P. 1
154

154

|Views: 292|Likes:
Published by safran

More info:

Published by: safran on Sep 16, 2010
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

12/30/2013

pdf

text

original

PENINGKATAN KETERAMPILAN BERBICARA SISWA KELAS X-4 SMA NEGERI I JEPARA MELALUI DISKUSI DENGAN PENDEKATAN KONTEKSTUAL FOKUS PEMODELAN

SKRIPSI Disusun untuk Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan Oleh: Nama : NIM Prodi : : Zaenal Arief 2101401028 Pend. Bahasa dan Sastra Indonesia

FAKULTAS BAHASA DAN SENI UNIVERSITAS NEGERI SEMARANG 2005

PERSETUJUAN PEMBIMBING

Skripsi ini telah disetujui oleh pembimbing untuk diajukan ke Sidang Panitia Ujian Skripsi.

Semarang, Juli 2005 Pembimbing I, Pembimbing II,

Drs. Subyantoro, M. Hum NIP. 132005035

Tommi Yuniawan, S Pd, M. Hum NIP. 132238498

i

SARI Arief, Zaenal. 2005. Peningkatan Keterampilan Berbicara Siswa Kelas X-4 SMA Negeri I Jepara melalui Diskusi dengan Pendekatan Kontekstual Fokus Pemodelan. Skripsi. Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia, Fakultas Bahasa dan Seni, Universitas Negeri Semarang. Pembimbing I: Drs. Subyantoro, M. Hum, Pembimbing II: Tommi Yuniawan, S. Pd., M. Hum. Kata Kunci: keterampilan berbicara, diskusi, pendekatan kontekstual fokus pemodelan. Pada umumnya, dalam situasi resmi siswa SMA masih mengalami kesulitan untuk menyampaikan gagasan, pikiran, pertanyaan dan sebagainya menggunakan ragam bahasa lisan dengan baik dan benar. Hal ini juga dialami oleh sebagian besar siswa SMA Negeri I Jepara. Hal tersebut disinyalir karena rendahnya kreativitas guru dalam menentukan teknik pembelajaran keterampilan berbicara kepada siswa. Rasa kurang percaya diri, gugup ataupun grogi senantiasa melingkupi diri siswa setiap pembelajaran berlangsung. Fenomena seperti ini merupakan permasalahan yang perlu segera ditemukan alternatif-alternatif pemecahannya. Dengan demikian, pembelajaran keterampilan berbicara merupakan suatu sarana yang dapat digunakan siswa untuk mengembangkan potensi berbicara seluas-luasnya. Salah satu upaya yang dapat dijadikan alternatif pemecahan masalah tersebut adalah dengan menerapkan pembelajaran keterampilan berbicara melalui diskusi dengan pendekatan kontekstual fokus pemodelan. Berdasarkan uraian di atas, permasalahan yang diungkap dalam penelitian ini adalah 1) seberapa besar peningkatan keterampilan berbicara siswa setelah mengikuti pembelajaran berbicara dengan pendekatan kontekstual fokus pemodelan, dan 2) bagaimana perubahan perilaku siswa setelah mengikuti pembelajaran keterampilan berbicara dengan pendekatan kontekstual fokus pemodelan. Tujuan penelitian ini yaitu 1) mengetahui peningkatan keterampilan berbicara siswa setelah mengikuti pembelajaran keterampilan berbicara dengan pendekatan kontekstual fokus pemodelan, dan 2) mengetahui perubahan perilaku siswa setelah mengikuti pembelajaran keterampilan berbicara dengan pendekatan kontekstual fokus pemodelan. Penelitian ini merupakan penelitian yang berbasis kelas. Dengan demikian, metode yang digunakan adalah metode Penelitian Tindakan Kelas (PTK) yang meliputi dua siklus. Tiap-tiap siklus dilakukan secara berdaur yang terdiri atas empat tahap, yaitu 1) perencanaan, 2) tindakan, 3) pengamatan, dan 4) refleksi. Data penelitian diambil melalui tes dan nontes. Alat pengambilan data tes yang digunakan berupa instrumen tes perbuatan yang berisi aspek-aspek kriteria penilaian keterampilan berbicara berupa penilaian keterampilan berbicara melalui diskusi. Alat pengambilan data nontes yang digunakan berupa pedoman observasi, wawancara, jurnal, dokumentasi foto, rekaman pita, rekaman video, dan sosiometri. Selanjutnya, data dianalisis secara kuantitatif dan kualitatif. Berdasarkan analisis data penelitian, disimpulkan bahwa melalui pendekatan kontesktual fokus pemodelan (modeling), keterampilan berbicara siswa meningkat ii

sebesar sebesar 7,8%. Pada siklus I, nilai rata-rata yang diperoleh siswa sebesar 73,4%, sedangkan pada siklus II, hasil yang dicapai sebesar 81,2%. Perilaku yang ditunjukkan siswa pun berubah setelah diberikan tindakan. Siswa lebih antusias mengikuti pembelajaran, bekerja sama dengan baik dalam kelompoknya, tidak gugup atau grogi dan semakin percaya diri ketika berbicara di depan kelas. Selanjutnya, dari hasil penelitian tersebut, saran yang dapat direkomendasikan antara lain 1) para guru Bahasa dan Sastra Indonesia hendaknya kreatif dalam menentukan pendekatan dalam pembelajaran keterampilan berbicara siswa agar siswa tidak merasa jenuh dengan pembelajaran yang dihadapi, 2) para guru Bahasa dan Sastra Indonesia dapat menggunakan teknik diskusi dengan pendekatan kontekstual fokus pemodelan untuk membelajarkan keterampilan berbicara, 3) para guru bidang studi lain dapat mengadaptasi teknik pembelajaran ini dalam membelajarkan mata pelajaran kepada siswa, dan 4) para pakar atau praktisi bidang pendidikan bahasa dapat melakukan penelitian serupa dengan teknik pembelajaran yang berbeda, sehingga didapatkan berbagai alternatif teknik pembelajaran keterampilan berbicara siswa.

iii

PERNYATAAN

Saya menyatakan bahwa yang tertulis di dalam skripsi ini benar-benar hasil karya saya sendiri bukan jiplakan dari karya orang lain, baik sebagian atau seluruhnya. Pendapat atau temuan orang lain yang terdapat dalam skripsi ini dikutip atau dirujuk berdasarkan kode etik ilmiah.

Semarang, Juli 2005

Zaenal Arief

iv

HALAMAN PENGESAHAN

Telah dipertahankan di hadapan panitia ujian skripsi Fakultas Bahasa dan Seni UNNES pada: Hari : Senin 5 September 2005

Tanggal :

Panitia Ujian Ketua, Sekretaris,

Prof. Dr. Rustono, M. Hum NIP 131281222

Drs. Agus Yuwono, M. Si NIP 13204999

Penguji I,

Drs. Mukh Doyin, M. Si NIP 132106367

Pembimbing I/Penguji II,

Pembimbing II/ Penguji III,

Drs. Subyantoro, M. Hum NIP 132005035

Tommi Yuniawan, S Pd, M. Hum NIP 132238498

v

MOTTO DAN PERSEMBAHAN

1. Sekali berarti sudah itu mati (Chairil Anwar) 2. Siamo Tutti Fratelli/ Kita semua saudara (International Committe of The Red Cross) 3. Ingat hari akhir (Zaenal)

Skripsi ini kupersembahkan untuk: 1. Bagai embun yang menyejukkan ranting dahagaku, dan bagai matahari yang senantiasa membakar jiwaku, ibu dan ayah. Aku bersaksi atas amanah Allah kepadamu untuk diriku, 2. Ummi Haniek, adikku, yang selalu menantangku untuk terus maju, 3. Keluargaku, harta yang paling berharga, 4. Pak Udik, mahaguruku. 5. Guru-guru dan almamaterku.

vi

PRAKATA

Puji syukur tiada terhingga ke hadirat Allah SWT, atas segala limpahan nikmat dan karunia yang diberikan kepada penulis, sehingga skripsi ini dapat selesai dengan baik, penuh tantangan dan ujian bertubi-tubi. Rendahnya keterampilan berbicara siswa dan kurangnya kreativitas guru dalam menentukan pendekatan pembelajaran yang dapat membuat siswa antusias mengikuti pelajaran mengilhami penulis untuk menyusun skripsi berbasis Penelitian Tindakan Kelas (PTK) guna meningkatkan keterampilan berbicara siswa, sekaligus menciptakan model dalam pembelajaran yang bisa ditiru/ diamati siswa meskipun sederhana. Ilham tersebut penulis wujudkan dalam bentuk upaya peningkatan keterampilan berbicara siswa yang penulis rangkum dalam skripsi berbasis Penelitian Tindakan Kelas (PTK) di kelas X-4 SMA Negeri I Jepara, almamater penulis dulu. Penulis menyadari sepenuhnya bahwa tanpa adanya bantuan dari berbagai pihak, penulisan skripsi ini tidak akan pernah terwujud. Oleh karena itu, dengan kerendahan hati, ucapan terima kasih yang tulus penulis sampaikan kepada: 1. Ketua Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia, Dekan Fakultas Bahasa dan Seni, serta Rektor Universitas Negeri Semarang, yang telah memberikan izin penelitian ini, 2. Drs. Subyantoro, M. Hum dan Tommi Yuniawan, S. Pd, M. Hum, pembimbing I dan II, yang disela-sela kesibukannya dengan penuh kesabaran,

vii

keikhlasan, dan kebijaksanaan memberikan bimbingan, arahan dan masukan kepada penulis, 3. Ibu dan Bapak dosen Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia yang telah menyemaikan ladang dan menanamkan ilmu sebagai bekal yang sangat bermanfaat bagi penulis, 4. Drs. Sugeng Hidayat, M.M., Kepala SMA Negeri I Jepara, yang telah memberikan izin kepada penulis untuk mengadakan penelitian ini dan memberikan kesempatan untuk berkarya di sana, 5. Bambang Wisaksono, S. Pd, Kepala Tata Usaha SMA Negeri I Jepara, atas pinjaman fasilitas-fasilitas sekolah guna mendukung penelitian ini, 6. Udik Agus DW., S. Pd, guru bahasa Indonesia-ku, atas motivasi dan kerelaannya untuk penulis ajak diskusi, bertukar pikiran serta berkeluh kesah hingga larut malam. Tak terhitung lagi apa yang kauberi. Bagaimana aku berterima kasih padamu, 7. Anak-anak kelas X-4 SMA Negeri I Jepara, subjek penelitian ini, 8. Om Nur Subkhi, atas ilmu dan pinjaman fasilitas komputernya untuk mengetik skripsi ini, 9. M. Juli Fitriyadi atas pengambilan gambar dan editing untuk model diskusi yang peneliti buat, Katin "Aulia Yasmin Furniture" atas kameranya, Via, Yayan, Susilo, Adhisty, Gunawan, Nopiyan, dan anak-anak PMR Wira SMA Negeri I Jepara 2004/2005 atas pembuatan modelnya, 10. Teman-teman PBSI angkatan 2001 atas segala informasi, bantuan, dukungan dan semua yang telah diberikan,

viii

11. Teman-teman kos "Plat-K Community". Bersama mereka aku jadi tahu jalan menuju surga dan arah pintu neraka, Insya Allah jasa-jasa mereka akan saya kenang sepanjang hayat. Semoga karya sederhana ini bermanfaat bagi para pembaca. Akhirnya, seperti pepatah katakan, "Tak ada gading yang tak retak", skripsi ini pun masih jauh dari kesempurnaan. Oleh karena itu, kritik dan saran yang konstruktif dari pembaca saya harapkan demi kesempurnaan penyusunan berikutnya.

Semarang, Juli 2005

Zaenal Arief

ix

DAFTAR ISI

PERSETUJUAN PEMBIMBING.......................................................................

i

SARI.................................................................................................................... ii PERNYATAAN.................................................................................................. iv HALAMAN PENGESAHAN............................................................................. v MOTTO DAN PERSEMBAHAN ...................................................................... vi PRAKATA.......................................................................................................... vii DAFTAR ISI....................................................................................................... x DAFTAR TABEL............................................................................................... xiii DAFTAR GAMBAR .......................................................................................... xiv BAB I PENDAHULUAN A. Pendahuluan .................................................................................................. 1 B. Identifikasi dan Pembatasan Masalah ........................................................... 6 C. Rumusan Masalah ......................................................................................... 10 D. Tujuan Penelitian .......................................................................................... 10 E. Manfaat Penelitian ........................................................................................ 11 1. 2. Manfaat Praktis....................................................................................... 11 Manfaat Teoretis..................................................................................... 11

BAB II LANDASAN TEORETIS DAN HIPOTESIS TINDAKAN A. Kajian Pustaka............................................................................................... 12 B. Landasan Teoretis 1. Pembelajaran Bahasa Indonesia.............................................................. 17

x

2.

Pembelajaran Keterampilan Berbicara.................................................... 19 a. Hakikat Keterampilan Berbicara ..................................................... 19

b. Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar Keterampilan Berbicara .................................... 20 c. Alternatif Pembelajaran Keterampilan Berbicara............................ 22

d. Diskusi ............................................................................................. 23 e. 3. 4. Faktor-faktor Penunjang Efektifitas Berbicara................................ 30

Pendekatan Kontekstual.......................................................................... 36 Pemodelan ............................................................................................... 37

C. Kerangka Berpikir......................................................................................... 38 D. Hipotesis Tindakan ....................................................................................... 39 BAB III METODE PENELITIAN A. Subjek Penelitian........................................................................................... 40 B. Variabel Penelitian ........................................................................................ 40 1. Keterampilan Berbicara Siswa................................................................ 40 2. Penggunaan Pendekatan Kontekstual Fokus Pemodelan........................ 41 C. Parameter Penelitian ..................................................................................... 41 D. Instrumen Penelitian ..................................................................................... 42 1. Bentuk Instrumen .................................................................................... 42 a. Tes Perbuatan.................................................................................... 42 b. Nontes ............................................................................................... 45 2. Uji Instrumen .......................................................................................... 54 a. Instrumen Tes Perbuatan .................................................................. 54

xi

b. Instrumen Nontes .............................................................................. 54 E. Desain Penelitian........................................................................................... 55 1. 2. Proses Pelaksanaan Siklus I.................................................................... 56 Proses Pelaksanaan Siklus II .................................................................. 60

F. Teknik Pengumpulan Data............................................................................ 65 G. Teknik Analisis Data..................................................................................... 70 1. 2. Teknik Kuantitatif .................................................................................. 70 Teknik Kualitatif .................................................................................... 71

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. Hasil Penelitian ............................................................................................. 74 1. Hasil Penelitian Siklus I ......................................................................... 74 a. Hasil Tes .......................................................................................... 74

b. Hasil Nontes..................................................................................... 86 2. Hasil Penelitian Siklus II ........................................................................ 111 a. Hasil Tes .......................................................................................... 112

b. Hasil Nontes..................................................................................... 122 B. Pembahasan................................................................................................... 145 BAB V SIMPULAN DAN SARAN A. Simpulan ....................................................................................................... 159 B. Saran.............................................................................................................. 160 DAFTAR PUSTAKA ......................................................................................... 162 LAMPIRAN-LAMPIRAN

xii

DAFTAR TABEL

Tabel 1.. : Tabel 2. : Tabel 3.. : Tabel 4.. : Tabel 5. : Tabel 6. : Tabel 7. : Tabel 8. : Tabel 9. : Tabel 10.: Tabel 11.: Tabel 12.: Tabel 13.: Tabel 14.: Tabel 15.: Tabel 16.: Tabel 17.: Tabel 18.: Tabel 19.: Tabel 20.: Tabel 21.: Tabel 22.: Tabel 23.: Tabel 24.: Tabel 25.: Tabel 26.: Tabel 27.: Tabel 28.:

Parameter Penelitian .................................................................... Aspek Penilaian, Nilai, dan Kategori........................................... Rincian Perolehan Nilai Tiap Siswa ............................................ Hasil Tes Keterampilan Berbicara Siklus I.................................. Hasil Tes Aspek Ketepatan Ucapan............................................. Hasil Tes Aspek Penempatan Tekanan ........................................ Hasil Tes Aspek Penempatan Jeda............................................... Hasil Tes Aspek Intonasi ............................................................. Hasil Tes Aspek Pilihan Kata ...................................................... Hasil Tes Aspek Pemakaian Kalimat........................................... Hasil Tes Aspek Sikap, Gerak-gerik dan Mimik ......................... Hasil Tes Aspek Volume Suara ................................................... Hasil Tes Aspek Pandangan Mata................................................ Hasil Tes Aspek Penguasaan Topik............................................. Hasil Tes Aspek Kelancaran ........................................................

41 43 44 75 76 77 78 79 80 81 82 83 84 85 86

Hasil Tes Keterampilan Berbicara Siklus II................................. 112 Hasil Tes Aspek Ketepatan Ucapan............................................. 113 Hasil Tes Aspek Penempatan Tekanan ........................................ 114 Hasil Tes Aspek Penempatan Jeda............................................... 115 Hasil Tes Aspek Intonasi ............................................................. 116 Hasil Tes Aspek Pilihan Kata ...................................................... 117 Hasil Tes Aspek Pemakaian Kalimat........................................... 118 Hasil Tes Aspek Sikap, Gerak-gerik dan Mimik ......................... 119 Hasil Tes Aspek Volume Suara ................................................... 120 Hasil Tes Aspek Pandangan Mata................................................ 120 Hasil Tes Aspek Penguasaan Topik............................................. 121 Hasil Tes Aspek Kelancaran ........................................................ 122 Perbandingan Nilai Tiap-tiap Aspek Keterampilan Berbicara..... 179

xiii

DAFTAR GAMBAR

Gambar 1. : Aktivitas Siswa Menyaksikan Model............................................ 103 Gambar 2. : Aktivitas Siswa Mendiskusikan Masalah Diskusi ........................ 104 Gambar 3. : Penampilan Diskusi Siswa di Depan Kelas .................................. 105 Gambar 4. : Alur Sosiometri ............................................................................. 140

xiv

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah Hakikat belajar bahasa adalah belajar berkomunikasi. Oleh karena itu, pembelajaran bahasa Indonesia diarahkan untuk meningkatkan siswa agar mampu berkomunikasi dalam bahasa Indonesia, baik secara lisan maupun tertulis (Depdiknas 2003:1). Selain untuk meningkatkan siswa agar mampu berkomunikasi, pembelajaran bahasa Indonesia bertujuan agar siswa memiliki sikap yang positif terhadap bahasa Indonesia. Sikap positif yang dapat ditunjukkan siswa antara lain mau menggunakan bahasa Indonesia dengan baik dan benar dalam berkomunikasi. Komunikasi merupakan kegiatan mengungkapkan isi hati kepada orang lain (Depdiknas 2004:5). Isi hati tersebut dapat berupa gagasan, pikiran, perasaan, pertanyaan dan sebagainya. Secara garis besar Yuniawan (2002:1) mengemukakan bahwa ada dua cara komunikasi, yaitu komunikasi verbal dan komunikasi nonverbal. Komunikasi verbal menggunakan bahasa sebagai sarananya, sedangkan komunikasi nonverbal menggunakan sarana gerakgerik, warna, gambar, bendera, bunyi bel dan sebagainya. Bahasa digunakan sebagai sarana dalam komunikasi verbal dan dapat dibagi menjadi dua, yaitu komunikasi lisan dan komunikasi tulisan (Yuniawan 2002:1). Dalam komunikasi sehari-hari orang lebih banyak menggunakan

1

2

ragam bahasa lisan daripada ragam bahasa tulis. Kegiatan berbahasa lisan disebut berbicara. Berbicara adalah kemampuan mengucapkan bunyi-bunyi artikulasi atau kata-kata untuk mengekspresikan, menyatakan serta menyampaikan pikiran, gagasan dan perasaan (Tarigan 1990:15). Berbicara merupakan keterampilan berbahasa selain keterampilan mendengarkan, keterampilan membaca, dan keterampilan menulis (Nida dan Haris dalam Tarigan 1990:1) Keterampilan berbicara merupakan keterampilan kebahasaan yang sangat penting. Syafi'ie (1993:33) mengemukakan, dengan keterampilan berbicaralah pertama-tama kita memenuhi kebutuhan untuk berkomunikasi dengan masyarakat tempat kita berada. Keraf (1997:314) menyebutkan bahwa peranan pidato, ceramah, penyajian lisan pada suatu kelompok masa merupakan hal yang sangat penting, baik pada waktu sekarang maupun waktu mendatang. Selain pentingnya keterampilan berbicara untuk berkomunikasi, komunikasi dapat berlangsung secara efektif dan efisien dengan menggunakan bahasa, sedangkan hakikat bahasa adalah ucapan. Proses pengucapan bunyibunyi bahasa itu tidak lain adalah berbicara. Untuk dapat berbicara dengan baik diperlukan keterampilan berbicara (Syafi'ie 1993:33). Dari uraian di atas, diketahui betapa pentingnya keterampilan berbicara bagi seseorang. Oleh karena itu, pembelajaran keterampilan berbicara perlu mendapat perhatian agar para siswa memiliki keterampilan berbicara, sehingga mampu berkomunikasi untuk menyampaikan isi hatinya kepada

3

orang lain dengan baik. Selain betapa pentingnya keterampilan berbicara bagi seseorang, pembelajaran keterampilan berbicara perlu mendapatkan perhatian karena keterampilan berbicara tidak bisa diperoleh secara otomatis, melainkan harus belajar dan berlatih (Syafi'ie 1993:33). Keterampilan berbicara dibelajarkan kepada siswa mulai dari sekolah dasar hingga SMA. Namun, pada umumnya dalam situasi resmi siswa SMA masih mengalami kesulitan untuk menyampaikan gagasan, pikiran, pertanyaan dan sebagainya menggunakan ragam bahasa lisan dengan baik dan benar. Hal ini juga dialami oleh sebagian besar siswa SMA Negeri I Jepara, khususnya siswa kelas X yang menjadi objek penelitian ini. Dalam kegiatan belajar mengajar digunakan bahasa Indonesia sebagai bahasa pengantar, terutama mata pelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia. Setidaknya hal ini dapat dijadikan contoh bagi para siswa dalam kegiatan berbicara dalam suasana formal. Namun, para siswa masih saja mengalami kesulitan untuk menyampaikan ide, pikiran, gagasan, perasaan dan lain sebagainya dalam situasi formal dengan baik dan benar. Kesulitan yang dialami siswa antara lain dalam hal: 1) menjawab pertanyaan guru, 2) mengajukan pertanyaan maupun pendapat dalam kegiatan belajar mengajar, rapat OSIS, dan lain sebagainya, 3) menceritakan pengalaman pribadi, 4) memperkenalkan diri maupun orang lain, 5) menceritakan kembali isi suatu bacaan,

4

6) menyampaikan pendapat dalam rapat kelas, 7) berwawancara dengan narasumber dari berbagai kalangan, dan 8) berpidato di hadapan teman sekelas, dan kegiatan berbicara lainnya. Secara umum, pembelajaran keterampilan berbicara di SMA Negeri I Jepara belum menunjukkan hasil yang menggembirakan. Hasil-hasil tersebut terlihat dari pengamatan penulis terhadap perilaku berbicara siswa dalam situasi formal berikut. Dalam kegiatan belajar mengajar yang penulis lakukan, penulis menjumpai bahwa dari jumlah sekitar 40 siswa di setiap kelas hanya beberapa diantara mereka yang berani bertanya kepada guru, mengajukan pendapat dan lain sebagainya pada saat kegiatan belajar mengajar berlangsung. Ada siswa yang tidak berani berbicara. Ada siswa yang berani berbicara dengan menggunakan ragam resmi tapi struktur kalimatnya kurang baik. Ada juga siswa yang lancar berbicara tapi menggunakan ragam bahasa nonformal, dan ada juga siswa yang mampu mengungkapkan gagasannya secara runtut tapi struktur bahasa yang digunakan kurang baik. Dari hal itu terlihat bahwa siswa masih mengalami kesulitan untuk berbicara dalam situasi formal dengan menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar. Kalimat-kalimat yang digunakan siswa yang dapat dijadikan contoh antara lain, "Pak, gimana kalau mengumpulkan tugasnya dua minggu lagi?" Contoh lain, pertanyaan yang diajukan siswa ketika mengikuti pembelajaran berwawancara dengan narasumber dari berbagai kalangan, "Pak, boleh nggak, Pak, kalau kita menanyakan pertanyaan pribadi kepada narasumber?"

5

Tidak hanya penulis saja, guru pengampu mata pelajaran lain pun menjumpai hal yang sama dalam kegiatan belajar mengajar. Mereka mengatakan hanya beberapa siswa saja yang berani berbicara mengajukan pertanyaan, pendapat dan sebagainya ketika mereka diberi kesempatan bertanya maupun mengungkapkan gagasannya. Hubungan antara siswa dengan guru maupun staf tata usaha di luar kelas juga menunjukkan siswa SMA Negeri I Jepara terbiasa belum menggunakan bahasa Indonesia dengan benar. Sebagai contoh, pada saat guru pengampu berhalangan hadir, hanya siswa tertentu saja yang melaporkan kepada piket. Kalimat yang digunakan hanya berupa kalimat-kalimat singkat dan belum menunjukkan pemakaian bahasa Indonesia dengan benar. Umumnya mereka berkata, "Kelas saya kosong. Ada tugas nggak, Pak / Bu?" Begitu juga ketika siswa berhubungan dengan staf tata usaha pada saat membayar iuran sekolah atau meminta sesuatu, "Pak / Bu, minta spidolnya. Spidol kelas saya habis." Bertolak dari kurangnya keterampilan berbicara siswa dalam situasi formal menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar, penulis tertarik untuk mengadakan penelitian berkaitan dengan pembelajaran keterampilan berbicara dalam rangka peningkatan keterampilan berbicara siswa dalam situasi formal. Pemakaian bahasa Indonesia dengan baik dan benar merupakan salah satu cara yang dapat dilakukan untuk pelestarian bahasa Indonesia. Selain itu, pemakaian bahasa Indonesia dengan baik dan benar merupakan salah satu wujud kecintaan seseorang terhadap bangsa Indonesia.

6

Untuk meningkatkan kemampuan siswa agar mampu berbicara dalam suasana formal, perlu dicari pendekatan pembelajaran keterampilan berbicara yang secara langsung dapat mengarahkan siswa untuk berlatih berbicara dalam suasana resmi atau formal. Salah satu pendekatan yang dapat digunakan untuk meningkatkan kemampuan berbicara siswa adalah pendekatan kontekstual dengan fokus pemodelan. Dalam pembelajaran keterampilan berbicara melalui diskusi kelas dengan menggunakan pendekatan kontekstual, siswa diminta untuk mendiskusikan hal-hal/ masalah-masalah yang dekat dengan dunia siswa atau dunia remaja, sehingga siswa lebih menguasai materi yang dibicarakan karena mereka mengalami sendiri masalah-masalah itu. Sedangkan pemodelan dalam pembelajaran adalah adanya model dalam pembelajaran yang bisa diamati/ ditiru siswa untuk berbicara dalam ragam formal melalui diskusi. Jadi, pembelajaran keterampilan berbicara dengan menggunakan pendekatan kontekstual fokus pemodelan dapat meningkatkan keterampilan berbicara, karena siswa lebih menguasai materi yang didiskusikan dan siswa dapat meniru/ mengamati model yang diberikan untuk berbicara dalam ragam formal melalui diskusi.

B. Identifikasi dan Pembatasan Masalah Kesulitan yang dialami siswa kelas X SMA Negeri I Jepara ketika berbicara dengan menggunakan ragam formal peneliti identifikasi penyebabpenyebabnya. Identifikasi tersebut peneliti dapatkan dari hasil pengamatan dan tanya jawab dengan beberapa siswa kelas X di luar jam pelajaran dan ketika

7

mereka mengikuti kegiatan ekstrakurikuler PMR yang peneliti kelola. Dari identifikasi tersebut, peneliti mengetahui penyebab-penyebab kesulitan siswa dalam berbicara dengan menggunakan ragam formal. Penyebab-penyebabnya antara lain: 1. Dalam peristiwa komunikasi sehari-hari mereka lebih banyak

menggunakan bahasa ibu mereka, bahasa Jawa, untuk berkomunikasi dengan orang lain. Mereka belum terbiasa menggunakan bahasa Indonesia dalam peristiwa komunikasi sehari-hari. Mereka hanya menggunakan bahasa Indonesia pada saat mengikuti proses belajar mengajar di sekolah atau mengikuti kegiatan sekolah di luar jam pelajaran. Penggunaan bahasa Indonesia itu pun terbatas hanya ketika siswa berhubungan dengan guru saja pada saat pelajaran berlangsung atau pada saat mengikuti kegiatan sekolah di luar jam pelajaran. Bahasa Indonesia yang mereka gunakan itu pun belum menunjukkan pemakaian bahasa Indonesia yang benar. 2. Dalam proses belajar mengajar, pada umumnya para guru kurang memberikan perhatian terhadap pemakaian bahasa Indonesia siswa. Ketika siswa berbicara dalam pelajaran (bertanya, mengajukan pertanyaan atau pendapat dan sebagainya), guru kurang memperhatikan pemakaian bahasa siswa, apakah ragam yang siswa pakai sudah benar atau belum. Umumnya guru hanya memperhatikan apa yang dibicarakan siswa berkaitan dengan pelajaran yang diampunya. Sebagai contoh, "Pak, mbok waktunya jangan seminggu lagi. Tambahin dong, Pak." Dari hal ini, dalam suasana formal proses belajar mengajar, siswa belum terbiasa menggunakan bahasa

8

Indonesia dengan benar, dan menyebabkan siswa kesulitan apabila berbicara menggunakan bahasa Indonesia ragam formal. 3. Siswa tidak memiliki/ enggan mengikuti kegiatan di luar jam pelajaran yang memungkinkan mereka berbicara menggunakan bahasa Indonesia dalam ragam formal. Hanya beberapa siswa saja yang memiliki kegiatan di luar jam pelajaran yang memungkinkan mereka menggunakan bahasa Indonesia dalam ragam formal. Siswa tersebut adalah siswa yang juga aktif menjadi pengurus OSIS. Pada saat melakukan rapat dengan pembina, siswa tersebut memiliki kesempatan yang lebih luas untuk menggunakan bahasa Indonesia ragam formal. Hal ini dapat digunakan siswa untuk melatih keterampilan berbicaranya di luar pelajaran. Dari hal itu dapat penulis simpulkan penyebab-penyebab kesulitan siswa dalam berbicara dengan menggunakan ragam formal, yakni para siswa belum terbiasa menggunakan bahasa Indonesia dalam peristiwa sehari-hari, kecuali pada saat mereka mengikuti proses belajar mengajar di sekolah, kurangnya perhatian para guru terhadap pemakaian bahasa Indonesia siswa dalam proses belajar mengajar, dan tidak adanya/ keengganan siswa mengikuti kegiatan di luar jam pelajaran yang dapat dijadikan siswa untuk melatih keterampilan berbicaranya. Untuk mengatasi hal itu, salah satu cara yang dapat ditempuh untuk meningkatkan keterampilan berbicara siswa adalah dengan memaksimalkan pembelajaran keterampilan berbicara siswa di sekolah.

9

Keberhasilan pengajaran keterampilan berbicara maupun pengajaran bahasa pada umumnya dipengaruhi berbagai faktor. Faktor-faktor itu antara lain, faktor dari siswa itu sendiri, dukungan orang tua dan masyarakat, kemampuan guru dalam melaksanakan kegiatan belajar mengajar (dari perencanaan hingga evaluasi), serta tersedianya sarana dan prasarana belajar. Dari berbagai faktor tersebut, faktor gurulah yang memegang peranan penting, karena gurulah yang bertanggung jawab terhadap pembelajaran kepada siswa. Berkaitan dengan kemampuan guru dalam melaksanakan kegiatan belajar mengajar, muncul pertanyaan bagaimana cara meningkatkan keterampilan berbicara pada siswa kelas X? Perlukah guru menggunakan pendekatan-pendekatan tertentu dalam pembelajaran materi tersebut?

Pertanyaan-pertanyaan tersebut di atas diharapkan dapat memberikan masukan bagi para guru untuk memilih dan menentukan pendekatan-pendekatan pembelajaran yang sesuai, sehingga pada akhirnya siswa memiliki kompetensi dalam keterampilan berbicara sesuai dengan kurikulum mata pelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia. Pertanyaan-pertanyaan seperti yang telah dikemukakan di atas, menarik perhatian penulis untuk mengadakan penelitian berkaitan dengan keterampilan berbicara. Penelitian yang berkaitan dengan keterampilan berbicara dapat sangat luas ruang lingkupnya. Oleh karena keterbatasan waktu, biaya, dan kemampuan penulis, penelitian ini hanya mengkaji keterampilan berbicara dalam suasana resmi yang dapat dilakukan siswa. Dari berbagai macam suasana resmi dalam berbicara, penulis memfokuskan pada

10

keterampilan berbicara melalui diskusi kelas yang membahas masalahmasalah yang dekat dengan dunia siswa atau dunia remaja.

C. Rumusan Masalah Rumusan masalah yang dikaji dalam penelitian ini adalah sebagai berikut. 1. Bagaimana peningkatan keterampilan berbicara siswa setelah mengikuti pembelajaran keterampilan berbicara dengan pendekatan kontekstual fokus pemodelan? 2. Bagaimana perubahan perilaku siswa yang ditunjukkan saat mengikuti pembelajaran keterampilan berbicara dengan pendekatan kontekstual fokus pemodelan?

D. Tujuan Penelitian Penelitian tindakan kelas ini bertujuan untuk: 1. mengetahui peningkatan keterampilan berbicara siswa setelah mengikuti pembelajaran keterampilan berbicara dengan pendekatan kontekstual fokus pemodelan, dan 2. mengetahui perubahan perilaku siswa setelah mengikuti pembelajaran keterampilan berbicara dengan pendekatan kontekstual fokus pemodelan.

11

E. Manfaat Penelitian Sekecil apapun, penelitian ini diharapkan memiliki manfaat, baik manfaat praktis maupun manfaat teoretis. 1. Manfaat Praktis a. Bagi siswa, penelitian ini dapat memberikan pengalaman berbicara dalam suasana resmi, sehingga pada nantinya siswa dapat menerapkan pengalaman ini dalam pemakaian bahasa di masyarakat, b. Bagi guru, penelitian ini dapat digunakan sebagai masukan untuk memilih dan menentukan pendekatan dalam melakukan pengajaran, sehingga siswa memiliki kompetensi dengan materi yang diajarkan, dan profesionalisme guru semakin meningkat, c. Bagi sekolah, penelitian ini diharapkan dapat mendorong pihak sekolah untuk memotivasi semangat para guru untuk mengadakan penelitian sejenis, sehingga dapat meningkatkan kinerja guru dan mutu sekolah akan meningkat. 2. Manfaat Teoretis Selain manfaat praktis seperti yang telah dikemukakan di atas, penelitian ini juga memiliki manfaat teoretis untuk memberikan landasan bagi para peneliti lain untuk mengadakan penelitian sejenis dalam rangka meningkatkan keterampilan berbicara siswa pada khususnya dan keterampilan berbahasa pada umumnya.

BAB II LANDASAN TEORETIS DAN HIPOTESIS TINDAKAN

A. Kajian Pustaka Penelitian mengenai keterampilan berbahasa pada umumnya dan keterampilan berbicara pada khususnya bukanlah hal baru dalam dunia pendidikan. Para mahasiswa jurusan kependidikan bahasa dan sastra Indonesia telah banyak melakukannya. Penelitian-penelitian tersebut merupakan penelitian tindakan kelas untuk memperbaiki pembelajaran keterampilan berbicara yang selama ini berlangsung. Pembelajaran keterampilan berbicara perlu mendapatkan perhatian karena keterampilan ini sangat penting. Dalam kehidupan sehari-hari dengan keterampilan berbicaralah pertama-tama kita memenuhi kebutuhan berkomunikasi dengan orang lain. Pustaka-pustaka yang mendasari penelitian ini adalah tulisan-tulisan hasil penelitian terdahulu yang memiliki relevansi dengan penelitian ini. Beberapa penelitian yang mengangkat permasalahan pembelajaran

keterampilan berbicara antara lain dilakukan oleh Sumarwati (1999), Sutopo (2000), Paiman (2001), Hidayah (2002), Riastuti (2003), dan Larasati (2004). Semua karya tersebut merupakan skripsi. Secara singkat, karya-karya tersebut penulis sampaikan pada uraian berikut ini. Tahun 1999, Sumarwati menulis skripsi yang diberinya judul Peningkatan Keterampilan Berbicara Siswa Melalui Teknik Bermain Peran di SLTPN 8 Pati. Dari hasil penelitian ini diperoleh simpulan bahwa teknik 12

13

bermain peran dapat meningkatkan keterampilan berbicara siswa. Secara kuantitatif hasil penelitian melalui dua siklus ini menunjukkan peningkatan sebesar 10,6% untuk aspek kebahasaan dan 11,6% untuk aspek

nonkebahasaan. Penelitian ini memberikan kontribusi alternatif pembelajaran keterampilan berbicara. Sayangnya, penelitian ini hanya mengukur kadar peningkatan keterampilan berbicara siswa saja, tanpa menyoroti perubahan perilaku siswa setelah diberikan teknik baru dalam pembelajaran. Dengan demikian, respon siswa dalam pembelajaran belum dapat diidentifikasi. Sutopo (2000) membuat skripsi yang berjudul Upaya Meningkatkan Keberanian Berbicara dalam Pembelajaran Menanggapi Isi Berita Melalui Pemberian Penguatan dan Penggunaan Media Audio pada Siswa Kelas III SLTPN I Wedung Kabupaten Demak Tahun Ajaran 2000/2001. Hasil

penelitiannya menunjukkan bahwa setelah dilaksanakan penelitian dalam dua siklus dihasilkan simpulan bahwa penggunaan media audio dan pemberian penguatan dapat meningkatkan keberanian berbicara siswa sebesar 25% dari siklus I sampai siklus II. Penelitian selanjutnya adalah penelitian yang dilakukan Paiman pada siswa kelas I SLTPN 2 Subah untuk pembuatan skripsinya. Skripsi yang dibuatnya diberi judul Peningkatan Keterampilan Berbicara dengan Teknik Simulasi pada Siswa Kelas I SLTPN 2 Subah, Batang. Dalam penelitiannya disimpulkan bahwa melalui teknik simulasi keterampilan berbicara siswa dapat ditingkatkan. Peningkatan ini terlihat dari persentase keterampilan berbicara yang meningkat dari siklus I ke siklus II sebesar 12,38%. Tidak

14

hanya peningkatan keterampilan berbicara siswa saja, siswa juga memberikan respon positif dalam pembelajaran berbicara melalui teknik simulasi. Respon positif yang ditunjukkan adalah keaktifan dan antusias siswa dalam mengikuti pembelajaran. Dengan demikian, penelitian ini cukup memberikan masukan bagi guru bahasa dan sastra Indonesia untuk memilih teknik pembelajaran keterampilan berbicara. Hidayah (2002) membuat skrisi yang diberi judul Peningkatan Keterampilan Berbicara dengan Teknik Reka Cerita Gambar pada Siswa Kelas I C MA Al-Asror Patemon Gunungpati, Semarang. Nur Hidayah menyimpulkan hasil penelitiannya bahwa terjadi perbedaan hasil antara siklus I dan siklus II sebesar 9,15 dan terbukti bahwa teknik reka cerita gambar dapat meningkatkan keterampilan berbicara siswa. Penelitian berikutnya dilakukan oleh Riastuti pada tahun 2003. Skripsinya yang berjudul Peningkatan Keterampilan Berbicara Melalui Media Audio pada Siswa Kelas V SDN Yamansari 03 Kecamatan Lebaksiu Kabupaten Tegal, membahas masalah mengenai peningkatan keterampilan berbicara siswa melalui audio dan perubahan perilaku siswa selama

pembelajaran. Ada yang menarik dari penelitian ini, yakni subjek penelitian ini adalah siswa Sekolah Dasar yang selama ini jarang digunakan oleh para peneliti dalam mengkaji keterampilan berbicara. Larasati (2004) mengadakan penelitian untuk skripsinya yang berjudul Peningkatan Kemampuan Berbicara Melalui Teknik Debat pada Siswa Kelas III PS 4 SMKN 8 Semarang Tahun Ajaran 2003/2004. Dari penelitiannya

15

disimpulkan bahwa melalui pembelajaran berbicara dengan teknik debat kemampuan berbicara siswa kelas III PS 4 SMKN 8 Semarang meningkat. Peningkatannya sebesar 11,38%. Selain peningkatan keterampilan berbicara, siswa juga mengalami perubahan perilaku dalam pembelajaran ke arah positif. Perilaku tersebut adalah siswa semakin aktif dan antusias dalam belajar, berani mengemukakan pendapat, dan semakin percaya diri dalam berbicara di depan umum dalam forum resmi. Berdasarkan uraian tersebut, dapat diketahui bahwa penelitian

mengenai keterampilan berbicara siswa sudah banyak dilakukan. Penelitianpenelitian tersebut bertujuan untuk meningkatkan keterampilan berbicara siswa. Para peneliti telah menggunakan teknik maupun media yang bervariasi dalam meningkatkan keterampilan berbicara siswa, baik pada tingkat SD, SMP maupun SMA/SMK/MA. Meskipun penelitian mengenai keterampilan berbicara telah banyak dilakukan, peneliti tetap menganggap bahwa penelitian sejenis masih perlu dilakukan untuk menemukan berbagai alternatif teknik dalam membelajarkan keterampilan berbicara kepada siswa. Hal ini mengingat kenyataan bahwa keterampilan berbicara siswa masih rendah, belum memuaskan, dan masih perlu dicarikan teknik-teknik yang efektif untuk membelajarkan keterampilan berbicara siswa. Berpijak pada fenomena di atas, peneliti melakukan penelitian peningkatan keterampilan berbicara ragam formal siswa kelas X SMA Negeri I Jepara melalui diskusi dengan pendekatan kontekstual fokus pemodelan.

16

Dalam diskusi ini siswa diminta untuk membentuk kelompokkelompok. Kemudian, kelompok tersebut mendiskusikan masalah-masalah seputar dunia siswa atau dunia remaja yang ditemukan dari majalah Graffity, media komunikasi siswa SMA Negeri I Jepara, untuk mendiskusikan alternatif-alternatif pemecahannya. Setelah itu, setiap kelompok tampil menyajikan hasil kerja kelompoknya secara bergantian untuk ditanggapi teman-temannya dari kelompok lain berkaitan dengan alternatif-alternatif pemecahan masalah yang ditemuinya. Penelitian yang mengkaji peningkatan keterampilan berbicara siswa SMA melalui diskusi dengan pendekatan kontekstual fokus pemodelan belum pernah dilakukan peneliti lain, sehingga penelitian ini dapat

dipertanggungjawabkan keasliannya. Hal ini dikarenakan Kurikulum 2004 atau sering dikenal dengan Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK) dengan menggunakan pendekatan kontekstual dalam pembelajaran baru mulai dilaksanakan di sekolah-sekolah pada tahun ajaran 2004/2005, termasuk SMA Negeri I Jepara. Berpijak pada penelitian-penelitian sebelumnya, dan adanya keinginan peneliti untuk memberikan sumbangsih alternatif-alternatif

pembelajaran keterampilan berbicara bagi para guru bahasa dan sastra Indonesia di sekolah-sekolah pada umumnya dan di SMA Negeri I Jepara pada khususnya, maka penelitian ini peneliti lakukan.

17

B. Landasan Teoretis 1. Pembelajaran Bahasa Indonesia Fungsi utama bahasa adalah sebagai alat komunikasi, sedangkan hakikat belajar bahasa adalah belajar berkomunikasi. Oleh karena itu, pembelajaran bahasa Indonesia diarahkan untuk meningkatkan

kemampuan siswa dalam berkomunikasi dengan menggunakan bahasa Indonesia, baik secara lisan maupun tertulis. Kemampuan berkomunikasi penting dimiliki siswa, sebab keterampilan yang baik dalam berbahasa dapat membuat komunikasi antarwarga berlangsung dengan tenteram dan damai (Depdiknas 2003:4). Pembelajaran bahasa Indonesia juga dapat dijadikan sarana pembinaan dan pengembangan bahasa Indonesia. Jalur pendidikan di sekolah merupakan merupakan jalur yang sangat efektif dan efisien. Wujud pembinaan dan pengembangan bahasa Indonesia di sekolah adalah pelaksanaan pembelajaran bahasa Indonesia (Syafi'ie 1993:11). Dalam kurikulum 2004 atau sering dikenal dengan Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK), standar kompetensi mata pelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia mencakupi aspek mendengarkan, berbicara, membaca, menulis, dan sastra. Sebaiknya, aspek-aspek tersebut mendapat porsi yang seimbang dan dilaksanakan secara terpadu dalam satu tema. Pembelajaran aspek-aspek tersebut disampaikan secara tematis. Artinya, tema digunakan sebagai pengikat untuk pengembangan dan perluasan pembelajaran aspek-aspek tersebut serta pemersatu kegiatan berbahasa. Tujuannya adalah agar kegiatan pembelajaran bahasa tidak

18

disajikan terpisah dari konteks. Tema itu sendiri dapat dijabarkan ke dalam beberapa anak tema. Tema-tema tersebut digunakan untuk membelajarkan aspek keterampilan mendengarkan, berbicara, membaca, menulis dan sastra. Pembelajaran keterampilan mendengarkan digunakan sebagai bahan untuk membelajarkan keterampilan berbicara atau sebaliknya, pembelajaran keterampilan berbicara digunakan sebagai bahan untuk membelajarkan keterampilan mendengarkan. Begitu juga dengan

pembelajaran keterampilan membaca dan menulis. Keterampilan membaca digunakan sebagai bahan keterampilan menulis atau keterampilan menulis juga digunakan sebagai bahan ajar keterampilan membaca. Sebagai contoh, diambil tema lingkungan. Dalam pembelajaran keterampilan menyimak siswa diperdengarkan informasi-informasi yang berkaitan dengan lingkungan, misalnya diperdengarkan berita tentang pentingnya rumah sehat untuk tempat tinggal. Pada kegiatan pembelajaran keterampilan berbicara, siswa diminta untuk berbicara tentang lingkungan di sekitar tempat tinggal mereka dalam kaitanya dengan informasi yang telah diperdengarkan kepadanya. Dalam kegiatan pembelajaran

keterampilan membaca siswa diberikan teks-teks yang berisi pentingnya rumah sehat. Begitu juga dalam pembelajaran keterampilan menulis, siswa diminta untuk membuat tulisan tentang lingkungan sekitar tempat tinggal mereka. Pada pembelajaran kebahasaan siswa diberi materi kosa kata, kalimat, paragraf, atau wacana yang berhubungan dengan lingkungan. Pembelajaran sastra pun demikian. Siswa diberi sajian sastra yang

19

mengangkat tema lingkungan. Jadi, pembelajaran dilakukan secara terpadu dalam satu tema. Adapun jaringan keterpaduan aspek-aspek itu dapat digambarkan sebagai berikut. Berbicara Mendengarkan Sastra (Hartono 2003 : 10) 2. Pembelajaran Keterampilan Berbicara a. Hakikat Keterampilan Berbicara Pada hakikatnya keterampilan berbicara adalah keterampilan mengucapkan bunyi-bunyi artikulasi atau kata-kata untuk Tema Membaca Menulis

mengekspresikan, menyatakan serta menyampaikan pikiran, gagasan, dan perasaan (Tarigan 1990:15). Keterampilan berbicara sangat penting dimiliki seseorang agar tidak terjadi kesalahpahaman antara penutur dan mitra tutur dalam berkomunikasi. Bentuk komunikasi lisan ini paling banyak digunakan orang dalam kehidupan sehari-hari, karena bentuk komunikasi verbal dianggap paling sempurna, efisien dan efektif (Yuniawan 2002:1). Dengan keterampilan berbicaralah pertama-tama kita memenuhi kebutuhan untuk berkomunikasi dengan lingkungan tempat kita berada (Syafi’ie 1993:33). Dengan memperhatikan betapa pentingnya keterampilan berbicara ini, maka setiap orang dituntut untuk dapat berbicara dengan baik dalam rangka memenuhi kebutuhan hidup. Keterampilan ini tidak diperoleh secara otomatis, melainkan harus belajar dan berlatih

20

(Syafi’ie 1993:33). Salah satu sarana yang dapat digunakan untuk belajar dan melatih keterampilan berbicara siswa adalah melalui pendidikan di sekolah. b. Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar Keterampilan Berbicara Kompetensi merupakan pengetahuan, keterampilan, dan nilai-nilai dasar yang terrefleksikan dalam kebiasaan berpikir dan bertindak (Puskur 2002:1 dalam Hartono 2003:7). Selanjutnya, kebiasaan berpikir dan bertindak secara konsisten dan terus menerus

memungkinkan seseorang menjadi kompeten. Artinya, seseorang itu memiliki pengetahuan, keterampilan, dan nilai-nilai dasar untuk melakukan sesuatu. Kompetensi dalam KBK merupakan jabaran dari Tujuan Pendidikan Nasional (TPN). TPN secara urut dijabarkan menjadi Kompetensi Lintas Kurikulum (KLK), kompetensi tamatan, kompetensi rumpun pelajaran, standar kompetensi tiap aspek mata pelajaran, dan kompetensi dasar. Standar Kompetensi Lintas Kurikulum merupakan kecakapan untuk hidup dan belajar sepanjang hayat yang dibakukan dan harus dicapai oleh peserta didik melalui pengalaman belajar. Kompetensi tamatan merupakan pengetahuan, keterampilan, sikap, dan nilai-nilai yang direfleksikan dalam kebiasaan berpikir dan bertindak setelah siswa menyelesaikan suatu jenjang tertentu. Standar kompetensi rumpun pelajaran merupakan pernyataan tentang pengetahuan, keterampilan, sikap, dan nilai-nilai yang direfleksikan dalam kebiasaan berpikir dan bertindak yang seharusnya

21

dicapai setelah siswa menyelesaikan rumpun mata pelajaran tertentu. Standar kompetensi tiap aspek mata pelajaran merupakan kemampuan yang dapat dilakukan atau ditampilkan untuk suatu mata pelajaran; kompetensi mata pelajaran tertentu yang harus dimiliki seorang siswa atau kemampuan yang harus dimiliki oleh lulusan dalam suatu mata pelajaran. Kompetensi dasar merupakan uraian yang memadai atas kemampuan yang harus dikuasai siswa (Depdiknas 2003:8). Standar kompetensi mata pelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia berorientasi pada hakikat pembelajaran bahasa dan sastra Indonesia, bahwa belajar bahasa adalah belajar berkomunikasi dan belajar sastra adalah menghargai manusia dan nilai-nilai kemanusiaannya

(Depdiknas 2003:1). Dalam mata pelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia terdapat empat aspek standar kompetensi kemampuan berbahasa. Aspek-aspek tersebut adalah mendengarkan, berbicara, membaca, dan menulis. Standar kompetensi aspek berbicara untuk kelas X adalah mampu mengungkapkan pikiran, pendapat, gagasan, tanggapan, dan perasaan dalam berbagai bentuk wacana lisan nonsastra melalui cerita atau diskusi serta mampu mendukung suatu gagasan dan memberikan kritikan. Standar kompetensi aspek berbicara ini terrinci lagi ke dalam lima kompetensi dasar yang harus dikuasai siswa kelas X. Kompetensi dasar tersebut yaitu 1) memperkenalkan diri dan orang lain di dalam forum resmi, 2) menceritakan berbagai pengalaman, 3) mendiskusikan masalah (yang ditemukan dari berbagai

22

berita, artikel, atau buku), menemukan makna kata-kata sulit dan memberikan tanggapan, 4) menyampaikan informasi dari berbagai sumber dan mendiskusikannya, dan 5) memberikan kritik atau memberikan dukungan (Depdiknas 2003:8-9). c. Alternatif Pembelajaran Keterampilan Berbicara Mafrukhi (2003 : 4) mengemukakan, pembelajaran berbicara yang dikembangkan di kelas adalah kegiatan berbicara dalam suasana resmi. Hal ini dikarenakan kegiatan berbicara dalam suasana tidak resmi sudah terbiasa siswa lakukan. Lebih lanjut, Mafrukhi memberikan alternatif pembelajaran keterampilan berbicara. Pembelajaran itu antara lain diskusi kelompok/ kelas, mengajukan pertanyaan atau pendapat, berpidato, menceritakan secara lisan, presentasi, bertelepon, wawancara, menceritakan pengalaman di depan kelas, dan lain sebagainya. Dalam Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK) mata pelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia SMA Kelas X, bentuk kegiatan berbicara yang dibelajarkan adalah memperkenalkan diri dan orang lain di dalam forum resmi, menceritakan berbagai pengalaman, mendiskusikan masalah (yang ditemukan dari berbagai berita, artikel, atau buku), menemukan makna kata-kata sulit dan memberikan tanggapan, menyampaikan informasi dari berbagai sumber dan mendiskusikannya, dukungan. serta memberikan kritik atau memberikan

23

Berdasarkan hasil Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) Bahasa dan Sastra Indonesia Kabupaten Jepara, pada semester II ini kompetensi dasar subaspek keterampilan berbicara yang dibelajarkan adalah 1) mendiskusikan masalah (yang ditemukan dari berbagai berita, artikel, atau buku), menemukan makna kata-kata sulit dan memberikan tangapan, dan 2) memberikan kritik atau dukungan. Dalam penelitian ini, penulis mengadakan penelitian kemampuan berbicara ragam formal siswa kelas X SMA Negeri I Jepara melalui diskusi kelas. Masalah-masalah yang didiskusikan adalah masalahmasalah seputar dunia siswa atau dunia remaja yang mereka peroleh dari majalah Graffity, media komunikasi siswa SMA Negeri I Jepara. d. Diskusi Diskusi berasal dari bahasa Latin discussio atau discussion, yang artinya bertukar pikiran. Pada dasarnya diskusi merupakan suatu bentuk bertukar pikiran yang teratur dan terarah, baik dalam kelompok kecil maupun dalam kelompok besar, dengan tujuan untuk mendapatkan suatu pengertian, kesepakatan, dan keputusan bersamasama mengenai suatu masalah (Tarigan 2003:7.18). Syafi'ie (1993:38) mengemukakan, diskusi adalah suatu bentuk kegiatan berbicara kelompok yang membahas suatu masalah untuk memperoleh alternatif-alternatif pemecahan masalah tersebut. Lebih lanjut, diskusi juga bisa berupa kegiatan berbicara untuk bertukar pikiran tentang suatu hal dalam mencari persamaan persepsi terhadap hal yang

24

didiskusikan itu. Tarigan (1990:36) mengemukakan bahwa pada hakikatnya diskusi merupakan suatu metode untuk memecahkan masalah-masalah dengan proses berpikir kelompok. Dari berbagai pendapat mengenai diskusi tersebut dapat disimpulkan bahwa diskusi adalah kegiatan bertukar pikiran untuk memecahkan suatu masalah dengan tujuan untuk mendapatkan pengertian, kesepakatan, persamaan persepsi, dan keputusan bersama-sama mengenai suatu masalah.

Sebagai suatu bentuk kegiatan keterampilan berbicara, diskusi merupakan kegiatan berbahasa yang sangat bermanfaat untuk melatih siswa berpikir secara kritis dan kreatif, berpikir secara logis dan sistematis serta menyampaikannya kepada orang lain dengan menggunakan bahasa yang baik dan benar secara lisan. Dengan berdiskusi pada siswa dapat berlatih menggunakan pengetahuan dan gagasannya untuk menyampaikan pendapat, mempertahankan

pandangannya, menyatakan setuju atau menolak pendapat orang lain dengan cara-cara yang baik (Syafi’ie 1993:38-39). Dalam sebuah diskusi terdapat beberapa komponen yang terlibat di dalamnya. Komponen-komponen tersebut adalah masalah yang didiskusikan, ketua atau pemimpin diskusi / moderator, sekretaris atau notulis, dan peserta diskusi. 1) Masalah yang Didiskusikan Dalam sebuah diskusi masalah yang didiskusikan harus memenuhi syarat masalah diskusi, yaitu (a) masalah yang

25

didiskusikan jelas menarik perhatian peserta (aktual, berguna, langka), (b) bernilai diskusi dan perlu jawaban kompleks, (c) memerlukan beberapa pandangan yang baik, benar, dan logis, serta (d) perlu keputusan dengan pertimbangan matang. 2) Ketua atau Pemimpin Diskusi (Moderator) Ketua atau pemimpin diskusi (moderator) adalah orang yang bertanggung jawab dalam pelaksanaan diskusi. Tugas yang dilakukan ketua diskusi antara lain (a) menyampaikan masalah yang akan didiskusikan dan menyebutkan tujuan yang hendak dicapai dengan diskusi kepada semua peserta, (b) mengumumkan tata tertib dan aturan main diskusi, (c) memberi kesempatan kepada semua peserta diskusi, (d) menjaga agar minat peserta tetap besar, (e) menjaga agar diskusi tetap bergerak maju, (f) mencegah terjadinya perpecahan atau percekcokan dalam diskusi, dan (g) mengumumkan hasil diskusi. 3) Sekretaris atau Notulis Diskusi Dalam diskusi sekretaris bertugas (a) membantu ketua dalam pelaksanaan diskusi, (b) mencatat nama dan semua pertanyaan semua peserta diskusi, (c) mencatat hal-hal khusus yang menyimpang dari tujuan, (d) bila diminta siap membacakan atau melaporkan jalannya diskusi, (e) mengingatkan pemimpin diskusi tentang pembicaraan berikutnya bila ia terlupa, (f) membuat simpulan sementara dan menyampaikannya kepada ketua, (g)

26

membantu ketua diskusi merumuskan simpulan diskusi, dan (h) membuat laporan lengkap diskusi yang berisi masalah dan tujuan, pelaksanaan, hal-hal yang terjadi dalam diskusi, simpulan atau hasil diskusi. 4) Peserta Diskusi Tugas peserta diskusi antara lain (a) mengikuti jalannya diskusi dengan penuh perhatian, memahami topik diskusi dan tujuan yang hendak dicapai, (b) memberikan pandapat atau menyanggah dengan cara yang baik, (c) berbicara kalau diperbolehkan ketua dengan lancar, jelas, dan tegas, (d) meminta penjelasan lebih lanjut apabila terdapat hal-hal yang tidak jelas atau kurang jelas, (e) menyatakan dukungan atau keberatan terhadap peserta lain dengan dilandasi itikad baik, bukan karena emosional atau ingin menang sendiri, (f) bertindak sopan dan bijaksana dalam diskusi, dan (g) menghormati dan melaksanakan semua keputusan yang telah diambil bersama meskipun keputusan itu tidak sejalan dengan pendapat atau pandangan pribadi. Diskusi dapat berjalan dengan baik, lancar, dan menghasilkan keputusan untuk memecahkan masalah yang didiskusikan apabila semua komponen yang terlibat di dalamnya melaksanakan tugasnya dengan baik. Suasana diskusi yang hangat, terbuka dan tanpa tekanan perlu diciptakan semua peserta diskusi demi tercapainya tujuan diskusi.

27

Pembelajaran keterampilan berbicara melalui diskusi yang dapat dikembangkan di kelas adalah diskusi informal dan diskusi formal. Diskusi informal adalah kegiatan berbicara yang dilaksanakan oleh seluruh siswa dalam membahas suatu masalah dengan bertukar pikiran, meramu pendapat secara bebas di bawah bimbingan guru (Syafi’ie 1993:39). Pengertian bebas dalam hal ini adalah bahwa diskusi informal tidak dilaksanakan secara terstruktur. Dalam kegiatan diskusi ini tidak ada moderator yang mengatur lalu lintas pembicaraan dan tidak ada sekretaris yang mencatat pembicaraan. Peran guru sangat dibutuhkan dalam diskusi jenis ini untuk membangkitkan motivasi para siswa terhadap masalah yang dibahas sehinga semua siswa dapat berpartisipasi secara aktif. Diskusi formal adalah kegiatan berbicara yang diikuti oleh seluruh kelas yang dilaksanakan secara terstruktur (Syafi’ie 1993:40). Pengertian terstruktur ini adalah dalam diskusi formal ini telah ditetapkan format atau bentuk diskusi tertentu dengan fungsi-fungsi pelaksana diskusi, yaitu ketua, sekretaris, dan peserta. Diskusi formal ini lazimnya bertujuan untuk mengidentifikasi dan mengkaji fakta, menganalisis masalah, dan mengeksplorasi

kemungkinan-kemungkinan pemecahan masalah. Format atau bentuk-bentuk diskusi formal yang dapat dilaksanakan dalam kegiatan pembelajaran keterampilan berbicara di kelas adalah sebagai berikut.

28

1) Diskusi Kelompok Diskusi kelompok adalah diskusi yang dilaksanakan dengan membentuk kelompok-kelompok yang terdiri dari beberapa siswa. Setiap kelompok membahas suatu masalah dengan topik-topik tertentu. Di antara siswa dalam kelompok itu ada yang bertugas memimpin diskusi dalam mencari alternatif pemecahan masalah. Ada juga yang bertugas sebagai sekretaris diskusi yang mencatat apa yang telah dibicarakan dan menyampaikan resume pikiranpikiran yang berlangsung dalam kelompok. 2) Diskusi Panel Diskusi ini dilaksanakan dengan menunjuk beberapa siswa sebagai panelis, yaitu orang yang menyajikan pandanganpandangannya berkaitan dengan topik yang diangkat menjadi pokok diskusi. Dalam suatu diskusi panel lazimnya ditampilkan empat sampai delapan panelis. Masing-masing panelis merupakan tokoh yang memahami benar salah satu masalah berkaitan dengan topik diskusi. Siswa yang dipilih menjadi panelis harus menguasai masalah yang menjadi bagiannya agar dapat menyampaikan pandangan-pandangannya di hadapan peserta diskusi. Diskusi panel merupakan model diskusi yang memungkinkan para panelis dan peserta diskusi saling memberi dan menerima gagasan. Ketua diskusi harus mampu mengatur lalu lintas diskusi agar tidak ada pihak yang memonopoli diskusi.

29

3) Dialog Diskusi ini dilaksanakan dengan menampilkan dua orang sebagai pembicara yang akan menampilkan tanya jawab tentang suatu topik di hadapan kelas. Seorang siswa bertindak sebagai narasumber atau responden dan seorang lagi bertindak sebagai penanya. Narasumber harus menguasai masalah yang menjadi topik diskusi, sedangkan penanya harus memahami apa yang ingin diketahui oleh pendengar yang terdiri dari siswa-siswa lain. Siswa yang bertindak sebagai pendengar dapat juga berperan secara aktif dalam mengikuti jalannya dialog. Mereka dapat mengajukan pendapat, tanggapan, dan pertanyaan-pertanyaan yang ditujukan kepada narasumber maupun penanya. 4) Seminar Diskusi ini dilaksanakan dengan menampilkan tiga sampai enam orang siswa yang bertindak sebagai pembicara. Masingmasing pembicara menyajikan makalah mengenai suatu masalah yang menyoroti topik diskusi dari sudut pandang tertentu. Dalam kegiatan seminar peran pemimpin diskusi sangat penting. Pemimpin diskusi harus dapat mengatur pembagian waktu untuk para penyaji, tanya jawab, penyajian simpulan dengan tepat sesuai dengan banyaknya pembicara serta waktu yang tersedia. Di samping itu, pemimpin diskusi juga harus mampu memahami dengan cermat, cepat, dan tepat isi makalah yang disajikan

30

pembicara, maupun pertanyaan dan tanggapan dari peserta seminar (Syafi’ie 1993:40-41) Dalam penelitian ini jenis diskusi yang digunakan adalah diskusi kelompok. Siswa diminta untuk membentuk kelompok, kemudian membahas suatu masalah berkaitan dengan dunia siswa atau dunia remaja. Setelah menemukan alternatif-alternatif pemecahan masalah yang dihadapinya, kelompok tersebut tampil di depan kelas secara bergantian mendiskusikan masalah yang dihadapi bersama dengan teman sekelas. e. Faktor-faktor Penunjang Efektifitas Berbicara Seorang pembicara yang baik harus mempu memberikan kesan bahwa ia menguasai masalah yang dibicarakan. Penguasaan topik yang baik akan menumbuhkan keberanian dan kelancaran. Selain menguasai topik, seorang pembicara harus berbicara (mengucapkan bunyi-bunyi bahasa) dengan jelas dan tepat. Pengucapan bunyi bahasa yang kurang tepat dapat mengalihkan perhatian pendengar. Ada beberapa faktor yang perlu diperhatikan seseorang untuk dapat menjadi pembicara yang baik. Faktor-faktor tersebut adalah faktor kebahasaan dan faktor nonkebahasaan (Arsjad dan Mukti 1988:17). 1) Faktor Kebahasaan a) Ketepatan Ucapan Seorang pembicara harus membiasakan diri mengucapkan bunyi-bunyi bahasa secara tepat. Pengucapan bunyi-bunyi

31

bahasa yang kurang tepat dapat mengalihkan perhatian pendengar. Hal ini akan mengganggu keefektivan berbicara. Pengucapan bunyi-bunyi bahasa yang kurang tepat atau cacat akan menimbulkan kebosanan, kurang menyenangkan, kurang menarik, atau setidaknya dapat mengalihkan perhatian

pendengar. Pengucapan bunyi-bunyi bahasa dianggap cacat kalau menyimpang terlalu jauh dari ragam lisan biasa, sehingga terlalu menarik perhatian, mengganggu komunikasi atau pemakainya (pembicara) dianggap aneh. b) Penempatan Tekanan, Nada, Sendi, dan Durasi yang Sesuai Kesesuaian tekanan, nada, sendi, dan durasi merupakan daya tarik tersendiri dalam berbicara, bahkan kadang-kadang merupakan faktor penentu. Walaupun masalah yang

dibicarakan kurang menarik, dengan penempatan tekanan, nada, sendi, dan durasi yang sesuai akan menyebabkan masalahnya menjadi menarik. Sebaliknya, jika

penyampaiannya datar saja, hampir dapat dipastikan akan menimbulkan kejemuan dan keefektivan tentu berkurang. Penempatan tekanan pada kata atau suku kata yang kurang sesuai akan mengakibatkan kejanggalan. Kejanggalan ini akan mengakibatkan perhatian pendengar akan beralih pada cara berbicara pembicara, sehingga pokok pembicaraan atau pokok

32

pesan yang disampaikan kurang diperhatikan. Akibatnya, keefektivan komunikasi akan terganggu. c) Pilihan Kata (Diksi) Pilihan kata hendaknya tepat, jelas dan bervariasi. Jelas maksudnya mudah dimengerti oleh pendengar yang menjadi sasaran. Pendengar akan lebih terangsang dan akan lebih paham kalau kata-kata yang digunakan sudah dikenal pendengar. Dalam setiap pembicaraan pemakaian kata-kata populer tentu akan lebih efektif daripada kata-kata yang mulukmuluk dan kata-kata yang berasal dari bahasa asing. Kata-kata yang belum dikenal memang mengakibatkan rasa ingin tahu, namun akan menghambat kelancaran komunikasi. Hendaknya pembicara menyadari siapa pendengarnya, apa pokok pembicaraannya, dan menyesuaikan pilihan katanya dengan pokok pembicaraan dan pendengarnya. Pendengar akan lebih tertarik dan senang mendengarkan kalau pembicara berbicara dengan jelas dalam bahasa yang dikuasainya. d) Ketepatan Sasaran Pembicaraan Hal ini menyangkut pemakaian kalimat. Pembicara yang menggunakan kalimat efektif akan memudahkan pendengar menangkap pembicaraannya. Seorang pembicara harus mampu menyusun kalimat efektif, kalimat yang mengenai sasaran,

33

sehingga mampu menimbulkan pengaruh, meninggalkan kesan atau menimbulkan akibat. Kalimat yang efektif mempunyai ciri-ciri keutuhan, perpautan, pemusatan, perhatian, dan kehematan. Ciri keutuhan akan terlihat jika setiap kata betul-betul merupakan bagian yang padu dari sebuah kalimat. Keutuhan kalimat akan rusak karena ketiadaan subjek atau adanya kerancuan. Perpautan bertalian dengan hubungan antara unsur-unsur kalimat, misalnya antara kata dengan kata, frase dengan frase dalam sebuah kalimat. Hubungan itu haris logis dan jelas. Pemusatan perhatian pada bagian yang terpenting dalam kalimat dapat dicapai dengan menempatkan bagian tersebut pada awal atau akhir kalimat, sehingga bagian ini mendapat tekanan waktu berbicara. Selain itu, kalimat efektif juga harus hemat dalam pemakaian kata, sehingga tidak ada kata-kata yang mubazir. 2) Faktor Nonkebahasaan a) Sikap yang Wajar, Tenang dan Tidak Kaku Pembicaraan yang tidak tenang, lesu dan kaku tentulah akan memberikan kesan pertama yang kurang menarik. Dari sikap yang wajar saja sebenarnya pembicara sudah dapat menunjukkan otoritas dan integritas dirinya. Sikap ini sangat banyak ditentukan oleh situasi, tempat dan penguasaan materi. Penguasaan materi yang baik setidaknya akan menghilangkan

34

kegugupan. Namun, sikap ini memerlukan latihan. Kalau sudah terbiasa, lama-kelamaan rasa gugup akan hilang dan akan timbul sikap tenang dan wajar. b) Pandangan Harus Diarahkan Kepada Lawan Bicara Pandangan pembicara hendaknya diarahkan kepada semua pendengar. Pandangan yang hanya tertuju pada satu arah akan menyebabkan pendengar merasa kurang diperhatikan. Banyak pembicara ketika berbicara tidak memperhatikan pendengar, tetapi melihat ke atas, ke samping atau menunduk. Akibatnya, perhatian pendengar berkurang. Hendaknya diusahakan supaya pendengar merasa terlibat dan diperhatikan. c) Kesediaan Menghargai Pendapat Orang Lain Dalam menyampaikan isi pembicaraan, seorang pembicara hendaknya memiliki sikap terbuka, dalam arti dapat menerima pendapat pihak lain, bersedia menerima kritik, bersedia mengubah pendapatnya kalau ternyata memang keliru. Namun, tidak berarti si pembicara begitu saja mengikuti pendapat orang lain dan mengubah pendapatnya, tetapi ia juga harus mampu mempertahankan pendapatnya dan meyakinkan orang lain. Tentu saja pendapat itu harus mengandung argumentasi yang kuat, yang diyakini kebenarannya.

35

d) Gerak-gerik dan Mimik yang Tepat Gerak-gerik dan mimik yang tepat dapat pula menunjang keefektivan berbicara. Hal-hal penting selain mendapatkan tekanan, biasanya juga dibantu degan gerak tangan atau mimik. Hal ini dapat menghidupkan komunikasi, artinya tidak kaku. Tetapi, gerak-gerik yang berlebihan akan menggangu

keefektivan berbicara. Mungkin perhatian pendengar akan terarah pada gerak-gerik dan mimik yang berlebihan ini, sehingga pesan kurang dipahami. e) Kenyaringan Suara Tingkat kenyaringan ini tentu disesuaikan dengan situasi, tempat, jumlah pendengar, dan akustik. Yang perlu

diperhatikan adalah jangan berteriak. Kita atur kenyaringan suara kita supaya dapat didengar oleh pendengar dengan jelas. f) Kelancaran Seorang pembicara yang lancar berbicara akan

memudahkan pendengar menangkap isi pembicaraannya. Seringkali pembicara berbicara terputus-putus, bahkan antara bagian-bagian yang terputus itu diselipkan bunyi-bunyi tertentu yang mengganggu penangkapan pendengar, misalnya

menyelipkan bunyi ee, oo, aa, dan sebagainya. Sebaliknya, pembicara yang terlalu cepat berbicara juga akan menyulitkan pendengar menangkap pokok pembicaraannya.

36

g) Relevansi / Penalaran Gagasan demi gagasan haruslah berhubungan dengan logis. Proses berpikir untuk sampai pada suatu kesimpulan haruslah logis. Hal ini berarti hubungan bagian-bagian dalam kalimat, hubungan kalimat dengan kalimat harus logis dan berhubungan dengan pokok pembicaraan. h) Penguasaan Topik Pembicaraan formal selalu menuntut persiapan. Tujuannya tidak lain supaya topik yang dipilih betul-betul dikuasai. Penguasaan topik yang baik akan menumbuhkan keberanian dan kelancaran. Jadi, penguasaan topik ini sangat penting, bahkan merupakan faktor utama dalam berbicara. 3. Pendekatan Kontekstual Dalam kurikulum 2004 atau sering dikenal dengan Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK), pembelajaran bahasa dan sastra Indonesia mengunakan pendekatan kontekstual. Pendekatan kontekstual adalah

konsep belajar yang membantu guru mengaitkan antara materi yang diajarkannya dengan situasi dunia nyata siswa dan mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannya dalam kehidupan mereka sebagai anggota keluarga dan masyarakat (Depdiknas 2002:1). Pengetahuan dan keterampilan siswa diperoleh dari usahanya sendiri mengkonstruksi pengetahuan dan keterampilan baru ketika ia belajar (Zulaeha 2003). Dengan konsep itu

37

hasil pembelajaran diharapkan lebih bermakna bagi siswa. Proses pembelajaran berlangsung alamiah dalam bentuk kegiatan siswa bekerja dan mengalami, bukan transfer pengetahuan dari guru ke siswa (Depdiknas 2002:1). Pendekatan kontekstual konstruktivisme (constructivism), memiliki tujuh komponen, yaitu menemukan (inquiry), bertanya

(questioning), masyarakat belajar (learning community), pemodelan (modeling), refleksi (reflection), dan penilaian sebenarnya (authentic assessment) (Depdiknas 2002:5). Penelitian tindakan kelas ini difokuskan pada komponen pemodelan. 4. Pemodelan Pemodelan merupakan salah satu komponen dari tujuh komponen pendekatan kontekstual. Maksud pemodelan ini adalah dalam sebuah pembelajaran keterampilan atau pengetahuan tertentu ada model yang bisa diamati (Depdiknas 2002:16). Pemodelan adalah kegiatan pemberian model dengan tujuan untuk membahasakan gagasan yang guru pikirkan, mendemonstrasikan bagaimana guru menginginkan para siswa untuk belajar atau melakukan sesuatu yang guru inginkan (Tim Pengembang Kurikulum Bahasa Indonesia, Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia, FBS, UNNES 2003:3). Dalam pendekatan kontekstual, guru bukan satu-satunya model. Model dapat dirancang dengan melibatkan siswa. Seorang siswa dapat ditunjuk unuk memberi contoh temannya. Misalnya, siswa yang pernah

38

memenangkan lomba baca puisi diminta untuk mendemonstrasikan keahliannya. Siswa tersebut dapat dikatakan sebagai model (Depdiknas 2002:17). Model yang peneliti gunakan dalam penelitian ini adalah model yang peneliti ciptakan sendiri dengan melibatkan siswa. Dalam model tersebut peneliti meminta siswa untuk berbicara dalam ragam formal melalui diskusi untuk mendiskusikan alternatif pemecahan masalah kenakalan remaja/ siswa. Model tersebut dapat diamati/ ditiru siswa untuk dapat berbicara dengan baik melalui diskusi.

C. Kerangka Berpikir Keterampilan berbicara dalam ragam formal siswa SMA Negeri I Jepara akan mengalami peningkatan apabila pembelajaran keterampilan berbicara dilaksanakan melalui diskusi kelas dengan menggunakan

pendekatan kontekstual fokus pemodelan. Dalam pembelajaran keterampilan berbicara melalui diskusi kelas dengan menggunakan pendekatan kontekstual, siswa diminta untuk mendiskusikan hal-hal/ masalah-masalah yang dekat dengan dunia siswa atau dunia remaja, sehingga siswa lebih menguasai materi yang dibicarakan karena mereka mengalami sendiri masalah-masalah itu. Sedangkan pemodelan dalam pembelajaran adalah adanya model dalam pembelajaran yang bisa diamati/ ditiru siswa untuk berbicara dalam ragam formal melalui diskusi. Jadi, pembelajaran keterampilan berbicara dengan menggunakan pendekatan kontekstual fokus pemodelan dapat meningkatkan keterampilan berbicara, karena siswa lebih menguasai materi yang

39

didiskusikan dan siswa dapat meniru/ mengamati model yang diberikan untuk berbicara dalam ragam formal melalui diskusi kelas. Diskusi merupakan kegiatan berbahasa yang sangat bermanfaat untuk melatih siswa berpikir secara kritis dan kreatif, berpikir secara logis dan sistematis serta menyampaikannya kepada orang lain dengan menggunakan bahasa yang baik dan benar secara lisan. Dengan berdiskusi para siswa dapat berlatih menggunakan pengetahuan dan gagasan-gagasannya untuk

menyampaikan

pendapat,

mempertahankan

pandangan-pandangannya,

menyatakan setuju atau menolak pendapat orang lain dengan cara yang baik. Dengan diskusi kelompok dapat pula diciptakan iklim yang memudahkan penerimaan bahan pelajaran serta dapat meningkatkan taraf berpikir siswa. Diskusi kelompok juga lebih memungkinkan siswa untuk memiliki pengalaman yang lebih luas dan beraneka ragam, karena pengetahuan yang diperoleh dari berdiskusi belum tentu didapat dari membaca atau mendengarkan penjelasan guru. Melalui diskusi kita pun dapat belajar cara orang lain berpikir dan memecahkan masalah.

D. Hipotesis Tindakan Hipotesis penelitian tindakan kelas ini adalah terjadi peningkatan keterampilan berbicara ragam formal siswa kelas X SMA Negeri I Jepara, dan perubahan perilaku siswa dalam pembelajaran setelah mengikuti pembelajaran keterampilan berbicara melalui diskusi kelas dengan pendekatan kontekstual fokus pemodelan.

BAB III METODE PENELITIAN

A. Subjek Penelitian Subjek penelitian ini adalah keterampilan berbicara siswa kelas X-4 SMA Negeri I Jepara tahun ajaran 2004/2005. Kelas ini merupakan salah satu kelas dari 10 kelas di tingkat kelas X (kelas X-1 sampai kelas X-10). Peneliti memilih kelas ini sebagai subjek penelitian dengan alasan: 1. Peneliti mengajar di kelas ini, sehingga lebih mengetahui keadaan siswa sebenarnya, 2. Berdasarkan hasil Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) Bahasa dan Sastra Indonesia Kabupaten Jepara, pada semester II ini siswa harus memiliki kompetensi dalam mendiskusikan masalah (yang ditemukan dari berbagai berita, artikel, atau buku).

B. Variabel Penelitian Variabel penelitian ini adalah: 1. Keterampilan Berbicara Siswa Keterampilan berbicara siswa yang dimaksud adalah keterampilan berbicara siswa dalam situasi formal melalui diskusi kelas, yakni ketika siswa memoderatori, menyajikan masalah, menjadi notulis, mengajukan pertanyaan, jawaban, sanggahan ataupun mengajukan pendapat. Masalah

40

41 yang didiskusikan adalah masalah-masalah seputar dunia siswa yang dekat dengan kehidupan siswa di sekolah. 2. Penggunaan Pendekatan Kontekstual Fokus Pemodelan Pendekatan kontekstual fokus pemodelan merupakan pendekatan yang dapat digunakan guru dalam kegiatan belajar mengajar untuk mencapai tujuan pembelajaran. Pendekatan kontekstual yang dimaksud di sini adalah materi yang didiskusikan, yaitu masalah-masalah yang dekat dengan dunia siswa atau dunia remaja. Sedangkan pemodelan yang dimaksud di sini adalah model yang bisa diamati/ ditiru siswa dalam berbicara dengan menggunakan ragam formal melalui diskusi.

C. Parameter Penelitian Penelitian ini dianggap berhasil apabila keterampilan berbicara siswa dalam ragam formal meningkat. Peningkatan keterampilan siswa ini ditunjukkan dengan peningkatan nilai yang diperoleh siswa dari siklus I ke siklus II. Nilai yang diperoleh siswa pada siklus II lebih tinggi daripada nilai yang diperoleh siswa pada siklus I. Antara siklus I dan siklus II peneliti menetapkan parameter untuk mengetahui tingkat keberhasilan siswa dalam tabel 1 berikut ini. Tabel 1. Parameter Penelitian No. Hasil yang Dicapai Siswa 1. < 65,0 2. 65,0 – 74,9 3. 75,0 – 84,9 4. > 84,9

Kategori kurang cukup baik sangat baik

42

D. Instrumen Penelitian Penelitian tindakan kelas ini menggunakan bentuk dan uji instrumen sebagai berikut. 1. Bentuk Instrumen a. Tes Perbuatan Tes yang digunakan untuk mengukur keterampilan berbicara ragam formal siswa adalah tes perbuatan. Aspek-aspek yang dinilai meliputi aspek kebahasaan dan nonkebahasaan. Tes ini digunakan untuk mengetahui seberapa besar peningkatan keterampilan berbicara siswa. Aspek kebahasaan dan nonkebahasaan ini meliputi 1) ketepatan ucapan, 2) penempatan tekanan, 3) penempatan jeda, 4) intonasi, 5) pilihan kata (diksi), 6) pemakaian kalimat 7) sikap, gerak-gerik dan mimik yang wajar, 8) volume suara, 9) pandangan mata, 10) penguasaan topik, dan 11) kelancaran. Aspek-aspek kebahasaan dan nonkebahasaan yang digunakan untuk mengukur keterampilan berbicara siswa ini telah dikonsultasikan kepada dosen pembimbing dan sesama guru Bahasa dan Sastra Indonesia di SMA Negeri I Jepara. Aspek-aspek tersebut tepat digunakan untuk menilai keterampilan berbicara siswa melalui diskusi. Dalam penilaian setiap aspeknya, ditentukan skor sebagai patokan atau ukuran. Peneliti menentukan kategori pada setiap rentang skor yang telah ditentukan. Rentang skor yang diberikan pada setiap aspeknya ditentukan sama, yaitu 0, 5, 10, 15, 20, 25, 30, 35, 40, 45, 50,

43 55, 60, 65, 70, 75, 80, 85, 90, 95, dan 100. Pengkategorian tersebut meliputi gagal, kurang, cukup, baik, dan sangat baik. Kategori gagal apabila skor yag didapatkan antara 0 – 39, kategori kurang jika skor yang diperoleh antara 40 – 59, kategori baik jika siswa mendapatkan skor antara 75 – 84, dan kategori sangat baik jika skor yang didapatkan siswa antara 85 – 100. Adapun gambaran kriteria nilai dan kategori tiap aspek sebagai alat evaluasi untuk mengukur keterampilan berbicara siswa dengan ragam formal melalui diskusi tersebut dijelaskan pada tabel 2 berikut ini. Tabel 2. Aspek Penilaian, Nilai, dan Kategori No. Aspek Penilaian Nilai 1. Ketepatan Ucapan 0 – 39 40 – 59 60 – 74 75 – 84 85 – 100 2. Penempatan Tekanan 0 – 39 40 – 59 60 – 74 75 – 84 85 – 100 3. Penempatan Jeda 0 – 39 40 – 59 60 – 74 75 – 84 85 – 100 4. Intonasi 0 – 39 40 – 59 60 – 74 75 – 84 85 – 100 5. Pilihan Kata (diksi) 0 – 39 40 – 59 60 – 74 75 – 84 85 – 100

Kategori gagal kurang cukup baik sangat baik gagal kurang cukup baik sangat baik gagal kurang cukup baik sangat baik gagal kurang cukup baik sangat baik gagal kurang cukup baik sangat baik

44

No. Aspek Penilaian 6. Pemakaian Kalimat

7.

Sikap, Gerak-gerik, Mimik yang Wajar

dan

8.

Volume suara

9.

Pandangan Mata

10.

Penguasaan Topik

11.

Kelancaran

Nilai 0 – 39 40 – 59 60 – 74 75 – 84 85 – 100 0 – 39 40 – 59 60 – 74 75 – 84 85 – 100 0 – 39 40 – 59 60 – 74 75 – 84 85 – 100 0 – 39 40 – 59 60 – 74 75 – 84 85 – 100 0 – 39 40 – 59 60 – 74 75 – 84 85 – 100 0 – 39 40 – 59 60 – 74 75 – 84 85 – 100

Kategori gagal kurang cukup baik sangat baik gagal kurang cukup baik sangat baik gagal kurang cukup baik sangat baik gagal kurang cukup baik sangat baik gagal kurang cukup baik sangat baik gagal kurang cukup baik sangat baik

Nilai keterampilan berbicara siswa diperoleh dari nilai total keseluruhan aspek dibagi 11. Hasilnya dikonsultasikan dengan parameter penelitian untuk menentukan kategori yang diperoleh siswa. Tabel 3. Rincian Perolehan Nilai Tiap Siswa Aspek Penilaian N Nama Siswa K R 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 Rt

No. 1 2 ...

45 Keterangan: 1. = ketepatan ucapan, 2. = penempatan tekanan, 3. = penempatan jeda, 4. = intonasi, 5. = pilihan kata (diksi), 6. = pemakaian kalimat 7. = sikap, gerak-gerik dan mimik yang wajar, 8. = volume suara, 9. = pandangan mata, 10. = penguasaan topik, 11. = kelancaran, NRt = Nilai Rata-rata/ nilai akhir siswa, K = Kategori, dan R = Ranking / Peringkat. b. Nontes Instrumen nontes yang digunakan berbentuk observasi atau pengamatan, wawancara, jurnal, dokumentasi foto, rekaman pita, rekaman video, dan sosiometri (lembar observasi siswa). 1) Pedoman Observasi atau Pengamatan Pedoman observasi atau pengamatan digunakan untuk mengambil data penelitian pada saat kegiatan belajar mengajar berlangsung. Aspek yang diamati yaitu: a) Antusias siswa dalam pembentukan kelompok, b) respon atau sikap siswa ketika diputarkan model dalam pembelajaran, c) komentar yang diberikan siswa ketika mendiskusikan model yang disajikan, d) respon siswa/ kelompok dalam menerima materi (masalah) yang akan didiskusikan, e) respon siswa dalam dalam mendiskusikan masalah yang diterima dengan kelompoknya,

46 f) pendapat/ jawaban yang diberikan siswa dalam diskusi, g) semangat siswa dalam mengikuti diskusi, h) diskusi yang dilaksanakan siswa, dan i) respon siswa dalam mengikuti pembelajaran keterampilan berbicara melalui diskusi. Pedoman ini digunakan untuk mengungkap efektivitas penggunaan pendekatan kontekstual fokus pemodelan dalam pembelajaran keterampilan berbicara. 2) Pedoman Wawancara Pedoman wawancara digunakan untuk mengambil data kualitatif. Wawancara ini digunakan untuk mengungkap efektivitas penggunaan pendekatan kontekstual fokus

pemodelan dalam pembelajaran keterampilan berbicara dan kesulitan-kesulitan yang dialami siswa ketika berbicara melalui diskusi. Adapun aspek yang diungkap melalui wawancara ini adalah: a) Pendapat siswa tentang pemberian model dalam

pembelajaran, b) apakah model yang disajikan guru dapat membantu siswa dalam melaksanakan diskusi, c) dapatkah model tersebut membantu siswa untuk dapat berbicara dengan baik melalui diskusi, d) pendapat siswa mengenai pembentukan kelompok yang dilakukan guru, e) apakah dalam kelompok tersebut siswa dapat bekerja sama dengan anggota kelompok yang lain,

47 f) apakah dalam kelompok siswa ada anggota yang tidak bekerja, g) sikap siswa terhadap teman yang tidak bekerja dalam kelompok, h) mampukah siswa memahami dan menguasai materi/ masalah diskusi yang akan didiskusikan (materi yang diberikan guru), i) menurut siswa, materi/ permasalahan apa yang cocok untuk didiskusikan siswa di dalam kelas, j) pendapat siswa mengenai pelaksanaan diskusi untuk membahas masalah-masalah yang guru berikan, k) apakah dalam diskusi tersebut siswa mendapatkan kesempatan berbicara, l) apakah dalam diskusi tersebut siswa mengalami kesulitan dalam berbicara dan kesulitan tersebut, m) untuk mengatasi kesulitan tersebut, usaha apa yang siswa lakukan agar kesulitan tersebut tidak terjadi lagi pada pelaksanaan diskusi selanjutnya, n) sudah maksimalkan pembicaraan siswa dalam diskusi tersebut dan diminta mengemukakan alasan/ pendapatnya, o) apakah siswa dapat menerima keputusan diskusi yang dilakukan beserta alasannya. p) pendapat 3) Jurnal Setiap akhir pertemuan kegiatan belajar mengajar, guru membuat jurnal kegiatan selama mengajar. Ada dua model jurnal guru yang dapat disusun dalam penelitian ini, yakni jurnal untuk mengetahui kegiatan yang dilakukan guru dalam siswa tentang pembelajaran keterampilan berbicara melalui diskusi kelas? diminta menyebutkan kesulitan-

48 pembelajaran dan jurnal untuk mengetahui kegiatan atau sikap siswa selama proses pembelajaran. Adapun aspek yang terdapat dalam jurnal untuk mengetahui kegiatan yang dilakukan guru adalah sebagai berikut. a) Guru memberikan apersepsi dan memberikan penguatan, b) guru menerangkan materi pembelajaran, c) guru memberi kesempatan kepada siswa untuk bertanya atau memberi tanggapan, d) guru membentuk kelompok, e) guru memutarkan model, f) guru mengadakan diskusi berkaitan dengan model yang disajikan, g) guru membagikan artikel yang berisi masalah untuk didiskusikan, h) guru mengamati aktivitas siswa selama bekerja dalam kelompok, i) guru mengamati proses berlangsungnya diskusi dan memberikan penilaian, j) guru memberikan penguatan terhadap hasil diskusi siswa, dan k) guru mengadakan refleksi pembelajaran bersama dengan siswa.

49 Sedangkan aspek yang terdapat dalam jurnal guru untuk mengetahui kegiatan atau sikap siswa selama proses

pembelajaran yaitu: a) Respon siswa ketika menerima materi pembelajaran yang diterangkan guru, b) sikap siswa dalam menerima instruksi untuk membentuk kelompok, c) respon yang ditunjukkan siswa ketika diberikan model dalam pembelajaran, d) komentar yang diberikan siswa ketika diberikan model dalam pembelajaran, e) kerja sama siswa dalam kelompok, f) respon siswa/ kelompok ketika menerima masalah yang akan didiskusikan, g) sikap siswa dalam mengikuti diskusi, h) proses pelaksanaan diskusi, i) keterampilan berbicara siswa dalam diskusi tersebut, dan j) sikap siswa dalam menerima pembelajaran keterampilan berbicara melalui diskusi, Siswa juga diminta membuat jurnal di setiap akhir pembelajaran. Siswa diminta untuk menuliskan kesannya mengenai:

50 a) Model yang diberikan guru untuk membantu siswa dalam berbicara melalui diskusi, b) respon siswa dalam pembentukan kelompok, c) kerja sama siswa dalam kelompok, d) masalah diskusi yang diberikan guru (mudah siswa pahami atau tidak), e) kesempatan siswa untuk berbicara dalam diskusi, f) keterampilan berbicara siswa dalam diskusi, g) proses pelaksanaan diskusi, h) kesan dalam menerima pelajaran keterampilan berbicara melalui diskusi, Dari jurnal kegiatan ini guru merekapitulasi hasilnya. Hasil rekapitulasi ini kemudian digunakan untuk melakukan refleksi diri terhadap proses mengajar. Sedangkan jurnal jurnal siswa digunakan untuk mengungkap kesan dan pesan siswa selama mengikuti proses pembelajaran. 4) Dokumentasi Foto Dokumentasi foto merupakan data yang cukup penting sebagai bukti terjadinya suatu peristiwa. Dalam penelitian ini, peneliti memandang perlu juga menggunakan dokumentasi foto sebagai salah satu data instrumen nontes. Penggunaan instrumen berupa pengambilan gambar (foto) ini dimaksudkan untuk memperoleh rekaman aktivitas atau perilaku siswa

51 selama mengikuti proses pembelajaran dalam bentuk

dokumentasi gambar. Dokumentasi foto akan memperkuat bukti analisis penelitian pada setiap siklus. Selain itu, data yang diambil melalui dokumentasi foto ini juga memperjelas data yang lain yang hanya terdeskripsikan melalui tulisan atau angka. Sebagai data penelitian, hasil dokumentasi gambar (foto) ini selanjutnya dideskripsikan sesuai keadaan yang ada dan dipadukan dengan data-data yang lain. 5) Rekaman Pita Rekaman pita juga merupakan data yang cukup penting dalam penelitian keterampilan berbicara siswa, karena dengan rekaman pita ini bukti otentik tes perbuatan siswa dalam berbicara akan terrekam dalam pita ini. Rekaman pita juga dapat memperkuat bukti pelaksanaan diskusi yang dilakukan siswa. Selain itu, data penelitian melalui rekaman pita ini juga dapat membantu peneliti dalam memberikan penilaian

keterampilan berbicara siswa. Hasil rekaman pita dapat peneliti putar kembali untuk memberikan penguatan penilaian yang peneliti lakukan ketika siswa berbicara melalui diskusi. 6) Rekaman Video Selain rekaman pita, peneliti juga memandang perlu menggunakan rekaman audio visual sebagai data penelitian. Rekaman audio visual ini akan memberikan data yang lebih

52 lengkap dibandingkan data hasil rekaman pita. Aktivitas siswa selama pembelajaran akan terrekam dengan jelas melalui rekaman video ini. Tidak hanya aktivitas siswa saja, keterampilan berbicara siswa pun akan terrekam. Aspek nonkebahasaan yang tidak dapat terrekam melalui rekaman pita seperti sikap, gerak-gerik dan mimik yang wajar, serta pandangan mata dapat terrekam melalui rekaman video ini. Rekaman video ini juga dapat peneliti putar kembali untuk memberikan penilaian keterampilan berbicara siswa melalui diskusi. Jadi, rekaman video ini akan memberikan data yang lebih lengkap dibandingkan dengan rekaman pita yang hanya dapat merekam suara saja dalam memberikan penilaian keterampilan berbicara siswa. 7) Sosiometri (Lembar Observasi Siswa) Sosiometri merupakan instrumen penjaring data yang digunakan untuk meneliti hubungan sosial siswa. Dalam penelitian ini, sosiometri dilakukan antaranggota kelompok untuk menilai kinerja teman sekelompok dan menentukan teman sekelompoknya yang memiliki keterampilan berbicara paling baik di antara mereka. Siswa diminta menuliskan nama teman sekelompoknya sesuai dengan aspek yang ada dalam instrumen ini. Adapun aspek amatan yang terdapat dalam instrumen sosiometri ini antara lain:

53 a) Teman sekelompok siswa yang tidak memperhatikan model (bicara sendiri/ menggangu teman sekelompok atau kelompok lain) yang guru putarkan, b) teman sekelompok siswa yang tidak memberikan pendapat ketika mendiskusikan model yang guru putarkan, c) teman sekelompok siswa yang bicara sendiri/ mengganggu teman sekelompok atau kelompok lain ketika

mendiskusikan model tersebut, d) teman sekelompok siswa yang tidak bekerja sama ketika mendiskusikan model yang guru putarkan, e) teman sekelompok siswa yang tidak memberikan pendapat dalam mendiskusikan masalah yang guru berikan, f) teman sekelompok siswa yang bicara sendiri/ mengganggu teman sekelompok atau kelompok lain ketika

mendiskusikan masalah dari guru, g) teman sekelompok siswa yang tidak bekerja sama dalam mendiskusikan masalah dari guru, h) teman sekelompok siswa yang tidak aktif dalam diskusi ketika kelompok kamu tampil, i) teman sekelompok siswa yang tidak memperhatikan (berbicara sendiri/ menggangu) proses diskusi kelompok lain yang tampil, dan

54 j) siapakah teman sekelompok siswa yang memiliki

keterampilan berbicara paling baik. 2. Uji Instrumen Instrumen yang diuji adalah instrumen tes perbuatan dan instrumen nontes. a. Instrumen Tes Perbuatan Aspek-aspek keterampilan berbicara sebelum digunakan untuk pengambilan data dilakukan uji validitas isi dan validitas permukaan. Aspek-aspek keterampilan berbicara yang akan digunakan untuk penilaian keterampilan berbicara siswa diteliti dengan menggunakan indikator agar siswa terampil berbicara dengan menggunakan bahasa Indonesia ragam formal. Validitas isi dilakukan dengan

mengkonsultasikan aspek-aspek yang digunakan untuk mengukur keterampilan berbicara siswa kepada dosen pembimbing pada tanggal 19 April 2005. Validitas permukaan dilakukan dengan cara mengkonsultasikan instrumen tersebut kepada sesama guru bahasa dan sastra Indonesia di SMA Negeri I Jepara pada tanggal 22 April 2005. Aspek-aspek untuk menilai keterampilan berbicara siswa dalam instrumen tersebut disetujui untuk menilai keterampilan berbicara siswa. b. Instrumen Nontes Untuk instrumen nontes dalam penelitian ini dilakukan uji validitas permukaan dengan cara mengkonsultasikan keseluruhan instrumen

55 nontes yang peneliti susun kepada dosen pembimbing pada tanggal 19 April 2005 dan konsultasi dengan guru Bahasa dan Sastra Indonesia di SMA Negeri I Jepara yang dapat diajak bertukar pikiran, pada tanggal 22 April 2005. Aspek-aspek yang diuji adalah: 1) Ketepatan penggunaan pendekatan kontekstual fokus pemodelan dalam pembelajaran keterampilan berbicara, 2) Respon siswa terhadap pemebrian model dalam pembelajaran, 3) Keaktifan siswa dalam mengikuti proses belajar mengajar, dan 4) Penyebab kesulitan siswa dalam berbicara menggunakan bahasa Indonesia ragam formal.

E. Desain Penelitian Proses penelitian tindakan kelas ini direncanakan berlangsung dalam dua siklus. Tiap siklus terdiri atas empat tahap, yaitu 1) perencanaan, 2) tindakan, 3) observasi, dan 4) refleksi. Proses kegiatan tindakan kelas yang peneliti lakukan adalah bertolak dari permasalahan yang akan dipecahkan, kemudian peneliti merencanakan suatu tindakan dan melaksanakannya. Pada pelaksanaan tindakan peneliti melakukan penyampaian materi, tes perbuatan, dan observasi terhadap kegiatan yang dilakukan. Tahap berikutnya, berdasarkan hasil observasi, wawancara, dan jurnal peneliti merefleksi kegiatan-kegiatan yang dilakukan. Permasalahan-permasalahan yang muncul pada siklus I merupakan permasalahan yang harus dipecahkan pada siklus II. Selanjutnya, kegiatan dimulai lagi seperti kegiatan pada siklus I, yakni

56 perencaaan, tindakan, observasi, dan refleksi dengan perubahan-perubahan untuk mengatasi permasalahan yang muncul pada siklus I. Proses penelitian tindakan kelas ini dapat digambarkan sebagai berikut ini.

1. Perencanaan

1. Perencanaan

4. Refleksi

Siklus I

2. Tindakan 4. Refleksi

Siklus II

2.Tindakan

3. Pengamatan

3. Pengamatan

(Tim Pelatih Proyek PGSM 1999:6) Secara lebih rinci kegiatan-kegiatan tiap siklus penulis sampaikan pada bagian berikut ini. 1. Proses Pelaksanaan Siklus I Proses pelaksanaan pada siklus I terdiri: a. Perencanaan Pada tahap ini peneliti melakukan kegiatan: 1) menyusun rencana pembelajaran sesuai dengan tindakan yang akan dilaksanakan 2) membuat perangkat pembelajaran, 3) menyusun instrumen penelitian yang akan digunakan, yaitu pedoman tes perbuatan, pedoman pengamatan, wawancara, jurnal, dokuentasi foto, dan rekaman pita, 4) mempersiapkan model serta media yang akan digunakan, dan

57 5) mempersiapkan materi yang akan diajarkan. b. Tindakan Pada tahap ini dilakukan tindakan seperti yang telah disusun dalam rencana pembelajaran. Materi pembelajarannya adalah mendiskusikan masalah yang ditemukan dari berbagai berita, artikel, atau buku. Pada tahap awal pembelajaran siswa diberikan apersepsi untuk mengungkap pengetahuan siswa mengenai kegiatan diskusi. Guru menuliskan hasil apersepsi tersebut dan memberikan penguatan. Kemudian, guru menjelaskan tujuan pembelajaran pertemuan itu. Selanjutnya, guru menjelaskan materi diskusi mulai dari

pengertian, macam-macam diskusi, komponen-komponen diskusi beserta tugasnya dan memberikan contoh kalimat yang dapat digunakan masing-masing komponen tersebut. Setelah selesai, guru memberikan kesempatan kepada siswanya untuk bertanya, mengajukan pendapat atau memberikan tanggapan. Guru meminta siswa untuk membentuk kelompok kecil yang beranggotakan 4 orang. Guru juga meminta siswa menunjuk ketua kelompoknya. Kemudian, guru memutarkan model orang yang sedang berdiskusi melalui televisi. Setiap kelompok diminta untuk

memperhatikan dengan baik dan mencatat hal-hal yang bisa ditiru dalam pelaksanaan diskusi maupun berbicara dalam diskusi, dan mencatat hal-hal yang kurang sesuai dengan pengetahuan atau pengalaman siswa berkaitan dengan diskusi.

58

Dengan teman sekelompok, siswa diminta mendiskusikan hal-hal yang ditemukannya dari pemutaran model tersebut (proses pelaksanaan diskusi, cara berbicara semua komponen yang terlibat dalam diskusi tersebut). Kerja kelompok dibatasi selama 15 menit. Setelah semua tugas dikumpulkan, guru mengundi kelompok untuk tampil

menyajikan hasil kerjanya untuk didiskusikan dengan kelompok lain. Setelah selesai guru memberikan penguatan. Guru membagikan artikel dari majalah Graffity, yang berisi masalah-masalah seputar dunia siswa atau dunia remaja. Dengan teman sekelompok, siswa diminta memahami masalah yang

diterimanya dan mendiskusikan alternatif-alternatif pemecahannya selama 15 menit. Setelah semua pekerjaan dikumpulkan, guru mengundi kelompok untuk tampil menyajikan hasil kerjanya. Kelompok yang pada kegiatan sebelumnya tampil mendapat prioritas untuk tampil pada giliran terakhir agar setiap kelompok memiliki kesempatan untuk menyajikan hasil kerjanya di depan kelas. Setiap kelompok menyajikan hasil kerjanya secara bergiliran. Setelah setiap kelompok selesai menyajikan hasil kerjanya, siswa lain menanggapi hasil kerja kelompok dan mendiskusikan alternatifalternatif masalah yang ditemui kelompok yang tampil. Waktu

penampilan setiap kelompok, mulai pemaparan hingga diskusi, dibatasi selama 10 – 15 menit. Pada kegiatan ini guru memotivasi

59 siswa agar diskusi ini berlangsung dengan baik dan semua siswa terlibat, karena keterampilan berbicara siswa akan dinilai dari kegiatan ini (memoderatori, menyajikan masalah, mengajukan pertanyaan, jawaban, sanggahan ataupun mengajukan pendapat, dan menjadi notulis apabila diminta moderator untuk melaporkan hasil kerjanya). Guru juga menginformasikan aspek-aspek yang dinilai. Setiap penampilan berakhir guru memberikan penguatan terhadap hasil diskusi. Selanjutnya, bersama siswa guru mengadakan refleksi terhadap proses dan hasil belajar pada hari itu. Guru memberikan kesempatan sekali lagi kepada siswanya untuk menanggapi pembelajaran keterampilan berbicara melalui diskusi yang baru saja dilaksanakan, lalu guru menutup pertemuan hari itu. c. Observasi atau Pengamatan Observasi dilakukan oleh peneliti pada saat kegiatan belajar mengajar berlangsung. Selain menyampaikan materi pembelajaran dan melakukan tes perbuatan, peneliti juga mengamati perilaku siswa selama proses pembelajaran. Adapun aspek yang diobservasi adalah antusias siswa dalam pembentukan kelompok, respon atau sikap siswa ketika diputarkan model dalam pembelajaran, komentar yang diberikan siswa ketika mendiskusikan model yang disajikan, respon siswa/ kelompok dalam menerima materi (masalah) yang akan didiskusikan, respon siswa dalam dalam mendiskusikan masalah yang diterima

60 dengan kelompoknya, pendapat/ jawaban yang diberikan siswa dalam diskusi, semangat siswa dalam mengikuti diskusi, diskusi yang dilaksanakan siswa, dan respon siswa dalam mengikuti pembelajaran keterampilan berbicara melalui diskusi. d. Refleksi Setelah proses tindakan siklus I berakhir, peneliti melakukan analisis mengenai hasil tes perbuatan, observasi, wawancara, jurnal, dokumentasi foto, dan rekaman pita. Hasil analisis tersebut digunakan untuk mengetahui seberapa besar keterampilan berbicara siswa, bagaimana sikap siswa selama mengikuti pembelajaran, dan kendala apa yang ditemui guru dan siswa dalam kegiatan pembelajaran tersebut. Berdasarkan hasil analisis tersebut dilakukan refleksi yang meliputi 1) pengungkapan sikap siswa dalam kegiatan belajar mengajar, 2) keterampilan berbicara siswa pada siklus I, dan 3) pengungkapan tindakan-tindakan yang telah dilakukan guru selama mengajar. Kekurangan-kekurangan pada siklus I diperbaiki pada siklus II. 2. Proses Pelaksanaan Siklus II Berdasarkan refleksi pada siklus I, diadakan kegiatan-kegiatan untuk memperbaiki rencana dan tindakan yang telah dilakukan. Langkahlangkah kegiatan pada siklus II pada dasarnya sama seperti langkahlangkah pada siklus I, tetapi ada pembelajaran pada siklus II. beberapa perbedaan kegiatan

61

a. Perencanaan Perencanaan yang dilakukan adalah memperbaiki perencanaan yang telah dilakukan pada siklus I. Perbaikan tersebut terdapat pada rencana pembelajaran, pembentukan kelompok, media yang

digunakan, penukaran model yang digunakan, dan pengundian kembali masalah yang akan didiskusikan. Kegiatan-kegiatan yang dilakukan pada tahap ini adalah sebagai berikut. 1) memperbaiki rencana pembelajaran, 2) mempersiapkan komputer, perangkat audio, dan LCD, untuk menampilkan materi pembelajaran, 3) mempersiapkan model yang akan digunakan, 4) menyusun instrumen penelitian yang digunakan, yaitu pedoman tes perbuatan, pedoman pengamatan, pedoman wawancara, jurnal, rekaman video, dan sosiometeri (lembar observasi siswa). b. Tindakan Tindakan yang dilakukan pada siklus ini adalah: 1) Guru mengadakan apersepsi untuk menggali pengetahuan siswa mengenai kegiatan diskusi dengan menampilkan kembali materi yang telah diberikan dengan program Power Point melalui LCD. Materi tersebut dapat digunakan siswa untuk melengkapi catatannya. Apabila terdapat kekurangan pada catatan guru, siswa

62 dapat memberikan tanggapan. Guru meminta siswa untuk memperhatikan dan memahami apa yang disampaikan guru. 2) Setelah penyajian materi selesai, guru memberikan kesempatan kepada siswa untuk bertanya atau mengajukan pendapat. Siswa lain boleh menanggapi pertanyaan temannya. Guru memberikan penguatan kegiatan tersebut. 3) Guru meminta siswa untuk membentuk kelompok kembali dengan cara menentukan sepuluh siswa yang memiliki keterampilan berbicara yang baik pada siklus I. Kemudian siswa diminta menentukan sendiri anggota kelompoknya, sebanyak empat orang tiap kelompok 4) Melalui LCD, guru memutarkan model orang yang sedang berdiskusi. Setiap siswa diminta untuk memperhatikan dengan baik dan mencatat hal-hal yang bisa ditiru untuk berbicara dalam kegiatan diskusi dan hal-hal yang kurang sesuai dengan pengalaman atau pengetahuan yang mereka miliki. Kemudian, dengan teman sekelompoknya siswa diminta mendiskusikan halhal yang ditemukannya dari pemutaran model tersebut. Hal-hal tersebut antara lain a) jenis diskusi, b) komponen yang terlibat, c) cara berbicara dalam diskusi, d) cara mengajukan pertanyaan/ pendapat, dan e) cara menyanggah. Kerja kelompok dibatasi selama 15 menit.

63 5) Setelah semua tugas dikumpulkan, guru mengundi kelompok untuk tampil menyajikan hasil kerjanya di depan kelas dan ssiwa/ kelompok lain boleh menanggapi. 6) Setelah diundi, guru membagikan artikel dari majalah Graffity, media komunikasi siswa SMA Negeri I Jepara, yang berisi masalah-masalah seputar dunia siswa yang dekat dengan kehidupan siswa di sekolah. Siswa diminta untuk memahami masalah-masalah yang ditemuinya kemudian dengan teman sekelompoknya mendiskusikan alternatif-alternatif pemecahannya selama 15 menit. 7) Setelah semua pekerjaan dikumpulkan, guru mengundi kelompok untuk tampil menyajikan hasil kerjanya. Kelompok yang pada kegiatan sebelumnya tampil mendapat prioritas untuk tampil pada giliran terakhir agar setiap kelompok memiliki kesempatan untuk menyajikan hasil kerjanya di depan kelas. 8) Setiap kelompok menyajikan hasil kerjanya secara bergiliran. Setelah setiap kelompok selesai menyajikan hasil kerjanya, siswa lain menanggapi hasil kerja kelompok dan mendiskusikan alternatif-alternatif masalah yang ditemui kelompok yang tampil. Waktu penampilan setiap kelompok, mulai pemaparan hingga diskusi, dibatasi selama 10 – 15 menit. Pada kegiatan ini guru memotivasi siswa agar diskusi pada siklus II ini berlangsung lebih baik daripada siklus I dan semua siswa terlibat, karena akan diberi

64 penilaian bagi siswa yang berbicara dan guru juga

menginformasikan aspek-aspek yang dinilai. Setiap penampilan berakhir guru memberikan penguatan terhadap hasil diskusi. 9) Setelah semua kelompok tampil, guru mengadakan refleksi bersama dengan siswa mengenai pembelajaran yang dilakukan pada siklus II ini (pengalaman, pengetahuan, dan perasaan ketika mengikuti pelajaran). 10) Sebelum menutup pelajaran guru menginformasikan materi pelajaran pada pertemuan berikutnya dan siswa diminta untuk mempelajarinya terlebih dahulu. c. Obervasi atau Pengamatan Observasi dilakukan oleh peneliti pada saat kegiatan belajar mengajar berlangsung. Selain menyampaikan materi pembelajaran dan melakukan tes perbuatan, peneliti juga mengamati perilaku siswa selama proses pembelajaran. Aspek-aspek yang diamati sama dengan aspek-aspek yang diamati pada siklus I, yaitu antusias siswa dalam pembentukan kelompok, respon atau sikap siswa ketika diputarkan model dalam pembelajaran, komentar yang diberikan siswa ketika mendiskusikan model yang disajikan, respon siswa/ kelompok dalam menerima materi (masalah) yang akan didiskusikan, respon siswa dalam dalam mendiskusikan masalah yang diterima dengan

kelompoknya, pendapat/ jawaban yang diberikan siswa dalam diskusi, semangat siswa dalam mengikuti diskusi, diskusi yang dilaksanakan

65 siswa, dan respon siswa dalam mengikuti pembelajaran keterampilan berbicara melalui diskusi. Observasi ini digunakan untuk mengetahui adanya perubahan sikap siswa dalam mengikuti pembelajaran keterampilan berbicara pada siklus II ini. d. Refleksi Akhir tindakan siklus II ini dilakukan analisis hasil tes perbuatan, observasi/ pengamatan, wawancara, jurnal, rekaman video, dan sosiometri (lembar observasi siswa). Hasil analisis tersebut digunakan untuk mengetahui kendala-kendala apa yang dijumpai guru pada siklus II, bagaimana perubahan sikap siswa dalam mengikuti pembelajaran, dan seberapa besar peningkatan keterampilan berbicara siswa. Berdasarkan hasil analisis tersebut dilakukan refleksi yang meliputi 1) perubahan sikap siswa setelah mengikuti pembelajaran keterampilan berbicara dengan pendekatan kontekstual fokus pemodelan, peningkatan keterampilan berbicara siswa setelah 2)

mengikuti

pembelajaran, dan 3) tindakan-tindakan yang telah dilakukan guru selama mengajar. Kekurangan-kekurangan yang terjadi pada siklus II ini seharusnya diperbaiki pada siklus berikutnya. Namun, mengingat keterbatasan waktu, perbaikan-perbaikan kekurangan pada siklus ini terpaksa dilakukan di luar penelitian ini. Kelebihan yang didapatkan dapat dikembangkan lagi pada kegiatan pembelajaran sejenis dalam kegiatan belajar mengajar berikutnya.

66

F. Teknik Pengumpulan Data Instrumen-instrumen penelitian yang telah peneliti susun tersebut digunakan untuk mengumpulkan data-data yang peneliti butuhkan.

Pengumpulan data-data tersebut diperoleh melalui langkah-langkah berikut. 1. Variabel keterampilan berbicara diperoleh dari tes perbuatan siswa selama mengikuti pembelajaran 2. Variabel penggunaan pendekatan kontekstual fokus pemodelan diperoleh dari observasi, wawancara, jurnal, dokumentasi foto, rekaman pita, rekaman video, dan sosiometri. Peneliti memperoleh data tes perbuatan selama siswa mengikuti proses diskusi, yakni ketika siswa berbicara memoderatori, menyajikan masalah, menjadi notulis ketika melaporkan hasil diskusinya, bertanya, menyanggah, ataupun memberikan pendapat pada diskusi itu. Hasil terbaik yang diperoleh siswalah yang digunakan dalam menilai keterampilan berbicara siswa. Observasi dilakukan oleh peneliti pada saat kegiatan belajar mengajar berlangsung. Selain menyampaikan materi pembelajaran dan melakukan tes perbuatan, peneliti juga mengamati perilaku siswa selama proses

pembelajaran. Adapun aspek yang diobservasi adalah antusias siswa dalam pembentukan kelompok, respon atau sikap siswa ketika diputarkan model dalam pembelajaran, komentar yang diberikan siswa ketika mendiskusikan model yang disajikan, respon siswa/ kelompok dalam menerima materi (masalah) yang akan didiskusikan, respon siswa dalam dalam mendiskusikan masalah yang diterima dengan kelompoknya, pendapat/ jawaban yang

67 diberikan siswa dalam diskusi, semangat siswa dalam mengikuti diskusi, diskusi yang dilaksanakan siswa, dan respon siswa dalam mengikuti pembelajaran keterampilan berbicara melalui diskusi. Pedoman observasi atau pengamatan ini diisi selama pembelajaran berlangsung dengan cara memberi tanda cek (√) pada setiap aspek yang diamati sesuai dengan kategori (keadaan di kelas), apakah termasuk kurang, cukup, baik, atau baik sekali. Wawancara dilakukan setiap akhir siklus di luar jam pelajaran. Wawancara tidak dilakukan kepada semua siswa, tetapi dilakukan kepada tiga orang siswa yang mendapatkan nilai tertinggi dan tiga orang siswa yang mendapatkan nilai terrendah pada setiap siklus. Siswa diminta menuliskan jawaban hasil wawancara tersebut di lembar jawaban yang peneliti sediakan. Wawancara ini digunakan untuk mengungkap efektivitas penggunaan pendekatan kontekstual fokus pemodelan dalam pembelajaran keterampilan berbicara dan kesulitan-kesulitan yang dialami siswa ketika mengikuti pembelajaran keterampilan berbicara. Wawancara dilakukan di tempat terpisah agar siswa leluasa mengemukakan isi hatinya tentang kegiatan pembelajaran yang diikuti. Dalam penelitian ini, guru menyusun jurnal sebagai instrumen nontes. Ada dua model jurnal guru yang disusun dalam penelitian ini, yakni jurnal untuk mengetahui kegiatan yang dilakukan guru dalam pembelajaran dan jurnal untuk mengetahui kegiatan atau sikap siswa selama proses pembelajaran. Jurnal guru untuk mengetahui kegiatan yang dilakukan guru dalam pembelajaran disusun dengan cara memberi tanda cek (√) pada setiap

68 aspek, apakah aspek itu dilakukan atau tidak dan pada menit keberapa aspek itu dilakukan. Selanjutnya, jurnal untuk guru mengetahui kegiatan atau sikap siswa selama proses pembelajaran diisi selama pembelajaran berlangsung dengan cara mendeskripsikan keadaan yang yang terjadi sesuai dengan keadaan di kelas. Siswa juga diminta membuat jurnal setiap akhir pembelajaran yang memuat kesan dan pesan selama mengikuti pembelajaran setiap siklus. Dokumentasi foto diambil pada saat proses pembelajaran berlangsung untuk memperoleh rekaman aktivitas atau perilaku siswa selama mengikuti proses pembelajaran dalam bentuk dokumen gambar (foto). Dokumentasi foto ini akan memperkuat analisis penelitian pada setiap siklus. Selain itu, data yang diambil melalui dokumentasi foto ini juga memperjelas data yang lain yang hanya terdeskripsi melalui tulisan dan angka. Rekaman pita diambil pada saat diskusi siswa berlangsung untuk merekam aktivitas berbicara siswa melalui diskusi. Media perekam cukup didekatkan pada pengeras suara (sound system) yang digunakan, sehingga semua aktivitas berbicara siswa akan terrekam dalam rekaman pita ini. Rekaman pita dapat memperkuat bukti pelaksanaan diskusi yang dilakukan siswa. Selain itu, data penelitian melalui rekaman pita ini juga dapat membantu peneliti dalam memberikan penilaian keterampilan berbicara siswa. Hasil rekaman pita dapat peneliti putar kembali untuk memberikan penguatan penilaian yang peneliti lakukan ketika siswa berbicara melalui diskusi.

69 Rekaman video diambil pada saat proses pembelajaran berlangsung ketika siswa memperhatikan dan mendiskusikan model yang peneliti berikan serta presentasi hasil diskusi itu oleh kelompok yang mendapatkan undian, aktivitas siswa mendiskusikan alternatif-alternatif pemecahan masalah yang diterima, dan proses berlangsungnya diskusi siswa di depan kelas. Rekaman video ini akan memberikan data yang lebih lengkap. Aktivitas siswa selama pembelajaran dan keterampilan berbicara siswa dalam diskusi akan terrekam dengan jelas melalui rekaman video ini. Tidak hanya aspek-aspek kebahasaan saja, aspek nonkebahasaan yang tidak dapat terrekam melalui rekaman pita seperti sikap, gerak-gerik dan mimik yang wajar, serta pandangan mata dapat terrekam melalui rekaman audio visual ini. Rekaman video ini dapat peneliti putar kembali untuk memberikan penilaian keterampilan berbicara siswa melalui diskusi. Sosiometri diisi siswa selama pembelajaran berlangsung. Selama pembelajaran, siswa diberikan lembar observasi (sosiometri) untuk menilai kinerja teman sekelompoknya dan menentukan teman sekelompoknya yang memiliki keterampilan berbicara paling baik di antara mereka. Siswa diminta untuk menuliskan nama-nama teman sekelompoknya yang tidak melakukan aktivitas-aktivitas sesuai dengan yang terdapat dalam lembar sosiometri tersebut dan menuliskan nama teman sekelompoknya yang keterampilan berbicaranya paling baik di antara mereka.

70

G. Teknik Analisis Data Teknik yang digunakan untuk menganalisis data penelitian ini adalah teknik kuantitatif dan teknik kualitatif. 1. Teknik Kuantitatif Tes kuantitatif dipakai untuk menganalisis hasil tes perbuatan siswa yang dilakukan pada setiap siklus. Nilai masing-masing siswa pada setiap akhir siklus dijumlahkan, kemudian jumlah tersebut dihitung dalam persentase dengan menggunakan rumus: N=

∑ SS x100%
11

Keterangan: N Σ SS 11 Hasil = Nilai dalam persentase = nilai total yang diperoleh siswa = jumlah aspek penilaian perhitungan tersebut kemudian dikonsultasikan dengan

parameter penelitian untuk menentukan keterampilan berbicara siswa tersebut termasuk dalam kategori kurang, cukup, baik atau sangat baik. Hasil yang diperoleh siswa pada siklus I dibandingkan dengan hasil yang diperoleh siswa pada siklus II untuk mengetahui peningkatan keterampilan berbicara siswa. Selanjutnya, untuk mengetahui peningkatan keterampilan berbicara siswa satu kelas diperoleh dengan cara membandingkan hasil yang diperoleh siswa satu kelas dalam siklus I dan siklus II. Nilai yang

71 diperoleh siswa satu kelas setiap siklus dijumlahkan, kemudian jumlah tersebut dihitung dalam persentase dengan menggunakan rumus: N=

∑ SK x100%
n

Keterangan: N Σ SK n = Nilai dalam persentase = nilai total yang diperoleh siswa = jumlah siswa satu kelas Hasil yang diperoleh keseluruhan siswa pada siklus I dibandingkan dengan hasil yang diperoleh keseluruhan siswa pada siklus II untuk mengetahui peningkatan keterampilan berbicara siswa satu kelas. 2. Teknik Kualitatif Teknik kualitatif dipakai untuk menganalisis data-data nontes, yaitu data observasi atau pengamatan, data hasil wawancara, data jurnal, data dokumentasi foto, data rekaman pita, data rekaman video, dan data sosiometri. Data observasi, jurnal, dan rekaman video dianalisis untuk mendeskripsikan sikap siswa dalam mengikuti pelajaran. Dari data ini diketahui perubahan sikap siswa selama mengikuti pelajaran pada siklus I dan siklus II. Data hasil wawancara digunakan untuk mengungkap efektivitas penggunaan pendekatan kontekstual fokus pemodelan dalam pembelajaran dan digunakan untuk mengungkap kesulitan-kesulitan yang dialami siswa ketika berbicara melalui diskusi. Dari data wawancara ini guru dapat

72 mencari alternatif-alternatif pemecahan kesulitan yang dialami siswa ketika mengikuti pelajaran dan menentukan teknik pembelajaran yang sesuai dalam usaha meningkatkan keterampilan berbicara siswa. Data dokumentasi foto digunakan untuk memperoleh rekaman aktivitas atau perilaku siswa selama mengikuti proses pembelajaran dalam bentuk dokumen gambar. Dokumentasi foto akan memperkuat bukti analisis penelitian pada setiap siklus. Selain itu, data yang diambil melalui dokumentasi foto ini juga memperjelas data yang lain yang hanya terdeskripsikan melalui tulisan atau angka. Dari data ini guru dapat mencari alternatif-alternatif pendekatan pembelajaran yang sesuai agar pembelajaran berlangsung efektif. Rekaman pita digunakan untuk memperkuat bukti pelaksanaan diskusi yang dilakukan siswa. Selain itu, data penelitian melalui rekaman pita ini juga dapat membantu peneliti dalam memberikan penilaian keterampilan berbicara siswa. Hasil rekaman pita dapat peneliti putar kembali untuk memberikan penguatan penilaian yang peneliti lakukan ketika siswa berbicara melalui diskusi. Hasil rekaman pita ini dapat digunakan untuk mengetahui kekurangan-kekurangan siswa ketika berbicara, sehingga guru dapat menentukan pendekatan pembelajaran yang sesuai dalam usaha meningkatkan keterampilan berbicara siswa. Rekaman video ini juga akan memberikan data yang lebih lengkap dibandingkan data yang lain. Aktivitas siswa selama pembelajaran akan terrekam dengan jelas melalui rekaman audio visual ini. Tidak hanya

73 aktivitas siswa saja, keterampilan berbicara siswa pun akan terrekam. Aspek nonkebahasaan yang tidak dapat terrekam melalui rekaman pita seperti sikap, gerak-gerik dan mimik yang wajar, serta pandangan mata dapat terrekam melalui rekaman audio visual ini. Rekaman audio visual ini juga dapat peneliti putar kembali untuk memberikan penilaian keterampilan berbicara siswa melalui diskusi. Dari data rekaman video ini, guru dapat memperbaiki kekurangan-kekurangan siswa dalam berbicara untuk meningkatkan keterampilan berbicaranya dan menentukan

pendekatan pembelajaran yang sesuai agar pembelajaran berlangsung lebih efektif. Data sosiometri (lembar observasi siswa) digunakan untuk menilai kinerja teman sekelompoknya. Dari data sosiometri ini guru dapat mengetahui aktivitas siswa selama mengikuti pembelajaran dan dapat digunakan untuk menentukan pendekatan pembelajaran yang sesuai, sehingga pembelajaran dapat berlangsung efektif dan keetrampilan berbicara siswa meningkat. Data-data nontes ini digunakan untuk mengetahui efektivitas penggunaan pendekatan kontekstual fokus pemodelan dalam

pembelajaran keterampilan berbicara melalui diskusi.

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

A. Hasil Penelitian Hasil penelitian yang diuraikan meliputi hasil tes dan nontes, baik pada siklus I maupun siklus II. Hasil penelitian yang berupa tes keterampilan berbicara disajikan dalam bentuk data kuantitatif, sedangkan hasil penelitian nontes disajikan dalam bentuk deskripsi data kualitatif. Sistem penyajian data hasil tes kemampuan berbicara yang berupa angka ini disajikan dalam bentuk tabel, kemudian diuraikan analisis atau tafsiran makna dari laporan tabel tersebut. Selanjutnya, untuk data nontes dipaparkan dalam bentuk rangkaian kalimat secara deskriptif. Data nontes yang dipaparkan pada siklus I meliputi observasi, wawancara, jurnal, dokumentasi foto, dan rekaman pita, sedangkan siklus II data nontes meliputi observasi, wawancara, jurnal, sosiometri (lembar observasi siswa), dan rekaman video yang dilampirkan dalam bentuk VCD. 1. Hasil Penelitian Siklus I a. Hasil Tes Data hasil tes ini merupakan data penentu keterampilan berbicara siswa dan peningkatan keterampilan berbicara siswa. Dari hasil tes ini diketahui tingkat keterampilan berbicara siswa. Tes keterampilan berbicara ini dilakukan dengan cara meminta setiap kelompok tampil di depan kelas untuk memaparkan hasil diskusinya berkaitan dengan alternatif-alternatif pemecahan masalah yang diterimanya. Setiap anggota kelompok ada yang 74

75 berperan menjadi moderator, penyaji, dan notulis. Siswa/ kelompok lain menjadi peserta diskusi yang nanti diberikan kesempatan untuk memberikan tanggapan (bertanya, menyanggah ataupun mengajukan pendapat) kepada kelompok yang tampil. Keterampilan berbicara siswa pada kegiatan tersebut akan diberikan penilaian sebagai tes keterampilan berbicara. Secara umum, hasil tes keterampilan berbicara pada siklus I ini dapat dilihat pada tabel 4 berikut ini. Tabel 4. Hasil Tes Keterampilan Berbicara Siklus I No. Nilai Kategori Frekuensi % Hasil Klasikal 1. < 65 kurang 0 0 39 siswa mencapai total 2863 2. 65 – 74 Cukup 28 72 nilai 3. 75 – 84 Baik 11 28 dengan rata-rata nilai 4. >84 sangat baik 0 0 73,4 dalam kategori Jumlah 39 100 cukup. Tabel tersebut menunjukkan bahwa secara klasikal ketiga puluh sembilan siswa mencapai nilai total 2863 dengan nilai rata-rata 73,4 dalam kategori cukup. Perolehan nilai rata-rata siswa dalam kategori cukup ini disebabkan oleh kondisi fisik dan mental siswa yang telah lelah mengikuti 17 mata pelajaran yang diajarkan kepadanya. Peneliti menyadari hal tersebut karena berdasarkan pengamatan di lapangan dan tanya-jawab dengan guru mata pelajaran lain di kelas itu, berdasarkan kurikulum 2004 ini, siswa SMA kelas X mendapatkan 17 mata pelajaran yang menjelang akhir semester ini hampir semua guru memberikan tugas, baik individu maupun kelompok, yang membutuhkan waktu, tenaga dan pikiran yang banyak untuk menilai ketuntasan belajar siswa. Selain itu, pembelajaran keterampilan berbicara melalui diskusi ini masih dirasakan baru oleh siswa

76 sehingga pola pembelajaran ini merupakan proses awal bagi siswa untuk menyesuaikan diri dalam belajar. Pada siklus I ini siswa masih merasa gugup, menggunakan intonasi seperti orang membaca, dan ada pula yang masih menggunakan kata-kata raam santai atau bahasa Jawa. Hasil tes secara klasikal sebagaimana dalam tabel 3 tersebut merupakan gabungan dari sebelas aspek keterampilan berbicara yang digunakan untuk menilai keterampilan berbicara siswa melalui diskusi. Adapun hasil perolehan tiap-tiap aspek secara rinci dapat dilihat pada uraian di bawah ini. 1) Hasil Tes Ketrampilan Berbicara Aspek Ketepatan Ucapan Secara rinci, hasil tes keterampilan berbicara aspek ketepatan ucapan dapat dilihat pada tabel 5 di bawah ini. Tabel 5. Hasil Tes Aspek Ketepatan Ucapan No. Nilai Kategori Frekuensi % 1. < 65 kurang 0 0 2. 65 – 74 cukup 7 18 3. 75 – 84 baik 28 72 4. >84 sangat baik 4 10 Jumlah 39 100 Hasil Klasikal 39 siswa mencapai nilai total 2945 dengan rata-rata nilai 75,5 dalam kategori baik

Berdasarkan tabel tersebut dapat dijelaskan bahwa kefasihan siswa dalam melafalkan bunyi-bunyi bahasa sudah baik. Hal ini ditandai dengan perolehan nilai rata-rata kelas sebesar 75,5. Sebanyak 7 siswa atau 18% memperoleh nilai 65 – 74 dalam kategori cukup, 28 siswa atau 72% memperoleh nilai 75 – 84 dalam kategori baik, dan 4 siswa atau 10% memperoleh nilai >84 dalam kategori sangat baik. Pelafalan siswa sudah baik karena rata-rata mereka tidak memiliki gangguan alat ucap yang

77 mengganggu pelafalan. Di antara ketujuh siswa yang memperoleh nilai dalam kategori cukup satu di antaranya agak memiliki gangguan alat ucap (cedal), terutama untuk mengucapkan bunyi bunyi /r/, sedangkan enam siswa lainnya disebabkan oleh tempo berbicara yang cepat, sehingga ada kata-kata atau kalimat yang terdengar kurang jelas pengucapannya. 2) Hasil Tes Keterampilan Berbicara Aspek Penempatan Tekanan Hasil tes keterampilan berbicara aspek penempatan tekanan dapat dilihat pada tabel 6 berikut ini. Tabel 6. Hasil Tes Aspek Penempatan Tekanan No. Nilai Kategori Frekuensi % Hasil Klasikal 1. < 65 kurang 0 0 39 siswa mencapai total 2660 2. 65 – 74 cukup 33 85 nilai 3. 75 – 84 baik 6 15 dengan rata-rata nilai 4. >84 sangat baik 0 0 68,2 dalam kategori Jumlah 39 100 cukup. Berdasarkan tabel tersebut dapat dijelaskan bahwa siswa mempunyai keterampilan cukup dalam menempatkan tekanan, yaitu ditandai dengan perolehan nilai rata-rata 68,2 dalam kategori cukup. Sebanyak 33 siswa atau 85% memperoleh nilai 65 – 74 dalam kategori cukup, dan sisanya, 6 siswa atau 5% memperoleh nilai 75 – 84 dalam kategori baik. Pada aspek ini tidak ada satu pun siswa yang memperoleh nilai <65 atau kurang dan >84 atau sangat baik. Rata-rata siswa kurang memperhatikan/ memberikan tekanan pada kata-kata atau kalimat yang penting. Untuk siklus berikutnya siswa perlu dimotivasi agar memperhatikan tekanan pada kata-kata atau kalimat-kalimat yang penting. Tekanan yang baik pada kata-kata atau

78 kalimat-kalimat tersebut dapat membantu memperjelas pendengar dalam memahami apa yang sedang pembicara bicarakan. 3) Hasil Tes Keterampilan Berbicara Aspek Penempatan Jeda Secara rinci, hasil tes keterampilan berbicara, khususnya aspek penempatan jeda pada siklus I ini dapat dilihat pada tabel 7 berikut. Tabel 7. Hasil Tes Aspek Penempatan Jeda No. Nilai Kategori Frekuensi % 1. < 65 kurang 0 0 2. 65 – 74 cukup 23 59 3. 75 – 84 baik 15 38 4. >84 sangat baik 1 3 Jumlah 39 100 Hasil Klasikal 39 siswa mencapai nilai total 2810 dengan rata-rata nilai 72,1 dalam kategori cukup.

Berdasarkan tabel di atas dapat dijelaskan bahwa siswa memiliki keterampilan cukup dalam menempatkan jeda. Sebanyak 23 siswa atau 59% memperoleh nilai 65 – 74 dalam kategori cukup. Selanjutnya, 15 siswa atau 38% memperoleh nilai 75 – 84 dalam kategori baik, dan seorang siswa memperoleh nilai >84 dalam kategori sangat baik. Rata-rata siswa yang memperoleh nilai dalam kategori cukup kurang tepat dalam menempatkan jeda kata atau singkatan, misalnya SMA diucapkan [sm:a] atau kata kelompok diucapkan [k∂lom:po?]. Namun, kekurangtepatan penempatan jeda tersebut tidak sampai membedakan makna atau menimbulkan penafsiran ganda yang membingungkan para pendengar/ peserta. Untuk siklus berikutnya siswa perlu dimotivasi agar

memperhatikan penempatan jeda supaya maksud yang ingin disampaikan kepada pendengar dapat dipahami dengan baik dan pembicaraan menjadi menarik dengan penempatan jeda yang baik itu.

79 4) Hasil Tes Keterampilan Berbicara Aspek Intonasi Secara rinci, hasil tes keterampilan berbicara aspek intonasi dapat dilihat pada tabel 8 berikut ini. Tabel 8. Hasil Tes Aspek Intonasi No. Nilai Kategori Frekuensi % 1. < 65 Kurang 1 3 2. 65 – 74 Cukup 19 48 3. 75 – 84 Baik 18 47 4. >84 sangat baik 1 3 Jumlah 39 100 Hasil Klasikal 39 siswa mencapai nilai total 2820 dengan rata-rata nilai 72,3 dalam kategori cukup.

Berdasarkan tabel di atas dapat dijelaskan bahwa intonasi siswa dalam berbicara melalui diskusi cukup yang ditandai dengan perolehan nilai ratarata 72,2. Seorang siswa atau 3% memperoleh nilai >84 dalam kategori sangat baik, 18 siswa atau 47% memperoleh nilai 75 – 84 dalam kategori baik, dan 19 siswa atau 48% memperoleh nilai 65 – 74 dalam kategori cukup. Hanya ada seorang siswa atau 3% yang memperoleh nilai <65 dalam kategori kurang. Intonasi yang digunakan siswa tersebut adalah intonasi seperti orang membaca. Meskipun demikian, intonasi yang digunakan tersebut tidak sampai membedakan makna yang menyebabkan pendengar kesulitan memahami maksud yang disampaikan karena adanya penafsiran ganda dari para peserta yang disebabkan kurang tepatnya intonasi yang digunakan. Seharusnya, intonasi yang digunakan adalah intonasi untuk meyakinkan pendengar berkaitan dengan argumen-argumen yang dikemukakan. Untuk siklus berikutnya siswa perlu juga dimotivasi untuk memperhatikan aspek intonasi ini agar pembicaraan terdengar

80 menarik dan peserta tidak kesulitan memahami maksud pembicara serta tidak jenuh mendengarnya. 5) Hasil Tes Keterampilan Berbicara Aspek Pilihan Kata Hasil tes keterampilan berbicara aspek pilihan kata dapat dilihat pada tabel 9 berikut ini. Tabel 9. Hasil Tes Aspek Pilihan Kata No. Nilai Kategori Frekuensi % 1. < 65 kurang 0 0 2. 65 – 74 cukup 9 23 3. 75 – 84 baik 29 74 4. >84 sangat baik 1 3 Jumlah 39 100 Hasil Klasikal 39 siswa mencapai nilai total 2895 dengan rata-rata nilai 74,2 dalam kategori cukup.

Berdasarkan tabel tersebut dapat dijelaskan bahwa pilihan kata yang dipakai siswa dalam berbicara berada dalam kategori cukup. Sebanyak 39 siswa mencapai nilai total 2895 dengan nilai rata-rata 74,2 dalam kategori cukup. Sebagian besar siswa, sebanyak 29 siswa atau 74%, memperoleh nilai 75 – 84 dalam kategori baik, dan seorang siswa atau 3% memperoleh nilai >84 dalam kategori sangat baik. Namun, ada 9 siswa atau 23% yang memperoleh nilai 65 – 74 dalam kategori cukup. Kesembilan siswa tersebut masih menggunakan kata-kata dalam ragam santai dan kata-kata dari bahasa Jawa ketika berbicara, misalnya masih menggunakan kata nggak atau gimana, dan neko-neko. Untuk siklus berikutnya siswa perlu dimotivasi agar selalu menggunakan kata-kata atau kalimat-kalimat baku dalam pembelajaran keterampilan berbicara melalui diskusi ini.

Menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar merupakan salah satu wujud kecintaan siswa terhadap bahasa Indonesia.

81 6) Hasil Tes Keterampilan Berbicara Aspek Pemakaian Kalimat Secara rinci, hasil tes keterampilan berbicara aspek pemakaian kalimat dapat dilihat pada tabel 10 di bawah ini. Tabel 10. Hasil Tes Aspek Pemakaian Kalimat No. Nilai Kategori Frekuensi % Hasil Klasikal 1. < 65 kurang 0 0 39 siswa mencapai total 2895 2. 65 – 74 cukup 9 23 nilai dengan rata-rata nilai 3. 75 – 84 baik 29 74 4. >84 sangat baik 1 3 74,2 dalam kategori Jumlah 39 100 cukup. Berdasarkan tabel tersebut dapat dijelaskan bahwa pemakaian kalimat siswa dalam berbicara melalui diskusi pada siklus I ini termasuk dalam kategori cukup yang ditandai dengan perolehan nilai rata-rata sebesar 74,2. Sebagian besar siswa, 29 siswa atau 74%, memperoleh nilai 75 – 84 dalam kategori baik, dan seorang siswa atau 3% memperoleh nilai > 84 dalam kategori sangat baik. Lainnya, sebanyak 9 siswa atau 23%, memperoleh nilai 65 – 74 dalam kategori cukup. Pemakaian kalimat ini dipengaruhi oleh pilihan kata yang digunakan siswa ketika berbicara. Jika pilihan kata yang dipakai siswa baku, maka kalimatnya juga baku. Sebaliknya, jika kata-kata yang digunakan tidak baku, maka kalimatnya juga tidak baku. Namun, tidak hanya itu saja yang peneliti jadikan acuan dalam memberikan penilaian. Struktur kalimat yang dipakai siswa ketika berbicara juga peneliti perhatikan. Rata-rata struktur kalimat yang dipakai siswa sudah baik, tidak membedakan makna atau menimbulkan penafsiran ganda yang menyebabkan peserta kesulitan dalam memahami maksud yang disampaikan pembicara.

82 7) Hasil Tes Keterampilan Berbicara Aspek Sikap, Gerak-gerik, dan Mimik yang wajar Hasil tes keterampilan berbicara siswa aspek sikap, gerak-gerik, dan mimik yang wajar secara rinci dapat dilihat pada tabel 11 berikut ini. Tabel 11. Hasil Tes Aspek Sikap, Gerak-gerik dan Mimik No. Nilai Kategori Frekuensi % Hasil Klasikal 1. < 65 kurang 2 6 39 siswa mencapai total 2790 2. 65 – 74 cukup 22 56 nilai dengan rata-rata nilai 3. 75 – 84 baik 14 35 4. >84 sangat baik 1 3 71,5 dalam kategori Jumlah 39 100 cukup. Berdasarkan tabel tersebut dapat dijelaskan bahwa sikap, gerak-gerik, dan mimik yang wajar ketika berbicara melalui diskusi termasuk dalam kategori cukup yang ditandai dengan perolehan nilai total sebesar 2790 dengan nilai rata-rata 71,5. Sebagian besar siswa, 22 siswa atau 56%, memperoleh nilai 65 – 74 dalam kategori cukup, 14 siswa atau 35%, memperoleh nilai 75 – 84 dalam kategori baik, dan seorang siswa atau 3% memperoleh nilai >84 dalam kategori sangat baik. Pada aspek sikap, gerak-gerik, dan mimik yang wajar ini ada 2 siswa atau 6% yang memperoleh nilai <65 dalam kategori kurang. Ketika berbicara, kedua siswa ini menggoyang-goyangkan badannya, menggaruk-garuk kepala secara berlebihan, dan berbicara sambil tertawa. 8) Hasil Tes Keterampilan Berbicara Aspek Volume Suara Pada kegiatan diskusi ini, peneliti juga menggunakan media pengeras suara (sound system). Hal ini peneliti maksudkan agar siswa terbiasa berbicara di depan umum dengan menggunakan pengeras suara, sehingga

83 apabila terjun di masyarakat dan harus berbicara di depan khalayak dengan menggunakan pengeras suara, siswa sudah tidak canggung lagi karena sudah terbiasa di sekolah. Pengaturan volume suara tidak peneliti ubahubah dari awal hingga akhir penampilan seluruh kelompok, sehingga masih tetap terdengar perbedaan siswa yang volume suaranya keras atau pelan ketika berbicara. Adapun hasil tes keterampilan berbicara aspek volume suara secara rinci dapat dilihat pada tabel 12 berikut ini. Tabel 12. Hasil Tes Aspek Volume Suara No. Nilai Kategori Frekuensi % 1. < 65 kurang 0 0 2. 65 – 74 cukup 6 15 3. 75 – 84 baik 33 85 4. >84 sangat baik 0 0 Jumlah 39 100 Hasil Klasikal 39 siswa mencapai nilai total 2940 dengan rata-rata nilai 75,4 dalam kategori baik.

Berdasarkan tabel tersebut dapat dijelaskan bahwa volume suara siswa ketika berbicara melalui diskusi sudah baik. Hal ini ditandai dengan perolehan nilai total yang dicapai sebesar 2940 dengan nilai rata-rata 75,4. Sebagian besar siswa, 33 siswa atau 85%, memperoleh nilai 75 – 84 dalam kategori baik. Sisanya, 33 siswa atau 15%, memperoleh nilai 65 – 84 dalam kategori cukup. Dalam diskusi ini peneliti tidak menemukan siswa yang menjauhkan mikrofon dari mulut ketika berbicara. Kondisi ini perlu dipertahankan dan memotivasi siswa yang suaranya pelan agar memperkeras volume suaranya ketika berbicara dalam diskusi, sehingga pembicaraannya terdengar oleh seluruh peserta diskusi.

84 9) Hasil Tes Keterampilan Berbicara Aspek Pandangan Mata Secara rinci, hasil tes keterampilan berbicara aspek pandangan mata pada siklus I dapat dilihat pada tabel 13 berikut ini. Tabel 13. Hasil Tes Aspek Pandangan Mata No. Nilai Kategori Frekuensi % 1. < 65 kurang 2 6 2. 65 – 74 cukup 20 50 3. 75 – 84 baik 15 38 4. >84 sangat baik 2 6 Jumlah 39 100 Hasil Klasikal 39 siswa mencapai nilai total 2845 dengan rata-rata nilai 72,9 dalam kategori cukup.

Berdasarkan tabel tersebut dapat dijelaskan bahwa pandangan mata siswa ketika berbicara dalam diskusi berada dalam kategori cukup. Hal ini ditandai dengan perolehan nilai total siswa sebesar 2845 dengan nilai ratarata 72,9 dalam kategori cukup. Pada aspek pandangan mata ini, 2 siswa atau 6% memperoleh nilai <65 dalam kategori kurang, 20 siswa atau 50% memperoleh nilai 65 – 74 dalam kategori cukup, 15 siswa atau 38% memperoleh nilai 75 – 84 dalam kategori baik, dan 2 siswa atau 6% memperoleh nilai >84 dalam kategori sangat baik. Umumnya, pandangan mata siswa ketika berbicara hanya diarahkan pada satu arah tertentu saja, tidak kepada semua peserta. Sedangkan 2 siswa yang memperoleh nilai kurang, pandangan matanya terlihat sering diarahkan ke atas atau ke bawah. Seharusnya pandangan mata ketika berbicara dalam diskusi diarahkan kepada semua peserta agar peserta merasa diperhatikan, sehingga antusias peserta untuk mengikuti proses berlangsungnya diskusi tetap tinggi dan tidak berbicara sendiri dengan peserta lain.

85 10) Hasil Tes Keterampilan Berbicara Aspek Penguasaan Topik Secara rinci, hasil tes keterampilan berbicara siswa aspek penguasaan topik dapat dilihat pada tabel 14 berikut ini. Tabel 14. Hasil Tes Aspek Penguasaan Topik No. Nilai Kategori Frekuensi % 1. < 65 kurang 1 3 2. 65 – 74 cukup 7 18 3. 75 – 84 baik 26 66 4. >84 sangat baik 5 13 Jumlah 39 100 Hasil Klasikal 39 siswa mencapai nilai total 2950 dengan rata-rata nilai 75,6 dalam kategori baik.

Berdasarkan tabel tersebut di atas dapat dijelaskan bahwa penguasaan topik siswa berada dalam kategori baik. Hal ini ditunjukkan dengan perolehan nilai total siswa sebesar 2950 dengan nilai rata-rata 75,6. Seorang siswa atau 3% memperoleh nilai <65 dalam kategori kurang, 7 siswa atau 18% memperoleh nilai 65 – 74 dalam kategori cukup, 26 siswa atau 66% memperoleh nilai 75 – 84 dalam kategori baik, dan 5 siswa atau 13% memperoleh nilai >84 dalam kategori sangat baik. Penguasaan topik ini penulis dapatkan dari isi pembicaraan siswa selama diskusi. Rata-rata siswa sudah mampu menguasai topik diskusi, karena topik-topik masalah yang peneliti berikan adalah masalah-masalah seputar dunia siswa yang dekat dengan kehidupan siswa di sekolah. Siswa yang kurang memahami topik diskusi tersebut disebabkan oleh masalah yang diterimanya kurang begitu disenangi. Selain itu, siswa tersebut juga tidak ikut bekerja sama ketika mendiskusikan alternatif-alternatif pemecahan masalah yang diterimanya, sehingga ia kurang menguasai topik permasalahan yang diterimanya ketika berbicara dalam diskusi tersebut di depan kelas.

86 11) Hasil Tes Keterampilan Berbicara Aspek Kelancaran Secara rinci, hasil tes keterampilan berbicara aspek kelancaran dapat dilihat pada tabel 15 berikut ini. Tabel 15. Hasil Tes Aspek Kelancaran No. Nilai Kategori Frekuensi % 1. < 65 kurang 2 6 2. 65 – 74 cukup 7 18 3. 75 – 84 Baik 26 66 4. >84 sangat baik 4 10 Jumlah 39 100 Hasil Klasikal 39 siswa mencapai nilai total 2945 dengan rata-rata nilai 75,5 dalam kategori baik.

Berdasarkan tabel tersebut dapat dijelaskan bahwa kelancaran siswa dalam berbicara melalui diskusi sudah baik. Hal ini ditandai dengan perolehan nilai total yang dicapai sebesar 2945 dengan nilai rata-rata 75,5. Sebanyak 4 siswa atau 10% memperoleh nilai >84 dalam kategori sangat baik, 26 siswa atau 66% memperoleh nilai 75 – 84 dalam kategori baik, 7 siswa atau 18% memperoleh nilai 65 – 74 dalam kategori cukup, dan 2 siswa atau 6% memperoleh nilai <65 dalam kategori kurang. Kekuranglancaran siswa disebabkan rasa grogi dan tegang ketika berbicara karena belum terbiasa berbicara di depan umum. Siklus berikutnya siswa perlu dimotivasi agar menghilangkan perasaan-perasaan itu supaya pada diskusi berikutnya siswa lebih lancar dalam berbicara. b. Hasil Nontes Pada siklus I ini data penelitian nontes didapatkan dari hasil observasi, wawancara, jurnal, dokumentasi foto, dan rekaman pita. Hasil

selengkapnya dijelaskan pada uraian berikut ini.

87 1) Hasil Observasi Pengambilan data melalui observasi ini bertujuan untuk

mengetahui perilaku siswa selama pembelajaran. Observasi ini dilakukan selama proses pembelajaran berlangsung. Aspek yang diamati dalam observasi ini meliputi perilaku yang ditunjukkan siswa selama mengikuti proses pembelajaran. Hal ini dilakukan untuk memperoleh data selengkap mungkin untuk mengungkap perilaku yang ditunjukkan siswa selama mengikuti proses pembelajaran. Aspek yang menjadi sasaran observasi adalah 1) antusias siswa dalam pembentukan kelompok, 2) respon siswa ketika disajikan model dalam pembelajaran, 3) komentar yang diberikan siswa saat mendiskusikan model yang digunakan, 4) respon siswa/ kelompok dalam menerima materi (masalah) yang akan didiskusikan, 5) antusias siswa dalam mendiskusikan masalah yang diterima dengan kelompoknya, 6) pendapat/ jawaban, pembicaraan siswa dalam diskusi, 7) semangat siswa dalam mengikuti diskusi, 8) diskusi yang dilaksanakan siswa, dan 9) antusias siswa dalam mengikuti pembelajaran keterampilan berbicara siswa melalui diskusi. Dalam siklus I ini, seluruh perilaku siswa selama proses pembelajaran berlangsung terdeskripsi melalui observasi. Selama proses pembelajaran berlangsung, tidak semua siswa mengikutinya dengan baik. Beberapa siswa berbicara dengan siswa lain sehingga proses pembelajaran agak terganggu.

88 Berdasarkan data yang ada diketahui bahwa siswa menunjukkan respon yang sangat baik ketika peneliti minta untuk membentuk kelompok, bahkan mereka mengusulkan cara pembentukannya. Akhirnya disepakati bahwa pembentukan kelompok dilakukan dengan cara berhitung 1 – 10 secara bergantian hingga siswa urutan terakhir. Siswa yang menyebut angka 1 bergabung menjadi satu kelompok, siswa yang menyebut angka 2 bergabung menjadi satu kelompok, demikian seterusnya. Respon siswa sangat baik dalam pembentukan kelompok ini. Selanjutnya, siswa memberikan respon baik ketika peneliti berikan/ putarkan model dalam pembelajaran. Bersama dengan teman sekelompoknya, siswa memperhatikan model yang peneliti berikan melalui televisi dan mencatat hal-hal yang mereka temukan dari pemutaran model tersebut seperti yang peneliti minta. Namun, ada beberapa siswa yang berbicara dengan teman sekelompok atau kelompok lain, sehingga agak mengganggu teman lain yang sedang memperhatikan model yang diputarkan. Komentar yang diberikan siswa berkaitan dengan model yang peneliti berikan sudah baik. Mereka memberikan komentar-komentar terhadap hal-hal yang telah peneliti minta sebelumnya dengan baik sesuai dengan pengetahuan dan pengalaman yang mereka miliki berkaitan dengan cara berbicara yang baik dalam diskusi. Adapun halhal yang peneliti mintakan komentar adalah jenis diskusi, cara

89 berbicara setiap komponen yang terlibat, cara menyanggah, dan cara memberikan pendapat dalam diskusi tersebut. Respon yang ditunjukkan siswa ketika menerima masalah diskusi yang peneliti berikan juga baik. Beberapa saat setelah menerima masalah yang akan didiskusikan tersebut, ada beberapa siswa yang menunjukkan reaksinya dengan menganggukkan kepala. Ada pula siswa yang berkata, "O… o… o…", dan bahkan ada pula yang berkata, "Andi, Pak, pacaran terus". Hal ini menunjukkan bahwa siswa senang dengan masalah diskusi yang mereka terima karena masalah tersebut adalah masalah yang dekat dengan kehidupan mereka di sekolah, bahkan ada siswa yang juga mengalaminya sendiri. Kemudian, dalam mendiskusikan masalah yang diterima dengan kelompoknya, siswa menunjukkan respon yang baik pula. Mereka bekerja sama untuk mencari alternatif-alternatif pemecahan masalah yang diterimanya. Namun, ada juga siswa yang tidak ikut bekerja dalam mendiskusikan alternatif-alternatif pemecahan masalah yang diterimanya. Berdasarkan pengamatan, siswa yang kebetulan

mendapatkan teman sekelompok yang pintar lebih bergantung pada teman sekelompoknya yang pintar itu, sehingga tidak mengherankan jika mereka tidak ikut bekerja dalam kelompoknya itu. Selanjutnya, berdasarkan hasil observasi, pembicaraan siswa cukup dalam memberikan pendapat/ jawaban. Umumnya, mereka sudah dapat menguasai materi yang peneliti berikan. Hal ini terlihat dari isi

90 pembicaraan mereka dalam diskusi tersebut. Sayangnya, mereka kurang percaya diri dan grogi ketika berbicara di depan kelas sehingga menyebabkan pembicaraan yang sebenarnya menarik menjadi agak kurang menarik yang disebabkan oleh hal-hal tersebut. Semangat siswa dalam mengikuti diskusi cukup. Mereka mengikuti diskusi yang berlangsung dan menanggapinya dengan memberikan pertanyaan-pertanyaan, pendapat ataupun sanggahan. Namun, ada siswa yang tidak memperhatikan diskusi dan berbicara sendiri dengan teman yang lain, sehingga agak mengganggu proses berlangsungnya diskusi. Hal ini juga mempengaruhi penampilan kelompok yang sedang tampil di depan kelas, karena mereka merasa kurang dihargai oleh peserta yang berbicara sendiri itu. Diskusi yang dilaksanakan siswa sudah cukup. Mereka mampu melaksanakan diskusi dari awal hingga akhir. Siswa sudah tahu apa yang harus mereka lakukan sesuai dengan peran dan tugasnya masingmasing. Hanya saja, proses diskusi yang dilaksanakan siswa agak terganggu dengan perilaku siswa yang berbicara dengan teman yang lain dan tidak memperhatikan penampilan kelompok lain. Antusias siswa dalam mengikuti pembelajaran keterampilan berbicara melalui diskusi baik. Umumnya para siswa bersemangat dalam mengikuti pembelajaran dari awal hingga akhir. Hal ini ditunjukkan dengan antusias mereka mulai dari mengikuti penjelasan materi dari guru (peneliti), pembentukan kelompok, pemutaran model,

91 mendiskusikan model, dan pelaksanaan diskusi di depan kelas, meskipun dalam proses pembelajaran ada beberapa siswa yang berbicara sendiri. Meskipun proses pembelajaran agak kurang kondusif dengan adanya beberapa siswa yang berbicara sendiri, namun hasil yang dicapai siswa sudah baik dan siswa masih antusias dalam mengikuti pembelajaran. Antusias siswa ini diketahui dari respon atau ekspresi sebagian besar siswa yang peneliti ajar. Sebagian besar wajah mereka menampakkan ekspresi kagum terhadap teknik mengajar yang peneliti gunakan, karena pembelajaran keterampilan berbicara melalui diskusi ini dirasakan sebagai hal baru bagi siswa, dan pembelajaran ini dapat dijadikan sarana rekreasi untuk menyegarkan kembali pikiran. Peneliti menyadari hal tersebut karena berdasarkan pengamatan di lapangan dan tanya-jawab dengan guru mata pelajaran lain di kelas itu, sesuai dengan kurikulum 2004, siswa SMA kelas X mendapatkan 17 mata pelajaran dan menjelang akhir semester II ini hampir semua guru memberikan tugas, baik individu maupun kelompok, yang

membutuhkan banyak waktu, tenaga dan pikiran untuk menilai ketuntasan belajar mereka. Jadi, peneliti bisa memaklumi jika selama proses pembelajaran ada siswa yang berbicara sendiri untuk membicarakan tugas-tugas itu. Namun, dalam proses pembelajaran, peneliti tidak menemukan siswa yang mengerjakan tugasnya selama proses pembelajaran berlangsung.

92 2) Hasil Wawancara Pada siklus I ini, peneliti menggunakan instrumen wawancara untuk memperoleh data nontes. Wawancara tidak dilakukan kepada semua siswa, tetapi dilakukan kepada tiga siswa yang memperoleh nilai tertinggi dan tiga siswa yang memperoleh nilai terrendah. Terdapat 16 butir pertanyaan dalam instrumen wawancara ini. Pertanyaan tersebut meliputi 1) bagaimana pendapat siswa tentang pemberian model dalam pembelajaran, 2) dapatkah model yang guru sajikan membantu siswa dalam melaksanakan diskusi, 3) dapatkah model tersebut membantu siswa untuk dapat berbicara dengan baik melalui diskusi, 4) bagaimana pendapat siswa mengenai pembentukan kelompok yang dilakukan guru, 5) apakah dalam kelompok tersebut siswa dapat bekerja sama dengan anggota kelompok yang lain, 6) apakah dalam kelompok siswa ada anggota yang tidak bekerja, 7) bagaimana sikap siswa terhadap teman yang tidak bekerja dalam kelompok, 8) mampukah siswa memahami dan menguasai materi/ masalah diskusi yang akan didiskusikan (materi yang diberikan guru), 9) menurut siswa, materi/ permasalahan apa yang cocok untuk didiskusikan siswa di dalam kelas, 10) bagaimana pendapat siswa mengenai pelaksanaan diskusi untuk membahas masalah-masalah yang guru berikan, 11) apakah dalam diskusi tersebut siswa mendapatkan kesempatan berbicara, 12) apakah dalam diskusi tersebut siswa mengalami kesulitan dalam berbicara dan siswa juga diminta

93 menyebutkan kesulitan-kesulitan tersebut, 13) untuk mengatasi kesulitan tersebut, usaha apa yang siswa lakukan agar kesulitan tersebut tidak terjadi lagi pada pelaksanaan diskusi selanjutnya, 14) sudah maksimalkan pembicaraan siswa dalam diskusi tersebut dan diminta mengemukakan alasan/ pendapatnya, 15) apakah siswa dapat menerima keputusan diskusi yang dilakukan beserta alasannya, dan 16) bagaimana pendapat siswa tentang pembelajaran keterampilan berbicara melalui diskusi kelas. Berdasarkan analisis data, dapat dijelaskan bahwa pemberian model dalam pembelajaran dapat memberikan gambaran bagi siswa terhadap materi pembelajaran yang dibelajarkan. Semua siswa menyatakan hal ini. Model tersebut sangat membantu siswa dalam melaksanakan diskusi dan membantu siswa untuk dapat berbicara dalam diskusi atau setidaknya siswa telah memperoleh gambaran sebelum melaksanakan diskusi. Rata-rata siswa mengemukakan bahwa model tersebut dapat membantunya untuk dapat berbicara dengan baik melalui diskusi. Dari hasil wawancara itu diketahui pula bahwa model tersebut dapat dijadikan contoh bagi siswa untuk dapat berbicara dengan baik dalam diskusi. Bahkan ada siswa yang mengatakan bahwa model tersebut telah memberi pengaruh padanya dalam berbicara. Meskipun model yang peneliti berikan ada kekurangan menurut siswa, namun model tersebut dapat dijadikan pelajaran dan acuan bagi siswa untuk dapat berbicara dengan baik melalui diskusi.

94 Mengenai pembentukan kelompok yang peneliti lakukan, siswa menanggapinya dengan baik dan memberikan pendapat sendiri-sendiri, terutama pada komposisi anggota kelompok yang kurang merata. Maksudnya, dari cara pembentukan kelompok yang peneliti lakukan, ada beberapa kelompok yang anggotanya terdiri atas siswa yang pintar dan ada kelompok yang anggotanya terdiri atas siswa yang kurang pintar. Hal tersebut menyebabkan adanya kelompok yang kurang kompak dalam bekerja sama yang ditunjukkan dengan adanya siswa yang tidak bekerja dalam kelompoknya dan hanya bergantung pada anggota kelompok yang lain saja. Berkaitan dengan materi/ masalah diskusi yang peneliti berikan, dari hasil wawancara tersebut dapat diketahui bahwa siswa mampu memahaminya. Masalah diskusi yang peneliti berikan adalah masalahmasalah seputar dunia siswa yang dekat dengan kehidupannya di sekolah. Melalui wawancara tersebut juga dapat diungkap bahwa siswa lebih menyukai masalah-masalah tersebut daripada masalah yang lainnya. Hal ini diketahui dari jawaban siswa ketika menjawab pertanyaan peneliti mengenai materi/ permasalahan yang cocok untuk didiskusikan di dalam kelas. Semua siswa yang peneliti wawancarai memberikan jawaban yang sama, yaitu masalah seputar dunia siswa yang dekat dengan kehidupan siswa di sekolah. Selanjutnya, mengenai pelaksanaan diskusi untuk membahas masalah-masalah yang peneliti berikan, rata-rata siswa yang peneliti

95 wawancarai menjawab cukup, karena kurangnya keseriusan siswa dalam mengikuti proses berlangsungnya diskusi tersebut yang ditunjukkan dengan adanya siswa yang berbicara sendiri ketika diskusi berlangsung, sehingga agak mengganggu proses berlangsungnya diskusi. Dalam diskusi tersebut, semua siswa mendapatkan

kesempatan untuk berbicara dalam diskusi tersebut. Hanya saja mereka kurang memanfaatkannya dengan baik. Mengenai pembicaraan siswa dalam diskusi tersebut, mereka mengalami kesulitan dalam berbicara. Kesulitan tersebut antara lain gugup dan kurang lancar. Untuk mengatasi kesulitan-kesulitan tersebut, siswa mengatakan akan berusaha agar tidak gugup lagi pada pelaksanaan diskusi berikutnya dengan cara berlatih dan lebih menguasai materi yang diterimanya. Kesulitan-kesulitan tersebut menyebabkan pembicaraan siswa dalam diskusi kurang maksimal. Hasil keputusan diskusi dapat mereka terima semuanya, karena keputusan tersebut merupakan keputusan bersama, meskipun agak bertentangan dengan pendapat siswa sendiri. Dari hasil wawancara ini juga diungkap pendapat siswa mengenai pembelajaran keterampilan berbicara siswa melalui diskusi. Walaupun hasil tes keterampilan berbicara kurang memuaskan, namun pembelajaran keterampilan berbicara melalui diskusi baik untuk dilaksanakan karena siswa dapat bertukar pikiran dalam memecahkan suatu persoalan dan dapat melatih keberanian untuk berbicara di depan umum/ kelas.

96 3) Hasil Jurnal Jurnal yang digunakan dalam penelitian ini adalah jurnal guru dan jurnal siswa. Jurnal guru terdiri atas dua buah jurnal. Jurnal yang pertama berisi kegiatan-kegiatan yang guru lakukan di kelas dan jurnal yang kedua berisi deskripsi keadaan kelas/ respon siswa yang ditunjukkan siswa selama proses pembelajaran berlangsung. a) Jurnal Guru Jurnal guru yang akan diuraikan pada bagian ini adalah jurnal guru yang berisi kegiatan-kegiatan yang guru lakukan di kelas dan jurnal guru yang berisi deskripsi keadaan kelas/ respon yang ditunjukkan siswa selama proses pembelajaran berlangsung. Jurnal guru berkaitan dengan kegiatan-kegiatan yang guru lakukan di kelas digunakan untuk mengetahui kegiatan guru dalam pembelajaran apakah sesuai dengan kegiatan yang terdapat dalam rencana pembelajaran atau tidak. Adapun kegiatan-kegiatan yang terdapat dalam jurnal tersebut adalah 1) guru memberikan apersepsi dan memberikan penguatan, 2) guru

menerangkan materi pembelajaran, 3) guru menerangkan materi pembelajaran, 4) guru memberi kesempatan kepada siswa untuk bertanya atau memberi tanggapan, 5) guru membentuk kelompok, 6) guru memutarkan model, 7) guru meminta siswa mendiskusikan model yang disajikan, 8) guru membagikan artikel yang berisi masalah untuk didiskusikan, 9) guru mengamati aktivitas siswa selama bekerja dalam kelompok, 10) guru mengamati proses berlangsungnya diskusi dan

97 memberikan penilaian, 11) guru memberikan penguatan terhadap hasil diskusi siswa, dan 12) guru mengadakan refleksi pembelajaran bersama dengan siswa. Dari jurnal tersebut diketahui bahwa guru melaksanakan semua kegiatan-kegiatan seperti yang telah direncanakan, mulai dari memberikan apersepsi dan penguatan, menerangkan materi

pembelajaran, memberi kesempatan kepada siswa untuk bertanya atau memberikan tanggapan, membentuk kelompok, memberikan/

memutarkan model, mengadakan diskusi untuk mendiskusikan model yang guru berikan, membagikan artikel yang berisi masalah untuk didiskusikan, mengamati aktivitas siswa selama bekerja dengan kelompoknya, mengamati proses berlangsungnya diskusi dan

memberikan penilaian terhadap aktivitas berbicara siswa, memberikan penguatan setiap diskusi yang dilakukan siswa berakhir, dan mengadakan refleksi pembelajaran bersama dengan siswa. Selanjutnya, peneliti uraikan jurnal guru yang berisi deskripsi keadaan kelas/ respon yang ditunjukkan siswa selama proses pembelajaran berlangsung. Jurnal ini berisi 1) respon siswa ketika menerima materi pembelajaran yang diterangkan guru, 2) sikap siswa dalam menerima instruksi untuk membentuk kelompok, 3) respon yang ditunjukkan siswa ketika diberikan model dalam pembelajaran, 4) komentar yang diberikan siswa ketika diberikan model dalam pembelajaran, 5) kerja sama siswa dalam kelompok, 6) respon siswa/

98 kelompok ketika menerima masalah yang akan didiskusikan, 7) sikap siswa dalam mengikuti diskusi, 8) proses pelaksanaan diskusi, 9) keterampilan berbicara siswa dalam diskusi tersebut, dan 10) sikap siswa dalam menerima pembelajaran keterampilan berbicara melalui diskusi. Respon siswa yang ditunjukkan ketika menerima instruksi untuk membentuk kelompok sangat baik, bahkan siswa memberikan usulan cara pembentukannya. Pembentukan kelompok akhirnya disepakati dengan cara berhitung 1 – 10 secara bergantian. Siswa yang menyebut angka 1 bergabung menjadi satu kelompok, siswa yang menyebut angka 2 bergabung menjadi satu kelompok, demikian seterusnya. Pada saat diberikan/ diputarkan model, siswa memberikan respon yang baik. Dengan teman sekelompoknya, siswa memperhatikan model yang ditayangkan melalui televisi dan mencatat hal-hal yang mereka temukan dari tayangan itu. Namun, ada juga siswa yang berbicara dengan teman sekelompok atau kelompk lain, sehingga mengganggu siswa lain yang memperhatikan penayangan model tersebut. Komentar yang diberikan siswa berkaitan dengan model yang guru berikan sudah baik. Mereka memberikan komentar-komentar terhadap hal-hal yang peneliti minta sebelumnya menurut pendapatnya masing-masing sesuai dengan pengetahuan dan pengalaman yang mereka miliki berkaitan dengan diskusi.

99 Kerja sama siswa dalam kelompok cukup. Mereka bekerja sesuai dengan peran dan tugasnya masing-masing. Namun, ada beberapa siswa yang tidak ikut bekerja dalam kelompoknya dengan berbicara sendiri, sehingga mengganggu teman lain yang sedang bekerja. Anggota kelompok yang tidak bekerja itu lebih bergantung pada anggota yang lain. Respon siswa/ kelompok ketika menerima materi/ masalah diskusi sangat baik. Hal ini diketahui dari reaksi yang ditunjukkan siswa. Setelah menerima masalah diskusi tersebut beberapa siswa

menganggukan kepala. Di antara mereka juga ada yang berkata, "O… o… o…" dan ada juga yang berkata, "Andi, Pak, pacaran terus". Hal ini menunjukkan bahwa siswa memberikan respon yang sangat baik terhadap materi/ masalah diskusi yang peneliti berikan. Diskusi yang dilaksanakan siswa cukup. Ada siswa yang memperhatikan dengan baik dan ada juga siswa yang berbicara sendiri ketika diskusi berlangsung, sehingga suasana diskusi menjadi tidak kondusif (siswa ramai sendiri). Keterampilan berbicara siswa dalam diskusi tersebut cukup. Dari penampilan setiap kelompok, peneliti merasa belum puas karena siswa masih menampakkan rasa kurang percaya diri, grogi, kurang serius dan kadang-kadang ada yang berbicara sambil tertawa. Hal ini berakibat pada hasil pembelajaran siswa tersebut yang belum baik.

100 Antusias siswa dalam mengikuti pembelajaran keterampilan berbicara melalui diskusi baik. Pembelajaran keterampilan berbicara siswa melalui diskusi di SMA masih dirasakan baru bagi siswa, sehingga siswa merasa senang karena proses pembelajaran tidak monoton, tetapi juga diberikan variasi dalam pembelajaran. Namun, dalam pembelajaran ada beberapa siswa yang berbicara sendiri sehingga mengganggu siswa lain yang sedang mengikuti proses pembelajaran. b) Jurnal Siswa Jurnal siswa yang harus diisi oleh siswa meliputi delapan pertanyaan berisi kesan siswa dalam hal 1) model yang diberikan guru untuk membantu siswa dalam berbicara melalui diskusi, 2) respon siswa dalam pembentukan kelompok, 3) kerja sama siswa dalam kelompok, 4) masalah diskusi yang diberikan guru mudah siswa

pahami atau tidak, 5) kesempatan siswa untuk berbicara dalam diskusi, 6) keterampilan berbicara siswa dalam diskusi, 7) proses pelaksanaan diskusi, dan 8) kesan dalam menerima pelajaran keterampilan berbicara melalui diskusi. Hasil jurnal siswa tersebut selengkapnya diuraikan di bawah ini. Sebagian besar siswa menanggapi model yang peneliti berikan pada siklus I ini cukup memberikan gambaran untuk dapat berbicara dalam diskusi, bahkan memberikan komentar-komentar tentang cara berbicara maupun cara mengajukan pendapat pada peserta diskusi

101 dalam model tersebut. Ada pula siswa yang menanggapi model

tersebut kurang baik karena cara menyanggah kurang tepat, langsung menyela. Dalam hal pembentukan kelompok, semua siswa menanggapinya dengan baik, bahkan mereka memberikan masukan mengenai cara pembentukan kelompok tersebut. Kerja sama siswa dalam kelompok sudah baik, namun ada beberapa siswa yang tidak ikut bekerja dalam kelompoknya dan berbicara sendiri, baik dengan teman sekelompok maupun kelompok lain. Mereka hanya bergantung pada salah satu anggota yang lain saja. Mengenai materi/ masalah diskusi yang peneliti berikan, semua siswa menanggapinya dengan sangat baik, karena materi tersebut dekat dengan kehidupan mereka di sekolah, bahkan mereka menjumpainya sendiri di sekolah, sehingga siswa diharapkan mampu berbicara dengan baik pada diskusi yang akan dilaksanakan. Dalam diskusi tersebut semua siswa mendapatkan kesempatan berbicara. Hanya saja siswa kurang memanfaatkannya sebaik mungkin. Keterampilan berbicara siswa melalui diskusi ini sudah cukup. Namun, sebagian besar siswa merasa grogi dan kurang percaya diri ketika berbicara dalam diskusi tersebut di depan kelas, sehingga mengakibatkan hasil tes keterampilan berbicara siswa kurang memuaskan. Proses pelaksanaan diskusi sudah cukup lancar. Namun ada beberapa siswa

102 yang berbicara sendiri ketika diskusi berlangsung, sehingga proses diskusi agak terganggu. Selanjutnya, siswa merasa senang menerima pelajaran

keterampilan berbicara melalui diskusi karena siswa dapat belajar bekerja sama untuk memecahkan masalah yang dihadapi bersama. Selain itu, pembelajaran keterampilan berbicara siswa melalui diskusi ini dapat dijadikan sarana kegiatan rekreasi untuk menyegarkan pikiran kembali setelah lelah mengikuti aktivitas pembelajaran di sekolah. Sesuai kurikulum 2004 ini, siswa SMA kelas X mendapatkan 17 mata pelajaran yang menjelang akhir semester ini hampir semua guru memberian tugas, baik individu maupun kelompok, yang

membutuhkan banyak waktu, tenaga dan pikiran untuk menilai ketuntasan belajarnya. 4) Hasil Dokumentasi Foto Pada siklus I ini, dokumentasi foto yang diambil meliputi aktivitas siswa ketika menerima/ menyaksikan model yang peneliti berikan, aktivitas siswa ketika mendiskusikan masalah yang diterimanya, dan penampilan kelompok di depan kelas untuk mempresentasikan hasil kerjanya. Dokumentasi berupa gambar ini digunakan sebagai bukti visual kegiatan pembelajaran selama penelitian berlangsung dan digunakan untuk memperjelas data penelitian lain yang hanya

terdeskripsi melalui angka-angka dan kata-kata. Jadi, pembahasan akan menjadi lebih jelas dan lebih lengkap. Selanjutnya, deskripsi

103 gambar aktivitas siswa selama mengikuti proses pembelajaran keterampilan berbicara melalui diskusi pada siklus I selengkapnya dipaparkan berikut ini.

Gambar 1. Aktivitas Siswa Menyaksikan Model Gambar di atas merupakan aktivitas siswa ketika peneliti memberikan/ memutarkan model diskusi. Dalam gambar tampak para siswa dengan antusias memperhatikan model tersebut. Ada siswa yang mencatat hal-hal yang ditemukan dari pemutaran model tersebut sesuai dengan yang peneliti minta dan ada pula siswa yang berbicara sendiri, tidak memperhatikan model yang guru berikan. Hal ini mengganggu siswa lain yang sedang memperhatikan model yang peneliti berikan untuk mendapatkan gambaran dalam berbicara melalui diskusi. Kondisi agar siswa memperhatikan model dan menemukan hal-hal yang dapat ditiru untuk berbicara dalam diskusi telah peneliti sarankan kepada siswa sebelum pemutaran model dimulai. Namun, masih ada siswa yang tidak memperhatikan model tersebut dengan berbicara

104 sendiri. Selanjutnya, aktivitas siswa ketika diminta untuk

mendiskusikan model yang guru berikan dapat dilihat pada gambar 2 berikut ini.

Gambar 2. Aktivitas Siswa Mendiskusikan Masalah Diskusi Dari gambar 2 tersebut diketahui bahwa siswa bekerja sama dengan memberikan sumbangan pemikiran dalam mendiskusikan alternatif-alternatif pemecahan masalah yang guru berikan. Namun, ada juga siswa yang tidak ikut bekerja dalam mendiskusikan masalah yang diterima dengan hanya diam atau berbicara dengan teman dari kelompok lain. Siswa tersebut lebih bergantung pada anggota kelompok yang lain yang kebetulan mendapatkan teman sekelompok yang pintar. Sebelum peneliti memberikan masalah yang akan didiskusikan, peneliti telah memotivasi siswa untuk membagi tugas agar semuanya bekerja sehingga waktu tidak terbuang sia-sia. Setiap anggota kelompok peneliti berikan duplikat permasalahan yang akan didiskusikan dengan harapan siswa dapat membagi tugas sesuai

105 dengan perannya masing-masing. Selanjutnya, penampilan kelompok di depan kelas untuk mempresentasikan hasil kerjanya dapat dilihat pada gambar 3 berikut.

Gambar 3. Penampilan Diskusi Siswa di Depan Kelas Dari gambar 3 tersebut diketahui bahwa pelaksanaan diskusi/ penampilan kelompok untuk menyajikan hasil kerjanya belum berjalan dengan baik. Ketika presentasi, tidak semua siswa yang terlibat di dalamnya mengikutinya dengan serius. Ada siswa yang berbicara sendiri ketika anggota yang lain berbicara dan ada yang melihat-lihat jari-jari tangannya. Hal ini seharusnya tidak boleh terjadi ketika menyajikan hasil kerja/ tampil di depan kelas. Siswa/ kelompok lain yang tidak tampil pun ada yang memperhatikan dengan baik dan ada pula yang berbicara sendiri. Siswa/ kelompok lain seharusnya memperhatikan penampilan kelompok temannya, bila perlu

menyediakan catatan-catatan mengenai hasil kerja kelompok yang tampil, sehingga kalau ada hal-hal yang belum jelas dapat digunakan

106 untuk menyusun pertanyaan kepada kelompok yang tampil berkaitan dengan masalah yang didiskusikan. 5) Rekaman Pita Dalam siklus I ini, peneliti juga menggunakan instrumen nontes berupa rekaman pita. Rekaman pita merupakan instrumen yang penting dalam penelitian tindakan kelas untuk meningkatkan keterampilan berbicara siswa. Rekaman pita juga dapat memperkuat bukti pelaksanaan diskusi yang dilakukan siswa. Selain itu, data penelitian melalui rekaman pita ini juga dapat membantu peneliti dalam memberikan penilaian keterampilan berbicara siswa. Hasil rekaman pita dapat peneliti putar kembali untuk memberikan penguatan penilaian yang peneliti lakukan ketika siswa berbicara melalui diskusi. Adapun aspek-aspek yang dapat diungkap melalui rekaman pita berkaitan dengan keterampilan berbicara dan proses pelaksanaan diskusi adalah 1) ketepatan ucapan, 2) penempatan tekanan, 3) penempatan jeda, 4) intonasi, 5) pilihan kata, 6) pemakaian kalimat, 7) volume suara, 8) penguasaan topik, 9) kelancaran, dan 10) suasana kelas ketika proses diskusi berlangsung. Selanjutnya, hasil rekaman pita ini diuraikan di bawah ini. Kefasihan siswa dalam melafalkan bunyi-bunyi bahasa sudah baik. Hal ini ditandai dengan perolehan nilai rata-rata kelas sebesar 75,5 dalam kategori cukup. Pelafalan siswa sudah baik karena rata-rata mereka tidak memiliki gangguan alat ucap yang mengganggu

107 pelafalan. Di antara ketujuh siswa yang memperoleh nilai dalam kategori cukup satu di antaranya agak memiliki gangguan alat ucap (cedal), terutama untuk mengucapkan bunyi-bunyi /r/, sedangkan enam siswa lainnya disebabkan oleh tempo berbicara yang cepat, sehingga ada kata-kata atau kalimat yang terdengar kurang jelas pengucapannya. Keterampilan siswa sudah cukup dalam menempatkan tekanan, yang ditunjukkan dengan perolehan nilai rata-rata 68,2. Rata-rata siswa kurang memperhatikan/ memberikan tekanan pada kata-kata atau kalimat yang penting. Untuk siklus berikutnya siswa perlu dimotivasi agar memperhatikan tekanan pada kata-kata atau kalimat-kalimat yang penting. Tekanan yang baik pada kata-kata atau kalimat-kalimat tersebut dapat membantu memperjelas pendengar dalam memahami apa yang sedang pembicara bicarakan. Dalam hal penempatan jeda, berdasarkan hasil rekaman pita tersebut dapat dijelaskan bahwa siswa memiliki keterampilan cukup dalam menempatkan jeda. Hal ini ditunjukkan dengan perolehan rataarata sebesar 72,1 dalam kategori cukup. Rata-rata siswa yang memperoleh nilai dalam kategori cukup kurang tepat dalam menempatkan jeda kata atau singkatan, misalnya SMA diucapkan [sm:a] atau kata kelompok diucapkan [k∂lom:po?]. Namun,

kekurangtepatan penempatan jeda tersebut tidak sampai membedakan makna atau menimbulkan penafsiran ganda yang membingungkan para pendengar/ peserta.

108 Intonasi siswa dalam berbicara melalui diskusi cukup yang ditandai dengan perlehan nilai rata-rata 72,2. Intonasi yang digunakan siswa tersebut adalah intonasi seperti orang membaca. Meskipun demikian, intonasi yang digunakan tersebut tidak sampai membedakan makna yang menyebabkan pendengar kesulitan memahami maksud yang disampaikan karena adanya penafsiran ganda dari para peserta yang disebabkan kurang tepatnya intonasi yang digunakan. Seharusnya, intonasi yang digunakan adalah intonasi untuk meyakinkan pendengar berkaitan dengan argumen-argumen yang dikemukakan. Untuk siklus berikutnya siswa perlu juga dimotivasi untuk memperhatikan aspek intonasi ini agar pembicaraan terdengar menarik dan peserta tidak kesulitan memahami maksud pembicara serta tidak jenuh

mendengarnya. Berdasarkan rekaman pita tersebut tersebut dapat dijelaskan bahwa pilihan kata yang dipakai siswa dalam berbicara berada dalam kategori cukup. Nilai rata-rata yang diperoleh sebear 74,2 dalam kategori cukup. Dalam diskusi tersebut, ada siswa yang masih menggunakan kata-kata dalam ragam santai dan kata-kata dari bahasa Jawa ketika berbicara, misalnya masih menggunakan kata nggak atau gimana, dan neko-neko. Untuk siklus berikutnya siswa perlu dimotivasi agar selalu menggunakan kata-kata atau kalimat-kalimat baku dalam pembelajaran keterampilan berbicara melalui diskusi ini. Menggunakan bahasa

109 Indonesia yang baik dan benar merupakan salah satu wujud kecintaan siswa terhadap bahasa Indonesia. Mengenai pemakaian kalimat, secara keseluruhan siswa

memperoleh nilai rata-rata sebesar 74,2 daam kategori cukup. Pemakaian kalimat ini dipengaruhi oleh pilihan kata yang digunakan siswa ketika berbicara. Jika pilihan kata yang dipakai siswa baku, maka kalimatnya juga baku. Sebaliknya, jika kata-kata yang digunakan tidak baku, maka kalimatnya juga tidak baku. Namun, tidak hanya itu saja yang peneliti jadikan acuan dalam memberikan penilaian. Struktur kalimat yang dipakai siswa ketika berbicara juga peneliti perhatikan. Rata-rata struktur kalimat yang dipakai siswa sudah baik, tidak membedakan makna atau menimbulkan penafsiran ganda yang menyebabkan peserta kesulitan dalam memahami maksud yang disampaikan pembicara. Dari hasil rekaman pita tersebut dapat dijelaskan bahwa volume suara siswa ketika berbicara melalui diskusi sudah baik, yang ditandai dengan perolehan nilai rata-rata sebesar 75,4. Pada kegiatan diskusi ini, peneliti juga menggunakan media pengeras suara (sound system). Namun, pengaturan volume suara tidak peneliti ubah-ubah dari awal hingga akhir penampilan seluruh kelompok, sehingga masih tetap terdengar perbedaan siswa yang volume suaranya keras atau pelan ketika berbicara. Dalam diskusi ini peneliti tidak menemukan siswa yang menjauhkan mikrofon dari mulut ketika berbicara. Kondisi ini

110 perlu dipertahankan dan memotivasi siswa yang suaranya pelan agar memperkeras volume suaranya ketika berbicara dalam diskusi, sehingga pembicaraannya terdengar oleh seluruh peserta diskusi. Penguasaan topik siswa berada dalam kategori baik. Hal ini ditunjukkan dengan perolehan nilai total siswa sebesar 2950 dengan nilai rata-rata 75,6. Penguasaan topik ini penulis dapatkan dari isi pembicaraan siswa selama diskusi. Rata-rata siswa sudah mampu menguasai topik diskusi, karena topik-topik masalah yang peneliti berikan adalah masalah-masalah seputar dunia siswa yang dekat dengan kehidupan siswa di sekolah. Siswa yang kurang memahami topik diskusi tersebut disebabkan oleh masalah yang diterimanya kurang begitu disenangi. Selain itu, siswa tersebut juga tidak ikut bekerja sama ketika mendiskusikan alternatif-alternatif pemecahan masalah yang diterimanya, sehingga ia kurang menguasai topik permasalahan yang diterimanya ketika berbicara dalam diskusi tersebut di depan kelas. Selanjutnya, dari hasil rekaman pita tersebut dapat dijelaskan bahwa kelancaran siswa dalam berbicara melalui diskusi sudah baik. Hal ini ditandai dengan perolehan nilai total yang dicapai sebesar 2945 dengan nilai rata-rata 75,5. Ada juga siswa yang kurang lancar ketika berbicara. Kekuranglancaran siswa disebabkan rasa grogi dan tegang ketika berbicara karena belum terbiasa berbicara di depan umum. Siklus berikutnya siswa perlu dimotivasi untuk menghilangkan

111 perasaan-perasaan itu agar pada diskusi berikutnya siswa lebih lancar dalam berbicara. Pelaksanaan diskusi yang dilaksanakan siswa belum baik. Suasana kelas ramai sekali ketika diskusi berlangsung. Keramaian itu tidak disebabkan oleh adanya respon siswa yang baik dalam diskusi tersebut, namun suasana diskusi tersebut ramai karena siswa banyak yang

berbicara sendiri ketika diskusi berlangsung. Hal ini dapat didengar dari hasil rekaman pita yang menunjukkan bahwa proses diskusi terganggu dengan adanya siswa yang berbicara sendiri ketika diskusi berlangsung, sehingga mengganggu siswa lain yang mengikuti proses diskusi. Dari rekaman tersebut diperoleh adanya siswa yang menertawakan siswa yang sedang tampil ketika salah mengucapkan nomor absen anggotanya. Dari rekaman itu pula dapat didengar bahwa peneliti juga memperingatkan siswa agar tenang dan mengikuti proses berlangsungnya diskusi dengan baik.

2. Hasil Penelitian Siklus II Pelaksanaan penelitian pada siklus II ini dilaksanakan dengan rencana dan persiapan yang lebih matang daripada siklus I. Dengan adanya perbaikanperbaikan pembelajaran yang mengarah pada peningkatan hasil belajar, hasil penelitian yang berupa nilai tes keterampilan berbicara siswa meningkat. Selain itu, pada siklus II ini suasana pembelajaran berubah menjadi lebih baik dibandingkan dengan suasana pembelajaran pada siklus I. Seperti halnya

112 siklus I, pemaparan hasil penelitian pada siklus II ini dilakukan dengan cara menyajikan tabel dan menjelaskan tafsiran makna tabel tersebut untuk hasil tes dan pemaparan secara deskriptif untuk data-data nontes. Selengkapnya, hasil tes dan nontes pada siklus II ini dijelaskan pada bagian berikut ini. a. Hasil Tes Penilaian tes keterampilan berbicara ini dilakukan dengan cara meminta setiap kelompok tampil di depan kelas untuk memaparkan hasil diskusi kelompoknya berkaitan dengan alternatif-alternatif pemecahan masalah yang diterima. Setiap anggota kelompok ada yang berperan menjadi moderator, penyaji, dan notulis. Siswa/ kelompok lain menjadi peserta diskusi yang nanti diberikan kesempatan untuk memberi tanggapan (bertanya, menyanggah ataupun mengajukan pendapat) kepada kelompok yang tampil. Pembicaraan siswa pada kegiatan tersebut akan diberikan penilaian sebagai tes keterampilan berbicara. Secara umum, hasil tes keterampilan berbicara siswa kelas X-4 SMA Negeri Jepara pada siklus II ini dapat dilihat pada tabel 16 berikut ini. Tabel 16. Hasil Tes Keterampilan Berbicara Siklus II No. Nilai Kategori Frekuensi % Hasil Klasikal 1. < 65 kurang 0 0 39 siswa mencapai total 3168 2. 65 – 74 Cukup 1 3 nilai 3. 75 – 84 Baik 33 85 dengan rata-rata nilai 4. >84 sangat baik 5 12 81,2 dalam kategori Jumlah 39 100 baik. Berdasarkan tabel tersebut dapat dijelaskan bahwa hasil tes keterampilan berbicara siswa secara klasikal pada siklus II mencapai nilai total 3168 dengan nilai rata-rata 81,2 dalam kategori baik. Nilai rata-rata

113 ini mengalami peningkatan dari siklus I sebesar 7,8 dari 71,4 pada siklus I menjadi 81,2 pada siklus II. Peningkatan ini tidak lepas dari perbaikan tindakan yang dilakukan pada siklus II, di antaranya penggantian model dalam pembelajaran, mengubah cara pembentukan kelompok, dan adanya motivasi yang peneliti berikan kepada siswa bahwa tes ini merupakan ujian/ ulangan praktik mata pelajaran Bahasa Indonesia. Dari ke-39 siswa yang diteliti, terdapat 5 siswa atau 12% yang memperoleh nilai >84 dalam kategori sangat baik, 33 siswa atau 85% yang memperoleh nilai 75 – 84 dalam kategori baik, dan seorang siswa atau 3% memperoleh nilai 65 – 74 dalam kategori cukup. Pada siklus II ini tidak ada siswa yang memperoleh nilai <65 atau kurang. Penampilan siswa pada siklus II ini jauh lebih baik daripada penampilan mereka pada siklus I. Siswa sudah memahami konsep berbicara yang diharapkan dari pembelajaran ini. Hasil tes secara klasikal sebagaimana dalam tabel 15 tersebut merupakan gabungan dari 11 aspek keterampilan berbicara yang digunakan untuk menilai keterampilan berbicara siswa melalui diskusi. Adapun hasil perolehan tiap-tiap aspek secara rinci dapat dilihat pada uraian berikut ini. 1) Hasil Tes Keterampilan Berbicara Aspek Ketepatan Ucapan Hasil tes aspek ketepatan ucapan dapat dilihat pada tabel 17 berikut. Tabel 17. Hasil Tes Aspek Ketepatan Ucapan No. Nilai Kategori Frekuensi % 1. < 65 Kurang 0 0 2. 65 – 74 Cukup 2 6 3. 75 – 84 Baik 18 46 4. >84 sangat baik 19 48 Jumlah 39 100 Hasil Klasikal 39 siswa mencapai nilai total 3180 dengan rata-rata nilai 81,5 dalam kategori baik.

114 Berdasarkan tabel tersebut dapat dijelaskan bahwa secara umum siswa dapat melafalkan kata-kata atau kalimat-kalimat dengan baik. Hal ini ditandai dengan perolehan nilai rata-rata secara klasikal sebesar 81,5 dalam kategori baik, yang berarti ada peningkatan sebesar 6,0 bila dibandingkan dengan siklus I yang hanya mencapai rata-rata 75,5. Sebanyak 19 siswa atau 48% memperoleh nilai >84 dalam kategori sangat baik, 18 siswa atau 46% memperoleh nilai 75 – 84 dalam kategori baik, dan 2 siswa atau 6% memperoleh nilai 65 – 74 dalam kategori cukup. Pada siklus II ini tidak ada siswa yang memperoleh nilai <65 atau kurang. Kemajuan ini diraih karena rasa percaya diri siswa sudah terbentuk dan tidak grogi lagi ketika tampil di depan. Siswa yang agak memiliki gangguan alat ucap (cedal) sudah berupaya mengucapkan bunyi-bunyi bahasa sebaik mungkin. Hasilnya lebih baik daripada siklus I. Sedangkan siswa yang pada siklus I tempo berbicaranya agak cepat yang berakibat pada kurang jelasnya bunyi-bunyi yang diucapkan, pada siklus II ini sudah tidak terjadi lagi. 2) Hasil Tes Keterampilan Berbicara Aspek Penempatan Tekanan Secara rinci, hasil tes keterampilan berbicara aspek penempatan tekanan dapat dilihat pada tabel 18 berikut ini. Tabel 18. Hasil Tes Aspek Penempatan Tekanan No. Nilai Kategori Frekuensi % Hasil Klasikal 1. < 65 kurang 0 0 39 siswa mencapai total 2875 2. 65 – 74 Cukup 14 36 nilai 3. 75 – 84 Baik 24 61 dengan rata-rata nilai 4. >84 sangat baik 1 3 73,7 dalam kategori Jumlah 39 100 cukup.

115 Berdasarkan tabel tersebut dapat dijelaskan bahwa secara umum siswa cukup mampu memberikan tekanan pada kata-kata atau kalimat-kalimat yang dianggap penting. Secara klasikal, total nilai yang diperoleh sebesar 2875 dengan nilai rata-rata 73,7 dalam kategori cukup. Sebanyak 14 siswa atau 36% memperoleh nilai 65 – 74 dalam kategori cukup, 24 siswa atau 61% memperoleh nilai 75 – 84 dalam kategori cukup, dan seorang siswa atau 3% memperoleh nilai >84 dalam kategori baik. Pada siklus II ini tidak ada siswa yang memperoleh nilai <65 atau kurang. Meskipun kecil, perolehan nilai pada siklus II ini mengalami peningkatan sebesar 5,4 dari 68,3 pada siklus I menjadi 73,7 pada siklus II, dan masih dalam kategori yang sama, yaitu kategori cukup. Peningkatan ini disebabkan oleh pengalaman berbicara siswa pada siklus I dan motivasi yang peneliti berikan, serta gambaran dari model yang digunakan. 3) Hasil Tes Keterampilan Berbicara Aspek Penempatan Jeda Hasil tes keterampilan berbicara siswa aspek penempatan jeda pada siklus II dapat dilihat pada tabel 19 berikut ini. Tabel 19. Hasil Tes Aspek Penempatan Jeda No. Nilai Kategori Frekuensi % 1. < 65 kurang 0 0 2. 65 – 74 Cukup 1 3 3. 75 – 84 Baik 28 72 4. >84 sangat baik 10 25 Jumlah 39 100 Berdasarkan tabel tersebut diketahui Hasil Klasikal 39 siswa mencapai nilai total 3150 dengan rata-rata nilai 80,8 dalam kategori baik. siswa mampu

bahwa

menempatkan jeda dengan baik. Hal ini ditandai dengan perolehan nilai rata-rata sebesar 80,8 dalam kategori baik. Sebanyak 10 siswa atau 25%

116 memperoleh nilai >84 dalam kategori sangat baik, 28 siswa atau 72% memperoleh nilai 75 – 84 dalam kategori baik, dan seorang siswa memperoleh nilai 65 – 74 dalam kategori cukup. Nilai rata-rata yang dicapai pada siklus II ini mengalami peningkatan sebesar 8,7 dari 72,1 pada siklus I menjadi 80,8 pada siklus II. Peningkatan ini tidak lepas dari model yang diberikan, pengalaman siswa pada siklus I dan belajar dari penampilan teman/ kelompok lainnya. 4) Hasil Tes Keterampilan Berbicara Aspek Intonasi Secara rinci, hasil tes keterampilan berbicara aspek intonasi dapat dilihat pada tabel 20 berikut ini. Tabel 20. Hasil Tes Aspek Intonasi No. Nilai Kategori Frekuensi % 1. < 65 kurang 0 0 2. 65 – 74 Cukup 3 8 3. 75 – 84 Baik 27 69 4. >84 sangat baik 9 23 Jumlah 39 100 Hasil Klasikal 39 siswa mencapai nilai total 3095 dengan rata-rata nilai 79,4 dalam kategori baik.

Berdasarkan tabel tersebut dapat dijelaskan bahwa secara klasikal siswa memperoleh total nilai 3095 dengan nilai rata-rata sebesar 79,4 dalam kategori baik. Hal ini berarti aspek intonasi mengalami peningkatan secara klasikal sebesar 280 dengan peningkatan nilai rata-rata sebesar 7,2. Pada siklus II ini, 9 siswa atau 23% memperoleh nilai >84 dalam kategori sangat baik, 27 siswa atau 69% memperoleh nilai 75 – 84 dalam kategori baik, dan 3 siswa atau 8% memperoleh nilai 65 – 74 dalam kategori cukup. Siswa sudah mampu mengunakan intonasi dengan baik, tidak seperti pada siklus I yang masih ada siswa yang menggunakan intonasi

117 membaca. Peningkatan ini disebabkan oleh contoh dari model yang diberikan, pengalaman berbicara siswa pada siklus I dan belajar dari penampilan teman/ kelompok lain. Selain itu, siswa juga memahami bahwa intonasi yang digunakan dalam diskusi seharusnya intonasi yang mampu meyakinkan peserta berkaitan dengan pendapat yang

dikemukakannya mengenai alternatif-alternatif pemecahan masalah yang didiskusikan. 5) Hasil Tes Keterampilan Berbicara Aspek Pilihan Kata Hasil tes keterampilan berbicara aspek pilihan kata pada siklus II dapat dilihat pada tabel 21 berikut ini. Tabel 21. Hasil Tes Aspek Pilihan Kata No. Nilai Kategori Frekuensi 1. < 65 kurang 0 2. 65 – 74 Cukup 0 3. 75 – 84 Baik 18 4. >84 sangat baik 21 Jumlah 39 % 0 0 46 54 100 Hasil Klasikal 39 siswa mencapai nilai total 3250 dengan rata-rata nilai 83,3 dalam kategori baik.

Berdasarkan tabel tersebut dapat dijelaskan bahwa secara klasikal siswa memperoleh total nilai sebesar 3250 dengan nilai rata-rata 83,3 dalam kategori baik. Hal ini berarti bahwa nilai rata-rata aspek pilihan kata yang digunakan siswa mengalami peningkatan sebesar 9,1 dari 74,2 pada siklus I menjadi 83,3 pada siklus II. Sebanyak 21 siswa atau 54% memperoleh nilai >84 dalam kategori sangat baik, dan sisanya, 18 siswa atau 46% memperoleh nilai 75 – 84 dalam kategori baik. Peningkatan ini disebabkan oleh contoh dari model yang diberikan, persiapan siswa yang lebih matang, kesadaran siswa untuk menggunakan kata-kata dalam ragam

118 baku, pengalaman berbicara siswa pada siklus I dan belajar dari penampilan teman/ kelompok lain. 6) Hasil Tes Keterampilan Berbicara Aspek Pemakaian Kalimat Secara rinci, hasil tes keterampilan berbicara aspek pemakaian kalimat dapat dilihat pada tabel 22 berikut ini. Tabel 22. Hasil Tes Aspek Pemakaian Kalimat No. Nilai Kategori Frekuensi % Hasil Klasikal 1. < 65 kurang 0 0 39 siswa mencapai total 3285 2. 65 – 74 Cukup 0 0 nilai 3. 75 – 84 Baik 15 39 dengan rata-rata nilai 4. >84 sangat baik 24 61 84,2 dalam kategori Jumlah 39 100 baik. Dari tabel tersebut dapat dijelaskan bahwa perolehan nilai total aspek pemakaian kalimat secara klasikal pada siklus II ini mencapai 3285 dengan nilai rata-rata 84,2 dalam kategori baik. Hal ini berarti ada peningkatan nilai rata-rata sebesar 10 dari 74,2 pada siklus I menjadi 84,2 pada siklus II. Sebanyak 24 siswa atau 61% memperoleh nilai >84 dalam kategori sangat baik. Sisanya, 15 siswa atau 39% memperoleh nilai 75 – 84 dalam kategori baik. Pada siklus II ini tidak ada siswa yang memperoleh nilai dalam kategori cukup maupun kurang. Peningkatan ini tidak lepas dari model yang peneliti berikan, pengaruh pilihan kata yang digunakan, dan pengalaman siswa pada siklus I. 7) Hasil tes Keterampilan Berbicara Aspek Sikap, Gerak-gerik, dan Mimik yang wajar Secara rinci, hasil tes keterampilan berbicara aspek sikap, gerak-gerik, dan mimik yang wajar dapat dilihat pada tabel 23 berikut ini.

119

Tabel 23. Hasil Tes Aspek Sikap, Gerak-gerik dan Mimik No. Nilai Kategori Frekuensi % Hasil Klasikal 1. < 65 kurang 0 0 39 siswa mencapai total 3135 2. 65 – 74 Cukup 0 0 nilai 3. 75 – 84 Baik 26 67 dengan rata-rata nilai 4. >84 sangat baik 13 33 80,4 dalam kategori Jumlah 39 100 baik. Berdasarkan tabel tersebut dapat dijelaskan bahwa perolehan nilai total aspek sikap, gerak-gerik, dan mimik yang wajar mencapai 3135 dengan nilai rata-rata 80,4 dalam kategori baik. Dibandingkan dengan perolehan pada siklus I, nilai rata-rata aspek sikap, gerak-gerik dan mimik yang wajar pada siklus II ini mengalami peningkatan sebesar 8,7 dari 71,7 menjadi 80,4. Sebanyak 13 siswa atau 33% memperoleh nilai >84 dalam kategori sangat baik dan 26 siswa atau 67% memperoleh nilai 75 – 84 dalam kategori baik. Pada siklus II ini tidak ada siswa yang memperoleh nilai <75. Siswa yang pada siklus I menunjukkan sikap, gerak-gerik, dan mimik yang kurang wajar dengan menggoyang-goyangkan badannya, menggaruk-garuk kepala secara berlebihan, dan berbicara sambil tertawa, pada siklus II ini sudah tidak melakukannya lagi. Hal ini disebabkan oleh gambaran dari model yang diberikan, pengalaman berbicara pada siklus I, belajar dari penampilan siswa/ kelompk lain, dan motivasi yang peneliti berikan. 8) Hasil Tes Keterampilan Berbicara Aspek Volume Suara Secara rinci, hasil tes keterampilan berbicara aspek volume suara dapat dilihat pada tabel 24 berikut ini.

120

Tabel 24. Hasil Tes Aspek Volume Suara No. Nilai Kategori Frekuensi % 1. < 65 kurang 0 0 2. 65 – 74 Cukup 0 0 3. 75 – 84 Baik 23 59 4. >84 sangat baik 16 41 Jumlah 39 100

Hasil Klasikal 39 siswa mencapai nilai total 3170 dengan rata-rata nilai 81,3 dalam kategori baik.

Berdasarkan tabel tersebut dapat dijelaskan bahwa secara klasikal nilai total yang diperoleh mencapai 3170 dengan nilai rata-rata 81,3 dalam kategori baik. Dibandingkan dengan siklus I, hasil yang diperoleh pada siklus II ini mengalami peningkatan sebesar 5,9, dari 75,4 pada siklus I menjadi 81,3 pada siklus II. Sebanyak 16 siswa atau 41% memperoleh nilai >84 dalam kategori sangat baik, dan sisanya, sebanyak 23 siswa atau 59% memperoleh nilai 75 – 84. Pada siklus II ini tidak ada yang siswa yang memperoleh nilai <75. Peningkatan ini disebabkan oleh rasa percaya diri siswa yang baik, contoh dari model yang peneliti berikan, pengalaman berbicara pada siklus I, dan suasana yang kondusif selama proses diskusi berlangsung. 9) Hasil Tes Keterampilan Berbicara Aspek Pandangan Mata Secara rinci, hasil tes keterampilan berbicara aspek pandangan mata dapat dilihat pada tabel 25 berikut ini. Tabel 25. Hasil Tes Aspek Pandangan Mata No. Nilai Kategori Frekuensi % 1. < 65 kurang 0 0 2. 65 – 74 Cukup 9 23 3. 75 – 84 Baik 20 52 4. >84 sangat baik 10 25 Jumlah 39 100 Hasil Klasikal 39 siswa mencapai nilai total 3065 dengan rata-rata nilai 78,6 dalam kategori baik.

121 Berdasarkan tabel tersebut dapat dijelaskan bahwa secara klasikal siswa memperoleh nilai total 3065 dengan nilai rata-rata 78.6 dalam kategori baik. Hal ini berarti mengalami peningkatan nilai rata-rata sebesar 5,6 bila dibandingkan hasil yang diperoleh pada siklus I. Sebanyak 10 siswa atau 26% memperoleh nilai >84 dalam kategori sangat baik, 20 siswa atau 52% memperoleh nilai 75 – 84 dalam kategori baik, dan 9 siswa atau 23% memperoleh nilai 65 – 75 dalam kategori cukup. Rata-rata perolehan siswa sudah baik, namun kesembilan siswa yang memperoleh nilai dalam kategori cukup tersebut pandangan matanya masih saja hanya tertuju pada satu arah, menunduk ataupun ke atas. 10) Hasil Tes Keterampilan Berbicara Aspek Penguasaan Topik Secara rinci, hasil tes keterampilan berbicara aspek pengusaaan topik dapat dilihat pada tabel 26 berikut ini. Tabel 26. Hasil Tes Aspek Penguasaan Topik No. Nilai Kategori Frekuensi % 1. < 65 kurang 0 0 2. 65 – 74 Cukup 1 3 3. 75 – 84 Baik 11 43 4. >84 sangat baik 27 54 Jumlah 39 100 Hasil Klasikal 39 siswa mencapai nilai total 3330 dengan rata-rata nilai 85,4 dalam kategori sangat baik.

Berdasarkan tabel tersebut dapat dijelaskan bahwa secara klasikal siswa memperoleh nilai total sebesar 3330 dengan nilai rata-rata 85,4 dalam kategori sangat baik. Hal ini berarti ada peningkatan nilai rata-rata sebesar 9,7 dari rata-rata 75,6 pada siklus I menjadi 85,4. Sebagian besar siswa, 27 siswa atau 54%, memperoleh nilai >84 dalam kategori baik, 11 siswa atau 43% memperoleh nilai 75 – 84 dalam kategori baik, dan

122 seorang siswa atau 3% memperoleh nilai 65 – 74 dalam kategori cukup. Peningkatan ini disebabkan oleh rasa senang siswa terhadap materi/ masalah diskusi yang diterimanya, kerja sama kelompok yang baik dalam mendiskusikan alternatif-alternatif pemecahan masalah yang diterima, rasa percaya diri siswa dan pengalaman dari siklus I. 11) Hasil Tes Keterampilan Berbicara Aspek Kelancaran Secara rinci, hasil tes keterampilan berbicara aspek kelancaran ini dapat dilihat pada tabel 27 ini. Tabel 27. Hasil Tes Aspek Kelancaran No. Nilai Kategori Frekuensi % 1. < 65 kurang 0 0 2. 65 – 74 Cukup 1 3 3. 75 – 84 Baik 26 66 4. >84 sangat baik 12 31 Jumlah 39 100 Hasil Klasikal 39 siswa mencapai nilai total 3315 dengan rata-rata nilai 85,0 dalam kategori baik.

Berdasarkan tabel tersebut dapat dijelaskan bahwa secara klasikal siswa memperoleh nilai total sebesar 3167 dengan nilai rata-rata 81,2 dalam kategori baik. Hal ini berarti bahwa aspek kelancaran ini juga mengalami peningkatan. Peningkatan nilai rata-rata aspek kelancaran ini sebesar 9,5, dari nilai rata-rata 75,5 pada siklus I menjadi 85,0 pada siklus II. b. Hasil Nontes Pada siklus II ini data nontes mengalami pengubahan. Kalau pada siklus I data nontes dijaring melalui observasi, wawancara, jurnal, dokumentasi, dan rekaman pita, pada siklus II ini data nontes dijaring melalui observasi, wawancara, jurnal, sosiometri, dan rekaman pita. Hal

123 ini dimaksudkan untuk melengkapi perolehan data dan mempertajam analisis. Penggantian dokumentasi foto dan rekaman pita dengan rekaman video dilakukan dengan alasan bahwa rekaman video mampu merekam gambar dan suara sekaligus, sehingga pembahasan lebih lengkap dan akurat. Instrumen sosiometri digunakan untuk mengetahui aktivitas/ kinerja siswa selama pembelajaran dengan cara meminta siswa mencatat nama-nama anggota sesuai dengan hal-hal yang tercantum di dalamnya. Kedua instrumen tersebut peneliti gunakan untuk melengkapi

kekuranglengkapan analisis pada siklus I. Dengan demikian, hasil dan analisis data pada siklus II penelitian ini menjadi lebih baik. Adapun hasil data nontes pada siklus II diuraikan di bawah ini. 1) Hasil Observasi Data observasi pada siklus II ini sama dengan data observasi pada siklus I. Pengambilan data melalui observasi ini bertujuan untuk mengetahui perilaku siswa selama pembelajaran. Observasi ini dilakukan selama proses pembelajaran berlangsung. Aspek yang diamati dalam observasi ini meliputi perilaku yang ditunjukkan siswa selama mengikuti proses pembelajaran. Hal ini dilakukan untuk memperoleh data selengkap mungkin untuk mengungkap perilaku yang ditunjukkan siswa selama mengikuti proses pembelajaran. Aspek yang menjadi sasaran observasi adalah 1) antusias siswa dalam pembentukan kelompok, 2) respon siswa ketika disajikan model dalam pembelajaran, 3) komentar yang diberikan siswa saat mendiskusikan

124 model yang digunakan, 4) respon siswa/ kelompok dalam menerima materi (masalah) yang akan didiskusikan, 5) antusias siswa dalam mendiskusikan masalah yang diterima dengan kelompoknya, 6) pendapat/ jawaban, pembicaraan siswa dalam diskusi, 7) semangat siswa dalam mengikuti diskusi, 8) diskusi yang dilaksanakan siswa, dan 9) antusias siswa dalam mengikuti pembelajaran keterampilan berbicara siswa melalui diskusi. Dalam siklus II ini, seluruh perilaku siswa selama proses pembelajaran berlangsung terdeskripsi melalui observasi. Selama proses pembelajaran berlangsung, seluruh siswa mengikutinya dengan baik. Meskipun demikian, masih ada beberapa siswa yang masih berbicara sendiri, terutama ketika mendiskusikan alternatif-alternatif pemecahan masalah yang diterima dan ketika proses diskusi di depan kelas berlangsung. Namun, hal itu tidak sampai mengganggu siswa/ kelompok lain seperti yang terjadi pada siklus I. Berdasarkan data yang ada diketahui bahwa siswa menunjukkan respon yang sangat baik ketika peneliti minta lagi untuk membentuk kelompok. Pada siklus II ini formasi anggota kelompok peneliti ubah. Siswa menyetujui hal ini karena kelompok yang terbentuk pada siklus I tidak semua anggotanya bekerja sama dan lebih bergantung pada anggota yang lain. Kemudian peneliti menentukan 10 siswa yang memiliki keterampilan berbicara yang baik pada siklus I sebagai ketua

125 kelompok dan siswa tersebut memilih sendiri anggotanya dengan adil dan seluruh siswa menyetujuinya. Selanjutnya, siswa memberikan respon yang sangat baik ketika peneliti berikan/ putarkan model dalam pembelajaran. Bersama dengan teman sekelompoknya, siswa memperhatikan model yang peneliti berikan melalui LCD dan mencatat hal-hal yang mereka temukan dari pemutaran model tersebut seperti yang peneliti minta. Namun, ada siswa yang berbicara dengan teman sekelompok, tetapi tidak sampai mengganggu mengganggu kelompok lain yang sedang memperhatikan model yang diputarkan. Komentar yang diberikan siswa berkaitan dengan model yang peneliti berikan sudah baik. Mereka memberikan komentar-komentar terhadap hal-hal yang telah peneliti minta sebelumnya dengan baik sesuai dengan pengetahuan dan pengalaman yang mereka miliki berkaitan dengan cara berbicara yang baik dalam diskusi. Adapun halhal yang peneliti mintakan komentar adalah cara berbicara setiap kompoen yang terlibat, cara mengajukan pertanyaan, cara

menyanggah, dan cara memberikan pendapat, proses pelaksanaan diskusi, dan peneliti juga meminta siswa memberikan komentar mengenai model yang peneliti berikan pada siklus II ini. Berkaitan dengan penentuan masalah yang diterima tiap-tiap kelompok, peneliti mengundi lagi materi/ masalah diskusi pada siklus II ini dengan cara yang sama pada siklus I, yaitu wakil kelompok

126 diminta mengambil sendiri lintingan yang telah peneliti siapkan. Meskipun formasi kelompok berubah, namun peneliti tetap mengundi materi tersebut agar tetap menunjukkan keadilan. Maksudnya agar kelompok 1 tidak selalu menerima masalah 1, kelompok 2 tidak selalu menerima masalah 2 dan seterusnya, seperti pada siklus I. Namun, masalah yang diterima tiap kelompok ditentukan berdasarkan undian yang dilakukan. Respon yang ditunjukkan siswa ketika menerima masalah diskusi yang peneliti berikan sangat baik. Hal itu diketahui dari reaksi siswa setelah menerima masalah tersebut siswa mengangguk-anggukkan kepala, ada yang berkata "Yes", dan ada yang tertawa agak keras karena masalah yang diterimanya itu dialaminya sendiri di sekolah. Siswa tersebut memperoleh masalah "Membawa HP ke Sekolah", dan sepengetahuan penulis, siswa tersebut juga membawa HP ke sekolah. Selanjutnya, dalam mendiskusikan masalah yang diterima dengan kelompoknya, siswa menunjukkan respon yang sangat baik. Mereka bekerja sama untuk mencari alternatif-alternatif pemecahan masalah yang diterimanya. Pada kegiatan ini semua siswa bekerja sama dengan baik, saling membagi tugas dan tidak ada siswa yang hanya bergantung pada teman lain. Tidak ada siswa yang tidak ikut bekerja dalam mendiskusikan alternatif-alternatif pemecahan masalah yang diterimanya pada siklus II ini.

127 Berdasarkan hasil observasi, keterampilan berbicara siswa pada siklus II ini sudah baik dalam memberikan pendapat/ jawaban. Umumnya, mereka sudah dapat menguasai materi yang peneliti berikan. Hal ini terlihat dari isi pembicaraan mereka dalam diskusi tersebut. Rasa kurang percaya diri dan grogi ketika berbicara di depan kelas sudah berkurang pada siklus II ini. Hal ini berpengaruh pada semangat siswa dalam mengikuti proses diskusi. Semangat siswa dalam mengikuti diskusi sangat baik. Mereka mengikuti diskusi yang berlangsung dan menanggapinya dengan memberikan pertanyaanpertanyaan, pendapat ataupun sanggahan. Namun, masih ada juga siswa yang tidak memperhatikan diskusi dan berbicara sendiri dengan teman yang lain, tetapi tidak sampai mengganggu kelancaran diskusi. Suasana diskusi yang kondusif itu juga mempengaruhi semangat siswa/ kelompok yang sedang tampil di depan kelas, karena pada siklus II ini mereka merasa lebih dihargai oleh peserta yang lain. Hal ini juga berpengaruh pada proses diskusi yang dilaksanakan siswa. Diskusi yang dilaksanakan siswa pada siklus II ini sudah baik. Mereka mampu melaksanakan diskusi dari awal hingga akhir. Siswa sudah tahu apa yang harus mereka lakukan sesuai dengan peran dan tugasnya masing-masing. Proses diskusi pada siklus II ini lebih baik daripada siklus I, karena para peserta (siswa lain) mengikutinya dengan baik dan suasananya lebih kondusif dibandingkan dengan proses diskusi pada siklus I.

128 Antusias siswa dalam mengikuti pembelajaran keterampilan berbicara melalui diskusi sangat baik. Semangat para siswa pada siklus II ini lebih baik daripada siklus I. Hal ini ditunjukkan dengan antusias mereka mulai dari mengikuti apersepsi guru berkaitan dengan materi diskusi yang telah mereka dapatkan pada siklus I, pembentukan kelompok, pemutaran model, mendiskusikan model, dan pelaksanaan diskusi di depan kelas, meskipun dalam proses pembelajaran masih ada siswa yang berbicara sendiri. Proses pembelajaran pada siklus II ini lebih kondusif dibandingkan dengan siklus I. Hasil yang dicapai siswa sudah baik dan antusias siswa masih tinggi dalam mengikuti pembelajaran. Antusias siswa ini diketahui dari respon atau ekspresi sebagian besar siswa yang peneliti ajar. Sebagian besar wajah mereka menampakkan ekspresi kagum terhadap teknik mengajar yang peneliti gunakan, karena pembelajaran keterampilan berbicara melalui diskusi ini dapat dijadikan sarana rekreasi untuk menyegarkan kembali pikiran. Peneliti menyadari hal tersebut karena berdasarkan pengamatan di lapangan dan tanya-jawab dengan guru mata pelajaran lain di kelas itu, sesuai dengan kurikulum 2004, siswa SMA kelas X mendapatkan 17 mata pelajaran dan menjelang akhir semester II ini hampir semua guru memberikan tugas, baik individu maupun kelompok, yang membutuhkan banyak waktu, tenaga dan pikiran untuk menilai ketuntasan belajar mereka. Jadi, peneliti bisa memaklumi jika selama proses pembelajaran ada siswa

129 yang berbicara sendiri untuk membicarakan tugas-tugas itu. Namun, dalam proses pembelajaran, peneliti tidak menemukan siswa yang mengerjakan tugasnya selama proses pembelajaran berlangsung. 2) Hasil Wawancara Data nontes pada siklus II ini juga diperoleh dari hasil wawancara. Sama seperti siklus I, wawancara ini tidak dilakukan kepada semua siswa, tetapi dilakukan kepada tiga siswa yang memperoleh nilai tertinggi dan tiga siswa yang memperoleh nilai terrendah. Ada penambahan dua pertanyaan dalam wawancara pada siklus II ini. Jadi, wawancara pada siklus II ini terdapat 18 butir pertanyaan yang harus dijawab siswa. Adapun dua pertanyaan tambahan itu berisi pertanyaan mengenai model yang manakah di antara kedua model yang diberikan guru yang dapat membantu siswa untuk berbicara dalam ragam formal melalui diskusi, dan lebih baik manakah keterampilan berbicara siswa tersebut antara diskusi pada siklus I dan siklus II serta apa penyebabnya. Berdasarkan hasil wawancara, diketahui bahwa pemberian model dalam pembelajaran baik. Model yang peneliti sajikan tersebut sangat membantu siswa untuk melaksanakan diskusi dan dapat membantu siswa pula untuk dapat berbicara dengan baik dalam diskusi tersebut. Berkaitan dengan kedua model yang peneliti berikan, model yang kedua dapat membantu siswa untuk berbicara dalam ragam formal

130 melalui diskusi. Dari model tersebut siswa memperoleh gambaran mengenai cara berbicara dalam ragam formal melalui diskusi. Dibandingkan dengan siklus I, pembicaraan siswa pada siklus II ini rata-rata lebih baik karena telah memperoleh gambaran dari model yang peneliti berikan dan didukung oleh suasana diskusi yang lebih kondusif. Mengenai pembentukan kelompok yang dilakukan guru pada siklus II ini, siswa menanggapinya dengan baik karena pembentukan kelompok pada siklus II ini cukup demokratis dan adil serta keterampilan berbicara siswa yang dimiliki kelompok merata. Pada kelompok tersebut siswa dapat bekerja sama dengan anggota kelompok yang lainnya, dan dalam kelompok tersebut semua anggota bekerja sesuai dengan peran tugasnya masing-masing sehingga tidak ada siswa yang tidak bekerja dalam kelompok tersebut. Rata-rata siswa mampu memahami materi/ masalah diskusi yang peneliti berikan, karena materi/ masalah yang peneliti berikan dekat dengen kehidupan mereka di sekolah. Namun, ada juga siswa yang mengatakan kurang menguasainya dengan baik karena waktu yang diberikan untuk mendiskusikan alternatif-alternatif pemecahan

masalah yang diterima terbatas. Materi yang disenangi siswa untuk didiskusikan di dalam kelas adalah materi seputar dunia remaja atau dunia siswa yang dekat dengan kehidupannya di sekolah. Proses

131 berlangsungnya diskusi berjalan dengan baik dan tertib, meskipun ada siswa yang masih bicara sendiri ketika proses diskusi berlangsung. Semua siswa mendapatkan kesempatan untuk berbicara dalam diskusi tersebut. Siswa mengakui bahwa siswa juga masih menemui kesulitan ketika berbicara dalam diskusi tersebut. Kesulitan tersebut antara lain masih gugup dan kurang lancar ketika berbicara. Kesulitan tersebut disebabkan karena belum terbiasanya siswa berbicara dalam forum resmi dan kurangnya latihan. Untuk mengatasi kesulitan tersebut, siswa mengatakan untuk berlatih berbicara dalam forum resmi agar lebih baik dan berusaha untuk tidak mengulanginya lagi. Siswa juga mengakui bahwa pembicaraannya belum maksimal yang disebabkan oleh rasa kurang percaya diri dan gugup ketika berbicara dalam diskusi tersebut. Terkait dengan keputusan diskusi yang dihasilkan, siswa dapat menerimanya karena hal itu merupakan kesepakatan bersama yang harus diterima dan dilaksanakan. Pembelajaran keetrampilan berbicara melalui diskusi ini ditanggapi dengan baik, karena dapat melatih membekali siswa untuk dapat berbicara di depan umum. Melalui pembelajaran ini siswa dapat mengukur kemampuannya dalam berbicara pada forum resmi yang disaksikan banyak orang. Selanjutnya, siswa pun merasa ada peningkatan kemampuan dalam berbicara.

132 3) Hasil Jurnal Sama halnya dengan siklus I, data nontes penelitian ini juga diperoleh dari jurnal guru dan jurnal siswa. Jurnal guru pada siklus II ini juga terdiri atas dua buah jurnal. Jurnal yang pertama berisi kegiatan-kegiatan yang guru lakukan di kelas dan jurnal yang kedua berisi deskripsi keadaan kelas/ respon siswa yang ditunjukkan siswa selama proses pembelajaran berlangsung. Ada aspek yang terdapat kedua jurnal ini mengalami perubahan. Pada siklus II ini peneliti tidak lagi menyampaikan materi pembelajaran karena materi pembelajaran sudah peneliti berikan pada siklus I, namun peneliti memberikan apersepsi kepada siswa untuk menggali pengetahuan dan pengalaman mereka mengenai diskusi yang telah mereka dapatkan pada siklus I. Selanjutnya, hasil jurnal guru dan jurnal siswa tersebut peneliti uraikan berikut ini. a) Jurnal Guru Jurnal guru yang akan diuraikan adalah jurnal guru yang berisi kegiatan-kegiatan yang guru lakukan di kelas dan jurnal guru yang berisi deskripsi keadaan kelas/ respon yang ditunjukkan siswa selama proses pembelajaran berlangsung. Jurnal guru berkaitan dengan kegiatan-kegiatan yang guru lakukan di kelas digunakan untuk mengetahui kegiatan guru dalam pembelajaran apakah sesuai dengan kegiatan yang terdapat dalam rencana pembelajaran atau tidak. Adapun kegiatan-kegiatan yang terdapat dalam jurnal tersebut adalah 1) guru

133 memberikan apersepsi dan memberikan penguatan, 2) guru memberi kesempatan kepada siswa untuk bertanya atau memberi tanggapan, 3) guru membentuk kelompok, 4) guru memutarkan model, 5) guru meminta siswa mendiskusikan model yang disajikan, 6) guru membagikan artikel yang berisi masalah untuk didiskusikan, 7) guru mengamati aktivitas siswa selama bekerja dalam kelompok, 8) guru mengamati proses berlangsungnya diskusi dan memberikan penilaian, 9) guru memberikan penguatan terhadap hasil diskusi siswa, dan 10) guru mengadakan refleksi pembelajaran bersama dengan siswa. Dari jurnal tersebut diketahui bahwa guru melaksanakan semua kegiatan-kegiatan seperti yang telah direncanakan, mulai dari memberikan apersepsi dan penguatan, memberi kesempatan kepada siswa untuk bertanya atau memberikan tanggapan, membentuk kelompok, memberikan/ memutarkan model, mengadakan diskusi untuk mendiskusikan model yang guru berikan, membagikan artikel yang berisi masalah untuk didiskusikan, mengamati aktivitas siswa selama bekerja dengan kelompoknya, mengamati proses

berlangsungnya diskusi dan memberikan penilaian terhadap aktivitas berbicara siswa, memberikan penguatan setiap diskusi yang dilakukan siswa berakhir, dan mengadakan refleksi pembelajaran bersama dengan siswa. Selanjutnya, peneliti uraikan jurnal guru yang berisi deskripsi keadaan kelas/ respon yang ditunjukkan siswa selama proses

134 pembelajaran berlangsung. Jurnal ini berisi 1) respon siswa ketika menerima apersepsi pembelajaran yang dilakukan guru, 2) sikap siswa dalam menerima instruksi untuk membentuk kelompok, 3) respon yang ditunjukkan siswa ketika diberikan model dalam pembelajaran, 4) komentar yang diberikan siswa ketika diberikan model dalam pembelajaran, 5) kerja sama siswa dalam kelompok, 6) respon siswa/ kelompok ketika menerima masalah yang akan didiskusikan, 7) sikap siswa dalam mengikuti diskusi, 8) proses pelaksanaan diskusi, 9) keterampilan berbicara siswa dalam diskusi tersebut, dan 10) sikap siswa dalam menerima pembelajaran keterampilan berbicara melalui diskusi. Respon siswa ketika guru memberikan apersepsi pembelajaran sangat baik. Siswa memperhatikan dengan baik materi yang guru tayangkan kembali melalui LCD dengan program Power Point yang telah guru siapkan. Respon siswa yang ditunjukkan ketika menerima instruksi untuk membentuk kelompok sangat baik. Pembentukan kelompok pada siklus II ini peneliti lakukan dengan cara menentukan 10 siswa yang peneliti anggap memiliki keterampilan berbicara yang baik dalam siklus I sebagai ketua kelompok, kemudian siswa tersebut menentukan sendiri anggotanya. Dengan cara itu komposisi anggota kelompok yang terbentuk merata, tidak ada kelompok yang terdiri atas siswasiswa yang pintar atau siswa-siswa yang kurang pintar.

135 Pada saat diberikan/ diputarkan model, siswa memberi respon yang sangat baik. Dengan teman sekelompoknya, siswa memperhatikan model yang ditayangkan melalui LCD dan mencatat hal-hal yang mereka temukan dari tayangan itu. Ada siswa yang berbicara dengan teman sekelompok, namun tidak sampai mengganggu kelompok lain yang sedang memperhatikan model yang diputarkan. Komentar yang diberikan siswa berkaitan dengan model yang guru berikan sudah baik. Siswa mampu menunjukkan kekurangan maupun kelebihan mengenai cara-cara berbicara setiap komponen diskusi yang ada dalam model tersebut Mereka memberikan komentar-komentar terhadap hal-hal yang peneliti minta sebelumnya menurut pendapatnya masing-masing sesuai dengan pengetahuan dan pengalaman yang mereka miliki berkaitan dengan diskusi. Kerja sama siswa dalam kelompok baik sekali. Mereka bekerja sesuai dengan peran dan tugasnya masing-masing. Pada siklus II ini tidak ada siswa yang bergantung pada anggota yang lain seperti yang terjadi pada siklus I. Hal ini disebabkan oleh komposisi anggota kelompok yang merata dan sesuai dengan pilihan siswa sendiri. Respon yang ditunjukkan siswa ketika menerima masalah diskusi yang peneliti berikan sangat baik. Hal itu diketahui dari reaksi siswa setelah menerima masalah tersebut siswa mengangguk-anggukkan kepala, ada yang berkata "Yes", dan ada yang tertawa agak keras karena masalah yang diterimanya itu dialaminya sendiri di sekolah.

136 Siswa tersebut memperoleh masalah "Membawa HP ke Sekolah", dan sepengetahuan penulis, siswa tersebut juga membawa HP ke sekolah. Respon siswa/ kelompok dalam mengikuti diskusi pada siklus II ini sangat baik. Mereka antusias mengikuti jalannya diskusi, mengajukan pertanyaan, pendapat ataupun sanggahan. Meskipun demikian, masih ada siswa yang berbicara sendiri, namun tidak sampai mengganggu teman yang sedang memperhatikan diskusi dan suasana diskusi tersebut tetap kondusif. Diskusi yang dilaksanakan siswa baik. Setiap kelompok

menyajikan hasil kerjanya dan siswa yang lain menanggapinya dengan mengikuti proses berlangsungnya diskusi tersebut dengan baik, bertanya, mengajukan pertanyaan, sanggahan ataupun pendapat kepada kelompok yang tampil tersebut. Meskipun demikian ada juga siswa yang berbicara sendiri ketika diskusi berlangsung, namun tidak sampai mengganggu teman yang lain dan suasana diskusi tetap kondusif. Keterampilan berbicara siswa dalam diskusi tersebut baik. Ada peningkatan keterampilan berbicara siswa dibandingkan dengan siklus I. Dari penampilan setiap kelompok, peneliti merasa puas karena siswa mengikutinya dengan baik meskipun masih ada beberapa siswa yang menampakkan rasa kurang percaya diri, grogi, dan dalam

pembelajaran masih ada juga beberapa siswa yang berbicara sendiri, namun tidak sampai mengganggu siswa yang lainnya dan suasana diskusi tetap kondusif.

137 Dari jurnal tersebut dapat disimpulkan bahwa sikap siswa dalam menerima pembelajaran keterampilan berbicara melalui diskusi yang peneliti lakukan ini sangat baik. Mereka merespon apa yang peneliti lakukan selama pembelajaran berlangsung dari awal hingga akhir pembelajaran pada siklus II ini dengan baik dan mengikuti jalannya diskusi dengan baik pula. b) Jurnal Siswa Pada siklus II ini peneliti juga meminta siswa untuk mengisi jurnal. Jurnal siswa pada siklus II ini mengalami penambahan pertanyaan yang harus diisi siswa. Jadi, pada siklus II ini, siswa mengisi sembilan pertanyaan yang berisi kesan siswa dalam hal 1) model yang diberikan guru untuk membantu siswa dalam berbicara melalui diskusi, 2) model yang manakah yang dapat membantu siswa untuk dapat berbicara dalam diskusi, 3) respon siswa dalam pembentukan kelompok, 4) kerja sama siswa dalam kelompok, 5) masalah diskusi yang diberikan guru mudah siswa pahami atau tidak, 6) kesempatan siswa untuk berbicara dalam diskusi, 7) keterampilan berbicara siswa dalam diskusi, 8) proses pelaksanaan diskusi, dan 9) kesan dalam menerima pelajaran keterampilan berbicara melalui diskusi. Hasil jurnal siswa tersebut selengkapnya diuraikan di bawah ini. Model yang diberikan guru untuk membantu siswa dalam berbicara melalui sudah baik, karena model yang diberikan memberi contoh serta gambaran yang baik dalam berdiskusi. Sebagian besar siswa

138 menyatakan model yang kedua lebih dapat membantu siswa untuk berbicara dalam diskusi. Dalam hal pembentukan kelompok pada siklus II ini, respon siswa sangat baik dan setuju dengan cara yang peneliti lakukan, yakni dengan cara menentukan sepuluh siswa yang peneliti anggap memiliki keterampilan berbicara yang baik pada siklus I untuk menjadi ketua kelompok dan menentukan sendiri anggota kelompoknya. Dengan cara ini komposisi setiap anggota lebih merata sehingga tidak ada siswa yang lebih bergantung pada temannya yang lain. Hal ini juga berpengaruh pada kerja sama siswa antara siswa dengan anggota kelompoknya yang lain. Pada siklus II ini kerja sama siswa dalam kelompok sangat baik. Mereka saling bertukar pikiran, memberikan ide/ gagasan masing-masing dalam kerja kelompok itu dan tidak bergantung pada salah satu anggota kelompok saja. Masalah/ materi diskusi yang peneliti berikan mudah dipahami oleh siswa karena masalah-masalah yang peneliti berikan adalah masalah-masalah seputar dunia remaja atau dunia siswa yang dekat dengan kehidupan mereka di sekolah, bahkan masalah-masalah tersebut mereka alami sendiri di sekolah. Dalam diskusi yang dilaksanakan, semua siswa memperoleh kesempatan yang sama untuk dapat berbicara dalam diskusi tersebut, hanya saja siswa kurang memanfaatkannya dengan baik. Pembicaraan siswa dalam diskusi tersebut peneliti batasi agar pembicaraan tidak

139 didominasi oleh siswa-siswa tertentu saja, melainkan semuanya memiliki kesempatan yang sama untuk berbicara. Keterampilan berbicara siswa pada siklus II ini lebih baik bila dibandingkan keterampilan berbicara siswa pada siklus I, meskipun masih ada beberapa siswa yang merasa grogi dan kurang percaya diri ketika tampil di depan kelas. Hal ini tidak lepas dari tindakan-tindakan yang peneliti lakukan, antara lain pemberian model dan motivasi yang peneliti berikan kepada siswa. Proses pelaksanaan diskusi pada siklus II ini lebih baik daripada pelaksanaan diskusi pada siklus I. Diskusi pada siklus II ini berjalan lebih tertib dan lancar. Siswa mengikutinya dengan baik. Banyak siswa yang ingin mengajukan pertanyaan, tanggapan ataupun sanggahan. Namun, seiring terbatasnya waktu, maka tidak semuanya dapat dipenuhi. Siswa senang menerima pembelajaran keterampilan berbicara melalui diskusi ini karena siswa memperoleh pengalaman untuk dapat berbicara di depan umum (dalam diskusi), melatih keberanian untuk berbicara di hadapan banyak orang. Selain itu, siswa juga dapat menciptakan kebersamaan yang baik ketika bekerja dalam kelompok untuk mendiskusikan alternatif-alternatif pemecahan masalah yang peneliti berikan.

140 4) Hasil Sosiometri (Lembar Observasi Siswa) Pada siklus II ini, peneliti juga menggunakan instrumen nontes berupa sosiometri (lembar observasi siswa) untuk mengetahui aktivitas/ kinerja siswa selama pembelajaran berlangsung dan teman sekelompok siswa yang memiliki keterampilan berbicara paling baik. Setiap siswa diberi lembar sosiometri ini dan menuliskan nama-nama siswa anggota kelompoknya yang menunjukkan aktivitas/ kinerja siswa sesuai dengan yang tercantum dalam lembar sosiometri tersebut. Siswa A mengamati kinerja siswa B,C, dan D. Siswa B mengamati kinerja siswa A, C, dan D. Siswa C mengamati kinerja siswa A, B, dan D. Siswa D mengamati kinerja siswa A, B, dan C. Agar lebih jelas, alur sosiometri tersebut peneliti gambarkan pada gambar 4. berikut ini.

Gambar 4. Alur Sosiometri Adapun hal-hal yang tercantum dalam lembar sosiometri tersebut yang harus diisi siswa adalah 1) teman sekelompok siswa yang tidak memperhatikan model (bicara sendiri/ mengganggu teman sekelompok atau kelompok lain) yang guru putarkan, 2) teman sekelompok siswa yang tidak memberikan pendapat ketika mendiskusikan model yang guru putarkan, 3) Sebutkan teman sekelompok kamu yang bicara

141 sendiri/ mengganggu teman sekelompok atau kelompok lain ketika mendiskusikan model tersebut, 4) teman sekelompok siswa yang tidak bekerja sama ketika mendiskusikan model yang guru putarkan, 5) teman sekelompok siswa yang tidak memberikan pendapat dalam mendiskusikan masalah yang guru berikan, 6) teman sekelompok siswa yang bicara sendiri/ mengganggu teman sekelompok atau kelompok lain ketika mendiskusikan masalah dari guru, 7) teman sekelompok siswa yang tidak bekerja sama dalam mendiskusikan masalah dari guru, 8) teman sekelompok siswa yang tidak aktif dalam diskusi ketika kelompok kamu tampil, dan 9) teman sekelompok siswa yang tidak memperhatikan (berbicara sendiri/ mengganggu) proses diskusi kelompok lain yang tampil,dan 10) teman sekelompok siswa yang memiliki keterampilan berbicara paling baik. Dari hasil sosiometri tersebut dapat dijelaskan bahwa secara umum tidak ada anggota kelompok yang berbicara sendiri/ mengganggu teman lain ketika diputarkan model pembelajaran. Ada siswa yang berbicara dengan teman sekelompok, tapi yang dibicarakan itu adalah hal-hal seputar model yang diberikan. Hal ini diketahui dari cara mereka berbicara menghadap pada model yang sedang diputarkan dan tangan mereka menunjuk pada model tersebut. Pada saat mendiskusikan model yang guru berikan, tidak ada siswa yang tidak memberikan pendapatnya. Semua siswa bertukar pikiran dalam mendiskusikan model yang peneliti berikan dan memberikan

142 pendapat sesuai dengan pengetahuan dan pengalaman mereka masingmasing berkaitan dengan diskusi. Semua anggota kelompok

berpartisipasi dalam mendiskusikan model tersebut. Ketika mendiskusikan masalah yang peneliti berikan, semua siswa bekerja sesuai peran dan tugasnya serta memberikan pendapat sesuai dengan pandangan masing-masing berkaitan dengan alternatifalternatif pemecahan masalah yang mereka terima. Tidak ada siswa yang tidak ikut bekerja atau bergantung pada teman lain dalam mendiskusikan alternatif-alternatif pemecahan masalah yang

diterimanya pada siklus II ini. Pada kegiatan ini tidak ada siswa yang berbicara sendiri atau mengganggu teman sekelompok/ kelompok lain. Selanjutnya, ketika kelompok mereka tampil, semua anggota aktif mengikuti diskusi sesuai dengan peran dan tugasnya masing-masing. Demikian juga pada saat kelompok lain tampil, semua siswa juga memperhatikan dengan baik dan menanggapinya dengan mengajukan pertanyaan, sanggahan atau mengajukan pendapatnya kepada

kelompok yang tampil tersebut. Pada lembar sosiometri tersebut siswa juga diminta menuliskan nama teman sekelompoknya yang memiliki keterampilan berbicara paling baik di antara mereka. Dari hasil sosiometri diketahui bahwa kelompok I memilih Susilo (35), kelompok II memilih Elina Saptaningrum (9), kelompok III memilih Krisnawati (20), kelompok IV memilih Elfintina Novita (8), kelompok V memilih Eri Nugroho

143 (11), kelompok VI memilih Dyah Martha P. (7), kelompok VII memilih Veli Amalia (37), kelompok VIII memilih Afit Kurniawan (1), kelompok IX memilih Ardhan Hardianto (5), dan kelompok X memilih Fandi Rizki B. (13). Hasil pilihan siswa tersebut sesuai dengan penilaian peneliti. Kesepuluh siswa tersebut memperoleh nilai rata-rata paling tinggi di antara teman sekelompoknya. 5) Rekaman Video Pada siklus II ini peneliti juga menggunakan rekaman video untuk menjaring data nontes. Rekaman video ini juga akan memberikan data yang lebih lengkap dibandingkan data hasil rekaman pita. Aktivitas siswa selama pembelajaran akan terekam dengan jelas melalui rekaman video ini. Tidak hanya aktivitas siswa saja, keterampilan berbicara siswa pun akan terekam. Aspek nonkebahasaan yang tidak dapat terekam melalui rekaman pita seperti sikap, gerak-gerik dan mimik yang wajar, serta pandangan mata dapat terekam melalui rekaman video ini. Rekaman video ini juga dapat peneliti putar kembali untuk memberikan penilaian keterampilan berbicara siswa melalui diskusi. Jadi, rekaman video ini akan memberikan data yang lebih lengkap dibandingkan dengan rekaman pita yang hanya dapat merekam suara saja dalam memberikan penilaian keterampilan berbicara siswa maupun mengetahui aktivitas siswa selama

pembelajaran. Aktivitas siswa yang diuraikan dari hasil rekaman video ini meliputi aktivitas siswa ketika menerima/ menyaksikan model yang

144 peneliti berikan, aktivitas siswa ketika mendiskusikan masalah yang diterima beserta pemaparan hasil diskusi tersebut di depan kelas, dan proses diskusi yang dilaksanakan siswa serta keterampilan berbicara siswa pada siklus II. Hasil selengkapnya dijelaskan pada uraian berikut. Pada saat diberikan/ diputarkan model, antusias siswa sangat baik. Mereka memperhatikan model yang peneliti berikan dengan seksama. Sambil memperhatikan, siswa juga terlihat ada yang mencatat hal-hal yang ditemukan dari model tersebut. Ada juga siswa yang berbicara ketika diberikan model, namun tidak sampai mengganggu teman lain. Rekaman aktivitas siswa pada kegiatan ini dapat dilihat pada lintasan (track) 2 CD yang dilampirkan. Aktivitas siswa ketika mendiskusikan masalah yang diterima beserta pemaparan hasil diskusi tersebut di depan kelas sangat baik. Bersama dengan teman sekelompoknya, siswa memperhatikan model yang peneliti berikan melalui LCD dan mencatat hal-hal yang mereka temukan dari pemutaran model tersebut seperti yang peneliti minta. Ada beberapa siswa yang berbicara, namun tidak sampai mengganggu mengganggu kelompok lain yang sedang memperhatikan model yang diputarkan. Ketika wakil kelompok yang mendapatkan undian untuk mempresentasikan hasil kerjanya di depan kelas berkaitan dengan halhal yang ditemukan dari pemutaran model tersebut tampil, siswa yang lain memperhatikannya dengan baik. Mereka sependapat dengan hasil

145 kerja kelompok yang tampil itu. Rekaman aktivitas siswa pada kegiatan ini dapat dilihat pada lintasan (track) 3 CD yang dilampirkan. Selanjutnya, diskusi yang dilaksanakan siswa pada siklus II ini sudah baik. Mereka mampu melaksanakan diskusi dari awal hingga akhir. Siswa sudah tahu apa yang harus mereka lakukan sesuai dengan peran dan tugasnya masing-masing. Proses diskusi pada siklus II ini lebih baik daripada siklus I, karena para peserta (siswa lain) mengikutinya dengan baik dan suasananya lebih kondusif

dibandingkan dengan proses diskusi pada siklus I. Pembicaraan siswa pada siklus II sudah baik dalam memberikan pendapat/ jawaban. Umumnya, mereka sudah dapat menguasai materi yang peneliti berikan. Hal ini terlihat dari isi pembicaraan mereka dalam diskusi tersebut. Rasa kurang percaya diri dan grogi ketika berbicara di depan kelas sudah berkurang pada siklus II ini. Rekaman proses berlangsungnya diskusi pada siklus II ini dapat dilihat pada lintasan (track) 4 dan seterusnya CD yang dilampirkan.

B. Pembahasan Penelitian tindakan kelas ini dilakukan dalam dua siklus, yang masingmasing siklus dilakukan melalui empat tahap, yaitu perencanaan, pengamatan, tindakan, dan refleksi. Siklus II dilakukan sebagai pelaksanaan tindakan yang merupakan perbaikan pembelajaran dari siklus I. Untuk memperoleh hasil penelitian, dilakukan penjaringan data tes dan nontes dengan menggunakan

146 instrumen tes dan nontes, baik pada siklus I maupun siklus II. Dari hasil tersebut diketahui taraf peningkatan keterampilan berbicara siswa dan efektivitas penggunaan pendekatan kontekstual fokus pemodelan. Berikut ini disajikan paparan peningkatan keterampilan berbicara siswa dan efektivitas penggunaan pendekatan kontekstual fokus pemodelan. Berdasarkan hasil tes keterampilan berbicara dalam ragam formal melalui diskusi dengan pendekatan kontekstual fokus pemodelan diperoleh hasil bahwa siswa mengalami peningkatan nilai sebesar 7,8%, yaitu dari 73,4% pada siklus I meningkat menjadi 81,2% pada siklus II. Meningkatnya nilai rata-rata siswa dari 73,4 pada siklus I menjadi 81,2 pada siklus II ini terjadi akibat adanya perbaikan pada siklus II dari refleksi pada siklus I dan masukan para siswa dari jurnal siswa dan wawancara. Tindakan perbaikan tersebut meliputi penggantian model yang diberikan dalam pembelajaran, yaitu model diskusi formal (terstruktur komponen-komponennya), yang sebelumnya diberikan model diskusi nonformal (tidak terstruktur). Upaya perbaikan ini merupakan hasil refleksi pada siklus I. Kemudian, dilakukan pula penggantian cara pembentukan kelompok. Pada siklus I, pembentukan kelompok dilakukan dengan cara berhitung 1 – 10 secara bergantian hingga siswa urutan terakhir. Siswa yang menyebut angka 1 bergabung menjadi satu kelompok, siswa yang menyebut angka 2 bergabung menjadi satu kelompok, demikian seterusnya. Pembentukan kelompok dengan cara ini menyebabkan adanya satu kelompok yang anggotanya terdiri atas siswa yang pintar-pintar saja dan ada pula kelompok yang anggotanya terdiri

147 atas siswa yang kemampuannya biasa-biasa saja, sehingga komposisi anggota kelompok tidak merata. Untuk mengatasi hal ini, pada siklus II peneliti membentuk kelompok kembali dengan cara menentukan 10 siswa yang peneliti anggap memiliki keterampilan berbicara yang baik dalam siklus I sebagai ketua kelompok, kemudian siswa tersebut menentukan sendiri anggotanya. Dengan cara itu komposisi anggota kelompok yang terbentuk merata, tidak ada kelompok yang terdiri atas siswa-siswa yang pintar atau siswa-siswa yang kurang pintar. Pengubahan komposisi kelompok ini merupakan hasil refleksi pada siklus I dan masukan dari siswa yang diketahui dari jurnal yang mengatakan bahwa anggota kelompok yang dibentuk pada siklus I kurang merata karena ada kelompok yang anggotanya terdiri atas siswa yang pintar dan ada kelompok yang anggotanya terdiri atas siswa yang kemampuannya biasa saja, sehingga ada siswa yang bergantung pada anggota yang lain. Materi/ masalah diskusi yang peneliti berikan tidak peneliti ubah karena siswa senang dengan materi/ masalah yang peneliti berikan, yaitu masalah-masalah seputar dunia siswa yang dekat dengan kehidupan siswa di sekolah. Hal ini diketahui hasil refleksi pada siklus I dan masukan dari siswa yang diketahui dari hasil jurnal dan wawancara. Jadi, materi/ masalah diskusi masih peneliti pertahankan karena siswa senang dengan materi/ masalah diskusi yang peneliti berikan. Pada siklus I, keterampilan berbicara siswa melalui diskusi kurang memuaskan dan suasana kelas selama proses pembelajaran berlangsung

148 kurang kondusif dengan adanya siswa yang lebih bergantung pada teman lain dan berbicara sendiri sehingga mengganggu siswa yang lain. Hal ini disebabkan oleh kondisi fisik dan mental siswa yang lelah mengikuti 17 mata pelajaran yang diajarkan kepadanya. Sesuai kurikulum 2004, siswa SMA kelas X mendapatkan 17 mata pelajaran yang menjelang akhir semester ini hampir semua guru memberikan tugas, baik individu maupun kelompok, yang membutuhkan waktu, tenaga dan pikiran yang banyak untuk menilai ketuntasan belajar siswa. Selain itu, pembelajaran keterampilan berbicara melalui diskusi ini masih dirasakan baru oleh siswa sehingga pola pembelajaran ini merupakan proses awal bagi siswa untuk menyesuaikan diri dalam belajar. Ketika tampil di depan, masih banyak siswa yang merasa gugup, menggunakan intonasi seperti orang membaca, dan ada yang masih memakai kata-kata ragam santai atau bahasa Jawa. Walaupun pada siklus I hasil tes keterampilan berbicara siswa kurang memuaskan dan suasana kelas selama proses pembelajaran berlangsung kurang kondusif, namun pada proses selanjutnya hasil yang dicapai sudah memuaskan dan suasana kelas selama proses pembelajaran berlangsung lebih kondusif. Perubahan itu tidak lepas dari tindakan-tindakan yang peneliti lakukan dan pemberian motivasi kepada siswa untuk memperbaiki kekurangan-kekurangan yang ada serta motivasi kepada siswa untuk memahami pentingnya keterampilan berbicara dalam kehidupan sehari-hari. Hal ini peneliti lakukan untuk memotivasi siswa agar mereka sadar dan mau berlatih berbicara dengan sungguh-sungguh. Dengan bekal motivasi yang

149 tinggi akan lebih mudah bagi siswa untuk menerima dan mengikuti proses pembelajaran. Kondisi pembelajaran yang di dalamnya diwarnai dengan antusias siswa dalam mengikuti proses pembelajaran merupakan bukti bahwa kelas tersebut hidup. Oleh karena nilai rata-rata hasil belajar para siswa yang diperoleh telah menunjukkan peningkatan sesuai dengan yang telah ditetapkan, maka penelitian ini dianggap berhasil dan tidak diulang pada siklus berikutnya. Peningkatan keterampilan berbicara siswa tersebut sebenarnya meliputi peningkatan kesebelas aspek di dalamnya. Sebagai gambaran, perolehan nilai rata-rata tiap aspek pada siklus I dan siklus II beserta perbandingan dan peningkatan tiap-tiap aspek keterampilan berbicara tersebut disajikan dalam tabel 28 berikut ini. Tabel 28. Perbandingan Nilai Tiap-tiap Aspek Keterampilan Berbicara Siklus Siklus % No. Aspek I II Peningkatan 1 Ketepatan Ucapan 75.5 81.5 6.0 2 Penempatan Tekanan 68.2 73.7 5.5 3 Penempatan Jeda 72.1 80.8 8.7 4 Intonasi 72.3 79.4 7.1 5 Pilihan Kata 74.2 83.3 9.1 6 Pemakaian Kalimat 74.2 84.2 10.0 7 Sikap, Gerak-gerik dan Mimik 71.7 80.4 8.7 8 Volume Suara 75.4 81.3 5.9 9 Pandangan Mata 72.9 78.6 5.6 10 Penguasaan Topik 75.6 85.4 9.7 11 Kelancaran 75.5 85.0 9.5 Nilai Rata-rata 73.4 81.2 7.8 Berdasarkan rekapitulasi data hasil tes keterampilan berbicara dari siklus I ke siklus II sebagaimana tersaji dalam tabel 28 di atas, dapat

150 dijelaskan bahwa keterampilan berbicara siswa pada setiap aspek penilaian keterampilan berbicara mengalami peningkatan. Pada aspek ketepatan ucapan, keterampilan siswa meningkat 6,0%. Aspek penempatan tekanan mengalami peningkatan sebesar 5,5%. Aspek penempatan jeda meningkat sebesar 8,7%. Selanjutnya, aspek intonasi mengalami peningkatan sebesar 7,1%. Aspek pilihan kata meningkat sebesar 9,1%. Adapun aspek pemakaian kalimat meningkat sebesar 10%. Aspek sikap, gerak-gerik dan mimik yang wajar meningkat sebesar 8,7%. Aspek volume suara mengalami peningkatan sebesar 5,9%. Aspek pandangan mata meningkat sebesar 5,6%. Aspek penguasaan topik meningkat sebesar 9,7%, dan aspek kelancaran mengalami peningkatan sebesar 9,5%. Jadi secara keseluruhan, keterampilan berbicara siswa mengalami peningkatan sebesar 7,8% dari 73,4% pada siklus I menjadi 81,2% pada siklus II. Peningkatan-peningkatan tersebut tentunya disebabkan oleh beberapa faktor, baik faktor internal maupun faktor eksternal siswa itu sendiri. Berdasarkan analisis situasi, diketahui bahwa kondisi pembelajaran pada siklus II lebih menunjukkan pembelajaran yang kondusif. Pada siklus II ini siswa lebih antusias mengikuti proses pembelajaran dengan segala tugas yang diberikan oleh guru. Siswa terlihat antusias mengikuti proses berlangsungnya diskusi dengan ditandai oleh semangat dalam mengajukan pertanyaan, sanggahan ataupun mengajukan pendapat kepada kelompok yang tampil berkaitan dengan hasil kerjanya mengenai alternatif-alternatif pemecahan masalah yang diterima. Suasana kelas pun cukup tenang tidak seperti pada

151 siklus I, meskipun masih ada siswa yang bicara sendiri. Perhatian siswa tertuju pada seluruh proses pembelajaran. Ketika diberikan model, siswa

memperhatikan model yang diberikan dan mencatat hal-hal yang ditemukan/ bisa ditiru dari pemberian model tersebut. Setelah menerima materi/ masalah diskusi, siswa saling bekerja sama mendiskusikan alternatif-alternatif pemecahan masalah yang diterima. Pada saat diskusi berlangsung, siswa/ kelompok yang tampil membagi peran. Ada yang berperan sebagai

moderator, penyaji, notulis. Siswa/ kelompok lain berperan sebagai peserta diskusi. Mereka sibuk dengan aktivitas masing-masing sesuai dengan peran dan tugasnya. Moderator mengatur jalannya diskusi, penyaji memaparkan masalah beserta alternatif-alternatif pemecahannya, notulis mencatat kejadiankejadian selama diskusi berlangsung, sedangkan peserta memperhatikan dan memberikan tanggapan terhadap kelompok yang tampil. Dengan demikian, interaksi pembelajaran berlangsung lancar dan efektif. Selanjutnya, faktor internal dan eksternal yang mempengaruhi hasil pembelajaran siswa dijelaskan berikut ini. Berdasarkan analisis, faktor internal yang berpengaruh adalah adanya dorongan yang muncul dari dalam diri siswa itu sendiri. Berdasarkan hasil wawancara maupun jurnal, didapatkan informasi bahwa siswa akan berusaha mengatasi kesulitan-kesulitan yang dialami ketika berbicara melalui diskusi pada siklus I dengan cara berlatih agar tidak merasa gugup lagi dan lebih percaya diri ketika berbicara di depan banyak orang. Selain itu, siswa juga merasakan manfaat yang besar dari pembelajaran keterampilan berbicara melalui diskusi ini. Manfaat yang diperoleh itu antara

152 lain siswa memperoleh pengalaman, pengetahuan maupun suasana baru dalam belajar. Siswa juga dapat mengukur tingkat keterampilan berbicaranya (merefleksi diri), dapat menjadikan pembelajaran ini sebagai sarana untuk melatih keterampilan berbicara di depan umum dalam situasi formal, dan menciptakan kebersamaan di antara siswa dengan bekerja sama dalam kelompok. Kemudian, faktor eksternal yang mendukung keberhasilan

pembelajaran keterampilan berbicara melalui diskusi ini lebih mengarah pada program pembelajaran di sekolah. Penelitian tindakan kelas ini dilakukan pada siswa kelas X-4 SMA Negeri I Jepara menjelang akhir semester, di mana sesuai kurikulum 2004 ini, siswa SMA kelas X mendapatkan 17 mata pelajaran yang menjelang akhir semester ini hampir semua guru memberikan tugas, baik individu maupun kelompok, yang membutuhkan waktu, tenaga dan pikiran yang banyak untuk menilai ketuntasan belajar siswa. Hal yang mendukung keberhasilan pembelajaran ini adalah pada siklus II sebagian besar tugas yang diberikan kepadanya sudah diselesaikan. Jadi, perasaan siswa pada siklus II ini agak lebih lega karena telah menyelesaikan tugas-tugas sekolah yang lainnya, sehingga lebih antusias mengikuti proses pembelajaran pada siklus II. Pada intinya, siswa senang mengikuti pembelajaran keterampilan berbicara melalui diskusi ini. Hal ini diketahui dari jurnal guru, jurnal siswa, wawancara, dan observasi. Memang, kondisi siswa pada siklus I menunjukkan kondisi yang kurang bersemangat/ antusias dalam mengikuti proses

153 pembelajaran. Selain hasil belajar siswa yang masih rendah, kondisi kelas juga belum kondusif. Gambaran situasi tersebut dapat dilihat pada rekaman pita ketika diskusi berlangsung. Dari rekaman tersebut kita ketahui bahwa banyak siswa yang berbicara sendiri ketika siswa/ kelompok lain tampil di depan kelas menyajikan hasil kerjanya. Dalam hal pembentukan kelompok, siswa menanggapinya dengan baik pula, bahkan mereka mengusulkan cara pembentukannya. Pembentukan kelompok pada siklus I disepakati dilakukan dengan cara berhitung 1 – 10 secara bergantian hingga siswa urutan terakhir. Siswa yang menyebut angka 1 bergabung menjadi satu kelompok, siswa yang menyebut angka 2 bergabung menjadi satu kelompok, demikian seterusnya. Hasilnya, kelompok yang terbentuk komposisi anggotanya kurang merata. Ada kelompok yang anggotanya terdiri atas siswa yang pintar dan ada kelompok yang anggotanya terdiri atas siswa yang kemampuannya biasa-biasa saja. Selain itu, ada siswa yang lebih bergantung pada teman/ anggota yang lain saja. Terkait dengan model yang diberikan, siswa menanggapinya dengan sangat baik. Hal itu dapat dilihat pada jurnal yang diisi siswa. Sebagian besar siswa mengemukakan bahwa adanya model dalam pembelajaran dapat memberikan gambaran atau contoh bagi siswa untuk dapat melaksanakan diskusi atau untuk dapat berbicara dengan baik dalam diskusi. Model yang diberikan adalah model audio visual, sehingga gambaran yang diperoleh siswa lebih lengkap dan jelas.

154 Pada siklus I ini, siswa menyenangi materi/ masalah diskusi yang peneliti berikan. Materi/ masalah yang peneliti berikan adalah materi/ masalah seputar dunia siswa yang dekat dengan kehidupannya di sekolah. Hal ini diketahui dari jurnal siswa maupun wawancara. Menurut siswa, materi/ masalah yang cocok didiskusikan di dalam kelas adalah materi/ masalah yang dekat dengan kehidupan mereka di sekolah seperti yang telah peneliti berikan. Selanjutnya, dari jurnal maupun wawancara diketahui bahwa siswa merasa kurang percaya diri, gugup atau grogi ketika berbicara di depan kelas, sehingga berpengaruh pada hasil tes keterampilan berbicara siswa. Kondisi tersebut disebabkan kurang terbiasanya siswa melakukan aktivitas berbicara di depan umum dalam suasana formal. Dengan demikian, tidak mengherankan jika siswa masih merasa kurang percaya diri, gugup atau grogi ketika berbicara di depan umum. Meskipun hasil tes keterampilan berbicara siswa pada siklus I belum termasuk pada kategori baik, namun setidaknya ada upaya berupa usaha siswa untuk memperbaiki kesulitan-kesulitan yang ditemui dengan cara berlatih agar dapat berbicara di depan umum dengan baik. Hal ini dapat dilihat dari hasil jurnal yang diisi siswa maupun wawancara pada siklus I. Kekurangan-kekurangan yang terjadi pada siklus I selanjutnya diperbaiki dan ditingkatkan pada siklus II. Pada siklus II, perencanaan dilakukan dengan lebih matang, sehingga hasil yang dicapai pun menunjukkan peningkatan. Ada dua instrumen yang diganti pada siklus II dan ada satu instrumen yang ditambahkan pada siklus I. Instrumen yang diganti adalah

155 instrumen nontes yang berupa dokumentasi foto dan rekaman pita, Kedua instrumen tersebut diganti dengan rekaman video. Hal ini dilakukan karena rekaman video dapat merekam gambar dan suara (audio visual), sehingga data-data instrumen ini lebih jelas dan lengkap serta analisis lebih akurat. Data yang ditambahkan pada siklus II ini adalah sosiometri (lembar observasi siswa) untuk mengetahui aktivitas/ kinerja siswa dalam kelompoknya. Kedua instrumen ini dilakukan untuk mengantisipasi/ melengkapi kekurangan hasil dan analisis data. Selain itu, kedua data dari instrumen nontes tersebut digunakan untuk memperkuat analisis sehingga hasil penelitian yang didapat lebih valid dan lebih dapat dipertanggungjawabkan. Suasana belajar pada siklus II ini lebih kondusif. Siswa senang mengikuti pembelajaran keterampilan berbicara melalui diskusi ini. Siswa sangat antusias mengikuti pembelajaran. Pembelajaran keetrampilan ini dapat dijadikan siswa sebagai sarana rekreasi untuk menyegarkan pikiran kembali setelah lelah fisik dan mentalnya mengikuti pelajaran di kelas. Apalagi, berdasarkan kurikulum 2004, siswa SMA kelas X mendapatkan 17 mata pelajaran yang menjelang akhir semester II ini hampir semua guru mata pelajaran di kelasnya memberikan tugas, baik individu maupun kelompok, yang membutuhkan banyak waktu, tenaga, dan pikiran untuk

menyelesaikannya. Namun, pada siklus II ini sebagian besar tugas-tugas tersebut sudah mereka selesaikan, sehingga beban siswa berkurang. Hal ini diketahui dari tanya-jawab peneliti dengan guru mata pelajaran di kelas itu dan tanya-jawab dengan siswa di luar kelas.

156 Ketika diminta untuk membentuk kelompok, siswa meminta agar formasi diubah, karena formasi kelompok pada siklus I kerja sama siswa kurang baik. Pada siklus II ini formasi kelompok peneliti ubah. Pembentukan kelompok pada siklus II ini dilakukan dengan cara menentukan 10 siswa yang peneliti anggap memiliki keterampilan berbicara yang baik pada siklus I untuk menjadi ketua kelompok dan menentukan sendiri anggota kelompoknya. Dengan cara ini komposisi setiap anggota lebih merata sehingga tidak ada siswa yang lebih bergantung pada temannya yang lain. Hal ini juga berpengaruh pada kerja sama siswa antara siswa dengan anggota kelompoknya yang lain. Pada siklus II ini kerja sama siswa dalam kelompok sangat baik. Mereka saling bertukar pikiran, memberikan ide/ gagasan masing-masing dalam kerja kelompok itu dan tidak bergantung pada salah satu anggota kelompok saja. Kerja sama siswa yang sangat baik dalam kelompok ini dapat diketahui dari jurnal siswa, wawancara, dan sosiometri. Terkait dengan model yang diberikan, siswa menanggapinya dengan sangat baik. Hal itu dapat dilihat pada jurnal yang diisi siswa. Sebagian besar siswa mengemukakan bahwa adanya model dalam pembelajaran dapat memberikan gambaran atau contoh bagi siswa untuk dapat melaksanakan diskusi atau untuk dapat berbicara dengan baik dalam diskusi. Model yang diberikan adalah model audio visual, sehingga gambaran yang diperoleh siswa lebih lengkap dan jelas. Model diskusi yang peneliti berikan pada siklus II lebih terstruktur dan dalam suasana formal, sehingga lebih memberikan gambaran kepada siswa untuk dapat melaksanakan diskusi dan berbicara

157 dengan baik dalam diskusi. Siswa mengemukakan bahwa model yang kedua ini lebih dapat membantunya untuk dapat melaksanakan diskusi dan berbicara dengan baik dalam diskusi tersebut. Hal ini dapat dilihat dari jurnal dan wawancara. Dalam hal materi/ masalah diskusi, peneliti tidak mengubah topik materi/ masalah yang akan didiskusikan. Hal ini disebabkan siswa senang dekat dengan materi/ masalah yang peneliti berikan. Materi/ masalah tersebut adalah materi/ masalah seputar dunia siswa yang dekat dengan kehidupan mereka di sekolah. Hal ini diketahui dari hasil jurnal siswa dan wawancara, baik pada siklus I maupun siklus II. Menurut siswa, materi/ masalah yang cocok didiskusikan di dalam kelas adalah masalah-masalah seputar dunia siswa yang dekat dengan kehidupan mereka di sekolah, seperti yang peneliti berikan. Selanjutnya, dari jurnal, wawancara, dan rekaman video diketahui bahwa keterampilan berbicara siswa pada siklus II ini lebih baik daripada siklus sebelumnya. Siswa sudah tidak lagi merasa kurang percaya diri, gugup atau grogi ketika berbicara di depan kelas, sehingga hasil tes keterampilan berbicara siswa pada siklus II meningkat. Hal ini tidak lepas dari tindakantindakan yang peneliti lakukan, antara lain pengubahan formasi kelompok agar merata komposisi anggotanya, penggantian model diskusi dengan model diskusi dalam suasana formal, dan motivasi kepada siswa agar menghilangkan perasaan-perasaan itu agar pada diskusi berikutnya siswa lebih lancar dalam berbicara. Hasilnya, keterampilan berbicara siswa meningkat sebesar 7,8%

158 dari 73,4% pada siklus I menjadi 81,2% pada siklus II, dan siswa menunjukan perubahan perilaku ke arah perilaku positif selama mengikuti proses pembelajaran, sehingga suasana pembelajaran lebih kondusif. Berdasarkan serangkaian analisis instrumen penjaring data, diperoleh hasil bahwa ada kesinambungan antara data yang satu dengan data yang lain, baik data tes maupun nontes, untuk mengetahui peningkatan keterampilan berbicara siswa dan efektivitas penggunaan pendekatan kontekstual fokus pemodelan. Berdasarkan hasil analisis tersebut diketahui bahwa keterampilan berbicara siswa meningkat sebesar 7,8% dari 73,4% pada siklus I menjadi 81,2% pada siklus II, dan pendekatan kontekstual fokus pemodelan efektif digunakan dalam pembelajaran dengan memberikan materi seputar dunia siswa yang dekat dengan kehidupan mereka di sekolah serta adanya model dalam pembelajaran yang bisa ditiru siswa. Sama halnya dengan penelitian sejenis yang pernah dilakukan oleh para peneliti lain, penelitian tindakan kelas yang peneliti lakukan ini mampu menunjukkan peningkatan nilai rata-rata yang diperoleh siswa. Oleh karena itu, penelitian ini dianggap berhasil dan tidak diulang pada siklus berikutnya.

BAB V SIMPULAN DAN SARAN

A. Simpulan Berdasarkan rumusan masalah, hasil penelitian, dan pembahasan dalam penelitian ini, dapat disimpulkan bahwa: 1. Keterampilan berbicara siswa kelas X-4 SMA Negeri I Jepara Tahun Pelajaran 2004/2005 meningkat setelah mengikuti pembelajaran dengan menggunakan pendekatan kontekstual fokus pemodelan. Peningkatan itu terlihat dari perubahan nilai rata-rata dari siklus I ke siklus II sebesar 7,8%. Pada siklus I, nilai rata-rata yang diperoleh siswa sebesar 73,4%, sedangkan pada siklus II, hasil yang dicapai sebesar 81,2%. Peningkatan nilai tes keterampilan berbicara ini meliputi seluruh aspek keterampilan berbicara yang dijadikan kriteria penilaian. Aspek-aspek tersebut adalah 1) ketepatan ucapan, 2) penempatan tekanan, 3) penempatan jeda, 4) intonasi, 5) pilihan kata, 6) pemakaian kalimat, 7) sikap, gerak-gerik dan mimik yang wajar, 8) volume suara, 9) pandangan mata, 10) penguasaan topik, dan 11) kelancaran. Aspek ketepatan ucapan meningkat sebesar 6,0%. Aspek penempatan tekanan meningkat sebesar 5,5%. Aspek penempatan jeda meningkat sebesar 8,7%. Aspek intonasi meningkat sebesar 7,1%. Aspek pilihan kata meningkat sebesar 9,1%. Aspek pemakaian kalimat meningkat sebesar 10%. Selanjutnya, sspek sikap, gerak-gerik dan mimik yang wajar meningkat sebesar 8,7%. Aspek volume suara meningkat 159

160

sebesar 5,9%. Aspek pandangan mata meningkat sebesar 5,6%. Aspek penguasaan topik meningkat sebesar 9,7%, dan aspek kelancaran meningkat sebesar 9,5%. Dari sebelas aspek keterampilan berbicara tersebut, yang mengalami peningkatan tertinggi adalah aspek pemakaian kalimat sebesar 10%, sedangkan aspek yang terrendah peningkatannya adalah aspek penempatan tekanan sebesar 5,5%. 2. Siswa mengalami perubahan perilaku dalam pembelajaran ke arah positif. Perilaku tersebut yaitu siswa lebih antusias mengikuti pembelajaran pada siklus II, saling bekerja sama dalam kelompok, tidak merasa gugup ataupun kurang percaya diri ketika berbicara di depan umum dalam forum resmi.

B. Saran Berdasarkan pembahasan dan simpulan di atas, peneliti memiliki saran sebagai berikut: 1. Para guru Bahasa dan Sastra Indonesia hendaknya kreatif dalam menentukan pendekatan dalam pembelajaran keterampilan berbicara siswa agar siswa tidak merasa jenuh mengikuti pembelajaran; 2. Pendekatan kontekstual fokus pemodelan terbukti mampu meningkatkan keterampilan berbicara siswa melalui diskusi. Oleh karena itu, para guru Bahasa dan Sastra Indonesia dapat menggunakan teknik diskusi dengan pendekatan kontekstual fokus pemodelan untuk membelajarkan

keterampilan berbicara;

161

3. Para guru bidang studi lain dapat mengadaptasi teknik pembelajaran ini dalam membelajarkan mata pelajaran kepada siswa; dan 4. Para pakar atau praktisi bidang pendidikan bahasa dapat melakukan penelitian sejenis dengan teknik pembelajaran yang berbeda, sehingga didapatkan berbagai alternatif teknik pembelajaran keterampilan berbicara siswa.

162

DAFTAR PUSTAKA

Arsjad, Maidar G dan Mukti US. 1988. Pembinaan Kemampuan Berbicara Bahasa Indonesia. Jakarta: Erlangga Depdiknas. 2002. Pendekatan Kontekstual (Contextual Teaching and Learning). Jakarta: Departemen Pendidikan Nasional Depdiknas. 2003. Kurikulum 2004. Standar Kompetensi Mata Pelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia SMA dan MA. Jakarta: Departemen Pendidikan Nasional Depdiknas. 2004. Bahan Pelatihan Terintegrasi Berbasis Kompetensi Guru SMP: Pengembangan Keterampilan Berbicara. Jakarta: Departemen Pendidikan Nasional Hartono, Bambang. 2003. Kurikulum Berbasis Kompetensi Mata Pelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia. Makalah: Disajikan dalam Workshop Implementasi Life Skill dan Budi Pekerti dalam Pembelajaran Bahasa Indonesia Berdasarkan Kurikulum Berbasis Kompetensi, Tim Pengembang Kurikulum Bahasa Indonesia Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia Fakultas Bahasa dan Seni Universitas Negeri Semarang, Semarang, 4 s.d. 11 Agustus 2003. Hidayah, Nur. 2002. Peningkatan Keterampilan Berbicara dengan Teknik Reka Cerita Gambar pada Siswa Kelas I C MA Al-Asror Patemon Gunungpati, Semarang. Skripsi: Universitas Negeri Semarang Keraf, Gorys. 1997. Komposisi: Sebuah Pengantar Kemahiran Bahasa. Ende: Nusa Indah Larasati. 2004. Peningkatan Keterampilan Berbicara Melalui Teknik Debat pada Siswa Kelas III PS 4 SMKN 8 Semarang Tahun Ajaran 2003/2004. Skripsi: Universitas Negeri Semarang Mafrukhi. 2003. Pelaksanaan Kurikulum Berbasis Kompetensi mata Pelajaran Bahasa Indonesia di Jawa Tengah. Makalah Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Jawa Tengah: Disajikan dalam Seminar Regional Jurusan Sastra Indonesia Fakultas Bahasa dan Seni Universitas Negeri Semarang, Semarang, 5 Mei 2003 Paiman. 2001. Peningkatan Keterampilan Berbicara dengan Teknik Simulasi pada Siswa Kelas II SLTPN 2 Subah, Batang. Skripsi: Universitas Negeri Semarang

163

Riastuti, Rini. 2003. Peningkatan Keterampilan Berbicara Melalui Media Audio pada Siswa Kelas V SDN Yamansari 03 Kabupaten Tegal. Skripsi: Universitas Negeri Semarang Sumarwati. 1999. Peningkatan Keterampilan Berbicara Siswa Melalui Teknik Bermain Peran di SLTPN 8 Pati. Skripsi: Universitas Negeri Semarang

Sutopo. 2000. Upaya Peningkatan Keberanian Berbicara dalam Pembelajaran Menanggapi Isi Berita Melalui Pemberian Penguatan dan Penggunaan Media Audio pada Siswa Kelas III SLTPN 1 Wedung Kabupaten Demak Tahun Ajaran 2000/2001. Skripsi: Universitas Negeri Semarang Syafi’ie, Imam. 1993. Terampil Berbahasa Indonesia I. Petunjuk Guru Bahasa Indonesia SMU Kelas 1. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Tarigan, Djago, dkk. 2003. Pendidikan Keterampilan Berbahasa. Jakarta: Pusat Penerbitan Universitas Terbuka Tarigan, Henry Guntur. 1990. Berbicara: Sebagai Suatu Keterampilan Berbahasa. Cet. Ke-10. Bandung: Angkasa Tim Pelatih Proyek PGSM. 1999. Penelitian Tindakan Kelas (Classroom Action Research). Jakarta: Depdikbud. Dirjen Dikti P2GSM Tim Pengembang Kurikulum Bahasa Indonesia Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia Fakultas Bahasa dan Seni Universitas Negeri Semarang. 2003. Strategi Pembelajaran Bahasa Indonesia dengan Pendekatan Kontekstual. Makalah: Disajikan dalam Workshop Implementasi Life Skill dan Budi Pekerti dalam Pembelajaran Bahasa Indonesia Berdasarkan Kurikulum Berbasis Kompetensi, Tim Pengembang Kurikulum Bahasa Indonesia Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia Fakultas Bahasa dan Seni Universitas Negeri Semarang, Semarang, 4 s.d. 11 Agustus 2003. Yuniawan, Tommi. 2003. Paparan Perkuliahan Berbicara I/ Retorika. Fakultas Bahasa dan Seni Universitas Negeri Semarang Zulaeha, Ida. 2003. Strategi Pembelajaran dengan Pendekatan Kontekstual Mata Pelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia. Makalah: Disajikan dalam Seminar Regional Jurusan Sastra Indonesia Fakultas Bahasa dan Seni Universitas Negeri Semarang, Semarang, 5 Mei 2003

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->