi agar kemauan dan kesungguhan dalam melakukakan latihan dapat ditingkatkan. Cara memotivasi mereka dilakukkan dengan mengunakan pendekatan individu misalnya dengan cara memuji mereka yang berhasil dan memberi dorongan bagi yang kurang berhasil.
l

3.7.3

Faktor Kedisiplinan Anak Coba. Kedisiplinan disini lebih ditekankan pada kehadiran dan kesungguhan

anak coba dalam melakukan setiap latihan. Kehadiran perlu dikontrol karena keterlambatan dapat mengganggu jalannya latihan. Sedang program yang diberikan harus dilakukan pemain dengan sebaik-baiknya 3.7.4 Faktor Kegiatan Anak Coba Di luar Penelitian. Kegiatan-kegiatan yang dilakukan anak coba di luar penelitian dapat mempengaruhi hasil penelitian, misalnya menambah porsi latihan sendiri diluar penelitian. peneliti bersama dengan pelatih VTC Pekalongan menghimbau kepada semua anak coba agar tidak melakukkan kegiatan-kegiatan di luar penelitian yang dapat mempengaruihi hasil penelitian. 3.7.5 Faktor Sarana dan Prasarana. Penggunaan sarana dan prasarana diusahakan seimbang antara kelompok eksperimen dan kelompok kontrol. Sarana dan prasarana seperti lapangan (lapangan yang digunakan secara bergatian oleh kedua kelompok cukup baik), bola (merk Tens dan masih baru sekitar 140 butir), raket (yang dipergunakan oleh kedua kelompok cukup baik), dan peralatan lain harus diseimbangkan. 3.7.6 Faktor Ketelitian Petugas. Untuk menghindari kesalahan-kesalahan yang dilakukan oleh pembantu peneliti, sebelum penelitian dilaksanakan peneliti mengadakan pengarahan terhadap petugas pembantu agar melaksanakan tugas penelitian dan sebaikbaiknya.

3.7.7

Faktor Cuaca.
li

Pelaksanaan latihan dilaksanakan pada situasi yang memungkinkan, artinya dilaksanakan pada situasi yang sama antara tes awal, waktu latihan, dan tes akhir. Tujuan penyamaan tersebut agar subjek tidak mengalami kesulitan dalam menghadapi cuaca, sehingga diharapkan tidak mengganggu jalannya penelitian. 3.7.8 Faktor Pelatih. Pelatih memegang peranan penting dalam keberhasilan suatu latihan. Perlakuan yang diberikan oleh pelatih akan membawa pengaruh yang berlainan terhadap kondisi psikis pemain. Oleh karena itu setiap pelatih setelah dua lima kali pertemuan berpindah dari kelompok eksperimen ke kelompok kontrol dan sebagainya.

3.8. Metode Analisis Data Analisis data atau pengolahan data merupakan suatu langkah yang penting dalam suatu penelitian, karena merupakan upaya dalam mencari dan menata datadata hasil penelitian secara sistematis dengan analisis data maka dapat ditarik kesimpulan dari penelitian yang sudah dilaksanakan. Setelah diperoleh hasil test akhir ketepatan melakukan forehand drive yang terdapat pada lampiran, maka perlu diuji signifikansinya dengan menggunakan rumus t-test rumus pendek. Sutrisno Hadi (1986:486) berpendapat: Analisa terhadap hasil eksperimen didasarkan atas subjek matching selalu menggunakan rumus t-test pada correlated sample. Untuk menyelesaikan ini ada dua rumus yang tersedia.

lii

Kedua rumus itu adalah rumus panjang (long method) dan rumus pendek (short method). Dengan rumus panjang maupun rumus pendek akan memperoleh hasil sama (memperoleh nilai t yang sama), maka penulis memilih rumus pendek untuk mengolah data, sebab lebih efisien penggunaannya. Untuk menjabarkan data tes akhir ke dalam rumus diperlukan tabel persiapan, seperti di bawah ini : Tabel 1. Tabel persiapan penghitungan statistik

D Pasangan No Subjek Xe Xk Xk) 3 1 2 3 4 s.d Total Keterangan : Xe Xk D d d2 : Nilai kelompok eksperimen : Nilai kelompok kontrol : Perbedaan dari tiap-tiap pasangan : Deviasi perbedaan dari tiap-tiap pasangan : Kuadrat perbedaan dari tiap-tiap pasangan ΣXe ΣXk ΣD 4 1 (XeMD)

d (D-

2

Σd

liii

Langkah-langkah dalam mengerjakan penelitian ini adalah sebagai berikut 1. Tiap-tiap pasangan subjek dimasukkan dalam kolom kedua, sesuai dengan nomor urut. 2. Nilai tes akhir dari kelompok eksperimen dimasukkan dalam kolom 3. 3. Nilai tes akhir dari kelompok kontrol dimasukkan dalam kolom 4. 4. Untuk mengisi kolom D berasal dari nilai kelompok ekperimen dikurangi nilai dari kelompok kontrol (Xe-Xk). 5. Untuk mengisi b diperoleh dari nilai D-MD dan MD berasal dari ΣD/N, harus dicek D = (Xe- Xk) dan b = 0,0. Perlu diperhatikan tanda – dan tanda + harus dipertahankan. 6. Kemudian setiap kolom dicari jumlah dan rekapitulasi dicatat nilai-nilai MD, Σd2 dan N. Rumus pendek yang digunakan : t= MD Σd 2 N(N − 1) ( Sutrisno Hadi, 1994

: 278 ) Keterangan : MD : Mean perbedaan d2 N : Deviasi mean perbedaan : Jumlah pasangan subjek

liv

Hipotesis nihil akan diuji kebenarannya berdasarkan taraf kesalahan 5% dengan d.b = N-1 =16, artinya bahwa dari 95% dari keputusan adalah benar dan akan menolak hipotesis yang salah adalah 5 diantara 100 kemungkinan. Menolak hipotesis atas dasar taraf kepercayaan 95%, yang berarti kita mengambil resiko kesalahan dalam mengambil keputusan sedikitnya 5%. Dengan melakukan perhitungan kemungkinan hasil yang diperoleh

sebagai berikut: 1. Apabila niat t yang diperoleh dari perhitungan statistik itu lebih kecil dari nilai ttabel, maka hipotesis nihil diterima. 2. Apabila nilai t dalam tabel lebih besar dari nilai ttabel maka hipotesis nihil ditolak.

lv

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

4.1 Hasil Penelitian 1. Uji Kesamaan Rata-rata Data Awal Kemampuan Melakukan Forehand Drive Subyek dalam penelitian ini yaitu petenis putra klub VTC Pekalongan tahun 2005. Subjek dibagi menjadi 2 kelompok dengan distribusi kemampuan awal yang sama. Hasil kemampuan awal penempatan forehand drive dari kedua kelompok penelitian. Pada taraf kesalahan α = 5% dengan derajat kebebasan dk = 17-1 = 16, diperoleh ttabel sebesar 2,12. Karena thitung = 0,00 < ttabel = 2,12, maka dapat disimpulkan bahwa Ho diterima, yang berarti tidak ada perbedaan kemampuan melakukan forehand drive pada kondisi awal dari kedua kelompok. Dengan demikian dapat dijelaskan bahwa kedua kelompok sebelum mendapatkan perlakuan berangkat dari kemampuan awal yang sama. 2. Uji Perbedaan Rata-rata Data Akhir Kemampuan Penempatan Forehand Drive Pada tahap selanjutnya, kedua kelompok melakukan latihan yang berbeda. Pada kelompok eksperimen dilatih melakukan forehand drive menggunakan arah bola depan belakang, sedangkan kelompok kontrol dilatih melakukan forehand drive dengan posisi pemain maju mundur. Untuk mengetahui ada tidaknya

lvi

perbedaan hasil latihan tersebut, diambil data tes akhir yang hasilnya dapat dilihat pada lampiran 9. Pada taraf kesalahan α = 5% dengan derajat kebebasan dk = 17-1 = 16, diperoleh ttabel sebesar 2,12. Karena thitung = 4,29 > ttabel = 2,12, maka dapat disimpulkan bahwa Ho ditolak, yang berarti ada perbedaan hasil latihan forehand drive menggunakan arah bola depan belakang dengan hasil latihan forehand drive menggunakan posisi pemain maju mundur terhadap kemampuan melakukan forehand drive tenis lapangan pada petenis putra klub VTC Pekalongan tahun 2005. Rata-rata skor kemampuan melakukan forehand drive kelompok eksperimen yang dilatih menggunakan arah bola depan belakang dapat mencapai 18,29 sedangkan kelompok kontrol yang dilatih melakukan forehand drive

menggunakan posisi pemain maju mundur hanya mencapai 14,94. Dilihat dari perolehan rata-rata kemampuan melakukan forehand drive dari kedua kelompok tersebut menunjukkan bahwa kemampuan melakukan forehand drive yang dilatih dengan menggunakan arah bola depan belakang lebih baik dari pada kemampuan melakukan forehand drive yang dilatih dengan menggunakan posisi pemain maju mundur. Sebelum dilakukan latihan, pada kelompok eksperimen rata-rata kemampuan melakukan forehand drivenya mencapai 11,29, sedangkan kelompok kontrol juga mencapai 11,29. Secara kuantitas menunjukkan bahwa kelompok yang dilatih melakukan forehand drive dengan arah bola depan belakang dapat meningkatkan kemampuan melakukan forehand drivenya menjadi 18,29 atau dalam persentase meningkat sebesar 62,00%, sedangkan pada kelompok kontrol
lvii

yang dilatih dengan posisi pemain maju mundur terhadap kemampuan melakukan forehand drivenya meningkat menjadi 14,94 atau dalam persentase meningkat sebesar 11,72%. Tampak bahwa kedua latihan forehand drive tersebut mampu meningkatkan kemampuan melakukan forehand drive, namun dengan latihan melakukan forehand drive menggunakan arah bola depan belakang lebih baik daripada latihan forehand drive dengan posisi pemain maju mundur.

4.2 Pembahasan Forehand drive adalah salah satu bentuk pukulan dalam permainan tenis lapangan yang di dalamnya terdapat unsur-unsur kecepatan, ketepatan dan kelincahan. Dalam melaksanakan latihan pukulan forehand drive dapat menggunakan arah bola depan belakang atau posisi pemain maju mundur. Dari hasil kedua metode latihan yang digunakan dalam penelitian yaitu latihan pukulan forehand drive menggunakan arah bola depan belakang dan menggunakan posisi pemain maju mundur ini ternyata mampu meningkatkan kemampuan melakukan forehand drive. Berdasarkan hasil analisis data ternyata diperoleh thitung lebih besar dari ttabel dan mean akhir kelompok eksperimen lebih besar dari mean akhir kelompok kontrol. Dengan demikian latihan pukulan forehand drive menggunakan arah bola depan belakang ternyata dapat meningkatkan kemampuan melakukan forehand drive secara optimum. Latihan pukulan forehand drive dengan arah bola depan yang dipadukan dengan latihan dengan arah bola belakang merupakan suatu bentuk peningkatan variasi latihan. Melalui latihan dengan arah bola depan
lviii

dimana bola diarahkan pada daerah servis merupakan variasi bentuk latihan untuk peningkatan penguasaan bola di daerah depan dekat dengan net sedangkan latihan dengan arah bola belakang selain menambah variasi latihan untuk arah bola, juga dapat bermanfaat bagi pemain untuk menguasai lapangan belakang, mengingat dalam latihan bola diarahkan pada daerah baseline. Keuntungan latihan forehand drive dengan arah bola depan belakang yaitu arah bola selalu tepat sehinggga mudah untuk dipukul, posisi pemain tidak terlalu bergeser, mempunyai motivasi yang kuat karena ada teman yang mengumpannya, secara teknis dapat meningkatkan mutu pukulan forehand drive, karena laju bola umpan bisa diatur kecepatannya, kedalamannya dan kejauhannya, waktu penguasaan forehand relatif lebih cepat, faktor kesulitannya relatif lebih sedikit, frekuensi pukulan lebih cepat dan banyak pemain tidak cepat lelah karena tidak ada pukulan selingan yang lain. Berbeda halnya dengan latihan forehand drive dengan posisi pemain maju mundur. Pada latihan ini posisi pemain maju mundur relatif lama karena ada gerakan selingan yang lain, arah forehand tidak selalu tepat sasaran, faktor kesulitan dalam melakukan latihan ini lebih banyak, pemain mengalami kelelahan yang berarti sehingga hasil latihan tidak optimal. Secara nyata perbedaan tersebut dapat dilihat dari rata-rata kemampuan melakukan forehand drive dari kedua kelompok. Pada kelompok eksperimen yang dilatih dengan arah bola depan belakang kemampuan melakukan forehand

drivenya dapat meningkat sebesar 62,00%, sedangkan pada kelompok kontrol yang mendapatkan latihan menggunakan posisi pemain maju mundur terhadap kemampuan melakukan forehand drivenya hanya meningkat sebesar 11,72%.
lix

Walaupun metode latihan forehand drive dengan arah bola depan belangan cukup efektif untuk meningkatkan kemampuan melakukan forehand drive, akan tetapi metode latihan ini juga memiliki banyak kelemahan yang harus mendapat perhatian serius dari para peserta latihan maupun para pelatih itu sendiri. Dalam latihan dengan metode ini pemain sering merasa cepat jenuh, karena hanya melakukan satu gerakan pukulan forehand saja dan umpan bola bisa terjadi terlalu cepat. Oleh karena ini dalam latihan dengan arah bola depan belakang hendaknya tidak dilakukan secara monoton, perlu dilakukan variasivariasi posisi bola baik saat posisi depan maupun saat posisi belakang sehingga kejenuhan pemain saat melakukan latihan ini dapat berkurang.

lx

BAB V SIMPULAN DAN SARAN

5.1 Simpulan Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan, maka dapat diambil beberapa simpulan antara lain: 1. Ada perbedaan hasil latihan forehand drive menggunakan arah bola depan belakang dengan hasil latihan forehand drive menggunakan posisi pemain maju mundur terhadap kemampuan melakukan forehand drive tenis lapangan pada petenis putra klub VTC Pekalongan tahun 2005. hal ini dibuktikan dari hasil uji t yang memperoleh thitung = 4, 29 > ttabel = 2,12. 2. Kemampuan melakukan forehand drive yang dilatih dengan menggunakan arah bola depan belakang lebih baik dari pada kemampuan melakukan forehand drive mundur. yang dilatih dengan menggunakan posisi pemain maju

Hal ini ditunjukkan dari perolehan mean akhir dari kelompok

eksperimen yaitu 18,29 yang lebih baik dari mean akhir kelompok kontrol yaitu 14,94.

5.2 Saran Ada beberapa saran yang dapat penulis ajukan berdasarkan hasil penelitian ini antara lain: 5.3 Meningkatkan kemampuan melakukan forehand drive dapat menggunakan latihan dengan arah bola depan belakang. Latihan ini dapat digunakan diklub-

50
lxi

klub tenis khususnya klub VTC Pekalongan sebagai variasi latihan untuk menghindari kejenuhan pemain saat melakukan latihan forehand drive. 5.4 Bagi peneliti lain yang hendak melakukan penelitian sejenis, hendaknya menggunakan hasil penelitian ini sebagai bahan referensi sehingga dapat memperoleh hasil yang lebih sempurna.

lxii

DAFTAR PUSTAKA 

A. A.Katilli,1948. Olahraga Tenis Lapangan, Bandung: Offset Bumi Restu B. Yudoprasetio,1981. Belajar Tenis I, Jakarta : Bhatara Karya Aksara. _____________,1981. Belajar Tenis II, Jakarta : Bhatara Karya Aksara. Brown. Jim, 1996. Tenis Tingkat Pemula, Jakarta: Raja Grafindo Persada. Handono Murti, 2002. Tenis Sebagai Prestasi dan Profesi, Jakarta: Tyas Biratno Pallal. James S.B; William F.G, 1983. Measurement and Physical Education, Fitnes, and Sport, USA : Presentice-Hall Inc. Larrdner.Rex, 1996. Teknik Dasar Tenis Strategi dan Teknik yang Akurat, Semarang :Dahara Prize. Mottram, Tony 1996. Fundamental Tenis Resep Meraih Kemenangan, Semarang: Dahra Prize. Scharff, Robert. 1981, The Quick and Easy Guide to Tenis, Jakarta: Mutiara Soediharso, 1991. Teknik, Taktik, Strategi dan Metode Belajar Bermain Tenis, Jakarta: PB. PELTI Sudjana. 2002. Metode Statistika. Bandung: Tarsito Suharsimi Arikunto. 2002. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik, Jakarta: PT. Melton Putra. Sutrisno Hadi, 1987. Statistik II, Yogyakarta :Yayasan Penerbit Fakultas Fisiologi Universitas Gadjah Mada. W. J. S. Poerwadarminta, 1984. Kamus Umum Bahasa Indonesia, Jakarta: PT. Balai Pustaka.

lxiii

52

lxiv

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->