P. 1
120

120

|Views: 142|Likes:
Published by safran

More info:

Published by: safran on Sep 16, 2010
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

03/14/2011

pdf

text

original

PERBEDAAN MOTIVASI BERPRESTASI ANTARA SISWA YANG

MENJADI PENGURUS OSIS DENGAN SISWA YANG BUKAN
PENGURUS OSIS DI SMU YPE (YAYASAN PENDIDIKAN EKONOMI)
SEMARANG TAHUN PELAJARAN 2004-2005

SKRIPSI
Diajukan dalam rangka Menyelesaikan Studi Strata I
untuk Mencapai Gelar Sarjana Pendidikan


Oleh :
Nama : Agus Hari Utomo
NIM : 1314972256
Jurusan : Bimbingan dan Konseling



FAKULTAS ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS NEGERI SEMARANG
2005

ii
LEMBAR PENGESAHAN

Skripsi ini telah dipertahankan di hadapan sidang Panitia Ujian Skripsi Fakultas
Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Semarang pada :
Hari : Selasa
Tanggal : 16 Agustus 2005
Panitia Ujian

Ketua Sekretaris


Drs. Siswanto, MM Dra. Ninik Setyowani
NIP. 130515769 NIP. 130788543
Anggota Penguji
Pembimbing I 1.

Dra. M.Th. Sri Hartati, M.Pd
Drs. Supriyo, M.Pd NIP. 131578121
NIP. 130783045

Pembimbing II 2.

Drs. Supriyo, M.Pd
Drs. Suparwoto NIP. 130783045
NIP. 130368009


3.


Drs. Suparwoto
Nip. 130368009


iii
ABSTRAK
Agus Hari Utomo, 2005. Perbedaan Motivasi Berprestasi Siswa antara
Siswa yang Menjadi Pengurus OSIS dengan Siswa yang Bukan Pengurus OSIS di
SMU YPE (Yayasan Pendidikan Ekonomi) Semarang Tahun Pelajaran 2004-
2005. Skripsi. Jurusan Bimbingan dan Konseling. Fakultas Ilmu Pendidikan.
UNNES.
Kenyataan di SMU YPE Semarang menunjukan gejala yang bervariasi,
tidak semua siswa yang menjadi pengurus OSIS menunjukan adanya motivasi
berprestasi yang tinggi dan ada pula siswa yang terlibat aktif dalam kepengurusan
OSIS pengurus OSIS menunjukan motivasi berprestasi yang tinggi, sehingga
perlu diteliti lebih lanjut secara empiris.
Permasalahan yang dikaji apakah ada perbedaan motivasi berprestasi
antara siswa yang menjadi pengurus OSIS dengan siswa yang bukan pengurus
OSIS di SMA YPE Semarang Tahun Pelajaran 2004/2005? Tujuan penelitian ini
untuk mengetahui perbedaan-perbedaan motivasi berprestasi antara siswa yang
menjadi pengurus OSIS dengan siswa yang bukan pengurus OSIS di SMA YPE
Semarang Tahun Pelajaran 2004/2005.
Populasi yang diteliti adalah siswa SMA YPE Semarang. Sampel yang
diambil sebanyak 20 siswa yang menjadi pengurus OSIS dan 25 siswa yang bukan
pengurus OSIS. Variabel yang diteliti yaitu motivasi berprestasi siswa. alat
pengambil data berupa angket. Data yang diperoleh dianalisis menggunakan uji t.
Hasil penelitian diperoleh rata-rata motivasi berprestasi siswa yang
menjadi pengurus OSIS mencapai 3,36 dalam katepori cukup. Dilihat dari
indikatornya ternyata rata-rata berorientasi suksesnya mencapai 3,34 dalam
kategori cukup, berorientasi ke depan sebesar 3,46 dalam kategori tinggi, suka
tantangan mencapai 3,21 dalam kategori cukup, dan pada indikator tangguh
mencapai 3,41 dalam kategori tinngi. Rata-rata motivasi berprestasi siswa yang
bukan pengurus OSIS mencapai 3,10. Dilihat indikatornya ternyata rata-rata
berorientasi suksesnya mencapai 3,14 dalam kategori cukup, berorientasi ke depan
sebesar 3,20 dalam kategori cukup, suka tantangan mencapai 2,92 dalam kategori
cukup, dan pada indikator tangguh mencapai 3,12 dalam kategori cukup. Dari
hasil uji t diperoleh nilai t
hitung
(4,060) dengan probabilitas 0,000 < 0,05, yang
berarti secara nyata ada berbedaan yang nyata motivasi berprestasi antara siswa
yang menjadi pengurus OSIS dengan siswa yang bukan pengurus OSIS. Dilihat
dari rata-ratanya maka siswa yang menjadi pengurus OSIS cenderung mempunyai
motivasi berprestasi yang lebih tinggi dari pada yang bukan pengurus OSIS.
Dapat disimpulkan bahwa ada perbedaan yang signifikan motivasi
berprestasi antara siswa yang menjadi pengurus OSIS dengan siswa yang bukan
pengurus OSIS di SMU YPE Semarang, di mana motivasi berprestasi siswa yang
menjadi pengurus OSIS lebih tinggi dari pada yang bukan pengurus OSIS.
Disarankan kepada pembina OSIS dan guru pembimbing untuk
menyeleksi jenis kegiatan OSIS yang mampu meningkatkan motivasi berprestasi
siswa. Dengan pengawasan dan arahan tersebut diharapkan siswa yang menjadi
pengurus OSIS mampu bersaing dalam prestasi di kelas dan tetap dapat
menjalankan kepengurusan OSIS. Bagi siswa yang bukan pengurus OSIS
hendaknya juga diberikan kegiatan atau penugasan yang dapat meningkatkan

iv
motivasi berprestasi seperti karya ilmiah, tugas belajar di rumah yang menuntut
tanggung jawab yang tinggi dan keuletan dalam mengerjakan tugas tersebut, tidak
terkecuali bagi siswa yang menjadi pengurus OSIS juga mendapatkan penugasan
tersebut. Bagi peneliti lain dapat mengkaji lebih lanjut tentang perbedaan jenis
kegiatan yang dilakukan antara siswa yang menjadi pengurus OSIS dan kaitannya
dengan motivasi berprestasi. Dengan penelitian tersebut diharapkan dapat
ditemukan jenis-jenis kegiatan yang berpengaruh terhadap peningkatan motivasi
berprestasi siswa.








































v
MOTO DAN PERSEMBAHAN

MOTO :
“Sesungguhnya Allah tidak mengubah suatu kaum sehingga mereka merubah
keadaan yang ada pada dirinya” (ar Ra’ad : 11)








PERSEMBAHAN :
Bapak dan Alm. Ibu Tercinta.
Adikku Purnawati yang selalu memberi dorongan dan motivasi.
Pakdhe dan Budhe Sumahadi terima kasih atas doa dan segalanya.
Pakdhe dan Budhe Eddy Hendrarno terima kasih atas doa dan segalanya.
Buat seseorang yang selama ini telah menemani dengan sabar,
memberikan dorongan, cinta dan kasih sayangnya.




vi
KATA PENGANTAR

Alhamdulillah, puji syukur penulis panjatkan kepada Allah SWT, yang
telah melimpahkan rahmat, hidayah serta kekuatan dan kesabaran sehingga
penulis dapat menyelesaikan skripsi ini walaupun masih jauh dari sempurna.
Oleh karena itu dengan segala kekurangan dan ketidakmampuan yang
ada pada penulis, maka izinkanlah penulis mengucapkan terima kasih yang
sebesar-besarnya kepada :
1. Drs. Siswanto, MM, Dekan Fakultas Ilmu Pendidikan yang memberikan izin
dan kesempatan dalam penulisan skripsi ini.
2. Drs. Suharso, M.Pd, Ketua Jurusan Bimbingan dan konseling yang telah
memberikan kelancaran sehingga penulis bisa menyelesaikan skripsi ini.
3. Drs. Supriyo, M.Pd, Dosen Pembimbing I yang telah memberikan bimbingan,
saran serta motivasi sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini.
4. Drs. Soeparwoto, Dosen Pembimbing II yang telah memberikan bimbingan,
saran serta motivasi sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini.
5. Dra. Badriyaningsih, Kepala SMU YPE Semarang yang telah memberikan izin
dalam melaksanakan penelitian.
6. Siswa-siswa SMU YPE yang telah membantu dalam pelaksanaan penelitian
ini.
7. Pihak-pihak lain yang tak dapat penulis sebutkan satu persatu yang telah
banyak membantu kelancaran dalam penyusunan skripsi ini.

vii
Penulis menyadari bahwa skripsi ini masih jauh dari sempurna, oleh
karena itu segala kritik dan saran yang bersifat membangun akan selalu penulis
harapkan.
Akhirnya penulis berharap skripsi ini dapat bermanfaat bagi para pembaca
pada umumnya dan penulis pada khususnya.

Semarang, Juli 2005

Penulis














viii
DAFTAR ISI

Halaman

HALAMAN JUDUL ........................................................................... i
LEMBAR PENGESAHAN .................................................................. ii
ABSTRAK .......................................................................................... iii
MOTO DAN PERSEMBAHAN .......................................................... v
KATA PENGANTAR ......................................................................... vi
DAFTAR ISI ....................................................................................... viii
DAFTAR TABEL ............................................................................... xi
DAFTAR LAMPIRAN ........................................................................ xii

BAB I PENDAHULUAN
A. Latar belakang ........................................................ 1
B. Permasalahan .......................................................... 4
C. Penegasan Judul ...................................................... 4
D. Tujuan Penelitian .................................................... 5
E. Manfaat Penelitian .................................................. 5
F. Sitematika Skripsi ................................................... 6






ix
BAB II LANDASAN TEORI
A. Motivasi Berprestasi ............................................... 7
1. Pengertian Motif, Motivasi dan Indikator
........................................................................... 7
2. Fungsi Motivasi .................................................. 13
3. Faktor-faktor yang mempengaruhi ...................... 14
4. Macam-macam Motivasi ..................................... 18
5. Upaya Meningkatkan Motivasi ............................ 20
B. Organisasi Siswa Intra Sekolah ............................... 22
1. Pengertian OSIS .................................................. 22
2. Fungsi OSIS ........................................................ 24
3. Struktur OSIS SMU YPE .................................... 25
4. Kegiatan atau Program Kerja OSIS
SMU YPE ........................................................... 26
5. Faktor Pendukung dan Penghambat
Program Kerja OSIS SMU YPE .......................... 27
C. Hubungan Motivasi Berprestasi Siswa
yang menjadi Pengurus OSIS dengan
Siswa yang bukan Pengurus OSIS ........................... 28
D. Hipotesis ................................................................. 29




x
BAB III METODOLOGI PENELITIAN
A. Populasi .................................................................. 30
B. Sampel ..................................................................... 31
C. Variabel Penelitian ................................................... 31
D. Metode Pengumpulan Data ...................................... 32
E. Validitas dan Reliabilitas .......................................... 34

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
A. Hasil Penelitian ....................................................... 38
1. Berorientasi Sukses ............................................. 40
2. Berorientasi Ke Depan ........................................ 41
3. Suka Tantangan ................................................... 42
4. Tangguh .............................................................. 43
B. Pembahasan ............................................................. 44
C.Uji Hipotesis ............................................................. 47


BAB V SIMPULAN DAN SARAN
A. Simpulan .................................................................. 49
B. Saran ........................................................................ 50

DAFTAR PUSTAKA .......................................................................... 51
LAMPIRAN-LAMPIRAN




xi
DAFTAR TABEL

Tabel Halaman
1. Kriteria Penentuan Tingkatan
Motivasi Berprestasi ...................................................................... 39
2. Rata-rata Motivasi Berprestasi Siswa ............................................. 39
3. Distribusi Frekuensi Motivasi Berprestasi Siswa ............................ 40
4. Distribusi Frekuensi Berorientasi Sukses ........................................ 41
5. Distribusi Frekuensi Berorientasi Ke Depan ...................................
6. Distribusi Frekuensi Tingkat Kesukaa
terhadap Tantangan ........................................................................ 43
7. Distribusi Frekuensi Tingkat Ketangguhan Siswa........................... 44
8. Hasil Uji Hipotesis ......................................................................... 47

















xii
DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran Halaman
1. Tabel Kisi-kisi Pengembangan Instrumen Penelitian ....................... 55
2. Instrumen Uji Coba Penelitian Motivasi Berprestasi ....................... 56
3. Analisis Hasil Uji Coba Instrumen .................................................. 60
4. Perhitungan Validitas Instrumen .................................................... 62
5. Perhitungan Reliabilitas Instrumen ................................................. 63
6. Daftar Siswa yang bukanPengurus OSIS ........................................ 64
7. Daftar Siswa yang menjadi Pengurus OSIS .................................... 65
8. Instrumen Penelitian Motivasi Berprestasi ...................................... 67
9. Data Hasil Penelitian ...................................................................... 70
10. Surat Permohonan Ijin Penelitian
di SMU YPE Semarang .................................................................. 74
11. Surat Keterangan Bukti Penelitian
dari SMU YPE Semarang ............................................................... 75










xiii
DAFTAR SISWA YANG MENJADI PENGURUS OSIS

1. Eko Setyawan
2. Nur Fita Luxfi
3. Fenti Fun Haryani
4. Ardhian Nursiyanto
5. Sriyono
6. Puji Lestari
7. Iwan Santoso
8. Daru santoso
9. Eko Aris Setyawan
10. Surati
11. Agus Susilo
12. Sukamto
13. Eko Yulianto
14. Panca Indriyanti
15. Joko Mujianto
16. Suprayogo
17. Wisnu Utomo
18. Khomaidi
19. Emy Andarini
20. Ika Nilasari Putri

xiv
DAFTAR SISWA YANG BUKAN PENGURUS OSIS


1. Agustina 21. Bagus Handoyo
2. Ayu Lestari 22. Rochdita S
3. Budi Wahyu Abidin 23. Dewi Yuliani
4. Siti Wahyuni 24. Tri Hastorini
5. Choiril Bayu K 25. Heru Edi S
6. Nono Ardiyanto
7. Siti Halimah
8. Dwi Jatmiko
9. Nurhayati
10. Andi Prasetyo
11. Irwan Wahyudi
12. Wiwit Diah S
13. Efi Suharningsih
14. Siti Zumroh
15. Marti Prasetyo
16. Tri Yuni A
17. Yanita Rindawati
18. Ariyono Darmadi
19.Finatul Khikmah
20.Ahmad Syaifudin


xv









BAB I
PENDAHULUAN


A. Latar Belakang
Dalam konteks penyelenggaraan pendidikan menengah umum maupun
dalam mengikuti proses belajar di sekolah siswa memiliki peranan yang sangat
penting. Karena siswa merupakan pusat dari segala kegiatan yang dilaksanakan
di sekolah sebagai upaya untuk mengembangkan potensi yang dimilikinya.
Selain itu, siswa diharapkan mampu utnuk aktif mengikuti berbagai kegiatan
dalm rangka mengembangkan dirinya, khususnya dalam bidang ilmu
pengetahuan dan ketrampilan yang sesuai dengan kemampuan dan bakatnya.
Pengembangan potensi yang dimiliki siswa tentunya tidak akan terlepas
dari motivasi berprestasi yang siswa yang dapat wujudkan melalui wadah
organisasi siswa yang disebut Organisasi Siswa Intra Sekolah [OSIS]. Melalui
wadah tersebut siswa dapat mengembangkan berbagai kegiatan ekstrakurikuler
yang dimaksudkan untuk mendukung dan melengkapi tujuan kegiatan intra
sekolah.
Untuk itu tepatlah kiranya bila motivasi merupakan penggerak dalam
melakukan segala aktivitas yang dapat menunjang prestasi. Seperti halnya
lembaga pendidikan lain, SMU YPE yang berdiri sejak tanggal 26 Oktober 1986
dan terletak di jalan Karangrejo Sampangan Semarang menempati gedung yang
cukup tenang, sehingga pelaksanaan proses belajar mengajar bisa berjalan
lancar. SMU YPE berjumlah 5 kelas dengan perincian kelas 1 ada 2 kelas, kelas

2
2 ada 1 kelas dan kelas 3 ada 2 kelas dengan jumlah siswa keseluruhan 108
siswa. Pihak sekolah sangat mendukung dengan program kerja OSIS yang selalu
memberikan kesempatan kepada siswa untuk mengembangkan kemampuan,
bakat, kreativitas maupun minat siswa yang disalurkan melalui organisasi
disekolah tersebut.
Berbagai sarana dan prasarana pendukung telah tersedia yang dapat
dipergunakan untuk memperlancar kegiatan belajar dan mengembangkan
motivasi berprestasi siswa melalui wadah OSIS. Adapun tujuan dari pada OSIS
adalah menampung bakat, minat para siswa untuk disalurkan sesuai dengan
keinginan dan turut serta menjaga dan menjunjung tinggi almamater dalam
setiap kesempatan. Selain itu berbagai kegiatan yang diprogramkan OSIS
diharapkan siswa mampu melaksanakanya dan mengembangkan serta
meningkatkan apa yang sudah ada dengan tidak meninggalkan kewajiban
sebagai siswa itu sendiri.
Keberhasilan seseorang di bidang pendidikan tidak terlepas dari motivasi
yang ada pada dirinya maupun dari orang lain. Pencapaian prestasi akademik
disekolah sangat ditentukan oleh faktor motivasi berprestasi (Sugiyo, dkk.
1995). Dalam hal ini dapat dikatakan keberhasilan seseorang dalam belajar tidak
hanya ditentukan kecerdasan semata-mata tetapi ditentukan pula oleh
kecerdasan emosional yang meliputi pengendalian diri, semangat, ketekunan
dan disiplin, serta kemampuan untuk memotivasi diri.
Kegiatan kesiswaan yang ada diharapkan dapat menggali potensi dan
memacu diri siswa agar timbul keinginan untuk meningkatkan prestasi

3
belajarnya sehingga tercapai tujuan pendidikan seperti yang diharapkan. Tanpa
adanya motivasi berprestasi dalam diri siswa akan berakibat siswa yang
memiliki kemampuan dasar cukup tinggi tidak dapat menunjukan potensi dan
meraih prestasi yang optimal dan pada akhirnya dapat menurunkan mutu sumber
daya manusia.
OSIS (Organisasi Siswa Intra Sekolah) merupakan satu organisasi siswa di
sekolah yang bukan hanya melatih siswa mengenai kepemimpinan, kemampuan
berorganisasi, juga melatih disiplin yang pada akhirnya dapat memberikan
keuntungan yang positif bagi siswa. Tapi satu hal yang menarik apakah setiap
pengurus OSIS mempunyai prestasi yang tinggi dari pada mereka yang bukan
sama sekali masuk dalam kepengurusan OSIS.
Analisis di atas menjadi persoalan menarik karena kenyataan di lapangan
menunjukkan bahwa kondisi siswa yang belum sepenuhnya sejalan dengan apa
yang diharapkan oleh sekolah. Pengamatan selama menjalankan tugas-tugas
praktikum dan praktik pengalaman lapangan di SMU menunjukkan gejala-gejala
yang bervariasi, artinya tidak semua siswa-siswa SMU yang aktif menjadi
pengurus OSIS menunjukan adanya motivasi berprestsasi yang tinggi.
Sementara ada siswa-siswa yang tidak terlibat secara aktif dalam kepengurusan
OSIS menunjukan adanya motivasi berprestasi yang tinggi.
Gejala-gejala di atas terjadi pula pada SMU-SMU di Semarang salah
satunya SMU YPE (Yayasan Pendidikan Ekonomi). Selama beberapa kali
melakukan kunjungan ke sekolah-sekolah tersebut dan hasil wawancara dengan
guru BK di temukan gejala-gejala yang demikian.

4
Hal di atas mendorong peneliti untuk melakukan penelitian dengan judul
“Perbedaan motivasi berprestasi antara siswa yang menjadi pengurus OSIS
dengan siswa yang bukan pengurus OSIS di SMU YPE (Yayasan Pendidikan
Ekonomi) di Semarang tahun Pelajaran 2004/2005

B. Permasalahan
Bertolak dari permasalahan tersebut di atas maka dapat dirumuskan satu
permasalahan yang akan diteliti yaitu: Apakah ada perbedaan motivasi
berprestasi antara siswa yang menjadi pengurus OSIS dengan siswa yang bukan
pengurus OSIS di SMU YPE tahun Pelajaran 2004/2005.

C. Penegasan Judul
Untuk memberikan gambaran yang jelas dan menghindarkan kesalahan
dalam penafsiran jidul penelitian, maka penulis kemukakan batasan-batasan
tentang istilah dalam judul penelitian ini yaitu :
1. Perbedaan
Kata perbedaan mempunyai arti suatu yang menjadikan lberlainan.
(Poerwadarminta, 1990:104).
2. Motivasi Berprestasi
Motif merupakan keadaan dalam pribadi orang yang mendorong
individu untuk melakukan aktivitas-aktivitas tertentu guna mencapai suatu
tujuan (Suryabrata, 1995:70).

5
Motivasi berprestasi adalah suatu konsep yang digunakan untuk
mencapai sukses dengan suatu ukuran pencapaian hasil dan prestasi yang
memuaskan.

D. Tujuan Penelitian
Ada pun tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui perbedaan motivasi
berprestasi antara siswa yang menjadi pengurus OSIS dengan siswa yang bukan
pengurus OSIS di SMU YPE tahun Pelajaran 2004/2005.

D. Manfaat Penelitian
1. Manfaat secara teoritis
Diharapkan dari penelitian yang dilakukan ini dapat memberi manfaat
bagi peneliti agar lebih mengetahui bagaimana perbedaan motivasi
berprestasi antara siswa yang menjadi pengurus OSIS dengan siswa yang
bukan pengurus OSIS di SMU YPE tahun Pelajaran 2004/2005.
2. Manfaat secara Praktis
Hasil penelitian yang dilakukan diharapkan menjadi bahan
pertimbangan bagi guru dan orang tua serta siswa untuk melakukan
instrospeksi dalam meningkatkan motivasi berprestasi, sehingga nantinya
akan diperoleh dua keuntungan secara langsung yaitu dapat berprestasi lebih
baik dan ikut berpartisipasi dalam berorganisasi di sekolah.



6
E. Sistematika Skripsi
Garis besar dari sistematika penulisan skripsi ini dapat di jabarkan secara
ringkas yaitu :
Bab I mencakup latar belakang, permasalahan, penegasan istilah, tujuan
penelitian, manfaat penelitian dan bagian akhir dari bab ini adalah
sistematika skripsi.
Bab II akan diuraikan tentang landasan teori yang berisi tentang daftar kajian
teori yang diperoleh dari buku referensi/daftar pustaka. Selain itu juga
akan disampaikan tentang hipotesis penelitian.
Bab III bagian ini berisikan tentang metode penelitian yaitu penentuan obyek
penelitian, mencakup jenis penelitian, populasi dan sampel penelitian,
variabel penelitian, metode pengumpulan data, validitas dan reliabilitas
serta metode analisis data.
Bab IV berisikan laporan dari hasil penelitian dan pembahasan. Dalam hal ini
akan dibahas mengenai pengujian hipotesis dan pembahasan hasil
penelitian.
pBab V simpulan dan saran dari hasil penelitian.







7
BAB II
LANDASAN TEORI

A. Motivasi berprestasi
1. Pengertian Motif, Indikator dan Motivasi Berprestasi
Membahas mengenai motivasi berprestasi tentu tidak lepas dari kata
motif. Motif dalam bahasa inggris adalah motive yang berasal dari kata
motion yang berarti gerak atau dorongan. Motif adalah keadaan di dalam
orang yang mendorongnya untuk melakukan aktivitas atau penggerak
tingkah laku ke arah suatu tujuan dengan didasari adanya suatu kebutuhan
(Tabrani, 1994:98)
Motif adalah keadaan dalam pribadi orang yang mendorong individu
untuk melakukan aktivitas-aktivitas tertentu guna mencapai suatu tujuan
(Suryabrata, 1995:70). Jadi motif bukanlah hal yang dapat diamati, tetapi
adalah hal yang dapat disimpulkan adanya karena sesuatu yang dapat kita
saksikan. Tiap aktivitas yang dilakukan seseorang itu didorong oleh sesuatu
kekuatan dari dalam diri orang itu, kekuatan pendorong inilah yang kita
sebut motif.
Ahli lain mengemukakan bahwa motif merupakan daya pengerak dalam
subyek untuk melakukan aktivitas-aktivitas tertentu demi mencapai suatu
tujuan. Motif merupakan kondisi intern atau disposisi (kesiapsiagaan)
sedang pengertian motivasi adalah daya pengerak yang telah menjadi aktif

8
(Gunarso, 1996:92). Motif menjadi aktif pada saat tertentu, bila kebutuhan
untuk mencapai tujuan sangat dirasakan.
Motivasi adalah motif atau hal yang sudah menjadi aktif pada saat
tertentu terutama bila kebutuhan untuk mencapai tujuan terasa sangat
mendesak (Abror, 1993:114) Motivasi adalah suatu motif kecenderungan di
dalam diri individu untuk bertindak mencapai suatu tujuan yang konkrit
guna memuaskan kebutuhannya (Sadli, 1991:27).
Menurut Sardiman (2000:73) berawal dari kata motif, bahwa motivasi
adalah daya pengerak yang telah menjadi aktif. Selanjutnya dikatakan
bahwa motivasi adalah serangkaian usaha untuk menyediakan kondisi-
kondisi tertentu sehingga seseorang mau dan ingin melakukan sesuatu. Bila
ia tidak suka, maka ia berusaha untuk meniadakan rasa tidak suka itu.
Sedangkan Purwanto (1990:81) berpendapat motivasi sebagai suatu
yang didasari untuk menggerakan, mengarahkan dan menjaga tingkah laku
seseorang agar ia bertindak melakukan sesuatu sehingga mancapai hasil
atau tujuan tertentu.
Motivasi siswa pada penelitian ini didefinisikan sebagai keseluruhan
daya penggerak didalam diri siswa yang menimbulkan kegiatan atau
tindakan, menjamin kelangsungan dari kegiatannya dan memberikan arah
pada kegiatan siswa tersebut, sehingga tujuan yang dikehendaki tercapai.
Dari pengertian-pengertian motivasi diatas, dapat disimpulkan tiga
fungsi motivasi sebagai berikut :

9
a. Mendorong manusia untuk berbuat (motivasi sebagai motor pengerak
dari setiap kegiatan yang akan dikerjakan).
b. Menyeleksi suatu perbuatan (menetukan perbuatan-perbuatan apa yang
harus dilakukan untuk mencapai tujuan).
c. Menentukan arah perbuatan (ke arah tujuan yang hendak dicapai).
Motivasi sebagai suatu istilah umum menunjukan bahwa tingkah
laku itu digerakkan oleh kebutuhan-kebutuhan dan diarahkan ke suatu
tujuan (Sumadi S, 1984:4), motivasi ini dirasa penting karena : 1)
merupakan suatu kondisi yang dapat menarik keluar tingkah laku 2)
diperlukan bagi “reinforcement” atau stimulus yang memperkuat dan
mempertahankan tingkah laku yang dikehendaki dan merupakan kondisi
mutlak bagi proses belajar 3) menyebabkan timbulnya berbagai tingkah
laku dimana salah satu diantaranya mungkin dapat merupakan tingkah laku
yang dikehendaki.
Motivasi merupakan pendorong tingkah laku manusia. Namun usaha
pencapaian dan perwujudan motivasi itu tidak hanya tergantung pada
motivasi itu sendiri tetapi juga faktor lingkungan dan faktor belajar yang
memadai, maka pencapaian dan perwujudan itu akan berlangsung tanpa
mengalami banyak kesulitan. Jika faktor lingkungan dan atau faktor belajar
kurang atau tidak memadai, perwujudan dan pencapaian motivasi dapat
mengalami hambatan atau kesulitan.
Menurut Kartono (1985:68) motivasi adalah sebab, alasan dasar,
dorongan bagi seseorang untuk berbuat atau ide pokok yang selalu

10
berpengaruh besar terhadap tingkah laku. Selain itu motivasi merupakan
penentu perilaku (Irwanto, 1991:193). Masih menurut Irwanto ada tiga
determinan terjadinya perilaku yaitu dari lingkungan, dari dalam diri
individu dan tujuan dari suatu obyek.
Suatu daya dorong yang dimiliki individu yang keberadaannya ada
dalam diri individu disebut motif. Motif ini dapat aktif dan dinamis yang
akhirnya menjadi suatu tindakan, manakala ada usaha atau proses
pemunculannya. Kesesuaian antara tindakan dan motif dalam proses
pemunculannya itu disebut motivasi (Winkel, 1989: 83)
Setiap individu pasti mempunyai keinginan yang kuat untuk
meningkatkan prestasi agar hasil yang diperoleh hasil yang maksimal.
Untuk mendapatkan semua itu tergantung dari individu dalam memotivasi
dirinya.
Motivasi siswa pada penelitian ini didefinisikan sebagai keseluruhan
daya penggerak di dalam diri siswa yang menimbulkan kegiatan atau
tindakan, menjamin kelangsungan dari kegiatannya dan memberikan arah
pada kegiatan tersebut, sehingga tujuan yang dikehendaki tercapai.
Konsep motivasi berprestasi pertama kali menggunakan istilah “N-
Ach” atau Need for Achievement” dan dipapulerkan oleh McClelland
(dalam Martaniah, 1984:21). Konsep ini bertolak dari suatu asumsi bahwa
“N-AcH” merupakan semacam kekuatan psikologis yang mendorong setiap
individu sehingga membuat aktif dan dinamis untuk mengejar kemajuan.

11
Motivasi berprestasi menurut Heckhausen (dalam Purwanto,
1993:21) adalah batasan motivasi berprestasi sebagai usaha keras untuk
meningkatkan atau kecakapan diri setinggi mungkin dalam semua aktivitas
dengan menggunakan standar keunggulan sebagai pembanding. Standar
keunggulan dapat berupa tingkat tingkat kesempurnaan hasil pelaksanaan
tugas (berkaitan dengan tugas), perbandingan dengan prestasi sendiri
sebelumnya (berkaitan dengan diri sendiri), dan perbandingan dengan
prestasi orang lain.
Kemampuan yang dimiliki seseorang dalam berbagai aktivitas
merupakan standar keunggulan dimana suatu kegiatan tersebut dapat gagal
atau berhasil. Motivasi berprestasi juga dapat di artikan sebagai perjuangan
untuk menambah prestasi setinggi mungkin, Heckhausen (dalam Haditono,
1989:12). Ada tiga bentuk standart keunggulan/keberhasilan menurut
Heckhausen yaitu :
a) Keberhasilan dalam menyelesaikan tugas.
b) Keberhasilan yang dibandingkan dengan keberhasilan sebelumnya.
c) Keberhasilan yang dicapai dibandingkan dengan keberhasilan yang diraih
orang lain.
Sedangkan ahli lain Lindgren (dalam Rasimin Bs, 1982 : 1),
menyatakan bahwa motivasi berprestasi adalah dorongan yang berhubungan
dengan prestasi, yaitu menguasai, memanipulasi, mengatur lingkungan
maupun fisik untuk mengatasi rintangan-rintangan dan memelihara kualitas

12
belajar yang tinggi, bersaing melalui usaha-usaha untuk melebihi perbuatan-
perbuatan yang lampau dan mengungguli perbuatan orang lain.
Individu yang mempunyai motivasi berprestasi biasanya lebih
menyukai tugas yang menuntut tanggung jawab. Hal ini berarti keberhasilan
yang dicapai bukan karena bantuan orang lain atau karena fakor
keberuntungan, melainkan karena hasil kerja keras dirinya sendiri. Selain
itu individu juga mempunyai dorongan yang kuat untuk segera mengetahui
hasil nyata dari tindakannya, karena hal itu dapat digunakan sebagai umpan
balik. Selanjutnya dari hasil evaluasi tersebut individu dapat memperbaiki
kesalahannya dan mendorong untuk berprestasi lebih baik dengan
menggunakan cara-cara baru.
Adanya beberapa temuan dari Hechausen (dalam Martaniah, 1984 :
28) yang menunjukan bahwa karaktristik individu yang mempunyai
motivasi berprestasi antara lain sebagai berikut:
a. Berorientasi sukses, artinya bahwa jika individu dihadapkan pada
situasi berprestasi ia merasa optimis bahwa sukses akan diraihnya dan
dalam mengerjakan tugas ia lebih terdorong oleh harapan untuk
sukses dari pada menghindar tapi gagal.
b. Berorientasi jauh ke depan, dia cenderung membuat tujuan-tujuan
yang hendak dicapainya di waktu yang akan datang dan ia sangat

13
menghargai waktu serta ia lebih dapat menangguhkan pemuasan
untuk mendapatkan penghargaan di waktu mendatang.
c. Suka tantangan, dia suka situasi prestasi yang mengundang resiko
yang cukup untuk gagal. Dia suka akan perbedaan dan kekhasan
tersendiri sesuai dengan kompetensi profesional yang di miliki, maka
secara tidak langsung akan mempengaruhi kualitas motivasi dan
pencapaian prestasi belajar pada siswa.
d. Tangguh, dia dalam melakukan tugas-tugasnya menunjukan keuletan,
dia tidak mudah putus asa dan berusaha terus sesuai dengan
kemampuannya.

2. Fungsi Motivasi
Dalam memahami peranan motivasi serta fungsinya, maka akan di
kemukakan beberapa fungsi motivasi sebagai berikut :
a. Mendorong manusia untuk berbobot, jadi fungsi motivasi sebagai
penggerak.
b. Menentukan gerak perbuatan yaitu dapat mencapai tujuan yang hendak
dicapai.
c. Menyeleksi perbuatan yakni menentukan perbuatan-perbuatan apa yang
harus dijalankan dengan serasi guna mencapai tujuan.

14
Demikian pentingnya arti motivasi dalam kita melangkah untuk
berbuat, sehingga jika dikaitkan dengan belajar maka motivasi menduduki
tempat strategis dalam upaya keberhasilan tujuan belajar.dalam hal ini dapat
dikatakan bahwa keberhasilan seseorang dalam belajar tidak hanya
ditentukan oleh kecerdasan semata-mata tetapi ditentukan pula oleh
kecerdasan emosional yang meliputi pengendalian diri, semangat, disiplin
dan ketekunan, serta kemampuan untuk memotivasi diri.

3. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Motivasi Berprestasi
Salah satu prinsip dalam melaksanakan pendidikan adalah individu
secara aktif mengambil bagian dalam kegiatan pendidikan yang dilaksanakan.
Untuk dapat melaksanakan suatu kegiatan, pertama-tama harus ada dorongan
untuk melaksanakan kegiatan itu. Dengan kata lain, untuk dapat melakukan
sesuatu harus ada motivasi. Begitu juga keadaanya dalam proses belajar atau
pendidikan, individu harus mempunyai motivasi untuk mengikuti kegiatan
belajar atau pendidikan yang sedang berlangsung,
Motivasi berprestasi dapat dipengaruhi oleh lingkungannya (Crow
dan Crow, 1989:24). Artinya sikap terhadap lingkungan merupakan petunjuk
tentang pandangan dan penilaian individu terhadap lingkungan. Sikap positif
terhadap lingkungan akan meningkatkan motivasi berprestasi, sedangkan
sikap negatif terhadap lingkungan akan menurunkan motivasi berprestasi.
Selain itu, ada empat unsur yang merupakan penyebab motivasi
berprestasi yang dikemukakan oleh Weiner (dalam Martaniah, 1984:2).

15
Keempat unsur tersebut adalah kemampuan atau kekuatan, usaha, kesukaran
tugas, dan keberuntungan atau kebutuhan. Selanjutnya empat atribusi
penyebab tersebut dibagi dalam dua dimensi yaitu locus of control dan
stabilitas. Locus of control ini dapat bersifat internal dan eksternal.
Sedangkan stabilitas dapat bermacam-macam, dia mengklasifikasikan
kemampuan dan usaha sebagai penentu internal dan perilaku. Kemudian
kesukaran tugas dan keberuntungan sebagai penentu perilaku eksternal.
Berdasarkan penemuannya bersama Potipan, maka dikemukanlah
pendapatnya tentang motivasi berprestasi yaitu sebagai berikut :
a. Individu yang mempunyai motif berprestasi tinggi mengatribusikan
sukaes pada usaha dan mengatribusikan kegagalan pada tidak adanya
usaha.
b. Individu yang mempunyai motif berprestasi rendah tidak melihat usaha
sebagai sesuatu yang menentukan hasil.
c. Individu yang mempunyai motif berprestasi tinggi menganggap
menyebab sukses adalah kemampuan yang tinggi, sedang yamg
mempunyai motif berprestasi rendah menganggap penyebab karena
kurangnya kemampuan.
d. Individu yang mempunyai motif berprestasi tinggi secara relatif
mempunyai kemampuan yang tinggi.
Banyak teori yang mendasari motivasi. Menurut Morgan (dalam
Sardiman, 2000:78) ada empat faktor pendorong bagi seseorang melakukan

16
kegiatan dan dapat memicu munculnya motivasi berprestasi siswa, antara
lain :
a. Kebutuhan untuk berbuat sesuatu aktivitas.
b. Kebutuhan untuk menyenangkan orang lain.
c. Kebutuhan untuk mencapai hasil.
d. Kebutuhan untuk mengatasi kesulitan.
Faktor-faktor lain yang dapat mempengaruhi motivasi berprestasi
adalah sebagai berikut :
a. Cita-cita atau Aspirasi
Cita-cita atau disebut juga aspirasi adalah suatu target yang ingin dicapai.
Target ini diartikan sebagai tujuan yang ditetapkan dalam suatu kegiatan
yang mengandung makna bagi seseorang. Aspirasi ini dapat bersifat
positif dan dapat pula bersifat negatif. Siswa yang mempunyai aspirasi
positif adalah siswa yang menunjukan hasratnya untuk memperoleh
keberhasilan. Sebaliknya siswa yang mempunyai aspirasi negatif adalah
siswa yang menunjukan keinginan atau hasrat menghindari kegagalan.
b. Kemampuan Belajar
Kemampuan ini meliputi beberapa aspek psikis yang terdapat
dalam diri siswa, misalnya pengamatan, perhatian, ingatan, daya pikar
dan fantasi. Dalam kemampuan belajar ini, taraf perkembangan berpikir
siswa menjadi ukuran. Siswa yang taraf perkembangan berpikirnya
konkrit tidak sama dengan siswa yang sudah sampai pada taraf
perkembangan berpikir operasional.

17
Jadi siswa yang mempunyai kemampuan belajar tinggi,
biasanya lebih bermotivasi dalam belajar, karena siswa tersebut lebih
sering memperoleh sukses, sehingga kesuksesan ini memperkuat
motivasinya.
c. Kondisi Siswa
Kondisi fisik dan kondisi psikologis siswa sangat mempengaruhi faktor
motivasi, sehingga sebagai guru harus lebih cermat melihat kondisi fisik
dan psikologis siswa. Misalnya siswa yang kelihatan lesu, mengantuk,
mungkin disebabkan waktu berangkat belum sarapan, atau mungkin
dirumah mengalami masalah yang menimbulkan kemarahan, kejengkelan
atau mungkin kecemasan. Maka kondisi-kondisi fisik dan psikologis
inipun dapat mengurangi atau bahkan menghilangkan motivasi siswa.
d. Kondisi Lingkungan
Kondisi lingkungan merupakan suatu unsur-unsur yang datang dari luar
diri siswa. Unsur-unsur disini dapat berasal dari lingkungan keluarga,
sekolah maupun lingkungan masyarakat baik yang menghambat atau
mendorong. Kalau dilihat dari lingkungan sekolah, guru harus berusaha
mengelola kelas, menciptakan suasana belajar yang menyenangkan,
menampilkan diri secara menarik dalam rangka membantu siswa
termotivasi dalam belajar.
e. Unsur-unsur Dinamis dalam Belajar
Unsur-unsur dinamis dalam belajar adalah unsure-unsur yang
keberadaannya dalam proses belajar tidak stabil, kadang-kadang kuat,

18
kadang-kadang lemah dan bahkan hilang sama sekali, khususnya kondisi-
kondisi yang sifatnya kondisional. Misalnya keadaan emosi siswa, gairah
belajar, dan situasi dalam keluarga.
f. Upaya Guru Membelajarkan Siswa
Upaya yang dimaksud adalah bagaimana guru mempersiapkan diri dalam
membelajarkan siswa mulai dari penguasaan materi, cara
menyampaikannya, menarik perhatian siswa, dan mengevaluasi hasil
belajar. Apabila uapaya guru hanya sekedar mengajar, artinya
keberhasilan guru yang menjadi titik tolak, besar kemungkinan siswa
tidak tertarik untuk belajar. Dengan kata lain motivasi untuk belajar siswa
melemah atau hilang.

4. Macam-macam Motivasi
Berdasarkan sifatnya, motivasi dapat dibagi dua yaitu motivasi
intrinsik dan ekstrinsik.
a. Motivasi Intrinsik
Motivasi Intrinsik adalah motivasi yang timbul dari diri sendiri dan
tidak dipengaruhi oleh sesuatu dari luar. Jadi tingkah laku yang
dilakukan seseorang disebabkan oleh kemauan diri sendiri, bukan
dorongan dari luar. Misalnya seorang siswa mengerjakan pekerjaan
rumah soal-soal matematika, bertujuan untuk memahami konsep-konsep
matematika melalui penyelesaian soal-soal itu, bukan karena takut pada
guru atau ingin mendapat pujian dari guru.

19
b. Motivasi Ekstrinsik
Motivasi ekstrinsik adalah motivasi yang timbulnya dalam diri
seseorang karena pengaruh dari rangsangan luar. Misalnya siswa yang
mengerjakan pekerjaan rumah , sekedar mematuhi perintah guru, kalau
tidak dipatuhi guru akan memarahinya.
Sedangkan menurut latar belakang perkembangannya motivasi
dapat digolongkan menjadi dua yaitu motivasi primer dan motivasi
sekunder. Motivasi primer adalah motivasi bawaan dan tidak dipelajari.
Termasuk dalam motif ini antara lain, rasa haus, rasa lapar. Sedangkan
motivasi sekunder adalah motivasi yang diperolah dari belajar melalui
pengalaman. Oleh beberapa ahli motif sekunder ini disebut juga motif
sosial. Termasuk dalam motif sosial ini adalah motif berprestasi, motif
berkuasa (TIM MKDK IKIP Semarang::32).
Selain itu, ada juga ahli yang menggolongkan motif-motif menjadi
dua macam atas dasar isi atau persangkut-pautannya yaitu :
a. Motif Jasmaniah, seperti reflek, insting, otomatisme, nafsu, hasrat dan
sebagainya.
b. Motif Rohaniah, yaitu kemauan.
Kemauan itu sendiri terbentuk melalui empat momen antara lain : 1)
momen timbulnya alasan-alasan, misalnya seseorang yang giat belajar
dikamar karena (alasannya) sebentar lagi akan menempuh ujian 2)
momen pilih, yaitu keadaan dimana ada alternatif-alternatif, yang
menyebabkan persaingan antara alasan-alasan itu. Disini orang

20
menimbang-nimbang dari berbagai segi untuk menentukan pilihan,
alternatif mana yang dipilih 3) momen putusan, momen perjuangan
alasan-alasan berakhir dengan dipilihnya salah satui alternatif, dan ini
menjadi putusan, ketetapan yang menentukan aktivitas yang akan
dilakukan 4) momen terbentuknya kemauan, dengan diambilnya sesuatu
keputusan maka timbulah didalam manusia dorongan untuk bertindak,
melakukan putusan tersebut.

5. Upaya meningkatkan Motivasi
Seperti diketahui, motivasi berprestasi siswa tidak sama. Pada siswa
yang motivasinya bersifat intrinsik, kemauan belajarnya lebih kuat dan tidak
tergantung dari faktor di luar dirinya. Sebaliknya dengan siswa yang motivasi
belajarnya bersifat ekstrinsik. Kemauan untuk belajar tergantung pada
kondisi diluar dirinya.
Beberapa upaya yang dapat dilakukan untuk meningkatkan motivasi
antara lain:
a. Mengoptimalkan Penerapan Prinsip-prinsip Belajar.
Ada beberapa prinsip yang terkait dalam proses belajar, misalnya
perhatian siswa, keaktifan siswa, keterlibatan langsung siswa,
pengulangan belajar, materi pelajaran yang merangsang dan menantang,
pemberian balikan dan penguatan.

21
Agar motivasi belajar siswa meningkat, hendaknya guru berusaha
menciptakan situasi sedemikian rupa, sehingga perhatian, keterlibatan
siswa yang termasuk dalam prinsip belajar berfungsi secara optimal.
b. Mengoptimalkan Unsur-unsur Dinamis dalam Belajar.
Yang dimaksud dalam unsur-unsur dinamis dalam belajar adalah
unsur-unsur yang keberadaannya dapat berubah-ubah, dari tidak ada
menjadi ada, dari keadaan melemah menjadi menguat. Yang termasuk
dalam unsur ini antara lain bahan pengajar, alat bantu belajar dan upaya
pengadaanya, suasana belajar dan upaya pengembangannya, kondisi siswa
dan upaya penyiapan dan penguatannya.
Guru sebagai seorang pendidik hendaknya berusaha
mengorganisasikan pelajaran, sehingga siswa mudah dan senang
mempelajarinya. Selain itu guru harus pula mempertimbangkan beberapa
hal dalam memilih mata pelajaran, antara lain tingkat kemampuan siswa,
tingkat perkembangan usia siswa, keterkaitannya dengan pengalaman
siswa, kesesuaian materi dengan minat atau lingkungan siswa.
c. Mengoptimalkan Pemanfaatan Pengalaman yang telah dimiliki Siswa
Siswa lebih senang mempelajari materi pelajaran yang baru,
apabila siswa mempunyai latar belakang pengalaman untuk mempelajari
materi baru tersebut. Oleh karena itu perbanyaklah contoh-contoh untuk
menjelaskan konsep baru.
d. Mengembangkan Cita-cita atau Aspirasi Siswa.

22
Setiap siswa mempunyai cita-cita untuk mencapai kesuksesan
dalam belajar, namun tidak semua siswa mencapai kesuksesan tersebut.
Kesesuksesan biasanya dapat meningkatkan aspirasi dan kegagalan
mengakibatkan aspirasi rendah. Untuk meningkatkan aspirasi ini
hendaknya guru tidak menjadikan siswa selalu gagal. Alangkah idealnya
siswa diberi kesempatan merumuskan belajar sesuai dengan
kemampuannya (TIM MKDK IKIP Semarang: 36).

B.Organisasi Siswa Intra Sekolah (OSIS)
Berikut ini akan dijelaskan beberapa pengertian OSIS, fungsi OSIS,
struktur, program kerja serta faktor pendukung dan penghambat program kerja
OSIS anatara lain :
1. Pengertian OSIS
a. Secara Semantis
Dalam Surat Keputusan Direktur Jendral Pendidikan Dasar dan
Menengah Nomor 226/C/kep/0/1992 di sebutkan bahwa organisasi
kesiswaan di sekolah adalah OSIS.
Kepanjangan OSIS adalah Organisasi Siswa intra Sekolah, yang
masing-masing kata mempunyai pengertian sebagai berikut:
1) Organisasi, adalah kelompok kerjasama antar pribadi yang diadakan
untuk mencapai tujuan bersama. Organisasi dalam hal ini
dimaksudkan sebagai satuan atau kelompok kerjasama para siswa

23
yang dibentuk dalam usaha mencapai tujuan bersama, yaitu
mendukung terwujudnya pembinaan kesiswaan.
2) Siswa, adalah peserta didik pada satuan pendidikan dasar dan
menengah.
3) Intra, berarti terletak didalam dan diantara. Sehingga suatu organisasi
siswa yang ada di dalam dan di lingkungan sekolah yang
bersangkutan.
4) Sekolah, adalah satuan pendidikan tempat menyelenggarakan kegiatan
belajar mengajar, yang dalam hal ini sekolah dasar dan sekolah
menengah atau sekolah/madrasah yang sederajat.
b. Secara Organis
OSIS adalah satu-satunya wadah organisasi siswa yang sah disekolah, oleh
karena itu setiap sekolah wajib membentuk OSIS yang tidak mempunyai
hubungan organisator dengan OSIS disekolah lain dan tidak menjadi
bagian/alat dari organisasi lain yang ada diluar sekolah.
c. Secara fungsional
OSIS adalah sebagai salah satu dari empat jalur pembinaan kesiswaan,
disamping tiga jalur yang lain yaitu: latihan kepemimpinan,
ekstrakurikuler dan wawasan wiyatamandala.
. d. Secara sistematik
OSIS sebagai tempat kehidupan berkelompok siswa yang bekerjasama
untuk mencapai tujuan bersama. Oleh karena itu OSIS sebagai suatu
sistem ditandai oleh 1) berorientasi pada tujuan 2) memiliki susunan

24
kehidupan kelompok 3) memiliki sejumlah peranan 4) terkoordinasi 5)
berkelanjutan dalam waktu tertentu.
2. Fungsi
Sebagai salah satu jalur dari pembinaan kesiswaan, maka fungsi dari
OSIS itu sendiri adalah sebagai berikut:
a. Sebagai wadah
Organisasi Siswa Intra Sekolah merupakan salah satu-satunya wadah
kegiatan para siswa disekolah bersama dengan jalur pembinaan yang lain
untuk mendukung tercapainya tujuan pembinaan kesiswaan. Oleh sebab
itu OSIS dalam mewujudkan fungsinya sebagai wadah dan wahana harus
selalu bersama-sama dengan jalur yang lain yakni latihan kepemimpinan,
ekstrakurikuler, dan wawasan wiyatamandala, untuk bekerjasama dalam
mewujudkan tujuan bersama.
b. Sebagai Motivator
Motivator adalah perangsang yang menyebabkan lahirnya keinginan dan
semangat para siswa untuk berbuat dan melakukan kegiatan bersama
dalam mencapai tujuan. OSIS akan berperan sebagai penggerak apabila
para pembina, pengurus, mampu membawa OSIS selalu dapat
menyesuaikan dan memenuhi kebutuhan yang diharapkan, yaitu
menghadapi perubahan, memiliki daya tangkal terhadap ancaman,
memanfaatkan peluang dan perubahan serta memberikan kepuasan
terhadap anggotanya.


25
c. Sebagai Preventif
Apabila fungsi yang bersifat intelek dalam arti secara internal OSIS
dapat menggerakkan sumber daya yang ada dan secara eksternal OSIS
mampu beradaptasi dengan lingkungan, seperti menyelesaikan persoalan
perilaku-perilaku menyimpang siswa dan sebagainya. Dengan demikian
secara preventif OSIS ikut menanamkan sekolah dari segala ancaman
yang datang dari dalam maupun dari luar. Fungsi preventif OSIS akan
terwujud apabila fungsi OSIS sebagai pendorong lebih dahulu harus
dapat diwujudkan.
3. Struktur OSIS SMU YPE
Sebagai suatu lembaga sudah barang tentu memiliki apa yang disebut
dengan struktur organisasi. Struktur ini sangat erat hubungannya dengan
pemberian tugas, wewenang serta tangggung jawab agar mudah dan lancar
didalam pelaksanaannya.
Bahwa penanggunmg jawab pembinaan OSIS di sekolah ini adalah
kepala sekolah, wakil kepala sekolah dibantu oleh guru sebagai pembina.
Adapun struktur OSIS SMU YPE adalah sebagai berikut, ketua dibantu wakil
ketua, kemudian sekretaris, bendahara dan pembantu umum. Untuk
melaksanakan tugas dan fungsinya dibentuklah pengurus harian guna
mendukung kegiatan OSIS yaitu seksi agama, seksi humas, seksi
perlengkapan, seksi seni dan olah raga kesehatan serta seksi majalah dinding.



26
Berikut ini adalah Bagan Struktur OSIS SMU YPE :










4. Kegiatan atau Program Kerja OSIS SMU YPE
OSIS adalah Organisasi Siswa Intra Sekolah yang dibentuk sebagai
suatu sarana para siswa untuk mengeluarkan aspirasinya. Sebagai satu-
satunya organisasi yang berada dalam likungan sekolah, OSIS memiliki
beberapa program kerja yaitu :
a. Upacara Bendera
b. Rapat pengurus OSIS
c. Pelaksanaan Masa Orientasi Siswa
d. Pendataan anggota OSIS
e. Pelaksanaan Ekstrakurikuler
f. Lomba memeriahkan Hari Besar
g. Upacara Hari Besar Nasional
Ketua Wakil Ketua
Sekretaris I dan II
Bendahara I dan II
Seksi
Agama
Seksi
Humas
Seksi
Perlengka
pan
Seksi
Seni/Orkes
Pemantu Umum
Seksi
Mading

27
h. Pelaksanaan Persami
i. Peringatan Hari Besar Agama
j. Kegiatan Bulan Ramadhan
k. Rapat Evaluasi Kegiatan
l. Rapat Rutin 1 Bulan sekali
m. Kegiatan Akhir Semester
n. Evaluasi Kegiatan Akhir Semester
5. Faktor Pendukung dan Penghambat Program Kerja OSIS SMU YPE
Setelah melakukan beberapa kali kunjungan dan melakukan
wawancara dengan pihak sekolah dan siswa, maka didapatkan beberapa
faktor pendukung dan penghambat OSIS di SMU YPE antara lain :
a. Faktor Pendukung
Keberhasilan dalam kegiatan/program kerja memang tidak terlepas
dukungan dari berbagai pihak. Terutama dari pihak pengelola sekolah
sendiri, baik kepala sekolah, guru maupun siswa dan sarana prasarana
yang cukup mendukung serta pihak lainnya yang tidak dapat di sebutkan
satu persatu.
b. Faktor Penghambat
Beberapa faktor yang menghambat pelaksanaan program kerja OSIS
adalah keterbatasan dana dan waktu yang terkadang berbarengan dengan
kegiatan belajar mengajar, sehingga mengakibatkan program/kegiatan
yang sudah direncanakan tidak dapat terlaksana.


28
C. Hubungan motivasi berprestasi antara siswa yang menjadi pengurus
OSIS dengan siswa yang bukan pengurus OSIS
OSIS merupakan wadah kegiatan siswa di sekolah yang bukan hanya
melatih siswa mengenai kemampuan berorganisasi, juga merupakan wahana
yang potensial untuk mengembangkan dan meningkatkan motivasi berprestasi
siswa-siswa SMU.
Diharapkan dengan berbagai kegiatan yang dilakukan siswa yang
menjadi pengurus OSIS tidak membuat siswa merasa jenuh, akan tetapi dapat
membuat siswa merasa terpacu untuk meningkatkan motivasi berprestasi yang
tinggi, sehingga mampu berkompetisi dan bersaing untuk memperolah prestasi
yang terbaik. Namun yang terjadi di lapangan berbeda, tidak semua siswa yang
menjadi pengurus OSIS menunjukkan motivasi breprestasi yang tinggi,
sedangkan ada siswa yang bukan pengurus OSIS dapat memperlihatkan
motivasi berprestasi yang tinggi.
Dari hasil penelitian tentang perbedaan motivasi berprestasi pada siswa
dari orang tua di rumah dan orang tua tidak di rumah pada SLTP N 17 Tegal
Tahun Pelajaran 2001-2002 yang dilakukan mahasiswa BK menunjukkan
bahwa ada perbedaan yang signifikan antara siswa yang orang tuanya dirumah
dengan siswa yang orang tuanya tidak dirumah yaitu motivasi berprestasi siswa
yang orang tuanya di rumah lebih tinggi dari pada motivasi berprestasi siswa
yang orang tuanya tidak dirumah (Uin Masrurin, 2001: 49).
Direktorat pembinaan kesiswaan, secara eksplisit menyuratkan tugas
pokok OSIS adalah menghimpun ide, pemikiran, bakat, kreativitas, minat

29
siswa, mendorong sikap, jiwa, semangat persatuan dan kesatuan diantara para
siswa serta tempat sarana untuk berkomunikasi dan berinteraksi sosial,
menyampaikan pikiran dan gagasan dalam usaha untuk lebih mematangkan
kemampuan berpikir, berwawasan dan mengambil keputusan.
Oleh karena itu adanya dorongan dari siswa sendiri terutama yang
menjadi pengurus OSIS adalah modal utama untuk menjadi yang terbaik,
dengan berbagai kegiatan yang dilakukan bukan menjadi halangan untuk tetap
berprestasi.

D. HIPOTESIS

Merujuk pada kerangka teori yang dipaparkan di atas, maka hipotesis
dalam penelitian ini dapat dirumuskan sebagai berikut :
“Ada perbedaan motivasi berprestasi yang signifikan antara siswa yang
menjadi pengurus OSIS dengan siswa yang bukan pengurus OSIS di SMU
YPE (Yayasan Pendidikan Ekonomi) Semarang Tahun Pelajaran 2004-2005”.









30





















BAB III
METODOLOGI PENELITIAN


Setelah membicarakan masalah teori dan menetapkan hipotesis, maka langkah
selanjutnya yang amat penting dalam penelitian adalah menentukan metode
penelitian. Berhasil tidaknya suatu penelitian dalam usaha menguji kebenaran suatu
hipotesis, sangat tergantung pada ketetapan dalam menentukan metode yang
digunakan.

A. Populasi
Populasi adalah keseluruhan subyek penelitian (Suharsimin Arikunto, 1997 :
102). Sedangkan Sutrisno Hadi (1997 : 220) menyatakan populasi adalah seluruh
yang dimaksud untuk diselidiki. Dari dua pengertian tersebut dapat disimpulkan
bahwa populasi adalah keseluruhan dari subyek penelitian atau jumlah individu
dalam suatu dalam suatu wilayah penelitian yang mempunyai karakteristik yang
sama. Berdasarkan pengertian di atas dalam penelitian ini populasi yang
digunakan adalah siswa SMU YPE (Yayasan Pendidikan Ekonomi) tahun
pelajaran 2004/2005.





B. Sampel
Sampel adalah sebagian atau wakil dari populasi yang diteliti (Suharsimin
Arikunto, 1998 : 117). Dalam suatu penelitian, subyek yang diambil kurang dari
100 orang maka digunakan penelitian populasi artinya seluruh subyek yang ada
menjadi sample. Sedang subyek penelitian lebih dari 100 orang maka dapat
digunakan penelitian sampel dengan prosentase sampel yang diambil antara 10%
- 15% atau 20% - 25%. Karena jumlah responden yang di gunakan sebanyak 45
siswa maka dalam penelitian ini menggunakan sampel total yaitu semua anggota
populasi sebagai sampel penelitian.

C. Variabel Penelitian
Variable adalah gejala-gejala yang menunjukkan variasi, baik dalam
jenisnya maupun dalam tingkatannya (Sutrisno Hadi, 1989: 224). Gejala variasi
yang dimaksudkan adalah motivasi berprestasi siswa yang menjadi pengurus
OSIS dengan siswa yang bukan pengurus OSIS di SMU YPE Semarang Tahun
Pelajaran 2004/2005. berdasarkan pengertian tentang variabel penelitian maka
variabel yang di teliti yaitu siswa yang bukan pengurus OSIS berfungsi sebagai
variabel bebas, sedangkan motivasi berprestasi siswa berfungsi sebagai variabel
terikat.


D. Metode Pengumpulan Data
Dalam penelitian perlu dikumpulkan sejumlah data yang dibutuhkan.
Data yang dikumpulkan dapat mendukung dalam keberhasilan penelitian.
Pengumpulan data dilakukan dengan berbagai metode dan tentunya diperlukan
metode yang tepat. Metode pengumpulan data yang digunakan dalam peneltian
ini adalah skala Psikologis. Skala Psikologis ini digunakan untuk mengungkap
dan menyimpulkan data tentang motivasi berprestasi siswa yang menjadi
pengurus OSIS dengan siswa yang bukan pengurus OSIS. Adapu siswa yang
dijadikan subyek penelitian adalah sejumlah siswa yang menjadi pengurus OSIS
dengan siswa yang bukan pengurus OSIS di SMU YPE Semarang Tahun
Pelajaran 2004/2005 sebanyak 45 siswa.
Instrumen skala psikologi yang disusun berdasarkan indicator penelitian
yang ditetapkan. Indikator penelitian merupakan unsur-unsur dari variabel
penelitian yang dapat digunakan ukuran keberhasilan suatu penelitian. Agar
instrumen skala psikologis dapat terarah digunakan sebagai alat, maka instrumen
disusun dan dikembangkan berdasarkan indicator-indikator yang ditetapkan
dalam kisi-kisi. Indicator penelitian digunakan sebagai dasar penyusunan
instrumen juga dimaksudkan agar hasil penelitian dapat diperoleh dengan valid
dan reliabel.
Untuk selanjutnya instrumen penelitian ini harus dibuat terlebih dahulu
oleh oleh peneliti. Bentuk instrumen skala psikologi yang dibuat dan digunakan
dapat berupa pilihan ganda dengan opsen lima pilihan. Skor tiap opsen dibuat

dengan skala bertingkat atau bentuk skor rentangan (rating scale). Adapau skor
jawaban yang digunakan berkisar antara 1-5, dengan skor tiap opsen disesuaikan
dengan bentuk penyataannya. Hal ini dimaksudkan untuk memperoleh data yang
diharapkan.
Ada pun indikator-indikator yang ditetapkan dalam kisi-kisi yang akan
dikembangkan dalam penyusunan instrumen adalah sebagai berikut :
Tabel 1.
Rancangan Kisi-kisi Motivasi Berprestasi

VARIABEL

INDIKATOR
ITEM
+ -
Motivasi Berprestasi Berorientasi Sukses 5 5
Berorientasi Ke Depan 5 5
Suka Tantangan 5 5
Tangguh 5 5
Jumlah 20 20

Instrumen skala psikologi yang dibuat menggunakan lima alternatif
jawaban yaitu sangat setuju (SS), setuju (S), ragu-ragu (R), tidak setuju (TS),
dan sangat tidak setuju (STS). Untuk pernyataan positif, nilai 5 diberikan untuk
jawaban sangat setuju, nilai 4 untuk jawaban setuju, nilai 3 untuk jawaban ragu-
ragu, nilai 2 untuk jawaban tidak setuju dan nilai 1 untuk jawaban sangat tidak

setuju. Sebaliknya untuk pernyataan negatif, nilai tertinggi 5 diberikan untuk
jawaban sangat tidak setuju, nilai 4 untuk jawaban tidak setuju, nilai 3 untuk
jawaban ragu-ragu, nilai 2 untuk jawaban setuju, dan untuk nilai 1 untuk
jawaban sangat setuju.

E. Validitas dan Reliabilitas
a. Validitas
Suatu instrumen atau skala psikologis dikatakan valid apabila
instrumen tersebut dapat digunakan untuk mengukur apa yang hendak
diukur. Hasil penelitian yang valid apabila terdapat kesamaan antara data
yang terkumpul dengan data yang sesungguhnya pada obyek. Jadi instrumen
yang valid merupakan syarat untuk mendapatkan hasil penelitian yang valid.
Untuk mengetahui kevalidan suatu instrumen yang akan disebarkan
kepada responden sesungguhnya sebagai obyek penelitian maka instrumen
yang telah disusun oleh praktikan perlu diuji cobakan sehingga instrumen
yang akan diberikan kepada responden benar-benar mengukur sesuai dengan
obyek yang akan di ukur dengan menggunakan rumus korelasi product
moment (Sutrisno H, 1994:294).





Adapun rumusnya adalah sebagai berikut :

( )( )
( ) ( )
¦
)
¦
`
¹
¦
¹
¦
´
¦

¦
)
¦
`
¹
¦
¹
¦
´
¦


=





∑ ∑
N
Y
Y
N
X
X
N
Y X
XY
r
XY
2
2
2
2


Keterangan:
r
xy
= Korelasi product moment antara x dan y
X = Nilai tiap item atau jumlah skor item
Y = Jumlah skor total
N = Jumlah subjek
X
2
= Jumlah kuadrat skor item
Y
2
= Jumlah kuadrat skor total
XY = Jumlah perkalian antara skor item
b. Reliabilitas
Reliabilitas adalah suatu alat ukur berkisar pada persoalan stabilitas skor
persoalan tentang kekonsistenan hasil pengukuran (Sutrisno Hadi, 1991:127).
Reliabilitas adalah menunjukkan pada ketetapan (konsistensi) dari nilai yang
diperoleh sekelompok individu dalam kesempatan yang berbeda dengan test
yang sama atau itemnya “ekuivalen” (Conny, 1982:39). Karena variabel yang
akan diteliti merupakan variabel dengan jawaban skala bertingkat maka uji
reliabilitasnya dengan menggunakan rumus Alpha. Rumus Alpha digunakan

untuk mencari reliabilitas instrumen yang skornya bukan 1 dan 0 tapi
mempunyai rentang 1–3, 1–5 dan seterusnya..
Adapun rumus Alpha adalah sebagai berikut :

Σ

=
2
2
11
- 1
1 - k
k
r
t
b
σ
σ

Keterangan
r
11
= Reliabilitas instrumen
k = Banyaknya butir pernyataan
Σσ
b
2
= Jumlah varians butir
σ
t
2
= Varians total
(Suharsimi Arikunto, 1996 : 191)

F. Analisa Data
Untuk mengetahui perbedaan motivasi berprestasi yang dimiliki siswa
yang menjadi pengurus OSIS dengan siswa yang bukan pengurus OSIS yaitu
dengan menggunakan rumus t-tes (Sudjana, 1992:239).
Adapun rumus yang di sajikan adalah :

2 1
2 1
1 1
n n
s
t
+
Χ − Χ
=

dimana,
( ) ( )
2
1 1
2 1
2
2 2
2
1 1
− +
− + −
=
n n
S n S n
S
Keterangan :
1
Χ = Rata-rata kelompok 1
2
Χ = Rata-rata kelompok 2
S = Standar deviasi gabungan
n
1
= Jumlah responden kelompok 1
n
2
= Jumlah Responden Kelompok 2













INSTRUMEN PENELITIAN


PENGANTAR
Daftar pernyatan atau pertanyaan ini merupakan instrumen penelitian untuk
memperoleh data mengenai “Perbedaan Motivasi Berprestasi Antara Siswa yang
Menjadi Pengurus OSIS dengan Siswa yang Bukan Pengurus OSIS di SMU YPE
(Yayasan Pendidikan Ekonomi) Semarang Tahun Pelajaran 2004-2005”.
Penemuan bukti tentang perbedaan motivasi berprestasi antara siswa yang
menjadi pengurus OSIS dengan siswa yang bukan pengurus OSIS sebagai penelitian
ini memiliki arti penting yaitu memberikan informasi tentang kondisi motivasi
berprestasi siswa khususnya di SMU YPE Semarang, serta dapat dijadikan
pertimbangan dalam usaha meningkatkan motivasi berprestasi siswa.
Untuk mencapai tujuan itu dengan segala kerendahan hati, saya mohon
kesediaan para siswa yang menjadi pengurus OSIS dengan yang bukan pengurus
OSIS bersedia untuk mengisi angket tersebut.
Atas perhatian dan kesediaan saudara, saya ucapkan terima kasih.

Hormat saya.
Peneliti





PETUNJUK PENGISIAN ANGKET

1. Bacalah pernyataan-pernyataan pada lembar berikut ini.
2. pilihlah salah satu dari 5 jawaban yang tersedia yang paling sesuai dengan diri anda
dengan memberikan tanda silang ( X ) pada alternatif jawaban.
SS : apabila saudara Sangat Setuju dengan pernyataan tersebut.
S : apabila saudara Setuju dengan pernyataan tersebut.
R : apabila saudara Ragu-ragu dengan pernyataan tersebut.
TS : apabila saudara Tidak Setuju dengan pernyataan tersebut.
STS : apabila saudara Sangat Tidak Setuju dengan pernyataan tersebut.
3. Apabila anda ingin mengubah jawaban, maka dapat memberikan tanda sama
dengan (=) pada jawaban tersebut dan anda dapat memilih jawaban yang lain
sesuai dengan keinginan anda.
4. Pilihan jawaban hendaknya berdasarkan pada, pemikiran dan keadaan anda saat
ini. Untuk itu kami harapkan anda menjawab dengan sejujurnya dan jawaban yang
anda berikan tidak ada yang salah.
5. Bila anda telah selesai, periksalah kembali apabila ada yang terlewati. Sebelumnya
kami sampaikan terima kasih yang sebesar-besarnya atas kerja sama yang anda
berikan kepada kami.

SELAMAT MENGERJAKAN


INSTRUMEN PENELITIAN
NO Pernyataan SS S R TS STS
1.

2.


3.

4.


5.

6.

7.


8.


9.



10.



11.
Saya merasa yakin bahwa prestasi
akademik saya akan tinggi.

Saya yakin, bahwa saya selalu berhasil
apabila tekun dalam mengerjakan
sesuatu.

Apabila mengerjakan suatu tugas saya
selalu merasa optimis akan berhasil.

Setelah jam pelajaran selesai, saya
pergunakan waktu untuk membaca
buku-buku pengetahuan untuk
menambah wawasan.

Dalam mengerjakan tugas saya selalu
mentargetkan keberhasilan.

Saya merasa pesimistis menghadapi
kehidupan yang penuh dengan
persaingan yang sangat ketat.

Dalam menghadapi kesulitan belajar
membuat saya malas mengerjakan
tugas.

Saya tidak yakin bahwa prestasi saya
akan tinggi.

Menurut saya yang penting adalah saat
ini, masa depan adalah sesuatu yang
belum pasti.

Saya tidak ingin kehilangan waktu
sedikitpun untuk kegiatan yang kurang
bermanfaat.

Keinginan untuk meraih prestasi selalu




12.


13.


14.



15.



16.


17.



18.


19.


20.



21.



22.



23.
memacu saya untuk belajar lebih giat.

Menurut saya tidak pernah ada kata
selesai dalam menuntut ilmu.

Saya tidak akan pernah puas dengan
hasil yang saya capai.

Saya berencana mengikuti berbagai
kegiatan yang bermanfaat bagi masa
depan.

Saya sering merasa malas untuk
meneruskan pekerjaan yang sukar dan
menundanya lain waktu.

Saya merasa bosan apabila mengerjakan
tugas yang tidak cepat selesai.

Saya sering merasa malas untuk
membaca buku-buku tentang ilmu
pengetahuan.

Saya tidak bercita-cita untuk
memperoleh nilai-nilai yang baik.

Saya menyukai pekerjaan yang
menuntut kreativitas.

Saya merasa puas bila mampu
menyelesaikan kegiatan yang penuh
dengan resiko.

Saya merasa tertantang bila dibebani
tanggung jawab yang belum pernah
saya lakukan.

Apabila diberi tugas yang berat saya
merasa tertantang untuk secepatnya
mengerjakannya.

Saya tidak tertarik menghadapi hal-hal



24.



25.


26.



27.


28.



29.


30.



31.



32.


33.



34.


35.
baru yang agak sulit.

Saya tidak mempunyai keinginan yang
kuat untuk lebih unggul dari teman-
teman saya.

Saya kurang peduli dengan kemajuan
teknologi dunia.

Saya merasa khawatir akan gagal jika
mendapat tugas baru yang belum pernah
saya kerjakan.

Saya kurang tertarik pada gagasan
untuk mencapai prestasi puncak.

Kegagalan yang saya alami dapat
membuat saya berusaha lebih keras lagi
untuk mencapai kesuksesan.

Saya merasa tidak terbebani dengan
tugas-tugas yang diberikan oleh guru.

Dengan mengerahkan segenap
kemampuan, saya selalu berusaha
mengerjakan tugas dari guru saya.

Saya merasa tidak puas kalau tugas
yang saya peroleh tidak dikerjakan
dengan sebaik mungkin.

Apabila menghadapi hal-hal baru, saya
selalu berusaha untuk memecahkannya.

Bekerja keras dalam menyelesaikan
tugas bagi saya terasa sebagai beban
berat.

Dalam menyelesaikan tugas saya
berusaha seadanya saja.

Saya terlalu cepat minta bantuan teman



36.



37.












bila menghadapi kesulitan.

Saya tidak akan mengulangi suatu
kegiatan meskipun pernah gagal dalam
kegiatan yang sama.

Kalau menghadapi kesulitan yang berat
saya mudah putus asa.














TABEL KISI-KISI PENGEMBANGAN INSTRUMEN PENELITIAN
MOTIVASI BERPRESTASI

ITEM
VARIABEL INDIKATOR + -
Motivasi
berprestasi
Berorientasi Sukses
Berorientasi Ke Depan
Suka Tantangan
Tangguh
1, 2, 3, 4, 5
10, 11, 12, 13, 14
19, 20, 21, 22,
28, 29, 30, 31, 32
6, 7, 8, 9,
15, 16, 17, 18
23, 24, 25, 26, 27
33, 34, 35, 36, 37
Jumlah 19 18















DAFTAR PUSTAKA


Abror, Abd. Rachman. 1993. Psikologi Pendidikan. PT. Tiara Wacana. Yogjakarta.

Arikunto, suharsini. 1998, Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan
Praktek.Jakarta:Rineka Cipta.

Azwar Saifuddin. 1997, Reliabilitas dan Validitas. Yogyakarta: Pustaka Pelajar
Crow, L & Crow, A. 1989. Psikologi Pendidikan. Penterjemah : Abror Yogjakarta:
Nur Cahaya.

Direktorat Pembinaan Kesiswaan. 1997, Petunjuk Pelaksanaan Organisasi Siswa
Intra Sekolah. (OSIS). Jakarta: Depdikbud

Gunarso, S.D dan Y.S.D. Gunarso. 1996. Psikologi Praktis : Anak, remaja dan
keluarga. BPK Gunung Mulia, Jakarta.

Irwanto. 1991. Psikologi Umum. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.

Kartono, K.1985. Psikologi Sosial untuk Manajemen Perusahaan dan Industri.
Jakarta: CV. Rajawali.

Maman R, 2004. Konsep Statistika. UNNES Press.

Masrurin, U. 2005. Perbedaan Motivasi Berprestasi Siswa yang Orang Tuanya di
rumah dan Orang Tuanya tidak di Rumah. Skripsi. Semarang : Fakultas
Ilmu Pendidikan UNNES.

Martaniah, Sri Mulyani. 1984, Motif Sosial. Yogyakarta: Gadjah MadaUniversity
Press.

Nanang W, 2002. Pengaruh Pola Asuh Orang Tua terhadap Motivasi Berprestasi
Siswa Kelas II SMU Veteran Purwokerto. Skripsi. Semarang : Fakultas
Imu Pendidikan UNNES.

Purwanto,E. 1993. Pengaruh Balikan Sosial terhadap Motivasi Berprestasi. Tesis.

Purwanto, M.N. 1990. Psikologi Pendidikan. PT. Remaja Rosdakarya, Bandung.


Sadli, Saparinah. 1991. Intelegensi Bakat dan Tes-IQ. Gaya Favorit Press Fakultas
Psikologi Universitas Indonesia. Jakarta.

Sardiman,A.M. 2000. Interaksi dan motivasi belajar mengajar. CV. Rajawali.Jakarta.

Sugiyo, E. Purwanto, T.E, Budiningi, M Nasrun dan S Haryanto. 1995.
Menungkatkan Motivasi Berprestasi siswa melalui Pelatihan Atribusi
Kausal. IKIP Semarang .

Sudjana, MA. 1992. Metode Statistika. Tarsito Bandung

Rasimin, B.S. 1982. Motivasi dalam Belajar. Jakarta:Depdikbud.

Sudi Harsih. 2005. Perbedaan Motivasi Belajar antara Siswa yang Ber-Nun Tinggi,
Sedang, Rendah. Skripsi. Semarang : Fakultas Ilmu Pendidikan UNNES.

Suryabrata, S. 1995. Psikologi Pendidikan. PT. Raja Grafindo Persada, Jakarta.

Suryabrata, S. 1984. Psikologi Pendidikan. Jakarta: CV. Rajawali.

Tabrani, A.Rusyan, dkk, 1998. Pendekatan dalam Proses Belajar Mengajar.
Bandung: PT. Remadja Karya.

Tim MKDK. 1996. Belajar dan Pembelajaran. IKIP Semarang.

Thoha, Miftah, 1983. Perilaku Organisasi. (konsep dasar dan aplikasinya). Jakarta:
Rajawali Press.

Winkel, Ws, 1990. Psikologi Pengajaran. Jakarta: Rajawali Press.

BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

Pembahasan pada bab ini adalah hasil dari studi lapangan untuk
memperoleh data dengan angket untuk mengukur variabel motivasi berprestasi
siswa yang menjadi pengurus OSIS dan bukan pengurus OSIS di SMA YPE
Semarang. Gambaran umum tentang variabel motivasi berprestasi digunakan
analisis deskriptif dan untuk menguji hipotesis yang menyatakan ada perbedaan
motivasi berprestasi antara siswa yang menjadi pengurus OSIS dan bukan
pengurus OSIS digunakan statistik uji t.
Responden penelitian ini adalah siswa kelas I, II dan III SMA YPE
Semarang sebanyak 45 siswa, yang terdiri dari 25 siswa bukan pengurus OSIS
dan 20 siswa pengurus OSIS.
A. Deskripsi Motivasi Berprestasi Siswa
Sebagai penggambaran mengenai variabel penelitian yaitu motivasi
berprestasi digunakan statistik deskriptif. Untuk mengintepretasikannya
digunakan rata-rata yang dikonsultasikan dengan rata-rata idealnya. Pada
penelitian ini menggunakan angket dengan skor tertinggi 5 dan terendah 1,
sehingga dapat dibuat kriteria tingkatan sebagai berikut.
Mean tertinggi = 5
Mean terendah = 1
Rentang = mean tertinggi – mena terendah = 5-1 = 4

Banyak kelas = 5 kategori
Panjang kelas = rentang : banyak kelas = 4: 5 = 0,8
Dengan demikian kriteria untuk mendeskriptifkan motivasi berprestasi siswa
dapat dilihat pada tabel berikut.
Tabel 2.
Kriteria penentuan tingkatan motivasi beprestasi

Interval Kriteria
1,00 – 1,80 Sangat rendah
1,81 – 2,60 Rendah
2,61 – 3,40 Cukup
3,41 – 4,20 Tinggi
4,21 – 5,00 Sangat tinggi
(Maman Rachman, 2004 : 36)
Rata-rata motivasi berprestasi dari siswa yang menjadi pengurus
OSIS dan bukan pengurus OSIS dapat dilihat pada tabel 3 berikut.
Tabel 3.
Rata-rata motivasi beprestasi Siswa
20 3.34 Cukup
25 3.14 Cukup
20 3.46 Tinggi
25 3.20 Cukup
20 3.21 Cukup
25 2.92 Cukup
20 3.41 Tinggi
25 3.12 Cukup
20 3.36 Cukup
25 3.10 Cukup
Kelompok
Pengurus OSIS
Bukan pengurus OSIS
Pengurus OSIS
Bukan pengurus OSIS
Pengurus OSIS
Bukan pengurus OSIS
Pengurus OSIS
Bukan pengurus OSIS
Pengurus OSIS
Bukan pengurus OSIS
Berorientasi sukses
Berorientasi ke depan
Suka tantangan
Tangguh
Total
N Mean Kriteria

Berdasarkan tabel di atas tampak bahwa rata-rata motivasi berprestasi
siswa yang menjadi pengurus OSIS mencapai 3,36 dan yang bukan pengurus
OSIS mencapai 3.10. Keduanya pada interval yang sama yaitu dalam kategori
cukup, namun jika dilihat dari rata-ratanya ada kecenderungan bahwa motivasi

berprestasi siswa yang menjadi pengurus OSIS lebih tinggi daripada yang
bukan pengurus OSIS. Hal ini dapat dilihat dari distribusi frekuensi tingkatan
motivasi berprestasi dari kedua kelompok tersebut pada tabel 4.
Tabel 4.
Distibusi Frekuensi motivasi beprestasi Siswa

Kelompok Motivasi
Berprestasi Pengurus Osis Bukan pengurus OSIS
f % f %
25 100% 13 65% Cukup
7 35% Tinggi
25 100% 20 100% Total
Berdasarkan tabel di atas tampak bahwa dari 25 siswa yang bukan
pengurus OSIS semuanya mempunyai motivasi berprestasi yang cukup,
sedangkan dari 20 siswa yang menjadi pengurus OSIS terdapat 13 siswa atau
65% mempunyai motivasi berprestasi yang cukup dan 7 siswa atau 35%
mempunyai motivasi berprestasi yang tinggi.
1. Berorientasi Sukses
Berdasarkan tabel 3, diperoleh rata-rata skor pada indikator
beroroentasi sukses pada kelompok siswa yang menjadi pengurus OSIS
mencapai 3.34 dan yang bukan pengurus OSIS sebesar 3.14. Rata-rata
kedua kelompok tersebut pada interval yang sama yaitu dalam kategori
cukup. Jika dilihat dari besarnya rata-ratanya ada kecenderungan bahwa
siswa yang menjadi pengurus OSIS mempunyai orientasi untuk sukses
yang lebih tinggi daripada siswa yang bukan pengurus OSIS. Hal ini dapat
dilihat juga dari distribusi frekuensi pada tabel 5.

Tabel 5.
Distibusi Frekuensi Berorientasi Sukses
Kelompok Berorientasi
Sukses Pengurus Osis Bukan pengurus OSIS
f % F %
23 92 10 50 Cukup
2 8 10 50 Tinggi
25 100% 20 100 Total

Berdasarkan tabel di atas tampak bahwa dari 25 siswa yang bukan
pengurus OSIS terdapat 23 siswa atau 92% mempunyai orientasi untuk
sukses yang cukup dan 2 siswa atau 8% dalam kategori tinggi, sedangkan
dari 20 siswa yang menjadi pengurus OSIS terdapat 10 siswa atau 50%
mempunyai orientasi untuk sukses yang cukup dan 10 siswa atau 50 %
siswa dalam kategori tinggi.
2. Berorientasi Ke Depan
Berdasarkan tabel 3, diperoleh rata-rata skor pada indikator
beroroentasi ke depan pada kelompok siswa yang menjadi pengurus OSIS
mencapai 3.46 dalam kategori tinggi dan yang bukan pengurus OSIS
sebesar 3.20 dalam kategori cukup. Jika dilihat dari besarnya rata-ratanya
ada kecenderungan bahwa siswa yang menjadi pengurus OSIS mempunyai
orientasi ke depan yang lebih tinggi daripada siswa yang bukan pengurus
OSIS. Hal ini dapat dilihat juga dari distribusi frekuensi pada tabel 6.
Tabel 6.
Distibusi Frekuensi Berorientasi Ke Depan
Kelompok
Berorientasi ke depan Pengurus Osis Bukan pengurus OSIS
f % F %
2 8 Rendah
16 64 10 50 Cukup
7 28 9 45 Tinggi
1 5 Sangat tinggi
25 100% 20 100 Total


Berdasarkan tabel di atas tampak bahwa dari 25 siswa yang bukan
pengurus OSIS terdapat 16 siswa atau 64% mempunyai orientasi ke depan
yang cukup, 7 siswa atau 28% dalam kategori tinggi dan 2 siswa atau 8%
dalam kategori rendah, sedangkan dari 20 siswa yang menjadi pengurus
OSIS terdapat 10 siswa atau 50% mempunyai orientasi ke depan yang
cukup dan 9 siswa atau 45 % siswa dalam kategori tinggi dan 1 siswa atau
5% dalam kategori sangat tinggi.
3. Suka Tantangan
Berdasarkan tabel 3, diperoleh rata-rata skor pada indikator suka tantangan
pada kelompok siswa yang menjadi pengurus OSIS mencapai 3,21 dalam
kategori cukup dan yang bukan pengurus OSIS sebesar 2,92 juga dalam
kategori cukup. Jika dilihat dari besarnya rata-ratanya ada kecenderungan
bahwa siswa yang menjadi pengurus OSIS lebih menyukai tantangan
daripada siswa yang bukan pengurus OSIS. Hal ini dapat dilihat juga dari
distribusi frekuensi pada tabel 7.
Tabel 7.
Distibusi Frekuensi Tingkat Kesukaan terhadap Tantangan
Kelompok
Suka Tantangan Pengurus Osis Bukan pengurus OSIS
f % f %
1 4 1 5 Rendah
24 96 13 65 Cukup
6 30 Tinggi
25 100% 20 100 Total

Berdasarkan tabel di atas tampak bahwa dari 25 siswa yang bukan
pengurus OSIS terdapat 24 siswa atau 96% tingkat kesukaan terhadap
tantangan dalam kategori cukup dan 1 siswa atau 4% dalam kategori

rendah, sedangkan dari 20 siswa yang menjadi pengurus OSIS terdapat 13
siswa atau 65% dalam kategori cukup, 6 siswa atau 30% siswa dalam
kategori tinggi dan hanya 1 siswa atau 5% dalam kategori rendah.
4. Tangguh
Berdasarkan tabel 3, diperoleh rata-rata skor pada indikator
tangguh pada kelompok siswa yang menjadi pengurus OSIS mencapai
3,41 dalam kategori tinggi dan yang bukan pengurus OSIS sebesar 3,12
dalam kategori cukup. Jika dilihat dari besarnya rata-ratanya ada
kecenderungan bahwa siswa yang menjadi pengurus OSIS lebih tangguh
daripada siswa yang bukan pengurus OSIS. Hal ini dapat dilihat juga dari
distribusi frekuensi pada tabel 8.
Tabel 8.
Distibusi Frekuensi Tingkat Ketangguhan Siswa

Kelompok Ketangguhan
Pengurus Osis Bukan pengurus OSIS
f % f %
24 96 12 60 Cukup
1 4 8 40 Tinggi
25 100% 20 100 Total

Berdasarkan tabel di atas tampak bahwa dari 25 siswa yang bukan
pengurus OSIS terdapat 24 siswa atau 96% mempunyai tingkat
ketangguhan dalam kategori cukup, terdapat 1 siswa atau 8% dalam
kategori tinggi, sedangkan dari 20 siswa yang menjadi pengurus OSIS
terdapat 12 siswa atau 60% dalam kategori cukup dan 8 siswa atau 40%
siswa dalam kategori tinggi.

B. Uji Hipotesis
Untuk menguji hipotesis dalam penelitian ini digunakan uji t. Dalam
perhitungannya menggunakan bantuan program SPSS release 10, jika
diperoleh nilai t
hitung
> t
tabel
atau probabilitas < 0,05 dapat disimpulkan
hipotesis nol ditolak yang berarti ada perbedaan yang signifikan. Hasil uji
hipotesis ini dapat dilihat dari tabel berikut.
Tabel 9
Hasil Uji Hipotesis
Indikator t
hitung
Sig (2-tailed) Kriteria
Berorientasi sukses
Berorientasi ke depan
Suka tantangan
Tangguh
2.420
2.616
3.237
3.197
0.021
0.012
0.003
0.004
Berbeda nyata
Berbeda nyata
Berbeda nyata
Berbeda nyata
Total 4.060 0.000 Berbeda nyata
Berdasarkan tabel di atas tampak bahwa nilai t
hitung
(4,060) dengan
probabilitas 0,000 < 0,05, yang berarti hipotesis diterima karena signifikan.
Hal ini menunjukkan bahwa secara nyata ada perbedaan motivasi berprestasi
antara siswa yang menjadi pengurus OSIS dan yang bukan pengurus OSIS.
Dilihat dari rata-rata skor pada kelompok siswa yang menjadi pengurus OSIS
lebih tinggi daripada kelompok siswa yang bukan pengurus OSIS, maka dapat
disimpulkan bahwa siswa yang menjadi pengurus OSIS lebih mempunyai
orientasi sukses, orientasi ke depan, lebih menyukai tantangan dan lebih
tangguh daripada siswa yang bukan pengurus OSIS.

3.34
3.46
3.21
3.41
3.14
3.2
2.92
3.12
1.00
1.80
2.60
3.40
4.20
5.00
B
e
r
o
r
i
e
n
t
a
s
i
s
u
k
s
e
s
B
e
r
o
r
i
e
n
t
a
s
i
k
e

d
e
p
a
n
S
u
k
a
t
a
n
t
a
n
g
a
n
T
a
n
g
g
u
h
Pengurus OSIS
Bukan pengurus OSIS

Gambar 1
Perbedaan Motivasi Berprestasi antara Siswa yang Menjadi Pengurus OSIS
dan Bukan Pengurus OSIS

C. Pembahasan
Hasil penelitian ini ternyata menerima hipotesis yang menyatakan ada
perbedaan motivasi berprestasi antara siswa yang menjadi pengurus OSIS dan
yang bukan pengurus OSIS. Dilihat dari rata-ratanya secara nyata siswa yang
menjadi pengurus OSIS mempunyai motivasi berprestasi yang lebih tinggi
daripada yang bukan pengurus OSIS. Ini berarti siswa yang menjadi pengurus
OSIS lebih mempunyai orientasi sukses, orientasi ke depan, lebih menyukai
tantangan dan lebih tangguh daripada siswa yang bukan pengurus OSIS.
Perbedaan ini karena siswa yang mengikuti pengurus OSIS mendapat
pengalaman yang lebih dalam menyelesaikan masalah-masalah organisasi,
sehingga dapat menumbuhkan motivasi berprestasi siswa.

Penelitian ini sejalan dengan hasil penelitian Nanang Wardana (1997),
yang menyatakan bahwa anak yang diberi kesempatan untuk berperilaku benar
sehingga anak dapat menanamkan disiplin diri, dengan demikian
menumbuhkembangkan motivasi berprestasi bagi si anak. Dengan disiplin
yang tinggi anak akan bertanggungjawab sehingga tumbuh pula motivasi
berprestasi yang bercirikan memiliki kepercayaan diri, berorientasi ke depan,
ulet dan tangguh dalam melaksanakan tugas, berjuang untuk mendapatkan
prestasi sosial. Demikian juga pada hasil penelitian ini, dengan adanya
keikutsertaan siswa pada kegiatan OSIS, akan tertanam rasa disiplin diri yaitu
melaksanakan kegiatan OSIS dengan tepat waktu, yang akhirnya akan tumbuh
motivasi berprestasi siswa.
OSIS merupakan wadah kegiatan siswa di sekolah yang bukan hanya
melatih siswa mengenai kemampuan berorganisasi, juga merupakan wahana
yang potensial untuk mengembangkan dan meningkatkan motivasi berprestasi
siswa-siswa SMU. Dengan kegiatan organisasi di dalam OSIS siswa akan
mendapatkan pengalaman yang menuntut siswa lebih mempunyai pandangan
dan berorientasi untuk sukses. Hal ini dapat dilihat dari kegiatan pengurus
OSIS untuk mensukseskan program-program yang disusunnya. Dengan
kegiatan tersebut siswa lebih dituntut agar dapat melaksanakan kegiatan dalam
OSIS dengan sukses. Untuk mencapainya diperlukan persiapan, kerja sama
dan membutuhkan pandangan ke depan tentang hasil yang akan dicapai,
masalah-masalah yang mungkin terjadi. Dengan kegiatan tersebut siswa
terlatih untuk berorientasi ke depan, lebih tangguh. Dengan kebiasaan

mengikuti kegiatan tersebut siswa yang menjadi pengurus OSIS lebih
cenderung menyukai tantangan.
Konsekuensi dari kegiatan yang diikuti pada OSIS akan membentuk
sikap tanggung jawab termasuk di dalamnya harus meningkatkan hasil
belajarnya. Jelas bahwa siswa yang terbiasa dengan kegiatan OSIS dapat
berpengaruh pada motivasi berprestasi yang lebih tinggi daripada yang buka
pengurus OSIS. Dengan kegiatan yang dilakukan siswa yang menjadi
pengurus OSIS tidak membuat siswa merasa jenuh, akan tetapi dapat
membuat siswa merasa terpacu untuk meningkatkan motivasi berprestasi yang
tinggi, sehingga mampu berkompetisi dan bersaing untuk memperolah prestasi
yang terbaik.
Menurut Dimyati dan Mudjiono (1994: 97) menyatakan bahwa kondisi
lingkungan siswa seperti keadaan alam, lingkungan tempat tinggal, pergaulan
sebaya dan kehidupan kemasyarakatan yang aman, tentram, tertib dan indah
maka semangat dan motivasi belajar dengan mudah diperkuat. OSIS dalam hal
ini merupakan kehidupan mayarakat secara khusus kehidupan organisasi yang
dapat membentuk sikap yang positif yang dapat berpengaruh pada motivasi
berprestasi siswa.
Hasil penelitian ini sejalan dengan tugas pokok OSIS adalah
menghimpun ide, pemikiran, bakat, kreativitas, minat siswa, mendorong sikap,
jiwa, semangat persatuan dan kesatuan diantara para siswa serta tempat sarana
untuk berkomunikasi dan berinteraksi sosial, menyampaikan pikiran dan
gagasan dalam usaha untuk lebih mematangkan kemampuan berpikir,

berwawasan dan mengambil keputusan. Dorongan dari siswa sendiri terutama
yang menjadi pengurus OSIS adalah modal utama untuk menjadi yang terbaik,
dengan berbagai kegiatan yang dilakukan bukan menjadi halangan untuk tetap
berprestasi.
Secara umum dapat diambil kesimpulan bahwa dengan mengikuti
kegiatan OSIS siswa akan terbantuk sikap berorientasi untuk sukses,
berorientasi ke depan, lebih menyukai tantanagan dan lebih tangguh yang
dapat berpengaruh pada motivasi berprestasi siswa.



BAB V
SIMPULAN DAN SARAN
A. Simpulan
Berdasarkan hasil penelitian ini dapat diambil simpulan ada perbedaan
yang nyata motivasi berprestasi antara siswa yang menjadi pengurus OSIS dan
bukan pengurus OSIS pada SMA YPE Semarang, dimana motivasi berprestasi
siswa yang menjadi pengurus lebih tinggi daripada yang bukan pengurus
OSIS, ditunjukkan dari hasil uji t diperoleh 4,060 dengan probabilitas 0,000 <
0,05. Hal ini menunjukkan bahwa siswa yang menjadi pengurus OSIS
mempunyai orientasi untuk mencapai kesuksesan, berorientasi ke depan, suka
tantangan dan lebih tangguh daripada yang bukan pengurus OSIS.
Rata-rata skor untuk indikator berorientasi sukses pada siswa yang
menjadi pengurus OSIS mencapai 3,34 lebih tinggi daripada yang bukan
pengurus OSIS yaitu 3,14. Rata-rata untuk indikator berorientasi ke depan
pada siswa yang menjadi pengurus OSIS mencapai 3,46 lebih tinggi daripada
yang bukan pengurus OSIS yaitu 3,20. Rata-rata untuk indikator suka tantang
pada siswa yang menjadi pengurus OSIS mencapai 3,21 lebih tinggi daripada
yang bukan pengurus OSIS yaitu 2,92. Rata-rata untuk indikator tangguh pada
siswa yang menjadi pengurus OSIS mencapai 3,41 lebih tinggi daripada yang
bukan pengurus OSIS yaitu 3,12.
B. Saran
1. Disarankan kepada pembina OSIS dan guru pembimbing untuk
menyeleksi jenis kegiatan OSIS yang mampu meningkatkan motivasi
berprestasi siswa. Dengan pengawasan dan arahan tersebut diharapkan

siswa yang menjadi pengurus OSIS mampu bersaing dalam prestasi di
kelas dan tetap dapat menjalankan kepengurusan OSIS.
2. Bagi siswa yang bukan pengurus OSIS hendaknya juga diberikan kegiatan
atau penugasan yang dapat meningkatkan motivasi berprestasi seperti
karya ilmiah, tugas belajar di rumah yang menuntut tanggung jawab yang
tinggi dan keuletan dalam mengerjakan tugas tersebut, tidak terkecuali
bagi siswa yang menjadi pengurus OSIS juga mendapatkan penugasan
tersebut.
3. Bagi peneliti lain dapat mengkaji lebih lanjut tentang perbedaan jenis
kegiatan yang dilakukan antara siswa yang menjadi pengurus OSIS dan
bukan pengurus OSIS dan kaitannya dengan motivasi berprestasi. Dengan
penelitian tersebut diharapkan dapat ditemukan jenis-jenis kegiatan yang
berpengaruh terhadap peningkatan motivasi berprestasi siswa.

ABSTRAK
Agus Hari Utomo, 2005. Perbedaan Motivasi Berprestasi Siswa antara Siswa
yang Menjadi Pengurus OSIS dan Siswa yang Bukan Pengurus OSIS di SMU YPE
(Yayasan Pendidikan Ekonomi) Semarang Tahun Pelajaran 2004-2005. Skripsi.
Jurusan Bimbingan dan Konseling. Fakultas Ilmu Pendidikan. UNNES.
Kenyataan di SMU YPE Semarang menunjukkan gejala yang bervariasi,
tidak semua siswa yang aktif menjadi pengurus OSIS menunjukkan adanya
motivasi berprestasi yang tinggi dan ada pula siswa yang terlibat aktif
kepengurusan OSIS menunjukkan adanya motivasi berprestasi yang tinggi,
sehingga perlu diteliti lebih lanjut secara empiris.
Permasalahan yang dikaji apakah ada perbedaan motivasi berprestasi
antara siswa yang menjadi pengurus OSIS dengan siswa yang bukan pengurus
OSIS di SMA YPE Semarang Tahun Pelajaran 2004/2005? Tujuan penelitian ini
untuk mengetahui perbedaan perbedaan motivasi berprestasi antara siswa yang
menjadi pengurus OSIS dengan siswa yang bukan pengurus OSIS di SMA YPE
Semarang Tahun Pelajaran 2004/2005.
Populasi yang diteliti adalah siswa SMA YPE Semarang. Sampel yang
dimabil sebanyak 20 siswa yang menjadi pengurus OSIS dan 25 siswa yang bukan
pengurus OSIS. Variabel yang diteliti yaitu motivasi berprestasi siswa. alat
pengambil data berupa angket. Data yang diperoleh dianalisis menggunakan uji t.
Hasil penelitian diperoleh rata-rata rata-rata motivasi berprestasi siswa
yang menjadi pengurus OSIS mencapai 3,36 dalam kategori cukup. Dilihat dari
indikatornya ternyata rata-rata berorientasi suksesnya mencapai 3,34 dalam
kategori cukup, berorientasi ke depan sebesar 3,46 dalam kategori tinggi, suka
tantangan mencapai 3,21 dalam kategori cukup, dan pada indikator tangguh
mencapai 3,241 dalam kategori tinggi. Rata-rata motivasi berprestasi siswa yang
bukan pengurus OSIS mencapai 3,10. Dilihat dari indikatornya ternyata rata-rata
berorientasi suksesnya mencapai 3,14 dalam kategori cukup, berorientasi ke depan
sebesar 3,20 dalam kategori cukup, suka tantangan mencapai 2,92 dalam kategori
cukup, dan pada indikator tangguh mencapai 3,12 dalam kategori cukup. Dari hasi
uji t diperoleh nilai t
hitung
(4,060) dengan probabilitas 0,000 < 0,05, yang berarti
secara nyata ada perbedaan yang nyata motivasi berprestasi siswa antara yang
menjadi pengurus OSIS dengan yang bukan pengurus OSIS. Dilihat dari rata-
ratanya maka siswa yang menjadi pengurus OSIS cenderung mempunyai motivasi
berprestasi yang lebih tinggi daripada yang bukan pengurus OSIS.
Dapat disimpulkan bahwa perbedaan yang nyata motivasi berprestasi
antara siswa yang menjadi pengurus OSIS dan bukan pengurus OSIS pada SMA
YPE Semarang, dimana motivasi berprestasi siswa yang menjadi pengurus lebih
tinggi daripada yang bukan pengurus OSIS.
Disarankan kepada pembina OSIS dan guru pembimbing untuk
menyeleksi jenis kegiatan OSIS yang mampu meningkatkan motivasi berprestasi
siswa. Dengan pengawasan dan arahan tersebut diharapkan siswa yang menjadi
pengurus OSIS mampu bersaing dalam prestasi di kelas dan tetap dapat
menjalankan kepengurusan OSIS. Bagi siswa yang bukan pengurus OSIS
hendaknya juga diberikan kegiatan atau penugasan yang dapat meningkatkan
motivasi berprestasi seperti karya ilmiah, tugas belajar di rumah yang menuntut

tanggung jawab yang tinggi dan keuletan dalam mengerjakan tugas tersebut, tidak
terkecuali bagi siswa yang menjadi pengurus OSIS juga mendapatkan penugasan
tersebut. Bagi peneliti lain dapat mengkaji lebih lanjut tentang perbedaan jenis
kegiatan yang dilakukan antara siswa yang menjadi pengurus OSIS dan bukan
pengurus OSIS dan kaitannya dengan motivasi berprestasi. Dengan penelitian
tersebut diharapkan dapat ditemukan jenis-jenis kegiatan yang berpengaruh
terhadap peningkatan motivasi berprestasi siswa.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->