P. 1
96

96

|Views: 669|Likes:
Published by jhon

More info:

Published by: jhon on Sep 16, 2010
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

01/03/2013

pdf

text

original

HUBUNGAN KEKUATAN OTOT TUNGKAI DENGAN START RENANG GAYA KUPU-KUPU PADA ATLET PERKUMPULAN RENANG SPECTRUM

SEMARANG

SKRIPSI Diajukan dalam rangka menyelesaikan Studi Strata 1 Untuk mencapai gelar Sarjana Pendidikan

Oleh : Nama Mahasiswa : Subiyanto NIM Jurusan Fakultas : 6301903018 : Pendidikan Kepelatihan Olahraga : Fakultas Ilmu Keolahragaan

UNIVERSITAS NEGERI SEMARANG 2005

1

2

SARI Subiyanto (2005) “Hubungan Kekuatan Otot Tungkai Dengan Start Renang Gaya Kupu-kupu Pada Atlet Perkumpulan Renang Spectrum Semarang”. Cabang renang memiliki beberapa komponen berkaitan dengan teknik yang harus dikuasai oleh perenang saat mengikuti perlombaan, yaitu : start, pembalikan, finish, dan gaya renang itu sendiri. Start merupakan awal dalam melakukan perlombaan dan berpengaruh terhadap hasil akhir suatu perlombaan renang. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan antara kekuatan otot tungkai dengan start renang gaya kupu-kupu dan untuk mengetahui berapa besar sumbangan variabel kekuatan otot tungkai terhadap start (grab start) pada atlet Perkumpulan Renang Spectrum Semarang. Populasi penelitian ini adalah atlet laki-laki yang berusia 10 – 14 tahun berjumlah 10 atlet. Pengambilan data dengan menggunakan teknik total sampling. Penelitian ini adalah survei, instrument yang digunakan adalah (1) back and leg dynamometer untuk mengukur kekuatan otot tungkai (2) rol meter (meteran) untuk mengukur jauhnya lompatan start renang. Data yang diperoleh dianalisa dengan korelasi product moment tunggal pada taraf signifikansi 0,05. Data / penelitian ini menggunakan prediktor tunggal yaitu prediktor kekuatan otot tungkai (X) dan sebagai kriterium adalah lompatan start (Y). Hasil dari analisa data statistik diperoleh nilai r hitung sebesar 0,723 dan nilai signifikansi 0,05 (r tabel) sebesar 0,632. Jadi hipotesis yang menyatakan, bahwa terdapat hubungan yang signifikan variabel kekuatan otot tungkai dengan start renang gaya kupu-kupu (grab start) pada atlet Perkumpulan Renang Spectrum Semarang, tahun 2005. Berdasarkan hasil penelitian ini disarankan hasil penelitian ditindaklanjuti dengan memberikan treatment untuk meningkatkan kekuatan otot tungkai dan peningkatan kondisi fisik. Untuk pelatih dan atlet Perkumpulan Renang Spectrum Semarang agar dapat meraih prestasi yang optimal harus melakukan latihan fisik yang dilakukan di air maupun di darat, terutama kekuatan otot tungkai yang digunakan untuk dasar tolakan dalam melakukan start.

3

HALAMAN PERSETUJUAN Skripsi ini telah disetujui untuk diajukan kepada panitia ujian Skripsi Fakultas Ilmu Keolahragaan Universitas Negeri Semarang

Semarang, Mei 2005

Pembimbing I

Pembimbing II

Dra. Kaswarganti. R. M.Kes NIP. 131993872

Tri Tunggal S, M.Kes NIP. 132169275

Mengetahui Ketua Jurusan Pendidikan Kepelatihan Olahraga

Drs. Wahadi, M.Pd. NIP. 131571551

4

HALAMAN PENGESAHAN Telah dipertahankan di hadapan Sidang Panitia Ujian Skripsi Fakultas Ilmu Keolahragaan Universitas Semarang : Pada Hari Tanggal : Senin : 11 Juli 2005

Panitia Ujian Ketua Sekretaris

Drs. Sutardji, MS NIP.130523506 Anggota Penguji :

Drs. Wahadi, M.Pd NIP.131571551

1. Drs. Margono, M.Kes NIP.131571553

2. Dra. Kaswarganti Rahayu, M.Kes NIP. 131993872

3. Tri Tunggal, S.Pd, M. Kes NIP. 132169275

5

MOTTO DAN PERSEMBAHAN

Motto : “Ya Tuhan kami janganlah Engkau jadikan hati kami condong kepada kesesatan sesudah Engkau memberi petunjuk kepada kami., dan karuniakanlah kepada kami rahmat dari sisi Engkau, karena sesungguhnya Engkaulah Maha Pemberi Karunia.” (Surat Ali Imran Ayat : 8 – 9).

Kupersembahkan kepada : Istri dan anakku tercinta serta temanteman guru penjas yang pro aktif terhadap perkembangan dan kemajuan olahraga terutama cabang renang, teman Seprofesi / Bapak dan Ibu yang memberi dukungan moril untuk menuntut ilmu di UNNES, serta almamater FIK UNNES.

6

KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa yang telah melimpahkan rahmat dan hidayah-Nya. Dengan ijinNya-lah penelitian skripsi ini dapat kami selesaikan. Dalam penelitian ini penulis menyadari banyak kekurangan sehingga bantuan serta bimbingan dari berbagai pihak telah penulis terima. Sebagai rasa terima kasih penulis menyampaikan ucapan penghargaan kepada : 1. Rektor Universitas Negeri Semarang, selaku pimpinan perguruan tinggi yang telah memberi kesempatan pada saya untuk menyelesaikan studi strata satu. 2. Dekan Fakultas Ilmu Keolahragaan, selaku pimpinan Fakultas yang telah membantu dalam kelancaran pembuatan skripsi ini. 3. Ketua Jurusan PKLO dan Sekretaris jurusan yang membantu kelancaran pembuatan skripsi ini. 4. Dra. Kaswarganti. R, M.Kes. selaku Pembimbing I yang telah membimbing dengan penuh keikhlasan dan kesabaran. 5. Tri Tunggal. M.Kes. selaku Pembimbing II yang telah membimbing dengan penuh keikhlasan dan kesabaran. 6. Dosen Jurusan PKLO yang banyak memberikan ilmu pengetahuan tentang keolahragaan serta telah memberi dorongan dan bantuan sehingga selesainya penelitian ini.

7

7.

Danang Sulistyanto selaku pengurus Perkumpulan Renang Spectrum Semarang yang telah memberikan kesempatan untuk mengadakan penelitian pada anak didiknya.

8. Semua pihak yang telah membantu dalam proses pembuatan skripsi ini. Akhirnya penulis berharap semoga skripsi ini dapat memberikan manfaat bagi penulis sendiri ataupun semua pihak yang memerlukannya.

Semarang,

Mei 2005

Penulis

8

DAFTAR ISI Halaman HALAMAN JUDUL ……………………………………………………….. SARI ………………………………………………………………………… i ii

HALAMAN PERSETUJUAN ……………………………………………… iii HALAMAN PENGESAHAN ………………………………………………. MOTTO DAN PERSEMBAHAN ………………………………………….. KATA PENGANTAR ………………………………………………………. iv v vi

DAFTAR ISI ………………………………………………………………… viii DAFTAR TABEL …………………………………………………………… x DAFTAR GAMBAR …………………………………………………………. xi DAFTAR LAMPIRAN ……………………………………………………… xii BAB I PENDAHULUAN 1.1 Alasan Pemilihan Judul ……………………………………….. 1 1.2 Permasalahan ……………..……………………………………. 5 1.3 Tujuan Penelitian ……………………………………………… 6 1.4 Penegasan Istilah ……………………………………………… 6 1.5 Manfaat Penelitian ……………………………………………. BAB II LANDASAN TEORI DAN HIPOTESIS 2.1 Landasan Teori ………………………………………………… 9 2.1.1 Tahanan dan dorongan …………………………………. 10 2.1.2 Teknik Renang ………………………………………….. 11 2.1.3 Start ……………………………………………………. 23 8

9

2.1.4 Kekuatan Otot Tungkai ……………..………………….. 27 2.2 Kerangka Berpikir …...……………………………………….. 32 2.3 Hipotesis ………….………………..………………………… 35 BAB III METODE PENELITIAN 3.1 Populasi …………………………………………………….. 3.2 Sampel dan Teknik Sampling ……………………………… 3.3 Variabel Penelitian ………………………………………… 36 36 37

3.4 Teknik Pengambilan Data ………………………………….. 37 3.5 Instrumen Penelitian ………………………………………… 40 3.6 Analisa Data ………………………………………………… 40 BAB IV HASIL PENELITAN DAN PEMBAHASAN 4.1 Hasil Penelitian ……………………………………………… 43 4.2 Pembahasan …………………………………………………... 46 BAB V SIMPULAN DAN SARAN 5.1 Simpulan ………………………………………………………. 48 5.2 Saran …………………………………………………………... 48 DAFTAR PUSTAKA ………………………………………………………. LAMPIRAN-LAMPIRAN ………………………………………………….. 49 50

10

DAFTAR TABEL Halaman Tabel 1. Format Penilaian Hasil Tes dan Pengukuran …………………… 39

Tabel 2. Koefisiensi Korelasi Product Moment …………………………. 41 Tabel 3. Diskripsi Data Indek Kekuatan Otot Tungkai …………………. Tabel 4. Diskripsi Data Hasil Start Renang Gaya Kupu-kupu ………….. Tabel 5. Uji Signifikansi ………………………………………………… 44 45 45

11

DAFTAR GAMBAR

Halaman Gambar 1. Gerakan Tungkai …………………………………………….. Gambar 2. Gerakan Lengan ……………………………………………… 17 20

Gambar 3. Start Bebas ……………………………………………………. 24 Gambar 4. Arm Swing Start ……………………………………………….. Gambar 5. Grab Start …………………………………………………….. 25 26

12

DAFTAR LAMPIRAN Halaman 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. Hasil Tes Kekuatan Tungkai dan Start Renang Gaya Kupu-kupu ……… 50 Hasil Tes Transformasi Data ke Skor T ………………………………….. 51 Perhitungan Statistik Dengan Korelasi Product Moment ………………... 52 Daftar Nilai Statistik r …………………………………...………………. 53 Gambar Gerakan Keseluruhan Gaya Kupu-kupu …………...…………… 54 Surat Keterangan Usulan Tema Skripsi …………………………………. 57 Surat Keterangan Permohonan Ijin ……………………………………… 58

8. Surat Keterangan Usulan Penetapan Dosen Pembimbing …………..……. 59 9. Surat Keterangan Penetapan Dosen Pembimbing …………………..……. 60 10. Surat Keterangan Melaksanakan Penelitian ……………………………... 61 11. Surat Keterangan Hasil Pengujian ..…………………………………….. 62

13

BAB I PENDAHULUAN

1.1

Alasan Pemilihan Judul Sejak awal tahun 2000 olahraga renang di Semarang telah banyak mengalami kemajuan yang pesat dari sisi peminat. Banyak sekolah-sekolah di kota Semarang yang mengadakan kegiatan ekstra kurikuler khususnya olahraga renang. Sekolah-sekolah yang mengadakan ekstra kurikuler renang di kolam renang Manunggal Jati antara lain: SD Kalicari 05, SD Gayamsari 02-05, SD Pedurungan Tengah 02-03, SD Muktiharjo Kidul 01, SMPN 15, SMPN 34, dan SMPN 14 Semarang. Sekolah-sekolah yang mengadakan ekstra kurikuler renang di kolam renang Diponegoro antara lain: SD Kruing, SD Damar, SD Jatingaleh, SD Petompon, SMPN 24, SMPN 21, SMPN 27, SMA 4, SMA 9, dan SMA Don Bosko. Sekolah-sekolah yang mengadakan ekstra kurikuler renang di kolam renang Jati Diri antara lain: SD Sambiroto, SD Santo Yusuf, dan SMPN 11 Semarang. Selain banyaknya sekolah yang mengadakan ekstra kurikuler renang, ada 2 perkumpulan renang yang berdiri, yaitu Perkumpulan Renang Tirta Tunggal pada tahun 1999 dan Perkumpulan Renang Spectrum pada tahun 2001. Di Jawa Tengah sendiri perkembangan olahraga renang dapat dilihat dari bertambahnya

perkumpulan yang ambil bagian pada KRAP (Kejuaraan Renang Antar Perkumpulan). Pelaksanaan KRAP tahun 2002 di Surakarta yang hanya

14

diikuti oleh 16 perkumpulan, meningkat menjadi 40 perkumpulan pada tahun 2003 di kota yang sama (Agus Sumarno, 2003, Buku Acara). Renang merupakan salah satu jenis olahraga yang digemari oleh berbagai lapisan masyarakat karena olahraga renang dapat dilakukan oleh anak-anak dan orang dewasa baik itu laki-laki maupun perempuan. Olahraga renang mempunyai tujuan yang bermacam-macam antara lain untuk olahraga pendidikan, olahraga rekreasi, rehabilitasi, dan olahraga prestasi. Renang gaya kupu-kupu dianggap sebagai gaya lanjutan, artinya para perenang untuk menguasai gaya kupu-kupu harus mampu menguasai gaya yang lain (gaya dada dan atau gaya crawl). Ada perkecualian untuk satu atau dua perenang yang dapat diberi pelajaran renang gaya kupu-kupu secara langsung sebelum gaya permulaan yang lain (Kasiyo, 1995 : 42). Gaya kupu-kupu yang dilakukan oleh para perenang pada saat sekarang ialah gaya kupu-kupu dengan gerakan tungkai meniru lecutan ekor ikan dolphin, sehingga dinamakan pula The Butterfly Dolphin Kick. Gaya kupu-kupu dengan gerakan tungkai gaya dada sudah dianggap ketinggalan jaman karena kalah cepat dibanding dengan gerakan tungkai yang memakai dolphin kick. Kecepatan renang gaya kupu-kupu modern (The Butterfly Dolphin Kick) menempati urutan kedua, setelah renang gaya crawl (The Free Style / The Crawl Stroke) (Kasiyo, 1995 : 42). Prinsip dasar untuk mencetak atlet yang berprestasi, pelatih / pembina harus mampu meramu program latihan secara sistematis, berencana dan progresif yang bertujuan untuk meningkatkan prestasi yang

15

maksimal. Program latihan tersebut harus disusun dengan teliti dan disajikan secara cermat serta didukung disiplin yang tinggi oleh pelatih maupun atlet. Pelatih dalam memberikan latihan fisik dituntut untuk mengetahui dan memahami komponen kondisi fisik yang harus

diprioritaskan dalam penanganannya, karena unsur kondisi fisik sangat menentukan prestasi yang optimal. Atlet yang memiliki teknik gaya renang, start, pembalikan yang benar dan mampu mengembangkan komponen fisik yang diperlukan secara maksimal dan dapat menggunakan secara efektif dan efisien akan memperoleh hasil yang optimal. Komponen fisik yang diperlukan oleh atlet renang gaya kupu-kupu ialah kekuatan, kelentukan, kecepatan, daya tahan, keseimbangan, dan koordinasi. Diantara komponen kekuatan yang digunakan oleh atlet renang gaya kupu-kupu adalah yang berkaitan dengan kekuatan otot tungkai sebagai dorongan. Kekuatan otot sangat

mempengaruhi keberhasilan prestasi renang disamping penguasaan teknik gaya yang benar. Keberhasilan perenang dalam suatu lomba pada dasarnya berasal dari dua hal, yaitu kemampuan perenang untuk menghasilkan daya dorong dan mengurangi hambatan. Maglischo (1983) yang dikutip oleh Tri Tunggal, dkk. (2004 : 1). Tenaga dorong dapat ditingkatkan dengan latihan kekuatan otot dan memperbaiki teknik gaya, sedang hambatan dapat dikurangi berdasarkan jenisnya. Ada 3 macam hambatan, yaitu hambatan gesekan, hambatan bentuk dan hambatan gelombang. (Tri Tunggal, 2004 : 1-3)

16

Menurut Costill et al (1983) yang dikutip oleh Tri Tunggal, dkk. (2004 : 1) perenang yang memiliki kekuatan penuh merupakan perenang yang cepat. Richardson (1986) yang dikutip oleh Tri Tunggal, dkk. (2004 : 1) melaporkan, gerakan ke depan dalam renang sebagian besar dihasilkan oleh tubuh bagian atas. Dorongan maju dari tungkai akan lebih efektif apabila dilakukan dengan gerakan ekor ikan dolphin dengan sendi mata kaki yang baik Maglischo (1993) yang dikutip oleh Tri Tunggal, dkk.(2004 : 1). Perenang dalam mengikuti kejuaraan tidak cukup hanya dengan berbekal kemampuan melakukan gerakan renang dengan baik saja tetapi juga harus dapat melakukan start, pembalikan, dan finish dengan cara yang benar. Tidak sedikit perenang gagal dalam lomba yang disebabkan kurangnya penguasaan start dan pembalikan. Disamping harus mampu mengatur tenaga dan kecepatan pada jarak yang dilombakan agar tidak kehabisan tenaga sebelum menyelesaikan jarak yang dilombakan. Sebelum mengikuti suatu lomba, perenang harus berlatih agar mampu melakukan start, pembalikan, mengatur kecepatan dan memasuki finish (Soejoko, 1992 : 109). Ditinjau dari sikapnya, start terdiri dari: (1) Start bebas, (2) Arm swing start / Racing start, (3) Grab start, (4) Start dengan ayunan lurus (khusus untuk gaya punggung) (Soejoko, 1992 : 109 - 112). Ada beberapa hal berkaitan dengan teknik yang perlu dikuasai oleh perenang saat mengikuti suatu perlombaan, yaitu: start, pembalikan, finish dan gaya renang itu sendiri. Menurut Thayer & Hay (1984) yang dikutip oleh Tri Tunggal (2004 : 2) pembalikan menyokong waktu antara 20–38%

17

pada jarak 50-100m, start menyokong waktu sekitar 25% dari total waktu renang gaya crawl pada jarak 25 m, 10% pada jarak 50 m dan 5% pada jarak 100 m. Data yang dikumpulkan tahun 1990-an, diperkirakan bahwa start menyumbangkan waktu 0,10 detik, pembalikan 0,20 detik dan finish 0,10 detik pada beberapa jarak renang Maglischo (1993) yang dikutip oleh Tri Tunggal (2004 : 2). Dengan demikian walaupun sumbangan yang diberikan oleh start sangat kecil tetapi tetap diperlukan karena juga ikut menentukan keberhasilan perenang untuk memenangkan perlombaan. Agar pemakaian tenaga menjadi efisien dan dapat mengurangi hambatan, teknik gaya membutuhkan fleksibilitas sendi yang lebih baik. Adapun alasan lain pemilihan judul dalam penelitian ini adalah, pentingnya penguasaan start (grab start) sangat mendukung dan menentukan keberhasilan prestasi perenang atau atlet terutama pada saat menghadapi kejuaraan renang baik di tingkat daerah, nasional maupun internasional.

1.2

Permasalahan Memperhatikan uraian pada latar belakang masalah, pelatih renang dalam menyusun program latihan harus memperhatikan komponenkomponen fisik yang akan dikembangkan, diantaranya kekuatan otot tungkai yang berfungsi sebagai daya dorong atau daya ledak (power)

dalam start renang gaya kupu-kupu, oleh karena itu penulis merumuskan masalah sebagai berikut:

18

1.2.1 Apakah ada hubungan kekuatan otot tungkai dengan start renang gaya kupu-kupu ? 1.2.2 Berapa sumbangan kekuatan otot tungkai terhadap start renang gaya kupu-kupu?

1.3 Tujuan Penelitian Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui: 1.3.1 Hubungan antara kekuatan otot tungkai dengan start renang gaya kupu-kupu. 1.3.2 Besarnya sumbangan variabel kekuatan otot tungkai terhadap start renang gaya kupu-kupu.

1.4

Penegasan Istilah Untuk menghindari kesalahpahaman dalam memberikan pengertian yang dimaksud dalam judul, akan dijelaskan istilah-istilah yang dianggap penting. 1.4.1 Hubungan Adalah hubungan antara kekuatan otot tungkai dengan start renang gaya kupu-kupu pada atlet Perkumpulan Renang Spectrum Semarang. 1.4.2 Kekuatan Otot Tungkai Kekuatan adalah kemampuan menggunakan tegangan otot untuk melawan beban atau hambatan (Sugiyanto, 1994 : 222). Kekuatan otot

19

tungkai pada cabang renang digunakan sebagai daya dorong untuk semua gaya, yaitu gaya crawl, gaya punggung, gaya kupu-kupu, dan gaya dada. Kekuatan otot tungkai juga digunakan untuk tolakan pada start dan pembalikan (luncuran). Kekuatan adalah gaya yang ditimbulkan oleh konstraksi otot atau gaya yang dapat menimbulkan gerak mekanis. Kekuatan yang terjadi dalam sistem lokomosi adalah dalam bentuk

dorongan atau tarikan (Tri Tunggal, 2004 : 2). 1.4.3 Start Start merupakan langkah awal suatu perlombaan. Start sangat menentukan kalah-menangnya perenang dalam mengikuti suatu

perlombaan, disamping kecepatan gaya renangnya. Pada dasarnya start ada 2 (dua) macam cara, yaitu start dari atas dan start dari bawah. Start dari atas antara lain : start bebas, swing start dan grab start. Start dari bawah adalah start dengan ayunan lurus (khusus untuk gaya punggung) (Sumarno, 1999 : 100). 1.4.4 Atlet Semua atlet laki-laki pada Perkumpulan Renang Spectrum Semarang yang sudah mampu untuk melaksanakan start dari atas menggunakan grab start dengan baik dan benar. 1.4.5 Perkumpulan Renang Spectrum Semarang, berdiri pada tahun 2001, sekretariat di Jalan Kedondong Dalam VII / 18 Semarang merupakan anggota pengurus cabang PRSI Kota Semarang.

20

1.5

Manfaat Penelitian Hasil dari penelitian ini diharapkan dapat memberi sumbangan

sebagai bahan pertimbangan para pelatih terutama di Perkumpulan Renang Spectrum Semarang untuk membimbing para atletnya agar dapat meningkatkan prestasi yang optimal. Umumnya dapat digunakan sebagai bahan kajian maupun pertimbangan semua pembina yang membina para atlet renang bahwa kekuatan otot tungkai adalah sebagai daya dorong dalam renang dan sebagai tolakan atau daya ledak pada start renang.

21

BAB II LANDASAN TEORI DAN HIPOTESIS

2.1

Landasan Teori Renang adalah cabang olahraga yang sudah tua. Perkembangan sejarah pada jaman kuno (6000 tahun SM), perkembangan sejarah renang jaman modern (1908) terbentuknya Federasi Renang Nation Amateur di Inggris, diselenggarakan pertandingan renang pertama kali. Perkembangan sejarah renang di Indonesia dengan terbentuknya PBSI (Persatuan Berenang Seluruh Indonesia) tanggal 24 Maret 1951 dan PBSI masuk anggota FINA (1952) hingga sekarang PBSI berubah nama menjadi PRSI (Persatuan Renang Seluruh Indonesia) (Ismail, 1983 : 1 – 5). Dalam belajar berenang akan berhubungan dengan media air, hal ini sangat berbeda dengan cabang-cabang olahraga lain, dimana medianya adalah tanah (lapangan) atau udara disekitarnya. Olahraga renang tahanan yang dihadapinya adalah air, sedangkan cabang lain lari misalnya, tahanan (hambatan) yang dilawan adalah udara (angin) maka tahanan dalam renang lebih berat dibanding dengan lari. Perenang yang dapat memperkecil tahanan yang dihadapinya akan semakin cepat renangnya. Dalam olahraga renang untuk dapat meraih prestasi harus menguasai berbagai komponen, yaitu komponen fisik dan komponen teknik dan mental. Komponen fisik meliputi: kekuatan, kecepatan, daya tahan, dan kelenturan atau fleksibilitas. Sedangkan komponen teknik adalah: start

22

(mulai), gaya, turn (pembalikan), dan finish (penyelesaian). Dari komponenkomponen ini sangat berperan untuk menentukan menang atau kalahnya perenang dalam mengikuti (event) perlombaan (Kasiyo, 1995 : 48). 2.1.1 Tahanan dan Dorongan Setiap saat perenang bergerak maju di dalam air selalu tergantung pada dua kekuatan. Kekuatan pertama adalah kekuatan menahan perenang untuk bergerak maju disebut tahanan, kekuatan tahanan ini disebabkan oleh air di depan perenang yang menahannya untuk maju ke depan. Sedangkan kekuatan kedua adalah kekuatan yang menyebabkan perenang bergerak maju disebut dengan dorongan, kekuatan dorongan ini disebabkan atau dihasilkan oleh gerakan lengan dan gerakan tungkai dalam berenang. Dengan adanya dua kekuatan yang mempengaruhi gerakan ke depan maka perenang dalam usahanya untuk dapat berenang lebih cepat harus mengurangi tahanan, menambah dorongan, mengurangi tahanan sekaligus menambah dorongan (Sumarno, 1999 : 4). Dalam renang ada tiga macam tahanan, yaitu: (1) Tahanan depan adalah tahanan yang secara langsung menahan badan perenang. Tahanan disebabkan oleh air di depan perenang maka perlu kita perhatikan karena tahanan ini sangat berpengaruh dalam teknik gaya renang. (2) Tahanan gesekan air disebabkan oleh gerakan air yang melewati atau melalui tubuh perenang. Air yang bergesekan pada badan perenang menghasilkan hambatan atau tahanan bagi perenang. Tahanan ini sangat kecil sehingga tidak begitu berpengaruh terhadap teknik gaya renang. Tahanan gesekan air

23

ini pernah diteliti oleh negara maju dalam dunia renang, yaitu Amerika Serikat demi kemajuan ilmu pengetahuan. Penelitian ini hasilnya ternyata tidak begitu berpengaruh. (3) Tahanan pusaran air adalah tahanan yang disebabkan oleh air yang tidak cepat mengisi di belakang bagian-bagian yang kurang datar, sehingga badan harus menarik. Sejumlah molekul air dalam gerakan majunya atau boleh dikatakan molekul-molekul air menarik badan perenang dalam gerak maju. Untuk mengurangi tahanan ini maka posisi badan harus streamline (garis arus). Dorongan adalah kekuatan yang mendorong perenang maju ke depan, dorongan ini dihasilkan oleh lengan dan tungkai. Hal ini disebabkan oleh tekanan yang diciptakan oleh lengan dan tungkai sewaktu menekan air ke belakang. Prinsip yang dipakai dalam teknik gaya renang adalah hukum gerakan ketiga dari Newton atau disebut juga hukum aksi dan reaksi, setiap aksi akan menghasilkan reaksi yang berlawanan besarnya sama (Sumarno, 1999 : 3 – 9). 2.1.2 Teknik Renang Dalam renang ada empat gaya, yaitu: gaya crawl / gaya bebas (The Crawl Style), gaya dada (The Breast Stroke), gaya punggung (The Back Crawl), dan gaya kupu-kupu (The Dolphin Butterfley Stroke). Gaya dada dan gaya crawl adalah gaya dasar, sedangkan gaya punggung dan gaya kupu-kupu adalah gaya lanjutan, artinya sebelum mempelajari gaya punggung dan gaya kupu-kupu harus sudah menguasai gaya dada maupun gaya crawl terlebih dahulu. Dari keempat gaya tersebut akan diuraikan

24

sebagai berikut. 2.1.2.1 Gaya Crawl (The Crawl Style) Menurut Dadang Kurnia (1987) yang dikutip oleh Soejoko (1992 : 49) pembahasan renang gaya crawl itu pada dasarnya dapat ditinjau dari: posisi tubuh, gerakan tungkai, pernapasan, gerakan lengan dan koordinasi gerakan tungkai, pernapasan dan gerakan lengan, yaitu: (1) Posisi tubuh: harus streamline, (2) Gerakan tungkai: itu terdiri dari enam pukulan tungkai, empat pukulan tungkai, dan dua pukulan tungkai, dalam satu putaran lengan, (3) Pernapasan: dilakukan dengan cara tengok ke kanan atau ke kiri, (4) Gerakan lengan: terdiri atas fase-fase: fase lengan masuk ke air (entry phase), fase menangkap / tangkapan (catch phase), fase menarik (pull phase), fase mendorong (push phase), dan fase istirahat (recovery phase). 2.1.2.2 Gaya Dada (The Breast Stroke) Menurut Dadang Kurnia (1987) yang dikutip oleh Soejoko (1992 : 63) teknik renang gaya dada pada dasarnya sebagai berikut: (1) Posisi tubuh: sikap tubuh hampir datar atau streamline, (2) Gerakan tungkai: menggunakan gerakan yang disebut dengan istilah baling-baling (propeller), pergelangan kaki dan tungkai bagian bawah berfungsi sebagai alat dorong, (3) Pernapasan: pengambilan napas dilakukan pada saat lengan melakukan gerakan akhir sapuan ke dalam, (4) Gerakan lengan: ketika kedua lengan lurus ke depan gerakan lengan membuka (sapuan luar), kemudian melakukan dorongan atau sapuan dalam (pull) dimana siku berada pada

25

sikap yang tinggi akan tetapi dibawah permukaan air. Setelah kedua lengan melakukan sapuan dalam segera membentuk sudut pada siku, melakukan sapuan lingkaran dengan patokan lengan berada dibawah dada dan dagu, selanjutnya meluncur lengan ke depan dengan bantuan bahu. 2.1.2.3 Gaya Punggung (The Back Crawl) Menurut Dadang Kurnia (1987) yang dikutip oleh Soejoko (1992 : 81) teknik gaya punggung meluputi: (1) Posisi tubuh: hidrodinamik atau streamline, sikap kepala seperti orang tidur telentang dengan santai tanpa harus mengarahkan pandangan kemana saja. Sudut pandang diarahkan maksimal 45° dengan sikap relak, (2) Gerakan tungkai: pada prinsipnya gerakan tungkai pada gaya punggung sama seperti pada gaya crawl dengan sumber gerak pada pangkal paha, (3) Pernapasan; pengambilan napas dapat dilakukan setiap saat mengingat posisi hidung berada di atas permukaan air, (4) Gerakan Lengan: gerakan lengan terdiri dari beberapa fase, yaitu: masuknya lengan ke permukaan air (arm entry phase), menangkap (catch phase), menarik (pull phase), menekan (pressure phase), dan istirahat (recovery phase). Dalam penelitian ini adalah start renang gaya kupu-kupu. Untuk renang gaya kupu-kupu akan diuraikan secara lengkap pada landasan teori ini. 2.1.2.4 Gaya Kupu-kupu (The Butterfly Dolphin Kick) Renang gaya kupu-kupu adalah sebagai gaya lanjutan, artinya para perenang untuk merenangkan gaya ini telah dapat melakukan gaya yang lain

26

(gaya crawl atau gaya dada). Renang gaya kupu-kupu yang dimaksud dalam penelitian ini adalah gaya kupu-kupu dolphin, yaitu gaya kupu-kupu yang menggunakan gerakan tungkai menirukan lecutan ekor ikan dolphin. Gaya ini biasa disebut gaya dolphin kick atau The Dolphin Butterfly Stroke (Kasiyo, 1980 : 15). Pada awalnya gaya kupu-kupu merupakan modifikasi dari gaya dada, dimana gerakan kakinya sama dengan gaya dada, sedangkan gerakan lengannya (sapuan) berlawanan arah dengan gaya dada. Recovery lengan dilakukan di luar air, tidak seperti gaya dada dimana recovery lengan dilakukan di dalam air, sehingga gaya kupu-kupu ini dapat bergerak lebih cepat dibanding dengan gaya dada. Gaya kupu-kupu ini disebut juga gaya dada modern. Perkembangan berikutnya gerakan tungkai gaya kupu-kupu menggunakan gerakan meniru gerakan ekor ikan dolphin, sehingga gaya ini disebut gaya dolphin. Dengan gerakan tungkai ikan dolphin ternyata hasilnya lebih cepat dibandingkan dengan menggunakan gerakan tungkai gaya dada. Hingga sekarang setiap perlombaan renang gaya kupu-kupu selalu menggunakan gaya dolphin kick, apabila dirinci teknik gaya kupukupu terdiri dari 5 bagian yaitu: (1) posisi badan, (2) gerakan tungkai, (3) gerakan lengan, (4) pernapasan, dan (5) gerakan keseluruhan (Sumarno, 1999 : 84). Untuk pembahasan gaya kupu-kupu ini, menurut Dadang Kurnia (1987) yang dikutip oleh Soejoko (1992 : 97) tinjauan tekniknya meliputi posisi tubuh, gerakan tungkai, pernapasan, koordinasi antara gerakan

27

tungkai dengan pernapasan, rotosi lengan, koordinasi antara pernapasan dengan gerakan lengan, perbaikan gaya dan koordinasi seluruh gerakan pada saat berenang. 2.1.2.4.1 Posisi tubuh Sikap tubuh pada gaya kupu-kupu sama seperti pada gaya crawl yaitu hidrodinamis, atau hampir sejajar dengan permukaan air (steramline). Patokan posisi tubuh melihat dari sikap kepala ada 3 macam, yaitu: (1) kepala masuk lebih dalam hingga di bawah lengan, (2) kepala hampir sejajar dengan lengan, (3) kepala di atas lengan (Soejoko, 1992 : 97). Menurut Tri Tunggal, dkk (2004 : 3) posisi tubuh gaya kupu-kupu selalu berubah-ubah sesuai dengan irama gerakan tungkai, tubuh naik saat lecutan tungkai menendang ke bawah, tubuh turun mengikuti gerakan lengan masuk ke air agar lengan dapat mengayun dengan sempurna dan gerakan tungkai pada saat menendang tidak terlalu dalam. Saat tendangan tungkai ke atas pinggul turun dan bahu naik saat tungkai memukul ke bawah Ada dua hal yang perlu diperhatikan pada gaya kupu-kupu agar dapat menghasilkan posisi badan yang streamline, yaitu: (1) pada waktu bernapas kepala diusahakan naik tidak terlalu tinggi, asalkan mulut telah keluar dari permukaan air dan cukup untuk mengambil napas. Segera setelah selesai pengambilan napas kepala menunduk kembali untuk menjaga posisi badan yang steramline. (2) Gerakan menendang atau dorongan dari kedua tungkai diusahakan tidak terlalu dalam karena hanya akan menambah tahanan depan saja dan berusaha pada saat menekuk lutut diusahakan sedikit

28

saja jangan terlalu dalam, apabila bengkokan sendi lutut terlalu dalam, tendangan tungkai tidak efisien dan tahanan depan menjadi lebih besar (Sumarno, 1999 : 85). 2.1.2.4.2 Gerakan tungkai Gerakan tungkai pada gaya kupu-kupu dilakukan naik turun secara terus menerus dengan sumber tenaga pada pangkal paha, fase istirahat pada gerakan tungkai dilakukan pada saat tungkai naik ke atas dan fase bekerja saat tungkai menekan ke bawah dan diakhiri dengan lecutan punggung kaki. Pada dasarnya gerakan kaki terdiri dari dua tekanan, yaitu tekanan kuat dan tekanan lemah, kedua gerakan itu dilakukan secara berangkai, naik turunnya kaki berada pada satu bidang datar. Kelentukan tungkai sangat diperlukan terutama pada pergelangan kaki. Pada saat melipat tungkai hendaknya tidak menarik lutut ke bawah, melainkan menarik betis atau tungkai bawah agak ke atas. Pada saat melakukan gerakan memukul kedua tungkai diakhiri dengan lecutan punggung kaki, diusahakan akar posisi akhir tungkai lurus ke bawah, dengan gerakan ini memaksa pinggul naik ke atas permukaan air (Soejoko, 1992 : 97). Menurut Sumarno (1999 : 85) tendangan tungkai pada gaya kupukupu yaitu tungkai bergerak naik turun secara vertikal, yang dilakukan secara bersamaan (serentak) dan simetris antara tungkai kanan dan tungkai kiri. Gerakannya dimulai dari pangkal paha dengan cara menekuk persendian lutut dengan sudut ± 160°, sehingga telapak kaki tidak keluar dari permukaan air, hanya sebagian kecil dari telapak kaki yaitu jari-jari

29

kaki saja yang keluar dari permukaan air. Gerakan tungkai ke atas di lakukan relaks dan pelan, gerakan tungkai ke bawah dengan kekuatan yang besar. Pada satu kali putaran lengan, gerakan tendangan tungkai dilakukan dua kali. Tendangan pertama dilakukan dengan kuat dan cepat sedangkan tendangan ke dua pelan dan tidak dalam. Fungsi dari tendangan ke dua untuk menormalkan gerakan pertama sehingga pantat tidak muncul tinggi ke atas, hal ini akan dapat mengurangi tahanan depan. Ayunan tungkai pada gaya kupu-kupu bukan ayunan kaki saja tetapi merupakan gerakan seluruh bagian tubuh dengan puncak pada getaran telapak kaki (David G. Thomas, 1996 : 71). Dapat dilihat pada gambar 1 di bawah ini.

Gambar 1 (Sumarno, dkk, Gerakan Tungkai Olahraga Pilihan II, Jakarta-Universitas Terbuka 1999:86)

30

Keterangan gambar 1. Gerakan tungkai gaya kupu-kupu: 1. Tungkai dalam keadaan lurus dari pangkal paha sampai dengan telapak kaki. 2. Gerakan tungkai ke atas dilakukan dengan cara membengkokkan tungkai pada persendian lutut (articulatio). Bengkokan tungkai tidak terlalu besar, sehingga hanya bagian jari-jari saja yang keluar dari permukaan air. 3. Dorongan kedua tungkai ke arah bawah dilakukan dengan keras, terutama punggung kaki. Dorongan ini dengan cara meluruskan kedua tungkai dari sikap membengkok. 4. Dorongan tungkai masih tetap berjalan, terlihat sikap tungkai yang lurus dari sikap bengkok. 5. Setelah dorongan tungkai ke bawah berakhir, maka tungkai digerakkan ke atas dari sikap tungkai lurus untuk kemudian ditekuk pada persendian lutut. 2.1.2.4.3 Gerakan lengan Pada gaya kupu-kupu gerakan lengan terdiri dari beberapa fase yaitu: (1) Fase masuknya lengan ke permukaan air (entry phase) dilakukan dengan cara: kedua ujung jari terlebih dahulu atau kedua ibu jari lebih dulu. Sebagai akibat dari masuknya ibu jari lebih dahulu maka kedua telapak tangan akan menghadap keluar. (2) Fase membuka dan menangkap atau menyapu keluar (catch phase atau out ward sweep). Fase ini dilakukan dengan didahulukan

31

membuka lengan keluar dan diakhiri dengan menangkap melalui lengkungan telapak tangan dan sudut yang dibentuk antara ibu jari dengan telapak tangan adalah antara 38° - 62°. Sedangkan sudut yang dibentuk antara telapak tangan dengan air berkisar 30° - 40°. (3) Fase menarik atau fase menyapu ke dalam (pull phase atau inward sweep), fase ini hendaknya didahului dengan posisi telapak tangan yang membentuk sudut 30°- 40°. Saat melakukan sapuan dalam agar dilakukan dengan ayunan lengan bawah hingga kedua tangan dalam posisi siap mendorong. Ahir fase ini berada di bawah dada bagian bawah. (4) Fase mendorong (push phase) sebelum mulai mendoronng putarlah kedua lengan hingga kedua ujung jari tangan menunjuk ke arah dasar kolam dengan telapak tangan menghadap keluar ke arah perpanjangan tubuh bawah. Fase ini mulai dari posisi bawah dada hingga berakhir di bawah pangkal paha dengan akhir dorongan ke samping, telapak tangan sedikit menghadap keluar. Usahakan agar pada akhir dorongan kedua lengan lurus ke belakang. (5) Fase Istirahat (recovery phase) ketika kedua lengan keluar dari permukaan air setelah melakukan dorongan keluarnya telapak tangan tetap menghadap ke dalam (ibu jari dibawah), sehingga telapak tangan keluar pada satu lubang dengan garis lurus sepanjang tubuh (Soejoko, 1992 : 99). Pada gaya kupu-kupu kedua lengan harus digerakkan secara serempak dan simetris antara lengan kiri dan lengan kanan. Gerakan lengan pada gaya kupu-kupu terbagi atas 2 bagian, yaitu: gerakan sapuan dan gerakan recovery. Gerakan sapuan terdiri dari menarik (pull) dan gerakan

32

mendorong (push). Setelah tangan masuk ke dalam air maka dimulailah dengan tarikan lengan ke arah luar (sapuan luar), kemudian gerakan berubah arah dengan memutar ke arah dalam (sapuan dalam). Pada saat berputar ke dalam siku ditekuk ± 135°. Gerakan selanjutnya tangan berubah arah memutar keluar dan mendorong (sapuan atas), akhir dari dorongan apabila kedua ibu jari tangan menyentuh paha. Selama sapuan lengan membuat gerakan seperti lubang kunci (key-hole) (Sumarno, 1999 : 87 – 88). Gerakan recovery adalah gerakan lengan dari saat akhir sapuan sampai dengan saat permulaan sapuan. Setelah kedua lengan keluar dari air, lengan di putar ke depan pada posisi yang rendah dan dalam bentuk parabola yang datar. Gerakan ini dilakukan dengan relaks, kedua lengan masuk ke dalam air pada titik sedikit diluar garis bahu (Sumarno, 1999 : 87 - 88). Dapat dilihat pada gambar 2.

Gambar 2 Gerakan Lengan (Sumarno, dkk, Olahraga Pilihan II, Jakarta-Universitas Terbuka 1999 : 88-90)

33

Keterangan gambar 2. Gerakan lengan gaya kupu-kupu: 1. 2. Lengan pada saat akhir sapuan untuk persiapan recovery. Lengan pada pelaksanaan recovery, dengan melemparkan lengan ke atas samping diatas permukaan air. 3. Lengan pada akhir recovery dimana kedua lengan masuk ke dalam air di depan kepada pada garis bahu. 4. 5. 6. Kedua lengan masuk ke dalam air (entry) dengan sikap kepala tunduk. Kedua lengan mulai melakukan sapuan ke arah luar. Kedua lengan mulai bergerak melakukan sapuan dalam dengan menekuk lengan pada persendian siku. 7. 8. Kedua lengan mulai dengan dorongan (sapuan dalam). Kedua lengan pada akhir sapuan, kedua ibu jari menyentuh paha. Pernapasan

2.1.2.4.4

Pengambilan napas pada gaya kupu-kupu dilakukan dengan mengangkat kepala ke atas saat akhir dari tarikan (Sapuan luar) dan

berakhir pada sapuan atas. Pengambilan udara dilakukan saat sapuan atas dan pertengahan pertama recovery. Kepala segera masuk bersamaan dengan masuknya tangan (Tri Tunggal, dkk, 2004 : 4). Pengambilan napas dilakukan dengan cepat membuka mulut dan memasukkan udara melalui mulut secara cepat (meledak), untuk menghindari bertambahnya tahanan depan kepala segera diturunkan setelah pengambilan napas. Udara

34

dikeluarkan di dalam air pada saat kepala akan keluar dari permukaan air, pengeluaran udara juga dilakukan dengan cepat. 2.1.2.4.5 Gerakan Keseluruhan

Pada gaya kupu-kupu harus ada koordinasi gerakan lengan dengan tungkai yang berirama, terutama sikap badan yang naik turun secara vertikal seperti ikan dolphin. Pada satu kali putaran lengan terjadi tendangan dua kali, keras dan pelan. Pada saat permulaan tarikan (sapuan luar) dilakukan tendangan pertama (keras) dan pada saat dorongan lengan (sapuan atas) dilakukan tendangan ke dua (pelan), (Sumarno, 1999 : 90). Pada saat kedua lengan berada lurus didepan, kepala berada di bawah permukaan air, tungkai melakukan satu pukulan pelan dan ketika membuang udara dibawah permukaan air telapak tangan melebar ke samping sampai maksimal, lecutan tungkai dengan tekanan pelan berakhir sehingga membentuk posisi lurus. Lengan segera membentuk lekukan untuk melakukan sapuan (pull). Sapuan lengan menuju ke arah perut, kemudian tungkai mulai bergerak dengan lecutan. Pada saat lengan berada dibawah pusar sapuan lengan berakhir dan dilanjutkan dengan sapuan / dorongan (push), pada posisi ini kepala mulai diangkat untuk melakukan lecutan (pukulan), lecutan tungkai dilakukan bersamaan dengan sapuan atas (dorongan) dan siap mengambil napas ke atas permukaan air. Setelah berakhirnya gerakan lengan disamping paha siku diangkat untuk melakukan recovery di atas permukaan air. Serentak dengan sikap itu pengambilan napas berakhir. Setelah melakukan recovery kedua lengan bergerak ke

35

depan untuk melakukan entry kembali (Soejoko, 1992 : 101 – 106). Dapat dilihat pada lampiran 5 halaman 54 – 56. 2.1.3 Start Start merupakan awal dari perlombaan. Start yang baik dan benar akan memberi andil yang besar dalam suatu perlombaan. Start dikatakan baik dan benar apabila menghasilkan luncuran yang jauh. Luncuran tersebut disebabkan oleh tolakan kedua tungkai serta ayunan lengan dan gerakan dari badan. Untuk dapat mencapai prestasi yang tinggi, perenang tidak cukup berbekal kemampuan melakukan gerakan renang dengan benar saja tetapi harus dapat melakukan start dengan cara yang baik dan benar. Tidak sedikit perenang yang kalah dalam berlomba karena kurang menguasai start yang baik dan benar. Untuk dapat melakukan start yang baik dan benar harus didukung oleh komponen fisik yang baik diantaranya adalah kekuatan otot tungkai (power / daya ledak). Pada olahraga renang cara melakukan start ada 2 macam, yaitu: (1) start atas (pada start block) untuk gaya renang dengan posisi tubuh telungkup, yaitu gaya crawl, gaya dada, dan gaya kupukupu (2) Start bawah digunakan khusus untuk renang gaya punggung. Ditinjau dari sikapnya start terdiri dari: 2.1.3.1 Start bebas Start ini dilakukan setelah ada aba-aba start “Awas!” perenang mengambil posisi di bibir balok start dengan sikap membungkuk, kedua lengan berada di samping tubuh dengan patokan ujung kedua lengan berada disamping pinggul, arah pandangan ke depan (ke balok start). Begitu aba-

36

aba start seperti peluit, bel dan bendera dengan serentak kedua lengan mengayun ke depan dan kedua ujung lengan lurus ke depan, kedua tungkai menolak sampai pada posisi tungkai menjadi lurus sampai masuk ke permukaan air (seperti pada gambar 3).

Gambar 3 Start bebas (Soejoko, 1992 : 110) 2.1.3.2 Arm Swing Start Start ini dilakukan setelah ada aba-aba “awas!” perenang maju ke bibir balok start untuk mengambil sikap dimana kedua lengan berada lurus di depan posisi tubuh membungkuk. Setelah aba-aba peluit, bel, dan atau bendera kedua lengan diputar 360° dalam keadaan lengan tetap lurus, sehingga kembali ke depan. Bersamaan dengan ayunan lengan ke depan ketika itu pula tungkai menolak balok start untuk membawa tubuh melayang di udara dan selanjutnya masuk ke permukaan air (seperti pada gambar 4 halaman 25).

37

Gambar 4 Arm Swing Start (Soejoko, 1992 : 110) 2.1.3.3 Grab Start Salah satu macam start adalah grab start, dilakukan setelah aba-aba “awas !”, perenang maju ke bibir balok start dan mengambil sikap kedua ibu jari kaki dan kedua telapak tangan berada pada bibir balok start, kedua telapak tangan pada sikap untuk mendorong. Pada aba-aba start seperti peluit atau bel, tangan mendorong bibir balok start sehingga memaksa tubuh condong ke depan. Bersamaan posisi badan akan jatuh ke depan kedua kaki menolak sehingga membawa tubuh melayang di atas permukaan air. Ketika melayang tubuh diluruskan dengan kedua lengan lurus ke depan. Bersamaan dengan tubuh akan masuk air, kepala segera menunduk berada di antara kedua lengan. Dengan menunduknya kepala di antara kedua lengan akan mengangkat pinggul naik, selanjutnya masuk ke permukaan air dengan sempurna (Soejoko, 1992 : 111) dapat dilihat pada gambar 5 halaman 26.

38

Gambar 5 Grab Start (Soejoko, 1992 : 111) 2.1.3.4 Start dengan ayunan lurus Start ini dilakukan khusus untuk gaya punggung dan dilakukan dari posisi bergantung pada balok start. Gerakan ini dimulai setelah aba-aba “Awas!” kedua lengan dibengkokkan dan bahu mendekat pada pegangan yang dipasang melintang, sehingga tubuh membentuk sikap membungkuk, serentak dengan bunyi peluit, atau aba-aba start lainnya kedua lengan diayun ke atas / samping bahu sehingga membentuk lingkaran pada satu bidang datar dan pertemuan kedua lengan itu berakhir di atas kepala, lengan berada dalam keadaan lurus. Start yang dimaksud dalam penelitian ini adalah start renang gaya kupu-kupu dengan menggunakan grab start, dalam perkembangan renang saat ini para perenang banyak menggunakan start atas dengan grab start karena gerakannya paling mudah dan efektif. Untuk dapat melakukan start dengan baik harus didukung dengan kondisi fisik yang baik. Sedangkan

39

usaha untuk meningkatkan kondisi fisik harus melaksanakan latihan darat terprogram. 2.1.4 Kekuatan Otot Tungkai Kekuatan adalah salah satu unsur kondisi fisik yang sangat dominan dalam kehidupan manusia yang berhubungan dengan gerak serta aktivitas manusia. Tanpa memiliki kekuatan manusia tidak mungkin akan dapat mempertahankan hidupnya dengan baik dan wajar. Unsur kondisi fisik lainnya adalah kecepatan, daya tahan, kelentukan, kelincahan,

keseimbangan, dan koordinasi. Kondisi fisik adalah salah satu prasyarat yang sangat diperlukan dalam setiap usaha peningkatan prestasi, bahkan sebagai landasan dasar suatu olahraga prestasi. Unsur kondisi fisik merupakan satu kesatuan yang utuh dari komponen-komponen yang tidak dapat dipisahkan, baik dalam peningkatanya maupun pemeliharaannya. Komponen-komponen kondisi fisik ini harus seluruhnya dikembangkan walaupun perlu memprioritaskan status dan kegunaannya. Bila atlet memiliki kondisi fisik yang baik akan terlihat tanda-tanda peningkatan sistem kerjanya dalam melakakukan gerak. Serta adanya pemulihan (recovery) yang baik setelah melakukan aktivitas (latihan). Jadi atlet sebelum terjun mengikuti perlombaan harus mempersiapkan kondisi fisiknya dan kesegaran jasmani yang baik dan betul-betul fit untuk menghadapi suatu perlombaan. Selanjutnya akan dibahas tentang salah satu unsur kondisi fisik yang sangat diperlukan oleh setiap atlet yaitu: kekuatan (strength). Pengertian

40

dari kekuatan adalah kemampuan kelompok otot untuk mengatasi suatu beban atau tahanan dalam menjalankan aktivitas (A. Hamidsyah Noor, 1996 : 135). Latihan kekuatan mutlak harus diberikan pada setiap atlet untuk semua cabang olahraga. Latihan kekuatan harus diberikan paling awal sebelum pengembangan unsur kondisi fisik lainnya. Sebab kekuatan merupakan daya penggerak setiap aktivitas fisik dan merupakan peranan penting dalam melindungi atlet dari cedera serta membantu memperkuat stabilitas sendi-sendi. Sesungguhnya yang dibutuhkan dalam cabang olahraga tidak hanya kekuatan saja tetapi unsur kekuatan dan kecepatan (power). Pengertian power adalah hasil dari force x velocity (P = F x V). Sebagai contoh 2 perenang dengan gaya kupu-kupu sama-sama menempuh jarak 20 meter, salah satu perenang dapat menyelesaikan jarak lebih cepat di katakan memiliki power yang lebih baik dari perenang yang agak lama menyelesaikan jarak tempuhnya. Disinilah sesungguhnya manfaat dari power yang harus dimiliki oleh setiap atlet. Untuk mengembangkan kekuatan adalah dengan memberikan latihan-latihan tahanan (resistence– exercises) dalam bentuk: mengangkat, mendorong, menahan, dan menarik suatu beban tahanan (A. Hamidsyah Noor, 1996 : 136). Menurut Moeljono (1996 : 236) kekuatan otot menggambarkan kontraksi maksimal yang dihasilkan oleh sekelompok otot. Pada kontraksi otot memendek dan besarnya pemendekan bergantung pada beban yang harus ditahan. Mula-mula otot melakukan kontraksi tanpa pemendekan

41

(isometrik) sampai mencapai tegangan yang seimbang dengan beban, kemudian terjadilah kontraksi dengan pemendekan. Perlu ditekankan bahwa pada kekuatan otot (muscle strength) yang diukur adalah kekuatan maksimal isometrik. Kontraksi maksimal dapat dilakukan dengan berbagai cara dan hasil yang diperoleh berdasarkan koordinasi otot agenis antagomis serta sistem pengungkit yang terlibat. Faktor fisiologis yang mempengaruhi kekuatan kontraksi otot antara lain: usia / umur, jenis kelamin, dan suhu otot. Faktor lain yang turut menentukan baik tidaknya kekuatan adalah (1) besar kecilnya fibril otot, banyaknya fibril otot yang ikut serta dalam melawan beban serta tonus otot. (2) Dari bentuk rangka tubuh, makin besar rangka tubuh makin baik. (3) Faktor umum juga ikut menentukan, atlet yang berusia tua (30 tahun lebih) kekuatannya akan berkurang. (4) Pengaruh psikis dari dalam maupun dari luar. Kekuatan adalah suatu kualitas peregangan yang ditimbulkan

dalam keadaan kontraksi maksimal yang ditentukan oleh volume otot dan kontrol saraf otot-otot yang bekerja Bouchard et al, (1975), yang dikutip oleh Tri Tunggal, dkk, (2004 : 6). A. Hamidsyah Noer (1996 : 135) mengatakan kemampuan otot atau sekelompok otot untuk mengatasi suatu beban atau tahanan dalam menjalankan aktivitas. Setiap perenang bergerak baik disadari atau tidak disadari terdapat dua kekuatan yang berlawanan, satu kekuatan yang menghalangi gerakan itu disebut hambatan dan kekuatan yang lain yang menyebabkan perenang tersebut bergerak maju disebut

42

dorongan atau daya dorong. Perenang mendapat hambatan balik dari pusaran air maupun tahanan air didepannya, sedangkan daya dorong diperoleh dari gerakan (sapuan) lengan dan gerakan tungkai. Cepat atau lambatnya gerakan maju dalam renang ditentukan besarnya daya dorong dan kecilnya hambatan, daya dorong sangat ditentukan oleh kekuatan diantaranya kekuatan otot tungkai. Dalam cabang renang ukuran prestasi adalah kecepatan waktu, agar dapat menghasilkan kecepatan harus didukung oleh beberapa unsur kondisi fisik, yaitu: kekuatan, daya tahan, dan kelentukan. Kekuatan yang mendukung kecepatan berenang adalah kekuatan otot lengan dan kekuatan otot tungkai (Soejoko :1992 : 1 – 2). 2.1.4.1 Kekuatan Otot, Umur dan Jenis Kelamin Menurut Sinaki (1996) yang dikutip oleh Tri Tunggal, dkk, (2004) pertambahan umur akan meningkatkan kekuatan 5 - 10% dan pada umur 5 18 tahun ada kenaikan bermakna pada kekuatan seiring dengan pertumbuhan. Kekuatan otot terbesar didapat antara umur 20 – 30 tahun atau setelah itu akan mengalami penurunan kekuatan Effendi (1983) yang dikutip oleh Tri Tunggal, dkk, (2004 : 7). Secara umum diketahui bahwa laki-laki rata-rata lebih kuat sebesar 40% dari pada wanita, hal ini secara genital lakilaki lebih banyak serabut otot dan lebih besar penampang melintang otot Piscopo & Balley (1981) yang dikutip oleh Tri Tunggal, dkk, (2004 : 7). Sinaki et al (1998) yang dikutip oleh Tri Tunggal, dkk, (2004) melaporkan, kekuatan laki-laki dan wanita mulai berbeda pada usia 9 – 10 tahun.

43

2.1.4.2 Manfaat Kekuatan Otot Terhadap Olahraga Renang Bouchard et al (1975) yang dikutip oleh Tri Tunggal, dkk, (2004) menyatakan faktor biologis yang memiliki nilai berharga bagi peningkatan prestasi olahraga meliputi: kekuatan, ketahanan, daya fleksibilitas, dan kecakapan gerak. Menurut Piscopo dan Balley (1981) yang dikutip oleh Tri Tunggal, dkk, (2004), prestasi renang ditentukan oleh kekuatan otot-otot bahu dan tungkai, otot-otot fleksor paha yang kuat tetapi relatif kecil penting dalam gerakan menyepak dan stabilisasi badan untuk mengatasi hambatan air. Untuk mengembangkan kekuatan otot harus melakukan latihan yang diberikan pada otot utama yang digunakan dalam olahraga renang. Maglischo (1993) yang dikutip oleh Tri Tunggal, dkk. (2004) menyatakan bahwa otot yang digunakan untuk start dan pembalikan adalah otot gastrocnemius, soleus, dan plantaris. Kekuatan yang digunakan dalam olahraga renang adalah kekuatan otot tungkai meliputi: quadriceps extensor, gastrocnemius, dan gluteus maximus. Otot-otot ini terlibat pada saat melakukan start dan berperan untuk dorongan ke depan (Soejoko, 1992 : 16-17). 2.1.4.3 Daya ledak otot (muscle explosive power) adalah kemampuan otot atau sekelompok otot melakukan kerja secara eksplosif, dipengaruhi oleh kekuatan dan kecepatan kontraksi otot. Dalam kehidupan sehari-hari diperlukan untuk memindahkan sebagian atau seluruh tubuh dari satu tempat ke tempat lain dilakukan secara tiba-tiba. Dalam olahraga digunakan untuk melakukan gerakan misalnya: lempar lembing, cakram, lari dalam

44

renang digunakan lompatan/tolakan pada start dan pembalikan. Hal tersebut ada beberapa macam cara yang telah dilakukan tetapi masih dipertanyakan apakah hal tesebut betul mengukur daya ledak otot. Karena daya ledak otot dipengaruhi kedua hal yaitu kekuatan dan kecepatan (Moeljono, 1996 : 236).

2.2 Kerangka Berpikir Hubungan kekuatan otot tungkai dengan start renang gaya kupukupu (Grab Start). Berdasarkan kajian landasan teori disusunlah kerangka berpikir sebagai berikut: start secara fisiologis dibutuhkan komponen fisik, yaitu kekuatan kecepatan (speed), daya ledak, kelentukan, dan

keseimbangan. Pada saat sinyal (peluit, bel atau pistol) dibunyikan maka perenang dengan penuh semangat meninggalkan balok start dengan secepat mungkin. Sangat disayangkan dari kedua bagian ini (semangat

meninggalkan balok start dan kecepatan meluncur) adalah sesuatu yang tidak sesuai, karena jika perenang meninggalkan balok sesegera mungkin maka niat untuk mendapatkan kecepatan maksimalnya berkurang dari kemampuan yang dimilikinya. Sebaliknya jika perenang ingin

mendapatkann kecepatan horisontal maksimalnya maka perenang itu akan menjadi yang terakhir pada saat meninggalkan balok start. Dengan demikian tugas perenang sekarang ialah cepat-cepat meninggalkan balok start tanpa kehilangan kecepatan horisontalnya.

45

Seperti

halnya

dalam

lari,

start

merupakan

pembatalan

keseimbangan dan memberikan gaya yang terbesar melalui jarak yang terjauh. Tungkai rapat, jari-jari kaki melewati bibir balok start dan berat badan terletak diujung telapak kaki. Perenang akan mendapatkan keuntungan dalam start apabila berayun ke belakang pada tumitnya pada waktu start. Gerakan ini melemparkan titik berat badan ke depan ke luar dari dasar penumpu dan menyebabkan badan jatuh karena gravitasi bumi. Eksperimen menunjukkan bahwa gerakan ini menghasilkan start yang cepat. Ini memberikan keuntungan sebesar tiga kali lipat dalam start. Oleh karena itu teknik ini berguna sekali untuk dikuasai. Tungkai dalam posisi yang baik untuk dapat bertolak dengan kuat. Tekukan lutut harus sesuai dengan kekuatan otot-otot tungkai. Lengan harus diayunkan kuat-kuat ke depan di atas kepala untuk menambah gaya dorong tungkai ke belakang dan memberikan momentum kepada badan. Hal ini sesuai dengan hukum Newton III aksi dan reaksi) dan prinsip bahwa momentum dari bagian diteruskan ke keseluruhan. Badan harus diluruskan benar-benar dan meninggalkan balok start hampir dalam suatu bidang horisontal. Ini akan melemparkan badan pada jarak terjauh sebelum masuk air. Sudut masuknya badan ke dalam air harus dibuat setajam mungkin agar arah gaya sehorinsontal mungkin. Sudut ini akan bergantung pada ketinggian permukaan balok start dari permukaan air serta daya tolak dari perenang. Oleh karenanya, setiap perenang harus menentukan sendiri sudut

46

ini melalui percobaan-percobaan. Perenang harus menghindari jatuhnya badan ke air dengan mendatar. Tanganlah yang harus menyentuh air lebih dahulu. Kepala harus tetap diantara kedua tangan untuk mengurangi hambatan. Pada dasarnya start terdiri dari dua macam, yaitu: start yang dilakukan dari atas dan start yang dilakukan dari bawah. Start dari atas antara lain: start bebas, arm swing start, dan grab start, sedangkan start dari bawah adalah start lurus/start khusus untuk gaya punggung. Start merupakan permulaan dari perlombaan maka dari itu perenang harus menguasai teknik start yang baik dan benar, disamping penguasaan teknik gaya dan kondisi fisik. Start juga sangat menentukan prestasi perenang dalam suatu lomba, baik start atas maupun start bawah. Saat ini banyak perenang menggunakan start atas dengan grab start karena lebih praktis, mudah dan menghasilkan luncuran yang baik, hal ini terbukti pada tiap lomba / KRAP. Kekuatan otot tungkai merupakan tenaga dorong yang diberikan terhadap lompatan start. Meskipun dalam kenyataannya kekuatan otot tungkai dipengaruhi oleh beberapa faktor (1) besar kecilnya otot, (2) banyaknya otot, (3) Besar rangka, (4) usia, (5) jenis kelamin, (6) suhu otot, dan (7) psikis. Tenaga dorong dapat ditingkatkan dengan menambah kekuatan otot, yaitu dengan latihan kekuatan otot yang terprogram. Beberapa ahli menyatakan bahwa renang merupakan olahraga air dengan gerak utama lengan dan tungkai sebagai daya dorong supaya tubuh secara keseluruhan bergerak dan meluncur maju. Gerak maju ditentukan

47

oleh anggota tubuh atas berupa ayunan lengan (stroke) dan gerakan anggota tubuh bawah berupa gerakan tungkai (kick), anggota tubuh atas dan bawah bergerak dalam koordinasi yang tepat. Dalam renang terdiri dari empat gaya yaitu: gaya crawl, gaya dada, gaya punggung, dan gaya kupu-kupu. Untuk dapat melakukan renang harus menguasai teknik gaya yang benar disamping itu harus menguasai tentang start, pembalikan, dan memasuki finish. Teknik renang gaya kupu-kupu terdiri dari beberapa gerakan: posisi tubuh, gerakan lengan, gerakan tungkai, gerakan pengambilan napas dan gerakan koordinasi (keseluruhan). Untuk meningkatkan prestasi yang optimal harus menjaga kondisi fisik, penguasaan teknik, memiliki daya tahan, dan kecepatan.

2.3

Hipotesis Hipotesis adalah pernyataan yang masih lemah kebenarannya, dan masih perlu dipikirkan kenyataannya (Sutrisno Hadi, 2000 : 257). Berdasarkan permasalahannya penelaahan studi kepustakaan serta

pemikiran yang telah dikemukakan di dalam landasan teori maka perumusan hipotesis yang akan diuji kebenarannya dalam penelitian ini adalah sebagai berikut: “Ada hubungan antara kekuatan otot tungkai terhadap start renang gaya kupu-kupu”.

48

BAB III METODE PENELITIAN

3.1

Populasi Populasi adalah keseluruhan subyek penelitian (Suharsimi, 1998 : 115). Populasi yang dimaksud dalam penelitian ini adalah atlet Perkumpulan Renang Spectrum Semarang, tahun 2005 berjumlah 43 orang, karena populasi dalam penelitian ini bersyarat, yaitu: (1) jenis kelamin lakilaki, (2) terampil melakukan start (grab start). Dari jumlah atlet yang memenuhi persyaratan hanya ada 10 atlet laki-laki maka seluruhnya digunakan sebagai sampel dalam penelitian ini. Dalam penelitian ini subyek yang diambil bukan atlet perempuan, walaupun dilihat dari jumlahnya atlet laki-laki lebih sedikit, karena atlet perempuannya yang berusia di atas 10 tahun terlalu sedikit jumlahnya dan dalam penguasaan teknik startnya (grab start) juga belum memenuhi syarat untuk diteliti.

3.2

Sampel dan Teknik Sampling Sampel adalah sebagian atau wakil populasi yang diteliti (Suharsimi, 1998 : 117). Sampel dalam penelitian ini adalah atlet Perkumpulan Renang Spectrum Semarang sebanyak 10 orang dengan kriteria berumur 10 – 14 tahun dan berjenis kelamin laki-laki. Oleh karena terbatasnya jumlah subyek, semua populasi menjadi sampel dalam penelitian ini. Dengan demikian penulis mengambil sampel dengan teknik

49

total sampling.

3.3 Variabel Penelitian Metode penelitian yang digunakan adalah metode diskriptif dengan teknik studi korelasional. Melalui studi korelasional tersebut dapat diketahui apakah suatu variabel berkaitan dengan variabel yang lain, sehingga akan terlihat jelas gambaran antar variabel. Variabel-variabel yang terkait dalam penelitian ini adalah sebagai berikut: 3.3.1 Variabel bebas yaitu kekuatan otot tungkai

3.3.2 Variabel terikat yaitu start renang gaya kupu-kupu.

3.4 Teknik Pengambilan Data Teknik pengambilan data yang digunakan adalah dengan metode survei teknik tes dan pengukuran. Tes dan pengukuran untuk pengambilan data antara lain: tes start renang gaya kupu-kupu dan pengukuran kekuatan otot tungkai. Adapun tahap pengambilan data dalam penelitian ini ialah : 3.4.1 Tahap Persiapan Penelitian 3.4.1.1 Mendata atlet yang akan dijadikan sampel, yaitu atlet Perkumpulan Renang Spectrum Semarang berjenis kelamin laki-laki berusia 10 – 14 tahun dan mampu melakukan start (Grab Start). 3.4.1.2 Menyiapkan dan mengecek sarana prasarana tes dan pengukuran yaitu: Back and Leg Dynamometer, rol meter, bendera start dan peluit.

50

3.4.2 Tahap Pelaksanaan Penelitian Tempat dan waktu penelitian dilaksanakan di kolam renang Manunggal Jati Semarang pada tanggal 17 Pebruari 2005 pukul 16.00 – 18.00 wib. Sebelum tes dan pengukuran dimulai, atlet diberi penjelasan tentang pelaksanaan tes dan pengukuran dengan baik dan benar. 3.4.2.1 Pengukuran kekuatan tungkai, menggunakan Back and Leg Dynamometer Pelaksanaannya adalah sebagai berikut: Sampel berdiri tegak diatas tumpuan alat back and leg dynamometer tanpa alas kaki. Mata rantai diatur sedemikian rupa sehingga kedua tangan yang memegang bagian tengah tongkat pemegang berada setinggi acetabula, dan kedua lutut dibengkokkan membuat sudut 120°. Pasang sabuk pembantu melingkari pinggang dan otot glutea, kedua ujungnya masing-masing diikatkan pada ujung tongkat pegangan, letak tongkat pegangan harus tetap setinggi acetabula. Tarik rantai ke atas (dengan meluruskan kedua tungkai atas dan bawah) sekuat-kuatnya dengan gerakan perlahan-lahan, tidak boleh melakukan hentakan dan membongkokkan badan ke depan atau belakang, tongkat pegangan harus tetap dijaga setinggi acetabula. Tes dilakukan dua kali diambil hasil yang terbaik, pembacaan skala dalam satuan kg sampai ketelitian 0,5 kg (Soekaptiadi, 1986 : 27 – 28). 3.4.2.2 Tes Start renang Gaya Kupu-kupu menggunakan rol meter (meteran) Pelaksanaannya adalah sebagai berikut:

51

Sampel satu persatu naik dan berdiri di atas balok start, pada aba-aba awas! perenang maju ke bibir balok start dan mengambil sikap kedua ibu jari kaki dan kedua telapak tangan berada pada bibir balok start untuk mendorong, pada aba-aba seperti peluit atau bel, tangan mendorong bibir balok start sehingga badan condong ke depan. Bersamaan dengan posisi badan akan jatuh ke depan kedua tungkai menolak membawa badan melayang di atas permukaan air. Ketika melayang tubuh diluruskan dengan kedua lengan tetap lurus ke depan di samping kepala. Bersamaan dengan tangan akan masuk ke permukaan air, kepala di tundukkan berada diantara kedua lengan. Gerakan selanjutnya sampai kedua ujung jari tangan menyentuh ke permukaan air (Soejoko, 1992 : 111). Dalam pelaksanaan pengambilan data dibantu oleh 3 mahasiswa PKLO UNNES angkatan 2005 dan 2 orang pengurus Perkumpulan Renang Spectrum Semarang. Sebagai persiapan penelitian untuk mencatat data tes dan pengukuran menggunakan blangko seperti pada tabel 1. Tabel 1 Format penilaian hasil tes dan pengukuran
No 1 Nama 2 Kekuatan Tungkai (Kg) 3 Start Renang (meter) 4

Format ini terdiri dari 4 kolom, (1) nomor urut, (2) nama atlet, (3) hasil pengukuran kekuatan otot tungkai, (4) hasil pengukuran jauhnya

52

lompatan start renang (Grab Start).

3.5

Instrumen Penelitian Pelaksanaan penelitian dengan metode survey, teknik tes dan pengukuran pengambilan dilakukan dengan mengukur kekuatan otot tungkai, tes start renang gaya kupu-kupu. Instrumen test yang digunakan dalam penelitian ini adalah: 3.5.1 Test untuk mengukur kekuatan otot tungkai menggunakan alat back and leg dynamometer (Soekaptiadi, 1986 : 27 – 28). 3.5.2 Mengukur start renang gaya kupu-kupu menggunakan alat: meteran, bendera start, dan peluit.

3.6

Analisa Data Data dalam penelitian ini adalah dengan menggunakan analisa statistik karena data yang dikumpulkan berupa angka-angka. Kata statistik telah digunakan untuk membatasi cara-cara ilmiah untuk mengumpulkan, menyusun, meringkas, dan menyajikan data penyelidikan. Lebih lanjut statistik merupakan cara untuk mengolah kesimpulan yang teliti dan data tersebut dan menarik

keputusan-keputusan yang logis dari

pengolahan data tersebut (Sutrisno Hadi, 2000 : 1). Untuk mengetahui hubungan klasifikasi indek kekuatan otot tungkai terhadap start renang gaya kupu-kupu menggunakan korelasi product moment yaitu menghitung masing-masing variabel bebas, variabel terikat

53

untuk mengetahui hubungan kedua variabel bebas terhadap variabel terikat. Data yang dinilai adalah data variabel bebas: kekuatan otot tungkai (X), variabel terikat: start renang gaya kupu-kupu (Y). Mengingat data dalam penulisan ini berupa angka-angka (kuantitatif), sebelum dianalisis peneliti mengadakan persiapan-persiapan berupa tabel perhitungan statistik sebagai berikut: Tabel 2 Koefisien Korelasi Product Moment No 1 X 2 Y 3 X 4 X² 5 Y 6 Y² 7 XY 8

Tabel persiapan di atas terdiri dari 8 kolom yang berisi sebagai berikut: (1) no urut, (2) hasil pengukuran kekuatan otot tungkai (X), (3) hasil pengukuran start renang gaya kupu-kupu (Y), (4) hasil deviasi variabel kekuatan otot tungkai (X), (5) kuadrat dari hasil pengukuran kekuatan otot tungkai (X²), (6) deviasi variabel start renang gaya kupu-kupu (Y), (7) kuadrat dari hasil tes start renang gaya kupu-kupu (Y²), (8) hasil kali antara kekuatan otot tungkai dengan start renang gaya kupu-kupu (XY). Beberapa keuntungan menggunakan analisis statistik product moment ini sebagai berikut: objektivitas dari hasil penelitian akan terjamin, analisa statistik dapat memberikan efisiensi dan efektivitas kerja, karena dapat meringankan pengerjaan pengolahan data dan bentuknya lebih sederhana, komunikatif dalam penyajiannya, memudahkan pembacaannya

54

dan ringkas. Setelah data terkumpul dalam bentuk tabel-tabel, sesuai dengan maksud dan tujuan penelitian yang telah dikemukakan dan diuraikan di muka maka tinggal mengolah data tersebut. Mencari korelasi antara kekuatan otot tungkai (X) dengan start renang gaya kupu-kupu (Y), dengan menggunakan korelasi Product Moment tunggal (Sutrisno Hadi, 2000 : 289) Rumus koefisiensi korelasi product moment:

RXY =

∑XY N.SDX SDY

N = 10 MX = ∑X N SDX = √ ∑X² N XY = ∑XY MY = ∑Y N SDY = √ ∑Y² N

55

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

4.1 Hasil Penelitian Perkumpulan Renang Spectrum Semarang mengadakan pembinaan dan pembibitan atlet-atlet mulai dari dasar yang terbagi dalam kelompokkelompok, yaitu pra pemula, pemula, yunior, dan senior baik laki-laki maupun perempuan antara usia 5 sampai 17 tahun. Dalam penelitian ini sampel yang digunakan atlet laki-laki usia 10 sampai 14 tahun berjumlah 10 atlet yang sudah mampu melakukan start (grab start) gaya kupu-kupu. Penelitian ini dilakukan dengan survey tes dan variabel yang diukur adalah kekuatan otot tungkai dan start renang gaya kupu-kupu. Bentuk data hasil pengukuran dalam penelitian ini berupa kilogram dan hasil lompatan start (grab start) gaya kupu-kupu dengan satuan centimeter agar tidak terjadi bias karena satuan pengukuran yang berbeda maka data dasar ini diubah atau ditransformasi terlebih dahulu ke skor T yang hasil penghitungannya adalah seperti pada tabel 3 halaman 50. 4.1.1 Diskripsi Data Pengambilan data dilakukan pada tanggal 17 Februari 2005 di kolam renang Manunggal Jati Semarang pukul 16.00 sampai 18.00 WIB sesuai jadwal latihan. Setelah dilakukan pengambilan data penelitian tentang klasifikasi kekuatan otot tungkai dan start renang gaya kupu-kupu pada 10 atlet laki-laki, data yang dihasilkan dari pengukuran dan tes tersebut,

56

selanjutnya dianalisa dengan uji korelasi product moment tunggal pada taraf signifikasi 5 %. Hasil pengukuran dapat dilihat pada tabel 3 dan 4. 4.1.2 Diskripsi Data Indeks Kekuatan Otot Tungkai Dengan Transformasi Data ke Skor T Rata-rata indek kekuatan otot tungkai pada 10 atlet laki-laki Perkumpulan Renang Spectrum Semarang sebesar 49,996 dengan standart deviasi 10,009 sedangkan skor tertinggi kekuatan otot tungkai sebesar 66,94 dan skor terendah 35,63. Hasil perhitungan secara terinci adalah sebagai berikut: Tabel 3. Diskripsi Data Indeks Kekuatan Otot Tungkai
Variabel X n 10 Jumlah 499,96 Skor Skor Mean Tertinggi Terendah 66,9 35,63 49,996 SD 10,009

4.1.3 Diskripsi Data Indeks Start Renang Gaya Kupu-kupu Hasil pengukuran renang gaya kupu-kupu pada atlet laki-laki Perkumpulan Renang Spectrum Semarang menunjukkan rata-rata 2,995 dan standart deviasi 0,36 dengan skor tertinggi sebesar 3,37 dan skor terendah 2,51, untuk lebih jelasnya hasil perhitungan secara terinci adalah seperti pada tabel 4 halaman 45.

57

Tabel 4 Diskripsi Data Hasil Start Renang Gaya Kupu-kupu
Variabel Y n 10 Jumlah 29,95 Skor Skor Tertinggi Terendah 3,37 2,51 Mean 2,995 SD 0,36

4.1.4 Uji Korelasi Uji korelasi adalah untuk menentukan derajat hubungan variabel bebas terhadap variabel terikat. Uji ini menggunakan harga koefisien korelasi product moment yaitu sebesar rXY (0,723), adapun r tabel dengan n sebanyak 10 untuk α = 0,05 sebesar 0,632. Dengan demikian harga r hitung ≥ r tabel. Harga r sebesar 0,723 menunjukkan adanya hubungan yang berarti. 4.1.5 Uji Signifikansi Uji signifikansi bertujuan untuk mengetahui apakah sumbangan yang diberikan oleh prediktor (variabel bebas) adalah signifikansi (nyata) atau tidak terhadap start renang gaya kupu-kupu. Uji dilakukan dengan uji korelasi, perhitungan uji signifikansi dilihat pada tabel 5. Tabel 5 Uji Signifikansi Variabel X r hitung 72,3% r tabel 63,2% Kriteria Signifikan

58

Berdasarkan uji signifikansi korelasi diperoleh sumbangan yang diberikan oleh prediktor X (kekuatan otot tungkai) adalah 0,723 X 100% = 72,3%, dari hasil perhitungan tersebut menunjukkan hubungan yang signifikan (nyata) pada taraf kepercayaan 5%.

4.2

Pembahasan Variabel dalam penelitian ini adalah kekuatan otot tungkai dan start renang gaya kupu-kupu, kekuatan otot tungkai merupakan komponen fisik yang sangat penting dalam renang karena digunakan untuk mendorong badan bergerak maju. Semua gaya renang memerlukan kekuatan otot tungkai sebagai tendangan, sementara kekuatan otot lengan sebagai gerakan sapuan luar, sapuan dalam, sapuan bawah dan sapuan atas. Kekuatan otot tungkai sangat menentukan hasil tolakan start renang gaya kupu-kupu termasuk ayunan lengan. Agar dapat menghasilkan tolakan start yang jauh perenang harus memiliki kekuatan otot tungkai dan penguasaan teknik start yang baik dan benar. Semakin kuat otot tungkai, semakin jauh tolakan start dan menghasilkan luncuran yang optimal. Pada penelitian ini diperoleh hasil yang menyatakan ada hubungan antara kekuatan otot tungkai dengan start renang gaya kupu-kupu pada atlet Perkumpulan Renang Spectrum Semarang pada tahun 2005. Berdasarkan hasil perhitungan statistik dapat diketahui bahwa variabel kekuatan otot tungkai terhadap start renang gaya kupu-kupu (grab start) menunjukkan hubungan berarti. Hal ini dapat dilihat bahwa sumbangan yang diberikan

59

sebesar 72,3%. Dengan melihat hasil penelitian ini bahwa variabel kekuatan otot tungkai memberikan sumbangan positif terhadap lompatan dan luncuran pada start renang gaya kupu-kupu (grab start) artinya semakin besar kekuatan otot tungkai semakin jauh tolakan untuk mencapai luncuran yang optimal. Hal ini berarti bahwa dalam kasus penelitian ini hasil tolakan start sepenuhnya ditentukan oleh indek kekuatan otot tungkai, untuk mendukung hasil prestasi renang pada saat berlomba. Dari hasil penelitian ini menunjukkan bahwa variabel yang diajukan mempunyai hubungan yang positif terhadap start renang gaya kupu-kupu (grab start). Hal ini sesuai dengan landasan teori yang dikemukakan di depan, bahwa kekuatan otot tungkai sangat menetukan hasil tolakan start. Pada prinsipnnya start merupakan langkah awal dari perlombaan yang harus diperhatikan walaupun sumbangan waktu yang diberikan oleh start hanya sedikit, karena banyak perenang yang kalah dalam mengikuti kejuaraan disebabkan kurang menguasai teknik start.

60

BAB V SIMPULAN DAN SARAN

5.1

Simpulan Penelitian ini adalah survei untuk mengetahui hubungan antara kekuatan otot tungkai dengan start renang gaya kupu-kupu (grab start) pada 10 atlet laki-laki Perkumpulan Renang Spectrum Semarang. Berdasarkan hasil perhitungan statistik dengan korelasi product moment, setelah diuji keberartiannya dengan korelasi dan uji signifikansi 5% maka disimpulkan sebagai berikut: ada hubungan antara kekuatan otot tungkai terhadap start renang gaya kupu-kupu pada atlet Perkumpulan Renang Spectrum Semarang dan sumbangan yang diberikan oleh kekuatan otot tungkai terhadap start renang gaya kupu-kupu adalah 72,3%.

5.2 Saran 5.2.1 Khusus untuk atlet Perkumpulan Renang Spectrum Semarang agar

dapat meraih prestasi yang optimal, latihan fisik sangat penting dilakukan baik di air maupun di darat, terutama kekuatan otot tungkai sebagai dasar tolakan start. 5.2.2 Hasil penelitian ini dapat ditindaklanjuti dengan memberikan

treatment peningkatan kekuatan dan peningkatan kondisi fisik.

61

DAFTAR PUSTAKA A. Hamidsyah. 1996. Kepelatihan Dasar. Jakarta : Depdikbud. Agus Sumarno. 2003. Buku Acara Kejuaraan Renang Antar Perkumpulan Se Jawa Tengah. Solo : Tirta Dharma. David G. Thomas. 1996. Renang Tingkat Mahir. Jakarta. Raja Grafindo Persada. Ismail Umarella. 1983. Renang dan Metodik. Jakarta : Eka Sari. Kasiyo Dwijowinoto, Djeman, Sugiharto. 1995. Penataran Pelatih Renang Guru Olahraga Se-Kodia Semarang. Semarang. Moeljono Wiryoseputro, Slamet Suherman. 1996. Kesehatan Olahraga. Jakarta : Depdikbud. Soejoko Hendromartono. 1992. Olahraga Pilihan Renang. Jakarta : Depdikbud. Soekaptiadi Soekarno. 1986. Petunjuk Pemeriksaan Faal Kerja OlahragawanRenang dengan Mempergunakan Ergometer Sepeda. Jakarta : Depdikbud. Sugiyanto, Sudjarwo. 1994. Perkembangan dan Belajar Gerak. Jakarta : Depdikbud. Suharsimi Arikunto. 1998. Prosedur Penelitian. Jakarta : Rineka Cipta. Sumarno. 1999. Olahraga Pilihan II. Jakarta : Depdikbud. Universitas Terbuka Sutrisno Hadi. 2000. Statistik. Yogyakarta : Andi. Tri Tunggal Setiawan, Sukirno, Kaswarganti Rahayu. 2004. Laporan Penelitian, Peningkatan Kecepatan Renang 50 Meter Gaya Kupu-kupu dengan Latihan Darat Kekuatan dan Fleksibilitas. Semarang : UNNES

Tri Tunggal Setiawan. 2004. Renang Dasar I. Semarang : UNNES . 2004. Biomekanika. Semarang : UNNES . 2004. Pengaruh Latihan Kekuatan Otot Dan Fleksibilitas Sendi Terhadap Waktu Tempuh Renang 50 Meter Gaya Crawl, Kajian Biomotorik Latihan Darat Pada Perenang Pemusatan Latihan Daerah Jawa Tengah. Tesis. Jogjakarta : Program Strata Dua UGM.

62

Lampiran 1 HASIL TES KEKUATAN TUNGKAI DAN START RENANG GAYA KUPU-KUPU

KEKUATAN NO 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 NAMA Sandi Ardian Randi Pramana Wahyu A.T Dimas Satriyo B Yosua Davit Bawi Trah A Bawi Mukti Garin Tri A Garry Agnor T Alfian Nugroho TUNGKAI (KG) 145,0 74,5 78,5 130,5 107,0 56,0 39,5 62,5 64,5 121,0

START LOMPATAN (METER) 3,37 2,80 2,88 3,56 3,53 2,75 2,63 3,10 2,51 2,82

63

Lampiran 2 HASIL TES TRANSFORMASI DATA KE SKOR T

NO

1 2 3 4 5 6 7 8 9 10

KEKUATAN OTOT TUNGKAI 145,0 74,5 78,5 130,5 107,0 56,0 39,5 62,5 64,5 121,0

SKOR HASIL (KOT) 66,94 46,02 47,21 62,64 55,66 40,53 35,63 42,46 43,05 59,82

SKOR LOMPATAN START 3,37 2,80 2,88 3,56 3,53 2,75 2,63 3,10 2,51 2,82

64

Lampiran 3 PERHITUNGAN STATISTIK DENGAN KORELASI PRODUCT - MOMENT NO KEKUATAN OTOT TUNGKAI 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 66,94 46,02 47,21 62,64 55,66 40,53 35,63 42,46 43,05 59,82 499,96 3,37 2,80 2,88 3,56 3,53 2,75 2,63 3,10 2,51 2,82 29,95 16,994 -3,976 -2,786 12,644 5,664 -9,466 288,79 15,80 7,76 159,87 32,08 89,60 0,375 0,140 6,372 0,775 0,320 7,143 3,030 2,319 5,243 START (LOMPATAN ) X X² Y Y² XY

-0,195 0,038 -0,115 0,013 0,565 0,535 0,319 0,286

-0,245 0,060

-14,366 206,38 -0,365 0,133 -7,536 -6,946 9,824 0 56,79 48,24 96,51 1001,82 0,105

0,011 -0,791 3,368

-0,485 0,235

-0,175 0,030 -1,719 0 1,265 26,06

65

Lampiran 4 Dari data diatas diperoleh : A. 1. 2. 3. Variabel kekuatan otot tungkai N = 10 MX =

∑ X 499,96 = = 49,996 10 N
1001,82 ∑ x2 = N 10

SDX =

= 10,009 B. Variabel Start 1. N = 10
∑Y 29,95 = = 2, 995 N 10

2. MY = 3. SDY =

1,265 ∑ y2 = 10 N

= 0,35 ∑xy rXY = 26,06 = =
26,06 ∑ xy = N .SDxSDy (10 ) (10,009 ) (0,36 ) 26,06 = 0,723 36

66

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->