P. 1
1562

1562

|Views: 488|Likes:
Published by safran

More info:

Published by: safran on Sep 16, 2010
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

05/12/2013

pdf

text

original

PERSETUJUAN PEMBIMBING

Skripsi ini telah disetujui oleh pembimbing untuk diajukan kesidang panitia ujian skripsi pada: Hari: Tanggal:

Pembimbing I

Pembimbing II

Dras. C. Santi M. Utami, M.Hum NIP.13111876210

Drs. R. Soeharso, M.Pd NIP.131691527

Mengetahui: Ketua Jurusan Sejarah

Drs. Jayusman, M.Hum NIP. 131764053

ii

PENGESAHAN KELULUSAN Skripsi ini telah dipertahankan didepan sidang panitia ujian skripsi Fakultas Ilmu Sosial Universitas Negeri Semarang pada: Hari Tanggal : Senin : 30 Januari 2006

Penguji Skripsi

Drs. Ba’in, M.Hum NIP. 131876207

Anggota I

Anggota II

Dra. C. Santi M. Utami, M.Hum NIP.13111876210

Drs. R. Soeharso, M.Pd NIP.131691527

Mengetahui: Dekan

Drs. Sunardi, M.M NIP. 130367998

iii

PERNYATAAN

Saya menyatakan bahwa yang tertulis di dalam skripsi ini benar-benar hasil karya saya sendiri, bukan jiplakan dari karya tulis orang lain, baik sebagian atau seluruhnya. Pendapat/ temuan orang lain yang terdapat dalam skripsi ini dikutip/ dirujuk berdasar kode etik ilmiah.

Semarang,

Desember 2005

Agus purwati Nim.3101401022

iv

MOTTO DAN PERSEMBAHAN MOTTO (1) Cobaan tidak hanya kesusahan saja tetapi juga kesenangan, Jangan pernah menyerah sebelum berjuang, selama masih ada semangat dan nafas (Penulis). (2) Janganlah kamu merasa lemah dan jangan susah karena kamu pasti menang asal kamu sumgguh-sumggud dan mukmin (QS.Al-imron: 139)

Karya kecil ini kupersembahkan untuk: 1). Bapak dan Ibu terkasih. 2). Kakakku (Mba Gati+suami, Mas Rohman+istri, Mas Pujo, Mba Nelly, Mas Wono, Mba EnY) 3). Sahabatku (Masandi) 4). Asmi, Dewi, Hera, Herna, Viki, Endang, Mas Eko, Makfud dan semua Sahabat angkatan 2001, 5). Sahabaku Edel weys (Eka, Mba iko, Mba Urip, Mia dan ade-ade) 6). Almamaterku.

v

SARI Agus Purwati. 2005. Gerakan Nelayan Cilacap Di Tengah Kebijakan Ekonomi Kemaritiman Orde Baru (Sebuah Tinjauan Historis Kasus Nelayan Cilacap Tahun 1978-1998). Jurusan Sejarah Fakultas Ilmu Sosial Universitas Negeri Semarang. Kata Kunci: Nelayan, Revolusi Biru, Kebijakan Kemaritiman, Orde Baru. Nelayan merupakan satu komunitas yang selama ini terabaikan, karena peleburan perikanan dalam departemen pertanian. Keadaan ini semakin diperparah dengan dengan adanya kebijakan Blue Revolution yang bertujuan untuk kesejahteraan masyarakat nelayan namun hanya dinikmati oleh sekelompok orang yang menguasai teknologi penangkapan. Akibatnya timbullah ketegangan akibat adanya kesenjangan sosial, nelayan semakin terhimpit oleh kemiskinan. Permasalahan semakin kompleks dengan adanya toleran oleh aparat sipil/ militer kepada para pelanggaran hukum, berupa beroperasinya kapal-kapal trawl di perairan Cilacap yang jelas-jelas dilarang pemerintah. Berdasar pemikiran di atas disusun skripsi berjudul: “ Gerakan Nelayan DiTengah Kebijakan Ekonomi Kemaritiman Orde Baru (Sebuah Tinjauan Historis Kasus Nelayan Cilacap tahun 1978-1998)”. Permasalahan yang dikaji dalam penelitian skripsi ini adalah bagaimana kebijakan ekonomi kemaritiman Orde baru dalam bidang perikanan, bagaimana sejarah dan dinamika gerakan nelayan Cilacap di tengah kebijakan ekonomi kemaritiman Orde baru. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mendiskripsikan kabijakan-kebijakan ekonomi kemaritiman Orde baru dan mendiskripsikan sejarah dan dinamika perjuangan nelayan Cilacap dan pengaruhnya. Lokasi penelitian ini adalah Kabupaten Cilacap dengan batasan waktu antara tahun 1978-1998. Metode yang digunakan adalah metode sejarah (Historical methode) dimana penulis melakukan langkah-langkah sebagai berikut: 1). Heuristik, 2). Melakukan kritik sumber, 3). Melakukan interpretasi dan 4). Penulis melakukan penyajian dalam bentuk karya sejarah yang disusun secara kronologis dan tematis (Histiriografi). Dari penelitian ini diperoleh hasil sebagai berikut kebijakan masa Orde baru berupa Restruktusrisasi organisasi kemaritiman, modernisasi perikanan dan undang-undang perikanan. Kebijakan modernisasi memberi pengaruh yang besar terhadap kehidupan nelayan berupa ketegangan-ketegangan antara penguasa teknologi modern dengan tradisional dengan latar belakang kesenjangan sosial. Gerakan nelayan Cilacap diawali kedatangan nelayan Cina bagan yang kemudian mendominasi sektor perikanan di Cilacap. Perlawanan dilakukan tahun 1978-1980 menuntut penghapusan trawl, tahun 1982 menuntut penyelesaian alat modifikasi menyerupai trawl dan tahun 1998 menuntut pelebaran pintu sudetan dan penyelesaian masalah yang belum tuntas. Dari penelitian ini dapat ditarik kesimpulan bahwa kebijakan Orde baru berupa modernisasi perikanan/ Blue Revolution telah memberi dampak besar dalam masayarakat nelayan berupa ketegangan-ketegangan yang dilatar belakangi kesenjangan sosial, nelayan tradisional merasa tidak adil akibat berkurangnya

vi

hasil tangkapan. Gerakan nelayan Cilacap tahun 1978-1998 adalah merupakan bentuk reaksi atas berbagai kebijakan dengan berbagai permasalahan nelayan yang kompleks yang diakibatkan oleh peran organisasi nelayan dan pemerintah yang kurang menjalankan perannya sebagaimana mestinya.

vii

PRAKATA

Alhamdulillah, puji syukur senantiasa penulis panjatkan kehadirat alloh SWT yang telah melimpahkan rahmat, taufik dan hidayah-nya, sehingga penulis dapat menyelesaikan penyusunan skripsi dengan judul “Gerakan Nelayan Cilacap DiTengah Kebijakan Ekonomi Kemaritiam Orde Baru (Sebuah Tinjauan Historis Kasus Nelayan Cilacap tahun 1978-1998)”. Sebagai salah satu syarat guna mendapatkan gelar Sarjana Pendidikan pada Jurusan Sejarah, Program SI Pendidikan Sejarah Fakultas Ilmu Sosial. Pada kesempatan ini, perkenankanlah penulis menyampaikan rasa terima kasih yang sedalam-dalamnya kepada yang kami hormati: 1. Dr. H. Ari Tri Soegito, SH. MM., selaku Rektor Universitas Negeri Semarang . 2. Drs. Sunardi, MM., selaku Dekan Fakultas Ilmu sosial 3. Drs. Jayusman, M.Hum., selaku ketua jurusan sejarah Fakultas Ilmu Sosial 4. Dra. C. Santi M. Utami , M.Hum., selaku dosen pembimbing I yang telah memberikan bimbingan dan pengarahan kepada penulis dalam penyusunan skripsi. 5. Drs. R. Soeharso, M.Pd., selaku selaku dosen pembimbing II yang telah memberikan bimbingan dan pengarahan kepada penulis dalam penyusunan skripsi. 6. Drs. Ba’in, M.Hum, selaku dosen penguji yang telah menguji dan membimbing penulis dalam penyusunan skripsi.

viii

7. Kepala PPNC Cilacap yang telah membantu kelancaran penulisan skripsi ini dalam memperoleh informasi dan literature skripsi ini. 8. Kepala HNSI cabang Cilacap yang telah membantu kelancaran penulisan skripsi ini dalam memperoleh informasi dan literature skripsi ini. 9. Semua pihak yang telah membantu terlaksananya penelitian dan penulisan skripsi ini yang, tidak dapat disebutkan namanya satu persatu. Akhirnya penulis berharap semoga skripsi ini dapat bermanfaat bagi penulisan khususnya dan pembaca pada umumnya.

Semarang, 4 Desember 2005

Penulis

ix

DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL ............................................................................. PERSETUJUAN PEMBIMBING ....................................................... PENGESAHAN KELULUSAN ........................................................... PERNYATAAN..................................................................................... MOTTO DAN PERSEMBAHAN........................................................ SARI .......................................................................................................

i ii iii iv v vi

PRAKATA ............................................................................................. viii DAFTAR ISI.......................................................................................... DAFTAR LAMPIRAN ......................................................................... x xii

DAFTAR GAMBAR............................................................................. xiii

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah .......................................................... B. Permasalahan ............................................................................ C. Tujuan ....................................................................................... D. Manfaat ..................................................................................... E. Ruang Lingkup Penelitian........................................................ F. Tinjauan Pustaka ....................................................................... G. Metode Penelitian ..................................................................... H. Sistematika Skripsi ................................................................... 1 6 6 6 7 8 13 19

x

BAB II GAMBARAN UMUM KABUPATEN CILACAP A. Kondisi Fisik Daerah Penelitian……………………………………...20 B. Keadaan Alam………………………………………………………..24 C. Riwayat Singkat……………………………………………………...27 D. Kondisi Sosial Ekonomi...……………………………………………29 E. Kondisi Sosial Budaya……………………………………………….32 F. Lokasi Khusus Daerah Penelitian……………………………………33

BAB III SEJARAH KEBIJAKAN EKONOMI KEMARITIMAN DI INDONESIA A. Masa Hindia-Belanda sampai Orde Lama…………………………...34 1. Masa Hindia-Belanda……………………………………………...34 2. Masa Kemerdekaan………………………………………………..38 3. Masa Orde Lama…………………………………………………..42 B. Masa Orde Baru 1. Reorganisasi Lembaga Kelautan………………………………….44 2. Modernisasi Perikanan/ Blue Revolution…………………………46 3. Undang-undang Perikanan………………………………………..54 4. Jalur-jalur Penangkapan Ikan……………………………………..57

BAB IV DINAMIKA GERAKAN NELAYAN CILACAP TAHUN 1978-1998 A. Karakteristik Masyarakat Nelayan Cilacap…………………………..63 B. Permasalahan dan Awal Terjadinya Konflik Nelayan……………….65

xi

C. Gerakan Nelayan Cilacap Tahun 1978-1998………………………...80 1. Perjuangan Nelayan Cilacap Tahun 1978-1980………………….81 2. Perjuangan Nelayan Cilacap Tahun 1982………………………..84 3. Perjuangan Nelayan Cilacap Tahun 1998………………………..86 4. Model Perjuangan Nelayan Cilacap Tahun 1978-1998………….92 D. Pengaruh Gerakan Nelayan Cilacap………………………………….95

BAB V PENUTUP……………………………………………………………...100 DAFTAR PUSTAKA…………………………………………………………..106 LAMPIRAN-LAMPIRAN……………………………………………………...107

xii

DAFTAR LAMPIRAN

1. Lampiran 1: Peta Kabupaten Cilacap……………………………………...1 2. Lampiran 2: Garis Besar Instrumen Pertanyaan Penelitian……………….2 3. Lampiran 3: Biodata informan…………………………………………….3 4. Lampiran 4: Daftar Anggota Nelayan Cilacap…………………………….4 5. Lampiran 5: Bernas Tahun 1998 dan 2004………………………………..5 6. Lampiran 6: Surat ijin penelitian…………………………………………35

xiii

DAFTAR GAMBAR

1. Gambar 1: Balai Pertemuan PPSC...................................................... 2. Gambar 2: PPSC ................................................................................. 3. Gambar 3: HNSI Cilacap .................................................................... 4. Gambar 4: Kanal Sidakaya ................................................................ 5. Gambar 5: Hulu Sidakaya ................................................................... 6. Gambar 6: Dermaga PPSC.................................................................. 7. Gambar 7: Bapak Munirin .................................................................. 8. Gambar 8: Bapak Soeroso.................................................................. 9. Gambar 9: Bapak Tori......................................................................... 10. Gambar 10: Kapal Pukat Cincin ....................................................... 11. Gambar 11: Jaring Trawl .................................................................. 12. Gambar 12: Jaring Pukat Udang .......................................................

25 25 26 26 27 27 28 29 30 31 31 32

xiv

1

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah Gerakan nelayan merupakan tindakan kolektif untuk melakukan reaksi terhadap adanya berbagai permasalahan nelayan yang diakibatkan oleh berbagai sebab berhubungan dengan adanya perubahan dalam masyarakat nelayan. Kebijakan Kemaritiman telah dicanangkan sejak 13 Desember 1957 melalui Deklarasi Djuanda, secara politik mengklaim wilayah Indonesia adalah 12 mil yang diukur dari garis yang menghubungkan titik terluar pada pulau-pulau negara kesatuan Republik Indonesia (Kusumastanto, 2003:8). Selama periode 1967-1969 pemerintah Presiden Soeharto berusaha

meletakkan landasan yang kokoh bagi pelaksanaan pembangunan jangka panjang dengan merumuskan strategi pembangunan nasional dengan menitik beratkan usaha mencapai pertumbuhan ekonomi yang tinggi. Strategi ini dijabarkan dalam Trilogi Pembangunan yaitu pertumbuhan ekonomi yang tinggi, Stabilitas keamanan yang nasional dan Pemerataan hasil-hasil pembangunan. Untuk mendukung hal itu pemerintah melakukan restrukturisasi organisasi-organisasi pemerintah. Dirjen Pengelolaan Kekayaan Laut dilebur kedalam Direktorat Jenderal Perikanan di bawah naungan Departemen Pertanian (Kusumastanto, 2003:28). Dileburnya bidang kelautan dalam Departemen Pertanian maka segala kebijakan lebih dominan ke darat, sehingga bidang kelautan terkesan diabaikan. Hal ini berakibat serius terhadap timbulnya berbagai masalah

2

ekologis kelautan dan kerawanan sosial ekonomi pada komunitas di kawasan pesisir. Gerakan nelayan merupakan suatu reaksi atas suatu aksi yang dilakukan sebagai respons terhadap ketidak-seimbangan, ketidak-adilan dan ketidak-merataan dari pemberian suatu kebijakan (Wahono dkk, 2003:166). Gerakan perlawanan nelayan disebabkan oleh beberapa hal antara lain konflik sosial antar nelayan dalam memperebutkan sumber daya perikanan, melembaga dan pemerintah tidak dapat menyelesaikan secara tuntas. Kebijakan-kebijakan yang dikeluarkan pemerintah meski bermaksud

menengahi tetapi dalam kenyataannya hanya untuk satu pihak saja. Pada tahun 1970 pemerintah Orde baru mengeluarkan kebijakan Revolusi Biru (Blue Revolution), bertujuan peningkatan produktifitas hasil laut dan kesejahteraan nelayan. Beberapa bentuk teknologi diterapkan guna mendukung kebijakan ini, antara lain Jaring Trawl, Jaring Pukat, Pukat Lingkar dan Pukat Harimau. Penggunaan alat ini dikukuhkan dalam Surat Keputusan Menteri Pertanian No. 607/kpts/um/1976 tentang jalur-jalur penangkapan dan penggunaan alat penangkapan (Tribowono dkk, 2002:55). Penerapan kebijakan ini memberi hasil yang besar namun disatu sisi menimbulkan perselisihan antara nelayan tradisional dan pengguna Trawl yang didominasi oleh kaum pendatang, karena nelayan tradisional tidak dapat penghasilan akibat sumber daya ikan yang rusak karena penggunaan trawl (Wahono dkk, 2003:69). Untuk mengatasi hal ini pemerintah mengeluarkan Keppres No. 39/1980 yang berisi tentang pelarangan penggunaan Trawl, Bom dan alat sejenisnya yang merusak ekologi kelautan. Dasar pertimbangan dari

3

keputusan ini adalah pembinaan kelestarian sumber perikanan dasar, mendorong peningkatan produksi nelayan tradisional dan menghindari ketegangan sosial (Tribawono, 2002:69). Pasca penghapusan Trawl muncul berbagai inovasi teknologi yang berkembang dikalangan masyarakat nelayan. Guna menghindari adanya teknologi yang kurang ramah lingkungan pemerintah mengeluarkan Keputusan Menteri No. 503/kpts/um/7/1980 tentang klasifikasi teknologi penangkapan yang diperbolehkan untuk digunakan. Namun hal ini juga menimbulkan perselisihan, muncul kecemburuan/ kesenjangan ketika terdesak oleh wilayah penangkapan yang semakin sempit dan persaingan ditentukan oleh teknologi (Kusnadi dalam Wahono dkk, 2003:168). Modernisasi perikanan yang telah berlangsung selama dua dasawarsa (tahun 1970-1998) telah berakibat perubahan-perubahan mendasar dalam kehidupan masyarakat nelayan. Proses perubahan sosial ekonomi tersebut tidak semua lapisan masyarakat nelayan dapat memanfaatkannya dengan sebaik-baiknya untuk meningkatan kesejahteraan kehidupan. Kelompok-kelompok masyarakat nelayan yang tidak mempunyai akses kepusat-pusat kekuasaan dan modal terpaksa harus menerima kenyataan terhadap berlangsungnya marjinalisasi sosial ekonomi terhadap keberadaanya. Akibat dari proses ini adalah kemiskinan dan kesenjangan sosial ekonomi yang harus dijalani oleh masyarakat nelayan (Kusnadi dalam Wahono, 2003:168). Pengujian oleh para ahli tentang penerapan teknologi penangkapan ikan menyimpulkan adanya penguasaan akses-akses teknologi penangkapan

4

yang cukup besar oleh satu kelompok dalam masyarakat nelayan dalam bentuk kepemilikan, modal dan usaha dalam bidang tersebut. Cilacap merupakan daerah pesisir di selatan, sektor kelautan mempunyai peran yang cukup besar. Berbagai industri pertambangan dibangun di laut seperti penambangan Pertamina dan Biji besi. Pada masa Hindia Belanda Cilacap merupakan wilayah yang digunakan sebagai pangkalan militer dalam menghadapi segala ancaman yang berasal dari luar. Dibuktikan dengan adanya sisa peninggalan berupa benteng yang terpendam (benteng pendem). Pada masa Hindia-Belanda muncul adanya gerakan yang dilakukan oleh nelayan dalam menghadapi penjajahan Belanda yang bertujuan mengusir dari tanah Cilacap. Dimasa kemerdekaan daerah ini mengalami berbagai kebijakan yang berbeda, dengan adanya undang-undang kelautan selama ini kehidupan nelayan Cilacap tidak mengalami perubahan kemajuan, masyarakat nelayan masih tetap dalam kemiskinan dan kesenjangan antara pemilik modal dan nelayan tradisional. Gerakan sosial nelayan Cilacap pada masa orde baru merupakan salah satu persoalan yang menyangkut perjuangan nelayan-nelayan tradisional dalam memperhatikan hak-haknya atas sumber daya perikanan untuk menjaga kelangsungan hidup. Gerakan nelayan Cilacap mempunyai sejarah yang cukup panjang yang dilakukan melalui protes, yaitu: Protes I; tahun 1978-1980 dengan tuntutan penghapusan jaring trawl, Protes kedua tahun 1982 dengan tuntutan penyelesaian modifikasi alat trawl; Protes ketiga tahun 1998 tentang

5

penyelesaian masalah-masalah yang telah melembaga, aparat keamanan turut serta berperan memicu protes ini serta peran pemerintah yang kurang memperhatikan kelompok nelayan dalam pengambilan kebijakan. Dalam Bernas 1998 mengungkapkan beberapa penyebab protes tahun 1998 adalah dilanggarnya pelarangan melaut pada hari jumat kliwon (disakralkan), kesenjangan ekonomi antar nelayan tradisional dan pendatang serta dominasi alat penangkapan oleh Etnis Tionghoa (Wahono, 2003:172). Gerakan sosial nelayan sebenarnya bukanlah hal yang baru dalam realitas masyarakat kita. Berbeda dengan gerakan sosial petani yang sering dibicarakan dan menjadi bahan kajian yang cukup mendalam gerakan nelayan jarang dikupas dan dikaji. Kajian nelayan lebih mengarah pada kehidupan ekonomi nelayan yang selalu tertinggal/ kemiskinan tanpa adanya suatu reaksi yang berhubungan dengan politik/ kebijakan pemerintah. Berbagai permasalahan yang lahir dalam masyarakat tidak terlepas dari perencanaan pembangunan oleh negara. Kebijakan yang tidak memperhatikan kondisi masyarakat dan cenderung untuk memihak suatu kelompok masyarakat sering kali mendapat tanggapan dari masyarakat melalui cara-cara yang berlaku dan dapat diangggap menyelesaikan masalah. Disadari bahwa kehidupan nelayan yang tertingggal merupakan akibat adanya kebijakan yang kurang sesuai dengan mesyarakat nelayan. Kondisi ekologi nelayan yang selalu terganggu oleh adanya faktor-faktor dari dalam dan luar telah mengakibatkan berbagai permasalahan nelayan berupa

6

ketegangan-ketegangan yang tidak terselesaikan secara tuntas oleh pemerintah daerah sehingga pada akhirnya nelayan melakukan gerakan. Berdasar latar belakang diatas penelitian ini berjudul: “Gerakan Nelayan Cilacap Di Tengah Kebijakan Ekonomi Kemaritiman Orde Baru (Tinjauan Historis Kasus Masyarakat Nelayan Cilacap 1978-1998)”.

B. Permasalahan Penelitian ini mengkaji permasalahan: 1. Bagaimana kemaritiman? 2. Bagaimana sejarah dan dinamika perlawanan nelayan Cilacap di tengah kebijakan ekonomi kemaritiman Orde baru 1978-1998? kebijakan ekonomi masa Orde baru dalam bidang

C. Tujuan Tujuan dari penelitian ini adalah: 1. Mendeskrispsikan kebijakan-kebijakan ekonomi kemaritiman Orde Baru. 2. Mendeskripsikan sejarah dan dinamika perlawanan nelayan Cilacap di tengah kebijakan ekonomi Orde Baru 1978-1998.

D. Manfaat Manfaat dari penelitin ini adalah: 1. Memberi wawasan pengetahuan terhadap pencinta/mahasiswa sejarah tentang gerakan sosial nelayan.

7

2. Memberi wawasan pengetahuan tentang masyarakat nelayan dimasa Orde Baru.

E. Ruang Lingkup Ruang lingkup dari penelitian meliputi lingkup spatial dan temporal: 1. Lingkup Spatial merupakan lingkup daerah/ wilayah. Lingkup Spatial dalam penelitian ini adalah Kecamatan Cilacap Selatan, merupakan wilayah dimana penduduk adalah nelayan baik tradisional maupun pendatang. 2. Lingkup Temporal merupakan lingkup waktu. Lingkup temporal dari penelitian ini adalah tahun 1978-1998, masa ini terjadi berbagai gejolak baik kecil/ besar, dimulai dari adanya protes yang terjadi pada tahun 1970 tentang ketidak-puasan dalam pembagian wilayah penangkapan dan besarnya gaji yang diterima oleh para ABK, hingga protes yang terjadi 1978, 1980, 1982 dan pemberontakan 1998. 3. Lingkup Tematikal merupakan lingkup dalam membatasi tema, tema dari penelitian ini adalah Gerakan nelayan di tengah kebijakan Orde Baru. Nelayan adalah bagian dari masyarakat Indonesia yang berhak untuk mendapatkan kesejahteraan melalui berbagi kebijakan. Namun selama ini tidak mendapatkan yang semestinya, kenyataan masyarakat nelayan adalah masyarakat yang miskin hal ini merupakan suatu keironisan dari negara Indonesia sebagai negara kepulauan.

8

F. Tinjauan Pustaka

Dalam Wahono (2003),”Gelombang Perlawanan Rakyat, Kasuskasus Gerakan Sosial di Indonesia”, salah satu tema pembahasanya adalah Perlawanan Nelayan Cilacap tahun 1998. Perlawanan ini dilatar belakangi oleh adanya dominasi nelayan Bagan siapi-api etnis tionghoa dalam segala bidang usaha perikanan di Cilacap berupa penangkapan dan penyediaan faktor produksi seperti jaring dan peralatan lain sejak tahun 1982. Beberapa yang menjadi katalisator dalam perlawanan nelayan yang berupa protes yaitu: pertama kurangnya akses terhadap teknologi, kedua gagalnya organisasi dalam memperjuangkan kepentingan nelayan dan ketiga tidak dilaksanakannya aturan main. Nelayan Cilacap mempunyai sejarah yang panjang dalam melakukan perlawanan, perlawanan pertama tahun 1987-1980 dengan tuntutan penghapusan trawl, perlawanan kedua tahun 1982 dengan tuntutan penyelesaian alat modifikasi semacam alat trawl antara nelayan tradisional dan pendatang dan perlawanan ketiga tahun 1998 yang merupakan puncak dengan tuntutan memperjuangkan pintu sudetan dan penyelesaian masalah yang telah lama memanas/ tidak terselesaikan secara tuntas. Perlawanan nelayan Cilacap mempunyai beberapa aspek yang tidak dapat dilihat sebagai perlawanan biasa yang menyangkut suatu permasalahan tetapi terkait dengan sosial, budaya, ekonomi dan keadilan yang selama ini kurang diperhatikan. Perlawanan pertama, nelayan ingin

9

memperoleh keadilan dalam mengangkap ikan yang hampir semua dikuasai oleh kapal-kapal trawl/ pukat harimau. Pada perlawanan kedua masalah keadilan masih mewarnai yaitu adanya alat modifikasi semacam trawl. Pada perlawanan ketiga masalah keadilan dan masalah yang terkait dengan kelemahan lembaga pemerintah. Tuntutan adanya pintu sudetan hanya merupakan salah satu pemicu dalam perlawanan ketiga. Dalam Kusnadi (2003),”Konflik Sosial Nelayan Kemiskinan dan Perebutan Sumber Daya Perikanan”, kasus nelayan Cilacap merupakan kasus yang menyangkut perjuangan nelayan tradisional dalam

mempertahankan hak-haknya atas sumber daya perikanan untuk menjaga kelangsungan hidupnya. Tanggal 28 Agustus 1998 nelayan melakukan protes ke Pelabuhan Perikanan Nelayan Cilacap (PPNC) dan Pemerintah daerah dengan tuntutan pelebaran pintu dermaga pelabuhan/ pintu sudetan dan pelarangan beroperasinya kapal ekstrawl. Protes ini mengarah pada tindakan anarkis berupa pembakaran kapal ekstrawl serta fasilitas pelabuhan yang kemudian menjalar menjadi suatu kerusuhan. Kasus nelayan Cilacap mencerminkan resistensi masyarakat nelayan terhadap simbol-simbol kekuatan negara selama ini dinilai gagal dalam mengatasi persoalan mereka. Terdapat indikasi bahwa tidak dilarangnya pengoperasian peralatan tangkap trawl karena memperoleh perlindungan dari oknum-oknum aparat keamanan setempat, hal ini sering terjadi diberbagai daerah.

10

Secara umum keadaan sumber daya laut (condition of resaurce) disuatu kawasan dipengarui oleh enam faktor utama yaitu: Pranata-pranata pengelolaan sumber daya lokal, konteks sosial budaya, kebijakan negara, variabel-variabel teknologis, tingkat tekanan pasar dan tekanan penduduk. Keenam faktor tersebut dapat mempengarui secara langsung terhadap keadaan sumber daya yang mengarah pada suatu konflik. Dalam Nasution, (2005)”Isu-isu Kelautan, Dari Kemiskinan Hingga Bajak Laut”, memaparkan kondisi riil kehidupan maritim/kelautan dari berbagai aspek. Revolusi Biru yang dikembangkan pemerintah melalui Program bantuan berupa paket kredit, awalnya memberi harapan perbaikan produktifitas nelayan. Keppres no. 39/1980 meski berpihak terhadap nelayan tradisional namun karena ringkihnya birokrasi akibat penyimpangan ditingkat operasinal membuat lemahnya kohesi sosial di pedesaan pantai dengan pengelompokan nelayan yang pro dan kontra. Implikasi transformasi teknologi menetaskan polarisasi ekonomi nelayan dengan nelayan non-pemilik dan pemilik alat produksi sehingga perilaku irasional nelayan karena ketergantungan dalam ikatan patron-klien. Kompetisi antar nelayan peng-eksploitasi sumber daya kelautan di perairan telah bergeser menjadi konflik bertikai. Bermula dari menurunnya ikan hasil tangkapan akibat trawl yang kemudian menimbulkan kohesi sosial internal antar nelayan, berkembang menjadi konflik terbuka yang menimbulkan korban jiwa. Terdapat tiga ciri kebijakan pengelolaan sumber daya laut pada masa Orde Baru yaitu: 1. Sentralistik, 2.

11

Didasarkan pada Doktrin Common Property dan 3. Mengabaikan Pluralisme hukum, sentralisme kebijakan mencakup substansi dan produksi. Substansi kebijakan yang sentralistik tercermin pada kewenangan pengolahan sumber daya ikan, proses perizinan/ pejabat yang berwenang memberikan hampir seluruhnya berada ditangan pusat. Jika ada pendelegasian adalah kepada Gubenur sebagai wakil pemerintahan pusat di daerah. Proses produksi hampir semuannya melibatkan pemerintahan pusat, sehingga kebijakan pengolahan sumber daya laut dikemas dalam bentuk Undang-undang, Peraturan pemerintah, Keppres dan Peraturan menteri. Kebijakan didasarkan pada Doktrin common property diartikan laut diposisikan sebagai sumber daya milik bersama, siapapun dapat leluasa melakukan okupasi dan eksploitasi (open acces). Karakteristik ini terdapat dalam undang-undang perikanan dan kebijakan lainnya. Hal ini pula yang melatar belakangi munculnya berbagai konflik dalam menggunakan sumber daya terutama antara nelayan tradisional dan perusahaan penangkapan ikan/ pendatang. Terdapat empat akibat buruk dari kebijakan ini yaitu pemborosan sumber daya secara fisik, in-efensiensi secara ekonomi, kemiskinan nelayan dan konflik antar pengguna sumber daya laut. Pengabaian pluralisme hukum berarti menjelma dalam bentuk ketiadaan pengakuan terhadap sistem pengelolaan sumber daya laut berdasar hukum adat.

12

Sistem ini masih dipakai diberbagai daerah seperti sistem hak wilayah laut di perairan Maluku dan perikanan Bagan Rompong di Sulawesi Selatan. Pada derajat tertentu dapat menjadi obyek pemilik tunggal berbeda dengan Doctrin Common Property. Dalam Kusumastanto, 2005. “Ocean Policy dalam Membangun Negeri Bahari”. Ketertinggalan bidang kelautan berupa kemiskinan dan keterbelakangan serta adanya kesenjangan yang berarah kepada konflik merupakan akibat dari kebijakan Orde Baru yang lebih berorientasi pada sektor darat/non-kelautan. Sektor kelautan yng tersubordinasi dengan pertanian membuat kebijakan kelautan sama dengan pertanian sehingga dalam pengambilan kebijakan tidak seintensif seperti dalam pertanian, pengambilan kebijakan sama padahal memilki karakteristik yang berbeda. Alat tangkap Trawl sebagai salah satu bentuk dari penerapan Blue Revolution merupakan alat tangkap yang produktif yang tidak selektif dan mampu menangkap ikan-ikan kecil yang belum berproduksi. Ancaman potensial yang dilakukan oleh trawl menjadi semakin buruk dengan adanya praktek-praktek penangkapan perairan dangkal, daerah pembiakan dan daerah pembesaran berbagai spesies yang memiliki nilai keragaman hayati. Sehingga sering menimbulkan kerugian dan ancaman bagi nelayan skala kecil, dimana kalah bersaing dengan kapal trawl. Nelayan skala kecil bereaksi terhadap ancaman tersebut dengan melempari kapal-kapal Trawl dengan bom molotof yaitu senjata yang efektif yang digunakan untuk melawan kapal-kapal kayu. Meski

13

penghapusan trawl berlangsung yaitu dengan adanya Keppres No. 39/1980, pengoperasian trawl masih tetap berlangsung dan terjadi peningkatan pelanggaran oleh nelayan asing (Tionghoa). Kondisi ini memperburuk kehidupan nelayan skala kecil, berbagai usaha dilakukan untuk mengatasi ini namun belum berhasil dengan baik. Penelitian tentang kelautan sebelumnya telah ada yaitu pengaruh tempat pelelangan ikan terhadap kehidupan sosial, ekonomi dan budaya masyarakat nelayan Cilacap tahun 1996-2002 oleh Mugi Sudiono (2004).

G. Metode Penelitian Metode penelitian yang digunakan adalah metode sejarah/ historis yaitu suatu proses menguji dan menganalisa secara historis rekaman peristiwa yang diabadikan dalam bentuk kaset, dokumen dan peninggalan masa lampau (Goschalk, 1975:32). Langkah-langkahnya: 1. Heuristik Adalah usaha untuk mendapatkan dan mengumpulkan sumbersumber sejarah. Sumber sejarah adalah sisa/ bukti-bukti yang memberikan keterangan, informasi tentang aktifitas dan kejadian manusia pada masa lampau. Tekniknya adalah:

a. Studi Pustaka Dalam penelitian ini peneliti melakukan studi pustaka terhadap berbagai buku yang temanya relavan dengan tema penelitian,

14

pemerikasaan terhadap arsip Surat Kabar (Bernas) tahun 1990-1998 dan Arsip Laporan Tahunan Dinas Kelautan dan Perikanan, Laporan Tahunan PPNC serta Laporan HNSI cabang Cilacap yang diperoleh dari hasil membaca di Perpustakan UNNES, Perpustakaan Wilayah Semarang dan Perpustakaan Daerah Cilacap, Perpustakaan Dinas Kelautan dan Perikanan, Perpustakaan PPNC. Buku-buku yang digunakan yang relevan adalah: (1) Karya Kusnadi, 2002. Konflik Sosial Nelayan, Kemiskinan dan Perebutan Sumber Daya Perikanan. (2) Karya Kusumastanto, 2003. Ocean Policy dalam Membangun Negeri Bahari. (3) Karya Nasution, 2005. Isu-isu Kelautan dari Kemiskinan hingga Bajak laut. (4) Wahono, 2003. Gelombang Perlawanan Rakyat, Kasus-kasus Gerakan Sosial Nelayan di Indonesia. Selain buku diatas, guna melengkapi data-data primer penulis melakukan pemerikasaan Surat kabar (Bernas) antara lain: Suara Merdeka.Edisi 29 Agustus 1998, Pikiran Rakyat.Edisi 31 Agustus 1991, Suara Merdeka.Edisi 1 September1998, Kompas.Edisi 16 Aprlil 2003, Pikiran Rakyat.Edisi 12 Juli 2004. Surat kabar ini diperoleh dari arsip daerah dan data-data internet (www.indomedia.com) Sedangkan untuk melengkapinya penulis mencari sumber skunder yaitu kesaksian dari siapapun yang

15

bukan merupakan saksi pandangan mata yakni seorang yang tidak hadir pada peristiwa yang dikisahkan (Gottschalk, 1975:35). Tokohtokoh yang dijadikan sumber skunder dalam penelitian ini seluruhnya adalah warga kota Cilacap yang masih mamiliki hubungan dengan peristiwa yang terjadi.

b. Wawancara Dilakukan dengan tujuan untuk mendapatkan sumber-sumber sejarah yang benar-benar dapat dipercaya dan dipertanggung jawabkan. Informan berusia antara 50 tahun-60 tahun. Wawancara dilakukan mulai tanggal 17 September- 7 Oktober 2005. Kemudian dilanjutkan pada tanggal 20 Oktober-30 November 2005. Informan antara lain: Wakil Ketua PPNC (Rahmat), Ketua HNSI (Munirin), Sutar (Ketua KUD Mino Saroyo), Rasino (Ketua Solidaritas Nelayan Cilacap), Sarwono (ketua nelayan Sentolokawat), Herman (Anggota Nelayan Sidakaya), Suroso (kelompok nelayan Tegal Katilayu), Tohirin (Nelayan tradisional) dan Atay dan Cembong (Nelayan Bagan siapi-api etnis tionghoa ). Berdasar hasil wawancara, nelayan Cilacap adalah masyarakat yang selalu merasa dirugikan dalam berbagai situasi. Berbagai kebijakan yang selama ini diciptakan untuk para nelayan ternyata tidak tepat guna, masyarakat nelayan masih hidup dalam tingkat ekonomi yang jauh dari sejahtera. Terhadap berbagai kebijakan yang intinya untuk membangun, nelayan tidak begitu peduli.

16

Protes nelayan adalah salah satu bentuk/cara dalam usaha untuk menunjukan pada pemerintah tentang keputusasaan mereka dalam menghadapi berbagai masalah yang terjadi dalam nelayan, adanya kebijakan yang tidak sesuai/ tepat sasaran. Gerakan nelayan ini dilatar belakangi oleh adanya kesenjangan sosial akibat penerapan teknologi yang hanya dinikmati oleh sejumlah kecil masyarakat, permasalahan semakin kompleks dengan adanya praktek-praktek palanggaran terhadap hukum yang berlaku oleh aparat sipil/ militer. Ketegangan dipicu oleh adanya perebutan daerah/wilayah penangkapan,

kesenjangan ekonomi-sosial hingga protes terhadap pintu sudetan.

2. Kritik Sumber Adalah tahap penilaian/ pengujian terhadap sumber-sumber sejarah yang telah dikumpulkan dilihat dari sudut kebenarannya. Kritik sumber meliputi kritik intern dan ekstern. a. Kritik intern adalah kritik yang menilai sumber-sumber bacaan yang relevan dengan permasalahan yang dibahas dan dapat dipertanggung jawabkan. Karena penelitian ini bukan penelitian yang pertama maka dalam kritik intern peneliti melakukan rujukan terhadap buku-buku yang relevan dengan tema penelitian. Buku yang relevan yang digunakan adalah karya Kusnadi, Konflik Sosial Nelayan, memaparkan tentang berbagai kasus nelayan di Indonesia yang disebabkan adanya perebutan sumberdaya perikaan. Salah satunya adalah kasus Cilacap yang terjadi pada tahun 1997.

17

Buku ini relevan karena kurun waktu sesuai dengan tema yang dibahas dalam penelitin ini. Buku yang kedua adalah karya Wahono, Gelombang Perlawan Rakyat, memaparkan tentang beberapa kasus-kasus gerakan sosial di Indonesia. Salah satu bahasannya adalah pemberontakan nelayan Cilacap 1998. Pemberontakan ini berawal pada tahun 1978 dimana adanya protes nelayan terhadap penggunaan perahu Trawl, berlanjut dan melembaga hingga tahun 1998. Buku yang ketiga karya Kusumastanto Ocean Policy memaparkan tentang berbagai kebijakan kelautan yang diterapkan di Indonesia dari zaman Belanda hingga Orde Reformasi. Buku ini relevan untuk mengetahui berbagai kebijakan yang berlaku, serta pengaruhnya terhadap kehidupan nelayan. b. Kritik ekstern merupakan kritik yang menilai apakah sumber benarbenar sumber yang dikehendaki. Dilakukan dengan membadingkan antara informan satu dengan yang lain untuk memperoleh jawaban yang benar. Karena disadari informan mempunyai subjektivitas yang tinggi/ berlebihan terhadap suatu peristiwa.

3. Interprestasi Adalah tahap menghubung-hubungkan dan mengkaitkan satu sama lain sedemikian rupa sehingga fakta yang satu dengan yang lain kelihatan sebagai satu rangkaian yang masuk akal menuju kecocokan satu sama lain.

18

Nelayan

merupakan

masyarakat

yang

terus

menerus

memanas,

perselisihan adalah biasa dalam kehidupan nelayan. Gerakan nelayan adalah tema yang kompleks dimana menyangkut kehidupan sosial, politik, ekonomi dan kultural. Oleh Karena itu penulis dalam penelitian ini menggunakan ilmu Bantu. Faktor sosial, ekonomi, politik dan kultur sangat dominan dalm menggali pergerakn nelayan. Pendekatan sosial-ekonomi digunakan untuk mengetahui

bagaimana kondisi sosial-ekonomi masyarakat nelayan dan untuk mengetahui mengapa melakukan gerakan. Pendekatan sosial-politik digunakan untuk mengungkap beberapa kebijakan pemerintah yang kadang dianggap kurang tegas dan adil, sehingga menyebabkan tuntutantuntutan yang kemudian berkembang merugikan kedua belah pihak. Pendekatan Sosiologi-Antropologi untuk mengungkapkan permasalahan yang ada dalam masyarakat nelayan, yang sangat dipengarui oleh Adat, Norma dan Kebiasaan sebagai bagian dari masyarakat.

4. Historiografi Merupakan langkah perumusan cerita sejarah ilmiah yang disusun secara logis menurut urutan kronologis yang tematis yang jelas dan mudah dimengerti, pengaturan bab/bagian yang dapat menggambarkan urutan kronologis yang tematis. Hal ini disebabkan peneliti sejarah sekurangkurangnya harus memenuhi 4 hal yaitu: detail faktuil yang akurat, struktur yang logis dan penyajian yang terang dan halus.

19

H. Sistematika Skripsi. Sistematika dari penulisan skripsi ini sebagai berikut: BAB I dibahas mengenai Pendahuluan meliputi Latar Belakang Masalah, Permasalahan, Tujuan, Manfaat, Ruang Lingkup, Tujuan Penelitian, Kajian Pustaka dan Metode Penelitian. BAB II diuraikan mengenai Gambaran Umum Kabupaten Cilacap meliputi Riwayat Singkat, Kondisi Fisik Daerah Penelitian, Keadaan Alam, Kondisi Sosial Ekonomi, dan Kondisi Sosial Budaya. BAB III diuraikan Sejarah Kebijakan Ekonomi Kemaritiman Indonesia yang meliputi: Masa Hindia-Belanda sampai akhir Orde Lama. Masa Era Orde Baru terdiri Reorganisasi Lembaga Kelautan, Blue Revolution dan Undang-undang Perikanan. BAB IV diuraikan tentang Sejarah dan Dinamika Gerakan Nelayan Cilacap, merupakan hasil dari penelitian yang meliputi Permasalahan Nelayan dan Awal timbulnya konflik, Protes nelayan Cilacap tahun 1978-1980, Protes nelayan Cilacap 1982, Protes nelayan Cilacap 1998 dan Pengaruh dari gerakan nelayan. BAB V diuraikan Simpulan dari skripsi.

20

BAB II GAMBARAN UMUM KABUPATEN CILACAP

A. Kondisi Fisik Daerah Penelitian
1. Letak, batas dan Luas Cilacap merupakan salah satu kabupaten yang berada di wilayah selatan propinsi Jawa Tengah dan merupakan kabupaten yang terluas di Jawa Tengah. Secara astronomi terletak diantara 108”4’30” garis bujur timur dan 7”30”-7’45’20” garis lintang selatan. Luas wilayah kurang lebih 6,94 % dari luas propinsi Jawa Tengah yaitu 225.360,40 Ha, termasuk Pulau Nusakambangan yang luasnya 11.510,552 Ha. Cilacap merupakan wilayah potensi pertanian, perikanan, perkebunan dan pertambangan. Batas wilayahnya adalah: Sebelah utara berbatasan dengan Kabupaten Banyumas dan Kabupaten Brebes Sebelah timur berbatasan dengan Kabupaten Kebumen Sebelah selatan berbatasan dengan Samudra Indonesia Sebelah barat berbatasan dengan Propinsi Jawa barat. Kabupaten Cilacap terdiri dari 23 kecamatan yaitu: Kecamatan Dayaeuhluhur, Kecamatan Wanareja, Kecamatan Majenang, Kecamatan Cimanggu, Kecamatan Karangpucung, Kecamatan Cipari, Kecamatan Sidareja, Kecamatan Kedungreja, Kecamatan Patimuan, Kecamatan Gandrungmangu, Kecamatan Kecamatan Bantasari, Kecamatan Kawunganten, Maos,

Jeruklegi,

Kecamatan

Kesugihan,

Kecamatan

21

Kecamatan Sampang, Kecamatan Kroya, Kecamatan Adipala, Kecamatan Binangun, Kecamatan Nusawungu, Kecamatan Cilacap selatan,

Kecamatan Cilacap utara dan Kecamatan Cilacap tengah. Dari 23 kecamatan di kabupaten Cilacap 7 kecamatan adalah daerah yang mempunyai wilayah laut/ pantai. Tujuh Kecamatan ini adalah Kecamatan Cilacap tengah, Kecamatan Cilacap utara, Kecamatan Cilacap selatan, Kecamatan Nusawungu, Kecamatan Adipala, Kacamatan

Binangun dan Kecamatan Sampang. Memiliki Desa pantai 17 desa, desa tersebut adalah: Desa Sentolokawat, Desa Pandanaran, Desa Sidakaya, Desa Tegal katilayu, Desa Tambakreja, Desa Lengkong, Desa Karang Talun, Desa Tritih Kulon, Desa Kutawaru, Desa Donan, Desa Jetis, Desa Adiraja, Desa Ujung Alang, Desa Ujung Gagak, Desa Binangun, Desa Kawunganten dan Desa Paningkel. Luas lahan pertanian meliputi potensi-potensi pertanian, secara umum merupakan sawah dan lahan kering, baik sawah tadah hujan, pekarangan, tegalan dan ladang. Lahan lainnya adalah rawa-rawa dan tambak serta kolam ikan. Jumlah luas seluruhnya adalah 231.850,228 hektar. Luas penangkapan ikan di Kabupaten Cilacap mencapai luas kurang lebih 5.600 Km persegi dengan perincian daerah penangkapan ikan di perairan Teluk Penanjung-Pangandaran seluas 1.300 Km persegi dan perairan selatan Yogyakarta sampai Pacitan kurang lebih 800 Km persegi. Penangkapan ikan dilakukan sampai jarak 25 Km dari pantai pada

22

kedalaman 3 m-100 m (Laporan Tahunan Dinas Perikanan dan Kelautan Cilacap1998). Potensi perikanan tergolong besar, dapat dibedakan menjadi potensi perikanan darat dan laut. Usaha perikanan tambak dilakukan masyarakat Cilacap dengan memelihara Ikan Mas, Mujair dan Guramih. Usaha perikanan laut dilakukan oleh masyarakat bagian selatan atau daerah pesisir pantai. Awalnya masih menggunakan peralatan alat tangkap yang masih sangat sederhana seperti Jala, Pancing, Kapal tradisional dan lain-lain. Pada taraf selanjutanya setelah adanya berbagai suku bangsa masuk/ pendatang berbagai teknologi baru masuk antara lain kapal-kapal modern dengan alat tangkap yang modern. Hasil yang diperoleh lebih banyak dibandingkan dengan alat tangkap yang sederhana. Untuk memperlancar penangkapan ikan dibangun beberapa tempat pelelangan ikan (TPI) sebagai tempat memasarkan hasil penangkapan ikan. Potensi perikanan darat di Kabupaten Cilacap terdiri dari perikanan tambak kurang lebih 421.52 Ha, perikanan kolam 573.96 hektar dan perairan umum seluas 598.6 Ha. Potensi perairan laut Kabupaten Cilacap meliputi wilayah territorial dan ZEE Indonesia. Oleh karena itu potensi perikanan laut mencapai 865.100 ton (Laporan Dinas Perikanan, 1998). Usaha jenis ikan meliputi ikan Pelangis, Domersil, Udang dan Cumi-cumi. Budidaya ikan berupa tambak, air tawar, laut dan pembenihan

23

ikan. Jenis komoditas ekspor adalah udang, tuna, cangkalan, layur, bawal, ranjungan dan keong.

2. Iklim Kondisi iklim pada umumnya termasuk tipa B (Smith dan forgoson). Curah hujan 10 tahun terakhir ini adalah 22711.65 mm pertahun, dengan jumlah hari hujan 147.4 hari. Bulan basah dengan curah hujan lebih dari 200 mm perbulan. Pada bulan lembab dengan curah hujan antar 100-200 mm/bulan. Temperatur di wilayah bagian barat bervariasi sesuai dengan ketinggian tempat yaitu rata-rata antara 20 derajat sampai 28 derajat Celcius. Sedang temperatur udara di wilayah Cilacap bagian tengah, timur dan selatan antara 28 derajat sampai 31 derajat serta banyak dipengarui udara laut. Curah hujan tertinggi pada bulan November dan terendah pada bulan Mei. Suhu maksimum 32.6 derajat dan suhu minimum 24.2 derajat. Pada bulan Agustus sampai Desember secara umum merupakan musim ikan yaitu musim dimana keadaan laut di daerah penangkapan ikan adalah baik terutama keadaan cuaca pada saat nelayan melakukan penangkapan ikan laut. Nelayan Cilacap mengenal dua musim yaitu musim paceklik dan musim panen. Pembagian ini didasarkan pada keadaan laut, keadaan angin dan curah hujan. Jika curah hujan tinggi maka nelayan tidak melaut karena angin kencang yang mempersulit dalam mengendalikan perahu motor dan penangkapan ikan.

24

Angin yang paling membahayakan adalah angin yang berasal dari barat, sifatnya adalah mempunyai hembusan yang sangat kencang sehingga menyulitkan nelayan dalam mengendalikan perahu. Sedang musim timur adalah angin yang berhembus dari timur, angin ini mempermudah dalam mengendalikan perahu dan pencarian lokasi penangkapan Ikan baru. Faktor curah hujan kecepatan angin bagi nelayan berpengaruh besar, mereka melaut ketika kondisi curah hujan dan kecepatan angin bisa ditolelir.

B. Keadaan Alam Kabupaten Cilacap merupakan salah satu wilayah dataran rendah dibagian selatan. Dataran rendah di Jawa terdiri dari dua bagian yaitu bagian selatan dan utara. Daerah bagaian utara Jawa banyak dialiri sungai, bagian selatan sedikit dialiri sungai. Sungai dibagian selatan terputus oleh beberapa pegunungan dan perbukitan. Di muara sungai inilah lokasi penangkapan ikan dan udang, sehingga nelayan banyak mencari ikan di muara sungai, sebagai akibatnya nelayan Cilacap banyak yang pergi melaut ke tempat yang lebih jauh seperti perairan Pelabuhan Ratu, Parangtritis dan Pacitan. Nelayan Cilacap menangkap ikan di daerah tersebut adalah nelayan yang menggunakan kapal motor. Nelayan yang melaut ke lokasi yang dekat seperti perairan pantai Logending dan Teluk penyu adalah yang menggunakan kapal motor. Wilayah tertinggi kabupaten Cilacap adalah Kecamatan Dayeuhluhur adalah 198 m dipermukaan air laut. Wilayah terendah adalah Kecamatan Cilacap tengah dengan 6 m dipermukaan air laut. Jarak terjauh dari barat ke

25

timur adalah 152 yaitu dari Dayeuhluhur ke Nusawungu. Dari utara ke selatan 35 km yaitu dari Cilacap ke Sampang dengan demikian dapat diketahui sebagian besar wilayah Kabupaten Cilacap adalah dataran rendah. Topografi wilayah Cilacap dapat terdiri atas empat bagian yaitu: 1. Wilayah Cilacap bagian barat, pada umumnya berbukit dengan ketinggian 23-198 dpl 2. Wilayah Cilacap bagian tengah, pada umumnya adalah dataran dan sebagian berbukit dengan ketinggian antara 8-75 dpl 3. Wilayah Cilacap bagian timur, pada umumnya datar dengan ketinggian 8-10 dpl 4. Wilayah bagian selatan umumnya datar dan landai yang merupakan daerah pantai dengan ketinggian rata-rata 6 dpl.

Jenis tanah di Kabupaten Cilacap dapat digolongkan menjadi beberapa jenis yaitu: 1. Aluvisi meliputi daerah Dayeuhluhur, Wanareja, Kedungreja, Patimuan, Gandrungmangu, Majenang, Cimanggu, Karangpucung, Kawunganten, Jeruklegi, Cilacap selatan, Cilacap tengah, Kesugihan, Sampang, Maos, Adipala, Nusawungu dan Cipari 2. Kompleks Litosil, merah kekuning-kuningan, litosol coklat tua dan litosol meliputi daerah Dayeulihur, Wanareja, Cimanggu, Karangpucung, Cipari, Kawunganten, Jeruklegi, Kesugihan dan Nusakambangan. 3. Asosiasi litosol coklat kemerahan meliputi Dayeuhluhur, Wanareja dan Majenang

26

4. Litosol coklat tua kemerahan meliputi Dayeuhluhur, Wanareja dan Karangpucung 5. Asosias Gromosol kelabu kekuning-kuningan dan regosol kelabu meliputi Majenang, Sidireja, Cipari, Cimanggu, Karangpucung, Gandrungmangu dan Kawunganten 6. Grumosol kelabu meliputi Sidareja, Cipari, Kedungreja, Gandrungmangu dan Kawunganten 7. Regosol kelabu meliputi Cilacap selatan, Cilacap utara, Cilacap tengah, Jeruklegi, Kesugihan, Adipala, Binangun dan Nusawungu

8. Asosiasi glaniamus rendah dan alluvial kelabu meliputi daerah Binangun,
Kroya dan Nusawungu (Laporan tahunan PPNC 2002).

C. Riwayat Singkat Kabupaten Cilacap ditetapkan berdiri pada tanggal 21 Maret 1856, oleh pemerintah Hindia-belanda. Ada beberapa atribut yang terkait dengan Cilacap, pertama Cilacap adalah sebuah Ofdeling/Regentschap (abupaten) di karsidenan Banyumas. Kedua, sebuah distrik didalam administrasi ofdeling Cilacap. Ketiga adalah sebuah ibukota Ofdeling (Zuhdi, Susanto; 2002:7). Nama Cilacap sudah ada pada tahun 1736 (berdasar peta Francois Valantin) dan tahun 1817 (berdasar peta Rafles), dalam buku Rafles menyebutkan bahwa Cilacap merupakan pelabuhan yang terletak disebelah selatan Jawa Tengah dan menjadi bagian dari wilayah Cirebon (Soemardi, 1990:49). Cilacap dibentuk pada tahun 1856 oleh pemerintah kolonial HindiaBelanda yang terlepas dari kesultanan Yogyakarta. Karsidenan Banyumas

27

meliputi Banyumas, Ajibarang, Purbalingga, Banjarnegara dan Cilacap (Poerwoko, Bambang, 1978:26). Pembentukan pemerintah Kabupaten Cilacap pada masa penjajahan Belanda adalah pembentukan Order Ofdeling Cilacap dengan besluit Gubenur jendral D. De Eerenst tanggal 17 Juli tahun 1930 menerbitkan. “Demi kepentingan pelaksanaan pemerintah daerah yang lebih rapi di kawasan selatan Banyumas dan peningkatan pembangunan pelabuhan Cilacap maka sambil menunggu usul-usul organisasi distrik-distrik bagian selatan yang menjadi bagianya, satu dari tiga Asisten Residen di Karsidenan ini akan berkedudukan di Cilacap (Cahaya, Sakti, 2000:26). Sambil menunggu pengukuhan Besluit Gubenur jendral, Residen Lauy dalam pemerintah Hindia-Belanda dengan besluit gubenur jenderal tanggal 21 Maret 1856 No 21 antara lain menetapkan Order-regenschap Cilacap ditingkatkan menjadi regentschap kabupaten Cilacap (Soemardji, 1990: 50-51). Menjelang hancurnya kekuasaan pemerintah Hindia-Belanda di Indonesia tahun 1942 Cilacap menjadi tempat untuk persiapan-persiapan terakhir. Persiapan perang telah sejak lama dipikirkan Belanda. Dibangun kubu-kubu pertahanan seperti di Teluk Penyu, Srandil, Karang Bolong disamping jembatan darurat yang dibangun di atas kali Serayu Desa Slarang. Tetapi persiapan tersebut tidak berarti apa-apa karena Jepang menyerang dengan kapal udara, sehingga sangat mudah benteng Belanda untuk dihancurkan. Dengan penghancuran Kota Herosima dan Nagasaki Belanda

28

mengakhiri

pemerintahannya

diseluruh

daerah

di

Indonesia

dengan

penyerahan pemerintahan kepada tentara Jepang. Pada masa perang kemerdekaan secara administratif wilayah kabupaten Cilacap terbagi menjadi empat Kawedanan (wilayah pembantu bupati) masing-masing kawedanan mempunyai beberapa kecamatan. Di kabupaten Cilacap di tahun 1940 terbagi dalam 17 Kecamatan yang terbagi dalam empat Kawedanan yaitu: 1. Kawedanan Majenang meliputi empat Kecamatan yaitu: Kecamatan Cimanggu, Kecamatan Wanareja, dan Kecamatan Dayeuhluhur. 2. Kawedanan Sidareja meliputi lima Kecamatan yaitu Kecamatan Gandrungmangu, Kecamatan Karang pucung, Kecamatan Sidareja, Kecamatan Kedungreja dan Kecamatan Cipari 3. Kawedanan Cilacap meliputi tiga Kecamatan yaitu Kecamatan Jeruklegi, Kecamatan Kawunganten dan Kecamatan Kesugihan 4. Kawedanan Kroya meliputi empat Kecamatan yaitu Kecamatan Kroya, Kecamatan Adipala, Kecamatan Nusawungu dan Kecamatan Binangun. Pembagian wilayah kabupaten Cilacap dimasa perang kemerdekaan merupakan kelangsungan dari masa sebelumnya. Perubahan ini terjadi dalam pembagian wilayah kabupaten Cilacap pada tahun 1936 yaitu sehubungan dengan perluasan karsidenan Banyumas oleh Belanda, sehingga kebupaten Cilacap masuk wilayah karsidenan Banyumas. Pemerintahan kabupaten dijabat oleh seorang Bupati yang menjalankan tugasnya dibantu oleh wakil atau yang biasa disebut dengan Patih. Selain itu dibantu oleh sejumlah

29

Wedono sebagai kepala wilayah kawedanan. Para wedono bertugas mengkoordinir para kepala desa. Pada masa perang kemerdekaan pemerintah kabupaten Cilacap tetap berjalan walaupun pusat pemerintahan selalu berpindah-pindah demi keselamatan. Pekerjaan aparat pemerintahan kabupaten Cilacap tidak banyak, meski jawatan ini tetap ditengah pertempuran, mereka tidak difungsikan untuk menjalankan tugas pemerintahan seperti pada saat keadaan damai.

D. Kondisi Sosial Ekonomi Kabupaten Cilacap berpenduduk 1.642.725 jiwa pada tahun 1998 yangterdiri dari 820.742 jiwa adalah wanita dan 821.983 jiwa adalah pria. Yang terdiri dari belum sekolah berjumlah 146.557 jiwa, usia belajar sejumlah 23.551 jiwa dan usia lanjut berjumlah 154.251 jiwa. (Laporan BPS Ciacap). Penduduk bertempat tinggal menyebar, ada di daerah pegunungan dan sebagian di daerah pesisir. Mata pencaharian penduduk yang tinggal di daerah pegunungan/ pedalaman bermata pencaharian dalam pertanian sedang di daerah pesisir adalah nelayan. Bidang pertanian memiliki peran yang strategis, dimana

kabupaten Cilacap adalah salah satu penghasil padi dan pemasok padi di Jawa Tengah. Memiliki lahan sawah seluas 63.452 hektar atau 26.67 %. Hasil pertanian berupa Padi, Jagung, Ketela Rambat, dan Kedelai. Selain tanaman pangan Cilacap juga menghasilkan tanaman perkebunan rakyat seperti Jahe, Kencur, Kelapa, Karet dan Aren.

30

Sedang daerah laut atau perikanan juga memiliki peran yang sama besarnya, sebagai pemasok perikanan laut. Hasil laut berupa Ikan, Udang, serta jenis Ikan Laut lainnya. Daerah penangkapan utama adalah Segara Anakan, Teluk Penyu dan Pesisir Nusakambangan. Masyarakat nelayan Cilacap mempunyai struktur/stratifikasi yang tidak terikat. Stratifikasi ini didasarkan pada 3 sudut pandang yaitu: 1. Dari segi penguasaan alat-alat produksi atau peralatan tangkap (perahu, jaring, dan perlengkapan lain). Struktur masyarakat nelayan terbagi dalam kategori nelayan pemilik (alat-alat produksi) dan nelayan buruh. Nelayan buruh tidak memiliki alat-alat produksi dan dalam kegiatan produksi sebuah perahu nelayan buruh hanya menyumbangkan jasa tenaganya dengan memperoleh hak-hak yang sangat terbatas. Dalam masyarakat pertanian nelayan buruh identik dengan buruh tani. Secara kuantitatif di desa nelayan, jumlah nelayan buruh lebih besar dibandingkan dengan nelayan pemilik. 2. Ditinjau dari skala investasi modal usahannya, struktur masyarakat nelayan di golongkan kedalam kategori nelayan besar dan nelayan kecil. Disebut nelayan besar karena jumlah modal yang di investasikan dalam usaha perikanan relatif banyak, sedangkan nelayan kecil sebaliknya. 3. Sudut pandang tingkat teknologi peralatan tangkap yang digunakan, masyarakat nelayan terbagi nelayan modern dan nelayan tradisional. Nelayan modern menggunakan teknologi penangkapan yang canggih dibandingkan dengan nelayan tradisional. Jumlah nelayan modern relatif

31

lebih kecil dibanding nelayan tradisional. Perbedaan tersebut membawa implikasi kepada tingkat pendapatan dan kemampuan atau kesejahteraan sosial ekonomi. Nelayan besar dan nelayan kecil, nelayan tradisional/ modern masing-masing merupakan kategori sosial ekonomi yang relatif sama, dengan orientasi usaha dan perilaku yang berbeda-beda. Secara sosiologi masyarakat nelayan dibagi dalam dua kelas yaitu kelas Patron dan Clien. Patron adalah orang-orang yang memilki modal, mempunyai kedudukan yang tinggi. Sedang klien adalah buruh nelayan yang lebih rendah. Kelompok Patron ini menguasai modal, alat-alat produksi dan pengetahuan mengenai ke nelayanan. Adanya dua klasifikasi ini mengakibatkan adanya hubungan yang tidak seimbang. Clien hanya mampu menyediakan tenaga kerja tanpa adanya kemampuan keterampilan sehingga selalu terikat oleh Patron. Oleh karena itu selalu dalam posisi yang tidak menguntungkan. Dimana dalam keterbelakangan dan kemiskinan. Terjadinya konflik antar nelayan adalah merupakan salah satu dari hubungan yang tidak seimbang seperti hal-hal diatas. Masyarakat nelayan Cilacap mengenal 2 musim yaitu musim panen pada bulan Agustus-Desember dan musim paceklik bulan Januari-Juli. Pada musim ikan intensitas penangkapan ikan meningkat karena hasrat untuk memperoleh hasil yang banyak, terkadang nelayan sering mengabaikan bahaya yang disebabkan oleh kondisi alam dan iklim seperti ombak besar dan hujan deras yang disertai dengan angin kencang.

32

Dalam masa Paceklik para nelayan memanfaatkan perahunnya untuk wisata, sebelah selatan adalah merupakan daerah wisata, terdapat Pulau Nusakambangan dengan berbagai panoramannya yang menarik wisata. Sebagian nelayan lain memggunakan masa paceklik ini untuk membuat kerajianan (kaum wanita), bagi para pemuda digunakan untuk merantau/bekerja di daerah lain.

E. Kondisi Sosial Budaya Sebagian besar Kabupaten Cilacap adalah beragama Islam (97.53%), sedang 10% adalah menganut agam Kristen (1.05%), Hindu (0.35%) dan Budha (0.11%). Ajaran Kejawen masih dipegang erat oleh masyarakat, masih ada pesta sesaji dan penyembahan terhadap roh leluhur. Hampir diseluruh daerah banyak ditemui Masjid dan Pondok Pesantren. Pada daerah pedalaman yang bermata pencaharian dalam pertanian masih dipercaya adanya mitos Dewi Sri, sehingga dilaksanakan sedekah bumi setiap tahunnya contoh adalah daerah Cimencok, Cisarewa. Pada daerah pesisir adanya kepercayaan pada Nyi Roro Kidul, diadakan sedekah laut. Upacara ini semakin berkembang menjadi wisata bukan hanya sekedar upacara rutin.

F. Lokasi Penelitian (Profil Kecamatan Cilacap Selatan). Lokasi penelitian secara khusus adalah Kecamatan Cilacap Selatan. Kecamatan Cilacap Selatan terletak dibagian paling selatan Kabupaten Cilacap. Merupakan daerah dataran rendah dan perairan dengan ketinggian

33

antara 0-6 m di atas permukaan air laut serta beriklim tropis dengan suhu 26.4 derajat Celsius, kelembaban rata-rata 48 RH sera kecepatan angin rata-rat 7.2 knot. Adapun batas-batasnya adalah: Sebelah utara: kecamatan Cilacap tengah. Sebelah barat: Bengawan Donan. Sebelah selatan: Samudra Indonesia. Sebelah timur: Pantai teluk penyu. Luas kecamatan Cilacap selatan adalah 910.605 ha yang terdiri dari: tanah sawah (960.000), pekarangan (610.963), tegalan (11.000) dan lain-lain (193.642). Masyarakat kecamatan Cilacap selatan adalah Nelayan, Petani, Buruh Tani, Buruh Industri, Pedagang, PNS dan lain-lain (laporan Memori Kegiatan Kecamatan Cilacap Tahun 1998).

34

BAB III SEJARAH KEBIJAKAN EKONOMI KEMARITIMAN DI INDONESIA

A. Masa Hindia-Belanda Sampai Orde Lama 1. Masa Hindia-Belanda Masa Hindia-Belanda berbagai kebijakan dan peraturan

kemaritiman telah diciptakan, namum peraturan perundang-undangan masih bersifat sepenggal-sepenggal atau terpisah sehingga belum mampu menciptakan satu kesatuan yang bulat dan utuh. Periode tahun 1850-1942 adalah periode pelembagaan institusiinstitusi yang menangani urusan masyarakat bagi pemapanan penjajahan Belanda atas Indonesia. Begitu pula halnya dengan urusan-urusan masyarakat pantai yang menyadarkan kegiatan ekonomi pada bidang kelautan. Peraturan yang dibuat Belanda tentang kelautan bernama “Territoriale zee en maritieme kringen ordonatie”, (Ordonansi Laut Territorial dan Lingkungan Maritim) yang dikeluarkan tahun 1939. Ordonansi ini menetapkan lebar laut wilayah sepanjang 3 mil laut yang diukur dari garis wilayah daratan (garis air surut pulau atau bagian pulau). Aturan ini mengakibatkan pulau-pulau yang ada di perairan laut Nusantara mempunyai laut wilayah sendiri tidak menjadi satu kesatuan sebagai negara kepulauan. Hal-hal yang menyangkut kegiatan

kemaritiman tunduk pada peraturan ini karena ordonasi ini juga mengatur

35

permasalahan penangkapan ikan. Jarak 3 mil laut berarti usaha perikanan harus mendapat izin dari pemerintah, jika lebih dari 3 mil maka laut dianggap bebas (Tri bawono, 2002:26). Lembaga-lembaga yang menangani kegiatan-kegiatan kemaritiman masa kolonial Belanda masih berada dalam lingkup Departemen van Landbouw Nijverheid en Handel (Departemen kesejahteraan rakyat), yang kemudian berubah menjadi Departemen van Ekonomische Zaken (Departemen Ekonomi). Kegiatan-kegiatan kemaritiman masa ini

digolongkan sebagai kegiatan pertanian, meski demikian terdapat suatu organisasi khusus yang mengurusi kegiatan perikanan laut dibawah Departemen Van Ekonomische Zaken. Organisasi ini adalah Orderafdeling Zee Visserij. Untuk menyediakan kegiatan penelitian dan pengembangan perikanan laut terdapat suatu institusi penelitian pemerintah kolonial bernama Istitut Voor de zee Visserij (Institute Pengembangan Penelitian Kelautan). Pada masa pendudukan Jepang Departemen Van Ekonomische Zaken berubah menjadi Gunseikanbu Sangyogu (Departemen Ekonomi). Fungsi dan tugas dari departemen ini tidak berubah dari fungsi dan tugas di zaman kolonial. Seperti halnya Lembaga Penelitian dan Pengembangan, meski berubah menjadi Kaiyoo Gyogyo Kenkyuzo (Lembaga Penelitian Kelautan) dan berpusat di Jakarta tidak mengalami perubahan fungsi. Undang-undang tentang batas laut pun tidak mengalami perubahan. Meski demikian pada masa Jepang terjadi perluasan lembaga-lembaga perikanan

36

pemerintah. Di daerah-daerah dibentuk Jawatan Penerangan Perikanan yang disebut Suisan Shidozo. Terjadi penyatuan perikanan darat dan laut yang dimasukkan dalam kegiatan pertanian (Kusumastanto, 2005:4). Ordonansi kemaritiman Belanda, pokok-pokok penetapannya (Tribawono, 2002) antara lain: a. Ordonansi perikanan mutiara dan bunga karang. Mengatur

pengusahaan Siput Mutiara, Kulit Mutiara, Teripang dan Bunga Karang di perairan pantai dalam jarak tidak lebih dari 3 mil laut. b. Ordonansi perikanan untuk melindungi ikan. Mengatur larangan penangkapan ikan dengan menggunakan racun, bius atau bahan peledak, kecuali untuk tujuan ilmu pengetahuan. c. Ordonansi penangkapan ikan pantai, berisi tentang: (1) Mengatur usaha perikanan di wilayah perairan Indonesia. (2) Yang berhak melakukan usaha perikanan adalah warga negara Indonesia dengan menggunakan kapal motor berbendera Indonesia. (3) Bagi yang bukan warga negara Indonesia harus dengan izin Menteri pertanian. (4) Bagi warga negara Indonesia yang menggunakan tenaga asing harus dengan izin Menteri pertanian. d. Ordonansi Perburuan Ikan Paus. Mengatur perburuan dan

perlindungan Ikan Paus (semua ikan paus dilindungi dengan SK Menteri Pertanian No. 716/kpts/10/1980) kecuali usaha penangkapan

37

oleh nelayan tradisional setempat untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. e. Peraturan pendaftaran kapal-kapal laut asing, yang mengatur: (1) Kapal nelayan laut asing yang berhak melakukan penangkapan ikan dalam daerah laut Indonesia/daerah lingkungan maritim harus didefinisikan atas nama pemilik. (2) Kapal yang terdaftar diberi tanda pengenal untuk menunjukan bahwa kapal tersebut berhak melakukan penangkapan ikan di daerah laut dan daerah dua lingkungan maritim. f. Ordonansi laut teritorial dan lingkungan maritim, yang berisi: (1) Laut teritorial Indonesia adalah daerah yang membentang ke arah laut dari garis surut, Pulau-pulau atau bagian pulau-pulau yang termasuk wilayah Indonesia. (2) Penangkapan ikan adalah mengerjakan pada umumnya suatu kegiatan yang langsung atau tidak langsung yang bertujuan untuk mendapatkan, memburu hasil-hasil laut. (3) Penangkapan ikan di lingkungan-lingkungan maritim boleh dilakukan oleh mereka yang termasuk bumiputra, (4) Kepada warga-warga negara Indonesia dapat diberikan izin untuk mengerjakan penangkapan ikan dilingkungan maritim, jika tidak bertentangan dengan kepentingan-kepentingan maritim. Jika dicermati Ordonasi kemaritiman ini hanya mengatur perizinan penangkapan ikan dilengkapi dengan berbagai syarat yang harus dipenuhi oleh pemohon, serta adanya ancaman pidana. Kebijakan ini semata-mata

38

hanya untuk kepentingan satu pihak yakni Hindia-Belanda, sehingga terdapat kecenderungan memanfaatkan sumber daya ikan secara berlebihan (ekstraktif), oleh pemilik izin (nelayan tangkap ikan) untuk memperoleh keuntungan sebesar-besarnya. Kondisi ini berakibat usaha kepentingan nelayan tradisional menjadi terabaikan. 2. Masa kemerdekaan Pada masa kemerdekaan terjadi perkembangan dalam bidang kemaritiman, adanya restrukturisasi lembaga kemaritiman. Setelah Kabinet Presidensial terbentuk, pemerintah membentuk Departemen Kemakmuran Rakyat dengan Menterinya Mr. Syafrudin Prawiranegara. Dalam departemen ini terbentuk jawatan perikanan yang mengurusi kegiatan-kegiatan perikanan darat dan laut. Semenjak kabinet pertama terbentuk pada tanggal 2 September 1945 hingga terbentuknya Kabinet Parlementer ketiga pada tanggal 3 Juli 1947, Jawatan Perikanan tetap berada dibawah Koordinator Pertanian disamping Koordinator Perdagangan dan Perindustrian dalam Departemen Kemakmuran Rakyat. Meski kemudian Departemen Kemakmuran Rakyat mengalami perubahan struktur organisasi akibat Agresi Militer Belanda I dan II serta perpindahan ibukota ke Yogyakarata, Jawatan Perikanan tetap menjadi subordinat perikanan. Pada 1 Januari 1948 Departemen Kemakmuran Rakyat mengalami restrukturisasi dengan menghapus koordinator-koordinator. Sebagai penggatinya ditunjuk 5 Pegawai tinggi dibawah menteri yaitu pegawai

39

tinggi urusan perdagangan, urusan pertanian dan kehewanan, perkebunan dan kehutanan serta pendidikan. Jawatan perikanan merupakan bagian urusan pertanian. Masa pengakuan kedaulatan RI tanggal 27 Desember 1949, Departemen kemakmuran rakyat dipecah menjadi dua Departemen yaitu: Departemen Pertanian, Perdagangan dan Perindustrian, Jawatan Perikanan baru masuk dalam Departemen Pertanian. Pada tanggal 17 maret 1951 Departemen Pertanian mengalami perubahan susunan yaitu menunjuk tiga koordinator yang menagani masalah pertanian, perkebunan dan

kehewanan. Di bawah Koordinator pertanian, dibentuk Jawatan pertanian rakyat. Jawatan Perikanan berkembang menjadi Jawatan Perikanan Laut, Kantor Perikanan Darat, Balai Penyelidikan Perikanan Darat, dan Yayasan Laut. Semua jawatan tersebut berada di bawah Jawatan Pertanian Rakyat. Struktur ini tidak bertahan lama, pada tanggal 9 April 1957 susunan Departemen pertanian mengalami perubahan lagi dengan dibentuknya Direktorat Perikanan dan dibawah direktorat ini jawatan-jawatan perikanan dikoordinasikan. Pada 13 Desember 1957 diadakan Deklarasi Djuanda, yang secara politik mengklaim wilayah perairan Indonesia. Batas laut teritorial lebarnya menjadi 12 mil yang diukur dari garis yang menghubungkan titik-titik yang terluar pada pulau-pulau. Secara substansial Deklarasi Djuanda memberikan inspirasi tentang wawasan nusantara yang mencakup komponen kesatuan ekonomi, kesatuan wilayah dan kesatuan politik.

40

Deklarasi Djuanda merupakan tindakan politik namun membawa dampak pada perombakan radikal terhadap hukum laut internasional yang berlaku sampai saat ini dan melahirkan hukum laut yang baru. Paska Deklarasi Djuanda muncul beberapa kebijakan dan peraturan yang terkait dengan kelautan antara lain Undang-Undang No. 4/prp/1960 tentang perairan Indonesia, pengumuman pemerintah tentang landasan kontinen Indonesia tahun 1969 dan Undang-Undang No. 5/1983 tentang Zona Ekonomi Eksklusif Indonesia. Deklarasi Djuanda merupakan embrio (cikal bakal) Undang-Undang No. 4/prp/1960, ada beberapa dasar pertimbangan pemerintah mengeluarkannya: pertama, bentuk geografis Indonesia sebagai suatu negara kepulauan yang terdiri dari beribu-ribu pulau dan terbesar mempunyai sifat dan corak tersendiri. Kedua, bagi kebutuhan teritorial dan untuk melindungi kekayaan negara Indonesia, kepulauan dan laut yang terletak diantaranya harus dianggap sebagai suatu kesatuan yang utuh. Ketiga, penentuan batas teritorial sebagai termaktub dalam Territoriale zee en maritime kringen ordonatie, sudah tidak sesuai lagi dengan pertimbangan sebagaimana tersebut diatas karena akan mengakibatkan pembagian wilayah daratan Indonesia dalam dua bagian yang masing-masing terpisah dengan teritorialnya sendiri-sendiri

(Tribawono dkk, 2002:27). Pemerintah merasa betapa pentingnya upaya memperkokoh posisi azas negara kepulauan atau azas negara Nusantara maka ditetapkan peraturan pemerintah pengganti Undang-Undang No 4 tahun 1960 dan

41

Undang-Undang No. 4/prp/1960 tentang perairan Indonesia agar mempunyai kekuatan hukum yang berlaku dan pasti. Beberapa pertimbangan yang mendorong pemerintah mengeluarkan Undang-Undang No. 4/prp/1960 adalah: 1. Bentuk geografi Indonesia sebagai suatu negara kepulauan terdiri dari beribu-ribu pulau mempunyai corak tersendiri. 2. Berdasarkan sejarah memang sejak dahulu kepulauan Indonesia merupakan suatu kesatuan. 3. Bagi keutuhan wilayah negara Indonesia semua kepulauan serta laut yang terletak diantaranya harus dianggap sebagai suatu kesatuan yang bulat. 4. Penentuan batas wilayah laut seperti termaktub dalam Territoriale zee en maritime kringen ordonatie 1939 (tidak lagi sesuai dengan pertimbangan tersebut diatas karena membagi wilayah daratan Indonesia dalam bagian-bagian yang terpisahkan dengan laut wilayahnya sendiri-sendiri. 5. Perlu mengadakan peraturan pemerintah pengganti Undang-Undang tentang perairan Indonesia yang sesuai dengan kenyatan-kenyataan tersebut diatas. Penentuan perubahan batas perairan laut Indonesia menjadi 12 mil mempunyai dampak sangat penting bagi perkembangan kegiatan dibidang ekonomi. Indonesia mempunyai kedaulatan atas segala perairan yang terletak didalam batas-batas garis laut wilayah serta udara dan dasar laut.

42

Semula luas daratan Indonesia adalah 2.027.087 km2 kemudian bertambah menjadi 5.193.250 km2. Pertambahan luas ini menjadikan segala kekayaan alam yang ada didalamnya baik hewani dan nabati serta kekayaan bahan mineral harus tetap diselamatkan untuk kesejahteraan rakyat. 3. Masa Orde Lama Jatuh bangunnya kabinet semasa Pemerintahan Parlementer membuat Presiden Soekarno menganggap bahwa Sistem Parlementer tidak cocok dengan kepribadian bangsa Indonesia. Pada tanggal 5 juli 1959 Presiden mengeluarkan Dekrit untuk kembali pada Undang-undang Dasar 1945. Istilah departemen pada masa sebelum Dekrit berubah menjadi Departemen dan posisi istilah Direktorat kembali ke Jawatan. Tahun 1962 penggabungan Departemen Pertanian dan Agraria, istilah direktorat digunakan kembali. Pada masa Kabinet Presidensial pasca Dekrit Direktorat Perikanan telah mengalami perkembangan menjadi beberapa jawatan yakni Jawatan Perikanan Darat, Perikanan Laut, Lembaga Penelitian Perikanan Laut, Lembaga Penelitin Perikanan Darat, Lembaga Pendidikan Usaha Perikanan dan Badan Usaha Perikanan. Kondisi politik dan keamanan yang belum stabil mengakibatkan pemerintah merombak kembali susunan kabinet dan terbentuklah Kabinet Dwikora pada tahun 1964. Pada Kabinet Dwikora ini Departemen pertanian mengalami deskontruksi menjadi 5 buah departemen. Pada

43

kabinet ini terbentuk Departemen Perikanan Darat/Laut dibawah Kompartemen Pertanian dan Agraria. Pembentukan Departemen Perikanan Darat dan Laut merupakan respons pemerintah atas hasil musyawarah nelayan I yang menghasilkan rekomendsi perlunya departemen khusus yang menangani pemilikan dan penguasaan usaha meningkatkan pembangunan perikanan. Melalui pembentukan Kabinet Dwikora yang disempurnakan, Departemen Perikanan Darat/Laut tidak lagi dibawah Kompartemen Pertanian dan Agraria melainkan mengalami reposisi dan bernaung dibawah

Kompartemen Maritim. Di bawah kompartemen baru departemen tersebut mengalami perubahan nama menjadi Departemen Perikanan Dan Pengolahan Kekayaan Laut. Keadaan ini tidak berlangsung lama pada tahun 1965 terjadi pemberontakan G 30 S/PKI dan Kabinet Dwikora diganti dengan Kabinet Ampera pada tahun 1966. Dalam Kabinet Ampera terjadi restrukturisasi kembali yaitu dengan menetapkan susunan kabinet yang terdiri atas sebuah Presidium dan 24 Departemen urusan-urusan perikanan dan kelutan ditangani oleh sebuah departemen yang disebut Departemen Maritim. Departemen Maritim ini terdiri atas 3 Direktorat Jendral yaitu Dirjen Perhubungan Laut, Dirjen Industri Maritim dan Dirjen Pengolahan Laut.

44

B. Masa Orde Baru 1. Reorganisasi Lembaga Kelautan Pada awal perjalanan pembangunan Orde Baru, bangsa Indonesia mewarisi kondisi ekonomi yang cukup parah. Inflasi pada tahun 1966 mencapai angka kurang lebih 650 %. Struktur sosial, politik dan ekonomi bangsa Indonesia waktu itu sebagai warisan akibat demokrasi terpimpin dan ekonomi terpimpin dimasa kekuasaan Presiden Soekarno (Orde lama) hampir runtuh. Harga beras pada akhir tahun 1965 menjadi Rp. 17.500, pada kuartal ke-3 Rp. 50.000 pada kuartal ke-4. Pilihan pemerintah Orde Baru untuk mengatasi kondisi ekonomi yang parah pada tahun 1966 dan 1967 adalah berusaha memperbaiki sarana dan prasarana fisik, restrukturisasi kelembagaan, memulihkan kegiatan produksi dan menekan laju inflansi. Selama periode 1966-1969 pemerintah Presiden Soeharto berusaha meletakkan landasan yang kokoh bagi pelaksanaan pembangunan jangka panjang. Tahapan pembangunan tahun 1967-1969 merupakan periode pertama/tahapan stabilitas dan rehabilitas ekonomi Indonesia. Pada April 1969 pemerintah Orde baru mulai meletakkan pembangunan pada usaha mencapai pertumbuhan ekonomi yang cukup tinggi, yang dijabarkan kedalam Trilogi

Pembangunan yaitu pertumbuhan ekonomi yang cukup tinggi, stabilitas keamanan nasional dan pemerataan hasil-hasil pembangunan. Untuk mendukung hal ini pemerintah kemudian melakukan restrukturisasi dan efesiensi organisasi-organisasi pemerintahan.

45

Restrukturisasi dialami oleh Departemen Perikanan Darat dan Laut. Setelah Kabinet Ampera bubar diganti dengan Kabinet Pembangunan, Dirjen pengolahan kakayaan laut direposisi kembali dan dilebur dalam Dirjen Perikanan dalam naungan Departemen Pertanian. Sepanjang pemerintahan Orde Baru kegiatan-kegiatan dibidang perikanan hanya ditangani institusi setingkat Dirjen. Melalui Keppres No. 163 tahun 1966, Departemen Minyak dan Gas Bumi serta Departemen Pertambangan dilebur menjadi Departemen Pertambangan selanjutnya berubah menjadi Departemen Energi dan Sumber daya mineral. Sedangkan Departemen Perhubungan Laut dibawah Departemen

Perhubungan. Sektor perikanan khususnya yang memiliki institusi setingkat Dirjen ternyata tidak mampu mendorong proses transformasi sosial dan ekonomi dimasyarakat pesisir. Institusi Dirjen tidak memiliki bargaining position yang kuat bila menghadapi institusi yang lebih tinggi hierarki prioritasnya, sehingga tingkat negosiasi politiknya selalu kalah. Akibatnya adalah marjinalisasi peran pesisir tetap berlanjut meski Indonesia telah merdeka. Kebijakan ekonomi Orde Baru lebih mendorong peran

industrialisasi sebagai sektor pemicu pertumbuhan ekonomi. Pilihan ini dilatar belakangi oleh Input Substitution Industry (ISI) yang mendorong pertumbuhan ekonomi melalui pengembangan manufaktur berbahan baku import dan menekan sektor lain yang menyebabkan tidak berkembangnya

46

pengembangan sumber daya lokal yang memiliki Multiplier Effect yang besar pada perekonomian rakyat. Ditambah dengan berbagai

permasalaham pada birokrasi serta budaya KKN yang menggurita. Maka terjadilah konglomerasi yang rapuh dan dengan satu tiupan krisis moneter runtuhlah perekonomian Indonesia. 2. Modernisasi Perikanan/Blue Revolution Modernisasi perikanan/Blue Revolution adalah suatu kebijakan modernisasi dalam bidang perikanan/kelautan. Kebijakan ini dikeluarkan oleh pemerintah ditahun 1970-an dan berlaku di perairan Cilacap pada tahun 1971. Tujuan dari kebijakan ini adalah untuk meningkatkan taraf kehidupan ekonomi nelayan yang direalisir dengan melakukan

modernisasi penangkapan ikan dan motorisasi perahu (Nasution, Arif, 2005:23). Teknologi penangkapan yang digunakan dalam revolusi biru adalah Jaring Trawl, Pukat harimau, Pukat udang dan Jaring berkantong. a. Jaring Trawl Jaring Trawl adalah jenis-jenis jaring berbentuk kantong yang ditarik oleh sebuh kapal bermotor, menggunakan alat pembuka mulut dan jaring yang disebut gawang (beam) yang merupakan sepasang alat pembuka dan dua jaring yang ditarik oleh dua buah kapal bermotor. Nama lainnya dikenal dengan Pukat Tarik, Tangkul Tarik, Jaring Tarik dan Jaring Trawl Ikan, Pukat Langgasi. Alat tangkap ini merupakan alat yang produktif untuk berbagai jenis ikan dasar utamanya udang.

47

Penggunaan Jaring Trawl lebih berharap pada Udang Putih/ Udang Windu yang mahal harganya dan berada di dasar perairan yang dangkal dan banyak bahan organiknya, sehingga banyak beroperasi di pinggir pantai, terutama didekat muara sungai yang subur perairannya karena disinilah udang bermukim. Hal inilah yang menjadi pangkal permasalahan timbulnya benturan kepentingan antara nelayan tradisional dengan nelayan pengusaha Jaring Trawl, hinggga akhirnya mengakibatkan ketegangan sosial antara kedua kelompok tersebut. Di penghujung tahun tujuh puluhan ketegangan bertambah meruncing sehingga dikhawatirkan menimbulkan akibat yang semakin merugikan banyak termasuk keamanan dan kesejahteraan sosial kelompok nelayan tradisional. Oleh karena itu berdasar Keputusan Presiden No.39 tahun 1980 penggunaan Jaring Trawl dilarang. Penghapusan Trawl ini didasarkan pada pertimbangan oleh 3 hal yaitu: pembinaan kelestarian sumber perikanan dasar, mendorong peningkatan produksi nelayan tradisional dan menghindari adanya ketegangan sosial. Sebagaimana ditetapkan dalam pasal 1-9 Keppres No. 39 tahun 1980 maka penghapusan Trawl dilaksanakan secara bertahap. Jangka waktu satu tahun terhitung 1 Juli 1980 sampai 1 Juli 1981 jumlah jaringan trawl dikurangi menjadi 1000 buah. Pelanggaran terhadap pelarangan ini dikenakan sanksi berdasar ketentuan Ordonansi Hindia-

48

Belanda dimana penangkapan ikan pantai yang melanggar ketentuan dikenakan sanksi pidana sekurang-kurangnya 3 bulan atau denda sebesar Rp. 500.000,00. Kapal dan alat penangkapan ikan akan disita. Ordonansi Hindia-Belanda ini masih dipakai karena belum adanya peraturan undang-undang baru yang diterbitkan. Periode setelah Keppres No. 39 tahun 1980 pelarangan operasi Trawl di Indonesia kecuali Laut Arafura dan sekitar Irian Jaya, masih dilaporkan adanya pengoperasian Kapal Trawl di daerah-daerah yang ditetapkan terlarang. Keppres tahun 1980 berisi 9 pasal yang menyatakan secara garis besar bahwa terhitung mulai 1 Juli 1980 Keppres diberlakukan sampai dengan 1 Juli 1981 penghapusan kapal trawl yang berdomisili dan beroperasi di wilayah Jawa, Bali dan Sumatra secara bertahap. Jumlah Kapal Trawl pada wilayah tersebut dikurangi dan dibatasi sampai 1.000 unit kapal. Ketentuan lain yang termaktub dalam Keppres adalah Kapal Trawl yang terkena kebijakan penghapusan dapat melakukan penangkapan ikan setelah alat penangkapan diganti bukan menjadi Trawl. Pihak pemilik Kapal Trawl yang tidak berminat meneruskan usaha penangkapan dapat mengalihkan kapalnya kepada pihak lain/ pemerintah dan mandapat ganti rugi dan mangalihkannya akan diserahkan secara kredit kepada kelompok nelayan yang tergabung dalam KUD. Selanjutnya kapal tersebut diubah menjadi kapal perikanan bukan Trawl (pasal 5).

49

Instansi yang terkait dalm pelaksanaan Keppres adalah Pemerintahan Daerah sebagai pihak yang melaksanakan ketentuan dan Menteri Pertanian yang mengatur pelaksanaannya (pasal 6 dan 7). Sebagaimana dipahami bahwa tujuan diberlakukannya kebijakan penghapusan Trawl adalah untuk mengatur penggunaan alat tangkap Trawl dalam rangka menghindari/ mencegah terjadinya konflik sosial secara luas dikalangan masyarakat nelayan sehingga tercipta suasana aman disekitar wilayah perairan Indonesia. Ketentuan Keppres memuat kesan pemerataan dan keadilan dalam memanfaatkan sumber daya ikan dan menjaga kelanjutan kelestariaannya. Guna lebih mempercepat tercapainnya sasaran dalam kebijakan penghapusan Trawl berdasar Keppres No. 39 tahun 1980 maka dikeluarkan Instruksi Presiden No. 11 tahun 1982 yang erat kaitannya dengan pembinaan kelestarian sumber perikanan dasar, kelancaran upaya peningkatan produksi nelayan tradisional serta mencegah kemungkinan timbulnya ketegangan dan gejolak sosial. Pokok-pokok ketentuan Surat Keputusan Menteri Pertanian tersebut adalah: 1. Terhitung mulai tanggal 1 Januari 1983 melaksanakan penghapusan Jaring Trawl diseluruh Indonesia. 2. Semua izin usaha kapal perikanan bermotor menggunakan Jaring Trawl hanya berlaku sampai dengan tanggal 31 Desember 1982.

50

3. Terhitung mulai tanggal berlakunya Surat Keputusan Menteri Pertanian, ini dilaksanakan penyuluhan dan latihan untuk alih peningkatan keterampilan kepada para nelayan tradisional anak buah Kapal Trawl dan Petani Ikan serta inventaris keinginan para pemilik kapal perikanan yang menggunakan Jaring Trawl dalam rangka rencana penggunaan alat penangkapan ikan jenis lain. 4. Semua ketentuan yang tercantum dalam surat keputusan barsama menteri pertanian, Menteri Dalam Negeri dan Menteri Perdagangan dan Koperasi No. 196/kpts/um/9/1980 tetap berlaku. 5. Surat keputusan ini mulai berlaku pada tanggal ditetapkan yaitu 3 Agustus 1982. b. Pukat Udang. Adanya larangan penggunaan Jaring Trawl menyebabkan turunnya produksi udang. Dampaknya ekspor mancanegara cenderung turun. Mengantisipasi situasi ini pemerintah mencanangkan program udang nasional melaui kebijakan pengembangan tambak udang maupun penangkapan ikan laut untuk nelayan tradisional. Selain mengembangkan budidaya udang tambak dengan pola intensifikasi maupun ekstensifikasi dikeluarkan Keppres No. 85 tahun 1982 tentang penggunaan Pukat Udang.

51

Hal ini dimaksudkan agar menurunnya produksi udang dapat diatasi, Karena Pukat udang spesifikasi mempunyai bagian filter (saringan) sehingga mampu memperkecil hasil samping. Dengan demikian hasil utamanya adalah udang karena sebagian besar ikan ukuran tertentu dapat lolos dari pukat udang ini. Beberapa ketentuan yang ditetapkan dalam penggunaan Pukat udang adalah: a. Pukat udang hanya diperbolehkan beroperasi dikepulauan Kei, Tanibar, Aru, Irian jaya, dan Laut Arafura (131) BT ke timur. b. Izin penggunaan Pukat udang dikeluarkan oleh Menteri Pertanian. c. Jumlah Pukat udang yang boleh beroperasi disesuaikan dengan daya dukung sumber daya ikan/ udang yang ada. d. Di luar daerah yang telah ditetapkan tersebut (a) tetap berlaku Keppres No. 39 tahun 1980 kecuali untuk ilmu pengetahuan. e. Hasil sampingan yang diperoleh dalam penangkapan dengan pukat udang ini harus diserahkan kepada Perusahaan Negara untuk dimanfaatkan. c. Jaring Berkantong. Dengan keputusan Menteri Pertanian No. 503/kpts/7/1980 telah ditetapkan pengertian tentang Jaring Trawl, sehingga jelas perbedaan antara alat tangkap Trawl dengan Jaring Berkantong lain. Ternyata dalam perkembangan selanjutnya perkembangan teknologi dikalangan nelayan usaha skala kecil mengakibatkan adanya modifikasi pada

52

beberapa alat tangkap berbentuk kantong. Alat tangkap berbentuk kantong yang semula tidak masuk klasifikasi Jaring Trawl akibat modifikasi tersebut menjadi masuk dalam klasifkiasi Jaring Trawl. Hal ini menimbulkan gejolak dan keresahan, bahkan bentrok antara nelayan tradisional di daerah. Adanya modifikasi alat tangkap berkantong kadang sulit untuk dibedakan secara pasti apakah alat tangkap tersebut mirip Trawl dan diklasifikasikan sebagai Trawl. Untuk itu pemerintah mengeluarkan petunjuk pelaksanaan Keputusan Menteri Pertanian No.1/

IK.340/DJ.10106/97, dengan pokok-pokok penetapannya sebagai berikut: 1. Jaring Trawl merupakan jenis-jenis jaring berbentuk kantong yang ditarik oleh sebuah kapal bermotor dan menggunakan alat tangkap pembuka mulut jaring yang disebut gawang (beam) atau sepasang alat pembuka (otter-board) dan jaring yang ditarik oleh 2 kapal bermotor. 2. Spesifikasi Jaring Trawl terdiri dari: Tali penarik (warp), Papan pembuka mulut jaring (otterboard) atau gawang (beam), Tali tangan (hand rope), Sayap jaring (wing), Mulut jaring, Badan jaring (body), Kantong (cod end). 3. Jaring Trawl dengan spesifikasi seperti tersebut diatas pada butir b tetap dilarang penggunaannya.

53

4. Alat berbentuk kantong yang telah diubah/dimodifikasi sehingga bentuk, komponen serta ukuran alat tangkap ikan berbentuk kantong yang menyerupai Jaring Trawl tetapi tidak termasuk dalam klasifikasi Jaring Trawl antara lain: Cantrang, Arad, Otok, Garuk dan Kerang. 5. Alat penangkapan ikan berbentuk kantong yang telah diubah/ dimodifikasi hanya boleh digunakan oleh Nelayan Usaha Skala Kecil yaitu nelayan yang mempunyai sebuah kapal tidak bermotor atau bermotor luar/bermotor dalam berukuran tidak lebih 5 Gross Ton (GT). Atau mesin yang berkekuatan tidak lebih 15 Daya Kuda (DK), kecuali Lampara dasar dapat menggunakan kapal berukuran panjang tidak lebih 12 meter sebagaimana yang telah diatur dalam Keputusan menteri pertanian No 767/kpts/IK.210/10/1988. 3. Undang-Undang Perikanan. Sebelum Undang-Undang Perikanan No. 9 tahun 1985 keluar, berdasar Aturan Peralihan Pasal II Undang-Undang Dasar tahun 1945 tercantum bahwa: “Segala badan negara dan peraturan yang ada masih langsung berlaku, selain belum diadakan yang baru menurut undangundang Dasar ini”. Ini merupakan terjadinya kekosongan hukum (recht vacuum). Artinya sebelum pemerintahan bersama dengan DPR sempat melahirkan undang-undang yang baru maka Ordonansi Hindia-Belanda masih berlaku.

54

Berlakunya Undang-Undang No. 9 tahun 1985 mengandung konsekuensi bahwa semua Ordonansi Hindia-Belanda yang bertentangan dengan undang-undang perikanan tersebut dinyatakan tidak berlaku lagi. Peraturan perundang-undangan yang terbit berupa peraturan pemerintah, Surat keputusan menteri pertanian dan lain lain, yang pada dasarnya dimaksudkan mengatur lebih baik lagi pelaksanaan kebijakan

pembangunan perikanan. Beberapa peraturan perundangan yang penting dan yang dapat dikumpulkan antara lain Peraturan Pemerintah No. 15 Tahun 1990 tentang usaha perikanan, yang kemudian disempurnakan dengan peraturan pemerintah No. 46 Tahun 1993 tentang perubahan atas peraturan pemerintah No. 15 Tahun 1990 tentang usaha perikanan (dibahas pada perizinan usah perikanan). Adapun beberapa peraturan perundangan pokok-pokok

ketetapannya adalah sebagi berikut: 1. Surat Keputusan Menteri Pertanian No. 173a/kpts/IK.250/6/1985, tentang jumlah tangkap ikan yang diperbolehkan di Zona Ekonomi Eklisif. 2. Surat Keputusan Menteri Pertanian No. 475/kpts/IK.120/7/1985 tentang perizinan bagi orang atau badan hukum asing untuk menangkap ikan di Zona Ekonomi Eklusif. 3. Surat Keputusan Menteri Pertanian No. 475/kpts/IK.120/7/1985 tentang penetapan tempat melapor bagi kapal perikanan yang mendapat izin menangkap ikan di Zona Ekonomi Eklusif.

55

4. Surat Keputusan Menteri Pertanian No. 475/kpts/IK.120/7/1988 tentang perubahan besarnya pungutan penangkapan ikan bagi orang/badan hukum asing yang melakukan penangkapan ikan di Zona Ekonomi Eklusif. 5. Surat Keputusan Menteri Pertanian No. 277/kpts/IK.120/5/1987 tentang perizinan usaha bidang penangkapan ikan di perairan Indonesia dan Zona Ekonomi Eklusif. 6. Surat Keputusan Menteri Pertanian No. 362/kpts/RC.410/6/1989 tentang kriteria jenis kegiatan dilingkungan sektor pertanian yang wajib dilengkapi dengan penyajian informasi lingkungan (PIL) dan penyajian evaluasi lingkungan (PEL). 7. Surat Keputusan Menteri Pertanian No. 815/kpts/IK.120/11/1990 tentang perizinan usaha perikanan. 8. Surat Keputusan Menteri Pertanian No. 816/kpts/IK.120/11/1990 tentang penggunaan kapal perikanan berbendera asing dengan cara sewa untuk menangkap ikan di Zona Ekonomi Eklusif. 9. Surat Keputusan Menteri Pertanian No. 375 thun 1995 tentang pelarangan penangkapan ikan Napoleon Wrasee, kecuali untuk penelitian dan pengembangan ilmu pengetahuan dan

pengembangan budidaya, penangkapan oleh nelayan tradisional dengan alat dan tata cara yang tidak merusak lingkungan. 10. Keputusan Menteri perindustrian dan Menteri Perdagangan No. 94/Kp/V/1995 tentang larangan ekspor ikan Napoleon Wrasse.

56

Dalam keadaan hidup/ mati termasuk bagian-bagian dari padanya maupun barang-barang kecuali yang ditangkap dengan izin menteri pertanian. 11. Keputusan Direktorat jendral Perikanan No. HK.330/S3.663/1996 tentang perubahan Keputusan dirjen perikanan No.

HK.330/Dj.8259/1995 tentang ukuran, lokasi dan tata cara penangkapan ikan. 12. Keputusan Menteri Pertanian No. 14/kpts/IK.410/1996 tentang perubahan ke-2 Surat Keputusan Menteri Pertanian No.

114/kpts/IK.410/2/1996 tentang penetapan pelabuhan sebagai pangkalan bagi kapal perikanan berbendera asing yang disewa perusahaan Indonesia untuk menangkap ikan di Zona Ekonomi Eklusif Indonesia. 13. Keputusan Menteri Pertanian No 392/kpts/IK.120/4/1999 tentang jalur-jalur penangkapan ikan. 4. Jalur-jalur Penangkapan ikan. Kurun waktu sebelumnya berdasar Surat Keputusan Menteri Pertanian No. 697/kpts/um/9/1976 jo No. 608/kpts/um/9/1976 dan No. 330/kpts/um/5/1978 telah diatur adanya jalur-jalur penangkapan ikan di wilayah Perikanan Republik Indonesia. Sebagi wujud pelaksanaan pasal 4 Undang-Undang No. 9 tahun 1985 tentang perikanan dan adanya perkembangan teknologi penangkapan ikan maka dirasa perlu adanya pengaturan jalur-jalur penangkapan ikan. Atas dasar inilah pemerintah

57

mengeluarkan Keputusan menteri pertanian No. 392/kpts/IK.120/4/1999 tentang jalur-jalur penangkapan ikan yang terdiri dari 14 pasal yang mengatur tentang adanya 3 jalur penangkapan ikan, penggunaan kapal perikanan dan alat penangkapan ikan serta tanda pengenal alat penangkapan ikan. Pada pasal 2 wilayah perikanan Republik Indonesia dibagi menjadi 3 jalur penangkapan ikan yaitu jalur penangkapan ikan I, II dan III, semula berdasar peraturan perundangan yang lama terbagi atas 4 jalur. Sebagaimana pasal 3 keputusan ini, jalur penangkapan ikan I meliputi perairan pantai diukur dari permukaan air laut pada surut terendah pada setiap pulau sampai dengan jarak 6 mil laut ke arah laut. Jalur penangkapan ini dibagi menjadi 2 yaitu: a. Perairan pantai yang diukur dari permukan air laut pada surut terendah sampai 3 mil laut. b. Perairan pantai di luar 3 mil laut sampai dengan 6 mil laut.

Jalur penangkapan ikan sampai 3 mil laut tersebut hanya diperbolehkan untuk: 1. Alat tangkap ikan menetap. 2. Alat penangkapan ikan yang tidak menetap yang tidak dimodifikasi. 3. Kapal perikanan tanpa motor dengan ukuran panjang

keseluruhan tidak lebih dari 10 Meter.

58

Perairan pantai diluar 3 mil laut sampai dengan 3 mil laut hanya diperbolehkan untuk: 1. Alat penangkapan ikan yang tidak menetap modifikasinya. 2. Kapal perikanan tanpa motor dan bermotor tempel dengan ukuran panjang 10 meter, bermotor tempel dalam ukuran maksimal 12 meter/ 5 Gross (GT), Pukat Cincin berukuran panjang maksimal 150 meter, dan Jaring Insang ukuran panjang 1.000 meter. Jalur penangkapan ikan II (pasal 4) meliputi perairan di luar jalur penangkapan ikan I sampai dengan 12 mil laut ke arah laut, pada jalur ini hanya diperbolehkan untuk: 1. Kapal perikanan bermotor dalam ukuran 60 GT, 2. Kapal perikanan dengan menggunakan alat tangkap ikan: pukat cincin, tuna long dan jarring ingsang. Jalur penangkapan ikan II pasal 5 meliputi perairan di luar Zona Ekonomi Eklusif Indonesia diatur sebagai berikut: 1. Diperairan Indonesia diperbolehkan untuk kapal perikanan berbendera Indonesia ukuran maksiml 200 GT, kecuali yang menggunakan alat penangkapan ikan purse pelangis dasar di Teluk Tomini, Laut Maluku, Laut Seran dilarang untuk semua ukuran. 2. Perairan Zona Ekonomi Eklusif Indonesia Selat Malaka diperbolehkan untuk kapal berbendera Indonesia ukuran

59

maksimal 200 GT, kecuali yang menggunakan alat penangkapan ikan, pukat ikan minimal 69 GT. 3. Perairan Zona Ekonomi Eklusif Indonesia di luar Zona Ekonomi Eklusif Indonesia Selat Malaka diperbolehkan bagi kapal perikanan berbendera Indonesia ukuran maksimal 350 GT bagi semua alat penangkapan ikan, kapal perikanan ukuran diatas 350 GT sampai 800 GT yang menggunakan alat tangkap ikan purse seine hanya boleh beroperasi di luar Jawa 100 mil laut garis pangkal Kepulauan Indonesia. Kapal perikanan dengan alat tangkap ikan purse seine dengan sistem grup hanya boleh beroperasi di luar 100 mil laut garis pengkal kep. Indonesia. Sejak masa Hindia-Belanda sampai Indonsia merdeka bidang kelautan disatukan dalam bidang pertanian. Hal ini berpengaruh terhadap kebijakan yang dikeluarkan pemerintah, karena bidang kelautan dan pertanian memiliki karakteristik yang berebeda. Kabijakan dan peraturan kemaritiman telah tercipta sejak masa Hindia-Belanda meski hanya bersifat sepenggal-penggal sehingga belum menciptakan adanya satu kesatuan yang utuh. Ordonansi Hindia-Belanda sebagai undang-undang perikanan yang berisi tentang peraturan perizinan penangkapan dan sanksi-sanksi atas pelanggaran ternyata hanya berpihak pada satu kelompok pemilik izin yaitu para tauke Belanda sehingga nelayan tradisional terabaikan.

60

Pada masa kemerdekaan ordonansi Hindia-Belanda tetap dipakai hingga Indonesia merdeka karena belum tercipta undang-undang perikanan yang baru. Perbaikan dalam bidang kelautan dilakukan pada lembaga-lembaga yang menangani perikanan/ restrukturisasi yang bertujuan untuk kesejahteraan nelayan dan tercapainnya pembangunan sektor perikanan. Masa Orde lama pembangunan sektor kelautan mulai memantapkan diri namun terhalang oleh adanya sistem pemerintahan yang berganti-ganti/ pergatian kabinet. Pada masa Orde baru pembangunan kelautan dan perikanan dimantapkan. Lembaga-lembaga kelautan mengalami restrukturisasi serta kebijakan mengarah untuk kesejahteraan masyarakat nelayan. Namun hal ini tetap kurang tepat sasaran karena kelautan masih dalam bargaining position dibandingkan dengan sektor lain/ pertanian, sehingga

marjinalisasi masih terus berlanjut. Hal lain dipicu adanya kebijakan Orde baru yang lebih mendorong peran industrialisasi sebagai sektor pemicu pertumbuhan ekonomi serta adanaya praktek-praktek pelanggaran berupa KKN, sehingga kabijakan kurang tepat sasaran. Kebijakan modernisasi perikanan menjadi satu-satunya cara yang dilakukan Orde baru guna meningkatkan produksi ikan yang diberlakukan tahun 1970-an, berupa alat penangkapan trawl/ Pukat harimau. Tujuan untuk kesejahteraan para nelayan tidak tercapai karena muncul ketegangan-ketegangan diantara nelayan, antara pemilik modal besar dengan nelayan tradisional. Nelayan tradisional merasa tidak adil karena

61

hasil tangkapan ikan semakin menurun akibat pemakaian teknologi yang lebih bamyak menangkap ikan (perbedaan pemakaian teknologi penangkapan ikan). Terjadilah kesenjangan sosial-ekonomi, menjadi kompleks dengan lahirnya persoalan lain terkait dengan ekologi nelayan, sosial dan budaya. Meskipun pemerintah telah melakukan berbagai upaya untuk menyelesaikan permasalahan nelayan namun masih tetap timbul masalah baru. Sebagai contoh pelarangan terhadap trawl dengan dikeluarkannya Undang-Undang No. 39/1980, dilanggar dengan masih beroperasinya kapal trawl atau sejenisnya. Jika dicermati selama tahun 1970-1998 kebijakan kemaritiman yang diterapkan pemerintah dengan peraturan perundang-undangan bertujuan untuk kesejahteraan masyarakat nelayan. Namun hal ini tidak tepat sasaran, karena hanya dinikmati oleh satu kelompok pemilik modal besar dari luar daerah saja. Kebijakan yang dikeluarkan pemerintah selama ini berupa paket-paket peraturan/ undang-undang berlaku nasional tanpa memahami adanya karakteristik antar wilayah yang berbeda. Hal inilah yang menjadi salah satu pemicu timbulnya ketegangan pada masyarakat pesisir. Pemberlakuan kebijakan sering kali dinikmati oleh segelintir orang sehingga tercipta kesan adanya ketidak-adilan yang berakibat adanya kecemburuan akibat kesenjangan sosial antara pemilik izin dengan non pemilik izin hal ini terjadi mulai masa Hindia belanda hingga Indonesia telah merdeka bahkan sampai sat ini. Ikatan patron-klien

62

semakin kuat dan nelayan sulit lepas dari ikatan ini. Sehingga ada kesan bahwa pembangunan hanya sekedar rencana/ omongan, masyarakat tidak semua menikmati karena adanya kurang tepat sasaran. Mungkin ada benarnya bahwa peraturan dibuat untuk dilanggar akibat adanya penyelewengan.

63

BAB IV DINAMIKA GERAKAN NELAYAN TAHUN 1978-1998

A. Karakteristik masyarakat nelayan Cilacap. Karakteristik masyarakat nelayan Cilacap adalah masyarakat yang selalu berani, terbuka, mempunyai tingkat emosi yang tinggi serta cenderung keras. Karakteristik ini dilatar-belakangi karena lingkungan geografis, dalam memperjuangkan hidup harus benar-benar berjuang melawan alam terbuka berupa tantangan-tantangan melawan ombak besar dan musim yang tidak pernah bersahabat/ kadang berubah (Wawancara dengan Munirin, 16 Sept.2004). Kusumastanto (2005) mengungkapkan bahwa: “…Dari sudut sosiologis-historis dan kultur masyarakat pesisir (nelayan) menunjukan pola sikap dan hidup kosmopolitan/ internasionalisme, dinamisme, interprenersip, outword looking dibandingkan masyarakat pedalaman”. (Kusumastanto, 2005:61). Dengan karakteristik ini masyarakat nelayan sangat rentan terhadap berbagai isu-isu yang berkobar dalam masyarakat nelayan, terjadilah berbagai ketegangan-ketegangan yang kadang tidak mereka mengerti pokok permasalahannya. Dalam usaha perikanan sangat tergantung pada musim, harga dan pasar maka sebagian besar karakteristik masyarakat pesisir (khususnya nelayan dan petani ikan) tergantung pada faktor-faktor sebagai berikut: 1. Kondisi ekosistem dan lingkungan yang rentan pada kerusakan, pencemaran dan degradasi kualitas lingkungan. Pembangunan kawasan industri di wilayah pesisir telah menjadi salah satu penyebab hancurnya

64

sendi-sendi ekonomi kehidupan masyarakat seperti: anjloknya produksi penangkapan Ikan, Tambak Udang, Tambak Bandeng dan Garam rakyat. 2. Ketergantungan pada musim. Ketergantungan pada musim sangat besar terutama pada nelayan kecil. Pada musim penangkapan mereka sangat sibuk, sedang pada musim peceklik mereka mencari kegiatan ekonomi lain atau menganggur. Secara umum pendapatan nelayan sangat fluktuatif. Kondisi ini tercermin dari pola hidup masyarakat nelayan. Pada musim Panen cenderung bersifat konsumtif/ berfoya-foya dan pada musim Paceklik mereka lebih banyak terlibat utang dengan rentenir/ tengkulak. Kondisi ini menyebabkan pola hubungan yang khas dikalangan masyarakat nelayan kecil, buruh nelayan, petani tambak ikan terikat oleh hubungan Patron-klien yaitu antara nelayan kecil dengan para tengkulak. Akibatnya para nelayan menjadi terikat dan tereksploitasi oleh juragan/ rentenir da harus membayar utang melalui tenagannya (self exploitatioan). 3. Tergantung pada pasar. Hal ini dikarenakan komoditas yang dihasilkan harus segera dijual untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari guna menghindari ikan yang busuk sebelum laku dijual. Karakteristik ini mempunyai implikasi yang sangat penting yaitu masyarakat nelayan sangat peka terhadap fluktuatif harga. Perubahan harga sekecil apapun sangat mempengaruhi kondisi sosial masyarakat nelayan.

65

Dari ketiga persoalan diatas persoalan yang paling mendasar dan terus menerus mempengaruhi nelayan adalah persoalan sosial dalam konteks makro menyangkut ketergantungan sosial Patron-klien. Faktor kelemahan yang dimiliki nelayan sebagai nelayan tradisional dan pendega adalah bahwa mereka tidak bisa menghindari adanya sistem sosial budaya yang disadari/ tidak menjeratnya kedalam lingkaran kemiskinan. Sistem sosial budaya ini sudah begitu sangat melembaga pada masyarakat nelayan. Persoalan yang juga krusial dalam masyarakat nelayan adalah berkembangnya mafia-mafia penangkapan ikan yang memanfaatkan

berkembangnya tangkahan-tangkahan (pendaratan ikan ilegal) yang konon mendapat garansi dari oknum-oknum aparat sipil dan militer di daerah dan pusat (data 4). Kerusuhan masa berupa pembakaran kapal yang terjadi pada nelayan Cilacap adalah merupakan konflik horizontal antar nelayan akibat penguasaan oleh kelembagaan ekonomi oleh sekelompok kecil masyarakat atas kelompok masyarakat nelayan yang terpinggirkan.

B. Permasalahan dan awal terjadinya konflik nelayan. Dayan Daud dalam Panuju (2002) memberi perspektif bahwa konflik sosial bisa disebabkan distribusi kekuasaan yang dirasakan tidak memperhatikan keadilan. Pola pengolahan program politik dan ekonomi dalam tatanan sistem birokrasi sipil sejak tingkat pusat hingga ke daerah sampai ketingkat desa bersifat sentralistik dengan mengabaikan kepentingan masyarakat setempat.

66

Secara umum awal terjadinya ketegangan nelayan/ konflik adalah adanya perbedaan dalam penghasilan (kesenjangan sosial) antara penguasa alat produksi modern dengan nelayan tradisional. Ketegangan berawal ketika pada tahun 1975 adanya kedatangan nelayan yang berasal dari luar Cilacap. Nelayan tersebut antara lain adalah nelayan Tegal, Brebes, nelayan Madura dan nelayan Cina bagan siapi-api Riau. Kadatangan nelayan dari luar daerah ini dibarengi dengan adanya pemberlakuan kebijakan pemerintah untuk meningkatkan produksi

perikanan dan kesejahteraan nelayan berupa modernisasi perikanan/ Blue Revolution, Blue Revolution adalah suatu kebijakan untuk meningkatkan kesejahteraan nelayan dengan meningkatkan hasil tangkapan ikan dengan menggunakan perahu modern, seperti Trawl (Gb.13), Pukat Harimau dan sejenisnya (Gb. 10-14). Karena modal banyak dimiliki oleh para tauke Cina Bagansiapi-api maka teknologi tangkap perikanan Trawl dan Pukat Harimau hampir semua dikuasai oleh mereka. Nelayan tradisional kalah modal sehingga hanya beberapa segelintir orang yang saja yang mempunyai kapal tersebut. Keadaan ini telah menciptakan adanya stratifikasi yaitu kelompok nelayan pendatang (Bagansiapi-api) dan nelayan tradisional. Perbedaan alat penangkapan ikan ini telah membuat adanya perbedaan hasil tangkapan ikan, secara otomatis Kapal Trawl memperoleh hasil tangkapan jauh lebih banyak dibandingkan kapal nelayan tradisonal, karena jaungkauan pencarian ikan Kapal Trawl yang berada di tengah laut. Kapal

67

Trawl/ Pukat harimau dalam sehari rata-rata mampu menangkap ikan 27 kwintal sedang kapal tradisional menangkap ikan maksimal 3-5 kwintal (Wawancara dengan Tori, 23 Oktober 2005). Hal ini membuat para nelayan lebih memilih untuk menjadi ABK Kapal Trwal, karena hasil tangkapan ikan yang tidak mampu mencukupi kebutuhan sehari-hari. Mereka merasa dengan menjadi ABK Kapal Trawl perbaikan nasib bisa terjadi. Sungguh sesuatu yang ironis karena nelayan asli harus tunduk dan mengabdi pada nelayan pendatang. Tingkat ekonomi nelayan Cina Bagansiapi-api terlihat begitu berbeda jauh dengan nelayan tradisional. Hal ini diungkapkan oleh Tohirin sebagai berikut: “ Kami (nelayan tradisional) tidak pernah bisa untuk membeli sebuah Televisi, membuat rumah dari tembok bahkan kami kesulitan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari kami. Sebaliknya para tauke Cina Bagansiapi-api bisa membangun rumah mewah lebih dari satu lengkap dengan segala fasilitasnya”. (Wawancara dengan Tohirin,24 Oktober 2005). Keadaan ini memicu adanya kesenjangan ekonomi yang kemudian menjadi ketegangan/ konflik. Nelayan tradisional merasa tidak adil karena orang-orang Cina Bagansiapi-api seperti raja yang berkuasa di negeri orang. Keadaan semakin memanas ketika nelayan tradisional hasil tangkapan ikan menurun bahkan tidak mendapatkan ikan sama sekali akibat eksploitasi oleh kapal trawl. Permasalahaan menjadi kompleks ketika pada Agustus 1978 para ABK merasa tidak diperlakukan adil oleh juragan kapal trawl dan adanya masa paceklik dimana ABK kesulitan

68

memenuhi kebutuhan sehari-hari. Perlakuan para juragan dinilai kurang manusiawi karena gaji mereka tidak dinaikkan. Sebagai bentuk protes terhadap kapal trawl adalah nelayan tradisional melakukan penjarahan dan kadang membakar kapal ketika bertemu di laut atau membawa kapal kedarat menurunkan para ABK dan kemudian membakar kapal di tengah laut. Permasalahan perikanan dan nelayan mempunyai tingkat komplektifitas yang cukup tinggi.

Kemiskinan, persaingan dan konflik budaya sering didekati dengan satu aspek dimana peneyelesaiannya bersifat karikatif semata-mata. Beberapa permasalahan nelayan yang mengarah pada konflik nelayan Cilacap: 1. Penerapan Teknologi. Adanya perbedaan dalam penggunaan teknologi penangkapan baik berupa kapal maupun jaring penangkapan. Pemakaian Trawl/ Pukat Harimau di perairan Cilacap telah berlangsung sejak tahun 1972. Keadaan ini telah mengundang ketegangan antara nelayan tradisional dengan kapal trawl karena perolehan hasil tangkap ikan, nelayan tradisional menurun hasil tangkapan ikannya karena terekspolitasi oleh Kapal Trawl. Trawl mampu menangkap ikan dengan hasil yang besar tanpa

memperhatikan dampak lingkungan laut yang rusak karena eksplotasi. Dalam masyarakat nelayan terdapat dua klasifkasi/ tingkatan sosial nelayan yang didasarkan pada teknologi penangkapan yaitu nelayan modern dan nelayan tradisional. Nelayan modern mengunakan

69

teknologi yang lebih maju dibandingkan dengan nelayan tradisional, dapat dilihat dari ukuran perahu yang lebih besar dan alat tangkap jaring besar yang beroperasi di daerah tengah laut. Sehingga Perolehan hasil tangkapan oleh nelayan modern lebih banyak. Hal ini menimbulkan ketegangan antar nelayan modern dan nelayan tradisional. Nelayan modern memperoleh tangkap lebih tetapi nelayan tradisional sedikit bahkan kadang-kadang tidak mendapat ikan. Timbul kesenjangan sosial yang kamudian menjadi konflik nelayan. Kecermatan dalam mengelola teknologi ternyata merupakan salah satu faktor yan harus diperhitungkan dalam memelihara kohesi sosial. Kompetisi antar nelayan pengeksploitasi sumber daya kelautan di perairan tradisional telah bergeser menjadi konflik terbuka. Bermula dari menurunnya ikan hasil tangkapan nelayan tradisional yang dituduh simultan dengan merajalelanya operasi kapal Pukat Harimau/ Trawl untuk menjaring ikan berbagai ukuran dan jenis pada zona tradisional berjarak 6 mil. Konflik terbuka antar nelayan telah menimbulkan pecahnya kohesi sosial internal nelayan dan telah menimbulkan korban manusia dan kerugian dari kedua belah pihak (Nasution, 2005:11). Tahun 1975 Kapal Trawl/ Pukat Harimau banyak beroperasi di perairan Cilacap. Hal ini menimbulkan ketegangan pada Agustus 1979 dengan nelayan tradisional karena hasil tangkapan ikan menjadi menurun. Selain hal tersebut lingkungan biotik laut rusak akibat

70

eksploitasi Kapal Trawl/ Pukat Harimau. Nelayan melakukan protes kepada Pemerintah Daerah pada 12 Agustus 1979 namun tidak mendapat tanggapan yang serius dari pemerintah. Ketegangan semakin memanas dengan ditandai penjarahan kapal Pukat Harimau oleh nelayan tradisional serta pembakaran kapal sebagai bentuk protes.

2. Perebutan batas wilayah penangkapan. Wilayah penangkaan bagi nelayan modern (Pukat Harimau, Trawl, dan lain-lain) adalah di daerah tengah laut, sedang nelayan tradisional adalah di daerah laut pinggiran. Ketegangan terjadi ketika para nelayan modern melakukan penangkapan ikan di daerah tepi dan menguras habis semua ikan. Pada tahun 1979 harga Udang naik tinggi Rp. 20.000,00/kg. Hal ini memicu untuk hanya menangkap Udang. Tak terkecuali Nelayan trawl, terjadi ketegangan antara nelayan Trawl dengan nelayan tradisional karena nelayan tradisional merasa tidak adil karena hasil tangkapan menurun/ kalah dengan Trawl. Biota udang adalah berada di daerah tepi yang berbatasan dengan sungai yang banyak mengandung organiknya, keadaan semakin memanas dengan sikap para ABK Kapal Trawl yang membuang ikan, hal ini dianggap melecehkan nelayan tradisional karena ikan langka ditambah lagi dengan terdesaknya daerah penangkapan ikan oleh Kapal Trawl. Ketika harga udang naik Kapal Trawl mulai menangkap ikan di daerah tepi pantai yang merupakan wilayah penangkapan nelayan

71

tradisional. Mereka hanya menangkap udang dan membuang ikan. Hal ini merupakan bentuk pelecehan karena ikan langka akibat adanya musim paceklik (Wawancara dengan Tohirin, 25 Oktober 2005). Alat tangkap Trawl adalah alat tangkap poduktif untuk berbagai jenis ikan dasar utamanya adalah udang, karena mahal harganya. Sifat biologis udang adalah hidup di dasar perairan dangkal yang banyak organiknya oleh karena itu Jaring Trawl banyak beroperasi di pinggiran pantai dan muara sungai. Timbulah benturan kepentingan antara nelayan tradisional dan modern (Trawl) yang berujung pada ketegangan sosial antara dua kelompok (Tribawono, 2002: 68). 3. Kesenjangan Ekonomi. Dalam masyarakat nelayan terdapat dua kelas/ tingkatan yaitu juragan (pemilik kapal) dan pendega/buruh

penanggung jawab kapal dan anak buah kapal). Juragan memiliki ciri tingkat ekonomi yang cukup mapan dibanding dengan pendega dan buruh. Hal inilah yang menimbulkan adanya kesenjangan dan kecemburuan ekonomi, ditambah lagi dengan para juragan yang kebanyakan adalah pendatang (Etnis Tionghoa). Nelayan merasa bahwa yang seharusnya menikmati adalah para nelayan tradisional, namun dalam kenyataannya nelayan tradisional dalam keadaan yang memprihatinkan. Pada akhirnya nelayan melakukan berbagai cara/alasan untuk melakukan protes yang pada intinya adalah kesenjangan sosial. Tuntutan itu seperti: menuntut

72

kenaikan gaji ABK, pembagian hasi tangkapan yang tidak adil dan protes terhadap Trawl. Protes nelayan Cilacap tahun 1998 adalah dilatar belakangi oleh adanya kesenjangan sosial antara nelayan Cina Bagansiapi-api dengan nelayan tradisional/pribumi. Para nelayan Cina yang disebut dengan Tauke Cina Bagan mendominasi perikanan di Cilacap. Mereka seperti raja di negeri orang, sebutan bagi keberhasilan para Tauke Cina. Sebuah Kapal Trawl milik Tauke Cina dalam sekali melaut (10-14 hari) mampu membawa hasil tangkapan ikan 3-4 ton. Hasil ini 90% masuk kepemilik kapal/juragan sedang 10% dibagikan kesemua ABK/buruh kapal. Sebaliknya dengan nelayan tradisional hasil yang diperoleh dalam sehari hanya 2 kwintal itupun pada musim panen yang harus dibagi dengan anggota yang ikut dalam kapal (data 5). Karakteristik yang keras dan pokoke ini mempermudah terjadinya konflik/ketegangan sosial. Isu-isu yang ada langsung begitu saja ditanggapi dengan negatif. Laut adalah milik nenek moyang yang diwariskan secara turun temurun dan hanya untuk mereka, orang luar tidak berhak atau mengeksploitasi karena selama ini nelayan Cilacap hanya menggunakan laut dengan secukupnya (Wawancara dengan Tori, 23 November 2004). Kondisi ini tentu berbeda dengan rencana pemerintah/ kebijakan, dimana menggunakan laut dengan sebaik-baiknya adalah

73

sah demi kesejahteraan masyarakat nelayan. Sebuah pembangunan memerlukan pengorbanan tetapi apakah rakyat merasakan dampak yang seharusnya tidak mereka derita demi dalih kesejahteraan. Gerakan nelayan merupakan suatu reaksi atas suatu aksi yang dilakukan sebagai respons terhadap ketidak-seimbangan, ketidakadilan dan ketidak-merataan yang ditimbulkan (Wahono, 2003:166). Selama tahun 1970-1997 pembangunan kelautan selalu diposisikan sebagai sektor pinggiran dalam pembangunan ekonomi nasional. Sektor kelautan dalam pengambilan kebijakan disamakan dengan darat (pertanian) meski mempunyai karakteristik yang berbeda. Penerapan teknologi yang bermaksud meningkatkan

kesejahteraan para nelayan ternyata tidak sesuai tujuan karena teknologi pemakaian dikuasai oleh para nelayan pendatang yang mendominasi teknologi penangkapan modern. Akibatnya terjadi masalah-masalah ekologis, penghasilan nelayan menurun, tercipta kesenjangan sosial antara nelayan tradisional dan modern. Nasution (2005) mengungkapkan bahwa: “…Transformasi teknologi penangkapan sebagai bagian dari modernisasi ternyata berimplikasi pada munculnya polarisasi ekonomi nelayan yang mengelompoknya nelayan pemilik dengan non-pemilik alat produksi. Kondisi ini merupakan faktor struktural kemiskinan nelayan yang terjadi oleh karena sistem bagi hasil yang tidak adil dan kuatnya determinasi pemilik dalam setiap relasi kerja dan sosial-ekonomi nelayan”. (Nasution, 2005:9). Nelayan yang tidak memiliki alat produksi kurang mampu memanfaatkan peluang yang terpapar dalam persaingan merebut sinergi

74

pangsa produksi kelautan dibandingkan kelompok nelayan yang mempunyai akses kelubang modal dan kekuasaan. Gerakan nelayan Cilacap merupakan perjuangan nelayan-nelayan tradisional dalam mempertahankan hak-haknya atas sumber daya perikanan untuk menjaga kelangsungan hidupnya. Berikut kutipan Bernas edisi 28 dan 29 Agustus 1998 yang merupakan puncak dari gerakan nelayan. Bermula ketika ratusan nelayan tradisional dan para buruh ABK Trawl/Pukat harimau berduyun-duyun mendatangi PPNC (Gb.2), para awak Kapal Pukat Harimau menuntut agar gaji mereka dinaikan. Pada saat yang sama nelayan tradisional menuntut, menagih janji otoritas pihak PPNC untuk melakukan pembukaan dan pelebaran pintu sudetan (dermaga), agar perahu tradisional dapat berlalu-lalang secara bebas. Tuntutan lain adalah agar kapal Pukat harimau tidak beroperasi di perairan Cilacap/lokasi wilayah operasi kapal tradisional. Unjuk rasa ini mengarah pada tindakan yang anarkis dengan nelayan membakar Pukat harimau/Trawl di Dermaga PPNC (Gb.6). Kemudian menjalar pada perusakan dan penjarahan sejumlah toko dan rumah yang merupakan milik Etnis Tionghoa. Pemicu dari unjuk rasa ini adalah adanya isu akan datangnya Kapal Trawl sejumlah 500 kapal Pukat Harimau/Trawl milik para Tauke Cina Bagansiapi-api karena adanya kongkalikong dengan oknum aparat Pelabuhan. Gerakan nelayan Cilacap mencerminkan berlangsungnya toleran aparat keamanan Negara terhadap pelanggaran hukum yang dilakukan

75

oleh pemilik kapal Pukat harimau, penetrasi kepentingan ekonomi para pemilik modal besar dari luar daerah dan persaingan yang tidak seimbang antar nelayan dalam memperebutkan sumber daya perikanan karena perbedaan tingkat kecanggihan teknologi penangkapan yang ada. Beberapa faktor yang menjadi katalisator dalam konflik nelayan diantaranya: 1. Kurang akses terhadap teknologi. Realitas masyarakat nelayan adalah masyarakat yang selalu kalah, kekalahan pertama adalah ketidak-mampuannya dalam mengatasi alam yang tidak selalu bersahabat. Kekalahan kedua adalah dalam realitas sosial mengalami marjinalisasi karena ketertinggalan teknologi dan permasalah yang begitu kompleks (Wahono, 2002:167). Penerapan modernisasi perikanan berupa motorisasi alat penangkapan ikan dan jaring penangkapan (Trawl/Pukat harimau) pada tahun 1970-an telah membuat berbagai kondisi yang memprihatinkan dalam masyarakat nelayan. Kapal Trawl hanya dapat dimiliki oleh nelayan Cina Bagan yang memiliki modal besar. Terdapat perbedaan penghasilan yang secara tidak sengaja telah menciptakan adanya startifikasi/pengelompokan nelayan. Nelayan masih memakai alat tangkap dengan kapal tradisional seperti Compreng, yang hanya menangkap ikan di daerah tepi pantai dengan memperoleh hasil ikan yang sedikit.

76

Satuan penangkapan ikan berskala kecil seringkali disebut sebagai usaha perikanan tradisional di negara-negara berkembang termasuk Indonesia, disamping menghadapi pertentangan dengan perikanan skala besar/modern, juga mengalami keterbatasanketerbatasan lain yang mengakibatkan mereka tetap berada dalam keadaan subsisten. Keterbatasan-keterbatasan itu meliputi

keterbatasan sumber daya ikan dan sifat open acces dari perikanan (Nasution, 2002:12). 2. Gagalnya organisasi nelayan dalam memperjuangkan kepentingan nelayan. Apabila pemerintah dan organisasi nelayan tidak

mempunyai komitmen dalam memperjuangkan masalah-masalah dalam masyarakat nelayan, maka organisasi tersebut tidak akan mendapatkan kepercayaan dari masyarakat nelayan. Selama ini organisasi nelayan dan pemerintah setempat dianggap tidak berpihak kapada kepentingan nelayan setempat. Seseorang/sebuah keluarga acapkali mampu tetap survive dan bangkit kembali bila mempunyai jaringan/pranata sosial yang melindungi dan

menyelamatkannya (Suyanto dalam Wahono, 2002:169). Gagalnya HNSI sebagai wadah aspirasi nelayan serta rukun nelayan mengakibatkan kepercayaan nelayan pada organisasi ini berkurang. Organisasi nelayan dianggap sebagai kepanjangan tangan dari elit pemerintah untuk dapat mengontrol nelayan. Peran

77

organisasi hanya terlihat dalam upacara tradisi (Sedekah laut). Rapat yang mengundang peran nelayan dalan organisasi dilakukan hanya dalam acara pemilihan ketua dan wakil dari nelayan yang akan diikutkan dalam ART (anggota tetap wakil nelayan). Pertemuan hanya dilakukan sekali dalam setahun. Ketidak percayaan masyarakat nelayan terhadap pemerintah daerah setempat dan organisasi nelayan dalam menyelesaikan permasalahan dalam masyarakat nelayan semakin menguat dengan hadirnya permasalahan baru seperti pembangunan pintu sudetan yang sudah diusulkan lama, persoalan upah buruh nelayan, penindasan oleh militer dan pelanggaran budaya serta persoalan dominasi Etnis Tionghoa pada bidang perikanan yang dianggap sebagai ancaman. Soetrisno dan Soeyanto dalam Wahono (2002)

menyebutkan bahwa besarnya peran negara dalam pembangunan pada dasarnya tidak berbeda secara berarti antara masa kolonial dengan masa pasca kolonial. Seperti pada masa kolonial pada masa orde baru peran negara dan aparatnya dalam pembangunan pada umumnya bersifat otoriter dan sentralis dalam pelaksanaan kebijakan. Kekhawatiran yang cukup besar adalah karena peran negara yang begitu besar tanpa disadari oleh negara menyebabkan negara seringkali menjadi kurang peka dan merasa aparat negara

78

mempunyai hak untuk membatasi warga negara untuk memilih alternatif pembangunan. Sikap pemerintah sebagai pemegang kebijakan yang menyebabkan timpangnya struktur sosial-ekonomi tidak sematamata atas dasar kepentingan pemerintah tetapi juga di wujudkan dalam bentuk aliensi kekuatan strategis di masyarakat dalam bentuk kekuatan sosial politik yang sejalan dengan kebijakannya. Oleh karena itu kekuatan masyarakat yang ingin mencoba untuk mengadakan koreksi terhadap kebijakannya tidak disikapi sebagai suatu hal yang positif tetapi negatif. Buruh nelayan yang menginginkan perbaikan upah kepada majikannya seringkali dianggap sebagai PKI dan bentuk stigmitasi lain yang memotong perlawanan rakyat terhadap kebijakan pemerintah (Wawancara dengan Sarwono, 23 November 2005). Hal ini mengakibatkan tertib sosial dilakukan dengan tekanan dan paksaan baik tekanan secara mental maupun fisik oleh institusi pemerintah maupun non pemerintah. Tertib sosial yang seperti ini adalah tertib sosial yang semu, yaitu tertib tetapi penuh dengan ketegangan yang sewaktu-waktu dapat meledak menjadi suatu perlawanan (Soeleman dalam Wahono, 2002:171). 3. Tidak dilaksanakannya aturan main. Persaingan merupakan hal yang tidak terelakan dalam masyarakat nelayan, perebutan daerah penangkapan ikan dan tidak

79

dilaksanakannya aturan yang berlaku dengan pengawasan yang ketat menyebabkan persaingan dapat menjadi konflik. Dalam beberapa kasus yang terjadi koflik nelayan dilatar belakangi adanya perebutan daerah penangkapan ikan dan tidak

dilaksanakannya aturan main. Penggunaan teknologi penangkapan ikan berupa Trawl telah mengundang berbagai konflik karena merusak lingkungan dan melanggar batas wilayah penangkapan, dimana seharusnya nelayan trawl menangkap ikan di wilayah tengah laut tetapi menangkap ikan di wilayah tepi. Persoalan lain adalah adanya boccing aparat keamanan/ pihak berwenang oleh pemilik kapal Pukat Harimau dan sejenisnya. Sehingga kapal yang seharusnya tidak beroperasi menjadi aktif kembali, hal ini memicu adanya kemarahan nelayan tradisional. Kemarahan ini dapat menjadi tindak kekerasan jika berkait dengan kesenjangan ekonomi dan sosial diantara nelayan dan mengancam kelangsungan hidup. Ditambah lagi dengan adanya unsur-unsur etnisitas yang dapat dieksplorasi untuk mempertajam kebencian dan konflik sosial (Kusnadi, 2002:96).

C. Gerakan Nelayan Cilacap Tahun 1978-1998. Gerakan nelayan adalah suatu bentuk perilaku bersama sejumlah orang (nelayan) yang terorganisir dan disiagakan perubahan untuk sosial. mendukung Nelayan dan

memperjuangkan/melawan

suatu

Cilacap

mempunyai sejarah yang cukup panjang dalam melakukan perjuangan.

80

Perjuangan nelayan Cilacap pertama dilakukan pada tahun 1978-1980, perjuangan ke-2 Tahun 1982 dan perjuangan ke-3 pada Tahun 1998. Perjuangan nelayan pertama sampai perjuangan ke tiga dilatar belakangi oleh adannya masalah ketidak-adilan atas suatu kebijakan pemerintah yang bertujuan untuk kesejahteraan masyarakat nelayan namun tak tercapai akibat tidak tepat sasaran. Dimana hanya dinikmati oleh sekelompok kecil nelayan.

1. Perjuangan Nelayan Cilacap tahun 1978-1980. Perjuangan ini dilakukan selama dua tahun, dengan cara melakukan protes kepada pemerintah daerah Cilacap. Tema perlawanan ini adalah penghapusan Kapal Trawl dan sejenisnya yang telah beroperasi selama dua tahun karena merusak ekosistem kelautan dan kesenjangan ekonomi antar nelayan. Tahun 1970-an pemerintah Indonesia mengeluarkan kebijakan tentang Blue Revolution (modernisasi teknologi penangkapan ikan). Tujuannya adalah untuk mensejahterakan masyarakat nelayan, yang kemudian direalisasikan melaui program kredit. Di gunakanlah teknologi penangkapan ikan baru sebagai bentuk modernisasi perikanan yang berupa kapal Pukat harimau/Trawl, Pukat udang dan Jaring berkantong (Tribawono, 2002:68). Alat Trawl dan sejenisnya produktif untuk berbagai jenis udang putih dan windu yang harganya lebih mahal. Sifat biologis udang adalah senang berada di tepi/muara sungai. Oleh karena itu Kapal Trawl banyak

81

beroperasi di wilayah tepi pantai yang merupakan wilayah penangkapan bagi nelayan tradisional. Kapal-kapal Trawl tidak hanya beroperasi di daerah lepas/tengah laut tetapi juga didaerah pantai/pinggiran, sehinggga nelayan tradisional mengalami pendapatan penangkapan ikan yang rendah bahkan kadang tidak mendapatkan hasil akibat dieksploitasi oleh Kapal Trawl (Wawancara dengan Soroso, 13 November 2005). Timbulah kesenjangan antara nelayan Trawl dan nelayan tradisional yang berujung pada konflik nelayan. Dampak kebijakan Revolusi Biru telah mendorong timbulnya gejala tangkap lebih (overfishing) dan pengurasan sumber daya perikanan secara berlebihan di daerah pantai maupun perairan lepas. Untuk mendapatkan hasil tangkapan diantara nelayan dalam berbagai skala usaha harus bersaing secara ketat. Kompetisi ini sering mengundang bentrokan masal, dimana nelayan tradisional mendapatkan hasil tangkapan yang rendah sedang nelayan Trawl sebaliknya (Kusnadi, 2002:84). Secara aktual dampak negatif dari Revolusi Biru adalah terbentuknya pengelompokan sosial ekonomi yang relatif masih dalam struktur masyarakat nelayan. Berdasar persepsi ini nelayan dibagi menjadi 2 golongan yaitu: golongan yang kaya sekali dan golongan menengahmiskin. Golongan ke-2 merupakan golongan yang paling banyak dalam komunitas nelayan. Proses perubahan di desa-desa telah mengakibatkan nelayan dalam kesenjangan sosial dan kemiskinan (Kusnadi, 2002:18).

82

Dampak negatif pola perebutan need for achievement akan memapankan posisi kelompok tertentu dan melebarkan jurang perbedaan sosial-ekonomi dalam struktur masyarakat pantai. Kompetisi antar nelayan pengeksploitasi sumber daya kelautan di perairan tradisional telah bergeser menjadi konflik bertikai. Bermula dari menurunnya ikan hasil tangkapan nelayan tradisional yang disebabkan oleh adanya operasi kapal Pukat harimau. Kecermatan dalam mengelola teknologi ternyata merupakan salah satu faktor yang harus diperhitungkan dalam memelihara kohesi sosial. Menurut hasil penelitian ternyata kompetisi antara nelayan pengeksploitasi sumber daya perikanan di perairan tradisional telah bergeser menjadi konflik bertikai. Konflik ini bermula dari menurunnya ikan hasil tangkapan nelayan tradisional, yang disebabkan karena adanya

penggunaan Trawl. Konflik terbuka antar nelayan tradisional dan nelayan Trawl telah menimbulkan pecahnya kohesi sosial internal nelayan karena permusuhan antar kelompok nelayan telah menimbulkan korban jiwa dan kerugian di kedua belah pihak. Masalah keadilan merupakan masalah yang cukup serius dan menjadi tema perlawanan nelayan Cilacap. Perlawanan nelayan Cilacap tahun 1978-1980 merupakan perjuangan dalam menuntut keadilan dalam menangkap ikan yang pada saat itu dikuasai oleh Kapal Trawl serta memperoleh hasil yang cukup layak.

83

Kemarahan nelayan Cilacap dipicu oleh sikap ABK Kapal Trawl/ Pukat harimau yang hanya menangkap udang dan membuang ikan. Padahal nelayan tradisional saat itu sulit menangkap ikan bahkan sering tidak mendapatkan hasil tangkapan. Hal ini dianggap melecehkan para nelayan tradisional (Wawancara dengan Herman, 22 Oktober 2005). Respons masyarakat nelayan terhadap perubahan teknologi penangkapan ternyata tidak sebagaimana yang diharapkan oleh banyak orang. Pukat Harimau adalah jenis alat tangkap yang memungkinkan perolehan hasil banyak, akan tetapi tidak menguntungkan bagi nelayan tradisional. Beberapa peristiwa perlawanan nelayan tradisional dapat kita lihat seperti perusakan Kapal Pukat Harimau di Jawa Timur. Di Cilacap dan Sumatra utara, kemarahan nelayan tradisional diekspresikan dengan mengikat awak kapal yang menggunakan Kapal Pukat Harimau dan menceburkan ke laut sedang kapalnya dikaramkan (Siahaan dan Singgih dalam Wahono dkk, 2002:173). Ketegangan semakin menjadi, sebagai langkah pemerintah mengatasi hal ini adalah pemerintah mengeluarkan Keppres No. 39 tahun 1980, tentang penghapusan Trawl dan sejenisnya. Dengan tiga dasar pertimbangannya adalah pembinaan kelestarian sumberdaya alam, mendorong meningkatkan produksi nelayan tradisional dan menghindari ketegangan sosil antar nelayan (Tribawono, 2002:69). Guna mencapai sasaran yang dimaksud maka pemerintah mengeluarkan Instruksi Presiden No 11 tahun 1982 sebagai bentuk tidak

84

lanjutnya. Dengan keluarnya Keppres ini tuntutan nelayan berakhir. Dengan solusi ini diharapkan semua ketegangan yang ada pada masyarakat nelayan selama ini selesai dan tidak terjadi adanya konflik yang sama.

2. Perlawanan Nelayan tahun 1982. Masyarakat nelayan adalah masyarakat yang terus menerus memanas dan rawan terhadap konflik/ketegangan. Ketegangan-ketegangan kecil akan cepat/mudah untuk menyulut pada adanya perselisihan/konflik besar. Meski masalah telah selesai akan timbul masalah yang kembali. Dalam masyarakat nelayan Cilacap terdapat 7 kelompok nelayan (Kecamatan Cilacap selatan) yaitu: Sentolokawat, Pandanaran, Sidakaya, PPSC, Tegal Katilayu dan lengkong (Laporan HNSI Cilacap, 2004). Perlawanan nelayan tahun 1980 dipicu oleh masalah keadilan dalam memperoleh hasil tangkapan ikan karena adanya perbedaan pemakaian teknologi oleh kelompok nelayan. Kelompok nelayan Sentolokawat melakukan modifikasi terhadap jaring penangkapan ikan yang hampir mirip dengan Trawl. Hal ini mengundang protes kelompok nelayan yang diwakili oleh kelompok nelayan Pandanaran dan Sidakaya. Merasa alat modofikasi penangkapan mirip Trawl akhirnya kelompok nelayan Pandanaran, PPNC, melakukan protes pada nelayan Sentolokawat, karena tidak tercapai kata sepakat timbulah hal yang tak terduga yang akhirnya pada tindakan yang anarkis dengan merusak dan membakar kapal/perahu kelompok nelayan Sentolokawat (Wawancara dengan Tarsih, 25 Oktober 2005).

85

Hal ini membuat pemerintah daerah resah, sebagai tidak lanjutnya melakukan konsolidasi, namun tidak berhasil. Perlawanan pertama masih memberikan pengaruh yang kuat dimana keadilan agar hasil tangkapan dapat dinikmati bersama-sama dengan menggunakan alat tangkap yang sama serta hasil laut dapat dinikmati anak cucu mereka. Perkembangan teknologi pada nelayan skala kecil telah

mengakibatkan adanya modifikasi pada beberapa alat tangkap. Alat tangkap yang semula bukan termasuk Jaring Trawl ternyata menjadi alat termasuk dalam Jaring Trawl. Hal ini menimbulkan konflik dan keresahan bahkan perkelahian di tengah laut. Guna mengatasi ini pemerintah akhirnya mengeluarkan Keppres No. 11 tahun 1982 tentang daerah wilayah penangkapan dan alat tangkap yang boleh digunakan. Dengan Keppres ini diharapkan konflik akan reda dan tidak terjadi lagi pelanggaran yang dapat merugikan satu pihak terutama nelayan.

3. Perlawanan Nelayan Cilacap tahun 1998. Perjuangan nelayan Cilacap pertama dan ke dua rasa keadilan masih mendominasi, hal yang sama terjadi pada perlawanan yang ketiga, perjuangan pelebaran pintu sudetan dan beberapa permasalahan yang tidak diselesaikan dengan tuntas oleh pemerintah. Menurut laporan Bernas edisi 27 dan 28 Agustus tahun 1998, beberapa penyebab perlawanan yang dilakukan oleh nelayan Cilacap adalah dilanggarnya larangan melaut pada

86

hari jumat kliwon oleh para nelayan pendatang Etnis Tionghoa, padahal merupakan hari yang disakralkan (Gb. 4). Penyebab lain adalah kesenjangan ekonomi antara nelayan setempat dengan nelayan pendatang, serta perilaku nelayan pendatang Etnis Tionghoa Bagansiapi-api yang kurang menyenangkan meski sebagai pemilik modal. Mereka dinilai telah mendatangkan banyak kapal ke Cilacap serta mengeruk keuntungan milyaran rupiah dari sumber daya alam Cilacap yang seharusnya dimanfaatkan oleh nelayan lokal. Usman Pelly dalam Wahono (2002) menyebutkan setidaknya ada 3 faktor yang menyebabkan ketidak serasian sosial yang dapat menyebabkan konflik dalam masyarakat yaitu: 1. Perebutan sumberdaya, alat-alat produksi dan kesempatan ekonomi (acces to economic resaurces and to means of production). 2. Perluasan batas-batas kelompok sosial budaya (sosial and cultural bordeline expansion). 3. Benturan kepentingan politik, ideologi dan agama (conflict of political, ideological dan religion interest). Perjuangan nelayan tahun 1998 ketiga faktor ini dapat dijumpai pada beberapa permasalahan yang mendasar di masyarakat nelayan. Permasalahan yang berkait dengan faktor pertama adalah dominasi nelayan pemilik dari Etnis Tionghoa dalam segala bidang usaha perikanan baik dari segi penangkapan dan penyediaan faktor produksi seperti jaring dan peralatan lain. Pertarungan ini sering dimenangkan oleh individu atau

87

kelompok yang mempunyai kekuatan dan keunggulan yang berupa modal/ teknologi yang lebih baik. Sejak pemerintah Soeharto (1975), banyak kapal-kapal pendatang yang masuk ke wilayah Cilacap. Kapal ini adalah kapal yang memakai teknologi modern sehingga memperoleh hasil yang melimpah. Banyak penduduk asli yang menjadi ABK kapal para pendatang, karena hasil yang diperoleh nelayan tradisional jika melaut sendiri tidak dapat memenuhi kebutuhan sehari-hari/kalah dengan kapal milik para pendatang

(Wawancara dengan Tori, 23 November 2005). Akibat dominasi ini timbulah kesenjangan sosial-ekonomi antara nelayan tradisional dengan nelayan modern. Nelayan tradisional merasa tidak adil karena merasa mereka yang berhak menikmati apa yang seharusnya miliknya. Timbulah konflik yang mengarah pada kekerasan manakala bertemu di laut kapal dibakar/ditenggelamkan. Permasalahan yang terkait dengan faktor kedua adalah apabila terjadi perbedaan tradisi, bahasa, hukum dan identitas sosial dapat menyatu dalam kepentingan politik yang dapat menimbulkan

kecemburuan, prasangka sosial yang pada gilirannya dapat menimbulkan konflik. Pemakaian bahasa Cina dalam komunikasi yang dilakukan oleh Etnis Tionghoa dianggap sebagai bagian dari ekspansi budaya serta memancing perasaan curiga dari masyarakat nelayan. Beberapa penyebab perjuangan nelayan yang dilakukan nelayan Cilacap adalah dilanggarnya larangan penangkapan ikan pada hari jumat

88

kliwon oleh nelayan pendatang yang selama ini disakralkan oleh nelayan setempat (Laporan Bernas edisi 28 Agustus 1998). Pemakaian bahasa Cina dalam komunikasi yang dilakukan oleh Etnis Tionghoa dianggap sebagai bagian dari ekspansi budaya serta memancing perasaan curiga dari masyarakat nelayan. Sumber konflik yang ketiga adalah perbedaan kepentingan yang selalu terjadi pada masyarakat yang heterogen. Konflik ini muncul dalam bentuk pertentangan kepentingan antara penguasa versus rakyat, atau mejikan versus buruh. Pada perlawanan nelayan ketiga dapat dipetakan sebagai kelompok nelayan setempat versus nelayan pendatang dan nelayan setempat versus pemerintah daerah. Perjuangan nelayan Cilacap tahun 1998 mempunyai dimensi permasalahan yang kompleks dan tumpang tindih, yang mencerminkan berlangsungnya toleran aparat Negara terhadap pelanggaran hukum yang dilakukan oleh para pemilik kapal Pukat harimau, penetrasi kepentingan ekonomi para pemilik modal besar dari luar daerah dan persaingan yang tidak seimbang antara nelayan dalam memperebutkan sumber daya perikanan, karena perbedaan tingkat kecanggihan teknologi penangkapan yang ada. Daerah penangkapan ikan (fishing ground) yang semakin sempit disertai dengan banyaknya kapal yang menangkap ikan dan udang menyebabkan persaingan menjadi tak terelakan. Isu kedatangan kapal ekstrawl sebanyak 500 buah dipandang oleh nelayan setempat sebagai

89

bentuk ancaman bagi usaha perikanan yang dilakukan selama ini. Isu ini dibantah oleh Cembong yang juga pemilik kapal, Hanya ada kapal 5-10 yang akan didatangkan ke Cilacap dan hal ini sudah dibicarakan dengan pemerintah daerah setempat dan kapal-kapal ini telah dipindahkan ke luar Jawa (Wawancara dengan Cembong, 24 November 2005). Dalam kasus pintu sidetan tercatat 3 kali perundingan yang dilakukan pada tahun 1995-1997, bertempat di Balai Pertemuan PPSC (Gb.1), namun tidak mempunyai titik temu karena bukti-bukti

pembangunan pelebaran pintu sudetan belum terlihat. Dalam setiap perundingan pihak pelabuhan selalu berjanji untuk melakukan perbaikan terhadap pintu sudetan dengan mengajukannya dalam rencana anggaran kepada instanti terkait. Nelayan setempat berharap bahwa pihak pelabuhan akan menepati janji tersebut. Sekitar bulan Januari 1998 nelayan mendapat informasi bahwa dana pembangunan pintu sudetan telah disetujui dan dana tersebut telah disetujui dan diturunkan dari pusat ke daerah. Setelah beberapa bulan berlalu tanda-tanda untuk melakukan perbaikan dari pihak pelabuhan tidak dijumpai nelayan setempat. Informasi yang ada pada nelayan beredar adalah dana tersebut didepositokan pada sebuah bank oleh kepala pelabuhan. Hal diatas dibantah oleh Rahmat, untuk melakukan pembangunan pintu sudetan diperlukan berbagai pihak bukan hanya pihak pelabuhan saja. Dana pada saat itu belum keluar, perlu waktu dan perencanaan yang

90

matang untuk membangun pintu sudetan. Nelayan seharusnya dapat memahami, akan kondisi dari pelabuhan (Wawancara dengan Rahmat, 21 Oktober 2005). Pintu sudetan adalah pintu yang dibangun guna melancarkan irigasi pertanian agar air laut yang asin tidak masuk persawahan, sehingga sawah pinggiran pantai tetap subur. Karena pintu keluar dari muara sungai terlalu jauh, sebagai jalan pintas yang efektif akhirnya para nelayan lebih memilih lewat pintu sudetan. Karena pintu sudetan yang sempit kapalkapal sering menabrak dinding kolam terjadilah berbagai kecelakaan. Hal inilah yang membuat nelayan menuntut pelebaran pintu sudetan. Terdapat akibat besar jika daun pintu sudetan dibuka dan diperlebar yaitu proses pendangkalan alur/kolam pelabuhan dan

gelombang air laut dapat masuk ke Kaliyasa karena kolam menjadi Muara Kaliyasa dan fungsi penggelontoran tidak ada (Wawancara dengan Agus, 22 Oktober 2005). Alasan ini tidak membuat nelayan mengerti mereka tetap menuntut pelebaran karena makin bertambahnya kapal yang bertabrakkan akibat menabrak dinding pintu sudetan dan didukung karena tidak terlihatnya pihak pelabuhan melakukan pembangunan pelebaran pintu sudetan. Meskipun demikian nelayan tidak melakukan tekanan karena dominannya stabilitas Negara yang didukung oleh militer serta kehidupan kehidupan ekonomi nelayan yang cukup stabil. Kondisi ini membuat nelayan cenderung untuk membicarakan dalam ruang-ruang pribadi

91

dengan orang yang dapat dipercaya oleh mereka. Oleh karenanya dalam melakukan perjuangan mereka tidak melibatkan satu organisasi nelayan. Mereka menganggap bahwa organisasi nelayan adalah

kepanjangan tangan pemerintah, dan selama ini organisasi nelayan tidak berfungsi/berperan. Dengan pemahaman ini maka masyarakat nelayan tidak percaya terhadap organisasi nelayan sebagai wadah penyampaian aspirasi nelayan. Hal ini dibuktikan pertemuan/rapat dalam organisasi nelayan hanya untuk memilih ketua dan wakil nelayan yang akan dimasukan dalam rencana tahunan. Tidak hanya organisasi nelayan yang dibentuk KUD yang tidak tepat sasaran tetapi juga sistem pelelangan ikan yang diberlakukan pada TPI yang tidak memberikan hasil yang layak bagi nelayan, karena dimonopoli oleh beberapa Bakul yang tujuannya untuk mendapatkan keuntungan sebesar-besarnya. Kondisi semacam ini mengakibatkan para ABK melakukan penjualan hasil secara diam-diam di laut. Beberapa ABK terpaksa melakukan ini untuk mendapatkan pendapatan lebih guna memenuhi kebutuhannya, meski secara nyata merugikan para Juragan kapal. Akhir dari perjuangan nelayan tahun 1998 adalah dikabulkannya segala tuntutan yang diajukan oleh nelayan. Dengan perundingan yang diwakili oleh nelayan tradisional dan pendatang, pihak PPNC, pihak organisasi nelayan dan pemerintah daerah. Hasilnya adalah Daun pintu Sudetan segera dibuka

92

dan diperlebar, kapal-kapal Trawl dilarang beroperasi di perairan Cilacap, kenaikan gaji akan di bicarakan/dimusyawarahkan dengan juragan kapal.

4. Model perjuangan nelayan Cilacap tahun 1978-1998. Model perjuangan yang dilakukan nelayan Cilacap adalah tidak mempunyai pimpinan secara struktur organisasi yang resmi. Setiap perjuangan dilakukan secara spontan dengan model sosialisasi dari mulut kemulut. Meski demikian mereka mempunyai tokoh-tokoh yang yang dipercaya oleh para nelayan dan mempunyai kemampuan untuk mempengaruhi opini masyarakat. Tokoh-tokoh ini tidak menduduki jabatan yang formal dalam organisasi nelayan. Model ini digunakan sebagai strategi agar perjuangan tidak mudah dipatahkan oleh pemerintah. Karena pemerintah Orde Baru sering menggunakan strategi pendekatan pada pemimpin, sehingga jika pemimpin ditangkap/didekati pemerintah perjuangan akan putus/usai. Kondisi ekonomi nelayan pada perjuangan tahun 1978 hampir sama dengan perjuangan tahun 1998, dimana dalam keadaan krisis dan kondisi yang tidak mapan. Meski nelayan mendapat berkah karena naiknya harga Ikan dan Udang 3 kali lipat, tetapi tingkat persaingan makin tinggi karena wilayah penangkapan yang semakin sempit dan pemakaian kapal-kapal modern yang beroperasi (banyak). Nelayan tradisional kalah, pendapatan semakin menurun.

93

Pada tahun 1998 kondisi semakin memprihatinkan ketika pada musim paceklik (Juni-Agustus) serta adanya krisis ekonomi hal ini mempersulit kehidupan nelayan dalam memenuhi kebutuhan sehari-hari. Keadaan ini semakin memanas, isu-isu apapun bisa mempermudah terjadinya perselisihan dalam bentuk aksi protes. Berhasilnya gerakan mahasiswa meruntuhkan pemerintahan Orde Baru telah memberi inspirasi terhadap nelayan. Timbul keberanian dari nelayan menggugat/memprotes ketidak-adilan yang mereka rasakan. Perjuangan dengan masa bagi nelayan dianggap lebih memberi hasil yang nyata dibanding dengan dialog. Dengan karakteristik tidak adanya pemimpin dalam perjuangan nelayan Cilacap perjuangan cenderung bersifat anarkis, karena kurangnya pengawasan terhadap masa serta tidak dengan tuntutan yang jelas, dan cenderung untuk menyelesaikan satu permasalahan saja. Hal ini dibuktikan pada saat dialog masalah utama tidak semua tersampaikan seperti pelelangan ikan yang kurang adil (dikuasai oleh satu bakul dengan harga yang ditetapkan oleh bakul) yang tujuannya untuk keuntungan bakul ikan (Wawancara dengan Agus, 23 November 2005). Oetami Dewi dalam wahono dkk (2002) menyatakan bahwa Adanya kesamaan antara perlawanan petani dan nelayan yaitu hanya dipicu oleh sentiment-sentimen komunal bukan atas dasar solidaritas nasional. Kegagalan dari gerakan semacam ini adalah pengontrolan masa oleh para sesepuh gagal. Dalam Bernas 1998 dijelaskan adanya

94

pembakaran kapal serta penjarahan rumah, toko milik para Touke Cina. Hal ini membuktikan kurangnya pengawasan terhadap masa. Aksi nelayan itu tidak terarah, tuntutan berganti-ganti awalnya melakukan aksi di kabupaten dengan tuntutan penghapusan eks-trawl dengan menuntut kenaikan gaji, ke KUD menuntut penurunan dana paceklik dan pada akhirnya ke PPNC dengan tuntutan pembukaan pintu sudetan. Kemudian memanas membakar kapal-kapal Cina.

D. Pengaruh Gerakan Nelayan Cilacap. Pandangan dan tuntutan nelayan dalam melakukan aksi menyebabkan perjuangan tidak tercapai secara optimal. Permasalahan penting yang seharusnya diperjuangkan tidak semua dapat diungkapkan dan diselesaikan (dalam dialog). Contoh: masalah TPI PPNC yang tidak menggunakan pelelangan dan dapat menjadi sumber penderitaan ekonomi nelayan, karena dikuasai oleh sekelompok bakul ikan saja. Gerakan ini mampu memberi bukti bahwa masyarakat nelayan mempunyai kekuatan yang tidak bisa dianggap remeh. Mereka akan selalu bereaksi terhadap apapun yang dirasa merugikan nelayan. Aksi ini dapat berupa cara-cara diam atau dengan anarkis. Terdapat beberapa pengaruh dari gerakan nelayan Cilacap yaitu: 1. Pengaruh bagi nelayan. Pengaruh secara spesifik dalam kehidupan sosial/ekonomi nelayan tidak begitu sangat terlihat, setelah gerakan nelayan ini kehidupan nelayan kembali seperti biasa. Bagi nelayan aksi ini adalah sebagai wujud/bukti

95

kekuatan untuk melawan dari masyarakat nelayan. Nelayan hanya menginginkan tidak adanya praktik-praktik pelanggaran terhadap

peraturan yang sudah ditetapkan. Hal ini terjadi dalam protes pelanggaran terhadap Kapal Trawl yang telah jelas ditetapkan dilarang dengan UU No.39 tahun 1998. Pelanggaran ini telah menimbulkan keresahan yang cukup besar pada masyarakat nelayan. Hasil tangkapan menjadi berkurang/tidak mendapat apapun akibat kelangkaan ikan karena eksploitasi oleh kapal besar. Sumber ikan adalah berada di wilayah tengah laut, kemudian akan ke tepi/pinggiran. Jika di wilayah tengah dieksploitasi maka ikan tidak ada di daerah pinggir. Sedang nelayan tradisional banyak yang beroperasi di daerah pinggir. Ditambah lagi dengan kerusakan ekosistem yang dilakukan oleh Kapal Trawl. Dengan protes nelayan kehidupan nelayan akan kembali membaik, dan berbagai persoalan yang ada tidak akan timbul. 2. Pengaruh bagi proses interaksi (hubungan nelayan pribumi dan nelayan pendatang). Pengaruh bagi proses interaksi antara nelayan pribumi dan pendatang adalah hubungan menjadi kurang baik. Nelayan pendatang merasa selama ini bersikap baik terhadap nelayan tradisional tetapi dengan adanya aksi nelayan mereka merasa yang paling sangat dirugikan. Rumah dan toko yang merupakan tumpuan hidup dijarah dan dibakar. Seorang nelayan pendatang bernama Cembong mengungkapkan bahwa kami tidak bersalah kenapa kami yang menjadi korban. Kami

96

sangat trauma dan takut untuk memulai usaha kami kembali. Semua tumpuan hidup telah musnah dan tidak ada ganti rugi apapun dari pihak pemerintah. Kami bahkan tidak tahu harus minta bantuan dan tolong pada siapa. Kebanyakan teman-teman kami memilih kembali ke kampung halamannya (Wawancara dengan Cembong, 23 November 2005).

3. Pengaruh dan akibat dari pembukaan pintu sudetan. Penuntutan pintu sudetan untuk dibuka dan diperlebar oleh pihak pelabuhan dikabulkan. Dengan pembukaan pintu sudetan ini memberi akibat positif bagi nelayan, dimana nelayan lebih efisien dalam waktu dan bahan bakar untuk keluar laut. Jalur yang dilalui nelayan tidak perlu memutar. Perahu catir dan compreng dapat bebas berlalu lalang tanpa takut kecelakaan. Disisi lain pembukaan dan pelebaran pintu sudetan telah membawa persoalan baru. Dengan pembukaan dan pelebaran pintu sudetan proses pendangkalan alur/kolam pelabuhan dan air laut dapat masuk ke Kaliyasa karena kolam menjadi Muara Kaliyasa sehingga proses pengelontoran tidak ada. Dengan keadaan ini membuat kapal-kapal nelayan yang lalulalang dapat kandas, kecelakaan kapal. Guna mengatasi ini dilakukan proses pengerukan secara manual setiap tahun dan memerlukan dana yang cukup besar. Kapal-kapal kandas karena pendangkalan di alur masuk akibat endapan partikel/butiran pasir yang dibawa gelombang laut dan kapal menabrak tentaprot akibat tidak mampu mengendalikan dorongan gelombang air laut di alur.

97

Persoalan tentang penanggulangan pintu sudetan hingga saat ini maih tetap dilakukan, dengan pembuatan gembong bambu (atas usul nelayan), pengerukan alur kolam dengan Dana dari pemerintah daerah Jawa Tengah dan pemasangan break water (Laporan PPNC 2004). Bebagai pihak antara lain KUD, Nelayan, Organisasi nelayan, pemerintah dan institusi terkait dengan nelayan dan perikanan bersatu duduk bersama guna mengatasi permasalahan ini. Dengan cara-cara dialog mencari solusi yang terbaik guna pemberdayaan masyarakat nelayan dan fasilitas nelayan (pelabuhan). Dengan cara ini membuktikan akan adanya keseriusan dari berbagai pihak dalam memberdayakan masyarakat nelayan. Peran organisasi nelayan menjadi terlihat. Nelayan menjadi begitu bisa terbuka dalam menyampaikan aspirasinya, hal ini diperkuat dengan keadaan Negara yang demokratis, bebas dan terbuka. Segala permasalahan tidak lagi disikapi dengan cara kekerasan. Hal ini dilakukan agar tidak terjadi hal sama. Setelah peristiwa tahun 1998 hampir tidak terjadi lagi aksi-aksi nelayan yang anarkis, nelayan merasa lebih nyaman dan merasa tenang. Meski dalam beberapa perselisihan yang kadang mengarah pada kekerasan tapi dapat diatasi dengan jalan damai (Wawancara dengan Tori, 23 November 2004). Secara sosiologis perlawanan ini merupakan perlawanan nelayan terhadap adanya dominasi oleh kaum pendatang, karena para Tauke Cina mampu menguasai perikanan di Cilacap. Dominannya Cina ini telah

98

mempengaruhi beberapa sendi kehidupan nelayan, seperti kurang tolerannya para Tauke Cina yang kurang terhadap tradisi. Pemakaian bahasa Cina juga menjadi alasan lain dari sikap angkuh para Tauke Cina. Dengan perlawanan nelayan ini memberi suatu wacana bahwa seperti apapun nelayan asli tetap harus dihormati secara adat/tradisi. Para pendatang harus tunduk pada aturan yang ada dalam masyarakat nelayan asli.

99

BAB V PENUTUP Kebijakan masa Orde baru dalam bidang kemaritiman/perikanan berupa Reorganisasi Lembaga Perikanan, Blue Revolution/modernisasi perikanan, Undang-Undang Perikanan dan Undang-undang Jalur

Perikanan. Dari kebijakan Orde baru tersebut kabijakan Blue Revolution memiliki pengaruh yang besar dalam masyarakat nelayan. Dari hasil penelitian kebijakan Blue Revolution telah menimbulkan ketegangan-ketegangan yang mengarah pada konflik diantara nelayan penguasa alat modern yang bermodal besar (nelayan Cina Bagan) dengan nelayan tradisional (nelayan pribumi) dimana timbul adanya kesenjangan sosial dan ekonomi. Permasalahan menjadi sangat kompleks ketika terjadinya pelanggaran atas hukum yang berlaku, meski telah ada pelarangan Trawl dengan keluarnya Keppres No. 39 tahun 1980, kapal Trawl masih beroperasi. Modifikasi jaring tangkap meski telah diatur juga dilanggar dengan tujuan peningkatan hasil tangkapan ikan. Keteganganketegangan semakin memuncak karena pemerintah yang kurang tuntas menyelesaikan permasalahan nelayan yang pada akhirnya menjadi nelayan melakukan gerakan. Gerakan nelayan Cilacap tahun 1978-1998 berawal dari adanya kedatangan nelayan yang berasal dari luar daerah Cilacap yaitu para Tauke Cina Bagansiapi-api yang berhasil mendominasi perikanan di Cilacap. Gerakan nelayan Cilacap dilakukan dalam tiga tahap yaitu pertama tahun

100

1978-1980 dengan tuntutan pengahpusan trawl, kedua tahun 1982 dengan penyelesaian alat tangkap modifikasi trawl dan ketiga tahun 1998 dengan tuntutan pelebaran pintu sudetan serta penyelesaian masalah yang belum tuntas terkait dengan masalah sosial, ekonomi dan budaya. Yang menjadi masalah pokok adalah adanya kesenjangan sosial antara nelayan tradisional dengan nelayan pendatang. Nelayan pendatang mampu menguasai teknologi penangkapan ikan, sehingga nelayan tradisional menurun hasil tangkapannnya. Permasalahan menjadi kompleks ketika adanya sikap para Tauke Cina yang kurang menghargai tradisi pelarangan melaut pada hari jumat kliwon serta adanya pelanggaran hukum oleh aparat sipil/militer berupa pelanggaran operasi Kapal Trawl yang dilarang. Perjuangan dilakukan dengan cara protes dengan tidak melibatkan organisasi nelayan karena nelayan merasa organisasi nelayan adalah kepanjangan tangan dari pemerintah untuk mengawasi nelayan setiap saat mampu memotong segala perjuangan nelayan. Dari penelitian ini dapat disimpulkan bahwa gerakan nelayan Cilacap tahun 1978-1998 merupakan bentuk reaksi atas kebijakan pemerintah Orde baru yang dirasakan nelayan daerah kurang adil, tidak tepat sasaran akibat adanya praktek-praktek palanggaran dan kurang tegaknya hukum yang berlaku serta peran organisasi nelayan, pemerintah yang tidak berjalan dengan semestinya.

101

SARI Agus Purwati. 2005. Gerakan Nelayan Cilacap Di Tengah Kebijakan Ekonomi Kemaritiman Orde Baru (Sebuah Tinjauan Historis Kasus Nelayan Cilacap Tahun 1978-1998). Jurusan Sejarah Fakultas Ilmu Sosial Universitas Negeri Semarang. Kata Kunci: Nelayan, Revolusi Biru, Kebijakan Kemaritiman, Orde Baru. Nelayan merupakan satu komunitas yang selama ini terabaikan, karena peleburan perikanan dalam departemen pertanian. Keadaan ini semakin diperparah dengan dengan adanya kebijakan Blue Revolution yang bertujuan untuk kesejahteraan masyarakat nelayan namun hanya dinikmati oleh sekelompok orang yang menguasai teknologi penangkapan. Akibatnya timbullah ketegangan akibat adanya kesenjangan sosial, nelayan semakin terhimpit oleh kemiskinan. Permasalahan semakin kompleks dengan adanya toleran oleh aparat sipil/ militer kepada para pelanggaran hukum, berupa beroperasinya kapal-kapal trawl di perairan Cilacap yang jelas-jelas dilarang pemerintah. Berdasar pemikiran di atas disusun skripsi berjudul: “ Gerakan Nelayan DiTengah Kebijakan Ekonomi Kemaritiman Orde Baru (Sebuah Tinjauan Historis Kasus Nelayan Cilacap tahun 1978-1998)”. Permasalahan yang dikaji dalam penelitian skripsi ini adalah bagaimana kebijakan ekonomi kemaritiman Orde baru dalam bidang perikanan, bagaimana sejarah dan dinamika gerakan nelayan Cilacap di tengah kebijakan ekonomi kemaritiman Orde baru. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mendiskripsikan kabijakan-kebijakan ekonomi kemaritiman Orde baru dan mendiskripsikan sejarah dan dinamika perjuangan nelayan Cilacap dan pengaruhnya. Lokasi penelitian ini adalah Kabupaten Cilacap dengan batasan waktu antara tahun 1978-1998. Metode yang digunakan adalah metode sejarah (Historical methode) dimana penulis melakukan langkah-langkah sebagai berikut: 1). Heuristik, 2). Melakukan kritik sumber, 3). Melakukan interpretasi dan 4). Penulis melakukan penyajian dalam bentuk karya sejarah yang disusun secara kronologis dan tematis (Histiriografi). Dari penelitian ini diperoleh hasil sebagai berikut kebijakan masa Orde baru berupa Restruktusrisasi organisasi kemaritiman, modernisasi perikanan dan undang-undang perikanan. Kebijakan modernisasi memberi pengaruh yang besar terhadap kehidupan nelayan berupa ketegangan-ketegangan antara penguasa teknologi modern dengan tradisional dengan latar belakang kesenjangan sosial. Gerakan nelayan Cilacap diawali kedatangan nelayan Cina bagan yang kemudian mendominasi sektor perikanan di Cilacap. Perlawanan dilakukan tahun 1978-1980 menuntut penghapusan trawl, tahun 1982 menuntut penyelesaian alat modifikasi menyerupai trawl dan tahun 1998 menuntut pelebaran pintu sudetan dan penyelesaian masalah yang belum tuntas. Dari penelitian ini dapat ditarik kesimpulan bahwa kebijakan Orde baru berupa modernisasi perikanan/ Blue Revolution telah memberi dampak besar dalam masayarakat nelayan berupa ketegangan-ketegangan yang dilatar belakangi kesenjangan sosial, nelayan tradisional merasa tidak adil akibat berkurangnya

102

hasil tangkapan. Gerakan nelayan Cilacap tahun 1978-1998 adalah merupakan bentuk reaksi atas berbagai kebijakan dengan berbagai permasalahan nelayan yang kompleks yang diakibatkan oleh peran organisasi nelayan dan pemerintah yang kurang menjalankan perannya sebagaimana mestinya.

103

Lampiran 2 BIODATA INFORMAN

1. Nama: Bpk. Munirin S Umur: 52 Tahun Alamat: Sentolokawat 30, Rt. 02 Rw.01 kelurahan Cilacap Pekarjaan: Wakil HNSI (sekertaris I). 2. Nama: Bpk. Agus Umur: 47 Tahun Alamat: --Pekerjaan: Staf Pelabuhan/ PPNC 3. Nama: Bpk. Tori Umur: 62 Tahun Alamat: Bon baru Rt. 04/05 Cilacap selatan Pekerjaan: Nelayan 4. Nama: Bpk. Suroso Umur: 58 Tahun Alamat: Tegal kamulyan, Cilacap selatan Pekerjaan: Nelayan 5. Nama: Bpk. Herman Umur: 47 Tahun Alamat:Sidakaya, Cilacap selatan Pekerjaan: Nelayan 6. Nama: Bpk. Cembong Umur: 55 Tahun Alamat: Sidakaya, Cilacap selatan Pekerjaan: mekanis kapal dan nelayan pendatang . 7. Nama: Bpk. Atay Umur: 55 Tahun Alamat: Sidakaya, Cilacap selatan Pekerjaan: Nelayan bagansiapi-api 8. Nama: Bpk. Tohirin Umur: 60 Tahun Alamat: Sidakaya, Cilacap selatan Pekerjaan: Nelayan

104

MOTTO DAN PERSEMBAHAN MOTTO (1) Cobaan tidak hanya kesusahan saja tetapi juga kesenangan, Jangan pernah menyerah sebelum berjuang, selama masih ada semangat dan nafas (Penulis). (2) Janganlah kamu merasa lemah dan jangan susah karena kamu pasti menang asal kamu sumgguh-sumggud dan mukmin (QS.Al-imron: 139)

Karya kecil ini kupersembahkan untuk: 1). Bapak dan Ibu terkasih yang selalu mendoakan. 2). Kakak-kakakku (Mba Gati+suami, Mas Rohman+istri, Mas Pujo, Mba Nelly, Mas Wono, Mba EnY) yang selalu memberiku motivasi. 3). Sahabatku, inspirasiku, semangatku (Mas Andi) 4). Asmi, Dewi, Hera, Herna, Viki, Endang, Mas Eko, Makfud dan semua sahabat angkatan 2001, 5). Sahabaku Edel weys (Eka, Mba iko, Mba Urip, Mia dan ade-ade) yang selalu memberi semangat 6). Almamaterku.

105

PERNYATAAN

Saya menyatakan bahwa yang tertulis di dalam skripsi ini benar-benar hasil karya saya sendiri, bukan jiplakan dari karya tulis orang lain, baik sebagian atau seluruhnya. Pendapat/ temuan orang lain yang terdapat dalam skripsi ini dikutip/ dirujuk berdasar kode etik ilmiah.

Semarang,

Desember 2005

Agus purwati Nim.3101401022

106

PERSETUJUAN PEMBIMBING

Skripsi ini telah disetujui oleh pembimbing untuk diajukan kesidang panitia ujian skripsi pada: Hari: Tanggal:

Pembimbing I

Pembimbing II

Dras. C. Santi M. Utami, M.Hum NIP.13111876210

Drs. R. Soeharso, M.Pd NIP.131691527

Mengetahui: Ketua Jurusan Sejarah

Drs. Jayusman, M.Hum NIP. 131764053

107

PRAKATA

Alhamdulillah, puji syukur senantiasa penulis panjatkan kehadirat alloh SWT yang telah melimpahkan rahmat, taufik dan hidayah-nya, sehingga penulis dapat menyelesaikan penyusunan skripsi dengan judul “Gerakan Nelayan Cilacap DiTengah Kebijakan Ekonomi Kemaritiam Orde Baru (Sebuah Tinjauan Historis Kasus Nelayan Cilacap tahun 1978-1998)”. Sebagai salah satu syarat guna mendapatkan gelar Sarjana Pendidikan pada Jurusan Sejarah, Program SI Pendidikan Sejarah Fakultas Ilmu Sosial. Pada kesempatan ini, perkenankanlah penulis menyampaikan rasa terima kasih yang sedalam-dalamnya kepada yang kami hormati: 1. Dr. H. Ari Tri Soegito, SH, MM, selaku Rektor Universitas Negeri Semarang . 2. Drs. Sunardi, selaku Dekan Fakultas Ilmu sosial 3. Drs. Jayusman, M.Hum, selaku ketua jurusan sejarah Fakultas Ilmu Sosial 4. Dra. C. Santi M. Utami , M.Hum, selaku dosen pembimbing I yang telah memberikan bimbingan dan pengarahan kepada penulis dalam penyusunan skripsi. 5. Drs. R. Soeharso, M.Pd, selaku selaku dosen pembimbing II yang telah memberikan bimbingan dan pengarahan kepada penulis dalam penyusunan skripsi. 6. Drs. Ba’in, M.Hum, selaku dosen penguji yang telah menguji dan membimbing penulis dalam penyusunan skripsi.

108

7. Kepala PPNC Cilacap yang telah membantu kelancaran penulisan skripsi ini dalam memperoleh informasi dan literature skripsi ini. 8. Kepala HNSI cabang Cilacap yang telah membantu kelancaran penulisan skripsi ini dalam memperoleh informasi dan literature skripsi ini. 9. Semua pihak yang telah membantu terlaksananya penelitian dan penulisan skripsi ini yang, tidak dapat disebutkan namanya satu persatu. Akhirnya penulis berharap semoga skripsi ini dapat bermanfaat bagi penulisan khususnya dan pembaca pada umumnya.

Semarang, 4 Desember 2005

Penulis

109

PENGESAHAN KELULUSAN Skripsi ini telah dipertahankan didepan sidang panitia ujian skripsi Fakultas Ilmu Sosial Universitas Negeri Semarang pada: Hari: Tanggal:

Penguji Skripsi

Drs. Ba’in, M.Hum NIP.

Anggota I

Anggota II

Dra. C. Santi M. Utami, M.Hum NIP.13111876210

Drs. R. Soeharso, M.Pd NIP.131691527

Mengetahui: Dekan

Drs. Sunardi NIP. 130367998

110

Lampiran 2

GARIS BESAR INSTRUMEN PENELITIAN
1. Bagaimana karakteristik masyarakat nelayan Cilacap, pola perilaku/ pikir dan kehidupan sosial kemasyarakatannya? 2. 3. Hal-hal apakah yang menyulut terjadinya konflik nelayan Cilacap, mengapa? Bagaimana awal terjadinya konflik nelayan Cilacap 1980, sebab, proses dan penyelesaian konflik 1980? 4. Bagaimana kehidupan masyarakat nelayan sebelum, setelah Konflik nelayan Cilacap 1980? 5. Apakah akibat dari konflik nelayan Cilacap 1980 bagi masyarakat nelayan Cilacap? 6. Bagaimana latar belakang terjadinya konflik, akhir/ peneyelesaian dari konflik nelayan Cilacap 1982? 7. Bagaimana kehidupan nelayan Cilacap sebelum, setelah konflik nelayan 1982? 8. 9. Bagaimana peran HNSI dan SONCI pada konflik nelayan Cilacap? Bagaimana latar belakang terjadinya protes nelayan 1998, akhir/ penyelesaian dari protes nelayan Cilacap 1998? 10. Bagaimana kehidupan nelayan Cilacap pada saat protes nelayan Cilacap 1998? 11. Apakah akibat dari protes nelayan Cilacap bagi masyarakat nelayan Cilacap? 12. Bagaimana peran HNSI dan SONCI dalam protes tersebut sebagai wadah aspirasi masyarakat nelayan?

111

DAFTAR LAMPIRAN

1. Lampiran 1: Peta Kabupaten Cilacap……………………………………...1 2. Lampiran 2: Garis Besar Instrumen Pertanyaan Penelitian……………….2 3. Lampiran 3: Biodata informan…………………………………………….3 4. Lampiran 4: Daftar Anggota Nelayan Cilacap…………………………….4 5. Lampiran 5: Bernas Tahun 1998 dan 2004………………………………..5 6. Lampiran 6: Surat ijin penelitian…………………………………………35

112

DAFTAR GAMBAR

1. Lokasi Penelitian………………………………………………………………25 2. Informan……………………………………………………………………….28 3. Perahu/ kapal modern………………………………………………………….31

113

DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL................................................................................................i PERSETUJUAN PEMBIMBING………………………………………………...ii PENGESAHAN KELULUSAN………………………………………………….iii PERNYATAAN…………………………………………………………………..iv MOTO DAN PERSEMBAHAN…………………………………………………..v SARI………………………………………………………………………………vi PRAKATA……………………………………………………………………….vii DAFTAR ISI…………………………………………………………………….viii DAFTAR LAMPIRAN………………………………………………………….. DAFTAR GAMBAR…………………………………………………………….

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah………………………………………………1 B. Permasalahan………………………………………………………….6 C. Tujuan…………………………………………………………………6 D. Manfaat………………………………………………………………..6 Ruang Lingkup Penelitian Tinjauan Pustaka Metode Penelitian Sistematika Skripsi

114

BAB II GAMBARAN UMUM KABUPATEN CILACAP A. Kondisi Fisik Daerah Penelitian B. Keadaan Alam C. Riwayat Singkat D. Kondisi Sosial Ekonomi E. Kondisi Sosial Budaya F. Lokasi Khusus Daerah Penelitian

BAB III SEJARAH KEBIJAKAN EKONOMI KEMARITIMAN DI INDONESIA A. Masa Hindia-Belanda sampai Orde Lama 1. Masa Hindia-Belanda 2. Masa Kemerdekaan 3. Masa Orde Lama B. Masa Orde Baru 1. Reorganisasi Lembaga Kelautan 2. Modernisasi Perikanan/ Blue Revolution 3. Undang-undang Perikanan 4. Jalur-jalur Penangkapan Ikan

BAB IV DINAMIKA GERAKAN NELAYAN CILACAP TAHUN 1978-1998 A. Karakteristik Masyarakat Nelayan Cilacap B. Permasalahan dan Awal Terjadinya Konflik Nelayan

115

C. Gerakan Nelayan Cilacap Tahun 1978-1998 1. Perjuangan Nelayan Cilacap Tahun 1978-1980 2. Perjuangan Nelayan Cilacap Tahun 1982 3. Perjuangan Nelayan Cilacap Tahun 1998 D. Pengaruh Gerakan Nelayan Cilacap

BAB V PENUTUP DAFTAR PUSTAKA LAMPIRAN-LAMPIRAN

116

Tambahan untuk disimpan,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,, 2. Pendekatan Penelitian ini menggunakan pendekatan teori konflik dari Dahrendrof dan Usman Pelly. Menurut Dahrendrof masyarakat selalu bermuka dua yaitu konsensus (integrasi) dan konflik (pertentangan). Ciri-ciri konflik adalah: 1. 2. Sistem sosial selalu dalam keadaan konflik Konflik tersebut desebabkan karena adanya kepentingan yang saling bertentangan yang tidak dapat dicegah dalam struktur masyarakat 3. Kepentingan-kepentingan ini cenderung terpolarisasi dalam dua kelompok yang saling bertentangan 4. Kepentingan-kepentingan yang saling bertentangan mencerminkan deferensiesi distribusi kekuasaan diantara kelompok yang brekuasa dan dikuasai 5. Penjelasan suatu konflik akan menimbulkan perangkat kepentingan baru yang saling bertentangan yang dalam kondisi tertentu menimbulkan konflik 6. Perubahan sosial merupakan akibat-akibat konflik yang tidak dapat dicegah pada berbagai tipe pola-pola yang telah melembaga. Dari kategori-kategori diatas, menurut Dahrendrof sumber konflik adalah hubungan wewenang yang telah melembaga dalam asosiasi yang telah terkoordinir secara imperatif. Konflik muncul karena perbedaan kepentingan objektif antara kelompokdominan dengan pihak yang

117

didomonasi dalam situasi-situasi tertentu, akan membentuk polarisasi antara penguasa dengan yang dikuasai. Usman Pelly (1994) memaparkan tentang sumber-sumber konflik dalam masyarakat majemuk, setidaknya ada tiga sumber ketidakserasian yang mengarah pada konflik: 1. Perebutan sumber daya, alat-alat produksi dan kesempatan ekonomi (Access to Economic Resources and to Means of Productions). Konflik ini biasanya dimenangkan oleh individu/ kelompok yang memiliki kekuatan dan kemampuan lebih tinggi apabila ditinjau dari sumber daya manusia maupun teknologi. Dalam kasus nelayan Cilacap hal itu terjadi dengan dominannya etnis Tionghoa/ pendatang dalam segala bidang usaha perikanan berupa penangkapan dan penyediaan faktor produksi seperti jaring dan lain-lain, sehingga nelayan tradisional/ asli tersingkirkan. 2. Perluasan batas-batas kelompok sosial budaya (Social Culture Borderline Expansions). Perbedaan tradisi, bahasa, hokum dan identitas social dapat menyatu dalam kepentingan politik yang dapat memicu pada konflik, kecemburuan sosial dan prasangka sosial dalam masyarakat. Pemakaian bahasa tertentu dalam interaksi dapat dianggap sebagai ekspansi. Pemakaian bahasa Cina dianggap sebagai bagian dari ekspansi budaya dan memancing perasaan curiga dari mesayarakat nelayan asli.

118

3. Benturan kepentingan politik, ideology dan agama (Conflict of Political, Ideology and Religious Interest). Konflik ini muncul dalam format penguasaha versi rakyat, majikan versus buruh dan Patron versus Client, yang pada dasarnya adalah perbedaan kepentingan yang selalu terjadi pada setiap masyarakat yang heterogen. Dalam kasus nelayan Cilacap sumber konflik yang ketiga ini dapat dipetakan sebagai kelompok nelayan setempat versus nelayan pendatang dan nelayan setempat versus pemerintah daerah (Wahono dkk, 2002:174).

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->