P. 1
128

128

|Views: 680|Likes:
Published by safran

More info:

Published by: safran on Sep 16, 2010
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

12/30/2012

pdf

text

original

Sections

HUBUNGAN POLA ASUH ORANG TUA DENGAN KEMANDIRIAN ANAK TK PANGUDI LUHUR BERNARDUS SEMARANG TAHUN AJARAN 2004

/ 2005

SKRIPSI Diajukan dalam rangka menyelesaikan Studi Strata 1 Untuk mencapai gelar Sarjana Pendidikan

Oleh : Nama NIM Jurusan Fakultas : Anastasia Kiswanti : 1401901084 : Pendidikan Sekolah Dasar S1 PY : Ilmu Pendidikan

UNIVERSITAS NEGERI SEMARANG (UNNES) 2004 / 2005

PERSETUJUAN PEMBIMBING

Skripsi ini telah disetujui oleh pembimbing untuk diajukan ke Sidang Panitia Ujian Skripsi

Pembimbing I

Pembimbing II

Dra. Tri Esti Budiningsih NIP. 131 570 067

Drs. Kustiono, M.Pd NIP. 132 050 308

Mengetahui Ketua Jurusan

Drs. Zoedindarto BDH NIP. 130 345 749

ii

PENGESAHAN KELULUSAN

Skripsi ini telah dipertahankan di hadapan sidang Panitia Ujian Skripsi, Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Semarang Pada hari Tanggal : Selasa : 16 Agustus 2005 Penitia Ujian Skripsi

Ketua

Sekretaris

Drs. Siswanto, MM NIP. 130 515 769

Drs. Zoedindarto BDH NIP. 130 345 749

Penguji I

Penguji II

Penguji III

Drs. Sukardi, M.Pd NIP. 131 676 923

Dra. Tri Esti Budiningsih NIP. 131 570 067

Drs. Kustiono, M.Pd NIP. 132 050 308

iii

PERNYATAAN

Saya menyatakan bahwa yang tertulis dalam skripsi ini benar-benar hasil karya saya sendiri dan kutipan yang terdapat dalam skripsi dikutip dari referensi buku-buku yang ada hubungannya dengan pola asuh orang tua atau dirujuk berdasarkan kode etik ilmiah yang semestiya.

Semarang,

Agustus 2005

Yang membuat pernyataan,

Anastasia Kiswanti NIM. 1401901084

iv

MOTTO DAN PERSEMBAHAN

Berilah kasih kepada seorang anak, dan engkau akan mendapat kasih itu kembali (John Ruskin)

Guru mendidik perserta didik dengan berprinsip “ajrih –asih” dalam atmosphere sekolah yang penuh kekeluargaan, kesetiakawanan, saling memajukan diri. (YB. Mangunwijaya, PR)

Skripsi ini kupersembahkan kepada : 1. Suami dan anakku tercinta 2. Kedua orangtua dan keluargaku tersayang 3. Sahabat dan rekan-rekan kerja yang tercinta

v

PRAKATA

Penulis bersyukur kepada Tuhan Yang Maha Esa ,yang telah memberikan berkat dan kasih sehingga dapat menyelesaikan penyusunan skripsi ini . Skripsi ini dapat tersusun berkat bantuan beberapa pihak .Oleh karena itu penulis mengucapkan terima kasih kepada: 1. Dr. A.T. Sugito , S.H, M.M; selaku Rektor Universitas Negeri Semarang yang telah memberikan kesempatan belajar di Universitas Negeri Semarang. 2. Drs. Siswanto, MM; selaku Dekan Fakultas Ilmu Pendidikan yang telah memberikan kesempatan belajar di Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Semarang. 3. Drs. Zoedindarto Boediharto, selaku Ketua Jurusan Pendidikan Sekolah Dasar (PSD) Universitas Negeri Semarang yang telah memberikan dukungan kepada penulis sehingga skripsi ini dapat terselesaikan 4. Dra. Tri Esti Budiningsih, selaku Pembimbing I yang membimbing dengan baik dalam proses penulisan skripsi ini dari awal hingga akhir penyusunan. 5. Drs. Kustiono, MPd; selaku Dosen Pembimbing II yang telah membimbing penulis sejak awal hingga penyelesaian skripsi ini. 6. BR. Arnodus M.FIC, selaku kooedinator TK-SD PL Bernardus yang telah memberikan motivasi dan bantuan selama penulisan skripsi ini. 7. Ibu Maria Yulimah, selaku kepala TK. PL Bernardus, yang telah memberikan dorongan baik spiritual maupun material kepada penulis dari awal hingga akhir. 8. Responden / orangtua yang banyak bekerjasama dalam penelitian ini.

vi

9. Rekan-rekan guru di unit kerja TK. PL. Bernardus, yang telah banyak membantu selama penulisan skripsi ini. Pihak-pihak lain yang secara langsung maupun tidak langsung telah membantu dalam penelitian ini. Penulis menyadari bahwa penulisan skripsi ini masih ada kekurangannya. oleh karena itu segala kritik dan saran pembaca sangat diharapkan. Semoga penelitian ini tetap dapat memberi arti bagi pembaca dalam pemenuhan informasi ilmiah.

Semarang, Agustus 2005

Penulis

vii

SARI

ANASTASIA KISWANTI. 2005. Hubungan Pola Asuh Orang Tua Dengan Kemandirian Anak Tk Pangudi Luhur Bernardus Semarang Tahun Ajaran 2004 / 2005. Skripsi Jurusan PGSD S-1, Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri Semarang, Pembimbing I. Dra. Tri Esti Budiningsih, Pembimbing II Drs. Kustiono, M.Pd. Kata kunci : Pola asuh orang tua, kemandirian anak TK.

Keluarga merupakan lingkungan pertama dan utama dalam menumbuh kembangkan anak. Peran keluarga menjadi begitu penting dalam membentuk beberapa sikap dasar yang akan menentukan perkembangan kepribadiannya di masa depan. Pada tahap awal perkembangan, peran keluarga yang utama adalah memberikan perhatian dan memenuhi kebutuhan rasa aman bagi anak sehingga anak mampu mengembangkan dasar kepercayaan terhadap lingkungan. Kemandirian anak sudah harus tumbuh pada usia prasekolah agar kepercayaan dirinya bisa tumbuh dan berkembang dengan wajar. Seorang anak merasa perlu untuk mandiri dan memang ada dorongan nalurinya untuk menjadi mandiri. Skripsi ini bertujuan untuk menguji ada tidaknya hubungan antara pola asuh orangtua dengan kemandirian anak.Penelitian dilakukan di TK Pangudi Luhur Bernardus Semarang, dengan obyek penelitian siswa dan orangtua anak yang bersangkutan. Instrumen yang digunakan adalah angket pola asuh orangtua yang meminta jawaan dari orangtua siswa untuk mengetahui pola asuh yang mereka terapkan. Penelitian ini juga menggunakan metode observasi yang mengamati tingkat kemandirian siswa di sekolah. Baik angket maupun observasi dinilai dengan skala 1 sampai 4. Uji validitas dan reliabilitas instrumen dilakukan terlebih dahulu sebelum melakukan pengujian selanjutnya. Pengujian ada tidaknya hubungan antara pola asuh orangtua dan kemandirian siswa diuji dengan analisis korelasi product moment. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pola asuh orangtua memiliki hubungan yang cukup kuat dengan kemandirian anak dimana diperoleh nilai korelasi sebesar 0,613. Hal ini menunjukkan akan perlunya pemberian sedikit toleransi kepada anak untuk diberikan pola asuh yang benar agar dapat memicu anak untuk dapat melakukan segala sesuatunya secara mandiri. Berdasarkan simpulan analisis ini disarankan kepada: (1) orangtua untuk lebih meningkatkan sikap positif mereka terhadap program-program dalam rangka mendidik anak untuk memiliki kemandirian yang besar, (2) bagi orang tua agar dapat mendampingi putra-putrinya belajar dan membimbing mereka untuk menentukan cara atau jalan mereka yang terbaik supaya lebih mandiri, (3) bagi pendidik, diharapkan mampu memberikan contoh dan perilaku mandiri kepada siswa.

viii

DAFTAR ISI

Halaman JUDUL ............................................................................................................. PERSETUJUAN PEMBIMBING.................................................................... PENGESAHAN KELULUSAN ...................................................................... PERNYATAAN ............................................................................................... MOTTO DAN PERSEMBAHAN ................................................................... PRAKATA ....................................................................................................... SARI................................................................................................................. DAFTAR ISI .................................................................................................... DAFTAR TABEL ........................................................................................... DAFTAR LAMPIRAN .................................................................................... DAFTAR GAMBAR ....................................................................................... i ii iii IV v vi viii ix xi xii xiii

BAB I

PENDAHULUAN ......................................................................... A. Latar Belakang Masalah .......................................................... B. Permasalahan ............................................................................ C. Tujuan Penelitian ...................................................................... D. Manfaat Penelitian .................................................................... E. Penegasan Istilah....................................................................... F. Sistematika Skripsi....................................................................

1 1 4 4 5 5 6

BAB II

KAJIAN PUSTAKA DAN HIPOTESIS ................................... A. Tinjauan Pustaka ...................................................................... 1. Pola Asuh Orangtua .............................................................. 2. Pendidikan Taman Kanak-Kanak ......................................... 3. Kemandirian ......................................................................... 4. Hubungan Pola Asuh terhadap Kemandirian Anak di Taman Kanak-Kanak ............................................................ B. Hipotesis ...................................................................................

8 8 8 16 25

28 30

ix

BAB III

METODOLOGI PENELITIAN .................................................... A. Populasi .................................................................................... B. Sampel ...................................................................................... C. Variabel Penelitian ................................................................... D. Metode Pengumpulan Data ...................................................... E. Pengujian Instrumen ................................................................. F. Metode Analisa Data .................................................................

31 31 31 32 36 42 43

BAB IV

HASIL ANALISIS DAN PEMBAHASAN ................................. A. Persiapan Penelitian ................................................................. B. Analisa Data ............................................................................. C. Pembahasan ..............................................................................

45 45 51 54

BAB V

PENUTUP ..................................................................................... A. Kesimpulan .............................................................................. B. Saran-Saran ...............................................................................

56 56 56

DAFTAR PUSTAKA LAMPIRAN

x

DAFTAR TABEL

Tabel

Halaman 37 41 49 50 51 52

3.1. Rancangan Observasi Kemandirian Siswa ............................................. 3.2. Rancangan Skala Pola Asuh Orangtua ................................................... 4.1. Hasil PerhitunanValiditas Angket Pola Asuh ......................................... 4.2 4.3 4.4 Skala Pola Asuh Orangtua yang Valid ................................................... Hasil Perhitungan Validitas Observasi Kemandirian Siswa ................... Nilai Reliabilitas .....................................................................................

xi

DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran 1 2 3 4 5 6 7

Halaman 60 64 65 68 69 77 80

Angket..................................................................................................... Lembar Observasi Kemandirian Siswa .................................................. Skor hasil angket Pola Asuh Orangtua ................................................... Skor hasil Observasi Kemandirian Siswa ............................................... Korelasi hasil uji validitas ...................................................................... Hasil pengujian reliabilitas ..................................................................... Hasil uji korelasi ....................................................................................

xii

DAFTAR GAMBAR

Gambar 1. 2. 3. 4 5.

Halaman 81 82 83 84 85

Siswa berani bertanya secara sederhana ................................................. Siswa mampu tampil di depan kelas ....................................................... Siswa bisa mencuci tangan sendiri sampai bersih ................................. Siswa makan minum sendiri tanpa bantuan orang lain .......................... Siswa memakai sepatu sendiri ................................................................

xiii

BAB I PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG MASALAH Pendidikan merupakan kunci bagi suatu bangsa untuk bisa menyiapkan masa depan dan sanggup bersaing dengan bangsa lain. Dunia pendidikan dituntut memberikan respon lebih cepat terhadap perubahanperubahan yang tengah berlangsung di masyarakat. Masyarakat pasca modern saat ini menghendaki perkembangan total, baik dalam visi, pengetahuan, proses pendidikan maupun nilai-nilai yang harus dikembangkan bagi anak untuk menghadapi tantangan masa depan yang semakin kompleks. Bila Indonesia modern di masa depan mengisyaratkan perlunya manusia-manusia

pembangunan yang kreatif, mandiri inovatif dan demokratis, maka dunia pendidikan yang harus mempersiapkan dan menghasilkannya.(Widayati, 2002:1) Seorang anak tidak dapat tumbuh dan berkembang tanpa adanya pengaruh dari orang lain. Tidak ada seorangpun yang dapat membangun hidupnya sendiri dari awal dengan kekuatannya sendiri. Dia memerlukan orang lain dan dukungan lingkungan agar dapat tumbuh dan berkembang menjadi dewasa. Tiap lingkungan memberikan pengaruh pada proses pembentukan individu, melalui proses pendidikan yang diterimanya. Tanpa pendidikan dengan lingkungan hidup, kehidupan yang senantiasa berubah. Perubahan akan terjadi jika ada pengaruh dari lingkungan dan orang lain di sekitarnya.

1

2

Keluarga

merupakan

lingkungan

pertama

dan

utama

dalam

menumbuh kembangkan anak. Peran keluarga menjadi begitu penting dalam membentuk beberapa sikap dasar yang akan menentukan perkembangan kepribadiannya di masa depan. Pada tahap awal perkembangan, peran keluarga yang utama adalah memberikan perhatian dan memenuhi kebutuhan rasa aman bagi anak sehingga anak mampu mengembangkan dasar kepercayaan terhadap lingkungan. Drost (1998:63), mengemukakan bahwa peran orang tua dalam membimbing adalah sebagai pendidik utama untuk mempersiapkan anak menghadapi dunia pendidikan formal. Peran orang tua adalah membangun rasa mandiri dan percaya diri anak dengan pengakuan, pujian dan dorongan sehingga timbul rasa percaya diri. Jika pada tahap ini seorang anak tidak mendapatkan dukungan keluarganya, maka yang terjadi adalah berkembangnya rasa ragu-ragu. Namun jika anak mampu mengembangkan rasa percaya diri dan sikap mandiri, maka anak akan berani mengambil inisiatif untuk secara bebas melakukan segala sesuatu atas kemauan sendiri. Keluarga dapat mendorong hal ini dengan memberikan kesempatan untuk menentukan sendiri apa yang ingin dilakukan anak. Kemandirian anak sudah harus tumbuh pada usia prasekolah agar kepercayaan dirinya bisa tumbuh dan berkembang dengan wajar. Seorang anak merasa perlu untuk mandiri dan memang ada dorongan nalurinya untuk menjadi mandiri.

3

Menurut Triyon dan Lilienthal (Moeslichatoen, 1999:4) tugas-tugas perkembangan masa kanak-kanak awal yang harus dijalani anak taman kanakkanak adalah berkembang menjadi pribadi yang mandiri yang berarti berkembang menjadi pribadi yang bertanggung jawab untuk melayani dan memenuhi kebutuhan sendiri pada tingkat kemandirian yang sesuai dengan tingkat usia taman kanak-kanak. Dalam penelitian Komariyah (2002:49) tentang “Studi Komparatif antara Kemandirian Siswa Kelas I SD yang berasal dari TK dengan yang bukan berasal dari TK”, dinyatakan bahwa kemandirian siswa kelas I SD yang berasal dari TK dengan yang bukan berasal dari TK ada perbedaan. Dari analisis diketahui data skor kemandirian siswa kelas I SD yang berasal dari TK menunjukkan kriteria baik dan skor kemandirian siswa kelas I SD yang bukan berasal dari TK menunjukkan kriteria cukup. Penelitian Ason (1998:143) yang berjudul “Kontribusi Pola Asuh Orang Tua terhadap Prestasi Belajar Peserta Didik di SD Pangudi Luhur Bernardus” menyatakan bahwa pola asuh orang tua memberikan kontribusi terhadap prestasi belajar peserta didik. Penulis melihat adanya fenomena atau gejala para orang tua terlalu mempercayakan anak pada pengasuh karena mereka sibuk bekerja sendiri. Disisi lain pengasuh sekedar menjalankan tugas mengasuh anak, memberi makan, mainan, segala sesuatu dibantu supaya anak tidak rewel dan merasa senang. Hal tersebut membuat anak menjadi kebiasaan dibantu orang lain sehingga waktu sekolah menjadi kurang mandiri.

4

Dengan adanya fenomena yang ada, jurnal penelitian dan diperkuat beberapa teori tersebut di atas, maka perlu dilaksanakan penelitian dengan judul : “Hubungan Pola Asuh Orang Tua Dengan Kemandirian Anak TK Pangudi Luhur Bernardus Semarang tahun Ajaran 2004 / 2005” B. PERMASALAHAN Bagi orang tua dalam mendidik anak dengan pola asuh yang benar dapat mewujudkan atau meningkatkan kemandirian yang ada dalam diri anaknya. Pola asuh yang dimaksud adalah dapat terjadinya komunikasi dua arah antara orang tua dengan anak. Pola asuh orang tua diduga kuat ada kaitannya dengan kemandirian seorang anak pada masa belajar di taman kanak-kanak, maka permasalahan yang dapat muncul dalam penelitian ini adalah: 1. Apakah ada hubungan pola asuh orang tua dengan kemandirian Anak di Taman Kanak-kanak Pangudi Luhur Bernardus Semarang ? 2. Bila ada, seberapa besar hubungan pola asuh orang tua dengan kemandirian Anak Taman Kanak-kanak Pangudi Luhur Bernardus Semarang ? C. TUJUAN PENELITIAN Tujuan yang diharapkan dalam penelitian ini adalah : 1. Mengetahui hubungan pola asuh orang tua dengan kemandirian Anak di Taman Kanak-kanak Pangudi Luhur Bernardus Semarang. 2. Mengetahui seberapa besar hubungan pola asuh orang tua dengan kemandirian Anak Taman Kanak-kanak Pangudi Luhur Bernardus Semarang.

5

D. MANFAAT PENELITIAN Penelitian ini diharapkan dapat memberi manfaat kepada orang tua, guru dan sekolah yaitu: 1. Sebagai bahan masukan untuk meningkatkan pola asuh orang tua dalam mendidik anak dalam lingkungan keluarga. 2. Bagi Taman Kanak-kanak Pengudi Luhur Bernardus, memberikan peningkatan dalam mengasuh anak untuk lebih mandiri. 3. Bagi Civitas Akademik, memberikan tambahan wawasan dan dapat disempurnakan dalam penelitian yang lebih lanjut atau lebih sempurna. E. PENEGASAN ISTILAH Untuk menjaga agar jangan sampai terjadi salah penafsiran ataupun menimbulkan beberapa penafsiran dalam mengartikan judul, maka perlu diberikan penegasan istilah sebagai berikut: 1. Hubungan Hubungan adalah keadaan berhubungan atau dihubungkan dengan hal lain (Purwodarminto, 1976:362). 2. Pola Asuh Pola asuh adalah perilaku orang tua dalam mendidik anak-anak mereka (Idris, 1992:87). Perilaku orang tua dalam mendidik anak mereka ini dapat dikelompokkan menjadi tiga yaitu: perilaku otoriter, perilaku demokratis dan perilaku laissez-faire.

6

3. Kemandirian Yang dimaksud kemandirian adalah kemampuan mengatur diri sendiri sesuai dengan hak dan kewajiban, tidak bergantung pada orang lain sampai batas kemampuannya, mampu bertanggungjawab atas keputusan, tindakan dan perasaannya sendiri serta mampu membuang pola perilaku yang mengingkari kenyataan (Sukadji, 1986: 27). 4. Taman Kanak-kanak Pangudi Luhur Bernardus Taman Kanak-kanak merupakan suatu lembaga pendidikan non formal yang dilakukan sebelum memasuki jenjang sekolah dasar (Depdikbud, 1993: 14). Taman Kanak-kanak Bernardus dikelola oleh Yayasan Pangudi Luhur, yaitu yayasan yang bergerak dibidang pendidikan dan pembinaan serta mengelola sekolah dari tingkat TK sampai dengan SLTA. (Sumardjo, 2001:1). Sedangkan Bernardus adalah nama seorang santo atau orang suci, yang dijadikan nama pelindung sekolah dengan harapan keutamaan-keutamaan yang dimiliki Santo Bernardus dapat dijadikan contoh teladan bagi anak didik (Nikolaas, 1997: 412).

F. SISTEMATIKA SKRIPSI Dalam penulisan skripsi ini terdiri atas lima bagian bab sehingga dapat dijelaskan sebagai berikut:

7

Bab I Pendahuluan Menguraikan tentang latar belakang permasalahan, perumusan masalah, tujuan penelitian, manfaat penelitian, penegasan istilah dan sistematika skripsi. Bab II Landasan Teori Menguraikan tentang pola asuh orang tua yang mencakup pengertian macam-macam pola asuh, pendidikan taman kanakkanak yang mencakup ciri-ciri pendidikan taman kanak-kanak, tugas-tugas perkembangan, interaksi belajar mengajar di taman kanak-kanak, kemandirian yang mencakup pengertian dan sikap kemandirian anak TK, Hubungan pola asuh terhadap kemandirian anak di Taman kanak-kanak. Bab III Metodologi Penelitian Berisi tentang populasi dan sampel, variabel penelitian, metode pengumpulan data dan teknik analisa data. Bab IV Hasil Penelitian dan Pembahasan Berisi persiapan penelitian, langkah-langkah penelitian,

penyampaian, analisa data dan pembahasan hasil penelitian. Bab V Penutup Berisi mengenai kesimpulan dan saran dari hasil penelitian di Taman Kanak-kanak Pangudi Luhur Bernardus Semarang

BAB II KAJIAN PUSTAKA DAN HIPOTESIS

A. KAJIAN PUSTAKA 1. Pola Asuh Orang Tua a. Pengertian Pola Asuh Orang Tua Pola asuh orang tua adalah perilaku orang tua dalam mendidik anak-anak mereka (Idris, 1992:87). Sedangkan (Sukadji, 1988:20) mengartikan pola asuh sebagai sikap orang tua terhadap anaknya. Berdasarkan kedua pengertian tersebut penulis mendefinisikan bahwa pola asuh adalah cara dan sikap serta perilaku orang tua dalam mendidik anak. Untuk membina atau mendidik anak tidaklah semudah membalik tangan, atau secara kebetulan saja, tetapi orang tua harus mengadakan kontak sosial dengan anak. dengan kontak sosial itulah akan menimbulkan tingkah laku lekat terhadap anaknya (Haditomo, 1998:109). Tingkah laku lekat merupakan tingkah laku yang khusus bagi bayi, yaitu kecenderungan dan keinginan seseorang untuk mencari kedekatan dengan orang lain, untuk mencari kepuasan dalam hubungan dengan orang lain tersebut. Untuk menimbulkan tingkah laku lekat terhadap seseorang atau khususnya anak, maka ada faktor yang mempengaruhi, yaitu:

8

9

a. Sering mengadakan reaksi terhadap tingkah laku anak, yang dimaksudkan yaitu untuk menarik perhatian dari anak tersebut. b. Sering membuat interaksi dengan anak secara spontan. Biasanya tingkah laku kelekatan tidak hanya pada satu orang saja, namun dapat timbul lebih banyak tergantung dari banyak sedikitnya orang yang mengasuh anak tersebut. Tetapi tingkah laku lekat yang utama biasanya yang ada di rumah tersebut. Dengan tingkah laku lekat inilah anak akan meniru apa yang dilakukan oleh orang yang dilekatinya, dan dari sinilah pola asuh orang tua mulai diberikan kepada anaknya. b. Macam-Macam Pola Asuh Ketika mendidik anak ditemukan bermacam-macam perilaku orang tua. Secara teoritis perilaku orang tua tersebut dapat dikelompokkan menjadi tiga, yaitu otoriter, demokratis, laissez-faire (Idris, 1992:87). Masing-masing dari ketiga perilaku orang tua tersebut memiliki ciri-ciri tersendiri dan berkaitan erat dengan peranan orang tua sebagai pendidik dalam hubungannya dengan pola asuh. Ketiga pola asuh tersebut dapat dijelaskan di bawah ini: 1) Otoriter Pola asuh otoriter adalah pola asuh yang diterapkan orang tua dengan bercirikan kekuasaan. Segala peraturan yang dianut oleh

10

orang tua harus dikerjakan oleh anak dan tidak boleh dibantah, ciricirinya adalah sebagai berikut: (a) Anak harus mematuhi peraturan-peraturan orang tua dan tidak boleh membantah; (b) Orang tua cenderung mencari kesalahan-kesalahan pada pihak anak, dan kemungkinan menghukumnya; (c) Kalau terdapat perbedaan pendapat antara orang tua dengan anak, maka anak dianggap melawan atau membangkang; (d) Orang tua cenderung memberikan perintah dan larangan terhadap anak; (e) Orang tua cenderung memaksakan disiplin; (f) Orang tua cenderung menentukan segala sesuatu untuk anak, dan anak hanya sebagai pelaksana. (Idris, 1992:87). 2) Demokratis Pola asuh demokratis adalah pola asuh yang diterapkan oleh orangtua secara fleksibel/luwes. Anak diberi kesempatan untuk menyampaikan pendapat dan diikursertakan dalam pemecahan masalah yang muncul dalam keluarga juga dihadapi dengan tenang, sabar dan terbuka. Ciri-ciri dari perilaku tersebut adalah sebagai berikut : (a) Melakukan sesuatu dalam keluarga dengan cara musyawarah. (b) Menentukan peraturan-peraturan dan disiplin dengan

mempertimbangkan keadaan, perasaan dan pendapat anak serta

11

memberikan alasan-alasan yang dapat diterima, dipahami dan dimengerti oleh anak; (c) Kalau terjadi sesuatu pada anggota keluarga selalu dicari jalan keluarnya secara musyawarah, juga dihadapi dengan tenang, wajar dan terbuka; (d) Hubungan antara keluarga saling menghormati : pergaulan antara ibu dan ayah juga saling menghormati, demikian pula orang tua menghormati anak sebagai manusia yang sedang bertumbuh dan berkembang; (e) Ada komunikasi dua arah, yaitu anak juga dapat mengusulkan, menyarankan sesuatu pada orang tuanya dan orang tua mempertimbangkan; (f) Semua larangan dan perintah yang disampaikan kepada anak selalu menggunakan kata-kata yang mendidik, bukan

menggunakan kata-kata kasar; (g) Memberikan pengarahan tentang perbuatan baik yang perlu dipertimbangkan dan yang tidak baik ditinggalkan; (h) Keinginan dan pendapat anak diperhatikan apabila sesuai dengan norma-norma dan kemampuan orang tua; (i) Memberikan bimbingan dengan penuh pengertian. 3) Laissez-faire Orang tua bersikap percaya bahwa mereka selalu

menganggap anak sebagai pribadi dan mendorong mereka dengan

12

memberikan kebebasan penuh, bersikap longgar, tidak pernah menghukum maupun memberi ganjaran pada anak, kurang kontrol terhadap anak pada saat berada dirumah, kurang membimbing terhadap anak, anak lebih berperan daripada orangtua dalam menyelesaikan tugas atau masalah, kurang tegas, dalam memberikan peraturan dan kedisiplinan dan hanya berperan sebagai pemberi fasilitas maka tidak akan peduli terhadap kelakuan anak sehingga kurang adanya komunikasi. Pola asuh Laissez-faire memiliki ciriciri sebagai berikut: (a) Membiarkan anak bertindak sendiri tanpa memonitor dan membimbingnya; (b) Medidik anak acuh-tak acuh, pasif dan masa bodoh; (c) Terutama memberikan kebutuhan material saja; (d) Membiarkan saja apa yang dilakukan anak atau terlalu memberikan kebebasan untuk mengatur dirinya sendiri tanpa ada aturan dan norma-norma yang digariskan oleh orang tua; (e) Kurang sekali keakraban dan hubungan yang hangat dalam keluarga (Idris , 1992:88). Menurut Hurlock (1997:256), ada tiga model pola asuh orang tua, yaitu: otoriter, demokratis dan permisif. Masing-masing pola asuh tersebut mempunyai ciri-ciri sebagaimana dijelaskan berikut ini:

13

a. Pola Asuh Otoriter 1) Tidak menerangkan kepada anak tentang alasan-alasan mana yang dapat dilakukan. 2) Mengabaikan alasan-alasan yang masuk akal dan anak tidak diberi kesempatan untuk menjelaskan. 3) “Punishment” atau hukuman selalu diberikan pada perbuatan yang salah dan melanggar aturan. 4) “Reward” atau penghargaan jarang diberikan pada perbuatan yang benar, baik dan berprestasi. b. Pola Asuh Demokratik 1) Ada pengertian bahwa anak punya hak untuk mengetahui mengapa suatu aturan dikenakan kepadanya. 2) Anak diberi kesempatan untuk menjelaskan mengapa ia melanggar peraturan sebelum hukuman dijatuhkan. 3) “Punishment” diberikan kepada perilaku yang salah dan melanggar peraturan. 4) “Reward” yang berupa pujian dan penghargaan diberikan kepada perilaku yang benar dan berprestasi. c. Pola Asuh Permisif 1) Tidak ada aturan ketat dari orang tua, dan anak diperbolehkan melakukan sesuatu yang dianggap benar. 2) “Punishment” tidak diberikan karena memang tidak ada aturan yang mengikat.

14

3) “Reward” tidak diberikan untuk perilaku yang baik, karena ada anggapan bahwa persetujuan sosial sebagai reward. 4) Ada pengertian bahwa perbuatan yang baik akan dipelajari dari perbuatan yang salah. Dalam hal ini anak tidak dituntut untuk bertindak untuk memperbaiki kesalahannya, namun orangtua membiarkan anak untuk merubahnya sendiri. Dengan demikian tanggung jawab anak terhadap diri mereka tidak menjadi besar. Istilah otoriter, demokratis dan permisif biasanya digunakan dalam kepemimpinan. Namun demikian istilah tersebut telah digunakan dalam layanan orang tua kepada anaknya yang disebut pola asuh. Pendapat senada dikemukakan oleh Stewart dan Krech (1986:84) yang mengemukakan bahwa ketiga pola asuh tersebut memiliki ciri-ciri sebagai berikut: a. Pola asuh otoriter, memiliki ciri-ciri: kaku, suka menghukum, tidak menunjukkan kasih sayang dan tidak simpatik. b. Pola asuh demokratik, memiliki ciri-ciri yaitu: hak dan kewajiban antara anak dan orang tua adalah sama, secara bertahap orang tua bermusyawarah dengan anaknya. Adanya saling memberi dan menerima, dan selalu mendengarkan keluhan-keluhan atau

keberatan-keberatan yang dikemukakan oleh anak-anaknya. c. Pola asuh permisif, yaitu cenderung memberikan kebebasan kepada anak tanpa kontrol sama sekali, anak sedikit sekali dituntut suatu

15

kewajiban atau tanggung jawab, mempunyai hak yang sama dengan orang tua. Dari berbagai pendapat para ahli mengenai pola asuh tersebut diatas, penulis akan menggunakan istilah otoriter, demokratis dan laizzes faire sebagaimana dikemukakan oleh Idris (1992:87). Penulis menggunakan klasifikasi pola asuh yang dikemukakan oleh ahli tersebut, karena istilah yang dipakai berlaku umum dan mudah dimengerti, serta memiliki ciri-ciri yang jelas. Namun demikian selanjutnya penulis akan menggunakan ciriciri ketiga pola asuh tersebut dengan mendasarkan pada pendapat beberapa ahli sebagaimana dijelaskan sebelumnya yaitu: 1. Pola asuh otoriter Pemaksaan kepada anak untuk memenuhi keinginan orang tua Tidak ada kebebasan pada anak dalam menjalankan aktivitasnya Adanya ancaman atau hukuman fisik Jarang sekali memberikan pujian kepada anak Orang tua berhak mengatur masa depan anak Sering menakut-nakuti anak dengan ancaman

2. Pola asuh demokratis Mau meluangkan waktu kepada anak Mambatasi anak terhadap bahaya yang dapat mengancam anak Memberi toleransi waktu bermain anak Memberikan hadiah kepada anak jika berprestasi.

16

-

Sering mendampingi anak-anak Pemberian tugas kepada anggota keluarga sesuai dengan kemampuan.

3. Pola asuh laizzes faire Orangtua memberikan kebebasan kepada anak untuk berbuat sesuai keinginan mereka. Memberikan kebutuhan meteri kepada anak. Anggapan bahwa anak memiliki hak yang sama besarnya dengan orangtua. Tidak ada hukuman kepada anak Tidak ada pujian kepada anak.

2. Pendidikan Taman Kanak-kanak a. Ciri-ciri Pendidikan Taman Kanak-kanak Snowman (Patmonodewo, 2000:32) mengemukakan ciri-ciri anak prasekolah ada 4 macam yakni : (1) Ciri Fisik Penampilan maupun gerak gerik anak pra sekolah mudah dibedakan dengan anak yang berada dalam tahapan sebelumnya. Anak prasekolah umumnya sangat aktif. Mereka telah memiliki penugasan (kontrol) terhadap tubuhnya dan sangat menyukai kegiatan yang dilakukan sendiri. Setelah anak melakukan berbagai kegiatan, anak membutuhkan istirahat yang cukup. Seringkali anak tidak menyadari

17

bahwa mereka harus beristirahat cukup. Otot – otot besar pada anak prasekolah lebih berkembang dari kontrol terhadap jari dan tangan. Oleh karena itu biasanya belum terampil, belum melakukan kegiatan yang rumit seperti misalnya, mengikat tali sepatu. Anak masih sering mengalami kesulitan apabila harus memfokuskan

pandangannya pada objek-objek yang kecil ukurannya. Itulah sebabnya koordinasi tangan dan matanya masih kurang sempurna. Walaupun tubuh anak ini lentur, tetapi tengkorak kepala yang melindungi otak masih lunak (soft). Walaupun anak lelaki lebih besar, dan anak perempuan lebih terampil dalam tugas yang bersifat praktis. Khususnya dalam tugas motorik halus. (2) Ciri Sosial Anak prasekolah biasanya mudah bersosialisasi dengan orang disekitarnya. Umumnya anak pada tahapan ini memiliki satu atau dua sahabat, tetapi sahabat ini cepat berganti. Kelompok bermainnya cenderung kecil dan tidak terlalu terorganisasi secara baik. Anak yang lebih muda seringkali bermain bersebelahan dengan anak yang lebih besar. Pola bermain anak prasekolah sangat bervariasi fungsinya sesuai dengan kelas sosial dan ‘gender’. Konneth Rubin dkk (1976). Melakukan pengelompokan setelah mengamati kegiatan bermain bebas anak prasekolah yang dihubungkan dengan kelas sosial kognitif anak, yaitu :

18

a. Bermain fungsional. Melakukan pengulangan gerakan-gerakan otot dengan atau tanpa objek-objek. b. Bermain konstruktif. Melakukan manipulasi terhadap bendabenda dalam kegiatan membuat konstruksi atau

mengkreasi/menciptakan sesuatu. c. Bermain dramatik. Adalah dengan menggunakan situasi yang imajiner. d. Bermain dengan menggunakan aturan. Perselisihan seringkali terjadi tetapi sebentar kemudian mereka telah berbaik kembali. Anak lelaki lebih banyak melakukan tingkah laku agresif dan perselisihan. Setelah anak masuk TK, umunya pada mereka berkembang kesadaran terhadap perbedaan jenis kelamin dan peran sebagai anak lelaki atau anak perempuan. (3) Ciri Emosional Anak TK cenderung mengekspresikan emosinya dengan bebas dan terbuka. Sikap marah sering diperlihatkan oleh anak pada usia tersebut. Iri hati pada anak prasekolah sering terjadi. Mereka seringkali memperebutkan perhatian guru. (4) Ciri Kognitif Anak prasekolah umumnya telah terampil dalam berbahasa. Sebagian besar dari mereka senang bicara, khususnya dalam kelompoknya. Kompetisi anak perlu dikembangkan melalui interaksi, minat, kesempatan, mengagumi dan kasih sayang.

19

Patmonodewo (2000:24) mengemukakan ciri tahapan perkembangan berdasar aspek perkembangan anak prasekolah ada 4 macam yakni: (1) Perkembangan jasmani Pada saat anak mencapai tahapan prasekolah (3-6 tahun) ada ciri yang jelas berbeda antara anak usia bayi dan anak prasekolah. Perbedaannya terletak dalam penampilan, proporsi tubuh, berat, panjang badan dan keterampilan yang mereka miliki. Kecepatan perkembangan jasmani dipengaruhi oleh gizi, kesehatan dan lingkungan fisik lain misalnya tersedianya alat permainan serta kesempatan yang diberikan kepada anak untuk melatih berbagai gerakan. Keterampilan motorik kasar adalah koordinasi sebagian besar otot tubuh misalnya melompat, main jungkat jungkit dan berlari. Ketarampilan motorik halus adalah koordinasi bagian kecil tubuh, terutama tangan. (2) Perkembangan kognitif Kognitif adalah pengertian yang luas mengenai berpikir dan mengamati, jadi merupakan tingkah laku-tingkah laku yang mengakibatkan orang memperoleh pengetahuan atau yang

dibutuhkan untuk menggunakan pengetahuan. (3) Perkembangan bahasa Ada perbedaan antara bahasa dan kemampuan berbicara. Bahasa biasanya dipahami sebagai sistem tatabahasa yang rumit dan bersifat semantik, sedangkan kemampuan berbicara terdiri dari ungkapan

20

dalam bentuk kata-kata. Terdapat dua daerah pertumbuhan bahasa yaitu bahasa yang bersifat pengertian/reseptif (understanding) dan pertanyaan/ekspresif (producing). Bahasa pengertian misalnya mendengarkan dan membaca menunjukkan kemampuan anak untuk memahami dan berlaku terhadap komunikasi yang ditujukan kepada anak tersebut. Bahasa ekspresif (bicara dan tulisan) menunjukkan ciptaan bahasa yang dikomunikasikan kepada orang lain.

Komunikasi diri atau bicara dalam hati, juga harus dibahas. Anak akan berbicara dengan dirinya sendiri apabila berkhayal, pada saat merencanakan menyelesaikan masalah dan menyerasikan gerakan mereka. (4) Perkembangan emosi dan sosial Perkembangan sosial biasanya dimaksudkan sebagai perkembangan tingkah laku anak dalam menyelesaikan diri dengan aturan-aturan yang berlaku didalam masyarakat dimana anak berada. Kemampuan sosialisasi anak adalah hasil belajar, bukan sekadar hasil dari kematangan saja. Perkembangan sosial diperoleh dari kematangan dan kesempatan belajar dari berbagai respons lingkungan terhadap anak. Perkembangan sosialisasi yang optimal diperoleh dari respons yang diberikan oleh tatanan kelas pada awal anak masuk sekolah yang berupa tatanan sosial yang sehat dan sasaran yang memberikan kesempatan kepada anak untuk mengembangkan konsep diri yang positif.

21

b. Tugas-tugas Perkembangan Anak Taman Kanak-kanak Tugas perkembangan adalah suatu tugas yang timbul pada suatu periode tertentu dalam kehidupan individu. Menurut Havighurt (Idris, 1992:76), tugas-tugas perkembangan pada periode anak-anak adalah mempelajari berbagai kecakapan jasmani yang perlu untuk permainan sehari-hari, membina sikap sehat terhadap orang lain sebagai individu yang sedang tumbuh, belajar bergaul dengan teman sebaya, mempelajari peranan yang tepat sebagai anak pria atau wanita, mengembangkan kecakapan dasar dalam membaca, menulis, berhitung, mengembangkan konsep-konsep yang berguna dalam kehidupan sehari-hari,

mengembangkan kata hati, moralitas, dan skala nilai, mencapai kebebasan perorangan, mengembangkan sikap, dan kelompok lembaga sosial. c. Interaksi Belajar Mengajar di Taman Kanak-kanak Taman Kanak-kanak merupakan salah satu bentuk awal pendidikan sekolah. Usia empat sampai enam tahun, merupakan masa peka bagi anak. Anak mulai sensitif untuk menerima berbagai upaya perkembangan seluruh potensi anak. Masa peka adalah masa terjadinya pematangan fungsi-fungsi fisik dan psikis yang siap merespon stimulasi yang diberikan oleh lingkungan. Masa ini merupakan masa untuk meletakkan dasar pertama dalam mengembangkan kemampuan fisik, kognitif, bahasa, sosial emosional, konsep diri, disiplin, kemandirian, seni, moral, dan nilai-nilai agama. Oleh sebab itu dibutuhkan kondisi

22

dan stimulasi yang sesuai dengan kebutuhan anak agar pertumbuhan dan perkembangan anak tercapai secara optimal. Peran pendidik sangat diperlukan dalam upaya pengembangan potensi anak 4-6 tahun. Upaya pengembangan tersebut harus dilakukan melalui kegiatan bermain sambil belajar atau belajar seraya bermain. Dengan bermain anak memiliki kesempatan untuk bereksplorasi, menemukan,

mengekspresikan perasaan, berkreasi, belajar secara menyenangkan. Selain itu bermain membantu anak mengenal dirinya sendiri, orang lain dan lingkungan. (Depdiknas, 2004:4). Dalam kurikulum 2004, aspek-aspek perkembangan dipadukan dalam bidang pengembangan yang utuh yang mencakup bidang pengembangan pembiasaan dan bidang pengembangan kemampuan dasar. Penulis akan meneliti salah satu bidang pengembangan yaitu bidang pengembangan pembiasaan. Pembiasaan merupakan kegiatan yang dilakukan secara terus-menerus dan ada dalam kehidupan seharihari anak sehingga menjadi kebiasaan yang baik. Bidang pengembangan pembiasaan meliputi pengembangan moral, nilai-nilai agama, serta pengembangan sosial, emosional dan kemandirian. Program

pengembangan sosial dan kemandirian dimaksudkan untuk membina anak agar dapat mengendalikan emosinya secara wajar dan dapat berinteraksi dengan sesamanya maupun dengan orang dewasa dengan

23

baik serta dapat menolong dirinya sendiri dalam rangka kecakapan hidup. d. Kurikulum Taman Kanak-kanak Kurikulum untuk TK merupakan pedoman bagi para pendidik, orang tua, guru, orang dewasa lain untuk digunakan dalam rangka menstimulasi perkembangan anak. 1. Tujuan Taman Kanak-kanak Tujuan taman kanak-kanak yaitu membantu anak didik mengembangkan berbagai potensi baik psikis dan fisik yang meliputi moral dan nilai-nilai agama, sosial-emosional, kognitif, bahasa, fisik/motorik, kemandirian dan seni untuk siap memasuki pendidikan dasar (Depdiknas 2004:5). 2. Kompetensi Pendidikan Taman Kanak-kanak Kompetensi yang diharapkan dari pendidikan taman kanakkanak adalah tercapainya tugas-tugas perkembangan secara optimal sesuai dengan standar yang telah dirumuskan. Aspek-aspek perkembangan yang diharapkan dicapai meliputi aspek moral dan nilai-nilai agama, sosial, emosional, dan kemandirian, berbahasa, kognitif, fisik/motorik dan seni. Melalui pemberian rangsangan, stimulasi dan bimbingan, diharapkan akan meningkatkan

perkembangan perilaku dan sikap melalui pembiasaan yang baik, sehingga akan menjadi dasar utama dalam pembentukan pribadi anak

24

sesuai dengan nilai-nilai yang ada di masyarakat (Depdiknas 2004:8). 3. Strategi Pembelajaran Taman Kanak-kanak Strategi pembelajaran pada pendidikan taman kanak-kanak dilakukan dengan berpedoman pada suatu program kegiatan yang telah disusun sehingga seluruh pembiasaan dan kemampuan dasar yang ada pada anak dapat dikembangkan dengan sebaik-baiknya. Strategi pembelajaran pada taman kanak-kanak hendaknya

memperhatikan pada prinsip-prinsi sebagai berikut : a. Pembelajaran berorientasi pada prinsip-prinsip perkembangan anak. b. Berorientasi pada kebutuhan anak c. Bermain sambil belajar atau belajar seraya bermain d. Menggunakan pendekatan tematik e. Kreatif dan inofatif f. Lingkungan kondusif g. Mengembangkan kecakapan hidup (Depdiknas 2004:8) 4. Evaluasi Pendidikan Taman Kanak-kanak Penilaian pada Taman kanak-kanak dapat dilakukan dengan berbagai cara antara lain melalui pengamatan dan pencatatan anekdot. Pengamatan dilakukan untuk mengetahui perkembangan dan sikap anak yang dilakukan dengan mengamati tingkah laku anak dalam kehidupan sehari-hari secara terus menerus, sedangkan

25

pencatatan anekdot merupakan sekumpulan catatan tentang sikap dan perilaku anak dalam situasi tertentu. Adapun alat penilaian yang dapat digunakan untuk memperoleh gambaran perkembangan kemapuan dan perilaku anak, antara lain : a. Portofolio, yaitu penilaian berdasarkan kumpulan hasil kerja anak yang dapat menggambarkan sejauh mana ketrampilan anak berkembang b. Unjuk kerja, merupakan penilaian yang menuntut anak untuk melakukan tugas dalam perbuatan yang dapat diamati, misalnya menyanyi, olahraga, memperagakan sesuatu. c. Penugasan, merupakan tugas yang harus dikerjakan anak yang memerlukan waktu yang relatif lama dalam pengerjaannya. Misalnya melakukan percobaan menanam biji. d. Hasil karya, merupakan hasil kerja anak setelah melakukan suatu kegiatan (Depdiknas 2004:10). 3. Kemandirian a. Pengertian Kemandirian Kemandirian adalah suatu proses pertumbuhan dan proses perkembangan (Drost, 1998:19). Diungkapkan juga oleh Sukadji (1986:27), yang dimaksud kemandirian adalah kemampuan mengatur diri sendiri sesuai dengan hak dan kewajibannya, tidak tergantung pada orang lain sampai batas kemampuannya, mampu bertanggung jawab

26

atas keputusannya, tindakan dan perasaannya sendiri serta mampu membuang pola perilaku yang mengingkari kenyataan. Menurut Wahyuni (2001:71), menyatakan bahwa seorang anak merasa perlu untuk mandiri dan memang ada dorongan nalurinya untuk menjadi mandiri. Oleh sebab itu anak harus diberi kesempatan dan kebebasan untuk menjadi dirinya sendiri, agar ia dapat tumbuh dan berkembang secara fisik maupun psikis, sebagaimana mestinya. Dengan dorongan jiwanya sendiri, anak memang membutuhkan berbagai peluang dan kesempatan untuk menumbuhkan kepercayaan dirinya. Anak-anak tidak perlu dipaksa atau didesak agar menjadi mandiri. Kemandirian tumbuh sejalan dengan pertambahan usia dan setiap tekanan atau paksaan cenderung menghambat tumbuhnya kemandirian anak. Harus diingat, anak akan belajar mandiri apabila dia sudah cukup matang dan sudah ada dorongan dari dalam jiwanya untuk mandiri. Berdasarkan uraian diatas dapat disimpulkan bahwa

kemandirian adalah merupakan sikap kemampuan-kemampuan diri yang memungkinkan individu untuk bertindak bebas, melakukan sesuatu atas dorongan diri sendiri dan mampu mengatur diri sendiri sesuai dengan kewajibannya. b. Sikap Kemandirian Anak TK Menurut Bandura dalam Haditomo (1998:109), mengatakan bahwa tingkah laku itu dapat dipelajari melalui melihat. Jadi kemandirian itu dapat dipelajari melalui proses meniru tingkah laku

27

orang lain yang dilihat, baik dilakukan secara sadar maupun tidak sadar. Kemandirian adalah kemampuan untuk mampu berdiri sendiri di atas kaki sendiri dengan keberanian dan tanggung jawab sendiri. Jadi kemandirian adalah suatu keadaan dimana individu sudah tidak tergantung kepada orang lain atau sudah bisa berdiri diatas kaki sendiri, berani dan bertanggung jawab atas segala sesuatu yang dilakukannya sendiri. Dalam kurikulum 2004, Standar Kompetensi Taman KanakKanak disajikan kompetensi yang menunjukkan sikap, kemandirian anak usia Taman Kanak-Kanak, yakni sebagai berikut : 1. Anak dapat menunjukkan rasa percaya diri. Sikap ini dapat dilihat dalam kegiatan belajar sehari-hari seperti ; berani bertanya secara sederhana, mau mengemukakan pendapat secara sederhana, mampu mengambil keputusan secara sederhana. Mengerjakan tugas sendiri 2. Anak terbiasa menjaga kebersihan diri dan mengurus dirinya sendiri, sikap ini dapat ditunjukkan anak dalam kegiatan menggosok gigi, makan minum sendiri, memakai sepatu sendiri, berpakaian sendiri, memelihara milik sendiri. 3. Anak terbiasa menjaga lingkungan. Sikap ini ditunjukkan anak dalam kegiatan sehari-hari seperti membuang sampah pada tempatnya, tidak mencoret-coret tembok, membantu membersihkan lingkungan kelas.

28

4. Anak dapat bertanggung jawab. Sikap tersebut dapat dilihat waktu akan melaksanakan kegiatan sendiri sampai selesai, membersihkan peralatan makan selesai digunakan, merapikan mainan selesai bermain, mengembalikan alat-alat selesai bekerja.

4. Hubungan Pola Asuh terhadap Kemandirian Anak Taman Kanakkanak Penerapan pola asuh yang benar memberikan dampak yang positif terhadap sikap dan perilaku anak. Begitu pula kemandirian juga dipengaruhi oleh sikap orang tua terhadap anak. Dalam pola asuh orang tua yang bersifat otoriter segala sesuatunya harus taat dan patuh sesuai dengan apa yang telah ditentukan oleh orang tua, sehingga anak tidak boleh bahkan tidak bisa untuk berkutik barang sedikitpun. Maka pada pola asuh orang tua yang bersifat otoriter anak akan selalu merasa ketakutan. Menurut Baldwin (dalam bukunya Gerungan, 1981:190) mengatakan, bahwa makin otoriter orang tuanya, maka makin berkuranglah ketidaktaatan anak, tetapi akan makin banyak timbul sifat yang passivitet, kurang inisiatif, tidak dapat merencanakan sesuatu, daya tahan berkurang dan menjadi anak yang penakut. Dalam hubungannya dengan kemandirian, pola asuh otoriter kurang berhubungan dengan kemandirian karena sikap otoriter orang tua membuat anak merasa kurang percaya diri dan penakut sehingga anak kurang mandiri.

29

Pada orang tua yang bersifat demokratis, akan memberi kesempatan kepada anak untuk tumbuh dan berkembang sesuai dengan pertumbuhan dan perkembangan anak tersebut. Kecuali itu orang tua yang bersifat demokratis juga mau memberikan teguran kepada anaknya apabila anak tersebut salah, tetapi setelah memberikan teguran orang tua tersebut kemudian menjelaskan alasan-alasan apa yang seharusnya dilakukan oleh anak dengan memberikan arahan dan contoh-contoh. Dalam hubungannya dengan kemandirian, pola asuh demokratis mempunyai hubungan yang baik dengan kemandirian anak karena adanya sikap demokratis dari orang tua membuat anak lebih percaya diri dan mandiri. Pola asuh orang tua yang bersifat laizzes faire, yaitu dimana orang tua akan membiarkan anak untuk mengerjakan apa saja yang ia kehendaki, orang tua berpendapat bahwa anak nanti akan dapat belajar sendiri hal-hal yang mana yang baik dan mana yang kuran baik, sesuai dengan akibat dari perbuatannya sendiri (Windradini, 1985:110). Dalam hubungannya dengan kemandirian, pola asuh laissez-faire kurang berhubungan dengan kemandirian karena anak cenderung menjadi kurang bertanggung jawab dan semaunya sendiri sehingga anak kurang mandiri. Hal ini sesuai dengan pendapat Hurlock (1973:256) dimana pada pola asuh ini orang tua tidak memberikan bimbingan bagi kebaikan anak, karena orang tua cenderung menganggap bahwa perbuatan yang baik akan dipelajari oleh anak dari perbuatan yang salah. Hal ini terkadang menjadi

30

dilema bagi anak. Dengan tidak adanya bimbingan dari orangtua, penilaian terhadap perbuatan yang baik dan buruk akan dinilai secara individual oleh anak tersebut. Jadi anak akan menganggap bahwa perbuatannya adalah benar, sehingga tanggung jawab terhadap dirinya sendiri akan menjadi kurang.

B. HIPOTESIS Hipotesis dalam penelitian ini yang akan di uji adalah sebagai berikut : a. H0 : Tidak ada hubungan antara pola asuh orang tua dengan kemandirian anak di Taman Kanak-kanak Pangudi Luhur Bernardus Semarang Tahun Ajaran 2004 / 2005. b. H1 : Ada hubungan antara pola asuh orang tua dengan kemandirian anak di Taman Kanak-kanak Pangudi Luhur Bernardus Semarang Tahun Ajaran 2004 / 2005.

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

Metodologi penelitian merupakan cara atau langkah yang harus ditempuh dalam suatu penelitian ilmiah untuk memperoleh data guna menguji atau membuktikan kebenaran suatu fenomena atau gejala. Agar dapat mencapai tujuan penelitian yang telah ditentukan serta hasilnya dapat dipercaya maka dalam penelitian perlu menggunakan langkah-langkah dan metode yang sistematis.

A. POPULASI Populasi adalah keseluruhan subyek penelitian, apabila ingin meneliti semua elemen yang ada keseluruhan subyek penelitian (Arikunto, 1996:115). Populasi adalah sejumlah individu yang paling sedikit mempunyai satu sifat yang sama (Hadi, 1988:220). Dalam penelitian ini populasi yang dimaksud adalah anak sekolah Taman Kanak-kanak Pangudi Luhur Bernardus Semarang sejumlah 160 anak. Adapun sumber data yang digunakan adalah anak-anak TK dan orang tua/wali. B. SAMPEL Sampel adalah sebagian dari populasi (Hadi, 2000:221). Dalam penelitian ini penulis menggunakan teknik pengambilan sampel dengan teknik cluster quota random sampling, yang mana dalam menarik sampel penulis memberikan kesempatan yang sama kepada setiap anggota populasi untuk menjadi sampel, dan akan diambil 10% - 15% jika populasi lebih dari 100 orang

31

32

dan 20% - 25% jika populasi kurang dari 100 orang. Untuk masing-masing kelas sampel yang dijadikan responden yakni, meliputi : a. Kelas B1 41 b. Kelas B2 40 c. Kelas B3 40 d. Kelas B4 39 x x x x 15% = 15% = 15% = 15% = = 6 6 6 6 + 24

Jumlah

C. VARIABEL PENELITIAN Dalam penelitian diperlukan adanya teori yang mendasarinya. Dengan landasan teori yang ada akan dapat menentukan data-data yang dibutuhkan sebagai obyek penelitian serta dirumuskannya suatu hipotesis agar data yang dibutuhkan tepat, maka dibutuhkan variabel-variabel yang diteliti. Variabel didefinisikan sebagai gejala yang bervariasi misalnya jenis kelamin, karena jenis kelamin mempunyai variasi : laki-laki dan perempuan. Gejala adalah obyek penelitian, sehingga variabel adalah obyek penelitian yang bervariasi (Hadi dalam Arikunto, 1998:70). Senada dengan Hadi, Kerlinger (dalam Arikunto, 1998:97)

menyebutkan variabel sebagai sebuah konsep seperti halnya laki-laki dalam konsep jenis kelamin, insaf dalam kesadaran. Variabel menurut fungsinya dibedakan sebagai variabel tergantung dan variabel bebas. Variabel tergantung biasanya mengikuti variabel bebas, artinya segala sesuatu yang terjadi pada variabel tergantung (terikat), karena pengaruh dari variabel bebas.

33

1. Identifikasi Variabel-variabel Penelitian Pada penelitian ini mengungkap dua variabel yaitu : a) Variabel Bebas Variabel bebas adalah variabel yang mempengaruhi disebut juga variabel penyebab (Arikunto, 1998:101). Variabel bebas dalam penelitian ini adalah pola asuh orang tua. b) Variabel Tergantung Variabel tergantung adalah variabel yang dipengaruhi atau variabel akibat (Arikunto, 1998:101). Variabel tergantung dalam penelitian ini adalah kemandirian anak Taman Kanak-kanak Bernardus.

2. Definisi Operasional Setiap variabel dalam penelitian perlu memiliki definisi operasional supaya dapat digunakan dalam penelitian, khususnya dalam pengumpulan data dan dalam penyusunan instrumen, sehingga variabel tersebut dapat diamati dan diukur a) Pola asuh orang tua Pola asuh orangtua adalah cara dan sikap serta perilaku orang tua dalam mendidik anak. Data mengenai pola asuh orangtua diungkap dengan menggunakan skala pola asuh orangtua dengan ciri-ciri sebagai berikut : 1) Pola asuh Otoriter 2) Pola asuh demokratis

34

3) Pola asuh laissez-faire Bila skor yang diperoleh individu dalam skala ini tinggi berarti pola asuh orangtua mengarah pada bentuk otoriter, sebaliknya apabila skor yang diperoleh rendah maka berarti mengarah pada pola asuh laissiez-faire.

b) Kemandirian Kemandirian anak adalah kemampuan mengatur diri sendiri sesuai dengan hak dan kewajibannya, tidak tergantung pada orang lain sampai batas kemampuannya, mampu bertanggung jawab atas keputusannya, tindakan dan perasaannya sendiri serta mampu membuang pola perilaku yang mengingkari kenyataan. Data mengenai kemandirian anak diperoleh dari data observasi secara langsung yang dilakukan oleh guru kelas. Semakin tinggi nilai observasi dari siswa menunjukkan semakin tinggi kemandirian anak tersebut. Adapun aspek-aspek yang akan diteliti adalah :
1 Dapat menunjukkan rasa percaya diri - Berani bertanya secara sederhana - Berani tampil di depan umum atau di depan kelas - Mau mengemukakan pendapat secara sederhana - Mampu mengambil keputusan secara sederhana - Tidak putus asa jika mengalami kesulitan

35

- Mempu mengerjakan tugas sendiri - Tidak mudah terpengaruh pada orang lain 2 Anak terbiasa menjaga kebersihan diri dan mengurus dirinya sendiri - Menggosok gigi sendiri - Makan, minum sendiri tanpa bantuan orang lain - Memakai sepatu sendiri - Memelihara milik sendiri - Mencuci tangan sendiri sampai bersih - Mamakai pakaian sendiri 3 Terbiasa menjaga lingkungan - Membuang sampah pada tempatnya - Tidak mencoret-coret tembok - Membantu membersihkan lingkungan kelas 4 Dapat bertanggung jawab - Melaksanakan kegiatan sendiri sampai selesai - Membersihkan peralatan makan selesai digunakan - Merapikan mainan selesai bermain - Mengembalikan alat-alat selesai bekerja

Aspek-aspek tersebut di atas akan digunakan sebagai instrumen dalam metode observasi dalam rangka meneliti kemandirian anak TK di sekolah

36

D. Metode Pengumpulan Data Metode pengambilan data yang dipergunakan dalam penelitian ini ada dua macam yaitu metode observasi dan metode skala. Metode observasi dalam penelitian ini untuk mengungkap kemandirian anak, sedangkan metode skala dalam penelitian ini untuk mengungkap pola asuh orangtua anak 1. Metode Obserasi Observasi atau pengamatan digunakan dalam rangka mengumpulkan data dalam suatu penelitian, merupakan hasil perbuatan jiwa secara aktif dan penuh perhatian untuk menyadari adanya perbuatan jiwa secara aktif dan penuh perhatian untuk menyadari adanya suatu rangsangan tertentu yang diinginkan. (Mardalis, 1999:63). Manurut Arikunto (1998:16) observasi atau disebut pula dengan pengamatan meliputi kegiatan pemuatan perhatian terhadap sesuatu obyek dengan menggunakan seluruh alat indra. Jadi mengobservasi dapat dilakukan melalui penglihatan, penciuman, pendengaran, peraba, dan pencecap. Apa yang dikatakan ini sebenarnya adalah pengamatan langsung. 1. Observasi non sistematis, yang dilakukan oleh pengamat dengan tidak menggunakan instrumen pengamatan. 2. Observasi sistematis, dilakukan oleh pengamat dengan menggunakan pedoman sebagai instrumen Observasi dalam penelitian ini berisi daftar beberapa kegiatan yang akan diamati terhadap anak TK. Masing-masing observasi memiliki beberapa alternatif jawaban. Aspek-aspek observasi yang diteliti adalah sebagai berikut :

37

Tabel 3.1 Rancangan Observasi Kemandirian Siswa No 1 Aspek yang diobservasi Selalu Sering Kadang Tidak -kadang pernah

Dapat menunjukkan rasa percaya diri 1.1 - Berani bertanya secara sederhana 1.2 - Berani tampil di depan umum atau di depan kelas 1.3 - Mau mengemukakan pendapatan secara sederhana 1.4 - Mampu mengambil keputusan secara sederhana 1.5 - Tidak putus asa jika mengalami kesulitan 1.6 - Mempu mengerjakan tugas sendiri 1.7 - Tidak mudah terpengaruh pada orang lain 2 Anak terbiasa menjaga kebersihan diri dan mengurus dirinya sendiri 2.1 Menggosok gigi sendiri 2.2 Makan, minum sendiri tanpa bantuan orang lain 2.3 Memakai sepatu sendiri 2.4 Memelihara milik sendiri 2.5 Mencuci tangan sendiri sampai bersih 2.6 Memakai pakaian sendiri 3 Terbiasa menjaga lingkungan 3.1 Membuang sampah pada tempatnya 3.2 Tidak mencoret-coret tembok 3.3 Membantu membersihkan lingkungan kelas Dapat bertanggung jawab 4.1 Melaksanakan kegiatan sendiri sampai selesai 4.2 Membersihkan peralatan makan selesai digunakan 4.3 Merapikan mainan selesai bermain 4.4 Mengembalikan alat-alat selesai bekerja
Skor Total Skor

4

Sumber : Kurikulum 2004 Standar Kompetensi Taman Kanak-Kanak

38

Instrumen suatu penelitian harus mempunyai validitas. Dalam penelitian ini instrumen yang digunakan adalah observasi, maka observasi sudah termasuk dalam content validity. Untuk menyusun instrumen kemandirian yang mempunyai validitas isi (content validity), maka item dalam observasi harus disusun berdasarkan yang telah disesuaikan dengan Kurikulum 2004 Standar Kompetensi Taman Kanak-Kanak. . b. Metode Skala Metode pengumpulan data untuk mengungkap pola asuh orangtua dapat diketahui dengan menggunakan metode skala atau angket. Metode angket merupakan sekumpulan pertanyaan atau pernyataan yang meminta tanggapan dari obyek penelitian. Pada dasarnya pemakaian alat ukur berupa skala dan angket memiliki kesamaan dalam hal asumsi, kelebihan maupun kelemahan. karena itu maka penulis memakai alasan penggunaan metode angket menurut Hadi (1994:157) bahwa skala adalah suatu metode yang mendasarkan diri pada laporan tentang diri sendiri atau self reports atau setidaknya pada pengetahuan dan atau keyakinan pribadi. Alasan-alasan atas penggunaan metode skala / angket ini adalah : 1) Kenyataan subyek adalah orang yang paling tahu tentang dirinya 2) Asumsi bahwa apa yang dinyatakan oleh subyek kepada peneliti adalah benar dan dapat dipercaya 3) Angkat dapat menjelaskan interpretasi subyek tentang pertanyaan yang dimaksudkan oleh penyelidik.

39

Setiap metode pasti mempunyai kelemahan, seperti diungkapkan oleh Hadi (1984:162), metode angket memiliki kelemahan, yaitu : 1) Unsur-unsur yang tidak disadari tidak dapat terungkap 2) Besar kemungkinan jawaban dipengaruhi oleh keinginan-keinginan pribadi 3) Adanya hal-hal yang dirasa tidak perlu dipertanyakan, misalnya hal-hal yang memalukan atau dipandang tidak penting untuk dikemukakan. 4) Kesukaran merumuskan dari diri sendiri ke dalam bahasa. 5) Adanya kecenderungan untuk mengkonstruksikan secara logik unsurunsur yang dirasa kurang berhubungan secara logik. Untuk mengatasi kelemahan-kelemahan tersebut, maka perlu dilakukan beberapa hal, (Hadi, 1984:163) menyatakan antara lain : 1) Dalam petunjuk-petunjuk mengerjakan atau menjawab perlu

dihindarkan kata-kata yang mengandung perintah atau permintaan yang memaksa. 2) Melakukan proses uji coba atau try out preliminer (Arikunto, 1990:196). Maksud dari uji coba atau try out adalah : a. Untuk menghindari pernyataan-pernyataan yang kurang jelas

maksudnya. b. c. Untuk memadukan kata-kata yang menimbulkan kecurigaan. Untuk memperbaiki pernyataan yang mungkin menimbulkan jawaban yang dangkal.

40

d.

Untuk menambah item yang sangat perlu atau memadukan item yang ternyata tidak relevan dengan tujuan penelitian.

Hadi (1994:157) menyatakan untuk mengatasi kelemahan-kelemahan penyusunan angket dalam penelitian ini diupayakan : 1) Menggunakan bahasa yang sederhana, sehingga subyek mengerti halhal tersebut 2) Subyek tidak diwajibkan untuk menulis namanya. Sehingga subyek tidak perlu kuatir dan takut bahwa hal-hal yang ada pada dirinya akan diketahui orang lain. 3) Jawaban terdiri dari beberapa pilihan jawaban, subyek tinggal memilih salahsatu jawaban yang paling sesuai dengan keadaan dirinya, sehingga subyek tidak perlu merumuskan jawabannya. Skala ini bertujuan untuk mengungkap pola asuh orangtua siswa, yang langsung ditujukan pada orangtua siswa yang bersangkutan sebagai subjek penelitian. Skala ini disusun berdasarkan 3 bentuk atau ciri-ciri pola asuh yang dengan item berjumlah 60 item. Ciri-ciri tersebut adalah : 1) Otoriter, 2) Demokratis, 3) Laissez faire. Skala disajikan dalam bentuk pilihan jawaban dan memiliki 2 kelompok item yaitu item favourabel dan kelompok item unfavourabel. Untuk setiap item terdiri dari 4 alternatif jawaban yaitu tidak pernah ( TP ), kadang-kadang (KD), sering (SR ), dan selalu ( SL ) Skor jawaban untuk item fovourabel bergerak dari 4 untuk jawaban selalu, skor 3 untuk sering, 2 untuk kadang-kadang, dan 1 untuk tidak pernah. Adapun kelompok jawaban item unfovariabel, skor jawaban

41

bergerak dari 1 untuk jawaban selalu, skor 2 untuk sering, 3 untuk kadangkadang, dan 4 untuk tidak pernah Rancangan skala pola asuh orangtua dapat dilihat pada tabel berikut ini : Tabel 3.2. Rancangan skala Pola Asuh Orang Tua Pola asuh Otoriter Sub Indikator No. Item
Favorable Unfavorable

Jumlah 4 4 4 4 4 4 4 4

a. Anak harus selalu menuruti kemauan orangtua b. Tidak ada kebebasan pada anak c. Anak ditakut-takuti dengan hukuman d. Pemberian hukuman fisik e. Kurang adanya penghargaan yang diberikan kepada anak Demokratis a. Adanya komunikasi antara anak dan orangtua b. Pengawasan dilakukan demi perkembangan pribadi anak c. Anak cukup diberi kebebasan dan anak tidak dikekang namun dengan batas tertentu d. Adanya peraturan yang sudah ditentukan untuk ditaati bersama e. Pemberian penghargaan kepada anak Laisez faire a. Adanya kebebasan berbuat pada anak b. Anak tidak harus tunduk pada orangtua c. Orangtua tidak perlu menentukan perilaku anak d. Orangtua tidak mendorong anak untuk patuh e. Pemberian materi sebagai keutamaan Jumlah Sumber : Dikembangkan untuk penelitian

1, 31 2, 32 3, 33 4, 34 5, 35 6, 36 7, 37 8, 38

16, 46 17, 47 18, 48 19, 49 20, 50 21, 51 22, 52 23, 53

9, 39

24, 54

4

10, 40 11, 41 12, 42 13, 43 14, 44 15, 45

25, 55 26, 56 27,57 28, 58 29, 59 30, 60

4 4 4 4 4 4 60

42

E. Pengujian Instrumen 1. Validitas Validitas merupaakan ketepatan antara gagasan variabel dengan ukurannya. Menurut Azwar (1986:55), suatu alat yang dikatakan valid

apabila mampu secara cermat menunjuk ukuran besar kecilnya dan gradasi suatu gejala. Sebelum item-item pertanyaan berupa kuesioner maupun soal digunakan dalam penelitian, terlebih dahulu harus diuji validitas (kesahihan) dan reliabilitasnya. Jika terdapat item-item yang tidak valid, maka item tersebut tidak dapat digunakan untuk penelitian selanjutnya. Suatu instrument yang valid itu mempunyai kesejajaran dengan skor total yang diketahui dengan korelasi product moment, adapun rumus tersebut sebagai berikut:
n ∑ XY − (∑ X )(∑ Y ) (n ∑ X 2 − (∑ X ) 2 )( n ∑ Y 2 − (∑ Y ) 2

rxy =

Keterangan : Rxy = koefisien korelasi antar variable xdan y X = jumlah nilai x (skor item) Y = jumlah nilai y (skor item) N = jumlah sample Untuk menentukan valid tidaknya suatu item kuesioner adalah dengan membandingkan nilai korelasi dengan r tabel untuk α = 5%.. Jika nilai r pq lebih besar dari r tabel maka akan diperoleh suatu item yang valid.

43

2.

Reliabilitas Reliabilitas adalah alat pengumpul data yang pada dasarnya menunjukan tingkat keajegan alat tersebut dalam mengungkap gejala tertentu dari kelompok individu walaupun dilakukan pada waktu berbeda. Dalam penelitian ini dalam mencari reliabilitas menggunakan scale Alpha yang dapat dilihat dan dikoreksikan pada table Reliability AnalysisScale (Alpha). Perhitungan Scale Alpha untuk instrumen-instrumen yang digunakan adalah sebagai berikut.
2  k  1 − ∑ σ b   r11 =  2   k − 1  σ t 

   

Keterangan : R1I = reliabilitas instrumen K = jumlah item pertanyaan 2 Σσ b = varian butir σ2t = varian total

F. Metode Analisa Data Untuk mengetahui ada tidaknya hubungan antara pola asuh orang tua dengan kemandirian anak Taman Kanak-kanak Pangudi Luhur Bernardus digunakan metode analisa korelasi product moment (Hadi, 1987:273). Korelasi product moment melukiskan hubungan antara dua gejala interval. Gejala interval adalah gejala yang menggunakan skala pengukuran yang berjarak sama. Adapun Rumus Product Moment dari Pearson adalah sebagai berikut :

44

rXY

 ∑ X2  

( X )( Y ) ∑ XY − ∑ N∑ ( X )  ( Y)  ∑ Y − ∑ − ∑
2

2

N

 

2

N

   

Keterangan : rXY ΣXY ΣX ΣY N = = = = = Koefisien korelasi prediktor (X) dengan kriterium (Y). Produk dari variabel bebas (X) dan variabel terikat (Y). Produk dari variabel bebas (X) Produk dari variabel terikat (Y). Jumlah responden (Suharsimi, 1993 : 220).

Untuk mengetahui hipotesis penelitian diterima atau ditolak, maka perlu dikonsultasikan dengan kaidah Uji Hipotesis dengan ketentuan sebagai berikut : 1). Jika r0 ≥ rts 5% : Korelasi dinyatakan signifikan, atau hipotesis

penelitian diterima. 2). Jika r0 < rts 5% : Korelasi dinyatakan tidak atau hipotesis penelitian ditolak.

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

Dalam bab ini akan dikemukakan hal-hal yang sudah dilakukan maupun yang telah dicapai dari penelitian ini. Untuk itu lebih jelasnya akan dikemukakan langkah-langkah penelitian secara berurutan berikut ini :

A. PERSIAPAN PENELITIAN 1. Persiapan perijinan Persiapan merupakan langkah awal yang harus dilakukan dalam penelitian ini. Sehubungan dengan persiapan penelitian, maka peneliti menempuh langkah-langkah sebagai berikut : a. Sebelum mengadakan penelitian, peneliti minta surat ijin penelitian dari Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Universitas Negeri Semarang b. Setelah diperoleh surat ijin penelitian. Peneliti minta ijin kepada Kepala TK Pangudi Luhur Bernardus Semarang untuk mengadakan penelitian di sekolah tersebut. Setelah diperoleh ijin dari pihak TK, selanjutnya peneliti menentukan sampel yang akan digunakan dalam penelitian dan kemudian memberikan angket kepada siswa tersebut untuk diberikan kepada orangtua mereka, dan memintanya untuk dikembalikan pada keesokan harinya.

45

46

2. Pengumpulan Data Penelitian Pengumpulan data penelitian ini diperoleh melalui pengebaran angket dan observasi kemandirian siswa. Selanjutnya hasil jawaban angket dan observasi ditabulasi untuk mendapatkan skor dari masing-masing variabel pada masing-masing siswa.

3. Pengujian Validitas dan Reliabilitas Instrumen Pengujian validitas dan reliabilitas instrumen dilakukan untuk mengetahui kehandalan dari angket yang digunakan. Pengujian ini dilakukan terlebih dahulu untuk memastikan bahwa data yang diperoleh merupakan data yang baik. a. Validitas angket. Angket yang akan dipergunakan untuk penelitian harus memenuhi standar validitas. Sedangkan yang dimaksud kevalidan atau kesahihan suatu instrumen (angket) adalah kondisi dimana instrumen tersebut layak dipergunakan untuk mengukur tinggi rendahnya suatu pengukuran variabel. Dalam hal ini soal yang digunakan adalah berupa 60 item pernyataan yang diberikan kepada 24 orang tua siswa. Pengujian validitas instrumen menggunakan rumus korelasi product moment yang merupakan korelasi antara jawaban dari item soal yang akan diuji dengan skor totalnya. Jika terdapat korelasi yang cukup tinggi atau lebih besar dari nilai r tabel untuk n = 24 maka item yang diuji dinyatakan valid. Sebaliknya jika korelasi item – total tersebut lebih

47

kecil dari nilai r tabel maka item tersebut dinyatakan tidak valid yang berarti item tersebut tidak diikutsertakan dalam analisis selanjutnya. Rumus product moment yang digunakan untuk menguji validitas instrumen mengenai sikap siswa adalah sebagai berikut : N ∑ XY − (∑ X ) (∑ Y ) ( N ∑ X 2 − (∑ X ) 2 ) ( N

rXY

=

∑Y

2

− (∑ Y ) 2 )

Keterangan : rxy : koefisien korelasi tiap item ΣX : jumlah skor tiap item ΣY : jumlah skor total N : jumlah responden (Suharsimi Arikunto, 1993:138) Dengan menggunakan rumus tesebut di atas menghasilkan validitas item angket, hasilnya dapat dilihat pada Lampiran, hasil tersebut

dikonsultasikan pada tabel nilai r product moment dengan taraf signifikan 5%, bila nilai r hitung > r tabel untuk n = 24 yaitu sebesar 0,404, maka item pertanyaan adalah valid dan sebaliknya apabila r hitung < r tabel dikatakan tidak valid. Hasil selengkapnya pada tabel berikut ini.

48

Contoh Perhitungan Validitas Untuk item 1 Dari tabel dip eroleh : ΣX ΣX2 ΣXY ΣY ΣY2 n = 46 = 100 = 7263 = 3712 = 583468 = 24

rxy =

n ∑ XY − (∑ X )(∑ Y ) (n ∑ X 2 − (∑ X ) 2 )(n ∑ Y 2 − (∑ Y ) 2 24 (7263) − (46)(3712) (24(100) − (46) 2 ) (24(583468) − (3712) 2 ) 174312 - 170752 (2400 − 2116) (14003232 -13778944) 3560 = 0,446 63697792

=

=

=

Perhitungan selengkapnya untuk keseluruhan instrumen penelitian ini ada pada lampiran. Secara ringkas hasil tersebut disajikan pada tabel berikut ini.

49

Tabel 4.1. Hasil Perhitungan Validitas Angket Pola Asuh . No r Keterangan No 1 0.446 Valid 31 2 0.514 Valid 32 3 0.501 Valid 33 4 0.486 Valid 34 5 -0.021 Tidak Valid 35 6 0.705 Valid 36 7 0.449 Valid 37 8 0.696 Valid 38 9 0.633 Valid 39 10 0.491 Valid 40 11 0.510 Valid 41 12 0.474 Valid 42 13 0.473 Valid 43 14 -0.020 Tidak Valid 44 15 0.458 Valid 45 16 0.414 Valid 46 17 0.490 Valid 47 18 0.540 Valid 48 19 0.446 Valid 49 20 -0.073 Tidak Valid 50 21 0.429 Valid 51 22 -0.202 Tidak Valid 52 23 0.442 Valid 53 24 0.422 Valid 54 25 0.505 Valid 55 26 0.475 Valid 56 27 0.412 Valid 57 28 -0.350 Tidak Valid 58 29 0.442 Valid 59 30 0.464 Valid 60 Sumber : Data primer yang diolah r 0.687 0.443 0.462 -0.043 0.419 0.406 0.448 0.462 0.454 0.555 0.058 0.442 0.408 0.455 0.463 0.471 0.463 0.428 0.532 -0.478 0.440 0.423 0.483 0.440 0.438 0.463 0.444 -0.181 0.578 0.546 Keterangan Valid Valid Valid Tidak Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Tidak Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Tidak Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Tidak Valid Valid Valid

Setelah dihitung ternyata diperoleh 9 item dinyatakan tidak valid karena memiliki nilai korelasi di bawah 0,404. Dengan demikian 51 item yang layak digunakan untuk penelitian ini. Dengan demikian sebaran item yang valid dari penggunaan instrumen sebelumnya dapat disajikan sebagai berikut :

50

Tabel 4.2. Rancangan skala Pola Asuh Orang Tua Pola asuh Otoriter Sub Indikator No. Item
Favorable Unfavorable

Jumlah 4 4 4 3 1 4 3 4

a. Anak harus selalu menuruti kemauan orangtua b. Tidak ada kebebasan pada anak c. Anak ditakut-takuti dengan hukuman d. Pemberian hukuman fisik e. Kurang adanya penghargaan yang diberikan kepada anak Demokratis a. Adanya komunikasi antara anak dan orangtua b. Pengawasan dilakukan demi perkembangan pribadi anak c. Anak cukup diberi kebebasan dan anak tidak dikekang namun dengan batas tertentu d. Adanya peraturan yang sudah ditentukan untuk ditaati bersama e. Pemberian penghargaan kepada anak Laisez faire a. Adanya kebebasan berbuat pada anak b. Anak tidak harus tunduk pada orangtua c. Orangtua tidak perlu menentukan perilaku anak d. Orangtua tidak mendorong anak untuk patuh e. Pemberian materi sebagai keutamaan Jumlah Sumber : Data primer yang diolah .

1, 31 2, 32 3, 33 4 35 6, 36 7, 37 8, 38

16, 46 17, 47 18, 48 19, 49

21, 51 52 23, 53

9, 39

24, 54

4

10, 40 11 12, 42 13, 43 44 15, 45

25, 55 26, 56 27,57

4 3 4 2

29, 59 30, 60

3 4 51

Sedangkan untuk variabel kemandirian siswa yang diperoleh dari penilaian observasi terhadap 20 item pernyataan, dengan pengujian

51

validitas dengan korelasi product moment diperoleh hasil sebagai berikut : Tabel 4.3 Hasil Perhitungan Validitas Observasi Kemandirian Siswa No r Ket 1 0.459 Valid 2 0.655 Valid 3 0.484 Valid 4 0.512 Valid 5 0.473 Valid 6 0.586 Valid 7 0.431 Valid 8 0.458 Valid 9 0.426 Valid 10 0.470 Valid 11 0.493 Valid 12 0.637 Valid 13 0.502 Valid 14 0.567 Valid 15 0.559 Valid 16 0.465 Valid 17 0.768 Valid 18 0.455 Valid 19 0.643 Valid 20 0.640 Valid Sumber : Data primer yang diolah Diperoleh bahwa 20 item obserasi variabel kemandirian siswa menunjukkan sebagai item yang valid karena memiliki nilai korelasi di atas 0,404. Dengan demikian seluruh item observasi kemandirian siswa layak digunakan untuk penelitian ini.

2. Reliabilitas Test Sebelum digunakan untuk pengumpulan data, alat ukur yang akan dipergunakan perlu diuji cobakan terlebih dahulu reliabilitasnya. Reliabilitas yaitu tingkat keajegan alat ukur meskipun dilakukan dalam

52

waktu yang berbeda (Arikunto, 1998:138). Untuk menentukan reliabilitas dalam penelitian ini menggunakan rumus Alpha. Hasil pengujian reliabilitas selengkapnya dapat dilihat pada Lampiran dan hasilnya diringkas pada tabel berikut ini

Tabel 4.4. Nilai Reliabilitas Soal Soal Pola Asuh Orangtua Reliabilitas 0,9316 R tabel 0,404 0,404 Keterangan Reliabel Reliabel

Kemandirian Siswa 0,8650 Sumber : Data primer yang diolah

Berdasarkan hasil tersebut di atas dapat disimpulkan bahwa instrumen yang digunakan untuk mengumpulkan data telah memenuhi syarat sebagai soal yang reliabel.

B. ANALISA DATA Setelah semua memenuhi syarat validitas dan reliabilitas, maka langkah selanjutnya adalah menguji ada tidaknya hubungan antara pola asuh orangtua dengan kemandirian siswa. Pola asuh orangtua dihitung berdasarkan 51 item angket yang valid sedangkan kemandirian siswa dihitung dari seluruh 20 itemnya. Tabulasi data dan hasil perhitungan selanjutnya akan disajikan berikut ini.

53

r XY


 ∑ X  
2

XY −

(∑ X )(∑ Y )
N
2 2

( ∑ X )   ∑ Y −  N 

(∑ Y ) 2   −  N 

215749 =   453276  

(3260)(157 5) 24 2 (3260)   (1575)   1575  24 24  215749 - 213937.50

2

   

=

(453276 − 442816.67) (104193 1811.5 8719161.75 1811.5 2952.82

- 103359.38)

=

=

= 0.613

Jadi besarnya hubungan antara X (pola asuh orangtua) dengan kemandirian siswa adalah sebesar 0,613. Untuk menguji keberartian besarnya hubungan tersebut maka nilai tersebut harus dibandingkan dengan nilai r tabel untuk n = 24 yaitu diperoleh sebesar 0,404. Karena nilai ry1 (0,613) > r tabel (0,404) maka dapat disimpulkan terdapat adanya hubungan yang bermakna antara pola asuh orangtua dengan kemandirian siswa.

54

Nilai korelasi sebesar 0,613 masuk dalam kategori cukup tinggi. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa pola asuh orangtua memiliki hubungan yang cukup tinggi dengan kemandirian siswa.

C. PEMBAHASAN Hasil penelitian ini menunjukkan diperolehnya nilai korelasi yang

cukup tinggi antara pola asuh orangtua dengan kemandirian siswa dimana diperoleh nilai korelasi sebesar 0,613. Hal ini menunjukkan bahwa kemandirian siswa dapat ditentukan oleh polaasuh orangtua. Sedangkan nilai korelasi sebesar 0,613 memberikan indikasi adanya hubungan yang cukup tinggi antara pola asuh orangtua dengan kemandirian siswa. Hasil penelitian ini menunjukkan satu implikasi akan perlunya pemberian toleransi kepada anak untuk diberikan beberapa kebebasan dengan bimbingan yang baik. Model pengekangan atau pola asuh otoriter pada orangtua akan cenderung tidak memacu anak-anak untuk melakukan segala sesuatunya secara mandiri. Dalam hal ini anak harus diberi bimbingan dan pengarahan untuk dapat merangsang jiwa kemandirian anak. Sejak usia masih kecil, anak perlu dididik dengan pola asuh yang tidak mengekang namun juga tidak membiarkan anak bertindak semaunya. Kemandirian anak sudah harus ditumbuhkan pada usia pra sekolah agar kepercayaan diri anak dapat tumbuh dan berkembang dengan wajar. Seorang anak merasa perlu untuk mandiri dan hal ini dapat diberikan dalam pola pengasuhan orangtua.

55

Untuk itu orangtua harus dengan bijaksana dalam memutuskan bentuk pola asuh yang sesuai untuk perkembangan anak. Karena pola asuh yang kurang tepat yang diberikan kepada anak, akan menciptakan satu bentuk perilaku kemandirian yang kurang pada diri anak, dan selanjutnya akan berakibat kurang baik pada anak. Dalam pola asuh orangtua yang bersifat otoriter segala sesuatunya harus taat dan patuh sesuai dengan apa yang telah ditentukan oleh orangtua, sehingga anak tidak boleh bahkan tidak bisa berkutik sedikitpun. Sebagimana dinyatakan oleh Baldwin dalam Gerungan (1981:190) bahwa semakin otoriter sikap orangtua, maka anak akan semakin timbul sifat passivitet, kurang inisiatif, tidak dapat merencanakan sesuatu, daya tahan berkurang dan anak menjadi penakut. Hal ini tentunya akan mengganggu kemandirian anak. Pada pola asuh demokratis, ada kemungkinnan akan memberi kesempatan kepada anak untuk tumbuh dan berkembang sesuai dengan kebutuhannya, namun pola ini juga memberikan keterbatasan berupa teguran kepada anak apabila anak dinilai salah selain memberikan arahan dan contohcontoh perilaku. Sikap ini akan memungkinkan anak memiliki sifat mandiri, percaya diri dan mampu melakukan sesuatu dengan pertimbangan sendiri dengan adanya tanggung jawabnya terhadap tindakannya Pada pola asuh laizes faire, dimana orangtua membiarkan perilaku anak mereka tanpa batasan yang jelas akan membuat anak tidak memiliki tanggung jawab terhadap dirinya sendiri, sehingga kemandirian yang dimiliki oleh anak kurang akan seimbang.

56

BAB V PENUTUP

A. KESIMPULAN Berdasarkan hasil analisa data dan pembahasan pada bab IV, maka dapat disimpulkan sebagai berikut : Pola asuh orangtua memiliki hubungan yang cukup tinggi dengan kemandirian anak dimana diperoleh nilai korelasi sebesar 0,613. Hal ini menunjukkan akan perlunya pemberian sedikit toleransi kepada anak untuk diberikan pola asuh yang benar agar dapat memicu anak untuk dapat melakukan segala sesuatunya secara mandiri.

B. SARAN-SARAN Dari serangkaian hasil penelitian dan analisanya ada beberapa hal yang dapat peneliti sarankan : 1. Bagi orangtua, diharapkan agar lebih meningkatkan sikap positif terhadap program-program dalam rangka mendidik anak untuk kemandirian yang besar. 2. Bagi orang tua, agar dapat mendampingi putra-putrinya belajar dan membimbing mereka untuk menentukan cara atau jalan mereka yang terbaik. Bagi pendidik, diharapkan mampu memberikan contoh dan perilaku mandiri kepada siswa untuk bisa diterapkan oleh siswa, baik di rumah maupun di sekolah..

56

57

DAFTAR PUSTAKA

Abu, 1990, Psikologi Sosial, Jakarta : Rineka Cipta. Buchori, Mochtar, 2001, Pendidikan Antisipatoris, Yogyakarta : Kanisius. Depdikbud, 1994, Program Kegiatan Belajar Taman Kanak-Kanak, Jakarta : Rineka Cipta. Depdiknas, 2004. Kurikulum 2004. Standar Kompetensi. Jakarta. Drost, 1998, Sekolah : Mengajar atau Mendidik?, Yogyakarta, Kanisius. Hadi, Sutrisno, 1987, Metodologi Research 3, Yogyakarta : Fakultas Psikologi Universitas Gajah Mada. Hurlock, Elizabets B, 1997, Perkembangan Anak. Edisi ke 6. Jakarta : Erlangga. Idris, Zahara, 1992, Pengantar Pendidikan I, Jakarta : Gramedia. Monks, FJ, Knoers, AMP, Siti, 1999, Psikologi Perkembangan (Pengantar dalam Berbagai Bagiannya), Yogyakarta : Gadjah Mada University Press. Nicolaas, 1997, Orang Kudus Sepanjang Tahun, Jakarta : Obor. Patmonodewo, Sumantri, 2000, Pendidikan Anak Prasekolah, Jakarta : Rineka Cipta. R, Moeslichatoen, 1999, Metode Pengajaran di Taman Kanak-Kanak, Jakarta : Rineka Cipta. Riyanto, Yatim, 2001, Metodologi Penelitian Pendidikan, Surabaya : SIC. Sindhunata, 2000, Membuka Masa Depan Anak-Anak Kita, Yogyakarta : Kanisius. Singgih, 1991, Psikologi Praktis Anak, Remaja dan Keluarga, Jakarta : BPK Gunung Mulia. Sudjana, 1992, Metode Statistika, Bandung : Tarsito. Sumarjo, 2001, Rencana Strategi Yayasan Pengudi Luhur, Semarang : YPL.

58

Wahyuni, Endang, 2001, Cara praktis Mengasuh dan Membimbing Anak Agar Menjadi Cerdas dan Bahagia, Pionir Jaya. Widayadi, C, Sri, dkk, 1999, Reformasi Pendidikan Dasar Menyiapkan Pribadi Berkualitas Menghadapi Persaingan Global, Jakarta 20270 : Grasindo. Windradini, Soesila, 1985, Psikologi Perkembangan Masa Remaja, Surabaya : Usaha Nasional.

ANGKET

PETUNJUK 1. Angket ini dimaksudkan untuk memperoleh informasi tentang pola asuh orangtua 2. Data yang Bapak.Ibu berikan dijamin kerahasiannya dan sama sekali tidak mempengaruhi status putra/putri Bapak/Ibu di sekolah. Oleh karena ini Bapak/Ibu tidak perlu ragu-ragu untuk memberikan jawaban pada angket sesuai dengan keadaan yang sebenarnya. 3. Bacalah pertanyaan-pertanyaan berikut dengan sederhana, kemudian jawablah pertanyaan tersebut dengan memberi tanda (X) pada salah satu jawaban yang telah tersedia sesuai dengan jawaban yang Bapak/Ibu maksudkan. 4. Kejujuran Bapak/Ibu dalam memilih jawaban akan sangat membantu keberhasilan penelitian ini. 5. Atas bantuan dari Bapak/Ibu kami ucapkan banyak terima kasih.

IDENTITAS RESPONDEN

1. Nama Orangtua 2. Nama anak 3. Nama Sekolah 4. Kelas

: ……………………………………………………. : ……………………………………………………. : ……………………………………………………. : …………………………………………………….

No

Pernyataan

TP KD SR SL

1 Anda memaksa anak anda untuk selalu mematuhi kemauan Anda 2 Anda tidak memberikan kebebasan kepada anak anda dalam menjalankan aktivitasnya sebagai anak-anak 3 Anda memberikan ancaman jika anak anda tidak tidak mendapatkan prestasi yang anda inginkan 4 Anda memberikan hukuman fisik (memukul, menjewer, menendang) kepada anak anda jika anak anda berbuat kesalahan yang besar 5 Anda merasa puas jika anak anda telah melakukan perbuatan yang anda inginkan tanpa memberikan pujian kepada anak anda 6 Anda selalu meluangkan waktu untuk bertanya kepada anak anda mengenai yang terjadi di sekolahnya 7 Anda sangat membatasi pergaulan anak-anak anda terhadap bahaya yang berasal dari lingkungan 8 Anda memberikan toleransi waktu bermain kepada anakanak anda hingga jam tertentu 9 Keluarga anda menentukan satu peraturan tidak tertulis yang harus ditaati seluruh angggota keluarga 10 Anda memberikan hadiah kepada anak anda jika anak anda berprestasi di sekolahnya 11 Anda memberikan kebebasan kepada anak anda untuk berbuat sesuai dengan hati nuraninya 12 Anda membiarkan anak anda jika menentang pada kemauan anda 13 Menurut anda, masa depan anak anda sepenuhnya ada di tangan anak anda 14 Anda mengganggap bahwa jika anak anda tidak mengerjakan tugas mereka adalah sebagai hal yang wajar 15 Anda memberikan segala kebutuhan materi kepada anakanak anda 16 Anda beranggapan bahwa anak anda tidak harus tunduk kepada kemauan anda 17 Anda tidak dapat berbuat apapun untuk melarang anak anda dalam bermain 18 Anda tidak pernah menakut-nakuti anda dengan bentuk hukuman apapun 19 Anda tidak pernah menjewer, memukul atau menendang anak anda jika mendapat nilai jelek 20 Anda tidak segan untuk memberi pujian kepada anak anda selesai anak anda melakukan pekerjaan yang anda berikan

No

Pernyataan

TP KD SR SL

21 Anda jarang berbicara dengan anak anda 22 Anda tidak memiliki banyak waktu untuk memperhatikan anak-anak anda dan teman bergaulnya 23 Menurut anda mengekang kebebasan anak berarti membatasi hak pribadi anak anak anda 24 Dalam pergaulan di rumah, seluruh anggota keluarga saling menyuruh dalam melakukan sesuatu 25 Anda merasa bahwa pemberian hadiah atau penghargaan kepada anak dapat memperlemah mental anak anda 26 Anda tidak menghalang-halangi keinginan anak anda dalam melakukan yang diinginaknnya 27 Anda merasa tidak berhak memaksa anak anda untuk mematuhi anda 28 Anak merasa bahwa anak anda berhak sepenuhnya untuk melakukan sesuatu demi kepentingannya sendiri 29 Selama ini anda jarang berbicara kepada anak anda mengenai cita-cita anak anda 30 Anda tidak peduli akan kebutuhan material untuk anakanak anda 31 Menurut anda segala sesuatu yang baik bagi anda adalah baik bagi anak anda 32 Menurut anda segala tindakan anak anda harus diarahkan sesuai dengan keinginan anda 33 Anda merasa bahwa pemberian ancaman kepada anak anda merupakan satu-satunya hal yang paling tepat untuk anak anda 34 Menurut anda hukuman fisik layak diberikan kepada setiap anak laki-laki yang melanggar peraturan 35 Anda hanya bangga jika anak anda menjadi yang terbaik di sekolahnya 36 Jika liburan, anda menawarkan kepada anak anda rencana untuk mengisi liburan 37 Anda sering mendampingan anak-anak anda menonton televisi 38 Anda mengetahui nama teman-teman bergaul anak anda 39 Anda memberikan tugas kepada seluruh anggota keluarga dalam kegiatan di rumah 40 Anda merasa berhak memberikan hadiah kepada anak anda untuk merangsang prestasi anak

No

Pernyataan

TP KD SR SL

41 Anda memberi kebebasan kepada anak anda untuk menggunakan fasilitas rumah 42 Anda menyadari bahwa keharusan anak anda untuk tunduk kepada anda akan membawa efek negatif kepada anak anda 43 Anda merasa bahwa anak anda akan dapat memilih perilakunya sendiri tanpa bantuan orang lain 44 Anda tidak memberikan tugas rumah apapun kepada anak-anak anda 45 Anda merasa bahwa materi merupakan faktor utama untuk membahagiakan anak 46 Anda merasa bahwa anak anda boleh melakukan tindakannya sendiri tanpa petunjuk anda 47 Anda merasa bahwa keputusan yang diambil oleh anak anda akan membawa dampak negatif bagi perkembangan anak anda 48 Anda merasa bahwa jika anak tidak ditakut-takuti, maka anak akan bertindak kurang ajar kepada orangtua 49 Anda merasa bahwa tidak diberikannya hukuman fisik pada anak akan membuat anak anda menjadi lemah 50 Memberikan pujian kepada anak merupakan salah satu upaya untuk menumbuhkan semangat anak anda 51 Anda jarang makan bersama-sama anggota keluarga lainnya 52 Anda tidak tahu dengan pasti kapan anak anda pergi bermain dan kapan pulangnya 53 Anda berpendapat bahwa kebebasan yang diberikan kepada anak namun dengan pembatasan, akan dapat memberikan rasa frustasi kepada anak 54 Keluarga tidak pernah memberikan aturan terhadap semua tindakan anggota keluarga 55 Anda tidak sempat berpikir untuk memberikan hadiah atas prestasi anak anda 56 Anda merasa tidak baik untuk mengekang kebebasan anak anda yang sekaligus menjadi hak anak anda 57 Anda berpendapat bahwa keharusan anak untuk tunduk kepada orangtua akan membuat tekanan pada anak anda 58 Anda merasa bahwa anak anda mampu memilih tindakan yang terbaik untuk kehidupan mendatang mereka 59 Anda jarang mengingatkan anak-anak anda untuk membuat pekerjaan rumah yang diberikan di sekolah 60 Menurut anda kurangnya materi akan mengakibatkan pertumbuhan yang kurang baik bagi anak anda

Nama anak Kelas
No 1

: ………………………… : ………………………… LEMBAR OBSERVASI KEMANDIRIAN SISWA
Aspek yang diobservasi Selalu Sering Kadang Tidak -kadang pernah

2

Dapat menunjukkan rasa percaya diri 1.1 - Berani bertanya secara sederhana 1.2 - Berani tampil di depan umum atau di depan kelas 1.3 - Mau mengemukakan pendapat secara sederhana 1.4 - Mampu mengambil keputusan secara sederhana 1.5 - Tidak putus asa jika mengalami kesulitan 1.6 - Mempu mengerjakan tugas sendiri 1.7 - Tidak mudah terpengaruh pada orang lain Anak terbiasa menjaga kebersihan diri dan mengurus dirinya sendiri 2.1 Menggosok gigi sendiri 2.2 Makan, minum sendiri tanpa bantuan orang lain 2.3 Memakai sepatu sendiri 2.4 Memelihara milik sendiri 2.5 Mencuci tangan sendiri sampai bersih 2.6 Mamakai pakaian sendiri

3

Terbiasa menjaga lingkungan 3.1 Membuang sampah pada tempatnya 3.2 Tidak mencoret-coret tembok 3.3 Membantu membersihkan lingkungan kelas Dapat bertanggung jawab 4.1 Melaksanakan kegiatan sendiri sampai selesai 4.2 Membersihkan peralatan makan selesai digunakan 4.3 Merapikan mainan selesai bermain 4.4 Mengembalikan alat-alat selesai bekerja Skor Total Skor

4

Semarang, …………………… 2005 Observer

( ……………………….. )

Reliability
R E L I A B I L I T Y A N A L Y S I S KEMANDIRIAN Item-total Statistics Scale Mean if Item Deleted Y1 Y2 Y3 Y4 Y5 Y6 Y7 Y8 Y9 Y10 Y11 Y12 Y13 Y14 Y15 Y16 Y17 Y18 Y19 Y20 61.1250 61.0417 61.4167 61.5833 61.4167 60.7917 61.4583 60.7917 60.7917 60.7500 61.0417 60.7917 61.2500 60.7917 61.0417 60.9167 60.8750 61.1667 60.8750 60.8333 Scale Variance if Item Deleted 43.2446 43.2591 43.3841 44.8623 43.2971 44.6938 44.6938 43.9112 44.5199 44.8913 43.9547 43.6504 42.8043 42.3460 44.6504 45.6449 41.7663 45.2754 44.3750 44.2319 Corrected ItemTotal Correlation .5314 .5505 .5561 .4330 .5052 .4344 .4344 .4716 .4574 .4828 .5328 .5738 .6047 .7530 .5215 .3965 .7501 .3617 .4889 .5004 S C A L E (A L P H A)

SISWA

Alpha if Item Deleted .8901 .8895 .8893 .8927 .8911 .8928 .8928 .8919 .8921 .8915 .8900 .8889 .8878 .8837 .8905 .8935 .8832 .8947 .8912 .8909

Reliability Coefficients N of Cases = Alpha = .8954 24.0 N of Items = 20

Reliability
R E L I A B I L I T Y A N A L Y S I S S C A L E (A L P H A)

POLA ASUH ORANG TUA Item-total Statistics Scale Mean if Item Deleted X1 X2 X3 X4 X6 X7 X8 X9 X10 X11 X12 X13 X15 X16 X17 X18 X19 X21 X23 X24 X25 X26 X27 X29 X30 X31 X32 X33 X35 X36 X37 X38 X39 X40 X42 X43 X44 X45 X46 X47 X48 _ 133.9167 133.9167 134.2917 134.3333 132.4167 133.2917 132.8333 133.0000 133.3333 133.1250 134.2500 133.6250 133.3333 132.9583 132.8333 133.2500 132.8333 132.6250 133.7083 132.7500 132.7083 133.4167 133.1667 133.0833 132.2917 133.7083 133.9583 134.2500 133.9583 132.7500 132.6250 132.6667 132.9167 132.7500 133.1250 133.9583 133.7917 134.3333 132.6667 132.6250 132.5833 Scale Variance if Item Deleted 442.0797 435.3841 440.8243 438.9275 431.4710 437.6938 429.2754 428.0000 437.2754 436.8967 441.5000 434.3315 437.4493 441.8678 442.7536 437.4130 434.4928 433.0272 438.7373 440.5435 430.0417 435.5580 436.8406 432.8623 435.5199 437.4330 446.6504 438.8913 440.3025 438.9783 440.5924 442.4058 438.3406 433.2391 436.5489 441.7808 440.0851 442.0580 439.1014 440.3315 442.1667 Corrected ItemTotal Correlation .4031 .4776 .4429 .4329 .7040 .3939 .7171 .6176 .4811 .5104 .4226 .4556 .4213 .3654 .4695 .4798 .4140 .3875 .3811 .3424 .5278 .4274 .3670 .4292 .4482 .6615 .4169 .4089 .3612 .4065 .4145 .4015 .4869 .5658 .4121 .3680 .3634 .4008 .4379 .4594 .4269

Alpha if Item Deleted .9306 .9301 .9304 .9304 .9286 .9308 .9284 .9289 .9301 .9299 .9305 .9303 .9305 .9309 .9304 .9301 .9307 .9312 .9309 .9311 .9297 .9305 .9311 .9306 .9303 .9294 .9309 .9306 .9310 .9306 .9306 .9307 .9301 .9294 .9306 .9309 .9310 .9307 .9304 .9303 .9305

R E L I A B I L I T Y

A N A L Y S I S

-

S C A L E

(A L P H A)

POLA ASUH ORANG TUA Item-total Statistics Scale Mean if Item Deleted X49 X51 X52 X53 X54 X55 X56 X57 X59 X60 132.5417 132.8750 132.5833 132.6667 132.5417 132.5417 133.5000 133.3750 132.5833 132.5000 Scale Variance if Item Deleted 432.9547 436.3750 439.9928 438.3188 439.9982 441.2156 436.6087 438.4185 433.6449 435.1304 Corrected ItemTotal Correlation .5258 .4164 .3952 .4314 .4169 .4115 .4278 .3965 .5781 .5210

Alpha if Item Deleted .9297 .9306 .9307 .9304 .9305 .9306 .9305 .9307 .9294 .9298

Reliability Coefficients N of Cases = Alpha = .9316 24.0 N of Items = 51

Correlations
Correlations Kedisiplinan Pola Asuh Siswa Orangtua 1.000 .661** . .000 24 24 .661** 1.000 .000 . 24 24

Kedisiplinan Siswa

Pola Asuh Orangtua

Pearson Correlation Sig. (2-tailed) N Pearson Correlation Sig. (2-tailed) N

**. Correlation is significant at the 0.01 level (2-tailed).

Correlations
Correlations Y1 Pearson Correlation Sig. (2-tailed) N Pearson Correlation Sig. (2-tailed) N Pearson Correlation Sig. (2-tailed) N Pearson Correlation Sig. (2-tailed) N Pearson Correlation Sig. (2-tailed) N Pearson Correlation Sig. (2-tailed) N Pearson Correlation Sig. (2-tailed) N Pearson Correlation Sig. (2-tailed) N Pearson Correlation Sig. (2-tailed) N Pearson Correlation Sig. (2-tailed) N Pearson Correlation Sig. (2-tailed) N Y1 1.000 . 24 .404 .050 24 .449* .028 24 .403 .051 24 .294 .163 24 .207 .332 24 .445* .029 24 .257 .226 24 .024 .910 24 .156 .465 24 .459* .024 24 Y2 .404 .050 24 1.000 . 24 .159 .459 24 .342 .102 24 .318 .130 24 .488* .016 24 .246 .246 24 .182 .396 24 .243 .253 24 .158 .461 24 .655** .001 24 Y3 .449* .028 24 .159 .459 24 1.000 . 24 .507* .012 24 .299 .156 24 .217 .309 24 .334 .110 24 .202 .344 24 .039 .858 24 .105 .624 24 .484* .017 24 Y4 .403 .051 24 .342 .102 24 .507* .012 24 1.000 . 24 .156 .467 24 .467* .021 24 .305 .147 24 .145 .500 24 .111 .607 24 .101 .639 24 .512* .011 24 Y5 .294 .163 24 .318 .130 24 .299 .156 24 .156 .467 24 1.000 . 24 -.050 .816 24 .445* .029 24 -.155 .468 24 -.065 .762 24 .168 .434 24 .473* .019 24 Y6 .207 .332 24 .488* .016 24 .217 .309 24 .467* .021 24 -.050 .816 24 1.000 . 24 -.056 .795 24 .620** .001 24 .497* .013 24 .194 .363 24 .586** .003 24 Y7 .445* .029 24 .246 .246 24 .334 .110 24 .305 .147 24 .445* .029 24 -.056 .795 24 1.000 . 24 -.035 .872 24 -.232 .275 24 .042 .844 24 .431* .035 24 Y8 .257 .226 24 .182 .396 24 .202 .344 24 .145 .500 24 -.155 .468 24 .620** .001 24 -.035 .872 24 1.000 . 24 .396 .055 24 .442* .031 24 .458* .024 24 Y9 .024 .910 24 .243 .253 24 .039 .858 24 .111 .607 24 -.065 .762 24 .497* .013 24 -.232 .275 24 .396 .055 24 1.000 . 24 .222 .296 24 .426* .038 24 Y10 .156 .465 24 .158 .461 24 .105 .624 24 .101 .639 24 .168 .434 24 .194 .363 24 .042 .844 24 .442* .031 24 .222 .296 24 1.000 . 24 .470* .020 24 TOT.Y .459* .024 24 .655** .001 24 .484* .017 24 .512* .011 24 .473* .019 24 .586** .003 24 .431* .035 24 .458* .024 24 .426* .038 24 .470* .020 24 1.000 . 24

Y2

Y3

Y4

Y5

Y6

Y7

Y8

Y9

Y10

TOT.Y

*. Correlation is significant at the 0.05 level (2-tailed). **. Correlation is significant at the 0.01 level (2-tailed).

Correlations
Correlations Y11 Pearson Correlation Sig. (2-tailed) N Pearson Correlation Sig. (2-tailed) N Pearson Correlation Sig. (2-tailed) N Pearson Correlation Sig. (2-tailed) N Pearson Correlation Sig. (2-tailed) N Pearson Correlation Sig. (2-tailed) N Pearson Correlation Sig. (2-tailed) N Pearson Correlation Sig. (2-tailed) N Pearson Correlation Sig. (2-tailed) N Pearson Correlation Sig. (2-tailed) N Pearson Correlation Sig. (2-tailed) N Y11 1.000 . 24 .511* .011 24 .191 .372 24 .276 .192 24 .039 .855 24 .096 .654 24 .108 .614 24 .169 .430 24 .413* .045 24 .331 .115 24 .493* .014 24 Y12 .511* .011 24 1.000 . 24 .194 .364 24 .348 .096 24 .248 .242 24 .365 .079 24 .540** .006 24 .113 .599 24 .373 .073 24 .318 .130 24 .637** .001 24 Y13 .191 .372 24 .194 .364 24 1.000 . 24 .197 .356 24 .276 .192 24 .386 .063 24 .211 .322 24 -.010 .963 24 .177 .408 24 .183 .393 24 .502* .012 24 Y14 .276 .192 24 .348 .096 24 .197 .356 24 1.000 . 24 .333 .111 24 .204 .339 24 .338 .106 24 .084 .696 24 .500* .013 24 .460* .024 24 .567** .004 24 Y15 .039 .855 24 .248 .242 24 .276 .192 24 .333 .111 24 1.000 . 24 .612** .001 24 .435* .034 24 .590** .002 24 .500* .013 24 .543** .006 24 .559** .004 24 Y16 .096 .654 24 .365 .079 24 .386 .063 24 .204 .339 24 .612** .001 24 1.000 . 24 .237 .266 24 .206 .333 24 .153 .475 24 .205 .337 24 .465* .022 24 Y17 .108 .614 24 .540** .006 24 .211 .322 24 .338 .106 24 .435* .034 24 .237 .266 24 1.000 . 24 .598** .002 24 .507* .011 24 .575** .003 24 .768** .000 24 Y18 .169 .430 24 .113 .599 24 -.010 .963 24 .084 .696 24 .590** .002 24 .206 .333 24 .598** .002 24 1.000 . 24 .505* .012 24 .517** .010 24 .455* .026 24 Y19 .413* .045 24 .373 .073 24 .177 .408 24 .500* .013 24 .500* .013 24 .153 .475 24 .507* .011 24 .505* .012 24 1.000 . 24 .940** .000 24 .643** .001 24 Y20 .331 .115 24 .318 .130 24 .183 .393 24 .460* .024 24 .543** .006 24 .205 .337 24 .575** .003 24 .517** .010 24 .940** .000 24 1.000 . 24 .640** .001 24 TOT.Y .493* .014 24 .637** .001 24 .502* .012 24 .567** .004 24 .559** .004 24 .465* .022 24 .768** .000 24 .455* .026 24 .643** .001 24 .640** .001 24 1.000 . 24

Y12

Y13

Y14

Y15

Y16

Y17

Y18

Y19

Y20

TOT.Y

*. Correlation is significant at the 0.05 level (2-tailed). **. Correlation is significant at the 0.01 level (2-tailed).

Correlations
Correlations X1 Pearson Correlation Sig. (2-tailed) N Pearson Correlation Sig. (2-tailed) N Pearson Correlation Sig. (2-tailed) N Pearson Correlation Sig. (2-tailed) N Pearson Correlation Sig. (2-tailed) N Pearson Correlation Sig. (2-tailed) N Pearson Correlation Sig. (2-tailed) N Pearson Correlation Sig. (2-tailed) N Pearson Correlation Sig. (2-tailed) N Pearson Correlation Sig. (2-tailed) N Pearson Correlation Sig. (2-tailed) N X1 1.000 . 24 .315 .133 24 .595** .002 24 .654** .001 24 -.475* .019 24 .378 .069 24 .191 .371 24 .218 .306 24 .221 .300 24 .218 .306 24 .446* .029 24 X2 .315 .133 24 1.000 . 24 .395 .056 24 .168 .431 24 .000 1.000 24 .413* .045 24 .483* .017 24 .337 .108 24 .217 .309 24 .056 .794 24 .514* .010 24 X3 .595** .002 24 .395 .056 24 1.000 . 24 .470* .021 24 -.177 .408 24 .123 .567 24 .491* .015 24 .217 .309 24 .489* .015 24 .108 .614 24 .501* .013 24 X4 .654** .001 24 .168 .431 24 .470* .021 24 1.000 . 24 -.102 .635 24 .336 .108 24 .400 .053 24 .375 .071 24 .311 .140 24 .313 .137 24 .486* .016 24 X5 -.475* .019 24 .000 1.000 24 -.177 .408 24 -.102 .635 24 1.000 . 24 -.110 .610 24 .218 .307 24 -.102 .635 24 .000 1.000 24 .102 .635 24 -.021 .922 24 X6 .378 .069 24 .413* .045 24 .123 .567 24 .336 .108 24 -.110 .610 24 1.000 . 24 .148 .489 24 .538** .007 24 .538** .007 24 .471* .020 24 .705** .000 24 X7 .191 .371 24 .483* .017 24 .491* .015 24 .400 .053 24 .218 .307 24 .148 .489 24 1.000 . 24 .320 .127 24 .582** .003 24 .293 .164 24 .449* .028 24 X8 .218 .306 24 .337 .108 24 .217 .309 24 .375 .071 24 -.102 .635 24 .538** .007 24 .320 .127 24 1.000 . 24 .518** .010 24 .500* .013 24 .696** .000 24 X9 .221 .300 24 .217 .309 24 .489* .015 24 .311 .140 24 .000 1.000 24 .538** .007 24 .582** .003 24 .518** .010 24 1.000 . 24 .518** .010 24 .633** .001 24 X10 .218 .306 24 .056 .794 24 .108 .614 24 .313 .137 24 .102 .635 24 .471* .020 24 .293 .164 24 .500* .013 24 .518** .010 24 1.000 . 24 .491* .015 24 TOT.X .446* .029 24 .514* .010 24 .501* .013 24 .486* .016 24 -.021 .922 24 .705** .000 24 .449* .028 24 .696** .000 24 .633** .001 24 .491* .015 24 1.000 . 24

X2

X3

X4

X5

X6

X7

X8

X9

X10

TOT.X

**. Correlation is significant at the 0.01 level (2-tailed). *. Correlation is significant at the 0.05 level (2-tailed).

Correlations
Correlations X11 Pearson Correlation Sig. (2-tailed) N Pearson Correlation Sig. (2-tailed) N Pearson Correlation Sig. (2-tailed) N Pearson Correlation Sig. (2-tailed) N Pearson Correlation Sig. (2-tailed) N Pearson Correlation Sig. (2-tailed) N Pearson Correlation Sig. (2-tailed) N Pearson Correlation Sig. (2-tailed) N Pearson Correlation Sig. (2-tailed) N Pearson Correlation Sig. (2-tailed) N Pearson Correlation Sig. (2-tailed) N X11 1.000 . 24 .157 .465 24 .288 .172 24 .016 .941 24 .202 .343 24 .211 .322 24 .183 .392 24 .005 .980 24 .000 1.000 24 -.418* .042 24 .510* .011 24 X12 .157 .465 24 1.000 . 24 .302 .152 24 .322 .125 24 .390 .060 24 -.019 .930 24 .103 .633 24 .061 .777 24 .275 .194 24 .346 .097 24 .474* .019 24 X13 .288 .172 24 .302 .152 24 1.000 . 24 .063 .770 24 .480* .018 24 -.073 .733 24 .217 .309 24 -.047 .827 24 .077 .720 24 .035 .872 24 .473* .020 24 X14 .016 .941 24 .322 .125 24 .063 .770 24 1.000 . 24 .165 .441 24 -.306 .146 24 -.348 .095 24 -.217 .309 24 -.140 .515 24 .000 1.000 24 -.020 .925 24 X15 .202 .343 24 .390 .060 24 .480* .018 24 .165 .441 24 1.000 . 24 -.205 .337 24 .316 .132 24 .112 .601 24 .296 .160 24 .000 1.000 24 .458* .024 24 X16 .211 .322 24 -.019 .930 24 -.073 .733 24 -.306 .146 24 -.205 .337 24 1.000 . 24 .277 .189 24 .312 .138 24 .148 .489 24 -.134 .534 24 .414* .044 24 X17 .183 .392 24 .103 .633 24 .217 .309 24 -.348 .095 24 .316 .132 24 .277 .189 24 1.000 . 24 .267 .208 24 .535** .007 24 -.090 .675 24 .490* .015 24 X18 .005 .980 24 .061 .777 24 -.047 .827 24 -.217 .309 24 .112 .601 24 .312 .138 24 .267 .208 24 1.000 . 24 .285 .177 24 .171 .424 24 .540** .006 24 X19 .000 1.000 24 .275 .194 24 .077 .720 24 -.140 .515 24 .296 .160 24 .148 .489 24 .535** .007 24 .285 .177 24 1.000 . 24 .048 .823 24 .446* .029 24 X20 -.418* .042 24 .346 .097 24 .035 .872 24 .000 1.000 24 .000 1.000 24 -.134 .534 24 -.090 .675 24 .171 .424 24 .048 .823 24 1.000 . 24 -.073 .734 24 TOT.X .510* .011 24 .474* .019 24 .473* .020 24 -.020 .925 24 .458* .024 24 .414* .044 24 .490* .015 24 .540** .006 24 .446* .029 24 -.073 .734 24 1.000 . 24

X12

X13

X14

X15

X16

X17

X18

X19

X20

TOT.X

*. Correlation is significant at the 0.05 level (2-tailed). **. Correlation is significant at the 0.01 level (2-tailed).

Correlations
Correlations X21 Pearson Correlation Sig. (2-tailed) N Pearson Correlation Sig. (2-tailed) N Pearson Correlation Sig. (2-tailed) N Pearson Correlation Sig. (2-tailed) N Pearson Correlation Sig. (2-tailed) N Pearson Correlation Sig. (2-tailed) N Pearson Correlation Sig. (2-tailed) N Pearson Correlation Sig. (2-tailed) N Pearson Correlation Sig. (2-tailed) N Pearson Correlation Sig. (2-tailed) N Pearson Correlation Sig. (2-tailed) N X21 1.000 . 24 .457* .025 24 .087 .685 24 .097 .653 24 .109 .612 24 .134 .533 24 -.011 .961 24 -.096 .655 24 .310 .141 24 .544** .006 24 .429* .036 24 X22 .457* .025 24 1.000 . 24 -.186 .383 24 -.106 .621 24 -.217 .309 24 -.375 .071 24 -.104 .630 24 .101 .639 24 .110 .608 24 -.051 .814 24 -.202 .344 24 X23 .087 .685 24 -.186 .383 24 1.000 . 24 -.062 .774 24 .240 .259 24 .214 .315 24 .126 .556 24 -.231 .277 24 .030 .890 24 .065 .764 24 .442* .031 24 X24 .097 .653 24 -.106 .621 24 -.062 .774 24 1.000 . 24 -.141 .510 24 .008 .972 24 -.100 .641 24 -.319 .128 24 -.102 .636 24 -.052 .810 24 .422* .040 24 X25 .109 .612 24 -.217 .309 24 .240 .259 24 -.141 .510 24 1.000 . 24 .506* .012 24 .519** .009 24 -.466* .022 24 .623** .001 24 .222 .296 24 .505* .012 24 X26 .134 .533 24 -.375 .071 24 .214 .315 24 .008 .972 24 .506* .012 24 1.000 . 24 .640** .001 24 -.014 .949 24 .501* .013 24 .157 .465 24 .475* .019 24 X27 -.011 .961 24 -.104 .630 24 .126 .556 24 -.100 .641 24 .519** .009 24 .640** .001 24 1.000 . 24 .104 .630 24 .762** .000 24 -.027 .900 24 .412* .045 24 X28 -.096 .655 24 .101 .639 24 -.231 .277 24 -.319 .128 24 -.466* .022 24 -.014 .949 24 .104 .630 24 1.000 . 24 -.208 .328 24 .051 .814 24 -.350 .093 24 X29 .310 .141 24 .110 .608 24 .030 .890 24 -.102 .636 24 .623** .001 24 .501* .013 24 .762** .000 24 -.208 .328 24 1.000 . 24 .048 .823 24 .442* .031 24 X30 .544** .006 24 -.051 .814 24 .065 .764 24 -.052 .810 24 .222 .296 24 .157 .465 24 -.027 .900 24 .051 .814 24 .048 .823 24 1.000 . 24 .464* .022 24 TOT.X .429* .036 24 -.202 .344 24 .442* .031 24 .422* .040 24 .505* .012 24 .475* .019 24 .412* .045 24 -.350 .093 24 .442* .031 24 .464* .022 24 1.000 . 24

X22

X23

X24

X25

X26

X27

X28

X29

X30

TOT.X

*. Correlation is significant at the 0.05 level (2-tailed). **. Correlation is significant at the 0.01 level (2-tailed).

Correlations
Correlations X31 Pearson Correlation Sig. (2-tailed) N Pearson Correlation Sig. (2-tailed) N Pearson Correlation Sig. (2-tailed) N Pearson Correlation Sig. (2-tailed) N Pearson Correlation Sig. (2-tailed) N Pearson Correlation Sig. (2-tailed) N Pearson Correlation Sig. (2-tailed) N Pearson Correlation Sig. (2-tailed) N Pearson Correlation Sig. (2-tailed) N Pearson Correlation Sig. (2-tailed) N Pearson Correlation Sig. (2-tailed) N X31 1.000 . 24 .218 .307 24 .423* .039 24 .093 .665 24 .266 .208 24 .141 .511 24 .125 .560 24 .354 .090 24 .206 .334 24 .383 .065 24 .687** .000 24 X32 .218 .307 24 1.000 . 24 -.028 .898 24 .127 .553 24 .175 .413 24 .248 .243 24 .202 .343 24 .207 .331 24 .219 .304 24 .358 .086 24 .443* .030 24 X33 .423* .039 24 -.028 .898 24 1.000 . 24 -.043 .841 24 .590** .002 24 .215 .313 24 .259 .222 24 .328 .117 24 .329 .117 24 .215 .313 24 .462* .023 24 X34 .093 .665 24 .127 .553 24 -.043 .841 24 1.000 . 24 .063 .768 24 -.173 .419 24 -.122 .570 24 .054 .801 24 -.245 .248 24 -.043 .841 24 -.043 .840 24 X35 .266 .208 24 .175 .413 24 .590** .002 24 .063 .768 24 1.000 . 24 .343 .101 24 .349 .095 24 .310 .141 24 .047 .828 24 .233 .273 24 .419* .041 24 X36 .141 .511 24 .248 .243 24 .215 .313 24 -.173 .419 24 .343 .101 24 1.000 . 24 .544** .006 24 .328 .117 24 .456* .025 24 .720** .000 24 .406* .049 24 X37 .125 .560 24 .202 .343 24 .259 .222 24 -.122 .570 24 .349 .095 24 .544** .006 24 1.000 . 24 .570** .004 24 .246 .247 24 .544** .006 24 .448* .028 24 X38 .354 .090 24 .207 .331 24 .328 .117 24 .054 .801 24 .310 .141 24 .328 .117 24 .570** .004 24 1.000 . 24 .027 .902 24 .399 .054 24 .462* .023 24 X39 .206 .334 24 .219 .304 24 .329 .117 24 -.245 .248 24 .047 .828 24 .456* .025 24 .246 .247 24 .027 .902 24 1.000 . 24 .711** .000 24 .454* .026 24 X40 .383 .065 24 .358 .086 24 .215 .313 24 -.043 .841 24 .233 .273 24 .720** .000 24 .544** .006 24 .399 .054 24 .711** .000 24 1.000 . 24 .555** .005 24 TOT.X .687** .000 24 .443* .030 24 .462* .023 24 -.043 .840 24 .419* .041 24 .406* .049 24 .448* .028 24 .462* .023 24 .454* .026 24 .555** .005 24 1.000 . 24

X32

X33

X34

X35

X36

X37

X38

X39

X40

TOT.X

*. Correlation is significant at the 0.05 level (2-tailed). **. Correlation is significant at the 0.01 level (2-tailed).

Correlations
Correlations X41 Pearson Correlation Sig. (2-tailed) N Pearson Correlation Sig. (2-tailed) N Pearson Correlation Sig. (2-tailed) N Pearson Correlation Sig. (2-tailed) N Pearson Correlation Sig. (2-tailed) N Pearson Correlation Sig. (2-tailed) N Pearson Correlation Sig. (2-tailed) N Pearson Correlation Sig. (2-tailed) N Pearson Correlation Sig. (2-tailed) N Pearson Correlation Sig. (2-tailed) N Pearson Correlation Sig. (2-tailed) N X41 1.000 . 24 .307 .145 24 .300 .155 24 .380 .067 24 .120 .576 24 .130 .545 24 -.017 .938 24 -.193 .367 24 -.200 .349 24 .291 .168 24 .058 .786 24 X42 .307 .145 24 1.000 . 24 .171 .426 24 .302 .152 24 .271 .200 24 .435* .034 24 .390 .060 24 .048 .823 24 .230 .280 24 -.194 .365 24 .442* .031 24 X43 .300 .155 24 .171 .426 24 1.000 . 24 .068 .754 24 -.113 .598 24 -.167 .436 24 .123 .567 24 .303 .151 24 .278 .188 24 -.139 .516 24 .408* .048 24 X44 .380 .067 24 .302 .152 24 .068 .754 24 1.000 . 24 .431* .036 24 .459* .024 24 .053 .807 24 -.301 .153 24 -.065 .764 24 .131 .540 24 .455* .026 24 X45 .120 .576 24 .271 .200 24 -.113 .598 24 .431* .036 24 1.000 . 24 .221 .299 24 .125 .560 24 .000 1.000 24 .032 .884 24 -.273 .196 24 .463* .023 24 X46 .130 .545 24 .435* .034 24 -.167 .436 24 .459* .024 24 .221 .299 24 1.000 . 24 .234 .271 24 .158 .462 24 .381 .066 24 -.141 .511 24 .471* .020 24 X47 -.017 .938 24 .390 .060 24 .123 .567 24 .053 .807 24 .125 .560 24 .234 .271 24 1.000 . 24 .335 .110 24 .729** .000 24 -.474* .019 24 .463* .023 24 X48 -.193 .367 24 .048 .823 24 .303 .151 24 -.301 .153 24 .000 1.000 24 .158 .462 24 .335 .110 24 1.000 . 24 .691** .000 24 -.110 .610 24 .428* .037 24 X49 -.200 .349 24 .230 .280 24 .278 .188 24 -.065 .764 24 .032 .884 24 .381 .066 24 .729** .000 24 .691** .000 24 1.000 . 24 -.418* .042 24 .532** .007 24 X50 .291 .168 24 -.194 .365 24 -.139 .516 24 .131 .540 24 -.273 .196 24 -.141 .511 24 -.474* .019 24 -.110 .610 24 -.418* .042 24 1.000 . 24 -.478* .018 24 TOT.X .058 .786 24 .442* .031 24 .408* .048 24 .455* .026 24 .463* .023 24 .471* .020 24 .463* .023 24 .428* .037 24 .532** .007 24 -.478* .018 24 1.000 . 24

X42

X43

X44

X45

X46

X47

X48

X49

X50

TOT.X

*. Correlation is significant at the 0.05 level (2-tailed). **. Correlation is significant at the 0.01 level (2-tailed).

Correlations
Correlations X51 Pearson Correlation Sig. (2-tailed) N Pearson Correlation Sig. (2-tailed) N Pearson Correlation Sig. (2-tailed) N Pearson Correlation Sig. (2-tailed) N Pearson Correlation Sig. (2-tailed) N Pearson Correlation Sig. (2-tailed) N Pearson Correlation Sig. (2-tailed) N Pearson Correlation Sig. (2-tailed) N Pearson Correlation Sig. (2-tailed) N Pearson Correlation Sig. (2-tailed) N Pearson Correlation Sig. (2-tailed) N X51 1.000 . 24 .321 .126 24 .058 .786 24 .286 .176 24 .307 .145 24 .015 .944 24 .068 .752 24 -.102 .634 24 .270 .202 24 .117 .586 24 .440* .032 24 X52 .321 .126 24 1.000 . 24 .059 .784 24 .207 .332 24 .633** .001 24 .107 .620 24 .069 .749 24 -.177 .408 24 .455* .026 24 .000 1.000 24 .423* .040 24 X53 .058 .786 24 .059 .784 24 1.000 . 24 .300 .154 24 .256 .228 24 .191 .372 24 .547** .006 24 .157 .464 24 .473* .020 24 .615** .001 24 .483* .017 24 X54 .286 .176 24 .207 .332 24 .300 .154 24 1.000 . 24 .284 .178 24 -.019 .931 24 .104 .630 24 .008 .969 24 .461* .023 24 .538** .007 24 .440* .032 24 X55 .307 .145 24 .633** .001 24 .256 .228 24 .284 .178 24 1.000 . 24 .040 .852 24 .111 .604 24 -.281 .183 24 .427* .037 24 .111 .605 24 .438* .032 24 X56 .015 .944 24 .107 .620 24 .191 .372 24 -.019 .931 24 .040 .852 24 1.000 . 24 .355 .088 24 .000 1.000 24 .320 .128 24 .225 .290 24 .463* .023 24 X57 .068 .752 24 .069 .749 24 .547** .006 24 .104 .630 24 .111 .604 24 .355 .088 24 1.000 . 24 .271 .201 24 .400 .053 24 .341 .103 24 .444* .030 24 X58 -.102 .634 24 -.177 .408 24 .157 .464 24 .008 .969 24 -.281 .183 24 .000 1.000 24 .271 .201 24 1.000 . 24 -.048 .823 24 .063 .771 24 -.181 .397 24 X59 .270 .202 24 .455* .026 24 .473* .020 24 .461* .023 24 .427* .037 24 .320 .128 24 .400 .053 24 -.048 .823 24 1.000 . 24 .355 .089 24 .578** .003 24 X60 .117 .586 24 .000 1.000 24 .615** .001 24 .538** .007 24 .111 .605 24 .225 .290 24 .341 .103 24 .063 .771 24 .355 .089 24 1.000 . 24 .546** .006 24 TOT.X .440* .032 24 .423* .040 24 .483* .017 24 .440* .032 24 .438* .032 24 .463* .023 24 .444* .030 24 -.181 .397 24 .578** .003 24 .546** .006 24 1.000 . 24

X52

X53

X54

X55

X56

X57

X58

X59

X60

TOT.X

*. Correlation is significant at the 0.05 level (2-tailed). **. Correlation is significant at the 0.01 level (2-tailed).

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->